Eps 7 Anak Naga - Chin Yung
Baca online Anak Naga - Chin Yung
Cersil Anak Naga - Chin Yung.
"sebab Ay Ceng sudah berkepandaian tinggi, maka bisa menjaga diri Lagipula siapa pun akan merasa bosan terus menerus berdiam di dalam istana."
"Dia boleh pergi pesiar, tapi harus dikawal."
"Dikawal? Itu justru akan membahayakan dirinya."
"Aaaah..."
Cu Goan ciang menggeleng-gelengkan kepala.
"Dia pergi justru menyusahkan kita. Lan Lan, cepat panggil Lie Wie Kiong ke mari"
"ya, yang Mulia."
Lan Lan segera pergi memanggil kepala pengawal istana. Berselang sesaat, Lan Lan sudah kembali bersama Lie Wie Kiong.
"Hormat kepada yang Mulia,"
Ucap Lie Wie Kiong samb-fl bangkit berdiri "Ada perintah apa untuk hamba?"
"An Lok Kong cu meninggalkan istana, maka engkau harus mengutus beberapa pengawal istana yang berkepandaian tinggi pergi menyusulnya."
"ya, yang Mulia."
"Engkau akan mengutus siapa?"
Tanya Cu Goan ciang.
"Ten Bun Hiong, Lie sie Beng dan Yo wie Heng."
Lie Wie Kiong memberitahukan.
"Mereka bertiga berkepandaian cukup tinggi."
"Ngmm"
Cu Goan ciang manggut-manggut.
"Mereka bertiga harus membawa pulang An Lok Kong cu. Kalau An Lok Kong cu belum mau pulang, mereka bertiga harus melindunginya."
"Ya, yang Mulia."
"Mereka bertiga pun harus menjaga rahasia identitas An Lok Kong cu"
Pesan cu Goan Ciang dan menambahkan.
"Apabila terjadi sesuatu atas diri An Lok Kong cu, mereka bertiga pasti dihukum."
"yang Mulia,"
Tanya Lie Wie Kiong.
"Bagaimana kalau mereka tidak berhasil menemukan An Lok Kong cu?"
"Pokoknya mereka bertiga harus berhasil menemukan An Lok Kong cu,"
Tegas Cu Goan ciang.
"Ini adalah perintahku."
"Ya, Yang Mulia."
Lie Wie Kiong segera mengundurkan diri dari ruang itu, lalu cepat-cepat memanggil Tan Bun Hiong, Lie sieBeng dan Yo Wle Heng, dan ke tiga pengawal istana itu langsung datang menghadap.
"Ada perintah apa. Pak?"
Tanya Tan Bun Hiong.
"Ini adalah tugas rahasia kalian bertiga,"
Sahut Lie Wie Kiong dengan suara rendah.
"Dan ingat, kalian bertiga tidak boleh membocorkan rahasia ini."
"Ya, Pak-"
Tan Bun Hiong mengangguk.
"An Lok Kong Cu meninggalkan istana pagi ini."
"Haah?"
Betapa terkejutnya Tan Bun Hiong, Lie SieBeng dan yo Wie Heng.
"An Lok Kong Cu meninggalkan istana?"
"ya."
Lie Wie Kiong mengangguk
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Maka kutugas-kan kalian bertiga pergi mencarinya"
"siap. Pak,"
Sahut Tan Bun Hiong, kemudian bertanya.
"Bagaimana seandainya kami bertiga tidak berhasil menemukan An Lok Kong cu?"
"yang Mulia pasti menghukum kalian."
Lie Wie Kiong memberitahukan.
"oleh karena itu, biar bagaimanapun kalian bertiga harus berhasil menemukan An Lok Kong cu."
"ya. Pak-"
Tan Bun Hiong mengangguk.-"Kalian bertiga menyamar sebagai orang biasa dan harus merahasiakan identitas kalian pula,"
Pesan Lie Wie Kiong.
"ya. Pak"
Tan Bun Hiong mengangguk lagi.
"Sekarang kalian bertiga boleh berangkat."
Lie Wie Kiong menatap mereka.
"semoga kalian bertiga berhasil menemukan An Lok Kong cu"
"Bagaimana seandainya An Lok Kong cu tidak mau ikut kami pulang?"
Tanya yo Wie Heng.
"Kalian bertiga harus melindunginya, sekaligus membujuknya pulang,"
Sahut Lie Wie Kiong.
"ya. Pak-Kami pasti melaksanakan tugas ini dengan baik-"
Tan Bun Hiong, Lie sie Beng dan yo wie Heng memberi hormat, lalu pergi dengan kening berkerut-kerut.
Apabila mereka bertiga tidak berhasil menemukan An Lok Kong cu, pasti mendapat hukuman berat dari kaisar, dan itu membuat mereka bertiga tak henti-henti-nya menghela nafas panjang.
-ooo00000oooo-Setelah meninggalkan rumah Gutu Silat Tan, Thio Han Liong meneruskan perjalanannya menuju gunung Bu Tong.
Ketika teringat akan tingkah laku Bun cin cu, ia langsung menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau aku terlambat meninggalkan rumah Guru silat Tan, pasti terjerat oleh gadis itu,"
Gumam Thio Han Liong sambil menghela nafas.
"Tapi sungguh kasihan, dia menangis sampai begitu sedih. Aaah Mulai sekarang aku tidak mau mendekati anak gadis yang mana pun. Pokok-nya aku harus bersikap dingin, agar tidak didekati anak gadis."
Thio Han Liong terus melanjutkan perjalanannya.
Terik matahari agak menyengat, sehingga membuat pemuda itu kepanasan dan merasa haus pula.
Kebetulan ada sebuah kedai teh di pinggir jalan, maka cepat-cepatlah ia mampir untuk bcrteduh sekaligus minum teh.
Kedai itu ramai sekali dikunjungi orang.
Namun masih ada beberapa meja yang kosong.
Thio Han Liong duduk di situ dan pelayan segera menyuguhkan teh.
"Tuan Muda masih mau pesan makanan lain?"
Tanya pelayan itu dengan sopan sekali.
"Tidak-"
Thio Han Liong menggelengkan kepala-"Aku minum teh saja-"
"Silakan minum. Tuan Muda"
Ucap pelayan itu-"Terima kasih,"
Sahut Thio Han Liong dan mulai meneguk teh itu Di saat bersamaan, tampak seorang sastrawan muda yang amat tampan berjalan memasuki kedai teh itu.
sebuah buntalan dan sebilah pedang bergantung di punggungnya.
sastrawan tampan itu menengok ke sana ke mari, ternyata kedai itu telah dipenuhi para tamu.
Begitu melihat sastrawan tampan itu, Thio Han Liong merasa cocok-maka segeralah ia melambaikan tangannya ke arah sastrawan tampan itu.
sambil tersenyum sastrawan tampan itu menyapa Thio Han Liong, kemudian memberi hormat.
Thio Han Liong cepat-cepat bangkit berdiri, lalu balas memberi hormat "saudara duduk di sini saja, sebab tempat lain penuh semua,"
Ujar Thio Han Liong sambil tersenyum.
"terima kasih,"
Ucap sastrawan tampan, la pun tersenyum sehingga membuat Thio Han Liong terheran-heran. sastrawan itu memang betul-betul tampan sekali, terutama senyumannya, yang amat menawan hati dan mempesona.
"saudara sungguh tampan"
Thio Han Liong menatapnya.
"Silakan duduk"
"Terima kasih,"
Dengan tersipu sastrawan itu duduk-Thio Han Liong pun segera duduk-pelayan buru-buru menyuguhkan teh wangi seraya bertanya.
"Tuan Muda maupesan makanan lain?"
"Ada makanan apa di sini?"
Tanya sastrawan tampan.
"Ada bakpau dan...."
Pelayan memberitahukan.
"Kalau begitu..."
Pesan sastrawan tampan,-"Tolong ambilkan beberapa buah bakpau"
"ya. Tuan Muda."
Pelayan itu segera pergi mengambil beberapa buah bakpau, kemudian ditaruh di atas meja.
"Silakan makan. Tuan Muda"
"terima kasih,"
Ucap sastrawan tampan, lalu memandang Thio Han Liong seraya berkata.
"saudara, mari kita makan bakpau"
"Aku masih kenyang,"
Tolak Thio Han Liong halus.
"Eeeh? Kalau saudara tidak mau makan bakpau yang kupesan ini, maka aku pun tidak mau duduk di sini,"
Tegas sastrawan tampan itu sambil tersenyum.
"Aku...."
Akhirnya Thio Han Liong mengangguk
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com Mereka berdua lalu mulai menikmati bakpau itu, dan sastrawan tampan terus memandang Thio Han Liong, kemudian berkata.
"saudara sungguh tampan sekali Bolehkah aku tahu namamu?"
"Menurut aku...."
Thio Han Liong menatapnya dengan penuh perhatian.
"saudara lebih tampan dariku. oh ya, aku bernama Thio Han Liong. Nama saudara?"
"Namaku.... Cu An Lok,"
Sahut sastrawan tampan itu, yang ternyata An Lok Kong Cu-Cu Ay Ceng yang meninggalkan istana, la pakai nama samaran Cu An Lok-"Cu An Lok?"
Thio Han Liong tersenyum.
"ya."
An Lok Kong cu mengangguk-"Apakah namaku tak sedap didengar?"
"Namamu sungguh mengesankan"
Sahut Thio Han Liong sambil bergumam-"An Lok -tenang gembira-"
"saudara Thio"
Tanya An Lok Kong cu mendadak.
"Apakah namaku akan terukir dalam hatimu?"
"Tentu""
Thio Han Liong mengangguk-"Aku tidak akan melupakan namamu-"
"Tapi akan melupakan diriku kan?"
An Lok Kong cu menatapnya dengan mata berbinar-binar.
"Tentu tidak-"
Thio Han Liong tersenyum-"Mulai sekarang kita sudah merupakan kawan baik, bagaimana mungkin aku akan melupakan dirimu?"
"Terima kasih, saudara Thio,"
Ucap An Lok Kong cu dengan wajah berseri-"Oh ya. engkau berasal dari mana?"
"Tempat tinggalku jauh sekali,"
Jawab Thio Han Liong jujur.
"Di sebuah pulau yang terletak di Laut utara."
"Begitu jauh?"
An Lok Kong cu terbelalak.
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk-"Oh ya, engkau berasal dari mana?"
"Tempat tinggalku di Kotaraja-Terus terang, aku -aku anak pembesar di Kotaraja,"
Ujar An Lok Kong cu-"Oh?"
Thio Han Liong memandangnya.
"Pantas g-rak-gerikmu begitu halus, ternyata engkau anak pembesar Kenapa engkau meninggalkan rumah?"
"Aku ingin pesiar."
An Lok Kong cu tersenyum.
"Bosan sekali terus-menenis berdiam di dalam rumah"
"Ke dua orangtuamu tahu kalau engkau pergi pesiar?"
"Tahu."
"Kira-kira engkau mau pesiar ke mana?"
"Entahlah-"
An Lok Kong cu menggelengkan kepala.
"Yang penting tempat yang indah panoramanya, oh ya, engkau mau ke mana?"
"Aku mau ke gunung Bu Tong."
"Engkau murid Bu Tong Pay?"
"Bukan."
Thio Han Liong memberitahukan.
"Tapi kakekku murid Bu Tong Pay. Aku ke sana ingin menemui sucouw dan para kakek lainnya sebab aku sudah rindu kepada mereka."
"Sucouwmu adalah Guru Besar Thio sam Hong?"
"BetuL"
Thio Han Liong mengangguk-"Engkau kok tahu?"
"Aku pernah mendengar."
"oooh"
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Aku yakin engkau pasti mendengar dari gurumu. Ya, kan?"
"Ya-"
An Lok Kong cu mengangguk,-"
Kalau begitu, kepandaianmu pasti tinggi sekali."
Thio Han Liong menatapnya.
"ya, kan?"
"Tidak juga."
An Lok Kong Cu tersenyum.
"oh ya, engkau pernah belajar ilmu silat?"
"Pernah sedikit."
"Siapa yang mengajar mu ilmu silat?"
"Ayahku."
"Kalau begitu, ayahmu pasti sangat terkenal dalam rimba persilatan. Bolehkah aku tahu nama ayahmu?"
"Ayahku bernama Thio Ah Ki."
"saudara Thio"
An Lok Kong cu memandangnya seraya berkata.
"Setahuku, pemandangan di gunung Bu Tong amat indah-Maka... aku ingin ikut engkau ke gunung Bu Tong. Engkau tidak berkeberatan kan?"
"Itu--"
"saudara Thio"
Desak An Lok Kong cu-"Ajaklah aku ke sana Aku ingin menikmati keindahan alam di sana."
"Tapi--"
"jangan tolak. saudara Thio"
An Lok Kong cu memandangnya sambil tersenyum lembut. (Bersambung keBagian 16)
Jilid 16 Menyaksikan senyumannya, Thio Han Liong merasa tidak tega menolaknya, akhirnya ia manggut-manggut.
"Baiklah. Tapi dalam perjalanan engkau tidak boleh manja lho"
"Eh?"
An Lok Korlg Cu cemberut.
"Memangnya aku anak manja?"
"Biasa."
Thio Han Liong tertawa.
"Anak pembesar suka memanjakan diri, namun aku tidak akan memaniakanmu lho"
"Huh Siapa yang mau dimanjakan?"
An Lok Kong cu cemberut lagi, dan itu membuat Thio Han Liong memandangnya dengan mata terbelalak.
"Engkau anak laki-laki kok suka cemberut?"
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Itu pertanda engkau amat manja."
"yang penting aku tidak minta digendong,"
Ujar An Lok Kong cu.
"Aku bisa berjalan sendiri."
"Nah, harus begitu"
Thio Han Liong tersenyum, namun kemudian menghela nafas panjang.
"Eh?"
An Lok Kong cu tercengang.
"Kenapa engkau mendadak menghela nafas sih? Apa yang terganjel dalam hatimu?"
"Saudara Cu,"
Sahut Thio Han liong.
"Sebetulnya aku tidak menyukai kaum pembesar, begitu pula terhadap anak pembesar."
"Memangnya kenapa?"
"Itu...."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala-"Terus terang, aku pun amat membenci kaisar.."
An Lok Kong co merasa heran.
"Kenapa engkau membenci kaisar? Bukankah kaisar sangat adil dan bijaksana, bahkan amat mementingkan rakyat?"
Tanyanya.
"Itu memang tidak salah-.Tapi-."
Kening Thio Han Liong berkerut-kerut "Cu Goan ciang berhati licik dan jahat, mungkin kelak aku akan membunuhnya."
"oh?"
Air muka An Lok Kong cu langsung berubah, namun Thio Han Liong tidak memperhatikannya.
"oh ya, margamu Cu, apakah punya hubungan dengan kaisar?"
Tanya Thio Han Liong mendadak.
"Tidak punya hubungan apa-apa,"
Sahut An Lok Kong cu.
"Hanya kebetulan akupun marga Cu. Kenapa engkau begitu dendam terhadap kaisar?"
"Aaaah..."
Thio Han Liong menghela nafas panjang-"semua itu telah berlalu, tidak perlu diungkit lagi-"
"saudara Thio"
An Lok Kong cu menatapnya-"Maukah engkau menceritakannya kepadaku?"
"Lain kali saja,"
Sahut Thio Han Liong.
"sekarang mari kita berangkat ke gunung Bu TOng"
"Baik,"
An Lok Kong cu mengangguk, lalu menurunkan buntalannya, dan dibukanya dengan perlahan-lahan.
Begitu melihat isi buntalan itu, terbelalaklah Thio Han Liong, karena buntalan itu berisi uang perak dan uang emas.
An Lok Kong cu mengambil dua tael perak, kemudian diberikan kepada pelayan.
"Tuan Muda..."
Pelayan itu tertegun.
"Ini... ini masih lebih banyak-"
"LebiKnya untukmu saja"
Sahut An Lok Kong cu.
"Haaah?"
Mulut pelayan itu ternganga lebar.
"Te... terima kasih. Tuan Muda, terima kasih."
An Lok Kong Cu tersenyum, lalu menggantung buntalan itu di punggungnya-Tanpa ia sadari, beberapa tamu terus memandang ke oYt^n^t»., ternyata mereka kaum golongan hitam-"Itu sasaran empuk, kita harus mengikutinya,"
Bisik salah seorang dari mereka-"Aku tidak sangka, dia membawa uang begitu banyak, Kalau kita berhasil merampoknya, pasti tidak akan habis dimakan tiga tahun lho"
Thio Han Liong dan An Lok Kong cu meninggalkan kedai teh itu Mereka berdua tidak tahu kalau diikuti -beberapa orang golongan hitam.
"Hari sudah mulai sore, kira-kira beberapa mil terdapat sebuah kota, kita harus bermalam di dalam kota itu,"
Ujar Tluo Han Liong.
"Kita santai saja,"
Sahut An Lojt Kong cu.
"Kalau kemalaman sampai di kota itujuga tidak apa-apa."
"Engkau pernah bermalam di dalam hutan?"
"Tidak pernah-"
"Kalau begitu -"
Ucapan Thio Han Liong terputus, karena mendadak muncul beberapa orang di hadapannya.
"Ha ha ha"
Salah seorang dari mereka tertawa gelak-"
Kalau kalian ingin selamat. tinggalkan buntalan itu"
"siapa kalian?"
Tanya Thio Han uong sambil mengerutkan kening.
"Kami perampok"
Sahut mereka serentak-"Maka kalau kalian sayang nyawa, tinggalkan buntalan itu"
"Hmm"
Dengus An Lok Kong cu.
"Kalian tidak takut kepada hukum?"
"Kami hanya kenal hukum rimba"
Sahut orang itu sambil membentak-"Engkau jangan banyak omong, cepat tinggalkan buntalanmu itu?"
"oh, ya?"
An Lok Kong cu tersenyum dingin-Ketika ia baru mau menghunus pedangnya, mendadak Thio Han Liong maju dua langkah seraya berkata kepadanya-"saudara Cu, engkau diamlah Biarlah aku yang membereskan mereka."
"Terima kasih, saudara Thio,"
Ucap An Lok Kong cu sambil tersenyum.
"Aku peringatkan kalian"
Thio Han Liong menatap beberapa perampok itu dengan tajam.
"Lebih baik kalian cepat enyah dari sini, jangan cari penyakit"
"Hm"
Dengus orang itu lalu mengeluarkan senjatanya yang berupa sepasang kampak dan mendadak menyerang Thio Han Liong dengan sengit sekali.
Thio Han Liong bergerak cepat menghindari serangan itu, kemudian secepat kilat balas menyerang menggunakan siauw Lim Liong jiauw Kang.
Duuuk.
Dada perampok itu terpukul.
"Aaaakh -"
Jeritnya kesakitan, la terpental beberapa depa lalu roboh dan mulutnya mengeluarkan darah-"Haah?"
Yang lain terkejut bukan main.
Tapi kemudian mereka menyerang Thio Han Liong serentak dengan senjata.
Pemuda itu tersenyum dingin dan sekonyong-konyong badannya bergerak cepat sambil menggerakkan sepasang tangannya.
"Aaakh Aaaakh Aaaakh -"
Terdengar suara jeritan. Para perampok itu sudah terkapar dengan mulut mengeluarkan darah-Ternyata Thio Han Liong menyerang mereka dengan ilmu Kiu Im Pek Kut Jiauw-"saudara Thio"
An Lok Kong cu bertepuk tangan.
"Ilmu silatmu sungguh tinggi"
"Tidak juga,"
Sahut Thio Han Liong sambil tersenyum, lalu membentak para perampok itu.
"Kali ini kalian kuampuni cepatlah kalian enyah"
Para perampok itu segera pergi. Di antaranya ada yang terjatuh-jatuh, dan itu membuat An Lok Kong cu tertawa geli-"saudara Cu,"
Ujar Thio Ha h Liong sambil meng-gelenggelengkan kepala
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Dalam rimba persilatan banyak terdapat orang licik dan jahat, maka lebih baik engkau kembali ke Kotaraja."
"Terima kasih atas nasihatmu, namun...."
An Lok Kong cu tersenyum.
"Aku tidak akan pulang sekarang, sebab ingin pesiar bersamamu."
"Eeeh"
Thio Han Liong menggaruk kepala.
"Kok sekarang malah dibebankan padaku?"
"sebab engkau berkepandaian tinggi, maka aku merasa aman pesiar bersamamu,"
Sahut An Lok Kong cu sambil menatapnya dengan mata berbinar-binar.
"Celaka aku"
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"saudara Cu, engkau tidak boleh ikut aku, sebab aku masih harus menyelesaikan banyak urusan."
"Aku tidak akan mengganggumu, percayalah"
Ujar ,^n Lok Kong cu.
"Aku,., aku hanya ingin bersamamu."
"Dasar anak manja"
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Engkau boleh bersamaku, tapi tidak boleh nakal. Awas kalau nakal, aku... aku akan menjewer telingamu"
"Jewerlah sekarang Aku... aku senang sekali-"
"Engkau tidak punya salah, kenapa aku harus menjewermu?"
Thio Han Liong tersenyum.
"Ayoh, mari kita berangkat Hari sudah mulai senja-"
Thio Han Liong dan An Lok Kong cu bermalam di sebuah penginapan. Mereka duduk berhadapan di dalam kamar sambil menikmati teh wangi.
"Heran"
An Lok Kong cu menatapnya.
"Kenapa engkau jarang minum arak?"
"Aku memang jarang minum arak. karena arak bisa merusak kesehatan"
Sahut Thio Han Liong.
"oooh"
An Lok Kong cu manggut-manggut.
"Han Liong, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan sebentar?"
"Pergi jalan-jalan?"
Thio Han Liong menatapnya.
"Ya-"
An Lok Kong cu mengangguk-"Engkau tidak mau beristirahat?"
Tanya Thio Han Liong.
"Aku belum ng antuk, lagipula aku tidak merasa letih,"
Sahut An Lok Kong cu.
"Maka alangkah baiknya kalau kita pergijalan-jalan.".
"Kita kurang paham akan kota Hang Ciu ini, lebih baik kita bertanya kepada pelayan dimana ada tempat yang indah untuk pesiar?"
"Baik-"
Mereka berdua meninggalkan kamar itu-buntalan yang dibawa An Lok Kong cu tetap tergantung di punggungnyasampai di luar, kebetulan mereka berpapasan dengan seorang pelayan.
"Tuan-tuan mau ke mana?"
Tanya pelayan itu.
"Mau pergi jalan-jalan,"
Sahut Thio Han Liong.
"oh ya Malam begini ke mana paling menyenangkan? "
"Kalau Tuan-tuan mau bersenang-senang, paling tepat ke Pek Hoa Louw (Rumah seratus Bunga)."
"Pek Hoa Louw?"
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Tempat apa itu?"
"Tempat untuk bersenang-senang."
"Itu tempat bordil?"
Tanya Han Liong.
"Bukan."
Pelayan itu memberitahukan.
"Itu merupakan tempat hiburan. Di sana ada hidangan yang lezat-lezat, dan juga ada gadis cantik bermain musik sambil bernyanyi dan menari, Itu adalah tempat hiburan bagi kaum hartawan dan bangsawan, tempat buang uang."
"Pelayan"
Thio Han Liong tersenyum.
"Terima kasih atas penjelasanmu."
"sama-sama,"
Ucap pelayan lalu pergi-"Han Liong"
Wajah An Lok Kong cu berseri-seri-"Mari kita pergi ke tempat hiburan itu"
"Maaf, saudara Cu"
Sahut Thio Han Liong.
"Aku, bukan pemuda romantis, maka aku tidak mau ke sana. Lagipula uangku tidak cukup untuk bersenang-senang di tempat itu"
"Han Liong..."
Desak An Lok Kong cu.
"Temanilah aku ke sana"
"Dasar anak pembesar"
Thio Han Liong bersungut-sungut.
"Tahunya cuma bersenang-senang"
"Kok sewot sih?"
An Lok Kong cu tersenyum geli.
"saudara Cu...."
"Han Liong"
Potong An Lok Kong cu cepat.
"Jangan memanggilku saudara Cu, lebih baik panggil aku.... Adik An Lok."
"Baiklah."
Thio Han Liong mengangguk-"Adik An Lok -"
"Terima kasih, Kakak Han Liong, Terima kasih-"
Betapa girangnya An Lok Kong cu.
"Ayolah Temani aku ke Pek Hoat Louw"
"Aku akan menemanimu ke tempat hiburan itu, tapi ingat..."
Thio Han Liong menatapnya tajam.
"Engkau tidak boleh main perempuan di tempat itu. Kalau engkau berani main perempuan, pasti ku tinggal"
"Jangan khawatir."
An Lok Kong cu tersenyum manis.
"Aku tidak akan main perempuan di tempat itu. Tapi bagaimana seandainya engkau yang main perempuan di tempat itu?"
"Adik An Lok-"
Thio Han Liong memberitahukan.
"sejak aku berkelana, sama sekali tidak pernah main perempuan."
"oh?"
An Lok Kong cu tertawa kecil.
"Yang benar? Masa sih engkau tidak pernah main perempuan? Maksudku -tidak pernah tidur bersama perempuan."
"Aku memang tidak pernah tidur bersama perempuan,"
Sahut Thio Han Liong sungguh-sungguh.
"Aku bukan pemuda hidung bCiang."
An Lok Kong cu tertawa.
"Hidungmu memang tidak bCiang kok-"
"Eeeeh?"
Thio Han Liong terbelalak
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "suara tawa-mu... kok mirip sekali dengan suara tawa anak gadis?"
"Aku...."
An Lok Kong cu tersentak-"Aku -aku sengaja tertawa begitu"
"oooh"
Thio Han Liong tersenyum.
"Kakak Han Liong, mari kita berangkat ke tempat hiburan itu"
Ajak An Lok Kong Cu-.
"Baik-"
Thio Han Liong mengangguk, kemudian mereka berdua berangkat ke tempat hiburan itu sambil tertawa-tawa.
Bab 32 Pek Hoa Louw (Rumah seratus Bunga) Pek Hoa Louw (Rumah seratus Bunga) memang merupakan tempat hiburan bagi golongan atas.
Rumah tersebut dibangun dengan biaya besar, maka tidak heran kalau begitu indah dan mewah-Di dalamnya terdapat taman bunga, telaga buatan dan lain sebagainya-Lentera-lentera yang beraneka bentuk dan warna bersinar remang-remang, justru menambah keindahan tempat tersebut.
Begitu memasuki rumah hiburan itu, terbelalaklah Thio Han Liong, karena ia tidak menyangka rumah hiburan itu sedemikian indah, terdengar pula suara musik yang menggetarkan kalbu
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "silakan ke dalam"
Ucap seorang penjaga sambil memberi hormatsetelah melewati taman bunga dan telaga buatan, sampailah-mereka di suatu tempat yang ditata indah sekali-Di sana tampak pula sebuah panggung yang tidak begitu tinggi, tapi bukan main indahnya-Di atas panggung itu duduk beberapa anak gadis sedang bermain musik, juga terlihat beberapa anak gadis sedang menari sambii bernyanyi.
"silakan duduk. Tuan-tuan"
Ucap salah seorang gadis pelayan rumah hiburan itu.
"Terima kasih-"
Sahut Thio Han Liong sambil duduk. Cukup ramai tempat itu, namun tempat yang di sebelah kanannya agak sepi tapi indah sekali, hanya tampak belasan orang duduk di sana sambil bersulang.
"Tuan-tuan mau pesan makanan dan minuman apa?"
Tanya gadis pelayan itu.
"sajikan hidangan-hidangan yang paling lezat"
Jawab An Lok Kong cu.
"Juga sajikan arak wangi"
"ya."
Gadis pelayan itu mengangguk-"Hanya untuk Tuan-tuan berdua?"
"ya."
Sahut An Lok Kong cu-"Permisi"
Ucap gadis pelayan itu sopan, lalu berjalan pergi.
"Adik An Lok"
Thio Han Liong menengok ke sana ke mari seraya berkata.
"Bukan main indahnya tempat ini"
"Menurutku -,"
Sahut An Lok Kong cu sambil menggelengkan kepala-"Masih kurang indah-"
"Apa?"
Thio Han Liong terbelalak "
Tempat yang sedemikian indah, engkau malah katakan kurang indah? Kalau begitu, tempat tinggalmu di Kotaraja pasti indah sekali"
"Betul"
An Lok Kong cu mengangguk-"Jauh lebih indah dari tempat ini."
"oh?"
Thio Han Liong menatapnya dengan mata tak berkedip-"Kalau begitu ayahmu pasti pejabat tinggi dalam istana, ya kan?"
"Ya."
An Lok Kong cu mengangguk sambil tersenyum.
"Kakak Han Liong, seandainya engkau mau menjadi pejabat-tinggi dalam istana, aku mampu membantumu."
"Adik An Lok-terima kasih atas maksud baikmu,"
Ucap Thio Han Liong sambil menghela nafas panjang.
"Ayahku masih tidak mau menjadi kaisar, tentunya aku pun tidak mau menjadi pejabat tinggi di dalam istana."
"Kakak Han Liong, siapa ayahmu?"
Tanya An Lok Kong cu cepat.
"Ayahku...."
Di saat ia baru mau memberitahukan, mendadak muncul beberapa gadis pelayan menyajikan beberapa macam hidangan dan arak wangi.
"silakan menikmati"
Ucap gadis pelayan tadi-"Terima kasih,"
Ucap Thio Han Liong.
"Permisi...."
"Tunggu"
Sahut An Lok Kong cu.
"Silakan duduk"
"Apa?"
Gadis pelayan itu terperanjat.
"Maaf tuan, aku tidak boleh duduk."
"Jangan khawatir"
An Lok Kong cu tersenyum.
"Aku yang bertanggung jawab kalau majikanmu marah-"
"Ya-"
Gadis pelayan itu duduk-Di saat itulah muncul dua penjaga yang langsung mendekati gadis pelayan itu dengan mata melotot.
"Engkau berani duduk di sini? Ayoh, cepat bangun"
Bentak salah seorang penjaga itu.
"Aku yang menyuruhnya duduk di sini-Memangnya tidak boleh?"
Sahut An Lok Kong cu tidak senang.
"Berdasarkan peraturan di sini memang tidak boleh, tapi...."
Penjaga itu tersenyum menyengir.
"Biasalah"
"Maksudmu?"
An Lok Kong cu tidak mengerti.
"Tuan"
Penjaga itu memberitahukan.
"Kami keamanan di sini, jadi Tuan harus mengerti."
"Apa sih?"
An Lok Kong cu tetap tidak mengerti.
"Adik An Lok,"
Bisik Thio Han Liong.
"Kelihatannya mereka minta disogok-"
"oooh"
An Lok Kong cu tertawa kecil, lalu menaruh buntalannya di atas meja, sekaligus membukanya.
Begitu buntalan itu dibuka, ke dua keamanan itu terbelalak dengan mulut ternganga lebar.
An Lok Kong cu mengambil dua puluh tael perak, kemudian diberikan kepada ke dua keamanan, itu seraya berkata.
"Beri tahu kan kepada majikan kalian, bahwa kami yang mengundang gadis ini duduk bersama kami, dan kami tidak mau diganggu"
"ya. Terima kasih Tuan"
Ucap ke dua keamanan itu serentak sambil membungkuk-bungkukkan badannya.
"Nah"
An Lok Kong cu mengibaskan tangannya.
"Sekarang kalian boleh pergi memberitahukan kepada majikan kalian."
"Ya Tuan oh ya Tuan-tuan dari mana?"
"Kami dari Kotaraja."
"oooh"
Ke dua keamanan itu segera pergi, dan itu membuat gadis pelayan tersebut menarik nafas lega.
"Terima kasih. Tuan"
Ucapnya sambil memberi hormat.
"sama-sama,"
Ucap An Lok Kong cu sambil tersenyum lembut.
"oh ya, bolehkah kami tahu siapa namamu?"
"Namaku Hui siang."
"Hui siang?"
Tanya An Lok Kong cu.
"Tahukah engkau siapa lelaki gendut yang duduk di tempat sebelah kanan itu?"
"Dia adalah pembesar kota ini. Hui siang memberitahukan.
"Dia selalu bertindak sewenang-wenang terhadap penduduk kbta, bahkan sering menaikkan pajak-"
"oh"
An Lok Kong cu manggut-manggut.
"Pantas suara tawanya begitu keras sekali Lalu siapa yang duduk bersamanya?"
"Mereka adalah para hartawan kota ini. Mereka selalu memeras kaum petani di luar kota. sungguh kejampara hartawan itu"
Hui siang memberitahukan lagi sambil menghela nafas panjang.
"Ayahku punya beberapa bidang sawah di pinggir kota. Karena kekurangan modal, maka ayahku meminjam modal kepada salah seorang hartawan itu. Akan tetapi, ketika panen, hartawan itu menyita hasil panen dengan alasan bahwa itu adalah modalnya. Tentu ayahku tidak senang dan langsung melapor kepada Lie Tayjin (Pembesar Lie) Tapi malah ayahku yang dihukum. Alasan Lie Tayjin bahwa ayahku meminjam modal tidak membayar dan harus melunasi dengan hasil panen itu. Betapa gusarnya ayahku, sehingga tanpa sadar terus mencaci hartawan itu dan Lie Tayjin-Karena itu Lie Tayjin menyita sawah ayahku-"
"Hmm"
Dengus An Lok Kong cu-"Begitu kejam hartawan dan Lie Tayjin-Mereka harus memperoleh ganjarannya-"
"Tuan...."
Wajah Hui siang langsung berubah-"Ja-ngan omong sembarangan. Tuan-tuan bisa celaka"
"oh ya"
Tanya Thio Han Liong.
"Bagaimana keadaan ayahmu sekarang?"
"sejak itu ayahkujatuh sakit,"
Jawab Hui siang dengan mata basah-"Maka aku terpaksa kerja di sini."
"Engkau senang kerja di sini?"
Tanya An Lok Kong cu mendadak-"sebetulnya aku ingin berhenti, tapi -ayahku membutuhkan biaya pengobatan. Hui siang terisak-isak-Padahal aku harus mengurusi ayahku yang sudah tua itu."
"Hui siang, di mana rumahmu?"
"Rumahku di-.-"
Hui siang memberitahukan.
"Ngmm"
An Lok Kong cu manggut-manggut.
"Kapan engkau pulang?"
"subuh-"
"Kalau begitu, besok kami akan ke rumahmu-"
"Apa?"
Hui siang terbelalak-"Tuan-tuan mau ke rumahku?"
"ya-"
An Lok Kong cu manggut-manggut.
"Kenapa? Tidak boleh ya?"
"Boleh sih boleh, tapi. -"
Hui siang menggeleng-gelengkan kepala-"Rumahku tidak-karuan...."
"Tidak jadi masalah-"
An Lok Kong cu tersenyum.
"Nah, sekarang engkau boleh pergi melayani tamu lain."
"ya Tuan."
Hui siang segera meninggalkan mereka. Di saat itulah Thio Han Liong tersenyum-senyum.
"Eh?"
An Lok Kong cu heran.
"Kenapa engkau tersenyum-senyum? Apa yang menggelikan?"
"Menggelikan sih tidak. hanya saja...."
Thio Han Liong tertawa kecil.
"Kelihatannya engkau tertarik sekali pada gadis itu. Apa kah engkau berniat mengangkatnya menjadi pelayan pribadimu? "
"Tentu tidak-"
An Lok Kong cu tersenyum.
"Aku hanya merasa kasihan kepadanya."
"Kalaupun engkau tertarik padanya, itujuga tidak apa-apa,"
Ujar Thio Han Liong merendahkan suaranya.
"Biasa anak pejabat tinggi dalam istana pasti banyak simpanannya."
"simpanan apa?"
"Itu... kaum gadis simpanan."
"omong kosong"
An Lok Kong cu cemberut dan wajahnya kemerah-merahan.
"Kalau engkau mengejekku lagi, aku... aku"
"Eeeh?"
Thio Han Liong menatapnya dengan mata tak berkedip
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Kenapa sikapmu seperti gadis pingitan sih?"
"Aku -aku -"
An Lok Kong cu menundukkan wajahnya dalam-dalam, lama sekali barulah mendongak seraya berkata.
"Kakak Han Liong, mari kita bersulang untuk perkenalan yang amat menggembirakan"
"Baik."
Thlo Han Liong mengangguk.
Mereka berdua lalu bersulang sambil tersenyum.
Di saat bersamaan para penari itu berhenti, namun musik tetap mengalun.
Tiba-tiba Lie Tayjin melambaikan tangannya, kemudian salah seorang keamanan segera menghampirinya dengan sikap hormat sekali.
Lie Tayjin berbisik-bisik, dan keamanan itu manggutmanggut, laiu mendekati para penari.
Ternyata Lie Tayjin menyuruh para petugas keamanan itu mengundang dua gadis penari untuk menemani mereka.
"Hmm"
Dengus An Lok Kong cu dingin-"Baru jadi pembesar di kota ini sudah berlagak begitu macam"
"Adik An Lok"
Thio Han Liong tersenyum-"Ayah-mu mungkin juga begitu."
"Eh?"
An Lok Kong cu melotot.
"Jangan menghina ayahku, ayahku tidak begitu macam lho"
"OH, ya?"
"Memang iya,"
Sahut An Lok Kong cu, kemudian ia pun melambaikan tangannya, dan seketika juga ke dua petugas keamanan itu menghampirinya sambil membung-kukbungkukkan badannya-"Tuan Muda mau pesan apa?"
Tanya salah sedrang petugas keamanan itu.
"Aku mau pesan beberapa anak gadis untuk menemani kami makan dan minum,"
Sahut An Lok Kong cu.
"Anak gadis yang mana?"
Tanya petugas keamanan itu dengan girang, sebab ia yakin ia akan memperoleh hadiah berupa uang perak lagi-"Aku ingin memborong para gadis penari itu,"
Jawab An Lok Kong cu-"Mereka semua harus menemani kami makan dan minum-"
"Apa?"
Petugas keamanan itu terbelalak-"Para gadis itu khusus hanya melayani Lie Tayjin dan para hartawan itu-"
"oh?"
An Lok Kong cu tersenyum-"Kalian bawa para gadis penari itu ke mari, aku akan memberi kalian seorang seratus tael perak-"
"Hah? seorang seratus tael perak?"
Ke dua petugas keamanan itu terperangah, namun kemudian mereka menggeleng-gelengkan kepala.
"Tapi ada LieTayjin di situ, kami pasti celaka."
"Pokoknya aku yang bertanggung jawab,"
Tegas An Lok Kong Gu.
"Tugas kalian hanya membawa para gadis penari itu ke mari-"
"Itu...."
Ke dua petugas keamanan itu saling memandang, kemudian berbisik-bisik.
"Kita memperoleh seratus tael perak seorang, sedangkan tugas kita cuma membawa para gadis penari itu ke mari-Bagaimana menurutmu? Tuan Muda itu akan bertanggung jawab, jadi tidak ada urusan dengan kita-ya, kan?"
"Benar-"
Ke dua petugas itu segera berjalan ke panggung, setelah berbisik-bisik sejenak dengan para penari, barulah mereka kembali ke tempat An Lok Kong cu bersama para gadis penari itu "Tuan Muda,"
Ujar salah seorang petugas keamanan itu sambil tersenyum.
"Aku sudah membawa mereka ke mari.
"Bagus, bagus"
An Lok Kong cu manggut-manggut, dan segera menyerahkan dua ratus tael perak kepada ke dua petugas keamanan itu.
"Terima kasih. Tuan Muda"
Ucap mereka serentak, kemudian cepat-cepat pergi dengan wajah berseri-seri-"Wuah"
Seru para gadis penari itu tak tertahan.
"Tuan Muda begitu royal, tentu kami pun akan memperoleh hadiah kan?"
"Tentu, tentu,"
An Lok Kong cu tersenyum-senyum.
"yang penting kalian mau menemani kami makan dan minum, tidak boleh pergi melayani Lie Tayjini"
"Bagaimana kalau Lie Tayjin memanggil kami?"
Tanya salah seorang gadis penari itu.
"Tolak saja,"
Sahut An Lok Kong cu.
"Bagaimana mungkin kami berani menolaknya?"
Gadis penari itu menggeleng-gelengkan kepala.
"Beliau adalah pembesar kota ini, kalau kami tolak, tentunya kami bisa celaka,"
"Aku yang bertanggung jawab,"
Ujar An Lok Kong cu. Tapi-..."
Gadis penari itu menghela nafas panjang.
"Maaf, kami tidak mau menyusahkan Tuan Muda."
"Kalian jangan takut."
An Lok Kong cu tersenyum.
"Walau dia pembesar kota ini, tapi dia pasti tidak berani bertingkah di hadapanku."
"oh?"
Para gadis penari itu kurang percaya.
"Percayalah"
An Lok Kong cu tersenyum lagi, lalu memandang Thio Han Liong seraya bertanya.
"Kok diam saja. Kakak Han Liong?"
"Aku tidak perlu turut campur kan?"
Sahut Thio Han Liong dengan bahu terangkat sedikit.
"Maka lebih baik, aku diam."
"Kakak Han Liong...."
An Lok Kong cu cemberut, tapi kemudian tersenyum, sesungguhnya ia memanggil para penari itu, tidak lain hanya ingin mencoba bagaimana sifat Thio Han Liong, suka main perempuan atau tidak?
setelah para gadis penari itu berada di situ.
Thio Han Liong malah bersikap dingin, itu amat menggembirakan An Lok Kong cu, pertanda Thio Han Liong bukan lelaki hidung bCiang.
sementara di tempat sebelah kanan, terjadilah pembicaraan serius antara para hartawan dengan pembesar Lie.
"siapa ke dua pemuda itu? Kok mereka berani memanggil para gadis penari untuk menemani mereka makan dan minum?"
Bisik salah seorang hartawan.
"Padahal sesungguhnya...,"
Sambung yang lain.
"Para gadis penari itu khusus hanya untuk melayani kita, tapi ke dua pemuda itu...."
"Hmm"
Dengus pembesar Lie dengan wajah merah padam saking gusarnya.
"Mungkin mereka berdua bukan penduduk kota ini, maka tidak tahu siapa aku"
Pembesar Lie melambaikan tangannya memanggil salah seorang petugas, dan segeralah petugas keamanan itu menghampirinya.
"Tayjin ada perintah apa?"
Tanyanya.
"Engkau ke tempat sebelah kiri itu, suruh para gadis penari itu ke mari"
Perintah pembesar Lie.
"Ya, Tayjin."
Petugas keamanan itu cepat-cepat pergi ke tempat An Lok Kong cu.
sementara An Lok Kong cu terus bercakap-cakap dengan para gadis penari itu sambil tertawa-tawa, sedangkan Thio Han Liong diam saja dengan sikap dingin-"Maaf"
Petugas keamanan itu memberi hormat kepada Thio Han Liong dan An Lok Kong cu-"Lie Tayjin menyuruhku membawa para gadis penari ini ke tempatnya, harap Tuan-tuan jangan tersinggung"
"Aku justru tersinggung,"
Sahut An Lok Kong cu.
"Pokoknya aku melarang mereka ke sana."
"Tuan...."
Petugas keamanan itu serba salah-"Engkau mau uang?"
Tanya An Lok Kong cu mendadak-"Tentu mau,"
Jawab petugas keamanan itu sambil tersenyum-"Aku akan memberimu seratus tael perak, tapi -,"
Bisik An Lok Kong cu.
"Engkau harus berusaha agar ke dua gadis penari yang sedang menemani pembesar Lie itu ke mari menemani kami."
"Itu...."
Petugas keamanan itu menggeleng-geleng-kan kepala.
"Aku tidak berani melakukan itu."
"Pokoknya aku yang bertanggung jawab,"
Ujar An Lok Kong cu dan berbisik lagi.
"Dua ratus tael perak?"
"Dua ratus tael perak?"
Petugas keamanan itu terbelalak-Lama sekali ia mempertimbangkannya, akhirnya mengangguk-"Baiklah"
Petugas keamanan itu segera ke tempat yang di sebelah kanan itu, dan begitu sampai di sana. Lie Tayjin bertanya.
"Kok mereka tidak ikut ke mari?"
"Para gadis penari itu ingin berbicara sebentar dengan ke dua temannya yang berada di sini, setelah itu barulah mereka akan ke mari-"
Sahut petugas keamanan itu memberitahukan.
"Tidak bisa"
Pembesar Lie mengerutkan kening.
"Pokoknya mereka harus ke mari sekarang"
"Tayjin,"
Bisik petugas keamanan itu.
"Kedudukan dan derajat Tayjin amat tinggi, jangan mempermalukan diri sendiri karena urusan kecil."
"Betul, Tayjin,"
Ujar salah seorang hartawan.
"Biar ke dua gadis penari ini ke sana dulu, setelah itu barulah mereka ke mari."
"Ngmm"
Lie Tayjin manggut-manggut.
"Terima kasih, Tayjin,"
Ucap petugas keamanan itu dengan wajah berseri, lalu mengajak ke dua gadis itu ke tempat An Lok Kong cu-"Bagus, bagus"
An Lok Kong cu tersenyum sambil memandang petugas keamanan.
"Engkau telah melaksanakan tugas dengan baik, maka engkau layak memperoleh hadiah dariku."
An Lok Kong cu memberikannya dua ratus tael perak-Dengan tangan agak bergemetar petugas keamanan itu menerima uang tersebut.
"Terima kasih, Tuan Muda, Terima kasih,"
Ucapnya sambil membungkuk-bungkukkan badannya.
"Terima kasih-"
"sekarang engkau boleh pergi"
Ujar An Lok Kong cu-"ya. Tuan Muda."
Petugas keamanan itu segera pergi dengan wajah ceria, salah seorang rekannya cepat-cepat menghampirinya dan terbelalak begitu melihat uang itu.
"Eh? Dari mana engkau memperoleh uang itu?"
"Dari Tuan Muda itu."
Petugas keamanan itu menunjuk ke arah An Lok Kong cu.
"Dia yang menghadiahkan uang ini kepadamu?"
Re-kannya kurang percaya.
"Engkau jangan bohong"
"Aku tidak bohong."
Petugas keamanan itu memberitahukan tentang itu.
"oooh"
Rekannya-manggut-manggut.
"Ternyata begitu-Engkau memperoleh dua ratus tael perak-Kita adalah kawan, bagi aku dikit lho"
"Beres-"
Petugas keamanan itu amat solider, la langsung memberi rekannya lima puluh tael perak-"Terima kasih,"
Ucap rekannya itu
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Tidak usah mengucapkan terima kasih-"
Petugas keamanan itu tersenyum-"Kita adalah kawan senasib, maka rejekiku juga adalah rejekimu-"
"Terima kasih."
Rekannya berjalan pergi-la berpapasan dengan seorang lelaki berusia lima puluhan berpakaian mentereng, yang ternyata pemilik Pek Hoa Louw itu.
"Ah sam"
Pemilik Pek Hoa Louw menatapnya-"Eh? siapa yang memberimu uang itu?"
"Ah seng,"
Sahut Ah sam-"Ah seng?"
Pemilik Pek Hoa Louw mengerutkan kening.
"Kok uangnya begitu banyak, siapa yang memberinya?"
"salah seorang tamu yang di tempat bagian kiri"
Ah sam menunjuk ke arah An Lok Kong Cu-"
Engkau kenal tamu itu?"
"Tidak-"
"Ngmmm"
Pemilik Pek Hoa Louw itu manggut-manggut, lalu berjalan ke tempat An Lok Kong cu.
setelah berada di hadapan An Lok Kong cu dan Thio Han Liong, ia memberi hormat kepada mereka seraya memperkenalkan diri-"Aku adalah pemilik Pek Hoa Louw ini, Terima kasih atas kedatangan kalian-"
"sama-sama,"
Sahut An Lok Kong cu tanpa balas memberi hormat.
"Ha ha ha"
Pemilik Pek Hoa Louw lalu tertawa gelak-"Kalian berasal dari mana? Bolehkah aku tahu?"
"Kotaraja-"
"oh?"
Pemilik Pek Hoa Louw tersentak-"Kalian bukan penduduk kota ini, pantas tidak tahu-.."
"Tidak tahu apa?"
Tanya An Lok Kong cu.
"Para gadis penari ini khusus hanya melayani Lie Tayjin dan para hartawan kota ini, kalian...."
"Hmm"
Dengus An Lok Kong cu dingin-"Lie Tayjin"
Itu apa? Aku justru senang ditemani para gadis penari ini. Aku akan memberi mereka hadiah, seorang lima tael emas."
"Apa?"
Pemilik Pek Hoa Louw terbelalak-"Engkau akan memberi mereka lima tael emas seorang?"
"Ya-"
An Lok Kong cu membuka buntalannya-"Ini uangku. Apabila perlu Pek Hoa Louw ini akan kubeli-"
"Tuan Muda --"
Pemilik Pek Hoa Louw ini langsung memanggilnya demikian, dan sikapnya pun berubah hormat sekali-buntalan itu berisi ribuan tael perak dan emas, suatu jumlah yang amat besar.
Di saat bersamaan, tampak seorang petugas keamanan menghampiri pemilik Pek Hoa Louw itu, kemudian berbisikbisik-"Tuan Besar dipanggil LieTayjin-"
Pemitik Pek Hoa Louw mengangguk, lalu berkata kepada An Lok Kong cu sambil tersenyum.
"Maaf, aku harus segera pergi menemui Lie Tayjin"
"Tuan"
Ujar An Lok Kong cu.
"Suruh dia jangan macam-macam terhadapku"
"ya. Tuan Muda."
Pemilik Pek Hoa Louw segera pergi menemui Lie Tayjin sementara Lie Tayjin tampak gusar sekali.
Begitu pemilik Pek Hoa Louw mendekatinya, ia langsung me-nudingnya seraya membentak-"Bagaimana engkau?
Kenapa tidak kau suruh para gadis penari itu ke mari menemani kami?"
"Mereka... mereka sedang menemani ke dua tamu itu,"
Sahut pemitik Pek Hoa Louw sambil memberi hormat, sesungguhnya ia amat membenci pembesar itu, karena setiap kati bersenang-senang di sana, pembesar tersebut tidak pernah membayar, bahkan juga tidak pernah memberi hadiah kepada para gadis penari, para gadis pemain musik, dan para petugas keamanan.
"Hmm"
Dengus LieTayjin-"Tentunya engkau tahu para gadis penari itu hanya boleh melayani kami, tidak boleh melayani tamu lain"
"Tapi-"
Pemilik Pek Hoa Louw memberitahukan.
"Ke dua tamu itu berasal dari Kota raja, mereka membawa ribuan tael perak dan emas."
"Haaah -?"
Pera hartawan itu semuanya jadi terbelalak-"Apakah mereka hartawan dari Kota raja?"
"Mungkin-"
Pemilik Pek Hoa Louw mengangguk-"Aku tidak peduli itu"
Ujar Lie Tayjin bernada gusar.
"Pokoknya engkau harus menyuruh para gadis penari itu ke mari Kalau tidak, aku akan segel Pek Hoa Louw ini"
"Apa?"
Wajah pemilik Pek Hoa Louw langsung berubah pucat pias.
"Itu...."
"Ayoh"
Bentak Lie Tayjin-"Cepat panggil para gadis penari itu ke mari Kalau tidak».."
"Ba -baik-"
Pemilik Pek Hoa Louw bvtarUla.ri ke tempat Thio Han Liong dan An Lok Kong Cu sampai di tempat itu, nafasnya terengah-engah, sehingga membuat para gadis penari itu tertawa geli-"Ada apa. Tuan Besar?"
Tanya salah seorang gadis penari itu sambil tertawa cekikikan.
"Kenapa nafas Tuan Besar ngos-ngosan sih?"
"Kalian... kalian...."
Pemilik Pek Hoa Louw tidak dapat metanjutkan ucapannya karena nafasnya masih tersengalsengal.
"Kenapa mereka?"
Tanya An Lok Kong cu. Pemilik Pek Hoa Louw menarik nafas dalam-dalam, setelah itu barulah menjawab dengan setengah memohon.
"Tuan Muda, Lie Tayjin menghendaki mereka ke sana. Aku -aku harap Tuan Muda jangan menyulitkan diriku."
"Tidak bisa"
Sahut An Lok Kong cu.
"Aduuuh Celaka..."
Keluh pemilik Pek Hoa Louw.
"TuanMuda, kalau mereka tidak ke sana menemui Lie Tayjin, maka... maka beliau akan menyegel Pek Hoa Louw ini."
"oh?"
An Lok Kong cu tertawa dingin-"Engkau takut dia menyegel Pek Hoa Louw ini. tapi tidak takut aku akan menyita Pek Hoa Louw ini kalau engkau berani menyuruh para gadis penari ini ke sana?"
"Hah? Apa?"
Pemilik Pek Hoa Louw terbelalak.
"Tuan Muda...."
"Hmm"
Dengus An Lok Kong cu dingin-"Biar aku yang menemui bandot tua itu"
"Tuan Muda,"
Ujar salah seorang gadis penari.
"Biar kami ke sana menemaninya, agar Tuan Muda tidak ditangkap."
"Bandot tua itu berani menangkapku? Apakah dia tidak menyayangi kepalanya lagi?"
Sahut An Lok Kong cu, lalu berjalan ke tempat itu. Pemilik Pek Hoa Louw dan para gadis penari ilu terbelalak, kemudian pemilik Pek Hoa Louw itu bertanya kepada Thio Han Liong.
"Tuan Muda punya hubungan apa dengan dia?"
"Kami boleh dikatakan saudara,"
Sahut Thio Han Liong sambil tersenyum.
"Tuan Muda, sebetulnya siapa dia? Bolehkah Tuan Muda memberitahukan?"
Tanya pemilik Pek Hoa Louw.
"Pokoknya Lie Tayjin ketemu batunya malam ini, kalian lihat saja"
Sahut Thio Han Liong serius dan menambahkan.
"saudaraku itu datang dari istana di Kota-raja."
"Hah?"
Menggigillah pemilik Pek Hoa Louw.
untung dia tidak bersikap kurang ajar terhadap pemuda itu.
sementara An Lok Kong cu sudah berada di hadapan Lie Tayjin-Namun ia tidak memberi hormat kepada pembesar itu.
"Kurang ajar"
Bentak Lie Tayjin gusar-"Engkau berani tidak memberi hormat kepadaku?"
"Hmm"
Dengus An Lok Kong cu dingin-"Engkau cuma pembesar di kota ini, tapi berani bertingkah di hadapanku? Ayoh, cepat berlutut"
"Apa? Engkau--"
Lie Tayjin melotot, lalu berteriak memanggil para petugas keamanan.
"cepat kalian tangkap dia"
"Maaf"
Sahut satah seorang petugas keamanan yang telah menerima hadiah dari An Lok Kong cu.
"Kami adalah petugas keamanan di sini, bukan pengawal Tayjin, maka kami tidak berhak menangkapnya."
"Kalian...."
Ketika Lie Tayjin baru mau mencaci mereka, mendadak Ah Lok Kong cu mendekatinya, sekaligus memperlihatkan sua tu benda kepadanya, yaitu sebuah giok yang berukir sepasang naga.
"Ha.a.a.H Engkau adalah-..."
Sekujur badan Lie Tayjin langsung menggigil dan cepat-cepat ia menjatuhkan diri berlutut di hadapan An Lok Kong cu.
"Ampunilah hamba Kong...."
"Diam"
Bentak An Lok Kong cu, kemudian berbisik
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Engkau tidak boleh membocorkan identitasku, kalau kepalamu masih mau menempel di lehermu"
"ya-"
Lie Tayjin manggut-manggut.
"Cepat suruh para hartawan itu berlutut"
Ujar An Lok Kong cu.
"Kalau mereka bertanya tentang diriku, bilang saja aku dari istana"
"Ya."
Lie Tayjin manggut-manggut lagi, kemudian menyuruh para hartawan itu berlutut.
"Apa? Kami juga harus ikut berlutut?"
Para hartawan itu tercengang.
"Cepat kalian berlutut"
Bentak Lie Tayjin dengan wajah pucat pias-"Cepaat"
Menyaksikan air muka Lie Tayjin, segeralah para hartawan itu berlutut, sedangkan An Lok Kong cu tersenyum-senyum.
"sebelum kusuruh, kalian tidak boleh bangun"
Tegas An Lok Kong cu, lalu kembali ke tempatnya.
"Lie Tayjin, sebetulnya siapa pemuda itu? Kenapa kami dan Tayjin harus menuruti perintahnya?"
"Dia adalah--"
Lie Tayjin menghela nafas panjang.
"Dia dari istana. Agar leher kita tidak putus, maka kita harus menuruti perintahnya."
"Hah?"
Para hartawan itu terkejut bukan main.
"Dia -dia --"
Sementara sambil tersenyum-senyum An Lok Kong cu duduk disisi Thio Han Liong, sedang kan pemilik, Pek Hoa Louw dan para gadis penari memandangnya dengan mata terbelalak dan mulut ternganga lebar.
"Hi hi hi"
Salah seorang gadis penari tertawa geli-"Lie Tayjin dan Para hartawan itu masih berlutut di situ."
"Rasakan"
Sahut yang lainnya sambil tertawa cekikikan.
"Lie Tayjin sering menyiksa orang, malam ini dia dapat ganjarannya."
"Kalian jangan bicara sembarangan"
Tegur pemilik Pek Hoa Louw.
"Kalau sampai terdengar oleh LieTauj-jin -"
"Mau apa dia?"
Sahut An Lok Kong cu.
"Maaf, maaf"
Ucap pemilik Pek Hoa Louw sambil memberi hormat. An Lok Kong cu tersenyum, kemudian memandang para gadis itu seraya bertanya.
"Bagaimana perlakuan pemilik Pek Hoa Louw ini terhadap kalian?"
"Cukup baik,"
Sahut salah seorang gadis penari itu.
"Tapi -sangat pelit terhadap kami."
"oh, ya?"
An Lok Kong cu langsung menatap pemilik Pek Hoa Louw-"Betul."
Pemilik Pek Hoa Louw mengangguk.
"Kadang-kadang aku memang agak pelit, sebab Lie Tayjin danpara hartawan itu sering tidak bayar, maka...."
"Oooo"
An Lok Kong cu manggut-manggut.
"Sekarang panggillah Lie Tayjin ke mari"
"Apa?"
Air muka pemilik Pek Hoa Louw langsung berubah-"Aku -."
"Jangan khawatir"
An Lok Kong cu tersenyum.
"Dia tidak berani menghukummu, cepatlah panggil dia ke mari"
"Ya, Tuan Muda."
Pemilik Pek Hoa Louw segera pergi memanggil Lie Tayjin.
"Adik An Lok.."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Engkau...."
"Aku harus menghukum mereka agar mereka kapok."
Ujar An Lok Kong cu sambil tersenyum. Thio Han Liong tidak menyahut. Di saat itu Lie Tayjin sudah datang menghadap dengan cara berlutut di hadapan An Lok Kong cu.
"Tuan Muda ada perintah apa?"
Tanya Lie Tayjin dengan suara bergemetar-gemetar.
"Kakak Han Liong"
An Lok Kong cu memandangnya seraya bertanya.
"Lie Tayjin ini amat jahat, bagaimana kalau kau penggal kepalanya?"
"Hmm"
Dengus Thio Han Liong dingin.
"Akan ku-cincang dia"
"Ampun, Tuan Muda Ampun..."
Lie Tayjin cepat-cepat membenturkan kepalanya di lantai beberapa kali.
"Ampunilah hamba -"
An Lok Kong cu diam saja, kemudian memangil salah satu petugas keamanan.
"Tuan Muda, apa yang harus kukerjakan?"
Tanya petugas keamanan itu dengan sopan sekali.
"Panggilkan gadis penyanyi yang tadi menemani kami"
Sahut An Lok Kong cu.
"ya. Tuan Muda."
Petugas keamanan itu segera pergi memanggil gadis tersebut.
"Tuan Muda...."
Gadis itu memberi hormat.
"Hui siang,"
Tanya An Lok Kong cu.
"Pembesar inikah yang menyita sawah ayahmu?"
"ya."
Hui siang mengangguk-~ "Dongakkan kepalamu"
Bentak An Lok Kong cu kepada Lie Tayjin-"Engkau kenal gadis ini?"
Lie Tayjin mendongakkan kepala, lalu memperhatikan Hui siang dan menggelengkan kepala.
"Maaf, hamba tidak mengenalnya"
"Engkau yang menyita sawah ayahnya, kok sudah lupa sekarang?"
"Hamba...."
Lie Tayjin menundukkan kepala-"Hamba akan segera mengembalikan sawah itu kepada ayahnya, hamba berjanji"
"Baik-"
An Lok Kong cu manggut-manggut-"Harus dikembalikan esok pagi, sebab esok siang kami akan ke rumahnya"
"ya-"
Lie Tayjin mengangguk,-"Mulai sekarang kalau engkau masih berani bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat, engkau pasti dipecat dan dihukum"
"Ya."
Lie Tayjin mengangguk lagi.
"Sekarang engkau boleh kembali ke tempatmu, tapi suruh para hartawan itu ke mari"
Ujar An Lok Kong cu.
"Ya, hamba mohon diri"
Lie Tayjin kembali ke tempatnya, lalu menyuruh para hartawan itu menghadap An Lok Kong Cu.
Dengan hati kebat-kebit para hartawan itu menghadap An Lok Kong cu.
Sampai di hadapan An Lok Kong cu, mereka pun berlutut.
"Bangunlah"
Ujar An Lok Kong cu sambil menatap mereka dengan dingin.
"Terima kasih. Tuan Muda,"
Ucap mereka serentak.
"Hmm"
Dengus An Lok Kong Cu.
"Kalian selalu memeras kaum petani, maka mulai sekarang, kalian harus membantu kaum petani dengan modal secukupnya tanpa harus membayar bunga Kalau kalian tidak menuruti perkataanku ini...."
"Aku pasti penggal kepala kalian dengan pedang pusaka istana"
Sambung Thio Han Liong.
"Ampun, Tuan Muda Ampun..."
Ucap para hartawan itu memohon. Bahkan ada yang langsung berlutut di hadapan Thio Han Liong.
"Tuan Muda jangan penggal kepalaku"
"Hmm"
Dengus Thio Han Liong.
"Siapa diantara kalian yang pernah menyita hasil panen orangtua Hui Siang?"
Tanya An Lok Kong Cu.
"Hamba,"
Sahut seorang hartawan yang berperut gendut.
"Engkau harus mengganti kerugian ayah Hui Siang"
Tegas An Lok Kong cu.
"Esok pagi engkau harus mengantar lima ratus tael perak ke rumahnya Kalau tidak...."
"ya, ya."
Hartawan gendut itu manggut-manggut. -"Nah sekarang. -"
An Lok Kong cu menatap mereka satu persatu.
"uang yang kalian bawa itu harus ditaruh di sini semua"
"ya, Tuan Muda,"
Sahut para hartawan itu, lalu mengeluarkan uang masing-masing dan ditaruh di atas meja.
"Sekarang kalian boleh pergi-"
An Lok Kong cu mengibaskan tangannya, agar para hartawan itu segera pergi-"ya. Tuan Muda-"
Para hartawan itu segera kembali ke tempatnya-Lalu duduk dan menarik nafas lega-Kemudian salah seorang dari mereka bertanya kepada Lie Tayjin.
"Sebetulnya siapa pemuda itu?"
"Aku akan beritahukan, tapi kalian harus menjaga rahasia. Kalau tidak, kepala kalian pasti terpisah dengan leher"
Sahut Lie Tayjin dan memberitahukan.
"Dia An Lok Kong cu, putri kesayangan kaisar."
"Haaah -?"
Tara hartawan itu nyaris pingsan seketika.
sementara An Lok Kong cu memandang uang perak yang di atas meja.
la menghitung kira-kira berjumlah seribu tael perak, kemudian memanggil pemilik Pek Hoa Louw-"Tuan Muda ada perintah apa?"
Tanya pemilik Pek Hoa Louw cepat "Bagi-bagikanlah uang ini kepada para gadis penari, pemain musik dan para gadis pelayan"
"ya. Tuan Muda"
Pemilik Pek Hoa Louw mengangguk-"baiklah-"
An Lok Kong cu bangkit berdiri sambil memandang Thio Han Liong.
"AyoW, mari kita kembali ke penginapan"
"Baik,"
Thio Han Liong mengangguk.
"Maaf"
Ujar pemilik Pek Hoa Louw.
"Bagaimana kalau Tuan Muda bermalam di sini saja?"
"itu...."
An Lok Kong Cu memandang Thio Han Liong.
"Bagaimana?"
Terserah engkau."
Sahut Thio Han Liong.
"Baiklah-"
An Lok Kong cu manggut-manggut.
"Kami akan bermalam di sini."
"Kalau begitu, mari ikut aku ke dalam"
Ajak pemilik Pek Hoa Louw.
"Tuan Muda,"
Tanya salah seorang gadis penari.
"Perlukah kami ke kamar menemani kalian?"
"Apabila perlu, pasti ada orang memanggil kalian,"
Sahut An Lok Kong cu sambil tersenyum. Tak lama mereka sudah sampai di depan sebuah kamar-Pemilik Pek Hoa Louw membuka pintu kamar itu seraya bertanya.
"Bagaimana kamar ini. Tuan Muda merasa cocok?"
"Boleh juga."
An Lok Kong cu manggut-manggut, lalu mCiangkah ke dalam, sambil menengok ke sana kemari, kemudian berkata kepada pemilik Pek Hoa Louw.
"sekarang engkau boleh pergi."
"ya. Tuan Muda."
Pemilik Pek Hoa Louw segera meninggalkan mereka. Thio Han Liong menutup pintu kamar sambil menggelenggeleng kan kepala.
"Adik An Lok, engkau...."
"Kenapa aku. Kakak Han Liong?"
Tanya An Lok Kong cu sambil duduk di hadapannya dan menatapnya dengan mata berbinar-binar.
"Engkau terlampau romantis, bahkan juga terlampau menghamburkan uang,"
Sahut Thio Han Liong sambil mengerutkan kening.
"Engkau harus berubah, tidak baik begitu"
"ya. Kakak Han Liong."
An Lok Kong cu mengangguk-"Terus terang"
Kata Thio Han Liong sambil memandangnya-"Daripada untuk berfoya-foya begitu, lebih baik pergunakan uangmu itu untuk menolong fakir miskin, itu lebih tepat-"
"Pokoknya Kakak Han Liong bilang apa, aku pasti menurut,"
Ujar An Lok Kong cu sambil tersenyum lembut.
"Aaaah -"
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"Engkau amat tampan, entah berapa banyak gadis akan tergila-gila kepadamu"
"Engkau pun amat tampan, tentunya banyak gadis yang jatuh cinta kepadamu-"
"Aku --"
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala-"Justru bersikap dingin terhadap kaum gadis, itu agar mereka tidak mendekatiku-"
"oh?"
An Lok Kong cu tertawa kecil-"Bukankah enak sekali dikerumuni kaum gadis?"
"Tapi aku bukan engkau yang senang dikerumuni kaum gadis,"
Sahut Thio Han Liong.
"Adik An Lok-sifat burukmu itu harus dibuang jauh-jauh."
"ya. Kakak Han Liong.» An Lok Kong cu mengangguk
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "oh ya» Thio Han Liong memandangnya-"Engkau tidurlah di tempat tidur, aku mau tidur di kursi"
"Kakak Han Liong"
An Lok Kong cu tersenyum-"Engkau tidur di ranjang , biar aku yang tidur di kursi."
"Kok bandel "
Thio Han Liong melotot.
"Tadi engkau bilang mau menuruti semua perkataanku, sekarang sudah mulai membantah-"
"Lupa."
An Lok Kong cu tertawa kecil, lalu membaringkan dirinya ke tempat tidur.
Thio Han Liong tersenyum-senyum, kemudian memejamkan matanya.
Ah Lok Kong cu belum puas ia terus melirik ke arah Thio Han Liong dengan hati berdebar-debar aneh-Entah berapa lama kemudian, mendadak Thio Han Liong membuka matanya., kebetulan mengarah pada An Lok Kong cu, selimut yang menutupi An Lok Kong cu itu agak merosot ke bawah-Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala, kemudian perlahan-lahan ia mendekati An Lok Kong cu-Kebetulan An Lok Kong cu terjaga dari tidurnya, namun ia tidak berani bergerak karena tahu Thio Han Liong sedang mendekatinya.
"Dasar anak nakal"
Gumam Thio Han Liong sambil tersenyum
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Dalam tidur pun tetap nakal membuat selimut merosot ke bawah-"
Thio Han Liong menarik selimut itu menutupi badan An Lok Kong cu, kemudian kembali ke tempat duduknya.
Betapa terharunya An Lok Kong cu, karena tidak menyangka Thio Han Liong begitu baik terhadapnya.
Malta bersemilah cintanya terhadap pemuda itu.
Perlahan-lahan An Lok Kong cu turun dari tempat tidur, ia tidak berani menimbulkan suara, sebab Thio Han Liong masih dalam keadaan tidur di kursi-An Lok Kong cu mendekatinya, lalu berdiri di feadapan Thio Han Liong sambil memandangnya dengan penuh perhatian, saat itulah pemuda itu mendadak membuka matan Begitu melihat An Lok Kong cu berdiri di hadapannya, segeralah Thio Han Liong bangkit berdiri "Aku...
aku bangun kesiangan...."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala. An Lok Kong Cu tersenyum.
"Aku pun baru bangun, karena engkau masih pulas, maka aku tidak berani membangunkanmu."
Mendadak dari luar terdengar suara ketukan pintu.
"siapa?"
"Pelayan"
Terdengar suara sahutan dari luar.
"Kami mengantar sarapan untuk Tuan Muda"
Thio Han Liong membuka pintu, tampak beberapa gadis pelayan berdiri dengan membawa berbagai macam hidangan dan arak wangi.
"Masuklah"
Ucap Thio Han Liong. gadis-gadis pelayan itu masuk, menaruh semua hidangan dan arak wangi ke atas meja, kemudian mohon diri "Hahaha"
Thio Han Liong tertawa.
"Pemilik Pek Hoa Louw ini sungguh menghormati kita."
"Tentu."
An Lok Kong cu tersenyum.
"Kakak Han Liong, mari kita makan."
Mereka mulai makan.
Hidangan-hidangan itu tampaknya memang lezat sekali.
Thio Han Liong terus memuji akan kelezatan semua hidangan tersebut "Kakak Han Liong, hidangan di sini masih kalah hebat dibandingkan dengan yang di dalam istana."
An Lok Kong cu memberitahukan.
"Bagaimana engkau ikut aku ke istana?"
"Adik An Lok-terima kasih atas ajakanmu. untuk sementara ini aku belum bisa, tapi kalau aku ke istana, berarti aku akan membunuh cu goan Ciang-"
Wajah An Lok Kong cu tampak muram.
"Kenapa engkau begitu membenci kaisar?"
"Sebab -"
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Ayahmu adalah pejabat tinggi dalam istana. Tentunya tahu betapa jahat dan liciknya Cu goan Dang itu, padahal... dia adalah bawahan ayahku."
"Apa?"
Terbelalak An Lok Kong cu.
"Kaisar adalah mantan bawahan ayahmu? siapa ayahmu?"
"Ayahku bernama Thio Bu Ki, sesungguhnya ayahku tidak mau jadi kaisar,"
Ujar Thio Han Liong memberitahukan.
"Tapi Cu Goan Ciang khawatir ayahku akan jadi kaisar, maka..-"
Thio Han Liong menutur kejadian itu berdasarkan apa yang di dengar dari ayahnya. An Lok Kong cu mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Kakak Han Liong..."
Ujar An Lok Kong cu seusai Thio Han Liong menutur.
"Aku tidak menyangka sama sekali, engkau adalah putra Thio Bu Ki yang amat kesohor itu."
"Ayahmu kenal ayahku?"
"Kenal"
An Lok Kong cu mengangguk-"Kalau ayahmu ingin menjadi pejabat tinggi di istana--"
"Ayahku tidak mau"
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"Maka ayah dan ibuku meninggalkan Tionggoan."
"Ayah dan ibumu tinggal di mana sekarang?"
"Dipulau Hong Hoang to-Mereka hidup tenang, damai dan bahagia dipulau itu. Tapi Cu Goan ciang masih khawatir ayahku akan merebut tahta kerajaan, maka belasan tahun lalu, Cu Goan ciang mengutus sembilan Dhalai Lhama dan puluhan pengawal istana menyerbu kepulauan Hong Hoang to itu."
"oh?"
An Lok Kong cu tersentak-"Lalu bagaimana?"
"Ayah dan ibuku terluka, bahkan wajah mereka rusak terbakar oleh api Liak Hwee Tan."
"Haaah-..."
An Lok Kong cu terkejut bukan main.
"oleh karena itu, aku benci sekali pada Cu goan ciang,"
Ujar Thio Han Liong dan menambahkan.
"Akan tetapi ayahku melarangku membunuh cu goan ciang."
"oh?"
Tercengang An Lok Kong cu.
"Kenapa ayahmu melarangmu membunuh kaisar itu?"
"Ayahku bilang, kalau aku membunuh Cu goan ciang, tentu akan membuat rakyat menderita, oleh karena itu, hingga saat ini aku belum ke istana membunuh kaisar."
Thio Han Liong menjelaskan.
"selain itu, aku pun harus membuat perhitungan dengan para Dhalai Lhama itu."
"Kakak Han Liong...."
An Lok Kong cu ingin mengatakan sesuatu, namun dibatalkannya, lalu menghela nafas panjang. Berselang beberapa saat kemudian, mereka berpamit pada pemilik Pek Hoat Louw.
"Kalian sudah mau pergi?"
Pemilik Pek Hoat Louw ingin menahan mereka.
"Nginap saja beberapa malam, pokoknya gratis...."
"Maaf"
Sahut Thio Han Liong.
"Kami harus melanjutkan perjalanan, Terima kasih atas kebaikan Tuan terhadap kami"
"Ha hal"
Pemilik Pek Hoat Louw tertawa.
"Aku yang harus berterima kasih pada kalian. Kalau kalian ke mari lagi kelak, jangan lupa mampir"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk-"sampaijumpa. Tuan"
"Selamat jalan"
Sahut pemilik Pek Hoat Louw-la mengantar Thio Han Liong dan An Lok Kong cu sampai di luar.
Thio Han Liong dan An Lok Kong cu langsung menuju rumah Hui siang, yang berada di ujung kota-Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah tiba di rumah tersebut, yang merupakan sebuah gubuk.
"Tuan Muda...."
Hui siang menyambut kedatangan mereka dengan wajah berseri-seri-"Silakan masuk"
"Terima kasih,"
Sahut An Lok Kong cu sambil melangkah ke dalam. Thio Han Liong mengikutinya dari belakang.
"silakan duduk"
Ucap Hui siang. An Lok Kong cu dan Thio Han Liong mengangguk lalu duduk-Mereka melihat seorangtua berbaring di tempat tidur.
"Tuan Muda"
Hui siang memberitahukan.
"Ini adalah ayahku-Karena masih sakit, maka tidak bisa bangun untuk memberi hormat-"
"Tidak apa-apa,"
Ujar Thio Han Liong sambil memberi hormat kepada orangtua itu.
"Terima kasih -"
Ujar orangtua itu dengan suara lemah-"Terima kasih --"
"Paman"
Thio Han Liong tersenyum-"Tidak usah berterima kasih kepada kami, Hui siang memang gadis yang berbakti"
"Aaah,.."
Orangtua itu menghela nafas panjang.
"Kalau tiada bantuan dari Tuan Muda, entah bagaimana nasib kami"
"Hui siang,"
Tanya An Lok Kong cu.
"Apakah Lie Tayjin sudah mengembalikan sawah itu kepada ayahmu?"
"sudah."
Hui siang mengangguk-"Pagi-pagi sekali Lie Tayjin sudah mengutus seseorang ke mari.
Begitu pula hartawan yang menyita hasil panen sawah ayahku.
Dia ke mari untuk mengganti rugi.
Kami...
kami sungguh berterima kasih kepada Tuan Muda."
An Lok Kong Cu tersenyum, senyumannya yang amat menawan hati itu membuat wajah Hui siang langsung kemerah-merahan dan tampak tersipu.
"Lie Tayjin dan hartawan itu telah menepati janji, maka kami berpamit sekarang."
"Tuan Muda"
Wajah Hui siang langsung berubah murung.
"Barang kali karena rumah ini gubuk maka Tuan Muda tidak betah di sini."
"Bukan karena itu."
An Lok Kong cu tersenyum.
"Kami harus memburu waktu melanjutkan perjalanan, jadi tidak bisa lama-lama di sini. Engkau jangan salah paham"
"Tuan Muda...."
Mata Hui siang tampak mulai berkaca-kaca.
"Hui siang"
An Lok Kong cu memegang bahunya.
"Kapan ada kesempatan, kami akan ke mari lagi menengokmu."
"Aaaah -"
Hui siang menghela nafas panjang.
"Aku tahu. Tuan Muda cuma menghibur. Bagaimana mungkin Tuan Muda akan ke mari menengok aku lagi? Itu tidak mungkin...."
"Hui siang...."
An Lok Kong cu tersenyum, kemudian berpamit kepada Hui siang dan ayahnya.
"Tuan Muda, selamat jalan..."
Ucap Hui siang dengan air mata berderai-derai.
"sampai jumpa, Hui siang"
An Lok Kong cu menatapnya sejenak, lalu mCiangkah pergi dan diikuti Thio Han Liong dari belakang.
"Aaaah--"
Thio Han Liong menghela nafas panjang setelah meninggalkan rumah Hui siang.
"Kakak Han Liong"
An Lok Kong cu tercengang.
"Kenapa engkau menghela nafas panjang? Apakah merasa berat berpisah dengan gadis itu?"
"Adik An Lok."
Sahut Thio Han Liong sambil menggelenggelengkan kepala.
"gadis itu yang merasa berat berpisah denganmu, secara tidak langsung engkau telah membuat gadis itu patah hati."
"oh, ya?"
An Lok Kong cu tersenyum seraya berkata.
"Kakak Han Liong, tak mungkin aku akan jatuh cinta kepadanya."
"Engkau adalah putra pejabat tinggi dalam istana, tentunya gadis itu tidak pantas menjadi pasanganmu,"
Ujar Thio Han Liong dan menambahkan.
"oleh karena itu, lain kali jangan begitu baik terhadap kaum gadis"
"Harus bersikap dingin seperti engkau?"
Tanya An Lok Kong cu sambil tertawa kecil.
"Lebih baik bersikap dingin daripada bersikap hangat,"
Sahut Thio Han Liong sungguh-sungguh "Lho? Memangnya kenapa?"
"Adik An Lok"
Thio Han Liong menatapnya seraya berkata.
"Sebelumnya aku pun bersikap sepertimu, dan banyak gadis mendekatiku karena mengira aku jatuh hati pada mereka, maka aku harus menjauhi mereka, otomatis membuat mereka patah hati, mungkin juga mereka merasa sakit hati padamu."
"oooh"
An Lok Kong cu manggut-manggut.
"Tapi engkau baik sekali terhadap diriku."
"Engkau adalah anak laki-laki seperti aku, lagi pula engkau melancong seorang diri, maka aku harus menemanimu sekalian melindungimu"
Ujar Thio Han Liong.
"Terima kasih, Kakak Han Liong."
Wajah An Lok Kong CU berseri.
"Engkau sungguh baik hati terhadapku, aku... aku tidak akan melupakanmu selamanya."
"Aku pun tidak akan melupakanmu selamanya, sebab kita sudah seperti saudara kandung."
"Kakak Han Liong,"
Tanya An Lok Kong cu mendadak-"seandainya aku seorang gadis, apakah engkau akan sedemikian baik terhadapku?"
"Kalau engkau seorang gadis, tentunya aku akan menjauhimu,"
Sahut Thio Han Liong sambil tersenyum.
"Engkau...
Tanpa sadar An Lok Kong cu mem-bantingbanting kaki.
"Engkau jahat sekali"
"Ha ha ha"
Thio Han Liong tertawa gelak.
"Engkau...."
"Kenapa aku?".
"Engkau sungguh mirip anak gadis, suka cemberut dan sekarang malah membanting-banting kaki."
"Aku...."
An Lok Kong cu menundukkan kepala.
"Adik An Lok"
Thio Han Liong tersenyum.
"Mari kita melanjutkan perjalanan ke gunung Bu Tong pemandangan di sana amat indah menakjubkan." -ooo00000oooo-Bab 33 Lam Hai Lo Ni (Biarawati Tua Laut selatan) Yo Sian Sian sudah tiba di tempat tinggal Lam Hai Lo Ni yang terletak di laut selatan, la duduk di hadapan biarawati tua itu, sedangkan biarawati tua itu terus memandangnya.
"Jadi Kwee In Loan berhasil melukaimu?"
"ya. Nenek-"
Yo sian sian mengangguk.
"Kini kepandaiannya sudah tinggi sekali, karena dia telah berhasil menguasai ilmu Hiat Mo Ciang."
"Apa?"
Lam Hai Lo Ni tampak terkejut.
"Kini dia telah memiliki ilmu Hiat Mo Ciang?"
"ya. Nenek-"
Yo sian sian memberitahukan.
"Hiat Mo yang mengajarkannya ilmu itu."
"Hiat Mo Hiat Mo-.."
Gumam Lam Hai Lo Ni dengan kening berjeerut-kerut.
"Dia-..."
"Nenek kenal Hiat mo itu?"
"Kenal."
Lam Hai Lo Ni manggut-manggut.
"sebelum kenal kakekmu, nenek sudah kenal Hiat Mo itu"
"oh?"
Yo sian sian terperangah, sebab Lam Hai Lo Ni tidak pernah menceritakannya.
"Pada waktu itu nenek masih muda, baru berkelana di rimba persilatan,"
Ujar Lam Hai Lo Ni dengan mata memandang jauh ke depan. Kelihatannya ia sedang mengenang masa lalunya.
"Ketika nenek dikeroyok para penjahat, mendadak muncul seorang pemuda berpakaian serba merah membantu neneksungguh sadis pemuda berpakaian merah itu, dia membantai habis para penjahat tersebut setelah itu, kami berkenalan."
"Lalu bagaimana?"
Tanya yo sian sian tertarik.
"Ternyata dia berasal dari Kwan Gwa, namanya siang Koan It Hang. Nenek pun memberitahukan nama nenek, dan sejak itu kami menjadi kawan,"
Sahut Lam Hai Lo Ni dan melanjutkan.
"Hubungan kami kian hari kian bertambah akrab, akhirnya saling mencinta."
"oh?"
Yo sian sian terbelalak.
"Kenapa Nenek tidak menikah dengan dia, malah menikah dengan kakek?"
"Aaaah -"
Lam Hai Lo Ni menghela nafas panjang.
"Dia terlampau sadis dan berambisi menguasai rimba persilatan, akhirnya nenek ribut dengan dia dan sampai bertarung."
"Siapa yang menang, Hek?"
"Tiada yang kalah dan yang menang, sebab kepandaian kami seimbang,"
Jawab Lam Hai Lo Ni dan menambahkan.
"sejak itu kami berpisah-Dia pulang ke Kwan Gwa dan tiada kabar beritanya lagi. Tidak tahunya...."
"Nenek-aku justru tidak mengerti kenapa Hiat Mo bersedia mengajar Kwee In Loan ilmu Hiat Mo Kang? Apakah ada sesuatu di balik itu?"
"Hiat Mo amat licik dan banyak akal busuknya,"
Ujar Lam Hai Lo Ni sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Dia mengajar Kwee In Loan ilmu Hiat Mo Kang, nenek yakin pasti dengan suatu syarat." (Bersambung ke Bagian 17)
Jilid 17
"Nenek bisa menebak kira-kira apa syarat itu?"
"Kwee In Loan pasti harus mematuhi perintahnya, nenek yakin ini merupakan syaratnya."
"Kalau begitu...."
Yo Sian Sian mengerutkan kening.
"Kemungkinan besar dia akan menimbulkan bencana dalam rimba persilatan."
"Kira-kira memang begitu."
Lam Hai Lo Ni manggutmanggut, kemudian mengeluarkan suatu benda dari dalam sebuah kotak kecil, ternyata sebuah tusuk konde.
"Nenek berikan benda ini kepadamu, siapa tahu ada gunanya kelak."
"Tusuk konde ini...."
Dengan penuh keheranan yo Sian Sian menerima benda tersebut.
"Hadlah dari Hiat mo,"
Lam Hai Lo Ni memberitahukan.
"Apabila kelak engkau bertemu Hiat Mo, perlihatkan tusuk rambut ini kepadanya Nenek yakin dia masih menghargai benda ini, dan akan menuruti satu permintaanmu."
"oh?"
"Sian Sian"
Lam Hai Lo Ni menatapnya.
"Simpan baik-baik tusuk konde itu, sebab amat berguna bagimu kelak"
"ya. Nenek."
Yo Sian Sian mengangguk.
"Mulai besok..."
Ujar Lam ftai Lo Ni melanjutkan.
"Nenek akan mengajarmu Thian Sin ci (Ilmu jari Sakti Langit)"
"Terima kasih. Nenek,"
Ucap yo Sian Sian. la tahu ilmu itu simpanan neneknya.
"oh ya. apakah ilmu Thian sin ci dapat mengalahkan ilmu Hiat Mo Ciang itu?"
"Ke dua ilmu itu sama lihay dan ganas, boleh dikatakan seimbang,"
Jawab Lam Hai Lo Ni memberitahukan.
"oleh karena itu, ke dua ilmu tersebut tidak dapat saling mengalahkan."
"oooh"
Yo sian sian manggut-manggut.
Keesokan harinya, mulailah Lam Hai Lo Ni mengajar yo sian sian ilmu Thian sin cisementara di markas golongan hitam yang terletak di Pek yun Kok, sedang berlangsung suatu pembicaraan serius di ruang dalam.
Mereka adalah Kwee In,Loan, si Mo dan Kwan Pek Him, murid si Mo-"Aku tidak habis pikir..."
Ujar si Mo sambil raeng-gelenggelengkan kepala.
"T0ng Koay, Lam Khie dan Pak Hong entah hilang ke mana?"
"Hm"
Dengus Kwee In Loan dingin.
"Aku yakin mereka bertiga bersembunyi di suatu tempat untuk berlatih ilmu silat."
"oh?"
Si Mo mengerutkan kening.
"Untuk menghadapi kita?"
"Kalau tidak -"
Sahut Kwee In Loan.
"untuk apa mereka bertiga harus bersembunyi di suatu tempat untuk berlatih ilmu silat?"
"Ngmm"
Si Mo manggut-manggut.
"Kita harus ber-hati-hati terhadap mereka. Perlukah kita mengutus beberapa orang untuk menyelidiki jejak mereka?"
"Itu tidak perlu."
Kwee In Loan menggelengkan kepala.
"Terus terang, aku tidak takut menghadapi mereka. Namun yang kupikirkan adalah yo sian sian, sebab setahuku, Lam Hai Lo Ni berkepandaian amat tinggi. Kalau dia berhasil menguasai ilmu biarawati tua itu...."
"Engkau telah memiliki ilmu Hiat Mo Ciang, kenapa harus takut kepada yo sian sian?"
"Aku tidak merasa takut menghadapinya, hanya saja -."
Kwee In Loan menggeleng-gelengkan kepala.
"Kelak dia pasti merupakan suatu halangan bagi kita."
"Bukankah tidak lama lagi Hiat Mo akan ke mari? Nah, Hiat Mo pasti akan membantu kita."
"Mudah-mudahan Hiat Mo akan membantu kita"
Ucap Kwee In Loan.
"Namun dia amat licik dan banyak akal busuk, aku justru khawatir...."
"Jangan khawatir"
Si Mo tersenyum.
"Dia licik harus dilawan dengan kelicikan, dia banyak akal busuk harus dilawan dengan akal busuk pula. ya, kan?"
"Ngmm"
Kwee In Loan manggut-manggut, kemudian bertanya.
"Kini aku adalah ketua golongan hitam, lalu harus bagaimana menguasai rimba persilatan?"
"Itu...."
Si Mo berpikir, lama sekali barulah membuka mulut.
"Menurut aku terlebih dahulu kita harus menaklukkan Kay Pang, setelah itu barulah menaklukkan partai Bu Tong dan siauw Lim."
"si Mo"
Kwee In Loan menatapnya seraya bertanya.
"Kenapa tidak menaklukkan partai Bu Tong atau siauw Lim dulu?"
"Ke dua partai itu amat kuat."
Si Mo menjelaskan.
"Kalau kita langsung menyerbu Bu Tong Pay atau siauw Lim Pay, tentu pihak kita juga akan berkorban banyak, otomatis kekuatan kita akan berkurang. Namun kalau kita menyerbu Kay Pang, kita pasti meraih kemenangan,"
"Betul."
Kwee In Loan mengangguk.
"Kalau begitu.-."
"Aku dan Pek Him akan berangkat ke markas Kay Pang menemui su Hong sek-ketua Kay Pang. Kalau pihak Kay Pang tidak mau bergabung dengan kita, barulah kita serbu,"
Ujar si Mo mengemukakan pendapatnya.
"Bagaimana menurutmu?"
"Baik,"
Kwee In Loan manggut-manggut.
"Kapan engkau dan Pek Him akan berangkat ke markas Kay Pang?"
"Esok pagi,"
Sahut si Mo dan menambahkan.
"Aku sudah memperhitungkan kekuatan Kay Pang. Ha ha ha..." -ooo00000ooo-Beberapa hari kemudian, si Mo dan muridnya sudah sampai di markas Kay Pang. Betapa terkejutnya para anggota Kay Pang ketika melihat kedatangan mereka, sebab di antara mereka ada yang mengenal si Mo-.
"Ha ha ha"
Si Mo tertawa gelak-"Cepat katakan kepada ketua kalian, bahwa aku dan muridku datang berkunjung"
"ya."
Salah seorang anggota Kay Pang langsung berlari ke dalam markas. Tak seberapa lama kemudian, ia sudah kembali lalu memberi hormat dan berkata.
"Ketua dan Tiang lo kami sudah menunggu, silakan masuk."
"Ha ha"
Si Mo tertawa lagi sambil melangkah ke dalam, dan Kwan Pek Him mengikutinya dari belakang.
"si Mo"
Sambut su Hong sek, ketua Kay Pang. la adalah seorang wanita muda berusia tiga puluhan, yang hingga saat ini masih belum menikah.
"Selamat datang"
"Ha ha ha"
Si Mo tertawa terbahak-bahak-"Ketua dan Tianglo Kay Pang, apa kabar?"
"Ha ha ha"
Ci Hoat Tianglojuga tertawa gelak-"Kami baik-baik saja-silakan duduk"
Si Mo dan muridnya duduk-salah seorang pengemis segera menyuguhkan teh, sedangkan, su Hong sek terus menatapnya kemudian berkata.
"si Mo berkunjung ke mari tentunya ada suatu kepentingan, bukan?"
"Betul, betul."
Si mo manggut-manggut dan memberitahukan.
"Kini aku sebagai wakil ketua golongan hitam. Ketua nya adalah Kwee In Loan. Dia mengutus kami ke mari."
"oh? Ada urusan apa ketua golongan hitam mengutus kalian ke mari?"
Tanya su Hong sek-"Begini -""
Si Mo tersenyum-"Kami bermaksud mengajak Kay Pang bergabung. Tentunya su Pangcu tidak berkeberatan kan?"
"Ajakan si Mo memang merupakan suatu penghargaan bagi kami, tapi...."
Su Hong sek menggeleng-gelengkan kepala.
"Kami merasa keberatan sekali untuk bergabung dengan golongan hitam."
"oh?"
Wajah si Mo yang seram itu bertambah menyeramkan.
"Tahukah su Pangcu apa akibat penolakan ini?"
"Ha ha ha"
Gan Kang Tianglo tertawa gelak-"Kami berani menolak tentunya sudah memikirkan akibatnya-"
"oh, ya?"
Si Mo tersenyum dingin.
"Kalau begitu, tanggunglah akibatnya"
"Itu sudah pasti,"
Sahut Ci Hoat Tianglo.
"Pokoknya kami pasti menanggung akibatnya. Ha ha ha"
"Baik,"
Si Mo dan muridnya bangkit berdiri.
"Kami mohon diri"
"silakan, silakan"
Sahut su Hong sek dingin. si Mo dan muridnya meninggalkan markas Kay Pang, sedangkan su Hong sek. Ci Hoat dan Gan Kang Tianglo langsung berunding.
"su Pangcu,"
Ujar ci Hoat Tianglo.
"Kita harus bersiap-siap, sebab aku yakin pihak si Mo akan menyerbu ke mari."
"Betul."
Su Hong sek manggut-manggut.
"Maka kita semua harus bersiap siaga menghadapi penyerbuan pihak si Mo-"
"Aaaah--.."
Coan Kang Tianglo menghela nafas panjang.
"Kelihatannya pertempuran besar-besaran tak terelakkan lagi, sedangkan pihak golongan hitam sudah begitu kuat Kita...."
"Gan Kang Tianglo,"
Tegas su Hong sek-"Biar bagaimana pun kita harus melawan mereka secara mati-matian, tidak boleh menyerah begitu saja-"
"Betul-"
Ci Hoat Tianglo manggut-manggut.
"Demi nama baik Kay pang, kita harus berkorban."
"Kalau begitu -"
Ujar Gan Kang Tianglo-"Mulai sekarang, penjagaan harus diperketat Kita kibarkan bendera perang terhadap golongan hitam-Hidup Kay Pang Hidup Kay Pang"
"Hidup,"
Sambung su Hong sek dan Ci Hoat Tianglo-Para anggota yang berada di luar pun ikut berteriak-"Hidup Kay Pang Hidup Kay Pang -" -ooo00000ooosi Mo dan muridnya sudah sampai di Pek yun Kok.
Mereka berdua duduk di ruang depan.
Kwee In Loan terus menatap mereka dengan kening berkerut-kerut.
"Jadi ketua Kay Pang-menolak?"
"ya."
Si Mo mengangguk-"Itu sudah kuduga sebelumnya, maka kita punya alasan untuk menyerbu Kay Pang."
"Ngmm"
Kwee In Loan manggut-manggut.
"Kalau begitu, engkau harus segera menyusun kekuatan untuk menyerbu ke sana."
"ya. Ketua."
Si Mo mengangguk dan memberitahukan.
"yang berkepandaian tinggi di sana hanya su Hong sek, Ci Hoat dan Coan Kang Tianglo. oleh karena itu, aku akan mengajak Liong san sin Tang (si Tongkat sakti Dari gunung Liong san), Hek Bin Koay (siluman Muka Hitam), Pek Bin Koay (siluman Muka Putin) dan Kwan Pek Him muridku serta puluhan anggota yang berkepandaian tinggi Dengan kekuatan ini, aku yakin dapat menundukkan Kay Pang. Ha ha ha..."
"TapL". Kwee In Loan mengerutkan kening.
"Mungkinkah Kay Pang akan minta bantuan kepada partai lain?"
"Memang mungkin, namun.-."
Si Mo tersenyum sambil melanjutkan.
"Tidak keburu bagi Kay Pang untuk. minta bantuan kepada partai lain, karena kami akan berangkat ke sana esok pagi."
"Bagus"
Kwee In Loan manggut-manggut.
"Lebih cepat lebih baik, agar partai tain tidak sempat membantu mereka."
"Ha ha ha"
Si Mo tertawa gelak-"Pokoknya Kay Pang harus di bawah perintah kita Ha ha ha..."
Si Mo terus tertawa gelak-la yakin sekali dapat menundukkan Kay Pang.
Itu memang tidak salah, sebab ia telah memperhitungkan kekuatan Kay pang.
Apakah Kay Pang akan ditaklukkan begitu saja?
Apa pula yang akan terjadi?
sementara itu, Thio Han Liong dan An Lok Kong cu terus melanjutkan perjalanan menuju gunung Bu Tong.
Mereka berdua melakukan perjalanan itu tidak begitu tergesa-gesa, maka An Lok Kong cu dapat menikmati keindahan panorama.
"Kakak Han Liong, di depan ada sebuah kedai arak-"
An Lok Kong cu menunjuk ke depan.
"Bagaimana kalau kita mampir sebentar?"
"Baik-"
Thio Han Liong mengangguk-Mereka berdua segera menuju kedai arak itu-Begitu mereka duduk, pelayan kedai itu langsung menghampiri mereka-"Tuan mau pesan arak apa?"
"Arak wangi saja,"
Sahut Thio Han Liong.
"Tuan mau pesan makanan?"
"Baik,"
An Lok Kong cu manggut-manggut.
"Sajikan beberapa macam makanan"
"ya. Tuan."
Pelayan itu mengangguk lalu pergi.
"Kakak Han Liong"
Ujar An Lok Kong cu sambil menengok ke sana ke mari.
"Cukup ramai kedai arak ini-"
"ya"
Thio Han Liong menatapnya.
"Ingat, jangan sembarangan memperlihatkan uang mu di tempat umum, sebab akan menimbulkan niat jahat orang lain"
"ya. Kakak Han Liong."
An Lok Kong cu tersenyum. pelayan mulai menyuguhkan arak wangi dan beberapa macam makanan ke atas meja-"silakan makan. Tuan-tuan"
Katanya-"Terima kasih"
Sahut Thio Han Liong.
Di saat mereka berdua mulai meneguk arak wangi itu, seorang lelaki masuk ke kedai arak itu Ketika melihat lelaki itu, tertegunlah Thia Han Liong, karena lelaki itu ternyata seng Hwi.
"Kakak seng Hwi Kakak seng Hwi"
Serunya girang. seng Hwi menoleh kan kepalanya dan begitu melihat Thio Han Liong, wajahnya tampak berseri.
"Ha ha ha saudara kecil"
Seng Hwi seoera menghampirinya.
"saudara kecil"
"Kakak seng Hwi, mari kuperkenalkan Pemuda ini bernama Cu An Lok. kawan baikku."
Thio Han Liong memperkenalkan mereka.
"saudara Cu, selamat bertemu"
Ucap Seng Hwi.
"selamat bertemu, saudara seng Hwi"
Sahut An Lok Kong cu sambil tersenyum dan berkata.
"Silakan duduk"
"Terima kasih-"
Ucap seng Hwi lalu duduk-"Kakak seng Hwi, bagaimana keadaan ibumu?"
Tanya Thio Han Liong.
"ibuku baik-baik saja,"jawab seng Hwi kemudian bertanya.
"oh ya, kalian berdua mau ke mana?"
"Mau ke gunung Bu Tong,"
Jawab Thio Han Liong.
"saudara kecil, saudara Cu ini berasal dari mana?"
Tanya seng Hwi mendadak sambil menatap An Lok Kong cu.
"Dari Kota raja-"
Thio Han Liong memberitahukan.
"Dia adalah putra seorang pejabat tinggi dalam istana."
"oooh"
Seng Hwi manggut-manggut.
"saudara kecil, engkau kenal dla di mana? Apakah engkau ke Kota raja?"
"Aku tidak ke Kotaraja, aku kenal dia di dalam sebuah kedai teh"
Sahut Thio Han Liong memberitahukan.
"Adik An Lok ingin pesiar, maka dia ikut aku ke gunung Bu Tong."
"Pemandangan di gunung Bu Tong memang indah sekali, tidak salah saudara Cu pesiar ke sana,"
Ujar seng Hwi.
"Kakak seng Hwi"
Tanya Thio Han Liong.
"Engkau mau ke mana?"
"Aku mau ke markas Kay Pang,"jawab seng Hwi dengan wajah agak kemerah-merahan.
"Aku.,, aku mgin menemui su Hong Sek, ketua Kay Pang."
"Kakak seng Hwi kenal ketua Kay Pang itu?"
Tanya Thio Han Liong.
"Kami pernah bertemu, maka aku ingin pergi mengunjunginya-"
Seng Hwi memberitahukan.
"oooh"
Thio Han Liong manggut-manggut "saudara kecil,"
Ujar seng Hwi.
"Ayahmu kenal baik dengan ketua dan Para Tianglo Kay Pang, bagaimana kalau kalianjuga ikut aku ke markas Kay Pang?"
"Aku --"
Thio Han Liong memandang An Lok Kong cu.
"Bagus"
An Lok Kong cu tampak gembira sekali.
"Aku dengar ketua Kay Pang seorang wanita cantik yang gagah berani, aku ingin berkenalan dengan dia-"
"Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang"
Ajak seng Hwi.
"Baiklah."
Thio Han Liong dan An Lok Kong cu mengangguk-Mereka bertiga lalu meninggalkan kedai arak itu, langsung berangkat ke markas Kay Pang.
-ooo00000ooo-Dua hari kemudian, mereka bertiga sudah tiba di markas Kay Pang, Mereka tertegun karena penjagaan di sana ketat sekali.
"siapa kalian bertiga?"
Tanya para anggota Kay Pang yang bertugas menjaga di sana.
"Aku bernama seng Hwi, ke dua kawanku ini adalah Thio Han Liong dan cu An Lok-"
"Mau apa kalian ke mari?"
"Aku -aku ingin bertemu su Hong sek, ketua Kay Pang"
"oh?"
Anggota Kay Pang itu menatapnya tajam, kemudian berkata.
"Kalian tunggu di sini, aku akan ke dalam melapar"
"Terima kasih,"
Ucap seng Hwi.
"Heran?"
Thio Han Liong mengerutkan kening.
"suasana di sini rasanya teoang mencekam, apakah akan terjadi sesuatu?"
"Memang mengherankan."
Seng Hwi menggelenggelengkan kepala.
"Para anggota Kay Pang kelihatan bersiap siaga seakanakan menghadapi suatu penyerbuan."
"Kakak Han Liong,"
Tanya An Lok Kong cu mendadak-"Bagaimana kalau ketua Kay Pang tidak mau menemui kita?"
"itu...."
Thio Han Liong memandang seng Hwi.
"Aku yakin -"
Ujar seng Hwi.
"Ketua Kay Pang pasti bersedia menemui kita."
Di saat itulah muncul anggota Kay Pang tadi-Dengan tersenyum-senyum ia menghampiri mereka lalu memberi hormat "su Pangcu mempersilakan kalian masuk-"
"Terima kasih,"
Ucap seng Hwi dengan wajah ceria, talu berjalan ke dalam diikuti Thio Han Liong dan an Lok Kong cu dari belakang.
su Hong sek, ci Hoat dan Gan Kang Tianglo berdiri di ruang depan menyambut kedatangan mereka.
"selamat datang, saudara seng Hwi"
Ucap su Hong sek dengan senyum ramah-"Selamat bertemu, su Pangcu"
Sahut seng Hwi sambil tertawa gembira-"silakan duduk silakan duduk"
Ucap Ci Hoat Tianglo. Mereka duduk, dan salah seorang anggota Kay Pang seaera menyuguhkan arak wangi.
"Mari kita minum"
Ucap su Hong sek sambil mengangkat minumannya.
"Mari kita bersulang atas kedatangan saudara seng Hwi"
Sambung Gan Kang Tianglo sambil tertawa gelak.
"Ha ha ha -"
Mereka bersulang, setelah itu seng Hwi memandang su Hong sek seraya berkata.
"sudah sekian lama kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu selama ini?"
"Aku baik-baik saja,"
Sa hut su Hong sek sambil tersenyum.
"Engkau bagaimana? Baik-baik saja selama ini?"
"Terima kasih atas perhatian su pangcu,"
Ucap seng Hwi dengan wajah cerah
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Aku baik-baik saja selama ini"
"oh ya"
Su Hong sek memandang Thio Han Liong.
"Kalau tidak salah, engkau bernama Thio Han Liong. Tadi salah seorang anggota memberitahukan."
"BetuL su Pangcu."
Thio Han Liong manggut-manggut.
"su Pangcu,"
Ujar seng Hwi serius.
"Bisakah engkau menerka siapa ayahnya?"
"Ayahnya...."Su Hong sek menatap Thio Han Liong dengan penuh perhatian lalu berkata.
"Mirip seseorang."
"Mirip siapa?"
Tanya seng Hwi.
"Mirip-... Thio Bu Ki, penolong kami yang pernah menyelamatkan Kay Pang,"
Jawab su Hong sek.
"Tidak salah,"
Seng Hwi tersenyum.
"Dia memang putra Thio Bu Ki."
"Apa?"
Su Hong sek, Ci Hoat dan Gan Kang Tianglo terperanjat.
"Thio Han Liong ini adalah putranya?"
"Betul."
Seng Hwi mengangguk dan memberitahukan.
"Aku pernah salah paham terhadap siauw Lim Pay, Adik Han Liong yang menjernihkan kesalahpahaman itu. sejak itu kami pun menjadi sahabat"
"oooh"
Su Hong sek tampak gembira sekali.
"oh ya, siapa pemuda ini?"
"Dia kawanku, namanya Cu An Lok dari Kotaraja."
Thio Han Liong memberitahukan.
"saudara Cu"
Su Hong sek tersenyum.
"Engkau sungguh tampan Bahkan saking tampan justru mirip anak gadis-"
"Betul;?"
Sela Thio Han Liong.
"Dia memang mirip anak gadis, suka cemberut dan membanting-banting kaki. Mungkin terlampau dimanjakan oleh ke dua orang tuanya."
"Kakak Han Liong..."
An Lok Kong cu langsung cemberut.
"Tuh Lihatlah Bukankah dia sedang cemberut?"
Thio Han Liong tertawa dan menggodanya-"Ayoh, banting-banting kakijuga"
"Kakak Han Liong...."
Wajah An Lok Kong cu memerah-"Engkau jahat sekali Awas ya"
"Eeeh?"
Ci Hoat dan Gan Kang Tianglo mengerutkan kening.
"saudara Cu memang mirip anak gadis. Ha ha ha..."
Setelah suara tawa itu sirna, barulah su Hong sek berkata.
"Han Liong, ketika aku bertemu ayahmu, kau masih kecil-"
Ketua Kay Pang memberitahukan.
"secara tidak langsung pada waktu itu ayahmu telah menyelamatkan Kay Pang."
"oooh"
Thio Han Liong manggut-manggut.
"su Pangcu,"
Tanya seng Hwi.
"kenapa penjagaan di sini kelihatan begitu ketat, bahkan para anggota bersiap-siap, kelihatan akan menghadapi suatu pertempuran?"
"Aaai -"
Su Hong sek menghela nafas panjang.
"Tujuh delapan hari yang lalu, si Mo dan muridnya ke mari."
"oh?"
Thio Han Liong tersentak.
"Mau apa si Mo dan muridnya ke mari?"
"Kini yang menjabat ketua golongan hitam adalah Kwee In Loan, sedangkan si Mo sebagai wakilnya."
Su Hong sek memberitahukan.
"si Mo dan muridnya ke mari diutus Kwee In Loan, menyuruh kami bergabung dengan mereka. Aku langsung menolak sehingga membuat si Mo gusar sekali-Mungkin dalam waktu dekat ini mereka akan menyerbu ke mari."
"oooh"
Seng Hwi manggut-manggut.
"Kalau begitu, aku siap membantu."
"Aku juga,"
Sambung Thio Han Liong.
"Kakak Han Liong,"
Tanya An Lok Kong cu.
"Bo-lekah aku turut membantu?"
"sebaiknya engkau menjadi penonton saja.Jadi aku tidak mencemaskanmu,"
Sahut Thio Han Liong sungguh-sungguh.
"Kakak Han Liong...."
Wajah An Lok Kong cu berubah masam.
"Engkau jahat sekali"
"Apa?"
Thio Han Liong tertegun.
"Itu demi keselamatanmu, kenapa engkau malah mengatakan aku jahat?"
"Aku ingin membantu."
"Terima kasih, terima kasih,"
Ucap su Hong sek-"Ini adalah urusan Kay Pang, kalian tidak usah bantu"
"Ini adalah urusan rimba persilatan, maka kaum rimba persilatan harus membantu,"
Ujar seng Hwi.
"Betul."
Thio Han Liong mengangguk.
"Dulu ayahku pernah menyelamatkan Kay Pang. Kini Kay Pang dalam bahaya, maka aku pun harus turun tangan membantu pula. Kalau tidak, ayahku pasti marah"
"Terima kasih,"
Ucap su Hong sek terharu, kemudian memandang Thio Han Liong seraya bertanya.
"Ibumu adalah Tio Beng yang cantik jelita itu?"
"ya."
"Ke dua orang tuamu berada di mana sekarang?"
"Berada di pulau Hong Hoang to-"
Thio Han Liong memberitahukan.
"Belasan tahun lalu, Cu Goan ciang mengutus sembilan Dhalai Lhama dan pasukan pengawal istana menyerbu ke pulau Hong Hoang TO -,"
Thio Han Liong menutur tentang kejadian itu, su Hong sek dan lainnya mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Aaai -"
Ci Hoat Tianglo menghela nafas panjang.
"Thio Kauwcu yang berjasa menumbangkan Dinasti Goan, tapi Cu Goan ciang yang berlaku curang merebut tahta kerajaan. Karena itu, Thio Kauwcu langsung mengundurkan diri, dan menyerahkan jabatannya kepada yo siauw. Akhirnya Cu cioan ciang berhasil menjadi kaisar...."
"Setelah menjadi kaisar, cu Goan ciang masih terus menyuruh pasukan pilihan untuk membunuh ayahku."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Maka terpaksalah ke dua orang tuaku kabur ke pulau Hong Hoang to di Pak Hai."
"Padahal..."
Ujar Gan Kang Tianglo.
"Cu Goan ciang adalah mantan anak buah ayahmu, tapi justru dia bersekongkol dengan beberapa orang mengkhianati ayahmu."
"Han Liong,"
Tanya su Hong sek mendadak-"Kenapa engkau tidak pergi membunuh cu Goan Ciang?"
"Kata ayah, kalau aku pergi membunuh Cu Goan ciang, malah akan membuat rakyat menderita. Kini rakyat sudah hidup tenang dan makmur, lalu untuk apa aku harus membunuh Cu Goan ciang?"
Jawab Thio Han Liong memberitahukan.
"Tapi mungkin aku akan menemui Cu Goan ciang kelak-"
"Kakak Han Liong, mau apa engkau menemui kaisar?"
Tanya An Lok Kong cu sambil menatapnya.
"Mau mencacinya, sebab Cu Goan ciang yang mengutus sembilan Dhalai Lhama dan pasukan pilihan menyerbu pulau Hong Hoang to-Bibi Ciu Cijiak mati di tangan sembilan Dhalai Lhama itu dan ke dua orang tuakupun terluka, bahkan wajah mereka hangus terbakar oleh Liak Hwee Tan,"
Sahut Thio Han Liong dan menambahkan.
"oleh karena itu, aku akan pergi mencaci Cu cioan ciang."
"yaah"
Seng Hwi menghela nafas panjang.
"Kini cu cioan ciang amat dicintai rakyat Tiada seorang rakyat pun tahu kelicikannya sebelum jadi kaisar."
"su Pangcu"
Thio Han Liong mengalihkan pembicaraan.
"Kira-kira kapan pihak si Mo akan menyerbu ke mari?"
"Mungkin dalam sehari dua hari ini"
Sahut su Hong sek-"Maka kami bersiap-siap menghadapi serbuan itu."
"Kenapa su Pangcu tidak minta bantuan kepada partai lain?"
Tanya seng Hwi.
"Tidak keburu."
Su Hong sek menggeleng-geleng kan kepala.
"Kalian kebetulan ke nari, kalau tidak...."
"Su Pangcu,"
Ujar seng Hwi sungguh-sungguh-"Aku bersedia berkorban demi su Pangcu, maksudku demi Kay Pang."
"Terima kasih, saudara seng Hwi,"
Ucap su Hong sek dengan wajah agak kemerah-merahan.
"Ha ha ha"
Ci Hoat Tianglo tertawa gelak.
"Kalau begitu, kalian harus tinggal di sini"
"Betul."
Su Hong sek mengangguk-"Mereka harus tinggal di sini. Thio Han Liong dan saudara Cu satu kamar, sedangkan saudara seng Hwi...."
"Aku tidur di mana pun tidak jadi masalah,"
Ujar seng Hwi cepat.
"Ha ha ha"
Coan Kang Tianglo tertawa-"saudara seng Hwi, kamar di sini banyak sekali, jangan khawatir"
"Terima kasih, Tianglo,"
Ucap seng Hwi.
"Baiklah-"
Su Hong sek bangkit berdiri "Mari ku-antar kalian ke kamar" -ooo00000ooo-Bab 34 Pertarungan Di Markas Kay Pang Thio Han Liong dan An Lok Kong cu duduk berhadapan di dalam kamar, wajah mereka kelihatan serius sekali, bahkan kadang-kadang Thio Han Liong mengerutkan kening.
"Tak disangka Kay Pang akan menghadapi serbuan daripihak golongan hitam yang dipimpin si Mo-Mudahmudahan aku dan Kakak seng Hwi dapat membantu su Pangcu"
"Cuma engkau dan saudara seng Hwi?"
Tanya Lok Kong cu.
"Ya-"
Thio Han Liong mengangguk sambil tersenyum.
"Lalu bagaimana aku?"
An Lok Kong cu cemberut.
"Engkau menjadi penonton saja,"
Sahut Thio Han Liong sambil menatapnya dengan penuh perhatian.
"Adik An Lok, kalau engkau anak gadis, tentu cantik sekali."
"oh?"
Wajah An Lok Kong cu berseri.
"Engkau senang kalau aku anak gadis?"
"Adik An Lok,"
Uiar Thio Han Liong sungguh-sungguh.
"Engkau anak lelaki atau anak gadis, bagiku sama saja. yang penting kita adalah teman...."
"Kakak Han Liong...."
An Lok Kong cu tampak kecewa, namun Thio Han Liong tidak memperhatikannya.
"Adik An Lok,"
Bisik Thio Han Liong.
"Kelihatannya Kakak Seng Hwijatuh hati pada Su Pangcu. Mereka memang merupakan pasangan yang serasi."
"Itu adalah urusan mereka, bagaimana dengan kita?"
Tanya An Lok Kong cu kelepasan berbicara sehingga membuat wajahnya memerah seketika.
"Kita?"
Thio Han Liong tertegun.
"Kenapa kita?"
"Tidak ada apa-apa."
An Lok Kong cu cepat-cepat menundukkan kepalanya, sedangkan Thio Han Liong menggaruk-garuk kepala.
"Heran"
Gumamnya.
"Kenapa malam ini sikapmu agak aneh? Aku... aku menjadi bingung sekali."
"Tidak ada apa-apa."
An Lok Kong Cu tersenyum.
"Jangan bingung"
""Sungguh mengherankan"
Gumam Thio Han Liong lagi.
"Sikapmu membuat aku menjadi bingung sekali. Suka cemberut, kadang-kadang membanting kaki dan... sering bersikap malu-malu pula. Aku sungguh tidak mengerti, mungkin ke dua orang tuamu terlampau memanjakanmu."
"Kira-kira begitulah,"
Sahut An Lok Kong cu lalu mengalihkan pembicaraan.
"Kelihatannya Su Pangcu juga tertarik kepada saudara Seng Hwi. Kemungkinan besar mereka akan terang kap menjadi suami isterl."
"Syukurlah kalau begitu"
Ucap Thio Han Liong.
"Mereka berdua pasti akan hidup bahagia."
"Kakak Han Liong, bagaimana kalau kita keluar sebentar?"
"Mau ke mana?"
"Duduk-duduk di pekarangan, Itu... sungguh mengasyikkan lho"
Thio Han Liong berpikir sejenak, setelah itu barulah mengangguk.-"Baiklah. Mari kita ke pekarangan"
Mereka berdua segera meninggalkan kamar itu menuju pekarangan depan, sampai di sana mereka melihat dua orang sedang duduk sambil bercakap-cakap, ternyata seng Hwi dan su Hong sek-"Kakak seng Hwi"
Panggil Thio Han Dong.
"saudara kecil"
Seng Hwi salah tingkah, dan itu membuat An Lok Kong cu tertawa geli.
"Hi hi hi sudah saling jatuh hati, kenapa harus malu-malu?"
Ujarnya sambil menatap mereka.
"Eh? saudara. Cu...."
Wajah su Hong sek langsung memerah.
"Kalian belum tidur?"
"Kami sedang berbicara mengenai si Mo, lalu keluar untuk mencari angin sebentar "
Sahut Thio Han Liong.
"Tidak tahunya Kakak seng Hwi dan su Pangcu berada di sini."
"Kami pun sedang membicarakan si Mo, namun kami tidak tahu siapa Kwee In Loan dan bagaimana kepandaiannya."
Ujar su Hong sek-"
Kepandaian Kwee In Loan jauh di atas si Mo-"
Thio Han Liong memberitahukan.
"Kwee In Loan adalah mantan kakak seperguruan Bibi yo sian sian dari Ku-buran Tua."
"Hah? Apa?"
Su Hong sek terbelalak.
"Ia kakak seperguruan Kakak yo?"
"su Pangcu kenal Bibi yo?"
Thio Han Liong heran.
"ya."
Su Hong sek mengangguk-"Ayahmu dan Kakak yo berdua menyelamatkan Kay Pang."
"ooo"
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Bibi Yo pernah mengalahkan Kwee In Nio, maka Kwee In Nio pergi ke Kwan Gwa menemui Hiat Mo-Kini Kwee In Hio telah menguasai ilmu Hiat Mo Ciang."
"Hiat Mo?"
Su Hong sek mengerutkan kening.
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Kepandaian Hiat Mo tinggi sekali, terutama ilmu Hiat Mo Ciangnya. Kalau Kwee In Loan juga ikut menyerbu ke mari, rasanya sulit bagi kita untuk melawannya."
"Itu...."
Air muka su Hong sek tampak berubah.
"Jangan khawatir su Pangcu"
Ujar seng Hwi.
"Mudah-mudahan ilmu Cing Hwee Ciang ku dapat menandingi ilmu Hiat Mo Ciang itu"
Terima kasih, sa udara seng Hwi. Namun... aku merasa tidak enak menyeret dirimu,"
Su Hong sek meng-gelenggelengkan kepala
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Tidak apa-apa-"
Seng Hwi tersenyum.
"su Pangcu,"
Sela An Lok Kong cu sambil tertawa.
"saudara seng Hwi sudah jatuh cinta padamu, tentunya dia harus bantu."
"Eh?"
Wajah su Hong sek memerah-"Mulutmu kok usil sih? Nanti kusuruh Han Liong menghajarmu lho"
"Kakak Han Liong amat sayang kepadaku, bagaimana mungkin dia akan menghajar aku?"
Sahut An Lok Kong cu sambil tersenyum.
"Kalau engkau kurang ajar dan nakal, aku pasti menjewer telingamu,"
Ujar Thio Han Liong.
"Saudara An Lok"
Seng Hwi menatapnya.
"Engkau berasal dari keluarga yang berpangkat tinggi dalam istana, sebaiknya engkau jangan berkecimpung dalam rimba persilatan"
"Aku memang tidak berkecimpung dalam rimba persilatan, aku cuma ingin pesiar saja. setelah itu, aku akan pulang ke Kota raja."
An Lok Kong cu memberitahukan.
"Adik An Lok, kapan engkau akan pulang ke Kotaraja?"
Tanya Thio Han Liong.
"Apa?"
An Lok Kong cu melotot.
"Engkau meng-hendakiku cepat-cepat pulang ke Kotaraja?"
"Aku...."
"Hmm"
Dengus An Lok Kong cu.
"Aku justru tidak mau pulang, akan terus ikut engkau"
"Eh? Adik An Lok».."
"Pokoknya aku akan terus ikut engkau, aku tidak mau pulang"
Ujar An Lok Kong cu.
"Engkau bisa berbuat apa terhadap diriku? Mau mengusirku? Huh Pokoknya aku tidak mau pulang"
"Tidak mau ya sudahlah Kenapa jadi sewot?"
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalian berdua...."
Su Hong sek tertawa geli.
"Persis seperti anak kecil lho"
Di saat itulah mendadak muncul Ci Hoat dan Gan Kang Tianglo, yang kemudian menghampiri mereka sambil tertawa.
"Ha ha Kalian belum tidur, sedang bercakap-cakap di sini"
Ci Hoat Tianglo memandang mereka.
"Kami sedang membicarakan ketua golongan hitam itu,"
Sahut su Hong sek.
"Tak disangka sama sekali, ternyata dia mantan kakak seperguruan Kakak yo sian sian"
"Hah?"
Hoat dan Coan Kang Tianglo terperanjat "Dia mantan kakak seperguruan Yo sian sian, Kwee In Loan?"
"ya."
Su Hong sek mengangguk.
"Bahkan kini telah menguasai ilmu Hiat Mo Dang."
"Apa?"
Air muka Ci Hoat dan Coan Kang Tianglo langsung berubah hebat "Hiat Mo Ciang?"
"ya. Dia belajar dari Hiat Mo-"
"Hiat Mo?"
Ci Hoat dan Gan Kang Tianglo saling memandang, kemudian menghela nafas panjang.
"Kalau Hiat Mo muncui di rimba persilatan Tionggoan, pasti akan menimbulkan bencana."
"Tianglo tahu tentang Hiat Mo?"
Tanya su Hong sek-"Hanya pernah mendengar"
Jawab Ci Hoat Tianglo.
"Kalau tidak salah, kira-kira delapanpuluh tahun lampau, dalam rimba persilatan muncul seorang pemuda berpakaian merah, yang berkepandaian tinggi sekali. Tapi dia sering membunuh kaum pesilat, dan mengaku dirinya Hiat Mosetelah itu, dia menghilang entah ke mana?"
"Kata Han Liong, Hiat Mo berasal dari Kwan Gwa."
Su Hong sek memberitahukan.
"Han Liong"
Ci Hoat Tianglo menatapnya.
"Engkau tahu dari mana?"
"Lam Khie Locianpwee yang menceritakan kepadaku,"
Jawab Thio Han Liong.
"Kalau begitu pasti benar,"
Ujar ci Hoat Tianglo.
"Tidak mungkin Lam Khie membohongimu. seandainya Kwee In Loanjuga ikut menyerbu ke mari, rasanya kita tidak dapat melawannya."
"Jangan khawatir, Tianglo".seng Hwi tersenyum.
"Aku sudah siap berkorban demi Kay Pang."
"Bagus, bagus"
Ci Hoat dan Gan Kang Tianglo tertawa gelak-"Ha ha ha..."
Wajah su Hong sek langsung memerah, dan cepat-cepat ia menundukkan wajahnya dalam-dalam-sedang-kan seng Hwi bergirang dalam hati, sebab kelihatannya ke dua Tianglo itu menyetujui hubungannya dengan su Hong sek-"Sudah larut malam, lebih baik kita tidur,"
Ujar su Hong sek dengan suara rendah-"siapa tahu pihak si Mo akan menyerbu esok-"
"Betul-"
Ci Hoat Tianglo manggut-manggut.
"Kita harus beristirahat sekarang, agar bersemangat esok."
Mereka kembali ke markas, namun Thio Han Liong dan An Lok Kong cu tidak langsung tidur, mereka duduk berhadapan di dalam kamar.
"Aaah-»"
Mendadak Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"Kakak Han Liong"
An Lok Kong cu memandangnya.
"Kenapa engkau menghela nafas panjang?"
"Aku sedang berpikir, bagaimana seandainya Kwee In Loan juga ikut menyerbu ke mari? siapa yang dapat melawannya?"
Sahut Thio Han Liong sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kepandaiannya begitu tinggi...."
"Sudahlah Kakak Han Liong"
An Lok Kong cu tersenyum.
"Jangan terus memikirkan itu, lebih baik engkau beristirahat saja."
"Baiklah-"
Thio Han Liong mengangguk-"seperti biasa, engkau tidur di ranjang, aku tidur di kursi."
"Kakak Han Liong" ,An Lok Kong cu tersenyum.
"Bagaimana kalau malam ini engkau tidur di ranjang?"
"Aku lebih besar darimu, maka aku harus mengalah,"
Sahut Thio Han Liong sungguh-sungguh ¦ "Ayoh, cepatlah engkau tidur"
An Lok Kong cu membaringkan dirinya ke tempat tidur, justru menghadap ke arah Thio Han Liong.
"Kakak Han Liong...."
"Kalau aku seorang gadis, apakah engkau mau tidur bersamaku?"
Tanya An Lok Kong cu mendadak.
"Adik An Lok"
Thio Han Liong tersenyum.
"Seandainya engkau seorang gadis, aku justru akan tidur di luar."
"Engkau...."
An Lok Kong cu cemberut.
"Lho? Kenapa?"
Thio Han Liong heran.
"Kalau engkau seorang gadis, sedangkan aku masih tetap tidur di dalam kamar ini, bukankah aku tak tahu diri dan tak tahu malu?"
"Hmra"
Dengus An Lok Kong cu, lalu membalikkan badannya.
"Eeeh?"
Thio Han Liong menggaruk-garuk kepala.
"Kok sikapmu begitu aneh malam ini...?" -ooo00000ooo-Ketika su Hong sek-ke dua Tianglo, seng Hwi, Thio Han Liong dan An Lok Kong cu duduk di ruang depan markas Kay Pang sambil bercakap-cakap, mendadak seorang pengemis berlari-lari ke ruang itu.
"Lapor pada Pangcu, golongan hitam yang dipimpin Si Mo sudah menuju ke mari"
"Ng"
Su Hong Sek mengangguk.
"Cepatlah kalian bersiap untuk bertarung dengan Kay Pang"
"ya, Pangcu."
Pengemis itu manggut-manggut, lalu cepatcepat meninggalkan ruangan-itu.
"Mari kita keluar menyambut kedatangan mereka"
Ujar Su Hong Sek sambil bangkit eiari tempat duduknya.
"Baik."
Ci Hoat dan Coan-Kang Tianglo mengangguk. Mereka semua lalu menuju "Kakak Han Liong..."
Bisik An Lok Kong cu setelah berada di pekarangan-.
"Tegang juga ya"
"ingat Begitu pertarungan mulai, engkau harus bersembunyi"
Pesan Thio Han Liong sungguh-sungguh.
"Kakak Han Liong"
An Lok Kong Cu tersenyum.
"Kepandaianku cukup tinggi, aku tidak usah bersembunyi."
"ingat"
Pesan Thio Han Liong lagi.
"Pokoknya engkau tidak boleh ikut bertarung, aku pasti marah"
"Ya."
An Lok Kong Cu mengangguk dan bergirang dalam hati, sebab Thio Han Liong begitu memperhatikannya.
"Aku... aku pasti menurut perkataanmu."
"Bagus"Thio Han Liong memegang bahunya.
"Engkau memang harus menuruti perkataanku, sebab aku adalah saudaramu."
"Kakak Han Liong...."
Ketika An Lok Kong cu ingin mengatakan sesuatu, mendadak terdengar suara tawa yang amat menyeramkan.
"Itu adalah suara tawa si Mo-"
Thio Han Liong memberitahukan.
"Adik An Lok, cepatlah engkau bersembunyi di balik pohon"
"Aku... aku mau di sini saja,"
Sahut An Lok Kong cu. Kelihatannya ia tidak mau berpisah dengan Thio Han Liong.
"Adik An Lok -."
Ucapan Thio Han Liong terputus, karena muncul beberapa orang, yakni si Mo, Kwan Pek Him, Liong san sin TUng (si Tongkat sakti Dari Gunung Liong san), Hek Bin Koay (siluman Mata Hkam) dan Pek Bin Koay (siluman Mata Putin).
"Ha ha ha"
Si Mo tertawa gelak-"su Pangcu, berhubung engkau berani menolak ajakan kami untuk bergabung, maka hari ini kami ke mari untuk membasmi kalian semua"
"Si Mo"
Bentak seng Hwi dingin-"Engkau kira gampang membasmi kami?"
"He he he"
Si mo menatap seng Hwi, Thio Han Liong dan An Lok Kong cu, kemudian manggut-manggutseraya berkata.
"Su Pangcu Engkau minta bantuan kepada ketiga orang itu?"
"si Mo"
Sahut seng Hwi dingin-"Jangan bertingkah di hadapanku, aku sama sekali tidak takut menghadapimu"
"oh?"
Si Mo menatap tajam.
"siapa engkau, kenapa mencampuri urusan Kay Pang?"
"Aku adalah teman baik su pangcu, maka aku harus membantunya"
Seng Hwi juga menatapnya dengan dingin-"si Mo, namaku seng Hwi"
"seng Hwi..."
Gumam si Mo-"Aku tidak pernah mendengar namamu, lebih baik engkau jangan turut campur"
"Aku pasti akan melawanmu"
Sahut seng Hwi bernada menantang.
"He he he Bagus, bagus"
Si Mo tertawa terkekeh-kekeh.
"Engkau orang kecil tak bernama, berani menantangku?"
"Kenapa tidak?"
Tantang seng Hwi lagi.
"Aku justru ingin tahu berapa tinggi kepandaianmu, begitu berani menyerbu ke mari"
"oh?"
Wajah si Mo bertambah seram.
"Aku pun berani menantangmu"
Ujar Thio Han Liong mendadak sambil menudingnya.
"Anak muda...."
Si Mo menatapnya tajam, kemudian terbelalak seraya berseru tak tertahan.
"Engkau...."
"Tidak salah"
Sahut pemuda itu.
"Aku Thio Han Liong, tentunya si Mo belum melupakanku, bukan?"
"Ha ha ha"
Si Mo tertawa gelak-"Engkau juga ingin membantu Kay Pang?"
"Ya"
Thio Han Liong mengangguk-"Bagus, bagus"
Si Mo manggut-manggut.
"Muridku akan melawanmu, sedangkan aku akan membunuh orang yang tak tahu diri itu"
"Ha ha ha"
Seng Hwi tertawa.
"si Mo, kelihatannya engkau yang akan mampus di tanganku"
"oh, ya?"
Si Mo segera memberi isyarat.
Seketika juga Liong San Sin TUng, HekBin Koay dan PekBin Koay maju ke depan, pi saat bersamaan, su Hong sek-Ci Hoat dan Gan Rang Tianglo juga melangkah maju.
su Hong sek berhadapan dengan Liong san sin TUng, ci Hoat Tianglo berhadapan dengan Hek Bin Koay, Gan Kang Tianglo berhadapan dengan Pek Bin Koay, sedang Kwan Pek Him mendekati Thio Han Liong.
"saudara Kwan"
Tanya Thio Han Liong.
"engkau ingin bertarung denganku?"
"Tidak-"
Kwan Pek Him menggelengkan kepala.
"Aku cuma ingin bercakap-cakap dengan engkau saja."
"oh?"
Thio Han Liong menatapnya.
"Bercakap-cakap tentang apa?"
"Kalau mereka sudah mulai bertarung, barulah kita bercakap-cakap,"
Sahut Kwan Pek Him.
"Baik,"
Thio Han Liong manggut-manggut. sementara si Mo dan seng Hwi terus saling memandang, mendadak si Mo berseru.
"serang"
Seketika juga para anak buahnya menyerang para anggota Kay Pang.
Di saat bersamaan, si Mo pun mulai menyerang seng Hwi.
Begitupula Liong san sin TUng, HekBin Koay dan Pek Bin Koay, mereka segera menyerang su Hong sek-Ci Hoat dan coan Kang Tianglo..
Maka terjadilah pertarungan yang amat dahsyat Di saat pertarungan itu berlangsung, Kwan Pek Him mulai bercakap-cakap dengan Thio Han Liong.
"saudara Thio, berapa tahun kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu?"
Tanya Kwan Pek Him.
"Aku baik-baik saja. Engkau?"
Thio Han Liong tersenyum.
"Akupun baik-baik saja."
Kwan Pek Him memberitahukan.
"Kini Pek yun Kok telah dijadikan markas golongan hitam.".
"oooh"
Thio Han Liong manggut-manggut.
"Kalau tidak salah, Kwee In Loan yang menjadi ketua, kan?"
"ya."
Kwan Pek Him mengangguk-"oh ya, Ciu Lan Hio tidak bersamamu?"
"Tidak-"
Thio Han Liong menggelengkan kepala-"Dia sudah pulang ke tempat tinggalnya beberapa tahun lalu-Engkau tidak pernah bertemu dia?"
"yaah"
Kwan Pek Him menghela nafas.
"sudah beberapa tahun aku tidak bertemu dia. Aku...."
"Engkau rindu sekali kepadanya?"
Tanya Thio Han Liong sambil tersenyum.
"ya."
Kwan Pek Him mengangguk-sementara pertarungan berlangsung lebih seru, sengit dan dahsyat sedangkan Thio Hail Liong dan Kwan Pek Himpun terus bercakap-cakap dengan serius sekali, dan itu membuat An Lok Kong cu tidak habis pikir-"Bagaimana kalian berdua?"
Tanyanya sambil mengerutkan kening.
"Mereka bertarung mati-matian, kalian berdua malah asyik mengobrol"
"Biarkan saja"
Sahut Thio Han Liong.
"Lho? Bukankah engkau harus membantu Kay Pang? Kenapa malah terus mengobrol dengan dia?"
"Kalau aku turut bertarung, lawanku justru dia."
"Oooh"
An Lok Kong cu manggut-manggut.
"Kalau mereka seperti kalian, tentunya tidak usah bertarung."
"Gurunya adalah Si Mo yang amat jahat dan kejam. Ketika aku masih kecil, aku nyaris dibunuhnya."
Thio Han Liong memberitahukan.
"ohr An Lok Keng cu terbelalak-"Maaf"
Ucap Kwan Pek Him.
"saudara Thio, siapa saudara ini?"
"Dia adalah kawan akrabku, namanya Cu An Lok-"
Thio Han Liong memberitahukan.
"oooh"
Kwan Pek Him seoera memberi hormat.
"Selamat bertemu saudara Cu"
"selamat bertemu saudara Kwan"
An Lok Keng cu juga memberi hormat, namun ia merasa tidak senang terhadap pemuda itu.
sementara pertarungan itu semakin dahsyat, si Mo dan seng Hwi sudah bertarung puluhan jurus, tetapi, si Mo masih tidak dapat mengalahkannya, Itu membuat si Mo penasaran sekali, maka ia mulai mengerahkan Lweekangnya untuk mengeluarkan ilmu Ha Mo Kang.
si Mo menjongkokkan badannya, dan mulutnya mengeluarkan suara "Krok Krok"
Mirip suara kodok-Menyaksikan itu, seng Hwi pun segera menghimpun Lweekang. Perlahan-lahan sepasang telapak tangannya berubah kehijau-hijauan.
"Ha a h?"
Si Mo tampak terkejut.
"IImu pukulan cing Hwee Ciang"
"Betul"
Seng Hwi mengangguk.
"Baik"
Si Mo tertawa, dingin-"Mari kita mengadu pukulan Ha Mo Kang lebih tinggi atau Cing hwe Ciang yang lebih unggul"
Mendadak si Mo meloncat menyerang seng Hwi, namun seng Hwi menangkis dengan Ciang Hwee Ci-ang.
"Blam"
Terdengar suara benturan dahsyat, yang memekakkan telinga, yang lain langsung berhenti bertarung dan mata mereka mengarah pada si Mo dan seng Hwi.
si Mo termundur-mundur beberapa langkah, sedangkan seng Hwi hanya dua langkah-Betapa penasarannya si Mo-la menjongkokkah badannya lagi sambil mengerahkan Ha mo Kangnya hingga pada puncaknya, seng Hwi pun menghimpun Lweekangnya sepenuhnyasekonyong-konyong si Mo meloncat laksana kilat menyerang seng Hwi Di saat bersamaan, seng Hwi menggerakkan sepasang tangannya untuk menangkis serangan itu.
sepasang telapak tangannya tampak kehijauhijauan.
Blaaam Blaaam...
Terdengar suara benturan yang amat dahsyat dan memekakkan telinga, si Mo terpental beberapa depa, lalu roboh dengan mulut mengeluarkan darah segar.
"Guru Guru?"
Kwan Pek Him segera melesat menghampirinya. sedangkan seng Hwi termundur-mundur beberapa langkah dengan wajah pucat pias, namun sama sekali tidak terluka.
"Saudara seng Hwi...."
Su Hong sek segera mendekatinya.
"Engkau terluka?"
"Tidak-"
Seng Hwi tersenyum.
"su Pangcu, terima-kasih atas perhatianmu."
"saudara seng Hwi...."
Su Hong sek tersenyum sipuseng Hwi memandang lalu mendekati si Mo yang sudah bangkit berdiri seraya berkata.
"si Mo Cepatlah kalian enyah dari sini Kami tidak akan turun tanganjahat terhadap kalian"
"Hmm"
Dengus si Mo-"suatu hari nanti, Kay Pang pasti musnah di tangan kami"
"Ha ha ha"
Ci Hoat Tianglo tertawa gelak-"Engkau sudah terluka parah, tapi masih omong besar Ha ha ha -"
"Kalau seng Hwi tidak berbelas kasihan kepadamu, mungkin engkau sudah terkapar menjadi mayat"
Sela Gan Kang Tianglo mengejeknya-"Kalian... kalian...."
Saking geramnya si Mo memuntahkan darah segar-"Uaaakh"
"Guru"
Kwan Pek Him memapahnya.
"Mari kita pergi"
Si Mo mengangguk, lalu memberi isyarat kepada yang lain, agar meninggalkan markas Kay Pang. setelah mereka pergi, barulah su Hong sek dan lainnya masuk ke markas.
"Ha ha ha"
Ci Hoat Tianglo tertawa gelak
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Aku tak menyangka sama sekali, seng Hwi berkepandaian begitu tinggi, bahkan telah menyelamatkan Kay Pang Kami sungguh berhuta budi kepadamu"
"ci Hoat Tianglo"
Wajah seng Hwi tampak agak kemerahmerahan.
"Jangan berkata begitu, aku membantu Kay Pang tanpa pamrih lho-"
"Tapi"
Ucap su Hong sek dengan suara rendah-"Kami tetap berhutang budi kepadamu-"
"su Pangcu --"
"Hi hi hi"
Mendadak An Lok Keng cu tertawa geli-"
Sudah saling jatuh hati, namun masih begitu, sungkan, yang satu memanggil saudara seng Hwi, yang lain memanggil su Pangcu. Bukankah menggelikan, sekali?"
"Adik An Lok"
Tegur Thio Han liong .-"Kenapa mulutmu usil sekali? Tidak baik engkau bersikap demikian."
"Kakak Han Liong,"
Sahut An Lok Kong cu sambil tersenyum.
"Aku bicara sesungguhnya, saudara seng Hwi dan su Pangcu sudah saling jatuh hati maka tidak perlu berbasa-basi lagi."
"Eh? Adik An Lok-.»"
Thio Han Liong melotot.
"Kakak Han Liong"
An Lok Kong cu terbelalak-"Tampangmu galak juga di saat melotot, aku takut sekali lho"
"Ha ha ha"
CiHoat Tianglo tertawa gelak-"Apa yang dikatakan An Lok memang benar. Kalau sudah saling jatuh hati, kenapa masih harus berbasa-basi?"
"Ci Hoat Tianglo...."
Wajah su Hong sek langsung memerah..
"Su Pangcu"
Gan Kang, Tianglo memandangnya seraya berkata.
"Usiamu sudah tiga puluhan, maka..."
"Gan Kang Tianglo...."
Su Hong sek membantingbantingkan kaki, dan cemberut, Itu membuat Thio Han Liong melongo-Namun ia lalu tertawa mendadak, dan itu membuat semua orang menjadi terheran-heran.
"Kakak Hang Liong."
An Lok Kong cu menatapnya, heran seraya bertanya.
"Kenapa engkau mendadak tertawa, apa yang menggelikan hatimu?"
"Su Pangcu»."
Sahut Thio Han Liong yang masih tertawa.
"Han Liong"
Tanya su Hong sek.
"Kenapa aku?"
"Barusan su Pangcu membanting-banting kaki dan cemberut, sikap su Pangcu sungguh mirip sikap Adik An Lok,"
Sahut Thio Han Liong memberitahukan.
"Heran? Kenapa su Pangcu dan dia bisa bersikap begitu, sedangkan aku tidak?"
"Han Liong...."
Su Hong Sek cemberut lagi, begitu pula An Lok Keng cu. Sudah barang tentu membuat Thio Han Liong tertawa gelak lagi.
"Ha ha ha TUuh, cemberut lagi"
"Ha ha ha Ha ha ha.-"
Ci Hoat dan Gan Kang Tianglo juga tertawa gelak-aelak-"Kaum wanita memang suka cemberut. Tapi An Lok adalah anak lelakL -"
"Dia terlalu manja"
Sahut Thio Han liong.
"Maka suka cemberut Ha ha ha..."
"Kakak Han Liong"
Mendadak An Lok Keng cu mencubit lengannya.
"Aduuuh"
Jerit Thio Han Liong kesakitan.
"Kenapa engkau mencubitku?"
"siapa suruh mulutmu begitu usil?"
Sahut An Lok Keng cu.
"Belum pernah ditampar orang ya?"
"Adik An Lok"
Thio Han Liong melotot.
"Kenapa engkau begitu galak? Lenganku masih terasa sakit lho"
"Biar tahu rasa"
Ujar An Lok Keng cu sambil terscnyumsenyum.
"saudara... Seng Hwi"
Tanya su Hong sek-"Tadi engkau menggunakan ilmu pukulan sehingga bisa melukai si Mo?"
"Ilmu pukulan cing Hwee Ciang."
Seng Hwi memberitahukan.
"Aku belajar dari sebuah kitab-"
"siapa yang memberitahukanmu kitab itu?"
"Ayahku."
"saudara seng Hwi"
Su Hong sek menatapnya-"Bolehkah aku tahu siapa ayahmu?"
"Ayahku adalah Hun Goan Pek Lek Chiu-seng Run"jawab seng Hwi dengan jujur.
"Hah? Apa?"
Su Hong Sek Tianglo terbelalak, Ci Hoat dan Coan Rang.
"Seng Kun adalah ayahmu?"
"Ya."
Seng Hwi mengangguk
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Lalu engkau dengan Han Liong?"
Su Hong sek memandang mereka dengan mulut ternganga lebar.
"Kami adalah kawan baik"
Sahut Seng Hwi lalu menuturkan tentang semua kejadian itu, dan menambahkan.
"Kalau Han Liang tidak menjernihkan kesalah-pahamanku, aku pasti jadi orang yang paling berdosa di rimba persilatan."
"Syukurlah engkau keburu tahu tentang itu, kalau tidak» "
Su Hong sek menggeleng-gelengkan kepala.
"Oleh karena itu, hingga saat ini aku masih merasa berterima kasih kepada Han Liong,"
Ujar seng Hwi.
"Seandainya tidak ada dia di saat itu, aku...."
"Kakak seng Hwi"
Thio Han Liong tersenyum.
"semua itu telah berlalu, jangan diungkit lagi"
"saudara kecil»»"
Seng Hwi manggut-manggut.
"saudara seng Hwi"
Tanya Su Hong sek mendadak-"Menurutmu, apakah pihak golongan hitam itu akan menyerbu ke mari lagi?"
"Menurut aku tidak"
Sahut Seng Hwi-"Sebab luka si Mo cukup parah, itu akan membuat nyali Kwee In Loan menjadi ciut."
"Ngmmm"
Su Hong sek manggut-manggut "Oh ya, kapan kalian akan meninggalkan markas kami ini?"
"Besok,"
Sahut Thio Han Liong dan menambahkan.
"su Pangtu, yang akan meninggalkan markas ini hanya aku dan Adik An Lok-Kakak seng Hwi tidak akan pergi, dia harus tetap di sini."
"saudara kecil..."
Wajah seng Hwi agak kemerah-merahan.
"Benar kan?"
Thio Han Liong memandangnya sambil tersenyum.
"Karena Kakak seng Hwi masih harus melindungi Kay Pang dari serbuan pihak golongan hitam."
"Dan juga -"
Sambung An Lok Keng cu.
"Harus terus mendampingi su Pangcu yang cantik jelita."
"Eh? Engkau -."
Su Pangcu melototi An Lok Keng cu, kemudian bertanya kepada Han Liong.
"Kalian mau pergi besok?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk-"Kami harus melanjutkan perjalanan ke gunung Bu TUng."
"Han Liong, tolong sampaikan salamku kepada Guru Besar Thio sam Hong dan lainnya"
Pesan su Hong sek-"Ya, pasti kusampaikan."
"Terima kasih, Han Liong,"
Ucap su Hong sek sambil tersenyum lembut "Terima kasih--"
Keesokan harinya, Thio Han Liong dan An Lok Keng cu meninggalkan markas Kay Pang.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju gunung Bu Tong.
Dalam perjalanan, An Lok Keng cu tampak gembira sekali, bahkan sering bercanda ria dengan Thio Han Liong justru Thio Han Liong sama sekali tidak tahu, bahwa An Lok Keng cu adalah seorang gadis, bahkan putri kaisar.
Bab 35 Wahuan Mulai Tertekan si Mo dan Para anak buahnya sudah tiba di markas.
Betapa terkejutnya Kwee In Loan ketika melihat si Mo terluka dalam.
"si Mo siapa yang melukaimu?"
Tanyanya dengan kening berkerut.
"seng Hwi,"
Jawab si Mo sambil duduk-"seng Hwi?"
Kwee In Loan tercengang.
"siapa dia dan apa hubungannya dengan Kay Pang?"
"Aku pun tidak kenal orang itu,"
Ujar si Mo sambil menghela nafas panjang.
"Kepandaiannya amat tinggi, lagipula memiliki pukulan cing Hwee Gang."
"Apa?"
Kwee In Loan tampak terkejut.
"Ilmu pukulan cing Hwee Ciang?"
"ya."
Si Mo mengangguk-"Aku terluka oleh ilmu pukulan itu. Kalau aku tidak memiliki Lweakang tinggi, pasti sudah menjadi mayat di sana."
"Heran?"
Gumam Kwee In Loan.
"siapa orang itu? oh ya, berapa usianya?"
"Tiga puluhan."
Si Mo memberitahukan.
"orang itu bersama Thio Han Liong dan seorang pemuda tampan...."
"oh? Apakah orang itu mempunyai hubungan dengan ayah Thio Han Liong?"
Ujar Kwee In Loan dengan kening berkerut.
"Mungkin."
Si Mo manggut-manggut, kemudian memandang muridnya seraya bertanya.
"Pek Him, ketika kami sedang bertarung, engkau justru asyik bercakap-cakap dengan Han Liong. Apa yang kalian bicarakan?"
"Kami...."
Kwan Pek Him menundukkan kepala.
"Aku bertanya kepadanya mengenai gadis berpakaian merah itu"
"Hmm"
Dengus si Mo-"Engkau...."
"Pek Him,"
Tanya Kwee In Loan.
"Engkau tidak bertanya kepada Han Liong siapa orang itu?"
"Tidak-"
Kwan Pek Him menggelengkan kepala.
"cing Hwee ciang berasal dari Persia, itu merupakan ilmu pukulan yang amat dahsyat dan ganas. Aku yakin lukamu cukup parah,"
Ujar Kwee In Loan.
"Ya."
Si Mo mengangguk,-"
Kalau begitu --"
Kwee In Loan menatapnya.
"Engkau harus beristirahat, untung aku menyiapkan segala macam obat untuk mengobati luka dalam."
"Terima kasih. Ketua,"
Ucap si Mo-"oh ya, kapan Ketua akan menyerbu markas Kay Pang?"
"Kita tunggu Hiat Mo ke mari dulu, setelah itu barulah kita berunding dengan dia"
Sahut Kwee In Loan dan menambahkan.
"Aku yakin tidak lama lagi Hiat Mo akan ke mari-"
"Oooh"
Si Mo manggut-manggut.
"Si Mo"
Ujar Kwee In Loan.
"setelah lukamu sembuh, engkau harus pergi menyelidiki jejak Tong Koay Lam Khie beserta Pak Hong"
"Ya."
Si Mo mengangguk
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Itu -."
"setelah kita tahu mereka berada di mana, tentunya kita akan berunding dengan Hiat Mo,"
Sahut Kwee In Loan serius.
"sampai waktunya engkau akan mengetahuinya."
"Baik-"
Si Mo manggut-manggut.
"Setelah lukaku sembuh, aku akan pergi menyelidiki jejak mereka bertiga-"
Kini Thio Han Liong dan An Lok Kong cu sudah mulai memasuki Propinsi ouw Lam.
An Lok Kong cu melakukan perjalanan dengan penuh kegembiraan.
Ketika beristirahat di bawah pohon, mendadak ia menatap Thio Han Liong dengan kening berkerut-kerut.
"Lho?"
Thio Han Liong tercengang.
"Adik An Lok, kenapa engkau menatapku dengan cara demikian? Apa-kah wajahku mendadak berubah menyeramkan?"
"Aku teringat sesuatu."
"Teringat apa?"
"Ketika terjadi pertempuran di markas Kay pang, engkau malah bercakap-cakap dengan Kwan Pek Him. siapa yang kalian bicarakan?"
"ooooh"
Thio Hah Liong tersenyum.
"Yang kami bicarakan adalah seorang gadis berpakaian merah-gadis itu cantik, galak dan liar."
"Kwan Pek Him jatuh hati pada gadis itu?"
"Ya."
"Tapi -""
An Lok Kong cu menatapnya tajam seraya bertanya.
"Gadis itu pernah bersamamu, kan?"
"Ya."
Thio Han Liong manggut-manggut "Kami cuma berteman, sedangkan Kwan Pek Him jatuh hati kepadanya."
"Kalau dia yang jatuh hati pada gadis itu, kenapa tidak bersama gadis itu?"
Kening An Lok Kong cu berkerut.
"Sebaliknya gadis itu malah bersamamu? Itu karena apa?"
"Eeeh?"
Thio Han Liong tertegun.
"Kenapa engkau bertanya sampai begitu mendetail?"
"Aku ingin tahu,"
Sahut An Lok Keng cu sambil mengangkat bahunya.
"Apakah aku tidak boleh tahu itu?"
Tentu boleh-"
Thio Han Liong tersenyum.
"Sebetulnya gadis berpakaian merah itu tertarik padaku, maka dia terus mengikutiku."
"oh?"
An Lok Keng Cu tersenyum dingin.
"Engkau pasti gembira sekali bersamanya, ya, kan?"
"Aku malah pusing,"
Sahut Thio Han Liong dengan jujur.
"Karena aku sama sekali tidak tertarik kepadanya. Beberapa tahun yang lalu, dia pulang ke tempat tinggalnya, sejak itu aku tidak pernah bertemu dia lagi."
"Dalam beberapa tahun ini, tentunya engkau sangat merindukannya, ya, kan?"
An Lok Keng cu menatapnya dalamdalam.
"Tidak juga."
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Namun memang pernah teringat kepadanya, itu dikarenakan aku telah menganggapnya sebagai adik,"
"Kakak Han Liong"
An Lok Keng cu tersenyum.
"Engkau tidak mencintai gadis itu?"
"Aku memang tidak mencintai gadis itu, tapi...."
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"Kwan Pek Him kelihatan amat mencintainya, namun gadis itu sama sekali tidak mengacuhkannya."
"siapa gadis itu?"
"Ciu Lan Hlo."
"Gadis itu...."
An Lok Keng cu ingin menanyakan sesuatu, namun terputus karena mendadak melayang turun sosok bayangan, ternyata seorang pemuda-"Han Liong"
Panggil pemuda itu bernada agak dingin.
"Tak disangka kita bertemu di sini Apa kabar?"
"ouw yang Bu"
Seru Thio Han Liong girang.
"Aku baik-baik saja Bagaimana engkau?"
"Aku pun baik-baik saja."
Ternyata pemuda itu adalah murid Tong Koay. sikapnya begitu dingin terhadap Thio Han Liong, karena ia pun jatuh hati kepada Tan Giok Cu.
"ouw yang Bu, mari kuperkenalkan, ini teman baikku, namanya Cu An Lok-"
"Hmm"
Dengus ouw yang Bu.
"Hei Han Liong, di mana Tan Giok Cu?"
Begitu ouw yang Bu menyinggung nama gadis tersebut, wajah Thio Han Liong langsung berubah murung.
"Dia -""
Thio Han Liong menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa dia?"
Tanya ouw yang Bu dengan wajah berubah-"Dia berada di mana? Cepat katakan"
"Hei"
Bentak An Lok Kong cu
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Engkau kok tidak tahu diri? Tanya orang tapi membentakbentak siapa engkau?"
"Namaku ouw yang Bu, murid Tong Koay"
"Huh"
Dengus An Lok Kong cu-"Cuma jadi murid Tong Koay saja sudah begitu sombong? Dasar tak tahu diri"
"Apa? Engkau berani mencaciku?"
Ouw yang Bu melotot.
"ya, kenapa?"
Tantang An Lok Keng cu sambil bertolak pinggang.
"Mau bertarung? silakan"
"Engkau...."
Wajah ouw yang Bu merah padam saking gusarnya.
"Adik An Lok, jangan kurang ajar"
Tegur Thio Han Liong.
"Apa?"
An Lok Keng cu terbelalak.
"Aku kurang ajar? Aku membelamu karena dia membentakbentak-mu, sebaliknya engkau malah bilang aku kurang ajar? Engkau...."
"Adik An Lok..."
"Engkau jahat jahat sekali"
An Lok Keng cu mulai menangis terisak dengan air mata meleleh
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Adik An Lok, aku minta maaf. Tadi -aku tidak sengaja menegurmu, sungguh tidak sengaja menegurmu"
Ucap Thio Han liong.
"Maaf, maaf"
Ucap ouw yang Bu.
"Aku terlampau emosi, maka membentak-bentak saudara Han Liong."
"Tidak apa-apa."
Thio Han liong tersenyum getir.
"Saudara ouw yang Bu, terus terang, beberapa tahun lalu Giok Cu di tangkap oleh Hiat Mo-"
"Apa? Giok £u ditangkap oleh Hiat Mo?"
Ouw yang bu tampak terkejut sekali sehingga air mukanya berubah hebat-"Itu -itu.,.."
"sebelum membawa Giok Cu pergi, Hiat Mo berkata kepadaku --"
"Dia berkata apa kepadamu?"
"Dia berkata-.."
Thio Han liong memberitahukan.
"Apabila aku dapat mengalahkannya, barulah dia akan melepaskan Giok Cu."
"oh?"
Ouw yang Bu terbelalak-"Itu -itu bagaimana mungkin?"
"saudara ouw yang Bu,"
Ujar Thio Han Liong dengan tegas
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Biar bagaimanapun, aku harus mengalahkan Hiat Mo-"
"Itu tidak mungkin."
Ouw Yang Bu menggeleng-gelengkan kepala, kemudian menghela nafas panjang.
"Aa a a h"
"Memang tidak mungkin. Tapi aku harus mengalahkannya demi membebaskan Giok Cu."
"Saudara Han Liong...."
Ouw yang Bu menatapnya dalamdalam.
"Mudah-mudahan engkau berhasil membebaskan Giok Cu sampai jumpa kelak"
Ouw yang Bu melesat pergi, sedangkan Thio Han Liong termangu-mangu. An Lok Keng cu terus memandangnya.
"Aaa"i-""
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"Kakak Han Liong"
An Lok Keng cu memandangnya seraya bertanya.
"Kenapa ouw yang Bu menanyakan Giok Cu? Ada hubungan apa kalian dengan gadis itu?"
"Giok Cu adalah temanku dari kecil. Ketika para Dhalai Lhama dan pasukan pilihan itu menyerbu ke pulau Hong Hoang to, aku baru berusia sekitar tujuh tahun. Para Dhalai Lhama itu berhasil menangkap dan membawaku pergi. Tapi di tengah jalan, aku berhasil meloloskan diri Nah, mulailah aku mengembara..."
Tutur Thio Han Liong tentang kejadian itu dengan sejelas-jelasnya. (Bersambung keBagian 18)
Jilid 18
"oooh"
An Lok Kong Cu manggut-manggut dan wajahnya berubah muram.
"Jadi engkau dan dia saling mencinta?"
"iya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Kemudian Giok Cu bertemu ouw yang Bu. Ternyata ouw yang Bu jatuh hati kepada Giok Cu, tapi Giok Cu sama sekali tidak meladeninya."
"Kini Giok Cu masih berada di tangan Hiat Mo?"
"ya."
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"Kepandaian Hiat Mo amat tinggi, maka sulit bagiku mengalahkannya, namun aku harus mencobanya."
"Engkau tidak tahu Hiat mo tinggal di mana?"
"Kalau tidak salah, dia tinggal di Kwan Gwa,"
Jawab Thio Han Liong dan menambahkan.
"Kwan Gwa begitu luas, tidak mungkin aku dapat mencarinya. Tapi aku yakin Hiat Mo akan muncul di rimba persilatan Tionggoan. Kini Kwee In Loan sudah muncul, berarti tidak lama lagi Hiat Mo pun akan muncul."
"Kakak Han Liong"
An Lok Kong cu menatapnya dengan mata basah.
"Betulkah engkau begitu mencintai Giok Cu?-"
"Betul."
"Seandainya kini dia tidak mencintaimu lagi, engkau bagaimana?"
"Itu tidak mungkin."
"Aku bertanya seandainya."
"Aku...."
Thio Han Liong memandang jauh ke depan, kemudian menggeleng-gelengkan kepala seraya melanjutkan.
"Entahlah-seandainya dia tidak mencintaiku lagi, aku tidak tahu harus bagaimana."
"Kakak han Liong"
Ucap An Lok Kong cu dengan hati terasa sakit.
"Mudah-mudahan Giok Cu tetap mencintaimu"
"Mudah-mudahan"
Sahut Thio Han Liong.
"Adik An Lok, mari kita lanjutkan perjalanan kita"
"Ya-"
An Lok Kong cu mengangguk, namun kini wajahnya tidak begitu ceria lagi, bahkan sering melamun.
Tempat-tempat yang dilalui Thio Han Liong dan An Lok Kong cu indah sekali, tapi An Lok Kong cu malah tidak menikmati keindahan panorama itu.
Perubahan itu membuat Thio Han Liong tercengang.
"Adik Loan,"
Tanyanya lembut.
"Kenapa dua hari ini engkau sering melamun dan tidak menikmati keindahan alam?"
"Aku...."
An Lok Kong cu menggeleng-gelengkan kepala.
"Adik An Lok, katakan kepadaku"
Desak Thio Han Liong halus.
"Apa yang terganjel dalam hatimu?"
An Lok Kong cu diam saja.
"Adik An Lok..."
Thio Han Liong memegang bahunya.
"Apa yang terganjel dalam hatimu, katakanlah kepadaku"
"Ti. tidak-"
An Lok Kong cu menggelengkan kepala, kemudian mendadak berlari pergi sambil menangis terisakisak.
"Adik An Lok"
Thio Han Liong terkejut lalu buru-buru mengejarnya.
"Adik An Lok-."
An Lok Kong cu berhenti di bawah sebuah pohon, lalu duduk dan terus menangis terisak-isak.
"Adik An Lok--"
Thio Han Liong duduk di sisinya.
"Kenapa engkau menangis? Apakah aku telah menyakiti hatimu?"
"Kakak Han Liong...."
Mendadak An Lok Kong cu mendekap di dadanya
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Aku sedih sekali...."
"sedih kenapa? Katakanlah kepadaku"
Thio Han Liong membelainya. Belaiannya itu membuat An Lok Kong cu semakin sedih, sehingga air matanya terus berderai.
"Adik An Lok, apakah engkau rindu kepada orang-tuamu?"
Tanya Thio Han Liong lembut.
"Aku...."
"Kalau engkau rindu kepada orang tua mu, aku berjanji akan mengantarmu pulang ke Kotaraja."
"oh? Kapan?"
"setelah kita ke gunung bu Tong."
"sungguh?"
"Aku tidak akan membohongimu, percayalah"
Sahut Thio Han Liong sungguh-sungguh-"Nah, mulai sekarang engkau jangan bersedih lagi"
"Kakak Han Liong, seandainya aku seorang gadis, apakah engkau akan mencintaiku?"
"Itu...."
Thio Han Liong ragu-ragu menjawabnya.
"jawablah. Kakak Han Liong"
Desak An Lok Kong cu.
"seandainya engkau seorang gadis, aku... aku pasti mencintaimu,"
Jawab Thio Han Liong menghiburnya, ilu agar An Lok Kong cu tidak bersedih lagi.
"Kakak Han Liong...."
An Lok Kong cu langsung tersenyum.
"jangan lupa janjimu lho"
"Janji mengantarmu pulang ke Kotaraja?"
"ya."
"Jangna khawatir, aku tidak akan ingkar janji."
"Terima kasih. Kakak Han Liong,"
Ucap An Lok Kong cu dengan menundukkan kepala.
"Adik An Lok, mari kita lanjutkan perjalanan kita"
Ajak Thio Han Liong sambil bangkit berdiri "Baik,"
An Lok Kong cu mengangguk.
-ooo00000ooo-Kini Thio Han Liong dan An Lok Kong cu telah tiba di gunung Bu Tong.
pemandangan di gunung itu memang indah sekali.
An Lok Kong cu mendaki sambil menikmati keindahan pemandangan disekelilingnya.
sementara mereka terus mendaki-Tiba-tiba muncul beberapa orang, yang kemudian terbelalak ketika melihat Thio Han Liong.
"saudara Thio"
Panggil salah seorang dari mereka.
"engkau... Thio Han Liong kan?"
"Betul."
Thio Han Liong mengangguk kemudian memperkenalkan An Lok Kong cu.
"Ini teman baikku, namanya Cu An Lok-"
"saudara Cu"
Mereka segera memberi hormat.
"selamat datang, selamat datang"
"Terima kasih,"
Ucap An Lok Kong cu sekaligus balas memberi hormat kepada mereka.
"Adik An Lok"
Thio Han Liong memberitahukan.
"Mereka adalah murid-murid Bu Tong Pay."
"oooh"
An Lok Kong cu manggut-manggut.
"Mari kita ke atas"
Ajak salah seorang murid Bu Tong Pay itu.
"Baik,"
Thio Han uong mengangguk-Mereka segera mendaki, dan tak lama kemudian sampai di siang cing Koan. Para murid Bu Tong pay itu. segera mempersilakan mereka masuk-"Terima kasih,"
Ucap Thio Han Liong sambil melangkah ke dalam-An Lok Kong cu mengikutinya dari belakang-Di saat itulah terdengar suara tawa gelak, dan muncullah beberapa orang tua.
Mereka adalah song wan Kiauw Jie Thay Giam,jie Lian ciu dan Thio siong Kee.
"Kakek --"
Thio Han Liong langsung bersujud di hadapan mereka-"Ha ha ha"
Song Wan Kiauw tertawa gembira-"Han Liong, bangunlah"-"Terima kasih. Kakek song."
Thio Han Liong bangkit dari sujudnya, lalu memperkenalkan An Lok Kong cu.
"Dia teman baikku bernama Cu An Lok-"
"Para Locianpwee, terimalah hormatku"
Ucap An Lok Kong cu sambil memberi hormat.
"Ha ha"
Song, wan Kiauw tertawa-"Tidak usah banyak peradaban, silakan duduk"
"Terima kasih,"
Ucap An Lok Kong cu sambil duduk, dan Thio Han Liong duduk di sebelahnya.
""Han Liong"
Jie Lian ciu memandangnya seraya berkata.
"Beberapa tahun ini engkau berada di mana?"
"Aku berada di gunung soat san.
"jawab Thio Han Liong dan menutur tentang kejadian itu.
"Apa?"
Bukan main terkejutnya jie Lian ciu.
"Tan Giok Cu ditangkap Hiat Mo?"
"Ya-"
Thio Han Liong mengangguk
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com "Sebelum membawa Giok Cu pergi, Hiat Mo bilang kepadaku-Kalau aku berhasil mengalahkannya, barulah dia akan melepaskan Giok Cu."
"itu...."jie Lian ciu menggeleng-gelengkan kepala.
"Bagaimana mungkin engkau dapat mengalahkannya? Aaaai -"
"Biar bagaimana pun, aku harus mengalahkannya."
"Han Liong"
Song Wan Kiauw menghela nafas panjang-"Itu tidak mungkin, tidak mungkin."
"Aku tahu itu tidak mungkin, namun aku tetap harus mengalahkannya,"
Sahut Thio Han Liong.
"Aku harus bertanggung jawab akan keselamatan Giok Cu."
"Betul. Tapi -."
Song Wan Kiauw menggeleng-gelengkan kepala.
"Bagaimana mungkin engkau dapat mengalahkannya?"
"Begini,"
Usul jie Lian ciu.
"Bagaimana kalau engkau mohon petunjuk kepada Sucouwmu?";
"Betul."
Thio Han Liong mengangguk-"Aku memang harus mohon petunjuk kepada sucouw."
"Kalau begitu, mari kita ke dalam"
Ajak-song Wan Kiauw.
"Kakek song. Adik An Lok boleh ikut ke -dalam menemui sucouw?"
Tanya Thio Han Liong.
"Tentu boleh,"
Sahut song Wan Kiauw.
"Terima kasih, Locianpwee,"
Ucap An Lok Kong cu. Mereka menuju ruang meditasi-Tampak Guru Besar Thio sam Hong duduk disana. Ketika melihat Thio Han Liong, wajah guru besar itu tampak berseri "Han Liong.."
"Sucouw-..."
Thio Han Liong langsung bersujud di hadapannya, begitu juga An Lok Kong Cu-"Ngmmm"
Thio sam Hong manggut-manggut, kemudian menatap An Lok Kong cu dengan tajam sekali "siapa engkau?"
"Namaku... Cu An Lok sucouw,"
Jawab An Lok Kong cu yang juga ikut memanggilnya sucouw kepada Thio sam Hong.
"Bangunlah kalian"
"Terima kasih, sucouw."
Thio Han Liong dan An Lok Kong cu segera bangun duduk-"Han Liong,"
Tanya Thio sam Hong sambil tersenyum-"Kelihatannya kepandaianmu sudah maju pesat, engkau berlatih di mana?"
"Di gunung soat san."
"Kok di sana?» "
Aku bersama Tan Giok Cu ke gunung soat san untuk mencari Teratai salju, tapi di tengah jalan...."
Thio Han Liong menutur tentang kejadian yang menimpa Tan Giok Cu-"oh?"
Bukan main terkejutnya Thio sam Hong.
"gadis itu ditangkap Hiat Mo?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk-"Hiat Mo bilang, kalau aku dapat mengalahkannya, dia akan melepaskan Giok Cu."
"Ngmmm"
Thio sam Hong manggut-manggut.
"Maka engkau melanjutkan perjalanan ke gunung soat san, dan karena tidak menemukan Teratai salju, akhirnya engkau berlatih di dalam gua hangat itu?"
"ya, sucouw."
"Han Liong"
Thio sam Hong tersenyum getir.
"Tidak gampang mengalahkan Hiat Mo, sebab ilmu pukulan Hiat Mo Gang lihay sekali. Kecuali Lweekangmu sudah mencapai tingkat kesempurnaan, barulah engkau dapat mengalahkannya dengan Kiu yang sin Kang dan Kian Kun Taylo Ie-Kalau tidak, engkau jangan harap dapat mengalahkannya."
"Sucouw,"
Tanya Thio Han Liong.
"Aku harus berlatih berapa lama baru bisa mengalahkan Hiat Mo?"
"Ayahmu kebetulan memakan kodok api, maka Iweekangnya menjadi begitu tinggi. Kalau cuma mengandalkan latihan, tentunya sulit mencapai Lweekang yang setinggi itu"
Thio sam Hong memberitahukan.
"Kalau begitu, aku...."
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"Tiada harapan untuk mengalahkan Hiat Mo-Aku...."
"Han Liong"
Thio sam Hong tersenyum.
"Engkau masih muda, tidak baik cepat putus asa. siapa tahu kelak engkau akan menemukan suatu kemujizatan seperti apa yang dialami ayahmu."
"Sucouw,"
Tanya Thio Han Liong.
"Kalau Hiat Mo muncul, apakah aku boleh mencoba bertarung dengan dia?"
"Tentu boleh-"
Thio sam Hong manggut-manggut.
"Itu akan menambah pengalamanmu."
"Guru"
Ujar song Wan Kiauw-"Bukankah itu akan membahayakan diri Han Liong?"
"Tentu tidak-"
Thio sam Hong tersenyum-"guru yakin, Hiat Mo tidak akan membunuh Han Liong."
"oooh"
Song Wan Kiauw menarik nafas lega.
"oh ya"
Thio Han Liong teringat sesuatu dan segera memberitahuku "Ketika kami ke mari, di tengah jalan bertemu seng Hwi."
"oh?"
Thio sam Hong mengerutkan kening.
"Lalu bagaimana?"
"Seng Hwi kenal su Hong sek-ketua Kay Pang. Dia mengajak kami ke markas Kay Pang mengunjungi su Pangcu dan kami ikut ke sana Justru sungguh di luar dugaan, Kay pang sedang menghadapi serbuan golongan hitam."
"Apa?"
Betapa terkejutnya song Wan Kiauw dan lainnya.
"golongan hitam akan menyerbu Kay Pang?"
"Ya."
Thio Han Liong mengangguk.
"Kini golongan hitam diketuai oleh Kwee In Loan, dan si Mo sebagai wakilnya. Kwee In Loan mengutus si Mo ke markas Kay Pang, untuk mengajak Kay pang bergabung. Tapi su Pangcu menolak, maka menimbulkan kegusaran Kwee In Loan."
"Maka mereka lalu menyerbu Kay Pang?"
Tanya song Wan Kiauw.
"si Mo yang memimpin serbuan itu, tapi gagal karena seng Hwi berhasil melukainya,"
Ujar Thio Han Liong memberitahukan.
"Ketika kami berangkat ke mari, seng Hwi masih berada di markas Kay Pang. Ternyata seng Hwi dan su pangcu sudah saling jatuh hati-"
"oooh"
Thio sam Hong manggut-manggut.
"Itu baik sekali, sebab seng Hwi berkepandaian tinggi, syukurlah kalau begitu"
"guru,"
Ujar song Wan Kiauw serius.
"Tidak lama lagi Hiat Mo akan muncul, mungkin akan menimbulkan bencana dalam rimba persilatan, oleh karena itu, alangkah baiknya kalau kita memberitahukan kepada siauw urn Pay."
"Ngmmm"
Thio sam Hong manggut-manggut, kemudian memandang Thio Han Liong seraya berkata.
"Kalian berdua boleh ke kuil siauw Lim menemui Kong Bun Hong Tio untuk memberitahukan tentang Hiat Mo-"
"ya, sucouw-"
Thio Han Liong mengangguk-"Aaaai -"
Mendadak Thio sam Hong menghela nafas panjang.
"cinta harus tumbuh dari ke dua belah pihak-Kalau hanya sepihak, tentu akan menimbulkan suatu penderiTuan. oieh karena itu, haruslah menekan cinta."
"sucouw"
Thio Han Liong tercengang.
"Aku tidak mengerti maksud sucouw. Bolehkah sucouw menjelaskannya?"
"Han Liong"
Thio sam Hong tersenyum.
"Kelak engkau akan mengetahuinya, mungkin kawan baikmu itu mengerti."
"Aku mengerti, sucouw."
An Lok Kong cu manggutmanggut.
"Heran?"
Gumam Thio Han Liong.
"Kok aku sama sekali tidak mengerti?"
"Han Liong"
Thio sam Hong tersenyum lagi, kemudian menambahkan.
"Kalau berjodoh, tentunya jadi-Tetapi kalau tidak, sudah pasti tidak jadi jangan memaksakan diri, sebab itu akan membuat diri sendiri tersiksa."
"Terima kasih atas petunjuk, sucouw,"
Ucap An Lok Kong cu.
"Terima kasih, aku tidak akan memaksakan diri"
"Bagus, bagus"
Thio sam Hong tertawa sambil manggutmanggut.
"Nah, sekarang kalian boleh berangkat."
"Guru, kenapa begitu cepat guru suruh mereka berangkat?"
Tanya song Wan Kiauw.
"Bukankah lebih baik berangkat esok?"
"Jangan membuang waktu"
Sahut Thio sam Hong.
"Berangkat sekarang atau esok sebetulnya sama, namun alangkah baiknya kalau berangkat sekarang."
"Sucouw, kami mohon pamit"
Ucap Thio Han Liong sambil bersujud, begitu pula An Lok Kong cu.
setelah itu, barulah mereka meninggalkan ruang meditasi itu, kemudian mereka berdua berpamitan juga kepada song wan Kiauw dan lainnya, lalu berangkat ke kuil siauw Lim sie.
-ooo00000ooo-Dalam perjalanan menuju kuil siauw Lim sie, An Lok Kong cu diam saja, tidak pernah bercanda ria lagi seperti tempo hari, bahkan wajahnya tampak murung sekali.
"Adik An Lok."
Tanya Thio Han Liong.
"Kenapa engkau diam saja? Apakah engkau tidak senang berangkat ke kuil siauw Lim sie?"
"Aku...."
An Lok Kong cu menundukkan kepala.
"Adik An Lok"
Thio Han Liong tersenyum.
"Pemandangan di sana indah sekali lho Ada air terjun dan...."
"Kakak Han Liong, engkaujangan salah paham. Sebetulnya aku senang sekali ke kuil siauw Lim sie, tapi...."
"Kenapa?"
"Aku sedang berpikir, kalau Hiat Mo muncul, sudah barang tentu engkau akan berkumpul dengan Giok Cu...."
"Adik An Lok"
Thio Han Liong menghela nafas panjang.
"Bagaimana mungkin aku berkumpul dengan Giok Cu? Karena aku tidak dapat mengalahkannya, tentunya dia tidak akan melepaskan Giok Cu."
"Kakak Han Liong, aku...."
An Lok Kong cu ingin mengutarakan sesuatu, tapi mendadak dibatalkan.
"Adik An Lok"
Barusan engkau mau omong apa? Kenapa tidak dilanjutkan?"
Tanya Thio Han Liong lembut.
"Itu...."
An Lok Kong Cu tersenyum paksa.
"jangan lupa engkau harus antar aku pulang ke Kola raja"
"Jangan khawatir, aku tidak akan lupa"
Thio Han Liong tertawa.
"Ternyata engkau mengkhawatirkan itu"
"Kakak Han Liong...."
Baca Juga: Beruang Salju 7
Baca Juga: Bajak Laut Kertapati 1