Eps 2 Pendekar Bayangan Setan - Khu Lung
Baca online Pendekar Bayangan Setan - Khu Lung
Cersil Pendekar Bayangan Setan - Khu Lung.
"Hmm, lalu kau kira siauw yamu sedang memfitnah dirinya? karena dia sudah timbul rakusnya untuk merebut pedang pusaka milikku ternyata dengan tanpa sungkan sungkan dia sudah mencari kawan untuk bersama-sama turun tangan kepadaku.... Hmm, dia sudah hadiahkan suatu pukulan kepadaku sehingga aku terjatuh ke dalam jurang, kalau bukannya Hmm, sudahlah coba kau pikir haruskah aku membalas dendam ini?"
Mendadak nada ucapannya berubah menjadi amat keras dan kasar sekali, sambungnya.
"Hutang darah harus dibayar dengan darah dendam satu pukulan ini siauw yamu bersumpah akan menuntut balas."
Pengemis yang memakai baju compang camping dan amat kotor itu sejak muncul di tengah kalangan sampai saat ini terus menerus dengan menggunakan wajah yang keheran heranan memperhatikan Tan Kia-beng, dia merasa gusar juga tidak ada senyuman yang menghiasi bibirnya.
Kini mendengar Tan Kia-beng berbicara dmeikian dan melihat pula pedang Kim Ceng Gok Hun Kiam yang digoyang goyangkan di atas tangannya tak terasa sudah membelalakan matanya lebar-lebar dengan perasaan terkejut teriaknya;
"Haaa? pedang pusaka Kiem Ceng Giok Hun Kiam?"
"Tidak salah, pedang ini memang pedang pusaka Kiem Ceng Giok Hun Kiam"
Sehabis berkata dia mengangkat pedangnya ke tengah udara dan digoyang goyangkan "Kau juga ingin merebutnya?"
Ejeknya sembari melirik dengan amat dingin ke arah sang pengemis "Haaa....
haaa....
jangan dikata pedang pusaka yang cuma mendatangkan bencana ini sekalipun barang yanglebih berharga pun tidak akan bisa menggerakkan hati aku si orang pengemis."
Tiba-tiba terdengar suara dengusan yang amat berat dari Siong Hok Tootiang memutuskan pembicaraan mereka, ujarnya dengan berat.
"Sekalipun benar-benar sudah terjadi urusan ini, apa kau tidak dapat langsung mencari dirinya? bahkan sudah merusak pintu dan tembok loteng kami dan melukai para toosu? kurang ajar...."
Mendadak air mukanya berubah amat hebat, dengan mata melotot lebar-lebar dia membentak kembali.
"Selama ratusan tahun ini tidak ada orang yang begitu bernyali berani mencari satori dengan kami golongan Heng-san-pay. Jika ini hari aku tidak beri pelajaran kepadamu tentu kau sudah menganggap kalau pinto tidak becus."
Telapak tangannya dengan putar setengah lingkaran di depan dada tiba-tiba melancarkan satu pukulan dahsyat ke depan.
Ilmu silat dari salah satu ciangbunjin tujuh partai besar ini memang luar biasa sekali, angin pukulannya laksana gempa yang membelah bumi...
terasa segulung hawa khie kang yang amat kuat dengan tak henti hentinya mengalir dan menggulung ke arah tubuh Tan Kia-beng.
Tan Kia-beng yang terlanjur turun tangan sehingga mengakibatkan banyak hatinya sudah merasa sangat menyesal sekali, kini dia tidak ingin berkelahi kembali dengan Siong Hok Tootiang.
Tetapi ketika dilihatnya serangan pihak lawan amat dahsyat hatinya terasa gatal-gatal juga kepingin turun tangan pikirnya.
"Aku sudah berhasil memahami isi dari seluruh kitab pusaka Teh Leng Cin Keng berarti pula sudah menjabat sebagai Teh Leng Kauwcu."
"Sebagai seorang ketua dari suatu partai besar kedudukan tidaklah berada dibawahnya, aku tidak boleh terlalu memperlihatkan kelemahanku di depan orang lain."
Mendadak tangannya berkelebat menyimpan kembali pedangnya telapak tangannya dibalik lalu mendorong ke depan terasalah segulung angin pukulan yang amat dingin bagaikan menggulungnya ombak besar dengan cepatnya menyambut datangnya hawa khei kang dari Siong Hok Toodjien Yang satu hawa Yang yang lain hawa Im dengan cepatnya terbentur menjadi satu sehingga mengakibatkan suara letusan yang memekikkan telinga pasir dan abu pada beterbangan sedang para toosu yang berdiri di pinggiran kalangan segera merasakan dadanya menjadi amat sesak susah untuk bernapas Air muka Siong Hok Tootiang berubah menjadi merah darah rambut serta jenggotnya pada berdiri dengan sempoyongan tubuhnya mundur dua langkah ke belakang Tan Kia-beng sendiripun merasakan hatinya sedikit tergetar, kakinya dengan cepat bergeser mundur tiga depa ke belakang.
Mendadak pengemis berkipas robek itu memutarkan sepasang matanya yang bulat aneh itu, sambil maju ke depan bentaknya keras.
"Kau adalah murid iblis sakti itu?"
"Omong kosong, siauw yamu adalah anak murid dari Ban Li Im Yen Lok Tong."
"Ban Li Im Yen Lok Tong? sungguh aneh sekali."
Pengemis yang membawa kipas butut itu gelengkan kepalanya dengan keras sedang air mukanya memperlihatkan perasaan bingungnya, agaknya dia menjadi bingung dibuatnya.
Kiranya pengemis ini merupakan seorang pendekar yang punya nama terkenal di dalam Bulim, dia merupakan salah satu dari anggota Koan Kiauw Hoa atau si pengemis aneh Sun Lam Kea.
Pengemis aneh ini merupakan kawan yang paling karib dari Ban Li Im Yen Lok Tong suhunya Tan Kia-beng.
Siong Hok Tootiangpun mempunyai hubungan yang baik dengan Lok Tong, mendengar perkataan itu dia tertawa.
"Omonganmu kosong belaka! Lok Thayhiap mana mungkin mempunyai anak murid seperti kau? lagi pula ilmu silatmu yang terang terangan berbau iblis tidak mungkin bisa menipu pandangan mata pinto."
Tubuhnya segera meloncat kembali ke depan sedang sepasang kepalannya berturut turut melancarkan delapan belas kali serangan gencar meneter Tan Kia-beng, terbianasanya beberapa orang anak murid Heng-san-pay ditangannya membuat hawa amarahnya berkobar sehingga tanpa memperdulikan kedudukannya sebagai seorang ciangbunjin dari sebuah partai besar dia sudah melancarkan serangan ke arah pemuda yang masih amat muda sekali.
Tan Kia-beng segera tertawa dingin.
"Kau kira aku takut kepadamu?"
Serunya.
Badannya maju ke depan menubruk ke dalam kurungan bayangan telapak laksana gunung itu dia segera melancarkan serangan dengan menggunakan ilmu sakti yang berhasil dipelajari dari kitab pusaka, Teh Leng Cin Kang, tidak seberapa lama dia sudah balas melancarkan delapan belas kali serangan dan melancarkan tujuh kali tendangan kilat.
Dengan mengambil kesempatan sewaktu Siong Hok Tootiang terdesak mundur ke belakang itulah mendadak tubuhnya meloncat ke atas, teriaknya.
"Kalau memangnya kau kenal dengan suhuku, aku tidak ingin berkelahi dengan kau."
Suaranya terdengar amat jelas sekali, padahal tubuhnya bagaikan menggulungnya asap hijau dengan cepatnya sudah meluncur sejauh puluhan kaki?
Siong Hok Tootiang benar-benar dibuat gusar oleh kelakuannya ini.
"Bangsat! kau mau lari kemana?"
Teriak sekeras kerasnya. Tubuhnya cepat bergerak siap mengejar ke arah Tan Kia-beng, tetapi keburu dicegah si pengemis aneh itu.
"Sudah.... sudahlah"
Hiburnya.
"Sekalipun kau mengejar dia dengan ilmu iblis yang dimilikinya sekarang ini bukannya aku si pengemis berbicara kau belum tentu bisa mengapa apakan dirinya. Lebih baik kita tunggu saja sampai Ouw heng kembali juga kalau memang dia benar-benar punya niat untuk merebut pedang pusaka milik orang lain dan bermaksud mencelakai dirinya. Hmm.... aku si pengemis busuk terpaksa cuci tangan di dalam urusan ini,"
Kipas bututnya dikebaskan kemudian putar badan berlalu dari sana.
Siong Hok Tootiang pun terpaksa cuma bisa menghela napas panjang kemudian memerintahkan anak muridnya untuk menolong kawan kawannya yang terluka.
Setelah semuanya selesai, dia mengundang beberapa orang tootiang yang tingkatannya rada tinggi untuk bersama-sama merundingkan urusan ini di dalam kuil.
---0-dewi-0---Kita balik pada Tan Kia-beng, setelah dia meninggalkan Sam Yuan Kuan segera merasakan hatinya jauh lebih ringan, bagaimanapun juga dendam pukulannya dari Heng-san It-hok berhasil dibalasnya ini hari, tetapi terhadap terlukanya para toosu karena dirinya dalam hati dia merasa sangat menyesal Setelah berlari kencang beberapa saat lamanya akhirnya dia perlambat gerakannya, pikirnya dalam hati.
"Sekarang aku harus pergi kemana? pergi mencari suhu? Dia orang tua sudah menjanjikan diri untuk bertemu dengan aku di kota Tiang San, kini aku sudah buang waktu amat lama sekali, apakah dia orang tua masih menunggu aku?"
Tetapi gerakan kakinya tak berhenti tubuhnya dengan cepat bergerak menuju ke kota Tiang-sah Beberapa hari kemudian dia sudah tiba di kota Tiang-sah, mendadak dia merasakan keadaan sedikit tidak beres, orang yang melakukan perjalanan di tengah jalan raya kebanyakan adalah jago-jago Bulim yang berlalu dengan tergesa gesa bahkan di antara orang-orang itu dalam sepuluh bagian ada sembian orang yang menaruh perhatian istimewa terhadap dirinya.
Melihat hal itu diam-diam Tan Kia-beng mendengus dingin pikirnya.
"Orang-orang itu kemungkinan sekali sedang menaruh minat terhadap pedang pualamku ini. Hmm, kalau benar-benar begitu janganlah menyalahkan kalau Siauw yamu akan turun tangan kejam terhadap kalian."
Sesampainya di dalam kota Tiang-sah, selama dua hari lamanya dia terus menerus mencari jejak dari suhunya Ban Li Im Yen Lok Tong tetapi tidak menemukannya juga, membuat hatinya merasa sangat cemas sekali Dengan hati tak senang dan pikiran penuh diliputi oleh berbagai macam persoalan dia berjalan masuk ke dalam sebuah rumah makan dan mencari sebuah tempat yang agak sunyi untuk minum arak.
Suasana di dalam rumah makan itu amat ramai sekali sehingga hampir seluruh tempat sudah terisi penuh, di antara mereka mereka itu mendadak pandangan Tan Kia-beng tertarik dengan seorang hweesio gemuk yang kepalanya penuh ditumbuhi rambut pendek, pakaian jubahnya sudah amat kotor dan bau sekali sehingga terlihatlah perutnya yang besar menonjol keluar, sebaris giginya yang kuning seperti jagung mengeluarkan bau yang tidak sedap membuat orang yang melihat merasa amat muak sekali.
Di hadapannya duduklah seorang Toosu kurus yang badannya dilapisi oleh minyak wajahnya kotor bajunya pun amat kusut sekali Saat ini mereka sedang membicarakan sesuatu dengan amat ramainya.
Terdengar si hweesio gemuk itu dengan wajah penuh kegusaran berteriak teriak.
"Aku tak percaya iblis itu mempunyai kehebatan sebegitu dahsyatnya kalau ada kesempatan tentu pinceng akan coba-coba untuk menjajal kepandaian silatnya"
"Haaa haaa.... kaupun tak usah begitu keburu napsu,"
Terdengar si toosu kurus tertawa terbahak-bahak.
"pertempuran berdarah ini sudah ada di ambang pintu, cepat atau lambat di dalam Bulim bakal terjadi suatu penjagalan besar besaran"
Tiba-tiba suara pembicaraan mereka terputus oleh suara tertawa besar seseorang yang amat keras sembari berkata "Tidak usah kemudian hari, sekarang juga pembunuhan secara besar besaran sudah dimulai."
Terdengar suara langkah manusia yang menaiki tangga.
si pengemis aneh yang membawa kipas butut dan ditemui Tan Kia-beng sewaktu ada di atas gunung Heng-san dengan langkah terhuyung huyung sudah menerjang kehadapan hweesio serta toosu itu.
"Ada peristiwa aneh apa lagi yang sudha terjadi?"
Tanya si hweesio gemuk sambil melototkan matanya.
"Hehey.... sukar dibicarakan...."
Dengan perlahan-lahan si pengemis aneh itu mulai diceritakan seluruh peristiwa yang sudah terjadi baru baru ini di dalam Bulim.
---0-dewi-0---Kereta maut yang paling ditakuti oleh orang-orang Bulim sudah muncul kembali di dalam dunia persilatan pada tempo dulu kereta maut itu cuma muncul setiap musim semi saja, tetapi tahun ini berturut turut kereta maut itu sudah munculkan diri sebanyak tiga kali.
"Kemunculannya yang pertama kali dikendalikan oleh seseorang pemuda berbaju biru kemunculannya yang kedua kali dikendarai oleh kakek tua berjubah hitam, dan kemunculan yang ketiga dikendarai oleh seorang kakek tua berjubah hitam pula tetapi wajahnya berkerung."
"Kalau pada tahun tahun yang lalu dimana kereta maut itu walaupun banyak jago-jago yang terbinasa tetapi boleh dikata siapa yang tak mengganggu orang lain, tetapi keadaan kali ini sama sekali berbeda kereta maut itu ternyata khusus mencari gara gara dengan orang-orang dari tujuh partai besar dan khusus membunuh orang dari tujuh partai besar."
"Sewaktu kereta maut itu melewati gunung Siang San, iblis itu sudah memukul hancur arca batu yang ada di depan kuil, bahkan sewaktu penerima tamu dari kuil itu Hoat Siang Thaysu keluar untuk minta pertanggungan jawabnya dia sudah dipukul binasa, akhirnya setelah jago-jago Siauw-lim-si pada keluar semua kereta maut itu sudah melarikan diri entah ke mana."
"Dan pada saat yang bersamaan pula Ci Si Thaysu sedang melakukan perjalanan balik ke dalam kuil, di tengah jalan dia sudah bertemu dengan kereta maut itu dan masing-masing menyerang sebanyak tiga jurus."
"Bagaimana kesudahan dari pertandingan tersebut siapapun tidak tahu tetapi sejak terjadinya peristiwa itu Ci Si Thay su sama sekali tak pernah mengungkat kembali persoalan itu di depan para hweesio lainnya"
"Baru saja peristiwa di atas Siauw-lim-si selesai kereta maut muncul kembali di atas gunung Go-bie, Ciang bunjin dari Go-bie pay, Lo Hu Cu dengan menggunakan sebilah pedang Cing Ming Kiam masing-masing saling menyerang sebanyak lima jurus banyaknya kemudian berhenti. bagaimana akhir dari pertempuran ini? Cuma di dalam hati masing-masing saja yang tahu."
"Tetapi setelah kereta maut itu meninggalkan gunung Go-bie mendadak batu nisan di depan kuil Cing Liang sie secara mendadak hancur lebur menjadi bubuk yang amat halus sekali."
Bercerita sampai disini mendadak si pengemis aneh itu menutup mulutnya, sesudah menghabiskan secawan arak barulah sambungnya kembali.
"Masih ada lagi satu peristiwa yang sangat mengherankan sekali, kemarin hari sewaktu aku si pengemis tua berada di atas gunung Heng-san mendadak datanglah seorang pemuda yang memiliki hawa pukulan Sian Im Kong Sah Mo Kang yang sengaja datang mencari gara gara dengan Heng-san It-hok, di dalam satu kali pukulan saja dia berhasil merubuhkan pintu serta tembok depan pintu loteng kuil Sam Yuan Koan bahkan sudah menghancurkan pula papan nama emas Sam Yuan Koan yang terpampang di atas pilar kuil, murid yang paling tua dari Siong Hok Tootiang itu adalah Thian Kiang Toodjien dengan memimpin dua puluhan orang toosu pada mengerubuti dirinya siapa tahu belum ada satu jurus sudah ada sepuluh orang yang terluka atau terbinasa, bukan begitu saja bahkan ditangannya sudah membawa itu pedang Kiem Ceng Giok Hun Kiam yang sudah memancing kegaduhan di dalam Bulim pada seratus tahun yang lalu."
"Setelah urusan itu aku si pengemis dengan Siong Hok sama-sama keluar untuk menjenguk sihidung kerbau akhirnya saling bertukar satu pukulan dengan dia, ketika aku melihat sihidung kerbau bakal rugi maka cepat-cepat aku suruh mereka berhenti coba kalian berpikir ternyata dia sudah mengaku sebagai muridnya si Ban Li Im Sen, Lok Tong bukankah urusan ini sangat aneh sekali."
Selesai mendengar perkataan itu si toosu kurus itu segera angkat cawannya meneguk habis isinya lalu barulah tertawa terbahak-bahak dengan amat kerasnya.
Buat apa kita ikut campur di dalam urusan yang menyangkut kereta maut atau kereta rejeki itu pokoknya jika persoalan sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kita Hong Jen Sam Yu buat apa kalian banyak buang waktu dan tenaga utnuk ikut campur di dalam urusan orang lain.
Air muka si pengemis aneh itu segera berubah menjadi amat serius Kita jangan berbicara demikian, suatu pertempuran sengit yang bakal mencecerkan banyak darah akan terjadi di dalam dunia persilatan kita sekalian sebagai anggota Bulim sudah seharusnya ikut campur di dalam urusan ini Baiklah sekarang begini saja, aku mau pergi cari itu Ban Lim Im Yen dulu untuk mencari tahu asal usul dari bocah cilik tersebut, kemudian dengan mengambil dasar ilmu pukulan Siam Im Kong Sah Mo Kang nya kita berusaha untuk menjadi tahu suhunya, Dengan demikian teka teki kereta maut ini tidaklah sukar untuk dipecahkan.
Tan Kia-beng yang mendengarkan ceritanya itu diam-diam dalam hati merasa amat geli, pikirnya.
"Hmm.... sekalipun kau menyelidiki sampai setengah mati juga tidak berguna, kecuali kau pergi keakhirat untuk bertemu sendiri dengan Han Tan Loodjin kemungkinan sekali hal ini masih bisa terjadi."
Agaknya si hweesio gemuk serta si toosu kurus sudah dapat dikuasai oleh perkataan dari pengemis aneh itu, mereka cuma makan dan minum dengan lahapnya tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi.
Saat itu Tan Kia-beng kepingin sekali untuk maju bertanya dengan si pengemis tetapi ketika teringat kalau merekapun sudah menganggap dirinya sabagai anak murid golongan hitam dia jadi membatalkan kembali niatnya tersebut.
Akhirnya dengan diam-diam dia meninggalkan tempat itu dan membereskan rekeningnya kemudian berjalan meninggalkan rumah makan tersebut, Ketika teringat akan jejak suhunya Ban Li Im Yen, Lok Tong yang amat sukar dia menjadi amat murung mau pergi cari dirinya harus kemana mencari kalau tidak pergi hal inipun tidak boleh jadi.
Pikirannya benar-benar menjadi amat bingung sekali.
Hatinya terasa amat cemas, bimbang ragu ragu dan bingung bercampur aduk di dalam hatinya, kemana dia sekarang harus pergi.
Mendadak dia teringat kembali akan seseorang dia bukan lain adalah si Cuncu Mo Tan-hong yang sudah bergaul dengan dirinya selama dua bulan lamanya, walaupun dia sekarang berada di dalam kurungan adat seorang pembesar negeri tetapi dengan kepandaian silat yang dimilikinya sekarang ini bukankah masih bisa bertemu dengan dia pada waktu malam hari?
dengan ilmu meringankan tubuhnya saat ini dirinya tidak mungkin bisa ditemuinya oleh kaum penjaga istana tersebut Setelah bertemu dengan dia, dia akan menurunkan ilmu Lweekang Pek Tian Sin Kang yang didapat dari sarung pedang pualam itu kepadanya kemudian memberikan pula pil sakti dari Han Tan Loodjien, dengan demikian bukankah diapun akan berilmu kepandaian pula?
sejak saat itu dia tidak usah takut dengan Chuan Tiong Ngo Kui lagi bahkan jika ilmunya berhasil dilatih lebih sempurna lagi dia bisa pergi mencari Chuan Tiong Ngo Kui untuk menuntut balas atas kematian ayahnya.
Walaupun dia tidak paham sifat sifat Mo Tan-hong tapi jika dilihatnya dari banyaknya jago-jago dari kalangan lurus yang melindungi dirinya boleh dikata pembesar she Mo ini pastilah merupakan seorang pembesar jujur Berpikir sampai disini tanpa ragu ragu lagi dia segera meninggalkan kota Tiang-sah untuk melanjutkan perjalanan menuju ke ibukota.
Dengan mengandung suatu perasaan yang amat gembira sekali Tan Kia-beng melakukan perjalanan siang malam menuju ke arah Utara, tetapi dia sama sekali tidak tahu bahwa bahaya sudah mengincer dirinya, banyak jago-jago Bulim yang sudah mulai membuntuti dirinya.
Pedang pusaka Kiem Ceng Giok Hun Kiam yang pernah menggemparkan Bulim pada ratusan tahun yang lalu kini muncul kembali di dalam dunia kangouw bahkan pedang pusaka yang diimpikan oleh setiap jago Bulim sudah terjatuh ketangan seorang pemuda hal ini membuat para jago Bulim semakin bernapsu lagi untuk mendapatkan pedang pusaka itu.
Siapa tahu akhirnya pemuda itu berhasil dipukul jatuh ke dalam jurang oleh Heng-san It-hok hal ini membuat para jago menjadi amat kecewa sekali.
Tetapi....
jurang yang amat curam bukanlah suatu lautan luas, asalkan masih ada didaratan maka untuk menemukannya kembali tidaklah susah; Demikianlah, para jago dari setiap pertai mulai berlomba lomba untuk menuruni jurang tersebut guna mencari jejak dari pedang pusaka itu.
Dan karena peristiwa itu banyak pula kaum manusia aneh yang sudah mengasingkan diri dan para iblis dari kalangan Hek-to pada meninggalkan rumah kediamannya.
Mendadak....
seuatu berita yang sangat mengejutkan tersiar kembali di dalam Bulim.
berita ini bagaikan mengalirnya listrik dengan cepatnya sudah tersebar ke dalam seluruh persilatan.
Pemuda yang memiliki pedang pusaka Kiem Ceng Giok Hun Kiam ternyata tidak mati bahkan berhasil mempelajari ilmu silat hitam yang amat sakti, dengan seorang diri dia naik ke gunung Heng-san untuk mencari Heng-san It-hok, dengan pukulan hawa dinginnya dia menghancurkan papan nama kemudian menghancurkan pula pintu serta tembok kuil, kanya dalam satu gebrakan saja dia sudah berhasil melukai dan membinasakan puluhan orang toosu.
Tidak sampai dua tiga hari kemudian para jago yang sudah berkumpul pada daerah Kiang Han serta Chu Cing sudah pada berkumpul menjadi satu, secara diam-diam mereka mulai membuntuti terus pemuda yang menggembol pedang pusakan Giok Hun Kiam itu.
Tan Kia-beng yang baru untuk pertama kali terjun ke dalam Bulim pengalamannya masih amat cetek dengan seenaknya saja ia melanjutkan perjalanannya ke arah utara.
Hari itu dia melewati daerah Siang Yang memasuki daerah Ho Lam dan beristirahat disebuah dusun kecil.
Malam harinya dengan seorang diri duduk dibawah sinar lilin dia memandangi terus pedang pualam pemberian Mo Tan-hong itu sedangkan pikirannya mulai melayang melamunkan senyuman Mo Tan-hong yang terus menerus teringat di dalam benaknya itu Saking tak kuat menahan golakan hatinya tak terasa lagi dia sudah berseru.
"Oooh.... Mo Tan-hong...."
Mendadak....
Suara tertawa yang amat merdu berkumandang dari luar jendela, dia yang mempunyai pendengaran yang amat tajam segera merasakan akan hal ini, di dalam keadaan yang amat terperanjat bentaknya.
"Siapa?"
Tubuhnya dengan cepat sudah berkelebat keluar jendela dan meloncat naik ke atas atap rumah, terlihat suasana di sekeliling tempat itu amat sunyi tak terlihat sesosok bayangan manusiapun.
Terpaksa dengan hati yang murung dia berlik kembali ke dalam kamar.
Haaa?
di atas meja sudah terselempit sepucuk surat yang bertuliskan beberapa hurup.
Musuh tangguh membuntuti dirimu, harap bertindak lebih berhati-hati.
Tulisannya amat halus dan gayanya luwes agaknya ditulis dalam keadaan tergesa gesa dengan menggunakan gincu atau sebangsanya.
Hatinya menjadi semakin ragu ragu lagi, pikirnya.
"Aku tidak punya kawan putri, tapi siapa yang sudah menulis surat peringatan buatku?"
Tetapi tidak perduli bagaimanapun juga maksud orang lain adalah baik yaitu memberi peringatan buat dirinya, karena itu dia tidak ambil pikir panjang lagi segera dimasukkannya surat itu ke dalam saku lalu tertawa dingin tak henti hentinya.
"Hee hee.... tidak usah banyak pikir lagi orang-orang itu tentulah manusia manusia tak tahu malu yang ingin merebut pedangku." ---0-dewi-0---Malam hari dengan cepatnya berlalu, pada keesokan harinya pagi sekali dia sudah melanjutkan perjalanannya menuju ke ibu kota Karena sudah memperoleh peringatan dari orang lain gerak geriknya sekarang bertambah hati-hati lagi, ternyata sedikitpun tidak salah secara samar-samar memang ada orang yang membuntuti dirinya secara tersembunyi, hatinya semakin mendongkol lagi tak terasa dia sudah memperdengarkan suara tertawanya yang amat dingin Kali ini tidak seperti keadaan pada tahun yang lalu sewaktu dia melindungi Mo Tan-hong menuju ke ibukota, sesudah dia berhasil mempelajari ilmu silat yang amat tinggi, kepingin sekali dia mencari suatu kesempatan untuk menjajal kepandaian silat yang sudah diperoleh sebenarnya sudah mencapai seberapa tinggi kalau misalnya ada orang yang benar-benar hendak mencari satori denngan dirinya hal itu malah semakin bagus lagi. Musuh buyutan memang akan meraskan jalan di dalam dunia teramat sempit tiba-tiba. Seekor kuda dengan amat cepatnya berlari memandang dari arah depan orang yang duduk di atas tunggangannya itu bukan lain adalah Heng-san It-hok yang sedang dicari cari olehnya, melihat musuh buyutannya muncul di depan mata tak terasa lagi sepasang mata Tan Kia-beng sudah berubah menjadi merah darah, mendadak dia pentangkan tangannya menghalangi perjalanan orang tersebut sembari membentak keras.
"Berhenti!"
Saat ini tenaga dalamnya sudah berhasil mencapai pada taraf kesempurnaan, dengan bentakannya ini seketika itu juga laksana guntur yang membelah bumi membuat suasana terasa goncang dengan amat kerasnya bersamaan pula terasa segulung angin pukulan yang amat dingin sekali serasa menusuk tulang dengan amat cepatnya menggulung ke depan.
Kuda tunggangan itu menjadi amat terperanjat, sambil meringkik panjang kedua kaki depannya segera meloncat naik ke atas, disertai dengan suatu ringkikan panjang yang mengerikan kuda itu tanpa banyak rewel lagi sudah rubuh binasa seketika itu juga.
Heng-san It-hok yang sudah menaruh perhatian untuk memperoleh pedang pualam itu sehabis memukul rubuh Tan Kia-beng ke dalam jurang berturut turut selama beberapa bulan lamanya dia sudah mengadakan pencarian yang amat teliti disekitar lembah tersebut.
Tetapi jurang yang begitu dalam dan curamnya walaupun sudah menghabiskan seluruh akal busuknya tidak berhasil juga dia untuk menuruni lembah tersebut akhirnya dia mendengar kalau dari kuil Sam Yuan Koan di atas gunung Heng-san mengeluarkan tanda bahaya terpaksa dia cepat-cepat kebutkan kudanya untuk kembali ke atas gunung Siapa tahu di tengah jalan dia sudah bertemu dengan musuh tangguh yang memukul rubuh kuda tunggangannya.
untung saja kepandaian silatnya cukup tinggi sehingga di dalam keadaan gugup pikirannya tidak sampai kacau, dengan cepat tubuhnya melayang ke tengah udara kemudian melayang turun kembali ke atas permukaan tanah dengan tenangnya.
Sinar matanya dengan berkelebat, tetapi setelah diketahuinya orang yang baru saja melancarkan serangan itu bukan lain adalah Tan Kia-beng yang sudah dipukul jatuh ke dalam jurang oleh dirinya tak terasa lagi dengan perasaan amat terperanjat dia berseru.
"Haaa.... kau belum modar?"
"Hmmm, siauw ya tidak akan mati, tapi aku takut kalau ini hari kau yang akan bakal menerima kematian."
Bagaimanapun juga Heng-san It-hok merupakan seorang jagoan kawakan, sekalipun baru saja dia kehilangan muka tetapi dengan cepat sikapnya yang angker berwibawa sudah pulih kembali, segera dia tertawa terbahak-bahak.
"Cuma mengandalkan kau seorang? haaa...."
Belum habis dia tertawa, mendadak terasalah segulung angin pukulan yang amat dingin serasa menusuk tulang dengan amat dahsyatnya sudah menghantam tubuhnya.
Dalam keadaan terkejut dengan terburu-buru dia balas melancarkan satu pukulan dengan menggunakan hawa khie kangnya menyambut datangnya serangan angin pukulan yang amat dingin itu.
Heng-san It-hok yang kedudukannya sejajar dengan para cianbundjin dari tujuh partai besar ditambah pula jadi orang amat congkak menurut maksud hatinya untuk menghadapi seorang bocah cilik yang masih ingusan ini cukup hanya menggunakan tenaga lima bagian saja sudah cukup untuk memukul dirinya.
Siapa tahu, begitu kedua buah angin pukulan terbentur menjadi satu, dia segera merasakan bahwa angin pukulan dingin itu dibalik kelunakan membawa kekerasan tenaga dorongnya amat aneh sekali.
Dia menjadi amat terperanjat, di dalam keadaan gugup dia menambah lagi hawa pukulannya dengan tiga bagian.
Tubuhnya dengan cepat mundur satu langkah ke belakang kemudian dengan wajah penuh dengan perasaan terkejut dia pandangi wajah Tan Kia-beng.
Lama dia termangu-mangu, dia sama sekali tidak percaya kalau pemuda yang ada di hadapannya sekarang ini mempunyai tenaga dalam yang begitu sempurnanya.
Tan Kia-beng yang melihat jurus pertamanya sudah berhasil memukul mundur pihak musuh serangan berikutnya segera dilancarkan keluar.
Dia tertawa panjang dengan amat kerasnya.
"Hey bajingan tua, kau serahkan saja nyawamu, dendam satu pukulanmu tempo hari ini hari juga siauw yamu hendak menagih. Ilmu silat dari Teh Ling Bun yang amat sakti segera dilancarkan keluar, tangannya sedikit digetarkan berturut turut dia melancarkan dua puluh satu kali pukulan dahsyat ke arah musuh, di dalam sekejap saja bayangan telapak laksana gunung angin dingin yang menusuk tulang bagaikan tiupan angin topan dengan hebatnya melanda tubuh Heng-san It-hok membuat dia benar-benar tidak dapat berkutik lagi. Heng-san It-hok yang merupakan Tiong Loo dari suatu partai besar, walaupun kini berada di dalam keadaan yang amat membahayakan nyawanya tetapi dia tidak menjadi gugup, tenaga dalamnya yang sudah dilatih selama puluhan tahun lamanya segera dikerahkan keluar semua dengan disertai suara auman keras yang memekikkan telinga tubuhnya menubruk maju ke depan menyambut datangnya serangan tersebut. Braaak.... Braaak....! Suara benturan telapak tangan yang amat nyaring bergema tak putus putusnya membuat suasana menjadi amat ramai sekali. Tiba-tiba Heng-san It-hok bagaikan kilat cepatnya sudah mengundurkan diri delapan depa ke belakang, teriaknya dengan keras.
"Tahan, Apakah kau anak muridnya iblis tua itu?"
Tan Kia-beng menjadi tertegun dibuatnya, tetapi di dalam sekejap saja dia sudah sadar kembali siapa orang yang sudah dimaksudkan olehnya.
"Omong kosong!"
Teriaknya gusar.
"Siauwyamu adalah...."
Karena cepat-cepat ingin membangkang akan pertanyaan tersebut hampir saja dia hendak menyebutkan nama Teh Ling Lauw.
Heng-san It-hok mana mau mengurusi akan hal ini, mendadak dari dalam saku mengambil sepucuk surat kemudian dilemparkan ke arahnya.
Iblis tua itu sudah ada janji dengan kami tujuh partai besar dari daerah Tionggoan, pertempuran diantara kita lebih baik kita selesaikan saja pada saat itu juga Selesai berkata tubuhnya dengan cepat meloncat pergi dan kabur dari sana.
Tan Kia-beng tidak mengejar lagi, dia segera membuka surat tersebut dan dibaca isinya, Dipersembahkan untuk seluruh Ciangbundjin tujuh partai besar.
Partai kalian semua selama ratusan tahun ini selalu saja menjagoi seluruh Bulim dengan mengganggap ilmu silat kalian sebagai ilmu silat golongan lurus dan menganggap ilmu yang lain merupakan ilmu hitam.
Hal ini sungguh membuat orang lain merasa gemas dan gusar sekali, jika kalian dari tujuh partai benar-benar merupakan sebuah partai lurus, harap pada tanggal tujuh bulan sepuluh yang akan datang berkunjung ke atas gunung Thay-san untuk bertemu.
Saat itu bilamana kalian kalah dan ilmu silatku jauh lebih tinggi maka....
Heee....
Heee....
kalian tentu sudah tahu apa akibatnya bukan?
Tertanda, Pemilik kereta maut.
Disamping isi surat itu masih ada lagi beberapa kalimat tulisan kecil kecil yang menerangkan kecuali mengundang ciangbundjin dari tujuh partai besar berita ini juga disiarkan kepada para jago lainnya baik dari golongan Hek-to maupun dari kalangan Pek-to.
Sehabis membaca surat itu diam-diam Tan Kia-beng mulai menghitung harinya, ini hari adalah bulan sepuluh tanggal lima, untuk memenuhi janji tersebut hanya kurang dua hari saja tanpa terasa pikirannya segera berputar.
Sebenarnya siapakah pemilik kereta maut itu?
begitu berani dia menantang tujuh partai besar untuk diajak bertanding.
Hmm, sombong benar orang itu.
Tetapi ketika teringat kalau orang itu begitu berani mengundang ciangbundjien dari tujuh partai untuk bertanding sudah tentu kepandaian silat yang dimiliki amat tinggi sekali, kesempatan yang bagus sekali ini tidak boleh dilewatkan begitu saja.
Siapa tahu pada saat ini dia sedang membaca surat itu secara tidak terasa sekeliling tubuhnya sudah muncul berpuluh puluh orang jagoan dari Bulim yang dengan perlahan mulai mendekati tubuhnya.
Saat itu dia sedang memusatkan seluruh perhatiannya untuk memikirkan surat undangan tersebut sehingga sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap orang-orang tersebut.
Menanti setelah dia sadar kembali apa yang bakal terjadi disana dengan perasaan penuh terkejut dia dongakkan kepalanya tetapi sebentar saja dia sudah tertawa terbahak-bahak.
"Aku orang she Tan tidak punya nama di dalam Bulim. tetapi saudara sekalian begitu pandang tinggi diriku sungguh merupakan suatu penghormatan bagi diriku."
Selesai berkata dia tertawa dingin kembali.
"Heee.... heee.... aku tahu kalian inginkan tentu adalah pedang pualam yang tergantung pada pinggang siauw yamu ini, heee heee.... kalau kalian boleh saja maju kesini siapa yang kepandaiannya tinggi boleh maju terlebih dulu."
Selesai berkata sepasang matanya yang amat tajam dengan amat dinginnya menyapa sekejap keseluruh penjuru.
Dia merupakan seorang pemuda yang baru saja terjunkan diri ke dalam dunia kangouw, seperti juga harimau yang untuk pertama kali turun gunung dia tidak takut kepada siapapun dia tidak mau tahu siapa yang sudah munculkan dirinya disana, baik itu dari golongan Hek-to maupun dari golongan Pek-to, sekalipun para iblis iblis sakti serta jago-jago aneh dari Liok lim diapun tidak terasa gentar sedikitpun juga.
Ternyata diantara jago-jago yang hadir pada hari ini antara lain ada.
Siauw Ban yen Loh atau si Raja Akhirat Berwajah Riang, Siong Thjie; Chiet Poh Tui Hun atau situjuh tindak pencabut nyawa, Tiauw Tong; Leng Tiong Siang Hong atau sepasang manusia ganas dari daerah Leng Tiong, Ui Sie, Ui Liem, Auw Hay Sam Cho dari daerah Leng Tong, Ui sie serta Ui Lim, Auw Sam Cho Im Yang Su thay; Siauw Siang Yu Su serta Thiat Ciang Ceng Sam Siang sekalian berpuluh puluh orang.
Sudah tentu para jago-jago kenamaan ini walaupun di dalam hati masing-masing mempunyai perhitungan tetapi siapapun tidak ada yang mau mengaku terus terang kalau kedatangan mereka bertujuan pada pedang pualamnya itu.
Terdengar si Raja Akhirat Berwajah Riang tertawa terbahak-bahak.
Haaa....
haa siauw ko, kau jangan begitu sombong tidak salah kedatangan kami sekalian memangnya bertujuan pada pedang pualam Giok Hun Kiam mu itu aku dengar senjata senjata tajam itu amat berharga sekali dan biasanya cocok untuk manusia manusia budiman....
heee manusia seperti kalian guru dan murid yang begitu ganas, kejam dan berhati binatang aku kira tidaklah cocok untuk memegang pedang tersebut.
"Jadi menurut perkataanmu, hanya saudara saja yang cocok untuk mendapatkan ini?"
Tanya Tan Kia-beng dengan amat dinginnya.
Si Raja Akhirat Berwajah Riang segera berbatuk batuk, baru saja dia hendak membuka mulut untuk memberikan jawabannya tiba-tiba....
Chie Poh Tui Hun atau situjuh tindak pencabut nyawa sudah maju dua langkah ke depan sambil berteriak.
"Dengan si iblis terkutuk ini buat apa kita bicara terlalu sungkan sungkan? kita bereskan dulu dirinya kemudian baru berusaha membagi pedang Giok Hun Kiam tersebut!"
"Tunggu sebentar.... tunggu sebentar!"
Terdengar Im Yang Su cay sambil goyangkan kipasnya sudah bertindak maju ke depan.
"Kita harus merundingkan urusan ini baik-baik. Hee heee manusianya sudah kita kurung rapat rapat, kita baik rundingkan soal pedang tersebut terlebih dulu baru beresin nyawanya, apa kalian takut dia bisa terbang ke atas langit?"
Tiba-tiba terdengar suara tertawa aneh yang amat menusuk telinga. Auw Hay Sam Cho atau tiga manusia jelek dari daerah auw Hay sudah bersama-sama menerjang ke depan, teriaknya dengan keras.
"Kita sekalian sudah membututi dirinya dari kota Tiang Sam sampai di tempat ini, kalian manusia manusia busuk tidak punya bagian di dalam hal ini tahu tidak?"
Mendengar perkataan tersebut air muka Im Yang Siucay segera berubah amat hebat.
"Lalu kalian bertiga ingin memilikinya sendiri?"
Ejeknya dengan suara amat dingin.
"Itupun kurang lebih demikian, selamanya kalau kami Auw Hay Sam Hiong sudah turun tangan ikut campur, orang lain tidak punya hak lagi untuk ikut."
Im Yang Siucay jadi orang amat licik, kejam dan ganas sekali kini melihat para jago pada merasa gusar oleh perkataan dari Auw Hay Sam Cho ini diam-diam dalam hatinya merasa amat girang, dia tahu sekalipun ilmu silat dari Auw Hay Sam Cho lebih tinggi lagipun belum tentu bisa bertahan diri dari kerubutan para jago buat apa kini dia harus cari gara gara sendiri Sambil tertawa terbahak-bahak dia segera menganggukkan kepalanya.
"Betul.... betul.... memang beralasan, memang beralasan, saudara bertiga silahkan untuk mulai bekerja."
Tubuhnya dengan cepat berkelebat lima depa ke belakang, sedangkan matanya yang seperti tikus dengan tajamnya melirik sekejap ke arah para jago lainnya.
Auw Hay Sam Cho yang mengandalkan jumlah banyak mengira orang lainnya benar takut kepada mereka membuka saking senangnya sudah tertawa terbahak-bahak Tiba-tiba si Setan Buruk Ting Cian dengan mengerahkan seluruh tenaganya menubruk maju ke depan, dengan mementangkan lima jarinya yang seperti kuku garuda dengan amat cepatnya dia mencengkeram tubuh Tan Kia-beng.
Segeralah lima gulung angin serangan yang disertai bau amis yangmemuakkan dengan cepatnya meluncur ke depan Walaupun Tan Kia-beng dengan sombongnya berdiri di tengah lapangan, tapi sejak tadi dia sudah menyalurkan hawa murninya keseluruh tubuh siap menerima datangnya serangan.
Kini melihat datangnya dari si setan jelek, telapak tangannya dengan cepat dibalik segulung angin pukulan yang amat dingin segera meluncur dengan cepatnya ke depan.
Pada saat si Setan Buruk menyerang ke arah Tan Kia-beng itulah mendadak dari tengah lapangan berkumandang datang suara bentakan yang amat ramai sekali.
Leng Tiong Siang Hiong, Ui Sia serta Ui Liem dua orang bersama sudah melancarkan serangan menyerang Tan Kia-beng serta si Setan Buruk itu.
Segera terlihatlah bayangan manusia berkelebat.
Braak, Bluuum, suatu ledakan yang amat dahsyat bergema memecahkan kesunyian.
Tubuh si Setan Buruk bagaikan kereta angin yang berputar segera melayang ke tengah udara, dari mulutnya memancar keluar darah segar berwarna merah tua, baru saja tubuhnya mencapai permukaan tanah dia sudah menjerit ngeri kemudian tubuhnya tak bergerak lagi.
Leng Tiong Siong Hiong pun bagaikan kilat cepatnya sudah mengundurkan diri kembali tujuh tindak ke belakang.
Kiranya si Setan Buruk itu terlalu memandang rendah tenaga dalam dari Tan Kia-beng sehingga dia sama sekali tidak bersiap sedia terhadap datangnya serangan bokongan dari Ui Si.
Ketika baru saja dia melancarkan serangannya mengancam tubuh Tan Kia-beng mendadak dari belakang tubuh dia merasakan adanya segulung angin yang mengancam tubuhnya.
Dalam keadaan terperanjat cengkeramannya diubah menjadi pukulan dengan tergesa gesa ia menyambut datangnya serangan Dua gulung angin pukulan dengan cepatnya terbentur menjadi satu, dia cuma merasakan dadanya amat panas telapak tangan dari Ui Sie pada saat yang bersamaan pula sudah menghajar dadanya dengan amat keras sehingga tidak ampun lagi tubuhnya terpental untuk kemudian rubuh binasa di atas tanah.
Tan Kia-beng yang berhasil memukul mundur serangan dari si Setan Buruk mendadak melihat datangnya serangan dari Ui Liem dia segera membentak keras tubuhnya dengan cepat berputarm di tengah berkelebatnya bayangan telapak dia sudah melancarkan tiga serangan dahsyat sekaligus.
Segera terasalah gulungan angin dingin yang amat membekukan dengan gencarnya menghantam tubuh Ui Liem membuat dia saking terkejut mundur ke belakang tak henti hentinya.
Pertempuran baru baru ini jika diceritakan memang panjang tetapi terjadinya hanya di dalam sekejap mata saja.
Pemimpin dari Auw Hay Sam Cho itu si Setan Buruk yang terkena serangan bokongan sehingga menemui ajalnya seketika itu juga membuat Djie cho siluman beruang serta Sam cho siluman itik menjadi amat gusar sekali bagaikan harimau yang terluka dengan kalapnya mereka menubruk ke arah Leng Tiong Siang Hiong.
Seketika itu juga suara angin pukulan menderu suatu pertempuran yang amat sengit segera berlangsung dengan serunya.
Im Yang siucay yang tadi mengundurkan diri segera berjalan maju kembali ke depan, dia melirik sekejap ke tengah kalangan kemudian memperdengarkan suara tertawanya yang amat dingin Dengan cepat dia berkelebat mendekati Tan Kia-beng sambil menggoyang goyangkan kipasnya dia berkata "Hey bocah cilik, jikalau ini hari kau kepingin loloskan diri dari sini dalam keadaan selamat, hal ini tidak mungkin bisa terjadi.
tapi bila mana kau mau bekerja sama dengan aku hee....
hee kemungkinan masih ada kesempatan untuk hidup"
Pikiran orang ini paling licik, dia tahu jikalau ini hari dia hendak memperoleh pedang pualam itu hal ini merupakan suatu pekerjaan yang amat sulit sekali dilihatnya pula sikap yang amat gagah dari Tan Kia-beng, dia semakin tahu kalau kepandaian silatnya merupakan sejalan dengan iblis sakti pemilik kereta maut itu.
Jikalau dia harus bertempur satu lawan satu dirinya masih bukanlah tandingannya karena itu terpaksa dia memikirkan ini untuk bersama-sama meloloskan diri dari kepungan para jago kemudian denganperlahan-lahan baru berusaha untuk mendapatkan pedang itu dari Tan Kia-beng "Haa haa Hoo heng bermaksud mau jadi pengawal?
Tiba-tiba terdengar suara yang amat keras memutuskan pembicaraannya.
Aku kira tidaklah semudah itu haa....
haa...."
Dengan cepat Im Yang siucay menoleh ke belakang terlihatlah Hwee Im Poocu bersama-sama dengan Siauw Siang Yu Su sudah berjalan mendatangi, dia segera tertawa dingin.
"Apakah Ong heng serta Yu Su juga bermaksud menyusahkan diriku?"
Air muka Siauw Siang Yu Su segera berubah menjadi kehijau hijauan, diapun mendengus dengan amat dingin.
"Hmm, Pinto tidak bermaksud memperebutkan pedang miliknya itu cuma si iblis cilik ini kita tidak bisa melepaskan kembali."
Pada saat itu tampaklah Miauw Ing Su thay sambil mengebutkan Hut timnya berjalan mendekati.
"Omintohud, perkataan dari Yu su sedikitpun tidak salah, jikalau pedang tersebut sampai terjatuh ketangan iblis tua bukankah seperti juga harimau yang tumbuh sayap? Bulim bakal akan terjadi suatu pembunuhan masal yang mengerikan sekali."
"Bagaimanapun juga pandangan dari orang-orang golongan lurus jauh berbeda sekali mereka tidak bermaksud memperebutkan pedang itu cuma merekapun tidak menginginkan kalau sampai pedang pusaka itu terjatuh ketangan iblis tua pemilik kereta maut tersebut."
Sehabis mendengar perkataan itu dalam hati diam-diam Im Yang siucay merasa sangat girang sekali, biji matanya berputar putar lalu tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha. urusan ini masih membutuhkan bantuan dari Su thay sekalian."
Miauw Ing Su thay pun segera tersenyum pula, padahal diam-diam dalam hatinya dia memaki tak henti hentinya.
"Sungguh manusia berhati licik. Hmm, pingin minta bantuan orang lain padahal untuk mencari keuntungan buat diri sendiri?"
Pertempuran kali ini benar-benar amat menarik sekali, setiap orang pada saling menaruh curiga terhadap kawan kawannya sendiri dan semua orangpun tidak ingin turun terlebih dulu tetapi siapapun tidak ingin melepaskan kesempatan untuk memperoleh pedang pusaka ini.
Si Raja Akhirat Berwajah Riang serta tujuh tindak pencabut nyawa tidak mau perduli terhadap urusan yang sudah terjadi di sekitar tempat itu, sepasang mata mereka dengan amat tajam terus menerus memperhatikan Tan Kia-beng setiap saat mereka bersiap sedia untuk turun tangan melakukan pekerjaannya.
Tan Kia-beng yang sudah dikurung amat lama hatinyapunmulai terasa gelisah sifat sebenarnya yang amat sombong dan memandang tinggi diri sendiri membuat hatinya merasa amat gusar tetapi dikarenakan dia tahu kalau para jago yang ada disana bukanlah berasal dari satu jalan yang sama maka dia sengaja berdiri tenang sedikitpun tak bergerak dia ingin menunggu sampai masing-masing pihak pada berebut dan bergebrak sendiri.
Tetapi setelah ditunggu tunggu tetap tidak melihat mereka turun tangan juga, hatinya menjadi sangat gelisah sekali, tidak tertahan lagi dia mulai pentangkan langkahnya lebar-lebar berlalu dari sana.
Siapa sangka....
baru saja langkah kakinya sedikit dari empat penjuru segera terdengarlah suara bentakan yang amat keras berpuluh puluh gulung anign yang tidak sama dengan amat cepatnya bergulung menghajar tubuhnya.
Tan Kia-beng tidak berani menyambut serangan itu dengan keras melawan keras, dengan tergesa gesa dia kirim satu pukulan hawa dingin sedangkan tubuhnya dengan cepat meloncat ke tengah udara kemudian menerjang ke arah sebelah kiri Miauw Im Suthay yang ada disebelah kiri segera memuji keagungan Budha serunya.
"Pinnie tidak ingin melukai dirimu, cepat kau tinggalkan pedang pualam tersebut."
"Kau jangan mimpi!"
Bentak Tan Kia-beng dengan amat gusarnya.
Telapak tangannya dengan membentuk satu lingkaran mendadak melancarkan pukulan ke depan.
Pukulannya kali ini bukannya menggunakan hawa dingin melainkan sebaliknya menggunakan hawa yang amat panas, segera tertampaklah sesuatu pukulan yang dahsyat laksana mengamuknya ombak besar di tengah samudera dengan derasnya melanda tubuh pihak musuh.
Hut tim ditangan Miauw Ing Suthay dengan cepat digetarkan ke depan sehingga membuat bulu putih itu menjadi terang bagaikan serat serat perak, dengan cepat tubuhnya maju ke depan menyambut datangnya serangan tersebut.
"Iiih....?"
Suara teriakan tertahan segera meliputi dalam hatinya.
Tampak bayangan abu abu berkelebat menghindar kurang lebih lima depa kesamping, dengan pandangan penuh perasaan terperanjat Miaue Ing Su thay memandang dirinya dengan melongo longo.
Kiranya di dalam keadaan gusar tadi Tan Kia-beng sudah menggunakan jurus Lok Djie Tiong Thian dari ilmu telapak Siauw Siang Chiet Ciang yang amat dahsyat itu.
Kepandaian silat dari Lam Hay Sin Nie ini tidak ada dibawah kepandaian silat ciangbundjin dari tujuh partai besar lainnya selama ini dia sama sekali belum pernah bertemu dengan ilmu silat yang demikian aneh dan saktinya bahkan dia merasa bahwa jurus serangan ini jelas merupakan suatu serangan dari aliran lurus karenanya dengan perasaan amat terperanjat dia mengundurkan dirinya ke belakang Bersamaan itu pula dia merasa amat terkejut atas kehebatan dan kesempurnaan dari tenaga dalam sang pemuda.
Karena teriakan dari Miauw Ing su thay inilah seketika itu juga membuat para jago-jago yang sedang menubruk ke depan segera menghentikan gerakannya, mereka semua tahu bahwa kepandaian silat dari mereka semua tidak bisa menandingi Miauw Ing Suthay, kini dia merasa terkejut sudah tentu orang lain harus lebih hati-hati lagi.
Tetapi dengan adanya kejadian ini seketika itu juga membuat perasaan ingin menang yang timbul di dalam hati para jago untuk sementara tersapu bersih dari benak mereka, bahkan sampai Auw Hay Djie Cho yang melancarkan serangan dengan tidak mengindahkan mati hidupnya sendiripun untuk sementara waktu menghentikan gerakannya, kini semua perhatian dicurahkan pada Tan Kia-beng, pandangan mata setiap jago dengan tak berkedip sedikitpun juga memandang tajam ke arahnya.
---0-dewi-0---Sang surya dengan perlahan lenyap diarah sebelah barat, burung-burung pada terbang kembali ke sarangnya.
Sinar terakhir yang tak bertenaga sama sekali itu dengan perlahan mulai menyorot setiap wajah yang diliputi oleh hawa napsu untuk membunuh membuat suasana terasa begitu seram, begitu ngeri dan begitu menakutkan.
Tan Kia-beng yang terkepung rapat rapat diengah kalangan mulai merasa amat gusar, sepasang matanya yang jeli dengan perlahan menyapu sekejap kesekeliling kalangan terlihatlah selapis hawa membunuh sudah meliputi seluruh wajahnya.
Dengan diam-diam dia mulai menyalurkan hawa murninya mengelilingi seluruh tubuhnya satu kali telapak tangannya diangkat ke depan dada siap melancarkan satu serangan.
Tiba-tiba....
Sesosok bayangan putih dengan amat cepatnya berkelebat dibawah sorotan sang surya yang hampir lenyap dibalik gunung itu, segera terdengarlah suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memenuhi seluruh angkasa.
Leng Tiong Siang Hiong yang sedang memperhatikan Tan Kia-beng dengan seluruh perhatian mendadak melayang dua kaki tingginya meninggalkan tanah kemudian roboh ke atas tumpukan rerumput dengan amat kerasnya.
Seketika itu juga suasana sangat gaduh sampai Tan Kia-beng sendiri yang sedang siap-siap melancarkan seranganpun menarik kembali telapak tangannya.
Ketika dia menoleh ke arah mana berasalnya suara jeritan ngeri itu segera tampaklah sesosok bayangan putih dengan amat merdu sekali.
Saat itu semua orang baru bisa melihat jelas kalau orang yang baru saja membopong Leng Tiong Siang Hiong itu bukan lain adalah gadis berbaju putih yang amat cantik dan terasa amat agung itu.
Aaa....
siluman perempuan....
siluman perempuan sudah datang....
awas....
awas bersiap-siap semua siluman perempuan sudah datang.
Suasana menjadi amat gaduh sekali semua jago pada mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan tetapi tidak seorangpun yang berani turun tangan melancarkan serangannya.
Hal ini bukanlah dikarenakan merasa sayang turun tangan terhadap seorang gadis yang amat cantik, tetapi mereka amat jeri atas kemisteriusan gadis tersebut.
Tan Kia-beng pun dengan cepat sudah mengenal kembali gadis tersebut bukan lain adalah gadis berbaju putih yang tempo hari sudah perseni satu tamparan kepada dirinya.
tak terasa lagi dia mendengus dengan amat dinginnya.
---0-dewi-0---JILID.
5 Terhadap sikapnya yang amat dingin ini gadis berbaju putih itu sama sekali tidak ambil peduli, sambil menarik narik ujung bajunya dia mencibirkan bibirnya."
"Hmm, buat apa kau terus menerus bentrok dengan orang macam itu, mari kita pergi saja."
Sejak tadi Tan Kia-beng memangnya sudah punya maksud untuk meloloskan diri dari kepungan tersebut dengan cepat dia mengangguk.
Demikianlah segera tampaklah dua sosok bayangan biru dan putih dengan amat cepatnya melayang ke tengah udara kemudian berkelebat menuju ke arah kanan.
Sewaktu Tan Kia-beng tidak bergerak semua tidak berani berlaku gegabah untuk menempuh bahaya, kini begitu dia bergerak semua jago menjadi amat cemas, terdengar suara bentakan keras sepuluh sosok bayangan manusia dengan amat cepatnya berkelebat menghajar dari belakangnya.
Melihat hal itu, Tan Kia-beng menjadi sangat mendongkol, tubuhnya yang ada di tengah udara mendadak berputar kemudian membentak keras dan kirim sebuah pukulan jahat ke belakang Hampir pada waktu bersamaan pula gadis berbaju putih itupun membentak nyaring.
ujung bajunya dikebutkan ke depan segera terasalah segulung angin pukulan dingin yang menusuk tulang menggulung ke arah depan.
Ilmu pukulan yang digunakan Tan ia Beng adalah ilmu pukulan Siauw Siang Chiet ciang, dari Hek Tiap Sin Kang.
Sedang ilmu pukulan dari gadis berbaju putih itu adalah ilmu pukulan Sian Im Kong Sah Mo Kang dari ilmu telapak Tok Yen Mo Ciang atau ilmu pukulan api beracun.
Yang satu keras yang lain lunak dua gulung angin pukulan dengan cepat bersatu padu membentuk sebuah jala yang amat besar sekali mengurungi kepala Djie cho serta Sam cho dari Auw hay Sam cho yang paling rakus dan berjalan dipaling depan, Melihat datangnya serangan dahsyat tersebut, mereka berdua dengan gusarnya membentak keras kemudian secara tergesa gesa balas melancarkan satu serangan menyambut datangnya serangan tersebut.
"Aduuh...."
Suara jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma segera memenuhi seluruh angkasa tubuh mereka berdua bagaikan buah yang sudah masak menggelinding sejauh dua tiga kaki jauhnya dan binasa seketika itu juga, dari mulut mereka tak henti hentinya mengeluarkan darah segar yang sudah matang.
Si Raja Akhirat Berwajah Riang serta tujuh tindak pencabut nyawa yang berada di belakang tubuh kedua orang manusia jelek itu menjadi amat terperanjat.
dengan cepat mereka menjatuhkan diri ke samping kemudian berguling beberapa jauh dengan amat tepat sekali mereka berhasil menghindarkan diri dari bahaya elmaut itu Begitu Tan Kia-beng selesai melancarkan serangan dengan tanpa menoleh lagi dia berlari ke depan dengan amat cepatnya.
Kurang lebih dua puluh li kemudian akhirnya mereka berdua baru menghentikan langkahnya.
Terdengar gadis berbaju putih tertawa dan menoleh ke arahnya.
"Hiii.... hiii.... untung sekali kau berhasil meloloskan diri dari kematian."
"Ouw, kau mengharapkan aku cepat mati?"
"Maukah kau jangan berbicara demikian? hari itu jikalau bukannya para toosu bau itu mengerubuti diriku akupun tidak akan melepaskan bajingan tua itu"
"Hmm, pada satu hari aku pasti akan mencabut nyawanya."
"Agaknya kau sudah memperoleh kejadian aneh, keadaanmu sama sekali lain dari waktu yang lalu?"
"Heee heee.... sedikitnya tidak akan bisa kena tempeleng orang lain lagi."
Mengungkat soal tempelengan tempo hari membuat hawa amarahnya seketika itu juga berkobar kembali dalam hatinya, sepasang matanya dengan amat dingin sekali menyapu sekejap ke arah gadis cantik berbaju putih itu.
Jika dibicarakan memang amat aneh sekali, gadis yang biasanya amat sombong seperti putri kaisar saja ini ternyata sama sekali tidak dibuat omongan Tan Kia-beng yang amat kasar itu, dengan perlahan dia menundukkan kepalanya rendah rendah dan ujarnya dengan sedih.
"Tempo hari aku tempeleng pipimu semuanya demi kebaikanmu sendiri."
"Kaupun bukan angkatan tuaku, kenapa kau harus menempeleng diriku? lagi pula aku pun tidak menyalahi dirimu, coba aku mau tanya apa kesalahanku sehingga kau perseni satu tamparan pada pipiku? ayo jawab."
"Hey! apakah kau tidak tahu sifat dari ayahku?"
"Aku sama sekali tidak kenal dengan dia kenapa aku harus mengetahuinya."
"Eeey.... urusan ini pada kemudian hari aku akan mengetahui dengan sendirinya sekarang aku tidak punya waktu untuk menceritakan lebih jelas lagi kepadamu. pokoknya yang tegas maksudku adalah baik."
Sehabis berkata dia menghela napas panjang, terlihat bayangan putih berkelebat tubuhnya dengan amat cepat sudah berlalu dari sinar.
Tan Kia-beng adalah seorang manusia keras yang hanya mau makan yang lunak saja, hatinya yang sebenarnya amat gusar sehabis mendengar perkataan dari gadis berbaju putih itu membuat hawa amarahnya menjadi reda kembali ketika dilihatnya dia meninggalkan tempat itu dia hanya bisa memandangnya saja dengan melongo; Beberapa saat kemudian mendadak pada benaknya terbayang kembali suatu ingatan kakek berjubah hitam itu sudah mengadakan perjanjian dengan orang-orang tujuh partai besar keramaian ini jika tidak ditonton tentu sayang sekali, apalagi Heng-san It-hok pun bakal hadir pula disana.
Demikianlah tanpa merasa lelah dia segera melakukan perjalanan siang malam menuju ke gunung Thaysan untuk memenuhi undangan.
Karena adanya hadangan hadangan dari musuh yang membuang banyak waktu, sesaat dia tiba dibawah kaki gunung Thaysan waktu sudah menunjukkan kentongan ketiga tanggal tujuh.
Mendadak dari punggung gunung berkelebat bayangan manusia sebuah bayangan putih dan sebuah bayangan hitam berkelebat dengan amat cepatnya di depan tubuhnya.
Hanya di dalam beberapa kelebatan saja bayangan tersebut sudah lenyap dibalik hutan tidak jauh dari mana dia berada Dengan ketajaman pandangan matanya sekali pandang saja dia sudah bisa tahu orang itu bukan lain adalah kakek tua berbaju putih, hatinya menjadi bergerak kakinya dengan kecepatan yang luar bisa mengejar terus ke arah atas gunung.
Sesampainya pada puncak gunung itu tampaklah di atas sebidang tanah batuan yang rata sudah berdiri berpuluh puluh orang jago, dia tahu tempat bertanding tentunya ada di tempat ini Dia tidak ingin munculkan dirinya secara terang terangan, tubuhnya dengan cepat berkelebat melompat kebalik tumpukan batu batu cadas kemudian berjongkok disana mengintip semua gerak gerik orang-orang itu.
Tampak kakek tua berjubah hitam itu dengan wajah amat dingin berdiri berpangku tangan, dihadapannya berdirilah sejajar dua orang hweesio, empat orang toosu dan seorang kakek tua berjubah kuning yang dari sepasang matanya memancarkan sinar yang amat tajam sekali.
Sekali pandang saja segera bisa diduga orang itu tentunya para ciangbujin dari tujuh partai besar.
Selain orang-orang itu disamping kanan maupun kiri berdirilah berpuluh puluh orang jago yang mengepung kalangan itu.
Agaknya orang itu semuanya mempunyai dendam sakit hati yang amat mendalam dengan kakek tua berjubah hitam itu cukup dari sinar mata mereka yang mengandung kebuasan dan kebencian yang berlebihan jelas sekali orang itu sudah sukar untuk menahan golakan di dalam hatinya.
Tapi diantara mereka itu Tan Kia-beng tidak dapat menemukan gadis berbaju putih itu.
Hatinya menjadi terasa amat heran sekali, pikirnya.
Terang terangan tadi aku melihat dia datang bersama dengan kakek berjubah hitam itu kemana dia pergi?
Waktu itu suasana sudah mulai menjadi gaduh, terdengar kakek tua berjubah hitam itu dengan amat dinginnya berkata.
"Kalian mengundang loohu datang kemari kemungkinan sekali hendak mempamerkan beberapa jurus ilmu silat kalian bukan? Ci Si Thaysu dari Siauw-lim-pay segera maju ke depan dia tundukkan kepalanya memuji nama keagungan Buddha. Omintohud.... omintohud, di dalam dunia kangauw memang banyak sekali tersebar partai partai besar mapuan kecil selama ini pinceng sekalian sama sekali belum pernah menganggap ilmu silat tujuh partai besar merupakan ilmu yang benar-benar lurus dan menganggap ilmu lainnya merupakan ilmu iblis jikalau saudara berbicara seperti hal ini benar-benar membuat Pinceng sekalian merasa berdosa sekali. Dari air muka kakek tua berjubah hitam itu jelas sekali memperlihatkan kebingungan hatinya, dia tak tahu apa yang sedang dimaksudkan oleh Ci Si Thaysu itu tetapi dia yang merupakan seorang yang amat congkak sekalipun tidak tahu apa yang sedang diartikan oleh Ci Si Thaysu tetapi diapun tidak ingin banyak tanya segera dia tertawa terbahak-bahak. Kalau kalian bermaksud menantang loohu untuk bertanding, perkataan yang tidak berguna itu tidak usah kita bicarakan lagi jika kalian mau bergebrak sepatlah bergebrak, buat apa banyak membual. Tahan dulu tiba-tiba Siong Hok Tootiang dari Heng-san-pay maju satu tindak ke depan. Pinto ada satu urusan hendak ditanyakan kepadamu, apakah kau mempunyai seorang murid yang bernama Tan Kia-beng? Kentut makmu, diam-diam Tan Kia-beng yang bersembunyi dibalik batu memaki dengan gusarnya. Pada air muka kakek tua berjubah hitam itu segera terlintas suatu senyuman kaget tetapi sebentar kemudian sudah berubah kembali dengan amat dinginnya.
"Ada urusan apa dengan dia?"
Tanyanya dingin.
Dia agaknya mau mengaku, tetapi juga tidak mengetahui hal ini membuat lain orang tetap menduga duga.
Dia sudah menghancurkan papan nama Sam Yuan Koan kami memukul rubu pintu loteng kami bahkan sudah melukai berpuluh puluh orang anak murid kami.
hutang ini sekarang juga aku mau menagihnya dari tanganmu.
"Oooh, ada urusan seperti ini? haa.... haa.... bagus.... bagus sekali, kalau dia adalah anak murid loohu, biarlah seluruh hutangnya aku tanggung"
Dari pada ucapannya si kakek tua itu jelas sekali menunjukkan kalau dia merasa kegirangan Suara yang hampir mendekati tidak berperasaan sedikitpun ini seketika itu juga memancing kegaduhan diantara para jago yang hadir disana, bahkan ada pula yang tak tahan mulai memaki dengan kata-kata kotor.
Lama kelamaan kakek tua berjubah hitam itu dibuat gusar juga mendengar suara teriakan serta makian yang semakin lama semakin tidak genah, dari sepasang matanya memancarkan sinar yang amat tajam sekali dengan dinginnya dia menyapu sekejap ke arah para jago yang hadir disana.
Seketika itu juga suasana menjadi sunyi kembali.
Tan Kia-beng yang melihat hal itu diam-diam merasa geli juga.
Ciangbundjin dari Tiam-cong-pay, si It Cie Hwee Hiap anak Pendekar Satu Jari Ko Cian Djin yang selama ini selalu tidak akur dengan Heng-san It-hok mendadak maju dua langkah ke depan, teriaknya keras Ini hari tujuh partai besar pada berkumpul di atas gunung Thay-san bukannya khusus untuk membereskan dendam sakit hati diantara pribadi masing-masing melainkan tempat berkumpulnya para jago untuk membereskan urusan yang besar, apalagi merebut pedang pusaka orang lain, melukai nyawa orang bukanlah perbuatan dari seorang pendekar sejati bukan sifat dari anak murid suatu partai besar.
Peristiwa Heng-san It-hok hendak merebut pedang pusaka milik Tan Kia-beng dan memukulnya jatuh ke dalam jurang sudah tersebar luas ke dalam Bulim kini si Pendekar Satu Jari mengungkat kembali peristiwa itu membuat siong Hok Tootiang tak terasa lagi dibuat kemalu maluan, air mukanya berubah merah padam.
Tiba-tiba....
Sesosok bayangan manusia berkelebat tampak orang itu dengan amat dinginnya menuding Ko Cian Djien sambil berteriak.
"Apakah ciangbundjien kau mempunyai maksud untuk mengeloni bangsat cilik itu?"
Si Pendekar Satu Jari yang melihat Heng-san It-hok dengan amat gusar menerjang tubuhnya, tidak terasa lagi sudah tertawa terbahak-bahak.
"Sampai waktunya tentu ada orang yang sengaja mencari satori dengan dirimu, buat apa loohu turun tangan sendiri?"
Leng Hong Tootian dari Bu-tong-pay yang melihat mereka berdua sudah pada gusar dengan cepat maju melerai.
"Musuh tangguh ada di depan mata, harap kalian berdua untuk sementara waktu jangan ribut sendiri!"
Heng-san It-hok tetap diumbar hawa amarahnya, dia tertawa dingin tak hentinya.
Pada saat itulah tampak bayangan manusia berkelebat kakek tua berjubah hitam itu bagaikan sekuntum mega yang turun dari langit mendadak menerjang ke arah Heng-san It-hok, serangannya dilancarkan amat cepat angin pukulannya pun amat dahsyat sehingga tampaklah segulung angin yang disertai dengan debu menyambar ke arahnya.
Heng-san It-hok yang segara tiba-tiba mendapatkan serangan segera berteriak keras, tubuhnya bagaikan gangsing berputar sedang sepasang telapak tangannya berputar berturut turut melancarkan delapan kali serangan gencar.
Segulung angin topan dengan amat cepatnya menggulung ke depan, Orang-orang yang hadir di tengah kalangan cuma yang melihat adanya dua sosok bayangan hitam yang bagaikan kilat cepatnya saling berputar dan semakin lama semakin cepat.
Mendadak terdengar suara dengusan yang amat berat tubuh Heng-san It-hok dengan terhuyung huyung terlepas dari kalangan kemudian sempoyongan mundur beberapa langkah ke belakang tak kuasa lagi tubuhnya rubuh ke atas tanah dengan amat kerasnya.
Siong Hok Tootiang menjadi amat terperanjat tubuhnya dengan cepat maju ke depan membimbing dia bangun.
"Suheng... suheng!"
Teriaknya gemetar.
"Kau kau.... kau kenapa....?"
"Aaa.... aaku.... aku tidak sanggup tidak sanggup lagi aku sudah terkena, pukulan.... pukulan api beracun."
Kakinya diluruskan ke depan.
semikianlah jagoan yang sudah mempunyai nama terkenal di dalam Bulim hanya dikarenakan tertarik oleh sebilah pedang pusaka harus menemui ajalnya ditangan kakek tua berjubah hitam itu.
Siong Pok Tootiang menjadi amat gusar sekali, tubuhnya gemetar dengan amat keras teriaknya dengan sedih.
"Sukma suheng tidak jauh dari sini malam ini juga siauwte bersumpah akan membalaskan dendam sakit hatimu."
Mendadak tubuhnya meloncat bangun, pedangnya dengan cepat dicabut keluar dari sarungnya, dengan disertai suara pekikan nyaring yang menggetarkan hati sepasang matanya memancarkan sinar tajam.
"Bajingan iblis!"
Bentaknya keras.
"aku adu jiwa dengan kau....!"
Di tengah suara dengungan pedang uang amat nyaring pedang panjangnya tergetar amat keras dengan membentuk bunga bunga pedang yang amat bagus pedangnya dengan sejajar dada dengan perlahan mulai mendesak maju ke depan.
Setelah berhasil membinasakan Heng-san It-hok, si kakek tua berjubah hitam itu dengan wajah beku dingin tetap berdiri tegak disana terhadap seluruh gerak gerik dari siong Hok Tootiang dia tidak mau perduli Sejak kematian Heng-san It-hok suasana di tengah kalangan seketika itu juga berubah menjadi sunyi suasana yang menyeramkan segera meliputi tempat itu membuat setiap jago merasakan napasnya amat sesak.
Ci Si Thaysu dengan perlahan memuji keagungan Buddha, cepat tubuhnya bertindak maju mencegah Siong Hok Tootiang ujarnya.
"Tootiang harap sedikit bersabar...."
Diikuti pula Lo Hu Cu dari Go-bie pay, Kuang Hoat Tootiang dari Kun-lun-pay, Hu Cing Thaysu dari Ngo Thay-san pada merubung maju ke depan dan mengadakan perundingan dengan suara perlahan.
Tan Kia-beng yang ada di tempat agak jauh dari mereka ternyata tidak berhasil mengetahui apa yang mereka bicarakan.
Terdengar kakek tua berjubah hitam itu memperdengarkan suara tertawa dinginnya yang amat menyeramkan ujarnya.
"Hee.... hee.... tidak perlu dirundingkan lagi, ayoh pada maju bersama-sama bukankah hal itu lebih bagus lagi?"
Dikarenakan pihak musuh amat tangguh sekali tidak perduli siapa saja yang maju ke depan semuanya merasa tidak punya pegangan yang kuat untuk merebut kemenangan, jikalau mereka diharuskan bekerja sama hal ini sudah tentu akan membuat mereka kehilangan muka Ciangbunjin dari tujuh partai besar harus bekerja sama untuk menyerang seorang kakek tua bukankah hal ini akan dibuat bahan tertawaan Bulim?
Dengan diungkpanya rahasia ini oleh si kakek tua berjubah hitam itu masing-masing segera tergerak Loo Hu Cu dari Go-bie pay mendadak mengerutkan alisnya.
dengan pandangan aneh dia bergetar "Saudara begitu berani menantang pinto sekalian, untuk melawan secara bersama-sama baiklah kau jangan salahkan lagi kalau kami akan merebut kemenangan dengan mengandalkan jumlah banyak Bagaimanapun juga dia baru saja mengatakan sesuatu pekerjaan yang tidak terlalu hormat, selesai berkata wajahnya segera berubah menjadi merah padam.
Si kakek tua berjubah hitam itu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haa.... kalian tidak usah berpura pura lagi, sejak tadi lo hu sudah tahu kalau kalian kepingin berbuat demikian, cuma saja untuk melindungi sedikit muka bau kalian kamu semua tidak enak untuk mengucapkannya keluar Perkataan yang memecahkan rahasia hati mereka membuat wajah Lo Hu Cu segera berubah menjadi merah padam. Sekonyong konyong.... Di tengah gerombolan para jago terdengar seseorang berteriak. Malam ini mau membasmi kaum iblis dari muka bumi kita harus bekerja sama untuk membinasakan dirinya, harap Ciangbunjin sekalian memegang pucuk pimpinan ini. Baru saja suara teriakan itu berhenti terasalah sambaran angin yang amat ringan. Ketujuh orang ciangbunjin dari tujuh partai besar sudah pada menyebarkan diri masing-masing mengambil posisinya sendiri sendiri untuk kemudian bersama-sama mengepung kakek tua berjubah hitam itu di tengah kalangan. Empat ciangbunjin menggunakan pedang panjang dua orang pendeta dengan merangkap tangannya di depan dada berdiam diri tidak bercakap, sedangkan itu si Pendekar Satu Jari Ke Cian Djien berdiri di tengah-tengah kalangan seorang diri. Air muka kakek tua berjubah hitam itu semakin lama perubahan semakin tenang setiap gerakan dari ciangbunjin dari tujuh partai itu membuat wajahnya semakin bertambah serius. tangannya mendadak diangkat membentuk gerakan busur kemudian dengan perlahan dilintangkan di depan dadanya. Tan Kia-beng yang diam-diam mencuri lihat saat itu benar merasa sangat terperanjat sekali teriaknya.
"Aah bukankah jurus itu merupakan jurus pembukaan dari perguruan Teh-leng-bun kami? apa mungkin dia adalah...."
Pada saat itulah ujung baju kakek tua berjubah hitam itu sudah dikebut ke depan dengan disertai gulungan angin yang menotok wajah si Pendekar Satu Jari bersamaan wakutnya pula tubuhnya berputar tangan di dalam sekejap saja sudah melancarkan tujuh buah serangan yang masing-masing menyerang ke arah Ci Si Thaysu serta Po Cing Thanysu kemudian menyerang pula Leng Hong Tootiang, Lo Hu Cu, Kuang Hoat Tootiang serta Siong Hok Tootiang, gerakannya amat cepat sekali, hanya terlihat segulung asap hitam yang berkelebat dia sudah berputar satu lingkaran dalam kalangan tersebut.
Ketujuh orang yang ada di dalam kalanan itu semuanya sudah memperoleh serangan yang dilancarkan amat gencar sekali.
Tan Kia-beng yang melihat kejadian itu tak terasa lagi semangatnya menjadi berkobar, diam-diam pikirnya.
"Itulah baru kepandaian silat yang benar-benar ilmu silat yang lihay."
Terdengar Ci Si Thaysu memuji keagungan Budha, ujung jubahnya berkibar tertiup angin mendadak dia menggunakan telapaknya membabat ke depan melancarkan serangan dahsyat ketenangannya melebihi gadis perawan kelincahannya mirip kijang melompat, bersamaan itu pula keenam orang ciangbunjin sudah mulai bergerak melancarkan serangan.
Seketika itu juga hawa pedang memenuhi seluruh angkasa suara desiran angin serangan yang tajam disertai suara angin pukulan laksana menggulungnya ombak di tengah lautan membuat suasana disekitar tempat itu menjadi amat tegang sunyi dan penuh diliputi oleh hawa membunuh yang tebal.
Ketujuh orang ciangbunjin dari tujuh partai besar ini begitu mulai melancarkan serangannya segeralah angin pukulan yang mendebarkan hati menggulung terus tak henti hentinya ke depan membuat orang yang menonton menjadi amat terperanjat sekali.
Di dalam sekejap mata seluruh tubuh kakek tua berjubah hitam itu sudah terkurung di dalam hawa pedang serta angin pukulan yang selapis demi selapis.
Terdengar suara suitan aneh yang mengerikan dan membuat bulu roma pada berdiri, dari tengah kalangan mendadak meloncat keluar sesosok bayangan hitam yang dari atas melayang turun ke bawah, di dalam sekejap saja bagaikan bayangan setan orang itu berputar dengan amat cepatnya, seketika itu juga dari tengah kalangan tak henti hentinya terdengar suara letusan yang amat keras sekali.
Pertempuran yang amat mengejutkan dan mendebarkan hati ini berlangsung semakin lama semakin sengit dan merupakan yang belum pernah terjadi selama ratusan tahun ini angin pukulan memancar empat penjuru hawa pedang meliputi seluruh udara membuat para jago yang menonton jalannya pertempuran itu masing-masing terdesak mundur ke belakang.
Sekalipun begitu dari empat penjuru sedikit tidak terdengar suara berisik masing-masing pada menahan napas tangannya dikepal kencang matanya melotot keluar mulut melongo mereka memperhatikan terus perubahan yang terjadi di tengah kalangan Tan Kia-beng yang bersembunyi merasakan hatinya amat tegang, disamping dia memperhatikan jurus jurus serangan yang digunakan kakek tua berjubah hitam itu dia terus menerus berpikir keras bagaimana caranya bisa memecahkan jurus jurus serangan yang digunakan oleh ketujuh orang ciangbunjin dari tujuh partai besar itu atau dengan perkataan lain juga dia sendiri yang terkurung di dalam kalangan itu.
Sejak dia mendapatkan kitab pusaka "Teh Leng Cin Keng sampai saat ini sudah ada setengah tahun lamanya.
walaupun dia sudah menghapalkan seluruh isi kitab hingga hapal betul-betul tapi bagaimanapun juga masih tetap merupakan barang mati, dia belum pernah mencobanya sehingga banyak gerakan yang sempurna dan lihay dia belum memahaminya.
Setelah saat ini dilihatnya jurus jurus serangan yang digunakan kakek tua berjubah hitam itu membuat dia memperoleh banyak kemajuan serangan yang semula tidak mengerti kini banyak yang sudah dipahami, sehingga tak terasa lagi semakin melihat dia semakin tertarik.
Saat ini gerakan dari orang-orang yang ada dikalangan semakin lama semakin perlahan tetapi suasanapun semakin lama semakin tegang.
Sikap kakek tua berbaju hitam itu tidak sedingin dan setenang tadi wajahnya yang dingin kaku kini penuh diliputi oleh ketegangan, rambut serta jenggotnya pada berdiri sedangkan dadanya naik turun tak menentu, jelas dia sudah mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan serangan gencar dari pihak musuh Ketika melihat ke arah ketujuh orang ciangbunjin dari tujuh partai besar keadaannyapun tak seberapa baik, wajah Ci Si Thaysu yang semula merah kini sudah berubah menghijau, keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh bajunya.
Pada jubah keempat orang toosu itupun sudah kelihatan banyak lubang serta sobekan yang tak keruan, sebaliknya dari kepala si Pendekar Satu Jari dengan tak hentinya mengepul keluar kabut putih.
Tetapi orang itu sama sekali tidak berani berlaku gegabah, masing-masing orang dengan mengambil arahnya sendiri mulai mendesak ke arah kakek tua berjubah hitam itu Braak....
bluumm pasir dan batu kerikil pada melayang memenuhi angkasa masing-masing pihak kini sudah mulai melancarkan serangan yang menentukan mati hidup mereka.
Tan Kia-beng yang bersembunyi dibelakang batu sekarang dapat melihat ketujuh orang ciangbunjin itu bagaikan tujuh ekor anjing pemburu dengan rapatnya sedang menguurng seekor binatang buas yang melancar perkataan dengan sekuat tenaga membuat hatinya merasa tidak senang dia merasa pertandingan ini tak adil, makinya diam-diam Cara bertempur mengerubut ini mana bisa dikatakan sebagai suatu pertandingan ilmu silat, sungguh tidak tahu malu Mendadak suatu ingatan berkelebat di dalam benaknya, dia mendengus dengus dengan amat dinginnya, pikirnya dalam hati.
"Orang ini menggunakan ilmu silat Teh-leng-bun kami sudah tentu diapun merupakan orang dari Teh Leng Kauw. Hmmm.... orang-orang Teh Leng Kauw tidak dapat diganggu orang lain seenaknya, aku harus maju untuk membantu dirinya."
Berpikir sampai disitu tubuhnya dengan cepat melayang ke depan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya dengan cepat tubuhnya meluncur ke depan.
Pada saat itu pula si Pendekar Satu Jari sedang melancarkan satu serangan ke depan sedang pedang dari Leng Hong Tootiang serta Siong Hok Tootiang dengan disertai desiran pedang yang amat tajam menggulung ke arah kakek tua berbaju hitam itu.
Begitu tubuh Tan Kia-beng mencapai atas tanah segera bentaknya dengan keras.
"Tahan"
Dengan menggunakan jurus Jiet Tiang Thian dia memukul mundur si Pendekar Satu Jari, kemudian tangannya dibalik dengan disertai angin pukulan yang amat kuat dia mengetuk urat nadi dari Leng Hong Tootiang tubuhnya dengan cepat berputar ujung kakinya menutul permukaan tanah lalu dengan amat tepat sekali dia menggetar pergi pedang dari Siong Hok Tootiang.
Gerakannya amat cepat sekali, jurus yang dilancarkan dikerahkan keluar bagaikan kilat, hanya di dalam sekejap saja dia sudah melancarkan tiga jurus yang di dalam waktu yang hampir bersamaan berhasil memukul tujuh orang ciangbunjin dari tujuh partai besar membuat mereka dengan perasaan terperanjat pada mengundurkan dirinya.
Menanti setelah mereka menemukan kalau orang yang baru saja datang bukan lain adalah seorang pemuda yang kelihatannya lemah mereka baru pada melengak.
Ci Si Thaysu serta Siong Hok Tootiang yang mengenal dia segera dibuat tertegun kemudian dengan perlahan memuji keagungan Budha.
Tan Kia-beng yang berhasil menggetarkan seluruh jago dengan mengandalkan jurus Jiet Ceng Tiong Thian segera tertawa keras dengan amat seramnya.
"Haaa.... haa.... aku mau menyiarkan berita malam ini keseluruh dunia kangouw, kiranya tujuh orang ciang bunjin dari tujuh partai besar tidak lebih cuma manusia manusia rendah yang mengandalkan jumlah banyak."
Semprotan yang amat tajam ini seketika itu juga membuat air muka ketujuh orang ciangbunjin terasa menjadi panas rasanya Kuang Hut Tootiang dari Kun-lun-pay segera maju ke depan, bentaknya.
"Perkataan itu adalah hasil ucapan dari si cu sendiri, pinto sekalian tidak bisa berbuat apa apa."
"Haa.... haa bagus bagus...."
Sekali lagi Tan Kia-beng tertawa tawa terbahak-bahak.
"Aku mau menyuruh kalian maju satu demi satu jikalau aku tidak bisa mengalahkan kalian di dalam sepuluh jurus haa.... haa kalian boleh anggap aku yang kalah."
Perkataan yang amat sombong ini diucapkan seenaknya saja membuat para hadirin menjadi gempar cukup orang Ciangbunjin saja munculkan dirinya sudah lebih dari cukup untuk menggentarkan seluruh dunia kangouw bagaimana dia berani menantang mereka bahkan menentukan batas jurusnya bukankah perkataannya terlalu ngibul?
Tetapi ketujuh orang cianbunjien dari tujuh partai besar sama sekali tidak merasakan kalau perkataannya itu berlebihan, karena munculnya pemuda ini terlalu aneh dan mendadak sekali, bahkan sikapnya agak menyeramkan cukup dilihat dari beberapa jurus serangannya tadi sudah cukup membuat hati terasa amat terkejut perkataan besar yang baru saja diucapkan itu sudah tentu bukan omong kosong belaka.
Mereka saling berpandang pandangan, tak seorangpun yang membuka mulut memberikan jawabannya.
Urusan ini bukan saja membuat ketujuh orang ciangbunjin itu menjadi terperanjat bahkan sampai kakek tua berjubah hitam itupun merasa terperanjat.
Dia yang sudah menyelami ilmu silat selama hidupnya ini ternyata sama sekali tidak bisa tahu jurus serangan apa yang baru saja digunakan oleh pemuda itu, tetapi dia yang mempunyai sifat sombong dingin dan suka menyendiri tidak menjadi girang karena bantuan dari Tan Kia-beng ini, mendadak dan meloncat maju ke depan sambil bentaknya dengan suara berat.
Ini adalah urusanku biar aku sendiri yang membereskan, baiklah aku akan ikuti perkataan dari Siauw ko barusan ini siapa yang bisa bertahan sebanyak sepuluh jurus dibawah serangan Loohu biarlah anggap aku yang kalah.
Ketujuh orang Ciangbunjin dari tujuh partai besar ini semuanya merupakan jago-jago yang mempunyai nama besar di dalam dunia persilatan, saat ini mereka benar-benar tidak sanggup untuk mempertahankan ketenangannya.
Tampak Pu Cing Thaysu dari Ngo Thay-san mendadak berseru memuji keagungan Buddha kemudian berjalan masuk ke tengah kalangan, ujarnya sambil merangkap tangannya di depan dada.
"Pu Cing menanti petunjuk dari saudara."
"Hmm, bagus sekali lihat serangan."
Ujung jubahnya dikebutkan ke depan, segera terasakan segulung angin pukulan yang amat keras dengan disertai desiran yang amat keras dengan cepatnya meluncur ke depan.
Jurus Han sah Si Im atau memanah pasir memanah bayangan yang amat bagus sekali"
Puji Tan Kia-beng tak tertahan lagi.
Tubuh Pu Cing Thaysu yang gemuk benar dengan cepat berkelebat menghindarkan diri ke samping tampak bayangan telapak tangan berkelebat berturut turut dia melancarkan tiga serangan.
Angin pukulannya yang bagaikan amukan ombak dengan cepat menggulung ke depan tubuhnya mendadak berputar di tengah udara secara kilat kepalannya kirim lagi satu pukulan ke depan Inilah yang dinamakan jurus Lik Han Thian San atau sekuat tenaga menggoyangkan gunung yang merupakan jurus untuk menolong diri dari Ngo Thay pay, kecepatan kehebatan membuat orang lain sama sekali tidak menduga.
Kakek tua berjubah hitam itu tertawa dingin, mendadak dadanya disedot ke dalam sehingga berbentuk busur.
tangannya dengan cepat laksana kilat mencengkeram pergelangan tangan Pu Cing Thaysu.
Perubahan yang secara tiba-tiba ini membuat Pu Cing Thaysu menjadi kaget, dengan cepat dia menarik hawa murninya dari pusar terus mengelilingi seluruh tubuhnya satu kali dengan disertai suara bentakan yang amat keras tangannya ditarik ke belakang "Breeet...."
Tak urung jubahnya terkena cengkeraman juga hingga robek sebagian besar.
Kakek tua berjubah hitam itu tidak mengejar lagi, sinar matanya dengan amat tajam menyapu sekejap ke arah Pu Cing Thaysu kemudian memperdengarkan suara tertawanya yang amat dingin.
Air muka Pu Cing Thaysu segera berubah menjadi merah padam, dengan terburu-buru dia mengundurkan diri.
Tiba-tiba....
sinar pedang yang menyilaukan mata berkelebat, Siong Hok Tootiang dengan wajah gusar berjalan maju ke depan, tanpa mengucapkan kata-kata lagi mendadak pedangnya dengan membentuk sinar pelangi dengan amat cepatnya ditotok ke arah kakek tua berjubah hitam itu Air muka kakek tua berjubah hitam itu segera berubah amat hebat, sekilas hawa membunuh meliputi wajahnya.
"Tunggu dulu; pertempuran kali ini seharusnya adalah giliranku, tiba-tiba terdengar Tan Kia-beng berteriak sambil maju ke depan. Ujung bajunya dengan cepat dikebutkan segulung angin pukulan yang amat dingin serasa menusuk tulang dengan cepat menggetarkan pedang panjang tersebut sehingga terpental balik, bersamaan pula lima jarinya disentil ke depan segera terasalah segulung angin yang amat dingin dengan amat cepatnya menghajar dadanya. Kehebatan dari tenaga dalamnya serta ketepatan dari jurus serangannya sedikitpun tidak berada dibawah kakek tua berjubah hitam itu. Siong Hok Tootiang yang terus menerus mengincar diri kakek tua berjubah hitam itu sama sekali tidak menyangka Tan Kia-beng bisa melancarkan serangan mengancam dirinya, di dalam keadaan yang amat gugup pedangnya digetarkan sehingga tampaklah bayangan pedang yang amat tebal meliputi seluruh tubuhnya. kakinya dengan cepat menutul permukaan tanah meloncat mundur sejauh tiga depa. Tan Kia-beng tertawa panjang, bagaikan bayangan saja dia mengikuti terus di belakang tubuhnya. Telapak kirinya dengan sangat cepatnya dibabat ke depan sedang tangan kanannya diulur ke depan mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan Siong Hok Tootiang. Gerakannya kali ini jauh lebih cepat dan lebih ganas dari gerakan kakek tua berjubah hitam tadi. Siong Hok Tootiang tadi menjadi sangat terperanjat, dia tertawa dingin dan telapak tangannya dengan cepat melancarkan satu serangan dahsyat ke depan sedangkan kakinya bagaikan berputarnya roda kereta berturut turut melancarkan tiga buah tendangan kilat menyapu kaki lawan. Dengan mengambil kesempatan itulah Tan Kia-beng mendadak melepaskan tangannya, kedua buah jarinya dengan cepat digapit kemudian ditarik ke belakang Breet, Sebagian besar dari jubah toosunya sudah terobek oleh tarikan tadi. badannya dengan amat cepat dan ringannya sudah melayang turun kembali ke samping tubuh kakek tua berjubah hitam itu. Gerakan jurus yang baru saja digunakan olehnya ternyata sama dengan apa yang digunakan kakek tua berjubah hitam tadi. Para jago yang sejak semula sudah menganggap Tan Kia-beng sebagai anak muridnya si kakek tua yang berjubah hitam itu tidak begitu merasakan keheranan, sebaliknya kakek tua berjubah hitam itu benar merasa sangat terperanjat, mendadak tubuhnya meloncat ke depan menerjang ke hadapan Tan Kia-beng, bentaknya keras.
"Kepandaian silatmu itu kau pelajari dari mana?"
"Baru saja belajar dari kau."
"Omong kosong!"
Kakek tua berjubah hitam itu menjadi mendongkol, sepasang matanya melotot lebar sehingga memancarkan sinar kehijau hijauan yang menyilaukan mata dia mendengus dengan amat dinginnya.
"Aku mau lihat kau hendak berterus terang tidak!"
Tangannya dipentangkan lebar kemudian menubruk ke depan, kecepatannya laksana berkelebatnya sinar kilat di tengah udara, berturut turut dia melancarkan dua puluh tiga serangan gencar sekaligus.
Seketika itu juga terasalah angin dingin yang amat santar bergolak memenuhi seluruh angkasa sehingga membuat pasir dan batu kerikil pada beterbangan, kehebatannya sungguh luar biasa sekali.
Tan Kia-beng yang sudah memperoleh ilmu silat peninggalan dari Han Tan Loojien bukan saja sudah memahami seluruh isi dari kitab pusaka Teh Leng Cin Keng bahkan memahami juga ilmu silat dari seluruh partai yang ada diseluruh Bulim baik itu ilmu pukulan, ilmu telapak maupun ilmu pedang.
Karena kepingin mempermainkan dirinya dia segera mengerahkan tenaga dalamnya dan menyalurkan keseluruh telapak tangannya untuk menyambut datangnya serangan tersebut, sebentar dia menggunakan ilmu telapak Bian Ciang dari Bu-tong-pay sebentar lagi menggunakan ilmu tendangan Tau Tui dari Ngo Thay Pay ilmu telapak dari Khung tong pay semuanya tersebut sebagai jurus sakti yang amat dahsyat sekali.
Kakek tua berjubah hitam itu sudah melancarkan tiga puluh jurus banyaknya masih belum berhasil juga mendesak dia untuk menggunakan ilmu perguruan yang sebenarnya dalam hati semakin lama terasa semakin bergidik.
Para jago yang hadir di tengah kalangan sewaktu melihat si Iblis Tua dan siiblis kecil saling bertempur sendiri dalam hati merasa amat girang sekali tetapi ketika mereka melihat ilmu silat yang digunakan oleh Tan Kia-beng semuanya merupakan jurus sakti dari partai mereka yang tidak pernah dilancarkan kepada orang lain hati mereka sangat keheranan bagaimana pemuda itu bisa menggunakan jurus tersebut.
Bahkan setiap jurus yang dilancarkan olehnya jauh lebih dahsyat, jauh lebih sempurna dari dirinya sendiri terhadap asal usul dari pemuda ini tak terasa lagi mereka merasa semakin bingung semakin curiga....
sungguh amat misterius.
Tan Kia-beng yang saling bergebrak dengan kakek tua berjubah hitam itu ketika mencapai jurus yang keempat puluh mendadak dia meloncat mundur ke belakang Sudah cukup.
Teriaknya keras.
Kini musuh tangguh ada di depan mata kita orang harus sedikit tinggalkan tenaga buat melawan mereka, asal usulku cepat atau lambat kau bakal tahu Sepasang mata kakek tua berjubah hitam itu bagaikan kilat tajamnya dengan gemas melototi dirinya sekejap kemudian mendengus dingin.
Tubuhnya dengan cepat berputar menghadap ke arah tujuh orang ciangbundjin dari tujuh partai besar itu.
bentaknya keras.
"Masih ada orang yang mau maju? kalau terlambat maaf loohu tidak akan melayani lagi"
Pada saat itulah mendadak dari belakang tumpukan batu cadas dimana Tan Kia-beng bersembunyi tadi berkelebat keluar beberapa sosok bayangan manusia yang secara diamdiam mencampurkan diri ke tengah para jago.
"Hey kawan jawan!"
Teriak mereka dengan keras.
"Jikalau kedua orang iblis ini tidak dibasmi hancur maka di dalam dunia kangouw tidak akan mendapat ketenangan untuk selamanya. mari kita sama-sama bergerak maju untuk menghancurkan mereka menghadapi bajingan bajingan semacam itu kita tidak usah memakai aturan lagi ayoh serbu."
Segera terdengarlah suara jeritan dan teriakan yang amat keras sehingga menggetarkan seluruh puncak gunung itu, hati para jago itu yang semula memangnya sudah panas kini dibakar lagi dengan kata-kata tersebut seketika itu juga membantu mereka benar amat marah sakali.
Diantara para jago yang hadir disana ada sebagian besar merupakan kaum iblis dari kalangan Hek-to dari kalangan Liok Iim ada pula dari orang kalangan lurus, selama sepuluh tahun ini orang yang terluka dan terbinasa dibawah tangan kakek tua berjubah hitam itu ada beratus ratus orang banyaknya, dan sebagian orang yang hadir disini mempunyai hubungan dengan orang-orang tersebut.
Dahulu, mereka yang melihat kehebatan dan kekejaman dari kakek tua berjubah hitam itu pada tidak berani mencari gara gara sendiri, kini melihat jumlah orang yang hadir amat banyak ditambah pula ada ketujuh orang ciangbundjin dari tujuh partai besar hadir disana membuat nyali mereka bertambah besar, kini dibakar pula hatinya oleh orang lain membuat para jago itu segera menjadi gempar dan mulai bergerak maju ke depan.
Di tengah suara bentakan yang amat keras tampak bayangan manusia, berkelebat memenuhi angkasa, kurang lebih ada empat, lima puluh orang banyaknya sudah pada melayang ke depan menubruk ke tengah kalangan pertempuran, sinar mata mereka berkelebat dengan mengundang perasaan dendam yang menyala, tanpa berkedip sedikitpun mereka memperhatikan seluruh gerak gerik dari kakek tua berjubah hitam itu.
Perubahan yang terjadi secara mendadak ini membuat kakek tua berjubah hitam itu diam-diam merasa terperanjat, sedangkan Tan Kia-beng pun diam-diam merasa bergetar hatinya melihat suasana yang amat tegang ini.
Tetapi, mereka berdua yang satu merupakan jago kawakan yang sudah mempunyai pengalaman amat luas di dalam Bulim sedang yang lain merupakan anak harimau uyang baru turun gunung, walaupun para jago sudah mengepung rapat rapat seluruh kalangan mereka tetap dengan amat tenang memandang ke arah mereka.
pada air mukanya sedikitpun tidak terjadi perubahan, agaknya mereka sama sekali tidak tergetar oleh suasana yang amat tegang ini.
Mendadak kakek tua berbaju hitam itu tertawa dingin tak henti hentinya.
"Bagus, bagus.... semua dendam sakit hati kalian boleh dibereskan malam ini juga. jikalau kalian punya nyali ayoh pada maju semua!"
Walaupun para jago dengan mengandung hawa amarah yang berkobar kobar pada menerjang maju ke depan tetapi mereka tetap menganggap ketujuh orang ciangbundjin dari tujuh partai besar merupakan pemimpin mereka, jikalau dari pihak ketujuh orang cianbundjin dari tujuh partai besar itu tidak mengadakan gerakan apa apa merekapun untuk sementara tidak akan mengadakan gerakan apapun.
Ketika kakek tua berjubah hitam itu melihat lama sekali para jago tetap tidak mengadakan gerakan apapun sinar matanya yang amat tajam segera menyapu sekejap keempat penjuru, serunya dengan suara yang amat berat.
"Loohu selamanya mundar mandir seorang diri, jikalau kalian punya nyali cari saja dengan aku si Hu Hong untuk bereskan semua dendam sakit hati kalian, sedangkan mengenaik siauw ko ini aku sama sekali tidak mengenalnya, dia juga bukan anak muridku, lebih baik kalian melakukan tindakan sedikit dengan memakai otak kalian"
Karena wayangnya terhadap bakat dan sifat Tan Kia-beng kakek tua berjubah hitam itu tidak mau berbicara sembarangan sehingga mengikut sertakan dia di dalam persoalan ini, karena itu sebelumnya terjadi pertempuran dia sudah berbicara untuk memberi keterangan.
Siapa sangka Tan Kia-beng mempunyai cara berpikir yang berbeda dengan apa yang dipikirkan di dalam benaknya, dia sekarang sudah menjabat sebagai Teh Kauwcu mana dia mau membiarkan anggota perkumpulannya mendapat hinaan dari orang lain?
walaupun mereka itu mendapatkan kesalahan terletak pada diri kakek tua berjubah hitam itu tetapi pertempuran semacam ini dia rasa sangat tidak adil cara bertempur secara mengerubut bukanlah tindakah seorang enghiong hoohu.
Segera dia mendengarkan suara tertawa kerasnya yang amat menyeramkan.
"Heee.... jikalau malam ini ada orang yang mau menantang dia orang tua dengan satu lawan satu, sekalipun dia berhasil dibinasakan, aku tidak akan perduli, cayhe akan menganggap ilmu silatnya sendiri yang tidak sempurna, tetapi bila mana kalian mengandalkan jumlah banyak untuk mencari kemenangan. Hmm; bersiaplah kalian untuk menghadapi tenaga gabungan kami berdua, bersamaan pula pedang pusaka "Kiem Ceng Giok Hun Kiem"
Di tanganku ini akan melakukan pembunuhan secara besar besaran."
Beberapa patah perkataan ini seketika itu juga membuat suasana semakin gaduh.
mereka menjadi gempar.
Bukan saja orang-orang yang merasa dendam terhadap kakek tua itu sekalipun orang yang tidak ikut ikutan kini pada maju ke depan, mereka menaruhmaksud untuk merebut pedang tersebut.
Para jago yang semula cuma ada dua bagian saja yang mengepung kalangan itu kini pada berebut maju ke depan semuanya, jumlah para jago yang munculkan diri tidak kurang dari ratusan orang banyaknya.
Ci Si Thaysu dari Siauw-lim-pay yang melihat tindak tanduk dari para jago itu diam menundukkan kepalanya memuji keagungan Budha.
"Omintohud, pembunuhan besar besaran kali ini entah akan melukai berapa banyak orang lagi? Tetapi bilamana inilah yang dinamakan takdir yaah, apa boleh buat."
Sinar matanya dengan perlahan menyapu ke arah keenam orang ciangbunjin lainnya.
Bagaimana pendapat dari pada Too su?
Leng Hong Tootiang dari Bu-tong-pay segera menggetarkan pedangnya sehingga mengeluarkan dengusan yang amat keras.
"Membasmi kaum iblis merupakan tugas kita, keadaan sudah jadi begini kitapun tidak usah memakai peraturan Bulim lagi"
"Perkataan dari Keng Hong Toosu sedikitpun tidak salah,"
Timbrung Pu Cing Thaysu dari Ngo Thay Pay sambil menghajarkan senjatanya ke atas tanah.
"Mari kita turun tangan bersama-sama"
Demikianlah tujuh ciangbunjin dari tujuh partai besar segera bersama-sama berdiri sejajar kemudian dengan perlahan mendesak ke tengah kalangan.
Malam sekian kelam, angin gunung bertiup menderu membuat hawa disekitar tempat itu terasa amat dingin sekali Suasana di atas puncak gunung Thay-san amat sunyi....
sunyi sekali seperti sebidang tanah perkuburan di tengah malam buta.
Tidak terdengar suara berisik tidak terdengar suara mengkiriknya binatang kecil.
Dibawah sorotan rembulan hanya terlihat sinar pedang dan golok yang melancarkan sinar yang menyilaukan mata.
Cuma terdengar suara mengkerutnya tulang itulah suara dari para jago yang secara diam-diam mulai menyalurkan tenaga dalamnya.
Suatu pertempuran sengit yang bakal menimbulkan bajir darah bakal berlangsung di atas puncak itu.
Suatu pertempuran yang amat sengit dan seru segera akan dimulai suasana yang begitu tenang merupakan pertanda hendak berlangsungnya suatu hujan badai yang amat mengerikan.
Diluar kalangan pertempuran itu pada saat ini terlihatlah empat buah mata yang memancarkan sinar kehijau hijauan sedang memandang ke tengah kalangan, mereka merasa gembira karena rencana busuk yang mereka rencanakan akhirnya berhasil juga.
Tan Kia-beng yang melihat para jago dengan perlahan mulai menggeserkan badannya untuk bergerak maju ke arah mereka saking tegangnya sudah menelan ludah berkali kali dia mencabut pedang Giok Hun Kiam nya kemudian diintangkan di depan dada siap menantikan serangan dari pihak musuh.
Ujung pedangnya berwarna kebiru biruan bagaikan lidah ular menjulur keluar dengan tak henti hentinya, membuat suasana kalangan yang amat sunyi terasa diliputi oleh beberapa lapis nafsu membunuh yang amat hebat.
kakek tua berjubah hitam itu tetap dengan wajah yang tak berubah berdiri disana, perlahan-lahan dia putar badannya dan menempelkan tunggungnya sendiri ke atas punggung Tan Kia-beng.
---0-dewi-0---Pada saat yang genting itulah mendadak dari punggung gunung berkumandang datang dua buah suara suitan yang amat kuat laksana pekikan naga sakti, berat tapi tajam sehingga menambus awan membuat para jago terasa amat kaget sekali.
Baru saja suara suitan itu bergema datang tampaklah bayangan manusia bagaikan kilat cepatlah sudah melayang mendekat.
Tubuh mereka berdua bagaikan daun kering saja dengan amat ringannya tanpa mengeluarkan sedikit suarapun sudah melayang turun ke tengah kalangan pertempuran yang penuh diliputi oleh hafsu pembunuh itu Mereka berdua tidak lain adalah seorang kakek tua berwajah merah dengan seorang Ni kouw tua yang wajahnya berwarna kemerah merahan pula.
Yang paling aneh ketika mereka berdua melayang turun ke tengah kalangan para jago yang ada di sekeliling tempat itu tanpa terasa lagi sudah pada mengundurkan diri satu langkah ke belakang, senjata tajam maupun telapak tangan yang semula sudah diangkat siap-siap melancarkan serangan dengan perlahan diturunkan kembali ke bawah.
Ci Si Thaysu dari Siauw-lim-pay dengan cepat maju ke depan, sambilmerangkap tangannya di depan dada dia memberi hormat, disusul dengan Leng Tootiang sekalian pada maju memberi hormat kepada mereka berdua.
Tan Kia-beng tidak kenal dengan mereka berdua tetapi jika ditinjau dari sikap yang demikian hormatnya dari para jago jelas sekali kalau kedudukan mereka berdua di dalam Bulim sangat tinggi dan amat dihormati sekali.
Dengan perlahan kakek tua berwajah merah itu menyapu sekejap keseluruh kalangan, dia tertawa dingin.
"Hee.... hee suatu tempat penjagalan manusia yang amat mengerikan. Dengan perlahan Ci Si Thaysu tundukkan kepalanya memuji keagungan Budha. dia tetap membungkam dalam seribu bahasa. Sekali lagi kakek tua berwajah merah itu menghela bapas panjang, ujarnya.
"Kelihatannya angin berbau amis sudah bertiup dari empat penjuru, hujan darah bakal menyirami seluruh permukaan bumi. Hey, suatu penjagalan manusia secara besar besaran bakal terjadi dengan amat mengerikan. Hey.... tidak kusangka tujuh orang cianbundjin dari tujuh partai besar yang bertindak sebagai pemimpin Bulim ternyata begitu gegabah dan begitu bodoh untuk menciptakan suatu pembunuhan yang amat mengerikan ini, sungguh membuat orang sedih.... sungguh membuat orang menghela napas...."
Mendengar perkataan itu Ci Si Thaysu menjadi terperanjat.
"Apa maksud dari perkataan loocianpwee ini?"
Tanyanya melengak.
"Orang yang membagi undangan untuk mengadakan pertemuan ini apakah kalian ciangbundjin dari tujuh partai besar?"
Ujar kakek tua itu perlahan.
"Kalau memangnya pertemuan ini merupakan suatu pertemuan puncak para jago di dalam Bulim kenapa kalian mengandalkan jumlah begitu banyak untuk mengerubuti dua orang? coba kalian bayangkan jikalau pertemuan yang mengerikan ini benar terjadi harus ada berapa banyak orang yang menemui ajalnya? menanti setelah kalian masing-masing pihak bertempur sampai lelah, sampai semua tenaga kalian habis pada saat itulah akan datang lagi segerombolan manusia yang khusus menyerang kalian, menjagali kalian, aku mau tanya sampai saat itu kalian hendak memberikan perlawanan dengan apa?"
Dia berhenti sebentar untuk tukar napas, lalu tambahnya.
"Dari tempat ribuan li jauhnya Loociap serta Sin nie datang kemari sebenarnya tidak mengandung maksud yang lain, kami cuma takut para jago-jago lihay yang merupakan orang-orang pilihan dari Bulim harus menemui ajalnya di atas puncak gunung Thay-san hanya di dalam satu malaman sama."
Ci Si Thaysu menjadi sangat terkejut lagi.
"Apa maksud dari perkataan loo cianpwe ini?"
Serunya keras, apakah secara diam-diam ada orang yang sengaja menyusun rencana busuk terhadap kami?
Pada saat itu sepasang mata dari kakek tua berwajah merah yang sipit sedang memperhatikan Tan Kia-beng, terhadap perkataan dari Ci Si Thaysu agaknya sama sekali tidak mendengarnya.
Loo Hu Cu dari Go-bie pay mendadak mengambil keluar undangannya dari dalam saku kemudian dengan perasaan tidak senang dia berjalan ke depan dengan langkah lebar.
"Pertempuran kali ini terang terangan merupakan ajakan dari pemilik kereta maut kepada para jago di dalam Bulim, untuk menjajal ilmu silat bagaimana kau bisa berkata dari pihak tujuh pertailah yang mengadakan perjanjian ini?"
Ni kouw tua yang selama ini berdiam diri disamping tanpa mengucapkan sepatah kata pun mendadak tersenyum, ujarnya.
"Coba Tooyu pikirkan hal ini lebih masak lagi, pemilik kereta maut itu sudah menaruh dendam dengan para jago diseluruh Bulim apakah dia mau mencari gara gara buat dirinya sendiri? dan mencari penyakit dengan mengundang begitu banyak orang untuk khusus mencari balas kepada dirinya? apalagi kini mengundang kalian ketujuh orang ciangbunjin dari tujuh partai besar untuk mengadakan bersama-sama pertemuan ini samakin lama tidak bisa jadi lagi, pendapat dari Loo nie ini Toaya kira bagaimana?"
Wajah Loo Hu Cu segera diliputi oleh perasaan kebingungan.
"Lalu apakah undangan ini bukan dia yang menulis? Lalu siapa yang mengadakan permainan ini?" ---0-dewi-0---JILID. 6
"Maksud dari Pinnie"
Sambung Ni kouw tua itu lagi.
"Jarak waktu dari sekarang sampai pertemuan puncak para jago di atas gunung Huang san sudah tidak jauh lagi bilamana pemilik kereta maut itu hendak menggunakan kesempatan tersebut untuk mengangkat namanya dia bisa menunggu sampai waktu diadakannya pertemuan para jago digunung Huang san dan merebut nama julukan sebagai jagoan nomor wahid di dalam seluruh dunia kangouw. buat apa orang mengadakan pertemuan semacam ini? Disamping itu Pinnie mau mengingatkan kepada Taatiang akan satu urusan tentunya kalian masih ingat dengan Chu Swee Tiang Ching, Tan Cu Liang yang berhasil merebut julukan jagoan nomor wahid di dalam Bulim pada pertemuan puncak di atas gunung Huang san tempo hari bukan?"
"Tan Thay hiap yang sudah berjanji dengan Thiat Bak Thaysu dari Cing Jan pay untuk pergi ke gunung pasir ternyata sejak itu tak ada kabar beritanya lagi."
"Orang lain mungkin sudah melupakan akan hal ini sebaliknya Pinnie serta Liok lim Sin Ci merasakan urusan ini mungkin ada hubungannya dengan...."
Pada saat itulah si kakek berwajah merah sudah memutar tubuhnya menghadap ketujuh orang ciangbunjin dari partai besar, ujarnya dengan keras.
"Urusan malam ini tak perduli disebabkan apapun harap dengan memandang wajah dari sin nie serta loolap kalian semua mau menganggapnya selesai, semua dendam sakit hati kalian sebaiknya kita bicarakan kembali pada pertemuan puncak di atas gunung Huang san dikemudian hari, kita akan mengambil keputusan kembali pada saat itu."
Tan Kia-beng yang selama ini berdiam terus setelah mendengar perkataan itu diam-diam sudah memahami sebagian besar mendadak dari dalam sakunya dia mengambil keluar surat undangan yang diberikan Heng-san It-hok kepadanya tempo hari lalu disusupkan ke tangan si kakek tua berjubah hitam, ujarnya ,"Undangan ini apakah kau yang menyebarkan?"
Kakek tua berjubah hitam itu menyambut surat undangan tersebut dan dilihatnya sebentar, mendadak dengan wajah amat gusar teriaknya.
"Kurang ajar, siapa yang begitu bernyali berani mempermainkan diri loohu? Loo hu Hu Hong mana mungkin adalah pemilik kereta maut itu?"
"Ehmm.... kalau begitu di dalam urusan ini tentu ada hal yang tidak beres"
Seru Tan Kia-beng kemudian sambil mengangguk. Mendadak kakek tua berjubah hitam itu angkat kepalanya tertawa terbahak-bahak dengan seramnya.
"Lo hu yang bertempat tinggal diperkampungan Cui-cu-sian selama puluhan tahun lamanya tidak pernah ikut campur dengan urusan dunia lain, tidak kusangka ternyata ada orang yang tidak mau melepaskan diriku. Hmmm, loohu mau lihat siapakah sebetulnya bajingan yang sudah mengacau urusan ini dari tengah."
Di tengah suara tertawanya yang amat menyeramkan tubuhnya meloncat ke atas kemudian bagaikan segulung asap hitam dengan amat cepatnya melayang dari atas ke para jago, di dalam sekejapnya dia sudah lenyap tak berbekas.
Mendadak dalam hati Tan Kia-beng berkelebat suatu ingatan dengan cepat dia berteriak.
"Hey orang tua tunggu dulu, aku ada perkataan yang hendak kutanyakan kepadamu."
Ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan tanah kemudian dengan sama cepatnya mengejar dari belakang, saat ini kedua buah jalan darah terpentingnya sudah tertembus, tenaga dalamnya pun sudah berhasil mengalir memenuhi seluruh tubuhnya hanya di dalam satu kali loncatan saja dia sudah mencapai pada ketinggian tujuh delapan kaki, tubuhnya dengan cepat berjumpalitan beberapa kali di tengah udara kemudian begaikan elang raksasa dengan cepatnya meluncur ke depan.
Siapa sangka sewaktu sampai di atas puncak bayangan dari kakek tua berjubah hitam itu sudah lenyap tak berbekas, diam-diam dalam hati dia merasa amat kagum sekali atas kehebatan dari ilmu meringankan tubuh yang dimiliki dia orang tua.
Dia yang tidak berhasil menyandak si kakek tua berjubah hitam itu berarti pula tidak dapat membuktikan apa yang sedang dipikirkan di dalam hatinya, dalam hati merasa sedikit kecewa, dia merasa amat heran sekali siapakah sebenarnya si kakek tua serta ni kouw tua itu?
kenapa cuma sepatah dua patah kata dari mereka sudah cukup untuk mencegah suatu pertempuran yang mengerikan?"
Saat ini sang surya dengan perlahan sudah mulai muncul diupuk sebelah Timur membuat pemandangan di atas gunung Thay-san kelihatan amat indah sekali.
terpaksa untuk sementara dia menyampingkan dahulu berbagai persoalan yang mencurigakan hatinya ini, dengan mengikuti rencana semula dia mulai melakukan perjalanannya kembali menuju ke kota.
Dia pingin cepat-cepat menyerahkan pil sakti milik Han Tan Loo djien itu kepada Mo Tan-hong bersamaan pula hendak mengajarkan ilmu lweekang Pek Tiap Sin Kang kepadanya agar dikemudian hari dia berhasil membalas dendam atas kematian orang tuanya.
Sesampainya di kota dia mencari sebuah rumah pernginapan untuk beristirahat Malam harinya dengan perasaan hati penuh kegembiraan dan hati berdebar debar dia berjalan menuju kerumah pamannya Mo Tan-hong semakin mendekat hatinya terasa berdebar semakin keras.
Dia takut Mo Tan-hong sudah dijodohkan dengan orang lain, jika sampai begitu lalu bagaimana baiknya?
jikalau setelah bertemu dengan Mo Tan-hong dia pura pura tidak kenal apa yang harus dia perbuat?
Pil mujarab itu diberikan kepadanya?
atau tidak?
Bangunan rumah dari pembesar negeri ini amat besar dan megah sekali, disamping loteng, gapura kebun, kebun, gunung gunungan dan lain lain bangunan yang indah banyak terdapat juga serambi serambi yang membingungkan.
Tan Kia-beng yang sudah lama berputar putar di dalam bangunan rumah itu masih belum menemukan juga kamar dari Mo Tan-hong dalam hatinya terasa mulai menjadi cemas.
Mendadak....
dari dalam sebuah kebun terlihatlah sebuah kamar kecil yang amat indah sekali, sinar lilin dengan samar-samar memancarkan sinarnya keluar Dengan cepat dia berjalan mendekat, barang-barang yang ada di dalam kamar itu diatur dengan amat indahnya agaknya tempat itu merupakan sebuah kamar wanita tetapi seperti juga kamar buku dari seorang Kongcu.
saat ini ruangan itu kosong melompong tak tampak sesosok manusiapun Sedang dia melamun mendadak terasalah suara hawa pedang yang amat tajam berkumandang masuk ke dalam telinganya, dia menjadi terperanjat pikirnya.
"Apakah di dalam rumah seorang pembesar negeri masih ada orang yang sedang berlatih ilmu pedang?" ---0-dewi-0---Orang yang berlatih silat pendengaran serta pandangan matanya paling tajam. begitu dia berhasil membedakan berasalnya suara pedang itu sepasang tangannya dengan cepat ditekan ke atas permukaan tanah kemudian meloncat naik ke atas wuwungan rumah. Bagaikan sebuah dedaunan dengan amat ringannya dia melayang ke belakang kamar itu terlihatlah di tempat sana merupakan sebuah kebun bunga yang amat luas sekali. ---0-dewi-0---Di atas tanah lapangan tampaklah sesosok bayangan yang kecil ramping sedang berlatih ilmu pedang begitu matanya berhasil melihat potongan tubuhnya dia yang amat ramping menggiurkan itu tiba-tiba hatinya terasa berdebar dengan amat keras sekali hampir hampir dia berteriak Tapi dengan cepat dia berhasil menutup mulutnya sendiri dengan menggunakan tangannya kata yang semula hendak diteriak keluar dengan mentah mentah ditelan kembali ke dalam perutnya. Tampaklah gadis itu dengan memusatkan seluruh perhatiannya sedang berlatih ilmu silat. satu jurus demi satu jurus dengan cepatnya dipentangkan keluar sampai akhirnya tampaklah serentetan sinar keperak perakan melapisi seluruh tubuhnya membuat pandangan menjadi kabur sekali Tan Kia-beng yang mengenal hampir sebagian besar ilmu pedang dari pelbagai partai untuk beberapa saat lamanya dibuat bingung oleh ilmu pedang yang sedang dilatih oleh gadis itu, dia cuma merasakan ilmu pedang gadis ini amat lincah dan gesit mungkin karena tenaga dalamnya yang belum berhasil Saat ini gerakan pedang dari si gadis itu sudah mulai melambat dan akhirnya dia menarik kembali pedangnya. Tangannya yang halus dengan perlahan merapikan rambutnya yang panjang terurai sedang dari ujung bibirnya tersungginglah suatu senyuman manis Mendadak dia menemukan seorang pemuda yang amat kekar sedang berdiri dengan tenangnya dibawah pohon bwee dan memandang ke arahnya sambil tersenyum dia menjadi amat terperanjat.
"Siapa?"
Bentaknya keras.
Pedang panjangnya dengan cepat diputar membentuk suatu lingkaran kemudian digetarkan sehingga menimbulkan bunga bunga pedang yang amat banyak, tetapi sebentar kemudian dia sudah membuang pedangnya ke atas tanah lantas berteriak kegirangan "Ooh....
Beng ko...."
Dengan amat cepatnya dia berlari dan menubruk masuk ke dalam pelukan Tan Kia-beng, sepasang tangannya yang halus putih bagaikan seekor ular dengan cepatnya merangkul leher pihak lawan, sebaliknya sepasang lengan yang kuat dari Tan Kia-beng pun dengan amat kencangnya merangkul pinggangnya yang ramping.
Mereka berdua pada berdiam diri tak mengucapkan sepatah katapun, seluruh rindu dan kasih sayang mereka ditumpahkan ke dalam pelukan yang mesra ini.
mereka saling berpeluk....
hati saling berdetak....
siapapun tidak ingin melepaskan kenikmatan yang amat mendebarkan hati ini.
Lama, lama sekali, gadis berbaju merah itu baru sadar kembali dari impiannya.
"Beng ko,"
Ujarnya perlahan.
"Aku benar-benar rindu padamu, kenapa kau sudah lama tidak datang melihat aku?" ---0-dewi-0---Tidak usah dibicarakan, saudara saudara pembacapun tahu, Beng ko itu bukan lain adalah Tan Kia-beng sedangkan gadis berbaju merah itu tidak bukan adalah Mo Tan-hong. Di dalam sesaat itulah Tan Kia-beng merasakan seluruh dunia ini adalah miliknya dengan hati penuh kasih sayang dia membelai rambut Mo Tan-hong yang panjang dan hitam pekat itu "Heey, akupun amat merindukan dirimu, cuma saja kedudukanmu sebagai putri seorang raja muda membuat aku seorang gelandangan dari Bulim merasa tidak enak untuk bertemu muka dengan dirimu, bagaimana aku bisa bertemu muka dengan dirimu yang tinggal diistana seorang pembesar negeri?"
Tak tertahan lagi Mo Tan-hong tertawa cekikikkan.
"Bukankah sekarang kau bisa sampai disini?"
"Aku, aku terpaksa menempuh bahaya...."
"Kepandaian silatmu agaknya sudah mendapatkan kemajuan yang amat pesat sekali"
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Dari biji matamu yang hitam bulat serta ilmu meringankan tubuhmu yang baru saja kau perlihatkan tadi aku rasa tentu dugaanku ini sedikitpun tidak salah."
"Lalu bagaimana kau sendiri bisa berlatih ilmu silat?"
"Aku? untuk sementara aku tidak akan memberitahukan kepadamu."
Bola mata dari Mo Tan-hong yang indah dan amat jeli itu sedikit berputar kemudian dengan genitnya memperdengarkan suara tertawanya yang amat merdu. Tan Kia-beng pun tertawa tawar.
"Kau tidak mau beritahu kepadaku yaah sudah ini hari aku datang khusus untuk memberikan hadiah kepadamu."
"Hadiah apa?"
Sepasang mata dari Mo Tan-hong berkelebat tak hentinya dengan pandangan terkejut bercampur heran dia memperhatikan terus dirinya.
Tan Kia-beng tidak mau membuang banyak waktu lagi dari dalam sakunya dia mengambil keluar pil mujarab itu dan diberikan kepadanya.
"Pil mujarab ini adalah barang penting kata suhuku,"
Ujarnya.
"dengan perlahan kau makanlah pil ini maka tenaga dalammu akan memperoleh kemajuan seperti latihan selama tiga puluh tahun lamanya"
"Kenapa tidak kau makan sendiri?"
Tan Kia-beng tersenyum, dia gelengkan kepalanya.
"Aku sendiri tidak membutuhkan barang ini."
Sesudah itu dia menempelkan ke samping telinganya, dengan perlahan sepatah demi sepatah mulai memberi pelajaran rahasia belajar ilmu lweekang Pek Tiap Sin Kang kepadanya, menanti sesudah dia berhasil memahami seluruhnya waktu sudah menunjukkan kentongan keempat.
Tan Kia-beng segera meloncat bangun.
"Sekarang aku harus pergi,"
Ujarnya setengah berbisik.
"bilamana pada kemudian ada kesempatan aku akan kembali lagi kesini untuk menjengukmu."
Mereka berdua saling berpegangan tangan dengan eratnya, lama sekali mereka saling berpandangan tapi tak seorangpun yang mengucapkan sepatah katapun.
Akhirnya dengan kuatkan hatinya Tan Kia-beng melepaskan genggaman tangannya dan meloncat melewati tembok pekarangan untuk kembali kerumah penginapan Keinginannya kini sudah terkabul, dengan terburu-buru Tan Kia-beng melanjutkan perjalanannya kembali ke arah Barat, pada pikirannya kini sudah bertambah kembali dengan berbagai persoalan yang meragukan dan mencurigakan hatinya, persoalan persoalan rumit yang membutuhkan jawaban selekasnya.
Pertama, kakek tua berjubah hitam itu apakah benar merupakan anak murid dari Teh Leng Kau cu?
si gadis berbaju putih itu sudah tentu adalah putrinya kenapa setiap tahun pada musim semi dia harus munculkan diri dengan menunggang kereta mautnya?
Kedua siapakah orang yang sudah menghasut orang dari tujuh partai besar serta para jago lainnya untuk bentrok dengan mereka berdua, agaknya orang itu amat misterius sekali bahkan mengandung suatu maksud tertentu yang amat kejam.
Ketiga, menurut surat peninggalan dari Han Tan Loo djien dia diharuskan mendirikan kembali partai Teh-leng-bun, perlukah dia menyiarkan kedudukannya sekarang ini ataukah menanti sesudah bertemu muka dengan suhunya si Bun Li Im Yen Lok Tong untuk mengadakan perundingan dahulu.
---0-dewi-0---Dengan seorang diri dia berpikir, keras, lama sekali dia berpikir tetapi tak sebuah pertanyaan pun yang berhasil dicarikan jawabannya yang memuaskan hati.
Mendadak....
Terdengar suara berputarnya roda kereta dengan cepatnya menerjang datang, menanti sesudah dia sadar kembali dari lamunannya tampaklah debu mengepul dengan amat tebalnya.
Sebuah kereta yang amat mewah dengan amat cepatnya sudah lewat dari samping tubuhnya, secara samar dia bisa melihat orang yang mengemudikan kereta tersebut bukan lain adalah seorang kakek tua berjubah hitam yang wajahnya memakai kerudung.
Tak tertahan lagi dia berteriak.
"Haah.... kereta maut lagi?"
Dengan cepat dia melarikan kudanya mengejar dari belakang, walaupun kuda tunggangannya merupakan seekor kuda tunggangan yang jempolan tetapi jika dibandingkan dengan kereta berkuda itu bukanlah apa apanya.
Tampaklah kereta berkuda itu semakin lama berlari semakin kencang, hanya di dalam sekejap saja sudah lenyap dibalik sebuah tikungan jalan.
Tan Kia-beng menjadi benar-benar mendongkol dengan cepat dia meloncat turun dari atas tunggangannya, dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang amat tinggi dia meluncur ke arah mulut gunung itu.
Ketika dia berhasil mencapai mulut gunung itu bayangan dari kereta maut tersebut sudah lenyap tak berbekas bahkan sampai suara berputarnya roda serta ringkikan kudapun sama sekali tak kedengaran.
Tan Kia-beng benar-benar dibuat keheranan pikirnya.
Apakah kereta itu sudah berhenti dalam gunung ini?
Kalau tidak kenapa tidak terdengar sedikit suarapun?
Sewaktu dia menaiki gunung Thay-san tempo hari pada punggung gunung dia pernah menjumpai seorang kakek tua berjubah hitam yang berkerudung dengan seorang gadis berbaju putih sedang berkelebat menuju ke atas gunung dikarenakan pada waktu itu dia sudah menganggap dia adalah Hu Hong sendiri karenanya tak terlalu mengambil perhatian.
Tetai setelah kejadian itu dia teringat kembali kalau pertemuannya dengan Hu Hong selama dua tiga kali sama sekali tak pernah melihat dia oran gmemakai kain kerudung, menanti sesudah dia teringat akan urusan ini dan hendak ditanyakan kepada dia saat itulah Hu Hong sudah pergi dari sana.
Secara tak sengaja ini hari dia bertemu kembali dengan kakek tua berjubah hitam yang berkerudung itu membuat hatinya benar-benar tertarik dia ingin memecahkan teka teki yang penuh diliputi oleh tanda tanya ini.
Gunung tersebut merupakan sebuah gunung yang amat tandus sekali seluruh bukit serta tanah tebing merupakan tanah kuning yang amat kering Dengan mengkuti jalan kecil yang ada di atas gunung itu dengan cepat dia terus mengejar ke atas Semakin lama jalan gunung itu semakin sempit dan akhirnya berubah menjadi sebuah jalan kecil usus kambing yang cukup dilalui oleh seorang saja, jangan dikata kereta, sekalipu kuda tunggangan biasapun tak mudah untuk melewati tempat itu.
Cuaca semakin lama semakin menggelap sedangkan jejak dari kereta maut itu lenyap tak berbekas.
Dia yang mempunyai sifat pantang mundur segera berpikir dalam hati.
"Hmmm, aku tak percaya dia bisa terbang ke atas langit"
Dengan cepat dia mengerahkan ilmu meringankan tubuh dengan menempuh jalan gunung terus naik ke atas tak selang lama sampailah dia di dalam sebuah hutan pohon song yang amat gelap.
Hutan pohon Song ini tidak terlalu lebat tetapi amat luas sekali sekalipun Tan Kia-beng sudah mengadakan pemeriksaan dengan amat teliti tetapi tak terlihat hal hal yang mencurigakan Tan Kia-beng menjadi keheranan, baru saja dia hendak putar badannya meninggalkan tempat itu mendadak tampak bayangan putih berkelebat.
Sekali pandang saja dia sudah dapat melihat kalua orang itu bukan lain adalah sesosok bayangan yang amat ramping sekali.
Pikirannya dengan cepat berputar, dengan cepat ilmu meringankan tubuhnya disalurkan keluar sepasang kakinya bergerak hanya di dalam sekejap saja bagaikan kilat cepatnya dia sudah meluncur mengejar ke arah bayangan putih itu.
Inilah yang dinamakan Poh Poh Cing Im yang merupakan ilmu meringankan tubuh yang amat lihay dari perguruan Teh-leng-bun Walaupun tubuhnya meluncur dengan amat cepatnya ke depan tetapi tubuhnya sama sekali tidak membawa desiran angin yang amat membisingkan telinga Sekalipun gerakannya ini amat cepat dan tanpa menimbulkan suara yang berisikpun tetapi sewaktu dia tiba di tempat mana berkelebatnya bayangan putih tadi, jangan dikata bayangan putih itu sekalipun bekasnyapun tidak kelihatan, hatinya menjadi semakin heran diamdiam makinya; Malam ini aku benar-benar sudah bertemu dengan Setan.
Dia memeriksa kembali keadaan di sekeliling tempat itu dengan amat teliti, tetapi tak tampak gejala yang mencurigakan.
Sekonyong konyong....
Suara jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma bergema datang dari arah sebelah kanan, di dalam keadaan terperanjat sepasang tangannya dengan cepat dipentangkan tubuhnya dengan amat cepatnya melayang udara setinggi lima enam kaki, ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan ranting kemudian dengan amat cepatnya bagaikan anak panah yang terlepas dari busur dia berkelebat menuju ke arah mana berasalnya suara jeritan tadi.
Ketika tubuhnya melayang turun ke atas permukaan tanah terlihatlah empat sosok mayat toosu menggeletak di atas tanah dalam keadaan yang amat menyeramkan sekali.
Dengan perlahan tangannya merabah tubuh mayat tersebut terasalah hawa panas masih meliputi badannya dia segera tahu oran gorang itu belum mati lama, dengan meminjam sinar rembulan yang menerangi sinarnya kepermukaan tanah, dia mengadakan pemeriksaan yang amat teliti pada mayat mayat tersebut.
Terlihatlah pada setiap alis mayat tersebut tergoreslah sebuah belang sebesar jari telunjuk yang berwarna merah darah memanjang sampai pada pipinya.
Melihat hal itu dia menjerit kaget.
"Haa? pukulan api beracun inilah tunggal dari Tah Ling Kauw kami...."
Dengan cepatnya dia teringat kembali dengan si kakek tua berjubah hitam itu, karena menurut dugaannya orang yang ada di dalam Bulim pada saat ini cuma dia seorang saja yang bisa menggunakan ilmu silat dari pihak Teh Ling Bun, tak terasa lagi hawa amarah bergolak di dalam hatinya dengan perasaan amat gusar, makinya.
"Iblis bajingan! sungguh kejam kau ada satu hari jika bertemu kembali dengan kau aku pasti akan mewakili suhu untuk membasmi dirimu dari muka bumi ini."
Dengan penuh kegusaran dia bertindak keluar dari hutan mendadak terdengar suara tersampokannya ujung baju bertiup angin yang bergema dari tempat kejauhan semakin lama semakin mendekat disusul suara langkah manusia yang amat ribut sekali.
Sreet....
sreet....!
tampak dua sosok bayangan hitam dengan amat cepatnya berkelebat lewat.
gerakan tubuh mereka amat cepat sekali hanya di dalam sekejap saja sudah berada sejauh sepuluh kaki lebih.
Tetapi cukup di dalam sekali kelebatan itulah Tan Kia-beng bisa melihat kalau kedua sosok bayangan manusia itu tidak lain adalah seorang hweesio dengan seorang toosu Pada saat yang bersamaan pula tampaklah lima sosok bayangan manusia dengan amat cepatnya menyusul dari belakang gerakan mereka bagaikan anak panah terlepas dari busur dengan amat cepatnya sudah berkelebat ke depan mengejar dua sosok bayangan sebelumnya.
Melihat hal itu diam-diam Tan Kia-beng merasa amat terperanjat pikirnya.
"Apa mungkin malam ini sudah diadakan pertemuan puncak juga di atas gunung yang amat tandus ini? kalau tidak bagaimana sebegitu banyak jago yang pada bermunculan disini."
Tidak usah dipikir lagi para jago berkepandaian tinggi itu sudah tentu sedang mengejar jejak dari kereta itu dengan adanya kejadian ini dia semakin kepingin mengadakan penyelidikan sehingga urusan menjadi jelas kembali.
Sedang dia termenung berpikir keras mendadak terasalah segulung angin yang amat perlahan sekali berkelebat dari belakang tubuhnya bersamaan dengan sambaran angin terasalah segulung angin pukulan yang amat dingin sekali serasa menusuk tulang dengan amat dahsyatnya menekan seluruh tubuhnya.
Saat ini Tan Kia-beng sedang merasa amat gusar sekali, merasa adanya serangan dengan amat keras dia membentak.
sepasang tangannya berkelebat dengan menggunakan hawa pukulan Siam Im Kong Sah Im Lang bagaikan kilat cepatnya dia menyambut dengan serangan angin pukulan berhawa dingin itu.
"Braaak!"
Di tengah suara ledakan yang amat keras daun dan ranting pada berguguran, pasi, batu kerikil melayang memenuhi angkasa hampir boleh dikata pepohonan yang tumbuh di dalam lingkungan satu kaki di sekeliling tempat itu pada tumbang sehingga menimbulkan suara gemuruh yang memekikkan telinga.
Di tengah suara ledakan keras itulah terdengar suara jeritan kaget yang amat keras.
"Iiiihh?...."
Sesosok bayangan putih secara mendadak meloncat keluar dari antara pepohonan kemudian dengan amat cepatnya melayang ke depan, dalam sekejap saja dia sudah menyusup ke dalam hutan.
"Berhenti"
Bentak Tan Kia-beng dengan amat keras.
Satu telapaknya dilintangkan di depan dada sedang yang lain diluruskan ke depan, tubuhnya dengan amat cepatnya ikut menerobos ke dalam hutan tersebut Terasa angin dingin bertiup dengan amat kencangnya membuat suasana amat menyeramkan, di dalam hutan ini tak tampak sesosok bayangan manusiapun, suasana sunyi senyap.
Urusan yang demikian anehnya terjadi berulang kali dihadapan matanya terang tangan melihat adanya bayangan yang berkelebat tetapi sewaktu dikejar tak tampak sesosok manusiapun, jika berganti dengan orang lain mungkin sejak tadi sudah mengundurkan dirinya.
tetapi Tan Kia-beng adalah seorang yang keras kepala, dia sudah ambil putusan untuk menyelidiki urusan ini sampai jelas.
Demikianlah dengan menyalurkan tenaga dalamnya pada telapak tangan dengan perlahan dia mulai mengadakan permeriksaan dengan amat telitinya, dia mulai melakukan pemeriksaan pada hutan yang tak tampak sedikit sinarpun.
Sekeluarnya dari hutan yang lebat itu sampailah dia de sebuah bukit kecil Dibawah bukit itu terlihatlah sebuah tanah lapangan rumput yang amat lebab agaknya sebuah tanah rawa rawa yang penuh ditumbuhi dengan alang alang yang amat lebat.
Tumbuhan alang alang memenuhi seluruh tanah, membuat bayangan hitam menutupi seluruh angkasa, jelas sekali tempat itu merupakan tempat yang berbahaya.
Tiba-tiba....
Bayangan putih itu muncul kembali dari antara tumbuhan alang alang bersamaan dengan munculnya bayangan putih itulah dari bukit seberang terdengar beberapa kali suara teriakan kesakitan yang menyayatkan hati.
Di tengah gunung yang sunyi bayangan iblis berkelebat tak hentinya membuat orang merasakan hatinya bergidik, bulu roma serasa pada berdiri.
Tan Kia-beng dibuat sedikit tertegun, kemudian sambil menggigit kencang bibirnya dia berpikir.
Suara jeritan ngeri yang terdengar barusan ini sudah tentu berasal dari beberapa sosok bayangan manusia yang baru saja berkelebat kini bahaya sudah ada di depan mata kenapa aku tidak pergi memberi pertolongan?
Dengan amat cepatnya dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang paling lihay Poh Poj Cing Im dengan cepatnya menerjang ke bukit seberang, ujung kakinya sedikit menutul permukaan tanah, tubuhnya dengan cepat sudah berkelebat sejauh puluhan kaki hanya di dalam beberapa kali loncatan saja dia sudah berada di dalam tumbuhan alang alang yang amat lebat.
Tiba-tiba dari dalam rawa yang amat lembab itu berkelebat keluar suara dengungan yang amat keras sekali, tampaklah segerombolan binatang binatang kecil dengan amat cepatnya menyerbu keseluruh tubuh dengan amat ganas Di dalam sekejap mata tangannya sudah ada beberapa tempat yang tergigit oleh binatang kecil itu sehingga menimbulkan bintik bintik kecil yang berwarna merah dan amat gatal sekali.
Dia menjadi amat gusar, sepasang telapak tangannya berturut turut melancarkan dua buah serangan dahsyat ke depan.
segera terasalah segulung angin pukulan yang amat dingin sekali bagaikan pecahnya ombak menggulung ke arah depan membuat binatang binatang kecil itu terpukul buyar kesamping.
Saat itulah dia baru bisa melihat jelas binatang binatang kecil yang baru saja menyerbu badannya bukan lain adalah nyamuk nyamuk beracun yang amat berbahaya Sambil melancarkan serangan menghalau pergi nyamuk nyamuk beracun yang mengerubuti badannya semakin banyak lagi, kurang lebih beribu ribu ekor nyamuk bersama-sama menerjang badannya hampir hampir membuat dirinya saking tidak tahannya terjatuh ke dalam sarang nyamuk tersebut Tan Kia-beng menjadi amat terperanjat dia merasakan hatinya sedikit bergidik serangannya semakin lama dilancarkan semakin cepat hanya di dalam sekejap saja kurang lebih dia sudah berhasil membinasakan nyamuk nyamuk itu ratusan ekor banyaknya.
Saat ini bukan saja dia sudah berada di sebuah jalan buntuk bahkan suasana amat gelap sekali sehingga sukar untuk melihat lima jarinya sendiri, hatinya menjadi semakin cemas lagi, pikirnya.
"Heeey sekalipun malam ini aku tak berhasil dibinasakan oleh nyamuk-nyamuk terkutuk ini, mungkin aku bisa modar saking lelahnya."
Dia baru saja menerjunkan diri ke dalam dunia kangouw membuat semua urusan yang ada di dalam Bulim itu belum dia ketahui sama sekali rawa rawa yang terletak dekat dengan telaga Thay Auw ini bukan lain adalah Telaga nyamuk yang sangat terkenal sekali bila mana orang yang tidak tahu diri dan menerjang masuk kesana maka dia boleh dikata sukar untuk meloloskan diri kembali dari kematian.
Tan Kia-beng yang harus mengasih nyamuk sambil mengerahkan tenaga jalannya melancarkan perjalanan, beberapa kali hampir hampir terjatuh ke dalam telaga maut itu, dalam hati semakin lama ia merasa semakin cemas.
Mendadak dalam pikirnya berkelebat satu ingatan pikirnya.
"Kenapa aku tidak menggunakan sepasang mata dari ular raksasa itu segera terasalah segulung sinar merah yang amat dingin dan menyilaukan mata menerangi sekitar tempat itu seluas dua kaki lebih bahkan disertai juga suatu hawa dingin yang membuat seluruh tubuh menjadi gemetar, saking tak tertahan akhirnya Tan Kia-beng bersin beberapa kali."
Peristiwa aneh segera terjadi, begitu mutiara tersebut dikeluarkan nyamuk nyamuk beracun itu pada tersapu pergi dengan amat cepatnya tanah dihadapannya kini menjadi terang kembali membuat Tan Kia-beng menjadi kegirangan, teriaknya.
"Haa.... haah.... kiranya kalian takut dengan hawa dingin."
Dengan cepat tubuhnya berkelebat ke depan tidak selang lama kemudian dia sudah berhasil mencapai pada tepi rawa rawa tersebut.
Dengan cepat dia menyimpan kembali mutiara ularnya dan bergerak maju kembali ke depan.
Tampaklah olehnya kurang lebih seluas ratusan hektar di depannya penuh ditumbuhi dengan pohon bambu yang amat rapat, dengan mengambil arah dimana berasalnya suara jeritan ngeri tadi Tan Kia-beng berkelebat terus ke depan.
Sekonyong konyong dari belakang badannya terdengar suara teriakan keras bagaikan guntur yang membelah bumi.
Ouww untung....
untung sekali, sungguh lihay, kurang sedikit saja nyawaku si hweesio ikut melayang Sreet....
seret!
tiga sosok bayangan manusia dengan amat cepatnya berkelebat keluar dari antara rawa rawa.
Tan Kia-beng menjadi amat terperanjat telapak tangannya dengan cepat dilintangkan di depan dada siap menghadapi segala kemungkinan Tampaklah ketiga sosok bayangan manusia itu bukan lain adalah si pengemis tua si hweesio gemuk serta si toosu kurus yang disebut sebagai Hong Jen San Yu itu.
Ketika memperhatikan lebih teliti lagi hampir hampir dia dibuat tertawa tergelak saking geliya kiranya dengan laga mereka bertiga yang amat aneh dan lucu itu kini berjalan keluar dengan baju yang amat kotor dan terkoyak koyak pada kulit tubuh mereka penuh ditumbuhi bintik bintik merah membengkak kelihatannya amat lucu dan menggelikan pastilah merekapun baru saja keluar dari telaga nyamuk itu Mereka bertiga yang melihat Tan Kia-beng berdiri pun disana menjadi sangat kaget.
"Iii.... iblis cilik kaupun ada disini?"
Seru mereka hampir berbareng Air muka Tan Kia-beng segera berubah amat hebat.
"Kalau berbicara harap sediki memperhatikan sopan santun,"
Serunya dengan mendongkol. Si pengemis tua itu segera tertawa terbahak-bahak.
"Apa kau kira aku si pengemis tua sudah salah memanggil?"
"Bilamana kalian tidak mau menghormati dirimu jangan salahkan aku orang she Tan akan mencari keonaran dengan kalian."
Si hweesio gemuk yang terkenal dengan sifatnya yang kasar dan berangasan mendadak maju ke depan, bentaknya.
"Bagus, biar aku jagal kau dulu kemudian baru mencari yang tua bangka."
Telapak tangannya dengan cepat dibabat ke depan segera terasalah segulung angin pukulan yang amat kuat menggempur ke depan.
Tan Kia-beng segera mendengus dingin tenaga dalam yang sejak tadi sudah dipersiapkan pada tangannya dengan cepat dikirim ke depan.
Brak, blumm!
dengan keras lawan keras dia menerima datangnya serangan tersebut.
Dengan benturan ini masing-masing pihak segera munduk dua langkah ke belakang tetapi dalam hati Tan Kia-beng sudah punya perhitungan dia tahu tenaga pukulannya tak akan mencari keonaran dengan diri kalian.
Si hweesio gemuk yang mengangkat nama di dalam Bulim dengan mengandalkan kekuatan pukulan serta kehebatan dari hawa serangannya ketika melihat pemuda itu sama sekali tidak menemui cidera karena menerima serangan yangmenggunakan tenaga enam tujuh bagian itu tak terasa lagi sudah menjerit kaget.
"Aah....?"
Telapak tangannya menyambar kembali ke depan.
Serangannya kali ini sudah menggunakan tenaga sebanyak delapan bagian.
Tan Kia-beng yang sedang terburu-buru lari masuk kehutan bambu untuk melihat keadaan yang sudah terjadi disana kini mendapatkan serangan dari si hweesio gemuk yang tolol itu dalam hati benar-benar merasa sangat mendongkol, sepasang telapak tangannya diputar kemudian digetarkan dan didorong ke depan dengan sejajar dada.
Segulung angin pukulan yang amat dingin laksana menderunya ombak di tengah samudra dengan amat dahsyatnya menghajar tubuh si hweesio gemuk itu sehingga tubuhnya tak tertahan munduk sempoyongan sebanyak enam tujuh langkah.
Sewaktu melewati telaga nyamuk tadi si hweesio gemuk itu sudah banyak mengorbankan tenaga murninya, kini mendapat pula satu serangan yang begitu dahsyat membuat darah di dalam rongga dadanya bergolak dengan amat keras, darah segar hampir hampir memancar keluar dari mulutnya.
Ketika si toosu dengkil itu melihat si hweesio gemuk menemui kerugian besar dengan amat gusarnya dia membentak keras.
Tubuhnya dengan cepat meloncat ke atas sepasang telapak serta kakinya berturut turut melancarkan tujuh belas serangan dahsyat.
Si toosu yang terkenal di dalam Bulim karena ilmu meringankan tubuhnya yang amat sempurnya membuat serangan yang dilancarkan keluarnya amat cepat sekali laksana bertiupnya angin berlalu.
Tampaklah sesosok bayangan abu abu dengan amat cepatnya berputar kemudian melayang ke atas ke bawah membuat pandangan orang terasa menjadi kabur dibuatnya.
Tan Kia-beng tertawa dingin, kakinya tetap terpantek di atas tanah dengan amat kencangnya, tenang bagaikan sebua gunung tay san, sedangkan telapak tangannya berturut dikebaskan ke depan sehingga menyambarlah segulung angin dingin yang memaksa Toosu kurus itu terdesak mundur satu langkah ke belakang.
Si toosu dengkil menjadi gusar bercampur mendongkol.
teriaknya berulang kali.
"Aku tidak percaya cuma kau iblis cilik pun aku tidak bisa membereskan."
Telapak tangannya dengan cepat melancarkan serangan kembali sebanyak duapuluh satu jurusan, kecepatannya luar biasa membuat angin pukulan menderu deru memenuhi seluruh angkasa.
Dia yang sudah melancarkan serangan dengan menggunakan seluruh tenaga dalam yang dimiliki membuat kekuatan serangan tersebut bertambah hebat.
Tampak bayangan telapak berkelebat memenuhi sekeliling tempat itu, hawa Khie kang dengan cepatnya berputar keseluruh tempat seketika itu juga membuat seluruh tubuh Tan Kia-beng terbungkus di tengah bayangan telapaknya.
Pada saat itulah mendadak dari dalam hutan bambu itu berkumandang datang dua buah jeritan ngeri yang amat mengerikan di tengah malam yang buta ini suara tersebut sangat menusuk telinga dan membuat hati terasa bergidik.
Tan Kia-beng menjadi sangat terperanjat, mendadak dari kedudukan bertahan dia mengubah diri menjadi kedudukan menyerang, berturut turut dia melancarkan tujuh serangan mendesak si toosu dengkil itu mundur terus ke belakang.
Pada saat dia dibuat tertegun itulah mendadak tubuhnya meloncat keluar dari kalangan kemudian bagaikan anak panah cepatnya meluncur ke dalam hutan bambu itu.
Ilmu meringankan tubuh Poh Poh Cing Im merupakan ilmu yang paling sakti, hanya di dalam beberpa kali kelebatan saja dia sudah tiba di pinggir hutan bambu itu.
kemudian tanpa pikir panjang lagi tubuhnya dengan cepat menerobos masuk ke dalam hutan tersebut.
Setelah melewati hutan bambu mendadak pandangannya menjadi terang, sampailah dia di suatu kebun bunga yang penuh ditumbuhi dengan berbagai macam bunga yang aneh aneh, gardu kecil, gunung gunungan sebuah jembatan kecil yang melintang di atas sungai yang mengalirkan air dengan sangat jernihnya, pandangannya di sana sini indah sekali.
Di tengah-tengah kebun itu beridirlah sebuah bangunan kecil mungil yang amat indah sekali sekeliling tempat itu penuh ditumbuhi pohon bambu agaknya tempat itu merupakan tempat tinggal dari seorang cianpwee yang sudah mengasingkan diri.
Saat ini hatinya cuma ada satu tujuan yaitu menolong orang lain, dengan tidak berpikir panjang lagi dia menerjang masuk ke dalam kebun bunga itu dengan jalan meloncat tembok pagar.
Mendadak dia menemukan si hweesio serta si toosu yang ditemuinya sewaktu masih ada dibukit tadi kini sudah menggeletak di atas tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi.
Dengan teliti dia melakukan pemeriksaan pada mereka berdua, kecuali baju serta sepasang kakinya yang amat kotor terkena lumpur seluruh muka dan kulit badannya sudah dipenuhi dengan noda noda merah yang mulai membengkak, pada bagian alis sampai pada pipinya pun terdapat sebuah goretan bekas yang berwarna merah darah.
Dengan keaddaan seperti ini satu kali pandang saja dia sudah tahu mereka tentunya baru saja melewati telaga nyamuk itu dan menerjang masuk ke dalam hutan bambu ini.
Siapa tahu tanpa mereka sadari sudah terkena bokongan orang lain yang menggunakan ilmu pukulan api beracun yang amat dahsyat itu sehingga menemui ajalnya.
Melihat hal itu Tan Kia-beng menjadi sangat gusar sekali, tiba-tiba dia berseru kaget.
"Haaa, kereta maut?"
Disebelah kiri dari halaman kecil itu sedikitpun tidak salah, berdirilah sebuah kereta kuda yang amat megah dan mewah sekali.
pada dinding kiri kanan dari kereta itu tertancaplah dua kuntum bunga mawar yang berwarna merah.
apa yang dilihatnya persis seperti apa yang dilihatnya dahulu.
Kalau keretanya ada disini sudah tentu majikanpun ada di dalam pula, dia tidak ada niat untuk mengadakan pemeriksaan lagi sepasang telapak tangannya dengan cepat disilangkan ke depan dada kemudian menerjang masuk ke dalam rumah yang kecil mungil itu.
Mendadak dia menjerit tertahan dengan amat keras, kiranya di dalam ruangan itupun sudah menggeletak tiga sosok mayat.
Dua sosok mayat dari toosu dan sesosok mayat dari seorang kakek tua berjubah kuning, keadaaan diri mayat itu sangat mirip sekali dengan keadaan dari mayat sehweesio serta toosu yang menggeletak di depan rumah.
Walaupun dia tidak kenal dengan mereka tetapi menurut dugaannya, mereka mereka ini tidak lebih pasti orang dari tujuh partai besar.
Saat ini si pengemis hweesio gemuk serta Toosu dengkil sudah pada datang semua.
"Aduh mak!"
Teriak hweesio gemuk itu.
"begitu masuk ke dalam rumah iblis itu sungguh amat kejam. ayoh cepat kita cari, lalu suruh dia menggelinding keluar dari sini."
Sreet, sreet!
tiga sosok bayangan manusia dengan amat cepatnya menerjang masuk ke dalam ruangan itu, tapi ketika melihat mayat mayat yang menggeletak di atas tanah mereka menjadi tertegun.
Dengan pandangan dingin Tan Kia-beng melirik sekejap ke arah mereka bertiga lalu tanpa berbicara sepatah katapun melanjutkan kembali pemeriksaannya.
Dia merasa walaupun bangungan rumah ini amat kecil tetapi barang-barang yang diatur di dalam ruangan tersebut amat mewah dan teratur sekali, tidak salah lagi mereka tentu dari keluarga kaya.
Tulisan tulisan, lukisan lukisan serta barang-barang kuna yang diatur disana tidak sebuah pun yang bukan barang berharga, pada dua deret disamping ruangan itu terdapatlah rak rak buku yang besar dan kecil, didalamnya tersusun beratus ratus judul kitab kenamaan, sedang di dalam kamar baca yang ada di pinggirnya tergantunglah sebuah lukisan wanita cantik yang tingginya kurang lebih dua depa.
Lukisan itu amat hidup sekali membuat orang yang memandang terasa sangat tertarik wajah dari lukisan perempuan cantik itu rada mirip mirip dengan wajah dari gadis berbaju putih cuma saja usianya sudah lanjut sehingga jelas membuktikan kalau lukisan itu bukanlah lukisan dari wajah gadis berbaju putih itu.
Tan Kia-beng dengan perlahan berjalan masuk keruangan dalam.
dibelakang kamar buku terletaklah sebuah halaman kecil cuma saat ini tidak tampak sesosok bayangan manusiapun.
Dengan meminjam sinar dari rembulan dia mengadakan pemeriksaan kembali ke sekeliling tempat itu, tidak jauh dari sana kembali terlihat sebuah kamar kecil yang agaknya kamar dari seorang perempuan tapi saat ini dalam keadaan kosong pula karena tidak memperoleh hasil apa apa terpaksa dia balik kembali keruangan depan.
Saat itu si pengemis sekalian sedang menanti dirinya diluar ruangan ketika melihat Tan Kia-beng berjalan keluar dengan sinar mata yang penuh keheranan mereka memendang tajam ke arahnya.
Tan Kia-beng tidak ambil gubris, dia melanjutkan langkahnya terus sambil terus tundukkan kepalanya dalam hati pikirnya.
"Karena maut ilmu pukulan api beracun serta lukisan dari perempuan cantik muncul di semua tempat, ini jelas disinilah tempat tinggal dari kakek tua berjubah hitam itu, tapi kenapa tidak tampak orangnya?"
Mendadak di dalam benaknya berkelebat satu ingatan.
"Oooh benar pasti begitu,"
Mendadak dia berteriak keras.
"Tentu Si iblis tua itu merasa banyaknya orang yang mengejar dirinya lalu memancing mereka kesini dan turun tangan membasmi mereka. Hmm, sungguh kejam perbuatannya."
Suara bentakannyayang amat keras ini seketika itu juga membuat ketiga orang yang ada di dalam ruangan itu menjadi amat terperanjat.
Si pengemis tua dengan sinar mata penuh kecurigaan memandang ke arah Tan Kia-beng, mendadak ujarnya.
"Hey bocah cilik sebetulnya kau muridnya iblis tua itu atau bukan?"
"Omong kosong, bukankah sejak tadi aku sudah jelaskan? suhuku adalah Ban Li Im Yen Lok Tong."
"Waah, kali ini benar-benar membuat aku si pengemis menjadi bingung teriak si pengemis sambil garuk garuk kepalanya Lalu kenapa ilmu silatmu bisa persis dengan ilmu silatnya si iblis itu?"
"Ilmu silat yang ada di dalam dunia memangnya berasal dari satu sumber, apakah dia bisa lalu aku harus tidak bisa?"
"Bagus. sekarang kita tidak usah membicarakan persoalan ini, aku mau tanya kenapa kau datang kemari?"
"Karena di tengah jalan aku sudah menemukan kereta maut maka sengaja aku datang kemari untuk mengadakan penyelidikan."
"Tidak salah".
"Aduh kalau begitu kita terkena tipunya, teriak si pengemis itu mendadak. Coba kalian pikir, telaga nyamuk itu merupakan sebuah rawa yang penuh dengan lumpur bagaimana kereta berkuda itu bisa meloncati kemari?"
"Lalu kereta yang ada di halaman itu bagaimana bisa sampai disini?"
Tang Yan Kia-beng kebingungan. Si pengemis tua itu tidak memberikan jawaban, sambil menuding ke arah hweesio gemuk itu dia memperkenalkan kepadanya.
"Saudara ini adalah Mang Touw Tou atau si hweesio berangasan, sedang yang ini Cung toosu atau si toosu dengkil sedang aku sendiri karena sifatnya yang aneh dan kukoay orang-orang Bulim menyebut diriku sebagai Hong Jen Sam Yu, Lok Tong itu suhumu merupakan kawan karibku, kini kau adalah muridnya berarti juga kitapun bukan orang luar lagi."
Tan Kia-beng segera maju memberi hormat kepada mereka, lalu sambil menuding toosu yang sudah menggeletak menjadi mayat itu tanyanya.
"Loocianpwee apakah kenal dengan orang yang sudah binasa ini?"
Si pengemis aneh segera menghela napas panjang.
"Hweesio yang ada di halaman luar itu bernama Pu Cing Thaysu itu ciangbunjin dari Ngo Thay Pay, sedang Toosu tersebut adalah salah satu dari Go-bie Ngo Cu yang bernama Lay Yang Cu."
Dia memandang pula ke arah dua orang toosu serta seorang kakek tua berjubah kuning yang ada di dalam halaman itu, lalu sambungnya.
"Mereka bertiga adalah jago-jago berkepandaian tinggi dari tujuh partai besar, heey tidak disangka sudah mati di sini semua."
"Heey nanti dulu!"
Tiba-tiba si hweesio berangasan memotong di tengah jalan.
"Jika kau bilang bukan pekerjaan dari iblis tua itu lalu siapa yang melakukannya?"
"Heeeey, perkataan sepatah dua patah bisa menerangkan seluruh kejadian ini, biarlah kau bercerita perlahan-lahan nanti, tentu kau pun akan paham sendiri."
Si pengemis aneh itu menarik napas panjang dahulu baru sambungnya.
"Tadi aku sudah memeriksa kereta maut itu di las di atas kereta sudah penuh dengan debu bahkan rodanyapun amat bersih hal ini memperlihatkan kalau barang itu sudah lama tidak digunakan, hal ini yang pertama. Yang kedua, menurut apa yang aku ketahui selama sepuluh tahunan iblis tua cuma munculkan diri setiap tahun satu kali pada musim semi yang ditempuh selamanya tidak pernah berubah, kenapa hanya ini tahun saja yang berubah? bahkan terjadi secara tiba-tiba bukankah hal ini amat mencurigakan sekali."
"Apalagi sifat iblis tua itu amat congkak asalkan dia menemukan jejak musuh yang membuntuti dirinya dia pasti menghentikan kereta untuk mengajak bertempur, bagaimana kali ini dia sudah mengubah sifatnya dengan memancing orang lain memasuki perkampungan Cui-cu-sian ini?"
"Haruslah kalian ketahui perkampungan ini sama sekali tidak ada jebakan dan tempat tempat yang berbahaya, mana mungkin dia bisa membiarkan orang lain mengetahui tempat ini sehingga mendatangkan kesulitan buat dirinya sendiri? aku kira iblis tua itu tentu sudah mengosongkan rumah ini dikarenakan sesuatu urusan yang amat gawat."
"Jadi menurut perkataanmu ada orang ini yang sengaja memfitnah dirinya?"
Timbrung si toosu dengkil itu.
"Benar,"
Seru si pengemis aneh mengangguk.
"Maksud aku pengemis, di dalam hal ini kemungkinan ada orang yang sengaja mencari gara gara dengan meminjam namanya."
"Tidak mungkin begitu!"
Tiba-tiba potong Tan Kia-beng sambil berteriak keras.
"Ilmu pukulan api beracun dari Teh-leng-bun tidak mungkin bisa palsu."
"Teh-leng-bun?"
Teriak si pengemis aneh hweesio berangasan serta si toosu dengkil dengan kagetnya.
Kiranya pada lima puluh tahun yang singkat, kemudian secara tiba-tiba lenyap tak berbekas sehingga siapapun tidak pernah menemukannya kembali, siapa sangka ini hari Tan Kia-beng sudah menyebutnya kembali, bagaimanapun mereka itu tidak menjadi terkejut?
Tan Kia-beng tahu dirinya sudah terlanjur bicara, cepat-cepat tambahnya.
"Urusan ini bila mana bukannya suhu yang memberitahukan kepadaku aku sendiripun tidak tahu."
Si pengemis aneh bertiga semuanya merupakan jago-jago kawakan yang mempunyai pengalaman yang amat luas di dalam Bulim sekali pandang saja mereka segera merasa pemuda yang ada dihadapan mereka saat ini tentu mempunyai hubungan yang amat erat sekali dengan Teh-leng-bun karena mereka tahu sekalipun Ban Li Im Yen, Lok Tong merupakan seorang pendekar yang suka berkelana tetapi pengalamannya tidak bisa memadahi Hong Jen Sam Yu, urusan yang Hong Jen Sam Yu tidak diketahui sudah tentu dia semakin tidak tahu Tapi dia tidak mau memecahkan rahasia ini.
"Oooh begitu?"
Ujarnya tersenyum. Tiba-tiba di dalam benak Tan Kia-beng berkelebat kembali suatu bayangan yang mencurigakan hatinya, ujarnya dengan cepat.
"Lalu siapakah gadis berbaju putih yang membokong diriku sewaktu ada di dalam hutan? apa mungkin dia?...."
"Apa bayangan putih itu yang kau maksud?"
Sela si pengemis aneh itu.
"Kami dipancing datang oleh dia."
"Wajahnya apa mirip dengan lukisan yang ada di dalam kamar baca itu?"
Sepasang mata dari si toosu dengkil berputar tak henti hentinya, ujarnya.
"Kami cuma melihat sesosok bayangan putih berkelebat dengan amat cepatnya di depan kita, bagaimana dengan wajahnya, aku kira cuma Thian saja yang tahu."
"Dengan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Hong Jen Sam Yu sebagai jago nomor satu dalam Bulim saja tidak berhasil menyandak orang itu, sudah tentu orang lain semakin tidak mampu."
Suasana menjadi hening untuk beberapa lamanya, tiba-tiba si pengemis aneh membuka mulut.
"Hey, bocah cilik, apakah baru baru ini kau pernah bertemu dengan suhumu?"
"Sejak dia pergi ke gurun pasir sampai kini tidak ada kabar beritanya lagi"
Jawab Tan Kia-beng sambil gelengkan kepalanya dengan sedih.
"Pernahkah dia membicarakan sesuatu urusan dengan dirimu?"
"Katanya dia harus pergi kesana untuk mengurusi suatu urusan yang mempunyai sangkut paut dengan penjagalan yang bakal terjadi di dalam Bulim"
"Apa?"
Mendadak si pengemis aneh itu loncat bangun dengan amat kagetnya, tapi sebentar kemudian sambil menghela napas panjang dia duduk kembali ke atas tanah.
"Kalau begitu keadaan dari Lok Loodjie sangat berbahaya, mungkin dia sudah ketimpa maut."
Kali ini Tan Kia-beng yang dibuat terperanjat, dengan cepat dia mencekal tangan si pengemis aneh itu.
"Kau bicara apa?"
Serunya cemas.
"Heey. apakah kau balum tahu? jago nomor satu dari Bulim tempo hari si Chu Swee Tiang Cing Tan Cu Liong beserta Thiat Bok Tootiang dari Bu-tong-pay serta Seng Siauw Kiam Khek dari Cing Djan bersama-sama berangkat menuju ke gurun pasir. siapa tahu sejak itu mereka tidak ada kabar beritanya lagi, aku kira suhumu tentu sedang menyelidiki urusan ini, coba bayangkan tiga orang saja lenyap apalagi dia cuma seorang saja sudah tentu keadaannya sangat berbahaya."
Tan Kia-beng segera melepaskan cekalan tangannya, dia berteriak keras.
"Sekarang juga boanpwee akan berangkat menuju ke gurun pasir. aku mau cari dia."
"Jangan gegabah,"
Seru si pengemis aneh dengan wajah berubah amat hebat.
"gurun pasir berada jauh ribuan li dari sini, kau mau pergi kemana mencari dirinya? apalagi suhumu berani berangkat seorang diri kesana sudah tentu dia mempunyai pegangan yang kuat, bilamana kau pergi ke sana bukan saja tidak berguna bahkan kemungkinan sekali sudah mengganggu rencananya, lebih baik menunggu beberapa waktu lagi baru kita bicarakan kembali."
Baru saja Tan Kia-beng hendak berkata kembali mendadak terdengar si toosu dengkil suah berteriak teriak.
"Iblis tua sudah pergi dari sini, buat apa kita berdiam diri saja disini?"
Pada saat itu si hweesio berangasanpun sudah berdiri sambil memegang perutya yang besar, diapun berteriak teriak hendak pergi dari sini.
Agaknya diantara Hong Jen Sam Yu kecuali si pengemis aneh kedua orang lainnya hampir hampir tidak menaruh rasa simpatik sedikitpun terhadap Tan Kia-beng.
Ketika si pengemis aneh melihat mereka semua ribut mau pergi dari sana terpaksa diapun ikut bangkit berdiri, pesannya kembali kepada Tan Kia-beng.
"Masa pembunuhan secara besar besaran sudah mulai timbul di dalam Bulim harap kau sedikit berhati-hati salah sedikit saja kau akan menyesal seumur hidupmu dengan kepandaian silat yang Siauwhiap miliki sekarang sebetulnya tidak sukar untuk mencari nama di dalam Bulim tetapi sampai itu waktu kau harus ingat benar-benar terhadap semua nasehat dari suhumu dan seluruh peraturan dari perguruan, ingat.... jangan sampai melupakan hal ini."
Tan Kia-beng yang dinasehati segera mendengarkannya.
Selama hidupnya si pengemis aneh itu selain berlagak masa bodoh dan jadi orang suka guyon, tetapi ini hari ternyata sudah berubah begitu seriusnya membuat si toosu dengkil yang nampak akan hal ini tak akan tertahan lagi tertawa terbahak-bahak.
"Hey sungguh aneh sekali, bagaimana malam ini kau bisa bicara begitu banyak? ayoh jalan. Sambil berbicara dia berlari terus ke depan menanti setelah pengemis aneh mulai menggerakkan tubuhnya dia sudah berada dua puluh kaki jauhnya, si pengemis dengan cepat mengerahkan ilmu meringankan tubuh untuk menyusul. Hanya di dalam sekejap saja mereka sudah lenyap dari pandangan. Tan Kia-beng yang sejak ditinggal pergi oleh suhunya Ban Li Im Yen, Lok Tong tak ada satu haripun tidak rindu kepada suhunya kini mendengar perkataan dari si pengemis aneh itu diam-diam hatinya mulai merasa kuatir terhadap nasib suhunya. sebenarnya dia pingin sekali pergi menyusul suhunya tetapi perkataan dari si pengemis aneh itu sedikitpun tidak salah, gurun pasir amat luas sekali dia mau menuju kemana untuk menemukan suhunya. ---0-dewi-0---JILID. 7 Teringat kembali olehnya peristiwa yang sudah sering terjadi dalam dunia kangouw baru baru ini sekalipun pengalaman dibidang Bulim masih rendah tapi dia merasa urusan sudah berubah menjadi amat tegang, pikirnya.
"Kini aku sudah memperoleh kitab pusaka Teh Leng Ciu Keng serta pedang Giok Hun Kiam. Han Tan Loojienpun memerintahkannya aku untuk mencabut sebagai Teh Leng Kaucu seharusnya di dalam waktu semacam inilah aku berbuat beberapa pekerjaan yang menguntungkan dunia kangouw kemudian merebut gelar jago nomor wahid sewaktu diadakannya pertemuan puncak para jago di atas gunung Huang san dikemudian hari, bukankah hal itu merupakan suatu kesempatan yang bagus untuk mendirikan kembali perkumpulan Teh Ling Kau?"
Berpikir sampai disini tak terasa lagi semangatnya berkobar kobar, rasa lelah karena menempuh perjalanan semalaman segera tersapu bersih dari badannya dengan meminjam sinar rembulan yang remang remang dia segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya berlari ke arah depan.
Demikianlah dengan berlari pesat dia melanjutkan perjalanannya kurang lebih selama satu jam, akhirnya sampailah dia disebuah lembah yang amat dalam sekali, disamping lembah itu terdapatlah sebuah jalan raya yang amat lebar.
Baru saja tubuhnya hendak meloncat turun, tiba-tiba....
Sreet!
sesosok bayangan manusia dengan amat cepatnya meloncat keluar dari balik sebuah batu besar kemudian membentak dengan suara yang amat keras;
"Hey bocah cilik, kau sudah melihat Cian jia ku tidak?"
Tan Kia-beng menjadi terperanjat, terburu-buru dia mundur dua langkah ke belakang.
Tampaklah si kakek tua berjubah hitam Hu Hong dengan dinginnya sudah berdiri dihadapannya dia menjadi melengak tetapi sebentar kemudian sudah sadar kembali, bukankah Cian jie yang sedang dicari adalah gadis berbaju putih itu?
"Ooh, kau cari budak liar yang sama sekali tidak berpendidikan itu?"
Tanyanya dengan suara amat gusar.
"Kemarin malam tanpa sebab dia sudah membokong diriku lalu memancing aku melewati telaga nyamuk sehingga hampir hampir nyawaku melayang sekarang aku sedang mencari dia untuk bikin perhitungan."
"Apa?.... telaga nyamuk?""
Dengan mantap Tan Kia-beng menganggukkan kepalanya, baru saja dia hendak memaki atas kekejamannya kemarin malam mendadak tampak olehnya kakek tua berjubah hitam itu bagaikan segulung asap hitam dengan amat cepatnya berlari menuju ke arah gunung, dari air mukanya jelas sekali tampak sikapnya amat cemas dan kuatir sekali.
Tan Kia-beng menjadi keheran heranan tapi dia tidak melakukan pengejaran.
Dengan mengambil jalan raya semula ia melanjutkan perjalanan ke depan dan akhirnya sampailah disebuah dusun kecil.
Saat ini dia benar-benar merasakan perutnya amat lapar dan cepat-cepat diisi, setelah masuk ke dalam dusun dengan cepat mencari sebuah rumah makan dan mencari tempat yang sunyi untuk minta beberapa macam makanan lantas berdahar dengan perlahan.
Tiba-tiba....
suara berderingnya bel yang amat nyaring bergema datang, tampak seekor kuda dengan amat cepatnya menerjang datang dan tepat berhenti di depan pintu rumah makan Seorang lelaki berdandan silat dengan terburu-buru meloncat turun dari kudanya kemudian masuk ke dalam rumah makan itu dengan langkah lebar.
Tan Kia-beng segera mengenal kembali orang itu yang bukan lain adalah Chiet Ciat Hong Wie Pian, Ting-hong dari partai Tiam-cong-pay.
Tan Kia-beng tidak mau mencari gara gara, cepat-cepat dia melengos ke samping tetapi sudah terlihat olehnya.
Tidak malu orang itu disebut sebagai seorang lelaki sejati, dari tempat kejauhan dia segera merangkap tangannya memberi hormat.
Selamat bertemu, selamat bertemu kiranya Tan heng pun ada disini.
Terpaksa Tan Kia-beng mempersilahkan dia duduk satu meja dengan dirinya, orang itu teryata tanpa sungkan sungkan lagi sudah duduk di hadapannya.
terdengar dia bertanya kembali "Sejak kapan Tan heng kembali ke daerah selatan lagi?
perbuatanmu waktu itu sungguh membuat siauwte merasa sangat kagum."
"Aaah sedikit urusan buat apa dibicarakan kembali?"
Seru Tan Kia-beng merendah. Ting-hong tanpa sungkan sungkan sudah meneguk habis tiga cawan arak dan menghabiskan satu mangkok mie ujarnya sambil dahar.
"Kepandaian dari Tan heng sungguh hebat sekali entah pada tahun besok kau punya maksud untuk merebut gelar jagoan nomor satu tidak?"
"Aaah, Ting heng sudah berguyon siauwte mana punya kepandaian sebegitu tinggi?"
"Sekalipun tidak ingin merebut gelar tersebut tetapi pertemuan besar yang sukar untuk ditemui kembali pada kemudian hari Ting heng seharusnya ikut hadir setidak tidaknya menonton keramaian sehingga bisa menambah pengetahuan buat kita."
Mendengar perkataan itu Tan Kia-beng segera merasa tertarik.
"Berita dari Ting heng amat cepat pengetahuan amat luas tahukah kau jagoan dari mana yang kelihatan paling punya harapan untuk memperoleh gelar jagoan nomor wahid."
Mungkin dikarenakan rasa hormat yang diperlihatkan Tan Kia-beng kepadanya membuat teramat girang. Terdengar Ting-hong tertawa terbahak-bahak dengan gembiranya lantas menjawab;
"Jika membicarakan dalam soal ilmu silat tidak usah dipikir siauwte terasa bukanlah tandingan dari Tan heng jika membicarakan soal berita berita siauwte mungkin punya sedikit kelebihan."
Dia menarik napas panjang lalu baru sambungnya.
"Sebetulnya ilmu silat dari setiap partai yang ada di dalam Bulim siauwte rasa seimbang semua, cuma sekarang Ci Si Thaysu dari Siauw-lim-pay serta Lo Hu Cu dari salah satu Go-bie Ngo Cu merupakan yang tertinggi ilmu silatnya tetapi sejak munculnya pemilik kereta maut itu urusan menjadi agak sukar. Pada beberapa hari yang lalu ciangbunjin dari tujuh partai besar sudah menantang pemilik kereta maut untuk bertanding ilmu silat di atas gunung Thay-san, ternyata iblis tua itu hendak dengan seorang melawan tujuh orang sekaligus hooo. kalau bukannya pada saat yang kritis datang seorang iblis cilik keadaan entah sudah terjadi bagaimana? katanya ilmu silat dari iblis itu tidak ada dibawah kepandaian iblis tua bahkan memiliki juga pedang Kiem Ceng Giok Hun Kiam yang amat berharga."
"Menurut berita yang tersiar katanya keadaan dari iblis cilik itu hampir sama dengan Tan heng orang itu pernah menyerbu ke atas gunung Heng-san dan menghancurkan pintu loteng kuil Sam yuan Koan, melumurkan papan nama dari Heng-san-pay bahkan melukai dua puluh orang anak murid Heng-san-pay keadaannya jauh lebih ganas daripada iblis tua itu."
Semakin bercerita Ting-hong semakin bersemangat, dia meneguk habis tiga cawan teh lagi lalu sambungnya kembali; Karena munculnya iblis cilik ini seketika itu juga membuat para jago menjadi marah dan siap-siap menyerang mereka berdua dengan cara mengerubuti pada saat itulah tiba-tiba Liok Lim Sin Ci, Sam Koan Sin Nie muncul disana sehingga suatu badai hujan yang akan terjadi dapat dicegah kembali, waktu itu karena siauwte punya urusan harus menuju ke daerah Chuan Cin tak ada kesempatan untuk hadir sendiri berita yang aku dengar ini Siauwte dapatkan dari beberapa orang kawanku Tan Kia-beng yang mendengar semua orang kangouw memanggil dia sebagai iblis cilik keningnya dikerutkan rapat rapat diam-diam pikirnya.
"Jika didengar dari pembicaraannya perebutan jago nomor wahid ini cuma ada aku serta si kakek tua berjubah hitam itu saja yang paling menonjol.jika dia pun merupakan anggota dari Teh-leng-bun aku harus berbuat bagaimana?"
Tetapi pikirannya segera berubah kembali, teringat kalau dunia ini amat besar, diluar langit ada langit, diluar manusia masih ada manusia lagi keadaan tidak mungkin bisa begitu sederhananya masih ada juga Liok Lom Sin Ci serta Sam Koang Sin nie itu manusia macam apa?
Agaknya orang-orang Bulim pada menaruh hormat kepadanya, dirinya tidak mungkin berbuat terlalu gegabah.
Dia segera tersenyum ujarnya.
"Kepandaian silat Liok Lim Sin Ci serta Sam Koang Sinnie itu tentunya amat tinggi sekali?"
"Haa haa, Tan heng pura pura tidak tahu atau memang benar-benar tidak tahu?"
Seru Ting-hong sambil tertawa tergelak.
orang-orang dalam Bulim sekarang ini ada siapa yang tidak kenal dengan kedua orang manusia aneh itu?
Jangan dikata ilmu khie kang Sian Thian Sian Bun Kang Khie serta Hu Bun Bun Siang Sin Kang mereka sudah berhasil dilatih hingga mencapai kesempurnaan.
Cukup membicarakan soal umur saja, heheeeheee....
mungkin menjadi cucu buyutnya pun tak sepadan.
Tan Kia-beng cuma memperlihatkan senyuman tawarnya, dia sama sekali tak memberikan komentar apa apa "Aaah....
waktu sudah tidak pagi siauwte harus berangkat ke gunung Sang san untuk mengirim surat"
Ujar Ting-hong mendadak sambil bangkit berdiri.
"Aku harus memberi kabar kepada Ci Si Thaysu serta suhuku Pendekar Satu Jari untuk berkumpul dikuil Kun-yan-koan di atas gunung Go-bie guna merundingkan suatu urusan yang amat penting."
"Urusan apa yang begitu pentingnya? Mari silahkan Ting heng duduk sebentar lagi"
Seru Tan Kia-beng cepat. Sepasang mata dari Ting-hong dengan tajam menyapu sekejap keseluruh ruangan kemudian dengan suara yang amat lirih rendah, ujarnya.
"Putri dari pemilik kereta maut itu sudah berhasil ditawan oleh Go-bie Su Cu dan kini dikurung di dalam kamar bawah tanah dari kuil Kun Yen Koan, maksud dari Lo Ha Cu dia ingin menggunakan perempuan itu sebagai umpan untuk memancing datangnya pemilik kereta maut lalu dengan mengambil kesempatan ini melenyapkan dia dari muka bumi, tetapi pihak Go-bie takut kekuatannya tidak cukup makanya segera kirim orang untuk mengundang Ciangbunjin dari enam partai lainnya untuk bersama-sama kumpul di atas gunung Go-bie sehingga demikian kemungkinan gagal jauh berkurang."
Tan Kia-beng segera mengangguk pura pura merasa kagum, padahal setelah bayangan dari Ting-hong lenyap dalam hati segera mengambil perhitungan dengan teliti.
"Walaupun si kakek tua berjubah hitam itu jadi orang amat kejam, tetapi jika mereka harus turun tangan dengan menggunakan cara seperti itu, sebenarnya kurang jujur."
Dia berhenti sebentar, suatu bayangan mendadak berkelebat di dalam benaknya.
"Sekalipun kakek tua berjubah hitam itu jahat tetapi diapun merupakan anggota dari Teh-leng-bun, jikalau aku berhasil menyelidiki kejelekan kejelekan serta kejahatan yang diperbua,t lain kali dengan menggunakan seruling perak peninggalan Han Tan Loojien, aku bisa membersihkan perguruan dari nama nama kotor, di dalam hal ini aku tidak seharusnya melihat orang lain mencelakai dirinya tanpa campur tanganku, aku harus ikut campur dalam urusan ini dan menolong dia keluar dari bahaya. Apalagi gadis berbaju putih itupun cuma seorang gadis yang baru saja menanjak dewasa dia punya dosa apa sehingga harus dikurung sehingga menderita?"
Kebanyakan manusia mempunyai sifat serakah dan mau hanya buat kepentingan sendiri, Tan Kia-beng bukan malaikat sudah tentu tak terkecuali, saat ini dia sebagai Kauwcu dari Teh-leng-bun mana mau membiarkan orang lain mencelakai orangnya sendiri tanpa ikut campur dari dirinya?
Apa lagi dengan mata kepala sendiri dia belum pernah melihat si kakek tua berjubah hitam itu pernah melakukan kejahatan yang berlebih lebihan.
Akhirnya dalam hati dia mengambil keputusan untuk berangkat kekuil Kun-yan-koan di atas gunung Go-bie pada hari itu juga dia hendak menolong gadis berbaju putih itu keluar dari kurungan mereka lalu menyuruh dia memberitahukan urusan ini kepada si kakek tua berjubah hitam agar dia jangan sampai terpancing.
Dalam Bulim pada saat ini kecuali partai Siauw-lim-pay boleh dikata cuma ada partai Go-bie serta Kun-lun-pay saja yang memiliki jago-jago berkepandaian tinggi paling tinggi paling banyak, kini Tan Kia-beng secara gegabah hendak naik ke gunung Go-bie untuk menolong orang bukankah keadaanya seperti kambing yang menghantarkan diri kemulut harimau?
Keadaannya sangat berbahaya sekali Tetapi karena desakan perasaan hatinya serta pandangan dari segi Teh-leng-bun mau tidak mau dia harus melakukan hal ini.
Dia sama sekali tidak pernah menduga kalau sebutannya sebagai Si iblis cilik yang pernah mengobrak abrik Heng-san-pay serta menemui para jago di atas gunung Thaysan sudah tersebar luas dalam seluruh Bulim.
Seluruh jago dari kalangan Pek-to pada mencari dia untuk cepat-cepat membasmi dirinya dari muka bumi sedang dari jago-jago kalangan Hek-to banyak pula kaum iblis yang bermunculan dan terus menerus mengikuti jejaknya di dalam pandangan mereka sudah tentu tertarik pada pedang pusaka Kiem Ceng Giok Hun Kiam yang ada ditangannya.
Sampai saat ini dia belum pernah menemui urusan, semuanya dikarenakan perjalanannya yang tidak menentu, sebentar dari Utara menuju ke Selatan mendadak mengikuti jejak kereta maut balik kembali ke tempat semula membuat jejaknya membingungkan selalu dengan demikian para jago yang mengikuti dirinyapun menjadi kalang kabut dibuatnya.
Kemunculannya secara terang terangan untuk melakukan perjalanan menuju ke daerah Chuan Cing segera mengejutkan semua orang, sewaktu di kota Wu Han dia pernah muncukan dirinya satu kali begitu berita tersebut tersebar maka keseluruh daerah sana sudah dipenuhi dengan para jago dari segala penjuru ---0-dewi-0---Siapa tahu di kota Wu Han dia tidak menginap, pada malam itu juga dia melanjutkan perjalanan dengan menunggang perahu sehingga para jago yang pada berkumpul di sana pada menubruk tempat kosong.
Sekalipun begitu ada beberapa orang iblis juga yang berhasil membuntuti dirinya Tetapi sampai saat itu Tan Kia-beng masih tidak sadar sesampainya dikeresidengan Go-bie dia segera cari rumah penginapan untuk beristirahat guna mengumpulkan tenaga buat pekerjaan nanti malamnya.
---0-dewi-0---Malam semakin kelam seluruh permukaan tanah diliputi oleh kegelapan....
Dibawah kaki gunung Go-bie yang amat tinggi melayang datang sesosok bayangan hitam yang bagaikan kilat cepatnya berkelebat menuju kekuil Kun-yan-koan di atas gunung Go-bie ilmu meringankan tubuhnya amat tinggi cuma dalam satu kali tutulan saja dia sudah mencapai tujuh, delapan kaki jauhnya hanya di dalam beberapa kali lompatan seratus kaki sudah dilalui tanpa terasa, Baru saja bayangan pertama berkelebat lewat....
sreet sreet dari kaki gunung muncul kembali beberapa sosok bayangan hitam yang dengan amat lincahnya membuntuti bayangan hitam yang pertama.
Sreet....
sreet dari samping kiri dan kanan pun dengan amat cepatnya meluncur keluar berpuluh puluh sosok bayangan hitam di dalam sekejap saja mereka sudah lenyap di tengah kegelapan Pada saat itulah bagaikan bayangan setan saja mendadak melayang turun sesosok bayangan hitam dari seorang kakek tua yang berkerudung, bagaikan seekor burung bangau sakti di dalam satu kali loncatan saja dia sudah berhasil mencapai ketinggian puluhan kaki kemudian bagaikan kilat cepatnya melompati sebuah selokan yang agak dalam sekejap mata dia pun lenyap di dalam kegelapan.
Bayangan hitam yang bekelebat dipaling depan itu bukan lain adalah Tan Kia-beng yang sengaja datang kekuil Kun-yan-koan untuk menolong gadis berbaju putih lolos dari kurungan orang-orang Go-bie Pay dengan amat ringan dan lincahnya dia melewati bukit bukit terjal dan berhasil tiba di depan kuil Kun-yan-koan tanpa menimbulkan sedikit suara yang berisik.
---0-dewi-0---Kuil Kun-yan-koan ini didirikan dengan mengambil bentuk sesuai dengan keadaan bukitnya, kamar dan bilik banyak sekali tersebar diseluruh penjuru, ruangan tengah kuil berdiri dengan megahnya di tengah bangunan lain membuat sebuah tanah yang amat luas hampir dipenuhi dengan bangunan yang amat megah itu.
Tan Kia-beng yang sudah munculkan dirinya di depan kuil segera mengadakan pemeriksaan dengan amat telitinya di sekeliling tempat itu lalu melayang naik melalui sebuah ruangan yang agak rendah dibelakang bangunan tersebut, dalam anggapannya ruangan bawah tanah atau ruangan rahasia tentu sebagian besar terletak pada kuil bagian belakang.
Siapa tahu ketika dia meloncat naik ke atas atap rumah, disekitar sana cuma kelihatan berderet deret kamar para toosu yang amat rapi sekali, cepat-cepat dia mengundurkan diri dari sana dan meloncat naik dari halaman lain.
Tempat ini merupakan sebuah kamar pertemuan yang amat tenang, dedaunan serta ranting pada berguguran diluar halaman bunga yang beraneka warna serta menyiarkan bau yang semerbak tumbuh memenuhi sekeliling ruangan tersebut.
Secara samar-samar dari ruangan tengah memancar keluar sinar lampu yang amat terang, dengan cepat dia berkelebat dan loncat naik ke atas sebuah pohon siong untuk melakukan pengintaian.
Di dalam ruangan itu sudah duduk banyak orang yang kini sedang bercakap-cakap selain Lo Hu Cu itu ciangbunjin dari partai Go-bie yang pernah bertemu muka dengan dia para jago lainnya dia sama sekali tidak kenal.
Terdengar seorang toosu tua yang berwajah kuning dengan jenggot bercabang tiga mengerutkan alis.
"Di dalam Bulim saat ini keadaan amat berbahaya,"
Ujarnya dengan suara yang serak.
"Dalam keadaan yang tidak terlalu aman buat semua partai jika kita tetap menahan siluman perempuan itu disini cepat atau lambat hal ini merupakan bencna juga bagi kita, jikalah Ci Si Thaysu sekalian tidak berani meninggalkan partainya lalu kita harus berbuat bagaimana untuk mengambil pencegahan?"
Tan Kia-beng yang secara diam-diam mencuri dengar percakapan mereka saat ini benar-benar merasa semangatnya berkobar kembali, pikirnya.
"Ehm, sedikitpun tidak salah, perempuan berbaju putih itu memang benar ada disini"
"Perkataan dari sute sangat beralasan sekali,"
Terdengar Lo Hu Cu sudah menjawab sambil mengangguk.
"Tetapi kau harus tahu semua bencara ditimbulkan oleh iblis tua itu jikalau kita berhasil menguasai diri iblis tua itu apa mungkin mereka tidak mau melakukannya? menurut pendapat Ie heng mereka pasti datang."
"Sedangkan terhadap si iblis tua itu menurut Ie heng diapun pasti akan datang kemari, karena dia sudah memandang siluman perempuan itu seperti nyawanya sendiri bahkan jauh lebih penting dari segalanya."
"Suheng, tahukah kau sebetulnya iblis tua itu berasal dari aliran mana?"
Timbrung salah seorang toosu yang hadir disana.
"Siauwte sudah menyelidiki seluruh ilmu silat yang ada di dalam Bulim pada saat ini tetapi siauwte masih belum tahu juga kepandaian silatnya itu berasal dari golongan mana?"
Lo Hu Cu termenung sebentar lalu jawabnya sambil mengelus ngelus jenggotnya.
Baca Juga: Sepasang Golok Mustika 1
Baca Juga: Golok Halilintar Khu Lung