Eps 7 Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id
Baca online Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id
Cersil Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id.
Terkesiap Ong Bun kim sehabis mendengar perkataan itu, paras mukanya berubah hebat.
"Tindakan kejam apakah yang telah ia lakukan?"
Tanyanya kemudian.
"Menurat apa yang kudengar, beberapa waktu berselang perkumpulan Cing ih pang dan Lui-hong-kau telah dibasmi oleh mereka, bahkan belakangan ini tindak tanduk mereka bertambah menggila, bukan perkumpulan perkumpulan kecil saja yang dibasmi, bahkan Hoa san, Soat-san dan Tiong cong pay pun ikut disikat sehingga berceceran darah amis diseluruh permukaan tanah"
"Sungguhkah perkataanmu itu?"
Dengan perasaan tercekat Ong Bun kim bertanya.
"Benari Tampaknya pihak Kun-lun dan Go bi-pay pun tak akan lolos dari tindak keji mereka!"
Paras muka Ong Bun-kim berubah hebat, hawa kegusaran segera menyelimuti wajahnya, ia tahu bila keadaan semacam ini dibiarkan berlangsung lebih jauh, maka peristiwa itu sesungguhnya merupakan suatu kejadian yang sukar dibayangkan dengan kata-kata, dari sini terbukti pula bahwa tindakan dari Hui-mo-pangcu Kim-lo-sat betulbetul teramat keji.
Saking tak kuatnya menahan gelora emosi, sambil tertawa dingin serunya kemudian.
"Aku bersumpah tak akan berpeluk tangan belaka sebelum berhasil melenyapkan Hui-mo-pang dari muka bumi!"
"Perduli bagaimanapun juga, obat penawar Itu toh berada disakunya"
Kata Tay-khek Cinkun.
"asal kau bersedia untuk kawin dengannya, siapa tahu badai pembunuhan yang kejam ini bisa diselamatkan?"
"Tapi sayangnya aku Ong Bun kim tak sudi untuk kawin dengannya dalam keadaan seperti ini."
"Keadaan macam apakah yang kau harap kan?"
"Ketika ilmu silatku dan kedudukanku jauh lebih tinggi daripadanya, cuma aku percaya aku Ong Bun kim pasti akan berhasil mendapatkan obat pemunah itu"
Setelah berhenti sejenak, tanyanya kepada Tiang seng lojin.
"Locianpwe, andaikata dalam sepuluh hari mendatang tidak makan obat pemunah, akan racun yang mengeram dalam tubuhku akan mempengaruhi keseimbangan tenaga dalam yang berada ditubuhku?"
"Pengaruhnya tetap ada walaupun hanya sedikit sekali, tapi kau tak usah kuatir."
"Kalau begitu, dimanakah letak gua Bu cing tong tersebut?"
"Di perbukitan sebelah utara dari Lui im bun, letaknya tak jauh dari bukit Thian mo san!"
Ong Bun kim segera mengangguk-angguk, keningnya berkerut kencang.
"Kalau begitu, boanpwe ingin mohon diri lebih dahulu"
Katanya.
"Kau hendak kemana?"
"Pergi mencari obat pemunah!"
"Biar aku berjalan bersamamu."
Seru Tay khek Cinkun cepat-cepat.
"Aku tahu bahwa kalian masih ada banyak urusan yang harus segera diselesaikan, karenanya akupun tidak menahan lebih jauh"
Kata Tiang seng lojin kemudian.
"biar Hian ih lihiap tetap tinggal disini, akan kupunahkan racun yang mengeram di tubuhnya."
"Baiklah!"
Dari sakunya Tiang seng lojin mengeluarkan sebutir pil berwarna hitam dan diserahkan kepada Ong Bun kim kemudian katanya.
"Telanlah obat ini setelah berhasil mendapatkan obat Ban nian hiat man san, dengan begitu akan punah sama sekali racun Cui sim ci tok tersebut, ambil dan bawalah, aku tak akan mengantar lebih jauh!"
Demikianlah Ong Bun kim, Tay khek Cinkun dan Yu Cing segera berpamit kepada Tiang seng lojin dan berangkat meninggalkan hutan Tiang-seng-lim langsung menuju ke arah bukit Thi gou san.
Suatu hari, sampailah mereka bertiga di suatu tempat yang tak jauh letaknya dari bukit Thi gau san, mendadak Yu Cing menghentikan perjalanannya, lalu dengan wajah murung dan sedih katanya.
"Locianpwe, Ong sauhiap, kita berpisah sampai disini saja".
"Kau hendak ke mana?"
"Pulang ke rumah!"
"Baiklah, semoga kau baik-baik menjaga diri"
Dengan sedih dan muiuag gadis itu melirik sekejap ke arah Ong Bun kim, dalam lirikannya itu penuh diliputi oleh perasaan sedih dan murung, bahkan terasa pula sedikit luapan rasa cinta.
Akhirnya ia berkata juga setelah menghela napas sedih.
"Kalian pun harus menjaga diri baik-baik!"
Seusai berkata, dia lantas melompat ke depan dan kabur dari situ dengan kecepatan tinggi.
Terhadap lirikannya yang terakhir sesaat sebelum berangkat itu, siapapun dapat melihat bahwa lirikan itu membawa luapan rasa cinta yang sangat tebal.
Ong Bun kim berdiri kaku disitu, ia berdiri termangu seperti orang yang kehilangan semangat.
"Mari kita berangkat!"
Akhirnya Tay khek cinkun berbisik memecahkan kesunyian.
Ong Bun kim mengangguk pelan, maka berangkatlah mereka menuju ke bukit Thi-gou san.
Entah berapa lama perjalanan sudah dilakukan, akhirnya sampailah mereka disebuah jalan bukit yang kecil dan sempit yang menghubungkan langsung dengan markas besar perkumpulan Hui-mo pang.
Menelusuri jalan kecil itu, tak lama kemudian dari kejauhan sana lamat-lamat tampak bayangan bangunan rumah yang berdiri megah diatas puncak bukit karang.
Kemudian beberapa waktu lagi, bangunan rumah itu sudah makin mendekat sehingga akhirnya tampaklah halaman luas didepan bangunan megah itu.
"Siapa?"
Suatu bentakan nyaring yang memekikkan telinga tibatiba berkumandang memecahkan kesunyian.
Menyusul bentakan itu, dua sosok bayangan manusia berbaju biru secepat kilat melayang datang kehadapan mereka berdua.
Tapi begitu mengetahui akan kedatangan Ong Bun kim, salah seorang diantaranya segera berubah wajah, kemudian sambil tersenyum katanya.
"Oooh...... rupanya Ong sauhiap yang telah datang, entah ada urusan apa kau berkunjung kemari?"
"Aku datang untuk mencari pangcu kalian!"
Baru selesai Ong Bun kim berkata, mendadak terdengar seseorang menegur dengan suaranya yang dingin.
"Entah ada persoalan apa kau datang mencari pangcu kami?"
Sesosok bayangan manusia kembali melayang masuk ketengah arena dengan kecepatan luar biasa.
Ong Bun kim segera berpaling, maka dikenalinya orang itu sebagai Hiat hay long cu.
Menjumpai kemunculan orang itu paras muka pemuda kita segera berubah hebat.
Hiat hay longcu lah yang telah merenggut kesucian Bunga iblis diri neraka, pemuda play-boy ini pula yangtelah-menghancurkan segala-galanya, dengan sepasang tangan iblisnya dia telah menciptakan neraka bagi mereka berdua, dia pula yang menyebabkan terjadinya tragedi yang memedihkaa hati diantara mereka berdua.
Bukan saja ia telah merenggut segala sesuatu miliknya berdua, karena perbuatannya Bunga iblis dari neraka telah kehilangan segala-galanya, manusia keji yang berhati busuk seperti ini, pantaskah diberi kehidupan lebih jauh?
Hampir saja Ong Bun-kim tak tahan mengendalikan golakan perasaan dendam marah dan kobaran napsu membunuhnya, tapi bagaimanapun juga dia adalah seorang manusia yang berakal panjang, maka setelah termenung sejenak semua luapan bencinya segera dapat dikendalikan.
"Oooh rupanya kau!"serunya kemudian sambil tertawa dingin. Hiat-hay-longcu tertawa sapanya.
"Saudara Ong, ada urusan apa kau datang kemari?"
"Pertama, hendak mencari pangcu kalian, kedua hendak mencari kau pribadi."
"Oooh ! Ada persoalan apa kau datang mencariku?"
"Membereskan hutang piutang kita yang sudah tertunda lama!"
"Hutang apa pula yang terikat antara kita berdua?"
Ong Bun kim segera tertawa dingin, sahutnya.
"Bukankah kau pernah berkata kepadaku bahwa Bunga iblis dari meraka adalah seorang perempuan murahan yang setiap orang dapat menikmati kehangatan tubuhnya?"
"Benar!"
"Kalau begitu, kau juga pernah menikmati kehangatan tubuhnya bukan ?"
"Tentu saja!"
"Tolong tanya, dengan cara apakah kau bisa menikmati kehangatan tubuhnya itu?"
"Tentang soal ini.."
Mendadak Ong-Bunkim membentak keras.
"Teng Kun, serahkan saja nyawa anjingmu. Ditengah bentakan tersebut, tubuhnya melompat ke depan dan langsung menerjang diri Hiat hay long cu, kemudian telapak tangannya diayunkan ke depan melancarkan sebuah pukulan dahsyat dengan juros Hek ya mo im (Bayangan ialis ditengah malam). Perasaan Ong Bun kim saat ini pada hakekatnya sudah diliputi oleh hawa napsu membunuh yang berkobar-kobar, dalam melepaskan serangan nya itu, ia telah mengerahkan hampir segenap tenaga dalam yang dimilikinya, bisa dibayangkan betapa cepat dan tangguhnya ancaman itu. Mimpipun Hiat hay longcu tidak mengira kalau Ong Bun kim bakal melancarkan serangan secara tiba-tiba, dalam keadaan tanpa siaga, diam-diam ia dibikin terkejut juga oleh kejadian itu. Akan tetapi bagaimanapun juga dia adalah seorang manusia yang berhati tabah, meski terancam bahaya pikirannya tak sampai kalut, kipas di tangan kanannya segera dikebaskan ke muka dan melepaskan sebuah serangan dengan kecepatan luar biasa. Tampaknya Hiat hay longcu sama sekali tidak memikirkan ancaman dari Ong Bun kim itu kedalam hati, sementara dalam waktu singkat, serangan kedua dari pemuda itu kembali sudah menyambar datang. Hek mo sin ciang betul-betul merupakan suatu ilmu pukulan yang dahsyat dengan perubahan yang tak terlukiskan banyaknya, kecepatan maupun kekuatan serangannya luar biasa sekali, seandainya Ong Bun kim tidak terkena racun jahat lebih dahulu sehingga tenaga serangannya mengalami kerugian yang amat besar, sudah dapat dipastikan-Hiat hay longcu tak akan mampu menahan ketiga jurus serangannya.. Pada saat Ong Bun kim melancarkan serangan untuk kedua kalinya itulah Hiat hay longcu baru menyadari bahwa perubahan jurus pukulan dari si anak muda itu terlampau aneh, sakti dan ampuh, ia baru terperanjat dibuatnya. Buru-buru kipasnya dikebaskan berulang kali ke sana kemari, secara beruntun ia lepaskan tiga buah serangan berantai. Walaupun dengan ketiga buah serangannya itu secara paksa ia berhasil juga mendesak mundur Ong Bun kim, akan tetapi serangan ketiga dari Ong-Bun kim dengan jurusnya Mo kui cing ti wan (iblis berebutan (bangkai) secepat petir telah menerjang. Mendadak...
"Blamm..!"
Suatu benturan keras terjadi, menyusul kemudian terdengar seseorang mendengus tertahan, sesosok bayangan manusia mencelat ke belakang dan......
"Plak!"
Roboh terkapar ditanah.
Orang yang roboh terjengkang diatas tanah itu tak lain adalah Hiat hay longcu Teng Kun.
Pada saat tubuh Hiat hay longcu mencelat kedepan tadi.
Ong Bun kim diiringi bentakan yang amat nyaring meluncur maju kemuka, lalu secepat kilat mencengkeram ketubuh Hiat hay longcu.
Cengkeraman ini dilakukan dengan kecepatan Iuar biasa, bayangan manusia baru berkelebat lewat, tahu-tahu Hia hay longcbu sudah kena didcengkeram olehnaya.
Tapi berbarbengan dengan cengkeramnya tubuh Hiat hay longcu, ia sendiri pun muntah darah segar.
Sebagaimana diketahui Ong Bun kim adalah seorang yang sudah terkena racun jahat.
Dalam pertarungan yang berlansung tadi, hawa murninya tak berhasil dikendalikan, selama ini dia hanya mengandalkan hawa murninya yang menekan hawa racun ditubuh agar jangan meletus, tapi hawa darah sempat juga menerjang keatas, akibatnya ia tak kuasa menahan diri dan segera muntah darah.
Betapa terperanjatnya Tay khek Cinkun menyaksikan kejadian tersebut.
Dengan napas terengah engah Ong Bun kim berusaha mengendalikan gejolak hawa murni ditubuhnya dan mengatur napas, sementara itu pelan-pelan Hiat hay longcu telah sadar kembali dari pingsannya, melihat itu hawa napsu membunuh segera menyelimuti wajah Ong Bun kim.
Telapak tangan kanannya diangkat keudara, kemudian bentaknya.
"Hiat hay longcu, mengapa kau memperkosa diri Tan Hong hong? Sekulum senyuman licik segera tersungging diujung bibir Hiat hay longcu, jawabnya.
"Kau menuduh aku memperkosanya?"
"Memangnya tidak? keperawanannya telah rusak ditanganrnu."
"Tapi toh perbuatanku itu diimbali dengan suatu pembayaran yang cukup tinggi."
"Pembayaran yang tinggi?"
"Betul, aku berbuat dengan membayar mahal, sebab aku telah menyerahkan keempat biji mata uang kematian kepadanya, bukankah empat biji mata uang itu merupakan suatu benda yang tak ternilai harganya?"
Ong Bun kim segera merasa bahwa perkataan itu ada benarnya juga, Hiat hay longcu telah menikmati kehangatan tubuh Bunga iblis dari neraka dengan empat biji mata uang kematian sebagai pembayarannya, itupun atas persetujuan dari Bunga iblis dari neraka Tan Hong-hong pribadi, apa yang bisa dia ucapkan lagi?
000OdwO000 BAB 58 UNTUK beberapa saat lamanya Ong Bun kim hanya berdiri termangu mangu ditempai semula tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Hiat hay longcu tertawa dingin kembali ujarnya.
"Bunga iblis dari neraka menyatakan kerelaannya untuk mengadakan hubungan kelamin dengan-ku, kalau ia pribadi sudah pasrah, masa kau menyalahkan diriku malah?"
Perkataannya ini semakin membubat Ong Bun-kim dtersudut dan taak sanggup membabntah lagi. Maka setelah tertawa dingin, bentaknya lagi dengan gusar.
"Lalu bagaimana pula pertanggungan jawabmu atas perempuan perempuan lain korban perkosaanmu?"
"Aku pernah memperkosa perempuan lain? Apakah kau menyaksikannya dengan mata kepala sendiri?"
"Kalau memangnya tidak melihat sendiri, bagaimana mungkin perkataan orang lain boleh dipercaya dengan begitu saja?"
"Kalau begitu, kau adalah seorang manusia yang baik sekali?"
"Orang baik sih tidak, cuma aku masih belum pernah melakukan suatu perbuatan yang merusak peraturan dunia..."
Teng Kun yang lihay, kuakui tak sanggup menangkan dirimu dalam bersilat lidah, cuma aku masih mempunyai banyak alasan yang lain untuk membunuh dirimu, ketika berjumpa untuk pertama kalinya dulu, bukankah kaupun telah menghadiahkan sebuah pukulan kepadaku?"
"Benar"
"Atas dasar dendam sakit hati ini, aku sudah mempunyai alasan yang kuat untuk membunuhmu"
"Kalau memang begitu, hayolah turun tangan."
"Cuma, sebelum kubunuh kau, terlebih dahulu hendak kutuntut kembali sebuah tamparanmu dulu."
Berbareng dengan selesainya perkataan itu "Plok!"
Sebuah tamparan keras telah bersarang telak diatas pipi Hiat hay-longcu Teng Kun.
Tamparan ini keras dan berat, membuat si Play-boy dari Htat-hay ini menjadi terpelanting dan mengucurkan darah kental dari mulutnya.
Ong Bun-kim tertawa dingin, katanya kembali.
"Teng Kun, sebuah tempelengan dibayar dengan sebuah tempelengan, aku rasa tindakanku ini tidak kelewatan batas bukan?"
"Tidak!"
"Kalau begitu, aku hendak turun tangan untuk membunuh dirimu!"
Bersamaan dengan selesainya perkataan tersebut, sebuah pukulan segera dilontarkan ke bawah.
Mendadak pada saat Ong Bun-kim belum sempat mengayunkan telapak tangannya itu suatu bentakan nyaring telah menggelegar di udara.
"Tahan!"
Seorang nenek brerbaju biru, detngan kecepatan qtinggi telah mernyusup masuk ke tengah arena. Setelah melirik sekejap ke arah Ong Bun kim, nenek berbaju biru itupun bertanya.
"Siapakah kau? begitu berani mendatangi perkumpulan kami untuk mencari balas?"
Mendengar teguran, itu Ong Bun kim segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Haahh haaahh haaah Hui mo pang toh bukan sarang naga gua harimau, aku Ong Bun kim kenapa tak berani untuk mendatanginya..?"
"Jadi kaulah yang bernama Ong Bun kim?"
Agaknya nenek berbaju biru itu merasa amat terkejut.
"Benar!"
Paras muka si nenek itu kembali berubah hebat, bentaknya lagi dengan suara dingin.
"Ada urusan apa kau datang kemari?"
"Mencari Kim Lo sat!"
"Kalau memang hendak mencari orang, kenapa kau mencari balas terhadap anggota perguruan kami?"
"Sebab aku mempunyai ikatan dendam dengannya!"
"Saudara, kuanjurkan kepadamu alangkah baiknya jika kau sudahi niatmu untuk membunuh anggota perkumpulan kami, karena Teng tocu adalah orang kepercayaan dari taytongcu kami, jika kau membunuhnya, hal ini tak akan mendatangkan kebaikan apa-apa bagi dirimu."
Ong Bun kim tertawa dingin, tiba-tiba telapak tangan kanannya diayunkan ke bawah.
Dikala Ong Bun kim mengayunkan telapak tangan kanannya itu, mendadak sinenek menerjang maju ke muka dengan kecepatan luar biasa, dengan membawa deruan angin serangan yang tajam, toya bajanya langsung diayunkan ke muka.
Begitu nenek itu menyerang secara kilat, Tay khek Cinkun yang berdiri disampingnya ikut bertindak, mendadak ia maju sambil menyerang, serangannya itu dengnn tepat mengunci datangnya ancaman dari sinenek.
Serentetan jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera berkumandang memecahkan kesunyian, dengan batok kepala hancur-lebur dan darah segar berceceran diatas tanah, Hiat hay longcu telah tewas secara mengerikan ditangan Ong Bun kim.
Inilah pembalasan yang harus diterimanya akibat dari perbuatannya selama ini yang penuh dengan kebusukan dan kelicikan.
Menyaksikan Hiat hay longcu sudah terbunuh, nenek itu tertawa seram kemudian serunya.
"Bagus sekali, kau berani benar datang ke perkumpulan kami untuk membunuh orang."
Toya bajanya segera diayunkan kemuka dan secara beruntun melancarkan tiga buah serangan yang semuanya tertuju ketubuh Tay khek Cinkun.
"Tahan!"
Suatu bentakan nyaring yang lain kembali berkumandang memecahkan keheningan.
Menyusul bentakan itu kembali muncul beberapa sosok bayangan manusia, ketika Ong Bun kim mencoba untuk memperhatikan para pendatang itu, dapat dikenali bahwa salah seorang diantaranya ternyata tak lain adalah Kim Lo sat, tay pangcu dari perkumpulan Hui mo pang yang diiringi oleh empat orang gadis berbaju biru.
Sinenek dan dua orang gadis berbaju biru itu buru-buru memberi hormat seraya berkata.
"Menyampaikan salam dan hormat hamba untuk Tay pangcu!"
"Tak usah banyak adat!"
"Terima kasih Tay-pangcu!"
Merekapun segera mengundurkan diri kesamping arena.
Wajah Kim Lo sat masih tetap jelita seperti sedia kala, dengan biji matanya yang jeli ia melirik sekejap kearah mayat Teng Kun yang tergeletak ditanah, kemudian paras mukanya berubah hebat.
"Siapa yang telah membunuhnya?"
Ia menegur setelan tertawa dingin tiada hentinya.
"Aku..."
Pelan-pelan Kim Lo sat mengalihkan sinar matanya keatas wajah Ong Bun kim lalu tertawa, tertawa yang amat memikat hati. Kemudian sambil menarik muka kembali, dia baru bertanya.
"Siapakah lotiang ini?"
"Lohu adalah sahabatnya Ong Buo kim!"
Sahut Tay khek Cinkun. Kim Lo sat tersenyum.
"Ong Bun kim!"
Tegurnya.
"kau datang-datang lantas membunuh orang, sebetulnya apa maksudmu?"
"Aku mempunyai dendam dengannya!"
"Apakah kau tak bisa memberi muka kepada-ku dengan mengampuni selembar jiwanya?"
"Aku sama sekali tiada hubungan apa-apa denganmu."
Kim Lo sat kembali tertawa dingin, katanya.
"Ong Bun kim tampaknya kau masbih belum dapat dmemahami jalan apikiranku, demib kau, aku telah menyerang kesana kemari menaklukkan kolong langit..."
"Biar kuterima dihati saja maksud baikmu itu!"
"Demi kau, aku telah menaklukkan dunia dan menjagoi dunia persilatan, tujuanku tak lain adalah ingin menyerahkan kedudukan yang tinggi dan mulia ini kepadamu mengapa kau begitu tak tahu diri? "Terima kasih atas maksud baikmu!"
Lagipula meski aku tidak memiliki kecantikan yang luar biasa bagaimanapun juga aku masih pantas untuk mendampingimu, kau tak akan dibuat rugi oleh perkawinan itu.
"Kecantikan nona luar biasa, aku Ong Bun kim merasa tak pantas untuk menerimanya."
"Jadilah seorang pangcu di tempat ini, dari pada musti keluyuran terus di tempat luaran."
"Aku merasa tak pantas untuk menduduki jabatan pangcu ini!"
Paras muka Kim Lo-sat kontan saja berubah hebat.
"Jadi apa maksud kedatanganmu kemari?"
Tegurnya.
"Mencari kau!"
"Ada urusan apa mencari aku?"
"Mencari kau..."
Ternyata untuk sesaat lamanya Ong Buit kim tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
sebab bagaimanapun juga ia merasa malu untuk membuka suara dan memohon obat dari perempuan ini.
Maka dia hanya berdiri termangu-mangu ditempat sambil mengawasi wajah Kim Lo sat lekat-tekat.
Kim Lo sat segera tertawa bangga, katanya lagi.
"Ong Bun kim, ada persoalan apa yang tersimpan dalam hatimu? Hayolah katakan berterus terang!"
Persoalan ini betul-betul membuat Ong Bun kim tak sanggup buka suara, selama hidup belum pernah dia memohon kepada orang lain, apalagi orang ini adalah orang yang membuatnya merasa sangat tidak puas.
Kim Lo-sat bukan orang bodoh, sudah barang tentu ia dapat meraba isi hati pemuda itu, setelah tertawa dingin katanya.
"Jangan-jangan kau Ong Bun kim ada suatu permintaan kepadaku?"
Ong Bun kim menggertak giginya menahan emosi, kemudian jawabnya.
"Benar!"
Jawaban ini benar-benar jauh dbiluar dugaan Kidm Lo sat, untuka sesaat lamanyab ia menjadi tertegun, tapi sejenak kemudian tertawa dingin tiada hentinya.
"Heeehhh... heeehhh... heeehh... jadi lantaran kau hendak memohon, sesuatu kepadaku, maka kau baru datang kemari?"
Perkataan itu telah membuat Ong Bun kim merasa murung dan serba salah, sebagai seorang pemuda yang tinggi hati, mana mungkin ia bisa tahan terhadap kejumawaan dan keketusan dari Kim losat ini.
Paras mukanya kontan berubah, tiba-tiba ia memutar badan dan pergi meninggalkan tempat itu.
Kepergian Ong Bun kim yang sangat tiba tiba ini segera membuat Kim Lo sat menjadi tertegun.
Tay khek Cinkun ikut tertegun pula oleh sikap serta tindakan dari si anak muda itu.
"Berhenti !"
Tiba-tiba Kim Lo sat membentak dengan suara yang keras dan dingin. Ong Bun kim berhenti lalu memutar badannya. Dengan wajah penuh kegusaran dia berseru.
"Kim Lo sat tidak salah aku Ong Bun kim datang kemari karena hendak memohon kepadamu tapi kau jangan keburu merasa bangga dulu, aku Ong Bun kim bukanlah manusia seperti apa yang kau bayangkan." -oo0dw0oo--
Jilid 19 ANTARA dia dan aku, sesungguhnya bukan sepasang musuh bebuyutan, akan terapi perubahan situasi membuat mereka berdua berubah sepasang musuh bebuyutan saja, perkembangan situasi semacam ini boleh dibilang amat sensitip sekali.
Kenapa Ong Bun kim merasa tak puas terhadap Kim Lo sat?
Kalau dibicarakan sesungguhnya amat sederhana sekali, yakni karena Kim Lo sat tidak menganggap Ong Bun kim sebagai seorang pria.
Padahal kedudukan seorang pria adalah maha penting, tapi Kim Lo sat telah mengabaikannya.
Ong Bun kim merasa punya harga diri, sebab itu dia menolak untuk menerima perintah dari orang lain.
Sebaliknya Kim Lo sat tak pernah berpikir sampai kesitu.
Melihat situasi yang terbentang didepan mata saat itu, Tay khek Cinkun sadar bakwa keadaan tersebut bila dibiarkan berlangsung terus, maka akibatnya bakal celaka, maka sambil tersenyum katanya.
"Pangcu, bolehkah aku ikut bicara?"
Dengan sorot mata tajam Kim Lo sat menatap sekejap wajah Tay kkek Cinkun kemudian katanya dengan dingin.
"Apa yang hendak kau katakan?"
"Konon antara Prangcu dengan Ontg Bun kim mempuqnyai ikatan talri perkawinan, karena itu kumohon pada kalian agar merundingkan segera urusan secara baikbaik, apa sih gunanya saling memegang prinsip dan jalan pikiran sendiri-sendiri?"
"Kau tak usah turut campur ini urusan kami sendiri."
Ketanggoran batunya.
Tay khek Cinkun tertawa jengah, dengan wajah tersipu diapun membungkam dalam seribu bahasa.
Sementara itu Kim Lo sat telah berpaling kearah Ong Bun kim sambil menegur dengan ketus.
"Ong Bun kim, sebetulnya, apa yang kau kehendaki diriku?"
"Dua bungkus obat Ban-nian niat nian-san!"
"Apa? Kau menginginkan bubuk darah ikan lele berusia sepuluh laksa tahun ?"
"Betul!"
"Oooh....! Kiranya itulah yang kau kehendaki, tapi tahukah kau aku bakal memberikan kepadamu atau tidak?"
"Aku meminta kepadamu adalah satu persoalan, kau suka memberikan kepadaku atau tidak adalah urusan lain, jadi mau memberi atau tidak, harap kau jawab saja secara berterus terang"
Sambil tertawa dingin ujar Kim Lo sat.
"Tidak sulit jika kau menginginkan bubuk Ban-nian hiat mau san tersebut, cuma ada suatu syarat!"
"Apa syaratmu?"
"Sambutlah lebih dulu tiga buah pukulanku". Mendengar perkataan itu, Ong Bun kim merasa hatinya bergetar keras, saat ini dia tak lebih hanya seorang manusia yang menderita luka dalam dan keracunan hebat, atau dengan perkataan lain pertaruhannya untuk menyambut ketiga buah pukulan lawan seratus persen tak mungkin bisa ia menangkan. Agaknya Kim Lo-sat dapat menyaksikan pula keadaan Ong Bun kim yang terluka parah, tampaknya diapun tahu kalau anak muda itu tak akan mampu untuk menyambut serangannya. Maka sambil tertawa dingin katanya kemudian.
"Seandainya kau tak sanggup memenuhi syarat ini..."
"Tiada persoalan yang tak bisa dilakukan oleh Ong Bun kim."
Tukas pemuda itu cepat.
"Kalau begitu, kau bersedia untuk menyambut tiga buah pukulanku?"
"Benar!"
"Bagus sekali !"
Ong Bun kim berjalan balik ke tempat semula, sekalipun ketiga buah pukulan ini mungkin akan menghantarnya ke ambang pintu kematian, dia bertekad akan mencoba nya juga.
Ia memiliki cukup semangat untuk menyambut ketiga buah serangan tersebut, meski luka dalam yang dideritanya cukup parah dan racun jahat telah mengendon dalam tubuhnya, namun ia masih tetap menantang perang terhadap kematian.
Ia berjalan kehadapan Kim Lo sat dan berhenti lebih kurang tiga depa dihadapannya lalu katanya.
"Andaikata aku mampu untuk menyambut ke tiga buah seranganmu itu, apa pula yang hendak kau Iakukan?"
"Kuserahkan bubuk Ban nian hiat man san tercebut, kepadamu yang telah membunuh mati Hiat hay longcu"
"Bagus sekali!"
"Seandainya kau yang tak mampu untuk menerima ketiga buah seranganku...?"
Kim Lo sat balik bertanya secara tiba tiba.
"Terserah apapun yang hendak kau laku kan atas diriku."
"Bagus sekali!"
Seru gadis itu kemudian. Hawa murninya segera dihimpun ke dalam telapak tangan, lalu dengan wajah sedingin es dia tatap wajah Ong Bun-kim lekat-lekat kemudian katanya.
"Kau sudah bersiap sedia?"
"Sudah!"
Tay khek Cinkun merasakan jantungnya ber debar keras setelah menyaksikan kejadian ini, ia tahu seandainya Ong Bun kim tidak keracunan dan terluka parah, untuk menyambut tiga buah pukulan dari Kim Lo sat sesungguhnya bukan suatu pekerjaan yang menyulitkan.
Tapi keadaannya sekarang jauh berbeda, kemungkinan besar ke tiga buah pukulan tersebut dapat merenggut selembar nyawanya.
Terdengar Kim Lo sat tertawa dingin, kemudian katanya.
"Ong Bun-kim, aku hendak melancarkan serangan!"
"Silahkan!"
Kim lo sat segera bmembentak nyaridng, tubuhnya meanerjang ke depabn dan secara tiba-tiba melancarkan sebuah pukulan dahsyat.
Tampak bayangan telapak tangan berkelebat lewat kian kemari, dengan mempergunakan tiga macam gerakan yang berbeda secara terpisah menyerang tiga buah jalan darah penting ditubuh Ong Bun-kim.
Bukan cuma gerak serangannya saja yang amat cepat, jurus serangan yang dipakaipun amat iihay dan mengerikan.
Ong Bun kim segera membentak keras, ia melancarkan sebuah pukulan pula ke depan, dalam waktu singkat bayangan tubuh dan bayangan telapak tangan saling menyambar di udara.
"Blaam !" 000000OdwO000000 BAB 59 MENDADAK Kim-lo sat melancarkan serangannya yang kedua dengan amat hebatnya. Ong Bun kim tak mau kalah, dia melepaskan pula serangannya yang kedua. Diantara perputaran bayangan tubuh yang menyilaukan mata, Ong Bun kim segera terdesak mundur sejauh tujuh delapan langkah dengan sempoyongan. Dikala Ong Bun kim sedang mundur itulah Kim lo sat membentak keras, serangannya yang ketiga segera dilancarkan. Serangan tersebut dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, ini membuat Ong Bun kim tak sanggup mempertahankan diri, sambil menggertak gigi, tangan kirinya segera menangkis keatas dengan jurus Mo-im-kuijiau (bayangan setan cakar iblis). Bayangan manusia kembali berkelebat lewat, kemudian "Blaam!"
Suatu benturan keras terjadi, baik Ong Bjn-kim maupun Kim lo-sat secara beruntun harus mundur tujuhdelapan langkah sebelum dapat berdiri tegak kembali.
Paras muka Ong Bun kim pucat pias seperti mayat, peluh dingin mengucur keluar membasahi sekujur tubuhnya.
Paras muka Kim-lo sat ikut berubah hebat ia menengok wajah Ong Bun kim dan berdiri termangu, agaknya dia tak menyangka kalau Ong Bin kim masih sanggup menerima ketiga buah pukulannya dalam keadaan luka parah seperti itu.
Mendadak...
"Uaaak !"
Ong Bun kim muntah darah segar, tubuhnya jatuh terjengkang keatas tanah.
Tay khek Cinkun yang menyaksikan kejadian mi menjadi amat terkejut, dia segera melompat ke depan dan meluncur ke hadapan bpemuda itu.
tandgan kanannya deangan cepat ditebpuk kebawah dan menotok tiga jalan darah penting ditubuhnya.
Kenyataan tersebut sangat mengejutkan pula diri Kiui losat.
Jelas Ong Bun kim telah mempertaruhkan selembar jiwa raganya untuk menyambut ke-tiga buah pukulan itu secara kekerasan, padahal berbicara yang sesungguhnya ia sudah berada dalam keadaan terdesak apa boleh buat.
Rasa sakit hati yang dialaminya sekarang, sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata, ia menjadi amat murung sekali.
"Pangcu!"
Dengan suara dingin Tay khek Cinkun segera menegur.
"bukankah Ong Bun kim telah berhasil menyambut ketiga buah pukulan mu?"
"Benar, ia telah menyambut seranganku!"
"Lantas, kau seharusnya menyerahkan pala bubuk Bannian hiat-man san tersebut kepadanya bukan?"
Dan dalam sakunya Kim lo sat mengeluar kan dua bungkus bubuk obat Ban nian hiat man san dan diserahkan kepada Tay-khek Cinkun katanya.
"Inilah bubuk Ban nian hiat man san, ambilah dan bawa dia pergi!"
"Terima kasih banyak pangcu!"
Selapis rasa sedih melintas diatas wajah Kim lo sat, jawabnya dengan suara lirih.
"Kau boleh membawanya pergi meninggalkan tempat ini!"
Sambil membimbing bangun Ong Bun kim dari atas tanah, tiba-tiba Tay khek sinkun bertanya kepada Kim lo sat.
"Apakah pangcu amat mencintai Ong Bun kim?"
"Benar!"
"Kalau begitu, cara yang kau pergunakan keliru besar!"
Selesai berkata dia lantas melompat pergi dan berjalan menelusuri jalan kecil me ninggalkan tempat itu.
Memandang bayangan punggung mereka yang semakin menjauh, Kimlosat hanya berdiri kaku sambil termangumangu.
Sementara itu Tay khek Cinkun yang membawa Ong Bun kim berlalu dari markas besar dari perkumpulan Hui mo pang telah tiba dibawah bukit Thi gou san, didalam sebuah hutan yang lebar ia baringkan tubuh Ong Bun kim ke atas tanah.
Waktu itu keadaan Ong Bun kim tak ubahnya seperti sesosok mayat.
Menyaksikan hal tersebut, Tay khek Cinkun menghela napas panjang, pikirnya dihati.
"Aaai, inilah yrang dinamakan ttakdir?"
Ia telah memeriksa jalran darah di tubuh Ong-Bun kim dan diketahui ada beberapa buah diantaranya sudah berhenti berdenyut, sepasang alis matanya segera berkenyit.
Dari dalam saku Ong Bun kim, ia mengeluarkan pil yang diserahkan Tiang seng lojin itu, kemudian mengeluarkan sebungkus Ban nian hiat man-san dan ditelannya bersama.
Ban nian hiat man san memang sebuah benda langka yang mustajab kasiatnya, setelah menelan obat tersebut Tay khek Cinkun segera duduk bersila sambil mengatur pernapasan untuk mengobati lukanya.
la mengerahkan segenap hawa murninya untuk mendesak keluar hawa racun dari dalam badan, alhasil bukas saja semangatnya menjadi segar kembali bahkan tenaga dalamnya peroleh kemajuan yang amat pesat, dalam keadaan begini ia telah bersiap-siap untuk membantu Ong Bun kim untuk menyembuhkan lukanya.
Tiba-tiba...
Pada saat Tay-khek Cinkun sedang mengobati Ong Bun kim dengan tenaga dalamnya, dan suasana mencapai pada saat yang paling kritis, mendadak terdengar suara tertawa dingin berkumandang memecahkan keheningan.
Mendengar suara tersebut, paras muka Tay kbek Cin kun segera berubah hebat.
Ia sadar bahwa mustahil baginya untuk menghentikan pengobatan dalam keadaan seperti ini, lagipula dia tak tahu yang datang adalah musuh atau sahabat.
Andaikata sahabat, hai ini tentu saja menguntungkan pihaknya, tapi seandainya musuh maka akibatnya sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Butiran peluh sebesar kacang sudah mulai bercucuran membasahi jidatnya.
Sementara itu suara tertawa dingin yang tak sedap didengar itu sudah berada tiga kaki jauhnya dari situ, tampak cahaya putih berkelebat lewat, empat sosok bayangan manusia berbaju putih telah melayang masuk ke dalam arena.
Yang datang ternyata bukan lain adalah para jago dari perguruan San tian bun.
Pada saat ini Tay khek Cinkun sudah tak berkesampatan lagi untuk memperhatikan siapa gerangan yang datang, dia hanya pejamkan matanya sambil mengatur pernapasan, suasana tegang segera menyelimuti sekeliling tempat itu.
Tiba-tiba terdengar salah seorang manusia kilat berseru.
"Yaa, ternyata memang benar-benar mereka berdua!"
"Betul, tangkap saja kedua orang itu!"
Berbareng dengan selesainya ucapan tersebut, cahaya putih kembali berkelebat lewat, dua orang Manusia kilat dengan gerakan secepat sambaran petir telah menubruk ke depan menerjang ke arah Tay-khek Cin-kun serta Ong Bun kim.
Serangan yang dilancarkan amat cepat dan mengerikan sekali.
Suatu bentakan nyaring tiba tiba menggelegar di angkasa, bersama waktunya ketika manusia kilat itu menubruk ke depan, bayangan manusia kembali menyambar lewat.
Waktunya dengan cahaya tajam berkelebat lewat, jeritan ngeri yang memekikkan hati berkumandang memecahkan keheningan, seorang Manusia kilat tahu tahu sudah roboh terjengkang keatas tanah.
Kenyataan ini sangat mengejutkan manusia-manusia kilat lainnya, serentak mereka mendongakkan kepalanya, tampak seorang manusia berbaju hijau dengan pedang terhunus telah menghadang dihadapan mereka semua.
Oiang itu bukan lain adalah Mo kui seng kiam (pedang sakti setan iblis) Phang Pak bun.
Terdengar Phang Pak-bun tertawa dingin, kemudian serunya.
"Sobat, kalian betul-betul sekelompok manusia yang tak tahu malu!"
Salah seorang manusia kilat segera tertawa dingin.
"Hecehhh... heeehhh.... heeehhh..... sobat, cepat betul gerakan pedangmu, kenapa tidak kau sebutkan dahulu siapa namamu?"
"Tidak usah, bukankah kalian berempat mendapat perintah dari Bun cu kalian untuk mencari Ong Bun-kim?"
"Benar!"
"Jika memang benar-benar punya kepandaian, kenapa tidak menunggu dulu sampai mereka selesaikan pengobatan tersebut?"
"Sayang kami tidak memiliki kesabaran untuk berbuat demikian!"
Paras muka Phang Pak bun agak berubah, hawa napsu membunuh segera memancar keluar dari wajahnya, ia membentak.
"Manusia yang tak tahu malu, kalau begitu hayo majulah ke depan dan coba dulu kepandaianku!"
Cahaya putih berkelebat lewat, salah seorang diantara manusia-manusia kilat itu sudah menerjang tiba dengan gerakan bseperti orang gdila, sebuah seraangan segera diblancarkan kedepan.
"Cari mampus!"
Bentak Phang Pak bun gusar, sebuah tusukan secepat kilat dilontarkan ke depan.
Sementara itu Tay Khek Cinkun telah selesai membantu Ong Bun kim untuk menyembuhkan lukanya, pelan-pelan si anak muda itu sadar kembali dari pingsannya.
Tay khek Cinkun mengatur pernapasan sejenak, sesaat kemudian semangatnya juga pulih kembali seperti sediakala.
Menyaksikan keadaan yang tertera di-depan mata, ia merasa sangat lega sekali sehingga menghembuskan napas panjang.
Dengan sinar mata yang tajam, Ong Bun-kim memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu kemudian tanyanya dengan wajah tercengang.
"Locianpwe, apa yang telah terjadi?"
Baru selesai pemuda itu berbicara, dua orang Manusia kilat secara garang telah menubruk ke arah Tay-khek Cinkun dan pemuda tersebut dari sisi kiri dan kanan dengan suatu gerakan yang mengerikan.
"Bangsat, rupanya kalian ingin mampus!"
Bentak Tay khek Cinkun penuh kegusaran.
Tubuhnya ikut melompat ke kiri, sepasang tangan kiri dan kanannya menyerang berbareng.
Agaknya kedua orang manusia kilat itu masih belum mengetahui siapa gerangan Tay-khek Cinkun, mereka lebih lebih tak menyangka kalau ia masih bertenaga penuh meski baru saja menyembuhkan luka yang diderita orang lain.
Dalam waktu singkat angin pikulan dari Tay khek Cickun yang maha dahsyat bagaikan gulungan ombak ditengah samudra itu sudah meluncur tiba dengan hebatnya Begitu merasakan gelagat tak baik, mereka berusaha menyelamatkan diri, sayang terlambat.
Dua jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan keheningan.
"Plaak! Plaak!"
Dua orang manusia kilat itu terlempar sejauh satu kaki lebih dan terkapar di atas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi.
Sementara itu, masih ada seorang manusia kilat lagi yang sedang terlibat dalam suatu pertarungan yang amat sengit melawan Phang Pak-bun.
Agak mengendor hawa napsu membunuh yang menyelimuti wajah Tay khek Cinkun setelah membunuh dua orang musuhnya, pelan-pelan ia berpa lint ke arah Ong Bun kim, sementara si anak mu da itu sudah duduk kembali di atas tanah.
"Hmm ! Lagi-lagi Manusia kilat?"
Dengus Ong Bun kim gusar.
"Benar!"
Ong Bun kim tertawa sberam, sinar matdanya dialihkan akembali ke atasb wajah Tay khek Cinkun, kemudian ia bertanya.
"Bagaimanakah penyelesaiannya atas taruhanku dengan Kim-lo sat?"
"Ia telah menyerahkan Ban nian hiat man san tersebut kepada kita, cepat kau telan kedua jenis obat tersebut untuk memunahkan racun yang mengeram ditubuh"
Ong Bun kim menyambut kedua jenis obat tersebut dan ditelan bersama, kemudian memejamkan matanya dan duduk bersila sambil mengatur pernapasan, lebih kurang sepertanak nasi kemudian, hawa racun itu sudah berhasil didesak keluar dari tubuhnya.
Ia lantas melompat bangun dan menatap jalannya pertarungan di tengah arena dengan sorot mata tajam.
Tampaknya Manusia Kilat yang sedang bertempur melawan Phang Pak bun itu memiliki ilmu silat yang amat lihay, buktinya bertarung selama ini Phang Pak bun tidak lebih hanya berhasil memaksa musuhnya bertarung dalam posisi seimbang.
"Tahan!"
Tiba-tiba Ong Bun kim membentak keras.
Oleh bentakan keras tersebut, tanpa sadar kedua orang itu sama-sama menarik serangannya sambil mundur.
Mencorong sinar membunuh yang menggidikkan hati dari balik mata Ong Bun kim, ditatapnya wajah Manusia kilat itu lekat-lekat, kemudian bentaknya nyaring.
"Tampaknya kau belum merasa puas sebelum berhasil membinasakan diriku. .?"
"Benar!"
"Kau datang untuk melaksanakan perintah?"
"Benar!"
"Kemana perginya Buncu kalian?"
"Masih berada dalam perguruan !"
"Mengapa ia tak berani datang sendiri untuk mencari aku Ong Bun kim? Buat apa dia musti mengutus kau untuk menghantar kematian?"
"Mengantar kematian?"
Manusia kilat itu mengejek sinis, lalu tertawa dingin tiada habisnya.
"siapa yang bakal menjadi pemenang masih merupakan sebuah tanda tanya besar, buat apakah mesti berkata sesumbar lebih dahulu?"
Mendengar perkataan itu, Ong Bun kim segera mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.
"Haaahh... haaahhh... haaahhh.... apa sih kedudukanmu didalam perguruan San tian bun?"
"Hanya seorang anggota biasa!"
"Kalau begini arku minta kau putlang sekarang jquga dan beritahru kepada Buncu kalian bahwa sebentar Ong Bun kim akan tiba di sana, jika kau berani mengucapkan sepatah kata tidak, segera kubunuh dirimu."
"Kau tak akan mampu untuk melaksanakan niat tersebut!"
Mendengar jawaban tersebut, Ong Bun kim menjadi amat gusar sekali, ia membentak keras lalu tubuhnya menerjang ke depan dengan kecepatan luar biasa.
Setelah luka dalamnya sembuh dan sari racun terusir dari tubuhnya, tak terlukiskan lagi kecepatan gerak serangan dari si anak muda ini!
Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu angin pukulan dari Ong Bun-kim telah menyergap tiba.
Manusia kilat ikut menggerakkan tubuh-nya sambil melancarkan sebuah pukulan dahsyat, ia tangkis datangnya ancaman dari Ong Bun kim tersebut.
Tetapi disaat ia sedang membendung ancaman tersebut, serangan kedua dari Ong Bun kim kembali telah meluncur tiba.
Kali ini dia menyerang dengan jurus Mo kui-cong si (setan iblis berebutan bangkai) dari ilmu pukulan Hek mo sin ciang yang lihay.
kecepatan geraknya maupun perubahan jurusnya cukup menggidikkan hati setiap orang yang menyaksikan.
Manusia kilat itu merasa amat terkesiap, buru-buru ia melejit kesamping untuk menghindarkan diri, sayang terlambat.
Jeritan ngeri berkumandang memecahkan kesunyian, dengan kepala yang pecah dan isi benak berceceran ditanah, ia tewas secara mengerikan.
Dengan demikian, keempat orang manusia kilat itu sudah tewas semua ditangan mereka, tak seorangpun diantaranya yang berhasil lolos dalam keadaan hidup.
Ong Bun kim pun berpaling kearah Phang-Pak bun seraya berkata.
"Cianpwe, terima kasih banyak atas budi pertolonganmu!"
"Sobat, terima kasih atas pertolanganmu."
Kata-kata Tay khek Cinkun pula.
"seandainya tiada kau mungkin kami sudah tewas semenjak dulu-dulu!"
"Tak usah banyak adat, bukankah cianpwe adalah Tay khek Cinkun?"
"Benar, itulah lohu! Siapa anda?"
"Boanpwe bernama Mo kui seng kiam Phang-Pak bun!"
"Nama besarmu sudah lama kudengar, sungguh beruntung hari ini kita dapat berjumpa muka."
Phang Pak bun kembali berpaling kearah Ong-Bun kim, kemudian katanya.
"Ong Bun kim mengenai persoalan yang kuselidiki untukmu, dalam dunia persilatan dewasa ini mungkin hanya seorang yang mengetahuinya, konon ayahmu pun pernah berjumpa dengan orang itu di masa lalu."
"Kau maksudkan Tiang seng lojin?"
Tukas Ong Bun kim.
"Benar!"
"Cianpwe, aku telah berjumpa dengannya, aku pun sudah tahu dimana letak tempat tersebut."
"Sungguh?"
"Benar!"
"Sungguh kejadian ini merupakan suatu peristiwa yang sama sekali diluar dugaan, mungkin disitulah letak pedang mustika Sin kiam disimpan?"
"Benar!"
"Dan sekarang kau hendak pergi mengambilnya?"
"Tidak, aku hendak berkunjung dulu keperluan San tian bun, aku hendak mencari Buncu mereka untuk menuntut balas, kemudian aku harus pergi keselat Thian mo shia untuk mencari buah Hiat li!"
"Buat apa kau mencari buah Hiat li?"
"Untuk menolong Iblis cantik pembawa maut!"
Secara ringkas dia lantas menceritakan apa yang telah terjadi kepada diri Phang Pak bun. Seusai mendengar keterangan tersebut, Phang-Pak bun lantas berkata.
"Dari sini menuju keperguruan San tian bun penuh dengan mara bahaya, biar aku turut serta dalam perjalanan ini!"
"Baiklah, kalau begitu mari kita berangkat!"
Kata Tay khek Cinkun kemudian.
Begitulah, mereka bertiga pun segera berangkat ke selat Thian mo-shia dibukit Thian-mo-san Hari itu juga sampailah mereka di selat Thian mo-shia.
[tulah sebuah selat yang-sempit dengan kabut yang amat tebal, pepohonan yeng tinggi dan lebat tumbuh rimbun diseputar mulut lembah, keadaan terasa mengerikan sekali.
Setibanya diluar selat Thian-mo-shia, Ong Bun kim melirik sekejap ke arah dalam selat tersebut, kemudian tanpa membuang banyak waktu dia menerjang masuk ke dalam selat itu lebih-dahulu.
Setelah masuk ke lembah, mereka harus menembusi sebuah hutan yang sangat lebat, kemudian berbelok memasuki sebuah selat karang yang sempit dan hanya bisa dilewati satu orang saja.
Medan yang curam dan berbahaya ini cukup menggidikkan hati siapapun yang melihatnya.
Ketika tiba di depan selat karang tersebut, Ong Bun kim segera menghentikan langkahnya sambil mengawasi keadaan medan yang sulit.
Tay khek Cinkun mendongakkan kepalanya memperhatikan sekejap selat berkarang yang menjulang tinggi ke angkasa itu, kemudian katanya.
"Tempat yang akan kita tuju benar benar merupakan suatu tempat yang sulit dan berbahaya untuk dicapai, andaikata mereka sampai menyergap kita dengan mempergunakan cara yang licik, hal mana sungguh merupakan suatu masalah yang patut dikuatirkan."
Ong Bun kim segera tertawa dingin.
"Hmm... aku tidak percaya kalau mereka sanggup mempergunakan cara yang keji untuk menyergap kita"
"Aku rasa apa yang dikatakan Can cianpwe ada benarnya juga"
Ucap Phang Pak bun.
"lebih baik kita bertindak lebih berhati-hati!"
Sementara itu Ong Bun kim telah melompat ke depan dengan kecepatan luar biasa, Tay khek Cin kun serta Mo kui Seng kiam Phang Pak bun segera menyusul dari belakang dengan kecepatan tinggi.
Untuk menelusuri selat berkarang itu, orang harus berjalan satu demi satu Tay khek Cinkun kuatir jika musuh menggelindingkan batu cadas dari atas bukit, niscaya mereka akan sulit untuk menemukan tempat yang baik untuk menyembunyikan diri.
Sementara ketiga orang itu sedang berlarian dengan kecepatan tinggi, suatu bentakan nyaring mendadak berkumandang memecahkan keheningan.
"Berhenti!"
Mendengar bentakan tersebut, tanpa terasa Ong Bun kim bertiga menghentikan perjalanannya seraya mendongakkan kepalanya.
Namun suasana disepanjang selat itu tetap sepi dan hening, sesosok bayangan manusiapun tak nampak.
Terdengar suara tadi berkumandang kembali.
"Siapa yang muncul disana? Berani betul menyatroni lembah Thian-mo-shia kami!"
Oooo0dw0oooo BAB 60 Mendadak ONG BUN-KIM segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh... haaahh... haaah... aku Ong Bun-kim ada urusan hendak berjumpa dengan Buncu kalian."
"Kau yang bernama Ong Bun-kim?"
"Benar, tolong beritakan kedatanganku ini Buncu kalian!"
"Jika kau merasa punya kepandaian, silahkan masuk sendiri kemari, pun buncu, sudah lama menantikan kedatanganmu disini"
Ong Bun-kim tertawa dingin, sambil menggigit bibir sekali lagi ia menerjang masuk ke dalam selat itu.
Panjang selat sempit itu lebih kurang empat lima puluh kaki, dalam waktu singkat ketiga orang itu sudah melewati separuh jalan diantaranya....
Disaat ketiga orang itu melompat kedepan suatu bentakan nyaring tiba-tiba menggelegar memecahkan kesunyian, bayangan manusia saling berkelebat, puluhan gulungan angin serangan bersama-sama, diayunkan ketu buh Ong Bun kim.
Serangan yang dilancarkan secara tiba-tiba ini segera membuat Ong bun kim, Tay khek Cinkun serta Phang Pak bun menjadi gelagapan dengan sendirinya.
Sementara itu, Ong Bun-kim telah melancarkan sebuah serangan balasan yang amat dahsyat.
Begitu serangan telah dilepaskan, Ong Bun kim segera melompat mundur ke belakang...
Saat itulah, dari balik batu karang disisi selat melayang turun enam sosok bayangan manusia yang langsung menubruk ke bawah dengan gerakan bukit tay-san menindih kepala.
Kawanan jago yang melancarkan serangan berbareng itu sebagian besar adalah jago jago kelas satu dalam perguruan San tian-bun, bukan saja gerak serangan mereka amat cepat, bahkan sama sekali diluar dugaan ketiga orang lawannya.
Bayangan manusia saling menyambar, bentakan nyaring menggelegar memecahkan kesunyian.
Ditengah bentakan-bentakan tersebut, terdengar kembali suara jeritan ngeri yang memilukan hati.
"Kubunuh kalian manusia-manusia tak tahu diri!"
Bentak Ong Bun-kim penuh kegusaran.
Secara beruntun dia melancarkan tiga buah serangan berantai yang maha dahsyat.
Tak lama kemudian, jeritan ngeri telah berhenti, bentakan yang nyaringpun lenyap dari pendengaran.
Diatas lorong selat yang sempit kini bertambah dengan enam sosok mayat dari manusia-manusia kilat, diam-diam Ong Bun kim terperanjat juga menyaksikan kejadian itu, sebab dilihatnya noda darah telah membasahi ujung bibir Mo kui Seng kiam Phang Pak-bun.
Tanpa terasa ia berseru.
"Phang cianpwe, kenapa kau?"
Phang Pak bun tertawa getir, jawabnya.
"Aaah ! Aku hanya terluka sedikit saja, tidak terhitung seberapa."
Dari sakunya Tay-khek Cinkun segera mengeluarkan sebutir pil dan diserahkan kepada Phang Pak bun seraya berkata.
"Pil ini merupakan pil mustika buatanku sendiri, telanlah dan atur pernapasanmu untuk menyembuhkan lukamu itu"
Setelah menelan pil itu, Phang Pak-bun lantas duduk bersila untuk mengatur pernapasan dan menyembuhkan luka yang dideritanya. Sementara Tay khek Cinkun berpaling ke arah Ong Bun kim sambil katanya.
"Kepergian kita keperguran San-tiam bun benar-benar merupakan suatu pelajaran yang sangat berbahaya."
Baru saja Tay khek Cinkun menyelesaikan kata-katanya, mendadak terdengar suara gelak tertawa yang amat nyaring berkumandang memecahkan keheningan, tampaklah beberapa sosok manusia kilat yang berbaju putih keperakperakan munculkan diri ke dalam gelanggang.
Sebagai pemimpin rombongan adalah seorang lelaki yang pada bagian dadanya terukir sebuah huruf besar berwarna merah, huruf itu berbunyi.
"SIN" (Hukum), bisa diketahui bahwa orang itu tak lain adalah Tongcu bagian siksaan dari perguruan San tian -bun. Sin tong Tongcu masih tetap mengenakan selembar kain cadar warna putih untuk menutupi wajahnya, setelah tertawa dingin dia pun berkata.
"Sobat, ilmu saktimu sungguh membuat orang merasa kagum sekali, jikalau anggota perguruan kami telah melakukan kekerasan, harap kau sudi memaafkan."
Ong Bun kim tertawa dingin.
"Heeh heehh heehh inikah peraturan dari perguruan San tian bun? Turun tangan melancarkan sergapan."
"Dalam hal ini pun aku memohon maaf yang sebesarbesarnya kepada saudara sekalian. Bukan-kah Ong tay hiap sedang mencari Buncu kami?"
"Betul!"
"Buncu kami mempersilahkan kalian untuk menjumpai dirinya!"
Perkataan ini sungguh diluar dugaan Ong Bun kim serta Tay khek Cinkun, apakah peraturan dari perguruan San tian bun adalah menggunakan tentara lebih dulu baru berunding?
Terdengar Sin tong Tongcu tertawa dingin lalu katanya kembali.
"Setelah kalian berani sampai kemari, tentunya berani juga untuk berkunjung ke perguruan kami bukan?"
Ong Bun kim segera tertawa angkuh.
"Hmm...! Hanya sebuah perguruan San tian bun belaka, kenapa aku tak berani untuk mengunjunginya?"
"Kalau begitu, harap kalian bertiga sudi mengikuti diriku"
Ong Bun kim tertawa angkuh, tanpa berbicara lagi dia berjalan lebih dulu mengikuti di belakang orang itu.
Tay khek Cin kun, Phang Pak bun serta tiga orang manusia kilat lainnya segera mengikuti dari belakang.
Waktu itu, mereka bertiga telah berjalan menembusi selat yang sempit dan panjang itu dan tiba di sebuah lembah, dalam lembah berdiri sebuah bangunsn besar yang mirip sekali dengan sebuah benteng kuno yang angker dan mengerikan.
"Disiniah letak markas besar perkumpulan kami."
Ucap Sin tong tongcu kemudian.
"Ehmm lagaknya sih luar biasa!" -sindir Ong Bun kim dingin "Aaah hanya sebuah "bangunan"
Benteng saja terhitung seberapa silahkan!"
Sebuah jelanan kecil beralaskan batu kerikil membentang ke depan dan berhubungan dengan bangunan loteng tersebut, waktu itu Ong Bun-kim bertiga telah tiba lebih kurang sepuluh kaki di depan pintu gerbang.
Delapan orang manusia berbaju putih secara terpisah berdiri disepanjang sisi pintu gerbang tersebut.
"Silahkan masuk!"
Kata Sin tong tongcu lagi sambil tertawa dingin.
Ong Bun kim menggertak giginya keras-keras dan melangkah masuk ke dalam pintu gerbang, terlihatlah dalam ruangan itu telah dipenuhi oleh belasan orang manusia kilat.
Dengan ilmu menyampaikan suara, Tay khek Cinkun segera berbisik kepada Ong Bun kim.
"Hati-hati, jangan sampai terkena oleh siasat beracunannya."
"Aku bisa bertindak hati-hati."
Sahut Ong Bun kim sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah menembusi ruang depan mereka masuk ke ruang dalam, kedua belah sisi ruangan masing-masing berdiri puluhan borang manusia Kdilat.
Ketika Oang Bun kim mencboba untuk mendongakkan kepalanya, maka tampaklah dalam ruangan tengah telah berdiri seorang manusia baju putih yang bercadar.
Dibelakangnya, masing-masing berdiri dua orang manusia berbaju putih.
Tak usah ditanya lagi, dapat diketahui bahwa orang yang berada ditengah-tengah itu tak lain adalah Buncu (ketua) dari perguruan San tian bun.
Sementara Ong Bun-kim bertiga telah tiba lebih kurang satu kaki di hadapan istana, Sin tong tongcu lantas memberi hormat kepada ke tuanya sambil melapor.
"Lapor Buncu, Ong tayhiap telah datang!"
"Hmmm...."
Orang itu mendegus dingin.
"Terima kasih Buncu!"
Dengan sikap hormat Sin tong tongcu segera mengundurkan diri. Ong Bun kim tak kuasa menahan rasa mendongkolnya, ia segera tertawa dingin sambil berseru.
"Saudara, besar amat lagakmu!"
Buncu dari perguruan Sin tian bun itu tertawa dingin pula, tiba-tiba iapun menegur.
"Kau yang bernama Ong Bun kim?"
Tercekat perasaan Ong Bun kim setelah mendengar perkataan itu, sebab suara lawan ternyata adalah suara seorang perempuan, bagaimana mungkin tidak membuat si anak muda tersebut menjadi terperanjat?
Tay khek Cinkun maupun Phang Pak bun ikut terkejut pula oleh kenyataan tersebut, mereka rasakan hal ini sebagai suatu hal yang sama sekali diluar dugaan.
"Kaukah Buncu dari perguruan San tian bun?"
Tegur Ong Bun kim setelah tertegun sejenak.
"Benar !"
"Kau... kau adalah perempuan?"
"Benar !"
Pengakuan ini semakin mengejutkan hati Ong Bun kim, sebab dalam anggapannya selama ini, Buncu dari perguruan San tian bun adalah seorang lelaki karena ia mempunyai hubungan gelap dengan Siau Hui un, dan hal tersebut merupakan suatu kenyataan yang tak bisa dibantah lagi.
Mengapa secara tiba-tiba bisa berubah jadi seorang perempuan?
Hal ini sungguh diluar dugaan Ong Bun kim.
Untuk sesaat lamanya ia menjadi berdiri termangu seperti orang bodoh, diawasinya wajah Buncu dari San tian bun ini tanpa berkedip barang sedikitpun juga.
Tay khek Cinkun serta Phang Pak bun sendiri pun ikut tertegun ditempat tanpa berbicara apa-apa.
San tian Buncu yang menyaksikabn kejadian itu dsegera tertawa adingin, tegurnyba.
"Hei kenapa kau hanya berdiri termangu saja?"
Ong Bun kim segera tersadar kembali dari lamunannya, lalu tertawa angkuh.
"Kenyataan ini sungguh jauh terada diluar dugaanku!"
"Kenyataan apa yang berada diluar dugaanmu?"
"Ada suatu persoalan aku ingin bertanya kepadamu, anggota perguruanmu yang manakah telah bersekongkol dengan Siau Hui untuk membunuh ayahku Su-hay-bong khek?"
"Oooh ! Jadi kedatanganmu kemari adalah untuk mencari balas?"
"Benar!"
Kembali San-tian Buncu tertawa dingin..
"Hmmm, yakinkah kau dengan kemampuanmu untuk melakukan perbuatan tersebut?"
Ejeknya.
"Asal dicoba, semuanya toh akan jelas dengan sendirinya."
"Bagus sekail"
Jawabnya kemudian dingin, kemudian dengan suara dalam ia membentak.
"Hu-buncu!"
"Tecu berada disini!"
Seorang manusia baju putih bercadar munculkan diri didepan pintu ruangan. Ong Bun kim segera mengalihkan sorot matanya ke wajah orang itu, kemudian bentaknya.
"Jadi kaukah orangnya?"
"Kalau aku kenapa?"
Jengek Hu-buncu sambil tertawa sinis. Selapis hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajah Ong Bun-kim, kembali ia membentak.
"Jadi kaulah kekasih gelapnya Siau Hui-un."
"Benar!"
"Kau pula yang telah mencelakai ayahku sampai mati?"
"Benar!"
"Keenam
Jilid kitab pusaka dari enam partai besar dunia persilatan juga berada di tanganmu?"
"Benar!"
"Bagus sekali, kalau begitu, sekarang juga akan kubunuh dirimu untuk melampiaskan rasa dendam dihatiku!"
Setelah berhadapan muka dengan musuh besarnya api dendam dan amarah segera berkobar dengan hebatnya didada Ong Bun kim, ia membentak keras, sebuah pukulan dahsyat secepat kilat dilontarkan kearah wakil ketua dari perguruan San tian bun tersebut.
Dalam melancarkran serangannya.t Ong-Bun kim teqlah sertakan sergenap tenaga dalam yang dimiliki selama ini, luar biasa sekali kedahsyatannya hingga sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Wakil ketua dari perguruan San-tian-bun segera mengebaskan-ujung bajunya untuk menyambut datangnya ancaman itu, mendadak terdengar Buncu dari San-tian bun membentak keras.
"Tahan!"
Bentakan tersebut membuat Ong Bun kim serta Hu bun cu dari perguruan San tian bun segera menarik kembali serangannya. Dengan hawa napsu membunuh yang berkobar kobar, Ong Bun kim membentak keras.
"Apakah Buncu masih ada pesan yang lain?"
"Kalau kedatanganmu adalah untuk menuntut balas, aku tidak berniat untuk menghalangimu, cuma aku melarang kalian untuk bertempur disini!"
"Lantas kami harus bertempur dimana?"
"Dalam perguruan kami tersedia sebuah tempat untuk perkelahian bebas yang dinamakan Toan-hun-gan, beranikah kau untuk berduel di puncak tebing pemutus nyawa itu?"
"Kalau begitu, silahkan!"
Begitu menyelesaikan kata-katanya, Buncu dari perguruan San-tian-bun itu segera berkelebat keluar dari pintu gerbang dengan kecepatan yang luar biasa, sedemikian cepatnya gerakan itu membuat Tay-khek Cinkun merasakan hatinya amat tercekat.
Menyusul kemudian, Wakil ketua dari perguruan San tian bun ikut pula berkelebat ke luar meninggalkan ruangan itu.
Ong-Bun kim, Tay kbek Cinkun serta Phang Pak bun dengan capat menyusul di belakangnya.
Setelah keluar dari pintu gerbang, Tay khek Cinkun lantas berbisik kepada Ong Bun kim dengan suara lirih.
"Kalau dilihat dan keadaan yang terbentang didepan mata dewasa ini, tampaknya situasi amat berbahaya, sulit rasanya untuk mengatasi hal semacam ini dengan gampang, kita harus berusaha keras untuk mempertahankan diri sebaik-baiknya, jika tidak, besar kemungkinan nyawa kita bertiga akan habis dalam selat Thian-mo-shia ini."
Ong Bun kim manggut-manggut setelah mendengar perkataan itu, namun ia tidak bicara apa-apa.
Dalam pada itu, Hu Buncu sekalian sudah bergerak menuju ke sebuah tebing curam di-belakang bukit, tak lama kemudian sampailah mereka disitu, pada dinding tebing yang curam terbaca tiga huruf yang amat besar sekali.
"TOAN HUN-GAY"
Bawah tebing merupakan sebuah jurang yang tak diketahui dalamnya, lapisan kabut menyelimuti jurang tersebut, keadaan medan disekitar sana boleh dibilang mengerikan sekali.
Ong Bun kim melirik sekejap ke arah San tian Buncu, kemudian sambil tertawa dingin ejeknya.
"Ehm... Tempat ini memang suatu tempat yang amat bagus!"
Buncu dari perguruan San tian bun segera tertawa seram, katanya kembali.
"Ong tayhiap, kalau toh kau datang kemari untuk membalas dendam bagi kematian ayahmu, kamipun tak akan mencari kemenangan dengan mengandalkan jumlah yang banyak, akan kuberi sebuah kesempatan bagi kalian untuk bertempur secara adil, cuma kalau berada dipihak yang kalah, besar kemungkinan tubuh kalian akan hancur lebur menjadi berkeping-keping."
Ong Bun kim mendengus dingin, sambil menghampiri wakil ketua dari perguruan San tian bun itu serunya.
"Hu buncu aku hendak bertanya kepadamu, dimanakah kau simpan keenam
Jilid kitab pusaka itu?"
"Dalam sakuku!"
Jawab ketua dari perguruan San tian bun dengan cepat. Mendengar jawaban tersebut, paras muka Ong Bun kim segera berubah hebat serunya.
"San tian buncu, seandainya hu buncu kalian sampai mampus ditanganku, apa yang hendak kalian lakukan?"
"Kau anggap aku akan turun tangan untuk menyerang dirimu? Jangan kuatir jika berhasil menangkan Hu buncu, bukan saja aku akan membiarkan kalian pergi meninggalkan selat Thian mo sia ini, bahkan ke enam
Jilid kitab pusaka dari enam perguruan besarpun akan kuserahkan kembali kepadamu!"
"Sungguhkah perkataanmu itu?"
"Selamanya aku tak pernah berbohong!"
"Bagus sekali!"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, Ong Bun kim telah melangkah maju sejauh tiga depa lebih ke hadapan Hu buncu, dengan tindakannya tersebut maka seluruh gelanggang segera diliputi oleh selapis hawa pembunuhan yang mengerikan.
Bila ditinjau dari pembicaraan Buncu dari perguruan San tian bun ini, tak sulit untuk diketahui bahwa Hu buncu adalah seorang bmanusia yang bedrilmu silat sanagat tinggi, kalbau tidak tak nanti Buncu dari perguruan San tian bun ini akan berbicara dengan nada yang begitu meyakinkan itu berarti pertandingan yang bakal berlangsung nanti akan mempengaruhi mati hidup mereka berdua.
Tapi Ong Bun kim sedikitpun tak gentar, malah bentaknya dengan suara keras.
"Hu-buncu, siapa namamu? "
"Lui Thian ciu."
"Mengapa kau menggunakan siasat It-cian-siang-tiau (sebatang panah mendapat dua ekor rajawali) untuk mencelakai ayahku serta Kui-jin-suseng.
"Soal itu kau tak perlu tahu, pokoknya jika ingin turun tangan lebih baik cepat-cepatlah lakukan!"
Ong Bun kim tahu -bahwa banyak berbicarapun tak ada gunanya, maka sambil menggertak gigi, tenaga dalamnya segera dihimpun ke dalam sepasang telapak tangannya kemudian sambil membentak keras, dengan jurus Hek yan mo im (bayangan iblis di tengah malam) ia lancarkan sebuah serangan dahsyat.
Didalam melepaskan serangannya itu, Ong Bun kim telah menyertakan pula segenap tenaga dalam yang dimilikinya.
Menghadapi datangnya ancaman itu, bukan berkelit Hu Buncu dari perguruan San tian bun itu malah maju menyerang, tangan kanannya digunakan untuk menangkis datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras, kemudian dengan jurus Pit bok ki hau (menutup mata membendung harimau) ia melepaskan serangan balasan.
Mimpipun Ong Bun kim tidak menyangka kalau musuhnya akan menyambut datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras, dengan cepat tenaga dalam yang disalurkan kedalam telapak tangan kanannya ditingkatkan mencapai dua belas bagian.
"Blaamm !"
Suatu ledakkan dahsyat yang memekikkan telinga segera berkumandang di udara debu dan pasir beterbangan menyelimuti sekeliling tempat itu diantara menggulungnya angin puyuh tampak kedua sosok bayangan manusia itu saling berpisah.
Ong Bun kim kena terdesak sehingga mundur sejauh satu kaki dari posisi semula, sebaliknya Lui Thian ciu terdesak mundur sejauh lima langkah.
Dengan demikian menang kalahpun segera terlihat jelas.
Tenaga dalam yang dimiliki Ong Bun kim memang belum bisa menandingi kehebatan Lui Thian ciu, atau dengan perkataan lain, dalam pertarungan ini Ong Bun kim akan lebih banyak menjumpai mara bahaya dari pada keberuntungan.
Agaknya Tay khek Cinkun serta bPhang Pak bun jduga dibikin amaat terperanjat obleh hasil pertarungan itu, paras mukanya segera berubah hebat.
Sedangkan Buncu dari perguruan San tian bun tertawa terkekeh kekeh penuh rasa bangga.
0000OdwO0000 BAB 61 SETELAH menyambut serangan itu, paras muka Ong Bun kim berubah menjadi murung dan sedih, ia sadar sekalipun dalam pertarungan ini tubuhnya tak sampai terlempar ke dalam jurang, harapannya untuk hidup lebih jauhpun tipis sekali.
Terbayang sampai ke situ, mendadak timbul ingatan dalam hatinya untuk beradu jiwa.
Tiba-tiba terdengar Lui Thian ciu tertawa dingin, kemudian katanya.
"Tenaga dalam yang saudara miliki memang betul-betul mengagumkan..."
Ong Bun kim tertawa dingin.
"Heeehhh. ...heeehhh heeehhh! aku lihat tenaga dalam yang dimiliki Hu Buncu pun terhitung lihay sekali!"
"Sudah kau tak usah memuji terus, hayolah lancarkan kembali seranganmu !"
Ong Bun-kim tidak berbicara lagi, sambil membentak keras, secepat kilat tubuhnya menerjang kembali kearah wakil ketua dari perguruan San-tian-bun, sekali lagi ia melepaskan serangan dengan jurus Hek-ya-mo-im (bayangan iblis ditengah alam).
Saat ini Ong Bun-kim sudah bertekad untuk beradu jiwa, begitu jurus Hek-ya-mo im dilancarkan, jurus kedua Mo im kui jiau (bayangan iblis cakar setan) pun siap dilancarkan kembali.
Semenjak terjadinya bentrokan tadi, Lui Thian-ciu tahu kalau tenaga dalam yang dimiliki Ong Bun-kim masih kalah setingkat bila dibandingkan dengan tenaga dalamnya, maka ia sama sekali tidak pandang sebelan mata pun terhadap pemuda itu.
Ketika dilihatnya serangan dahsyat itu mengancam tiba, tangan kanannya segera diayunkan ke depan melepaskan sebuah serangan balasan dengan jurus Nu-tau pa an (ombak dahsyat memukul pantai).
Kedua belah pihak sama-sama melancarkan serangan dengan kecepatan luar biasa, tapi dalam waktu yang relatif amat singkat itulah, Ong Bun-kim telah melepaskan serangan keduanya dengan jurus Mo im kui jiau.
Perubahan jurus yang cepat, tenaga serangan yang dahsyat, membuat wakil Buncu dari perguruan San-tian bun menjadi sangat terkejut, untuk sesaat ia kena didesak oleh sianak muda itu sehingga mundur tiga langkah ke belakang.
Semua peristiwar itu terjadi datlam waktu singkqat, padahal bicrara dalam soal tenaga dalam, Ong Bun kim masih kalah setingkat bila dibandingkan dengan Lui Thianciu, tapi kekuatan serangan dari ilmu Hek mo sin hiang yang dimiliki Ong Bun kim ternyata tak sanggup diatasi oleh jurus serangan yang dimiliki oleh wakil ketua dari perguruan San-tian-bun ini.
Dengan demikian, keberanian Ong Bun-kim makin berkobar, dia segera melompat ke depan dan dalam waktu singkat melepaskan tiga buah serangan berantai.
Bayangan telapak tangan yang menyilaukan mata, tenaga serangan yang memekikkan telinga dalam waktu singkat menyelimuti seluruh gelanggang pertarungan itu.
Sesaat kemudian, sepuluh gebrakan sudah lewat, tampak dua sosok bayangan manusia berputar kencang di udara, pertarungan diantara mereka berlangsung kian lama kian bertambah seru.
Tay khek Cinkun yang mengikuti jalannya pertarungan itu diam-diam mengerutkan dahinya, dengan wajah serius iapun sadar jika harapan Ong Bun-kim untuk meraih kemenangan adalah kecil sekali.
Andaikata Ong Bun kim terbukti kalah nanti, apakah dia harus turun tangan untuk menggantikannya?
Dalam pada itu, pertarungan antara Ong-Buji kim melawan Lui Thian-ciu telah mencapai lima puluh gebrakan, dari suatu pertarungan gerak cepat kini gerakgerik mereka semakin lambat dan pelan.
Peluh sebesar kacang telah membasahi jidat Ong Bun kim, sebaliknya kain cadar yang menutupi wajah Lui Thian ciu pun telah basah pula oleh air keringat.
Berbicara dari keadaan yang terpentang didepan mata sekarang, bisa diketahui bahwa kemungkinan untuk saling beradu jiwa sudah semakin besar untuk mereka berdua.
Dalam keadaan demikian, Mo kui kiam jin (jago pedang setan iblis) Phang Pak bun segera bertanya kepada Tay khek Cinkun dengan suara setengah berbisik.
"Can cianpwe. bagaimana menurut pendapatmu mengenai hal pertarungan ini? Siapa yang bakal memenangkannya?"
"Sulit untuk dikatakan"
Jawab Tay khek-Cinkun setelah berpikir sejenak.
"tapi yang jelas, Ong Bun-kim menderita kerugian karena tenaga dalamnya yang kurang, aku sudah pernah saling beradu tenaga pukulan dengan Hu buncu tersebut, memang terbukti, bahwa tenaga dalam-yang dimilikinya amat tangguh dan sempurna.
"Kau sudah pernah beradu kekuatan dengannya?"
"Betul, ketika itu peristiwa terjadi dalam perkampungan keluarga Shen, kemungkinan besar orang yang munculkan diri waktu itu adalah Hu buncu tersebut, ketika saling beradu tenaga, ternyata aku menderita sedikit luka dalam!"
"Tapi aku rasa Ong Bun kim mempunyai kemungkinan menderita kalah!"
Kata Phang Pak bun dengan suara dalam.
"Betul, didalam suatu pertarungan yang sedang berlangsung, orang yang memiliki tenaga dalam yang sempurna memang menduduki posisi yang lebih baik dan menguntungkan, asal Lui Thian ciu bisa menemukan peluang untuk melancarkan serangannya, sulit buat Ong Bun kim untuk menahan diri"
Sementara Tay khek Cinkun baru berbicara sampai disana, mendadak......
Suatu bentakan keras yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan kesunyian, ketika mereka mendongakkan kepalanya, maka tampaklah Ong Bun kim dalam bentakan tersebut secara beruntun telah melancarkan tiga buah serangan yang maha dahsyat.
Oleh teteran ketiga buah pukulan itu, Lui Thian ciu kena didesak sehingga harus mundur sejauh tujuh delapan langkah sebelum akhirnya berhasil untuk berdiri tegak, tapi setelah berdiri tegak itulah dia melepaskan pula dua buah serangan berantai yang tak kalah dahsyatnya.
Ong Bun kim tak sanggup untuk membendung kekuatan pukulan lawan yang begitu dahsyat, ia menyelinap kesamping dan harus mundur sejauh tujuh delapan langkah sebelum berhasil untuk berdiri tegak.
Dengan saling menyerang dan menyergap ini, dalam waktu singkat dua puluh gebrakan kembali sudah lewat.
Bayangan manusia yang bergerak kian lama kian bertambah lambat, keadaan mereka sekarang ibaratnya seseorang yang baru sembuh dari suatu penyakit parah berkelahi dengan orang, gerakan-nya sangat lamban, walaupun demikian namun tenaga pukulan yang dipancarkan ternyata cukup mengejutkan hati orang.
Ong Bun kim mulai sadar bahwa ia sudah tak dapat bertahan lebih lama lagi.
Sedemikian kuat dan tangguhnya tenaga dalam yang dimiliki lawan, mungkin andaikata ilmu pukulan Hek mo sin ciang tidak memiliki perubahan yang mengejutkan orang, ia sudah tewas ditangan Lui Thian ciu semenjak tadi-tadi.
Tapi bila pertarungan dilangsungkan lebih lama lagi, akhirnya tenaga dalam yang dimilikinya pasti akan habis dan waktu itu sudah barang tentu Ong Bun kim akan menderita kerugian yang besar sekali.
Mendadak....
pada saat itulah bdengan suatu kedcepatan yang luaar biasa Lui Thbian ciu melepaskan sebuah pukulan dahsyat.
Entah karena pikirannya sedang bercabang atau karena ia mempunyai perhitungan lain, ternyata Ong Bun kim tidak berusaha untuk menghindarkan diri dari serangan tersebut.
Tindakan dari pemuda itu jauh diluar dugaan Lui Thian ciu, sebab dalam kenyataannya serangan yang ia lancarkan ini memang sebuah tipuan belaka, tidak banyak tenaga yang disertakan dalam serangan tersebut.
"Blaaam...!"
Dengan telak Ong Bun kim termakan oleh pukulan itu hingga tubuhnya terjungkal ke belakang sejauh satu kaki lebih.
Tay khek Cinkun sendiripun merasa amat terperanjat, ia segera melompat kedepan siap menolong Ong Bun kim.
Tapi dikala Tay khek Cinkun sedang menubruk kedepan itulah, cahaya putih mendadak berkelebat lewat.
Buncu dari perguruan San tian bun itu dengan gerakan yang amat cepat telah menghadang jalan perginya.
"Mau apa kau?"
Dia menegur. Saat ini Tay-khek-cin-kun hanya berpikir bagaimana caranya menolong orang, segera ia membentak keras.
"Minggir kau!"
Telapak tangan kanannya diayunkan ke muka melancarkan sebuah pukulan dahsyat.
Serangan dari Tay-khek-cinkun ini tak bisa dibilang tidak tangguh, apalagi dilancarkan dalam keadaan gelisah dan cemas, hampir segenap tenaga dalam yang dimilikinya telah disertakan dalam pukulan itu.
"Hmm ! Tampaknya kau cari mati !"
Bentak Buncu dari perguruan San tian-bun itu dengan lantang.
Telapak tangannya diputar, sebuah serangan balasan segera dilancarkan ke depan.
Bayangan manusia berkelebat lewat, Tay-khek cin-kun segera terdesak mundur sejauh tujuh delapan langkah lebih.
"Apakah kau ingin mampus?"
Bentak Buncu dari perguruan San tian bun itu dengan suara nyaring. Selapis hawa pembunuhan segera menyelimuti seluruh wajah Tay khek cinkun, bentaknya.
"Mau apa kau?"
"Jika kau berani turun tangan lagi, maka yang mampus lebih duluan adalah kau."
Ucapan tersebut diucapkan dengban penuh disertdai hawa napsu maembunuh yang bebrkobar, membuat siapapun yang mendengarkan merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri.
Mendapat ancaman tersebut, Tay-khek cinkun merasakan hatinya tercekat, dengan perasaan ngeri dan seram ia menghentikan gerakan tubuhnya.
Buncu dari perguruan San tian bun itu tertawa dingin, kembali katanya lebih jauh.
"Lagipula pertarungan mereka dilangsungkan secara adil, sebelum mati hidup bisa ditentukan, siapapun tidak boleh mencampuri urusan mereka."
Dalam pada itu Lui Thian ciu telah berhasil menguasahi tubuhnya, setelah menghembuskan napas panjang, ia memperdengarkan suara tertawanya yang mengerikan.
Selangkah demi selangkah dia maju ke depan mendekati Oug Bun kim yang sudah tergeletak itu...
Sedangkan Ong Bun kim sendiri bagaikan sedang menanti datangnya malaikat elmaut, ternyata cuma berbaring saja diatas tanah dengan tenang, tubuhnya sama sekali tak bergerak, seakan-akan malaikat elmaut sudah mulai menggapekan tangan kepadanya...
Darah kental masih meleleh keluar tiada hentinya daii ujung bibir Mendadak Lui-Thian ciu membentak keras, tubuhnya dengan kecepatan luar biasa meluncur ke arah Ong Bun kim, dengan disertai segenap tenaga dalam yang dimiliki dia melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke tubuh Ong Bun kim.
"Blaaammm !"
Suatu benturan yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan keheningan.
Benturan tersebut terdengar seperti guntur yang menggetarkan seluruh permukaan tanah, membuat Taykhek Cinkun serta Phang Pak-bun merasakan kepalanya menjadi pening dan pandangan matanya bagaikan menjadi gelap.
Tapi setelah melihat jelas apa yang telah terjadi ditengah gelanggang, tanpa terasa mereka menjerit tertahan.
Kiranya Lui Thian ciu sudah terjungkal sejauh dua kaki lebih dari tempat semula, jaraknya dengan tepi jurang tinggal tiga depa lagi.
Sebaliknya Ong Bun kim telah bangkit berdiri dan berdiri menyeramkan disitu.
Kiranya disaat Lui Thian ciu siap melancarkan serangannya tadi, Ong Bun kim dengan menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya telah melompat bangun sambil melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke arah depan.
Serangannya itu sungguh berada diluar dugaan Lui Thian ciu, dia tidak menyangka kalau Ong-Bun kim yang sudah tergeletak ditanah ternyatq masih memiliki cukup tenaga untuk melancarkan setangan.
Agaknya memang itulah rencana yang telah di atur Ong Bun kim secara diam-diam, ia rela terima serangan musuh tadi untuk dibayar dengan sebuah serangan yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga.
Hasil dari kejadian itu betul-betul jauh di luar dugaan siapa pun juga yang berada disana.
Ong Bun kim berdiri dengan sempoyongan, hampir saja ia tak sanggup berdiri tegak.
"Uuaak!"
Kembali ia muntah darah segar.
Sekarang wajahnya sudah berubah menjadi pucat pias seperti mayat, tapi di balik kepucatan wajahnya itu terlintaslah selapis hawa napsu rnembunuh yang mengerikan.
Dengan sempoyongan dia melangkah maju ke depan mendekati Lui Thian ciu yang terluka itu.
Lui Thian ciu sudah tergeletak diatas tanah tak berkutik barang sedikitpun juga.
Dalam waktu singkat Ong Bun kim telah tiba kurang lebih satu depa dihadapan Lui Thian ciu, mendadak ia berhenti, hawa napsu membunah yang menyelimuti wajahnya semakin tebal lagi.
Ia mendongakkan kepalanya dan tertawa, suara tertawanya sungguh mengerikan sekali.
Mendadak ia menyambar tubuh Lui Thian ciu dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Lui Thian ciu, akhir-akhirnya kau alami juga saat-saat seperti hari ini..."
Seru Ong Bun kim dengan suara terbatabata.
Dengan napas yang terengah ia menyelesaikan perkataannya secara paksa, kemudian tangan nya menyambar kebawah, merobek kain cadar putih yang menutupi wajah Lui Thian ciu tersebut.
Dengan cepat tampaklah raut wajah Lui Thian ciu yang sebenarnya, ternyata dia adalah seorang lelaki berusia empat puluh tahunan yang berwajah tampan sekali, cuma darah kental telah meleleh keluar dari ujung bibirnya waktu itu.
la membuka matanya dan memandang sekejap ke-arah Ong Bun kim, kemudian dengan bersusah payah ia berbisik.
"Mau... mau apa kau?"
"Hayo jawab, mengapa kau merayu Siau Hui un untuk berkhianat? mengapa kau membunuh ayahku?"
Belum sempat Lui Thian ciu menjawab, mendadak terdengar ketua dari perguruan San tian bun itu membentak keras.
"Turun kalian berdua dari sini!"
Menyusul bentakan yang mengerikan itu, tangannya segera diayunkan ke muka menghajar tubuh Lui Thian ciu dan Ong Bun-kim.
Tay-khek Cinkun maupun Phang Pak-bun yang menyaksikan kejadian itu segera menjerit tertahan lantaran kaget.
"Aaaai !"
Ditengah jeritan kaget mereka, tubuh Ong Bunkim serta Lui Thian-ciu sudah terjungkal ke dalam jurang yang sangat dalam itu...
Tindakan ini betul-betul teramat keji, bukan saja diluar dugaan setiap orang, bahkan tak disangka oleh Tay khekcin-kun maupun Phang Pak bun, menunggu mereka sadar akan apa yang terjadi tubuh Ong Bun-kim -serta Lui Thian ciu sudah terjungkal ke dalam jurang.
"Buncu. sungguh teramat keji perbuatanmu!"
Teriak Tay khek cin-kun dengan suara amat nyaring. -oo0dw0oo--
Jilid 20 WAKTU itu Tay khek-Cin-kun benar-benar telah bertekad untuk beradu jiwa, ditengah bentakan yang amat nyaring, bagaikan orang kalap saja ia menubruk ke depan, sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke depan.
Ketua dari perguruan San tian-bun itu memperdengarkan suara tertawa yang menyeramkan, tampaknya ia telah menduga akan tindakan tersebut.
Sementara itu, Phang Pak bun telah menggetarkan pula pedangnya sambil melancarkan sebuah serangan yang amat dahsyat.
Tay-khek-Cin-kun maupun-Phang Pak-bun hampir boleh dikata menyerang dalam waktu yang bersamaan, tapi cahaya putih segera berkelebat lewat, tahu-tahu ketua dari perguruan San tian bun tersebut sudah melepaskan diri dari sergapan gabungan itu.
Gerakan tubuhnya ini sangat cepat dan enteng, tahu-tahu ancaman dari Tay-khek cin-kun serta Phang Pak-bun tersebut sudah mengenai sasaran yang kosong.
Sambil tertawa dingin, ketua dari perguruan San-tianbun itu berseru.
"Kalian berdua kenapa musti beradu jiwa denganku? Meskipun kalian kehilangan Ong-Bun-kim, aku toh juga kehilangan seorang wakil ketua, apakah hal ini tak bisa dikatakan sebagai impas?"
"Enak betul kalau bicara"
Teriak Tay khek cin kun dengan penuh rasa geram.
"akan ku pertaruhkan selembar nyawa tuaku ini untuk beradu jiwa denganmu!"
"Apa gunanya.."
Belum habis ia berkata, seperti harimau yang terluka Tay khek-cinkun telah menubruk ke depan sambil melancarkan sebuah serangan dahsyat, pukulan itu bukan saja amat dahsyat, jurus serangannya juga aneh dan tangbguh.
Phang Pak dbun membentak kaeras, diapun ikbut menyerbu ke gelanggang sambil melancarkan serangan kilat.
Baik Tay-khek-cinkun maupun Phang Pak bun, keduaduanya sudah mempunyai maksud untuk beradu jiwa, mereka tak ambil perduli lagi apa yang bakal menimpa diri mereka berdua.
Menyaksikan kesemuanya itu, ketua dari perguruan Santian-bun tersebut segera membentak.
"Tampaknya sebelum mampus kalian berdua belum puas?"
Tay kbek cin-kun maupun Phang Pak-bun tidak menjawab seruannya itu, mereka malahan menyerang makin kalap.
"Bagus, bagus sekali!"
Seru ketua dari perguruan Santian-bun semakin naik darah.
"Jangan salahkan kalau aku akan bertindak keji kepada kamu berdua!"
Ditengah seruan tersebut, secara beruntun telapak lengannya diayunkan ke depan melancarkan tiga buah serangan dahsyat.
Semua serangan itu dilancarkan bukan saja dengan jurus-jurus yang aneh dan sakti, bahkan dikombinasikan pula dengan gerakan tubuhnya yang cepat, kedahsyatannya betul-betul mengerikan hati.
Dalam waktu singkat, berkobarlah suatu pertarungan sengit yang melibatkan ketiga orang itu.
Mendadak suatu bentakan nyaring yang memekikkan telinga menggetarkan sukma, menyusul kemudian.
"Blaaaaam !"
Dalam suatu benturan yang sangat keras itu, tubuh Phang Pak bun mencelat ke belakang dan muntah-muntah darah segar, ia tak sanggup bangkit lagi.
Menyaksikan kejadian itu Tay-khek Cin-kun menjadi terkesiap, peluh dingin mulai bercucuran membasahi sekujur tubuhnya.
Mendadak ketua dari perguruan San tian bun itu maju menyerang dengan suatu gerakan tubuh yang aneh dan cepat, lali secepat kilat ia melancarkan dua buah serangan berantai.
Kelihayan ilmu silat yang dimiliki ketua dari perguruan San tian bun ini betul-betul mengerikan sekali, sekalipun harus menghadapi kerubutan dua orang jago sekaligus, ternyata Phaog Pak bun yang memiliki tenaga dalam paling cetek telah terluka lebih dulu ditangannya.
Dengan demikian sudah barang tentu tenaga dalam yang dimiliki Tay khek Cin-kun lebih-lebih tak bisa mengatasi kelihayan lawannya lagi.
Tapi waktu itu dia sudah nekad dan berniat untuk berada jiwa, karena kenekadannya ini, ternyata untuk sesaatpun ketua dari perguruan San tian bun pun tak bisa banyak berkutik terhadapnya.
Dalam waktu singkat, puluhan jurus kembali sudah lewat.
Tiba-tiba...
"Blamm!"
Suatu bebnturan keras kedmbali terjadi, amenyusul kemudiban berkumandang jerit kesakitan yang memilukan hati.
Sambil muntah muntah darah segar, tubuh Tay khek Cin kun mencelat ketengah udara dan terjatuh ke dalam jurang.
Sekalipun Tay khek Cinkun terhajar oleh sebuah pukulannya namun perempuan misterius ketua dari perguruan San tian bun seediripun terhajar pula oleh pukulan Tay khek Cinkun.
Dengan susah payah ia berusaha untuk tetap berdiri kemudian sambil tertawa dingin selangkah demi selangkah berjalan menghampiri Phang Pak-bun, mencengkeram tubuhnya dan mengangkatnya keudara.
"Hahh haaabh haaahh lebih baik kau turun juga kebawah!"
Teriaknya sambil tertawa terkekeh-kekeh dengan seramnya.
Tubuh Phang Pak bun yang sudah terangkat ke udara itu, dengan cepat dilemparkan ke dalam jurang tersebut.
Kemudian ia mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak lagi, suara tertawanya sangat menyeramkan, membuat siapapun yang mendengar merasa bulu buduknya pada bangun berdiri.
Yaa, peristiwa ini memang cukup menggembirakan hatinya, karena ia berhasil menyingkirkan sumber bencana dari muka bumi, ini berarti selanjutnya ia tak usah kuatir apa-apa lagi.
Jurang itu tak terhitung dalamnya, siapa yang bisa hidup setelah terlempar kedalam jurang tersebut?
OOOO0dw0OOOO BAB 62 APAKAH Ong Bun kim telah tewas?
Apakah Tay khek Cinkun serta Phang-Pak bun telah terkubur pula didasar jurang yang puluhan laksa kaki dalamnya ini?
Andaikata semuanya itu merupakan kenyataan, hal itu sungguh merupakan suatu peristiwa yang tragis.
Thian tak akan membiarkan dendam berdarah ini lenyap tak berbekas, ibarat batu yang tercebur didalam samudra, kalau tidak, bukankah kejahatan akan semakin meraja lela dalam dunia ini?
Begitulah, ketika Ong Bun kim termakan oleh pukulan dari ketua perguruan San tian bun yang maha dahsyat itu sehingga tubuhnya mencelat ketengah udara, ia segera jatuh tak sadarkan diri.
Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya ia tersadar kembali dari pingsannya dalam keadaan kesakitan hebat, pelan-pelan ia teringat kembali akan semua peristiwa yang telah menimpa dirinya.
Ia masrih ingat ketikat ketua perguruaqn San tian bun rturun tangan keji kepadanya, dia pun masih ingat dia bersama Lui Thian ciu terlempar ke dalam jarang untuk selanjutnya apapun tak teringat lagi olehnya.
"Jangan-jangan aku sudah mati ?"
Demikian ia mulai berpikir dalam hatinya.
Berpikir sampai disitu, sinar matanya muIai celingukan kesana kemari untuk mencari tahu keadaan yang sesungguhnya, ternyata ia berada dalam sebuah ruangan batu...
Ia tak bisa berpikir, kenapa ia bisa berada disini...
kenapa ia bisa berada dalam ruangan batu semacam ini, sebab dari kesemuanya itu terbukti sudah kalau dia belum mati, ia masih hidup segar bugar didunia ini.
Sementara dia masih melamun, tiba-tiba terdengar suara langkah manusia berkumandang memecahkan keheningan.
Dengan cepat Ong Bun kita berpaling keluar pintu ruangan batu itu, ia saksikan seorang nona berbaju putih sedang berjalan mendekat dengan langkah yang lemah gemulai.
Sekali lagi Ong Bun kim tertegun dibuatnya.
Nona berbaju putih itu berusia antara lima belas, enam belas tahunan, dia mempunyai sepasang kepang yang panjang, wajahnya tidak terhitung cantik tapi mukanya yang bulat telur terasa manis sekali.
Sambil tersenyum dia berjalan mendekati pembaringan Ong Bun kim, senyuman manis yang menghiasi bibirnya membuat dia tampak menarik, uniuk sesaat lamanya Ong Bun kim berdiri termangu-mangu sambil menatap wajahnya itu.
Ia berjalan ke hadapan Ong Bun kim.
lalu menegur.
"Kau sudah sadar cukup lama?"
Suaranya merdu merayu membuat orang serasa terbuai ke dalam impian. Ong Bun kim tertegun oleh pertanyaan itu jawabnya kemudian.
"Aku baru saja sadar, apakah apakah kau yang telah menolong aku! ?"
"Betul."
Sambil tersenyum nona berbaju putih itu mengangguk. Ong Bun kim ingin melompat bangun, tapi nona berbaju putih itu segera mencegah-nya sambil berkata.
"Jangan bangun dulu, luka yang kau derita belum sembuh, luka semacam itu paling pantang untuk sembarang bergerak!"
"Nona, banyak terima kasih atas pertolonganmu!"
Kata Ong Bun-kim dengan penuh luapan rasa terima kasih.
"Tak usah berterima kasih kepadaku!"
"Ke mana larinya yang seorang lagi?"
"Luka yang dideritanya tidak berada dibawah keadaan lukamu, mungkin jauh lebil parah malah, sekarang dia sedang merawat lukanya dalam ruangan lain."
Mendengar perkataan itu, paras muka Ong Bun kim segera berubah hebat sekali.
"Jadi dia masih hidup di dunia ini?"
"Benar!"
"Bagaimana jalannya cerita sehingga nona berhasil menolong diriku?".
"Dua hari berselang aku mendengar suara pertarungan berkumandang dari atas sana,"
Cerita nona berbaju putih itu.
"ketika aku masih berdiri di bawah jurang sana, kusaksikan kalian berdua terjatuh dari atas sana..."
"Jadi tempat ini letaknya terada didasar jurang tersebut?"
Tanya Ong Bun kim.
"Benar! Bukankah kalian kena dihajar oleh ketua dari perguruan San tian bun sehingga terjatuh kedalam jurang?"
"Darimana kau bisa tahu?"
Tanya si anak muda itu dengan hati terperanjat. Nona berbaju putih itu segera tertawa.
"Kecuali kalian semua, masih ada beberapa orang yang kena dihajar pula sehingga terjatuh kedalam jurang ini, tapi tenaga dalam yang dimiliki orang-orang itu terlampau cetek. kebanyakan mereka tewas setelah terjatuh ke dalam jurang ini."
Belum habis si nona berbaju putih itu bercerita, tiba-tiba dari luar pintu berkumandang lagi suara seorang perempuan.
"Siok-khim, luka yang diderita sauhiap itu belum sembuh, kenapa kau malahan mengajaknya untuk banyak bicara?"
Mendengar teguran tersebut, paras muka nona berbaju putih itu segera berubah menjadi merah padam karena jengah, kepalanya kontan saja tertunduk rendah-rendah.
"Siapa disitu?"
Tanpa terasa Ong Bun kim bertanya dengan perasaan bergetar keras.
"Ibuku !"
Jawab nona berbaju putih itu cepat kemudian dengan nyaring ia menyahut.
"Ibu, aku sudah tahu!"
"Berikan obat tadi kepadanya agar dimakannya."
"Baik, ibu!"
Seraya mengiakan, dari dalam sakunya nona berbaju putih itu mengeluarkan sebutir pil dan diserahkan kepada Ong Bun kim sambil memberi tanda agar pemuda itu bersedia untuk menelannya.
Dengan perasaan berterima kasih Ong Bun kim memandang sekejap kearahnya, kemudian baru menerima pil tersebut dan ditelannya.
Ketika Ong Bun kim telah menelan pil tersebut, secara beruntun nona berbaju putih itu menotok kembali beberapa buah jalan darah penting ditubuh anak muda tersebut, bakau saja cara menotoknya amat jitu dan cekatan, tenaga dalam yang dimilikipun amat sempurna, hal mana jauh berada diluar dugaan Ong Bun kim.
Setelan menelan obat dan memperoleh pengobatan dari nona berbaju putih itu, luka yang diderita Ong Bun kim praktis telah sembuh kembali, kesehatan tubuhnya pulih kembali seperti sedia kala, dan iapun melompat turun dari atas pembaringan.
"Nona. banyak terima kasih atas budi pertolonganmu!"
Katanya sambil memberi hormat kepada gadis tersebut.
"Aaah..! Hanya persoalan sekecil ini, buat apa kau musti memikirkannya dalam hati."
"Apakah aku boleh mengunjungi ibumu?"
"Boleh saja, tapi...apakah kau tidak menjenguk dulu sahabatmu itu?"
"Sahabat? "dengus Ong Bun-kim sambil tertawa dingin.
"kau anggap orang itu adalah sahabatku!"
"Apakah bukan?"
"Tepat-sekali perkataanmu itu, dia bukan saja sahabatku, bahkan masih terhitung seorang musuh besarku"
"Apa? Dia adalah musuh besarmu?"
Rupanya nona berbaju putih itu merasa terkejut sekali, dengan sepasang mata terbelalak lebar ditatapnya wajah Ong Bun kim itu tanpa berkedip.
"Betul, dia adalah musuh besarku"
Jawab Ong Bun-kim.
"Ia telah membunuh ayah ibuku."
"Sungguh?"
"Kalau begitu, kau hendak membunuhnya?"
"Yaa, aku sangat benci kepadanya, aku ingin menghirup darahnya, memakan daging tubuhnya, tentu saja dia harus kubunuh!"
Dengan termangu-mangu nona berbaju putih itu menatap tajam wajah Ong Bun kim sekian waktu, akhirnya dia berkata lagi.
"Tapi luka yang dideritanya belum sembuh kembali!"
"Aku bisa menunggu sampai luka yang dideritanya sembuh kembali baru membunuhnya! nona lebih baik sekarang bawalah aku untuk berjumpa dengan ibumu."
Nona berbaju putih itu manggut-manggut, dia lantas berjalan keluar dari pintu ruangan lebih dulu diikuti Ong Bun kim dari belakang.
Setelah keluar dari pintu ruangan, mereka tiba di sebuah ruangan yang luas, nona berbaju putih itu segera berbelok ke dalam sebuah pintu batu yang lainnya.
Ong Bun kim tidak menyangka kalau dalam ruangan bawah tanah tersebut, ternyata terdapat arsitek bangunan yang begini menakjubkan.
Sementara itu mereka sudah tiba didepan sebuah pintu ruangan, nona berbaju putih itu segera maju mengetuk pintu, kemudian serunya.
"Ibu, sauhiap ini ingin sekait berjumpa denganmu!"
"Suruhlah dia masuk!"
Nona berbaju putih itu memandang sekejap ke arah Ong Bun kim, tiba-tiba ia menempelkan bibirnya disisi telinga pemuda itu dan berbisik.
"Andaikata kau menyaksikan sesuatu yang aneh atau seram nanti, aku harap kau jangan menunjukkan sikap terkejut"
Ong Bun kim tertegun, ia tidak habis mengerti terhadap ucapan tersebut, namun kepalanya dianggukkan juga.
Pelan-pelan nona berbaju putih itu mendorong pintu dan berjalan masuk ke dalam.
Ong Bun kim menjumpai suasana dalam ruangan batu itu gelap gulita.
Sekali lagi ia dibikin tertegun oleh suasana ditempat itu, tapi ia tidak berdiam lama sambil membesarkan nyalinya dia berjalan maju lebih ke depan, dalam kegelapan lamatlamat ia masih dapat melihat bahwa tempat itu adalah sebuah kamar tidur.
Didepan pembaringan terdapat sebuah bangku sesosok bayangan hitam duduk disitu.
Dengan tubuh agak menggigil Ong Bun kim maju tiga langkah ke depan, kemudian sambil memberi hormat katanya.
"Boanpwe Ong Bun kim sengaja datang untuk menyampaikan rasa terima kasihku atas budi pertolongan yang telah kuterima!"
"Hanya persoalan sekecil itu harap kau jangan memikirkannya selalu didalam hati, silahkan duduk Ong sauhiap!"
La menunjuk sebuah kursi dihadapannya.
"Terima kasih!"
Sahut Ong Bun kim sambil duduk.
Setelah itu pemuda tersebut duduk, baru mendongakkan kepalanya memandang ke depan, tapi apa yang kemudian terlihat hanpir saja membuat sianak muda itu menjerit keras.
Ternyata perempuan yang duduk dihadapannya itu memiliki selembar wajah yang menakutkan sekali, baik diatas wajahnya maupun pada hidung dan bibirnya seakanakan telah terbakar sehingga kulitnya mengelupas, daging merah yang bercampur darah tampak menghiasi wajahnya disana sini, ini menyebabkan wajahnya betul-betul menakutkan sekali.
Siapa yang tidak akan terkejut setelah menyaksikan raut wajah sejelek dan seseram ini.
Dalam pada itu, perempuan jelek itu telah tertawa getir, katanya.
"Bukankah wajahku tampak menakutkan sekali?"
Ong Bun kim merasakan hatinya bergetar keras, bukan menjawab dia malahan balik bertanya.
"Aku lihat wajah cianpwe telah dirusak orang, bukankah demikian?"
"Betul Kau she Ong? Apakah ayahmu juga seorang jago dari dunia persilatan?"
"Benar!"
"Apakah kau mempunyai hubungan yang erat dengan Su-hay-bong-khek (manusia latah dari empat samudra) Ong See liat?"
"Dia adalah ayahku!"
Jawab Ong Bun-kim dengan perasaan bergetar keras. Sekujur tubuh perempuan bertampang jelek itu segera menggigil keras, katanya agak gemetar.
"Oh....jadi... jadi Ong See liat adalah ayahmu?"
"Betul, apakah cianpwe kenal dengan ayahku?"
Perempuan bermuka jelek itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya sambil tertawa getir.
"Entahlah, cuma aku tahu manusia macam apakah dirinya itu, apa kau datang ke perguruan San tian bon untuk menuntut balas?"
"Benar.....! Kau.. .kau...darimana kau bisa tahu?"
"Bukankah ketua dari perguruan San tian bun telah membinasakan ayahmu..?"
"Benar!"
"Aku lihat tenaga dalam yang kau miliki masih belum dapat menandingi kelihayan dari ketua perguruan San tian bun?"
"Betul!"
"Ketua dari perguruan San tian bun benar-benar telah membinasakan ayah ibumu?"
"Benar!"
"Kau tahu dia bernama siapa?"
"Aku tidak tahu!"
"Kalau begitu kuberitahukan kepadamu, dia bernama Lui Thian Ciu!"
Mendengar nama tersebut, sekujur badan Ong Bun kim bergetar keras karena luapan emosi.
"Bukan, dia bukan Lui Thian ciu"
Sahutnya.
"sebab Lui Thianciu tidak lebih hanya wakil ketua dari perguruan San tian bun!"
"Apa?, dia hanya seorang wakil ketua saja?"
"Benar!"
Perempuan berwajah jelek itu duduk termangu-mangu, entah apa yang sedang dipikirkannya ketika itu?
Entah apa pula yang sedang ia pertimbangkan...?
Lama kelamaan Ong Bun kim merasa tidak sabar pula, tiba-tiba ia bertanya.
"Kenapa kau bisa mengetahui segala sesuatunya dengan sejelas ini? Apakah kau pun salah seorang anggota perguruan San tian bun?"
"Benar !"
Terhadap perempuan ini, Ong Bun kim menaruh suatu kesan yang mendalam sekali, dia tak tahu apa sebabnya perempuan itu sampai berdiam ditempat seperti ini?
Dia pun tak tahu kenapa wajahnya bisa dirusak sehingga hancur menjadi begitu rupa?
Berpikir sampai disini, tanpa terasa dia bertanya lagi.
"Cianpwe, siapa yang telah merusak wajahmu?"
Perempuan berwajah jelek itu tertawa getir.
"Bukan hanya wajahku saja yang rusak, sepasang mataku juga telah dikorek keluar"
Katanya.
"Haah !"
Saking kagetnya Ong Bun kim menjerit tertahan, sampai sekarang dia baru mengerti kenapa sepalang mata perempuanb itu bisa cekundg ke dalam, teranyata biji matabnya telah dikorek orang.
Setelah tertawa getir, kembali katanya.
"Kaku dibicarakan, mungkin kau tak akan percaya, orang yang telah mencelakai diriku ini tak lain adalah suamiku sendiri."
"Apa? Suamimu? Jadi.... jadi dia telah mencelaka dirimu? Siapa siapa sama suamimu itu?"
"Lui Thian ciu!"
"Apa?"
Ong Bun kim menjerit keras-keras, hampir saja tubuhnya melompat bangun dari atas kursi, sebab perkataan tersebut benar-benar telah menggetarkan perasaan Ong Bun kim.
Untuk sesaat lamanya, si anak muda itu hanya memandangi perempuan tersebut dengan perasaan terkesiap, sebab ucapannya itu bukan saja di luar dugaannya, bahkan membuat hatinya merasa terperanjat sekali.
"Kau... kau tidak percaya?"
Tanya perempuan berwajah jelek itu.
"Boanpwe bukannya tidak percaya, tapi aku sedang berpikir, kalau kau mengatakan Lui Thian ciu adalah ketua dari perguruan San tian bun itu, berarti kau adalah nyonya ketua?"
"Benar!"
"Lantas, mengapa dia telah mencelakai dirimu?"
"Lantaran seorang perempuan, dan perempuan itu adalah Yu hay kian wa (perempuan genit berjiwa cabul) Ciu Li li!"
"Aku pikir perempuan yang kau maksndkan itu tentulah ketua dari perguruan San tian bun yang sekarang ini?"
"Kemungkinan besar memang demikian, konon di masa lalu si perempuan genit berjiwa cabul Ciu Li li amat mencintai ayahmu, bahkan tergila-gila kepadanya, tapi ayahmu tak pernah memandang sebelah matapun terhadap cinta kasihnya itu."
"Dia memang berwajah cantik dan bertubuh montok, ketika gagal memperoleh cinta balasan dari ayahmu, dari cinta tumbuhlah menjadi rasa benci, ternyata timbul dendamnya untuk membunuh ayahmu.
"Maka diapun berkomplot dengan Lui Thian-ciu.
"Sebenarnya aku tidak tahu tentang kejadian tersebut, kemudian dari mulut seorang anggota perguruanku baru kuketahui duduk persoalan yang sebenarnya, gara-gara persoalan itu kami menjadi cekcok dan berselisih paham, ternyata akibat dari percekcokan itu dia malah secara berani dan terang-terangan membawa Ciu Li li pulang ke rumah !"
"Aaah..! Sungguhkah telah terjbadi peristiwa sdemacam ini?"
Taanya Ong Bun kimb dengan wajah berubah hebat.
"Benar!"
Pertemuan itu menghela napas sedih.
"berbicara soal kecantikan, wajahku tidak berada dibawah kecantikan Ciu Li li tapi aku tidak habis mengerti kenapa suamiku bisa jatuh cinta kepadanya? Mungkin Ciu Li li memang mempunyai dasar kecabulan sehingga tehniknya bermain cinta diatas pembaringan jauh lebih hebat dan pintar dari padaku, sehingga hal mana membuat suamiku terpesona."
"Yah, kemungkinan besar memang begitu."
Ong Bun kim manggut-manggut.
"memang tak sedikit terjadi peristiwa semacam ini, seorang laki-laki yang sudah beristri ternyata terpikat kembali oleh perempuan cabul."
Perempuan berwajah jelek itu manggut-manggut, kembali katanya.
"Perjumpaan perempuan genit berjiwa ca bui Ciu Lili dengan Lui Thian-ciu ini ibaratnya kayu kering bertemu dengan api, bukan saja mereka tidak pandang sebelah mata pun kepadaku, bahkan sering kali bercumbu rayu secara menyolok didepan mataku sendiri.
"Dalam keadaan begini aku tahu bahwa marahpun tak ada gunanya, karenanya aku pun hanya membungkam diri belaka.
"Lama kelamaan sikap Ciu Lili makin berani, ternyata dia telah menganggap diriku sebagai duri dalam matanya."
"Suatu hari aku dengar mereka sedang berunding untuk mencelakai ayah ibumu, Ciu Li-li menyuruh Lui Thian ciu menampilkan diri dan memikat diri Siau Hui un, agar usaha mereka untuk turun tangan bisa lebih gampang memperoleh hasil."
"Aku yang mendengar rencana busuk mereka itu segera menampilkan diri untuk menghalangi perbuatan mereka itu, tapi agaknya Lui Thian ciu telah terpengaruh oleh Ciu Li li, bukan saja nasehatku tidak digubris, bahkan sepasang mataku dikorek keluar, wajahku dirusak dan tubuhku dilemparkan ke dalam jurang ini."
"Sungguhkah telah terjadi peristiwa ini?"
Seru Ong Bun kim sambil menahan geramnya.
"Benar, padahal waktu itu aku sedang mengandung, untung saja ketika terjatuh ke dalam jurang, tubuhku tercebur ke dalam kolam air disini sehingga nyawaku berhasil diselamatkan oleh seorang manusia aneh yang menghuni dalam gua ini, kalau dihitung dengan jari aaai! Sudah lima belas tahun peristiwa itu berlangsung."
Ong Bun kim kembali menggigit bibirnya menahan luapan emosi dalam hatinya.
"Perbuatannya sungguh mengerikan sekali, hatinya betul-betul teramat kejam, cianpwe kau ingin membalas rdendam tidak?"
"Tentu saja ingqin, cuma sepasarng mataku sekarang telah buta, bagaimanapun juga tak mungkin bukan kusuruh putriku untuk pergi membunuh ayah kandungnya sendiri?"
Tiba-tiba Ong Bun kim bangkit berdiri, lalu kepada gadis berbaju putih itu katanya.
"Aku hendak menengok orang yang terluka itu."
OoooOdwOoooo BAB 63
"BUKANKAH dia adalah musuh besarmu? tanya perempuan berwajah jelek itu.
"Benar!"
"Siapa namanya?"
Ong Bun kim berpikir sebentar, lalu menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Entahlah, aku sendiri pun kurang tahu."
"Siok-kim, bawalah dia ke sana!"
Perintah perempuan bertampang jelek itu kemudian.
"Baik, ibu!"
Perempuan berbaju putih itupun membawa Ong Bun kim menuju kedalam sebuah ruang an batu, ruangan yang letaknya berada sebelah menyebelah dengan ruangan batu yang dihuni Ong Bun kim semula.
Waktu itu Lui Thian ciu sedang berbaring diatas pembaringan, ia telah sadar kembali, betapa terkejutnya dia ketika dilihatnya Ong Bun kim muncul secara tiba-tiba didepan mata, wajahnya berubah menjadi pucat pias seperti mayat, ditatapnya si anak muda itu dengan pandangan ketakutan.
Dengan garang dan kasar Ong Bun kim mencengkeram tubuh Lui Thian-ciu dan diangkat nya dari atas pembaringan.
Melihat perbuatan dari pemuda tersebut, nona berbaju putih itu segera membentak keras.
"Ong sauhiap, luka yang dideritanya belum sembuh, kau tahu!"
"Aku tahu!"
Jawab Ong Bun kim sambil tertawa dingin.
"Ong Bu-kim!"
Tegur Lui Thian ciu ketus.
"mau apa kau?"
"Membawamu untuk bertemu dengan tuan penolong yang telah menyelamatkan jiwa kita berdua!"
"Siapakah dia?"
"Sebentar kau bakal tahu sendiri!"
Selesai berkata.
Ong Bun kim segera menyeret tubuhnya dan membawa Lui Thian ciu menuju ke ruangan yang dihuni perempuan berwajah jelek tersebut.
Nona berbaju putih itu menjadi tertegun dan cuma berdiri termangu saja disana.
Ketika Ong Bun-kim tiba didepan perempuan jelek itu, terdengar perempuan tersebut menegur.
"Ong siauhiap kah yang datang?"
"Benar!"
Selesai berkata. Ong Bun kim lantas melemparkan tubuh Lui Thian ciu ke hadapan perempuan jelek itu, katanya.
"Lui Thian ciu, sekarang dongakkan kepalamu dan coba kau lihat siapakah yang berada dihadapanmu ini?"
"Apa? Dia dia adalah Lui Thian ciu ?"
Teriak perempuan jelek itu dengan terkejut.
Sekujur tubuhnya segera menggigil keras bagaikan kena aliran listrik bertegangang tinggi.
Lui Thian ciu mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap ke arah perempuan jelek dihadapannya, densan terkejut ia berteriak keras.
"Kau....kau adalah... kau adalah..."
Rupanya rasa kaget dan ngeri yang melampaui batas membuatnya tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
"Ong sauhiap, benarkah dia adalah Lui Thian ciu?"
Seru perempuan jelek itu dengan suara gemetar keras.
"Benar, dialah suamimu yang bagus, suami yang telah mencelakaimu hingga menjadi begitu rupa."
Mendadak perempuan berwajah jelek itu mendongakkan kepalanya dan tertawa seram suaranya yang keras dan nyaring itu cukup mendirikan bulu roma siapapun yang mendengarnya.
"Ibu, kenapa kau.,..?"
Jerit si nona berbaju putih itu dengan terkejut. Perempuan jelek itu menghentikan gelak tertawanya, kemudian menjawab.
"Lui Thian-ciu, kau masih kenal dengan aku?"
"Kau....kau adalah Siau ciu?"
Jerit Lui thian ciu dengan perasaan terperanjat.
"Benar, haaahhh... .haaahh haahah aku adalah Kwan Siau ciu, kau tidak menyangka bukan, setelah sepasang mataku kau korek keluar dan wajahku kau rusak kemudian kau lemparkan tubuhku kedalam jurang, ternyata aku masih hidup segar bugar sampai sekarang..."
"Siau ciu..."
Teriaknya itu pebnuh dengan suarda gemetar, takuat dan menyesal.b "Lui Thian ciu."
Bentak Kwan Siau ciu lagi dengan suara lantang.
"kau tidak menyangka akan menjumpai keadaan seperti hari ini bukan? Inilah kalau Thian punya mata."
Kembali ia tertawa tergelak, tertawa keras seperti orang kalap yang sudah tak waras otaknya. Si nona berbaju putih Kwan Siok kim tiba-tiba bertanya dengan suara tergagap.
"Ibu apakah apakah dia adalah ayahku?"
"Betul, dia adalah ayahmu yang lebih kejam dari binatang dan telah mencelakai kita seperti saat ini...."
Dalam pada itu Ong Bun kim telah mencengkeram tubuh Lui Thian ciu dan mengangkatnya tiaggi tinggi keudara, dengan auara lantang bentaknya kemudian.
"Lui Thian ciu, tidak kusangka kalau hatimu begini kejam seperti ular berbisa, bahkan lantaran seorang perempuan rendah yang tak tahu malu, ternyata kau tega untuk menyiksa dan mencelakai istri sendiri dengan cara sekejam itu. Hmm! Masih terhitung manusiakah dirimu itu?"
"Ong sauhiap, lepaskan dia!"
Tiba-tiba nona berbaju putih itu membentak keras. Dengan perasaan kaget Ong Bun kim berpaling dan mengawasi wajah Kwan Siok kim.
"Ong suuhiap, lepaskan dia!". Kwan Siok kim kembali mengulangi kata-katanya.
"Kenapa?"
"Lepaskan dia, karena dia adalah ayahku!"
Ong Bun kim memandang sekejap lagi kearah-nya, kemudian ia melepaskan Lui Thiau ciu dari cengkeramannya.
"Ayah !"
Kwan Siok kim segera berteriak keras, ia menubruk kedalam pelukan Lui Thian ciu.
Bagaimanapun juga cinta kasih anak terhadap ayahnya adalah cinta alam, sekalipun Lui Thian-ciu telah melakukan perbuatan yang mencelakai ibunya, toh dia tetap merupakan ayah kandung.
Apalagi semua peristiwa itu tidak dialami sendiri oleh Kwan Siok kim, oleh karena itu rasa benci dalam hatinya adalah suatu perasaan yang tawar, rasa cintanya kepada orang tua jauh lebih kuat dari pada segala-galanya.
Ong Bun kim yang menyaksikan kejadian itu segera berubah hebat wajahnya.
Kwan Siau ciu juga berubah air mukanya, dengan suara nyaring dia lantas membentak.
"Siok kim, jangan dekati dia!"
"Tidak, ibu..."
"Tinggalkan dirinya!"
"Ibu.....!". Sambil membaringkan diri dalamb pelukan Lui Thdian ciu, gadis aitu mulai menanbgis tersedu-sedu. Sekujur badan Lui Thian ciu gemetar keras, tanpa disadari dua titik air mata menyesal meleleh juga membasahi pipinya. Perduli dia adalah seorang manusia bengis yang berhati buas dan kejam, siapa yang akan tahan, menghadapi panggilan yang begini mesrah dan penuh kasih sayang itu? Sekali lagi Kwan Siau ciu membentak dengan suara lantang.
"Siok kim, minggir kau dari situ."
Kali ini bentakan tersebut disertai dengan napsu membunuh yang sangat mengerikan, sehingga kedengarannya menggetarkan sukma. Mengikuti bentakan itu dengan tubuh menggigil keras ia bangkit berdiri.
"Ibu !"
Pekik Kwan Siok kim dengan rasa kaget.
"Lui Toian ciu!"
Bentak Kwau Siau ciu.
"menyingkir dari putriku, kau tidak pantas untuk memeluknya!"
Lui Thian ciu menghela napas panjang, tiba-tiba ia mendorong tubuh Kwan Siok kim yang masih menangis tersedu-sedu dalam pelukannya itu sambil berkata dengan pedih.
"Betul aku memang tidak pantas !"
Kwan Siok kim terkesiap, dia memandang ke arah Lui Thian ciu dengan wajah melongo, teriaknya keras-keras.
"Ayah !"
Tiba-tiba ia menutup muka sendiri dan menangis tersedu-sedu. Ong Bun kim yang menyaksikan kejadian itu menjadi kebingungan sendiri, untuk sesaat dia tak tahu apa yang musti dilakukan.
"Lui Thian ciu, apa lagi yang hendak kau ucapkan?"
Bentak Kwan Siau cu dengan suara nyaring. Bagaikan seekor ayam jago yang kalah bertarung, Lui Thian ciu menundukkan kepalanya dengan lemas, katanya dengan pedih.
"Tidak ada!"
"Kenapa kau tidak turun tangan lagi untuk membinasakan diriku?"
"Siau ciu..."
"Hayolah, cepat turun tangan! Sekarang aku toh sudah berada di hadapanmu..."
"Siau ciu..."
"Lui Thian ciu. kalau kau tidak membunuhku, aku akan membunuh dirimu!"
"Siau ciu....."
"Siau ciu yang rsekarang sudah tbukan Siau ciu qyang dulu lagi!r"
Berbareng dengan selesainya perkataan itu, mendadak ia melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke tubuh Liu Thian cu.
Ditengah jeritan kaget dari Kwan Siok-kim, terdengar bunyi benturan keras yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan keheningan.
Tubuh Lui Thian ciu mencelat sejauh satu kaki lebih, sambil muntah darah segar tubuhnya roboh terkulai diatas tanah.
"Ayah...!"
Jerit Kwan Siok kim dengan suara lengking.
Dia melompat kedepan dan menubruk ke atas tubuh Lui Thian ciu.
Cinta kasih yang diperlihatkan gadis itu terhadap ayahnya membuat Ong Bun kim merasa iba hati, hatinya terasa amat sedih sekali.
Isak tangis yang memilukan hati membuat Kwan Siau ciu yang terpengaruh emosi berdiri kaku ditempat, sekujur tubuhnya menggigil keras, bisa dibayangkan bagaimanakah gejolak perasaan hatinya waktu itu.
Dalam pada itu, Lui Thian ciu sudah tertunduk diatas tanah, sambil menyeka noda darah dari ujung bibirnya, ia berusaha menenangkan pergolakan hatinya, kemudian berkata.
"Perkataan ibumu memang benar, aku bukan ayahmu, aku... aku... aku tidak pantas,.."
Ketika mengucapkan kata kata tersebut, rasa sedih dalam batinya tak bisa dibendung lagi tiba-tiba sebaris air mata jatuh terlinang membasahi pipinya, dapat dilihat betapa sedih dan duka-nya lelaki tersebut.
Sekali lagi perasan Ong Bun kim bergetar keras.
Ucap Lui Thian ciu lagi dengan penuh emosi.
"Selama hidup aku sudah banyak melakukan kesalahan yaa benar. Ciu Li li telah mencelakai diriku, menghancurkan kebahagiaan kita semua aku tidak memohon kepada kalian agar memaafkan diriku, aku adalah seorang manusia yang tidak pantas untuk dimaafkan"
"Aku, aku memaafkan dirimu, aknpun menghormati dirimu!"
Kata Kwan Siok kim dengan penuh emosi.
"Terlambat semuanya sudah terlambat, tak mungkin bagiku untuk menyesali semua peristwa itu lagi."
Gumaman yang lirih akhirnya memanggil kembali liangsimnya yang sudah terlanjur jahat, tiba-tiba ia menemukan bahwa selama ini ia sudah banyak melakukan perbuatan yang menakutkan.
Tapi sekarang, menyesalpun tak ada gunanya karena nasi telah berubah menjadi bubur.
"Lui Thian ciu!"
Tiba-tiba Ong Bun kim membentak keras.
"apakah orang yang berniat membunuh ayahku juga Ciu Li li?"
"Benar!"
"Kau sebagai ketua perguruan San tian bun, kenapa bisa diturunkan pangkatnya menjadi wakil ketua?"
"Ciu Li li telah merayu anak buahku dengan tubuhnya yang montok, ini semua membuat mereka menghianati diriku, kedudukan ketua perguruanpun diambil alih olehnya, sampai kini kehadiranku dalam perguruan San tian bun tidak lebih hanya sebuah boneka saja."
"Kemana larinya ke enam
Jilid kitab pusaka dari enam partai besar..?"
Tanya pemuda itu lagi.
"Berada ditangan Ciu Li Ii"
Ong Bun kim segera berpaling kepada Kwan-Siau ciu, lalu katanya.
"Cianpwe, ijinkanlah aku untuk membunuhnya."
"Membalas dendam bagi kematian ayahmu memang merupakan kewajiban sebagai seorang anak, tentu saja kau boleh membunuhnya untuk membalaskan sakit hatimu!"
Jawab Kwan Siau-ciu dengan penuh emosi.
"Terima kasih atas kebaikan cianpwe!"
Seusai berkata selangkah demi selangkah pemuda itu segera berjalan mendekati Lui Thian ciu. Mendadak Kwan Siok-kim melompat ke depan dan menghadang jalan perginya.
"Mau apa kau?"
Bentaknya keras keras.
"Aku hendak membalaskan dendam bagi kematian ayah ibuku!"
"Aku tidak memperkenankan dirimu untuk membunuhnya!"
Menyaksikan hawa pembunuhan yang menyelimuti wajah Kwan Siok-kim, diam-diam Ong Bun kim merasa bergidik juga, tanyanya dengan gelisah.
"Kenapa?"
"Sebab dia adalah ayahku !"
"Tapi dia adalah musuh besar pembunuh orang tuaku!"
Paras muka Kwan Siok-kim kembali beru bah hebat, bentaknya.
"Ong Bun kim, jika kau berani turun tangan terhadapnya, maka akupnn hendak membinasakan dirimu."
Ong Bun kim menggigit bibirnyab menahan pergoldakan emosi, kataanya dengan cepbat.
"Akan tetapi aku bertekad hendak membunuhnya."
"Kalau begitu, cobalah untuk menyerang!"
Ong Bun kim tertawa dingin, tiba-tiba ia melompat ke muka sambil melancarkan serangan ke-arah Kwan Siok kim, gerakan tubuhnya cepat sekali bagaikan sambaran kilat.
"Ong Bun kim kau berani?"
Teriak Kwin Siok kim dengan marah.
Ia melejit ke samping menghindarkan diri dari serangan Ong Bun kim.
kemudian pergelangan tangannya diayunkan kedepan, sebuah pukulan yang mana dahsyat telah dilontarkan pula ke arah tubuh Ong Bun kim.
Kecepatan Kwan Siok kim dalam melancarkan serangannya itu sungguh cepatnya bukan kepalang, Ong Bun kim hanya merasakan bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu badannya sudah didesak kembali oleh segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat.
"Ong Bun kim!"
Hardik Kwan Siok kim.
"jika kau berani turun tangan lagi, jangan salahkan kalau akupun hendak membinasakan dirimu."
Ong Bun-kim adalah seorang pemuda yang tinggi hati.
andaikata Kwan Siok kim memohonnya secara baik baik agar jangan membunuh Lui Thian ciu, mungkin saja ia bersedia-mengabulkan permintaan gadis itu untuk tidak membunuh ayahnya.
Tapi sikap kasar dari nona tersebut, membuat pemuda itu makin bertekad untuk membunuh Lui Thian-ciu oooOdwOooo BAB 64 SAMBIL tertawa angkuh serunya.
"Aku Ong Bun kim bertekad akan membinasakan dirinya mau apa kau?"
Seraya berkata tubuhnya melejit keudara dan sekali lagi menubruk kedepan dengan kecepatan luar biasa, Dengan mempergunakan jurus Hek ya mo im (bayangan iblis ditengah malam) ia melontarkan sebuah pukulan ketubuh Kwan Siok kim.
Dalam melancarkan serangannya ini Ong Bun-kim telah sertakan segenap tenaga dalam yang dimilikinya, kedahsyatan dari pukulan tersebut ibaratnya gulungan ombak yang menghantam tepian pantai.
Kwan Siok kim segera membentak keras, di balik ancaman serangan dari Ong Bun kim tersebut dia lepaskan juga sebuah pukulan untuk mengunci datangnya ancaman tersebut.
Bayangan manusia berkelebat lebwat, sekali lagdi Ong Bun-kim kaena didesak hinbgga mundur berulang kali ke belakang.
Agaknya pada saat inipun Kwan Siok kim berminat untuk melakukan adu jiwa dikala Ong Bun kim sudah kena didesak mundur ke belakang itu, tubuhnya menerjang kembali ke depan dengan kecepatan tinggi, secara beruntun ia lepaskan pula dua buah pukulan berantai.
Sedemikian cepatnya serangan itu, mrmbuat Ong Bun kim agak sulit juga untuk menahan datangnya ancaman tersebut.
"Tahan !"
Mendadak Lui Thian ciu membentak keras. Oleh bentakan tersebut, baik Ong Bun kim maupun Kwan Siok kim segera menghentikan serangannya dan berpaling memandang ke wajah Lui Thian ciu.
"Lui Thian ciu apa yang hendak kau katakan lagi?"
Bentak Ong Bun kim dengan suara keras. Lui Thian-ciu, menggigit bibir menahan gejolak emosi dalam da dadanya, ia berkata.
"Ong Bun kim, kalau berbicara dari soal tenaga dalam, kau masih belum mampu untuk membunuhku, tapi sekarang aku sedang menderita luka dalam yang cukup parah, sekalipun kau hendak membunuhku juga bukan suatu tindakan yang cukup dibanggakan, aku percaya kau sendiripun tak akan melakukan tindakan seperti ini."
Ong Bun kim segera tertawa dingin.
"Heeehh... heeehhh... heeehhh terhadap dirimu, aku Ong Bun kim mah tak perlu menguatirkan persoalan tetek bengek itu"
"Mungkin, apa yang kau katakan ada benarnya juga, tapi aku orang she Lui ingin mengajukan satu permintaan kepadamu, apakah kau bersedia untuk mengabulkannya?"
"Apa permintaanmu itu?"
"Beri sedikit kesempatan kepadaku untuk hidup lebih lanjut, aku harus hidup didunia ini, tak usah kuatir aku kabur, aku orang she Lui pasti akan memberi suatu keadilan kepadamu."
Agaknya Ong Bun kim telah merasakan bahwa dibalik semua perkataan dari Lui Thian ciu itu mengandung suatu maksud yang amat mendalam, pemuda itu bisa memaafkan kesalahannya, sebab ia tak lebih hanya diperalat orang lain, pembunuh yang sesungguhnya tak lain tak bukan adalah Ciu Li li.
Apalagi Kwan Siok kim juga telah menyelamatkan selembar jiwanya, gadis itu sangat membutuhkan kasih sayang dari ayahnya, apa pula artinya membunuh lelaki tersebut dihadapannya?
Berpikir sampair disitu, diapunt menggertak gigqi dan menjawab.r "Jadi....untuk sementara waktu, kau ingin hidup lebih jauh?"
"Betul, bagiku hal mana merupakan suatu hal yang sangat penting!"
"Baiklah, aku tak akan membunuhmu, cuma ada satu persoalan ingin kutanyakan kepadamu, tahukah kau buah Hiat li itu dihasilkan pada daerah yang mana dari selat Thian-mo-sia-ini?"
"Engkau membutuhkan buah Hiat li?"
"Betul!"
Dari sakunya Lui Thian ciu mengeluarkan sebuah botol, dalam botot itu berisikan sebiji buah Hiat li berwarna merah darah sebesar ibu jari.
Sambil menyerahkan botol tersebut ketangan Ong Bunkim, dia berkata.
"Inilah buah Hiat li yang kau butuhkan nah, ambillah."
Tindakan yang diluar dugaan ini cukup mencengangkan hati Ong Bun kim, untuk sesaat ia menjadi tertegun.
"Tahukah kau akan kegunaan dari buah Hiat li ini?"
Tanyanya.
"Buah ini melupakan buah paling beracun didunia, tapi sari racunnya justru merupakan sari racun yang tak ternilai harganya dalam jagad dewasa ini, barang siapa terkena racun buah Hiat-li, maka tiga jam kemudian pasti akan tewas secara mengerikan, sebaliknya kalau orang itu sudah keracunan hebat lebih dahulu baru terkena racun ini, sebagai akibatnya semua pengaruh racun akan Ienyap tak berbekas, nah ambillah benda ini."
Betulkah dalam selat Thian-mo-sia ini masih terdapat benda beracun semacam ini? "Aku pikir susah ditemukan, apakah kau enggab menerima pemberianku ini ?"
Ong Bun kim berpikir sejenak, akhirnya ia terima juga botol tersebut seraya berkata.
"Terima kasih banyak atas pemberianmu ini, dikemudian hari aku Ong Bun kim tentu akan menyampaikan resa terima kasihku kepadamu"
Berbicara sampai disitu, dia lantas berpaling ke arah Kwan Siau ciu sambil berkata.
"Kwan cianpwe aku berangkat lebih dulu!"
"Ona sauhiap, kau tidak jadi membunuhnya?* tegur Kwan Siau ciu dengan suara dingin. Ong Bun kim manggut-manggut.
"Ya, aku tidak jadi membunuhnya"
Ia menyahut.
"ia tak lebih hanya seoraag manusia yang telah diperalat orang lain, apalagi penderitaanmu sudah cukup parah, sudah sepantasnya kalau ia memberikan segala yang telah ia khilafkan selama ini kepadamu..."
"Tidak, aku tak ingin bertemu lagi dengan-nya!"
Jerit Kwan Siau ciu keras-keras. Kemudian kepada Lui Thian ciu, serunya lagi.
"Lui Thian ciu, enyah kau dari sini, Selama hidup aku tak bertemu lagi dengan kau."
"Siu Ciu...."
Seru Lui Thian ciu dengan pedih.
"Aku sudah bukan Siau ciu mu lagi enyah kau dari sini."
"Ooh... Siau ciu, aku tahu salah, aku tidak memohon pengampunan darimu, aku adalah seorang lelaki yang tak pantas diampuni dosa-dosanya, tapi aku tak boleh mati sekarang, saat ini aku harus tetap hidup lebih lanjut..."
"Aku tidak menyuruh kau mampus, aku hanya minta kepadamu agar segera enyah dari sini"
"Siau ciu..."
Jerit Lui Thian ciu.
"Enyah !?"
Dalam suaranya yang meluap, Kwan Siau ciu tak dapat mengendalikan emosinya lagi, tiba-tiba dia mengayunkan telapak tangannya menampar muka Lui Thian ciu keraskeras.
Jangan dilihat perempuan itu adalah seseorang yang buta, ternyata tamparan tersebut dilakukan dengan sangat tepat dan hebat.
"Plook...!"
Termakan oleh tamparan yang sangat keras tersebut, Lui Thian ciu terdorong mundur sejauh empat lima langkah lebih. Tapi lelaki itu tidak menjadi jera, dia malahan maju lebih ke depan sambil berseru.
"Hajarlah aku, aku hanya memohon kepadamu agar aku diijinkan untuk berkumpul selama beberapa hari dengan putriku..."
Kwan Siau ciu mengangkat kembali telapak tangan kanannya siap menampar, tapi ia tak sanggup melanjutkan perbuatannya itu, tiba-tiba sekujur badannya gemetar keras, kemudian sambil menangis tersedu-sedu, katanya.
"Kau setan jahanam, apakah masih belum cukup kau siksa diriku selama ini?"
"Siau ciu..."
Tiba-tiba Kwan Siok kim maju ke depan dan berlutut dihadapan Kwan Siau ciu, lalu merengek.
"Ooooh.. .. ibu, maafkanlah kesalahan anak selama ini."
"Aku..."
Kwan Siau ciu tak sanggup melanjutkan kembali kata katanya, ia menangis tersedu-sedu dengan amat sedihnya.
"Oooh ibu!"
Kembali Kwan Siok bkim merengek.
"dselama ini, belaum pernah kuminbta apa-apa darimu, aku hanya memohon kepada kau untuk mengabulkan permintaanku ini."
"Nak, kau tak akan memahami sampai dimanakah siksaan batin yang telah kualami selama ini."
Dalam detik inilah terungkap kasih sayang yang paling mulia dari seorang anak terhadap orang tuanya, sekalipun Lui Thian ciu sudah banyak melakukan kejahatan dan kebusukan, namun putrinya masih tatap menaruh hormat dan sayang kepadanya, bahkan memohonkan pengampuan bagi dirinya."
Akhirnya Ong Bun kim merasakaa juga luapan perasaan tersebut, sambil menggigit bibir menahan rasa sedihnya, tiba-tiba ia menyela.
"Kwan cianpwe, bolehkah aku ikut berbicara?"
"Apa yang hendak kau katakan?"
"Maafkanlah dia!"
"Apa? Apa kau bilang?"
Dengan perasaan terkejut Kwan Siau ciu menjerit keras. Ong Bun kim tertawa getir.
"Aku saja tidak niat membunuhnya, mengapa kau tak bisa pula untuk memaafkan dirinya?"
Ia berkata.
"Kau... kenapa kau hendak melepaskan dia ?"
"Lantaran kau !"
"Aku ?"
"Betul, kau adalah seorang perempuan yang bernasib jelek, sudah sepantasnya kau mendapatkan apa yang belum kau peroleh selama ini, apalagi dia bukan pembunuh ayahku yang sesungguhnya, bila kau dapat memperoleh kebahagian dikemudian hari, aku percaya arwah ayah ibuku dialam bakapun akan ikut bergembira."
"Tapi. dia ingin membunuhku...!"
"Yang sudah lewat dibiarkanlah lewat, pepatah kuno mengatakan jika seorang manusia jahat dapat berpaling, emaspun tak bisa menggantinya, mungkin saja ia benar benar membutuhkan kesempatan untuk hidup lebih jauh, memaafkan dirinya bukan suatu kesalahan atau dosa, tapi suatu kebajikan, suatu kemuliaan."
Kwan Siau ciu tidak menyangka kalau Ong Bun kim bisa mengucapkan kata-kata semacam itu, saking tak dapat membendung luapan rasa harunya, dia berseru.
"Ong sauhiap, kau betul-betul baik sekali"
Ong Bun kim tertawa getir.
"Secara tiba-tiba saja kutemukan dendam kesumat yang terjalin dalam dunia pada saat ini sudah terlampau banyak, padahal ada bbanyak masalah dyang belum tentau harus diselesbaikan dengan menggunakan "darah". Kwan cianpwe, dapatkan kau memaafkan dirinya?"
"Aku...."
Perempuan itu sungguh merasa kebingungan, dia tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu.
Padahal berbicara yang sesungguhnya dia pasti bersedia untuk memaafkan lelaki itu.
Yaa, penderitaan selama lima belas tahun membuatnya merasa kesepian dan tersiksa, ia membutuhkan cinta yang diberikan Lui Thian ciu kepadanya sudah cacad, tapi bagaimanapun jauh lebih baik daripada sama sekali tanpa cinta.
Tiba-tiba Lui Thian ciu menjatuhkan diri berlutut diaadapan Kwan Siau ciu dengan air mata bercucuran.
"Ooo Siau ciu, terima kasih banyak... terima kasih banyak atas kesedihanmu untuk mengampuni semua kesalahanku."
Berada dalam keadaan begini, Kwan Siau ciu tak sanggup berbicara lagi, dia hanya menangis tersedu-sedu....
Ong Bun kim merasa hati kecilnya amat tersentuh oleh adegan yang mengharukan itu, tiba-tiba ia merasa bahwa dalam hidupnya selama ini, untuk pertama kalinya dia telah melakukan suatu perbuatan baik, ia merasa hatinya, lega dan nyaman.
Perasaan lega dan nyaman macam itu belum pernah ia rasakan sebelumnya, tapi sekarang ia telah merasakan dengan begitu hangat dan sahdu.
"Kwan cianpwe, aku hendak mohon diri lebih dulu."
Bisiknya kemudian kepada Kwan Siau ciu.
"Ong sauhiap!"
Ucap Kwan Siau ciu sambil berusaha untuk menahan isak tangisnya.
"sulit rasanya untuk menemukan orang kedua yang begitu baik seperti kau di dalam dunia ini."
Ong Bun kim tertawa getir.
"Kwan cianpwe terlalu memuji, nah. aku akan mohon diri lebih dulu."
Katanya. Seusai berkata, dia lantas memutar badan dan beranjak meninggalkan ruangan itu.
"Ong sauhiap, maaf kalau aku tak akan menghantarmu lebih jauh"
Bisik Kwan Siau ciu.
"Tak usah repot-repot!"
"Siok kim, hantar Ong sauhiap keluar dari gua ini"
"Baik!"
Setelah menyeka air mata yang membasahi pipinya, Kwan-Siok kim berjalan keluar lebih dahulu dari gua tersebut disusul Ong Bun kim di belakangnya.
"Ong sauhiap!"
Rtiba-tiba Lui Tthian ciu berserqu sambil menyusrul ke depan pintu. Ong Bun kim menghentikan langkahnya dan berpaling.
"Ada apa?"
Tanyanya.
"Aku merasa berterima kasih sekali kepada mu atas kesediaanmu untuk memberi kesempatan ini. aku -aku ...aku... aku amat bersyukur, budi kebaikanmu ini tak akan ku lupakan untuk selamanya!"
"Asal kau bisa baik-baik bersikap dan menyayangi Kwan cianpwe dikemudian hari, itu sudah lebih dari cukup bagiku, tapi ingat! Jika kau lain dimulut lain di hati, suatu ketika aku Ong Bun kim pasti akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk membunuhmu"
"Aku berjanji tak akan melakukan perbuatan laknat dan terkutuk seperti dulu lagi, Ong sauhiap! Baik-baiklah jaga dirimu"
"Pulanglah ke dalam gua!"
Sampai disini, ia lantas melanjutkan kembali langkahnya mengikuti dibelakang Kwan Siok kim.
Setelah keluar dari gua, sebuah sungai kecil terbentang didepan sana.
Kwan Siok-kim memperlambat langkahnya dan menengok sekejap ke arah Ong Bun-kim.
kemudian ia berbisik.
"Ong sauhiap !"
"Ada apa?"
"Ben... bencikah kau kepadaku?"
Ia berbisik dengan pandangan mata yang sayu. Mengawasi wajahnya yang murung itu, Ong Bun kim tertawa.
"Aneh benar kau ini!"
Serunya.
"kenapa aku musti membencimu? Kau toh tidak melakukan kesalahan apa-apa terhadapku!"
"Aku ..aku merasa bersalah kepadamu."
"Tidak, kau tak pernah melakukan kesalahan apa-apa kepadaku"
"Tapi... tapi aku telah bertarung melawan dirimu tadi"
"Aah.....kenapa aku musti menyalahkan dirimu?"
"Aku.......aku tahu kau tak senang hati kepadaku"
"Aku cukup memaklumi keadaanmu waktu itu, sebab seandainya aku menjadi kau. aku-pun..mungkin sekali akan pula seperti apa yang telah kau lakukan tadi!"
"Ong sauhiap. kau.......tahukah kau bahwa aku merasa bersedih hati setelah kejadian itu? tapi... tapi terpaksa aku musti berkelahi denganmu karena aku amat mencintai ayahku.."
"Sudah kukatakan tadi, aku tak pernah menyalahkan dirimu"
Sesudah teriawa lebar, ia melanjutkan.
"kau tak perlu menghantar aku lebih jauh lagi, aku bisa pergi sendiri."
"Kau hendak pergi kemana?"
"Bukit Lui im san"
"Bukit Lui im san?"
"Benar!"
Kwan Siok kim segera menuding ke sebuah bukit paling tinggi yang terbentang dihadapannya.
"Bukit yang tampak paling tinggi itulah bukit Lui im san!"
Katanya.
"Terima kasih banyak nona atat petunjukmu, nah kita berpisah saja sampai disini."
"Tidak, Ong sauhiap, bersediakah kau menuruti keinginanku untuk menghantar kau lebih jauh lagi?"
Dengan wajah berkatup ia menatap wajah pemuda itu tajam tajam, seakan-akan kuatir kalau permintaannya itu ditampik.
Ong Bun kim tidak tega untuk menolak permintaan orang, terutama setelah menyaksikan mimik wajahnya yang mengenaskan itu, setelah menghela napas panjang katanya.
"Aaaai ! Aku hanya akan merepotkan dirimu saja"
"Aku bersedia."
"Baiklah!"
Perjalanan pun dilanjutkan kembali dengan membungkam, sampai lama, lama sekali mereka belnm juga saling berbicara, seakan-akan ada sesuatu yang sedang mereka pikirkan, seperti juga ada sesuatu yang sedang mereka kenang...
Tanpa terasa mereka sudah melakukan perjalanan satu li lebih.
Tiba2 Ong Bun kim menghentikan langkahnya seraya berpaling.
"Nona Kwan!"
Ucapnya kemudian "lebih baik kita berpisah sampai disini saja"
Dengan wajah termangu gadis itu menatapnya lekat lekat, pancaran sinar pedih dan murung menyelimuti wajahnya tebal-tebal, lama kemudian ia bertanya.
"Apakah... apakah kau akan datang lagi kemari?"
Pertanyaan tersebut sangat menggetarkan perasaan Ong Bun kim. tapi diluar wajahnya ia masih tetap tersenyum..
"Tak usah kuatir, aku pasti akan kemari lagi"
Janjinya.
"Aku... aku tahu, kau... kau tak akan datang kemari lagi..."
Tiba-tiba Ong Bun kim menjumpai titik-titik air mata jatuh berlinang membasahi pipi gadis itu, dibalik butiran air mata itu tersimpanlah suatu luapan perasaan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.
"Darimana kau bisa tahu kalau aku tak akan datang kemari lagi?"
Tanya sianak muda itu kemudian.
"Sebab kau tidak menyukai aku!"
Ong Bun kim segera merasakan jantungnya berdebar keras, ia sudah tahu kearah manakah perkataan itu diucapkan, hal mana membuatnya menjadi terkesiap dan harus memandang wajah Kwan-Siok kim dengan sinar mata termangu.
"Jangan-jangan ia telah jatuh cinta kepadaku...."
Ong bun kim mulai bertanya kepada diri sendiri.
Ya, gadis itu menang telah jatuh cinta kepadanya, kalau tidak mana mungkin dia dibuat sedih dan menderita seperti itu, beginilah kalau seorang gadis mulai jatuh cinta pada pandangannya yang pertama.
"Kau sudah mempunyai kekasih?"
Serunya lagi dengan murung. Ong Bun kim tak ingin membohonginya sebab ia terlalu baik dan terlalu mulia, maka jawabnya berterus terang.
"Aku, bukan cuma punya kekasih, pula mempunyai istri!"
"Ah, sungguhkah itu...?"
"Benar!"
Tiba-tiba gadis itu menutupi wajah sendiri dan menangis tersedu-sedu, nangis seperti seorang gadis yang menangis lantaran patah hati atau dikecewakan oleh kekasihnya.
Tindakan si nona yang tak terduga-duga ini kontan saja membuat Ong Bun kim menjadi berdiri termangu seperti orang bodoh.
"Nona Kwan, kee... kenapa kau?"
Tegurnya kemudian dengan suata agak tergagap.
"Aku aku...."
Karena sesenggukan ia tak mampu melanjutkan kembali kata-katanya.
Mendadak ia melompat kedepan dan menubruk ke dalam rangkulan Ong Bun kim sambil menangis tersedusedu.
0000OdwO0000 BAB 65 ONG BUN-KIM menjadi bodoh, ia tak mengira kalau gadis tersebut bakal bersikap demikian, untuk sesaat ia menjadi tertegun dan tak tahu apa yang musti dilakukan.
Lama, lama sekali, dia baru bertanya.
"Kee... kenapa kau?"
"Aku...."
Akhirnya ia mendorong tubuh Ong Bun kim dan mundur kebelakang, tapi air matanya bagaikan dua buah anak sungai mengucur keluar dengan derasnya, membuat siapa-pun merasa tak tega untuk melihatnya lebih lanjut.
Ong Bun kim menghela napas panjang.
"Ong sauhiap !"
Tiba-tiba gadis itu berkata lagi.
"setelah kau pergi dari sini, aku berharap kau bisa datang lagi untuk menjenguk diriku, aku akan selalu teringat akan dirimu, setiap waktu setiap saat selalu memikirkan kau!"
Selesai berkata, dia lantas memutar badannya dan berlalu dari situ. Memandang bayangan punggung Kwan Siok kim yang semakin menjauh, Ong Bun-kim menghela napas panjang.
"Aaai mungkin aku dapat teringat akan dirimu, tapi aku tak akan kemari lagi"
Dia berbisik.
Kemudian sambil memutar badan, berangkatlah pemuda itu menuju ke bukit Lui im san.
Belum jauh ia pergi, tiba-tiba pemuda itu berhenti kembali, rupanya ia teringat kembali akan diri Tay kbek Cinkun serta Phang Pak bun, entah kemana perginya kedua orang itu?
"Mungkinkah mereka tewas ditangan Ciu Li li?"
Tapi sekarang dia tak sempat lagi untuk memikirkan persoalan itu, ia harus segera berangkat menuju ke gua Bu cing tong.
Berpikir sampai disitu, sekari lagi dia melompat ke udara dan berangkat meninggalkan tempat itu.
Ong Bun Kim tak pernah menyangka kalau Tay-khek Cinkun serta Phang Pak bun sudah ketimpa musibah dan tidak diketahui bagaimana nasibnya pada saat ini.
Sebelum malam hari menjelang tiba, Ong Bun kim telah tiba di bukit Lui im san, tampak olehnya kabut putih yang amat tebal menyelimuti seluruh tanah perbukitan tersebut, sekalipun hujan tidak turun, tapi secara lamat-lamat terdengar suara gerumuhnya guntur yang memekikkan telinga...
-oo0dw0oo--
Jilid 21 AKHIRNYA setelah bersusah payah mencari kesana kemari, Ong Bun-kim berhasil juga menemukan gua Bu cing tong terletak diatas bukit Lui-im san.
Kiranya Bu cing tong terletak diatas bukit Bun cing-gay, tinggi tebing tersebut mencapai puluhan kaki lebih, diatas dinding batu karang terteralah tiga huruf besar yang berwarna hitam.
"BU CING-GAY"
Dengan suatu lompatan yang gesit Ong Bun kim melompat naik keatas tebing tersebut di antara samarsamarnya pemandangan akibat kabut putih yang tebal, ia menjumpai sebuah gua besar, ditepi gua tersebut terpancang tiga huruf yang berbunyi.
"BU-CING-TONG"
Kejut dan girang Ong Bun kim menjumpai gua tersebut, Disinikah tempat tinggal dari Hek mo im yang merupakan tokoh sakti dalam dunia persilatan dimasa lampau? Didalam inikah pedang sakti.
"Sin-kiam"
Disimpan?
Setelah merenung dan sangsi sebentar akhirnya Ong Bun-kim memberanikan diri memasuki gua itu.
Suasana didalam gua tersebut gelap gulita sulit untuk melihat kelima jari sendiri tapi suasara gelap itu tidak menyulitkan Ong Bun kim, setelah berjalan lebih kurang tiga kaki kemudian, muncul sebuah simpang tiga didepan situ.
Untuk sesaat Ong Bun-kim berdiri tertegun di sana, dia tak tahu jalan manakah diantara ketiga buah lorong tersebut yang harus dipilih?
Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, ia teringat kembali dengan tulisan yang tertera diatas telapak kakinya "MASUK GUA BELOK KE KANAN"
Tanpa berpikir panjang lagi, diapun berbeIok ke kanan dan melanjutkan perjalanannya ke dalam.
Lorong gua tersebut makin lama semakin sempit, makin kedalam suasanapun makin gelap lagi lembab, berada dalam keadaan demikian, diam-diam bergidik juga Ong Bun kim dibuatnya.
Sementara itu, ia sudah membelok ke dalam sebuah tikungan, tiba-tiba pemandangan yang terbentang didepan matanya berubah, ia telah berada didalam sebuah ruangan istana yang amat besar dan megah.
Diatas maupun dibawah ruangan terlapis kabut putih yang tebal, Ong Bun kim merasakan dirinya seakan-akan sedang berada di dalam istana neraka yang menyeramkan.
Rasa seram dan ngeri mulai menyelimuti perasaannya, bulu kuduk serasa pada berdiri semua.
Suasana disana begitu sepi, hening dan tak kedengaran sedikit suarapun, seolah-olah sebuah istana kematian yang diliputi hawa kematian yang menggidikkan hati.
Ong Bun kim melangkah masuk kedalam istana itu, kemudian menelusuri ruangan dan berjalan masuk lebih kedalam.
"Sreet! Sreet! Sreet...!"
Bunyi langkah kaki yang menggema dalam ruangan menimbulkan irama yang semakin mengerikan hati...
Entah berapa jauh ia sudah berjalan, akhirnya sampailah pemuda itu di depan sebuah altar, diatas altar batu tadi terletaklah sebuah kotak besi kira-kira setengah depa panjangnya serta sebilah pedang.
Ong Bun-kim merasakan jantungnya berdebar keras, ia tahu isi kotak besi itu tentukah kitab pusaka ilmu pedang, sedang pedang tersebut tak bisa disangkal lagi pastilah pedang sakti Sin-kiam.
Belum lagi ia menjamah kitab dan pedang itu, mendadak suara tertawa dingin yang menusuk telinga berkumandang datang dari empat arah delapan penjuru, suara itu melengking tajam tak sedap didengar, membuat orang menjadi bergidik rasanya.
"Siapa?"
Ong Bun kim segera membentak.
"Siapa..."
Pantulan suara yang menggema dalam ruangan menciptakan pula serangkaian gema suara yang menyeramkan.
Suara tertawa dingin yang menusuk pendengaran itu bagaikan muncul dari mulut seorang iblis dari neraka, ditambahi situasi suasana dalam ruangan yang diliputi hawa kematian, sedikit banyak Ong Bun kim keder juga dibuatnya.
"Siapa disitu?"
Bentaknya kembali.
Suara tertawa dingin yang menusuk pendengaran itu lenyap tak berbekas, suasana dalam ruangan telah pulih kembali dalam keheningan yang mencekam untuk kesekian kalinya Ong Bun kim terasa bulu kuduknya pada bangun berdiri.
Wes...
tiba2 sesosok bayangan hitam muncul dari belakang istana bagaikan sukma gentayangan.
Ong Bun kim menjerit kaget, tanpa disadari dia mundur dua tiga langkah ke belakang.
Dengan suatu gerakan yang sangat cepat, bayangan hitam itu berdiri didepan altar batu itu dan berdiri tak berkutik.
"Siapa kau?"
Ong Bun kim segera membentak.
"Aku adalah malaikat pelindung pedang!"
Jawab orang itu dengan suara yang dingin bagaikan es.
"Apa? Kau adalah malaikat pelindung pedang."
"Benar, bukankah kau datang kemari untuk mengambil pedang sakti Sin kiam ?"
"Betul!"
Ong Bun kim menjawab dengan nada yang berat.
"Huaah......dengan mengandalkabn kepandaianmu ditu, kau sudah aingin mengambilb pedang Sin-kiam tersebut?"
"Kenapa tidak boleh?"
"Kau masih belum memiliki kemampuan tersebut untuk berbuat demikian..."
"Kemampuan?"
"Sulit sih tidak bila kau ingin mendapatkan pedang Sin kiam tersebut, cuma kau harus menyambut tiga buah pukulanku lebih dahulu, jika kau sanggup menyambut ketiga buah seranganku itu, mungkin saja keinginanmu itu masih ada harapan."
"Seandalnya aku tak mampu untuk menerima ketiga buah seranganmu itu ?"
"Kau bakal mati disini."
Mendengar perkataan itu, Ong Bun-kim segera tertawa dingin.
"Heeehiih ..heeehhhh heeehhh. ...caramu itu memang sungguh merupakan suatu cara mendapatkan pedang yang menarik hati."
Katanya. Orang itu balas tertawa dingin.
"Terlepas apakah cara ini menarik ataukah tidak, yang penting aku barus mencoba dulu kepandaian silatmu Nah bersiap siaplah, aku segera akan melancarkan serangan."
Belum selesai ucapan tersebut diutarakan, bayangan hitam sudah berkelebat lewat, segulung angin pukulan yang maha dahsyat dan berhawa dingin dengan cepatnya telah menyergap ke tubuh Ong Bun kim.
Sama sekali tak disangka oleh si anak muda itu bahwa musuhnya segera melancarkan serangan setelah berkata hendak menyerang, dalam keadaan demikian telapak tangan kanannya diputar untuk mengunci datangnya ancaman tersebut, kemudian dengan jurus Hek ya-mo-im (banyangan iblis dimalam gelap) dia melancarkan serangan balasan.
Serangan yang dilancarkan Ong Bun kim ini amat cepat, tapi bayangan hitam itu jauh lebih cepat, tahu-tahu serangannya yang kedua telah dilancarkan ke tubuh anak muda tersebut.
Pada saat itu pula Ong Bun kim melancarkan pula serangannya yang kedua dengan jurus Mo im kui jiau (bayangan iblis cakar setan).
Tapi belum sampai setengah jalan, mendadak dadanya seperti dihantam orang keras-keras hingga tubuhnya mundur tujuh delapan langkah ke belakang dengam sempoyongan.
Dengan perasaan kaget cepat cepat pemuda itu mengatur pernapasannya, setelah yakin kalau tak terluka, ia baru sadar kalau musuh telah mengampuni jiwanya.
Coba kalau didalam serangannya tersebut, orang itu melakukan dengan tenaga pukulan yang berat, niscaya selembar jiwanyba sudah kabur kdembali kealam baaka.
Bayangan hbitam itu sudah berdiri kembali didepan altar, dari gerakan tubuhnya yang begitu cepat, dapat diketahui kalau tenaga dalam yang dimilikinya betul-betul sudah mencapai tingkatan luar biasa.
Ong Bun kim menghela napas dalam, pelan-pelan ia putar badan dan berlalu meninggalkan tempat itu.
Bukan saja ia tak sanggup menghadapi tiga jurus serangan lawan, bahkan dua jurus-pun tak mampu, dengan kemampuan semacam ini, apalah artinya untuk mendapatkan pedang Sin-kiam tersebut?
Baru tiga langkah Ong Bun kim berjalan, tiba-tiba terdengar suara yang dingin kaku itu berkumandang kembali.
"Berhenti!"
Ong Bun kim tertegun dan menghentikan langkahnya, sambil berpaling ia bertanya.
"Ada apa?"
"Kemari!"
Untuk kedua kalinya Ong Bun kim merasa tertegun, tanpa disadari diapun beranjak untuk berjalan kembali ke dalam ruang istana.
Tapi baru mencapai satu kaki dari hadapan bayangan hitam itu, kembali ia dibentak untuk berhenti.
"Aku toh tak mampu untuk menerima ketiga buah seranganmu, mau apa kau memanggilku kembali?"
Tegur Ong Bun kim dengan suara sedingin salju.
"Kau hendak ke mana?"
Tentu saja pergi meninggalkan tempat ini."
"Bocah muda, siapa namamu?"
"Aku pikir soal nama dengan soal pedang Sin kiam tiada sangkut pautnya antara yang satu dengan yang lain."
"Kenapa?"
"Bukankah aku tak mampu untuk menerima ketiga buah pukulanmu?"
"Jujur juga kau bocah, betul, kau memang tak mampu menyambut ketiga buah pukulan ku, tapi bukankah kau telah belajar ilmu pukulan Hek mo sin ciang?"
Terperanjat Ong Bun kim setelah mendengar perkataan itu, jantungnya terasa berdebar keras. Dari mana kau bisa tahu?"
Serunya tertahan.
"Ketika bertarung melawanku tadi, bukankah ilmu pukulan yang kau gunakan adalah ilmu pukulan Hek-mosin-ciang?"
Orang itu balik bertanya.
"Benar!"
"Siapa namamu? Ong Bun-kim!"
"Apa? Kau bernama Ong Bun kim?"
Seruan tertahan itu jelas diucapkan dengan perasaan yang amat terkejut seakan-akan sama sekali tidak menyangka.
"Adakah sesuatu yang tidak beres?"
Tanya Ong Bun-kim dengan perasaan tercekat.
"Kau adalah putranya Ong See liat?"
Sekali lagi Ong Bun kim merasa amat terperanjat, dengan cepat dia balik bertanya.
"Dari mana kau bisa tahu?"
Ternyata orang itu tidak menjawab pertanyaan Ong Bun kim, kedua belah pihak menjadi terbungkam tutuk beberapa saat lamanya.
"Dimanakah ayahmu sekarang..?"
Tanya orang itu selang beberapa saat kemudian.
"Telah mati!"
"Mati secara mengenaskan?"
"Betul!"
"Kapan peristiwa itu terjadi?"
"Lima belas tahun berselang..."
Secara ringkas ia mengisahkan peristiwa terbunuhnya Ong See liat di tangan orang. Selesai mendengarkan kisah tersebut, tiba-tiba orang itu bergumam seorang diri.
"Tak kusangka kata-kata dari mendiang suhu begitu cocok dan tepat dua puluh tahun kemudian, sobat karibku telah tewas secara mengenaskan."
"Siapakah kau?"
Tanya Ong Bun kim dengan perasaan terkesiap.
"Pernah kau dengar tentang seorang anggota persilatan yang bernama Giok bin hiap (pendekar berwajah kumala) Yu Tiong?"
Ucapan tersebut ibaratnya halilintar yang membelah bumi ditengah hari bolong, membuat Ong-Bun kim saking terperanjatnya sampai melongo dengan mata terbelalak.
"Jadi kau... kau adalah Giok bin hiap (pendekar berwajah kumala...?"
Pekiknya.
"Betul, aku dan ayahmu datang kemari bersama-sama dimasa itu?"
"Dan kau.... kau masih hidup?"
"Apakah kau menganggap aku telah mati?"
Orang itu balik menanya.
"Boanpwe tidak bermaksud demikian, cuma saja banyak orang yang telah menganggap kau sudah tiada termasuk juga putrimu sendiri."
"Kau... Kau maksudkan putriku yang dilahirkan oleh Leng po siancu...?"
"Betul!"
"Apakah ayahmu tak pernah berjumpa dengannya?"
"Tidak!"
"Oooh. Thian! Bukankah peristiwa ini telah menciptakan suatu kesalahan paham yang amat besar? Ketika ayahmu pergi meninggalkan gua Bu-cing tong, aku telah berpesan kepadanya agar pergi menjumpainya!"
"Locianpwe, kenapa kau tidak meninggalkan tempat ini?"
Tanya Ong Bun kim dengan perataan tidak habis mengerti.
"Aku mendapat perintah dari mendiang guruku untuk melindungi pedang tersebut, melindungi hingga pedang itu didapatkan seseorang...?"
"Betul! sejak dulu Hek mo im telah mengetahui bahwa kami bekal sampai di sini, maka masing-masing telah meninggalkan sepucuk surat kepada kami, bagaimanakah isi surat-untuk ayahmu tidak keketahui, tapi dalam surat yang ditujukan kepadaku telah dijelaskan bahwa kami bukan orang yang berhak untuk mendapatkan pedang Sin Kiam tersebut, karena itu dianjurkan kepada kami untuk menjadi anggota perguruannya serta belajar ilmu.
"Selama hayatnya Hek mo im telah meninggalkan tiga
Jilid buku, se
Jilid kitab ilmu pedang, se
Jilid kitab ilmu yang ditujukan kepada kami dan kitab ketiga baru merupakan Hak mo keng.
"Enam tahun setelah selesai belajar ilmu, aku-dan ayahmu berniat untuk pergi meninggalkan tempat ini, tapi pada saat itulah kami telah menemukan sepucuk surat yang lain. Surat itu diletakkan diatas meja batu dari mendiang guru kami, sewaktu kami hendak pergi dari sini, tiba-tiba berhembus segulung angin yang membawa surat tadi kehadapan kami.
"Dalam surat itu kecuali menjelaskan tentang keberhasilan kami berdua dalam berlatih ilmu, ada empat hal yang diterangkan pula, yakni pertama setelah kemunculan ayahmu dalam dunia persilatan, lima tahun kemudian jika kurang hati-hati didalam menghadapi persoalan, dia akan mati secara mengenaskan, kedua aku harus tetap tinggal di sini utuk melindungi pedang mustika, ketiga pemilik pedang Sin kiam haruslah sepasang suami istri"
"Suami istri?"
Sela Ong Bun-kibm.
"Benar, dan dkeempat, dua pualuh tahun kemudbian seorang yang pandai ilmu pukulan Hek mo sin ciang akan datang kemari, dialah yang akan memindahkan pedang untuk menerima persembahan!"
"Memindah pedang untuk menerima persembahan?"
Kata Ong bun-kim terperanjat.
"Yaa, setiap benda yang berada dalam dunia ini selalu mempunyai semacam persenyawaan untuk memilih pemiliknya, pedang Sim kiam terhitung benda kuno yang bertuah, oleh karena itu diapun bisa memilih pemiliknya sendiri, jika orang tak berjodoh yang memperoleh pedang ini, maka akibatnya tentu akan ketimpa musibah..."
"Perkataan itu ada benarnya juga, tapi apa yang dimaksud dengan memindahkan pedang untuk menerima persembahan?"
"Pedang sakti Sin-kiam merupakan senjata andalan guruku yang dihormati dan disanjung oleh setiap orang, menjumpai pedang itu bagaikan berjumpa dengan guru sendiri, seandainya ada orang menggunakan pedang ini untuk menjagoi dunia persilatan, betul umat persilatan pada takut dan keder, namun bukan berarti mereka merasa takluk!"
"Benar juga perkataan ini!"
Ong Bun kim manggutmanggut tanda membenarkan.
"Nah sebab itulah suhu telah menerangkan secara jeIas, dalam suratnya bahwa pedang ini pasti disembah secara terbuka, barang siapa dapat menyembah pedang itu sehingga keluar sepanjang tiga inci dari sarungnya, orang itulah yang akan menjadi pemilik pedang mustika Sin kiam!"
"Bukankah hal ini berarti harus diselenggarakan juga pertemuan besar Pay kiam ci bwee?"
"Betul! Kalau tidak demikian, siapakah umat persilatan didunia ini yang akan merasa takluk?"
Sekali lagi Ong Bun kim manggut-manggut.
"Tadi kau bilang, orang yang akan mendapatkan pedang ini seharusnya adalah sepasang suami istri?"
Kembali ia bertanya.
"Betul, pedang Sin kiam dinamakan juga pedang cinta, menurut apa yang kuketahui, kecuali seorang lelaki dan seorang perempuan menyembah bersama, sulit untuk menggerakkan pedang itu keluar dari sarungnya, dan kedua orang itupun harus mempunyai jodoh dengan pedang ini!"
"Itu kan berarti orang-orang dari kalangan Buddha maupun agama To tiada harapan untuk memperoleh pedang tersebut?"
"Betul!"
"Apakah orang persilatan mengetahui akan hal ini?"
"Sekalipun orang yang tidak tahu amat banyak bukan berarti tiada orang yang mengetahui akan hal ini."
"Kalau memang demikian, kenapab akulah yang hadrus menjadi oraang yang memindabhkan pedang untuk menerima persembahan?"
Oooo0dw0oooo BAB 66 SEBAB suhu telah menunjuk kau sebagai orang yang memindahkan pedang ini dari sini menuju ke suatu tempat yang lain guna menerima persembahan dan setiap orang."
Jawab Giok-bin-hiap kemudian.
"Harus dipindah kemana?"
"Kuil Siau lim si, sebab partai Siau lim merupakan perguruan nomor wahid didunia, lagipula merupakan tempat suci dari kaum Buddha, maka barang siapa berniat untuk mendapatkan pedang ini, setiap orang harus ikut menghadiri ucapan penyembahan terhadap pedang."
"Kapan pertemuan Pay kiam ci hwee tersebut akan diselerggarakan"
Tanya Ong Bun kim kemudian.
"Setiap saat bisa diselenggarakan!"
"Dan kau?"
"Aku adalah malaikat pelindung pedang..."
"Aku rasa kata "malaikat"
Lebih cocok kalau dirubah menjadi manusia."
"Baik, akulah manusia pelindung pedang, akan kulindungi pedang itu sampai senjata wasiat ini didapat orang."
"Apakah kau akan mengikuti diriku menuju kekuil Siau lim si?"
"Tentu saja!"
"Kalau demikian, bagaimana kalau sekarang juga kita berangkat meninggal tempat ini?"
"Bagus, mari kau pindahkan pedang ini!"
"Dengan langkah lebar Ong bun-kim maju kedepan dan mendekati altar ditengah ruangan, saat itulah dia baru melihat jelas paras muka Giok bin-hiap yang sesungguhnya. Dia bara berusia empat puluh tahunan, berwajah putih bersih bagaikan kemala, meski usianya sudah mencapai usia pertengahan namun ketampanannya masih terlihat jelas, julukan Giok-bin-hiap memang cocok sekali baginya. Ketika tiba didepan meja altar Ong Bun-kim menyembah dulu kepada pedang mestika tersebut, kemudian ia baru mengambil pedang Sin kiam yang cuma tiga depa itu dari meja. Dalam pandangan Ong Bun kim, pedang ini tak jauh berbeda dengan pedang-pedang biasa, pemuda itu menjadi tak habis mengerti, kenapa pedang yang tampaknya amat sederhana dan bersahaja itu memiliki pengaruh yang begitu besar? Dengan tangan kranan memegang ptedang, tangan kqiri membawa kotrak besi yang berisikan kitab ilmu pedang, pelan-pelan ia menuruni ruang istana. Kepada Giok bia-hiap katanya kemudian sambil menatapnya lekat-lekat.
"Cianpwe, apakah kita boleh berangkat sekarang juga?"
"Baik, kita berangkat sekarang juga"
Ong Bun kim memasukkan kotak berisi kitab pusaka itu ke dalam sakunya dan menggenggam pedang sin-kiam ditangan, kemudian dengan langkah lebar keluar dari gua diikuti Giok bin hiap dari belakang.
Setelah keluar dari gua Bu-cing tong, Ong Bun kim baru tak tahan untuk bertanya.
"Cianpwe, bolehkah aku mengajakan suatu pertanyaan kepadamu?"
"Persoalan apa?"
"Bukankan dalam gua itu terdapat simpang tiga? Kecuali lorong sebelah kanan dua yang lainnya akan tembus sampai dimana?"
"Jalan buntu!.... kedua duanya menuju ke sebuah barisan penyesat sukma yang bisa membunuh siapapun."
"Ooooh..."
Giok-bin-hiap Yu Liong berkata lebih jauh.
"Aku dan ayahmu telah menjadi anggota perguruan Hekmo im, usianya jauh lebih muda dari pada usiaku, ia adalah suteku, maka selanjutnya kau harus memanggil, supek kepadaku!"
"Baik supek !"
"Sutit, boleh aku bertanya pula tentang satu hal?"
"Apa yang ingin kau tanyakan, supek?"
"Kau telah berjumpa dengan putriku?"
"Benar, dia bernama Yu Cing!"
"Cantikkah dia?"
"Cantik sekali, sayang dia terlalu murung dan selalu bermuram durja..."
"Kau tahu dia tinggal dimana?"
"Tidak!"
Giok-bin biap menggerutkan dahinya rapat rapat, kembali ujarnya.
"Selama hampir dua puluh tahun aku hidup dalam gua, boleh dibilang tiap hari selalu kurindukan mereka ibu dan anak, sekarang bila sampai terjadi salah paham seperti ini, lantas bagaimana baiknya?"
"Tidak mungkin, kau bisa memberi keterangan kepadanya tentang duduk persoalan yang sebenarnya"
Maka berangkatlah kedua orang itu melanjutkan perjalanan menuju ke arah kuil Siau lim si. Di tengah jalan, Ong Bun kim seperti teringat akan sesuatu hal, tanpa terasa ia bertanya lagi.
"Supek, aku ingin bertanya lagi kepadamu tentang suatu persoalan yang sangat aneh!"
"Persoalan apa?"
"Bukankah kau mengatakan bahwa pedang itu baru bisa keluar sendiri dari sarungnya setelah disembah oleh suami istri?"
"Betul, dan lagi kedua orang itu harus orang-orang yang mempunyai rejeki besar!"
"Seandainya dia tak beristri?"
"Sehabis diselenggarakannya pertemuan pedang ini, mereka harus melangsungkan pernikahannya."
"Apa maksudmu?"
"Dikala menyembah pedang, setiap orang boleh menyembah dengan perempuan siapa pun, sebab siapa tahu kalau perempuan itu adalah calon istrinya, seandainya kemudian terbukti bahwa pedang itu keluar dari sarungnya, maka merekapan secara resmi merupakan suami istri."
"Bebas mengajak perempuan manapun untuk menyembah pedang?"
Ong Bun kim tertegun.
"Betul."
"Seandainya ketika aku sedang menyembah pedang dengan seorang perempuan berusia empat puluh tahunan, tiba-tiba pedang itu keluar dari sarungnya, lantas bagaimana?"
"Hal ini tak mungkin terjadi!"
"Tak mungkin?"
"Benar, kejadian semacam ini adalah suatu kejadian yang tidak mungkin, kau jangan menaruh curiga terhadap kehebatan pedang ini. apalagi istri yang terikat oleh pedang ini pasti akan hidup dengan penuh kebahagiaan."
Meskipun Ong Bun kim merasa agak keheranan, tapi setelah kejadian berlangsung demikian. diapun tidak banyak berbicara lagi.
"Yaa. biar saja kejadian yang sesungguhnya kita ikuti setelah tiba pada saatnya nanti"
Katanya sambil manggutmanggut.
Perjalbanan yang merekda lakukan sunggauh teramat cepabt, suatu hari sampailah mereka di kuil Siau lim si yang terletak dibukit Siong san.
Kepada Giok bin hiap, Ong Bun kim berkata.
"Supek bagaimana cara kita memasuki kuil ini?"
"Beri kabar kepada ciangbunjinnya agar keluar pintu untuk menyambut kedatangan pedang Sim Kiam!"
"Aaah, masakah pedang itu mempunyai kewibawaan sebesar ini?"
"Kalau tidak percaya, kenapa tidak di coba sendiri?"
Ong Bun kim mengangguk, kemudian pelan pelan berjalan menuju kedepan pintu kuil.
Sebuah papan nama besar dengan tiga huruf emas yang memancarkan cahaya berkilauan terpancang diatas pintu gerbang kuil Siau lim-si.
Baru saja si anak muda itu akan melangkah masuk kedalam halaman kuil, mendadak terdengar saseorang membentak dengan suara berat, dalam dan nyaring.
"Siapa di situ?"
Ong Bun kim berhenti seraya palingkan kepalanya ke arah sana berasalnya suara teguran itu.
Seorang pendeta tua yang berwajah angker tahu-tahu sudah berdiri tegap didepan pintu.
Pendeta tua itu memandang sekejap kearah Ong Bunkim serta Giok bin-hiap, lalu tegurnya.
"Ada urusan apa sicu berdua datang mengunjungi kuil kami?"
Sambil mengangkat pedang Sin kiam tinggi-tinggi, Ong Bun-kim berseru dengan lantang.
"Sin-kim berada disini, harap ciangbunjin partai Siau lim tampil untuk menyambut kedatangannya"
"Sin Kiam !"
Pendeta tua itu tampak amat terperanjat sehingga paras mukanya ikut pula berubah.
"Betul, pedang Sin Kiam yang menjadi milik Hek mo im dimasa lampau, sekarang telah berada disini"
Jawab Ong Bun kim dengan suara dalam. Mendengar nama "Hek mo im"
Disinggung paras muka pendeta tua itu berubah hebat, buru-buru serunya.
"Harap Sin-Kiam tunggu sebentar, looceng segera akan memberi kabar kepada ciangbun jin untuk menyambut pedang mestika"
"Cepat pergi!"
"Baik!"
Setelah mengiakan, dengan langkah cepat pendeta tua itu lari masuk kedalam kuil. Ong Bun kim yang menyaksikan kbejadian ini diadmdiam merasa taerperanjat, ia btak mengira kalau nama besar "Sin kiam"
Betul-betul bukan hanya nama kosong belaka.
Tak lama kemudian muncul beberapa sosok bayangan manusia dari balik ruangan kuil Siau-lim-si orang yang berjalan dipaling muka adalah seorang pendeta tua beralis putih.
Ia memandang sekejap pedang Sin kiam yang berada ditangan Ong Bun kim.
kemudian sambil memberi hormat katanya.
"Pinceng Hoat Hay tak tahu kalau Sin kiam bakal berkunjung kemari, jika kami semua terlambat menyambut, harap suka dimaafkan!"
Ong Bun kim merasa tertegun, untuk sesaat lamanya dia tak tahu bagaimana musti menjawab.
"Apakah kau adalah ciangbunjln dari partai Siau lim?"
Giok bin hiap segera menegur.
"Yaa, benar ! Entah ada pesan apa yang akan disampaikan oleh pedang mestika?"
"Dalam pesan terakhirnya, suhuku Hek mo-im menerangkan bahwa penyembahan terhadap pedang akan dilangsungkan dalam kuil ini..."
Secara ringkas diapun memberi keterangan kepada ketua dari partai Siau lim Ini tentang semua rencana yang telah disusun. Mendengar keterangan itu, buru buru Hoat-hay taysu berkata.
"Kejadian ini merupakan suatu kejadian yang membanggakan partai kami, sudah barang tentu pinceng tak akan menampik, silahkan pelindung pedang langsung memasuki ke halaman Tat mo wan!"
Dibawah pimpinan Hoat hay taysu.
sampailah mereka didalam ruang Tat mo wan!
Setelah meletakkan pedang Sin kiam dan kotak besi berisi Kitab pusaka ke atas meja altar ditengah ruangan.
Ong Bun kim segera mengundurkan diri dari situ.
Tiba-tiba Hoat hay taysu bertanya kepada Giok bin hiap.
"Maaf atas kelancangan pinceng, tolong tanya apakah sicu adalah Giok bin-biap yang termashur tempo dulu?"
"Betul!"
"Konon sicu dan Ong See-liat bersama-sama telah lenyap dari keramaian dunia persilatan?"
"Benar...."
Setelah Giok bin hiap memberi penjelasan seperlunya, Hoat hay taysu baru mengerti akan duduknya persoalan.
Pada saat itulah, seorang pendeta membisikkan sesuatu ke sisi tilinga Hoat hay tay su, mendengar bisikan tersebut sorot mata Hoat hay taysu segara dialihkan ke wajah Ong Bun kim.
"Sicu, tolong tranya apakah kaut bernama Ong Buqn kim?"
Tegurnyra kemudian dengan perasaan terkesiap.
"Benar!"
"Murid Kui ji suseng?"
"Benar!"
Ong Bun kim kembali mengiakan.
"apakah ciangbunjin ingin menanyakan soal enam
Jilid kitab pusaka dari enam partai besar?"
"Benar, enam
Jilid kitab pusaka dari enam partai besar telah dicuri oleh gurumu, hingga kini belum juga kitab itu dikembalikan sedangkan Sicu pun sudah membunuh puluhan orang anggota partai besar..."
"Siapa suruh pihak enam partai besar mendesak diriku terus menerus...."
"Sekalipun peristiwa itu terjadi karena disebabkan alasan tertentu, namun kami enam partai besar sulit untuk memaafkan perbuatan dari sicu itu...."
"Lantas menurut pendapat ciangbunjin, apa yang kau kehendaki? "Sicu harus menyerahkan kembali keenam
Jilid kitab pusaka itu kepada kami"
"Tapi kitab itu tidak berada ditanganku..."
Sekalipun begitu, paling tidak sicu kan tahu berita tentang keenam
Jilid kt;ab pusaka kami?"
"Betul, aku memang sudah mengetahui jejaknya, bahkan aku telah bersumpah pada suatu ketika keenam
Jilid kitab pusaka itu pasti dapat kurampas kembali dan menyerahkannya kepada enam partai besar!"
"Bolehkah aku tahu, keenam
Jilid kitab pusaka itu kini berada ditangan siapa?"
Ditangan ketua perguruan San tian bun!"
"Apa?"
Hoat-hay taysu sangat terkejut dengan hati yang tercekat dan bergidik ia mengulangi ucapan itu sekali lagi.
"Ditangan ketua perguruan San tian bun?"
"Benar."
"Oooh lantas bagaimana baiknya?"
"Tak usah kuatir ciangbunjin, aku pasti dapat merampasnya kembali."
Dengan perasaan serius Hoat hay taysu manggutmanggut, keningnya berkerut dan lama sekali tak berbicara.
"Ciangbunjin !"
Kata Giok bin hiap tiba-tiba.
"ada satu hal aku ingia memohon bantuanmu."
"Persoalan apa? Katakan saja terus terang!"
"Tolong kabarkan kepada semua sahabat dari dunia persilatan, katakan bahwa bulan ini tanggal dua puluh siang hari adalah saatnya untuk menyembah pedang!"
"Lolap pasti akan menitahkan anak murid perguruanku untuk menyebar luaskan berita ini, harap sicu berlega hati!"
"Selain daripada itu, masih ada beberapa persoalan tolong kabarkan pula kepada segenap sobat-sobat persilatan katakan bahkan setiap orang yang hendak datang kemari untuk menyembah pedang, dilarang membawa perasaan dendam atau napsu ingin membunuh, jika berani bersikap kurang ajar terhadap Sin kiam, pasti akan mati secara mengerikan"
"Baik!"
Berbicara sampai disitu, Giok bin hiap lantas berpaling kepada Ong Bun kim seraya katanya.
"Ong sutit kau juga boleh pergi, bukankah kau sudah mempunyai kekasih...?"
Ong Bun kim manggut-manggut, peristiwa ini teIah merupakan suatu masalah yang cukup pelik baginya.
Dia bukan cuma punya kekasih, diapun mempunyai istri, tapi diantara sekian banyak orang, yang manakah yang merupakan istrinya yang sebenarnya ?"
Ia merasa amat murung dan kesal, sebab dia sadar bila persoalan ini tidak diselesaikan secara baik, akibatnya urusan akan menjadi runyam.
Teringat sampai disitu, tanpa terasa Ong Bun-kim mengerutkan dahinya rapat-rapat.
Melihat itu, dengan keheranan Giok bin hiap Iantas bertanya.
"Hey, kenapa dengan kau?"
"Aku... aku bukan cuma punya kekasih, akupun sudah beristri..."
Secara ringkas dia lantas membeberkan persoalan yang dihadapinya itu kepada Giok bin hiap. Mendengar persoalan itu, Giok bin biap langsung saja mengerutkan dahinya rapat-rapat.
Baca Juga: Rahasia Bukit Iblis 1
Baca Juga: Legenda Bunga Persik 5