Eps 4 Darah Ksatria Harkat Pendekar - Khu Lung
Baca online Darah Ksatria Harkat Pendekar - Khu Lung
Cersil Darah Ksatria Harkat Pendekar - Khu Lung.
Dua saudara kembar ini sama-sama menghela napas, sama-sama membalik badan.
"tok, tok, tok" , tongkat mereka berbunyi serempak, agaknya mereka siap meninggalkan tempat itu, seakan-seakan mereka segan atau tidak akan bermusuhan lagi dengan Ma Ji-liong. Tapi mereka tidak keluar, karena di saat tongkat mereka bergerak ketiga kalinya, baru saja ujung tongkat menyentuh lantai, tangan Thio-lausit mendadak bergerak. Ma Ji-liong hanya mendengar desir angin tajam memecah udara, dua batang tongkat yang dipegang dua saudara kembar itu mendadak patah persis di bagian tengah, menyusul dua benda kecil menggelundung jatuh bersama tongkat yang patah itu. Waktu Ji-liong melirik ke sana, ternyata dua butir kacang tanah yang mematahkan tongkat kayu sebesar lengan bayi itu. Thio-lausit gemar minum arak, kacang tanah adalah kawan intim bagi seorang yang suka minum arak, makan kacang supaya tidak lekas mabuk. Di atas meja Thio-lausit selalu bertumpuk kacang tanah. Thio-lausit mampu menimpuk patah tongkat kayu sebesar lengan bayi yang montok, padahal dibacok golok pun tongkat itu takkan putus seketika. Sun Ca dan Sun Jia tidak menduga. Walau mereka tidak jatuh karenanya, mereka masih berdiri dengan sebelah kakinya yang utuh, bendiri tegak seperti terpukau atau berakar di bumi. Tapi roman muka mereka tampak berubah hebat, demikian pula rona muka Ma Ji-liong juga berubah.
"Apa yang kau lakukan?"
Serunya spontan.
"Terpaksa aku harus menahan mereka,"
Sahut Thio-lausit, wajahnya tidak menunjukkan perubahan apa-apa.
"Kau tak mau bertindak, biar aku yang menahan mereka."
Ma Ji-liong tidak sempat bertanya 'kenapa' lagi, karena dalam sekejap mata, ia merasakan datangnya perubahan pada ujung jari tangan dan kaki, mulut serta ujung mata dan setiap tempat yang peka.
Begitu cepat perubahan terjadi, kejap lain ia merasakan juga badannya mulai kejang dan pati rasa.
Hanya sekejap setelah tongkat mereka patah, Sun Ca dan Sun Jia tiba-tiba melambung tinggi ke udara.
Meski hanya menjejak dengan sebelah kaki, tapi tubuh mereka meluncur kencang bagai panah ke arah luar pintu.
Walau cacat badan, tapi di kala tubuh mereka melesat di udara, bukan saja gayanya indah, kecepatannya pun bagai elang mengejar burung dara.
Meski kedua pemuda ini tuna raga, dari gerakan itu dapat dinilai betapa tinggi Ginkang mereka, jarang ada jago silat semuda mereka dapat menandingi kemampuannya.
-------------------------ooo00ooo------------------------Menurut cerita, dalam jangka tiga ratus tahun mendatang, orang yang mempunyai telinga paling tajam di seluruh dunia persilatan adalah seorang tuli.
Seorang tuli benar-benar, tuli tulen, namun dalam jarak tiga puluh tombak, dia bisa mendengar bisikan orang (baca Pukulan Si Kuda Binal).
Maklum dia bukan mendengar dengan telinga, tapi mendengar dengan mata.
Cukup dia melihat gerak bibir seseorang, bentuk mulut waktu orang bicara, maka dia dapat mendengar apa yang diucapkan orang itu.
ltulah ilmu tunggal orang tuli itu, kepandaian khusus yang tidak mungkin dimiliki atau diyakinkan orang lain, ilmu hasil latihan dan gemblengan berat.
Karena dia tuli, maka dia berhasil meyakinkan ilmu tunggal yang tiada bandingannya.
Seseorang bila tubuhnya mempunyai ciri, entah ciri apa pun, jika dia bisa memanfaatkan kekurangannya sendiri, sering terjadi usaha yang tak kenal lelah, jerih payahnya akan mendatangkan sukses yang gemilang.
Bahwa Sun Ca dan Sun Jia yang tuna raga mampu meyakinkan Ginkang setinggi itu juga lantaran mereka tapa daksa.
Karena tahu dirinya tuna raga, maka mereka mau menggembleng diri, latihan yang mereka lakukan jelas lebih sukar, lebih berat dan lebih menyiksa.
Secara mendadak tubuh mereka melambung tinggi begitu saja, seperti kaki mereka dipasang pegas, gerakan keduanya pun serasi, cepat, indah lagi mempesona.
Gerak tujuan mereka ke arah luar pintu.
Namun di saat tubuh mereka melorot turun, ternyata kakinya tetap menginjak lantai di dalam toko.
Begitu kaki anjlok ke bawah dan menginjak tanah, lalu tak mampu melompat lagi.
Bukan hanya tidak mampu melompat, mereka pun tidak bisa bergerak, berdiri kaku seperti patung, ada empat Hiat-to di tubuh mereka tertutuk.
Delapan butir kacang tanah menggelinding di lantai.
Tokoh silat kosen yang memiliki kepandaian sejati, meski hanya menggunakan kelopak kembang juga dapat melukai musuh, maka tidak perlu beran bila dengan kacang tanah seseorang yang memiliki ilmu silat tinggi dapat menutuk Hiat-to di tubuh orang.
Namun belum ada orang tahu bahwa Thio-lausit yang pegawai toko ini adalah seorang jago kosen yang memiliki kepandaian tinggi.
Kapan dan bagaimana Thio-lausit menyambitkan kacang tanah, bagaimana pula Sun Ca dan saudara kembarnya kecundang?
Ma Ji-liong tidak tahu, juga tidak sempat menyaksikan karena keadaan dirinya juga sudah gawat, pandangannya mulai kabur, sekujur badan sudah mengejang kaku.
Ma Ji-liong tak merasakan, Thio-lausit segera berdiri dan menghampiri dirinya, dari dalam kantung Sun Ca dia merogoh keluar sebotol obat.
Dari botol kecil itu ia menuang dua butir pil lalu dijejalkan ke mulut Ma Ji-liong, selang beberapa saat kemudian baru Ma Ji-liong mulai pulih kesadarannya.
Sikap Thio-lausit biasa saja, tidak menunjukkan rasa tegang, senang atau kaget, namun ia bertanya dengan suara tawar.
"Sekarang tentu kau sudah tahu kenapa aku menahan mereka."
Ma Ji-liong sudah tahu.
Ada beberapa adegan tidak sempat ia saksikan tadi, tapi ia maklum banyak peristiwa yang terjadi di dunia ini, tak usah kau saksikan sendiri pun kau bisa maklum sendiri.
Ia maklum kenapa dirinya mendadak kejang dan pati rasa, karena terkena racun jahat yang ditaburkan Sun Ca dan Sun Jia.
Jenis racun yang tidak kelihatan, tidak bisa dirasakan dan tidak berwarna, ternyata lihai juga saudara kembar cacat ini menggunakan racun.
Apa yang mereka ucapkan tadi mungkin setulus hati, hanya omongan jujur untuk menarik perhatian orang, hanya dengan bersikap jujur maka lawan dapat dibuat lena.
Di kala mereka bersikap tidak bermusuhan, saat itulah mereka menyerang dengan cara mereka yang khas dengan racun jahat.
Tanpa bayangan, juga tidak menunjukkan gerakan yang mencurigakan.
Umpama orang menganggap orang lain sebagai teman baiknya, tanpa hubungan yang baik, takkan ada kesempatan dia mengkhianati temannya itu.
-------------------------ooo00ooo------------------------Bukan berarti Ma Ji-liong tahu jelas duduknya persoalan, tapi setelah ia bisa buka suara, ia lantas berkata.
"Bebaskan mereka, sekarang juga biarkan mereka pergi."
"Kenapa kau melepaskan mereka?"
Tanya Thio-lausit heran.
"Karena aku adalah Ma Ji-liong. Karena melaksanakan tugas, mereka pantas berbuat demikian."
Mereka juga masih muda, sepak terjang anak muda umumnya memang demikian, mereka ingin terkenal, mendapat kedudukan dan disegani, ingin menjadi orang yang sukses, orang besar, maka mereka tidak salah.
Seorang pemuda harus punya cita-cita, mengejar nama, maka usahanya itu pasti tidak salah.
Setelah Hiat-to yang ditutuk di tubuhnya dibebaskan, Sun Ca dan Sun Jia segera beranjak keluar, Waktu berjalan pergi, Sun Ca dan Sun Jia tidak berpaling, melirik pun tidak ke arah Ma Ji-liong, mereka juga tidak menghaturkan terima kasih.
Ma Ji-liong juga sengaja melengos ke jurusan lain, ia tidak ingin menambah beban batin dan rasa malu mereka.
la bertanya pada Thio-lausit.
"Apa betul kau tidak pernah melihat Toa-hoan? Juga tidak tahu siapa dia? Apa betul kau sudah menjadi pegawai toko serba ada ini selama delapan belas tahun?"
Thio-lausit tidak menjawab, ia membungkuk badan memungut kacang tanah yang berserakan di lantai, satu persatu diambil, dikuliti dan langsung dijejalkan ke dalam mulut.
Sambil mengunyah kacang tanah di dalam mulutnya, ia menghela napas, lalu bergumam.
"Persoalan yang harus dia ketahui tidak ditanyakan, kepada siapa dia harus bertanya juga tidak diperhatikan, malah bertanya persoalan yang tak berguna kepadaku."
"Aku tahu aku harus bertanya kepada Ong Ban-bu,"
Demikian ucap Ma Ji-liong.
"Berapa banyak orang mereka yang meluruk ke tempat ini? Siapa pemimpinnya dan tokoh-tokoh silat siapa saja yang ikut datang? Begitu?"
"Kalau sudah tahu, kenapa tidak kau tanya kepadanya?"
"Karena pertanyaanku yang kuajukan kepadamu kurasa lebih penting."
"Penting, apanya yang penting?"
Thio-lausit menghela napas pula.
"Memangnya kenapa kalau aku pernah melihat Toa-hoan? Bagaimana pula kalau tidak pernah melihatnya? Kenapa kau justru bertanya hal ini?"
"Karena aku ingin tahu sekarang dia di mana,"
Tegas jawaban Ma Ji-liong.
"Aku benar-benar ingin tahu."
"Dia ada di mana, apa sangkut-pautnya denganmu?"
"Sudah tentu ada sangkut-pautnya,"
Ma Ji-liong menatap Thio-lausit.
"Jika kau juga pernah merindukan seseorang, kau pasti tahu dan maklum perasaanku sekarang."
Wajah Thio-lausit tetap tidak menunjukkan perubahan apa-apa, tapi sisa kacang tanah yang masih digenggam di telapak tangannya mendadak berjatuhan di atas lantai.
Bergegas ia berjongkok memungutinya lagi, seperti sengaja menghindari tatapan mata Ma Ji-liong yang tajam dan hangat bagaikan bara.
Di saat Ma Ji-liong berdiri menjublek, dari dalam rumah berkumandang teriakan Cia Giok-lun.
"Kalau kau ingin tahu tentang Toa-hoan, kenapa tidak kau tanya kepadaku."
Bergegas Ji-liong melangkah ke dalam.
Di saat ia membalik badan menutup kain tirai, mendadak dilihatnya sebaris orang dengan derap langkah lembut masuk ke jalan kampung dari arah utara.
Barisan ini terdiri dari 28 orang, muda, kekar, gerak-geriknya lincah dan tangkas, gerak kaki dan tangan mereka amat rapi dan rata.
Ke-28 pemuda itu seluruhnya berpakaian hitam ketat dengan potongan dan model yang sama, dengan gerak kaki setinggi lutut berderap maju dengan rajin, tangan kiri mereka menjinjing kantong kain hitam yang bentuk dan besarnya sama.
Apa isi kantong kain hitam itu?
Apa kerja ke-28 pemuda berpakaian hitam itu di tempat ini?
Setiap orang pasti tertarik dan ingin tahu bila melihat barisan serapi itu.
Yang sedang ber jalan menoleh, yang sedang bekerja berhenti, semua memperhatikan barisan yang menyolok pandangan, entah apa maksud kedatangan mereka.
Ternyata Ma Ji-liong tidak peduli, dia tetap melangkah ke dalam.
Hanya sekilas ia menoleh dan menatap keluar, lalu menyingkap tirai menyelinap masuk.
Kecuali Toa-hoan, orang lain, urusan lain, seperti tidak menarik perhatiannya.
Cia Giok-lun meronta berduduk, mimik mukanya kelihatan aneh, entah marah, derita atau penasaran?
Mungkin juga sedih?
Berbagai perasaan campur aduk dalam relung hatinya.
Dengan melotot ia mengawasi Ji-liong.
"Kau kenal Toa-hoan? Bukankah kalian bersekongkol, mengatur rencana busuk ini untuk mencelakai aku?"
Ma Ji-liong diam, tidak menyangkal, juga tidak membantah.
Ia tidak ingin berdebat.
Dalam keadaan seperti ini ia tidak bisa menyangkal, juga tidak perlu menyangkal.
Jari-jari Cia Giok-lun yang kurus kering itu mencengkeram ujung selimut kapas yang tebal itu, kelihatan tubuhnya gemetar.
"Selama beberapa bulan ini, kau selalu merindukan dia?"
Suara Cia Giok-lun berubah serak terisak.
"Tiga bulan lebih kau mendampingi aku, tapi setiap hari kau malah merindukan dia?"
Ma Ji-liong tidak mungkir, hal ini memang tidak perlu dibantah. Tubuh Cia Giok-lun berguncang lebih keras.
"Kenapa kau merindukan dia? Apa kau mencintai wanita jelek itu?"
Pertanyaan ini setiap hari mengganjal dalam benak Ma Ji-liong.
Kenapa aku selalu merindukan dia?
Apa betul aku sudah kasmaran kepadanya?
Kalau lagi kasmaran, maka perasaannya bukan lagi suka, tapi dirinya sudah jatuh cinta.
Karena cinta maka ia kuat bertahan sekian lama menyembunyikan diri sebagai pemilik toko serba ada, karena cinta pula sehingga amat keras dan begitu besar rasa rindunya.
Tapi hal ini tak pernah Ji-liong pikirkan, Ji-liong memang tak habis mengerti, kenapa dirinya punya pikiran demikian.
Mendadak Cia Giok-lun menghentikan isak tangisnya, badan juga tidak gemetar lagi, jengeknya sambil menyeringai dingin.
"Ingin tidak kau tahu siapa dia?"
"Ingin sekali,"
Jawab Ma Ji-liong dengan tegas, tanpa tedeng aling-aling.
"Jika kau tahu siapa dia sebenarnya, aku yakin kau akan kecewa;"
"Tidak, pasti tidak,"
Tegas dan jelas jawaban Ma Ji-liong.
"Peduli siapa dia, sikapku terhadapnya takkan pernah berubah."
"Baiklah, biar kujelaskan,"
Suara Cia Giok-lun seperti memekik.
"Dia adalah babu di rumahku."
Ma Ji-liong tetap bersikap tenang dan wajar.
"Kau adalah Toa-siocia, nona besar, dia adalah babumu. Engkau seorang gadis cantik, sebaliknya dia buruk rupa. Tapi peduli kau siapa dan dia siapa, aku tetap merindukan dia."
Habis bicara ia beranjak keluar pula.
"Kembali kau!"
Pekik Cia Giok-lun.
"Masih ada yang akan kuberitahukan kepadamu."
Ma Ji-liong tidak berbalik, juga tidak berpaling.
Apa pun yang akan dikatakan Cia Giok-lun, ia tidak mau mendengar lagi.
Dengan gemas Cia Giok-lun menjatuhkan diri, menyusupkan kepala ke bawah bantal, lalu menangis gerung-gerung, menangis dengan sedih.
Sebagai Toa-Siocia, atau nona besar, ia memang amat binal, lebih brengsek dibandingkan putri raja, lebih agung dibanding bidadari.
Belum pernah ada orang yang melihat ia mencucurkan air mata.
Apa pun yang ia minta, apa pun yang ia inginkan di rumah maupun di luar, belum pernah tidak terkabul.
Tapi kenapa kali ini ia menangis?
Karena apa ia mencucurkan air mata?
Thio Eng-hoat duplikat Ma Ji-liong ini hanya juragan toko serba ada di kampung di mana sebagian besar penduduknya adalah kalangan rendah.
Ma Ji-liong tidak lebih hanya keparat yang berani melakukan kejahatan, seorang buronan yang akan dijatuhi hukuman mati oleh kaum pendekar.
Peduli untuk siapa dan kepada siapa, tidak pantas Cia Giok-lun mencucurkan air mata.
-------------------------ooo00ooo------------------------Sejak tadi Thiat Tin-thian dan Ong Ban-bu hanya menonton saja dari samping, diam, bersikap dingin.
Mendadak Thiat Tin-thian menghela napas.
"Aku ini laki-laki bergajul, laki-laki yang suka pelesir, selama hidup entah berapa ratus perempuan yang pernah tidur denganku."
"Aku pun kira-kira demikian,"
Ucap Ong Ban-bu.
"Tapi sejak mula hingga yang terakhir, belum pernah aku memahami jiwa mereka, menyelami hati perempuan, seumur hidupku mungkin tak bisa memahami hati wanita."
Ong Ban-bu juga menghela napas, katanya gegetun.
"Aku pun demikian." -------------------------ooo00ooo------------------------Ma Ji-liong berada di luar, tidak mendengar percakapan mereka. Begitu berada di luar, ia kaget dan menjublek oleh perubahan yang terjadi di jalanan. Belum pernah ia membayangkan di lorong yang jorok dan kotor serta becek itu, bisa menyaksikan perubahan yang benar-benar mengejutkan. Hanya Thio-lausit saja yang tidak berubah. Gelagatnya pegawai ini sudah terpengaruh oleh arak yang masuk ke perutnya. Poci arak sudah kosong dan menggeletak miring di atas meja yang sudah reyot. Thio-lausit mendekam di meja, entah masih sadar atau sudah tertidur? Sudah mabuk atau lagi sedih? Keadaan biasa memang demikian, kejadian hari ini bukan untuk yang pertama kali. Perubahan yang mengejutkan telah terjadi dalam kampung yang berpenduduk serba kekurangan ini. Bayangan manusia dan hewan sudah tidak kelihatan lagi, penduduk yang tinggal di gubuk-gubuk reyot sepanjang kampung itu entah sudah lari ke mana. Rumah mereka yang terbuat dari papan beratap rumbia itu pun sudah tidak kelihatan, entah kapan dibongkar atau dipindah ke mana. Tanah kampung itu kini telah kosong. Hanya sekejap mata, dalam waktu singkat, rumah-rumah penduduk di sekeliling toko serba ada ini telah dibongkar bersih. Dibongkar oleh ke-28 pemuda baju hitam yang berperawakan tegap, kekar dan kuat. Isi kantong hitam yang mereka bawa ternyata alat pertukangan, digunakan untuk menjebol dan membongkar rumah-rumah itu. Gerak mereka rapi, hati-hati, kuat lagi cekatan. Genteng satu persatu dilempar ke bawah, demikian pula papan dinding satu persatu dipreteli, paku satu persatu dicabut. Lekas sekali bangunan rumah yang sudah dibongkar dipindahkan ke lain tempat. Demikian pula perabot rumah tangga. Dari meja, kursi, almari, mainan anak-anak, harta benda besar maupun kecil, seluruhnya diangkut dan habis. Penduduk kampung ini dari keluarga miskin, namun dalam pandangan mereka, betapapun reyot dan miskin keadaan rumah mereka, setelah sekian tahun tinggal di tempat itu, berteduh dari teriknya matahari dan hujan lebat, berat dan sayang untuk meninggalkan tempat ini. Tidak sedikit malah penduduk kampung yang dilahirkan di sini, kampung halaman di mana mereka tumbuh dewasa dan tua. Tapi sekarang rumah mereka dibongkar, lenyap begitu saja, seluruh rumah di daerah ini sudah dirobohkan. Perkampungan ini sudah bukan lagi kampung. Jalan sempit itu juga bukan jalan kampung lagi. Segala apa yang ada di sini sudah berubah, semuanya sudah dipindahkan. Dalam sekejap mata, perkampungan telah berubah menjadi tanah lapang yang kosong, tanah lapang yang sebagian berlumpur. Tanah kosong, tanah mati, daerah mati, tiada kehidupan lagi di tempat ini. Bab 27. Batu Hitam Mega putih, langit membiru. Di kejauhan masih ada bangunan rumah, ada toko, suara orang dan keributan yang lazim terjadi dalam perkampungan. Langit tetap membiru, kehidupan dalam toko itu pun masih berlangsung, tapi kehidupan dalam toko serba ada ini bukan lagi milik Ma Ji-liong sendiri, seolah kehidupan sejati makin jauh meninggalkan Ma Ji-liong. Selepas mata Ma Ji-liong memandang, yang terlihat hanya tanah kosong belaka. Sekian lama ia menjumblek, kaget dan tidak mengerti, bagaimana perubahan ini berlangsung. Waktu ia menoleh, dilihat Thio-lausit sedang menggeliat dan menguap, seperti baru sadar dari pulasnya, entah sadar karena mabuk, atau karena sedih dan mendelu? Atau dari tidur pulas sungguhan? Ada kalanya orang sadar lebih celaka daripada tidur, lebih enak mabuk saja, karena begitu ia membuka mata, seketika ia membelalak, kecuali kaget, heran dan juga ngeri. Ma Ji-liong bertanya kepada Thio-lausit.
"Apa yang kau saksikan?"
"Tidak ada yang kusaksikan,"
Sahut Thio-lausit.
"Apa pun tidak menyaksikan."
Tidak menyaksikan apa pun adalah amat menakutkan dibanding kau melihat sesuatu yang mengerikan, tidak tahu seolah-olah ditakdirkan menjadi ketakutan yang terbesar dan mendalam dalam kehidupan manusia.
Ma Ji-liong berkata pula.
"Umpama mereka mengurung kita hingga mati kelaparan di sini, sebetulnya tak perlu membongkar rumah-rumah penduduk itu, mereka kan bisa bersembunyi di rumah-rumah itu untuk menyelidik keadaan kita di sini dari dekat."
Ma Ji-liong tak habis mengerti, kenapa rumah-rumah penduduk dibongkar hingga rata dengan tanah dan daerah perkampungan itu menjadi tanah kosong.
Dengan mengajukan pertanyaan, Ji-liong berharap Thio-lausit bisa memberi keterangan kepadanya, ikut memecahkan teka-teki ini.
Belum Thio-lausit menjawab, dari arah barat muncul barisan 28 pemuda berpakaian hitam ketat, mereka muncul dengan berbaris rajin dan rapi, langsung menuju ke depan tokonya.
Ma Ji-liong dapat membedakan ke-28 pemuda yang ini bukan barisan yang tadi, namun mereka terdiri pemudapemuda kekar dan kuat juga, sama-sama berseragam hitam, hanya pakaian mereka masih kering, belum basah oleh keringat, karena mereka belum bekerja berat.
Yang mereka bawa juga bukan kantong kain hitam, tapi keranjang bambu hitam.
Keranjang bambu ini kelihatan lebih berat karena isinya batu-batu hitam berbentuk bulat seperti bola hitam mengkilap hingga kelihatan seperti mutiara hitam.
Sudah dua puluh tahun lebih Ji-liong hidup di dunia ini, tak pemah ia melihat batu seperti itu, susah ia mengenali anak buah siapakah pemuda-pemuda gagah tegap dan cekatan ini.
Batu hitam bulat dan mengkilap seperti itu jelas susah ditemukan meski hanya satu atau dua butir saja.
Gembong-gembong silat Kangouw yang mampu memelihara atau mendidik pemuda-pemuda berseragam hitam seperti mereka juga hanya beberapa gelintir saja.
Yang lebih aneh lagi, pemuda-pemuda itu menata batu-batu dalam keranjang bambu itu di atas tanah secara teratur, rapi dan rapat baris demi baris, mirip petani yang sedang menanam padi di sawah.
Gerakan mereka rapi dan rajin serta seirama lagi cepat, tanah kosong yang berlumpur itu seketika tertutup oleh taburan batu hitam itu.
Lekas sekali keranjang bambu para pemuda Itu sudah kosong, kejap lain mereka sudah berlari pergi dengan derap yang tetap rapi.
Belum lenyap bayangan ke-28 pemuda yang ini, dari arah Timur muncul lagi 28 pemuda lain dalam bentuk barisan yang sama, berseragam hitam juga membawa keranjang bambu hitam berisi batu-batu bulat warna hitam mengkilap pula, derap langkah mereka mirip pasukan kerajaan yang sedang mengadakan upacara di halaman istana.
Ma Ji-liong ingin bertanya pada Thio-lausit, apakah ia tahu anak buah siapa gerangan para pemuda ini?
Atau menerka dari mana asal mereka?
Entah apa yang sedang dilakukan oleh para pemuda itu?
Ma Ji-liong belum sempat bertanya karena mendadak dilihatnya perubahan yang ganjil pada wajah Thio-lausit.
Sejak tadi Thio-lausit bersikap acuh tak acuh, malas dan mengantuk, namun sorot mata yang tadi guram kini mencorong terang dengan menampilkan rasa takut dan ngeri.
Tanpa diperintah atau diminta oleh Ma Ji-liong, mendadak ia memburu keluar.
Dengan kecepatan yang luar biasa, satu persatu ia pasang daun pintu toko serba ada dan menutupnya rapat.
Padahal tadi ia bersikap bandel untuk tetap membuka toko ini seperti biasa supaya tidak menarik kecurigaan musuh, mengapa sekarang tanpa diminta ia malah menutup toko?
Ma Ji-liong melenggong, diam saja mengawasi kelakuan pegawainya yang aneh.
Tiba-tiba Thiolausit menarik lengannya terus diseret masuk ke dalam rumah.
Hanya sinar pelita yang menerangi keadaan rumah itu, remang-remang saja di dalam.
Tiga orang yang ada di dalam rumah kelihatan amat lesu dan kuyu.
Tanpa bicara, begitu masuk Thio-lausit merogoh kantong di balik bajunya mengeluarkan sebuah botol hitam dari kayu, langsung ia angsurkan kepada Thiat Tin-thian.
"Ini untukmu,"
Suaranya gugup gelisah.
"Makan dulu separuh, sisanya makan lagi setengah jam kemudian, kunyah dulu baru ditelan."
Sudah tentu Thiat Tin-thian bertanya.
"Ini apa?"
"Itulah Bik-giok-cu,"
Ujar Thio-lausit.
"Dalam jangka setengah jam setelah kau makan obat itu, luka dalammu yang parah akan sembuh setengah bagian. Menjelang magrib nanti kau telan lagi sisanya yang separuh, tengah malam nanti kekuatanmu akan pulih delapan bagian dari keadaan semula."
Mendadak ia menghela napas, lalu katanya pula.
"Semoga kau kuat bertahan hingga saatnya nanti."
Mendengar 'Bik-giok-cu', bola mata Thiat Tin-thian seketika bercahaya.
Tubuhnya bergetar keras, ia tahu obat dalam botol kayu hitam yang ia pegang sekarang adalah obat mujarab, satu-satunya obat penyembuh yang dapat menolong dirinya di kolong langit ini, obat mujizat yang tak ternilai harganya.
Tetapi Thiat Tin-thian tidak segera menelannya, ada beberapa persoalan yang ingin ia ketahui lebih dulu, maka ia bertanya.
"Siapa kau?"
Pertanyaan itu ditujukan kepada Thio-lausit, lalu sambungnya.
"Dari mana kau bisa memiliki Bik-giok-cu ini?"
"Semua itu tiada sangkut-pautnya dengan kau. Pokoknya lekas kau makan obat itu dan sembuh, titik."
"Siapa bilang tiada sangkut pautnya,"
Tegas jawaban Thiat Tin-thian.
"Selama hidup belum pernah Thiat Tin-thian menerima kebaikan atau bantuan orang lain. Kalau aku tidak tahu kau siapa, mana boleh aku menerima obatmu?"
Laki-laki yang tegas membedakan budi dan dendam, lebih rela mati daripada hutang budi kepada orang lain, mati pun tidak mau berhutang budi kepada orang yang tidak dikenalnya.
Mendadak Ma Ji-liong menyeletuk.
"Kau boleh menerima obatnya, juga harus menerima budi pertolongannya, malah tidak perlu kau membalas kebaikannya."
"Kenapa?"
Tanya Thiat Tin-thian.
"Karena dia adalah temanku, demikian pula kau,"
Tandas ucapan Ma Ji-liong."
Antara kawan, peduli siapa untuk siapa, tidak perlu menyinggung soal balas membalas kebaikan."
Tanpa bicara lagi, Thiat Tin-thian membuka tutup botol, lain menuang separuh isi obat di dalamnya ke mulut serta ditelan begitu saja. Mendadak Ong Ban-bu menghela napas lega, katanya pula.
"Thiat Tin-thian, sekarang boleh kau bunuh aku saja, sekarang mati pun aku tidak menyesal."
Sekarang ia sudah tahu, orang yang mengalahkan dirinya jelas bukan tokoh sembarangan, karena hanya murid Bik-giok Hujin yang mempunyai Bik-giok-cu.
Kalah di tangan anak murid Bik-giok Hujin jelas bukan peristiwa yang memalukan.
Kenyataan dirinya sudah kalah, kecundang, mati pun tak perlu menyesal.
Walau Ong Ban-bu tidak menjelaskan, namun Thiat Tin-thian cukup maklum perasaan hatinya.
Kini siapa pun berani memastikan bahwa Thio-lausit adalah anak murid Bik-giok Hujin.
Selama seratus tahun terakhir ini, belum pernah ada berita yang menyatakan Bik-giok Hujin menerima murid laki-laki, maka dapat dipastikan bahwa Thio-lausit yang satu ini adalah penyamaran seorang perempuan, seorang gadis.
Ma Ji-liong menatapnya lekat, sepatah demi sepatah ia berkata.
"Sekarang apakah belum tiba saatnya kau berterus terang?"
"Berterus terang tentang apa?"
Tanya Thio-lausit.
"Berterus terang bahwa kau adalah Toa-hoan."
Akhirnya Thio-lausit menghela napas panjang, ujarnya kemudian.
"Betul, aku memang Toa-hoan."
Pegawai jujur yang tidak jujur ini memang betul adalah Toa-hoan.
Bukan Toa-hoan yang berarti mangkuk besar, mangkuk besar yang sering dipakai nyonya rumah di dapur, tapi Toa-hoan yang satu ini adalah nama seorang gadis, gadis yang berdarah daging, manusia tulen, gadis yang berani berbuat berani bertanggung jawab, Toa-hoan yang selama ini membuat Ma Ji-liong rindu, gadis jelek yang membuat Ma Ji-liong kasmaran.
Apa selama ini Toa-hoan juga merindukan Ma Ji-liong?
Jika muda-mudi ini sama-sama merindukan lawan jenisnya, kenapa selama tiga bulan lebih ia tega merahasiakan dirinya, tidak memberitahu kepada Ma Ji-liong-liong bahwa dirinya menyaru menjadi Thio-lausit, pegawainya yang jujur dan setia?
Ma Ji-liong tidak habis mengerti, hati perempuan memang sukar dijajaki, tak mudah diselami.
Toa-hoan sudah mengulur tangannya.
Begitu ujung jarinya menyentuh tangan Ma Ji-liong, lekas ia menyurut mundur lagi.
Tidak ada orang yang lebih kuasa mengendalikan perasaan hatinya seperti dia.
"Tenaga Thiat Tin-thian akan segera pulih, Ong Ban-bu tidak perlu mati, demikian pula engkau,"
Suara Toa-hoan dingin.
"Asal ada kesempatan, kalian harus menerjang keluar."
Ma Ji-liong juga berusaha menahan gejolak hatinya, tapi tak tahan ia bertanya.
"Dan kau bagaimana?"
"Aku......"
Toa-hoan tergagap. Mendadak Cia Giok-lun berteriak.
"He, kenapa kalian tak bertanya pada diriku? Bagaimana nasibku nanti?"
Pelahan Toa-hoan membalik badan menghadapi Cia Giok-lun. Cia Giok-lun melotot gusar penuh emosi, wajahnya dilembari dendam dan kebencian.
"Kenapa kau membuatku celaka begini rupa?"
Pekiknya dengan suara tersendat.
"Aku memang bersalah, berdosa terhadapmu,"
Kata Toa-hoan.
"Tapi kau harus percaya kepadaku, maksudku baik, aku tidak akan membuatmu celaka."
"Tapi kenapa kau lakukan semua ini?"
"Supaya tugas yang kuemban tidak sia-sia, dapat menunaikan tugas dengan baik, aku harus mencegah kau menikah dengan Khu Hong-seng,"
Demikian jawab Toa-hoan.
"Sejak kecil kita dibesarkan bersama, maka aku tidak boleh berpeluk tangan melihat kau menikah dengan orang yang keji, licik dan munafik itu."
Ma Ji-liong memekik kaget.
"Jadi dia ini putri kesayangan Bik-giok Hujin?"
"Betul,"
Sahut Toa-hoan.
"Cia-hujin mengundang kalian berempat berkumpul di Han bwe-kok, maksudnya untuk memilih seorang di antara kalian sebagai calon menantunya."
"Jadi hari itu kau juga berada di Han-bwe-kok?"
Tanya Ma Ji-liong. Toa-hoan manggut.
"Ya, aku ada di sana waktu kejadian itu berlangsung, aku mengikuti seluruh peristiwa itu."
Siapa saja bila menyaksikan peristiwa itu serta mengikuti perkembangan selanjutnya, pasti berkesimpulan dan menuduh Ma Ji-liong sebagai pembunuhnya, biang keladi dari rentetan kasus yang berbuntut panjang itu.
Toa-hoan berkata.
"Tapi aku berpendapat, dari pengamatanku di belakang tabir, di balik peristiwa ini tentu ada muslihat keji yang terselubung."
"Kenapa kau berkesimpulan demikian?"
Tanya Ma Ji-liong.
"Karena kejadian yang berlangsung secara 'kebetulan' dalam peristiwa itu terlalu banyak,"
Toa-hoan menjelaskan.
"Aku tidak percaya kejadian yang selalu kebetulan."
Liang lahat di tanah bersalju, batu jade milik Siau-hoan, tusukan tombak Kim Tin-lin yang tepat mengenai mainan kalung, Coattaysu dan Peng Tio-hoan muncul pada saat yang tepat dan lain-lain, semua itu terjadi secara kebetulan.
Peristiwa yang terjadi secara kebetulan, umumnya sudah diatur secara rapi, sudah direncanakan dengan sempurna.
Lebih lanjut Toa-hoan berkata.
"Cia-hujin mengutus aku sebagai juri dengan tugas memilih calon menantunya. Aku mendapat kepercayaan penuh, tugas dan kewajibanku tidak ringan, apalagi peristiwa ini menyangkut masa depan Toa-siocia, maka aku hrus bekerja secara hati-hati dan teliti. Setelah menghadapi persoalan rumit itu, aku tak berani mengambil keputusan."
Toa-hoan mengawasi Ji-liong.
"Oleh karena itu, sengaja kubiarkan kau melarikan diri, aku belum yakin bahwa kaulah biang keladi kasus ini, aku masih ingin memancing dan mencoba dirimu, aku ingin tahu dari dekat, orang macam apa sebetulnya kau ini?"
Terpendam di bawah salju, sengaja memperlihatkan rambut kepala sambil merintih lemah, itulah percobaan pertama.
"Kalau kau tidak berhenti dan menolong aku dari timbunan salju itu, hari itu juga aku sudah membunuhmu."
Pembunuh yang lagi buron pasti tak mau menolong gadis jelek yang tidak pernah dikenalnya, menyelamatkan jiwa sendiri lebih penting, apalagi Ji-liong menyerahkan jaket berbulu dan kudanya kepada orang yang telah ditolongnya.
Tapi percobaan pertama belum memuaskan, belum meyakinkan bahwa Ji-liong bukan pembunuhnya, maka perlu dilanjutkan dengan percobaan demi percobaan.
"Setelah beberapa kali kucoba, akhirnya aku percaya kau bukan orang jahat, kau orang baik, hanya sifatmu saja yang terlalu angkuh. Aku menjadi curiga terhadap Khu Hong-seng,"
Demikian tutur Toa-hoan lebih lanjut.
"Rencananya memang amat rapi dan sempurna, susah aku melihat titik kelemahan muslihatnya. Walau aku tahu kau terfitnah dalam kasus ini, namun aku tak berdaya menolong kau membersihkan diri."
Setelah menghela napas panjang Toa-hoan melanjutkan.
"Aku tak punya bukti. Untuk membuat Cia-hiujin percaya bahwa kau tidak berdosa dalam kasus ini, aku harus punya bukti."
Ma Ji-liong menyengir tawa, tawa yang getir.
"Umpama Cia-hujin percaya, Coat-taysu dan lain-lain pasti tidak mau percaya. Aku tetap menjadi kambing hitam di tangan mereka."
Seorang yang sudah dianggap atau dituduh pembunuh kejam oleh orang-orang gagah dan pendekar, apalagi tokoh seperti Coat-taysu yang disegani dalam Bu-lim, mana mungkin menjadi calon menantu Bik-giok Hujin.
"Belakangan baru aku tahu,"
Tutur Toa-hoan lebih lanjut.
"Di saat aku menguntit dirimu, sebelum tugas selesai, penyelidikanku juga belum mencapai hasil, kudengar Cia-hujin sudah mengambil keputusan untuk memilih Khu Hong-seng sebagai calon menantu, malah hari pernikahan juga sudah ditetapkan."
Mendadak Ong Ban-bu menyeletuk.
"Aku juga mendengar berita itu."
"Putusan yang sudah ditentukan Cia-hujin, jarang diubah, meski nasi sudah menjadi bubur juga tidak menyesal,"
Demikian ucap Toa-hoan sinis.
"Kecuali aku dapat mencari bukti bahwa peristiwa ini adalah rencana busuk Khu Hong-seng, Khu Hong-seng adalah biang keladi atau pembunuh utamanya."
Toa-hoan sudah bekerja keras, dibantu Ji Ngo lagi, namun sukar baginya menemukan bukti yang diharapkan.
Khu Hong-seng memang cerdik pandai, ia bekerja secara rapi dan penuh perhitungan, orang sukar menemukan kesalahannya.
Lebih hebat lagi secara gamblang Ãa sudah memaparkan kunci persoalai peristiwa ini, secara blak-blakan bicara dengan Ma Ji-liong, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa.
Umpama Ji-liong ganti memaparkan persoalan ini seperti apa yang diakui Khu Hong-seng kepada orang lain, penegak hukum pun takkan mau percaya.
Memang sulit bagi Ji-liong untuk mengetengahkan alasannya.
Bukan saja tak percaya, orang lain justru beranggapan Ji-liong sengaja memfitnah Khu Hong-seng, bahkan akan lebih meyakinkan lagi bahwa dialah pembunuh atau biang keladi dalam kasus ini.
Khu Hong-seng memang cerdas, sengaja ia meletakkan dirinya pada posisi yang paling celaka, pada kedudukan yang tidak menguntungkan, lalu secara licin meloloskan diri tanpa meninggalkan jejak, karena ia tahu dan mahfum titik kelemahan sifat manusia umumnya.
Toa-hoan menghela napas pula.
"Rencana itu bukan saja rapi dan sempurna, juga telak, untuk itu harus diacungi jempol. Meski gagal menemukan bukti, gagal membongkar kejahatan Khu Hongseng, aku tidak rela dan tidak boleh berpeluk tangan menyaksikan Toa-siocia dipersunting oleh keparat itu."
Mendadak Cia Giok-lun menghela napas.
"Waktu ibu mengumumkan pilihannya, aku sudah berangkat dari Bik-giok-san ceng. Bukan mencari Khu Hong-seng, tapi mencari kau."
"Aku mengerti,"
Lembut suara Toa-hoan.
"Meski perkataanmu kasar, sikapmu garang, namun aku tahu di dalam hatimu kau masih menganggap aku sebagai saudara kandungmu sendiri."
Cia Giok-lun menyengir kecut, katanva.
"Tapi mimpi pun aku tidak menduga, mendadak kau menutuk Hiat-toku."
"Untuk menjernihkan suasana, untuk menunda perkembangan lebih lanjut, terpaksa aku harus mengamankan kau lebih dulu,"
Demikian Toa-hoan menjelaskan.
Toa-hoan perlu waktu untuk mencari bukti, ia bekerja sepenuh tenaga untuk membongkar kasus ini, maka jalan pendek yang perlu segera dilakukan adalah mengamankan Cia Giok-lun, memaksa Ciahujin mengulur waktu atau menunda pernikahan putrinya.
Jika mempelai perempuan mendadak lenyap tak keruan parannya, upacara nikah tentu tak bisa dilangsungkan.
"Setelah kupikir-pikir, cara yang terbaik adalah kalian harus disembunyikan bersama. Kecuali orang banyak sukar menemukan kalian, sekaligus kalian bisa bertatap muka, berkumpul dan hidup dalam satu rumah. Aku yakin dengan cara yang kugunakan ini, kau akan memperoleh kesempatan menyelami dan memahami orang macam apa sebetulnya Ma Ji-liong,"
Ujar Toa-hoan lebih lanjut.
"Sengaja pula kuberi kesempatan padanya supaya tahu kau adalah gadis jelita, perempuan sempurna, maksudku untuk mencoba dia pula dalam kamar gelap itu, apakah dia kuat menguasai dirinya."
"Untuk menjaga segala sesuatu, maka kau ikut menyamar dan tinggal di sini juga,"
Ujar Cia Gioklun.
"Agaknya kau belum lega, kau masih kuatir, maka kau masih harus mengawasi dari dekat."
Toa-hoan mengangguk, katanya.
"Kalau dia berani berbuat tidak senonoh terhadap kau, aku tidak akan membiarkan dia hidup sampai sekarang."
Mendadak Cia Giok-lun menghela napas.
"Kau tidak salah menilai dia,"
Suaranya mendadak berubah menjadi halus.
"Dia memang bukan orang jahat."
Ma Ji-liong pasang kuping, mendengarkan saja, kunci persoalan berlika-liku, sekarang ia baru mengerti duduknya persoalan. Thiat Tin-thian mendadak menghela napas, katanya.
"Dia memang orang baik, kejadian ini sebetulnya kejadian baik, sayang sekali dia berkenalan dengan orang jahat."
"Kawan adalah kawan,"
Ma Ji-liong memberi komentar.
"Kawan tidak perlu diperdebatkan baik atau buruk, karena kawan hanya ada satu macam. Jika ia bersalah terhadapku, mengkhianati aku, maka ia tak setimpal menjadi kawanku, tidak patut ia disebut kawan."
Sikapnya serius lagi keren, lanjutnya.
"Aku tidak percaya adanya setan atau malaikat, aku hanya percaya kepada kawan."
Ji-liong percaya kepada kawan, karena dia tidak pernah keliru mengartikan makna dari kebesaran dan keluhuran 'kawan' itu.
Kawan memang hanya sebuah kata, satu pengertian yang agung, suci dan serius.
Kawan tak boleh diartikan secara bengkok, juga tidak boleh dianggap remeh.
"Aku tahu maksudmu,"
Kata Thiat Tin-thian.
"Tapi kalau kau tidak punya kawan seperti aku, penyamaranmu takkan terbongkar, sekarang kau masih aman sebagai pemilik toko ini. Apa yang telah terjadi, akulah yang membuatmu celaka."
"Apakah kau menyesal berkawan dengan aku?"
Tanya Ma Ji-liong.
"Atau kau akan memaksa aku menyesal telah berkawan denganmu?"
"Aku tidak menyesal,"
Ujar Thiat Tin-thian.
"Aku tahu kau pun pasti tidak menyesal."
Didorong oleh 'persahabatan' yang kekal, mereka memang tidak kenal apa artinya 'menyesal'. Tiba-tiba Ong Ban-bu menghela napas.
"Melihat persahabatan dua kawan seperti kalian, aku baru sadar, selama aku hidup hingga sekarang belum pernah aku punya kawan sejati." -------------------------ooo00ooo------------------------Rahasia penyamaran Ma Ji-liong memang terbongkar lantaran Thiat Tin-thian, lalu bagaimana dengan Toa-hoan? Kalau bukan karena Ma Ii-liong, siapa yang tahu Thio-lausit adalah samaran Toa-hoan? Siapa pula yang tahu kalau dia adalah murid Bik-giok-san-ceng? Kalau bukan karena Ma Ji-liong, mana mungkin rencananya terbengkalai dan gagal di tengah jalan? Tapi ia tidak marah, tidak mengomel, juga tidak menyesal. Kalau bukan karena Ma Ji-liong, bahwasanya ia tidak akan melakukan semua ini. Ma Ji-liong bertanya.
"Waktu kami terkepung, kaukah yang menolong kami dengan kabut hijau itu?"
"Ya,"
Toa-hoan menerangkan.
"Kabut hijau itu dinamakan Jiu-han-yam buatan Bik-giok-san-ceng, lebih tebal dari kabut, juga lebih cepat buyar dibanding kabut. Bila asap dingin itu berkembang, apa pun tidak kelihatan meski jarimu sendiri."
"Karena kau menggunakan Jiu-han-yam, maka mereka tahu di sini ada orang Bik-giok-san-ceng,"
Ma Ji-liong mencari tahu.
"Betul, setelah mereka tahu ada orang Bik-giok-san-ceng di sini, mereka tidak berani bertindak secara gegabah,"
Toa-hoan berkata.
"Selama mereka tidak beraksi, asal bisa mengulur waktu, mungkin kita punya kesempatan meloloskan diri. Sayang sekali keadaan sudah jauh berbeda, kita sudah tidak punya peluang untuk mengundurkan diri dari sini."
"Kenapa?"
Tanya Ma Ji-liong.
"Apa yang kau lihat di luar?"
Toa-hoan balas bertanya.
"Kulihat puluhan pemuda berseragam hitam,"
Sahut Ma Ji-liong.
"Apa kerja mereka di luar?"
Tanya Toa-hoan.
"Mereka menata batu-batu hitam bulat di atas tanah."
Bab 28.
Rahasia Lembah Kematian Apa yang menakutkan dari batu-batu hitam itu?
Asal orang tidak memaksa kau menelan batu itu, juga tiada orang yang menimpukkan batu itu di atas kepalamu, perduli apa bila batu itu putih, hitam, biru atau kuning?
Batu hitam itu meski bentuknya bulat aneh tapi kan tidak perlu dibuat takut?
Anehnya Toa-hoan justru memperlihatkan rasa takut dan ngeri, demikian pula Cia Giok-lun setelah mendengar adanya batu-batu hitam bulat itu menunjukkan rasa takut dan panik.
Mendadak Cia Giok-lun bertanya.
"Batu-batu bulat yang kau lihat itu, apakah hitam legam? Bundar lagi mengkilap?"
"Ya."
"Di mana kau lihat batu-batu itu?"
Tanya Cia Giok-lun.
"Dibawa pemuda-pemuda berseragam hitam itu,"
Sahut Ji-liong.
"Setiap pemuda membawa sekeranjang batu hitam."
"Lalu?"
"Satu persatu batu bulat hitam yang sama besar kecilnya itu ditata di atas tanah dengan rapi."
Cia Giok-lun tidak bertanya lagi.
Mulutnya terkancing, sorot matanya seperti membayangkan peristiwa yang mengerikan.
Sikap dan mimiknya seperti Toa-hoan, bak bocah yang mendadak melihat atau berhadapan dengan setan-iblis yang pernah disaksikannya dalam mimpi buruk.
Kenapa kedua nona ini begitu takut terhadap batu-batu hitam itu?
Thiat Tin-thian menjadi tertarik, maka ia bertanya.
"Di daerah ini apakah ada batu-batu seperti itu?"
"Tidak ada, pasti tidak ada,"
Sahut Ji-liong.
"Umpama ada batu bulat di sini juga tidak sebesar itu, hitam lagi warnanya."
Ong Ban-bu mendadak menambahkan.
"Waktu aku datang, sebelumnya sudah kuperiksa beberapa li di sekitar kampung ini. Batu macam apa saja ada, tapi yang bundar hitam dan mengkilap, jelas tak pernah kulihat meski hanya sebutir saja."
"Oleh karena itu dapat kita simpulkan bahwa batu-batu hitam itu jelas diangkut ke mari dari daerah yang jauh dari sini."
"Ya, pasti dari jauh."
Thiat Tin-thian heran.
"Kenapa bersusah-payah mengangkut batu-batu sebanyak itu dari jauh ke mari serta menatanya rapi di depan pintu?"
Sebetulnya tidak ada orang yang bisa menjawab pertanyaan ini, tetapi Toa-hoan segera menjelaskan.
"Karena dia seorang gila. Orang gila kan bisa melakukan apa saja yang tidak mungkin dilakukan orang lumrah."
Apa betul orang gila harus ditakuti?
Banyak orang gila di dunia ini, berbagai macam orang gila.
Asal kau tidak mengusik atau mengganggu dia, dia tidak usah ditakuti.
Banyak orang yang tidak gila, orang waras di dunia ini, justru lebih menakutkan dibanding orang gila.
Toa-hoan menerangkan.
"Orang yang betul-betul gila tidak perlu ditakuti. Yang menakutkan adalah orang yang kelihatan waras, lebih normal dibanding orang biasa, padahal dia seorang yang betulbetul gila."
Lebih jauh Toa-hoan menjelaskan.
"Biasanya kau lihat dia bekerja secara sopan, teratur dan rapi. Sikapnya juga ramah tamah, tutur katanya lembut, tapi bila penyakit gilanya kumat, perbuatan apa pun berani dilakukan. Perbuatan yang tidak mungkin dilakukan orang gila juga bisa dia lakukan."
Lebih menakutkan lagi karena siapa pun tidak tahu kapan dia akan gila.
Tidak bisa ditebak kapan sakit gilanya itu kumat, maka orang takkan siaga, tidak menduga.
Di saat kau kira dia waras dan normal, mungkin saat itulah dia akan memotong hidungmu untuk umpan anjing.
Setelah hidungmu hilang, kau masih juga tak percaya bahwa dia benar-benar telah gila, dia yang telah melukai dirimu.
"Begitulah gambaran orang gila yang kumaksud, orang gila yang menakutkan,"
Toa-hoan mengakhiri ceritanya.
"Kau pernah melihatnya?"
Thiat Tin-thian bertanya.
"Aku tidak pernah melihatnya. Semula kukira selama hidup aku tak akan melihatnya,"
Setelah menghela napas, Toa-hoan menambahkan.
"Sayang sekali, tak lama lagi aku akan melihatnya, bahkan berhadapan langsung dengan dia."
Mendadak Cia Giok-lun mengulurkan tangan menarik lengannya.
"Apa betul dia ke mari?"
"Dia pasti datang,"
Ujar Toa-hoan.
"Jui-ham-yan telah mengundangnya ke mari."
"Setelah kau melihat batu hitam itu, kau tahu bahwa dia sudah datang?"
Tanya Ma Ji-liong.
"Betul,"
Sahut Toa-hoan.
"Di kolong langit ini, batu-batu hitam bulat seperti itu hanya ada di tempat tinggalnya sana."
"Dia tinggal di mana?"
Tanya Ji-liong.
"Di lembah mati,"
Sahut Toa-hoan.
"Lembah mati yang tak ada apa-apanya, yang ada hanya batubatu bulat hitam mengkilap."
Dengan suara tertekan ia bercerita lebih jauh.
"Lembah itu tak pernah diinjak manusia, lembah yang kering kerontang, burung juga susah hidup di sana, apalagi manusia. Tetapi berbeda dengan manusia yang satu itu, ternyata dia bisa bertahan hidup, malah hidup panjang hingga sekarang."
"Kenapa dia tinggal di lembah seperti itu?"
"Manusia adalah manusia. Meski dia gila, sebetulnya tidak mau dan tak rela tinggal di lembah mati itu, tapi ada orang yang memaksanya."
"Siapa yang memaksa dia?"
"Di dunia ini hanya seorang yang bisa dan mampu memaksa dia,"
Demikian tutur Toa-hoan.
"Hanya orang itu yang bisa memaksa dia melakukan apa yang tidak ingin dia lakukan,"
Tuturnya. Mendadak Toa-hoan bertanya.
"Tahukah kalian, tiga puluh tahun yang lalu, di kalangan Kangouw pernah muncul seorang tokoh besar bernama Bu-cap-sah?"
"Bu-cap-sah?"
Ma Ji-liong mengulang nama itu.
"Ya, Bu-cap-sah, artinya Tiga Belas Tidak Punya."
"Kenapa dia bernama Bu-cap-sah?"
"Katanya dia tidak punya she, tidak punya nama, tidak punya ayah, tidak punya ibu, tidak punya abang, tidak punya adik laki, tidak punya kakak, tidak punya adik perempuan, tidak punya bini, tidak punya putra, tidak punya putri dan tidak punya kawan."
"Kan hanya dua belas 'tidak punya'?"
Tanya Ma Ji-liong.
"Satu lagi tidak punya apa?"
"Tidak punya tandingan."
"Tidak punya tandingan?"
Ma Ji-liong tidak percaya.
"Betulkah dia tidak punya tandingan?"
"Tiga puluh tahun yang lalu, dalam usia dua puluh tiga tahun, dia sudah menyapu jagat tanpa menemukan tandingan, kepandaian silatnya tiada bandingan di seluruh dunia."
Ma Ji-liong masih tidak percaya.
"Peristiwa yang terjadi tiga puluh tahun yang lalu sebetulnya masih belum terlalu lama, kenapa sampai sekarang belum ada orang yang tahu?"
Mendadak Thiat Tin-thian menimbrung.
"Ada orang yang tahu, banyak yang tahu, aku juga tahu."
Thiat Tin-thian berkata penuh keyakinan.
"Tahun itu kebetulan aku berusia 19 tahun, tepatnya hari raya Ciong-yang, aku mendengar orang membicarakan tentang dirinya."
"Kau masih ingat dengan jelas?"
Tanya Ma Ji-liong.
"Sudah tentu jelas, karena hari itu kebetulan hari kelahiranku,"
Thiat Tin-thian bercerita.
"Pada hari ulang tahunku itu, kebetulan dia berhasil mengalahkan Lian San-hun."
Lian San-hun adalah jago silat paling top masa itu.
Dengan Heng-hun-jik-jit dan Si-cap-kau-kiam, dia malang melintang di Kangouw, terutama 49 Jurus Ilmu Pedang Penyapu Mega Menutup Matahari itu teramat lihai, jelas tidak asor dibanding Wi-hong-bu-liu Si-cap-kau-kiam ciptaan Kotojin dari Pa-san.
"Setelah berhadapan, belum sempat dia melancarkan ilmu pedangnya yang 49 jurus itu, Lian Sanhun sudah roboh binasa secara mengenaskan. Dikalahkan oleh pemuda yang baru terjun di dunia persilatan."
"Lian San-hun dikalahkan oleh Bu-cap-sah?"
Tanya Ma Ji-liong.
"Waktu itu aku tidak tahu siapa dia, aku hanya mendengar ada seorang jago pedang tersohor di seluruh jagat bernama Yan Cap-sah. Tapi tiga bulan kemudian, aku selalu mendengar orang bercerita tentang Bu-cap-sah seorang,"
Tutur Thiat Tin-thian, lalu ia menekankan.
"Tiga bulan tepat, sembilan puluh hari."
Tak tahan Ma Ji-liong bertanya lagi.
"Bagaimana kau ingat bahwa tepat sembilan puluh hari dia menggegerkan dunia persilatan?"
"Karena dari hari raya Ciong-yang hingga tanggal 8 bulan 11 tepat 90 hari. Dalam jangka waktu 90 hari itu dia berhasil mengalahkan 43 jago-jago silat kosen yang paling terkenal pada masa itu,"
Demikian tutur Thiat Tin-thian.
"Yang terakhir dia kalahkan adalah Ciangbunjin Thiat-kiam-bun. Saat itu dia sedang berkumpul dengan anak muridnya, akan berpesta makan bubur ayam campur tiram. Belum ada satu gebrakan, Ciangbunjin Thiat-kiam-bun ini dikalahkan lalu dijungkir-balikkan ke dalam wajan di mana bubur ayam sedang dimasak."
"Selanjutnya bagaimana?"
"Selanjutnya tidak ada."
"Tidak ada? Apa maksudnya tidak ada?"
"Tidak ada, maksudnya sejak hari itu Bu-cap-sah tidak pernah muncul lagi,"
Thiat Tin-thian bercerita.
"Selanjutnya, tiada orang persilatan yang mendengar kabar beritanya, tiada orang yang pernah melihat jejaknya."
"Apa betul tiada orang yang tahu ke mana dia pergi?"
"Ya, tidak ada."
"Ada,"
Tiba-tiba Toa-thoan menyeletuk.
"Ada orang yang tahu di mana dia berada, akulah orangnya."
Apa yang aku tahu, orang lain pasti tidak tahu.
Suatu hari, entah dengan cara apa Bu-cap-sah berhasil menemukan Bik-giok-san-ceng dan meluruk ke sana.
Sehari menjelang tutup tahun, jadi pada saat orang-orang mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya tahun baru, Bu-cap-sah menantang bertanding Bik-giok Hujin di Pui-kuipoh di luar Bik-giok-san-ceng.
Bik-giok Hujin memiliki kepandaian silat yang tiada taranya, tiada kaum persilatan yang tahu sampai di mana taraf kepandaiannya.
Yang pasti, belum pernah ada tokoh lihai mana pun yang mampu mengalahkan dia.
Maka dalam duel seru di luar Bik-giok-san-ceng itu, Bu-cap-sah akhirnya kalah setelah bertempur ratusan jurus.
Kemampuan Bu-cap-sah sudah memecahkan rekor dari para lawan yang pernah berhadapan dengan Bik-giok Hujin.
Tidak ada orang yang bisa mengalahkan dirinya, sejak dulu hingga saat ini, belum ada yang mampu mengalahkan dia.
Anehnya, di luar kebiasaan, Bik-giok Hujin tidak membunuh lawannya yang kurang ajar ini, tapi hanya mengurung atau tepatnya menghukumnya di dalam lembah mati.
Bu-cap-sah diharuskan bersumpah selama hidup takkan keluar dari lembah itu dan membuat onar lagi di luar.
Rumput atau pohon tidak tumbuh, burung pun tidak bisa hidup di lembah itu.
Seperti juga Singsiok-hay yang terletak di kutub utara, dingin lagi belukar, belum pernah ada manusia yang hidup di tempat itu.
Sejak saat itu Bu-cap-sah tidak pernah muncul lagi.
Riwayatnya menjadi legenda kaum persilatan, namun lekas sekali keperkasaannya sudah dilupakan orang.
Toa-hoan berkata.
"Tapi aku tidak pernah melupakan dia, karena Hujin sering bilang kepada kami, di dunia ini hanya ada seorang yang bisa hidup di lembah mati, orang itu pasti hanya Bu-cap-sah saja. Kalau dia mampu bertahan hidup di sana, bila dia merasa dirinya sudah mampu menuntut balas, akan datang suatu hari dia pasti akan melanggar sumpah, keluar dari lembah dan merajalela di dunia Kangouw."
Ma Ji-liong berkata.
"Apakah lembah mati itu hanya dihuni dia seorang saja?"
"Ya, hanya dia seorang,"
Sahut Toa-hoan.
"Tapi kenyataannya ia punya delapan puluh empat orang anak buah yang cekatan."
Toa-hoan menghela napas, katanya.
"Mungkin Hujin sendiri tidak menduga, entah bagaimana dia bertahan hidup di lembah itu, juga takkan menyangka orang-orang itu juga bisa hidup di tempat gersang itu. Tapi Hujin juga pernah bilang, suatu yang tidak bisa dilakukan orang lain, Bu-cap-sah pasti bisa dan mampu melakukannya." -------------------------------------ooo00ooo-------------------------------------------Keadaan di luar semula amat tenang dan sepi. Mendadak berkumandang tawa seseorang yang lantang. Dengan nada riang dan bangga, seseorang berkata di luar.
"Banyak terima kasih atas pujian Toa-siocia dan Toa-kohnio. Sebetulnya aku tidak bisa melakukan apa-apa, hanya saja nasibku memang jauh lebih mujur dibanding orang lain, itu saja."
Dari suaranya, dapat diperkirakan jarak pembicaraan dengan rumah ini masih cukup jauh, tapi setiap patah kata yang diucapkannya dapat didengar dengan jelas oleh semua orang yang ada di dalam rumah.
Setiap patah kata pembicaraan Ma Ji-liong dengan Toa-hoan di dalam rumah juga ternyata dapat didengarnya dengan jelas.
Sambil mendongak, Toa-hoan bertanya.
"Kaukah Bu-cap-sah?"
Sengaja ia bicara dengan nada rendah, suaranya tidak keras.
"Ya, aku di sini,"
Sahut orang di luar itu. Sengaja Toa-hoan menghela napas, katanya.
"Kupingmu sungguh tajam, lebih tajam dibanding telinga kelinci."
Toa-hoan sengaja memancing amarah orang di luar itu, supaya orang menerjang masuk ke dalam dan mudah disergap atau dijebak.
Ternyata orang di luar juga cerdik, dia hanya bergelak tawa, tawa yang riang malah.
"Telingaku memang amat tajam, hasil latihanku selama beberapa tahun di lembah yang sepi itu. Aku hidup sebatang kara dua puluh tahun di lembah mati, suara apa pun tidak kudengar. Saking sebal dan pengap hampir gila rasanya, maka aku berdaya upaya untuk mendengarkan suara yang tidak mungkin didengar orang lain."
"Suara apa?"
Tanya Toa-hoan.
"Umpamanya suara sepasang ular yang lagi bermain cinta di lubang istananya, kutu cilik yang merayap di tanah, ular menelan katak, rayap menggerogoti akar pohon, suara kura-kura yang sedang bertelur,"
Sambil tertawa Bu-cap-sah berkata dengan bangga.
"Pernahkah kalian mendengar suara-suara itu? Sungguh mengasyikkan."
"Tidak ada, pasti tidak ada orang yang dapat mendengar ular bermain cinta dan kura-kura bertelur."
Terdengar Bu-cap-sah berkata pula.
"Tapi sekarang aku bisa mendengar semua, malah mendengar dengan jelas sekali."
Bila manusia bisa mendengar suara-suara yang mendekati gaib itu secara jelas, suara apa pula yang tidak bisa dia dengar? Lebih jauh Bu-cap-sah berkata.
"Untung sekarang aku tak perlu mendengarkan suara-suara itu."
"Lho, kenapa? Kau tidak suka lagi?"
Tanya Toa-hoan.
"Ya, aku tidak perlu mendengarnya lagi. Sejak lima tahun yang lalu, aku sudah punya banyak teman untuk kuajak bicara,"
Demikian kata Bu-cap-sah.
"Lembah mati yang semula tidak pernah dihuni manusia dan hewan, sekarang ada delapan ratus dua puluh empat orang yang bisa kuajak bicara di sana. Kusuruh mereka bilang apa, mereka mengatakan apa. Aku ingin bilang apa, mereka segera mengutarakan isi hatiku."
"Bagaimana kau bisa mencari orang sebanyak itu untuk menemani kau bicara?"
Tanya Toa-hoan.
"Karena nasibku amat mujur,"
Bu-cap-sah tertawa riang.
"Kecuali batu hitam, dalam lembah itu masih ada benda lain yang lebih berharga."
"Benda apa?"
Toa-hoan ingin tahu.
"Emas, emas murni,"
Amat riang suara Bu-cap-sah.
"Kutanggung, seumur hidup kalian belum pernah melihat logam mulia sebanyak itu."
Kalau seseorang memiliki sebongkah logam mulia bagaikan gunung, kerja apa saja yang tidak dapat dia lakukan? Bu-cap-sah berkata lagi.
"Setelah memiliki harta sebanyak itu, dari hari ke hari hidupku makin gembira, senang dan tenteram. Ilmu silatku juga setingkat lebih maju, maka timbul keinginanku keluar melihat keramaian dunia. Tujuanku yang utama sudah tentu untuk menengok Cia-hujin dan Toa-siocia. Jika bukan lantaran dia, bagaimana aku bisa kaya-raya seperti sekarang?"
Tidak tahan Toa-hoan bertanya pula.
"Dari mana kau tahu Toa-siocia berada di sini?"
"Sudah tentu aku tahu,"
Ujar Bu-cap-sah tertawa.
"Seorang yang sudah memiliki emas banyak, jarang ada persoalan di dunia ini yang tidak diketahuinya."
"Kenapa kau tak masuk ke mari menengoknya?"
Toa-hoan memancing.
"Buat apa tergesa-gesa. Sudah dua puluh tahun aku menunggu, apa salahnya aku menunggu beberapa hari lagi?"
"Apa yang kau tunggu?"
"Aku sudah menyuruh orang membeli sutera dan kain halus lainnya. Sudah kupanggil tukang jahit pakaian yang paling ahli untuk mengukur dan menjahit pakaian baru untuk Toa-siocia. Sengaja kusuruh orang ke kotaraja untuk membeli bahan-bahan rias yang termahal buatan Pek-sek-cay,"
Demikian ujar Bu-cap-sah dengan tawa lebar.
"Setelah Toa-siocia berganti pakaian, berdancan dan dirias, aku pasti akan masuk dan bertemu dengannya. Sekarang aku tidak perlu buru-buru, aku tidak suka perempuan yang kotor." -------------------------------------------ooo00ooo------------------------------------------------Riang gembira nada suaranya, tutur katanya juga sopan lagi halus. Tapi perasaan Toa-hoan seperti batu yang kecemplung air dingin. Ia tahu makna menakutkan dari perkataan Bu-cap-sah. Bu-cap-sah menyenangi gadis yang didandani, gadis yang sudah bersolek, molek jelita. Bila Cia Giok-lun sudah kelihatan ayu, ia siap mempersuntingnya. Biasanya kaum lelaki hanya memakai satu cara untuk menyenangkan perempuan. Demikian pula bila lelaki akan memberi hajaran, menuntut balas kepada perempuan, juga menggunakan cara yang satu ini. Sudah tentu Thiat Tin-thian maklum cara apa yang akan digunakan orang gila itu. Mendadak ia bertanya pada Toa-hoan.
"Apakah dia manusia?"
"Kelihatannya mirip,"
Sahut Toa-hoan.
"Bagus sekali,"
Seru Thiat Tin-thian.
"Kalau dia manusia, aku juga manusia, kenapa aku tidak keluar menemuinya?"
Bu-cap-sah yang ada di luar segera berkata.
"Silakan keluar, lekas keluar, di sini aku sudah menyiapkan sebuah meja perjamuan. Kutunggu kehadiran kalian di luar."
Thiat Tin-thian tertawa besar, katanya.
"Memang aku ingin makan minum dengan lahap dan sepuasnya."
Mendadak ia bertanya pada Ong Ban-bu.
"Kau ikut tidak?"
Ong Ban-bu segera berdiri, katanya.
"Aku juga ingin makan."
Bab 29.
Perjamuan Besar Meja perjamuan tidak kelihatan.
Bahwasanya tiada meja perjamuan di luar rumah.
Tanah kosong yang semula becek itu kini ditaburi batu-batu hitam mengkilap.
Di tengah taburan batu hitam bulat mengkilap itu hanya ada sebuah dipan kecil yang terbuat dari kayu cendana berbentuk persegi, terukir indah seluas satu meter persegi.
Di bagian belakang dipan persegi dengan ukiran antik itu, berdiri dua tiang kayu setinggi satu meter.
Tiang kayu untuk tempat sangkutan kelambu yang menjuntai turun.
Seorang laki-laki tinggi gede bercambang dengan telanjang dada berdiri di belakang dipan sambil membusungkan dada.
Dari tampang dan kalung bundar besar yang menggelantung di telinga kirinya, dapat diperkirakan bahwa laki-laki gede ini adalah bangsa Persia.
Pengawal Persia ini bermata biru melotot bundar dengan topi pendek warna merah terbuat dari beludru, di pinggir kanan dihiasi pita biru yang melambai ditiup angin, jaket sutera pendek ketat tanpa kancing berwarna hitam disulam garis-garis benang emas tersingkap di bawah ketiaknya.
Ikat pinggangnya lebar lagi tebal berwarna merah maron, tangannya memegang gagang golok melengkung yang terselip di pinggangnya.
Bu-cap-sah duduk di atas dipan berkasur empuk, berbantal dua dan berkopiah mewah seperti hartawan yang suka pamer kekayaan.
Dari tampang dan sikapnya, orang ini tidak mirip orang yang sebatang kara atau anak yang tidak beribu bapak, bukan orang yang tidak punya she, wajahnya yang halus putih bersih pasti tidak mirip orang gila.
Roman muka laki-laki yang duduk di atas dipan itu putih, kalau tidak mau dikatakan pucat, tapi kelihatan tampan.
Sikapnya lembut tapi gagah.
Dari mukanya yang pucat itu, sukar orang menebak berapa usianya.
Gerak-gerik dan senyumnya menarik simpati orang lain, apalagi berpakaian mewah dan mahal.
Orang akan silau oleh dandanan dan sikapnya yang perkasa, sehingga tidak memperhatikan lagi usianya.
Mungkin meja perjamuan belum dipersiapkan, padahal tamu yang hadir sudah cukup banyak.
Coattaysu dah kawan-kawannya, seperti juga orang lain, mereka berdiri berkeliling di sekitar dipan kayu itu.
Kecuali dipan atau ranjang persegi itu, hakikatnya tiada meja kursi di tempat itu, juga tiada benda apa pun untuk mereka duduk kecuali duduk bersimpuh di atas batu-batu bulat hitam itu.
Tapi setelah Thiat Tin-thian dan Ong Ban-bu beranjak keluar, laki-laki di atas ranjang dengan sikapnya yang sopan dan ramah mempersilahkan para tamunya untuk duduk.
Lalu ia menoleh kepada pengawal Persia itu, katanya.
"Menurut pendapatmu, apakah masih ada tamu-tamu lain yang akan datang?"
"Kurasa tidak ada lagi, sekian saja sudah cukup,"
Sahut pengawal Persia itu.
Sekali lagi Bu-cap-sah yang sedang berbaring di atas dipan itu mengangkat sebelah tangannya menyilakan hadirin duduk.
Kelakuannya persis seperti seorang cukong yang mengundang tamutamunya berpesta di restoran.
Lalu dengan sikap dibuat-buat ia berkata.
"Silakan duduk, silakan mencari tempat duduk. Sambil makan minum, boleh kita mengobrol."
Orang pertama yang duduk ternyata adalah Coat-taysu.
Ia maju selangkah lalu duduk di atas kursi yang sama sekali tidak ada, kursi yang tidak kelihatan.
Pantatnya bergantung di udara, namun gayanya persis seorang yang duduk santai di atas kursi sungguhan.
Sesuai wataknya yang kaku, sikap dan rona mukanya juga kaku, namun kepandaiannya memang mengagumkan.
Kuda-kuda kakinya memang kokoh kuat.
Dengan cara jongkok seperti itu, sedikit pun ia tak kelihatan payah atau lelah.
Setelah ada contoh, maka orang banyak lantas meniru perbuatan Coat-taysu.
Mereka pun duduk bergaya seperti Coat-taysu.
Hanya Thiat Tin-thian yang tetap berdiri tegak di tempatnya.
Bu-cap-sah berpaling ke arahnya, lalu bertanya dengan nada tinggi.
"He, kenapa tuan tidak duduk?"
"Aku suka makan sambil berdiri,"
Thiat Tin-thian menjawab.
"Makan sambil berdiri bukankah dapat gegares lebih banyak?"
"Masuk akal,"
Seru Bu-cap-sah sambil keplok.
"Nah, kalian juga harus makan lebih banyak. Hari ini sengaja aku siapkan hidangan istimewa. Ikan hitam dari Tang-hay, ikan terbang dari Pak-hay, sarang burung dan udang galah dari Lamhay, sate kambing dari kotaraja dengan panggang bebeknya sekalian, ikan asin dari Kanglam, kepiting goreng dari Tiangkang, dan masih ada lagi panggang sapi dan kambing bakar utuh. Kurasa hidangan ini cukup kusediakan untuk makan kenyang kita semua."
Bahwasanya menu yang diucapkan tadi tidak ada barangnya, tapi dia menyilakan para tamunya makan dengan sikap ramah, membujuk supaya makan lebih banyak.
Kecuali beberapa menu yang disebutkan tadi, Bu-cap-sah juga menjelaskan tiga macam menu yang khusus disiapkan untuk Coattaysu, hidangan vegetarian.
-----------------------------------------ooo00ooo-----------------------------------------------Orang pertama yang bergaya dan bertingkah seperti orang makan ternyata juga Coat-taysu.
Karena Coat-taysu sudah mulai makan, sudah tentu orang lain sungkan untuk diam saja.
Padahal yang hadir adalah gembong-gembong silat yang pernah menggetarkan Bulim di wilayah masing-masing, orang-orang gagah dan ksatria Bulim.
Tapi tingkah laku mereka sekarang mirip bocah yang lain mainan, semua bergaya duduk dan menggerakkan kedua tangan seperti gerak orang yang memegang sumpit dan mangkuk serta makan dengan lahapnya.
Duduk di kursi yang tidak kelihatan, makan dan menyikat.
Ada satu perbedaan dengan mainan anak-anak yang lagi bersandiwara di panggung umpamanya.
Orang tua atau tokoh-tokoh silat ini seperti tidak merasa bahwa kelakuan mereka amat lucu dan menggelikan, namun sikap dan mimik mereka kelihatan amat prihatin dan was-was.
Kecuali Coattaysu, rona muka hadirin seperti orang yang tercekik lehernya oleh sepasang tangan iblis yang tidak kelihatan.
Wajah Coat-taysu tidak menunjukkan perubahan.
Sumpit di tangannya bergerak naik-turun seperti lazimnya orang yang lagi menjejalkan nasi dan lauk di dalam mangkuk ke mulutnya.
Tidak jarang sumpitnya diulur ke depan seperti mengambil sayuran, ikan dan daging.
Dengan lahap mulutnya bergoyang, lidah menari menikmati makanan yang dikunyah dengan penuh selera.
Entah yang dikunyah itu amarah, penasaran atau ketakutan?
Atau mungkin air liur yang getir?
Sejak Coat-taysu terkenal dan disegani orang, kapan pernah berlaku runyam di hadapan orang banyak, memalukan sekali.
Tapi sekarang ia mengunyah dan menelan nama besar yang diperoleh dengan cucuran keringat dan jerih payah selama puluhan tahun, selahap orang yang melalap hidangan yang betul-betul sedap.
-----------------------------------ooo00ooo------------------------------------------------Merinding sekujur badan Thiat Tin-thian menyaksikan kenyataan yang lucu ini.
Ia tidak habis mengerti kenapa Coat-taysu sudi dan rela berbuat serendah itu?
Sebagai pendekar, entah dibuang ke mana jiwa ksatrianya, kenapa begitu takut terhadap si gila yang satu ini?
Tapi lamat-lamat Thiat Tin-thian akhirnya mengerti, orang gila macam apa sebetulnya Bu-cap-sah.
Tadi Toa-hoan sudah menggambarkan secara jelas, tapi Thiat Tin-thian baru sekarang betul-betul maklum.
Padahal betapa jelas keterangan Toa-hoan tadi, tapi belum cukup menggambarkan betapa menakutkannya kegilaan orang ini.
Bu-cap-sah mengawasi Thiat Tin-thian.
Hanya Thiat Tin-thian yang berdiri diam, tidak menggerakkan tangan, tidak makan atau minum.
"Kenapa kau tidak makan?"
Tanyanya kemudian dengan nada serak.
"Makan apa?"
Thiat Tin-thian balas bertanya.
"Lihat, sate kambing dan ikan asin dari Kanglam ini, sedap rasanya. Panggang bebek ini juga harus dimakan mumpung masih hangat,"
Bu-cap-sah mengoceh penuh semangat.
"Masa kau tak melihat hidangan sebanyak ini?"
Tanya Bu-cap-sah.
"Aku tidak melihat apa-apa."
"Ah, orang lain bisa melihat, kenapa kau tidak lihat?"
"Ya, mungkin aku tidak sepandai mereka. Makanan yang kau sebut tadi hanya dihidangkan untuk orang-orang pandai, hanya bisa dilihat oleh orang pandai."
Bu-cap-sah menatapnya sekian saat, mendadak ia bergelak tawa.
"Ternyata kau ini orang pikun. Hidangan enak sebanyak ini, hanya orang pikun yang tidak bisa melihatnya."
Mendadak suaranya terputus, roman mukanya berubah beringas. Dengan melotot ia berpaling ke arah Pang Tio-hoan yang kebetulan berada di sampingnya, semprotnya dengan gusar.
"Kenapa kau berbuat sekasar ini?"
"Aku berbuat apa?"
Tanya Pang Tio-hoan melenggong.
"Sekian banyak hidangan kusediakan di sini, kenapa kau justru merebut anak anjing bakar kesenanganku?"
"Anak anjing bakar apa?"
Pang Tio-hoan berseru nyaring dengan nada tidak mengerti apa yang dimaksud orang.
"Di mana ada anjing bakar?"
"Barusan ditaruh di pinggir sini. Tapi barusan telah kau gares, kulit, tulang dan dagingnya kau telan bulat-bulat,"
Kelihatannya ia bukan saja marah dan penasaran, ia pun amat sedih seperti anak kecil yang kehilangan boneka kesayangannya.
"Anjing kecil itu sudah kupelihara sekian tahun, kupandang seperti anakku sendiri, gemuk dan banyak dagingnya, kenapa kau mengganyangnya? Kenapa kau rebut anjing bakarku?"
Berubah air muka Pang Tio-hoan.
Hong-seng-thian Tayhiap Pang Tio-hoan sudah terkenal sejak tiga puluh tahun yang lalu.
Dengan sepasang Gun-goan-thi-pay (Sepasang Tameng Besi) yang beratnya enam puluh tiga kati, ia malang melintang di antara gunung dan sungai, peristiwa apa yang tak pernah ia alami dan saksikan?
Sudah tentu ia maklum bahwa Bu-cap-sah sengaja mencari garagara hendak mempersulit dirinya.
Sekilas Tio-hoan melirik ke arah Coat-taysu, ia harap temannya itu mau bantu bicara membela dirinya, bila perlu adu jiwa bersama si gila ini.
Sudah sekian puluh tahun mereka sebagai kawan seperjuangan, apalagi sejak belasan tahun yang lalu mereka tidak pernah berpisah.
Sebagai sahabat kental, pantasnya Coat-taysu campur bicara membela dirinya, memberi penjelasan umpamanya.
Tapi tidak pernah ia bayangkan, bukan Coat-taysu si sahabat kental yang pertama membantu bicara atau membela dia, tetapi sebaliknya Thiat Tin-thian, musuh yang ia benci dan ia uber-uber selama ini.
Thiat Tin-thian berkata.
"Bahwasanya di sini tiada hidangan seperti yang kau sebut tadi, apalagi anjing bakar segala. Tidak ada."
"Kau orang pikun, orang pikun takkan melihat hidanganku,"
Bu-cap-sah berteriak sambil menuding Thiat Tin-thian.
"Aku sendiri melihat anjing bakar itu ditaruh di sini, pasti tidak keliru."
"Mungkin kau salah lihat, kau melihat setan,"
Jengek Thiat Tin-thian.
"Jadi kau yakin di sini tidak ada hidangan anjing bakar?"
Damprat Bu-cap-sah.
"Pasti tidak ada. Yang bilang ada adalah orang gila!"
Teriak Thiat Tin-thian, ia pun mulai emosi.
"Tapi aku bilang ada, sudah ditelan bulat-bulat ke dalam perut orang ini,"
Wajah Bu-cap-sah menampilkan senyum gaib, senyum yang menggiriskan.
"Kau berani bertaruh denganku?"
"Berani saja, bertaruh apa?"
"Bertaruh dengan batok kepalamu, kalau anjing bakar itu berada di dalam perutnya."
Seketika Thiat Tin-thian merasa kaki tangannya menjadi dingin, perut mengkeret, isi perut hendak tumpah.
Kecuali bergidik, Thiat Tin-thian juga ngeri, ia sudah meraba apa yang akan dilakukan si gila ini.
Sudah tentu Pang Tio-hoan juga maklum.
Mendadak ia meraung, dengan kalap ia menerkam ke arah Bu-cap-sah.
Hou-jiu-kun dan Gun-goan-thi-pay adalah dua ilmu tunggal yang diyakinkan Pang Tio-hoan.
Di samping sepasang tameng besi, ilmu cakar harimaunya juga pernah menggetarkan Koan-tang.
Sebelum kejadian, Pang Tio-hoan sudah dipengaruhi oleh suasana.
Di saat kepepet dan terdesak lagi, pikirannya menjadi kacau dan kalap.
Orang kalap selalu ceroboh, bertindak gegabah.
Saking murka karena kalapnya, ia menerkam ke arah Bu-cap-sah tanpa memperhatikan keadaan sekelilingnya, tanpa siaga bahwa di belakang Bu-cap-sah berdiri pengawal Persia yang perkasa itu.
Begitu Pang Tio-hoan meraung kalap, berubah rona muka Coat-taysu, betapapun ia masih memperhatikan keselamatan temannya.
Mendadak ia menjerit gugup.
"Berhenti, lekas berhenti!"
Sayang peringatannya terlambat.
Begitu Pang Tio-hoan menerkam maju, golok melengkung di pinggang pengawal Persia yang berdiri di belakang Bu-cap-sah segera terayun.
Sinar golok berkelebat, darah pun muncrat seperti hujan deras.
Hanya ada satu cara untuk membuktikan apakah seseorang betul menelan seekor anjing kecil, yaitu dengan cara yang paling liar, cara liar yang dilakukan orang purba jaman dulu, menyembelih hewan buruannya dengan membedah perutnya.
Cara menjagal binatang yang paling kejam dan keji, cara yang dilakukan oleh orang buas, manusia sinting.
Kali ini orang gila alias Bu-cap-sah mempraktekkan cara liar itu di sini, terhadap Pang Tio-hoan.
Sudah tiga puluh tahun Pang Tio-hoan malang melintang di Kangouw, namun hanya dalam sekali sabet perut hingga dadanya telah robek dan merekah besar oleh golok melengkung orang.
Isi perut pun berhamburan.
Pang Tio-hoan menjerit ngeri dan mampus terkapar di tanah.
Wajah hadirin segera berubah.
Yang tidak tahan sudah tumpah-tumpah, yang bernyali kecil segera melompat mundur dan lari.
Ada juga yang menubruk ke depan secara nekat, daripada mati konyol lebih baik melawan sekuat tenaga.
Bu-cap-sah terloroh-loroh, tawa latah yang mengerikan.
Siapa yang mendengar suara tawanya pasti merinding dan mengkirik bulu kuduknya.
Selama hidup takkan melupakan loroh tawa yang ganjil dan menggiriskan itu.
Tidak ada orang yang mampu menyelamatkan diri dari tebasan golok sabit pengawal Persia itu.
Di saat golok melengkung itu bergerak, sebutir batu hitam kecil tentu melesat lebih dulu dengan kecepatan kilat.
Batu hitam yang dijentik jari tangan Bu-cap-sah.
Si gila ini menjentik batu hitam dengan jari tengah.
Begitu batu menderu kencang dan deras, batu tepat menutuk Hiat-to lawan sehingga lawan tak berkutik lagi.
Saat itulah golok melengkung pengawal Persia menyambar lehernya.
Hanya Coat-taysu dan Thiat Tin-thian serta dua-tiga orang lagi yang mampu menyelamatkan diri, tapi mereka tidak mampu mendekati ranjang untuk menyerang Bu-cap-sah.
Sinar golok dan muncratnya darah mengaburkan pandangan mereka.
Boleh dikata mereka tidak melihat lagi bayangan Bu-cap-sah.
Pada saat kritis itulah, mendadak mereka melihat Ma Ji-liong.
Ma Ji-liong terjun ke kancah pertarungan, menerjang ke dalam sinar golok dan tabir darah yang berhamburan.
Bukan mengantar jiwa, tapi keluar untuk menolong orang.
Walau ia sendiri tidak yakin dapat menyelamatkan diri, mundur secara utuh, tapi untuk menyelamatkan kawan, ia harus berani menyerempet bahaya.
Tidak ada orang yang bisa mencegah dia, tidak ada orang yang bisa menariknya mundur.
Biar diri sendiri berkorban, ia tidak bisa berpeluk tangan menyaksikan pembantaian kejam itu berlangsung.
Orang-orang itu harus ditolong, mereka yang masih hidup harus dibebaskan dari renggutan elmaut.
Dalam waktu sekejap, hakikatnya Ma Ji-liong tidak memikirkan mati hidupnya sendiri.
--------------------------------------ooo00ooo--------------------------------------------Ma Ji-liong tidak mati, malah tidak terluka atau cedera.
Meski sekujur badan berlepotan darah, namun ia berhasil menolong beberapa orang.
Tapi begitu ia masuk ke dalam toko serba ada, begitu pintu tertutup, Ma Ji-liong lantas roboh terlentang dengan napas ngos-ngosan.
Ia nekat, menyerempet bahaya, mempertaruhkan jiwa raga, lalu siapa saja yang berhasil ditolong oleh Ma Jiliong?
Bab 30.
Penjahit, Pupur, Gincu Dan Tandu Ma Ji-liong akhirnya sadar.
Kegaduhan sudah sirap, alam semesta seperti dilingkupi keheningan yang membeku.
Kini Ji-liong rebah di atas ranjang besar itu, ranjang satu-satunya yang ada di rumah itu.
Sejak beberapa bulan yang lalu, baru pertama kali ini ia rebah di atas ranjang.
Cia Giok-lun duduk di samping mengawasinya dengan rasa kuatir dan penuh perhatian.
Di dalam rumah itu hanya ada mereka berdua saja.
Ma Ji-liong berusaha tersenyum, tapi senyumnya getir dan nyengir, segera ia bertanya.
"Mana orangnya?"
"Orang siapa?"
Cia Giok-lun balas bertanya.
"Orang-orang yang kutolong itu?"
Cia Giok-lun tidak menjawab, ia malah balas bertanya.
"Tahukah kau siapa saja yang kau tolong?"
"Aku tahu,"
Sahut Ma Ji-liong.
"Thiat Tin-thian kembali bersama aku."
"Kecuali dia, masih ada siapa lagi?"
"Masih ada Coat-taysu,"
Sikap Ma Ji-liong kelihatan tenang dan wajar.
"Coat-taysu kembali bersama kami."
Cia Giok-lun malah emosi, serunya.
"Sadarkah kau bahwa orang yang kau tolong adalah Coattaysu?"
"Bagaimana aku tidak sadar?"
Ma Ji-liong tertawa lebar. Kenapa ada sementara orang yang bisa tertawa di saat tidak pantas tertawa? "Kau sadar?"
Cia Giok-lun memekik sambil terisak. Ia tak dapat mengekang perasaannya lagi, suaranya melengking.
"Kau sadar bahwa dialah yang menguber dirimu, orang yang hendak membunuhmu sehingga kau menjadi buronan yang kepepet dan menghadapi jalan buntu? Tapi kau masih mau menolongnya?"
"Yang kutolong adalah manusia,"
Sahut Ma Ji-liong tegas.
"Asal dia manusia, perduli siapa dia, tak boleh aku berpangku tangan melihat dia mati di tangan si gila itu. Perduli dia temanku atau musuh yang hendak menuntut jiwaku, sikapku takkan berubah, aku tetap menolongnya tanpa kecuali."
Cia Giok-lun menatapnya dengan pandangan aneh. Lama sekali baru ia bertanya.
"Kau bicara jujur? Atau sengaja bermuka-muka di hadapanku?"
Ma Ji-liong tak menjawab, ia menolak memberikan jawaban.
"Kau betul-betul baik hati, kau tidak berpura-pura,"
Desis Cia Giok-lun.
"Tadi kau betul-betul mempertaruhkan jiwa untuk menolong mereka."
Mendadak ia menghela napas, lalu lanjutnya.
"Sebetulnya aku tidak percaya bahwa kau orang baik, tapi sekarang aku percaya." ----------------------------------------ooo00ooo--------------------------------------------Sejak tadi Coat-taysu berdiri mematung di pinggir rak toko di pojok sana. Sejak ia masuk ke dalam toko serba ada ini, ia berdiri di sana, tidak pernah pindah atau bergerak, juga tidak bersuara, melirik pun tidak kepada orang lain. Tapi badannya penuh berlepotan darah, pakaian sobek, badan pun terluka. Tapi ia tetap bersikap tenang dan wajar, luka-luka juga tidak diobati, darah dibiarkan mengalir. Masih ada dua kerabatnya yang tertolong bersama Coat-taysu. Kecuali Thiat Tin-thian, ada dua orang yang ikut mengeroyok di rumah To Po-gi itu, tapi kedua orang ini menganggap tidak pernah melihat Coat-taysu berada di dalam rumah itu. Sikap mereka seperti jijik, seakan-akan bila didekati Hwesio yang satu ini, maka mereka akan ketularan penyakit jahat yang bisa merenggut jiwa mereka. Sudah tentu mereka tahu orang-orang yang ada di toko ini adalah musuh besar Coat-taysu, jelas kedua orang ini takut tersangkut oleh permusuhan kedua pihak. Coat-taysu tidak memperdulikan orang lain. Pandangannya kosong, ia berdiri menjublek mirip orang linglung. Setelah hening sekian lama, tiba-tiba Toa-hoan bersuara lebih dulu.
"Aku tahu, setelah kejadian ini hatimu pasti mendelu. Asal kau mau berada di sini, kami pasti takkan mengusirmu."
Coat-taysu tetap bungkam, tidak memberi reaksi. Toa-hoan berkata pula.
"Apakah kau ingin berbicara?"
"Ya,"
Tiba-tiba Coat-taysu berkata.
"Tapi aku hanya ingin bicara dengan seorang saja."
"Bicara dengan siapa?"
"Aku akan bicara dengan Ma Ji-liong saja."
Rumah kecil di tengah pekarangan itu dalam keadaan kalang kabut, kotor dan tidak pernah dibersihkan.
Di dalam rumah yang jorok itulah Toa-hoan sebagai Thio-lausit menetap empat bulan lamanya.
Sungguh heran bahwa gadis yang biasanya suka kebersihan ini tahan tinggal di tempat yang kotor seperti kandang hewan itu.
Kini ada dua orang yang sedang bicara di rumah kecil itu.
Akhirnya Coat-taysu bertatap muka dengan Ma Ji-liong.
"Tadi kau telah menolongku,"
Demikian Coat-taysu membuka kata.
"Jikalau bukan karena pertolonganmu, saat ini aku takkan berada di sini. Kalau aku tidak berada di sini, seperti juga orangorang itu, pasti sudah mampus di luar sana."
Suaranya kalem, lalu ia melanjutkan.
"Tapi urusanmu dengan aku belum selesai, persoalan itu tetap harus dibereskan. Sehari aku belum mati dan kau belum mampus, aku tetap akan membuat perhitungan dengan kau."
Ma Ji-liong tertawa, katanya tawar.
"Aku menolong kau bukan menuntut imbalan, bukan lantaran kau adalah Coat-taysu yang menuntut jiwaku. Aku tak akan memaksa kau untuk membatalkan urusanmu dengan aku, menuntut imbalan kepadamu. Kalau aku punya maksud demikian, buat apa aku menolongmu?"
"Akan tetapi, persoalan itu belum boleh dianggap beres."
"Betul. Aku tidak perduli bagaimana sikapmu terhadapku sebelum ini, karena kita belum tentu dapat mempertahankan hidup sampai besok."
"Tetapi sekarang kita belum mati,"
Coat-taysu berkata.
"Penjahit belum datang, pupur dan gincu juga belum diantar, si gila takkan menerjang ke mari dalam waktu dekat ini."
"Ya, semoga demikian."
"Tapi memang demikian,"
Ucap Coat-taysu.
"Aku paham sepak terjang si gila itu. Ia anggap kita sebagai ikan dalam jaring, maka tidak perlu ia merenggut jiwa kita secara tergesa-gesa."
Demikian katanya pula.
"Oleh karena itu, bukan mustahil kita masih punya kesempatan untuk meloloskan diri, maka aku ingin bicara dengan kau. Entah selanjutnya kita menjadi kawan atau lawan, dalam jangka waktu dekat ini, aku Sin Coat-cu akan tunduk pada perintah seorang yang bernama Ma Ji-liong saja. Selama hidupku, belum pernah tunduk apalagi diperintah orang, namun kali ini terkecuali."
Ma Ji-liong menatapnya lekat. Lama sekali baru ia bertanya.
"Untuk hal itukah kau ingin bicara dengan aku?"
"Ya,"
Pendek jawaban Coat-taysu.
Kecuali Thiat Tin-thian dan Coat-taysu, yang ditolong Ma Ji-liong masih ada dua orang lagi.
Seorang adalah Ong Ban-bu.
Meski sebelah lengannya dipelintir putus oleh Toa-hoan yang menyaru sebagai Thio-lausit, untung dia tidak mampus oleh sambaran golok sabit yang tidak mampu dikelit orang lain itu.
Di saat Coat-taysu berbicara dengan Ma Ji-liong, Toa-hoan bertanya kepada Thiat Tin-thian.
"Aku tahu saudara angkatmu jatuh ke tangan Coat-taysu, apa kau tidak ingin tahu bagaimana nasib saudaramu itu?"
"Sudah tentu aku ingin tahu,"
Sahut Thiat Tin-thian.
"Kenapa tidak kau tanyakan kepadanya?"
Kata Toa-hoan.
"Aku tidak mau tanya, juga tidak ingin tanya,"
Tertekan suara Thiat Tin-thian.
"Aku takut dia sudah mati di tangan Hwesio gundul itu."
Jika benar Thiat Coan-gi sudah ajal ditangan Coat-taysu, Thiat Tin-thian harus menuntut balas, pasti takkan membiarkan Coat-taysu berdiri di rumah itu.
"Tapi aku tak boleh membunuhnya,"
Demikian kata Thiat Tin-thian lebih jauh.
"Dengan mempertaruhkan jiwa, Ma Ji-liong menolongnya, maka aku tidak boleh melukainya, meski hanya seujung rambutnya saja."
Saat mana Ma Ji-liong sudah kelihatan keluar dari rumah kecil itu, Ong Ban-bu mendadak berkata kepada Toa-hoan.
"Aku juga ingin bicara empat mata dengan dia."
"Dengan siapa?"
Tanya Toa-hoan.
"Bicara dengan Ma Ji-liong?"
"Betul,"
Sahut Ong Ban-bu.
"Kau juga ingin omong?"
Toa-hoan bertanya.
"Apa yang ingin kau katakan apakah hanya boleh diketahui dia saja?"
Ong Ban-bu menganggukkan kepala. Di waktu mengangguk, matanya mengawasi Thiat Tin-thian, karena ia tahu Thiat Tin-thian pasti ingin bicara dengannya. Thiat Tin-thian memang bertanya.
"Tahukah kau kenapa kau belum mati?"
Ong Ban-bu menyahut.
"Aku belum mati, karena kau melindungi aku. Dahulu kita memang kawan juga musuh, sekarang kau anggap aku sebagai teman baik lagi."
"Tapi apa yang ingin kau katakan hanya boleh didengar Ma Ji-liong saja, kenapa kau tidak bicara dengan aku? Jelas kau tidak percaya kepadaku?"
"Aku percaya kepadamu, tapi aku lebih percaya kepada Ma Ji-liong."
"Kenapa kau lebih percaya kepadanya?"
Desak Thiat Tin-thian.
"Karena Coat-taysu percaya kepadanya. Apakah Coat-taysu kawan baiknya?"
"Bukan."
"Musuh besar dan kawan-kawan pun percaya kepada Ma Ji-liong, kenapa orang lain tidak boleh percaya kepadanya?"
Mendadak Thiat Tin-thian bergelak tawa.
"Bagus,"
Serunya memuji.
"Bagus sekali ucapanmu itu."
Dengan keras ia menepuk pundak Ong Ban-bu.
"Baiklah, kau boleh bicara empat mata dengan dia." -------------------------------------ooo00ooo-----------------------------------------------Ma Ji-liong tidak mengira bahwa Ong Ban-bu ingin bicara dengan dia, lebih tak diduganya lagi kalau persoalan yang dibicarakan Ong Ban-bu adalah rahasia yang sebetulnya tidak boleh diketahui orang lain.
"Aku belum mati bukan karena Thiat Tin-thian melindungi aku,"
Ong Ban-bu berkata.
"Aku belum mati karena Bu-cap-sah tidak ingin membunuh aku."
Lebih jauh ia membeberkan rahasia Bu-capsah.
"Kepandaian Tan-ci-sin-thong atau Jentikan Batu Menutuk Hiat-to yang diyakinkan Bu-capsah memang sudah sempurna. Betapa cepat sambaran golok pengawal Persia itu juga lebih unggul dibanding orang lain, akan tetapi orang-orang yang mati oleh tebasan golok sabit itu bukan seluruhnya gugur oleh timpukan batu dan terbacok golok pengawal Persia itu."
"O, tidak seluruhnya?"
"Orang-orang yang mati itu, sebagian besar adalah mereka yang mau diperbudak dan disogok oleh harta dan kedudukan,"
Demikian Ong Ban-bu menjelaskan lebih lanjut.
"Thio-sam adalah kawan baik Li-si, mereka datang bersama. Thio-sam mau diperbudak setelah disiksa dan diancam jiwanya oleh Bu-cap-sah, hal ini di luar tahu Li-si. Begitu golok melengkung di tangan pengawal Persia menyabet, batok kepala Li-si terpenggal dan mati. Bukankah orang lain beranggapan bahwa kematian Li-si lantaran tidak mampu menyelamatkan jiwanya dari sambaran golok musuh?"
"Ya, pasti demikian anggapan orang,"
Ujar Ma Ji-liong.
"Apalagi orang lain melihat Bu-cap-sah menjentik jari dan batu pun terbang, apakah tidak beranggapan bahwa kematian Li-si lantaran tersambit Hiat-tonya oleh jentikan batu Bu-cap-sah?"
"Ya, betul."
"Tapi kenyataannya bukan demikian,"
Tutur Ong Ban-bu.
"Sebenarnya Hiat-to mereka bukan tertutuk oleh sambitan batu Bu-cap-sah, namun Hiat-to mereka tertutuk oleh kawan sendiri di saat keadaan sedang ribut. Li-si mati karena sebelumnya Hiat-tonya sudah ditutuk oleh Thio-sam, sudah tentu dia tidak mampu menyelamatkan diri dari tebasan golok melengkung itu."
Sampai di sini Ong Ban-bu menghela napas.
"Aku membocorkan rahasia ini kepadamu karena aku tidak ingin kau menilai ilmu silat Bu-cap-sah terlalu tinggi. Kuharap kau tidak memandangnya sebagai malaikat yang digdaya."
Ma Ji-liong bertanya.
"Bagaimana kau tahu tentang rahasia ini?"
"Karena aku juga diperbudak oleh Bu-cap-sah,"
Ong Ban-bu mengaku terus terang.
"Sebagai salah satu alatnya yang terpercaya, maka aku tidak mati di arena pertempuran tadi."
"Lalu kenapa kau membongkar rahasia ini kepadaku?"
Tanya Ma Ji-liong.
"Karena aku mempercayaimu,"
Kata Ong Ban-bu.
"Sekarang aku sudah yakin, engkau pasti takkan mengkhianati orang lain."
Kecuali Coat-taysu, Thiat Tin-thian dan Ong Ban-bu, masih ada seorang lagi yang ditolong oleh Ma Ji-liong.
Usia orang keempat ini belum terlalu tua kalau tidak mau dibilang masih setengah baya, tapi juga tidak muda lagi.
Dilihat tampangnya, wajahnya tidak tampan, tapi juga tidak jelek, pakaiannya tidak mewah, namun pasti tidak sembarangan.
Setiap hari di mana saja kau bisa bertemu banyak orang seperti laki-laki setengah baya ini.
Mungkin karena kelihatannya dia biasa saja, tiada tanda-tanda yang menyolok pada dirinya.
Menjadi orang 'biasa' kadang kala juga merupakan suatu cara yang baik untuk mengelabui orang, suatu cara untuk menyelamatkan diri.
Jelas dan gamblang Toa-hoan adalah salah satu jenis orang seperti itu.
Sejak tadi dia memperhatikan orang biasa ini, mendadak ia bertanya.
"She apakah engkau?"
Orang 'biasa' ini hanya tertawa lebar, manggut-manggut lalu menggelengkan kepala pula, tingkah dan sikapnya seperti orang pikun dan linglung. Toa-hoan bertanya pula.
"Kau tidak mendengar pertanyaanku? Atau tidak bisa bicara?"
Orang 'biasa' ini tetap tidak bersuara.
Kembali ia manggut-manggut lalu menggelengkan kepala pula, namun mimik mukanya selalu tersenyum ramah.
Tiada orang yang tahu apa arti kelakuannya yang jenaka ini, demikian pula Toa-hoan juga tidak habis mengerti.
Mungkin orang 'biasa' ini sengaja bertingkah dengan lucu dan penuh teka-teki supaya orang lain tidak tahu.
Mendadak Toa-hoan tertawa juga meniru sikap dan tingkah orang.
"Kau jelas bukan orang tuli dan bisu, namun kau tidak mau memperkenalkan diri,"
Suaranya tawar.
"Memang kau boleh tidak menjawab setiap pertanyaanku, tapi kalau orang lain yang bertanya kepadamu, kalau kau tidak memberi keterangan, kan berabe jadinya."
Mendadak orang itu bersuara, ia balas bertanya.
"Bukankah kalian sedang menunggu seseorang?"
"Menunggu seseorang? Ah, tidak,"
Ujar Toa-hoan menggelengkan kepala.
"Lho, sudah lupa? Kalian kan menunggu tukang jahit,"
Demikian kata orang itu.
"Tukang jahit utusan Bu-cap-sah untuk mengukur dan menjahit pakaian pengantin she Cia di sini."
Toa-hoan menatap tajam.
"Dari mana kau tahu kalau Bu-cap-sah mengutus seorang tukang jahit ke mari? Dari mana pula kau tahu kalau kami sedang menunggu dia?"
"Kenapa aku tidak tahu,"
Ucap orang itu.
"Aku malah tahu bahwa penjahit itu sekarang sudah datang. Bukan saja kain, gincu dan pupur sudah dibawa, ia pun membawa sebuah tandu berhias kembang untuk menjemput mempelai perempuan."
"Di mana penjahit itu sekarang?"
Tanya Toa-hoan.
"Berada di sini,"
Orang biasa itu mendadak mengunjuk tawa yang tidak biasa.
"Aku adalah penjahit utusan Bu-cap-sah."
Kalau dipandang dengan seksama, orang ini memang mirip penjahit.
Tapi bila kau perhatikan lebih lanjut, kau akan merasa dia tidak mirip apa pun.
Terserah kau mau bilang dia tukang apa atau ahli apa, orang lain pasti tak curiga.
Dalam setiap usaha yang ada di dunia ini, pasti ada orang sejenis dia, biasa dan awam.
Tampang biasa, sikap dan tingkah laku biasa, sederhana dan ramah tamah serta murah senyum.
"Aku adalah penjahit yang baik. Seratus li di daerah ini, aku yakin tiada penjahit lain yang lebih baik dari aku,"
Demikian kata orang 'biasa' itu dengan senyum simpul.
"Hasil karyaku cocok dan memenuhi selera, model mutakhir dan potongan pun memenuhi selera."
Penjahit yang baik memang selalu disenangi dan banyak langganannya.
Kecuali penjahit yang satu ini, dalam keadaan dan situasi begini, di tempat ini lagi, pasti tak ada orang yang senang kepadanya, tiada orang yang mau menerima kehadirannya.
Tawa Toa-hoan kelihatan dipaksakan, katanya.
"Aku juga bisa melihat kau memang seorang penjahit yang baik. Tapi betapapun baik seorang penjahit, tanpa ada bahan untuk bekerja, dia tetap takkan bisa membuat pakaian."
Bila pakaian selesai dijahit, Bu-cap-sah takkan memberi kesempatan kepada mereka untuk duduk dan mengobrol secara santai begitu.
Maka mereka mengharap penjahit ini tak bisa menunaikan tugasnya, pakaian tidak rampung dijahit, karena jelas orang ini tidak membawa kain dan benang, jarum atau gunting.
Tukang jahit itu berkata.
"Tadi aku sudah bilang, kain sudah kubawa, kutanggung mutunya juga yang terbagus, warnanya baik, coraknya juga indah, mutunya tinggi. Kutanggung takkan luntur meski dicuci seratus kali."
"Di manakah bahan pakaian yang kau bawa itu?"
Bab 31. Penjahit Luar Biasa "Tadi aku sudah bilang kubawa, tentu ada di sini."
Toa-hoan, Cia Giok-lun, Thiat Tin-thian dan Ong Ban-bu menyaksikan penjahit ini tidak membawa apa-apa, bertangan kosong, tetapi sambil bicara ia berputar satu lingkaran.
Waktu ia menghadap pula ke arah mereka, tangannya sudah memegang dua blok kain.
Satu blok kain sutera di tangan kanannya berdasar merah, malah tersulam kembang mawar kuning emas.
Sudah tentu Toa-hoan berempat berdiri melongo.
Tak ada di antara mereka yang melihat jelas dengan cara apa penjahit ini menyembunyikan dan mengeluarkan dua blok kain sutera itu.
Seperti main sulap saja, tahu-tahu bahan pakaian sudah tersedia.
Beruntun penjahit itu mengeluarkan lagi sebungkus pupur wangi, gincu dan minyak wangi.
Sukar orang membayangkan dan rasanya tidak masuk akal, barang sebanyak itu entah di mana ia sembunyikan.
Thiat Tin-thian berkata setelah menghela napas.
"Sungguh tak dinyana, kami gembong-gembong silat yang sudah kawakan berkecimpung di Kangouw juga dapat kau kelabui dengan cara yang begini sepele. Aku rasa saudara tentu seorang kosen juga."
Dengan senyum manis penjahit itu menggelengkan kepala, katanya.
"Aku bukan orang kosen, sedikit pun aku tidak kosen. Yang pasti kau berperawakan lebih tinggi gede dibanding aku. Orang yang bertubuh gede akan makin gagah dan enak dipandang bila mengenakan pakaian karyaku."
Dari atas sampai bawah ia memperhatikan tubuh Thiat Tin-thian.
"Hanya sayang pakaian yang melekat di tubuhmu sekarang jelek jahitannya, tidak cocok dengan potongan tubuhmu. Lain kali kalau ada waktu, akan kubuatkan beberapa perangkat pakaian untukmu."
"Kalau tidak salah tadi aku mendengar kau bilang membawa juga tandu pengantin?"
Tanya Thiat Tin-thian.
"Kalau sudah tiba saatnya, tandu pengantin pasti akan ke mari,"
Demikian ujar penjahit itu.
"Mempelai laki dan perempuan saja tidak gugup, tidak ingin lekas kawin, kenapa justru kalian yang terburu nafsu."
Mendengar penjahit ini bicara tentang 'mempelai laki dan perempuan', roman muka semua orang pun berubah hebat.
Terutama Cia Giok-lun, tubuhnya bergoncang dan berkeringat dingin.
Dugaan mereka tidak keliru.
Ambisi Bu-cap-sah tidak kecil.
Jika ia mempersunting puteri tunggal Bik-giok-san-ceng, Bik-giok Hujin pasti bisa mati saking marahnya.
Toa-hoan juga harus bunuh diri dengan menumbukkan kepala ke dinding karena gagal menunaikan tugasnya.
Mendadak Thiat Tin-thian bertanya kepada Toa-hoan.
"Apakah kita biarkan saja orang ini membuat pakaian untuk nona Cia?"
"Tidak boleh, jangan beri peluang dia bekerja di sini,"
Sahut Toa-hoan.
"Adakah penjahit di dunia ini yang tidak bisa membikin pakaian orang?"
"Kurasa ada, hanya dengan satu macam cara untuk membuat penjahit tidak bisa bekerja."
"Dengan satu cara? Lalu penjahit macam apa yang takkan bisa bekerja itu?"
"Penjahit yang sudah putus jiwanya."
Ternyata penjahit itu bersikap tenang dan wajar.
Dengan asyik ia mendengarkan percakapan mereka dengan tersenyum ramah, seperti orang linglung yang tidak mengerti apa arti percakapan mereka.
Akhirnya dia berkata.
"Aku bukan penjahit mampus. Sekarang aku masih segar bugar, penjahit bagus yang selalu bekerja penuh gairah."
"Sayang sekali, betapapun penjahit bagus akhirnya akan mampus juga,"
Demikian jengek Thiat Tinthian.
Perlahan ia mengulurkan tangannya ke depan.
Luka-lukanya sudah hampir sembuh.
Di mana telapak tangan besinya terangkat, ruas tulang tubuhnya mendadak berkeratakan seperti petasan.
Umpama penjahit itu orang pikun, manusia goblok, pasti juga paham apa maksud perkataan Thiat Tin-thian.
Mendadak ia berseru sambil mengangkat sebelah tangan.
"Tunggu dulu, aku masih ingin bicara."
"Katakan, lekas."
"Persoalan yang ingin kubicarakan, hanya akan kubicarakan empat mata saja dengan Ma Ji-liong,"
Demikian kata penjahit itu.
"Dia tidak akan mendengarkan obrolanmu,"
Jengek Thiat Tin-thian sambil mendesak dua langkah.
"Aku tahu dia tidak akan mau mendengar."
Mendadak Ji-liong menepuk bahu penjahit itu lalu menggandengnya keluar, ke belakang.
Tidak ada yang mencegah, tidak ada orang yang berani menentang.
Suatu yang diputuskan Ma Ji-liong, tidak ada orang yang berani menentang.
Rahasia apa yang dibicarakan penjahit itu dengan Ma Ji-liong?
Kenapa hanya boleh dibicarakan dengan Ma Ji-liong seorang saja?
Tidak ada orang yang tahu, tiada orang yang ingin tahu.
Semua orang percaya kepada Ma Ji-liong, seperti mereka percaya kepada diri sendiri.
Siapa pun tidak tahu jelas, sejak kapan keadaan seperti ini terjadi dan seperti menjadi ketentuan di sini, yang jelas keadaan sekarang memang sudah demikian.
----------------------------------------ooo00ooo------------------------------------------Cukup lama kemudian baru kelihatan Ma Ji-liong memasuki rumah besar pula.
Toa-hoan berlari menyongsong sambil bertanya.
"Mana penjahit itu?"
"Di belakang sedang mengukur badan Cia Giok-lun dan membikin pakaian."
"Kenapa kau memberi izin dia bekerja?"
"Dia seorang penjahit, kehadirannya di sini untuk membuat pakaian. Lebih dulu mengukur badan, memotong kain lalu menjahit,"
Demikian ucap Ma Ji-liong kalem.
"Kan bukan hanya dia seorang tukang jahit yang ada di dunia ini, kalau aku tidak memberi izin kepadanya, penjahit lain juga bisa diutus ke mari."
Penjelasan Ma Ji-liong tidak memuaskan, hati orang tidak lega dan puas.
Sekarang mereka perlu mengejar waktu, semenit lebih cepat, semenit lebih banyak peluang mereka.
Pantasnya Ma Ji-liong tahu akan hal ini, sayang ia justru berbuat bodoh, pura-pura tidak mengerti?
Di saat orang-orang di dalam toko serba ada itu menghela napas gegetun, Bu-cap-sah yang ada di luar toko malah bergelak tawa.
"Sudah lama aku tidak pernah merasa kagum dan memuji orang lain,"
Demikian serunya.
"Sekarang aku harus memuji kau."
"Kau kagum padaku?"
Tanya Ma Ji-liong.
"Kenapa kau memuji aku?"
"Karena kau adalah Ma Ji-liong. Laki-laki gundul itu adalah musuh besarmu, sejak lama dia ingin membekuk dan menguburmu hidup-hidup,"
Demikian ucap Bu-cap-sah lantang.
"Tapi sekarang mereka tunduk kepadamu, rahasia apa pun hanya dibicarakan denganmu seorang saja. Umpama tahu apa yang kau lakukan adalah perbuatan seorang goblok, namun tiada orang yang menentang. Orang macam dirimu sebetulnya tidak setimpal mampus bersama mereka."
"Memangnya aku harus bagaimana?"
Tanya Ma Ji-liong.
"Kau harus keluar, berhadapan dengan aku dan menjadi sahabatku. Hanya kau yang setimpal menjadi sahabatku."
Ma Ji-liong segera menjawab dengan tegas.
"Baik, aku segera keluar."
Habis bicara Ma Ji-liong melangkah keluar.
Siapa pun tak menduga bahwa Ma Ji-liong berani keluar dan betul-betul keluar, Bu-cap-sah sendiri juga tidak mengira.
Tapi Ma Ji-liong betul-betul melakukan perbuatan yang tidak mampu dilakukan orang lain meski di alam mimpi sekalipun.
Apa betul ia ingin bersahabat dengan si gila itu?
Apakah ia tidak tahu, begitu keluar jiwanya mungkin akan melayang di tangan si gila?
Apakah Ma Ji-liong juga seorang gila, gila seperti Bu-cap-sah?
Biasanya ia kelihatan waras, padahal ia juga gila, orang edan?
-----------------------------------------------ooo00ooo---------------------------------------------------Setelah Ma Ji-liong membuka pintu kecil di samping pojok sana, baru orang banyak terbelalak kaget.
Toa-hoan memburu maju hendak menariknya, tapi batal.
Thiat Tin-thian mengawasi ToaKoleksi
KANG ZUSI hoan, Toa-hoan juga mengawasinya. Kedua orang ini seperti tak percaya bahwa Ma Ji-liong mendadak berubah menjadi manusia gila.
"Apakah dia juga sudah gila?"
"Kelihatannya tidak."
Sebetulnya hanya Toa-hoan seorang di antara mereka yang paling paham tentang pribadi Ma Jiliong, menyelami watak dan jiwanya, tapi sekarang Toa-hoan pun bimbang, ia tidak yakin apakah yang dirasakan selama ini pada pemuda yang satu ini adalah benar dan sehat.
"Kelihatannya dia bukan orang bodoh."
"Otaknya memang amat cerdas."
"Lalu kenapa dia keluar?"
"Hanya Thian yang tahu."
Kejadian yang susah dimengerti, susah diterima nalar begini memang hanya bisa diketahui oleh Thian saja, kenapa hal ini harus terjadi? Mendadak Thiat Tin-thian bertanya.
"Menurut pendapatmu, apakah penjahit itu tidak mencurigakan?"
"Ya, aneh dan patut dicurigai, harus diawasi."
Terhadap siapa saja, kalau seseorang dalam sekejap dapat menyulap dua blok kain hanya dengan sekali putar badan, mengeluarkan dua blok kain sutera sebesar itu dari dalam pakaiannya, maka dia pasti bukan orang biasa.
"Aku tahu di kalangan Kangouw ada sejenis ilmu yang dinamakan Sip-sim-sut (ilmu sihir), penonton dikelabui oleh kekuatan gaibnya sehingga pandangan kabur dan pikiran ngelantur."
"Ya, memang ada ilmu seperti itu."
"Menurut pendapatmu, apakah Ma Ji-liong bukan terpengaruh oleh ilmu sihir itu? Maka ia mendadak berubah gila?"
Dugaan itu mungkin tepat, mungkin juga keliru.
Tapi masih ada kemungkinan lain, yaitu penjahit itu tengah menyandera Cia Giok-lun, lalu Ma Ji-liong diancam dan dipaksa melakukan permintaannya.
Agaknya jalan pikiran Thiat Tin-thian dan Toa-hoan sama.
Tanpa berjanji kedua orang ini serempak menerjang ke dalam lewat pintu kecil bertirai itu.
Tapi begitu berada di dalam, seketika mereka tertegun kaget, jauh lebih kaget dibanding waktu melihat Ma Ji-liong membuka pintu dan beranjak keluar tadi, lebih kaget dibanding bila mereka melihat setan yang mengerikan.
Sudah puluhan tahun Thiat Tin-thian malang melintang di Kangouw, kejadian apa saja pernah ia hadapi, tapi belum pernah ia menghadapi kejadian yang mengejutkan seperti kali ini.
Mereka hampir tidak percaya oleh pandangan matanya sendiri, tidak percaya menghadapi kenyataan.
----------------------------------ooo00ooo-------------------------------------------Mereka melihat apa?
Bab 32.
Tangan Yang Mengejutkan Keadaan di dalam rumah sudah berbeda dibanding waktu mereka meninggalkan tempat ini.
Ranjang besar yang terletak di tengah ruang sudah dibongkar dan disingkirkan ke pinggir.
Cia Giok-lun yang semula harus meronta-ronta untuk berganti pakaian dan membersihkan badan itu sekarang sudah berdiri tegak, berjalan atau bergerak dengan leluasa seperti orang sehat.
Tapi ini bukan sebab utama kenapa Thiat Tin-thian dan Toa-hoan kaget setengah mati.
Mereka kaget karena di dalam rumah melihat Ma Ji-liong lagi.
Yang berdiri jajar di pinggir Cia Giok-lun ternyata bukan penjahit tadi, tetapi adalah Ma Ji-liong.
Ma Ji-liong masih dalam penyamarannya sebagai Thio Eng-hoat.
Padahal mata mereka belum lamur, melihat dengan nyata, dengan gamblang bahwa Ma Ji-liong lewat di depan mereka, tapi sekarang mereka melihat dengan jelas pula seorang Thio Eng-hoat alias Ma Ji-liong berdiri segar bugar di hadapan mereka.
---------------------------------------------ooo00ooo------------------------------------------------Ternyata Thio Eng-hoat alias Ma Ji-liong yang mereka lihat beranjak keluar tadi bukan Ma Ji-liong yang asli.
Jadi dua kali mereka melihat Thio Eng-hoat, padahal dalam kesan mereka Thio Eng-hoat adalah samaran Ma Ji-liong, dwi tunggal, dua orang yang menjadi satu.
Kini di dalam rumah mereka saksikan lagi seorang Thio Eng-hoat, padahal laki-laki ini tadi sudah keluar rumah.
Lalu dari mana dia masuk dan tahu-tahu sudah berada di dalam rumah pula.
Lalu di mana tukang jahit tadi?
Karena ranjang besar itu dibongkar dan disingkirkan, kamar itu menjadi luang dan lebar.
Bukan duduk atau mondar-mandir, ternyata Ma Ji-liong dan Cia Giok-lun berdiri diam penuh perhatian di tempat itu, di mana tadi ranjang itu berada.
Mata mereka tertuju ke lantai, penuh perhatian mereka mengawasi lantai kosong itu.
Begitu Toa-hoan dan Thiat Tin-thian menerobos masuk, Ma Ji-liong segera mengangkat jari telunjuk mendekap mulut, memberi isyarat dengan maksud supaya mereka tidak bersuara.
Syukur Toa-hoan dan Thiat Tin-thian adalah orang-orang yang tabah.
Meski menghadapi kejadian yang mengejutkan, mereka tidak berteriak kaget.
Agaknya mereka tidak lupa bahwa si gila mampu mendengar ular yang lagi bermain cinta dan kura-kura bertelur.
Sigap sekali Toa-hoan berlari keluar.
Waktu masuk lagi dia membawa kertas dan alat tulis.
Dengan tulisan ia bertanya pada Ma Ji-liong.
"Siapa kau?"
Agaknya susah baginya membedakan apakah Thio Eng-hoat yang satu ini betul adalah samaran Ma Ji-liong tulen. Orang ini betul adalah Ma Ji-liong. Cia Giok-lun memberikan kesaksian.
"Siapakah orang yang keluar tadi?"
Tanya pula Toa-hoan dengan tulisan.
"Tukang jahit itu,"
Kembali Cia Giok-lun yang menjawab, sudah tentu dengan tulisan pula. Walau sudah menduga hal itu, tetapi Toa-hoan dan Thiat Tin-thian tak mau percaya begitu saja.
"Bagaimana tukang jahit itu bisa berubah menjadi Thio Eng-hoat?"
Kali ini Ma Ji-liong tertawa. Dengan alat tulis ia menjawab pertanyaan itu, tulisannya bergaya indah.
"Kalau dia mampu mengubah aku menjadi Thio Eng-hoat, kenapa dia sendiri tidak mampu merubah dirinya menjadi Thio Eng-hoat?"
Toa-hoan melongo.
Ia betul-betul kaget dan heran, juga amat senang.
Sungguh tak pernah terbayang dalam benaknya kalau orang ini bisa datang ke mari.
Sekarang ia paham apa yang telah terjadi.
Tapi Thiat Tin-thian masih belum mengerti.
"Siapakah orang yang kalian bicarakan itu?"
Tanyanya dengan tulisan juga.
Toa-hoan segera menulis 'Giok-jiu-ling-long Giok Ling-long, tokoh besar yang misterius, namanya sudah menggetarkan dunia persilatan sejak enam puluh tahun yang lalu.
-------------------------------------------ooo00ooo------------------------------------------Persoalan yang kelihatannya ruwet dan mengejutkan, kalau sudah terbongkar, jawabannya ternyata amat mudah, sederhana dan sepele.
Sekarang Thiat Tin-thian juga sudah mengerti.
Ling-long-giok-jiu Giok Ling-long, nama yang cukup memberi jaminan, memberi penjelasan tuntas.
Dengan tata rias yang tiada banding di dunia ini, menyamar menjadi seorang tukang jahit yang kelihatannya biasa dan tidak menarik perhatian orang, sebagai tukang jahit undangan Bu-cap-sah ia menyelundup ke mari.
Tiada orang yang menduga bahwa ia akan dan sudah berada di sini, oleh karena itu tiada orang yang melihat gejala-gejala yang mencurigakan pada dirinya.
Kesempatan waktu ia berhadapan empat mata dengan Ma Ji-liong tadi, ia merubah dirinya menjadi seorang Thio Eng-hoat yang lain dengan bahan-bahan make-up yang selalu ia bawa ke mana-mana.
Baru sekarang Toa-hoan membayangkan, wajah tukang jahit tadi lapat-lapat memang ada sedikit mirip dengan Thio Eng-hoat, beberapa segi malah ada titik persamaannya.
Dengan kemampuannya yang luar biasa, hanya sekedar memproses sini dan memperbaiki sana, dengan keahlian kedua tangannya, lekas sekali wajahnya sudah berubah menjadi Thio Eng-hoat.
Jelas hal ini juga sudah ia rencanakan lebih dulu.
Kenapa Giok Ling-long berbuat demikian?
Kenapa ia menampilkan diri pula dalam percaturan Kangouw sebagai Ma Ji-liong, berani keluar untuk menemui dan berhadapan langsung dengan Bucap-sah?
Toa-hoan tidak habis mengerti, Thiat Tin-thian juga bingung.
Lantai kosong di mana ranjang besar tadi berada, kecuali debu kotoran yang tidak pernah disapu, tidak ada barang apa pun di lantai itu.
Lalu apa yang dilihat dan diperhatikan oleh Ma Ji-liong dan Cia Giok-lun?
Kenapa ranjang besar itu mereka bongkar?
Toa-hoan dan Thiat Tin-thian juga merasa bingung.
Mereka bertanya dengan tulisan pada Ma Ji-liong, tapi yang ditanya hanya tertawa-tawa saja, tawa yang penuh mengandung arti.
Terpaksa mereka hanya ikut berdiri melongo seperti orang bodoh mengawasi lantai kosong yang tidak ada apa-apanya yang bisa ditonton itu.
Di saat Toa-hoan dan Thiat Tin-thian menghela napas, merasa dirinya seperti orang bodoh, mendadak mereka berjingkat mundur.
Kembali mereka menyaksikan kejadian luar biasa yang mengejutkan.
--------------------------------------ooo00ooo-----------------------------------------------Mereka berjingkat karena melihat sebuah tangan, tangan manusia.
Lantai kosong yang semula tiada apa-apanya itu, mendadak tanahnya kelihatan bergerak-gerak lalu mencuat minggir seperti digali oleh seekor tikus dari dalam tanah, lalu muncul sebuah tangan manusia dari bawah tanah.
Tangan manusia yang kelihatan kasar, kekar lagi penuh tenaga, mirip benih pohon yang mulai bersih mencuat keluar dari dalam tanah.
Jari tengah, jari manis dan jari kelingking tegak berdiri, sementara jari telunjuk berpadu dengan ibu jari membuat lingkaran.
Gaya tangan seperti itu umumnya memberi tanda bahwa segala urusan sudah beres, berarti dia sudah menunaikan tugas dengan baik, segala persoalan tidak perlu dikuatirkan.
Tangan siapakah yang muncul dari dalam tanah ini?
Bagaimana mungkin tangan manusia muncul dari bawah tanah?
Toa-hoan dan Thiat Tin-thian tidak ragu dan bimbang bahwa tangan itu benar milik manusia hidup.
Tangan orang mati tak mungkin bisa bergerak dan memberi tanda dengan gerakan.
Sudah berapa lama Toa-hoan tinggal di rumah ini, tak pernah tahu ada sesuatu gejala yang mencurigakan bahwa di bawah tanah ini ada dihuni orang.
Dengan kemampuan Toa-hoan, tidak mungkin diketahui bila ada manusia hidup dan tinggal di bawah tanah di mana mereka bertempat tinggal.
Toa-hoan dan Thiat Tin-thian amat kaget begitu melihat tangan itu muncul dari dalam tanah, tetapi Ma Ji-liong dan Cia Giok-lun ternyata bersikap adem-ayem, tidak kaget sama sekali, Cia Giok-lun malah tersenyum lega.
Ma Ji-liong maju selangkah lalu membungkuk badan, tangannya diulur, dengan jari telunjuk ia menutul tiga kali di ujung jari tengah tangan itu.
Selang beberapa saat ia menutul tiga kali, beruntun ia menutul tiga kali tiga sama dengan sembilan kali.
Tangan yang mengejutkan itu mendadak mengkeret masuk ke dalam tanah.
Tanah kosong yang tiada apa-apanya itu kini betul-betul menjadi kosong, hanya bertambah sebuah lubang.
Lubang yang cukup besar untuk tangan orang diulur keluar atau tangan yang merogoh masuk ke dalam lubang.
Tangan itu sudah lenyap, tiada kelihatan, tapi lubang itu masih menganga meski lubangnya tidak lebar.
-----------------------------------------------ooo00ooo----------------------------------------------------Tangan keluar dari dalam lubang, lalu dari mana datangnya lubang itu?
Tanah di bawah rumah ini jelas bersatu dengan bumi, tanah di bawah rumah ini jelas tidak berbeda dengan tanah di lain tempat.
Di sini mungkin kau bisa menanam pohon atau rumput, pohon juga bisa tumbuh berkembang dan berbuah, tapi tak mungkin tanpa sebab mendadak bolong atau berlubang.
Lubang yang sembarang waktu bisa dilalui tangan yang keluar dan masuk.
Toa-hoan mengawasi Thiat Tin-thian, Thiat Tin-thian juga mengawasi Toa-hoan, lalu mereka menoleh bersama ke arah Ma Ji-liong.
Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi, namun mereka yakin Ma Ji-liong bisa memberi penjelasan.
Ma Ji-liong masih asyik memperhatikan lubang itu, tidak memandang mereka, melihat pun tidak, seluruh perhatian ditujukan ke arah lubang itu.
Lubang itu semula selebar mulut gelas, mendadak tampak berubah makin besar, tanah di sekitar lubang mendadak bergerak seperti beriak.
Makin lama riak gelombang makin besar, tanah juga berguguran ke bawah hingga bergolak seperti air mendidih di dalam kuali.
Mendadak tanah yang bergolak itu seluruhnya amblas ke bawah, lubang kecil itu mendadak berubah menjadi lubang gede, lubang sebesar permukaan meja bundar.
Begitu lubang menjadi besar, dari bawah tanah muncullah seseorang, seorang berwajah persegi yang berlepotan tanah, namun cahaya matanya bersinar terang.
Pertama dia mengawasi Ma Ji-liong sambil tertawa, lalu berganti menatap Cia Giok-lun, Toa-hoan dan Thiat Tin-thian.
Tetapi keempat orang ini tiada yang mengenalnya, sudah tentu laki-laki ini juga tidak mengenal mereka.
Kedua pihak sama-sama belum pernah kenal, belum pernah bertemu apalagi kenal.
Orang itu melompat keluar dari dalam lubang, lalu membersihkan tanah di atas badannya, berdiri di pinggir lubang yang dibuatnya.
Sambil tersenyum puas ia mengawasi lubang besar itu, sorot matanya tampak riang, puas dan bangga, seperti seniman yang sedang menikmati buah karyanya yang paling diagulkan.
Lama ia menikmati buah karyanya itu baru membalikkan badan.
Alat tulis dan kertas masih ada di atas meja, ia mengambil pena lalu menulis.
"Silakan tuan-tuan masuk."
Lubang itu tidak begitu dalam, membelok lurus ke arah timur, mirip lubang gua yang amat dalam dan panjang.
Sebetulnya lubang ini tidak mirip gua, lebih tepat kalau dikatakan gorong-gorong, lorong di bawah tanah yang sempit dan lembab.
Dapat diduga bahwa lorong ini digali dari tempat yang cukup jauh, mulut lorong pasti jauh terletak di luar perkampungan yang sudah dibongkar dan dikuasai oleh orang-orang Bu-cap-sah dengan pengepungan yang ketat.
Sekarang baru Toa-hoan paham, semua orang juga paham, lorong bawah tanah ini adalah jalan satusatunya untuk mereka melarikan diri.
Sudah tentu tanpa diminta kedua kalinya, satu persatu mereka menyelinap masuk ke dalam lorong.
Ternyata lorong ini lebih panjang dari yang mereka bayangkan semula.
Mereka harus banyak memeras keringat dan tenaga, kadang kala mereka harus merangkak cukup jauh baru berjalan lagi sambil membungkukkan badan.
Maklum lorong itu dibuat secara darurat, jadi tidak memenuhi syarat sebagai jalan rahasia di bawah tanah yang biasa dipersiapkan untuk melarikan diri.
Mulut lorong memang berada jauh di luar perkampungan yang sudah kosong dan luas, malah melampaui beberapa jalan raya lalu membelok ke selatan.
Beberapa jam diperlukan untuk menerobos lorong yang pengap lagi lembab itu.
Begitu melompat keluar dari dalam lubang, mereka menghirup napas segar dan rasa lega.
Tak jauh dari mulut lorong berhenti sebuah kereta besar yang hanya dimiliki hartawan besar atau kaum bangsawan.
Kereta bercat hitam itu mengkilap bersih.
Kereta ditarik empat ekor kuda yang gagah dan kekar, jelas merupakan kuda-kuda pilihan yang sudah terlatih baik dan mampu berlari kencang.
Ada pula tiga buah kereta lain dalam bentuk dan ukuran sama berjajar di pinggir hutan sana.
Tiga kereta itu masing-masing menuju ke tiga arah, kusir kereta sudah duduk di tempatnya siap menghalau kereta dengan cemeti di tangan.
Laki-laki kekar baju hitam yang menggali lubang itu melompat keluar lebih dulu.
Setelah orang banyak melemaskan otot dan menenteramkan napas dan perasaan, segera ia memberikan penjelasan.
"Untuk menghindari pengejaran Bu-cap-sah, maka kita sediakan tiga kereta lain yang sama bentuk dan ukurannya. Di atas kereta juga ditumpangi enam pria satu wanita, tujuh orang, bekas roda kereta yang ditinggalkan di jalan raya juga pasti sama, tidak banyak berbeda."
Laki-laki ini bilang enam pria satu perempuan karena Toa-hoan masih berpakaian laki-laki, sementara ia juga akan mengiringi Ma Ji-liong dan lain-lain naik kereta yang terdekat.
"Kita tidak usah menunggu Giok-toasiocia, ia punya cara dan akal untuk menghadapi Bu-cap-sah, yakinlah bahwa dia dapat meloloskan diri tanpa kurang suatu apa,"
Sembari bicara laki-laki ini mengawasi Ma Ji-liong yang belum juga mau naik kereta.
"Beliau sudah memberi pesan kepadaku supaya tidak usah menunggu dia, karena dia tahu kau ini paling bandel, maka beliau merasa perlu memberi pesan kepadaku."
Untung kali ini Ma Ji-liong tidak membandel. Begitu ia duduk di atas kereta, sais kereta segera mengayunkan cemeti.
"Tar!" , enam belas ekor kuda serempak menggerakkan kaki, tiga puluh dua roda kereta serempak menggelinding ke depan. Empat kereta empat arah yang ditempuh, keempat kereta itu meninggalkan bekas roda dan tapak kuda yang sama. Laki-laki penggali tanah itu berkata.
"Dari empat jalan raya yang kita tempuh ini, satu menuju ke Thian-ma-tong, satu lagi langsung menuju ke Siong-san, yang ketiga pergi ke Bik-giok-san-ceng."
"Yang satu lagi menuju ke mana?"
Tanya Toa-hoan.
"Yang keempat ini adalah jalan yang dilalui Bu-cap-sah waktu datang ke sini,"
Penggali lubang menjelaskan.
"Jalan ini menuju ke lembah mati."
"Jalan mana yang kita tempuh?"
Tanya Cia Giok-lun penuh harap.
"Apakah kita langsung pulang ke Bik-giok-san-ceng?"
"Bukan,"
Sahut Toa-hoan.
"Pasti bukan."
"Kenapa bukan?"
Tanya Cia Giok-lun. Penggali lubang menjelaskan.
"Karena Bu-cap-sah pasti juga sudah menduga bahwa kita mungkin akan menempuh jalan itu."
Cia Giok-lun menghela napas. Toa-hoan berkata.
"Ke mana kau akan membawa kami?"
"Lembah mati,"
Sahut penggali lubang.
"Karena siapa pun pasti tidak menduga kalau kita justru pergi ke lembah mati, ke sarang Bu-cap-sah malah."
Lalu ia menambahkan setelah menarik napas.
"Giok-toasiocia juga menganjurkan supaya kita menempuh jalan ini, ia bilang akan menyusul kita di sana."
Tidak ada yang bertanya 'Kenapa dia juga akan ke sana?', karena setiap orang percaya, apa yang dilakukan Giok-toasiocia ada alasannya sendiri.
Kereta berjalan cepat dan tenang.
Kabin kereta memang lebar dan panjang, mereka dapat duduk santai dan takkan merasa penat atau gerah.
Sejak kereta berangkat, Toa-hoan selalu memperhatikan penggali lubang itu.
Mendadak ia bertanya.
"Tuan, apakah kau murid Kaypang?"
Melihat tindak-tanduk, dandanan dan tutur bicaranya, siapa pun akan beranggapan bahwa penggali lubang ini adalah murid Kaypang, karena hanya murid Kaypang saja yang mampu menunaikan tugas yang berat dan sukar ini.
Hanya pihak Kaypang saja di bawah pimpinan Kanglam Ji Ngo yang berani mengambil-alih tugas dan mencampuri urusan ini.
Tapi penggali lubang itu menggelengkan kepala.
"Aku bukan murid Kaypang."
Ia menjawab sambil tersenyum.
"Bahwasanya aku tidak pernah berkecimpung di Kangouw."
Jawabannya di luar dugaan orang banyak. Toa-hoan bertanya pula.
"Kau she apa dan siapa nama tuan?"
Penggali lubang itu tampak bimbang sejenak.
Agaknya ia segan memperkenalkan diri, seakan-akan bila ia memperkenalkan diri maka namanya akan mengundang ejekan orang, dirinya akan malu berhadapan dengan orang.
Tapi setelah ditunggu dan diawasi sekian saat, akhirnya ia menjawab dengan terpaksa.
"Aku bernama Ji Liok."
"Ji Liok?"
Toa-hoan berteriak. Orang banyak juga melengak heran. Toa-hoan bertanya pula.
"Pernah apa kau dengan Kanglam Ji Ngo?"
"Ji Ngo adalah engkohku yang kelima,"
Sahut penggali lubang itu.
----------------------------------------ooo00ooo--------------------------------------------Kanglam Ji Ngo terkenal di seluruh jagat, ia mengepalai Pang terbesar di dunia, anggotanya tersebar luas di seluruh pelosok Kangouw.
Adalah pantas kalau adik Ji Ngo juga seorang yang terkenal, anehnya siapa pun tidak pernah mendengar seorang yang bernama Ji Liok, apalagi sebagai adik Ji Ngo.
"Kalian tentu tidak tahu kalau Ji Ngo masih punya adik seperti diriku,"
Demikian ucap penggali lubang yang mengaku bernama Ji Liok itu.
"Kalian pasti heran, adik Kanglam Ji Ngo, kenapa tidak pernah muncul dalam percaturan dunia persilatan?"
"Ya, kau tidak pernah muncul, kami pun tak pernah mengenalmu."
Ji Liok tertawa getir, katanya.
"Kalau aku sudah punya engkoh seperti Kanglam Ji Ngo yang tersohor, memangnya apa yang bisa kuperoleh kalau berkecimpung di Kangouw? Umpama aku berjuang seratus tahun juga akan tetap sebagai adik Ji Ngo."
Ia mengawasi jari-jari tangannya yang kasar, lalu ia melanjutkan dengan perlahan.
"Apalagi aku tidak punya kemampuan apa-apa, aku hanya pandai menggali lubang."
Ma Ji-liong mengawasinya, sorot matanya berubah hormat dan kagum.
Biasanya ia memang menghargai orang yang punya pambek, laki-laki yang tegas berpijak pada pendirian sendiri, menghormati harga diri orang yang berani berdikari.
"Kau bilang tak punya kemampuan apa-apa kecuali menggali lubang,"
Demikian timbrung Ma Jiliong.
"Padahal untuk menggali lubang bawah tanah dalam jarak sejauh itu, melampaui empat jalan raya sepanjang tujuh-delapan puluh tombak, bukanlah pekerjaan yang ringan, apalagi arah yang dituju sudah diperhitungkan dengan tepat, jalan keluarnya tepat menuju sasaran yang sudah ditentukan di tengah rumah toko serba ada itu."
Setelah menghela napas, Ji-liong menyambung pula.
"Kau bilang tidak mampu berbuat apa-apa, tapi lorong tanah sepreti itu, kecuali kau siapa pula yang mampu menggalinya?"
Ji Liok tertawa lebar.
"Mendengar pujianmu, aku baru merasa bahwa ternyata aku memiliki keahlian khusus juga."
Dengan senyum dikulum, ia melirik ke arah Ma Ji-liong.
"Sekarang aku baru paham kenapa Ngo-ko berkata demikian kepadaku."
"Apa yang dia katakan?"
Tanya Ji-liong.
"Ngo-ko bilang kau ini baik hati. Dalam keadaan apa pun kau tidak pernah melupakan kepentingan orang lain,"
Demikian ucap Ji Liok.
"Dia juga bilang, orang seperti dirimu, dalam masa hidupnya hanya pernah melihat dua orang saja."
"Dua orang yang mana?"
Tanya Ji-liong pula.
"Yang seorang sudah tentu dirinya sendiri,"
Kata Ji Liok tertawa.
"Seorang lagi adalah engkau."
Sorot matanya tampak hangat dan bersahabat.
"Maka dia menyuruh aku bertanya kepadamu, kau mau tidak bersahabat dengan orang yang hanya pandai menggali lubang?"
Ma Ji-liong segera mengulurkan tangan menjabat tangan Ji Liok.
Bab 33.
Malam Tragis Di Gedung Besar Kanglam Ji Ngo adalah pendekar besar yang terkenal, seorang cerdik, pelajar ternama, ilmu sastra maupun ilmu silatnya jarang ketemukan tandingan, pokoknya serba bisa.
Tapi berbeda dengan Ji Liok yang satu ini.
Seperti apa yang ia katakan sendiri, kelihatannya mirip orang kasar, orang desa atau kampung yang bersahaja, kaki besar tangan kasar, hidup tenteram dan sederhana.
Menilai wajahnya yang persegi, kelihatannya tak cukup pintar, namun bila tersenyum maka orang baru membayangkan wajah Ji Ngo melekat pada wajahnya juga.
Kini setiap orang mulai tertarik kepadanya.
Semua merasa pribadinya tidak seperti lahiriahnya yang sederhana dan biasa.
Banyak persoalan yang ingin ditanyakan kepadanya, karena siapa pun ingin tahu lebih jauh siapakah dia sebenarnya.
"Kau belum pernah berkecimpung di Kangouw? Lalu apa kerjamu sehari-hari?"
Ma Ji-liong bertanya lebih jauh.
"Kerja apa saja kulakukan,"
Sahut Ji Liok.
"Namun belakangan ini aku sering memborong bangunan, jelasnya sebagai pemborong bangunan."
"Kau ini tukang batu atau tukang kayu?"
Sela Toa-hoan.
"Tukang batu aku dapat bekerja, tukang kayu juga kulakukan, pokoknya kerja kasar yang halal dan dapat uang. Tapi dalam kerja besar ini aku hanya menggambar pola bangunannya saja."
Untuk membangun rumah harus dibuat pola gambarnya lebih dulu.
Setelah pola gambarnya dilukis dan diperinci secara cermat, baru kerja dimulai.
Berapa tinggi bentuk rumah itu, berapa dalam pondasi yang harus ditanam?
Berapa pula sudut miring wuwungan yang akan dibentuk?
Berapa berat kekuatan yang ditopang?
Setiap sudut ruang pun harus diperhitungkan dan direncanakan lebih dulu.
Setelah seluruhnya diperinci secara jelas, bangunan yang sudah dirancang dengan baik itu pasti terbangun dengan hasil yang memuaskan.
Karena sedikit salah perhitungan, bukan mustahil rumah itu akan ambruk dan akibatnya tentu fatal.
Demikian pula untuk menggali lubang di bawah tanah, juga harus diperhitungkan arah, jarak dan letaknya.
Sedikit melenceng, jalan keluarnya pasti meleset jauh dari titik yang sudah ditentukan.
Demikian halnya dengan lorong bawah tanah yang digalinya itu.
Bila melenceng sedikit dan keluarnya di luar toko serba ada, atau malah muncul di depan Bu-cap-sah, bukankah berarti ia menggali liang kuburnya sendiri.
Celakanya adalah ketujuh orang di dalam toko juga ikut menjadi korban sia-sia.
Toa-hoan menghela napas, katanya.
"Sekarang baru aku tahu, kenapa engkohmu sengaja mengutus engkau untuk menggali lubang itu. Untuk menggali lubang panjang di bawah tanah seperti itu, jelas lebih sukar dibanding membangun sebuah gedung."
"Seorang diri aku takkan mampu menggali lorong sepanjang itu. Orang-orang yang duduk di dalam kereta yang tiga itu adalah pembantuku yang boleh diandalkan."
Jelas rencana kerja ini pun sudah diperhitungkan secara matang dan tepat.
Saat datang orang-orang itu membantunya menggali lubang, waktu mau pergi dapat memancing Bu-cap-sah ke arah yang sesat, jelas setiap orang sudah mengembangkan daya kemampuannya.
"Tentunya mereka adalah orang-orang engkohmu yang diutus untuk membantu kau bekerja, betulkah mereka murid-murid Kaypang?"
Tanya Toa-hoan. Siapa pun sependapat dengan pertanyaan ini. Ji Liok tertawa, katanya.
"Mereka juga bukan murid Kaypang. Mereka adalah pembantuku yang biasa bekerja di bangunan. Sebagai pekerja bangunan, sudah layak bila mereka pun pandai menggali lubang."
Ji-liong melengak. Toa-hoan melenggong, demikian pula Cia Giok-lun dan Thiat Tin-thian bungkam, heran dan takjub.
"Kau sendiri yang membuat rencana kerja ini?"
Tanya Ma Ji-liong. Ji Liok tertawa pula, katanya.
"Kalau engkohku menyuruh aku bekerja, maka aku akan bekerja lebih baik dan nilainya tentu jauh lebih memuaskan." -------------------------------------------ooo00ooo------------------------------------------------------Rencana serapi itu, kerja besar yang memerlukan banyak tenaga, ternyata hanya dipimpin oleh seorang kasar saja. Kelihatannya ia memang serba kasar, kaki tangan dan mukanya kotor berlumpur, kuku jarinya juga hitam-hitam, tapi sekarang tiada orang yang berani menganggapnya kasar dan kotor.
"Di mana engkohmu sekarang?"
Tanya Toa-hoan. Ji Liok menghela napas, sahutnya.
"Setelah menyerahkan tugas ini, dia lantas pergi entah ke mana, tidak mau turut campur lagi."
Mendadak Thiat Tin-thian menghela napas, katanya.
"Jika aku punya saudara seperti kau, aku pun akan bersikap seperti Ji Ngo, persoalan apa pun tidak perlu kukerjakan sendiri."
Waktu menghela napas, kedua matanya mengawasi Coat-taysu, siapa pun tahu bahwa dia sedang terkenang pada saudara angkatnya Thiat Coan-gi.
Memang Thiat Coan-gi, saudara angkatnya itu mungkin tidak sembabat dibanding adik Ji Ngo, tapi saudaranya itu juga mampu mengerjakan sesuatu yang tidak mungkin bisa dikerjakan orang lain.
Kini saudaraya itu sudah gugur demi mempertahankan jiwa raga saudaranya.
Coat-taysu tidak memberikan reaksi, Apa pun yang diucapkan orang lain, kritik apa pun yang ditujukan kepada dirinya, ia anggap tidak dengar saja.
----------------------------------------------ooo00ooo------------------------------------------------------Malam makin larut.
Waktu mereka naik ke kereta dan berangkat tadi, hari baru saja gelap.
Kini mereka sudah tiga jam menempuh perjalanan.
Mereka berpendapat Ji Liok akan menempuh perjalanan semalam suntuk, tapi dugaan orang banyak ternyata meleset.
Waktu itu kereta sedang memasuki sebuah kota besar.
Entah apa nama kota ini, yang pasti ada jalan raya yang cukup besar dengan gedung-gedung besar berderet di kedua pinggir jalan.
Bila kereta membelok ke arah kanan, keadaan di sini jauh lebih sepi kalau tidak mau dikata lengang.
Rumahrumah penduduk di sini sudah tutup semua.
Dari bentuk bangunan dan jalan raya yang beralas batu gunung yang tebal dan kuat, dapat diduga bahwa kota ini cukup besar dan makmur.
Diam-diam Toa-hoan dan Cia Giok-lun mengintip keluar lewat jendela.
Di saat kereta membelok lagi ke kanan memasuki sebuah gang yang tidak begitu lebar, setelah maju lagi beberapa saat, tampak gang ini ternyata buntu.
Meski cuaca sudah gelap, tapi dapat diketahui bahwa gang ini tiada jalan tembus.
Di sini hanya ada rumah gedung yang terletak di depan, tampaknya milik hartawan kaya raya.
Pintu gerbang pelindung rumah ini bercat merah.
Di kanan kiri luar pintu berjongkok dua batu singa besar, di tengah adalah jalan rata yang dapat dilewati kereta untuk keluar masuk.
Semula pintu gerbang bercat merah itu tertutup rapat, tapi kereta kuda itu terus maju ke depan, langsung mencongklang ke arah pintu gerbang yang tembus ke dalam gedung.
Meski pintu gerbang masih tertutup, jarak juga makin dekat, tapi laju kereta tetap dalam kecepatan sedang.
Kalau tidak segera dihentikan, sebentar lagi kereta kuda pasti akan menumbuk pintu gerbang yang tertutup rapat itu.
Belasan langkah sebelum kereta kuda itu tiba di ambang pintu, mendadak daun pintu gerbang yang besar dan berat itu terpentang ke kanan kiri, maka kereta terus menerjang masuk dan berhenti di pekarangan yang besar dan luas.
Begitu kereta kuda itu masuk ke pekarangan, pintu gerbang lantas tertutup lagi.
Pintu kereta lantas dibuka oleh Ji Liok.
"Silakan kalian turun,"
Kata Ji Liok.
"Turun? Untuk apa turun?"
Tanya Toa-hoan.
"Malam ini kita menginap di sini,"
Demikian Ji Liok menjelaskan.
"Lho, kenapa harus menginap di sini?"
Toa-hoan bertanya pula dengan nada keki. Ji Liok tertawa, katanya.
"Kurasa Bu-cap-sah akan mengira kita menempuh perjalanan dengan tergesa-gesa di tengah malam."
Padahal Ma Ji-liong dan lain-lain juga beranggapan demikian.
Kereta kuda dikira akan terus menempuh perjalanan hingga fajar, maka Ji Liok mengambil keputusan secara tegas, kereta berhenti dan menginap di gedung ini.
"Akalmu memang bagus,"
Demikian puji Thiat Tin-thian sambil tertawa.
-------------------------------------------ooo00ooo--------------------------------------------------Pekarangan besar dan luas, gedung itu pun besar dan megah bentuknya.
Dindingnya berkembang, sakanya terukir, jendela juga ditempel kertas putih bak salju, di tengah malam buta rata begini kelihatan mengkilap.
Tetapi gedung besar ini masih kosong melompong, tiada apa-apanya, tidak ada meja kursi atau perabot rumah tangga lainnya, juga tidak ada penerangan lampu.
Walau gedung ini dalam keadaan gelap gulita, tetapi di luar sinar bintang berkerlap-kerlip, bulan sabit juga mengintip di balik mega, sehingga keadaan terasa sunyi dan sepi.
Ji Liok menjelaskan.
"Inilah salah satu gedung yang kuborong untuk dibangun. Bangunan ini belum selesai, baru sembilan bagian rampung dikerjakan. Pemiliknya adalah seorang pembesar tinggi yang sudah pensiun, menurut rencana pertengahan bulan depan baru akan pindah ke sini."
Saat itu masih tanggal muda, jadi masih ada satu setengah bulan lagi. Gedung ini belum dihuni orang, tak heran kalau keadaannya masih kosong dan sepi.
"Siapakah yang membuka pintu tadi?"
Toa-hoan yang suka rewel lalu bertanya.
"Salah seorang pembantuku yang kusuruh menjaga gedung ini,"
Sahut Ji Liok.
"Aku tanggung dia tidak akan membocorkan jejak kita." ------------------------------------------------ooo00ooo---------------------------------------------------Orang tua renta itu memang takkan bisa membocorkan rahasia siapa pun, karena dia seorang bisu tuli. Seorang tua renta yang setengah pikun dan bungkuk, timpang lagi, usianya sudah tua, badannya cacat lagi, jelas tidak punya gairah atau harapan hidup di masa depan, sudah tiada urusan apa pun di dunia ini yang menarik perhatiannya. Sebuah gedung megah yang kosong melompong, seorang tua cacat yang setengah pikun, dengan hanya memiliki sebuah lampion kotor yang sudah buram cahayanya, di malam dingin yang gelap di musim semi, tujuh orang buronan. Lampion yang sudah butut itu tampak bergoyang-gontai ditiup angin malam. Si kakek timpang tertatih-tatih berjalan di depan menunjukkan jalan. Orang takkan suka melihat wajahnya, terutama anak perempuan, agaknya orang tua ini juga segan memperlihatkan tampangnya yang buruk di depan umum, maka lampion ia gantung rendah dan ia pun berjalan sambil menunduk. Tujuh orang dibagi empat kamar yang berbeda dan tersebar letaknya. Ma Ji-liong sekamar dengan Ji Liok, Toa-hoan sudah tentu sekamar dengan Cia Giok-lun. Thiat Tin-thian sekamar dengan Ong Ban-bu, Coat-taysu seorang diri di satu kamar yang terpisah di tempat yang agak jauh. Tidak ada orang yang mau bercampur dan sekamar dengan dia, ia pun segan bergaul dengan orang lain. Di tengah malam yang dingin di musim semi ini, seorang beribadah seperti Coat-taysu, seorang diri tinggal di kamar kosong melompong, kenangan lama dan kejadian di depan mata, dendam lama dan sakit hati baru terbayang di benaknya. Entah bagaimana ia harus menenteramkan gejolak perasaannya? Setelah menempuh perjalanan jauh, apalagi mereka harus merangkak dan merunduk jalan di dalam lorong bawah tanah tadi, badan terasa amat penat, tapi dalam keadaan seperti itu, jarang ada orang yang bisa tidur. Cia Giok-lun tidak tidur. Di atas lantai ia lembari rumput kering, bagian atas dilapisi tikar, mereka tidur di lantai dengan hanya beralaskan tikar. Deru angin malam di luar jendela dirasakan seperti isak tangis perempuan yang ditinggal pergi oleh suami dan menyesali nasibnya sendiri.
"Kau sudah tidur belum?"
Tanya Cia Giok-lun.
"Belum."
Toa-hoan juga tidak bisa tidur, maka Cia Giok-lun bertanya kepadanya.
"Kenapa kau tidak bisa tidur? Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Apa pun tidak mungkin kupikirkan, aku hanya tidak ingin lekas tidur."
Mendadak Cia Giok-lun tertawa, katanya.
"Tidak usah kau membohongi, aku tahu apa yang terkandung di dalam benakmu."
"Oh?"
"Kau sedang merindukan Ma Ji-liong,"
Demikian ucap Cia Giok-lun berseloroh.
"Aku tahu kau amat menyukainya."
Toa-hoan tidak menyangkal juga tidak membenarkan, ia malah balas bertanya.
"Kenapa tidak bisa tidur? Apa pula yang sedang kau pikirkan?"
Jawaban Cia Giok-lun ternyata cukup mengejutkan siapa saja bila mendengar perkataannya.
"Seperti juga kau, aku juga sedang memikirkan Ma Ji-liong."
Setelah menghela napas, ia melanjutkan.
"Beberap a bulan aku hidup serumah dengannya, tidur dalam satu kamar meski tidak satu ranjang, setiap malam aku mendengar deru napasnya, kenapa sekarang aku tidak merindukan dia? Sekarang aku berpisah dengan dia, bagaimana aku bisa tidur?"
Toa-hoan terdiam.
Tanpa bicara, mendadak ia bangkit lalu melangkah membuka daun jendela.
Di tengah malam nan dingin seperti ini, seorang gadis seperti dirinya, jika isi hatinya dikorek orang, apa pula yang bisa ia katakan?
Agaknya Toa-hoan punya banyak persoalan yang ingin dibicarakan dengan Cia Giok-lun.
"Aku tidak punya kakak, tidak punya adik, sejak kecil sebatang kara, aku ini anak yatim piatu,"
Demikian kata Toa-hoan.
"Betul, aku juga anak tunggal, tidak punya saudara besar maupun kecil, sejak kecil orang yang terdekat dengan aku hanya engkau,"
Demikian kata Cia Giok-lun.
"Selama hidup hingga kini tidak pernah aku membayangkan bahwa kau akan membuatku celaka begini. Aku sudah menganggap kau sebagai saudaraku sendiri, maka aku tidak pernah menaruh curiga sedikit pun terhadapmu. Oleh karena itu, waktu kau menutuk Hiat-toku hari itu, sungguh aku terkejut setengah mati."
Setelah menghela napas, Cia Giok-lun meneruskan.
"Sekarang aku sudah mengerti, sudah maklum bahwa kau memang pantas menjadi saudaraku yang sejati. Apa yang kau lakukan memang bertujuan baik, demi masa depanku. Tetapi waktu itu, kecuali kaget, aku juga dendam dan membencimu."
Toa-hoan berdiri diam saja menghadap keluar jendela, tidak menoleh juga tidak menanggapi perkataannya. Cia Giok-lun melanjutkan.
"Jika waktu itu aku pingsan oleh tutukanmu, mungkin agak mending. Sayang sekali, meski badan tidak bisa bergerak, tapi aku masih dalam keadaan sadar. Apa yang kau lakukan atas diriku bisa kurasakan dengan jelas, aku tahu apa yang kau lakukan atas diriku."
Suara Cia Giok-lun amat kalem.
"Kejadian itu takkan kulupakan selama hidupku."
Setelah menghela napas, ia menyambung.
"Kau membawa aku ke balaikota, kau mengurungku dalam sebuah kamar remang-remang, membelejeti pakaianku hingga aku telanjang bulat, lalu merebahkan aku di atas ranjang yang keras dan dingin. Tak lama kemudian kau membawa laki-laki untuk melihat badanku yang bugil, setiap perbuatanmu kuketahui dengan jelas."
Mendadak Toa-hoan menghela napas, katanya.
"Waktu itu aku kira kau sudah pingsan dan tidak sadarkan diri, maka......."
Cia Giok-lun tidak memberi kesempatan, ia bertanya.
"Tahukah kau, bagaimana perasaan hatiku waktu itu? Tahukah kau, bila gadis perawan dalam keadaan polos dilihat seorang lelaki, betapa remuk hatinya, saking malu rasanya ingin mati saja."
"Aku tidak tahu,"
Sahut Toa-hoan. Ya, tidak tahu karena tidak mengalami dan merasakan sendiri.
"Sudah tentu kau tidak tahu,"
Ujar Cia Giok-lun.
"Karena kau belum pernah dibelejeti pakaianmu, belum pernah ada laki-laki yang melihat tubuhmu dalam keadaan telanjang bulat."
Dengan tertawa Cia Giok-lun menyambung.
"Tapi kutanggung kau akan segera merasakan sendiri."
Muka Toa-hoan berubah, mendadak tubuhnya melompat ke atas menerobos jendela menerjang keluar.
Sayang gerakannya masih terlambat setindak.
Di saat tubuhnya melompat keluar, Cia Gioklun sudah turun tangan dari belakang, sekali gerak beberapa Hiat-to di belakang tubuhnya telah tertutuk hingga tubuhnya tak berkutik lagi.
Cia Giok-lun hendak membalas.
Toa-hoan sadar dan waspada, maka ia berusaha melarikan diri.
Siapa pun pasti berpikir demikian, dugaan demikian memang masuk akal.
Tapi kalau berpendapat demikian, maka adalah salah besar, meleset.
Baca Juga: Kaki Tiga Menjangan 14
Baca Juga: Anak Naga 8