Ceritasilat Novel Online

Kilas Balik Merah Salju 5

Eps 5 Kilas Balik Merah Salju - Gu Long

Baca online Kilas Balik Merah Salju - Gu Long

Cersil Kilas Balik Merah Salju - Gu Long.

Minta manusia semacam dia membangun sebuah kuburan dengan batu kristal?

Pada hakikatnya pikiran ini betul-betul menggelikan.

Terlepas siapa pun orang yang telah membangun kuburan dengan batu kristal, yang pasti hal itu sangat muskil, tak masuk akal.

Anehnya, tempat ini bukan kuburan, kenapa ada begitu banyak orang mati di sini?

Kim-hi tidak habis mengerti.

"Sebenarnya tempat apakah ini?"

"Sebuah gudang harta,"

Sahut Ong-losiansing.

"Kau bilang tempat ini adalah gudang harta?"

Kim-hi semakin terperanjat.

"gudang untuk menyimpan harta kekayaanmu?"

"Betul."

Sambil tertawa Ong-losiansing mulai membelai dinding kristal dengan jari tangannya, belaian yang begitu halus dan mesra seakan belaian seorang ibu terhadap putra tunggalnya.

Bahkan mimik mukanya menampilkan perasaan puas yang tak terlukiskan dengan kata.

"Aku berani jamin, simpanan batu kristal yang ada di sini paling tidak tiga kali lipat lebih banyak dari tempat mana pun di dunia ini,"

Onglosiansing menjelaskan.

"andaikata kulempar semua simpanan batu kristal ini ke pasar, dapat dipastikan cadangan uang setiap negara di dunia ini bakal menurun."

"Aku percaya,"

Tak tahan Kim-hi ikut membelai dinding kristal itu.

"selama hidup belum pernah kujumpai batu kristal sebanyak ini."

"Bukan hanya kau seorang yang belum pernah melihat, kujamin hanya beberapa orang di dunia ini yang pernah menyaksikan tumpukan batu kristal sebanyak ini."

"Apakah dikarenakan orang yang ada di sini hanya orang-orang mati?"

"Betul, kecuali kondisi yang luar biasa, biasanya hanya orang mati yang bisa masuk kemari."

"Bagaimana dengan orang hidup?"

Tanya Kimhi.

"apakah orang hidup yang masuk kemari tak pernah lagi bisa keluar dalam keadaan hidup dan sehat?"

Ong-losiansing tak menjawab pertanyaan itu, dia cuma tersenyum.

Watak Kim-hi sendiri pun tergolong aneh dan keras kepala, persoalan yang enggan dijawab orang lain tak bakal ditanyakan lagi untuk kedua kalinya, maka dia pun mengalihkan pembicaraan ke masalah lain.

"Apakah biasanya kau gunakan orang mati untuk menjaga batu kristalmu?"

Sekali lagi Ong-losiansing tertawa, dia merasa pertanyaan ini kelewat menggelikan, namun dia tetap menyahut.

"Sejak dulu hingga sekarang, hanya sejenis manusia di dunia ini yang menggunakan orang mati untuk menjaga batu kristalnya."

"Manusia seperti apa?"

"Orang mati. Hanya orang mati yang akan menggunakan orang mati untuk menjaga batu kristalnya, sebab dia sudah mati, jadi apakah semua kristalnya dicuri orang atau tidak, baginya hal itu sudah tidak terlalu penting lagi."

Jawaban ini tidak menggelikan, sebab contoh yang dikemukakan bukan saja pernah ada di masa lampau, seribu tahun kemudian pun bukan tak mungkin akan terjadi lagi.

Di masa lampau banyak bangsawan atau raja yang meninggal, biasanya semua harta kekayaannya ikut dikubur, bahkan seringkah para pengawal setianya ikut terkubur bersamanya, untuk menjaga arwah serta harta kekayaannya.

Tentu saja mereka tak bakal tahu cara seperti itu sebenarnya adalah sebuah cara yang sangat goblok.

Karena dia sudah mati!

"Aku belum mati,"

Kata Ong-losiansing.

"paling tidak hingga sekarang aku belum mati, karena itu aku tak bakal menggunakan cara seperti itu."

Kim-hi tertawa, namun tak tahan tanyanya lagi.

"Bukankah tempat ini adalah gudang hartamu? Kalau memang gudang harta, kenapa terdapat orang mati?"

Pertanyaan ini bukan pertanyaan yang menggelikan, sebagian besar orang pun akan mengajukan pertanyaan yang sama.

Tapi jawaban yang diberikan Ong-losiansing justru tak bakal dimengerti oleh sebagian besar orang.

"Oleh karena tempat ini adalah sebuah gudang harta, maka di tempat ini sering muncul orang mati."

"Kenapa?"

Tanya Kim-hi tak habis mengerti.

"Karena ada semacam orang mati yang nilainya jauh lebih tinggi daripada intan permata, kebetulan orang yang mati di sini adalah jenis orang mati yang paling mahal."

Bab 4.

DUNIA KRISTAL Orang yang sudah mati pun masih mempunyai nilai tinggi?

Apa gunanya orang mati?

Kelihatannya Ong-losiansing pun tahu katakatanya susah dicerna orang lain, maka sebelum Kim-hi mengajukan pertanyaan lagi, tiba-tiba dia berganti pokok pembicaraan, katanya.

"Konon di negara yang letaknya di ujung barat terdapat juga kerajaan dengan kebudayaan tinggi, banyak orang pintar melakukan percobaan untuk menciptakan sesuatu yang lebih baru dan canggih."

"Aku tahu, aku pun pernah mendengar tentang hal ini."

"Suatu negeri sama seperti kita, punya hukum juga punya agama kepercayaan, dalam kumpulan keagamaan pun terdapat Tianglo yang punya reputasi tinggi, sama seperti Tianglo pelindung hukum dalam kuil Siau-lim bagi umat persilatan. Aku mengetahui salah satu di antaranya, ia bernama Hoat-tianglo, seorang tokoh yang memiliki kecerdasan tinggi dan sangat dihormati umatnya. Sama seperti Sim-bi Taysu, pelindung hukum Siau lim pay."

Walaupun Kim-hi belum pernah berjumpa Simbi Taysu, tapi ia pernah mendengar tentang kehebatan tokoh ini.

"Konon Suhunya tewas karena keracunan, oleh sebab itu selain tekun melatih ilmu silat dan agama Buddha, dia pun memperdalam ilmu tentang racun dan obat penawarnya. Bahkan kemampuannya sudah mencapai kebal segala macam bisa dan racun. Bahkan ada orang bilang, di masa tuanya dia berhasil melatih tubuhnya jadi kebal dan maha sakti."

"Apakah kemampuan Hoat-tianglo sehebat Sim-bi Taysu?"

"Itulah sebabnya aku singgung orang ini."

"Kenapa?"

"Karena ia pernah bercerita tentang sebuah kisah yang sangat menarik."

Tidak menunggu Kim-hi mengajukan pertanyaan, secara ringkas Ong-losiansing menceritakan.

"Hoat-tianglo mempunyai sebuah kebun buah yang sangat indah, dalam kebunnya ditanam berbagai jenis buah dan sayuran. Dalam kebun buahnya ia pernah melakukan percobaan yang luar biasa."

Dari hasil kebunnya dia pilih sejenis sayuran yang paling umum, misal sayur kubis, kemudian ia menggunakan sejenis cairan racun yang sangat jahat untuk menyirami sayur itu, setelah disirami selama tiga hari, daun kol berubah jadi kuning lalu lambat-laun layu.

Diambilnya sayur layu itu untuk memberi makan seekor kelinci, tiga jam kemudian kelinci itu pun mati.

Dia pun perintahkan tukang kebunnya untuk mengeluarkan isi perut sang kelinci dan diberikan seekor ayam, hari kedua ayam itu pun mampus.

Di saat ayam itu masih sekarat, kebetulan lewat seekor burung elang, sang elang pun menyambar ayam itu dan dibawa ke atas batu tebing.

Sehabis melahap ayam itu sang elang pun mulai merasa kondisi badannya tak segar, tiga hari kemudian sewaktu sedang terbang di udara, tiba-tiba burung itu jatuh dan mati.

Hoat-tianglo pun kembali memerintahkan tukang kebun untuk melempar bangkai elang ke dalam kolam ikan, dasar ikan Lehi dalam kolam sangat rakus, daging elang itu pun dilahap hingga habis.

Keesokan harinya ikan Lehi itu dikirim ke dapur untuk menjamu tamu, maka delapan sampai sepuluh hari kemudian tamu itu akan mampus dengan lambung dan usus membusuk.

Sekalipun ada tabib kenamaan yang melakukan pemeriksaan pun jangan harap menemukan penyebab kematian nya.

Terlebih tak bakal ada yang menyangka kalau dia mati diracun musuh besarnya.

"Selamanya rahasia ini tak pernah diketahui siapa pun,"

Ong-losiansing menambahkan sambil tertawa.

"kecuali...... Bicara sampai di sini, mendadak ia menghentikan perkataannya dan tidak dilanjutkan lagi. Tentu saja Kim-hi tak tahan untuk bertanya.

"Kecuali apa?"

"Kecuali orang itu dikirim kemari."

"Memangnya kau bisa menemukan penyebab kematiannya?"

"Bila aku dapat segera membedah jenazahnya dan menemukan sisa ikan yang masih berada dalam lambungnya, bukan saja aku dapat menemukan penyebab kematiannya, bahkan dapat ditemukan juga siapa yang telah meracuninya,"

Ujar Ong-losiansing.

"nah, bukankah nilai orang mati itu jadi lebih tinggi dan berharga daripada intan permata?"

Kim-hi kelihatan belum juga paham, kembali tanyanya.

"Kenapa bisa begitu?"

"Sebab bukan saja dari tubuh mayat itu aku berhasil menemukan sebuah rahasia yang tak mungkin diketahui orang lain, bahkan dari situ aku pun tahu semacam cara jitu untuk meracuni dan membunuh seseorang tanpa diketahui siapa pun."

"Setelah rahasia orang yang meracuni lawannya itu kau ketahui, tentunya mau tak mau dia harus menuruti semua perkataanmu bukan?"

Tanya Kim-hi.

"Hahaha, tentu saja, akhir dari kisah itu tentu saja begitu."

Kemudian dengan riang ia menambahkan.

"Ada banyak orang di dunia ini yang mati dengan cara begini, ada yang terkena racun rahasia, ada yang terkena senjata rahasia, ada pula yang dilukai dengan satu cara yang amat rahasia. Asalkan mayat mereka dikirim kemari, aku pasti dapat menemukan penyebab kematiannya."

Setelah berhenti sejenak, terusnya.

"Bagiku, cepat atau lambat setiap rahasia pasti ada gunanya, terkadang nilainya bahkan jauh lebih berharga daripada intan permata."

Kim-hi terperangah mendengar semua itu, peluh dingin telah membasahi telapak tangan dan kakinya, untuk sesaat dia hanya bisa mengawasi Ong-losiansing dengan mata terbelalak.

Sewaktu dia mengucapkan semua perkataan itu, sikap maupun caranya bertutur sangat halus, sopan dan anggun, seperti seorang penyair sedang membaca hasil karyanya yang paling hebat.

Namun dalam pandangan Kim-hi, tak ada manusia lain di dunia ini yang lebih menakutkan daripada orang itu.

Ong-losiansing sedang menatapnya, menatap sambil tersenyum ramah, tanyanya.

"Bersediakah kau melihat gudang hartaku?"

Mendengar ajakan itu, berkilat mata Kim-hi, tiba-tiba ia tertawa lebar, sinar matanya persis macan betina yang menerima tantangan untuk bersenggama.

"Tentu aku bersedia,"

Teriaknya.

"memang kau kira aku takut?"

Betapa panjang lorong yang berliku-liku itu, tentu akan berakhir juga.

Begitu juga dengan malam yang gelap, akhirnya akan muncul sinar fajar.

Kini mereka telah tiba di penghujung jalan.

Di ujung lorong terdapat sebuah pintu, pintu tanpa kunci, tanpa pegangan.

Begitu mereka mendekati pintu tadi, pintu itu pun terbuka dengan sendirinya.

Sekali lagi Kim-hi tertegun.

Apa yang terlihat olehnya ternyata merupakan sebuah pemandangan yang luar biasa, pemandangan yang mimpi pun tak pernah dibayangkan.

Di belakang pintu merupakan gua yang sangat lebar, tiada yang tahu berapa luas sesungguhnya?

Seluruh dinding ruang gua berlapiskan batu kristal yang sangat indah, sementara di tengah ruangan bertumpuk pula peti-peti mati yang terbuat dari kristal.

Siapa pun takkan menyangka di tempat yang sama dapat melihat begitu banyak tumpukan peti mati, bahkan semua peti mati itu terbuat dari kristal.

Apakah di dalam setiap peti mati itu berbaring sesosok mayat?

Sebuah rahasia dari mayat itu?

Dari lentera minyak yang terbuat juga dari kristal memercikkan jilatan api berwarna kuning, begitu pintu terbuka, Kim-hi pun memasuki sebuah dunia kristal yang begitu megah, begitu cemerlang dan terselip begitu banyak misteri dan rahasia yang tak di ketahuinya.

Dunia pusaka yang tak terpikirkan dengan akal sehat itu justru merupakan dunianya orang mati.

Peti mati adalah benda yang paling dibenci orang, sebaliknya batu kristal justru paling disukai orang.

Lalu perasaan apa yang ditimbulkan sebuah peti mati yang terbuat dari kristal untuk seorang?

Kim-hi seakan sama sekali tidak merasakan, dia seolah sudah bebal, kaku dan mati rasa.

Cahaya terang masih memancar dari wajah Ong-losiansing, entah karena pantulan cahaya kristal?

Ataukah luapan rasa girang yang muncul dari dasar hatinya?

Dia menggeliat lalu menarik napas panjang, seakan di dunia ini hanya tempat itu yang menjadi kesukaannya dan hanya tempat itu yang membuatnya bahagia.

Dia mengajak Kim-hi menuju deretan peti mati terdepan dan berhenti di depan tiga buah peti mati yang berada di sudut kanan.

Peti mati itu pun terbuat dari batu kristal dan belum ditutup, tiga orang yang belum lama dikirim untuk membunuh orang, kini sudah berbaring dalam peti mati itu.

Anehnya mereka bertiga mati dalam keadaan tenang, wajahnya tidak memperlihatkan rasa kaget atau ngeri, di tubuhnya pun tidak terlihat luka dengan darah yang berceceran.

Bahkan pakaian yang mereka kenakan pun sama seperti waktu masuk ke dalam lorong tadi, bersih dan rapi.

Seakan saat mati mereka tidak merasakan penderitaan maupun siksaan, seakan mereka belum mati walau kenyataan mereka telah mati.

Apa penyebab kematian mereka?

Siapa yang membunuh mereka?

Dimana sang pembunuh itu?

Selama ini Ong-losiansing berdiri terus di samping ketiga peti mati itu, memusatkan seluruh perhatiannya mengawasi ketiga sosok mayat yang berada dalam peti mati.

Selama ini mimik mukanya jarang menunjukkan perubahan, seorang tokoh yang mampu mengendalikan diri memang seharusnya menyimpan semua gejolak perasaan di dalam hati, bukan ditampilkan di wajahnya.

Tapi sekarang siapa pun dapat melihat mimik mukanya mulai menampilkan gejolak hatinya.

Anehnya, perasaannya bukan rasa sedih, bukan juga kaget atau gusar, sebaliknya justru kelihatan sangat riang dan gembira.

Lama kemudian baru ia menghela napas panjang dan bergumam.

"Kalian adalah jagoan yang belajar pedang, bisa mati di ujung pedang orang semacam ini seharusnya kalian bisa mati dengan mata meram."

Tampaknya dia pun tahu perubahan mimik mukanya sedikit tak cocok dengan ucapannya, maka segera dia berganti topik. Tiba-tiba tanyanya kepada Kim-hi.

"Dapatkah kau lihat berada dimana mulut luka penyebab kematian mereka?"

Tentu saja Kim-hi dapat melihatnya, luka penyebab kematian ketiga orang itu berada di bagian tubuhnya yang paling mematikan, luka akibat tusukan pedang.

Tusukan pedang yang mencabut nyawa mereka tepat mengenai bagian mematikan, tenaga yang digunakan pun tidak terlalu kuat, karena itu mulut luka yang ditimbulkan tidak terlalu besar, otomatis darah yang mengucur pun t idak banyak.

Tak bisa disangkal ilmu pedang yang dimiliki pembunuh itu telah mencapai puncak kesempurnaan, bukan saja tusukannya tepat mengenai bagian mematikan, penggunaan tenaga pun sangat tepat, sama sekali tidak menyianyiakan sedikit tenaganya.

Siapakah pembunuh itu?

Ong-losiansing tidak menjelaskan, Kim-hi pun tidak bertanya, tiba-tiba dia mengajak nona itu menuju tiga peti mati yang berada di deretan lain.

Dalam peti mati itu pun berbaring tiga sosok mayat.

Seorang masih muda, seorang berusia sedang dan seorang lagi berusia pertengahan, bukan saja usia dan dandanan mereka hampir mirip dengan ketiga orang yang terdahulu, bahkan di tubuh mereka pun tidak dijumpai mulut luka yang dibasahi darah.

Hanya salah satu di antara mereka yang tulang hidungnya retak.

Ketiga orang itu tak memperlihatkan penderitaan atau kesakitan, jelas mereka pun mati karena dibunuh, bahkan serangan yang langsung mencabut nyawa mereka.

Dari tiga sosok tubuh yang sepintas tak terlihat ada luka pedang itu, tenggorokan salah satu di antaranya seolah terdapat sebuah lubang kecil sekali.

Satu lagi perbedaan yang terlihat adalah ketiga orang itu sudah mati lebih lama, paling tidak sudah mati sehari berselang.

Belum pernah Kim-hi bertemu dengan ketiga orang itu, dia pun tak ingin tahu siapakah mereka?

Ong-losiansing menjelaskan.

"Mereka adalah bawahanku, sewaktu masih hidup dulu masingmasing mempunyai kode angka nomor enam, enam belas dan dua puluh enam, waktu itu mereka pun terhitung jago pedang kelas satu."

"Karena itulah kau utus mereka membunuh Yap Kay?"

Sela Kim-hi.

"dan akibatnya mereka mati di tangan Yap Kay?"

"Benar,"

Sahut Ong-losiansing hambar.

"ketika kuutus mereka membunuh Yap Kay, sama seperti waktu kuutus mereka bertiga kemari, sudah tahu dengan pasti mereka bakal mati."

Ucapan itu diutarakan dengan hambar, seolah sama sekali tak ada rasa menyesal.

"Mereka adalah anak buahmu yang setia,"

Seru Kim-hi tak tahan.

"kenapa kau bersikeras menghendaki kematiannya? Apakah kau benarbenar bermaksud melihat mulut luka di tubuh mereka?"

Ong-losiansing tertawa hambar.

"Bagaimana pun cepat atau lambat akhirnya mereka akan mati demi aku. Mereka yang mati saja tidak keberatan, buat apa aku mesti bersedih hati untuk mereka?"

Sejak zaman dulu, seorang pemimpin yang bengis memang tak pernah berbelas kasihan. Kembali Ong-losiansing mengamati ketiga sosok mayat yang berada dalam peti mati, kemudian baru ia berkata.

"Dapatkah kau temukan luka mematikan di tubuh ketiga orang ini?"

Luka yang mencabut nyawa mereka bertiga pun berada di bagian yang mematikan, hanya saja kematian mereka agaknya bukan ditusuk dengan pedang.

Yang satu hancur tulang hidungnya, jelas kematiannya lantaran tonjokan, seorang lagi tidak nampak bekas luka di luar tubuhnya, namun bila diperiksa lebih seksama, pasti akan tampak sebuah lubang yang cembung ke dalam, luka yang berada persis di jantungnya.

Orang ini pun mampus karena jotosan maut.

Betulkah sodokan tinju Yap Kay begitu lihai?

Kembali Kim-hi memperhatikan orang ketiga, luka mematikannya berada di tenggorokan, mulut lukanya sangat kecil, darah yang mengalir pun tidak banyak, senjata rahasia apa yang telah mencabut nyawanya?

"Dia terluka oleh pisau terbang,"

Ong-losiansing menjelaskan.

"sambitan pisau terbang Siau-li tak pernah meleset."

Pisau terbang? Kembali Kim-hi mengamati mulut luka di tenggorokan orang ketiga dengan seksama.

"Aku tahu, kau tentu dapat melihat dimana letak luka mematikan di tubuh mereka bertiga, cuma aku tetap sarankan kepadamu, amatilah lebih lama dan perhatikan lebih seksama."

Kemudian setelah berhenti sejenak, imbuhnya.

"Lebih baik lagi bila kau perhatikan luka mematikan di tubuh ketiga mayat yang ada di sana lalu bandingkan dengan luka ketiga mayat yang berada di sini, makin lama dilihat semakin baik, makin seksama dipandang makin bagus."

Bagaimana pun juga Kim-hi adalah seorang gadis, sedikit banyak timbul juga rasa muak setelah lama mengamati orang mati, biar di hati dia tahu kata-katanya itu ada maksud tertentu, segera dia menggeleng kepala, katanya.

"Tidak, aku tak mau melihat lagi, mereka kan sudah mati, apa bagusnya dilihat?"

"Orang mati yang berada di luar sana memang tak ada yang perlu dilihat, tapi orang mati di tempat ini sangat patut diperhatikan,"

Kata Onglosiansing.

"tahukah kau, berapa banyak orang harus kecewa tak mendapat kesempatan menyaksikan mayat-mayat itu? Bila kau tetap menampik, satu kesempatan baik telah kau siasiakan."

"Aku tak percaya."

"Kau tak percaya?"

Ong-losiansing tertawa.

"kalau tidak percaya, tanyakan saja kepada Yap Kay."

"Kenapa aku harus bertanya padanya? Memangnya kau akan memberi kesempatan kepadaku untuk bertanya kepadanya?"

Kini Kim-hi sudah tahu begitu banyak rahasia, mungkinkah Ong-losiansing masih mengizinkan dia untuk keluar dari kebun monyet?

Persoalan inilah yang sangat dikuatirkan Kim-hi selama ini, dia ingin segera memperoleh jawaban.

Ong-losiansing hanya tertawa, cepat dia alihkan pembicaraan.

"Kau pernah mendengar orang yang bernama Hing Bu-bing?"

"Pernah, konon dia orang kepercayaan Siangkoan Kim-hong!"

"Hing Bu-bing adalah seorang aneh, selama hidup dia hanya kesemsem pada dua hal. Pertama, dia kesemsem pada Siangkoan Kimhong, bukan kesemsem karena hubungan perasaan laki perempuan, tapi karena menghormatinya, menyanjung dirinya. Dan kedua, dia kelewat kesemsem pada pedang."

Setelah merandek sejenak, kembali tambahnya.

"Selain terhadap Siangkoan Kimhong, peduli manusia macam apa dirimu, mempunyai hubungan seakrab apa pun, jangan harap dia bersedia melakukan pekerjaan apa pun untuk dirimu."

"Ya, aku pun pernah mendengar tabiatnya."

"Tapi sekarang dia bekerja untukku, menjaga orang mati di tempat ini,"

Ong-losiansing menerangkan.

"kalau bukan manusia seperti dia, mana mungkin mau datang ke tempat seperti ini?"

"Aku tak percaya, apa bagusnya orang mati? Kenapa dia mau datang ke sini hanya untuk melihat ketiga orang mati itu?"

Ong-losiansing menghela napas panjang.

"Ai, padahal di hatimu pun sudah tahu jawabannya, mengapa dia mau datang melihat kematian ketiga orang itu, kenapa mesti ngotot bilang tak percaya?"

Setelah tertawa getir, ujarnya.

"Heran, kenapa kaum wanita selalu lain di bibir lain di hati?"

"Karena wanita tetap wanita, pasti terdapat perbedaan dengan kaum lelaki,"

Sahut Kim-hi sambil tertawa getir pula.

"apalagi lelaki yang lain di bibir lain di hati pun tidak lebih sedikit ketimbang perempuan."

"Bagus, ucapan bagus,"

Ong-losiansing menarik tangan Kim-hi.

"ayo, ikut aku, akan kuajak kau bertemu seseorang."

Orang yang hendak diperlihatkan Onglosiansing kepada Kim-hi pun hanya sesosok mayat, peti mati orang ini berada di deretan tengah pada urutan ketiga dari belakang.

Orang itu berwajah ungu penuh cambang, perawakan tubuhnya kekar, meskipun sudah mati cukup lama, namun jenazahnya masih terawat bagus, lamat-lamat masih terlihat kegarangan dan keangkeran semasa masih hidupnya dulu.

Di sekeliling mayatnya bertebaran bubuk wangi anti pembusukan, sementara tangan kanannya tergeletak sebuah gada bergigi Long ya pang yang amat besar.

Cahaya yang berkilauan berasal dari gigi putih yang memenuhi kepala gada, tampaknya senjata andalannya semasa masih hidup.

Hanya memandang sekejap Kim-hi sudah tahu berat senjata itu paling tidak tujuh-delapan puluh kati, bila lengannya tak memiliki kekuatan ribuan kati, jangan harap bisa menggunakan senjata macam itu dengan leluasa.

"Tahukah kau siapa orang ini?"

Tanya Onglosiansing. Kim-hi menggeleng.

"Tentu saja kau tak kenal, usiamu masih kelewat muda,"

Ia menghela napas panjang.

"tapi tiga puluh tahun berselang, Thian-long si serigala langit pernah malang melintang di kolong langit dengan mengandalkan gada Long ya pang, waktu itu siapa yang tak kenal nama besarnya? Apalagi jago pedang, begitu mendengar namanya pasti ketakutan setengah mati, begitu takutnya seperti bocah cilik yang takut harimau."

"Kenapa kau mengatakan khususnya para jago yang memakai pedang?"

"Karena orang tuanya tewas di ujung pedang orang lain, karena itu dia khusus menciptakan Long ya pang yang maha berat, bahkan mempelajari serangkai jurus istimewa khusus untuk menghancurkan ilmu pedang berbagai perguruan kenamaan. Karena pedang itu ringan, maka senjata ini merupakan lawan tandingnya."

Setelah mengatur napas, kembali terusnya.

"Dari lima belas orang jago pedang kenamaan yang diakui umat persilatan saat itu, paling tidak ada sepuluh orang yang tewas oleh Long ya pang. Bahkan Cing Hong-cu, salah satu dari empat jago pedang Bu tong pay pun tak lolos dari bencana ini."

"Aku tak percaya kalau dia memang sangat lihai, kenapa akhirnya tewas di tangan orang lain?"

Ong-losiansing tidak langsung menjawab, sambil tertawa dia menghampiri sepuluh peti mati yang ada di dekatnya dan membuka penutupnya satu per satu, tertampak sepuluh sosok mayat.

Biarpun semua mayat itu masih tersimpan baik namun dapat dilihat kematian mereka sangat tragis, kebanyakan tulang tengkoraknya hancur berantakan, ada pula yang tulang rusuknya patah dan hancur.

Karena itulah walaupun semua jenazah masih tersimpan rapi, namun justru terasa seram dan menakutkan.

"Mereka sepuluh jago pedang yang tewas di tangannya,"

Ong-losiansing menuding seorang Tojin berkopiah yang berada di antara mayatmayat itu dan tambahnya.

"Dialah Cing Hong-cu, jago pedang dari Bu tong pay yang serangannya paling ganas, tajam dan telengas."

Sambil berpaling ke arah Kim-hi, katanya kemudian.

"Sekarang kau sudah percaya bukan?"

Kim-hi membungkam, tapi matanya terbelalak lebar, mengawasi mulut luka mematikan di tenggorokan Thian-long. Mulut luka itu sangat kecil, jelas dia tewas karena tusukan pedang.

"Aku tetap tak percaya,"

Tiba-tiba Kim-hi berseru sambil tertawa dingin.

"Apalagi yang membuatmu tak percaya?"

"Kalau memang Long ya pang sanggup menjebol pertahanan pedang para jago, kenapa akhirnya dia pun tewas karena tusukan pedang?"

"Bagus, pertanyaan bagus, masuk akal."

"Pertanyaanku memang masuk akal, kuatirnya jawabanmu yang tak masuk akal."

"Belum tentu."

"Belum tentu bagaimana?"

"Yang masuk akal pun belum tentu masuk akal, yang tak masuk akal pun belum tentu tak masuk akal,"

Kata Ong-losiansing.

"tak ada peristiwa yang tak akan berubah di kolong langit, oleh karena Thianlong khusus menghancurkan ilmu pedang orang, maka dia pun pasti akan tewas oleh tusukan pedang lawan."

"Bagaimana matinya?"

"Dia bisa mati di ujung pedang lawan karena ada seseorang yang kesemsem dengan pedang telah tiba di sini, dia menghabiskan waktu selama tiga tahun untuk mempelajari mayat kesepuluh jago pedang itu, dari luka mematikan di tubuh jenazah itu, dia berhasil mempelajari dan menganalisa setiap perubahan jurus dan setiap sasaran yang dipakai Thian-long untuk menghabisi lawannya. Kemudian dari perubahan ilmu silat mereka dia menciptakan ilmu pedang baru yang khusus digunakan untuk menghadapi serangan Thian-long."

Dia menarik napas, sesaat kemudian lanjutnya.

"Oleh karena itulah tiga tahun kemudian si orang yang gila pedang keluar dari sini, mencari Thianlong dan menantangnya berduel. Tak sampai sepuluh gebrakan kemudian ia berhasil menghabisi nyawa Thian-long di uj ung pedangnya."

Kim-hi tidak bicara lagi, akhirnya dia paham kenapa Hing Bu-bing rela menjaga orang mati di tempat semacam itu.

Karena dia hendak mempelajari aliran silat Yap Kay, yang paling penting lagi adalah cara menghadapi pisau terbang Siau-li.

Biarpun antara Yap Kay dan Hing Bu-bing tak punya dendam apa-apa, namun generasi mereka sebelumnya justru punya ikatan dendam kesumat yang sangat dalam.

Siangkoan Kim-hong tewas di ujung pisau terbang milik Li Sun-hoan, karena itu Hing Bubing ingin membalas dendam, dia harus menyelidiki dan mempelajari dulu rahasia Siau-li si pisau terbang.

Itulah sebabnya dia datang ke sana.

Karena Yap Kay jarang membunuh orang, maka Ong-losiansing pun mengatur strategi agar Yap Kay mau tak mau harus membunuh lawannya.

Begitu memahami rahasia itu, perasaan Kim-hi semakin dingin dan bergidik.

Hing Bu-bing adalah seorang gila pedang, bila ia tahu di kolong langit terdapat seorang jagoan tangguh macam Thian-long, tentu saja dia tak segan untuk mengorbankan segalanya untuk mengalahkan orang itu, bahkan harus mengalahkan dia dengan mengandalkan ilmu pedang.

Maka dia pun tak segan untuk melanggar prinsip hidupnya, mendatangi tempat tinggal Ong-losiansing dan bersedia menjadi penjaga gudang harta.

Tentu saja tujuannya bukan hanya ingin membunuh jagoan macam Thian-long, yang paling utama adalah ingin menelusuri dan mempelajari aliran ilmu silat lawan dari mulut luka yang di tinggalkan pada mayat-mayat korbannya.

Menanti ia berhasil membuktikan apa yang diharapkan bisa diperoleh dari tempat ini, tak heran dia semakin tak bisa meninggalkan Onglosiansing, karena di sinilah dia bisa memperoleh bahan yang dibutuhkan orang-orang yang tewas di tangan Yap Kay.

Kini dia sudah mendapatkan tiga sosok mayat, apakah dari ketiga sosok mayat itu sudah cukup baginya untuk mengungkap rahasia ilmu silat Yap Kay?

Tak tahan Kim-hi berpaling ke arah ketiga sosok mayat itu, tiga korban yang tewas karena dibunuh Yap Kay.

Ong-losiansing mengawasi gerak-gerik Kim-hi, mulutnya masih tak hentinya memberi penjelasan kegunaan mayat-mayat itu, ujarnya lagi.

"Bagi seorang yang berpengalaman, tidak sulit baginya untuk melihat gerak serangan ilmu silat lawan dari mulut luka mematikan di tubuh korbannya, bahkan perubahan jurus, letak sasaran serta arah datangnya tusukan, sampai berapa besar tenaga yang digunakan pun tak sulit untuk ditelusuri dan diketahui."

Dipandangnya Kim-hi sambil tertawa, lalu tanyanya.

"Apakah kau percaya?"

"Aku tidak percaya."

"Tidak percaya?"

Tiba-tiba Kim-hi tertawa.

"Bukankah kau pun tahu, biar di hatiku seribu kali percaya pun di mulut tetap akan mengatakan tak percaya, kenapa mesti ditanya lagi?"

"Berarti kau sudah percaya pada semua yang kukatakan?"

Ong-losiansing ikut tertawa.

"Tidak percaya, sepatah pun tak percaya."

Ong-losiansing sengaja menghela napas.

"Kalau begitu kau pun tak perlu mendengarkan penjelasanku lagi, tak usah melihat keenam mayat itu."

"Tentu aku tak bakal melihatnya lagi, sekejap pun jangan harap, sebab...."

Gadis itu tertawa cekikikan.

"sebab aku sudah melihatnya dengan jelas."

"Oya? Sejak kapan kau melihatnya?"

"Ketika mulutku mengatakan tak bakal melihatnya lagi."

"Kenapa aku tak tahu?"

Sengaja Onglosiansing membelalakkan mata.

"Memangnya jika cewek melirik cowok, dia akan membiarkan sang cowok mengetahuinya?"

"Tapi mereka kan sudah mati."

"Benar, mereka sudah mati, tapi yang mati kan lelaki,"

Kim-hi tertawa.

"dalam pandangan kaum wanita, laki tetap laki, mau dia hidup atau sudah mati."

"Bagus, bagus sekali,"

Ong-losiansing tertawa terbahak-bahak.

"ucapanmu sangat bagus."

Dia tertawa tergelak, tidak demikian dengan Kim-hi, tiba-tiba paras mukanya berubah amat serius, katanya.

"Aku benar-benar telah meneliti keenam mayat itu dengan seksama, bahkan menemukan satu hal yang sangat aneh."

"Oya, keanehan apa?"

"Keenam orang itu terbunuh oleh dua orang yang berbeda, tapi letak luka yang mematikan justru persis sama, satu-satunya perbedaan hanya terletak pada senjata, agaknya senjata yang digunakan untuk membunuh tidak sama."

Ketika Kim-hi selesai mengungkap hasil analisanya, segera ia memberi koreksi lagi.

"Bukan luka keenam orang itu sama, yang tepat nomor lima dan nomor enam sama, nomor lima belas dan nomor enam belas sama, sedang nomor dua puluh lima sama dengan nomor dua puluh enam."

Dengan perasaan kagum Ong-losiansing manggut-manggut.

"Bukan hanya letak lukanya berada di tempat yang sama, bahkan jurus serangan serta tenaga yang digunakan untuk menghabisi nyawa mereka pun sama, seolah menggunakan cara dan gerakan yang sama."

"Satu-satunya perbedaan hanya terletak pada senjata yang dipakai untuk membunuh,"

Imbuh Kim-hi.

"Betul, yang satu menggunakan kepalan dan pisau terbang sedang yang lain menggunakan pedang,"

Ong-losiansing manggut-manggut.

"Benar, karena itu aku pun mempunyai satu pertanyaan lagi."

"Katakan."

"Baik Hing Bu-bing maupun Yap Kay tak mungkin belajar ilmu silat dari guru yang sama bukan? Tapi kalau ditinjau dari bekas luka yang ada di tubuh mayat itu, Hing Bu-bing seolah-olah bisa juga menggunakan ilmu silat yang dimiliki Yap Kay. Apa yang sebenarnya terjadi?"

Ong-losiansing tertawa, dia belum menjawab.

"Masa Hing Bu-bing telah berhasil mempelajari ilmu silat yang dimiliki Yap Kay?"

Kembali Kim-hi bertanya.

"Bukan berhasil mempelajarinya, Hing Bu-bing hanya menganalisa dari luka yang ditinggalkan di tubuh mayat itu, lalu disesuaikan dengan jurus pedang yang dimilikinya dan mengulang kembali gerakan itu untuk menyerang lawan."

"Maksudmu, bila Hing Bu-bing bisa membunuh orang-orang itu dengan menggunakan gerakan jurus yang dipakai Yap Kay, berarti tidak sulit baginya untuk membunuh Yap Kay?"

Ong-losiansing tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dia hanya menatap si nona lekatlekat, memperhatikan rambutnya yang hitam, jidatnya yang lebar, kemudian mengawasi tubuhnya yang mulai berisi hingga sepasang sepatunya yang ada sulamannya, akhirnya dia menghela napas panjang.

"Ai, aku tak habis mengerti, kenapa Yap Kay bisa tidak menaruh perhatian pada gadis semacam kau,"

Ong-losiansing menggeleng kepala sambil menghela napas.

"yang benar dia itu telur busuk? Atau seekor babi?"

"Sebenarnya aku sendiri pun tak tahu manusia macam apakah dia itu,"

Kata Kim-hi.

"tapi syukurlah, sekarang aku sudah paham."

"Lalu siapakah dia?"

"Dia itu bukan benda, juga bukan hewan, dia adalah manusia, sayang manusia yang sudah mampus."

Bab 5.

PERTEMUAN PERTAMA Sebuah bukit yang amat tinggi.

Awan dan kabut tebal menyelimuti seluruh tanah perbukitan, membungkus rapat sebuah rumah yang terbuat dari kayu.

Pho Ang-soat mengajak Keliningan balik ke dalam rumah itu.

Biarpun luka yang diderita Keliningan tidak mengenai bagian yang berbahaya, namun cukup membuatnya terluka parah.

Pho Ang-soat memang seorang jagoan dalam hal pengobatan, khususnya mengobati luka bekas tusukan.

Pada hari ketujuh semenjak ketibaan mereka di sana, si Keliningan sudah sanggup turun dari ranjang dan melakukan pekerjaan.

Ketika Hong-ling atau si Keliningan terbangun dari alam mimpi, deru angin malam yang dilihatnya semalam kini sudah lenyap, sebagai gantinya dari luar rumah terdengar suara orang sedang membelah kayu.

Hong-ling tahu Pho Ang-soat sedang membelah kayu bakar, maka dia pun turun dari ranjang, mengenakan mantel dan berjalan keluar, berdiri bersandar di pagar sambil mengawasi gerak-gerik Pho Ang-soat dengan seksama.

Dia sedang membelah kayu dengan cara yang aneh, bermanfaat dan indah, gerakannya tidak terlampau cepat, kapak yang digunakan pun tidak tajam, tapi setiap kali kapaknya membelah kayu bakar, terpercik api seperti ada serentetan mercon sedang meledak.

Hong-ling mengawasi pemuda itu, dia mulai kesemsem.

Menunggu hingga dia berhenti menyeka keringat, Pho Ang-soat baru menyadari perempuan itu sudah berdiri di pinggir pintu.

"Kau dapat tidur nyenyak di tempat ini?"

Tanya Pho Ang-soat sambil mengumpulkan belahan kayu bakar.

"Menurut kau?"

Hong-ling tertawa, tiba-tiba tersungging sekulum senyuman yang manis di ujung bibirnya yang putih pucat, seakan munculnya sekuntum bunga sakura di tengah awan putih.

Kembali Pho Ang-soat berpaling, mengawasi senyuman wanita itu.

Tiba-tiba ia bertanya pada diri sendiri, mengapa ia mengajak kemari perempuan itu?

Apa sebabnya ia berbuat begitu?

Perempuan itu tampak kesepian.

Meski sedang tertawa, namun tertawanya terasa begitu sepi, begitu kesepian.

Bukankah kesepian pun langgeng menemani kehidupan Pho Ang-soat?

Ketika secara tiba-tiba ia menjumpai seorang wanita kesepian yang mirip nasibnya, bukankah wajar mereka gampang cocok satu dengan lainnya dan tak segan untuk menampungnya?

Semenjak munculnya kehidupan manusia, bukankah lantaran kesepian kemudian timbul perasaan dan akhirnya muncul bibit-bibit cinta?

Kabut pagi masih menyelimuti perbukitan, Hong-ling berdiri di balik kabut, ia mengawasi Pho Ang-soat yang sedang membopong setumpuk kayu bakar.

Ia bertanya.

"Hari ini kau ingin makan apa?"

Sebenarnya Pho Ang-soat sudah mulai melangkah pergi, tapi ia segera menghentikan kakinya begitu mendengar pertanyaan itu, dengan sorot mata ragu ditatapnya perempuan itu.

"Hari ini kau ingin makan apa?"

Kembali Hongling bertanya sambil tertawa.

"biar aku yang turun ke dapur."

"Kau? Kau pandai memasak?"

"Jangan lupa, aku seorang wanita."

"Aku tidak lupa, hanya sulit bagiku untuk menyatukan antara kau dengan urusan dapur."

"Oh, kau takut aku mencampuri hidangan dengan racun?"

Ia menatap pemuda itu dengan tajam.

"Kalau begitu masaklah!"

Pho Ang-soat membalikkan badan dan menuju ke arah dapur. Memandang bayangan punggungnya yang lenyap di balik pintu dapur, kembali Hong-ling tertawa.

"Di saat kau selesai bersantap nanti, akan kau sadari bahwa pandanganmu sebenarnya keliru besar."

Daging babi masak daun berambang, osengoseng ayam pedas, sepiring dadar telur ditambah semangkuk kuah kaldu ayam yang gurih membuat Pho Ang-soat sekaligus menghabiskan empat mangkuk nasi.

Mengawasi sisa hidangan di piring, terpancar perasaan kagum dari balik mata pemuda itu.

"Seorang temanku pernah mengucapkan sepatah kata kepadaku, sebenarnya aku kurang begitu percaya, tapi sekarang kusadari bahwa apa yang dia katakan memang masuk akal,"

Kata Pho Ang-soat.

"dia bilang, apakah seorang wanita pantas berdiam di samping seorang lelaki, hal ini tergantung mampukah dia menyiapkan hidangan lezat."

Hong-ling tertawa lebar.

"Oh, engkau sedang memujiku?"

Serunya.

"atau ingin menarik keuntungan dari ucapan itu?"

Paras muka Pho Ang-soat tetap tampil dingin dan angkuh, kini sorot matanya telah dialihkan ke wajah Hong-ling, namun di balik biji matanya yang tajam muncul bayangan tubuh lain secara samar.

Sesosok bayangan yang tampak begitu jauh, tapi seolah makin mendekat.

Sesosok bayangan tubuh yang langsing dan lembut.

Sesosok bayangan lembut bagai bintang fajar, sesosok tubuh yang memancarkan secercah cahaya, cahaya bintang.

Cui long!

Sebuah nama yang begitu dikenal, tapi serasa juga begitu asing baginya.

Begitu teringat akan dirinya, sekilas perasaan sedih dan tersiksa kembali terpancar dari balik matanya, otot-otot hijau di tangan kirinya mulai menegang, giginya pun terkatup kencang di balik mulutnya yang merapat.

Dia menatap wajah Hong-ling, menunggu sampai otot hijau yang menegang di tangan kirinya mulai kendor, sepatah demi sepatah baru ia berkata.

"Aku tak pernah mencari keuntungan dari orang lain, baik dari orang lelaki maupun perempuan."

Walaupun suaranya masih tenang, namun perasaan sedih dan tersiksa terpancar dari matanya semakin mengental, seakan tak ingin terlihat perempuan itu, maka begitu selesai berkata kembali ia berdiri, menggunakan cara berjalannya yang khas, selangkah demi selangkah meninggalkan dapur.

Hong-ling sama sekali tidak memandangnya, menanti pemuda itu lenyap di balik pintu, baru ia bangkit dan membenahi piring cawan di meja.

Saat itulah sinar matahari memancar masuk lewat jendela, mengusir kabut tebal dari sekeliling tempat itu, burung mulai berkicau, suasana terasa cerah kembali.

Sementara itu Yap Kay yang berada di luar kota Lhasa sudah bersiap melakukan penyelidikan ke dalam kebun monyet.

Saat itu Be Khong-cun yang berada di Ban be tong telah mendapat laporan tentang hilangnya Pho Ang-soat.

Bantal masih berada dalam keadaan penuh, sedikit pun tak ada pertanda cembung ke dalam, seprei dan selimut pun masih tersusun rapi, sama sekali tak ada tanda pernah dipakai tidur.

"Sewaktu aku lewat di sini pagi tadi, pintu kamar masih dalam keadaan tertutup,"

Lapor Kongsun Toan kepada Be Khong-cun.

"aku mencoba berteriak dari luar, namun tiada jawaban. Akhirnya aku pun memaksa masuk, ternyata kamar sudah dalam keadaan kosong."

Be Khong-cun tidak memberi komentar, dia hanya termenung sambil berpikir.

"Aku rasa baru semalam Pho Ang-soat pergi dari sini,"

Ujar Kongsun Toan lagi.

"bila sekarang juga kita utus orang untuk melakukan pengejaran, aku yakin masih bisa tersusul."

"Kejar!"

Perintah Be Khong-cun dengan wajah dingin.

"tak seorang pun boleh meninggalkan Ban be tong."

"Baik."

Kongsun Toan segera beranjak pergi, tinggal Be Khong-cun yang masih berdiri di depan kamar tidur Pho Ang-soat.

Walaupun sinar matahari pagi tak terlampau panas, tapi semakin meningginya sang surya, cahaya semakin menerangi ruangan kamar, menyinari wajah Be Khong-cun, membuat kerutan wajahnya nampak lebih jelas dan kentara.

Kerutan di wajah bukan hal yang memalukan, sebaliknya justru mencerminkan kebanggaan, karena setiap kerutan di wajahnya mewakili perjuangan hidupnya menentang bahaya dan maut.

Seakan-akan dia hendak memberitahu kepada orang lain, jangan harap bisa merobohkan dia dengan gampang dalam hal apa pun.

Jangan mimpi bisa memaksanya membungkukkan pinggang.

Walau begitu, pancaran sinar matanya justru amat tenang dan penuh kedamaian, tak disertai sinar tajam yang menggidikkan.

Apakah penderitaan dan kesengsaraan yang dialaminya selama ini telah mengikis keberingasannya?

Atau karena ia sudah pandai menyembunyikan ambisi dan napsunya?

Atau mungkin lantaran ia pernah mati satu kali?

Kini sepasang matanya sedang mengawasi pembaringan yang tak pernah dijamah itu.

Dan pada saat itu pula tiba-tiba terdengar suara teguran berkumandang dari belakang tubuhnya.

"Selama ini kau baik baik saja bukan Belopan?"

Be Khong-cun segera berpaling, ia lihat seseorang telah duduk di depan pintu.

Siau Piat-li muncul dengan kursi rodanya, saat itu dia sedang menatap Be Khong-cun dengan mimik muka aneh, agak tercengang dan sangsi.

"Sudah berapa lama kita tak bersua? Sepuluh tahun mungkin?"

Be Khong-cun balik bertanya. Siau Piat-li menghela napas panjang.

"Ya, sepuluh tahun sudah. Waktu berlalu begitu cepat, secepat awan putih di angkasa, dalam sekejap mata sudah sepuluh tahun kita tak bersua."

Ditatapnya wajah Be Khong-cun sesaat, kemudian ujarnya lagi.

"Perjuangan hidup selama sepuluh tahun ternyata tidak meninggalkan bekas di wajahmu, penampilanmu saat ini tak jauh berbeda dengan sepuluh tahun berselang, bahkan rambut pun tak nampak memutih."

"Manusia akan menjadi tua bila pikiran dan perasaannya berubah jadi tua."

"Oh, berarti pikiran dan perasaanmu sekarang sudah jauh lebih muda?"

"Nama besar Kwan tang ban be tong ibarat matahari di tengah hari, banyak orang menopangkan hidupnya di sini, mungkinkah bagiku untuk merasa tua? Dapatkah aku menjadi tua?"

Tiba-tiba Be Khong-cun menghela napas panjang.

"Tapi seingatku, Kwan tang ban be tong sudah dihancurkan sejak sepuluh tahun lalu,"

Ujar Siau Piat-li menatapnya tajam.

"bagaimana mungkin hari ini bisa muncul kembali?"

Mendadak mencorong sinar tajam dari balik mata Be Khong-cun, ditatapnya Siau Piat-li tanpa berkedip, kemudian tegurnya.

"Siau-laute, baru berpisah selama sepuluh tahun, kenapa kau mulai termakan isu kosong dunia persilatan?"

"Isu dunia persilatan?"

Siau Piat-li semakin tajam mengawasi rekannya.

"Betul, kabar bohong yang sengaja ditiupkan kaum Siaujin dari dunia persilatan."

"Oya? Berarti hanya kaum Siaujin yang percaya dengan kabar kosong itu?"

Siau Piat-li tertawa terbahak-bahak, sejenak kemudian tambahnya.

"Wah, yang begini baru celaka, kalau seorang Kuncu mulai berbohong, biar membuat orang mampus pun rasanya tak perlu membayar ganti rugi."

"Terkadang berbuat begitu, rasanya juga tak akan merusak nama baik,"

Sahut Be Khong-cun sambil tertawa.

"bukankah begitu?"

"Boleh yang pertama jangan mengulang yang kedua, masa kau akan mengulang kembali perbuatan yang sama untuk kedua kalinya?"

"Untung aku cukup tahu diri, apalagi orang seperti aku paling enggan mengulang hal yang sama untuk kedua kalinya,"

Be Khong-cun menunggu gelak tawa sendiri mereda kemudian baru melanjutkan.

"Tetangga desa bagai di ujung langit. Perumpamaan itu tak cocok kau gunakan untuk menggambarkan tentang hubungan kami."

"Oh, maksudmu?"

"Tempat tinggal kita begitu dekat, kita pun merupakan sahabat karib, tapi begitu tega hatimu, selama sepuluh tahun terakhir pernahkah kau datang menjengukku?"

Siau Piat-li tidak menanggapi, dia mendongakkan kepala dan menghela napas panjang. Be Khong-cun tidak mengerti apa sebabnya ia menghela napas, segera tegurnya.

"Siau-laute, persoalan apa yang membuatmu menghela napas panjang?"

"Walaupun sepuluh tahun tidak membuat kau bertambah tua, tapi sayang kau telah terjangkit satu penyakit."

"Penyakit? Penyakit apa?"

"Penyakit pelupa"

"Penyakit pelupa?"

Gumam Be Khong-cun dengan wajah sangsi dan tidak mengerti. Sambil menunjuk sepasang kaki sendiri, kembali Siau Piat-li berkata.

"Masakah Be-lopan lupa bahwa kakiku cacad?"

Setelah menatap sekejap lawannya, ujarnya lebih lanjut.

"Seandainya kakiku masih sehat dan mampu berlari cepat, sudah pasti akan kusambangi Be-lopan."

Tentu saja Be Khong-cun memahami maksud perkataannya, air mukanya sedikit berubah, tapi cepat ia tertawa tergelak.

"Karena Siau-laute menegur kesalahanku, sudah sepantasnya aku mesti didenda... hari ini akan kubiarkan kau menghukumku sepuasnya."

"Menghukum aku tak berani,"

Kata Siau Piat-li sambil tertawa.

"sudah sepuluh tahun kita tak pernah minum arak, hari ini kita berdua minum sepuasnya."

Yap Kay melangkah di padang rumput berembun, mengenang kembali pembicaraannya pagi tadi dengan So Ming-ming, tanpa terasa ia tertawa.

"Kini langit sudah terang, apakah kita boleh segera berangkat?"

Tanya So Ming-ming.

"Tolong gunakan angka ganjil, jangan memakai angka genap,"

Tiba-tiba Yap Kay mengucapkan kata yang aneh.

"Angka ganjil? Angka genap? Apa maksudmu?"

Tanya So Ming-ming tak habis mengerti.

"Maksudku, aku yang pergi, bukan kita berdua."

"Aku?"

Akhirnya mengerti juga So Ming-ming maksud ucapannya.

"jadi kau ingin pergi seorang diri?"

"Bukan ingin, tapi pasti. Apalagi kepergianku ini bukan mau jalan-jalan di pasar, jadi tak perlu berdua."

"Justru karena berbahaya maka aku ingin pergi berdua, paling tidak ada yang diajak bicara,"

Seru So Ming-ming.

"apalagi semalam Kim-hi bisa jadi sudah mendatangi kebun monyet, aku semakin punya kewajiban untuk pergi mencarinya."

"Kalau begitu kau lebih tak boleh ikut."

"Kenapa?"

"Bila orang kebun monyet menggunakan Kim-hi sebagai sandera lalu mengancammu, apa yang akan kau lakukan?"

"Aku...."

"Kalau aku kan berbeda, hatiku terkadang seperti baja keras, di saat harus keras tak bakal hatiku melunak."

"Tapi... bagaimana kalau muncul bahaya yang mengancam?"

Tanya So Ming-ming penuh rasa kuatir.

"masa kau pergi sendirian?"

"Tak mungkin ada bahaya, karena aku akan berkunjung secara terang-terangan."

"Berkunjung secara terang terangan?"

"Betul, bukan masuk dengan melompati pagar rumah, tapi masuk secara terang-terangan lewat pintu gerbang."

Biarpun air embun telah membasahi sepatu yang dikenakan Yap Kay, namun dia tak ambil peduli, sebab dari sini ia sudah dapat melihat pintu gerbang kebun monyet.

Setelah berada di depan gerbang, Yap Kay baru merasa bahwa dinding pagar di situ amat tinggi, bahkan ketinggiannya mencapai lima atau enam orang ditumpuk menjadi satu.

Pintu yang semula tertutup rapat, kini dalam keadaan terbuka.

Tampak di tengah halaman yang luas terbentang sebuah jembatan berliku sembilan, di bawah jembatan mengalir air yang jernih dan bening.

Pada ujung jembatan berdiri sebuah gardu segi delapan, dalam gardu terlihat ada dua orang sedang bermain catur.

Biarpun dari kejauhan tak nampak jelas paras muka kedua orang itu, namun dari dandanannya Yap Kay berani memastikan kedua orang itu adalah Tui hong siu dan Gwe-popo.

Waktu itu Gwe-popo sedang bertopang dagu sambil memegang sebiji catur, namun sampai lama belum juga diletakkan, kelihatannya nenek itu sedang berpikir posisi yang lebih tepat.

Sementara Tui hong siu sedang menatapnya dengan wajah tersenyum, bukan saja bangga, bahkan terkesan dia sedang mengejek pasangannya.

"Mau kau taruh kemana biji catur itu?"

Melihat sikap kedua orang itu, sekulum senyuman segera menghiasi wajah Yap Kay, dengan langkah lebar dia melalui pintu gerbang, menelusuri jembatan berliku sembilan dan menghampiri gardu segi delapan.

Angin berhembus sepoi, menimbulkan riak di air dan menyiarkan bau harum bunga yang semerbak, dunia serasa begitu tenang penuh kedamaian.

Biarpun sikap Tui hong siu dan Gwe-popo begitu santai penuh keriangan, namun ketika Yap Kay menghampiri kedua orang itu, tiba-tiba ia merasakan hawa tajam yang kuat seakan menghimpit dadanya, dia seperti sedang berjalan menghampiri dua bilah pedang yang tajam.

Senjata mestika selalu menimbulkan aora yang berbeda, begitu juga dengan jago persilatan yang memiliki ilmu silat tinggi, mereka pun memancarkan aora yang gampang membuat napas orang jadi sesak.

Gwe-popo dengan memegang biji caturnya masih saja termenung, sedang Tui hong siu mengawasi bininya sambil perlahan menikmati arak dalam cawan, jelas kemampuannya bermain catur jauh lebih tangguh ketimbang si nenek.

Sampai secawan arak telah habis diteguk, Gwepopo belum juga menurunkan biji caturnya, tibatiba Tui hong siu mendongakkan kepala memandang Yap Kay sekejap, lalu sambil menyodorkan cawan araknya dia menuding teko aneh yang terletak di meja.

Siapa pun pasti akan memahami maksudnya, dia minta Yap Kay menuang arak baginya.

"Kenapa aku mesti menuang arak untukmu?"

Jika orang lain, mereka pasti akan mencacimaki, bahkan bisa jadi tanpa banyak bicara akan berlalu dari situ.

Berbeda dengan Yap Kay, bukan saja dia tidak marah, bahkan benar-benar menghampiri meja dan mengambil poci itu.

Meski poci telah diambil, namun arak belum juga dituang.

Perlahan-lahan Yap Kay menggeser poci itu ke arah cawan, asal dia sedikit miringkan poci itu, arak niscaya akan mengalir keluar.

Siapa sangka pemuda itu justru sama sekali tak bergerak.

Tui hong siu sendiri pun tetap mengangkat cawannya di tengah udara, menanti dengan sabar.

Selama Yap Kay tidak bergerak, dia pun tak berkutik.

Tangan Gwe-popo yang memegang biji catur pun mendadak ikut tak bergerak.

Ketiga orang itu seakan-akan tersihir oleh kekuatan iblis yang maha dahsyat, kekuatan sihir yang mampu mencabut nyawa mereka, mengubah mereka seakan orang mati.

Dalam sekejap langit dan bumi seakan ikut membeku, semuanya berubah jadi mati.

Bab 6.

NENEK PENJUAL TELUR Teko sudah dimiringkan, namun arak belum juga mengalir.

Cawan telah di tangan, namun berhenti di tengah udara.

Biji catur di tangan, namun tak pernah diletakkan pada posisinya.

Kebun itu sangat luas, bukan saja terdapat pohon bambu, nampak pula aneka bunga, jembatan kecil, air mengalir, gunung-gunungan dan gardu indah, bahkan dihuni pula kelinci, burung bangau maupun kijang jinak.

Sayangnya semua kijang jinak maupun kelinci hanya terukir dari batu, ukiran itu begitu hidup.

Pepohonan yang hijau tumbuh begitu subur, aneka bunga memancarkan bau harum.

Siapa pun tak menyangka bahwa suasana dalam kebun monyet nampak begitu indah dan artistik.

Anehnya, tak terlihat seekor monyet pun berkeliaran di sana.

Baik yang besar kecil, muda tua, monyet jantan betina, monyet seperti apa pun tak nampak, Yap Kay benar-benar gagal menemukan seekor monyet pun.

Sesaat sebelum melangkah masuk ke dalam pintu, ia sudah menyadari hal ini, bukan saja tak nampak monyet, suara mencicit yang ramai dari kera-kera pun tak terdengar.

Dalam kebun monyet tak nampak monyet, apa sebenarnya yang telah terjadi?

Bayangan gardu segi delapan yang terpampang di tanah kian lama kian menyusut pendek, tengah hari telah tiba.

Sudah hampir tiga jam berlalu, namun Yap Kay bertiga belum juga bergerak, jangankan tubuhnya, ujung jari pun tak ada yang bergerak, semua orang terpantek dalam posisinya semula, bagaikan tiga buah arca marmer.

Bayangan yang membias di tanah kembali berubah, kini matahari sudah condong ke langit barat.

Sedikit saja tangan Yap Kay gemetar, arak bakal tertuang keluar, tapi tiga jam sudah berlalu begitu saja, tangannya masih tak bergerak, tetap terpantek bagaikan batu.

Mimik muka Tui hong siu yang semula tenteram, sinar matanya yang semula terselip nada ejekan, lambat-laun mulai terjadi perubahan, kini dia berubah jadi terperangah, kaget dan sedikit tak sabar.

Tentu saja dia tak tahu kegetiran yang sedang diderita Yap Kay saat itu.

Pemuda itu merasakan poci dalam genggamannya makin lama terasa makin berat, seolah-olah bobotnya telah berubah jadi ribuan kati, lengannya dari linu berubah jadi kaku, dari kaku berubah jadi sakit, sedemikian sakit bagaikan ada jutaan jarum yang sedang menusuk kulit lengannya.

Kulit kepalanya pun ikut sakit, sakit seperti ditusuk jarum tajam, peluh membasahi seluruh pakaiannya, tapi dia masih mengertak gigi, bersabar, bertahan, sekuat tenaga berusaha membuang jauh semua pikiran itu.

Karena dia tahu, situasi saat ini bertambah kritis, bagaimana pun juga dia tak boleh bergerak.

Walaupun tubuh mereka tak terlihat melakukan gerakan, namun serunya pertarungan yang sedang berlangsung justru berlipat kali lebih dahsyat daripada pertarungan menggunakan golok dan pedang.

Inilah pertarungan tenaga dalam, daya tahan, kekuatan tubuh serta kesabaran.

Pertarungan ini benar-benar duel yang berlangsung tenang, pertempuran berdarah yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sewaktu berada di luar gedung penerima tamu Ban be tong, Yap Kay memang pernah melakukan pertarungan tanpa wujud melawan Tui hong siu, namun pertarungan waktu itu jauh berbeda bila dibanding pertempuran kali ini.

Pertarungan sudah berlangsung sejak pagi hingga senja, enam jam sudah terlewatkan begitu saja, namun tak ada yang datang ke sana, bahkan tak seorang pun yang menengok jalannya pertarungan.

Masa di dalam kebun monyet yang begitu luas, hanya berdiam Tui hong -siu dan Gwe-popo berdua?

Atau pemilik tempat itu hanya memperhatikan diri sendiri, egois, sehingga apa pun yang dilakukan orang lain, biar mati maupun hidup, semuanya tak ada sangkut-paut dengannya, sama sekali tak perlu diperhatikan?

Kegelapan senja sudah menyelimuti seluruh jagad.

Entah sejak kapan dalam ruang tengah gardu segi delapan telah disulut cahaya lentera, lampion yang tergantung sepanjang beranda pun entah oleh siapa telah disulut semua.

Sinar lentera memancar dari kejauhan, menerangi wajah Tui hong siu.

Wajahnya nampak pucat-pasi, kulit mata mulai berdenyut keras tapi tangannya masih kaku bagai batu karang.

Yap Kay sendiri pun sudah kehabisan tenaga, nyaris roboh dan ambruk, rasa percaya dirinya mulai goyah, tangannya pun mulai goyang, dia tahu sulit baginya untuk bertahan lebih jauh.

Pada saat yang kritis itulah, mendadak Sret!" , terdengar suara desingan angin tajam, ternyata Gwe-popo telah menyambitkan biji caturnya dengan sekuat tenaga.

"Prang!" , biji catur itu langsung membelah mulut teko itu hingga hancur berantakan. Dengan pecahnya mulut teko, maka arak pun mengalir keluar memenuhi cawan. Ketika arak telah memenuhi cawan, Tui hong siu menarik kembali tangannya, perlahan-lahan menghirup isinya hingga habis, dia sama sekali tidak memandang lagi ke arah Yap Kay, walau hanya sekejap pun. Yap Kay sendiri pun segera meletakkan kembali poci itu ke atas meja, perlahan berjalan keluar dari gardu segi delapan, menelusuri jembatan dan berhenti di ujung jalan. Memandang kegelapan malam yang mencekam, melihat cahaya lentera yang bergantungan sepanjang serambi, tiba-tiba ia merasa semua begitu lembut, hangat dan penuh kedamaian. Ternyata bisa lolos dari kematian memang sebuah kejadian yang sangat menggembirakan. Hanya orang yang pernah terancam jiwanya, pernah lolos dari lubang jarum yang dapat menghargai nyawa sendiri. Ketika Yap Kay berpaling lagi ke arah gardu sudut delapan, Tui hong siu serta Gwe-popo yang semula berada di sana, kini sudah pergi entah kemana, yang tersisa hanya permainan catur yang belum selesai. Kini, di dalam halaman yang begitu luas tinggal Yap Kay seorang, kalau ada yang menemani, paling hanya suara air yang mengalir, mengalir abadi. Malam ini langit ada rembulan, terlihat pula bintang yang bertaburan di angkasa. Cahaya rembulan membiaskan bayangan tubuh Yap Kay di atas permukaan air, sambil termenung ia menundukkan kepala, mengawasi bayangan sendiri di atas percikan air, memandang dengan termangu. Pada saat itulah tiba-tiba ia merasa ada seseorang berjalan naik di atas jembatan, ketika berpaling, terlihatlah seseorang sedang berjalan menghampirinya. Orang itu amat sopan, gerak-geriknya lembut dan penuh aturan, pakaiannya rapi, mimik wajahnya lugu, ketika melakukan pekerjaan apa pun selalu meninggalkan kesan sopan, rendah hati dan hormat. Seorang pengurus rumah tangga keluarga kenamaan memang jauh berbeda bila dibanding seorang kasir di rumah makan atau losmen. Dengan lemah lembut dan sopan-santun orang menghampiri Yap Kay, kemudian setelah memberi hormat, ujarnya sambil tersenyum.

"Hamba Tio Kong memberi salam untuk tuan."

Biarpun senyuman Tio Kong sopan dan penuh rasa hormat, namun terkesan agak menjilat. Kembali katanya.

"Ong-loya khusus mengutus hamba untuk menyambut kedatangan tuan."

"Ong-loya? Ong-losiansing?"

"Benar."

"Kau tahu aku bakal kemari? Tahu siapakah aku?"

Kembali Yap Kay bertanya.

"Hamba tahu, Toaya adalah Yap Kay Yaptayhiap."

Setelah melempar sekulum senyuman, ia menyingkir ke samping sambil ujarnya lagi.

"Silakan, Ong-loya sedang menunggu di gedung utama."

Gedung utama terletak di bagian belakang kebun, gedung yang paling terang di antara sekian banyak bangunan.

Sambil tersenyum Yap Kay melangkah maju, setelah melewati Tio Kong, ia berjalan menuju ke arah gedung yang bermandikan cahaya, berjalan menuju ke masa depan yang tak diketahui bagaimana akhirnya.

Hari belum lagi gelap, Hong-ling sudah mulai sibuk di dalam dapur, menyiapkan makan malam.

Asap putih yang mengepul dari cerobong asap menimbulkan kabut putih menghiasi langit kelabu, menambah suasana kehangatan di rumah kayu itu.

Pho Ang-soat sedang duduk di bangku persis tengah halaman, dengan sepasang matanya yang kesepian ia sedang mengawasi Hong-ling di dalam dapur.

Kehidupan yang tenang, istri yang cantik nan saleh, keluarga yang harmonis, itulah kehidupan yang selalu didambakan seorang perantau, seorang petualang.

Pagi meninggalkan rumah, senja baru kembali.

Setiap petani pasti sudah berangkat ke sawah di saat fajar menyingsing, kemudian baru balik menjelang senja, dengan membawa tubuh penuh lumpur dan keletihan.

Sang istri yang saleh telah menyiapkan bermacam hidangan serta sepoci arak hangat, menemaninya bersantap, bahkan menemaninya meneguk barang satu dua cawan.

Sebuah kehidupan yang hangat dan mesra.

Sayang sekali kehidupan semacam ini ibarat menggapai bintang di langit, begitu jauh, begitu muskil untuk seorang pengembara, apalagi seorang petualang.

Sedemikian jauh dan remangnya kehidupan macam itu, membuat para pengembara seolah sudah lupa bahwa di dunia ini masih terdapat kehidupan seperti itu.

Andaikata perempuan yang sedang menyiapkan makan malam saat ini adalah kekasih hati Pho Ang-soat, bila rumah mungil di bukit ini adalah sarang mereka berdua yang hangat dan mesra, mungkinkah Pho Ang-soat rela melepaskan hidup mengembaranya dan melewatkan hari-hari dengan penuh keriangan?

Tiada seorang pun dapat menjawab pertanyaan itu.

Bahkan Pho Ang-soat sendiri pun tak mampu, bukan tak mampu, tapi enggan memikirkan persoalan itu, tak berani membayangkannya.

Karena itulah dengan cepat dia menarik kembali sinar matanya dan beralih memperhatikan keliningan di bawah emper rumah yang bunyi berdenting karena hembusan angin.

Keliningan itu memang sengaja dipasang Hongling di tempat itu.

Mengikuti hembusan angin bukit yang lembut, di tengah dentingan keliningan yang merdu, terendus bau hidangan yang harum dari balik ruang dapur.

Saat bersantap malam telah tiba, kembali satu hari lewat dengan cepatnya, dan sebentar lagi hari esok pun akan tiba.

Besok entah akan seperti apa?

Pertanyaan seperti ini pun termasuk hal yang tabu dipikirkan seorang pengembara.

Biarlah hari berlalu begitu saja, makanan yang bisa dinikmati secukupnya, minuman yang bisa diteguk hari ini, teguklah sepuasnya.

Sedang besok?

Biarlah menjadi urusan esok.

Hari ini masih bisa makan minum dengan puas di sebuah rumah makan mewah, bisa jadi besok sudah mampus dalam selokan, hari ini masih menjadi seorang lelaki yang paling romantis, siapa tahu besok menjadi pemabuk yang ditendang keluar dari rumah?

Hari ini masih seorang tuan besar yang kaya raya, siapa bisa menduga besok menjadi gelandangan yang mengenaskan di sudut jalan desa.

Dunia penuh perubahan, manusia mana yang bisa meramalkan hari esok?

Siapa yang bisa membayangkan bagaimana kehidupannya di hari esok?

Oleh karena itu sebagai manusia, belajarlah menikmati hari ini, baik-baik menggenggam saat ini, karena saat inilah merupakan kejadian yang paling nyata.

Jangan biarkan menyesal setelah kehilangan, menyesal mengapa tidak baik-baik menikmati masa lampau.

Bulan dan bintang masih tergantung di awangawang, malam semakin larut.

Selesai menyiapkan piring dan mangkuk untuk makan, Hong-ling meninggalkan dapur menuju halaman depan, ia bermaksud memanggil Pho Ang-soat untuk bersantap malam.

Saat itulah tiba-tiba ia saksikan ada seorang nenek berambut putih, dengan tangan kiri memegang tongkat, tangan kanan menjinjing sebuah bungkusan kain hijau berjalan tertatihtatih mendekati rumah mereka, punggung nenek itu bongkok.

Melihat munculnya si nenek, dengan kening berkerut Hong-ling segera bertanya.

"Apakah sekitar tempat ini masih ada keluarga lain?"

"Tidak ada,"

Sahut Pho Ang-soat hambar.

"kalau ada pun yang terdekat tujuh-delapan li di bawah bukit sana."

Hong-ling tidak bertanya lagi. Sementara itu si nenek sudah tiba di halaman luar, dengan napas yang masih tersengal dan tertawa paksa, katanya.

"Tuan nyonya berdua, apakah mau membeli telur ayam?"

"Telur ayammu masih segar?"

Tiba-tiba Hongling bertanya sambil tertawa.

"Tentu saja masih segar,"

Jawab nenek itu sambil tertawa.

"kalau tak percaya coba rabalah, masih hangat malah."

Nenek itu masuk ke halaman dalam, berjongkok dan membuka bungkusan kain hijaunya, benar saja isi bungkusan itu adalah telur ayam yang besar dan bulat.

Sambil memungut sebutir telur ayam, kembali ujarnya sambil tertawa.

"Telur ayam yang masih segar paling enak langsung ditelan isinya atau direbus...."

Tiba-tiba paras muka nenek itu mengejang keras, tangannya diangkat secara mendadak seolah akan melemparkan telur itu, tapi belum sempat dilakukan, tubuhnya sudah roboh terjungkal.

Begitu nenek itu roboh terkapar, tampak sesosok bayangan hitam meloncat keluar dari balik semak belukar, dengan tiga kali lompatan sudah masuk ke tengah halaman, kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun bayangan tadi menyambar bungkusan milik si nenek yang berisi telur ayam dan dibuang jauh-jauh ke balik kegelapan.

"Blam!" , ledakan keras bergema memecah keheningan, semburan cahaya api bercampur pasir dan ranting pohon berhamburan ke tengah udara. Menanti cahaya api mulai surup dan pasir rontok ke tanah, orang berbaju hitam itu menghembuskan napas panjang seraya bergumam.

"Sungguh berbahaya."

Berubah hebat paras muka Hong-ling, saking kagetnya dia sampai tak mampu berkata-kata, hanya matanya masih menatap si nenek yang terkapar di tanah tanpa berkedip.

Pho Ang-soat sama sekali tidak bereaksi, dia masih berdiri di sana dengan wajah dingin, sepasang matanya yang hambar masih mengawasi suatu tempat di balik kegelapan.

Dalam pada itu orang berbaju hitam itu telah membalikkan badan, berhadapan dengan Pho Ang-soat, tegurnya.

"Masa kau masih belum tahu siapakah nenek itu?"

Pho Ang-soat menggeleng. Mendadak orang berbaju hitam itu merendahkan suaranya dan berbisik.

"Dia adalah pembunuh gelap yang diutus Ban be tong untuk membunuhmu."

"Ban be tong?"

"Benar, aku...."

Belum selesai orang berbaju hitam itu bicara, mendadak tubuhnya mengejang keras, paras mukanya berubah hebat dan darah segar menyembut keluar dari ujung bibirnya, begitu darah mengucur, dalam waktu singkat telah berubah menjadi hitam pekat.

Menyaksikan peristiwa itu, berubah hebat paras muka Hong-ling.

Orang berbaju hitam itu telah roboh ke tanah, sepasang tangannya menekan perutnya, sambil meronta dengan sepenuh tenaga, serunya.

"Cepat... cepat... dalam sakuku terdapat obat penawar racun... cepat... cepat Baru saja Hong-ling hendak mendekat, tiba-tiba Pho Ang-soat menarik tangannya dan mencegah perempuan itu. Paras muka orang berbaju hitam itu berubah makin menderita, jeritnya.

"Tolong... tolonglah aku... kumohon... cepat... cepat... sebentar lagi bakal terlambat...."

Pho Ang-soat sama sekali tidak bergeming, ditatapnya orang itu dengan pandangan dingin, jengeknya ketus.

"Kalau memang obat penawar berada dalam sakumu, mengapa tidak kau ambil sendiri?"

"Masakah tidak kau lihat, dia sudah tak sanggup bergerak,"

Seru Hong-ling panik.

"apakah kita hanya berpeluk tangan saja melihat orang itu sekarat?"

"Benarkah begitu?"

Tiba-tiba Pho Ang-soat tertawa dingin.

"dia tak bakal mampus."

Mendengar perkataan itu, sekali lagi paras muka orang berbaju hitam itu mengejang keras, mendadak secepat anak panah yang terlepas dari busur dia melompat bangun dari atas tanah lalu mengayunkan tangan berulang kali, tujuh titik cahaya bintang segera melesat ke depan dengan cepat.

Si nenek yang semula sudah mati terkapar pun tiba-tiba ikut melompat bangun, tangannya diayun ke depan, dua butir telur ayam telah disambitkan ke arah mereka.

Perubahan yang terjadi sangat mendadak dan di luar dugaan ini seketika membuat Hong-ling terperangah.

Sementara itu Pho Ang-soat kembali tertawa dingin, bukan saja dia tak menghindar, sebaliknya malah maju menyongsong, tak jelas bagaimana dia bergerak, tahu-tahu kedua butir telur ayam itu sudah jatuh ke tangannya dan masuk ke dalam saku.

Sedang ketujuh cahaya bintang yang disambitkan orang berbaju hitam telah ditangkis tangan kiri Pho Ang-soat.

"Trang, trang, trang!" , ketujuh senjata rahasia itu menancap semua di atas sarung golok. Gagal dengan serangan pertamanya, si nenek melejit dan bersalto beberapa kali di udara kemudian merangsek ke depan. Tapi sebelum tubuhnya melayang turun ke tanah, mendadak ia temukan Pho Ang-soat telah menanti tepat di hadapannya. Biarpun kaget, nenek itu tak sampai kalut, sepasang kepalannya disodokkan ke muka berbarengan, satu mengancam jalan darah Thayyang-hiat di sisi kiri kening Pho Ang-soat sedang yang lain menghantam kening sebelah kanan. Biarpun serangannya cukup cepat, namun sebelum kepalannya menyentuh sasaran, telapak tangan Pho Ang-soat telah menerobos melalui sela kedua kepalannya, lalu menghantam ke dadanya.

"Plok!" , hanya satu tepukan ringan. Biar tampaknya ringan, namun tubuh nenek itu seakan sudah terpantek di atas tanah, sepasang lengannya terkulai lemas, tubuh pun tak mampu bergerak, kemudian dia pun mendengar suara tulang-belulang yang terhajar remuk. Kini baru dia dapat melihat Pho Ang-soat yang semula masih berdiri di hadapannya, tiba-tiba sudah muncul di hadapan orang berbaju hitam itu dan menggunakan lengan sebelah sedang menjepit tubuh rekannya itu. Begitu dijepit kemudian dilepas, sekujur badan orang berbaju hitam itu pun seolah berubah jadi segumpal lumpur lunak, bersamaan dengan hancurnya tulang, darah segar berhamburan kemana-mana. Bukan hanya hancuran tulangnya yang menembus pakaian, darah pun bagai pancuran air membasahi sekujur badannya, perlahan-lahan ia roboh tak berkutik. Dengan pandangan dingin Pho Ang-soat mengawasi lawannya, dia bediri seakan sedang melamun, seolah sepanjang hidup baru pertama kali ini menyaksikan ceceran darah. Dalam pada itu si nenek masih berdiri dengan tubuh gemetar keras. Entah dikarenakan pengaruh pukulan Pho Angsoat yang aneh atau karena dinginnya hembusan angin malam, atau mungkin juga lantaran suara tulang belulang yang hancur berantakan, tiba-tiba nenek itu berubah bagaikan seorang anak yang baru terjaga dari mimpi seram. Pho Ang-soat berpaling, memandang dengan sorot mata dingin. Tak kuasa lagi nenek itu merinding sekujur badannya, setengah menggigil serunya terbatabata.

"Aku... aku adalah nenek yang sudah berusia delapan puluh tahun... masa... masa kau tega membunuhku?"

Pho Ang-soat sama sekali tidak bicara, mendadak dia jambak rambut si nenek yang telah beruban itu dan membetotnya, rambut berikut kulit wajah pun segera terbetot lepas hingga kini muncul seraut wajah lain di muka si nenek.

Dia adalah seorang pemuda berwajah kurus kecil, berwarna agak kuning dan masih sangat muda, kini berdiri dengan muka ketakutan.

Perubahan yang sangat mendadak itu kembali membuat Hong ling tertegun, dia tak habis mengerti, darimana Pho Ang-soat bisa tahu nenek itu adalah hasil penyamaran.

Dalam pada itu Pho Ang-soat telah menatap dingin pemuda yang sedang ketakutan itu, tegurnya kemudian.

"Tahukah kau siapa aku?"

"Aku... aku tahu,"

Jawab pemuda itu dengan bibir menggigil.

"Kalau begitu seharusnya kau pun tahu, paling tidak aku memiliki tiga puluh macam cara untuk membuat kau menyesal karena pernah dilahirkan di dunia ini."

Setengah memaksakan diri pemuda itu manggut-manggut, kini paras mukanya telah berubah jadi pucat tak berdarah.

"Kalau begitu aku ingin bertanya."

"Akan... akan kujawab...."

Buru-buru pemuda itu memberikan j anj inya.

"Kau anak buah Hoa Boan-thian atau Hun Caythian?"

"Dari kelompok Hoa-tongcu."

"Kali ini berapa orang yang diutus kemari?"

Kembali Pho Ang-soat bertanya.

"Termasuk Hoa-tongcu dan Hun-tongcu, semua berjumlah tujuh orang."

"Lantas dimanakah kelima orang rekanmu itu sekarang?"

"Aku tidak tahu,"

Pemuda itu menggeleng.

"aku benar-benar tidak tahu."

"Berada dimana mereka sekarang?"

"Ada di kaki bukit... mereka sedang menunggu kami...."

Belum sempat pemuda itu menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba terdengar lagi suara remuknya tulang belulang.

Ia mendengar suara remuknya tulang di tubuh sendiri.

Selesai membasuh tangan, sikap Pho Ang-soat telah kembali dalam kehambaran, dengan tenang ia duduk sambil bersantap, seolah tak pernah terjadi apa-apa di situ.

Hong-ling menyuap nasi, lalu meletakkan sumpitnya, tegurnya sambil menatap pemuda itu.

"Kau tega untuk melanjutkan bersantap?"

"Tentu saja,"

Jawab Pho Ang-soat tenang.

"kalau kau pernah merasakan bagaimana orang yang sedang kelaparan, pasti dapat kau habiskan nasi itu."

"Kau tidak kuafir orang-orang Ban be tong akan menyerbu kemari lagi?"

Kembali Hong-ling bertanya.

"Tidak mungkin, sekarang tak mungkin terjadi, sebelum mereka berhasil melacak keadaan kita yang sebenarnya, tak nanti mereka berani bertindak secara gegabah, tenangkan saja hatimu."

Kembali Pho Ang-soat menyumpit sepotong daging, menanti ia selesai mengunyah dan menelannya baru ujarnya lagi.

"Sebelum hari menjadi terang, tak mungkin mereka menyerang kita lagi."

Begitu melangkah masuk ke ruang tengah, Yap Kay segera dapat merasakan Ong-losiansing dari kebun monyet pasti bukan seorang tokoh yang sederhana.

Dari perabot, tata letak serta ornamen yang terdapat dalam ruangan, dapat terlihat bagaimanakah watak serta perangai pemiliknya.

Ruang itu tidak terlampau lebar, perabot maupun ornamen di situ pun bukan termasuk model yang kelewat mewah, tapi hampir semuanya artistik dan indah.

Hampir semua perabot mendatangkan kesan nyaman bagi yang melihatnya, bahkan cara penggunaannya gampang dan sederhana, tidak memberikan kesan ketersediaan benda itu mubazir atau berlebihan.

Begitu pula dengan manusianya.

Kesan yang ditimbulkan Ong-losiansing pun bukan semacam kesan yang menyebalkan, memberi perasaan tercengang.

Bertemu dengan orang ini, kau seakan merasa sedang berada dalam sebuah kota kecil yang tenang, melihat seorang kakek yang penuh kasih dan lembut sedang bermain dengan cucunya.

Biarpun usianya sudah sedikit lebih lanjut, tapi dia masih dapat membantumu momong anak, bahkan terkadang di waktu senggang dia pun masih bisa membantumu melakukan pekerjaan ringan.

Terhadap orang semacam ini, apakah kau akan menganggap dia adalah orang yang muzabir?

Begitulah kesan pertama Yap Kay ketika pertama kali berjumpa Ong-losiansing.

Biarpun sekarang ia duduk di kursi utama, namun tak akan kau jumpai sikap jumawa atau kesan takabur dari mimik mukanya.

Melihat Yap Kay berjalan masuk ke dalam ruangan, segera Ong-losiansing menampilkan senyuman ramahnya, lalu dengan suara bagai seorang kakek sedang memanggil cucunya dia berkata.

"Duduklah anak muda!"

Di tengah ruangan tersedia sebuah meja bundar yang besar, di meja hanya tersedia dua pasang mangkuk dan sumpit, tak ada hidangan, tak ada nasi.

Kelihatannya santap malam kali ini hanya disediakan untuk Yap Kay dan Onglosiansing berdua.

Karena tuan rumah telah memperlihatkan senyuman ramahnya, tentu saja Yap Kay tak dapat bersikap acuh.

Maka dia pun ikut tertawa, sambil tertawa duduk berhadapan dengan orang tua itu.

Hidangan belum juga tersaji, mungkin harus menunggu hingga kedatangan sang tamu.

Dan kini Yap Kay telah menempati posisinya, apakah hidangan boleh mulai disajikan?

Ketika Ong-losiansing menggapai sambil bertepuk tangan tiga kali, Yap Kay pun mendengar suara langkah manusia bergema sambil menyajikan hidangan.

Tapi begitu hidangan disajikan, Yap Kay langsung terperanjat.

Bukan terkejut karena hidangan yang disajikan tapi kaget lantaran tangan yang sedang menyajikan hidangan itu.

Benarkah itu sebuah tangan?

Tegasnya tangan itu bukan tangan manusia, tapi sepasang tangan berbulu yang memiliki bentuk seperti tangan manusia.

Begitu Yap Kay berpaling, dia pun dapat melihat dengan jelas wajah pemilik sepasang tangan berbulu itu.

Monyet!

Ternyata seekor monyet.

Rupanya yang menyajikan hidangan adalah seekor monyet.

Akhirnya ia berhasil juga melihat seekor monyet, namun Yap Kay tidak mengira monyet yang ada di kebun monyet ternyata telah terlatih hingga begitu hebat.

Setiap monyet menyajikan sepiring hidangan, mengaturnya jadi sederet dengan sangat teratur, begitu selesai meletakkan sayur, mereka pun tersenyum lebih dulu kepada Ong-losiansing sambil manggut-manggut, kemudian baru mengundurkan diri dari situ.

Sebagaimana diketahui, monyet terhitung binatang yang paling ribut dan ramai, tapi walaupun ada begitu banyak monyet di situ, ternyata tak terdengar sedikit suara pun, mereka begitu tenang dan teratur, setiap selesai menyajikan hidangan segera mundur kembali dengan teratur.

Bukan saja disiplin mereka bagaikan satu pasukan pembantu yang sudah terlatih, malahan cara kerja mereka jauh lebih rapi dan baik ketimbang pembantu biasa.

Menyaksikan kejadian itu, mau tak mau Yap Kay tertawa getir.

"Kalau dibilang monyet adalah nenek moyang manusia, sekarang aku mulai agak percaya,"

Katanya kemudian.

"Monyet memang jenis binatang paling pintar di antara sekian banyak jenis hewan, bukan saja mereka pandai meniru gerak-gerik manusia, cara berpikir serta tingkah-laku mereka pun mirip manusia,"

Ong-losiansing menjelaskan.

"coba kau kumpulkan satu kelompok monyet di satu tempat yang sama, maka perbuatan mereka yang paling pertama adalah perebutan kekuasaan."

"Berebut menjadi raja monyet?"

"Benar, bukankah sejak dilahirkan manusia pun sudah mulai melakukan perebutan dan pertikaian?"

"Ah, itu hanya terjadi pada segelintir orang,"

Protes Yap Kay tidak s epaham.

"Bukan hanya segelintir, tapi hampir semua manusia itu begitu. Hanya saja tujuan pertikaian mereka berbeda."

Setelah menuang secawan arak, Ong-losiansing melanjutkan.

"Ada yang bertikai untuk berebut kekuasaan, harta kekayaan, wanita, usaha dagang, kedudukan bahkan ada pula yang berebut hak hidup."

"Ada satu lagi, ada juga yang berebut karena emosi dan gengsi", Yap Kay menambahkan sambil tertawa.

"Betul. Oleh sebab itu tak ada manusia yang tidak mulai berebut sejak dilahirkan. Begitu dilahirkan, bukankah mereka mulai berjuang mempertahankan hidup? Kaum pedagang matimatian bekerja, banting tulang, memeras keringat, bukankah tujuannya untuk memperebutkan uang dan harta? Para penjudi mati-matian bertaruh, bukankah tujuan nya untuk meraih kemenangan? Seorang pelajar banting tulang bersekolah hampir sepuluh tahun, bukankah tujuannya pun untuk meraih kedudukan dan posisi."

Ia meneguk secawan arak, kemudian melanjutkan.

"Dan hari ini, kau khusus mendatangi tempat ini, bukankah tujuannya pun hanya untuk memperoleh pembuktian?"

"Pembuktian?"

"Pembuktian tentang dongeng yang mengatakan dalam kebun monyet terdapat ratusan jenis kera. Masakah kedatanganmu hanya bermaksud makan malam bersamaku?"

"Bagus, kau memang orang yang suka terus terang, kita wajib menghabiskan secawan arak."

Bab 7.

MONYET MEMETIK ALAT MUSIK Selembar kertas jendela, walaupun dapat menahan hembusan angin malam yang dingin, namun tak dapat membendung rasa dingin yang merasuk tulang.

Satu-satunya cara untuk mengusir rasa dingin hanyalah meneguk arak, oleh sebab itu arak sebotol besar sudah setengah di antaranya berpindah ke perut Yap Kay.

Ketika dia menghabiskan secawan lagi, Onglosiansing baru berkata.

"Apakah kedatanganmu hari ini dikarenakan cerita tentang makhluk berkepala manusia bertubuh monyet yang terdapat dalam kebun monyet ini?"

"Hal itu hanya salah satu di antaranya,"

Yap Kay manggut-manggut. Kemudian sambil menatap tajam Ong-losiansing, lanjutnya.

"Ada seorang sahabat kecil yang agak bengal dan nakal, bernama Giok-seng. Apakah dia telah memasuki wilayah kekuasaanmu?"

Ong-losiansing tidak langsung menjawab pertanyaan itu, perlahan dia penuhi dulu cawannya dengan arak, perlahan mengangkat cawan dan meneguknya dengan sangat lamban, kelihatan ia sedang putar otak memikirkan pertanyaan itu.

Ketika isi cawan habis diteguk, baru ia berpaling ke arah Yap Kay sambil menyahut.

"Percayakah kau pada kata-kataku perkataanku?"

"Percaya."

"Baiklah,"

Kata Ong-losiansing sambil meletakkan cawannya.

"aku tidak tahu."

"Tidak tahu?"

"Benar. Sebab selama beberapa hari belakangan ini aku tidak berada di kebun monyet,"

"Kau tidak berada di sini?"

"Walaupun aku menyukai monyet, bukan berarti monyet bisa datang sendiri kemari,"

Kata Ong-losiansing sambil tertawa.

"oleh karena itu setiap jangka waktu tertentu, aku pasti akan keluar rumah, pergi ke berbagai tempat untuk mengumpulkan monyet."

"Kapan terakhir kali kau pergi meninggalkan rumah?"

"Sejak tiga bulan lalu, sampai di rumah baru lima hari lamanya,"

Kata Ong-losiansing sambil tertawa.

"oleh sebab itu apakah sahabat kecilmu itu pernah kemari atau tidak, aku sama sekali tidak tahu."

"Mungkinkah di saat kau tak ada di tempat...."

"Tidak mungkin,"

Tukas Ong-losiansing.

"andai terjadi peristiwa semacam itu, aku pasti tahu. Pembantuku pasti akan memberi laporan kepadaku."

Karena tuan rumah telah menyangkal, tentu saja Yap Kay tak dapat berbuat lain kecuali tertawa.

"Hahaha, berarti si setan nakal itu bersembunyi di tempat lain?"

Ong-losiansing ikut tertawa, sejenak kemudian baru ia berkata.

"Apakah kau pun ingin tahu si makhluk berkepala manusia bertubuh monyet itu sebetulnya asli atau palsu?"

"Bagaimana pun toh aku sudah tiba di sini, untuk memenuhi rasa ingin tahuku, tentu saja paling baik kalau bisa membuktikan."

"Setiap orang tentu memiliki perasaan ingin tahu, hanya saja tidak semua rasa ingin tahunya bisa terpenuhi."

Sambil tertawa orang tua itu bertepuk tangan sebanyak tiga kali.

Dalam sangkaan Yap Kay, sebentar lagi akan muncul kembali sekawanan monyet, maka dia membelalakkan matanya lebar-lebar dan menengok ke arah pintu dimana monyet yang menyajikan hidangan berlalu tadi.

Oleh karena Ong-losiansing sudah setuju untuk memenuhi rasa ingin tahunya, dia sangka orang tua itu pasti akan mengundang keluar lagi kawanan monyet itu dan mempersilakan dia membuktikan apa benar makhluk itu berkepala manusia bertubuh monyet.

Belum sempat dia mengajukan pertanyaan, tiba-tiba terdengar suara alat musik bergema memecah keheningan.

Irama musik apakah itu?

Apakah musik dari dewa-dewi?

Pernahkah manusia mendengar suara irama musik seperti ini?

Bila ada semacam irama musik yang dapat melumerkan perasaan hati manusia, bahkan dapat membuat tubuh seseorang terlebur menjadi satu dengan suara musik, seharusnya irama musik semacam ini pantas disebut irama dewa.

Biarpun munculnya suara musik di saat dan situasi seperti ini sempat membuat Yap Kay terperangah, namun dengan cepat ia sudah terbuai ke dalam alunan irama itu.

Biarpun Yap Kay tidak pandai memetik alat musik, bahkan tujuh nada dasar pun tidak dikenal, akan tetapi dia bisa menikmati, bagus atau buruk pun masih mampu dibedakan.

Irama musik yang bergema secara tiba-tiba itu mungkin belum terhitung sebagai irama dewa, tubuh Yap Kay pun belum terlebur jadi satu, tapi dia merasa hampir mabuk, ia dapat merasakan nada yang memabukkan.

Bukan mabuk karena arak tapi nalurinya yang mabuk, irama musik itu jauh lebih memabukkan daripada arak yang keras.

Walaupun Yap Kay telah berada dalam buaian irama musik, tapi otaknya berputar terus, bukankah Ong-losiansing ingin memuaskan rasa ingin tahunya?

Mengapa tidak ia undang keluar monyet berkepala manusia itu, sebaliknya malah memperdengarkan irama musik yang merdu?

Apakah menjelang munculnya monyet berkepala manusia itu harus diiringi dulu dengan irama musik?

Berpikir sampai di situ, tak tahan lagi Yap Kay tertawa getir, siapa tahu makhluk berkepala manusia bertubuh monyet ini memang agak istimewa, harus diiringi musik dulu baru tampil....

Memutus permainan musik di tengah jalan bukan sebuah tindakan yang sopan, selama hidup Yap Kay tak pernah melakukan perbuatan yang tak sopan.

Untung saja selama apa pun permainan sebuah musik, pasti ada pula saatnya untuk berhenti.

Akhirnya permainan musik itu berakhir, namun suaranya masih menggema di ruangan.

"Walaupun belum terhitung irama surga, paling tidak masih termasuk musik merdu bukan?"

Kata Ong-losiansing tiba-tiba.

"Bukan sekedar irama musik merdu saja,"

Sahut Yap Kay sambil tertawa pula.

"Ingin menyaksikan orang yang memetik alat musik itu?"

"Ingin sekali."

Biarpun di mulut mengatakan ingin sekali, padahal hati kecilnya panik setengah mati.

"Bukankah kau ingin memperlihatkan monyet berkepala manusia? Kenapa malah dialihkan ke soal orang yang memainkan alat musik itu?"

Melihat kesungguhan hati tuan rumah, sudah barang tentu sebagai tamu dia tidak ingin menampik kebaikan orang, lagi pula apa ruginya menonton sebentar pemain alat musik itu?

Kali ini Ong-losiansing tidak bertepuk tangan, dengan tangan kirinya ia tepuk tiga kali sandaran bangkunya, kemudian Yap Kay pun mendengar suara gigi roda yang bergesek.

Mengikuti suara gesekan itu, Yap Kay melihat dinding arah asal suara musik tiba-tiba bergerak turun ke bawah.

Ketika seluruh dinding telah bergeser ke bawah, kesan pertama yang terlihat di balik dinding adalah ada sekelompok anak-anak sedang bermain alat musik.

Namun ketika dilihat lebih seksama, kembali Yap Kay berpikir.

"Ah, tidak benar. Ternyata sekelompok monyet yang sedang bermain alat musik."

Menanti ia dapat melihat lebih jelas lagi, Yap Kay nyaris menjerit tertahan saking terperangahnya.

"Monyet apa? Ternyata sekawanan monyet berkepala manusia."

Benar-benar sekawanan makhluk berkepala manusia bertubuh monyet!

Akhirnya ia saksikan sendiri apa yang selama ini hanya terdengar lewat dongeng.

Lantas kelompok itu sepantasnya disebut monyet?

Atau kelompok manusia?"

"Apakah mereka adalah... adalah monyet?"

Tanya Yap Kay setelah termangu sesaat.

"Mereka memang monyet,"

Senyuman Onglosiansing kelihatan sangat ramah.

"Lantas kenapa mereka memiliki kepala manusia?"

"Kepala manusia? Coba kau perhatikan lebih seksama."

Yap Kay tidak mengerti maksud perkataan Ong-losiansing, maka kembali ia amati kawanan makhluk itu.

"Coba perhatikan lebih seksama,"

Onglosiansing mengulangi perkataannya sekali lagi.

"Apa yang kau perhatikan?"

"Kepala mereka."

Yap Kay bukannya tak pernah melihat bentuk kepala manusia, mengapa berulang kali Ong-losiansing minta padanya memperhatikan lebih seksama?

Apakah pada bagian kepala manusia makhluk makhluk itu masih tersimpan rahasia lain?

Biarpun kepala manusia yang berada di tengkuk kawanan monyet itu nampak jauh lebih kecil, tapi sudah jelas merupakan kepala manusia, dilihat dan diperhatikan berulang kali pun tetap kepala manusia, tak salah lagi!

"Coba dekati mereka,"

Tiba-tiba Ong-losiansing menyarankan.

Tak usah disuruh pun Yap Kay sudah melangkah maju dan mendekati kawanan makhluk itu, tapi begitu tiba di dekat mereka, rasa bingung dan ragu semakin tebal memancar dari matanya, mukanya juga penuh diliputi perasaan sangsi.

Pertama, karena baru pertama kali melihat, kedua, jaraknya pun terlalu jauh, Yap Kay selalu menganggap kepala monyet itu termasuk jenis kepala manusia.

Tapi kini, setelah ia semakin dekat, Yap Kay baru menemukan bahwa kepala kawanan monyet itu ternyata hanya bentuknya yang mirip kepala manusia.

Kepala mereka tetap kepala monyet, cuma bulunya telah dicukur hingga bersih sehingga kalau dipandang dari kejauhan, kepala mereka mirip kepala manusia.

Setelah mengetahui kejadian yang sebenarnya, tak kuasa lagi Yap Kay tertawa terbahak-bahak.

"Sekarang aku baru paham, ternyata semua isu memang belum tentu bisa dipercaya, karena terpengaruh oleh opini yang salah, maka kita selalu menganggap sesuatu yang mirip menjadi hal yang benar."

Lalu katanya lagi.

"Coba kalau aku tidak mendengar dulu tentang dongeng kepala manusia bertubuh monyet, ditambah lagi sikap dan gerakgerikmu selama ini sangat rahasia, mungkin aku tak bakal tertipu oleh kawanan monyetmu itu."

"Monyet memang nenek moyang manusia, jadi bila wajah seorang dipenuhi bulu, bukankah dia pun akan kau sebut seekor monyet?"

Sahut Onglosiansing sambil memenuhi kembali cawannya dengan arak.

"Biar bukan pun paling tidak wajahnya mirip monyet."

"Karena itulah kawanan monyet yang kau saksikan sekarang sesungguhnya adalah monyet berkepala manusia. Selama ini banyak dongeng yang tersiar tentang tempat ini, hal ini disebabkan jarak antara masyarakat dengan kami kelewat jauh."

Setelah berhenti sejenak dan meneguk secawan arak, kembali katanya.

"Seandainya aku sering berkunjung dan bertandang ke rumah penduduk, bila aku pun tidak kelewat menutup diri dari pergaulan, aku percaya isu yang beredar di luaran pun tak bakal banyak."

Menyebar Isu memang watak asli setiap manusia, watak yang dibawa sejak lahir.

Menyusul dinaikkannya dinding pemisah, kawanan monyet itu pun terasing kembali dari keramaian duniawi.

Sementara itu Yap Kay telah kembali ke tempat duduknya, duduk sambil meneguk arak dan tertawa.

"Mungkin hanya manusia kreatip macam Onglosiansing yang punya pikiran untuk mencukur kelimis rambut di wajah kawanan monyet itu,"

Katanya.

"Aku hanya berpikir, jika memang mereka ingin belajar bertingkah sebagai manusia, sepantasnya bila wajah mereka pun dibikin sedikit lebih mirip manusia."

Tiba-tiba Yap Kay mengalihkan topik pembicaraan, tanyanya.

"Ong-losiansing, bagaimana pendapatmu tentang kelompok manusia seperti Be Khong-cun?"

"Be Khong-cun?"

Tanya Ong-losiansing melengak.

"maksudmu Be Khong-cun dari Ban be tong?"

"Benar."

Ong-losiansing tidak menanggapi, dia termenung sejenak baru perlahan-lahan menyahut.

"Walaupun aku sangat memahami tentang monyet, sayang tidak mengerti tentang manusia."

Sekali lagi ditatapnya wajah Yap Kay, kemudian ujarnya lebih jauh.

"Walaupun aku sempat bertemu Be Khong-cun dua-tiga kali, namun sayang aku tak terlalu memahami tabiat serta sepak terjangnya."

"Lantas kenapa kau bersedia merawat putrinya?"

Tanya Yap Kay sambil menatap tajam wajahnya.

"Putrinya?"

Perasaan sangsi sempat melintas di wajah Ong-losiansing.

"sejak kapan aku merawat putrinya?"

"Aku mendengar pengakuannya dengan mata kepala sendiri, dia bilang pernah sepuluh tahun berdiam di sini."

"Ah, dia bukan putri Be Khong-cun,"

Sanggah Ong-losiansing.

"gadis itu bernama Pek Ih-ling, putri Pek Thian-ih."

"Oya? Aku masih mengira dia adalah Be Hongling, putri Be Khong-cun."

Sinar mata Yap Kay tak pernah beralih dari wajah Ong-losiansing, desaknya lagi.

"Sungguh aneh, kenapa paras muka mereka berdua begitu mirip? Pada hakikatnya kedua orang itu mirip sekali seperti satu orang yang sama."

"Aku belum pernah bertemu dengan putri Be Khong-cun, karena itu tidak tahu seberapa mirip wajah mereka berdua. Aku hanya tahu satu hal, Pek Ih-ling adalah seorang gadis yang baik."

Kemudian sambil balas menatap Yap Kay, katanya lebih jauh.

"Oleh karena itu calon suami yang dipenujui harus kuperiksa dulu identitas serta sepak-terjangnya dengan seksama."

"Tentu saja harus begitu,"

Sekali lagi Yap Kay tertawa tergelak.

"untung saja bukan aku yang terpilih, kalau tidak, Ong-losiansing pasti akan sangat kecewa."

"Kenapa?"

"Sebab aku pasti tak lulus dari seleksimu, bukan saja aku kelewat miskin, bahkan tak punya prinsip hidup, lelaki jelek macam aku mana pantas mempersunting seorang gadis baik macam dia?"

"Oya? Benarkah kau adalah manusia semacam itu?"

"Tanggung tak bakal salah. Satu-satunya kelebihan yang kumiliki adalah aku sangat pandai melihat diriku sendiri, oleh karena itu aku tak pernah ingin menjadi seekor katak buduk yang merindukan rembulan."

"Mana mungkin terdapat katak buduk macam kau?"

Mendengar perkataan itu, kembali Yap Kay tertawa.

Dia memang selalu percaya diri, khususnya terhadap kelebihan sendiri.

Sekalipun belum terhitung sebagai lelaki paling tampan di kolong langit, namun ia tak bisa lari dari predikat sebagai lelaki paling memiliki daya tarik.

Baru saja Yap Kay meneguk araknya, mendadak ia tangkap suara guduh, belum sempat ia melacak sumber kegaduhan, tiba-tiba dilihatnya ada seekor monyet sedang melompat naik ke atas meja, lalu berlarian di atas meja itu.

"Ada apa dengan monyet itu?"

Tanya Yap Kay segera dengan keheranan.

"Mungkin saja sifat binatangnya kambuh."

Kembali Yap Kay berpaling mengawasi monyet yang berada di atas meja itu, siapa tahu baru saja ia berpaling, tiba-tiba terlihat monyet itu sudah menerkam Yap Kay dengan garang.

Cepat dia mengegos ke samping, biarpun wajahnya berhasil lolos dari cakaran monyet itu, namun tak urung cawan yang berada dalam genggamannya kena diterjang kaki monyet tadi hingga terlepas jatuh dan hancur berantakan.

Cepat Yap Kay menarik kembali tangannya, ketika berpaling lagi ke arah monyet itu, tampak hewan tadi sudah menerobos lewat daun jendela dan melarikan diri.

"Apakah kau terluka?"

Tanya Ong-losiansing penuh rasa kuatir.

"Ah, tidak apa-apa,"

Sahut Yap Kay setelah memeriksa tangan sendiri.

"hanya ujung jariku tersayat sedikit kena pecahan cawan."

"Parahkah mulut lukamu?"

"Mulut luka tidak masalah, hanya sekarang malam semakin larut, sudah kelewat lama aku mengganggumu."

Yap Kay bangkit berdiri lalu menambahkan.

"Aku berharap lain waktu masih ada kesempatan untuk berbincang lagi denganmu."

"Aku akan selalu menanti."

Sepeninggal Yap Kay, Ong-losiansing masih tetap duduk di tempat semula, sama sekali tak bergerak.

Senyuman ramahnya ikut lenyap tak berbekas, sebagai gantinya mimik muka itu diliputi pikiran yang serius.

Lewat lama kemudian baru ia berseru.

"Masuk."

"Baik,"

Dari luar pintu terdengar seseorang menyahut.

Go Thian mendorong pintu, melangkah masuk, langsung menuju ke samping Ong-losiansing dan dengan tenang menanti perintahnya.

Dengan sangat hati-hati Ong-losiansing mengumpulkan pecahan cawan itu, lalu dengan serius mengawasi bekas darah yang tercecer, bekas darah yang ditinggalkan Yap Kay sewaktu tersayat pecahan cawan tadi.

"Cepat ambil contohnya dan lakukan pemeriksaan,"

Kata Ong-losiansing sambil menyodorkan pecahan cawan yang berlepotan darah itu ke tangan Go Thian.

"coba periksa darahnya termasuk golongan darah yang mana."

"Baik!"

"Beritahu kelompok darah, suruh mereka menambah stok darah dari golongan yang sama,"

Titah Ong-losiansing lagi.

"Baik!"

Ong-losiansing berpikir sejenak, lalu tanyanya lagi.

"Sekarang bagaimana keadaan monyet nomor tujuh?"

"Sedikit lebih normal, dia sudah tidak berusaha menghindari pertemuannya dengan nona Kim-hi."

Tampaknya Ong-losiansing merasa sangat puas, dia mengangguk berulang kali.

Bab 8.

PERTARUNGAN TAK PERLU DISESALI Fajar kembali menyingsing.

Di tengah sorotan cahaya fajar, warna hijau gelap perbukitan di kejauhan sana tampak mulai berubah jadi hijau muda, air segar mengalir hingga ke sana, mengalir sangat lambat.

Biarpun hembusan angin masih terasa dingin, namun membawa bau harum bunga yang semerbak, aneka bunga yang tumbuh di seputar perbukitan sudah mulai mekar, bunga yang berwarna-warni seolah mengelilingi dan memeluk kencang rumah kayu itu.

Pagi sekali Pho Ang-soat sudah bangun, ia sudah memotong kayu bakar di tengah halaman.

Walaupun tangannya sudah terbiasa menggenggam golok, namun ketika membelah kayu bakar, gerakannya tetap lincah, cekatan dan sangat indah.

Dengan ujung kaki ia mengijak kayu itu lalu tangan diayun, kapak pun jatuh persis di atas kayu.

"Kraak!" , batang kayu yang besar pun terbelah jadi dua bagian. Di tengah keremangan fajar, matanya seperti warna perbukitan nun di depan sana, hijau kelabu, terasa begitu jauh, begitu dingin. Mengapa matanya selalu tampak begitu jauh? Begitu dingin? Dlihat pada saat dan keadaan seperti apa pun? Mungkinkah hanya orang yang pernah berulang kali mengalami perjuangan mati hidup atau mengalami permainan perasaan antara cinta dan dendam, pandangan matanya baru nampak begitu jauh, begitu dingin? Mayat jagoan yang tewas semalam telah diangkut pergi, darah pun telah berbaur dengan tanah, membeku jadi satu. Langit dan bumi masih terasa begitu tenteram, begitu damai. Tapi Pho Ang-soat sadar, sejak hari ini jangan harap mereka akan merasakan lagi kehidupan yang aman damai seperti itu. Dia bukan termasuk orang yang takut mati, namun menghadapi ancaman bahaya yang berada di depan mata, sedikit pun dia tak punya pegangan ataupun gambaran, yang lebih penting lagi adalah ia mulai merasa dirinya mulai merindukan lagi kehidupan penuh kedamaian seperti yang baru dialaminya selama dua hari terakhir. Sebuah kehidupan normal dari sebuah keluarga. Hidup sebagai seorang pengembara sering terjerumus dalam situasi bahaya, kancah pertarungan dan ancaman nyawa, kehidupan normal boleh dibilang merupakan sesuatu yang langka, mewah dan susah diraih. Walaupun terkadang di saat mendusin dari tidur di tengah malam buta, mereka pun membayangkan suatu kehidupan yang normal, tapi biasanya mereka tak akan berani melakukannya di dalam kenyataan. Biarpun kehidupan normal dapat mendatangkan kegembiraan dan kebahagiaan, namun akan melumat dan menghancurkan kemampuan alam mereka yang luar biasa. Banyak manusia di dunia ini mirip binatang buas, memiliki kemampuan luar biasa, memiliki naluri membunuh yang tinggi, memiliki insting yang tajam, seakan setiap saat dapat mengendus datangnya mara-bahaya. Biarpun kenyataan mereka tak melihat apaapa, tidak mendengar apa-apa, tapi di saat ancaman bahaya tiba, mereka selalu dapat berkelit secara ajaib, menghindar sesaat sebelum datangnya ancaman itu. Bila orang semacam ini memangku jabatan, mereka pasti akan menjadi seorang pembesar luar biasa, bila berperang pasti akan menjadi panglima yang sering meraih kemenangan, bila terjun ke dalam dunia persilatan, mereka pun tentu akan menjadi Enghiong yang malang melintang di kolong langit. Cukat Liang, Koan Tiong. Mereka semua adalah jenis manusia semacam ini, karena itulah mereka mampu memikirkan keselamatan negara dan menjamin kesejahteraan seluruh rakyat. Han Sin, Gak Hui, Li Jing, mereka pun termasuk jenis manusia seperti ini, karena itulah kemampuan perang mereka luar biasa, selalu meraih kemenangan dan serangannya susah dibendung. Li Sun-hoan, Coh Liu-hiang, Thiat Tiong-tong, Sim Long, Nyo Cing, Siau Cap-it-long. Mereka pun tergolong manusia seperti ini, karena itulah mereka dapat malang melintang dalam Kangouw, meninggalkan nama harum dimana-mana, walau sudah lewat lama pun nama besar mereka tetap dikenang sebagai jagoan yang hebat. Kemampuan yang luar biasa itu dinamakan indra keenam. Kehidupan berkeluarga justru merupakan pembunuh paling hebat untuk mematikan indra keenam, itulah sebabnya kebanyakan pengelana enggan atau tak berani mencicipi kehidupan sebuah keluarga, sebab mereka harus tetap hidup dalam dunia persilatan. Tatkala Pho Ang-soat menyadari dalam hati kecilnya telah muncul ingatan seperti itu, dia pun sadar nyawanya setiap saat kemungkinan dapat musnah, namun dia tak menyangkal kalau kehidupannya selama beberapa hari ini adalah saat yang paling tenang dan menggembirakan sepanj ang hidupnya. Daripada hidup menderita sepanjang masa, mengapa tidak menikmati kehidupan yang layak selama beberapa hari? Kehidupan layak? Kehidupan harmonis? Selama beberapa hari? Bila dalam perjalanan hidup orang bisa menikmati kehidupan harmonis selama beberapa hari, sesungguhnya hal itu sudah lebih dari cukup. Itulah sebabnya walaupun Pho Ang-soat tahu hari ini bakal bertemu mara-bahaya, bahkan bisa jadi akan merenggut nyawanya, namun ia sama sekali tidak merasa ngeri ataupun takut. Seperti hari-hari yang lalu, dia tetap bangun pagi, membelah kayu bakar dan menunggu sarapan lezat yang disiapkan Hong-Iing. Sarapan? Mungkinkah sarapan ini merupakan sarapan terakhir? Cahaya matahari masih tetap cerah, secerah ribuan tahun yang lalu, aneka bunga tetap mekar, semekar ribuan tahun berselang, manusia pun tetap hidup, seperti kehidupan ribuan tahun yang lewat. Hanya satu yang berbeda, perasaan hati. Angin berhembus, dedaunan kering pun berguguran, meski masih musim panas, tetap ada daun yang gugur, seperti ada pula daun yang tumbuh di musim dingin. Daun masih berguguran, selembar, dua lembar, tiga lembar... semuanya berguguran ke tanah. Lambat-laun sinar matahari makin tinggi, keliningan yang tergantung di emper rumah berdenting mengikuti hembusan angin. Hong-ling yang terlelap tidur dalam kamar pun telah turun dari pembaringan, berjalan keluar rumah, menuju ke bawah keliningan di emperan bangunan.

"Pagi,"

Sapa Hong-ling lembut.

"Hari ini kau terlambat bangun,"

Sahut Pho Ang-soat hambar.

"Cahaya matahari sungguh indah,"

Gumam Hong-ling lagi setelah melihat sekelilingnya.

"hembusan angin pun sangat lembut."

"Hari ini pun merupakan hari yang cocok untuk membunuh orang,"

Tiba-tiba Pho Ang-soat mengucapkan perkataan itu. Hong-ling sama sekali tak terkejut, dia hanya tertawa manis.

"Aku percaya."

Kemudian setelah berhenti sejenak, tambahnya.

"Siapa pun yang bakal datang kemari hari ini, aku tetap percaya kau pasti mampu mengalahkan mereka."

Mendadak Pho Ang-soat berhenti membelah kayu bakar, perlahan bangkit, mendongakkan kepala dan menatap Hong-ling dengan matanya yang hitam tapi sayu.

Kemudian dengan nada sedingin hembusan angin salju katanya.

"Bila aku mati, bukankah keinginanmu terkabul?"

"Benar,"

Jawab Hong-ling tanpa berubah muka, senyumannya masih amat mesra.

"tapi bila aku sendiri yang menghabisi nyawamu."

Kemudian setelah tertawa lagi, lanjutnya.

"Masa kau lupa, aku datang kemari mengikutimu tak lain karena aku ingin membunuhmu dengan tanganku sendiri."

"Aku tidak lupa."

"Nah, bagaimana mungkin aku bisa gembira jika kau mati di tangan orang lain?"

"Benarkah begitu?"

"Maka dari itu aku percaya, siapa pun yang bakal datang hari ini, kau pasti mampu mengalahkan mereka, sebab aku pun tahu, kau tak bakal melakukan perbuatan yang bisa menimbulkan ketidak senangan hatiku."

"Benar, tak mungkin,"

Pho Ang-soat mengakuinya.

"Aku tahu,"

Senyuman Hong-ling semakin manis.

"maka sarapan pun telah kusiapkan."

"Nanti saja aku baru bersantap."

"Kenapa?"

"Karena aku takut ada orang yang bakal berebut denganku."

Biarpun ucapan itu ditujukan kepada Hong-ling, namun sinar mata Pho Angsoat telah dialihkan ke pintu di belakang tubuhnya.

Cepat Hong-ling mengalihkan sinar matanya mengikuti arah yang dipandang pemuda itu, terlihatlah ada tujuh orang sedang berjalan masuk ke dalam halaman dengan langkah perlahan.

Sinar matahari bertambah cerah, aneka bunga semakin mekar dan menyiarkan bau harum, angin masih berhembus, daun pun masih bergoyang, semua hawa dingin yang mencekam semalam lambat-laun bertambah larut bersama meningginya sang surya.

Tapi Pho Ang-soat merasa suhu di sekelilingnya telah merosot turun hingga ke titik beku, sebab ia telah melihat wajah orang pertama yang berjalan paling depan.

Orang itu mempunyai bentuk muka panjang, seperti muka kuda, wajahnya dipenuhi bisul sebesar kacang kedelai, matanya juga dipenuhi garis merah darah.

Ada orang yang sejak dilahirnya sudah bertampang bengis dan jahat, dia adalah salah satu di antaranya.

Sesudah memasuki halaman rumah dan memandang sekejap sekeliling tempat itu, gumamnya.

"Sebuah tempat yang indah, sungguh indah."

Di tengah halaman terdapat sebuah akar pohon yang besar, orang pertama tadi langsung duduk di sana, begitu duduk, dari belakang tubuhnya ia mengeluarkan sebuah gunting besar, lalu perlahan-lahan menggunting kuku jarinya.

Pisau gunting itu amat besar, beratnya mencapai tiga puluh lima kati, namun dalam genggamannya benda itu nampak begitu ringan, seringan rambut sang kekasih.

Pho Ang-soat kenal orang ini, panggilannya amat sederhana, orang menyebutnya sebagai Gunting satu kali, Cian It-ji.

Setiap korban yang terjatuh ke tangannya, maka seperti kuku di jari tangannya, sekali, gunting urusan pun beres.

Di antara pembunuh bayaran tesohor dalam dunia persilatan, dialah pembunuh yang paling banyak menghabisi nyawa korbannya, setiap kali membunuh, dia selalu melakukan pembantaian mendekati gila, begitu melihat darah, dia pun langsung kalap, kalap melakukan pembunuhan, kalap menjilat darah.

Orang kedua perlahan-lahan berjalan masuk, orang ini berwajah hijau tua, hidungnya berbentuk paruh elang, matanya liar bagaikan mata burung pemakan bangkai, dalam tangannya tergenggam sebilah pedang.

Cahaya pedang persis warna mukanya, membiaskan cahaya hijau tua, hijau daun yang mulai membusuk.

Sepintas dia memang tak terlihat ganas atau buas, tapi memberi kesan suram dan menggidikkan hati.

Bukankah suram terkadang memberi kesan jauh lebih buas, jauh lebih ganas dan menakutkan?

Di tengah halaman tumbuh sebatang pohon, begitu masuk ke dalam halaman, dia pun langsung merebahkan diri di bawah pepohonan yang rindang itu.

Sesudah berbaring baru ia menghela napas sambil bergumam.

"Sebuah tempat yang sangat indah, terhitung hokki juga bila dapat mati di tempat seperti ini."

Pho Ang-soat tidak kenal orang itu, tapi dia cukup mengetahui tabiatnya, orang ini selama hidup paling benci cahaya matahari.

Orang ini berjuluk Im hun kiam (si Pedang sukma suram) Sebun Say.

Tidak banyak orang persilatan mampu mengundangnya, apalagi menyewanya sebagai pembunuh bayaran.

Bayaran yang diminta untuk tugasnya sangat tinggi, tentu saja amat tak bernilai.

Dia jarang membunuh orang, bahkan jarang sekali turun tangan sendiri, semua korban yang harus dibunuh, kebanyakan sudah tidur abadi dalam peti mati.

Setiap kali membunuh, dia enggan ada orang lain menonton dari samping, karena terkadang dia sendiri pun menganggap cara yang dipakai untuk menghabisi nyawa orang kelewat sadis, kelewat kejam.

"Bila kau ingin membunuh seseorang, lakukanlah dengan cara yang paling hebat, agar korbanmu tak akan berani mencari balas walau telah berubah jadi setan gentayangan pun."

Itulah kata pertama yang sering diucapkan Sebun Say.

Orang ketiga dan orang keempat masuk bersama, siapa pun pasti mengetahui mereka berdua adalah saudara kembar, bukan saja raut wajahnya mirip, bahkan perawakannya, tinggi pendek kurus gemuk pun tak berbeda, mereka berdua sama-sama memelihara kumis yang rapi.

Setelah masuk ke dalam halaman dan memperhatikan sekejap seputar sana, serentak kedua orang itu pun berseru.

"Tempat yang sangat bagus, tempat yang benar-benar bagus, memang sangat hokki bila dapat mati di tempat seperti ini!"

Tentu saja Pho Ang-soat kenal mereka berdua, memang jarang umat persilatan yang tidak kenal sepasang saudara kembar itu. Auwyang Ting, Auwyang Tang.

"Ting Tang saudara kembar, makan daging sekaligus tulangnya" . Orang kelima terlihat sangat terpelajar, wajahnya putih bersih, orangnya halus dan ramah, kumis dipelihara sangat bersih dan beratur, dia berjalan masuk sambil menggendong tangan, bukan saja wajahnya dihiasi senyuman, sampai sorot mata pun menandakan senyuman. Dia tak bicara, tak nampak menggembol senjata, dandanannya tak beda dengan seseorang yang sedang datang menyambangi sahabat karibnya. Pho Ang-soat tidak kenal orang ini, tapi begitu melihat gerak-geriknya, tiba-tiba saja terasa hawa dingin yang menggidikkan muncul dari dasar telapak kakinya dan tembus hingga ke hulu hati. Orang itu hanya berdiri di halaman dengan senyum di kulum, tidak gelisah, tidak terburuburu, tidak pula berbicara, seakan baginya mau menunggu sampai tiga hari tiga malam pun tidak menjadi masalah. Seorang pelajar yang begitu halus, lembut dan ramah penuh sopan-santun, mungkinkah dia pun seorang pembunuh? Pho Ang-soat yakin, sekalipun keempat orang pertama bergabung jadi satu pun belum tentu kemampuan mereka mampu mengalahkan orang terpelajar ini. Mengamati gerak-geriknya yang halus penuh sopan-santun, mendadak Pho Ang-soat teringat akan sesuatu.

"Lembut, sangat lembut, lambat, sangat lambat" . Enam huruf itu melambangkan seseorang, melukiskan tindakan seseorang waktu membunuh korbannya, bukan saja amat lembut bahkan sangat lambat. Konon sewaktu membunuh orang, dia melakukannya dengan sangat lambat, bahkan lambat sekali. Menurut berita, suatu ketika ia pernah menghabiskan waktu hampir tiga hari lamanya hanya untuk membunuh seseorang, kabarnya tiga hari kemudian korbannya baru putus nyawa, namun siapa pun tak mengenali bentuk badannya lagi, bahkan orang sempat ragu benarkah dahulu dia adalah manusia. Tapi semuanya itu hanya kabar burung, tidak banyak orang yang percaya, apalagi yang pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Tapi Pho Ang-soat percaya, bila di dunia persilatan benar-benar terdapat manusia yang "Lembut, sangat lembut, lambat, sangat lambat" , maka kemungkinan besar orang itu adalah lelaki lemah lembut yang kini telah berdiri di hadapannya itu. Sinar matahari semakin terang memancarkan cahayanya. Kian Tan, si Gunting satu kali masih menggunting kuku dengan tenang, Sebun Say masih berbaring di bawah pepohonan, jangankan bergerak, mendongakkan kepala pun tidak. Sepasang saudara kembar Ting Tang masih duduk di pinggir pagar, mengawasi bunga liar yang bertebaran di atas tanah lumpur. Dalam pandangan mereka, Pho Ang-soat sudah dianggapnya sebagai orang mati. Karena mereka tidak bergerak, tentu saja Pho Ang-soat pun tidak bergerak, apalagi Hong-ling, dia tetap berdiri tenang di pinggir pintu sambil mengawasi gerak-gerik seputar halaman. Begitulah kedua belah pihak sama-sama tak bergerak, sama-sama tidak melakukan tindakan apa pun. Entah berapa lama, akhirnya terdengarlah suara orang tertawa tergelak, menyusul tampak dua orang lelaki berjalan masuk. Mereka adalah Hoa Boan-thian dan Hun Caythian. Setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu, Hoa Boan-thian baru maju ke depan dan menyapa Pho Ang-soat dengan hangat dan akrab.

"Selama dua hari ini kalian tentu sibuk sekali!"

"Masih baikan,"

Jawab Pho Ang-soat dingin.

"Semalam dapat tidur nyenyak?"

"Tidur nyenyak, makan kenyang."

"Siapa bisa makan enak tidur nyenyak, dia memang tergolong orang hokki,"

Kata Hoa Boanthian sambil tertawa.

"sayangnya orang yang banyak hokki seringkah berumur pendek."

"Oya?"

Sambil tertawa, kembali Hoa Boan-thian menatap Pho Ang-soat, ujarnya lebih lanjut.

"Aku lihat kau bukan terhitung orang yang berumur pendek, tapi heran, kenapa selalu suka melakukan perbuatan yang cenderung membuat umur sendiri jadi pendek."

Pho Ang-soat tidak menjawab, ia hanya menatap dingin lawannya.

"Inginkah kau menjadi orang yang hokki dan berumur panjang?"

Tanyanya lagi.

"Oya? Lalu bagaimana dengan dia?"

Pho Angsoat tertawa dingin.

"Dia?"

Hoa Boan-thian melirik Hong-ling sekejap.

"kalau dia tergantung dirimu."

"Maksudmu?"

"Jika kau tak ingin disusahkan beban lain, kujamin dirimu dapat pergi dari sini dengan bersih dan gembira,"

Kata Hoa Boan-thian sambil tertawa.

"bila kau ingin menyimpan cewek cakep, maka kujamin dalam Ban be tong pasti akan kau dapatkan rumah emas."

"Benarkah begitu?"

"Benar."

Dengan sinar mata sedingin salju Pho Ang-soat menatap sekejap wajah setiap orang yang hadir di situ, akhirnya berhenti di wajah Hoa Boanthian, katanya.

"Jadi kalian bersusah-payah mengerahkan begitu banyak waktu dan tenaga, tujuannya hanya menginginkan aku kembali ke Ban be tong?"

"Sam-lopan kuatir kau kedinginan di luar dan menderita lapar."

Ucap Hoa Boan-thian sambil tertawa.

"jadi kuharap Pho-heng bisa memaklumi niat baik Sam-lopan."

"Aku tahu."

Begitu selesai berkata, tubuh Pho Ang-soat telah melambung di udara, golok hitam pun telah dilolos dari sarungnya.

Orang yang diserang bukan Hoa Boan-thian, bukan pula orang terpelajar yang lemah lembut, melainkan Kian Tan si Gunting satu kali yang berada paling jauh darinya.

Orang yang wajahnya buas dan galak biasanya memiliki hati yang lemah dan penakut, terutama Kian Tan itu.

Dia memang buas, dia memang galak, senjata andalan pun sebuah gunting besar.

Tapi semua itu tak lain untuk menutupi perasaan takut di hati kecilnya.

Dari tujuh orang yang hadir sekarang, dapat dipastikan dialah yang memiliki ilmu silat paling lemah.

Dalam hal ini tak disangkal penilaian Pho Angsoat memang sangat tepat, di saat tubuhnya belum mencapai Kian Tan, ia telah menyaksikan perasaan ngeri dan takut yang terpancar keluar dari balik mata orang itu.

Jeritan ngeri nyaris terjadi berbareng dengan munculnya suara desingan golok, dimana cahaya berkelebat, sebuah mulut luka yang menganga telah muncul di atas kening Kian Tan, menyusul kemudian sinar ngeri yang terpancar dari balik matanya pun lambat-laun semakin membuyar dan hilang.

Ketika berada dalam posisi dimana jumlah musuh lebih banyak dari kekuatan kita, seharusnya sasaran pertama yang harus diserang adalah orang yang dianggap paling tangguh di antara musuh-musuhnya.

"Menangkap ular tangkaplah bagian belakang kepala, meringkus bandit tangkap dulu pentolannya" , tentu saja Pho Ang-soat cukup memahami teori itu, tapi mengapa ia justru menyerang bagian yang paling lemah lebih dahulu? Hong-ling tidak habis mengerti kenapa Pho Ang-soat berbuat begitu? Apalagi Hoa Boan-thian sekalian. Di antara kelompok manusia itu, agaknya hanya orang yang nampak paling halus dan sopan saja yang mengerti kenapa Pho Ang-soat bertindak begitu. Di saat kita belum tahu dengan pasti kemampuan pihak lawan, menyerang lawan paling tangguh lebih dulu tidak ubahnya hanya mempercepat saat kematian sendiri. Karena kau sama sekali tidak tahu seberapa besar kekuatan lawan yang sebenarnya? Apakah kau lebih tangguh dari mereka? Atau sesungguhnya mereka hanya musuh yang tak tahan gempuran? Bila kau mengambil resiko dengan menyerang musuh paling tangguh lebih dahulu, tak ubahnya kau telah membawa dirimu ke sisi jurang yang memat ikan. Berada dalam kondisi seperti ini, cara terbaik adalah menyerang dulu musuh yang paling lemah, sebab kau tahu, seranganmu pasti dapat menghancurkan orang itu. Dengan merobohkan seorang lawan, berarti telah melenyapkan sebagian kekuatan musuh, perbandingan kedua belah pihak mendekati berimbang. Di saat tubuh Pho Ang-soat mulai melambung, tiba-tiba sekulum senyuman tersungging di ujung bibir lelaki terpelajar itu. Menanti tubuh Pho Ang-soat melayang turun, di kala ayunan goloknya sudah mencapai saat tenaganya habis dan tenaga baru belum muncul, mendadak lelaki terpelajar itu mengayun sepasang tangannya berulang kali, segumpal cahaya tajam berwarna hitam segera meluncur dari tangannya, langsung mengancam punggung lawan. Pada saat bersamaan, sepasang saudara kembar Ting Tang yang selama ini duduk santai pun tiba-tiba melancarkan serangan. Dua buah cambuk panjang bagaikan dua ekor ular berbisa tanpa menimbulkan suara meluncur keluar dari tangan Ting tang hengte, kemudian secepat kilat melilit leher Pho Ang-soat. Belakang punggungnya ditunggu sambitan senjata rahasia yang kuat, dari kiri kanan pun dicegat cambuk panjang bagai ular berbisa, seluruh jalan mundur Pho Ang-soat nyaris tersumbat semua. Tapi semua itu masih bukan merupakan kekuatan serangan yang paling utama, mereka memang sengaja melancarkan serangan seperti itu tujuannya tak lain agar Im hun kiam Sebun Say yang masih berbaring di bawah pepohonan dapat menusuk perut Pho Ang-soat dengan lancar. Bila kau tidak menundukkan kepala, jangan harap bisa kau lihat semua gerak-gerik di tanah secara jelas, tapi Pho Ang-soat memang tak malu disebut Pho Ang-soat. Ia telah menggunakan indra keenamnya untuk melihat situasi, dia telah berhasil menganalisa, berada dimanakah mara-bahaya yang sesungguhnya. Biarpun kekuatan lama telah sampai ke ujungnya, kekuatan baru belum muncul dan tubuhnya juga mustahil melejit secara tiba-tiba, namun ia telah melakukan satu tindakan yang membuat semua orang terperanjat. Mendadak ia berjongkok, lalu menyongsong datangnya tusukan Im hun kiam. Melihat Pho Ang-soat berjongkok secara tibatiba, Sebun Say tertegun, namun pedang Im hun kiam tetap secepat kilat menusuk ke depan. Tapi sayang justru karena ia tertegun, hal ini telah memberi sebuah jalan hidup untuk Pho Angsoat. Tujuan Pho Ang-soat berjongkok memang berharap Sebun Say tertegun, asal lawannya tertegun, otomatis tusukan pedang Im hun kiam ikutan berhenti sejenak. Maka Pho Ang-soat pun punya kesempatan untuk menggunakan golok hitamnya untuk memangkas ujung pedang lawan. Tiada suara bentrokan, tiada desingan angin golok, juga tak ada percikan bunga api. Saat itu hanya muncul dua titik cahaya bintang, kemudian Sebun Say melihat pedangnya terkutung jadi dua disusul suara golok yang membalok tulang. Dalam pertarungan yang terjadi kali ini, tampaknya lagi-lagi Pho Ang-soat berhasil meraih kemenangan. Namun di saat ujung goloknya berhasil membabat tulang Sebun Say, tiba-tiba paras muka Pho Ang-soat memperlihatkan rasa takut dan ngeri yang belum pernah terlihat sebelumnya. Yang kena bacokan bukanlah dia, pertarungan kali ini pun berhasil dia menangkan lagi, kenapa wajahnya menampilkan rasa ngeri dan takut? Apa yang telah terjadi? Bab 9. NAPSU YANG PALING TUA Yang ditakuti Pho Ang-soat bukan menang kalahnya pertempuran hari ini, dia pun bukan ngeri karena masalah mati hidupnya. Yang membuatnya ngeri dan takut karena pada akhirnya dia paham maksud tujuan kedatangan orang-orang itu. Ketika Pho Ang-soat berjongkok, ketika mata golok menyongsong datangnya pedang Im hun kiam Sebun Say, dua cambuk panjang yang semula mengancam lehernya tiba-tiba bergetar di udara lalu menyabet taburan cahaya hitam itu.

"Pletak, pletak!" , begitu ujung cambuk menghantam senjata rahasia, kumpulan Am-gi itu berbalik arah mengancam tubuh Hong-ling yang masih berdiri di depan pintu. Hoa Boan-thian dan Hun Cay-thian yang selama ini berdiri tenang di sisi arena pun saat itu bersama-sama mencabut pedangnya, lalu diiringi desingan angin tajam mereka langsung mengancam Hong-ling. Ujung cambuk berputar di udara sekali lagi memperdengarkan suara nyaring, lalu bagai ular berbisa yang mematuk mangsa langsung membelit sepasang tangan Hong-ling. Biarpun Hong-ling terperanjat, ia tak kalut, tubuhnya berputar cepat menghindari datangnya sambitan senjata rahasia. Tapi baru saja ia memutar badan, sepasang pedang Hoa Boan-thian dan Hun Cay-thian sudah menusuk tiba. Sepasang lengan Hong-ling telah bertambah dengan dua mulut luka memanj ang. Belum lagi darah segar mengucur, kedua batang cambuk panjang itu sudah melilit sepasang lengan Hong-ling dengan kuatnya. Sementara itu bacokan golok Pho Ang-soat telah menghajar telak tulang kening Sebun Say. Dia sama sekali tidak memberi kesempatan kepada dirinya untuk berganti napas, mengikuti gerakan tubuhnya yang menjorok ke depan, mata goloknya segera membentuk gerakan setengah lingkaran busur, lalu menghajar pedang Hun Caythian. Belum lagi goloknya tiba, hawa serangan telah menghimpit tubuh lawan. Dalam keadaan begini, Hun Cay-thian tak berani mengurusi Hong-ling lagi, segera dia tarik kembali pedangnya untuk menangkis datangnya ancaman.

"Trang" , berbareng terjadinya benturan, lagilagi pelajar sopan itu mengayun tangan berulang kali, senjata rahasia segera meluncur ke udara. Semua Am-gi itu bukan tertuju ke tubuh Pho Ang-soat yang masih di tengah udara, melainkan diarahkan ke bawah kakinya, asal dia meluncur turun, niscaya badannya akan terhajar. Tiba-tiba Pho Ang-soat melakukan gerakan aneh, dia melepaskan bacokan dengan gerakan aneh, yang dibacok bukan orang melainkan dahan yang tumbuh di tengah halaman. Dengan tertancapnya mata golok di atas dahan, Pho Ang-soat pun menggunakan kekuatan tertahan itu untuk melejit kembali di udara, lalu secepat kilat menyambar tubuh Ting tang hengte. Hong-ling yang sepasang tangannya terlilit cambuk berusaha melepaskan diri, siapa sangka semakin dia meronta, lilitan itu semakin mengencang, bukan saja gagal melepaskan diri, guratan berdarah malah muncul di kedua lengannya. Di pihak lain, Pho Ang-soat yang sedang meluncur ke arah Ting tang hengte mendadak melihat tubuhnya sudah dihadang seseorang, ternyata orang itu adalah pemuda terpelajar itu. Tampak ia mengayunkan sepasang tangan berulang kali, pukulan demi pukulan ditujukan ke tubuh Pho Ang-soat yang masih melambung di udara. Karena sekali lagi terhadang, mau tak mau Pho Ang-soat harus membuyarkan seluruh kekuatan yang dimilikinya, lalu merosot ke bawah, menghindari ancaman serangan pemuda pelajar itu. Karena ada hadangan ini, Ting tang hengte segera memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik tubuh Hong-ling ke atap rumah, lalu dalam beberapa kali lompatan mereka sudah meluncur ke arah hutan. Sadar tiada harapan untuk menyelamatkan perempuan itu, sikap Pho Ang-soat malah jauh lebih tenang, ditatapnya ketiga orang yang masih tersisa dengan pandangan dingin. Hoa Boan-thian dan Hun Cay-thian menarik kembali pedangnya dan memandang Pho Angsoat dengan senyum di kulum, sementara pemuda terpelajar itu pun masih tetap berdiri tenang. Sesaat kemudian tampak Hoa Boan-thian berjalan menghampiri pemuda itu, lalu kepada Pho Ang-soat katanya.

"Pho-heng, lantaran tadi didesak oleh waktu, maka aku lupa memperkenalkan nama Kongcu ini kepadamu"

"Lembut, sangat lembut, lambat, sangat lambat,"

Perlahan Pho Ang-soat bergumam.

"dia bernama Un Ji-giok"

Hoa Boan-thian agak tertegun, tapi segera serunya sambil tertawa tergelak.

"Sungguh tak kusangka pengetahuan Pho-heng begitu luas, sampai Un-kongcu yang sudah sekian lama tak pernah terjun ke dalam dunia persilatan pun kau ketahui dengan jelas."

Pho Ang-soat tertawa dingin.

"Jadi kedatangan kalian hari ini hanya bertujuan membawanya pergi?"

"Benar."

"Apakah kalian bermusuhan dengannya?"

"Tidak,"

Hoa Boan-thian menggeleng kepala.

"Sam-lopan kuatir kehadirannya malah mengganggu ketenangan hidup Pho-heng, maka beliau sengaja mengutus kami membawanya pergi, agar Pho-heng dapat menikmati hidup dengan tenang."

"Keliru besar!"

Ucapan Pho Ang-soat yang mendadak dan membingungkan ini kontan membuat semua orang tertegun, termasuk Un Ji-giok pun ikut menarik senyumannya.

"Keliru? Apanya yang keliru? Kau bilang Samlopan telah salah mengartikan niat baiknya?"

Pho Ang-soat tak langsung menjawab, perlahan dia mengalihkan sorot matanya ke wajah Un Jigiok, kemudian baru ujarnya.

"Kau keliru."

"Aku keliru?"

Un Ji-giok tertegun.

"dimana letak kesalahanku?"

"Kau sangka sewaktu sepasang tanganmu bersilang di udara, aku tak berhasil melihat titik kelemahanmu atau kau sangka biarpun tahu pun aku tak akan mampu menjebolnya?"

Tentu Un Ji-giok mengetahui letak kelemahan jurus serangannya, namun dia pun tahu baik Pho Ang-soat atau siapa pun tak mungkin mampu melancarkan serangan mematikan setelah mengetahui titik kelemahan itu, maka terhadap ucapan Pho Ang-soat dia hanya tertawa hambar.

Belum selesai ia tersenyum, sekonyongkonyong terlihat cahaya golok berkelebat, kemudian terdengarlah jeritan ngeri yang memilukan.

Rupanya secara tiba-tiba Pho Ang-soat mencabut golok, lalu membacok dari sudut yang sangat aneh, yang dibabat bukan Un Ji-giok melainnya Hun Cay-thian yang berada di sisi lain.

Menanti jerit kesakitan Hun Cay-thian bergema, Pho Ang-soat telah menyarungkan kembali goloknya.

Paras muka Un Ji-giok seketika berubah hebat, berubah jadi putih pucat bagai bunga salju.

Pho Ang-soat memandang dingin Un Ji-giok sambil menegur.

"Bukankah kau keliru?"

Cahaya golok yang barusan berkilat, ayunan golok yang barusan membacok, meski Hun Caythian yang menjadi sasaran, namun Un Ji-giok dapat melihat gerakan yang digunakan tak lain adalah satu-satunya gerakan yang bisa menjebol titik kelemahan jurus serangannya tadi.

"Ya, aku salah,"

Akhirnya Un Ji-giok mengakui.

"Tadi aku tak menggunakan jurus itu bukan lantaran aku tak bisa atau tak mendapat waktu,"

Perlahan Pho Ang-soat berkata lagi.

"aku tak menggunakan sebab saatnya tidak tepat, bila aku nekat melakukannya juga, justru yang aku kuatirkan adalah kegugupan Ting tang hengte bisa berakibat terbunuhnya Hong-ling."

Dalam pada itu peluh dingin telah membasahi tubuh Un Ji-giok, untuk sesaat dia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Tiba-tiba Hoa Boan-thian melangkah maju ke depan, teriaknya.

"Sekalipun kau tidak menggunakan jurus serangan itu, Hong-ling tetap sudah terjatuh ke tangan kami."

Jawaban Pho Ang-soat sama sekali tidak ditujukan kepada Hoa Boan-thian, melainkan kepada Un Ji-giok, ujarnya.

"Ada semacam orang sejak lahir sudah memiliki bakat melacak seperti binatang, aku percaya kau pun tahu."

"Ya, aku tahu,"

Jawab Un Ji-giok.

"Bagus, kalau begitu kau sudah boleh mati."

Ketika mata golok mulai membelah angkasa, tubuh Un Ji-giok telah melayang ke atas atap rumah, Ginkang yang dimilikinya memang terhitung kelas satu dalam Kangouw, tapi sayang yang dijumpainya justru Pho Ang-soat.

Baru saja ujung kakinya menempel atap rumah dan bersiap meminjam tenaga untuk melejit ke arah lain, ia sudah mendengar suara desiran angin golok yang amat tajam, kemudian terasa sepasang kakinya dingin sekali.

Menanti ia berhasil bersalto di udara dan meluncur ke arah lain, secara kebetulan ia saksikan sepasang kaki sendiri masih tertinggal di atap rumah.

Belum pernah Hoa Boan-thian menyaksikan ilmu golok seaneh itu, dia hanya melihat cahaya golok berkilat, sebuah kebasan dari Pho Ang-soat yang dilakukan begitu ringan dan sederhana, namun tahu-tahu sepasang kaki Un Ji-giok yang sudah sempat kabur sejauh enamtujuh depa tertabas kutung dan ketinggalan di atas atap.

Hoa Boan-thian ingin kabur, apa lacur sepasang kakinya sudah tak mau menuruti perkataannya lagi, bahkan ia sempat mendengar gigi sendiri sedang gemerutukan karena gemetar.

Perlahan-lahan Pho Ang-soat membalikkan badan, menatap wajah Hoa Boan-thian dengan sinar tajam.

"Hari ini aku tak akan membunuhmu,"

Katanya ketus.

"tapi kau harus membawa pesanku."

"Pe... pesan apa?"

"Beritahu Sam-lopan, peduli siapa pun dia, aku pasti akan pergi mencarinya, jadi lebih baik suruh dia menemuiku dengan wajah aslinya."

"Aku... pasti akan kusampaikan."

Di antara binatang buas, serigala termasuk binatang yang paling pintar melacak, serigala pula yang paling pandai menghindari pelacakan.

Kalau Pho Ang-soat diibaratkan serigala, maka tak disangka Ting tang hengte terhitung serigala juga.

Tak ada jejak, tak ada petunjuk, tak ada saksi mata.

Sementara itu langit bertambah gelap, dari balik remangnya cuaca terlihat bintang mulai bertaburan di angkasa.

Pho Ang-soat tidak berhasil menemukan Hongling, dia pun gagal menemukan Ting-tang-hengte, sudah seharian melakukan pengejaran, jangankan bersantap, minum seteguk air pun belum.

Seluruh bibirnya telah mengering, sol sepatunya sudah robek terantuk batu tajam, betisnya pun terasa linu dan amat sakit.

Namun ia belum juga menemukan jejak mereka.

Berhenti di tengah jalan?

Tidak mungkin!

Tentu saja harus dicari terus, bagaimana pun juga dia harus tetap mencari, sekalipun harus mencari sampai ke surga atau menelusuri hingga neraka, baik mendaki bukit golok atau menelusuri minyak mendidih, ia tetap akan mencari.

Tapi kemanakah dia harus mencari?

Dengan cara apa harus melakukan pencarian?

Persis Go Kang di istana rembulan yang ingin menebang pohon Kui yang tak mungkin bisa tumbang, meski sudah tahu mustahil, dia tetap menebang terus tiada hentinya.

Apakah akhirnya pohon itu berhasil ditebang?

Pohon yang tak mungkin ditebang, manusia yang tak mungkin ditemukan.

Di dunia ini memang banyak kejadian seperti ini.

Mengapa dia harus menemukan perempuan itu?

Bukankah dia bukan miliknya?

Dia pun bukan sanak keluarganya, atau sahabat?

Mengapa ia begitu ingin menemukannya?

Bukankah perempuan itu hendak membunuhnya, orang yang datang untuk mencari balas?

Sekalipun berhasil ditemukan, berhasil menolongnya, lalu apa pula yang bisa ia lakukan?

Ketika lukanya telah sembuh, di saat ia mendapatkan kesempatan lagi, bukankah perempuan itu bakal membunuhnya?

Di tengah jagad raya muncul taburan bintang seperti semalam.

Dari tempat dimana Pho Ang-soat berdiri sekarang, dengan mudah ia dapat melihat rumah kayu kecil yang ditempatinya selama ini.

Rumah kayu itu penuh diliputi kehangatan, tapi sekarang?

Setelah melakukan pencarian seharian penuh, Pho Ang-soat betul-betul merasa sangat lelah, dia pun tak punya tempat tinggal lain sehingga terpaksa harus balik ke rumah kecil itu.

Yang paling penting dia berharap Hong-ling dapat meloloskan diri dari tangan musuh dan lari balik ke rumah kayu itu.

Tapi mungkinkah?

Tak tahan Pho Ang-soat tertawa getir, harapan yang mustahil bisa terjadi.

Baru saja senyuman getir tersungging di ujung bibir, mendadak ia lihat dari rumah kecil itu memancar keluar cahaya lentera.

Dia masih ingat dengan jelas, ketika keluar dari rumah pagi tadi, ia sama sekali tidak menyulut lentera, mengapa sekarang bisa muncul cahaya lampu dari balik ruangan?

Apakah Hong-ling sudah terlepas dari sandera dan kabur balik?

Pho Ang-soat menggunakan kecepatan paling tinggi menerobos ke sana, ketika tiba di depan rumah, ia sudah mendengar bergemanya suara dari balik ruangan.

Semacam suara yang membuat siapa pun, asal mendengar satu kali saja maka selamanya tak pernah akan melupakannya.

Suara gabungan isak tangis, tertawa, dengusan napas dan rintihan, suara yang dipenuhi nada iblis dan luapan napsu.

Suara yang membuat orang paling tenang pun tidak kuasa meluapkan hawa amarahnya.

Kembali Pho Ang-soat menerjang ke muka, sekali tendang ia dobrak pintu ruangan.

Begitu pintu terbuka, perasaannya pun tenggelam, api amarah langsung meluap hingga ke ujung kepala.

Ternyata rumah kayu yang sederhana itu telah berubah menjadi neraka.

Neraka dunia.

Hong-ling sedang tersiksa dan menderita dalam neraka dunia.

Ting tang hengte, seorang bagai hewan buas menindih tubuh perempuan itu, sementara yang lain berbaring di samping tubuhnya sambil membuka mulut perempuan itu dan melolohkan arak.

Cairan arak yang merah bagai darah, meleleh dan membasahi seluruh tubuh bugilnya yang putih mulus.

Sewaktu Ting tang hengte yang sedang kerasukan napsu birahi sadar akan kedatangan Pho Ang-soat, secepat anak panah terlepas dari busur, pemuda itu menerobos masuk ke dalam, golok kematiannya yang berwarna hitam pun langsung membabat ke bawah.

Gempuran itu mematikan, Pho Ang-soat yang sudah terbakar oleh amarah telah mengerahkan segenap tenaganya, hingga Ting tang hengte menggelinding jatuh ke lantai bagai karung goni, hawa amarahnya baru sedikit mereda.

Dari dua orang bersaudara itu, yang seorang langsung tewas di tempat sementara seorang yang lain dengan menggunakan sisa napas yang terakhir memperlihatkan sekulum senyumannya yang tak sedap dilihat, lalu dengan menggunakan suara yang menyeramkan seolah berasal dari neraka serunya.

"Kau bakal menyesal!"

Bakal menyesal?

Apa yang perlu disesali?

Selama hidup Pho Ang-soat tak pernah kenal kata menyesal.

Dengan sekuat tenaga ia lempar mayat Ting tang hengte keluar ruangan, lalu dengan sekuat tenaga menutup pintu.

Pintu dalam keadaan tertutup, jendela dibiarkan tetap terbuka, sebab dalam ruangan penuh dengan bau arak yang menyengat.

Bukan bau pedas bercampur kecut seperti bau golok yang dibakar, melainkan bau minyak dan bedak yang tak sedap.

Hong-ling masih berbaring di atas ranjang besar yang beralas kulit binatang, ia dalam keadaan telanjang bulat.

Seluruh pakaiannya telah dilucuti, dari atas hingga ke bawah, tubuhnya benar-benar seratus persen bugil.

Sepasang matanya membalik ke atas, mulutnya mengeluarkan buih putih, seluruh ototnya tiada hentinya mengejang dan gemetar, bahkan setiap inci kulitnya pun tampak gemetar tiada hentinya.

Dia bukan Cui long, bukan kekasih Pho Angsoat, dia pun bukan temannya, ia datang untuk menuntut balas kepadanya.

Namun setelah menyaksikan keadaannya, perasaan Pho Ang-soat tetap sakit bagai ditusuk jarum.

Dalam waktu sekejap dia seolah lupa bahwa dia adalah seorang wanita, lupa kalau ia berada dalam keadaan bugil.

Dalam pikiran dan ingatan Pho Ang-soat dia adalah seorang perempuan yang patut dikasihani, seorang wanita yang telah disiksa dan didera oleh ketidak adilan.

Sebaskom air, selembar handuk.

Pho Ang-soat menggunakan handuk yang dibasahi air hangat menyeka wajahnya, menyeka buih putih yang menodai bibirnya, lalu menyeka air mata di ujung kelopak matanya.

Pada saat itulah dari tenggorokannya menggema suara rintihan aneh yang membetot sukma, tubuhnya mulai menggeliat, pinggangnya yang ramping mulai meliuk-liuk bagai seekor ular, pahanya yang putih mulus pun mulai bergeser ke kiri kanan.

Tidak banyak lelaki yang bisa bertahan menghadapi rangsangan napsu seperti ini, untung Pho Ang-soat termasuk salah satu di antara mereka yang tak gampang terangsang.

Dia berusaha sedapat mungkin tidak memandang tubuhnya yang bugil, dia ingin mencari sesuatu benda untuk menutupi bagian tubuhnya yang paling vital.

Tetapi sebelum ia menemukan sesuatu, mendadak Hong-ling menangkap tangannya, kemudian memeluk tubuh Pho Ang-soat erat-erat.

Pelukannya begitu kencang dan kuat, seperti seorang kalap di air yang sekuat tenaga memeluk sebatang batok kayu.

Pho Ang-soat tak tega mendorong tubuhnya, namun dia pun tak bisa membiarkan badannya dipeluk terus.

Beberapa kali dia ingin mendorong, tapi dengan cepat tangannya ditarik kembali.

Bila kau dapat mendorong seorang wanita dalam keadaan seperti ini, maka kau pasti akan tahu mengapa dia menarik kembali tangannya.

Sebab biarpun bagian tubuh wanita yang tak boleh tersentuh oleh kaum lelaki tak banyak jumlahnya, namun berada dalam situasi seperti ini, bagian tubuh itu juga yang akan kau dorong.

Tubuh Hong-ling panas bagaikan air mendidih, detak jantungnya pun cepat sekali.

Dengus napasnya juga tercium bau arak yang sangat kental, bau itu terus menerus terhembus keluar dari mulutnya dan masuk ke dalam pernapasan Pho Ang-soat.

Tiba-tiba saja pemuda itu jadi paham.

Dia tahu sekarang apa sebabnya Ting tang hengte yang berjiwa bagai binatang itu menggunakan arak untuk melolohnya.

Rupanya arak itu telah dicampur obat perangsang.

Sayangnya di saat dia mulai mengerti akan hal ini, dia sendiri pun ikut terpengaruh oleh obat itu.

Tiba-tiba saja ia menjumpai bagian tubuh tertentunya mengalami perubahan yang sulit lagi untuk dikendalikan.

Semua pikiran dan kesadarannya telah berantakan.

Sementara itu Hong-ling telah menindih badannya menggunakan tubuhnya yang bugil, gadis itu mulai merangsangnya, menggunakan tubuhnya yang telanjang menggiring dia melakukan perbuatan dosa.

Perbuatan dosa yang paling kuno, perbuatan dosa yang paling purba.

Arak bercampur obat perangsang telah membangkitkan napsu birahi mereka berdua, napsu birahi paling kuno yang tak mungkin bisa dilawan siapa pun.

Semenjak ada manusia, napsu birahi pun mulai menguasai jagad.

Menciptakan kesalahan memang banyak penyebabnya, napsu birahi hanya salah satu di antaranya.

Kini kesalahan telah dilakukan, nasi sudah jadi bubur, tidak mungkin semuanya bisa diubah lagi.

Seorang biasa, jika dalam keadaan yang tak bisa dilawan telah melakukan sebuah kesalahan, kesalahan semacam ini dapatkah disebut sebagai sebuah kesalahan fatal?

Mungkinkah kesalahan seperti ini dapat dimaafkan?

Kesalahan telah dibuat, gejolak hati telah tenang, napsu birahi pun telah mencapai puncaknya, kini malam yang gelap pun sudah mendekat i akhir.

Saat itu merupakan saat yang paling gelap sepanjang hari.

Saat itu pula merupakan saat pertarungan antara kepedihan dan rasa gembira.

Saat itu juga merupakan detik tumbuhnya rasa penyesalan.

Saat itu Pho Ang-soat telah sadar.

Lelehan lilin telah mengering, lampu pun telah padam, dari balik kertas jendela yang buram lamat-lamat muncullah cahaya putih yang terang.

Putih pucat, sepucat wajah Pho Ang-soat, sepucat perasaannya.

Hong-ling adalah seorang wanita, wanita yang datang mencari balas.

Meskipun selama beberapa hari mereka pernah hidup bersama, namun tujuan perempuan itu hanya menanti saat yang tepat untuk membunuh nya.

Tapi kini dia berada di sisinya, berbaring di samping tubuhnya.

Ia dapat merasakan detak jantungnya, kehangatan badannya serta dengus napasnya, di samping ketenangan, kelembutan dan kepuasan setelah dipermainkan rangsangan birahi.

Semacam ketenangan dan kegembiraan yang membuat seorang lelaki tak segan mengorbankan segalanya demi menggapainya.

Kini Pho Ang-soat hanya berharap bisa memusnahkan semuanya itu.

Kini baru dia paham maksud ucapan Ting tang hengte menjelang ajalnya.

"Kau bakal menyesal."

Menyesal?

Apakah dia menyesal?

Mungkinkah ia dapat memusnahkan semua peristiwa yang baru saja berlangsung?

Tidak mungkin!

Dia tak mungkin bisa!

Dialah yang telah menciptakan semua ini, tak mungkin lagi baginya untuk menghindar, tak mungkin pula untuk dilawan.

Karena dia yang menciptakan, dia juga yang harus menanggung akibatnya.

Terlepas akibat macam apa yang bakal menimpanya.

Jagad raya terasa dingin, kabut pagi pun dingin sekali.

Sepasang tangan Pho Ang-soat telah kaku lantaran dingin, hatinya ikut dingin, sedingin mata golok.

Kejadian telah berlangsung, suatu kesalahan yang selamanya tak mungkin bisa dihindari.

Bila kau menjadi Pho Ang-soat, apa yang akan kau lakukan?

Menghindar?

Setiap orang ada saatnya berusaha menghindar dari orang lain, tapi tak seorang pun yang bisa menghindari diri sendiri, selamanya.

Pho Ang-soat pun tak sanggup.

Perlahan ia berpaling, memandang Hong-ling yang masih terbuai dalam alam impian.

Apa yang terjadi setelah ia mendusin nanti?

Membayangkan kembali peristiwa yang terjadi semalam, gejolak napsu yang tak berbendung, luapan birahi yang tak tertahan...

Pho Ang-soat sadar, sepanjang hidup berikutnya tak nanti dia bisa melupakan adegan itu.

Lalu bagaimana dengan dia?

Setelah mendusin, bagaimana caranya berhadapan dengan Hongling?

Dua orang yang sama sekali tak berakar, tibatiba melakukan hubungan yang tak akan terlupakan.

Setelah kejadian ini, apakah mereka berdua harus bersatu terus?

Atau lebih baik mengambil jalan sendiri-sendiri?

Membiarkan kedua belah pihak sama-sama menerima penderitaan dan penyesalan karena kesalahan yang telah dilakukannya?

Pertanyaan yang pelik, siapa yang sanggup menjawabnya?

Siapa pula yang tahu, tindakan apa yang seharusnya dilakukan?

Jendela masih terbuka lebar, sinar terang mulai menerobos masuk ke dalam ruangan.

Langit terasa hening, lembah bukit terasa sepi, suasana pagi pun amat tenang.

Semuanya tenang dan sepi.

Tiba-tiba Hong-ling mendusin, tiba-tiba membuka matanya, ia memandang Pho Ang-soat yang masih berbaring di samping tubuhnya.

Sorot matanya mulai bereaksi.

Apa reaksinya?

Penderitaan?

Kebingungan?

Permintaan maaf?

Penyesalan?

Atau amarah yang meluap?

Pho Ang-soat tak dapat menghindari pandangan matanya, dia pun tak sanggup menghindar.

Ia balas menatap wanita itu, menantikan reaksinya.

BAGIAN IV.

MELAHIRKAN ANAK Bab 1.

BERTEMU SETAN PENGISAP DARAH LAGI Belum melangkah masuk ke rumah yang memiliki kepribadian itu, dari kejauhan Yap Kay telah mendengar ada orang sedang menangis.

Baca Juga: Walet Besi 4

Baca Juga: Kaki Tiga Menjangan 19

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert