Eps 8 Anak Naga - Chin Yung
Baca online Anak Naga - Chin Yung
Cersil Anak Naga - Chin Yung.
Ucapan An Lok Kong cu terputus, karena mendadak terdengar suara jeritan seorang wanita.
"Tolong Tolong..."
Thio Han Liong dan An Lok Kong cu tersentak kaget, lalu segera melesat ke arah suara itu.
Tampak beberapa lelaki sedang berusaha merobek pakaian seorang wanita-Menyaksikan kejadian itu, darah An Lok Kong cu langsung mendidih.
"Berhenti"
Bentaknya sambil menghunus pedang pusakanya-Beberapa lelaki itu terperanjat-Namun ketika melihat Thio Han Liong dan An Lok Kong Cu yang masih muda itu, mereka lalu tertawa-"Anak muda Lebih baik kalian jangan mencampuri urusan kami"
Bentak salah seorang dari mereka-"Kami mau bersenang-senang dengan wanita montok ini Ha ha ha -"
"Kalian ingin memperkosa wanita itu?"
Tanya An Lok Kong cu dengan wajah berubah hebat.
"Betul"
"Kalau begitu, kalian pasti penjahat"
"Tidak salah"
"Hmm"
Dengus An Lok Kong cu, lalu perlahan-lahan menghampiri mereka dengan wajah dingin sekali-"Tuan Tolong aku -"
Teriak wanita itu-"Kalian penjahat pemerkosa kaum wanita, maka hari ini kalian semua harus mampus"
"Ha ha ha -"
Salah seorang penjahat itu tertawa gelak, namun sekonyong-konyong menjerit-"Aaaaakh -"
Ternyata An Lok Kong cu telah menggerakkan pedang pusakanya. Begitu cepat gerakannya, maka penjahat itu tidak sempat berkelit, sehingga dadanya tertembus pedang itu.
"Engkau... engkau...."
Penjahat itu menuding An Lok Kong cu.
Darah segar terus mengucur dari dadanya, kemudian roboh dan nafasnya terputus seketika-Betapa terkejutnya yang lain.
Mereka ingin kabur tapi An Lok Kong cu telah menggerakkan pedangnya-Itu adalah ilmu pedang cai Hong Kiam Hoat.
la menggunakan jurus Cai Kong Huang Hui (Pelangi Meman-carkan cahaya) menyerang penjahat-penjahat itu.
Tam-pak pedangnya berkelebatan berbentuk pelangi mengarah ke para penjahat itu.
"Aaaakh -"
Jerit para penjahat itu, lalu terkapar dengan tubuh bermandi darah-Ternyata dada mereka telah tertembus pedang. Tabuh mereka menggeliat-geliat, sejenak kemudian diam tak bergerak lagi, sudah binasa.
"Adik An Lok --"
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala-"Kenapa engkau membunuh mereka?"
"Kakak Han Liong"
Sahut An Lok Kong cu-"
Kalau mereka tidak dibunuh, tentu akan memperkosa kaum wanita lagi."
"Betul,Tuan Muda,"
Sela wanita itu sambil merapikan pakaiannya.
"Mereka memang pantas dibunuh, karena sudah sering membunuh penduduk desa dan memperkosa kaum wanita."
"oh?"
Thio Han Liong terbelalak-"Kami sekeluarga meninggalkan desa itu, tapi--"
Wanita itu mulai menangis.
"Ke dua orang tuaku dibunuh oleh para penjahat itu. Aku terus kabur, tapi sampai di sini.... Untung siauwhiap (pendekar muda) segera muncul. Kalau tidak-aku... aku pasti sudah diperkosa-"
"Kini sudah aman, engkau boleh pulang,"
Ujar An Lok Kong cu.
"Pulang?"
Gumam wanita itu "Pulang ke mana? Kini aku sudah sebatang kara, tidak punya orang tua...."
"Engkau punya famili kan?"
Tanya Thio Han Liong.
"ya."
Wanita itu mengangguk-"Tapi... bagaimana mungkin aku menumpang di rumah famili?"
"Begini,"
Ujar An Lok Kong cu.
"Aku akan mem-berimu uang, tentunya engkau dapat menggunakannya sebagaimana mestinya."
"Siauwhiap -."
An Lok Kong cu memberinya seratus tael perak-Ketika melihat uang perak itu, wanita tersebut terbelalak-"Uang perak ini untukmu, ambillah"
An Lok Kong cu menyodorkan uang itu ke hadapan wanita tersebut.
"Siauwhiap, aku--"
Wanita itu tidak berani menerima uang tersebut.
"Ambillah"
Desak An Lok Kong cu.
"Untuk bekal hidupmu."
"Terima kasih, siauwhiap,"
Ucap wanita itu sambil menerima uang perak tersebut dengan tangan agak gemetar.
"Terima kasih--"
An Lok Kong cu dan Thio Han Liong saling memandang, lalu mendadak melesat pergi-"Haah -?"
Bukan main terkejutnya wanita itu-la langsung menjatuhkan diri berlutut, karena mengira mereka adalah dewa--ooo00000ooo-Bab 36 Kembali Ke Kotaraja Thio Han Liong dan An Lok Kong cu duduk beristirahat di bawah sebuah pohon.
Tengah mereka bercakap-cakap, tibatiba An Lok Kong cu menghela nafas panjang.
"Kalau kita tidak melewati tempat itu, habislah wanita itu,"
Ujar An Lok Kong cu.
"Aku tak menyangka begitu banyak penjahat dalam rimba persilatan. engkau berkepandaian tinggi, seharusnya engkau membasmi para penjahat itu"
"Benar."
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Tapi tidak mungkin para penjahat dapat dibasmi."
"Kenapa?"
"Kejahatan selalu tumbuh di tengah-tengah kebaikan, dan itu sudah merupakan kodrat alam,"
Sahut Thio Han Liong dan melanjutkan.
"Di mana ada kejahatan, di situ pasti ada kebaikan. Di mana ada kebaikan, di situ pasti ada kejahatan pula."
"oh?"
Bingung An Lok Kong cu mendengarnya.
"Karena kebaikan dan kejahatan merupakan saudara kembar yang tak terpisahkan, bahkan juga merupakan sebagian dari hidup kita pula-"
Thio Han Liong memberitahukan.
"Kalau iman kita tidak kuat dan teguh, tentu kita akan berubah menjadi penjahat."
"oooh"
An Lok Kong cu manggut-manggut, kemudian mengalihkan pembicaraan.
"oh ya, setelah kita ke kuil siauw Limsie, engkau harus mengantarku pulang ke Kota raja."
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "
Memang lebih baik engkau pulang, sebab amat membahayakan dirimu kalau engkau terus berkecimpung dalam rimba persilatan. Lagi pula tidak baik engkau berpisah dengan ke dua orang tuamu."
"Bilang saja engkau tidak mau kuikuti Pakai seaala alasan Dasar"
An Lok Kong cu cemberut.
"Adik An Lok--"
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku sama sekali tidak bermaksud begitu, jangan salah paham"
"Hmmm"
Dengus An Lok Kong cu.
"Adik An Lok"
Thio Han Liong memegang tangannya.
"engkau marah kepadaku?"
Wajah An Lok Kong cu langsung memerah dan cepat-cepat ditundukkan ketika Thio Han Liong memegang tangannya "Kakak Han Liong, aku tidak marah, cuma... bercanda saja"
Ujar An Lok Kong cu dengan suara rendah.
"oooh"
Thio Han Liong menarik nafas lega.
Di saat bersamaan, mendadak melayang turun beberapa orang.
Thio Han Liong dan An Lok Kong cu langsung bangkit berdiri orang-orang yang baru muncul itu segera memberi hormat kepada An Lok Kong cu.
"Kalian...."
An Lok Kong cu terbelalak.
"ya, kami."
Ternyata mereka adalah Tan Bun Hiong, Lie sie Beng dan yo wie Heng pengawal istana.
"Mau apa kalian ke mari?"
Tanya An Lok Kong cu dengan ketus.
"Kami diutus untuk mencari Tuan Muda,"
Sahut Tan Bun Hiong.
"Harap Tuan Muda ikut kami pulang ke Kotaraja"
"Aku tidak mau pulang sekarang, sebab aku dan Kakak Han Liong mau ke kuil siauw Lim sie,"
Sahut An Lok Kong cu memberitahukan.
"Mau apa Tuan Muda ikut dia ke kuil siauw Lim sie?"
Tanya Tan Bun Hiong sambil memandang Thio Han Liong.
"Tidak ada urusan dengan kalian,"
Jawab An Lok Kong cu dengan ketus.
"Ayoh, cepatlah kalian enyah dari sini"
"Tuan Muda -"
Keluh Tan Bun Hiong.
"Kalau Tuan Muda tidak pulang bersama kami, kami pasti dihukum penggal kepala. Tuan Muda, kasihanilah kami"
"Adik An Lok,"
Sela Thio Han Liong sungguh-sungguh-"Lebih baik engkau ikut paman-paman itu pulang, biar aku sendiri ke kuil siauw Lim."
"Apa?"
An Lok Kong cu melotot.
"Engkau menghendaki aku pulang sekarang?"
"sudah ada yang datang menjemputmu, itu kan lebih baik,"
Sahut Thio Han Liong.
"Tidak Pokoknya aku tidak mau pulang bersama mereka, aku cuma mau pulang bersamamu"
"Adik An Lok--"
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Bukankah engkau pernah bilang, akan menuruti perkataanku? Tapi sekarang...."
"Kakak Han Liong, aku... aku masih ingin bersamamu,"
Ujar An Lok Kong cu dengan suara rendah-"Begini"
Thio Han Liong tersenyum.
"Biar aku sendiri ke kuil siauw Lim sie, dari kuil siauw Lim sie aku akan langsung ke Kota raja menemuimu. Bagaimana?"
"Engkau tidak bohong?"
Tanya An Lok Kong cu dengan wajah berseri.
"Kalau aku bohong, aku pasti disambar petir"
Ujar Thio Han Liong bersumpah.
"Nah Percayakah engkau sekarang?"
"Aku sudah percaya."
An Lok Kong cu manggut-manggut dan menambahkan.
"Kalau engkau tidak ke istana menemuiku, engkau -engkau pasti disambar petir."
"Ya-"
Thio Han Liong mengangguk-Percakapan itu membuat Tan Bun Hiong, Lie Sie Beng dan yo Wie Heng terbelalak-Walau mereka merasa heran, namun sama sekali tidak berani bertanya apa pun.
"Kakak Han Liong...."
An Lok Kong cu mengeluarkan sebuah Giok yang berukir sepasang naga, lalu diberikan kepadanya seraya berpesan.
"sampai di istana, perlihatkan giok ini kepada pengawal di sana Mereka pasti mengantarmu ke dalam menemuiku."
"Baik-"
Thio Han Liong menerima giok itu, kemudian disimpan ke dalam bajunya.
"Kakak Han Liong"
An Lok Kong cu menatapnya.
"Giok itu tidak boleh hilang lho Hati-hatilah menjaganya"
"Aku pasti hati-hati menjaga giok pemberianmu itu, percayalah"
Ujar Thio Han Liong sambil tersenyum.
"Kakak Han Liong...."
An Lok Kong cu memegang tangannya.
"sampai berjumpa nanti Aku pasti menceritakan tentangmu kepada ayahku."
"sampai jumpa"
Thio Han Liong membelainya, kemudian mendadak melesat pergi seraya berseru.
"Adik An Lok-aku pasti datang menemui mu"
"Kakak Han Liong Kakak Han Liong..."
Panggil An Lok Kong cu. Namun Thio Han Liong sudah tidak kelihatan, dan itu membuat An Lok Kong cu mem-banting-bantingkan kaki "gara-gara kalian"
"Ampun, putri"
Mereka bertiga langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapan An Lok Kong cu.
"Sudahlah Kalian cepat bangun"
Ujar An Lok Kong cu.
"Terima kasih, Putri,"
Ucap mereka serentak sambil bangkit berdiri Setelah itu Tan Bun Hiong bertanya.
"siapa pemuda itu?"
"Dia bernama Thio Han Liong."
"Mau apa dia ke kuil siauw Lim sie?"
"Itu adalah urusan rimba persilatan, kalian tidak usah tahu."
"ya, ya."
Tan Bun Hiong mengangguk, lalu ber-tanya lagi.
"Dia tidak tahu kalau Putri adalah seorang gadis?"
"Dia sama sekali tidak tahu,"
Sahut An Lok Kong cu sambil tersenyum.
"Dia masih mengira aku laki-laki-"
"oh?"
Tan Bun Hiong tertawa
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Dia memang bodoh, sama sekali tidak tahu penyamaran Putri."
"Engkau yang bodoh"
Bentak An Lok Kong cu.
"Dia berhati polos, maka tidak banyak bercuriga, tidak seperti kalian yang begitu licik, pakai alasan penggal kepala untuk membohongiku Kalian kira aku tidak tahu?"
"Ampun, Putri Kalau kami tidak berhasil menemukan putri, kami pasti dihukum berat."
Tan Bun Hiong memberitahukan. -"Putri, mari kita berangkat"
"Baik-"
An Lok Kong cu mengangguk-"Mari kita berangkat"
"Terima kasih, Kong cu"
Ucap Tan Bun Hiong sambil menarik nafas lega.
Begitupula Lie Sie Beng dan yo wie Heng.
Mereka lalu meninggalkan tempat itu, menempuh jalan yang menuju kota raja.
Ketika beristirahat di sebuah kedai arak.
An Lok Kong cu menatap Tan Bun Hiong seraya bertanya.
"Belasan tahun lalu, apakah guru-guruku dan Lie Wie Kiong menyerbu ke pulau Hong Hoang to?"
"Kenapa Kong cu menanyakan itu?"
Tan Bun Hiong batik bertanya.
"Bun Hiong"
An Lok Kongcu mengerutkan kening.
"Aku yang bertanya, kenapa engkau berani balik bertanya?"
"Ampun Kongcu"
Tan Bun Hiong segera menjura.
"Itu memang benar. Yang Mulia yang mengutus mereka pergi menyerbu pulau Hong Hoang to-"
"Kenapa pulau Hong Hoang to diserbu? Apakah penghuni pulau itu pemberontak?"
"Maaf, Kong cu"
Ucap Tan Bun Hiong.
"Kami kurang paham akan hal itu. Tapi setahu kami, Thio Bu Ki yang tinggal di pulau itu."
"oooh"
An Lok Kong cu manggut-manggut.
la tidak bertanya apa-apa lagi, namun amat kesal dalam hati akan perbuatan ayahnya itu.
-ooo00000ooo-Enam tujuh hari kemudian, mereka sudah memasuki wilayah kotaraja dan langsung menuju istana.
Begitu melihat An Lok Kong cu, para pengawal segera berlari ke dalam untuk melapor.
"Kong cu sudah pulang Kong cu sudah pulang...."
Mendengar suara seruan itu. Lie Wie Kiong, pemimpin pengawal istana berhambur ke luar.
"Lapor. Pak Kong cu sudah pulang bersama Tan Bun Hiong."
"Baik,"
Lie Wie Kiong segera berjalan ke luar, dan ketika melihat An Lok Kong cu. ia langsung memberi hormat.
"Kong cu...."
"Hm"
Dengus An Lok Kong cu sambil terus melangkah ke dalam menuju An Lok Kiong (istana Tenang gembira), yaitu tempat An Lok Kong cu.
"Bun Hiong,"
Tanya Lie Wie Kiong berbisik-"Kenapa Kong cu marah-marah, apa yang telah terjadi?"
"Entahlah-"
Tan Bun Hiong menggelengkan kepala-"Bun Hiong"
Lie Wie Kiong tersenyum-"Syukurlah kalian berhasil menemukan Kong cu dan mengajaknya pulang. Kalau tidak --"
"yang Mulia marah-marah?"
Tanya Tan Bun Hiong.
"Ya."
Lie Wie Kiong manggut-manggut.
"Kalian tunggu di sini, aku akan melapor kepada Yang Mulia"
Lie Wie Kiong cepat-cepat pergi menghadap kaisar yang sedang santai di ruang istirahat.
"Yang Mulia -"
Lie Wie Kiong berlutut-"Bangunlah"
Ujar Cu Goan ciang.
"Terima kasih. Yang Mulia."
Lie Wie Kiong bangkit berdiri-"Maaf, hamba ingin melaporkan sesuatu yang menggembirakan."
"Cepatlah lapor"
"Yang Mulia, An Lok Kong cu sudah pulang bersama Tan Bun Hiong, Lie Sie Beng dan Yo sie Heng."
"oh?"
Wajah Cu Goan ciang langsung berseri.
"Ce-pat panggil dia ke mari"
"ya, yang Mulia."
"oh ya."
Ujar cu Goan ciang.
"Tan Bun Hiong, Lie Sie Beng dan yo Wie Heng harus diberi hadiah, masing-masing lima ratus tael emas."
"Terima kasih, yang Mulia,"
Ucap Lie Wie Kiong, lalu meninggalkan ruang istirahat dengan wajah berseri-seri.
Tan Bun Hiong, Lie Sie Beng dan yo wie Heng masih menunggu di tempat.
Ketika melihat kemunculan Lie Wie Kiong dengan wajah berseri, gembiralah hati mereka-"Bagaimana, Pak?"
Tanya Tan Bun Hiong.
"Tenang"
Sahut Lie Wie Kiong sambil tersenyum.
"Kaisar gembira sekali, maka kalian masing-masing diberi hadiah sebesar lima ratus tael emas."
"oh?"
Wajah ke tiga pengawal istana itu langsung cerah ceria.
"Kalau begitu... kami masing-masing akan menyerahkan seratus tael emas untuk Bapak-"
"Ha ha ha"
Lie Wie Kiong tertawa gelak, itu berarti ia menerima pemberian tersebut.
"oh ya, sekarang aku harus pergi memanggil An Lok Kong cu, sebab kaisar ingin menemuinya."
Lie Wie Kiong berjalan tergesa-gesa menuju istana An Lok-Namun ketika sampai di pintu istana itu, ia ditahan oleh dayang di sana.
"Maaf"
Ucap dayang itu.
"Kong cu sedang beristirahat, siapa pun tidak boleh mengganggunya."
"yang Mulia memanggil Kong cu ke ruang istirahat, harap Kong cu segera ke sana."
Lie Wie Kiong memberitahukan.
"Baik, akan kusampaikan kepada Kong cu."
Dayang itu berjalan masuksebetulnya An Lok Kong cu tidak beristirahat, melainkan sedang bercakap-cakap dengan Lan Lan, dayang kesayangannya.-"Kong cu,"
Lapor dayang itu.
"yang Mulia memanggil Kong cu, ke ruang istirahat."
"Baik-Aku akan segera ke sana"
Sahut An Lok Kong cu. Dayang itu segera keluar, lalu memberitahu Lie Wie Kiong, yang menunggunya di depan pintu.
"Kong cu, akan segera ke ruang istirahat. Pak Lie tidak usah menunggu di sini"
"Ya-"
Lie Wie Kiong langsung meninggalkan istana An Lok itu-Tak lama muncullah An Lok Kong cu menuju ruang istirahat-Begitu sampai di ruang itu, ia memberi hormat kepada Cu Goan ciang.
"Ananda memberi hormat kepada Ayahanda,"
Ucapnya.
"Ay Ceng"
Cu Goan ciang tersenyum lembut.
"syu-kurlah engkau sudah pulang, legalah hati ayah"
"Terima kasih atas perhatian Ayahanda."
"Duduklah"
"Ya, Ayahanda."
An Lok Kong cu duduk-"Nak"
Cu Goan ciang menatapnya seraya bertanya.
"Kenapa engkau meninggalkan istana diam-diam?"
"Ananda ingin pergi pesiar seorang diri, maka tidak memberitahukan kepada Ayahanda, mohon Ayahanda sudi memaafkan ananda"
"Sudahlah"
Cu Goan ciang menghela nafas panjang.
"Lain kali kalau mau pergi pesiar, harus memberitahukan ayah-"
"Ya."
An Lok Kong cu mengangguk-"Nak"
Cu Goan ciang menatapnya lembut seraya bertanya.
"Apa yang engkau alami selama itu?"
"Banyak yang ananda alami,"
Jawab An Lok Kong cu dan menutur mengenai apa yang dialaminya, kemudian menambahkan.
"Ananda pun berkenalan dengan seorang pemuda...."
"oh?"
Cu Goan ciang mengerutkan kening.
"Tidak seharusnya engkau berkenalan dengan pemuda biasa."
"Dia pemuda luar biasa."
An Lok Kong cu memberitahukan.
"Tampan lemah lembut dan berkepandaian tinggi."
"oh, ya? siapa pemuda itu?"
"Namanya Thio Han Liong."
"Berapa usianya?"
"Sekitar dua puluh tahun."
"Ngmmm"
Cu Goan ciang manggut-manggut.
"Kenapa engkau tidak mengajaknya ke mari menemui ayah?"
"Dia ke kuil siauw Lim Sie dulu, setelah itu barulah ke mari menemui ananda."
"Kalau dia ke mari, engkau harus memberitahu ayah,"
Pesan cu Goan ciang.
"Ayah pun ingin menemuinya."
"ya."
An Lok"tong Cu mengangguk, kemudian bertanya.
"Ayahanda yang mendirikan kerajaan ini, kenapa dinamai kerajaan Beng?"
"Ha ha ha"
Cu Goan ciang tertawa gelak.
"Beng berarti terang, maka kerajaan yang ayah dirikan ini pasti terang selama-lamanya."
"oooh"
An Lok Kong cu manggut-manggut.
"Jadi tiada kaitannya dengan suatu sejarah?"
"Eh?"
Cu Goan ciang menatapnya.
"Kenapa engkau menanyakan itu?"
"Ananda dengar..."
Sahut An Lok Kong cu.
"Ayahanda menamai kerajaan Beng karena ada Beng Kauw -."
"Engkau dengar dari siapa?"
Cu Goan ciang tampak tersentak-"Cepat katakan siapa yang bilang itu"
"Rakyat yang bilang."
"oooh"
Cu Goan ciang menghela nafas panjang.
"Kerajaan Beng yang ayah bangun ini memang ada kaitannya dengan Beng Kauw."
"Bolehkah diceritakan kepada ananda?"
"singkat saja,"
Sahut Cu Goan ciang.
"sebab Beng Kauw yang menumbangkan Dinasti Goan (Mongol)-"
"siapa ketua Beng Kauw?"
"Ketua Beng Kauw adalah Thio Bu Ki. sudahlah Kenapa engkau banyak bertanya?"
"Kalau tidak salah -"
Ujar An Lok Kong Cu perlahan.
"Ayahanda adalah mantan anak buah Thio Bu Ki, kan?"
"Engkau -."
Air muka Cu Goan ciang langsung berubah, kemudian ia menghela nafas panjang seraya berkata.
"Itu memang benar, ayah adalah mantan anak buah Thio Bu Ki."
"Thio Bu Ki begitu mengalah kepada Ayahanda, tapi...."
An Lok Kong cu tampak emosi sekali.
"Ayahanda malah ingin membunuhnya. Bukankah Ayahanda amat kejam dan tidak menghargai kegagahan seseorang?"
"Nak -"
Cu Goan ciang menghela nafas panjang.
"Itu urusan politik kerajaan, engkau tidak mengerti."
"Ananda justru mengerti,"
Sahut An Lok Kong cu.
"Belasan tahun yang lalu. Ayahanda mengutus guru-guru ananda dan Lie Wie Kiong serta puluhan pengawal istana pilihan pergi menyerbu pulau Hong Hoang to-Kenapa Ayahanda melakukan itu? Bukankah Thio Bu Ki sekeluarga sudah hidup mengasingkan diri dipulau itu? Namun Ayahanda masih ingin membunuhnya."
"Engkau tahu itu dari siapa?"
Tanya Cu Goan ciang dengan kening berkerut.
"Thlo Han Liong adalah putra Thio Bu Ki. Dia yang menceritakan kepada ananda tentang semua itu. Tapi... dia sama sekali tidak tahu kalau aku An Lok Kong cu. Putri kaisar."
An Lok Kong cu memberitahukan.
"Dia--"
Air muka Cu Goan ciang tampak berubah-"Dia mau ke mari menemuimu atau ingin membunuh ayah?"
"Dia ke mari hanya ingin menemui ananda, bukan ingin membunuh Ayahanda,"
Ujar An Lok Kong Cu sungguhsungguh-"oh?"
Kening cu Goan ciang berkerut.
"Kok dia tidak berniat membunuh ayah? Itu sungguh mengherankan"
"Ayahnya yang melarangnya."
An Lok Kong cu memberitahukan.
"Ayahnya bilang, apabila Thio Han Liong membunuh Ayahanda, maka rakyat yang, akan menderita, oleh karena itu, dia tidak akan membunuh Ayahanda."
"Aaaah -"
Cu Goan ciang menghela nafas panjang.
"sesungguhnya belasan tahun lalu itu, ayah sama sekali tidak berniat membunuh Thio Bu Ki...."
"Tapi kenapa Ayahanda mengutus guru-guru ananda dan Lie Wie Kiong ke pulau Hong HoangTo membunuh Thio Bu Ki sekeluarga?"
"Ayah sama sekali tidak menyuruh mereka membunuh Thio Bu Ki sekeluarga, melainkan cuma menyuruh mereka membawa Thio Bu Ki ke mari."
"Membawa Thio Bu Ki ke mari? Itu sama juga menangkapnya-Namun tahukah Ayahanda, bibi Thio Han Liong bernama Ciu Ci Jiak justru mati di tangan guru-guru ananda, sedangkan Thio Bu Ki dan isterinya terluka, bahkan wajah mereka rusak karena terbakar oleh Liak Hwee Tan."
"yaaah -"
Cu Goan ciang menggeleng-gelengkan kepala.
"Itu...."
"Thio Bu Ki yang menumbangkan Dinasti Goan, ayah yang menjadi kaisar, Itu adalah jasa Thio Bu Ki, namun Ayahanda begitu kejam...."
"Nak. sudahlah"
Cu Goan ciang menghela nafas panjang.
"Kalau pada waktu itu ayah tidak merebut kekuasaan dan tahta kerajaan, apa jadinya kini? Lihatlah Bukankah rakyat sudah hidup tenang dan makmur? Lagipula Ayah..."
"Itu memang benar, tapi kesalahan Ayahanda...."
"Nak"
Cu Goan ciang menatapnya dengan penuh perhatian.
"Kenapa engkau begitu membela Thio Bu Ki? Apakah dikarenakan putranya itu?"
"Angnda membela kebenaran, tidak membela siapa pun. Kalau Kakak Han Liong ke mari. Ayahanda harus minta maaf kepadanya"
"oh?"
Cu Goan ciang tertawa.
"Ayah adalah seorang kaisar, pantaskah ayah minta maaf kepadanya?"
"Ayahanda yang bersalah, tentu pantas"
Sahut An Lok Kong cu.
"Baik, baik-"
Cu Goan ciang manggut-manggut.
"Apabila dia ke mari, ayah pasti minta maaf kepadanya-"
"Terima kasih. Ayahanda"
Ucap An Lok Kong cu.
"Nak"
Cu Goan ciang menatapnya sambil tersenyum.
"Kelihatannya engkau begitu menaruh perhatian kepada Thio Han Liong, pasti ada apa-apanya. ya, kan?"
"Ti... tidak-"
An Lok Kong cu menundukkan kepala
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Berterus teranglah"
Desak Cu Goan ciang halus.
"Ayah ingin mengetahuinya."
"Dia memang tampan sekali, berkepandaian tinggi dan lemah lembut. Bahkan... selalu melindungi ananda."
An Lok Kong cu memberitahukan dengan sikap malu-malu.
"oh?Jadi -engkau jatuh hati kepadanya?"
"ya."
"Bagaimana dia? Apakah dia juga jatuh hati kepadamu?"
"Aaaah -"
An Lok Kong Cu menghela nafas panjang.
"Dia sama sekali tidak tahu kalau ananda seorang gadis, lagi pula -dia sudah punya kekasih-"
"oh?"
Cu Goan ciang mengerutkan kening.
"siapa kekasihnya?"
"Tan Giok Cu"
Jawab An Lok Kong cu dan menutur tentang hubungan Thio Han Liong dengan gadis tersebut dan lain sebagainya, setelah itu ia pun menambahkan.
"Kini gadis itu masih berada di tangan Hiat Mo-"
"Nak. itu adalah kesempatanmu,"
Ujar cu Goan ciang dengan suara rendah.
"Ananda tidak akan memaksakan diri, cinta harus tumbuh dari ke dua belah pihak-.."
Kata An Lok Kong cu.
"Itu adalah pesan dari guru Besar Thio sam Hong."
"Engkau bertemu guru Besar Thio sam Hong?"
Cu Goan ciang terbelalak.
"Ya."
An Lok Kong cu mengangguk, kemudian menceritakan tentang kejadian di markas Kay Pang.
"Aaaah -"
Cu Goan ciang menghela nafas panjang.
"sejak Thio Bu Ki hidup mengasingkan diri di pulau Hong Hoang to, rimba persilatan berubah menjadi tidak aman. sebetulnya Thio Bu Ki juga adalah Bu Lim Beng Cu (Ketua Rimba Persilatan) yang amat disegani kawan maupun lawan."
"oh?"
An Lok Kong cu terbelalak-"Seandainya.... Thio Han Liong ingin menjadi pejabat tinggi...."
"Ayah pasti mendukungnya,"
Sahut Cu Goan Ciang cepat.
"Tapi-..."
An Lok Kong cu menggeleng-gelengkan kepala.
"Dia sama sekali tidak berniat menjadi pejabat tinggi, oh ya, ananda dan dia pernah bertemu seorang pembesar kota Tiang ciu...."
An Lok Kong cu menutur tentang kejadian di Pek Hoa Louw (Rumah seratus Bunga), mendengar itu, Cu Goan ciang tertawa gelak-"Ha ha ha Bagus, bagus Pembesar seperti itu memang harus dihukum,"
Ujarnya dan mendadak muncul suatu ide
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Thio Han Liong tidak berniat menjadi pejabat tinggi, namun ayah punya suatu akal menjadikannya sebagai petugas rahasia ayah, khusus nya menghukum para pembesar yang korup dan selalu berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat."
"oh?"
Wajah An Lok Kong cu berseri.
"Kakak Han Liong memang adil dan bijak sekali, dia pantas untuk tugas itu. Tapi... belum tentu dia bersedia menerima tugas itu."
"Ayah punya akal agar dia mau menerima tugas itu."
Cu Goan ciang tersenyum serius.
"Baiklah, sekarang engkau boleh kembali ke istana An Lok untuk beristirahat."
"Terima kasih, Ayahanda,"
Ucap An Lok Kong cu sambil memberi hormat, lalu kembali ke istana An Lok. Begitu sampai di istananya, Lan Lan, dayang pribadi An Lok Kong cu langsung menyambutnya.
"Yang Mulia memarahi Kong cu?"
"Tidak-"
An Lok Kong cu tersenyum sambil duduk-"Banyak yang kami bicarakan."
"oh?"
Lan Lan terbelalak-"Juga membicarakan tentang Thio Han Liong?"
"Ya-"
An Lok Kong cu mengangguk "Aku berterus terang, bahwa Thio Han Liong adalah putra Thio Bu Ki-"
"Bagaimana reaksi yang Mulia?"
"Tersentak, tapi tidak marah-marah-"
An Lok Kong cu memberitahukan.
"Akhirnya ayahku berjanji, apabila Kakak Han Liong ke mari, ayahku akan minta maaf kepadanya."
"oh?"
Lan Lan tertawa.
"Itu sungguh luar biasa dan tak terduga sama sekali"
"Tidak salah-"
An Lok Kong cu manggut-manggut.
"Itu dikarenakan ayahku merasa bersalah terhadap Thio Bu Ki."
"oh ya"
Lan Lan teringat sesuatu.
"Tadi Kong cu bilang.... Han Liong sudah punya kekasih, lalu bagaimana dengan Kong cu?"
"yaah"
An Lok Kong cu menghela nafas panjang.
"Mau bilang apa? Aku tetap mencintainya dalam hati, walau dia tidak mencintaiku."
"Kalau begitu..."
Lan Lan menggeleng-gelengkan kepala.
"Bukankah Kong cu akan menderita sekali?"
"Lebih baik aku yang menderita, asal dia hidup bahagia,"
Ucap An Lok Kong cu dengan suaru rendah-"Kong Cu...."
"Aku tidak akan memaksanya untuk mencintaiku, yang penting dia tidak akan melupakan diriku, aku sudah merasa puas."
"Kong cu, hamba penasaran...."
"Kenapa engkau penasaran?"
"Kong cu sedemikian cantik dan lemah lembut, bagaimana mungkin dia tidak akan tertarik?-"
"Lan Lan"
An Lok Kong cu tertawa geli.
"Kenapa engkau goblok? Dia kan tidak tahu kalau aku seorang gadis, jadi bagaimana mungkin dia akan tertarik kepadaku?"
"oooh"
Lan Lan manggut-manggut.
"Kalau begitu, dia juga goblok sekali, sudah sekian lama bersama Kong cu, tapi tidak tahu kalau Kong cu seorang gadis."
"Dia tidak goblok, melainkan mempercayaiku tidak membohonginya, maka dia tidak mencurigai diriku."
"Kalau begitu...."
Lan Lan tertawa-"Dia pasti pemuda yang berhati polos-"
"Tidak salah-"
An Lok Kong cu mengangguk-"Hati-nya amat polos, seandainya dia belum punya kekasih --"
"Dia akan jatuh hati kepada Kong cu?"
"Aku yakin itu-"
An Lok Kong cu tersenyum-Ter-nyata ia teringat ketika bersama Thio Han Liong.
"Kami tidur sekamar, namun dia selalu mengalah terhadapku-Dia tidur di kursi, sedangkan aku tidur di ranjang."
"Ketika Kong cu tidur, dia -dia tidak meraba-raba Kong cu?"
Tanya Lan Lan mendadak-"Engkau sudah gila ya?"
An Lok Kong cu melotot.
"Mau apa dia meraba-raba diriku?"
"Biasa,"
Sahut Lan Lan sambil tertawa-"Engkau sudah sinting barangkali"
An Lok Kong cu menggeleng-gelengkan kepala dan berkata.
"Dia kan mengira aku lelaki?"
"Heran?"
Gumam Lan Lan.
"Dia mengira Kong cu lelaki, tapi kenapa tidak mau tidur seranjang dengan Kong cu?"
"Mungkin... dia sudah terbiasa tidur seorang diri, maka tidak mau tidur bersama siapa pun."
"Belum tentu."
Lan Lan tersenyum.
"Kalau dia tahu Kong cu seorang gadis, mungkin dia akan mencari kesempatan untuk tidur bersama Kong cu."
"Itu yang kuharapkan selama itu. Namun... selama itu dia sama sekali tidak mau tidur di sisiku."
An Lok Kong cu menghela nafas panjang.
"seandainya dia tidur di sisiku, aku pasti pura-pura pulas lalu memeluknya erat-erat."
"Idiiih"
Lan Lan tertawa geli-"Mana ada anak gadis yang memeluk anak lelaki duluan? Dasar --"
"Itu kan seandainya,"
Sahut An Lok Kong cu dengan wajah kemerah-merahan dan menambahkan.
"Tapi mau-ku memang begitu?"
"Hi hi hi"
Lan Lan tertawa cekikikan.
"Kong cu sudah ngebet Hi hi hi"
"Aaaah -"
Sebaliknya An Lok Kong cu malah menghela nafas panjang, dan kemudian bergumam.
"Bertemu tapi harus berpisah, bertemu lagi justru untuk berpisah kembali. Hati nan duka merindukan sang kekasih di ujung langit, biarlah aku menderita asal sang kekasih hidup bahagia." -ooo00000ooosementara itu, Thio Han Liong sudah tiba di kuil siauw Lim sie-Dengan penuh kegembiraan Kong Bun Hong Tio dan Kong It seng ceng menyambut kedatangannya-"omitohud"
Ucap Kong Bun Hong Tio dengan wajah berseri.
"selamat datang, Han Liong"
"Kong Bun Hong Tio dan Kong Ti seng ccng, terimalah hormatku"
Ucap Thio Han Liong sambil memberi hormat.
"Omitohud"
Kong Bun Hong Tio tersenyum.
"Han Liong, silakan duduk"
"Terima kasih-"
Thio Han Liong duduk-"Maaf, kedatanganku telah mengganggu ketenangan Kong Bun Hong Tio dan Kong Ti seng Ceng"
"Jangan berkata begitu, Han Liong"
Ujar Kong Bun Hong Tio-"Kami senang sekali atas kunjunganmu...."
"Han Liong,"
Tanya Kong Ti seng Ccng.
"Engkau ke mari membawa suatu berita penting?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk-"Belum lama ini, Kay Pang diserang oleh golongan hitam-"
"oh?"
Kong Bun Hong Tio dan Kong Ti seng Ceng terkejut bukan main.
"Engkau tahu dari siapa?"
"Aku bertemu seng Hwi, dia mengajak aku dan temanku ke markas Kay Pang."
Thio Han Liong memberitahukan.
"Ketika kami sampai di sana, suasana di sana agak lain...."
"seng Hwi?"
Kong Bun Hong Tio dan Kong Ti seng Ceng saling memandang, air muka mereka tampak agak berubah-"ya-"
Thio Han Liong mengangguk-"Ternyata seng Hwi kenal su Pangcu, justru kedatangan kami, maka Kay Pang terhindar dari bencana."
"omitohud"
Ucap Kong Bun Hong Tio-"Syukurlah kalau begitu"
"Han Liong,"
Tanya Kong Ti seng Ceng.
"Bagaimana kejadian itu?"
"si Mo yang memimpin golongan hitam menyerang Kay Pang, maka terjadilah pertarungan yang amat dahsyat..,."
Thio Han Liong menutur tentang pertarungan itu.
"seng Hwi berhasil melukai si Mo, sehingga membuat mereka kabur."
"oh?"
Kong Bun Hong Tio terbelalak
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Seng Hwi berhasil melukai si Mo?"
"Betul."
Thio Han Liong mengangguk "Aku menyaksikan pertarungan itu-"
"Kalau begitu, kepandaian seng Hwi sudah bertambah tinggi lagi,"
Ujar Kong Bun Hong Tio.
"omitohud"
Ucap Kong Ti seng Ceng.
"Tak disangka justru seng Hwi yang menyelamatkan Kay Pang."
"Memang tak disangka sama sekali,"
Ujar Thio Han Liong dan menambahkan.
"Bahkan kelihatan seng Hwi dan su Pangcu saling jatuh hati-"
"oh, ya?"
Kong Bun Hong Tio manggut-manggut sambil tersenyum.
"Itu merupakan hal yang menggembirakan."
"Kong Bun Hong Tio sudah tahu? Kwee In Loan sudah berada di Tionggoan sekarang, bahkan dia sebagai ketua golongan hitam dan si Mo sebagai wakilnya."
Thio Han Liong memberitahukan.
"Hah?"
Kong Bun Hong Tio dan Kong Ti seng Ceng terbelalak.
"Jadi. -"
"Kini Kwee In Loan sudah menguasai ilmu Hiat Mo Ciang. Mungkin tidak lama lagi Hiat Mo akan tiba di Tionggoan, maka sucouwku menyuruhku ke mari untuk memberitahukan."
"omitohud"
Ucap Kong Bun Hong Tio-"Kalau begitu, akan timbul bencana lagi dalam rimba persilatan."
"suheng,"
Ujar Kong Ti seng Ceng sambil meng-gelenggelengkan kepala.
"Tak disangka kita akan menghadapi lawan tangguh lagi."
"omitohud Itu sudah merupakan takdir-"
Kong Bun Hong Tio menggeleng-gelengkan kepala.
"Kong Bun Hong Tio, aku telah menyampaikan berita ini, sekarang aku mau mohon pamit,"
Ujar Thio Han Liong sambil bangkit berdiri-"Oh ya, bolehkah aku menjenguk Kakek Cia sun?"
"omitohud"
Jawab Kong Bun Hong Tio-"Kini mereka tidak mau diganggu, jadi engkau tidak usah menjenguk mereka-"
"Kalau begitu, aku mohon pamit,"
Ucap Thio Han Liong.
"omitohud selamat jalan, Han Liong"
Kong Bun Hong Tio tersenyum.
Thio Han Liong memberi hormat, lalu melangkah pergi meninggalkan kuil siauw Lim sie, langsung menuju kota raja.
-ooo00000ooo-Bab 37 Menyusun suatu Rencana Di saat Thio Han Liong berangkat ke kotaraja, justru Hiat Mo, Ciu Lan Nio dan Tan Giok Cu tiba di Tionggoan.
Mereka langsung menuju lembah Pek yun Kok-markas golongan hitam.
Betapa gembiranya Kwee In Loan dan si mo atas kedatangan mereka, dan segera menyelenggarakan pesta untuk menyambut mereka, yang paling gembira ialah Kwan Pek Him, karena tidak menyangka Ciu Lan nio adalah cucu Hiat Mo-Pemuda itu terus berusaha mendekati gadis itu, sedangkan Tan Giok Cu cuma duduk bagaikan patung, sama sekali tidak mengacuhkan siapa pun.
"Ha ha ha"
Si Mo tertawa gelak-"Hiat Cianpwee, mari kita bersulang"
"Mari"
Sahut Hiat Mo-Mereka mulai bersulang sambil tertawa ria, setelah itu mereka pun mulai bersantap.
"In Loan,"
Tanya Hiat Mo-"Bagaimana keadaan rimba persilatan baru-baru ini?"
"Biasa,"
Sahut Kwee In Loan.
"Namun telah muncul seorang jago berkepandaian amal tinggi."
"oh?"
Hiat Mo mengerutkan kening.
"siapa jago itu?"
"Dia bernama Seng Hwi,"jawab Kwee In Loan memberitahukan.
"Dia memiliki ilmu pukulan cing Hwee Ciang."
"Cing Hwee Ciang?"
Hiat Mo tampak terkejut.
"Ilmu pukulan itu berasal dari Persia, namun sudah lama hilang dari rimba persilatan. Kenapa dia memiliki ilmu pukulan itu?"
"Benar."
Si Mo mengangguk-"Aku pergi menyerang Kay Pang, malah terluka olehnya."
"Oh?"
Kening Hiat Mo berkerut-kerut-"Jadi kalian tidak berhasil menaklukkan Kay Pang?"
"Ya-"
Si Mo mengangguk,-"si Mo"
Hiat Mo menatapnya tajam.
"Kok engkau begitu tidak becus? urusan yang begitu kecil tidak dapat engkau bereskan."
"Hiat Cianpwee -"
Si Mo menundukkan kepala-"Bagaimana kalau aku yang turun tangan terhadap Kay Pang?"
Tanya Kwee In Loan mendadak-"Untuk sementara ini masih tidak perlu"
Sahut Hiat Mo
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Yang penting kita harus menangkap Tong Koay, Lam Khie dan Pak Hong. Mereka akan kujadikan pengawal yang paling setia. Ha ha ha..."
"Tapi kita tidak tahu mereka bersembunyi di mana."
Ujar si Mo dan menambahkan.
"Sudah sekian lama mereka menghilang entah ke mana."
"Oh?"
Hiat Mo tercengang.
"Kenapa mereka bersembunyi?"
"Entahlah-"
Si Mo menggelengkan kepala-"Kalau begitu, engkau dan muridmu harus pergi menyelidiki jejak mereka-Kalau sudah tahu mereka berada di mana, segeralah memberitahukan kepadaku."
"ya, Hiat Cianpwee"
Si Mo mengangguk,-"Hiat cianpwee, aku mempunyai suatu usul,"
Ujar Kwee In Loan.
"Usul apa?"
Tanya Hiat Mo-"Bagaimana kalau Hiat Cianpwee menjadi ketua golongan hitam? Kami berdua jadi wakil saja,"
Jawab Kwee In Loan mengemukakan usulnya. Ternyata ia ingin mengikat Hiat Mo dengan jabatan tersebut.
"Ha ha ha"
Hiat Mo tertawa.
"Aku tidak mau jadi ketua, engkau dan si Mo saja"
"Tapi kepandaian kami berdua...."
Kwee In Loan menggeleng-gelengkan kepala.
"Masih rendah, maka kami berdua tidak dapat menguasai rimba persilatan."
"Kalian berdua ingin menguasai rimba persilatan?"
Hiat Mo agak terbelalak, dan ia menatap mereka berdua dengan kening berkerut-kerut.
"ya."
Kwee In Loan dan si Mo mengangguk.
"Ha ha ha"
Hiat Mo tertawa gelak-"Kalian berdua amat berambisi-Baik, aku akan mendukung kalian."
"Terima kasih, Hiat cianpwee,"
Ucap Kwee In Loan dan si mo dengan wajah berseri-seri-"Tapi kalian harus menuruti semua perintahku, termasuk perintah cucuku pula. Bagaimana?"
Tanya Hiat mo sambil menatap mereka dengan tajam.
"Baik-"
Kwee In Loan dan si mo mengangguk-"Kalau begitu -"
Pikir Hiat Mo sejenak, lalu melanjutkan.
"Aku dan cucuku akan melindungi golongan hitam-"
"oh?"
Betapa gembiranya Kwee In Loan dan Si Mo-"Hiat Cianpwee dan Nona Lan Nio adalah pelindung golongan hitam, mari bersulang untuk itu"
Mereka bersulang lagi, namun ciu Lan Nio diam saja.
Ternyata pikirannya sedang menerawang, memikirkan Thio Han Liong yang amat dirindukannya, oleh karena itu, pembicaraan kakeknya dengan mereka sama sekali tidak diperhatikannya.
Begitu pula Kwan Pek Him.
Pemuda itu pun tidak memperhatikan pembicaraan mereka, melainkan terus memperhatikan ciu Lan Hio-sedangkan Tan Giok Cu terus duduk bagaikan patung dengan wajah dingin.
"Apakah Hiat Cianpwee mempunyai suatu rencana?"
Tanya Kwee In Loan.
"Sudah kukatakan tadi, si Mo dan muridnya harus pergi menyelidiki tempat persembunyian Tong Koay, Lam Khie dan Pak Hong. Setelah itu segera memberitahukan padaku, aku akan pergi menangkap mereka."
"ya."
Si Mo mengangguk-"Besok kami akan pergi menyelidiki mereka."
"Bagus"
Hiat Mo tertawa.
"Ha ha ha Mereka akan kupengaruhi dengan ilmu sihirku, lalu kusuruh pergi menaklukkan Kay Pang, siauw Lim dan Bu Tong Pay Ha ha ha..."
"Kalau sudah begitu, kita pasti menguasai rimba persilatan,"
Ujar Kwee In Loan dan ikut tertawa pula. -ooo00000ooo
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com Malam harinya, Ciu Lan Nio duduk melamun di pekarangan.
Matanya terus memandang bulan purnama yang bersinar terang.
Tiba-tiba tampak sosok bayangan mendekatinya, yang ternyata Kwan Pek Him.
"Nona Ciu -"
Panggilnya dengan suara rendah.
"oh, engkau"
Sahut ciu Lan Nio lalu bertanya dengan nada ketus-"Mau apa engkau ke mari menemui-ku?"
"Aku -."
Kwan Pek Him menundukkan kepala-"Jangan menggangguku, cepat pergi"
Bentak Ciu Lan Hio dengan wajah tidak senang.
"Nona ciu, tadi siang kita tidak punya kesempatan untuk bercakap-cakap, maka sekarang...."
"Engkau ingin bercakap-cakap denganku malam ini?"
"ya"
"Mau bercakap-cakap tentang apa?"
"Nona Ciu --"
Kwan Pek Him menatapnya dengan mesra.
"Sudah sekian tahun kita berpisah, aku -aku selalu memikirkanmu."
"oh, ya?"
Ciu Lan Nio tersenyum.
"Tapi sebaliknya aku sama sekali tidak memikirkanmu."
"Itu tidak apa-apa, yang penting aku memikirkanmu."
"omongan apa itu?"
Ciu Lan Hio terbelalak-"Hei langan-jangan engkau sudah gila"
"Aku -aku memang tergila-gila kepadaku, sungguh"
"Engkau -"
Ciu Lan Hio menggeleng-gelengkan kepala-"
Saudara Kwan, sejak kita bertemu, aku tidak pernah merasa suka kepadamu-Karena itu, engkau akan putus harapan terhadapku, dan itu akan membuat dirimu menderita.
Maka, sebaiknya mulai sekarang jauhilah aku"
"Nona Ciu...."
Kwan Pek Him tersenyum.
"Aku tidak percaya kalau hatimu begitu dingin terhadapku. Tapi aku yakin kehangatanku dapat mencairkan hatimu yang dingin itu."
"Percuma."
Ciu Lan Nio menggelengkan kepala.
"Nona Ciu...."
"saudara Kwan, engkau harus tahu,"
Ujar ciu Lan Nio dengan suara rendah-"Cinta tidak bisa dipaksa, kalau dipaksa justru akan menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan."
"Nona ciu...."
Kwan Pek Him menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku tahu...."
"Tahu apa?"
"Engkau mencintai Thio Han Liong."
"Memang."
Ciu Lan Hio mengangguk-"Itu adalah urusanku, engkau tidak usah turut campur."
"Aku tidak turut campur, hanya saja --"
Kwan Pek Him menghela nafas panjang.
"Kelihatannya dia tidak mencintaimu, sebab dia -dia sudah mempunyai kekasih-"
"Tidak salah-"
Ciu Lan Nio manggut-manggut.
"Ke-kasihnya bernama Tan Giok Cu, gadis itu bersama kami."
"Apa?"
Kwan Pek Him terbelalak-"gadis yang berwajah dingin itu Tan Giok Cu?"
"Betul. kakekku telah menangkapnya-"
Ciu Lan Nio memberitahukan.
"Kata kakekku, kalau Han Liong dapat mengalahkannya, barulah kakekku akan melepaskan gadis itu."
"Haah?"
Mulut Kwan Pek Him ternganga lebar.
"Itu... itu...."
"Han Liong masih belum tahu juga, kalau aku adalah cucu Hiat Mo --"
Ciu Lan Nio menghela nafas panjang.
"Kalau dia tahu, mungkin akan membenciku."
"Thio Han Liong tidak berhati sesempit itu,"
Ujar Kwan Pek Him dan memberitahukan.
"Belum lama ini aku bertemu dia di markas Kay Pang, dia bersama seorang pemuda."
"oh?"
Wajah Ciu Lan Nio langsung berseri.
"jadi dia berada di markas Kay Pang?"
"ya."
Kwan Pek Him mengangguk-"Aku dan guruku serta yang lain pergi menyerang Kay Pang, tapi guruku malah terluka."
"Engkau -engkau bertarung dengan Han Liong?"
"Tidak-"
Kwan Pek Him menggeleng-gelengkan kepala-"Kami berdua justru bercakap-cakap, aku bertanya kepadanya tentang dirimu."
"oh? Dia bilang apa?"
"Dia bilang engkau sudah pulang ke tempat tinggalmu, belum bertemu dengan engkau."
"Nadanya -nadanya merindukan aku?"
"Engkau adalah kawan baiknya, tentunya dia merindukanmu."
"Aaaah -"
Ciu Lan Nio menghela nafas panjang.
"Giok Cu sudah di bawah pengaruh kakekku, kalau dia tahu...."
"Aku yakin dia tidak akan membencimu, hanya saja... pasti membenci kakekku, Itu kemungkinan besar akan merenggangkan hubungan kalian."
"Kakekku --"
Ciu Lan Nio menggeleng-gelengkan kepala-"Aku -aku tidak tahu harus berbuat apa."
"Nona ciu -."
Kwan Pek Him menatapnya seraya berkata.
"Bukankah tadi engkau bilang, cinta jangan dipaksa? Tapi engkau -."
"Aku tahu itu, namun aku merasa puas sudah mencintainya."
"oh?"
Kwan Pek Him tersenyum.
"sama."
"Apa yang sama?"
"Aku pun merasa puas karena mencintaimu. Nah, sama kan?"
"Engkau...."
Ciu Lan Nio cemberut.
"Ikut-ikutan saja Dasar...."
"Haaaahh."
Kwan Pek Him memandangnya dengan terbelalak, bahkan mulutnya ternganga lebar.
"Eeeh?"
Ciu Lan Nio melotot.
"Kenapa engkau memandangku dengan cara begitu? Wajahku tumbuh bulu ya?"
"Nona Ciu,"
Sahut Kwan Pek Him sungguh-sungguh.
"Ketika engkau cemberut, wajahmu tampak bertambah cantik-"
"Huh"
Dengus ciu Lan Hio.
"jangan merayu, aku tidak mempan akan rayuan siapa pun"
"Aku tidak merayu, melainkan berkata sesungguhnya."
"Sudahlah"
Tandas Ciu Lan Hio sambil membalikkan badannya.
"Aku sudah mau tidur"
"Selamat tidur, nona Ciu"
Ucap Kwan Pek Him.
"sampai jumpa esok" (Bersambung keBagian 19)
Jilid 19 Ciu Lan Nio tidak menyahut, dan langsung masuk menuju kamar Hiat Mo. Kebetulan Hiat Mo masih belum tidur.
"Eh?"
Hiat Mo terbelalak ketika melihat gadis itu memasuki kamarnya.
"Mau apa engkau ke mari?"
"Mau bercakap-cakap dengan Kakek,"
Sahut Ciu Lan Nio sambil duduk.
"oh?"
Hiat Mo tertegun.
"Mau bercakap-cakap tentang apa?"
"Betulkah Kakek ingin menguasai rimba persilatan?"
Tanya Ciu Lan Nio mendadak.
"Kira-kira begitulah,"
Sahut Hiat Mo.
"Memangnya kenapa? Engkau tidak senang apabila kakek menguasai rimba persilatan?"
"Itu adalah urusan Kakek, aku tidak mau mencampurinya,"
Ujar Ciu Lan Nio dan menambahkan.
"Tapi... alangkah baiknya Kakek jangan sembarangan membunuh orang, aku tidak senang itu."
"Baik."
Hiat Mo mengangguk.
"Kakek tidak akan sembarangan membunuh orang, legakanlah hatimu"
"Dan...."
"Ciu Lan Nio melanjutkan.
"Kakek pun harus melarang mereka pergi menyerbu Kay Pang."
"Lho? Kenapa?"
Hiat Mo heran.
"Karena...."
Wajah Ciu Lan Nio agak kemerah-me-rahan.
"Thio Han Liong berada di sana."
"oh? siapa yang, memberitahukanmu?"
"Kwan Pek Him. Belum lama ini dia bertemu Han Liong di markas Kay Pang, maka... aku mau ke sana menemuinya."
"engkau mau ke markas Kay Pang?"
"Engkau mau ke markas Kay Pang?mau ke sana menemuinya.
"Kapan?"
"Sekarang."
"sekarang?"
Hiat Mo terbelalak-"Tidak bisa esok pagi? sekarang sudah malam."
"Tidak apa-apa."
"Engkau...."
Hiat Mo menggeleng-gelengkan kepala.
"Baiklah-Engkau boleh pergi sekarang, tapi harus pulang ke mari"
"ya. Kakek-"
Wajah Ciu Lan Nio langsung berseri.
"oh jangan diberitahukan kepada Kwan Pek Him bahwa aku ke markas Kay Pang mencari Thio Han Liong"
"Lan Nio"
Hiat Mo menatapnya.
"Pemuda itu kelihatan amat tertarik kepadamu, tapi engkau...."
"Aku tidak tertarik kepadanya"
Sahut ciu Lan Hio.
"Kakek, aku pergi."
"Aaaah..."
Hiat Mo menghela nafas panjang.
"Dia begitu mencintai Thio Han Liong, sedangkan Thio Han Liong telah mencintai Tan Giok Cu. Itu... itu -apa yang akan terjadi kelak? Aaaah»."
Beberapa hari kemudian, ciu Lan Nio sudah tiba di markas Kay Pang.
Su Hong Sek.
Ci Hoat dan Coan Kang Tianglo serta seng Hwi sama sekali tidak kenal gadis berpakaian merah itu Maka kedatangannya membuat mereka terheran-heran.
"Tempat ini adalah markas Kay Pang?"
Tanya Ciu Lan Hio sambil menengok ke sana ke mari.
"Betul,"
Sahut su Hong sek-"siapa nona dan mau apa ke mari?"
"Namaku Ciu Lan Hio. siapa engkau?"
Tanya Ciu Lan Hio sambil menatapnya.
"Aku bernama su Hong sek, ketua Kay Pang,"
Sahut ketua Kay Pang itu dan memberitahukan.
"Mereka adalah Ci Hoat Tiang lo, Coan Kang Tiang lo dan seng Hwi,..."
"Hi hi hi"ciu Lan Hio tertawa geli
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Wajahmu cantik, kenapa mau menjadi ketua Kay Pang berpakaian com-pang-camping tidak karuan?
Kenapa tidak boleh berpakaian indah?
Kalau aku menjadi ketua Kay Pang, para anggota harus berpakaian indah-"
"Nona ciu.."
Suk Hong sek tersenyum.
"Kalau engkau menjadi ketuanya, Kay Pang tentu berubah nama, sebab para anggota harus berpakaian indah."
"Betul."
Ciu Lan Hio tertawa.
"oh ya, aku ke mari ingin mencari seseorang, dia pasti berada di sini. su Pangcu, tolong suruh dia keluar menemuiku"
"Nona ciu, engkau ingin mencari siapa?"
"Dia adalah pemuda tampan, baik hati, berkepandaian tinggi dan lemah lembut...."
"Maksudmu Thio Han Liong?"
"Betul, betul. Aku,, aku sudah rindu sekali kepadanya, su Pangcu, cepatlah suruh dia keluar menemuiku"
"Nona Ciu"
Suk Hong sek menggeleng-gelengkan kepala-"Dia tidak berada di sini, sudah pergi-"
"Jangan bohong, su Pangcu"
Ciu Lan Hio melotot.
"Aku akan mengamuk di sini lho Markas Kay Pang ini pasti hancur"
"Aku tidak bohong."
Suk Hong sek tersenyum.
"un-tuk apa aku bohong?"
"Kalau begitu, dia pergi ke mana?"
Tanya Ciu Lan Hio.
"Kalau tidak salah, dia pergi ke gunung Bu Tong."
Suk Hong sek memberitahukan.
"yaaah"
Keluh ciu Lan Hio.
"Dari jauh aku ke mari, tapi dia malah sudah pergi. Baik, aku juga akan pergi kelana. Walau engkau ke ujung langit, aku tetap menyusulmu."
"Nona Ciu...."
Suk Hong sek terbelalak mendengar ucapannya.
"Engkau punya hubungan apa dengan Han Liong?"
"Kami kawan baik,"jawab Ciu Lan Hio memberitahukan.
"Aku mencintainya, tapi dia mencintai Giok Cu. sedangkan Kwan Pek Him mencintaiku, tapi aku tidak tertarik kepadanya, hanya mencintai Han Liong. Akan tetapi, dia justru mencintai Giok Cu...."
Hubungan yang kacau balau itu membuat suk Hong sek dan lainnya saling memandang, bahkan ci Hoat dan Gan Kang Tiang lo menggaruk-garuk kepala karena tidak mengerti apa yang dikatakan gadis itu.
"Nona Ciu, kami tidak mengerti"
Ujar suk. Hong sek-"Kalian kok begitu goblok sih?"
Sahut Ciu Lan Hio.
"Aku mencintai Han Liong, tapi dia mencintai Giok Cu. Ada seorang pemuda mencintaiku, tapi aku tidak mencintainya, nah, begitu."
"oooh"
Suk Hong sek manggut-manggut.
"Apakah itu cinta yang berputar-putar?"
Tanya Ci Hoat Tiang lo sambil tertawa.
"Betul."
Ciu Lan Hio manggut-manggut.
"Cinta yang berputar-putar sehingga pusing tujuh keliling-Maka, aku harus berangkat ke gunung Bu Tong. Bukankah diriku juga ikut berputar ke sana ke mari?"
"Ha ha ha"
Gan Kang Tiang lo tertawa gelak-"Nona ciu, engkau kocak juga"
"Tapi nasibku tidak begitu beruntung,"
Ujar ciu Lan Hio.
"Begitu bertemu pemuda tampan yang baik hati, dia justru sudah punya kekasih. Kalau aku tidak ingat dosa, aku pasti sudah membunuh kekasihnya yang bernama Giok Cu itu."
"Syukurlah kalau engkau masih ingat akan dosa"
Ucap Coan Kang Tiang lo.
"Kalau tidak...."
"Aku pun akan meracuni Han Liong biar dia mampus, setelah itu barulah aku bunuh diri Kami akan berkumpul di alam baka."
"Engkau pasti celaka,"
Ujar ci Hoat Tiang lo
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Sebab Han Liong pasti membuat perhitungan denganmu di sana-"
"Iya-"
Ciu Lan Hio mengangguk "Biarlah aku menderita, yang penting Han Liong hidup bahagia."
"Itu baru benar."
Suk Hong sek manggut-manggut.
"Cinta yang suci murni memang harus berkorban."
"Baiklah."
Ciu Lan Hio menghela nafas panjang.
"Biarlah aku berkorban demi Han Liong, sampai jumpa"
Mendadak Ciu Lan Hio melesat pergi laksana kilat. Menyaksikan itu, suk Hong sek dan lainnya langsung terbelalak-"Bukan main"
Gumam Ci Hoat Tiang lo.
"Tak disangka gadis itu berkepandaian begitu tinggi,"
"Ha ha ha"
Coan Kang Tianglo tertawa.
"Kalau tadi dia mengamuk di sini, repotlah kita."
"yang paling repot bahkan Han Liong"
Sahut suk Hong sek-"sebab gadis itu kelihatan agak liar, tentunya akan merepotkan Han Liong."
"Heran?"
Gumam seng Hwi.
"Sebetulnya siapa gadis itu? Kepandaiannya juga amat tinggi."
"Mudah-mudahan dia tidak akan menyusahkan Han Liong"
Ucap suk Hong sek-"Gadis itu pun tampak agak sesat-" -ooo00000ooo-Ciu Lan Hio terus melakukan perjalanan ke gunung Bu Tong.
Beberapa hari kemudian, dia sudah sampai di gunung tersebut.
Ketika ia sedang mendaki, mendadak muncul beberapa orang, yang ternyata para murid Bu Tong Pay.
"Nona"
Seru salah seorang dari mereka.
"Harap berhenti"
Ciu Lan Hio segera berhenti, lalu memandang mereka dengan mata melotot, karena merasa tidak senang dihadang.
"Siapa kalian? Mau apa menghadangku?"
Tanyanya dengan ketus.
"Kami murid-murid Bu Tong Pay, harap Nona memberitahukan nama dan ada keperluan apa ke mari."
"Namaku Ciu Lan Hio. Aku ke mari ingin menemui seseorang."
"Siapa orang itu?"
"Thio Han Liong."
"oh? Ada hubungan apa Nona dengan Thio Han Liong?"
"Kami kawan baik, aku dari markas Kay Pang-Kata su Pangcu, Han Liong sudah ke mari, maka aku ke mari-Dia masih berada di sini, kan?"
"sayang sekali"
Murid Bu Tong Pay itu menggelenggelengkan kepala-"saudara Han Liong sudah berangkat ke kuil siauw Lim sie-"
"Apa?"
Ciu Lan Nio terperangah-"Dia -dia sudah berangkat ke kuil siauw Lim sie?"
"ya-"
Murid Bu Tong Pay itu mengangguk-"yah, ampun...."
Ciu Lan Nio langsung jatuh duduk di bawah pohon.
"Aduuh"
"Nona kenapa?"
Tanya murid Bu Tong Pay itu dengan heran.
"Apa yang sakit kok aduh-aduhan?"
"Aku dari markas Kay Pang, lalu ke mari. Tapi. -Han Liong, justru telah berangkat ke kuil siauw Lim sie -"
Ciu Lan Hio menggeleng-gelengkan kepala.
"Biarlah, aku akan ke kuil siauw Lim sie."
"Nona tidak mau menemui guru kami?"
"Tidak usah, aku harus memburu waktu ke kuil siauw Lim sie."
"Nona"
Murid Bu Tong Pay itu memberitahukan.
"Kaum wanita dilarang masuk ke kuil siauw Lim sie-"
"Aku bukan wanita, melainkan anak gadis,"
Sahut Ciu Lan Hio, kemudian mendadak melesat pergi-"Dia bukan wanita, tapi anak gadis -?"
Gumam murid Bu Tong Pay itu tidak mengerti-"Apa bedanya wanita dengan anak gadis?"
"Wanita sudah ada umur, sedangkan anak gadis masih muda, itulah bedanya,"
Sahut yang lain sambil tertawa.
"Ayoh, kita harus memberitahukan kepada guru" -ooo00000ooo-Ciu Lan Hio terus melakukan perjalanan menuju kuil siauw Lim sie-Ketika memasuki sebuah rimba, mendadak muncul belasan orang bertampang seram.
"Ha ha ha"
Salah seorang dari mereka tertawa gelak-"Nona manis, tak disangka engkau muncul di sini sung-guh beruntung kami"
"siapa kalian?"
Bentak Ciu Lan Hio dengan melotot.
"Kami semua perampok-aku pemimpin mereka"
Sahut orang itu sambil tertawa-tawa.
"oh?"
Ciu Lan Hio tersenyum.
"Jadi kalian golongan hitam?"
"ya"
Pemimpin perampok itu mengangguk-"Kalau begitu, cepatlah kalian bersujud di hadapanku"
Ujar Ciu Lan Hio.
"sebab aku moyang para perampok"
"Ha ha ha"
Pemimpin perampok itu tertawa.
"Sungguh menyenangkan Kalau begitu, kita justru harus bersenang-senang Pokoknya asyik sekali, Nona pasti akan merasa puas"
"Kalian sungguh kurang ajar"
Ciu Lan Hio melotot.
"Kwee In Loan dan si Mo masih tidak berani bersikap kurang ajar terhadapku, sebaliknya kalian...."
"Nona kenal ketua dan wakil ketua kami?"
Tanya pemimpin perampok itu sambil menatapnya.
"Ya"
"Ha ha ha"
Pemimpin perampok itu tertawa.
"Ter-nyata Nona tukang membual Bagaimana mungkin Nona kenal ketua dan wakil ketua kami? Ayohlah Mari kita bersenang-senang"
Plaaak Ploooook Dua kali tamparan keras mendarat di pipi pemimpin perampok itu.
"Aduuuuh"
Jeritnya kesakitan.
"Engkau... engkau berani tampar aku?"
"Kalau engkau masih kurang ajar, aku pasti cabut nyawamu"
Bentak Ciu Lan Nio sambil menudingnya.
"Engkau jangan coba-coba kurang ajar lagi"
"Engkau...."
Pemimpin perampok itu tampak gusar sekali, bahkan langsung menyerangnya. Ciu Lan Hio berkelit, kemudian mengayunkan kakinya untuk menendang selangkangan kaki pemimpin perampok itu.
"Aduuuuh"jerit pemimpin perampok itu sambil mendekap itunya.
"sakit sekali Aduuuh..."
"Hmm"
Dengus ciu Lan Hio dingin, lalu melesat pergi.
"Aduuuh"
Pemimpin perampok itu masih terus merintih kesakitan, salah seorang anak buahnya mendekatinya.
"Kalau tidak salah, gadis itu adalah cucu Hiat Mo, yang baru tiba di Tionggoan."
"goblok"
Pemimpin perampok itu langsung menamparnya.
"Kenapa engkau tidak bilang dari tadi?"
"Aku baru ingat sekarang...."
"Ayoh Mmari kita pergi dasar lagi sial.."
Sementara itu, Ciu Lan Hio terus melanjutkan perjalanannya.
Beberapa hari kemudian gadis itu sudah memasuki propinsi Holan, dan keesokan harinya sudah tiba di gunung siauw sit san.
Ciu Lan Hio melewati sebuah jalan gunung, setelah itu melihat sebuah kuil yang amat besar berdiri di hadapannya, yaitu kuil siauw Lim sie-Terbelalak ia ketika menyaksikan kuil tersebut.
"Wanita dilarang memasuki kuil siauw Lim sie?"
Gumamnya, kemudian tertawa kecil.
"Aku justru ingin memasuki kuil siauw Lim sie ini-"
Ketika Ciu Lan Hio melangkah memasuki pekarangan kuil, tiba-tiba muncul beberapa Hweeshio menghadangnya.
"Nona, cepatlah berhenti"
Seru salah seorang Hweeshio.
"Lho?"
Ciu Lan Hio menatap mereka satu persatu seraya bertanya dengan suara merdu.
"Kenapa aku harus berhenti?"
"Karena... kaum wanita dilarang masuk-"
"Kaum wanita dilarang masuk?"
"ya-"
"Kalau begitu, aku boleh masuk-sebab aku bukan wanita, melainkan seorang gadis-"
"Wanita dan gadis sama saja. Pokoknya Nona tidak boleh masuk-"
"Hei Hweeshio muda"
Ciu Lan Nio tersenyum.
"Pernahkah engkau bersama kaum wanita atau anak gadis?"
Tanyanya.
"omitohud"
Ucap Hweeshio itu.
"Nona berdosa sekali berkata begitu terhadapku, omitohud. -"
"Hi hi hi"
Ciu Lan Hio tertawa cekikikan.
"Karena engkau tidak pernah bersama kaum wanita dan anak gadis, maka engkau tidak dapat membedakannya."
"omitohud"
Ucap Hweeshio itu "Harap Nona jangan masuk sebab kalau Nona masuk. Kong Bun Tio pasti akan marah besar-"
"Biar dia marah besar, aku tidak peduli"
Sahut Ciu Lan Hio sambil melangkahkan kakinya. namun, ketika sebelah kakinya baru mau menginjak ke dalam pintu kuil, mendadak terdengar bentakan keras-"Berhenti"
Ciu Lan Hio terperanjat, sehingga membuatnya meloncat ke dalam. Disaat bersamaan, muncullah dua padri tua, yang tidak lain adalah Kong Bun Hong Tio dan Kong Ti seng ceng.
"omitohud"
Ucap Kong Bun Hong Tio-"Tadi aku menyuruhmu berhenti, tapi kenapa engkau malah meloncat ke dalam?"
"Padri Tua"
Sahut Ciu Lan Hio.
"suara bentakanmu sangat mengejutkan, sehingga aku meloncat ke dalam tanpa sadar, Itu kesalahan Padri Tua bukan kesalahanku, maka Padri Tua jangan marah-marah"
"omitohud"
Kong Bun Hong Tio menatapnya tajam.
"Nona, mulutmu sungguh lihay"
"oh, ya?"
Ciu Lan Hio tersenyum.
"Nona,"
Tanya Kong Ti seng ceng.
"siapa engkau dan mau apa engkau ke mari?"
"Aku bernama Ciu Lan Hio. Aku ke mari bukan mau sembahyang, melainkan ingin menemui seseorang. Padri Tua, engkau jangan mengatakan orang itu tidak ada lho"
"Nona ciu, engkau ke mari mau mencari siapa? Di sini cuma ada Hweeshio --"
"Buat apa aku mencari Hweeshio? Aku ke mari ingin bertemu seorang pemuda, yang bernama Thio Han Liong."
"omitohud Nona mempunyai hubungan apa dengan dia?"
Tanya Kong Bun Hong Tio-"Eh?"
Ciu Lan Nio melotot.
"Padri Tua, kenapa engkau usil? Itu urusanku. Padri Tua tidak usah tahu."
"Nona"
Kong Bun Hong Tio tersenyum.
"Aku ketua di sini, dia adalah Kong Ti seng Ceng, suteeku."
"Aku tidak menanyakan itu, aku ke mari hanya ingin bertemu Han Liong. Aku pergi ke markas Kay Pang, su Pangcu bilang dia berangkat ke gunung Bu Tong. Aku menyusul ke sana, tapi dia sudah berangkat ke mari. Kong Bun Hong Tio, jangan bilang dia sudah pergi ya Aku... aku bisa pingsan nih."
"Han Liong justru telah pergi"
Ujar Kong Bun Hong Tio-"Hah? Apa?"
Mulut Ciu Lan Nio ternganga lebar, kemudian terhuyung-huyung ke belakang dan jatuh duduk di kursi.
"Kong Bun Hong Tio, betulkah Han Liong sudah pergi?"
"omitohud"
Sahut Kong Bun Hong Tio.
"Aku tidak bodong, dia memang sudah meninggalkan kuil ini."
"Aaaah.."
Keluh Ciu Lan Nio.
"Aku... aku pingsan nih."
Kong Bun Hong Tio dan Kong Ti seng Ceng saling memandang, kemudian mereka menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.
"Kong Bun Hong Tio"
Tegur Ciu Lan Nio.
"Aku sudah mau pingsan, kenapa engkau diam saja?"
"Apa yang harus kami lakukan?"
Tanya Kong Bun Hong Tio-"Tolong ambilkan teh atau air putih..."
"omitohud Itu haus, bukan mau pingsan,"
Ujar Kong Bun Hong Tio sambil tersenyum. Kong Ti seng Ceng sebera mengambil secangkir teh, lalu diberikan kepada ciu Lan Hio. Gadis itu menerimanya lalu diteguknya sampai habis.
"omitohud"
Tanya Kong Ti seng Ceng.
"Mau ditambah lagi tehnya?"
"Terimakasih, tidak usah-"
Ciu Lan Hio menggelengkan kepala, kemudian menghela nafas panjang.
"Aaaah Kenapa begini sih? seperti main kejar-kejaran. Lalu sekarang aku harus ke mana mencarinya? oh ya Kong Bun Hong Tio, dia bilang mau pergi ke mana?"
"Dia tidak bilang apa-apa jadi kami tidak tahu dia pergi ke mana"
Sahut Kong Bun Hong Tio-"Nona ciu"
Kong Ti seng Ceng menatapnya seraya bertanya.
"sebetulnya engkau mempunyai hubungan apa dengan Han Liong?"
"Kami kawan baik-"
Ciu Lan Nio memberitahukan dengan wajah murung.
"Aku mencintainya, tapi dia malah mencintai Giok Cu Aku.., aku.."
"omitohud"
Ucap Kong Bun Hong Tio-"Lautan cinta penuh derita, janganlah membiarkan dirimu tenggelam dalam lautan cinta."
"Kong Bun Hong Tio, aku justru sudah tenggelam, maka biarlah diriku terus menderita, tapi merasa puas akan cinta itu,"
Sahut Ciu Lan Hio.
"Itu lebih baik daripada mata kelelap. ya, kan?"
Kong Bun Hong Tio dan Kong Ti Seng Ceng saling memandang, jawaban itu membuat ke dua Padri Tua tersebut terbengang-bengong.
"Kenapa melamun?"
Ciu Lan Hio memandang mereka.
"omitohud"
Sahut Kong Bun Hong Tio-"Kami memang kebingungan akan jawabanmu tadi, maka kami melamun."
"Hi hi hi"
Ciu Lan Hio tertawa, tapi kemudianmenghela nafas panjang.
"Kong Bun Hong Tio, kira-kira aku harus ke mana mencari Han Liong?"
"omitohud"
Kong Bun Hong Tio menggelengkan kepala.
"Kami sama sekali tidak tahu."
"yaaah"
Keluh ciu Lan Hio.
"sampai di sini kehilangan jejaknya, aku... aku harus ke mana?"
"Lebih baik kembali ke tempat tinggalmu dulu. Mudahmudahan Han Liong akan muncul di sana"
Ujar Kong Ti seng Ceng.
"Betul, betul."
Wajah Ciu Lan Hio langsung berseri.
"siapa tahu Han Liong akan ke sana mencariku. Terimakasih Padri Tua, aku mohon pamit."
"Mudah-mudahan engkau bertemu Han Liong namun mengenai cinta, janganlah terlampau dipaksa, sebab kalau dipaksa menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan,"
Ucap Kong Bun Hong Tio-"Aku ingat itu, Kong Bun Hong Tio-Permisi"
Ciu Lan Hio meninggalkan kuil siauw Lim sie, tujuannya pulang ke Pek yun Kok-Kong Bun Hong Tio dan Kong Ti seng Ceng saling memandang, lalu menghela nafas panjang.
"omitohud Mudah-mudahan gadis itu tidak menimbulkan masalah bagi Han Liong"
Bab 38 Hal Yang Tak Terduga Thio Han Liong telah tiba di kota raja.
Namun ia tidak menikmati keindahan Kota raja, melainkan langsung menuju istana, sampai di depan istana, beberapa pengawal segera menghadangnya.
"Maaf"
Ucap Thio Han Liong.
"Paman-paman, aku ingin bertemu Cu An Lok-Tolong beritahukan kepadanya, bahwa aku sudah ke mari"
"Cu An Lok?"
Para pengawal itu tercengang. Thio Han Liong segera memperlihatkan giok berukir sepasang naga pemberian An Lok Kong cu.
"Cu An Lok memberikan ini kepadaku...."
"Haaahhh"
Para pengawal itu terkejut ketika melihat tanda pengenal An Lok Kong cu itu, dan mereka langsung memberi hormat-"Silakan masuk"
"Terima kasih,"
Ucap Thio Han Liong sambil melangkah ke dalam-Di saat bersamaan, muncul Tan Bun Hiong. Begitu melihat Thio Han Liong, wakil pemimpin pengawal istana itu langsung terbelalak-"saudara Thio --"
"oh Engkau berada di sini"
Thio Han Liong girang sekali-"Cu An Lok berada di mana?"
"saudara Thio tunggu sebentar di sini, aku akan ke dalam memberitahukan kepadanya"
"Terima kasih,"
Ucap Thio Han Liong. Tan Bun Hiong bergegas-gegas ke dalam, namun tak lama kemudian sudah kembali lagi.
"saudara Thio, mari ikut aku ke dalam"
Ujarnya sambit tersenyum.
"Cu An Lok gembira sekali atas kedatangan saudara-"
Thio Han Liong manggut-manggut, lalu ikut Tan Bun Hiong ke dalam-Keindahan istana itu membuat Thio Han Liong kagum sekali, apalagi ketika memasuki pekarangan istana An "Kakak Han Liong Kakak Han Liong...."
Terdengar suara merdu.
"Adik An Lok"
Sahut Thio Han Liong, yang melihat An Lok Kong cu berlari-lari menghampirinya "Kakak Han Liong"
An Lok Kong cu mendekap di dadanya.
"Adik An Lok"
Thio Han Liong membelainya. Menyaksikan kejadian itu. Tan Bun Hiong segera meninggalkan tempat tersebut, namun justru muncul LanLan, dayang pribadi An Lok Kong cu.
"Asyiiik"
Seru Lan Lan menggoda An Lok Kong cu.
"Lan Lan"
An Lok Kong cu melotot. Cepat-cepat ia melepaskan dekapannya dengan wajah memerah.
"oooh"
Lan Lan manggut-manggut.
"Tuan Muda Thio, memang tampan sekali"
"Lan-Lan"
Bentak An Lok Kong cu. Jangan omong sembarangan, tutup mulutmu"
"gara-gara ada Tuan Muda Thio di sini, maka menjadi begitu galak."
Ujar Lan Lan sambil tertawa.
"Hi hi hi.»"
"Kakak Han Liong"
An Lok Kong cu memberitahukan.
"Dia pelayanku, agak nakal.."
"Tidak apa-apa."
Thio Han Liong tersenyum.
"Adik An Lok, aku tidak ingkar janji kan?"
"Kakak Han Liong"
Ucap An Lok Kong cu dengan suara rendah-"Terima kasih atas kedatanganmu. Terima kasih -"
"Adik An Lok, tidak usah mengucapkan terima kasih-"
Thio Han Liong menatapnya lembut.
"Aku berjanji akan ke mari, maka harus ke mari. Kalau tidak, bukankah aku akan disambar petir?"
"Kakak Han Liong...."
An Lok Kong cu tersenyum.
"oh ya, bagaimana keadaan di sini? Lebih indah dari pada di Pek Hoa Louw, kan?"
"Benar."
Thio Han Liong mengangguk.
"Ketika berada di Pek Hoa Louw, pantas engkau mengatakan keindahan disana tidak dapat dibandingkan dengan keindahan di sini. Kini aku baru percaya."
"Engkau menyukai tempat ini?"
"ya."
"Kalau begitu...."
Ujar An Lok Kong cu malu-malu.
"Engkau boleh tinggal di sini."
"Itu tidak mungkin."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Sebab masih banyak urusan yang harus kuselesaikan."
"oh ya Engkau sudah ke kuil siauw Lim sie?"
"Aku justru dari sana,"
Ujar Thio Han Liong.
"Tentang Hiat Mo itu sudah kusampaikan kepada ketua siauw Lim Pay."
"Kakak Han Liong...."
An Lok Kong cu menatapnya seraya berkata.
"Apabila aku pernah membohongimu, apakah engkau akan gusar kepadaku?"
"Adik An Lok"
Thio Han Liong tersenyum.
"Setahuku, engkau tidak pernah membohongiku."
"Kalau aku pernah membohongimu, engkau... engkau akan marah kepadaku?"
Tanya An Lok Kong cu lagi.
"Aku tidak akan marah,"
Jawab Thio Han Liong sungguhsungguh.
"Kakak Han Liong, engkau baik sekali."
An Lok Kong cu menatapnya lembut sekali.
"TUnggu di sini sebentar, aku mau ke dalam"
"ya."
Thio Han Liong mengangguk, lalu duduk di dekat taman bunga sambil menikmati keindahan bunga yang beraneka warna.
Berselang beberapa saat kemudian.
An Lok Kong cu berjalan lemah gemulai bersama Lan Lan mendekatinya.
Thio Han Liong terbelalak ketika melihat An Lok Kong cu.
la sama sekali tidak tahu bahwa itu Cu An Lok yang dikenalnya.
"Kakak Han Liong...."
Panggil An Lok Kong cu dengan suara rendah dan sikap malu-malu.
"Eh?"
Thio Han Liong tersentak, karena mengenali huara itu.
"Nona... siapa? Maaf, aku sedang menunggu Adik An Lok-"
"Hi hi hi"
Lan Lan tertawa geli.
"Hi hi hi»."
"Kakak Han Liong"
An Lok Kong cu tersenyum.
"Engkau sudah tidak mengenaliku lagi?"
"Nona.."
Thio Han Liong terperangah-"
Suaramu mirip suara Adik An Lok, tapi dia anak lelaki, sedangkan Nona anak gadis, oh ya, apakah kalian saudara kembar? sebab Nona sungguh mirip Adik An Lok."
"Kakak Han Liong...." ,An Lok Kong cu duduk di hadapannya dengan wajah ditundukkan dalam-dalam.
"Aku». aku Cun An Lok-Maaf, aku tidak berterus terang kepadamu, bahwa sesungguhnya aku anak gadis."
"Haaah -?"
Mulut Thio Han Liong ternganga lebar.
"Aku... engkau...."
"Hi hi"
Lan La n tertawa, lalu meninggalkan mereka seraya berkata.
"Lebih baik aku pergi dari pada mengganggu di sini. Kalian akan bertambah asyik kan?"
"Lan Lan...."
An Lok Kong cu melotot.
"Adik An Lok"
Thio Han Liong menatapnya dengan mata tak berkedip-"Jadi engkau anak gadis?"
"Ya-"
An Lok Kong cu mengangguk-"ya, ampun"
Thio Han Liong menepuk keningnya sendiri-"Selama itu kita selalu tidur sekamar, bahkan aku juga pernah memegang tangan dan membelaimu-Aduuuuh Itu --"
"Tidak apa-apa. Aku sama sekali tidak marah,"
Ujar An Lok Kong cu setengah berbisik.
"Tapi aku justru marah kepada diriku sendiri"
Thio Han Liong tampak marah-marah terhadap dirinya sendiri.
"Lho?"
An Lok Keng Cu heran.
"Kenapa?"
"Kenapa aku begitu goblok?"
Sahut Thio Han Liong sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Disaat engkau mendekap di dadaku, aku sudah merasakan kelainan pada dadamu, namun aku sama sekali tidak mencurigaimu-..."
"Kakak Han Liong"
Ujar An Lok Kong cu agak kemerahmerahan.
"Itu di karena kan engkau berhati polos, maka tidak banyak bercuriga terhadap orang lain."
"Engkau...."
Thio Han Liong menatapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Engkau sungguh -nakal"
"Kakak Han Liong"
An Lok Kong cu tersenyum.
"Engkau tidak marah kan?"
"Sesungguhnya... aku ingin menjewer telingamu-Tapi -engkau anak gadis, tidak pantas aku menjewer telingamu-"
"Tidak apa-apa. Aku senang kok"
"Lho? Kok senang?"
"sebab -""
An Lok Kong cu menundukkan kepala "
Jeweranmu pasti penuh dengan perasaan."
"yah, ampun"
Thio Han Liong menghela nafas, kemudian berkata.
"Pantas di saat kita bersama, engkau sering cemberut dan membanting-banting kaki, ternyata engkau anak gadis,oh ya Cu An Lok adalah nama aslimu?"
"Namaku Cu Ay Ceng."
An Lok Kong cu memberitahukan dengan suara lembut.
"An Lok adalah gelar-ku."
"Engkau punya gelar?"
Thio Han Uong heran.
"Ya. Karena -aku An Lok Kong cu, maka tinggai di istana ini-"
"Engkau adalah An Lok Kong cu, she Cu nama Ay Ceng -"
Gumam Thio Han Liong dan kemudian tersentak-"Engkau -engkau putri kaisar Cu Goan ciang?"
"ya-"
"Engkau -"
Thio Han Liong melotot, tapi setelah itu ia malah menghela nafas panjang dan berkata.
"Engkau gadis yang baik, aku tidak mempersalahkanmu."
"Tapi aku justru telah memarahi ayahku."
An Lok Kong cu memberitahukan.
"Ayahku amat menyesal atas perbuatannya itu."
"Menyesal?"
Thio Han Liong lampak gusar.
"Ayahku terluka, bahkan wajah ayah dan ibu rusak berat gara-gara perbuatan ayahmu. Kini... ayahmu bilang menyesal?"
"Kakak Han Liong"
An Lok Kong Cu menggeleng-gelengkan kepala.
"Ayahku memang mengutus para Dhalai Lhama, Lie Wie Kiong dan puluhan pengawal istana ke pulau Hong Hoang To, sesungguhnya ayahku bermaksud menjemput ke dua orangtuamu ke istana...."
"Omong kosong"
Potong Thio Han Liong.
"Buktinya para Dijalai Lhama membunuh Bibi Ci Jiak dan melukai ayahku...."
"Kakak Han Liong, aku justru masih merasa heran kenapa para Dhalai Lhama itu membunuh Bibi CiJiak dan melukai ayahmu."
"Tidak usah heran, itu pasti perintah dari ayahmu,"
Sahut Thio Han Liong dengan wajah merah padam.
"Tidak"
Bantah An Lok Kong cu.
"Ayahku tidak memberi perintah itu Kakak Han Liong, percayalah"
"Ayahmu begitu licik, tentunya bisa membohongimu. Tapi... aku tetap tidak akan menyalahkanmu."
"Kakak Han Liong"
An Lok Kong Cu memberitahukan.
"Ayahku bersedia minta maaf kepadamu."
"Apa?"
Thio Han Liong tertegun.
"Ayahmu seorang kaisar, mau minta maaf kepadaku?"
"Pertanda ayahku sungguh-sungguh menyesal atas perbuatannya yang sudah sudah terhadap ayahmu. Ayahku sudah berpesan, kalau engkau ke mari, aku harus membawamu menemuinya."
"Aku...."
"Jangan menolak Kakak Han Liong"
"Adik An Lok--"
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"Baiklah-Karena memandang mukamu aku bersedia menemui ayahmu-"
"Terimakasih, Kakak Han Liong, engkau -engkau baik sekali padaku,"
Ucap An Lok Kong Cu sambil tersenyum manis.
"Kalau aku membunuh ayahmu, tentu engkau tidak akan bilang aku baik lagi kan?"
"Aku yakin engkau tidak akan membunuh ayahku."
"Adik An Lok, jangan terlampau yakin itu."
"Kakak Han Liong, aku tahu jelas bagaimana hatimu. Maka aku yakin terhadapmu,"
Ujar An Lok Kong cu.
"Ayoh, Mari ikut aku ke istana ayahku"
Thio Han Liong mengangguk, lalu mengikuti An Lok Kong cu pergi menemui Cu Goan ciang dengan hati agak berdebardebar.
-ooo00000ooo-An Lok Kong cu mengajak Thio Han Liong ke ruang istirahat yang di dalam istana Cu Goan Ciang.
Di sana tampak berdiri beberapa orang, yaitu Lie Wie Kong, Tan Bun Hiong, Lie sieBeng dan yo Wie Heng.
sedangkan cu Goan ciang duduk di kursi berukir sepasang naga.
"Hormat ananda kepada Ayahanda"
Ucap An Lok Kong cu sambil memberi hormat-Thio Han Liong juga memberi hormat, namun tidak mengucapkan apa pun.
Cu Goan Ciang terus memandang Thio Han Liong d eng a n penuh perhatian, kemudian manggut-manggut seraya bertanya.
"Engkau adalah Thio Han Liong, putra kesayangan Thio Bu Ki?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk, lalu menatap Cu Goan Ciang dengan tajam sekali.
Hati Cu Goan Ciang tersentak, sebab sepasang mata Thio Han Liong memancarkan cahaya yang begitu terang.
Namun cu Goan Ciang juga bergirang dalam hati, sebab cahaya yang terang itu pertanda pemuda tersebut berhati polos dan jujur.
"Ha ha ha"
Cu Goan Ciang tertawa getak-"Kalian duduklah"
"Terima kasih. Ayahanda,"
Ucap An Lok Kong cu sekaligus menarik Thio Han Liong duduk.
"Han Liong"
Cu Goan Ciang memandangnya seraya berkata-"Walau aku seorang kaisar tetap minta maaf kepadamu, karena pernah berupaya membunuh ayahmu--"
"Kini ke dua orangtuaku masih hidup segar bugar di pulau Hong Hoang to, maka aku tidak begitu mempermasalahkan itu,"
Sahut Thio Han Liong.
"Kakak Han Liong -."
Wajah An Lok Kong cu langsung berseri-"Terus terang"
Ujar Thio Han Liong sungguh-sungguh-"
Adik An Lok berhati beo itu baik dan lembut, aku tidak tega menyakiti hatinya cuma demi menuntut balas, akupunya perasaan dan nurani.
Tapi -kenapa para Dhalai Lhama begitu tega membunuh Bibi Cijiak.
melukai ayah bahkanjuga wajah ayah dan ibuku rusak berat karenanya?"
"Han Liong"
Cu Goan Ciang menghela nafas panjang.
"Sesungguhnya aku mengutus mereka untuk menjemput ke dua orangtuamu. Kalau engkau tidak percaya, silakan bertanya kepada orang itu"
Cu Goan Ciang menunjuk Lie Wie Kiong. Thio Han Liong segera memandangnya dan mendadak keningnya berkerut.
"Aku ingat, orang itu dan para Dhalai Lhama yang menyerbu ke pulau Hong Hoang to,"
Ujar Thio Han Liong.
"Tidak salah,"
Sahut Lie Wie Kiong.
"Thio siauhiap masih ingat kepadaku, namaku Lie Wie Kiong, pemimpin pengawal istana."
"Hm"
Dengus Thio Han Liong.
"jelaskan kejadian belasan tahun itu, aku harap Paman Lie tidak membohongiku"
"Belasan tahun lalu, memang benar yang Mulia mengutus kami ke pulau Hong Hoang TO, tapi tidak perintah kan kami membunuh, melainkan hanya menjemput saja."
Lie Wie Kiong menjelaskan.
"Bibimu mati karena pertarungan, tapi aku justru tak menyangka, sembilan Dhalai Lhama itu menghendaki kitab pusaka Kiu Im dan Kiu yang Cin Keng. Mereka memaksa ayahmu harus menyerahkan ke dua kitab pusaka tersebut, akhirnya terjadilah pertarungan jadi, itu bukan atas perintah yang Mulia. Kalau yang Mulia ingin membunuh ke dua orangtuamu, bukankah aku dan para Dhalai Lhama itu masih bisa kembali ke pulau Hong Hoang to? Buktinya tidak-ya, kan?"
"Baik, aku percaya. Lalu di mana sembilan Dhalai Lhama itu?"
Tanya Thio Han Liong.
"sudah pulang ke Tibet,"
Sahut An Lok Kong cu.
"Kok engkau tahu?"
Thio Han Liong heran.
"Kakak Han Liong...."
An Lok Kong cu memberitahukan.
"sembilan Dhalai Lhama itu adalah guru-guru-ku."
"oooh Pantas kepandaianmu begitu tinggi"
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Adik An Lok, kalau aku ingin menuntut balas kepada gurugurumu itu, apakah engkau akan menghalangiku? "
"Aku pasti menghalangimu,"
Sahut An Lok Kong cu dengan tegas.
"Adik An Lok.."
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Engkau.."
"Kakak Han Liong, aku menghalangimu demi keselamatanmu."
An Lok Kong cu memberitahukan.
"Kepandaian yang engkau miliki sekarang, masih tidak dapat melawan guru-guruku itu."
"Terima kasih atas perhatianmu. Adik An Lok,"
Ucap Thio Han Liong.
"Tapi kelak kalau kepandaianku sudah tinggi sekali?"
"Kakak Han Liong"
An Lok Kong cu tersenyum.
"Itu urusan pribadi kalian, aku tidak mau turut campur. Tapi aku ingatkan, sebelum engkau berkepandaian tinggi sekali, janganlah coba-coba mencari mereka"
"Ya."
Thio Han Liong manggut-manggut. Cu Goan Ciang terus mendengarkan, kemudian memberi isyarat kepada Lie Wie Kiong dan lainnya untuk meninggalkan ruang itu.
"Yang Mulia.."
Lie Wie Kiong tampak ragu.
"Kalian boleh meninggalkan ruang ini,"
Ujar An Lok Kong cu dan menambahkan sambil tersenyum.
"Kalau Kakak Han Liong ingin membunuh ayahku, kalian semua pun tidak akan bisa berbuat apa-apa-"
"Baik,"
Lie Wie Kiong mengangguk-"Yang Mulia, kami mohon diri"
"Silakan"
Sahut Cu Goan ciang. Lie-Wie Kiong dan lainnya seaera keluar ruang itu, sehingga kini cuma tinggal Cu Goan ciang, An Lok Kong cu dan Thio Han Liong.
"Han Liong, aku amat berterima kasih sekali kepadamu,"
Ucap Cu Goan Ciang.
"Ketika putriku pergi pesiar, engkau yang melindunginya."
"sama-sama."
Thio Han Liong menggeleng-geleng-kan kepala.
"selama itu aku tidak tahu kalau Adik An Lok anak aadis, bahkan juga tidak tahu kalau dia adalah An Lok Kong Cu--"
"sekarang engkau sudah tahu kan?"
Cu Goan Ciang tersenyum.
"Ketika menginap, kalian tidur sekamar ya?"
"ya."
Thio Han Liong mengangguk dengan wajah agak merah-"Tapi aku tidur di kursi. Adik An Lok tidur di ranjang."
"selalu begitu?"
Cu Goan Ciang kurang percaya.
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk-"
Kakak Han Liong memang selalu tidur di kursi, aku yang tak tahu diri tidur di ranjang"
Ujar An Lok Kong cu-"Han Liong,"
Tanya Cu Goan Ciang mendadak-"se-andainya engkau tahu An Lok adalah seorang gadis, bagaimana engkau?"
"Aku pasti tidak berani sekamar dengan dia,"
Sahut Thio Han Liong dengan sungguh-sungguh dan menambahkan.
"juga tidak berani membelainya...."
"oh?"
Cu Goan Ciang tertawa.
"Jadi engkau pernah membelainya?"
"ya-"Thio Han Liong memberitahukan dengan jujur.
"Ketika dia mendekap di dadaku, maka aku pun membelainya.justru aku merasa ada kelainan pada dadanya di saat dia mendekap di dadaku, tapi... aku tidak bercuriga bahwa dia anak gadis."
"Ha ha ha"
Cu Goan Ciang tertawa gelak-"Ayahmu berjiwa besar, maka aku pun harus menjadi kaisar yang baik, adil dan bijaksana.
Harus pula memperhatikan nasib rakyat, agar rakyat bisa hidup makmur.
Tapi tentunya masih banyak pembesar korup yang bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat, seperti apa yang kalian alami di kota Tiang Ciu, bukankah pembesar kota itu berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat?"
Katanya dengan serius.
"Adik An Lok telah menghukum pembesar Lie itu."
Thio Han Liong memberitahukan sambil tersenyum geli akan kejadian itu-Begitu pula An Lok Kong cu, putri itu pun tertawa geli-"Hi hi hi Aku menyuruh pembesar Lie dan para hartawan itu berlutut, sungguh lucu sekali"
"Ngmm"
Cu Goan Ciang manggut-manggut.
"Oleh karena itu, aku ingin mohon bantuanmu."
"Mohon bantuanku?"
Thio Han Liong tertegun.
"Apa yang dapat kubantu?"
"Engkau akan kuangkat sebagai petugas rahasiaku,"
Sahut Cu Goan Ciang sungguh-sungguh-"
Engkau berhak menghukum pembesar yang manapun, kalau pembesar itu melakukan tindak korup atau menindas rakyat. Aku percayakan tugas ini padamu."
"yang Mulia...."
"Kakak Han Liong, jangan menolak"
Ujar An Lok Kong cu cepat.
"Itu demi rakyat, juga merupakan tugas mulia bagimu."
"Adik An Lok, aku... aku tidak mau terikat. Lagi pula... aku tidak mau menjadi pejabat tinggi istana."
Thio Han Liong memberitahukan.
"Ha ha ha"
Cu Goan Ciang tertawa.
"Engkau tidak akan terikat dan engkau pun bukan pejabat tinggi istana. Tapi engkau adalah petugas khusus menghukum para pembesar yang korup dan menindas rakyat, oleh karena itu, aku akan memberimu sebuah medali emas tanda pengenalku. Para pembesar maupun menteri yang mana pun harus memberi hormat kepadamu jika melihat tanda pengenalku."
"seandainya medali emas itu hilang dan dipungut orang lain, bukankah orang itu juga bisa bertindak seperti aku?"
"Han Liong"
Cu Goan Ciang manggut-manggut.
"Engkau memang teliti, aku kagum kepadamu. Namun orang lain tidak bisa menggunakan medali emas tanda pengenalku."
"Kenapa?"
Thio Han Liong heran.
"Engkau harus tahu, para pejabat tinggi harus apel setiap pagi di istana. Tentunya aku akan mengumumkan tentang dirimu, maka orang lain tidak bisa menggunakan medali emas tanda pengenalku itu."
"oooh"
Thio Han Liong manggut-manggut mengerti, kemudian bertanya.
"Seandainya aku menyalah gunakan tanda pengenal itu, siapa yang akan menghukum diriku?"
"Aku."
Sahut An Lok Kong cu mendadak-"sebab aku tahu engkau tidak akan menyalahgunakan tanda pengenal ayahku-"
"Adik An Lok--"
Thio Han Liong tersenyum-"Eh? Han Liong"
Cu Goan Ciang memandangnya.
"Seharusnya engkau memanggilnya Adik Ay Ceng, bukan Adik An Lok-"
"Maaf, Aku sudah biasa memanggilnya Adik An Lok> kalau aku memanggilnya Adik Ay Ceng, rasanyaa agak jauh-"
"Kakak Han Liong,"
Ujar An Lok Kong cu cepat.
"Kalau begitu, engkau terus panggil aku Adik An Lok saja agar dekat denganmu"
"Baik,"
Thio Han Liong mengangguk-"Ha ha ha"
Cu qoan ciang tertawa terbahak-bahak, kemudian mengeluarkan sebuah medali emas berukiran sepasang naga, sebelahnya berukiran beberapa huruf berbunyi demikian "Tanda perintah Kalbar".
"Hab Liong terimalah tanda perintahku"
"ya, yang Mulia."
Thio Han Liong segera bangkit berdiri Kemudian setelah memberi hormat, barulah ia menerima Tanda pengenal Kaisar tersebut seraya berkata.
"Hamba pasti melaksanakan tugas ini dengan baik. Apabila hamba menyalahgunakan Tanda Pengenal Kaisar ini, maka hamba siap di hukum."
"Bagus, bagus"
Cu Goan Ciang gembira sekali-"Ha ha ha Han Liong, kelak kalau engkau bertemu ke dua orangtuamu, sampaikan salamku kepada mereka"
"ya, yang Mulia-"
Thio Han Liong mengangguk-"Han Liong"
Cu Goan Ciang menatapnya dalam-dalam-"Aku gembira sekali bertemu engkau, namun... sayang sekali engkau sudah mempunyai kekasih. Kalau tidak, aku pasti menjodohkan putriku kepadamu."
"Terima kasih, yang Mulia,"
Ucap Thio Han Liong.
"Aku memang sudah punya kekasih, tapi aku tetap menganggap Adik An Lok seperti adikku sendiri"
"Bagus, bagus"
Cu tioan Ciang memandang mereka.
"Sekarang kalian boleh kembali ke istana An Lok-"
"Ya, Ayahanda."
"ya, yang Mulia."
Mereka berdua segera menuju istana An Lok-kemudian duduk di taman bunga dan Lan Lan cepat-cepat menyuguhkan teh wangi "Silakan minum, Kong cu dan Tuan Muda"
Ucap Lan Lan lalu meninggalkan tempat itu.
"Kakak Han Liong, kini legalah hatiku"
Ujar An Lok Kong cu sambil tersenyum.
"Kesalahpahaman ayahku dengan ayahmu telah dijernihkan, lagipula kini engkau boleh dikatakan sebagai wakil ayahku"
"Demi rakyat,"
Sahut Thio Han Liong.
"Kalau tidak aku tidak akan menerima Tanda Pengenal Kaisar itu"
"Ayahku pun memikirkan nasib rakyat, maka mengutusmu untuk menghukum para pembesar korup yang menindas rakyat. Tugas itu memang cocok bagimu. Rakyat yang tertindas pasti senang sekali akan kehadiranmu."
"Adik An Lok.."
Ucap Thio Han Liong sungguh-sungguh-"Aku pasti melaksanakan tugasku itu sebaik mungkin, tidak akan mengecewakan rakyat."
"Kakak Han Liong...."
An Lok Kong cu tersenyum gembira.
"oh ya, aku harap engkau sudi tinggal di sini beberapa hari."
"Tinggal di sini beberapa hari?"
"ya."
"Baiklah."
Thio Han Liong tersenyum.
"Aku akan menikmati kesenangan di istana An Lok ini. Betul-betul di luar dugaanku oh ya, aku harus mengembalikan giok titipanmu itu."
"Kakak Han Liong, giok itu kuberikan kepadamu,"
Ujar An Lok Kong cu dan menambahkan.
"Dengan menambahkan giok itu pada dirimu, maka engkau tidak akan melupakan diriku."
"Adik An Lok"
Thio Han Liong memandangnya.
"Aku tidak akan melupakanmu selama-lamanya, percayalah"
"Tapi..."
Wajah An Lok Kong cu tampak murung.
"setelah bertemu Giok Cu, engkau pasti melupakanku."
"Tidak-"
Thio Han Liong tersenyum.
"Pokoknya aku tidak akan melupakanmu selama-lamanya."
"Kakak Han Liong, rasanya aku ingin bersamamu selamalamanya,"
Bisik An Lok Kong cu.
"Tapi -engkau sudah punya kekasih, aku...."
"Adik An Lok"
Mendadak Thio Han Liong memegang tangannya.
"Aku tetap baik terhadapmu. Terus terang aku... aku pun mencintaimu, tapi aku tidak mau mengkhianati cintaku terhadap Giok Cu. Aku harap engkau maklum dalam hal ini"
"Justru itu, aku semakin kagum padamu."
An Lok Kong cu memandangnya dengan penuh rasa kasih sayang.
"Aku harap... suatu hari nanti kita akan berkumpul dan selama-lamanya tidak akan berpisah-"
"Adik An Lok--"
"Kakak Han Liong, setelah engkau pergi nanti, jangan lupa ke mari lagi menengokku-Kalau engkau tidak ke mari, aku pasti pergi mencarimu dalam rimba persilatan."
"Adik An Lok-"
Ujar Thio Han Liong berjanji-"Kelak aku pasti ke mari lagi menengokmu, percayalah"
"Aku percaya, aku percaya sepenuhnya."
An Lok Kong cu menatapnya dengan mesra
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "
Kakak Han Liong, aku -aku cinta kepadamu-Aku---pasti menunggu kedatanganmu-"
"Adik An Lok, -"
Thio Han Liong menggenggam tangannya erat-erat-"Aku pasti ke mari lagi kelak untuk menengokmu-"
"Terima kasih. Kakak Han Liong, terima kasih -"
Beberapa hari kemudian, Thio Han Liong berpamit kepada Cu Goan ciang dan An Lok Kong Cu-setelah itu barulah ia meninggalkan istana An Lok, An Lok Kong cu mengantar kepergiannya dengan air mata berderai-derai.
Thio Han Liong melakukan perj a Lan ke arah timur, dan tiga hari kemudian ia sudah tiba di kota Gin Lam.
Kota tersebut cukup besar, namun tampak agak sepi-Tidak begitu banyak para pedagang, tapi begitu banyak gembel di pinggir jalan.
Betapa herannya Thio Han Liong menyaksikan itu, maka ia mampir di sebuah kedai teh yang amat sepi itu "Tuan mau minum arak apa?"
Tanya seorang lelaki berusia lima puluhan.
"Arak wangi,"
Sahut Thio Han Liong. Kemudian ia menengok ke sana ke mari, tapi tidak tampak tamu lain, bahkan tidak tampak pelayan pula.
"Tuan, ini arak wangi simpananku, silakan mencicipinya"
Ucap lelaki itu "Terima kasih-"
Thio Han Liong meneguk arak wangi itu, lalu bertanya.
"Paman, kenapa kedai ini sepi sekali?"
"Lima tahun lalu, kedai arakku ini ramai sekali."
Lelaki itu memberitahukan.
"Namun sekarang sepi sekali bahkan seluruh kota pun sepi sekali."
"Kenapa begitu?"
Tanya Thio Han Liong.
"Lima tahun lalu, pembesar di kota ini amat adil dan bijak-"
Lelaki itu memberitahukan.
"Maka penduduk di kota ini hidup makmur, tapi kemudian pembesar itu pensiun, yang menggantikan beliau adalah pembesar Liok, Tak disangka sama sekali, pembesar Liok menerima sogokan para hartawan di kota ini. setelah itu. pajak apa pun dinaikkan. Banyak yang tidak mampu membayar pajak, sehingga rumah mereka disita, akhirnya mereka menjadi gelandangan di pinggir jaLan dan hidup mereka terlunta-lunta."
"oh?"
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Maaf, Paman adalah pemilik kedai arak ini?"
"ya."
Lelaki itu mengangguk.
"sudah tiga turunan kami tinggal di kota ini dan mengelola kedai arak ini-"
"Kalau begitu, Paman pasti kenal mereka yang tersita rumahnya?"
Tanya Thio Han Liong.
"Aku kenal mereka semua, bahkan aku sering memberi mereka makanan. Namun...."
Pemilik kedai arak menggelenggelengkan kepala.
"Kini aku sudah mulai miskin, tidak mampu membantu mereka lagi."
"Paman tidak punya anak?"
"Punya anak lelaki satu, tapi...."
La menghela nafas panjang.
"Beberapa tahun lalu, anakku itu pernah ikut ujian di Kota raja, namun gagal meraih gelar ceng Goan (sarjana), sehingga membuatnya putus asa, maka dia hidup menyendiri di pinggir kota."
"oooh"
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Anak Paman itu sudah berkeluarga?"
"Belum."
"Paman"
Thio Han Liong menatapnya.
"Bisakah Paman pergi memanggilnya ke mari?"
"Tentu bisa, tapi...."
Pemilik kedai arak mengerutkan kening.
"Untuk apa dia dipanggil ke mari?"
"Aku ingin minta bantuannya"
Sahut Thio Han Liong.
"Tuan...."
Pemilik kedai arak menggeleng-gelengkan kepala.
"Anakku itu tidak bisa membantu apa-apa, sebab dia siu cay (sastrawan) miskin--"
"Paman"
Thio Han Liong tersenyum seraya bertanya.
"Apa cita-citanya kalau dia berhasil meraih gelar sarjana beberapa tahun lalu?"
"Terus terang, dia -dia bercita-cita menjadi pembesar kota ini, agar penduduk kota ini terlepas dari kemiskinan."
"oleh karena itu, Paman harus segera pergi memanggilnya,"
Ujar Thio Han Liong dengan serius.
"Itu -."
Pemilik kedai arak tampak ragu.
"Paman"
Desak Thio Han Liong.
"Biar bagaimanapun, Paman harus segera pergi memanggilnya kemari"
"Itu -."
Pemilik kedai arak memandang ke langit.
"Kalau aku pergi sekarang, harus sore baru bisa kembali. Bagaimana dengan kedai arakku ini?"
"Aku akan menjaga di sini,"
Sahut Thio Han Liong. Pemilik kedai arak menatapnya, sejenak kemudian barulah mengangguk seraya berkata dengan sungguh-sungguh
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Anak muda, aku harap engkau tidak mempermainkan diriku yang sudah cukup tua ini"
"Jangan khawatir"
Thio Han Liong tersenyum-"Aku tidak akan mempermainkan paman."
"Baiklah, engkau boleh tunggu di sini, aku berangkat sekarang."
Pemitik kedai arak itu langsung pergi.
sedangkan Thio Han Liong terus duduk di tempat sambil menikmati arak wanginya.
Berselang beberapa saat kemudian, tampak seorang gadis berusia dua puluhan memasuki kedai arak itu Gadis itu berparas cantik dan berpakaian sederhana.
Ketika melihat Thio Han Liong duduk seorang diri, terbelalaklah gadis itu.
"Maaf."
Ucapnya.
"Di mana Paman Lo?"
"Paman Lo?"
Thio Han Liong tertegun.
"Maksud Nona pemilik kedai arak ini?"
"ya."
"Paman Lo sedang pergi memanggil putranya ke mari."
"oh?"
Gadis itu mengerutkan kening dan tampak tercengang.
"Kenapa Paman Lo pergi memanggilnya? "
"Karena aku ingin minta bantuannya"jawab Thio Han Liong.
"oh ya, bolehkah aku tahu siapa Nona?"
"Namaku sui Ing."
Gadis itu memberitahukan.
"Ayahku kawan baik Paman Lo-Ayahku menyuruhku ke mari beli arak"
"oooh"
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Nona sui Ing, silakan duduk, aku ingin bercakap-cakap sebentar."
"Tapi...."
Sui Ing tampak ragu, namun kemudian duduk juga di hadapan Thio Han Liong.
"Maaf aku belum tahu nama Anda-"
"Namaku Thio Han Liong."
Jadi Anda menunggu Paman Lo?"
"ya. Nona sui Ing kenal putranya?"
"Tentu kenal, bahkan kami berteman sejak kecil."
Sui Ing memberitahukan.
"sejak dia gagal meraih gelar sarjana, maka dia pun jarang ke rumah menemuiku lagi. Padahal ayahku tidak mempermasalahkan itu, namun dia yang merasa malu kepada ayahku."
"Nona sui Ing, apa pekerjaan ayahmu?"
"Ayahku pedagang besar di kota ini, tergolong hartawan juga. Tapi -."
Sui Ing menghela nafas panjang.
"Kini ayahku sudah bangkrut, maka jatuh miskin-Itu pun dikarenakan sering membantu para gelandangan. Tapi ayahku sama sekali tidak menyesal."
"oooh"
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Bagus Itu bagus sekali oh ya, kelihatannya Nona mempunyai hubungan istimewa dengan putra Paman Lo itu"
"ya."
Sui Ing mengangguk perlahan.
"Kami berdua merupakan sepasang kekasih, namun sejak dia gagal ujian di Kotaraja, sejak itu pula dia jarang ke rumah, bahkan pindah ke pinggir kota...."
"Nona sui Ing"
Tanya Thio Han Liong.
"Bolehkah aku tahu siapa namanya?"
"Dia bernama Lo Tek Huang."
"Nona sui Ing,"
Ujar Thio Han Liong sungguh-sungguh-"Aku pasti membantu kalian, percayalah-"
"Membantu kami? Maksudmu?"
Sui Ing heran.
"Membantu kalian terangkap menjadi suami isteri yang hidup bahagia,"
Jawab Thio Han Liong sambil tersenyum dan menambahkan.
"Bahkan kota ini pun akan terlepas dari kemiskinan dan tindak korup dari pembesar itu."
"oh?"
Sui Ing menatapnya, kemudian menggelenggelengkan kepala sambil bergumam.
"Itu... itu bagaimana mungkin?"
"Percayalah kepadaku"
"Engkau...."
Sui Ing bangkit berdiri "Oh ya, kalau Tek Huang ke mari, tolong beritahukan kepadanya bahwa aku ke mari"
"Baik,"
Thio Han Liong mengangguk-"Aku mohon diri,"
Ucap sui Ing lalu meninggalkan kedai arak itu.
sedangkan Thio Han Liong tetap duduk di tempat-Berselang beberapa saat kemudian, muncul seorang tua bersama sui Ing ke kedai arak itu-Thio Han Liong segera bangkit berdiri, sedangkan orangtua dan sui Ing menghampirinya-"Anak Muda"
Orangtua itu menatapnya seraya memperkenalkan diri "Aku adalah Thio yauw song, dia putriku."
"Paman Thio"
Panggil Thio Han Liong.
"silakan duduk"
"Ngmm"
Thio yauw song manggut-manggut sambil duduk
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Kita sama-sama marga Thio, maka engkau tak perlu sungkan-sungkan."
"Terima kasih, Paman"
"Anak Muda, ada apa Lotua itu pergi memanggil putranya?"
"Aku ingin minta bantuan kepada putranya."
"oh?"
Thio yauw song menatapnya dalam-dalam.
"Dia seorang sastrawan, apa yang dapat dia bantu?"
"Daya pikirannya,"
Sahut Thio Han Liong.
"Dia harus memikirkan apa untukmu?"
Tanya Thio yauw song heran.
"Kalau dia sudah ke mari, Paman akan mengetahuinya,"
Jawab Thio Han Liong agak misterius.
"Aku...."
Thio yauw song menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku tidak habis pikir-"
"Paman"
Thio Han Liong tersenyum.
"Tadi Nona sui Ing bilang. Paman adalah mantan pedagang besar dan tergolong hartawan."
"Ya."
Thio yauw song mengangguk sambil menghela nafas panjang.
"Tapi kini aku sudah bangkrut, boleh dikatakan aku sudah jatuh miskin, tidak lama lagi rumahku pasti disita oleh pembesar Liok yang kejam itu."
"oooh"
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Anak Muda,"
Tanya Thio yauw song mendadak-"sebetulnya engkau berasal dari mana?"
"Paman"
Thio Han Liong tersenyum-"Nanti Paman akan mengetahuinya-"
"Kok.."
Thio yauw song menggeleng-gelengkan kepala-"Engkau misterius sekali, namun aku yakin engkau bukan orang jahat-"
"Paman, aku bukan orang jahat-Aku justru ingin menolong para penduduk di kota ini."
"Apa?"
Thio yauw song terbelalak-"Anak Muda jangan main-main Kalau pembesar Liok mendengarnya, engkau pasti dihukum-"
Thio Han Liong cuma tersenyum-Di saat bersamaan muncullah Lo Ah sam bersama putranya, Lo Tek Huang.
Begitu melihat Thio yauw song dan putrinya berada di situ, Lo Ah sam tertawa gelak-"Ha ha ha Angin apa yang membawamu ke mari?"
"Tadi aku menyuruh putriku ke mari membeli arak. tapi engkau tidak ada,"
Sahut Thio yauw song sambil melirik Thio Han Liong.
"yang ada di sini pemuda itu, putriku memberitahukan, maka aku ke mari bersamanya."
"oooh"
Lo Ah sam duduk, lalu memperkenalkan putranya.
"Anak Muda, ini putraku, Lo Tek Huang.» "saudara Lo, selamat bertemu"
Ucap Thio Han Liong sambil memberi hormat.
"saudara--"
LoTek Huang menatapnya dengan penuh perhatian.
"Ada urusan apa engkau menyuruh ayahku memanggilku ke mari?"
"Aku ingin minta bantuanmu,"
Sahut Thio Han Liong.
"Kalian duduklah, Janganlah bercakap-cakap sambil berdiri"
Ujar Lo Ah sam. Lo Tek Huang dan Thio Han Liong segera duduk-usia Lo Tek Huang lebih tua beberapa tahun dari Thio Han Liong, namun Thio Han Liong lebih tampan.
"saudara"
Tanya Lo Tek Huang.
"Apa yang dapat kubantu?"
"Tadi dia sudah bilang,"
Sahut Thio yauw song.
"Dia membutuhkan daya pikirmu."
"Daya pikirku?"
Lo Tek Huang tercengang.
"Saudara Lo sekolah begitu tinggi, tentunya daya pikirmu amat luar biasa. Maka alangkah baiknya diterapkan demi menegakkan keadilan"
Sahut Thio Han Liong.
"Bukankah saudara Lo ingin menjadi pembesar di kota ini?"
"Aduh saudara. -"
Wajah LoTek Huang langsung berubah pucat pias, lalu menengok ke sana ke mari, seakan khawatir ucapan Thio Han Liong tadi terdengar oleh orang lain.
"Lho?"
Thio Han Liong terheran-heran. -"Ada apa?"
"Saudara, jaga mulutmu baik-baik"
Tegur Lo Tek Huang.
"Kalau sampai para pengawal pembesar Liok mendengar, engkau pasti celaka."
"Saudara Lo"
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Kenapa kalian begitu takut kepada pembesar lalim itu?"
"Kami...."
Lo Tek Huang menggeleng-gelengkan kepala.
"Pembesar Liok amat berkuasa di kota ini, dan para pengawalnya pun sering bertindak sewenang-wenang, oleh karena itu...."
"Sebetulnya kalian tidak usah takut,"
Potong Thio Han Liong.
"oh ya, kenapa kalian tidak mengadu kepada atasan pembesar Liok?"
"Itu berarti kami cari mati."
Lo Tek Huang menarik nafas panjang.
"Aaahhh Siapa yang berani melawan pembesar Liok?"
"Begini,"
Ujar Thio Han Liong dengan suara rendah.
"Paman Lo dan Paman Thio mengumpulkan semua gelandangan, setelah itu saudara Lo membawa mereka ke tempat sidang pembesar Liok untuk unjuk rasa."
"Hah...?"
Mulut Lo Tek Huang ternganga lebar, begitu pula yang lain, kemudian memandang Thio Han Liong dengan mata terbeliak lebar.
"Itu berarti cari mati."
"Saudara Lo"
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Engkau sama sekali tidak punya keberanian."
"Bukan tidak punya keberanian, melainkan kami akan mati sia-sia,"
Sahut Lo Tek Huang dan menambahkan.
"Karena para pengawal itu akan membunuh kami. Bagaimana mungkin kami dapat melawan mereka?"
"Aku bersedia membantu kalian"
Ujar Thio Han Liong.
"Percayalah"
"Engkau -."
Lo Tek Huang menatapnya.
"Bagaimana mungkin kami dapat mempercayaimu?"
"Anak Muda"
Tegur Lo Ah sam pemilik kedai arak itu.
"Kami semua sudah hidup tertekan, engkau jangan menambah masalah lagi untuk kami"
"Paman Lo, aku...."
"Anak Muda"
Thio yauw song menatapnya seraya bertanya.
"Berdasarkan apa engkau menyuruh kami melakukan itu?"
"Tentunya berdasarkan kebenaran dan keadilan"
Jawab Thio Han Liong dan melanjutkan.
"Juga berdasarkan ilmu silatku. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku berani menyuruh Paman Lo dan Paman Thio melakukan itu?"
"Engkau mahir ilmu silat?"
Tanya Thio yauw song.
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk-"Dapatkah engkau mengalah kan para pembesar Liok?"
Tanya Thio yauw song lagi.
"Itu sudah pasti. Kalau tidak aku pun tidak akan berani membicarakan itu,"
Sahut Thio Han Liong.
"Adik Han Liong..."
Panggil Thlo sui Ing.
"Marga kita sama, aku lebih besar darimu. Pantas aku memanggilmu adik kan?"
"Ya, Kakak sui Ing."
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Baik, aku mempercayaimu,"
Ujar Thio sui Ing.
"Ha ha ha"
Thio yauw song tertawa gelak-"Putriku saja mempercayainya, apalagi aku. tentunya lebih mempercayainya"
"Ha ha ha"
Lo Ah sam tertawa terbahak-bahak-"Kalau begitu akupun-tidak mau ketinggalan"
"Adik sui Ing...."
Lo Tek Huang menatapnya dengan mesra-"Engkau berani mempercayainya,-kenapa aku tidak?"
"Kakak Tek Huang...."
Wajah Thio sui Ing berseri.
"Terima kasih..-"
"Han Liong"
Tanya Thio yauw song.
"Apa rencanamu sekarang?"
"Mulai sekarang Paman Thio dan Paman Lo mengumpulkan para gelandangan, besok pagi bersama saudara Lo menuju tempat sidang pembesar Liok-Kalian semua harus berteriakteriak memprotes tindakan pembesar Liok-Kalau para pengawalnya berani main senjata, barulah aku muncul-"
"Baik,"
Thio yauw song mengangguk
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Han Liong, mati hidupnya kami esok pagi berada di tanganmu-Mudah-mudahan engkau tidak cuma omong kosong"
"Aku belum sinting atau gila,"
Sahut Thio Han Liong sambil tersenyum-"Pokoknya ada kejutan untuk kalian esok""
"Kakak Tek Huang"
Ujar Thio sui Ing mendadak "Aku ikutjuga esok pagi."
"Adik sui Ing...."
Lo Tek Huang mengerutkan kening.
"Tidak apa-apa,"
Ujar Thio Han Liong.
"Biar dia ikut esok pagi, sebab merupakan suatu pengalaman baginya."
"Itu...."
Akhirnya Lo Tek Huang mengangguk.
"Baik-lah-"
"Terima kasih. Kakak Tek Huang"
Ucap Thio sui Ing dengan wajah berseri-"Terima kasih.-" -ooo00000ooo-Pagi itu tampak para gelandangan yang dipimpin Lo Ah sam, Thio yauw song, Lo Tek Huang, dan Thio sui Ing berbaris rapi menuju kantor sidang pembesar Liok-Kejadian tersebut tentunya amat menggemparkan warga kota itu, bahkan diantaranya ada yang bertanya langsung kepada Lo Ah sam dan Thio yauw song.
"Ada apa Lo tua?"
"Mau unjuk rasa di kantor sidang Liok Tayjin"
Jawab Lo Ah sam memberitahukan.
"sudah sekian tahun kita hidup tertekan, maka kini sudah saatnya kita bangkit untuk melawan kelaliman Liok Tayjin"
"Lo tua Engkau... mau cari mati?"
"Lebih baik mati daripada hidup tertekan Lihatlah mereka"
Lo Ah sam menunjuk para gelandangan.
"sebelumnya mereka bukan gelandangan, karena tidak mampu membayar pajak yang begitu tinggi, akhirnya rumah mereka disita oleh Liok Tayjin, lalu dijual kepada para hartawan, sehingga mereka menjadi gelandangan"
"Betul"
Teriak warga kota itu penuh semangat.
"Kawan-kawan mari kita bergabung dengan mereka"
Warga kota golongan menengah mulai bergabung dengan Lo Ah sam.
Mereka menuju kantor sidang Liok Tayjin sambil berteriak-teriak memprotes tindakan pembesar itu.
sampai di depan kantor sidang itu, tampak puluhan pengawal Liok Tayjin sudah menjaga ketat.
"Kalian semua ingin memberontak?"
Bentak pemimpin pengawal.
"Tidak takut akan dihukum?"
"Sesungguhnya pajak untuk kota ini tidak begitu tinggi, tapi Liok Tayjin telah menaikkan demi memperkaya diri sendiri"
Sahut Lo Tek Huang dengan berani.
"Dia telah menyalah gunakan wewenangnya...."
"Diam"
Bentak pemimpin pengawal.
"Ayoh-cepat bubar Kalau tidak, kami akan tangkap kalian"
"Kami ingin menemui Liok Tayjin-seru Lo Tek Huang."
"sebelum menemui Liok Tayjin, kami tidak akan bubar"
"Mau apa kalian menemui Liok Tayjin?"
Tanya pemimpin pengawal sambil mengerutkan kening.
"Menuntut keadilan"
Sahut Lo Tek Huang. Di saat bersamaan, dari dalam kantor sidang itu berjalan keluar Liok Tayjin, lalu bertanya kepada pemimpin pengawalnya.
"Mau apa mereka?"
"Mereka sedang unjuk rasa,"jawab pemimpin pengawal sambil memberi hormat.
"Tayjin, apa yang harus kuperbuat terhadap mereka?" (Bersambung keBagian 20)
Jilid 20
"Hmm"
Dengus Liok Tayjin dingin.
"Kalau begitu, bunuh saja mereka kalau tidak mau bubar"
"Baik Tayjin."
Pemimpin pengawal mendekati Lo Tek Huang dan lainnya.
"Cepatlah kalian bubar, kalau tidak kami terpaksa membunuh kalian, itu perintah dari Liok Tayjin"
"Sebelum Liok Tayjin memberi kebijaksanaan kepada kami, kami tidak akan bubar"
Sahut Lo Tek Huang.
"Kalau begitu...."
Pemimpin pengawal itu masih ragu melaksanakan perintah Liok Tayjin, namun pembesar Liok justru berseru.
"Bunuh saja mereka"
"ya, Tayjin"
Sahut pemimpin pengawal, tapi masih berkata kepada Lo Tek Huang dan lainnya.
"Lebih baik kalian bubar Biar aku yang berunding dengan Liok Tayjin mengenai tuntutan kalian-"
"Cepat bunuh merekap teriak Liok Tayjin gusar.
"Cepaaat"
"Tayjin ini menyangkut hukum, Hamba tidak berani sembarangan membunuh mereka,"
Ujar pemimpin pengawal itu.
"Bagus"
Betapa gusarnya Liok Tayjin.
"Sekarang juga engkau kupecat. Sim Huai Beng, mulai saat ini kuangkat engkau menjadi pemimpin pengawal"
"Terima kasih, Tayjin,"
Ucap Sim Huai Beng.
"Nah, cepatlah perintahkan para anak buahmu membunuh mereka"
Seru Liok Tayjin.
"Baik, Tayjin,"
Sim Huai Beng memberi hormat, lalu memberi perintah kepada anak buahnya.
"Harus kalian bunuh para pengacau itu Pokoknya kalian akan memperoleh hadiah"
"ya"
Para pengawal itu mulai menghunus senjata masingmasing.
"Tahan"
Bentak pemimpin pengawal yang baru dipecat itu.
"Sim Huai Beng, apakah engkau akan melaksanakan perintah itu untuk membunuh mereka?"
"Ha ha ha"
Sim Huai Beng tertawa gelak-"Liu Teng san, lebih baik engkau cepat menyingkir Kalau tidak, aku pun akan membunuhmu"
"Hmm"
Dengus Liu Teng san dingin.
"Baik, kalau begitu mari kita bertempur"
"TUnggu"
Mendadak terdengar seruan yang amal memekakkan telinga, kemudian melaya turun seorang pemuda, yang tidak lain Thio Han Liong.
"siapa engkau?"
Bentak sim Huai Beng.
"Mau mengacau di sini juga?"
"Engkau baru diangkat menjadi pemimpin pengawal, namun sudah mulai bertindak di luar prikemanusiaan Hmm Engkau tidak terluput dari hukum yang berlaku"
"Ha ha"
Sim Huai Beng tertawa.
"Anak Muda, engkau berani berkata begitu di hadapanku?"
"Kenapa tidak?"
Sahut Thio Han Liong sambil menatapnya tajam.
"Sim Huai Beng"
Teriak Liok Tayjin.
"Cepat tang kap pemuda itu, aku akan menghukumnya"
"ya, Tayjin,"
Sahut sim Huai Beng, lalu mendadak mengayunkan senjatanya menyerang Thio Han Liong.
"Hmm"
Dengus Thio Han Liong dingin.
"engkau memang ingin cari penyakit"
Tiba-tiba Thio Han Liong mengibaskan tangannya.
Seketika itujuga Sim Huai Beng terpental beberapa depa, kemudian roboh dengan mulut mengeluarkan darah-Betapa terkejutnya Liu Teng san.
la tidak menyangka Thio Han Liong berkepandaian begitu tinggi, sementara Lo Tek Huang, Thio sui Ing dan lainnya bertepuk sorak penuh kegembiraan.
"Liu Teng San"
Kata Thio Han Liong.
"seret Liok Tayjin itu kemari"
Thio Han Liong mengibaskan tangannya, seketika itu juga sim Huai Beng terpental beberapa depa, dan roboh dengan mulut mengeluarkan darah-"ya-"
Liu Teng san mengangguk-Lalu segera masuk dan diseretnya Liok Tayjin ke hadapan Thio Han Liong.
Para pengawal diam saja, sama sekali tidak berani bertindak apa pun karena telah menyaksikan kepandaian Thio Han Liong, lagi pula banyak yang tidak senang terhadap pembesar Liok-"Anak Muda, engkau--"
Betapa gusarnya Liok Tayjin.
"Diam"
Bentak Thio Han Liong.
"engkau pembesar lalim, bahkan tidak mematuhi peraturan-peraturan yang dikeluarkan dari istana, oleh karena itu, hari ini engkau harus dihukum"
"siapa engkau?"
Liok Tayjin mulai ketakutan.
"Cepatlah engkau berlutut"
Bantak Thio Han Liong sambil memperlihatkan Medali Emas Tanda Pengenal Kaisar.
"Haahhh"
Menggigillah sekujur badan Liok Tayjin.
"Hamba Liok Tung Hang memberi hormat kepada yang Mulia, ampunilah hamba"
Liok Tayjin langsung berlutut di hadapan Thio Han Liong dan tentunya sangat mengejutkan Liu Teng san, Lo Tek Huang, Thio sui Ing, Lo Ah sam, Thio yauw song dan lainnya serta para pengawal.
Liu Teng san beserta para pengawal langsung berlutut, begitu pula Sim Huai Beng yang terluka itu.
"Hamba memberi hormat kepada yang Mulia"
Ucap mereka.
"Kalian bangunlah"
Thio Han Liong menyimpan Medali Emas itu.
"Terima kasih yang Mulia,"
Ucap mereka sambil bangkit berdiri-Thio Han Liong menatap Liok Tayjin dengan dingin sekali, sedangkan badan Liok Tayjin terus bergemetar dalam keadaan berlutut-"Liok Tung Hang Engkau telah menyalah gunakan wewenangmu di kota ini, maka mulai hari ini engkau kupecat dari jabatanmu"
"Terima kasih yang Mulia-"
Liok Tayjin menarik nafas lega, karena Thio Han Liong tidak menghukum mati dirinya-"Liu Teng san, lepaskan topi dan pakaian dinasnya"
Thio Han Liong memberi perintah kepada mantan pemimpin pengawal itu.
"ya, yang Mulia."
Liu Teng san segera melepaskan topi dan pakaian dinas pembesar Liok-seketika juga Lo Tek Hang dan lainnya bersorak sorai penuh kegembiraan.
"Liok Tung Hang, sekarang engkau boleh bangun"
Ujar Thio Han Liong.
"Terima kasih yang Mulia,"
Ucap Liok Tung Hang sambil bangkit berdiri dengan wajah pucat pias.
"Liok Tung Hang, cepat ambil semua surat-surat penting dari istana maupun surat-surat penting rumah para penduduk kota ini, yang telah disita semua surat-surat harus ditaruh di atas meja sidang"
"ya, yang Mulia."
"Setelah itu, engkau ke mari menghadapku lagi"
"ya, yang Mulia-"
Liok Tung Hang segera melaksanakan perintah itu, setelah itu, ia kembali menghadap Thio Han Liong.
"yang Mulia, semua surat-surat penting itu sudah berada di atas meja sidang."
"Ng"
Thio Han Liong mengangguk-"Liok Tung Hang, sekarang engkau harus membawa keluargamu pulang ke kampung halaman, semua hasil korupsimu harus dibawa ke mari Kalau tidak-engkau pasti dihukum penggal kepala"
"ya, yang Mulia,"
Ucap Liok Tung Hang lalu segera meninggalkan tempat itu dengan kepala tertunduk.
"sim Huai Beng"
Seru Thio Han Liong.
"Hamba menghadap yang Mulia-"
Sim Huai Beng segera berlutut di hadapan Thio Han Liong.
"seharusnya engkau kuhukum, tapi mengingat engkau cuma melaksanakan perintah Liok Tung Hang, maka kubebaskan gngkau dari hukuman."
"Terima kasih, yang Mulia,"
Ucap sim Huai Beng terharu atas kebaikan Thio Han Liong.
"Bangunlah"
"Terima kasih, yang Mulia."
Sim Huai Beng segera bangkit berdiri "Liu Teng san"
Panggil Thio Han Liong.
"Hamba siap menerima perintah, yang Mulia."
Liu Teng san berlutut.
"Engkau tetap sebagai pemimpin para pengawal di sini, sim Huai Beng termasuk bawahanmu,"
Ujar Thio Han Liong.
"Terima kasih, yang Mulia,"
Ucap Liu Teng san.
"Bangunlah"
Thio Han Liong tersenyum.
"Terima kasih, yang Mulia."
Liu Teng san segera bangkit berdiri, lalu mundur, sim Huai Beng cepat-cepat mendekatinya, ternyata ia minta maaf kepada Liu Teng san.
"Lo Tek Huang"
Panggil Thio Han Liong.
"Hamba menghadap, yang Mulia,"
Ucap Lo Tek Huang sambil berlutut.
"Hamba...."
"Lo Tek Huang, hari ini engkau kulantik menggantikan kedudukan Liok Tung Hang."
"Hah? Apa?"
Mulut Lo Tek Huang ternganga lebar-"Hamba...-"
"Lo Tek Huang, engkau harus menerima jabatan itu."
Tegas Thio Han Liong.
"Kalau Liok Tung Hang membawa hasil korupsinya ke mari, sebagian dikembalikan kepada penduduk kota ini, sebagian dimasukkan ke kas kerajaan. Aku yakin engkau dapat melaksanakan tugas ini dengan baik-"
"ya, yang Mulia-"
"Thio Sui Ing"
Panggil Thio Han Liong.
"Hamba datang menghadap-"
Thio sui Ing juga berlutut di sisi Lo Tek Huang~ "Apa yang harus kulakukan yang Mulia?"
"Engkau dan Lo Tek huang harus segera menikah"
Sahut Thio Han Liong sambil tersenyum.
"Rumah Liok Tung Hang kusita untuk dihadiahkan kepada kalian."
"Terima kasih, yang Mulia,"
Ucap Lo Tek Huang dan Thio Sui Ing serentak dengan wajah berseri-seri.
"semua rumah yang telah disita itu harus dikembalikan kepada pemiliknya, hartawan mana yang berani melawan, tangkap saja dan hukum mereka"
"ya, yang Mulia."
"Buatkan laporan secara terperinci untuk diserahkan ke istana"
Pesan Thio Han Liong.
"ya, yang Mulia."
"Nah, kalian boleh bangun sekarang."
"Terima kasih, yang Mulia."
Lo Tek Huang dan Thio sui Ing bangkit berdiri dengan wajah berseri-seri-"Liu Teng san"
Panggil Thio Han Liong.
"Hamba menghadap yang Mulia."
Liu Teng san segera berlutut.
"Pakaikan topi dan pakaian dinas kepada Lo Tek Huang"
Perintah Thio Han Liong.
"ya, yang Mulia."
Liu Teng san segera melaksanakan perintah itu. Kini Lo Tek Huang sudah mengenakan topi dan pakaian dinas, namun wajahnya agak tampak kemerah-merahan.
"Lo Tek Huang,"
Ujar Thio Han Liong sambil tersenyum.
"Mulai sekarang engkau adalah Lo Tayjin,"
"Terima kasih, yang Mulia,"
Ucap Lo Tek Huang sambil berlutut.
"Banguniah"
"Terima kasih, yang Mulia-"
Lo Tek Huang bangkit berdiri-"Liu Teng San, engkau harus baik-baik menjaga Lo Tayjin" -Pesan Thio Han Liong.
"Jangan melalaikan tugasmu itu"
"ya, yang Mulia."
"Nan urusan sudah beres."
Thio Han Liong tersenyum.
"Paman Lo, Paman Thio, kelak kita akan minum bersama lagi."
Mendadak Thio Han Liong melesat pergi, begitu cepat laksana kilat sehingga membuat mereka terbelalak semua.
"Lo Tek Huang..."
Sayup-sayup masih terdengar suara seruannya.
"jadilah pembesar yang adil dan bijaksana..."
"ya, yang Mulia"
Lo Tek Huang segera menjatuhkan diri berlutut, begitu pula Thio sui Ing, Liu Teng san, sim Huai Beng dan para pengawal.
"Ha ha ha Ha ha ha..."
Lo Ah sam dan Thio yauw song tertawa terbahak-bahak-"Tak disangka pemuda itu adalah wakil kaisar...."
"Bahkan..."
Tambah Thio yauw song sambil tertawa gembira.
"Dia semarga dengan aku."
"Betul"
Lo Ah sam tertawa gelak-"Ha ha ha -" -ooo00000ooo-Bab 39 Pertandingan yang Tak seimbang Thio Han Liong melakukan perjalanan sambil tertawa geli-Ternyata ia teringat akan kejadian di kota Ciri-Lam.
"Tak disangka sama sekali, begitu besar pengaruh Medali Emas Tanda Pengenal Kaisar itu. secara tidak langsung aku adalah wakil kaisar-Kalau tahu itu apakah ayah akan marah? Itu tidak mungkin, sebab aku bertindak demi keadilan dan kebenaran, maka aku yakin ayah tidak akan memarahiku,"
Gumam Thio Han Liong. Tak seberapa lama kemudian, ia melihat sebuah kedai teh di pinggir jalan, dan ia cepat-cepat mampir. Pemilik kedai teh langsung menyuguhkan teh wangi, kemudianjuga bertanya.
"Tuan mau pesan makanan lain?"
"Terima kasih, tidak usah,"
Sahut Thio Han Liong. Ketika ia mulai meneguk teh wanginya mendadak muncullah seorang pemuda berwajah agak pucat ke dalam kedai teh itu Begitu melihat pemuda itu, Thio Han Liong langsung berseru.
"Paman Kwan Paman Kwan, mari duduk di sini"
Pemuda itu ternyata Kwan Pek Him, murid si Mo-Ketika melihat Thio Han Liong, Kwan Pek Him tampak tercengang, tapi kemudian tersenyum sambil menghampirinya.
"saudara Thio-..."
La duduk di hadapan -Thio Han Liong.
"Tak disangka kita bertemu di sini."
"Betul."
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Me-mang tak disangka sama sekali, namun sungguh menggembirakan"
"Tidak salah-"
Kwan Pek Him tersenyum. Pemilik. kedai itu segera menyuguhkan teh wangi, dan Kwan Pek Him memesan sedikit makanan ringan.
"saudara Kwan,"
Tanya Thio Han Liong.
"engkau mau ke mana?"
"Aku...,"
Bisik Kwan Pek Him.
"Aku sedang melaksanakan perintah Kwce In Loan untuk mencari Tong Koay, Lam Khie dan Pak Hong."
"oh?"
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Mau apa Kwee In Loan perintahkan engkau mencari ketiga Locianpwee itu?"
"Aaaah. -"
Kwan Pek Him menghela nafas panjang.
"guruku pun sedang menyelidiki jejak mereka bertiga...."
"saudara Kwan, bolehkah engkau menjelaskan padaku?"
"Kita adalah kawan baik, tentunya aku akan menceritakan kepadamu,"
Sahut pemuda itu.
"Hiat Mo sudah berada di Tionggoan...."
"Apa?"
Thio Han Liong terbelalak.
"Hiat Mo sudah berada di Tionggoan?"
"ya."
Kwan Pek Him mengangguk-"Memang sungguh di luar dugaan, ciu Lan Nio ternyata cucunya. Mereka tinggal di lembah Pek yun Kok-"
"Oh?"
Thio Han Liong terperangah-"Dia cucu Hiat Mo itu?"
"ya-"
Kwan Pek Him memberitahukan.
"Kekasihmu bernama Tan Giok Cu bersama Hiat Mo-"
"Oh?"
Air muka Thio Han Liong tampak berubah-"Bagaimana keadaannya?"
"Dia --"
Kwan Pek Him menggeleng-gelengkan kepala-"Dia telah di bawah pengaruh Hiat Mo -"
"Di bawah pengaruh Hiat Mo? Maksudmu?"
"Dia selalu menuruti perintah Hiat Mo, sama sekali tidak mengacuhkan yang lain,"
Tambah Kwan Pek Him-"Bahkan kelihatan seperti kehilangan sukma-Kalau tidak salah, Hiat Mo telah mempengaruhinya dengan semacam ilmu sihir-"
"Aaaah -"
Keluh Thio Han Liong, kemudian bertanya-"Di mana letak lembah Pek yun Kok itu?"
"Aku pasti memberitahukan, tapi...."
Kwan Pek Him merendahkan suaranya.
"Engkau harus ingat, jangan bilang aku yang memberitahukan Kalau guruku tahu, celakalah diriku."
"saudara Kwan, aku berjanji"
"Lembah Pek yun Kok berada di -."
Kwan Pek Him memberitahukan dan menambahkan.
"Kita pun jangan terlampau akrab di hadapan mereka. Danjuga kalau engkau bertemu Tong Koay, Lam Khie atau Pak Hong, suruh mereka pindah ke tempat yang lebih aman, agar guruku tidak dapat menemukan mereka."
"Baik,"
Thio Han Liong mengangguk.
"oh ya"
Tanya Kwan Pek Him.
"Engkau bertemu Ciu Lan Hio?"
"Tidak-"
Thio Han Liong menggelengkan kepala.
"Dia tidak bersama kakeknya?"
"Dia telah meninggalkan lembah Pek yun Kok-Kalau tidak salah, dia sedang mencarimu."
"Oh?"
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Saudara Kwan, engkau harus tahu lho Aku tidak akan mencintai Ciu Lan Nio, hanya menganggapnya sebagai adik saja. Dalam hal ini, aku harap engkau mengerti"
"Aku mengerti."
Kwan Pek Him tersenyum.
"Namun aku menyesal sekali, karena tidak bisa membantumu."
"yaah"
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"oh ya Kalau aku bertemu Ciu Lan Hio, aku pasti menasehatinya agar dia mencintaimu."
"Terima kasih, saudara Thio."
"Tapi -engkau jangan terlampau memaksakan diri dan mendesaknya untuk mencintaimu"
Pesan Thio Han Liong.
"Yang penting engkau harus sabar dan bersungguh hati terhadapnya, aku yakin suatu hari nanti, dia pasti jatuh cinta kepadamu."
"oh?"
Wajah Kwan Pek Him berseri.
"saudara Thio, terima kasih atas petunjukmu."
"sama-sama."
Thio Han Liong tersenyum.
"Oh ya saudara Thio, engkau akan pergi mencari Hiat Mo?"
Tanya Kwan Pek Him mendadak sambil menatapnya.
"ya."
Thio Han Liong mengangguk-"saudara Thio...."
Kwan Pek Him menggeleng-gelengkan kepala.
"Kepandaian Hiat Mo sangat tinggi sekali, engkau ...."
"Aku memang bukan lawannya, namun... biar bagaimana pun aku harus bertanding dengan dia."
"saudara Thio, engkau harus berhati-hati"
Pesan Kwan Pek Him dan melanjutkan.
"Aku yakin Hiat Mo tidak akan membunuhmu, lagi pula Ciu Lan Nio pasti membelamu."
"Aaaah -""
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"sungguh kasihan Giok Cu...."
"saudara Thio --"
Kwan Pek Him menatapnya seraya bertanya.
"Engkau mau ke mana sekarang?"
"Aku akan langsung berangkat ke lembah Pek yun Kok-Engkau?"
"Aku... aku ingin mencari Ciu Lan Nio,"jawab Kwan Pek Him dengan jujur.
"Sesungguhnya aku tidak mencari Tong Koay, Lam Khie atau Pak Hong, aku cuma keluyuran ke sana ke mari berharap bertemu Ciu Lan Nio."
"saudara Pek Him"
Thio Han Liong tersenyum..
"Apabila engkau bersungguh hati terhadap gadis itu, aku yakin suatu hari nanti dia pasti mencintaimu."
"Mudah-mudahan"
Ucap Kwan Pek Him menambahkan.
"Itupun harus ada dukungan darimu-"
"saudara Kwan...."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala, kemudian bangkit berdiri-"Aku mau berangkat duluan, sampai jumpa"
Thio Han Liong meninggalkan kedai teh itu, dan mulai menempuh perjalanan menuju Lembah Pek yun Kok--ooo00000ooo-Dua tiga hari kemudian, ketika Thio Han Liong memasuki sebuah rimba, mendadak terdengar suara tawa gelak-"Ha ha ha"
Setelah ilu, melayang turun sosok bayangan di hadapannya, ternyata Lam Khie-"Lam Khie Locianpwee"
Seru Thio Han Liong girang.
"sungguh kebetulan kita bertemu di sini"
"Ha ha ha"
Lam Khie tertawa terbahak-bahak
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Han Liong, apa kabar?"
"Aku baik-baik saja"
Sahut Thio Han Liong dan memberitahukan.
"oh ya Hiat Mo sudah berada di Tionggoan."
"Apa?"
Lam Khie tampak terperanjat.
"Siapa yang memberitahukan kepadamu?"
"Aku bertemu Kwan Pek Him, dia yang memberitahukan kepadaku,"
Jawab Thio Han Liong dengan jujur.
"Kwan Pek Him..."
Gumam Lam Khie dengan kening berkerut-kerut.
"siapa orang itu?"
"Dia -dia murid si Mo"
"oh? Tak disangka murid si Mo itu begitu baik terhadapmu,"
Ujar Lam Khie sambil tersenyum.
"Jadi -engkau mau pergi bertanding dengan HiatMo?"
"Ya."
Thin Han Liong mengangguk-"Tapi -tidak mungkin aku bisa menang."
"Anggaplah sebagai suatu latihan bagimu"
Kata Lam Khic sambil memandangnya.
"sebab engkau masih punya banyak waktu untuk mengalahkannya, engkau masih muda...."
"Locianpwee».,"
Bisik Thio Han Liong.
"Lebih baik Locianpwee bersembunyi di tempat yang aman."
"Lho?"
Lam Khie heran.
"Kenapa?"
"si Mo sedang menyelidiki tempat Locianpwee-Kalau tidak salah Hiat Mo berniat menangkap Locianpwee-Tong Koay dan Pak Hong."
"oh?"
Kening Lam Khie berkerut.
"Kalau begitu gawatjuga ya? Ngmm Baiklah aku akan ke tempat yang aman, agar terhindar dari incaran Hiat Mo-"
"Locianpwee,"
Pesan Thio Han Liong.
"Kalau bertemu Tong Koay dan Pak Hong...."
"Aku pasti menyuruh mereka bersembunyi di tempat yang aman,"
Sahut Lam Khie cepat, kemudian menghela nafas panjang.
"Aaah Entah apa yang akan terjadi dalam rimba persilatan, sebab kini Hiat Mo sudah muncul"
"Locianpwee."
Tanya Thio Han Liong mendadak-"Apakah tiada jago lain vang dapat mengalahkan Hiat Mo?"
"Tidak ada-"
Jawab Lam Khie dan menambahkan.
"Mungkin hanya ayahmu yang setanding dengan dia-"
"Aaafo -"
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"Kalau kali ini aku kalah, aku... aku pasti akan ke suatu tempat akan melatih lagi."
"Memang harus begitu."
Lam Khie manggut-mang-gut.
"Kali ini anggaplah sebadai suatu latihan, karena engkau tidak mungkin dapat melawannya, ingat, jangan cepat putus asa"
"ya, Locianpwee-"
Thio Han Liong mengangguk,-"Han Liong"
Lam Khie tersenyum-"Aku akan pulang keTayli, entah kapan kita baru berjumpa kembali-"
"Locianpwee berasal dari Tayli?"
"ya."
Lam Khie tertawa.
"Namaku Toan Thian Ngie, raja Tayli adalah adik kandungku."
"oooh"
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Ternyata Locianpwee jago dari Tayli"
"Baiklah-Kita berpisah di sini, sampai jumpa"
Ujar Lam Khie lalu melesat pergi.
Thio Han Liong pun melanjutkan perjalanan ke lembah Pek yun Kok-Walau ia tahu dirinya tidak mungkin dapat menandingi Hiat Mo, tapi ia telap girang, karena akan bertemu Tan Giok Cu yang amat dirindukannya.
-ooo00000ooosudah beberapa hari Ciu Lan Hio sampai di lembah Pek yun Kek-namun gadis itu sering uring-uringan dan marah-marah, karena tidak berhasil mencari Thio Han Liong.
Ketika ia sedang berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, mendadak muncul Hiat Mo, yang kemudian ikut berjalan mondar-mandir di belakangnya.
"Kakek"
Ciu Lan Hio cemberut sambil berhenti-"Apa-apaan sih kakek ikut berjalan mondar-mandir? "
"Ha ha"
Hiat Mo tertawa gelak-"Kakek kira engkau sedang bergerak jalan, maka kakek pun ikut."
"Dasar sudah tua"
Ciu Lan Nio melotot.
"Makin tua makin tak tahu diri dan makin seperti anak kecil"
"Lan Nio"
Hiat Mo menatapnya-"Kenapa engkau terus berjalan mondar-mandir di dalam kamar."
"Aku sedang memikirkan sesuatu-"
"Memikirkan apa?"
"Kakak Han Liong menghilang ke mana? Kenapa aku tidak berhasil menemukannya?"
"Ha ha ha"
"Aku sedang kesal, tapi kakek malah tertawa Kakek senang melihat aku kesal ya?"
"Kakek tertawa karena punya cucu bodoh,"
Sahut Hiat Mo-"Tionggoan sedemikian luas, bagaimana mungkin engkau akan berhasil menemukan Thio Han Liong?"
"Aah -"
Keluh Ciu Lan Nio.
"Kakak Han Liong entah berada di mana sekarang, aku -aku rindu sekali padanya."
"Lan Nio. -"
Hiat Mo menggeleng-gelengkan kepala.
"engkau jangan terus memikirkan pemuda itu. kakek khawatir engkau akan sakit rindu."
"Sekarang aku sudah sakit rindu kok."
"oh, ya?"
Hiat Mo tersenyum.
"Lan Hio, engkau harus ingat Thio Han Liong sudah punya kekasih"
"Aku tahu itu, Kek-"
"Lan Nio,"
Ujar Hiat Mo sungguh-sungguh.
"Lebih baik aku membunuh Tan Giok Cu...."
"Kalau Kakek berani membunuhnya, aku juga tak mau hidup lagi,"
Sahut Ciu Lan Nio.
"Sebab Kakak Han Liong pasti akan membenciku sampai ke tulang sumsumnya."
"oh?"
Hiat Mo menggeleng-gelengkan kepala.
"Engkau begitu mencintai Thio Han Liong, namun Thio Han Liong justru mencintai Tan Giok Cu. Sebaliknya... Kwan Pek Him kelihatan amat tertarik kepadamu, tapi...."
"Kakek...."
Ciu Lan Nio menghela nafas panjang.
"oh ya Kakek harus ingat lho Tidak boleh sembarangan membunuh orang. Kalau kakek berbuat begitu, aku pasti membenci kakek selama-lamanya."
"Jangan khawatir"
Hiat Mo tersenyum.
"Kakek tidak akan sembarangan membunuh orang, percayalah"
"Dan..."
Tambah Ciu Lan Nio.
"Kakek pun tidak boleh melukai kakak Han Liong, apabila dia ke mari bertanding dengan kakek."
"Ha ha ha"
Hiat Mo tertawa gelak.
"Bagaimana mungkin kakek akan melukainya? Engkau tidak usah mencemaskan itu."
"Kakek...."
Ciu Lan Nio menatapnya.
"Apakah kakak Han Liong akan mengalahkan kakek?"
"Itu merupakan hal yang tak mungkin, kakek cuma menghendakinya terus berlatih."
"Kalau begitu...."
Ciu Lan Nio mengerutkan kening.
"Apakah Tan Giok Cu akan begitu selamanya?"
"Ya."
Hiat Mo mengangguk.
"Kakek...."
Ciu Lan Nio menghela nafas strata berkata.
"Bebaskanlah dia, aku tidak tega menyaksikannya begitu, dia sama seperti sebuah boneka."
"Itu tidak bisa-"
Hiat Mo menggelengkan kepala-"sebab sudah terlampau dalam dia terkena ilmu sihir kakek -"
"Aaaah -"
Ciu Lan Nio menghela nafas panjang.
"Kalau kakak Han Liong tahu tentang ini, dia... dia pasti membenciku"
"Lan Nio...."
Hiat Mo menatapnya, kemudian meninggalkan kamar cucunya itu dengan wajah muram, sesungguhnya ia amat setuju cucunya menikah dengan Thio Han Liong, tapi Thio Han Liong telah mencintai Tan Giok Cu.
Itu membuat Hiat Mo serba salah, la ingin membunuh Tan ciiok Cu demi cucunya, namun cucunya justru melarangnya membunuh gadis itu.
-ooo00000ooo-Pagi ini ciu Lan Nio duduk melamun di belakang, tiba-tiba berlari kesitu seorang anggota golongan hitam.
"Hei"
Bentak Ciu Lan Hio yang sedang kesal itu.
"Kenapa engkau berlari-lari ke mari? Bikin aku kaget saja"
"Aku harus melapor kepada kelua...."
"Mau melapor apa?"
"seseorang sedang menuju ke mari. Kami hanya menahannya sehingga terjadi pertarungan, dia -dia telah melukai beberapa orang."
"oh?"
Ciu Lan Hio mengerutkan kening.
"siapa orang itu?"
"Dia bernama Thio Han Liong."
"Hah? Thio Han Liong?"
Ciu Lan Hio langsung meloncat bangun.
"Aku akan pergi menemuinya."
Ciu Lan Hio segera melesat pergi, sedangkan orang itu berlari melesat ke dalam untuk melapor.
Memang Thio Han Liong yang datang.
Belasan anggota golongan hitam terus menyerang.
Di saat itulah terdengar suara bentakan, lalu muncul Ciu Lan Hio.
"Kakak Han Liong Kakak Han Liong...."
"Adik Lan Hio...."
Thio Han Liong memandangnya.
"Ternyata engkau berada di sini"
"Kakak Han Liong"
Ciu Lan Hio langsung mendekap di dadanya.
"Akhirnya engkau ke mari juga."
"Adik Lan Hio...."
Thio Han Liong membelainya seraya bertanya.
"Bagaimana kabarmu selama ini?"
"Aku baik-baik saja"
Sahut Ciu Lan Hio dengan hup.ra rendah.
"Engkau?"
"Aku pun baik-baik saja."
Thio Han Liong menatapnya.
"Aku ke mari mencari Hiat Mo, tak disangka engkau justru berada di sini."
Sementara para anggota golongan hitam terus saling memandang dengan mata terbelalak-Mereka tidak menyangka pemuda itu kenal baik dengan ciu Lan Hio yang amat mereka takuti itu-"Kakak Han Liong, aku.
Ciu Lan Hio menundukkan kepala.
"Aku tidak memberitahukan kepadamu, sesungguhn a...aku... aku...."
"Kenapa engkau?"
"Aku adalah cucu Hiat Mo-"
"oh?Jadi Hiat Mo itu adalah kakekmu?"
"ya."
"Adik Lan Hio, kenapa engkau tidak memberitahukanku dari dulu?"
Thio Han Liong menggeleng-geleng-kan kepala-"Aku khawatir engkau akan meninggalkanku dan membenciku pula, maka aku tidak berani memberitahukan kepadamu,"
Sahut Ciu Lan Hio dengan mata ber-simbah air.
"sebetulnya tidak apa-apa,"
Ujar Thio Han Liong lembut.
"sebab engkau berbeda dengan Hiat Mo, kakekmu. Engkau tidak kejam dan berhati jahat, maka ku-anggap engkau sebagai adik-"
"Kakak Han Liong...."
Ciu Lan Hio mulai terisak-isak-"Lebih baik engkau pergi saja-Engkau -engkau masih bukan tandingan kakekku-"
"Adik Lan Hio,"
Ucap Thio Han Liong.
"Terima kasih atas perhatianmu. Tapi biar bagaimana pun, aku harus bertanding dengan kakekmu."
"Kakak Han Liong...."
"Adik Lan Hio, aku harap engkau jangan menghalangiku menemui kakekmu, sebaliknya engkau harus mengantarku ke lembah ini-"
"Baiklah-"
Ciu Lan Hio mengangguk-"Mari ikut aku ke dalam"
"Terima kasih, Adik Lan Nio"
Ucap Thio Han Liong.
Ciu Lan Hio melesat ke dalam lembah dan Thio Han Liong seaera mengikutinya.
Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah sampai di markas itu.
Tampak beberapa orang berdiri di situ, mereka adalah Hiat Mo, Kwee In Loan dan Tan Giok Cu.
"Adik Manis Adik Manis..."
Seru Thio Han Liong girang. Cepat-cepat ia mendekatinya. Akan tetapi, Tan Giok Cu diam saja, kelihatannya sama sekali tidak kenal Thio Han Liong.
"Adik Manis, aku Han Liong..."
Panggil Han Liong dengan air mata meleleh.
"Adik Manis...."
"Anak Muda"
Hiat Mo tertawa.
"Ha ha ha Dia sudah tidak mengenalmu, percuma engkau memanggilnya."
"Hiat Mo"
Bentak Thio Han Liong.
"Kenapa engkau menyihirnya menjadi begini?"
"Ha ha ha"
Hiat Mo tertawa gelak-"Kalau engkau dapat mengalahkan aku, otomatis aku akan menyembuhkannya. Kalau engkau tidak dapat mengalahkan aku, selamanya dia akan begini-Ha ha ha..."
"Hiat Mo,"
Sahut Thio Han Liong.
"Mari kita bertanding, jangan membuang-buang waktu"
"Baik, baik,"
Hiat Mo manggut-manggut seraya berkata.
"Mari kita bertanding dengan tangan kosong"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk sambil mengerahkan Kiu Yang sin Kang, kemudian mulai menyerang Hiat Mo-"Ha ha ha"
Hiat Mo tertawa gelak sambil berkelit, lalu balas menyerang pula, terjadilah pertandingan yang cukup seru.
Thio Han Liong mengeluarkan ilmu Thay Kek Kun, siauw Lim.
Akan tetapi, semua serangan itu dapat dikclit oleh Hiat Mo Liongjiauw Kang dan Kiu Im Pek Kut Jiauw menyerang Hiat Mo dengan gampang sekali.
Pu-luhan jurus kemudian, Hiat Mo berhasil merobohkan Thio Han Liong.
"Kakak Han Liong..."
Seru Ciu Lan Nio segera mendekatinya.
"Engkau... engkau terluka?"
"Aku. -"
Thio Han Liong bangkit berdiri "Aku -aku tidak apa-apa."
"Ha ha ha"
Hiat Mo tertawa gelak-"Anak Muda, engkau harus berlatih lagi-, engkau boleh mencariku lagi kelak""
"Hiat Mo"
Ujar Thio Han Liong.
"Bolehkah aku meraba wajah Giok Cu sebentar?"
"Boleh-"
Hiat Mo mengangguk-Thio Han Liong mendekati Tan Giok Cu, kemudian meraba gadis itu seraya berkata.
"Adik Manis, kali ini aku gagal menolongmu, tapi aku pasti akan berusaha menolongmu,"
Ujar Thio Han Liong dengan air mata meleleh.
"Aku pasti kemari lagi kelak-"
Usai berkata begitu, Thio Han Liong segera melesat pergi dan itu membuat Ciu Lan Nio langsung berteriak-"Kakak Han Liong Kakak Han Liong..."
Ciu Lan Hio pun segera pergi mengejar Thio Han Liong.
"Lan Hlo Lan Hlo..."
Seru Hiat Mo memanggilnya, namun gadis itu sudah tidak kelihatan.
"Hiat Locianpwee,"
Bisik Kwee In Loan.
"Bukankah lebih baik pemuda itu dibunuh saja?"
"Tidak bisa."
Hiat Mo menggelengkan kepala.
"Aku sudah berjanji kepada cucuku, bahwa aku tidak akan melukai maupun membunuhnya."
"oooh"
Kwee In Loan manggut-manggut.
"Kalau begitu, biar aku pergi menyusul Loan Nlo."
"Tidak usah, dia akan kembali ke sini Biar dia menemui pemuda itu, agar hatinya bisa tenang."
"ya."
Kwee In Loan mengangguk-Ciu Lan Hio melesat laksana kilat, bahkan gadis itu pun terus berteriak-teriak memanggil pemuda itu.
"Kakak Han Liong Kakak Han Liong..."
Thio Han Liong tahu gadis itu menyusulnya, setelah berada di luar lembah Pek Yan Kok, barulah ia berhenti menunggu gadis itu "Kakak Han Liong..."
Panggil ciu Lan Hio.
"Kenapa engkau pergi begitu saja, tidak berpamit padaku?"
"Aku, Lan Hio...."
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"Aku telah gagal menyelamatkan Giok Cu. Aku telah gagal -^ "Kakak Han Liong"
Ciu Lan Hio menatapnya dengan mata basah-"Masih ada aku yang mencintaimu dengan segenap hati, aku -."
"Adik Lan Hio"
Thio Han Liong tersenyum getir.
"Aku cuma mencintaimu sebagai adik. Dalam hal ini harap engkau maklum, agar kelak engkau tidak menderita-"
"Kakak Han Liong -."
Ciu Lan Hio terisak-isak-"Adik Lan Hio"
Thio Han Liong membelainya-"Terus terang, aku merasa bahagia sekali karena engkau mencintaiku-siapa yang dicintai pasti akan bahagia, namun akan menderita sekali apabila cuma mencintai, seperti halnya Kwan Pek Him...."
Ketika Thio Han Liong menyinggung pemuda tersebut, justru tampak sosok bayangan melesat ke balik sebuah pohon, yakni Kwan Pek Him, yang segera pasang kuping-"Dia mencintaimu dengan segenap hati, tapi engkau malah tidak memperdulikannya-Coba engkau bayangkan, betapa sedih dan tersiksa hatinya-"
Lanjut Thio Han Liong.
"Dia seorang pemuda yang baik, penuh pengertian, perasaan dan amat solider, bahkan penuh perhatian padamu-Nah, pemuda yang begitu harus engkau cintai-"
"Tapi--"
"Engkau harus tahu, yang kucintai adalah Giok Cu."
Thio Han Liong memberitahukan dengan jujur.
"selain Giok Cu, aku pun mencintai An Lok Kong cu-Tapi aku tidak bisa memperisteri An Lok Kong cu, karena aku harus menikah dengan Tan Giok Cu."
"Jadi -engkau tidak mencintaiku?"
Tanya Ciu Lan Nio dengan air mata berderai-derai-"
Aku pun mencintaimu, hanya saja mencintaimu, sebagai adik, oleh karena itu, kalau engkau menganggapku sebagai kakakmu, engkau harus menaruh perhatian kepada Kwan Pek Him-Walau wajahnya agak pucat dan tampak dingin, namun dalam hatinya penuh perasaan dan cinta terhadapmu-Kalau engkau menikah dengannya kelak, engkau pasti hidup bahagia-"
"oh?"
"Dia pun tergolong pemuda yang sabar, sulit dicari bandingannya-"
"Kakak Han Liong...."
"Adik Lan Hio"
Thio Han Liong tersenyum.
"Turutilah perkataanku, sebab aku mau pergi ke suatu tempat untuk melatih ilmu silatku Kita akan berpisah cukup lama."
"Engkau mau pergi ke mana?"
"Entahlah."
"oh ya"
Ciu Lan Nio menatapnya seraya bertanya.
"Tadi engkau bilang juga mencintai An Lok Kong cu, siapa gadis itu?"
"Dia putri kaisar cu cioan ciang."
Thio Han Liong memberitahukan, kemudian menutur tentang perkenalannya dengan An Lok Kong cu.
"oooh"
Ciu Lan Nio manggut-manggut, lalu bertanya.
"Kakak Han Liong, kapan engkau akan ke mari lagi?"
"Entahlah-"
Thio Han Liong menggelengkan kepala.
"Sebelum ilmu silatku mencapai tingkat tertinggi, aku tidak akan ke mari bertanding dengan kakekmu, setelah aku yakin dapat mengalahkan kakekmu, barulah aku akan ke mari mencarinya."
"Kakak Han Liong...."
"Adik Lan Hio"
Thio Han Liong membelainya lagi.
"Turutilah perkataanku, dan coba menaruhlah sedikit perhatian pada Kwan Pek Him"
Betapa terharunya hati Kwan Pek Him mendengar ucapan itu. la sama sekali tidak menyangka Thio Han Liong begitu baik kepadanya, sekaligus menasihati Ciu Lan Hio agar menaruh perhatian kepadanya pula.
"Kakak Han Liong, aku...."
"Adik Lan Hio, aku harap kita bertemu kelak, engkau sudah menikah dengan Kwan Pek Him"
Ucap Thio Han Liong dengan tersenyum-"Adik Lan Hio, sampai jumpa --"
Mendadak Thio Han Liong melesat pergi dan seketika juga ciu Lan Hio berteriak-teriak memanggilny a -"Kakak Han Liong Kakak Han Liong..."
Ciu Lan Hio mulai terisak-isak dengan air mata berderai-derai. Di saat bersamaan, muncullah Kwan Pek Him dari balik pohon lalu dengan perlahan-lahan mendekati gadis itu.
"Lan Hio Lan Hio...,"
Panggilnya lembut. Ciu Lan Hio menolehkan kepalanya. Begitu melihat Kwan Pek Him, ia langsung membanting-banting kaki-"Mau apa engkau muncul di sini? Mau apa?"
Bentaknya.
"Lan Hio...."
"Kakak Han Liong sudah datang, tapi pergi lagi."
Ciu Lan Hio memberitahukan sambil menangis terisak-isak-"oh, ya?"
Kwan Pek Him pura-pura tidak tahu apa-apa.
"Dia -dia sudah bertanding dengan kakekmu?"
"ya."
Ciu Lan Hio mengangguk-"Tapi -kakak Han Liong kalah, maka dia pergi. Entah kapan dia akan kemari lagi...-"
"Sudahlah"
Ujar Kwan Pek Him menghiburnya-"Jangan menangis, kelak dia pasti ke mari-"
"Dia -dia begitu baik sekali kepadamu, dan menyuruhku menaruh perhatian padamu-Katanya engkau pemuda yang baik, penuh perasaan, pengertian dan penyabar."
"oh?"
"Kakak Kwan...,"
Panggil ciu Lan Hio mendadak-"Lan Nio...."
Kwan Pek Him terbelalak dan hatinya berbunga-bunga.
"Engkau memanggilku Kakak Kwan?"
"ya, kenapa? Tidak boleh ya?"
"Tentu boleh,"
Sahut Kwan Pek Him cepat dengan wajah berseri-seri-"
Kakak Kwan...."
Ciu Lan Hio menatapnya.
"Wajah-mu terlampau pucat, maka mulai sekarang engkau harus banyak berjemur di mataharipagi agar wajahmu kelihatan segar."
"ya, ya. Aku... aku pasti menuruti perkataanmu."
Kwan pek Him manggut-manggut.
"Mulai besok pagi aku pasti berjemur di bawah matahari, agar wajahku tampak segar."
"Hgmm"
Ciu Lan Hio mengangguk-"Lan Hio"
Kwan Pek Him menatapnya dengan mata berbinar-binar.
"Apa yang harus kulakukan lagi untukmu?"
"Belum kupikirkan"
Sahul Ciu Lan Hio.
"setelah kupikirkan, barulah kuberitahukan."
"Baik,"
Kwan Pek Him tersenyum.
"Lan Hio, mari kita pulang"
Ciu Lan Hio mengangguk, kemudian mereka berdua melesat kc dalam lembah menuju markas itu, untuk menghadap Hiat Mo dan Kwee In Loan.
"Ketua,"
Ujar Kwan Pek Him.
"Aku tidak berhasil menyelidiki jejak Tong Koay, Lam Khie maupun Pak Hong."
"oh?"
Wajah Kwee In Loan langsung berubah menjadi tak sedap dipandang.
"Dasar bodoh Tugas yang begitu kecil tidak dapat engkau laksanakan, apalagi tugas besar?"
"Ketua"
Bentak Ciu Lan Hio.
"Kenapa engkau mem-bentak-bentak dan mencaci Kakak Kwan? Engkau yang goblok tahu"
"Eeeh?"
Kwee In Loan terbelalak-"Lan Hio, engkau...."
"Ha ha ha"
Hiat Mo tertawa gelak
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Lan Hio, kenapa mendadak engkau membela Kwan Pek Him?"
"Kakek, kalau tidak ada apa-apanya, apakah aku tidak boleh membelanya?"
"Tentu boleh Ha ha ha..."
Hiat Mo tertawa gelak-"oh ya, engkau berhasil menyusul Thio Han Liong?"
"ya-"
Ciu Lan Hio menundukkan kepala-"Dia bilang apa kepadamu?"
Tanya Hiat Mo sambil menatap cucunya itu-"Dia bilang...."
Ciu Lan Hio memberitahukan.
"se-belum ilmu silatnya mencapai tingkat tertinggi, dia tidak akan ke mari mencari Kakek""
"oh, ya? Bagus, bagus"
Hiat Mo tertawa gelak-"Ha ha ha Kakek harus hidup lebih lama untuk menunggunya Ha ha ha -"
"Kalau kelak dia muncul di sini menantang Kakek-berarti dia pasti dapat mengalahkan Kakek-"
"oh?"
Hiat Mo tertawa lagi.
"Ha ha ha -"
"sekarang Kakek boleh terus tertawa, tapi kelak baru tahu rasa"
Ujar Ciu Lan Hio, lalu mendadak menarik Kwan Pek Him untuk diajak ke pekarangan.
"Hiat Locianpwee,"
Kwec In Loan tersenyum.
"Kelihatannya Lan Hio mulai menaruh perhatian pada Kwan Pek Him."
"Itu lebih baik,"
Hiat Mo manggut-manggut.
"Lagi aku tidak usah terlampau pusing."
"Tapi --"
Kwee In Loan menggeleng-gelengkan kepala.
"Kepandaian Kwan Pek Him belum begitu tinggi."
"Kalau cucuku mencintainya, aku pun bersedia menggemblengnya,"
Sahut Hiat Mo dengan sungguh-sungguh.
"Itu agar kepandaiannya tidak berada di bawah cucuku."
"Kalau begitu..,"
Ujar Kwee In Loan sambil tertawa.
"Aku boleh membunuh Thio Han Liong jika aku bertemu dia."
"Lebih baik jangan, sebab kalau cucuku tahu pasti akan jadi masalah yang besar sekali,"
Sahut HiatMo-"
Lagi pula untuk apa engkau membunuhnya? Bukankah aku dan dia masih terikat suatu janji?"
"ya."
Kwee In Loan manggut-manggut.
"Maaf, aku lupa...."
Sementara itu, Ciu Lan Hio dan Kwan Pek Him sudah duduk di bawah sebuah pohon di pekarangan. Pemuda itu terus memandangnya dengan wajah berseri-seri-"Eh?"
Ciu Lan Hio melotot.
"Kenapa engkau memandangku dengan cara begitu? Apakah di kepalaku tumbuh tanduk?"
"Lan Hio...,"
Sahut Kwan Pek Him dengan suara rendah.
"Semakin kupandang wajahmu tampak semakin cantik,"
"Wuah"
Ciu Lan Hio tertawa geli-"Baru aku menaruh sedikit perhatian pada mu, mulai pula engkau merayuku-"
"Aku tidak merayumu, melainkan berkata sesungguhnya-Wajahmu memang cantik-"
"Juga galak dan liar. Apa engkau akan tahan?"
"Aku pasti bisa tahan."
"Aaah -"
Ciu Lan Hio menghela nafas panjang.
"Memang benar apa yang dikatakan Kakak Han Liong."
"Dia mengatakan apa?"
"Dia mengatakan pasti bahagia dicintai, tapi akan menderita kalau mencintai,"
Sahut Ciu Lan Hio memberitahukan.
"Kini aku merasakan itu"
"Tapi aku lebih bahagia lagi apabila saling mencinta,"
Ujar Kwan Pek Him lembut.
"Memangnya aku goblok, tidak tahu tentang itu"
Sahut Ciu Lan Hio cemberut dan melotot.
"Aku.. aku...."
Kwan Pek Him langsung menundukkan kepalanya.
"Hi hi hi"
Ciu Lan Hio tertawa geli-"Begitu aku cemberut dan melotot, nyalimu langsung ciut sungguh menggelikan"
"Lan Hio, aku memang takut padamu."
"Kenapa takut?"
Ciu Lan Hio mengerutkan kening.
"Memangnya aku ini macan betina yang akan memangsamu?"
"Aku takut...,"
Bisik Kwan Pek Him.
"Aku takut... engkau tidak akan mencintaiku."
"Aku memang tidak akan mencintaimu,"
Sahut Ciu Lan Hio sambil tertawa.
"Ha ha ha Tunggulah sampai kucing bertanduk, barulah aku akan mencintaimu."
"Engkau tidak bohong?"
Tanya Kwan Pek Him sungguhsungguh.
"Pokoknya kalau di kepala kucing tumbuh tanduk, aku pasti mencintaimu,"
Sahut Ciu Lan Hio sambil tertawa geli.
"Hi hi hi -" -ooo00000ooo-Bab 40 BuBeng sian su (Padri Tua Tanpa Hama) Setelah meninggalkan lembah Pek Yun Kok, Thio Han Liong lalu beristirahat di tepi sungai, la duduk melamun kemudian bergumam sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Bagaimana mungkin aku dapat mengalahkan Hiat Mo-Kalaupun aku terus berlatih sepuluh tahun lagi, belum tentu dapat mengalahkannya. Aaaah--"
Thio Han Liong mengambil sebuah batu kecil, dilemparkannya ke dalam sungai itu.
setelah itu, ia menundukkan kepala lalu terbelalak-Ternyata ia melihat seekor semut sedang menarik bangkai seekor capung, capung itu begitu besar, sebaliknya semut itu kecil sekali.
Akan tetapi, semut itu terus menariknya dan berhasil meskipun sedikit demi sedikit.
Thio Han Liong menyaksikannya dengan penuh perhatian.
Tak seberapa lama kemudian, semut itu beristirahat, setelah itu, mulai lagi menarik bangkai capung itu.
"Semut,"
Ujar Thio Han Liong sambil menggelenggelengkan kepala.
"sampai kapan engkau akan berhasil menyeret bangkai capung itu ke tempatmu? Tidak mungkin engkau akan berhasil menyeret bangkai capung itu ke tempatmu."
Namun semut itu terus menyeret bangkai capung tersebut.
Tiba-tiba Thio Han Liong tersentak-"semut merupakan binatang yang begitu kecil, tapi kelihatan tidak putus asa sama sekali.
Aku adalah manusia yang berakal budi, kenapa begitu cepat putus asa?
Aaaah...
aku sungguh malu kepada semut kecil itu"
Usai bergumam, Thio Han Liong lalu mengangkat bangkai capung berikut semut itu untuk didekatkan dengan sarang semut tersebut.
"Aku tidak boleh putus asa Aku tidak boleh putus asa"
Ujar Thio Han Liong dan mulai bersemangat.
"Aku harus ke gunung soat san untuk melatih ilmu silatku, setelah itu aku harus mencari Teratai saiju."
Thio Han Liong mulai melakukan perjalanan menuju gunung soat soRV "-Tujuh delapan hari kemudian, sampailah ia di gunung itu dan langsung menuju gua hangat.
Begitu memasuki gua hangat tersebut, diciumnya semacam aroma yang amat wangi, yang sudah barang tentu membuat perutnya menjadi lapar sekali.
Thio Han Liong menengok ke sana ke mari.
Dilihat-nya sebuah tumbuhan di tengah-tengah telaga kecil.
Tumbuhan itu agak pendek dan hanya berbuah satu yang tampak merah tua.
Ternyata buah itulah yang menyiarkan aroma harum.
Baca Juga: Kesatria Baju Putih 8
Baca Juga: Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 16