Ceritasilat Novel Online

Setan Harpa 8

Eps 8 Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id

Baca online Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id

Cersil Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id.

"Waah persoalan ini memang cukup sulit Iagi pelik, cuma aku pikir persoalan ini tentu akan beres dengan sendirinya bila waktunya telah tiba nanti."

Katanya kemudian.

"Seandainya mereka datang serentak? Apa yang harus ku perbuat?"

"Maksudmu seandainya Lan Siok-ling, Hui mo pangku, Bunga iblis dari neraka datang bersama ketempat ini, apa yang musti kau perbuat?"

"Benar!"

"Soal ini tak perlu kau kuatirkan, meskipun Sin kiam harus didapatkan oleh sepasang suami istri, tapi apakah kau adalah orang ybang berhak menddapatkan pedang atersebut masih bmerupakan suatu tanda tanya besar, sampai waktunya nanti, kau boleh maju bersama mereka satu persatu" 00000OdwO00000 BAB 67 MENDENGAR perkataan itu. Ong Bun kim manggutmanggut. karena memang Inilah cara yang paling baik untuk mengatasi persoalan itu. la berhasrat untuk mendapatkan pedang mestika tersebut, sudah barang tentu segala sesuatunya baru bisa dibicarakan setelah persoalannya berkembang nanti. Ong Bun kim berpikir sejenak, lalu ujarnya.

"Kalau begitu, keponakan ingin mohon diri lebih dahulu."

"Silahkan!"

Ong Bun kim segera mohon diri kepada ciangbunjin dari siau lim pay, dan berangkat menuruni bukit Siong-san.

Tapi setibanya dikaki gunung, ia baru kebingungan, kemana ia-musti pergi sekarang?

Tiba-tiba pemuda itu teringat kembali akan diri Tay khek Cin kun serta Mo kui-seng kiam Phang Pak bun yang tertinggal di perguruan San tian bun, bagaimana nasib mereka berdua?

Berpikir tentang masalah ini, hatinya menjadi gelisah sekali, ia bertekad untuk menyelidiki persoalan ini sampat jelas lebih dulu, tapi dalam masalah inipun ia merasa menjumpai kesulitan, dapatkah ia berkunjung kembali ke perguruan San tian bun?

Sudah jelas berbicara dari tenaga dalam yang dimiliki, dia masih bukan tandingan dari ketua perguruan San tian bun, Ciu Li li, itu berarti menyelidiki secara menyerempet bahaya tak bisa dilakukan, terpaksa ia akan melakukan penyelidikan secara diam-diam.

Setelah mengambil keputusan, berangkatlah arak muda itu dengan kecepatan luar biasa.

Untuk sementara waktu, baiklah kita tinggalkan Ong bun kim yang sedang menyelidiki jejak dari Tay khek Cin kun serta Phang Pak-bun.

Sementara itu berita tentang akan diselenggarakannya pertemuan Pay kiam ci-bwe dengan cepat sudah tersiar dalam dunia persilatan.

Munculnya pedang Sin kiam milik Hek mo im dalam dunia persilatan, betul betul sudah menimbulkan gelombaug keributan yang sangat dahsyat dalam dunia persilatan, setiap orang sama-sama bertekad hendak mendapatkan pedang mustika tersebut.

Bulan empat tanggal dua puluh.

Berbondong-bondong kawanan jago dari dunia persilatan pada berdatangan kekuil Siau lim si untuk mengikuti pertemuan Pay bkiam ci bwee.

Ddi depan pintu gaerbang kuil terbsebut, berdirilah empat orang pendeta yang bertugas menerima tamu.

Setelah ditanya maksud kedatangan mereka, maka kawanan jago persilatan itupun dipersilahkan masuk kedalam ruang kuil.

Sih kiam adalah sebuah benda mustika yang merupakan incaran dari setiap umat persilatan, apakah benda itu akan mengakibatkan timbulnya suatu badai perebutan yang sengit.

Sampai sekarang hal mana masih merupakan suatu tanda tanya besar.

Ketua partai Siau-lim, Hoat hay taysu dengan didampingi empat orang pendeta tua masing-masing berdiri didepan pintu ruang Tat-mo wan sambil mengawasi kedatangan para jago yang hilir mudik memasuki ruangan.

Dalam ruangan, Giok bin hiap berdiri di-samping altar melindungi keselamatan pedang Sin kiam, ia berjaga-jaga disitu dengan angker dan tidak membiarkan kejadian tak sopan berlangsung disana.

Pada saat itulah tiba-tiba dari luar ruangan berkumandang suara seruan yang amat nyaring.

"Ketua perguruan San tian bun dengan membawa anggota perguruannya tiba!"

Begitu mendengar disebutnya nama "perguruan San tian bun", ketua partai Siau lim yang berdiri didepan pintu serta kawanan jago Iihay yang berada dalam ruangan sama-sama menunjukkan perasaan kaget.

Seketika mereka mendongakkan kepalanya dan berpaling keluar ruangan.

"Tampaklah seorang manusia berkerudung memakai baju putih, didampingi dua orang manusia berkerudung lainnya melangkah masuk ke dalam halaman ruangan Tat mo wan. Hoat hay taysu seaera maju menyambut, setelah memberi hormat katanya.

"San tian buncu, terimalah hormat lolap!"

"Ciangbunjin tak perlu banyak adat!"

Tukas ketua perguruan San tian bun itu sambil tertawa dingin.

"Apakah kedatangan Buncu kemari adalah untuk menyembah pedang mestika ?"

"Benar, tolong tanya ciangbunjin, kenapa pedang Sin kiam bisa berada dalam perguruan anda?"

Dengan suara dalam dan berat Hoat hay ciang bunjin menjawab.

"Menurut pesan terakhir dari Hek mo im, Sin kinm tersebut harus dibawa kedalam partai kami oleh malaikat pelindung pedang untuk menerima penghormatan disini!"

"Siapa yang menjadi Malaikat pelindung pedang?"

"Seorang jago yarg dulu dikenal sebagai Giok-bin hiap!"

"Apa? Dia adalarh Giok bin hiapt?"

"Benar !"

Buqncu dari pergurruan San tian bun itu tidak berbicara lagi, dia lantas melangkah maju siap memasuki ruang Tat mowan.

Tapi sebelum ia sempat masuk, dengan suatu kecepatan luar biasa Hoat hay ciangbunjin telah maju kemuka serta menghadang jalan perginya.

"Tunggu sebentar Buncu!"

Serunya.

"Ada apa?"

"Malaikat pelindung pedang telah berkata setiap orang yang datang kemari untuk menghormati pedang, harus mempunyai hati yang jujur dan terbuka, diapun harus menghormati pedang itu dengan wajah aslinya, kalau tidak maka hal itu berarti suatu tindakan yang kurang sopan kepada pedang Sin kiam!"

Buncu dari perburuan San tian bun, Ciu Li li segera tertawa dingin tiada hentinya.

"Kalau kurang hormat lantas bagaimana?"

Ejeknya.

"Dia pasti akan mati dalam keadan mengerikan!"

Sekali lagi buncu dari perguruan Sin tian bun itu tertawa dingin.

"Heeehhb heeehhh. heeehh aku ingin sekali melihat dengan cara yang bagaimanakah kematianku itu bisa dianggap sebagai suatu kematian yang mengenaskan, ciangbun jin! Harap minggir!"

Hoat hay ciangbunjin tertawa hambar, dia lantas menyingkir kesamping memberi jalan lewat.

Dengan angkuhnya ketua perguruan San tian-bun Ciu Li li melangkah masuk kedalam ruangan.

Tampaknya Giok bin biap menaruh perhatian khusus terhadap Buncu dari perguruan San tian-bun ini sebab dia sudah tahu kalau Su hay-bong-kek Ong See liat telah tewas ditangan orang ini.

Setelah masuk kedalam ruangan.

Ciu Li li segera tertawa dingin, sindirnya dengan sinis.

"Sungguh pertemuan ini merupakan suatu pertunjukan yang sangat ramai!"

Kesinisan dan keangkuhannya itu dengan cepat mengobarkan kembali hawa amarah dihati Giok-bin hiap.

Setelah berada didalan ruangan, ketua perguruan San tian bun Ciu Li li tidak menghentikan sama sekali langkahnya, malahan dia berjalan menuju kedepan altar di mana pedang Sin-kiam tersebut diletakkan.

Menyaksikan tindak tanduknya yang pongah itu, paras muka semua jago lihay yang berada dalam ruangan segera berubah hebat.

Pada saat itulah buncu dari perguruan San tian bun itu sudah berada lebih kurang satu kaki didepan altar, tapi ia tidak bermaksud berhenti malah selangkah demi selangkah berjalan lebih mendekat.

"Berhenti!"

Mendadak Giok bin hiap membentak nyaring. Mendengar bentakan tersebut, serta merta buncu dari perguruan San tian bun itu menghentikan langkahnya, kemudian dengan suara yang amat dingin.

"Ada apa?"

"Mau apa kau?"

"Menonton pedang Sin kiam!"

"Saat untuk memberi hormat kepada pedang suci belum tiba!"

"Aku cuma ingin memeriksa dulu. pedang Sin kiam tersebut adalah sebilah pedang yang asli atau palsu!"

Paras muka Giok-bin hiap kembali berubah hebat, bentaknya penuh kegusaran.

"San tian buncu, kau berani memandang hina pedang Sin kiam?"

"Aku tidak bermaksud menghina, aku bicara sesungguhnya."

Belum selesai San tian buncu berbicara, dari luar pintu telah berkumandang kembali suara teriakan lantang.

"Hui mo pangcu tiba!"

Menyusul bentakan yang amat nyaring itu, terdengar seseorang menghardik lalu melintas sesosok bayangan putih, tahu-tahu Ciu Li li sudah menerjarg ke hadapan altsr berisi pedang Sin-kiam tersebut.

Gerakan dari Ciu Li li ini sangat cepat bagaikan sambaran kilat, dalam sekejap mata ia sudah tiba disasaran.

"Kau berani!"

Bentak Giok bin hiap marah.

Bayangan hitam saling bergumul menjadi satu lalu saling berpisah satu dengan lainnya.

Bagaikan sambaran kilat yang berkelebat lewat, dengan sempoyongan Buncu dari perguruan San tian bun itu mundur sejauh tujuh delapan langkah sebelum berhasil berdiri tegak.

Dengan suara dingin Giok bin hiap membentak.

"San tian Buncu, kalau kau berani turun tangan lagi, hati-hati kalau aku akan menghukum kau lebih dulu!"

Dalam pada itu, Tay pangcu dari perkumpulan Hui mopang yakni Kim lo sat dengan membawa wakil ketuanya Gin lo sat telah melangkah masuk ke dalam ruangan.

Buncu dari perguruan San tian bun Ciu Li li segera tertawa dingin, ejeknya.

"Ilmu silat yang kau miliki betul-betul hebat sekali, baiklah, aku akan menunggu sampai-saat persembahan pedang."

Seusai berkata, dia lantas menyelinap mundur dari tempat itu.

Sementara disini ribut-ribut, Kim Lo sat serta Gin Lo sat telah berada dalam ruang tengah dan berdiri pula disamping.

Tak lama kemudian, dari luar ruangan secara beruntun kedengaran suara teriakan nyaring yang berkumandang berulang kali-"Kelelawar malam tiba !"

"Jago pembawa lampu tiba..."

"Lan Siok-ling tiba..."

"Bunga iblis diri neraka tiba..."

Tiang seng lojin dan Hian ih lihiap tiba...."

"Yu Cing tiba..."

Ketika mendengar nama "Yu Cing"

Disebut.

Giok bin hiap Yu Tiang kontan merasakan sekujur badannya bergetar keras, karena orang yang disebut namanya itu bukan lain adalah putrinya dari hasil hubungannya dengan Leng po Siancu.

Akan tetapi Yu Cing sendiri tidak tahu kalau orang yang melindungi pedang sekarang justru ayah kandungnya yang dicari-cari selama ini, setelah berbincang-bincang sebentar dengan Tiang seng lojin, Hian ih Li hiap dan bunga iblis dari neraka, diapun berdiri menanti disisi ruangan.

Waktu itu dalam ruangan Tat mo wan yang begitu luas telah terhimpun beratus-ratus orang jago lihay yang datang dari segenap penjuru dunia persilatan, tapi ada satu perguruan yang diperhatikan orang justru belum hadir sampai detik itu...

itulah perguruan Yo leng bun.

Tengah hari sudah tiba, saat untuk melakukan upacara Pay kiam sudah hampir dilangsungkan.

Suara berbisik-bisik dalam ruangan semakin ramai, sehingga suasananya berubah menjadi gaduh.

Yu Cing memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian tanpa terasa ia bertanya kepada Tiang seng lojin.

"Kenapa Ong Bun kim belum juga hadir disini?"

"Entahlah!"

Jawab Tiang seng lojin menggeleng "tapi aku rasa dia pasti akan datang kemari"

Setelah berhenti sejenak, ia berkata kembali.

"Nona Yu, tahukah kau siapa orang yang berdiri disisi altar dalam ruangan itu?"

"Siapa?"

Yu Cing balik bertanya dengan wajah tertegun.

"Ayahmu!"

"Apa? Ayahku?"

Mendengar khabar tersebut, Yu Cing tak tahan untuk menjerit keras, jeritan itu dengan cepat mengejutkan pula banyak orang jago-yang berada di sekitar sana, sehingga sorot mata mereka bersama-sama dialihkan kewajah gadis itu.

Selang sesaat kemudian, setelah gejolak-dalam hatinya berhasil diatasi, ia berkata kembali.

"Kau maksudkan dia.... dia adalah Giok bin hiap?"

"Betul !"

Tak terlukiskan pergolakan emosi yang dialami Yu Cing pada saat ini.

ia sudah banyak tahun mencari jejak ayahnya Giok bin hiap, tapi tidak pernah berhasil, tak disangka hari ini orang yang dicari justru telah berdiri dihadapannya dalam keadaan segar bugar.

Paras mukanya agak berubah, tiba-tiba dia melangkah maju dan menghampiri Giok bin hiap.

Tiang seng lojin yang menyaksikan kejadian itu, segera membentak dengan cepat.

"Nona Yu, apa yang hendak kau lakukan?"

"Aku hendak bertanya kepadanya, kenapa ia tak pernah pulang untuk menengok kami ibu dan anak..."

"Jelas dibalik kejadian ini tentu ada sebab sebabnya, kenapa tidak kau tanyakan persoalan ini setelah upacara Pay kiam terselenggarakan ? Yu Cing menengok sekejap kearah Giok-bin hiap, akhirnya dia manggut-manggut dan mundur kembali ketempat semula. Ditengah keheningan, tiba-tiba dari luar pintu berkumandang kembali suara seruan yang amat nyaring.

"Ong Bun kim tiba..."

Ditengah seruan yang amat nyaring itu.

semua orang merasakan hatinya bargetar keras dan paras mukanya berubah, kontan sorot mata semua orang dialihkan keluar pintu di mana Ong Bun-kim dengan langkah yang tegap sedang berjalan masuk ke dalam ruangan.

Ong Bun-kim melirik sekejap sekeliling ruangan itu kemudian setelah memberi hormat kepada jago pembawa lampu dan Kelelawar malam, dia berjalan menuju ke sisi Tiang seng lojin.

"Boanpwe menghunjuk hormat untuk kesehatan locianpwe!"

Katanya sambil memberi hormat kepada Tiangseng lojin.

"Ong sauhiap tak perlu banyak adat!"

Maka Ong Bun kim memberi hormat pula kepada Hian ih liniap setelah itu dia baru berpaling, dimana ada sepasang mata yang diliputi kesedihan sedang menatapnya tanpa berkedip.

Kedua orang itu bukan lain adalah Bunga iblis dari neraka serta Leng Siok ling.

Ong Bun kim terkesiap, baru saja dia hendak mengucapkan sesuatu, Yu Cing telah buka suara lebih dulu, katanya.

"Ong sauhiap, siapakah orang yang melindungi pedang itu?"

"Ayahmu!"

"Sungguhkah ini?"

"Benar!"

"Mengapa selama hampir dua puluh tahun lamanya dia tak pernah pulang untuk menengok kami ibu dan anak berdua?".

"Tentu saja hal ini ada alasannya..."

Secara ringkas Ong Bun kim menceritakan bagaimana kisah Giok bin hiap memasuki gua Bu cing tong kemudian bagaimana dia disuruh belajar ilmu disana.....dan sebagainya.

dan sebagainya.

Selesai mendengar cerita itu, Yu Cing baru menghela napas panjang, katanya.

"Aaai...? Kiranya begitulah keadaan yang sebenarnya"

Setelah berhenti sejenak, dia berkata lagi.

"Bukankah kau hendak mencari Tan Hong hong?"

"Benar!"

Berbicara sampai disitu, Ong Bin kim segera berjalan menuju kearah Bunga iblis dari neraka berdiri.

Ketika tiba kurang lebih tiga depa didapati gadis itu, terasa pemuda itu menghentikan langkahnya.

Setelah menatapnya tajam tajam, serunya penuh luapan emosi.

"Nona Tan !"

Paras muka bunga iblis dari neraka agak berubah, katanya dengan cepat.

"Apakah kau Ong Bun-kim masih mengenali diriku?"

Ong Bun-kim merasa sangat sedih, katanya terbata-bata.

"Nona Tan aku, aku aku telah menuduhmu yang bukanbukan... aku tahu aku telah salah . .kau... pengorbananmu buauu terlalu besar, kenapa...kenapa Kau bersedia mengorbankan diri sebesar itu demi... demi aku?"

Berbicara sampai disitu, Ong Bun kim merasa kerongkongannya seperti tersumbat, kata-kata selanjutnya tak sanggup diucapkan lagi.

Bunga iblis dari neraka merasa amat sedih, terlepas apakah Ong Bun kim akan menyukai perbuatannya atau tidak, ia toh tetap mencintainya, mencintainya dengan sepenuh hati.

Dengan pandangan mata yang sayu ia menatap wajahnya lekat-lekat, kemudian dengan sedih dan suara terisak bisiknya.

"Jadi... jadi kau sudah mengetahui segala-galanya?"

"Benar... tapi kenapa kau sampai berbuat demikian?"

"Karena cinta!"

Sekujur badan Ong Bun kim kembali gemetar keras.

"Lantaran kau mencintai aku?"

Seru pemuda itu dengan perasaan terkejut sekali.

"Yaa.."

Air matanya tak terbendung lagi, seperti air bah segera meleleh keIuar membasahi pipinya, walaupun ia berusaha untuk menahan air matanya, namun pipinya toh menjadi basah juga.

Dengan sedih Ong Bun kim berkata.

"Begitu besar kau telah berkorban bagiku tapi dengan cara apa aku Ong Bun kim dapat membalas budi kebaikanmu itu?"

"Kalau aku mengharapkan balas budi darimu, tak nanti akan kulakukan perbuatan itu bagimu..."

Kalau bisa Ong Bun kim ingin sekali menerjang maju ke muka, memeluknya erat-erat dan menciumnya seratus kali....

sebribu kali....

dTapi sekarang maereka berada dib hadapan khalayak ramai, dia berusaha keras untuk mengendalikan perasaannya.

Pelan-pelan dia menundukkan kepalanya, kemudian berkata.

"Terlalu banyak yang kau berikan untukku."

"Asal kau bisa memahami perasaanku, itu sudah lebih dari cukup, marilah, kita tak usah membicarakan persoalan itu lagi."

Ya, mereka memang tak perlu membicarakan persoalan itu lagi sebab kecuali suatu kenyataan yang tragis, sesuatu kenyataan yang mencabik-cabik hati mereka berdua, tiada sesuatu yang perlu diingat dan dibicarakan lagi.

Dengan sedih Ong Bun-kim manggut-manggut.

"Aku hendak memberi tahu kepadamu, Hiat hay long-cu telah tewas ditanganku!"

Katanya.

"Sudah tewas?"

Bagaikan kena aliran listrik bertegangan tinggi, sekujur tubuhnya bergetar keras, bagaimanapun juga Hiat hay longcu adalah laki-laki pertama yang telah menggaulinya, selaput daranya lenyap ditangan lelaki itu juga.

"Yaa, dia sudah mati, kau tidak menyalahkan aku bukan?"

Sahut Ong Bun-kim sedih.

la menggelengkan kepalanya, dengan suatu kesedihan yang tak terlukiskan dengan kata-kata ia memberikan jawabannya, yaa, bagai mana mungkin dia akan menyalahkan dirinya.

Tidak...!"

OooOdwOooo BAB 68 TAPI, terhadap kematian dari seseorang yang telah merenggut kehomatannya, baik dia mencintai atau membencinya, peristiwa itu mendatangkan pula perasaan sedih yang luar biasa.

Ong Bun kim dapat memahami perasaannya, pelanpelan dia berjalan, menghampiri Lan Siok-ling, dia tak ingin membicarakan soal apa-apa lagi dengannya, sebab banyak berbicara hanya akan menambah kesengsaraan serta penderitaan kedua belah pihak.

Tapi ia mengerti, bahwa dia harus mencintainya, dia harus mengawininya dan mempersembahkan rasa cinta murninya kepada gadis itu, agar dia melupakan kejadian lampau yang telah mencabik-cabik perasaan itu.

Ketika tiba dihadapan Lan Siok ling, diapun mengangguk.

"Nona Lan?"

Lan Siok-ling menghela napas sedih, serunya.

"Ada apa?"

"Aku merasa bahwa aku sudah banyak melakukan hal hal yang tidak baik kepadamu."

"Tidak apa-apa... itulah atas kehendak ku sendiri, cuma aku ada satu persoalan hendak memberitahu kepadamu, walaupun kita belum ada sebutan sebagai suami istri, tapi aku sudah mempunyai anak."

"Apa?"

Sekujur badan Ong Bun kim bergetar keras, saking kagetnya dia sampai menjerit tertahan. Dengan sedih kembali Lan Siok ling berkata.

"Sungguh, aku sudah punya anak. Anak kita berdua !"

Dalam keadaan demikian.

Ong Bun kim tak dapat mengatakan apakah berita itu merupakan suatu kegembiraan ataukah suatu kepedihan.

Ia pernah berharap bisa mempunyai keturunan, agar setelah ia mati ada orang yang bisa meneruskan cita-citanya untuk membalas dendam.

Tapi kenyataannya kemudian, ia tidak jadi mati.

Berbicara sejujurnya, ia dan Lan Siok ling bisa bersatu bukan lantaran dasar cinta yang sejati, sekarang dia tidak berharap bisa mempunyai seorang anak tapi kesalahan yang telah dilakukannya dahulu, kini sudah mulai berubah.

Berpikir sampai disini, diam-diam Ong Bun-kim merasa terperanjat, kembali dia berseru.

"Kau benar-benar sudah mempunyai anak?"

"Ya, kau tak akan menyangkal bukan?"

"Oooh tidak, aku tak akan menyangkal."

"Kau bisa menyukainya?"

Ong Bun kim tertawa getir.

"Yaa. aku dapat menyukainya!"

Dia mengangguk.

"Dan kau mengakui aku sebagai istrimu?"

"Mengakui, tapi ada sementara persoalan lain yang harus kukatakan dulu kepadamu."

"Katakan, aku akan mendengarkan dengan seksama!"

"Selain kau, aku masih mempunyai banyak sekali teman perempuan yang lain."

"Aku tahu, aku tak akan menyalahkan dirimu!"

"Kalau kau dapat mengerti, aku merasa berterima kasih..."

Belum lagi perkataan dari Ong Bun kim itu diselesaikan, tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin yang amat tak sedap didengar buncu dari perguruan San tiau-bun mengejek dengan sinis.

"Ong Bun kim! Tidak kusangka kalau nasibmu masih begitu baik sehingga bisa hidup sampai kini!"

Dengan cepat Ong Bun kim menengadah, tapi begitu tahu siapa yang mengajaknya berbicara, paras mukanya kontan berubah menjadi mengerikan sekali.

"Oooh rupanya kau?"

Serunya.

"Betul, kenapa?r"

"San tiam Buntcu, aku memang qsedang mencarimru!"

"Mau apa mencari aku?"

"Bagaimana dengan Tay khek Cinkun serta Mo kiu seng kim Phang Pak bun ..?"

Sekali lagi buncu dari perguruan San-tian bun itu teriawa dingin.

"Kemungkinan besar mereka sudah kembali ke akhirat untuk memberikan pertanggung jawabnya!"

"Haaah?! Apa kau bilang?"

"Heeehhh heeehhh heeehah ...kenapa musti terkejut? Mereka telah mengalami nasib yang sama dengan kau, telah kuhajar kedua-duanya sehingga tercebur ke dalam jurang yang puluhan ribu kaki dalamaya itu!"

Sekali lagi paras muka Ong Bun kim berubah hebat, bentaknya keras-keras.

"Sungguhkah perkataanmu itu!"

"Sungguh!"

"Bangsat, kubunuh kau!"

Sambil membentak keras Ong Bun kim bergerak maju ke depan, dalam gusarnya gerakan ini benar-benar dilakukan dengan garang sambil melejit kehadapan buncu dari perguruan San tian bun itu, sebuah pukulan dahsyat segera dilancarkan.

Baru saja Ong Bun kim akan melanjutkan ancamannya itu, mendadak terdengar seseorang membentak kerat.

"Tahan!"

Mendengar bentakan itu, tanpa terasa Ong-Bun kim menghentikan gerakan tubuhnya, ketika ia mendongakkan kepalanya, tampaklah orang yang barusan berbicara itu adalah Giok bin siap Yu-Tiong.

"Oog Bun kim!"

Bentak sipendekar berwajah pualam Yu Tiong dengan suara dingin.

"kau tahu tempat apakah ini? Berani benar kau bertingkah disini?"

Mendengar bentakan itu, Ong Ban kim agak tertegun, tapi dengan cepat ia dapat memahami perkatakan dari Giok bin hiap tersebut.

Sekarang adalah saatnya upacara Pay kiam akan diselenggarakan, siapa saja dilarang bertindak sesuatu yang menunjukkan sikap memandang rendah kesucian pedang Sin kiam itu.

"Ong Bun kim!"

Kembali Giok, bin hiap berkata dengan dingin.

"kalau kau berani sembarangan melancarkan serangan lagi, kubunuh dirimu lebih dahulu!"

Dengan gemas dan penuh kebencian Ong Bun-kim memandang sekejap kearah Buncu dari perguruan San tian bun itu, kemudian katanya dengan suara dingin.

"Ciu Lili, aku tak akan membiarkan kau hidup lebih jauh!"

"Kau... darimana kau bisa tahu jika aku... aku bernama Ciu Li li?"

Seru Buncu dari perguruan San tian bun itu dengan perasaan tercekat.

"Hmm! Apanya yang aneh dengan dirimu itu!"

Seusai berkata dia lantas berjalan kembali ke tempat semula.

"Ong Bun kim !"

Tiba-tiba Kim Lo sat dari perkumpulan Hui mo pang menegur.

"kau masih ingat dengan aku."

Ong Bun kim melirik sekejap ke arahnya, kemudian tertawa getir, cepat-cepat dia kembali ke tempat semula.

Walaupun antara dia dengan Kim lo sat mempunyai ikatan sebagai suami istri, tapi ia sama sekali tidak mencintainya.

Setelah balik kembali ke tempat semula, pemuda itu berdiri tertegun dengan kening berkerut, banyak sekali persoalan yang harus dipertimbangkan olehnya, terutama perempuan yang manakah yang akan dipilihnya untuk bersama-sama menyembah pedang.

Dalam pada itu, masa diselenggarakannya penyembahan terhadap pedang sudah semakin dekat, suasana dalam ruangan sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

Tiba-tiba dari luar pintu ruang tengah berkumandang kembali seruan nyaring.

"Kwan Siok kim tiba!"

Mengikuti seruan tersebut, seorang nona berbaju putih berjalan masuk kedalam ruangan, tapi kecuali Ong Bun kim seorang, tak seorangpun diantara mereka yang tahu siapa gerangan Kwan Siok kim tersebut.

Ong Bun kim berpaling dan memandang sekejap ke arah gadis itu, ketika empat buah mata saling bertemu, hatinya terasa bergetar sangat keras.

Pelan-pelan Kwan Siok kim berjalan mendekati ke arahnya.

Setelah tiba di depan anak muda itu, sapanya.

"Ong sauhiap, baik-baikkah kau selama kita berpisah?"

"Terima kasih atas perhatianmu, bagaimana dengan kau sendiri?"

"Aku baik-baik saja."

Setelah berhenti sejenak, katabnya lagi sambild tertawa sedih.a "Kau tidak menbgira bukan kalau aku bakal datang kemari untuk mencarimu?"

"Ya! Kedatanganmu sungguh jauh diluar dugaanku, entah ada urusan apa kau kemari?"

"Ooh.. tidak ada apa-apa, aku hanya datang menjengukmu, kau tidak senang?"

"Mana, mana, bagaimana dengan orang tuamu? baik semua?"

"Mereka sangat baik, terima kasih atas perhatianmu!"

"Aaaah, mana, mana!"

"Ong Sauhiap, konon ditempat ini sedang diselenggarakan suatu pertemuan menyembah pedang?"

"Yaa, darimana kau bisa tahu?"

"Karena aku kangen kepadamu, maka setelah kepergianmu akupun ikut keluar untuk mencarimu, tapi kemanapun aku mencari selalu tak berhasil menemukan kau, ada orang yang memberitahu katanya besar kemungkinan kau berada disini."

"Oooh...! Jadi kau datang hanya karena ingin menjengukku saja...?"

Kata Ong Bun kim menegas.

"Benar, sekarang aku akan pergi!"

"Pergi? Kenapa begitu terburu-buru..."

"Aku telah berjumpa denganmu, maka aku boleh pergi dengan perasaan yang lega dan tenteram."

Dibalik perkataan itu terpancarlah semua perasaan cinta dan kangennya yang telah tersimpan selama ini dalam hatinya, tentu saja halmana membuat Ong Bun kian amat terkejut.

Setelah tertawa getir, katanya.

"Mengapa kau tidak pergi setelah upacara penyembahan pedang nanti selesai?"

"Kau menahan aku?"

"Benar !"

"Baiklah !"

Tiang-seng lojin segera berpaling ke arah Ong-Bun kim seraya bertanya.

"Ong sauhiap, siapakah nona itu?" -oo0dw0oo--

Jilid 22

"DIA..."

Mendadak Ong Bun kim seperti teringat akan sesuatu, dengan cepat kata selanjutnya ditelan kembali.

"lebih baik kita tunggu sampai upacara Pay kiam disini selesai lebih dulu baru kuberitahu kepadamu."

Tiang seng lojin manggut-manggut dan tidak berbicara lagi. Pada saat itulah terdengar Giok bin hiap berseru dengan suara yang dalam.

"Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul berapa?"

"Tengah hari lawat tiga perempbat!"

Seseorang dmenyahut dari baalik ruangan.

"bKalau begitu upacara Pay kiam segera dimulai !"

Setelah berhenti sebentar, kembali ia berkata.

"Sebelum upacara Pay kiam di mulai, ada sepatah dua patah kata hendak kuberitahukan kepada saudara sekalian."

Suasana dalam ruangan itu segera berubah menjadi hening dan sepi sekali. Dengan suara lantang Giok bin hiap berkata.

"Aku Yu Tiong bersama Ong See liat berhasil memasuki gua Bu cing tong pada masa yang lalu, kami beruntung berhasil diangkat menjadi murid dari Hek mo im..."

"Apakah Hek mo im tayhiap masih hidup?"

Seseorang bertanya dari antara kerumunan orang banyak.

"Tidak, sebelum kami masuk ke dalam perguruannya, beliau sudah lama meninggal dunia, di-dalam surat wasiatnya dicantumkan bahwa kami diterima sebagai muridnya."

"Bila dihitung dengan jari, kami sudah puluhan tahun lamanya menjadi murid dalam perguruannya, suhu kami sangat memperhatikan nasib dunia persilatan, karena itu pedang Sin kiam yang ditinggalkan tak boleh dibiarkan terpendam terus di alam baka.

"Didalam surat wasiatnya telah dijelaskan bahwa pedang Sin kiam akan dibawa ke-kuil Siau lim si untuk memperoleh persembahan, barang siapa dapat menyembah pedang itu sehingga pedangnya meninggalkan sarung sejauh tiga inci, dialah pemilik dari pedang Sin kiam ini."

"Selain daripada itu, didalam pesannya suhuku juga berkata bahwa pedang Sin kiam disebut pula sebagai pedang Cing-jin kiam (pedang kekasih), sebab itu setiap orang yang hendak menyembah pedang ini harus mencari pasangannya sendiri-sendiri, bila akhirnya terbukti kalau pedang itu meninggalkan sarung sejauh tiga inci, maka pasangan tersebut harus segema menikah menjadi suami istri..."

"Apakah mereka yang belum kawin juga boleh?"

Tanya seseorang.

"Pokoknya asal dia itu seorang lelaki dan seorang perempuan, entah siapapun itu orangnya, asal pedang itu bisa meninggalkan sarung sewaktu dilangsungkan persembahan, mereka harus mengikat diri menjadi suami istri di hadapan Sin kiam itu juga...."

"Maksudmu setiap orang yang datang menghadiri pertemuan ini. boleh mencari pasangan manapun untuk diajak menyembah pedang?"

Kembali ada orang bertanya.

"Benar!"

Buncu dari perguruan San tian bun segera tertawa dingin.

"Haaahhh haaahhb haaahh. pertemuan ini benar-benar merupakan suatu pertemuan unik yang belum pernah kurjumpai sebelumntya."

"Pesan gurquku hanya sampari disini saja"

Kembali Giok bin hiap berkata.

"mau percaya atau tidak terserah pada kalian sendiri. Nah. sekarang upacara penyembahan dimulai!"

Maka penyembahan terhadap pedang suci pun segera diselenggarakan.

Mereka yang datang berpasangan, berbondong-bondong maju melakukan persembahan namun dari puluhan pasang suami istri itu tak seorangpun yang berhasil menggeserkan pedang itu dari sarungnya.

Mereka yang kecewa pun beruntun meninggalkan ruang upacara dan kembali ke-rumah masing-masing.

Lebih kurang satu jam kemudian, didalam ruangan yang luas hanya sisa puluhan orang jago persilatan, tentu saja di antara mereka yang pergi terdapat pula mereka yang tidak berhasil menemukan pasangannya.

Ada pula diantara mereka yang melakukan penyembahan seorang diri, karena gagal, merekapun mohon diri dari situ.

Tiba-tiba Buncu dari perguruan San tian bun melompat maju ke depan, ketika melangkah ke depan ia menarik salah seorang anggota perguruannya, tapi penyembahan merekapun tidak berhasil menggerakkan pedang itu dari sarungnya.

Dalam keadaan demikian, sambil tertawa dingin ia mengundurkan diri kembali ke tempat semula.

Setelan Buncu dari perguruan San tian bun Ciu Li li mengundurkan diri dari sana, tiada seorang lagi yang maju kedepan untuk melakukan penyembahan.

Tiang seng lojin segera melirik sekejap ke arah Ong Bun kim, lalu serunya.

"Ong sauhiap, sekarang kau boleh maju kedepan untuk mencoba-coba."

"Aku?"

Bisik Ong Bun kim agak tertegun.

"Bukankah kau datang kemari untuk menyembah pedang?"

"Benar!"

"Lantas, mengapa kau tidak tampil kedepan untuk melakukan penyembahan?"

Ong Bun kim mengerutkan dahinya sambil termenung sebentar, kemudian katanya.

"Tapi.... tapi.... aku harus melakukan penyembahan pedang dengan siapa?"

"Siapa yang paling kau cintai, ajaklah dia untuk melakukan penyembahan lebih dulu"

Ong bun kim sangsi sejenak, akhirnya sambil menggigit bibir dia memandang sekejap kearah Bunga iblis dari neraka Tan Hong hong, setelah itu katanya.

"Nona Tan, bersediakah kau untuk melakukan penyembahan pedang bersamaku?"

"Aku?"

"Benar !"

"Walaupun kejadian ini sama sekali diluar dugaan Bunga iblis dari neraka, sebab disana berderet begitu banyak perempuan lain tapi diapun merasa amat girang, karena dengan kejadian ini terbuktilah bahwa dia adalah gadis yang paling dicintai oleh si anak muda itu. Untuk sesaat lamanya dia termangu-mangu disana, dia hanya tak tahu peristiwa ini harus disambut dengan luapan rasa gembira ataukah kesedihan cintakah dia? atau benci? Sampai lama, lama sekali, ia baru manggut-manggutkan kepalanya, pelan-pelan ia berjalan ke muka mendekati Ong Bun kim, kemudian mereka berdua bersama-sama menuju ke depan altar dan bersujud dengan hormatnya.. Baik Ong Bun kim maupun bunga iblis dari neraka samasama tegang, mungkinkah pedang itu akan keluar dari sarungnya setelah mereka bersujud di hadapannya? Tapi ketika mereka bangkit berdiri dan menyaksikan keadaan dimeja altar, paras muka ke dua orang itu segera berubah menjadi pucat pias bagaikan mayat. Ternyata pedang Sin kiam itu sama sekali tidak keluar dari sarungnya ! Bunga iblis dari neraka berusaha mengendalikan perasaannya, lalu dengan wajah yang lebih lembut dia berkata.

"Ong Bun kim, kalau kita mempunyai jodoh sebagai suami istri, tak nanti peristiwa yang tragis itu bakal menimpa diri kita berdua!"

Ong Bun kim hanya tertunduk sedih, dia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Bunga iblis dari neraka menghela napas panjang, pelanpelan ia mengundurkan diri dari sana, sementara Ong Bun kim masih berdiri kaku di tempat.

"Ong siangkong!"

Tiba-tiba Lan Siok ling maju kedepan.

"mari kita menyembah pedang bersama, entah pedang itu akan meninggalkan sarungnya atau tidak, yang pasti kita adalah sepasang suami istri!"

Ong Bun kim mengangguk, bersama Lan Siok-ling dia melakukan penyembahan pedang sekali lagi, tapi pedang itu masih tetap tidak meninggalkan sarungnya.

Dengan demikian Ong Bun kim mublai merasa agakd putus asa dan akecewa.

Masakahb pedang itu bisa meninggalkan sarungnya?

Mungkinkah berita itu cuma isapan jempol belaka?

Lan Siok ling segera tertawa getir, katanya kemudian.

"Aaaai! Rupanya aku masih belum mempunyai rejeki untuk mendapatkan pedang tersebut"

Selesai berkata, dia mengundurkan diri dari sana. Mendadak Kim Lo sat tertawa dingin, sambil menerjang maju kedepan serunya.

"Ong Bun kim, kau tidak menyangkal bukan kalau kita berdua mempunyai ikatan sebagai suami istri?"

Paras muka Ong Bun kim agak berubah.

"Aku sama sekali tidak bermaksud untuk membatalkan ikatan perkawinan itu"

Serunya.

"Lantas, kenapa kau berulang kali menampik untuk kawin dengan aku? Toh kau juga tahu bahwa ayahmu dan ayahku telah merestui perkawinan ini? Kenapa kau tidak menyanggupi terus?"

"Aku pasti akan menikahimu, tapi bukan sekarang" 00OdwO00 BAB 69 KIM LO-SAT kembali tertawa dingin, katanya.

"Seandainya penyembahan kita menghasilkan pedang itu meninggalkan sarung sejauh tiga inci? Apakah kau segera akan menikah dengan aku?"

"Jadi kau kau hendak mengajakku untuk melakukan penyembahan bersama?"

"Benar, kenapa? Tidak boleh?"

"Tentu saja boleh!"

Walaupun Ong Bun kim berkata demikian.

namun hatinya sangat keberatan, tapi Kim lo sat memang berhak untuk mengajak Ong Bun kim untuk melakukan penyembahan bersama.

Diam-diam Ong Bun kim merasa terkejut, seandainya penyembahan tersebut benar-benar mengakibatkan pedang itu meninggalkan sarung sejauh tiga inci, apa yang harus dia katakan?

Tapi keadaan sudah amat mendesak, mau tak mau terpaksa dia harus keraskan kepala untuk melakukan penyembahan pedang bersama Kim lo sat.

Ketika selesai melakukan penyembahan, hampir melompat keluar jantung Ong Bun kim karena berdebar keras, pelan-pelan dia bangkit berdiri lalu mengalihkan sorot matanya ke altar, ternyata pedang itu masih belum juga bergeser.

Ong Bun kim merasa lega sekali, bagaikan baru saja melepaskan sebuah beban yang sangat berat dan atas bahunya, kontan saja dia menyindir dengan nada dingin.

"Hmm... Mungkin kita memang tabk punya jodoh mdenjadi suami isatri."

Merah padbam selembar wajah Kim Lo sat karena jengah, pelan pelan dia mundur kembali ke belakang.

Sedangkan Ong Bun kim sekalipun dimulut berkata demikian, namun tubuhnya masih tetap berdiri ditempat dengan wajah termangu-mangu.

Ia telah melakukan penyembahan pedang bersama seluruh kekasih yang dimilikinya, tapi pedang itu masih tetap tidak bergeser dari sarungnya, dengan demikian harapan Ong Bun kim untuk memperoleh pedang itupun mulai goyah.

Mungkin ia memang tak berjodoh dengan pedang ini?

Kejadian ini memaksa Tiang seng lojin berubah juga wajahnya, dia lantas menuding sekejap ke arah Yu Cing, kemudian tegurnya.

"Nona Yu, kenapa kau tidak maju ke depan untuk mencoba?"

"Aku ?"

"Benar !"

"Tapi..."

"Tapi kenapa?"

"Aku dengan dia sama sekali...."

"Siapa tahu kalau kau dan Ong Bun kim mempunyai jodoh sebagai suami istri?"

Ucapan ini segera membuat Yu Cing merasakan jantungnya berdebar keras, ia tidak menyangkal kalau secara diam-diam mencintai Ong Bun-kim hanya saja perasaan tersebut tak pernah diutarakan keluar.

Dia tahu kalau dirinya tak pantas untuk mendampingi si anak muda itu, usianya dengan Ong Bun kim selisih cukup besar....

kalau ditotal semua maka dia lebih tua delapan tahun daripada pemuda itu.,., dia adalah seorang perempuan yang telah berusia duapuluh enam tahun.

Beberapa waktu berselang, dia pernah mencoba untuk mengutarakan perasaan cintanya, tapi ia selalu tak punya keberanian untuk mengutarakannya keluar, karena bagaimanapun juga antara dia dengan Ong Bun kim memang berselisih usia yang amat besar.

Seandainya didalam penyembahan pedang nanti pedang Sim kiam benar benar bisa keluar dari sarungnya, maka dia dan pemuda itu akan segera kawin menjadi sepasang suami istri.

Ketika Tiang seng lojin menyaksikan gadis itu hanya membungkam dalam seribu bahasa dia segera berseru kembali.

"Hayo maju kedepan!"

Akhirnya Yu Cing manggut-manggut, dia beranjak dan pelan-pelan maju kedepan.

Ong Bun kim merrasakan jantungntya berdebar kerqas.

Karena dianrtara perempuan-perempuan kenalannya, kini tinggal Yu Cing seorang yang belum melakukan penyembahan bersamanya, mungkinkah antara dia dengan perempuan yang tampak selalu bermuram durja ini mempunyai jodoh sebagai suami istri?

Dalam hati kecilnya dia berharap tidak, karena hutang cintanya dengan perempuan itu cukup banyak.

Sementara itu, Yu Cing telah berada disamping Ong Bun kim, mereka saling bertatapan sekejap tanpa mengucapkan sesuatu, sementara di hati kecil mereka sama-sama mempunyai jalan pikiran demikian.

Seandainya hasil dari penyembahan mereka menghasilkan bergeraknya pedang suci itu dari sarungnya, kejadian ini harus dianggap sebagai suatu peristiwa yang patut digembirakan atau suatu tragedi yang memedihkan hati?

Lama sekali mereka berdua berdiri kaku sambil membungkam, tapi akhirnya mereka menyembah pula dengan hormat, sekalipun ketegangan yang mencekam perasaan mereka hampir saja membuat jantung kedua orang muda-mudi itu melompat keluar dari rongga dadanya.

Tapi ketika mereka bangkit kembali, paras muka kedua orang itu segera berubah hebat.

Pedang suci "Sin kiam"

Masih tergeletak diatas meja tanpa mengalami perubahan apapun, kejadian ini membuat paras muka semua orang agak berubah, sebab secara beruntun Ong Bun kim sudah menyembah kepada pedang itu dengan empat orang gadis, akan tetapi pedang "Sin kiam"

Masih tidak bergeming barang sedikitpun juga.

Apakah ia tak berjodoh untuk memperoleh pedang itu?

Atau diantara ke empat orang gadis itu tak seorangpun diantara mereka yang benar-benar merupakan istrinya?

Berpikir sampai disitu Ong Bun kim menghela napas panjang, ia bersama dengan Yu Cing segera beranjak dan mundur dari depan altar.

Melihat itu, Ciu Li li Buncu dari perguruan San tian bun segera tertawa dingin sindirnya.

"Ong Bun kim! Rupanya kau sendiripun tak punya rejeki untuk mendapatkan pedang tersebut?"

Ong Bun kim merasa agak kecewa dan pipinya bersemu merah, apalagi setelah mendengar sindiran tersebut, sambil tertawa hambar dia mengundurkan diri ke sisi Tiang seng lojin.

"Benar-benar suatu kejadian yang aneh"

Gumam Tang seng lojin dengan perasaan tidak habis mengerti. Ong Bun kim tertawa getir, ujarnya.

"Apakah lantaran pedang itu tidak meninggalkan sarungnya?"

"Benar!"

"Mungkin aku Ong Bun kim memang tak berjodoh untuk mendapatkan pedang tersebut."

"Tidak, bukan kau yang tidak berjodoh, adalah kau yang separuh masih belum ditemukan.

"Tapi. semua perempuan yang kukenal hanya mereka mereka ini!"

"Tidak, masih ada seorang lagi!"

"Siapa?"

Tanya Ong Bun kim tertahan.

"Dia !"

Sambil berkata Tiang seng lojin segera menuding ke Kwan Siok kim yang ada dihadapannya.

Ong Bun-kim merasa terkesiap, betul Kwan Siok-kim amat mencintainya, tapi ia sama sekali tidak mencintai gadis itu.

Dia adalah seorang yang mulia dan baik hati, dia tak tega membuat gadis itu sedih karena cinta, tapi saat ini memang cuma dia seorang yang belum melakukan persembahan bersamanya.

Mungkinkah dia adalah calon istrinya?

Tentu saja kejadian ini agaknya merupakan suatu kejadian yang mustahil dan tak mungkin terjadi."

Sementara Ong Bun kim masih termenung, Kwan Siok kim telah menghampirinya seraya menegur.

"Ong sauhiap, aku ingin bertanya kepadamu"

"Soal apa?"

"Benarkah setiap perempuan yang bisa menyembah pedang denganmu dan menghasilkan pedang itu keluar sepanjang tiga inci dari sarungnya adalah snami istri?"

"Benar !"

"Bolehkah aku untuk mencobanya bersamamu?"

"Kau ?"

"Benar aku! Sebenarnya aku bukan datang untuk menyembah pedang, tapi sekarang aku ingin mencoba, siapa tahu kalau aku adalah istrimu yang benar."

Ong Bun kim tertawa getir, ia tak dapat melukiskan bagaimanakah perasaannya saat ini, namun ia tak bisa menampik ajakannya itu terpaksa sambil menggigit bibir dia maju kedepan.

Kwan Siok kim mengikuti dibelabkang Ong Bun kidm tampil ke depaan, ketika tibab lima depa didepan altar, kedua orang itu segera menghentikan langkahnya.

Kali ini adalah harapan paling akhir dari Ong Bun kim, jika kali ini diapun gagal untuk membuat pedang Sin kiam keluar dari sarungnya, berarti dia memang tak berjodoh dengan pedang tersebut.

Lama sekali mereka berdiri dengan mulut membungkam, tapi akhirnya dua orang itu menyembah juga dengan penuh rasa hormat.

Mendadak...

Pada saat kedua orang itu sedang melakukan persembahan, para jago lihay yang berada dalam ruang itu sama-sama menjerit kaget.

"Lihat ! Pedang itu sudah mulai bergeser dari sarungnya."

"Yaa, benar, sudah bergeser tiga inci...."

Suasana gaduh membuat ruangan itu menjadi kacau balau tak karuan.

Ketika mendengar suara tersebut, Ong Bun kim merasakan dadanya seperti dipukul dengan martil berat, matanya menjadi berkunang-kunang dan kepalanya pusing tujuh keliling, untuk beberapa saat lamanya ternyata ia tak sanggup untuk berdiri.

Peristiwa ini benar-benar menggetarkan perasaannya, membuat ia terkejut dan seperti tak percaya, ternyata pada penyembahannya bersama Kwan Siok kim pedang Sin kiam benar-benar bergeser sejauh tiga inci dari sarungnya.

Kwan Siok kim akan menjadi istrinya yang sah...

kejadian ini sungguh merupakan suatu kejadian yang diluar dugaan.

Berada dalam keadaan begini, Ong Bun kim tak tahu harus merasa terkejutkah atau gembira, dengan termangumangu dia berdiri ditempat, lama sekali ia baru menegakkan badannya dan memandang ke arah altar.

Benar juga pedang Sin kiam telah bergeser sejauh tiga inci dari sarungnya, cahaya tajam yang berkilauan memancar ke empat penjuru dan menerangi seluruh ruangan.

Ong Bun kim terkesiap.

Ditengah jeritan kaget dari puluhan orang jago lihay yang hadir dalam ruangan itu, dia merasa terkejut pula karena tidak menyangka akan benar-benar menjadi pemilik pedang Sin kiam.

Kwan Siok kim merasakan kegembiraan yang tak terlukiskan dengan kata-kata, serunya dengan rasa kejut bercampur girang.

"Ong sauhiap, kita benar benar berhasil menggeserkan pedang itu dari sarungnya..."

Agaknya Ong Bun kim tak dapat bmenampilkan sendyuman yang menuanjukkan rasa gibrang dan kaget, dia cuma memandang sekejap kearahnya, ketika menjumpai paras mukanya yang berseri karena gembira, dia cuma dapat membalasnya dengan sekulum senyuman getir.

"Ditengah kegaduhan, Giok bin hiap Yu Tiong berseru dengan suara yang dalam dan berat.

"Harap kalian semua tetap tenang!"

Lambat laun kegaduhan bisa teratasi dan suasana menjadi tenang kembali, berpuluh-puluh pasang mata serentak dialihkan kewajah Ong Bun kim serta Giok Bin hiap.

"Aku merasa sangat gembira menyaksikan pedang Sin kiam milik guruku telah menemukan pemilik barunya"

Demikian Giok bin hiap berkata dengan suara dalam.

"semoga benda itu bisa menjunjung tinggi keadilan dan melenyapkan segala kesesatan dari muka bumi, agar umat persilatan bisa hidup aman dan tenteram serta harapan guruku terkabulkan."

Setelah terhenti sejenak, dia berkata kembali.

"Dibawah cahaya suci dari Sin kiam, kalian secara resmi sudah menjadi sepasang suami istri."

Ong Bun kim tak dapat mengutarakan bagaimana perasaannya pada saat ini, harus girangkah atau sedih? Giok bin hiap telah mengangkat pedang Sin kiam itu dari atas meja, kemudian bertanya.

"Ong Bun kim. siapa nama nona itu?"

"Kwan Siok kim."

"Mulai detik ini kuserahkan pedang Sin kiam milik guruku ini kepada kalian, semoga kau dapat menciptakan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia didunia ini, silahkan ke mari untuk menerima pedang!"

Ong Bun kim melangkah kedepan, baru saja Giok bin hiap hendak menyerahkan pedang itu ke tangan Ong Bun kim, tiba-tiba terdengar Buncu dari perguruan San tian bun membentak keras.

"Tunggu sebentar !"

Bentakan dari Ciu li-li, ketua dari perguruan San tian bu ini jauh diluar dugaan siapapun, untuk sesaat semua orang menjadi tertegun, sinar mata merekapun bersama-sama dialihkan kewajahnya.

"Buncu, ada petunjuk apa yang hendak kau sampaikan?"

Tegur Giok bin hiap ketus. Dengan suara yang tak kalah dinginnya Ciu Li li bertanya.

"Kau maksudkan mereka adalah sepasang suami istri yang ideal maka mereka berhak memperoleh pedang mestika itu?"

"Benar !"

"Kalau aku mohorn untuk melakuktan penyembahan qpedang sekali lragi dengan Ong Bun kim, apakah hal ini tak boleh?"

Tanpa sadar semua orang menjerit bersama, sebab perkataan itu sama sekali diluar dugaan siapapun. Tapi Ciu Lili tetap berkata dengan suara dingin.

"Aku minta untuk melangsungkan penyembahan terhadap pedang suci itu sekali lagi bersama Ong Bun kim!"

"Ciu buncu, sesungguhnya apa maksudmu?"

Bentak Giok bin hiap agak naik darah.

"Siapa tahu kalau aku dan Ong Bun kim sesungguhnya adalah sepasang suami istri!"

Selapis hawa napsu membunuh yang sukar dilukiskan dengan kata-kata segera menghiasi wajah Ong Bun kim, dampratnya.

"Betul-betul perempuan yang tak tahu malu, kau masih belum pantas !"

"Pantas atau tidak, pedang Sin kiam bisa memutuskannya, jika tidak berbuat demikian siapa yang bakal merasa puas?"

Ciu Lili ketua-dari perguruan San tian bun ini benarbenar seorang perempuan yang tak tahu malu, lebih tak disangka kalau dia adalah seorang perempuan jalang, meski usianya sudah mencapai empat puluh, namun ia masih mampu untuk mengucapkan kata-kata seperti itu..

Yang lebih celaka lagi, justru dengan perbuatannya ini bukan saja telah memalukan Ong Bun kim, otomatis diapun mencemooh kesucian pedang Sin kiam tersebut, hal mana membuat, para jago yang hadir dalam ruangan pun menunjukkan sikan gusar.

Lebih-lebih Iagi Ong Bun kim, saking marah dan penasarannya dia sampai tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

"Bagaimana?"

Ejek Buncu dari perguruan San-tian bun itu sambil tertawa dingin.

"Apakah kau Ong Bun kim merasa takut?"

"Apa yang masti kutakuti?"

"Takut kalau pedang Sin kiam akan mengikat kita berdua sebagai suami istri?"

"Ciu Li li!"

Hardik Ong Bun kim penuh kegusaran.

"kau berani mencemooh kesucian pedang Sin kiam?"

"Aku berbicara kenyataan, tidak bermaksud mencemooh siapapun!"

"Ciu Li li bila aku berhasil mendapatkan pedang Sin kiam, orang pertama yang akan kubunuh lebih dulu adalah kaul"

"Kalau kita akan mengikat diri menjadi suami istri?"

"Kentut busuk, kejadian ini tak mungkin bisa berlangsung,"

"Tak mungkin? Kalau kau beranggapan hal ini tak mungkin, kenapa kau tak berani untuk melangsungkan penyembahan sekali lagi bersama ku?"

Hampir meledak dada Ong Bun kim saking gusarnya, sambil menggigit bibir serunya, kemudian.

"Baik, aku akan melakukan penyembahan sekali lagi bersamamu!"

Kesanggupan dari Ong Bun kim ini pun sama sekali diluar dugaan siapapun, dengan wajah penuh kegusaran Giok-bin hiap menyarungkan kembali pedang suoi itu dan diletakkan kembali keatas altar.

Sementara itu.

Ciu Li li sudah berjalan ke samping Ong Bun kim, sedangkan Ong Bun kim sendiri sedemikian benci dan marah-nya kepada perempuan jalang itu, sehingga kalau bisa dia hendak menghajar perempuan itu sampai mampus, sehingga semua rasa benci dan dendamnya dapat terlampiaskan.

Tapi dia tidak melakukan perbuatan itu, sebab berada dihadapan pedang Sin kiam, dia tak dapat melakukan perbuatan semacam ini "Ong Bun-kim, hayo kita melakukan penyembahan!"

Seru Ciu Li li sambil tertawa dingin.

Sambil menggigit bibir, terpaksa Ong Bun kim melakukan penyembahan sekali lagi bersama Ciu Li li.

Tiba-tiba berkumandang suara tertawa dingin dari kerumunan para jago yang berdiri disisi kalangan.

Ketika dia mendongakkan kepalanya, ternyata pedang sin-kiam itu sama sekali tidak bergeser dari sarungnya.

Ong Bun kim segera tertawa dingin, ejeknya.

"Benarkah kita adalah suami istri?"

"Ciu Li li, kau sudah puas "

Bentak Giok bin hiap pula.

Belum lagi ucapan tersebut selesai diucapkan, tiba-tiba berkumandang suara bentakan keras yang amat memekikkan telinga dalam ruangan itu.

Tiba-tiba Ciu Li-li melompat maju ke depan, sepasang jari tangan kanannya secepat kilat disodok ke depan menghajar jalan darah ditubuh Ong Bun kim.

Serangan dari Ciu Li li ini betul-betul kelewat keji dan licik sama sekali diluar dugaan siapapun.

Dalam keadaan tidak bersiaga, mana mungkin si anak muda itu menghindarkan diri?

oooooOdwOoooo BAB 70 DENGUSAN tertahan berkumandang memecahkan keheningan.

robohlah pemuda itu keatas tanah.

Dengan suatu gerakan yang cepat, Ciu Li-li menyambar tubuh Ong Bun kim dan memeluknya ke dalam rangkulan.

Jelas semua tindakan tersebut dilakukan Ciu-Li li dengan suatu perencanaan yang matang sebab sesuatunya berlangsung amat cepat dan sangat teratur..Kwan Siok kim yang menyaksikan kejadian itu segera membentak keras penuh kegusaran.

"Lepaskan dia!"

Telapak tangan kanannya diayunkan kedepan sebuah pukulan dahsyat telah dilontarkan kemuka.

Serangan yang dilancarkan Kwan Siok kim ini dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa, Ciu Li-li tak mengira Kwan Siok kim bisa melepaskan pukulan secepat itu, buruburu dia berkelit ke samping, Baru saja Ciu Li-li menghindar kesaniping serangan kedua dari Kwan Siok kim tahu-tahu sudah meluncur lagi dengan kecepatan tinggi, kehebatannya sukar dilukiskan dengan kata kais.

Oleh karena terdesak dan tak mungkin bagi Ciu Li-li untuk menghindarkan diri dari ancaman tersebut tanpa terasa ia membentak keras.

"Berhenti! Apakah kau sudah tidak menghendaki lagi selembar jiwa Ong Bun kim?"

Dengan telapak tangan kanannya dia tangkis serangan itu dengan keras lawan keras.

"Blaam!"

Akibatnya Ciu Lili terhuyung-huyung sejauh tujuh-delapan langkah sebelum bisa berdiri tegak lagi.

Sedangkan Kwan Siok kim sendiripun ikut terdorong mundur sejauh lima enam langkah.

Dengan geramnya Ciu Lili membentak.

"Jika kau berani turun tangan lagi, segera kubunuh dirinya."

"Kau berani?"

Teriak Kwan Siok kim.

"Berani atau tidak, silahkan turun tangan lagi untuk mencoba sendiri"

Saking gusarnya sekujur badan Kwan Siok kin gemetar keras, tapi diapun tak berani sembarangan turun tangan, kalau tidak, bukan suatu pekerjaan yang terlalu sulit bagi Ciu Li-li jika dia ingin melenyapkan selembar nyawa Ong Bun kim.

"Ciu Buncu!"

Tiba-tiba Giok bin hiap membentak keras.

"kau berani bertingkah disini."

"Bertingkah?"

Ciu Li li segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, kenapa aku tak berani bertingkah?"

"Dihadapan pedang suci Sin-kiam, kau juga berani bermain kasar?"

"Kenapa tidak berani?"

"Lepaskan dia"

"Kalau aku menolak, mau apa kau?"

Ejek Ciu Lili sambil tertawa dingin tiada hentinya.

"Akan kubunuh dirimu!"

Sekali lagi Ciu Li li tertawa dingin.

"Kalau kau berani turun tangan, maka orang pertama yang akan mampus lebih dulu adalah si pemilik pedang itu!"

Ucapan tersebut diutarakan dengan mengandung hawa napsu membunuh yang amat tebal sehingga kedengarannya sangat menggidikkan hati siapapun, terhadap ancaman itu.

untuk sesaat Giok bin-hiap sendiripun tak berani turun tangan secara gegabah.

Ciu Lili mengejek sinis, diiringi suara tertawa dingin yang tak sedap didengar, ujarnya pada dua orang anggota perguruannya.

"Hayo kita pergi."

Selesai berkata, dia lantas beranjak lebih dulu meninggalkan ruangan Tat mo wan tersebut.

Menyaksikan Ciu Li li akan melangkah pergi dari situ, tanpa disadari Yu Cing, Lan Siok ling, Bunga iblis dari neraka dan Kwan Siok kim bersama-sama maju pula ke depan untuk menghadang jalan perginya.

"Mau apa kalian?"

Bentak Ciu Li li gusar.

"Ciu Lili, lebih baik lepaskan orang itu dari dukunganmu!"

Bentak Yu Cing dengan suara dingin.

"Kalau enggan, mau apa kau?"

"Jangan harap kau bisa keluar dari sini!"

Ciu Li li segera tertawa dingin.

"Oooh kalau soal itu mah aku tak kuatir toh Ong Bun kim masih berada ditanganku"

"Kau benar-benar tak mau melepaskannya?"

Bentak Kwan Siok kim lagi dengan suara keras.

"Benar."

Baru saja kata-kata itu melompat keluar dari bibirnya, Kwan Siok kim telah membentak keras, bayangan putih terasa berkelebat lewat, tahu-tahu ia sudah menerjang kehadapan Ciu Li li sambil melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Serangan ini dilancarkan Kwan Siok kim dengan mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya, bukan saja ganas dan cepat, lagi pula membawa kekuatan penghancur yang luar biasa.

Ciu Li li membentak keras sebuah pukulan segera dilepaskan pula untuk membendung datangnya ancaman tersebut.

Pada saat Ciu Li li melepaskan pukulan untuk menangkis datangnya cecaran dari Yu Cing, Lan Siok ling serta Bunga iblis dari neraka bersama-sama maju ke muka sambil melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Ditengah berkelebatnya bayangan bayangan manusia, Ciu Li li menjerit kesakitan, ia sudah termakan oleh pukulan dari Kwan Siok kim itu secara telak, tubuhnya segera mundur sejauh satu kaki lebih dengan sempoyongan.

Tiba-tiba berkumandang suara dengusan tertahan, menyusul suara tumpahan yang keras, darah kental bermuncatan keluar dari mulut Ong Bun kim sehingga mengotori seluruh wajah dan pakaiannya.

Dengan suara keras menyeramkan, Ciu Li-li ketua dari perguruan San tian bun itu mengancam.

"Kalau kalian berani turun tangan lagi, jangan salahkan kalau aku benar-benar akan membunuhnya lebih dahulu!"

Setelah diancam demikian, tak seorangpun berani turun tangan lagi secara gegabah, mereka saksikan Ong Bun kim memejamkan matanya rapat-rapat dengan wajah pucat pias setelah muntah-muntah darah tadi.

"Hayo menyingkir!"

Bentak Ciu Lili.

Banyak orang orang kena digertak, sehingga tanpa sadar mereka bersama-sama mengundurkan dirinya dari situ.

Ciu Li li tertawa dingin, sambil mengempit tubuh Ong Bun kim, dia melangkah keluar dari ruang Tat mo wan dan melanjutkan perjalanannya menuju keluar kuil.

Tapi sesosok bayangan hitam berkelebat lewat tahu-tahu Giok bin hiap telah menghadang di hadapannya.

"Ada apa kau? Kau masih ingin melancarkan serangan?"

Bentak Ciu Li li dengan suara keras.

"Ciu buncu kau benar benar tak mau melepaskan dirinya?"

Bentak Giok bin hiap sambil memegang gagang pedang Sin kiam.

"Tidak sulit kalau menginginkan aku untuk lepas tangan, tapi ada dua syarat yang harus dipenuhi!"

Kata Ciu Li li sinis.

"Apa syaratmu? Cepat katakan!"

"Pertama, berikan Sin kiam itu beserta kitab pelajaran ilmu pedangnya kepadaku!"

"Kedua?"

Tanya Giok bin hiap.

"Sebelum kami keluar dari tempat ini, dilarang turun tangan terhadap kami."

Giok bin biap segera mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.

"Haaahh.... haaahh....haaahh kalau aku tak bisa memenuhi keinginanmu?"

Itu serunya.

"Yaa apalagi? Jika kau berani turun tangan, maka akan kusalurkan tenaga pukulanku ke tubuh Ong Bun kim akibatnya dia akan mampus seketika ini juga."

Dibawah ancaman demikian ini sudah barang tentu Giok bin hiap tak berani sembarangan turun tangan.

"Kukabulkan permintaanmu itu!"

Tiba-tiba Kwan Siok kim berkata.

"Apa?"

Jawaban dari gadis itu amat mencengangkan semua orang, sehingga tanpa teresa mereka menjerit bersama.

"Kukabulkan syaratmu inu"

Ulang Kwan Siok kim dengan suara yang dalam dan berat. Hampir saja Ciu Li Ii tidak percaya dengan pendengarannya sendiri untuk sesaat lamanya dia malah berdiri tertegun ditempat.

"Pedang suci Sin kiam mana boleh dibiarkan terjatuh ke tangannya ?"

Protes Giok bin hiap segera.

"Demi keselamatan Ong Bun kim terpaksa kita harus berbuat demikian..."

Ucap Kwan Siok kim dingin.

"Tapi kalau aku tidak serahkan pedang Sin-kiam ini kepadamu, bagaimana caranya kau dapat serahkan benda ini kepada perempuan itu?"

Paras muka Kwan Siok kim segera berubah.

"Locianpwe!"

Karanya.

"kau tak usah turut campur, pedang Sin kiam itu bukan milikmu, tapi telah kudapatkan bersama Ong Bun kim"

Perkataan dari Kwan Siok kim ini segera disambut dengan perubahan wajah dari Giok bin hiap, untuk sesaat lamanya dia malah tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Benar seperti apa yang dikatakan, pedang Sin-kiam itu telah didapatkan oleh Kwan Siok kim, dia berhak untuk menentukan nasib pedang mestika tersebut.

"Locianpwe serahkan pedang Sin kiam itu kepadaku!"

Setu Kwan Siok-kim dingin. Giok bin hiap menghela napas pbanjang.

"Aaai..d.! Kenapa dalama surat wasiat gburumu tidak ditulis kejadian yang bakal berlangsung hari ini? Sudah, sudahlah akan kuserahkan pedang Sin-kiam dan kitab pelajarannya kepadamu!"

Seraya berkata, dia menyerahkan pedang mestika dan kitab pelajaran ilmu pedang itu ke tangan Kwan Siok kim.

Setelah menerima kedua benda mestika tersebut, Kwan Siok kim segera mengalihkan sorot matanya ke wajah Ciu-Li-li yang memakai kain cadar itu, kemudian serunya ketus.

"Ciu buncu, bila kuserahkan kedua benda ini kepadamu, apakah kau akan lepaskan Ong Bun kim?"

"Tentu saja!"

Jawab Ciu Li li sambil tertawa bangga.

"Kalau memang demikian, serahkan dulu Ong Bun kim kepadaku!"

"Serahkan barang lebih dulu, kemudian baru kuserahkan orangnya."

"Kalau kau ingkar janji?"

Tanya Kwan Siok kim "Kujamin dengan nama baikku!"

"Huuh! Kalau kau Ciu Buncu masih punya nama baik, tak nanti kau lakukan perbuatan terkutuk seperti ini, lebih baik serahkan dulu Ong Bun kim kepadaku, percayalah aku tak akan mengingkar janji."

Belum selesai perkataan dari Kwan Siok kim itu, mendadak dari luar pintu sudah berkumandang suara seruan yang berat dan dalam.

"Tolong tanya, siapakah diantara kalian yang bernama Ong Bun kim?"

Suara tersebut muncul secara tiba-tiba, segera hal itu mengejutkan semua jago yang ada disana sorot mata mereka bersama-sama dialihkan-keluar pintu.

Tampaklah seorang pemuda tampan yang bertubuh kekar, berusia dua puluh enam-tujuh tahun dan mengenakan jubah berwarna abu-abu melangkah masuk kedalam arena.

Kehadiran yang tak terduga dari pemuda itu, sekali lagi membuat semua jago menjadi tertegun.

"Tolong tanya siapa yang bernama Ong Bun kim?"

Sekali lagi pemuda tampan berbaju abu-abu itu bertanya.

"Kau sedang mencarinya?"

Tegur Giok-bin hiap kemudian.

"Benar, apakah dia berada disini?"

"Yaa. dia adalah saudara yang ditawan oleh Ciu Buncu itu!"

Sorot mata pemuda berbaju abu-abu itu segera dialihkan ke atas ke wajah Ciu Li-li yang tertutup oleh kain cadar itu, kemudian sorot matanya dialihkan ke wajah Ong Bun kim yang berada ditangannya.

"Diakah yang bernbama Ong Bun kimd?"

Kembali pemuada itu bertanyab.

"Betul!"

Jawab Ciu Li li sinis.

"ada urusan apa kau datang mencarinya ?"

Pemuda berbaju abu-abu itu mengernyitkan alis matanya, seolah-olah sedang mempertimbangkan sesuatu.

Apa yang sedang ia pikirkan?

Tentu saja semua jago tak ada yang tahu, bahkan merekapun tahu siapa gerangan pemuda berbaju abu-abu ini?

Dan apa maksudnya mencari Ong Bun kim?

"Nona!"

Terdengar Ciu Li li menegur kembali "sebenarnya kau bersedia untuk bertukar syarat atau tidak?"

"Tentu saja setuju, cuma kau harus menyerahkan dulu Ong Bun kim kepada kami"

"Kalau begitu, transaksi kita ini tak bisa dilangsungkan lagi, bila kau mau serahkan dulu barang itu, aku pasti akan mengembalikan Ong Bun kim kepadamu!"

Saking jengkelnya, Kwan Siok kim harus menggertak giginya kencang kencang, setelah sangsi sejenak, akhirnya dia berkata juga.

"Baiklah, akan kuserahkan dulu kedua benda ini, nah sambutlah!"

Seraya berkata dia lantas melemparkan pedang Sin kiam, dan kotak besi berisikan kitab pusaka itu ke tangan Ciu Li li. Sesudah barang mestika itu diterima lawan, kembali Kwan Siok kim membentak.

"Hayo serahkan orang itu kepadaku!"

Ciu Li li lertawa dingin.

"Tentu saja aku akan serahkan orang ini kepadamu, tapi kalian jangan lupa dengan syaratku yang kedua!"

Seraya berkata dia melemparkan tubuh Ong Bun kim ke arah Kwan Siok kim.

Berbareng dengan melemparkan tubuh Ong Bum kim itu, secepat kilat Ciu Li li melompat keluar dari ruangan itu.

Tapi sebelum tubuh Ciu Li li melangkah keluar dari pintu, berkumandang suara tertawa dingin yang memekikkan telinga, kemudian muncullah beberapa sosok bayangan manusia yang segera membendung sekeliling pintu gerbang tersebut.

Tanpa terasa Ciu Li li menghentikan gerakan tubuhnya, sementara ke tiga sosok bayangan abu-abu itupun telah tiba didepan pintu.

Tampaklah orang yang berada dipaling depan adalah seorang kakekk kurus kering berkumis panjang yang duduk diatas sebuah kursi, orang itu tak lain adalah Yu leng lojin dari perguruan tanpa sukma.

Dirbelakangnya bertdiri dua orang qjago yakni Dewir mawar merah serta wakil ketua perguruannya.

Akhirnya Yu leng lojin munculkan diri juga ditempat itu.

Sambil tertawa panjang dengan nada yang dingin menyeramkan, dia segera berseru.

"Oooh apakah pertemuan Pay kiam telah diselenggarakan? Jadi pun-buncu telah datang terlambat?"

Tiang seng lojin tertawa terbahak-bahak, selanya.

"Siok buncu, masih kenal dengan Iohu?"

Yu-leng lojin mengalihkan sorot matanya ke wajah Tiang seng lojin, kemudian kembali ia tertawa seram.

"Haaahhh haaahhh haaahhh sungguh tidak kusangka kalau kaupun berhasrat untuk ikut memperebutkan pedang sakti Sin kiam tersebut."

Katanya.

"Betul, tapi sayang kedatangan Siok buncu agak terlambat!.. Mendengar itu, paras muka Yu leng lojin segera berubah hebat.

"Maksudmu, pedang Sin kiam tersebut telah didapatkan orang lain "

Teriaknya.

"Benar".

"Didapatkan siapa?"

"San tian Buncu"

"Apa?". Yu leng lojin dan Kwan Siok kim hampir bersamaan waktunya menjerit kaget. Kalau yang satu merasa diiuar dugaan maka yang lain merasa amat terperanjat hingga detik itu Kwan Siok kim baru tahu kalau Ciu Buncu tersebut sesungguhnya bukan lain adalah ketua perguruan San tian-bun yang telah menyelakai ayah ibunya selama ini. Semenjak dia muncul dalam ruangan itu, belum ada seorang manusiapun yang mengatakan bahwa Ciu Li li adalah ketua dan perguruan dari San tian-bun, itulah sebabnya setelah mendengar perkataan itu, kontan wajahnya diliputi oleh hawa napsu membunuh yang sangat tebal.

"Jadi kaulah yang bernama ketua perguruan San tian bun?"

Hardiknya.

"Benar!"

"Jadi kau juga orang yang memikat ayahku serta mencelakai ibuku Kwan Siau ciu?"

Ucapan tersebut ibaratnya suara guntur yang menggelegar disiang hari bolong, seketika itu juga membuat Ciu Li-li merasa terkesiap dan tertegun, sampai lama sekali dia baru bisa berbicara.

"Kau kau adalah putrinya Kwan Siau-ciu?"

"Benar."

"Sungguh kejadian ini merupakan suatu peristiwa yang di luar dugaanku, cuma saat ini kau tak bisa turun tangan kepadaku!"

Tiba-tiba Yu leng lojin tertawa dingin katanya.

"Ciu buncu, kau juga mengerti bahwa pedang Sin kiam adalah sebilah senjata mestika yang sudah lama kukagumi, sekarang aku telah muncul ditempat ini, sudah sewajarnya kalau kau tunjukkan dulu benda itu kepadaku, sebab aku ingin tahu sesungguhnya berbentuk macam apakah pedang yang dinamakan pedang Sin kiam tersebut."

Semenjak kemunculannya Yu leng lojin yang seram dan misterius itu tersebut, seluruh hadirin yang berada dalam ruangan Tat mo wan telah dibikin ngeri dan bergidik rasanya, apalagi setelah mengetahui kalau kehadirannya ditempat itu adalah demi pedang Sin kiam, hal mana semakin membuat bau orang kebat-kebit rasanya.

Dan kini dia telah mengutarakan kata-kata yang jumawa sekali nadanya, dari ucapan tersebut bisa diketahui bahwa ia sudah bertekad untuk mendapatkan pedang Sin kiam tersebut walaupun dengan cara apapun juga.

Ciu Li li balas tertawa dingin lalu menegur.

"Jadi kaulah yang bernama Yu leng Iojin ketua dari perguruan Yu leng bun."

"Benar, aku pikir buncu pasti bersedia bukan untuk meminjamkan pedang itu kepadanya?"

"Heeeh heehh heeehh seandainya aku keberatan untuk meminjamkan kepadamu?"

Jengek Ciu Li li sambil tertawa dingin.

oooOdwOooo BAB 71 AKU pikir Ciu buncu bukan seseorang yang tidak berperasaan semacam itu, jadi kau pasti bisa mengambil suatu kebijaksanaan dengan meminjamkan pedang itu kepadaku, betul bukan?"

"Sayang sekali aku bukan termasuk orang bijaksana seperti yang kau lukiskan itu, aku enggan meminjamkan kepadamu, sekarang mau apa kau?"

"Tidak mau meminjamkan kepadambu?"

"Betul, tiddak akan kupinjaamkan kepadamu."

Yu leng lojin segera tertawa seram, suara tertawanya itu mengerikan sekali, membuat bulu kuduk orang pada berdiri semua saking seramnya mendengar suata itu.

Rupanya ketua dari perguruan San tian bun, Ciu Li li juga menyadari bahwa ia telah menghadapi seorang musuh yang amat tangguh, dalam waktu singkat hawa murninya segera dihimpun menjadi satu didalam tubuh dan bersiap sedia untuk melangsungkan suatu pertarungan mati matian melawan Yu leng lojin.

Situasi di arena menjadi sangat tegang, selapis hawa napsu membunuh yang tebal segera menyelimuti sekeliling tempat itu.

Yu leng lojin menarik kembali senyuman yang menghiasi wajahnya itu, kemudian berkata.

"Kalau begitu, Buncu telah bersiap-siap untuk turun tangan sendiri menghadapi aku?"

"Benar!"

"Apa sih gunanya kita harus bertarung? Pertarungan diantara kita berdua sesungguhnya sangat tidak bermanfaat, karena bagimu juga bagiku hal tersebut bukanlah sesuatu kejadian yang menguntungkan.."

"Bila kau tidak ingin mencari gara-gara denganku, lebih baik cepatlah enyah dari sini."

Yu leng lojin kembali tertawa terkekeh-kekeh dengan seramnya.

"Heeehhh heeehhh heeehhh Ciu Buncu, kalau begitu jangan kau salahkan lagi jika aku akan bertindak keji terhadap dirimu!"

Belum selesai mengucapkan kata-kata tersebut, nampak berkelebat lewat, tubuh berikut kursinya tahu-tahu telah melayang ketengah udara dan langsung menyerang ke tubuh Ciu Li li.

Serangan yang dilancarkan Yu leng lojin ini bukan saja dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa, dibawah sergapan kilat dari Yu-leng lojin, secepat kilat Ciu Li li melepaskan-pula sebuah serangan balasan yang tak kalah hebatnya.

Kedua belah pihak sama-sama menyerang dengan kecepatan luar biasa, diantara berkelebatnya bayangan manusia, tahu-tahu tubuh Ciu Li li telah mundur kembali kebelakang, sementara Yu-leng Iojin sekali lagi melanjutkan terjangannya kemuka sambil melepaskan serangan secara beruntun.

Sekalipun Yu leng lojin hanya seorang kakek yang lumpuh kakinya, namun serangan yang dilancarkan olehnya itu boleh dibilang memiliki kecepatan yang sama sekali tidak berada di bawah kecepatan Ciu Li li.

Dalam waktu singkat ia telah melancarkan kembali tiga buah serangan berantai.

Sementara itu, Tiang-seng lojibn telah menarikd kembali perhataiannya dari perbtarungan yang sedang berlangsung ditengah arena itu, kemudian mengalihkan perhatiannya ke atas wajah Ong Bun kim.

Dilihatnya napas si anak muda itu sudah amat lemah sekali, jelas sudan termakan oleh serangan berat Ciu Li li.

Dia menggigit bibirnya menahan pergolakan emosi dalal hatinya, lalu mengalihkan kembali sorot matanya ke tengah arena, dia beranggapan bahwa membiarkan Ciu Li-li dan Yu leng lojin melangsungkan suatu pertarungan matimatian, merupakan kejadian yang sangat menguntungkan sekali bagi pihak mereka.

Mendadak....terdengar bentakan nyaring menggelegar di udara, tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, kemudian dua sosok bayangan manusia itupun saling berpisah satu dengan lainnya.

Yu leng lojin tertawa dingin, katanya.

Ilmu silat yang dimiliki Ciu Buncu benar-benar luar biasa sekali, sungguh membuat aku merasa amat kagum"

"Ilmu silat yang dimiliki So buncu juga lihay sekali, mungkin tiada tandingannya lagi dalam dunia ini."

Sambung Ciu Li li dengan nada setengah mengejek.

"Ciu buncu, benarkah kau hendak mengajakku antuk melangsungkan suatu pertarungan yang akan menentukan mati hidup kita berdua?"

"Benar, kecuali kalau pada saat ini juga kau bersedia pergi meninggalkan tempat ini "

Yu leng lojin segera memperdengarkan laara tertawanya yang geram sekali.

"Heeaah heeeh .....buncu..... jelas hal ini tak mungkin bisa kulakukan..."

"Jikalau memang tak bisa kau lakukan, lebih baik kita teruskan saja dengan suatu pertarungan."

Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba tubuh Yu leng lojin telah melejit ke tengah udara dan menerjang kehadapan Ciu Li li dengan kecepatan luar biasa, segulung desingan angin dingin yang menggidikkan hati langsung berhembus lewat dan menerpa ke atas dadanya.

Ciu Li li cukup menyadari akan kelihayan musuhnya, sekarang dia pun sudah berhasrat untuk melakukan pertarungan mati-matian untuk mempertahankan pedang mestikanya itu.

Maka begitu Yu leng lojin menerjang datang sambil melancarkan serangan kilat, cepat-cepat tubuhnya berputar bagaikan gasingan, lalu secara beruntun melepaskan juga dua buah serangan berantai.

Serangan demi serangan yang dilakukan ke dua belah pihak sama-sama cepatnya dan sama-sama hebatnya, sungguh merupakan suatu tontonan gratis yang menarik hati.

Agaknya didalam hati masing-masing sudah mempunyai perhitungran sendiri-sendiri, jika pertarungan itu tidak segera diselesaikan secara cepat, bukan saja Sin kiam tersebut tak akan berhasil mereka dapatkan, bisa jadi akan berakibat terlukanya kedua belah pihak.

Sementara Yu leng lojin dan Ciu Li-ii sedang melangsungkan pertarungan sengit ditengah arena, Yu Cing yang berada di sisi arena telah mengawasi terus Giok bin hiap yang berada disisi altar dengan pandangan mata tak berkedip.

Pada saat itulah dia telah maju menahan dirinya, kemudian berbisik.

"Ayaah...!"

Panggilan itu sangat menggetarkan perasaan Giok bin hiap, dengaa perasan terkejut bercampur girang, dia berpaling dan mengawasi anak gadisnya itu, suatu perasaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata timbul dalam hati kecilnya, tanpa disadari titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya..

"Baik-baiklah ibumu?"

Tanyanya lirih.

"Dia... Dia masih berada dalam keadaan baik-baik, cuma setiap hari selalu merindukan dirimu..."

"Aku telah berbuat salah kepadanya..."

"Oooh ayah, hal ini tak bisa menyalahkan dirimu !"

"Kau....kau sudah dewasa sekarang... tentunya sudah berumur dua puluh tahun lebih bukan ?"

Dengan perasaan yang sangat terharu ia memeluk putrinya ke dalam rangkulan serta merangkulnya erat-erat.

Yu Cing tak dapat menahan rasa sedihnya lagi, ia menangis tersedu-sedu dalam pelukan ayahnya.

Sementara itu, dipihak lain Tiang seng lojin telah menghampiri si pemuda berbaju abu-abu itu, setelah memberi hormat dia pun menyapa.

"Selamat berjumpa engkoh cilik."

"Selamat berjumpa Locianpwe!"

Buru buru pemuda berbaju abu-abu itu membalas hormat.."Benarkah kau hendak mentari Ong Bun kim ?"

"Benar!"

"Boleh aku tahu, ada urusan apa kau mendari dirinya?"

"Oooh....tidak ada urusan apa-apa, aku cuma datang untuk menyampaikan suatu titipan saja !"

"Suatu titipan apa?"

"Benar!"

"Entah engkoh cilik hendak menyerahkan titipan dari siapa kepadanya ?"

"Tay khek Cinkun !"

"Apa? Titipan dari Tay khek Cinkun? Jadi mereka... mereka belum mati?"

"Yaa, mereka belum mati."

"Mengapa? Sekarang mereka berada dimana?"

"Menurut penuturan mereka berdua, katanya mereka berdua bersama Ong Bun kim telah mendatangi perguruan San tian bun, tapi kemudian mereka bersama Oag Bua kim dihantam oleh ketua dari perguruan San tian bun itu sehingga terjatuh kedalam jurang yang berpuluh-puluh ribu kaki dalamnya itu."

"Lantas mengapa mereka tak sampat mati?"

"Dibawah jurang terdapat sebuah sungai itulah yang menyebabkan mereka tak sampai tewas, ketika terbawa arus sampai hilir mereka telah berjumpa denganku dan kutolong mereka naik ke atas daratan, waktu itu luka yang mereka derita parah sekali, mustahil buat kedua orang itu untuk muncul kembali ke dalam dunia persilatan dan mencari kabar tentang Ong Bun kim masih hidup atau tidak?"

"Tapi keadaan mereka pada saat ini sudah tidak terlalu menguatirkan bukan?"

Tanya Tiang seng lojin dengan cemas.

"Oooh, tidak mengapa! Asal beristirahat beberapa waktu lagi. niscaya kesehatan badan mereka akan pulih kembali seperti sedia kala"

"Bolehkah aku tahu siapa nama engkoh cilik?"

"Boanpwe bernama Thia Eng!"

"Siapa pula gurumu?"

"Guruku sudah meninggal dunia pada sepuluh tahun berselang, siapa namanya, aku sendiripun kurang begitu tahu!"

"Tapi aku pikir gurumu pastilah seorang tokoh sakti dari dunia persilatan bukan?"

"Soal ini kurang begitu tahu."

Sampai di-situ, tiba-tiba si pemuda berbaju abu-abu itu mengalihkan pokok pembicaraannya kesoal lain, dia bertanya kembali.

"Sebenarnya apa yang telah terjadi ditempat ini?"

"Kau maksudkan mengapa mereka berdua sampai terlibat dalam suatu pertarungan?"

Ujar Tiang seng lojin sambil menuding kearah Yu leng lojin serta Ciu Li li yang sedang bertarung ditengan arena itu."

"Benar!"

"Yaa, karbena apa lagi? Tdentu saja lantaaran ingin mempebrebutkan pedang Sin kiam!"

"Kau maksudkan senjata tajam yang di wariskan Hek mo im seorang tokoh sakti dari dunia persilatan itu?"

"Benar !"

Mengenai masalah pedang sin kiam tersebut, akupun pernah mendengarnya dari guruku, tapi sesungguhnya apa yang mengakibatkan terjadinya peristiwa semacam ini?"

Terpaksa Tiang seng lojin harus menuturkan kembali semua peristiwa yang telah terjadi dalam ruangan itu.

Ketika selesai mendengar penuturan tersebut, paras muka Thia Eng segera berubah hebat, katanya kemudian.

"Kalau begitu pedang Sin kiam tersebut sesungguhnya telah menjadi milik Ong Bun kim?"

"Betul!".

"Jadi Ketua dari perguruan San tian bun ini secara licik telah turun tangan keji untuk menyergap Ong Bun kim?"

"Betul!"

"Kurangajar manusia semacam ini pantas dibunuh !"

Ucapan tersebut diutarakan dengan nada penuh hawa napsu membunuh, membuat siapapun yang mendengar ikut bergidik rasanya.

Dalam pada itu Kwan Siok kim telah membaringkan Ong Bun kim diatas tanah, sepasang tangannya menguruti seluruh urat nadi dan jalan darah penting ditubuh pemuda itu dengan maksud untuk menyadarkan kembali dirinya dari keadaan tak sadar.

Mendadak...

Suatu bentakan keras yang menggelegar berkumandang memecahkan keheningan, ditengah bentakan tersebut secepat sambaran kilat Yu leng lojin melepaskan dua buah pukulan dahsyat kedepan.

Waktu itu pertarungan sudah berlangsung hampir mencapai puluhan gebrakan banyaknya, akan tetapi menang kalah masih sukar ditentukan, tampaknya Yu leng lojin sudah berhasrat untuk cepat menyelesaikan pertarungan ini dengan mengandalkan kepandaian melepaskan racunnya..

Setelah melancarkan dua buah pukulan itu, dia lantas mundur beberapa langkah kemudian maju kembali, pada saat tubuhnya mundur itulah racun jahat yang dibawanya telah siap-siap dilepaskan.

Pada saat menjelang Yu leng lobjin melepaskan dracun keji tersaebut suatu bentbakan nyaring kembali menggelegar di udara.

"Tahan !"

Bentakan itu sangat keras bagaikan guntur yang membelah bumi disiang hari bolong membuat semua orang merasakan telinganya mendengus keras sekali menyusul kemudian sesosok bayangan manusia berwarna abu-abu meluncur masuk kedalam arena dan berdiri tepat di hadapan Ciu Li li ketua dari perguruan San tian bun itu.

Orang yang menampilkan dirinya itu tak lain adalah si anak muda berbaju abu-abu itu, Thia-Eng adanya.

Dengan sorot mata yang memancarkan sinar tajam, dia mengawasi wajah Ciu Li li yang bercadar itu tanpa berkedip, kemudian bentaknya dengan suara dingin.

"Kaukah yang bernama Ciu Li li ketua dari perguruan San tian bua itu ?"

Ciu Li li memandang pemuda itu sekejap kemudian menganggukkan kepalanya.

"Benar !"

"Serahkan pedang itu kepadaku."

"Menyerahkan pedang itu kepadamu?"

Ciu-Li li segera tertawa dingin tiada hentinya "apa yang kau andalkan untuk berbuat demikian?"

Air muka pemuda baju abu-abu Thia Eng berubah sedikit kemudian dengan menyerigai bengis bentaknya lagi.

"Sebetulnya kau bersedia menyerahkannya kepadaku atau tidak?"

"Tidak !"

"Jadi kau sudah pingin mampus?"

Dengan gusarnya Thia Eng membentak keras, kemudian secepat sambaran kilat dia menerjang kemuka dan langsung menubruk Ciu Li li sambil melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Serangan yang dilakukan oleh Thla Eng ini boleh dibilang cepat seperti sambaran kilat dan dahsyat, seperti muntahnya sebuah bukit karang, sungguh mengerikan sekali.

Ciu Li-li tak berani bertindak gegabah, buru-buru dia mengebaskan tangan kanannya ke muka untuk membendung datangnya ancaman itu.

Tangkisan yang dilakukan oleh Ciu Li li ini tak bisa dikatakan tidak cepat, akan tetapi justru gerakan dari Thia Eng jauh lebih cepat dari gerakannya itu, diantara berkelebatnya bayangan manusia, tahu-tahu serangan kedua telah dilancarkan kembali.

Sekarang Ciu Li li baru terperanjat, dia tidak menyangka kalau musuhnya begitu lihay, buru-buru tubuhnya melejirt ke samping unttuk menghindarkqan diri, maksudrnya dia hendak meloloskan diri dari serangan maut yang diincar pemuda itu..

Sayang sekali, secepat-cepatnya dia bergerak untuk menghindar, toh tetap masih terlambat satu tindak.

Angin pukulan Thia Eng yang dahsyat bagaikan gulungan ombak dahsyat ditengah samudra itu sudah meluncur datang secepat sambaran kilat, terpaksa dia harus menggigit bibirnya untuk menyambut datangnya serangan itu dengan keras-lawan keras.

"Blaaaam !"

Ditengah ledakan keras yang memekikkan telinga, kudakuda Ciu Li li tergempur, tubuhnya tak dapat berdiri tegak lagi dan secara beruntun mundur sejauh tujuh delapan langkah dengan sempoyongan, sebaliknya Thia Eng sama sekali tidak bergeming dari tempatnya semula.

"Sambutlah sekali lagi seranganku ini!"

Bentak Thia Eng keras-keras.

Ditengah bentakan itu, sekali lagi tubuhnya meluncur kedepan dan melancarkan dua buah serangan berantai.

Ilmu silat yang dimiliki Thia Eng benar-benar menggidikkan hati, hanya dalam waktu singkat dia telah melepaskan lagi dua buah serangan yang maha dahsyat.

Mendadak...

Pada saat Thia Eng melancarkan serangan tiba-tiba ke arah Ciu Li-li.

Yu leng lojin juga menerjang masuk ke dalam arena, kemudian mereka berdua bersama-sama menerjang ke muka sambil melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Serangan itu dilancarkan sekaligus tertuju ke tubuh Ciu Li li maupun Thia Eng, kecepatannya luar biasa sekali, tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu ia sudah mundur kembali ke belakang.

Ketika Ciu Li li dan Thia Eng baru selesai saling beradu pukulan, terdengar Yu leng lojin berseru.

"Harap kalian berdua menghentikan pertarungan!"

Mendengar bentakan itu tanpa terasa ke dua orang itu sama sama menarik kembali serangannya dan berpaling.

Tampak Yu leng lojin sedang memandang ke arah mereka dengan sekulum senyuman yang licik menghiasi ujung bibirnya.

"Mau apa kau?"

Tegur Ciu Li li sambil tertawa dingin. Dengan bangganya Yu leng lojin tertawa terbahakbahak.

"Haaahh.. haaahaaahhh... haaahhh.. kalian berdua tak usah melanjutkan pertarungan lagi, kamu semua telah terkena racun jahatku!"

"Apa...?"

Jerit Ciu Ii li dengan perasaan terperanjat, paras mukanya sampai berubah hebat. Yu leng lojin kembali tertawa seram, ujarnya kembali.

"Kalian berdua sudah terkena racun keji Liat-im si tok (racun peretas hati) cuma dengan mengandalkan tenaga dalam yang kalian berdua miliki, asal tidak melakukan pertarungan lagi, untuk mendesak keluar sari racun tersebut dari dalam tubuh bukanlah-suatu pekerjaan yang terlalu menyulitkan, kalau tidak kalian pasti akan mampus karena bekerjanya racun itu"

Ucapan tersebut cukup menggidikkan hati semua orang yang mendengarnya, sekarang semakin terbukti akan kekejaman Yu leng lojin, hakekatnya apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan cukup menggidikkan hati setiap orang.

"Bila Ciu buncu kurang percaya, mengapa tidak mencoba untuk mengatur pernapasanmu?"

Buru-buru Ciu Lili mengatur pernapasannya, benar juga ia segera merasakan isi perutnya amat sakit bagaikan ditusuk-tusuk dengan pisau belati, dalam keadaan demikian buru-buru dia membuyarkan seluruh hawa murninya dan menggigit bibir menahan hawa amarahnya yang memuncak.

Yu leng lojin tertawa bangga kembali ejeknya.

"Ciu buncu, tentunya kau sudah percaya bukan sekarang?"

"So buncu, kaii memang tidak malu kalau disebut sebagai seorang manusia berhati hitam yang keji!"

Mendengar itu, Yu leng lojin tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh haa hah haaahhh....nada ucapan Ciu buncu sama sekali telah berubah, yaa, kita semua sama-sama demikian, seta li tiga uang bukan?"

"Racun jahat tanpa wujudmu betul-betul sangat lihay.."

"Aah...cuma suatu permainan kucing kaki tiga belaka, Ciu buncu aku-pikir ada baiknya jika kedua macam benda mestika itu kau serahkan kepadaku."

Ciu Li li adalah seorang jagoan yang berpe sgaiaman, sekalipun dia sangat berharap bisa mendapatkan benda mestika tersebut, tapi bagaimanapun juga nyawa adalah jauh lebih penting dari segala-galanya, apalagi sebagai seorang yang pintar dia enggan untuk menerima kerugian yang berada didepan mata.

Meskipun hari ini ia telah dipecundangi orang, toh bukan berarti sudah tiada kesempatan lagi baginya untuk melakukan pembalbasan dendam?

Maka setelah termenung dan berpikir sejenak, dia berkata.

"Baiklah, akan kuserahkan kedua macam benda mestika ini kepadamu, nah terimalah ini"

Sambil berkata dia lantas melemparkan pedang Sinkiam dan kotak besi berisi kitab pusaka ilmu pedang itu ke arah Yu-leng lojin...."

Mendadak Bayangan manusia berkelebat lewat, pada saat Ciu Li li sedang melemparkan kedua macam mestika itu ke arah Yu leng lojin inilah tahu-tahu Thia Eng sudah meluncur ke depan dan menyambar kedua buah benda mestika tersebut.

-oo0dw0oo--

Jilid 23 TINDAKAN dari Thia Eng ini benar-benar jauh diluar dugaan siapapun juga, bukanlah ia sudah terkena racun keji dan tak mungkin bisa menggunakan tenaga dalam lagi?

Agaknya Yu leng lojin juga dibikin tertegun oleh kejadian tersebut, sehingga untuk sesaat lamanya ia cuma bisa berdiri melongo.

Dalam waktu singkat Thia Eng telah berhasil merampas kedua buah benda mestika itu dari tangan lawan.

Yu Leng lojin segera membentak keras, tubuh berikut kursinya bersama sama meluncur ke depan dan menerjang ketujuh Thia Eng.

000OdwO000 BAB 72 SUNGGUH hebat dan mengerikan serangan yang dilancarkan Yu leng lojin dalam keadaan gusar ini, tak bisa dihindari lagi Thia Eng kena dipaksa sehingga harus mundur sejauh tujuh delapan langkah dari posisi semula.

Cepat-cepat ia membalikkan badannya untuk menghindarkan diri.

kemudian telapak tangan kanannya diayunkan kemuka balas melancarkan sebuah pukulan kilat.

Yu leng lojin segera melayang mundur sejauh satu kaki lebih dari posisi semula, bentaknya.

"Saudara, mengapa kau tidak segera kau serahkan kedua buah benda mustika itu kepadaku?"

Thia Eng mengejek sinis sambil tertawa dingin.

"Atas dasar apa kau memerintahkan diriku untuk berbuat demikian?"

"Saudara, memangnya kau sudah tak mau lagi nyawamu itu? Ketahuilah kau sudah terkena racun jahatku!"

"Jangan kuatir."

Kata Thia Eng sambil tertawa dingin.

"kalau cuma racun semacam itu mah masih selum cukup mampu untuk melukai diriku racunmu itu tidak mempan terhadap diriku"

Paras muka Yu leng lojin berubah sedikit, agaknya ia terkejut mendengar perkataan tersebut.

"Apakah sama sekali tidak merasakan gejala-gejala keracunan di dalam tubuhnya?"

"Sama sekali tidak merasakan abpa-apa, aku merdasakan tubuhku asegar bugar sepberti sedia kala"

Walaupun musuhnya telah berkata begitu, akan tetapi Yu leng lojin masih tetap beranggapan bahwa hal ini adalah tak mungkin bisa terjadi, sebab racun tak berwujud miliknya itu adalah sejenis racun jahat yang hebat sekali daya kerjanya, sepanjang pengetahuannya, belum pernah ada orang yang dapat meloloskan diri dari serangan tersebut dalam keadaan selamat.

Buncu atau ketua dari perguruan San tian bun yang dikatakan sangat lihaypun tak mampu meluputkan diri dan serangan racunnya, mana mungkin Thia Eng bisa terkecuali dari kenyataan tersebut?

Namun, bila ditinjau dari keadaan Thia Eng yang segar bugar, tampaknya anak muda itupun tidak memperlihatkan gejala keracunan, lalu apa yang sesungguhnya telah terjadi?

Paras mukanya kembali berubah hebat, teriaknya kemudian.

"Silahkan kau merasakan kelihayanku sekali lagi!"

Begitu sehabis berkata, sekali lagi Yu-leng lojin meluncur kedepan sambil menyerang Thia Eng, secara beruntun dia melepaskan dua buah serangan, sedangkan Thia Eng pun tidak tanggung-tanggung segera melancarkan juga dua buah serangan balasan.

Sementara itu, Kwan Siok kim yang bersusah payah menguruti seluruh jalan darah dan nadi penting ditubuh Ong Bun-kim sama sekali tidak mendatangkan hasil apaapa, si anak muda itu masih tetap berada dalam keadaan tak sadarkan diri.

Karena kehabisan tenaga dan kecapaian setengah mati sehingga sekujur bidannya bermandikan keringat, terpaksa Kwan Siok-kim menghentikan usahanya untuk memberi pertolongan dengan duduk bersila mengatur pernapasan.

Giok bin hiap yang menyaksikan kejadian itu buru-buru mendorong tubuh Yu Cing dan menghampiri Ong Bun kim, tapi setelah melancarkan beberapa totokan ke tubuh Ong Bun kim, ia sendiripun tampak agak tertegun.

Yu Cing menjadi amat terperanjat setelah menyaksikan keadaan itu, segera tegurnya.

"Ayah, bagaimana keadaannya?"

Dengan perasaan berat Giok bin hiap menggelengkan kepalanya berulang kali sahutnya.

"Aku lihat sudah tak tertolong lagi!"

"Apa ?"

Hampir semua orang hadir di sekitar tempat itu menjerit kaget.

"Jalan darah nadi penting Sam im ciat meh nya sudah ditotok mati orang, kecuali terdapat obat mujarab didunia ini, rasanya sulit untuk menembusi nadi pentingnya yang tersumbat itu!"

"Obat mujarab apakah itu?"

"Aku sendiripunr tidak dapat metnyebutkannya daqlam waktu singkrat"

"Lantas dia ..dia masih bisa hidup berapa lama lagi?"

"Tiga hari? Bukankah sekalipun dapat di ketahui obat mujarab apa yang bisa menyembuhkan dirinya, dalam tiga hari yang begitu singkat tak mungkin bisa didapatkannya, bukankah itu berarti bahwa jiwanya susah ditolong lagi?"

"Benar!"

Paras muka semua orang menjadi berubah tegang sekali sesudah mendengar perkataan itu, peluh dingin tanpa terasa bercucuran membasahi sekujur tubuh mereka.

Perlu diketahui, yang disebut sebagai nadi Sam-im-ciat meh adalah suatu nadi penting yang mempengaruhi mati hidup seorang, apabila nadi tersebut sampai terkena pukulan maka tiada harapan buat orang tersebut untuk hidup lebih jauh, tentu saja kecuali kalau ada obat mujarab yang bisa menggerakkan kembali peredaran darah dalam sekitar nadi tersebut.

Tapi, obat mujarab adalah suatu benda yang bisa dijumpai tak bisa dicari, kemana dia harus mencari obat tersebut dalam dunia yang begini luasnya ini.

Mendadak terdengar suara bentakan keras menggelegar di udara, tampak Thia Eng dan Yu leng lojin sama-sama memisahkan diri kebelakang kemudian...

"Uaaak!"

Yu leng lojin telah muntahkan darah kental dari mulutnya.

Sedangkan paras muka Thia Eng juga berubah agak memucat.

Dalam keadaan demikian Yu leng Iojin segera memperlunak sikapnya, dengan lembut ia berkata.

"Ilmu silat yang saudara miliki betul-betul mengagumkan sekali, biarlah aku orang she So mohon diri lebih dahulu"

Seusai berkata dia lantas melayang pergi meninggalkan ruangan itu diikuti wakil ketuanya dan si Dewi mawar merah.

Tak selang beberapa saat kemudian, Ciu Li li dan kedua orang pelindung hukumnya juga ikut berlalu dari situ.

Ditengah keheningan yang mencekam seluruh ruangan tiba-tiba terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang saling susul menyusul.

Dalam waktu singkat ada tujuh delapan orang jago persilatan yang sudah terkapar di atas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi, darah kental meleleh keluar dari ketujuh lubang inderanya.

"Ruangan ini ada racunnya"

Mendadak kedengaran ada orang berteriak keras.

Suasana dalam ruangan itu seketika berubah menjadi sangat gaduh paras muka semua orang berubah hebat, menyusul kemudian bayangan manusia berkelebat lewat, segenap orang yang berada didalam ruangan Tat mo wan telah kabur keluar dari tempat itu dengan terbirit-birit seakan-akan-disana telah terjadi sesuatu yang mengerikan hati.

Dalam waktu singkat, ruangan Tat mo wan telah berubah menjadi suatu tempat yang sepi dan mengerikan, kecuali ketujuh delapan sosok mayat itu, tidak nampak lagi bayangan manusia lain yang berada disana.

Setelah semua orang mengundurkan diri dari ruang Tat mo wan.

rasa ngeri masih belum lenyap dari hati masingmasing, malah ada diantara mereka yang berdiri dengan tubuh menggigil.

Tak lama kemudian, kembali terdengar lima kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan keheningan, lagi-lagi ada lima orang yang roboh terkapar diatas tanah dalam keadaan yang mengerikan hati.

Beberapa orang itu tampaknya memiliki tenaga dalam yang tidak terlampau tinggi apalagi tidak segera berusaha untuk mengatur pernapasan dan mendesak keluar hawa racun dari dalam tubuhnya, tak ampun lagi hawa racun itu menyerang ke dalam isi perutnya yang mengakibatkan kematian bagi mereka semua.

Adegan ini sungguh merupakan suatu pemandangan yang sangat menggetarkan hati.

Dalam waktu singkat, mayat-mayat itu telah berubah menjadi hitam seperti arang, ini menunjukkan betapa jahatnya racun tersebut.

Sedang sisa jago lainnya sama-sama kuatir kalau tubuh merekapun keracunan, serentak orang-orang itu duduk bersila untuk mengatur napas masing-masing.

Untuk sesaat lamanya suasana dalam arena menjadi hening dan diliputi suasana yang serba menyeramkan.

Akhirnya ada juga yang telah bangkit berdiri, tapi ada juga yang masih duduk bersila dengan wajah memucat.

Tiang seng lojin memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian tegurnya.

"Masih ada siapa lagi yang keracunan?"

"Aku !"

Ada empat orang menyahut mereka adalah si Jago pembawa lampu, Yu Cing, Bunga iblis dari neraka dan seorang kakek berbaju hitam.

Tiang seng lojin segera menyerahkan masing-masing seorang pil penawar racun, katanya "Cepat kalian telan obat ini!"

Setelah menelan pil tersebut, kembali mereka duduk bersila untuk mendesak keluar racun yang mengeram dalam tubuhnya. Dalam pada itu Thia Eng telah berjalan menghampiri Ong Bun kim, katanya kemudian.

"Bagaimana keadaannya?"

Giok bin-hiap menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menjawab dengan sedih.

"Aku lihat ia sudah tak tertolong lagi"

"Kenapa?"

"la sudah termakan pukulan keji Ciu Li-li yang menyumbat nadi penting San-im ciat meh nya. kecuali terdapat obat mujarab didunia ini, rasanya tiada harapan lagi baginya untuk hidup lebih jauh!"

Kenyataan yang membuktikan bahwa Thia Eng sama sekali tidak keracunan ini segera mengejutkan hati semua orang, dia benar-benar seorang pemuda yang aneh sekali, mengapa ia tidak takut terhadap racun tak berwujud dari Yu leng lojin.

Kejadian ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang tidak masuk akal, mungkinkah ia kebal terhadap racun?

Tapi hal ini tak mungkin terjadi, sebab diapun terdiri dari darah dan daging.

"Engkoh cilik she Thia, benarkah kau sama sekali tidak keracunan?"

Tegur Tiang sang lojin kemudian.

"Benar!"

"Hal ini mana mungkin bisa terjadi?"

"Kenapa tak bisa terjadi?"

"Kau bukan seorang manusia yang luar biasa, kau sama sama terdiri dari darah dan daging."

"Oooh, kiranya soal itu! Yaa, oleh karena semenjak kecil aku sadari terbiasa makan sejenis rumput yang mujarab, maka akibatnya tubuhku timbul semacam kekuatan yang bisa menolak pengaruh setiap racun, itulah sebabnya aku kebal terhadap segala macam racun"

"Oooh....kiranya begitu!"

"Untung Thia sauhiap muncul tepat pada saatnya hari ini, coba kalau tidak, entah bagaimana akibatnya?"

Kata Giok bin hiap.

"atas nama guruku, lohu mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari Thian sauhiap ini!"

"Hanya persoalan kecil, buat apa musti di pikirkan? "

Sementara itu, Bunga iblis dari neraka telah mohon diri dari Lian ih lihiap dan Yu Cing. Mendengar itu. Yu Cing segera berkata.

"Mengapa kau harus terburu buru pergi meninggalkan tempat ini? Apakah kau tidak akan menunggu Ong Bun kim lagi?"

"Menunggu dia....?"

Sekilas senyuman pedih menghiasi wajah Bunga iblis dari neraka.

"aku pikir tak perlu lagi..."

"Kenapa?"

"Sebab hal itu hanya akan menambah kesedihan dalam hatiku saja."

"Apakah kau tidik msagaatirkan keselamatannya?"

"Tentu saja aku amat menguatirkan keselamatannya, bahkan jauh lebih merasa kuatir daripada si-apapun juga. karena itu dengan sedih ia menghentikan kembali langkah kakinya yang sudah hampir melangkah pergi itu.

"Locianpwe."

Terdengar Thia Eng pun berkata "Sungguhkah Ong Bun kin tak bisa ditolong lagi?"

"Yaa !"

Menyakaikan paras muka Ong Bun kim yang pucat pias seperti mayat dan gigi yang terkatup kencang, beberapa orang gadis yang mencintainya itu tak dapat mengendalikan perasaannya lagi diam-diam mereka mengucurkan air mata kesedihan.

"Apakah tak bisa disadarkan dari pingsannya"

Kwan Siok kim bertanya dengan air mata bercucuran.

"Untuk menyadarkan sih gampang"

Jawab Giok bin hiap, setelah berhenti sebentar katanya kemudian.

"Baiklah akan kusadarkan dirinya siapa tahu kalau dia ingin mengucapkan sesuatu kepada kalian"

Berbicara sampai disitu hawa murninya lantas disalurkan kedalam telapak tangannya kemudian secara beruntun menotok beberapa buah jalan darah penting ditubuh Ong Bun kim, hawa murni yang kuat pelan-pelan disalurkan keluar untuk menambah kekuatan dalam tubuh pemuda itu.

Kurang lebih setengah jam kemudian pelan-pelan Ong Bun kim sadar kembali dari pingsannya, dia memandang sekejap sekeliling tempat itu tapi apa yang terlihat hanyalah bayangan manusia yang sangat kabur.

Kesadarannya masib tetap kabur dan tidak jernih, ia tak bisa teringat kembali kejadian dimasa lalu, tidak teringat sekarang dia hanya berada daIam keadaan kosong, termangu dan tak tahu apa yang dilihatnya.

Kemudian ia mendengar dari kejauhan seperti ada orang yang sedang berteriak memanggil namanya.

"Engkoh Ong..."

Maka satu ingatan segera melintas dalam benaknya.

"Rupanya aku belum mati."

Lebih kurang setengah perminum teh kemudian akhirnya ia dapat melihat jelas pemandangan yang terbentang didepan matanya...

ia membuka bibirnya ingin berbicara tapi sampai lama sekali dia baru bisa berkata dengan lirih.

"Aku... aku belum matikah?"

"Ya, engkoh Ong kau... kau belum mati."

Jawab Kwan Siok kim sambil berusaha keras menahan rasa sedihnya. Pelan-pelan Ong Bun kim pun dapat teringat kembali semua peristiwa yang telah terjadi, wajahnya segera berubah, tanyanya.

"Dimana Ciu Li li?"

"Sudah pergi!"

"Bagaimana dengan pedang Sin kiam dan kotak besi berisi kitab ilmu pedang itu?"

"Ada disini!"

Buru-buru Thia Eng menjawab.

Sambil berkata dia lantas menyodorkan pedang Sin kiam dan kotak besi itu kehadapan Ong Bun kim.

Si anak muda itu tertegun, ia tidak kenal dengan Thia Eng, diapun tak tahu siapakah orang itu, setelah memandangnya sekian lama dengan wajah termangu tegurnya.

"Siapakah kau?"

"Aku bernama Thia Eng!"

Giok bin hiap segera menghela napas katanya.

"Sungguh beruntung hari ini ada Thia sauhiap, kalau tidak, aaai Entah bagaimana akibatnya."

Secara ringkas dia lantas menceritakan seluruh kejadian itu kepada Ong Bun kim. Selesai mendengar penuturan tersebut, dengan penuh rasa terima kasih Ong Bun kim segera berkata.

"Budi kebaikan saudara Thia yang telah merampaskan kembali benda mustika itu, entah bagaimana caranya bagiku untuk membalas, kau bilang Tay khek Cinkun dan Phang Pak bun berada di-tempatmu?"

"Betul soal kesehatan mereka berdua, harap saudara Ong jangan kuatirkan!"

Kembali Ong Bun kim menghela napas.

"Siaute tak tahu bagaimana musti membayar semua budi kebaikan ini kepadamu."

"Aaaah, saudara Ong ! Mengapa kau musti mengucapkan kata-kata semacan itu? Harap kau menerima kembali kedua buah benda mustika ini."

Sekali lagi Ong Bun kim menghela napas panjang.

"Siaute tak lebih hanya seorang yang sudah hampir mati, biar benda mestika itu berada ditangan saudara saja, benda itu berhasil kau rampas kembali dari tangan orang, sudah sepantasnya kalau benda itu menjadi milikmu, harap kau menerimanya"

"Hal ini mana boleh, hal ini mana boleh..."

Seru Thia Eng cepat-cepat dengan gugup.

"Keputusanku sudah bulat, silahkan saudara Thia menerimanya!"

"Kejadian semacam ini tak boleh sekali kali sampai terjadi, benda mestika telah memilih tuannya sendiri, setelah Sin kiam itu memilih saudara sebagai pemiliknya, mana boleh kau serahkan kepadaku? Jangan ditampik lagi, hayo terimalah kembali benda milikmu itu.."

Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa Ong Bun kim menerima kembali pedang sin kiam dan kotak besi itu kemudian sesudah menghela napas panjang katanya lagi.

"Aku adalah seorang yang sudah hampir mati, apa toh gunanya benda mestika tersebut untukku...."

"Engkoh Ong, kau tak bakal mati."

Seru Kwan Siok kim dengan air mata bercucuran.

"Aku tahu kalau nadi Sam im-ciat-meh ku sudah tertotok dalam tiga hari aku pasti akan mati, cuma mati hidup sama sekali tidak menjadi persoalan bagiku, hanya ada beberapa macam persoalan yang mau tak mau harus kukatakan."

"Katakanlah !"

Ong Bun-kim memandang sekejap sekeliling arena, kemudian katanya.

"Meskipun pedang suci sin kiam menunjuk aku dan nona Kwan sebagai sepasang suami istri, tapi aku masih mempunyai beberapa orang gadis yang kucintai, akupun sudah berhutang budi banyak kepada beberapa orang gadis itu, terutama kepada Tan Hong hong!"

Berbicara sampat disitu, ia merasa tenggorokannya bagaikan tersumbat, air matanya jatuh bercucuran dengan deras dan kata-katanya terputus sampai ditengah jalan.

Bunga iblis dari neraka juga mengucurkan air matanya, sampai detik ini Ong Bun kim masih teringat kepadanya, ini menandakan kalau ia benar-benar mencintainya secara tulus, bagaimana mungkin hatinya tidak terharu dibuatnya?

Sekalipun ia telah berkorban baginya, tapi apalah artinya pengorbanan tersebut?

Orang lain yang rela mati demi kekasihpun tak sedikit jumlahnya apa lagi dengan pengorbanannya itu, dia telah mendapat seluruh cinta kasih Ong-Bun kim terhadap dirinya, kejadian ini sungguh-sungguh merupakan suatu peristiwa yang sangat mengharukan hatinya.

Dengan air mata bercucuran dia lantas berbisik.

"Adik Ong, aku... pengorbananku tidaklah terhitung seberapa."

"Tidak, aku sudah terlalu banyak berhutang budi kepadamu, selama aku masih hidup budi kebaikan tersebut tak akan kulupakan untuk selamanya."

Kecuali air mata yang jatuh berlinang, apalagi yang bisa dia katakan? "Enci Tan, semoga saja dalam penitisan yang akan datang aku... aku bisa membalas hutang-hutangku ini kepadamu."

Kata Ong Bun kim lagi. Sementara pedihnya hati "Enci Tan, tahukah kau aku paling mencintai dirimu?"

"Aku aku tahu"

Gadis itu menangis terisak, dengan amat sedihnya. ooooOdwOoooo BAB 73 TIBA-TIBA Ong Bun kim menguasai rasa sedihnya didalan hati. lalu berkata.

"Asal kau dapat memahami perasaanku, hal ini sudah lebih dari cukup, enci Tan, kau boleh pergi sekarang!"

"Mengapa?"

"Apakah kau ingin menyaksikan ajalku tiba?"

"Tidak, kau tak akan mati..."

Ong Bun kim segera tertawa pedih, pelan-pelan sinar matanya dialihkan ke wajah Lan Siok ling, sapanya.

"Nona Lan..."

"Ong siangkong...."

Belum lagi berbicara, air matanya sudah jatuh bercucuran.

Ong Bun kim teringat kembali akan kebaikan Lan Siokling terhadap dirinya, gadis itu betul-betul mencintainya dengan setulus hati, bahkan rela menyerahkan tubuh dan kesuciannya disaat ia hampir mati dulu, diantara sekbian banyak gadids yang dikenal,a gadis ini memabng pantas untuk menerima cintanya pula.

Setelah berpikir sejenak, Ong Bun kim berkata.

"Nona Lan, kau adalah istriku yang pertama, kau telah menyerahkan segala sesuatunya kepadaku, dulu aku adalah seorang yang hampir mati. sekarang akupun seseorang yang sudah hampir mati."

"Kau tidak akan mati!"

Jerit gadis itu dengan amat sedihnya.

"Aku tahu, aku adalah seseorang yang sudah mendekati ajalnya, tapi kau telah banyak berkorban bagiku dan banyak pula yang telah kau berikan kepadaku, bukankah dalam rahimmu sudah terdapat darah dagingku?"

"Benar!"

"Kau harus baik baik mendidiknya nanti!"

"Aku dapat mendidiknya secara baik-baik, kau tak usah kuatir"

Pelan-pelan Ong Bun kim segera mengangguk dalam hati kecilnya, sedang saat kematian ini segera muncul suatu perasaan lega.

yaa, bagaimanapun juga kejadian ini memang merupakan suatu kejadian yang pantas untuk digirangkan.

Agaknya sebelum ajalnya tiba, Ong Bun kim ingin menyelesaikan dulu semua persoalannya secara jelas dan terang, kalau tidak, dia tak akan bisa beristirahat dengan hati yang tenang.

Ditatapnya sskejap sekeliling tempat itu, tiba-tiba ia berseru.

"Kim losat, bolehkah aku berbicara beberapa patah kata denganmu?"

Tay-pangcu dan perkumpulan Hui mo pung itu tampak agak tertegun ketika mendengar namanya dipanggil Ong Bun kim, sekilas perasaan yang sangat aneh segera terlintas diatas wajahnya, pelan-pelan dia berjalan ke hadapan anak muda itu.."Urusan apakah yang hendak kau bicarakan dengan aku ?"

Kulit wajah Ong Bun kim mengejang keras beberapa kali, kemudian tanyanya.

"Siapa namamu?"

Pertanyaan yang diajukan oleh Ong Bun kim ini sekali lagi membuat Kim lo sat ter tegun, tapi segera sahutnya.

"Aku bernama Ku Pek hoa!"

"Nona Ku, ayahmu dan ayahku adalah sahabat sehidup semati, semenjak kita masih berada didalam perut, mereka telah mengikat tali perkawinan kita berdua, aku Ong Bunkim bukannya hendak menyangkal kebenaran ini tapi kau harus mengerti, aku Ong Bun kim bukannya ingin mengawini dirimu didalam cara seperti apa yang kau inginkan."

"Aku mengerti!"

"Akupun mengerti bahwa kau mempunyai cara kerja dan tujuanmu sendiri, tapi cara kerjamu itu justru membuat aku orang she Ong Bun kim merasa benci dan sakit hati."

"Mengipa kau merasa sakit hatib?"

"Dengan mengdgunakan pelbagaai cara yang kejbi dan mengerikan, Kau telah menciptakan badai pembunuhan dalam dunia persilatan, membuat partai Hoa san, Soat-san dan Tiam cong terpaksa harus takluk di bawah kekuasaanmu."

"Aku berbuat demikian toh demi kepentinganmu."

"Sudah kukatakan tadi, aku enggan kawin denganmu dalam cara yang kau inginkan itu, aku mempunyai harga diri, sebelum mati aku berharap kau dapat mawas diri"

"Mawas diri?"

"Benar. Kejadian yang kau lakukan selama ini sudah cukup banyak, kau harus mulai memperbaiki cara kerjamu itu dengan memikirkan keselamatan umat persilatan, kalau tidak maka akhirnya pasti ada orang yang akan melenyapkan dirimu."

"Masih ada sesuatu yang ingin kau bicarakan lagi denganku?"

Seru Kim lo sat kemudi an dengan suara dingin.

"Tidak ada, kau boleh pergi!"

Kim lo sat melemparkan pandangnya yang terakhir ke wajah Ong Bun kim, kemudian memandang ke arah Gin losat, akhirnya tanpa mengucapkan sepatah katapun berlalu dari situ, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka berdua sudah lenyap dari pandangan mata.

Menyaksikan kekerasan hati gadis itu, Ong Bun kim menjadi terteguh, sinar matanya segera dialihkan ke wajah Kwan Siok kim, ditatapnya gadis itu sampai lama sekali tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia tak tahu apa yang harus dikatakan.

Sampai lama, lama sekali, Ong Bun kim baru berkata.

"Nona Kwan kau juga boleh pergi diri sini!"

"Tidak, aku tidak akan pergi!"

Ong Bun kim segera menghela napas panjang, lkatanya.

"Aku sudah merupakan seseorang yang hampir mati, lebih baik kalian semua pergi dari sini... Pergi meninggalkan aku..."

Suaranya itu mendekati setengah merengek, ya dia memang sangat berharap kalau gadis gadis itu bisa meninggalkan dirinya, ia tidak berharap mereka menyaksikan kematiannya, sebab hal mana hanya akan menambah penderitaan dan kesedihan dihati mereka semua.

Tapi tak seorang manusiapun diantara mereka yang berniat untuk pergi meninggalkan tempat itu.

Tiba-tiba Ong Bun kim berkata kepada Giok bin hiap.

"Supek lebih baik kedua buah benda ini kau bawa kembali ketempat semula."

Tampaknya hanya perbuatan itu saja yang bisa dilakukan maka Giok bin hiap lantas manggut-manggut diterimanya pedang Sin kiam dan kotak besi itu kemudian dimasukkan kedalam saku.

"Aaah tidak betul.."

Tiba-tiba Tiang seng lojin berseru dengan-suara keras. Ucapan tersebut segera menggetarkah perasaan semua orang, tanpa terasa sinar mata mereka pun dialihkan kre wajah kakek ptanjang usia iniq.

"Cianpwe, aparnya yang tidak benar?"

Tanya Giok bin hiap dengan suara dalam.

"Suhumu adalah seorang manusia suci yang lihay sekali, mana mungkin ia tak bisa menghitung bakal terjadinya peristiwa hari ini kalau tidak, tak mungkin juga akan terjadi peristiwa penyembahan terhadap pedang suci ini."

"Maksud cianpwe ?"

"Tak ada salahnya kalau kau periksa dulu isi kotak besi tersebut, seandainya isi kotak cuma kitab ilmu pedang, rasanya dia tak usah harus meletakkannya dalam kotak besi, siapa tahu kalau isi kotak besi itu bukan buku melainkan obat penawar?"

Ucapan tersebut segera menyadarkan kembali semua orang dari lamunan, benar juga, kemungkinan besar hal itu memang terjadi, andaikata isinya cuma se

Jilid ilmu pedang, mengapa harus disimpan dalam kotak besi?

Besar memang kemungkinannya kalau isi kotak besi itu adalah obat penawar.

Buru-buru Giok bin hiap mengeluarkan kembali kotak besi itu dan membuka penutupnya.

Apa yang kemudian terlihat didalam kotak tersebut, sungguh membuat Giok bin hiap menjadi tertegun.

Tampaklah dalam kotak itu terletak se

Jilid kitab kecil berwarna kuning serta sepucuk surat. Yang hebat adalah surat itu, sebab pada sampulnya dengan jelas bertuliskan beberapa huruf yang berbunyi demikian.

"Surat ini ditujukan untuk. Ong Bun-kim. tertanda. Hek mo im"

"Aaaah..Disini benar benat terdapat sepucuk surat?"

Jerit Giok bin hiap segera.

"Ada surat?"

Semua orang ikut berseru tertahan.

Kejadian ini amat menggetarkan hati semua orang, seakan-akan dada mereka dihantam oleh suatu benda yang sangat berat, berdebar keras jantung mereka semua.

Buru-buru Giok bin hiap mengambil keluar surat itu dan diserahkan kepada Ong Bun kim.

Setelah membaca tulisan diatas sampul itu, tanpa terasa Ong Bon kim menjerit keras.

"Hek mo im benar-benar seorang manusia yang luar biasa, ternyata ia bisa mengetahui kehadiranku didunia ini"

Suatu harapan untuk hidup lebih lanjut segera muncul dalam hatinya, siapa tahu dalam surat itu dicantumkan pula di mana obat pemunah tersebut bisa didapatkan.

Tangan yang memegang surat itu terasa sedikit agak gemetar, cepat-cepat dirobeknya sampul tersebut dan dibaca isi suratnya.

"Tertuju untuk Ong Bun kim.

"Pada saat kau membaca surat ini, dirimu pasti sudah terkena serangan keji dan jiwamu terancam bahaya, aku sudah menghitung bahwa kau bakal menjumpai musibah tersebut. Didalam surat ini terdapat sebungkus obat mujarab, setelah kau minum kemudian ditembusi dengan tenaga dalam, penyakitmu itu akan sembuh kembali seperti sedia kala. Meskipun ayahmu dan Yu Tiong adalah murid-muridku, namun mereka tidak berjodoh mendapatkan Sin kiam ini. Kau berbakat bagus dan punya rejeki besar, kau lah orang yang paling cocok untuk mendapatkan pedang suci ini. Moga-moga saja sehabis mempelajari jurus pedang ini kau bisa berbakti untuk kesejahteraan umat persilatan, mendirikan perguruan Sin kiam-bun dan berjuang demi tegaknya keadilan dan kebenaran. tertanda. Hek mo im"

Sehabis membaca isi sarat itu dengan perasaan terkejut bercampur girang Ong Bun kim segera berteriak.

"Aku bisa tertolong !"

"Sungguh !"

Hampir semua orang menjerit saat yang bersamaan.

Ong Bun kim manggut-manggut, ia membalikkan sampul surat itu dan betul juga, sebuah kertas bungkusan berwarna merah segera terjatuh ke atas tanah.

Setelah mengambil bungkusan merah itu dari tanah, Ong Bun kim menyerahkan surat itu kepada Giok bin hiap untuk dibaca, seusai membaca surat tersebut Giok bin hiap ikut merasa gembira.

Dengan cepat dia berseru.

"Cepat telan obat penawar itu, akan ku bantu dirimu untuk menyembuhkan luka tersebut!"

Ong Bun kim manggut-manggut mengiakan, dia segera menelan obat tersebut kedalam perut.

Terasa obat itu harum dan segar rasanya meski membawa sedikit rasa getir.

Ketika Ong Bun kim selesai menelan obat tersebut.

Giok bin hiap segera menyalurkan tenaga dalamnya lewat sepasang telapak tangan keatas jalan darah penting ditubuh Ong Bun kim, lalu diurutnya semua nadi-nadi penting dibadannya.

Dengan kombinasi tenaga dalam Giok bin hiap yang sempurna, serta kemanjuran obat yang mujarab itu, pelanpelan nadi Sam im ciat meh didalam tubuh Ong Bun kim yang tersumbat itu berhasil ditembusi.

Dalam usaha penyembuhan ini, seluruhnya telah menghabiskan waktu hampir satu jam lamanya.

Ketika nadi Sam im ciat mehnya sudah tembus, Ong Bun kim mengerahkan kembali tenaga dalamnya untuk mengelilingi badan ia merasa nadi yang semula tersumbat itu sekarang telah berhasil ditembusi kembali, maka pelan pelan dia bangkit berdiri.

Ketika sorot matanya menyapu sbekejap sekelilidng tempat itu, amendadak ia berbseru.

"Kemana perginya Bunga iblis dari neraka Tan Hong hong?"

"Entahlah, ia sudah pergi meninggalkan tempat ini!"

"Pergi meninggalkan tempati ini?"

"Benar!"

Sahut Yu cing.

"ketika kau sedang menyembuhkan lukamu itu, ia telah pergi dari sini!"

Dalam hati kecil Ong Bun kim segera timbul suatu perasaan yang amat berat, dia amat rindu kepadanya rindu kepada perempuan yang telah berkorban demi kepentingannya itu.

Akhirnya dia tertawa getir, katanya.

"Tidak kukira Ong Bun kim bisa lolos dari bahaya kematian."

"Orang yang lolos dari kematian, biasanya akan mendapat rejeki yang besar,"

Ujar Tiang seng lojin sambil tertawa.

"bukankah Hek-mo im memerintahkah dirimu untuk mendirikan perguruan Sin kiam bun? Lohu adalah orang pertama yang bersedia masuk menjadi anggota perguruanmu itu!"

"Sungguhkah perkataan dari locianpwe ini?"

Seru Ong Ban kim dengan perasaan girang.

"Yaa, bukan cuma aku seorang, semua yang hadir disinipun bersedia untuk menggabungkan diri ke dalam perguruanmu!"

Kejut dan girang Ong Bun kim menghadapi kenyataan ini, dia terkejut karena tak tahu bagaimana caranya untuk memangku tugas berat sebagai seorang ketua dan suatu perguruan besar, dia girang karena semua jago-jago lihay dari dunia persilatan ini bersedia masuk menjadi anggota perguruannya.

Maka Ong Bun Kim berkata.

"Sekarang aku akan pergi ke gua Bu cing tong untuk berlatih pedang, setelah berhasil dengan latihan itu. kita baru akan mendirikan perguruan Sin kiam bun secara resmi, entah apakah kalian punya usul-usul yang lain?"

Tiang seng lojin termenung dan berpikir sejenak, kemudian sahutnya.

"Baiklah, kalau begitu, kami akan mohon diri lebih dahulu"

Demikianlah, Tiang seng lojin dan Hian ih lihiap segera berpamitan kepada semua orang untuk berangkat lebih dulu meninggalkan tempat itu.

Menyusul kemudian Yu Tiong dan Yu Cing juga mohon diri untuk pergi menengok Leng po siancu.

Ti teng kek (jago pembawa lampu) serta kelelawar malam menyusul pergi juga dari sana...

Kini dalam arena tinggal Lan Siok ling, Thia Eng dan Kwan Siok kim.

Dengan termangu-mangu Ong Bun kim mengawasi wajah Lan Siok ling tanpa berkedip, lama sekali ia tak berkata-kata.

Lama, lama sekati akhirnya Lan Siok ling menghela napas panjang katanya.

"Ong siangkong bagaimana dengan kita sekarang?"

Bagaimana? Ong Bun kim mana tabhu? Paling tidadk sampai detik aini ia masih beblum dapat menikah secara resmi dengan gadis itu. Maka sambil tertawa getir katanya.

"Aku pasti akan mengawini dirimu!"

"Tapi bukan sekarang bukan?"

Bisik Lan Stok ling sambil menghela napas sedih.

"Yaa dalam hal ini aku mohon pengertian darimu."

"Aku bisa memahami kesulitan mu tapi aku berharap agar kau jangan melupakan diriku."

"Sepanjang masa aku tak akan melupakan diri mu"

"Kalau begitu aku akan pergi dulu! Nona Kwan harap kau bisa baik-baik menjaga Ong siangkong"

"Aku dapat menjaganya baik-baik"

Jawab Kwan Siok kim sedih.

"harap kau tak usah kuatir."

"Kalau begitu aku akan pergi dulu?"

Dengan membawa perasaan sedih dan hati yang hancur, pelan-pelan gadis itu pergi meninggalkan tempat itu.

Agaknya nasibnya memang ditakdirkan untuk sengsara, ia mencintai sekali pemuda itu tapi ia tak pernah merasakan kegembiraan barang sedikit pun, namun ia tak pernah mengeluh atau merasa menyesal, sebab ia memang benarbenar amat mencintainya.

Memandang hingga bayangan tabuh gadis itu lenyap dari pandangan mata, Kwan siok kim baru menghela rapas sedih bisiknya.

"Engkoh Ong, dia benar-benar seorang gadis yang patut di kasihani.. ..ia baik sekali."

Ong Bun kim manggut-manggut lirih.

"Yaa aku tahu kalau dia adalah gadis yang baik, gadis yang pantas dikasihi, dikemudian hari aku akan membayar semua kekurangan ini kepadanya, aku pasti akan menyayangi nya sepanjang masa."

Suasana menjadi hening untuk beberapa saat lamanya, tiada kedengaran sedikit suarapun, mereka seakan-akan sudah terbawa ke alam pikirannya masing-masing.

"Saudara Ong !"

Tiba-tiba Thia Eng menyapa dengan suara yang lirih.

"Ada apa saudara Thia?"

"Apakah kau hendak pergi menengok keadaan dari Thay khek cinkun dan Mo ini seng kiam?"

Ong Bun kim berpikir sejenak, kemudian sahutnya.

"Aku harus pergi melatih ilmu pedang, rasanya tak mungkin bisa pergi kesana, apakah Saudara Thia dapat menerangkan keadaanku ini kepada mereka berdua, kalian mohonkan maaaf dari ku"

"Baiklah kalau begitu siaute akan mohon diri lebih dahulu"

"Silahkan saudara Thia."

Thia Eng segera bangkit berdiri dan berjalan keluar dari tempat itu, sekejap kemudian bayangan tubuhnya juga sudah lenyap dari pandangan mata.

Maka Ong Bun kim dan Kwan Siok kim segera mengucapkan terima kasihnya kepada Hoat hay siangjin ketua partai Siau lim yang telan meminjamkan ruangan Tat mo wannya untuk menyelenggarakan pertemuan penyembahan pedang tersebut, setelah itu mereka baru berangkat meninrggalkan kuil Sitau lim si.

Di tqengah jalan Ongr Bun kim bertanya kepada Kwan Siok kim.

"Noaa Kwan kau hendak kemana?"

"Aku cuma keluar menengok dirimu, sekarang aku hendak pulang kerumah dan kau?"

"Aku akan ke gua Bu cing tong untuk berlatih pedang"

Maka berangkatlah kedua orang itu menuju ke gua Bu cing tong, ketika sampai dibawah bukit Thian mo san Kwan Siok ling baru mohon diri kepada pemuda itu.

Perpisahan memang selalu terasa berat, dengan perasaan yang berat mereka saling berjanji untuk bertemu kembali di lain waktu sebelum akhirnya berpisah menuju ketempat masing-masing.

Demikianlah setelah berpisah dengan Kwan Siok ling, berangkatlah Ong Bun kim menuju ke gua Bu cing tong, tak urung ia merasa kesepian juga untuk mendiami ruangan yang begitu besar seorang diri.

Tapi rasa kesepian itu segera terbunuh setelah ia menetap disana dan mengeluarkan kitab pedangnya untuk melatih diri dengan ilmu pedang Sin-kiam-kiam hoat yang maha dahsyat itu...

Waktu berlalu dengan cepatnya...

Untuk menyaksikan ketujuh jurus ilmu pedang itu, Ong Bun kim telah membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menguasahinya setiap jurus serangan yang dipergunakan tentu memiliki daya kekuatan yang benar-benar luar biasa sekali.

Ketika mereka merasa yakin bahwa apa yang dipelajarinya sudah cukup sempurna, Ong-Bun kim memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu.

Apa yang dipikirkan segerapun dilaksanakan, ketika melangkah keluar dari gua Bu cing tong.

dalam hati kecilnya dia berpikir.

"Sekarang aku harus pergi kemana lebih dulu. Aaah, benar! Aku musti mencari Ciu Li li, pembunuh ayah ibuku itu untuk membalas dendam...."

Ia bertekad akan menggunakan tenaganya itu untuk membalas dendam sakit hatinya.

Begitu keputusan diambil, dia lantas menggerakkan badannya meluncur kearah lembah Thian mo sia, dia tak menghubungi Kwan Siok kim lebih dulu, seorang diri didalam lembah Thian mo sia yang tersohor karena keangkerannya itu.

Setelah menembusi hutan batu karang yang menjulang tinggi ke angkasa, sampailah pemuda itu di hadapan selat Thian mo sia.

Ong Bun kim tidak berhenti sampai disitu saja, dia lantas melanjutkan perjalanannya meluncur masuk ke dalam lembah tersebut.

Tiba-tiba suatu bentakan keras yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan keheningan.

"Berhenti!"

Bayangan manusia menyambar lewat, tahu-tahu beberapa orang manusia kilat atau San tianjin telah muncul didepan mata dan menghadang jalan perginya.

Ong Bun kim sama sekali tidak menghentikan langkah tubuhnya, sambil membentak keras tubuhnya menerjang kemuka, diantara ayunan telapak tangannya jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang silih berganti.

Ditengah lengkingan jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma itu, tahu-tahu Ong Bun kim sudah meneroboi masuk ke dalam lembah Thian mo sia.

Tiba-tiba bayangan putih kembali berkelebat lewat didepan mata, puluhan orang manusia kilat kembali munculkan diri didepan mata dan menghadang jalan perginya.

"Minggir kalian dari sini!"

Bentak Ong Bun kim keras.

Di tengah bentakan yang amat keras itu, tenaga serangannya yang maha dahsyat segera dilontarkan ke depan.

Serangan kilat yang dilancarkan Ong Bun kim ini dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, sementara pada saat yang hampir bersamaan, puluhan orang manusia kilat pun berdatangan melepaskan sebuah pukulan yang tak kalah hebatnya.

Dimana hembusan angin puyuh menyambar lewat, Ong Bun kim segera merasakan datangnya suara tekanan maha dahsyat yang menggencet tubuhnya, dalam keadaan begitu terpaksa Ong Bun kim harus mengundurkan diri ke belakang.

Sorot matanya yang tajam segera memandang sekejap sekeliling tempat itu, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, dengan suara keras dia membentak.

"Kalian enggan memberi jalan kepada ku?"

"Benar!"

OooOdwOooo BAB 74

"CRIIING....."

Suara dentingan nyaring bergema memecahkan keheningan, tahu-tahu pedang "Sin-kiam"

Milik Ong Bun kim telah diloloskan dari sarungnya. Cahaya tajam yang berkilauan segera memancar keempat penjuru, hawa dingin serasa menyelimuti angkasa. Tiba-tiba terdengar seorang menjerit tertahan.

"Aaaah...! Pedang Sin-kiam..."

"Benar!"

Sahut Ong Bun-kim dengan hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya.

"inilah pedang Sin-kiam, bila kaIian tak mau menyingkir lagi, hati-hati kalau aku akan membinasakan kalian semua."

Seorang segera tertawa dingin.

"Saudara, kau tak usah menggerbtak sambal di hdadapan kami, taak nanti kami sebmua akan jeri kepada pedangmu itu, justru ingin kami ketahui sampai dimanakah kehebatan dari pedangmu itu"

"Bangsat! Jadi kalau begitu kalian sudah pada bosan hidup? Bagus lihat serangan!"

Ditengah bentakan nyaring, pedang Sin kiam di ayunkan ketengah udara, cahaya tajam berkilauan memenuhi angkasa diiringi desingan suara yang amat nyaring, sebuah serangan dahsyat telah dilancarkan keluar.

Jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera berkumandang memenuhi seluruh angkasa.

Belum lagi suara pedang menyambar lewat, cahaya tajam yang memancar keluar sudah cukup untuk merenggut nyawa manusia, empat orang manusia kilat yang berada tepat dihadapannya segera tersambar oleh senjata mestika itu dan tewas seketika.

Diantara jeritan jeritan ngeri yang menyayatkan hati tersebut, Ong Bun kim kembali melanjutkan perjalanannya langsung menerjang ke arah bangunan megah berbentuk benteng yang merupakan markas besar dari perguruan San tian bun itu.

Gerakan tubuh yang dilakukan Ong-Bun-kim ini sudah teramat cepat, bayangan manusia hanya berkelebat lewat, tahu-tahu ia sudah tiba di pintu gerbang perguruan San tian bun tersebut.

Tiba-tiba bayangan manusia berkelebat lewat, kembali ada puluhan sosok bayangan manusia menghadang jalan perginya.

Melihat kesemuanya itu Ong Bun kim naik pitam, dengan wajah berubah menjadi dingin menyeramkan bentaknya.

"Bangsat, kalian mau menyingkir tidak?"

Dari rombongan jagoan tersebut, segera muncul seorang manusia kilat, agaknya ia merupakan pemimpin dari rombongan tersebut, dengan suara sedingin es segera tegurnya.

"Ada urusan apa kau datang kemari?"

"Untuk mencari buncu kalian !"

Belum lagi Ong Bun kim menyelesaikan kata-2 nya, mendadak dari balik ruangan yang megah itu terdengar seseorang berkata dengan suara yang merdu.

"Hanya satu bulan tak bersua, tampahnya kau Ong Bun kim telah berhasil mempelajari ilmu sakti dari pedang sin kiam? Bagus ... bagus sekali. Justru ingin kuketahui, sampai dimanakah kehebatan ilmu pedang Sin kiam kiam hoat yang telah kau pelajari itu."

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, dari balik pintu gerbang segera muncul sesosok bayangan manusia dengan langkah yang amat pelan, orang itu tidak lain adalah Ciu Li li, Buncu dari perguruan San tian bun..Selapis hawa napsu membunuh yang tebal segera menyelimuti seluruh wajah Ong Bun kim begitu dilihatnya musuh besar pembunuh orang tuanya itu telah menampakkan diri didepan mata.

Sambil tertawa seram serunya.

"Ciu Lili tempo hari aku telah menerima sergapan licikmu yang nyaris mengakbibatkan kematianku, nah! Sengaja aku datang kemari hari ini untuk membayar hutang-hutang itu!"

Ciu Li li tertawa dingin.

"Heeehh... heeehh... heeehh Ong Bun kim, sekalipun kau memiliki pedang Sin kiam, bukan berarti aku bakal jeri untuk menghadapimu!"

Ong Bun kim tertawa seram.

"Haaah... haaahh... haaahh... aku toh tidak mengatakan kalau Buncu takut kepadaku!"

"Ong Bun kim dengan cara apakah kau hendak membalas dendam sokit hatimu itu? Mengapa tidak kau utarakan sendiri secara berterus terang..."

"Heeeh... heeeh.... heeeh.... tidak kusangka kalau Ciu Buncu juga seorang yang suka berteras terang"* jengek Ong Bun kim sambil tertawa dingin.

"bagus sebagai seorang tamu, aku Ong Bun kim akan menuruti kemauanmu saja!"

"Bagus sekali, kenapa kita tidak mendatangi bukit terjal itu lagi untuk berduel disana?"

"Tempat bagus sekali, silahkan berangkat Ciu Buncu."

Tanpa mengucapkan sepatah katapun Ciu Lili segera berangkat lebih dahulu menuju ke tebing curam dibelakang gunung sana.

Ong Bun kim tidak berdiam diri belaka, dengan cepat diapun menggerakkan tubuhnya menyusul dari belakang.

Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah berdiri diatas tebing curam itu dan saling berhadapan.

Sambil menggigit bibir menahan rasa dendam yang berkobar, Ong Bun kim berkata.

"Ciu Li li, aku akan membacok tobuhmu menjadi tiga bagian, kemudian membuang nyawamu kedalam jurang."

"Jangan tekebur dulu Ong Bun kim!"

Jengek Ciu Li li sambil tertawa dingin "kita toh belum melakukan pertarungan siapa menang siapa kalah juga belum diketahui, apakah kau tidak merasa bahwa perkataanmu itu terlalu awal diucapkan?"

Ciu Li li tidak merasa yakin kalau dirinya bakal tewas, ditangan lawan itulah sebabnya merasa takutpun tak ada gunanya, dia masih yakin kalau ilmu silat yang dimilikinya cukup tangguh untuk membela diri, itulah sebabnya terhadap keinginan Ong Bun kim untuk membalas dendam itu sedikitpun ia tidak memikirkannya kedalam hati.

"Ciu Li li"

Kembali Ong Bun kin membentak dengan suara sedingin es "aku akan segera melancarkan serangan!"

"Silahkan!"

Kegusaran dan api dendam yang berkobar didalam dada Ong Bun kim saat itu sudah tak terbendung lagi, sambil membentak keras tubuhnya segera meluncur kedepan dan langsung menerjang tubuh Ciu Li li yang berada dihadapannya itu.

Didalam tubrukarn yang dilancartkan oleh Ong Buqn kim ini, dia rtelah sertakan juga seluruh tenaga dalam yang dimilikinya, sungguh mengerikan sekali keadaannya.

Diantara kilatan cahaya pedang yang menyilaukan mata, pedang sin kiam yang berada ditangannya telah diluncurkan kedepan melancarkan sebuah serangan yang mematikan.

Daya kekuatan yang terpancar dari balik pedang Sin kiam tersebut betul-betul luar biasa sekali, diantara gulungan cahaya hijau yang memenuhi seluruh angkasa mengancam dada Ciu Li li dengan sebuah ancaman maut yang mengerikan sekali.

Sementara cahaya kilat yang tajam dengan kekuatan yang maha dahsyat langsung menerjang kemuka.

Ciu Li li membentak keras, sambil memutar badannya cepat-cepat dia menghindar ke samping.

Sementara tubuhnya sedang berkelit dari ancaman, Ong Bun kim telah melancarkan kembali serangannya yang kedua dengan kecepatan yang jauh lebih mengerikan lagi.

Pedang mestika itu benar-benar sebuah benda yang luar biasa sekali, cahaya pedang bersinar bagaikan halilintar dan sanggup mencabut nyawa siapa pun yang terkena sambarannya, hampir saja Ciu Li li terkurung dibalik sinar pedang yang amat tebal itu sehingga tak mampu meloloskan diri.

Pada mulanya Ciu Li li sama sekali tidak memandang sebelah matapun terhadap kehebatan ilmu pedang Sin kiam, tapi setelah terbukti dengan keampuhannya, dia baru terkesiap, sambil membentak keras secara beruntun dia lancarkan dua buah serangan kilat.

Tapi begitu kedua buah serangan tersebut dilancarkan, percikan darah segar segera berhamburan kemana-mana, sebuah goresan panjang yang tiga inci dalamnya telah merobek lengan kirinya itu sehingga tak ampun lagi darah segar bercucuran membasahi seluruh lantai.

Melihat musuhnya sudah terluka, Ong Bun kim mendesak maju lebih kedepan, sambil tertawa seram katanya.

"Ciu Li li, hari ini juga aku akan menuntut hutang darah dengan darah segar tubuhmu!"

Ciu Li-li tertawa dingin.

"Hmm.....! Belum tentu!"

Jawabnya.

"Ciu Li li, robek kain cadar yang menutupi wajahmu itu, ingin kulihat bagaimanakah tampang dengan perempuan jalang semacam kau itu"

Ciu Li li kembali tertawa dingin.

"Kau merasa dirimu memiliki kepandaian yang tangguh, mengapa tidak kau robek sendiri cadar mukaku ini?"

Jengeknya.

Mengikuti desakan Ong Bun kim yang selangkah demi sejangkah maju kedepan itu, Ciu Li Ii pun selangkah demi selangkah mundur terus ke sudut kanan tebing curam tersebut, dari delapan jengkal menjadi lima jengkal...

tiga jengkal...

dan akhirnya berhenti.

Ong Bun kim tertawa seram.

"Heeh... heeh... heehh... Ciu Li-li kau tak akan lolos dari cengkeramanku"

Belum habis perkataan itu tubuh Ong Bon kim telah meluncur kemuka dengan kecepatan luar biasa, cahaya tajam menyambar lewat, pedang Sin kiam tersebut telah diayunkan kedepan menyerang tubuh Ciu Li-li.

Pada saat Ong Bun kim sedang melancarkan serangan itulah tiba tiba...

Ciu Li li melepaskan sebuah serangan untuk membendung datangnya serangan tersebut kearahnya, tubuhnya melejit ketengah udara dan langsung terjun kedalam jurang yang dalamnya tiada taranya itu.

Tindakan yang sama sekali diluar dugaan ini sungguh membuat Ong Bun kim menjadi tertegun dan melongo, dia tak pernah mengira sampai kesitu.

Mimpipun dia tak akan mengira kataa Ciu Li li lebih rela bunuh diri dengan terjun ke-dalam jurang daripada menerima kematiannya diujung pedang Ong Bun kim.

Untuk setaat lamanya Ong Bun-kim menjadi tertegun dan tak habis mengerti.

Ia betul-betul merasakan hatinya berdebar keras oleh tindakan Ciu Li Ii yang bunuh diri dengan terjun kedalam jurang itu, ia tidak menyangka kalau didetik terakhir keberhasilannya untuk membalas dendam sakit hatinya, Ciu Li li mengambil keputusan untuk berbuat demikian.

Bagaimana pun juga kejadian ini membuatnya merasa amat menyesal sekali.

Entah lewat berapa lamanya, tiba-tiba Ong bun kim mencium semacam bau mesio yang aneh sekali, sekujur tubuhnya kontan saja bergetar keras, tanpa sadar ia menjerit.

"ini tertanam-obat peledak!"

Baru saja ucapan terakhir itu diucapkan, tiba-tiba terdengar suatu ledakan dahsyat yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan keheningan, ledakan yang dahsyat itu juga menggoncangkan seluruh permukaan tanah di mana ia berada.

Paras muka Ong Bun kim seketika itu juga berubah sangat hebat..

Menyusul kemudian terjadilah suate ledakan dahsyat yang benar-benar memekikkan telinga, jilatan api yang membara segera memancar ke tengah udara, batu cadas berguguran ke jurang, bumi serasa bergoncang keras, keadaannya sungguh mengerikan sekali.

Ledakan mesiu itu berkumandang dari jauh dan makin lama semakin dekat, semua jalan tembusnya hampir tersumbat seluruhnya.

"Blaaammm.."

Suatu ledakan dahsyat yang memekikkan telinga kembali berkumandang memecahkan kesunyian, batu karang berguguran dan berterbangan memenuhi seluruh angkasa, bahkan banyak diantaranya yang meluncur ke arahnya ini membuat Ong Bun kim semakin terkesiap, buru-buru telapak tangannya diayunkan ke depan memukul rontok batuan yang mengancam ketubuhnya itu.

Tetapi baru saja ia berhasil mbenghancurkan sedrangan batu gelaombang yang perbtama, hujan batu yang dilontarkan akibat dari ledakan yang kedua kembali meluncur ke tubuhnya.

Dalam keadaan begini, ia benar-benar merasa tak mampu untuk melakukan perlawanan lagi.

Mau mundur jelas tak mungkin, sebab di-belakang sana terbentang sebuah jurang yang dalamnya tak terkirakan.

Dalam keadaan demikian, maka satu-satunya jalan baginya adalah memilih jalan satu diantara kedua buah jalan yang ada, tetap berada disini atau terjun kedalam jurang?

Dalam pada itu sudah banyak sekali batuan cadas yang menghajar diatas badannya, darah kental telah bercucuran membasahi sekujur tubuhnya, ia hampir saja berubah menjadi manusia darah.

Tapi sianak muda itu tetap menggigit bibir menahan diri, sampai pada akhirnya, ketika ia sudah merasa tak tahan untuk tetap berada disana, sambil menghimpun kekuatannya yang terakhir dia melompat kedalam jurang.

"Aaaah !"

Tanpa disadari ia menjerit kaget, tubuhnya meluncur lurus ke bawah, akhirnya diapun jatuh tak sadarkan diri..

"Pluunng......!"

Ternyata ia terjatuh kedalam sungai bssar yang terbentang didalam jurang tersebut.

Tubuhnya segera terbawa oleh arus sungai yang deras itu mengalir ke depan.

Entah sudah berapa jauh tubuhnya terbawa oleh arus, akhirnya Ong Bun kim tersadar kembali dari pingsannya, ketika ia mencoba untuk memperhatikan keadaan disekitar sana, ternyata entah sedari kapan tangannya sudah memegang sebuah balok kayu dan sedang mengalir menuju ke hilir dengan gerakan pelan.

Mendadak....

Dari antara lekukan dasar sungai tersebut tampak ada puluhan sosok mayat yang sedang mengalir pula ke arah hilir, menyaksikan kesemuanya itu, Ong Bun kim merasa amat terkejut.

Darimana datangnya puluhan sosok mayat itu?

Sementara berpikir demikian, tubuh Ong Bun kim telah mengalir menuju ke hilir, mengikuti arus sungai yang deras, ketika membawa sampai ke sebuah jeram pemisah air, ia terbawa oleh arus yang kuat mengalir ke sebelah kiri.

Ditengah sungai tampak batu-batu cadas bermunculan disana sini, setelah melewati goncangan demi goncangan akibat benturan yang keras, hampir saja ia jatuh pingsan karena getaran-getaran tersebut mengakibatkan isi perutnya mengalami luka yang cukup parah.

Arus sungai semakin mengalir kedepan semakin deras alirannya.

Sungai tersebut makin kedepan semakin sempit pula permukaannya...

Waktu itu sekujur badan Ong Bun kim sudah penuh dengan luka, hampir boleh dibilang sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk melakukan gerakan lagi, dalam keadaan demikian terpaksa ia pasrahkan mati hidupnya kapada nasib.

Tiba-tiba...

Ong Bun kim menjebrit tertahan, tdernyata air sunagai itu mengalibr menuju ke dalam sebuah gua karang.

"Mati aku kali ini !"

Pekik Ong Bun kim didalam hati.

Mendadak...

Segulung arus kuat menggulung tiba dan membawa kayu yang dipegang Ong Bun kim itu meluncur kedepan dengan lebih kencang, dimana akhirnya dengan menimbulkan suara benturan yang sangat keras memasuki dinding gua karang itu.

Akibat dari benturan tersebut Ong Bun kim merasakan isi perutnya sekali lagi mengalami suatu kegoncangan yang maha dahsyat, tak ampun dia segera muntah darah segar, tubuhnya terseret masuk dengan cepatnya kedalam gua karang tersebut.

Maka semua kesadarannya pun ikut hilang pada saat itu pula.

Entah berapa lama telah lewat, pelan-pelan pemuda itu sadar kembali dari pingsannya ia merasakan sekujur badannya kesakitan semua, ia mencoba untuk meraba sekeliling tempat itu, ternyata tempat dimana ia berbaring masih terdapat air.

Suasana dlsekelilingnya gelap gulita, sukar untuk melihat keadaan disekitar tempat itu.

"Apakah aku belum mati...?"

Ingatan tersebut melintas lewat didalam benaknya.

Tapi begitu ingatan tersebut melintas lewat, tanpa terasa sekujur tubuhnya ikut menggigil keras, bulu kuduknya pada berdiri semua.

Akan tetapi ketika sinar matanya menangkap kilatan cahaya tajam yang terpancar keluar dari pedang Sin kiam tersebut, itu segera membuktikan diri bahwa dirinya masih hidup.

Teringat kembali dengan peristiwa yang baru dialaminya, sekali lagi sianak muda itu mengkirik karena ngeri.

"Tempat manakah ini?"

Ingatan lain melintas dalam benaknya.

Dia tak tahu dimanakah dia berada sekarang, maka cepat-cepat pemuda itu duduk bersila mengatur pernapasan dan berusaha untuk menyembuhkan dulu luka dalam yang dideritanya.

Untunglah tak lama kemudian semua luka yang dideritanya itu berhasil disembuhkan.

Sekarang, secara lamat-lamat ia dapat menangkap bahwa tempat dimana ia berada sekarang adalah sebuah gua.

Pelan-pelan ia bangkit berdiri kemudian berjalan kedepan.

Entah beberapa langkah dia sudah lewat, tiba-tiba ujung kakinya seperti membentur sesuatu benda yang amat keras, sewaktu diperiksa pemuda itu segera menjerit kaget.

Ternyata tulang belulang manusia berserakan disekeliling tempat itu.

Tak kuasa lagi Ong Bun kim bersin beberapa kali, tanpa terasa bulu roma pada bangun berdiri dia mundur dua tiga langkah kebelakang.

Ia merasakan suatu cekaman perasaan ngeri yang amat menakutkan sebab melihat dari begitu banyaknya tulang belulang manusia yang berserakan disekitar tempat itu, dapat diketahui bahwa tidak sedrikit manusia yatng tiba disitu qdan tewas ditemrpat itu juga.

"Tempat ini benar-benar adalah suatu tempat setan...."

Pekik Ong Bun kim didalam hati.

Dengan sangat berhati-hati dia berjalan memasuki gua tersebut.

Gua air itu panjang sekali, sudah tiga kali lebih Ong Bun kim menelusurinya, tapi belum juga nampak ujungnya, sementara suatu perasaan dingin yang mendatangkan perasaan ngeri tiba-tiba muncul dalam hati kecil anak muda itu.

Dia merasa seakan-akan sedang berhadapan dengan maut yang setiap saat mengancam jiwanya.

Perasaan semacam ini belum pernah dirasakan sebelumnya, tapi sekarang dia telah merasakan.

Setelah berjalan lebih kurang dua kaki lagi, akhirnya sampailah Ong Bun kim di depan sebuah pintu yang amat besar.

Ia mencoba untuk mendorong pintu besar itu.

"krek"

Dengan cepat pintu batu itu terpentang lebar.

Dengan membawa perasaan tercekat dan kuatir, Ong Bun kim masuk ke dalam, ternyata tempat itu adalah sebuah ruangan batu yang amat besar sekali.

oooOdwOooo BAB 75 SUASANA didalam ruangan batu itu sangat gelap gulita, dekat suatu lekukan batu yang cekung kedalam, Ong Bun kim menyaksikan ada sesosok bayangan hitam, seperti manusia seperti pula makhluk aneh bercokol ditempat itu, bergidik Ong Bun kim menyaksikan kesemuanya itu.

"Siapa?"

Dengan suara keras ia membentak.

Bayangan hitam itu tetap tak berkutik di tempat semula.

Suatu perasaan yang amat mengerikan timbul didasar hati Ong Bun kim, pedang Sin kiam dipegangnya erat-erat kemudian selangkah demi selangkah dia maju kemuka mendekati bayangan hitam tersebut...

Sreet!

Sreet!

Sreeet!

Langkah kaki yang menimbulkan suara gemerisik berkumandang dalam ruangan itu semakin menambah seramnya suasana disekitar sana.

Dalam pada itu, Ong Bun kim telah tiba lebih satu kaki dari hadapan bayangan hitam, itu sekarang dia dapat melihat jelas bahwa bayangan tersebut adalah sesosok tubuh manusia, rambutnya panjang dan awut-awutan tidak karuan, keadaannya sangat mengerikan.

Ong Bun kim menarik napas dingin tanpa sadar dia mundur satu langkah kebelakang.

Setelah gejolak perasaan dalam hatinya berhasil diatasi pemuda itu segera membentak lagi.

"Siapakah kau?"

Orang itu masih tetap tidak menjawab atau melakukan sesuatu gerakan, berkutikpun tidak.

"Jangan jangan orang itu sudah mati "

Demikian Ong Bun kim berpikir. -oo0dw0oo--

Jilid 24 TERBAYANG sampai kesitu, tanpa terasa dia maju lagi beberapa langkah, tapi setelah semakin dekat dan semakin jelas mengamati keadaan orang itu, dia baru tahu kalau orang tersebut belum mati, melainkan sedang bersemedi.

Usia orang itu diantara lima puluh tahunan, walaupun rambutnya awut-awutan tak karuan tapi secara lamat lamat masih dapat dilihat bahwa paras mukanya cukup gagah, saat itu dia sedang bersemedi, rupanya sedang melatih semacam kepandaian yang maha sakti.

Setengah harian lamanya Ong Bun kim mengamati orang itu, lama kelamaan ia berhasil menemukan bahwa orang itu rupanya sedang mengalami kesulitan didalam usahanya untuk menembusi salah satu nadi pentingnya.

Menyaksikan hal tersebut, timbul perasaan iba dalam hatinya, maka ia lantas maju ke depan dan menghampiri orang itu, baru saja telapak tangan kanannya siap ditempelkan diatas jalan darah Mia bun hiat ditubuh orang itu, tiba-tiba ia menarik kembali tangannya cepat-cepat.

Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benaknya dia berpikir.

"Jangan-jangan semua tulang belulang yang berserakan disekitar gua ini merupakan hasil karya pembunuhan yang dilakukan olehnya? Kalau benar demikian, bukankah aku akan segera menciptakan seorang pembunuh keji dalam dunia persilatan?"

Ketika ingatan itu melintas lewat, ia menjadi sangsi dan tak tahu apa yang musti di lakukan.

Akhirnya satu ingatan melintas kembali dalam benaknya, cepat-cepat telapak tangan kanannya ditempelkan diatas jalan darah Mia bun hiat orang dan menyalurkan hawa murninya kedalam tubuh orang tersebut.

Tenaga dalam yang dimiliki Ong Bun kim benar-benar amat sempurna, ibaratnya menambah minyak didalam kobaran api, begitu hawa mumi tersebut tersalur ke dalam tubuh manusia aneh itu.

sekujur badannya segera bergetar keras, dua gulung tenaga yang bergabung menjadi satu segera menciptakan suatu kekuatan dahsyat yang langsung menerjang ke atas sebuah nadi penting dalam tubuhnya.

Tidak mengalami banyak rintangan, nadi sian kwan yang berada didalam tubuh orang itu berhasil dibantunya sampai tembus, maka dia pun menarik kembali tenaganya seraya menempelkan ujung pedang sin kiam diatas tengkuk orang.

Pemuda itu memutuskan untuk mengorek keterangan lebih dulu dari mulut orang ini, kemudian baru memutuskan apakah hendak membunuhnya ataukah tidak.

Lebih kurang setengah jam kemudian, orang itu mulai menggerakkan badannya dan pelan-pelan membuka matanya agaknya ia sudah dapat merasakan bahwa nadi penting dalam tubuhnya yang selama ini tersumbat, kini berhasil tertembus.

Dengan suara menggeledek Ong Bun kim segera menegur.

"Siapa kau? Hayo jawab!"

Bentakan Ong Bun kim yang diutarakan secara tiba-tiba ini sangat mengejutkan orang itu, dengan perasaan terkesiap ia balik bertanya.

"Sesungguhnya apa yang telah terjadi?"

"Aku bertanya kepadamu, siapa kau?"

"Siapa pula kau sendiri?"

"Aku Ong Bun tim, tolong tanya apakah tulang belulang manusia yang berserakan diatas tanah adalah korbankorban yang telah tewas ditanganmu."

"Kalau benar kenapa?"

"Asal kutekan tanganku lebih keras, niscaya batok kepalamu akan berpisah dengan tubuhmu!"

"Kalau bukan?"

"Tentu saja ada pertimbangan yang lain."

"Kau tidak kuatir aku membohongi mu?"

"Membohongi aku?"

"Benar, membohongi dirimu kalau orang-orang tersebut bukan mati ditanganku"

Ong Bun kim segera tertawa dingin.

"Selama hidup aku paling percaya dengan perkataan orang, asal kau menjawab yaa atau tidak, itu sudah lebih dari cukup!"

Orang itu segera tertawa ewa katanya.

"Apakah kau yang telah membantuku untuk menembusi nadi Thian siat siok wan tersebut"

"Benar!"

"Kalau toh kan telah membantu diriku, mengapa pula hendak membinasakan aku?"

"Asal kau adalah orang baik, sudah barang tentu aku tak akan membunuh dirimu!"

"Agaknya kau adalah seorang pemuda yang amat istimewa, cuma aku dapat memberitahu kepadamu, orangorang itu bukan mati di tanganku, tapi mati ketika terbawa oleh arus memasuki gua ini"

"Sungguh?"

"Bukankah kau paling percaya dengan perkataan orang?"

Tiba-tiba orang itu balik ber tanya. Ong Bun kim dibuat tertegun, maka dia lantas tertawa dan menarik kembali katanya.

"Aku dapat mempercayai dirimu!"

"Mengapa kau bisa sampai disini?"

Orang itu lantas bertanya.

"Aku dibawa oleh arus sungai masuk kedalam gua ini"

"Tidak sampai mampus?"

"Omong kosong, seandainya akn sudah mampus, mana mungkin saat ini bisa bercakap-cakap denganmu?"

Orang itu segera tertawa nyaring.

"Haaahh....haaahh... haaahh... betul, betul, memang ucapanku itu sama sekali tak ada artinya"

Dia berkata.

"cuma sedari dulu sampai sekarang, belum pernah ada orang yang sanggup tiba di dalam gua ini dalam keadaan hidup kecuali kau seorang!"

"Bagaimana dengan kau sendiri?"

"Aku bukan datang lewat sana... haah?"

Belum habis dia berkata, tiba-tiba orang itu menjerit tertahan, sinar matanya segera dialihkan ke atas pedang Sin kiam yang berada ditangan Ong Bun kim itu.

Mencorong sinar tajam dari balik matanya Itu, serunya tertahan.

"Benarkah pedang dalam genggaman mu itu adalah pedang Sin kiam..?"

"Benar!"

Baru selesai dia berkata, orang itu sudah menerjang ke depan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, tangannya langsung menyambar ke arah pedang Sin kiam yang berada ditangan Ong Bun kim itu.

Tindakan lawan yang dilakukan secara tiba-tiba ini sama sekali berada diluar dugaan Ong Bun kim, mimmipun dia tak menyangka kalau musuhnya secara tiba-tiba akan merampas pedangnya.

Didalam keadaan tidak siap, telapak tangga kirinya segera diayunkan kedepan untuk membendung terjangan orang, sementara tubuhnya cepat-cepat mundur ke belakang.

Tindakan yang dilakukan oleh Ong Bun kim ini tak bisa dibilang terlambat akan tetapi kenyataanya orang itu bisa bergerak jauh lebih cepat hingga di saat tubuh Ong Bun kim belum sempat mundur secara keseluruhannya, seraagan kedua-dari orang itu kembali sudah meluncur tiba.

Serangannya yang kedua ini ternyata jauh lebih cepat daripada serangan yang pertama tadi, tak terIukiskan rasa kaget Ong Bun kim menghadapi keadaan tersebut.

Segera bentaknya dengan penuh kegusaran.

"Kau ingin mampus rupanya?"

Sekali lagi telapak tangan kirinya diayunkan ke depan untuk membendung datangnya serangan tersebut. Tapi orang itu semakin nekad sekali lagi ia menerjang kemuka sambil berpekik lantang.

"Serahkan pedang Sin-kiam itu kepadaku"

Bagaikan setan yang sedang kelaparan, secara kalap orang itu menerjang, menerkam dan menubruk dengan garangnya, ini membuat Ong Bun kim sangat terkejut, ia merasa bahwa musuhnya itu terlampau menakutkan.

Mendadak...

Tangan kanannya menjadi kesemutan, lalu pedang sinkiam tersebut terlepas dari genggamannya dan mencelat keudara, sementara orang itu mundur hampir satu kaki lebih dari posisi semula.

Tak terlukiskan rasa kaget Ong Bun kim menghadapi kenyataan tersebut, mimpipun ia tak menyangka kalau orang tersebut bukan saja memiliki ilmu silat yang sangat lihay, kenekadannya juga luar biasa.

Sementara itu terdengar orang aneh tadi sedang berpekik dengan raga gembira.

"Aaah...! Benar-benar adalah pedang sin-kiam."

Tiba-tiba Ong Bun kim tersentak kaget dari lamunannya, ia segera membentak nyaring.

"Cepat kembalikan pedang itu kepadaku!"

Tubuhnya melejit ketengah udara dan meluncur kedepan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, sementara telapak tangannya diayunkan kedepan, sebuah serangan yang amat dahsyat telah dilepaskan.

Tindak pembalasan yang dilakukan oleh Ong Bun kim ini boleh di bilang cepat sekali.

Tapi kenyataannya, hanya dengan suatu gerakan yang ringan, pihak lawan telah menghindar kembali sejauh dua kaki lebih dan posisi semula.

"Dari mana kau dapatkan benda ini?"

Ia bertanya. Ong Bun kim tidak menjawab pertanyaan orang, sebaliknya menjengek dengan dingin.

"Sungguh hebat kepandaianmu didalam merampas pedang tersebut!"

"Hayo jawab, darimana kau dapatkan pedang itu?"

"Dari Hek mo im !"

"Apa?"

"Aku bilang Hek mo im yang menyerahkan pedang sinkiam tersebut kepadaku!"

"Omong kosong!"

"Mengapa aku musti omong kosong?"

"Kau bilang Hek mo-im masih hidup di dunia ini?"

"Soal itu kau tak usah tahu, pokoknya serahkan kembali pedang tersebut kepadaku!"

"Coba kau terangkan dulu mengapa pedang Sin-kiam ini bisa terjatuh ketanganmu?"

Paras muka Ong Bun kim berubah hebat, ia tidak menjawab pertanyaan orang, bentaknya.

"Sesungguhnya kau mau serahkan pedang itu kepadaku atau tidak?"

Orang itu memandang sekejap keatas wajah Ong Bun kim yang penuh diliputi oleh hawa napsu membunuh itu, kemudian dengan sangat hormat mempersembahkan kembali pedang Sin kiam tersebut kehadapan Ong Bun kim, tindakan tersebut betul-betul diluar dugaan Ong Bun kim.

Untuk sesaat lamanya ternyata Ong Bun kim tidak menyambut kembali pedang Sin kiam tersebut, dia hanya mengawasi orang yang mencengangkan tersebut dengan pandangan termangu.

"Silahkan saudara untuk menerima kembali pedangmu!"

Dengan sangat hormat orang itu berkata. Dengan sikap yang kaku sekali Ong Bun kim menerima pedang Sin kiam itu, sebelum dia mengucapkan sesuatu orang itu kembali bertanya lagi.

"Tolong tanya bagaimana ceritanya sehingga pedang ini bisa terjatuh ketanganmu?"

Ketika dilihatnya orang itu tidak bermaksud untuk merampas pedangnya, maka secara ringkas Ong Bun kim menceritakan kisah "Pay kiam"

Tersebut padanya. Setelah mendengar penuturan tersebut, orang itu lantas berkata.

"Oooh... rupanya pedang Sin kiam telah menemukan pemiliknya.."

Dari mana kau bisa tahu kalau pedang ini adalah pedang Sin kiam?"

"Aku pernah berkunjung kegua Bbu cing tong."

"dApa? Kau pernaha berkunjung kegbua Bu cing-tong?"

"Betul, kejadian ini sudah berlangsung pada tiga puluh tahun berselang, waktu itu aku baru berusia dua puluh tahun, ketika tiba digua Bu cing tong, kutemukan sepucuk surat dari Hek mo im yang khusus ditinggalkan untukku, katanya aku bukan pemilik dari pedang Sin kiam tersebut. Sesudah berhenti sejenak dia bertanya.

"Pernahkah kau mendengar nama Pak keng lt-liong (naga dari kutub utara )Tan Liok?"

Ong Bun kim segera menggelengkan kepalanya.

"Maaf akan kebodohan boanpwe belum pernah (kudengar nama tersebut, apakah dia adalah diri cianpwe ?"

Ia mengangguk dan tertawa getir, kembali tanyanya.

"Apakah dalam dunia persilatan kau juga pernah mendengar nama Pak kek sin mo (iblis sakti dari kutub utara)?"

Mendengar nama itu, Ong Bun kim. merasa-amat terperanjat, bukankah Pak kek sin mo tak lain adalah Yu leng lojin?"

Setelah tertegun beberapa saat lamanya, Ong Bun kim lantas menyahut.

"Aku sudah pernah mendengar nama orang ini, akupun telah berjumpa muka dengannya"

"Dia adalah sahabatku...."

"Apa? Pak-kek sin mo adalah sahabatmu?"

"Benar, cuma peristiwa ini sudah berlangsung pada dua puluh tahun berselang!"

Setelah tertawa getir dia mendongakkan kepalanya dan termenung, agaknya sedang merenungkan kembali kenangannya dimasa lalu.

Lama.

lama sekali.....akhirnya dia mengalihkan kembali sinar matanya ke wajah Ong Bun kim tanyanya.

"Apakah kau ingin mengetahui tentang peristiwa yang telah menimpa diriku?"

"Silahkan, akan kudengarkan dengan seksama!"

Tan Liok tertawa getir, ujarnya.

"Dua puluh tahun berselang, ketika aku masuk kedalam gua Bu cing tong, aku menikah dengan seorang perempuan yang bernama Soat hay it su (rase sakti dari samudra salju), beberapa tahun kemudian kamipun memperoleh seorang putri."

"Sebetulnya keluarga kami ini termasuk suatu keluarga yang sangat berbahagia, tapi suatu ketika ternyata istriku telah bermain serong dengan Pak kek sin mo, dalam gusarnya aku bunuh istriku terbsebut."

"Bagaimdana dengan putraimu?"

Sela Ong bBun kim.

"Waktu itu aku sedang sedih bercampur marah, aku sama sekali tidak memperhatikan mati hidupnya putriku, setelah lewat beberapa hari kemudian aku baru menyadari apa yang telah kulakukan selama ini, sebenarnya aku hendak pergi mencari Pak kek sin mo untuk membales dendam, tapi sayang tenaga dalamku masih bukan tandingannya.

"Dalam putus asanya aku jadi teringat dengan pesan Hek mo im yang meminta aku datang kemari sebab disini tersimpan se

Jilid kitab Thian sian sin su (kitab sakti thian sian), akupun berlatih tekun siang dan malam agar suatu ketika bisa atau dapat kesempatan untuk membalas dendam selain bisa pula memenuhi pesan Hek mo im yang suruh aku membantu pemilik Sin kiam guna mewujudkan keadilan serta kebenaran di dalam dunia persilatan".

Ketika selesai mendengar penuturan tersebut, dengan kening berkerut Ong Bun kim lantas berkata.

"Jadi, semenjak itu kau pun berdiam disini hampir dua puluh tahun lebih tanpa keluar barang selangkahpun?"

"Benar !"

"Masih ingatkah kau siapa nama putri-mu itu?"

"Waktu itu dia sudah berusia tiga tahun, aku masih ingat dia bernama Tan Hong hong."

"Apa ?"

Dengan perasaan terkejut Ong Bun kim berteriak keras, bukankah Tan Hong hong adalah Bunga iblis dari neraka? Kalau begitu, Bunga iblis dari neraka adalah putri orang ini?"

Tampaknya kenyataan ini memang banyak benarnya, sewaktu berada diluar markas Yu leng bun tempo hari, Tan Hong-hong juga pernah memberitahu kepada Hian ih-liap bahwa ia bisa mendapatkan obat pemunah racun dari tangan Yu leng lojin, karena ibunya dan Pak kek sin mo pernah melakukan hubungan gelap, setelah ayahnya membinasakan ibunya, sejak itu pula kabar beritanya lenyap tak berbekas.

Sungguh tak nyana Ong Bun kim bisa terbawa arus sungai sampai didalam gua itu dan akhirnya berjumpa dengan ayah Tan Hong-hong di situ.

Agaknya Tan Liork dibuat terpertanjat oleh teriqakan dari Ong Brun kim itu, serunya kemudian.

"Adakah sesuatu yang tidak beres?"

Ong Bun kim memperlunak sikapnya, lalu berkata.

"Kau bilang putrimu itu bernama Tan Hong hong."

"Benar!"

"Aku pernah bersua dengannya!"

"Benarkan itu?"

Teriak Tan Liok dengan perasaan bergolak keras.

"Kau pernah bertemu dengannya? Jadi... Jadi dia masih hidup didunia ini?"

"Benar aku kenal dengan seorang nona yang bernama Tan Hong hong, tapi apakah benar dia atau bukan, aku tidak berani memastikannya..!"

Kulit wajah Tan Liok mengejang keras sekali, serunya.

"Asal aku dapat berjumpa dengan Tan Hong hong seperti apa yang kau maksudkan itu, aku segera akan mengenalinya apakah dia adalah putriku atau bukan, sebab wajahnya mirip dengan Ibunya!"

"Sekarang, apakah latihan sin kang mu telah berhasil mencapai pada puncaknya?"

"Yaa, sudah berhasil, mari kita pergi meninggalkan tempat ini!"

Seusai berkata, dia lantas beranjak lebih dulu meninggalkan tempat itu.

Ong Bun kim segera mengikutinya dari belakang, tampak mereka berjalan menuju kesuatu sudut ruang yang sangat gelap, dibawah tebing karang itu terdapat sebuah pintu kecil mereka berdua segera menerobos keluar dari sana.

Setelah menembusi sebuah pintu kecil, terpentang sebuah lorong sempit yang memanjang jauh kedepan sana, sedemikian sempitnya lorong itu sehingga seorang saja yang bisa lewat.

Tak lama kemudian, mereka sudah keluar dari gua itu.

Mulut gua penuh ditumbuhi pepohonan rotan serta semak belukar yang berduri, seandainya tidak-diperhatikan secara khusus, sulit untuk mengetahui kalau ditempat itu terdapat gua, lebih tak akan mengira kalau dibalik gua tersebut terdapat sebuah dunia lain.

Mereka berdua berdiri termangu-mangu diatas tebing kecil dengan sebuah sungai besar terbentang didepan mata, sejauh sinar matanya memandang yang tampak hanya mayat-mayat yang terapung diatas permukaan air.

Sedemikian banyaknya mayat yang terapung diatas permukaan sungai itu sehingga keadaannya benar-benar amat mengerikan, tanpa terasa membuat hati si anak muda itu bergidik.

Darimana datangnya mayat sebanyak itu diatas permukaan sungai besar itu?

Ong Bun kim mencoba untuk memperhatikan sekekeliling tempat itu dengan seksama, dipunggung bukit disebelah depan sana, akhirnya ia menjumpai bayangan bangunan yang berdiri megah.

Satu ingatan segera melintas dalam benak Ong Bun-kim, katanya.

"Cianpwe, apakah kau telah melihat mayat-mayat yang mengapung diatas permukaan sungai itu?"

"Yaa, sudah kulihat!"

"Tahukah kau perguruan apakah yang menempati bangunan rumah dipunggung bukit itu?"

"Apakah kau menduga ada orang sedang membantai anggota perguruan itu serta membuang mayat-mayatnya kedalam sungai?"

"Kemungkinan besar demikian, bagaimana kalau kita kesana untuk memeriksanya?"

"Baik, sekarang juga kita berangkat."

OooooOdwOoooo BAB 76 BERANGKATLAH kedua orang itu menuju kearah bangunan megah yang berada di punggung bukit tersebut dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, setelah melalui suatu undak-undakan batu yang tersusun rapi, mereka langsung menuju ke arah bangunan utama.

Sepanjang jalan mereka menyaksikan banyak sekali mayat manusia yang bergelimpangan dalam keadaan mengerikan.

Menyaksikan kesemuanya itu,Ong Ban kim merasakan hatinya bergidik, bulu romanya pada bangun berdiri, jelas suatu pembantaian secara besar-besaran telah berlangsung disana, betul-betul suatu peristiwa berdarah yang mengerikan.

Dalam waktu singkat mereka berdua telah tiba didepan bangunan utama tersebut, halaman di depan bangunan itu sangat luas, dinding pekarangannya sangat tinggi dengan pintu gerbang terpentang lebar, belasan sosok mayat manusia bergelimpangan disana sini, keadaan mereka betulbetul menggidikkan hati.

Ong Bun kim segera melompat mabju ke depan dand langsung meneraobos masuk kedablam ruang tengah yang sangat luas itu, diatas pintu gerbang terpancanglah sebuah papan nama besar yang bertuliskan.

"HIAT HO KAU"

Kembali dijumpai belasan sosok mayat manusia bergelimpangan diatas tanah, keadaan merekapun rata-rata mengerikan sekali, menyaksikan kesemuanya itu Ong Bun kim segera mengerutkan dahinya sembari berpikir.

"Benar-benar suatu perbuatan yang amat keji!"

Dengan langkah lebar dia segera berjalan masuk keruang dalam. Mendadak terdengar, seseorang membentak dengan suara yang berat dan dalam.

"Siapa disitu"

Mendengar teguran itu, Ong Bun kim merasa amat terperanjat, cepat dia mengalihkan sinar matanya ke arah mana berasalnya suara itu, tampak sesosok bayangan hitam sedang bergerak gerak disana.

Tercekat perasaan Ong Bun kim, untuk sesaat lamanya dia tidak mengucapkan sepatah katapun.

"Siapa kau?"

Kembali orang itu menegur.

"Aku adalah Ong Bun kim, siapa pula kau?"

"Apa? Kau yang bernama Ong Bun kim?"

"Benar, apakah kau kenal dengan diriku?"

"Walaupun aku belum pernah bersua denganmu tapi sudah lama kudengar akan nama besarmu itu, bukankah kau yang berhasil mendapatkan pedang sin kiam ketika diadakan penyembahan terhadap pedang di kuil Siau limsi..?"

"Betul, siapa pula kau?"

"Ketua dari perkumpulan Hiat ho kau!"

"Apa yang telah terjadi dengan perkumpulan anda?"

"Mengapa tidak kau tanyakan secara langsung kepada istrimu?"

"Istriku...?"

Seru Ong Ben kim dengan perasaan terkejut bercampur heran setelah mendengar perkataan itu. Orang itu kembali tertawa dingin.

"Heeeh heeehh....heeeehh.... buat apa kau musti berlagak pilon lagi? Bukankah Tay pangcu dari perkumpulan Hui mo pang, Kim losat adalah binimu?"

Hampir menjerit keras Ong Bun kim setelah mendengar ucapan itu. serunya dengan lantang.

"Jadi Kim losat yang btelah membawa odrang untuk membaantai perguruanbmu...?"

"Benar."

"Kenapa?"

"Dia minta perkumpulan kami agar menggabungkan diri dengan perguruannya, hram! Be tul partai kami tak lebih cuma sebuah partai kecil didalam dunia persilatan, tapi kami enggan dipergunakan tenaganya oleh kaum iblis yang sudah tak waras otaknya, oleh karena itu partai kami menolak permintaan mereka..."

"Oooh, jadi lantaran kalian menolak, maka dia lantas memimpin orang-orangnya untuk melakukan pembantaian disini?"

"Benar!"

"Dari seluruh jumlah anggota kalian, sudah berapa banyak yang terbunuh di tangan mereka?"

"Anggota perkumpulan kami hanya terdiri dari beberapa ratus orang, kini sudah tinggal setengahnya saja, mereka yang masih hidup sekarang sedang merundingkan suatu siasat untuk menghadapi serbuan mereka."

"Apakah dia akan datang kemari lagi?"

Baca Juga: Darah Ksatria Harkat Pendekar 2

Baca Juga: Kemelut Di Ujung Ruyung Emas 11

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert