Ceritasilat Novel Online

Darah Ksatria Harkat Pendekar 3

Eps 3 Darah Ksatria Harkat Pendekar - Khu Lung

Baca online Darah Ksatria Harkat Pendekar - Khu Lung

Cersil Darah Ksatria Harkat Pendekar - Khu Lung.

Orang-orang yang dulu ia pandang rendah dan bodoh serta miskin, sekarang ia temukan gambaran lain di balik kemiskinan mereka yang bijak lagi sederhana itu.

Datang saatnya ia juga merasa risau lagi bebal, bosan dan murung, ingin keluar mencari berita, pergunjingan apa yang telah terjadi di Kangouw selama ini, ingin pergi mencari Toa-hoan dan Ji Ngo.

Sayang dalam keadaan dirinya sekarang, meski keinginan teramat besar dan susah dibendung, namun orang lain tidak mengizinkan ia berbuat demikian.

Karena ia juga sadar bahwa dirinya sekarang adalah Thio Eng-hoat, walau bukan Thio Eng-hoat tulen.

------------------------ooo00ooo--------------------------Beberapa hari ini, secara beruntun menjelang maghrib, tokonya kedatangan seorang pembeli.

Orang yang membuka toko jamak kalau kedatangan pembeli yang membutuhkan sesuatu untuk keperluan hidup sehari-hari.

Tapi lain dengan pembeli yang satu ini, pembeli aneh, karena setiap datang selalu membeli dua puluh butir telur ayam, dua kilo kertas merang, dua kilo garam dan sekati arak beras merah.

Adalah lumrah bila orang punya duit setiap hari makan telur, tapi jarang ada orang yang makan dua puluh butir telur setiap hari, untuk apa pula dua kilo kertas merang dan garam, siapa pun pasti akan menaruh perhatian dan prasangka.

Kejadian ini memang aneh dan mencurigakan, tapi pembeli itu justru tidak merasa aneh.

Telur ayam, kertas merang, garam dan arak adalah barang biasa untuk keperluan sehari-hari.

Pembeli itu seorang laki-laki berperawakan tinggi agak kurus dengan muka legam, tak ubahnya lelaki umumnya, hanya sikap dan tindak-tanduknya saja yang kelihatan agak gelisah, gugup dan keletihan.

Hingga pada suatu hari, tepatnya pada hari kedelapan, kebetulan nyonya muda yang hamil tua juga melihatnya di depan toko.

Setelah pembeli aneh itu pergi, baru nyonya muda hamil tua itu bertanya dengan setengah berbisik kepada Ma Ji-liong.

"Siapakah orang ini? Belum pernah aku melihatnya?"

Sejak itu baru Ma Ji-liong menaruh perhatian.

Nyonya muda itu dilahirkan dan dibesarkan di kampung ini, setiap penduduk di kampung ini ia kenal dengan baik.

Dasar perempuan yang satu ini memang cerewet, maka ia bertanya lagi dengan nada tegas.

"Eh, siapakah dia? Laki-laki ini pasti bukan penduduk asli, dulu pasti tak pernah datang ke mari. Entah kalau penduduk baru yang pindah belum lama ini." -------------------------ooo00ooo-------------------------Diam-diam Ma Ji-liong menaruh perhatian terhadap pembeli yang misterius ini, memperhatikan secara seksama. Sebetulnya Ma Ji-liong tidak berpengalaman dan tidak mahir membuat penyelidikan, apalagi mencari tahu asal-usul orang lain. Tuan muda yang dilahirkan dari keluarga besar dan kaya raya seperti dirinya, biasanya jarang dan bukan kegemarannya untuk mencari tahu hal-ihwal orang lain. Kalau memerlukan suatu keterangan, cukup memberi perintah pada orang untuk mencari tahu, kapan pula ia pernah turun tangan sendiri. Tapi dari pengamatan yang cermat, apalagi setelah beberapa bulan hidup prihatin, Ji-liong mendapatkan beberapa titik persoalan yang ganjil pada laki-laki langganannya yang baru ini. Perawakan laki-laki itu kurus tinggi, tapi tangan dan kakinya luar biasa kasar dan kuat. Waktu mengambil barang dan mengulurkan uang, selalu bergerak ragu-ragu tetapi cepat dan tangkas, seperti ingin menyembunyikan tangannya yang panjang dan besar, maksudnya supaya orang tidak memperhatikan tangannya, tapi justru tingkah-lakunya yang takut-takut ini malah menarik perhatian Ma Ji-liong. Setiap hari menjelang maghrib, di saat penduduk sekitarnya siap makan malam, saat itu jarang ada penduduk di luar atau berlalu-lalang di jalanan. Perawakan lelaki ini memang tinggi, satu kepala lebih tinggi dari Ma Ji-liong, kakinya kekar, kasar lagi kuat, lengannya bergerak enteng, setiap datang hampir tidak terdengar langkah kakinya, tahutahu orangnya sudah berdiri di depan toko. Sore hari itu kebetulan turun hujan, jalan kampugn becek dan licin, tapi sepatu rumput laki-laki ini tidak kelihatan kotor seperti sepatu orang lain yang berjalan di tanah becek. Musim dingin sudah lewat, musim semi pun menjelang, tapi hawa masih terasa dingin. Orang lain masih memakai baju tebal, tapi laki-laki ini hanya berpakaian tipis saja, namun tidak kelihatan kedinginan. Betapapun Ma Ji-liong pernah berkecimpung di Kangouw, meski belum lama dan tak banyak pengalaman, namun berdasarkan beberapa kenyataan itu, ia menarik kesimpulan bahwa lelaki ini pasti pernah meyakinkan ilmu silat, malah ilmu silat yang hebat dan lihai, sepasang telapak tangannya kasar, mungkin pernah meyakinkan Thi-soa-ciang, Ilmu Pukulan Pasir Besi, atau sejenisnya. Seorang jago Bulim setiap hari membeli telur ayam, kertas, garam dan arak untuk keperluan apa? Kalau menyembunyikan diri dari pengejaran musuh yang menuntut balas kepadanya, rasanya tidak perlu setiap hari membeli barang-barang itu. Jika anak buah Ji Ngo yang diutus ke sini untuk menjaga dan melindungi Ma Ji-liong berdua, rasanya tidak perlu melakukan langkah-langkah yang bisa mengundang perhatian orang. Mungkinkah Khu Hong-seng, Coat-taysu dan lain-lain sudah tahu adanya gejala-gejala tidak normal di toko serba ada ini, maka mengirimkan anak buah untuk mengawasi gerak-geriknya? Kalau betul demikian, kan tidak perlu membeli dua puluh butir telur ayam dan dua kilo kertas dan garam setiap harinya? Beberapa persoalan ini sukar mendapatkan jawabannya. Persoalan yang tidak bisa dimengerti lebih baik tak usah dipikir, tapi Ma Ji-liong mulai tertarik oleh kejadian ini. Setiap orang pasti menaruh perhatian terhadap sesuatu menurut kesenangannya, demikian pula Ma Ji-liong dan Cia Giok-lun pun tak terkecuali, lama-kelamaan ia pun tahu adanya pembeli aneh setiap maghrib yang mencurigakan itu, maka suatu petang Cia Giok-lun bertanya.

"Orang yang kalian bicarakan itu, apa betul seorang laki-laki?"

"Sudah tentu laki-laki."

"Mungkinkah samaran perempuan?"

Tanya Cia Giok-lun.

"Tidak mungkin, pasti lelaki tulen."

Walaupun bukti sudah di depan mata, Ma Ji-liong sudah berkenalan langsung dengan keajaiban tata rias, tapi ia percaya lelaki pembeli garam itu pasti bukan perempuan yang menyamar.

Dilihatnya Cia Giok-lun memperlihatkan rasa kecewa.

Ma Ji-liong merasa pertanyaan orang agak aneh, maka ia balas bertanya.

"Kenapa kau tanya dia laki atau perempuan? Kau mengharap pembeli itu seorang perempuan?"

Lama Cia Giok-lun diam tidak memberi jawaban. Setelah menghela napas, baru dia berkata.

"Kalau perempuan, mungkin sekali sedang berusaha menolong aku."

Mengapa kalau pembeli itu perempuan, maka akan menolong dirinya? Ma Ji-liong tidak bertanya, ia hanya berkata tawar.

"Delapan belas tahun kau menikah dengan aku, selama ini aku baik terhadapmu, kenapa orang lain harus menolongmu dan membawamu pergi?"

Cia Giok-lun melotot gemas setiap membicarakan hal ini, sorot matanya memancarkan derita, dendam dan kebencian.

Bila terjadi perubahan pada mimik dan sikap perempuan yang satu ini, Ma Ji-liong lekas menyingkir, tidak tega dan kasihan, tidak berani ia bertatap muka dan beradu pandang dengannya.

------------------------ooo00ooo----------------------------Suatu malam, belum lama setelah laki-laki misterius itu datang membeli keperluan yang itu-itu juga, nyonya muda yang hamil tua itu datang lagi dengan langkahnya yang gontai seperti bebek, sikapnya kelihatan tegang lagi gugup, tapi juga bangga.

"Aku sudah tahu, aku sudah tahu,"

Napasnya sedikit memburu.

"Aku tahu di mana orang itu tinggal."

Sungguh heran, Thio-lausit yang biasanya tak banyak mulut dan tidak mau mencampuri urusan orang lain, kali ini bertanya.

"Dia tinggal di mana?"

"Tinggal di rumah To Po-gi,"

Nyonya muda itu menerangkan.

"Dengan mata kepalaku sendiri kulihat dia masuk ke sana."

To Po-gi adalah kepala opas di wilayah kampung itu, kabarnya dulu pernah berlatih silat, tapi dia sendiri tidak pernah bilang atau mengagulkan diri, tidak ada orang yang pernah melihat ia berlatih silat.

Ia menempati sebuah rumah setengah permanen yang cukup besar menurut ukuran rumah penduduk di sekitarnya, rumahnya bertembok dengan genteng merah.

Seorang kepala opas tentu punya banyak kawan, pergaulan luas.

Kalau ada teman yang tinggal di rumahnya, sepatutnya tak perlu dibuat heran.

Tapi keluarga To Po-gi hanya terdiri dari suami-isteri saja tanpa anak, ditambah seorang tamu, umpama tiap hari mampu menghabiskan dua puluh butir telur ayam, rasanya tak mungkin makan dua kilo garam.

Isteri To Po-gi juga bukan pedagang makanan atau mengerjakan sesuatu yang memerlukan garam sebanyak dua kilo setiap harinya, dua kilo garam cukup membuat tiga orang itu kering menjadi ikan asin.

Nyonya muda itu berkata pula.

"Tadi sengaja aku bermain ke rumah To Po-gi dan berbincangbincang dengan isterinya, dari depan aku berkeliling ke belakang, namun bayangan orang itu tidak kelihatan, padahal jelas aku melihat dia masuk ke rumah itu. Secara bisik-bisik aku bertanya pada bini To Po-gi, untuk apa setiap hari orang itu membeli dua kilo garam? Entah kenapa, dengan suatu alasan yang kurang wajar, To Po-gi mendadak mengajak ribut mulut dengan bininya. Tanpa mendapat jawaban, terpaksa aku mengeluyur pulang."

Thio-lausit hanya mendengarkan, mendadak dia bertanya pada perempuan itu.

"Hari ini kau tidak membeli gula merah?"

"Hari ini aku tidak membeli apa-apa."

"Juga tidak membeli kecap?"

"Kecapku belum habis."

Thio-lausit menarik muka, katanya.

"Kalau begitu, kenapa tidak lekas kau pulang tidur saja?"

Nyonya muda itu berkedip-kedip matanya, sejenak berdiri melongo, tanpa bicara lagi lekas ia mengeluyur pulang. Thio-lausit bersiap menutup toko, mulutnya menggerundel.

"Mencampuri urusan orang lain tidak baik. Aku paling benci melihat tampang yang suka mencampuri urusan orang lain."

Ma Ji-liong mengawasinya, mendadak ia menemukan sesuatu yang aneh pada orang jujur ini, untuk pertama kalinya Ma Ji-liong merasakan adanya keanehan pada Thio-lausit yang jujur dan setia ini.

Bab 18.

Orang Yang Makan Garam Seperti biasanya, malam itu Ma Ji-liong menggelar tikar untuk tidur di lantai di pinggir ranjang.

Tapi dia tidak bisa tidur.

Agaknya Cia Giok-lun juga tidak bisa tidur, mendadak ia bersuara.

"He, kau belum tidur?"

"Hampir saja pulas, tapi belum tidur."

Orang yang sudah tidur mana mungkin diajak bicara.

"Kenapa kau tak bisa tidur?"

Cia Giok-lun bertanya.

"Apa kau sedang memikirkan persoalan orang itu?"

"Persoalan apa?"

Sengaja Ma Ji-liong balas bertanya.

"Bila opas itu pernah meyakinkan ilmu silat, mengapa kau tidak menduga kalau dulu ia seorang begal atau penjahat besar? Orang yang tiap hari membeli garam itu adalah komplotannya, kehadirannya di sini mungkin sedang merencanakan sesuatu?"

"Maksudmu melakukan kejahatan? Apa sangkut-pautnya dengan membeli garam?"

Bantah Ma Jiliong.

"Apa pula sangkut-pautnya dengan kita?"

"Siapa tahu dia menaksir tokomu dan akan merampoknya habis, membeli garam hanya untuk mencari tahu seluk-beluk tokomu ini."

Tak tahan Ma Ji-liong bertanya.

"Ada barang penting atau berharga apa di toko kita yang harus direbut orang lain?"

"Hanya ada satu."

"Satu yang mana?"

"Akulah yang mereka incar."

"Kau kira mereka hendak merebut atau menculik dirimu?"

Kali ini Ma Ji-liong tidak bisa tertawa, karena ia maklum rasa kuatir Cia Giok-lun memang beralasan. Mendadak Cia Giok-lun menghela napas, katanya.

"Mungkin kau memang tidak tahu siapa aku sebenarnya, tapi kau harus percaya, jika aku jatuh ke tangan kawanan penjahat itu........"

Suaranya menjadi lemah, lidah seperti kaku, seolah-olah membayangkan akibat yang mengerikan, sorot matanya tampak panik dan takut. Sesaat lamanya baru ia mendesah pula.

"Selama ini aku tidak habis pikir, kenapa kau berbuat begini terhadapku, tapi setelah hidup bersama dalam rumah ini sekian bulan, aku juga sudah melihat dan tahu, kau bukan orang jahat, sukalah kau menolong aku mencari tahu asal-usul orang itu."

"Bagaimana aku harus mencari tahu asal-usulnya?"

Tanya Ma Ji-liong. Mendadak Cia Giok-lun tertawa dingin, katanya.

"Kau kira aku tidak tahu bahwa kau juga pandai silat, umpama betul kau adalah pemilik toko serba ada ini, dulu kau pasti pernah berkecimpung di Kangouw, mungkin seorang terkenal di Bulim, aku menilai ilmu silatmu tidak rendah."

Ji-liong menunduk bungkam.

Seorang pesilat kosen yang sudah belasan tahun berlatih ilmu silat, banyak segi dan kondisi yang berbeda dengan orang biasa.

Ia percaya apa yang dikatakan Cia Gioklun memang benar, setiap hari orang selalu memperhatikan gerak-geriknya.

Maklum Cia Giok-lun memang benar, setiap hari orang selalu ia perhatikan, tiada buku yang dapat ia baca di rumah ini.

Cia Giok-lun menatapnya sekian lama, lalu katanya.

"Kalau kau tidak melaksanakan permintaanku ini, aku akan........"

"Kau akan apa?"

"Sejak saat ini aku akan mogok makan dan minum, yang pasti aku sudah tidak ingin hidup tersiksa seperti ini."

Akal bagus dan tepat. Sudah tentu Ma Ji-liong tidak akan membiarkan dia mati kelaparan.

"Bagaimana?"

Desak Cia Giok-lun.

"Kapan aku harus melakukannya?"

"Sekarang, sekarang juga harus kau lakukan,"

Sejenak ia berpikir, lalu menambahkan.

"Kau harus berganti pakaian hitam, menutup kepala dengan kain hitam pula. Jika jejakmu ketahuan orang dan dia mengejarmu, jangan langsung lari pulang. Aku tahu kau pun tidak suka kalau asal-usulmu diketahui orang, benar tidak?"

Ternyata perempuan ini juga paham lika-liku kehidupan kaum persilatan. Cia Giok-lun berkata lebih lanjut.

"Kau harus bekerja menurut petunjukku, aku sendiri belum pernah berbuat seperti apa yang kuanjurkan tadi, tapi ahli Kangouw mengajarkan dan memberi petunjuk kepadaku."

Setelah menghela napas ia menyambung.

"Aku rela dan tinggal diam selama ini di atas ranjang yang menyebalkan ini, dengan satu tekad. apa yang terjadi, apa yang kualami ini, akan datang suatu hari nanti seorang pasti datang menjelaskan kejadian sebenarnya, maka jangan kau biarkan orang lain mencariku. Kalau kau abaikan peringatanku, kita berdua bisa mati konyol."

Ma Ji-liong hanya mendengarkan, hanya tertawa getir.

Selama hidup belum pernah ia bertindak sembunyi-sembunyi, tapi kali ini harus bekerja secara diam-diam macam panca-longok saja.

-------------------------ooo00oo---------------------------Larut malam.

Keluarga miskin, karena kerja keras di siang hari, umumnya penduduk kampung beristirahat lebih dini.

Kecuali menghemat minyak, juga untuk mengejar hiburan, menikmati kesenangan yang bisa dilakukan di dalam rumah gelap, tanpa merogoh kantong.

Mungkin juga ada berbagai alasan lain, maka mereka selalu tidur pagi-pagi.

Jalan kampung yang sempit panjang itu gelap gulita tiada lampu, juga tak ada orang lewat.

Sesekali hanya terdengar anjing menggonggong dan kucing brengsek yang lagi bermain cinta.

Dengan Ginkang yang tinggi Ma Ji-liong keluar dari toko serba ada, pakaiannya ketat serba hitam, dengan kain penutup kepala hitam pula, yang kelihatan hanya sepasang matanya saja.

Menetap tiga bulan lebih di kampung itu, Ma Ji-liong pernah juga keluyuran ke rumah tetangga, maka ia tahu di mana letak rumah To Po-gi.

Rumah To Po-gi dibangun dengan batu bata dan genteng merah, seluruhnya ada lima bangunan rumah, tiga terang dua gelap, namun lampu sudah dipadamkan.

Di belakang rumah ada pekarangan yang tidak begitu besar, di sebelah kiri pekarangan ada dapur, ada gudang kayu, di bagian tengah ada sebuah sumur.

Hampir empat bulan lamanya Ma Ji-liong tidak pernah latihan, malam ini ia mengembangkan Ginkangnya yang tinggi, dengan seksama memeriksa dari luar hingga ke belakang rumah To Po-gi.

Tapi tiada sesuatu yang ditemukan, tiada yang menarik perhatian, suara apa pun tidak terdengar.

Isteri To Po-gi masih muda, segan ia mengintip kamar tidur orang dari jendela.

Setelah yakin tiada sesuatu yang berhasil diselidiki, segera ia pulang ke rumah.

-------------------------------ooo00ooo--------------------------Cia Giok-lun belum tidur, matanya masih terbuka lebar, melotot mengawasi langit-langit rumah yang gelap, ia menunggu dengan penuh kesabaran.

Dengan terbelalak ia mendengar laporan Ma Jiliong, lalu menghela napas, katanya kemudian.

"Aku keliru. Tadi aku bilang kau terkenal, sekarang baru aku sadar dugaanku ternyata keliru. Kenyataannya kau masih hijau, tidak paham seluk-beluk dan segi kehidupan kaum persilatan."

Sebetulnya Cia Giok-lun tidak keliru.

Seorang ternama belum tentu kawakan Kangouw, kawakan Kangouw belum tentu terkenal.

Ma Ji-liong tidak ingin berdebat, pokoknya dia sudah pergi melaksanakan tugas, memberi keterangan sesuai kenyataan.

Ternyata Cia Giok-lun tidak puas, ia menganggap Ma Ji-liong belum menunaikan tugasnya dengan baik, maka ia berkata.

"Tempat yang tidak perlu diperiksa sudah kau periksa, tempat yang harus kau perhatikan justru kau abaikan."

"Tempat apa yang harus kuperiksa?"

Tanya Ma Ji-liong.

"Kau sudah memeriksa dapur?"

Tanya Cia Giok-lun.

"Tidak,"

Ma Ji-liong tidak mengerti.

"Di dapur tidak ada orang, kenapa aku harus memeriksa dapur?"

"Kau harus periksa apakah dapur masih digunakan, apakah tungkunya masih hangat."

Ma Ji-liong bingung, tidak habis mengerti. Dapur digunakan untuk memasak atau tidak, apa sangkut-pautnya dengan persoalan ini? Cia Giok-lun berkata.

"Pernahkah kau memeriksa sumur itu? Apakah sumur itu berair?"

"Kenapa sumur itu harus kuperiksa."

"Karena dapur yang tidak dipakai, sumur yang tidak ada airnya adalah tempat bagus untuk bersembunyi. Di dalam dapur atau sumur bukan mustahil ada lorong rahasia di bawah tanah."

Ma Ji-liong menghela napas, katanya.

"Ahli silat yang mengajar berbagai segi kehidupan kaum persilatan kepadamu itu, agaknya luas sekali pengalamannya."

"Betul, apa yang pernah kupelajari, sekarang kuajarkan kepadamu."

"Maksudmu, aku harus ke sana lagi?"

"Lebih baik kau segera berangkat, periksa lagi dengan teliti." ------------------------ooo00ooo-----------------------------Tungku masih hangat, di pinggir tungku ada arang yang masih menyala, di atas tungku juga ada wajan yang berisi air hangat. Sumur itu memang tidak ada airnya. Apa betul orang itu bersembunyi di dasar sumur? Dasar sumur amat gelap, Ma Ji-liong tidak melihat apa-apa kecuali kegelapan. Waktu kecil Ma Ji-liong pernah meyakinkan Pia-hou-kang (Ilmu Cecak Merambat). Untuk memeriksa keadaan dasar sumur tidak sukar, tapi kalau benar ada orang bersembunyi di dasar sumur, bila ia melorot ke bawah, tentu akan mudah disergap dan mungkin terbunuh secara konyol. Kalau betul orang itu buronan, jejaknya tentu pantang diketahui orang, maka jiwanya nanti takkan diampuni. Dengan bekal kepandaiannya, Ma Ji-liong mungkin mampu mempertahankan diri, mungkin juga mampu balas menyerang. Tapi kenapa harus menyerempet bahaya? Tiada alasan dan tujuan apa pun untuk berkorban secara konyol, ia sudah siap meninggalkan tempat itu, siap mendengarkan omelan Cia Giok-lun pula. Walau belum pernah menikah, belum menjadi suami, namun Ma Ji-liong sudah maklum, sudah paham, seorang suami kalau selalu diomeli isterinya yang cerewet, bagaimana rasa dan keadaannya. Sebelum Ma Ji-liong beranjak meninggalkan mulut sumur, mendadak didengarnya suara dingin berkumandang dari dasar sumur.

"Thio-laupan, kau sudah datang?"

Suaranya serak rendah, betul adalah suara pembeli garam itu, Ji-liong kenal suaranya. Sebelum dirinya melihat persembunyiannya, orang sudah tahu kedatangannya. Ma Ji-liong tertawa getir, sahutnya.

"Ya, aku datang."

Pembeli garam berkata pula.

"Kalau sudah datang, kenapa tidak turun ke mari dan duduk mengobrol sebentar?"

Kalau mau Ma Ji-liong bisa tinggal pergi dengan leluasa, tiada orang yang bisa merintangi, tapi orang di dasar sumur sudah tahu kedatangannya, umpama sekarang pergi, orang akan meluruk ke toko untuk membuat perhitungan dengan dirinya.

Seorang buronan tentu harus merahasiakan jejaknya.

Ma Ji-liong maklum dan tahu akan hal ini, karena ia juga terhitung buronan, sekarang ia juga sedang menyembunyikan diri.

"Baik, aku akan turun,"

Sahutnya kemudian.

--------------------------ooo00ooo-------------------------Sinar api mendadak menyala di dasar sumur yang semula gelap gulita, setitik sinar lampu kecil.

Di dasar sumur ternyata ada dua orang, seorang adalah pembeli garam, seorang lagi orang yang makan garam.

Pemakan garam ini berpundak lebar, kaki panjang, jidat tinggi, tulang pipi menonjol, seharusnya terhitung laki-laki yang bertubuh kekar, namun sekarang sudah menjadi kurus kering tinggal kulit membungkus tulang, keadaannya tidak menyerupai manusia umumnya, kulit badannya kering.

Anehnya ia terus meneguk air, seteguk air segenggam garam, lalu menelan sebutir telur ayam.

Bukan saja tak takut asin, juga tidak mati karena terlalu banyak makan garam, air yang tertelan ke perutnya entah mengalir ke mana.

Kulit badannya kelihatan mirip tanah liat yang kering kerontang lalu merekah.

-----------------------ooo00ooo--------------------------Bab 19.

Berbuat Pasti Ada Tujuan Pembeli garam duduk di pinggir sambil minum arak, hanya sebotol arak untuk dirinya sendiri.

Ia minum seteguk demi seteguk, minum perlahan-lahan, gayanya mirip setan arak yang kikir, mau minum tidak mau merogoh kantong, yang pasti ia gemar minum tapi sayang keluar uang.

Di sini, di dasar sumur ini, tidak bisa tidak harus minum arak, tapi tidak boleh mabuk.

Badan harus selalu segar, pikiran harus selalu jernih, karena harus menjaga keselamatan dan merawat kesehatan saudaranya, mengawasi orang yang tidak takut asin dan terus melalap garam seperti kakap mencaplok teri itu.

Dasar sumur ternyata amat lebar dan luas, di situ ada sebuah pembaringan, sebuah meja dan satu kursi.

Lampu minyak kecil terletak di atas meja.

Pemakan garam duduk setengah tiduran di ranjang, pembeli garam duduk di kursi.

Duduk diam dan tenang mengawasi Ma Ji-liong yang melorot turun dengan Pia-hou-kang.

Tangan yang memegang botol kelihatan gede dan kasar, kuku jarinya mengkilap, jelas pernah meyakinkan ilmu pukulan sejenis Cu-soa-ciang yang keji.

Di pinggir kursi tergeletak sebatang Cucoat-pian yang berat, ruyung beruas tujuh yang terbuat dari baja murni, selintas pandang bobotnya mungkin ada empat-lima puluh kati.

Senjata itu tergeletak di tempatnya, pembeli garam itu juga tetap duduk minum, yang pasti Ma Ji-liong disambut dengan sikap dingin dan pandangan tajam penuh selidik.

Dengan menatap dingin, pembeli garam berkata.

"Thio-laupan, kami sudah menduga, cepat atau lambat, kau pasti ke mari, terbukti sekarang kau berada di sini."

"Kau tahu aku akan ke mari?"

Tanya Ma Ji-liong tidak mengerti.

"Dari mana kau tahu?"

Pembeli garam meneguk araknya sekali, seteguk kecil saja, lalu berkata.

"Jika aku membuka toko, tiap hari ada orang yang membeli dua kilo garam, aku pun akan curiga."

Sambil menyeringai dingin, ia melanjutkan.

"Tapi seseorang yang betul-betul membuka toko, berusaha mencari nafkah secara jujur, umpama merasa heran dan curiga terhadap langganannya, ia pasti takkan mencampuri urusan orang lain, sayang kau bukan pengusaha toko."

"Aku bukan apa?"

"Kau bukan pengusaha toko yang baik, pengusaha tulen,"

Demikian desis si pembeli garam.

"Seperti juga aku, tidak pantas membeli garam di tokomu itu."

"Agaknya kau pandai melihat kenyataan,"

Ujar Ji-liong. Pembeli garam berkata.

"Kau ingin tahu asal-usulku, bukan? Ketahuilah, aku pun sudah mencari tahu tentang dirimu. Seharusnya kau bernama Thio Eng-hoat, delapan belas tahun membuka toko, kau punya bini yang sakit-sakitan dan seorang pegawai yang jujur setia, selama hidup Thio Enghoat tidak suka ikut campur urusan orang lain."

Sampai di sini ia menghela napas.

"Sayang kau bukan Thio Eng-hoat yang sesungguhnya, pasti bukan."

"Dari mana kau tahu aku bukan Thio Eng-hoat?"

Tanya Ma Ji-liong.

"Kuku jarimu terlalu bersih, rambut pun tersisir rapi, malah setiap hari kau mandi. Aku sudah mencari tahu, Thio Eng-hoat yang asli adalah laki-laki yang jorok dan bau, laki-laki yang pelit lagi kikir, dua tiga hari bisa tidak mandi atau ganti pakaian, tapi teliti menghitung laba rugi dagangannya. Karena rajin kerja itulah maka isterinya selalu mengomel dan menggerutu, sehingga jatuh sakit."

Ma Ji-liong diam saja, tidak membantah.

Ia maklum dirinya sedang berhadapan dengan kawakan Kangouw yang banyak pengalaman.

Sebelum Ma Ji-liong menaruh curiga terhadapnya, orang sudah lebih dulu menaruh perhatian terhadap dirinya.

"Kalau kau bukan Thio Eng-hoat, lalu siapa kau? Kenapa kau menyaru sebagai Thio Eng-hoat? Thio Eng-hoat yang asli kau apakan? Di mana dia sekarang?"

Ujar si pembeli garam. Lebih jauh ia berkata.

"Persoalan ini sering kupikirkan, sejak lama kupikirkan."

"Kau sudah mendapatkan jawabannya?"

"Hanya sedikit, tidak berarti."

"Sedikit bagaimana?"

"Aku yakin kejadian ini pasti direncanakan secara cermat. Setiap segi, setiap langkah sudah diperhitungkan dengan seksama. Kau bisa menyamar sebagai Thio Eng-hoat, dapat mengelabui isterinya yang sudah menikah dan hidup bersama selama belasan tahun lamanya, demikian pula pegawainya, ini membuktikan bahwa kau berganti rupa dengan tata rias yang luar biasa baiknya,"

Nadanya tegas dan pasti, lalu sambungnya.

"Meski tidak sedikit kaum persilatan yang ahli di bidang tata rias, tapi yang mampu berbuat sebagus ini, di kolong langit ini mutlak hanya satu orang saja."

Yang dimaksud orang yang satu ini tentu Ling-long-giok-jiu Giok Ling-long. Lebih jauh pembeli garam berkata.

"Giok-toasiocia pernah bilang, dua puluh tahun beliau tidak mencampuri urusan Kangouw, tapi ada seorang yang dapat menyeretnya keluar untuk mengembangkan keahliannya."

"Ya, memang hanya satu orang saja,"

Ucap Ma Ji-liong.

"Mutlak hanya satu orang. Kecuali Kanglam Ji Ngo, tiada orang lain yang bisa mengundang dan meminta bantuannya."

Ma Ji-liong menyengir kecut.

Akhirnya dia paham, di dunia ini tiada rencana betapa pun sempurnanya yang tidak bisa dibongkar, tidak ada titik kelemahannya, juga tidak ada rahasia yang selalu bisa mengelabui orang.

Sayang, sejauh ini Ma Ji-liong belum berhasil membongkar rahasia Khu Hong-seng.

Pembeli garam berkata pula.

"Kau sudah diatur sedemikian rapi, memakan banyak waktu dan tenaga, berjerih payah menyamar sebagai pemilik toko serba ada, itu berarti kau sama dengan kami, kau juga seorang buronan, menyingkir dari muka umum dan bersembunyi dari pelacakan musuh. Berbagai hal di atas dapat kami simpulkan, bahwa musuh yang menuntut jiwamu pasti jauh lebih menakutkan dibanding musuh kami."

Dengan tertawa pembeli garam menambahkan.

"Sebagai sesama buronan, orang yang dikejar-kejar musuh, buat apa harus menyelidiki rahasiamu? Sebetulnya kau tidak perlu mencari tahu tentang diriku, karena setiap hari aku akan membeli garam di tokomu."

"Sebetulnya aku tidak punya niat ke mari,"

Ujar Ma Ji-liong menghela napas.

"Tapi kau sudah berada di sini,"

Ujar pembeli garam.

"Apa kau hendak membunuhku?"

Tanya Ma Ji-liong.

"Kanglam Ji Ngo mau membantumu, kalau kau keroco, kuyakin dia takkan bersusah payah, kau pasti punya latar belakang yang meyakinkan. Umpama aku berniat membunuhmu, belum tentu aku berhasil."

Dengan tertawa pembeli garam berkata.

"Jika betul kau adalah orang yang kuduga, bila mau turun tangan, mungkin aku yang mati lebih dulu di tanganmu."

Ma Ji-liong berkata.

"Siapakah orang yang kau duga itu?"

"Ma Ji-liong,"

Sahut si pembeli garam.

"Tuan muda Thian-ma-tong, Pek-ma Kongcu Ma Ji-liong."

Berdebar keras jantung Ma Ji-liong. Kalau wajahnya tidak dipermak oleh Giok-jiu-ling-long, orang pasti melihat betapa jelek perubahan mimik mukanya. Ji-liong balas bertanya.

"Berdasarkan apa kau mengira aku Ma Ji-liong?"

"Ya, aku punya alasan."

Alasannya adalah buronan terbesar yang sedang dikejar-kejar kaum persilatan saat ini adalah Ma Jiliong.

Hanya Ma Ji-liong saja yang mungkin mendapat bantuan Kanglam Ji Ngo.

Pembeli garam berkata lebih jauh.

"Dalam kalangan Kangouw, ada tiga marga besar persilatan, Ngo-toa-bun-pay (Lima Perguruan Besar), mereka berani mengeluarkan hadiah lima laksa tahil emas murni bagi siapa saja yang bisa membekuk atau membunuh Ma Ji-liong. Jago-jago kelas wahid yang dikerahkan untuk mencari jejakmu ada lima-enam puluh orang, hanya murid-murid Kaypang saja yang tidak ikut berlomba memperebutkan hadiah sebesar itu, mereka seperti tutup mata dan menyumbat telinga, seolah-olah segan mencampuri urusan ini."

Murid Kaypang tersebar luas, jumlahnya juga tidak terhitung banyaknya, kekuasaan mereka berkembang terus makin luas dan besar.

Di seluruh pelosok dunia ada orang mereka yang bisa memberi informasi yang tidak mudah diperoleh pihak lain, tidak sedikit ahli-ahli mereka yang pandai melacak jejak orang.

Dapat kita bayangkan betapa besar ongkos kehidupan untuk keperluan organisasi besar ini, lima laksa tahil emas bukan nilai yang kecil.

Pembeli garam berkata pula.

"Kenapa mereka tak ikut berlomba memperebutkan hadiah besar itu? Bagiku sudah jelas, karena Kanglam Ji Ngo punya hubungan intim dengan Ji-liong."

Lama Ma Ji-liong terpekur, lalu berkata perlahan.

"Sebetulnya tidak perlu kau bicara sepanjang itu."

"Setelah kubeberkan rahasiamu, kau akan membunuh aku? Kau kira aku ingin lima laksa tahil emas murni itu?"

"Apa kau tidak ingin kaya?"

Ma Ji-liong menegas.

"Aku tidak ingin kaya,"

Sahut pembeli garam.

"Kenapa?"

Tanya Ma Ji-liong. Sebelum pembeli garam menjawab, pemakan garam menyeletuk.

"Karena aku." ----------------------------ooo00ooo------------------------Laki-laki kurus ini terus mengganyang garam dengan lahap, garam kasar lagi murni, garam yang asin. Sukar dibayangkan ada manusia yang suka makan garam sebanyak itu. Sudah separoh dari dua kilo garam itu dilalap orang ini. Setelah 10 butir telur ayam masuk ke perutnya, rona wajahnya baru kelihatan merah, baru leluasa ia bicara, katanya.

"Selama dua puluh tahun, orang-orang yang ingin menjagal kepalaku, yakin tidak kalah jumlahnya dibanding dengan mereka yang mengejarmu. Bagaimana rasanya orang yang difitnah, aku sudah kenyang merasakannya."

Kelihatan ia lemah lagi kurus, tapi waktu berbicara sikapnya kelihatan berwibawa.

"Lima laksa tahil emas memang tidak sedikit, tapi jumlah sebesar itu tidak terpandang dalam mataku."

"Dari mana kau menduga kalau aku difitnah orang?"

Pemakan garam menjelaskan.

"Karena aku percaya kepada Ji Ngo. Kalau bukan terfitnah, maka dialah orang pertama yang akan membunuhmu."

"Kau siapa?"

Tanya Ma Ji-liong.

"Seperti kau, aku juga sering difitnah orang, seorang yang kepalanya berharga ribuan tahil, seorang yang terpaksa menyembunyikan diri seperti tikus yang takut dilihat orang. Kami belum ingin mati, kami ingin membersihkan diri, umpama akhirnya mati juga harus mempertahankan nama baik, maka sebelum masuk liang kubur, kami harus membongkar dulu kasus itu, membekuk orang yang memfitnah kami, menangkap biang keladinya."

Pemakan garam tertawa besar, tawa yang getir lagi memilukan.

"Tentang siapa namaku, lebih baik kau tidak tahu."

Ma Ji-liong menatapnya lekat sekian lama, lalu menoleh ke arah pembeli garam, katanya.

"Aku percaya kau tak akan mengkhianati aku."

"Aku juga percaya padamu,"

Ujar pemakan garam sambil mengulurkan tangannya.

Seperti juga telapak tangan pembeli garam, jari dan telapak tangan pemakan garam ini pun kasar, besar lagi dingin.

Waktu Ji-liong bergenggam tangan dengan orang, timbul rasa hangat di dalam dadanya.

Pemakan garam tertawa lebar, katanya.

"Pergilah, aku tidak merintangimu."

"Kalau kalian memerlukan garam, aku tidak akan banyak usil lagi."

Pemakan garam mengawasinya, lalu menghela napas, ujarnya.

"Sayang baru hari ini kita bertemu, aku terluka dalam separah ini, mungkin aku takkan bisa membersihkan nama baikku, membongkar fitnah keji itu. Kalau bisa bertahan hidup lebih lama lagi, aku ingin bersahabat dengan engkau."

"Sekarang belum terlambat kau bersahabat denganku, bersahabat dengan kawan tidak harus saling memperalat, tetapi harus saling membantu."

Pemakan garam bergelak tawa, suaranya serak lagi pendek, ternyata ia tidak bisa tertawa lagi, tapi sikap dan perbawanya kelihatan gagah dan berwibawa, katanya.

"Aku tidak perduli apakah kau Ma Ji-liong atau bukan. Perduli siapa kau, aku suka dan senang bersahabat dengan engkau."

Dengan kencang Ma Ji-liong menggenggam tangan orang.

"Aku juga tidak perduli siapa kau, aku pun senang bersahabat dengan kau." -----------------------------ooo00ooo------------------------------Saat itu belum terang tanah, cuaca masih gelap, hawa dingin sekali. Tapi perasaan Ma Ji-liong amat hangat, sekujur badan terasa panas, dadanya seperti dibakar. Hari ini, tepatnya pagi ini, ia bersahabat dengan seorang gagah, laki-laki jantan, kawan setia. Bersahabat dengan seorang yang tidak dikenal asal-usulnya, tanpa perduli apa akibat dan bagaimana tanggung-jawabnya, tapi mereka benar-benar tahu sama tahu, seia sekata, kawan karib, sahabat sejati. Jika menemukan dan bersahabat dengan kawan seperti itu, maka ia akan dapat menyelami perasaan Ji-liong. Sayang sekali, jarang ada manusia di dunia ini yang bisa bersahabat seperti jalinan batin pemakan garam dengan Ma Ji-liong. -------------------------------ooo00oo-------------------------------"Kau bersahabat dengan dia,"

Cia Giok-lun belum tidur. Pertanyaan pertama yang diajukan sejak mendengar laporan Ma Ji-liong.

"Padahal siapa dia kau tidak tahu, tapi kau mau berkenalan dan bersahabat dengan dia?"

Ma Ji-liong berkata.

"Biar seluruh umat manusia di dunia ini menganggap dia sebagai musuh, semua orang ingin mencincang atau mencacah tubuhnya, aku tetap bersahabat dan rela berkorban untuknya."

"Lho, kenapa?"

Cia Giok-lun menegas dengan nada tidak mengerti.

"Tidak kenapa."

Tidak kenapa.

Dua patah kata yang besar maknanya, dua patah kata yang menjalin persahabatan dua insan manusia yang berbeda.

Jika 'karena sesuatu' kau bersahabat dengan orang, sahabat macam apakah kenalan baikmu itu?

Terhitung teman macam apa pula kau ini?

----------------------------ooo00ooo-------------------------------Cahaya sudah tampak memutih di luar jendela.

Ma Ji-liong duduk di bawah jendela, Cia Giok-lun mengangkat kepala mengawasinya dengan badan miring.

Lama sekali baru ia menghela napas, katanya.

"Aku tahu maksudmu, tapi aku tak bisa berbuat seperti itu."

Seorang gadis muda yang dapat memahami segi-segi kehidupan yang serba ruwet tentang citra rasa dan perasaan memang jarang ada, memang jarang ada orang yang bisa berbuat seperti itu.

Mendadak Cia Giok-lun bertanya.

"Tahukah kau kenapa temanmu itu harus makan garam?"

Ji-liong menggelengkan kepala, ia tidak tahu karena tidak bertanya.

"Aku tahu,"

Ujar Cia Giok-lun.

"Karena terkena pukulan Sam-yang-coat-hu-jiu."

"Sam-yang-coat-hu-jiu,"

Ma Ji-liong adalah keturunan keluarga persilatan, namun belum pernah ia mendengar nama ilmu pukulan keji itu.

"Ilmu pukulan yang sudah lama putus turunan, maksudnya sudah lama tidak pernah dipelajari manusia lagi. Orang yang terkena pukulan ini sekujur badannya akan kehilangan kadar air, kulit badan akan mengering dan merekah, lebih celaka lagi sekujur badan pati rasa, keinginannya hanya makan garam melulu. Makin banyak garam yang dimakan, makin banyak air yang ia butuhkan, luka dalamnya juga akan lebih parah. Bila mati, sekujur badan akan pecah, seperti roti kering yang merekah karena dipanggang terlalu lama di perapian yang bersuhu tinggi,"

Sejenak Cia Giok-lun termenung, lalu melanjutkan.

"Makan telur ayam memang lebih baik dibanding minum air, tapi paling lama hanya bisa memperpanjang usianya setengah bulan, akhirnya akan tetap mampus juga."

"Mutlak tidak bisa ditolong?"

Tanya Ma Ji-liong. Tidak menjawab pertanyaan Ma Ji-liong, Cia Giok-lun malah balas bertanya.

"Orang macam apakah temanmu itu? Bagaimana tampang dan perawakannya?"

"Kupikir semula dia seorang laki-laki kekar, perawakannya tinggi tegap, kedua pundaknya setengah kaki lebih besar dibanding pundak orang biasa, tangan besar kaki gede, pukulan tenaga luarnya tentu diyakinkan dengan sempurna,"

Demikian tutur Ma Ji-liong.

"Walau dia terluka parah hampir mati, waktu bicara dan gerak-geriknya tetap kelihatan gagah dan berwibawa."

Sorot mata Cia Giok-lun seperti bercahaya.

"Sudah terpikir siapa dia,"

Katanya.

"Siapa?"

Cia Giok-lun tidak menjawab langsung.

"Ilmu pukulan jenis ini jauh lebih keji, lebih dahsyat dibanding Sam-im-coat-hu-jiu dari keluarga Im dan Cui, jauh lebih sukar diyakinkan, karena orang yang meyakinkan ilmu ini selama hidup tidak boleh bergaul dengan perempuan."

Selama hidup tidak boleh bergaul dengan perempuan maksudnya adalah tidak pernah kawin, alias tidak punya bini, berapa banyakkah orang-orang Kangouw yang jejaka kecuali Hwesio?

"Menurut apa yang kutahu,"

Ujar Cia Giok-lun lebih lanjut.

"Selama lima puluh tahun ini, yang meyakinkan ilmu ganas dan keji itu hanya seorang."

"Siapa?"

Ma Ji-liong mendesak.

"Coat-taysu,"

Ucap Cia Giok-lun.

"Coat-taysu selalu bertindak tegas dan tuntas dalam perkara. Setiap musuh yang dianggap jahat, tidak pernah diberi ampun, tapi jarang menggunakan ilmu pukulan keji yang amat dirahasiakan itu. Kecuali lawan memang gembong silat yang benar-benar lihai dan menakutkan, itu pun kalau dia kepepet dan kewalahan baru melancarkan ilmu pukulan itu."

Sudah lazim bahwa tokoh silat kosen di Kangouw menyembunyikan ilmu tunggal yang diyakinkannya.

Jika jiwa tak terancam bahaya, tidak akan mengeluarkan ilmu kebanggaannya.

Apalagi ilmu pukulan jahat seperti Sam-yang-coat-hu-jiu harus diyakinkan dengan syarat tidak boleh kawin selama hidup.

Bagi kaum persilatan yang punya kedudukan dan nama besar di Bulim, bila selama hidup tidak bergaul dengan perempuan alias tidak kawin, tentu dipandang tidak wajar dan aib, orang akan membayangkannya sebagai laki-laki tidak normal, laki-laki mandul, lelaki impoten, mana ada tokoh silat yang mau dipandang sebagai pendekar impoten.

"Jika tidak terpaksa terdesak oleh keadaan hingga tiada pilihan lain, Coat-taysu takkan melancarkan Sam-yang-coat-hu-jiu,"

Kata Cia Giok-lun, lalu ia bertanya pada Ma Ji-liong.

"Berapa banyak jago silat di Kangouw yang bisa menyudutkan Coat-taysu hingga ia bernasib mengenaskan?"

"Ya, hanya beberapa orang saja,"

Sahut Ma Ji-liong.

"Pernah dengar nama besar Hoan-thian-hu-te (Membalik Langit Mengaduk Bumi) Thiat Tinthian?"

Cia Giok-lun bertanya.

"Dia masuk hitungan tidak?"

Ma Ji-liong tahu dan sadar bahwa air mukanya pasti berubah waktu mendengar nama julukan orang itu.

Sebagai insan persilatan, wajar kalau Ji-liong pernah mendengar ketenaran nama Hoan-thianhu-te Thiat Tin-thian, tokoh legendaris yang sudah malang melintang sejak dua puluh tahun yang lalu, membunuh orang seperti membabat rumput, tak terhitung jumlah korban jiwa di tangannya, perkaranya menumpuk bagai gunung.

Betapa banyak kaum persilatan yang ingin memenggal kepalanya, umpama tidak ribuan pasti ada ratusan banyaknya, tokoh besar atau penjahat yang ditakuti orang, tingkat kejahatan yang pernah ia lakukan tak berlebih kalau dijuluki Membalik Langit Mengaduk Bumi.

Jejak Hoan-thian-hu-te bagai mega, orang sukar mengikuti jejaknya, apalagi ilmu silatnya amat tinggi, hati kejam tangan telengas, orang-orang yang kesamplok atau musuh yang menemukan jejaknya juga pasti tergetar bubar sukmanya, kalau kepala tidak pecah tentu badan yang terpukul remuk oleh telapak tangan besinya.

"Coba pikir, mungkin tidak temanmu itu adalah Thiat Tin-thian?"

Tanya Cia Giok-lun. Ma Ji-liong menunduk, mulutnya bungkam. Orang itu jelas adalah Thiat Tin-thian.

"Selama dua puluh tahun, betapa banyak orang yang ingin memenggal kepalaku, ratusan lipat lebih banyak dibanding musuh yang menginginkan jiwamu. Lima laksa tahil emas tidak terpandang dalam mataku" . Kecuali Thiat Tin-thian, siapa lagi yang berani mengucapkan kata-kata demikian. Tapi ia pun pernah berkata begini.

"Bagaimana rasanya difitnah orang, aku juga sudah mengalaminya."

Mendadak Ma Ji-liong mengangkat kepala, katanya lantang.

"Aku tidak perduli siapa dia, perduli apa yang pernah ia lakukan, kupikir ada latar belakang yang tidak diketahui orang sehingga terpaksa melakukan kejahatan. Situasi mendesak dan memojokkan dirinya, terpaksa ia bertindak lebih ganas, lebih banyak korban jatuh, dipandang dari kaca mata kaum pendekar, ia adalah gembong penjahat yang harus ditumpas."

"Apakah Coat-taysu juga memfitnah orang baik?"

Tanya Cia Giok-lun. Ma Ji-liong tertawa dingin, katanya.

"Orang-orang yang ia fitnah bukan hanya Thiat Tin-thian saja."

Cia Giok-lun menghela napas, katanya.

"Kau ini memang orang baik. Bisa berkenalan dengan kau, siapa pun akan merasa beruntung, sayang sekali persahabatan kalian tidak akan bertahan lama."

"Apa betul luka dalamnya tak bisa ditolong lagi?"

Tawar suara Cia Giok-lun.

"Kalau aku adalah Toa-siocia dari keluarga Cia, mungkin aku bisa menolongnya."

Sengaja ia menghela napas.

"Sayang, aku hanya bini seorang pemilik toko yang sakit-sakitan, berjalan juga tidak mampu, penyakitku sendiri tak mampu kuobati, bagaimana mungkin mengobati orang lain?"

Ma Ji-liong kehabisan kata.

Dia maklum apa yang dimaksud Cia Giok-lun.

Kalau ia membeberkan duduk persoalannya, mungkin Cia Giok-lun mau menolong Thiat Tin-thian.

Tapi kalau ia berbuat demikian, itu berarti ia ingkar terhadap Toa-hoan, juga mengkhianati Ji Ngo, mereka juga teman baiknya.

Cia Giok-lun membalikkan badan, mungkur ke arah dinding, katanya.

"Kau sudah lelah, tidurlah."

Ma Ji-liong tidak tidur, ia tahu dirinya pasti tak bisa tidur.

Entah pura-pura tidur atau benar-benar sudah lelap, ternyata Cia Giok-lun tidak bergerak, juga tidak mengajak bicara lagi.

Fajar baru saja menyingsing, di luar masih belum terdengar suara orang.

Perlahan Ma Ji-liong mendorong pintu, dengan kalem ia melangkah keluar.

Bab 20.

Tiada Pilihan Lain Beberapa langkah setelah meninggalkan rumah, baru Ma Ji-liong mendengar suara tangis bayi dari rumah seberang.

Beberapa langkah kemudian, sebuah pintu kecil yang ditempel kertas gambar malaikat rejeki terbuka.

Nyonya muda dengan perutnya yang buncit itu sedang berdiri di depan pintu, mengantar suaminya yang masih muda tegap berangkat kerja di ladang.

Ma Ji-liong sengaja pura-pura tidak melihat.

Suami muda itu juga tidak menoleh ke kanan kiri, dia beranjak pergi sambil menjinjing buntalan dan memanggul pacul.

Nyonya muda itu juga tidak memperhatikan Ma Ji-liong, ia memutar tubuh terus merapatkan pintu.

Bagai anak panah terlepas dari busurnya, mendadak Ma Ji-liong menjejakkan kaki, tubuhnya melejit ke depan, beberapa kali lompatan langsung menerobos ke pekarangan belakang To Po-gi.

Ada suara di dapur, suara ketikan batu untuk menyalakan api, lalu suara membasuh beras hendak menanak nasi.

Isteri To Po-gi memang perempuan yang rajin dan setia, tahu apa kewajibannya, sepagi ini sudah siap menanak nasi untuk suami yang akan bekerja di kantor.

Ma Ji-liong tidak perduli, tidak memperhatikan keadaan sekelilingnya, To Po-gi pernah berlatih silat, dulu mungkin pernah menjadi anak buah Thiat Tin-thian, tidak perlu kuatir dirinya kepergok oleh suami isteri itu.

Dengan kecepatan tinggi, Ji-liong bergerak lincah melompat ke dalam sumur.

---------------------------------ooo00ooo-----------------------------------Sekati arak beras sudah diminum habis, pembeli garam kelihatan lebih segar meski semalam suntuk tidak tidur, ia sedang membenahi pembaringan temannya.

Pemakan garam juga tidak tidur, sisa setengah bungkus garam tadi sudah dimakan lagi hingga tinggal seperempat.

Melihat kedatangan Ji-liong, mereka tidak menunjukkan sikap kaget atau heran, seolah-olah sudah tahu bahwa Ma Ji-liong bakal kembali lagi.

Begitu kakinya menginjak dasar sumur, Ma Ji-liong langsung bertanya.

"Kau adalah Thiat Tinthian, bukan?"

"Betul,"

Sahut pemakan garam, suaranya tegas dan gamblang.

"Aku adalah rampok besar Thiat Tinthian yang gemar membunuh orang."

"Kau terpukul Sam-yang-coat-hu-jiu Coat-taysu?"

"Betul,"

Sikapnya tampak heran dan kaget, tapi Thiat Tin-thian tidak balas bertanya dari mana Ma Ji-liong mendapat tahu.

"Luka dalammu masih bisa ditolong?"

Tanya Ji-liong pula. Kali ini Thiat Tin-thian balas bertanya.

"Kenapa kau mencampuri urusanku?"

"Karena kau adalah temanku."

"Kau sudah tahu kalau aku adalah Thiat Tin-thian, masih berani kau berkawan dengan aku?"

"Aku sudah bersahabat denganmu. Perduli siapa kau, sikapku tidak berubah."

Thiat Tin-thian menatapnya lekat-lekat, mendadak ia tertawa lebar.

"Selama hidup betapa banyak kesalahan yang pernah dilakukan Thiat Tin-thian, tapi belum pernah keliru bersahabat dengan orang."

Thiat Tin-thian benar-benar tertawa, tawa yang riang. Setelah bersahabat dengan seorang kawan, umpama dirinya terbunuh juga akan mati dengan meram, tidak menyesal. Pembeli garam menyeletuk.

"Selama hidup dia memang banyak melakukan kesalahan, karena berwatak kasar, berangasan, gegabah dan emosional. Demi membela seorang teman, perbuatan apa pun berani dilakukannya."

Dengan suara tandas pembeli garam meneruskan.

"Kali ini pasti tidak berbuat salah."

Apa yang ia lakukan kali ini? Bagaimana sampai difitnah orang? Ji-liong mengulangi pertanyaannya tadi, ia percaya orang ini.

"Luka-lukamu bisa disembuhkan?"

"Bisa,"

Sahut pembeli garam.

"Hanya sejenis obat di dunia ini yang dapat menolong jiwanya."

"Obat apa?"

Pembeli garam menghela napas, roman mukanya guram, katanya.

"Kujelaskan juga tidak berguna, karena obat itu mutlak tidak bisa kami peroleh."

Dengan tertawa getir ia menambahkan.

"Bukan saja sukar untuk memperolehnya, dicuri juga tidak bisa, direbut apa lagi, kalau bisa tentu sudah kurebut atau kucuri."

Untuk menolong jiwa temannya, umpama harus mencuri dan merebut milik orang lain, apakah perbuatan itu terhitung salah? Ma Ji-liong tertawa pula.

"Obat yang kalian maksud apakah bisa diperoleh dari keluarga Cia?"

Terbeliak mata si pembeli garam, suaranya juga meninggi.

"Dari mana kau tahu kalau keluarga itu she Cia?"

Perubahan roman mukanya terlalu cepat, menyolok dan aneh.

"Kenapa aku tidak bisa tahu?"

"Karena......."

Suaranya terhenti, sikapnya bimbang. Untuk membeberkan rahasia, jelas tidak berani berterus terang. Dengan suara keras Thiat Tin-thian menimbrung.

"Orang itu tidak mau orang luar tahu dirinya she Cia. Dulu ia pernah mengalami pukulan batin yang menyedihkan. Siapa saja, bila menyinggung perkara lama, pasti tak diberi ampun."

"Siapakah dia?"

Desak Ma Ji-liong.

"Bik-giok Hujin dari Bik-giok-san-ceng, lukaku hanya dapat disembuhkan dengan Bik-giok-cu milik keluarganya."

Ma Ji-liong melenggong.

Bik-giok Hujin ternyata she Cia, pernah ada hubungan apa Cia Giok-lun dengan Bik-giok Hujin?

Apa gadis itu ada hubungannya dengan Bik-giok-san-ceng?

Mendadak Ji-liong sadar, urusan ini pasti ada latar belakang yang ruwet lagi genting.

Dulu tak pernah ia memikirkan persoalan ini, tapi sekarang harus memutar otak.

Sekonyong-konyong seseorang tertawa dingin dan berkata di mulut sumur di sebelah atas.

"Thian Tin-thian, kau tak bisa lolos dari sini. Thiat Coan-gi, kau juga menyerah saja, jiwamu boleh diampuni."

Para pengejar itu akhirnya menemukan sumur ini, jejak mereka sudah ketahuan.

Bila buronan berada di dalam sumur, umpama ikan di dalam kuali, jelas takkan bisa lolos lagi, memangnya ke mana mereka bisa melarikan diri?

Perasaan Ma Ji-liong seberat batu yang tenggelam ke dasar air dingin.

Ia kenal suara orang yang bicara di mulut sumur, bukan lain ialah Pang Tio-hoan.

Kalau Pang Tio-hoan sudah datang, Coattaysu pasti juga berada di sini, demikian pula Cia-go Hwesio dan Giok-tojin pasti ikut datang.

Umpama bukan dirinya yang menjadi buronan, dirinya juga bisa keluar dari tempat ini.

Ma Ji-liong sudah akan bicara, mendadak Thiat Tin-thian mendekap mulutnya dengan sebelah tangan.

Dengan tangan yang lain dia menjejalkan garam ke dalam mulut sendiri.

Setelah garam tertelan, baru ia bergelak tawa, serunya.

"Betul, aku memang ada di sini, adikku juga ada, kami menunggumu."

Sesaat tidak terdengar jawaban dari atas.

Orang-orang di atas seperti sedang heran dan bingung, kenapa Thiat Tin-thian belum mampus setelah terpukul Sam-yang-coat-hu-jiu yang ganas itu?

Nada bicaranya juga masih segar dan bertenaga.

Sesaat kemudian baru terdengar Coat-taysu berkata dengan nada dingin.

"Thiat Tin-thian, naiklah ke atas, jiwa Thiat Coan-gi akan kuampuni."

Thiat Coan-gi adalah pembeli garam.

"Kami bersaudara sudah seia sekata, bersumpah setia, sehidup semati, kalau harus mati biarlah kami mati bersama."

"Bagus,"

Teriak Thiat Tin-thian bergelak tawa.

"Ayolah turun kalau kalian hendak menagih jiwa kami berdua."

Coat-taysu tidak turun, tiada orang yang berani turun. Sumur itu memang buntu, tiada jalan lain untuk meloloskan diri, tapi siapa yang berani turun pasti mengantarkan jiwa dengan percuma.

"Mana mereka berani turun,"

Thiat Tin-thian merendahkan suara setengah mengejek.

"Mereka diagulkan sebagai pendekar besar, buat apa gagah-gagahan di sini."

"Ya, mereka yakin kita tak dapat melarikan diri,"

Thiat Coan-gi juga bicara dengan suara rendah.

"Mereka pasti menunggu di atas."

"Tetapi mereka pasti tak mau menunggu lama,"

Ujar Thiat Tin-thian.

"Pasti mencari akal untuk memancing kita keluar, entah menyerang dengan api atau asap, mengguyur air ke dalam sumur atau dengan cara keji lainnya."

Ma Ji-liong berkata.

"Sebagai pendekar yang diagulkan, apakah mereka juga berbuat sekeji dan sekotor itu?"

Thiat Tin-thian menyeringai, katanya.

"Berani saja, namanya saja pendekar, padahal perbuatannya tidak beda dengan bajingan, apalagi punya alasan untuk berbuat demikian."

Senyum wajahnya dilembari cemoohan dan rasa sedih serta penasaran.

"Menghadapi kawanan penjahat kejam seperti kita, cara apa pun berani mereka lakukan, sebab diagulkan sebagai pendekar, orang lain tidak menganggap perbuatan mereka rendah. Tapi kalau kami yang menggunakan cara seperti itu terhadap mereka, nilainya tentu berbeda."

Mendadak ia menggenggam tangan Ma Ji-liong.

"Apa betul kau sahabatku?"

Tanyanya tegas.

"Sudah pasti,"

Sahut Ma Ji-liong tegar.

"Usiaku jauh lebih tua, pantas tidak kau tunduk padaku?"

Ujar Thiat Tin-thian dengan nada tinggi.

"Menghadapi situasi genting ini, kau harus patuh terhadapku."

"Kasus apa yang kau maksud?"

"Mereka akan menyerang entah dengan api atau air, kami akan menerjang ke atas."

"Bagus,"

Tanpa sangsi Ma Ji-liong berkata.

"Sekarang juga kita bisa menerjang keluar bersama."

"Kami yang kumaksud adalah aku dan Thiat Coan-gi, adikku, bukan dengan engkau,"

Suara Thiat Tin-thian lebih lirih.

"Mereka hanya tahu aku dan Coan-gi bersembunyi di sini, tapi pasti tidak tahu ada orang ketiga berada di sini."

"Ya, mereka pasti tidak menduga majikan toko serba ada di kampung ini juga berada di sini, apalagi bersahabat dan menjadi kawan rampok besar macam Thiat Tin-thian yang ditakuti dan dibenci orang banyak."

"Yang akan mereka bekuk adalah kami berdua. Bila berhasil mereka pasti segera berlalu, takkan memeriksa tempat ini."

"Setelah mereka pergi, kau boleh keluar dan mengundurkan diri,"

Thiat Tin-thian menggenggam tangan Ji-liong lebih kencang.

"Perpisahan kita hari ini, mungkin menjadi perpisahan untuk selamanya. Aku tidak ingin kau menuntut balas bagi kematianku, juga tidak minta kau mencuci bersih nama baikku, membongkar kasus terpendam itu hingga fitnah ini tersingkap tabirnya. Aku hanya berharap kau bertahan hidup, menyelamatkan diri, berarti kau sudah bertanggung jawab terhadapku."

Untuk apa ia berkawan dengan Ma Ji-liong?

Tidak untuk apa-apa.

Dalam batin ia berdoa supaya temannya ini selamat, karena dia tahu ada sementara orang, kalau bertahan hidup adalah suatu usaha, suatu perjuangan yang serba sulit.

Ma Ji-liong hanya mendengarkan saja, diam tanpa memberi reaksi, juga tidak berbicara.

Banyak yang ingin diucapkan, tapi sepatah kata pun tidak keluar karena ia merasa tak perlu melimpahkan isi hatinya.

Dalam hati diam-diam ia sudah mengambil keputusan.

Thiat Tin-thian juga tidak bicara lagi, kembali ia melalap segenggam garam, segenggam demi segenggam terus dijejalkan ke dalam mulut dan langsung ditelannya.

Selama hayat masih dikandung badan, selama dirinya masih bernapas, masih bisa berjuang, ia berani dan harus mengadu jiwa.

Wataknya mirip Ma Ji-liong, dua orang yang berwatak sama seperti sengaja dipertemukan di dasar sumur.

-------------------ooo00ooo-------------------------------------Sudah sekian lama belum ada gerakan apa-apa di atas sumur, sudah pasti orang di dasar sumur takkan bisa melarikan diri, Coat-taysu memang orang yang sabar, tahan uji dan ulet.

Dari ikat pinggangnya Thiat Coan-gi meloloskan sebilah Bian-to, perlahan ia mengelus mata golok tipis itu dengan jari-jarinya yang panjang.

Mendadak ia mendesis penuh kebencian.

"Biar tubuhnya tercacah hancur, aku akan berusaha mengganyangnya lebih dulu."

"Siapa yang hendak kau ganyang?"

Tanya Thiat Tin-thian.

"Siapa lagi, To Po-gi tentunya,"

Sahut Thiat Coan-gi dengan penuh dendam.

"Jangan, tidak boleh kau membunuhnya."

"Dia telah mengkhianati kita, kenapa aku tak boleh mengganyangnya?"

"Karena dia sudah berkeluarga, punya bini yang akan melahirkan keturunannya. Bukan To Po-gi seorang yang mengkhianati temannya di dunia Kangouw, bukan hanya sekali ini kau dan aku dikhianati teman, lalu kenapa kau harus membunuhnya?"

Mendaak ia menghela napas panjang.

"Kalau kau ingin membunuh orang, pertama yang harus kau bunuh sekarang bukanlah To Po-gi, tapi aku."

"Kau?"

Teriak Thiat Coan-gi terbelalak.

"Jika bukan lantaran diriku, nasibmu takkan sejelek ini."

Thiat Coan-gi memandang saudaranya dengan tatapan tajam, mendadak ia terloroh-loroh, serunya.

"Betul, kau memang betul, kalau tiada kau, mana mungkin keadaanku menjadi begini. Ayahbundaku disembelih, isteriku digagahi secara bergiliran, anakku pun dibantai. Para pendekar itu beranggapan, kejadian itu adalah akibat perbuatan jahatku sendiri, ganjaran atas dosa-dosaku, aku harus menelan karma, menerima pembalasan atas kejahatanku. Bila tiada kau, siapa yang membantu aku menuntut balas, melampiaskan dendam kesumatku? Aku......."

Makin bicara makin emosi, suaranya menjadi serak dan tersendat. Kulit mukanya mengkeret basah oleh air mata, mendadak ia melompat berdiri sambil meraung.

"Thiat Tin-thian malang-melintang selama hidup, aku membunuh orang tak terhitung banyaknya, hari ini umpama batok kepalaku terpenggal, biar kujual kepada kalian, apa salahnya jiwaku melayang? Lekaslah kalian ambil saja."

Padahal dia Thiat Coan-gi, bukan Thiat Tin-thian.

Ia berkata demikian hanya ingin menerjang keluar lebih dulu, biar orang lain mengira dirinya Thiat Tin-thian dan mengincar jiwanya, biar dirinya berkorban asal saudaranya lolos dan selamat.

Dia tidak memikirkan lagi mati hidupnya.

Ji-liong tahu maksudnya, demikian pula Thiat Tin-thian juga maklum.

Mendadak ia bergelak tawa.

"Kau tak boleh rebutan dengan aku. Kalau harus mati, biar aku yang gugur lebih dulu. Selama hayat masih dikandung badan, siapa pun jangan harap mengusik dirimu."

Di tengah gelak tawanya yang panjang, tubuhnya yang kurus kering mirip tengkorak hidup, mendadak menubruk ke depan bagai harimau mengamuk.

Sebelah kakinya menginjak pundak Thiat Coan-gi, sekali jejak tubuhnya lantas melesat mumbul keluar mulut sumur.

Kejap lain, terdengar kumandang jeritan yang mengerikan dari mulut sumur.

Tangkas sekali Thiat Coan-gi juga ikut melompat keluar.

Tidak perduli siapa mati duluan atau mati belakangan, mereka harus mati bersama.

Kalau kejadian ini berlangsung setahun yang lalu, melihat teman segagah dan begitu perwira, air mata tentu berkaca-kaca di pelupuk mata, tapi sekarang air mata tidak berlinang, hanya darah yang bergolak di rongga dada.

Darah panas mendidih, seorang yang sudah bertekad mengucurkan darah, biasanya takkan mengucurkan air mata lagi.

Dia tahu, apa yang dikatakan Thiat Tin-thian memang tidak salah.

"Jika Ji-liong mau bersembunyi di dasar sumur, setelah kedua sahabatnya itu mati, musuh tentu akan pergi, dirinya akan punya waktu untuk meloloskan diri dan selamat pulang ke tokonya.

Hari-hari selanjutnya takkan ada orang yang membeli garam sebanyak itu, rahasia dirinya tetap adalah rahasia.

Dia bisa melupakan peristiwa ini, melupakan orang yang bernama Thiat Tin-thian dan lupa bahwa dirinya pernah mengenal seorang penjahat yang berjiwa ksatria.

Sebaliknya kalau sekarang ia ikut menerjang keluar, maka dirinya akan gugur bersama Thiat Tinthian.

Maklum bila dirinya keluar dari sumur, Coat-taysu dan begundalnya tentu akan mengeroyok, dan akan ketahuan pula siapa dia sebenarnya.

Seorang pemilik sebuah toko, hidup tenteram dan rukun, pasti tak mau membela Thiat Tin-thian yang terkenal jahat dan ganas, apalagi mau mempertaruhkan jiwa raga sendiri.

Demikian pula seorang yang berpikiran sehat dan punya akal budi lumrah, pasti tak mau melakukan perbuatan bodoh, mengorbankan jiwa sendiri secara percuma.

Ji-liong bukan orang bodoh.

Ia juga tahu, cara bagaimana harus mempertahankan jiwa raga sendiri.

Manusia hanya hidup sekali, hanya punya satu jiwa.

Seperti juga manusia umumnya, ia pasti sayang dan ingin mempertahankan hidupnya.

Sayang sekali pada detik-detik yang genting ini, mendadak Ji-liong sadar, ia menemukan sesuatu yang lebih berharga dibandingkan dengan jiwa orang hidup di dunia ini.

-------------------------------------ooo00ooo------------------------------------Coat-taysu memang menduga di dalam sumur hanya ada dua orang saja.

Jika ada orang yang mendadak menerjang keluar, mereka pasti amat kaget.

Di saat mereka kaget itulah, kesempatan yang amat berharga untuk Ma Ji-liong turun tangan.

Meski hanya sedikit kesempatan, Ma Ji-liong takkan mengabaikannya.

Umpama tak ada kesempatan, Ji-liong tetap akan menerjang keluar melabrak musuh.

Maka dengan tekad bulat, dengan mengerahkan seluruh kekuatan, ia pun menerjang keluar.

Bab 21.

Kesetiaan Yang Teruji Manusia kenapa harus mempertahankan hidup?

Apakah karena ia ingin melaksanakan tugas dan kewajiban yang harus dilakukan?

Kalau seorang beranggapan tugas yang mutlak ia kerjakan tak mampu ia lakukan, lalu apa artinya ia bertahan hidup?

Sumur itu terletak di tengah pekarangan.

Mentari pagi sudah memancarkan cahayanya yang benderang, hawa sejuk dan nyaman, tampak merah darah.

Darah memang berceceran di tanah.

Darah orang lain, juga darah dari tubuh Thiat Tin-thian dan Thiat Coan-gi.

Waktu Thiat Tin-thian menerjang keluar, sebilah Bian-to menyongsong batok kepalanya.

Golok tipis itu membacok lurus dengan jurus lihai, namun sekali raih sambil menundukkan kepala, Thiat Tin-thian berhasil menangkap pergelangan tangan orang terus dipelintirnya ke kiri, berbareng tangan yang lain mencengkeram pundaknya.

Di tengah raungan gusarnya, lengan orang ini ia betot hingga putus seperti pengemis menarik paha ayam panggang layaknya.

Sayang yang menjadi korban kelihaian permainan telapak tangannya bukan Coat-taysu, juga bukan Pang Tio-hoan, tapi seorang jago silat yang tidak terkenal.

Di luar pintu dapur ditaruh dua kursi, Coat-taysu dan Pang Tio-hoan tampak bercokol dengan kereng tanpa bergerak.

Dengan dingin mereka mengawasi buronan yang mirip tikus di tengah jalan raya, terkepung rapat dan tak mampu melarikan diri.

Jumlah orang yang berkumpul di sini tidak sedikit, mereka adalah orang-orang yang ingin mengganyang gembong iblis pembunuh saudara atau keluarganya, maka mereka pula yang harus beraksi, berebut pahala.

Kecuali menuntut balas, Coattaysu dan Pang Tio-hoan segan turun tangan, mereka menjaga gengsi, tidak mau menghadapi lawan yang sudah terluka.

Coat-taysu, Pang Tio-hoan dan lain-lain memang tidak menyangka kalau di bawah sumur masih ada orang ketiga.

Setiap manusia, siapa pun orangnya, bila menghadapi suatu peristiwa di luar dugaan atau di luar perhitungannya, sedikit banyak tentu akan terkejut.

Begitu lena sekejap saja, maka akan mengundang kesalahan yang fatal akibatnya.

Mumpung ada kesempatan, sebetulnya Ma Ji-liong sudah siap memberikan sergapan yang mematikan.

Asal seorang di antara dua gembong silat ini berhasil dilumpuhkan, itu berarti ia punya harapan dan peluang untuk merobohkan lagi yang lain.

Sayang sekali perhitungan Ma Ji-liong meleset jauh dari dugaan semula.

Begitu ia menerjang keluar, ternyata Coat-taysu dan Pang Tio-hoan jauh beberapa tombak dari mulut sumur.

Namun Ma Ji-liong sudah terlanjur bertindak, sudah terlanjur bergerak, maka ia tetap menerjang ke sana.

Ia sudah bertekad berbuat sesuai rencana dan keinginan hatinya, tidak memikirkan gagal atau berhasil.

Apalagi keadaan segenting ini, ia tidak boleh berhenti atau membatalkan rencana.

Ma Ji-liong masih berpakaian hitam dari kain kasar, kedok kepalanya yang hitam entah sejak kapan sudah ia tanggalkan, mungkin waktu pertama kali ia terjun ke dasar sumur tadi.

Selama berkecimpung di kalangan Kangouw, belum pernah Ma Ji-liong merasa gentar menghadapi persoalan pelik, sekalipun di saat dirinya masih normal, normal dalam arti dirinya adalah Ma Jiliong tulen, bukan Thio Eng-hoat seperti sekarang.

Wajah yang sekarang sudah tentu bukan wajah Ma Ji-liong yang pernah dikenal oleh Coat-taysu, Thio Eng-hoat tidak dikenal atau pernah dilihat oleh orang persilatan di mana pun.

Bahwasanya kepandaian Ma Ji-liong belum terhitung kelas wahid atau jago kosen kalangan Kangouw, tapi sejak ia mulai belajar berjalan, ayah bundanya sudah melatih dirinya hingga umur tujuh tahun mulai dipupuk dasar pelajaran silat.

Ilmu silat Ji-liong mungkin tak sejajar dengan ilmu silat Siau-lim dan Bu-tong yang sudah tercatat dalam lembaran sejarah sebagai aliran silat yang ternama, perguruan besar yang disegani dan ditakuti, namun ilmu silat Thian-ma-tong mempunyai ciri khas dan keistimewaan sendiri.

Seseorang bila berhasil dan sukses mengejar karir hingga terkenal, kuat bertahan sampai lama, pasti mempunyai kemampuan yang luar biasa, keistimewaan yang boleh diagulkan, terutama Ginkang dari keluarganya, ilmu ringan tubuh dari Thian-ma-tong.

Sudah puluhan tahun, turun temurun Ginkang Thian-ma-tong malang melintang, bagai kuda terbang yang melesat di udara.

Di kala menyergap musuh dari udara, perbawanya memang amat mengejutkan.

Seorang laki-laki baju hitam yang kelihatan kasar, sederhana dengan gerak tubuh secepat kilat mendadak menerjang keluar dari dalam sumur yang semula dikira tidak ada orangnya lagi, langsung menubruk ke arah dirinya, sudah tentu Coat-taysu amat kaget dan heran.

Menghadapi kejadian di luar dugaan, siapa pun pasti kaget dan panik, apalagi penyergap ini memiliki Ginkang yang tinggi.

Sigap sekali Thiat Tin-thian melemparkan korbannya ke samping.

Dengan raungan keras ia menjejakkan kaki, tubuhnya melesat ke depan mengejar Ma Ji-liong dengan tubrukan katak, kedua tangannya ternyata dapat mulur beberapa senti lebih panjang.

Tangkas sekali ia berhasil mencengkeram ikat pinggang Ma Ji-liong, berbareng jari telunjuk dan jari tengahnya menutuk Hiatto di belakang pinggangnya.

Di saat suara raungannya belum sirap, sekuat tenaga ia menarik dan melemparkan Ma Ji-liong ke belakang dari atas kepalanya.

Mati pun Thiat Tin-thian tidak rela sahabatnya ini berkorban untuk dirinya, ia harus mencegah perbuatan nekad Ji-liong.

Di saat Ma Ji-liong menyergap dari udara, dilihatnya Coat-taysu sudah berdiri sambil mengulurkan kedua tangannya ke depan.

Telapak tangannya dengan jari-jari setengah tertekuk bagai cakar elang sudah berubah dua kali, dari warna hijau pupus menjadi merah maron, demikian pula urat hijau di punggung tangannya juga berubah merah kuning, mirip cahaya matahari di kala tenggelam ke peraduannya, mulai redup tapi gemerdep.

Tidak ada orang lain yang lebih paham kecuali Thiat Tin-thian, betapa mengerikan pukulan Samyang-coat-hu-jiu itu.

Secara lahir batin Thiat Tin-thian sudah merasakan betapa besar siksa derita orang yang terkena pukulan keji ini, maka ia harus mencegah Ma Ji-liong menyerempet bahaya demi dirinya.

Coat-taysu yang sudah berjingkrak berdiri dan siap menyerang dengan kedua telapak tangannya, kini menurunkan lagi kedua tangannya, lalu duduk pula di tempatnya, tatapan matanya dingin.

"Siapa orang ini?"

Pertanyaannya dingin kaku.

"Seorang kawan,"

Sahut Thiat Tin-thian.

"Hm, kau juga punya kawan?"

Jengek Coat-taysu. Thiat Tin-thian tertawa latah, serunya.

"Orang she Thiat membunuh orang tak terhitung banyaknya, musuh tersebar luas di seluruh pelosok dunia, tapi yakin kawanku tidak kalah banyak dibanding kau. Apalagi kawan seperti dia, aku yakin selama hidupmu kau justru tak pernah punya kawan seperti kawanku yang satu ini."

Lama Coat-taysu menatapnya dengan memicingkan mata, perlahan ia menoleh ke arah Ma Ji-liong yang berdiri tak jauh di pinggir sana.

"Apa betul kau kawannya?"

"Betul,"

Tegas jawaban Ma Ji-liong.

"Apa betul kau rela berkorban untuk kawanmu ini?"

Ma Ji-liong menjawab.

"Aku berani berkorban untuk diriku sendiri, jiwaku berani kupertaruhkan."

Ia tidak sengaja merubah suara, tapi suaranya memang berubah.

Giok Ling-long dengan Giok-jiu-ling-long yang lihai bukan saja merubah bentuk wajahnya, dia juga merubah suaranya.

Sudah tentu Coat-taysu juga tidak kenal suaranya, maka ia bertanya pula.

"Tahukah kau, kenapa aku hendak membunuhnya?"

Ma Ji-liong menggelengkan kepala, ia memang tidak tahu. Coat-taysu bertanya pula.

"Tahukah kau siapa tiga saudara Nyo yang dijuluki orang 'teman bak saudara, setia dan adil tiada bandingan'?"

Ma Ji-liong tahu.

Meski tidak kenal, ia pernah mendengar kebesaran nama Nyo bersaudara ini.

Mereka tinggal di Ho-tiong, keluarga besar persilatan ini sudah turun temurun menjagoi daerah itu dengan kekayaan yang berlimpah-limpah.

Meski tiga saudara, namun mereka hidup akur dan rukun, tri-tunggal yang kokoh kuat dan tak tergoyahkan, punya uang, ternama, berkuasa, berjiwa besar, luhur budi, setia kawan, berbakti, suka membela keadilan.

Tiga saudara dengan keluarga masingmasing tinggal di dalam satu perkampungan besar, secara bergilir mereka meladeni ayah bundanya yang sudah lanjut usia.

Sikap Coat-taysu tampak prihatin, berat dan sedih, katanya pula.

"Nah, dua puluh sembilan orang anggota keluarga marga Nyo itu, besar kecil, tua muda, seluruhnya mati dalam sekejap mata oleh golok Thiat Tin-thian. Tujuh belas perempuan muda yang masih hidup, ia jual ke markas tentara di perbatasan untuk dijadikan babu dan pelampias nafsu tentara yang rakus berahi itu."

Mendadak Thiat Coan-gi meraung gusar sambil memburu ke depan.

"Jangan kau mengoceh demi kebenaranmu sendiri. Tahukah kau kenapa ia berbuat demikian?"

Suaranya beringas dan memilukan.

"Tahukah kau dengan cara bagaimana ketiga saudara Nyo itu menyiksa dan membunuh ayah bundaku? Menggagahi isteriku dan membantai putra-putriku?"

Coat-taysu menyeringai dingin, jengeknya.

"Itulah pembalasan atas perbuatanmu."

"Betul, juga pembalasan atas perbuatan mereka!"

Hardik Thiat Tin-thian.

"Tiga saudara Nyo dan seluruh keluarganya, akulah yang membunuhnya. Aku yang berbuat, aku yang bertanggung-jawab, tiada sangkut-paut dengan orang lain."

Lalu ia menuding beberapa orang yang tersebar di pekarangan, mereka adalah murid-murid berbagai perguruan yang dibawa Coat-taysu untuk menuntut balas, mereka siap menjagal Thiat Tin-thian dan Thiat Coan-gi.

"Orang-orang ini tentu sanak-kadang atau teman baik keluarga Nyo, mereka sudah tahu kalau aku telah terluka oleh SamKoleksi

KANG ZUSI yang-coat-hu-jiu.

Mereka juga tahu, bila dapat membunuh aku, nama mereka akan terangkat dan boleh menepuk dada di muka umum sebagai penumpas kejahatan.

Sebaliknya kau adalah pendekar besar, Coat-taysu yang tersohor, tidak perlu kau ikut rebutan pahala, celaka kalau kau gugur di tanganku."

Coat-taysu diam saja, hanya sorot matanya tampak gusar dan beringas. Thiat Tin-thian juga makin beringas, lebih emosi, teriaknya.

"Tapi aku belum mampus, kalian ingin merenggut jiwaku, maka kau undang orang-orang bodoh yang gila jasa ini, tapi yakinlah, sebelum aku ajal, aku masih mampu memelintir putus leher beberapa orang, memukul remuk badan mereka."

Coat-taysu menyeringai, katanya.

"Mereka membela keadilan, mengejar kebajikan, mati demi menuntut balas sakit hati teman, tidak perlu dibuat menyesal, aku tidak bisa dan takkan mencegah mereka berjuang demi kemuliaan."

Thiat Tin-thian berkata.

"Baiklah, aku akan menyempurnakan mereka sekuat tenagaku."

Lalu ia menuding Ji-liong.

"Apa yang pernah kulakukan sedikit pun tiada sangkut-pautnya dengan orang ini. Asal kau membiarkan dia pergi, terserah siapa yang kau suruh memenggal leherku, aku pasti takkan membalas."

Lama Coat-taysu mengawasinya dengan mata terpicing, sekilas ia menoleh ke arah Ma Ji-liong.

"Sebelum hari ini, aku belum pernah melihat kau, kelihatannya kau bukan orang jahat."

Ma Ji-liong hanya mendengar, tidak bicara, tidak bertanya, tidak membantah juga tidak memberi komentar.

"Sejak kapan kau berkenalan dengan Thiat Tin-thian?"

Tanya Coat-taysu.

"Baru saja,"

Sahut Ma Ji-liong.

"Ya, kapan?"

Desak Coat-taysu. Thiat Tin-thian menimbrung.

"Belum setengah hari ia kenal denganku."

Coat-taysu menghela napas, katanya.

"Kenal belum setengah hari tapi sudah rela mengadu jiwa untuk orang lain? Memang jarang ada manusia seperti dirimu."

Mendadak ia menoleh ke arah Ma Ji-liong, lalu katanya sambil mengulapkan tangan.

"Kau pergi saja." ----------------------ooo00ooo------------------------------------Ma Ji-liong tetap berdiri di tempatnya, berdiri tegak tidak bergeming. Coat-taysu menatapnya lagi sekian lama, kemudian ia bertanya.

"Kau tak mau pergi?"

"Aku tidak akan pergi,"

Sahut Ma Ji-liong tegas.

"Pasti takkan pergi."

That Tin-thian meraung lagi.

"Kau harus pergi, lekas pergi."

"Hanya ada satu cara untuk memaksa aku pergi,"

Suara Ma Ji-liong lantang tapi tenang dan wajar, tegas lagi berani.

"Bunuh aku dan gotong pergi."

Memicing mata Coat-taysu, jengeknya.

"Tidak sukar membunuhmu. Tadi kalau dia tidak menarikmu, sekarang kau sudah digotong pergi, tahu."

"Aku tahu."

"Kau ingin digotong pergi?"

"Ya, bila perlu dan terpaksa."

"Kenapa kau ngotot ingin membela mereka?"

"Tidak kenapa."

Bahwasanya jawaban ini tidak kena sasaran.

Seseorang boleh 'tidak kenapa' berkenalan dan bersahabat dengan orang lain yang dianggap cocok, tidak memikirkan untung ruginya, tidak perduli akibatnya, juga tiada maksud dan tujuan tertentu.

Tetapi setelah berkenalan dan bersahabat dengan orang itu, apa yang ia lakukan untuk temannya, bukan lagi dinilai dengan dua buah kata 'tidak kenapa', tapi lantaran suatu ikatan atau tepatnya karena adanya jalinan persahabatan yang meresap akrab lahir batin, yang pasti jalinan persahabatan itu sukar dijelaskan bentuknya.

Karena suatu tujuan lantas berbuat atau melakukan, demi keadilan berani melakukan, keberanian yang ditunjang kesetiaan, untuk memberikan pertanggungan jawab terhadap nurani dan rohani, supaya dirinya tidak bisa tidur di tengah malam mana kala sedang bermimpi buruk.

Supaya dirinya tidak berdosa, menanggung beban batin di kala hidup, biar mati juga lega, mati dengan tenteram.

Kenapa bisa terjadi 'tidak kenapa'?

Kalau sukses bagaimana?

Kalau gagal kenapa pula?

Kalau hidup kenapa?

Kalau mati bagaimana?

Sukses atau gagal, mati atau hidup tetap takkan goyah, terus maju tak mau berpaling, tidak mau menundukkan kepala.

Bab 22.

Bukan Kabut Bukan Halimun Ma Ji-liong mengangkat kepala, sinar mentari menyorot mukanya.

Walau wajahnya bukan lagi muka yang gagah dan tampan, bukan wajah yang bisa mempesona para gadis hingga jatuh cinta padanya, tapi siapa pun yang melihatnya, sikapnya pasti hormat dan serius.

Thiat Tin-thian mengawasinya.

"Transaksiku tadi sebetulnya cukup baik, boleh sekarang juga teken kontrak, kenapa kau malah tidak setuju?"

"Karena aku juga akan menawarkan transaksi yang lebih baik untuk mereka, kutanggung bila syaratnya sudah kujelaskan, mereka akan menerima dengan senang hati,"

Demikian bantah Ji-liong.

"Transaksi apa?"

Tanya Coat-taysu.

"Ada persoalan apa yang lebih baik daripada transaksi yang ia tawarkan tadi?"

"Mereka mempertaruhkan dua jiwa untuk menebus diriku,"

Demikian ujar Ma Ji-liong tertawa.

"Jelas transaksi ini mengundang kerugian, kenapa aku setuju?"

"Lalu bagaimana dengan transaksimu?"

Tanya Coat-taysu.

"Kebalikannya, yaitu dengan satu jiwa menebus dua jiwa mereka,"

Sahut Ma Ji-liong. Coat-taysu menyeringai dingin.

"Transaksimu tak bisa diterima."

"Lho, kenapa?"

"Tidak ada orang yang dapat menebus jiwa kedua orang ini,"

Sinis nada perkataan Coat-taysu.

"Tidak ada jiwa seseorang di dunia ini yang bernilai setinggi itu."

"Ada, hanya seorang saja,"

Seru Ji-liong.

"Aku tahu ada seorang yang cukup setimpal untuk menebus jiwa mereka berdua."

"Siapa dia?"

Tanya Coat-taysu.

"Ma Ji-liong."

Memicing mata Coat-taysu begitu mendengar nama Ma Ji-liong, dahi pun berkerut. Ma Ji-liong alias Thio Eng-hoat ini juga memicingkan mata.

"Aku tahu orang yang ingin kalian cari bukan Thiat Tin-thian, Ma Ji-liong adalah buronan kalian yang utama."

Coat-taysu mengangguk.

"Dengan jiwa Ma Ji-liong, setimpal tidak untuk menebus jiwa mereka?"

"Ya, cukup setimpal,"

Ujar Coat-taysu, jelas sekali perubahan mimik mukanya berusaha menekan emosi.

"Sayang sekali siapa pun tidak bisa menemukan jejak Ma Ji-liong."

"Ada orang yang bisa menemukan dan menunjukkan di mana sekarang ia berada,"

Seru Ma Ji-liong lantang.

"Paling sedikit ada seorang yang dapat menunjukkannya."

"Siapa yang bisa menunjukkan jejak Ma Ji-liong?"

"Aku!"

Teriak Ma Ji-liong lantang, jelas ia pun berusaha mengendalikan diri.

"Bila kalian membebaskan kedua orang ini, aku tanggung kalian akan menemukan Ma Ji-liong."

Mendadak Thiat Tin-thian bergelak tawa.

"Kau memang kawan baik, transaksimu juga bagus sekali, sayang siapa pun takkan mau meneken kontrak yang kau tawarkan itu."

Suaranya serak dan tersendat.

"Siapa mau percaya obrolanmu."

Coat-taysu diam saja, tidak perduli.

Ma Ji-liong juga tidak menghiraukan ocehan Thiat Tin-thian.

Dua orang ini berhadapan, bertatap muka, saling pandang, meski mata memicing, tapi sorot mata mereka setajam jarum.

Sepatah demi sepatah Ma Ji-liong berkata.

"Kau tentu tahu dan yakin, bahwa apa yang kuucapkan bukan obrolan. Aku tidak membual."

"Ya, aku tahu,"

Sahut Coat-taysu.

"Tapi aku tak bisa dan tidak akan membebaskan mereka lebih dulu sebelum memperoleh jaminan atau bukti."

"Kau tidak percaya kepadaku?"

"Bila kau serahkan Ma Ji-liong, mereka segera kubebaskan."

"Aku saksinya,"

Seru Pang Tio-hoan dari samping. Ma Ji-liong menyeringai.

"Kalian tidak percaya kepadaku, kenapa aku harus percaya kepada kalian?"

"Karena aku adalah Pang Tio-hoan dan dia adalah Coat-taysu, sebaliknya kau adalah manusia yang belum dikenal asal-usulnya."

Sebetulnya alasannya kurang tepat, tapi justru merupakan jawaban yang kena sasaran.

"Kalau kau ingin aku teken kontrak, kau harus patuh kepada kami,"

Demikian Coat-taysu menegaskan.

"Kalau tidak, terpaksa kami bunuh Thiat Tin-thian lebih dulu, lalu membunuhmu."

Pernyataan yang tegas, memang Coat-taysu orang yang serba tegas, hatinya kaku, pendiriannya tidak pernah goyah, perasaannya beku, membunuh orang tanpa kenal kasihan.

Ji-liong tersudut, tiada pilihan lain.

"Baiklah."

Sambungnya kemudian.

"Aku percaya padamu."

Tinjunya mengepal.

"Aku adalah orang yang kalian cari."

"Jadi kaulah Ma Ji-liong."

"Aku adalah Ma Ji-liong."

Laki-laki setengah baya pemilik toko serba ada ini adalah Ma Ji-liong. Ma Ji-liong menyerahkan diri sendiri, mengkhianati diri sendiri. Kalau ada orang yang bertanya.

"Kenapa kau menyerahkan diri?"

Ma Ji-liong pasti tak bisa menjawab, karena tidak mungkin ia bilang 'tidak kenapa' lagi.

Padahal Ji-liong sendiri tidak sadar, tidak tahu apa yang mendorong ia berbuat demikian.

Mungkin karena emosi?

Atau karena darah yang mendidih di rongga dada?

Karena setia kawan?

Atau karena kobaran semangat dan ingin menjebol belenggu keadilan yang tak terpecahkan?

Kenapa orang disebut manusia, karena manusia punya perasaan, punya peri-kemanusiaan.

Peri kemanusiaan yang paling diagungkan di dalam kemanusiaan itu sendiri justru sering tak bisa dijelaskan, susah dimengerti.

Ma Ji-liong mengangkat kepalanya, cahaya mentari masih menyinari mukanya.

"Kau tidak mengenalku karena wajahku sudah dirias orang,"

Demikian ucap Ma Ji-liong.

"Di sini aku bersembunyi sebagai pemilik toko serba ada, cukup lama orang tidak menemukan jejakku."

Karena tidak bisa memperlihatkan aslinya, terpaksa Ma Ji-liong membuka rahasia sendiri, soalnya Ji-liong tidak mampu mencuci bersih atau merubah wajahnya yang sudah dipermak menjadi wajah Ma Jiliong yang asli.

Giok Ling-long dengan Giok-jiu-ling-long-nya telah merubah kulit wajahnya dengan operasi yang tak mampu dilakukan orang lain.

Namun rahasia ini tak mungkin Ji-liong jelaskan secara terperinci, karena rahasia orang lain pantang ia bocorkan.

Tapi dalam perkara yang dihadapinya ini, Ma Ji-liong telah bicara dengan jujur, setiap patah kata adalah kenyataan.

Maka ia bertanya.

"Sekarang, apakah kalian mau membebaskan mereka?"

Coat-taysu menoleh ke arah Pang Tio-hoan, Pang Tio-hoan juga sedang mengawasinya. Rona muka mereka tidak kelihatan berubah.

"Bagaimana menurut pendapatmu?"

Tanya Coat-taysu.

"Bagaimana pendapatmu?"

Pang Tio-hoan malah balas bertanya.

"Kalau benar dia adalah Ma Jiliong, apa alasan dia berkorban untuk menolong Thiat Tin-thian?"

"Ya, tiada alasan,"

Ujar Coat-taysu.

"Sedikit pun tidak ada alasannya."

Mendadak Thiat Tin-thian bergelak tawa.

"Aku tahu kau tidak akan dapat menipu mereka, aku juga tahu siapa pun takkan mau percaya obrolanmu."

Begitu keras ia tertawa sampai napasnya sesak, mulut pun megap-megap.

Ma Ji-liong juga ingin tertawa, tertawa sepuas-puasnya, tapi ia tidak bisa tertawa.

Ucapannya bukan bualan, setiap patah kata yang ia ucapkan adalah kenyataan, tetapi tidak ada orang yang percaya kepadanya.

Bukankah kejadian ini amat lucu dan menggelikan?

Kejadian yang mengundang gelak tawa orang hingga air mata meleleh.

Kalau Ji-liong bisa tertawa, kalau air matanya meleleh, termasuk jenis apakah air matanya?

Thiat Tin-thian masih berloroh-loroh, tampak air matanya sudah meleleh di pipi, termasuk jenis apa pula air matanya?

"Kau adalah keroco yang tidak diketahui asal-usulnya, tapi aku adalah Hoan-thian-hu-te, perampok besar yang kejam, umpama jiwamu rangkap sepuluh juga takkan dapat menukar satu jiwaku, lekas kau pergi saja."

Ma Ji-liong membandel, dia tidak mau pergi. Loroh tawa Thiat Tin-thian mendadak berhenti, mendadak ia meraung.

"Kontrak dagangmu jelas gagal, kenapa tidak lekas kau enyah dari sini?"

"Karena ia adalah kawanmu, kawanmu adalah sahabat baikmu,"

Dingin suara Coat-taysu.

"Sebagai sahabat baik, ia bertekad untuk mengiringi kematianmu di sini."

Mendadak Thiat Tin-thian membalikkan tubuh, menatapnya dengan beringas, sorot matanya memancarkan sinar gusar, ngeri dan panik.

"Tadi kau bilang suruh dia pergi."

"Ya, aku pernah bilang, kusuruh dia pergi."

"Sekarang apakah kau tetap menyuruhnya pergi?"

"Bukan aku yang melarang dia pergi, tapi dia sendiri yang tidak mau pergi,"

Dingin suara Coattaysu.

"Tidak pernah aku memaksa orang, maka siapa pun kularang memaksa dia pergi. Kalau ada yang berani memaksa dia pergi, biar aku yang membunuhnya lebih dulu."

Melotot bola mata Thiat Tin-thian, ujung matanya seperti hampir merekah.

"Aku mengerti, aku sudah mengerti."

Desis suaranya setengah memekik sedih.

"Sekarang aku sudah tahu."

"Kau tahu apa?"

Tanya Coat-taysu. Gemertak gigi Thiat Tin-thian, tinjunya terkepal, desisnya geram.

"Jiwamu sempit pikiran cupat, hati kejam tangan gapah. Aku masih menganggap kau sebagai manusia lumrah, tapi kau tidak bisa membedakan atau tidak mau membedakan salah dan benar, main bunuh habis perkara, aku tetap menganggapmu sebagai manusia. Thiat Tin-thian malang melintang seumur hidup, tak terhitung manusia yang terbunuh oleh kedua tanganku, bukan mustahil aku pernah salah membunuh orang yang tidak berdosa, membunuh orang yang terfitnah, lalu apa artinya kalau suatu ketika aku juga difitnah orang, umpama terpenggal batok kepala atau hancur luluh tubuhku juga lumrah."

Dengan nada tinggi dan beringas, ia meraung pula.

"Tapi sekarang aku tahu, kenyataan membuktikan bahwa kau bukanlah manusia."

Coat-taysu mendengarkan sambil memicingkan mata, lalu ia bertanya.

"Kau ingin melihat kawanmu mati lebih dulu? Atau ingin membiarkan temanmu melihat kau mampus dengan konyol?"

Mendadak Thiat Tin-thian memekik keras, bagai serigala kelaparan ia menjejakkan kaki terus menubruk dengan kalap ke arah Coat-taysu.

Tenaganya sudah hampir habis, tapi tubrukan kalap dengan sisa tenaganya ini seperti singa mengamuk.

Pada saat genting itulah, dari luar pekarangan mendadak berkumandang suara merdu yang melengking tajam.

"Semua orang ingin hidup sehat, kenapa di sini ada orang yang ingin mati?"

Di saat nada tinggi merdu itu bergema di udara, dari luar tembok tampak muncul segumpal halimun tebal yang melayang kencang ditiup angin, halimun tebal warna hijau pupus yang melebar secara cepat itu ternyata berbau harum seperti kembang melati.

Bila beberapa patah kata ucapan merdu tadi selesai diucapkan, halimun tebal tadi sudah berubah menjadi kabut hijau yang berkembang luas, setebal asap cerobong tungku besar yang bergulunggulung ke empat penjuru.

Padahal halimun hijau itu bukan kabut, kabut hijau itu bukan halimun.

Tak ada kabut warna hijau di dunia ini, tapi kelihatan bahwa yang tertiup oleh hembusan angin lalu itu adalah kabut.

Dalam jarak dekat, orang yang terbungkus dalam kabut tidak bisa melihat orang atau keadaan di sekitarnya.

Seumpama Ma Ji-liong betul adalah Ma Ji-liong, tapi kalau dipandang dan diamat-amati ternyata tidak mirip dan bukan Ma Ji-liong.

Bab 23.

Orang Jujur Yang Tidak Jujur Tubrukan nekat Thiat Tin-thian sebetulnya merupakan tubrukan mengadu jiwa dengan sisa tenaga terakhir, sergapan yang akan menentukan mati atau hidup.

Thiat Tin-thian sudah bertekad mati, rela berkorban untuk menyelamatkan Ma Ji-liong, tetapi ia tidak mati, karena di saat tubuhnya terapung di udara, tahu-tahu tubuhnya malah tertarik mundur ke belakang.

Ternyata berbareng dengan tubrukan Thiat Tin-thian itu, Ma Ji-liong juga menubruk di belakangnya.

Dengan kedua tangan ia cengkeram ikat pinggangnya serta menarik sekuat tenaga.

Di sana Coat-taysu juga sudah siap menyambut tubrukannya, tapi ia tidak jadi melontarkan pukulannya.

Begitu suara merdu itu bergema, kabut pun datang, gerakannya pun terhenti, wajah yang semula kaku mendadak menunjukkan mimik aneh, romannya kelihatan ganjil.

Hanya sekejap Coat-taysu sudah tidak melihat Thiat Tin-thian lagi, kabut hijau itu seperti terhembus keluar dari mulut iblis raksasa, seakan-akan pekarangan kecil itu mendadak ditelan bulat-bulat.

Kecuali kabut tebal itu, apa pun tidak terlihat lagi.

Lekas Ma Ji-liong membawa Thiat Tin-thian pulang kembali ke toko serba ada miliknya itu.

Coat-taysu dan kawan-kawannya juga tidak bisa melihat apa pun, sudah tentu mereka tidak berani sembarangan bertindak, demikian pula Ma Ji-liong yang seperti orang buta di tempat itu.

Tapi sebagai penduduk yang sudah sekian bulan tinggal di daerah itu, sedikit banyak ia sudah hafal keadaan sekelilingnya, apalagi ia pernah beberapa kali dolan ke rumah To Po-gi.

Maka Ji-liong tidak kuatir dirinya salah langkah seperti yang dikuatirkan Coat-taysu.

Ia tidak takut dibokong, juga tidak takut menumbuk tembok hingga tulang patah dan kepala bocor.

Seorang yang sudah berani mempertaruhkan jiwa raga, sudah siap berlaga dan mati di medan perang, lalu apa lagi yang ditakuti?

Dengan leluasa Ji-liong sampai di rumah tanpa kurang suatu apa pun.

-----------------------------------ooo00ooo--------------------------------------Umumnya kalau orang tidur agak dini tentu bangunnya juga lebih pagi.

Penduduk kampung itu kebanyakan tidur sore-sore, biasanya begitu kokok ayam mulai bersahutan penduduk sudah banyak yang bangun.

Begitu fajar menyingsing, toko serba ada itu juga sudah buka pintu.

Tapi hari ini agak berbeda, keadaan tidak seperti biasanya.

Dengan menggendong Thiat Tin-thian, Ma Ji-liong melompat masuk lewat pintu samping.

Sebelumnya ia sudah putar kayun keluar masuk lorong-lorong kampung yang sempit, jorok dan bau untuk menghilangkan jejak dari pengejaran musuh.

Setelah yakin dirinya tidak dikuntit, langsung ia berputar ke belakang dan melompat masuk dari tembok belakang.

Begitu diturunkan, Thiat Tin-thian tampak lemah dan lesu, mirip orang lumpuh.

Walau sergapannya tadi berhasil digagalkan oleh Ji-liong, tapi dia sudah terlanjur mengerahkan seluruh sisa tenaganya, kini tenaga seperti lepas dari badan sehingga sekujur tubuh terasa lemas lunglai.

Waktu Ma Ji-liong menyeretnya lari tadi, terpaksa dia menurut saja, padahal dia tidak bisa melupakan saudaranya, Thiat Coan-gi.

Walau Thiat Coan-gi bukan saudara kandungnya, tapi selama beberapa tahun belakangan ini mereka berjuang bersama dan bertempur berdampingan, mati hidup juga harus bersama.

Di antara dua saudara ini sudah terjalin ikatan batin yang kental, persahabatan yang kekal, lebih kental dibanding kentalnya darah.

"Aku tak boleh meninggalkan Coan-gi di sana,"

Demikian desis Thiat Tin-thian waktu dirinya digendong Ma Ji-liong.

"Kita harus kembali dan menolongnya juga."

Kalau saat itu putar balik bukan saja sudah tidak keburu, salah-salah jejak mereka bisa ketahuan musuh pula.

"Yang diburu Coat-taysu bukan dia,"

Demikian bujuk Ma Ji-liong.

"Sebelum kau jatuh ke tangan mereka, mereka pasti tidak akan membunuhnya."

Pekarangan belakang toko serba ada ini, bentuk dan luasnya mirip dan sama dengan pekarangan rumah To Po-gi, cuma di sini tidak ada sumur.

Di tengah pekarangan dibangun sebuah rumah tambahan di mana Thio-lausit tidur.

Kamar tempat tinggal Thio-lausit tampak terbuka, Thio-lausit tidak berada di kamarnya, juga tidak ada di dapur, sementara pintu kamar mandi terpalang dari luar.

Umpama belum tidur pulas, Cia Giok-lun tentu terlena meski hanya sekejap, demikian batin Ma Jiliong.

Perlahan-lahan dan dengan sangat hati-hati, Ma Ji-liong mendorong daun pintu, lalu menyelinap masuk.

Tiada gangguan atau suara lirih sekalipun yang dapat mengejutkan seseorang sehingga terjaga dari tidurnya.

Setelah diturunkan, Thiat Tin-thian dibimbing duduk di kursi rotan di mana ia biasa duduk istirahat.

Lalu ia berlari ke toko untuk mengambil segentong garam dan sekeranjang telur ayam, ditaruh di dekat Thiat Tin-thian.

Bayangan Thio-lausit ternyata juga tidak kelihatan di dalam toko.

Setelah melalap beberapa genggam garam dan dua butir telur ayam, keadaan Thiat Tin-thian kelihatan lebih segar, barulah ia bicara.

"Ini toko serba ada milikmu?"

"Ehm,"

Ma Ji-liong mengiakan.

"Siapakah perempuan di atas ranjang itu?"

Tanya Thiat Tin-thian.

"Binimu?"

Susah Ji-liong menjawab pertanyaan orang.

Ia tidak ingin membohongi Thiat Tin-thian, namun ia juga tidak tahu, pantaskah ia mengakui hal itu?

Atau harus menyangkal?

Hakikatnya ia tidak tahu bagaimana harus menjawab.

Untung Thiat Tin-thian tidak bertanya lagi, ia menghela napas.

"Seharusnya kau tidak membawa aku ke tempat ini, tidak pantas aku berada di sini."

"Bukan saja kau harus kubawa ke mari, aku pun harus menyelamatkan jiwamu."

"Kenapa?"

Tanya Thiat Tin-thian tidak habis mengerti.

"Karena di sini ada seseorang yang mungkin dapat menyembuhkan lukamu."

Bercahaya bola mata Thiat Tin-thian, betapa pun ia senang, bergairah dan menyala semangatnya.

Asal ada orang yang dapat menyembuhkan luka-lukanya, itu berarti ia punya keyakinan lagi untuk menghadapi Coat-taysu, menuntut balas sakit hatinya.

Dulu ia terlalu percaya diri, terlalu yakin bahwa dirinya mampu dan kuat, sepenuh tenaga pukulan mengadu kekuatan melawan Coat-taysu, umpama bukan tandingan juga harus gugur bersama.

Kini setelah pengalaman membuktikan dirinya bukan tandingan lawan, bahkan terluka parah lagi, maka Thiat Tin-thian tidak berani mengulangi kesalahan, memburu keinginan yang belum pasti.

"Siapa yang dapat menyembuhkan lukaku?"

Ingin Thiat Tin-thian bertanya, tapi belum ia membuka suara, seseorang sudah menyeletuk bicara.

Ma Ji-liong mengira Cia Giok-lun yang diam tak bergerak itu sudah tertidur pulas, tapi mendadak ia bersuara.

"Memang tidak pantas kau membawa orang ini ke sini. Ketahuilah, di sini pasti tiada orang yang bisa menyembuhkan luka-lukanya. Kecuali keluarga Cia dan orang-orangnya, siapa pun takkan dapat menolong jiwanya."

"Tapi kau........"

Mendadak Cia Giok-lun melotot, serunya.

"Aku bukan anggota keluarga Cia yang kau maksud, aku adalah bini pemilik toko serba ada ini."

Cia Giok-lun tahu, inilah kesempatan dirinya untuk memaksa Ma Ji-liong membeberkan kenyataan, sudah tentu ia tidak mau mengabaikan peluang baik ini.

Mendadak Thiat Tin-thian berdiri, ia mencomot lagi beberapa genggam garam serta ditelannya, lalu mencaplok dua butir telur ayam.

"Biar aku pergi saja."

Lalu ia betul-betul melangkah pergi.

Sudah dua puluh tahun ia malang melintang, ia tahu di balik persoalan dan keadaan di rumah ini, pasti terselip sesuatu yang tidak boleh dijelaskan.

Ia tidak ingin menyudutkan Ma Ji-liong, membuatnya serba susah.

Ia tidak mau dan pantang membuat teman yang mempercayai dirinya susah.

Jikalau kau ingin bersahabat dengan seorang teman, kau harus mengukir perkataan ini di dalam sanubarimu.

Seorang kawan sejati, pasti tak membiarkan kawannya susah, apalagi menderita.

Cia Giok-lun tidak memberi kesempatan Ma Ji-liong bicara, katanya.

"Kau memang harus lekas pergi, sekarang juga."

Tidak dinyana Thiat Tin-thian malah duduk kembali.

"Aku tidak boleh pergi."

"Kenapa?"

Tanya Cia Giok-lun. Jawaban Thiat Tin-thian justru ditujukan pada Ma Ji-liong.

"Biar aku tinggal di sini. Bila mereka meluruk ke mari, aku akan membantu kalian menghalau mereka atau mengadu jiwa."

"Mencari aku?"

Ji-liong menegas dengan bingung.

"Mana mungkin mereka mencari aku?"

"Bukankah Ma Ji-liong adalah buronan mereka yang utama, maka sekarang kaulah orang yang mereka cari dan uber."

Ma Ji-liong menggelengkan kepala, ia tidak mengerti. Thiat Tin-thian menghela napas, katanya.

"Apa kau kira mereka tidak percaya pada perkataanmu tadi?"

"Kau kira mereka percaya?"

"Pasti percaya, percaya sekali."

"Tapi, bukankah mereka tidak mau menerima usulku?"

"Jangan bodoh. Kalau mereka menerima usulmu dan mengakui bahwa kau benar adalah Ma Jiliong, maka mereka harus membebaskan kami berdua,"

Ujar Thiat Tin-thian sambil menyeringai dingin.

"Kita bertiga sudah terkepung, seumpama burung dalam sangkar, siapa pun tak mampu lari atau meloloskan diri, kenapa mereka harus menerima persyaratanmu? Kenapa harus membebaskan aku?"

Ma Ji-liong melenggong, berdiri menjublek sekian saat, mulutnya bungkam tak bisa tertawa.

Sekarang ia sadar dan mengerti, betapa keji dan culas hati manusia yang sudah berkecimpung di Kangouw, lika-liku kehidupan kaum Bulim kadang kala sukar dibayangkan dengan nalar sehat.

Sejak tadi Cia Giok-lun diam dan mengawasi Ma Ji-liong, mendadak ia meronta bangun dan duduk, serunya.

"Jadi kau inilah Ma Ji-liong, penjahat besar yang buron itu?"

Suaranya serak.

"Kau inikah Ma Ji-liong yang durjana dan sudah kelewat batas melakukan kejahatan itu?"

Darah seperti mendidih di rongga dada Ma Ji-liong, amarahnya berkobar, rasa penasaran membuat ia naik pitam.

"Betul, aku adalah Ma Ji-liong,"

Suaranya juga serak.

"Aku adalah Ma Ji-liong, keparat yang telah banyak melakukan kejahatan."

Thiat Tin-thian menjublek di atas kursi.

Tahun-tahun belakangan ini, jarang ada kejadian apa pun di dunia ini yang bisa membuatnya kaget, apalagi menjublek.

Tapi perempuan ini seharusnya adalah bini Ma Ji-liong, kenapa dia tidak tahu kalau Ma Ji-liong adalah Ma Ji-liong?

Ternyata Cia Giok-lun juga menjublek di tempatnya, lama sekali baru dia menarik napas panjang, desisnya perlahan.

"Kau bukan Ma Ji-liong."

"Akulah Ma Ji-liong, Ma Ji-liong tulen."

"Kau bukan Ma Ji-liong, bukan Ma Ji-liong!"

Demikian teriak Cia Giok-lun, tegas suaranya.

"Ma Ji-liong adalah penjahat keji lagi telengas, perbuatan kotor apa pun berani dan pernah ia lakukan......"

Mendadak suaranya berubah halus dan lembut.

"Tapi sudah tiga bulan dua puluh hari aku tinggal di sini berdampingan denganmu, aku tahu dan yakin kau pasti bukan orang jahat, kau alim dan bajik, jujur lagi."

Ji-liong diam saja, ia memang tak mampu bicara, tenggorokannya seakan tersumbat.

Sejak kasus ini terjadi, ia sudah mulai biasa dihina, dicaci maki, difitnah.

Rasa kasihan dan simpati orang lain terhadapnya malah mengundang rasa sedih, murung dan masygul serta membuat hatinya mendelu.

Pada saat itulah di dalam toko mendadak terdengar suara orang, suara Thio-lausit.

Ji-liong sungkan berhadapan dengan Cia Giok-lun, maka ia segera memburu keluar.

Ternyata Thio-lausit memang ada di dalam toko, sedang menyapu lantai, gelagatnya ia siap membuka toko.

Ma Ji-liong menatapnya beberapa kejap.

"Kau sudah pulang?"

Tanyanya.

"Aku tidak pulang,"

Sahut Thio-lausit.

"Aku tidak pernah keluar, kenapa harus pulang?"

Apa betul dia tidak keluar? Jelas tadi dia tidak berada di dalam rumah, juga tidak ada di dapur, di toko juga tidak kelihatan bayangannya.

"Tadi aku berada di kakus,"

Demikian Thio-lausit menerangkan.

Padahal pintu kakus dipalang dari luar, itu berarti dia juga tidak berada di sana.

Siapa pun pasti maklum, orang yang membuang hajat tentu menutup dan memalang daun pintu dari dalam, hal ini sudah diperiksa dan diperhatikan oleh Ma Ji-liong.

Setelah mengalami musibah ini, Ma Ji-liong sudah belajar banyak, sudah pandai memperhatikan urusan-urusan kecil, karena sekarang ia sudah tahu, banyak urusan besar berhasil dilihat, dinilai dan dibongkar dari urusan kecil yang tidak berarti.

Kini diam-diam Ji-liong merasa bahwa pegawainya yang setia ini ternyata tidak jujur.

Bab 24.

Langganan Lama Dan Pemborong Pada umumnya sebelum membuka pintu, toko serba ada perlu mengadakan pemeriksaan pada barang-barang persediaannya, barang apa yang kurang dan perlu ditambah, menata kembali secara rapi dan lain sebagainya, persiapan selalu diperlukan demi memberikan pelayanan yang baik.

Sebagai pegawai lama dan sudah berpengalaman, Thio-lausit setiap pagi mengerjakan semua itu dengan rapi dan beres.

Apalagi sudah delapan belas tahun sejak toko serba ada ini dibuka Thiolausit sudah bekerja di sini, ia rajin bekerja, jujur dan setia, pengadaan barang berada dalam tangannya, kalau di dalam toko mendadak kehilangan segentong garam dan sekeranjang telur ayam, tidak mungkin ia tidak tahu.

Tapi Thio-lausit justru diam saja, seperti sudah tahu di mana barang itu berada, maka ia bersikap adem-ayem saja.

Kemarin sore turun hujan lebat, lumpur di jalan kampung itu cukup tebal dan becek.

Sepatu Thiolausit juga kelihatan berlumpur meski sedikit, belum kering juga, ini menandakan bahwa barusan ia berada di jalanan.

Apa betul barusan ia keluar?

Ke mana?

Kenapa tidak berterus terang?

Mendadak Ma Ji-liong sadar, bukan saja pegawainya ini tidak jujur, gerak-geriknya juga misterius, aneh dan patut dicurigai.

Sudah dua kali Ma Ji-liong dihinggapi perasaan seperti ini.

Thio-lausit sudah siap membuka daun pintu.

Tapi baru saja tangan Thio-lausit menurunkan palang pintu, Ma Ji-liong mendadak berkata.

"Hari ini kita tutup toko saja."

Thio-lausit menoleh dengan memiringkan kepala, katanya kemudian.

"Apakah hari ini hari besar?"

"Bukan."

"Hari ini kita merayakan sesuatu?"

"Tidak."

"Lalu kenapa kita tidak membuka toko?"

Sudah tentu Ma Ji-liong tidak bisa memberikan penjelasan, juga tak bisa mengarang cerita untuk mencari alasan. Ji-liong memang bukan pembual.

"Toko ini adalah milikku, aku yang berkuasa di sini,"

Terpaksa Ma Ji-liong mengada-ada.

"Kalau aku bilang hari ini tutup, maka toko tidak buka."

Thio-lausit menundukkan kepala, beberapa kejap ia terpekur.

Alasan yang dikemukakan majikannya sebetulnya tidak tepat, tapi sebagai pegawai ia harus tunduk dan patuh pada perintah majikan.

Tapi nyonya majikan yang berada di kamar justru menentang.

"Hari ini toko kita tetap buka seperti biasa, apa yang ia katakan jangan dituruti."

Itulah suara Cia Giok-lun. Di mana-mana, omongan juragan perempuan memang jauh lebih manjur, lebih berwibawa dan disegani dibanding juragan sendiri. Ma Ji-liong memburu masuk, ia mulai naik pitam.

"Kenapa omonganku tak boleh dituruti? Kenapa kau mencampuri urusanku?"

"Bukannya aku mencampuri urusanmu, tapi temanmu ini yang meminta aku turut campur,"

Demikian sahut Cia Giok-lun. Thiat Tin-thian berkata.

"Toko serba ada ini harus dibuka seperti biasa."

Ma Ji-liong menggelengkan kepala, ia tidak mengerti.

"Sekarang mereka sudah tahu bahwa pemilik toko serba ada ini adalah Ma Ji-liong. Setiap saat mereka bisa meluruk ke sini, kenapa aku harus membuka pintu mengundang mereka masuk?"

"Justru mereka sudah tahu kau ada di sini, maka kau harus tetap membuka toko seperti biasa."

"Kenapa?"

"Kalau toko serba ada ini tutup, mereka pasti meluruk ke mari dan menerjang masuk dengan kekerasan, dengan menjebol pintu,"

Demikian kata Thiat Tin-thian.

"Biar kita buka saja pintu toko seperti biasa. Mereka belum tahu bagaimana keadaan kita di sini, aku berani menjamin mereka takkan berani sembarangan bertindak."

Dengan suara dingin Cia Giok-lun menimbrung.

"Kelihatannya setiap orang yang ada di sini dapat berpikir lebih cermat dibanding engkau."

Terpaksa Ma Ji-liong mengancing mulut, terpaksa ia harus mengakui apa yang dipikir Cia Giok-lun dan Thiat Tin-thian memang lebih cermat dan teliti, tapi bagaimana dengan Thio-lausit?

Apakah pegawai yang belum pernah berkecimpung di Kangouw ini juga memikirkan hal ini?

------------------------------------ooo00ooo-------------------------------------Empat lembar daun pintu sudah diturunkan dan ditaruh di pinggir, toko serba ada dibuka seperti biasa.

Thio-lausit memegang sapu, melanjutkan pekerjaannya membersihkan lantai dan barangbarang dalam toko dibetulkan letaknya, seolah-olah ia sudah menyadari sebentar lagi toko ini akan dibanjiri pembeli yang royal membuang duit, maka ia rajin bekerja sebagai tanda hormat untuk menyambut mereka.

Suasana di jalan kampung ternyata tenang-tenang saja, tidak terdengar suara apa pun.

Waktu Cukat Bu-hou (Cukat Liang) di jaman Sam Kok merancang muslihat kota kosong yang terkenal itu, bukankah ia juga menyuruh tentara-tentara yang lanjut usia dan cacat badan untuk membersihkan jalan dan membuka pintu kota untuk menyambut kedatangan Suma Gi?

Bukankah Suma Gi yang banyak curiga itu tak berani menerjang masuk ke dalam kota setelah melihat keadaan itu?

Demikian pula peristiwa hari ini, bukankah seperti kenyataan dulu, padahal hikayat kuno itu sampai sekarang masih sering dipuji dan diperbincangkan orang banyak, siapa pun mengacungkan jempol memuji kecerdikan Cukat Liang.

Pembuat karya cerita ini jelas juga seorang cerdik pandai.

Mendadak Thiat Tin-thian bertanya.

"Orang yang menyapu di luar itu, apakah dia pegawaimu?"

"Ya, pegawai lama."

"Orang macam apa dia?"

"Orang jujur, pegawai setia,"

Seolah-olah Ma Ji-liong sedang membohongi diri sendiri.

"Ia bernama Thio-lausit."

Bercahaya bola mata Thiat Tin-thian, katanya.

"Aku suka orang jujur."

Omongannya mengandung arti 'hanya orang jujur yang bisa menipu orang-orang jahat, keji dan banyak curiga'. Ia menyeringai dingin.

"Coat-taysu yang terkenal di seluruh jagad sebagai kuncu itu, jelas adalah manusia rendah yang jahat dan banyak curiga."

Ji-liong meresapi perkataan orang, betapa berang hatinya.

"Ia percaya kalau kau adalah Ma Ji-liong, ia bisa membunuh Thiat Tin-thian lebih dulu baru menjagal Ma Ji-liong. Kalau ia berani berbuat demikian, aku malah kagum dan memujinya,"

Thiat Tin-thian tertawa dingin, sambungnya.

"Tapi ia tidak berani, di hadapan orang banyak ia tidak akan melakukan perbuatan yang ingkar janji dan menjilat ludah sendiri, ia harus bersikap sedemikian rupa supaya orang tahu bahwa ia betul-betul gembongnya yang membenci kejahatan."

Dengan kencang ia mengepalkan tinju dan mengacungkannya di atas kepala.

"Sungguh gemas dan benci, kenapa aku tidak dapat mencacah hancur Kuncu palsu itu, ingin aku memberantas jiwa munafik orang-orang yang berkedok Kuncu."

Mendadak Cia Giok-lun menghela napas panjang, katanya.

"Sayang sekali kau tidak mampu membunuhnya, tiada seorang pun Kuncu yang pernah kau bunuh, kau sendiri malah yang akan mampus."

Kenyataan memang demikian, siapa pun tidak akan membantah, kenyataan tak pernah kenal kasihan. Betulkah kenyataan itu kejam? Cia Giok-lun berkata pula.

"Umpama mereka tak tahu keadaan di sini, belum berani sembarangan bergerak, tapi toko serba ada ini tentu diawasi, sudah dikepung, jangan harap kalian bisa meloloskan diri dari tempat ini."

Suaranya mengandung makna yang aneh.

Entah merasa kasihan?

Sedih atau menyindir?

"Kalian dipaksa menunggu di sini, aku pun dipaksa menunggu bersama kalian.

Tapi pasti, entah cepat atau lambat mereka akan menyerbu, bukan mustahil sekarang juga sudah mengutus orang untuk menyelidiki keadaan di sini.

Tidak sukar untuk mencari tahu keadaan kalian, karena tempat ini adalah toko serba ada, siapa pun boleh ke mari pura-pura membeli ini dan itu."

Dengan suara tawar, Cia Giok-lun melanjutkan.

"Bila mereka meluruk datang, mungkin aku harus mampus bersama kalian, aku akan mati konyol dan penasaran."

Ini pun kenyataan, tidak bisa dibantah. Cia Giok-lun mengawasi Ma Ji-liong.

"Aku tidak perduli apa dulu kau pernah melakukan kejahatan. Aku ingin tanya kepadamu."

Pertanyaannya ini terasa seperti pecut.

"Kau menyeret aku ke dalam kancah ini, mati secara penasaran, apakah dalam sanubarimu tidak merasa berdosa?"

Begitu pertanyaan itu dilontarkan, pecut seperti menghajar tubuh Ma Ji-liong. Tidak boleh, ia tidak boleh berbuat dosa terhadap gadis yang tidak bersalah, maka Ma Ji-liong berkata.

"Aku akan memberitahu kepada mereka bahwa kau tidak bersalah, tidak tahu apa-apa, tiada sangkut-paut dengan kasus ini."

Serak gemetar suaranya, lanjutnya.

"Aku bisa mengantar kau keluar lebih dulu."

Cia Giok-lun menyeringai dingin.

"Ke mana kau bisa menyingkirkan aku? Mereka mau percaya bahwa aku tidak terlibat dalam kasus ini? Agaknya kau ingin melihat mereka menyeret diriku seperti mencincang anjing kurap ke tempat jagal? Supaya aku disiksa dan dikompas?"

Ma Ji-liong sudah merasa dirinya seperti disiksa dan dikompas, ia kehabisan akal.

"Memangnya apa yang harus dilakukan?"

"Bukan aku ini suka ribut dan bikin gara-gara, aku hanya menuntut beberapa hak milikku saja."

"Hak milik apa? Apa yang harus kukembalikan?"

"Kembalikan wajah asliku, pulihkan kondisi badan dan ilmu silatku,"

Mendadak Cia Giok-lun memekik dengan luapan amarah yang tak terbendung.

"Entah dengan cara apa kau membuatku begini. Jika kau seorang bajik, masih punya nurani, sekarang juga pulihkan keadaanku."

Sudah tentu Ma Ji-liong mati kutu, mana mungkin ia mengembalikan apa yang dituntut oleh Cia Giok-lun itu?

Karena tak berani beradu pandang, Ji-liong melengos ke arah lain.

Ia tahu dirinya mirip maling kesiangan, dalam hati ia berharap gadis yang satu ini memegang cemeti, ia rela dirinya dihajar dan disiksa dengan cara yang paling kejam daripada memikul beban batin yang tak berujung pangkal.

Di tengah keheningan itulah, tiba-tiba Thiat Tin-thian buka suara dengan nada rendah.

"Kelihatannya langganan pertama sudah datang untuk berbelanja."

Setiap pembeli, entah siapa pun dia, mungkin adalah utusan Coat-taysu atau mata-mata yang ditugaskan untuk menyelidiki keadaan di sini. Otot hijau di jidat Thiat Tin-thian tampak merongkol keluar.

"Coba kau dengar, dia membeli apa? Apa betul membeli barang-barang keperluan yang dibutuhkan? Atau akan membeli jiwa kita?"

Yang datang adalah nyonya muda yang sedang hamil tua itu.

Sebelum keluar Ma Ji-liong sudah mendengar tawa cekikikan nyonya centil itu.

Di sekitar kampung ini, nyonya muda ini memang terkenal cerewet dan suka mencampuri urusan orang lain.

Kecuali suka mengobrol, ia juga perempuan yang paling suka tertawa.

Hari ini dia kelihatan riang, senyum lebar selalu menghiasi wajahnya, riang dan senang karena benih-benih kehidupan yang dikandungnya genap sembilan bulan, tak lama lagi bakal lahir dari rahimnya.

Ma Ji-liong tidak keluar, ia berdiri di belakang pintu.

Terhadap orang yang satu ini, ia boleh merasa lega.

"Dia langganan lama yang tinggal di sebelah, setiap hari dia datang membeli ini itu."

"Setiap hari datang? Membeli apa?"

Tanya Thiat Tin-thian.

"Paling sering membeli gula merah,"

Tutur Ma Ji-liong.

"Ia berpendapat gula merah seperti Jin-som, bukan saja dapat menambah kesehatan badan, juga bisa menyembuhkan berbagai penyakit."

Orang biasa tidak mampu membeli Jin-som karena mahal harganya, terpaksa mereka membeli gula merah.

Jin-som dan gula merah sama-sama adalah kepercayaan hidup manusia, seperti orang yang memuja malaikat dewata, ada pula yang memuja roh suci.

Di luar dugaan, nyonya muda yang hamil tua itu hari ini bukan membeli gula merah.

Ma Ji-liong mendengar ia sedang bicara dengan Thio-lausit.

"Aku tahu kau pasti heran,"

Demikian katanya merdu dengan cekikikan.

"Karena hari ini aku tak membeli gula merah seperti biasanya."

"Kau mau beli apa?"

Thio-lausit bertanya.

"Beli garam,"

Sahut nyonya muda itu. Di toko ini memang ada menjual garam, setiap keluarga setiap harinya membutuhkan garam, maka tidak perlu dibuat heran kalau ada orang yang membeli garam.

"Beli berapa?"

Tanya Thio-lausit pula.

"Malam nanti aku akan membikin dendeng dan telur asin, makin asin makin enak, rasanya tanggung lezat,"

Nyonya muda itu sengaja memberi penjelasan.

"Aku beli tiga puluh kati garam."

Setiap hari banyak penduduk kampung yang membeli garam untuk masak atau keperluan lain, namun jarang ada yang sekaligus beli tiga puluh kati.

Padahal toko serba ada di mana pun jarang ada yang menyediakan garam lebih dari dua puluh lima kati, persediaan sebanyak itu pun sebulan baru habis terjual.

Suasana menjadi tegang di dalam rumah.

Otot hijau di jidat Thiat Tin-thian tampak lebih besar.

"Suruh dia masuk ke mari,"

Desisnya dengan suara gemetar.

"Kalau dia tidak mau masuk, bekuk dan seret dia."

Ma Ji-liong tidak bergerak dari tempatnya, ia hanya menggelengkan kepala.

"Kenapa kau tidak keluar?"

"Perutnya besar,"

Ucap Ma Ji-liong tegas.

Ada sementara persoalan dalam keadaan bagaimana pun tidak boleh dilakukan, tidak mau melakukan.

Biar mati tetap tidak akan dilakukan.

Tin-thian menatapnya sekian lama.

Mendadak ia menghela napas dengan lesu, ujarnya.

"Kau memang orang yang baik, belum pernah aku melihat orang sebaik kau, sayang jarang ada manusia seperti kau di dunia ini, umpama ada jumlahnya juga sangat sedikit."

Tiba-tiba Cia Giok-lun juga menghela napas gegetun, katanya.

"Betul, aku pun tak pernah melihat orang sebaik dia." ---------------------------------ooo00ooo-----------------------------------------Nyonya muda itu sudah pergi sambil membusungkan perutnya yang besar. Thio-lausit sudah memberitahu kepadanya.

"Garam sudah terjual habis, persediaan belum datang, lebih baik nanti sore kau kembali lagi."

Sebelum pergi nyonya muda itu cekikikan geli. Agaknya ia merasa lucu, toko serba ada sampai kehabisan bahan persediaan, tidak heran kalau ia cekikikan geli. Thiat Tin-thian berkata.

"Kau biarkan dia pergi, berarti kau memberitahu Coat-taysu bahwa aku ada di sini, karena garam yang ada di toko ini diperuntukkan buatku."

Sudah tentu Ma Ji-liong maklum dan tahu akan hal ini. Thiat Tin-thian berkata pula.

"Oleh karena itu, aku berani bertaruh, tokomu akan kebanjiran pembeli, daganganmu akan laris."

Ramalan Thiat Tin-thian memang menjadi kenyataan.

Tak lama kemudian, pembeli kedua pun datang.

Orang ini adalah pemborong.

Dengan lagak seperti cukong, ia melangkah masuk ke dalam toko, katanya dengan suara agak rendah sambil bertolak pinggang.

"Aku membutuhkan banyak barang, persediaan barang apa saja yang ada di toko ini, semua kuborong."

"Setiap barang yang tersedia di sini akan kau beli?"

Tanya Thio-lausit.

"Ya, semua kubeli,"

Ucap orang itu.

"Semua kuborong."

Bab 25.

Ketemu Batunya Kalau ada orang yang mau memborong dagangan, berarti jualannya laris.

Dagang adalah dagang, kau punya barang apa, orang beli apa, apa yang orang ingin beli, kau harus menjualnya.

Berapa banyak orang yang ingin beli, selama persediaan lengkap, kau harus melayaninya.

Tampak oleh Ji-liong, roman muka Thiat Tin-thian mulai berubah, Ji-liong sendiri juga merasakan air mukanya berubah.

Sayang ia tidak melihat roman muka Thio-lausit, namun ia mendengar Thio-lausit berkata.

"Toko serba ada ini tidak besar, namun persediaan yang ada tidak kecil jumlahnya. Barang yang kami sediakan juga banyak ragamnya. Kau seorang diri mana mampu membawa sekian banyak?"

"Aku akan menyuruh orang bantu mengangkutnya dengan cikar,"

Demikian jawab pemborong itu.

"Kau sebut saja berapa harganya, aku akan bayar tanpa menawar, nanti akan kusuruh orang ke mari mengangkutnya."

Suruh orang mengangkut, siapa yang akan disuruh mengangkut?

Mengangkut barang dagangan?

Atau mengangkut jiwa mereka?

Ma Ji-liong tetap tidak mau keluar menghapi pemborong itu.

Mendadak ia merasa adanya sesuatu yang ganjil.

Ia yakin Thio-lausit yang ada di luar mempunyai akal untuk melayani dan menghadapi pemborong itu.

Didengarnya Thio-lausit sedang berkata.

"Aku hanya pegawai toko. Urusan jual-beli dalam jumlah sebesar itu, tak berani aku memutuskan."

"Siapa yang bisa memberi keputusan?"

Tanya pemborong itu.

"Sudah tentu juragan kami,"

Sahut Thio-lausit.

"Juraganmu ada tidak?"

"Ada di dalam, kau boleh masuk dan langsung bicara dengan beliau."

"Aku tidak mau masuk, suruh saja dia keluar."

"Lho, kenapa kau tidak mau masuk?"

"Kenapa bukan dia saja yang keluar?"

Sikap pemborong ini mulai kaku dan ketus. Jawaban Thio-lausit lebih ketus lagi.

"Karena dia adalah juragan. Perduli juragan besar atau juragan kecil, ia punya gengsi sebagai juragan."

Pemborong itu agaknya kurang senang, katanya.

"Kalau dia tidak mau keluar, aku batal membeli."

Tiba-tiba Thio-lausit memberi pernyataan lantang.

"Kau sudah datang ke mari, kau sendiri yang menyatakan akan memborong seluruh isi toko ini, sebagai laki-laki, bicara mengapa plintat-plintut,"

Demikian tegur Thio-lausit.

"Oleh karena itu, kau harus masuk."

Sepenuh perhatian Thiat Tin-thian mendengarkan percakapan mereka, sorot matanya menampilkan rasa ragu, seperti menyelidik dan mengingat-ingat.

Suara percakapan Thio-lausit berdua tidak lirih, setiap patah kata terdengar jelas dari dalam, sebetulnya tidak perlu ia pasang kuping, apalagi mendengarkan dengan seksama.

Agaknya ia sedang membedakan, berusaha mengenali suara pemborong itu, mungkin ia pernah mendengar atau kenal suara pemborong itu.

Ji-liong siap bertanya apakah ia tahu asal-usul pemborong itu, mendadak Thiat Tin-thian sudah berseru.

"Ong Ban-bu!"

Suaranya tegang dan panik.

"Awas, kedua lengan pegawaimu itu."

Dalam Bulim hanya ada satu Ong Ban-bu, Hun-kin-joh-kut-jiu dan Tay-lik-eng-jiau-kang yang diyakinkan Ong Ban-bu menjagoi Kangouw, keculasan hati dan kegapahan tangannya serasi dengan ilmu silat yang ia latih, kedua ilmu tunggal itu dikuasai dengan sempurna dan terkenal tak pernah mendapat tandingan.

Bila ia turun tangan, yang diserang adalah sendi tulang atau Hiat-to lawan yang penting dan mematikan, lawan yang terserang kalau tidak lumpuh seketika, cacat seumur hidup, jiwa pasti melayang.

Pemborong alias Ong Ban-bu yang berada di luar itu agaknya sudah turun tangan.

Peringatan Thiat Tin-thian terlambat.

Belum habis ia bicara, Ji-liong sudah mendengar suara tulang patah.

Suara yang lirih, tapi cukup menusuk pendengaran, dari telinga langsung menusuk ke sanubari, menusuk perut meresap ke tulang.

Seketika Ma Ji-liong merasa perutnya mengkeret, tubuhnya mengejang kaku, sendi tulang sekujur badan mendadak linu.

Perduli Thio-lausit seorang jujur tulen atau pura-pura jujur, jelek-jelek dia adalah pegawainya, selama tiga bulan dua puluh satu hari hidup bersama di dalam satu rumah.

Anehnya kupingnya hanya menangkap suara tulang patah, tapi tidak mendengar jeritan atau keluh kesakitan.

Hanya ada dua macam orang yang kuat menahan siksa dan kesakitan tanpa mengeluarkan jeritan.

Orang pertama adalah laki-laki yang keras kepala, keras tulangnya, teguh pendirian.

Macam kedua adalah orang yang sudah mati, atau orang yang mendadak semaput dan hampir mampus.

Ma Ji-liong sudah siap menerjang keluar, demikian pula Thiat Tin-thian sudah melompat berdiri hendak menerobos keluar.

Tapi sebelum mereka bergerak lebih lanjut, seseorang sudah menyelinap masuk lebih dulu.

Orang ini masuk dengan mundur, lengannya tampak terjuntai sebatas sikut, ternyata sendi tulang di sikut kirinya terpelintir putus.

Saking kesakitan, peluh dingin bercucuran di selebar mukanya, sekujur badan juga basah kuyup seperti ayam kecemplung ke air, namun dia menggertak gigi tanpa merintih.

Orang ini memang laki-laki jantan, laki-laki sejati.

Insan persilatan di Kangouw, siapa yang tidak tahu bahwa Ong Ban-bu adalah laki-laki tabah, keras kepala dan tahan uji.

Yang berjalan mundur ke dalam bukan Thio-lausit yang mereka kuatirkan, sebaliknya Ong Ban-bu yang lihai dan telengas, Ong Ban-bu yang tersohor karena Hun-kin-joh-kut-jiu tidak pernah dikalahkan musuh, jago nomor satu yang termasyhur di Bulim, berkuasa di wilayah Hoay-lam, Ong Ban-bu yang pernah memelintir putus lengan dan mematahkan tulang rusuk jago-jago kosen, tak terhitung jumlah musuh yang kecundang di tangannya.

Sekarang lengannya malah yang putus, dipelintir oleh Thio-lausit, pegawai toko di sebuah kampung yang tidak ternama.

Sudah tentu ia amat penasaran, namun bukti menunjukkan bahwa lengan kirinya putus.

Demikian pula Thiat Tin-thian yang tahu pribadinya, Ma Ji-liong juga tidak percaya, tidak menduga bahwa pegawainya itu ternyata memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Peristiwa yang dianggap tak mungkin terjadi sudah menjadi kenyataan.

Memang tiada sesuatu yang mutlak di dunia ini.

Satu hal harus dicatat, diukir dalam sanubari setiap orang, kalau sesuatu yang dianggap tidak mungkin terjadi suatu ketika betul-betul terjadi, maka akan merasa kaget, heran dan menderita.

Karena bila peristiwa yang dianggap tidak mungkin itu betul-betul terjadi, maka peristiwa itu pasti mengundang siksa derita.

Ada kalanya derita itu jauh lebih besar dibandingkan siksa patah lengan atau putus kaki.

-------------------------------ooo00ooo-------------------------------------Bukan hanya mengunjuk rasa heran, rona muka Ong Ban-bu juga mengunjuk rasa sakit, kaget dan takut.

Selama hidup, belum pernah ia merasa takut seperti sekarang.

Tapi pegawai toko serba ada yang tak dikenalnya ini benar-benar membuatnya jeri.

Hun-kin-joh-kut-jiu (Gerakan Memelintir Tulang dan Mengunci Urat Nadi) dan Tay-lik-eng-jiaukang (Ilmu Cakar Elang Bertenaga Raksasa) adalah ilmu tunggal ciptaan Eng-jiau-ong (Raja Cakar Elang) dari Hoay-lam yang tiada taranya.

Ong Ban-bu adalah ahli waris murni Eng-jiau-ong yang lurus, jago kosen nomor satu dari Hoay-lam-bun.

Tak pernah terbayang dalam benaknya, hari ini, di saat dirinya akan menggasak korban yang tak dikenal dan tidak ternama ini, dirinya malah kecundang.

Hanya satu gebrak setengah jurus, pegawai toko ini sudah mengunci gerakannya dan menutup jalan mundur dirinya, sekaligus memelintir putus lengannya.

Selangkah demi selangkah ia mundur, mundur karena didesak dan diancam oleh Thio-lausit, mundur ke dalam rumah lewat pintu kecil yang berkain tirai itu.

Kain tirai menjuntai turun.

Pegawai jujur yang bertampang biasa itu tidak kelihatan ikut masuk.

Ong Ban-bu terus mundur tanpa memperhatikan bahwa di belakang dan di sekitarnya ada beberapa orang yang sedang memperhatikan dirinya, mengawasi dengan pandangan kaget, heran dan tak habis mengerti.

Sorot mata Ong Ban-bu kelihatan amat sedih, kesakitan yang amat sangat, matanya lurus menatap ke depan seperti tidak melihat keadaan sekitarnya.

Mendadak Thiat Tin-thian maju selangkah seraya mengulurkan tangan menarik pundak orang sehingga Ong Ban-bu jatuh terduduk di kursi rotan itu.

Semestinya Ong Ban-bu mengenal Thiat Tin-thian, mereka pernah menjadi teman baik, kawan seperjuangan, tapi akhirnya mereka berselisih dan menjadi musuh bebuyutan, musuh besar jelas lebih sukar dilupakan daripada kawan.

Tapi ia seperti tidak kenal, tidak melihat orang yang berdiri di depannya ini adalah Thiat Tin-thian, musuh yang ia segani dan takuti, seolah-olah matanya sudah buta tapi melek, tidak melihat ada orang berdiri di depannya.

Keringat masih bercucuran dari jidatnya, membasahi selembar mukanya, mulutnya mengigau seperti orang bermimpi.

"Siapakah dia? Siapakah orang itu?"

Sudah tentu besar pula hasrat Thiat Tin-thian untuk mengetahui siapa sebenarnya pegawai toko itu, maka ia berpaling dan bertanya pada Ma Ji-liong.

"Siapa sebenarnya pegawaimu itu?"

Ma Ji-liong menggelengkan kepala, ia tidak bisa menjawab.

Ia pun tidak tahu siapa dan bagaimana asal-usul pegawainya.

Ia hanya tahu pegawainya itu bernama Thio-lausit, seorang yang jujur dan setia, tindak-tanduknya mirip orang linglung.

Dulu ia tidak punya pengalaman gemilang, kelak juga takkan punya masa depan cemerlang, seakan hidupnya cukup makan minum sampai mati di dalam toko serba ada yang makin kotor dan jorok ini.

Tiada orang yang kenal asal-usulnya, namun hanya dalam segebrak saja ia mampu melumpuhkan Ong Ban-bu, jago kosen yang sudah menggetarkan Bulim.

Ma Ji-liong juga tidak habis mengerti, maklum Thio Eng-hoat atau juragan toko serba ada yang sekarang bukan juragan yang lama, demikian pula pegawai yang satu ini juga bukan Thio-lausit yang asli, bukan pegawai lama yang jujur itu.

Seharusnya Ma Ji-liong bisa menduga hal ini sejak mula, namun kenyataan memang susah dimengerti, siapa sebetulnya pegawai ini.

Ji-liong betul-betul tidak tahu.

-------------------------------------ooo00ooo----------------------------------------Wajah Ong Ban-bu basah karena keringat, mulutnya terus mengigau, entah sudah berapa kali mengulangi pertanyaan yang sama.

Mendadak Thiat Tin-thian mengayunkan tangan menggampar mukanya.

Selama hidup Ong Ban-bu mungkin tidak pernah digampar orang, apalagi setelah dia menduduki jabatan tinggi dari perguruannya.

Patah sikutnya betul-betul membuatnya patah semangat, malu dan jatuh mental, sehingga dia mengigau seperti hilang ingatan.

Namun tamparan Thiat Tin-thian cukup membuatnya kaget dan sadar.

Seperti orang baru terjaga dari mimpi yang lelap, dia celingukan melihat orangorang yang berdiri di sekitarnya.

Begitu melihat Thiat Tin-thian, matanya lantas memicing, bayangan ngeri terunjuk pada mimik mukanya.

Kejadian masa lalu, kenangan lama segera terbayang di dalam benaknya.

"Engkau........"

Desis Ong Ban-bu.

"Engkau.......... di sini."

"Ya, aku di sini,"

Suara Thiat Tin-thian seperti tertelan dalam tenggorokan, jelas ia juga teringat akan masa lalu.

"Seharusnya kau tahu kalau aku ada di sini."

Beberapa kejap Ong Ban-bu mengawasi, sorot matanya berubah makin sedih dan tersiksa, katanya.

"Aku tahu kau ada di sini, aku ke mari juga lantaran ingin merenggut nyawamu. Aku tahu aku pernah bersalah terhadapmu, aku pernah memfitnahmu, mengkhianatimu. Oleh karena itu aku makin membencimu, hasratku lebih besar lagi untuk membunuhmu."

Cukup tegas apa yang ia ucapkan, tapi kenyataan memang demikian.

Jika kau pernah mengkhianati orang, maka kau pasti membenci orang itu, kau akan berusaha membunuh dan melenyapkan dia dari hadapanmu.

Selama dia masih hidup, hatimu takkan pernah tenteram.

Selama hidup kau akan merasa berdosa, dibayangi oleh kesalahanmu sendiri.

Setelah keadaan berlarut sejauh itu, yang kau benci mungkin bukan dia lagi, tapi dirimu sendiri.

"Sepuluh tahun yang lalu,"

Demikian kata Ong Ban-bu dengan suara bergetar.

"Aku pernah memfitnah engkau, karena saat itu aku pernah melakukan kesalahan terhadapmu, aku takut kau tahu perbuatanku yang terkutuk itu, maka........ maka aku ingin meminjam golok orang lain untuk membunuh engkau."

"Aku tahu,"

Kereng suara Thiat Tin-thian.

"Kalau betul kau tahu, kenapa tidak kau bunuh aku waktu itu?"

Sikap Ong Ban-bu kelihatan lebih tersiksa.

"Aku rela mati di tanganmu. Kalau waktu itu kau bunuh aku, nasibku takkan seperti ini."

Ini pun kenyataan.

Dapat gugur di tangan Hoan-thian-hu-te, rampok besar Thiat Tin-thian, jauh lebih mending dibandingkan kecundang di tangan seorang pegawai toko.

Kekalahan yang terlalu fatal, teramat runyam, sangat mengenaskan.

Thiat Tin-thian meresapi perasaannya, tahu betapa besar derita batinnya.

Pengalaman masa lalu sudah lewat, namun duka lara tetap abadi sepanjang masa.

Di luar tidak terdengar suara apa pun, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

Thio-lausit juga tidak masuk, tetap di luar menjaga toko, mirip seorang jujur, duduk di kursi yang berada di pinggir pintu, bekerja rajin dan setia menunggu barang dagangan, tiada orang yang tahu bahwa dia seorang jago silat kelas wahid yang memiliki ilmu silat tinggi.

Siapakah dia?

Kenapa dia menemani Ma Ji-liong bersembunyi di toko ini?

Mendadak Ma Ji-liong menerobos keluar, hasratnya lebih besar untuk mendapatkan jawaban itu dibanding Thiat Tin-thian.

Thio-lausit duduk tenang dan tegak di atas kursi, di mana dia biasa duduk.

Keadaan toko ini pun seperti biasa, tapi keadaan di luar rumah justru berbeda dengan biasanya.

Dalam waktu seperti itu, biasanya jalan kampung yang jorok dan becek kalau hujan itu selalu ramai, di sana kucing di sini anjing, keadaan biasanya ramai dan hiruk-pikuk.

Meski jalan kampung ini dalam wilayah yang berpenduduk miskin, tapi kehidupan di sini tetap diliputi suasana riang gembira.

Namun keadaan yang biasanya ramai itu kini berubah menjadi sepi lengang, bayangan seorang pun tidak kelihatan di luar rumah, anjing dan kucing juga tidak tampak.

Jalan kampung ini mendadak berubah menjadi jalan mati, seperti tiada kehidupan di daerah sekitarnya.

Bab 26.

Daerah Mati Berbeda dengan lazimnya, toko serba ada yang satu ini tidak mirip dengan toko yang lain.

Di toko lain ada meja dan lemari kasir.

Di sini hanya ada se

Jilid buku yang sudah lusuh dan luntur warna sampulnya dan sebuah meja kecil yang berlaci satu untuk menyimpan uang--itulah meja kasir.

Ma Ji-liong menarik kursi lalu duduk di meja kasir.

Dari tempat duduknya ia memperhatikan Thiolausit.

Seperti biasanya Thio-lausit tetap lugu, reaksinya lamban, wajahnya jarang menampilkan mimik perasaan hatinya.

Sekarang dia tetap dalam keadaan demikian.

Kalau ada orang bilang dalam sekejap tadi dia mampu mengalahkan Ong Ban-bu yang tersohor sebagai jago nomor satu dari Hoay-lam, orang pasti tidak percaya.

Apakah wajahnya juga pernah divermak dengan tata rias Giok Ling-long dengan Giok-jiu-linglongnya?

Siapakah dia sebenarnya?

Ada beberapa tokoh besar dalam Bu-lim ini yang mampu mengalahkan Ong Ban-bu dalam segebrak saja?

Lama Ma Ji-liong terpekur sambil memperhatikan orang ini.

Mendadak ia membuka mulut memanggil nama orang.

"Toa-hoan."

"Toa-hoan?"

Thio-lausit tampak gelagapan, gerak-geriknya seperti orang linglung.

"Kau minta Toahoan (mangkuk besar)? Mangkuk besar ada di dapur, apa perlu aku mengambilnya?"

"Tidak,"

Sahut Ji-liong.

"Toa-hoan yang kumaksud adalah nama seseorang."

"O, nama orang?"

"Kau tidak pernah melihatnya?"

"Toa-hoan yang pernah kulihat adalah mangkuk besar--bukan manusia."

Ma Ji-liong menghela napas, perlahan ia berdiri lalu menghampiri sampai di depan orang.

Mendadak ia turun tangan, dengan dua jari telunjuk dan jari tengah ia mencolok kedua mata Thiolausit.

Mata Thio-lausit segera terpejam.

Hanya itu reaksinya.

Kecuali kedua matanya, sekujur badannya tak memberi reaksi apa-apa.

Sudah tentu Ji-liong tidak menyerang sungguhan.

Mendadak ia sadar bahwa dirinya adalah orang bodoh.

Umpama Thio-lausit betul adalah orang jujur, betapapun tentu sudah tahu bahwa juragannya takkan turun tangan keji terhadap dirinya yang setia dan rajin bekerja, tiada alasan membuat dirinya cidera, sudah tentu ia takkan berhasil memancingnya mengeluarkan ilmu silat.

Ditanya tidak menjawab, dicoba juga gagal, lalu dengan akal apa baiknya?

Di kala Ma Ji-liong sedang bingung, tidak tahu bagaimana ia harus bertindak lebih jauh, dilihatnya ada dua orang mendatangi dari ujung jalan kampung sebelah timur.

-------------------------ooo00ooo------------------------Tok, tok, tok itulah suara sentuhan tongkat kayu yang beradu dengan tanah, dari kejauhan sudah terdengar jelas.

Yang datang ada dua orang, dua-duanya timpang, maka kedua orang ini memakai tongkat.

Kalau dipandang dari jauh, badan bagian atasnya saja, kelihatan seperti terdiri satu orang.

Maklum wajah, pakaian, sikap dan bentuk tubuh mereka mirip satu dengan yang lain, seperti pinang dibelah dua, keduanya sama-sama memiliki kaki yang cacat, buntung dan tergantung di udara, betapa jijik dan jelek tampaknya.

Tapi rona muka dan sikap kedua orang cacat ini amat serius, sinar mata mereka dilembari keyakinan.

Hanya ada satu perbedaan dari kedua orang ini, cacat kaki mereka yang satu di sebelah kiri, yang lain di sebelah kanan.

Melihat keadaan kedua orang ini, Ma Ji-liong lantas teringat kisah lama, kisah yang sudah lama tersiar luas di kalangan Bu-lim, yaitu dua tokoh besar yang sudah punya nama gemilang di masa silam.

Di ujung utara Sing-siok-hay di puncak Kun-lun san, ada sepasang saudara kembar yang cacat badannya, mereka bernama Thian-jan dan Te-coat.

Karena cacat, mereka berjiwa aneh, sepak terjangnya menyeleweng dari kebiasaan umum, demikian pula ilmu silat mereka juga serong, murid-murid yang mereka terima juga harus saudara kembar yang cacat pula, anak-anak kembar dan cacat sejak dilahirkan.

Kaum persilatan angkatan tua banyak yang tahu tentang mereka, namun jarang ada yang pernah melihat atau berhadapan langsung dengan mereka.

Murid-murid Sing-siok-hay juga jarang berkecimpung di Kangouw.

Sudah beberapa tahun belakangan ini, tidak ada murid mereka yang datang ke Kanglam.

Berita yang tersiar luas di luar itu simpang siur, berbeda satu dengan yang lain.

Ada sementara pihak yang bilang, pakaian murid-murid Sing-siok-hay mewah lagi mahal.

Namun potongan atau modelnya lucu dan tidak lazim dipandang mata.

Malah katanya ada murid Sing-siok-hay yang mengenakan jubah mutiara, maksudnya jubah yang dibuat dari rangkaian mutiara besar kecil.

Maklum cacat badan membuat mereka rendah diri, aneh dan suka melakukan sesuatu yang menonjol, mereka senang menonjolkan diri dengan cara-cara yang tidak lumrah bagi pandangan manusia normal.

Berbeda dengan kedua pemuda cacat ini, pakaian mereka biasa saja, tiada sesuatu yang luar biasa pada kedua pemuda ini, tak berbeda banyak dibandingkan manusia umumnya.

Konon murid-murid Sing-siok-hay hanya boleh berkecimpung di Kangouw setelah mereka lulus ujian.

Bila guru mereka beranggapan mereka cukup tangguh dan takkan kalah melawan jago-jago silat aliran lain, baru mereka diizinkan turun gunung, mengembara di Bu-lim mencari pengalaman.

Sebagai orang cacat, dalam meyakinkan ilmu silat sudah tentu jauh lebih sukar, makan tenaga dan memeras otak, jauh lebih menderita.

Bila mereka lulus ujian dan mulai berkecimpung di Kangouw, tentu usianya sudah cukup tua.

Tapi kedua pemuda cacat kembar ini masih muda, gagah dan tampan, paling banyak berusia 24 tahun.

Mungkinkah dalam usia semuda itu mereka mampu meyakinkan ilmu tunggal Sing-siokhay?

Sudah yakin bahwa mereka tak terkalahkan?

Semua yang diuraikan di atas adalah berita yang tersebar luas di kalangan Kangouw, namun berita itu sudah meresap, sudah berakar di sanubari orang-orang yang pernah mendengar tentang kisah mereka, kejadian sering kali lebih nyata dari sesungguhnya, jauh lebih mudah diterima oleh orang lain.

Ketika suara tongkat berhenti, kedua orang itu pun sudah berada di depan mata.

Ma Ji -liong bangkit perlahan, lalu berputar menghadapi mereka.

Dalam hati ia menduga, bahwa kedua pemuda cacat ini memang benar adalah murid Sing-siok-hay, tapi ia bertanya dengan suara lantang.

"Kalian mau membeli apa?"

"Kami tidak akan berbelanja,"

Yang cacat kaki kirinya berbicara lebih dulu, lalu yang kaki kanannya cacat menimbrung.

"Kami hanya ingin melihat-lihat dan membuktikan sebetulnya kau ini orang macam apa, dengan cara apa kau mampu menawan Ong Ban-bu?"

Mereka bicara blak-blakan, terus terang menyatakan maksud kedatangannya, tidak bermuka-muka juga tidak pasang aksi.

"Aku she Sun bernama Ca,"

Yang cacat kaki kirinya bicara.

"Dia adalah saudara kembarku, bernama Sun Jia."

"Soalnya aku dilahirkan sedikit lambat,"

Yang cacat kaki kanannya menambahkan.

Nama mereka sangat sederhana, nama yang umum dan sering terdengar di kalangan rakyat jelata, tidak seperti murid-murid Sing-siok-hay yang sering berbuat aneh, mengada-ada dan tindaktanduknya misterius.

Sun Ca berkata.

"Kami terlihat seperti murid-murid Sing-siok-hay."

Sun Jia meneruskan pula.

"Oleh karena itu, kau pasti juga beranggapan bahwa kami adalah murid Sing-siok-hay."

"Tapi kalau kau beranggapan demikian, kau keliru,"

Ucap Sun Ca.

"Dengan Sing-siok-hay, hakikatnya kami tidak punya hubungan."

"Sepuluh tahun yang lalu, pernah kami meluruk ke Sing-siok-hay,"

Sun Jia berkata.

"Kami juga ingin mencari orang aneh yang diagulkan dalam berita itu, kami mengharap beliau suka mengajar ilmu silat yang lihai kepada kami, supaya kami memiliki kepandaian yang tiada taranya dan malang melintang di dunia Kangouw."

"Tapi kami amat kecewa, kami gagal menemui mereka."

"Puncak gunung itu hanya tanah belukar yang tidak pernah dijelajahi manusia. Musim panas mentari amat terik laksana bara, musim dingin hawa membuat beku tulang sumsum, orang biasa jelas takkan hidup di tempat itu."

"Kami menjelaskan tentang kenyataan ini, hanya supaya kau tahu ilmu silat yang kami yakinkan sekarang adalah berkat latihan kami sendiri, latihan yang rajin dan tekun."

"Oleh karena itu, kau tak usah kuatir dan jangan menganggap kami orang cacat, maka kau sungkan turun tangan."

Ma Ji-liong mendengarkan mereka bicara sampai habis, dalam hati ia meresapi sesuatu.

Mereka adalah anak-anak muda, mereka tidak pura-pura, tidak bermuka-muka, tidak bertingkah, bersikap tegas tidak aleman dan sungguh-sunguh.

Mereka ingin memperjuangkan hidup sendiri, mengangkat nama tanpa mendapat bantuan pihak lain.

Walau mereka cacat badan, ternyata tak rendah diri, juga tidak uring-uringan dan gampang mengumbar adat.

Ma Ji-liong tidak ingin bermusuhan dengan kedua pemuda cacat ini.

"Aku tidak ada maksud menahan kalian,"

Katanya dengan suara tawar.

"Setiap waktu kalian boleh datang ke mari, juga boleh pergi sesuka hati kalian."

Mereka tidak pergi. Sepasang kembar yang cacat ini menatap Ji-liong dengan pandangan yang sama, tajam dan mengancam, sorot mata mereka tampak ganjil. Sun Ca pula yang membuka suara lebih dulu.

"Kami tahu dan merasakan, kau tidak menganggap kami sebagai musuh. Sayang sekali kau adalah Ma Ji-liong. Kalau orang lain, kami ingin bersahabat denganmu."

"Ternyata kau bukan manusia rendah budi, bukan orang jahat yang berhati kejam seperti yang mereka gambarkan,"

Demikian ucap Sun Jia.

"Sayang sekali kau adalah Ma Ji-liong yang harus dibekuk dan dihukum."

Baca Juga: Pedang Gadis Yueh 1

Baca Juga: Tiga Maha Besar 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert