Ceritasilat Novel Online

Kilas Balik Merah Salju 4

Eps 4 Kilas Balik Merah Salju - Gu Long

Baca online Kilas Balik Merah Salju - Gu Long

Cersil Kilas Balik Merah Salju - Gu Long.

Tapi sejak masuk menjadi anggota organisasi rahasia pimpinan Ong-losiansing, dia telah berubah menjadi seorang yang hanya memiliki kode angka rahasia dan tidak memiliki identitas lagi.

Siapa pun tak ingin melepaskan nama serta kedudukan yang berhasil diraihnya dengan keringat, darah dan air mata begitu saja, Lim Kong-ceng memilih jalan seperti ini pun karena dia punya kesulitan yang tak mungkin dijelaskan.

Dia sudah banyak membunuh orang yang seharusnya tak pantas dibunuh, telah banyak melakukan pekerjaan yang tidak seharusnya dia lakukan, sebab selamanya dia tak pernah lupa dirinya hanyalah putra seorang juru masak dan ibu pengasuh.

Justru karena dia tak pernah bisa melupakan status asli dirinya yang begitu rendah dan memalukan, maka dia pun melakukan banyak perbuatan yang tidak seharusnya dia lakukan, maka dia pun bergabung dengan organisasi rahasia pimpinan Ong-losiansing.

Justru karena asal-usul Lim Kong-ceng yang hina, maka mati-matian ia berusaha mencari nama dan kedudukan.

Dalam menghadapi masalah apa pun dia selalu menonjolkan watak pemberontak dan dalam pandangan orang lain dia adalah pemuda berjiwa pemberontak.

Ilmu pedangnya sama seperti wataknya, penuh dengan luapan emosi, temperamen dan penuh sifat memberontak.

Latar belakang keluarga Tan Bun berbeda dengan Lim Kong-ceng, peduli diambil dari data buku mana pun, seharusnya Tan Bun termasuk seorang yang sangat normal, asal-usul orang tua maupun latar belakang pendidikannya bagus.

Nomor enam belas.

Nama.

Tan Bun.

Jenis kelamin.

laki laki.

Usia.

tiga puluh delapan tahun.

Kota asal.

Shantung.

Ayah.

Tan An.

Ibu.

Tan Lin-bi, sudah wafat.

Istri.

Cu Siok-hun.

Anak.

satu laki, satu perempuan.

Ayah Tan Bun adalah seorang Piausu serta pedagang yang sukses di wilayah Shantung, dia berusaha dari nol, tapi pada usia dua puluh enam tahun telah berhasil mengumpulkan harta senilai beberapa ratus laksa tahil perak.

Ibu Tan Bun sudah lama meninggal dunia, ayahnya tak pernah mencari bini baru lagi bahkan tak sekalipun mengendorkan pengawasan dan pendidikan terhadap putranya.

Ketika Tan Bun berusia tujuh tahun, ayahnya telah mengundang empat orang sastrawan kenamaan, dua orang guru silat ternama dan seorang jago Bu tong pay untuk memberikan pendidikan ilmu silat padanya, ayahnya berharap di kemudian hari dia bisa menjadi seorang Bun bu coan cay.

Tan Bun tidak mengecewakan harapan ayahnya, sejak muda dia sudah hebat dalam sastra maupun ilmu silat, apalagi dia pun menguasai intisari ilmu pedang aliran Bu-tong sehingga oleh umat persilatan dia dianggap angkatan muda yang hebat dari Bu tong pay.

Istri Tan Bun pun berasal dari keluarga persilatan kenamaan, selain cantik, juga lembut dan berpendidikan tinggi, dia di persunting Tan Bun sejak berusia lima belas tahun, karena itu banyak orang yang mengaguminya sebagai seorang pemuda yang penuh rezeki.

Sebagai seorang putra yang berbudi dan pintar, entah mengapa di kemudian hari Tan Bun meninggalkan semua yang dimilikinya untuk bergabung ke dalam organisasi rahasia pimpinan Ong-losiansing?

Tentu saja pernah ada orang mengajukan pertanyaan ini kepada Tan Bun, tapi dia hanya menanggapi dengan senyuman, hingga suatu saat ketika ia mabuk berat akibat minum banyak arak dengan ketiga orang temannya, dia pun menjawab apa adanya.

"Karena aku sudah tak tahan!"

Dengan kehidupan yang begitu berlimpah, dengan pendidikan keluarga yang begitu disiplin bahkan dengan kondisi kehidupan yang berkecukupan, ada masalah apa yang membuatnya tak tahan?

Ayahnya kelewat keras, kaum berada, punya duit dan ternama, sejak Tan Bun berusia belasan tahun ia sudah mengaturkan segala sesuatu bagi putranya, membuat dia tak perlu memikirkan kebutuhan di kemudian hari.

Sejak kecil dia pun sudah dilatih menjadi seorang bocah yang disiplin dan tahu aturan, dia pun tak pernah melakukan perbuatan yang dapat membuat ayahnya kuatir.

Selama hidup dia seakan sudah ditakdirkan menjadi seorang yang berhasil dan bahagia, memiliki keluarga bahagia, memiliki pekerjaan berhasil, punya nama punya kedudukan.

Banyak orang persilatan yang sirik kepadanya, tapi banyak pula yang mengaguminya, tentu saja orang yang benar-benar merasa kagum tidak terlalu banyak.

Karena keberhasilan yang diperolehnya bukan berkat perjuangan dan usaha sendiri, melainkan diperoleh dari perjuangan ayahnya.

Justru karena dia mempunyai latar belakang semacam ini maka timbul keinginannya untuk melakukan beberapa pekerjaan heboh, agar pandangan orang terhadap dirinya berubah.

Bila kau ingin melakukan satu pekerjaan besar secara terburu-buru, seringkah kau akan salah langkah.

Tentu saja tidak terkecuali Tan Bun.

Mungkin saja dia bukan benar-benar ingin melakukan perbuatan macam itu, tapi akhirnya dia tetap melakukannya, sebab terpaksa dia harus bergabung dengan organisasi pimpinan Ong-losiansing.

Ilmu pedangnya persis orangnya, berasal dari perguruan ternama dan jarang melakukan kesalahan, tapi begitu timbul kesalahan, biasanya susah untuk diatasi.

Sejak lima tahun berselang baru ia bergabung dengan organisasi pimpinan Ong-losiansing, setelah melampaui pelatihan ketat selama lima tahun, sekarang dia makin jarang melakukan kesalahan.

Tak bisa disangkal Lim Kong-ceng dan Tan Bun merupakan dua jenis manusia yang berbeda, tapi mengapa mereka malah bergabung dalam kelompok yang sama dan melakukan pekerjaan yang sama?

Rasanya pertanyaan semacam ini susah untuk dijawab, bisa jadi karena nasib.

Seringkah nasib membuat seorang mengalami banyak pengalaman dan kejadian aneh, yang tak bisa diduga sebelumnya oleh siapa pun.

Nasib pun sering menjerumuskan seseorang ke dalam kondisi yang memilukan atau bahkan menggelikan, yang membuat mereka tak punya pilihan lain.

Nasib pun sering mempertemukan pekerjaan atau manusia yang semestinya tak bisa bertemu satu dengan lainnya, membuat mereka mau tak mau harus berpisah dengan orang-orang yang semestinya tak mungkin terpisah.

Hanya saja manusia yang betul-betul pemberani dan punya semangat besar tak bakal takluk dan tunduk pada permainan nasib.

Mereka telah belajar bersabar dalam kesulitan seperti apa pun, belajar menahan diri dari situasi seburuk apa pun, asal muncul kesempatan, mereka pasti akan tampil sambil membusungkan dada, berjuang dan melawan terus sekuatnya.

Selama mereka belum mati, selama napas mereka masih ada, mereka yakin suatu saat pasti akan muncul kesempatan untuk angkat kepala.

Be Sa merupakan jenis manusia yang berbeda lagi.

Di wilayah Hokkian, keluarga Lim dan keluarga Tan merupakan keluarga mayoritas.

Meskipun Tan Bun dan Lim Kong-ceng menyandang nama marga mayoritas di wilayah Hokkian, namun mereka berdua bukan berasal dari Hokkian, justru Be Sa adalah orang Hokkian asli.

Di wilayah Hokkian, nama Be Sa adalah sebuah nama yang amat biasa dan umum, di setiap kota, dusun, kota kecil atau desa pasti ada orang yang bernama Be Sa.

Be Sa tumbuh dewasa di pesisir laut propinsi Hokkian, tempat yang seringkah disatroni perompak cebol dari Hu-sang, konon ketika berusia enam belas, dengan sebilah golok panjang pernah ia memenggal seratus tiga puluhan batok kepala perompak cebol.

Be Sa sebetulnya bukan bermarga Be dan bernama Sa, Be Sa adalah kata dari bahasa Husang.

Lalu dia dari marga apa dan siapa namanya?

Tak seorang pun yang tahu.

Kemudian para perompak berangsur lenyap, maka Be Sa pun meninggalkan kampung halamannya dan mulai berkelana dalam dunia Kangouw.

Namun selama luntang-lantung di dunia Kangouw, hasil yang diperolehnya sangat tidak memuaskan.

Karena dia tak memiliki latar belakang keluarga persilatan, bukan pula anak murid jebolan perguruan besar atau kenamaan, kemana pun dia pergi dan pekerjaan apa pun yang dia lakukan, selalu mendapat celaan dan cemoohan orang banyak.

Maka dari itu beberapa tahun kemudian manusia yang bernama Be Sa pun lenyap dari peredaran dunia persilatan, menyusul dalam percaturan dunia yang kalut muncullah seorang pembunuh bayaran yang dingin, keji, sadis dan tanpa perasaan, walaupun dia bekerja sebagai pembunuh, namun tidak menjadikan pembunuhan sebagai suatu alat hiburan.

Dalam buku catatan rahasia Ong-losiansing, dia memperoleh angka enam sebagai kode angka rahasianya, hal ini membuktikan sejarah bergabungnya dalam organisasi pembunuh bayaran sudah lama sekali.

Nomor Enam.

Nama.

Tidak jelas.

Jenis kelamin.

laki laki.

Usia.

empat puluh empat tahun.

Kota asal.

wilayah Hokkian.

Asal-usul.

tidak jelas.

Setelah lewat usia dua puluh lima, Be Sa mulai menggunakan pedang, waktu itu dia sudah tidak tergolong muda lagi, sudah tak punya semangat besar untuk belajar pedang, tentu saja dia pun tidak memiliki guru pembimbing serta sistim pendidikan sebagus Tan Bun, bahkan mungkin dia sama sekali tidak menguasai intisari dan selukbeluk ilmu pedang.

Tapi dia kaya akan pengalaman.

Pengalamannya jauh melebihi Tan Bun dan Lim Kong-ceng meski digabung sekalipun, bekas codet dan luka bacokan yang menghiasi tubuhnya bahkan jauh lebih banyak dibandingkan gabungan kedua orang itu.

Menggunakan pengalamannya waktu sering bertarung jarak dekat melawan kaum perampok Hu-sang masa lalu, dia berhasil menciptakan sejenis ilmu pedang yang hebat, gabungan ilmu pedang Tionggoan dengan ilmu samurai negeri Hu-sang (Jepang).

Biarpun ilmu pedangnya bukan termasuk indah, perubahannya pun tidak terlalu banyak, namun keganasan dan kehebatannya tak terkirakan.

Tak dapat disangkal, nomor enam, nomor enam belas dan nomor dua puluh enam merupakan jago tangguh di antara jagoan lain anak buah Onglosiansing.

Ketiga orang itu mewakili tiga jenis manusia dengan watak dan jenis yang berbeda, ilmu silat maupun ilmu pedang yang dimiliki mereka bertiga pun sama sekali berbeda.

Ong-losiansing telah menurunkan perintah kepada mereka bertiga untuk membunuh Yap Kay, perintah telah diturunkan dan harus dilaksanakan.

Perintah yang diturunkan Ong-losiansing tak pernah tak tepat sasaran.

Tapi anehnya, mengapa ia melarang mereka bertiga turun tangan bersama?

Padahal kalau tiga orang turun tangan bersama, kemungkinan berhasil jelas jauh lebih besar ketimbang turun tangan sendiri-sendiri, sebenarnya apa maksud dan tujuannya?

Tak seorang pun mengetahui maksud tujuannya, tak seorang pun mengetahui rencananya.

Tak ada yang tahu, tak ada pula yang bertanya.

Bab 8.

MEMBUNUH DAN DIBUNUH Perintah yang diturunkan Ong-losiansing harus dipatuhi, ditaati, dilarang banyak bertanya.

Bukan saja Go Thian tidak bertanya, Tan Bun, Lim Kong-ceng maupun Be Sa pun tidak banyak bertanya.

Go Thian menggunakan waktu yang paling singkat menemukan mereka, lalu menggunakan kata yang paling sederhana menyampaikan perintah Ong-losiansing.

"Lopan minta kalian pergi membunuh Yap Kay,"

Kata Go Thian.

"tapi dia minta kalian bertiga bekerja sendiri-sendiri."

"Baik!"

Jawaban mereka pun hanya sepatah kata.

Rencana yang digelar Ong-losiansing pun mulai berlangsung, sementara di tempat lain rencana balas dendam pun dipersiapkan.

Rumah keliningan di bawah pohon Siong di luar kota Lhasa masih berdiri tegak di bawah cahaya matahari, hanya saja keliningan yang selama ini tergantung di bawah emper rumah, kini sudah tak kelihatan lagi.

Bersama dengan hilangnya keliningan, si Keliningan yang sering duduk bersandar pada jendela pun kini sudah tidak nampak batang hidungnya lagi.

Rumah makan swalayan yang menjadi ciri khas rumah keliningan pun sudah tak ada.

Tak seorang pun tahu mengapa rumah keliningan menghentikan usaha dagangnya, dan tidak seorang pun tahu kemana perginya si Keliningan yang sering menampilkan wajah sedih dan murung itu.

Cahaya matahari menembus dedaunan menyinari ruangan dalam rumah keliningan, Yap Kay berdiri persis di bawah pohon Siong, berdiri tenang sambil mengawasi rumah yang sepi.

Cuaca kota Lhasa pagi ini terasa amat nyaman, meskipun matahari menyinari seluruh jagad namun sama sekali tidak terasa panas yang menyengat seperti di daerah pinggir perbatasan, karena itulah walaupun angin berhembus lembut, cukup membuat rambut Yap Kay beterbangan.

Bau harum bunga dan dedaunan yang menyertai hembusan angin membuat suasana bertambah segar, Yap Kay menarik napas panjang, lalu selangkah demi selangkah memasuki rumah keliningan yang kini ditinggal tanpa penghuni.

Ia berjalan ke bangku yang seringkah diduduki nyonya muda pemurung itu, mengawasi bangku kosong dengan pandangan tajam.

Terasa di sekeliling bangku itu masih tersisa bau harum bedak yang menempel di wajah nyonya muda itu serta bau badan sang nyonya yang lembut.

Perlahan-lahan Yap Kay duduk dibangku itu, menirukan gaya duduk sang nyonya muda sambil memandang ke tempat jauh, kini baru dia mengerti apa sebabnya si Keliningan memilih posisi duduk di tempat itu.

Rupanya dari tempat itu dia dapat melihat ujung jalan, dapat pula melihat pintu gerbang kota Lhasa yang kuno dan kuat, asal ada orang berjalan masuk ke dalam kota dan melewati jalanan itu, dia dapat melihatnya dengan sangat jelas.

Kini Yap Kay menyaksikan ada empat orang sedang berjalan dari ujung jalan sana menuju kemari.

Usia keempat orang itu berbeda, tapi mereka adalah jago-jago yang pernah berlatih ilmu meringankan tubuh dan ilmu pedang.

Selisih jarak mereka masih amat jauh, tentu saja Yap Kay tak dapat mendengar suara langkah kaki mereka, tapi dari cara mereka berjalan serta debu yang ditimbulkan langkah kaki orang-orang itu, dia yakin keempat orang ini memiliki ilmu silat cukup tangguh.

Yap Kay pun dapat melihat kedatangan keempat orang itu bukan untuk bersantap di warung keliningan, dengan muka serius keempat orang itu berjalan mendekat.

Seorang yang memiliki ilmu meringankan tubuh dan ilmu pedang yang tangguh biasanya tak akan menempuh perjalanannya dengan langkah begitu serius, biasanya mereka hanya akan melangkah serius bila mempunyai tujuan, ketika mereka sedang bersiap membunuh orang.

Siapa yang akan mereka bunuh?

Apakah si Keliningan?

Tentu saja kemungkinan seperti ini tetap ada, namun Yap Kay tahu, pasti bukan, bukan dikarenakan si Keliningan tidak berada di situ, tapi berdasarkan indra keenam yang dimiliki Yap Kay selama ini, dia percaya kedatangan keempat orang itu berniat membunuh dirinya.

Kalau sudah tahu kedatangan mereka bertujuan membunuhnya, sepantasnya Yap Kay segera bangkit, tapi ia tak bergerak, masih duduk dengan gaya yang santai mengawasi tempat kejauhan tanpa berkedip.

Yap Kay tidak bergerak bukan lantaran dia yakin mampu menghadapi keempat orang itu, tapi dia ingin tahu mengapa keempat orang itu hendak membunuhnya?

Kedatangannya ke kota Lhasa tak diketahui siapa pun, malah Pho Ang-soat pun tidak tahu, mengapa baru hari kedua kedatangannya sudah muncul orang yang ingin membunuhnya?

Siapakah keempat orang itu?

Apakah mereka ada sangkut-pautnya dengan kebun monyet yang menjadi target penyelidikan Yap Kay di kota Lhasa?

Atau mereka justru orangorang yang dikirim Ban be tong?

Kedatangan Yap Kay di kota Lhasa adalah karena peristiwa di Ban be tong tempo hari, Pek Ih-ling yang berwajah mirip Be Hong-ling pernah berkata kepadanya bahwa selama sepuluh tahun terakhir dia selalu tinggal bersama seseorang yang bernama Ong-losiansing.

Sedang So Ming-ming pun mengatakan pemilik kebun monyet di luar kota Lhasa bernama Onglosiansing, mungkinkah Ong-losiansing yang disebut kedua orang itu merupakan Onglosiansing yang sama?

Karena tujuan pelacakan itulah Yap Kay datang ke kota Lhasa, siapa tahu baru dua hari kedatangannya, kini sudah muncul orang yang ingin membunuhnya.

Tak dapat disangkal lagi, langkah Yap Kay mendatangi kota Lhasa memang merupakan langkah yang tepat, terlepas kedatangan keempat orang itu atas perintah kebun monyet atau perintah Ban be tong untuk mengintilnya, langkah yang diambil Yap Kay jelas telah menginjak ekor mereka.

Biarpun jalanan itu amat panjang, biarpun keempat orang itu berjalan dengan langkah serius, akhirnya dengan cepat mereka telah mendekati warung keliningan.

Bila keempat orang itu melancarkan serangan bersama ke arah Yap Kay, apakah dia sanggup menghadapinya?

Dalam hal ini Yap Kay sama sekali tak yakin.

Ternyata kejadian di luar dugaan, keempat orang itu tidak berjalan langsung ke hadapan Yap Kay, mereka menuju ke bawah pohon Siong dan berhenti di situ, kemudian salah seorang di antaranya, seorang yang masih sangat muda tapi tampan, seorang diri berjalan mendekat i Yap Kay.

Kini Yap Kay dapat mendengar suara langkah kaki serta dengusan napasnya, pemuda tampan yang menghampirinya seorang diri itu memiliki dengus napas sangat memburu, paras mukanya pun kelihatan hijau membesi.

Yap Kay tahu pemuda itu pastilah seorang temperamen yang gampang meluap emosinya.

Biarpun gerak-geriknya cukup tangguh, membunuh orang pun pasti bukan untuk pertama kalinya, tapi sayang ia kelewat temperamen, kelewat mudah naik darah.

Yap Kay masih duduk dengan tenang di luar warung keliningan, duduk di muka jendela sambil mengawasi orang itu tanpa bicara.

Dia pun mendengar orang itu berkata.

"Aku datang untuk membunuhmu, seharusnya kau pun tahu kedatanganku untuk membunuhmu."

"Aku tahu,"

Jawab Yap Kay sambil tertawa.

"Aku bernama Lim Kong-ceng,"

Dengan sepasang matanya yang tajam penuh dengan jalur darah, pemuda itu melotot ke arah Yap Kay.

"Kenapa kau masih belum juga keluar?"

Sekali lagi Yap Kay tertawa.

"Bukankah kau yang ingin membunuhku dan bukan aku yang ingin membunuhmu, kenapa aku harus keluar?"

Balik tanyanya.

Lim Kong-ceng tak bicara lagi, dengus napasnya makin memburu, ia sudah siap melolos pedangnya, bersiap menerjang ke muka.

Baru saja dia melolos pedang, mendadak terlihat sebuah kepalan yang tampak lembut, ringan tapi sangat cepat menghajar wajahnya.

Cepat dia mundur, menghindar, lalu balas melancarkan serangan, gerakannya tidak terhitung lambat, di antara kilatan cahaya pedang tahu-tahu tusukannya sudah mengarah tenggorokan Yap Kay.

Di saat ujung pedangnya tinggal satu inci dari tenggorokan Yap Kay, kepalan Yap Kay tahu-tahu sudah menghajar wajahnya lebih dulu, kemudian dia pun mendengar suara tulang sendiri yang terhajar remuk dan tubuhnya mencelat ke belakang, roboh terjungkal jauh dari arena, terkapar di bawah sinar matahari.

Karena kau ingin membunuhku, mau tak mau terpaksa aku pun harus membunuhmu.

Teori itu diketahui setiap orang, Yap Kay pun tahu, sesungguhnya dia bukan termasuk orang semacam ini, lalu mengapa sekarang dia melakukannya?

Karena dia harus bertindak begitu, bila tidak, andai ketiga orang yang berdiri di bawah pohon Siong turun tangan bersama, maka dialah yang bakal mati.

Sewaktu tubuh Lim Kong-ceng roboh ke tanah, detak jantungnya belum lagi berhenti, akhirnya dia mengerti akan satu hal.

Ternyata menjadi seorang yang biasa dan umum bukanlah satu kejadian yang menyedihkan, apalagi memalukan.

Seseorang yang seharusnya merupakan orang biasa tapi memaksa diri melakukan perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan, itulah baru patut disebut manusia yang paling mengenaskan.

Sebetulnya dia tak seharusnya membunuh orang karena dia memang bukan orang yang cocok menjadi pembunuh, dia hanya kelewat temperamen, kelewat memburu napsu dan emosi.

Menjadi putra seorang juru masak dan ibu pengasuh sudah seharusnya menerima kehidupan yang sederhana dan bersahaja, dengan begitu mungkin dia masih bisa hidup lebih lama dengan aman dan gembira, siapa tahu bisa hidup bahagia pula dengan generasi berikutnya.

Angin masih berhembus sepoi.

Dedaunan yang tumbuh di pohon Siong ikut bergoyang, beberapa di antaranya berguguran dan melayang ke bawah, melayang di tengah ketiga orang yang masih berdiri di bawah pohon.

Mereka pernah berada bersama Lim Kong-ceng, namun kematian yang menimpa Lim Kong-ceng seolah sama sekali tak ada hubungan dengan orang-orang itu.

Sorot mata mereka sedang mengawasi Yap Kay, tentu saja setiap gerakan yang dilakukan Yap Kay waktu memukul mati Lim Kong-ceng tak lepas dari pengamatan mereka, namun tidak seorang pun yang bergerak atau melakukan sesuatu tindakan.

Yap Kay masih duduk di sana, masih menggeliat dengan kemalas-malasan.

Sampai lama kemudian satu di antara ketiga orang yang berdiri di bawah pohon baru bergerak maju.

Cara berjalan orang ini sangat aneh, tentu saja dia pun datang untuk membunuh Yap Kay, tapi caranya berjalan justru santun sekali, bagaikan seorang murid yang datang menjumpai gurunya, bukan saja sopan-santun dan terpelajar, malah nampak sedikit takut-takut.

Sekali pandang Yap Kay tahu orang ini pernah memperoleh pendidikan tinggi, bahkan sejak kecil sudah dibelenggu oleh peraturan yang ketat.

Orang macam ini justru adalah orang yang paling menakutkan.

Biarpun langkahnya mantap namun memancarkan kewaspadaan yang tinggi, setiap saat dia selalu mempertahankan sikap seorang pejuang yang siap tempur, sama sekali tidak memberi peluang orang untuk memanfaatkan setiap kesempatan.

Biarpun lengannya dibiarkan mengendor, namun telapak tangan diletakkan dekat gagang pedang, sementara matanya mengawasi terus tangan Yap Kay yang diletakkan di pagar dekat jendela.

Dalam pandangan orang banyak, jika dalam pertarungan antara dua jago tangguh bila seorang hanya mengawasi terus tangan lawan, maka tindakan itu merupakan tindakan yang bodoh.

Karena semua orang berpendapat tak mungkin kau bisa menemukan sesuatu hanya dari tangannya saja.

Bagian tubuh yang seharusnya diperhatikan adalah sorot mata lawan, sementara ada sebagian orang menganggap perubahan mimik wajah lawanlah yang harus diperhatikan.

Padahal pandangan orang-orang itu tidak seratus persen tepat, karena mereka telah melupakan beberapa hal.

Untuk membunuh memang dibutuhkan tangan.

Tangan pun punya penampilan, terkadang banyak membocorkan rahasia penting.

Ada banyak manusia yang dapat menyimpan begitu rapi perasaan serta rahasia pribadinya, bahkan dapat mengubah diri seperti sebiji buah yang keras, membuat siapa pun tak bisa melihat rahasia pribadi yang tak ingin diketahui orang lain dari perubahan wajah serta sorot matanya.

Tapi tangan sama sekali berbeda.

Bila kau melihat otot hijau merongkol di tangan, ketika kau lihat nadi darahnya mulai mengembang kencang, segera akan kau ketahui perasaan hatinya waktu itu pasti sangat tegang.

Bila kau melihat tangan sedang gemetar, segera dapat diketahui orang itu selain tegang, dia pun merasa takut, ngeri, gusar atau emosi yang meluap.

Semua itu tak mungkin bisa kau simpan atau tutupi, karena hal ini merupakan reaksi alami, reaksi kejiwaan.

Oleh sebab itulah bila kau benar-benar seorang jago tangguh; maka di saat menghadapi duel yang menentukan, tangan lawanlah yang penting kau perhatikan.

Tak disangkal orang ini memang jago tangguh yang matang pengalaman dan sudah beratus kali menghadapi pertempuran, bukan hanya tindakannya yang tepat, pandangan serta analisanya pun amat tepat.

Yap Kay balas menatap, tapi ia tidak memperhatikan tangannya, sebab dia tahu orang macam ini mustahil akan melancarkan serangan lebih dulu.

"Kau kenal aku?"

Tegur Yap Kay kemudian.

"Kau bernama Yap Kay!"

Sahut orang itu singkat.

"Memangnya kita punya dendam?"

"Tak ada."

"Mengapa kau ingin membunuhku?"

Jelas satu pertanyaan yang tak gampang dijawab, biasanya orang membunuh tak perlu disertai berbagai alasan yang jelas.

Yap Kay pun tahu pertanyaan itu sulit untuk dijawab, tapi dia sengaja mengajukan pertanyaan ini, agar ia mempunyai cukup waktu untuk lebih memahami karakter dan kelebihan orang itu.

Tampaknya orang itu pun mempunyai pikiran yang sama, maka sahutnya.

"Aku harus membunuhmu karena kau bernama Yap Kay, cukup bukan alasanku ini?"

Baru selesai dia berkata, Yap Kay telah turun tangan lebih dulu.

Yap Kay turun tangan lebih dulu karena dia tahu tak mungkin orang itu mau melancarkan serangan lebih dulu.

Rekannya telah memberi sebuah pelajaran yang sangat bagus, dia pun ingin belajar dari Yap Kay, dengan tenang menunggu gerakan.

Sayang dia tetap salah perhitungan, begitu bergerak ternyata Yap Kay menyerang dengan sangat cepat, jauh lebih cepat dari apa yang dia bayangkan sebelumnya.

Ketika menyaksikan kepalan Yap Kay dilontarkan ke wajahnya, ia tertawa dingin, tangannya diputar siap menangkis datangnya ancaman itu, siapa sangka jotosan Yap Kay mendadak berubah, kali ini mengarah langsung ke hulu hatinya.

Tahu-tahu orang itu merasakan tulang iga di dada kirinya sudah patah beberapa bagian, bahkan tulang iga yang patah itu menancap di j antungnya.

Hingga detik terakhir menjelang ajal, dia masih tak habis mengerti kenapa pukulan Yap Kay secara tiba-tiba bisa berubah mengarah dadanya.

Jurus itu mati, manusianya yang hidup.

Satu pukulan yang sama kadangkala bisa menghasilkan akibat yang berbeda.

Dari bawah pohon Siong terdengar ada orang menghela napas, mirip juga suara tepukan tangan, dipenuhi rasa kagum dan memuji.

Kalau kedatangannya berniat membunuh, mengapa pula harus menghela napas dengan nada pujian?

"Tentunya kalian pun datang untuk membunuhku bukan?"

Ujar Yap Kay sambil mengawasi kedua orang tersisa yang masih berdiri di bawah pohon.

"kenapa bukannya turun tangan bersama saja!"

Satu orang masih berdiri tanpa bergerak, sementara seorang yang lain perlahan-lahan berjalan maju.

Dia berjalan jauh lebih lambat daripada orang yang baru saja mati ditinju Yap Kay.

Dengan mata tajam Yap Kay mengawasi orang itu, mengamati setiap gerak-geriknya, mengawasi matanya yang tajam dan berkilat.

Tiba-tiba Yap Kay menyadari akan sesuatu, sekarang baru ia sadar dugaannya keliru besar, orang ini tak bermaksud membunuhnya, justru orang yang satulah kekuatan utama penyerangan ini.

Orang itu tak tebih hanya ingin memindahkan perhatian Yap Kay ke arah lain, dia tak berpedang, tidak pula berhawa membunuh.

Bagaimana dengan orang yang lain?

Di saat Yap Kay sedang mengawasi orang yang mendekati dirinya itulah tiba-tiba orang yang satunya lenyap.

Mustahil seorang yang terdiri dari darah dan daging bisa lenyap secara tiba-tiba, hanya saja siapa pun tak tahu kemana dia telah pergi.

Dalam waktu singkat orang ketiga telah berjalan tiba di luar jendela dimana Yap Kay berada, lalu berdiri di situ dengan santainya, dia berdiri dengan sikap seorang penonton yang baik, berdiri mengawasi reaksi Yap Kay.

Sepasang matanya yang jeli bahkan terselip senyuman yang sangat tipis.

Biarpun orang ini datang kemari bersama ketiga orang rekan lainnya, namun sikapnya seakan sama sekali tak peduli dengan mati hidup orang-orang itu, seolah kedatangannya khusus untuk menonton dengan cara apa Yap Kay menghadapi mereka.

Tentu saja dia bukan sahabat Yap Kay, juga tak mirip musuh besarnya, sikapnya begitu aneh dan kabur, sekabur baju warna abu-abu yang dia kenakan.

Sikap Yap Kay sendiri pun sangat aneh, dia hanya mengawasi orang berbaju abu-abu yang berdiri di muka jendela, terhadap orang yang kemungkinan besar musuh tangguh dan menakutkan, terhadap orang yang tiba-tiba lenyap dari situ, ia justru bersikap acuh, sama sekali tidak minat memperhatikan.

Sambil manggut-manggut ke arah orang berbaju abu-abu itu dia melempar sekulum senyuman, ternyata orang itu balas tertawa, malah menyapanya.

"Baik-baikkah kau?"

"Aku tidak baik,"

Yap Kay sengaja menghela napas.

"padahal aku sedang duduk santai di sini sambil menikmati pemandangan alam, tapi tanpa sebab ada orang ingin membunuhku, bagaimana mungkin bisa baik?"

Orang berbaju abu-abu ikut menghela napas, seakan bukan saja menyatakan sependapat bahkan memperlihatkan rasa simpatiknya.

"Jika aku sedang duduk santai sambil menikmati pemandangan alam, tiba-tiba datang tiga orang yang hendak membunuhku, jelas aku pun akan merasa sial sekali."

"Tiga orang? Hanya tiga orang yang ingin membunuhku?"

Tanya Yap Kay.

"Benar, hanya tiga orang."

"Bagaimana denganmu? Bukankah kau pun datang khusus untuk membunuhku?"

"Seharusnya kau pun dapat melihat sendiri, aku bukan datang untuk membunuh,"

Kembali orang berbaju abu-abu itu tertawa.

"di antara kita berdua tak ada dendam atau permusuhan, buat apa harus membunuhmu?"

"Mereka pun tak punya permusuhan dan dendam denganku, mengapa pula datang hendak membunuhku?"

Tanya Yap Kay lagi.

"Karena mereka sedang menjalankan perintah."

"Perintah siapa? Be Khong-cun? Atau pemilik kebun monyet Ong-losiansing?"

Menggunakan senyuman orang berbaju abuabu itu menjawab pertanyaan Yap Kay.

"Terlepas atas perintah siapa, yang jelas mereka bertiga saat ini sudah ada dua orang yang tewas termakan tinjumu."

"Bagaimana dengan orang ketiga?"

"Tentu saja orang ketiga adalah orang yang paling menakutkan,"

Kata orang berbaju abu-abu itu.

"jauh lebih menakutkan dari gabungan dua orang yang pertama."

"Oya?"

"Orang pertama yang berusaha membunuhmu itu bernama Lim Kong-ceng, orang kedua bernama Tan Bun,"

Orang itu menerangkan.

"sebetulnya ilmu pedang mereka termasuk tangguh, pengalamannya membunuh pun sangat luas dan matang, benar-benar tak kusangka sebelum mereka sempat menggunakan jurus serangannya, kau telah mencabut nyawa mereka terlebih dulu."

Yap Kay tersenyum, tertawa penuh gembira.

"Tapi orang ketiga sama sekali berbeda,"

Kembali orang, berbaju abu-abu itu menambahkan.

"Oya?"

"Orang ketiga inilah baru pembunuh sebenarnya, ia benar-benar mengerti bagaimana cara membunuh manusia."

"Oya?"

"Dua orang yang pertama bisa mati di tanganmu lantaran mereka tak bisa menilai lawan, tak bisa pula menilai kemampuan sendiri, bukan saja dia terlalu menilai tinggi kemampuan sendiri bahkan kelewat memandang enteng kemampuanmu."

Pantangan paling besar bagi orang persilatan adalah memandang enteng kemampuan lawan, siapa yang berani melanggar, dia bakal mati.

"Berbeda dengan orang ketiga, bukan saja dia sangat mengenal asal-usul keluargamu, dia pun sangat memahami pengalaman serta kemampuan silatmu, sebab sebelum sampai di sini, dia telah melakukan penyelidikan dan pelacakan yang seksama, bahkan sewaktu kau turun tangan membunuh orang tadi, ia pun telah menyaksikan semua gerak-gerikmu dengan sangat jelas."

Yap Kay tidak membantah, dia harus mengakui hal ini.

"Tapi bagaimana dengan kau sendiri?"

Kembali orang itu bertanya.

"seberapa banyak yang kau ketahui tentang orang itu?"

"Sama sekali tidak tahu."

"Nah, itulah dia, dalam hal ini saja kau sudah berada di bawah angin,"

Orang itu kembali menghela napas. Kembali Yap Kay harus mengakui hal ini.

"Tahukah kau, kini dia berada dimana?"

Tanya orang itu lagi.

"apakah kau sudah melihatnya?"

"Belum, aku belum melihatnya. Barangkali aku bisa menebaknya."

"Benarkah?"

"Dia pasti berada di belakangku, di saat aku sedang mencurahkan perhatian mengamati dirimu tadi, ia telah berputar menuju ke belakang rumah."

"Tebakanmu tepat sekali,"

Perasaan kagum dan memuji kembali terpancar dari balik matanya.

"Siapa tahu saat ini dia sudah berdiri di belakangku, siapa tahu jaraknya denganku sudah sangat dekat, malah bisa jadi dengan sekali gerakan tangan ia sudah dapat membunuhku."

"Karenanya kau tak berani berpaling?"

"Ai, sejujurnya aku memang tak berani berpaling,"

Kata Yap Kay sambil menghela napas.

"karena begitu aku berpaling, maka di salah satu bagian tubuhku pasti akan muncul titik kelemahan, berarti dia punya kesempatan untuk membunuhku."

"Kau tak ingin memberinya peluang?"

"Maaf, sama sekali tak ingin."

"Sayangnya, biar kau tidak berpaling pun dia tetap mempunyai kesempatan untuk membunuhmu,"

Ujar orang itu.

"membunuh orang dari belakang punggung rasanya jauh lebih gampang daripada saling berhadapan."

"Biar sedikit lebih gampang, bukan berarti hal ini bisa dilakukan dengan sangat gampang."

"Kenapa?"

"Karena aku bukan orang mati, aku masih memiliki telinga untuk mendengar."

"Apakah kau ingin mendengar desiran angin saat dia melancarkan serangan?"

"Benar."

"Bagaimana kalau dia menyerang dengan gerakan sangat lamban, sama sekali tak menimbulkan suara desiran angin?"

"Selambat apa pun, aku tetap dapat merasakan desiran angin pukulannya,"

Yap Kay menjelaskan dengan hambar.

"sudah belasan tahun aku berkelana dalam dunia persilatan, kalau merasakan saja tak sanggup, mana mungkin aku masih hidup hingga kini?"

"Ehm, masuk akal juga."

"Oleh karena itu bila dia ingin turun tangan membunuhku, lebih baik pertimbangkan dahulu akibatnya."

"Akibatnya? Apa akibatnya?"

"Dia menginginkan nyawaku, aku pun menginginkan nyawanya,"

Suara Yap Kay tetap terdengar hambar dan datar.

"sekalipun dia dapat membunuhku di ujung pedangnya, jangan harap dia bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup."

Lama sekali orang berbaju abu-abu itu mengamatinya, kemudian baru tanyanya perlahan.

"Kau benar-benar yakin?"

"Benar, bukan saja aku percaya akan keyakinan itu, mungkin dia pun mempercayainya."

"Kenapa?"

"Kalau dia tidak menganggap aku punya keyakinan akan hal ini, kenapa hingga sekarang belum juga turun tangan?"

"Siapa tahu dia masih menunggu, menunggu hingga kesempatan yang lebih baik tiba."

"Dia tak akan berhasil."

"Kalau begitu tidak seharusnya kau mengajakku berbicara."

"Kenapa?"

"Siapa pun orangnya, sewaktu sedang bicara, perhatiannya pasti akan terpecah, saat itulah dia akan memperoleh kesempatan emas."

Yap Kay tersenyum, tiba-tiba tanyanya.

"Tahukah kau peristiwa apa saja yang barusan berlangsung di sekitar tempat ini?"

"Tidak."

"Tapi aku tahu. Ketika kau sedang berjalan menuju kemari tadi, ada seekor bajing menyusup keluar dari lubangnya di atas pohon Siong hingga menggetarkan enam lembar daun, di antaranya ada dua lembar daun yang rontok ke bawah. Di saat kita mulai berbicara tadi, dari semak sisi kiri ada seekor ular sawah sedang menelan seekor tikus, lalu ada seekor musang lari menyeberang di jalanan sebelah depan dan sepasang suami istri yang tinggal di belakang kita baru selesai bertengkar."

Semakin mendengar, orang itu semakin terperanjat, dengan nada kaget bercampur tak percaya serunya.

"Benarkah semua yang kau katakan itu?"

"Tentu saja sungguh. Tak ada suara atau gerakan dalam radius dua puluh depa yang bisa lolos dari pendengaranku."

Orang berbaju abu-abu menghela napas panjang.

"Untung saja kedatanganku bukan bermaksud membunuhmu,"

Katanya tertawa getir.

"kalau tidak, mungkin saat ini aku pun sudah mampus oleh tinjumu."

Yap Kay tidak menyangkal. Kembali orang itu bertanya.

"Jika telah kau ketahui kedatangannya hendak membunuhmu, sudah tahu ia berada di belakangmu, kenapa kau tidak berusaha membunuhnya lebih dahulu?"

"Karena aku tak terburu-buru, yang terburuburu justru dia,"

Yap Kay tertawa lebar.

"kan dia yang ingin membunuhku, bukan aku yang ingin membunuhnya, tentu saja aku lebih mampu menahan diri."

"Sungguh mengagumkan,"

Kembali orang itu menghela napas.

"kalau bukan bertemu dalam situasi seperti ini, aku betul-betul berharap bisa berkenalan dengan seorang sahabat macam dirimu."

"Sekarang mengapa kita tidak dapat berteman?"

"Karena aku datang serombongan dengan mereka, sedikit banyak kau pasti akan waswas terhadapku."

"Pandanganmu keliru besar!"

Tukas Yap Kay cepat.

"kalau aku tak bisa menebak niat hatimu, buat apa mesti melayani kau berbincang?"

"Jadi sekarang aku masih dapat bersahabat denganmu?"

Tanya orang berbaju abu-abu tercengang.

"Kenapa tidak boleh?"

"Tapi kau sama sekali tak tahu manusia macam apakah diriku ini, bahkan kau tak tahu siapa namaku?"

"Dapatkah kau memberitahukan kepadaku?"

"Tentu saja dapat,"

Orang berbaju abuabu tertawa, tertawa sangat riang.

"aku bernama Be Sa."

"Be Sa!"

Tentu saja nama itu tak bakal memancing rasa curiga maupun rasa tercengang Yap Kay, di antara sekian banyak teman Yap Kay bahkan ada di antaranya yang mempunyai nama jauh lebih aneh daripada nama orang ini.

"Aku bernama Yap Kay, yap berarti daun dan kay berarti terbuka."

"Aku tahu, sudah cukup lama kudengar nama besarmu."

Perlahan-lahan dia maju selangkah, dalam genggamannya masih belum nampak pedang, dari sekujur badannya juga sama sekali tidak memancarkan hawa membunuh.

Ia berjalan terus menghampiri Yap Kay, seakan-akan dia ingin berjabat tangan dengan orang itu, menyatakan rasa suka citanya.

Dan semua yang dilakukan adalah perbuatan yang wajar, sebab Yap Kay telah menjadi sahabatnya sekarang.

Yap Kay sendiri pun terhitung orang yang senang berkenalan, dia sama sekali tidak mencurigai Be Sa, rasa waswas pun sama sekali tak ada, apalagi sekarang, setelah Be Sa menjadi sahabatnya.

Di saat Be Sa sudah hampir tiba di hadapan Yap Kay itulah tiba-tiba paras mukanya berubah hebat, lalu jeritnya dengan nada kaget.

"Hati-hati belakangmu!"

Tak tahan Yap Kay berpaling.

Siapa pun orangnya, bila berada dalam situasi seperti ini, dia pasti tak akan tahan untuk tidak berpaling.

Pada saat Yap Kay baru saja berpaling itulah, mendadak Be Sa mencabut sebilah pedang dari balik sakunya.

Sebilah pedang lembek yang terbuat dari baja asli, bergetar ketika terhembus angin dan bagaikan seekor ular berbisa langsung menusuk belakang tengkuk Yap Kay sebelah kiri.

Waktu itu Yap Kay sedang menoleh ke sisi kanan, dalam keadaan begini, belakang tengkuk sebelah kirinya akan menjadi bagian tubuhnya yang terbuka, sebuah pintu kosong.

Istilah pintu kosong merupakan perkataan yang biasa digunakan kaum persilatan, artinya bagian tubuh yang terbuka bagaikan pintu gerbang yang kosong dan terbuka lebar, asal kau berminat, setiap waktu bisa saja masuk keluar.

Pada belakang leher sebelah kiri terdapat nadi darah besar, nadi vital aliran darah ke otak, jika nadi itu teriris putus, dapat dipastikan darah akan menyembur tiada hentinya dan sang korban akan tewas secara mengenaskan.

Bagi seorang pembunuh yang berpengalaman, dia tak bakal turun tangan secara sembarangan sebelum muncul kesempatan yang paling menguntungkan dan paling meyakinkan bagi dirinya, tak disangkal Be Sa telah memanfaatkan kesempatan emas ini dengan sebaik-baiknya.

Inilah kesempatan emas yang ia ciptakan sendiri dan dia yakin babatan pedangnya tak bakal meleset, karena dia kelewat yakin dengan rencananya itu maka sama sekali tak disediakan jalan mundur bagi diri sendiri.

Oleh karena itulah dia mampus.

Padahal Yap Kay sama sekali tak punya rasa waswas, dia sama sekali tak mencurigainya, bahkan sama sekali tak punya kesempatan untuk menangkis apalagi menghindar.

Be Sa telah memperhitungkan secara tepat, waktu pedangnya menusuk ke depan, perasaannya begitu bergetar bagai pemancing yang kailnya disambar ikan besar.

Dia tahu ikan kakap sudah terkail.

Siapa sangka di saat kritis itulah tiba-tiba Yap Kay mengayun tangannya, mengayun dari posisi yang sama sekali tak disangka Be Sa.

Menyusul Be Sa pun mendengar suara golok membelah angkasa.

Suara golok!

Be Sa hanya mendengar suara golok, sama sekali tidak melihat goloknya.

Pada hakikatnya dia tidak melihat babatan golok atau cahaya golok, yang dia dengar hanya suara golok, kemudian tubuhnya roboh terkapar di atas tanah.

Belum lagi pedang Be Sa menusuk belakang leher Yap Kay, tiba-tiba ia merasa tengkuk sendiri tersambar oleh segulung angin yang dingin rasanya.

Tentu saja dia tahu perasaan seperti itu adalah ketika tubuh dibabat golok, namun dia sama sekali tak sempat melihat golok yang ada di tangan Yap Kay.

Tentu saja dia pun tahu Yap Kay adalah satusatunya ahli waris Siau-li si pisau terbang.

Pisau terbang Siau-li tak pernah meleset setiap kali dilontarkan.

Dalam seratus tahun terakhir, belum pernah ada umat persilatan yang meragukan perkataan itu.

Dimulai dari kematian Siangkoan Kim-hong di ujung pisau terbang Li Sun-huan, tak ada orang meragukan keampuhannya.

Ujung pedang Be Sa hanya tinggal satu inci dari belakang leher Yap Kay ketika pisau terbang yang dilepaskan Yap Kay mendarat di tengkuknya.

Selisih jaraknya hanya satu inci.

Biar hanya satu inci, namun sudah lebih dari cukup!

Jarak antara mati dan hidup kerap kali jauh lebih pendek dari satu inci, menang kalah, berhasil atau gagal seringkah hanya berselisih kurang dari satu inci.

Mata pedang yang dingin baru saja melesat di sisi leher Yap Kay ketika tangan Be Sa yang menggenggam senjata sudah keburu kaku, di atas tengkuknya telah tertancap sebilah pisau terbang yang nampak sangat umum dan sederhana.

Sebilah pisau terbang sepanjang tiga inci tujuh cun.

Pada saat itulah dari mulut luka di tengkuk Be Sa perlahan-lahan mengucur darah segar, sinar matanya memancarkan rasa tak percaya, ngeri bercampur seram.

Yap Kay tidak berpaling, tentu saja dia yakin pisau terbang yang dilepaskan tak bakal meleset dari sasaran.

Kapan Siau-li si pisau terbang pernah meleset dari sasarannya?

Dengan cepat Yap Kay mendengar suara helaan napas serta suara tepukan tangan.

"Hebat, luar biasa,"

Helaan napas itu kembali berkumandang.

"pertunjukan ilmu yang mengerikan!"

Suara itu berasal dari satu tempat yang agak jauh, karena itu Yap Kay kembali membalikkan badan, begitu berpaling, ia lihat seseorang dengan dandanan begitu sederhana berdiri di bawah pohon siong sana.

Orang itu tak lain adalah salah satu di antara keempat orang yang secara tiba-tiba hilang dari tempat itu, dia bukan lain adalah Go Thian, orang yang diperintah Ong-losiansing menyampaikan perintah rahasia.

"Sebetulnya kusangka kau pasti akan mampus,"

Kembali Go Thian berkata setelah menghela napas.

"tak disangka ternyata dia sendiri yang menemui ajal."

Yap Kay tertawa, hanya tertawa tanpa menjawab.

"Sejak kapan kau baru teringat dialah pembunuh ketiga yang sesungguhnya, yang berniat membunuhmu?"

Tanya Go Thian lagi.

"Sejak ia berjalan menghampiriku."

"Sejak ia menghampirimu? Waktu itu bahkan aku sendiri pun menyangka kau benar-benar bersedia berkawan dengannya, darimana kau bisa tahu ia berniat membunuhmu?"

"Karena dia kelewat hati-hati waktu berjalan mendekat, seolah kuatir kakinya bakal menginjak mati seekor semut di atas tanah."

"Apa salahnya berjalan dengan hati-hati?"

"Ada satu hal yang dia lupakan."

Kata Yap Kay.

"bagi orang persilatan macam kami, biar sudah menginjak mati tujuh-delapan ratus ekor semut pun tak bakal dipermasalahkan, dia berjalan dengan hati-hati lantaran dia harus waspada dan berjaga-jaga terhadap serangan yang kulancarkan secara mendadak."

Go Thian tidak berkomentar, dia hanya mendengarkan.

"Hanya orang yang berniat mencelakai oranglah yang akan berjaga-jaga terhadap serangan orang lain,"

Yap Kay menambahkan.

"Oya?"

"Aku pernah mengalami kejadian seperti ini, biasanya yang bakal rugi dan masuk perangkap adalah mereka yang tak ingin mencelakai orang lain."

"Kenapa?"

"Karena mereka tak punya niat mencelakai orang, mereka tidak perlu menguatirkan sergapan orang,"

Kata Yap Kay hambar.

"bila kau pun pernah mengalami kejadian serupa, tentu akan kau paham maksud perkataanku ini."

"Aku sangat memahami, tapi belum pernah punya pengalaman seperti itu, selama hidup belum pernah aku percaya kepada siapa pun."

Go Thian memandang Yap Kay sekejap, lanjutnya sambil tertawa.

"Mungkin lantaran kau pernah merasakan pengalaman seperti ini, pernah merasakan pelajaran yang menyakitkan dan memedihkan macam ini, maka sekarang kau tidak mati."

"Mungkin begitu, melakukan kebodohan satu kali, kesalahan ada di pihakmu, jika sampai melakukan kebodohan dua kali, aku sendirilah yang goblok."

Yap Kay pun balas menatap Go Thian, lalu setelah tertawa tambahnya.

"Setelah mengalami satu kali pelajaran pahit tapi masih tak waspada, aku memang pantas untuk mampus."

"Ucapan yang amat bagus."

"Bagaimana dengan kau?"

Tiba-tiba Yap Kay menegur.

"apakah kedatanganmu juga berniat membunuhku?"

"Bukan."

"Bukankah kau datang bersama mereka?"

"Betul, hanya perintah yang kami terima berbeda."

"Oya?"

"Mereka bertiga mendapat perintah membunuhmu, sementara aku mendapat perintah hanya untuk melihat."

"Melihat apa?"

"Melihat cara kerja mereka, terlepas berhasil membunuhmu atau kau yang berhasil membunuh mereka, aku harus menyaksikan dan mengingatnya dengan baik dan jelas."

"Bukankah sekarang kau telah menyaksikan dengan sangat jelas?"

"Benar."

"Bukankah sekarang sudah saatnya bagimu untuk pergi dari sini?"

"Benar,"

Kembali Go Thian mengangguk.

"tapi sebelumnya aku ingin mengajukan satu permohonan kepadamu."

"Katakan."

"Aku ingin membawa pulang mereka bertiga, hidup atau mati, aku harus membawa pulang orang-orang itu."

Yap Kay segera tertawa.

"Sewaktu masih hidup, mereka tidak memberi manfaat apa pun kepadaku, apalagi setelah mati. Namun aku pun berharap kau bisa membantuku melakukan satu hal."

"Katakan!"

"Peduli siapa pun orang yang mengutusmu, aku harap sampaikan kepadanya, minta dia baik-baik menjaga diri. Di saat aku menjumpainya nanti, aku harap dia masih tetap dalam keadaan hidup dan sehat."

"Dia pasti sehat. Dia memang seorang yang pandai menjaga diri."

"Bagus sekali,"

Yap Kay tergelak.

"aku benar-benar berharap dia masih hidup sewaktu aku datang mencarinya."

"Aku berani jamin, sementara ini dia tak bakal mati,"

Go Thian ikut tergelak.

"aku pun berani menjamin, dalam waktu singkat kau bakal bertemu dengannya."

Bab 9.

RENCANA ONG-LOSIANSING Tentu saja Ong-losiansing tak bakal mati tanpa sebab musabab jelas.

Dia selalu percaya hidupnya jauh lebih panjang dari siapa pun yang berusia sebaya dengan dirinya.

Dia pun selalu percaya uang adalah segalanya, hidup di dunia ini uang sangat penting, karena tanpa uang kau tak akan mampu membeli apa pun, termasuk kesehatan maupun nyawa sendiri.

Nomor enam, nomor enam belas, nomor dua puluh enam telah mati, mati di tangan Yap Kay, terhadap kejadian ini Ong-losiansing sama sekali tidak tercengang.

Agaknya kematian mereka bertiga sudah dalam dugaannya.

Kalau sudah tahu mereka bertiga bakal mati, mengapa dia masih memerintahkan ketiga orang itu mengantar kematian?

Kenapa ia melarang mereka bertiga turun tangan bersama?

Jangankan dirimu, Go Thian yang melaksanakan perintah itu pun tidak jelas.

Dia hanya tahu satu hal, semua yang diperintahkan Ong-losiansing harus dia lakukan dengan baik.

Ong-losiansing memerintahkan dia untuk membawa pulang ketiga orang itu, maka dia pun membawa mereka kembali, terlepas apakah masih hidup atau sudah mati.

Dan Go Thian telah melaksanakan.

"Bila mereka mati di tangan Yap Kay, aku harus memeriksa jenazah mereka dalam waktu empat jam."

Sesaat sebelum berangkat, Ong-losiansing telah menurunkan perintah itu kepada Go Thian, satu pekerjaan yang tidak mudah untuk dilakukan, tapi Go Thian mampu melakukannya.

Cahaya matahari senja menyorot di atas air terjun, pantulan cahaya di atas air menimbulkan percikan cahaya keemas-emasan.

Dengan tenang So Ming-ming mendengarkan penuturan Yap Kay hingga selesai, setelah termenung beberapa saat dia mendongak dan berkata.

"Terlepas siapakah orang itu, kalau dia berniat mengirim tiga orang untuk membunuhmu, mengapa tidak menitahkan mereka bertiga turun tangan bersama?"

"Sebenarnya aku pun tidak mengerti hal ini, tapi sekarang aku paham."

"Karena apa?"

"Dia sengaja mengutus ketiga orang itu untuk menyelidiki aliran ilmu silatku,"

Yap Kay menjelaskan.

"aliran ilmu silat dan ilmu pedang yang dimiliki ketiga orang itu berbeda, cara mereka membunuh pun berbeda."

"Oh, berarti dia memang sengaja mengutus mereka dengan tujuan ingin melihat bagaimana caramu membunuh mereka?"

Yap Kay manggutmanggut tanda membenarkan.

"Kalau memang tujuannya hanya ingin melihat bagaimana caramu membunuh, kenapa ia tidak turun tangan sendiri?"

Tanya So Ming-ming.

"Tidak perlu, dia tak perlu turun tangan sendiri."

"Kenapa?"

"Asal dalam empat jam ia memeriksa jenazah ketiga orang jagonya yang sudah mati, semuanya akan tertera jelas."

"Aku tidak mengerti."

"Asal dia memeriksa mulut luka yang mengakibatkan kematian mereka, dia akan tahu dengan cara apa aku turun tangan."

Yap Kay menjelaskan.

"sama seperti cara Pek-im Shiacu Yap Koh-seng menebas kutung setangkai ranting pohon dengan pedangnya. Sebun Jui-soat cukup memeriksa bekas sayatan di atas ranting, ia segera dapat menilai tinggi rendahnya ilmu pedang yang dimiliki musuh."

Semua ini bukan dongeng, juga bukan cerita isapan jempol, bagi seorang jagoan tulen dia pasti dapat melakukan hal ini, dari bekas luka seseorang sudah dapat diraba tinggi rendahnya kemampuan silat orang.

"Tapi dia harus bisa memeriksa jenazah itu dalam empat jam sejak kematiannya,"

Yap Kay menerangkan lebih jauh.

"sebab kalau tidak, dengan berjalannya sang waktu, maka bekas luka itu akan menyusut dan berubah bentuk."

So Ming-ming kembali termenung, mendadak serunya.

"Aku tidak mengerti."

"Apa yang tidak kau pahami?"

"Jika kau sudah tahu tujuannya ingin melihat aliran ilmu silatmu, kenapa kau masih tetap turun tangan?"

"Pertama, bila ketiga orang itu turun tangan bersama, belum tentu aku sanggup menghadapinya. Kedua, saat itu aku masih belum mengetahui maksud tujuannya,"

Kata Yap Kay sambil tertawa.

"aku baru tersadar ketika orang keempat mengatakan akan membawa pulang mayat mereka."

"Sebetulnya waktu itu pun belum terlambat, kenapa kau tetap mengizinkan dia membawa pulang mayat-mayat itu?"

"Karena aku ingin tahu siapa sebenarnya orang yang disebut sebagai si dia itu."

"Oh, kau ingin melacak identitas si dia dari perjalanan orang keempat sewaktu mengirim balik mayat-mayat itu?"

"Benar."

"Lalu? Berhasilkah kau melacaknya?"

"Menurut kau?"

Dalam kondisi dan keadaan seperti apa pun, kau jangan sampai terlacak jejak dan identitasmu.

Walaupun pesan semacam ini belum pernah disampaikan Ong-losiansing secara langsung, namun Go Thian sangat mengetahui akan hal ini.

Tentu saja merupakan satu pekerjaan yang sangat sulit untuk melakukan hal itu, sudah pasti Yap Kay pun bukan seorang goblok, dia tentu mengerti apa tujuan Go Thian mengirim balik mayat-mayat itu.

Dengan begitu dia pasti akan berusaha merahasiakan semua gerak-geriknya, berusaha tidak membocorkan data sedikit pun tentang si dia.

Padahal bila Yap Kay ingin melacak seseorang, rasanya tak seorang pun di dunia ini yang mampu meloloskan diri dari pengejaran dan penyelidikannya.

Tetapi sewaktu Go Thian bertemu Onglosiansing, dia berani menjamin tak seorang pun berhasil melacak jejak dan identitas Onglosiansing dari setiap perkataan, perbuatan dan tindak-tanduknya.

Bahkan dia berani menggunakan batok kepala sendiri sebagai taruhan.

Mengapa dia begitu yakin?

Tentu saja Yap Kay tak akan melepaskan setiap tempat yang disinggahi Go Thian sepanjang perjalanannya, apa yang dia lakukan, bahkan setiap tempat kecil yang tak penting pun tak dilepaskan begitu saja.

Go Thian menggunakan sebuah kereta yang disewanya dari sebuah pasar untuk mengangkut jenazah Lim Kong-ceng bertiga.

Pada malam itu dia sudah menyewa kereta besar dengan ongkos sewa enam kali lipat dari biasanya dan minta kusir untuk menantinya di sekitar sana.

Si kusir Lo Thio sudah dua-tiga puluh tahun mengerjakan usaha ini, di antara mereka berdua sama sekali tak punya hubungan apa-apa.

Toko penjual peti mati terbesar di kota Lhasa bermerek Liu-ciu-lim-ki.

Tengah hari belum lama lewat, Go Thian telah mengusung ketiga sosok mayat itu ke depan toko peti mati, lalu dengan membayar harga yang tiga kali lipat lebih mahal, dia membeli tiga buah peti mati berkualitas nomor satu.

Dia langsung turun tangan mengawasi sendiri para pegawai Lim-ki memasukkan ketiga sosok jenazah itu ke dalam peti mati, walaupun dia telah membubuhi bubuk harum pencegah busuk dalam peti mati, namun melarang siapa pun menyentuh jenazah itu, bahkan pakaian untuk orang mati pun tak sempat dikenakan.

Setelah itu dia langsung mengantar ketiga peti mati itu ke sebuah tanah kuburan paling besar di kaki bukit luar kota Lhasa, dengan membayar seorang Suhu Hongsui tersohor, dipilihlah tanah kuburan yang paling baik.

Tanah kuburan itu berada di kaki bukit menghadap arah matahari terbit, para penggali liang kubur pun merupakan orang-orang yang sangat ahli, tak sampai satu jam ketiga buah peti mati itu sudah masuk ke tanah.

Dalam satu jam berikut batu nisan pun telah siap, bahkan terukir jelas nama mereka bertiga, Lim Kong-ceng, Tan Bun serta Be Sa.

Kemudian Go Thian mengawasi sendiri pendirian batu nisan, membakar Gincoa dan pasang hio.

Malah dia sempat meneguk tiga cawan arak dan mengucurkan air mata sebelum meninggalkan tempat itu.

Setiap perbuatan yang dilakukan Go Thian boleh dibilang sangat wajar, semuanya dilakukan demi kawan-kawannya yang telah tiada, tak satu pun yang nampak aneh atau mencurigakan.

Tapi menjelang senja, Ong-losiansing telah melihat dan memeriksa mayat Lim Kong-ceng bertiga.

Mendengar sampai di situ, So Ming-ming bertanya.

"Kalau dia ingin secepatnya melihat mulut luka yang mematikan di tubuh jenazah ketiga orang itu, kenapa dia malah memerintahkan anak buahnya untuk segera mengubur mayat-mayat itu?"

Inilah persoalan yang utama, persoalan yang susah dijelaskan dan susah dijawab. Yap Kay seolah sudah mengetahui jawabannya, dia tertawa dan tiba-tiba tanyanya kepada So Ming-ming.

"Tahukah kau tentang seorang dari marga Liu yang tinggal di kota Lhasa, Liu Samgan, seorang Suhu Hongsui?"

So Ming-ming manggut-manggut tanda tahu.

"Apa kegemaran orang ini?"

Tanya Yap Kay lagi.

"Dia suka berjudi, selama ini dia anggap dirinya bukan saja pintar berjudi, bahkan pandai juga meramal, sayangnya dari sepuluh kali berjudi, ada sembilan kali dia kalah."

"Apakah dia selalu butuh uang untuk berjudi?"

"Benar."

Yap Kay tertawa, katanya.

"Maukah kau bertaruh denganku?"

"Bertaruh apa?"

"Bertaruh tentang orang yang bernama Liu Sam-gan ini, sekarang dia pasti sudah mati."

Untung So Ming-ming tidak mau melayani pertaruhan itu, kalau tidak, ia pasti bakal kalah.

Di dunia ini terdapat banyak sekali kejadian yang rumit dan memusingkan kepala, padahal seringkah jawabannya justru amat sederhana, hampir semua kejadian itu begitu.

Padahal Go Thian sudah menyiapkan tanah kuburan itu dengan baik, jauh sebelumnya telah menggali sebuah lorong bawah tanah yang tembus dengan liang kuburan itu, untuk menghindari kecurigaan dan penguntitan Yap Kay, dia sengaja mencari Liu Sam-gan sebagai alasan.

Waktu itu Liu Sam-gan sedang butuh duit, maka Go Thian pun menyuap dia dengan sejumlah uang, ketika semua urusan telah beres, tentu saja dia harus dibunuh untuk membungkam mulutnya.

Tak dapat disangkal, inilah satu-satunya cara untuk menghindari pengejaran Yap Kay, dan dengan cara ini juga ia dapat mengirim ketiga sosok mayat itu dalam waktu singkat.

Matahari senja terlihat semakin merah, semerah ceceran darah.

So Ming-ming mendongakkan kepala, mengawasi cahaya merah di ujung langit, biji matanya tampak berkilat seolah memancarkan sinar keemasan, alisnya juga nampak kuning keemasan di bawah pantulan sinar senja.

"Bagaimana pun juga, tak mungkin ketiga buah peti mati yang dipakai untuk menyimpan ketiga sosok mayat itu terbang lenyap begitu saja,"

Kata So Ming-ming.

"terlepas ketiga buah peti mati itu mau dikirim kemana, pasti ada orang yang menggotongnya bukan?"

"Benar."

"Mau digotong kemana pun ketiga buah peti mati itu, sudah pasti mereka akan meninggalkan jejak, apalagi menggotong peti yang begitu berat."

"Seharusnya memang begitu,"

Sekali lagi Yap Kay memperlihatkan senyuman misteriusnya.

"Apa maksudmu?"

Jalan keluar lorong rahasia, biarpun terdiri dari tanah berlumpur atau tanah berumput, unfuk menggotong tiga buah peti mati yang berat, pada permukaan tanah pasti akan meninggalkan bekas yang j elas.

Mau digotong orang atau diangkut kereta, pada permukaan tanah tentu akan meninggalkan bekas.

Namun bila So Ming-ming sekali lagi berani bertaruh dengan Yap Kay, maka yang kalah tetap adalah So Ming-ming.

Sebab tak jauh dari jalan keluar lorong rahasia itu terbentang sebuah sungai besar, meskipun arus airnya cukup deras, namun bukan masalah yang sulit untuk mengangkut ketiga buah peti mati itu dengan rakit yang terbuat dari kulit kambing.

Mau air sungai, air telaga ataupun air laut, tak mungkin di atas permukaan air meninggalkan jejak barang sedikit pun.

Asal orang yang dikuntit menceburkan diri ke air, biar anjing pemburu dari jenis paling hebat, biar sudah mendapat pendidikan yang paling ampuh pun jangan harap bisa melacaknya.

Senja semakin larut, awan tebal mulai menyelimuti puncak bukit di kejauhan sana.

Air terjun masih mengalir sangat deras, sebagian butiran air muncrat ke udara, membasahi wajah So Ming-ming.

Di tengah udara, di balik senja yang mulai remang, hanya terlihat seekor burung elang terbang mengitar.

Hanya angin yang berhembus datang dari kejauhan, lalu bergerak menjauh lagi.

Tak seorang pun tahu darimana angin berasal?

Kemana angin berlalu?

Kapan angin berhembus dan kapan baru berhenti?

So Ming-ming membetulkan rambutnya yang terhembus angin, menyeka butiran air yang membasahi pipinya, lalu perlahan dia mendongakkan kepala, memandang Yap Kay.

"Tampaknya sulit bagimu untuk mengetahui siapakah si dia?"

Katanya.

"kini semua titik terang sudah terputus, ketiga sosok mayat itu pun sudah dia periksa, dia pun sudah mengetahui aliran ilmu silatmu. Bahkan tinggi rendahnya kemampuanmu pun sudah dia ketahui."

"Keliru, kau keliru besar,"

Kata Yap Kay tertawa.

"walaupun sekarang aku sudah tak bisa melacak jejaknya lagi, tapi bukankah ekor rasenya sudah kelihatan? Cepat atau lambat si kepala rase pasti akan terlihat juga."

Dia memandang sekejap So Ming-ming, kemudian katanya lagi.

"Karena dia sudah memeriksa semua mayat itu, juga sudah mengetahui kemampuan ilmu silatku, tentu dia akan melakukan gerakan kedua."

"Gerakan kedua?"

"Benar, kalau tidak, buat apa dia menggunakan begitu besar tenaga dan pikiran untuk melakukan semua itu?"

Ujar Yap Kay.

"dia mengeluarkan begitu besar tenaga dan pikiran tak lain karena sedang menyiapkan gerakan kedua."

"Percobaan membunuhmu untuk kedua kalinya?"

"Benar, cuma aku berani jamin, yang melakukan kesalahan pada gerakan yang kedua ini pasti dia."

"Bagaimana seandainya kau?"

Perasaan cemas terlintas di wajah So Ming-ming.

"Aku punya firasat, yang melakukan kesalahan kali ini pastilah dia!"

BAGIAN III.

PEMBALASAN Bab 1.

BALAS DENDAM DIMULAI Di atas bukit terdapat sebuah kuburan baru, rerumputan baru saja tumbuh di atas tanah gundukan, beberapa pohon Pek-yang berdiri tegak menahan hembusan angin barat, di depan kuburan berdiri sebuah batu nisan.

Di atas batu nisan yang besar itu tertera beberapa huruf besar.

"Tempat peristirahatan putri kesayanganku Be Hong-ling" . Be Khong-cun memandang nanar kuburan baru itu, sampai lama kemudian baru ia membalikkan badan memandang Pho Ang-soat, kerutan di wajahnya terlihat makin tandas, di balik setiap guratan itu entah sudah tersimpan berapa banyak peristiwa masa lampau yang penuh kepedihan. Ya, tak seorang pun tahu berapa banyak kepedihan yang tertanam di situ? Berapa dalam dendam kesumat yang terjalin? Pho Ang-soat berdiri tenang menghadap hembusan angin barat, dia balas menatap tajam Be Khong-cun, memandang dengan sorot tajam.

"Apa yang kau lihat?"

Tiba-tiba Be Khong-cun bertanya.

"Sebuah kuburan."

"Tahukah kau kuburan siapa?"

"Be Hong-ling."

"Sudah tahu, siapakah dia?"

"Putri Be Khong-cun."

Pho Ang-soat sengaja tidak mengatakan "putrimu" , melainkan "putri Be Khong-cun" , sebab hingga kini dia masih belum percaya orang yang berdiri di hadapannya adalah Be Khong-cun asli.

Setahu dia, Be Khong-cun sudah tewas sejak sepuluh tahun lalu, dengan mata kepala sendiri ia saksikan kematian orang itu, meski bukan dia yang membunuh, namun dia sangat mempercayai pandangan mata sendiri.

Di depan tanah perbukitan itu terbentang padang rumput yang luas, begitu luas hingga bersambungan dengan ujung langit.

Angin di atas bukit terasa lebih dingin, angin berhembus di atas rerumputan membuatnya bergoyang bagai gulungan ombak di samudra.

Paras muka Be Khong-cun nampak lebih pedih, terdengar ia bergumam.

"Putri Be Khong-cun...."

Tiba-tiba ia membalikkan badan, memandang ke tempat jauh sana. Entah berapa lama sudah lewat ketika ia berkata lagi.

"Sekarang apa yang kau lihat?"

"Padang rumput, tanah dataran yang luas."

"Apakah kau dapat melihat tepian dataran luas ini?"

"Tidak."

"Tanah dataran yang begitu luas tak nampak tepian ini milikku,"

Kata Be Khong-cun agak emosi.

"tanah ini adalah seluruh nyawaku, seluruh kekayaan yang ada di sini milikku, akarku tumbuh di tanah dataran ini."

Pho Ang-soat mendengarkan, hanya mendengarkan, karena dia memang tidak paham apa maksud Be Khong-cun mengajaknya ke sana hari itu, apa pula maksudnya mengucapkan semua perkataan itu?

"Akarku berada di sini, Be Hong-ling adalah seluruh nyawaku, seluruh kehidupanku,"

Kembali Be Khong-cun berkata.

"siapa pun orang yang telah membunuhnya, dia harus membayar dengan harga yang sangat besar."

Mendengar itu, perlahan Pho Ang-soat mengalihkan kembali sorot matanya ke atas kuburan baru.

Benarkah orang yang dikubur di tempat ini adalah Be Hong-ling?

Angin masih berhembus kencang, menggoyangkan rerumputan, tampaknya luapan emosi Be Khong-cun ikut terhembus pergi oleh deru angin dingin, lambat-laun paras mukanya berubah tenang kembali, kemudian ia menghela napas panjang.

"Walaupun aku tidak menyaksikan sendiri bagaimana kau membunuh Be Hong-ling, tapi kau pun tak bisa membuktikan dia bukan tewas di tanganmu,"

Kata Be Khong-cun lagi sambil menatap tajam lawannya.

"Benar, aku memang tak bisa."

Kembali Be Khong-cun mengamatinya sekejap, mendadak ia membalikkan badan, memandang lagi padang rumput.

"Tidak mudah bagi siapa pun untuk memperoleh sebidang tanah yang begini luas,"

Be Khong-cun mengalihkan pokok pembicaraan.

"tahukah kau dengan cara apa kuperoleh semua itu?"

Kau peroleh semua ini dengan melawan hati nalurimu dan membunuh sahabat karibmu, Pek Thian-ih. Pho Ang-soat tidak mengucapkan perkataan itu, dia hanya menatap Be Khong-cun dengan pandangan dingin.

"Tanah ini kuperoleh dengan menukar nyawa sahabat karibku serta beberapa orang saudaraku,"

Ujar Be Khong-cun lagi.

"kini mereka telah mati, sementara aku masih tetap hidup."

"Aku tahu."

"Oleh karena itu jangan harap siapa pun bisa merebut semua itu dari tanganku,"

Setelah berhenti sejenak, kembali tambahnya.

"kecuali Pek Ih-ling!"

Pho Ang-soat tidak mengerti apa maksud perkataannya itu, untung Be Khong-cun segera memberi penjelasan.

"Biarpun Be Hong-ling adalah akar kehidupanku, tapi demi Pek Ih-ling, aku bersedia mengabaikan semua itu."

Kembali dia menengok wajah Pho Ang-soat, lalu tanyanya.

"Kau mengerti maksudku?"

"Tidak, aku tidak mengerti,"

Pho Ang-soat memang benar-benar tidak mengerti.

"Dendam terbunuhnya putriku lebih dalam dari lautan, tapi...."

Be Khong-cun menggigit bibir.

"Pek Ih-ling... ternyata dia menyukai mu."

Pek Ih-ling?

Lambat-laun Pho Ang-soat mulai mengerti maksudnya.

Semua usaha, semua kekayaan yang ada di Ban be tong adalah hasil perjuangan Pek Thian-ih suami istri, maka demi putri tunggalnya, Be Khong-cun rela berkorban tanpa syarat, inilah yang disebut kesetia kawanan seorang sejati.

Oleh karena itu walaupun Pho Ang-soat telah membunuh Be Hong-ling, namun demi Pek Ihling, Be Khong-cun mau tak mau harus membebaskan Pho Ang-soat.

Inilah salah satu sebab mengapa Be Khong-cun mengajak Pho Ang-soat datang kemari hari ini.

Tapi benarkah kenyataan memang begitu?

Benarkah jenazah yang terkubur di sana adalah mayat Be Hong-ling yang asli?

Siapa pula Pek Ih-ling yang berwajah sangat mirip Be Hong-ling?

Benarkah dia putri tunggal Pek Thian-ih?

Kembali Be Khong-cun menatap tajam wajah Pho Ang-soat, ujarnya lagi.

"Aku tahu kau adalah seorang lelaki yang punya cita-cita tinggi, punya semangat dan harga diri, pada waktu biasa, mungkin aku akan bersahabat denganmu, bahkan memungut kau menjadi menantuku"

Sekali lagi dia menarik muka, setajam sembilu dia tatap pemuda itu tanpa berkedip, lalu katanya pula.

"Tapi sekarang, lebih baik cepat kau tinggalkan tempat ini."

"Pergi dari sini?"

"Betul, pergi dari sini. Bawa serta Pek Ih-ling, pergilah sejauh mungkin, makin jauh makin baik."

"Kenapa aku harus pergi?"

Tanya Pho Ang-soat.

"Karena di sini kelewat banyak masalah dan kesulitan, siapa pun yang berada di sini rasanya sulit untuk terhindar dari anyirnya darah,"

Kata Be Khong-cun.

"biarpun demi Pek Ih-ling aku rela melepasmu, bukan berarti aku bisa menjamin orang lain bisa memaafkan dirimu yang telah membunuh putriku."

"Aku tidak takut menghadapi masalah, juga tak takut menghadapi anyirnya darah,"

Kata Pho Angsoat hambar.

"terlebih lagi aku tak butuh maaf dari orang lain."

"Tapi kau tidak seharusnya datang kemari, sepantasnya kau segera pulang."

"Pulang? Pulang kemana?"

"Pulang ke kampung halamanmu, di tempat itulah nyawamu baru bisa selamat dan kehidupanmu baru tenang."

Pho Ang-soat tidak segera menjawab, dia alihkan pandangan matanya ke arah padang rumput yang luas, lama kemudian baru ia bertanya.

"Tahukah kau dimana letak kampung halamanku?"

"Betapa jauhnya letak kampung halamanmu, betapa banyaknya ongkos yang kau butuhkan dan barang apa pun yang ingin kau bawa dari sini, aku pasti akan memenuhi semua permintaanmu itu,"

Janji Be Khong-cun cepat.

"akan kukabulkan setiap permintaanmu, asal kau segera tinggalkan tempat ini bersama Pek Ih-ling."

"Tak perlu dengan tawaranmu itu, karena kampung halamanku tidak terlalu jauh,"

Tukas Pho Ang-soat.

"Tidak jauh? Dimana?"

Di ujung langit terlihat segumpal awan putih, sorot mata Pho Ang-soat berhenti pada gumpalan awan itu.

"Di sinilah kampung halamanku,"

Katanya.

"Di sini?"

Seru Be Khong-cun tertegun. Pho Ang-soat membalikkan badan, menatap tajam dirinya, tiada mimik aneh di wajahnya.

"Aku dilahirkan di sini, tumbuh dewasa di sini, kau minta aku pergi kemana lagi?"

Ujar Pho Angsoat lagi.

Mendengar itu, dada Be Khong-cun langsung bergelombang tak beraturan, napasnya ngos ngosan, tangannya mengepal kencang, dari tenggorokannya hanya terdengar suara orang mendengkur, tak sepatah kata pun sanggup dia ucapkan.

"Sejak awal sudah kukatakan, aku tak pernah takut menghadapi masalah, juga tak kuatir dengan anyirnya darah, bahkan aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan."

"Jadi kau tetap akan tinggal di sini?"

Akhirnya dengan sedikit memaksa Be Khong-cun mengucapkan pertanyaan itu.

"Benar!"

Inilah jawaban dari Pho Ang-soat, singkat tapi jelas.

Awan di ujung langit mulai bergerak, menutupi cahaya sang surya.

Hembusan angin barat terasa makin kencang, menggoyangkan ranting dan dedaunan, bahkan membuat pohon Pek-yang yang kokoh pun ikut gemetar.

Biarpun Be Khong-cun masih berdiri tegak, namun lambungnya mulai mengkerut dan terasa mual, seakan terdapat sebuah tangan tak berwujud yang sedang menekan dada dan lambungnya, begitu kuat tekanan itu nyaris membuatnya muntah dan berhenti bernapas.

Ia merasakan seluruh mulutnya dipenuhi cairan getir, kecut dan pahit.

Pho Ang-soat telah berlalu dari situ.

Be Khong-cun tahu akan hal ini, tapi ia tidak berusaha menghalangi, bahkan berpaling untuk melihat sekejap pun tidak.

Kalau memang tak berniat menghalangi, buat apa mesti ditengok?

Seandainya peristiwa ini terjadi pada sepuluh tahun berselang, dia pasti tak akan membiarkannya pergi.

Seandainya peristiwa ini terjadi pada sepuluh tahun berselang, mungkin saat ini dia sudah terkubur di tanah perbukitan itu.

Pada sepuluh tahun berselang, belum pernah ada orang berani menampik permintaannya, semua perkataan yang dia ucapkan tak pernah ada yang berani membangkang.

Tapi sekarang ada, ada yang berani melawannya.

Ketika mereka sedang berdiri saling berhadapan tadi, sebenarnya Be Khong-cun punya kesempatan untuk merobohkan Pho Angsoat, kepalannya masih secepat sepuluh tahun yang lalu, dia yakin masih mampu merobohkan setiap orang yang berdiri di hadapannya.

Tapi tadi, dia sama sekali tidak bergerak, sama sekali tidak turun tangan.

Mengapa?

Mengapa dia hanya diam saja?

Apakah dia sudah tua?

Ataukah ada sesuatu yang membuatnya takut dan ngeri untuk bertindak?

Apakah dia adalah Be Khong-cun yang asli?

Apakah dia adalah Be Khong-cun sepuluh tahun berselang?

Semua orang, semua benda yang ada di Ban be tong hari ini benarkah sama seperti yang dulu?

Benarkah mereka semua telah bangkit dari kematiannya?

Biarpun sudah lewat sepuluh tahun, namun otot Be Khong-cun masih nampak kekar dan kencang, bahkan tak nampak daging lebih atau lemak yang tumbuh di seputar lehernya, baik sewaktu duduk atau berdiri, tubuhnya tetap tegak lurus persis seperti keadaannya pada sepuluh tahun berselang.

Tampaknya selama sepuluh tahun terakhir, nyaris tidak terjadi perubahan apa pun pada dirinya.

Padahal perubahan dan menuanya seseorang, memang sulit dilihat dan diketahui orang luar.

Malah terkadang diri sendiri pun tak dapat melihatnya.

Perubahan dan menuanya seseorang, sesungguhnya berlangsung dalam hati Seseorang baru benar-benar merasa lemah dan tua bila dalam hati merasa dirinya sudah mulai lemah dan tua.

Tiba-tiba Be Khong-cun merasa sangat lelah.

Awan bergerak yang baru saja menutupi cahaya sang surya, entah sejak kapan telah berubah menjadi awan mendung, tak lama kemudian langit pun berangsur gelap, kelihatannya segera akan turun hujan.

Sudah barang tentu Be Khong-cun dapat melihat perubahan itu, pengalamannya selama ini membuat ia pandai melihat perubahan cuaca, tapi agaknya dia enggan untuk pulang.

Dengan tenang ia berdiri di depan kuburan, mengawasi tulisan di atas batu nisan dengan pandangan nanar.

"Tempat peristirahatan putri kesayanganku Be Hong-ling" . Benarkah Be Hong-ling dikebumikan di tempat itu? Kecuali dia seorang, mungkin tidak banyak yang tahu tentang rahasia ini, tak seorang pun tahu kuburan siapakah sebenarnya? Rahasia ini sudah sepuluh tahun tersimpan dalam hatinya, seperti sebatang duri yang menghujam dalam hatinya, setiap kali teringat akan hal ini, hatinya akan terasa sakit, pedih. Kini perasaan sakit dan pedih kembali tercermin di wajahnya, entah dikarenakan ia teringat rahasia itu atau lantaran permintaan nya ditolak mentah-mentah oleh Pho Ang-soat? Angin berhembus semakin kencang, di tempat terpencil seperti ini hanya suara hembusan angin yang terdengar, tiada suara derap kuda, tiada pula suara langkah kaki, tapi sekonyong-konyong Be Khong-cun merasa ada seseorang sedang berjalan naik ke bukit itu. Tanpa menoleh pun ia tahu siapa yang datang. Pek Ih-ling! Hanya Pek Ih-ling seorang yang bisa menikmati rahasia itu bersamanya. Dia amat mempercayai Pek Ih-ling, sama seperti seorang ayah mempercayai putri sendiri.

"Apakah dia tidak mau menerima tawaran itu?"

Tanya Pek Ih-ling lirih sambil berjalan mendekati Be Khong-cun.

Be Khong-cun menggeleng pelan.

Tampaknya jawaban itu sudah terduga Pek Ihling sebelumnya, begitu melihat Be Khong-cun menggeleng, perasaan murung dan sedih segera melintas di wajahnya.

"Sejak awal sudah kubilang, tak mungkin dia akan menyanggupi,"

Kembali Pek Ih-ling berkata lirih.

"seandainya dia adalah manusia semacam itu, tak mungkin dia akan pergi pada sepuluh tahun berselang."

Be Khong-cun mengangkat wajah, memandang awan mendung yang bergayut di langit, sesudah menghela napas katanya pula.

"Ai, sebetulnya aku sangat berharap dia mau mengajakmu pergi, dengan begitu tak ada lagi yang perlu kurisaukan."

"Bila ia benar-benar mengajakku pergi, bukankah kau pun telah melanggar perintah organisasi?"

"Organisasi?"

Gumam Be Khong-cun.

"justru demi organisasi aku berharap kau pergi bersamanya."

Perlahan Be Khong-cun membalikkan badan, ditatapkan Pek Ih-ling dengan penuh kasih sayang, lalu dengan lembut dia belai pipinya, mengawasi wajahnya dengan lembut dan perhatian.

"Setelah aku pergi, dengan cara apa kau akan menghadapi organisasi?"

Ujar Pek Ih-ling kemudian.

"bukannya kau tak paham tentang tindak-tanduk dan sepak-terjang organisasi?"

"Mungkin perkataanmu tak salah, aku memang sudah tua,"

Be Khong-cun kembali menghela napas.

"justru karena aku sudah tua, maka aku berharap kau pun bisa hidup lebih senang, lebih bahagia. Aku berharap kau dapat meninggalkan tempat ini."

Sesudah berhenti sejenak, membiarkan butiran air mata yang mengucur lenyap di atas tanah, kembali terusnya.

"Mengenai organisasi... aku sudah tua, apa lagi yang perlu kutakuti?"

Awan gelap masih bergayut, rintik hujan belum juga turun, hembusan angin dingin semakin menusuk tulang, kemudian bergemalah suara guntur yang menggelegar.

Ketika guntur mengguncang bumi, Pho Angsoat telah sampai di depan pintu kamarnya, langit terlihat makin gelap sedang lentera dalam kamar belum dinyalakan, kegelapan serasa mencekam dimana-mana.

Sejak meninggalkan bukit hingga tiba di depan kamarnya, Pho Ang-soat tak pernah menghentikan langkahnya, saat ini pun dia tak berniat untuk berhenti, tapi baru akan mengayun kaki kanan, mendadak ia batalkan niat itu.

Kakinya seolah terhadang di tengah udara dan tak mampu dilanjutkan.

Dalam sekejap seluruh bulu kuduknya berdiri, ia merasakan hawa dingin yang menusuk serasa menyusup masuk dari dasar telapak kakinya.

Suasana di sekeliling situ sangat hening, tak terdengar suara apa pun, tak terlihat suatu kejadian apa pun, tapi mengapa Pho Ang-soat berubah seperti itu?

Berubah secara tiba-tiba?

Kegelapan yang tak bertepian semakin menyelimuti angkasa, suasana terasa sangat hening, sepi, seakan semua kehidupan telah berhenti.

Tiada cahaya, tiada suara.

Ketika siap melangkahkan kakinya memasuki pintu kamar, secara tiba-tiba Pho Ang-soat menghentikan seluruh gerakannya, hal ini disebabkan ia telah mendengar suara yang sangat aneh, suara itu tidak mirip langkah kaki, juga bukan suara dengusan napas, suara itu adalah sejenis irama yang aneh.

Sejenis suara yang tak bisa didengar lewat telinga, semacam suara yang tak bisa ditangkap telinga, sejenis suara yang hanya bisa ditangkap oleh kesensitifan dirinya, semacam insting seekor hewan liar.

Ada seseorang di dalam kamarnya, ya, seseorang!

Bisa jadi orang itu adalah orang yang ingin mencabut nyawanya, orang yang penuh diliputi rasa benci dan dendam.

Pho Ang-soat tak dapat melihat orang itu, jangankan orangnya, bayangan pun tidak terlihat.

Namun ia dapat merasakan kehadirannya, ia merasa jarak antara dia dan orang itu makin lama makin dekat.

Jagad raya dingin membeku, hembusan angin yang membeku, golok yang dingin membeku.

Pho Ang-soat menggenggam kencang goloknya, ia tak berani bergerak, tak berani mengeluarkan suara, seluruh tubuhnya seakan sudah membeku.

Seluruh langit dan bumi seolah sudah dicekam keheningan yang luar biasa...

saat itulah mendadak bergema suara desingan angin tajam dari balik kamarnya.

Pho Ang-soat sudah mulai berkelana dalam dunia persilatan sejak usia delapan belas, dia sudah mengembara dan hidup bergelandangan bagai seekor serigala liar, ia pernah merasakan jotosan kepalan, pernah merasakan tamparan tangan, pernah ditusuk pedang, dibacok golok, bahkan pernah merasakan berbagai sambitan senjata rahasia.

Tentu saja dia pun dapat menangkap suara itu, desingan angin yang ditimbulkan dari sambitan senjata rahasia, semacam Am-gi yang lembut, kecil dan sangat tajam.

Biasanya senjata rahasia ini ditembakkan melalui sebuah alat pegas yang kuat dan pada umumnya sangat beracun.

Di saat senjata rahasia membelah udara, semestinya Pho Ang-soat segera mundur, seharusnya dia cepat berkelit, tapi pemuda itu seolah badannya sudah kaku, mengejang, bukan saja tidak berkelit, bergerak pun tidak.

Bila dia bergerak atau berkelit, dapat dipastikan dia akan mati mengenaskan.

"Ting..." , senjata rahasia itu sudah menyambar tiba, menghajar di atas lantai ubin, persis di samping Pho Ang-soat. Tampaknya orang dalam kamar telah memperhitungkan dia pasti akan menghindar, pasti akan bergerak, karena itu sasaran senjata rahasia itu bukan tertuju ke tubuh korban, tapi mengancam jalan mundurnya, mau ke arah mana pun dia menghindar, asal berani bergerak berarti bakal mati. Sayang dia sama sekali tak bergerak. Dari desiran angin serangan ia sudah tahu serangan itu bukan langsung tertuju ke tubuhnya, dia pun seakan sudah menduga apa maksud dan tujuan sebenarnya dari serangan itu. Dugaan itu memang tak seratus persen meyakinkan, menghadapi kejadian seperti ini tak mungkin ada orang yang berani yakin seratus persen. Dalam situasi yang begini kritis dan bahaya, tak ada cukup waktu baginya untuk mempertimbangkan, oleh karena itu dia harus bertaruh, menggunakan nyawa sendiri sebagai bahan taruhan, menggunakan hasil analisa sendiri sebagai bahan taruhan. Taruhannya kali ini benar-benar sebuah pertaruhan yang nyaris, kemenangan pun diraih dengan nyaris. Namun pertaruhan belum lagi selesai, Pho Angsoat masih harus bertaruh terus, tak nanti lawannya melepaskan dia begitu saja. Biarpun kali ini dia berhasil meraih kemenangan, kemungkinan besar kali berikutnya akan kalah, setiap saat mungkin akan menderita kekalahan. Jika kalah maka dia akan kehilangan nyawa, bahkan kemungkinan besar akan menggadaikan nyawanya tanpa sempat melihat jelas wajah lawannya. Tapi ada satu hal yang dia tahu pasti, orang yang berada dalam kamar adalah seorang lawan tangguh yang belum pernah dihadapi sebelumnya. Asal orang itu pernah bertemu dengannya, dia yakin pasti dapat mengenalinya. Pho Ang-soat tak menginginkan kematian sebelum mengetahui siapa lawan, maka dari itu tiba-tiba ia mulai batuk. Orang batuk tentu bersuara, kalau bersuara tentu ada tujuan, dia memang sengaja membocorkan posisi berdirinya kepada pihak lawan. Tak salah lagi, ia segera mendengar suara desingan angin tajam kembali membelah angkasa, suara desingan yang begitu tajam seolah hendak mencabik tubuhnya. Begitu mendengar suara desingan, tubuh Pho Ang-soat segera menyusup masuk ke dalam ruangan, menggunakan seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk menyusup masuk, menyusup lewat desingan angin tajam itu. Tiba-tiba dari balik kegelapan berkelebat cahaya golok. Sekilas cahaya golok yang sangat dingin, sekilas cahaya golok kematian! Di saat Pho Ang-soat mulai batuk tadi, secara diam-diam ia telah melolos goloknya, salah satu di antara lima golok tertajam di kolong langit. Cahaya golok berkelebat dan ....

"Tring!" , bergema suara benturan keras, lalu terdengar suara senjata rahasia yang rontok ke atas tanah. Selewat suara benturan itu, suasana kembali dicekam dalam keheningan. Begitu melompat masuk Pho Ang-soat pun tidak bergerak lagi, bahkan dengus napas pun seolah ikut berhenti, satu-satunya yang dapat ia rasakan sekarang adalah keringat dingin yang mengalir melalui ujung hidungnya. Entah berapa lama sudah lewat, tapi yang pasti suatu jangka waktu yang betul-betul lama... akhirnya Pho Ang-soat dapat menangkap suara lirih. Dia memang sedang menanti suara itu. Begitu mendengar suara itu, seluruh tubuhnya yang semula tegang kini makin mengendor dan lepas. Suara yang didengar Pho Ang-soat adalah semacam suara rintihan yang sangat lirih dan suara dengusan napas yang memburu. Hanya orang yang benar-benar kesakitan, benar-benar mencapai puncak penderitaan hingga tak mampu mengendalikan diri, baru akan memperdengarkan suara seperti ini. Pho Ang-soat tahu dalam pertarungan ini lagilagi dia berhasil meraih kemenangan. Biarpun kemenangan itu harus diraih dengan susah payah, dengan penuh penderitaan dan kesengsaraan, namun akhirnya berhasil menang juga-Dia pernah menang, sering menang, karena itulah dia masih bisa hidup hingga sekarang. Paling tidak menang dan tetap hidup jauh lebih baik daripada kalah dan mampus. Tapi kali ini nyaris sebelum ia mencicipi bagaimana rasanya meraih kemenangan, dari balik kegelapan di ujung langit sana tiba-tiba berkilat secercah cahaya tajam. Cahaya, seperti juga kegelapan, selalu datang secara tiba-tiba, siapa pun tak tahu kapan dia akan datang, tapi kau harus percaya diri, harus yakin bahwa cepat atau lambat dia akan datang juga. Akhirnya Pho Ang-soat dapat melihat wajah orang itu, wajah orang yang membawa kebencian dan dendam kesumat, orang yang ingin menghabisi nyawanya. Bab 2. SI KELININGAN Dari balik kegelapan muncul cahaya terang, Pho Ang-soat dapat melihat jelas wajah orang itu. Ternyata dia belum mati. Ia masih meronta, masih menggeliat, masih bergerak, gerakannya susah dan lamban, seperti seekor ikan sekarat yang terjebak di tengah pasir putih. Di tangannya menggenggam geretan api, dari geretan api itulah cahaya terang berasal. Kini Pho Ang-soat baru sadar, ternyata orang itu adalah seorang wanita. Bukan cuma wanita, malah seorang wanita yang cantik molek, biarpun wajahnya nampak layu dan pucat, namun semua itu justru menambah kelembutan dan keindahannya. Sepasang biji matanya kelihatan agak kabur, tapi dipenuhi dengan kerinduan, kerinduan di tengah penderitaan, putus asa dan permohonan. Ia memandang Pho Ang-soat dengan matanya yang makin sayu, sebenarnya dia ingin membunuhnya, namun setelah sorot mata mereka saling bertemu, dia seakan lupa akan hal ini. Ini disebabkan karena dia adalah manusia, bukan hewan, tiba-tiba dia pun merasa bahwa dalam situasi dan keadaan seperti apa pun antara manusia dan hewan tetap terdapat perbedaan yang besar. Keanggunan seorang, keibaan dan rasa perikemanusiaan tak mungkin bisa dibuang begitu saja. Lalu siapakah perempuan ini? Mengapa di tengah malam buta dia datang seorang diri, berniat membunuh Pho Ang-soat? "Siapa kau?"

Pho Ang-soat bertanya.

"Seseorang yang datang untuk membunuhmu"

Jawab perempuan itu.

"aku harus membunuhmu."

"Mengapa?"

"Karena kalau kau tidak mati, akulah yang mati,"

Di balik suara perempuan itu terselip perasaan dendam yang mendalam.

"sebab kalau kau tidak mati, aku selalu merindukan, harus tersiksa batinku oleh kebencian hingga akhir zaman."

"Kerinduan? Tersiksa oleh kebencian?"

"Benar, aku merindukan orang yang telah kau bunuh. Bila aku gagal menghabisi nyawamu, bagaimana mungkin aku bisa menghadapi siksaan batin karena kebencian?"

"Siapa yang kau rindukan?"

"A-jit, si golok lengkung A-jit."

"A-jit?"

Pho Ang-soat melengak, bukankah A-jit telah ia bebaskan? Kenapa tiba-tiba A-jit mati? Belum sempat Pho Ang-soat memahami hal ini, perempuan itu sudah berkata.

"Kau seharusnya dapat melihat, meski bacokan golokmu membuat aku terluka parah, namun luka itu tak melukai bagian tubuhku yang membahayakan."

Tentu saja Pho Ang-soat tahu, sabetan goloknya tadi dengan tepat menghujam dadanya, hanya selisih dua inci dari letak jantungnya.

"Kau seharusnya dapat melihat juga bahwa sekarang aku tak mampu lagi membunuhmu,"

Kembali perempuan itu berkata dengan nada yakin.

"tapi bila ada kesempatan lagi di kemudian hari, aku masih tetap akan berusaha membunuhmu."

Dalam hal ini tentu saja Pho Ang-soat dapat melihatnya, dia tahu perempuan di hadapannya adalah seorang yang berani bicara berani berbuat, apa yang sudah dia putuskan ibarat sebuah paku yang sudah terpantek mati di atas dinding, biar dicabut dengan cara apa pun tak mungkin bisa goyah kembali.

"Oleh karena itu lebih baik bunuhlah aku sekarang,"

Perempuan itu menambahkan.

Membunuhnya?

Tanpa terasa sekali lagi Pho Ang-soat mengamati perempuan di hadapannya.

Biarpun ia cantik, namun bukan perempuan cantik pertama yang pernah dilihatnya, tapi anehnya, mengapa tak tersirat sedikit pun niatnya untuk membunuh.

Apakah hal ini lantaran keterus terangan perempuan itu?

Atau karena dia memiliki sepasang mata yang kalut?

Atau karena dia dan dirinya termasuk orang yang dilanda kerinduan?

Sebenarnya karena alasan apa?

Pho Ang-soat sendiri pun tak tahu, dia hanya mengerti akan satu hal, perempuan ini tak boleh dibunuh.

Tak disangkal, agaknya perempuan itu pun dapat melihat hal ini, maka kembali ujarnya.

"Bila kau tidak membunuhku, maka kau harus membawa serta diriku."

"Membawamu?"

Sekali lagi Pho Ang-soat tertegun.

"Betul. Meski luka ini tak mengenai bagian penting tubuhku, namun bila tidak segera ditolong dan diobati, paling aku hanya bisa bertahan dua jam lagi."

Dalam hal ini Pho Ang-soat pun mengerti.

"Jika aku mati dalam kondisi begini, biar kau tak menggunakan golokmu lagi, sama artinya kaulah yang telah membunuhku, apakah hati kecilmu dapat menerimanya?"

Kembali perempuan itu berkata.

Pho Ang-soat tertawa getir, dia memang hanya bisa tertawa getir, jika bertemu perempuan semacam ini, siapa yang tidak tertawa getir?

"Kalau kau tak ingin membunuhku, maka kau harus membawa serta diriku, mengobati lukaku,"

Kembali perempuan itu berkata.

"aku tahu kemampuanmu mengobati luka sama hebatnya seperti permainan golokmu."

Orang yang pandai membunuh, biasanya pandai pula mengobati luka.

"Tetapi jangan setelah menyembuhkan lukaku, kau tinggalkan diriku begitu saja,"

Kata perempuan itu lagi.

"mulai detik ini, aku akan selalu mengintil di belakangmu, sejengkal pun tak akan kutinggalkan."

Apa pula maksud perkataan itu?"

Karena sekarang aku belum mampu membunuhmu, di kemudian hari pun tak mampu membunuhmu, maka aku akan selalu mengintil di belakangmu, setiap saat mempelajari segalanya tentang kau, selalu memperhatikan kepandaianmu dan mencari titik kelemahanmu.

Bila suatu ketika aku berhasil memahami tentang kau, itulah waktuku untuk meraih kemenangan.

Dalam hal ini kau pasti setuju bukan?"

"Aku setuju!"

"Kau sudah memutuskan tak akan membunuhku, namun jangan harap kau akan memperoleh kehidupan yang tenang di kemudian hari,"

Perempuan itu menatap wajahnya lekatlekat.

"setiap saat kau harus selalu mewaspadai aku, siapa tahu begitu kuperoleh kesempatan baik, tanpa sangsi aku bakal menusukmu hingga mampus."

Dia mengikuti dirinya karena bermaksud ingin membunuhnya, tentu saja dalam hal ini Pho Angsoat mengetahui dengan jelas.

"Sekarang kau boleh mulai mengobati lukaku, lalu mengajakku pergi meninggalkan tempat ini."

"Mengajakmu pergi?"

Tanya Pho Ang-soat.

"kemana?"

"Bila kita tetap tinggal di sini, memang kau sangka Be Khong-cun itu orang mampus, memangnya dia tak bakal bertanya? Begitu ia mulai bertanya, lalu bagaimana caramu menjawab?"

Perempuan itu tertawa.

"untung aku tahu kau pasti akan mengajakku menuju ke suatu tempat dan tinggal di sana."

"Aku mempunyai tempat?"

Tentu saja Pho Ang-soat mempunyai tempat untuk ditinggali perempuan itu, sepuluh tahun lalu ia pergi meninggalkan kota kecil itu dengan membawa luka dan kepedihan, orang lain pasti menyangka dia bakal pergi meninggalkan dunia yang ramai ini, meninggalkan tempat yang membuatnya sedih dan terluka.

Padahal dia tak pernah pergi jauh, karena kondisi tubuhnya dan luka hatinya tak sanggup menopangnya pergi jauh, maka dia hanya meninggalkan kota kecil itu dan menetap di atas bukit tak jauh dari situ.

Biarpun tempat itu agak dekat dengan kota kecil, tapi di sana dia bisa lepas dari semua keruwetan duniawi, maka begitu menetap hampir sepuluh tahun lamanya, dia tak pernah meninggalkan tempat itu.

Kalau memang sudah hampir sepuluh tahun ia berdiam di situ, mengapa secara tiba-tiba ingin meninggalkan tempat itu?

Orang lain pasti tak dapat menebak apa sebabnya Pho Ang-soat mengabulkan satu permintaan tak masuk akal, yang diajukan seorang wanita asing kepadanya, bahkan Pho Ang-soat pribadi pun tak tahu kenapa dia menyanggupi permintaan itu?

Bahkan dia pun belum tahu perempuan macam apakah orang itu, namanya pun tak jelas.

Dia tak habis mengerti apa sebabnya secara bodoh dan sembrono dia bawa perempuan itu pergi bersamanya.

Untung sesaat sebelum meninggalkan tempat itu, pada akhirnya perempuan itu memperkenalkan namanya.

"Aku bernama Hong-ling, si Keliningan."

Selesai bersantap, Yap Kay pun mendatangi rumah So Ming-ming untuk beristirahat.

Menanti So Ming-ming selesai mengatur bocah-bocah asuhnya, dia pun ikut keluar menuju ke halaman dan duduk di samping pemuda itu.

Ketika bersantap malam tadi, Kim-hi menyelesaikan makannya dengan cepat, lalu dengan alasan lelah dan ingin cepat beristirahat, dia balik lebih dulu ke kamarnya.

Selama beberapa hari belakangan ini dia memang selalu mencari alasan untuk saling berjumpa dengan So Ming-ming maupun Yap Kay, tak jelas apa sebabnya ia bersikap begitu.

Tentu saja So Ming-ming tak menaruh perhatian atas sikapnya yang aneh itu, apalagi Yap Kay baru beberapa hari berkenalan dengan Kim-hi, tentu saja dia lebih tak mungkin memperhatikan urusan tetek-bengek.

Tatkala ia sadar akan hal itu, keadaan sudah berkembang ke arah tak tertolong lagi.

Duduk santai di tanah berumput sembari mendongakkan kepala menikmati taburan bintang di langit dan ditemani seorang nona yang cantik menawan, benar-benar hal yang indah dan tak terlupakan.

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

Tanya So Ming-ming sambil berpaling.

"Aku sedang membayangkan hubungan antara kebun monyet dan Ban be tong,"

Sahut Yap Kay sambil menatap wajah gadis itu.

"mengapa ada begitu banyak bocah yang hilang di seputar kebun monyet dan tak ada yang pergi menjumpai pemilik kebun monyet untuk menemukan anaknya? Apakah orang tua bocah-bocah yang lenyap itu tak pernah menguatirkan keselamatan anaknya?"

So Ming-ming tak langsung menjawab, dia menundukkan kepala, mengawasi rerumputan hijau yang terhampar di hadapannya, baru ia menjawab.

"Sebab yang hilang rata-rata adalah anak yatim piatu."

Sebuah jawaban yang memelas dan membuat hati terasa kecut.

Anak yatim piatu?

Tak heran ada begitu banyak anak telah lenyap, namun belum ada orang tua di kota Lhasa yang peduli atau menaruh perhatian atas kasus ini.

Kalau urusan tidak menyangkut diri sendiri, siapa pula yang mau mencampuri urusan orang lain?

Yap Kay menghela napas sedih, sesaat kemudian baru ia berkata lagi.

"Bagaimana pun anak yatim piatu kan tetap manusia, mengapa tak seorang pun yang berani tampil mengatasi masalah ini?"

"Setiap orang hanya mau mengurusi masalah sendiri dan peduli amat dengan urusan orang lain, masa kau belum pernah mendengar kata-kata ini?"

Sesungguhnya ucapan itu memang ada benarnya, sejak zaman dulu hingga kini, banyak orang memang patuh dan memegang teguh perkataan itu.

Buat apa mesti mencampuri urusan orang?

Kembali Yap Kay termenung, sesaat kemudian baru ujarnya.

"Asal terbukti hilangnya bocahbocah itu ada hubungannya dengan kebun monyet, aku pasti akan menuntut keadilan kepada pemilik kebun itu."

Bukan hanya So Ming-ming yang mendengar janji itu, Kim-hi pun ikut mendengar.

Biarpun sejak awal dia sudah balik ke kamar, bukan berarti ia sudah terlelap, secara diam-diam ia bersembunyi di pinggir jendela, mengamati setiap gerak-gerik Yap Kay yang berada di halaman dan mencuri dengar setiap pembicaraan yang berlangsung, karena itulah ucapan Yap Kay terakhir terdengar juga olehnya.

Sayang dia hanya mendengar sampai di situ, jika gadis itu mencuri dengar kata-kata selanjutnya, mungkin di kemudian hari tak sampai terjadi peristiwa yang amat tragis.

Niat dan keputusan seseorang terkadang muncul hanya sesaat, siapa pula yang bisa menduga perbuatan apa yang bakal dilakukannya di kemudian hari?

Siapa pula yang bisa menebak tindakan apa yang sebentar lagi akan dilakukan?

Semestinya Kim-hi dapat melihat So Ming-ming amat menyukai Yap Kay, biarpun dia sendiri pun menyukai pemuda itu, lalu apa gunanya dia mencintainya?

Seharusnya dia pun sudah dapat merasakan bahwa dalam pandangan Yap Kay, hanya ada So Ming-ming seorang?

Itulah sebabnya selama dua hari ini dia berusaha menghindari perjumpaannya dengan mereka berdua, namun apa daya, dia pun tak tahan menghadapi kesepian dan kesendirian, itulah sebabnya secara diam-diam dia ikut memperhatikan gerak-gerik kedua orang itu.

Tak heran semua pembicaraan yang berlangsung pada malam ini dapat didengarnya dengan jelas, dia pun sangat memahami maksud perkataan itu, maka secara diam-diam ia memutuskan untuk melakukan satu perbuatan besar, agar pandangan Yap Kay terhadap dirinya dapat berubah.

Dia putuskan untuk menyambangi kebun monyet pada malam ini, asal berhasil melacak sesuatu rahasia dan memberitahukan kepada Yap Kay, dia pasti akan bersikap beda terhadapnya, dia pasti akan gembira atas perbuatannya.

Betapa kekanak-kanakannya pemikiran semacam ini, sayang ia sudah terhanyut ke dalam lautan cinta, orang yang sudah terlanda penyakit itu biasanya gampang timbul pemikiran kekanakkanakan.

"Asal peristiwa hilangnya anak-anak itu berhubungan langsung dengan kebun monyet, aku pasti akan menuntut keadilan buat mereka,"

Kembali Yap Kay berjanji dengan wajah gusar. Betapa gembira So Ming-ming mendengar itu, cepat dipegangnya bahu pemuda itu dan bisiknya.

"Kalau memang kau sudah memutuskan untuk melakukan penyelidikan di kebun monyet, ayo, sekarang juga kita berangkat."

Setelah mengatur napas, ia menambahkan.

"Kalau tidak berangkat sekarang, aku kuatir malam ini akan muncul banyak impian. Kuatirnya mereka melenyapkan semua bukti."

"Berangkat sekarang juga?"

"Ehm,"

So Ming-ming mengangguk.

"saat ini malam sangat gelap, biasanya penjagaan mereka agak kendor, dengan cepat kita pasti akan berhasil melacak rahasianya."

"Betul, kita pasti akan mati lebih cepat di kebun monyet,"

Tiba-tiba Yap Kay menyambung sambil tertawa.

"bila di dalam kebun monyet benarbenar terdapat rahasia yang tak boleh diketahui orang, saat ini mereka pasti sudah menyiapkan jebakan yang menakutkan menanti kedatangan kita. Biasanya orang akan beranggapan makin malam makin cocok untuk melakukan penyelidikan."

"Padahal justru kebalikannya,"

So Ming-ming menambahkan.

"Benar,"

Sahut Yap Kay sambil tertawa.

"semakin banyak rahasia yang tersimpan di suatu tempat, makin ketat penjagaan mereka waktu malam, sebab mereka pun pasti berpendapat, semakin malam semakin tepat saat orang melakukan penyelidikan, oleh karena itulah tempat yang menyimpan rahasia akan menjadi tempat yang sangat berbahaya di waktu malam."

Perasaan murung dan sedih tiba-tiba menghiasi wajah So Ming-ming, tanyanya kemudian.

"Jadi menurut kau, kapan saat yang paling tepat untuk berkunjung ke sana?"

"Pagi hari."

"Pagi hari? Kenapa harus pagi hari?"

"Sebab saat itu penjaga mereka sudah mencapai saat yang paling meletihkan, saat untuk berganti regu,"

Kata Yap Kay sambil tertawa.

"bila seseorang telah melakukan penjagaan semalam suntuk, saat itu mereka pasti mulai lelah, konsentrasi pun mulai mengendor, sebaliknya regu baru yang akan menggantikan mereka adalah orang-orang yang baru bangun dari balik kehangatan selimut, konsentrasi mereka pun belum terpusat, paling tidak, kondisi mereka masih terganggu oleh rasa kantuk. Nah, saat seperti inilah saat yang paling tepat untuk melakukan penyelidikan."

Penjelasan ini amat jelas dan terperinci, sayang Kim-hi sudah tak sempat mendengar, karena waktu itu dia sudah keburu berangkat ke kebun monyet.

Biarpun belum pernah berkunjung ke kebun monyet, namun Kim-hi sangat menguasai keadaan sekitar sana, tanpa kesulitan ia sudah melewati pagar pekarangan dan menyusup masuk ke kebun bunga dalam kebun monyet.

Perkiraannya, tempat yang paling banyak menyimpan rahasia pasti lah tempat tinggal sang empunya, dan tempat tinggal sang pemilik seringkah berada di kebun bagian belakang.

Analisa seperti ini sebetulnya sangat tepat dan masuk akal, karena tempat dimana ia berada sekarang, meski bukan tempat, tinggal sang pemilik tapi di situlah tersimpan seluruh rahasia penting.

Setelah melewati pagar pekarangan, Kim-hi membiarkan matanya terbiasa dulu dengan kegelapan, kemudian baru ia mulai melacak tempat yang diduga ruang tinggal sang pemilik.

Semua ruangan yang berada di kebun belakang dalam keadaan gelap-gulita, hanya dari sebuah jendela yang agak besar lamat-lamat terbancar secercah cahaya terang.

Ruangan itu pasti tempat tinggal sang pemilik, setelah yakin dengan pikirannya, Kim-hi mulai bergerak maju dengan sangat hati-hati, selangkah demi selangkah menghampiri jendela dimana cahaya terang itu berasal.

Dengan ibu jari dia robek kertas jendela, lalu mengintip ke dalam melalui lubang kecil itu, mula-mula Kim-hi melihat sebuah meja, di atas meja terletak sebuah lentera, dia pun melihat sebuah pembaringan, di atas pembaringan kelihatan seseorang sedang tertidur nyenyak.

Dilihat dari caranya tidur, semestinya orang itu adalah seorang kecil pendek, tapi Kim-hi tak dapat melihat berapa usia orang itu, karena kebetulan wajah, orang itu terhadang oleh lidah api lentera.

Peduli berapa usia orang itu, dari postur badannya Kim-hi yakin masih mampu menguasainya.

Setelah mengambil keputusan, Kim-hi pun membuka jendela dengan sangat hati-hati, lalu melompat masuk ke dalam, kelihatannya orang yang sedang tidur di pembaringan itu belum merasakan ada orang yang menyusup ke dalam, dia masih tidak bergerak, masih tidur dengan lelapnya.

Setelah berada di dalam ruangan, perlahan Kim-hi merapatkan kembali daun jendela dan berjalan menghampiri pembaringan.

Menanti dia melewati meja dan melihat jelas wajah orang yang sedang tidur itu, tiba-tiba saja Kim-hi berdiri tertegun.

Rupanya dia sudah melihat dengan jelas siapa orang yang sedang tertidur nyenyak itu.

Ternyata dia tak lain adalah Giok-seng, bocah yang membuat mereka sempat menguatirkan keselamatannya selama dua hari ini, gara-gara lenyapnya bocah itu, semua orang sempat risau dan tak tenang, siapa tahu bocah yang dicari justru menikmati hidup di situ.

Tidur dalam kamar yang begitu indah, pembaringan yang begitu besar dan tampaknya nyaman sekali, kalau bukan menikmati hidup, lalu apa namanya?

Membayangkan ini, hawa amarah Kim-hi memuncak, sekali lompat dia menghampiri pembaringan, lalu menggoyang tubuh Giok seng yang sedang tertidur dan serunya.

"Giok-seng, Giok-seng, bangun!"

Merasa ada orang menggoyang tubuhnya lalu mendengar ada orang memanggilnya, Giok-seng segera terbangun dari tidurnya.

Tapi begitu tahu siapa yang datang, perasaan ngeri dan takut segera terpancar dari waj ahnya.

Bukan hanya itu, bocah itu masih berusaha menyembunyikan diri ke balik selimut.

Bisa dibayangkan betapa gusarnya Kim-hi, mana mungkin ia biarkan bocah itu menyembunyikan diri?

Dengan sekali cengkeraman ia tarik selimut itu dari tubuh si bocah, dengan penuh amarah tegurnya.

"Kau masih ingin bersembunyi?"

Mungkin lantaran panik, bocah itu tak mampu mengucapkan sepatah kata pun, dengan wajah ketakutan ia gelengkan kepala berulang kali, sementara mulutnya mengeluarkan suara mencicit yang tidak diketahui apa maksudnya.

"Kurangajar!"

Kim-hi mengumpat.

"kau enakenakan menikmati hidup di sini, sementara kita yang berada di luar menguatirkan nasibmu... masa kau sama sekali tak punya perasaan?"

Makin mengumpat, Kim-hi semakin sewot.

Tampaknya Giok-seng dibuat amat sedih oleh kata-katanya itu, tampak air mata mulai bercucuran membasahi pipinya, namun mimik mukanya masih menampilkan perasaan takut, ngeri dan seram.

Sebenarnya apa yang membuat dia ketakutan?

Kim-hi tak sanggup berpikir lebih jauh, melihat Giok-seng masih berusaha menyembunyikan diri di balik selimut, amarahnya semakin meluap, umpatnya.

"Sialan, kau masih ingin bersembunyi di balik selimut? Bagus, akan kubuang selimutmu itu, akan kulihat kemana lagi kau akan bersembunyi?"

Mendengar ancaman itu, Giok-seng bertambah panik, mati-matian dia mempertahankan selimutnya, menggeleng kepala sementara suara mencicitnya makin keras.

Semakin dia mempertahankan selimutnya, Kim-hi semakin naik darah, sekuat tenaga ia betot selimut itu hingga akhirnya robek.

Bila seseorang menyaksikan suatu peristiwa yang mustahil, apa reaksinya yang pertama?

Jatuh pingsan?

Atau menjerit keras?

Atau sama sekali tak bergerak?

Bagaimana pula dengan reaksi orang lain?

Mungkin saja Giok-seng tak bisa menjawab pertanyaan itu, tapi ia dapat melihat dengan jelas reaksi pertama yang diperlihatkan Kim-hi.

Waktu itu Kim-hi sedang menarik selimut dengan penuh amarah, tapi begitu selimut terbetot robek dan ia menyaksikan pemandangan aneh di balik selimut, reaksi pertamanya adalah terperangah.

Sesudah terperangah dan berdiri melongo beberapa saat, gadis itu baru mengucek mata berulang kali, mengawasi pembaringan itu dengan pandangan ragu dan tak percaya.

Lambat-laun wajah kagetnya berubah jadi perasaan ngeri dan horor, akhirnya ia menjerit, mundur sempoyongan dan terduduk di atas bangku.

Dia menggeleng kepala berulang kali, gumamnya terus menerus.

"Mana mungkin bisa terjadi...? Mana mungkin bisa terjadi... ? Mana mungkin Ketika selimut belum tersingkap, paras muka Giok-seng diliputi perasaan takut dan ngeri luar biasa, namun setelah selimut tersingkap, perasaan takut dan ngerinya hilang, sebagai gantinya perasaan sedih, tak berdaya dan penderitaan yang hebat menghiasi raut mukanya. Dia duduk meringkuk di sudut ranjang, berusaha menutupi tubuh dengan kedua tangan, sedang ujung mata mengerling berulang kali ke arah Kim-hi yang duduk di bangku. Peristiwa apa yang membuat Kim-hi begitu ngeri seakan diteror kejadian horor yang menakutkan? Masih mengawasi Giok-seng yang meringkuk di sudut ranjang, Kim-hi bergumam terus tiada habisnya "

Ai! Mengapa orang selalu tak percaya dengan kenyataan yang semulah terpampang di depan mata?"

Tiba-tiba dari belakang Kim-hi berkumandang suara teguran lembut dan halus, belum sempat dia berpaling, ia sudah menangkap sorot mata Giok-seng yang semula dibanjiri air mata, kini telah berubah jadi pandangan benci, dendam dan amarah yang meluap, pandangan mata yang tertuju ke belakang tubuhnya.

Dengan cepat gadis itu berpaling, dia pun melihat seorang kakek berwajah saleh telah berdiri di depan pintu, seorang kakek dengan pandangan lembut dan memperlihatkan sinar kecerdasan.

"Apakah kau tak percaya dengan semua yang telah kau saksikan?"

Dengan suara lembut kembali kakek itu menegur. Tak tahan, sekali lagi Kim-hi berpaling mengawasi Giok-seng yang berada di ranjang, gumamnya.

"Bagaimana... bagaimana mungkin aku bisa percaya?"

Sambil tertawa kakek itu berjalan menuju tepi ranjang, katanya lagi.

"Apakah kau tidak percaya lantaran Giok-seng bertubuh monyet? Atau tidak percaya kalau tubuh monyet ini mempunyai kepala Giok-seng?"

Bertubuh monyet berkepala Giok-seng?

Ternyata apa yang dilihat Kim-hi adalah makhluk aneh, manusia bertubuh monyet yang menjadi penghuni kebun monyet.

Berarti dongeng tentang manusia bertubuh monyet yang pandai berbicara itu adalah kenyataan?

Apalagi makhluk aneh yang dijumpai Kim-hi saat ini tak lain adalah Giok-seng yang sangat dikenalnya, tak heran dia begitu terperangah, begitu ngeri dan seram.

Hal ini bisa dimaklumi, jangankan Kim-hi yang sudah kenal orang itu, semisal orang lain pun tak mungkin bisa menerima munculnya makhluk seaneh itu.

Untuk menghilangkan perasaan kaget yang luar biasa, satu-satunya jalan adalah meneguk secawan arak, karena itu si kakek yang berwajah ramah itu mengajak Kim-hi menuju ke rumah yang terbuat dari kristal dan menuangkan secawan arak anggur Persia untuknya.

Menanti Kim-hi menghabiskan isi cawannya dan pulih kembali ketenangannya, kakek berwajah ramah itu memperkenalkan diri.

"Aku dari marga Ong, semua memanggilku Ong-losiansing!"

Jadi diakah Ong-losiansing?

Ternyata kakek berwajah ramah ini tak lain adalah Onglosiansing, pemilik kebun monyet yang menakutkan itu.

Tapi benarkah dia?

Kembali Kim-hi mengawasi wajah kakek itu seakan tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.

"Jangan ragu dengan pandangan matamu, apa yang kau saksikan semuanya memang kenyataan,"

Kembali Ong-losiansing berkata sambil memperlihatkan senyuman ramahnya.

"Kenapa Giok-seng,... kenapa dia bisa berubah jadi begini?"

Bisik Kim-hi sambil membayangkan kembali bentuk tubuh Giok-seng yang aneh.

"Kenapa tidak mungkin?"

Sahut Onglosiansing sambil tertawa.

"Thian menciptakan sepasang tangan untuk kita, memberi kecerdasan otak kepada kita, semuanya ini dikarenakan Thian berharap kita bisa menciptakan keajaiban di dunia ini."

"Dengan cara apa kau mengubah tubuh Giokseng jadi tubuh seekor monyet?"

Kembali Kim-hi bertanya.

"Mengandalkan sepasang tanganku dan kecerdasan otakku,"

Sahut Ong-losiansing sambil menuding kepala sendiri.

"biasanya, kalau bukan kuubah badannya menjadi badan kera, akan kupindah kepala mereka ke tubuh monyet."

"Dicangkok?"

"Betul,"

Ong-losiansing manggut-manggut dan tertawa.

"dengan semacam ilmu bedah tubuh yang canggih, disebut bedah cangkok."

"Ilmu bedah cangkok?"

"Betul. Dengan pembedahan aku potong kepala orang, kemudian dicangkokkan ke tengkuk monyet, selanjutnya digabung menjadi satu."

"Tapi... dia... mana mungkin dia bisa hidup dengan tubuh seekor kera?"

Kim-hi masih juga tak percaya.

"Ketika pertama kali melakukan pembedahan, memang beberapa kali aku mengalami kegagalan, untunglah keberhasilan selalu tumbuh dari kegagalan,"

Ong-losiansing menerangkan dengan penuh bangga.

"kini aku hanya belum berhasil memindahkan tali suara di tenggorokan manusia ke tubuh monyet, sehingga dia hanya bisa mengeluarkan suara jeritan monyet."

Sekarang Kim-hi baru mengerti apa sebabnya Giok-seng hanya bisa mencicit, rupanya dia sudah tak sanggup berbicara lagi.

Ong-losiansing meneguk secawan arak anggur, menunggu cairan arak mengalir di tenggorokannya baru ia berkata lagi.

"Tapi aku percaya, lain kali pasti akan berhasil."

"Lain kali? Masih ada lain kali?"

Seru Kim-hi sambil membelalak mata.

"Tentu masih ada. Tak bakal berhenti sebelum berhasil. Apalagi dalam hal ilmu pengetahuan secanggih ini."

"Kau... kau tidak kuatir dengan hukum?"

"Hukum?"

Ong-losiansing tertawa terbahakbahak.

"selama aku berada di dunia ini, akulah hukum."

"Apakah hati kecilmu bisa menerima semua perbuatan busukmu itu?"

Kim-hi benar-benar kehabisan kata untuk menegur kakek itu.

"apakah kau tidak takut setan-setan penasaran yang tewas di tanganmu akan berdatangan dan menuntut balas kepadamu?"

"Setan penasaran?"

Suara tawa Ong-losiansing semakin nyaring.

"kalau di dunia ini benar-benar terdapat setan atau arwah gentayangan, sejak dulu tak ada lagi orang jahat di sini."

Ditatapnya wajah Kim-hi dengan senyuman licik, katanya lagi.

"Bocah perempuan, masa teori semacam ini pun tidak kau pahami?"

"Kau... manusia semacam kau pasti akan mampus secara mengenaskan."

"Kini aku sedang mencari cara untuk memperpanjang hidup manusia, jika berhasil, inilah keuntungan bagi seluruh umat manusia."

"Terima kasih,"

Jerit Kim-hi.

"kelahiran dan kematian manusia sudah ditentukan oleh takdir, bila saatnya mati sudah tiba, biar ingin menghindar atau bersembunyi pun jangan harap bisa kau lakukan."

Tiba-tiba Ong-losiansing tidak bicara lagi, dengan pandangan mata aneh dia mengawasi Kim-hi tanpa berkedip.

Dipandang seperti ini, lama kelamaan Kim-hi merasa ngeri juga, bulu kuduknya berdiri.

Setelah termenung sejenak, kembali Onglosiansing berkata.

"Apa kau tak percaya bahwa aku bisa menghindarkan manusia dari kematian? Apakah kau tak percaya aku bisa menghidupkan kembali orang yang baru saja mati?"

"Aku...."

Sebetulnya Kim-hi ingin menjawab "aku tak percaya" , tapi entah mengapa ia tak sanggup mengucapkannya, terpaksa nona itu menelan kembali air liurnya.

"Baiklah,"

Tiba-tiba Ong-losiansing bangkit berdiri.

"ayo, ikuti aku!"

Di dalam rumah yang terbuat dari batu kristal itu terdapat sebuah lemari yang juga terbuat dari batu kristal, ketika lemari itu dibuka, lalu sebuah tombol rahasia ditekan, segera muncullah sebuah pintu rahasia..Setelah memasuki pintu rahasia itu, mereka tiba di sebuah dunia lain.

Sebuah dunia kristal yang sangat artistik dan indah.

Setelah memasuki pintu rahasia, di hadapannya terbentang sebuah lorong kristal yang panjang, di kedua sisi lorong penuh bergantungan lampu lentera.

Disoroti cahaya lentera yang terang benderang, lorong kristal itu memantulkan cahaya yang indah, bahkan ada yang membiaskan cahaya tujuh warna.

Berada dalam lorong seindah ini, membuat orang serasa berada dalam dunia maya.

Walaupun Kim-hi sendiri sedikit terbuai, namun dia tidak lupa bertanya kepada kakek itu.

"Kau hendak mengajakku kemana?"

"Aku tahu kau bernama Kim-hi, sedang sahabat karibmu bernama So Ming-ming,"

Kata Onglosiansing sambil melanjutkan perjalanan.

"tahukah kau bahwa sobat baru So Ming-ming yang bernama Yap Kay, pagi tadi telah bertemu dengan tiga orang pembunuh bayaran?"

"Darimana kau bisa tahu?"

"Tentu saja aku tahu, karena akulah yang mengirim pembunuh itu."

"Mengapa kau ingin membunuh Yap Kay?"

Tiba-tiba Kim-hi teringat cerita Yap Kay, bahwa ketiga pembunuh itu bukan menyerang secara bersama, melainkan maju satu per satu. Karena itu dia segera bertanya lagi.

"Mengapa kau perintahkan ketiga pembunuh itu menyerang Yap Kay secara terpisah?"

"Hahaha, tak kusangka kau pun menaruh perhatian atas hal ini,"

Puji Ong-losiansing sambil menatapnya dengan pandangan kagum.

"aku memang sengaja menyuruh mereka bertiga menyerang Yap Kay secara terpisah, bukan lantaran ingin mereka pergi membunuh Yap Kay, tapi berharap mereka bisa mati di tangan Yap Kay."

"Suruh mereka mati?"

Kim-hi melengak.

"kenapa?"

"Karena ada seseorang ingin melihat bekas luka yang mematikan di tubuh mereka bertiga."

"Siapa? Siapakah orang itu? Kenapa dia ingin melihat bekas luka mematikan di tubuh mereka?"

"Dia dikenal oleh Yap Kay namun belum pernah dijumpainya,"

Sahut Ong-losiansing sambil tertawa.

"seorang yang ingin memahami aliran silat Yap Kay!"

"Siapa orang itu? Siapa namanya?"

"Orang itu bernama Hing Bu bing."

Bab 3.

ORANG MATI YANG BERHARGA Di ujung lorong kristal terdapat pula sebuah ruangan yang seluruhnya terbuat dari batu kristal.

Dalam ruangan itu terdapat tiga orang, seorang masih muda, seorang lagi berusia agak lanjut dan seorang lagi berusia per tengahan yang rambutnya sudah memutih.

Yang muda berperawakan tinggi semampai, baju dan dandanan necis, bukan saja tampak sangat tampan, bahkan kelihatan angguh.

Orang yang berusia agak lanjut berdandan sopan, dia pasti seorang terpelajar.

Sementara orang pertengahan umur tidak jauh berbeda dengan lelaki paroh baya yang sering dijumpai di kota atau tengah jalan, hanya bedanya perawakan orang ini jauh lebih berisi, berotot dan tidak tampak ada kelebihan lemak di tubuhnya.

Ketiga orang itu mempunyai perawakan tubuh berbeda, hanya satu kesamaan yang mereka miliki, yakni ketiganya membawa pedang.

Mengapa ketiga orang yang membawa pedang itu berada di situ?

Sedang apa mereka di ruangan ini?

Belum sempat Kim-hi bertanya, Ong-losiansing menerangkan lebih dulu.

"Mereka adalah pembantu utamaku, terhitung jago-jago pedang nomor satu. Sayang berada di sini mereka tak bernama, yang ada hanya kode angka."

"Kode angka? Maksudnya?"

"Mereka mewakili angka lima, lima belas dan dua puluh lima, semuanya selisih satu angka dari angka enam, enam belas dan dua puluh enam yang kukirim untuk membunuh Yap Kay."

"Kenapa mereka selisih satu angka?"

"Karena mereka mempunyai banyak kemiripan dan kesamaan tindakan, ketiga pembunuh yang kukirim untuk menghabisi nyawa Yap Kay, bukan saja wataknya sama, asal-usulnya sama bahkan ilmu pedang yang dimiliki pun sama."

"Kau suruh mereka berbuat apa di sini?"

"Aku suruh mereka menanti perintahku di sini, karena aku hendak menitahkan mereka membunuh seseorang."

"Membunuh siapa?"

Ong-losiansing tidak langsung menjawab, kembali dia menekan sebuah tombol rahasia dan sebuah pintu rahasia lagi-lagi terbuka, di belakang pintu rahasia itu terbentang pula sebuah lorong panjang yang terbuat dari batu kristal.

Setelah itu kepada jagoan nomor lima perintahnya.

"Kau berjalan lurus ke depan, sampai di ujung lorong akan muncul sebuah pintu lagi, pintu itu tidak terkunci, seseorang duduk di belakang pintu itu, asal kau buka pintu itu maka akan kau jumpai orang itu,"

Kata Ong-losiansing. Kemudian setelah berhenti sejenak, tambahnya.

"Aku perintahkan kepadamu untuk membunuhnya!"

Sama seperti anak buah Ong-losiansing lainnya, si nomor lima hanya tahu melaksanakan perintah, tak pernah menanyakan alasan, apalagi bertanya siapa korban yang harus dibunuhnya.

"Baik,"

Jawab orang itu.

"sekarang juga kulaksanakan."

Sehabis mengucapkan perkataan itu, secepat anak panah yang terlepas dari busurnya dia menerobos masuk ke dalam lorong panjang batu kristal itu.

Gerak-geriknya kuat dan cekatan, hanya wataknya agak sedikit temperamen.

Lantaran gejolak emosinya yang besar, paras mukanya yang semula pucat kini muncul cahaya kemerahan, dengus napasnya pun berubah sedikit memburu.

Semenjak memasuki lorong panjang terbuat dari kristal, dia tak pernah muncul kembali.

Dia tak akan muncul kembali dalam keadaan hidup, termasuk Kim-hi pun berpendapat begitu, karena ia sudah pergi terlalu lama.

Biasanya manusia macam mereka, peduli sedang membunuh atau terbunuh, tak akan membutuhkan waktu selama itu.

Dalam jangka waktu yang begitu panjang, melakukan perbuatan apa pun seharusnya sudah muncul jawaban.

Kematian.

Inilah satu-satunya jawaban.

Tak seorang pun yang buka mulut, juga tak seorang pun yang menunjukkan wajah sedih, pedih dan terluka.

Bukan dikarenakan mereka tak punya perasaan, melainkan karena persoalan seperti ini sesungguhnya bukan satu peristiwa yang patut disedihkan.

Setiap orang pasti mati, apalagi mereka yang melakukan pekerjaan seperti ini.

Bagi mereka, kematian ibarat seorang wanita, seorang wanita yang sudah terlalu lama digauli hingga timbul perasaan jemu, bosan dan muak, namun mustahil bisa ditinggalkan.

Oleh karena itu setiap hari mereka menanti kedatangannya, di saat ia benar-benar tiba, tentu saja mereka tak perlu merasa terkejut, apalagi merasa ngeri dan takut.

Karena mereka semua tahu, cepat atau lambat dia pasti akan datang juga.

Menghadapi persoalan semacam ini, mereka nyaris sudah kebal, sudah mati rasa.

Ong-losiansing pun tidak beranjak dari tempat duduknya, kembali ia menunggu beberapa saat.

Entah dikarenakan rasa ibanya terhadap nyawa seseorang atau dikarenakan dia sendiri memang menaruh rasa jeri dan hormat terhadap kematian, paras muka Ong-losiansing justru terlihat lebih serius, jauh lebih serius daripada Kim-hi maupun kedua orang pembunuh.

Dia bahkan mulai cuci tangan di dalam baskom kristal untuk membasuh sepasang tangannya yang sudah bersih, kemudian menyulut sebatang hio yang ditancapkan di atas tempat dupa kristal dan akhirnya berpaling ke arah si nomor lima belas.

"Apa yang kuinginkan harus dapat diselesaikan dengan tuntas,"

Kata Ong-losiansing.

"karena nomor lima gagal, terpaksa sekarang kau yang harus menyelesaikan."

"Baik."

Nomor lima belas segera menerima perintah itu, selama ini dia selalu dapat mengendalikan diri dengan baik, tapi setelah menerima perintah itu, tubuhnya maupun paras mukanya terlihat sedikit berubah, karena goncangan hatinya.

Sebuah perubahan yang tak mudah diketahui orang bila tidak diamati dengan seksama, lalu dia pun mulai bergerak.

Mula-mula gerak tubuhnya sangat hati-hati dan lamban, dia mulai memeriksa dulu diri sendiri.

Pakaian, ikat pinggang, sepatu, tangan dan pedangnya, dia lolos pedang itu kemudian dimasukkan lagi, dicabut lagi dan dimasukkan kembali, sampai dia merasa segala sesuatunya telah siap dan sempurna, hingga dia puas dengan segala persiapannya, orang itu baru melesat masuk ke dalam lorong panjang batu kristal itu.

Gerakan tubuh orang ini pun kuat, bertenaga dan lincah, malah jauh lebih berpengalaman ketimbang si nomor lima, tapi sama seperti yang pertama, dia pun tak pernah balik lagi.

Kali ini Ong-losiansing menunggu lebih lama lagi, kemudian baru membasuh tangan ke dalam baskom, memasang hio bahkan menghela napas panj ang.

Ketika berhadapan dengan si nomor dua puluh lima, mimik mukanya terlihat jauh lebih serius, perintah yang disampaikan juga lebih singkat.

Karena dia tahu, berbicara dengan manusia macam si nomor dua puluh lima tak perlu berbasa-basi, dia hanya berkata singkat.

"Kau pergilah!"

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun si nomor dua puluh lima menerima perintah itu, menerima perintah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Tentu saja dia tak mirip si nomor lima, begitu mendapat perintah, sepasang alisnya seakan mulai terbakar.

Dia pun tidak mirip si nomor lima belas, memeriksa semua perlengkapannya dengan teliti, memeriksa apakah pedangnya bisa dicabut dari sarungnya dengan lancar.

Sudah ada dua orang yang tak pernah kembali sesudah memasuki lorong panjang itu, padahal mereka berdua adalah pembunuh bayaran yang sangat ahli, semuanya terhitung jago ilmu pedang.

Kedua orang itu merupakan rekannya, sudah cukup lama mereka hidup bersama, dia pun tahu kedua orang rekannya bukan jagoan yang gampang dihadapi, tapi setelah memasuki lorong panjang berdinding kristal, kedua orang itu seolah lenyap ditelan bumi, sama sekali tak ada kabar beritanya lagi.

Reaksi si nomor dua puluh lima setelah mendapat perintah itu jauh berbeda, dia seakan baru saja mendapat undangan makan dari orang lain.

Seakan sahabat karibnya yang mengundang dia makan bersama di rumahnya.

Lorong kristal itu masih nampak terang dengan aneka warna yang indah, tenang, tak terdengar suara apa pun, tak terlihat gerakan apa pun.

Tempat itu seperti seekor ular raksasa yang bersembunyi dalam bukit liar, dengan tenang menelan dua korbannya lalu menikmatinya tanpa menimbulkan suara.

Si manusia nomor dua puluh lima sudah siap masuk ke dalam, sikapnya masih begitu tenang, bukan saja paras mukanya tidak berubah, dia pun tidak melakukan gerakan persiapan.

Langkah kakinya tidak terlalu cepat, juga tidak lambat, sepintas langkahnya seperti sedang berjalan menuju rumah tetangganya, berjalan untuk memenuhi undangan makan.

Sekarang dia sudah berjalan masuk ke dalam lorong itu, siapa pun pasti menyangka dia akan berjalan terus tanpa berpaling.

Siapa sangka tiba-tiba dia menghentikan langkahnya, perlahan membalikkan badan, mengangkat wajahnya dan menatap tajam Onglosiansing.

Sorot matanya sama sekali tanpa emosi, dia pun tak menunjukkan perubahan sikap, hanya suara ucapannya begitu datar dan hambar.

"Aku belajar pedang mulai usia delapan tahun, pada usia tiga belas, belum lagi ilmu pedang kukuasai, aku telah belajar membunuh orang,"

Katanya.

"bahkan aku benar-benar membunuh satu orang."

"Aku tahu,"

Ong-losiansing memperlihatkan senyumannya yang ramah.

"ketika berusia tiga belas tahun, kau berhasil membunuh si tukang jagal Liok yang merupakan orang paling jahat di dusunmu di tengah pasar yang ramai."

"Tapi selama hidup, tidak banyak orang yang kubunuh, karena aku paling tak suka membuat onar, tak suka mencari masalah dan tak pernah bermusuhan dengan siapa pun."

"Aku tahu."

"Yang lebih penting lagi, sebetulnya aku tidak suka membunuh orang."

"Aku tahu. Kau membunuh karena ingin hidup terus."

"Benar, aku membunuh demi sesuap nasi, setiap orang harus makan, begitu juga dengan diriku, karena aku pun manusia,"

Kata si nomor dua puluh lima.

"biarpun membunuh demi sesuap nasi bukan hal yang menyenangkan, tapi masih ada orang lain yang demi sesuap nasi justru telah melakukan perbuatan yang jauh lebih menderita, tahukah kau?"

Kali ini Ong-losiansing hanya manggutmanggut. Si nomor dua puluh lima menatapnya tajam, kembali ujarnya.

"Oleh karena aku membunuh demi sesuap nasi, maka setiap kali akan membunuh, aku harus memperoleh imbalan setimpal, tiada terkecuali kali ini."

"Aku tahu."

"Biarpun kau menampungku di saat identitasku terbongkar dan jiwaku di ujung tanduk, namun tak ada pengecualian bagimu. Kau seharusnya mengetahui bukan berapa imbalan yang harus kuterima untuk membunuh satu orang."

"Aku tahu dan sudah kusiapkan,"

Onglosiansing tersenyum. Dia berjalan mendekat dan menyusupkan sepuluh keping emas murni ke tangan si nomor dua puluh lima.

"Aku pun mengetahui peraturanmu, sebelum membunuh harus membayar separoh biaya."

Kata Ong-losiansing.

"aku rasa uang emas itu sudah lebih dari cukup bukan?"

"Cukup, cukup sekali,"

Si nomor dua puluh lima memasukkan emas itu ke dalam saku, tiba-tiba tambahnya.

"Aku masih ada sebuah permintaan lagi."

"Katakan."

"Seandainya aku mati, tolong jangan kau basuh lagi tanganmu, apalagi memasang sebatang hio,"

Ujar si nomor dua puluh lima hambar.

"karena kau sudah membayar biayanya."

Begitu selesai mengucapkan itu, dia membalikkan badan dan berjalan masuk ke dalam lorong panjang.

Bayangan punggungnya terlihat jauh lebih tegak lurus daripada tubuh bagian depannya, dengan cepat ia sudah lenyap di ujung lorong.

Apakah kepergiannya pun tak akan kembali lagi?

Dengan termangu Kim-hi menyaksikan bayangan punggungnya, memandangnya hingga lenyap di ujung lorong, gumamnya setelah menghela napas.

"Orang ini benar-benar aneh."

"Oya?"

"Tampaknya dia sudah tahu kepergiannya tak akan kembali lagi, bahkan dia pun tahu bila orang telah mati, maka biar emas itu lebih murni pun sama sekali tak ada gunanya, tapi mengapa dia memaksakan diri untuk menerima dulu uang muka itu? Apa sebabnya dia bersikap begitu?"

"Karena hal ini merupakan prinsip hidupnya."

"Prinsip?"

"Betul, prinsip adalah peraturan. Sekalipun dia tahu pekerjaan ini bisa mengakibatkan kematian, namun ia tetap melakukannya. Lantaran harus melakukan, maka dia harus menerima dulu emas itu, karena itulah peraturannya."

Kembali ia menatap Kim-hi, kemudian lanjutnya dengan nada yang sama sekali tak berbau sindiran.

"Bagi seseorang yang memegang prinsip, peraturan tak boleh dilanggar, biar hidup atau mati, peraturan tetap peraturan."

Perkataan itu disampaikan dengan nada serius, bahkan disertai dengan sikap hormat.

"Menurutmu orang ini termasuk bodoh atau pintar?"

"Aku sendiri tak tahu. Yang kuketahui, manusia macam ini makin lama semakin sedikit."

"Jadi kau sangat mengagumi manusia macam ini?"

"Benar!"

"Kenapa kau tetap memintanya untuk pergi mati?"

"Darimana kau tahu kepergiannya untuk mengantar kematian?"

Ong-losiansing balik bertanya sambil tertawa.

"darimana kau tahu dia bisa bangkit kembali sesudah kematiannya?"

Kim-hi tidak bicara lagi, tampaknya maksud Ong-losiansing mengajaknya datang kemari tak lain hanya ingin membuktikan bahwa bila orang telah terjatuh ke tangannya, maka biarpun dia sudah mati pun dapat dihidupkan kembali.

Kalau dilihat mimik mukanya sekarang, agaknya itulah yang ingin dia perlihatkan kepadanya, oleh sebab itu Kim-hi tidak berbicara lagi.

Dalam waktu yang berlangsung sesaat, ia mulai termenung dan membungkam.

Suasana di balik lorong betul-betul sepi, hening, tak terdengar sedikit suara pun, tak nampak sesuatu gerakan pun.

Si manusia nomor dua puluh lima tidak juga kembali, walau sudah ditunggu sampai lama pun tetap belum kembali.

Mereka menunggu sampai lama, lama sekali.

Akhirnya Ong-losiansing berujar.

"Mungkin saat ini sudah menjelang tengah malam, kelihatannya kita harus mencari makan malam."

"Makan malam?"

Kim-hi seperti terperanjat.

"Kau ingin makan lagi di tengah malam begini?"

"Makan di saat tengah malam bukan kejadian aneh, setiap orang kan harus bersantap,"

Kata Ong-losiansing.

"di saat kita harus makan di tengah malam, makanlah dengan nikmat, terlepas kejadian apa pun yang bakal berlangsung, makan tetap makan."

"Ini pun sebuah prinsip? Prinsip hidupmu?"

"Tepat sekali."

Arak telah dituang ke dalam cawan kristal dan membiaskan cahaya kuning kecoklat-coklatan yang memukau, bahkan terendus pula bau harum yang segar dan wangi.

Benar-benar satu kenikmatan yang luar biasa.

Siapa bilang kaya dan terhormat bukan sebuah kenikmatan?

Hidangan tersedia di piring kristal, alat makan, alat minum semuanya terbuat dari benda-benda berharga.

Mungkin tak cukup dibilang indah, lebih tepat sempurna.

Penampilan Ong-losiansing sewaktu bersantap dan minum arak pun nyaris mendekati sempurna, bisa menikmati hidangan malam bersama seorang macam dia seharusnya terhitung satu kejadian yang menggembirakan.

Sayang Kim-hi sama sekali tak ada napsu untuk bersantap, dia bukan sedang menguatirkan keselamatan si nomor dua puluh lima, tapi sedih atas perubahan bentuk tubuh Giok-seng.

Dalam anggapannya, bila seseorang masih bisa duduk sambil menikmati hidangan lezat dan arak wangi di kala orang lain pergi membunuh orang, hal itu betul-betul merupakan satu kenyataan yang sama sekali tak masuk akal.

Dari balik lorong panjang masih belum terdengar suara atau sesuatu gerakan.

Akhirnya Ong-losiansing menyelesaikan santapannya, ia mulai membasuh tangan di sebuah baskom kristal.

Isi baskom kristal itu bukan air biasa, melainkah air teh yang kental dan wangi.

"Menu hidangan tengah malam kita kali ini adalah udang bago dan kepiting, kalau ingin benar-benar merasakan dan menikmati kelezatan daging udang dan kepiting, kau harus mengupasnya dengan tanganmu sendiri,"

Onglosiansing menjelaskan.

"untuk menghilangkan bau amis, kita harus cuci tangan dengan air teh kental dan harum."

"Bagaimana setelah membunuh orang?"

Tibatiba Kim-hi bertanya sambil menatapnya.

"Membunuh orang?"

Kelihatannya Onglosiansing tidak mengerti maksud pertanyaan itu.

"Apakah membunuh orang pun sama seperti menikmati udang dan kepiting? Harus membunuh dengan tangan sendiri baru bisa menikmati keindahan dan kegembiraannya?"

Pertanyaan yang sangat telak, namun jawaban Ong-losiansing pun tak kalah hebatnya.

"Kalau itu tergantung,"

Katanya.

"Tergantung apa?"

"Tergantung siapa yang hendak kau bunuh, ada sementara orang yang cukup dibunuh orang suruhan, tapi ada pula sementara orang yang harus dibunuh dengan tangan sendiri."

"Bagaimana setelah membunuh?"

Kembali Kimhi bertanya.

"bila kau telah membunuh dengan tanganmu sendiri, dengan air apa kau hendak membasuh tanganmu agar hilang semua bau anyir darah?"

Tak ada orang yang bisa menjawab pertanyaan ini, juga tak ada orang yang bersedia menjawab.

Ong-losiansing menyeka tangannya dengan kain berwarna putih, lalu perlahan-lahan berdiri, berjalan menuju ke lorong batu kristal itu.

Dia tidak mengajak Kim-hi, sebab dia tahu nona itu pasti akan mengikutinya dari belakang.

Sebenarnya apa yang telah terjadi di balik lorong itu?

Tentu saja Kim-hi ingin tahu, maka dengan cepat dia mengintil di belakangnya.

Setelah masuk ke dalam lorong, apakah dia pun akan mengalami nasib yang sama dengan ketiga orang itu, pergi untuk tak kembali?

Pintu masuk lorong panjang itu dibangun mirip sebuah timbangan gantung, semakin mendekati dasar lorong, ruangan semakin kecil dan menyempit.

Ketika mencapai ujung, luas gua itu tinggal dua jengkal saja.

Untuk orang seukuran Kim-hi, bukan pekerjaan gampang untuk menerobos masuk ke dalam gua sesempit itu, pada mulanya masih ada cahaya lentera yang menerangi seputar sana, namun setelah berjalan setengah, tak nampak lagi cahaya lentera.

Begitu masuk ke dalam, segalanya gelap-gulita, tak ada yang bisa dilihat, bahkan melihat jari tangan sendiri pun susah.

Mengapa Ong-losiansing harus membangun lorong itu begitu misterius dan rahasia?

Sejak melangkah masuk ke dalam lorong kristal, langkah kaki Ong-losiansing tidak cepat juga tidak lambat.

Dalam waktu singkat tubuhnya sudah hilang di balik kegelapan di tikungan depan.

Ong-losiansing berjalan masuk ke dalam lorong, Kim-hi segera mengintil di belakangnya, namun dengan cepat jarak mereka sudah selisih cukup jauh.

Memandang kegelapan yang mencekam sekeliling tempat itu, si nona mulai meraba-raba untuk melanjutkan langkahnya, pada saat itulah ia dengar Ong-losiansing berkata.

"Lebih baik kau tak usah meneruskan perjalananmu."

"Kenapa?"

"Karena lorong ini tidak lurus,"

Sahut Onglosiansing dari balik kegelapan.

"lorong ini terdiri dari tiga puluh tiga tikungan, bila kau berjalan lurus ke depan, tubuhmu pasti akan membentur dinding, bisa jadi akan membuat hidungmu jadi pesek."

Setelah berhenti sejenak, kembali ia melanjutkan dengan nada hambar.

"Aku tahu, kau pasti tak percaya. Dilihat dari luar sana, lorong ini memang kelihatan lurus, jika tak percaya silakan saja dicoba."

Kim-hi tidak mencoba, sebab dia tahu berjalan dalam kegelapan memang paling mudah menimbulkan kesalahan, bisa membuat orang salah mengartikan lurus sebagai belokan dan sebaliknya, kalau lurus dan belokan saja susah dibedakan, bagaimana mungkin hidungmu tidak pesek?

Biarpun dia masih muda, namun dia pun tahu masih banyak hal di dunia ini seperti kegelapan, gampang menciptakan kesalahan bagi orang untuk menentukan arahnya, membuat mereka susah membedakan mana yang lurus dan yang belok.

Misalnya saja moral dan tingkah-laku seorang Kuncu, terkadang mereka bisa salah langkah.

Kim-hi tak pernah berpikir ke situ, dia pun tak ingin melakukan perbuatan seperti itu, dia tak ingin membiarkan hidungnya jadi pesek.

Maka dia pun mengambil satu pilihan yang paling cerdas.

Dia menyalakan geretan api.

Saat cahaya api bersinar, seluruh lorong pun bermandikan cahaya.

Ternyata kedua dinding lorong panjang itu terbuat dari batu kristal yang sangat besar, tak jauh di depan sana benar-benar terdapat sebuah tikungan, Ong-losiansing sedang berdiri di sana, bersikap aneh sedang mengawasi Kim-hi.

"Tidak kusangka dalam sakumu tersedia geretan api"

Serunya.

"Tentu saja kau takkan menyangka,"

Sahut Kim-hi sambil tertawa.

"biarpun kau mengirim orang untuk menggeledah seluruh badanku, orangmu tidak akan menyangka kalau aku bakal menyimpan sebuah geretan api dalam tusuk kondeku."

Tusuk konde yang indah dengan sebuah geretan api yang luar biasa, nilai geretan api itu mungkin berkali lipat lebih mahal daripada tusuk kondenya.

"Apakah dalam tubuhmu masih tersimpan benda lain?"

Tanya Ong-losiansing sambil menghela napas.

"apakah kau masih menyimpan barang-barang aneh lainnya?"

"Jika kau ingin tahu, lebih baik geledahlah seluruh tubuhku dengan teliti."

Kim-hi menatapnya sambil merentangkan tangan.

Pakaian yang dia kenakan tidak terlalu banyak, potongan tubuhnya yang indah menampilkan lekukan badan yang menggairahkan.

Apa yang sedang dilakukan gadis ini?

Apakah dia sedang merangsang napsu birahi orang?

Atau sebuah tantangan terbuka?

"Bagaimana pun juga aku berani menjamin bahwa barang aneh yang berada di tubuhku sekarang bukan hanya geretan api saja,"

Ujar Kim-hi sambil tertawa. Ong-losiansing tertawa, tertawa getir.

"Aku percaya,"

Sahutnya.

"aku sangat percaya."

Tikungan yang terdapat dalam lorong itu benarbenar sangat banyak, kembali Ong-losiansing melanjutkan perjalanannya, kali ini Kim-hi mengintil ketat di belakangnya.

Menelusuri lorong ini, tiba-tiba Kim-hi merasakan tubuhnya tak nyaman bahkan makin lama semakin tak nyaman, dia tak habis mengerti mengapa tubuhnya bisa begitu tak nyaman?

Sebetulnya lorong itu gelap tanpa cahaya, namun anehnya, walau geretan api tidak dipadamkan, sirkulasi udara di tempat itu tetap lancar tanpa gangguan.

Agaknya di bagian yang rahasia telah dibangun lubang angin yang membantu sirkulasi udara di situ, sehingga aliran udara dalam lorong tetap terjaga kering bahkan sangat bersih.

Kalau dibilang sangat bersih, kenapa terendus bau aneh seperti bau pakaian yang sudah direndam air sabun selama lima hari, lalu digilas sebanyak dua puluh satu kali?

Tiba-tiba Kim-hi sadar darimana datangnya sumber bau yang tak sedap itu.

Kering dan bersih sebenarnya termasuk kejadian baik, kejadian yang bisa mendatangkan kegembiraan orang, tidak semestinya membuat orang merasa tak nyaman.

Tapi lorong itu kelewat kering dan bersih, hakikatnya membuat orang tak tahan.

Ong-losiansing berpaling, tanyanya.

"Apakah kau merasa agak aneh? Merasa badanmu mulai tak nyaman?"

"Benar."

"Tahukah kau mengapa bisa muncul perasaan seperti itu?"

"Tidak, aku tak habis mengerti."

Dia sangka Ong-losiansing akan menjelaskan persoalan itu, siapa tahu setelah bertanya dia seakan lupa dengan pertanyaan itu.

"Tahukah kau benda apa yang terhitung paling bersih di kolong langit?"

Tanya Ong-losiansing lagi.

"Emas murni."

"Bukan,"

Kata Ong-losiansing sambil tertawa.

"tak ada benda lain di dunia ini yang jauh lebih bersih daripada barang-barang yang terbuat dari batu kristal."

Lorong itu memang dibangun dengan batu kristal, mau tak mau Kim-hi harus mengakui bahwa tempat itu memang betul-betul sangat bersih. Terdengar Ong-losiansing kembali bertanya.

"Di dunia ini pun terdapat berbagai jenis manusia, tahukah kau jenis manusia mana yang tergolong paling bersih?"

"Orang mati!"

Kali ini tidak menunggu jawaban Kim-hi, dia jawab sendiri pertanyaan itu.

Mau tak mau kembali Kim-hi harus mengakui, semua orang mati pasti akan dimandikan dulu sebelum dimasukkan ke dalam peti mati, sekalipun dia orang yang paling kotor dan busuk sekalipun.

Setelah dia mengakui kebenaran hal itu, maka masalah yang semula tidak dipahami pun kini jadi mengerti.

"Kau merasa tempat ini rada aneh karena tempat ini kelewat bersih,"

Kembali Onglosiansing menjelaskan.

"karena di dalam lorong ini hanya terdapat batu kristal dan orang mati."

Harus diakui, batu kristal memang termasuk barang yang paling bersih, murni dan sedikit bahan campurannya, bahkan sebagian besar orang menganggap benda itu sangat menawan dan menarik.

Orang mati pun tetap manusia, betapa pun menakutkannya orang itu, setelah mati, tak mungkin dia bisa mencelakai orang lain lagi.

Sebuah lorong yang dibangun dari batu kristal, ditambah orang orang mati yang tak mungkin bisa mencelakai orang lagi, sebetulnya tempat ini memang tak perlu ditakuti.

Namun bagi Kim-hi, tempat semacam itu justru mendatangkan perasaan horor, seram dan ngeri yang tak terlukiskan.

Sampai lama kemudian baru ia bertanya.

"Jadi tempat ini adalah sebuah komplek kuburan?"

"Kuburan?"

Ong-losiansing tertawa terbahakbahak.

"atas dasar apa kau mengatakan tempat ini kuburan? Mengapa kau bisa punya pikiran aku telah membangun tanah kuburan dengan batu kristal?"

Jarang sekali dia tertawa tergelak semacam ini.

Baca Juga: Ilmu Golok Keramat 4

Baca Juga: Si Rase Terbang Pegunungan Salju 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert