Eps 4 Golok Yanci Pedang Pelangi - Gu Long
Baca online Golok Yanci Pedang Pelangi - Gu Long
Cersil Golok Yanci Pedang Pelangi - Gu Long.
Dengan tangan sebelah mengepit tawanan, tangan yang lain memegang pinggiran perahu, Hui Beng-cu berteriak.
"Toako berdua, cepat bantu aku menyeret tawanan ini ke atas!"
"Matai atau masih hidup?"
Tanya Pang Goan.
"Tentu saja masih hidup, Cuma ia sudah kutenggelamkan ke sungai hingga banyak minum air, sekarang ia tak sadarkan diri!"
"Dalam mulutnya terdapat gigi palsu yang berisi racun, apakah kau tahu?"
Kembali Pang Goan bertanya.
"Jangan kuatir, gigi racunnya telah kucabut, jangan harap permainan busuk orang Ainu ini akan mengelabuhi diriku!"
Pang Goan sangat gembira, ia segera mencengkeram rambut perempuan Ainu itu dan menyeretnya ke atas perahu. Hui Beng-cu melompat ke atas, sambil membesut air yang membasahi wajahnya ia berkata.
"Pompa dulu perutnya agar air tertumpah keluar, kemudian baru bertanya kepadanya, hati-hati pada bahu kirinya terdapat luka tusukan pedang, jangan biarkan darah mengalir terlalu banyak ... ada seorang lagi yang kulukai, sayang ia berhasil melarikan diri. Sementara itu Pang Goan telah memompa keluar air dalam perut perempuan cebol itu, kemudian menghentikan pula cucuran darah pada bahunya. Kali ini ia turun tangan dengan sangat hati-hati, ia takut tawanannya mati lagi sehingga sukar mencari jejak Pang Wan-kun. Kali ini Leng-hong tidak membantu ataupun membuka suara, dia hanya memandang wajah Hui Beng-cu dengan termangu, ia rada bingung. Tak lama perempuan itu sudah sadar kembali dari pingsannya, begitu membuka matanya dan menyaksikan keadaan di sekeliling situ, cepat ia menggertak gigi rapatrapat ...."Apa yang kau lakukan?"
Ejek Pang Goan sambil tertawa dingin.
"gula-gula dalam mulutmu itu tak perlu dicari lagi, sudah terlepas dan dimakan ikan!"
Air muka perempuan itu berubah hebat, tiba-tiba ia angkat telapak tangannya untuk menghantam kepala sendiri. Tapi baru sampai di tengah jalan, tangannya sudah keburu dicengkeram oleh Pang Goan.
"Jangan buru-buru mampus,"
Katanya.
"nanti saja kalau mau mati, sesudah menjawab pertanyaan kami."
Beruntun ia tutuk enam jalan darah penting pada badannya, kemudian baru lepas tangan.
Setelah seluruh tubuh tak bisa berkutik perempuan cebol itu memejamkan matanya, dua titik air mata meleleh membasahi pipinya.
"Beginilah tabiat perempuan bangsa Ainu,"
Kata Hui Beng-cu.
"mereka suka kekerasan dan menolak cara halus, kalau tidak diberi sedikit kelihaian, mereka tak akan bicara terus terang."
"O, itu sih gampang,"
Kata Pang Goan.
Jari tangannya segera bekerja cepat, menutuk empat-lima tempat jalan darah perempuan Ainu itu, akhirnya ia tabok belakang tengkuknya.
Seperti terkena listrik tegangan tinggi tiba-tiba sekujur tubuh perempuan itu gemetar keras, butiran keringat sebesar kacang membasahi jidatnya, kulit wajahnya berkejang, giginya gemertakan, rintihan kesakitan berkumandang tiada hentinya.
"Mulai sekarang setiap pertanyaanku harus kaujawab dengan sejujurnya,"
Bentak Pang Goan.
"kalau tidak, akan kusuruh kau rasakan bagaimana nikmatnya beribu semut menerobosi hatimu, kubikin kau tak sempat bernapas selama tiga hari tiga malam."
Dengan air mata bercucuran, terpaksa perempuan Ainu itu mengangguk kepala. Pang Goan segera membebaskan jalan darahnya yang tertutuk, kemudian sambil tertawa dingin katanya.
"Beritahu dulu kepadaku, siapa pemimpin Ci-moay-hwe? Di mana letak markas besarnya?"
Perempuan itu menjawab dengan logat yang kaku dan sukar dimengerti.
"Hei, apa yang kau katakan?"
Bentak Pang Goan. Hui Beng-cu tertawa geli, katanya.
"Dia perempuan asing yang kurang fasih berbicara dengan logat kita, dia menjawab tidak tahu."
"Omong kosong, kau adalah anggota Ci-moay-hwe, masa tidak tahu tentang urusan Ci-moay-hwe?"
Teriak Pang Goan. Kembali perempuan Ainu itu mengoceh dengan kata-kata yang kurang jelas. Terpaksa Hui Beng-cu bertindak sebagai juru bahasa.
"Ia bilang benar-benar tidak tahu, sebab orang itu tidak ia kenal, tempat pun tak diketahui."
"Baik, sekalipun tak dapat kau sebutkan nama orang dan tempatnya, tentunya kau tahu bagaimana jalan menuju ke sana?"
Perempuan Ainu itu mengangguk kepala berulang kali.
"Ya, ya ... aku tahu."
"Kalau begitu, bawalah kami ke sana."
Perempuan itu berkerut dahi sambil menunjukkan tanda-tanda keberatan.
"Kenapa? Apakah siksaan yang kau rasakan tadi belum cukup?"
Hardik Pang Goan. Perempuan itu mengucapkan dua-tiga kata. Kali ini Pang Goan dapat menangkap maksudnya, ia mendengus.
"Hmm, mereka dapat membunuhmu, apakah aku tak bisa membunuhmu pula? Ketahuilah, aku bisa membunuhmu dengan cara yang lebih keji, apakah kau ingin mencobanya?"
Buru-buru perempuan berbaju hitam itu geleng kepala.
"Kalau tidak ingin mampus, bawalah kami ke sana. Sekarang aku hendak bertanya satu hal, Nyo...."
Mendadak ia teringat bahwa Hui Beng-cu masih belum mengetahui asal-usul Ho Leng-hong yang sebenarnya, maka ia ganti perkataan.
"Apakah Nyo-hujin dari Thianpo-hu yang bernama Pang Wan-kun terjatuh ke tangan Ci-moay-hwe?"
Kembali perempuan itu menjawab dengan logat yang sukar dimengerti.
Pang Goan tahu, kalau begini caranya tak mungkin akan didapatkan apa yang diharapkan, maka ia putuskan untuk mencari dulu markas Ci-moay-hwe, sebab dengan sendirinya jejak Nyo Cu-wi suami-isteri akan diketahui bila markas musuh telah diketemukan.
Maka katanya kepada Hui Beng-cu.
"Dengan perempuan asing ini sebagai penunjuk jalan, lebih baik kita langsung menuju ke markas besar Ci-moay-hwe, kalau mau membekuk bajingan lebih dulu harus bekuk pemimpinnya, asal sarang mereka sudah kita aduk, otomatis urusan di rumahmu akan beres juga dengan sendirinya, entah bagaimana pendapat nona?"
Hui Beng-cu berpikir sebentar, lalu jawabnya.
"Baiklah, kalau mau pergi harus segera berangkat, daripada rahasia ini bocor dan mereka keburu kabur."
Ho Leng-hong hanya mengikuti pembicaraan itu dari samping, ia tidak buka suara juga tidak memberi komentar apa-apa.
Begitulah, dengan menggusur perempuan Ainu itu berangkatlah mereka bertiga meninggalkan perahu, di kota Tin-kang mereka menyewa sebuah kereta dan dua ekor kuda, sebelum fajar menyingsing mereka meneruskan perjalanan.
Ho Leng-hong dan Pang Goan menunggang kuda, sedang Hui Beng-cu dan perempuan baju hitam itu numpang di dalam kereta, atas petunjuk perempuan itu mereka telusuri jalan lama, balik ke kota Siang-yang.
Di tengah jalan, Pang Goan sengaja memperlambat lari kudanya, kepada Ho LengKoleksi
KANG ZUSI hong bisiknya.
"Lote, apakah kau masih mencurigai asal-usul budak she Hui itu?"
Leng-hong menarik napas panjang.
"Aku tak dapat mengemukakan alasan apa-apa, tapi bagaimanapun aku tetap merasa di balik soal ini ada sesuatu yang kurang beres."
"Andaikata dia adalah anggota Ci-moay-hwe, kenapa ia membantu kita membekuk seorang tawanan hidup?"
"Aku tidak mengatakan dia adalah musuh,"
Ujar Leng-hong sambil tertawa getir.
"pokoknya lebih baik kita berhati-hati sepanjang perjalanan, sebab aku mendapat firasat bahwa di tengah jalan nanti mungkin akan terjadi sesuatu."
"Dalam hal apakah yang kau maksudkan?"
"Segala hal bisa terjadi, tapi yang paling penting adalah perempuan Ainu itu, kita harus mengawasinya secara khusus."
"Kenapa dengan perempuan itu?"
"Kalau bukan dia yang akan mencelakai kita, tentu pula Ci-moay-hwe akan membinasakannya."
"Oo!?"
Pang Goan seperti memahami akan sesuatu.
Ternyata dugaan mereka memang benar, malam itu juga peristiwa tersebut telah terjadi.
---------------------*** (file google dokumen published by Saiful Bahri ...situbondo seletreng )***----Berangkat dari Tin-kang menuju ke barat, malam itu sampailah mereka di sebuah kota kecil di sebelah utara Keng-ciu, kota kecil ini bernama Kian-yang-gi.
Kota ini merupakan persimpangan jalan raya yang menghubungkan Keng-ciu dan Siang-yang, menuju ke arah timur akan sampai di Ji-han, ke barat akan sampai Samshia, ke utara bukan saja sampai Siang-hua, malah ada jalan raya menuju ke Kamsiok, sebab itulah suasana di kota kecil ini ramai sekali.
Mereka menginap di rumah penginapan "Hong-an", Pang Goan dan Ho Leng-hong memakai satu kamar, sedang Hui Beng-cu dan perempuan Ainu itu tinggal di kamar yang lain.
Selesai bersantap malam, sebelum tidur, Pang Goan memperingatkan Hui Beng-cu secara khusus, katanya.
"Jangan terlalu nyenyak tidurmu malam nanti, jangan kau bebaskan pula jalan darah perempuan asing itu, jika ada sesuatu yang mencurigakan, segera panggil kami."
"Jangan kuatir Pang-toako,"
Sahut Hui Beng-cu sambil tertawa.
"tanggung tak akan terjadi apa-apa, aku akan mengawasinya sepanjang malam, sekalipun punya sayap jangan harap akan terbang dari hadapanku."
Sekembalinya ke kamar, Pang Goan kembali berunding dengan Ho Leng-hong, mereka putuskan untuk jaga malam secara bergilir, Ho Leng-hong menjaga setengah malam pertama dan Pang Goan setengah malam berikutnya.
Setengah malam yang pertama berlangsung tenang tanpa terjadi apapun.
Ketika giliran Pang Goan menjaga setengah malam berikutnya, kurang lebih dua jam menjelang fajar, Pang Goan mengambil sebuah bangku dan duduk bersila di tepi jendela sambil mengatur napas diam-diam ia perhatikan gerak-gerik kamar sebelah.
Satu jam sudah lewat, tapi suasana tetap tenang.
Ketika fajar menjelang tiba, pada cuaca paling gelap, waktu itu Pang Goan masih duduk bersila sambil terkantuk-kantuk, mendadak ia mendengar suara aneh di kamar Hui Beng-cu.
Suara rintihan yang lemah dan lirih, seakan-akan ada seseorang sedang dicekik lehernya hingga ingin berteriak pun tak mampu bersuara.
Dengan sigap Pang Goan melompat bangun lalu teriaknya dari jendela.
"Beng-cu! Beng-cu! ..."
Panggilannya yang berulang kali itu tidak memperoleh jawaban apa-apa, malah rintihan tadi mendadak berhenti.
Pang Goan tidak membuang waktu lagi, ia hantam daun jendela hingga terpentang lebar, kemudian menyerbu ke dalam ruangan.
Ia cepat masuk, waktu keluarpun tak kalah cepatnya, sambil melompat mundur dari ruangan itu serunya dengan cemas.
"Jit-long, cepat bangun, terjadi peristiwa ...."
"Apa yang terjadi?"
Buru-buru Leng-hong lari keluar dari kamarnya. Sambil menuding ke arah kamar tidur Hui Beng-cu, kata Pang Goan dengan napas terengah.
"Entah bagaimana caranya, perempuan asing itu berhasil meloloskan diri, ia sedang mencekik Beng-cu ... ."
"Sungguh? Kita harus menolongnya!"
Seru Leng-hong dengan terkejut. Tapi Pang Goan segera mengalanginya sambil menggoyang tangan berulang.
"Tidak mungkin, kita kurang leluasa untuk masuk ke sana, kita harus cari akal."
"Kenapa?"
Tanya Leng-hong. Dengan wajah merah kata Pang Goan.
"Perempuan asing itu dalam ... dalam keadaan telanjang ... pan ... pantatnya kelihatan jelas ... ."
Mendengar ucapan tersebut, Leng-hong merasa geli dan dongkol, katanya.
"Lotoako, dalam keadaan apakah ini? Kenapa kau urus soal semacam itu?"
Sekali melompat ia melewati Pang Goan dan langsung menerjang masuk ke dalam ruangan.
Apa yang dikatakan Pang Goan memang tak salah, perempuan Ainu itu betul-betul dalam keadaan telanjang bulat, waktu itu ia sedang menunggangi tubuh Hui Beng-cu sementara tangannya mencekik leher gadis itu dengan keras-keras.
"Lepaskan!"
Bentak Leng-hong.
Perempuan itu benar-benar lepaskan tangannya, cuma bagaikan angin puyuh ia memutar ke arah pemuda tersebut.
Seandainya Pang Goan yang menghadapi kejadian ini, jangankan melawan, melihat gayanya yang "mengerikan"
Itu saja mungkin sudah kabur terbirit-birit.
Sayang dijumpainya kali ini adalah Ho Leng-hong.
Ho Leng-hong tidak menganggapnya sebagai manusia, apalagi sebagai seorang perempuan, adegan semacam ini sudah biasa baginya, sedikitpun tidak heran dan terangsang.
Ia menganggapnya seperti gumpalan daging atau seekor babi betina, tanpa pikir tangan kiri menyodok ke depan.
Sodokan ini telak bersarang di perut perempuan cebol itu.
"Aduh!"
Karena kesakitan perempuan itu membungkukkan badannya, seakan-akan mendadak merasa malu.
Sedikitpun tidak terlintas dalam benak Ho Leng-hong rasa kasihan, bagaikan sebilah golok telapak tangan kanannya membacok kuduk perempuan itu dengan keras.
"Ouh ..."
Perempuan itu mengerang kesakitan dan jatuh berlutut di lantai.
Dengan cekatan Leng-hong menjambak rambutnya, menutuk jalan darahnya dan membungkus tubuhnya yang telanjang itu dengan selimut, kemudian dilemparkan ke atas pembaringan.
Sesudah bertepuk tangan, ia baru mengalihkan sinar matanya ke wajah Hui Beng-cu.
Ketika itu Hui Beng-cu sudah hampir jatuh semaput, ia sedang mengurut leher sendiri, napasnya tersengal dan tak sekatapun sanggup diucapkan.
"Bagaimana Jit-long?"
Kedengaran Pang Goan bertanya di luar jendela. Sambil memberi secawan teh pada Hui Beng-cu agar tenggorokannya basah, jawab Leng-hong.
"Sudah beres, silakan masuk!"
Tapi rupanya Pang Goan belum percaya, dia melongok dari luar jendela, setelah Leng-hong memasang lampu, dengan hati lega baru ia berani masuk ke dalam.
"Siapa yang membebaskan jalan darahnya?"
Tegur Leng-hong kemudian.
"Aku ..."
Jawab gadis itu dengan napas terengah.
"Bukankah kau bilang akan mengawasinya sepanjang malam dan tak akan terjadi apa-apa? Kenapa kau bebaskan jalan darahnya?"
"Aku tertipu oleh siasat perempuan busuk ini, mula-mula dia bilang mau kencing, maka kubebaskan jalan darah kakinya, kemudian ia bilang bahwa perempuan Ainu biasa tidur dalam keadaan telanjang, kupikir bila ia berada dalam keadaan telanjang, tentu dia tak mungkin akan kabur, maka..."
"Maka kaubebaskan jalan darah tangannya? Maka lehermu dicekik perempuan itu?"
Hui Beng-cu tundukkan kepalanya rendah-rendah, katanya dengan menyesal.
"Tidak kupikir sampai sejauh itu. Akulah yang salah, akulah yang terlalu gegabah."
"Andaikata ia bilang perempuan Ainu kalau tidur tentu memeluk sebilah golok, apakah kau juga akan memberikan golok padanya?"
Hui Beng-cu tak dapat menjawab, hanya tunduk kepala dan bungkam. Pang Goan kuatir gadis itu merasa jengah, buru-buru selanya.
"Kejadian yang lewat biarlah lalu, untung kita cukup waspada dan tak sampai perempuan itu kabur, lain kali sedikitlah lebih berhati-hati, Jit-long, mari kita kembali ke kamar."
Leng-hong tidak berkata apa-apa, ia putar badan dan melangkah keluar. Sambil memandang bayangan punggung orang yang berlalu, kata Hui Beng-cu dengan suara takut.
"Agaknya Nyo-toako sangat marah dan menyalahkan aku, padahal aku sungguh-sungguh teledor, aku tidak sengaja melepaskan dia ... ."
"Aku mengerti,"
Kata Pang Goan sambil tertawa.
"Jit-long juga tidak benar-benar menyalahkan dirimu, tujuannya agar kau jangan tertipu lagi di kemudian hari, sekali tertipu lain kali harus hati-hati. Sudahlah, beristirahatlah, akupun akan pergi."
Ketika kembali ke kamar sebelah, Leng-hong sedang berbaring sambil menopang tengkuknya dengan tangan, pemuda itu sedang memandang langit-langit dengan termangu, wajahnya tampak amat serius.
Tak tahan lagi Pang Goan menggerutu.
"Kau juga kelewatan, kenapa tidak memberi muka pada budak keluarga Hui itu? Apa yang kaukatakan tadi terlalu berat bagi pendengarannya."
"Lotoako, kau anggap apa yang diucapkan tadi adalah kata-kata yang sejujurnya?"
"Masa bukan?"
Leng-hong tertawa dingin.
"Paling sedikit ada satu hal yang tidak kupercayai, dengan ilmu silat Hui Beng-cu, tak mungkin segampang itu ia dapat dibekuk oleh perempuan Ainu itu sekalipun dibekuk, paling sedikit juga akan bersuara, lebih-lebih orang tak perlu mencekik lehernya dalam keadaan telanjang ... ."
"Jadi maksudmu ....."
Kata Pang Goan setelah termenung sejenak.
"Sedang bermain sandiwara, sandiwara yang sengaja diperlihatkan kepada kita."
"Sekalipun bermain sandiwara, kan tidak perlu bersandiwara dalam keadaan bugil."
"Ya, tapi sandiwara ini hanya khusus dipertunjukkan buatku seorang."
"Aku tidak paham maksudmu."
"Sederhana sekali, mereka tahu aku mencurigai asal-usul Hui Beng-cu, maka sengaja dimainkan sandiwara tersebut dengan tujuan untuk melenyapkan rasa curigaku terhadap Hui Beng-cu, agar kelihatan lebih seram dia sungguhkan, mereka atur waktu kau bertugas meronda, tapi takut aku tak sempat ikut menyaksikan, maka mereka putuskan untuk berperan dalam keadaan bugil. Mereka menduga kalau Lotoako tak akan tega menyaksikan adegan semacam itu dan akulah yang pasti disuruh masuk, tercapailah tujuan mereka, asal adegan itu kusaksikan sendiri, mereka yakin aku pasti akan percaya asal-usul Hui Beng-cu."
Pang Goan manggut-manggut.
"Kalau begitu, kau yakin budak keluarga Hui ini adalah gadungan?"
"Aku tidak berani mengatakan apakah dia Hui Beng-cu asli atau tidak, aku Cuma tahu dia sekomplotan dengan Ci-moay-hwe, dulu cuma curiga saja, tapi sekarang hakikatnya sudah pasti."
Pang Goan termenung, katanya kemudian.
"Jika dugaanmu benar, itu berarti kepergian kita ke markas besar Ci-moay-hwe akan terjebak, cuma sebelum mendapat bukti nyata lebih baik kita jangan menuduh orang dengan begitu saja, persoalan ini kita simpan saja dalam hati dan jangan disiarkan untuk sementara, coba kita lihat dulu bagaimanakah perkembangan selanjutnya."
"Setelah kita tahu kejadian ini adalah suatu jebakan, kenapa kita masih menuruti perintah mereka?"
"Tujuan mereka adalah untuk mendapatkan To-kiam-hap-ping-tin-hoat, setelah dapat kita pahami duduknya persoalan, kini merekalah yang berada dalam perhitungan kita, kenapa kita tidak menggunakan siasat untuk melawan siasat?"
Leng-hong tidak bertanya lebih jauh, sebab ia mengerti Pang Goan "si monyet dua kuda"
Bukanlah orang bodoh, ia pasti sudah mempunyai rencana yang matang untuk menghadapi persoalan ini.
---------------------*** (file google dokumen published by Saiful Bahri ...situbondo seletreng )***------------Ketika melanjutkan perjalanan pada keesokan harinya, keadaan aman tenteram seperti tak pernah terjadi apa-apa.
Cuma setiap kali Hui Beng-cu bertemu dengan Ho Leng-hong, wajahnya selalu tampak kikuk, seperti malu dan rada takut.
Kereta bergerak menuju ke utara menurut petunjuk perempuan cebol ini, selewatnya Siang-huan, tiba-tiba mereka berbelok ke barat, melewati Bu-tong-san terus menuju ke Tay-pa-san di daerah Siamsay.
Tak lama setelah melewati tembok besar, mereka sudah berada di lereng pegunungan, perjalanan tak dapat dilakukan lagi dengan menunggang kereta.
Terpaksa Pang Goan harus meninggalkan kuda dan keretanya, setelah membebaskan jalan darah kaki perempuan pendek itu, berempat mereka mendaki gunung dengan berjalan kaki.
Agaknya perempuan itu apal sekali dengan jalanan bukit itu, sepanjang perjalanan ia selalu memilih jalan setapak yang sepi, dalam sehari mereka dapat menempuh dua sampai tiga puluh li jalan gunung yang tak ada manusianya.
Ho Leng-hong jadi curiga, bisiknya kepada Pang Goan.
"Lotoako, tampaknya agak kurang beres, tujuan Ci-moay-hwe adalah menguasai dunia persilatan, tak mungkin markas besarnya didirikan di tengah gunung yang jauh dari keramaian."
"Aku tahu,"
Jawab Pang Goan sambil tertawa.
"perempuan asing ini sengaja mengajak kita berputar kayun di atas gunung untuk membuang waktu, tujuannya agar perempuan-perempuan busuk itu melakukan persiapan."
"Menurut pendapat Lotoako, apa yang sedang mereka persiapkan?"
"Jangan pedulikan cara apa yang akan mereka gunakan, pokoknya ingat saja, bila sampai terjadi sesuatu, aku yang menghadapi serangan luar dan kauhadapi musuh dari dalam."
Leng-hong mengangguk dan tertawa.
Tentu saja ia mengerti apa yang dimaksudkan "musuh dari dalam", tanpa terasa ia berjalan menghampiri Hui Beng-cu.
Waktu itu Hui Beng-cu sedang membuat api unggun di tepi sebuah batu karang, karena hari mulai gelap dan terpaksa harus menginap di udara terbuka, mereka harus membuat api untuk mengusir ular dan sebangsanya.
Perempuan Ainu itu duduk bersila di depan mulut gua dan memejamkan mata, menundukkan kepala seperti mengantuk.
Api unggun baru saja dibuat, Hui Beng-cu sedang mengebaskan lengan bajunya untuk membuyarkan asap tebal.
Ho Leng-hong menghampirinya, sambil tertawa ia menyapa.
"Nona Hui, merepotkan dirimu saja, nona keluarga kenaman harus melakukan pekerjaan kasar seperti ini."
"Mengapa kau berkata begitu? Membuat api dan memasak air adalah pekerjaan kaum wanita. Silakan duduk, Nyo-toako."
Setelah duduk di tepi api unggun, kembali Leng-hong berkata.
"Selama di Hiang-inhu, apakah kau juga melakukan pekerjaan rumah tangga?"
"Meskipun tak pernah kulakukan secara resmi, tapi belajar sih pernah, ayahku selalu menaruh perhatian khusus terhadap kepandaian puteri."
"Pantas kepandaian nona membuat api unggun dan memotong kayu bakar sudah berpengalaman, bukan seperti orang yang melakukan untuk pertama kali."
Tiba-tiba Hui Beng-cu berkerut dahi, lalu berkata dengan lirih.
"Nyo-toako, ada beberapa persoalan sebetulnya ingin kubicarakan denganmu, sayang selama ini tak ada kesempatan, cuma setelah kuucapkan nanti harap kau jangan marah."
"Ah, masa marah? Bila ada persoalan katakan saja terus terang,"
Jawab Leng-hong sambil tertawa.
"Aku merasa, sejak kedatanganku di Thian-po-hu, agaknya Nyo-toako tidak menyukai diriku, benar tidak?"
"Hei, kenapa kau mempunyai pikiran seaneh itu?!"
Hui Beng-cu tertawa getir, katanya lagi.
"Misalkan saja pada hari pertama aku tiba di Thian-po-hu, kau telah mencurigai diriku gadungan."
"Jangan berpikir yang bukan-bukan nona, maklumlah, terpaksa aku harus hati-hati, sebab belum lama berselang Ci-moay-hwe baru saja mengacau di Thian-po-hu, jadi mau-tak-mau aku harus waspada."
"Nyo-toako, aku tidak berpikir yang bukan-bukan, lebih-lebih tidak menyalahkanmu, aku dapat memakluminya, bahkan enso pun telah dipalsukan oleh Ci-moay-hwe sehingga Nyo-toako tertipu sekian lama, tak heran rasa bencimu terhadap Ci-moayhwe telah merasuk tulang, tapi akupun sama-sama menderita akibat ulah mereka, Nyo-toako, tak boleh lantaran perbuatan Ci-moay-hwe maka seluruh perempuan yang ada di dunia kaubenci semua!"
"Soal ini ..."
Leng-hong jadi gelagapan. Hui Beng-cu kembali berkata.
"Nyo-toako, kau mencurigaiku sebagai mata-mata dari Ci-moay-hwe, hal ini adalah urusanmu sendiri dan aku tidak menyalahkanmu, tapi aku harap sebelum ada faktanya jangan kauambil kesimpulan sendiri, apalagi dalam peristiwa di rumah penginapan Hong-an, tidak semestinya kau menuduh aku bersandiwara untuk menipumu, atau paling sedikit kau harus menunggu setibanya di markas besar Ci-moay-hwe atau setelah tiba di Hiang-in-hu dan menyelidiki duduk perkara yang sebenarnya baru menarik kesimpulan-kesimpulan, terus terang kukatakan bahwa sikapmu itu sangat menyedihkan hatiku, membuatku penasaran."
Makin bicara makin emosi, akhirnya sambil mendekap wajahnya ia menangis tersedu-sedu.
Leng-hong tidak menyangka semua pembicaraannya dengan Pang Goan telah didengar olehnya, lebih-lebih tidak menyangka bakal ditegur secara terus terang, untuk sesaat pemuda itu menjadi gelagapan dan tak tahu bagaimana mesti menjawab.
Setelah tertegun sekian lama, akhirnya ia berkata.
"Nona Hui, ucapanmu memang benar, mungkin rasa benciku terhadap Ci-moay-hwe sudah terlampau mendalam sehingga prasangkaku lebih besar dan mengakibatkan terjadinya kesalahpahaman ini, kuharap kau memahami bahwa aku tidak bermaksud jahat, seandainya aku pernah melakukan kesalahan atau menyinggung perasaanmu, kuharap kau bersedia memaafkan."
Hui Beng-cu menggeleng kepala berulang kali, sambil terisak katanya.
"Tidak, Nyotoako, aku tidak bermaksud menyalahkan dirimu! Aku hanya... hanya merasa sangat sedih, aku tak menyangka maksudku mohon bantuan pada Thian-po-hu akan berakibat begini ... ."
"Sudahlah, jangan bersedih hati, apa yang terjadi hanya suatu kesalah-pahaman kecil, peristiwa ini tak akan mempengaruhi hubungan persahabatan antar Bu-lim-sam-hu, kita masih tetap sesama saudara sendiri, nanti kalau markas besar Ci-moay-hwe telah ditemukan dan siapa pemimpinnya berhasil kita ketahui, aku pasti akan menemanimu pergi ke Hiang-in-hu, aku pasti akan membantumu untuk menghadapi komplotan penjahat yang telah menguasai ayahmu itu."
"Sungguh?"
Hui Beng-cu mendongakkan kepalanya.
"Nyo-toako, kau benar-benar mau menemaniku pergi ke Leng-lam? Kau masih bersedia menganggapku sebagai adikmu?"
"Tentu saja sungguh, kita mempunyai musuh yang sama dan penderitaan yang sama pula, bukankah begitu?"
Hui Beng-cu tertawa, katanya.
"Nyo-toako, kau tidak membohongiku bukan?"
"Persoalan ini adalah masalah serius, buat apa aku membohongimu?"
Leng-hong ikut tertawa.
"Kalau begitu legalah hatiku, terus terang kukatakan, semenjak bertemu denganmu untuk pertama kalinya, aku telah menyukaimu, aku tak punya kakak atau adik, selanjutnya aku akan menganggapmu sebagai kakakku sendiri, Nyo-toako kau bersedia bukan?"
"Ya, bersedia,"
Leng-hong segera mengalihkan pembicaraan ke soal lain.
"Sekarang tanyakan kepada perempuan asing itu, kapan kita baru akan sampai di markas besar Ci-moay-hwe?"
"Sudah kutanyakan kepadanya, bila sepanjang jalan tiada rintangan, besok malam kita akan tiba di tempat tujuan."
"Apakah kau tidak berusaha mencari kabar tentang keadaan markas besar Ci-moayhwe?"
"Sudah kutanyakan, tapi ia tak mau menjawab, ia hanya bilang keadaan di sekitar tempat itu sangat curam dan berbahaya, di situlah berdiri istana Ci-moay-kiong, sebuah istana yang megah dan mewah, katanya penghuni istana itu seluruhnya adalah perempuan, lagipula ilmu silat mereka rata-rata sangat tinggi."
Sambil mendengarkan keterangan itu Leng-hong mengangguk-angguk seakan-akan mendengarkan secara serius, tapi seperti juga sangat kecewa, gumamnya.
"Kalau begitu, besok kita akan berhasil membongkar rahasia yang menyelimuti Ci-moayhwe? Kenapa sampai saat ini keadaan masih tetap tenang-tenang saja?"
"Betul, akupun merasa heran,"
Kata Beng-cu.
"semestinya semakin mendekati sarang Ci-moay-hwe, semakin banyak gangguan atau pengadangan akan terjadi."
Leng-hong tertawa, bisiknya.
"Siapa tahu kalau malam nanti bakal ada gerakan? Kau harus hati-hati."
Setelah melirik sekejap ke arah perempuan negeri seberang itu, dia lantas bangkit dan meninggalkan api unggun.
Perempuan Ainu itu masih duduk bersila tanpa bergerak, seolah-olah sudah tertidur, ketika Leng-hong berlalu, tiba-tiba ia bangkit dan putar badan masuk ke dalam gua di belakangnya.
Tempat itu merupakan sebuah tebing yang menonjol keluar di kaki gunung, di sekeliling sana terdapat enam-tujuh buah gua yang tidak sama dalamnya, sedangkan yang cetek hanya muat satu badan, di depan sana ada sebuah sungai, pemandangan indah, suatu tempat berkemah yang baik.
Setelah kenyang mengisi perut, keempat orang itu masing-masing lantas mencari sebuah gua untuk beristirahat.
Agar lebih leluasa mengontrol perempuan Ainu itu, Hui Beng-cu mencari sebuah gua yang agak dalam dan tinggal bersamanya, ia menyuruh perempuan itu tidur di dalam gua, sementara ia sendiri di mulut gua.
Pang Goan dan Leng-hong berjaga secara bergilir, mereka mendiami dua buah gua yang agak cetek di kiri kanannya.
Api unggun terletak persis di muka gua yang ditempati Hui Beng-cu, seandainya ada orang mendekati tebing tersebut, kebanyakan mereka akan memperhatikan gua di bagian tengah daripada kedua gua yang terletak di sisinya.
Secara kebetulan sekali, baru saja mereka beristirahat, tiba-tiba kedengaran suara langkah kaki manusia ramai.
Pang Goan paling dulu mendengar suara langkah manusia itu, tapi ia hanya membetulkan letak senjatanya tanpa bergerak dari tempatnya.
Leng-hong coba melongok dan melirik sekejap ke arah gua sebelah tengah, ia tidak tampak Hui Beng-cu, mungkin gadis itu pun mendengar suar tersebut dan mengundurkan diri ke dalam gua.
Maka Leng-hong pun diam saja.
Yang datang berjumlah empat orang, seorang pendeta dan tiga orang preman, pakaian mereka compang-camping, kepala tertunduk rendah dengan langkah sempoyongan, agaknya mereka sama terluka.
Leng-hong duduk di dalam gua dan tak sempat melihat jelas raut wajah keempat orang itu, tapi ia merasa di antara keempat orang itu paling sedikit ada seorang yang sudah dikenalinya.
Orang pertama adalah seorang Hwesio berusia lima puluhan, jubahnya terkoyakkoyak dan berpelepotan darah, di belakangnya mengikut tiga orang laki-laki preman setengah umur, tubuh merekapun babak-belur.
Dengan terhuyung-huyung keempat orang itu mendekati api unggun, rupanya mereka sudah kehabisan tenaga, mendadak mereka roboh terkapar di tanah dan tidak berkutik lagi.
Tergetar perasaan Leng-hong, baru saja dia hendak berdiri .....
"Tunggu sebentar!"
Seru Pang Goan dengan suara tertahan.
"kendalikan emosimu, keempat orang itu sudah tewas, jangan pedulikan mereka, hati-hati dengan musuh tangguh yang bersembunyi di tempat gelap!"
Terpaksa Leng-hong tarik napas panjang dan menekan gejolak emosinya.
Tapi setelah ditunggu sekian lama, belum kedengaran juga suara yang lain, bahkan tidak nampak sesosok bayangan pun yang muncul di situ.
Sementara itu keempat sosok mayat tadi terkapar di dekat api unggun, jelas mereka sudah putus nyawa karena tubuh kaku dan tak berkutik lagi.
"Lotoako, kaulihat benda di atas dada mereka?..."
Bisik Ho Leng-hong dengan suara parau.
"Sudah! Jangan bergerak dulu, biar kuperiksa daerah sekeliling tempat ini!"
Begitu selesai berkata, bagaikan seekor monyet, dengan gesit Pang Goan melayang keluar gua. Tidak lama kemudian ia muncul kembali dengan wajah serius, sambil menggapai katanya.
"Keluarlah Beng-cu! Tutuk dulu jalan darah perempuan asing itu, jangan sampai dia sempat melarikan diri."
Leng-hong dan Beng-cu sama muncul dari gua, setelah memeriksa keempat sosok mayat di tepi api unggun itu, perasaan semua orang sama tertekan.
Sebelum tiba di dekat api unggun jelas keempat orang itu, seorang pendeta dan tiga orang preman, telah terluka parah, bahkan kedatangan mereka ke sana menjelang ajalnya pun bukan atas keinginan mereka sendiri.
Sebab tangan mereka berempat sama diikat oleh seutas tali panjang, lagi pula dada masing-masing tergantung sebuah lencana kayu yang berukirkan sebuah huruf besar berwarna merah darah.
Dibaca menurut urutannya dari pendeta itu, maka tersusunlah empat kata yang berbunyi.
"Jip".
"Kok".
"Cia"
Dan "Si"
Yang artinya.
"Barang siapa masuk ke dalam lembah, mati!"
Meskipun sekujur badan keempat orang itu penuh dengan luka, tapi luka yang mengakibatkan kematian mereka adalah sama, yakni dada kiri ditembus ujung golok hingga tembus ke hulu hati, sekalipun malaikat dewata juga tak bisa menyelamatkan jiwa mereka.
Tusukan menembus hati itu bukan saja dilakukan dengan sangat jitu, besar-kecilnya luka dan dalam cetaknya luka ternyata persis sama satu dengan lainnya.
Pang Goan geleng kepala berulang kali dan berkata.
"Sungguh ilmu golok yang amat keji!"
"Betul!"
Leng-hong menanggapi.
"kesempurnaan ilmu golok pembunuh itu tampaknya tidak berada di bawah ilmu golok Thian-po-hu maupun Hiang-in-hu."
"Jit-long, kenalkah kau pada keempat orang ini?"
Tanya Pang Goan kemudian.
"Aku hanya kenal lelaki nomor dua yang mengenakan baju hijau itu, sedang sang pendeta ini kemungkinan besar adalah Hwesio dari Siau-lim-si."
"Oya? Lantas siapakah laki-laki itu?"
"Thian Pek-tat!"
"Thian si telinga panjang?"
Ulang Pang Goan dengan air muka berubah hebat.
"Memang dia inilah orangnya, bukankah Lotoako pernah bilang secara tiba-tiba dia diajak temannya meninggalkan rumah dan menuju ke Lan-hong? Bisa jadi kedua orang ini adalah sahabatnya yang mengajaknya pergi, kemungkinan besar kepergian mereka ke Lan-hong adalah untuk mengunjungi Siau-lim-si ... cuma, kenapa mereka bisa mati di sini?"
"Kalau begitu, kecurigaanmu padanya sebagai mata-mata Ci-moay-hwe jelas keliru besar,"
Kata Pang Goan dengan kening berkerut.
"Baik dalam tindak tanduknya maupun dalam pembicaraannya, Thian Pek-tat merupakan seorang yang patut dicurigai, maka menurut dugaanku jika ia bukan matamata Ci-moay-hwe, jelas dia orang suruhan dari kelompok organisasi misterius lainnya, kalau tidak, tak mungkin tanpa sebab musabab ia mendatangi pegunungan Tay-pa-san ini."
"Lantas siapa pula kelompok manusia yang misterius itu?"
"Tentang ini tak berani kukatakan secara gegabah, Cuma selalu kurasakan sejak tercurinya Yan-ci-po-to seakan-akan terdapat sekelompok manusia yang diam-diam memusuhi pihak Ci-moay-hwe, mungkin saja merekapun mengincar golok mestika tersebut, dan mungkin juga mempunyai tujuan tertentu, tapi kawankah atau musuhkan? Sukar untuk dikatakan dengan begitu saja, sayang Thian Pek-tat telah mati, kalau tidak, mungkin dari mulutnya akan diperoleh sedikit titik terang."
Pang Goan termenung sebentar, lalu berkata.
"Kalau demikian, suasananya makin lama berkembang makin kacau, kecuali Ci-moay-hwe, siapa lagi yang berhasrat mendapatkan golok mestika Yan-ci-po-to?"
"Lotoako, masih ingatkah kau Yan-ci-po-to telah dirampas oleh seorang berkerudung yang tinggi besar? Hakikatnya Samkongcu dari Ci-moay-hwe tidak berhasil mendapatkan golok mestika tersebut."
Tergerak juga hati Pang Goan, katanya.
"Benar, waktu itu aku mengira pihak Cimoay-hwe berbohong, bila kita bayangkan kembali sekarang rasanya memang ada beberapa bagian yang bisa dipercaya ....."
Sementara mereka membicarakan kejadian yang berlangsung di Thian-po-hu tempo hari, Hui Beng-cu menjadi tidak sabar, selanya.
"Hei, apa yang kalian bicarakan? Sepatah katapun tidak kupahami. Sekarang lebih baik kita rundingkan dulu apa yang mesti dilakukan dengan keempat sosok mayat ini."
"Gali saja sebuah liang dan kita kubur mereka....."
Usul Pang Goan.
"Tidak, tak boleh dikubur!"
Mendadak seseorang menganggapi, bersamaan itu dari atas tebing melayang turun sesosok manusia.
Baik Pang Goan maupun Ho Leng-hong, kedua-duanya tidak menyangka di atas tebing telah bersembunyi seseorang, serentak mereka lolos golok dan pedang.
"Jangan menggerakkan senjata,"
Kembali orang itu berkata.
"kedatanganku orang tua ini hanya bermaksud menasihati kalian saja, mau turut atau tidak terserah kepada kalian sendiri, dan tak perlu bersitegang macam begini."
Orang yang mengaku sebagai orang tua itu memang telah lanjut usia, wajahnya penuh keriput, rambut dan jenggotnya telah memutih, badannya agak membungkuk, meskipun belum mencapai sembilan puluh, paling sedikit juga melampaui delapan puluh.
Meski begitu, tongkat baja sebesar telur itik yang berada dalam genggamannya itu memiliki bobot yang hampir sebanding dengan usianya, kalau tidak mencapai sembilan puluh kati, delapan puluh pasti ada.
Dengan usianya yang tua namun sanggup membawa tongkat seberat itu, dari sini saja dapat diketahui bahwa orang tua ini memang bukan orang sembarangan.
Pang Goan bukan orang bodoh, golok dan pedangnya tidak digunakan untuk menyerang, tapi disilangkan untuk melindungi badan, lalu tegurnya dengan suara berat.
"Siapa kau?"
"Aku adalah orang di luar garis, bila kalian suka panggil saja aku orang di luar garis."
"Kalau begitu, kau tak ada hubungan apa-apa dengan Ci-moay-hwe?"
Sela Ho Lenghong. Kakek itu tertawa.
"Dengan sebutan orang di luar garis, berarti aku tak ada hubungan apa-apa dengan pihak manapun."
"Lantas dengan maksud apa kau bersembunyi di puncak tebing itu?"
Tegur Pang Goan.
"Pang-lote, jangan berkata begitu!"
Ujar kakek itu sambil menarik senyumnya.
"tebing ini bukan milik Cian-sui-hu, kalian boleh datang kemari kenapa aku tak boleh datang? Lagipula aku datang lebih awal daripada kalian, semenjak tadi aku sudah berdiam di atas tebing itu, adalah kalian yang tidak melihat jejakku, masa kini menyalahkan aku si kakek mengintip kalian?"
"Kalau begitu, anggap saja ketajaman pendengaran kamilah yang kurang ... ."
Kata Leng-hong kemudian.
"tapi, bolehkah kutahu mengapa kau melarang kami mengubur mayat-mayat ini?"
"Untuk mengetahui alasannya, maka lebih dulu ingin kutanya, jauh-jauh kalian datang ke tempat sepi semacam ini, sesungguhnya apa tujuan kalian?"
"Kami sedang mencari suatu tempat!"
"Apakah alamat markas besar Ci-moay-hwe yang sedang kalian cari?"
"Benar!"
"Aku ingin bertanya lagi, tahukah kalian siapakah yang membunuh keempat orang ini?"
"Tentu saja orang-orang Ci-moay-hwe!"
"Mengapa pihak Ci-moay-hwe membunuh mereka?"
"Jelas sekali, mereka sengaja pamerkan kekuatan agar kami tak berani melanjutkan perjalanan."
"Apakah kau kira markas besar Ci-moay-hwe terletak di atas bukit di sebelah depan sana?"
Tanya kakek itu lagi.
"Betul,"
Jawab Leng-hong. Ditatapnya pemuda itu dengan tersenyum, lalu kata si kakek.
"Tak kunyana, kau benar-benar pintar!"
"Tak berani kuterima pujianmu ....."
Leng-hong memberi hormat. Tiba-tiba kakek itu menarik muka sambil meludah ke tanah.
"Pintar?"
Ejeknya.
"Cis! Pintar kentut, Hei, anak muda, kau anggap dirimu sangat pintar? Padahal gobloknya melebihi kerbau."
Leng-hong melenggong.
"Orang tua, kau ....."
"Hmm, aku sudah cukup sungkan padamu, coba kalau tidak sungkan, ingin sekali kuhadiahi beberapa tempelengan untukmu. Apakah tidak kau bayangkan, setelah Cimoay-hwe dapat masuk keluar dengan seenaknya sendiri di Bu-lim-sam-hu bagaikan di rumah sendiri, apakah mereka mau mendirikan markas besarnya di tengah bukit liar semacam ini?"
Sekalipun sedang didamprat, namun Leng-hong cuma diam saja, sebab ia merasa perkataan itu memang benar. Terdengar kakek itu berkata lebih jauh.
"Lagipula, seandainya mereka tak ingin kedatangan kalian, banyak kesempatan bagi mereka untuk turun tangan di sepanjang jalan, kenapa harus pamer kekuatan pada saat seperti ini? Jikalau keempat orang itupun bisa mereka bunuh, mengapa mereka tidak dapat membunuh kalian pula? Apa gunanya membuka celana untuk kentut, melakukan tindakan berlebihan? Memangnya kalian bertiga lebih hebat daripada mereka berempat?"
"Jadi maksud orang tua, kedatangan kami memang telah diatur oleh Ci-moay-hwe secara diam-diam?"
"Kalau tidak, apakah kalian bisa sampai di sini dengan lancar?"
"Kalau begitu, mereka sengaja mengatur jebakan agar kami masuk perangkap?"
Tersungging juga senyuman pada wajah kakek itu.
"O, rupanya kau memang tidak terlalu goblok, akhirnya keluar juga sepatah kata cerdik."
"Lalu, siapakah yang membunuh keempat orang itu? Jebakan apakah yang mereka siapkan di atas bukit?"
Tanya Leng-hong lagi. Kakek itu menggeleng kepala berulang kali.
"Baru saja kukatakan kaupintar, kenapa menjadi bodoh lagi? Terus terang kuberitahukan padamu, inilah siasat Cioh-to-sat-jin (pinjam golok membunuh orang) dari Ci-moay-hwe, mengerti?"
"Aku belum mengerti!"
"Sialan, terpaksa harus kuterangkan lebih terperinci padamu,"
Keluh kakek itu sambil menghela napas.
"ketahuilah, pihak Ci-moay-hwe sengaja mengirim anak domba ke mulut harimau, kalian di pancing ke sebuah lembah yang mengerikan, meskipun tempat itu tiada jebakan yang berbahaya, tapi hanya bisa datang dan jangan harap akan keluar lagi, sebab barang siapa telah masuk ke dalam lembah itu, selamanya tak mungkin keluar lagi dalam keadaan hidup ... ."
"Apakah kau maksudkan lembah Mi-kok?"
Tiba-tiba air muka kakek itu berubah.
"Sudah terlalu jelas keteranganku tadi, apapun nama tempat itu, pokoknya lebih baik jangan di datangi, aku hanya orang di luar garis, sampai di sini saja apa yang bisa kukatakan, mau percaya atau tidak terserah kepada kalian sendiri."
Dia lantas mengangkat tongkatnya dan siap meninggalkan tempat itu.
"Tunggu sebentar!"
Seru Pang Goan tiba-tiba sambil mengadang jalan perginya. Sambil tertawa dingin kakek itu menghentikan langkahnya.
"Pang-lote, apakah masih ada urusan lain?"
"Aku ingin tanya satu hal, sebagai orang di luar garis, kenapa begitu banyak persoalan tentang Ci-moay-hwe yang kauketahui? Darimana pula kau tahu bahwa setiap orang yang masuk ke lembah Mi-kok tiada harapan lagi untuk keluar dalam keadaan hidup?"
"Pang-lote,"
Kata kakek itu sambil menarik napas panjang.
"aku bermaksud baik, jangan kau anggap aku bermaksud jahat."
"Kalau betul bermaksud baik, kenapa tidak berani sebutkan namamu?"
"Apa gunanya memaksa orang melakukan hal yang tidak diinginkannya?"
Kata kakek itu lagi sambil tertawa.
"Oleh karena kau orang di luar garis yang terlalu banyak mencampuri urusan ini."
"Jika aku tak bersedia menyebutkan namaku?"
"Terpaksa akan kuselidiki asal-usulnya dari ilmu silatmu?"
"Hahaha ... kau hendak bertarung denganku?"
Seru si kakek sambil tertawa terbahak-bahak.
"Betul, silakan!"
Dengan golok di tangan kiri dan pedang di tangan kanan, Pang Goan segera menunjukkan gaya pembukaan ilmu To-kiam-hap-ping-tin. Ho Leng-hong kuatir mereka benar-benar berkelahi, segera teriaknya.
"Pang-toako, bolehkah aku mengajukan beberapa pertanyaan dulu kepada orang tua ini?"
"Baik, tanyalah lebih dulu!"
Leng-hong memberi hormat kepada kakek itu, lalu katanya.
"Aku percaya kau orang tua benar-benar bermaksud baik, tapi ucapanmu baru sampai di tengah jalan, kenapa lantas buru-buru mau pergi?"
"Apa yang bisa kukatakan telah kuutarakan, urusan apa yang kaumaksudkan cuma setengah jalan?"
"Tadi kami hendak mengubur keempat sosok jenazah ini, tapi dialangi olehmu, sampai sekarang belum kaujelaskan kepada kami kenapa jenazah mereka tak boleh dikubur."
"O, rupanya persoalan ini yang kau tanyakan,"
Kata si kakek sambil tertawa.
"Baiklah! Akan kuterangkan padamu, keempat sosok mayat dan lencana kayu di tubuh mayat tersebut merupakan sebagian dari siasat Ciok-to-sat-jin dari Ci-moayhwe. Jika kalian mau menurut anjuranku, maka cepatlah bakar mayat itu dengan api, kemudian tinggalkan Tay-pa-san, kalau tidak, maka tak lama bakal ada bencana besar yang akan menimpa kalian."
"Kenapa mayat-mayat itu mesti dibakar dengan api ... ."
Tanya Leng-hong dengan tercengang.
"Ah, terlalu banyak yang kautanya!"
Tukas kakek itu marah, tongkatnya segera diketukkan ke tanah dan tubuhnya melayang pergi meninggalkan tempat itu.
"Jangan pergi dulu! Sambut seranganku ini."
Bentak Pang Goan.
Tampak cahaya tajam berkilau, golok di tangan kiri dan pedang di tangan kanannya segera menyerang bersama.
Waktu itu kedua kaki si kakek sudah meninggalkan permukaan tanah, tiba-tiba ia tertawa dingin.
"Jurus serangan bagus!"
Bayangan tongkat berkelebat membelah angkasa, di antara getaran ujung tongkat terciptalah selapis cahaya hitam. Ketika serangan golok dan pedang Pang Goan membentur cahaya hitam tersebut .....
"Trang!"
Golok dan pedang terpental kembali.
Untung Pang Goan tidak menggunakan segenap tenaganya dalam serangan tersebut, ia tergetar mundur dua langkah dengan sempoyongan, tangannya terasa panas dan sakit, hampir saja senjatanya terlepas dari genggaman.
Kakek itu sama sekali tidak menghentikan gerak tubuhnya, sekali berjumpalitan ia sudah melayang ke atas tebing dan lenyap dibalik batu itu.
"Toako terluka tidak?"
Tanya Leng-hong cepat. Pang Goan menggeleng kepala dengan wajah terkejut katanya.
"Betapa sempurnanya tenaga dalam kakek itu, hidup sampai setua ini baru sekali ini aku benar-benar menjumpai seorang jago tangguh."
"Sudah Toako tahu asal-usulnya?"
Kembali Pang Goan menggeleng.
"Tidak berhasil kuketahui, tenaga dalam orang ini jauh di atasku, belum pernah kudengar dalam dunia persilatan terdapat seorang jago setangguh ini."
Padahal Pang Goan adalah seorang tinggi hati dan tak pernah tunduk kepada orang lain, tapi sekarang ia mengucapkan kata-kata semacam itu, dapat diketahui bahwa perasaannya betul-betul tergetar keras.
"Untung ia menyebut dirinya sebagai orang di luar garis, jadi tidak bermusuhan dengan kita, kalau tidak, sungguh seorang musuh tangguh."
Hui Beng-cu yang membungkam terus sejak tadi tiba-tiba berkata sambil tertawa.
"Menurut pendapatku, usianya sudah terlalu lanjut, senjatanya juga kelewat berat, andaikata benar-benar terjadi pertarungan, belum tentu dia bisa menandingi kelihayan Pang-toako."
"Kau tak perlu bantu menutupi maluku,"
Kata Pang Goan sambil tertawa getir.
"di atas langit masih ada langit, di atas manusia pintar masih ada yang lebih pintar, dunia persilatan penuh dengan orang kosen yang tak terhitung banyaknya, tenaga dalam tak dapat menandingi bukanlah sesuatu yang memalukan, tak berani mengaku kalah barulah suatu kejadian yang memalukan."
Merah wajah Hui Beng-cu karena jengah, katanya sambil tertawa.
"Maksudku jurus pedang Pang-toako belum tentu kalah dengannya, misalnya saja kalau ia tidak cepatcepat pergi, bila Pang-toako telah mengembangkan ilmu To-kiam-hap-ping-tin, siapa yang bakal menang atau kalah masih sukar diramalkan."
"Sekarang tak usah membicarakan soal semacam itu,"
Kata Leng-hong.
"yang mesti kita rundingkan sekarang adalah apakah kita harus mengikuti anjurannya atau tidak?"
Pang Goan berkerut kening, untuk sesaat ia tak berkata apa-apa.
"Aku pikir anjurannya tak perlu digubris,"
Kata Beng-cu.
"bahkan siapakah dia saja tidak kita ketahui, dengan dasar apa kita harus menuruti perkataannya?"
"Tapi, apa yang dikatakannya ada benarnya juga, andaikata hal ini benar-benar merupakan rencana busuk Ci-moay-hwe, mau-tak-mau kita harus waspada dan mencegahnya."
"Bagaimanapun besok kita akan tiba di tempat tujuan, sampai waktunya bukankah semua persoalan akan tersingkap dengan sendirinya? Jangan lantaran Cuma sepatah katanya lantas melepaskan semua usaha kita yang telah kita capai dengan susahpayah."
Leng-hong berpikir sejenak, kemudian berpaling.
"Bagaimana pendapatmu, Lotoako?"
Pang Goan menarik napas panjang.
"Kukira ucapan kakek itu tak mungkin tanpa alasan, mungkin saja ia bermaksud baik, Cuma kita tak boleh melepaskan usaha kita sampai setengah jalan saja ...."
"Benar!"
Beng-cu menyambung.
"asal kita lebih berhati-hati, sekalipun di depan sana ada marabahaya juga tak perlu takut."
Pang Goan tidak menanggapinya, katanya.
"Menurut perkataan orang tua itu, kemungkinan besar lembah tersebut adalah Mi-kok seperti apa yang tersiar dalam dunia persilatan selama ini, andaikata betul, sekalipun harus menyerempet bahaya tetap akan kita datangi tempat itu, sedang mengenai keempat sosok mayat ini, kupikir memang ada baiknya dibakar saja seperti usulnya tadi."
Tiba-tiba Leng-hong tertawa, katanya.
"Siaute telah mendapatkan suatu akal bagus, entah Toako menyetujui atau tidak?"
"Coba katakan."
"Kukira ucapan kakek itu dapat dipercaya, cuma keterangannya tidak terperinci sehingga bikin orang bingung, bagaimana kalau kita lakukan percobaan?"
"Percobaan bagaimana?"
"Ia sarankan agar mayat ini dibakar, dikatakan pula keempat sosok mayat dan lencana kayu ini merupakan sebagian dari siasat Cioh-to-sat-jin (pinjam golok membunuh orang) dari Ci-moay-hwe, aku rasa dibalik ucapan tersebut tentu ada sebab-sebabnya, maka menurut pendapatku untuk sementara waktu kita jangan melanjutkan perjalanan dulu, mayat-mayat inipun tak usah kita bakar, biarkan saja mayat dan lencana kayu berada di tempat semula, kemudian kita sembunyi dan menunggu satu hari, coba kita lihat peristiwa apa yang akan terjadi?"
"Bagus sekali!"
Sorak Beng-cu.
"aku sangat setuju dengan percobaan ini, toh terlambat satu-dua hari juga tidak apa-apa."
Pang Goan termenung sejenak sebelum menjawab.
"Mungkin juga bencana yang dimaksudkan tak akan terjadi di sini, kalau begitu, bukankah kita akan menunggu dengan sia-sia di sini?"
"Meski demikian, hal tersebut sama sekali tidak mempengaruhi rencana kita semula, selewatnya besok kita masih bisa membakar mayat-mayat ini dan melanjutkan perjalanan, apa artinya tertunda sehari?"
"Baiklah,"
Kata Pang Goan kemudian sambil mengangguk.
"kita coba saja kalau begitu."
"Aku akan coba mencari apakah di sekitar sini ada tempat persembunyian yang baik?"
Kata Beng-cu cepat.
"Tak usah dicari lagi, bukanlah di atas sana merupakan tempat persembunyian yang baik?"
Kata Leng-hong sambil menuding tonjolan tebing sebelah atas.
Tiga orang itu segera melompat ke puncak tebing itu, betul juga, mereka temukan sebuah gua di sana, mulut gua ciut, dan pendek, tapi perut gua itu lebar dan dalam sekali, pada ujung lain terdapat jalan tembus dan melingkar sampai sejauh puluhan tombak lebih.
Gua itu benar-benar aman dan rahasia letaknya, tak aneh kakek yang menyebut dirinya.
"orang luar garis"
Itu begitu mencapai puncak tebing ini lantas lenyap.
Hui Beng-cu membawa juga perempuan Ainu itu ke atas tebing dan meletakkannya di dalam gua, sementara api unggun dan mayat dibiarkan tetap berada di tempat semula.
Setelah segala sesuatunya selesai diatur, ketiga orang itu lantas bertiarap di depan gua sambil menantikan perubahan selanjutnya.
Malam itu lewat dengan aman tenteram, tiada peristiwa apapun yang terjadi.
Tak lama setelah fajar menyingsing, ketiga orang itu mulai merasa letih.
"Secara bergilir kita mesti beristirahat dulu,"
Kata Pang Goan.
"kita harus simpan tenaga, sebab kita akan menunggu sehari semalam lagi."
Hui Beng-cu tampak menguap, katanya sambil tertawa.
"Aku memang merasa lelah, baiklah aku tidur sebentar lebih dulu, bila ada apa-apa panggillah aku!"
"Mumpung sekarang hari baru terang, bebaskan dulu jalan darah perempuan asing itu agar membuang hajat di belakang gua sana, sebab jalan darah yang terlalu lama ditutuk bisa mengakibatkan beku peredaran darahnya."
Beng-cu mengiakan dan berbangkit, tapi tiba-tiba matanya terbelalak lebar, sambil menuding ke bawah tebing sana katanya.
"Coba lihat, mayat itu...."
"Mengapa dengan mayat-mayat itu?"
Tanpa terasa Pang Goan dan Leng-hong tanya bersama.
Waktu itu api unggun telah padam, tapi keempat sosok mayat itu masih tergeletak di tepi api unggun, sama sekali tiada suatu yang aneh.
Dengan suara kaget Hui Beng-cu berkata lebih jauh.
"Ke ....ke mana larinya lencana kayu pada mayat itu? Ke ... kenapa bisa lenyap semua ..."
Pang Goan dan Leng-hong cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke bawah, segera merekapun terperanjat. Betul juga, keempat buah lencana kayu di tubuh mayat itu betul-betul telah lenyap tak berbekas.
"Lotoako, lindungi aku dari atas, bias aku turun ke bawah untuk melakukan pemeriksaan!"
Kata Leng-hong dengan suara tertahan.
"Jangan sembarangan bergerak,"
Cegah Pang Goan cemas.
"kejadian ini sangat mencurigakan, mungkin sekali inilah yang dimaksudkan si kakek sebagai rencana busuk itu!"
"Semalam jelas benda-benda itu masih ada,"
Kata Beng-cu.
"semalam suntuk kitapun tak pernah memejamkan mata, mengapa lencana-lencana kayu itu bisa lenyap dengan sendirinya?"
Kenyataannya memang demikian, semalam suntuk mereka bertiga mengawasi terus sekitar tempat itu.
"tiada embusan angin rumput tentu tak kan bergoyang", kenapa keempat buah lencana kayu itu bisa lenyap secara tiba-tiba?"
Untuk sesaat mereka bertiga hanya saling pandang dengan tercengang.
"Masa ada setan di sini?"
Gumam Hui Beng-cu.
"kalian turun saja ke bawah melakukan pemeriksaan, aku akan melindungi kalian dari sini."
Tentu saja Ho Leng-hong dan Pang Goan tidak percaya setan, namun merekapun tak bisa memecahkan teka-teki di sekitar lenyaplah keempat lencana kayu itu, saking ingin tahunya, serentak mereka melayang turun ke bawah.
Setelah mendekati tumpukan api unggun itu, Pang Goan berdua jadi tertegun.
Empat sosok mayat itu masih tetap seperti semula, cuma lencana kayu dan tali temali yang meringkus tubuh telah lenyap tak berbekas, di bawah bekas tali dan lencana kayu itu ditemukan bubuk kayu yang amat tipis, abu itu sedang menyebar ke manamana terembus angin.
Ini menunjukkan bahwa lencana kayu itu bukan terbuat dari kayu, tali juga bukan buatan bahan rami melainkan terbuat dari sejenis bahan khusus yang secara otomatis akan lenyap dengan sendirinya setelah diembus angin semalam suntuk.
Tapi terbuat dari bahan apakah itu?
Siapapun tak tahu.
Mengapa diatur siasat seperti ini.
Sungguh memusingkan kepala orang.
Tapi lenyapnya tali dan lencana kayu itu memang fakta.
Tiba-tiba Ho Leng-hong mendesis.
"Ah, mengertilah aku sekarang ..."
"Kau mengerti apa?"
"Tak heran itu melarang kita mengubur jenazah ini, rupanya inilah siasat Cioh-to-satjin dari Ci-moay-hwe."
"Siasat pinjam golok membunuh orang bagaimana maksudmu?"
"Bayangkan saja, andaikata pihak penghuni lembah sedang mengadakan pencarian terhadap keempat orang ini, dan semalam kita mengubur jenazah mereka, bila hal ini sampai diketahui mereka, bagaimanakah penjelasan kita terhadap peristiwa itu?"
"Orang-orang itu bukan mati di tangan kita, tentu saja kita menceritakan hal yang sesungguhnya."
"Dengan demikian, pihak lawat pasti akan menggali kubur untuk memeriksa mayatmayat tersebut, dengan bukti di depan mata, maka keterangan kita yang jujur akan berubah menjadi kata-kata bohong, siapa yang percaya orang-orang ini bukan mati di tangan kita?"
Pang Goan menarik napas dingin, gumamnya.
"Benar juga, tatkala mana kita benarbenar tak akan mampu menyangkal, sungguh siasat mereka ini ... ."
Belum habis ia berkata, tiba-tiba dari atas tebing terdengar jeritan kaget.
"Pangtoako, Nyo-toako, lekas kemari!"
Serentak Pang Goan dan Ho Leng-hong melompat ke atas tebing, tapi Hui Beng-cu yang berada di dalam gua kini tidak nampak lagi.
"Celaka, perempuan asing itu berhasil kabur,"
Seru Leng-hong dengan gemas.
Buru-buru mereka mengejar ke dalam gua, ketika menyusul sampai di ujung gua sana mereka melihat Hui Beng-cu sedang berdiri termangu di depan gua sambil memegang golok yang memancarkan sinar kemilau.
"Di mana orangnya?"
Bentak Leng-hong.
"Aku ... aku tidak tahu ... ."
"Orang itu kan berada dalam gua, mengapa kau tidak tahu?"
"Aku betul-betul tidak tahu,"
Jawab Beng-cu dengan wajah merah padam.
"ketika aku berdiri di atas tebing sambil mengawasi sekeliling tempat ini, kudengar di dalam gua seperti ada langkah manusia, waktu aku memburu kemari, perempuan asing itu sudah lenyap, tapi di sini aku menemukan sebilah golok."
Pang Goan menerima golok itu, mendadak dengan air muka berubah teriaknya tertahan.
"Hah, golok mestika Yan-ci-po-to?!"
Tak salah lagi, sarung golok terbuat dari kulit ular, gagang pelindung terbuat dari emas dan empat huruf mutiara tertata pada gagangnya, memang itulah golok mestika Yan-ci-po-to.
Golok tersebut lenyap tercuri sewaktu berada di Thian-po-hu, tapi kini di temukan kembali di luar gua di atas bukit yang jauh dari keramaian manusia.
Jelas orang-orang Ci-moay-hwe yang telah menyelamatkan perempuan Ainu tadi serta meninggalkan Yan-ci-po-to di sini.
Kejadian ini membuat Pang Goan menjadi bingung dan tak habis mengerti.
Ditatapnya Ho Leng-hong, tanyanya.
"Sesungguhnya apa yang telah terjadi?"
Dengan serius jawab Ho Leng-hong sepatah demi sepatah.
"Inilah senjata yang mendatangkan bencana."
"Apakah Thian Pek-tat berempat mati dibunuh dengan Yan-ci-po-to?"
Tanya Pang Goan terkejut.
"Benar. Sekarang persoalannya sudah jelas. Rupanya Thian Pek-tat ada hubungan dengan orang-orang dari lembah maut itu, setelah berhasil memperoleh Yan-ci-po-to di Thian-po-hu, bersama tiga orang lainnya mereka mengantar senjata ini ke Tay-pasan, siapa tahu mereka dicegat oleh orang-orang Ci-moay-hwe, bukan saja golok dirampas, Thian Pek-tat berempatpun dibunuh, kemudian golok mestika dan mayatmayat mereka digunakan sebagai alat untuk melimpahkan bencana buat orang lain....."
Pang Goan segera paham, dengan gelisah katanya.
"Kalau begitu kita harus segera tinggalkan tempat ini!"
"Terlambat,"
Kata Leng-hong sambil menggeleng, sorot matanya beralih keluar gua.
Ketika Pang Goan mengikuti arah pandangannya, seketika hatinya ikut tercekat.
Entah sejak kapan, di luar gua telah muncul tiga orang perempuan dengan golok terhunus.
Ketiga orang perempuan itu semuanya mengenakan baju merah dengan golok panjang yang berbentuk sama, air muka mereka amat dingin, tanpa emosi.
Di antara ketiga orang itu, ada seorang yang berusia paling tua, yaitu sekitar tiga puluh tahunan, pada tepi gaun merahnya kelihatan sulaman benang biru.
Dua orang yang lain berusia tujuh-delapan belas tahunan, pada tepi gaun mereka bersulamkan benang hitam.
Dari warna pakaian dan dandanan ketiga orang itu, tiba-tiba Pang Goan teringat kembali pada cerita mengenai lembah "Mi-kok"
Dan "Ang-ih Hui-nio", tanpa terasa hatinya bergolak keras ...."Lotoako, setelah tertipu, kita harus menghadapi segala persoalan dengan tenang,"
Kata Leng-hong setengah berbisik.
"lebih baik kita selidiki dulu apakah mereka benarbenar orang Mi-kok atau bukan."
"Jangan kuatir, aku tahu,"
Jawab Pang Goan dengan tertawa.
Sementara berdua sedang bercakap-cakap, mendadak dari belakang gua terdengar lagi suara orang, tahu-tahu dua orang gadis berbaju merah yang bergolok muncul di belakang mereka.
Dengan cepat Beng-cu lolos golok lengkungnya lalu bertanya.
"Kita sudah terkepung, apa daya sekarang?"
Pang Goan memandang sekejap ke muka dan ke belakang, lalu hiburnya.
"Jangan takut, tampaknya perempuan baju merah bersulam benang biru itu adalah komandan mereka, mari kita turun untuk berbicara dengannya."
Ketika mereka bertiga melompat ke bawah, dua gadis bergaun merah dengan sulaman benang hitam yang ada di luar gua itu serentak mengangkat goloknya, sedang dua orang yang berada dalam gua juga melolos senjata sambil ikut melompat ke bawah, dengan cepat mereka membentuk posisi mengepung terhadap ketiga lawannya.
Hanya perempuan setengah umur bersulam benang biru yang tetap tak bergerak, ditatapnya ketiga orang itu dengan sorot mata dingin, kemudian bertanya.
"Siapakah kalian? Datang darimana? Dan mau ke mana?"
Sambil tertawa Pang Goan segera memberi hormat.
"Enso, bolehkah aku bertanya lebih dulu, apakah kalian adalah murid Ang-ih Hui-nio?"
"Kalian juga tahu tentang Ang-ih Hui-nio?"
Seru nyonya muda itu dengan air muka berubah.
"Dulu kami cuma mendengar ceritanya saja dan tidak tahu benarkah lembah Mi-kok itu ada atau tidak, tapi setelah melihat keadaan sekarang ini, kami baru percaya bahwa cerita tersebut memang benar."
Nyonya muda itu mengerdip mata beberapa kali, tiba-tiba memberi tanda sambil memerintahkan.
"Gusur mereka pulang!"
Keempat anak dara tadi segera mengiakan, serentak mereka maju mengepung.
"Tunggu sebentar!"
Seru Pang Goan.
"antara kami dengan kalian hakikatnya "air sungai tidak menggenangi air sumur", bertemu pun baru pertama kali, dengan alasan apa kalian hendak membawa kami pergi?"
"Tak usah banyak bicara,"
Bentak nyonya muda itu.
"katakan saja, kalian mau lepaskan senjata dan ikut kami pergi ataukah hendak menunggu kami bertindak dengan kekerasan?"
"Wah, kalau begitu, tak mau pergi pun tak bisa?"
Kata Pang Goan sambil tertawa.
"Boleh saja, kecuali kalian bisa menangkan permainan golokku ini."
"Sudah lama kudengar kehebatan ilmu golok aliran Mi-kok,"
Kata Pang Goan sambil tertawa.
"betapa senangku jika diberi kesempatan untuk mencobanya!"
Nyonya muda itu maju dua langkah sambil meraba gagang goloknya.
"Silakan turun tangan!"
Tiba-tiba Ho Leng-hong maju ke depan dan mengadang di hadapannya, lalu berbisik lirih.
"Lotoako, biarlah Siaute coba dulu kelihayannya."
Pedang di tangan kirinya disimpan kembali, kemudian golok Yan-ci-po-to pelahan diangkat ke udara. Rupanya nyonya muda itu cukup mengetahui nilai barang, dengan dahi berkerut katanya.
"Apa kedudukanmu di Thian-po-hu di kota Kiu-ki-shia?"
"Nama tidak terlalu penting, silakan nona memberi petunjuk!"
Sahut Leng-hong.
"Baik!"
Kata nyonya muda itu sambil tertawa dingin.
"Kalau kau memang tak tahu diri, akan kusuruh kau rasakan betapa lihaynya Ang-sui-to-hoat (rahasia golok baju merah)."
Segera dia lolos golok panjang dari sarungnya.
"Mengapa nona tidak turun tangan lebih dulu?"
Tanya Leng-hong.
"Antara tamu dan tuan rumah ada bedanya, kupersilakan kau turun tangan dulu!"
Meskipun Leng-hong tahu ilmu golok dari lembah Mi-kok justru merupakan tandingan dari Nyo-keh-sin-to, namun sambil tersenyum katanya pula.
"Tamu yang sopan harus menghormati tuan rumah, lagipula golokku ini adalah golok mestika, hendaklah nona tak usah sungkan-sungkan lagi!"
"Hmm, kau anggap dengan golok mestika lantas bisa menarik keuntungan? Kalau demikian anggapanmu, maka perhitunganmu itu keliru besar. Sambutlah seranganku ini."
Begitu golok dilolos, cahaya tajam segera berkilauan dan mata golok lantas menyambar tiba.
Sungguh cepat tak terlukiskan gerakan melolos goloknya, bahkan Pang Goan dan Hui Beng-cu yang memperhatikan dengan saksama pun tak sempat mengikuti bagaimana caranya perempuan itu menggerakkan tubuhnya.
Lebih-lebih Ho Leng-hong, ia Cuma merasakan pandangannya kabur, buru-buru ia mundur dua langkah, kemudian goloknya diputar dan menciptakan selapis cahaya tajam untuk melindungi badan.
Sewaktu mulai menyerang saja gerakan nyonya muda itu amat cepat, ketika berganti jurus pun jauh lebih cepat lagi, dari gerak membacok golok panjang itu berubah menjadi gerakan menabas.
Sambil putar senjata untuk melindungi badan Ho Leng-hong main mundur terus ke belakang, ia merasa golok panjang nyonya muda berbaju merah itu seakan-akan telah menempel dengan golok mestika Yan-ci-po-to, bukan saja sukar dibendung, dihindari pun sulit.
Terpaksa ia putar golok dengan kencang sambil mundur terus, hakikatnya tiada kesempatan baginya untuk berganti jurus serangan.
Dalam keadaan demikian, asal ia menghentikan gerakannya, maka setiap saat golok panjang si nyonya berbaju merah itu akan menembus sinar senjatanya dan melukainya.
Gerakan Ho Leng-hong rada gugup dan kacau, dalam waktu singkat ia sudah terdesak mundur dua lingkaran, sementara nyonya berbaju merah itu masih terus menyerang dengan gencar.
Melihat gelagat yang tidak menguntungkan itu, Pang Goan segera membentak.
"Tahan!"
Bersama dengan suara bentakan itu, Hui Beng-cu melolos senjatanya untuk menyerang nyonya merah itu dari belakang.
Bayangan manusia berkelebat diikuti bunyi bentakan nyaring, di tengah gulungan cahaya golok, sesosok bayangan merah melompat ke udara dan berjumpalitan beberapa kali, kemudian melayang turun di belakang sana.
Dengan melompat perginya nyonya berbaju merah itu, secara mengherankan Ho Leng-hong dan Hui Beng-cu saling bertumbukan sendiri, tanpa terasa mereka saling bacok membacok sebanyak tiga empat gebrakan sebelum mengetahui bahwa lawan adalah orang sendiri, cepat-cepat mereka tarik kembali serangannya sambil melompat mundur.
Kemudian kedua orang itu saling pandang dengan tertegun.
Nyonya muda berbaju merah itu tertawa sombong, lalu katanya.
"Jika kalian bertiga mau maju bersama, akupun tidak menolok, tapi lebih baik katakan terus terang, jangan gunakan siasat "suara di timur menyerang dari barat", yang seorang bicara tiada hentinya, sedang yang lain menyergap dengan cara yang rendah dan keji."
"Sekalipun harus bertarung satu lawan satu juga aku tidak takut,"
Kata Hui Beng-cu dengan marah.
"Benarkah demikian? Bagaimana kalau dicoba?"
"Coba juga boleh, memangnya aku takut?"
Dengan geramnya Beng-cu memutar golok lengkungnya, langsung menerjang perempuan berbaju merah itu.
"Tunggu sebentar!"
Cegah Pang Goan sambil merentangkan tangannya. Dengan napas terengah-engah kata Hui Beng-cu.
"Pang-toako, perempuan ini terlalu sombong, biar kuberi pelajaran kepadanya."
"Memberi pelajaran kepada kaum wanita adalah urusan kami orang lelaki, mundurlah dulu, lihat saja kehebatan Pang-toakomu."
"Manusia yang tahu diri,"
Teriak perempuan berbaju merah itu dengan gusar.
"kalau kau berani sembarangan bicara, hati-hati kalau nyonya besar potong lidahmu."
"Marilah,"
Kata Pang Goan sambil tertawa.
"lidah itu berada di mulutku, yang dikuatirkan justru kau tak punya kemampuan untuk berbuat begitu."
Perempuan berbaju merah itu mendengus, sambil mengerahkan goloknya ia segera menerjang ke depan.
Tujuan Pang Goan memang ingin memancing marahnya, sebelum terjangan orang tiba, dengan cepat ia menyongsong, golok di tangan kiri dan pedang di tangan kanan melancarkan serangan sekaligus.
Begitu bertemu, kedua belah pihak saling menyerang dengan cepat, tampaklah cahaya golok berkilauan, bayangan pedang saling menyambar ke sana kemari, dalam waktu singkat telah berlangsung lima-enam gebrakan.
Kelima-enam jurus serangan itu seluruhnya merupakan serangan mematikan.
Tapi anehnya, sekalipun cahaya golok dan bayangan pedang menyelimuti udara, tidak terdengar sama sekali suara bentrokan senjata, juga tidak kelihatan ada yang terluka.
Ternyata setiap jurus serangan yang mereka lancarkan, semuanya merupakan ancaman yang harus dihindari, siapapun tak ingin adu jiwa, maka begitu merasa terancam bahaya, cepat mereka tarik serangan di tengah jalan untuk melindungi diri sendiri.
Oleh sebab itulah, meskipun kedua orang itu melancarkan serangan dengan gerakan cepat, jurus serangan mereka tak berani digunakan sampai tuntas, semua serangan golok dan pedang begitu dilancarkan segera ditarik kembali, jadi tak sejurus pun terjadi keras melawan keras.
Atau dengan perkataan lain, kedua orang itu mempunyai pikiran yang sama, yakni sama-sama berharap bisa menggetar hati lawan dengan tenaga serangan, dengan menggunakan titik kelemahan musuh untuk mematahkan ancamannya, menghindari adu kekerasan yang tak berguna.
Akhirnya, siapapun tidak berhasil memperoleh keuntungan apa-apa.
Pang Goan menggunakan pedang sebagai senjata utama dan golok sebagai pembantu, yang dikembangkan adalah To-kiam-hap-ping-tin yang maha dahsyat itu, namun lima-enam jurus kemudian ternyata belum sanggup juga mematahkan serangan nyonya berbaju merah itu, terpaksa ia tarik serangannya dan melompat mundur.
Rupanya perempuan berbaju merah itupun menyadari bertemu dengan musuh tangguh, cepat ia menarik kembali serangannya dan tak berani mendesak lebih jauh.
Kedua orang itu saling bertatap sekian lama, sejenak kemudian Pang Goan baru menarik napas panjang, lalu menyimpan kembali golok dan pedangnya.
Perempuan berbaju merah itupun ikut simpan goloknya ke dalam sarung.
"Ilmu golokmu terhitung sangat hebat juga, tapi sayang tenaga dalammu kurang sempurna, andaikata kita harus bertarung dengan tenaga sejati maka akhirnya yang rugi tetap kau,"
Kata Pang Goan. Nyonya berbaju merah itu tidak menyangkal, katanya sambil tertawa.
"Kau sendiripun tak akan mendapat hasil apa-apa, paling banter kita sama-sama menderita kerugian."
"Apa kedudukanmu di dalam lembah?"
"Perguruan kami membagi tingkatan dalam sulaman benang emas, perak, biru, putih, dan hitam, aku tak lebih Cuma seorang peronda gunung berbenang biru dari tingkatan tiga, sekalipun tenaga dalammu lebih hebat daripadaku juga bukan suatu yang luar biasa."
Pang Goan tarik napas panjang, sambil tertawa getir ia berpaling ke arah Ho Lenghong sembari berkata.
"Tampaknya, urusan ini sudah pasti kita ikut terseret."
"Asal kita tak bersalah, ke manapun kita berani menghadap."
"Tapi, Pang-toako ... ."
Bisik Beng-cu. Pang Goan memberi tanda dan tidak membiarkan gadis itu berkata lebih jauh, kepada perempuan berbaju merah itu ia berkata.
"Bawalah kami! Akan kami temui majikan lembah kalian."
Ternyata sikap perempuan itupun menjadi lebih sungkan, katanya seraya menjura.
"Silakan!"
Keempat orang gadis lainnya ikut menarik kembali senjatanya, kemudian dua di kanan dan dua di kiri, seperti menggusur tawanan, mereka membawa Pang Goan bertiga meninggalkan mulut gua.
Sesudah mengitari tonjolan batu padas di depan sana, Pang Goan baru tahu bahwa pilihannya memang tepat.
Di tepi api unggun di bawah tebing sana telah muncul kembali seorang petugas peronda gunung "bersulam benang biru"
Dengan diiringi empat gadis bersulam hitam, mereka sudah meletakkan mayat Thian Pek-tat berempat di atas usungan yang terbuat dari kayu dan sedang menunggu di sana.
---------------------*** (file google dokumen published by Saiful Bahri ...situbondo seletreng )***---------Mi-kok, nama yang misterius dan menggetarkan sukma.
Tentu orang akan membayangkan lembah tersebut sebagai suatu tempat yang rahasia sekali letaknya dengan sekelilingnya diliputi oleh tebing tinggi menyulang ke angkasa, burung dan monyet sulit melewatinya dan sepanjang tahun diliputi kabut yang tebal, atau mungkin jalan masuknya merupakan sebuah terowongan gua, atau jalan setapak yang penuh kemisteriusan ....Bila bayangannya demikian, maka kelirulah semua itu.
Benar memang, tempat itu merupakan sebuah yang dikelilingi oleh tebing tinggi, namun bukan tempat yang curam berbahaya atau sepanjang tahun dikelilingi kabut tebal.
Lembah tersebut merupakan sebuah lembah yang indah dan hangat, sama sekali tidak nampak misterius, di belakang lembah terdapat jurang, di mulut lembah ada jalan dan di tengah lembah terdapat tanah datar yang luar, di situ ada rerumputan, ada sawah, ada bebuahan dan kerbau serta ternak unggas lainnya.
Anggota lembah tersebut terdiri dari lelaki dan perempuan, yang lelaki hidup bertani dan yang perempuan menenun, mereka melewatkan penghidupan yang sederhana tapi bahagia, suatu kehidupan surga yang penuh dengan kedamaian ....terkecuali bangunan megah, kompleks perumahan yang berada dalam hutan bebuahan sana.
Anggota perkampungan itu semuanya perempuan yang bergolok panjang dan mengenakan baju serba merah.
Sekalipun mereka termasuk juga sebagian dari anggota lembah, namun pekerjaan mereka tidak bertani atau bertenun, kehidupan mereka jauh berbeda dengan orangorang lainnya.
Perempuan dalam perkampungan itu merupakan pilihan dari anggota penduduk lembah, mereka harus cerdik dan berbakat bagus, semenjak kecil sudah masuk perkampungan dan belajar silat, setelah dewasa bertugas melindungi keselamatan penduduk sesuai dengan tingkat tenaga dalam yang dimiliki, mereka tergabung dalam pasukan Ang-ih-bok-lan-tui (pasukan Bok-lan berbaju merah) Perkampungan itu sendiri bernama perkampungan Bok-lan-ceng.
Cengcu (kepala kampung) dari marga Ui dan sudah turun temurun menjadi Kokcu (kepala lembah) dalam lembah tersebut, hingga kini entah sudah keturunan yang keberapa?
---------------------*** (file google dokumen published by Saiful Bahri ...situbondo seletreng )***-----------Dikawal oleh dua orang peronda gunung dan delapan anak dara berbaju merah, dengan lancar Pang Goan bertiga memasuki lembah itu dan tiba di depan pintu perkampungan.
Di luar lembah tidak terlihat penjagaan yang ketat, setelah masuk ke dalam lembah juga tidak ada pemeriksaan atau pengadangan, ketika rakyat dalam lembah itu berjumpa dengan mereka, kecuali tersenyum sambil menganggukkan kepala, sama sekali tidak menunjukkan sikap permusuhan.
Inikah lembah Mi-kok yang diberitakan sebagai tempat yang misterius dan penuh rahasia?
Di sinikah tempat pengasingan Ang-ih Hui-nio yang lihay itu?
Di sinikah tempat kubur dari tujuh bersaudara Nyo dari Thian-po-hu?
Tidak!
Tak akan ada yang percaya, sekalipun mereka dibunuh orang juga tak ada yang percaya.
Tapi perempuan-perempuan itu semuanya berbaju merah, ilmu golok mereka pun sangat lihay, hal ini adalah kenyataan, seandainya mereka bukan keturunan dari Angih Hui-nio mana mungkin mereka dapat mendidik sekian banyak murid yang berilmu tinggi.
Sepanjang perjalanan, kernyitan alis Pang Goan tak pernah mengendur, berbeda dengan Ho Leng-hong, wajahnya selalu kaku tanpa emosi.
Dalam hati kecil mereka sama-sama diliputi teka-teki yang mendebarkan hati dan ingin tahu.
Hui Beng-cu sendiri dengan perasaan waswas tiada hentinya menengok ke sana kemari, seakan-akan tertarik dan senang dengan keadaan yang asing baginya ini.
Dua orang gadis baju merah yang bergolok berdiri menanti di depan pintu perkampungan, gaun mereka bersulamkan benang putih.
Ketika mereka melihat mayat yang berada di atas usungan, wajah mereka menunjukkan perasaan kaget.
Salah seorang di antaranya segera maju menyongsong sambil bertanya dengan suara lirih.
"Apa yang telah terjadi? Apakah mereka berempat terbunuh semua?"
Nyonya muda berusia tiga puluhan itu manggut-manggut, lalu balik bertanya.
"Kokcu berada di mana?"
"Barusan beliau menanyakan kabar kalian, mungkin masih berada dalam taman bunga sebelah timur, akan kulaporkan untuk kalian."
"Tidak usah, aku dan Lim Ci akan melaporkan sendiri kepada Kokcu, kalian jaga baik-baik ketiga orang ini."
Berbicara sampai di sini, dia bersama peronda gunung lainnya masuk ke dalam kampung.
Seperginya kedua orang itu, gadis penjaga pintu itu mengamati sekejap Pang Goan bertiga, lalu dengan keheranan ia bertanya.
"Apakah kalian bertiga pembunuhnya?"
"Mungkin!"
Jawab Pang Goan sambil mengangkat bahu.
"Kenapa kau katakan mungkin?"
Gadis penjaga pintu itu melengak.
"Sebab kami tidak pernah membunuh orang,"
Jawab Pang Goan sambil tertawa.
"akan tetapi keempat orang itu mati di tempat kami bermalam, bila kami katakan bukan pembunuhnya, kalian pasti tidak percaya, sebaliknya kalau bilang benar, kamilah yang tidak percaya."
Gadis penjaga pintu itu tertawa geli.
"O, aku dapat memahami perkataanmu itu, jadi tuduhan tersebut membuat kalian penasaran?"
"Mungkin!"
Sekali lagi Pang Goan mengangkat bahu sambil tertawa. Dengan wajah serius gadis penjaga pintu berkata.
"Tampaknya kalian memang tidak mirip pembunuh, Cuma dengan maksud baik ingin kunasihati padamu ... ."
"Menasihati apa?"
"Jika kalian betul-betul bukan pembunuh, janganlah sekali-kali kalian mengaku sebagai pembunuh, sebab Kokcu kami paling benci pada mereka yang gemar membunuh, terutama mereka yang mengandalkan kungfunya untuk menindas kaum yang lemah serta membunuh orang, andaikata kalian betul-betul pembunuh kejam, jangan harap jiwa kalian akan diampuni."
"Kalau begitu, Kokcu kalian tentu berhati welas asih,"
Kata Pang Goan.
"Siapa bilang bukan? Kokcu kami bukan cuma welas asih saja, tabiatnya juga amat baik, terhadap orang lain juga ramah-tamah ....."
"Tapi dia tahu aturan tidak?"
Tiba-tiba Ho Leng-hong menukas.
"Apa maksudmu berkata begitu?"
Gadis penjaga pintu itu menegur dengan nada tak senang.
"Misalnya saja, bila kedatangan kami ke bukit ini tanpa sengaja dan tidak mengandung maksud jahat, dapatkah ia memberi kebebasan kepada kami untuk meninggalkan tempat ini?"
"Kenapa kalian tak boleh meninggalkan tempat ini? Bila kalian tersesat di gunung dan tiba di sini tanpa sengaja, berarti kalian adalah tamu kami, dengan segala kehormatan kami akan melayani kalian, kemudian mengantar kalian pergi dari sini, tentu saja kalian harus merahasiakan keadaan lembah ini kepada orang lain."
Tanpa terasa Ho Leng-hong dan Pang Goan saling bertukar pandang sekejap dengan penuh tanda tanya, sedang dalam hati timbul pula pertanyaan yang sama.
"Kalau begitu, kenapa ketujuh Nyo bersaudara tak pernah muncul kembali setelah berangkat kemari?"
Ternyata gadis penjaga pintu itu cukup cerdik, melihat kedua tamunya masih belum percaya, ia berkata lagi.
"Kami tak ingin orang luar mengetahui keadaan di sini, inipun karena terpaksa, sebab tempat kami hanya sebesar ini, tak mungkin muat terlalu banyak orang, selain itu kamipun kuatir bila ada orang persilatan berniat buruk ingin mencuri belajar ilmu kami sehingga menambah banyak kerepotan, peraturan ini ditetapkan oleh leluhur kami dan bukan atas kemauan Kokcu sendiri, cuma bila kalian sendiri tak bersedia tinggalkan tempat ini dan ingin tinggal di sini untuk selamanya, tentu saja niat ini akan kami sambut dengan senang hati ... ."
Ia seperti masih ingin bicara lagi, tapi nyonya berbaju merah tadi keburu datang, nyonya itu memberi tanda kepada Pang Goan sekalian sambil berkata.
"Kokcu mengundang kalian untuk menghadap, mari ikut diriku!"
Sebelum pergi, Leng-hong tersenyum ke arah gadis penjaga pintu itu sambil berkata.
"Tolong tanya siapa nama nona?"
"Aku bernama Pui Hui-ji, anggota Bok-lan-pek-tul (barisan Bok-lan putih)!"
"Bila Kokcu tidak menyalahkan kami, mungkin aku akan memohon untuk tinggal di sini, sampai waktunya harap nona bersedia memberi petunjuk,"
Kata Leng-hong sambil tertawa. Tanpa malu-malu gadis penjaga pintu itu menjawab dengan tertawa.
"Baik, semoga kau mempunyai rejeki itu!"
Mereka bertiga melangkah masuk ke dalam pintu gerbang dan mengikut nyonya berbaju merah tadi masuk ke dalam perkampungan.
Di tengah jalan Hui Beng-cu sengaja berjalan agak lambat, kemudian ia tanya dengan setengah berbisik.
"Nyo-toako, benarkah kau ingin tinggal di sini dan tidak kembali ke Thian-po-hu lagi?"
Leng-hong tersenyum.
"Tempat ini bagaikan surgaloka, jauh berbeda dengan gedung Thian-po-hu, apa salahnya tinggal di sini?"
"Hm, kaum pria kalian semuanya memang tak punya perasaan, begitu bertemu dengan gadis yang cantik, semua warisan dan jerih payah leluhur pun terlupakan sama sekali."
"Ah, kaum pria tak bisa disalahkan, siapa suruh kaum gadis rata-rata berwajah cantik?"
Jawab Leng-hong sambil tertawa.
"Ciss!"
Dengan mangkel Beng-cu mempercepat langkahnya ke depan lebih dulu.
Sesudah mengitari taman bunga, di depan sana muncul sebuah serambi panjang, setelah mengitari mereka tiba di ruang tengah sebelah timur.
Di depan ruangan berdiri empat orang gadis dengan baju merah bersulam benang putih, pintu ruangan masih tertutup rapat.
Nyonya berbaju merah itu membawa mereka menuju ke depan ruangan, kemudian katanya.
"Kokcu hendak langsung menanyai kalian, harap semua senjata bawaan ditinggal di luar."
Ini selain peraturan juga merupakan sopan santun, apalagi nyonya berbaju merah itu mengucapkannya dengan nada sungkan, membuat orang tak dapat menolak permintaannya itu.
Pang Goan angguk kepala kepada kedua rekannya, kemudian melepaskan golok dan pedang bawaannya, terpaksa Ho Leng-hong dan Hui Beng-cu harus mengikuti perbuatannya.
Keempat gadis itu menerima senjata mereka lalu mendorong pintu lebar-lebar.
Pang Goan melangkah masuk ke dalam, ternyata ruangan itu kosong tak nampak seorang pun, di tengah ruangan terdapat sebuah meja panjang, di atas meja terletak kertas, pit dan alat tulis lainnya, sementara di belakang meja tersedia empat buah kursi yang semuanya kosong.
Sementara mereka masih tercengang, nyonya baju merah itu menyusul masuk, lalu membunyikan sebuah alat kecil tiga kali.
"Tiga orang tertuduh telah dibawa menghadap, dipersilakan para petugas hukum naik mimbar!"
Serunya.
Kain tirai di pintu samping segera terbuka dan muncul dua belas orang perempuan baju merah dengan pinggiran warna biru, mereka masing-masing berdiri di kiri dan kanan meja panjang, setiap orang bergolok panjang dan bersikap kereng.
"Wah, kalau dilihat caranya ini, kita seolah-olah berada dalam ruang pengadilan!"
Omel Pang Goan sambil tertawa.
"Jangan sembarangan bicara!"
Bentak nyonya baju merah di belakangnya dengan suara tertahan.
Menyusul kemudian dari balik pintu berjalan keluar lagi empat orang perempuan.
Keempat orang ini rata-rata sudah berusia lanjut, yang termuda pun sekitar enam puluhan, sedang yang tua sudah delapan atau sembilan puluh tahunan, semuanya berwajah keriput dengan rambut beruban, mukanya kurus jelek dan masing-masing menempati empat kursi kosong itu.
Mereka juga memakai baju berwarna merah, Cuma sulaman tepi gaunnya dari benang perak.
Pang Goan tahu bahwa kedudukan empat orang nenek ini tidak rendah, diam-diam ia merasa geli sekali, pikirnya.
"Wah, kalau melihat keadaannya seolah-olah kami telah dituduh sebagai pembunuh yang sesungguhnya, semoga jangan diputuskan segera penggal kepala, bisa mati penasaran."
Pada ujung meja sebelah kiri dan kanan masing-masing berduduk seorang perempuan berbenang biru, setelah duduk mereka lantas menyiapkan kertas dan alat tulis lainnya, ternyata mereka bertindak sebagai "panitera".
Di tengah keheningan, nenek berusia paling tua yang berada di dekat ujung kanan itu segera berkata.
"Atas kasih sayang Thian dan berkat leluhur, kehidupan kami di tengah gunung yang terpencil sama sekali tidak berniat berebut rejeki dengan orang lain, kami mengutamakan cinta damai dan hidup bahagia dengan tenang, karenanya terhadap segala kejahatan itu, tapa ampun akan dijatuhi hukuman berat."
Baru selesai perkataan itu, nenek di sebelah kiri telah memukul meja keras-keras sambil membentak.
"Siapa nama kalian bertiga? Datang dari mana? Mengapa membunuh orang? Ayo mengaku satu persatu!"
Ho Leng-hong dan Hui Beng-cu tetap bungkam.
Pang Goan juga tidak menghiraukan pertanyaan tersebut, dia hanya memperhatikan pukulan si nenek pada meja panjang itu, meski suaranya nyaring namun meja itu sendiri tidak tergetar, namun meja tersebut tahu-tahu melesak satu inci lebih ke dalam tanah.
Tapi setelah diperhatikan lagi, ternyata bukan kaki meja yang masuk ke dalam tanah, melainkan kaki meja itu sendiri yang tiba-tiba menyusut hingga lebih pendek.
Ini menunjukkan tenaga pukulan si nenek itu sudah mencapai tingkatan Keh-san-tagu (dari balik gunung memukul kerbau).
Pang Goan menyadari dirinya sendiri tak mampu berbuat demikian, ini semua membuatnya terperanjat sehingga lupa untuk menjawab pertanyaan si nenek tadi.
Nyonya berbaju merah yang berada di belakangnya segera menegur.
"He, Tong-popo lagi bertanya kepada kalian, mengapa tidak menjawab?"
"Tong-popo yang mana?"
Tanya Pang Goan setelah menenangkan hatinya.
"Itu dia, nomor dua dari sebelah kiri, barusan beliau menanyakan nama dan asal usul kalian."
Pang Goan tertawa.
"Mereka berjumlah empat orang, jika semuanya mengajukan pertanyaan, entah yang manakah harus dijawab lebih dulu, sedangkan kami bertiga, kalau semuanya menjawab juga tentu akan bikin kalian bingung untuk mendengarkannya, maka aku ada usul, entah kalian bersedia mengikutinya atau tidak?"
"Coba katakan!"
Kata nenek she Tong itu.
"Gampang sekali, mari kalian berempat pilih seorang wakil untuk bertanya, sedang dari pihak kami bertiga akan diwakili pula seorang untuk menjawab, bukankah hal ini akan lebih enak?"
Mencorong sinar tajam dari mata nenek she Tong itu, ia memandang sekejap rekanrekan di sekelilingnya, lalu berkata.
"Ehm, ini memang suatu usul yang bagus."
Keempat orang nenek lalu saling mengalah dan saling mempersilakan rekannya sebagai wakil mereka. Pada kesempatan itu, Pang Goan berkata kepada Ho Leng-hong.
"Jit-long, kau saja yang menjawab pertanyaan mereka, kalau perlu bersikap tegas, katakan segala sesuatunya secara terus terang, tapi untuk sementara waktu jangan kausinggung dulu masalah Thian-po-hu."
"Mengapa bukan Lotoako yang tampil ke muka?"
Tanya Leng-hong.
"Rasanya setiap masalah dalam lembah ini bagaikan suatu teka-teki, bila kita ingin hidup lebih lanjut, kita juga harus main sandiwara menurut gelagat, dengan begitu baru tersedia jalan mundur jika keadaan kepepet."
Ho Leng-hong mengangguk tanda mengerti, diam-diam ia berpikir.
"Pang-toako selalu tinggi hati dan tak mau tunduk kepada orang, sejak kapan ia belajar menyesuaikan diri dengan keadaan?"
Sementara itu keempat orang nenek pun selesai berunding, tetap si nenek she Tong itu sebagai juru bicaranya, ia bertanya.
"Apakah kalian telah selesai berunding? Siapa yang akan menjawab pertanyaan kami?"
"Aku!"
Jawab Leng-hong.
"Bagus sekali, Cuma akupun hendak memperingati satu hal padamu, setelah bersedia menjawab pertanyaan kami, maka setiap ucapanmu harus dapat dipertanggungjawabkan, sebab semua perkataanmu akan kami catat dan tak bisa disesali kembali."
"Tentu saja!"
Kata Leng-hong.
"Nah, sekarang laporkan dulu nama serta tempat tinggal kalian bertiga,"
Kata nenek Tong sambil manggut-manggut.
Leng-hong mengakui dirinya sebagai Nyo Cu-wi dari Thian-po-hu, selain itu juga melaporkan nama Pang Goan dan Hui Beng-cu.
Setelah mendengar nama-nama itu keempat orang nenek tersebut menunjukkan wajah kaget, buru-buru mereka berunding dengan suara lirih.
Lewat sejenak kemudian, nenek Tong bertanya pula.
"Kau mengaku sebagai Nyo Cuwi dari Thian-po-hu, sedang mereka berdua dari Cian-sui-hu dan Hiang-in-hu, benarkah pengakuan itu?"
"Benar!"
"Kalau begitu ingin kutanya sesungguhnya ada beberapa orang Nyo Cu-wi dari Thian-po-hu?"
"Cuma ada seorang!"
Air muka nenek Tong berubah serius, katanya.
"Kuharap kau menjawab dengan sejujurnya, sebab barang siapa berani berbohong, dia akan mendapat ganjaran yang setimpal."
"Kenapa? Masa urusan Thian-po-hu kau lebih jelas daripadaku?"
Bantah Leng-hong.
"apakah di lembah ini terdapat juga Nyo Cu-wi yang lain?"
Air muka nenek Tong berubah pula, tapi ia tidak mendebat, ia mengalihkan pertanyaan pada soal lain, katanya.
"Atas alasan apa kalian datang ke Tay-pa-san ini?"
Tanpa merahasiakan sedikit pun Leng-hong mengisahkan bagaimana Ci-moay-hwe mengutus seorang Pang Wan-kun gadungan untuk mencari golok Yan-ci-po-to, lalu bagaimana menggunakan siasat Cioh-to-sat-jin untuk memancing mereka bertiga datang ke Tay-pa-san, dan apa yang terjadi dengan lencana kayu dan tali istimewa untuk memfitnah mereka .....
Sementara ia menuturkan pengalamannya, dua orang gadis petugas panitera mencatat semua pengakuan itu.
Ketika pemuda itu selesai dengan penuturannya, nenek Tong bertanya pula.
"Cimoay-hwe yang barusan kau singgung itu sesungguhnya organisasi macam apa? Siapakah pemimpinnya? Apakah kautahu?"
"Seandainya aku tahu, tak nanti bisa terkena siasat Cioh-to-sat-jin mereka. Cuma ada satu hal yang kuyakini benar, yakni di kala Thian Pek-tat berempat terbunuh semalam, mereka pasti berada di sekitar tempat ini, bahkan mungkin saja saat ini masih berada di daerah pegunungan ini."
"Tidak mungkin, siang malam petugas peronda kami melakukan patroli di sekeliling pegunungan ini dan belum pernah kami temukan jejak mereka, selain itu, kalau benar mereka berusaha dengan segala daya upaya untuk mendapatkan golok mestika Yanci-po-to, setelah berhasil mendapatkannya, kenapa dikembalikan kepadamu dengan begitu saja. Jadi ceritamu tentang melimpahkan bencana kepada orang lain itu sama sekali tidak masuk di akal."
"Mau percaya atau tidak adalah urusan kalian, tapi yang pasti semua perkataanku adalah sejujurnya."
"Kau berani diadu dengan petugas peronda kami?"
"Tentu saja berani."
"Bagus, panggil petugas peronda bukit untuk menghadap ke depan pengadilan!"
Nyonya berbaju merah tadi mengiakan dan tampil ke muka, katanya.
"Hamba petugas peronda, komandan barisan ketujuh Bok-lan-la-tui Hoa Jin siap memberi keterangan!"
"Hoa Jin, apakah kau adalah petugas ronda hari ini?"
Tanya nenek Tong.
"Benar!"
"Kaukah yang menemukan jenazah dari para korban?"
"Benar!"
"Apakah kau pula yang menangkap mereka?"
"Benar!"
"Bagus sekali, laporkan sekali lagi kejadian yang telah berlangsung."
"Hamba sebagai petugas peronda mendapat perintah untuk menyambut ... ."
"Secara ringkas saja,"
Tiba-tiba nenek Tong menukas.
"laporkan saja sekitar penemuan mayat-mayat tersebut."
"Baik,"
Kata Hoa Jin.
"Jejak Hui-goan Taysu berempat berhasil hamba temukan lewat tengah malam kemarin, pagi tadi ketika kami tiba di bawah gua karang, ditemukan keempat orang itu sudah tewas di samping api unggun, setelah dilakukan pencarian yang saksama, akhirnya disebuah gua kami berhasil mengadang ketiga orang pembunuh itu, mula-mula mereka melakukan perlawanan, tapi akhirnya mereka menyerahkan diri."
"Apakah diperiksa juga senjata yang dipergunakan lawan?"
"Menurut hasil pemeriksaan, keempat orang itu tewas oleh Yan-ci-po-to, mulut lukanya sangat lebar, dan senjata pembunuh itu justru ditemukan berada pada orang she Nyo ini."
"Apakah pada jenazah juga ditemukan lencana kayu? Atau bekas tali yang dipakai untuk membelenggu mereka?"
"Tidak!"
"Waktu itu apakah tertuduh menyangkal telah membunuh orang?"
"Tidak!"
"Apakah ditemukan orang yang mencurigakan di sekitar mereka?"
"Juga tidak."
"Sudah mendengar? Apa lagi yang hendak kaukatakan?"
Kata nenek Tong kemudian sambil menatap Ho Leng-hong dengan sorot mata tajam.
"Hal tersebut sudah kukatakan semua,"
Teriak Leng-hong dengan suara lantang.
"Waktu itu peronda she Hoa itu tidak menanyakan soal pembunuhan, mana kami bisa menyangkalnya?"
Nenek Tong tertawa dingin.
"Hehehe, sekalipun ia tidak menanyakan soal ini, kenapa kalian tidak melakukan penyangkalan, padahal tahu di bawah bukit membujur empat sosok mayat? Dan lagi senjata pembunuh merupakan bukti yang jelas, penyangkalan kalian semakin membuktikan hati kalian amat kalut dan takut, ingin menyangkal pun kini sudah terlambat."
Ho Leng-hong seperti ingin mengucapkan sesuatu lagi, tapi nenek Tong lantas berbangkit sambil berseru.
"Pemeriksaan telah selesai, perhatikan baik-baik keputusan kami!"
Serentak ketiga orang nenek yang lain bangkit berdiri, suasana dalam ruangan berubah menjadi hening dan serius.
Nenek Tong berunding sebentar dengan ketiga orang rekannya, lalu dengan wajah serius katanya.
"Tertuduh Nyo Cu-wi, Pang Goan dan Hui Beng-cu terbukti bersalah melakukan pembunuhan bersama yang mengakibatkan kehilangan jiwa orang lain, kesalahan ini melanggar peraturan lembah ini, lagipula setelah bersalah tidak berobat, bahkan berusaha mungkir, dosa ini amat besar, maka pengadilan memutuskan untuk menjatuhkan hukuman "Khek-sin"
Kepada mereka, untuk sementara para tertuduh dimasukkan tahanan menanti pelaksanaan hukuman."
Selesai berkata ia lantas mengundurkan diri.
"Apa yang disebut Khek-sin?"
Tanya Beng-cu.
"Artinya akan dihukum pancung di hadapan umum,"
Jawab Hoa Jin. Betapa gusarnya Hui Beng-cu, teriaknya.
"Hm, keterlaluan sekali! Pang-toako, mari kita turun tangan ....."
Baru saja ia berteriak.
"Cring! Cring!"
Dua belas orang perempuan bersulam benang biru telah melolos golok dan merubung maju.
Cahaya golok berkilauan, langsung mengancam perut dan punggung mereka bertiga, padahal Pang Goan sekalian dalam keadaan tangan telanjang tanpa senjata apapun.
Sambil tertawa getir Ho Leng-hong segera memandang ke arah Pang Goan, lalu katanya.
"Lotoako, kali ini kita benar-benar terjebak."
Pang Goan mendengus.
"Orang she Hoa, kau bilang Kokcu kalian hendak berbicara sendiri dengan kami, rupanya kau berbohong?"
"Kokcu harus mendengarkan dulu laporan keempat Popo sebelum memutuskan apakah perlu menanyai kalian langsung, sebab untuk melaksanakan hukuman penggal kepala mesti ada persetujuan lebih dulu dari Kokcu, jadi seandainya kalian bernasib baik, mungkin saja masih ada kesempatan bertemu dengan Kokcu."
"Umpama kami hendak titip pesan, apakah kau dapat menolong kami untuk menyampaikan kepada Kokcu?"
"Tentu saja!"
Pang Goan menarik napas panjang, kemudian berkata.
"Kalau begitu tolong sampaikan kepada Kokcu kalian bahwa Yan-ci-po-to dan kitab pusaka Poh-in-pat-toasik itu adalah palsu, jika ingin tahu berita tentang kitab dan golok yang asli, silakan menanyai sendiri padaku."
Kemudian sambil mendongakkan kepala ia menambahkan.
"Di mana letaknya penjara? Silakan membawa kami ke sana, sesudah lelah semalaman, kami ingin beristirahat dulu dalam penjara."
Hoa Jin memandangnya dengan melongo, rupanya ia sedang meresapi makna katakatanya itu.
Bahkan Ho Leng-hong dan Hui Beng-cu juga ingin bertanya padanya.
Akan tetapi Pang Goan tidak berkata apa-apa, sambil busungkan dada dan melangkah dengan lebar, ia berlalu lebih dulu dari ruangan tersebut......
---------------------*** (file google dokumen published by Saiful Bahri ...situbondo seletreng )***-------Rumah penjara terletak di kaki bukit bagian belakang perkampungan tersebut.
Dua baris rumah baru yang berderet bagaikan gua itu meski kecil dan sempit, tapi sangat kering dan rajin, setiap ruangan terdapat meja, bangku dan pembaringan, selain itu terdapat pula alat-alat untuk bersihkan badan serta membuang hajat, keadaannya mirip dengan sebuah "rumah tamu".
Ruang penjara itu bernomor, di sebelah kiri bernomor ganjil sedang di sebelah kanan bernomor genap.
Pengurus rumah penjara adalah seorang perempuan setengah umur dari kelompok benang biru, ia bernama Yu Ji-nio dan membawahi empat orang gadis dari barisan Bok-lan-pek-tui.
Sikap Yu Ji-nio terhadap orang sangat ramah tamah, sedikitpun tidak mencerminkan sikap seorang sipir penjara yang buas dan garang, atau mungkin lantaran suasana penjara amat sepi, maka ketika mengetahui ada tiga orang "tamu terhormat"
Diantar ke sana, tampaknya ia sangat senang.
Ia menjadi repot sekali masuk keluar tiada hentinya, menyiapkan air teh, menyiapkan nasi dan sayur, pelayanannya betul-betul sangat bagus.
Pang Goan bertiga dimasukkan dalam ruang penjara di sebelah kiri, Pang Goan menempati satu, Ho Leng-hong menempati ruang tiga dan Hui Beng-cu ruang lima.
Selesai bersantap dan mencuci muka, Yu Ji-nio secara khusus menghidangkan secawan air teh panas untuk mereka, katanya sambil tertawa.
"Kalian adalah tamu yang datang dari jauh, berdosa atau tidak tak ada sangkut pautnya dengan diriku, aku selalu menganggap kalian sebagai tamu-tamu kehormatan, jika butuh makanan atau perlu sesuatu katakan saja kepadaku, Cuma janganlah melakukan perbuatan bodoh yang bikin susah padaku, setelah berada di sini, jangan harap kalian bisa keluar lagi dari lembah ini, sekalipun berhasil melarikan diri dari mulut lembah, tak mungkin bisa kabur meninggalkan Tay-pa-san ini."
"Yu Ji-nio, jangan kuatir,"
Jawab Pang Goan sambil tertawa.
"untuk keluar kami pasti akan keluar, tapi kami tak akan kabur dari penjara, kami masuk kemari secara terang-terangan, pergi dari sini juga secara terang-terangan, kalau tidak, sekalipun diantar dengan tandu besar yang digotong delapan orang, belum tentu kami sudi pergi dengan begitu saja."
"Bagus, bila kalian dapat pergi dari sini nanti, aku pasti akan memasang petasan untuk mengantar keberangkatan kalian."
"Mengantar sih tidak perlu, sekarang silakan kau keluar lebih dulu, berilah kesempatan kepada kami untuk tidur siang sepuasnya, boleh bukan?"
"Tentu, tentu!"
Sambil tertawa Yu Ji-nio mengajak keempat orang gadis itu berlalu dari situ. Pang Goan segera menggeliat dan menguap lalu gumamnya.
"Setelah bergadang semalam suntuk, inilah kesempatan yang sangat baik untuk tidur, dengan demikian kita ada kekuatan dan semangat untuk berunding dengan Kokcu."
Selesai berkata, ia lantas menjatuhkan diri di pembaringan. Ho Leng-hong yang berada di kamar sebelah tak dapat setenang itu, sambil mengetuk dinding bisiknya.
"Lotoako, jangan tidur dulu, kita harus merundingkan persoalan ini ....."
"Apa lagi yang mesti dirundingkan?"
Tanya Pang Goan.
"Tadi kau berkata kepada mereka bahwa golok mestika Yan-ci-po-to dan kitab pusaka itu adalah palsu, pengakuan itu memang pengakuan yang betul ataukah cuma bohong-bohongan saja?"
"Pada waktu perlu bohong boleh bohong, bila perlu sungguh harus sungguh. Hidup manusia bagaikan impian, kenapa mesti begitu serius?"
Ucapan tersebut makin lama makin lirih, kemudian lantas terdengar suara dengkuran yang keras, ternyata ia sudah tertidur pulas.
Meskipun pelbagai kecurigaan masih menghantui pikirannya, karena yang ditanya tetap membungkam, terpaksa sambil menghela napas panjang diapun berbaring.
Pada saat pikirannya sedang kalut dan bingung itulah, tiba-tiba terdengar Hui Bengcu yang berada di kamar sebelah memanggil dengan suara tertahan.
"Nyo-toako, cepat kemari, cepat kemari......"
"Ada apa?"
Tanya Leng-hong.
"Coba lebih mendekatlah denganku, akan kuberitahukan satu hal kepadamu ... ."
Bisik Beng-cu.
"Sudah, tak usah repot-repot, tiada yang perlu dibicarakan lagi, bagaimana kalau kita beristirahat lebih dulu?"
"Tidak bisa, bagaimanapun persoalan ini harus kukatakan kepadamu sekarang juga, kutemukan sebaris tulisan di dinding ruangan ini ... ."
"Apa bunyi tulisan itu?"
Tanya Leng-hong.
"Agaknya tulisan ini ditinggalkan oleh enso ...."
"Apa kaubilang? Siapa yang meninggalkan tulisan itu?"
Cepat Leng-hong melompat bangun sambil berseru.
"Kalau diperhatikan dari nada tulisannya, tampaknya seperti tulisan dari enci Wankun, tapi jika ditinjau dari kata-katanya seperti juga bukan ...."
"Coba bacakan tulisan itu!"
Hui Beng-cu segera membaca dengan lirih.
"Untuk mencuci bersih rasa malu akibat kekalahan yang diterima, dengan mempertaruhkan jiwa raga kekasih telah masuk ke istana Peng-kiong, keturunan Thian-po-hu berakhir sampai di sini ....di bawahnya seperti masih ada tulisan, cuma sudah tidak jelas lagi, tapi yang menandatangani tulisan ini adalah Wan-kun."
"Wan-kun?"
Ho Leng-hong menarik napas dingin.
"Ternyata mereka benar-benar telah datang ke lembah Mi-kok ini."
"Tapi, bukankah kau masih hidup baik-baik di Thian-po-hu? kenapa dia mengatakan bahwa "kekasih masuk ke istana Peng-kiong"? kenapa pula dia bilang keturunan Thian-po-hu berakhir sampai di sini? Apa pula maksudnya mengucapkan kata-kata tersebut?"
Ho Leng-hong tidak memberi keterangan, iapun tak dapat memberi keterangan, terpaksa tukasnya.
"Coba kauperiksa lagi dengan saksama, apakah masih ada tulisan lagi yang ditinggalkan?"
Lewat sejenak kemudian, Hui Beng-cu berkata lagi.
"Sudah tak ada lagi, hanya tulisan ini yang terukir di dinding batu di ujung pembaringan."
"Apakah di bawah tanda tangan itu tercantum hari dan tanggal?"
Kembali Ho Lenghong bertanya.
"Tidak ada ... Ah, tunggu sebentar ... di sini terdapat sebuah huruf "Ka"
Di bawahnya ada sebuah huruf lagi, sayang cuma separuh, tapi agaknya mirip huruf "Gin", sayang tulisannya tidak lengkap."
"Tahun Ka-gin? Itu berarti setahu yang lalu,"
Gumam Ho Leng-hong.
"ehm, betul cocok memang dengan waktunya, ya, pasti dia ... ."
"Kalau betul dia, lantas kenapa?"
Tiba-tiba Pang Goan menyela.
"tidak dapatkah kalian tenang sejenak, agar orang lain memperoleh kesempatan untuk beristirahat sebentar?"
Cepat-cepat Ho Leng-hong mendekati dinding sebelah kanan, lalu bisiknya.
"Lotoako, Wan-kun dan Nyo ... ."
"Sudah kudengar, semua hal ini sudah berada dalam dugaanku, tapi kita harus berpura-pura tidak tahu, tak peduli siapa yang bertanya padamu, jangan kau mengaku keadaanmu yang sebenarnya, kecuali kau bertemu sendiri dengan Wan-kun, maka ceritakanlah seluruh kejadian yang sesungguhnya."
"Menurut dugaanmu, mungkinkah Wan-kun masih berada di dalam Mi-kok?"
"Lebih baik kita tak usah menduka secara mengawur, asal telah bertemu dengan Kokcu, otomatis semua duduknya perkara akan menjadi jelas."
"Ai, benarkah Kokcu bersedia menjumpai kita?"
Bisik Leng-hong sambil menghela napas.
"Kenapa tidak? Bukankah mereka telah datang?"
Betul juga, terdengar suara langkah manusia yang semakin mendekat, menyusul kemudian terlihat Yu Ji-nio muncul bersama Hoa Jin.
"Pasti kau yang pertama-tama yang akan dijumpai,"
Bisik Pang Goan.
"ingat, apa yang boleh dan yang tidak boleh dibicarakan, soal kitab pusaka ilmu golok boleh kau limpahkan pertanggungan-jawabnya kepadaku."
Ternyata dugaannya memang tepat, Yu Ji-nio dan Hoa Jin langsung menuju ke kamar tahanan nomor tiga dan berhenti di situ.
Setelah berada dalam kamar, dengan saksama Hoa Jin memperhatikan diri Ho Lenghong dari ujung kepala sampai ujung kakinya, setelah itu tanyanya.
"Sungguhkah kau ini majikan Thian-po-hu yang bernama Nyo Cu-wi?"
"Kenapa?"
Ho Leng-hong pura-pura bersikap ketus.
"memang ada yang gadungan di sini?"
Hoa Jin tertawa.
"Kau betul-betul bernasib baik, Kokcu ingin berjumpa denganmu, semoga kau bersedia bicara secara jujur."
Waktu itu Yu Ji-nio telah membuka borgol pintu dengan kuncinya, lalu sambil mendorong pintu terali besi ke samping, katanya dengan tertawa.
"Nyo-tayhiap, selamat jalan, semoga kau tidak kembali lagi kemari."
Ho Leng-hong mengangkat bahu, kemudian berkata.
"Pelayanan Ji-nio amat menyenangkan hati, agaknya aku bakal mengganggu dirimu selama beberapa hari lagi."
Keluar dari ruang penjara, ia segera disambut oleh empat orang gadis berbenang biru dengan senjata terhunus, ternyata ketat juga pengawalan di situ.
Dengan dipimpin oleh Hoa Jin, rombongan itu berjalan masuk ke sebuah halaman yang amat sepi, setelah melewati serambi akhirnya masuk ke dalam sebuah ruangan besar.
Selain luas dan hening, suasana dalam ruangan itu amat bersih dan rapi, pintu ruangan terbuka lebar, keadaan ruangan persis seperti keadaan dalam ruangan "pengadilan", cuma di sini tiada pengawalan yang ketat.
Empat gadis pengawal tadi berhenti di ruang depan, hanya diantar oleh Hoa Jin saja Ho Leng-hong masuk ke dalam ruangan.
Hening sekali ruangan itu, bukan saja tanpa pengawalan, di situpun tiada senjata yang berkilauan, seorang gadis baju merah sedang berduduk di belakang meja sambil memeriksa setumpuk surat.
Agak jauh di belakang gadis itu terdapat pula sebuah kursi, seorang perempuan bercadar hitam duduk di situ.
Mula-mula Ho Leng-hong mengira perempuan bercadar itulah Kokcunya, akan tetapi setelah diperiksa lebih saksama, ia terperanjat.
Ternyata meskipun perempuan bercadar itu mengenakan pakaian warna merah juga, namun pada gaunnya tidak terdapat sulaman apa-apa, sebaliknya gadis yang sedang memeriksa setumpuk dokumen itu justru mempunyai sulaman benang emas pada gaunnya.
Gadis itu sedang menundukkan kepalanya, maka tak terlihat raut wajahnya, tapi baik diperhatikan dari sudut manapun, bisa diduga usianya tak akan melampaui dua puluh tahun.
Gadis semuda inikah Kokcu dari Mi-kok?
Ho Leng-hong tercengang, baru saja melangkah ke dalam ruangan ia segera berhenti.
Gadis itu masih juga menundukkan kepalanya dan memeriksa dokumen, cuma sekarang di memberi tanda sambil berkata.
"Ambilkan kursi untuk Nyo-tayhiap!"
Hoa Jin mengambilkan sebuah kursi dan Leng-hong duduk di kejauhan, saking tegangnya untuk mengembus napas keraspun tak berani.
Ia merasa setiap ucapan gadis tersebut seakan-akan memiliki kewibawaan yang sukar dibantah, membuat orang lain merasa rendah diri dan berada di bawah pengaruhnya.
Suasana dalam ruangan amat hening, sedemikian heningnya sampai suara jarum jatuh ke lantai pun kedengaran jelas, siapapun tidak membuka suara, cuma perempuan bercadar itu yang terus mengawasi Ho Leng-hong.
Diam-diam Leng-hong memperhatikan pula perempuan itu, hanya saja ia tak dapat menebak asal-usulnya?
Lewat sesaat kemudian, pelahan gadis benang emas baru mendongakkan kepalanya, lalu sambil tertawa kepada Ho Leng-hong katanya.
"Benarkah Nyo-tayhiap ini majikan Thian-po-hu?"
Ketika gadis itu mendongakkan kepalanya, semakin terbuktilah bahwa dugaan Lenghong tidak keliru, usia gadis itu paling banter Cuma delapan-sembilan belas tahunan, mukanya masih ke kanak-kanakan, wajahnya cantik jelita, sinar matanya jernih tenang, tapi juga menggidikkan hati.
Tanpa terasa Ho Leng-hong mengalihkan pandangannya ke arah lain, kemudian jawabnya lirih.
"Betul!"
"Ada berapa banyak Thian-po-hu di dunia ini?"
"Hanya ada satu Thian-po-hu di kota Kiu-ki-shia."
"Kalau begitu, Nyo-tayhiap adalah majikan keturunan berapa dari Thian-po-hu?"
Ho Leng-hong tertegun sejenak, kemudian jawabnya.
"Thian-po-hu didirikan oleh mendiang ayahku dan mempunyai tujuh anak semenjak ayahku wafat, kakak sulungku Han-wi beserta kelima saudara lainnya secara beruntun pergi meninggalkan rumah dan tidak kembali lagi, kini akulah yang mewarisi kedudukan itu."
Sambil mendengar gadis itu manggut-manggut berulang kali, katanya lagi sambil tersenyum.
"kalau begitu, Nyo-tayhiap adalah majikan terakhir Thian-po-hu?"
"Betul!"
"Tadi Nyo-tayhiap berkata bahwa enam saudaramu secara beruntun pergi meninggalkan rumah untuk tidak kembali lagi, tahukah kau ke mana mereka telah pergi?"
"Kokcu, kalau sudah tahu apa gunanya bertanya lagi? Keenam saudaraku telah pergi meninggalkan rumah lantaran hendak mencari ilmu golok sakti peninggalan Ang-ih Hui-nio dan secara beruntun pergi ke Mi-kok ini, masakah Kokcu tidak tahu?"
Gadis itu tertawa, ia tidak mengaku juga tidak menyangkal, ia ingin mengalihkan pembicaraan ke soal lain, katanya.
"Ilmu golok Nyo-keh-sin-to telah merajai dunia, apa gunanya kalian mencari ilmu golok lain yang lebih dahsyat?"
"Sebab gelar kehormatan Thian-he-te-it-to tersebut telah dirampas oleh pihak Hiangin-hu dari Leng-lam pada pertemuan Lo-hu-to-hwe yang lalu, maka kami bersaudara berhasrat untuk menjunjung kembali nama baik keluarga, oleh karena kami dengar ilmu golok Ang-ih Hui-nio merupakan ilmu golok tandingan Nyo-keh-sin-to, maka kami harus menemukannya."
Gadis itu menggeleng kepala berulang kali.
"Hakikatnya ilmu silat di dunia ini tiada batasnya, betapa hebat sesuatu ilmu silat tak lebih hanya gerakan lincah yang memanfaatkan kelemahan pihak lawan, kepandaian semacam ini mana pantas disebut ilmu yang tiada tandingannya? Setelah menderita kekalahan, mengapa kalian tidak mencoba untuk bertanya pada diri sendiri sudahkan kepandaian keluarga digunakan semaksimalnya? Pernahkah terpikir hendak mempopulerkan kehebatan Nyo-keh-sinto? Kalau yang dipikirkan hanya ingin belajar kepandaian orang lain, sungguh tindakan ini adalah tindakan yang bodoh."
Ho Leng-hong tidak menyangka gadis semuda ini ternyata sanggup memberi keterangan panjang lebar seperti ini, tergerak juga perasaannya.
"Apa yang Kokcu terangkan memang tepat dan masuk diakal,"
Demikian katanya.
"sayang sekali hanya sejumlah kecil manusia di dunia ini yang dapat mawas diri serta mengintropeksi diri sendiri, sementara sebagian besar lainnya tetap dungu dan tak berguna."
"Tolong tanya Nyo-tayhiap adalah manusia dari jenis yang mana?"
"Aku ... tentu saja dari golongan yang bodoh."
"Kalau begitu, maksud kedatangan Nyo-tayhiap ke lembah ini juga untuk mencari ilmu golok yang maha sakti itu?"
Tanya gadis itu.
"O, tidak, pada hakikatnya aku tidak tahu di manakah letak Mi-kok ini, sesungguhnya kedatangan kami ke sini hanya ingin mencari sarang Ci-moay-hwe, tak tahunya malah terpancing sampai di Tay-pa-san ini."
"Apa yang terjadi dengan perkumpulan Ci-moay-hwe?"
"Keadaan yang sebetulnya masih kurang jelas, aku cuma tahu tentang munculnya sebuah organisasi rahasia dalam dunia persilatan, semua anggota mereka adalah kaum wanita dan cita-citanya adalah beradu kekuatan dengan kaum pria di dunia."
Gadis itu tertawa.
"Ambisi orang-orang itu terlalu besar, Thian menciptakan makhluk laki dan perempuan, Im dan Yang, dengan maksud agar ada perbedaan di antara umatnya dengan tugas dan tanggung jawab yang berbeda, kaum pria bertugas keluar dan kaum wanita bertugas ke dalam, sebetulnya tiada sesuatu yang pantas diperebutkan, apalagi adu kekuatan. Ambil contoh saja lembah kita ini, meskipun kaum wanita diwajibkan belajar silat, hal ini disebabkan ilmu silat leluhur kami lebih cocok untuk kaum wanita, ini tidak berati kaum wanita lebih tangguh daripada kaum prianya. Lagi pula, kecuali urusan ilmu silat, kaum lelaki tetap merupakan kepala rumah tangga, mereka saling hormat menghormati, sayang menyayangi, bukankah hal ini bagus sekali?"
Sampai di sini, tiba-tiba ia menarik kembali senyumnya, kemudian berkata dengan nada sungguh-sungguh.
"Nyo-tayhiap, aku ingin bertanya lagi padamu dan kuharap kau bersedia bicara terus terang."
"Silakan bertanya, Kokcu!"
Ditatapnya wajah Ho Leng-hong dengan sinar mata tajam, kemudian sepatah demi sepatah katanya.
"Benarkah kau Nyo Cu-wi, majikan Thian-po-hu?"
Hati Leng-hong tergerak, bukannya menjawab ia malah bertanya.
"Apakah Kokcu mencurigai diriku sebagai gadungan?"
"Betul, aku memang merasa curiga terhadap asal-usulmu."
"Kenapa?"
"Sebab tahun yang lalu ada seorang Nyo Cu-wi yang mendatangi lembah ini, dia menyebut dirinya sebagai pemilik Thian-po-hu."
"Oya? Tak nyana di dunia ini terdapat kejadian yang begini kebetulan? Kini Nyo Cuwi tersebut berada di mana?"
"Dia sudah mati!"
"O, sayang sekali,"
Kata Leng-hong pura-pura menyesal.
"kalau tidak, ingin sekali kujumpai sahabat yang mempunyai nama dan she yang sama dengan diriku itu."
"Maksudmu dia telah menyaru sebagai dirimu?"
Ho Leng-hong tersenyum.
"Dia dan aku bukan hanya bernama dan she sama, keduanya juga sama mengaku majikan dari Thian-po-hu, salah seorang di antara kami sudah pasti adalah gadungan, tapi sekarang ia sudah mati, siapa yang asli dan siapa gadungan rasanya tidak penting lagi artinya."
"Tidak, justru penting sekali artinya, seyogyanya kau mengaku secara terus terang, sebab kalau tidak akan berakibat fatal bagimu."
Leng-hong berpikir sebentar, lalu katanya.
"Orang yang sudah mati tak mungkin bisa dijadikan sebagai saksi, sekalipun aku gadungan, seandainya aku berkeras menatakan diriku adalah yang asli, bagaimana pula cara Kokcu akan membedakannya?"
"Tentu saja aku ada akal untuk membedakannya, cuma kuharap kau bersedia mengaku terus terang, sebab jika aku sampai membuktikannya, kau tak ada kesempatan untuk melakukan pemilihan lagi."
"Bagaimana kalau ada kesempatan untuk memilih, dan bagaimana kalau tak ada kesempatan?"
Tanya Leng-hong sambil tertawa.
"Berbicara terus terang berarti ada kesempatan hidup, berbohong berarti kematian."
Leng-hong termenung sebentar, kemudian katanya.
"Kurasa semua perkataanku adalah sejujurnya, soal Kokcu mau percaya atau tidak jelas tidak berani kupaksa, lebih baik Kokcu segera membuktikannya sendiri."
"Kau tidak menyesal?"
"Tentu saja tidak."
"Bagus!"
Gadis itu lantas berpaling ke arah perempuan bercadar itu sambil mengangguk.
"Coba periksalah dia, sebetulnya dia ini asli atau palsu?"
Perempuan itu mengiakan, pelahan ia melepaskan kain cadar yang menutupi wajahnya. Tiba-tiba mata Leng-hong terbeliak lebar, jeritnya.
"Wan ... kun ... ."
Tak salah lagi, dia memang Pang Wan-kun.
Ditinjau dari raut wajahnya, ia tak berbeda dengan Pang Wan-kun gadungan dari Cimoay-hwe, Cuma sikap maupun gerak-geriknya jauh lebih anggun daripada perempuan gadungan itu.
Bagaimana pun juga, seorang mungkin dapat menyaru raut wajah orang lain, mungkin juga dapat meniru suara bahkan gerak-geriknya, tapi sikap dan gaya seseorang sukar untuk ditiru.
Sikap dan gaya melambangkan kepribadian seseorang, melambangkan tingkat pendidikan serta pengetahuannya, melambangkan pula semua pengaruh lingkungan serta pengalaman yang pernah dialaminya semenjak kecil.
Di dunia yang luas ini tak mungkin ada dua manusia yang memiliki pengalaman yang sama, sebab itu tak ada pula dua orang yang memiliki sikap serta gaya yang sama.
Oleh sebab itu, meski baru bertemu sekali, Ho Leng-hong merasa yakin bahwa Pang Wan-kun yang berada di hadapannya itulah Pang Wan-kun yang asli, ia tak mungkin Pang Wan-kun jadi-jadian dari Ci-moay-hwe.
Lantaran itulah Ho Leng-hong bersuara kaget ...
dengan masih hidupnya Pang Wankun di lembah Mi-kok ini berarti penyamaran si gadungan segera akan terbongkar.
Ho Leng-hong mengawasi Pang Wan-kun dengan mata melotot, hampir saja jantungnya mau melompat keluar dari rongga dadanya, sementara Pang Wan-kun sendiri pun mengawasi pemuda itu tanpa berkedip, wajahnya tetap dingin dan tawar tanpa emosi.
Walaupun sudah lewat sekian lama, akan tetapi ia tetap tidak bicara ataupun bergerak, ditatapnya Ho Leng-hong tanpa berkedip.
"Pang Wan-kun, sudah kaulihat jelas?"
Tanya gadis itu tiba-tiba. Pelahan Pang Wan-kun mengangguk.
"Apa yang dikatakan tadi juga sudah kaudengar semua?"
Kembali gadis itu bertanya. Sekali lagi Pang Wan-kun mengangguk.
"Nah, sekarang beritahukan kepadaku, orang ini benar-benar suamimu Nyo Cu-wi?"
Desak gadis itu.
Pang Wan-kun tidak menjawab, tetap kepalanya tertunduk rendah.
Sedemikian gelisahnya Ho Leng-hong waktu itu, hampir saja ia merengek, memohon kepadanya agar jangan memberi jawaban negatif, sebab jawabannya itu berarti maut baginya.
"Mengapa kau tidak menjawab?"
Tanya gadis itu lagi.
"sebenarnya dia benar-benar Nyo Cu-wi atau bukan?"
Sekali lagi Pang Wan-kun mendongakkan kepalanya menatap Ho Leng-hong, akhirnya ia menarik napas panjang.
"Dia....dia memang benar...."
Baru empat patah kata itu diucapkan, matanya lantas berkaca-kaca, mendadak ia menutup wajahnya dan menangis tersedu-sedu.
Pengakuan ini sungguh di luar dugaan Ho Leng-hong, ia tak dapat mengatakan terkejut ataukah bergirang?
Untuk sesaat pemuda itu hanya berdiri mematung.
Ia tahu tak mungkin Pang Wan-kun salah mengenali suaminya, apalagi dalam dinding penjara tercantum pula kata-kata "kekasih masuk istana es, aku masuk penjara", jelas Pang Wan-kun sudah mengetahui akan jejak Nyo Cu-wi, tapi mengapa mengakui seorang asing sebagai suaminya.
Cuma tak ada waktu lagi bagi Ho Leng-hong untuk memikirkan sebab musababnya, cepat-cepat ia berlagak sedih dan terharu, katanya dengan suara gemetar.
"Wan-kun, terima kasih pada langit dan bumi, ternyata kau masih hidup, sudah lama amat menderita kucari dirimu."
Si gadis memandang sekejap ke arah Ho Leng-hong, lalu memandang pula Pang Wan-kun, setelah itu sambil tertawa katanya.
"Di dunia ini memang terlalu banyak kejadian aneh, tahun yang lalu seorang Nyo Cu-wi telah mati dan tahun ini muncul lagi seorang Nyo Cu-wi, ternyata kedua orang Nyo Cu-wi itu semuanya adalah asli!"
Pang Wan-kun menundukkan kepalanya rendah-rendah.
"Tahun yang lalu aku hanya mendengar beritanya saja dan tidak kusaksikan dengan mata kepala sendiri, setelah aku melihat sendiri sekarang, kuyakini dia inilah yang asli."
"Mau yang asli juga boleh, yang palsu juga tak mengapa, asal kau bersedia mengakuinya, itu sudah cukup. Cuma setelah kau akui keasliannya, maka segala sesuatunya harus dilaksanakan menurut peraturan lembah ini, tentunya kau tak akan menyesal bukan?"
"Aku tak akan menyesal!"
"Baik,"
Kata nona itu kemudian sambil mengangguk.
"kuberi waktu semalam untuk kalian, sebelum fajar menyingsing besok harus sudah ada keputusan."
Diberinya tanda di atas selembar dokumen, lalu katanya lagi.
"Oleh karena Nyo Cuwi adalah suami Pang Wan-kun, untuk sementara waktu pelaksanaan hukuman Kheksin ditangguhkan, pengawasan sementara waktu diserahkan kepada Pang Wan-kun dan harus memberi laporan sebelum fajar menyingsing besok. Sekarang bawa menghadap Pang Goan....."
"Lapor Kokcu,"
Cepat Pang Wan-kun berkata.
"Pang Goan adalah saudara kandungku, tolong Kokcu bersedia menyerahkan tanggung jawab pengawasan atas dirinya kepadaku."
Tapi gadis itu menggeleng.
"Dia adalah orang yang telah divonis bersalah, menurut peraturan lembah, meski saudara juga tidak ada ampun sesuai peraturan kita....."
"Kokcu, mengingat jasaku yang melayani Kokcu selama setahun ini, sudilah kiranya meluluskan permintaanku ini?"
Dengan dahi berkerut gadis itu termenung sebentar, akhirnya ia berkata.
"Baiklah, akan kuberi waktu sehari kepadamu, termasuk Hui Beng-cu kuserahkan semua pertanggungan jawabnya padamu, semoga kalian berunding baik dan memberi laporan kepadaku sebelum fajar besok."
"Terima kasih Kokcu,"
Cepat Pang Wan-kun memberi hormat.
Gadis itu menutup dokumen-dokumennya dan menarik napas panjang seperti ada maksud tapi seperti tak sengaja melirik sekejap ke arah Ho Leng-hong lalu tersenyum, kemudian bangkit dan mengundurkan diri.
"Jit-long, mari ikut aku,"
Bisik Pang Wan-kun kemudian.
"Perlukah kita menunggu Toako sekalian?"
"Tidak perlu, sebentar mereka akan datang sendiri ke tempatku."
Sesudah mengundurkan diri dari ruang tengah mereka berbelok ke barat dan melewati beberapa halaman, akhirnya sampai di depan sebuah rumah tembok kecil yang indah.
Pang Wan-kun membuka pintu dan mempersilakan Ho Leng-hong masuk ke dalam, dalam ruang tengah tampak sebuah patung dewi Kwan-im, asap dupa memenuhi seluruh ruangan tapi tempatnya bersih dan teratur rapi.
Banyak persoalan yang mencurigakan memenuhi benak Leng-hong, tak tahan lagi ia tanya.
"Wan-kun, di sinikah tempat kediamanmu? Leluasakah kita bercakap-cakap di sini?"
"Jangan gelisah dulu, duduklah, setelah memasang hio di depan Budha baru kita bicara lagi."
Terpaksa Leng-hong harus menahan sabar dan mempersilakan Pang Wan-kun mencuci tangan, memasang hio menyembah Budha, semua gerak-geriknya sangat lamban tapi penuh sujud, untuk memasang hio dan berdoa di depan patung suci saja membutuhkan waktu sekian lama.
Leng-hong berusaha menenangkan hatinya, menurut pendapatnya selama setahun hidup di lembah Mi-kok, Pang Wan-kun tentu banyak mengalami suka-duka, pengakuannya kepada dirinya yang Nyo Cu-wi gadungan pun pasti ada alasan tertentu.
Betul juga, ketika selesai berdoa, ucapan pertama dari Pang Wan-kun adalah.
"Aku tahu kau bukan Cu-wi, bahkan Kokcu juga tahu, maka sekarang kita tak perlu berbohong lagi."
Sedikit banyak malu juga Ho Leng-hong, katanya sambil tertawa.
"Leluasakah kita berbicara di sini nona?"
"Sangat leluasa, kecuali beberapa orang kepercayaan Kokcu, orang lain tak berani sembarangan masuk ke sini, jangan kuatir."
Leng-hong manggut-manggut, katanya.
"Nona Pang, pertama-tama hendak kuterangkan dulu kepadamu, meski aku bukan Nyo Cu-wi yang sesungguhnya, akan tetapi kakakmu betul-betul adalah majikan Cian-sui-hu."
"Aku tahu!"
Maka secara ringkas Leng-hong menceritakan asal-usulnya dan bagaimana caranya ia dipergunakan untuk menyaru sebagai Nyo Cu-wi dan tinggal di Thian-po-hu.
Pang Wan-kun mendengarkan semua keterangan itu dengan tenang, seakan-akan kejadian tersebut telah berada dalam dugaannya.
Setelah Leng-hong selesai bercerita, Wan-kun berkata sambil menghela napas panjang.
"Semua ini adalah permainan busuk Ci-moay-hwe, kita selangkah demi selangkah telah masuk ke dalam perangkap mereka."
"Apakah kalian suami isteri juga tertipu oleh Ci-moay-hwe?"
Tanya Leng-hong tercengang. Wan-kun tertawa getir.
"Siapa bilang bukan, justru mereka yang memberitahukan alamat Mi-kok ini kepada Jit-long ... ."
Bicara sampai di sini, Pang Goan dan Hui Beng-cu secara beruntun telah di antar pula ke tempat Pang Wan-kun, ternyata yang mengantar mereka adalah Pui Hui-ji, gadis Bok-lan-pek-tui yang bertugas menjaga pintu itu.
Perjumpaan antara kakak beradik ini sedikit banyak menimbulkan kesedihan bagi kedua pihak, dalam penuturan pengalaman kemudian diketahuilah cara bagaimana Pang Wan-kun suami istri meninggalkan Thian-po-hu ....Ternyata ketika Pang Wan-kun menikah dengan Nyo Cu-wi, meski ia tahu kejadian yang menimpa Nyo-keh-hengte dalam Mi-kok, namun ia sendiri tak tahu di manakah letak lembah tersebut, setelah menikah iapun tak pernah menceritakan hal ini kepada Nyo Cu-wi.
Waktu ia mengetahui dirinya sedang mengandung dan hendak memberitahukan kabar gembira ini kepada suaminya, tiba-tiba Nyo Cu-wi meninggalkan surat dan pergi dari rumah.
Yang lebih mengherankan lagi, ternyata dalam surat Nyo Cu-wi mengetahui bahwa isterinya telah mengandung, bahkan memberi pesan baik lelaki atau perempuan yang bakal dilahirkan, pokoknya Thian-po-hu sudah mempunyai keturunan, sedang ia akan meneruskan perjuangan saudara-saudaranya untuk mencari ilmu golok peninggalan Ang-ih Hui-nio agar nama baik Thian-po-hu bisa dibangun kembali, seandainya dalam setahu ia tidak pulang, maka Pang Wan-kun dipersilakan menjadi majikan Thian-po-hu.
Pang Wan-kun segera putar otak memikirkan persoalan itu, ia merasa hanya pelawan Bwe-ji yang mengetahui dia sedang mengandung, ketika Bwe-ji ditanya baru diketahuinya bahwa pelayan itu mempunyai hubungan cinta gelap dengan Nyo Cu-wi, bahkan diketahui juga sebelum meninggalkan rumah, Nyo Cu-wi pernah berunding secara rahasia dengan Thian Pek-tat, sedang Thian Pek-tat juga sangat banyak mengetahui kejadian di Thian-po-hu, kemungkinan besar dia yang telah membocorkan alamat Mi-kok itu kepada Nyo Cu-wi.
Ketika Thian Pek-tat didesak kemudian, akhirnya diketahui lembah Mi-kok teretak di tengah pegunungan Tay-pa-san.
Tapi menurut pengakuan Thian Pek-tat, katanya Nyo Cu-wi sudah mengetahui tentang peristiwa Ang-ih Hui-nio, iapun tahu keenam saudaranya pergi tak kembali lantaran persoalan itu, cuma keluarga Nyo belum ada keturunan dan lagi ia merasa mempunyai tanggung jawab besar, maka rahasia tersebut selalu dipendam dalam hati saja.
Waktu itu Pang Wan-kun sendiri tak sempat menganalisa benar atau tidaknya persoalan itu, waktu itu juga ia berangkat ke Tay-pa-san.
Sepanjang jalan ia tidak berhasil menemukan jejak Nyo Cu-wi, tapi merasa seolaholah ada orang yang secara diam-diam memberi petunjuk kepadanya, sehingga tanpa susah payah ia berhasil menemukan Mi-kok.
Setelah di lembah ini ia baru tahu Nyo Cu-wi telah tiba di situ sehari sebelumnya, bahkan telah memilih jalan "menerobos istana es"
Dan "menembus liang api" ...
karena itulah kedua suami isteri tak pernah berjumpa muka lagi.
Pang Wan-kun disekap dalam penjara, ia berpikir dengan cermat, demi janin dalam kandungannya sambil menahan rasa sedih terpaksa ia memilih untuk menetap dalam lembah sambil menunggu kesempatan ....Setelah mendengar kisah tersebut, Ho Leng-hong bertiga menghela napas terharu, di antaranya Hui Beng-cu yang sebenarnya tidak mengetahui tentang diri Ho Leng-hong, sekarang baru tahu bahwa dia bukan Nyo Cu-wi, sebab itu dalam kesedihan terselip juga beberapa bagian rasa kaget dan tercengang.
Dengan air mata bercucuran Pang Goan berkata.
"Adikku, kau terlampau bodoh, setelah mengetahui kepergian Cu-wi waktu itu, sepantasnya kalau kaupulang dulu ke rumah untuk berunding denganku."
"Sesungguhnya akupun berhasrat pulang ke rumah untuk minta petunjuk Toako, tapi berhubung waktu sangat mendesak dan tidak memungkinkan diriku pulang dulu ke Cian-sui-hu, dan lagi setibanya di Tay-pa-san akupun merasa mulai terikat oleh sesuatu, maka seperti sadar-tak-sadar akupun menerobos masuk ke dalam lembah ini."
"Kalau demikian, kemungkinan besar Thian Pek-tat adalah orangnya Ci-moay-hwe,"
Kata Leng-hong.
"Tapi mengapa ia menyerobot Yan-ci-po-to itu dan diantar ke Mikok sini?"
"Bajingan itu banyak tipu muslihatnya, delapan bagian dia adalah mata-mata bermuka dua, mulut untuk Ci-moay-hwe dan kemudian berpihak kepada lembah Mikok ....."
Tiba-tiba hatinya tergerak, katanya lagi.
"Ah, benar! Bukankah Mi-kok melarang anggotanya keluar dari tempat ini dan tak pernah berhubungan dengan dunia luar? Kenapa Thian Pek-tat beserta Hui-goan Taysu dari Siau-lim-pay dapat mengadakan kontak dengan pihak Mi-kok?"
Pang Wan-kun menghela napas, katanya.
"Sungguhpun masalah ini merupakan suatu rahasia besar, kalau aku tidak berdiam selama setahun di sini, mungkin rahasia ini tak akan kita ketahui untuk selamanya."
Tiga orang lainnya hanya diam saja dan mendengarkan kisah itu selanjutnya. Dengan sedih Pang Wan-kun berkata pula.
"Sejak Ang-ih Hui-nio mengasingkan diri dalam lembah Mi-kok, ia tak pernah berhubungan dengan dunia luar, iapun berharap lembah tersebut dapat menjadi surgaloka di luar keramaian manusia, sebab itu dibuatlah suatu peraturan yang melarang ahli warisnya meninggalkan Tay-pa-san, tapi orang lain juga dilarang memasuki lembah ini, barang siapa masuk ke lembah ini, bila orang itu tidak berdosa, hanya ada dua pilihan baginya, yakni menetap dalam lembah atau memasuki istana es dan menembusi liang api untuk mencari hidup ..... ."
Ia tidak memberi penjelasan tentang apa yang dimaksudkan sebagai "memasuki istana es"
Dan "menembusi liang api"
Tersebut, sambungnya pula.
"Tapi belakangan ini, berhubung tujuh bersaudara keluarga Nyo dari Thian-po-hu berturut-turut mendatangi lembah Mi-kok, rupanya kejadian ini menimbulkan perhatian Ci-moayhwe, merekapun mengutus jago-jago lihaynya untuk menyeludup ke lembah Mi-kok, mereka kebanyakan berpura-pura ingin menetap di situ, padahal sesungguhnya ingin menarik perhatian anggota Mi-kok agar bersedia bekerja sama dengan pihak mereka, lalu dengan ilmu golok yang tiada tandingannya dari Ang-ih Hui-nio mereka juga akan merajai dunia persilatan. Untunglah Kokcu lembah ini Tong Siau-sian, meski masih kecil namun kecerdasannya melebihi orang lain dan lagi sifatnya tawar terhadap segala macam keramaian. Maka begitu orang-orang Ci-moay-hwe mengetahui tak mungkin menarik perhatiannya, diam-diam merekapun membeli beberapa orang Popo dan tokoh berbenang biru untuk membantu mereka mendesak kepada Tong Siau-sian agar terjun kembali ke dunia persilatan, tapi Kokcu tak mau, secara diam-diam mereka lantas melakukan segala persiapan dan mengadakan kontak dengan dunia luar, kupikir dengan cara inilah Thian Pek-tat serta Hui-goan Taysu berhasil mengadakan kontak dengan pihak Mi-kok."
"Apakah Kokcu Tong Siau-sian tidak mengetahui persoalan ini?"
Tanya Leng-hong.
"Ia telah mendapat kabar selentingan tentang itu, Cuma lantaran tak ada bukti, dan lagi tidak tahu berapa banyak orangnya yang telah berkomplot dengan orang luar, ia tidak mengambil tindakan untuk sementara waktu, dan lagi sekalipun kedudukannya sebagai Kokcu amat terhormat, hakikatnya ia berada dalam posisi terjepit, ia sangat membutuhkan bantuan orang lain, kalau tidak, tak mungkin dia mau menuruti permintaanku setelah diketahui bahwa kau adalah Nyo Cu-wi gadungan."
"Adikku, bagaimana hubunganmu dengan Tong Siau-sian?"
Tanya Pang Goan.
"Dia sangat baik kepadaku, selama setahun ini ia selalu melindungi dan memperhatikan diriku, sekalipun sepintas lalu tampak bagaikan majikan dan bawahan, namun kenyataannya kami adalah sahabat karib."
"Kalau begitu bagus sekali,"
Kata Pang Goan dengan gembira.
"kita bersedia membantunya untuk menyelidiki siapa-siapa yang telah dibeli orang luar, bahkan membantunya juga untuk menangkap agen Ci-moay-hwe, tentu saja bila diapun bersedia menukar ilmu golok sakti Ang-ih Hui-nio kepada kita."
Tapi Pang Wan-kun menggeleng kepala berulang kali.
"Urusan ini tak segampang apa yang kaubayangkan, sebagai seorang Kokcu, mana mungkin dia meminjam kekuatan luar untuk menindak anggota perguruannya sendiri? Lagipula, jumlah anggota lembah yang berkomplot dengan Ci-moay-hwe tentu tidak sedikit jumlahnya, bila kita melakukan suatu tindakan, bukannya membantu, malah kemungkinan besar akan mencelakainya."
"Kalau begitu, apa maksudnya menyerahkan kami kepadamu?"
Tanya Pang Goan.
"Oleh karena aku bersedia menetap di lembah ini, maka menurut peraturan lembah, kalian sebagai sanak keluargaku mendapat kesempatan juga untuk tinggal di sini, maksudnya tentu saja agar aku bisa mengajak kalian menetap di sini dan membantu dia."
"Ah, mana mungkin?"
Kata Pang Goan.
"kalau kami tinggal di sini, bukankah selama hidup tak mungkin keluar lagi? Bagaimanapun juga, tidak seharusnya kita meninggalkan hasil karya leluhur untuk hidup dalam lembah ini. Aku orang pertama yang tidak setuju dengan usul tersebut."
"Bagaimana pula jika kami tidak bersedia menetap di sini?"
Tanya Leng-hong kemudian. Pang Wan-kun tertawa getir.
"Waktu itu karena memikirkan anakku, maka kupilih untuk tetap tinggal di sini, sungguhpun aku tak ingin menetap sampai tua di lembah ini, akan tetapi jika tidak bersedia menetap, kita hanya ada satu jalan, yakni menembus istana es dan menerobos liang api, padahal jelas jalan ini adalah jalan kematian."
"Apa yang dimaksudkan dengan memasuki istana es dan menerobos liang api?"
"Lembah ini letaknya sangat istimewa, tempatnya persis di atas sumber air dan liang api yang berdekatan letaknya, di belakang lembah situ ada sebuah jalan tembus, separuh di antaranya berhawa sangat dingin dan sepanjang tahun diliputi oleh salju beku yang tebal dan tak pernah cair, tempat itu dinamakan "Peng-kiong" (istana es), sukar bagi orang untuk hidup selama satu jam di sana, kemudian separuh jalan berikutnya orang akan melewati sebuah jalan yang panasnya bagaikan dalam neraka, dari bawah lembah tiada hentinya menyembur api dahsyat, jangankan tubuh manusia, besipun akan meleleh bila berada di situ, tempat itu disebut "liang api", bila orang tak mau menetap di sini, kecuali menembusi istana es dan liang api, jangan harap bisa keluar dari Mi-kok ini!"
"Apakah tujuh bersaudara keluarga Nyo dari Thian-po-hu memilih jalan ini semua?"
Tanya Leng-hong.
"Benar!"
Wan-kun mengangguk.
"mereka semua tewas dalam istana es, tak seorangpun berbasil lolos dalam keadaan selamat."
"Belum pernah ada orang bisa melewati jalan itu dengan selamat?"
"Belum pernah, semenjak Mi-kok ini ada, belum pernah ada seorang pun yang bisa melewati istana es dan liang api dengan selamat, sebab itu dalam lembah ini tersiar sebuah syair yang sangat populer, katanya.
"Berlatih golok dalam istana es, melatih sukma dalam liang api"!"
"Apa pula arti dari ucapan tersebut?"
Tanya Leng-hong tercengang.
"Maksudnya semua jurus ilmu golok maha sakti peninggalan Ang-ih Hui-nio yang bernama Ang-siu-to-hoat (rahasia ilmu golok baju merah) berada dalam gua salju tersebut, barang siapa masuk ke istana itu maka dia pasti akan tertarik perhatiannya oleh kelihaian ilmu golok yang terdapat di situ, tapi bila ingin menguasai seluruh jurus serangan ilmu golok tersebut, paling sedikit seorang membutuhkan waktu selama satu jam, bila ilmu golok itu berhasil diingat semua, tentu orangnya akan mati kedinginan lebih dulu. Mengenai kata yang terakhir, tentu saja berarti kalau orang tidak mati kedinginan dia akan mati terbakar dalam liang api, sebab itu barang siapa memasuki istana es dan liang api, belum pernah ada yang berhasil keluar dalam keadaan selamat."
Sesudah mendengar keterangan tersebut, perasaan mereka bertiga mulai menjadi murung dan berat. Lama sekali Ho Leng-hong termenung, kemudian sambil menghela napas katanya.
"Wah, dingin dan panas merupakan siksaan yang tak dapat ditahan oleh tubuh manusia, agaknya terpaksa kita harus memilih jalan menetap di lembah ini."
Hui Beng-cu yang sejak tadi terus membungkam tiba-tiba menutupi wajahnya sambil menangis terisak.
"Kalian tentu saja tak mengapa karena tak ada yang dipikirkan, tapi bagaimana dengan diriku? Ayahku berada dalam cengkeraman Ci-moay-hwe, kalau aku tak pulang, betapa akan gelisahnya beliau?"
Leng-hong mengangkat bahu.
"Ya, urusan sudah menjadi begini, gelisahpun tak ada gunanya, lebih baik kita mengirim surat kepada ayahmu dan mengundang beliau agar menetap pula di Mi-kok ini, dengan demikian semua orang bisa hidup senang di tempat yang indah bagaikan surgaloka ini."
"Hei, saat macam apakah sekarang ini? Tak nyana kau masih ada pikiran untuk bergurau?"
Tegur Pang Goan. Ho Leng-hong tertawa.
"Sekalipun sedih, apa pula manfaatnya? Lebih baik sebelum hujan sedia payung, kita membuat dulu perhitungan yang paling jelek."
Tiba-tiba ia mengalihkan pokok pembicaraan sambil berpaling tanyanya.
"Nyo-hujin, tadi kaubilang demi anakmu maka kau memilih tetap tinggal di sini, entah anakmu itu lelaki ataukah perempuan?"
"Laki-laki, baru berusia setengah tahun!"
"Mengapa tidak kau gendong keluar untuk menjumpai pamannya?"
"Tentang ini ... ."
Pang Wan-kun ragu-ragu sejenak, lalu menambahkan.
"bocah itu tak ada di rumah, ia dibawa Kokcu pergi bermain."
Wan-kun menundukkan kepalanya rendah-rendah.
"Ya, Kokcu amat sayang kepada bocah itu, setiap hari ia pasti mengajak bocah itu bermain."
"O, baikkah Kokcu itu kepadamu?"
Kembali Leng-hong bertanya.
"Sudah kukatakan tadi, meskipun kami tampak sebagai majikan dan bawahan, hakikatnya hubungan kami akrab seperti sahabat."
Leng-hong manggut-manggut.
"Ya, begitu sayangnya dia kepada anakmu, tentu saja kaupun tidak dianggapnya sebagai orang luar, buktinya kau diperbolehkan berdiam dalam gedung belakang, malahan tanpa sangsi dia serahkan kami kepadamu."
"Memang begitulah keadaannya!"
"Menurut penglihatanku, Kokcu yang sekarang ini Tong Siau-sian seorang gadis yang amat cerdik, bukannya ia tak ingin membasmi mata-mata dari Ci-moay-hwe, soalnya kekuatannya sangat minim, maka terpaksa ia berlagak tuli dan pura-pura tidak tahu orang-orangnya telah mengadakan kontak rahasia dengan Ci-moay-hwe."
"Ya, memang begitulah."
"Ia begitu baik kepada Hujin, dengan kamipun boleh dibilang mempunyai musuh yang sama, berbicara menurut keadaan umumnya, sepantasnya kita bekerja sama menghadapi Ci-moay-hwe, cuma tidak diketahui bantuan apakah yang ia perlukan?"
"Apakah kau bicara dengan sungguh-sungguh!"
"Tentu saja sungguh-sungguh!"
Sahut Leng-hong. Dengan gembira Wan-kun berkata.
"Jika kalian bersedia tinggal di sini, sekarang juga kulaporkan soal ini kepada Kokcu, mengenai cara bagaimana kerja sama kita untuk menghadapi mata-mata Ci-moay-hwe, kita rundingkan lagi dikemudikan hari, setuju?"
"Tentu saja, kita sudah bertekad tetap tinggal di sini ....."
Kata Leng-hong tanpa ragu-ragu.
"Tidak! Aku tidak setuju!"
Tiba-tiba Pang Goan menyela.
"Akupun tidak setuju!"
Sambung Beng-cu.
"Toako, kenapa kau berkeras kepala,"
Ujar Leng-hong.
"Selama gunung tetap hijau, tak usah takut kekurangan kayu bakar, dalam istana es dan liang api kita hanya akan menemukan jalan kematian, apa gunanya ... ."
"Jangankan cuma istana es dan liang api, sekalipun gunung golok atau kuali minyak mendidih akupun tidak takut, kalau mau tinggal di sini boleh kau saja tinggal di sini sendirian, aku dan Siau-cu bertekad akan menerobos istana es dan liang api itu."
"Toako, dengarkan dulu perkataanku ... ."
Pinta Wan-kun.
"Tidak usah banyak bicara, pokoknya sebagai seorang lelaki sejati aku lebih rela mati dalam istana es daripada hidup sampai tua di lembah terkurung ini."
"Nyo-hujin, tak perlu kaubujuk dia lagi,"
Kata Leng-hong.
"bila ia bertekad hendak menjadi lelaki sejati dan lebih suka menjadi seorang yang tidak bisa dipercaya dan tidak setia kawan, biarkanlah ia pergi."
"Kau mengatakan siapa yang tak bisa dipercaya dan tidak setia kawan?"
Teriak Pang Goan marah.
"Tentu saja kau. Aku ingin tanya, sewaktu kau menerima pesan dari keluarga Nyo untuk bantu Thian-po-hu berdiri kembali dengan jaya, sudahkah tugas itu terselesaikan bila jiwamu kau korbankan dalam istana es liang api, bukanlah tindakanmu itu berati tidak memenuhi janjimu kepada keluarga Nyo?"
Pang Goan melenggong dan terdiam. Leng-hong berkata pula.
"Secara beruntun tujuh bersaudara keluarga Nyo dari Thianpo-hu tewas dalam Mi-kok, satu-satunya keturunan yang masih ada sekarang masih kecil, dengan menahan segala siksaan dan penderitaan adikmu menyambung hidup demi mempertahankan keturunan keluarga Nyo, sebaliknya kau tidak mempedulikan nasib adikmu dan anaknya, tapi demi kepuasan diri sendiri hendak memasuki istana es dan liang api, Kematianmu tak akan menjadi soal, tapi meninggalkan adikmu dan anaknya bukan suatu tindakan yang terpuji."
Pang Goan terbelalak dan tak dapat mengucapkan sepatah katapun, akhirnya sambil menghela napas ia menundukkan kepalanya. Leng-hong mengerling sekejap ke arah Pang Wan-kun, kemudian katanya lagi.
"Silakan memberi laporan kepada Kokcu, katakanlah bahwa kami bersedia menetap di lembah ini."
Wan-kun sangat gembira, buru-buru ia mengundurkan diri. Setelah Pang Wan-kun pergi, dengan suara rendah Leng-hong berbisik.
"Lotoako, mengapa kau pintar sepanjang waktu tapi bodoh sesaat? Apakah tidak kaulihat bahwa adikmu tak bebas bergerak dan berada di bawah ancaman orang lain?"
"Sungguhkan perkataanmu?"
Tanya Pang Goan terperanjat. Leng-hong segera berkata kepada Hui Beng-cu.
"Duduklah dekat pintu sana, perhatikan adakah orang mencuri dengar, kita harus berunding secepatnya untuk menghadapi segala kemungkinan."
Baca Juga: Bara Naga 2
Baca Juga: Bara Naga Yin Yong