Eps 6 Kilas Balik Merah Salju - Gu Long
Baca online Kilas Balik Merah Salju - Gu Long
Cersil Kilas Balik Merah Salju - Gu Long.
Biarpun suara tangisan seorang wanita, tapi Yap Kay dapat mengenalinya, bukan So Mingming yang sedang menangis, melainkan isak tangis seorang nyonya setengah baya.
Begitu masuk ke dalam, ia jumpai seorang wanita setengah umur yang bertubuh gemuk dan subur sedang duduk di tepi pembaringan, sementara So Ming-ming berada di sampingnya sembari menghibur.
"Apa yang telah terjadi?"
Yap Kay bertanya.
"kenapa nyonya ini menangis begitu sedih?"
"Semalam suaminya telah bertemu setan pengisap darah,"
So Ming-ming menerangkan.
"Setan pengisap darah? Di sini pun terdapat setan pengisap darah?"
Seru Yap Kay agak tertegun.
"Bukan hanya ada, bahkan sudah lama ada, namun setelah mereda cukup lama, semalam baru muncul lagi."
"Lalu suaminya...."
"Tentu saja darahnya sudah terisap kering."
Yap Kay berpikir sejenak, kemudian tanyanya lagi.
"Lantas dimana suaminya sekarang?"
"Masih di tempat kejadian, ada di halaman belakang rumahnya."
"Mari kita ke sana."
Selesai berkata Yap Kay segera beranjak meninggalkan tempat itu.
Sebetulnya So Ming-ming ingin ikut, tapi melihat nyonya setengah umur itu masih menangis sedih, terpaksa dia tetap tinggal untuk melanjutkan menghiburnya.
Menyongsong datangnya kabut pagi, menerobos lapisan kabut yang tebal, Yap Kay memasuki halaman belakang rumah nyonya setengah umur itu, dari jauh ia sudah melihat sesosok mayat terkapar di tanah.
Noda darah dari bekas lukanya di tengkuk sudah membeku, mimik mukanya masih memperlihatkan rasa takut bercampur ngeri, sepasang matanya melotot besar.
Yap Kay segera berjongkok, membantu menutup mata mayat, kemudian diawasinya bekas luka di tengkuknya sambil berpikir keras.
Setan pengisap darah yang biasanya hanya muncul dalam cerita ternyata muncul secara nyata di tempat ini, sejujurnya Yap Kay merasa amat sangsi bercampur heran.
Sekalipun ia belum pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri kemunculan setan pengisap darah, namun sudah dua kali ia melihat mayat bekas digigit setan pengisap darah itu, sekali ketika masih di Ban be tong dan hari ini kedua kalinya.
Benarkah korban yang digigit setan pengisap darah keesokan harinya akan berubah jadi setan pengisap darah juga?
Yap Kay berkerut kening, ia putuskan untuk berjaga semalaman di sana nanti, dia ingin melihat apakah mayat bekas digigit setan pengisap darah itu benar-benar dapat berubah pula menjadi setan pengisap darah.
Konon setan pengisap darah hanya bisa mati bila jantungnya ditusuk kayu yang terbuat dari pohon bunga Tho, lalu apakah malam nanti Yap Kay pun akan menyiapkan sebatang kayu pohon Tho?
Tak kuasa lagi dia tertawa getir, banyak benar peristiwa aneh yang terjadi tahun ini, khususnya sekarang.
Mula-mula semua orang yang sudah mati semenjak sepuluh tahun lalu berbondong bangkit dari liang kubur dan hidup kembali, dan kini muncul pula setan pengisap darah.
Seandainya semalam ia tak berkunjung ke kebun monyet serta melihat sendiri apa yang disebut makhluk berkepala manusia bertubuh monyet, ia pasti akan menambahkan kasus aneh ini ke dalam benaknya.
Perlahan Yap Kay bangkit, pikirannya melayang, tinggalkan kota Lhasa dan kembali ke Ban be tong, entah bagaimana keadaan Pho Angsoat kini?
Yap Kay benar-benar kuatir rekannya itu mengumbar watak dengan melakukan tindakan bodoh yang justru merugikan dirinya.
Bila malam ini dia berhasil mengungkap kasus setan pengisap darah itu, ia berencana besok pagi akan meninggalkan Lhasa dan segera kembali ke Ban be tong.
Matahari pagi sudah semakin meninggi, bumi pun terasa semakin panas, sembari menyeka peluhnya, Yap Kay berjalan keluar halaman belakang.
Tiba di dalam ruangan, ia lihat So Ming-ming telah menunggunya di sana.
Begitu bertemu, nona itu segera bertanya.
"Bagaimana urusanmu dengan kebun monyet? Kemana kau pergi sehari semalam?"
"Aku melihat monyet berkepala manusia,"
Yap Kay menerangkan.
"Jadi benar? Benar-benar terdapat monyet jenis begitu?"
Seru So Ming-ming sambil membelalakkan mata. Yap Kay tertawa tergelak.
"Padahal hanya monyet yang bulu mukanya telah dicukur hingga kelimis,"
Jelasnya.
"Monyet yang dicukur gundul?"
"Benar, karena mukanya kelimis maka dari kejauhan mirip kepala manusia."
"Kenapa ia cukur gundul bulu-bulu di kepala monyet?"
"Siapa tahu? Mungkin Ong-losiansing menganggap keisengannya menarik,"
Sahut Yap Kay.
"siapa tahu juga kawanan monyet itu terjangkit penyakit botak?"
Mendengar penjelasan itu, So Ming-ming ikut tertawa. Menanti suara tawanya mulai mereda baru ia berkata lagi.
"Lalu mengapa kau berada di sana hingga sehari semalam?"
"Siang harinya aku menonton orang bermain catur dan malamnya kunikmati hidangan mewah sambil mendengarkan permainan musik yang indah dan menonton permainan akrobatik beberapa ekor monyet lucu."
"Jadi kau tidak menemukan hal-hal yang mencurigakan? Tidak kau tanyakan masalah Giokseng?"
"Sudah kutanyakan, tapi jawabannya tak ada."
"Tak ada? Tak ada apa?"
Tanya So Ming-ming keheranan.
"Dia bilang tak ditemukan hal-hal yang mencurigakan, tak ada pula berita tentang Giokseng,"
Yap Kay menjelaskan.
"aku pun tak berhasil melacak berita tentang Kim-hi."
"Mana mungkin bisa begitu?"
Gumam So Mingming.
"padahal semua petunjuk mengarah ke sana, tapi kini kau justru mengatakan bahwa di dalam kebun monyet tiada yang patut dicurigai...."
"Ada seorang kenamaan pernah mengucapkan sepatah kata, pernahkah kau mendengarnya?"
Kembali Yap Kay tertawa.
"Apa yang dia katakan?"
"Tempat yang tak patut dicurigai seringkah justru merupakan tempat yang paling mencurigakan,"
Yap Kay menerangkan.
"Sungguh? Jadi maksudmu kebun monyet adalah tempat yang amat mencurigakan?"
"Waktu sampai di dalam kebun monyet, kulihat segala sesuatunya seperti normal dan biasa."
"Kalau memang normal dan biasa, apa lagi yang patut dicurigai?"
"Justru lantaran kelewat normal dan biasa, maka timbul kesan amat mencurigakan,"
Kata Yap Kay.
"coba bayangkan saja, kebun monyet itu sangat besar dan luas, seperti juga orang yang bernama Ong-losiansing itu, seharusnya dia memiliki watak yang aneh dan nyentrik, tapi dia berusaha tampil dengan sikap normal dan wajar, sikap yang bisa kau jumpai di rumah dan keluarga mana pun."
Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya.
"Hal ini membuktikan dia memang sengaja mengatur semuanya itu agar kita saksikan."
"Bila ia tidak berniat busuk, buat apa mesti mengatur segalanya untuk dipertontonkan kepada kita?"
"Benar, oleh sebab itu sekarang juga aku akan mengunjungi kebun monyet sekali lagi."
"Sekarang?"
Seru So Ming-ming.
"apakah kali ini pun kau akan masuk melalui pintu gerbang secara terang-terangan atau menyelundup secara diam-diam?"
"Tentu saja kali ini aku akan masuk secara diam-diam,"
Sahut Yap Kay sambil tertawa.
"Cuma sebelum pergi aku ingin merepotkan dirimu untuk melakukan dua hal."
"Melakukan apa?"
"Pertama, jangan biarkan nyonya setengah umur itu kembali ke rumahnya, biarkan saja jenazah suaminya tergeletak di kebun belakang. Dan kedua, tolong carikan sebatang kayu pohon Tho untukku."
"Kayu pohon Tho? Untuk apa?"
"Tentu saja untuk membunuh setan."
"Membunuh setan?"
"Benar,"
Yap Kay membenarkan.
"konon korban yang mati karena gigitan setan pengisap darah, setelah lewat sehari akan berubah pula menjadi setan pengisap darah. Aku dengar setan pengisap darah seperti itu baru bisa mati bila jantungnya ditusuk dengan kayu bunga Tho "
Oh, jadi kau ingin membuktikan apakah malam nanti mayat itu akan berubah pula menjadi setan pengisap darah?"
"Tepat sekali, jawabanmu memang benar,"
Kembali Yap Kay tertawa.
Biarpun dinding pekarangan sangat tinggi, namun bagi Yap Kay hadangan itu bagaikan seorang anak sedang bermain lompat tali, dengan mudah dia melampaui dinding tinggi tadi dan melayang turun di halaman belakang kebun monyet.
Saat itu waktu menunjukkan mendekati tengah hari, suasana dalam kebun monyet terasa begitu hening seperti berada di tengah malam saja, Yap Kay mencoba mengawasi seputar sana, kemudian dengan cepat menghampiri sebuah ruangan yang jendelanya terbuka.
Begitu dekat dinding ruangan, mula-mula Yap Kay menempelkan telinga di atas dinding, setelah yakin tak ada suara yang mencurigakan, baru ia mendorong daun jendela semakin lebar.
Di dalam kamar itu hanya terdapat sebuah ranjang, tak ada meja, tak ada kursi.
Di atas ranjang pun hanya tersedia sebuah selimut, sementara pada dinding dekat ranjang tergantung sebuah rantai besi.
Saat itu ruangan dalam keadaan kosong.
Sesudah melompat masuk lewat jendela, Yap Kay menghampiri pembaringan itu, dipegangnya rantai yang tergantung di atas dinding, lalu diperiksa sejenak.
Ternyata rantai dihubungkan dengan borgol, tampaknya borgol itu memang disiapkan untuk memborgol seseorang di situ.
Tapi siapa yang hendak diborgol di sana?
Sambil berpikir Yap Kay meletakkan kembali rantai borgol itu, menyingkap seprei dan memeriksa seluruh ranjang dengan seksama.
Padahal ia tak perlu melakukan pemeriksaan dengan seksama, sebab begitu selimut disingkap, segera terlihat sejumlah bulu bertebaran di atas ranjang.
Bulu-bulu pendek berwarna kuning emas.
Diambilnya beberapa lembar bulu itu dan dirabanya dengan seksama, bulu itu terasa sangat kasar, waktu diendus, tersiar bau busuk yang aneh.
Bau khas seekor monyet!
Mungkinkah kamar itu digunakan untuk memborgol seekor monyet?
Tapi mengapa monyet itu diborgol di sini?
Kalau susah dilatih, bukankah bisa dikurung dalam sangkar?
Mengapa harus diborgol dalam ruang kamar yang begini besar?
Seingatnya, monyet berjongkok waktu tidur, mengapa disediakan ranjang di tempat ini?
Atau mungkin monyet itu sangat besar?
Bahkan jauh lebih tinggi dari manusia?
Menurut analisanya berdasarkan fakta yang ada, rasanya memang hanya kemungkinan itu yang masuk akal, Yap Kay pun tertawa, dia masukkan beberapa lembar bulu itu ke sakunya, lalu berjalan menuju ke pintu kamar, membukanya perlahan-lahan dan melongok keluar.
Di luar pintu ada sebuah serambi panjang, suasana di serambi itu pun hening, di ujungnya terdapat lagi sebuah pintu.
Dengan kecepatan luar biasa ia segera menerobos ke sana, sekali berkelebat Yap Kay telah tiba di sisi pintu di ujung serambi.
Berdasarkan pantauan indra keenamnya, Yap Kay tahu ruangan itu pasti kosong, maka dia pun mendorong pintu, tapi tak berhasil.
Rupanya kamar itu terkunci?
Tidak mungkin, bukankah dalam ruangan tak ada penghuninya?
Mengapa justru kamar itu terkunci rapat?
Yap Kay coba memperhatikan bentuk pintu itu dan mengetuknya beberapa kali, walaupun pintu itu sepintas mirip pintu kayu, namun kenyataan merupakan sebuah pintu besi yang dibungkus kulit kayu, tak heran susah dibuka.
Sebuah pintu besi memang tak gampang untuk dibuka dengan sekali dorongan.
Dia pun mengerahkan tenaga dalamnya sambil mendorong kuat-kuat, kali ini pintu besi bergeser ke dalam hingga terbuka, segulung hawa dingin tiba-tiba berhembus keluar.
Yap Kay bersin, aneh, di udara yang begini panas, mengapa dari dalam ruangan justru berhembus hawa dingin bagai bongkahan es?
Setelah pintu terbuka, kamar itu memang tak ada penghuninya.
Bukan saja tak ada penghuninya, bahkan dalam ruangan tidak nampak perabot apa pun, jangankan meja rias atau meja kursi, sebuah ranjang yang sederhana pun tak nampak.
Walau begitu, bukan berarti ruangan itu kosong melompong.
Setelah menyaksikan pemandangan dalam ruangan itu, Yap Kay segera mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tak tahan muncul hawa dingin yang menggidikkan di hati kecilnya.
Persis di tengah ruangan terdapat sebuah meja altar panjang, di atasnya tersedia berderet bongkahan es beku.
Ternyata hawa dingin itu berasal dari bongkahan es batu yang memenuhi altar panjang.
Di sekeliling altar tersedia lemari tinggi, lemari itu terbuat dari batu kristal hingga semua benda yang berada di dalamnya bisa terlihat jelas, namun Yap Kay tak bisa mengenali barang apa saja yang ada di sana.
Lemari itu dipenuhi kotak-kotak bulat, isi kotak itu adalah cairan seperti arak anggur dari Persia, hanya warnanya agak sedikit tua dan kental.
Jangan-jangan tempat ini adalah gudang es untuk menyimpan arak anggur?
Setelah mendekati lemari itu Yap Kay baru tahu bahwa semua rak lemari diberi label nomor, semuanya ada empat buah.
"Jenis kesatu".
"Jenis kedua".
"Jenis ketiga"
Dan "Jenis keempat".
Jenis apa itu?
Masa arak pun mempunyai jenis?
Sampai hari ini Yap Kay belum pernah mendengar hal semacam ini, dibukanya lemari sebelah kanan dan diambilnya sebuah kotak, lalu dibuka penutupnya.
Tapi begitu diendus baunya, kontan keningnya berkerut kencang.
Darah, bau darah!
Ternyata isi kotak-kotak bulat itu adalah darah.
Darah sesegar bunga mawar.
Ternyata kotak bulat yang berada dalam lemari kristal berisikan darah, lalu apa gunanya begitu banyak darah tersimpan di sana?
Dalam empat buah lemari tersimpan empat jenis darah, akhirnya Yap Kay tahu kalau jenis darah pun terbagi jadi empat jenis.
Sekarang baru dia teringat perkataan gurunya bahwa darah yang mengalir dalam tubuh manusia secara garis besar terbagi dalam empat jenis darah yang berbeda.
Tak mungkin jenis darah yang berbeda dicampur-aduk menjadi satu, artinya orang yang mempunyai darah jenis kesatu hanya bisa di transfusi dengan darah dari jenis kesatu.
Tentu saja dia pun masih ingat perkataan gurunya, bahwa untuk menjaga kesegaran darah, maka harus disimpan dalam suhu yang rendah dan dingin.
Ditinjau dari semua perlengkapan yang tersedia di sini, dapat disimpulkan bahwa Ong-losiansing bukan saja mengetahui pembagian jenis darah manusia, dia pun sangat mengerti cara menyimpan darah segar.
Tapi untuk apa dia menyimpan begitu banyak jenis darah?
Kalau dibilang dia adalah seorang tabib sakti yang suka menolong orang, bisa jadi persediaan darahnya akan digunakan untuk menolong nyawa orang, tapi kenyataan dia tak lebih hanya seorang kakek yang mempunyai banyak uang, untuk apa persediaan darah itu?
Mungkinkah persediaan darah segar itu ada sangkut-pautnya dengan berbagai misteri yang terjadi dalam kebun monyet?
Ataukah mungkin darah itu bukan darah manusia, melainkan darah monyet?
Menyaksikan ruang penyimpan darah yang dingin membekukan itu, Yap Kay segera merasa dalam kebun monyet telah bertambah lagi dengan selapis misteri yang mencurigakan.
Sementara Yap Kay masih termenung, mendadak dari luar pintu berkumandang suara langkah manusia, dalam kagetnya ia sudah tak sempat lagi menerjang keluar ruangan, padahal sekeliling tempat itu tak tersedia tempat untuk menyembunyikan diri, apa yang harus dilakukan sekarang?
Dalam pada itu suara langkah manusia terdengar makin lama semakin dekat.
Pintu besi telah terbuka, tampak dua orang pemuda berbaju kuning berjalan masuk ke dalam ruangan.
Seorang di antaranya yang berperawakan agak tinggi membawa dua buah tabung bambu.
Mereka langsung menuju ke rak lemari bertuliskan "jenis kedua" , pemuda yang berperawakan agak pendek segera mengeluarkan kotak darah yang isinya paling sedikit dan membuka penutupnya.
Pemuda agak tinggi itu pun menuang isi kedua tabung bambu itu ke dalam kotak bulat tadi.
Tentu saja cairan yang mengalir keluar dari tabung bambu adalah darah segar.
Menanti semua cairan dalam tabung bambu telah tertuang dan kotak bulat itu sudah ditutup kembali, pemuda agak pendek itu meletakkan kembali ke dalam laci sambil katanya.
"Heran juga, aku masih ingat ketika masuk kemari tempo hari, setiap kotak 'jenis kedua' masih terisi penuh semua, kenapa sekarang lagi-lagi berkurang banyak?"
"Lagi-lagi? Apa maksudmu lagi-lagi?"
Tanya pemuda yang agak tinggi.
"Lagi-lagi maksudnya kejadian seperti ini sudah terjadi berulang kali, setiap kali masuk kemari, aku selalu menemukan kotak yang semula sudah kuisi penuh ternyata telah berkurang banyak."
Pemuda yang agak tinggi itu memandang sekali lagi kotak darah dalam laci, kemudian gumamnya sambil menggeleng.
"Aku benar-benar tak habis mengerti, buat apa si tua itu membutuhkan begitu banyak darah?"
"Si tua? Siapa si tua?"
"Dia adalah..... Tapi sebelum dia melanjutkan kata-katanya, pemuda yang lebih pendek telah menyumbat mulutnya sambil berbisik.
"Memangnya kau sudah bosan hidup?"
"Aku.....
"Tak seorang pun berani menyebutnya si tua,"
Bisik pemuda itu lagi, baru ia lepaskan bekapannya setelah memeriksa pintu sekejap.
"hari ini kau berani bicara begitu keras, memangnya sudah bosan hidup?"
"Dia tak ada di sini, darimana bisa tahu?"
Biarpun pemuda agak tinggi itu masih keras ucapannya, namun ia sudah merendahkan nada suaranya.
"Banyak orang yang suka menyampaikan laporan demi meraih pahala."
"Tapi di sini hanya ada kau dan aku, tak ada...."
Sebenarnya dia hendak mengatakan "di sini tak ada orang lain, siapa yang bakal melaporkan hal ini" , tiba-tiba ia teringat kalau rekannya bukankah seorang juga?
Sambil tertawa paksa ia menepuk bahu rekannya, katanya pula.
"Lauko, dalam kamarku tersimpan dua guci arak Li ji-ang berusia tiga puluh tahun, malam ini kita bisa berpesta-pora."
Setelah berhenti sejenak, kembali tambahnya.
"Tentu saja Laute akan menyediakan hidangan juga."
"Bukankah kedua guci arak itu adalah barang mestikamu, mana aku berani meneguknya?"
"Lauko, kau kan bukan orang luar, asal Lauko melupakan apa yang Siaute katakan tadi, apa pun yang kau kehendaki tentu akan Laute penuhi."
"Tahu rahasia tapi tidak melapor, dosanya bisa berlipat ganda,"
Kata pemuda agak pendek berlagak jual mahal.
"Kakakku yang baik, tolong ampunilah aku sekali ini saja!"
"Hm, kalau bukan melihat hubungan kita selama ini, aku "Terima kasih Lauko."
Setelah pemuda yang agak tinggi itu mengajak rekannya keluar ruangan dan baru saja merapatkan kembali pintu besi, terlihat seseorang melayang turun dari atas wuwungan rumah Begitu hinggap di lantai, Yap Kay segera menggerakkan jari tangan dan kakinya, karena harus bersembunyi di wuwungan rumah tadi tanpa bergerak, kini tangan dan kakinya sudah mulai membeku.
Selesai menghangatkan badan, Yap Kay baru termenung sambil mengulang kembali semua pembicaraan yang barusan terdengar.
Berdasar pembicaraan kedua orang itu, Yap Kay menyimpulkan tiga hal.
Pertama, cairan merah yang berada dalam kotak bulat itu adalah darah manusia.
Kedua, semua anak buah Onglosiansing tak ada yang tahu apa kegunaan darah itu dan ketiga, Ong-losiansing membutuhkan darah dalam jumlah banyak sehingga setiap berapa hari anak buahnya harus mengisi kembali kotak-kotak itu.
Kini dalam benak Yap Kay bertambah satu pertanyaan, darimana mereka memperoleh darah itu?
Jangan-jangan...
Tapi...
rasanya tak mungkin.
Mana mungkin persoalan ini disatukan dengan masalah setan pengisap darah?
Tak tahan Yap Kay tertawa geli.
Sebetulnya dia ingin melakukan penyelidikan lebih lanjut, tapi sayang waktu sudah menunjukkan 'bukan waktu yang tepat untuk melakukan pelacakan'.
Kini penjagaan dalam kebun monyet pasti sudah kembali seperti sedia kala.
Berarti dia harus segera mengundurkan diri dari situ dan selesai menyelidiki kasus setan pengisap darah malam nanti, besok dia akan menyatroni kebun monyet lagi.
Taburan bintang semalam belum lagi muncul, sinar senja hari ini telah tenggelam di langit barat.
Yap Kay segera mencari sebuah tempat yang strategis dan mulai menyembunyikan diri.
Di halaman belakang rumah nyonya setengah umur itu terdapat sebuah sumur, tepat di depan sumur berdiri sebuah pohon tua yang amat besar.
Pohon itu sangat besar dan berdaun lebat, di situlah Yap Kay menyembunyikan diri, sebab dari atas pohon bukan saja ia dapat melihat jelas situasi di sekeliling halaman belakang, bahkan radius seluas tujuh tombak pun tak akan lolos dari pengamatannya.
Dengan berbekal dua poci arak dan sejumlah rangsum ia menanti di atas pohon dengan tenang, coba kalau bukan sedang menunggu kasus aneh, menikmati arak di atas pohon pasti sangat mengasyikkan.
Ketika bintang utara pertama baru muncul di angkasa, Yap Kay telah menghabiskan separoh poci arak dan mengusir sebagian hawa dingin yang merongrong tubuhnya.
Posisi mayat masih sama seperti pagi tadi, berbaring di tengah halaman.
Di bawah sinar rembulan yang baru muncul, terlihat jelas bekas noda darah pada luka di tengkuk mayat itu telah membeku dan berubah warna jadi kehitamhitaman.
Bila berita angin yang selama ini beredar benar, malam ini mayat itu akan berubah jadi mayat hidup, akan berubah jadi setan pengisap darah.
Benarkah setan pengisap darah tak bisa dibunuh dengan senjata apa pun?
Benarkah makhluk itu baru terbunuh bila jantungnya ditusuk kayu runcing dari pohon bunga Tho?
Omong kosong semacam itu biasanya hanya muncul dalam cerita, tapi sekarang telah muncul dalam kehidupannya, bayangkan saja apa yang dilakukan Yap Kay sekarang?
Dia hanya tertawa getir, ya, dia hanya bisa tertawa getir.
Bila malam ini mayat itu benar-benar bisa hidup kembali, Yap Kay ingin membuktikan, apa benar setan pengisap darah tak dapat dibunuh dengan senjata lain, bilamana perlu dia akan menggunakan kayu runcing dari dahan bunga Tho untuk menghadapinya.
Sekarang kayu runcing bunga Tho sudah terselip di pinggangnya.
Andaikata teman-temannya mengetahui ulahnya itu, bisa jadi mereka akan tertawa hingga terlepas giginya.
Kalau bukan menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapa yang bakal mempercayainya?
Bagaimana pula dengan Yap Kay?
Bila ia benar-benar berjumpa setan pengisap darah malam ini, apakah dia akan percaya?
Yap Kay tak tahu, ia tak sanggup menjawab pertanyaan itu.
Ada sementara kejadian, walau sudah kau saksikan dengan mata kepala sendiri pun belum tentu akan percaya, apalagi omong kosong yang tak ada kepastian seperti ini.
Hawa dingin yang terbawa angin barat membawa serta bau harumnya hidangan kota Lhasa, teriring juga lagu gembala yang pilu dan penuh kesedihan.
Ketika mendengar lagu yang memilukan itu, tiba-tiba Yap Kay teringat akan seseorang.
"Bulan tiga di musim semi, kawanan domba berpesta rerumputan. Musim salju yang beku, siapa yang akan memberi makan serigala? Hati lembut bagai domba, hati keras bagai serigala. Hati manusia sukar diterka, perasaan manusia beku bagai salju...."
Siau Cap-it-long!
Di kolong langit hanya Siau Cap-it-long yang paling memahami serigala, dia pula yang menaruh simpatik terhadap serigala.
Dia sendiri seolah-olah adalah seekor serigala, seekor serigala yang kesepian, kedinginan dan kelaparan.
Berkelana di tanah bersalju, tujuannya tak lain hanya berjuang untuk mempertahankan hidup.
Tak seorang pun di dunia ini yang mau mengulurkan tangan membantunya, setiap orang hanya ingin menendangnya, menginjaknya sampai mampus.
Manusia di dunia ini hanya tahu kasihan dan simpatik kepada domba, jarang ada yang mengetahui penderitaan dan kesepian yang dirasakan serigala.
Yang dilihat umat manusia hanya keganasan serigala ketika menerkam domba, tak pernah menggubris bagaimana menderita serigala ketika kelaparan di tanah bersalju, ketika berkelana sendirian di tengah alam yang sepi.
Ketika domba lapar, dia makan rumput.
Bagaimana kalau serigala sedang lapar?
Apakah dia harus mati kelaparan?
Yap Kay sangat memahami serigala, oleh sebab itu dia pun sangat memahami Siau Cap-it-long.
Biarpun mereka berdua bukan berasal dari zaman yang sama, namun Yap Kay sangat menguasai cerita tentang Siau Cap it-long, setiap kali teringat akan ceritanya, badannya akan terasa panas dan darah dalam tubuhnya bergolak keras.
Bukan tanpa sebab secara mendadak Yap Kay teringat Siau Cap-it-long, sekalipun lagu gembala yang pilu itu membuat dia teringat akan tokoh besar itu, namun membuatnya teringat juga perkataan seorang bijak.
Nun jauh di negeri seberang, konon setiap malam bulan purnama akan muncul makhluk aneh yang suka menggigit tengkuk manusia dan mengisap darahnya, di negeri itu rakyat menyebutnya sebagai manusia serigala.
Kebetulan malam ini bulan purnama.
Yap Kay mendongak memandang rembulan di angkasa, rembulan yang bulat dan besar, apakah setan pengisap darah sama seperti manusia serigala, akan muncul pada malam bulan purnama?
Yang satu terjadi di negeri barat sementara yang lain berlangsung di negeri timur yang penuh misteri, biarpun berbeda sebutan, mungkinkah mereka adalah sejenis makhluk yang sama?
Yap Kay masih teringat cerita orang bijak itu.
Manusia serigala hanya bisa dibunuh dengan benda yang terbuat dari perak.
Persis seperti setan pengisap darah hanya bisa dibunuh dengan kayu runcing dari bunga Tho.
Korban yang digigit manusia serigala konon akan berubah jadi manusia serigala, bukankah korban yang digigit setan pengisap darah pun akan berubah jadi setan pengisap darah?
Kelihatannya walaupun manusia serigala bukan jenis makhluk yang sama dengan setan pengisap darah, paling tidak mereka pasti punya hubungan famili.
Bulan nampak sangat bulat, bintang bertaburan di angkasa membiaskan cahaya yang sejuk, hanya hembusan angin barat yang terasa dingin membeku.
Ketika angin berhembus menggugurkan dedaunan, tak tahan Yap Kay merapatkan kerah bajunya, entah lantaran hawa yang dingin atau membayangkan kejadian menyeramkan, tubuhnya nyaris meringkuk jadi satu.
Cepat ia mengambil sisa arak setengah poci dan menenggaknya hingga habis, setelah itu tubuhnya baru terasa lebih nyaman.
Saat itu tengah malam sudah hampir tiba, andaikata akan terjadi sesuatu, seharusnya peristiwa itu sebentar lagi akan berlangsung.
Berpikir begitu, dia pun menggunakan kesempatan itu untuk menangsal perut agar nanti sedikit lebih bertenaga.
Baru saja pikiran itu melintas dan hendak mengambil rangsum siap digigit, tiba-tiba terdengar suara aneh berkumandang datang.
Suara itu mirip ringkik selaksa kuda yang sedang berlari bersama.
Menyusul bergemanya suara itu, tampak ada segumpal cahaya tajam memancar keluar dari dalam sumur kering dan langsung menyorot ke angkasa.
Sementara suara ringkik aneh itu bergema makin keras, semburan cahaya itu pun makin terang benderang.
Tak tahan Yap Kay segera menutup sepasang telinganya dengan tangan, biarpun dengan segala kemampuan ia berusaha melihat apa gerangan yang telah terjadi, sayang pantulan cahaya itu terlampau kuat, akhirnya mau tak mau terpaksa dia harus memejamkan mata.
Meski mata telah terpejam, namun dia masih dapat merasakan betapa kuatnya pancaran cahaya itu, apalagi gendang telinganya.
Coba kalau dia tidak memiliki tenaga dalam yang sempurna, saat ini niscaya dia sudah jadi gila dibuatnya.
Apa yang sebenarnya telah terjadi?
Apakah kejadian ini merupakan irama pembuka sebelum setan pengisap darah itu muncul?
Bab 2.
MASA SEMBILAN BELAS TAHUN HING BU-BING Dalam sekejap mata, cahaya terang yang memancar membuat suasana di halaman belakang berubah jadi terang benderang, dalam waktu singkat pepohonan bergetar tiada hentinya, daun dan ranting pohon pun ikut bergoyang dan menari di udara.
Sejak kapan kumpulan cahaya itu menghilang?
Sejak kapan suara itu berhenti?
Yap Kay sama sekali tak tahu, dia hanya tahu seakan-akan sudah lewat lama, lama sekali, seperti sudah lewat seabad lamanya.
Meski telinganya tidak lagi terasa sakit bagaikan ditusuk jarum, namun sisa dengungan suara masih bergema dalam gendang telinganya.
Biarpun sorot cahaya itu sudah tidak kuat tadi, namun matanya yang terpejam masih tersisa bekas sinar yang menusuk pandangan.
Menanti telinganya sekali lagi dapat menangkap suara deru angin barat, menanti matanya terbiasa dengan pemandangan di saat malam, sekujur tubuh Yap Kay basah kuyup bermandikan keringat dingin.
Apa yang barusan terjadi?
Setelah berhasil menenangkan diri, Yap Kay mulai memeriksa keadaan di seputar sana, semuanya tenang, aman, tak terlihat perubahan apa pun.
Ah, tidak, tidak benar, ada sebuah benda yang telah hilang dari halaman belakang.
Benda apakah itu?
Ternyata benda itu tak lain adalah jenazah lelaki tadi.
Mayat yang sebelumnya masih berbaring di tengah halaman, sekarang telah berubah jadi seonggok daun.
Dengan cepat Yap Kay melakukan pemeriksaan di sekeliling halaman belakang, bahkan wilayah beberapa tombak dari sana pun tak luput dari pengamatannya, tapi sekeliling sana tampak sepi, yang ada hanya selapis kabut tipis.
Mayat itu benar-benar hilang.
Benarkah mayat itu telah berubah jadi setan pengisap darah?
Apakah raungan suara dan pancaran cahaya kuat merupakan perjalanan yang harus terjadi di saat mayat itu berubah jadi setan pengisap darah?
Kalau benar begitu, mengapa tak nampak setan pengisap darah?
Kalau mayat itu benar-benar telah berubah jadi setan pengisap darah, mengapa dia tak datang menggigit Yap Kay?
Masa setannya tidak melihat atau tidak merasa?
Atau Jangan-jangan setan itu kabur gara-gara mengendus bau kayu bunga Tho yang terselip di pinggang Yap Kay?
Berbagai pertanyaan itu seolah membelenggu seluruh benaknya, membuat anak muda itu termangu untuk sesaat.
Akhirnya dia mengambil sepoci arak lagi dan menenggaknya, sampai arak mengalir ke dalam perut baru dia menarik napas panjang dan melayang turun ke bawah.
Dia langsung melayang turun ke sisi gundukan daun kering itu, kemudian dari sana perhatiannya dialihkan ke sumur kering, kakinya pun perlahanlahan melangkah mendekati sumur itu.
Mungkinkah dari sumur kering semacam ini dapat muncul suara dan cahaya yang luar biasa?
Yap Kay memungut sepotong batu, lalu ditimpukkan ke dasar sumur.
"Tuk!" , memang tak keliru, suara benturan batu ke atas tanah, dari suara pantulan, tanah di dasar sumur itu pasti sangat keras, tak mungkin terdapat ruang atau lorong rahasia. Perlahan Yap Kay bangkit, sambil bertopang dagu keningnya berkerut, masa semua yang terlihat olehnya barusan hanya khayalan pribadi atau fatamorgana? Sekalipun suara dan cahaya tajam itu muncul dari khayalan pribadi, lalu bagaimana dengan mayat itu? Bukankah terbukti jenazah itu telah hilang? Bila orang lain yang bertemu kasus seperti ini, mereka pasti memilih pulang dulu untuk tidur sampai puas, kalau ada masalah lain, besok baru dibicarakan lagi. Sayang Yap Kay bukan manusia semacam itu. Bila dia adalah manusia semacam itu, tak mungkin akan muncul banyak kejadian yang penuh kesedihan, kegembiraan, kemurungan dan kepiluan. Biar sepintas sumur kering itu tak menunjukkan pertanda yang mencurigakan, namun bila Yap Kay tak turun ke bawah dan melakukan pemeriksaan, selama tiga hari tiga malam ia pasti tak bisa tidur nyenyak. Karena itu tak lama setelah mengernyitkan alis, pemuda itu sudah meluncur masuk ke dasar sumur. Dasar sumur kering itu memang keras bagai baja, begitu melayang ke bawah Yap Kay segera tahu di bawah sana tak mungkin terdapat ruang rahasia atau sebangsanya, maka seluruh perhatiannya tertuju ke sekeliling dinding sumur. Lumut hijau tumbuh subur di dinding sumur, perhatian Yap Kay pun segera dipusatkan pada lumut itu. Bukankah sumur ini kering sepanjang tahun? Mana mungkin di atas tanah yang kering bisa tumbuh lumut hijau? Sesudah diperhatikan, sekulum senyuman segera tersungging di bibir Yap Kay. Tangannya pun mulai meraba dinding sumur yang penuh ditumbuhi lumut. Ketika jari tangannya menyentuh lumut itu, senyuman yang tersungging semakin mengental, tiba-tiba dipegangnya lumut itu, lalu ditarik ke belakang, mendadak lumut yang menempel di dinding sumur itu terobek sebagian. Mana ada lumut yang bisa dirobek sebagian? Sudah jelas lumut yang berada dalam genggaman Yap Kay saat ini adalah lumut palsu. Setelah lumut palsu itu terkelupas dari dinding, kini terlihatlah empat-lima buah lubang bulat kecil, lalu apa kegunaan lubang kecil itu? Tampaknya lumut palsu itu memang khusus ditempel di dinding untuk menutupi keberadaan lubang-lubang kecil itu. Mengapa di atas dinding sumur yang kering bisa muncul lubang-lubang kecil? Apa kegunaan lubang kecil itu? Ketika semua lumut palsu dikupas, maka muncul lubang kecil yang lebih banyak. Yap Kay memasukkan jari tangan ke dalam lubang itu, ternyata tidak tercapai dasarnya, ini menunjukkan lubang kecil itu sangat dalam. Karena gelap gulita, tentu saja ia tak dapat melihat dengan jelas isi di balik gua, mau didengar dengan menempelkan telinga pun tidak terdengar suara apa pun. Sekali lagi Yap Kay dibuat pusing tujuh keliling, baru saja berhasil mengungkap rahasia lumut tempelan, kini terhadang lagi dengan rahasia lubang kecil. Mengawasi begitu banyak lubang kecil yang tersebar di dinding sumur, Yap Kay berdiri termangu, dia benar-benar tak habis mengerti apa kegunaan lubang itu? Untunglah di saat kepalanya terasa semakin pusing, tiba-tiba ia menemukan sesuatu, dilihatnya antara batu di dinding dengan batuan yang lain ternyata tidak berada dalam satu garis lurus, di antara batu dengan batu terlihat ada sebuah celah. Bebatuan itu ada yang berbentuk besar ada pula yang kecil, sehingga sekilas pandang dinding itu nampak tidak rata dan teratur, tapi pada dinding yang berada satu setengah meter dari dasar sumur terlihat sederet bebatuan yang justru tersusun rata. Ketika bebatuan itu sampai di situ, semuanya tersusun menjadi satu garis datar, tampaknya tempat itu memang sengaja diatur demikian. Begitu menjumpai penemuan itu, bukan saja rasa pusing Yap Kay seketika hilang, senyuman yang tersungging di ujung bibirnya juga nampak semakin kental. Ditatapnya celah yang rata itu beberapa saat, ia dorong dinding itu ke dalam. Baru saja menggunakan tiga bagian tenaganya, dinding itu tahu-tahu sudah amblas ke bawah, dengan amblasnya dinding sumur, maka terasalah hawa dingin yang menyengat menerpa keluar, bahkan diiringi suara mencicit yang sangat aneh. Yap Kay tahu, gejala itu merupakan akibat bertemunya udara dari dalam dan dari luar, maka ditunggunya hingga suara aneh itu lenyap baru dia melangkah masuk ke dalam pintu rahasia itu. Lorong itu sangat gelap, sedemikian gelapnya hingga susah melihat jari tangan sendiri. Apakah jalan itu lurus? Atau ada belokan? Terpaksa Yap Kay berjalan sambil berpegangan dinding, lebih kurang tujuh-delapan tikungan kemudian secara lamat-lamat baru ia melihat ada cahaya lentera di kejauhan sana. Berjalan mendekati sumber cahaya, perasaan Yap Kay malah tidak setegang tadi, karena dimana terdapat sumber cahaya di situlah terletak jawaban semua teka-teki ini, tentu saja tempat itu merupakan sumber dari segala mara-bahaya.
"Kalau sudah datang, berusaha melakukan yang terbaik" , maksud perkataan itu diketahui Yap Kay melebihi orang lain, maka dengan riang dia melanjutkan langkahnya mendekati sumber cahaya itu. Cahaya lentera sangat lembut, tapi sepasang mata itu nampak berwarna keabu-abuan. Begitu tiba di ruangan yang bercahaya, Yap Kay pun menyaksikan sepasang mata berwarna abu-abu. Bukan saja abu-abu warnanya, bahkan jauh lebih dingin daripada salju abadi di puncak Cu mu lang ma, begitu dingin sehingga membuat aliran darah siapa pun terasa ikut membeku. Yap Kay menghindari tatapan mata orang itu, dan dia pun melihat tangannya. Tangan kiri orang itu buntung, warna tangan kanan pun semu abu-abu, seperti tangan mayat yang baru keluar dari balik peti mati. Ia mengenakan jubah panjang berwarna hijau pupus, rambutnya panjang namun tersisir rapi, kedua alisnya tebal dan rapat, hidungnya mancung, tapi sayang raut mukanya kelewat menunjukkan kesepian dan kesendirian. Bibirnya amat tipis, tapi sekilas pandang dia seperti orang yang selalu pegang janji. Orang yang telah mati di tangannya juga sangat banyak, kelihatan sekali tangannya lebih banyak dipakai membunuh daripada mulutnya digunakan untuk berbicara. Sebilah pedang tanpa sarung terselip di pinggang sebelah kiri. Pedang itu berwarna hitam pekat, sepekat alis matanya. Tegasnya pedang itu tak pantas disebut sebilah pedang, lebih cocok kalau dibilang lempengan besi sepanjang satu meter yang tidak memiliki mata pedang, tak punya ujung pedang, bahkan gagang pedang pun tak ada. Dia hanya menggunakan dua lembar kayu tipis yang dipantekkan di ujung lempengan besi dan menganggapnya sebagai gagang pedang. Pedang yang dimilikinya memberi kesan seakan sebuah mainan anak-anak, tapi Yap Kay sadar justru mainan itu berbahaya sekali dan lebih baik jangan mencoba untuk bermain dengannya. Orang itu duduk di bawah cahaya lentera dengan tenang, tapi punggungnya tetap dibiarkan tegak lurus, tubuhnya seakan terbuat dari besi baja, hawa dingin, keletihan, kepenatan dan rasa lapar tak akan membuatnya takluk dan runtuh. Di kolong langit seakan tak terdapat kejadian apa pun yang dapat membuatnya takluk. Alis matanya yang tebal pekat, matanya yang besar, bibirnya yang tipis hanya nampak satu garis, hidungnya yang mancung membuat raut muka orang ini kelihatan begitu kurus kering, raut muka itu gampang membuat orang teringat akan sebongkah batu karang, batu karang yang begitu keras, kokoh, dingin, sama sekali tak peduli dengan urusan lain, bahkan terhadap diri sendiri sekalipun. Menyaksikan tampang orang ini, tak terasa Yap Kay teringat A Fei, A Fei yang mempunyai hubungan sehidup semati dengan gurunya. Ada banyak bagian pada tubuh orang ini yang mirip A Fei, satu-satunya perbedaan hanya terletak pada matanya, kalau sinar mata A Fei selalu memancarkan kehangatan, mata orang ini justru mendatangkan kematian. Yap Kay percaya, yang selalu didatangkan pedang milik orang ini adalah kematian. Tidak ada kehidupan di ujung pedangnya, kiri kanan pedang pembunuh ganda. Yap Kay yakin, orang ini pastilah si pembunuh berwajah dingin Hing Bu-bing, seorang pembunuh yang angkat nama berbareng A Fei. Hing Bu-bing! Yap Kay yakin dugaannya tak keliru, dia percaya orang yang berada di hadapannya sekarang adalah Hing Bu-bing, pembantu utama Siangkoan Kim-hong. Sebab hanya Hing Bu-bing yang bisa mendatangkan perasaan kematian bagi siapa pun. Sekali lagi Yap Kay mengalihkan sorot matanya mengawasi mata orang itu, sekali lagi mengamati cahaya abu-abu yang mendatangkan kesan kematian. Bila orang ini benar-benar Hing Bu-bing, berarti hari ini Yap Kay bakal menghadapi sebuah pertarungan paling berbahaya yang belum pernah dialaminya sepanjang hidup. Dia masih teringat pesan gurunya.
"Walaupun ilmu silat yang dimiliki Siangkoan Kim-hong jauh lebih tinggi daripada Hing Bu-bing, tapi dia tidak sengeri Hing Bu-bing, sebab dia tidak memiliki hawa kematian yang dimiliki Hing Bu-bing" .
"Aku lebih senang bertarung tiga hari tiga malam melawan Siangkoan Kim-hong daripada bertarung sesaat melawan Hing Bu-bing" . Itulah perkataan yang pernah disampaikan Siau-li si pisau terbang tentang Hing Bu-bing. Dia memang seorang yang sangat menakutkan. Dan kini Yap Kay telah berjumpa dengannya, berhadapan langsung dengan Hing Bu-bing. Dulu Li Sun-hoan belum sempat bertarung melawan Hing Bu-bing, apakah hari ini Yap Kay harus mundur sebelum bertarung? Di ujung lorong bawah tanah merupakan sebuah ruangan kosong, selain Hing Bu-bing, di sana hanya terdapat tujuh-delapan buah lentera. Biarpun cukup banyak lentera yang tersedia, namun cahaya yang terpancar sangat lembut. Suara orang itu pun sangat lambat, tak ada nada suara, juga tak terselip perasaan dan emosi. Hanya Hing Bu-bing yang bisa mengeluarkan suara semacam ini.
"Jenis manusia di dunia ini sangat banyak, ada sebagian orang yang mudah dibunuh, ada pula sebagian yang susah,"
Mimik mukanya kelihatan begitu suram dan layu, tapi suara maupun sorot matanya terasa begitu dingin menggidikkan.
"tangan pun ada banyak jenis, ada yang bisa membunuh, ada pula yang tak mampu."
Yap Kay tidak menanggapi, tidak bicara, hanya mendengarkan, mendengarkan dengan seksama.
"Dulu aku tersohor karena menggunakan tangan kiri, tapi sejak tangan kiriku kutung, banyak orang menyangka aku hanya seorang cacat yang tak berguna."
Tak salah lagi, ternyata orang ini benar-benar Hing Bu-bing.
"Oleh karena itu orang-orang itu mampus di ujung pedang tangan kananmu,"
Yap Kay membantunya menyelesaikan perkataan itu. Perlahan-lahan Hing Bu-bing mengangkat tangan kanannya, sambil menatap tangan sendiri, ujarnya.
"Sejak usia sebelas tahun aku mulai berlatih pedang, pada usia lima belas sudah mampu memainkan pedang kilat. Tapi aku butuh waktu hampir tujuh tahun lamanya untuk melatih tangan kiriku memainkan pedang, tahukah kau apa sebabnya aku berbuat demikian?"
"Katakan!"
"Aku selalu percaya, di antara jagoan yang tangguh pasti terdapat jagoan yang lebih tangguh. Aku melatih tangan kiriku menggunakan pedang karena aku yakin suatu ketika nanti pasti akan bertemu juga dengan musuh yang benar benar tangguh, saat itulah pedang tangan kiriku akan memperlihatkan kebolehannya."
Sesudah berhenti sejenak, terusnya.
"Siapa sangka belum sempat kugunakan kemampuanku, tangan kiriku sudah keburu buntung."
Tangan kirinya bukan ditebas kutung orang, tapi dia sendiri yang memotongnya.
Walaupun bahu kirinya terluka lebih dulu karena serangan Siau-li si pisau terbang, tapi kalau bukan dia sendiri yang menghujamkan pisau terbang itu hingga melukai tulang sendinya, tak nanti tangan kirinya bakal cacat.
Tentu saja Yap Kay mengetahui kejadian ini, sekalipun bukan diberitahu Li Sun-hoan, namun berita itu sudah tersebar luas dalam dunia persilatan.
Yap Kay punya telinga, bisa mendengar sendiri, bisa menganalisa dan mengambil kesimpulan, oleh sebab itu selama ini dia sangat mengagumi sepak terjang Hing Bu-bing.
Sepak terjang?
Sepak terjang seorang Enghiong?
Apa yang disebut Enghiong?
Apakah sepak terjang Hing Bu-bing selama ini bisa dianggap sebagai Enghiong?
Enghiong melambangkan apa?
Bukankah tak lebih hanya kesadisan, kekejaman, kesepian dan tidak berperasaan?
Pernah ada orang menyimpulkan arti Enghiong, membunuh orang bagaikan mencabut rumput, suka judi bagai orang kalap, suka minum bagai orang kehausan, suka main wanita setengah mati!
Tentu saja tidak semua Enghiong berwatak begitu, masih ada sejenis Enghiong yang lain.
Enghiong semacam Li Sun-hoan.
Tapi ada berapa banyak Enghiong macam Li Sun-hoan di dunia ini?
Namun terlepas Enghiong macam apakah dia, mungkin hanya satu hal mereka mempunyai kesamaan, mau menjadi Enghiong macam apa pun, jelas bukan suatu perjuangan yang enteng untuk mencapainya.
Hing Bu-bing telah mengalihkan pandangan matanya dari tangan kanan sendiri ke wajah Yap Kay yang masih berdiri di depan pintu, lalu perlahan-lahan memperkenalkan diri.
"Aku bernama Hing Bu-bing!"
"Aku tahu."
"Peristiwa terbesar yang membuatku menyesal sepanjang masa adalah tak sempat bertarung melawan Li Sun-hoan,"
Kata Hing Bu-bing lagi, setelah berhenti sejenak terusnya.
"Apakah kau bernama Yap Kay?"
"Benar. Yap daun dan Kay membuka."
"Jadi kaulah satu-satunya murid pewaris ilmu Li Sun-hoan?"
"Sayang aku hanya berhasil menyerap duatiga bagian ilmu silat guruku."
Sekali lagi Hing Bu-bing menatap tajam Yap Kay.
"Mana pisau terbangmu?"
"Ada."
"Dimana?"
"Ditempat seharusnya dia berada,"
Jawaban Yap Kay sangat hambar.
Tempat seperti apakah seharusnya dia berada?
Bagian mematikan di tubuh lawan?
Jawaban Yap Kay kali ini sangat tepat dan diplomatis, tentu saja Hing Bu-bing sangat memahami artinya, oleh sebab itu dari balik matanya yang keabu-abuan terlintas secercah cahaya tajam, namun hanya sebentar kemudian lenyap kembali.
"Bagus, tak ada guru pandai yang tak memiliki murid hebat,"
Kata Hing Bu-bing hambar.
"bila di masa lalu Li Sun-hoan pun memiliki sifat yang bebas tak terikat, tak mungkin dia mengalami nasib yang begitu tragis."
Yap Kay hanya tertawa, menyangkut persoalan ini dia memang tak pernah mau menj awab. Tentu saja Hing Bu-bing mengerti maksud Yap Kay, maka dengan cepat ia berganti topik.
"Tanggal berapa hari ini?"
Tiba-tiba ia bertanya.
"Bulan delapan tanggal sebelas,"
Lalu Yap Kay balik bertanya.
"apakah hari ini bermakna khusus?".
"Betul,"
Dari balik mata Hing Bu-bing tiba-tiba muncul cahaya kabur tak jelas, dengan nada seperti terkenang kembali masa lampau, terusnya.
"Hari ini pada sembilan belas tahun berselang Siangkoan Kim-hong tewas di ujung pisau terbang Li Sun-hoan."
Kemudian setelah berhenti sebentar untuk tarik napas, tambahnya.
"Hari ini pada sembilan belas tahun berselang, aku pun sedang merayakan ulang tahunku yang kesembilan belas."
Ternyata hari ini adalah hari ulang tahun Hing Bu-bing, berbareng juga hari ulang tahun kematian Siangkoan Kim-hong.
Yap Kay menatap tajam wajah Hing Bu-bing, tampaknya hari ini dia hendak menyelesaikan semua budi dan dendam yang terjalin selama ini.
Hing Bu-bing menarik kembali sinar matanya yang kabur, sekali lagi dia menatap wajah Yap Kay.
"Tahun ini aku baru berusia tiga puluh delapan tahun, namun seandainya aku tidak menyebut usiaku, dapatkah kau sangka usiaku baru tiga puluh delapan tahun?"
Yap Kay mengawasi wajah Hing Bu-bing dengan seksama, bila harus menilai usianya dari raut mukanya sekarang, siapa pun tak akan mengira dia baru berumur tiga puluh delapan tahun.
Biarpun wajahnya memiliki cahaya seorang berusia pertengahan, namun ujung matanya justru telah dipenuhi kerutan seorang lelaki tua, sampai pipinya yang menonjol keluar pun sudah dipenuhi kerutan.
Biarpun rambutnya masih berwarna hitam, namun jenggotnya sudah banyak yang putih, biarpun tubuhnya masih keras, tapi siapa pun dapat melihat semua itu tertopang oleh penderitaan, siksaan serta rasa dendamnya yang membara.
Kesan yang ditimbulkan atas keseluruhan tubuhnya bukan hanya kusut dan tua saja, bahkan lebih tepat kalau dibilang benar-benar sudah peyot dan rentan.
"Kau memang tidak mirip orang yang baru berusia tiga puluh delapan,"
Yap Kay berterus terang.
"paling tidak wajahmu menunjukkan usiamu sudah mencapai lima puluh delapan tahun."
"Benar, wajahku memang mencerminkan wajah orang yang telah berusia lima puluh delapan,"
Hing Bu-bing manggut-manggut.
"ini disebabkan selama sembilan belas tahun terakhir aku telah menjadi jauh lebih tua dari siapa pun."
Menjadi lebih tua sembilan belas tahun dari orang lain?
Memang tak salah, kalau orang lain sedih paling hanya sesaat, tapi selama sembilan belas tahun dia harus menanggung derita karena sedih, pilu dan terbakar api dendam kesumat.
Memang ada dua hal di dunia ini yang gampang membuat orang menjadi cepat tua, satu karena cinta, yang lain karena dendam kesumat.
Benih cinta dapat membuat orang sedih hingga membetot sukma, sementara dendam bisa membuat orang pilu hingga ke tulang sumsum, sampai mati pun tak akan reda.
"Sembilan belas tahun sudah lewat,"
Hing Bubing menghela napas panjang.
"selama sembilan belas tahun ini hampir setiap saat kunantikan kesempatan berduel melawan Li Sun-hoan, tapi hingga hari ini aku baru dapat bertemu denganmu, dan baru sekarang kusadari akan satu hal, jangan harap dalam kehidupanku bisa mengungguli Li Sun-hoan. Tahukah kau apa sebabnya?"
"Kenapa?"
"Karena dendam kesumat."
"Dendam kesumat?"
"Aku hidup demi dendam kesumat, tapi aku pun kalah karena dendam kesumat,"
Hing Bubing menerangkan.
"sekalipun aku berlatih tekun sembilan belas tahun lagi juga jangan harap bisa menangkan Li Sun-hoan, sebab hatiku selalu dibakar oleh rasa dendam yang membara, sementara Li Sun-hoan memiliki hati pemaaf dan pengampun."
Yap Kay tidak memahami maksud perkataannya, tentu saja Hing Bu-bing juga tahu dia tak paham, maka segera jelasnya.
"Dipandang dari luar, aku memang selalu berusaha mempelajari ilmu silat Li Sun-hoan, berusaha menemukan titik kelemahan jurus silatnya. Setelah berjuang selama sembilan belas tahun, kuakui memang aku berhasil menemukan titik kelemahannya, tapi sayang aku tetap tak mampu mengunggulinya."
Setelah berhenti sejenak, terangnya lebih jauh.
"Sebab selama ini aku hanya berkonsentrasi mencari pemecahan dalam melawan ilmu silatnya, sementara kemampuan silatku sendiri justru terhenti pada posisi sembilan belas tahun berselang. Padahal Li Sun-hoan tak terbeban masalah apa pun, jelas dalam sembilan belas tahun terakhir kungfunya telah mengalami kemajuan yang lebih pesat...."
Bila ilmu silat tidak dilatih pasti akan mengalami kemunduran, bila air tidak mengalir pasti terjadi penyumbatan.
Teori ini berlaku dari dulu hingga sekarang dan tak pernah berubah.
Tapi sayang kebanyakan orang tak dapat memahami teori ini, tak disangka dalam keadaan seperti ini Hing Bu-bing justru menyadarinya, dari sini dapat disimpulkan kalau kungfu yang dimilikinya saat ini sudah berbeda jauh dengan sembilan belas tahun silam.
Dapat menyelami berarti ada kemajuan.
Teori ini pun tak pernah berubah sejak dulu.
"Sekalipun aku tahu sulit mengungguli Li Sunhoan, namun aku tetap akan bertarung melawannya, karena hal ini menyangkut soal prinsip,"
Kemudian sambil berpaling ke arah Yap Kay, tanyanya.
"Kau paham?"
"Aku paham,"
Yap Kay manggut-manggut.
"sama seperti diriku, biarpun tahu dalam pertarungan hari ini aku bukan tandinganmu, namun aku tetap akan bertempur melawanmu, sebab hal ini pun merupakan prinsipku."
Walau sudah tahu bakal mati, tapi tetap juga bertarung.
Karena masalahnya sudah bukan menyangkut masalah hidup dan mati.
Masalah ini sudah menyangkut pertarungan antara kaum lurus melawan sesat, kebaikan melawan kejahatan, kehormatan melawan penghinaan.
Bab 3 .
MENGANDUNG ANAKNYA Sepasang tangan Pho Ang-soat terasa amat dingin, hatinya pun dingin.
Sebuah kesalahan yang selamanya tak mungkin bisa dihilangkan telah terjadi, kedua orang itu tak tahu bagaimana harus berhadapan.
Bila kau jadi Pho Ang-soat, apa yang akan kau perbuat?
Bila kau jadi Hong-ling, apa pula yang akan kau lakukan?
Menyusul datangnya sinar fajar, kabut malam berangsur hilang, sinar matahari pagi mulai menembus daun jendela, menyinari wajah Hong-ling.
Ia sedang mementang mata lebar-lebar, mengawasi Pho Ang-soat yang masih berbaring di sisinya tanpa berkedip.
Pho Ang-soat tak berani balas menatap wajahnya, dia hanya berharap apa yang terjadi semalam hanya impian.
Benarkah kejadian semalam hanya impian?
Sekalipun memang impian lalu bagaimana?
Di atas ranjang masih tersisa bau harum yang tertinggal karena gejolak birahi semalam, bau harum itu tiada hentinya menyusup masuk ke lubang hidung Pho Ang-soat, timbul perasaan yang tak terlukis dengan kata dalam hati kecilnya.
Jendela berada dalam keadaan terbuka, langit di luar sana pun sudah semakin terang.
Langit, lembah dan pagi hari yang tenang, langit dan bumi seolah tercekam dalam keheningan.
Namun perasaan Pho Ang-soat justru tak tenang, pikirannya terasa amat kalut.
Sebentarnya dia adalah seorang yang suka kebebasan, berkelana seorang diri, berbuat semau hati, tapi sekarang terjebak dalam keadaan serba salah, dia tak tahu bagaimana harus bersikap terhadap Hong-ling.
Sikap Hong-ling sendiri masih seperti sedia kala, sambil bangun dan duduk dia benahi rambutnya yang kusut, lalu sambil tersenyum tanyanya kepada Pho Ang-soat.
"Pagi ini kau ingin makan apa?"
Dalam situasi dan keadaan seperti sekarang, setelah mereka melakukan hubungan yang begitu bergairah, ternyata wanita itu masih bisa bertanya kepadanya dengan nada lembut, ingin makan apa?
Pho Ang-soat berdiri bodoh, dia betul-betul tak tahu bagaimana harus menj awab.
Hong-ling mendelik, tegurnya.
"He, sejak kapan kau berubah jadi bisu?"
"Aku... tidak... tidak...."
Kontan Hong-ling tertawa cekikikan.
"Ah, ternyata kau bukan berubah jadi bisu, tapi rada mirip orang bloon,"
Ejeknya.
Sikapnya terhadap Pho Ang-soat masih seperti sedia kala, sama sekali tidak berubah, atas kejadian semalam pun dia sama sekali tak menyinggung.
Dari lagaknya, seakan-akan dia tidak menganggap peristiwa yang terjadi semalam sebagai satu masalah serius, dia masih tetap bersikap sebagai Hong-ling yang dulu.
Mungkinkah peristiwa berasyik-masyuk yang terjadi di antara mereka semalam dianggapnya sebagai sebuah impian saja?
Pho Ang-soat tak kuasa menahan diri lagi, serunya.
"Kau..... Agaknya Hong-ling dapat menebak apa yang hendak dia ucapkan, segera tukasnya.
"Kenapa denganku? Masa kau pun ingin mengatakan kalau aku pun orang bloon? Kau tidak kuatir kujitak kepalamu sampai bocor?"
Kini Pho Ang-soat sudah mengerti niat Hongling, tampaknya dia sudah bertekad tak akan menyinggung lagi peristiwa semalam, hal ini dikarenakan dia tak ingin kedua belah pihak sama-sama menderita dan tersiksa gara-gara kejadian itu.
Pho Ang-soat menatapnya lembut, tiba-tiba muncul perasaan haru yang tak terlukiskan dengan kata, sekalipun dirinya dapat melupakan kejadian semalam, namun perasaan haru dan terima kasihnya tak pernah akan terlupakan untuk selamanya.
"Kau tak ingin bangun?"
Kembali Hong-ling menegur sambil memperlihatkan senyumannya yang khas.
"masa kau ingin berbaring terus di atas ranjang?"
"Aku tak ingin,"
Akhirnya Pho Ang-soat ikut tertawa.
"biarpun aku seorang bloon, paling tidak masih belum segoblok seekor babi."
Selama hidup mungkin Pho Ang-soat belum pernah menikmati sarapan selezat hari ini.
Tentu saja hal ini menurut anggapannya.
Paling tidak sarapan hari ini dilahap dalam suasana hati yang amat riang dan gembira.
Riang pasti ada, tapi mengapa harus gembira?
Dia sendiri pun tak sanggup memberi penjelasan.
Dia hanya merasa dadar telur hari ini sangat harum, ca rebungnya amat manis, ca sayurannya amat lezat, bahkan nasi yang mengepul pun terasa nikmat.
Sehabis sarapan pagi, Pho Ang-soat membuat sepoci air teh dan duduk di halaman depan sambil menikmati indahnya sinar matahari pagi.
Seusai bebenah dalam dapur, Hong-ling ikut muncul di halaman muka sambil tersenyum, kepada Pho Ang-soat katanya.
"Hari ini aku hendak turun gunung sejenak."
"Turun gunung? Mau apa?"
Tanya Pho Ang-soat tertegun.
"Aku ingin membeli barang di dusun terdekat."
"Membeli barang? Apakah kau butuh barang di sini?"
Kata Pho Ang-soat terperanjat.
"Tidak, hanya secara tiba-tiba aku ingin membeli sedikit barang,"
Sahut Hong-ling sambil tersenyum.
"bukankah membeli barang adalah sebuah kenikmatan, apalagi untuk seorang wanita."
Pho Ang-soat manggut-manggut, menghamburkan uang memang termasuk salah satu kenikmatan, tentu saja dia mengerti akan teori itu.
"Membeli barang memang merupakan suatu pekerjaan yang menyenangkan, terlepas barang yang kau beli berguna atau tidak, namun sewaktu membeli kau akan merasakan satu kenikmatan,"
Hong-ling menerangkan.
"padahal wanita sendiri juga tahu, terkadang barang yang dibeli belum tentu berguna, tapi setelah melihatnya mereka tetap tak tahan untuk membeli. Tahukah kau apa sebabnya begitu?"
Pho Ang-soat tidak tahu.
"Hal ini dikarenakan mereka suka dengan sikap jilat pantat yang dilakukan pelayan toko,"
Ujar Hong-ling lagi sambil tertawa.
"sudah lama aku tak menikmati perasaan semacam itu, maka hari ini aku berniat menikmati lagi bagaimana enaknya jilat pantat."
Pagi ini udara memang terasa lembut, sampai hembusan angin pun terasa indah.
Pho Ang-soat duduk tak bergerak di tengah halaman, hari ini ia benar-benar menikmati kehidupan yang indah.
Hong-ling sudah setengah jam meninggalkan rumah, sebelum pergi dia berjanji akan pulang sebelum tengah hari.
Kini jarak dengan tengah hari masih satu jam lebih, Pho Ang-soat mulai merasa sedikit lapar, dia berharap tengah hari segera tiba.
Perasaannya saat ini sungguh aneh, dia bukan lapar karena ingin makan, tapi dia amat menyukai suasana rumah ketika bersantap.
Biarpun Hong-ling baru setengah jam meninggalkan rumah, namun dia merasa seolah sudah ditinggal setengah tahun lamanya, hatinya begitu gundah dan tak tenang, seperti seorang perjaka yang untuk pertama kalinya jatuh cinta, selalu berharap datangnya waktu untuk berjumpa.
Mirip juga seorang bocah yang mencuri makan gula-gula, lalu bersembunyi di balik selimut sambil menikmatinya, selain senang, dia pun kuatir ketahuan orang.
Seorang lelaki yang telah berusia tiga puluh tahunan ternyata masih malu-malu macam perjaka, membayangkan keadaan dirinya, tanpa terasa Pho Ang-soat tertawa getir.
Andaikata Yap Kay mengetahui kejadian ini, dia pasti akan tertawa terbahak-bahak saking gelinya.
Teringat akan Yap Kay, tanpa terasa timbul lagi perasaan kuatir di hati kecil Pho Ang-soat, kemana saja dia telah pergi?
Apakah telah balik ke Ban be tong?
Ataukah melanjutkan penyelidikannya atas kehidupan Be Khong-cun?
Bagaimana keadaannya sekarang?
Apakah bertemu ancaman bahaya maut?
Begitu teringat Yap Kay, Pho Ang-soat merasa malu sendiri, ternyata demi seorang wanita dia telah belasan hari bersembunyi di situ, ternyata demi seorang wanita dia telah meninggalkan sahabat, tidak menggubris keselamatan temannya lagi.
Ai!
Kalau dahulu, biar dihajar sampai mampus pun tak bakal dia lakukan, tapi sekarang ...
dia telah melakukan semua itu.
Ah, tidak bisa begini terus!
Kalau ingin kehidupan di kemudian hari dilewatkan dengan tenang, kau harus segera kembali ke Ban be tong untuk membantu Yap Kay, kalau tidak hati nuranimu pasti tak bakal tenang.
Pho Ang-soat memutuskan akan memberitahukan rencananya pada Hong-ling setelah ia kembali nanti, besok dia harus meninggalkan tempat itu selama beberapa hari, bagaimana pun dia tak boleh berpeluk tangan membiarkan rekannya menderita.
Ia yakin Hong-ling pasti mengerti dan memakluminya.
Di saat penantian, waktu selalu terasa seolah berjalan sangat lambat.
Dengan susah payah akhirnya tiba juga saat tengah hari, tiba-tiba Pho Ang-soat merasa hatinya semakin tegang, matanya mengawasi terus jalanan setapak di luar pintu tanpa berkedip.
Matahari tepat di tengah langit, hawa panas yang menyengat membuat kening Pho Ang-soat dibasahi oleh keringat, bukan berkeringat karena hawa yang kelewat panas, ia berkeringat karena hingga sekarang Hong-ling belum juga kembali.
Setelah tiba saatnya, waktu pun seolah berubah jadi amat cepat, Pho Ang-soat berusaha menghibur diri sendiri, sebentar lagi dia pasti akan kembali, buat apa dirinya panik?
Kan belum benar-benar lewat tengah hari.
Entah berapa lama telah lewat, kini matahari telah bergeser ke langit barat.
Hembusan angin masih tetap seperti hembusan angin pagi, awan pun masih sama seperti pagi tadi.
Namun dalam perasaan Pho Ang-soat, seluruh dunia seakan telah berubah, berubah total, berubah jadi hampa.
Hingga kini dia masih tetap duduk di ruang tengah, cahaya matahari senja yang memancar di wajahnya membuat parasnya yang pucat berubah jadi kuning keemas-emasan.
Magrib sudah menjelang tiba.
Hingga kini Hong-ling belum juga terlihat kembali, bayangan pun tak nampak.
Perasaan gelisah Pho Ang-soat kini telah berubah jadi perasaan kuatir, dia kuatir Hong-ling telah menjumpai masalah, apakah ia sudah dihadang seseorang?
Atau suatu peristiwa telah menimpanya?
Jangan-jangan Be Khong-cun telah mengirim orang lagi dan mencegatnya di tengah jalan?
Sekarang ia mulai menyesal, mengapa pagi tadi ia memberi izin kepadanya untuk pergi seorang diri?
Mengapa bukan pergi bersama dirinya?
Kalau kemarin jagoan yang dikirim Be Khongcun bisa melakukan pembokongan di tempat itu, besar kemungkinan hari ini mereka akan menghadang di tengah jalan.
Berpikir sampai di situ, Pho Ang-soat makin panik, kalau bisa dia ingin segera menyusul ke dusun terdekat.
Tapi baru saja melangkah keluar pintu, kembali pemuda itu ragu, kalau sekarang ia menyusul ke kota sementara Hong-ling kebetulan kembali, bukankah mereka berdua bakal bersimpangan jalan?
Ketika Hong-ling tiba di rumah dan tidak melihatnya, ia pasti mengira dirinya telah pergi, dia pasti mengira dirinya sudah tak sudi melihatnya lagi, khususnya sesudah peristiwa yang terjadi semalam.
Walaupun langkahnya telah terhenti, namun perasaannya tetap tak menentu, sulit baginya untuk mengambil keputusan.
Pergi?
Atau tidak pergi?
Kalau tidak pergi, dia pun kuatir wanita itu menjumpai masalah di dusun terdekat.
Kalau pergi, dia pun kuatir mereka bersimpangan jalan hingga tercipta salah paham yang mendalam.
Sepanjang hidup belum pernah Pho Ang-soat menjumpai masa pelik seperti ini, sulit mengambil keputusan.
Magrib telah menjelang tiba.
Bau bunga liar di atas bukit terbawa angin dan terendus hingga ke dalam ruangan.
Suasana dalam rumah kayu terasa hening, sepi.
Jalan setapak yang tak merata di tanah perbukitan tampak bagaikan seutas ikat pinggang emas di bawah timpaan cahaya senja, meliuk-liuk di antara pepohonan nan hijau.
Pho Ang-soat betul-betul gelisah setengah mati, dia benar-benar habis daya dan tak tahu apa yang harus dilakukan.
Seluruh pakaiannya telah basah kuyup bermandikan keringat.
Taburan bintang di langit masih seperti keadaan semalam, angin malam berhembus membawa bau harumnya nasi dari kejauhan, Pho Ang-soat baru teringat sekarang, sudah seharian ia belum mengisi perut.
Cahaya lentera di rumah penduduk di kaki bukit telah menerangi langit yang gelap, tapi kegelapan malam justru serasa menyelimuti Pho Ang-soat yang panik.
Gelisah, panik, tak tenang dan kini ditambah ngeri bercampur takut membuat Pho Ang-soat balik kembali ke dalam rumah tanpa daya, bagaimana pun dia harus menyalakan lentera lebih dahulu.
Setelah menyalakan geretan dan menyulut sumbu lentera, cahaya terang pun menyinari seluruh ruangan.
Mendadak Pho Ang-soat menyaksikan sesuatu, sepucuk surat, ya, sepucuk surat terpampang di depan mata.
Surat?
Apakah ia meninggalkan pesan?
Apakah pesan yang ditinggalkan Hong-ling?
Dengan tangan gemetar Pho Ang-soat mengambil surat itu, membuka sampulnya dan membaca isinya.
Tulisan pertama yang melompat masuk ke dalam pandangan matanya adalah "Pho Angsoat", nama dirinya.
Tak salah lagi, surat itu memang peninggalan Hong-ling.
Ternyata dia telah menyiapkan semua itu, sementara dirinya sendiri masih mencemaskan keselamatannya bagai seorang tolol.
Isi surat amat singkat, tapi cukup membuat hati Pho Ang-soat seperti terjerumus dalam kubangan salju.
Pho Ang-soat, Aku tahu, dalam hidupku selanjutnya tak mungkin lagi bisa membunuhmu, tapi kau telah membunuh seorang sanakku, dendam ini harus kubalas.
Maka akan kubawa pergi benih anak yang tertinggal dalam rahimku sekarang, paling tidak aku pun dapat memusnahkan seorang sanakmu.
Tertanda, Hong-ling.
Bukan saja perasaan Pho Ang-soat saat ini berubah jadi dingin, seluruh tubuhnya serasa kaku, dalam benaknya berulang kali mengulang kata-kata dalam surat itu.
"Kubawa pergi benih anak yang tertinggal dalam rahimku" . Benih anak? Benih anak yang mana? Apa maksud perkataannya itu? Benih anak? Darimana datangnya benih anak? Masa baru saja mereka lakukan semalam... lalu sudah berbentuk benih anak? Surat itu sudah terjatuh ke tanah, Pho Ang-soat mengertak gigi, tangan menggenggam golok. Dia merasa sedih sekali, hatinya serasa diremas hingga hancur-lantak, diremas sangat kuat. Cahaya lentera sangat keruh. Lentera yang menyinari warung arak seakan selalu mendatangkan perasaan pilu yang mendalam. Arak pun tampak keruh. Lampu dan arak yang keruh, kini semuanya terpampang di hadapan Pho Ang-soat. Sepuluh tahun berselang ia pernah mabuk, dia tahu mabuk sama sekali tak dapat melupakan segalanya, tapi sekarang dia ingin sekali mabuk. Sepuluh tahun berselang ia pernah merasakan derita karena cinta, dalam anggapannya kini ia sudah sanggup bertahan atas penderitaan semacam itu, tapi kini, secara tiba-tiba ia membuktikan penderitaan semacam itu memang susah ditahan dan dihadapi. Arak yang keruh telah memenuhi cawan kasarnya, ia putuskan untuk meneguk habis arak kegetiran ini. Arak getir suatu kehidupan. Tapi sebelum tangannya meraih mangkuk arak itu, sebuah tangan yang muncul dari sisinya telah merampas mangkuk arak itu.
"Kau tak boleh meneguk arak semacam ini."
Tangan itu sangat besar, kuat dan kering, sekuat dan sekering nada suaranya.
Pho Ang-soat tak mendongakkan kepala, dia kenal pemilik tangan itu, dia pun kenal suara itu ...
Siau Piat-li memang seorang yang kuat tapi kering.
"Kenapa aku tak boleh meneguknya?"
"Kau boleh minum, tapi bukan minum arak semacam ini,"
Jawab Siau Piat-li hambar.
Dari kursi rodanya Siau Piat-li mengeluarkan sepoci arak dan meletakkannya ke atas meja, selesai membuang isi mangkuk tadi, dia tuang lagi dengan arak lain.
Sepuluh tahun berselang kau pernah mabuk satu kali.
Mimik muka Siau Piat-li tidak menampilkan rasa simpati, juga tiada perasaan iba, dia hanya menuang arak ke dalam mangkuk Pho Ang-soat dan mendorong ke hadapannya.
Minumlah!
Pho Ang-soat memang hanya ingin mabuk.
Arak yang getir dan pedas bagai segumpal bara api langsung menyambar tenggorokan Pho Angsoat.
Sambil mengertak gigi ia teguk habis isi cawan, memaksakan diri untuk bertahan, agar tak sampai batuk.
Namun air matanya nyaris mengucur keluar.
Siapa bilang arak itu manis?
"Itulah arak Siau to cu!"
Kembali Siau Piat-li menuang untuk mangkuk kedua.
Ketika arak mangkuk kedua mengalir masuk tenggorokannya, ia merasa arak itu jauh lebih nikmat, ketika mangkuk ketiga ditenggak, mendadak dari hati kecil Pho Ang-soat timbul semacam perasaan yang sangat aneh.
Sepuluh tahun berselang dia pun pernah merasakan keadaan seperti ini.
Lampu di meja yang redup seakan menjadi terang kembali, tubuh yang semula kaku dan hampa, tiba-tiba terasa berubah, kini dipenuhi tenaga kehidupan yang aneh.
Dia seakan telah melupakan semua kepiluan dan kepedihan hatinya, namun jarum yang menusuk serasa masih tertinggal dalam hati.
Siau Piat-li menatap tajam wajahnya, tiba-tiba ia berkata.
"Sepuluh tahun berselang kau pernah berusaha menghancurkan diri sendiri karena seorang wanita, sepuluh tahun kemudian apakah kau akan mengulang kembali sejarahmu? Hancur hanya dikarenakan seorang wanita?"
"Dari... darimana kau tahu?"
Cepat Pho Angsoat mendongakkan kepala balas menatap Siau Piat-li.
"Ketika seorang menderita dan tersiksa karena cinta, keadaannya tak jauh berbeda seperti sebatang pohon yang semula hijau segar tiba-tiba menjadi layu,"
Kata Siau Piat-li hambar.
"bukan saja Hong-ling tak pantas untuk kau kenang, pada hakikatnya tak pantas kau tangisi karena kepergiannya."
"Kau... kau pun tahu... tahu tentang persoalan ini. ..."
Suara Pho Ang-soat terdengar mulai gemetar.
"Aku tahu,"
Siau Piat-li manggut-manggut.
"tentu saja aku tahu."
"Dari... darimana kau bisa tahu,"
Penderitaan yang terpancar dari mata Pho Ang-soat semakin mengental.
"tahukah kau, penderitaanku bukan... bukan disebabkan dia pergi meninggalkan aku, tapi... tapi dikarenakan... karena....
"Karena dia hendak membunuh darah dagingmu bukan?"
Siau Piat-li bantu menyelesaikan perkataan itu.
Setiap saat, entah berapa banyak kenangan yang melintas?
Ada penderitaan tentu ada pula kegembiraan.
Ada saat kikuk, tentu ada pula saat mesra.
Pelukan penuh birahi yang terjadi semalam, cumbu rayu yang penuh kemesraan, kini telah berlalu, semuanya tinggal kenangan.
Desahan napas, cucuran keringat, luapan birahi yang telah terukir hingga ke lubuk hati, apakah kini harus dilupakan semuanya?
Bagaimana kalau selamanya tak terlupakan?
Bagaimana pula kalau selalu teringat?
Dua orang yang tidak seharusnya menjadi satu, dua orang yang seharusnya terikat dendam, bagaimana mungkin bisa terikat dalam satu kesatuan?
Kehidupan, kehidupan macam apakah ini?
"Aku telah mendapatkan bibit darah dagingmu."
"Aku akan memusnahkan seorang sanakmu."
Sanak?
Darah daging?
Kalau memang darah dagingku, apakah bukan darah dagingmu juga?
Tegakah kau melakukannya?
Tegakah kau bunuh darah dagingmu sendiri?
Benarkah ada kejadian seperti ini di dunia yang fana?
Bekas air mata telah muncul di wajah Pho Angsoat, serat darah telah muncul di bibirnya yang kering, tangannya digenggam kencang kini berubah jadi putih pucat.
Mabuklah, dalam keadaan seperti ini lebih baik mabuklah.
Yang bisa dia lakukan kini hanya meloloh diri dengan arak wangi, agar dirinya mabuk, agar sakit hatinya terlupakan untuk sesaat.
Jarum tajam telah menghujam hatinya, jarum tajam yang dingin.
Tak ada yang bisa membayangkan betapa dalam penderitaannya saat ini, betapa tersiksanya dia sekarang.
Kecuali benci dan dendam, untuk pertama kalinya dia menyadari bahwa di dunia masih terdapat sebuah siksaan lain yang jauh lebih, menakutkan daripada rasa benci dan dendam.
Yang dihasilkan rasa benci tak lebih hanya ingin memusnahkan musuh besarnya, tapi siksaan karena cinta justru dapat memusnahkan diri sendiri, dapat memusnahkan seluruh dunia.
Baru sekarang ia sadar, ternyata tanpa disadari dirinya benar-benar sudah jatuh cinta kepada Hong-ling, itulah sebabnya ia sangat menderita.
Kau telah membunuh kerabatku, maka aku pun akan membunuh kerabatmu.
Inikah yang disebut pembalasan?
Dia tak berani percaya bahwa di dunia terdapat cara pembalasan seperti ini, namun kenyataan telah tertera di depan mata, dapatkah kau tidak mempercayainya?
Malam di musim panas.
Bintang masih bertaburan di angkasa, angin malam pun masih berhembus sepoi menggoyang dedaunan.
Bintang masih tampak, rembulan pun masih terlihat, tapi kemana perginya si dia?
Tiga belas hari, mereka telah hidup bersama tiga belas hari.
Tiga belas siang dan tiga belas malam, waktu berlalu sedemikian cepat, dalam sekejap semua kenangan bermunculan dalam benaknya.
"Kau... darimana kau bisa mengetahui persoalanku?"
Seru Pho Ang-soat agak terkejut.
"Tentu saja aku tahu. Bahkan aku pun mengetahui rahasia yang tidak kau ketahui."
"Rahasia apa?"
"A-jit datang untuk membunuhmu, Hong-ling datang untuk membalas dendam, pengepungan di rumah kayu, Ting-tong bersaudara meloloh perempuan itu dengan arak perangsang, kemudian kalian pun berhubungan badan... padahal semuanya itu sudah tersusun rapi dalam sebuah rencana, rencana besar yang sudah dirancang untuk sebuah intrik j ahat."
"Intrik jahat? Maksudmu kejadian semalam aku dan dia... semuanya merupakan hasil rancangan, sebuah rencana besar?"
"Benar."
"Aku... aku tak percaya."
"Sayang kau harus mempercayainya."
"Apa... apa tujuan mereka berbuat demikian?"
"Mereka memang sengaja berbuat begitu agar kau menghancurkan dirimu sendiri, agar kau menderita,"
Siau Piat-li menjelaskan.
"sebab mereka tahu, bukan pekerjaan gampang untuk membunuh manusia macam kau. Tapi satusatunya titik kelemahan yang kau miliki adalah masalah cinta, bila ingin membunuhmu, satusatunya cara adalah membuat kau patah hati, biar kau menderita, biar kau tersiksa hingga akhirnya menghancurkan diri sendiri."
Dia tatap wajah Pho Ang-soat sekejap, kemudian ujarnya lebih lanjut.
"Itulah sebabnya mereka mengatur rencana ini, serangkaian siasat berantai, untuk menjebakmu dan menghancurkan kehidupanmu."
Lambat-laun gejolak emosi dalam dada Pho Ang-soat mulai reda, memandang cawan arak di tangan, beberapa saat kemudian baru ia bertanya.
"Siapa mereka? Kalau dilihat sepintas, seharusnya Be Khong-cun."
Sebelum orang lain menanggapi, kembali dia menambahkan sendiri.
"Padahal bukan."
"Benar."
Pho Ang-soat menatap Siau Piat-li lekat-lekat, mengawasi dengan pandangan dingin, kemudian tegurnya.
"Darimana kau bisa tahu tentang rencana busuk ini?"
Siau Piat-li tidak langsung menjawab, ditatapnya dulu wajah Pho Ang-soat dengan tenang, setelah termenung sesaat, dia penuhi cawan sendiri dan meneguknya hingga habis, setelah itu dengan suara yang hambar ujarnya.
"Karena semua rencana itu adalah hasil rancanganku."
"Hasil rancanganmu?"
"Benar."
"Tidak salah?"
Tegas Pho Ang-soat agak emosi.
"Tidak salah."
Bab 4.
MELAKUKAN PERJALANAN JAUH Tentu saja Siau Piat-li dapat melihat otot-otot hijau merongkol di tangan Pho Ang-soat, tangan yang menggenggam golok, tentu dia pun telah melihat hawa membunuh yang terpancar dari balik matanya, akan tetapi dia tetap acuh, tak ambil peduli, dia tetap duduk tenang di kursi rodanya.
"Jadi semua rencana busuk ini hasil rancanganmu?"
Sekali lagi Pho Ang-soat bertanya.
"Benar,"
Jawab Siau Piat-li hambar.
"namun hal itu terjadi pada sepuluh tahun berselang."
"Sepuluh tahun berselang?"
Sekali lagi Pho Ang-soat terkesiap.
"sejak sepuluh tahun berselang kau telah merancang intrik busuk itu dan menunggu sepuluh tahun kemudian baru dilaksanakan?"
"Tidak, rencana ini telah dijalankan sejak sepuluh tahun lalu,"
Tiba-tiba Siau Piat-li tertawa.
"hanya saja sepuluh tahun kemudian, ternyata ada orang lain yang mencoba mengulangi semua rencanaku ini."
Karena Pho Ang-soat tak mengerti, maka Siau Piat-li menjelaskan lebih jauh.
"Sepuluh tahun berselang, ketika aku belum mengetahui dengan jelas wajah Be Khong-cun yang sebenarnya, saat itu aku memang membantunya menghadapimu, maka aku pun merancang siasat yang khusus tertuju pada titik kelemahanmu, yaitu mengatur pertemuanmu dengan Cui long. Tujuanku adalah membiarkan kau menaruh cinta kepadanya, lalu perempuan itu mencampakkan dirimu agar kau patah hati dan menghancurkan diri sendiri, saat itulah kau jadi lemah dan kami pun dapat dengan mudah membereskan nyawamu."
Setelah tertawa ringan, kembali lanjutnya.
"Sungguh tak disangka sepuluh tahun kemudian ternyata kelompok Be Khong-cun kembali mengulangi siasat itu dengan mengirim seorang wanita macam Hong-ling."
Berbicara sampai di situ, ia menatap Pho Ang-soat sekejap, kemudian terusnya.
"Tak nyana ternyata kau lagi-lagi terjebak, dengan cara yang sama kau ingin menggunakan arak untuk melarikan diri dari kenyataan."
Hembusan angin di kota kecil itu sama dinginnya dengan hembusan angin di atas bukit, tapi Pho Ang-soat merasakan munculnya hawa panas dalam tubuhnya, karena ia sudah mulai tertarik dengan ucapan Siau Piat-li.
"Maksudmu kemunculan Hong-ling ini pun merupakan bagian dari rencana busuk mereka? Ingin menggunakan dia seperti Cui long sepuluh tahun berselang?"
Tanya Pho Ang-soat.
"Benar."
Pho Ang-soat berpikir sejenak, kemudian secara ringkas dia pun bercerita bagaimana si Golok lengkung A-jit muncul mencarinya, lalu Hong-ling ingin balas dendam, kemudian ia membawanya ke rumah kayu untuk merawat lukanya, bagaimana Ting tang hengte melolohnya dengan obat perangsang dan akhirnya terjadi hubungan badan dengan dirinya.
Dia pun bercerita apa yang terjadi hari ini, bagaimana Hong-ling meninggalkan surat dalam rumah dan pergi meninggalkan dirinya.
Dengan seksama Siau Piat-li mendengarkan cerita ini, kemudian sambil tertawa ujarnya.
"Kau benar-benar dibuat linglung. Hubungan badan baru terjadi semalam, tidak menjamin dia pasti akan mengandung bibit darah dagingmu, semisalnya di kemudian hari dia memang hamil....Ditatapnya Pho Ang-soat sekejap, kemudian melanjutkan.
"Cinta seorang ayah berbeda dengan cinta seorang ibu, seorang ayah baru mencintai anaknya sejak si jabang bayi lahir dari rahim ibunya. Sejak pandangan pertama itulah seorang ayah baru belajar mencintai anaknya. Pho Ang-soat bungkam, dia hanya mendengarkan.
"Berbeda dengan cinta ibu, cintanya alami, sejak dia mulai hamil, sejak sang jabang bayi mulai terbentuk dalam rahimnya, si ibu sudah mulai tumbuh rasa cintanya, cinta pada calon bayi yang berada dalam rahimnya."
"Biarpun sang bayi belum lahir, namun sang ibu sudah menaruh perhatian khusus kepadanya. Jadi kesimpulannya, cinta ibu adalah alami sedang cinta ayah baru terbentuk secara perlahan-lahan."
Baru pertama kali ini Pho Ang-soat mendengar ada orang menjelaskan perbedaan antara cinta seorang ibu dan ayah. Kembali Siau Piat-li berkata setelah tertawa lebar.
"Tahukah kau, ada begitu banyak wanita di dunia ini yang mula-mula sangat membenci benih dalam kandungannya akibat perkosaan, tapi tatkala mereka yakin dirinya mulai mahir, bukan saja rasa benci itu hilang, bahkan mereka sangat berharap bisa melahirkan si bocah dengan selamat, tahukah kau karena apa?"
"Karena cinta seorang ibu?"
"Benar. Terlepas siapa ayah bocah itu, terlepas bocah itu bisa lahir disebabkan peristiwa apa, namun kehamilan dapat membuat seorang wanita belajar menjadi ibu, dapat mengubah rasa benci mereka menjadi cinta."
Walaupun Pho Ang-soat masih mendengarkan, namun sorot matanya telah dialihkan ke tempat jauh, memandang suatu tempat nun jauh di sana.
"Sekalipun Hong-ling benar-benar ingin membunuh sanakmu, ingin membunuh bocah itu, tapi di saat benihnya telah berwujud jabang bayi dalam rahimnya, rasa benci itu pasti akan segera berubah menjadi cinta seorang ibu,"
Siau Piat-li kembali menegaskan.
"Oleh karena itu, biarpun si perancang rencana busuk itu ingin berbuat begitu, Hong-ling pasti akan berusaha sekuat tenaga melindungi darah dagingnya."
Oh perempuan, sebenarnya manusia seperti apakah perempuan itu?
Pho Ang-soat merasa dirinya benar-benar tak paham tentang wanita.
Bukan hanya dia yang tak paham, ada berapa banyak lelaki di jagad ini yang benar-benar memahami wanita?
Malam telah berakhir, sinar fajar kembali muncul di ufuk timur.
Dalam hati Pho Ang-soat sudah tak ada lagi jarum tajam yang mengganjal, ia telah mengambil keputusan untuk melacak peristiwa ini hingga jelas.
Walau harus membayar mahal, harus mempertaruhkan keselamatan jiwanya, dia ingin tahu siapa dalang di balik semua itu.
Cepat dia menarik kembali sorot matanya dari kejauhan dan memandang sekejap warung arak itu.
Cahaya lentera tetap terasa redup, arak pun masih keruh, dia mengambil secawan arak, kemudian dengan sikap yang amat tulus katanya kepada Siau Piat-li.
"Kuhormati secawan arak untukmu."
"Menghormati aku?"
Tanya Siau Piat-li terperanjat.
"Sebetulnya aku tak patut minum arak lagi, tapi secawan ini aku harus tetap menghormatimu,"
Kata Pho Ang-soat.
"karena kau telah membantu melepaskan simpul mati dalam hatiku."
"Bukan aku yang melepaskan simpul mati itu, kau sendiri yang melakukan,"
Tiba-tiba Siau Piat-li tertawa.
"biarpun begitu, semangkuk arak ini tetap akan kuterima, sebab merupakan peristiwa yang langka bila Pho Ang-soat mau menghormati orang lain dengan secawan arak."
Arak yang mereka minum bukan arak kegirangan, bukan juga arak kesedihan, tapi arak pembangkit semangat antara seorang lelaki dengan lelaki lain.
Dengan cepat kedua isi mangkuk itu sudah berpindah ke perut mereka berdua, begitu mangkuk diletakkan, Siau Piat-li segera mengisi lagi dengan arak wangi.
"Kali ini akulah yang akan menghormati secawan untukmu,"
Kata Siau Piat-li sambil mengangkat cawan araknya.
"karena sehabis meneguk arak ini, kau harus melakukan perjalanan jauh."
"Perjalanan jauh?"
"Benar, kau harus berangkat ke pusat tempat ibadah orang Tibet, kota Lhasa."
"Ke Lhasa? Kenapa aku harus berangkat ke Lhasa?"
"Demi Yap Kay."
"Yap Kay?"
Pho Ang-soat tertegun.
"apakah dia terancam mara-bahaya?"
"Dia telah lenyap."
Cahaya sang surya menembus awan yang tebal, menyinari tiang bendera yang tak terlalu tinggi.
Biarpun bendera di atas tiang masih berkibar ketika terhembus angin, namun sudah tidak sementereng dan segagah apa yang pernah disaksikan Pho Ang-soat dulu, walaupun bendera itu masih merupakan bendera kebesaran Kwan tang ban be tong.
Meski bendera itu masih bertuliskan Ban be tong, namun sebagian besar sudah dalam kondisi bekas terbakar, bukan saja bentuk panji itu kumuh dan robek, bahkan sudah banyak ditempeli sarang laba-laba.
Dari bentuk panji itu dapat diketahui bahwa perubahan tidak terjadi dalam waktu singkat, paling tidak sudah sepuluh tahun lamanya.
Sepuluh tahun.
Kegagahan dan pamor Ban be tong seakan sudah lenyap ditelan bumi, apa yang terlihat kini tak lebih hanya rumah bobrok, rumah kumuh yang pernah dilihat Pho Ang-soat ketika malam pertama tiba di tempat itu.
Rumah yang setengah roboh, dinding pagar yang sebagian telah mengelupas, debu dan kotoran bertebaran, seluruh kompleks bangunan itu nyaris terbengkalai.
Sepuluh tahun kemudian, secara mengejutkan dan mengherankan bangunan Ban be tong pulih penuh kegagahan dan mentereng seperti semula, lalu secara aneh dan tidak dimengerti berubah jadi terbengkalai dan bobrok lagi.
Apa yang sebenarnya telah terjadi?
Menyaksikan perubahan yang sama sekali tak terduga ini, Pho Ang-soat berdiri terperangah, setengah bodoh dibuatnya.
"Maka dari itu aku memaksamu datang kemari untuk menengok keadaan yang sebenarnya,"
Terdengar Siau Piat-li berkata.
"kalau tidak kau saksikan sendiri, siapa pun tak akan percaya kenyataan ini."
"Mengapa bisa berubah begini? Sejak kapan semuanya terjadi?"
Tanya Pho Ang-soat.
"Sejak tiga belas hari berselang, hari kedua setelah kau mengajak Hong-ling meninggalkan tempat ini."
Pho Ang-soat berpikir sejenak, kemudian tanyanya lagi.
"Apakah perubahan terjadi dalam semalaman, berubah secara aneh dan ajaib?"
"Benar. Malah kali ini aku berada di tempat kejadian."
Pho Ang-soat tidak paham kata-katanya itu.
"Hari kedua sepeninggalmu, saat pihak Ban be tong mengerahkan segenap kekuatannya melacak jejakmu, tiba-tiba kutemui Be Khong-cun, meski waktu pertama kali berjumpa denganku dia nampak terkejut, namun biarpun aku teliti dengan lebih seksama pun tidak kujumpai pertanda dia itu gadungan."
Secara ringkas Siau Piat-li menceritakan pengalamannya pada saat itu.
"Dia melayani aku dengan hangat, kami berdua pun berbincang sambil minum arak di dalam kamar bacanya, yang dibicarakan hanya seputar rahasia pribadiku dan Be Khong-cun."
"Rahasia yang tak mungkin diketahui orang lain?"
"Benar. Itulah sebabnya pada waktu itu aku curiga Be Khong-cun besar kemungkinan adalah Be Khong-cun yang telah mati sepuluh tahun berselang dan kini hidup kembali,"
Kata Siau Piatli.
"bicara punya bicara, tiba-tiba secara tak kusadari ternyata aku telah mabuk berat, waktu itu sudah tengah malam."
"Kemudian?"
"Kemudian sewaktu sadar kembali, ternyata hari sudah terang tanah. Biarpun aku masih duduk di kamar baca tempat kami minum arak semalam, namun semua pemandangan telah berubah, menjadi keadaan seperti apa yang kau saksikan sekarang."
"Kemana orang-orang itu?"
"Tak ada orang, tak seorang pun yang terlihat."
"Tak ada orang? Semua jagoan Ban be tong yang bangkit kembali dari kematian ikut lenyap?"
"Benar."
Sepuluh tahun berselang Ban be tong telah dimusnahkan, semua penghuninya telah mati, tapi sepuluh tahun kemudian secara aneh dan tak masuk akal mereka muncul kembali.
Kini secara aneh dan tak masuk akal mereka lenyap kembali tak berbekas.
Sebenarnya apa yang telah terjadi?
Pho Ang-soat pernah bertemu So Ming-ming, dari mulut gadis itu dia pun tahu Yap Kay berangkat ke Lhasa karena ingin menyelidiki kebun monyet, tempat dimana Pek Ih-ling yang seharusnya Be Hong-ling pernah tinggal.
Di saat mendengarkan penuturan So Ming-ming tentang Yap Kay yang berangkat ke kota Lhasa, dia mendengarkan dengan seksama dan teliti.
Tak sepotong kata pun yang tercecer.
Ketika mendengar Hong-ling di rumah keliningan, walaupun hati kecilnya merasa amat sakit, namun perasaan duka itu tak sampai ditampilkan di wajah.
Tentu saja Pho Ang-soat pun tahu Yap Kay lenyap karena masalah setan pengisap darah, justru karena persoalan itulah So Ming-ming khusus mendatangi kota kecil itu dan mengajak Siau Piat-li berunding.
Itu pula sebabnya Siau Piat-li memaksa menghormati Pho Ang-soat dengan secawan arak sambil mengatakan dia bakal melakukan perjalanan jauh.
Kini Ban be tong telah pulih dalam keadaan yang sesungguhnya, bangunan yang tinggal puing, bobrok dan terbengkalai.
Be Khong-cun dan para begundalnya juga lenyap.
Kemana semua orang itu telah pergi?
Tampaknya jawaban atas teka-teki itu hanya bisa ditemukan di kota Lhasa.
Oleh karena itu Pho Ang-soat bersama So Mingming segera berangkat ke kota Lhasa.
Bab 5.
RUMAH PHO ANG-SOAT Lhasa.
Di pegunungan nan hijau dan pepohonan yang terbentang luas, dari kejauhan terlihat secara lamat-lamat bangunan istana serta dinding kota.
Langit amat bersih, istana Potala di bawah cahaya terang terlihat begitu megah dan keren.
Pho Ang-soat sama sekali tak menyangka, nun jauh di luar perbatasan ternyata terdapat tempat yang begitu indah, keindahannya begitu megah dan penuh misteri, keindahannya membuat orang terbuai dan terpikat, keindahan yang membuat orang jadi mabuk.
Bangunan benteng didirikan sepanjang batu karang membuat bangunan kuno ini tampak gagah dan menakjubkan.
Seluruh kota Lhasa nampak begitu indah bagaikan dalam impian, untuk sesaat Pho Angsoat dibuat terperana, termangu-mangu saking kagumnya.
Bagaimana dengan Hong-ling?
Apakah dia telah kembali ke rumah keliningan?
Bagaimana rasanya bila orang yarig mendampinginya sekarang adalah Hong-ling?
Manusia memang sangat mengherankan, di saat hatinya sedang tersentuh oleh keindahan, mengapa semakin sulit baginya melupakan seseorang yang ingin sekali dilupakan?
Bangunan kuno bagaikan selembar kulit hasil samak, ada bagian yang licin dan indah, ada pula bagian yang kasar dan jelek.
Jalanan di luar kuil Tay-cau-si merupakan sisi lain dari kota Lhasa.
Sepanjang jalan terlihat sampah berserakan, kawanan pengemis tua dengan pakaian kumal, berkepala gundul, bertelanjang kaki berdiri di sepanjang jalan sambil menyodorkan tangannya meminta sedekah.
So Ming-ming memang sengaja mengajak Pho Ang-soat melalui jalanan itu, sebab ia pernah berkata kepada gadis itu.
"Aku tak ingin tinggal di rumahmu, aku pun tak ingin tinggal di tempat yang kotor."
Karena itulah So Ming-ming mengajak Pho Angsoat menuju ke jalan itu, sebab di sini terdapat sebuah penginapan yang tidak terlalu menyolok dan jarang didatangi orang.
Merek dagang rumah penginapan ini pun sangat hebat, sekali pandang orang akan terkesan olehnya.
Penginapan itu bernama penginapan Sau-lay (jarang yang datang).
Kalau nama penginapannya nyentrik, pemiliknya pun nyentrik.
Lopan pemilik rumah penginapan Sau-lay adalah seorang lelaki setengah baya berusia empat puluh tahunan, walaupun dandanannya tak jauh berbeda dengan kebanyakan orang, namun bila keesokan harinya tamu yang menginap di sana belum juga membayar ongkos sewa kamar, maka dengan wajah tak berperasaan dia akan berkata kepada tamunya.
"Pergilah! Ingat, lain kali jangan kemari lagi."
Bayangkan saja, apakah manusia semacam ini tak pantas disebut manusia eksentrik?
Kamar yang tersedia di rumah penginapan Saulay tidak berbeda jauh dengan kamar losmen di wilayah Kanglam, sebuah ruangan yang sederhana dengan sebuah lampu minyak dan perabot seadanya.
Tapi begitu Pho Ang-soat masuk ke dalam kamar penginapan Sau-lay, paras mukanya kontan berubah hebat, berubah jadi amat jelek seolah baru saja melihat setan.
Sebenarnya setan itu tidak menakutkan, banyak orang tidak takut setan.
Pho Ang-soat pun tidak takut, jauh lebih berani dibandingkan sebagian besar orang.
Apalagi dalam ruang kamar itu memang tak ada setannya.
Setiap benda, setiap perabot yang tersedia di sana persis barang-barang yang tersedia di losmen lain.
So Ming-ming memang kurang begitu tahu tentang Pho Ang-soat.
tapi selama dua hari belakangan ini dia tahu pemuda itu bukan termasuk orang yang mudah terperanjat.
Tapi kini dia pun dapat melihat Pho Ang-soat benarbenar dibuat terperana.
Dia tidak bertanya kepada Pho Ang-soat.
"Apa yang telah kau lihat?"
Sebab apa yang bisa dilihat pemuda itu, dia pun dapat melihat jelas.
Tapi dari sekian banyak benda yang dapat dilihat olehnya, tak satu pun yang bisa membuatnya ketakutan.
Yang terlihat olehnya hanya sebuah ranjang, meja, beberapa bangku, meja rias, lemari baju dan sebuah lampu minyak, semua barang amat sederhana dan sudah kuno.
Apa yang dilihat Pho Ang-soat hanya barangbarang itu, tak seorang pun yang tahu apa sebabnya dia begitu ketakutan?
Jangan-jangan kamar ini adalah sebuah kamar setan?
Sebuah kamar yang dipenuhi setan, iblis dan roh gentayangan?
Sebuah kamar yang akan mencekik dan menyiksa dirimu?
Kalau memang begitu, mengapa So Ming-ming sama sekali tidak merasakan?
Jangan-jangan kawanan setan iblis itu hanya menyatroni Pho Ang-soat seorang?
So Ming-ming ingin sekali bertanya padanya, mengapa sikapnya berubah jadi begitu, namun ia tak berani, tampang Pho Ang-soat saat ini kelewat menakutkan.
Mimik mukanya sekarang seperti setan, perlahan-lahan ia duduk bersandar dinding dekat meja kayu, duduk di bangku bambu kuno.
Begitu duduk, paras mukanya kembali berubah, berubah semakin kalut tak keruan, di samping rasa gusar yang membara, dia pun memperlihatkan perasaan cinta dan kangen yang seakan selamanya sulit dihilangkan dari benaknya.
Sebuah kamar losmen sederhana mengapa dalam waktu sekejap dapat membangkitkan dua macam perasaan yang saling bertentangan?
Kembali So Ming-ming ingin bertanya, namun dia tetap tak berani.
Tiba-tiba Pho Ang-soat berkata.
"Walaupun Hoa Pek-hong bukan ibu kandungku, namun ia sudah memelihara dan mendidikku selama delapan belas tahun."
Masalah budi dan dendam antara Pho Ang-soat, Yap Kay dan Be Khong-cun telah didengar So Ming-ming dari penuturan Siau Piat-li, karena itu dia pun tahu siapakah Hoa Pek-hong yang dimaksud.
"Biarpun sepanjang hidupnya selalu terkurung dalam rasa benci dan dendam, namun dia orang berhati lembut,"
Gumam Pho Ang-soat.
Yap Kay lenyap tak berbekas, Be Khong-cun ikut menguap, teka-teki seputar Ban be tong belum terurai, mengapa di saat dan keadaan seperti ini mendadak Pho Ang-soat menyinggung Hoa Pek-hong?
Kembali So Ming-ming ingin bertanya, tapi lagilagi tak berani, maka terpaksa dia hanya mendengarkan Pho Ang-soat berkata lebih lanjut.
"Selama delapan belas tahun, dia yang memelihara dan mendidik aku hingga dewasa, meskipun dia pun selalu melolohku dengan masalah dendam, namun dia pun amat mencintaiku, merawatku dengan penuh kasih sayang,"
Ujar Pho Ang-soat perlahan. Setelah berhenti sejenak, lanjutnya.
"Aku sengaja memberi tahu hal ini kepadamu karena aku ingin kau tahu, meskipun Hoa Pek-hong bukan ibu kandungku, namun dia telah memberi kehangatan keluarga kepadaku."
Sebetulnya dia seorang anak yatim piatu, secara tiba-tiba memiliki rumah, merasakan hangatnya berkeluarga, meski perempuan itu bukan ibu kandungnya, namun telah mendidik dan memeliharanya.
Budi pemeliharaan lebih tinggi dari langit.
Tentu saja So Ming-ming mengerti teori ini.
Tiba-tiba Pho Ang-soat bangkit, berjalan menuju ke tepi jendela, mendorongnya hingga terbuka dan memandang kegelapan yang mulai mencekam jagad.
Setelah lama termenung, kembali ia berkata.
"Selama delapan belas tahun aku tinggal di sebuah rumah batu, dalam rumah batu itu hanya terdapat sebuah ranjang, meja, beberapa bangku, lemari baju, meja rias dan sebuah lampu minyak."
Setelah memandang lagi kegelapan malam beberapa saat, ia pun berkata lebih jauh.
"Semua barang yang ada dalam kamar ini berasal dari dalam rumah batu itu."
Akhirnya So Ming-ming mengerti juga apa sebabnya paras muka Pho Ang-soat berubah begitu hebat sejak masuk ke dalam kamar ini.
Ternyata setiap benda yang ada di sini, semuanya dipindahkan dari rumah batu yang pernah ditempatinya bersama Hoa Pek-hong.
Tapi siapa yang telah memindahkan kemari?
Sudah pasti ulah dalang yang berada di balik kekuatan Ban be tong, bisa jadi dia pula yang menjadi penyebab hilangnya Yap Kay.
Tidak bisa disangkal si dalang pasti telah menemukan tempat tinggal Hoa Pek-hong dan besar kemungkinan pada saat ini Yap Kay telah terjatuh ke cengkeraman sang dalang.
So Ming-ming hanya mengawasi Phe Ang-soat dari kejauhan, untuk sesaat dia tak berani mengusiknya.
Air mata mulai mengembeng, berkumpul di balik kelopak mata, untung tak sampai mengucur, hanya di saat kesedihan yang paling puncak, air mata baru boleh mengucur.
Kalau Pho Ang-soat belum menangis, maka air mata So Ming-ming telah membasahi pipinya, dia sangat memahami hubungan batin antara Pho Ang-soat dan Hoa Pek-hong.
Dengan mulut membungkam dia awasi bayangan punggung Pho Ang-soat yang kesepian, sesaat kemudian ia berbalik badan dan beranjak keluar ruangan.
Tetapi sebelum dia melangkah keluar, terdengar Pho Ang-soat berkata.
"Kau tak perlu keluar."
"Tak perlu keluar?"
So Ming-ming menghentikan langkah sambil berpaling.
"apakah kau tahu aku hendak kemana? Dan mau berbuat apa?"
Pho Ang-soat manggut-manggut.
"Tak bakal memperoleh jawaban apa pun, sudah pasti bukan pemilik losmen yang memindahkan barang-barang itu kemari, bahkan belum tentu dia tahu siapa yang memindahkannya kemari."
Orang yang hendak dicari So Ming-ming memang Lopan pemilik losmen Sau-lay.
Setelah lampu minyak disulut, cahaya semu kuning menerangi seluruh kamar, Pho Ang-soat masih berdiri di tepi jendela, mengawasi kegelapan malam di kejauhan.
Cahaya rembulan terasa begitu lembut, sementara taburan bintang berkedip-kedip.
Apakah cahaya rembulan dan bintang di tempat ini sama menariknya dengan rembulan dan bintang di rumah batu yang pernah ditempati Pho Ang-soat?
Sewaktu lampu mulai menyala, So Ming-ming telah beranjak pergi dari situ.
Pho Ang-soat yang minta dia untuk pergi, sebab malam ini dia perlu beristirahat dengan sebaik-baiknya, dia harus menyimpan tenaga, harus meningkatkan kewaspadaan, kesensitipan dan perasaannya hingga ke tingkat paling tinggi.
Sebab yang bakal menyongsong dirinya besok adalah masa depan yang tak terbayangkan.
Di bawah sinar rembulan, bukit bersalju nun jauh di sana terlihat memantulkan cahaya keperakan, membuat suasana di jalan yang kalut itu sedikit lebih romantis.
Suasana romantis di tepi perbatasan.
Sepasang mata Pho Ang-soat sudah hampir tinggal satu garis lurus, biarpun badannya terbuat dari besi baja, kini sudah tak sanggup menahan perubahan yang terjadi secara bertubi-tubi, apalagi seharian ini dia disergap masalah yang berat, termasuk masalah ibu angkatnya.
Di kala Pho Ang-soat mulai merasa lelah, ingin beristirahat itulah mendadak dari sudut jalan ia lihat seseorang yang sangat dikenal berkelebat, sesosok tubuh gadis bertubuh ramping.
Begitu melihat orang itu, alis Pho Angsoat segera bekernyit, cepat dia melompat bangun, melompat keluar lewat jendela dan mengejar ke jalan raya.
Angin malam yang dingin berdesir lewat di sisi telinga Pho Ang-soat, tak selang berapa lama kemudian Pho Ang-soat telah mengejar orang yang sangat dikenalnya itu hingga pinggiran kota.
Antara tebing karang dengan pohon kaktus berdiri sebuah gardu segi delapan, ketika tiba di sana, orang itu berhenti dan berdiri tenang dalam gardu.
Pho Ang-soat ikut berhenti, berhenti di luar gardu, mengawasi punggung orang yang berdiri semampai, secercah kehangatan terlintas dari balik matanya yang dingin dan kesepian.
Hong-ling?
Apakah Hong-ling yang berdiri dalam gardu itu?
Ya, pasti dia.
Sebab pakaian yang dikenakan tak lain adalah pakaian yang dikenakan sewaktu pergi meninggalkan dirinya.
Pho Ang-soat merasa detak jantungnya semakin cepat, bibirnya gemetar saking emosi, sesaat dia tak tahu apa yang mesti dibicarakan.
Malam bertambah larut, rembulan pun masih bulat, bahkan hembusan angin malam yang begitu dingin pun terasa lebih lembut dan hangat, sehangat hembusan angin di musim semi.
"Baik... baikkah kau?"
Pho Ang-soat benar-benar tak tahu apa yang mesti diucapkan, terpaksa hanya beberapa patah kata itu yang diucapkan.
Orang yang berdiri dalam gardu kelihatan sedikit bergerak, tapi seperti juga sama sekali tak berkutik.
Ketika ditunggu sampai lama belum juga nampak ia bergerak, akhirnya Pho Ang-soat berkata lagi.
"Meng... mengapa kau harus pergi?"
Pho Ang-soat menundukkan kepala, katanya lagi.
"Apakah semua yang kau tulis dari suratmu merupakan ketulusan hatimu?"
Tibatiba orang itu menghela napas sedih.
"Baru berkenalan tiga belas hari, sudah begitu besar perhatianmu terhadapnya, apakah dalam pandanganmu, aku tak mampu melebihi dia?"
Kembali terdengar helaan napas amat pedih, kemudian orang dalam gardu itu baru perlahanlahan membalikkan badan.
Di bawah sorotan cahaya rembulan yang lembut, terlihat jelas raut muka bayangan itu.
Sekarang Pho Ang-soat baru dapat melihat jelas siapakah orang itu, ternyata dia tak lain adalah Pek Ih-ling yang semestinya Be Hong-ling.
"Rupanya kau?"
"Kecewa?"
Kembali sinar pedih terpancar dari balik mata Pek Ih-ling.
"kau tak menyangka bukan?"
Bara api cinta yang baru akan menyala seketika sirna kembali, sorot mata Pho Ang-soat kembali dingin dan hambar, bahkan terselip sedikit kepiluan.
"Kemunculanmu memang tepat waktu, aku memang sedang mencarimu,"
Ujar Pho Ang-soat dingin.
"Mencari aku? Mencari aku untuk menanyakan masalah Be Khong-cun?"
Kata Pek Ih-ling sambil tertawa pedih.
"Sebenarnya siapakah kau?"
Tanya Pho Angsoat sambil menatap tajam wajahnya.
"Siapa aku?"
Sekali lagi Pek Ih-ling tertawa sedih.
"sebenarnya siapakah aku?"
Setelah memutar biji matanya yang sayu dan menatap sekejap wajahnya, ia melanjutkan.
"Aku tak lebih hanya sebuah keliningan kecil."
"Keliningan kecil?"
"Ya, keliningan kecil, bila ada orang menggoyang aku, maka aku pun berdenting, jika orang tidak menggoyangku, aku pun terbungkam."
Dari balik mata Pek Ih-ling seolah terlihat cahaya air mata, tambahnya.
"Keliningan kecil, coba kau dengar, bagus bukan namaku ini?"
Kembali ia menghela napas panjang, sekarang baru ia tahu, entah itu Pek Ih-ling atau Be Hongling, semuanya mempunyai masa lalu yang pedih dan penuh kesedihan.
Mengapa seorang yang tak pernah gembira selalu bertemu dengan orang tak pernah gembira lainnya?
"Setiap orang yang hidup di dunia ini terkadang memang tak bisa lari menjadi keliningan orang lain, kau adalah keliningan orang, siapa bilang aku tidak?"
Ujar Pho Ang-soat hambar.
"bisa jadi orang yang menjadikan kau sebagai keliningan pun sesungguhnya sudah terikat tali orang lain dan dijadikan keliningan juga."
Pek Ih-ling kembali menatap wajah pemuda itu, lama kemudian baru ia menghela napas panjang.
"Ternyata watakmu tidak sedingin dan sesadis penampilanmu, tapi heran, mengapa ada begitu banyak orang yang justru menginginkan kematianmu?"
Setelah tertunduk sedih, terusnya.
"Padahal ada pula kematian sementara orang yang justru membuat orang lain merasa gembira, meski ada juga yang kematiannya membuat banyak orang bercucuran air mata Mendadak dia mendongakkan kepala, menatapnya sekejap.
"Seandai nya kau yang mati, aku pasti akan mengucurkan air mata. Oleh karena itu lebih baik kau segera pergi, semakin jauh semakin baik, semakin cepat semakin bagus."
"Oya?"
"Jangan kau sangka kedatanganmu di Lhasa merupakan sesuatu yang amat rahasia, padahal semua gerak-gerikmu, sepak terjangmu sudah berada dalam perhitungan orang lain."
Kembali Pek Ih-ling memperlihatkan rasa kuatirnya yang besar.
"Semakin lama kau berada di Lhasa, hanya kematian yang bakal kau dapat."
Tiba-tiba Pho Ang-soat menggunakan pandangan matanya yang mendalam menatap si gadis, memandang begitu lama sampai gadis itu merasa j engah dan menundukkan kepala.
"Pergilah!"
Ucap pemuda itu.
"aku pun tak ingin menyusahkan dirimu."
"Kau minta aku pergi?"
"Padahal sudah seharusnya aku tahu siapa dirimu,"
Kata Pho Ang-soat.
"semula aku ingin mencari tahu jejak mereka dari mulutmu, tapi sekarang Mendadak ia menghentikan perkataannya.
"Bagaimana sekarang?"
Pho Ang-soat tidak bicara lagi, dia membalikkan badan, lalu menggunakan langkahnya yang aneh beranjak pergi dari situ.
"Kau akan pergi begitu saja?"
Pho Ang-soat tidak berhenti, begitu dia mulai melangkah, sulitlah untuk berhenti, biarpun tahu di depan mata menghadang kematian, tak bakal dia menghentikan langkah.
"Kalau kau pergi begitu saja, hanya kematian yang bakal kau hadapi,"
Hampir menjerit Pek Ihling meneriakkan perkataan itu.
Pho Ang-soat seolah tidak mendengar teriakan itu, dia sudah pergi jauh, biar terdengar pun apa pula yang akan dilakukan?
Air mata mengembeng di mata Pek Ih-ling akhirnya meleleh jatuh ke bawah, membasahi pipinya.
Ketika terkena cahaya rembulan segera terpantul cahaya yang sendu.
Sambil mengawasi bayangan punggung yang mulai lenyap di balik kegelapan, gadis itu berdiri termangu, rasa pilu dan sedih semakin kental tercermin di balik wajahnya.
Sebuah tangan penuh bekas luka yang kuat dan besar menjulur mengangsurkan selembar sapu tangan ke depan wajah Pek Ih-ling.
"Lupakan dia, anakku!"
Ketika Pek Ih-ling berpaling, Be Khong-cun sudah berdiri di belakangnya dengan wajah sendu, dengan penuh kasih sayang ia bantu menyeka air mata di pipinya.
Gadis itu tak kuasa menahan rasa sedihnya lagi, ia menangis tersedu-sedu, sambil memukuli dada Be Khong-cun yang bidang, jeritnya.
"Kenapa? Kenapa harus begini?"
"Karena kita semua hanya keliningan orang lain,"
Jawab Be Khong-cun sambil menepuk bahu putrinya. Mendengar ucapan itu, tangisan Pek Ih-ling semakin memilukan, sambil menggigit bibir jeritnya.
"Ayah!"
BAGIAN V.
CINTA DAN DENDAM DI BALIK GOLOK Bab 1.
DUEL DI GARDU Sewaktu tersadar kembali, Yap Kay merasa mulutnya kering, bahkan lamat-lamat dadanya terasa sedikit sakit, dia tahu inilah gejala pertama yang dirasakan setelah tersadar dari pengaruh obat pemabuk.
Pertama kali membuka matanya tadi, kepalanya masih terasa agak pening, ia tak tahu berada dimanakah dirinya sekarang, secara lamat-lamat dia hanya teringat bagaimana dirinya roboh terkapar.
Berada dalam sumur kering, sebuah ruang rahasia di ujung lorong panjang, ketika dia tahu di sana telah menanti Hing Bu-bing, dia pun sadar hari ini pasti akan terjadi pertarungan yang amat sengit.
"Walaupun aku tahu bukan tandinganmu, tapi hari ini aku tetap akan bertarung melawanmu,"
Ujar Yap Kay dengan suara hambar.
"ada berapa banyak Hing Bu-bing di kolong langit? Bila aku tidak bertarung melawanmu hari ini, mungkin sulit bagiku untuk mencari seorang lawan macam kau di kemudian hari."
Setiap orang yang berlatih silat, ketika ilmu silatnya telah mencapai puncak kesempurnaan, dia akan merasa amat kesepian, sebab sampai waktu itu sulitlah baginya untuk menemukan seorang lawan tangguh yang sesungguhnya.
Oleh karena itulah ada sementara orang yang tak segan mencari kekalahan, karena dia beranggapan asal dapat bertemu seorang lawan tangguh yang sesungguhnya, biar kalah pun tetap membuat hatinya gembira.
Tapi Hing Bu-bing tahu perasaan Yap Kay saat ini bukanlah demikian, dia justru siap berduel karena semuanya itu demi Li Sun-hoan .
Bila hari ini Yap Kay mundur sebelum bertarung, menandakan Siau-Li si pisau terbang telah kalah di tangan Hing Bu-bing.
Perbuatan itu bukan saja akan mempermalukan nama baik perguruan, Yap Kay pun tak akan memaafkan diri sendiri.
Sebagai seorang lelaki sejati lakukanlah apa yang bisa kau perbuat, ajaran ini sudah lama Yap Kay serap dari ajaran yang diberikan Li Sun-hoan kepadanya.
Oleh sebab itu biarpun hari ini mesti mati, dia tetap akan melayani tantangan Hing Bu-bing.
Dalam ruang rahasia tak ada angin, tapi sudah dipenuhi hawa membunuh yang pekat.
Pedang belum dilolos dari sarungnya, namun hawa pedang sudah menyergap tubuh orang, seluruh ruang rahasia telah dipenuhi hawa membunuh yang serius dan menyeramkan.
Sepasang mata Hing Bu-bing yang keabuabuan mengawasi terus tangan Yap Kay, mengawasi tanpa berkedip, sebab dia tahu tangan itu adalah tangan yang menakutkan.
Kini Yap Kay seolah telah berubah menjadi orang lain, matanya sudah tidak memperlihatkan sikap acuhnya, dari balik mata yang berkilat terpancar sejenis cahaya yang menyilaukan mata.
Dia ibarat sebilah pedang yang sudah lama tersimpan dalam kotak, tak ada pamor, tak ada aora yang kuat, jarang ada orang bisa melihat cahayanya yang berkilauan.
Tapi kini sang pedang telah dikeluarkan dari dalam kotak.
Yap Kay telah menggerakkan tangannya, sebilah pisau terbang telah tergenggam di antara jari tangannya.
Pisau terbang milik Siau-li yang tak pernah luput dari sasaran.
Justru yang paling menakutkan dari Siau-li si pisau terbang adalah di saat pisaunya belum disambitkan.
Begitu pisau terbang terlepas, tak ada lagi yang perlu ditakuti.
Sebab orang mati memang tak kenal takut.
Hawa membunuh semakin mengental.
Hing Bu-bing telah mencabut pedangnya sambil dilintangkan di depan dada, sementara tatapan matanya tak pernah terlepas dari tangan Yap Kay.
Cahaya yang terpancar dari mata pedang kelihatannya jauh lebih mencolok daripada sinar pisau terbang itu, hawa pedang pun terasa lebih kental, dari balik matanya yang kelabu sebetulnya hanya ada kekosongan, kematian.
Tapi kini secara tiba-tiba terlintas secercah cahaya bimbang, secercah cahaya ngeri dan seram.
Tentu saja semua perubahan ini tak terlepas dari ketajaman mata Yap Kay, dalam hati kecilnya ia betul-betul merasa heran, di saat jago silat siap berduel, kenapa Hing Bu-bing justru memperlihatkan sinar mata semacam ini?
Bukankah dia telah melakukan kecerobohan fatal yang bisa berakibat kematiannya?
Tapi peristiwa yang kemudian terjadi justru membuat Yap Kay semakin terperanjat, ia lihat Hing Bu-bing mendadak memejamkan mata, kemudian tubuhnya tumbang ke tanah.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Sementara Yap Kay masih terperangah, masih terkesiap, tiba-tiba pandangan matanya ikut buram, kabur dan terpancar perasaan ngeri dan kaget yang luar biasa, sekarang baru dia mengerti apa yang telah terjadi.
Akhirnya ia sadar apa sebabnya Hing Bu-bing menunjukkan gejala seperti itu, rupanya ada orang ketiga yang secara diam-diam telah memasang jebakan di situ, orang itu menanti dengan tenang di samping arena, menunggu sampai mereka berdua mulai saling berhadapan dan siap bertarung, lalu secara diam-diam melepas obat pemabuk tanpa warna tanpa bau.
Itulah sebabnya Hing Bu-bing roboh secara mendadak, tentu saja tak terkecuali Yap Kay.
Sesaat sebelum tubuhnya roboh, hanya satu persoalan yang terpikir olehnya, siapa yang melepas dupa pemabuk itu?
Mengapa dia berbuat begitu?
Ketika sadar dari pingsannya, kepala masih terasa pusing, Yap Kay mencoba menggunakan tangannya untuk meraba kepala, sayang sama sekali tak mampu bergerak, dia mencoba mengerahkan tenaga dalam, ternyata hawa murninya tersumbat.
Sekarang baru dia tahu, rupanya jalan darah di tubuhnya telah tertotok.
Menanti mata dan pikirannya mulai dapat menyesuaikan diri dengan keadaan sekelilingnya, Yap Kay baru menjumpai dirinya sedang berbaring dalam sebuah ruangan yang berbentuk sangat aneh.
Cahaya lampu di sini amat terang dan amat lembut, tapi tak terlihat sebuah lampu lentera pun.
Kalau tak ada lampu, darimana datangnya cahaya terang?
Darimana munculnya cahaya yang begitu lembut dan terang?
Ternyata Yap Kay berbaring di atas sebuah meja altar panjang yang terbuat dari batu kristal, di samping altar terlihat banyak sekali meja altar kecil, di atas beberapa meja kecil itu tergeletak berbagai jenis pisau kecil.
Juga ada beberapa buah botol bulat, dalam botol berisi bubuk, semacam bubuk obat, ada pula yang berisi cairan, cairan warna-warni.
Di atas meja kecil yang lain terlihat juga benda yang berbentuk aneh, Yap Kay tidak tahu apa kegunaannya, berupa botol kristal yang bagian bawahnya berbentuk bulat, bagian bawah yang bulat itu sedang dibakar dengan api, sementara cairan di dalamnya mendidih, uap putih mengepul tiada hentinya.
Asap putih itu bergerak mengitari pipa kristal bulat, berkumpul menjadi satu sebelum akhirnya membeku lagi dan berubah jadi air, setetes demi setetes mengalir masuk ke botol berbentuk bola lainnya.
Apa kegunaan botol-botol bulat itu?
Dan apa gunanya?
Yap Kay sama sekali tak paham.
Terpaksa dia mengalihkan sorot matanya ke arah lain, di situ ia saksikan ada empat buah lemari berisikan botol-botol berisi cairan merah seperti darah, di atas lemari itu masing-masing tertempel label dengan tulisan.
"Jenis kesatu".
"Jenis kedua".
"Jenis ketiga"
Dan "Jenis keempat".
Selesai memperhatikan benda-benda aneh yang terdapat dalam ruangan itu, Yap Kay baru menyadari tempat itu sangat bersih, teratur bahkan terkesan dingin, sepi dan berbau obatobatan.
Ruangan apakah itu?
Mengapa di situ tersimpan begitu banyak benda berbentuk aneh?
Apa kegunaan benda-benda aneh itu?
Pertanyaan itu berulang kali melintas dalam benak Yap Kay yang baru tersadar kembali.
Sementara dia masih bingung, mendadak terdengar suara mencicit berkumandang datang.
Cepat dia berpaling, suara itu berasal dari balik dinding.
Tiba-tiba terbuka sebuah pintu, lalu dia pun menyaksikan seorang...
bukan, bukan manusia tapi seekor monyet berjalan mendekat.
Bukan, ternyata bukan monyet, tapi seorang.
Seorang!
Makhluk aneh berkepala manusia bertubuh monyet.
Yap Kay terperangah, walau tempo hari dia pernah menyaksikan makhluk berkepala manusia bertubuh monyet, tapi makhluk di depannya kini bukanlah monyet yang kepalanya dicukur gundul.
Benarkah di kolong langit terdapat makhluk seperti ini?
Lalu dia termasuk jenis manusia?
Atau jenis monyet?
Ia saksikan manusia itu berjalan masuk ke dalam ruangan, lalu memasukkan sebuah tabung darah ke dalam lemari yang berlabel "Jenis kesatu".
Yap Kay tak kuasa menahan rasa herannya, ia segera menegur.
"Kau... manusiakah kau? Atau ... atau monyet?"
"Manusia? Monyet?"
Makhluk aneh itu menjawab.
"manusiakah aku?"
Yap Kay dapat menangkap perasaan pedih yang menghiasi wajah makhluk itu.
"Adakah manusia seperti aku di dunia ini?"
Dia menatap Yap Kay sambil berkata sedih.
"adakah monyet seperti aku di dunia ini? Aku manusia atau monyet?"
Yap Kay tak sanggup menjawab lagi, dia memang tak tahu apa yang telah terjadi, dia pun tak tahu dia sebenarnya masih terhitung manusia atau monyet?
Dari balik kepedihan yang terpancar pada wajah makhluk itu tiba-tiba muncul sinar kebencian yang luar biasa, dengan sorot penuh kebencian dan kepuasan itulah dia menatap wajah Yap Kay.
"Sebentar lagi kau pun akan merasakan penderitaan seperti aku."
Di balik nada suaranya terselip sindiran dan ejekan yang sadis dan kejam.
"tak sampai beberapa hari lagi, kau pun akan berubah seperti bentukku."
"Berubah seperti bentukmu?"
Yap Kay tertawa.
"memang ada manusia sakti yang pandai ilmu sihir, asal dia menudingkan jari tangan lalu aku pun berubah bentuk seperti kau?"
"Dia memang tak punya ilmu sihir, tapi memiliki sepasang tangan yang trampil, tangan yang sakti luar biasa,"
Kata makhluk itu.
"dalam ruang bedah inilah dengan sepasang tangan saktinya dia akan mengubah kau menjadi bentuk aneh seperti aku, cukup dalam tiga hari."
Sepasang tangan yang trampil?
Dalam ruang bedah?
Tak sampai tiga hari?
Benarkah ia mampu membentuk seseorang menjadi makhluk berkepala manusia bertubuh monyet?
Tapi...
mana mungkin?
Tidak masuk akal.
Yap Kay tak percaya, sampai makhluk itu berlalu cukup lama Yap Kay masih belum percaya dengam apa yang dikatakannya.
Kalau memang tak percaya, lebih baik tak usah dipikir, maka Yap Kay pun segera memejamkan mata sambil mengatur napas.
"Biarlah apa yang akan terjadi, terjadilah."
Saat itulah mendadak ia teringat akan satu kejadian.
Di negeri sebelah barat yang letaknya nun jauh di sana, konon terdapat sejumlah orang pandai yang mampu menggunakan ilmu pertabiban tingkat tinggi untuk mengganti organ tubuh yang rusak atau busuk dengan organ baru, organ yang dicangkokkan kembali.
Organ tubuh yang diganti itu berasal dari tubuh orang lain, organ orang lain itu dicangkokkan ke bagian tubuh yang sudah rusak itu.
Ilmu pertabiban tingkat tinggi?
Benarkah makhluk berkepala manusia bertubuh monyet ini merupakan pencangkokan organ tubuh dengan ilmu pertabiban tingkat tinggi?
Apakah tabib sakti semacam itu sudah memasuki wilayah daratan?
Langit mulai terang tanah.
Kegelapan malam yang sepi telah lenyap di balik fajar yang mulai menyingsing di kota Lhasa.
Jalan raya mulai hiruk-pikuk dengan suara orang berlalu-lalang, kehidupan baru kembali mulai berlangsung.
Selesai mengenakan pakaian, Pho Ang-soat berjalan keluar dari penginapan Sau-lay dan membaurkan diri dengan keramaian manusia, ia mulai berjalan menuju ke masa depan yang tak diketahui ujungnya.
"Apakah besok kau akan mulai dengan penyelidikanmu?"
"Benar."
"Apakah akan dimulai dari posisi dimana Yap Kay hilang?"
"Tidak!"
"Tidak? Kenapa? Yap Kay lenyap di tempat itu, seharusnya kau mulai melakukan penyelidikan dari tempat itu."
"Orang yang mampu membuat Yap Kay lenyap pasti bukan orang sembarangan, tak mungkin dia akan meninggalkan jejak di tempat dimana Yap Kay hilang agar kita mendapat petunjuk untuk menelusuri jejaknya."
"Jadi pergi ke sana pun pasti akan sia-sia?"
"Benar."
"Lalu kita harus mulai menyelidiki darimana? Apakah dari kebun monyet?"
"Benar."
"Baiklah, kalau begitu besok pagi aku akan mengajakmu ke sana."
"Tidak perlu."
"Tidak perlu? Masa kau akan ke sana seorang diri?"
"Betul."
"Kenapa?"
"Karena aku tak suka bekerja bersama seorang wanita."
Inilah pembicaraan So Ming-ming dan Pho Angsoat menjelang pergi dari situ, akhirnya tentu saja So Ming-ming harus pergi meski dengan perasaan tak rela.
Kebun monyet.
Ternyata pintu gerbang menuju kebun monyet berada dalam keadaan terbuka, di bawah cahaya matahari tampak seperti seorang tuan rumah yang penuh kehangatan sedang mementang tangan menyambut kedatangan para tetamu.
Apakah mereka sudah tahu kalau hari ini bakal ada yang datang?
Apakah mereka sengaja membuka lebar pintunya untuk menunggu kedatangan Pho Ang-soat?
Pertanyaan semacam ini sama sekali tak terpikir dan tak mau dipikir Pho Ang-soat, dengan langkah lebar dia langsung memasuki pintu gerbang kebun monyet.
Halaman depan yang amat luas terdapat jembatan dengan selokan berair jernih, ada gunung-gunungan dan gardu, ada aneka bunga dan rumput, ada pula aneka jenis binatang yang terbuat dari tanah liat, hanya manusia yang tak terlihat.
Tak ada manusia, tak ada suara, semuanya terkesan hening, sepi dan mati.
Setelah menyeberangi jembatan, di antara aneka macam tumbuhan berdiri sebuah gardu segi enam, jalan setapak berlapiskan batu hijau yang tersusun rapi.
Sejak melangkah naik ke atas jembatan, Pho Ang-soat sudah tahu dalam halaman yang luas itu sama sekali tak ada penghuninya, tapi dalam gardu segi enam, gardu yang dikelilingi pepohonan terlihat seorang sedang duduk di sana sambil mengisap Huncwe.
Seorang kakek kecil duduk sambil menikmati Huncwenya, cahaya api terlihat sebentar menyala sebentar padam.
Pho Ang-soat lihat cahaya api yang sebentar terlihat sebentar padam itu mengikuti semacam irama yang aneh, terkadang cahayanya panjang terkadang pendek.
Sejenak kemudian cahaya api itu pun terang benderang bagaikan sebuah lampion.
Belum pernah Pho Ang-soat menyaksikan ada orang yang dapat mengisap Huncwe dengan memancarkan bunga api seterang itu.
Setelah melewati jembatan, menapak di atas jalan beralas batu dan mendekati gardu, mendadak cahaya api yang semula muncul di tempat itu lenyap.
Seketika Pho Ang-soat menghentikan langkah.
Dia berdiri tegak di atas jalan berbatu, mengawasi kakek yang berada dalam gardu segi enam tanpa berkutik, baru sekarang ia dapat melihat jelas wajah si kakek pengisap Huncwe itu, ternyata dia bukan lain adalah Tui hong siu, kakek yang pernah berniat membunuhnya waktu di Ban be tong kemarin.
Setelah memperhatikan lama sekali, Pho Angsoat mengayun kaki kirinya diikuti kaki kanan, berjalan masuk ke dalam gardu segi enam dan berdiri tenang tepat di hadapan Tui hong siu.
Hari ini Tui hong siu mengenakan jubah berwarna hijau yang warnanya sudah mulai luntur, dia sedang duduk dalam gardu sambil menunduk kepala, asyik mengisi Huncwe dengan tembakau, sikapnya yang begitu acuh seakan tidak tahu ada orang sedang mendekat.
Pho Ang-soat sendiri tidak bicara, ia berdiri sambil menunduk, seluruh wajahnya nyaris tersembunyi di balik bayangan gelap dalam gardu segi enam, seakan tak ingin orang mengetahui mimik mukanya.
Walau begitu matanya mengawasi tangan Tui hong siu tanpa berkedip.
Dia sedang mengawasi setiap gerak-gerik si orang tua, mengawasi dengan teliti.
Dari kantung tembakaunya, Tui hong siu mengeluarkan segumpal rajangan daun, kemudian mengambil pematik dan membakar daun tembakau itu.
Semua gerak dilakukan sangat lamban, tangannya terlihat mantap dan kokoh.
Setelah pematik api digunakan, ia meletakkannya di atas meja, lalu mengeluarkan kertas dan meletakkannya juga di meja.
Baru sekarang Pho Ang-soat maju mendekat, begitu tiba di tepi meja, dia langsung mengambil kertas itu.
Kertas itu amat tipis, garis lipatannya pun nampak rapat dan rapi, agaknya terbuat dari kualitas yang baik.
Dengan menggunakan kedua jari tangannya dia menjepit kertas itu, setelah diperhatikan sekejap, ia membawa kertas tadi mendekati pematik api.
"Tring!" , percikan bunga api memancar ke empat penjuru, tahu-tahu kertas itu sudah terbakar. Perlahan Pho Ang-soat menyodorkan kertas yang sudah terbakar itu ke kepala Huncwe yang berada di tangan orang tua itu .... Setelah melewati halaman depan, melewati pintu berbentuk bulat dan tanaman aneka bunga, di ujung jalan terlihat rumah yang sangat besar, di samping bangunan terdapat sebuah bangunan loteng kecil. Dalam ruang loteng kecil itu terlihat seorang kakek tua dan gadis muda. Yang tua adalah pemilik kebun monyet, Onglosiansing, sedang gadis muda itu adalah Kim-hi. Bangunan loteng itu dibangun menggunakan kayu pohon Siong yang kering dan kuat, bukan saja tidak dicat bahkan hanya terdapat sebuah jendela yang sangat kecil. Kim-hi duduk di sebuah bangku dalam bangunan loteng itu, dia sedang mengawasi Onglosiansing. Gadis itu sedang keheranan, selama ini dia selalu menganggap diri sendiri sebagai gadis yang paling cerdas, jarang ada masalah di dunia yang tidak dipahami olehnya, tapi kini dia benar-benar tak mengerti apa yang sedang dilakukan Onglosiansing? Waktu itu Ong-losiansing sedang berdiri di depan satu-satunya jendela kecil di loteng itu, tangannya menggenggam sebuah tabung bulat panjang. Tabung bulat itu panjangnya sekitar dua kaki dengan diameter secawan arak lebih sedikit. Kini Ong-losiansing berdiri di depan jendela, memejamkan mata kiri dan menempelkan tabung bulat panjang itu di atas mata kanannya, sementara tabung bulat itu diarahkan keluar jendela. Dalam posisi seperti itulah dia berdiri cukup lama, berdiri dalam gaya dan sikap yang tidak berubah. Ia tidak pernah memperlihatkan perubahan emosi, kecuali menampilkan keramahan, ia memang jarang membuat orang lain tahu apa yang sedang dipikirnya. Tetapi kini mimik mukanya menampilkan banyak perubahan, bermacam emosi, seakanakan dari balik tabung bulat panjang itulah dia dapat menyaksikan begitu banyak kejadian yang menarik hati. Persis seorang bocah yang sedang bermain tabung ajaib. Ong-losiansing sudah tidak terhitung anak-anak lagi, tabung bulat panjang pun bukan tabung ajaib. Tapi Kim-hi benar-benar tak bisa menebak apa yang sedang dilihatnya, dia pun tak tahu apa yang sedang dia pikirkan? Tiba-tiba Ong-losiansing berpaling, sambil tertawa ia sodorkan tabung panjang itu ke tangannya.
"Kemarilah, coba kau ikut melihat."
"Melihat apa? Melihat tabung panjang itu?"
"Benar,"
Jawab Ong-losiansing sambil tertawa.
"kujamin kau pasti dapat melihat banyak kejadian yang menarik."
Tabung bulat panjang itu terbuat dari emas, dibuat sangat indah dan artistik, sekilas pandang orang tahu benda itu tak ternilai harganya, tapi apa kegunaannya?
Ong-losiansing segera mengajarkan Kim-hi cara memegang dan memakainya, kemudian minta dia berdiri di depan jendela, memejamkan mata kiri dan melihat dengan mata kanan.
"Aku tahu kau adalah amat cerdas,"
Ujar Onglosiansing sambil tersenyum.
"tapi kujamin kau pasti tak akan menyangka kejadian apa yang bisa kau saksikan melalui tabung bulat ini."
Kim-hi memang sama sekali tak menyangka.
Mimpi pun dia tak menyangka kalau dari tabung bulat itu dia dapat menyaksikan dua orang.
Ia melihat seorang kakek tua dan seorang pemuda.
Tentu saja dia kenal orang tua itu, Tui hong siu, tapi belum pernah menyaksikan pemuda itu.
Seorang pemuda berwajah dingin kaku, memiliki sepasang mata yang jeli namun terbias perasaan tak berdaya dan pilu yang sangat mendalam.
Bagian tengah tabung itu kosong, sedang pada kedua ujungnya terpasang sejenis benda tembus pandang yang bening seperti batu kristal.
Kim-hi mengambil tabung itu, menempelkan ujung sebelah ke mata kanannya, lalu diarahkan keluar jendela, dengan cepat ia melihat seakan ada dua orang muncul di hadapannya.
Saking kagetnya hampir saja Kim-hi melepas tabung bulat itu dari tangannya.
"Benda apa ini?"
Serunya keheranan.
"Aku sendiri pun tidak tahu,"
Sahut Onglosiansing.
"benda ini datang dari sebuah negeri yang teramat jauh, hingga detik ini aku belum tahu apa namanya."
"Oh...."
"Dari dulu hingga sekarang, belum pernah benda ini masuk ke daratan Tionggoan, sampai detik ini, kecuali aku, mungkin hanya kau seorang yang pernah melihatnya."
"Oya?"
"Tapi mulai sekarang aku telah menemukan sebuah nama untuk benda ini,"
Ucap Onglosiansing sambil tersenyum bangga.
"karena baru saja kuberikan nama untuk benda ini."
"Sebetulnya benda itu akan kuberi nama kacamata seribu li, tapi nama itu kelewat umum lagi pula kedengarannya seperti barang mestika dalam dongeng."
Bicara sampai di situ dia menuding benda bulat yang berada di tangan Kim-hi itu, kemudian katanya lagi.
"Padahal benda ini bukan barang mestika seperti dalam dongeng, benda itu nyata dan kemampuan yang dimiliki adalah bisa melihat jauh, oleh karena itu secara resmi kuberi nama benda itu sebagai cermin untuk melihat jauh."
"Cermin untuk melihat jauh? Ehm, sebuah nama yang bagus."
"Benda bagus tentu saja harus memiliki nama bagus,"
Ucap Ong-losiansing sambil tertawa.
"biar nama yang bagus ini bisa terwarisi hingga akhir zaman."
Padahal jarak antara bangunan loteng itu dengan gardu segi enam cukup jauh, tapi dengan cermin penglihat jauh itu Kim-hi bisa melihat semua gerak-gerik mereka dengan sangat jelas.
"Dari dua orang yang terlihat dalam cermin ini, aku kenal si tua itu adalah Tui hong siu, tapi siapa pula yang muda itu?"
Tanya Kim-hi.
"Dia bernama Pho Ang-soat!"
"Pho Ang-soat?"
Meskipun Kim-hi belum pernah bertemu Pho Ang-soat, tapi nama itu pernah didengarnya dari percakapan antara Yap Kay dan So Ming-ming.
Dia pun mengetahui manusia macam apa Pho Ang-soat itu, yang membuatnya tidak habis pikir adalah mau apa ia mendatangi kebun monyet secara tiba-tiba?
Terdorong rasa ingin tahu yang besar, tak tahan Kim-hi bertanya.
"Mau apa dia datang kemari?"
"Demi Yap Kay!"
"Darimana dia bisa tahu Yap Kay telah lenyap?"
"Tentu saja karena diberitahu oleh sahabat karibmu, So Ming-ming."
"Sekalipun dia tahu Yap Kay telah hilang, darimana bisa tahu orang itu ada di kebun monyet?"
"Aku tak tahu, tapi Pho Ang-soat pasti dapat menduga sahabatnya berada di sini."
Kim-hi masih mengintip melalui tabung panjang itu, mengawasi gerak-gerik Pho Ang-soat dan Tui hong siu.
"Sedang apa mereka berdua dalam gardu sudut enam?"
"Sedang bertempur."
"Bertempur? Aku tidak melihat pertarungan apa-apa, bukankah yang satu sedang menyulut Huncwe, sementara yang lain mengisap Huncwe?"
"Dalam pandanganmu mereka memang seakan sedang menyulut dan mengisap Huncwe,"
Kata Ong-losiansing sambil tertawa.
"padahal mereka sedang melangsungkan sebuah pertempuran yang amat seru."
"Oya?"
"Coba kau perhatikan, panjang Huncwe dua kaki, sementara jarak tangan Tui hong siu dari tubuh Pho Ang-soat pun hanya dua kaki, asal tangan Pho Ang-soat yang sedang menyulut Huncwe sedikit gemetar atau konsentrasinya buyar, maka Tui hong siu segera akan melancarkan serangan mematikan."
Sesudah berhenti sejenak, kembali Onglosiansing melanjutkan.
"Asalkan dia mulai turun tangan, setiap waktu serangan itu bisa diarahkan ke jalan darah mana pun di tubuh Pho Ang-soat."
"Lantas kenapa hingga sekarang belum melancarkan serangan?"
"Hingga sekarang ia belum turun tangan karena sedang menanti kesempatan terbaik, hanya saja kulihat Pho Ang-soat tak bakal memberi kesempatan itu kepadanya."
Bab 2.
IKAN MAS DI LOTENG KECIL Tui hong siu masih mengisap Huncwenya.
Entah tembakaunya terlalu basah atau lubang Huncwe sudah tersumbat kelewat kencang, sudah cukup lama belum juga menyala.
Kertas penyulutnya nyaris sudah habis digunakan.
Cara Tui hong siu mengisap pipa memang sangat aneh, dia menggunakan ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri untuk memegang kepala Huncwe, sementara jari manis dan kelingking sedikit terangkat ke atas.
Sementara Pho Ang-soat menggunakan ibu jari dan jari telunjuk untuk memegang kertas penyulut, sedang ketiga buah jari lainnya ditekuk ke dalam.
Jari manis dan kelingking Tui hong siu hanya berjarak tak sampai tujuh inci dari urat penting di pergelangan tangan Pho Ang-soat.
Tubuh mereka berdua sama sekali tak bergerak, kepala pun tidak terangkat, hanya kertas penyulut itu saja yang berkedip memancarkan cahaya.
Ketika kertas penyulut membakar tangan Pho Ang-soat, ternyata pemuda itu tetap tak bergerak, seakan sama sekali tidak merasakan nya.
Pada saat itulah...
"Wes!" , akhirnya daun tembakau di ujung Huncwe terbakar dan menyala. Jari manis dan kelingking Tui hong siu kelihatan sedikit bergerak, ketiga jari tangan Pho Ang-soat yang ditekuk pun nampak bergerak, apa yang terjadi dengan kedua orang itu berlangsung amat cepat, amat lembut, bahkan begitu bergerak pun langsung berhenti. Akhirnya terlihat Pho Ang-soat terdesak mundur satu langkah, Tui hong siu pun mulai mengisap Huncwenya, sejak awal hingga akhir kedua orang itu sama-sama menundukkan kepala, siapa pun tak pernah mengawasi lawannya barang sekejap pun.
"Kelihatannya pertarungan mereka telah berakhir?"
Tanya Kim-hi kepada Ong-losiansing.
"dan aku lihat tak ada yang menang tak ada yang kalah dalam pertarungan barusan. Tapi aku yakin pasti ada satu pihak yang lebih unggul."
"Betul."
"Siapa yang berada di pihak pemenang?"
"Tui hong siu selalu menanti datangnya kesempatan, namun Pho Ang-soat sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya, namun pada akhirnya dia tak sanggup menahan diri, jari manis dan kelingking digerakkan melakukan penjajakan, jangan dilihat hanya menggerakkan jari tangan begitu enteng, padahal di balik gerakan enteng itu sebenarnya tersimpan perubahan jurus yang hebat dan menakutkan,"
Ong-losiansing menerangkan.
"ketiga jari tangan Pho Ang-soat yang ditekuk itu segera memberi reaksi yang luar biasa, setiap perubahan yang terjadi seketika terbendung mati lagi."
Kim-hi tidak memberi komentar, dia hanya mendengarkan dengan seksama.
"Walaupun mereka berdua hanya sedikit menggerakkan jari, namun sudah mencakup beribu perubahan dan ancaman, pertarungan berlangsung amat sengit, bahkan mengancam mati hidup mereka,"
Kata Ong-losiansing lebih lanjut.
"biar hanya gerakan jari, namun ancaman bahaya dan kesengitan pertarungan tak kalah hebat dengan pertarungan orang lain yang menggunakan golok maupun pedang."
"Kalau begitu Pho Ang-soat yang keluar sebagai pemenang?"
"Benar."
Begitu Huncwe tersulut, Pho Ang-soat segera mundur kembali dan balik ke posisi semula.
Tui hong siu perlahan-lahan mengisap Huncwenya, kemudian baru mendongakkan kepala, seolah baru sekarang dia melihat kehadiran Pho Ang-soat.
"Oh, rupanya kau sudah datang?"
Sapanya sambil tersenyum.
"Benar."
"Kedatanganmu sedikit terlambat."
"Lebih baik terlambat daripada sama sekali tak datang."
"Aku justru berharap kau tidak kemari."
"Tapi kenyataan aku telah datang."
"Betul, akhirnya kau datang juga, kalau begitu silakan,"
Kata Tui hong siu.
"silakan masuk ke gedung utama."
Dari teropong itu Kim-hi dapat mengikuti semua perkembangan itu dengan jelas, bahkan bibirnya bergerak seakan mengucapkan sesuatu. Melihat perbuatannya itu Ong-losiansing tertawa, tanyanya.
"Aku tahu, kau masih memiliki semacam ilmu yang jarang dimiliki orang lain."
"Soal apa?"
"Membaca bahasa bibir."
"Membaca bahasa bibir?' "
Betul, asal kau dapat melihat gerakan bibir seseorang sewaktu sedang berbicara, maka segera akan kau tahu masalah apa yang sedang mereka bicarakan."
"Kelihatannya kau sangat memahami tentang aku, banyak hal tentang diriku yang telah kau ketahui."
Sewaktu mengucapkan perkataan itu, Kim-hi sama sekali tidak menampilkan perasaan tak suka hati, malah sambil tertawa katanya lebih jauh.
"Tentu saja kau banyak tahu tentang aku, kalau tidak, mana mungkin kau menahan diriku?"
Ong-losiansing tertawa tergelak.
"Saat ini siapa yang sedang berbicara?"
Tanyanya.
"Pho Ang-soat, dia bilang lebih baik datang terlambat daripada sama sekali tak datang."
Mendengar itu Ong-losiansing segera tersenyum.
"Sekarang Tui hong siu yang berkata, aku justru berharap kau jangan kemari,"
Kata Kim-hi sambil melihat dengan teropong.
"kemudian Pho Ang-soat pun menjawab, tapi kenyataannya aku telah datang."
Kembali Ong-losiansing manggut-manggut sambil tersenyum. Terlihat Kim-hi menggerakkan bibir berkomatkamit, kemudian berkata lagi.
"Kalau memang sudah datang, silakan masuk ke gedung utama."
Bicara sampai di sini, gadis itu baru menurunkan teropongnya sambil memperlihatkan wajah sangsi.
"Kenapa kau?"
Tanya Ong-losiansing.
"Gedung utama? Kenapa dia mengundang Pho Ang-soat masuk ke gedung utama?"
"Kalau ada tamu datang, tentu saja harus dilayani secara baik di gedung utama,"
Sahut Ong-losiansing sambil tertawa.
"masa akan kau undang masuk ke dalam kamar tidurmu?"
Atas kata gurauan itu, bukan saja Kim-hi tidak tertawa, dia malah menghela napas panjang.
"Aku bukan bocah tiga tahun, buat apa kau meledek aku?"
Lalu setelah menatapnya tajam, ujarnya lebih jauh.
"Pho Ang-soat dari Ban be tong langsung datang kemari, hal ini menunjukkan dia sudah menaruh curiga terhadap kebun monyet, siapa tahu dia pun memegang beberapa petunjuk yang pasti. Dalam kondisi dan situasi seperti ini masa kau masih tetap santai dan bergurau, sama sekali tak terlihat kaget atau panik. Apakah sudah kau persiapkan cara jitu untuk menghadapinya?"
Dengan perasaan bangga Ong-losiansing manggut-manggut.
"Aku hanya tak habis mengerti, mengapa bukannya kau giring dia memasuki ruang rahasia milikmu yang penuh dengan jebakan maut, sebaliknya malah mengundangnya ke gedung utama?"
Sesudah menatap Ong-losiansing, desaknya.
"Kenapa begitu?"
Ong-losiansing tidak langsung mengemukakan alasannya, mula-mula dia hanya tertawa, kemudian berjalan mendekati meja, mengambil cawan dan menuang arak, setelah dihirup seteguk dan membiarkan arak mengalir ke dalam perut, baru ia menjawab.
"Ada tiga hal pasti tidak kau ketahui,"
Ujarnya sambil tertawa.
"pertama, Pho Ang-soat bisa menemukan tempat ini karena memang akulah yang memberi petunjuk agar dia sampai di sini, coba kalau bukan begitu, sampai mati pun dia tak bakal mencurigai kebun monyet. Kedua, ruang jebakan rahasia untuk membunuh orang itu khusus kurancang untuk menghadapi orang lain, bila untuk orang lain mungkin bakal sangat manjur, tapi untuk menghadapi Pho Ang-soat ... aku jamin sama sekali tak ada gunanya."
"Kenapa?"
"Karena dia adalah hasil didikan Pek-hong Kongcu dari Mokau, Hoa Pek-hong,"
Onglosiansing menjelaskan.
"Soal alat jebakan, racun, senjata rahasia dan berbagai ilmu sesat lainnya, kujamin tak seorang pun di dunia persilatan yang sanggup mengungguli kemampuan Mokau."
"Lalu siapa yang akan melayaninya di gedung utama?"
Tanya Kim-hi kemudian.
"Kau!"
Sahut Ong-losiansing sambil menunjuk gadis itu.
"Aku?"
Kim-hi melengak.
"aku yang harus melayaninya?"
"Benar."
Begitu melangkah masuk ke gedung utama, benda pertama yang terlihat Pho Ang-soat adalah sebuah lukisan.
Lukisan itu berukuran luar biasa besar, digantung membujur di atas dinding seberang.
Walau lukisan itu besar sekali, namun pemandangan yang tertera justru amat sederhana, hanya gambar seorang wanita sedang duduk di sebuah kursi, sementara tangannya menggendong seorang bayi yang sedang menyusu.
Sang bayi adalah lelaki, sementara sang wanita tak lain adalah lukisan Hong-ling.
Hong-ling yang berada dalam lukisan itu secantik orangnya, sedang bayi dalam bopongannya adalah seorang bocah berbaju warna-warni, memakai topi merah, putih, gemuk, menarik dan berusia sekitar dua-tiga bulan.
Meski masih kecil, tapi memiliki mata yang besar, mata besar yang kelihatan dingin dan kesepian.
Apakah bayi dalam bopongan Hong-ling adalah darah dagingnya, putra kandungnya?
Mustahil, hal semacam ini jelas mustahil, tak masuk akal.
Sejak melakukan hubungan badan dengan Hong-ling hingga hari ini paling baru lewat sepuluh hari, bagaimana mungkin dia sudah melahirkan anak?
Jelas lukisan itu membawa arti lain, mengingatkan Pho Ang-soat bahwa Hong-ling masih berada di tangannya, berarti di kemudian hari pun anak mereka akan terjatuh pula di tangannya.
Sehabis memandang lukisan itu, paras muka Pho Ang-soat sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa pun, sebab di hati kecilnya dia begitu berharap bisa membopong bocah dalam lukisan itu.
Saat ini, dalam kondisi seperti ini, dia harus mampu menahan diri, bahkan hati dan pikiran harus tetap terjaga tenang dan dingin.
Dia tak tahu siapakah pemilik lukisan yang sebenarnya, manusia macam apakah dia dan ada ancaman bahaya apa saja di tempat ini?
Semua ini dibutuhkan ketenangan, sikap dingin dan emosi yang stabil untuk menghadapinya.
Tentu saja dalam gedung seluas itu tidak hanya tergantung lukisan itu saja, terlihat aneka macam senjata tergantung pula di sana.
Tapi jenis senjata terbanyak yang ada di situ adalah dari jenis golok.
Ada golok tunggal, golok ganda, Yan ling-to, Kui thau to, golok algojo, golok pendeta, golok bergelang sembilan...
bahkan ada pula sebilah golok raja langit pemenggal setan yang panjang.
Yang paling menggetarkan hati Pho Ang-soat adalah sebilah golok berwarna hitam yang tergantung di dinding tengah.
Golok berwarna hitam pekat, hitam pembawa kematian.
Persis bentuknya dengan golok yang berada dalam genggamannya sekarang.
Biarpun terdapat begitu banyak senjata yang digantung sepanjang dinding ruangan, ternyata tidak membuat dinding gedung itu dipenuhi senjata, dari sini bisa diketahui betapa luasnya bangunan itu.
Permukaan lantai gedung pun dilapisi berbagai jenis karpet Persia yang indah dan menawan, membuat suasana di tempat itu terasa begitu hangat dan nyaman.
Hampir semua benda yang terdapat di sana merupakan benda pilihan, selama hidup baru pertama kali ini Pho Ang-soat menyaksikan tempat yang begitu indah dan mewah.
Selain lukisan, senjata dan perabot rumah tangga, dalam gedung itu tak nampak seseorang pun, suasana begitu sepi, tenang, bahkan terselip juga hawa dingin yang menyengat.
Sehabis memeriksa keadaan sekeliling tempat itu, Pho Ang-soat berdiri tak bergerak, matanya mengawasi lukisan di dinding, tapi seperti juga menembusi dinding itu dan sedang memandang suatu tempat di kejauhan sana.
Baca Juga: Anak Rajawali 10
Baca Juga: Pendekar Pemanah Rajawali 4