Eps 2 Darah Ksatria Harkat Pendekar - Khu Lung
Baca online Darah Ksatria Harkat Pendekar - Khu Lung
Cersil Darah Ksatria Harkat Pendekar - Khu Lung.
"Apakah kau juga mengenalnya?"
Gadis itu mengangguk. Alisnya dikerutkan dengan sedih. Lalu dia berkata dengan lembut.
"Aku she So, namaku Siau-hoan. Kau ingin bertemu denganku?"
"Tempat apakah ini?"
Akhirnya Ma Ji-liong bertanya.
"Kenapa aku bisa berada di sini?"
"Seorang Tuan Ngo yang membawamu ke sini,"
Dia memilih untuk menjawab pertanyaan kedua. Lalu, untuk menjelaskan kenapa dia mau menerima kedatangan seorang laki-laki asing yang sedang mabuk, dia berkata.
"Tuan Ngo berkata bahwa kau adalah teman Khu Hong-seng dan cuma kau yang tahu di mana dia berada sekarang."
Ma Ji-liong tersenyum dipaksa.
Ji Ngo masih mampu mengantarnya ke mari.
Seorang laki-laki yang sedang mabuk tentu tidak bisa melakukannya.
Dia tak pernah menyangka kalau ada orang yang mampu mengalahkan dirinya dalam soal minum.
Dia tiba-tiba menyadari bahwa dia terlalu memandang tinggi dirinya sendiri.
Dengan sopan dia bertanya.
"Apakah ini rumahmu?"
Siau-hoan menjawab.
"Aku tidak punya rumah. Tempat ini tidak bisa disebut rumah."
Ma Ji-liong paham apa maksudnya.
Tentu saja sebuah 'rumah' bukan sekedar sebuah rumah.
Tidak perduli betapa pun cantiknya sebuah rumah, sebuah 'rumah' dan sebuah rumah tetap tidak sama.
Siau-hoan berkata.
"Dulu aku bekerja di Ti-hong-wan di kota Kay-hong sebagai seorang..... seorang pelacur. Sejak kecil aku sudah tidak punya ayah dan ibu. Hong-seng membawaku keluar dari tempat itu dan membelikan rumah ini untukku."
Dia pun tersenyum, sebuah senyuman yang mengungkapkan penderitaannya. Lalu dia melanjutkan.
"Tapi, jika dia tidak ada di sini, bagaimana tempat ini bisa disebut rumah lagi?"
Ma Ji-liong menghela napas dan berkata.
"Aku tidak tahu kalau dia adalah orang yang begitu romantis!"
Bagi seorang pemuda dari keluarga ternama dan kaya raya seperti Khu Hong-seng, tergila-gila pada seorang perempuan seperti ini benar-benar amat menyentuh hati. Siau-hoan berkata.
"Walaupun dia keras dan tidak mau kalah, dia adalah orang yang baik dan tegas."
Berbicara tentang Khu Hong-seng, sorot matanya memperlihatkan emosi yang lembut. Lalu dia meneruskan.
"Dia begitu baik. Dia melakukan segalanya untukku. Dan dia tidak pernah bersikap kasar padaku, seorang perempuan yang seperti ini..... Aku bisa bertemu dengan seorang laki-laki seperti itu.... mati pun aku puas."
Ma Ji-liong berkata.
"Kalian berdua masih muda, kenapa kau bisa mati?"
Siau-hoan tersenyum getir.
"Seandainya kau datang terlambat, kau tidak akan bertemu denganku lagi."
Ma Ji-liong tiba-tiba teringat bagaimana Khu Hong-seng menggali liang di tanah itu. Siau-hoan berkata.
"Sebelum pergi, dia berjanji padaku bahwa paling lama dia akan kembali tadi malam."
Ma Ji-liong bertanya.
"Bagaimana jika dia tidak pernah kembali?"
Dengan hati yang patah, Siau-hoan berkata.
"Berarti dia sudah meninggalkan dunia ini. Aku pun tentu akan menemaninya dalam kematian."
Walaupun suaranya lembut, tapi mengandung keputusan yang kuat untuk mati.
Mereka sudah bersumpah untuk tetap bersama dalam hidup dan mati.
Ma Ji-liong menutup mulutnya.
Dia pun tidak tahu di mana Khu Hong-seng berada sekarang.
Saat Peng Thian-pa, Pang Tio-hoan dan Coat-taysu mengejarnya, Khu Hong-seng tentu tidak ikut dengan mereka.
Walaupun dia tidak mati akibat tusukan tombak Kim Tin-lin, luka-lukanya pasti tidak ringan.
Ke manakah seorang laki-laki yang terluka parah bisa menuju?
Hari itu mereka semua pergi ke Han-bwe-kok karena undangan Bik-giok Hujin.
Apakah perempuan itu akhirnya muncul?
Apakah dia yang membawa Khu Hong-seng ke Bik-giok-san-ceng?
Ma Ji-liong tidak yakin.
Siau-hoan menatapnya, menunggu jawabannya.
Ma Ji-liong benar-benar tak sanggup mengutarakan isi hatinya, tidak ingin menyakiti gadis yang mengibakan ini lagi.
Siau-hoan menghela napas dengan lembut.
Dia berkata.
"Aku tahu jika dia masih hidup, dia pasti akan kembali. Kenapa kau mendustaiku?"
Ma Ji-liong berkata.
"Aku....."
Siau-hoan tidak membiarkannya bicara lagi. Dia memotong.
"Kau memang tidak bisa memperdayaiku. Aku tahu ini -dia dan aku saling mencintai. Itu sudah cukup untukku."
Sikapnya tiba-tiba menjadi dingin. Dia berkata.
"Hari akan segera menjadi gelap. Aku tidak berani menahan Ma-kongcu lagi."
Setelah dia berkata begitu, maka percakapan pun tidak bisa diteruskan lagi. Ma Ji-liong cuma bisa pergi. Tapi, sebelum pergi, dia berkata.
"Aku paham keputusanmu dan aku tidak akan memaksamu. Tapi kuharap kau bisa menunggu selama tiga hari. Dalam tiga hari ini, aku bisa memberikan kabar yang lebih banyak tentang Khu Hong-seng."
Siau-hoan tampak bimbang. Lalu akhirnya dia setuju.
"Baik. Aku akan menunggu selama tiga hari."
Langit sudah menjadi gelap.
Rumah Siau-hoan berada di mulut sebuah gang yang sempit dan panjang.
Ma Ji-liong menaikkan kerah bajunya sebelum melangkah keluar dalam hembusan angin.
Dia ingin menemukan Siau-hoan karena dia hendak menegaskan apakah Khu Hong-seng mengatakan hal yang sebenarnya pada hari itu.
Dia tidak meragukan Khu Hong-seng, tapi dia benar-benar tidak punya petunjuk lain.
Seperti orang yang hampir tenggelam, dia harus berpegangan erat-erat pada apa pun yang terlihat di tangannya.
Sekarang ia sudah memastikan bahwa Khu Hong-seng benar-benar orang yang romantis, cinta mereka sungguh menggugah hatinya.
Dia ingin menolong mereka.
Dia berharap dia bisa mengetahui keberadaan Khu Hong-seng dalam waktu tiga hari ini.
Dia berharap dia bisa menyatukan kembali kedua kekasih ini.
Tapi dia tetap merasa ada sesuatu yang tidak benar, tapi dia tidak bisa menunjukkannya.
Dia selalu merasa ada sesuatu yang terlalu sedikit dan terlalu banyak pada rumah Siau-hoan itu.
Tapi apakah yang hilang?
Apakah yang terlalu banyak?
Dia benar-benar tidak bisa mengatakannya.
Apakah Toa-hoan sekarang sudah bangun?
Apakah dia pun merasa sakit kepala seperti dirinya?
Tiba-tiba dia menyadari bahwa dia merindukan gadis itu.
Gadis yang aneh luar biasa, buruk rupa dan tidak rasional itu agaknya masih mempunyai sisi-sisi yang menarik.
Sayangnya ia tidak tahu dari mana gadis itu berasal, juga tidak tahu ke mana dia hendak pergi.
Mereka bertemu secara kebetulan.
Nantinya mereka tentu akan pergi ke arah tujuan masing-masing.
Mungkin ia tidak akan pernah melihatnya lagi.
Ma Ji-liong menghela napas dan memutuskan untuk tidak memikirkan gadis itu lagi.
Sekarang sudah akhir musim dingin.
Ketika akhir tahun semakin dekat, setiap keluarga tentu akan membeli baju Tahun Baru dan barang-barang lainnya.
Di saat seperti ini, setiap orang tentu memiliki uang di sakunya dan sibuk melakukan jual-beli.
Persis di luar jalan sempit itu juga terdapat sebuah pasar bunga yang mungil.
Bunga lili dan wintersweet kebetulan sedang mekar.
Seorang isteri saudagar dan pelayannya yang masih muda baru saja kembali dari belanja barangbarang Tahun Baru -jamur jarum, jamur kuping kayu, kurma merah, buah pek, pakis dan rebung bambu -yang semuanya terkemas dalam sebuah keranjang.
Gadis itu sedang menjinjing keranjang di tangannya tapi matanya tertuju pada setangkai bunga seruni.
Gadis berumur 15-16 tahun mana yang tidak menyukai hal-hal yang indah?
Bagaimana mungkin orang tidak menyukai bunga seruni yang cerah dan harum itu?
Gadis itu tidak tahan lagi.
Dia lalu bertanya.
"Toa-naynay (Nyonya Besar), apa kita beli saja beberapa tangkai bunga seruni ini?"
"Tidak,"
Si nyonya berbaju sutera menjawab dengan tegas, wajahnya tampak kaku. Gadis muda itu tidak menjadi surut. Dia bertanya lagi.
"Bunga-bunga ini tidak mahal. Kenapa kita tidak membeli beberapa agar bisa kita pandang di rumah?"
"Karena aku tidak suka."
Sambil menghela napas, pelayan muda itu bergumam.
"Nyonya terlalu banyak pikiran. Tuan cuma pergi beberapa hari dan dia sudah tidak suka melihat bunga."
Walaupun pelayan itu tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, dia masih sempat bicara sendirian sebelum mengikuti majikannya pulang.
Ini cuma urusan sepele dan tidak seorang pun yang memperhatikan mereka.
Tapi Ma Ji-liong lain.
Isteri saudagar tadi membawa seorang pelayan untuk mendampinginya.
Melihat latar belakang keluarga Khu Hong-seng dan bagaimana cara pemuda itu memperlakukan kekasihnya, mengapa Siau-hoan tidak mempunyai seorang pelayan pun di rumahnya?
Dan di atas meja rias kecil itu ada sebuah pot berisi bunga mawar.
Bunga yang masih segar.
Jika Ma Ji-liong tidak muncul, dia tentu sudah bunuh diri karena urusan cinta.
Tapi kenapa dia masih sempat-sempatnya memetik bunga?
Sekarang dia tahu apa yang aneh pada rumah itu.
Di ruangan itu tidak ada pelayan.
Dan pot bunga itu seharusnya tidak ada di sana.
Maka dia lalu membalikkan badannya.
Sebagian besar orang yang tinggal di jalan itu adalah keluarga-keluarga saudagar yang kaya.
Rumah Siau-hoan lebih besar dari kebanyakan rumah di tempat itu, dengan tembok yang tinggi.
Pintu gerbangnya terbuat dari potongan papan yang keras dan tebal, dengan kunci gembok di sebelah dalam.
Tapi jika Ma Ji-liong ingin masuk, hal itu benar-benar tidak sulit.
Dia sudah bisa melompati tembok seperti ini sejak berusia belasan tahun.
Di dunia Kang-ouw, Thian-ma-tong menduduki tempat yang tinggi karena ilmu ginkang dan ilmu pedangnya.
Dia curiga kalau Siau-hoan menyembunyikan sesuatu darinya, seharusnya dia melompati tembok ini untuk menyelidiki rahasia gadis itu.
Dia juga tahu bahwa jika dia ingin mengetahui tabiat orang yang sebenarnya, dia harus mencari tahu di saat orang itu tidak menyadari bahwa dia berada di sana.
Sayangnya dia tidak bisa melakukannya.
Dia tidak pernah melakukannya sebelumnya, dan tidak akan pernah.
Dia memutuskan untuk mengetuk pintu.
Tapi ketika dia hendak mengetuk, tiba-tiba dia mendengar suara yang aneh.
Dia mendengar seseorang tertawa.
Suara tawa itu sendiri tentu tidak aneh.
Walaupun kejadian buruk sering terjadi di dunia ini, orang masih tetap bisa mendengar suara tawa seseorang di manamana.
Yang anehnya di sini adalah suara tawa ini adalah suara tawa seorang laki-laki.
Selain itu, suara tawa ini berasal dari dalam rumah tersebut, yang dibeli Khu Hong-seng untuk Siau-hoan.
Cuma ada seseorang, Siau-hoan, di sana, kenapa bisa terdengar suara tawa laki-laki?
Malam itu sunyi, dan begitu pula jalan tersebut.
Walaupun suara tawa itu hanya berkumandang sebentar, tapi dia mendengarnya dengan amat jelas.
Setiap orang yang terlibat dalam urusan ini, mengalami kematian yang tragis satu demi satu.
Ada orang yang selalu tertawa sebelum membunuh.
Apakah itu adalah suara tawa seseorang yang berusaha membunuh Siau-hoan untuk membungkam mulutnya?
Ma Ji-liong tidak perduli lagi dengan sopan-santun.
Dia segera melompati tembok itu.
Di dalam ruangan tadi, tampak api unggun menyala berkobar-kobar, dan sebuah jendela dibiarkan terbuka.
Sambil bersembunyi di sebatang pohon cemara di luar rumah, dia bisa melihat lewat jendela bahwa Siau-hoan sedang berdiri di ruangan tadi.
Tadi Ma Ji-liong melompat masuk lewat tembok dan kebetulan mendarat di atas pohon cemara ini.
Dia tidak ingin mengganggu orang lain.
Tapi...
dia sudah melihat mereka.
Dia melihat Siau-hoan dan seorang laki-laki.
Dia tidak bisa melihat wajah laki-laki itu.
Orang itu duduk membelakangi jendela.
Sambil berhadapan dengan Siau-hoan, dia bersandar di sebuah kursi yang empuk.
Ma Ji-liong hanya bisa melihat sebuah kaki yang terjulur dari kursi tersebut.
Kaki itu mengenakan sebuah sepatu kulit yang amat indah, jenis sepatu yang hanya dipakai oleh laki-laki yang kaya dan selalu menyukai kemewahan.
Siau-hoan berdiri di depan laki-laki itu.
Dia memandang laki-laki itu dengan tatapan yang sangat aneh.
Tiba-tiba dia berkata dengan dingin.
"Kau benar-benar menginginkan aku mati?"
Dengan suara yang sama laki-laki itu menjawab.
"Kau kira aku tidak tega? Kau kira aku takut padamu?"
Siau-hoan berkata.
"Bagus. Kau ingin aku mati. Akan kuperlihatkan padamu."
HARKAT PENDEKAR Saduran .
Gan K.
H Bab 8.
Hubungan Rahasia Ada orang yang sangat menyukai bunga.
Tak perduli bagaimana pun suasana hati mereka, mereka akan selalu memetik bunga dan meletakkannya di dalam pot.
Agaknya Siau-hoan tidak menyembunyikan apa-apa atau mempunyai sebuah skandal.
Dia benarbenar sudah memutuskan untuk mati demi cinta.
Tapi kenapa laki-laki ini harus memaksanya mati?
Apa hubungannya dengan gadis itu?
Apakah dia sahabat Khu Hong-seng yang datang untuk memaksanya bunuh diri atas nama cinta atau datang untuk membungkam mulutnya?
Berpikir sampai sejauh ini, Ma Ji-liong tiba-tiba melihat sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya walaupun dalam mimpi.
Mendadak Siau-hoan berjalan mendekat dan duduk di pangkuan laki-laki itu.
Dia lalu melingkarkan lengannya di leher laki-laki itu dan menggigit daun telinganya dengan perlahan.
Dengan terengah-engah dia berkata.
"Kau ingin aku mati. Aku ingin kau juga mati."
Gaun luarnya tahu-tahu sudah merosot jatuh.
Di balik gaun sutera yang ketat itu terdapat pakaian dalam berwarna merah menyala, yang membuat kulitnya tampak semakin putih.
Ma Ji-liong benarbenar tidak sanggup menonton terus.
Ini adalah skandal orang lain.
Dia seharusnya tidak mengorekngorek urusan mereka.
Tapi...
dia teringat pada Khu Hong-seng yang dirundung cinta di dekat liang itu.
Dia ingin berteriak dan memisahkan kedua orang yang hendak 'mati' itu.
Dia juga bermaksud untuk melompat masuk lewat jendela.
Tapi dia malah melompat keluar tembok lagi dan mengetuk pintu gerbang.
Dia mengetuk beberapa kali sebelum akhirnya mendengar suara Siau-hoan dari dalam.
"Siapa itu?"
"Ini aku."
"Siapa kau? Bagaimana aku tahu siapa kau? Apakah kau tidak punya nama?"
Nada suara Siau-hoan tidak begitu ramah, tapi akhirnya ia keluar untuk membukakan pintu gerbang.
"Oh, kau!"
Melihat Ma Ji-liong, dia tentu saja terkejut, tetapi ketenangannya kembali pulih dengan cepat. Dengan muka tanpa ekspresi, dia berkata dengan dingin.
"Aku tidak tahu kalau Ma-kongcu akan datang lagi. Apakah kau khawatir kalau aku akan kesepian di malam hari? Apakah kau datang ke sini untuk menghiburku sebagai pengganti Khu Hong-seng?"
Kata-kata ini amat menusuk.
Mendengar ucapan seperti ini, orang yang mempunyai maksud seperti yang dikatakannya itu tentu akan cepat-cepat pergi.
Sayangnya Ma Ji-liong tidak bermaksud begitu.
Dia berkata dengan tenang.
"Aku tahu pasti bahwa kau tidak kesepian. Aku cuma khawatir kalau kau akan mati di tangan seseorang."
Wajah Siau-hoan memerah, lalu berubah pucat. Tiba-tiba dia membalikkan badan dan berjalan masuk ke dalam rumah. Lalu dia berkata.
"Ikutlah denganku."
Ma Ji-liong mengikutinya. Ternyata gadis itu membawanya ke ruangan tadi. Laki-laki itu telah lenyap.
"Duduklah,"
Perempuan itu menunjuk kursi empuk yang tadi diduduki laki-laki itu.
"Silakan duduk."
Ma Ji-liong tidak duduk.
Dia tidak melihat laki-laki itu, tapi dia melihat sepasang sepatu kulit itu, sepasang sepatu kulit yang amat indah.
Di kamar itu ada sebuah ranjang.
Di belakang ranjang tergantung sehelai tirai kain yang amat panjang.
Tetapi ujungnya masih belum menyentuh lantai.
Dan sepasang sepatu kulit itu terlihat berada di bawah tirai.
Siau-hoan bertanya.
"Kenapa kau tidak duduk?"
"Agaknya kursi ini bukan diperuntukkan buatku,"
Kata Ma Ji-liong. Siau-hoan tertawa, tapi tentu saja tawanya itu tidak timbul dengan wajar. Dia berkata.
"Kau tidak duduk. Lalu siapa yang akan duduk di sini?"
"Agaknya ada seseorang,"
Kata Ma Ji-liong. Siau-hoan berkata.
"Selain Khu Hong-seng, kau adalah satu-satunya orang yang pernah menginjakkan kaki di kamar ini. Bagaimana mungkin ada orang lain?"
Dia menekan amarahnya, masih ngotot mengatakan bahwa tidak ada orang lain di ruangan itu.
Ma Ji-liong juga merasa marah.
Dia tak tahan lagi, lalu dia melangkah maju dan menyingkap tirai kain itu.
Tentu saja memang ada seseorang di balik tirai itu.
Tapi memang bukan orang lain yang pernah datang ke ruangan ini.
Karena orang di balik tirai itu ternyata adalah Khu Hong-seng.
Ma Ji-liong menghambur keluar dari kamar itu, keluar dari pintu gerbang, dan keluar ke jalan sempit itu.
Untunglah di luar sudah gelap.
Hari sudah gelap dan hawa terasa dingin menggigit, dan tidak ada siapa-siapa di jalan raya.
Kalau tidak orang tentu akan mengira kalau dia adalah orang gila.
Sekarang satu-satunya yang ingin dia lakukan adalah menampar telinganya sendiri berkali-kali.
Dia tidak akan pernah melupakan bagaimana dia menyingkap tirai kain tadi dalam sekali sapuan, atau mimik muka Khu Hong-seng, atau bagaimana cara Siau-hoan menatapnya pada saat itu.
Dia seharusnya tahu bahwa Khu Hong-seng akhirnya akan pulang.
Dia seharusnya juga sudah menduga bahwa orang itu mungkin sekali Khu Hong-seng.
Tapi, di saat merasa gusar tadi, dia benar-benar tidak bisa berpikir.
Dia juga seharusnya mengenali suara Khu Hong-seng, tapi dia tidak memperhatikannya.
Khu Hong-seng adalah seorang pemuda terpelajar dari keluarga bangsawan.
Dalam keadaan seperti tadi, anehnya, dia malah tertawa.
Tapi, bagi Ma Ji-liong, kejadian tadi rasanya lebih buruk daripada telinganya ditusuk-tusuk orang.
Dan begitulah, dia pun melarikan diri seperti dikejar-kejar orang dengan sapu ijuk.
Kembali dia sendirian, tanpa uang dan tanpa tujuan, dan dia tetap tidak punya petunjuk tentang apa yang sedang terjadi.
Nyawanya seperti tergantung pada seutas benang, tubuhnya tergantung di udara.
Walaupun dia belum jatuh, dia mungkin akan segera ambruk menuju kematiannya.
Tapi dia keliru!
Tiba-tiba dia merasa bahwa dirinya tidak sendirian lagi.
Di belakangnya sudah muncul seseorang.
Dia tidak memutar kepalanya untuk melihat siapa orang itu.
Dia pun tidak tahu kenapa perasaannya yang seperti tergantung pada seutas benang tadi tiba-tiba telah menghilang.
Orang itu menyusulnya, lalu memberikan sesuatu yang amat indah kepadanya.
Ma Ji-liong menerimanya.
Sekarang yang paling dia butuhkan adalah obat untuk sakit kepalanya.
Dan orang itu dengan tepat telah memberikan sebungkus obat sakit kepala kepadanya.
Orang itu menunggu dirinya menelan obat tersebut.
Lalu dia mengeluarkan tujuh-delapan bungkus obat lagi.
Ada yang berupa pil bundar, ada pula yang berbentuk tablet.
Bahkan ada yang berbentuk bubuk.
Dia memberikan semuanya kepadanya.
"Ini untuk menghilangkan pengaruh arak. Ini tablet emas ungu. Ini untuk meredakan rasa sakit di perut. Yang ini bagus untuk sistem pencernaanmu....."
Ma Ji-liong tersenyum.
"Memangnya kau pikir aku siapa? Kaleng obat?"
Dia balas tersenyum.
"Aku tahu kau bukan kaleng obat. Kau adalah guci arak."
Lalu dia tertawa cekikikan.
"Sayangnya, guci ini sangat-sangat kecil dan tidak bisa menampung arak terlalu banyak."
Toa-hoan tampak lebih bersemangat daripadanya, dan rona mukanya juga lebih cerah. Dalam hatinya dia berpikir.
"Apakah kemampuan minum araknya lebih baik dariku?"
Ma Ji-liong tidak yakin. Dia pun terpaksa bertanya.
"Kepalamu tidak terasa sakit?"
"Tidak,"
Jawab Toa-hoan.
"Bagaimana bisa?"
Ma Ji-liong bertanya. Toa-hoan menjawab.
"Karena aku tidak suka ikut campur dengan urusan orang lain."
Ikut campur urusan orang memang merupakan sumber utama sakit kepala. Bukan hanya bisa membuat orang sakit kepala, kepalanya juga akan terluka. Lalu si nona bertanya.
"Kau sudah bertemu Siau-hoan?"
"Hmm."
"Bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
"Bagaimana rupanya?"
"Dia sangat cantik."
Toa-hoan tertawa cekikikan.
"Kalau dia sangat cantik, kenapa kau kelihatan seperti baru bertemu hantu?"
Sambil menghela napas, Ma Ji-liong menjawab.
"Jika aku melihat hantu, hal itu masih jauh lebih baik."
"Lalu apa yang kau lihat?"
Toa-hoan bertanya. Ma Ji-liong menjawab.
"Aku melihat Khu Hong-seng."
Aneh, dia membicarakan segala sesuatu yang baru saja terjadi.
Semula dia mengira bahwa dia tidak akan pernah menceritakan kejadian itu pada siapa pun.
Tapi, entah karena alasan apa, dia merasa bahwa dia boleh menceritakan semuanya pada gadis ini, dan tidak usah menyembunyikan apa-apa.
Toa-hoan tidak menertawakannya.
Dia malah menghela napas dan berkata.
"Jika aku adalah kau, aku pasti ingin melarikan diri juga."
Ini memang sesuai dengan perasaannya.
Tiba-tiba dia menyadari bahwa walaupun gadis ini kelihatan licik, kejam dan buruk rupa, tapi dia sebenarnya berhati baik.
Selain itu dia juga penuh pengertian dan simpatik.
Inilah pertama kalinya dia memiliki perasaan seperti ini.
Tiba-tiba Toa-hoan berkata.
"Tapi aku tidak paham."
"Apa yang tidak kau pahami?"
Ma Ji-liong bertanya. Toa-hoan berkata.
"Khu Hong-seng jelas-jelas tahu bahwa kau yang berada di sana, kenapa dia harus bersembunyi?"
Ma Ji-liong menjelaskan.
"Mereka berdua masih belum menikah secara resmi. Dengan latar belakang keluarganya, dia tentu harus berhati-hati. Jika aku adalah dia, aku mungkin akan bersembunyi juga."
Toa-hoan menatapnya. Sambil tersenyum lirih, dia berkata.
"Aku tidak tahu kalau kau pun bisa mempertimbangkan perasaan orang lain."
Ma Ji-liong bertanya.
"Memangnya kau kira aku orang macam apa?"
Toa-hoan berkata.
"Kukira kau adalah orang yang angkuh dan mementingkan diri sendiri, tidak perduli apakah orang lain akan hidup atau mati."
Lalu suaranya mendadak menjadi lembut.
"Tapi sekarang aku tahu bahwa aku keliru."
Gadis yang aneh ini bisa mengakui bahwa dirinya keliru. Hal ini tentu saja membingungkan orang. Kembali Toa-hoan bertanya.
"Apa yang dia katakan ketika dia melihatmu tadi?"
"Rasanya bahkan semakin serba salah karena dia tidak berkata apa-apa,"
Jawab Ma Ji-liong.
"Dan apa yang kau katakan?"
Toa-hoan bertanya. Ma Ji-liong tersenyum dipaksa. Dia berkata.
"Apa yang bisa kukatakan di saat seperti itu?"
Toa-hoan berkata.
"Apakah dia berusaha menangkapmu untuk Pang Tio-hoan?"
"Tidak,"
Ma Ji-liong menjawab. Toa-hoan berkata.
"Dan kau tidak bertanya kepadanya apa yang terjadi di Han-bwe-kok setelah kau pergi? Apakah Bik-giok Hujin sudah muncul? Apakah beliau memilihnya sebagai menantunya?"
"Aku tidak menanyakannya,"
Jawab Ma Ji-liong. Tiba-tiba dia balik bertanya.
"Bagaimana kau tahu tentang semua ini?"
Toa-hoan tersenyum. Senyumannya amat misterius. Dia berkata.
"Tentu saja ada yang memberitahuku."
Ma Ji-liong bertanya.
"Siapa?"
"Orang mabuk,"
Kata Toa-hoan. Ma Ji-liong bertanya.
"Apakah orang mabuk itu adalah aku?"
Toa-hoan tertawa.
"Kau tidak terlalu bodoh."
Ma Ji-liong cuma bisa tersenyum dipaksa. Dia tentu mengatakan banyak hal dalam keadaan mabuk, tapi sayangnya dia sendiri tidak tahu apa saja yang sudah dikatakan olehnya.
"Bik-giok Hujin tentu tidak perlu memilih lagi. Toh Ceng-lian dan Sim Ang-yap sudah mati. Kau telah menjadi sasaran kebencian seluruh dunia. Selain Gin-jio Kongcu Khu Hong-seng, tidak ada yang cukup baik untuk menjadi menantu Bik-giok-san-ceng."
Dia menghela napas dan meneruskan.
"Meskipun Bik-giok Hujin ingin memilih, tidak ada lagi yang bisa dipilih."
Itulah kenyataannya. Setelah apa yang terjadi, Khu Hong-seng menjadi satu-satunya calon. Ma Ji-liong berkata.
"Tapi... tidak mungkin dia penjahatnya!"
"Kenapa tidak?"
Toa-hoan bertanya. Ma Ji-liong menerangkan.
"Karena dia sudah mempunyai kekasih sehidup semati. Dia tidak ingin menjadi menantu Bik-giok-san-ceng."
Sambil menghela napas, Toa-hoan berkata.
"Aku pun tidak berpikir bahwa dia bisa melakukan semua ini. Tapi, jika dia bukan penjahatnya, dan kau pun bukan, lalu siapa yang membunuh semua orang itu?"
Ma Ji-liong berkata.
"Pasti Thian-sat!"
Toa-hoan bertanya.
"Siapa Thian-sat itu?"
Ma Ji-liong berkata.
"Thian-sat bukan nama seseorang. Itu adalah nama sebuah organisasi rahasia, organisasi pembunuh bayaran."
Toa-hoan bertanya.
"Tapi kenapa mereka melakukannya? Mengapa mereka memfitnahmu?"
Ma Ji-liong menebak-nebak.
"Karena... mereka ingin menciptakan kekacauan."
Lalu dia menjelaskan.
"Jika keluarga kami bertarung satu sama lain, dunia Kang-ouw akan porakporanda. Mereka akan mendapatkan kesempatan untuk naik."
Penjelasannya itu masuk di akal. Peristiwa seperti itu pernah terjadi di masa lalu. Dan hal itu mungkin bisa terjadi lagi. Ma Ji-liong berkata.
"Sekarang mereka hanya sebuah organisasi penjahat biasa. Jika rencana mereka berhasil, mereka bisa menjadi sebuah partai yang terbuka dan berdaulat. Karena saat itu tidak seorang pun di dunia Kang-ouw yang akan mampu untuk menghentikan mereka."
Toa-hoan berkata.
"Karena saat itu seluruh keluarga sudah saling menghancurkan karena perselisihan ini."
Ma Ji-liong berkata.
"Tapi aku tentu saja tidak boleh membiarkan hal itu terjadi."
Toa-hoan bertanya.
"Apa rencanamu untuk menghentikan mereka?"
Ma Ji-liong berkata.
"Pertama aku harus mencari tahu dulu siapa pemimpin Thian-sat sebenarnya."
"Bagaimana caramu melakukannya?"
Toa-hoan bertanya. Ma Ji-liong tidak menjawab. Dia benar-benar tidak punya petunjuk saat itu. Dia pun tak tahu bagaimana cara memulainya. Toa-hoan berkata.
"Orang ini pasti tahu bahwa Bu-lim-si-toakongcu akan berada di Han-bwe-kok hari itu."
"Benar,"
Kata Ma Ji-liong. Toa-hoan berkata.
"Bagaimana dia bisa tahu? Selain kalian berempat, siapa lagi yang tahu tentang hal itu? Apakah kau pernah memberitahukan hal ini pada orang lain?"
Ma Ji-liong berkata.
"Aku tidak. Tapi Khu Hong-seng......"
Tiba-tiba dia teringat bahwa Siau-hoan pernah menyebut tentang Han-bwe-kok.
Siau-hoan bertanya padanya -apakah kau pergi ke Han-bwe-kok beberapa hari yang lalu?
Dia pasti tahu bahwa mereka pergi ke Han-bwe-kok.
Khu Hong-seng telah memberitahukan hal itu kepadanya.
Dan jika Khu Hong-seng bisa memberitahu hal itu padanya, maka dia pun bisa memberitahukannya pada orang lain.
Siau-hoan juga bisa buka mulut.
Seperti laki-laki lainnya, dia pun tidak percaya kalau seorang perempuan bisa menyimpan rahasia.
Ini adalah satu-satunya petunjuk yang dimilikinya.
Ma Ji-liong berkata.
"Aku harus bertanya padanya. Ada begitu banyak hal yang baru bisa kupahami setelah bertemu dengannya."
Toa-hoan bertanya.
"Apakah kau hendak pergi bertanya padanya?"
"Tentu saja,"
Kata Ma Ji-liong. Setelah berkata begitu, dia pun bersiap-siap hendak pergi. Sambil menghela napas, Toa-hoan berkata.
"Kau benar-benar pandai memilih waktu. Tidak ada waktu lain seperti ini. Sekarang mereka berdua mungkin sedang melakukan 'kau ingin aku mati, aku juga ingin kau mati'. Mereka tentu akan sangat berterima-kasih bila kau memaksa masuk untuk menolong mereka di saat seperti ini."
Ma Ji-liong tidak jadi pergi.
Dia bisa membayangkan mimik wajah kedua orang itu jika mereka melihat dia kembali ke sana.
Situasinya tentu akan serba salah, dan tidak ada orang yang akan menyambutnya dengan baik karena hal itu.
Ma Ji-liong bertanya.
"Menurutmu, kapan seharusnya aku pergi ke sana?"
Mendadak sorot mata Toa-hoan memancarkan sinar yang aneh. Dia cepat-cepat merendahkan suaranya.
"Sebaiknya kau pergi sekarang juga. Pergilah cepat."
Hati seorang perempuan memang seperti cuaca di bulan enam. Perubahannya benar-benar cepat. Ma Ji-liong terpaksa bertanya.
"Kenapa kau ingin aku pergi sekarang?"
"Karena jika tidak, kau tak akan bisa pergi lagi untuk selamanya,"
Toa-hoan menjawab. Tiba-tiba dia menghela napas dan berkata.
"Sekarang aku rasa sudah terlambat."
Saat itu mereka sedang berjalan di sebuah gang yang gelap.
Ma Ji-liong tidak perlu bertanya 'kenapa' lagi, karena dia telah melihat beberapa orang sudah menghadang mereka di kedua ujung gang.
Semuanya ada tujuh orang, tujuh orang berpakaian hitam.
HARKAT PENDEKAR Saduran .
Gan K.
H Bab 9.
Musuh Dan Hati Yang Suci Tak diragukan lagi, gang ini adalah tempat tinggal para saudagar kaya.
Orang-orang kaya ini harus menjaga diri dari perampok dan maling yang ingin mencuri harta mereka.
Karena mereka tidak bisa melihat dengan jelas setelah matahari terbenam, maka mereka harus tinggal di balik tembok yang tinggi.
Dan begitulah, kedua sisi jalan sempit itu diapit oleh tembok-tembok yang sangat tinggi, begitu tingginya sehingga orang yang memiliki ginkang Thianma-hing-khong pun tidak sanggup untuk melompatinya.
Gang ini panjang dan sangat gelap.
Di depan mereka ada empat orang, dan tiga orang lagi di belakang.
Ketujuh orang itu berpakaian serba hitam, pakaian yang ketat, masing-masing menggunakan sehelai kain hitam untuk menyembunyikan wajahnya.
Mereka melangkah perlahanlahan seperti acuh tak acuh.
Mereka tahu bahwa kedua orang itu seperti kura-kura dalam tempayan, atau ikan yang terperangkap di dalam jala, tidak mempunyai jalan keluar lagi.
Ma Ji-liong merendahkan suaranya.
"Kau tidak perlu takut. Aku akan meminta mereka untuk melepaskanmu pergi."
"Dan mereka akan melepaskanku begitu saja?"
Toa-hoan bertanya. Ma Ji-liong berkata.
"Kau tidak punya sangkut-paut dengan mereka. Kenapa mereka tidak mau melepaskanmu?"
"Kau kira mereka datang untukmu?"
Toa-hoan bertanya.
"Tentu saja,"
Kata Ma Ji-liong. Toa-hoan berkata.
"Kau keliru."
Sambil menghela napas, dia melanjutkan.
"Aku pun berharap mereka datang ke sini untukmu. Sayangnya tidak begitu halnya."
"Kenapa tidak?"
Ma Ji-liong bertanya. Toa-hoan menjawab.
"Kau dianggap seorang pembunuh. Menangkap pembunuh adalah hal yang benar, dan orang-orang akan melakukannya secara terbuka, kenapa mereka harus menyembunyikan wajah mereka di balik topeng hitam?"
Ma Ji-liong akhirnya teringat bahwa gadis ini pun berada dalam masalah seperti dirinya. Ada orang yang ingin membunuhnya. Toa-hoan berkata.
"Tapi kau tidak usah takut. Aku pun bisa meminta mereka untuk melepaskanmu."
Ma Ji-liong bertanya.
"Kau kira aku bisa pergi?"
Toa-hoan menjawab.
"Kita tidak punya hubungan. Orang-orang ini bukan mengejarmu. Apa kau ingin mati denganku di sini?"
Ma Ji-liong berkata.
"Bagaimana pun juga, aku tidak boleh membiarkanmu sendirian di sini."
"Kenapa tidak?"
Toa-hoan bertanya.
"Karena aku tidak boleh melakukan hal seperti itu,"
Kata Ma Ji-liong.
"Alasan itu tidak cukup baik,"
Kata Toa-hoan. Ma Ji-liong berkata.
"Menurutku, itu sudah cukup."
"Mungkin aku seorang perempuan jahat, seorang pencuri. Mungkin kau seharusnya membantu mereka untuk menangkapku,"
Toa-hoan berkata.
"Aku tahu kau bukan orang seperti itu,"
Kata Ma Ji-liong. Toa-hoan berkata.
"Kau tidak mungkin tahu. Kau bahkan tidak tahu nama margaku."
Ma Ji-liong berkata.
"Tapi aku percaya padamu."
Toa-hoan menatapnya. Tiba-tiba dia menghela napas dan berkata.
"Kukira kau sudah semakin pintar. Tidak kusangka kalau kau sedungu ini."
Walaupun tempat itu adalah sebuah gang yang panjang dan ketujuh orang itu melangkah dengan perlahan-lahan, tapi sekarang mereka sudah benar-benar dekat.
Dan mereka semua menggenggam senjata, masing-masing merupakan senjata yang langka.
Ada yang memegang Liong-hong-kimhoan yang tidak pernah digunakan orang lagi sejak kematian Siangkoan Kim-hong di tangan Siau-li Tam-hoa, dan ada pula yang membawa Yan-yan-gua-hou-lan.
Senjata-senjata itu sudah lama menghilang dari dunia Kang-ouw.
Hal ini terjadi karena, walaupun senjata-senjata itu amat ampuh, tapi juga sangat sukar untuk dipelajari.
Dan karena itu, orang yang bisa menggunakan senjata-senjata ini pasti bukan jago sembarangan.
Ma Ji-liong benar-benar tidak tahu cara mengatasi mereka, tapi dia tidak merasa takut.
Toa-hoan mendadak berkata.
"Hei, kalian datang untukku atau untuk dia?"
Orang yang memegang Liong-hong-kim-hoan itu bertubuh kecil tapi kuat.
Langkah kakinya teguh, dan sinar matanya tampak berkilat-kilat di balik topeng hitam itu.
Dia pasti seorang jago yang tangguh.
Dia menyeringai.
"Bagaimana jika aku datang untukmu? Bagaimana jika aku datang untuk dia?"
Toa-hoan berkata.
"Jika kalian memburunya, itu bukan urusanku. Aku bukan seorang pendekar, juga bukan seorang laki-laki sejati. Jika kalian datang ke sini untuk membunuhnya, maka aku tidak ada hubungannya dengan kalian."
Orang itu berkata dengan dingin.
"Tidak usah dijelaskan. Aku bisa melihatnya."
Toa-hoan berkata.
"Tapi jika kalian mencariku, situasinya akan berbeda."
"Oh, ya?"
Laki-laki itu berkata. Toa-hoan menjelaskan.
"Walaupun masalahnya sendiri sudah cukup besar, dia tidak akan berpangku tangan. Jika kalian ingin menangkapku, dia akan berkelahi dengan kalian sampai mati."
Orang itu berkata.
"Jadi jika kami ingin menangkapmu, maka kami harus membunuhnya dulu."
Toa-hoan melirik Ma Ji-liong. Lalu dia bertanya.
"Benarkah itu?"
"Ya,"
Jawab Ma Ji-liong.
Dia sendiri tidak tahu kenapa dia berkata seperti itu.
Sebenarnya masih banyak yang harus dia kerjakan.
Rencana busuk itu belum tersingkap, dan karena itu dia tidak boleh mati.
Jika dia mati di sini sekarang, dia bukan hanya mengalami kematian yang tragis, fitnah dan ketidakadilan yang dideritanya pun tidak akan pernah lagi diungkapkan.
Tapi dia sudah mengatakan ya.
Dia tidak mau menarik kembali kata-katanya, dia juga tidak menyesalinya.
Toa-hoan berkata.
"Hei, kalian dengar apa yang barusan dia katakan?"
Orang baju hitam itu menyeringai.
"Agaknya dia bukan hanya seorang pendekar, tapi juga seorang laki-laki sejati."
"Agaknya memang begitu,"
Kata Toa-hoan.
"Sayangnya orang seperti ini selalu mati muda,"
Kata orang itu. Sambil menghela napas, Toa-hoan berkata.
"Aku sudah mengatakan hal itu padanya. Sayangnya dia tidak mau mendengarkan."
Sebuah bunyi "tring!"
Terdengar bergema ketika kedua roda itu saling berbenturan, bunga api memercik ke segala penjuru.
Di jaman dulu, Siangkoan Kim-hong menguasai dan mengguncangkan dunia, dia pun mendirikan partai Kim-ci-pang yang memerintah dunia Kang-ouw.
Dia bukan hanya seorang laki-laki yang sangat berambisi, kungfunya juga luar biasa.
Sayangnya, dalam daftar senjata, Liong-hong-kim-hoan Siangkoan Kim-hong hanya tercantum di urutan kedua.
Tapi sebagian besar orang di dunia Kang-ouw yakin bahwa kungfunya tidak berada di bawah jago nomor satu, Thian-ki Lojin.
Selama beberapa saat orang itu menggenggam Liong-hong-kim-hoan di telapak tangannya agar orang-orang mengenali senjata terampuh di dunia itu.
Senjata seperti itu di tangan orang seperti dia tidak akan menyamai aura yang dimiliki Siangkoan Kim-hong saat memerintah dunia Kang-ouw, tapi kekuatannya tetap menakutkan.
Toa-hoan bahkan tidak melirik senjata itu.
Dia sedang menatap Ma Ji-liong dengan senyuman yang hangat dan gembira.
Musuh-musuh tangguh sudah datang ke sini untuk membunuh mereka, dan hidup atau mati akan diputuskan dalam waktu singkat.
Anehnya, dia tampak sangat gembira.
Hal ini terjadi karena Ma Jiliong tidak meninggalkannya dan pergi melarikan diri.
Tak perduli apa yang pernah dia katakan, apa yang sedang dia rasakan di hatinya sekarang agaknya lebih penting daripada hidup dan mati.
Ma Ji-liong tiba-tiba merasakan kegembiraannya yang meningkat.
Sepasang matanya yang jelek itu menjadi tampak lebih menarik.
Keindahan dan keburukan memang tidak bisa dipisahkan dengan jelas.
Orang yang berbahagia biasanya akan terlihat cantik.
Toa-hoan bertanya dengan lembut.
"Kau takut?"
Ma Ji-liong tentu saja tidak benar-benar hilang rasa takutnya.
Perasaan takut adalah salah satu kelemahan manusia yang paling sulit untuk ditaklukkan.
Untunglah ada beberapa macam perasaan yang bisa digunakan manusia untuk mengatasi rasa takut.
Toa-hoan berkata.
"Jika kau takut, mungkin masih ada waktu bagimu untuk pergi."
"Aku tidak akan pergi,"
Kata Ma Ji-liong. Toa-hoan menghembuskan napas lembut. Lalu dia berkata.
"Maka aku......"
Dia tidak menyelesaikan kata-katanya itu.
Suaranya seolah tiba-tiba terpotong oleh sebuah golok yang tak terlihat, dan tenggorokannya dicekik oleh sesosok setan yang tidak kelihatan.
Sorot matanya juga memperlihatkan perasaan takut seakan-akan dia telah melihat hantu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.
Ma Ji-liong memutar kepalanya untuk melihat.
Apa yang dilihat gadis itu ternyata hanya seseorang -seorang perempuan berbaju hitam yang amat sederhana dengan keranjang bunga di tangannya.
Dia baru saja berbelok memasuki gang itu.
Ma Ji-liong tidak memutar kepalanya lagi dan dia hanya bertanya.
"Ada apa?"
Toa-hoan berkata.
"Aku harus pergi. Kau tidak pergi, tapi aku harus."
Dan pergilah dia.
Sebelum dia selesai bicara, tubuhnya sudah mengapung ke atas.
Tidak seorang pun yang bisa membayangkan bahwa dia akan mampu melompati tembok yang tinggi itu seperti ini.
Perempuan penjual bunga yang sederhana itu terus berjalan dengan kepala tertunduk, seolah-olah dia tidak melihat adanya tembok tinggi di depannya.
Melihatnya kepalanya akan menubruk tembok, setiap orang pun mengira kepalanya akan pecah dan darah akan berhamburan.
Tapi tak disangkasangka, ternyata kepalanya tidak pecah tapi tembok itu yang hancur berantakan.
Dengan bunyi "brak!"
Yang keras, pada tembok setebal dua-tiga kaki itu sudah terukir lubang berbentuk tubuh manusia, tembok yang tahan terhadap angin kencang dan api itu!
Penjual bunga yang sederhana itu berjalan menjebol tembok seolah-olah tembok itu terbuat dari sehelai kertas yang tipis.
Ma Ji-liong merasa terperanjat, dan begitu pula semua orang lainnya.
Ilmu ginkang Toa-hoan sudah cukup mencengangkan, tapi kungfu perempuan penjual bunga ini bahkan lebih hebat lagi.
Mendadak langit bertambah gelap, angin pun semakin dingin.
Kedua perempuan itu sudah pergi.
Orang yang hendak mereka bunuh sudah pergi bersama angin.
Tapi roda emas perenggut nyawa itu masih berada di sini.
Ma Ji-liong akhirnya bertanya.
"Kalian mengejar dia atau aku?"
"Gadis itu,"
Kata si orang baju hitam.
"Dia sudah pergi,"
Kata Ma Ji-liong. Si orang baju hitam berkata.
"Sayang sekali kalau begitu."
"Kenapa?"
Ma Ji-liong bertanya. Orang baju hitam itu menjawab.
"Seharusnya kau tahu. Golok yang sudah dihunus harus melihat darah, kalau tidak malah akan mendatangkan nasib buruk."
Dia mempunyai senjata yang berbahaya di tangannya dan nafsu membunuh di sorot matanya. Dia lalu meneruskan.
"Kami semua di sini sama. Jika kami sudah mulai, maka kami harus membunuh. Sekarang dia sudah pergi, maka kami hanya bisa membunuhmu."
"Bagus sekali,"
Kata Ma Ji-liong.
Sebenarnya dia tahu kalau situasinya tidak begitu bagus.
Tidak perduli siapa pun yang dia hadapi, keadaannya tetap tidak begitu bagus.
Dia tidak membawa senjata.
Dia tidak punya nafsu membunuh.
Dan dia tidak punya pilihan.
Kenapa manusia harus membunuh manusia lainnya?
Dia benci kekerasan.
Tapi dalam situasi tertentu, orang terpaksa harus menggunakan kekuatan untuk menghentikan kekerasan.
Dia pun menghimpun seluruh tenaganya.
Dia hanya punya satu nyawa, dan dia tidak mau mati.
Dia harus menghentikan kekerasan ini.
Dengan mengeluarkan bunyi "tring!" , kim-hoan (roda emas) itu berbenturan sekali lagi, bunga api terpercik ke segala penjuru seperti air hujan.
Tubuh Ma Ji-liong tiba-tiba melesat seperti anak panah.
Dia tidak punya nafsu membunuh, tapi dia punya sesuatu yang lain.
Yaitu keberanian!
Tentu saja dia tidak mengincar orang baju hitam yang memegang kim-hoan itu, tapi seorang lainnya.
Taktik 'harus menangkap sang raja lebih dulu' tidak benar-benar bisa digunakan dalam situasi seperti ini.
Sekarang dia harus menyerang titik terlemah mereka.
Benar dan salah tidak bisa hidup berdampingan.
Dalam situasi di mana seseorang ditekan oleh kekuatan musuh yang berjumlah lebih banyak, jika dia bisa melindungi tubuhnya sendiri, maka tubuhnya harus dilindungi.
Jika dia bisa menghabisi salah seorang musuh, maka musuh itu harus dibinasakan.
Orang yang dia serang adalah Tuan Hitam.
She (marga) Tuan Hitam adalah Oey (kuning).
Setiap orang memanggilnya Tuan Hitam hanya karena dia adalah yang paling jahat dan bertubuh paling besar di antara mereka, persis seperti seorang tuan besar.
Tubuh Tuan Hitam tingginya delapan kaki sembilan dim, dan bahunya selebar tiga kaki.
Lengannya sebesar paha laki-laki dewasa dan tinjunya seukuran kepala anak-anak.
Kenapa Ma Ji-liong menganggap orang seperti ini sebagai titik terlemah dari musuh?
Apakah karena orang ini selalu mengikuti ke mana pun Roda Emas perenggut nyawa pergi?
Benalu tumbuh pada sebatang pohon besar agar bisa tetap hidup.
Rubah yang licik selalu mengandalkan kekuatan harimau agar dia bisa menakut-nakuti manusia.
Yang lemah selalu berharap agar mereka bisa bergantung pada yang kuat untuk mendapatkan perlindungan.
Bagaimana kuat atau lemahnya seseorang tentu saja tidak bisa dilihat dari penampilannya, dan penilaian Ma Ji-liong ternyata tidak keliru.
Senjata Tuan Hitam adalah sepasang lempengan besi yang agaknya berbobot 60-70 kati.
Ma Jiliong bergerak menyerang, dan Tuan Hitam, dengan bersenjatakan lempengan besi itu, membalas serangan itu dengan sebuah sapuan mendatar dan sebuah hantaman tegak lurus.
Sayangnya nilai sebuah senjata pun tidak bisa dilihat dari bobotnya saja.
Tinju Ma Ji-liong melayang masuk di antara sepasang lempengan besi itu dan mendarat di atas batang hidung Tuan Hitam.
Sebuah suara yang amat perlahan seperti bunyi seseorang memukul daging pun terdengar.
Tapi, tanpa menjerit sekali pun, Tuan Hitam sudah roboh terjengkang di atas tanah.
Saat orang itu terjungkal, Ma Ji-liong tentu saja bisa keluar dari kepungan itu dengan segera.
Dia pun bisa meloloskan diri lewat lubang di tembok sana.
Tapi dia memutuskan tidak melakukannya karena dia tiba-tiba merasa bahwa dirinya sanggup bertahan terhadap keroyokan mereka dan dia bukannya tidak memiliki kesempatan sama sekali.
Dan asalkan ada sedikit kesempatan, maka dia tidak akan menyerah.
Dia adalah orang yang angkuh, orang yang benar-benar sangat angkuh.
Tuan Hitam sudah roboh.
Ma Ji-liong lalu menggaet salah satu lempengannya dengan kakinya dan kemudian meraupnya dengan tangan kirinya.
Lalu dia memanfaatkan situasi dan mengayunkan senjata itu pada orang yang bersenjata roda emas.
Tangan kanannya juga menghantam dengan keras pada pergelangan tangan orang lainnya dan memukul jatuh senjata boan-koan-pit-nya.
Tapi roda emas tetap berada di tangan musuh, dan seseorang lainnya masih memegang yan-yangua-hou-lan.
Kedua pasang tangan dan kedua jenis senjata itu benar-benar menakutkan.
Ketika dia melihat kekuatan gabungan kedua senjata itu, dia baru menyadari kekeliruannya yang tidak bisa dimaafkan.
Dia terlalu memandang rendah musuh-musuhnya dan memandang tinggi dirinya sendiri.
Kesalahan seperti ini tidak akan pernah terulang karena sekali saja sudah cukup fatal!
Tapi dia masih bisa bertarung sampai mati!
Bila seseorang sudah bertekad untuk mati dan mengerahkan segala kemampuannya, maka dia bukan hanya berbahaya, tapi juga menakutkan.
Dan hanya orang yang sudah tersudut yang akan bertarung mati-matian, tapi kenapa orang-orang ini pun tidak takut mati bersamanya?
Pasti Thian-sat!
Mereka memang datang untuk membunuhnya.
Tiba-tiba dia menyadari hal ini.
Tuan Hitam berusaha bangkit.
Hidungnya yang patah membuatnya sukar untuk bernafas, maka dia pun hanya bisa terengah-engah.
Tiba-tiba dia merobek bagian depan bajunya yang besar.
Lalu dia mendesis seperti orang gila.
"Bunuh dia! Bunuh dia! Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh!"
Itulah suara jeritan yang nyaring dan memilukan!
Di balik bajunya yang robek, terlihat belasan huruf merah darah di atas dada Tuan Hitam!
Thian-sat!
Tak perduli apa pun cara yang harus mereka gunakan atau siapa yang harus mereka korbankan, mereka pasti akan membunuhnya!
Tinju Ma Ji-liong terkepal erat.
Dia menggertakkan giginya, bersiap untuk bertarung mati-matian!
Dia telah merobohkan seorang lagi dengan tinjunya.
Dia tidak sempat melihat siapa orang itu karena tiba-tiba dia melihat sekilas sinar perak, sinar perak dari sebilah tombak yang sedang meluncur tiba.
Tombak perak!
"Gin-jio (Tombak Perak) Khu Hong-seng."
Ketika tombak perak itu tiba, Khu Hong-seng lalu berkata.
"Jika kalian ingin membunuhnya, maka kalian harus mematahkan tombak perak ini dulu. Jika kalian ingin mematahkan tombak ini, maka kalian harus membunuhku dulu!"
Dia tak pernah menyangka kalau Khu Hong-seng akan datang untuk menolongnya, tapi memang Khu Hong-seng yang datang!
Dan di tangannya tergenggam tombak perak.
Seseorang telah datang untuk ikut bertarung mati-matian dengannya!
Kenapa orang harus selalu berhadapan dengan musuh dulu baru bisa tahu bagaimana sosok orang itu sebenarnya dan mengenali siapa teman yang sesungguhnya?
Tombak itu sudah menembus tenggorokan satu orang musuh, dan tinjunya telah menghancurkan rusuk musuh yang lain.
Kali ini setiap orang bisa mendengar suara tulang yang hancur berantakan itu.
Tidak ada lagi musuh yang roboh.
Tiba-tiba semua telah menghilang.
Tentu saja dua orang yang bertekad untuk bertempur mati-matian lebih berbahaya daripada satu orang, apalagi kalau kedua orang itu adalah Khu Hong-seng dan Ma Ji-liong.
Tidak seorang pun yang tahu jam berapa saat itu, tapi malam sudah amat larut.
Jalan yang kecil itu pun terasa dingin dan gelap.
Tahu-tahu Ma Ji-liong merasakan sebuah tangan yang hangat sedang menggenggam tangannya.
Suara Khu Hong-seng pun sama hangatnya.
Dia berkata.
"Aku tahu apa yang kau butuhkan sekarang ini. Kau benar-benar membutuhkan secawan arak."
HARKAT PENDEKAR Saduran .
Gan K.
H Bab 10.
Pertanyaan-pertanyaan Arak itu memang tidak begitu enak.
Juga bukan termasuk jenis arak yang bagus, dan tentu saja bukan arak Li-ji-ang.
Arak itu cuma sejenis arak yang bisa kau beli di pasar biasa.
Walaupun Ma Jiliong tidak perduli, tapi Siau-hoan tetap menjelaskan dengan nada meminta maaf.
"Hong-seng sangat jarang minum di sini. Dia pun tidak pernah mengundang temannya ke sini. Baru tadi aku membeli seguci arak ini."
Arak itu baru saja dibelinya, dan makanan baru saja dimasaknya. Ini terjadi karena di tempat itu tidak ada seorang pun pelayan.
"Hong-seng sangat menyukai ketenangan. Dia tidak mau ada pelayan. Maka aku mengerjakan segalanya di sini sendirian."
Suaranya penuh mengandung kelembutan seorang perempuan.
Seluruh hidupnya berkutat di sekitar Khu Hong-seng.
Dia pasti akan melakukan apa saja yang diinginkan Khu Hong-seng.
Cinta sudah cukup bagi mereka.
Kenapa mereka butuh orang lain?
Mengapa mereka perlu arak yang bagus untuk diminum?
Tiba-tiba Ma Ji-liong merasa iri pada mereka.
Dia tak henti-hentinya bertanya pada dirinya sendiri, seandainya dia memiliki seorang perempuan seperti Siau-hoan ini -yang tidak memikirkan apa pun selain dirinya dan selalu melayani seluruh kebutuhannya -maukah dia meninggalkan segalanya dan hidup sederhana seperti ini?
Tiba-tiba dia teringat pada Toa-hoan.
Jika dia menikahi gadis itu, apakah gadis itu akan memperlakukan dia seperti ini?
Ma Ji-liong tidak mencari tahu lebih lanjut.
Pertanyaan ini bukan saja aneh, tapi juga lucu.
Tentu saja dia tidak akan menikahi seorang perempuan seperti Toa-hoan, meskipun lehernya ditodong dengan sebilah pisau.
Walaupun Toa-hoan sekarang tidak begitu buruk dan jahat seperti sebelumnya, tapi dia masih jauh dari kesan menarik dan menyenangkan.
Bagaimana mungkin Pekma Kongcu menikahi gadis seperti itu?
Ma Ji-liong mengangkat cawannya dan menghabiskan araknya dalam satu tegukan, dia memutuskan untuk melupakan gadis tersebut sejak saat itu.
Agaknya Khu Hong-seng sudah cukup banyak minum.
Dan karena hari ini dia ingin minum, Siauhoan tentu saja ikut minum bersamanya.
Mereka berdua tampaknya sudah agak mabuk, dan tingkah mereka terlihat semakin mesra, agaknya mereka lupa kalau Ma Ji-liong berada tepat di hadapan mereka.
Ma Ji-liong sudah mulai merasa diabaikan, maka dia pun mencari kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal.
Semula dia hendak mengajukan banyak pertanyaan pada Khu Hong-seng, tapi sekarang dia tidak mau lagi.
Ini terjadi karena dia sudah sangat mempercayai Khu Hong-seng.
Tepat ketika dia akan bangkit, Khu Hong-seng tiba-tiba mengajak bersulang.
Dia menarik tangan Siau-hoan dan berkata sambil tersenyum.
"Kau harus minum tiga cawan untuk menghormatinya, tiga cawan besar."
Sambil cekikikan, Siau-hoan menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya akan minum secawan."
"Kau harus minum tiga cawan."
"Jika aku minum tiga cawan, aku pasti akan mati karena mabuk."
"Jika kau tidak minum, maka aku akan mencekikmu sampai mati."
Siau-hoan tersenyum memikat, sorot matanya penuh dengan perasaan cinta. Dia berkata.
"Aku lebih suka dicekik olehmu sampai mati."
"Benarkah?"
"Tentu saja, sungguh."
"Bagus."
Khu Hong-seng tersenyum, sambil meremas leher gadis itu dengan tangannya. Lalu dia berkata dengan lembut.
"Maka aku akan mencekikmu hingga mati."
Ma Ji-liong benar-benar tidak ingin mendengarkan lagi, dia juga tidak mau bertindak sebagai penonton lagi.
Seharusnya dia segera pergi, tapi tidak jadi.
Karena ketika dia bangkit, tiba-tiba dia melihat sesuatu yang tidak pernah dibayangkannya meskipun dalam mimpinya.
Dia melihat mata Siau-hoan yang indah melotot keluar seperti mata ikan mati, mukanya menjadi biru dan tubuhnya menjadi kaku.
Kali ini dia benar-benar mati.
Khu Hong-seng benar-benar mencekiknya hingga mati.
Ma Ji-liong merasa terperanjat, seolah-olah lehernya juga sudah tercekik oleh sebuah tangan yang tidak kelihatan.
Napasnya tiba-tiba berhenti.
Tubuhnya menjadi kaku.
Bahkan tangan dan kakinya pun terasa dingin seperti es.
Tubuh Siau-hoan akhirnya ambruk ke lantai, dan Khu Hong-seng mengawasi tubuh itu tanpa perubahan sedikit pun di wajahnya.
Yang mengejutkan, di wajahnya malah tersungging sebuah senyuman.
"Berbohong itu buruk. Aku tidak pernah berbohong."
Sambil tersenyum dia berkata.
"Kubilang aku akan mencekiknya hingga mati, dan itulah yang kulakukan. Maka, nanti, apa pun yang kukatakan, kau harus mempercayaiku."
Ma Ji-liong tidak sanggup bicara. Dia cuma ingin muntah, membuang semua yang baru saja dia makan dan minum. Tapi dia bahkan tidak bisa melakukannya. Khu Hong-seng tertawa dengan riangnya.
"Mengapa kau tidak bertanya kenapa aku mencekiknya?"
Dia tidak menunggu Ma Ji-liong bertanya. Dia malah mulai bicara lagi.
"Sebenarnya, aku sudah berencana untuk membunuhnya sejak kami bertemu pertama kalinya. Aku menebus dia dan membeli rumah ini agar terlihat mustahil kalau aku sebenarnya akan membunuhnya. Aku memungut gadis ini karena dia bukan saja sangat cantik, tapi dia juga bodoh. Perempuan seperti ini memang amat cocok untuk rencanaku."
Rencananya? Rencana apa? Meskipun Ma Ji-liong tidak bodoh, tapi dia benar-benar belum paham tentang segala kejadian ini. Khu Hong-seng menerangkan lagi.
"Aku harus membuat semua orang tahu bahwa aku sudah bertekad untuk mati dengan gadisku dan bahwa kami sudah bersumpah setia satu sama lain dan maut pun tidak akan bisa memisahkan kami. Setiap orang pun akan percaya bahwa aku tidak ingin menjadi menantu Bik-giok Hujin."
Sambil menghela napas, dia berkata.
"Padahal sesungguhnya, aku sangat menginginkan hal itu."
Tapi saingan-saingannya terlalu kuat dan dia sendiri pun belum tentu terpilih. Dia melanjutkan.
"Maka aku harus menyingkirkan kalian bertiga dulu."
Sesungguhnya, menyingkirkan tiga orang manusia tidaklah mudah.
"Untunglah aku tahu bahwa kalian semua adalah pemabuk, dan aku pun kebetulan tahu bahwa Tohkongcu sudah memesan makanan dan arak dari Kik-hong-wan."
Maka dia menyuap seorang pegawai Kik-hong-wan untuk meracuni arak dan kemudian memesan Thian-sat untuk membungkam orang-orang dari rumah makan itu.
"Tapi aku tidak menyangka kalau kau tidak mau minum."
Dia meneruskan lagi.
"Untunglah rencanaku amat teliti. Aku punya orang-orang di belakangku."
Orang-orang itu adalah Kim Tin-lin dan Peng Thian-pa.
Kim Tin-lin dulu pernah ditundukkan olehnya, dan Peng Thian-pa sudah sejak lama menjadi kaki tangannya.
Giok-pwe yang tergantung di dadanya juga merupakan bagian dari rencana.
Sesudah itu, semua saksi harus disingkirkan.
"Pang Tio-hoan dan Coat-taysu sebenarnya tidak tahu apa-apa. Aku sengaja menyuruh Peng Thianpa mengundang mereka minum di Kik-hong-wan dan membawa mereka ke Han-bwe-kok untuk membuktikan bahwa aku benar-benar tidak bersalah dan bahwa kau adalah penjahat yang sesungguhnya."
Dia tertawa terbahak-bahak.
"Tapi kau tidak boleh menyalahkan diriku. Kau hanya bisa menyalahkan nasibmu sendiri yang buruk sehingga kau tidak meminum arak itu dan mati begitu saja. Jika kau mati, maka kau tidak akan mengalami masalah seperti ini."
Sekarang dia tidak punya saingan lagi.
Tapi, jika Siau-hoan tidak mati, dia tidak punya cara untuk menjelaskan status dirinya, juga tidak bisa mencampakkannya begitu saja untuk menjadi menantu Bik-giok Hujin.
Maka Siau-hoan pun harus mati.
Khu Hong-seng menatap Ma Ji-liong.
Lalu dia berkata.
"Dan sekarang, apakah kau hidup atau mati tetap tidak ada artinya. Setiap orang tahu bahwa kau adalah si pembunuh. Bila kau tetap hidup, hal itu malah akan menjadi keuntungan buatku."
"Keuntungan apa?"
Ma Ji-liong akhirnya sanggup bersuara.
"Kenapa hal itu baik untukmu?"
Khu Hong-seng menghela napas dan mendadak berkata.
"Apakah kau belum bisa menebak kalau aku adalah ketua Thian-sat?"
Segalanya menjadi jelas, dan Ma Ji-liong pun berdiri tertegun.
Selama ini dia mengira bahwa dia tidak akan pernah memahami apa yang telah terjadi.
Dia tidak menyangka kalau penjahat yang sebenarnya akan memberitahukan semua ini padanya.
Tak tahan lagi dia pun bertanya.
"Kenapa kau memberitahukan rahasiamu padaku?"
Sambil tersenyum, Khu Hong-seng berkata.
"Karena........."
Dia tidak menyelesaikan kata-katanya.
Wajahnya tiba-tiba berubah, persis seperti wajah Toh Cenglian yang ketakutan menjelang saat kematiannya.
Mukanya yang pucat tiba-tiba menjadi gelap.
Dia berusaha bangkit, tapi kakinya malah menendang meja.
Dan ketika meja itu terbalik, maka dia pun terjungkal ambruk.
Bab 11.
Hukuman Gantung Ma Ji-liong tercengang.
Bagaimana mungkin ada racun di dalam arak itu?
Siapa yang membubuhi racun?
Mungkinkah Siau-hoan sudah tahu bahwa Khu Hong-seng akan membunuhnya, maka dia memutuskan untuk meracuni arak itu lebih dulu?
Ma Ji-liong minum dari guci arak yang sama.
Sekarang Khu Hong-seng mati keracunan, tapi kenapa dia tidak merasa apa-apa?
Begitu banyak pertanyaan yang tak terjawab, dan semuanya juga begitu rumit.
Selain itu, semua peristiwa ini terjadi begitu tiba-tiba.
Pikirannya menjadi kacau, dan dia bahkan tidak sanggup menjawab meskipun pertanyaan yang paling sederhana.
Sekarang, yang sebaiknya dilakukan adalah meninggalkan tempat ini dengan segera.
Mungkin sekali kejadian ini juga merupakan sebuah rencana yang telah direkayasa dengan baik untuk menjebaknya.
Dia sudah memikirkan hal ini.
Sayangnya, sementara dia sedang berpikir, dia benar-benar sudah terjebak.
Rencana itu memang akurat dan berbisa.
Tak perduli siapa pun yang terjatuh ke dalam perangkap ini, dia tidak akan bisa lolos.
Di ruangan itu ada empat buah lampu, empat buah lampu kristal Persia yang sangat mahal.
Barang mahal adalah barang yang berkualitas.
Meskipun jatuh ke lantai, lampu-lampu itu tidak akan pecah.
Keempat lampu itu dipasang dengan teguh di atas sebuah meja.
Tiba-tiba terdengar suara 'wut!', dan kap lampu pun pecah.
Sinarnya tampak berkerlap-kerlip.
Saat itulah Ma Ji-liong merasakan gelombang tekanan yang luar biasa kuatnya menghantamnya dari segala penjuru.
Jantungnya berdebar dengan keras dan kencang.
Napasnya hampir berhenti.
Hidungnya berdarah, dan dia pun bisa merasakan darah di tenggorokannya.
Bola matanya seperti akan melompat keluar.
Dia sudah hampir pingsan.
Tapi tekanan yang aneh dan menakutkan itu tibatiba menghilang ketika empat orang manusia muncul di ruangan itu.
Orang pertama yang dilihatnya adalah Coat-taysu yang tidak punya hati ataupun perasaan itu.
Karena Coat-taysu sudah tiba, tentu saja Pang Tio-hoan juga berada di sini.
Orang ketiga adalah seorang hwesio yang amat kurus dan bermuka hitam, seperti seorang pertapa yang berlatih ilmu menyiksa diri.
Dan walaupun ia mengenakan jubah hwesio yang ditambal di sana sini, tapi dia menggenggam seuntai tasbih giok yang tak ternilai harganya.
Orang terakhir adalah seorang tosu yang mengenakan jubah berlengan lebar, memakai sandal jerami tanpa kaus kaki.
Rambutnya disanggul, dan kulitnya putih berkilauan, membuat dirinya kelihatan seperti sebuah patung yang diukir dari giok putih.
Dia merupakan kebalikan dari hwesio pertapa yang tampak kasar itu.
Keempat orang itu datang dari empat penjuru, dan tenaga dalam mereka muncul mendahului kedatangan mereka, lwekang yang telah dilatih selama puluhan tahun.
Orang-orang ini pasti mengirimkan lwekang mereka untuk menutup jalan lari Ma Ji-liong dan menangkal serangannya.
Mereka menggunakan langkah terakhir ini terhadap Ma Ji-liong karena mereka yakin bahwa dia akan melakukan apa saja untuk melarikan diri.
Tadi, saat energi mereka menyerangnya, kekuatan dari arah timur dan barat jauh lebih hebat daripada yang datang dari arah utara dan selatan.
Yang datang dari arah timur adalah hwesio pertapa itu, dan Giok-tojin (tosu dari giok) tiba di tempat itu dari arah barat.
Ternyata kedua orang itu mempunyai lweekang yang jauh lebih dahsyat daripada Coat-taysu yang termasyur ke seluruh dunia itu.
Ma Ji-liong tidak perlu melihat mereka untuk tahu siapa mereka sebenarnya.
Nama Budha hwesio pertapa itu adalah Cia-go (tahan kesukaran).
Dia memang tahan terhadap berbagai macam kesukaran.
Dia pernah pergi ke India, tapi dia tentu saja tidak pergi ke sana untuk mencari kitab agama Budha.
Dia malah mengembara ke seluruh negeri itu untuk mencari kungfu misterius kaum Hud-bun (Budha).
Tentunya perjalanannya itu tidak sia-sia belaka.
Dan Giok-tojin dulunya adalah Giok-long-kun yang berjuluk 'Satu Pedang Tanpa Rintangan', yang pernah mengguncangkan dunia Kang-ouw.
Semua pendekar di dunia ini pasti akan gemetar ketakutan terhadap dirinya, dan semua perempuan cantik pasti akan menyerahkan hatinya pada Giok-long-kun ini.
Melihat keempat orang itu, hati Ma Ji-liong serasa karam.
Tentu saja tidak seorang pun di dunia ini yang bisa melarikan diri dari mereka, dan tidak seorang pun juga yang bisa menyelamatkan seseorang dari cengkeraman mereka.
Itulah kenyataan yang tidak bisa dibantah.
Lampu-lampu belum dipadamkan.
Ini terjadi karena mereka tidak ingin lampu-lampu itu padam.
Bila orang-orang ini ingin melakukan sesuatu, mereka tentu saja akan dan bisa melakukannya.
Jika tidak, tak seorang pun yang bisa memaksa mereka untuk bertindak.
Agaknya mereka tidak melihat Ma Ji-liong, karena pandangan mata mereka tertuju pada Khu Hong-seng.
Khu Hong-seng sudah berhenti bernapas, dan guci arak serta cawan telah terbalik dan berserakan di lantai.
Cia-go Hwesio memungut dan mengendusnya.
Lalu, seperti sebilah golok yang tajam, sinar dingin tampak berkilat-kilat di sepasang mata yang cekung itu.
Dia pernah mengikuti rute ke barat yang dahulu digunakan oleh pendeta Tong Sam-cong(1) saat melakukan perjalanan ke Thian-tiok (India), dan jalur ini tentu saja tidak mudah untuk dilalui.
Dia harus melewati gunung-gunung yang tandus, sungai-sungai liar dan rawa-rawa, semua yang ada di sana pun amat berbisa -serangga berbisa, ular berbisa, bunga beracun dan tanaman-tanaman beracun.
Dia sudah melihat hampir semua racun yang ada di dunia ini dan, karenanya, dalam hal racun dia hampir sama ahlinya dengan Sin-long (Petani Sakti) yang termasyur itu.
Meskipun Coat-taysu telah menjadi orang beribadat selama puluhan tahun, sifatnya yang tidak sabaran sama sekali tidak berubah.
Tak dapat menahan diri lagi, dia lalu bertanya.
"Bagaimana?"
Cia-go Hwesio tidak berkata apa-apa dan menutup matanya.
Coat-taysu menjadi makin gelisah.
Jika Cia-go Hwesio tidak bisa menebak racun apa yang telah diminum Khu Hong-seng, tentu saja tidak ada lagi orang lain yang tahu di dunia ini.
Untunglah Cia-go Hwesio akhirnya angkat bicara.
"Tidak ada racun di guci arak itu."
"Lalu di mana racunnya?"
"Di cawannya yang terakhir."
"Racun apa itu?"
"Itulah Jiu-jo-san yang dibuat dari tiga macam tumbuhan beracun -Jian-ki, Toan-yang dan Siohun."
"Bagaimana kau tahu?"
"Racun jenis ini tidak berwarna dan tidak berasa. Paling baik bila dicampur dengan arak, karena dengan arak racun ini akan bekerja dengan sangat cepat."
"Berapa cepat?"
"Racun ini akan langsung bekerja setelah masuk ke tenggorokannya. Dan bila mencapai usus, dia akan sama saja seperti ulat di musim gugur."
"Jadi racun di dalam tubuhnya sudah bekerja."
"Maka racun itu pasti berada di dalam cawan arak terakhirnya."
"Bisakah dia diselamatkan?"
"Orang tidak selalu harus mati karena racun ini. Jika kita bertindak cukup cepat, racun ini masih bisa ditawarkan."
"Bisakah kau melakukannya?"
"Aku tidak bisa, tapi dia bisa."
Cia-go Hwesio memalingkan kepalanya pada Giok-tojin. Lalu dia berkata.
"Tidak ada orang yang tahu tentang racun sebaik diriku, tapi dalam hal menawarkan racun, aku tidak sebaik dirimu."
Giok-tojin bertanya.
"Bagaimana kau tahu kalau kau tidak sebaik diriku?"
Cia-go Hwesio menjawab.
"Karena kau dulu seorang penakluk wanita dan aku bukan."
Giok-tojin tersenyum.
Dia tidak punya pilihan kecuali mengakui hal itu.
Sejak dia berusia enam belas tahun, tak ada yang tahu berapa banyak perempuan yang telah berusaha membunuhnya dengan racun.
Ini terjadi karena kekasihnya terlalu banyak dan dia tidak pernah pilih-pilih.
Karena banyak perempuan yang memujanya, dan mereka tidak mau melepaskannya jatuh ke pelukan perempuan lain, mereka pun tahu bahwa mereka harus meracuninya sampai mati.
Jika tidak, cepat atau lambat pikirannya akan berubah.
Karena seringnya dia diracuni orang, akhirnya dia menjadi terbiasa dengan racun.
Bagaimana mungkin orang seperti dia tidak tahu cara menawarkan racun?
Cia-go Hwesio berkata.
"Jika dia tidak tahu cara menawarkan racun ini, pemuda ini pasti sudah mati."
Coat-taysu bertanya.
"Jika dia tidak bisa menawarkan racun ulat musim gugur ini, apakah tidak ada orang lain yang bisa?"
Kali ini Giok-tojin sendiri yang menjawab pertanyaan itu. Dia berkata.
"Tidak."
Ma Ji-liong akhirnya paham.
Ini bukan cuma sebuah perangkap.
Tapi merupakan seutas tali, tali yang akan digunakan untuk menggantungnya.
Racun itu ada di dalam cawan arak terakhir.
Saat Khu Hong-seng meminum cawan itu, Siau-hoan sudah mati, jadi tidak mungkin dia yang menaruh racun itu.
Tapi jika Khu Hong-seng meracuni dirinya sendiri, siapa yang akan percaya kalau dia berbuat begitu?
Dan karena itu, Ma Ji-liong tentu saja menjadi tersangka.
Khu Hong-seng diracun dengan cara yang sama seperti Sim Ang-yap dan Toh Ceng-lian.
Pasti racun di dalam guci arak di Han-bwe-kok juga adalah racun Jiu-jo-san ini.
Dan karenanya, tersangka peristiwa itu juga adalah Ma Ji-liong.
Khu Hong-seng sudah tahu bahwa Coat-taysu dan kawan-kawannya akan datang.
Dia sudah tahu pasti bahwa dirinya akan tertolong.
Karena itu dia meracuni arak tersebut.
Barusan dia telah memberitahu Ma Ji-liong bahwa dialah penjahat yang sebenarnya, tapi tak ada orang lain kecuali Ma Ji-liong yang telah mendengar pengakuannya itu.
Tak seorang pun di dunia ini yang akan percaya bahwa dia bisa meracuni dirinya sendiri.
Dan meskipun Ma Ji-liong ngotot mengatakan hal yang sebenarnya kepada orang-orang, tak ada orang yang akan mempercayainya.
Dan karena orang-orang menganggap bahwa Ma Ji-liong adalah orang yang meracuni Khu Hongseng, mereka juga akan percaya bahwa dialah yang telah mencekik Siau-hoan hingga mati.
Mereka tidak akan menyelidiki lagi kenapa dia harus membunuh Siau-hoan.
Memangnya masih ada yang tidak bisa diperbuat oleh seorang pembunuh seperti dirinya?
Semua pembunuh harus mati.
Sekarang Ma Ji-liong telah dihadapkan dengan hukuman gantung.
------------------------------------------(1)Tong Sam-cong = pendeta Budha dalam cerita 'Perjalanan Ke Barat' Bab 12.
Kembang Melati Khu Hong-seng tidak mati.
Inilah kali kedua dia berhasil selamat setelah bersinggungan dengan maut.
Ma Ji-liong teringat dengan tombak Kim Tin-lin dan bagaimana Khu Hong-seng telah menyembunyikan Giok-pwe itu di dadanya.
Saat itu nama Siau-hoan yang digunakan olehnya untuk menjelaskan hal itu.
Setiap langkah dan setiap detil rencananya benar-benar dirancang dengan seksama.
Dan setiap kalinya dia telah menyediakan perangkap kematian untuk dirinya sendiri sehingga tidak ada orang yang akan mencurigainya.
Sekarang dia telah memuntahkan semua arak beracun itu, setiap orang bisa melihat bahwa dia pasti akan selamat, dan mungkin dia akan hidup lebih lama daripada siapa pun.
Saat itulah perhatian mereka mulai dialihkan pada Ma Ji-liong, dan sorot mata mereka amat mirip dengan senjata yang tajam.
Yang pertama bicara adalah Pang Tio-hoan.
Dia berkata.
"Apa lagi yang hendak kau katakan?"
Ma Ji-liong tidak bisa berkata apa-apa.
Jika dia mengungkapkan hal yang sebenarnya, siapa yang akan percaya kalau Khu Hong-seng telah mencekik Siau-hoan hingga mati?
Siapa yang akan percaya kalau dia telah mengungkapkan rahasianya sendiri?
Dan siapa yang akan percaya kalau dia telah meracuni araknya sendiri?
Coat-taysu bertanya dengan dingin.
"Apa yang akan kau berikan pada kami kali ini?"
Meskipun Ma Ji-liong punya sebilah pedang mestika di tangannya, setumpuk emas di kantungnya, dan sehelai mantel bulu rubah di tubuhnya, tipuan lamanya tidak akan berhasil lagi. Coat-taysu berkata.
"Bukti kejahatanmu sudah amat banyak, tapi bila kau tidak mengakuinya, kami tidak bisa mengikat tanganmu."
Ma Ji-liong tahu bahwa dia bukan hanya tidak bisa membersihkan dirinya dari tuduhan, dia pun tidak bisa melarikan diri.
Dia sangat paham akan hal ini.
Tapi asalkan dia masih bernapas, dia tidak akan pernah menyerah tanpa bertarung.
Coat-taysu berkata.
"Dengan kami berempat berada di sini, menangkapmu akan sama mudahnya dengan memakan kue. Tapi kami tidak mau menang cuma karena jumlah kami lebih banyak darimu."
"Aku paham,"
Kata Ma Ji-liong.
"Apa yang kau pahami?"
Coat-taysu bertanya. Ma Ji-liong berkata.
"Kau ingin bertarung sendiri denganku dan berharap kau sendiri sudah sanggup membunuhku."
Lalu dia meneruskan dengan tenang.
"Karena membunuh orang adalah hobimu."
Kalimat ini seperti jarum yang menusuk ke hati lawan. Tapi Coat-taysu tidak perduli. Dia menyeringai.
"Jika kau tidak ingin aku yang membunuhmu, kau boleh memilih siapa pun yang kau inginkan untuk bertarung denganmu."
"Aku memilihmu,"
Kata Ma Ji-liong.
"Bagus sekali,"
Kata Coat-taysu. Ma Ji-liong berkata.
"Benar, seharusnya bukan kau. Walaupun lwekangmu tidak sehebat Cia-go Hwesio dan ilmu pedangmu tidak sebanding dengan Giok-tojin, tapi pengalaman membunuhmu jauh lebih banyak daripada mereka. Dan karena itu caramu membunuh pasti lebih baik daripada mereka."
Sambil menghela napas, dia melanjutkan.
"Sayangnya, meskipun tahu hal ini, aku tetap harus memilihmu."
Coat-taysu tak tahan lagi dan bertanya.
"Kenapa?"
Ma Ji-liong menjawab.
"Karena aku selalu berpikir bahwa meskipun kau adalah orang gila yang kejam, keras kepala dan angkuh, aku bisa berharap padamu untuk membawa keadilan dan bila kau menuduh seseorang, maka kau akan bertindak bengis dan tidak akan membiarkan orang itu hidup."
Suaranya terdengar berduka ketika dia berkata.
"Aku memilihmu karena aku harus membunuhmu demi orang-orang yang telah salah dibunuh olehmu. Meskipun aku bukan tandinganmu, aku bisa menjamin bahwa aku punya cara untuk membuat agar kau dan aku gugur bersama."
Coat-taysu terpaksa bertanya.
"Cara apa?"
Mau tak mau dia harus percaya pada Ma Ji-liong.
Ekspresi wajahnya mulai berubah.
Walaupun dia ingin membunuh Ma Ji-liong, dia sendiri pun takut terbunuh.
Dan dia tidak bisa menyembunyikan perasaan takutnya itu.
Tiba-tiba Ma Ji-liong tertawa terbahak-bahak.
Dia berkata.
"Sesungguhnya kau tidak sebengis yang orang kira. Kau takut pada kematian seperti juga orang lain."
Suaranya terdengar penuh dengan nada ejekan.
"Sebenarnya aku tidak punya cara tertentu untuk membunuhmu. Aku cuma ingin menakut-nakutimu saja, tidak lebih."
Bila jago-jago kungfu akan bertarung, mereka bukan hanya harus menenangkan pikirannya, mereka pun harus mengendalikan emosinya.
Kalau tidak mereka akan rapuh terhadap serangan.
Coat-taysu sudah lama paham akan hal ini.
Tapi saat itu amarahnya telah memuncak, bola matanya memerah seperti berdarah, di keningnya muncul urat-urat biru.
Kedua tangannya pun diulurkan seperti cakar burung rajawali.
Dia bergerak ke arah Ma Ji-liong, selangkah demi selangkah.
Ruangan ini berlantai papan kayu yang mengkilap, dan ke mana pun dia menginjakkan kakinya, papan kayu itu segera hancur berkeping-keping.
Coat-taysu telah mengumpulkan seluruh tenaganya.
Jika orang terpukul oleh tangannya, dia tentu akan terjungkal mati!
Tak pernah terpikir olehnya kalau dia mungkin akan membunuh orang yang salah!
Kecuali bunyi papan kayu yang hancur, seolah-olah tidak ada suara lain di dunia ini.
Mendadak mereka mendengar suara teriakan seseorang yang menjajakan bunga.
"Anggrek mutiara. Kembang melati."
Suara penjual bunga itu terdengar nyaring dan merdu seperti mengalun dari tempat yang jauh.
Tapi suara itu tiba-tiba bergerak semakin dekat hingga seakan-akan kata-kata tadi diucapkan orang di pinggir telinga mereka.
"Brak!", tiba-tiba sebuah lubang berbentuk manusia telah muncul di dinding yang putih dan cerah itu.
"Anggrek mutiara. Bunga melati."
Tiba-tiba seseorang telah muncul dari lubang di dinding tersebut.
Dia adalah seorang penjual bunga bertubuh ramping, memakai topi bambu dan bergaun hitam.
Di tangannya terdapat beberapa kuntum bunga melati yang terikat oleh seutas kawat besi.
Bunga melati yang harum tentu indah, dan begitu pula tangan penjualnya.
Ma Ji-liong tiba-tiba teringat, ketika mereka berada di jalan sempit itu, Toa-hoan telah pergi bersamaan dengan kedatangan seorang perempuan penjual bunga yang misterius.
Apakah yang akan dilakukan perempuan itu di sini?
"Apakah Tuan suka bunga melati?"
Tiba-tiba dia meletakkan sekuntum melati di antara cakar rajawali Coat-taysu.
Seperti anak panah yang dipentang kencang pada sebuah busur, tangan ini mengandung tenaga yang akan terlepas saat bersentuhan.
Dan jika dilepaskan, bahkan batu karang pun akan hancur karenanya.
Yang mengejutkan, ternyata bunga melati itu tidak hancur.
Malah sepertinya bunga melati itu yang menusuk tangannya.
Dan rasa sakitnya pun pasti telah menusuk hatinya, karena setelah mendapatkan bunga itu, dia lalu melompat ke udara dan -seperti anak panah -melesat keluar lewat jendela.
Siapakah gadis penjual bunga ini?
Kekuatan misterius macam apa yang dimiliki bunga melati itu?
Penjual bunga itu membalikkan badan dan berjalan menghampiri Giok-tojin.
"Tuan suka bunga melati?"
Dia mengambil sekuntum bunga lagi.
"Inilah sekuntum bunga melati yang harum dan indah. Tuan harus membelinya sekarang juga. Kalau tidak, Tuan pasti akan menyesalinya nanti."
"Aku ingin membelinya. Berapa harganya?"
Giok-tojin bertanya.
"Bungaku berharga pantas. Aku tidak pernah berlaku curang."
Suaranya terdengar jernih dan lembut.
"Satu nyawa.... untuk sekuntum bunga melati."
Giok-tojin tersenyum dipaksa. Lalu dia berkata.
"Aku tidak sanggup."
Tiba-tiba dia melesat mundur, tubuhnya meluncur lewat lubang di tembok seperti sebatang anak panah yang lepas dari busurnya.
Cia-go Hwesio dan Pang Tio-hoan juga ikut pergi dengan kecepatan yang sama.
Sambil menghela napas, penjual bunga itu berkata.
"Bunga melati yang begini indah, kenapa tidak ada yang mau membelinya?"
Ma Ji-liong tiba-tiba berkata.
"Mereka tidak mau, tapi aku mau."
Perempuan penjual bunga itu tidak berpaling. Dia hanya berkata.
"Kau cuma punya satu nyawa. Kau pun tidak akan sanggup."
"Bagaimana jika aku benar-benar ingin membelinya?"
"Aku tidak jual."
"Kenapa tidak?"
"Karena aku tidak menginginkan nyawamu."
"Aku baru saja mendapatkan kembali nyawaku."
"Karena kau baru saja mendapatkannya kembali, seharusnya kau benar-benar menghargainya."
Sambil bicara, dia pun mulai melangkah.
Ma Ji-liong lalu membuntutinya.
Dan mereka berdua pun berjalan keluar dari rumah itu dan masuk ke jalan raya yang gelap di luar sana.
Bab 13.
Gadis Penjual Bunga Malam yang dingin, tidak berawan dan penuh bintang.
Di bawah sinar bintang, punggung gadis penjual bunga itu terasa sudah dikenalnya, seolah-olah gadis itu adalah kenalan lamanya.
Dia tidak menggunakan ginkang, dia pun tidak lari.
Tapi Ma Ji-liong tetap tidak mampu menyusulnya.
Maka dia lalu menggunakan Thian-ma-hing-khong yang termasyur di dunia Kang-ouw.
Tapi tibatiba gadis itu sudah menjauh 50-60 kaki.
Dia berusaha menyusulnya lagi, tapi gadis itu malah semakin jauh di depan sana.
Ketika dia menurunkan kecepatannya, maka langkah kaki gadis itu pun melambat.
Ketika dia berhenti, maka gadis itu pun berhenti.
Agaknya, meskipun gadis itu tidak mau dia menyusulnya, ia pun sebenarnya tidak mau meninggalkan dirinya jauh-jauh di belakang.
Mendadak Ma Ji-liong bertanya.
"Kau tidak membiarkan aku melihatmu karena kau tidak ingin aku tahu siapa kau, benarkah begitu?"
Dia tidak menjawab. Dia pun tidak membantah. Ma Ji-liong tertawa kecil.
"Sayangnya aku sudah tahu siapa kau."
"Tentu saja kau seharusnya sudah tahu."
Dia tertawa cekikikan dan berkata.
"Karena kau tentu tidak begitu bodoh."
Tentu saja gadis itu adalah Toa-hoan yang tadinya telah lari karena takut pada seorang gadis penjual bunga.
Saat ini dia telah mengenakan baju gadis penjual bunga itu, bahkan keranjang bunga di tangannya juga milik gadis itu.
Tapi di manakah penjual bunga yang misterius itu?
Ma Ji-liong tidak memahami gadis ini.
Kehidupan Toa-hoan, kungfunya dan asal-usulnya, semua terlalu misterius.
Bagaimana dia dulu bisa terkubur di dalam es dan salju?
Coat-taysu dan Gioktojin termasuk jago-jago terbaik di dalam Bulim, tapi kenapa mereka begitu takut padanya?
Tidak seorang pun yang bisa menjelaskan kejadian yang terjadi di sekitarnya ini.
Semakin lama dia bergaul dengan gadis ini, sebaliknya dia malah semakin tidak bisa memahaminya.
Dan dia tentu saja tidak bisa pergi.
Setiap kali gadis ini muncul, sesuatu yang misterius tentu akan terjadi.
Kali ini apa lagi yang akan diperbuat olehnya?
Tipuan licik apa lagi yang ada di dalam benaknya?
Ma Ji-liong benar-benar ingin tahu.
Tentunya Toa-hoan punya tipuan lain.
Dengan mata yang bersinar-sinar, tiba-tiba dia berkata.
"Aku sudah tahu bahwa kau adalah orang yang pemberani, maka kali ini aku akan membawamu ke sebuah tempat yang aneh."
"Untuk apa?"
"Untuk bertemu dengan seseorang."
Toa-hoan sengaja bersikap misterius.
"Seorang perempuan yang amat aneh."
"Pernahkah aku bertemu dengannya?"
"Mungkin pernah satu kali."
"Maksudmu gadis penjual bunga itu?"
"Kau memang tidak bodoh."
Lalu Toa-hoan meliriknya dan bertanya.
"Kau berani pergi menemuinya?"
Ma Ji-liong tentu saja berani. Meskipun gadis penjual bunga itu adalah makhluk pemakan manusia, dia tetap ingin bertemu dengannya. Sambil mengedipkan mata penuh arti, Toa-hoan bertanya lagi.
"Kau tidak akan menyesal? Setelah kau bertemu dengannya dan apa pun yang terjadi, kau sama sekali tidak akan menyesalinya?"
Jawaban Ma Ji-liong sudah pasti.
"Aku sudah banyak mengalami hal yang patut disesalkan. Apa artinya kalau ditambah dengan satu lagi?"
Toa-hoan tertawa dan berkata.
"Tidak ada artinya."
Suara tawanya terdengar nyaring seperti bunyi lonceng.
"Memang tidak ada artinya."
Maka mereka pun berangkat.
Dalam perjalanan, Ma Ji-liong terus bertanya-tanya tentang tempat tujuan mereka.
Dia memikirkan beberapa tempat yang aneh, tapi dia tidak pernah menduga kalau gadis itu ternyata membawanya ke kantor pengadilan Xiangcheng.
Meskipun hakim di sini hanya berpangkat rendah, tempat ini tetap saja kantor pengadilan dan ukurannya jauh lebih besar daripada yang dulu dibayangkan oleh Ma Ji-liong.
Jalan masuknya sudah ditutup, sehingga mereka pun masuk lewat pintu samping.
Inilah pertama kalinya Ma Ji-liong memasuki kantor pengadilan.
Di atas kepalanya ada sebuah genderang dan di aula utama tergantung sebatang tongkat bambu untuk menghukum terdakwa.
Di situ juga dipertunjukkan segala jenis alat siksaan.
Semua yang ada di sini membuatnya merasa ganjil dan aneh.
Di sana juga ada prajurit-prajurit bertopi merah.
Walaupun hakim telah keluar dari aula utama itu, di sana tetap ada prajurit-prajurit yang bertugas jaga, dua orang di tiap pintu.
Tapi prajurit-prajurit ini seperti buta semua matanya, tidak perduli akan kedatangan mereka.
Prajurit-prajurit itu pasti tidak buta.
Dia dan Toa-hoan jelas-jelas berjalan melewati mereka.
Kenapa mereka tidak melihatnya?
Apakah Toa-hoan menggunakan semacam ilmu sihir?
Apakah dia bisa menyembunyikan sosok mereka dari pandangan para prajurit itu?
Di belakang aula utama itu ada sebuah halaman yang suram, di sana juga ada dua orang prajurit bertopi merah yang bertugas jaga.
Tiba-tiba Ma Ji-liong berjalan menghampiri salah seorang dari mereka dan berkata.
"Hei, kau tidak melihatku?"
Prajurit itu tidak perduli, bahkan tidak meliriknya. Dia malah bertanya pada temannya.
"Apakah barusan ada orang yang bicara?"
"Tidak."
"Apakah kau melihat seseorang?"
"Tidak, bahkan bayangan setan pun tidak ada."
Tentu saja Ma Ji-liong merasa heran.
Jika bukan Toa-hoan yang membawanya datang ke halaman ini, dia tentu akan mencoba untuk mencubit mereka.
Apakah mereka akan kesakitan?
Sambil tertawa cekikikan, Toa-hoan berkata.
"Meskipun kau berjungkir-balik di depan mereka, mereka tidak akan melihatmu."
"Kenapa begitu?"
Tiba-tiba gadis itu merubah pokok pembicaraan dan berkata.
"Apakah kau tahu tempat apa ini?"
Ma Ji-liong tidak tahu, tapi dia sudah bisa merasakan hawa yang menyeramkan di tempat itu.
"Ini adalah kamar mayat,"
Kata Toa-hoan.
"Jika ada orang yang terbunuh di daerah ini, mayat mereka akan dibawa ke sini untuk diotopsi."
Ma Ji-liong tidak melihat jenazah, juga tidak mencium bau darah yang menyengat, tapi perutnya sudah mulai terasa tidak enak.
Di tempat seperti ini, tidak ada orang yang bisa merasa tenang.
Kenapa Toa-hoan membawanya ke sini?
Di halaman itu ada dua baris bangunan, tanpa lampu maupun jendela.
Tapi dari kamar terakhir di sebelah kanan, meskipun pintunya tertutup, sepertinya ada secercah cahaya yang merembes keluar dari retakan pintu.
Dan Toan-hoan berjalan memasuki pintu itu.
Ma Ji-liong tak tahan lagi dan bertanya.
"Apakah kau membawaku ke sini untuk bertemu dengan seseorang di kamar ini?"
"Kenapa kau tidak masuk dan melihat sendiri?"
Dan gadis itu mendorong pintu hingga terbuka.
Di kamar itu memang ada cahaya, dan orang bisa melihat sebuah lampu yang redup dan sebuah ranjang yang besar.
Di atas tempat tidur ada selembar kain putih yang menutupi sesosok tubuh di bawahnya.
Walaupun mukanya tertutup kain, tapi kakinya tidak.
Yang pertama dilihat Ma Ji-liong adalah kaki itu, sepasang kaki yang seputih salju dan betis yang indah.
Jari-jari kakinya tampak lembut dan indah.
Siapa pun yang melihat sepasang kaki ini tentu segera menyadari bahwa ini adalah sepasang kaki wanita, yang tentunya milik seorang perempuan yang cantik jelita.
Ma Ji-liong sekarang teringat bahwa dia belum sempat melihat wajah gadis penjual bunga tersebut di dalam gang gelap itu.
Tak tahan lagi dia pun menghela napas.
"Apakah dia sudah mati?"
"Tampaknya begitu."
"Apakah kau yang membunuhnya?"
Toa-hoan menjawab dengan acuh tak acuh.
"Dia selalu memandang rendah pada diriku, dia mengira bahwa dia lebih baik dariku dan bisa mengalahkanku kapan saja. Asal melihatnya, aku pasti lari. Itulah yang membuat dirinya menganggap enteng padaku."
Meremehkan musuh selalu merupakan kesalahan yang tak bisa dimaafkan. Toa-hoan berkata dengan tenang.
"Dia memandang rendah pada diriku, itulah sebabnya aku masih bisa berdiri tegak sementara dia sudah ambruk. Bagiku, dia sama saja sudah mati."
Ma Ji-liong terpaksa bertanya sekali lagi.
"Kau bilang, dia sama saja sudah mati?"
"Hmm."
"Jadi dia sebenarnya belum mati?"
"Kenapa kau tidak melihat sendiri?"
Gadis itu tersenyum misterius.
"Lihatlah baik-baik."
Agar bisa dilihat, lembaran kain itu pun harus disingkap.
Ma Ji-liong lalu menyingkapnya dan segera melepaskannya kembali secara mendadak, wajahnya tiba-tiba menjadi merah dan jantungnya berdebar-debar semakin keras.
Walaupun dia belum melihat dengan jelas, dia tidak berani melihat lagi.
Di balik kain itu adalah tubuh seorang gadis yang telanjang bulat sama sekali.
Dia belum pernah melihat seorang perempuan dengan tubuh yang seindah dan wajah yang secantik itu.
Jika perempuan seperti dia benar-benar sudah mati, hal ini benar-benar patut disayangkan.
Toa-hoan bertanya lagi.
"Lihatlah. Apakah dia sudah mati?"
Ma Ji-liong tidak tahu. Toa-hoan berkata.
"Kau cuma melihatnya sepintas, tentu saja kau tidak tahu apakah dia sudah mati atau tidak. Tapi kau tentu bisa melihat bahwa perempuan secantik dia itu adalah langka."
Ma Ji-liong mengakui hal itu. Toa-hoan berkata.
"Kalau begitu, seharusnya kau tahu bahwa dia masih hidup."
"Kenapa begitu?"
Ma Ji-liong bertanya. Sambil menghela napas, Toa-hoan berkata.
"Karena dia benar-benar terlalu cantik. Aku tidak tega membiarkan dia mati. Meskipun aku sangat ingin membunuhnya, tapi aku tidak tega."
Ma Ji-liong menghela napas. Toa-hoan bertanya.
"Kenapa kau menghela napas?"
Ma Ji-liong berkata.
"Bagaimana kau bisa menemukan dia?"
Sambil menghela napas sekali lagi, Ma Ji-liong lalu meneruskan.
"Aku sudah melihatnya, dan aku yakin bahwa dia masih hidup. Tapi aku malah semakin bingung."
Toa-hoan bertanya.
"Bingung kenapa?"
Ma Ji-liong berkata.
"Apakah aku mengenalnya?"
"Tidak,"
Jawab Toa-hoan. Ma Ji-liong bertanya.
"Lalu apa hubungan dia denganku?"
"Sekarang memang belum ada hubungannya,"
Jawab Toa-hoan. Ma Ji-liong berkata.
"Lalu kenapa kau membawaku untuk bertemu dengannya?"
Toa-hoan berkata.
"Karena meskipun kalian berdua belum ada hubungannya, tapi nanti pasti ada."
Ma Ji-liong bertanya.
"Bagaimana bisa begitu?"
Senyuman Toa-hoan menjadi makin misterius. Dia berkata.
"Ada hal-hal yang belum bisa kuceritakan kepadamu saat ini, tapi aku berjanji, apa pun yang kuingin kau lakukan, kau tidak akan menyesalinya."
Ma Ji-liong bertanya.
"Apa yang sekarang sudah kau rencanakan untukku?"
"Aku hendak membawamu untuk bertemu seorang lagi,"
Kata Toa-hoan. Ma Ji-liong bertanya.
"Siapa dia?"
Toa-hoan menjawab.
"Seorang laki-laki yang amat menyukaimu, dan agaknya kau pun menyukainya."
Ma Ji-liong bertanya.
"Bagaimana kau tahu kalau aku menyukainya?"
Toa-hoan menjelaskan.
"Asalkan orang berjumpa dengannya, sangat sulit bagi orang itu untuk tidak menyukainya."
Segera Ma Ji-liong teringat pada seorang laki-laki yang tidak sulit untuk disukai orang lain dan dia pun berkata.
"Kanglam Ji Ngo?"
Toa-hoan berkata.
"Siapa lagi kalau bukan dia?"
Ma Ji-liong bertanya.
"Dia juga ada di sini?"
"Ada di sisi sana,"
Jawab Toa-hoan. Ma Ji-liong bertanya.
"Apa yang sedang dia lakukan?"
Toa-hoan tertawa dan berkata.
"Seumur hidupmu, kau tidak akan bisa menebak apa yang sedang dia kerjakan."
Bab 14.
Tiada Ampunan Pertama kalinya Ma Ji-liong melihat Ji Ngo, Ji Ngo sedang memasak makanan.
Banyak orang yang memasak setiap harinya di dunia ini, jadi memasak bukanlah hal yang aneh.
Tapi bila Kanglam Ji Ngo yang memasak di dapur, orang-orang pasti akan merasa kagum.
Tapi tempat ini adalah kamar mayat, bukan rumah makan atau sebuah dapur.
"Jika kau bisa menebak apa yang sedang dia lakukan, aku akan menghormatimu."
"Aku tidak ingin kau menghormatiku. Aku tidak bisa menebak."
"Dia sedang menyisir rambut."
Menyisir rambut pun bukanlah hal yang aneh.
Kanglam Ji Ngo tentu saja menyisir rambutnya sendiri seperti yang dilakukan orang lain.
Tapi ternyata dia bukan sedang menyisir rambutnya sendiri.
Dia sedang menyisir rambut orang lain.
Dia sedang menyisir rambut seorang perempuan tua yang hampir semua giginya sudah ompong.
Di sebuah kamar di seberang sana, entah sejak kapan tahu-tahu sudah menyala sebuah lampu.
Seorang perempuan tua sedang duduk di bawah cahaya lampu.
Dia memakai baju merah, kelihatan seperti seorang pengantin yang mengenakan gaun sulam merah.
Salah satu kakinya sedang diangkat, dan dia mengenakan sepasang sepatu sutera berwarna merah cerah.
Wajahnya penuh dengan kerutan.
Jumlah giginya juga lebih sedikit daripada seorang bocah berumur dua tahun.
Tapi rambutnya masih hitam mengkilap, persis seperti sutera hitam.
Orang akan tercengang bila melihat Kanglam Ji Ngo sedang menyisir rambut seorang perempuan tua seperti ini.
Gerakan menyisirnya sama seperti gerakan waktu dia sedang menggoreng makanan, indah dan mempesona.
Tidak ada bedanya apakah dia sedang memegang sudip atau sisir.
Bagaimana pun juga dia adalah Kanglam Ji Ngo, Kanglam Ji Ngo yang tiada duanya itu.
Meskipun Ma Ji-liong tidak bisa menebak kenapa dia menyisir rambut perempuan tua itu, atau kenapa Toa-hoan membawanya untuk melihat hal ini, dia mulai merasa heran.
Agaknya Ji Ngo tidak melihat kedatangan mereka.
Apa pun yang dia lakukan, dia selalu melakukannya dengan hati dan jiwanya.
Itulah sebabnya dia melakukannya lebih baik daripada orang lain.
Saat itu dia menggunakan sebuah jepit rambut yang hitam dan panjang untuk membuat sanggul rambut yang rapi buat perempuan itu, dan dia pun mengagumi karyanya sendiri sembari melakukannya.
Memang itulah sebuah karya yang bagus, bahkan Ma Ji-liong pun harus mengakuinya.
Perempuan tua itu menjadi tampak lebih muda puluhan tahun.
Ji Ngo menutup matanya sebentar, dan ekspresi wajahnya seperti orang yang sedang dibelai oleh kekasihnya.
"Kau benar-benar tidak ada tandingan. Benar-benar tidak ada orang yang bisa dibandingkan denganmu."
Suara perempuan itu terdengar parau, tapi orang masih bisa merasakan betapa merdu dan lembutnya suara itu di masa mudanya dulu. Dia menghela napas dengan perlahan dan berkata.
"Jika ilmu kungfumu bisa setengah saja dari keahlian menata rambutmu, kau pasti akan menaklukkan dunia."
Ji Ngo tergelak.
"Untunglah, aku tentu saja tidak ingin menaklukkan dunia."
"Kenapa tidak?"
"Karena jika seseorang berhasil menaklukkan dunia, hari-harinya tentu akan menjadi sangat membosankan."
Perempuan tua itu tertawa terbahak-bahak. Lalu dia berkata.
"Aku suka padamu. Aku benar-benar menyukaimu. Meskipun kau tidak menata rambutku, kurasa aku tetap akan melakukannya untukmu."
Siapakah perempuan tua ini? Ji Ngo ingin dia melakukan apa? Saat keinginan-tahu Ma Ji-liong semakin membesar, Toa-hoan malah menariknya keluar.
"Sekarang kau tentu sedang bingung. Kau tidak tahu apa yang hendak kulakukan."
"Apakah rencanamu? Siapa lagi yang akan kita temui kali ini?"
Toa-hoan berkata.
"Kita akan melihat 'orang dalam lukisan'."
Lalu dia meneruskan.
"Meskipun kau seratus kali lebih cerdik daripada sekarang, kau pasti tidak akan bisa menebak identitasnya."
Sebuah lampu sedang menyala di kamar sebelah, terlihat sebuah lukisan di atas dinding.
Itulah lukisan seorang laki-laki setengah baya yang tampaknya amat jujur.
Ma Ji-liong belum pernah melihat orang ini.
Atau kalau pun pernah, dia pasti tidak ingat lagi.
Orang seperti ini bukannya tidak berharga untuk diingat, tapi dia memang tidak akan meninggalkan kesan yang mendalam di hati orang lain.
"Dia bermarga Thio. Namanya Thio Eng-hoat. Dia adalah orang yang amat jujur dan baik hati. Dia membuka sebuah toko kelontong kecil di kota, bersama seorang pembantu yang hampir sama jujurnya dengan dia sendiri."
Toa-hoan menjelaskan tentang orang dalam lukisan itu.
"Dia terlahir pada tahun Babi, dan tahun ini dia berusia empat puluh empat tahun. Ketika berumur sembilan belas tahun, dia menikah dengan seorang perempuan bernama Ong Kui-ci. Perempuan itu pemarah dan jatuh sakit karena dia tidak bisa punya anak. Semakin timbul amarahnya, maka makin menjadi sakitnya. Terakhir sakitnya menjadi begitu parah, sehingga dia harus berbaring saja di tempat tidur dan si tua Thio yang harus memberinya makan. Setelah sakit yang teramat parah ini, perangainya yang buruk malah semakin menjadi-jadi. Tidak satu pun tetangga yang tahan mendengar ocehannya."
Tiba-tiba dia berhenti dan bertanya pada Ma Ji-liong.
"Apakah kau mendengarkan dengan jelas?"
Ma Ji-long memang mendengar uraiannya dengan jelas, tapi dia tetap merasa bingung.
Dia tidak bisa membayangkan kenapa Toa-hoan membawanya untuk melihat lukisan ini dan menjelaskan tentang laki-laki dalam lukisan itu secara begitu terperinci.
Tentu saja dia pun akhirnya bertanya.
"Jadi laki-laki ini ada hubungannya denganku?"
"Begitulah."
"Bagaimana mungkin dia punya hubungan denganku?"
"Karena orang ini adalah kau."
Agaknya Toa-hoan tidak sedang bergurau.
"Kau adalah dia, dan dia adalah kau."
Ma Ji-liong merasa sangat lucu, begitu lucunya sehingga dia hampir bergulingan di lantai sambil tertawa sampai perutnya sakit.
Sayangnya tidak ada suara tawa yang keluar.
Karena dia tahu bahwa Toa-hoan tidak sedang bergurau.
Dia pun tidak gila.
Maka dia pun bertanya.
"Orang bernama Thio Eng-hoat ini adalah aku?"
"Tepat sekali."
"Sedikit pun dia tidak mirip denganku."
"Tapi kau akan segera mirip dengannya, sangat mirip dengannya. Bahkan aku bisa mengatakan, persis seperti dia."
"Sayangnya aku tidak bisa merubah diriku sendiri."
"Kau tidak bisa, tapi orang lain bisa melakukannya untukmu."
Toa-hoan tiba-tiba bertanya.
"Tahukah kau kenapa Ji Ngo menata rambut perempuan muda itu?"
Ma Ji-liong berkata.
"Perempuan itu tidak muda lagi. Tampaknya dia sudah tua."
Anehnya Toa-hoan tidak setuju dengannya.
"Dia tidak tua. Dia perempuan muda. Ada orang yang bisa hidup sampai berusia 180 tahun. Jadi dia masih terhitung muda."
"Apakah dia orang seperti itu?"
"Benar."
Toa-hoan meneruskan.
"Jika bukan begitu, takkan ada orang seperti itu di dunia ini."
"Kenapa bisa demikian?"
"Karena dia bermarga Giok (1)."
Ma Ji-liong akhirnya teringat pada seseorang.
"Apakah dia ada hubungannya dengan Giok-hujin yang termasyur sejak 60 tahun lalu itu?"
Toa-hoan menjawab.
"Dialah Giok-hujin. Dialah Giok-jiu Ling-long, Giok Ling-long." -----(1) Giok = batu giok, kemala Bab 15. Ling-long-giok-jiu Giok Ling-long Mulai bab 15 ini, ceritanya berasal dari buku yang diterjemahkan oleh Gan K.H., yaitu Harkat Pendekar. Kontributor. adis (dewira). -------------------------------------------------------------------------------Enam puluh tahun yang lalu, di dunia kangouw ada tiga pasang tangan manusia yang terkenal dan dikagumi, yaitu Bu-ceng-thiat-jiu, Sin-tho-biau-jiu dan Ling-long-giok-jiu. Thiat-jiu-bu-ceng (Tangan Besi Tidak Kenal Ampun), setiap beroperasi tidak ada korban yang hidup meskipun hanya sekejap saja. Biau-jiu-sin-tho (Maling Sakti Bertangan Lincah), barang apa saja yang tidak mungkin dicuri orang lain, dengan mudah dapat diambilnya. Giok-jiu-ling-long (Tangan Kumala Ahli Operasi), tidak ada orang tahu, sepasang tangan ini dapat melakukan apa saja yang sebetulnya tidak masuk akal, kenyataannya ia justru dapat menciptakan sesuatu yang aneh dan ganjil, namun nyata. Dalam jangka setengah jam, seseorang bisa dirubah bentuk wajahnya menjadi orang lain oleh keprigelan kedua tangannya itu. Ilmu tata rias dan ilmu operasi yang dikuasainya sedemikian bagus dan sempurna, kecuali Toa-sinthong Biau-hoat-thian-ong dari Persia, tiada orang kedua di Tionggoan yang dapat menandinginya. ---------------00000--------------------Sekarang Ma Ji-liong paham.
"Ji Ngo mau menyisir rambutnya karena hendak meminta bantuannya memproses diriku menjadi Thio Eng-hoat, begitu?"
"Betul."
"Kalian memilih tempat ini karena kaum persilatan tiada yang berkeliaran di sini?"
"Betul."
"Para petugas itu pura-pura bisu, tuli, dan buta karena mereka memerlukan bantuan Ji Ngo, maka mereka memberi kesempatan kepadanya?"
"Betul, memang demikian."
"Aku difitnah sebagai pembunuh kejam, sudah kepepet, dan tidak bisa mungkir, maka kalian berdaya upaya untuk menyelamatkan diriku?"
"Tidak benar,"
Tukas Toa-hoan tegas, suaranya berat dan serius.
"Ji Ngo percaya kepadamu, prihatin akan nasibmu, aku pun mempercayai dirimu, kami yakin kau difitnah, dijadikan kambing hitam. Kami juga sadar, watakmu angkuh, tidak gampang membujukmu merendahkan diri menjadi majikan sebuah toko serba ada yang tiada artinya."
Lama Ma Ji-liong menepekur tanpa suara. Darahnya mendidih, tenggorokannya tersumbat, agak lama kemudian dia baru bertanya dengan serak.
"Kenapa kau percaya kepadaku?"
"Seseorang pembunuh di kala buron, jiwa sendiri susah diselamatkan, mana mungkin mau menyelamatkan jiwa orang lain yang terpendam di bawah salju, menolong seorang gadis jelek yang hampir mati kaku kedinginan. Maka aku percaya di balik persoalan ini pasti ada lika-liku yang patut diselidiki."
Ma Ji-liong tidak bicara, perasaannya sukar dilukiskan dengan rangkaian kata. Toa-hoan berkata pula.
"Kau harus percaya, keadilan dan kebenaran masih tegak di dalam dunia, kejahatan harus ditumpas, muslihat keji juga harus dibongkar, akan datang saatnya fitnah atas dirimu akan terungkap, hal ini hanya soal waktu saja."
Perlahan ia menggenggam tangan Ma Jiliong, lalu menambahkan.
"Yang penting kau yakin, demi membongkar kejahatan ini, sudilah kau merendahkan derajatmu sementara."
Ma Ji-liong masih termenung beberapa kejap, mendadak ia bertanya.
"Di mana letak toko serba ada itu?"
"Di sebuah gang sempit di kota sebelah barat, langgananmu adalah penduduk sekitarnya, mereka adalah rakyat jelata dari kalangan sedang dan rendah, semua berhati baik dan sederhana, keluargakeluarga yang cukup untuk sesuap nasi setiap hari, penduduk di sana jarang mau mencampuri urusan orang lain,"
Toa-hoan menjelaskan, kemudian sambungnya lebih lanjut.
"Pegawaimu she Thio, orang lain memanggilnya Lo-thio, kadang ia mencuri satu dua cawan arak di kamarnya, tetapi pegawai yang dapat dipercaya penuh."
"Apakah ia tak curiga bila majikannya ganti orang lain?"
"Mata Thio-lausit sudah lamur, kupingnya juga agak tuli."
"Umpama Lo-thio tidak mengenal perbedaanku, bagaimana dengan orang lain?"
"Orang lain?"
Toa-hoan balas bertanya sambil tertawa geli.
"Maksudmu bininya yang sakit-sakitan itu?"
Ji-liong tertawa getir, tanyanya pula.
"Orang macam apakah dia?"
Toa-hoan tertawa, katanya.
"Sebetulnya kau sudah pernah melihat dan mengenalnya."
"Aku pernah melihat dan mengenalnya? Kapan aku pernah melihatnya?"
"Barusan bukankah kau sudah melihatnya?"
Ma Ji-liong melenggong.
"Jadi gadis yang hampir mati tadi adalah...... adalah......"
Mendadak Jiliong sadar salah omong, cepat ia menambahkan.
"Apakah gadis tadi akan dijadikan isteri Thio Eng-hoat?"
"Sebetulnya bukan, tapi tak lama lagi akan diproses menjadi isteri Thio Eng-hoat, demikian pula dirimu, nanti setelah dioperasi akan menjadi Thio Eng-hoat tulen."
"Siapakah dia sebetulnya?"
Toa-hoan terpekur, agaknya sulit memberi penjelasan, sikapnya jelas tak ingin memberi keterangan. Tapi Ma Ji-liong mendesak.
"Orang macam apakah dia? Urusan sudah berlarut sejauh ini, kau masih main rahasia terhadapku?"
Toa-hoan menarik napas panjang, katanya.
"Ya, kalau aku masih main rahasia, rasanya memang keterlaluan."
Ma Ji-liong diam.
"Ia she Cia bernama Giok-lun, lengkapnya Cia Giok-lun,"
Demikian Toa-hoan menerangkan.
"Ya, aku sudah tahu."
"Dia seorang perempuan."
"Memangnya aku tidak bisa membedakan laki-laki atau perempuan?"
Toa-hoan tertawa getir, katanya.
"Kau pasti tahu aku sengaja mengulur waktu. Terus terang saja, aku tidak tahu betapa banyak urusan yang harus kuterangkan kepadamu."
"Ya, berapa banyak yang akan kau beritahu kepadaku?"
Setelah termenung sejenak, Toa-hoan berkeputusan.
"Baiklah, biar kujelaskan kepadamu. Tahun ini dia berusia 19 tahun, mungkin belum pernah menyentuh atau disentuh laki-laki."
"Apa betul berusia 19 tahun?"
"Memangnya kau kira dia sudah nenek-nenek?"
"Kalau betul berusia 19 tahun, padahal ilmu silatnya setinggi itu, tembok ditabraknya ambrol, kekuatan sedahsyat itu, laki-laki berusia 91 tahun juga belum tentu mampu melakukannya!"
"Ilmu silatku tidak asor dibandingkan dia, apa kau kira aku sudah tua?"
Terkancing mulut Ma Ji-liong. Umpama dirinya goblok juga takkan berani mengatakan gadis jelek ini sudah tua. Toa-hoan berkata.
"Ilmu silat tidak diyakinkan secara serampangan, tinggi rendahnya lwekang seorang ahli silat tidak ada sangkut pautnya dengan usia dan besar kecilnya umur."
"Aku mengerti."
"Ilmu silatnya memang tinggi, para enghiong dan pendekar yang kau kenal di zaman ini, yakin tidak genap sepuluh orang yang mampu mengalahkan dia. Ia punya seorang guru yang baik, guru jempolan, lihai, sejak keluar dari rahim ibunya sudah belajar dan latihan silat."
"Siapakah gurunya?"
Tanya Ma Ji-liong.
"Aku hanya berjanji menjelaskan perihal pribadinya, bukan tentang gurunya."
"Baiklah, aku tidak tanya gurunya."
"Tabiat nona itu tidak baik, maklum nona pingitan yang disayang, dalam segala hal ingin menang dan minta diladeni secara berlebihan, jika mendadak ia sadar dan tahu dirinya menjadi bini seorang pemilik toko serba ada yang kecil di kampung jorok di pinggir kota, mungkin dia bisa jadi gila."
"Celaka kalau gilanya kumat, pemilik toko serba ada itu mungkin bisa digorok lehernya. Hal ini perlu kuperhatikan karena pemilik toko serba ada itu adalah diriku."
Toa-hoan tertawa manis, katanya lembut.
"Tentang hal itu tak perlu kuatir, dia tidak akan menggorok lehermu."
"Bagaimana kau tahu dia tidak akan berlaku kasar terhadapku?"
"Ingat, dia sedang sakit, makin lama penyakitnya makin parah hingga sepanjang hari rebah di ranjang, berdiri pun tidak bisa."
Jago silat kosen yang mampu menjebol tembok dengan langkah seenaknya, bagaimana mungkin mendadak jatuh sakit?
Ma Ji-liong bukan laki-laki yang suka rewel, tidak suka bertanya, hatinya sudah membayangkan bagaimana datangnya penyakit itu.
Kepandaian Toa-hoan cukup mampu membuat seseorang jatuh sakit dan itu bukan pekerjaan yang sukar.
Ma Ji-ling berkata.
"Kelihatannya dia tidak mirip bini seorang pemilik toko."
"Saat ini tidak mirip, sebentar lagi akan persis, kutanggung dia akan berubah persis bentuk aslinya."
"Apa betul Giok Ling-long punya kemampuan selihai itu?"
"Betapa besar kemahirannya, boleh kau buktikan sendiri."
Ma Ji-liong menghela napas, katanya.
"Sebetulnya aku sih tidak ingin melihatnya."
"Bila dia sadar nanti, dirinya sudah rebah di ranjang dalam kamar besar yang terletak di belakang toko serba ada itu."
"Dan aku?"
"Sebagai suami, kau harus merawat dan menjaganya di pinggir ranjang, kalian adalah suami isteri yang hidup rukun belasan tahun lamanya."
Ji-liong menyengir kecut, katanya.
"Wah, bisa geger dan dia mungkin akan mencaci maki diriku."
"Sudah pasti dia akan ribut, kau harus bersikap lebih sayang dan prihatin karena kesehatan isterimu makin buruk. Binimu itu she Ong bernama Kwi-ci. Sudah 18 tahun kalian menikah, tanpa dikaruniai anak seorang pun. Apa pun yang ia katakan, keributan apa saja yang ia lakukan, kau harus sabar, menjaga, dan meladeninya dengan penuh pengertian."
"Bila aku membandel, berkata bahwa ia adalah isteriku sejak 18 tahun lalu, ia pasti bingung dan heran, bertanya-tanya dalam hati, siapa dia sebenarnya."
"Syukur kau sudah mengerti."
"Masih ada satu hal yang tidak kumengerti."
"Coba jelaskan."
"Aku tidak kenal siapa dia, tidak pernah bermusuhan, kenapa dia harus kuperlakukan demikian?"
"Karena kejadian ini amat berguna bagi dirimu, juga bermanfaat untuknya, dua pihak sama-sama mendapatkan keuntungan. Kurasa hanya dengan cara begini kau bisa mencuci bersih fitnah itu, membongkar muslihat keji ini,"
Sikap Toa-hoan menjadi serius, nada perkataannya tegas dan tulus.
"Aku tahu sebagai pemuda jumawa, perbuatan yang merugikan orang lain ini tak sudi kau lakukan, kali ini anggaplah kau bekerja karena aku, demi diriku. Aku percaya padamu, maka paling sedikit kau juga harus percaya kepadaku. Lakukan apa yang telah kami atur dan rencanakan ini."
Ma Ji-liong tidak bicara lagi, dia memang jumawa, tidak mau berhutang budi kepada orang lain.
Tentang perbuatannya ini, setelah kejadian usai, apakah fitnah terhadap dirinya dapat dicuci bersih, hakikatnya tidak terpikir lagi olehnya.
Apa yang dilakukan Ma Ji-liong biasanya memang bukan untuk kepentingan pribadinya.
Umpama ada orang bertanya kepadanya.
"Orang macam apakah kau ini?"
Jawabannya pasti berbeda dengan sebelum Ji-liong mengalami musibah.
Setiap orang yang pernah mengalami siksa derita dan gemblengan hidup yang nyata, baru akan mengenal dirinya sendiri, maka ia bertanya.
"Sekarang apa yang harus kulakukan?"
"Kau harus minum. Sekarang akan kusuguh arak kepadamu,"
Toa-hoan tertawa lebar.
"Ji Ngo di sini, kau juga di sini. Kalau kalian tidak diberi kesempatan minum sepuas-puasnya, bukankah aku ini tidak tahu diri?" ---------------000000------------Di belakang kedua deret rumah itu terdapat rumah besar tunggal yang letaknya agak jauh. Wuwungan rumah berbentuk serong, tembok berwarna kelabu gelap. Siapa pun yang berada di tempat ini akan merasa seram dan bergidik. Dilihat dari luar, dari bentuknya, orang akan membayangkan bahwa rumah besar ini adalah gudang mayat. Di dalam gedung inilah para petugas membedah mayat yang terbunuh, maka orang akan membayangkan di sana terdapat berbagai jenis alat dan perkakas, berbagai jenis pisau, juga ada ganco yang karatan, jarum, benang, dan masih banyak lagi benda-benda yang tak terpikir oleh orang. Namun bila sudah masuk dan berada di dalam rumah itu, jalan pikiran akan berbalik berubah. Di luar dugaan, rumah ini amat bersih, luas dan bercahaya, dinding bagian dalam putih bersih, jelas tidak lama baru dikapur. Meja dilembari taplak putih. Di meja ini tersedia enam menu masakan dan enam guci arak ukuran sedang. Empat guci diantaranya tersegel rapat, isinya adalah Sian-yang, dua guci yang lain adalah Li-ji-ang yang beratnya dua puluh kati. Orang biasa bila melihat arak sebanyak itu, belum minum pun sudah mabuk. Ma Ji-liong bukan orang biasa, terutama dalam hal minum meminum. Setiap melihat arak hatinya amat getol. Minum dan mabuk-mabukan memang bukan perbuatan baik, tapi berhadapan dengan Ji Ngo, kalau tidak minum, lebih baik menjahit mulut sendiri saja. Kali ini Ma Ji-liong akan membalas meloloh Ji Ngo hingga mabuk, ia sudah berkata dalam hati akan membatasi minum. Ji Ngo sedang mengawasinya dengan senyum lebar, seolah sudah dapat menerka apa yang terpikir di dalam benaknya.
"Aku tahu kau gemar minum Li-ji-ang, sayang di tempat ini sukar memperoleh Li-ji-ang lebih dari dua guci."
"Sian-yang juga arak bagus."
"Mari kita habiskan dulu Li-ji-ang baru dilanjutkan dengan Sian-yang,"
Ji Ngo tampak gembira, tawanya lebar.
"Satu orang satu guci, setelah habis satu guci, minum arak lain juga akan sama."
"Satu orang satu guci,"
Ujar Ma Ji-liong ke arah Toa-hoan.
"Dia bagaimana?"
"Hari ini aku tidak minum,"
Toa-hoan berkata dengan tertawa.
"Giok-toasiocia memberi tahu kepadaku, perempuan kalau minum banyak bukan saja lekas tua, juga mudah ditipu orang."
Ma Ji-liong menghela napas, ia maklum apa yang dipikir tadi tiada harapan dan tak mungkin terlaksana.
------------------00000-------------Giok-toasiocia bukan lain adalah Giok Ling-long.
Giok Ling-long berda di rumah besar itu, duduk di depan sebuah meja.
Meja besar dan panjang.
Di atas meja menggeletak sebuah mainan jade dan sebuah kotak perak, belasan kaleng bundar yang terbuat dari perak murni.
Di pinggir meja terdapat sebuah baskom besar yang juga terbuat dari perak.
Dalam baskom berisi air hangat, Giok Ling-long menurunkan tangan ke dalam baskom untuk mengukur suhu panas air, apakah sesuai dengan kebutuhan Toa-siocia yang satu ini.
Meski sudah lanjut usia, sudah patut menjadi nenek, tapi gaya dan gerak-geriknya tidak kelihatan tua.
Apalagi dipandang dari belakang, gerak kaki maupun tangan, kepala maupun sekujur badannya, demikian pula kerlingan matanya tetap terlihat muda dan manis serta luwes.
Bila lebih diperhatikan, maka akan terasa dia belum tua, bukan nenek peyot.
Ya, harus maklum karena Giok ling-long tidak pernah merasa dirinya tua.
"Silakan minum sepuasnya, aku akan mulai bekerja,"
Demikian kata Giok Ling-long dengan tertawa.
"Aku tidak pernah minum arak, tapi tidak pernah pula melarang orang minum arak. Aku malah senang melihat orang minum."
Toa-hoan tertawa, katanya.
"Biasanya aku pun demikian, melihat orang minum jauh lebih nikmat daripada aku sendiri yang minum."
Giok Ling-long sependapat, katanya.
"Ada orang mabuk yang mengoceh tidak karuan, membuat ribut dan brengsek, tapi ada juga orang mabuk yang menjadi patung malah, sepatah kata pun tidak mau bicara. Ada juga orang mabuk yang menangis, ada yang tertawa ngakak, aku jadi geli dan senang melihat tingkah lakunya yang lucu."
Mendadak dia bertanya kepada Ma Ji-liong.
"Bagaimana keadaanmu setelah mabuk?"
"Aku tidak tahu,"
Ma Ji-liong menjawab.
Memang tiada orang tahu bagaimana keadaan diri sendiri waktu mabuk.
Seseorang bila mabuk pikirannya seperti meninggalkan badan.
Setelah sadar akan merasa lidahnya terbakar, tenggorokannya kering, kepala pusing.
Persoalan apa pun dilupakan, persoalan yang harus diukir dalam sanubari dilupakan, sebaliknya persoalan yang harus dilupakan justru terukir di dalam sanubarinya.
Giok Ling-long tertawa, katanya.
"Sejak muda sampai setua ini usiaku, hanya pernah kulihat dua pria yang betul-betul cakap dan tampan. Kau adalah salah satu diantaranya. Aku percaya umpama sudah mabuk tampangmu msih kelihatan bagus."
Ji Ngo bergelak tawa, serunya.
"Bagaimana keadaannya setelah mabuk, sebentar dapat kau saksikan sendiri."
Kali ini Ma Ji-liong bertahan lebih lama baru mulai sinting.
Setelah habis tiga guci baru betul-betul mabuk.
Sambil minum ia memperhatikan gerak-gerik Giok Ling-long.
Setelah merendam sepasang tangannya di air panas dalam baskom, lalu diambilnya handuk kecil untuk mengeringkan telapak tangannya.
Dari sebuah kotak perak ia mengeluarkan sebilah pisau lengkung kecil lalu mulai membersihkan kuku jari.
Apa pula isi peti perak itu?
Setelah membersihkan kuku, dari tujuh delapan kaleng yang berbeda-beda di atas meja itu, ia menuang tujuh delapan jenis obat yang berbeda warna.
Ada puyer, ada cairan seperti minyak, ada kuning dan kelabu, ada juga yang berbuih biru.
Tujuh delapan bahan obat yang berbeda itu ia tuang ke dalam baskom yang lebih kecil lalu diaduk dengan sendok perak.
Ma Ji-liong tahu ramuan obat itu merupakan persiapan pertama untuk mengubah bentuk wajah orang.
Melakukan kerja apa pun kalau sebelumnya sudah dipersiapkan secara teliti dan baik, buah karyanya tentu amat bermutu.
Setelah tiga guci arak masuk ke perut Ma Ji-liong, pikirannya mulai kabur.
"Giok Ling-long pandai merias wajah orang, yang jelek menjadi cantik, yang tua menjadi muda demikian pula sebaliknya. Kenapa dia tidak merias wajah sendiri? Mengubah dirinya menjadi nona jelita?"
Seperti dapat meraba jalan pikiran Ma Ji-liong saja, Giok Ling-long berkata.
"Aku hanya bekerja untuk orang lain, tak pernah bekerja untuk diriku sendiri."
Sembari tertawa ia melanjutkan.
"Sebabnya, umpama aku berubah menjadi muda, katakanlah berhasil menipu orang lain, tetap tidak bisa menipu diriku sendiri."
Suaranya menjadi tawar, lalu menyambung dengan suara keras.
"Kerja untuk membohongi orang lain bisa kukerjakan, menipu diri sendiri aku emoh melakukannya."
Sembari bicara tangannya merogoh peti perak.
Ia mengeluarkan beberapa jenis alat dan perkakas yang semuanya terbuat dari perak.
Ada gunting, pisau, obeng, dan sekop kecil, ada juga gergaji mini.
Untuk apa ia mempersiapkan alat-alat itu?
Kalau Ji-liong belum mabuk, masih segar bugar, melihat perkakas yang dipersiapkan untuk mengoperasi dirinya, mungkin dia akan cepat-cepat kabur alias angkat langkah seribu.
Sayang badannya lunglai oleh pengaruh arak yang ada di perutnya.
Keadaan Ma Ji-liong sudah hampir mabuk.
Satu kejadian yang masih sempat terlintas dalam benaknya adalah jari-jari Giok Ling-long meraba, memijat, dan mengelus wajahnya.
Tangan orang terasa halus, dingin, gerakannya lincah lagi lembut.
Bab 16.
Toko Serba Ada Bentuk rumah itu terlalu rendah, lelaki bertubuh tinggi kalau mengulur tangan bisa menjakau langitlangit rumah.
Kapur dinding juga sudah luntur, di dinding tengah yang menghadap pintu luar tergantung sebuah papan ukiran yang menggambarkan Kwan Kong berduduk sambil membaca buku Jun-jiu.
Di pinggirnya tergantung kertas panjang yang memuat tata tertib kehidupan keluarga menurut tradisi kuno yang ditulis Cu-hucu.
Di sisi lain adalah tulisan berisi petuah bagi manusia untuk hidup rukun, jujur, dan bajik, serta bertakwa kepada Thian.
Gaya tulisannya amat kuat dan indah dengan model kuno lagi, merupakan tulisan yang tinggi nilainya.
Rumah pendek itu hanya ada satu jendela dan satu pintu.
Di pintu dipasang kain tirai biru yang sudah luntur warnanya.
Sebuah meja segi delapan terbuat dari kayu merah kelihatan sudah tua dan kotor ternyata masih berguna dan diletakkan di seberang pintu.
Di atas meja ditaruh sebuah poci teh yang mulutnya sudah gumpil separuh, tiga cawan kecil berjajar di depan poci.
Di sebelah atas bagian belakang meja terdapat sebuah altar pemujaan yang masih kelihatan rapi dan terpelihara--yang dipuja bukan Kwan-te-kun, tetapi Koan-im Hudco yang membopong orok kecil gendut dan mungil.
Di pojok kamar bertumpuk tiga peti kayu.
Di pojok lain ada sebuah meja rias yang kelihatannya tidak terpakai karena berdebu, kacanya kotor dan buram, sisir yang terbuat dari kayu juga sudah patah sebagian besar.
Kecuali itu hanya ada sebuah ranjang.
Ranjang besar terbuat dari kayu berukir dengan empat batang galah di keempat kakinya sebagai penyangga kelabu.
Di atas ranjang tempat tidur terdapat seorang perempuan--tubuhnya ditutup tiga lapis selimut tebal yang terbuat dari kapas.
Rambut perempuan ini kusut masai.
Mukanya kuning pucat.
Kelihatannya amat kuyu lagi kurus dan lemas.
Kalau sedang tidur terdengar mulutnya merintih-rintih.
Udara dalam rumah berbau obat yang beraroma tebal.
Di luar ada seorang perempuan bermulut tajam dengan suaranya yang melengking sedang mengomel panjang pendek.
Katanya telur yang dijual oleh toko ini kecil-kecil, demikian pula minyak goreng yang dia beli kemarin bercampur air, garam juga lebih mahal dari yang ia beli di pasar.
----------------00000------------------Waktu Ma Ji-liong terjaga dari pulasnya, ia mendapatkan dirinya berada di tempat itu.
Semula ia mengira dirinya sedang bermimpi, kecuali bermimpi orang seperti dirinya mana mungkin berada di tempat seperti itu.
Untungnya, meski pengaruh arak belum hilang sepenuhnya, kepalanya juga masih pusing, namun pikirannya sudah segar.
Lekas sekali ia maklum apa yang terjadi dan di mana sekarang dirinya berada.
Reaksi pertama yang dilakukan Ma Ji-liong setelah sadar adalah melompat berdiri dari kursi malas di mana barusan ia tertidur lelap.
Ia bergegas menghampiri meja rias serta membersihkan kaca dengan lengan bajunya.
Ji-liong merasakan jari jemarinya dinging dan gemetar.
Bagaimana hasil operasi Giok Ling-long atas mukanya?
Lumrah kalau Ji-liong ingin lekas tahu berubah macam apa wajahnya sekarang.
Yang terbayang dalam cermin buram itu bukan lagi wajah aslinya yang dulu, tetapi wajah Thio Eng-hoat seperti yang pernah ia lihat di gambar itu.
Ma Ji-liong mengucek-kucek matanya, akhirnya ia yakin bayangan dalam cermin memang betul adalah wajah Thio Eng-hoat--bukan wajah Ma Ji-liong lagi.
Seseorang bercermin di depan kaca, wajah yang terbayang di cermin ternyata wajah orang lain, bagaimanakah perasaan hatinya?
Bagi yang belum pernah mengalami kejadian seperti ini mimpi pun takkan pernah membayangkan apa yang terkandung di dalam hatinya.
Dalam hal ini jarang Ma Ji-liong mengagulkan dir, tetapi kenyataannya memang demikian--siapa pun mengakui bahwa Ma Ji-liong adalah seorang pemuda berwajah tampan.
Entah mereka yang membenci dirinya atau merasa dengki dan iri karena kalah tampan dan gagah, namun mereka harus bertekuk lutut menghadapi kenyataan yang tidak bisa dipungkiri.
Dalam keadaan seperti ini mau tidak mau Jiliong bertanya-tanya dalam hati.
"Kelak apakah wajahku bisa dipulihkan seperti semula?"
Sudah tentu Ji-liong tidak bisa menjawab pertanyaan yang membuatnya khawatir.
Hatinya gregetan dan gegetun setengah mati karena kenapa sebelum ini tidak bertanya langsung kepada Toa-hoan atau Giok Ling-long.
--------------00000----------------Suara ribut di luar sudah tak terdengar.
Mungkin perempuan cerewet itu sudah pulang.
Sementara itu perempuan yang tidur di ranjang masih terlelap dalam mimpi.
Besar rasa ingin tahu Ma Ji-liong.
Ia ingin melihat wajah perempuan yang tidur di atas ranjang.
Begitu berdiri di pinggir ranjang, seketika ia berjingkat mundur saking kagetnya.
Apa betul perempuan bermuka pucat dan kuning, berbadan kurus dan kuyu tanpa cahaya sedikitpun ini, betul adalah gadis cantik rupawan bertubuh montok padat dan semampai yang pernah diintipnya di kamar mayat di balaikota waktu itu?
Ma Ji-liong tahu bahwa dirinya sudah divermak sedemikian rupa, namun tak urung hatinya masih kaget dan takut.
Kalau perempuan ini bangun nanti, mendadak tahu dirinya tidur di ranjang dan di tempat asing, tahu pula dirinya sudah berubah rupa, entah apa yang akan dilakukannya.
Ma Ji-liong mulai bersimpati terhadapnya.
--------------00000-------------Kini Thi Eng-hoat yang sau ini sudah bertemu dengan dirinya sendiri, melihat keadaan rumah tinggalnya, dan menyaksikan isterinya yang sakit-sakitan di ranjang.
Toko serba ada macam apa pula toko miliknya ini?
Orang macam apa pula Thio-lausit--pegawainya yang jujur dan setia itu?
Ji-liong ingin melihat sendiri pembantunya itu.
Dinamakan toko serba ada karena toko ini menjual dan menyediakan bahan sandang-pangan.
Dalam toko penuh berbagai jenis barang, dari keperluan dapur sampai keperluan sehari-hari.
Ada minyak, garam, kecap, cuka, beras, gula, telur ayam, telur bebek, telur asin, udang kering, permen, sabun, jarum, benang, pisau, gunting, paku, kertas, alat-alat tulis juga lengkap.
Setiap bahan yang dibutuhkan untuk kehidupan keluarga dapat dibeli di toko serba ada ini.
Di atas pintu rumah tergantung sebuah papan merk yang dihiasi empat huruf gaya tegak 'Thio-ki-jay-hwe'.
Di depan pintu terdapat sebuah gang--jalan kampung yang tidak begitu lebar.
Bila angin menghebus kencang, debu dan pasir berterbangan.
Bila datang hujan, jalanan menjadi becek.
Para tetangga kanan kiri adalah keluarga miskin.
Anak-anak ingusan tanpa pakaian ataupun kalau berpakaian juga tidak genah--tidak lengkap, berkeliaran di jalan, berkelahi, menangis, dan ribut.
Kotoran ayam, bebek, anjing, dan kucing ada di mana-mana.
Di depan setiap rumah sepanjang gang sempit itu bergantungan pakaian orok atau popok bayi dan baju orang tua yang dijemur matahari.
Di tempat seperti itu, dalam lingkungan keluarga yang serba kurang, kecuali menimang anak, boleh dikata tiada kerja lain untuk mengisi waktu dan menghibur kehidupan ini.
Para enghiong atau orang gagah yang berkecimpung di dunia persilatan pasti tak akan sudi datang ke tempat sejorok ini.
Mimpi pun M Ji-liong tak akan menyangka dirinya bakal berubah begini nasibnya--menjadi juragan sebuah toko kecil di sebuah kampung miskin.
----------00000------------Thio-lausit bertubuh pendek kurus.
Gerak-geriknya selambat babi hamil yang kurang makan.
Wajah bulat dengan sepasang mata yang selalu mengantuk, seperti tidak pernah tidur pulas.
Hidungnya menonjol merah seperti terong.
Terhadap taoke atau majikannya, sikap Thio-lausit tidak sopan, tidak mau menggubrisnya, kalau tidak ditanya tidak akan bicara, menjawab juga hanya seperlunya saja, tingkah lakunya kaku, segan bicara karena selalu mengantuk.
Sewaktu Ma Ji-liong beranjak keluar, jangan kan menyapa, melirik pun ia malas.
Maklum, di toko serba ada yang serba kotor dan jorok begini, memangnya kenapa kalau kau adalah majikan dan aku hanya kuli?
Bagaimanakah tata krama sepantasnya?
Yang pasti majikan atau kuli sama-sama mencari sesuap nasi.
Kalau bisa makan saja sudah cukup, kenapa pula harus banyak peradatan membedakan tinggi rendah segala?
Setelah berputar-putar dalam toko atau jelasnya mengadakan pemeriksaan ala kadarnya, Ma Ji-liong malah merasa puas.
Seandainya Thio-lausit itu cerewet, suka menjilat majikan umpamanya, justru dirinya akan kikuk, takkan lama hidup begini.
Kemanakah Thio Eng-hoat dan bininya--pemilik asli toko serba ada ini?
Mungkin Ji Ngo sudah mengatur hidup mereka secara rapi dan baik.
Hidup mereka pasti akan lebih baik, tenteram, dan bahagia.
Maka Ma Ji-liong bertanya-tanya dalam hati.
"Hidup dalam keadaan seperti ini, berapa lama aku bisa bertahan di sini?" --------------------00000-----------------Pembeli datang, ternyata seorang nyonya muda yang bunting tua membeli satu kilo gula merah. Ma Ji-liong sedang memperhatikan keadaan di luar sambil menggendong tangan ketika mendadak ia berjingkat kaget oleh jeritan yang memilukan. Walaupun suaranya tidak keras, tetapi selama hidup belum pernah Ma Ji-liong mendengar jeritan gugup, panik, dan ketakutan seperti itu. Ternyata Cia Giok-lun sudah terjaga dari pulasnya. Ia tentu telah melihat perubahan yang terjadi pada dirinya--perubahan yang menakutkan. Hampir saja Ma Ji-liong tidak berani masuk menengoknya. Didengarnya nyonya muda yang besar perutnya itu menggerutu sambil menggeleng kepala.
"Penyakit Laupan-nio (isteri juragan) kelihatannya makin berat saja."
Ma Ji-liong hanya tersenyum getir.
Lekas ia menyingkap tirai dan menyelinap masuk.
Tampak Cia Giok-lun sedang meronta bangun, sorot matanya tampak kaget, gugup, juga ngeri.
Sukar bagi Ma Ji-liong melupakan mimik wajahnya waktu itu--gusar, panik, dan takut sehingga suaranya serak.
Begitu Ji-liong masuk ia melolot dan menatap dengan pandangan curiga.
"Siapa kau? Tempat apa ini? Kenapa aku ada di sini?"
"Ini kan rumahmu, sudah delapan belas tahun kau tinggal di sini. Aku kan suamimu, masa suami sendiri sudah tidak dikenal lagi?"
Ma Ji-liong sendiri merasa sewaktu bicara dirinya seperti musang mencuri ayam yang ketahuan oleh pemiliknya. Tapi ia harus bicara dan menanggapinya dengan wajar.
"Kulihat penyakitmu makin berat, biar aku mencari tabib untuk memeriksa penyakitmu."
Cia Giok-lun mengawasinya dengan mata terbelak.
Tidak ada orang yang bisa melukiskan bagaimana mimik matanya.
Bagaimana perasaannya saat itu.
Nyonya muda yang perutnya besar itu mendadak melongok ke dalam sambil menyingkap tirai.
Katanya sambil menghela napas.
"Mungkin suhu badan Laupan-nio amat tinggi, maka mengoceh tak keruan. Seduhkan wedang jahe dicampur gula merah dan lekas diminumkan!"
Belum habis ia berbicara, mendadak Cia Giok-lun meraih sebuah mangkok yang terletak di atas meja kecil di pinggir ranjang.
Sekuat tenaga ia timpukkan ke sana.
Mungkin karena sakitnya berat, tenaga lemah, mangkok sekecil itu tidak kuat ia lemparkan.
Keruan saja ia lebih panik--lebih takut hingga sekujur badannya gemetar.
Padahal ia tahu betapa tinggi ilmu silatnya--sampai dimana taraf lwekang yang ia yakini, namun sekarang kemanakah ilmu silat yang dimilikinya selama ini?
Sambil menghela napas dan menggeleng kepala, nyonya muda yang hamil tua itu mengeret mundur lalu beranjak pulang.
Dalam jangka waktu setengah jam, para tetangga sudah tahu dan mendenger berita bahwa sakit bini Thio-laupan (juragan Thio) semakin parah aja--mungkin sudah menjadi gila.
Cia Giok-lun memang hampir gila.
Waktu melihat tangannya sendiri, tangan dengan jari-jari putih halus terpelihara itu kini telah berubah menjadi kering, kusut, dan kasar seperti cakar ayam.
Bagaimana dengan anggota badannya yang lain?
Perlahan ia masukkan tangan ke dalam selimut.
Sejenak ia celingukan, dilihatnya cermin tembaga di atas meja rias.
Sekuat tenaga ia meronta miring lalu merangkak ke pinggir ranjang mendekati cermin itu.
Begitu melihat wajahnya sendiri di depan cermin, seketika ia menjerit lalu semaput.
Perlahan-lahan Ma Ji-liong berjongkok membersihkan pecahan mangkok yang hancur di lantai--kalau sebagai Ma Ji-liong, ia segan melakukan hal seperti ini.
Dia menampar muka dan mulutnya sendiri delapan belas kali di hadapan bininya lalu membeberkan persoalan sebenarnya kepada nona Cia yang terpaksa ikut berkorban karena dirinya.
Tapi ia sadar tidak boleh mengingkari kepercayaan Toa-hoan kepada dirinya.
Toa-hoan percaya kepadanya, sudah sepantasnya ia juga percaya kepada Toa-hoan.
Bahwa Toa-hoan sampai berbuat demikian tentu punya makna yang mendalam, tujuan yang baik, juga berguna untuk semua pihak.
Ma Ji-liong menarik napas panjang.
Perlahan ia melangkah ke pintu, melongok keluar lalu memberi pesan kepada pegawainya.
"Hari ini kita tutup toko lebih dini."
Bab 17.
Tidak Ada Yang Tidak Dilakukan Malam itu Ma Ji-liong hanya makan nasi dengan lauk ikan goreng lombok, satu macam menu saja, ada satu mangkuk kuah tulang daging babi juga tersedia di meja, semangkuk kuah ini untuk bininya yang sakit.
Bininya digotong ke atas ranjang dan diselimuti, sudah sadar, tapi rebah diam tidak bergerak, matanya melotot mengawasi langit-langit rumah.
Habis makan Ma Ji-liong merasa iseng, ia duduk santai di kursi malas yang terbuat dari rotan di sisi ranjang.
Otaknya memikirkan banyak persoalan, mengenang masa lalu, segala kejadian dan perbuatan dirinya di masa lalu yang patut dibanggakan.
Apa betul perbuatannya dulu patut ia lakukan?
Pantaskan diagulkan dan membuatnya bangga?
Manusia dengan manusia, kenapa terdapat jurang pemisah sebesar itu?
Kenapa ada sementara orang hidup dalam kemelaratan?
Kenapa ada juga orang yang hidup berkelebihan?
Ji-liong sadar, jika bisa memperpendek jarak antara manusia dengan manusia itu, barulah patut berbangga diri.
Di sinilah letak kemajuan Ma Ji-liong, setelah merasakan, bisa meresapi, jika sekarang ia masih hidup dalam lingkungan lama, pasti tidak pernah Ma Ji-liong berpikir sejauh dan seluas ini.
Dalam mengarungi hidup, jika manusia mengalami proses hidup yang tidak menyenangkan, menderita pukulan lahir batin, bukankah kejadian itu langsung membawa manfaat bagi dirinya?
Toa-hoan berbuat demikian terhadap Cia Giok-lun, apakah lantaran sebab itu juga?
Teringat akan hal ini, perasaan Ma Ji-liong menjadi lega malah, gejolak hatinya jauh lebih tenteram.
Ia yakin, meski belum pernah mengenal pribadi gadis ini, Cia Giok-lun pasti seorang gadis yang suka berbangga hati, gadis ini memang mempunyai nilai tinggi untuk membanggakan diri.
Entah sejak kapan Cia Giok-lun mengawasi dirinya, lama menatapnya.
"Coba ulangi sekali lagi,"
Demikian pintanya dengan nada datar.
"Apa yang harus kuulangi?"
Tanya Ma Ji-liong.
"Katakan, kau siapa dan aku siapa?"
"Aku bernama Thio Eng-hoat, kau bernama Ong Kwi-ci."
"Kita adalah suami isteri?"
"Ya, suami isteri sejak 18 tahun yang lalu, sejak menikah kita tinggal di sini membuka toko serba ada, dagang kecil-kecilan hingga sebesar ini, lumayan. Para tetangga di kampung ini siapa yang tidak kenal kau dan aku?"
Ma Ji-liong menghela napas, lalu berkata pula.
"Mungkin kau merasa kehidupan ini serba kekurangan, sudah bosan dan sebal tinggal di rumah bobrok ini, maka ingin melupakan pengalaman hidup masa lampau."
Ma Ji-liong berganti nada.
"Sebenarnya kehidupan begini juga ada baiknya, paling sedikit kita hidup tenteram dan berkecukupan meski sederhana, hanya sayang kita tidak punya anak."
Cia Giok-lun mendengar sambil menatapnya lekat.
"Dengarkan,"
Katanya kemudian dengan nada tegas.
"Aku tidak tahu dan tidak kenal kau siapa, juga tidak tahu apa yang telah terjadi atas diriku, tapi aku yakin kejadian ini kau lakukan karena disuap atau diperalat orang lain untuk membuatku celaka begini."
"Siapa yang membuatmu celaka? Kenapa membuatmu celaka?"
"Apa betul kau tidak tahu siapa diriku yang sebenarnya?"
Ma Ji-liong memang tidak tahu, tapi dia bertanya.
"Kau kira kau ini siapa?"
Cia Giok-lun menyeringai dingin, katanya.
"Kalau kau tahu siapa diriku, kau bisa mati saking kagetnya."
Nadanya tinggi mengandung rasa bangga dan jumawa.
"Aku putri malaikat, tiada perempuan di dunia ini yang bisa menandingi aku, setiap saat aku bisa membuatmu kaya raya, tapi juga bisa membunuhmu. Oleh karena itu, lekas kau antar aku pulang, kalau tidak akan datang suatu hari aku akan mengiris tubuhmu untuk dimakan anjing."
Gadis ini memang jumawa, terlalu membanggakan diri, tidak pandang sebelah mata kepada orang lain, jiwa raga orang lain tidak berharga sama sekali, kecuali dirinya, jiwa siapa pun tidak ada nilainya.
Perempuan galak dan bawel seperti ini memang pantas dihajar adat, biar merasakan sedikit derita, biar kapok, kejadian ini akan membawa manfaat bagi dirinya.
Ji-liong menghela napas, katanya.
"Penyakitmu kumat lagi, lekas tidur saja."
Setelah melontarkan ucapannya, baru Ji-liong sadar, masalah tidur menjadi persoalan bagi dirinya.
Di dalam rumah itu hanya ada satu ranjang, di mana ia harus tidur malam ini?
Tentu Cia Giok-lun juga memikirkan hal ini, mendadak ia berteriak.
"Awas, berani kau tidur di sini, berani kau menyentuh aku, aku akan.... aku akan....."
Ia tak meneruskan omongannya.
Bahwasanya ia takkan berbuat apa pun terhadap gadis yang berdiri pun tidak kuat, kalau Ma Jiliong mau berbuat kasar dan main kekerasan, jelas gadis ini takkan mampu melawan.
Untung Ma Ji-liong tidak berbuat apa-apa terhadapnya.
Ma Ji-liong memang pemuda yang tulus lagi bijak, tidak sia-sia namanya menjulang tinggi dalam percaturan dunia persilatan, hakikat seorang pendekar memang melekat pada dirinya.
Ma Ji-liong adalah laki-laki sejati, sehat lagi kuat dan normal, pernah melihat wajah dan tubuhnya yang polos semampai, tahu bahwa gadis ini rupawan lagi jelita.
Dalam kamar yang remang-remang, di atas ranjang yang tertutup kain mori......
Pandangan sekilas itu terukir dalam relung hatinya, seumur hidup takkan terlupakan.
Tapi Ma Ji-liong adalah Ma Ji-liong, pendekar muda, harkat pendekar melekat pada pribadinya, maka Ma Ji-liong tidak berbuat apa-apa, tindakan maupun perkataan.
Walau jalan pikirannya sudah berubah, sekarang Ma Ji-liong sadar dirinya tidak perlu membanggakan diri seperti dulu, tapi ada sementara perbuatan yang tak mungkin mau ia lakukan, umpama memaksa dengan mengancam akan membunuhnya juga pantang ia lakukan.
Hal ini saja patut membuat dirinya bangga.
----------------------------ooo00ooo--------------------------Hidup ini berkembang, berlalu dari hari ke hari, dari minggu menjadi bulan, lambat laun Cia Gioklun menjadi betah dan tenang, meski tanpa kerja dan hanya berbaring saja di atas ranjang dengan tenteram dan damai, hanya tidak bisa bergerak atau turun dari ranjang.
Maklum, bila seorang menghadapi kenyataan apa boleh buat, siapa pun akan menerima nasib secara penuh kesabaran, penuh pengertian.
Memangnya mau apa kalau tidak sabar, apa yang bisa dilakukan, umpama menjadi gila, ribut dan bergulingan di tanah, kecuali nekad menumbukkan kepala ke tembok untuk bunuh diri.
Lalu bagaimana dengan Ma Ji-liong selama ini?
Tata kehidupan ini jelas bertolak belakang dibanding kehidupannya sebagai anak hartawan, sebagai pendekar muda yang gagah terkenal, kini hidup terpencil dalam sebuah rumah, setiap hari mendampingi wanita yang tidak bisa berbuat apa-apa, malah harus meladeninya dengan penuh kesabaran, putus hubungan dengan orang-orang yang ia kenal, dengan keluarganya.
Baca Juga: Pedang Dan Kitab Suci 5
Baca Juga: Pedang Ular Emas 13