Eps 9 Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id
Baca online Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id
Cersil Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id.
"Sebelum pergi meninggalkan tempat ini, dia telah memberi batas waktu selama lima hari buat kami, biia batas waktunya sudah habis dan kami masih belum bersedia untuk masuk menjadi anggota perguruannya, maka dia akan membantai segenap sisa anggota yang masih hidup!"
Paras muka Ong Bun kim segera berubah hebat setelah mendengar perkataan itu, hawa napsu membunuhnya segera berkobar. Terdengar orang itu kembali berkata sambil tertawa dingin.
"Kalau kau bisa membunuh orang lain, mengapa tak bisa membunuh istrimu sendiri? Bila kau sudah tiada urusan lagi disini, silahkan segera angkat kaki dari hadapan kami!"
Ucapan yang terakhir tadi sungguh membuat kedudukan Ong Bun kim serba salah, dia tak tahu apa yang musti diucapkan kepada orang itu. Akhirnya sambil menggertak gigi menahan marahnya, dia berkata.
"Aku pasti akan membinasakan dirinya."
Sehabis berkata dia membalikkan badannya dan keluar dari tempat itu. Terdengar ketua dari perguruan Hiat ho-kau Itu menjengek sambil tertawa dingin.
"Semoga saja kau dapat teringat selalu dengan perkataanmu itu!"
Kendatipun berarda dalam pengartuh hawa napsu mqembunuh yang berrkobar-kobar, akan tetapi Ong Bun kim merasakan juga keserba susahnya menghadapi keadaan tersebut, selama hidup belum pernah ia menerima cemoohan orang seperti apa yang dialaminya saat ini.
Tiba-tiba saja perasaannya tercekam dalam suasana yang amat murung dan berat, seakan-akan kematian orang itu adalah akibat dari perbuatannya.
Lama, lama sekali, akhirnya dia baru bergumam sambil menggertak giginya menahan diri.
"Ia sungguh amat menakutkan, aku pasti akan membunuhnya, aku harus menyingkirkan dirinya dari muka bumi!"
Terdengar Tan Liok bertanya dengan keheranan.
"Istrimu kah yang telah membasmi semua anggota perguruan ini?"
"Benar!"
"Mana mungkin?"
Ong Bun-kim menghela napas panjang, secara ringkas lantas menceritakan bagaimana ayah Kim lo sat dan ayahnya menjodohkan mereka ketika masih berada di kandungan dulu, kemudian dijelaskan pula tindak tanduk Kim lo sat didalam dunia persilatan selama ini...
Seusai mendengar penuturan tersebut, Tan Liok lantas berkata.
"Perbuatannya memang benar-benar amat kejam dan tak berperi kemanusiaan, tapi, sanggupkah kau untuk membinasakannya?"
"Mengapa tidak?"
"Aku kuatir kalau kau tidak memiliki cukup keberanian untuk melakukan hal itu!"
Paras muka Ong Bun kim segera berubah, kesombongannya muncul kembali, dengan angkuh dia berkata.
"Aku sebagai pemegang Sin kiam sudah sewajarnya uutuk membasmi kaum sesat dari muka bumi, sekarang juga aku akan kesana untuk mencarinya!"
"Bila kau hendak kesana, aku juga akan turut serta!"
"Kau juga akan ikut ke mana?"
"Yaa, Hek mo im menitahkan kepadaku untuk membantu pemegang pedang Sin kiam untuk melaksanakan tugas sucinya!"
Ong Bun kim segera tertawa.
"Kalau begitu mari kita segera berangkat"
Maka berangkatlah kedua orang itu menuruni bukit di mana Hiat ho kau bermarkas. Di tengah jalan, tiba tiba Tan Liok bertanya.
"Ong sauhiap, ada satu hal aku telah lupa-untuk bertanya kepadamu!..."
"Persoalan apa?"
"Mengapa kau bisa terbawa arus sungai sampai ke situ dengan tubuh penuh luka?"
Ong Bun kim menceritakan kepadanya apa yang telah dialaminya...
Setelah menyinggung kembali soal itu, dia baru teringat pula dengan nasib Ciu Li li, apakah ia masih hidup atau sudah mati setelah terjun ke dalam jurang tempo hari?
Apakah dia perlu pergi mencarinya ataukah tidak?
Akhirnya dia memutuskan untuk mempersoalkan mati hidup Ciu Li li di masa mendatang, sekarang dia harus menjumpai Kim lo sat lebih dulu untuk membunuhnya dan melenyapkan bibit bencana lagi umat persilatan.
Dia ingin membuktikan kepada umat persilatan bahwa ia selain bisa membunuh orang jahat, juga bisa membunuh istrinya sendiri.
Tak lama kemudian sampailah mereka berdua di bukit Thi gou san.
Setibanya di sana, Ong Bun kim segera menelusuri jalan kecil di tepi tebing karang untuk meluncur kearah markas besar kaum Hui mo-pang.
Dengan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya itu, tak seberapa lama kemudian, sampailah ia didalam kebun kecil dalam markas besar Hui mo-pang.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring berkumandang memecahkan keheningan.
"Berhenti.... !"
Menyusul bentakan tersebut, dua orang nyonya berbaju biru telah melayang turun dihadapan Ong Bun kim. Tapi begitu tahu siapa yang sedang dihadapinya itu, paras muka mereka segera berubah hebat.
"Haaah.....kau?"
Teriaknya sembari berbareng.."Benar, aku!"
"Ada keperluan apa Ong tayhiapb datang kemari.d"
"Mencari Kima lo sat!"
"Maafb !"
Ucap perempuan baju biru yang berada disebelah kanan itu.
"tay pangcu telah menurunkan perintah untuk tidak menerima tamu?"
"Apakah termasuk juga aku?"
"Benar ! siapapun tidak boleh masuk!"
"Apa yang sedang ia lakukan sekarang?"
"Rapat !"
"Rapat ?"
"Benar ia sedang rapat dengan beberapa orang ciangbunjin dari beberapa partai besar!"
Mendengar jawaban tersebut, diam-diam Ong-Bun kim merasa terkejut sebab ditinjau dari sikap Kim lo sat yang sedang melakukan perundingan dengan beberapa orang ciang bunjin dari partai besar dapat diketahui bahwa ia telah menyiapkan suatu rencana besar untuk melakukan suatu pembantaian secara besar-besaran didalam dunia persilatan.
Andaikata apa yang diduganya-itu tidak salah akibatnya benar-benar mengerikan sekali.
Berpikir demikian, tanpa terasa Ong Bun kim segera membentak keras.
"Cepat beritahu kepadanya, bahwa aku hendak berjumpa dengannya"
"Baiklah harap kalian tunggu sebentar!"
Selesai berkata nyonya berbaju biru yang berada disebelah kanan itu telah melompat pergi meninggalkan tempat itu.
Tak lama kemudian perempuan berbaju biru itu telah balik kembali, tampak dibelakangnya mengikuti Gin lo sat serta beberapa orang anggotanya, baru saja Ong Bun kim hendak menegur, Gin lo sat telah berkata lebih dahulu.
"Ong sauhiap, satu bulan tidak bersua tentunya engkau telah berkunjung sendiri kemari, entah ada urusan apa?"
"Aku hendak bertemu dengan Kim lo sat !"
"Silahkan."
Sembari berkata dia lantas menyingkir ke samping untuk memberi jalan lewat.
Ong Bun kim serta Tan Liok dengan angkuhnya segera melanjutkan perjalanannya menembusi halaman kecil tersebut dan menuju ke pintu gerbang bangunan tersebut.
Tampak pintu gerbang terpentang lebar-lebar, beberapa puluh orang jago berdiri disekeliling tempat itu.
"Ong sauhiap!"
Kata Gin lo sat tiba-tiba.
"Tay pangcu belum selesai rapat, bagaimana kalau kau menunggu sebentar dibdalam ruangan tdamu?"
"Tidak, saekarang juga akbu akan pergi menjumpainya?"
Bentak Ong Bun kim dengan suara tajam.
"Ong sauhiap mengapa kau musti menyusahkan orang?"
"Sudah, kau tak urah banyak bicara, masuk dan beritahu kepadanya, katakan saja bersediakah dia untuk bertemu denganku?"
Gin losat mengerutkan dahinya, setelah berpikir sejenak akhirnya dia berkata.
"Baiklah!"
Selesai berkata dia lantas melangkah masuk kedalam ruangan.
Ong Bun kim melirik sekejap kearah Tan Liok, dilihatnya orang itu berdiri dengan wajah tanpa emosi, sorot matanya menatap ruangan itu tanpa berkedip, agaknya ia sedang mempertimbangkan sesuatu...
Tak lama kemudian Gin losat telah muncul kembali katanya.
"Ong sauhiap, Tay pangcu mempersilahkan kau masuk, mari ikutilah aku !"
Dengan mengikuti dibelakang Gin losat, Ong Bun kim langsung menuju ke ruangan belakang, kamudian berbelok kesamping dan masuk ke dalam sebuah ruangan kecil.
Didalam ruangan kecil tersebut, selain terdapat Kim Lo sat, masih hadir pula lima orang lainnya.
Kelima orang itu ada yang berbaju preman, ada pula yang berdandan sebagai seorang tosu, usianya antara lima puluh tahunan, ketika Ong Bun kim melangkah masuk mengikuti dibelakang Gin lo sat.
Kim losat segera bangkit berdiri sambil tertawa.
"Ong Buncu!"
Tegurnya.
"angin apa yang telah membawamu sampai di tempat ini?"
"Kau panggil aku dengan sebutan apa?"
"Bukankah kau adalah Buncu dari perguruan Sin kiam bun?"
Setelah mendengar perkataan itu Ong Bun kim baru memahami duduknya persoalan, ternyata ia memanggil dirinya sebagai Ong buncu, lantaran dia telah menjadi buncu dan perguruan Sin kiam bun.
Sambil tertawa dingin katanya kemudian.
"Ku Pek hoa, tahukah kau ada urusan apa aku datang kemari mencarimu ?"
Kim losat segera tertawa hambar, sahutnya.
"Tidak mungkin untuk datang membicarakan soal perkawinan denganku bukan?"
Setelah menarik kembali senyumannya, dia berkata lebih jauh.
"Mari, mari kuperkenalkan dulu dirimu dengan kelima orang saudara ini, yang disebelah kanan adalah kertua dari partait Hoa san kiam kqek (jago pedangr dari bukit Hoa san), orang kedua adalah ketua dari partai Tiam-cong. Ciong hay sin liong (naga sakti dari samudra luas), orang ketiga adalah ketua Soat san-pay, Soat it ciau (ular sakti dari samudra salju).. .Ketua dari Ciong lay pay Suci tojin (tangan sakti pembunuh naga).."
Sekaligus dia memperkenalkan kelima orang yang hadir dalam ruangan itu, kemudian dia baru melanjutkan.
"Sedangkan saudara yang ini tak lain adalah Ong Bun kim yang amat tersohor namanya dalam dunia persilatan itu!"
Ong Bun kim segera tertawa dingin katanya.
"Sungguh beruntung aku bisa bertemu dengan para ciangbunjin sekalian. !"
Sekulum senyuman jengah segera menghiasi wajah kelima orang ciangbunjin itu, namun mereka tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Kim losat memandang sekejap wajah kelima orang ciangbunjin itu, kemudian ujarnya lagi.
"Dan dia, sesungguhnya tidak lain adalah suamiku sendiri!"
"Tutup mulut!"
Bentak Ong Bun kim..Kim losat menjadi amat terkejut setelah ketika mendengar bentakan Ong Ban kim yang sangat keras itu, tapi sesaat kemudian sambil tertata manis dia berkata lagi.
"Saudara sekalian aku berjuang untuk merajai seluruh dunia persilatan, tujuanku tak lain adalah ingin mempersembahkan kedudukan yang amat tinggi itu kepadanya."
"Tutup mulutmu!"
Kembali Ong Bun kim membentak keras amarahnya sudah mulai berkobar. Kim lo sat sama sekali tidak menggubris kemarahan orang, sambil tetap tersenyum manis dia berkala lebih jauh.
"Aku berbicara sejujurnya, aku berjuang mati-matian untuk merebut kedudukan Bengcu itu, tidak lain adalah ingin kupersembahkan segala sesuatunya ini kepadanya !"
Ong Bun kim tertawa dingin, tukasnya.
"Maksud baikmu itu biar kuterima dalam hati saja, Ku Pek hoa, kau jangan terlalu menghina kemampuan orang."
"Menghina? Haahh haaah haaahh mana aku berani menghina dirimu? Setelah kurebut kursi Bengcu dari seluruh jagad, bukankah kursi kebesaran itu akan kuberikan kepadamu? Aku toh tidak berbicara bohong, aku berbicara sesungguhnya."
"Sudah cukupkah perkataanmu itu?"
Jengek Ong Bun kim sinis. Kim lo sat segera menarik kembali senyumannya, kemudian menegur.
"Kau datang kemari mencari aku, sebenarnya ada urusan apakah yang hendak dibicarakan denganku"
Air muka Ong Bun kim agak berubah, bentaknya kemudian.
"Apakah kau yang telah menciptakaa pembunuhan berdarah atas anggota dan perkumpulan Wat ho kao?"
"Benar !"
"Sungguh keji amat perbuatannya itu."
"Aku berbuat demikian, tidak lebih hanya bermaksud untuk memberi sedikit hukuman kepada mereka!"
"Suatu hukuman yang bagus sekali, empat puluh lembar jiwa manusia dibantai, kau masih menganggapnya sebagai suatu hukuman, Ku Pek hoa akhirnya aku benar-benar telah mengenali dirimu."
"Kalau sudah kenal denganku, lantas mau apa?"
Jengek Ku Pek hoa sambit tertawa dingin.
"Mau apa? Tentu saja membunuh dirimu."
"Ong Bun kim seandainya aku tidak memandang diatas hubungan kita sebagai suami istri, sudah sedari dulu kubunuh dirimu, bila kau tidak mempunyai urasan lain lagi silahkan segera angkat kaki dari sini"
Dengan kalap Ong Bun kim mendongakkan kepalanya, dan tertawa seram.
"Cring. ."
Pedang sin kiam diloloskan dari sarungnya sehingga cahaya tajam yang menyilaukan mata segera memancar ke empat penjuru.
Sambil menggetarkan pedang sin kiamnya itu, kembali dia membentak dengan suara keras.
"Ku Pek hoa, di bawah pedang Sin kiam selamanya tak pernah mengenal kata kasihan, maaf kalau terpaksa aku Ong Bun kim tak bisa memandang pada hubungan kita sebagai suami istri untuk membinasakan dirimu sekarang juga."
Selangkah demi selangkah dia berjalan ke muka menghampiri Kim lo sat yang cantik itu.
Begitu pedang Sin kiam dilolosbkan, baik Ku Pedk hoa maupun kealima orang cianbgbun jin itu sama-sama tersentak kaget, rasa ngeri dan takut segera menyelimuti wajah mereka.
"Ong Bun kim, kau berani berbuat demikian?"
Bentak Kim lo sat dengan gusar. Ong Bun kim segera mendongakkan, kepalanya dan tertawa seram.
"Haaahhh....haaahhh haaahhh. mengapa tidak berani? Lihat saja seranganku ini!"
Sambil membentak nyaring tubuhnya melejit ke udara, kemudian secepat sambaran petir menerjang ke arah Kim lo sat, cahaya tajam berkilauan memenuhi seluruh angkasa dan sebuah tusukan kilat telah dilepaskan.
Sementara Ong Bun kim mendesak ke depan dengan serangan kilatnya, Kim losat telah melejit kesamping untuk menghindarkan diri, berhadapan dengan senjata kuno yang tajam luar biasa itu, sedikit banyak Kim losat merasa agak keder juga dibuatnya.
Gagal dengan serangan yang pertama, Ong Bun kim mendesak lebih kedepan serta melepaskan serangan yang kedua.
Tiba-tiba Kim losat membentak nyaring.
"Ciangbunjin berlima, mengapa kalian berpeluk tangan saja? Cepat bantu aku untuk menantang nya!"
Ditengah bentakan Kim lo sat yang amat keras itu, serentak ke lima orang ciangbunjin itu meloloskan pedangnya yang tersarung dipinggang, kemudian diiringi lima jalur kilatan cahaya hijau mereka bersama-sama melancarkan serangan untuk menggulung tubuh Ong Bun kim.
Kelima orang ciangbunjin ini rata-rata adalah ahli di dalam ilmu pedang, terlihatlah lima pedang mereka bagaikan naga sakti yang baru keluar dari samudra, dalam waktu singkat telah menyerang jalan darah penting di tubuh anak muda tersebut.
Dengan suatu lompatan yang enteng Ong Bun kim mundur sejauh satu kaki kebelakang kemudian dengan sinar mata yang tajam dia membentak.
"Kalian ingin mampus?"
OooOdwOooo BAB 77 MELINDUNGI keselamatan Bengcu adalah tugas dari kami berlima !"
Jawab Hoa san kiam kek dengan suara dingin.
Ong Bun kim sendiri juga tahu kalau kelima orang ciangbunjin itu hanya dipaksa untuk turun tangan, seandainya ia sampai membunuh mereka berlima maka akibatnya bisa memancing kemarahan dari segenbap umat persiladtan.
Dibawah ujaung pedang sucib selamanya tak akan terbunuh orang yang baik dan tidak bersalah.
Berpikir demikian, tak tahan lagi Ong Bunkim membentak keras.
"Kalau kalian masih ingin hidup kuanjurkan kepada kamu berlima agar menyingkir dari hadapanku"
Tapi bukannya mundur, lima orang ciang bunjin itu malah maju sambil membetuk satu gerakan setengah melingkar yang mengurung Ong Bun-kim ditengah arena.
Tib-tiba Kim-losat menghela napas panjang.
tegurnya.
"Ong Bun kim, apa yang hendak kau lakukan atas diriku?"
"Apa lagi? Tentu saja membunuhmu!"
"Aaai Ong Bun kim, lalu kau menginginkan agar aku berbuat bagaimana?"
"Apanya yang bagaimana?"
"Aku memperjuangkan kedudukan Bengcu dari dunia persilatan untuk kemudian kupersembahkan kepadamu, apakah kau belum puas?"
"Kentut busuk, siapa yang kesudian dengan kedudukan bengcu itu?"
Bentak sang pemuda marah.
"Lantas, apa yang kau kehendaki?"
"Aku tidak menginginkan apa-apa, sekarang aku hanya menginginkan selembar nyawamu-"
"Tegakah kau untuk turun tangan terhadap diriku?"
"Tentu saja tega. Ciangbunjin sekalian, kalian sebetulnya mau minggir atau tidak?"
"Tidak"
"Bangsat, jadi agaknya kalian juga sudah pingin mampus..."
Diiringi bentakan keras, sekali lagi tubuh nya menerjang maju kedepan.
pedang Sin-kiam menyambar kebawah dan sebuah serangan dahsyat telah dilancarkan.
Cahaya pedang berkilauan memenuhi seluruh angkasa, daya serangannya sungguh mengerikan.
Lima bilah pedang meluncur bersama ke udara, secara terpisah kemudian mengancam sekujur badan anak muda itu.
Gerak serangan Ong Bun kim tiba-tiba berubah, dari suatu tusukan mendadak ia rubah serangannya menjadi bacokan, cahaya pedang dengan membawa sekilas cahaya hijau langsung menggulung kedepan -dengan dahsyatnya.
"Traaang ! Traarang !"
Diiringit bunyi gemerincqing yang sangatr keras, tahu-tahu pedang yang berada ditangan Hoa san kiam kek serta Ciong hay sin liong telah patah menjadi beberapa bagian.
Begitu berhasil mematahkan senjata musuh, Ong Bun kim dengan diserfai tenaga serangan yang maha dahsyat langsung menerjang kehadapan Kim losat.
Akan tetapi, baru saja si anak muda itu menggerakkan badannya untuk menerjang ke muka.
Soat hay it ciau (naga sakti dari lautan salju), Jit ci-tojin (tosu berjari tujuh) serta To liong jiu (tangan sakti pembunuh naga) telah memutar senjata masing-masing dan sekali lagi menerjang ke depan.
Serangan itu dilancarkan secepat kilat dengan daya serangan yang mengerikan.
Ong Bun kim terkesiap, buru-buru dia menarik kembali badannya dan melompat kebelakang, kemudian dengan sinar mata yang tajam dan mengerikan karena diliputi hawa napsu membunuh yang tebal, ia membentak lagi.
"Apakah kalian lebih suka mampus dari pada hidup?"
"Kami akan menghentikan serangan kecuali Ong buncu juga pergi meninggalkan tempat ini"
""Bagus....! Kalau toh kalian ingin mencari jalan kematiannya sendiri, jangan salahkan kalau aku akan bertindak keji terhadap kalian semua... !"
Selesai membentak, seperti orang kalap dia menerjang ke muka dengan kedahsyatan yang luar biasa.
Pada saat ini Ong Bun kim berniat untuk mengadu jiwa, pedangnya diputar sedemikian rupa menciptakan selapis cahaya tajam yang menyilaukan mata dalam waktu singkat secara beruntun dia telah melancarkan tiga buah serangan berantai.
Ketiga buah serangan yang dilepaskan Ong Bun-kim ini selain disertai tenaga serangan yang dahsyat lagipula mengandung suatu ancaman yang sukar dihindari orang.
Kontan saja ketiga orang ciangbunjin itu terdesak hingga mundur sejauh belasan kaki ke belakang untung mereka cepat mundur, coba tidak niscaya tubuh mereka sudah berlubang tertembus serangan itu.
Bentakan-bentakan nyaring kembali menggelegar memecahkan keheningan, Hoa san kiam kek serta Kiong hay sin liong telah maju kedepan dan masing-masing melepaskan sebuah pukulan.
Dalam waktu singkat bayangan manusia saling menyambar dengan hebatnya, cahaya pedang bergulunggulung menusuk pandangan.
Tan Liok yang sedari pertarungan itu dimulai hanya berpeluk tangan belaka, waktu itu dia berdiri bersandar didepan pintu dengan wajah tanpa emosi, dalam keadaan demikian, tidak perlu baginya untuk turun tangan, ia-pun merasa enggan untuk turun tangan.
Sedangkan Gin losat juga hanya menonton dari samping, ia telah bertekad di dalam ha-tinya, andaikata manusia aneh itu berani melakukan sesuatu tindakan yang mencurigakan, maka dia akan segera membunuhnya dengan cara yang paling keji.
Suasana ditengah arena amat tegang dan serius.
Sekalipun Ong Bun kim dikepung dan dikerubuti oleh lima orang ciangbunjin, akan tetapi daya serangan yang terpancar dari pedang suci itu sungguh amat mengerikan, cahaya tajam berkilauan diangkasa, hawa pedang menderuderu menyelimuti badan, pertarungan ini sudah mencapai pada taraf yang luar biasa sekali.
Tiba-tiba....
Ong Ban kim membentak keras, badannya melejit ke udara dengan kecepatan tinggi.
Ia tidak berani untuk melukai ke lima orang ciangbunjin tersebut, oleh sebab itu dia harus menghindari mereka dan meluncur ke-arah Kim losat berada.
Tindakan Ong Bun kim yang melejit ke udara dengan kecepatan luar biasa ini sungguh mengejutkan hati orang, disaat tubuhnya menubruk ke arah Kim lo sat, pedang sucinya telah diputar melancarkan sebuah serangan.
Tanpa terasa lima orang ciangbunjic itupun membalikkan badan sambil menerjang lagi bersama-sama, telapak tangannya serentak disapu ke-muka dengan kecepatan luar biasa.
Sekalipun serangan yang dilancarkan Ong Bun kim sangat cepat, akan tetapi gerakan tubuh dari kelima orang ciangbunjin itupun tidak lambat, di saat Ong Bun kim menyerang Kim losat dengan pedang sucinya, gerak serangan pedang maupun pukulan yang dilancarkan oleh kelima orang ciang bunjin itu serentak telah meluncur tiba.
Oleh karena serangan yang dilakukan kedua belah pihak sama sama cepatnya, hal mana memaksa Oog Ban kim mau tak mau harus menarik kembali ancamannya terhadap Kim losat, kemudian sambil membalikkan badan dia melancarkan serangan kembali ke arah kelima orang Ciang bunjin tersebut.
Pada saat Ong Bun kim sedang membalikkan badannya itulah, mendadak Kim losat melepaskan sebuah tusukan kilat dengan pedangnya.
Serentetan cahaya pedang yang berkilauan memancar ke empat penjuru, kemudian langsung menyergap tubuh Ong Bun kim.
Serangan yang dilancarkan Kim lo sat itu sungguh teramat cepat sekali, tapi sebelum mencapai tujuan, tibatiba terdengar seseorang membentak nyaring.
"Tahan!"
Bentakan itu keras bagaikan guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, sedemi kian kerasnya suara itu sehingga memekikkan telinga semua orang yang berada disana dengan perasaan tercekat, orang-orang itu melompat mundur sejauh beberapa kaki ke belakang.
Ketika mereka mencoba untuk memperhatikan si pembicaraan itu, ternyata dia tak lain adalah Tan Liok.
Tan Liok tertawa dingin, lalu berkata.
"Ciangbunjin berlima, kalian benar-benar tidak tahu diri, ketahuilah bukan Ong Bun kim tak mampu membunuh kalian, adalah dia tak ingin membunuh kamu semua, jika kalian masih melanjutkan serangan serangannya tindakan tersebut, sungguh tak tahu keadaan."
"Lantas menurut pendapatmu?"
Tan Liok tertawa hambar, sahutnya.
"Yang dicari Ong Bun kim adalah Ku pang-cu, maka kuanjurkan kepada kalian lebih baik janganlah mencampuri urusan ini."
"Tapi kami mempunyai kewajiban untuk melindungi keselamatan jiwanya......! "seru kelima orang ciangbunjin itu hampir berbareng.
"Begini saja!"
Kata Tan Liok kemudian sambil melangkah masuk ke dalam arena, kemudian sambil tertawa lanjutnya.
"bila salah seorang diantara kalian yang sanggup menerima dua buah pukulanku tanpa kalah, aku dan Ong Bun kim akan segera pergi meninggalkan tempat ini, kalau tidak maka lebih baik pertarungan yang bakal dilanjutkan nanti lebih baik diselesaikan oleh Ong Bun kim dan Ku pangcu pribadi!"
Ciangbunjin dari partai Cing shia pay yaitu si tangan sakti pembunuh naga segera tertawa dingin, serunya.
"Besar benar bacot anda!"
"Apakah ciangbunjin bersedia untuk menyambut dua buah pukulanku itu...?"
Tanya Tan Liok sambil tertawa dingin.
"Benar!"
"Andaikata kau menderita kalabnanti?"
To liong jiu tertegun, andaikata dia kalah, dengan kedudukannya sekarang tak mungkin baginya untuk memutuskan bahwa mereka tak akan bertarung lagi melawan Ong Bun kim, maka untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Tan Liok segera tertawa dingin, ejeknya.
"Kau tak sanggup untuk mengambil keputusan bukan?"
Dihasut dengan ucapan tersebut oleh Tan Liok, seketika itu juga To liong jiu merasa seperti kehilangan muka, paras mukanya lantas berubah hebat.
"Akan kusambut kedua buah seranganmu itu!"
Bentaknya kemudian. Sambil membentak, dengan langkah lebar dia lantas maju ke depan. Tan Liok tertawa hambar, katanya.
"Mau menyambut seranganku tentu saja boleh, cuma kau harus menjamin dulu bila kau kalah maka kelima orang ciangbunjin tak boleh melancarkan serangan terhadap Ong Bun kim kalau tidak, lebih baik persoalan ini tak usah dibicarakan lagi"
Diantara kelima orang ciangbunjin itu, To liong jiu boleh dibilang paling lihay di dalam ilmu telapak tangan kosong, tak seorangpun diantara rekan-rekannya yang percaya bahwa ia tak mampu menerima dua buah serangan dari manusia aneh itu.
Maka keempat orang ciangbunjin lainnya segera mengangguk bersama sebagai pertanda bahwa mereka telah setuju.
"Sekarang, kau boleh turun tangan?"
Bentak To liong jiu dengan suara dingin. Tan Liok segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaah... haahh.....haaah tentu saja boleh, cuma aku harus terangkan lebih dulu, jika kalian tak mau memegang janji maka sampai waktunya jangan salahkan kalau aku orang she-Tan akan bertindak keji!"
Ucapan tersebut diutarakan dengan penuh kobaran hawa napsu membunuh, membuat pendengarannya merasakan hatinya bergidik.
"Silahkan kau lancarkan seranganmu itu!"
Bentak To liong jtu dengan suara dingin.
"Baik, sambutlah seranganku ini..."
Belum habis dia berkata tubuhnya sudah melejit ke tengah udara, kemudian tampak bayangan hitam berputar kencang dan sebuah pukulan dilontarkan kedepan.
Serangan yang dilancarkan Tan Liok ini dilakukan dengan suatu gerakan yang aneh dan cepat, dalam kejutnya buru buru To-liong jiu mengayunkan tangan kirinya untuk menangkis, pada saat To liong jiu sedang menggerakkan tangannya itulah, tangan kiri Tan Liok sudah menerobos masuk dengan kecepatan diluar dugaan.
"Blaaam....!"
Secara telak To Liong jiu termakan oleh sebuah pukulan Tan Liok yang bersarang tepat diatas dadanya itu, sambil muntah darah segar tubuhnya mencelat kebelakang dan roboh terkapar diatas tanah.
Peristiwa ini kontan saja membuat gempar semua jago lainnya, mereka tidak mengira, kalau manusia aneh yang tampaknya sama sekali tidak menonjol ini ternyata benarbenar berhasil melukai To liong jiu belum sampai dua gebrakan.
Dari sini bisa diketahui kalau ilmu silat yang dimilikinya telah mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa.
"Maaf. maaf !"
Kata Tan Liok kemudian sambil tertawa hambar. Pelan-pelan Ong Bun kim mengalihkan sinar matanya ke atas wajah Kim losat kemudian hardiknya.
"Sekarang, tibalah giliran kita berdua untuk menyelesaikan perselisihan diantara kita!"
"Kau anggap aku takut kepadamu?"
Teriak Kim lo sat sambil menggetarkan pedangnya.
Bersama dengan selesainya perkataan itu, tubuhnya segera menerjang kedepan melepaskan serangan dahsyat ke tubuh Ong Bun kim.
Empat orang ciangbunjin lainnya cuma bisa berdiri kaku disisi kalangan tanpa mengetahui apa yang musti dilakukan.
Mendadak....
suatu bentakan menggelegar diudara, pedang Kim lo-sat dengan menciptakan selapis cahaya hijau secepat kilat menyerang tubuh Ong Bun kim.
Kim lo sat telah membuka serangannya lebih dahulu dengan sebuah sergapan kilat yang maha dahsyat.
Ong Bun kim membentak keras, pedang sin kiam diputar cepat membendung ancaman tersebut, diantara perputaran cahaya pedangnya, buru-buru Kim losat menarik kembali serangannya, ia tak berani melawan pedang suci lawan dengan keras lawan keras.
Bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu Kim losat telah terdesak mundur sejauh tujuh delapan langkah, dalam waktu yang amat singkat itu kedua belah pioak lama sama telah melepaskan tiga buah serangan berantai.
Kepandaian Kim losat dalam permainan pedang meski amat dahsyat, tapi ia toh tetap bukan tandingan dari pedang sin kiam milik Ong Bun kim, kejadian ini membuat paras muka keempat orang ciangbunjin tersebut berubah hebat.
Mendadak Ong Bun kim membentak keras, secara beruntun pedang sin kiam itu melancarkan dua buah serangan berantai, cahaya tajam berkilauan memenuhi angkasa, dahsyatnya bukan kepalang, dalam keadaan begini Kim lo sat semakin tak berani melancarkan serangan untuk membendung datangnya ancaman lawan.
Diantara kilatan cahaya pedang dan ber-kelebatnya bayangan manusia, lima gebrakan sudah lewat.
Secara beruntun Kim lo sat sudah terdesak mundur sejauh satu kaki lebih dari posisi semula.
"Ciangbunjin. kenapa kalian hanya berdiam diri belaka?"
Tiba-tiba gadis itu membentak keras.
Mendengar bentakan dari Kim lo sat tersebut, paras muka ke empat orang ciangbunjin itu segera berubah hebat, sambil membentak serentak mereka menyerbu ke arena dan menyerang Ong Bun kim.
"Kurang ajar. Rupanya kalian ingin mampus!"
Bentak Tan Liok dengan geramnya.
Sambil berteriak ia melejit ke udara dan menerkam ke empat orang ciangbunjin tersebut, sebuah pukulan dahsyat dihantamkan dengan gencarnya...
Untuk sesaat suasana dalam arena menjadi kalut dan suatu pertarungan massal tak terhindar.
Gin lo sat membentak keras, dia turut terjun pula ke areiia pertarungan dengan mengerubuti lawannya, dengan demikian delapan orang bergumul menjadi satu saling serang menyerang dengan gencarnya.
Mendadak....terdengar beberapa kali jerit kesakitan yang memekikkan telinga, menyusul kemudian robohnya keempat orang ciangbunjin itu termakan oleh sebuah pukulan yang amat dahsyat.
Begitu lawan-lawannya telah roboh, Tan Liok membalikkan badan dan menerkam Gin lo sat.
Sementara Tan Liok sedang menyergap Gin lo sat, Ong Bun kim telah membentak pula.
"Ku Pek-hoa, kau masih mempunyai jurus maut apa lagi?"
Secara beruntun tiga buah serangan telah dilancarkan kembali. Tahan!"
Kim lo-sat membentak. Ong Bun kim segera menarik kembali serangannya dan melayang mundur sejauh lima depa lebih, kemudian serunya dengan dingin.
"Ku Pek hoa, apalagi yang hendak kau katakan?"
"Ong Bun kim, apakah kau bertekad hendak membunuh diriku?"
Teriak Kim losat dengan wajah memucat.
"Benar!"
"Ong Bun kim, dalam hal apakah aku telah melakukan kesalahan terhadap dirimu?"
"Tindak tandukmu serta kekejaman hatimu tak bisa diampuni oleh siapa saja!"
"Tapi aku berbuat kesemuanya itu toh demi dirimu!"
"Maksud baikmu itu biar aku terima didaIam hati saja"
Kim lo-sat tertawa sedih. katanya kemudian.
"Baiklah, kalau kau telah bertekad untuk membunuh, sekarang bunuhlah diriku ini!"
"Traaang....."
Diiringi suara gemerincing, pedang yang berada dalam genggamannya di buang ke tanah lalu berjalan kedepan dan berdiri lebih kurang tiga depa dihadapah Ong Bun kim.
Tindakan gadis itu sebaliknya malah membuat Ong Bun kim menjadi tertegun, tanpa terasa dia mundur selangkah kebelakang dan menatap wajah Kim lo sat dengan perasaan ragu.
00000OdwO00000 BAB 78
"HAYO cepat bunuh aku !"
Kembali Kim lo sat membentak. Sekujur badan Ong Bun kim menggigil keras, tapi ia belum juga turun tangan.
"Kenapa?"
Ejek Kim losat sambil tertawa diri.
"Bukankah kau ingin membunuh aku? Kenapa tidak turun tangan."
Diejek begitu, berkobar juga hawa amarah dari Ong But kim, akhirnya pedang Sin kiam diangkat tirggi tinggi ke udara, mata pedang ditujukan ke arah dada Kim lo sat.
Dalam keadaan demikian asal Ong Bun kim melanjutkan serangannya, niscaya Kim lo sat akan tewas seketika itu juga.
Sewaktu ujung pedang Ong Bun kim sudah mulai menempel diatas dada Kim lo sat, pelan-pelan gadis itu memejamkan matanya, dua titik air mata tanpa terasa jatuh bercucuran membasahi pipinya.
Air mata itu melambangkan apa?
Penyesalan?
Ataukah agar membuat Ong Bun kim menjadi lemah hati?
Ketika sinbar mata Ong Bund kim bertemu deangan titik air bmata dari Kim lo sat tersebut, tanpa terasa sekujur badannya bergidik jkeras, tangannya yang nemegangsenjata sudah mulai gemetar keras.
"Ong Bun kim, hayo cepat turun tangan !"
Bentak Kim lo sat dengan suara keras. Pelan-pelan Ong Bun kim menurunkan kembali pedangnya ke bawah, lalu bentaknya dingin.
"Ambil pedangmu itu dan mari kita lanjutkan bertempur, aku tak mau membunuh orang yang tidak melancarkan serangan balasan!"
"Kau menginginkan aku bertarung dengan kau?"
Seru Kim lo sat dingin.
"Benar!"
"Bagus sekali!"
Dia membungkukkan badan dan memungut kembali pedangnya yang terjatuh ditanah itu, kemudian dengan mata yang jeli dia menatap wajah Ong Bun kim tajamtajam, bentaknya dingin.
"Ong Bun kim, sekarang kau boleh turun tangan!"
Ong Bun kim menggertak giginya keras-keras, lalu sambiI membentak dengan pedang bergetaran dia lancarkan sebuah serangan kilat.
Didalam serangannya ini, Ong Bun kim telah menyertakan segenap tenaga dalam yang dimilikinya, tampak cahaya tajam berkilauan, pedang sin kiam dengan menciptakan tiga macam gerakan yang berbeda menyergap ketubuh Kim losat.
Sementara itu Kim lo sat sudah tidak memikirkan soal mati hidupnya lagi, dikala Ong Bun kim melancarkan serangan kilatnya, diapun tidak menghindarkan diri, sebaliknya malahan maju kedepan sambil balas melancarkan dua buah serangan.
Bila seseorang sudah nekad, biasanya serangan yang mereka lancarkan juga akan lebih ganas dan keji, dua buah serangan balasan dari Kim-lo sat ini segera memaksa Ong Bun kim mundur dua langkah.
Sambil menggigit bibir sianak muda itu mengayunkan kembali pedang sin kiamnya, dalam sekejap mata dia lancarkan empat buah serangan balasan, keempat buah serangan yang di-gunakan itu pun merupakan empat jurus maut dari ilmu pedang sin kiam hoat, lihaynya bukan kepalang.
Menghadapi ancaman selihay ini, Kim lo sat mulai merasa keteter hebat dan sedikit tak sanggup untuk mempertahankan diri.
Dalam waktu singkat, sepuluh gebrakan sudah lewat.
Ong Bun kim segrera membentak kteras, tubuhnya qmelejit kedepanr dan cahaya pelang berkilauan, dalam suatu gerakan tahu-tahu pedang yang berada ditangan Kim lo sat sudah terlepas dari cekalan dan rontok keatas tanah.
Sekali lagi ujung pedang Sin kiam diri Ong-Bun kim telah menempel diatas dada gadis itu.
Paras maka Kim lo sat berubah menjadi pucat keabuabuan, sekarang dia tak mampu berkutik lagi.
Air muka Ong Bun kim penuh diliputi emosi, untuk kedua kalinya dia dihadapkan pada kenyataan yang pelik, bila dia menggunakan sedikit tenaga lagi niscaya pedang Sin kiam akan menembusi dada dan Kim lo sat akan tewas seketika.
Tangannya gemetar sangat keras "Hayo, bunuhlah aku!"
Teriak Kim losat dengan suara pedih.
"Kau... kau anggap aku tidak berani?"
Saking emosinya bukan saja tangan Ong-Bun kim gemetar keras, bahkan suaranya juga ikut gemetar keras.
"Aku toh tidak mengatakan kalau kau tidak berani...."kata Kim lo sat dengan sedih.
"Jadi kau benar-benar ingin mati ditanganku...!"
"Bukankah kau Ong Bun kim datang kemari untuk membunuhku?"
Mendengar perkataan itu, sekujur badan Ong Bun kim kembali gemetar keras, bahkan ucapan tersebut membuatnya tertegun pemuda itu juga membuat hatinya bimbang, karena ia tak tahu haruskah melanjutkan serangannya ataukah tidak?.
Yaa.
benar!
Ia memang datang untuk membunuhnya!
Tapi bagaimanapun juga dia adalah istrinya entah dalam hatinya terkandung rasa senang atau tidak, dia harus mempertahankan-nama, serta kewajiban sebagai suami istri.
Kim lo sat tertawa sedih, katanya.
"Bunuhlah aku! Aku pinta kepadamu, aku lebih senang mati ditanganmu daripada ditangan orang lain!"
Perasaan Ong Bun kim bagaikan terkena aliran listrik bertegangan tinggi, kontan saja membuat sekujur badannya gemetar keras berulang kali gadis itu mengutarakan rasa cintanya, ini membuktikan bahwa luapan perasaan tersebut bukan bohong atau kosong belaka, sebab selama ini gadis itu selalu menganggapnya sebagai suami yang dicintai"
Untuk sesaat Ong Bun kim terjerumus dalam suatu lembah kesedihan yang menyiksa perasaan, dia-tak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang....
Haruskah gadis itu dibunuh?
Ataukah jangan dibunuh?
Dalam kesedihan dan kemurungan, ia berdiri tertegun seperti patung arca....
Kim lo sat adalah seorang gadis yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, tapi keadaannya sekarang amat mengenaskan dan patut dikasihani, punyakah keberanian dihati Ong Bun kim untuk memusnahkan kehidupan gadis tersebut?
Pelan-pelan ia menurunkan kembali pedangnya kebawah.
"Ong Bun kim, mengapa kau tidak jadi membunuhku?"
Tanya Kim lo sat kemudian.
"Aku., .aku..... akan kuampuni dirimu sekali lagi."
Suara Ong Bun kim masih penuh diliputi oleh emosi sehingga tidak jelas kedengaran nya, Ya dia memang tidak memiliki keberanian untuk membunuhnya, sebab bagaimana pun juga gadis itu adalah istrinya."
"Kau tidak memiliki keberanian untuk berbuat demikian"
Seru Kimlo sat dingin.
"Yaa, benar! Aku Ong Bun kim memang tidak memiliki keberanian untuk membunuh-mu!" -oo0dw0oo--
Jilid 25 TIBA-TIBA gadis itu tertawa dingin. Paras muka Ong Bun kim segera berobah hebat, suara tertawa itu dirasakan sebagai suatu penghinaan yang besar baginya, dengan suara keras segera bentaknya.
"Apa yang kau tertawakan?"
"Plak! Plok!?"
Dua tempelengan tahu tahu sudah disarangkan ke wajah Kim losat.
Kedua tamparan tersebut keras sekali sehingga membuat Kim lo sat mundur tujuh delapan langkah dengan sempoyongan, dengan sinar mata tercekat ia mengawasi wajah Ong bun kim tanpa berkedip.
"Ku Pek hoa!"
Bentak Ong Bun kim dengan suara keras.
"jangan kau anggap aku tak sanggup membunuhmu, aku tidak membunuhmu kini lantaran aku tidak tega, kalau kau masih menganggap diriku sebagai suamimu, tidak seharusnya kau lakukan perbuatan yang justru merugikan aku, Ku Pek hoa! Aku Ong Bun kim bersedia mengampuni selembar jiwamu, aku berharap kau bisa bertobat dan kembali ke jalan yang benar."
Setelah berkata dia lantas membbalikkan badan ddan berlalu darai situ.
Hati kebcil Ong Bun-kim sedang menitikkan air mata, ia tak bisa melukiskan betapa sedihnya perasaan hatinya waktu itu, seakan-akan baru pertama kali ini dia menjumpai persoalan yang sedemikian peliknya sehingga membuat peningnya kepala.
Memandang bayangan punggung Ong Bun kim yang berjalan keluar dari pintu, Tan Liok menghela napas panjang, gumamnya.
"Aiii ! Rupanya dia adalah seorang pemuda yang baik hati!"
Berpikir sampai disana dia lantas mengikuti Ong Bun kim berjalan keluar dari ruangan itu.
Setelah mengundurkan diri dari ruangan, Ong-Bun kim menyaksikan para anggota Hui mo pang yang berada di ruang tengah telah berdiri berjajar dengan kesiap siagaan penuh, dari sikap mereka itu dapat diketahui bahwa orangorang itu bermaksud untuk menghalangi jalan pergi mereka berdua.
Paras suka Ong Bun kim segera berubah hebat setelah menyaksikan kejadian itu, bentaknya.
"Hayo minggir, apakah kalian semua kepingin mampus?"
Nenek berbaju biru yang rupanya merupakan pimpinan dari rombongan itu segera tertawa dingin, sahutnya.
"Jika tiada ijin dari pangcu, jangan harap kalian berdua bisa pergi meninggalkan tempat ini."
Hawa napsu seketika menyelimuti seluruh wajah Ong Bun kim, bentaknya.
"Jadi kaiian benar-benar ingin mampus?"
"Benar!"
Baru saja Ong Bun kim akan turun tangan, tiba-tiba dari belakang tubuhnya berkumandang suara dari Kim lo sat.
"Minggir semua!"
Dengan hormat para jago dari Hui mo pang mengiakan, kemudian pelan-pelan menyingkir ke samping dan membuka sebuah jalan lewat.
Ong Bun kim memandang sekejap ke arah Kim losat, ia saksikan sepasang pipinya itu merah membengkak dan jelas kelihatan bekas telapak tangannya yang membekas dipipi Dengan suara dingin gadis itu berkata.
"Disekeliling markas besar kami penuh dengan penjagaan yang berlapis-lapis, sekalipun kekuatan mereka masih belum terpandang sebelah mata oleh kalian, tapi hal mana sudah jelas akan merupakan sesuatu yang merepotkan, hayolah, akan kuhantar kalian berdua sampai diluar pintu gerbbang sana!"
Seldesai berkata, taidak menanti jabwaban dari Ong Bun kim lagi, dia membalikkan badan dan berjalan lebih dulu menuju keluar.
Tampaknya gadis itu telah mengalami banyak perubahan, ia berubah menjadi begitu menyedihkan mengenaskan.
Dipimpin olehnya, benar juga, sepanjang jalan Ong Bun kim tidak menjumpai halangan apa apa, secara mudah mereka sudah tiba di luar tebing tersebut.
"Sekarang kalian berdua boleh melanjutkan perjalanan sendiri!"
Kata Kim lo sat sambil tertawa dingin.
Ong Bun kim memandang sekejap ke arahnya, bibirnya bergerak seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi niat itu kemudian di batalkan, akhirnya dia membalikkan badan dan berlalu dari sana.
Tan Liok mengikuti di belakang Ong Bun-kim dan dengan cepat telah berlalu dari sana.
Setelah turun dari bukit Thia gau san, Tan liok baru menegur.
"Bagaimana Ong Bun kim?"
Ong Bun kim menghela napas sedih.
"Aai ! Tak usah disinggung lagi"
Sahutnya.
"Aku toh sudah bilang, kau tak akan tega membunuhnya? Sekarang percaya bukan? Ku Pek-hoa memang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan."
"Locianpwe, kau jangan menggoda aku lagi"
"Tidak, aku berbicara sejujurnya!"
"Aku tidak tega membunuhnya bukan karena cantik, tapi aku ingin memberi kesempatan sekali lagi kepadanya agar bertobat"
"Kalau memang demikian buat apa kau datang kemari.?"
"Aaai..."
Selain menghela napas panjang dengan suara dalam, apalagi yang bisa diucapkan oleh Ong-Bun kim?
Dia seharusnya membunuh gadis itu, tapi ia tak tega untuk melakukannya.
Ucapan dari ketua Hiat hoo pay tiba-tiba merasa mendengung kembali disisi telinganya.
"Kau bisa membunuh orang lain, mengapa tak bisa membunuh istrimu sendiri ?"
Ong Bun kim merasa batinnya saling bentrok sendiri, dia merasakan suatu siksaan penderitaan dan kepedihan yang luar biasa akibat dari persoalan itu.
Setelah menghela napas panjang, akhirnya dia bergumam.
"Aku Ong Bun kirm bukan seorangt yang luar biasqa."
"Benar, kaur memang bukan orang luar biasa, sekalipun aku menjadi dirimu mungkin aku juga sulit untuk turun tangan. Sekali lagi Ong Bun kim menghela napas panjang.
"Sekarang kan hendak kemana?"
Tanya Tan Liok kemudian.
"Entahlah...."
Ong Bun kim menggelengkan kepalanya berulangkali.
"Semestinya kau harus mendirikan perguruan Sin kiam -bun pada saat ini !"
"Baiklah, tapi dimanakah aku harus mendirikan perguruan itu?"
"Mengapa tidak di gua Bu cing tong?"
Ong Bun kim termenung sebentar, kemudian mengangguk juga.
"Baiklah, tapi kita akan mendirikannya kapan?"
"Lebih baik memilih hari baik, bagaimana kalau tanggal lima bulan lima saja? Asal berita akan didirikannya perguruan itu disiarkan ke dalam dunia persilaan, sudah pasti akan banyak orang yang berbondong-bondong datang untuk menjadi anggota."
Ong-Bun kim lantas mengangguk, memang itulah yang dipesankan Hek mo im didalam surat wasiatnya, sebagai orang yang memperoleh pedang tersebut, mengapa ia tidak menurutinya?"
"Baiklah, mari kita berangkat ke gua Bu cing tong lebih dulu, di sana. kita menyusun rencana lagi kemudian baru disiarkan ke dalam dunia persilatan!"
"Begitupun baik juga!"
"Kalau begitu mari kita berangkat!"
Dua orang itu segera menggerakkan badannya berangkat menuju ke bukit Thian mo-san.
Mendadak...
Dikala mereka berdua sedang melakukan perjalanan itulah, dari kejauhan sana terdengar seseorang membentak keras, suara tersebut berkumandang datang dari kejauhan sana.
Ong Bun kim serta Tan Liok yang mendengar suara itu menjadi tertegun.
Pada saat itulah tampak sesosok bayangan putih sedang berlarian mendekat dengan langkah sempoyongan, Ong Bun kim segera tahu bahwa orang int tentulah korban yang sedang dikejar orang, tanpa terasa ia berhenti berlari.
Dalam waktu singkat, bayangan putih itu sudah berada lebih kurang satu kaki dihadapan Ong Bun kim, pemuda itu dapat melihat jelas raut wajahnya sekerang, ternyata dia adalah seorang nyonya berusia tiga puluh tahunan yang berwajah cantik.
Noda darah masih mengotori ujung bibirnya dan keadaan tersebut dapat diketahui bahwa luka yang dideritanya tidak enteng.
Ong Bun kim tidak kenal siapakah perempuan cantik berbaju putih itu, dengan cepat dia melejit ke depan dan menghadang jalan perginya perempuan tersebut seraya menegur.
"Kenapa kau?"
Ketika menyaksikan ada orang menghadang jalan perginya, perempuan cantik berbaju putih itu menjerit keras.
Ditengah jeritan kaget yang melengking itu, secara beruntun tubuhnya mundur tiga empat langkah dengan sempoyongan.
"Siapa kau ?"
Tegur Ong Bun kim lagi.
"siapa yang sedang mengejar dirimu?"
"Ada beberapa orang hendak memperkosa aku...!"
Jawab perempuan berbaju putih itu ketakutan. Mendengar jawaban tersebut, paras muka Ong Bun kim segera berubah hebat, serunya keras.
"Sungguhkah perkataanmu itu?"
"Sungguh!"
"Siapa yang hendak melakukan perbuatan biadab itu?"
"Orang..orang-orang Yu leng bun..."
Begitu mendengar "Yu leng bun"
Tiga patah kata, hawa napsu membunuh seketika menyelimuti seluruh wajah Ong Bun kim, serunya kemudian.
"Kau tak usah kuatir. selama aku berada disini, jangan harap ada orang yang bisa melaksanakan niatnya!"
Dia lantas menarik perempuan cantik berbaju putih itu kebelakang tubuhnya sementara sorot mata yang tajam segera dialihkan ketempat kejauhan sambil berjaga-jaga.
Tiga sosok bayangan manusia berbaju abu abu, dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat sedang bergerak mendekat dengan kecepatan luar biasa.
Si perempuan cantik berbaju putih yang berdiri dibelakang Ong Bun kim itu mendadak mengayunkan tangan kanannya, kemudian dengan kecepatan luar biasa menotok jalan darah di punggung Ong Bun kim.
Tindakan siperempuan cantik bebrbaju putih yandg secara tiba-taiba melancarkanb sergapan maut terhadap Ong Bun kim ini sungguh jauh diluar dugaan siapa saja.
Tan Liok maupun Ong Bun kim sedang mengalihkan perhatiannya untuk mengawasi bayangan manusia yang sedang meluncur tiba itu, mana mereka sangka kalau perempuan tersebut bakal berbuat begitu, terdengar dengusan tertahan bergema memecahkan keheningan, tahutahu Ong Bun kim sudah roboh terjengkang ke atas tanah.
Tan Liok menjadi tertegun, serunya kemudian.
"Kau...."
Belum habis kata-kata tersebut, perempuan cantik berbaju putih itu sudah merangkul tubuh Ong Bun kim kedalam pelukannya "Kau betul-betul seorang perempuan yang berhati kejam!"
Bentak Tan Liok dengan suara keras.
Sambil menggerakkan tubuhnya ia lantas menubruk ke depan, sebuah pukulan dahsyat dengan cepat dilontarkan ke depan.
Tapi sebelum ancaman tersebut sempat menghembus keluar, perempuan cantik ber baju putih itu telahmengancam.
"Apakah kau sudah tidak menginginkan nyawa Ong Bun kim lagi?"
Tan Liok terkesiap buru-buru ia menarik kembali serangannya sambil melompat mundur.
Sinar mata yang penuh pancaran hawa napsu membunuh segera mencorong keluar dari balik matanya, dengan geram ia membentak.
"Apakah kau mempunyai dendam dengan Ong Bun kim?"
"Yaa, benar! Aku dengannya memang mempunyai dendam kesumat yang lebih dalam dari pada samudra!"
Sementara pembicaraan sedang berlangsung, ketiga sosok bayangan manusia itu sudah tiba didepan mata, ternyata mereka adalah Tay khek Cinkun, Phang Pak bun serta Thia Eng.
Ketika sinar mata mereka bertiga dapat menangkap apa yang terjadi disana, kontan saja ketiga orang itu menjerit tertahan.
Sambil tertawa dingin perempuan cantik berbaju putih itu mengejek.
"Tay-khek Cinkun kau tidak mengira bukan kalau aku bakal memperoleh seorang penolong?"
Tay khek Cinkun segera mengalibhkan sinar matadnya ke wajah Taan Liok, setelahb merenung sejenak, tegurnya.
"Sebetulnya apa yang telah terjadi?"
"Dia membohongi kami dengan mengatakan ada orang hendak memperkosanya, kemudian menggunakan kesempatan disaat Ong Bun kim tidak siap, ia telah menyergapnya"
Dengan geramnya Tay khek cinkun meng-gertak gigi erat erat.
"Ciu Li li!"
Teriaknya.
"jika kami tidak merobek kain cadarmu sehingga Ong Bun kim tidak kenal denganmu, hari ini kau sudah pasti akan mampus ditangan kami." 000OdwO000 BAB 79
"AAAh. jadi dia yang bernama Ciu Li li"
Seru Tan Liok dengan perataan terkejut.
"bukankah dia sudah terjatuh kejurang? Mengapa tidak mampus....?"
Sementara itu Ciu Li li telah tertawa dingin katanya.
"Heeehh.......heeehb heeohh........ tidak kalian sangka bukan, justru karena perbuatan kalian merobek kain cadarku, selembar jiwaku justru berhasil diselamatkan."
"Kau hendak lepas tangan tidak?"
Bentak Tan Liok kemudian.
"Tidak!"
"Kubunuh dirimu !"
Sambil membentak tubuhnya menerjang maju kedepan kemudian secepat sambaran kilat meluncur kehadapan Ciu Li li sambil melepaskan sebuah pukulan dahsyat.
Tapi begitu Tan Liok melepaskan serangan, Ciu Li li segera mengancam dengan suara keras.
"Kau benar-benar sudah tidak maui nyawa Ong Bun kim?"
Ancaman tersebut diucapkan dengan penuh mengandung hawa napsu membunuh, membuat siapa saja yang mendengar merasakan bula kuduknya pada bangun berdiri.
Menghadapi ancaman seperti ini, Tan Liok terpaksa harus mengurungkan serangannya dan mundur kebelakang.
"Crrriiing !"
Menggunakan peluang itu Ciu Li li segera meloloskan pedang sin kiam dari saku Ong Bun kim kemudian menempelkan mata pedang diatas tubuh si anak muda tersebut, bentaknya dingin.
"Bila kalian berani turun tangan, dia akan segera mampus diujung pedang sakti ini!"
Oleh keadaan yang ter bea tang di depa n mata, semua orang menjadi tertegun d a n tik maaaan berbuat rapa api lagi.
Ctiu Li li memangq seorang perempruan yang licik dan lihay, dikala ia menemukan bahwa Ong Bun kim tidak mengenali dirinya sebagai Ciu Li li, dengan cepat dikarangnya suatu cerita untuk menjebak si anak muda itu.
Selama ini Ong Bun kim seIalu menjumpai Ciu Li li dengan wajah berkerudung, darimana mungkin ia bisa menyangka kalau orang yang berwajah cantik itu bukan lain adalah Ciu Li li dengan wajah aslinya?
"Ciu Lili, mau apa kau sekarang?"
Tegur Tay khek cin kun kemudian dengan suara dingin. Ciu Li li tertawa dingin, sahutnya.
"Asal kalian tidak turun tangan, akupun tak akan membinasakan dirinya."
Saking gusarnya hampir meledak dada beberapa orang itu, akan tetapi mereka tak berani turun tangan secara gegabah, kalau tidak bila Ciu Li li ingin membunuh Ong Bun kim maka hal ini akan dilakukannya dengan gampang sekali.
Ciu Li li memandang sekejap sekeliling arena, kemudian katanya.
"Untuk sementara waktu Ong Ban kim akan kubawa pergi, siapa berani menyusul diriku, maka orang pertama yang bakal menjadi korban adalah dia!"
Selesai berkata, sambil mengempit tubuh Ong Bun-kim, dia lantas berlalu lebih dulu meninggalkan tempat itu.
Oag Ban kina t e 1 a b menjadi tuan r*eno longnya ketika d'a pergi meninggalkan tempat tersebu.t a n t o k sesaat tak seorang pon diantara Tan Liok sekalian yang berani melakukan penge jiran.
Ciu Li li segera melarikan diri terbirit-birit, dalam waktu singkat ia sudah berlari setengah li jauhnya, tiba-tiba ia berbelok ke arah timur, kemudian setelah berlarian setengah li lagi, tiba-tiba ia berbelok ke arah barat.
Ia sengaja berbuat demikian agar bisa meloloskan diri dari pengejaran Tay khek Cinkun sekalian.
Setelah berlarian beberapa puluh li jauhnya, dalam waktu singkat tibalah perempuan itu didepan sebuah hutan yang luas dan lebat, akhirnya dia pun menghentikan larinya.
Dia harus mencari suatu tempat yang aman lebih dulu untuk menyembuhkan luka yang dideritanya, kemudian baru menyusun rencana berikutnya..
Setelah mengawasi sekitar tempat itu, akhirnya dibalik sebuah hutan tak jauh dari situ, ia menemukan sebuah kuil kuno bobrok, dengan cepat tubuhnya meluncur kesana.
Kuil itu tidak terlalu besar, tapi debu setebal beberapa inci telah menyelimuti seluruh permukaan tanah, keadaan didalam rumahpun sama banyak yang rusak sehingga keadaannya tampak mengenaskan sekali.
Ciu Li li membaringkan tubuh Ong Bun kim didepan ruangan, pedang Sin kiam tersebut masih tetap ditempelkan didepan dada Ong Bun kim.
Dia harus berjaga-jaga terhadap segala hal yang-tak diinginkan, dia tak mau dirinya bakal disergap orang dikala sedang menyembuhkan luka yang dideritanya.
Maka dengan cepat dia mengeluarkan sebuah pil dan ditelan kedalam perut, setelah itu matanya dipejamkan dan mengatur pernapasan untuk menyembuhkan luka yang dideritanya itu.
Sementara itu Ong Bun kim masih tergeletak tak sadarkan diri dalam ruangan tersebut.
Lebih kurang satu jam kemudian, luka yang dideritanya telah sembuh, perempuan itu kelihatan lebih cantik dan merangsang hati kaum lelaki yang memandangnya.
Berbicara yang sebenarnya, Ciu Li li memang seorang perempuan yang berparas cantik jelita bak bidadari dari kahyangan Dia memandang sekejap kearah Ong Bun-|im, kemudian tertawa dingin, senyuman itu mendatangkan suatu perasaan yang sukar di lukiskan dengan kata-kata, apa yang dia pikirkan?
Dan apa pula yang dia hendak lakukan?
Rasanya susah diduga.....
Tiba-tiba tangannya bergerak membebaskan totokan jalan darah tidur Ong Bun kim kemudian merubahnya menjadi totokan pada jalan darah kaku.
Pelan-pelan Ong Bun kim sadar kembali dari pingsannya, dia menggerak-geralan kepalanya seperti sudah tidak teringat lagi olehnya apa gerangan yang telah terjadi.
Ketika sinar matanya dialihkan kewajah Ciu Li li, paras mukanya segera berubah hebat, tiba-tiba saja ia menjadi teringat kembali apa yang telah terjadi.
Dengan suara keras segera bentaknya.
"Kau kah yang turun tangan menyergap diriku...?"
"Benar !"
"Siapa kau?"
"Ciu Lib li!".
"Apakah... kau adalah Caiu Li li?"
"Benbar!"
Tak terlukiskab rasa kaget Ong Bun kim setelah mendengar perkataan itu, dia tak menyangka kalau perempuan itu adalah Ciu Li li, tak heran ketika berjumpa tadi perempuan itu sempat menjerit kaget.
Berpikir sampai disitu.
Ong Bun kim segera tertawa dingin, serunya ketus.
"Sungguh tidak kusangka kau belum mampus!"
"Hmm! Kau anggap aku bakal melompat ke dalam jurang apabila sebelumnya didasar jurang itu belum kupasang jaring penyelamat?Haaahhh... haahh... haaahhh... dalam hal ini, mungkin kejadiannya jauh diluar dugaan kau bukan?"
"Benar, peristiwa ini memang benar-benar berada diluar dugaanku !"
"Dan sekarang, kau telah terjatuh kembali ditnnganku!"
"Apa yang hendak kau lakukan?"
Seru Ong Bun kim dengan paras muka berubah.
Tiba-tiba Ciu Li li tertawa cekikikan dengan genitnya, suara tertawanya itu penuh dengan daya pikat yang mempersonakan hati orang, sambil mengerling genit perempuan itu mulai memperlihatkan gerak-geriknya yang jalang.
Ong Bun kim belum pernah berhadapan dengan perempuan sejalang ini, sekeras-kerasnya iman anak muda ini, tak urung berdebar juga hatinya...
Ciu Li li segera menarik kembali senyumannya, kemudian berkata.
"Apakah kita boleh berbicara lebih dulu?"
Tanpa sadar Ong Bun kim merasakan sekujur badannya bergidik, dia tahu perempuan yang dihadapannya sekarang adalah seorang perempuan cabul yang sudah terkenal di seantero jagad, ia pun bisa menduga apa yang hendak dilakukan perempuan tersebut terhadap dirinya.
Berpikir apa yang bakal menimpa tubuhnya Ong Bun kim sungguh merasakan hatinya terkejut.
Dengan cepat dia berusaha untuk menenangkan hatinya, kemudian membentak keras.
"Apa yang hendak kau bicarakan?"
"Membicarakan apa soal dirimu, juga membicarakan soal ayahmu, tahukah kau dimasa lalu aku amat mencintai ayahmu?"
"Aku tahu!"
"Tapi ayahmu telah menolak cintaku mentahmentahan!"
"Maka, kaupun menggunakan pelbagai cara dan akal keji untuk mencelakai jiwanya!"
"Tepat sekali !"
Setelah tertawa hambar, terudsnya.
"Wajahmu mirip sekali debngan ayahmu..."
Mendengar ucapan tersebut, sekali lagi Ong Bun-kim merasakan sekujur badannya bergetar keras, dengan pandangan terkesiap dia awasi wajah Ciu Li-li lekat-lekat.
Ciu Li-Ii segera tertawa jalang, serunya.
"Jika aku bisa bermain cinta denganmu pada malam ini, rasanya kejadian ini sudah cukup untuk mengobati rasa rindu dan cintaku kepada ayahmu...!"
"Apa? bilang apa?"
Teriak Ong Bun kim keras-keras, sekujur badannya bergetar keras.. Kembali Ciu Li li tertawa jalang.
"Mengapa kau harus terperanjat? Sekalipun kita akan bermain cinta semalan suntuk, toh kejadian ini tak akan merugikan dirimu.
"Kau...kau..."
Saking terperanjatnya Ong Bun kim sampai tak mampu mengucapkan kata apapun.
Tiba-tiba Ciu Li li membungkukkan badan dan mencium bibir Ong Bun kim dengan hebat.
Waktu itu jalan darah Ong Bun kim telah tertotok, dia tak mampu berbuat apa-apa kecuali pasrah dan memberikan apa saja yang iendak dilakukan perempun jalang itu terhadapnya.
"Sudah pernah melakukan permainan sorgawi yang penuh kenikmatan itu....? "bisik perempuan itu lagi.
"Kau...kau tak tahu malu!"
Ong Bun kim mencaci maki kalang kabut, tapi Ciu Li li tidak menggubris, dia malah mencium pemuda itu semakin bernapsu....
untuk sesaat lamanya Ong Bun kim menjadi susah bernapas...
Luapan napsu birahi yang membara mulai menyelimuti wajah Ciu Li li yang jalang itu, seluruh bagian tubuhnya mulai memancarkan gairah napsu seks yang merangsang hati orang, ia mulai gemetar keras dan merangkul badan pemuda itu dengan penuh napsu.
"Minggir kau!"
Bentak Ong Bun-Kim.
Sekalipun pemuda itu sudah berusaha untuk membentak dan memaki, sayang tubuhnya sama sekali tak berkekuatan untuk mendorong tubuh Ciu Lili yang telah menindih diatas tubuhnya itu, badannya yang momok dan lembut itu bagaikan baranya api menindih tubuhnya rapat-rapat.
Perempuan cabul yang sudah mulai diliputi oleh napsu birahi itu telah bersiap sedia untuk melangsunrgkan permainan yang paling nikmat di dunia berrsama korbannya...
"Ong Bun kim, bersediakah kau menemani ku melangsungkan permainan surgawi ini..?"
Gumamnya seperti orang mengigau.
"Kentut busuk!"
Ciu Li li tertawa hambar, dari sakunya dia mengeluarkan sebuah sapu tangan kemudian diayunkan dihadapan Ong Bun kim. Dengan cepat Ong Bun kim mengendus bau harum aneh yang merangsang tubuh.
"Aduh celaka!"
Pekiknya dengan perasaan terkejut.
Tapi waktu itu jalan darahnya sudah tertotok, diapun tak sanggup untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan tersebut, ketika bau harum yang sangat aneh itu mulai menyusup ke dalam tubuhnya.
Ia mulai merasakan timbulnya sesuatu perasaan yang aneh sekali didalam badannya.
Kobaran napu birahi pelan-pelan mulai membara dalam tubuhnya.
Pada akhirnya Ciu Li-li telah menggunakan cara yang paling keji untuk menjebak Ong Bun kim kedalam perangkap napsu cabul.
Kesadaran Ong Bun kim lambat laun semakin mundur, ia mulai dikuasahi oleh napsu birahi yang berkobar makin lama semakin ganas.
Ciu Li li tertawa semakin cabul, ia tahu bahwa usahanya untuk melalap pemuda itu segera akan tercapai....
Mendadak sepasang mata Ong Bun kim memancarkan sinar merah yang berapi-api, sambil melotot besar teriaknya keras-keras.
"Aku minta....aku minta..."
"Aku tahu kau musti minta..."
Jawab Ciu Li li tertawa semakin jalang.
Mendadak ia membopong tubuh Ong Bun kim dan dibawa menuju ke ruang belakang, dalam ruangan sana terdapat sebuah kamar yang sudah kuno, ke dalam kamar itulah perempuan tersebut menuju.
la membaringkan tubuh si anak muda itu diatas pembaringan yang penuh berdebu itu, kemudian menepuk bebas jalan darah Ong Bun kim yang tertotok itu.
Ketika jalan darah Ong Bun kim sudah terlepas dari pengaruh totokan, bagaikan orang kalap ia terjang tubuh Ciu Li li dan memeluknya kencang-kencang, daya kerja obat perangsang yang telah menguasahi tubuhnya itu membuat ia kehilangan kesadaran otaknya.
"Ong Bun kim!"
Seru Ciu Li li sambil tertawa cabul.
"mengapa kau begini terburu napsu?"
Sepasang mata Ong Bun kim semakin membara, tangannya sudah mencengkeram baju yang dikenakan Ciu Li li, kemudian...
"Sreeet!"
Merobeknya sebagian.
Dengan terlepasnya pakaian luar, maka tampaklah pakaian dalamnya yang berwarna merah, sepasang payudaranya yang montok dan kenyal kelihatan gemetar keras.
Bagaikan orang kalap Ong Bun kim memeluk perempuan itu, sementara mulutnya bagaikan orang mengigau berseru.
"Aku minta... aku minta..."
Ciu Li-li tertawa terkekeh-kekeh....
dengan suatu gerakan cepat melepaskan sisa pakaian yang masih melekat ditubuhnya hingga dalam tempo singkat ia berada dalam keadaan telanjang bulat, kemudian ia naik keatas ranjang dan bergulingan dengan sikap menantang.
Ong Bun kim segera menubruk keatas tubuhnya dan menungganginya secara brutal.
"Lepaskan dulu seluruh baju mu."
Bisik Ciu Li-li kemudian.
Bagaikan orang kalap Ong Bun kim melepaskan pakaiannya kemudian tubuhnya yang bugil menindih kembali diatas tubuh Ciu Li li yang membara seperti api...
Sepasang tangannya secara kasar menggerayangi sekujur tubuhnya, lalu dengan keras meremas payudaranya...
Ciu Li li menggigil keras, tubuhnya dengan penuh kenikmatan.
"Oooh... agak lah pelan sedikit...sakit amat... Rintihan itu seperti rintihan setan Iblis membuat jantung orang berdebar semakin keras saja. Tangan Ong Bun kim makin tidak tahu aturan lagi, setelah meremas payudara orang, sekarang tangannya bergerak kebawah dan mulai mencomot bagian bawah tubuh perempuan itu.... Rabaan dan comotannya makin garang dan brutal, tapi anehnya Ciu Li li justru makin bergairah dan senang, sambil meliuk-liukkan tubuhnya yang bugil dengan penuh napsu, rintihan yang syahdu bergema terus-menerus dari bibirnya. Maka suatu peristiwa yang mengerikan pun segera akan terjadi... Ong Bun kim yang terpengaruh obat perangsang Ciu Li li, sudah kehilangan sama sekali kesadarannya, dia tak tahu apa yang sedang terjadi, didalam benaknya sekarang hanya terlintas satu tujuan, melampiaskan hawa napsu birahinya yang semakin membara di badannya. Rabaan, remasan dan comotan sudah berlangsung makin menghebat, kedua belah pihak sudah makin tak sanggup menahan diri lagi... Akhirnya Ciu Li li memprakarsai tindakan lebih lanjut, rupanya perempuan inipun sudah tak sanggup menahan pancingan-pancingan birahi yang semakin menggila, ia telah bersiap-siap menggiring perahu untuk memasUki pelabuhan.... Tapi apa yang kemudian terjadi? Baru saja ujung perahu mulai memasuki mulut pelabuhan, pada saat itulah dari luar ruang kamar menggema suara bentakan keras.
"Ciu Li li, kau tak akan lolos dari cengkeraman kami!"
Itulah suara bentakan dari Tay khek Cin-kun.
Bentakan yang datangnya secara tiba-tiba ini, kontan saja memadamkan seluruh kobaran api birahi yang sedang membara ditubuh Ciu Li li, bagaikan diguyur oleh air dingin sebaskom dengan cepat ia tersadar kembali.
Terdengar suara langkah kaki yang berat berkumandang dari luar ruangan dan makin mendekat.
Dalam keadaan demikian, cepat-cepat Ciu Li-li mendorong tubuh Ong Bun kim dari hadapannya, kemudian melompat bangun dari atas pembaringan, hawa napsu membunuh yang mengerikan memancar keluar dari atas wajahnya yang cantik.
Dengan tergopoh-gopoh ia mengenakan bajunya, kemudian dengan pedang sin kiam berada ditangan ia menyelinap keluar pintu.
Saat itulah terdengar Ong Bun-kim sedang menjerit-jerit seperti orang sinting.
"Aku minta cepat.... cepat... aku minta..."
Menyusul teriakan-teriakan dari Ong Bun kim itu, sesosok bayangan manusia menerjang tiba di depan pintu.
Bayangan manusia itu bukan lain adalah Tay khek Cin kun.
Ketika didengarkan suara teriakan Ong Bun kim tidak wajar, ia segera menyadari bahwa gelagat tidak beres, maka sambil menerjang masuk kepintu ruangan, bentaknya.
"Ciu Li-li kau sedang apakan Ong Bun kim?"
Belum selesai Tay khek Cinkun berkata, Ciu Li-li telah membentak dengan suari dingin.
"Hidung kerbau sialan, kau harus mampus."
Secepat sambran petir ia menerjang maju ke muka, pedang sin-kiam diputar dan langsung menusuk ke tubuh Tay khek cin kun.
Serangan yang dilancarkan oleh Ciu Li li ini boleh dibilang dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, ini menyebabkan Tay khek cin kun menjadi gelagapan dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.
Cahaya tajam berkelebat lewat, jerit kesakitan segera berkumandang memecahkan keheningan.
Akhirnya Tay khek cin kun gagal untuk menghindarkaa diri dari serangan Ciu Li li, sebuah lengan kirinya segera terpapas kutung dan tergeletak diatas tanah.
Sambil menahan rasa sakit yang luar biasa, Tay khek cin kun segera menjatuhkan diri berguling diatas tanah.
"Hidung kerbau tua, berangkatlah menghadap raja akhirat"
Bentak Ciu Lili deagan geramnya.
Cahaya tajam berkilauan, pedang mestika itu segera menyambar ke bawah menusuk tubuh Tay khek cin kun.
Tapi sebelum ujung pedang menembusi tubuh korbannya, kembali terdengar bentakan keras menggelegar di udara.
"Ciu Li li, lihat serangan!"
Menyusul bentakan itu segulung tenaga pukulan yang amat kuat dengan cepat menyerang ke punggung Ciu Li li, sedemikian dahsyatnya serangan tersebut membuat perempuan itu mau tak mau harus menarik diri dan menghindarkan diri ke samping.
Ternyata penyerang itu bukan lain adalah Phang Pak bun.
oooOdwOooo BAB 80
"BANGSAT, kurang ajar rupanya kau sudah ingin mampus..."
Bentak Ciu Li-li dengan geramnya.
Diiringi bentakan tersebut, tubuhnya segera menerjang kearah Phang Pak bun, cahaya pedang berkilauan, dengan suatu gerakan cepat pedang Sin kiam menyambar ke depan melepaskan sebuah bacokan.
Phang Pak bun cukup menyadari akan keterbatasan ilmu silat yang dimilikinya, ia tahu kalau bukan tandingan Ciu Li-li, cepat-cepat badannya berkelit ke samping.
Gagal dengan serangannya, Ciu Li li semakin naik darah, ia melejit kedepan dan sekali lagi menerjang tubuh Phang Pak bun sambil melepaskan sebuah tusukan.
Sementara itu Phang Pak bun telah mengundurkan diri ke ruang tengah kuil tersebut, akhirnya ia berhasil disusul oleh Ciu Li li, dalam keadaan begini cepat dia membalikkan badan sambil melancarkan sebuah pukulan dahsyat....
Ciu Li li membentak keras, tangan kirinya berputar melepaskan pula sebuah pukulan untuk membendung serangan Phang Pak bun kemudian pedang Sin kiam ditangan kanannya melepaskan sebuah tusukan maut.
Jeritan ngeri yang memilukan-hati segera berkumandang memecahkan keheningan.
Tahu-tahu dada Phang Pak bun sudah tertembus oleh pedang sin kiam hingga tembus ke punggung, darah segar muncrat ke empat penjuru, tak ampun lagi tubuhnya segera roboh terjengkang dan tak berkutik lagi untuk selamalamanya.
Sungguh kasihan jago silat yang gagah perkasa ini, akhirnya dia harus mengorbankan selembar jiwanya diujung pedang perempuan iblis yang tak berperi kemanusiaan itu.
Ciu Lili tertawa dingin, dengusnya.
"Inilah ganjaran bagi orang yang suka mencampuri urusan orang lain seperti kau!!"
Selesai membunuh Phang Pak bun, ia-membalikkan badan dan balik kembali ke ruang belakang, tapi Tay khek cin kun yang sebelumnya tergeletak di situ mendadak lenyap tak berbekas..
"Aduh celaka..."
Teriaknya tertahan, buru-buru dia lari masuk ke dalam kamar...
Tapi disinipun ia gagal menemukan bayangan tubuh dari Ong Bun kin.
Tak tahan Ciu Li-li kembali menjerit tertahan, dia tahu pastilah dikala ia sedang merobohkan Phang Pak bun tadi, ada orang yang telah datang ke situ dan menyelamatkan Ong Bun kim serta Tay khek cin kun.
Paras mukanya segera berubah hebat, sumpahnya.
"Sialan, siapa yang bernyali begitu besar berani mengacau kesenanganku "
Ia melompat naik ke atas wuwung rumah, ketika memeriksa sekeliling tempat itu, dilihatnya ada sesosok bayangan hitam sedang meluncur keluar hutan sebelah depan......
"Kau anggap bisa kabur dari tanganku?"
Sumpahnya dengan geram..
Tubuhnya segera berkelebat ke depan dengan ilmu gerakan san tian sin hoat yang cepat bagaikan halilintar itu, arah yang di tuju adalah orang di depan sana.
Dalam pada itu, bayangan manusia tadi sudah menerobos masuk ke dalam sebuah gua.
Ciu Li-li segera tertawa dingin, jengeknya sinis.
"Huuuh, pingin mampus rupanya..."
Dalam beberapa kali lompatan saja ia sudah berada lebih kurang tiga kaki didepan mulut gua tersebut.
Mendadak sesosok bayangan manusia melayang turun persis dihadapan muka Ciu Li li ini, membuat perempuan itu amat terperanjat dan cepat-cepat menarik kembali gerakan tubuhnya.
Ternyata orang yang barusan munculkan diri itu bukan lain adalah Thia Eng, si pemuda berbaju abu-abu yang memiliki ilmu silat sangat lihay itu.
Selapis hawa napsu membunuh yang tebal dan mengerikan telah menyelimuti seluruh wajah Thia Eng, bentaknya.
"Ciu Lili. kau anggap bisa kabur dari cengkeramanku?"
"Hm..... enak benar kalau berbicara."
Bentak Ciu li li.
"justru kau yang sesungguhnya ingin mampus!"
"Ciu Li li, kali ini aku tak bakal melepaskan dirimu dengan begitu saja."
"Kalau memang kau merasa berkemampuan demikian, kenapa tidak dicoba."
Begitu ucapan terakhir meluncur keluar dari bibirnya, tampak bayangan putih berkelebat lewat, tahu-tahu perempuan itu sudah menerjang ke arah Thia Eng sementara telapak tangan kirinya melepaskan sebuah pukulan dahsyat.
Dalam keadaan demikian, Ciu Li li sudah bertekad untuk beradu jiwa, sementara tangan kirinya melancarkan sebuah pukulan, Pedang sin kiam di tangan kanannya melepaskan pula sebuah babatan maut.
"Cari mampus...!"
Bentak Thia Eng dengan suara menggelegar.
Tubuhnya mengigos ke samping menghindarkan diri dari ancaman Ciu Li li tersebut, sementara tubuhnya menerjang maju ke depan, sementara Ciu Li li belum sempat turun tangan, ia sudah melancarkan sebuah pukulan dahsyat.
Ilmu silat maupun gerakan tubuh yang di miliki Thia Eng sungguh luar biasa sekali.
Ketika Ciu Li li kabur sambil membawa luka tadi, tak lain luka tersebut diperolehnya dari pukulan si pemuda berbaju abu-abu ini.
Coba kalau tidak terjadi peristiwa diluar-dugaan yang menolong Ong Bun kim, sudah dapat dipastikan perempuan itu bakal tewas ditangannya semenjak tadi.
Begitu serangan dari Thia Eng meluncur tiba, buru-buru Ciu Li li menghindar ke samping.
Mendadak.....
"Tahan!"
Suatu bentakadn yang menggelegar berkumandang memecahkan keheningan.
Sesosok bayangan manusia berbaju hitam melintas lewat di depan mata.
Tan Liok telah melayang turun ketengah arena.
Thia Eng maupun Ciu Li li bersama-sama menghindar kesamping.
Dengan sinar mata yang tajam seakan-akan memancarkan cahaya hawa napsu membunuh yang menggidikkan hati, Tan Liok mengawasi raut wajah Ciu Lili itu tanpa berkedip.
Disaat seperti itu, Ciu Li li merasakan hatinya amat terperanjat, selama itu satu hal lain juga segera menghantui pikirannya.
Semula dia menduga bayangan hitam yang dijumpainya memasuki gua tadi adalah Tan Liok, tapi terbukti sekarang Tan Liok tidak masuk kedalam gua melainkan berdiri sendiri disana, lantas siapa pula yang telah menyelamatkan jiwa Tay-khek cinkun serta Ong Bun-kim..?
"Ciu-Li-li, kaukah yang telah membunuh Phang Pak bun?"
Hardik Tan Liok dengan sinar mata berapi-api.
"Betul!"
"Apa?"
Teriak Thia Eng kaget.
"Phang Cianpwe telah tewas?"
"Betul, dia sudah tewas diujung pedang Sin kim ku ini!"
Sahut Ciu Li li sambil menjengek sinis.
"Kemana larinya Ong Bun kim dan Tay khek cin kun?"
Kembali Tan Liok membentak.
"Barusan kulihat mereka berdua ditolong orang masuk kedalam gua itu."
Thia Eng segera rnenerangkan.
"Sungguhkah perkataanmu itu?"
"Sungguh!"
Kepada Thia Eng, Tan Liok segera berseru.
"Ciu li li akan kuserahkan kepadamu, akan kuperiksa dulu ke dalam gua itu!"
"Baik."
Begitu mengiakan, dengan kecepatan yang luar biasa Thia Eng segera melejit keudara dan menubruk kearah Ciu Li li, sebuah pukulan dahsyat dengan cepat dilontarkan.
Sementara Thia Eng melepaskan, pukulan dahsyat, Tan Liok telah melompat masuk kedalam gua.
Baru tiba dimulut gua tersebutb, lamat-lamat ida menangkap suaara dengusan napbas yang tidak normal.
Dengaa perasaan kuatir ia lantas menerjang maju lebih kedalam.
Tapi sebelum ia sempat meneruskan langkahnya, sesosok bayangan manusia telah menerjang keluar dengan langkah sempoyongan.
"Siapa?"
Tan Liok segera membentak.
"Aku!"
"Can cianpwekah disitu?"
"Betul!"
Tampak paras maka Tay khek cin kun pucat pias seperti mayat, lengan kirinya telah kutung, darah segar masih mengucur keluar dengan derasnya, keadaannya mengenaskan sekali.
Melihat itu, dengan kaget Tan Liok berseru tertahan.
"Can Ciaapwe ke... kenapa kau?"
"Lenganku telah dikutungi oleh Ciu Li li cuma aku masih sanggup untuk menahan diri."
"Bagaimana dengan Ong Bun kim ?"
Tanya Tan Liok dengan perasaan gelisah.
"Didalam sana..."
Belum selesai Tay khek cin kun berkata, Tan Liok sudah menerjang masuk kedalam gua deng n kecepatan luar biasa, tapi apa yang kemudian terlihat olehnya hampir saja membuatnya bersuara tertahan.
Tampak olehnya Ong Bun kim sedang menindih seorang gadis telanjang dan melakukan hubungan senggama yang amat mendebarkan hati.
Kedengaran suara rintihan kesakitan gadis itu diiringi suara mengaduh yang mendesis.
"Aduuh... jangaa yaa.,.. jangan..."
Tapi Ong Bun kim tidak ambil perduli akan desisan gadis tersebut, bagaikan orang kalap, ia melalap terus gadis itu dengan penuh napsu birahi.
Tan Liok sangat terkejut menyaksikan kesemuanya itu, tapi sebelum ia tahu untuk berbuat sesuatu, tiba-tiba terdengar Tay khek cin kun berseru dari luar gua.
"Tan tayhiap. cepat mundur kemari!"
Dengan cepat Tan Liok mengundurkan dirinya keluar gua. lalu dengan wajah terkejut bercampur keheranan ia menatap wajah Tay khek cinkun lekat-lekat.
"Mengapa dia?"
Tegurnya dengan rasa terkejut.
"Kau maksud Ong Bun kim?"
Tanya Tay khek cin kun "Benar!"
"Ia surdah terkena obatt perangsang yaqng sangat jahatr!"
"Haaah?"
"Ketika Ciu Li li berhasil menangkap Ong Bun kim, sudah pasti pemuda itu telah dica koki semacam obat perangsang yang sangat hebat, bara saja akan melangsungkan perbuatan cabulnya, kebetulan aku datang kesana maka diapun lantas mengutungi sebuah lenganku.."
"Pang Pak-bun, telah tewas!"
Tan Liok berkata dengan sedih.
"Apa....? Dia tewas?"
"Yaa, ketika aku tiba dalam kuil, kusaksikan jenasahnya terkapar disitu!"
"Tak heran Sebelum jatuh pingsan tadi aku tempat mendengar ngeri...aai Sungguh kasihan pendekar budiman tersebut, akhirnya harus tewas secara mengerikan diujung pedang Sin kiam !"
Berbicara sampai disitu. Tay khek cinkun tak dapat menahan rasa sedihnya lagi, tanpa terasa titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya.
"Siapa yang telah menyelamatkan jiwa kalian?"
Tanya Tan Liok kemudian memecahkan keheningan.
"Seorang nona, aku belum sempat melihat jelas raut wajahnya, jadi akupun tak tahu siapa gerangan orang itu?"
"Aaai.. ..! Nona itu ingin menolong jiwa kalian, siapa tahu dia pun harus mengorbankan pula kesucian tubuhnya."
"Betul...! Bagaimana dengan Ciu Li li?"
"Thia Eng sedang bertempur dengannya!"
"Hari ini kita jangan biarkan dia kabur lagi, kalau tidak sukar dibayangkan bagaimana akibatnya!"
Tan Liok merasa perkataan itu ada benarnya juga, bila hari ini Ciu Li li dibiarkan kabur dari situ, dengan pedang sin kiam berada ditangannya, akibat yang bakal terjadi benar-benar tak bisa dibayangkan mulai sekarang.
Maka tanpa membuang waktu dia lantas membalikkan badan dan lari keluar dari situ.
Dalam pada itu Ciu Li-li sudah didesak sedemikian rupa oleh Thia Eng sehingga tidak bertenaga lagi untuk melancarkan serangan balasan, kendatipun dia membawa sebilah pedang Sin-kiam yang luar biasa tajamnya, sayang kehebatan dari senjata tersebut tak sanggup dikerahkan sebagaimana mestinya.
Rupanya Ciu Li-li juga sadar, bila pertarungan harus dilangsungkan lebih jauh, besar kemungkinannya dia akan menjumpai mara bahaya.
Maka pada suatu ketika dia lancarkan sebuah serangan tipuan, kemudian secara tiba-tiba ia membalikkan badan dan kabur meninggalkan tempat pertarungan.
Mendadak...
Di kala Ciu Lili sedang melejit ke udara dan siap melarikan diri itulah, Tan Liok telah tiba di arena pertarungan segera bentaknya.
"Ciu Li li, perempuan sundal! Kau anggap masih mampu untuk kabur dari tempat ini dengan selamat?"
Di tengah bentakan tersebut tubuh Tan Liok meluncur ke muka dengan kecepatan luar biasa lalu menghadang jalan perginya, ketika tangan kanannya diayunkan ke depan sebuah pukulan dahsyat segera dilepaskan.
Serangan yang dilancarkan Tan Liok ini sungguh luar biasa cepatnya, tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tanpa sadar Ciu Li li dipaksa untuk balik kembali ketempat semula.
Thia Eng segera membentak keras.
"Ciu Li li, silahkan kau cicipi lagi sebuah pukulanku ini"
Sebuah serangan yang amat dahsyat dengan cepat dan hebatnya dilontarkan ke pinggang Ciu-li li.
Ilmu silat yang dimiliki Tan Liok maupun Thia Eng boleh dibilang tak terlukiskan dengan kata-kata, jangankan Ciu Li li tak sanggup menahan diri, sekalipun seorang jago yang berilmu lebih hebat daripada kepandaian perempuan inipun belum tentu akan sanggup untuk menahan serangan semacam itu.
Belum lewat tiga gebrakan, mendadak...
"Blaaam!"
Sebuah pukulan dahsyat yang dilancarkan Tan Liok telah bersarang telak ditubuh Ciu Li li.
Sambil menjerit kesakitan, tubuhnya terlempar sejauh tiga kaki lebih sambil muntah darah kental, ia tak mampu berkutik lagi untuk beberapa saat.
Pedang sin kiam yang berada ditangannya juga terlempar dari acekalannya dan btergeletak di atas tanah.
"Kubunuh kau perempuan jahanam "
Teriak Thia Eng dengan dendamnya. Sambil berteriak dia maju kedepan dan mengayunkan telapak tangannya ketubuh lawan.
"Jangan dibunuh!"
Mendadak terdengar Tay khek Cinkun membentak nyaring.
Mendengar bentakan dari Tay khek Cinkun itu, tanpa terasa Thia Eng menarik kembali tenaga serangannya dan berdiri termangu ditempat dengan wajah keheranan.
"Perempuan jahanam itu jangan dibunuh"
Seru Tay khek cin kun lagi dengan suara lantang.
"Kenapa?"
"Masih ada empat
Jilid kitab pusaka milik enam partai besar yang terjatuh ditangannya, bila ia sampai terbunuh, bisa jadi kitab itu tak akan ditemukan kembali untuk selamanya"
Tan Liok membungkukkan badannya dan memungut kembali pedang sin kiam yang tergeletak di atas tanah itu. lalu tanyanya kepada Tay khek cinkun.
"Sekarang, apa yang harus kita lakukan?"..
"Tunggu saja sampai Ong Bun kim menyelesaikan pekerjaannya.,.."
Tiba-tiba Thia Eng menjerit kaget, lalu menegur.
"Locianpwe, kenapa kau ?"
"Lenganku telah dikutungi oleh Ciu Lili!"
Thia Eng segera menggigit bibirnya menahan kobaran rasa dendam yang menggelora dalam dadanya, dengan gemas dia berseru.
"Kalau bisa aku ingin mencincang tubuhnya menjadi berkeping-keping, bagaimana dengan saudara Ong?"
"Dia masih berada didalam..."
"Mari kita masuk menengoknya"
"Jangan... Jangan masuk....!"
Sementara Thia Eng masih termangu, secara ringkas Tay-khek-cin-kun segera menerangkan apa gerangan yang telah terjadi.
Sementara itu Ong-Bun kim telah melampiaskan kobaran napsu seksnya terhadap gadis yang belum diketahui siapa gerangan dirinya itu dengan tersalurnya hawa napsu birahi itu maka pengaruh obat perangsang yang menyusup tubuhnya juga punah...
Bagaikan seseorang yang baru sembuh dari penyakit parah, ia menggeletak lemas diatas tanah.
Sambil memejamkan matanya ia mengenang kembali semua peristiwa yang baru saja terjadi...
mendadak telinganya sempat menangkap suara isak tangis yang memilukan hati Pemuda itu menjadi amat tberperanjat!
Akhirnya dia menjuampai dirinya berada dalam keadaan telanjang bulat, sementara disisi tubuhnya berbaring pula seorang gadis dalam ke adaan bugil, gadis itulah sedang menangis terisak waktu itu.
Sekujur tubuh Ong Bun kim menggigil keras, dia sekuat tenaga berusaha untuk mengingat kembali apa gerangan yang telah terjadi...
akhirnya pemuda itu menjerit tertahan.
Sekarang, ia sudah teringat kembali apa gerangan yang sebenarnya telah dilakukan olehnya.
Sambil menelan air liur, tegurnya kemudian.
"Sii... siapa kau?"
Dia masih mengira perempuan itu adalah Ciu Li li. Ketika mendengar teguran tersebut, gadis itu segera menghentikan isak tangisnya.
"Sii.... siapakah kau?"
Kembali Ong Bun kim bertanya dengan suara agak gemetar.
Gadis itu melepaskan tangannya yang menutupi wajah dan mendongakkan kepalanya, dengan wajah yang basah oleh air mata dia memandang si anak muda itu.
Begitu sinar muta Ong Bun kim bertemu dengan wajah gadis tersebut, dia segera menjerit tertahan, kepalanya bagaikan dipukul oleh martil yang sangat berat, kontan saja membikin kepalanya pusing sekali.
"Rupanya kau ? Oh Thian !"
Gumamnya dengan suara gugup bercampur cemas.
Sesungguhnya siapa gadis itu?
Dengan wajah termangu-mangu gadis itu memandang menatap wajah Ong Bin kim tanpa berkedip.
Untuk sesaat lamanya kedua orang itu hanya saling berpandangan dengan wajab tertegun, seakan-akan kejadian semacam ini seharusnya tak boleh sampai terjadi, tapi kenyataannya benar-benar telah terjadi !
"Oooh Thian!
Kenapa bisa kau?"
Kembali Ong Bun kim bergumam dengan perasaan bimbang.
Air mata bercucuran dari mata gadis itu dan membasahi pipinya yang halus, dia merasa sedih tak terlukiskan dengan kata-kata, apa yang bisa dilakukannya sekarang hanya memandang wajah Ong Bun kim sambil membungkam dalam seribu bahasa.
"Bagaimana mungkin bisa kau?"
Bisik Ong Bun kim lagi dengan suara gemetar.
"kenapa kau pun bisa sampai disini?"
Gadis itu berusraha keras untukt mengendalikan qrasa sedih yangr mencekam perasaannya, bisiknya.
"Kau... kau telah mencelakai diriku!"
"Kenapa?"
"Aku ingin menolongmu."
La tak tahu bagaimana harus berbicara, akhirya setelah tertawa getir ujarnya lebih jauh.
"Diluar dugaan mu bukan?"
"Yaa. benar!"
"Siapa bilang tidak berada diluar dugaanku pula? Inilah kesalahanku sendiri, tidak seharusnya aku datang menolongmu, kalau tidak, tak akan sampai terjadi peristiwa yang hanya akan mendatangkan perasaan menyesal belaka!"
"Ku Pek hoa, kau..."
Ong Bun kim tak tahu apa yang harus dilakukan. Ternyata gadis itu adalah Tay pangcu dari Hui mo pang, Kim lo sat Ku Pek hoa.
"Yaa. tak salah lagi, memang gadis itulah yang menjadi korban!"
Sesungguhnya peristiwa ini sungguh merupakan sesuatu kejadian yang amat mengejutkan, karena Ku Pek hoa telah keluar mengikuti Ong Bun kim, menyelamatkan pemuda itu, bahkan terjadi pula peristiwa yang sama sekali diluar dugaan itu.
Peristiwa ini benar-benar tak bisa diterima dengan jalan pemikiran siapapun juga.
Bagaimana mungkin Ong Bun kim tak kaget setelah mengetahui kejadian ini?
Ia muncul di markas besarnya dengan tujuan hendak membunuh Ku Pek hoa, tapi sekarang ia telah memperkosa gadis itu dan merenggut kehormatannya secara paksa, kendatipun dia sendiripun tak sadar karena terpengaruh obat perangsang, akan tetapi, bagaimanapun juga nasi telah menjadi bubur, apa yang tidak pernah diharapkan sekarang telah menjadi suatu kenyataan, tidak heran kalau Ong Bun kim merasa begitu terperanjatnya sampai dia sediripun kehilangan pegangan.
Sekalipun demikian, Ku Pek hoa sendiri-pun tak pernah menyangka akan terjadi peristiwa semacam ini, dia lebihlebih tak mengira kalau tujuannya yang semula untuk menolong anak muda itu berakibat hilangnya kehormatan kegadisannya ditangan pemuda itu.
Kini nasi telah menjadi bubur, mereka harus berani menghadapi kenyataan, entah hubungan tersebut akan berakhir dengan kebahagiaan atau tragedi, mereka harus menerimanya.
Pelan-pelan gadis itu bangun berdiri, lalu mengenakan bajunya dan menatap pemuda itu lekat-lekat, lama sekali ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Yaa, dia memang tak tahu apa yang musti diucapkan.
000OdwO000 BAB 81 AKHIRNYA pelan-pelan gadis itu menundukan kepalanya seraya berbisik lirih.
"Aku, akan pergi dulu."
Suaranya lirih, pedih dan penuh mengandung kesedihan yang memilukan hati siapapun.
Ong Bun kim turut merasa sedih, untuk sesaat dia tak tahu apa yang musti dikatakan, sebab kesalahan berada dipihaknya sudah sewajarnya kalau tanggung jawab inipun dipikul olehnya.
Sementara Itu Ku Pek hoa sudah melanjutkan berjalan keluar dari gua itu.
"Ku Pek hoa!"
Tiba-tiba Ong Bun-kim berteriak keras. Tanpa terasa gadis itu menghentikan langkah kakinya seraya berpaling, tanyanya dengan sedih.
"Masih ada persoalan apa lagi yang hendak kaukatakan?"
"Kau kau sudah pergi?"
"Benar!"
"Kau akan ke mana?"
"Pulang ke perkumpulan ku !"
"Untuk sementara waktu kau boleh berdiam disini dulu"
Kata Ong Bun kim sambil menggigit bibir.
"Ada sesuatu yang hendak kau sampaikan kepadaku?"
Ong Bun kim tertawa getir.
"Aku..,, aku merasa telah berbuat salah kepadamu, aku malu kepadamu "
Gadis itu tiba-tiba berpaling dan menatap wajah Ong Bun kim lekat-lekat, titik air mata jatuh bercucuran membasahi wajahnya entah karena terharu oleh perkataan Ong Bun kim, atau karena ia senang memikirkan persoalan lain, yang jelas gadis itu kelihatan amat terharu.
Ong Bun kim sendiri juga merasakan hatinya bergetar keras, secara tiba-tiba ia seperti menemukan kebajikan dan kemuliaan gadis itu, kemuliaan semacam itu belum pernah ditemukan sebelumnya.
Tiba-tiba ia melompat kedepan dan menubruk kedalam pelukan Ong Bun kim, kemudian menangis, menangis tersedu-sedu.
Dengan perasaan yang kaku Ong Bun kim membelai rambutnya yang halus itu dengan penuh kelembutan, dalam keadaan sekarang dia tak bisa mengartikan apakah hal tersebut merupakan suatu penampilan dari perasaan cintanya.
Ong Bun kim merasa hatinya makin sedih, makin pedih dan tak terlukiskan dengan kata-kata.
Isak tangis gadis itu seakan-akan hendak melampiaskan keluar seluruh perasaan sedih dan derita yang mencekam perasaannya selama ini.
Lama...
lama sekali akhirnya dia baru berhenti menangis, katanya.
"Ong Bun kim akupun memang bersalah kepadamu, aku merasa berdosa kepadamu!"
Ucapan ini membuat perasaan Ong Bun kim bergetar keras, serunya dengan cepat.
"Kau sama sekali tidak berbuat salah kepadaku, kau tidak berbuat dosa kepadaku."
"Aku... aku telah berbuat yang salah selama ini, aku baru merasa... aku baru menyadari sekarang bahwa aku telah melakukan suatu kesalahan besar..."
Dengan amat sedihnya ia menangis tersedu-sedu.
"Ya, selama hidupnya gadis itu sudah banyak melakukan perbuatan yang salah, dia telah menciptakan badai darah yang mengerikan bagi umat persilatan, padahal dia sendiripun tak tahu apa yang sedang dikejarnya selama ini."
Pelan-pelan Ong Bun kim membangunkannya dari pelukan, kemudian dengan sedih berkata.
"Ong Bun kim percayakah kau bahwa aku cinta kepadamu?"
"Aku..."
Pemuda itu gelagapan dan tak tahu bagaimana musti menjawab. Setelah tertawa getir, kembali Ku Pek hoa berkata.
"Mau percaya atau tidak terserah kepadamu, atau hal itu tidak terlalu penting, tapi aku harus menerangkan kepadamu! aku cinta kepadamu, meski aku tak pernah memikirkan seorang lelaki didalam hatiku, termasuk juga kau sendiri.
"Aku beranggapan, bila aku telah mencintai ia seseorang maka aku harus menguasahi penuh orang itu, setiap saat aku bisa mengendalikan lelaki yang kucintai itu sekehendak hatiku sendiri, termasuk pula terhadapmu, Ong Bun kim."
"Makaa dengan pelbagbai cara aku berusaha merajai seluruh dunia persilatan, menguasahi seluruh-dunia, dengap harapan aku dapat memberikan kesemuanya itu kepadamu, tapi akupun hendak menyuruh kau mendengarkan perkataanku.
"Tapi sekarang aku baru tahu. bahwa aku keliru besar."
"Karena hal itu aku telah kehilangan kau, memang kau berbeda sekali dengan lelaki lain. kaa mempunyai harga diri yang kuat serta karakter yang keras, halmana belum pernah kubayangkan sebelumnya.
"Kau tidak membunuhku membuat aku merasa bahwa kau sesungguhnya adalah seorang lelaki yang lembut dan berhati bajik. Dua buah tempelenganmu membuat aku memperoleh diriku yang sebenarnya, ketika kau sudah pergi dari situ. aku beru merata bahwa aku harus memberitahukan kepadamu... aku ini memang salah.
"Tapi siapa yang menyangka setelah kutolong dirimu, peristiwa semacam ini telah terjadi.....?"
Ketika berbicara sampai disitu.
titik air mata tak kuasa lagi jatuh berenceran membasahi pipinya.
Ketika Ong Bun kim telah selesai mendengarkan ungkapan kata hati dari gadis tersebut, hatinya merasa girang sekali, serunya kemudian dengan suara tertahan.
"Jadi kau sudah menyesal dengan semua perbuatan yang telah kau lakukan di masa Ialu?"
"Yaa, benar! Aku menyesal sekali!"
"Oooh.... hal ini terlalu baik... hal ini terlalu baik,....,"
Seru Ong Bun kim kegirangan.
"Tidak!"
Ku Pek hoa menggeleng sambil tertawa getir.
"sekarang sebenarnya sudah terlambat."
"Apanya yang terlambat?"
"Aku menyesal terlalu lambat !"
"Tidak, sama sekali tidak terrlambat !"
Tapi gadis itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Seluruh umat persilatan membenciku, tak seorang manusia di dunia ini yang mau memaafkan perbuatanku!"
"Tapi aku bersedia untuk memaafkan dirimu!"
"Tapi apalah gunanya? Aaai-setelah berpisah denganmu, akan kubawa segenap anak buahku untuk kembali ke lautan Lam hay."
"Apa? Kau hendak kembali ke Lam hay?"
"Yaa, aku akan kembali ke Lam hay, agar aku dapat melupakan semua perbuatan yang telah kulakukan selama ini!"
"Tidak, kau tak boleh pulang ke Lam hay!?"
"Kenapa?"
"Sebab kau adalah istriku!"
"Istri...?"
"Apakah kau menyangkal ?"
Gadis itu gelengkan kepalanya berulang kali.
"Aku tidak pantas menjadi istrimu... terlalu banyak kejahatan yang telah kuperbuat selama ini, aku sudah tidak pantas lagi untuk mendampingi dirimu."
"Tidak!"
Seru Ong Bun kim.
"kau adalah istriku, siapa yang mau bertobat dia adalah orang yang berpuji, aku dapat mencintaimu, kita sudah mewujudkan arti kata dari suami istri yang sebenarnya, sekarang kita sudah melakukan hubungan intim, maka kau harus tetap tinggal disini mendampingiku."
"Kau benar-benar mencintaiku?"
"Benar, karena aku cinta kepadamu maka kau harus tetap tinggal disini!"
Dengan perasaan berterima kasih dan terharu gadis itu menjatuhkan diri ke dalam pelukan Ong Bun kim dan menangis sepuasnya, sedang si anak muda itu membelai dengan kasih sayang dan lemah lembut, ia berusaha untuk memberi kehangatan kepadanya.
"Apakah kau meminta kepadaku untuk tetap tinggal disini?"
Tanya gadis itu kemudian.
"Benar, kau harus tetap tinggal disini!."
"Baiklah, kalau begitu aku akan tetap tinggal disini?"
Ketika mengucapkan perkataan tersebut keduanya menampilkan kebulatan tekadnya yang tebal.
Ong Bun kim tak dapat menahan diri lagi.
ia menundukkan kepalanya dan mencium gadis itu..
.Inilah ciuman yang murni dan polos, dia telah memberikan seluruh perasaannya kepada istrinya lewat ciuman tersebut.....
istrinya yang baru dicintainya mulai sekarang, Ku Pek hoa.
Ciuman yang mesra dan hangat telah memusnahkan semua dendam dan kemurungan yang mendekam diri mereka selama ini.
Lama lama sekali, akhirnya mereka buru saling melepaskan rangkulan.
-oo0dw0oo--
Jilid 26 DENGAN pandangan sayu gadis itu mengawasinya lekat-Iekat, kemudian katanya.
"Ong Bun kim, aku merasa amat berterima kasih kepadamu!"
"Sudahlah, kau tak usah mengucapkan kata-kata semacam itu lagi, asal kau bersedia untuk bertobat dan kembali kejalan yang benar, aku sudah merasa bahagia sekali"
"Kalau begitu aku akan pergi dulu!"
"Kembali kemarkas besarmu?"
"Benar, aku harus menyelesaikan beberapa persoalan penting."
"Dikala perguruan Sin kiam bun diresmikan nanti, apakah kau akan turut menghadirinya?"
"Kapan hal itu akan diselenggarakan?"
"Bulan lima tanggal lima."
"Aku pasti datang sebab bagaimanapun juga aku telah menjadi istrimu yang sah"
"Tapi ada beberapa persoalan aku juga harus memberitahukan kepadamu, selain kau..."
Belum selesai pemuda itu berbicara, Ku Pek-hoa telah menukas.
"Aku tahu, jangan kuatir. Aku tak akan cemburu."
"Kalau begitu aku merasa lega!"
"Sebentar aku akan pergi. sekarang kenakan dulu pakaianmu, aku telah membawakan untukmu"
Hingga kini Ong Bun kim baru tahu kalau dia masih berada dalam keadaan telanjang bulat, kontan saja merah padam selembar wajahnya karena jengah, tanpa banyak bicara dia segera mengambil pakaian dari lantai dan buruburu dikenakan.
Sementara itu Ku Pek hoa telah berjalan meninggalkan tempat itu.
Sedangkan Ong Bun kim tetap berdiri termangu disana tanpa mengetahui apa yang musti di-lakukan.
Pemuda itu merasa dirinya seakan-akan telah melakukan suatu perbuatan yang dia sendiripun tidak mengetahuinya, ya peristiwa yang telah terjadi itu benar-benar diluar dugaannya.
Dalam pada itu, ketika Ku Pek hoa-berjalan keluar dari dalam gua, Tay khek cinkun Tan Liok serta Thia Eng segera mengalihkan sinar matanya ke wajah gadis itu, begitu tahu siapa dia, hampir pada saat yang bersamaan mereka berseru.
"Kau ?"
Ku Pek bhoa tertawa getir dan mengangguk.
"Yaa, benar, memang aku!"
Tay khek cinkun bertiga segera saling berpandangan tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun, sebab peristiwa yang terjadi benar-benar membuat mereka terkejut bercampur tercengang, bagaimanapun juga Ku Pek hoa adalah gadis yang hendak dibunuh, oleh Ong Bun kim selama ini.
Tapi kenyataannya sekarang, ia telah mengadakan hubungan intim dengan si anak muda itu.
Sudah terlalu banyak kejadian yang telah dilakukan gadis tersebut selama ini, padahal Ong Bun kim adalah pemegang pedang Sin kiam, bagaimanakah penyelesaian selanjutnya?
Tay khek cinkun termangu-mangu sejenak kemudian gumamnya.
"Sungguh jauh diluar dugaanku."
"Ya, akupun merasa sedikit diluar dugaan."
Kata gadis itu.
"Pertama-tama lohu akan mengucapkan banyak-banyak terima kasih, dulu atas budi pertolongan yang telah kau berikan kepadaku!"
"Tak usah dipikirkan lagi"
Kata gadis itu sambil tertawa getir.
"sekarang Ong Bun kim masih berada dalam gua, masuklah dan tengok dirinya, aku akan pergi dulu."
Seusai berkata, dia lantas menggerakan tubuhnya berlalu dari sana.
"Ternyata gadis itu adalah...."
Gumam-Tan Llok kemudian setelah gadis itu berlalu dari sana.
"Kejadian ini sama sekali tak terduga sama sekali, heran, kenapa bisa terjadi peristiwa semacam ini?"
Mereka hanya bisa menghela napas dengan perasaan kaget, untuk sesaat lamanya ketiga orang itu cuma berdiri termangu-mangu belaka tanpa mengetahui apa yang harus dilakukan.
Akhirnya Tay khek cinkun menghela napas berat, katanya.
"Terpaksa kita harus membiarkan persoalan ini berkembang lebih lanjut sebelum dibicarakan lagi."
Seusai berkata, dia lantas melangkah lebih dulu masuk ke dalam gua tersebut. Ketika mendengar ada suara langkah manusia berkumandang dari luar gua, Ong Bun-kim segera menegur.
"Siapa disitu?"
"Aku!"
Ong Bun kim segera berpbaling, tapi sesdudah memandang akeadaan dari Tabykhekcin kun, tanpa sadar dia berseru.
"Locianpwe, tanganmu..."
"Tanganku telah dipenggal oleh Ciu Li-li !"
"Dikutungi Ciu Li li?"
"Yaa. lenganku telah dikuturgi Ciu Li li, tapi ini masih belum terhitung seberapa, yang paling kasihan adalah Phang Pak bun, dia telah tewas secara mengenaskan...."
"Apa?"
Bagaikan disambar geledek disiang hari bolong, Ong Bun kim kontan saja merasakan kepalanya pusing dan matanya terbelalak lebar, tubuhnya sempoyongan hampir saja jatuh terjungkal, sesungguhnya kejadian ini benar-benar membuat hatinya merasa amat terperanjat.
"Kau... kau bilang Phang Pak bun telah tewas?"
Serunya dengan suara gemetar.
"Yaa. ia sudah tewas."
"Tidak...."
Bagaikan orang gila yang kehilangan ingatannya Ong Bun kim berreriak keras, mukanya tampak penuh diliputi emosi, sementara air matanya jutuh bercucuran membatasi pipinya.
Tay khek cinkun menghela napas berat, dengan wajah yang murung dan teramat sedih dia berkata.
"Ya, ia bena benar telah tewas....tewas ditangan Ciu Li li si perempuan laknat itu."
"Mana mungkin?"
Teriak Ong Bun kim lagi.
Secara ringkas Tay khek cinkun lantas menceritakan kejadian yang sesungguhnya kepada pemuda itu.
Selesai mendengar penuturan itu.
sambil menggertak gigi menahan rasa benci dan marah yang luar biasa, Ong Bun kim berteriak.
"Akan kucincang tubuhnya menjadi berkeping-keping, di manakah dia sekarang?"
"Diluar gua!"
Ong Bun kim segera menggerakkan tubuhnya dan meluncur keluar gua.. Tapi dengan suara keras Tay khek sinkun segera mencegah.
"Ong Bun kim, mau apa kau?"
"Akan kubunuh perempuan jahanam itu."
"Jangan, dia jangan dibunuh..."
"Mengapa?"
"Kau jangan lupa, ke enam kitatb pusaka dari enam partai besar masih berada di-tangannya."
Mendengar ucapan tersebut, Ong Bun kim segera merasakan hatinya bergetar keras, ia merasa hal ini ada benarnya juga, sampai sekarang ke enam
Jilid kitab pusaka dari enam partai besar itu masih berada ditangan Ciu Li li, itu berarti tak mungkin baginya untuk membinasakannya sekarang juga.
Berpikir sampai disitu, saking gemasnya dia sampai menggertak giginya kencang-kencang.
Ketika Tay khek Cinkun dan Ong Bun kim telah berjalan keluar dari gua, Tan Liok yang menyaksikan Ong Bun kim masih bertelanjang badan, dengan cepat ia seperti memahami akan sesuatu, dengan cepat dia melompat pergi meninggalkan sana.
ooooOdwOoooo BAB 82 TAK lama kemudian, ia telah muncul kembali sambil membopong jenazah Phang Pak bun yang mati secara mengenaskan itu.
Menyaksikan jenazah Phang Pak bun membujur ditanah, Ong Bun kim tak bisa membendung rasa sedihnya lagi, ia segera menubruk keatas jenazah itu dan menangis tersedusedu.
Dalam waktu singkat, suasana disekeliling tempat itu diliputi oleh kesedihan yang luar biasa.
Beberapa saat kemudian, dengan suara yang sedih Tay khek cinkun berkata.
"Ong Bun kim, orang yang telah mati tak bisa hidup kembali, apa gunanya kau mesti bersedih hati?"
"Ia mati terlalu mengenaskan..."
Gumam Ong Bun kim dengan suara pedih.
"Yaa, dia memang mati secara mengenaskan, tapi kita toh bisa membalaskan dendam baginya"
Pelan-pelan Ong Bun kim bangkit berdiri, sinar matanya dialihkan ke arah Ciu Li li yang tergeletak diatas tanah dalam keadaan terluka itu, sepasang giginya gemerutukan menekan rasa benci, kalau bisa dia ingin sekali membunuhnya untuk melampiaskan rasa dendam dan bencinya yang telah merasuk kedalam tulang itu.
"Mari kita menguburnya!"
Bisik Tay khek Cin kun kemudian.
"Baik..."
Dengan suatu upacara yang sederhana, akhirnya mereka mengebumikan jenazah Phang Pak bun di tempat itu juga."
Seorang pendekar sejati yang berhati bajik, akhirnya harus berpulang ke alam baka dengan membawa dendam.
Dalam perjalanan hidupnya yang penuh kesedihan, hampir boleh dibilang ia tak berhasil mendapat apa-apa.
sekalipun ada, itupun hanya cinta kasihnya yang teramat singkat dengan Coa Siok go.
Tapi hubungan cinta mereka akhirnya dipunahkan oleh Hau kwan kwancu.
Cinta kasih mereda pun punah dan musnah bagaikan embun yang tertimpa matahari.
Manusia hidup didunia ini memang penuh dengan kepedihan dan kesengsaraan, tapi kehidupannya lebih tragis, lebih menyedihkan dan sengsara dari pada orang lain.
Ia tidak berhasil mendapatkan apa-apa, hingga sesaat menjelang ajalnya tiba...
Tapi yang ditinggalkan bagi masyarakat adalah jiwa yang mulia serta bayangan setia kawan yang penuh dengan jiwa kesatria.
Tay khek cinkun, Tan Liok, Thia Eng dan Ong Bun kim masih berdiri didepan kuburannya sambil mengenangkan kegagahan dan kebajikan dari orang yang telah tiada itu...
Lama, lama sekali....
akhirnya Tay khek cinkun berkata.
"Kami akan selalu terkenang kepadanya, sekarang.....kita harus pergi meninggalkan tempat ini."
"Ya, kita harus pergi meninggalkan tempat ini!"
Sambung Ong Bun kim dengan suara dalam. Tan Liok segera menyodorkan pedang sin-kiam itu kehadapan Ong Bun kim seraya berkata.
"Harap kau menerima kembali pedang sin kiam ini!"
Ong Bun kim menerima pedang sin kiam itu dan memasukkan kembali kedalam sarungnya, kemudian ia melompat ke depan dan mencengkeram tubuh Ciu Li li dari atas tanah.
Bagaimanapun benci dan dendamnya pemuda itu terhadap perempuan laknat tersebut, tak mungkin baginya untuk membunuh musuh besarnya itu detik itu juga.
Ia lantas menepuk bebas jalan darah Ciu Li li yang tertotok itu sehingga ia sadar dari pingsannya...
Begitu memandang wajah Ong Bun kim, Ciu Li li segera tertawa getir, kemudian dengan wajah tanpa emosi katanya.
"Ong Bun kim. sekarang aku yang telah terjatuh ke tanganmu!"
"Ciu Li li!"
Bentak Ong Bun kim.
"tahukah kau rasa dendam dan benci yang berkobar dalam dadaku sekarang? Kalau bisa akan kucincang tubuh anjingmu ini hingga hancur berkeping-keping..."
"Kalau itu kehendakmu, kenapa tidak segera kau lakukan?"
"Sekarang aku belum dapat membunuhmu aku ingin bertanya, dimana kau simpan ke enam
Jilid kitab pusaka dari enam partai besar itu?"
Ciu Li li tertawa dingin.
"Heeehh.... heehh.... hehh... jadi lantaran keenam
Jilid kitab pusaka itu, maka kau belum sampai membunuhku sekarang?"
"Benar."
"Kalau aku tak akan memberi tahukan tempat penyimpanan kitab pusaka itu kepadamu?"
"Aku punya cara yang baik untuk memaksamu berbicara!"
"Sekalipun kuberitahukan tempat itu kepadamu, belum tentu kau bisa menemukannya."
"Dimana letaknya?"
"Dalam perguruan San tim bun"
"Keenam
Jilid kitab pusaka itu berada didalam perguruan San tian bun..?"
"Benar!"
"Mari kita pergi mengambilnya bersamamu, sekarang kau tidur lebih dulu"
Seusai berkata dia menotok kembali jalan darah Ciu Li li, perempuan Itu mendengus tertahan dan segera tertidur pulas.
Setelahnya Tay khek Cinkun baru bertanya "Ong Bun kim kapankah merupakan hari apa untuk meresmikan perguruannya?"
"Bulan lima tanggal lima."
"Akan kucari Tiang seng lojin dan berusaha untuk menyiarkan kabar ini kedalam dunia persilatan, siapa tahu sampai waktunya nanti sudah ada banyak jago persilatan yang bersedia menjadi anggota perguruan Sin kiam bun kita."
"Locianpwe akan pergi mencari Thiang Seng lojin?"
"Benar, sekalian untuk mengobati luka yang sedang kuderita ini..."
Sahut Tay khek Cinkun.
"Bagaimanapun boleh juga."
Tay khek Cinkun manggut-manggut, baru saja akan melangkah pergi, tiba-tiba ia menarik kembali kakinya dan berhenti, kemudian setelah memandang sekejap kearah Ong Bun kim tanyanya.
"Ada satu persoalan aku ingin bertanya kepadamu."
"Katakan apa?"
"Hui mo pangcu bisa turun tangan menyelamatkan jiwa kita, hal ini benar-benar berada diluar dugaan kita semua, cuma bagaimanakah penyelesaianmu terhadap persoalan ini?"
"Bagaimana? Maksudmu..."
"Maksudku, dengan cara apakah kau akan bersikap kepadanya?"
Ong Bun kim tertegun dan termangu-mangu berapa saat lamanya, kemudian jawabnya.
"Akan kuampuni dirinya!"
"Apa?"
Jerit Tay khek Cinkun.
"kau hendak memaafkan dirinya?"
"Benar, aku akan memaafkan dirinya, kini ia telah bertobat dan mau kembali ke jalan yang benar!"
Tay khek Cinkun segera mengerutkan dahinya rapatrapat.
"Aku rasa tindakanmu ini agak kurang begitu baik !"
"Apanya yang kurang baik?"
"Sekalipun Hui mo pangcu telah bertobat dan kembali ke jalan yang benar, tapi kejahatan yang pernah dilakukannya selama ini terlalu banyak, ku kuatir orang persilatan tak akan mengampuni jiwanya."
Paras muka Ong Bun kim segera berubah hebat.
"Kalau aku akan memaafkan kesalahannya, siapa berani mengatakan tidak ?"
Serunya.
"Aku berbicara yang sesungguhnya, cuma persoalan ini memang terpaksa harus menunggu perkembangan selanjutnya baru dapat dibicarakan lagi"
Setelah menghela napas dalam-dalam, ia Iantas membalikkan badannya dan sebentar kemudian sudah lenyap dari pandangan mata.
Sekalipun Ong Bun kim sendiri juga menyadari bahwa apa yang diucapkan Tay khek Cinkun bukan kata-kata yang kosong, akan tetapi bagaimanapun juga Ku Pek hoa adalah istrinya, dia hendak menanggung semua resiko dan tanggung jawab yang telah dilakukan istrinya selama ini.
Kepada Tan Liok, dia lantas bertanya.
"Cianpwe apakah kau akan turut aku pergi ke-perguruan San tian bun ?"
"Benar!"
"Bagaimana dengan saudara Thia?"
Thia Eng tersenyum.
"Siaute adalah seorang anak yatim piatu yang tak punya beban anak maupun istri, tentu saja aku akan selalu mendampingi saudara Ong."
Mendengar perkataan itu, Oig Bun kim menghela napas panjang.
"Aaaai... budi kebaikan Thia heng yang selama ini kau limpahkan kepadaku, aku Ong Bun kim tak tahu bagaimana harus membalasnya?"
"Aaaai...! Hanya urusan sepele seperti itu, apalah artinya?"
Ong Bun kim segera tertawa.
"Thia heng, berapa usiamu sekarang?"
Tanyanya kemudian.
"Aku berusia dua puluh enam tahun!"
"Bila kau merasa tidak keberatan, bagaimana kalau kita mengikat diri menjadi saudara angkat?"
Thia Eng segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh... haaahh... haaahhh..... jika kau tidak merasa keberatan, hal mana justru merupakan suatu kebanggaan bagiku!"
Mereka berdua menjadi girang sekali, maka pada saat itu juga mereka segera berlutut sambil mengangkat sumpah dan mengikat diri menjadi saudara angkat.
Usia Thia Eng lebih tua maka ia menjadi kakak, sedangkan Ong Bun kim lebih muda, ia menjadi adik.
Tak terlukiskan rasa girang Ong Bun kim setelah peristiwa itu, tanyanya kemudian?
"Toako, selain gurumu, apakah kau masih mempunyai sanak keluarga yang lain?"
"Tidak ada!"
"Apakah,sudah mempunyai kekasih?"
"Adik kim, jangan bergurau, aku belum lama terjun ke dalam dunia persilatan, dari mana datangnya kekasih?"
"Bagaimana kalau kuperkenalkan seorang untukmu?"
Thia Eng segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh....haaabbh. .haaahhh siapa?"
"Sampai waktunya nanti, kan akan tahu sendiri orangnya, yang penting sekarang mau atau tidak?"
"Terima kasih, atas kebaikan adik kim, siapa bilang aku enggan dikenalkan sama wanita?"
"Baik kita berjanji dengan sepatah kata ini, hayo berangkat sekarang kita berangkat dulu ke perguruan San Tian bun untuk mendapatkan kembali ke enam kitab pusaka dari enam partai besar."
Setelah Ong Bun kim mengempit Ciu Li-li di bawah ketiaknya, berangkatlah ketiga orang itu menuju ke bukit Thian mo-san.
Hari itu juga, sampailah mereka bertiga di depan selat Thian mo sia.
Mendadak terdengar suara bentakan nyaring berkumandang datang dari arah dalam selat Thian mo sia tersebut.
Mendengar bentakan itu, Ong Bun kim menjadi amat terperanjat, dengan cepat ia melesat ke udara dan menerjang masuk ke dalam selat Thian mo-sia tersebut.
Sepanjang perjalanan ia tidak menemui hadangan apaapa, setelah melewati dinding pekarangan akhirnya ia menjumpai ada lima enam sosok mayat tergelatak diatas tanah.
Didepan pintu gerbang, tampak puluhan orang manusia berbaju putih sedang mengerubuti tiga orang.
Ong Bun kim segera meluncur ke muka dengan kecepatan luar biasa, bentaknya keras-keras.
"Tahan !"
Mendengar bentakan yang berkumandang dahsyat itu, tanpa terasa semua orang menghindarkan diri ke samping.
Ong Bun kim segera menerobos masuk ke tengah arena, tapi begitu memandang ke wajah tiga orang yang dikerubuti itu, dia segera menjerit tertahan.
Ternyata tiga orang yang sedang dikeroyok itu tak lain adalah Lui Thian-ciu, Kwan Siok kim dan Kwan Siau-ciu yang mengenakan kain cadar muka.
Ketika Kwan Siok kim melihat kemunculan Ong Bun kim, dengan suara tertahan ia lantas berteriak.
"Engkoh Ong, kaukah?"
"Benar !"
"Kau...bukankah kau telah tewas?"
"Telah tewas ?"
"Mereka semua mengatakan kau sudah mati karena kena obat peledak."
"Untung saja aku tak sampai mati."
"Engkoh Ong !"
Dengan luapan rasa girang dan haru, Kwan Siok kim menubruk kedalam pelukan Ong Bun kim, keadaannya seperti anak ayam yang tiba-tiba bertemu dengan induknya setelah tersesat sekian lama, tak tahan lagi dia menangis tersedu-sedu.
Pelan-pelan Ong Bun kim mendorong tubuhnya dari rangkulan, lalu bisiknya lembut.
"Adik Kwan, aku toh belum mati! "
Gadis itu segera tertawa, tertawa ia sangat riang meski noda air mata masih membasahi pipinya. Tiba-tiba Kwan Siau ciu berseru lantang.
"Ong Bun kim, bukankah orang yang berada ditanganmu itu adalah Ciu Li li?"
"Benar!"
Sementara itu, puluhan orang manusia San tian bun juga telah mengetahui kalau orang yang berada di tangan Ong Bun kim itu adalah Ciu Li-li, hampir saja mereka menjerit bersama, di tengah bentakan nyaring serentak orang-orang itu menerjang ke arah Ong Bun kim.
"Bangsat! Rupanya kalian pingin mampus !"
Bentak Tan Liok dengan suara keras.
Tubuhnya segera meluncur kedepan menghadang jalan pergi kawanan anggota dari perguruan San tian bun itu, kemudian sebuah pukulan dahsyat dilontarkan ke muka.
Serentetan jerit kesakitan yang memilukan hati segera menggema memecahkan keheningan, dua orang manusia kilat San tian bun seketika terhajar telak dan roboh binasa.
Selapis hawa napsu membunuh yang sangat tebal menyelimuti seluruh wajah Ong Bun kim, ia serahkan tubuh Ciu Li li ke tangan Kwan Siok kim, kemudian bentaknya.
"Kalian cari mampus semua?"
Mendengar suara bentakan yang menggelegar dengan wajah yang menyeringai seram penuh diliputi hawa napsu membunuh itu, puluhan orang anggota San tian bun itu segera menyusut mundur beberapa langkah ke belakang.
"Hayo jawab! Kalian ingin mampus atau ingin hidup?"
Kembali Ong Bun kim membentak keras. Segera terdengar ada orang yang berteriak;
"Kami ingin hidup."
"Kami ingin hidup...."
Ong Bu kim tertawa dingin, kembali ujarnya.
"Mengingat Thian mengajarkan kepada umatnya untuk berwelas kasih, akupun tak akan membunuh kalian, kenapa tidak segera menjumpai Buncu kalian yang sebenarnya?"
Belasan orang anggauta perguruan San tian bun itu segera berjalan ke hadapan Lui Thian ciu, kemudian menjatuhkan diri berlutut ke atas tanah, katanya.
"Harap buncu bersedia mengampuni kami sekalian yang telah dibuat khilaf selama ini, kami tak sadar kalau telah diperalat oleh Ciu Li li....harap buncu sudi mengampuni jiwa kami..."
"Bangunlah!"
"Terima kasih Buncu!"
Lui Thian ciu menghela napas panjang.
"Aaaai..... ambisiku telah padam, aku tidak berminat lagi untuk menjabat sebagai Bun cu ditempat ini, lebih baik kalian bubar saja dan kembali kedesa kelahirannya masingmasing...."
"Buncu, soal ini..."
"Perguruan San tian bun tak akan berdiri lagi dalam dunia persilatan."
Tukas Lui Lhian ciu.
"hayo ikutlah aku, dalam gudang harta masih tersedia banyak sekali intan permata emas dan perak, akan ku bagikan uang itu kepada kalian semua, semoga kalian bisa membangun kembali sejarah hidup kalian dengan perbuatan yang lebih mulia dan bahagia..."
OooOdwOooo BAB 83
"LUI BUNCU ..."
Teriakan keras segera terdengar.
"Hal ini mana boleh....?"
"Kami bersedia mengikuti Lui buncu."
Dua puluhan orang itu segera berteriak-teriak dengan suara yang gaduh sehingga suasana menjadi kacau balau.
Dengan cepat Lui Thian ciu mengulapkan tangannya, kemudian berkata dengan lantang "Nama dan harta yang ada di dunia ini akan berlalu dalam sekejap mata, keputusanku sekarang telah bulat, hayo ikuti aku masuk ke dalam gudang harta dan jangan membantah lagi."
Seusai berkata rdia lantas berjtalan lebih duluq menuju kedalamr ruang tengah.
Harta kekayaan yang disimpan dalam gudang dengan cepat dibagi-bagikan kepada orang-orang itu, setelah mengucapkan terima kasih, mereka baru pergi meninggalkan tempat itu.
Menanti semua orang sudah pergi Ong Bun kim baru berpaling kearah Kwan Siu ciu seraya berkata.
"Pekbo, sejak berpisah baik-baikkah dirimu?"
"Ong Bun kim kau memanggil aku apa?"
Ditanya secara begini oleh Kwan Siau ciu, untuk sesaat lamanya Ong Bun kim berdiri tertegun, Tan Liok segera tertawa terbahak-bahak.
"Haahh... haahh... haaahh.... Ong-Bun kim kau telah salah memanggil."
Serunya. Tiba-tiba seperti menyadari akan sesuatu, Ong Bun kim segera menjadi amat jengah, dengan wajah memerah serunya kemudian.
"Gak bo (mertua)...."
"Panggilan yang tepat!"
Seru Kwan Siau-ciu sambil tertawa terkekeh-kekeh.
"sekarang putriku sudah menjadi istrimu, masa aku tidak pantas untuk menerima panggilan mertua?"
"Pantas! Pantas!"
Kwan Siau ciu tertawa, kembali katanya.
"Sejak berpisah aku baik-baik saja, dari mulut Leng-ji aku mendapat tahu tentang peristiwa Pay kiam tersebut. Bun kim, kau benar-benar telah memberi sangat banyak kepadaku"
"Gak bo, kenapa kau mesti berkata demikian?"
Ong Bun kim hanya kuatir akan mencemarkan nama baik dari Siok kim saja."
"Kau juga tak usah terlalu sungkan-sungkan lagi."
Pelan-pelan Ong Bun kim berjalan ke hadapan Lui Thian ciu, kemudian sambil memberi hormat panggilnya.
"Gakhu..."
Lui Thian ciu menghela napas panjang.
"Aaai..Kau tak usah banyak adat lagi, budi kebaikan kau yang telah bersedia mengampuni jiwaku sudah merupakan budi yang besar, sekalipun harus menjadi anjing atau kuda, Lui Thian ciu juga rela untuk membayarnya"
"Urusan yang sudah lewat, buat apa musti disinggung kembali?"
Tukas Ong Bun kim cepat. Setelah berhenti sebentar, dia menambahkan.
"Mari, akan kuperkenalkan kepada kalian..."
Ia lantas memperkenalkan Tan Liok dan Thia Eng kepada mereka bertiga, sesudah berbincang-bincang sebentar, Ong Bun kim baru berkata kepada Lui Thian ciu.
"Gak hu, apakah kau telah menyerahkan ke enam
Jilid kitab pusaka itu kepada Ciu Li-li?"
"Benar!"
"Kau benar-benar tidak tahu dimana ia sembunyikan benda-benda itu?"
"Yaa, benar!"
Ong Bun kim segera tertawa dingin, serunya kemudian.
"Sekarang Ciu Li li sudah terjatuh ke tangan kita, memangnya kuatir ia tak mau ber bicara?"
Seraya berkata dia menerima kembali tubuh Ciu Li li dari tangan Kwan Siok kim, setelah menepuk bebas jalan darahnya, pelan-pelan Ciu Li li tersadar kembali.
Setelah perempuan itu sadar kembali, Lui Thian ciu segera membetak keras.
"Ciu Li-li, kau masih kenal dengan diriku? Angkat kepalamu dan tataplah wajahku!"
Dengan sorot mata yang dingin Ciu Li li menatap sekejap ke arah Liu Thian-ciu, mendadak paras mukanya menjadi hebat sambil tertawa dingin katanya kemudian.
"Sungguh tak kusangka kau belum mampus..."
"Ciu Li li!"
Seru Kwan Siau ciu pula sambil menggertak gigi menahan rasa bencinya.
"apakan kau juga masih teringat dengan seorang perempuan yang bernama Kwan Siau ciu?". Ciu Li-li menatap sekejap wajah Kwan Siau ciu yang ditutup dengan kain kerudung itu, kemudian tertawa dingin.
"Heeebhh.... heeehhh.d... heeehhh... atentu saja masibh teringat, sungguh tak kusangka kalau kau belum mampus!"
"Ciu Li-li!"
Bentak Ong Bun kim kemudian dengan suara dingin.
"dimana kau simpan ke enam
Jilid pusaka dari enam partai persilatan itu...?"
Ciu Li-li tertawa dingin.
"Tampaknya kalau tidak kukatakan hal ini tak mungkin, baiklah, hayo ikuti diriku."
"Dimana ?"
"Dalam ruang rahasia!"
Begitu mendengar "ruang rahasia", sepasang alis mata Ong Bun kim segera berkenyit, tanpa terasa sinar mata-nya segera dialihkan ke atas wajah Lui Thian lui.
"Dalam markas besar San tian bun memang benar-benar terdapat tempat semacam itu!"
Liu Thian Ciu segera menerangkan. Ong Bun kim lantas manggut-manggut, tangan kanannya kembali berkelebat untuk menotok jalan darah ditubuh Ciu Li li, setelah itu ujarnya dengan suara dingin.
"Hayo jalan, akan kuikuti dirimu ke sana untuk mengambilnya."
Dengan tertotoknya jalan darah ditubuh Ciu Li-li saat ini, boleh dibilang tenaga dalam yang dimiliki perempuan itu telah punah, dia melirik sekejap kearah Ong Bun kim, kemudian baru melangkah masuk ke dalam ruang belakang.
Ong Bun kim seperti menyadari akan sesuatu dengan suara dingin seperti es dia berkata.
"Ciu Li li kuperingatkan kepadamu agar jangan bermain licik, kalau tidak maka kaulah yang pertama-tama akan mampus lebih dulu"
Ciu Li li sama sekali tidak menjawab, setelah masuk ke ruang belakang dia berbalik menyelusuri sebuah serambi, tak lama kemudian sampailah didalam sebuah kamar..
Ciu Li li segera mendorong pintu dan melangkah masuk kedalam kamar itu.
Ong Bun kim turut masuk juga kedalam ruangan itu, tempat tersebut adalah sebuah kamar tidur yang sangat indah, tampaknya disitulah letak kamar Ciu Li li selama ini.
"Disinikah letaknya?"
Tegur Ong Bun kim dengan suara dingin.
"Mungkin saja."
Sementara Ong Bun kim masih tertegun, Ciu-Li li telah menggeserkan sebuah cermin tembaga yang menempel diatas dinding kamar.
"Kreeeek ! Kreeeek....!"
Diiringi bunyi gemeretek yang amat nyaring, muncullah sebuah pintu rahasia disana.
Ong Bun kim sama sekali tidak menyangka kalau dalam kamar tidur seperti itubpun telah dilengkapi dengan peralatan rahasia seperti itu.
Dalam pada itu, Ciu Li li telah melangkah masuk ke dalam pintu rahasia tersebut.
Ong Bun kim segera mengikuti dibelakangnya dan masuk pula ke dalam ruangan, dia menjumpai jalan yang dilaluinya sepanjang perjalanan mirip sekali dengan sebuah lorong rahasia.
Lorong bawah tanah itu amat panjang dan lebar, tak lama kemudian tiba tiba Ciu Lili menghentikan langkah kakinya.
Paras muka Ong Bun kim segera berubah hebat, tegurnya.
"Ciu Li li, mau apa kau ?"
Belum habis si anak muda itu berkata, mendadak... Dari arah belakang punggungnya terasa ada desingan angin tajam yang menyerang datang, pemuda itu amat terkejut, diam-diam pekiknya.
"Aduh, celaka!"
Buru-buru ia membalikkan badan sambil melancarkan sebuah pukulan dahsyat.
Gerak serangan yang dilakukan Ong Bun kim sambil membalikkan badannya itu di lakukan dengan gerakan amat cepat, tampak beratus-ratus batang anak panah pendek telah meluncurkan tiba dan mengurung sekujur badannya...
Mimpipun Ong Bun-kim tidak menyangka kalau Ciu Lili masih mempunyai tindakan seperti ini, apalagi memasang alat jebakan yang begitu rahasia dan lihaynya dalam lorong bawah tanah semacam itu, hal mana benar-benar sama sekali tidak terduga olehnya.
Sesungguhnya Ong Bun-kim memang terlampau tolol, kalau tempat itu disebut sebagai suatu Ruang rahasia, sudah barang tentu di sekeliling ruangan tersebut telah dipasang alat-alat jebakan yang hebat.
Rupanya dalam keadaan Ong Bun-kim tidak menaruh perhatian tadi, secara diam-diam Ciu-Li-li telah menginjak ubin rahasia yang mengatur tempat memancarnya senjata rahasia.
Ciu Li-li sadar bagaimanapun juga dia pasti akan mati, maka setiap kesempatan yang ada tak pernah disia-siakan olehnya dengan begitu saja.
Ong Bun kim mana bisa menyangka sampai ke situ?
Disaat senjata rahasia tersebut berhamburan datang, dia malah masih melepaskan sebuah pukulan dahsyat.
Baru saja serangan itu dilancarkan, tiba tiba da ri atas kepalanya terdengar bunyi gemerincing yanrg amat nyaring,t menyusul kemudqian tampak seburah batu raksasa yang luar biasa besarnya meIuncur kebawah mengancam batok kepalanya.
Tak terlukiskan rasa kaget Ong Bun kim setelah menghadapi kenyataan tersebut, sambil melepaskan pukulan, tubuhnya segera meluncur ke sebelah mana Ciu Li Ii berada tadi.
Tapi waktu itu, mana ada bayangan tubuh dari Ciu Li li lagi?
"Tentu saja didalam lorong bawah tanah itu terdapat banyak sekali cabang-cabang jalan tak terhitung jumlahnya, bagaimana mungkin Ong Bun kim bisa menduga kalau liang kelinci selalu bercabang banyak...
Baru saja ia menerjang kemuka..
"Blaaam!"
Batu martil yang besar sekali itu sudah terjatuh-menghantam permukaan tanah, parcikan bunga api-segera bermuncratan kemana-mana, ini menandakan betapa dahsyatnya kekuataa dari batu martil tersebut.
Ong Bun kim mencoba untuk memperhatikan tempat itu sekejap kemudian lari kedepan..
Mendadak ia mendengar suara gemuruh yang menggelegar dalam ruangan itu, ternyata jalan tembus disebelah depan telah terputus oleh sebuah pintu besi yang besar dan berat.
Terdengar suara Ciu Li li yang diiringi gelak tertawa dingin berkumandang datang dari batik pintu baja tersebut.
"Ong Bun kim, tindakanku ini tentunya jauh diluar dugaanmu bukan?"
Ong Bun kim benar-benar dibikin marah bercampur mendongkol sehingga sepasang giginya saling bergemerutuk keras, ia mencoba untuk mendorong pintu baja itu sekuat tenaga, tapi sayang pintu itu terbuat dari baja murni yang sangat kuat, bagaimanapun ia berusaha untuk mundorongnya ternyata hanya sia-sia belaka.
Di tengah kegelapan, kembali terdengar suara gelak tertawa bangga dari Cia Li li.."Haaahh......haaahh .....haaahh.....
Ong Bun ki,m, beristirahatlah didalam dengam tenang!"
Kemarahan Ong Bun kim betul-betul telah memuncak sehingga dadanya terasa bagaikan mau meledak saja tapi ia betul-betul dibikin kehabisan daya, sebab dia memang tak sanggup menggerakkan apalagi menggeser pintu baja tersebut.
Mendadak ia teringat kembali dengan pedang mestika Sin kiam yang tertajam itu.
Buru-buru dicabutnya senjata itu dari sarungnya kemudian sambil menyalurkan tenaga dalamnya ke dalam senjata itu, dia membacok pintu baja tersebut keras-keras.
"Traang.....!"
Diiringi suara dentingan nyaring yang memekikkan telinga, pintu baja itu segera hancur dan berlubang besar sekali.
Pedang mestika Sin kiam ternyata memang betul-betul merupakan sebuah senjata yang luar biasa, senjata itu memiliki daya kemampuan untuk memotong baja bagaikan memotong tahu saja.
Demikian setelah melubangi pintu baja yang berat tersebut, Ong Bun kim segera menerobos masuk kedalam lorong yang ada didepan.
Dengan gerakan tubuhnya yang amat cepat, dalam waktu singkat ia sudah tiba didepan sebuah ruangan batu yang besar sekali, sekalipun ruangan itu besar dan luas, akan tetapi bayangan tubuh dari Ciu Lili sama sekali tidak nampak.
Hampir meledak dada Ong Bun kim saking gusarnya menyaksikan kenyataan tersebut, mendadak ia pun menyadari akan sesuatu, dia yakin dalam ruang rahasia tersebut sudah pasti masih terdapat sebuah lorang rahasia lain untuk meloloskan diri....
Berpikir sampai disitu, pemuda itu segera berpekik tertahan.
"Aduh celaka........bisa jadi ia sudah kabur dari dalam ruangan rahasia ini!"
Begitu ingatan tersebut melintas didalam benaknya, dengan suatu gerakan yang paling cepat dia membalikkan badan dan lari balik melalui jalan semula.
Tapi sebagaimana diketahui tadi, jalan keluarnya sudah tersumbat oleh pelbagai macam alat jebakan yang telah digerakkan oleh Ciu Li-li tadi.
Untung saja pedang Sin kiam memang sebuah senjata mestika yang besar sekali daya gunanya.
Ong Bun kim segera mengerahkan tangannya dan mulai menghancurkan benda-benda yang menyumbat jalan lewatnya itu untuk membuka sebuah jalan lewat.
Tak selang beberapa saat kemudian, dia sudah lolos dari dalam ruangan rahasia dan secepat kilat meluncur ke tengah ruang besar.
Betapa terperanjatnya Lui Thian ciu sekalian yang berada di ruang tengah ketika melihat Ong Bun kim muncul dengan wajah gugup dan langkah tergopoh-gopoh.
Dengan perasaan terkejut bercampur keheranan, Tan Liok menegur paling dulu.
"Apa yang terjadi?"
"Dia sudah kabar dari tanganku!"
Teriak Ong Bun kim dengan perasaan gelisah.
"Apa?"
Semua orang yang berada disitub hampir saja bedrteriak keras, arupanya kejadiabn ini sama sekali diluar dugaan mereka.
"Ia berhasil meloloskan diri dari ruangan-itu?"
Tanya Lui Thian Ciu dengan perasaan terkejut.
"Apakah kau mengetahui tentang lorong rahasia didalam ruang rahasia bawah tanah?"
"Ya."
"Apakah masih terdapat jalan keluar yang lainnya?"
"Yaa, ada! Cepat ikuti aku!"
Begitu selesai berbicara Lui Thian ciu segera membalikkan badan dan secepat kilat meluncur ke arah pintu gerbang.
Sebagaimana diketahui, Lui Thian ciu asalnya adalah Buncu atau ketua dari perguruan San tian bun, sudah barang tentu dia mengetahui jelas semua peralatan rahasia serta lorong bawah tanah yang berada disana sejelas melihat jari tangan sendiri.
Ruang rahasia masih terdapat jalan tembus lainnya, bagaimana mungkin dia bisa tidak mengetahuinya?
--Setelah meluncur keluar dari pintu gerbang, dengan langkah tergopoh-gopoh dia meluncur kearah tanah perbukitan di belakang bangunan sana, dengan cepat mereka tiba dibawah sebuah dinding batuan karang, disekeliling batu kurang itu penuh tumbuh-tumbuhan rotan serta semak belukar yang amat lebat.
Lui Thian cu segera menyingkirkan tumbuhan rotan dan semak belukar disekeliling, tak lama kemudian muncullah sebuah gua yang cukup besar.
Dengan gerakan yang cepat dan enteng Lui-Thian ciu melompat masuk kedepan gua itu dan menerobos kedalam, disusul oleh Ong Bun kim dari belakang.
Mendadak...
Dari balik gua itu terdengar suara langkah kaki yang cepat berkumandang datang, Ong Bun kim merasakan hatinya bergetar keras sekali, bersama-sama dengan Lui Thian ciu mereka segera menghentikan langkah kakinya...
Lui Thian ciu melirik sekejap ke arah Ong-Bun kim dan meminta kepada pemuda itu untuk menyembunyikan diri.
Ong Bun kim segera menempelkan badannya di antara lekukan dinding batu karang tersebut.
Tak lama kemudian tampaklah sesosok bayangan manusia berbaju putih sedang berlarian mendekat, dalam waktu sekejap orang itu sudah berada satu kaki didepan mata.
Sedikitpun tak salah, tebrnyata orang itdu memang benar-abenar adalah Cibu Li li.
Begitu perempuan laknat itu sudah semakin dekat didepan matanya, tiba tiba saja Ong Bun-kim membentak keras.
"Ciu Li U mau kabur kemana kau? Hayo cepat serahkan selembar nyawa anjingmu."
Diiringi bentakan yang menggelegar, tubuhnya secepat anak panah yang terlepas dari busurnya segera menubruk kearah Ciu Li li, sebuah pukulan dahsyat yang memekikkan telinga dilepaskan pula kearah tubuh lawan.
Waktu itu.
Ciu Li li sedang gembira dan bersukur karena berhasil meloloskan diri dari cengkeraman Ong Bun kim, mana ia sangka kalau malaikat elmaut sudah menunggu didepan mata, lebih-lebih tak pernah disangka olehnya kalau Ong Bun kim sudah terlebih dahulu menunggunya dimuka gua jalan keluarnya.
Diiringi dengusan tertahan, tubuhnya segera termakan telak oleh serangan tersebut hingga jatuh terkapar diatas tanah.
"Plaak.... plaaak... plaaak...!"
Beberapa
Jilid kitab yang berada di tangan Ciu Li li segera terjatuh dan berserakan di atas tanah, ketika Ong Bun kim mendekat dan menariknya ternyata kitab tersebut tak lain adalah keenam
Jilid kitab pusaka dari enam partai persilatan besar.
Jelaslah sudah, rupanya Ciu Li li ingin membawa kitabkitab pusaka tersebut untuk melarikan diri dari sana.
Dengan suatu gerakan yang cepat Ong Bun kim mengumpulkan kitab-kitab pusaka yang tercecer itu kemudian ia cengkeram tubuh Ciu Li-li yang terkapar ditanah tersebut dan diangkatnya bangun.
Ciu Li li memandang sekejap kearah Ong Bun kim kemudian tertawa dingin tiada hentinya.
"Heehh.... heehhh.... heeeh tidak kusangka kalau orang she Lui itu mengetahui jalan rahasia ini!"
"Ciu Li li!"
Seru Ong Bun kim sambil menggertak gigi menahan rasa gusar dan bencinya yang amat tebal.
"Kepandaian apalagi yang kau miliki? Kenapa tidak sekalian kau gunakan semua?"
"Hmm! Kali ini kuakui bahwa diriku tak akan sanggup melepaskan diri lagi"
Sahut Ciu Li-li dengan suara dingin bagaikan salju dari kutub Ong Bun kim kemrbali tertawa ditngin.
"Kau sehaqrusnya mengertir bahwa tiada kesempatan lagi bagimu untuk hidup didunia ini."
Seraya berkata, dia lantas menyeret tubuh Ciu Li li untuk keluar dari gua tersebut.
Dalam pada itu Tan Liok, Thia Eng, Kwan Sau-ciu dan Kwan Siok kim telah menunggu dimuka gua, ketika dilihatnya Ong Bun kim telah berhasil membekuk Ciu Li-li, mereka merasa lega sekali.
"Ciu Li-li !"
Bentak Ong Bun kim dengan suara dingin.
"sebelum mampus, apa lagi yang hendak kau katakan?"
"Tidak ada !"
"Kalau begitu, terimalah hukuman ini!"
Tiba-tiba Ong Bun kim melemparkan tubuh Ciu Li li ke tengah udara, disaat tubuh perempuan tersebut mulai meluncur ke bawah kembali, pedang Sin kiam yang berada ditangannya segera di ayunkan ke depan berulang kali.
Jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang memecahkan keheningan, darah segar segera berhamburan ke mana-mana dan menggenangi seluruh permukaan tanah.
Terlihatlah tubuh gembong iblis perempuan yang berhati kejam dan membunuh orang-tanpa berkedip ini sudah menjadi beberapa bagian oleh ayunan pedang tersebut.
Diiringi oleh berhamburnya isi perut bercampur darah kental,badannya berserakan di tanah.
Inilah buah yang diraih olehnya akibat perbuatan keji dan jahat yang telah dilakukannya selama ini, barang siapa pernah berbuat kejam dan tak berkemanusiaan, akhirnya dia pun harus menerima akhir yang tragis...
"Ciu Li-li"
Teriaknya dengan penuh perasaan benci.
"sekarang kau tak mampu untuk melakukan kejahatan lagi ! Kau pun tak mampu berbuat licik lagi terhadap orang lain."
Semua orang merasakan hatinya lega sekali setelah menyaksikan kematian yang mengenaskan dari perempuan laknat itu.
Hanya Lui Thian ciu seorang yang melengos ke arah lain sambil menundukan kepalanya rendah-rendah, ia tak tega menyaksikan tubuh Ciu Lili yang berserakan dialas tanah itu, sebab bagaimanapun juga dia pernah mencintai perempuan cabul yang cantik tapi berhati keji bagaikan ular berbisa itu.
Entah dia telah menyesali perbuatan sendiri atau tidak, akan tetapi tak bisa disangkal lagi kematian dari Ciu Li li cukup mendatangkan perasaan pedih dan sedih dalam hati kecilnya.
Mendadak terdengar Kwan Siau ciu berseru dengan suara lantang.
"Bun kim, kau telah salah membunuhnya!"
Mendengar suara tersebut, Ong Bun kim menjadi tertegun, dengan perasaan tidak mengerti katanya.
"Mengapa?"
"Kau lupa dia adaiah istri kesayangan siapa?"
Tentu saja Ong Bun kim cukup memahami arti perkataan dari Kwan Siau ciu itu, dengan cepat dia tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh...haaahhh....haaahhh... istri kesayangan siapa?"
Tanyanya pura-pura tidak mengerti.
"Ayah mertuamu yang terhormat! Lui Thian ciu menjadi malu sekali, buru-buru serunya dengan nada setengah memohon.
"Istriku yang baik, darimana kau bisa mengucapkan katakata semacam itu?"
Ketika menyaksikan kematiannya yang tragis, bukankah hatimu merasa sedih sekali"
Ong Bun kim yang berada disisinya kembali tertawa terbahak-bahak, serunya.
"Haahh... haahhh.... haaahhh ibu mertua, kelihatannya rasa cemburumu masih besar juga!". Begitu Ong Bun kim selesai berkata, kontan saja semua orang ikut tertawa tergelak.
"Haimmm! Cemburu?"
Serunya.
"yaa. memang itu kenyataan!"
Liu Thian ciu segera tertawa getir.
"Istriku yang tercinta."
Katanya cepat-cepat.
"buat apa sih kau membicarakan tentang masalah itu? Toh orang itu sudah mati sekarang."
"Sekalipun sudah mampus orangnya, aku rasa belum tentu bisa mati dari dalam ingatanmu!"
Kwan Siok kim buru buru melerai, serunya.
"Ibu, sudahlah, jangan kau menyindir dan menyiksa ayahku terus menerus..."
Kwan Siau ciu baru tertawa setelah mendengar perkataan dari putrinya itu, katanya kemudian.
"Sekarang kita akan kemana?"
Ong Bun kim segera berpaling kearah Lui Thian ciu seraya berkata.
"Gak hu, aka mbempunyai suatu dmasalah yang inagin sekali memobhon bantuan mu."
"Masalah apa? Katakan saja secara berterus terang kepadaku"
Ong Bun kim mengeluarkan keenam
Jilid kitab pusaka dari enam partai besar itu dan diserahkan kepada Lui Thian cu, kemudian katanya dengan pelan.
"Tolong sudilah kiranya kau mengembalikan ke enam
Jilid kitab pusaka ini kepada ke enam partai besar tersebut, kemudian tolong sampaikan pula kabar kepada mereka bahwa perguruan kami akan diresmikan pembukaannya pada tanggal lima bulan lima nanti digua Bu cing tong, sekalian kabarkan pula berita ini ke seluruh dunia persilatan, agar mereka semua mau mengutus wakilnya untuk menghadiri pertemuan besar itu...!"
"Soal itu mah pasti akan kulakukan!"
"Kalau begitu, tolong laksanakanlah hal itu!"
Setelah menerima ke enam
Jilid kitab pusaka tersebut dari tangan Ong Bun kim. Lui Thian ciu segera berpaling kearah Kwan Siau ciu seraya bertanya.
"Siau ciu, apakah kau ingin melakukan perjalanan bersama dengan diriku...?"
"Aku sih enggan untuk berjalan bersama mu, lebih baik kau sendiri saja!"
Lui Thian ciu segera tertawa tersipu-sipu, akhirnya dia menggerakkan tubuhnya dan berangkat meninggalkan tempat itu, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap diluar selat Thian mo sia.
Sepeninggal Lui Thian-ciu, Kwan Siau-ciu baru berkata kepada Ong Bun kim.
"Bun kim, selanjutnya kau hendak kemana?"
"Aku hendak menuju ke gua Bu cing tong!"
"Bun kim!"
Kembali Kwan Siau ciu bertanya.
"aku ingin menanyakan satu hal lagi kepadamu..."
Katakanlah!"
"Konon, selain Siok kim kau masih mempunyai beberapa orang kekasih lagi?"
Menghadapi pertanyaan semacam itu, Ong Bun kim agak tertegun dibuatnya, setelah termangu sejenak, dia baru mengangguk.
"Benar..."
"Siapa sajakah mereka?"
Terpaksa Ong Bun kim harus menyebutkan nama beberapa orang perempuan itu satu per satu. untuk selanjutnya dia menambahkan.
"Dalam masalah ini aka harap kau sudi untuk memakluminya!"
Mendengar penjelasan tersabet bKwan Siao om mednghela napas paanjang, lalu katbanya.
"Aku tidak keberatan bila ada. seorang lelaki memperistri tiga orang perempuan dan memelihara empat orang istri muda, anak Kim sendiripun tak pernah memikirkan persoalan ini didalam hatinya, cuma ada satu kerepotan dibalik kesemuanya ini."
"Kerepotan apakah itu?"
"Aku ingin bertanya kepadamu, diantara beberapa orang gadis ini, bukankah perempuan yang paling kau cintai adalah Tan Hong hong?"
"Betul!"
"Cuma walaupun Tan Hong hong sangat mencintaimu, bagaimana pun juga ia telah mengalami suatu tragedi yang mengenaskan dan tak mungkin bisa terselesaikan..."
Tan Liok yang berada disampingnya segera menimbrung.
"Andaikata ia benar-benar adalah putriku, bukankah kejadian inipun merupakan sesuatu yang tragis bagiku?"
"Tidak, sebab bagaimanapun juga aku tetap mencintainya, aku tetap akan mencintai dirinya!"
Seru Ong Bun kim dengan cepat.
"Benar!"
Kata Kwan Siau-ciu sambil manggut-manggut.
"Kau memang seharusnya mempersunting dirinya, sudah terlalu besar pengorbanan yang dilakukannya bagimu, kau tak bisa tidak harus memberi imbalan yang setimpal baginya, lagipula dia adalah seorang gadis yang baik sekali, tidak sepantasnya jika kau menyia-nyiakan kehidupannya didunia ini, benar bukan?"
"Benar!"
Kembali Kwan Siau ciu menghela napas panjang, setelah termenung sebentar kembali katanya.
"Terlepas dari masalah Tan Hong-hong, Lan Siok ling adalah istrimu yang pertama, Ku Pek-hoa juga mempunyai ikatan perkawinan denganmu, ditambah lagi dengan putri ku Siok-kim, aku ingin tanya bagaimana caramu untuk mengatur urutan nama mereka?"
"Bagaimana maksudmu? Aku tidak begitu mengerti."
"Menurut peraturan, Ku Pek hoa seharusnya menempati urutan yang paling atas, cuma menurut kenyataan Lan Siok ling yang berhak untuk menduduki posisi tersebut, akan tetapi bila kita berbicara dari persoalan Pay kiam, maka Siok kim lah baru merupakan isterimu yang paling sah."
Ong Bun kim berpikir sejenak, kemudian ia merasa bahwa apa yang dikatakan ibu mertuanya itu memang benar, tanpa terasa berkerutlah dahinyar.
"Aku sendiri juga tidak tahu bagaimana baiknya?"
Dia mengeluh. Kwan Siok-kim yang berada disamping ibunya segera menimbrung dengan cepat.
"Ibu, kami tak akan ribut karena soal urutan nama!"
"Hal ini mana boleh jadi? Setiap masalah tentu ada pokoknya, cuma didalam masalah ini aku harap kau bisa menyelesaikan secara bijaksana, sebab kalau tidak, bisa jadi akan terjadi banyak sekali kejadian-kejadian yang tidak diharapkan."
"Aku mengerti!"
"Kalau kau sudah mengerti, hal ini lebih baik lagi, hayolah kita berangkat sekarang!"
"Apakah Gak bo juga akan mengikuti kami menuju ke gua Bu cing tong..?"
"Benar!"
Maka berangkatlah ke lima orang itu menuju ke gua Bu cin tong..
Sementara itu berita tentang akan didirikannya perguruan Sin kiam bun serta panggilan Sin kiam untuk mengundang para jago persilatan memasuki perguruannya dengan cepat tersiar luas dalam dunia persilatan, akibatnya terjadi satu goncangan yang keras didalam seluruh dunia persilatan.
Berbondong-bondong kawanan jago persilatan berdatangan ke gua-Bu cing tong untuk menggabungkan diri ke dalam perguruan Sin kiam bun.
Ong Bun kim, Kwan Siau ciu, Kwan Siok kim, Thia Eng dan Tan Liok berlima terpaksa harus tinggal untuk sementara waktu di dalam gua Bu cing tong untuk menyusun rencana dalam menghadapi masalah tersebut.
Beberapa hari kemudian.
Tay khek cinkun bersama Tiang Seng lojin dan Hian ih lihiap juga berdatangan kesana.
Menyusul kemudian, Giok bin hiap beserta istrinya Leng po siancu dan Yu-Cing juga berdatangan kesana.
Leng po siancu masih berusia empat puluh tahunan, wajahnya cantik dan menarik hati.
Sesudah berbincang-bincang sebentar, Ong Bun kim lantas bertanya kepada Giok bin hiap.
"Supek. Apa yang harus kita lakukan?"
"Untuk masuk menjadi anggota perguruan Sin kiam bun, pertama tema mereka harus bersumpah dulu di depan pedang mestika dan mengikrarkan sumpah setia mereka, kemudian secara resmi mereka baru diterima menjadi anggota perguruan, setelah itu, mereka harus saling beradu kepandaian untuk menetapkan tingkat kedudukan serta tugas yang bakal mereka pikul selama menjadi anggota perguruan."
"Cuma itu itu saja?"
"Benar, cuma saja sebelum Buncu menjadi ketua secara resmi, terlebih dulu kau harus meresmikan ikatan perkawinan kalian kalau tidak, maka hal tersebut belum bisa dianggap telah resmi!"
Ong Bun kim lantas manggut-manggut.
"Kalau begitu kapan aku harus kawin?"
Tanyanya.
"Jika semua anggota perguruan telah berkumpul, kau boleh meresmikan perkawinan kalian dihadapan para anggota, kecuali nona Kwan, kaupun boleh melangsungkan juga perkawinan dengan perempuan lainnya."
"Lantas sekarang, apa yang harus kita laksanakan lebih dulu?"
"Dalam suatu perguruan harus terdapat kekuatan inti yang bisa diandalkan, yang di maksudkan dengan kekuatan inti sudah barang tentu mengartikan sekawanan anggauta perguruan yang paling setia dan bisa dipercaya."
"Maksudmu, kita harus mengundang orang-orang yang boleh dipercaya untuk masuk menjadi anggota perguruan lebih dulu agar kita memiliki kekuatan inti yang bisa diandalkan?"
"Benar, dan siapa bersedia masuk menjadi anggota perguruan, dia boleh menyembah kepada pedang Sin kiam sebagai pertanda pengangkatan tersebut!"
"Bagaimana pula upacara itu harus diselenggarakan?"
Tanya Tiang seng lojin pula.
"Ong Bun kim adalah orang yang berhak atas pedang mestika tersebut, tentu saja dia adalah Buncu atau ketua dari perguruan Sin kiam bun, sedang aku sebagai pelindung pedang tentu saja yang akan memimpin upacara ini."
Maka Giok bin hiap meletakkan pedang Sin kiam tersebut keatas meja altar, kemudian mempersilahkan Ong Bun kim berdiri disisi altar, dengan suara dalam Giok bin hiap lantas berseru.
"Siapakah diantara kalian yang bersedia masuk menjadi anggota perguruan Sin kiam bun?"
Dengan hormat sekali Tiang seng lojin menampilkan dirinya kedepan, lalu menjawab.
"Kok Saucing bersedia masuk menjadi anggota perguruan!"
"Menyembah kepada pedang!"
Dengan sikap yang sangat hormat Tiang seng lojin segera menjatuhkan diri berlutut diatas tanah dan menyembah kepada pedang mestika Sin kiam tersebut.
"Kok Sau cing!"
Dengan suara berat Giok bin-hiap berseru kembali.
"apakah kau masuk perguruan Sin-kiambun dengan tulus hati serta niat yang jujur?"
"Benar!"
"Kau bersedia mengangkat sumpah berat?"
Ketika Tiang seng lojin Kok Sau cing telah mengangkat sumpah berat, dengan suara dalam Giok bin hiap berkata lagi.
"Mulai sekarang kau sudah menjadi anggota perguruan Sin kiam bun, bersediakah kau untuk setia kepada pemilik Sin kiam?"
"Sampai mati pun rela!"
"Baik! Silahkan mengundurkan diri..."
Tiang-seng lojin segera mengundurkan diri dari sana.
Menyusul kemudian Tay khek Cinkun, Hian ih lihiap, Kwan Siau-ciu, Tan Liok, Thia Eng, Leng po siaucu, Yu Cing serta Kwan Siok kim juga mengangkat sumpah serta masuk menjadi anggota perguruan.
Beberapa orang inilah yang menjadi inti kekuatan dari perguruan Sin Kiam bun, mereka menjadi pemuka-pemuka perguruan yang turut andil di dalam usaha membangun perguruan Sin kiam bun didalam dunia persilatan.
Kemudian, beberapa orang itupun berkumpul menjadi satu serta merundingkan masalah-masalah yang menyangkut soal perguruan, misalnya bagaimana menanggulangi tempat tinggal, soal makan dan lainlainnya.
oooOdwOooo BAB 84 BULAN lima tanggal lima.
Hari ini adalah hari yang telah ditetapkan perguruan Sin kiam bun untuk menerima anggota baru, tentu saja perlu diutus orang untuk menyambut kedatangan mereka.
Ong Bun kim telah memanggil Thia Eng seraya berkata.
"Toako, bagaimana kalau kuserahkan tugas menyambut kedatangan tamu ini kepadamu?"
Thia Eng segera tertawa.
"Memangnya aku bakal menampik permintaanmu itu?"
"Toako, masih ingatkah kau bahwa aku hendak memperkenalkan seorang gadis kepadamu?"
"Aku tak akan melupakannya"
"Kalau memang begitu, bagus sekali"
Seru Ong Bun-kim, ia lantas disisi telinganya sambil bertanya.
"toako. bagaimana pendapat-mu tentang nona Yu?"
Mendengar itu Thia Eng merasakan hatinya bergetar keras, tanpa terasa ia berseru tertahan.
"Dia...?"
"Benar!"
"Aku... aku kuatir diriku tak pantas!"
"Mengapa?"
"Nona Yu cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, lagi pula-tampaknya dia menaruh rasa cinta kepadamu."
"Seandalnya ia bersedia?"
Tukas Ong Bun kim dengan cepat.
"Tentu saja aku merasa terima kasih sekali!"
"Baik, kita tetapkan dengan sepatah kata saja."
Waktu itu, semua orang yang berada dalam ruang tengah meski dapat melihat Ong Bun kim sedang berbisik dengan Thia Eng, tapi tak seorangpun yang mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh kedua orang itu Dengan suara lantang Ong Bun kim berseru.
"Nona Yu, kemarilah sebentar!"
Buru-buru Yu Cing maju ke depan menghampiri mereka sambil bertanya dengan keheranan.
"Tolong tanya Buncu. ada urusan apa?"
"Kau tahu bukan bahwa hari ini adalah saat kita membuka pintu perguruan untuk menerima murid?"
"Tahu"
"Aku hendak memberi tugas kepadamu...."
"Tecu siap menyambut perintah itu."
"Kau dan Thia toako bertugas menyambut kedatangan tamu yang akan datang kemari."
"Terima perintah!"
Ong Bun kim segera tertawa, kembali ujarnya.
"Nona Yu, kemarilah, aku ada persoalan pribadi yang hendak dirundingkan dengan dirimu."
Yu Cing agak tertegun, dia tidak bisa menduga persoalan apakah yang hendak di-bicarakan pemuda itu dengannya. Ketika sudah berada dihadapan Ong Bun kim, si anak muda itu berbisik lirih.
"Nona Yu, kau tahu apa yang hendak kubicarakan denganmu?"
"Jika Buncu tidak berkata, darimana aku bisa tahu?"
"Aku hendak memperkenalkan seorang pemuda kepadamu !"
"Apa?"
Saking kaget dan diluar dugaannya Yu Cing berteriak keras, sebab ucapan dari Ong Bun kim itu tak pernah disangka sebelumnya, ia tidak habis mengerti kenapa Ong Bun kim bisa mengucapkan kata kata seperti itu...?
Dia sangat mencintai Ong Bun kim, apakah pemuda itu sama sekali tidak tahu?
Dengan suara lirih kembali Ong Bun kim berbisik.
"Aku ingin memperkenalkan seorang teman pria untukmu!"
Tiba-tiba Yu Cing merasakan hatinya menjadi kecut dan sedih sekali, sahutnya kemudian dengan lirih.
"Maksud baik Buncu biar kuterima di dalam hati saja!"
"Kau kau tidak bersedia?"
"Yaa tecu memang sudah tiada berminat lagi untuk memikirkan soal-soal semacam itu."
Dari mimik wajah Yu Cing yang amat sedih Ong Bun kim sudah mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh gadis tersebut dia lantas menghela napas panjang katanya.
"Nona Yu, tahukah kau yang hendak ku perkenalkan kepadamu?"
"Darimana aku bisa tahu?"
"Kalau begitu, mengapa kau tidak bersedia? Apakah kau sudah mempunyai kekasih hati?"
"Aku?"
Ia tertawa sedih.
"Buncu memang suka menggoda saja, tapi... didalam hidupku ini ini, aku memang pernah mencintai seseorang..."
"Aku tahu, tapi ia tidak pantas..."
Bisik Ong Bun kim agak tergagap. Kembali Yu Cing tertawa sedih.
"Aku yang tidak pantas baginya, batas usia-ku terpaut jauh sekali dengan dirinya"
"Bila kau mendapat cinta kasih darinya, belum tentu kau akan mengecapkan kebahagiaan"
Kata Ong Bun kim kemudian.
"karena cintanya sudah cacad, sudah tidak utuh lagi, apalagi yang bisa kau peroleh dari dirinya?" -oo0dw0oo--
Jilid 27
"YAA, aku memang tak akan mendapatkan apa-apa lagi"
"Kalau memang begitu, buat apa kau musti mencari kesulitan dan kepedihan untuk diri sendiri?"
Yu Cing tertawa getir.
"Tapi aaii !"
Dia menghela napas sedih.
"siapakah orang yang hendak kau perkenalkan kepadaku itu?"
"Kakak angkatku!"
"Apa? Thia sauhiap?"
Seketika merah pipi Yu Cing setelah mendengar ucapan tersebut, tiba-tiba saja ia menemukan bahwa Ong Bun kim bersikap terlalu baik kepada-nya!
Ong Bun-kim bukannya tidak tahu kalau ia mencintainya, tapi dia selalu berpikir baginya, ia tak ingin dirinya terjerumus ke dalam kancah kemalangan akibat cinta, melainkan memperkenalkan seorang lelaki yang jujur, seorang pemuda yang ganteng seperti Thia Eng kepadanya.
Berpikir sampai disitu, tanpa terasa Yu Cing menghela napas panjang, tiba-tiba ia menemukan bahwa Ong Bun kim adalah seorang pemuda yang baik hati dan mulia.
Ia lantas menghela napas panjang, bisiknya.
"Mungkin Yu Cing tidak pantas baginya!"
"Kenapa?"
"Sebab ia terlalu baik!". Ong Bun kim segera tertawa lebar.
"Cukup, asal kau sudah mengatakan kalau dia baik, itu berarti kesanmu terhadap dirinya adalah baik. menjadilah kawan dulu. urusan selanjutnya kita bicarakan kemudian"
Yu Cing mengundurkan diri dari situ dan bersama Thia Eng bertugas diluar gua Bu cing tong.
Sampai waktu itu orang-orang yang berada dalam ruang tengah masih belum tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Ong Bun kim terhadap kedua orang itu.
Sementara persoalan telah selesai dibagikan, tengah hari sudah menjelang tiba.
oooOdwOooo BAB 85 MENDADAK...
Terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang, ternyata yang datang adalah Lui Thian ciu.
Ia memberi laporan lebih dulu kepada Ong Bun kim atas segala hal yang telah dilakukan, kemudian secara resmi masuk pula menjadi anggota perguruan Sin kiam bun.
Mendadak dari luar gua berkumandang suara teriakan lancang.
"Thian lam kiam kek (jago pedabng dari langit dselatan) Lan taayhiap bersama pbutri nya Lan Siok ling tiba!"
Berbareng dengan seruan itu, dari luar ruangan segera muncul seorang kakek berusia lima puluh tahunan yang menyandang pedang bersama Lan Siok ling.
Tiang Seng lojin segera menyongsong kedatangannya dan menegur sambil tersenyum.
"Lan lote, apakah kau datang untuk menggabungkan diri dengan perguruan Sin kiam bun?"
Ketika Thian lam kiam-kek menyaksikan Thian seng lojin juga berada disiuu ia kelihatan agak tertegun, kemudian sahutnya sambil menggeleng berulang kali.
"Bukan!"
Jawaban mi sama sekati diluar dugaan, tak urung semua orang dibuat tertegun juga oleh jawaban dari Thian lam kiam kek itu. Tiang seng lojin tertegun beberapa saat lamanya, kemudian bertanya.
"Entah karena urusan apa kau datang ke mari?"
"Mencari Ong Bun kim!"
Ong Bun kim yang mendengar perkataan itu merasakan hatinya bergetar keras, serunya.
"Ada arusan apa kau mencari aku?"
"Kaukah yang bernama Ong Bun-kim?"
"Benar!"
"Ong Bun kim, bagaimana rencanamu selanjutnya? Apa yang hendak kau lakukan terhadap putriku?"
Kalau didengar dari perkataan itu. tak sulit untuk menduga kalau kedatangan Thian lam kiam-kek keempat itu adalah disebabkan masalah putrinya. Ong Bun kim menjadi tertegun, sahutnya tanpa sadar.
"Aku tidak tahu."
"Apa? Kau sudah mempermainkan putriku, sekarang masih mengatakan tidak tahu apa yang akan di perbuat?"
Seluruh wajah Thian lam kiam kek menahan hawa amarah, sinar matanya memancarkan hawa napsu membunuh yang mengerikan, ditatapnya Ong Bun kim tanpa berkedip.
Tiba-tiba Giok bin hiap tertawa terbahak-bahak.
"Haah haaah haaahh.... saudara Lan masih kenal dengan aku Yu Tiong?"
Serunya. Sinar mata Thian lam kiam kek segera dialihkan keatas wajah Giok bin hiap, paras mukanya tiba-tiba berubah bersbinar, kemudian dserunya.
"Haah,a kau? Jadi kau bmasih hidup?"
"Benar saudara Lan apakah kedatanganmu adalah untuk menegur serta minta pertanggungan jawab dirinya?"
"Boleh dibilang begitu!"
"Saudara Lan, mengapa kau harus datang dengan marah-marah? Buncu kami amat mencintai putrimu, tentu saja dia akan mengawininya secara resmi..."
"Ong Bun kim. sungguhkah perkataan itu?"
"Benar, dia telah menjadi istriku, tentu saja aku akan mengawininya secara resmi"
Giok bin hiap segera tertawa pula.
"Nah dia sudah berkata sendiri, tentunya kau tak bisa berbicara apa-apa lagi bukan?"
"Ya, tentu saja aku tak bisa berkata apa-apa lagi!"
"Ong Bun kim mengapa kau tidak segera datang untuk memberi hormat kepada mertuamu?"
Buru-buru Ong Bun kim maju menghampirinya dan menjura dalam-dalam katanya.
"Ayah mertua diatas, harap terimalah hormat dari Ong Bun kim!"
Thian lam kiam kek segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaah.... haaah... haahhhh tak usah banyak adat"
Serunya. Ong Bun kim segera berjalan kehadapan Lan-Siok ling, lalu tanyanya.
"Siok ling, sejak berpisah baik-baikkah kau?"
"Terima kasih atas perhatianmu."
Maka Ong Bun kim pun segara memperkenalkan mereka berdua kepada jago-jago lain yang tidak dikenalnya, tentu saja Thian lam kiam kek juga mengetahui tentang hubungan Ong Bun kim serta Kwan Siok-kim.
Setelah berbincang-bincang sebentar, secara resmi kedua orang itu baru masuk menjadi anggota perguruan Sin kiambun.
Tiba-tiba dari luar pintu sana berkumandang suara teriakan yang amat nyaring.
"Ti-teng kek datang!"
Tampak Yu Cing menghantar Ti-teng-kek (jagoan pembawa lampu) berjalan masuk ke dalam ruang tengah. Dengan suara dalam Giok bin hiap segera menegur.
"Ti teng kek, apakah kau datang kemari untuk menggabungkan diri dengan perguruan kami?"
"Benar!"
"Harap maju menryembah pedang!"
Ti teng kek maqju menyembah perdang dan mengangkat sumpah, kemudian pelan-pelan mengundurkan diri ke sisi kanan. Sementara itu, seruan nyaring kembali berkumandang datang dari luar ruangan.
"Kelelawar malam tiba..."
"Liong hau hiap (pendekar naga harimau) tiba..."
"Pat ci kay ong (raja pengemit berjari delapan) tiba..."
"Ci gan sin kun (Raja sakti bermata merah) tiba...."
"Hiat pian sinkun tiba.....,?"
"Ngo ou tiau kek tiba......"
Manusia-manusia beruntun berdatangan ke dalam ruangan, dalam waktu singkat dalam ruangan yang sangat luas itu telah berkumpul jago-jago nomor satu yang datang dari seluruh dunia persilatan.
Mendadak terdengar seruan nyaring berkumandang dari luar.
"Hiat hoo kaucu beserta anggota perkumpulannya tiba...."
Ketika Ong Bun kim mendongakkan kepalanya, terlihatlah seorang kakek berbaju merah dengan membawa puluhan orang anggota perguruannya melangkah masuk kedalam ruangan.
"Hiat hoo kaucu ada urusan apa kau datang kemari?"
Giok bin hiap segera menegur dengan suara lantang.
"Ada sesuatu urusan yang hendak kutanyakan"
"Urusan apa?"
Dengan wajah tanpa emosi Hiat hoo kaucu tertawa dingin, lalu katanya dengan lantang.
"Tolong tanya apa tujuan Sin kiam bun ini didirikan dalam dunia persilatan?"
"Membantu kaum Iemah dan membasmi kejahatan."
"Apakah kalian hendak melenyapkan kaum manusia laknat dari dunia persilatan serta menegakkan keadilan serta kebenaran bagi umatnya?"
"Betul!"
"Kalau memang begitu, aku dengan memimpin seluruh anggota perguruanku bersama-sama menggabungkan diri dengan perguruan Sin kiam bun!"
Ucapan dari Hiat hoo kaucu ini-kontan saja membuat semua orang menjadi tertegun.
"Apakah tidak boleh ?"
Hiat hoo kaucu segera bertanya lagi ketika melihat sikap heran semua orang.
"Siapa yang berkata demikian?"
Jawab Giok-bin hiap.
"harap kau suka menyebutkan dulu siapa namamu!"
"Ang Yu nian !"
"Silahkan menyembah pedang!"
Kaucu dari perkampulan Hiat hoo kau ini segera memimpin anak buahnya yang berjumlah empat puluhan orang itu untuk bersama-sama menyembah kepada pedang Sin kiam.
Dengan suara dalam Giok bin hiap kembali berkata.
"Ang Yu nian, apakah kau bersama anak buahmu benarbenar ingin masuk menjadi anggota perguruan kami dengan lulus ikhlas"
"Benar!"
"Kau bersumpah akan setia kepada perguruan?"
"Benar!"
"Silahkan mengangkat sumpah !"
Setelah Ang Yu nian sekalian mengangkat sumpah berat, merekapun mengundurkan diri ke sisi ruangan....
Dengan demikian, anggota Sin kiam bun telah bertambah dengan empat puluh anggota baru.
Menyusul kemudian, tak sedikit kawanan-jago dari dunia persilatan yang berbondong-bondong datang kesana.
Mendekati tengah hari, dalam ruang tengah telah berkumpul ratusan orang jago lihay yang datang dari seluruh penjuru dunia persilatan.
Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar seruan lantang lagi berkumandang memecahkan keheningan.
"Pangcu dari perkumpulan Cian-ih pang beserta anak buahnya tiba...."
Tampak seorang kakek berusia enam puluh tahunan dengan memimpin dua puluhan anggota perkumpulannya melangkah masuk ke dalam ruang tengah. Dengan suara mantap Giok bin hiap lantas menegur.
"Cing in pangcu, apakah kau dengan membawa anak buahmu ingin menggabungkan diri dengan perguruan kami?"
"Benar, tapi sebelumnya aku ingin mengajukan satu pertanyaan lebih dulu!"
"Soal apa?"
Benarkah Perguruan Sin kiam bergerak untuk membasmi yang jahat dan menolong kaum lemah? Benarkah tujuan kalian adalah demi ditegakkan pengadilan serta kebesaran bagi umat persilatan?"
"Benar!"
"Benarkah perguruan Sin-kiam-bun akan membantai kaum iblis dan sesat dengan pedang sin-kiam?"
"Benar!"
"Kalau memang begitu, aku beserta semua anggota perguruan bersedia untuk menggabungkan diri dengan perguruan Sin kiam-bun!"
Setelah itu berdatangan pula Pek im ceng dan Sin liong Pay yang datang sambil membawa puluhan orang bekas anak buahnya, dengan begitu jumlah anggota Sin kiam bun telah mencapai beratus-ratus orang banyaknya.
Selewatnya senja, sudah tiada orang yang-muncul kembali didalam gua Bu-cing tong.
Ke enam orang ciangbunjin dari partai Siau lim, Bu-tong, Kun lun, Go bi, Tiong lam Serta Khong tong pay dengan membawa dua orang muridnya berdatangan juga untuk memeriahkan upacara tersebut, selain mengucapkan terima kasih kepada Ong Bun kim atas dikembalikannya keenam
Jilid kitab pusaka mereka.
Sementara itu Ong Bun kim sedang memperhatikan akan dua orang, mereka adalah Ko Pek ho serta si bunga iblis dari neraka, mengapa sampai sekarang kedua orang itu belum datang juga?
Apakah mereka tak akan datang?
Mendadak...
Dari luar gua berkumandang kembali suara teriakan lantang.
"Tay pangcu dari perkumpulan Hui mo pang Ku Pek hoa tiba!"
Begitu nama Ku Pek hoa disebutkan, semua orang segera merasakan hatinya bergetar keras, dua pertiga dari mereka yang hadir segera berubah hebat wajahnya.
Mereka termasuk juga Tiang seng lojin serta Giok bin hiap berdua.
Dalam pada itu, Ku Pek hoa dengan langkah yang lemah gemulai berjalan masuk ke dalam ruangan.
Mendadak terdengar suara tertawa dingin berkumandang memecahkan keheningan, sesosok bayangan manusia berwarna merah berkelebat lewat, tahu-tahu jalan pergi perempuan itu sudah terhadang.
"Ku pangcu!"
Seru orang itu.
"masih kenal dengan aku orang she Ang ?"
Paras muka Ku Pek hoa juga berubah hebat.
"Tentu saja kenal"
Jawabnya.
"tidak kusangka Ang pangcu sudah tiba disini!"
Dalam pada itu tak sedikit jumlah orang yang mendesak kehadapan Ku Pek hoa, mereka termasuk juga Pangcu dari Cing ih pang, Caycu dari Sin hong cay serta banyak lagi lainnya.
Terdengar seseorang, menegur dengan suara dingin.
"Ku pangcu kalau sudah bermusuhan rasanya jalan didunia ini terlalu sempit, tidak disangka kita akan bersua kembali disini, tolong tanya ada urusan apa kau datang kemari?"
"Aku datang untuk mencari Ong Bun kim."
"Ku pangcu, kejahatan yang kau lakukan sudah terlalu banyak, lebih baik kita selesaikan dulu hutang-hutang lama kita."
Baca Juga: Kilas Balik Merah Salju 5
Baca Juga: Laron Pengisap Darah Huang Ying