Eps 10 Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id
Baca online Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id
Cersil Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id.
Dalam waktu singkat sudah ada puluhan orang jago yang mengurungnya di tengah arena. Paras muka Ong Bun kim berubah hebat setelah menyaksikan kejadian itu bentaknya tiba-tiba.
"Mundur semua !"
Bentakan dari anak muda tersebut sangat keras bagaikan guntur yang membelah bumi di siang hari bolong, tanpa sadar semua orang menghentikan langkah kakinya, kemudian dengan sinar mata jeri mereka memandang wajah Ong Bun kim, tak seorangpun yang berkata apa-apa.
Dengan paras muka berubah hebat Ong Bun-kim membentak.
"Dia adalah istriku, kalian berani berbuat apa terhadap dirinya?"
Ucapan tersebut bersifat menantang, kontan saja membuat paras muka beberapa orang itu kembali berubah hebat.
Ku Pek hoa dengan wajah yang amat sedih dan perasaan yang tersiksa berdiri mematung disana.
Kaucu dari perkumpulan Hiat ho kau segera maju ke depan, kemudian serunya.
"Lapor Buncu, apakah Ku pangcu adalah istrimu?"
"Benar !"
"Apa Buncu tidak tahu kalau ia sudah menciptakan pembunuhan berdarah yang mengerikan sekali dalam dunia persilatan?"
"Soal ini..."
"Dia telah membunuh lima puluhan orang anggota perguruan kami, hutang darah tak bisa ditunggak, harap Buncu memberi keadilan serta kebenaran untuk kami!"
Pangcu dari Cing ih pang juga maju ke depan sambil berseru pula.
"Ku pangcu juga telah membunuh tiga puluhan orang anggota perguruan kami."
"Dia membunuh puluhan orang anggota benteng kami."
Seru Sin liong caycu pula sambil maju ke depan.
"oleh karena pun caycu tak sanggup menandingi kelihayannya sehingga untuk bisa membalas dendam, maka kami baru berkeputusan untuk masuk menjadi anggota perguruan Sinkiam bun."
Ciangbunjin dari Tiong lam pay yang berdiri disisi ruangan juga segera maju kedepan seraya berseru.
"Ong Buncu, dia telah membunuh juga tujuh orang anggota partai kami yang tidak berdaya..."
"Dia telah membunuh ayahku..."
"Dia membunuh kakakku..."
"Dia membunuh..."
Dalam waktu singkat, seluruh ruangan itu dipenuhi oleh teriakan-teriakan penuh emosi, bisa dibayangkan betapa kalutnya suasana ketika itu. Giok bin hiap segera berkata pula.
"Buncu akupun pernah menyaksikan ia membunuh sepasang suami istri tua yang sedang mencari obat diatas tanah perbukitan, hanya dikarenakan sepasang suami istri itu enggan masuk menjadi anggota perguruannya."
Keadaan Ong Bun kim benar-benar mengenaskan sekali, paras mukanya berubah menjadi pucat pias seperti mayat, mulutnya terbungkam dalam seribu bahasa, dia tak tahu apa yang musti dilakukan untuk menanggulangi keadaan tersebut.
Paras muka Ku Pek hoa sendiripun pucat pias seperti mayat, peluh sebesar kacang jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.
Teriakan-teriakan masih bergema diseluruh ruangan, seakan-akan semua orang merasa tidak rela jika Ku Pek hoa tidak dibunuh pada saat itu juga.
Hampir meledak benak Ong Bus kim oleh kejadian itu segera bentaknya keras-keras.
"Tutup mulut!"
Suara hiruk pikuk yang sangat ramai itu segera menjadi tenang kembali, sorot mata semua orangpun bersama-sama dialihkan ke atas wajah Ong Bun-kim.
Sekujur badan Ong Bun kim gemetar keras, setelah agak tertegun serunya.
"Apa... apa yang kalian inginkan?"
"Bunuh dia !"
"Bunuh iblis perempuan itu sampai mati."
"Balaskan dendam bagi orang-orang yang mati ditangannya..."
"Bunuh !"
Suasana dalam ruangan itu kembali dipenuhi dengan bentakan-bentakan dan teriakan-teriakan emosi.
"Tutup mulut!"
Bentak Ong Bun kim teramat gusar. Sekali lagi teriakan semua orang tertindih oleh bentakan Ong Bun kim yang amat keras itu. Dengan perasaan agak emosi Ong Bun kim berseru.
"Aku tak akan membunuhnya karena dia adalah isteriku!"
Mendengar ucapan tersebut, paras muka semua orang telah berubah sangat nanar. Ketua dari Hiat hoo kau, Cing ih Pang dan Sin liong cay serentak bertanya.
"Buncu apakah kau tidak bersedia untuk membalaskan dendam bagi saudara-saudara kami yang telah terbunuh ditangannya?"
"Benar, karena dia adalah istriku !"
Kaucu dari Hiat hoo kau segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh.... haahhh... haaahhh... Ong Bun-kim, kau tidak memiliki kebijaksanaan sebagai seorang buncu dari perguruan Sin kiam bun... haaahhh... haaahhh... haaah..."
"Kau bilang apa?"
Bentak Ong Bun kim dengan suara menggelegar, hawa napsu membunuh segera menyelimuti seluruh wajahnya. Dengan dingin kaucu dari Hiat ho kau berseru.
"Apabila Buncu tidak bersedia memikirkan masalah yang menimpa anggotanya, kami akan mengundurkan diri saja dari perguruan Sin kiam bun!"
"Kami juga akan mengundurkan diri.."
"Kami juga...."
Suasana kembali terjadi kegaduhan, tiga perempat dari jumlah anggota Sin kiam bun yang terdiri dari seratus limab puluhan orang ditu serentak bearanjak dari tembpat masingmasing dan berjalan keluar dari ruangan itu.
Terbelalak lebar sepasang mata Ong Bun kim setelah menyaksikan kenyataan itu, peluh sebesar kacang kedelai bercucuran membasahi jidatnya.
Tindakan pemboikotan yang dilakukan orang-orang itu sama sekali diluar dugaan Ong Bun kim, perkembangan yang terjadi disitu menimbulkan perasaan kaget bercampur ngeri dalam hatinya.
"Berhenti !"
Tiba-tiba Giok bin hiap membentak dengan suara berat dan dalam.
Bentakan dari Giok Bin hiap yang keras bagaikan guntur yang membelah angkasa di tengah hari bolong itu segera menghentikan langkah kawanan orang yang sedang melangkah keluar dari ruangan itu, sorot mata mereka serentak dialihkan ke atas wajah Giok bin hiap.
Dengan suara yang berat dan serius Giok-bin hiap segera berseru lagi dengan lantang.
"Sebagai anggota perguruan, mana boleh kalian bersikap demikian terhadap ketua sendiri?"
Terdengar ada yang berteriak.
"Dia tidak pantas..."
"Dia tidak becus..."
"Dia tidak pantas menjadi ketua perguruan Sin kiam bun..."
Teriakan-teriakan keras mulai berkumandang kembali dalam ruangan, orang berteriak dengan gusar, mendongkol dan tidak puas, keadaan semacam ini benar-benar mengerikan sekali.
oooOdwOooo BAB 86 SEKUJUR badan Ku Pek hoa gemetar keras, dia hanya bisa berdiri kaku ditempat.
Paras muka Ong Bun kim juga berubah menjadi pucat pias seperti kertas, seluruh badannya basah olah keringat, keadaannya mengenaskan sekali, agaknya dia seperti lagi mempertimbangkan satu hal...
"Buncu !"
Tiba-tiba Giok bin hiap berseru ke arah Ong Bun kim dengan suara lantang. Ong Bun kim merasakan hatinya bergetar keras, sorot matanya segera dialihkan ke wajah Giok bin hiap.
"Ada apa?"
Tanyanya.
"Sekarang kau harus mengambil keputusan tegas!"
"Keputusan apa?"
"Bunuh Ku Pek hoa !"
"Apa?"
Teriak Ong Bun kim dengan mata meIotot besar.
"kau suruh aku membunuh dirinya ?"
"Benar, jika Ku Pek hoa tidak dibunuh, hati mereka semua tak akan puas."
Ong Bun kim menjadi marah sekali serunya.
"Apakah kita tak dapat mengampuni dirinya."
"Tak ada orang yang mau mengampuni dirinya!"
Ong Bun kim segera tertawa seram, serunya.
"Aku tak akan membunuhnya..."
"Lantas apa yang hendak kau lakukan?"
"Apakah aku Ong Bun kim tak boleh melindungi keselamatan isteriku sendiri?"
"Buncu, saat ini bukan saat yang tepat untuk mempeributkan persoalan semacam itu!"
Seru Giok bin hiap dengan suara dalam.
"Beginilah sifat aku Ong Bun kim, apa yang hendak kulakukan segera kulakukan, bila aku tak mau aku bisa menghilangkannya, dia adalah isteriku, aku tak bisa tidak harus melindungi keselamatannya?"
"Buncu apakah kau tak akan memikirkan kepentinganmu?"
Tegur Giok bin hiap dingin.
Ong Bun kim merasakan hatinya bergetar keras dalam upacara peresmian semacam ini, sudah barang tentu dia harus memikirkan masalah besar daripada kepentingan pribadi, kalau tidak, bukankah hal ini akan menjadi tertawaan orang banyak?
Tapi, jika ia tak dapat melindungi keselamatan diri istrinya, bukankah orang banyakpun akan mencemooh ketidak becusan dirinya?
Dari dua hal tersebut dia harus memilih salah satu diantaranya.
Kembali Giok bin hiap berkata.
"Buncu kalau kau tidak mengambil keputusan yang bijaksana, nama baik perguruan Sin kiam-bun akan hancur dan musnah ditanganmu."
Ong Bun kim menggertak giginya kencang-kencang, disapunya sekejap kawanan jago dihadapannya lalu bentaknya keras-keras.
"Harap kalian semua tenang !"
Ditengah bentakan keras dari Ong Bun kim itu, suasana dalam ruang segera pulih kembali dalam keheningan, sinar mata semua orang kembali dialihkan kewajah Ong Bun kim untuk menantikan jawabannya.
Bagaikan seekor yang jago yang kalah bertarung, dengan suara lemah dan berat Ong Bum kim berseru.
"Apakah kalian bersikeras hendak menyuruhku membunuh dirinya..?"
"Betul dia harus dibunuh."
"Jagal iblis perrempuan keji itu. Kita harus membalaskan dendam lagi saudara-saudara kita yang sudah tewas secara mengenaskan ditangannya."
"Yaa, perempuan laknat yang tidak berperi kemanusiaan itu harus dibunuh."
Bentakan-bentakan marah bagaikan guntur yang menghajar benak Ong Bun kim, selama hidupnya belum pernah merasakan kesedihan seperti apa yang pernah dialaminya sekarang.
Teriakan-teriakan keras para jago kembali terhenti, suasanapun pulih kembali dalam keheningan.
Dengan suara lantang, Ong Bun kim segera berseru.
"Ia sudah bertobat dan menyesali semua perbuatannya, apakah kalian tak dapat memaafkan kesalahannya itu?"
Teriakan-teriakan emosi kembali berkumandang memecahkan keheningan.
"Tidak bisa diampuni, perempuan laknat itu tak boleh diampuni."
"Dia sudah membunuh banyak orang, jiwanya tak boleh diampuni lagi."
"Mengapa kalian bersikeras hendak menghukum mati dirinya?"-seru Ong Bun kim lagi dengan sedih.
"bukankah pepatah bilang, orang sesat yang kembali, emaspun tak bisa menggantinya, sekarang dia sudah bertobat dari perbuatannya, mengapa kalian masih bersikap keji kepada dirinya?"
"Sudah terlalu banyak orang yang dibunuh olehnya, manusia semacam itu tak boleh diampuni lagi!"
"Bunuh dia.... Bunuh, bunuh dia!"
Hampir saja Ong Bun kim melelehkan air mata saking ngenasnya memikirkan soal ini, selama hidupnya baru pertama kali ini dia tak melakukan apa yang ingin dilakukannya, bagaimana mungkin hatinya tidak merasa sedih?
Kembali ada orang berteriak keras.
"Buncu, kalau kau tak mau membunuhnya, kami akan segera angkat kaki dari sini."
"Ya, pergi saja dari sini..."
Maka kembali ada orang yang beranjak dan mulai melangkah keluar dari ruangan itu.
"Berhenti!"
Ong Bun kim segera membentak keras. Oleh bentakan dari Ong Bun kim yang sangat keras itu, orang-orang yang mulai beranjak itu kembali terhenti.
"Kalian benar-benar ingin mendesakku untuk membunuh dirinya...?"
Mendadak Ong Bun kim membentak keras.
"Kami bukannya mendesakmu, tapi sudah menjadi kewajiban Buncu untuk melakukan perbuatan itu."
"Tapi dia adalah istriku, aku tak bisa melakukannya."
"Kalau begitu kau tak pantas menjadi Buncu dari perguruan Sin kiam bun."
Paras muka Ong Bun kim berubah sangat hebat, mendadak dia melompat bangun dari kursinya, lalu berseru.
"Bagus sekali, aku Ong Bun kim memang tidak pantas menjadi ketua Sin kiam bun, kalian boleh memilih ketua yang baru, aku Ong Bun-kim segera akan meninggalkan tempat ini."
Seusai berkata, dengan langkah lebar dia lantas berjalan keluar dari ruang itu.
Tindakan yang diambil pemuda inipun jauh diluar dugaan semua orang, dengan perasaan terkejut dan tercengang mereka hanya mengawasi Ong Bun-kirn dengan pandangan tertegun, suatu tindakan yang betul diluar dugaan siapa pun.
Dengan suatu gerakan cepat Giok-Bin-hiap menerjang maju ke depan dan menghadang jalan pergi Ong Bun-kim, bentaknya.
"Kau sudah gila !"
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh, sudah gila?"
Seru Ong Bun-kim sambil tertawa seram.
"bukankah aku Ong Bunkim berada dalam keadan segar bugar?"
"Lantas, mengapa kau..."
"Aku tak akan menjadi ketua dari perguruan Sin-kiambun lagi...."
"Hal ini mana boleh jadi?"
"Mengapa tidak? Kalau aku Ong Bun-kim tak bisa melindungi istriku yang telah bertobat dan mau kembali kejalan yang benar, apa gunanya menjadi seorang Bun cu? Supek, harap minggir !"
Dengan pandangan tertegun Giok bin hiap mengawasi wajah Ong Bun kim, tanpa sadar dia menyingkir ke samping memberi jalan lewat..
Ong Bun kim segera berjalan kehadapan.
Ku Pek hoa, kemudian serunya dengan nyaring.
"Mari kita pergi!"
"Ke mana?"
Tanya Ku Pek hoa tertegun.
"Asal pergi meninbggalkan tempat ini, kemanapun kita boleh pergi!"
Tapi Ku Pek hoa segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tidak, aku tak akan pergi!"
"Apa?"
"Aku tak akan pergi."
Diatas wajahnya segera tampil tekadnya yang besar.
"kau telah melakukan suatu kesalahan besar."
"Aku telah melakukan suatu kesalahan besar? Kenapa?"
Ku Pek hoa menghela napas panjang, katanya kemudian.
"Aku bisa memahami cintamu kepadaku, tapi tidakkah kau mencintai anggota perguruan mu?"
"Aku mencintainya !"
"Kalau memang begitu, harap mundur kembali ke tempatmu, akan kuatasi masalah ini."
Ong Bun kim tertegun dan berdiri termangu-mangu seperti orang yang kehilangan ingatan, untuk sesaat lamanya dia tak tahu apa yang musti dilakukannya.
"Aku memang benar-benar pantas untuk mati!"
Ucap Ku Pek hoa dengan amat sedih.
"Aaaahh..."
"Aku tahu, sebelum kuhabiskan nyawaku sendiri, setiap orang tak akan merasa puas"
"Aku yakin dengan kemampuan serta kekuatan yang kumiliki sekarang, aku masih sanggup untuk melindungi keselamatanmu!"
"Tidak!"
Ku Pek hoa menggelengkan kepalanya berulang kali.
"didalam persoalan ini kau tak akan sanggup melindungi diriku, apa yang sewajarnya kau dapatkan, aku sudah sepantasnya untuk memberikan kepadamu, bila aku terbunuh, semua orang akan takluk, kenapa pula tidak kulakukan hal ini demi kepentinganmu?"
"Ku Pek hoa, kau..."
"Bunuhlah aku!"
Tukas Ku Pek hoa dengan wajah yang tegas dan tekad yang mantap.
"Tidak!"
Teriak Ong Bun kini dengan penuh emosi.
"aku tak akan membunuhmu, sebab kau adalah isteriku!"
"Ong Bun kim, jika kau tak berani membunuhku maka kau adalah seorang lelaki pengecut lelaki yang berjiwa banci..."
"Tidak, walau apapun yang akan kau ucapkan, aku tak akan melakukannya, aku cinta padamu!"
"Ong Bun kim! Sekarang belum waktunya untuk membicarakan soal cinta, sepanjang sejarah kehidupanku terlalu banyak kejahatan yang telah kulakukan, bila kematianku bisa membuat hati semua orang takluk kepadamu, aku bersedia melakukannya dengan senang hati dan kaupun seharusnya mengambil keputusan tersebut"
Ong Bun kim tidak berbicara apa-apa, dia merasa semakin sedih, semakin pedih dan sangat tersiksa batinnya.
Betul setiap ucapan dari Ku Pek hoa itu keluar dari hati sanubarinya yang paling murni, tapi tegakah Ong Bun kim untuk membunuhnya?
Membunuh seorang isteri-nya sendiri?
Kembali Ku Pek hoa berkata.
"Ong Bun kim, apakah kau tidak memiliki jiwa tegas seorang lelaki kesatria yang mendahulukan kepentingan orang banyak daripada kepentingan pribadi?"
Ong Bun kim berdiri tertegun dengan wajah yang mengenaskan sekali, ia betul-betul lunglai bagaikan seekor ayam jago yang sudah kalah bertarung.
"Tak usah ragu-ragu lagi"
Kembali Ku Pek hoa berkata.
"baliklah kembali ke tempatmu, berilah kesempatan kepadaku untuk berbincang-bincang dengan mereka."
Perasaan Ong Bun kim ketika itu benar-benar amat sedih yang tak terlukiskan, penderitaan dan siksaan batin yang dialaminya sekarang belum pernah dialami sebelumnya.
Ia mencintai seorang perempuan tapi tak mampu untuk melindungi keselamatan jiwanya, ke mana larinya kemampuan seorang lelaki yang mampu melindungi kaum lemah?
Dengan tubuh yang lemas, badan yang lunglai pelanpelan dia berjalan kembali ke dalam ruang tengah, lalu menjatuhkan diri duduk dengan wajah memucat.
Menanti pemuda itu sudah masuk ke ruangan, Ku Pek hoa baru tertawa getir, di tatapnya sekejap jago yang berada dihadapannya, kemudian berseru.
"Sobat sobat sekalian..."
Sorot mata segenap jago yang berada daIam ruangan itu segera dialihkan bersama kewajah Ku Pek hoa, tak seorangpun diantara mereka yang bisa menduga perkataan apakah yang hendak diucapkan oleh gadis itu.
Dengan tekad yang bulat dan wajah yang serius gadis itu melanjutkan kembali kata-katanya.
"Aku mengerti semua tindakan serta perbuatan yang kalian lakukan sekarang adalah suatu tindakan yang benar, sepasang tangan Ku Pek hoa memang sudah bernodakan darah manusia, aku memang sudah banyak membunuh manusia, untuk itu aku pantas menerima kematianku sebagai hukuman atas dosa-dosaku itu, mati di hadapan mereka semua! Kalau hari ini sampai tidak dilaksanakan, lantas dimanakah letak keadilan dan kebenaran?"
Ia berhenti sebentar untuk mengendalikan perasaan sedih dan pedih yang tak terlukiskan dengan kata-kata itu, kemudian melanjutkan.
"Ong Bun kim pasti akan membunuhku, cuma ada sepatah kata ingin kuucapkan lebih dulu sebelumnya, bila aku telah mati nanti aku harap kalian semua bersedia untuk berbakti dan setia kepada Ong Bun kim, kedamaian memang diraih dengan pengorbanan. Pengorbanan tersebut membutuhkan pula darah dan keringat. Aku harap kalian semua bersedia untuk meluluskan permintaanku itu!"
Perkataan tersebut cukup mengharukan siapapun yang mendengarnya... Setelah berhenti sebentar Ku Pek hoa berkata lagi dengan suara yang dalam dan berat.
"Sebelum aku mati, aku harus menjadi anggota Sin kiam bun lebih dulu, kalau tidak Ong Bun kim mana akan membiarkan kupinjam pedangnya untuk mati?"
Kali ini semua orang menjadi tertegun dan tercengang, agaknya mereka tidak menyangka kalau gadis tersebut akan mengambil tindakan sejauh itu.
Begitu selesai mengucapkan kata kata itu, agaknya Ku Pek hoa merasakah perasaannya sudah jauh lebih kendor dan nyaman, pelan-pelan dia beranjak dan masuk ke dalam ruangan.
Beratus-ratus orang jago yang hadir didalam ruangan itu hanya termangu belaka, rupanya mereka sudah terpengaruh oleh kata-katanya itu, malah banyak diantara yang merasa kagum atas tekad dan keputusan yang diambil Ku Pek hoa itu.
Tak bisa disangkal lagi dia amat mencintai Ong Bunkim, dan sekarang ia bersedia mengorbankan diri demi memperoleh dukungan beratus-ratus orang anggota bagi perjuangan Ong Bun kim.
Dalam hal ini sudah jelas tak akan bisa dilakukan oleh siapa saja didunia ini.
Selangkah demi selangkah Ku Pek-hoa berjalan masuk kedalam ruangan dan akhirnya berhenti didepan meja sembahyang.
Diam-diam Giok bin hiap merasa kagum sekali atas tekad dan keberanian gadis itu dalam mengambil keputusan, sehingga tanpa terasa muncul juga perasaan sedih dan iba dalam hatinya.
Dengan suara yang sedih Giok-pin-hiap bertanya.
"Ku Pek-hoa, bersediakah kau masuk menjadi anggota perguruan Sin-kiam bun?"
"Bersedia!"
"Menyembah pedang!"
Dengan tuIus dan bersungguh-sungguh Ku Pek hoa segera menjatuhkan diri berlutut serta menyembah dengan penuh rasa hormat.
"Ku Pek hoa!"
Kemudian Giok bin hiap berseru dengan suara dalam.
"bersediakah kau untuk setia kepada Buncu?"
"Bersedia!"
"Angkat sumpah!"
Ketika Ku Pek hoa selesai mengangkat sumpah berat, dengan suara dalam Giok bin hiap berkata.
"Ku Pek hoa, sekarang secara resmi kau telah menjadi anak murid perguruan kami!"
Ku-Pek hoa segera mengiakan, pelan-pelan dia bangkit berdiri dan berjalan ke hadapan Ong Bun kim, kemudian setelah berlutut kembali, ujarnya.
"Lapor Buncu!"
"Ada apa?"
Suara Ong Bun kim kedengaran agak gemetar.
"Sebelum tecu masuk menjadi anggota perguruan Sin kiam bun telah banyak melakukan kejahatan dan pembunuhan keji, setelah masuk menjadi anggota Sin Kiam bun, mohon buncu bersedia memberi kematian kepada tecu untuk menebus dosa-dosa dan kesalahanku ini!". Sekujur badan Ong Bun kim gemetar keras, ia sampai menggigil tanpa sebab.
"Ooh Thian, apakah akan ia serahkan pedang Suci itu untuk membunuhnya? Membunuh istrinya sendiri?"
Paras mukanya berubah menjadi pucat pias seperti mayat, mimik wajahnya tampak mengerikan sekali, dia cuma bisa melototkan sepasang matanya lebar-lebar dan mengawasi Ku Pek hoa yang berlutut di hadapannya-itu tanpa berkedip...
suasana di dalam ruangan segera berubah menjadi tenang, sepi, tak kedengaran sedikit suarapun.
Dengan suara berat Giok bin hiap segera berseru.
"Kalau Ku Pek hoa bisa mati diujung pedang Sin kiam, kejadian ini merupakan suatu kehormatan baginya. Buncu! Sepantasnya kalau kau meluluskan permintaannya itu!"
Ong Bun kim masih tetap termangu-mangu dan duduk tertegun tak tahu apa yang musti dilakukan.
"Buncu, apakah kau tidak meluluskan permintaan dari tecu ini?"
Pinta Ku Pek hoa dengan pedih.
oooOdwOooo BAB 87 DALAM keadaan yang teramat sedih, Ong Bun kim menghela napas panjang, perkembangan situasi yang dihadapinya ini memaksa dia mau tak mau harus mempersembahkan pedang sucinya itu.
Demi kepentingan perguruan Sin kiam bun, demi perasaan setiap orang, ia harus melaksanakan perbuatan yang sama sekali tidak dikehendakinya itu.
Sekalipun rasa sedih yang mencekam perasaannya sekarang tak terlukiskan dengan kata-kata, akan tetapi sekarang dia perlu untuk menahan diri dan mengendalikan perasaan, maka secara tiba-tiba dia mengambil keputusan.
Dengan suara dalam dan berat dia pun bertanya.
"Ku Pek hoa, bersediakah kau untuk menerima kematian?"
"Bersedia!"
"Kalau begitu matilah!"
Dia bangkit berdiri dan mengambil pedang Sin kiam itu dari atas meja altar, kemudian diserahkan kepada Ku Pek hoa.
Tangannya yang memegang pedang itu tampak gemetar sangat keras, bisa dibayangkan betapa besarnya gejolak perasaan yang dialaminya waktu itu.
Dengan tenang Ku Pek hoa menerima pedang Sin kiam tersebut, lalu berkata.
"Terima kasih atas kesediaan Buncu menghadiahkan kematian yang terhormat bagi tecu!"
Suatu tragedi yang memilukan hatipun akhirnya berlangsung juga.
Dalam waktu singkat suasana didalam ruangan tengah itu berubah menjadi murung hening, suasana sedih dan duka yang amat tebal secara tiba-tiba menyelimuti perasaan setiap orang.
Ong Bun kim tak sanggup mengendalikan luapan rasa sedihnya lagi, titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
Ku Pek hoa berjalan langsung menuju ke tengah ruangan, paras mukanya dingin dan kaku sama sekali tidak terlintas luapan emosi apapun juga, sekalipun ada, itupun cuma sinar kesedihan yang sangat mendalam.
Sorot mata semua orang telah tertuju pa da dirinya.
Pelan-pelan dia mengangkat pedang Sin kiam itu ketengah udara,ujung pedang telah menempel diatas perutnya, asal dia sedikit mempergunakan tenaganya, maka gadis itu akan segera tewas diujung pedang Sin kiam tersebut.
Tak sedikit diantara mereka yang tak tega menyaksikan tragedi itu berlangsung di depan matanya, pelan-pelan mereka melengos ke arah lain atau menundukkan kepalanya rendah-rendah.
Sepasang mata Ku Pek hoa sudah mengembang air mata, titik air mata meleleh keluar dan membasahi pipinya, dia ingin menangis, akan tetapi tiada suara isak tangis yang keluar dari mulutnya.
Wajah Ong Bun kim juga basah oleh air mata yang jatuh bercucuran dengan derasnya..
Dengan penuh air mata yang bercucuran, Ku Pek-hoa menatap wajah Ong Bun kim lekat-lekat, lama...
lama sekali akhirnya dia baru berbisik dengan lirih.
"Ong Bun kim, kita segera akan berpisah... berpisah untuk selamanya."
Bisikan tersebut tidak diucapkan keluar, tapi air meta yang bercucuran menggantikan suara hatinya.
Akhirnya dia pejamkan matanya rapat-rapat, tangan kanan yang memegang pedang Sin kiam gemetar sangat keras.
Ong Bun kim segera melengos ke arah lain.
Ia tak tega menyaksikan tragedi tersebut berlangsung didepan matanya.
Oooh Thian Apa yang terjadi hari ini tak akan pernah dilupakan selamanya.
Mendadak...
Suara dengusan tertahan bergema dari mulut Ku Pek hoa.
Dengan cepat Ong Bun kim berpaling, ketika ia menyaksikan Sin kiam telah menembusi perut Ku Pek hoa, menyusul dicabutnya senjata mestika tersebut, darah segar segera memuncrat keluar dengan amat derasnya...
Paras muka Ku Pek hoa berubah menjadi pucat pias seperti mayat, dengan sempoyongan dia mundur beberapa langkah ke belakang.
Dengan cepat tangannya digunakan untuk menekan mulut lukanya yang melebar.
"Trang..."
Pedang Sin kiam segera terjatuh ke tanah, menyusul kemudian tubuhnya sempoyongan juga lantas roboh ke atas tanah.
"Ku Pek hoa...!"
Ong Bun kim segera menjerit sekeraskerasnya.
Dengan suatu lompatan kilat dia menubruk kearah Ku Pek hoa, kemudian membopong tubuhnya yang sudah roboh ke tanah itu.
Suatu tragedi yang memilukan hati akhirnya telah berlangsung.
Mendadak...
Segenap anggota Sin kiam bun yang hadir dalam ruangan itu sama-sama menjatuhkan diri berlutut ke atas tanah.
"Harap Buncu suka mengampuni dosa kami semua!"
Serunya hampir berbareng dengan suara keras. Air mata turun dengan deras membasahi seluruh wajah Ong Bun kim, mendadak ia mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.
"Sudah mati.... sudah mati Haaahhh...haaahhh haaah kalian telah memaksanya sampai mati.. ..."
Suara tertawa itu kedengaran mengerikan sekali, membikin bergidiknya hati siapapun juga.
Giok bin hiap yang menyaksikan kejadian itu menjadi terperanjat sekali.
Pelan-pelan Ong Bun kim membopong tubuh Ku Pek hoa, berjalan melalui hadapan lautan manusia yang berlutut dihadapannya kemudian berjalan menuju keluar dari ruangan tersebut.
Dengan suatu gerakan cepat Giok bin hiap melompat ke depan dan menghadang jalan perginya, dengan cepat dia menegur.
"Buncu, mau apa kau?"
"Minggir, kalian iblis-iblis keji pembunuh manusia, kalian semua yang telah memaksanya sampai mati dia... dia telah mati sekarang kalian sudah gembira bukan? Haaahhh haaahhh haaah kalian sudah gembira bukan...."
Dengan langkah lebar dia melanjutkan perjalanannya keluar dari ruangan tersebut.
Tak seorang manusiapun yang menghalangi kepergiannya, siapapun dapat memahami bagaimana menderita dan tersiksanya perasaan pemuda itu sekarang.
Ong Bun kim telah berjalan keluar dari gua Bu cing tong sambil membopong Ku Pek hoa dia berjalan kedepan sana tanpa arah tujuan....sementara titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipi Ku Pek hoa yang pucat pias itu "Engkoh Ong...."
Tiba-tiba terdengar Ku Pek hoa berseru dengan kepayahan.
"Adik Hoa..."
"Kau baliklah kembali.* "Tidak, aku ingin berada bersamamu..."
Seperti orang kalap diciumnya gadis itu tiada hentinya...
mencium seorang istrinya yang sudah hampir tiada, ciuman itu dilakukan secara lambat, khusus dipersembahkan kepadanya, istrinya yang tersayang.
Air mata telah bercampur darah, tak terlukiskan betapa pedih dan hancurnya perasaan pemuda itu waktu itu.
"Adik Hoa. akulah yang telah mencelakai dirimu."
Tibatiba Ong Bun kim berteriak.
"andai kata kau kembali ke Lam hay... tak akan kau alami kejadian seperti hari ini, adik Hoa... akulah yang telah mencelakai dirimu."
"Tidak, engkoh Ong. aku... aku memang penuh dosa, aku.... memang harus menebus dosa-dosaku itu dengan kematian...."
Suaranya sangat pedih dan tak jelas, suaranya pun mulai lemah dan sayup-sayup.....
Mendengar perkataan itu, Ong Bun kim merasakan hatinya bagaikan remuk rendam, dia memeluk tubuhnya erat-erat dan menangis tersedu-sedu, semua kesedihan yang mencekam perasaannya dilampiaskan keluar semuanya.
Butiran air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, membasahi wajahnya,,..,, ketika air mata mengering nanti, jiwanya akan turut berakhir.
"Adik Hoa...."
Teriak Ong Bun kim lagi dengan perasaan amat pedih.
"Engkoh Ong..... terima kasih banyak... terima kasih banyak atas cinta kasihmu..."
Ong Bun kim merasakan hatinya seperti disayat sayat dengan pedang yang amat tajam darah, serasa bercucuran didalam hatinya...
apa yang harus dia katakan?
Apa pula yang bisa dia katakan dalam keadaan ini?
Ku Pek hoa tertawa pedih, kembali bisiknya.
"Engkoh Ong..,. kita..... kita mee memang tidak berjodoh..,., kita......kita memang tak berjodoh untuk menjadi suami istri... ke.. kesalahan ini.,., aku... akulah yang menciptakan.... aku telah berbuat salah kepadamu... aku hanya me.... menyiksa dirimu...."
"Oooh... adik Hoa...!"
"Per... percayalah kau, aku amat... amat mencintaimu.....?"
"Per.... percayakah kau...?"
"Aku percaya!"
"Aku.. aku... akau selalu mengenang dirimu.,... di dalam hatiku.... aku akan mengingat dirimu selalu.... mengingat cinta kasih yang.... yang telah kau berikan kepadaku....engkoh Ong....dapatkah kau.. teringat pula akan diriku?"
"Aku pasti akan mengenang dirimu selalu selama hidup mengenang terus dirimu."
"Aku ..aku telah memm.. mendapatkan cintamu.... engkoh Ong, semoga daa... dalam penitipan yang akan datang, ki... kita bisa menjadi suami istri.... kau kau bersedia bukan ?"
"Aku bersedia!"
"See... seandainya bisa terjadi... keadaan see ...seperti itu.... aku... aku pasti akan melayani dirimu see... secara baik-baik."
"Ooooh Adik Hoa !"
"Engkoh Ong !"
Mereka saling berteriak, saling memanggil namanya ....
teriakan menjelang datangnya elmaut membuat suasana bertambah terharu, menmbah kepedihan hati siapapun juga yang melihatnya.
Sekali lagi Ong Bun kim memeluknya dan menciumnya secara kalap.
..mencium dengan penuh kasih sayang.
Ku Pek hoa merasa puas, merasa puas sekali...
Dalam sejarah kehidupannya di dunia ini, dia telah melakukan perbuatan yang paling mulia.
Keinginan dan harapannya sebagai seorang gadis telah dimusnahkan oleh dia sendiri, sesungguhnya ia memiliki kecantikan wajah yang luar biasa, akan tetapi dia harus menerima akibat yang mengenaskan seperti itu.
Yang ditinggalkan untuk umat manusia, sesungguhnya kebajikankah?
Atau kejahatan dan keburukan?
Ong Bun kim masih saja menciumnya dengan kalap, ciuman menjelang kematian, suatu ciuman yang dilakukan dengan perasaan yang pedih dan hati yang hancur.
Bibirnya yang kecil mungil sudah mulai menjadi dingin dan kaku, dingin bagaikan selembar jiwanya juga sudah melayang meninggalkan badan kasarnya....
meninggalkan dunia yang fana ini untuk selamanya.....
Air mata telah mengering, darah pun ikut mengering.
"Adik Hoa... adik Hoat !"
Jerit Ong Bun kim dengan perasaan yang sangat pedih.
Dia tak akan menjawab lagi, tabk mungkin akan dmenjawab untuk aselama-lamanya.b Kehidupan yang mengenaskan telah berakhir dengan sekulum senyuman, lalu apa yang diperoleh didalam kehidupannya ini?
Yaa, apapun tidak diperolehnya.
Sekalipun ada, itupun tak lebih hanya mati di dalam pelukan orang yang dicintainya.
"Adik Hoa..."
Jerit Ong Bun kim dengan perasaan yaag sangat sedih.
Bagaimanapun dia berteriak, sampai pecah tenggorokannya dia menjerit, Ku Pek hoa yang telah tiada tak akan bisa menjawab lagi, dia hanya bisa menyerahkan selembar jiwanya direnggut oleh malaikat elmaut didalam rangkulan Ong Bun kim.
Dalam keadaan seperti ini Ong Bun kim tak dapat mengendalikan perasaannya lagi, sambil memeluk tubuh Ku Pek hoa erat-erat, dia menangis tersedu-sedu.
Dalam sepanjang hidupnya, belum pernah ia merasa sedih dan berduka seperti apa yang dirasakannya hari ini, sebab secara tidak langsung dia adalah pembunuh yang telah mencelakai jiwa Ku Pek hoa, dialah yang menjadi penyebab atas matinya gadis itu.
Suara isak tangis yang memilukan hati menggema dari tempat yang amat jauh sekali.
Pada saat itulah....
sesosok bayangan manusia tiba-tiba berjalan menghampirinya kemudian berseru.
"Engkoh..."
Ong Bun kim seperti tidak mendengar suara panggilan itu, dia masih menangis terus, melampiaskan keluar semua kesedihan yang mencekam perasaannya selama ini, membiarkan air matanya jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya.
"Engkoh Ong...."
Sekali lagi suara teriakan itu berkumandang memecahkan keheningan.
Akhirnya Ong Bun kim mendengar juga suara panggilan tersebut, dengan mata basah oleh air mata pelan-pelan dia berpaling, sesosok bayangan tubuh yang kabur muncul didepan matanya.
"Siii. .. siapakah kau?"
Akhirnya dia bergumam dengan suara yang amat lirih.
"Engkoh Ong, aku adalah Siok kim..."
"Siok kim.. ? Siok kim..."
Tiada hentinya dia bergumam, seakan-akan nama "Siok kim"
Tersebut terlalu asing baginya, seolah-olah dia telah melupakan semua persoalan yang pernah dialaminya di masa lalu. Kwan Siok kin menjadi tertegun, kemudian ujarnya.
"Engkoh Ong, apakah kau sudah lupa siapakah diriku ini?"
"Benar, sudah lupa.... semuanya sudah lupa..."
Ia bergumam denrgan suara yang lirih dan wajah yang mengenaskan sekali...
Ketika mendengar ucapan tersebut, air mata Kwan Siok kim juga turut bercucuran membasahi matanya, ia merasa sedih bagi musibah dan kepedihan yang menimpa Ong Bun kim, dia ingin menghibur hatinya, akan tetapi melihat keadaan yang menimpa si anak muda itu, belum lagi berbicara ia sendiri sudah menangis terlebih dulu.
Dengan perasaan yang bimbang dan pandangan mata yang kosong, Ong Bun kim berjalan tanpa tujuan, sambil membopong jenasah Ku Pek hoa, dia berjalan terus kedepan, seakan-akan kesadarannya sudah ikut punah tak berbekas.
"Engkoh Ong,...."
Sekali lagi Kwan Siok kim berseru. Pelan-pelan dia menghentikan langkah kakinya, kemudian bergumam.
"Ada apa?"
Tanyanya.
"Kau tak usah terlampau bersedih hati."
"Bersedih hati...? Kenapa aku harus bersedih hati..?"
"Ooh engkoh Ong, kau... sebenarnya kenapa kau....,?"
Keluh Kwan Siok kim dengan perasaan amat sedih.
"Aku ? Bukankah aku baik-baik saja?"
"Aai ! Peristiwa yang sangat menakutkan ini tidak seharusnya menimpa dirimu... dia terlalu mengenaskan, mengapa orang lain tak bisa mengampuni dirinya?"
Mendengar perkataan itu, Ong Bun kim masih berdiri termangu-mangu memandang wajah Kwan Siok kim dengan pandangan kosong.
"Engkoh Ong !"
Kembali Kwan Siok kim berkata.
"kau tak usah terlalu bersedih hati, bagaimanapun juga dia toh sudah tiada lagi."
"Siapa yang telah tiada lagi.? Siapa yang-telah mati..? Siapa...?"
"Enci Ku!"
Sekujur badan Ong Bun kim gemetar keras, ucapan tersebut, segera menyadarkan kembali pemuda itu dari lamunan, mendadak ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak "Engkoh Ong, kenapa kau?"
Jerit Kwan siok-kim dengan suara amat kaget. Ong Bun kim masih tertawa terbahak-bahak dengan kalapnya.
"Yaa, betul dia sudah mati, dia sudah mati... kalian yang telah mencelakainya, kalian telah memaksa seorang gadis yang telah bertobat dan kembali ke jalan yang benar untuk bunuh diri... dia telah mati tanpa menimbulkan suara apaapa"
"Engkoh Ong, bukan aku yang memaksa dirinya untuk mati."
Dia berteriak keras, suaranya kedengaran mengerikan sekali. Ong Bun kim kembali tertawa terbahak-bahak.
"Haahhh... haaahhh... haaahh.... bukan kau....? Siapa..? Aku teringat sekarang..."
Kembali dia tertawa terbahak-bahak dengan geramnya...
tertawa amat keras sekali...
tapi sampai akhirnya gelak tertawa itu telah berubah menjadi isak tangis yang mengenaskan.
Kwan Siok kim menjadi gugup dan kebingungan, dia cuma bisa mengawasi Ong Bun kim dengan pandangan tertegun dan tak tahu apa yang musti dilakukan.
Sambil menangis tersedu-sedu dan membopong jenasah Ku Pek hoa, pelan-pelan dia berjalan maju kedepan, dia masih berjalan tanpa arah tujuan, seperti seseorang yang kehilangan sukma.
"Engkoh Ong..."
Teriak Kwan Siok kim dengan suara amat pedih.
Tapi Ong Bun kim yang sedang diliputi kesedihan sama sekali tidak mendengar teriakan sedih dari Kwan Siok kim, apalagi mendalami arti daripada teriakan tersebut.
Sambil membopong jenasah Ku Pek hoa, ia berjalan menuju ke dalam hutan, daun-daun kering berguguran, yang tertinggal cuma bayangan manusia yang memanjang ditanah....
Benar benar merunakan suatu pemandangan yang kelabu dan mengenaskan hati,..
Pelan pelan langkah kakinya dilanjutkan terus ke depan, suara isak tangisnya makin menghilang..
Entah berapa lama dia sudah berjalan..., ditelusurinya hutan lebat tanpa arah tujuan sehingga lama sekali dia berjalan, entah berapa jauh sudah dilampaui, akhirnya dia berhenti dan berdiri termangu, berdiri tak berkutik...
Mendadak sesosok bayangan manusia berbaju hitam berjalan ke belakang tubuhnya, kemudian berseru.
"Ong sauhiap, orang yang sudah mati tak bisa hidup kembali, kau... .kau tak usah terlampau bersedih hati!"
Pelan-pelan Ong Bun kim membalikkan badannya, sesosok bayangan hitam yang agak kabur berdiri dihadapannya.
"Ssiii... siapa kau?"
Gumamnya kemudian.
"Lupakah kau siapa aku ini?"
"Aku tak bisa melihat jelas, aku tidak tahu siapakah dirimu itu...?"
Orang itu menghela napas panjang.
"Aaai... Orang sauhiap, bukankah orang yang berada didalam boponganmu itu adalah Ku Pek hoa?"
"Benar....!"
"Ia sudah mati?"
"Tidak dia masih hidup dalam hatiku."
"Apa yang menyebabkan kematiannya?"
"Aku telah membunuhnya!"
"Kau ? Aaah mana mungkin?"
"Benar akulah yang telah membunuhnya."
"Kalau memang kau membunuhnya, mengapa pula kau bersedih hati?"
"Sebab dia adalah istriku"
"Aku tahu.... dia adalah istrimu."
"Siapa kau?"
"Aku adalah Tan Hong hong."
"Tan Hong hong ...? Tan Hong hong ?"
Ia bergumam berulang kali, seakan-akan untuk beberapa taat lamanya ia tidak dapat mengingat siapa gerangan manusia yang bernama Tan Hong hong itu...? "Ong sauhiap"
Kembali bunga iblis dari neraka berkata.
"kalau dia telah mati, marilah kita kubur jenazahnya."
"Dikubur? Tidak !"
"Apakah kau akan memeluknya dalam rangkulanmu terus?"
"Benar aku tak akan menguburnya, akn ingin selalu berada bersamanya, aku... aku tak akan meninggalkan dia untuk selamanya."
OoooOdwOoooo BAB 88
"TIDAK, kau tidak boleh berbuat begitu!"
Kata Bunga iblis dari neraka dengan cepat.
"bila tidak kau kebumikan dia kedalam tanah sekarang, arwahnya tak akan memperoleh ketenangan di alam baka!"
Ong Bun kim berdiri kaku dan memandang kearah Tan Hong hong dengan wajah tertegun, dia bukan sedang menbatapnya, melaindkan sedang meloangong dan memikbirkan satu hal.
"Kuburlah dirinya!"
Kembali Bunga iblis dari neraka berkata.
Dengan termangu-mangu dia mengangguk, yaa.
bila tidak dikubur dalam tanah arwahnya tak akan mendapat ketenangan, sudah barang tentu dia tidak menginginkan istrinya yang berada di alam baka tidak memperoleh ketenangan.
Setelah menghela napas panjang, katanya.
"Benar, aku memang harus mengubur jenasahnya..."
Pelan-pelan dia membaringkan badan dan mencium bibir Ku Pek hoa yang telah menjadi dingin dan kaku itu, kemudian ujarnya.
"Bersediakah kau untuk membantuku mengubur jenasahnya?"
"Tentu saja!"
Dengan menggunakan telapak tangannya, si Bunga iblis dari neraka Tan Hong hong melancarkan sebuah pukulan dahsyat keatas tanah untuk membuat liang, kemudian diiringi air mata yang jatuh bercucuran, Ong Bun kim menurunkan jenasah dari Ku Pek hoa ke dalam liang.
Ong Bun kim tidak tahu apakah dia masih mempunyai perasaan atau tidak ketika itu, dia tidak merasa sedih, juga tidak merasa menderita, sebab dalam benaknya cuma ada kekosongan belaka, perasaan yang kosong dalam hatinya.
Dia seakan-akan merasa bahwa dirinya sudah tiada didunia ini lagi, tiada kehadirannya dalam dunia yang ramai.
Detik ini detik dikala jenazah Ku Pek hoa tertutup oleh tanah liat, tak akan terlupakan untuk selamanya, sebab gadis yang telah dicintainya dengan sepenuh hati ini akan terkubur untuk selamanya di tempat itu...
Akhirnya jenasah Ku Pek hoa telah dikubur.
Diatas batu nisannya tertera beberapa huruf yang besar.
"Istri yang tersayang, Ku Pek hoa. tertanda. Ong Bun kim"
Ong Bun kim berlutut didepan kuburan, dalam lamat lamat cuaca, dia seperti melihat wajah Ku Pek hoa yang cantik jelita dan senyumannya yang menarik hati muncul didepan pusaranya...
Segala sesuatunya seperti dalam impian, tapi gadis cantik itu benar-benar telah tiada.
"Ong sauhiap, jangan berlarut bersedih hati!"
Hibur bunga iblis dari neraka dengan lembut.
"Aku... aku tak dapat melupakan dirinya..."
Gumam Ong Bun kim lirih.
"Dia pasti tahu kalau rasa cintamu kepadanya adalah cinta yang murni..."
Pelan-pelan Ong Bun-kim membalikkan wajahnya dan mengalihkan sorot matanya ke atas wajah Tan Hong hong, dalam waktu singkat ia seperti baru teringat akan sesuatu hal.
Dengan termangu-mangu dia memandang kearah orang itu kemudian gumamnya lagi.
"Kau.... kau adalah enci Tan?"
"Benar!"
Mendadak Ong Bun-kim seperti baru berjumpa dengan sanak keluarganya saja, dengan cepat memeluk tubuh Tan Hong-hong sambil serunya? "Enci Tan, Ku Pek hoa telah mati....."
Ya, seperti telah bertemu dengan orang yang memahami perasaannya, semua isi hati nya segera di lampiaskan keluar. -oo0dw0oo--
Jilid 28 YAA Bunga iblis dari neraka memang dapat memahami perasaan Ong Bun kim, diapun merupakan kekasih pertama dari si anak muda itu...
Ketika Bunga iblis dari neraka dipeluk oleh Ong Bnn kim, dia merasa agak tertegun kemudian sahutnya.
"Aku tahu, dia memang sudah tiada..."
"Enci Tan. akulah yang telah mencelakainya.."
Ong Bun kim tak bisa menahan rasa sedih nya lagi, dia menangis tersedu-sedu.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi? Bersediakah kau untuk memberitahukan kepada ku?"
Tanya Bunga iblis dari neraka...
Secara ringkas Ong Bun kim segera menceritakan apa yang telah dialami oleh Ku Pek hoa.
Mendengar kisah tersebut, Bunga iblis dari neraka tak bisa menahan rasa sedihnya lagi, diapun turut mengucurkan air mata.
"Dia sebenarnya, adalah seorang gadis yang baik hati, yang lebih mengesankan lagi adalah dia dapat memberikan apa yang bisa dia berikan kepadamu sebelum ajalnya tiba, keadaan semacam ini bukan setiap orang bisa melakukannya."
"Mengapa orang lain tidak bersedia untuk memaafkannya?"
"Yaa. sekalipun dia pantas mendapat pengampunan, tapi juga tidak patut peroleh pengampunan semacam itu, sebab dia membunuh orang terlalu banyak, jika ia tidak mati maka keadilan dan kebenaran tak bisa ditegakkan di dunia ini.. Ong sauhiap mengertikah kau?"
"Mengapa kau tidak memanggilku adik Ong."
Seru Ong Bun kim dengan cepat !"
"Masalah kita sudah pudar, bila kupanggil dirimu sebagai adik Ong, hal ini hanya akan menambah kesedihanku belaka."
"Tidak enci Tan, aku hendak mengawini dirimu."
"Apa?"
Teriak si bunga iblis dari neraka dengan tertahan "kau hendak mengawiniku?"
"Benar, aku hendak mengawinimu!"
"Tidak, aku tidak pantas!"
"Enci Tan, bagaimana juga kau harus kawin denganku, kalau tidak aku akan menderita, enci Tan, kau harus kawin denganku, aku amat mencintai dirimu..."
"Apakah kau sudah lupa kalau aku sudah tidak suci lagi?"
"Tidak enci Tan, kau masih suci bersih, kejadian itu berlangsung bukan atas dasar kemauanmu sendiri, hatimu tetap masih suci bersih dan sama sekali tak ternoda!"
Saking terharunya, titik air mata sampai jatuh bercucuran membasahi wajah Bunga iblis dari neraka, serunya lagi.
"Tidak, aku tak dapat melupakan peristiwa itu, aku malu terhadap dirimu...."
"Enci Tan, aku bisa lebih mencintai dirimu, harap kau bersedia untuk mempercayaiku..."
Bunga iblis dari neraka segera menghela napas sedih, katanya dengan hambar.
"Ong sauhiap...."
"Panggil aku adik Ong!"
"Ooh. adik Ong, untuk sementara waktu lebih baik kita jangan membicarakan persoalan ini lebih dulu "
Dengan amat sedih Ong Bun kim memeluknya erat-erat, mendadak satu ingatan melintas didalam benaknya, dengan cepat dia berkata.
"Enci Tan, ada satu hal ingin kutanyakan kepadamu."
"Tanyalah!"
"Apakah kau punya ayah ?"
"Tentu saja aku punya ayah !"
"Benarkah ayahmu bernama Tan Liok?"
Sekujur badan Bunga iblis dari neraka gemetar keras, tak keruan lagi la berteriak keras.
"Darimana kau bisa tahu?"
Dari ucapan tersebut, tahulah Ong Bun kim bahwa Tan Liok sudah pasti adalah ayah Bunga iblis dari neraka, maka kembali dia berkata lirih.
"Bukankah ibumu menyeIeweng dengan Pak khek sin mo, sehingga akhirnya dibunuh oleh ayahmu?"
"Betul, darimana kau bisa tahu?"
Teriak Bunga iblis dari neraka semakin terperanjat.
"Kalau begitu, tak bakal salah lagi."
"Apa yang tak bakal salah?"
"Tan Liok adalah ayahmu."
"Ayahku memang bernama Tan Liok, apakah kau tahu sekarang dia berada dimana?"
"Dia berada disini"
"Sungguh?"
"Benar! Apakah kau ingin berjumpa dengannya?"
Bunga iblis dari neraka menghela napas panjang.
"Aaai..aku amat ingin sekali berjumpa dengannya, tapi aku tidak mempunyai keberanian untuk berjumpa dengannya."
"Mengapa?"
"Aku bukanlah putrinya yang baik."
Ketika selesai berkata, tanpa terasa Bunga iblis dari neraka menghela napas sedih.
Mendadak terdengar suara langkah kaki muncul berkumandang datang dan menghampiri ke-arah mereka.
Segera bunga iblis dari neraka mendorong tubuh Ong Bun kim, lalu berpaling memandang, tampaklah.
ada sesosok bayangan manusia sedang berjalan menuju kesana, dimana mereka berdua berada....
Ternyata yang datang adalah Tay khek cinkun, Tiang seng lojin, Giok bin hiap, Tan Lio, Kwan siau ciu serta Kwan Siok kim.
Begitu Kwan Siok kim menjumpai kehadiran Bunga iblis dari neraka, buru-buru teriaknya.
"Bukankah kau adalah enci Tan?"
"Benar ketika berada dalam kuil Siau lim si tempo hari, kita sudah pernah saling bertemu."
Tan Liok dengan kecepatan luar biasa menerjang kehadapan Bunga ibblis dari neraka Tan Hong hong kemudian serunya dengan penuh perasaan.
"Kau.... bukankah kau adalah Hong-ji."
Tan Hong hong tertegun, kemudian sekujur badannya gemetar keras, dengan pandangan bodoh ditatapnya Tan Liok tanpa berkedip, untuk sesaat lamanya saking terharunya dia sampai tak mampu mengucapkan sepatah katapun....
"Benarkah kau adalah Hong ji?"
Sekali lagi Tan Liok berkata. Akhirnya Bunga iblis dari neraka tak dapat menahan rasa sedihnya lagi, serunya.
"Ooh ayah, aku adalah Hong ji!"
Dia segera menjatuhkan diri kedalam pelukan ayahnya dan menangis tersedu sedu, ayah dan anak yang telah berpisah sembilan belas tahun akhirnya dapat saling berjumpa kembali.
Tan Liok segera memeluk badan Bunga iblis dari neraka dalam rangkulannya, sementara titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, dengan pedih bisiknya.
"Oooh putriku yang malang.."
Pemandangan semacam ini sangat rnengharukan setiap orang yang berada disana. Kwan siau ciu juga sedang berbisik kepada Kwan Siok kim dengan suara lirih.
"Diakah yang bernama Bunga iblis dari neraka?"
"Benar!"
"Aaai... seorang nona yang patut dikasihani!"
Dalam pada itu, Bunga lblis dari neraka yarg berbaring dalam pelukan Tan Liok sambil menangis tersedu-sedu itu meronta dan melompat bangun, katanya.
"Ayah, aku... aku sudah bukan seorang putrimu yang baik lagi"
"Aku tahu, Ong Buncu telah menceritakan segala sesuatunya kepadaku... Hong ji, nasibmu terlalu jelek, tapi kaupun terlalu agung, kau. .kaulah anak yaag paling baik!"
"Ayah, kau tak akan memandang rendah diriku?"
"Tentu saja tidak anak bodoh"
Sekali lagi bunga iblis dari neraka menjatuhkan diri kedalam pelukan Tan liok, kemudian menangis tersedusedu, seakan-akan semua penderitaan dan kesedihan yang dialaminya selama ini ingin dilampiaskan semua melalui isak tangis tersebut.
Ong Bun kim berdiri kaku disitu, berdiri kaku tak berkutik.
Pelan-pelan Giok bin hiap berjalan ke hadapannya, kemudian berseru dengan nyaring "Buncu, mari kirta pulang!"
"Pulang kemana?"
Gumam Ong Bun kim.
"Kembali ke gua Bu cing tong!"
"Tidak, aku ingin berada disini, aku tak kembali lagi ke tempat itu..."
"Buncu, apakah kau ingin pergi dengan begitu saja? Beratus-ratus orang anggota perguruan kita masih berlutut dalam ruangan."
Ong Bun kim segera mendengus dingin.
"Hmm! Mereka tak membutuhkan diriku lagi."
Serunya.
"mereka telah membunuh istriku sekarang keinginannya sudah terkabul mau apa lagi orang-orang itu berpura-pura berlutut di sana? Kau boleh suruh mereka bangun, aku tak akan kembali lagi ke sana."
Paras muka Giok bin hiap berubah hebat.
"Buncu, mengapa sempit amat jalan pemikiranmu?"
Tegurnya.
"apalagi Ku Pek-hoa memang pantas untuk mati."
"Omong kosong!"
"Bila ia tidak mati maka keadilan dan kebenaran tak bisa ditegakkan lagi dalam dunia persilatan, perguruan Sinkiam-bun juga tak akan memperoleh kepercayaan orang, bukankah Ku Pek-hoa telah berkata sendiri bahwa kematiannya bukan suatu pengorbanan yang sia-sia? Jika darah yang dialirkan Ku Pek-hoa bisa mendapat ganti kedamaian dan ketenteraman dalam dunia persilatan, bukankah kematian dari Ku Pek-hoa bukan suatu kematian yang sia-sia?"
Mendengar ucapan tersebut, Ong Bun-kim segera menghela napas panjang, katanya kemudian.
"Tapi, dia telah meninggalkan aku untuk selamanya..."
"Dia masih hidup... hidup dalam hati setiap orang, dia akan hidup untuk selamanya. Nah kembalilah, jangan dikarenakankan urusan kecil mengakibatkan urusan besar menjadi terbengkalai, ratusan orang anggota perguruan kita sedang menantikan kedatanganmu."
Ong Bun kim memandang sekejap keatas pusara Ku Pek hoa, akhirnya dia mengangguk, kepada iblis diri neraka Tan Hong hong dia berseri dengan lembut.
"Enci Tan, ikutilah kami aku hendak mengawini dirimu."
"Tidak"
Sahut Bunga Iblis dari neraka dengan tubuh gemetar keras.
"aku tak mau mengikuti dirimu, aku tidak pantas, aku tidak pantas untuk mendampingimu."
Mendadak Kwan Siok kim berjalan ke hadapan Bunga iblis dari neraka, lalu ujarnya.
"Nona Tan, aku adalah istrinya Siok kim, bolehkah aku mengucapkan beberapa patah kata?"
"Kau ingin berbicara soal apa?"
Tanya Bunga ibis dari neraka dengan wajah tertegun.
"Diantara beberapa orang teman wanitanya, Ong Bun kim paling mencintai dirimu, sedang kaupun telah barkorban paling besar untuknya, sekalipun musibah yang menimpa dirimu sangat berat, tapi kesemuanya itu bukan terjadi atas kemauanmu sendiri, kau masih tetap suci bersih, sudah sepantasnya menikah dengannya, lupakan peristiwa yang mengenaskan itu, kalau tidak, dia pasti akan semakin menderita lagi."
"Tidak, aku...."
Akhirnya gadis itu menangis tersedu-sedu. Pelan-pelan Kwan Siok kim berkata lagi.
"Asal kedua belah pihak samasama mencintai, asal cinta yang menjadi dasar hubungan itu kuat, soal perawan atau tidak bukanlah masalah yang teramat penting, tak akan ada seorang manusiapun yang memandang hina dirimu, juga tak akan ada orang yang mencemooh dirimu, kawinlah dengannya..."
"Benar, kau sudah sepantasnya kalau kawin dengan dirinya!"
Kata Tiang seng lojin pula.
"Hong-ji, Ong Buncu bukan manusia seperti itu. lebih baik kau meluluskan permintaannya dan kawinlah dengan dia!"
Kata Tan Liok pula dengan lembut. Kwan Siok kim menggenggam tangan Tan Hong hong kencang-kencang, kemudian katanya.
"Enci Tan, bila kau suka kepadaku, kawinlah dengannya!"
Dihibur oleh sekian banyak orang, kepercayaan pada diri sendiri muncul kembali dalam hati Bunga iblis dari neraka, akhirnya dia manggut-manggut juga.
"Baiklah!" 000OdwO000 BAB 89 ONG BUN KIM menjadi sangat gembira, serunya dengan cepat.
"Enci Tan, kau meluluskan?"
"Yaa, benar!"
"Kalau begitu-mati kita pulang!"
Ajak Giok bin hiap. Ong Bun kim manggut-manggut, setelah memandang sekejap ke arah pusara Ku Pek hoa dengan perasaan berat, diam-diam dia berbisik.
"Adik Hoa, aku pasti akan datang lagi untuk menengok dirimu.."
Akhirnya mereka telah pergi, pergi meninggalkan gundukan tanah yang baru, pusara dari seorang gadis yang bernasib malang.
Rombongan delapan orang dengan cepat telah tiba kembali di dalam gua Bu cing tong.
Sementara itu, beratus-ratus orang anggota perguruan Sin kiam bun masih berlutut terus dalam ruang tengah.
Dengan perasaan yang bimbang Ong Bun-kim berjalan masuk ke dalam ruangan, mengambil kembali pedang Sin kiam itu dari atas tanah, menengok sekejap anggota perguruan yang masih berlutut ditanah dan berdiri termangu-mangu.
Buru-buru Giok bin hiap berseru.
"Suruhlah semua anggota perguruan bangun!"
Ong Bun kim masih tetap berdiri termangu ditempat semula tanpa tahu apa yang mulai diucapkan. Serentak para anggota perguruan Sin kiam bun yang berlutut ditanah itu berderu.
"Harap Buncu suka mengampuni jiwa kami!"
Ong Bun-kim menghembuskan napas panjang, katanya kemudian.
"Kalian semua tidak berdosa, bangunlah"
"Terima kasih Buncu!"
Serentak semua anggota bangkit berdiri dan mengundurkan diri ke sisi arena. Dengan suara berat dan dalam Ong Bun kim berseru kembali.
"Kalian dengarlah baik-baik, Ku Pek-hoa adalah istriku, betul ia telah mati, terhadap kematiannya aku Ong Bun-kim merasa sedih sekali, kenyataan yang keji ternyata tak bisa memaafkan seseorang yang telah bertobat dan kembali ke jalan yang benar."
Dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk mengendalikan perasaan hatinya yang bergolak, kemudian melanjutkan.
"Tapi aku tidak menyalahkan kalian semua betul, kedamaian memang harus diperoleh dengan pengorbanan keringat dan darah, Bersediakah kalian untuk mengorbankan juga keringat dan darah kalian demi kedamaian dalam dunia persilatan?"
"Bersedia..."
"Kami bersedia untuk mengorbankan segala sesuatunya demi mendapatkan keda maian, dalam dunia persilatan..."
Dengan perasaan yang berat Ong Bun-kim manggutmanggut, katanya lebih jauh.
"Aku berani memberi jaminan kepada kalian bahwa aku Ong Bun-kim dengan maksud yang jujur dan mulia akan melindungi partai-partai serta perguruan perguruan kecil, dengan tekad yang membara akan membasmi kaum jahat dan perguruan jahat dari muka bumi, bersediakah kalian untuk bekerja sama denganku?"
"Kami siap mendengarkan perintah dari bun cu..."
Jawab semua orang hampir berbareng. Ong Bun kim berkata lebih jauh.
"Di sini sudah tersedia banyak kamar, kalian boleh beristirahat disekitar sini, aaah benar, kalian masih belum makan. Oleh karena baru hari ini perguruan kita diresmikan, maka sekarang diutus lima puluh orang untuk pergi ke hutan dan berburu..."
Lima puluh orang jago segera dipilih untuk berangkat ke gunung memburu binatang kecil dan burung. Sepeninggal ke lima puluh orang anggotanya itu, Ong Bun kim baru mengumumkan kepada sisa anggotanya.
"Besok akan diselenggarakan pertandingan ilmu silat guna memperebutkan kedudukan, aku pun akan menikah juga dengan tiga orang nona, ketiga orang nona itu adalah Tan Hong hong, Lan Siok ling serta Kwan Siok kim..."
Setelah mengumumkan perkawinannya, kembali Ong Bun kim bertanya.
"Tapi yang manakah yang harus menjadi istri resmiku?"
"Sementara nona Kwan yang merupakan istri sah mu menurut petunjuk pedang sin kiam, cuma aku rasa ketiga orang nona itu tak bisa memikirkan soal urutan, lebih baik ketiga-tiganya dianggap punya kedudukan yang sama saja"
Begitulah, Ong Bun kim lantas menitahkan kepada Tiang seng lojin untuk menyelenggarakan pertandingan ilmu silat mulai besok pagi, sementara ketua dari enam perguruan besar juga mohon diri kepada Ong Bun kim...
oooooOdwOoooo BAB 90 KEESOKAN harinya...
Segala sesuatunya dapat berjalan menurut rencana, setiap orang anggota perguruan secara resmi mencoba kepandaian silatnya, ada juga diantara mereka yang merasa ilmu silatnya terlampau rendah dan tidak ikut serta di dalam pertandingan.
Akhirnya setelah dilakukan seleksi, yang berhak untuk mengikuti pertandingan itu ada enam tujuh puluh orang.
Sampai tengah hari kemudian, Tiong Seng lojin baru serahkan hasil pertandingan itu kepada Ong Bun kim.
Setelah menerimra daftar itu Ontg Bun kim memanqdang sekejap sergenap anggota perguruannya, kemudian berkata.
"Pertandingan ilmu silat telah selesai, sekarang perayaan perkawinanku akan diselenggarakan, setelah itu baru ditetapkan tingkat kedudukan dalam partai!"
Maka dimeriahkan oleh para anggota perguruannya, Ong Bun kim melangsungkan perkawinannya dengan ketiga orang nona...
Upacara perkawinan itu sendiri sangat sederhana dan singkat tapi suasana cukup meriah.
Seusai upacara perkawinan, Ong Bun kim baru berseru dengan suara dalam "Sekarang, tibalah saatnya untuk mengumumkan tingkat kedudukan didalam Perguruan!"
Suasana menjadi hening dan sepi, semua orang mengalihkan sorot matanya kearah ketuanya. Ketika Ong Bun-kim membuka daftar nama tersebut, maka nama pertama yang tercantum di sana adalah.
"Tan Liok !"
Ong Bun-kim sama sekali tidak merasa tercengang oleh hal tersebut, karena dia tahu ilmu silat yang dimiliki Tan Liok memang benar-benar luar biasa lihaynya Maka sambil mengayunkan pedang Sin kiam dia berseru.
"Tan Liok!"
"Tecu berada disini."
"Menurut hasil pertandingan, ternyata ilmu silat yang kau miliki paling tinggi maka Ong Bun kim mewakili Sin kiam mengangkat dirimu sebagai Hu buncu wakil ketua!"
"Soal ini tecu tak berani menerimanya."
"Kenapa?"
"Tecu tak mampu menjalankan tugas sebagai seorang wakil ketua..."
"Tan Liok, kau berani mernbangkang perintah?"
Bentak Ong Bun kim.
"Tecu tidak berani"
"Terima kedudukan ini!"
Terpaksa Tan Liok menjatuhkan diri berlutut seraya katanya.
"Terima kasih atas pengangkatan ini."
Dengan suara dalam Ong Bun kim berseru kembali.
"Kedudukan sebagai Hu Buncu adalah suatu kedudukan yang sangat terhormat, bersediakah kau untuk bersumpah setia dengan buncu dan memimpin segenap anggota perguruan?"
"Tecu bersedia!"
Setelah mengangkat sumpah, Tan Liok segera bangkit berdiri. Ong Bun kim melihat lagi ke daftar nama, kali ini dia agak tertegun sejenak sebelum serunya.
"Thia Eng!"
"Tecu ada disini."
Jawab Thia Eng sambil melompat maju kedepan arena.
"Ilmu silatmu berada sedikit dibawah Hu buncu, maju untuk menerima pengangkatan!"
Thia Eng segera maju dan menjatuhkan diri berlutut diatas tanah, katanya.
"Tecu siap menantikan perintah!"
"Ong Bun kim mewakili Sin kiam mengangkat dirimu menjadi congkoan dari perguruan kita, tugasmu adalah mengurusi semua persoalan besar maupun kecil dalam perguruan ini!"
"Terima, kasih!"
"Kau bersedia untuk berbakti kepada ketua, wakil ketua dan segenap anggota perguruan"
"Bersedia!"
Setelah mengangkat sumpah, Thia Eng segera mengundurkan diri dari situ. Ong Bun kim memandang lagi daftar nama itu, kemudian berseru lantang.
"Giok bin hiap, Tiang seng lojin."
"Tecu ada di sini!"
Dari depan ruangan segera melompat keluar Giok bin hiap serta Tiang seng lojin. Dengan suara dalam Ong Bun kim berseru.
"Dalam suatu perguruan tak boleh ketinggalan ketua pelaksanaan disiplin maka Ong Bun kim atas nama Sin kiam mengangkat kalian berdua sebagai tianglo penegak disiplin, barang siapa yang melanggar peraturan baik itu Buncu sendiri atau anggota perguruan, pelaksanaan hukuman diputuskan oleh kalian berdua!"
"Terima kasih !"
"Bersediakah kalian berdua bertindak adil dan jujur demi ditegakkannya wibawa perguruan?"
"Bersedia!"
Setelah kedua orang itu mengangkat sumpah dan mengundurkan diri, Ong Bun kim baru memandang lagi ke arah daftar sambil berseru.
"Kwan Siau ciu!"
Kwan Siau ciu mengiakan dan melompat ke depan. Dengan suara lantang Ong Bun kim segera berseru. Ong Bun kim mewakili Sin kiam mengangkat dirimu menjadi Sin tong tongcu!"
"Terima kasih!"
"Hian ih lihiap, Ong Bun kim mewakili Sin kiam mengangkat dirimu menjadi Lwe tong tongcu!"
"Terima kasih!"
"Tay-khek-cinkun. Ong Bun-kim mewakili Sin-kiam mengangkat dirimu menjadi Kun tong tongcu!"
"Terima kasih!"
Ong Bun-kim memandang lagi daftar nama itu, terbaca olehnya pada nomor ketujuh tercantum nama Hiat-mo jiu (tangan sakti iblis darah) Can Lip pin. Maka dengan suara lantang Ong Bun kim berseru.
"Can Lip-pin!"
"Tecu siap!"
Dari balik rombongan manusia dalam ruangan berjalan keluar seorang kakek berusia lima puluh tahunan jang berperawakan kurus kering, pelan-pelan dia berjalan ke depan altar sembari berkata.
"Tecu siap menerima perintah!"
"Kuangkat dirimu menjadi Gwa-tong tongcu!"
"Terima kasih..!"
Kata-kata itu belum lagi selesai diucapkan, tubuh Hiatmo jiu secara tiba-tiba sudah meluncur ke arah Ong Bun kim, dalam sekali kelebatan saja dia sudah berada didepan si anak muda itu sembari melepaskan sebuah totokan.
Hiat mo jiu bisa melancarkan serangan terhadap Ong Bun kim secara tiba-tiba, kejadian ini sesungguhnya merupakan suatu peristiwa yang sama sekali tak terduga oleh siapapun.
Dalam jarak sedekat ini apalagi dalam keadaan tidak siap, bagaimana mungkin Ong Bun kim bisa meloloskan diri dari serangan itu?
Bayangan manusia berkelebat lewat, dengusan tertahan segera berkumandang memecahkan keheningan.
Ditengah dengusan yang tertahan, tubuh Ong Bun kim segera roboh terjungkal kaatas tanah, sementara Hiat mo jiu segera menggerakkan tangan kirinya memeluk Ong Bun kim kedalam rangkulannya.
"Pingin mampus"
Bentak Tan Liok.
Selesai berkata dia sudah meluncur ke depan sembari melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke-tubuh Hiat mo jiu.
Sementara Tan Liok melancarkan serangan, Thia Eng juga turut melompat ke depan, sebuah pukulan dahsyat segera dilancarkan kearah Hiat bo jin diiringi angin pukulan dahsyat.
Gerak serangan yang dilancarkan kedua orang ini benarbenar luar biasa cepatnya.
"Tahan!"
Bentak Hiat mo jiu sambil menggunakan tangan kirinya untuk menangkis datangnya serangan itu.
Bentakan Hiat mo jiu yang sangat keras ini seketika itu juga membuat Tan Liok Eng dan Thia Eng sama-sama menarik kembali serangannya sambil mundur.
Tampak selapis hawa napsu membunuh yang amat tebal menyelimuti seluruh wajah Hiat mo jiu.
Dengan suara keras Tan Liok membentak.
"Lepaskan dia"
"Jangan mimpi !"
Tiang seng lojin tertawa dingin katanya pula.
"Sobat kau bisa menyelinap ke dalam perguruan kami serta melaksanakan rencana sekeji ini, sungguh hal ini merupakan suatu tindakan yang jauh diluar dugaan kami, entah siapakah dirimu? Apakah berasal dari perguruan Yu leng bun?"
"Benar!"
"Melaksanakan tugas ini atas perintah dari Yu leng lojin?" ..
"Benar!"
"Hmm Tindakanmu memang betul-betul luar biasa, sobat? lebih baik lepaskan tawananmu itu"
"Tidak bisa !"
"Jadi kau anggap bisa kabur dari sini?"
Hiat mo jiu segera tertawa dingin.
"Heehh... heeeh.... heehh.... dengan Ong Bun kim ditanganku kenapa aku takut tak bisa pergi dari sini?"
Seraya berkata dia lantas beranjak dan melangkah maju kedepan.
Beratus-ratus orang anggota Sin kiam bun segera bergerak maju dengan hawa napsu menyelimuti seluruh wajahnya, sorot mata yang tajam tertuju kewajah Hiat mo jiu.
Tan Liok kembali melompat kedepan sambil menghadang jalan perginya, lalu membentak keras.
"Kau benar-benar tak mau lepaskan dirinya?"
Tanpa merasa takut barang sedikitpun juga, Hiat mo jiu tertawa dingin.
"Heeh... heehh... heehh Hu buncu, bila kau berani turun tangan maka yang mampus lebih dulu adalah Ong Bun kim, jika tidak percaya, silahkan untuk mencobanya!"
Tan Liok serta segenap jago lainnya merasa gusar sekali sehingga tubuhnya gemetar keras, tetapi tak seorangpun diantara mereka yang berani turun tangan, karena semua orang tahu bahwa tindakan yang gegabah bisa berakibat kematian konyol dari Ong Bun kim.
Sambil tertawa dingin kembali Hiat mo jiu berseru.
"Ayoh cepat minggir !"
Para anggota Sin kiam bun yang menghadang jalan perginya itu pelan-pelan menyingkir ke samping dan memberi sebuah jalan lewat.
Hiat mo jiu tertawa seram, selangkah demi selangkah dia berjalan menuju ke luar ruangan.
Mendadak ....
Sesosok bayangan diam-diam tanpa menimbulkan sedikit suarapun menyelinap ke depan dan menyerang Hiat mo jiu, sedemikian cepatnya gerakan tubuh orang itu sehingga tampak bayangan manusia berkelebat lewat, sebuah pukulan dahsyat telah dilontarkan.
Agaknya Hiat mo jiu sama sekali tidak menduga sampai ke situ, buru-buru dia mengigos ke samping untuk menghindarkan diri, tapi sesosok bayangan manusia lain telah meluncur datang sambil melepaskan juga sebuah pukulan dahsyat.
Kedua sosok bayangan manusia yang meluncur datang itu bukan lain adalah Kwan Siau ciu serta Tiang seng lojin.
Dengusan tertahan segera berkumandang memecahkan keheningan, lalu kelihatan Hiat mo jiu mundur ke belakang dengan sempoyongan, setelah itu muntahkan darah segar.
Dikala Hiat mo jiu muntah darah itulah tangannya yang mencengkeram jalan darah Ong Bun km segera diayunkan pula kebawah.
"Huaaak...!"
Ong Bun kim segera muntahkan juga segumpal darah kental.
Oleh peristiwa tersebut, Kwan Siau ciu dan Tiang seng lojin menjadi amat terperanjat, buru buru mereka menarik diri dan mundur kebelakang.
Dengan cepat Hiat mo jiu menyeka darah yang menodai ujung bibirnya, selapis hawa napsu membunuh yang mengerikan dengan cepat menyelimuti seluruh wajahnya.
"Jika kalian berani turun tangan lagi, jangan salahkan kalau kubunuh dirinya."
Demikian ia mengancam.
Tampak darah kental masih saja muntah ke luar dari mulut Ong Bun kim, keadaannya sungguh mengerikan sekali, hal mana membuat segenap anggota perguruan Sin kiam bun yang lain tak berani turun tangan lagi secara gegabah.
Hiat mo jiu tertawa dingin, selangkah demi selangkah dia berjalan keluar dari sana.
Dalam keadaan demikian para jago yang terhimpun dalam perguruan Sin kiam bun cuma bisa menggertak giginya keras-keras, selain itu boleh dibilang mereka tak mampu berbuat apa-apa lagi.
Dengan suatu gerakan yang cepat Hiat mo jiu mengempit tubuh Ong Bun kim kemudian melompat keluar dari gua Bu cing tong, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.
Sampai lama sekali, para jago perguruan Sin-kiam bun hanya bisa berdiri termangu-mangu di sana tanpa melakukan sesuatu gerakan apapun.
Giok bin hiap segera memungut pedang Sin-kiam yang tergeletak ditanah itu, kemudian serunya.
"Kejadian ini benar-benar diluar dugaan siapapun!"
Ucapan tersebut dengan cepat menyadarkan kembaIi kawanan jago lainnya. Tiang seng lojin berkata pula.
"Yaa, sungguh tak disangka kalau Yu leng lo-jin bisa mempunyai niat sebusuk ini!"
"Sekarang, apa yang harus kita lakukan?"
Ratusan orang jago dari perguruan Sin kiam bun itu segera berteriak bersama.
"Kita cari Yu leng lojin dan menuntut balas!"
"Kita tolong Buncu..."
"Beradu jiwa dengan Yu leng Iojin !"
Darah manusia terasa mendidih, teriakan emosi menggema di seluruh angkasa sehingga kedengarannya benar-benar mengerikan sekali. Tiang seng lojin segera mengulapkan tangannya, kemudian bersaeru.
"Harap saubdara sekalian tenang!"
Suasana yaag semula gaduh dan penuh emosi itu pelanpelan menjadi tenang kembali setelah mendengar seruan dari Tiang seng lojin itu, dalam waktu singkat suasana telah menjadi hening kembali.
Dengan suara dalam Tiang seng lojin lantas berseru.
"Kalian tak usah terlampau emosi, sekali pun Buncu perguruan kita sudah terjatuh ke tangan Yu leng lojin, akan tetapi kita belum dapat membalas dendam dengan secara terang-terangan."
"Kenapa?"
Tanya Giok bin hiap.
"Seandainya kita mencari balas secara terang-terangan padahal Ong Bun kim masih berada ditangannya, maka yang bakal mati duluan bukan Yuleng lojin melainkan adalah Buncu perguruan kita!"
"Lantas bagaimana menurut maksudmu?"
"Asal kita bisa menghadapi persoalan ini secara jitu, maka Buncu kita hanya akan menemui rasa kaget tanpa ada ancaman jiwa."
"Bagaimana caranya?"
"Kita cukup mengirim dua orang saja"
"Siapa dan siapa?"
"Hu buncu mempunyai dendam pribadi dengan Yu leng lojin, ia boleh pergi memberi pertolongan sedangkan yang lain adalah Thia Eng congkoan, kecuali dua orang ini yang memiliki ilmu silat sangat lihay, tak seorang manusiapun yang sanggup menghadapi Yu leng lojin."
OoooOdwOoooo BAB 90
"KALAU begitu. biar aku saja yang pergi."
Seru Tan Liok.
"Aku saja yang lebih baik"
Seru Thia Eng cepat.
"pertama, semasa buncu tak ada, hu buncu yang harus menanggung semua persoa lan perguruan. kedua, aku pun tidak takut untuk menghadapi serangan racun dari Yu leng lojin!"
"Betul, menang lebih cocok kalau Thia congkoan yang pergi"
Sela Tiang seng lojin pula.
"Bagaimana kalau kita tetapkan begini saja?"
"Aku harap Thia congkoan bisa melaksanakan tugas menurut keadaan yang sedang dihadapi!"
"Aku dapat melakukannya, jika bdalam sepuluh hdari aku belum paulang, itu berabrti aku sudah tertimpa sesuatu kejadian yang berada diluar dugaan...!"
Seusai berkata, buru-buru dia meluncur ke pintu depan.
Dengan suatu gerakan yang amat cepat Thia Eng sudah keluar dari gua Bu cing tong, sementara dia sedang berlarian, mendadak terdengar seseorang memanggil dari belakang.
"Thia congkoan!"
Mendengar panggilan itu Thia Eng segera berhenti seraya membalikkan tubuhnya, ternyata orang yang memanggilnya itu bukan lain adalah Yu cing! Thia Eng segera merasakan hatinya bergetar keras, serunya.
"Nona Yu, ada urusan apa?"
Selapis rasa sedih dengan cepat menyelimuti seluruh wajah Yu Cing, bisiknya lirih.
"Kau..... baik-baiklah menjaga diri."
Dia seperti ada beribu-ribu patah kata yang hendak diutarakan keluar, akan tetapi tak tahu dari manakah dia harus mulai dengan pembicaraan itu, sehingga dengan wajah murung dan sedih perempuan itu hanya diam berdiri termangu disitu.
Mendadak Thia Eng maju kedepan, dia menggenggam tangannya erat-erat, lalu serunya agak emosi.
"Nona Yu..."
Pelan-pelan Yu Cing menundukkan kepalanya, lalu berbisik.
"Aku....aku sangat menguatirkan keselamatanmu !"
"Nona Yu!"
Kata Thia Eng agak emosi.
"aku pasti dapat kembali lagi dengan selamat, aku meluluskan keinginanmu dan pasti kembali lagi dengan segar bugar!"
Dibalik ucapan tersebut, terkandung nada cinta dan kasih sayang yang suci bersih.
"Aku pasti akan menantikan kedatanganmu kembali!"
Kata Yu cing kemudian dengan sedih.
"Baik-baiklah kau menjaga diri."
"Aku dapat menjaga diri baik-baik, pergilah!"
Pelan-pelan Thia Eng melepaskan genggaman tangannya dan menatap wajah gadis itu lekat-lekat, perasaan berat untuk berpisah muncul diparas muka kedua orang itu, detik-detik terakhir sebelum perpisahan ini berlangsung, tampaklah semua cinta kasih mereka berdua terlampiaskan keluar lewat tatapan mata...
Akhirnya dia memutar badannya dan melompat pergi, tinggal Yu Cing masih berdiri di depan gua Bu cing tong sambil mengawasi bayangan punggungnya hingga lenyap dari pandangan mata.r...
Entah berapta lama sudah lewat, akhirnya Ong Bun kim tersadar kembali dari pingsannya, dia merasakan sekujur badannya sakit bagaikan diiris-iris dengan pisau tajam, lalu menjumpai tubuhnya sedang di kempit dibawah ketiak orang dan dibawah lari kencang.
Pelan-pelan ia teringat kembali dengan peristiwa yang telah terjadi, tiba-tiba teringat kembali bagaimana ia ditotok jalan darahnya oleh Hiat mo jiu, kemudian ia muntah darah dan tidak sadarkan diri.
Ong Bun kim adalah seorang pemuda yang pintar dan tahu diri, tentu saja diapun mengerti apa yang sedang terjadi saat ini, mula-mula secara diam diam bawa murninya segera dikerahkan untuk mengobati luka dalam yang dideritanya itu.
Akan tetapi tangan kanan Hiat mo jin masih mencengkeram diatas jalan darahnya, hal ini menyebabkan ia tak leluasa untuk memulihkan kembali segenap tenaga dalam yang dimilikinya.
Ia merasa paling banter cuma dapat menghimpun tenaga dalamnya sebesar delapan bagian belaka.
Ketika Ong Bun kim merasakan tenaga dalamnya sudah pulih kembali sebesar delapan bagian, iapun lantas bersiap sedia melancarkan serangan dahsyat yang mematikan.
Dengan suara dingin dia lantas menegur.
"Sobat, sebenarnya siapakah kau?"
Ketika Hiat mo jiu menyaksikan Ong Bun kim telah sadar kembali dari pingsannya, ia segera tertawa dingin tiada hentinya.
"Ong Buncu, kau tak pernah menyangka bukan?"
"Benar, kejadian ini boleh dibilang sama sekali di Iuar dugaanku, sebenarnya siapakah kau?"
"Seorang anggota dari Yu leng bun dibawah pimpinan Yu-leng lojin..."
Sahut orang itu sambil tertawa seram. Mendengar jawaban tersebut, Ong Bun kim merasakan hatinya bergetar keras, tanpa terasa dia berseru.
"Oooh, dia?"
"Betul?"
"Kejadian ini benar-benar berada diluar dugaan aku orang she Ong... tak kusangka Yu leng lojin berani berbuat serendah dan selicik ini."
Belum habis perkataan itu diucapkan, mendadak Ong Bun-kim mengayunkan telapak tangannya dan melancarkan sebuah tenaga pukulan yang telah disertai segenap kekuatan yang dimiliki anak muda itu, agaknya dia sudah bertekad untuk beradu jiwa.
Rupanya Hiat-mo-jiu sendiripun sama sekali tidak menyangka kalau Ong Bun-kim bakal melakukan tindakan seperti ini.
Maka dikala dia menyadari kalau Ong Bun kim sedang melancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah tubuhnya, dengan perasaan terperanjat dia lantas membentak.
"Kau berani!"
Tangannya yang mencengkeram jalan darah Ong Bun kim itu segera diayunkan kebawah dan melancarkan sebuah pukulan dahsyat.
"Blaamm...."
Suatu benturan keras terjadi, tubuh Ong Bun kim sendiripun terhajar telak pula oleh serangan yang dilepaskan oleh Hiat mo-jiu tersebut.
Hiat mo jiu sendiri segera muntah darah segar tubuhnya terjungkal roboh keatas tanah.
Ong Bun kim yang berada didalam cekalannya juga segera terlepas dari cekalannya.
Ong Bun kim sendiri mencelat kebelakang kemudian muntah darah sampai tujuh delapan kali, tak ampun dia roboh tak sadarkan diri.
Akibat dari serang menyerang yang terjadi secepat kilat itu, kedua belah pihak segera menderita luka parah dan berbaring diatas tanah tak mampu berkutik lagi.
Cuma Ong Bun kim pada dasarnya memang sudah terluka dan belum sembuh, apalagi jalan darah yang dihantam oleh Hiat mo jiu dalam serangannya tadi adalah jalan darah Mia bun hiat maka membuat luka yang diderita pemuda itu jauh lebih parah daripada luka yang diderita oleh Hiat mo jiu sendiri.
Lama, lama sekali, akhirnya Hiat mo jiu menggerakkan badannya dan bangkit berdiri, lalu setelah membesut darah yang menodai ujung bibirnya, dia mengangkat tubuh Ong Bun kim sambil sumpahnya dengan menggertak gigi.
"Keparat sialan, coba kalau aku bukan mendapat perintah dari Buncu, sudah kujagal dirimu sedari tadi!"
Dia mengerahkan tenaganya untuk menyembuhkan luka yang dideritanya, setelah itu sambil membawa tubuh Ong Bun kim melanjutkan perjalanannya ke depan.
Meskipun Ong Bun kim telah berusaha keras untuk melakukan adu jiwa, tapi akhirnya toh dia gagal untuk meloloskan diri dari cengkeraman iblis...
Sepanjang jalan, Hiat mo jiu pun tidak membangunkan si anak muda itu lagi....
Dalam keadaan sekujur badan sakit bagaikan remuk, Ong Bun kiam tersadar kembali dari pingsannya...
Ketika matanya terbuka ketika itu dia hanya menjumpai suasana di sekeliling tempat itu gelap gulita, seluruh badannya lemas tak bertenaga.
Dia ingin membebaskan jalan darahnya dengan menyalurkan tenaga dalamnya, sayang beberapa buah jalan darah penting di tubuhnya sudah tertotok, sehingga ia tak dapat memenuhi keinginannya itu.
Pelan-pelan dia bangkit berdiri, lalu mencoba untuk meraba sekeliling tempat itu, dia merasa bahwa tubuhnya seakan-akan sedang disekap didalam sebuah rumah penjaga yang kuat sekali, sekeliling ruangan terdapat terali besi yang besar dan kuat.
Ong Bun kim sadar bahwa dia pasti berada didalam perguruan Yu leng bun.
Mendadak...
Suara permainan harpa yang amat melengking berkumandang dari dalam penjara baja itu, itulah irama Si sim ci ki yang membetot sukma, setelah itu terdengar pula suara gelak tertawa yang menyeramkan berkumandang memecahkan keheningan.
Jelas tertawa yang menyeramkan itu tak lain muncul dari mulut Iblis cantik pembawa maut.
Dalam hati Ong Bun kim menggigil keras, dia menjumpai bahwa suara tersebut berasal dari sebelah kanan tempat dirinya disekap sekarang.
Dia berjalan menuju ke arah kanan, dalam kegelapan secara lamat-lamat ia menyaksikan ada sesosok bayangan hitam sedang menari-nari dengan kalap.
Bukankah orang itu adalah Ibiis cantik pembawa maut.
Sekali lagi Ong Bun kim merasakan sekujur badannya menggigil keras karena menahan emosi.
Suara harpa lambat laun semakin pudar dan akhirnya lenyap dari pendengaran.
Bayangan tubuh Iblis cantik pembawa maut yang sedang menari dengan kalap pun turut berhenti.
Suasana didalam penjara baja Itu pelan-pelan pulih kembali dalam keheningan yang mencekam.
Lama, lama sekali.
Ong Bun kim baru berseru keras.
"Cici !"
Ketika mendengar suara panggilan itu iblis cantik pembawa maut kelihatan sangat terkejut, kemudian dengan suara gemetar tegurnya;
"Siapakah disitu?"
"Enci, aku adalah Ong Bun kim?"
"Apa? Kau?"
"Benar, Tempat ini dimana letaknya? Apakah masih berada dalam ruang bawah tanah Bu lim hong itu?"
"Bukan, tempat ini adalah penjara bawah tanah dari Yu leng bun. kau... kau... apakah kau kena ditawan oleh mereka?"
"Benar?"
"Kenapa?"
Ong Bun kim segera menceritakan pengalamannya secara ringkas, kemudian diapun melanjutkan.
"Cici aku telah menemukan juga buah Hiat li untukmu!"
"Sungguh?"
Jerit si iblis cantik pembawa maut dengan perasaan amat terkejut.
"Betul!"
"Dimana benda itu? Cepat berikan kepadaku."
Ong Bun kim mengeluarkan sebuah botol yang berisikan buah Hiat li dan diserahkan kepadanya.
"Cici, kau harus berhati-hati, sebab benda ini sangat beracun sekali..."
Dari balik tirai besi dia angsurkan botol tersebut kepadanya, setelah menerima botol itu Iblis cantik pembawa maut segera tertawa terbahak-bahak dengan girangnya.
"Haahh... haaahha... haaahh... aku bisa tertolong, aku bisa tertolong..."
Rasa Kejut dan gembira berkecamuk menjadi satu didalam hati perempuan ini, sehingga untuk sesaat lamanya dia seperti lupa daratan. Dengan perasaan terkesiap Ong Bun kim segera bertanya.
"Enci. benarkah buah Hiat li tersebut dapat menyelamatkan jiwamu?"
"Benar, bukan saja aku bisa tertolong, Bu-khek lojin juga ikut tertolong."
Belum habis ucapan dari Iblis cantik Pembawa maut itu, mendadak...
Suara langkah manusia berkumandang memecahkan keheningan yang mencekam ruangan penjara itu, menyusul kemudian muncul serentetan cahaya tajam yang memancar masuk kedalam ruangan itu.
Tampak ruangan di dalam penjara itu sudah dibuka orang, menyusul kemudian muncul dua orang manusia.
"Bun kim, mereka hendak membawamu pergi..."
Bisik iblis cantik pembawa maut.
Belum habis ucapan tersebut diutarakan, dua sosok bayangan manusia itu sudah tiba didepan penjara.
Terdengar bunyir gemerincing yatng sangat nyariqng bergema memercahkan keheningan, pintu penjara yang terbuat dari baja itu pelan pelan terbuka.
Dua orang manusia Yu leng jin itu masuk ke dalam penjara, kemudian sambil tertawa dingin menggiring tubuh Ong Bun kim dari kanan kiri dan menyeretnya keluar dari kamar ruang penjara.
Paras muka Ong Bun kim segera berobah hebat, bentaknya.
"Hai mau apa-kalian?"
"Buncu kami ada undangan untukmu!"
"Beginikah caranya untuk mengundang? Lepas tangan, aku Ong Bun kim bisa berjalan sendiri, aku mengikuti dibelakang kalian berdua!"
Kedua orang itu segera melepaskan cekalannya dan satu didepan yang lain dibelakang menggiring Ong Bun kim berjalan keluar dari dalam ruangan bawah tanah itu.
Setelah keluar dari ruangan, mereka berjalan lagi sekian lama dilorong bawah tanah yang berliku-liku, tak lama kemudian sampailah mereka didepan gua Yu leng bun dimana Yu leng lojin bersemayan.
Yu leng jin yang berada di tempat itu segera berseru dengan suara yang dalam.
"Lapor Buncu, Ong Bun kim telah datang menghadap!"
Dari dalam ruangan segera terdengar suara gelak tertawa nyaring bergema memecahkan keheningan, suara itu berasal dari mulut Yu leng lojin dan kedengaran mengerikan sekali.
Diam-diam Ong Bun-kim bergidik, ia tahu nasibnya lebih banyak berbahayanya dari pada beruntung.
"Masuk!"
Seru Yuleng lojin kemudian sambil menghentikan kembali gelak tertawanya.
"Baik!"
Yu leng jin yang berada didepan segera menyingkir kesamping memberi jalan lewat, sementara Yu-leng jin yang berada di belakang mendorong Ong Bun kim kedepan.
Dengan sempoyongan Ong Bun kim segera menerjang masuk kedalam pintu ruangan itu.
Menanti dia dapat berdiri tegak kembali maka tampaklah Yu leng lojin telah berada di hadapannya, sedangkan dibelakang tubuhnya tampak ada dua sosok bayangan manusia sedang berdiri sambil bersiap siaga.
Sekarang Yu leng lojin sudah dapat bangkit berdiri, rupanya dari kitab Hek mo keng yang berhasil diperolehnya itu, ia telah berhasil memahami cara untuk menembusi nadi-nadinya yang kaku, sekalipun sekarang masih lemas, akan tetapi boleh dikata sudah mendekati taraf penyembuhan.
Yu leng lojin tertawa seram.
"Heeh.....heehh....heeh.... Ong Buncu sungguh tidak disangka kita akan berjumpa lagi ditempat ini!"
Ong Bun kim tertawa dingin.
"Betul!"
Sahutnya.
"So buncu memang seorang yang hebat sekali!"
"Ong Buncu!"
Kata Yu leng lojin sambil tertawa dingin.
"ketika perguruanmu diresmikan tempo hari, maaf kalau aku orang she So tak dapat ikut menghadirinya."
"Tidak berani!"
Sahut Ong Bun kim ketus "kau telah mengutus anak buahmu untuk turut serta dalam upacara itu, kehadirannya jauh lebih mengharukan dari pada kehadiranmu sendiri, entah So buncu hendak menghadapi diriku dengan cara apa?"
"Ooh...jangan berkata begitu serius, aku orang she So ada urusan hendak mengajakmu untuk berunding!"
"Katakan saja terang terang!"
"Aku minta kau bersedia masuk menjadi anggota perguruanku"
"Soal itu, aku rasa tak nanti Ong Bun kim bersedia melakukannya""
Mendengar jawaban itu Yu leng lojin segera tertawa dingin, katanya lagi.
"Jika kau tak mau menyanggupi permintaanku ini, maka semua anggota perguruanmu akan mampus semua ditanganku."
Ucapan tersebut diucapkan dengan penuh kobaran hawa napsu membunuh, bagaimanapun juga Ong Bun kim merasakan hatinya sangat berat sehingga tanpa terasa bulu romanya pada bangun berdiri.
Sambil tertawa dingin Yu leng lojin kemudian berkata.
"Ong buncu apakah kau tidak percaya?"
Semenjak semula Ong Bun kim sudah menduga kalau Yo leng lojin bakal menggunakan cara yang licik tapi keji untuk menghadapinya, kini dia yakin Yu leng lojin tak akan mampu membunuh segenap anggota perguruannya, sebab hal ini tidak masuk diakal.
Kecuali kalau telah menggunakan ilmu hipnotis Gi sin tay hoatnya untuk mempengaruhi orang.
Teringat kembali akan ilmu hipnotis Gi sin tay hoat tersebut, tanpa terasa Ong Bun kim merasakan sekujur badannya bergidik, mungkinkah Yu leng lojin akan menghadapinya dengan mempergunakan ilmu sesat tersebut sehingga ia kehilangan kesadarannya dan membunuh habis segenap anak muridnya dalam perguruan Sin kiam bun.
Seandainya dugaannya itu tidak meleset, akibat dari peristiwa tersebut benar-benar akan mengerikan sekali.
oooOdwOooo BAB 91 BERPIKIR sampai ke situ Ong Bun kim benar-benar merasakan hatinya amat bergidik, sambil menggertak gigi menahan diri serunya kemudian agak sangsi.
"Apakah kau hendak mempergunakan ilmu hipnotis Gi sin tay hoat untuk mempengaruhi orang?"
"Tidak usah, apalagi meski Ong Buncu mengetahui cara penggunaan ilmu Hipnotis Gi sin tay hoat tersebut, sayang terhadap manusia semacam kau tak akan memberi manfaat yang terlalu besar, oleh karena itu aku mempunyai sebuah cara lain yang lebih bagus dari Gi sin tay hoat untuk mempraktekkan kehebatannya!"
"Apakah caramu itu, aku Ong Bun kim ingin sekali mendengar keterangan!"
Yu leng lojin tertawa dingin, kemudian katanya.
"Dengan mengorbankan waktu selama hampir dua puluh tahun lamanya, aku telah berhasil menciptakan sejenis pil yang dinamakan Hian sim wan, barang siapa yang menelan pil tersebut maka keadaanya tidak akan jauh berbeda dengan orang yang terpengaruh oleh ilmu Gi sin tay hoat, cuma keistimewaannya setiap hari dia akan bernapsu sekali untuk membunuh paling tidak dua puluh empat orang..."
"Apa?"
Ketika mendengar keterangan tersebuut Ong Bun kim merasakan sekujur badannya menggigil keras, berita itu betul-betul merupakan suatu berita yang mesgerlkan sekali, sebab seandainya apa yang dikatakan itu menjadi suatu kenyataan maka akibatnya benar-benar akan mengerikan sekali.
Yu leng lojin tertawa seram, katanya kemudian.
"Oleh sebab itu, aku minta kau bersedia untuk bekerja sama dengan diriku dan menjagoi seluruh dunia persilatan, kalabu tidak. Heeehhd..... heeeh....a heeehhh.... tebrpaksa aku akan mempersilahkan kau untuk merasakan pil Huan sim wan tersebut!"
Ong Bun kim tertawa dingin, katanya kemudian.
"Kerja sama macam apakah itu? Lebih baik kau terangkan lebih dahulu..."
"Kau melaksanakan semua perintah yang kuberikan, pertama sekarang juga menulis surat kepada wakil ketuamu agar membawa segenap kekuatan perguruan yang ada untuk menyerang partai Siau lim...."
Mendengar perkataan itu, paras muka Ong Bun kim segera berubah hebat, katanya.
"Baru permintaan yang pertama, aku Ong Bun kim sudah tak mampu untuk melaksanakannya"
"Kalau begitu, kau tidak bersedia untuk bekerja sama denganku?"
Seru Yu leng lojin dengan wajah berubah.
"Syarat yang kau ajukan itu tak mungkin bisa diterima oleh aku orang she Ong?"
Sekali lagi paras muka Yu leng lojin berubah sangat hebat, katanya dengan menyeramkan.
"Ong buncu, kau tampik arak kehormatan dengan memilih arak hukuman? Hanya manusia yang pintarlah yang dapat menyesuaikan diri dengan keadaan, tindak tanduk yan angkuh dan keras kepala hanya akan mendatangkan ketidak beruntungan saja bagimu."
"So buncu, buat apa kau musti banyak berbicara?"
Tukas Ong Bun kin dengan wajah berubah. Selapis hawa napsu membunuh yang mengerikan dengan cepat menyelimuti seluruh wajah Yu leng lojin, dengan suara dalam bentaknya.
"Utusan kiri kanan!"
"Siap!"
Dua sosok bayangan hitam segera mengiakan dengan suara yang dingin menyeramkan.
"Bekuk dia!"
Bentak Yu leng lojin lagi. Dua sosok bayangan hitam itu segera mengiakan, dari kiri dan kanan mereka menerjang maju ke depan dan mencengkeram tubuh Ong Bun kim erat-erat.
"Ong Buncu!"
Seru Yu leng lojin lagi sambil tertawa seram.
"sekali lagi kuberi sebuah ketempatan kepadamu."
Paras muka Ong Bun kim telah berubah menjadi amat mengerikan, keadaan sudah tertera jelas sekali, jika dia menolak kerja sama tersebut, maka sudah pasti dia akan dicekoki pil Huran sim wan itu melakukan perbuatan perbuatan diluar kemauannya.
Tapi dia tak bisa menerimanya.
Tentu saja Ong Bun kim tak dapat meluluskan permintaannya itu, kalau tidak maka dia akan berubah menjadi seorang raja iblis pembunuh manusia yang teramat keji, seluruh umat persilatan yang ada di dunia ini bisa jadi akan musnah semua ditangannya.
Berpikir sampai disitu, hampir meledak dada Ong Bun kim saking gusar dan mendongkolnya, segera bentaknya.
"Yu leng lojin, kau..."
"Semua perkataanku sudah kuterangkan dengan sejelasjelasnya, jika Ong buncu tidak bersedia untuk bekerja sama dengan diriku, maka jangan kau salahkan jika aku berhati keji dan turun tangan kejam terhadap dirimu."
"Kau berani menggunakan cara yang terkutuk itu untuk menghadapiku?"
Bentak Ong Bun kim.
"Kenapa tidak berani? Sekali lagi ku bertanya kepadamu."
"Jangankan sepatah kata, seribu patah atau sepuluh ribu patah kata pun percuma."
"Bagus sekali."
Begitu selesai berkata, Yu leng lojin segera mengayunkan tangan kanannya kedepan melancarkan sebuah totokan.
Ong Bun kim segera merasakan sekujur badannya menjadi kaku dan kesemutan kemudian tak dapat bergerak lagi.
Yu leng Iojin dengan senyuman mengerikan menghiasi ujung bibirnya segera merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sebutir pil berwarna kuning yang besarnya seperti ibu jari.
Kemudian sambil pelan-pelan berjalan kehadapan si anak muda itu, bentaknya.
"Buka mulutmu!"
Dalam keadaan seperti ini, Ong Bun-kim sudah tak dapat berbicara lagi, dia cuma bisa menggertak giginya sambil menutup mulutnya rapat-rapat, sekalipun harus mengorbankan jiwanya, dia juga tak akan menelan pil tersebut.
Yu-leng lojin tertawa dingin, disaat suara tertawanya yang menyeramkan itu belum berakhir, mendadak terdengar suara langkah kaki yang amat ramai berkumandang datang dari luar pintu gua tersebut.
Yu-leng lojin menjadi tertegun, kemudian bentaknya dengan suara dalam yang berat.
"Siapa disitu?"
"Lapor buncu, keadaan tidak beres..."
"Apa yang telah terjadi?"
"Ada orang telah tiba dalam perguruan kita..."
"Tangkap orang itu!"
"Lapor buncu orang itu memiliki ilmu silat yang sangat lihay, dia telah membunuh beberapa orang anggota kita, Hu buncu sendiripun sudah terluka di tangannya."
"Sungguhkah perkataan itu."
"Benar, oleh sebab itu hamba sekalian datang melaporkan kejadian ini kepada Bun cu!"
Selapis hawa napsu membunuh yang sangat tebal dengan cepat menyelimuti wajah Yu-leng lojin, sinar matanya segera dialihkan ke atas wajah Ong Bun kim, setelah itu tanyanya lagi dengan suara dalam.
"Apakah orang itu berasal diri perguruan Sin kiam bun?"
"Lapor Buncu, orang itu memang anggota perguruan Sin kiam bun!"
"Gunakan racun untuk memusnahkan orang itu"
"Lapor Buncu, orang itu tidak mempan terhadap racun!"
"Apa? Tidak mempan terhadap racun?"
"Benar!"
Tiba-tiba sekujur badan Yu leng lojin gemetar keras, setelah sinar matanya dialihkan sekejap ke arah Ong Bun kim, mendadak katanya dengan suara keras.
"Sudah tahu, mundur kau!"
Setelah selesai berkata, Yu leng lojin segera bergerak menuju ke luar pintu gerbang. Tapi baru saja Yu leng lojin tiba didepan pintu gerbang, terdengarlah seseorang membentak dengan suara keras.
"Hayo cepat suruh Yu leng lojin menggelindingi keluar dari tempat persembunyiannya."
Orang yang berteriak keras itu bukan lain adalah Thia Eng.
Dalam ruang tengah perguruan Yu leng-bun, saat itu sudah diselimuti oleh selapis hawa pembunuhan yang sangat mengerikan sekali, berpuluh-puluh orang jago dari Yu leng bun telah menghadang jalan pergi Thia Eng, sementara lima enam sosok mayat terkapar diatas tanah.
Dengan sorot mata tajam Thia Eng memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian bentaknya lagi.
"Mengapa kalian tidak menyuruhnya untuk menggelindingi keluar dari tempat persembunyiannya?"
Baru selesai Thia Eng berseru mendadak terdengar suara tertawa dingin yang menyeramkan berkumandang datang dari balik ruangan tengah itu.
Sesosok bayangan manusia bagaikan setan gentayangan telah meluncur masuk kedalam ruangan dengan kecepatan luar biasa.
Paras muka Thia Eng berubah, kemudian bentaknya.
"Yu Ieng lojin, masih ingat dengan Thia Eng?"
Yu leng lojin agak tertegun, kemudian sahutnya.
"Ooh... rupanya kau, ketika berada dalam kuil Siau lim si tempo hari, kita agaknya sudah pernah bersua."
"Betul sungguh tak kusangka Buncu memiliki daya ingatan yang lumayan juga..."
"Ada urusan apa kau datang kemari?"
"Minta kepadamu untuk menyerahkan Buncu perguruan kami..."
"Suruh aku menyerahkan Ong Bun kim kepadamu?"
"Tepat sekali!"
"Apa yang kau andalkan sehingga berani mengatakan begitu? Kau anggap ilmu silatmu sudah hebat?"
Paras muka Thia Eng berubah, bentaknya.
"Sebenarnya kau hendak menyerahkan Buncu kami atau tidak?"
"Asal kau punya kepandaian..."
Thia Eng tak dapat menahan diri lagi sambil membentak keras tubuhnya segera meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa dia langsung menerjang ke arah tubuh Yu leng lojin.
Serangan yang dilancarkan oleh Thia Eng ini boleh dibilang cepatnya bukan kepalang, tapi pada saat yang bersamaan itu juga, dua sosok bayangan hitam telah meluncur juga ke tengah arena dari sisi kiri dan kanan gelanggang.
-oo0dw0oo--
Jilid 29 KEDUA sosok bayangan hitam itu bukan lain adalah utusan kiri dan utusan kanan dari Yu leng Iojin.
Kepandaian silat yang dimiliki utusan kiri kanan boleh dibilang lihay sekali, kecuali Yu leng lojin seorang, boleh dibilang tiada orang kedua yang mampu menandingi kemampuannya itu, tubrukan yang dilakukan kedua orang ini, sudah barang tentu dilakukan juga dengan kecepatabn yang mengerikdan.
"Bagus ! Ruapanya kalian bebrdua sudah bosan hidup?"
Bentak Thia Eng dengan keras.
Sepasang lengannya direntangkan melancarkan dua buah pukulan dahsyat yang ditujukan ke tubuh utusan kiri dan utusan kanan, di dalam serangannya ini Thia Eng telah sertakan juga segenap tenaga pukulan yang dimilikinya, kehebatannya tak terlukiskan dengan kata-kata.
Ilmu silat yang dimiliki utusan kiri kanan juga bukan sembarangan, satu maju yang lain menghindar, dua sosok bayangan tubuh dengan gerakan yang saling membantu telah menerjang ke tubuh Thia Eng dengan seranganserangan mengerikan.
Mendadak...
Yu leng lojin membentak dengan suara yang amat keras.
"Tahan !"
Mendengar bentakan dari Yu Ieng lojin yang diucapkan secara tiba-tiba itu, serentak utusan kiri dan utusan kanan menarik kembali serangannya sambil melompat mundur ke belakang.
Dengan suatu gerakan sangat cepat Yu leng lojin, segera meluncur ke depan menerjang ke arah Thia Eng.
Menghadapi terjangan itu, tanpa sadar Thia Eng mundur dua langkah ke belakang dan melototi wajah Yu leng lojindengan wajah penuh kegusaran.
Yu leng lojin segera tertawa seram.
"Heeehhh... heehh...heeehh bukankah kau datang untuk mencari diriku? Tentu saja aku tak dapat membiarkan kau bertarung melawan anak buah ku, cuma seandainya kau memang berhasrat untuk menyelamatkan Ong Bun kim, sebenarnya itu pun tidak susah, asal kau bersedia memenuhi sebuah permintaanku."
"Apa syaratku itu?* "Mencoba untuk menerima ilmu hipnotis Gi-sin tayhoat, jikalau kau sanggup mempertahankan diri dari pengarah ilmu hipnotis Gi sin-tay-hoat tersebut, maka aku akan menyerahkan Ong Bun kim kepadamu..."
"Sungguhkah ucapan dari Buncu itu?"
Seru Thia Eng sambil tertawa dingin...
"Betul !"
"Bagus sekali, aku ingin sekali menjajal sampai dimanakah kehebatan dari ilmu hipnotis Gi sin tay hoat yang sangat kau unggul-unggulkan itu."
"Kalau begitu, ikutilah aku !"
Sambil berkataq, Yu leng lojin segera berjalan masuk lebih dahulu menuju ke pintu rahasia ketujuh.
Thia Eng tertawa dingin, dia pun turut masuk dibelakangnya.
Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah berada didalam, Yu leng bun, ketika Ong Bun-kim menyaksikan kemunculan Thia Eng di tempat itu, paras mukanya segera berubah hebat, akan tetapi tak sepatah katapun yang sanggup dia ucapkan.
Thia Eng sendiri ketika menjumpai Ong Bun-kim berada disana, segera berteriak pula.
"Buncu !"
Dia melompat ke depan dan menghampiri Ong-Bun kim, akan tetapi gerakan tubuh dari Yu leng lojin jauh lebih cepat lagi, dengan suatu gerakan saja tahu-tahu ia sudah menghadang jalan perginya.
"Saudara, apakah kau tidak merasa bahwa tindakanmu itu terlalu terburu napsu?"
Tegurnya sambil tertawa dingin.
Paras muka Thia Eng berubah hebat, baru saja akan membentak, utusan kiri dan utusan kanan telah mengempit tubuh Ong Bun kim sambil mundur kebelakang.
Paras muka Thia Eng semakin berubah hebat.
Yu-leng lojin segera tertawa seram katanya.
"Asalkan kau tidak sampai terpengaruh oleh ilmu hipnotis Gi sin tayhoat, bukankah aku sudah bilang akan menyerahkan Ong Bun-kim kepadamu?"
"Cepat gunakan ilmu Gi sin tay-hoat tersebut!"
Bentak Thia Eng dengan suara keras. Pelan-pelan Yu-leng lojin duduk kembali di atas kursinya, dia lantas berseru.
"Saudara, sekarang tataplah sepasang mataku !"
"Baik !"
Setelah mengiakan, Thia Eng segera mengalihkan sinar matanya keatas mata Yu leng lojin yang tajam bagaikan sembilu itu untuk menyambut pengaruh dari ilmu Gi sin tay-hoat Ong Bun-kim yang menyaksikan itu segera merasakan hatinya bergetar keras.
Bila dibilang dengan andalkan kepandaian silat yang dimiliki Thia Eng sekarang untuk melawan Gi-sin-tay-hoat dari Yu-leng lojin, sesungguhnya kejadian ini bukan sesuatu yang sulit untuk dilakukan.
Akan tetapi, kepandaian yang dimiliki Yu leng lojin kini sudah jauh berbeda bila dibandingkan dengan keadaan dulu, sebab sejak mendapatkan kitab pusaka Hek-mo keng, kemajuan pesat yang diperolehnya dalam tenaga dalam, boleh dibilang telah mencapai ke tingkatan yang mengerikan sekali.
Sayangnya dia tak sanggup berbicara apa-apa, yang bisa dilakukan-sekarang hanya mengawasi Yu-leng lojin dengan sepasang matanya yang berapi-api.
Sementara itu pengaruh ilmu hipnotis Gi sin tayhoat sudah dimulai Mendadak...
Disaat yang amat kritis itulah terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang dari luar pintu, menyusul kemudian sesosok bayangan manusia berbaju merah berkelebat lewat, tahu-tahu si Dewi mawar merah sudah menyelinap masuk ke dalam..
Dia memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian bisiknya dengan suara lirih.
"Lapor buncu!"
Sementara itu Yu leng lojin sedang mengerahkan ilmu Gi sin tay hoat untuk menyerang lawannya, dalam keadaan demikian, tak sepatah katapun dari Dewi mawar merah yang terdengar olehnya.
Utusan kanan segera bertanya.
"Ada urusan apa?"
"Ada orang mencari Buncu!"
"Siapa ?"
"Seorang yang bernama Pak khek tong!"
Ong Bun kim yang mendengar nama itu kembali merasakan hatinya bergitar keras, sebab wakil ketua dari perguruan Sin kiam-bun juga telah datang disitu. Terdengar utusan kanan berseru dengan suara dalam.
"Beritahu kepadanya kalau Buncu belum ada waktu sekarang, suruh dia menunggu dulu !"
Belum habis utusan kanan menyelesaikan kata-katanya, terdengar suara bentakan keras menggelegar memecahkan keheningan disusul kemudian suara pertarungan yang amat sengit berkobar di ruangan tersebut.
Kalau didengar dari suara bentakan dan pertarungan yang sedang berlangsung dapat diketahui kalau suasana dalam ruang tengah Yu leng bun telah diliputi ketegangan, dan suasana mengerikan yang luar biasa sekali.
Mendadak...
Sesosok bayangan manusia berkelebat masuk ke dalam pintu gerbang dengan kecepatan luar biasa, utusan kanan yang menyaksikan kejadian itu segera menyadari bahwa gelagat tidak menguntungkan, tarpa berpikir panjang lagi dia segera menerjang ke depan dan menghadang jalan pergi orang itu...
Sesosok bayangan manusia segera menerjang masuk ke dalam, tak salah lagi, orang itu bukan lain adalah Tan Liok.
Sementara Tan Liok masuk kedalam ruangan, puluhan sosok bayangan manusia segera menyusul tiba dan menerjang ke arahnya secara kalap dan ganas....
"Mundur...."
Tan Liok segera membentak keras.
Tangan kanannya melancarkan sebuah pukulan untuk membendung datangnya terjangan tersebut, kemudian sebuah pukulan dahsyat dilontarkan ke depan.
Dengan cepat tubrukan dari puluhan orang Yu leng jin tersebut sama sekali terbendung.
Utusan kanan kembali membentak dengan suara dingin.
"Tahan!"
Tan Liok menarik kembali serangannya dan mundur beberapa langkah kebelakang, kemudian sambil mengalihkan sinar matanya ke wajah utusan kanan, katanya dengan dingin.
"Mana Yu leng lojin?"
"Mau apa kau?"
Tan Liok segera tertawa dingin.
"Tentu saja untuk berbincang-bincang,"
Sahutnya.
"Sekarang Buncu kami belun ada waktu!"
"Tidak ada waktupun harus menjumpai juga"
"Tampaknya kedatanganmu kemari adalah untuk membuat perhitungan lama..."
"Benar!"
"Bagus, rupanya kau ingin mampus?"
"Belum tentu !"
"Jika kau berani bergerak lagi, jangan salah kan kalau segera kujagal dirimu!"
"Kalau memang begitu silahkan saja untuk mencoba"
Tantang Tan Liok sambil tertawa dingin.
Ditengah bentakan keras, tubuh Tan Liok segera meluncur kearah utusan kanan seraya melancarkan sebuah pukulan yang sangat dahsyat.
Serangan yang dilancarkan oleh Tan Liok ini dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Utusan kanan mana menyangka kalau ilmu silat yang dimiliki Tan Liok sudah mencapai ke tingkatan yang tiada tandingannya didunia ini?
Ternyata serta merta dia lepaskan juga sebuah pukulan untuk menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras melawan keras.
Menanti sepasang tenaga sudah saling berjumpa, dia baru terkesiap dan merasa gelagat tidak menguntungkan, buru-buru tubuhnya menyelinap ke samping dan mengundurkan diri, untung saja dia mengetahui keadaan ini terlalu awal, coba kalau tidak sudah pasti dia akan terluka oleh serangan lawan.
000OdwO000 BAB 92 MENDADAK...
Suatu bentakan keras menggelegar memecahkan keheningan, Yu-leng lojin yang sudah menyalurkan tenaga dalamnya itu dalam keadaan tiba-tiba dan sama sekali tak terduga langsung menerjang kearah Thia Eng dengan kecepatan bagaikan sambaran petir Tenaga serangan yang dilancarkan kali ini telah disertakan dengan segenap tenaga dalam yaag dimiliki Yu leng lojin.
kekuatannya benar-benar mengerikan sekali.
Thia Eng mana mengira kalau pihak lawan yang sedang mengerahkan tenaga dalamnya itu bisa melakukan serangan secara mengerikan?
menanti ia merasakan keadaan tersebut, untuk menghindarkan diri waktu sudah terlambat sekali.
Akan-tetapi dia memang tidak malu disebut orang yang berilmu tinggi, dikala Yu leng lojin melakukan tubrukan tersebut, dia pun melancarkan sebuah pukulan dahsyat.
"Blaaamm..."
Suatu ledakan keras yang memekikkan telinga segera berkumandang memecahkan keheningan.
Thia Eng merasakan kepalanya menjadi pusing dan muntah darah segar, tubuhnya segera roboh terjengkang keatas tanah.
Sebaliknya Yu leng lojin sendiripun mundur sejauh tujuh delapan langkah dengan sempoyongan, mukanya menjadi pucat pasi dan darah dalam tubuhnya segera bergolak keras.
Pada saat itulah, si Dewi mawar merah sudah meluncur kedepan sambil melancarkan sebuah cengkeraman maut ke tubuh Thia Eng.
Baru saja Yu leng Iojin bisa berdiri tegak, sesosok bayangan manusia dengan kecepatan yang luar biasa telah meluncur kehadapannya dan orang itu ternyata bukan lain adalah Tan Liok.
Dengan suatu lejitan keras Tan Liok menerjang kehadapan Yu leng lojin, mendadak ia menjumpai Ong Bun kim berada disana, dengan wajah berubah hebat dia lantas mengalihkan sasarannya dan menerjang ke arah utusan kiri.
Tubrukan yang dilakukan oleh Tan Liok ini boleh dibilang dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, tampaknya Utusan kiri itu tidak menyangka kalau Tan Liok bakal melancarkan serangan kearahnya, dengan perasaan terkesiap buru-buru dia menghindarkan diri ke samping.
Sungguh luar biasa cepatnya serangan dari Tan Liok itu, gagal dengan serangan yang pertama, serangan kedua telah dilancarkan lagi ke muka.
Mendadak...
"Tahan !"
Suatu bentakan keras menggema dari mulut Yu Leng lojin.
Bayangan manusia melintas, tahu-tahu ia sudah menghadang dihadapan Tan Liok.
Pelan-pelan sinar mata Tan Liok dialihkan ke atas wajah Yu Leng lojin dan menatapnya lekat-lekat.
Situasi yang dihadapinya sekarang sangat tidak menguntungkan bagi pihaknya, sebab Ong Bun-kim maupun Thia Eng telah terjatuh ditangan orang, salah-salah bisa jadi dia sendiripun tak bisa keluar lagi dari Yu leng-bun ini dalam keadaan selamat.
Maka dengan sekuat tenaga dia berusaha menekan hawa napsu membunuh yang berkobar dalam hatinya, kemudian sambil tertawa dingin katanya.
"So buncu, kau masih-kenal dengan aku orang she Tan?"
Paras muka Yu-leng lojin segera berubah hebat.
"Kau adalah Tan Liok?"
Serunya.
"Benar!"
"Kau..."
"Kau tidak menyangka bukan kalau aku belum mati?"
"Benar!"
"Dua puluh tahun berselang, kau telah menodai istriku, dan hari ini aku datang untuk menuntut perhitungan ini denganmu!"
Yu-leng lojin segera tertawa dingin.
"Heehhh...heeehhh heeehhh... Tan Liok, sungguh tidak ku sangka kau masih teringat dengan peristiwa tersebut..."
"Betul!"
Kata Tan Liok sambil tertawa seram.
"selama hidup aku orang she Tan tak akan melupakan peristiwa tersebut, karena kau sangat baik sekali kepadaku, bukaokab kau amat mencintai istriku?"
"Benar."
"Sekarang dia sudah pulang ke akhirat, maka Iebih baik kaupun pergi menemaninya!"
Tampaknya Yu leng lojin masih belum tahu kalau Tan Liok adalah wakil ketua dari perguruan Sin kiam bun, sambil tertawa dingin dia lantas berkata.
"Tan Liok, urusan yang sudah lewat biarkan saja lewat, mengapa kau tidak menggabungkan diri denganku dan bersama-sama menguasahi seluruh dunia persilatan?"
Tan Liok tertawa dingin.
"Sayang aku orang she Tan tidak mempunyai ambisi sebesar itu, apalagi bekerja sama denganmu!"
"Jadi maksudmu..."
"Aku hendak membunuhmu!"
Mendengar perkataan tersebut Yu leng lojin segera mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.
"Haaahh haaahh.... haaahh Tan Liok, mampukah kau untuk mewujudkan keinginanmu itu?"
"Soal ini akan segera kau ketahui setelah dicobanya nanti!"
Ditengah bentakan yang amat keras, Tan Liok segera bergerak mendekati Yu leng lojin, suasana dalam arenapun kembali diliputi oleh hawa pembunuhan yang sangat mengerikan.
Tampaknya sebelum salah seorang diantara Tan Liok dan Yu leng lojin mati, pertarungan diantara mereka berdua tak akan berakhir.
Tan Liok bisa menyusul Thia Eng ketempat itu, sudah barang tentu dia pun cukup mengetahui akan kelihayan ilmu Gi sin tay hoat yang dimiliki Yu leng lojin, maka dia lantas meninggalkan tugas perguruannya dan menyusul kesitu.
Kini Tan Liok sudah sampai disitu, tentu saja diapun dapat membayangkan bahwa Yu leng lojin akan mempergunakan racun, maka Tiang seng lojin menghadiahkan sebutir pil pemunah racun kepadanya dengan harapan dia bisa bertarung melawan Yu leng lojin tanpa kuatir akan terserang oleh racun keji.
Begitulah, ketika Tan Liok melakukan serangan kedepan, paras muka Yu leng lojin segera berubah hebat, tampak sorot mata kedua belah pihak sama-sama saling bertatapan tanpa berkedip barang sedikitpun juga.
Mendadak...
Suatu bentakan keras yang memekikkan telinga berkumandang daari mulut Tan Liok, dia menerjang kehadapan Yu leng lojin dan melepaskan sebuah pukulan dahsyat.
Didalam serangannya ini, Tan Liok hanya menggunakan enam bagian saja dari tenaga dalam yang dimilikinya, dia harus menyembunyikan kekuatan yang sebenarnya sehingga bila ada kesempatan baik dan diluar dugaan Yu leng lojin, dia akan melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga.
Walaupun serangan ini hanya mempergunakan tenaga sebesar enam bagian, tapi kedahsyatannya mengerikan sekali, Yu lenglo jin segera tertawa dingin diapun melancarkan sebuah pukulan untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.
Kedua belah pihak sama-sama melakukan serangan dengan kecepatan luar biasa, betul juga, serangan yang dilancarkan oleh Yu leng lojin itu segera berhasil membendung ancaman yang dilakukan oleh Tan Liok, akan tetapi dalam detik berikutnya Tan Liok telah melancarkan kembali serangannya yang kedua.
Kedua orang itu sama-sama berilmu tinggi dan menyerang dengan kecepatan yang mengerikan, di antara berkelebatnya bayangan manusia, masing-masing pihak telan melepaskan tiga buah serangan berantai, tampaknya Tan Liok kena didesak sehingga berada dipihak kalah.
Padahal didalam kenyataannya, ilmu silat yang dimiliki Tan Liok masih jauh diatas kepandaian yang dimiliki Yu leng lojin, cuma saja dia memang sengaja berlagak seperti terdesak hebat dengan berharap pada suatu kesempatan dia akan menyerang dengan segenap kekuatan yang dimilikinya...
Yu leng lojin segera tertawa seram.
"Haahh.... haaahh....haahh...Tan Liok, dengan tenaga dalam yang kau miliki sekarang, mana mungkin bisa membalas dendam? Aku lihat lebih baik kau bekerja sama dengan diriku saja..."
"Kentut busuk..."
"Makilah haaahh.. hahhh.. haaaahh.. jika aku berhasil menawanmu maka aku akan menyuruhmu setia seratus persen kepadaku..."
Dengan tertawanya yang mengerikan secara beruntun dia lancarkan tiga buah serangan berantai, untuk sesaat Tan Liok menjadi terkurung dibalik pukulan-pukulan musuh yang sangat hebat itu sehingga posisinya makin lama semakin bertambah gawat.
Sementara itu Ong Bun kim yang tertotok jalan darahnya merasa terkejut sekali setelah menyaksikan kejadian itu.
Pada saat itulah mendadak...
sesosok bayangan manusia secepat sambaran petir menerjang masuk kedalam ruangan itu!
Utusan kanan segera mengalihkan sinar matanya kearah orang itu, kemudian dengan terkejut bentaknya.
"Mau apa kau datang kemari?"
Yang datang ternyata bukan lain adalah iblis cantik pembawa maut.
Dengan sorot mata yang tajam, iblis cantik pembawa maut memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian dengan paras muka berubah hebat, ia tertawa dingin tiada hentinya.
"Iblis cantik pembawa maut!"
Bentak Utusan kanan dengan suara dingin seperti es.
"jika kau tidak kembali lagi kedalam penjara. segera kucabut selembar jiwamu!"
"Aku datang untuk mencari Yu leng lojin."
Sembari menjawab, iblis cantik pembawa maut segera menerjang kearah Utusan kanan.
Dengan situasi yang dihadapinya sekarang, dia harus berusaha keras untuk menguasahi Utusan kiri dengan suatu serangan tak terduga sehingga dapat menyelamatkan Ong Bun-kim.
Sedangkan Utusan kiri dan kanan sama sekali tidak tahu kalau Iblis cantik pembawa maut telah terbebas dari pengaruh racun Si-sim ci tok setelah makan buah Hiat-li.
"Ada urusan apa kau pergi mencarinya?"
Kembali utusan kanan membentak dengan suara keras.
"Ada persoalan yang hendak kutanyakan kepadanya!"
"Persoalan apa?"
Belum habis si Utusan kanan berkata, Iblis cantik pembawa maut sudah melompat kedepan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, dia langsung menerjang ke arah tubuh utusan kanan tersebut.
Serangan yang dilancarkan dengan gerakan beradu jiwa ini sungguh cepat luar biasa, tampak bayangan manusia berkelebat lewat, kemudian terdengar dengusan tertahan bergema memecahkan keheningan, tahu-tahu utusan kanan sudah roboh terkapar diatas tanah Menyaksikan peristiwa ini, Utusan kiri menjadi tertegun.
Dalam waktu singkat tubuh Iblis Cantik pembawa maut sudah meluncur kembali ke depan, sementara perempuan itu menyerang utusan kiri dengan serangan yang bertubitubi, sesosok bayangan manusia telah menyelinap masuk ke dalam ruang itu.
Bayangan tersebut bukan lain adalah Bu kek lojin adanya.
Begitu Bu kek lojin masuk ke dalam ruangan ketika itu Thia Eng juga sedang mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk melancarkan sebuah pukulan dahsyat ketubuh si Dewi mawar merah dikala perempuan itu teledor.
Sekali pun Thia Eng sudah menderita luka, akan tetapi dalam waktu yang amat singkat tadi dia telah menyelesaikan pengobatannya, maka serangan yang dilancarkan dengan segenap kekuatan yang dimilikinya ini boleh dibilang benar-benar mengerikan sekali.
Menanti si Dewi mawar merah menyadari kalau keadaan tidak beres, keadaan sudah terlambat.....
Serangan dahsyat yang dilancarkan Thia Eng tersebut tahu-tahu sudah meluncur datang "Blaam."
Ditengah benturan keras, Dewi mawar merah mendengus tertahan lalu tubuhnya terlempar ke belakang.
Pada saat yang bersamaan, dengusan tertahan berkumandang pula dari mulut si utusan kiri, ternyata serangan maut yang dilancarkan Iblis cantik pembawa maut itu tak sanggup ditahan olehnya.
Dengusan tertahan bergema memecahkan keheningan, tubuh Ong Bun-kim segera terlepas dari cekalan dan terlempar ke belakang.
Dengan suatu gerakan yang cepat Iblis cantik pembawa maut menyambar tubuh Ong Bun-kim dan dilempar kearah Thia Eng, kemudian bentaknya keras-keras.
"Cepat pergi!"
Tapi Thia Eng malah menjadi tertegun dan berdiri melongo.
Mendadak terdengar Tan Liok membentak keras, tibatiba melompat ke tengah udara, akhirnya dengan mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya dia melancarkan sebuah pukulan dahsyat.
Termakan oleh serangan tersebut, Yu leng lojin dipaksa mundur sejauh sepuluh langkah sebelum bisa berdiri tegak kembali.
"Tahan!"
Suatu bentakan yang amat keras mendadak berkumandang memecahkan keheningan.
Bentakan itu berasal dari mulut Bu-khek lojin.
Dengan cepat Tan Liok maupun Yu leng lojin menarik kembali serangannya dan mundur ke beIakang.
Ketika Yu leng lojin mendapat tahu siapakah yang berada disitu, paras mukanya segera berubat hebat bentaknya.
"Kalian..."
Bu khek lojin tertawa sahutnya.
"Kenapa kami masih dapat mencarimu? Yu leng lojin, tindakan keji yang kau lakukan terhadap kami sudah cukup keji, sekarang akhirnya datang juga saat buat kami untuk mencarimu"
"Kalian bukankah sudah terkena..."
"Haaah haaahh haaahh, kau anggap racunmu itu tak mampu dipunahkan orang lain? Jangan kuatir, racun yang mengeram dalam tubuhku pun sudah punah sama sekali"
Rasa terkejut yang menyelimuti diri Yu leng lojin ketika itu sungguh tak terlukiskan dengan kata-kata, tanpa disadari dia mundur dua tiga Iangkah dengan tubuh menggigil.
Akan tetapi dia memang tidak malu disebut seorang manusia licik yang berpengalaman, sambit tertawa paksa katanya kemudian.
"Sebenarnya apa yang kalian inginkan?"
"Apakah utang piutang diantara kita tidak pantas untuk diperhitungkan kembali?"
"Yaaa memang pantas diperhitungkan, pantas untuk diperhitungkan, tapi harus diperhitungkan dengan cara apa?"
Sembari berkata, pelan-pelan dia mundur ke belakang. Mendadak... Iblis cantik pembawa maut melompat kedepan dan menerjang kearah Yu leng lojin, kemudian bentaknya keras-keras.
"Yu leng lojin, serahkan selembar nyawamu!"
Sebuah pukulan dasyat dengan cepat dilontarkan kedepan.
"Bangsat, kau pingin mampus......."
Teriak Yu leng lojin sangat marah.
Tangannya diayunkan kedepan untuk menangkis serangan itu, kemudian secara tiba-tiba badannya meluncur kebalik kegelapan sana.
Menyaksikan kejadian itu, Iblis cantik pembawa maut menjadi tertegun, pada saat itulah berbintik-bintik senjata rahasia berhamburan sederasnya ke sekeliling tubuhnya.
Menghadapi ancaman senjata rahasia itu, Iblis cantik pembawa maut menjadi terkejut sekali, buru-buru tangan kanannya diayun ke depan memukul rontok seluruh senjata rahasia yang tertuju ke arahnya.
Pada saat itulah terdengar bunyi gemerincing yang sangat nyaring menggema memecahkan keheningan.
Secara tiba-tiba pintud gerbang Yu leng bun menutup dengan sendirinya rapat-rapat.
"Cepat kabur!"
Seru Bu khek lojin dengan cepat. Dengan suatu lompatan kilat dia menerjang ke pintu gerbang dan melancarkan sebuah pukulan dahsyat.
"Blaaammm....!"
Benturan keras menggelegar memecahkan keheningan, akan tetapi pintu itu masih tetap utuh dan sama sekali tidak bergoncang barang sedikitpun juga.
Menyaksikan kejadian ini, paras muka semua orang segera berubah menjadi hebat.
Mendadak terdengar Yu leng lojin tertawa seram, kemudian terdengar suara berseru.
"Jangan harap kalian bisa lolos dari sini, akan kugunakan kabut beracun pelebur hati untuk meracuni kalian sampai mati, satu jam kemudian kalian semua sudah akan berpulang keakhirat,...."
OooOdwOooo BAB 93 BERSAMAAN dengan selesainya ucapan itu, mendadak dari sudut kedelapan gua itu melayang keluar gumpalan kabut putih yang amat tebal...
Semua orang yang berada disana tak ada yang tahu sampai dimanakah kelihayan dari kabut beracun pelebur hati itu, cuma kalau didengar dari ucapan Yu leng lojin itu, tam paknya kabut beracun itu sangat lihay sekali.
Saking gemasnya Tan Liok sampai menggertak giginya kencangkencang, serunya.
"Yu -Leng-Lojin. meskipun hari ini kau dapat melarikan diri, jangan harap lain kali bisa lolos"
Yu Leng Lojin segera tertawa dingin.
"Heeehh heeehhh heenhbh tak usah omong besar lagi"
Ejeknya.
"satu jam kemudian, kalian semua akan berubah menjadi gumpalan darah dan mati!"
Mendengar perkataan itu semua orang menjadi bergidik dan bulu romanya tanpa terasa pada bangun berdiri.
Tampak kabut putih itu mengepul keluar dan pelan-pelan menyebar ke empat penjuru, makin lama kabut itu semakin menebal dan pelan-pelan meluncur ke arah pintu gerbang tersebut.
Seandainya apa yang dikatakan Yu leng-lojin bukan gertak sambal belaka, maka peristiwa ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang mengerikan sekali.
Untuk masuk tiada jalan, untukb mundur tiada pdintu, dengan tearkesiap dan terbmangu-mangu kawanan jago itu berdiri tertegun ditempat, seakan-akan sedang menantikan datangnya saat kematian.
Yaa!
Mereka memang sedang menunggu datangnya saat kematian.
Sementara itu, si Iblis cantik pembawa maut telah menerjang kesisi Dewi mawar merah dan memeluk tubuhnya kencang kencang, seperti seorang ibu yang menemukan kembali putrinya yang telah banyak tahun hilang lenyap.
"Bagaimana sekarang?"
Tanya Thia Eng kemudian.
Tak seorangpun yang tahu apa yang mesti di lakukan, mereka hanya bisa saling berpandangan dengan wajah terkesiap dan perasaan bimbang.
Akhirnya Thia Eng menghela napas panjang, laIu bertanya.
"Hu kaucu, kenapa kau bisa turut pula kesini?"
Tan Liok segera menghela napas panjang katanya.
"Sepeninggalmu tadi, aku merasa amat tidak tenteram, seandainya salah seorang diantara kalian berdua ada yang terkena ilmu hipnotis Gi sin-tay hoat dari Yu leng lojin, maka bagaimana jadinya? Maka aku dan Tiang seng lojin segera berunding sebentar, kemudian kuputuskan untuk menyusul kemari"
"Sekarang bagaimana baiknya? Kau tidak kemari, urusan rada mendingin, tapi sekarang...."
Sekali lagi dia menghela napas panjang.
Andaikata Tan Liok tidak datang maka tentu saja akan mengurangi selembar jiwa yang bakal mati konyol, persoalan partai juga ada yang mengurusinya.
Kabut putih dengan cepatnya telah menyelimuti seluruh ruangan tersebut.
Suasana menjadi sangat tenang, tapi mereka tak berdaya menghadapi kabut putih yang demikian tebalnya itu, sebab benda tersebut sudah jelas tak mungkin bisa dibendung dengan ilmu silat Mendadak...
Utusan kanan yang ditotok roboh oleh iblis cantik pembawa maut itu mulai menggerakkan badannya dan tersadar kembali kemudian pelan-pelan bangkit berdiri.
Akan tetapi satelah menyaksikan keadaan yang terbentang didepan matanya itu, kontan saja ia menjerit ketakutan.
"Haahh ? Kabut itu adalah kabut beracun pelebur hati."
Mendengar suara bentakan itu, berubah semua orang merasakan hatinya bergetar keras sehingga tanpa rterasa banyak dtiantaranya yangq menggigil kerars.
Seperti orang gila utusan kanan menerjang ke arah pintu gerbang kemudian menggebrak, pintu keras-keras seraya berteriak.
"Buncu masih ada kami di sini."
Hanya suara dengungan keras yang kedengaran, tidak terdengar suara jawaban dari Yu leng lojin. Sekali lagi utusan kanan menjerit-jerit seperti orang kalap.
"Buncu, lepaskan kami keluar..."
Teriakan dan jeritan itu amat memilukan hati membuat seluruh gua Yu leng bun tersebut menjadi penuh dengan suara melengking yang menambah seramnya suasana. Thia Eng segera tertawa dingin, serunya.
"Kau tak perlu berteriak-teriak lagi, tak nanti dia akan menolongmu!"
Sorot mata utusan kanan yang dingin dan menyeramkan itu dengancepat dialihkan ke wajah Thia Eng. Melihat itu Thia Eng tertawa hambar, kembali katanya.
"Lebih baik kau menemani kami untuk mati ditempat ini saja!"
Utusan kanan mengawasi wajah Thia Eng beberapa saat lamanya, kemudian secara tiba-tiba mendongakkan kepalanya lagi sambil tertawa seram, lalu dia membalikkan badannya dan langsung menerjang ketengah gumpalan kabut patih yang sangat tebal itu.
Menyaksikan tindakan yang diambil itu semua orang menjadi kaget dan segera berseru tertahan.
"Kraaak !"
Mendadak terdengar bunyi gemertak yang keras menyusul kemudian suasana menjadi sunyi senyap kembali. Setelah berkumandang suara "Kraak "
Yang sangat keras tadi, kabut putih yang mengepul ke dalam ruangan itupun terputus sampai ditengah jalan, menyusul kemudian tampak utusan kanan berlarian keluar dari balik kabut putih itu.
Dengan cepat semua orang lantas menyadari apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi, sudah pasti si "utusan kanan"
Telah menyerempet bahaya untuk menutup pintu masuknya kabut beracun itu. Tapi setelah sampai ditempat semula si "utusan kanan"
Itu menjadi sempoyongan lalu roboh terjengkang keatas tanah.
Melihat itu, semua orang menjadi, terke jut dan berseru tertahan, kelihatan badannya mengejang keras sekali.
Thia Eng melompat ke depan dan segera menghampiri ke hadapannya, kemudian serunya.
"Sobat, kau .... kau tidak apa-apa bukan?"
Si "Utusan kanan"
Mendongakkan kepalanya dan membuka kain cadar hitam yang menutupi wajahnya, maka dengan cepat tampaklah seorang kakek kurus berusia enam puluh tahunan yang sedang mengucurkan darah kental dari mulutnya.
Dia memandang sekejap kearah Thia Eng, lalu tertawa terbahak-bahak dengan seramnya.
"Haaahh... haaahh... haaahh... aku tak akan hidup lebih lama...tubuhku sudah terkena kabut beracun... sebentar lagi badanku akan berubah menjadi darah kental dan mati, engkoh cilik, sungguh tak kusangka kalau aku bakal mati ditangan Yu leng lojin. haaahh...haaahh...haaahh...inilah... inilah yang dinamakan takdir..."
Berbicara sampai disitu, kembali dia mendongakkan kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak. Setelah berhenti beberapa saat lamanya, si "Utusan kanan"
Kembali berkata.
"Pintu kabut telah kututup....kabut beracun juga tak akan bisa muncul kembali, cuma yang telah masuk itu, kabut racun tersebut masih bisa menyebar dan... dan berbahaya... kalian... kaliai harus cepat-cepat pergi."
Darah mengucur keluar tiada hentinya dari ujung bibir, dia sudah tak berdaya untuk berbicara lebih jauh.
Dia suruh Thia Eng sekalian pergi, tapi pergi lewat mana?
Dimanakah letak pintu keluarnya ?
Belum sempat Thia Eng bertanya, kepala "Utusan kanan"
Sudah terkulai dan mati!
Kematiannya betul-betul mengerikan sekali, badannya makin lama berkerut makin kencang, mula-mula tangannya lebih dulu yang mencair jadi gumpalan darah, menyusul kemudian sekujur badannya.
Sungguh mengerikan sekali keadaan waktu itu, semua orang menjadi bergidik hatinya segera menyaksikan peristiwa tersebut.
Kekejaman dan kebuasan yang diperlihatkan sekarang sungguh membuat orang merasa tak berani untuk mempercayainya, kini seluruh badan utusan kanan telah berubah menjadi gumpalan darah, yang tbak melihat, menddengar cerita saemacam inipun bboleh dibilang belum pernah.
Mendadak,.., Saat itulah si utusan kiri telah sadar pula dari pingsannya dengan sempoyongan dia bangun berdiri, lalu memandang sekejap sekeliling tempat itu, ketika menyaksikan kabut putih yang melayang dalam ruangan, kontan saja ia menjerit keras.
"Haah. ..?! Itulah kabut beracun pencair hati..."
"Betul"
Sahut Thia Eng dingin.
"temanmu itu sudah tewas terkena kabut beracun itu"
Si utusan kiri itu seakan-akan tidak mendengar sama sekali ucapan dari Thia Eng, seperti orang kalap dia lari menuju ke arah pintu gerbang, lalu menggebrak pintu keraskeras, serunya menjerit lengking.
"Buncu, lepaskan aku keluar..."
"Blaam....blamm... suara benturan keras bergema memecahkan keheningan. Tapi keadaan yang dialaminya waktu itu tidak jauh berbeda dengan keadaan dari si Utusan kanan tadi, sayang sekali Yu leng lojin tidak menjawab juga tidak melepaskannya masuk kedalam.
"Sobat!"
Kembali Thia Eng berkata dengan suara dingin.
"jangan mimpi Yu leng lojin bersedia melepaskan dirimu!"
Utusan kiri segera mengalihkan sorot matanya ke atas wajah Thia Eng, kemudian menatapnya lekat-lekat. Dengan suara dalam kembali Thia Eng berkata.
"Andaikata Yu leng lojin bersedia menolongmu, temanmu itu tak akan mati dan tubuhnya tak akan berubah menjadi gumpalan darah akibat keracunan kabut pelebur hati itu"
Utusan kiri melirik sekejap jenasah utusan kanan yang sudah berubah menjadi gumpalan darah itu, tiba-tiba ia tertawa kalap, suaranya keras dan menyeramkan, penuh mengandung napsu amarah yang luar biasa.
Kemudian sambil berhenti tertawa dia berteriak.
"So Hui pi! Kau yang lebih dulu turun tangan keji, jangan salahkan kalau akupun tak akan bertindak sungkansungkan kepadamu."
Mendengar perkataan itu para jago segera merasakan semangatnya berkobar kembali, besar kemungkinan si Utusan kiri ini mengetahui jalan keluarnya, siapa tahu kalau ia bersedia membawa mereka keluar dari tempat itu?
"Sobat, sekarang tentunya kau sudah tahu jelas bukan manusia macam apakah Yu leng lojin itu?"
Kata Thia Eng dengan suara dingin.
"Benar, anggap saja aku sudah kenal dengannya, engkohku sudah mati oleh kabut beracun itu. tapi aku toh masih hidup...haahh... haaahh...haaahh..."
"Sobat, kau bisa keluar dari tempat ini."
"Tentu saja bisa !"
Jawab utusan kiri cepat.
Sorot matanya dialihkan sekejap memperhatikan sekeliling tempat itu, kemudian secara tiba-tiba dia berjalan menuju ke sebelah kanan gua.
Tak lama kemudian terdengarlah bunyi gemerincing yang amat nyaring menggema memecahkan keheningan, sementara utusan kiri sudah mengundurkan diri kembali ke tempat semula..
Ketika semua orang mencoba untuk memperhatikan pintu gerbang, ternyata pintu itu masih tetap tertutup rapat seperti sedia kala.
Melihat itu, Thia Eng menjadi tertegun, kemudian katanya.
"Apa yang telah terjadi?"
"Aku telah membuka pintu rahasia."
Jawab utusan kiri dengan suara dingin.
"Sungguh? Di mana?*"
"Pintu rahasia tersebut letaknya berada dibagian ruangan yang diselimuti kabut beracun itu...."
"Bukankah itu berarti untuk keluar dari tempat ini, kita harus menembusi kabut beracun Iebih dulu?" .
"Benar !"
"Bukankah hal ini sama artinya dengan menghantar kematiannya diri sendiri?"
"Asal kita tidak menghirup kabut beracun sehingga tidak melumerkan hati, tidak mencairkan tulang, otomatis jiwa kitapun tidak terancam oleh bahaya"
"Maksudmu asal kita tidak menghirup kabut beracun itu, maka jiwa kita akan selamat?"
"Betul!"
Seusai berkata dia lantas melompat kedepan dan menerjang masuk ke dalam kabut beracun itu, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.
Menyaksikan kesemuanya itu, paras muka semua orang segera berubah menjadi hebat.
"Hayo berangkat!"
Seru Bu khek lojin kemudian.
Diapun menggerakkan badannya menerjang masuk ke balik kabut putih beracun itu, sekejap mata kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.
Sambil mengempit tubuh Ong Bun kim, Thia -Eng juga bersiap siap melompat maju kedepan, tapi sebelum ia sempat menggerakan tubuhnya.
mendadak Tan Liok membentak keras.
"Tunggu sebentar."
Thia Eng tertegun dan tanpa terasa menghentikan gerakan tubuhnya.
"Hu kaucu, kau ada pesan apa lagi?"
"Bebaskan dulu jalan darah Buncu yang tertotok!"
Hingga kini semua orang baru teringat kalau jalan darah Ong Bun kim belum dibebaskan.
Sesungguhnya, Ong Bun kim dapat menyaksikan semua peristiwa yang berlangsung disitu dengan jelas, tapi sayang ia tak mampu berkutik maupun berbicara apa-apa.
Tan Liok mendekati Oag Bun kim dan mencoba untuk meraba jalan darahnya, tapi dengan cepat paras mukanya berubah hebat.
"Aduh celaka "
Serunya.
"rupanya totokan yang dipakai adalah suatu ilmu totokan menunggal. Begitu mendengar perkataan dari Tan Liok tersebut, paras muka semua orang turut berubah hebat. Thia Eng segera bertanya.
"Apa susah untuk dibebaskan?"
"Yaa. memang susah untuk dibebaskan!"
"Lantas bagaimana baiknya sekarang?"
Tak seorangpun yang tahu apa yang musti dilakukan sekarang untuk mengatasi masalah tersebut.
"Aku pikir lebih baik kita tinggalkan tempat ini lebih dulu!"
Usul Thia Eng kemudian.
"Tidak mungkin, bagaimana seandainya ia sampai menghirup kabut beracun itu?"
"Yaa, apa jadinya andaikata Ong Bun kim sampai menghirup kabut beracun itu? Sebab keadaannya sekarang tak jauh berbeda dengan seseorang yang tidak memiliki tenaga dalam, andaikata kabut beracun itu sampai terhirup, bukankah dia tak akan bisa hidup lebih jauh didunia ini?"
Ong Bun kim menjadi amat gelisah sekali, dia ingin memberi tahu kepada mereka kalau dirinya masih memiliki tenaga murni meski jalan darahnya sudah tertotok.
ia masih sanggup untuk menutup napasnya bilamana diperlukan, cuma sayang ia tak mampu untuk mengungkapkan isi hatinya itu.
Tan Liok lantas berkata kepada Ong Bun kim.
"Buncu, bagaimana baiknya sekarang?"
Dengan biji matanya Ong Bun kim menatap ke arah Tan Liok dan mengartikan untuk keluar dari situ.
"Kau maksudkan keluar dari sini?"
Tanya Tan Liok dengan wajah agak tertegun. Ong Bun kim manggut-manggut, Tan Liok segera bertanya lagi.
"Kau sanggup untuk menutup pernapasanmu?"
Sekali lagi Ong Bun kim mengangguk menandakan kalau ia mampu untuk melakukan hal itu. Dengan perasaan berat Tan Liok segera mengangguk, ujarnya kepada Thia Eng.
"Thia congkoan..."
"Tecu berada disini"
"Bawa Buncu keluar dari sini, tapi gerakan tubuhmu harus cepat."
"Aku mengerti."
Maka dengan langkah yang sangat berhati-hati Thia Eng berjalan kedepan dan akhirnya berhenti pada satu jengkal dari kabut beracun itu, ujar nya kepada Ong Bun kim.
"Buncu, harap kau menutup pernapasanmu."
Ong Bun kim manggut-manggut.
Dengan suatu gerakan tubuh yang amat cepat, Thia Eng segera melompat ketengah udara dan secepat kilat meluncur ke balik kabut beracun itu...
Tan Liok segera mengalihkan sorot matanya ke arah iblis cantik pembawa maut yang sedang memeluk dewi mawar merah sambil berdiri termangu-mangu disitu, kemudian tegurnya.
"Hujin, harap segera tinggalkan tempat ini."
Seperti baru sadar dari impiannya, Iblis cantik pembawa maut bergumam lirih.
"Luka yang dideritanya cukup parah!"
"Siapakah dia?"
"Putriku!"
"Putrimu?" .
"Benar, putriku! Toh aku tak bisa membiarkan dia mati ditempat ini..."
"Kalau begitu, mari kita gunakan tenaga yang kita miliki untuk menyembuhkan dulu luka yang dideritanya."
Iblis cantik pembawa maut manggut-manggut, maka dengan tenaga gabungan kedua orang itu mereka mengobati luka yang diderita si Dewi mawar merah...
Sebagamana diketahui, kedua orang ini semuanya adalah jago lihay dalam dunia persilatan dewasa ini, dalam beberapa saat saja mereka telah berhasil menyembuhkan luka yang dideritanya Dewi mawar merah.
Setelah sembuh dari lukanya.
Dewi mawar merah memandang kedua orang itu sekejap, lalu tanyanya.
"Hei, apa yang telah terjadi?"
Iblis cantik pembawa maut tak kuasa menahan rasa sedihnya lagi, dengan air mata bercucuran mendadak katanya.
"Putriku, kau..."
Tak tahan lagi ia memeluk gadis itu kencang-kencang dan menangis tersedu sedu. Buru-buru Tan Liok berseru.
"lebih baik kalian segera tinggalkan tempat ini, kalau tidak, kuatirnya kalian tak bisa pergi dari tempat ini""
Tiba-tiba Dewi mawar merah mendorong tubuh Iblis cantik pembawa maut seraya membentak.
"Kau bukan ibuku..."
"Oooh, putriku..."
"Aku bukan putrimu, jangan panggil aku lagi, kau bukan ibuku, kau bukan ibuku."
Iblis cantik pembawa maut cukup menyadari bahwa Dewi mawar merah sudah sangat terpengaruh oleh ilmu hipnotis Gi sin tay hoat, sudah barang tentu ia tak akan percaya kalau Iblis cantik pembawa maut adalah ibu kandungnya.
Maka iapun lantas berkata lembut.
"Entah kau bersedia mengaku atau tidak diriku sebagai ibumu, yang pasti kita harus segera tinggalkan tempat ini, kalau tidak andaikata kabut beracun itu menyerang kedalam tubuh, niscaya sekujur badanmu akan berubah menjadi gumpalan darah dan mati secara mengenaskan!"
Mendengar ucapan tersebut, paras muka Dewi mawar merah kontan saja berubah sangat hebat. Sambil membopong gadis itu, kembali iblis cantik pembawa maut membentak.
"Hentikan napasmu, kalau tidak kau tak akan bisa hidup lagi!"
Terlepas apakah Dewi mawar merah sudah menjadi seorang manusia buas atau tidak, yang pasti dia toh tetap manusia hidup dan setiap manusia hidup tentu memiliki harapan untuk bisa hidup lebih jauh didunia ini."
Maka ia segera manggut-manggut.
Dengan cepat iblis cantik pembawa maut menggerakkan tubuhnya menerjang masuk ke balik kabut putih itu diikuti oleh Tan Liok dibelakangnya...
Tiba di belakang ruangan, tampak sebuah pintu terbentang lebar diatas dinding batu, tanpa berpikir panjang lagi Iblis cantik pembawa maut meIuncur masuk kedalam pintu, menembusi pintu rahasia dan menerobos masuk kedalam.
Ternyata dalam ruangan dibalik pintu rahasia-itu masih terdapat kabut putih yang beracun.
oooOdwOooo BAB 94 DIBALIK pintu rahasia tampak sebuah lorong yang sempit dan panjang sekali, setelah melakukan perjalanan sejauh enam tujuh kaki, mereka baru lolos dari lingkungan kabut beracun, tanpa terasa ketiga orang itu menghembuskan napas lega.
"Thia congkoan!"
Dengan suara lantang Tan Liok segera berseru.
"Hu buncu. kami berada disini!"
Suara sahutan Tbia Eng berasal dari depan sana.
Tan Liok dan Iblis cantik pembawa maut segera berlarian kembali menuju kedepan sana.
Betul juga, ditempat itu mereka jumpai Thia Eng sekalian telah menunggu disitu, bagaikan baru lolos dari suatu ancaman maut beberapa orang itu cuma berdiri tertegun disitu.
Tan Liok segera menghampiri utusan kiri seraya berkata.
"Sobat, terima kasih banyak atas pertolonganmu."
"Tak usah berterima kasih, toh aku bertindak demikian demi menyelamatkan diriku sendiri"
Sahut Utusan kiri dingin.
"Sobat, dimanakah kita berada sekarang?"
"Di lorong rahasia!"
"Jalan keluarnya?"
"Sudah tersumbat..."
"Aaah, bukankah berarti kita tak mungkin bisa meloloskan diri dari sini?"
"Didalam Yu leng bun terdapat banyak sekali lorong rahasia yang jumlahnya mencapai ratusan buah, setiap lorong tersebut memiliki banyak sekali pintu rahasia, tapi sampai sekarang aku masih belum teringat jalan rahasia manakah yang sekarang kita tempuh sekarang ini."
"Asal kau terinrgat kembali arath dari lorong rahasia ini, apakah kau akan menemukan pula jalan keluarnya?"
"Benar ! Biar kucoba untuk membayangkan dulu"
Selesai berkata dia lantas duduk di atas tanah dan mulai memejamkan matanya untuk berpikir.
Sekali ancaman bahaya maut sudah lewat, tapi ancaman bahaya untuk kedua kalinya telah berada didepan mata, apakah bisa lolos dari dalam lorong rahasia itu masih merupakan suatu persoalan.
Kepada Ong Bun kim Tan Liok lantas berkata "Buncu, kau tidak apa apa bukan?"
Ong Bun kim menggelengkan kepalanya berulang kali. Iblis cantik pembawa maut segera-berjalan kehadapan Ong Bun kim lalu katanya.
"Mari kuperiksa keadaanmu, coba kulihat apakah aku bisa membebaskan totokan jalan darahmu atau tidak, siapa tahu kalau ilmu silat yang digunakan olehnya itu berasal dari kitab pusaka Hek mo keng?"
Selesai berkata, dia lantas meraba sebentar jalan darah diatas tubuh Ong Bun kim itu, kemudian katanya.
"Aaah, benar juga, ternyata yang dipergunakan adalah ilmu menotok jalan darah yang tercantum dalam kitab pusaka Hek mo-keng."
"Kau sanggup untuk membebaskannya?"
"Sanggup!"
Seusai berkata, tangan kanan Iblis cantik pembawa maut segera diayunkan ke bawah dengan kecepatan luar biasa, dalam waktu singkat dia sudah melancarkan lima buah totokan di atas lima buah jalan darah penting di sekujur badan Ong Bun kim, setelah itu dia mengurut sejenak jalan darah Mia Bun hiat ditubuh pemuda itu.
Tak lama kemudian, Ong Bun kim merasakan tenaga dalamnya telah pulih kembali seperti sedia kala.
Iblis cantik pembawa maut segera mengundurkan diri kembali, lalu katanya.
"Ong Bun kim, bagaimana rasamu sekarang?"
Untuk sesaat lamanya Ong Bun kim masih belum dapat berbicara, sampai lama sekali, dia baru menghela napas panjang.
"Terima kasih banyak atas pertolongan A-ih yang telah membebaskan diriku dari pengaruh totokan, aaai Sungguh keadaan yang mengerikan sekali, suatu siksaan yang lama dan panjang, masih untung jiwaku dapat lolos dari ancaman kematian."
Mendadak terdengar si utusan kiri berseru.
"Aah! Aku sudah teringat sekarang?"
Ucapan tersebut segera disambut oleh semua orang dengan kobaran semangat menyala-nyala, yaa, siapa yang tidak gembira dikala mengetahui kalau mereka masih mempunyai harapan untuk melanjutkan kehidupan...?
Ong Bun kim segera maju kedepan seraya berkata.
"Sobat, terimalah sebuah hormat dari Ong Bun kim sebagai ucapan terima kasih kami atas pertolonganmu kali ini!"
Selesai berkata, dia lantas membungkukkan badannya dan memberi hormat.... Sambil tertawa dingin si utusan kiri menukas.
"Mengapa harus berterima kasih kepadaku? Aku sendiri toh ingin juga meloloskan diri dari ancaman bahaya maut, sudahlah, tak usah dipikirkan lagi !"
Selesai berkata, tiba-tiba badannya berjalan balik kebelakang, sementara sorot matanya dengan tajam mengawasi sekeliling tempat itu seakan-akan mencari sesuatu, tiba-tiba ia berhenti.
Setelah itu sambil membungkukkan badannya dia meraba-raba diatas tanah, akhirnya orang itu berseru tertahan.
"Aaah, benar! Ini dia, disini!"
Dari atas tanah dia menyingkap sebuah lapisan batu persegi empat, kemudian tangannya meraba-raba kebalik gua dibalik lapisan batu tersebut.
"Kraaak.... kraak... kraaak...!"
Diiringi bunyi yang cukup keras, dinding batu itu merekah dan segera muncul sebuah pintu rahasia...
Semua orang menjadi sangat girang setelah menyaksikan kejadian itu, sebab dengan terbukanya pintu rahasia tersebut, berarti jiwa mereka bisa terbebas dari ancaman.
"Mari, marilah !"
Seru utusan kiri kemudian.
Seusai berkata dia berjalan lebih dulu, memasuki pintu batu rahasia tersebut.
Bu khek lojin segera menyusul dibelakangnya dan orangorang yang lainpun mengikuti secara teratur.
Lorong rahasia itu penuh dengan tikungan dan berlikuliku jalannya, entah berapa lama sudah lewat, mendadak mereka dengar suara tertawa dingin dari Yu leng lojin berkumandang dari dalam lorong rahasia tersebut.
Selapis hawa membunuh yang cukup tebal dengan cepat menyelimuti seluruh wajah Ong Bun-kim bentaknya dengan lantang.
"Yu leng lojin, kalau punya kepandaian ayoh muncul dirimu, buat apa menyingkir melulu?"
Yu leng lojin masih saja tertawa dingin dengan seramnya, lalu kemudian dia baru berkata.
"Utusan kiri, besar amat nyalimu."
Utusan kiri segera mendongakkan kepalanya dan tertawa seram pula.
"Haahh... haah... haahh... Yu leng lojin, kau yang menghianati kami lebih dulu sehingga nyawa kami hilang, jangan salahkan kalau sekarang akupun akan mengkhianati dirimu."
"Heeehhhh....,heeehh....heeeehh.... utusan kiri barang siapa berani mengkhianati aku dia harus mati!"
Ong Bun-kim balas tertawa dingin serunya kembali.
"Hmmm, belum tentu demikian!"
Suara dari Yu leng lojin tidak kedengaran berkumandang lagi, suasana dalam lorong rahasia itu segera dicekam dalam keheningan yang luar biasa seramnya, seolah-olah lorong rahasia itu sudah diliputi oleh bayangan kematian yang mengerikan sekali, dan tanpa terasa perasaan tersebut menekan perasaaan semua orang.
Dengan sekali lompatan Ong Bun-kim melompat kesamping utusan kiri, lalu katanya sambil tertawa dingin.
"Ingin kulihat dengan cara apakah dia hendak menghadapi dirimu!"
Dia lantas melakukan perjalanan bersama dengan utusan kiri sambil berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Baru berjalan sejauh tiga kaki, tiba-tiba terdengar suara bentakan keras bergema memecahkan keheningan, menyusul kemudian tampak sesosok bayangan hitam menerjang kearah utusan kiri tersebut.
Serangan yang dilakukan oleh bayangan hitam itu sungguh teramat cepat sekali, dengan cekatan urusan kiri berkelit ke samping untuk menghindarkan diri.
Pada saat utusan kiri menyelinap ke samping itulah, tubuh Ong Bun kim telah menerjang maju kemuka sambil melancarkan sebuah pukulan dahsyat.
Didalam serangan yang dilancarkan ini telah disertakan segenap tenaga dalam yang dimiliki Ong Bun kim, kekuatannya maha dahsyat ibaratnya gulungan ombak ditengah samudra.
Pada saat yang bersamaan Tan Liok juga meluncur kedepan dengan kecepatan tinggi.
Gerakan tubuh dari kedua orang ini dilakukan samasama dengan kecepatan tinggi, ibaratnya sambaran kilat yang menyambar tiba.
dalam waktu singkat mereka telah berada di hadapan orang itu.
Mendadak bayangan hitam tersebut membentak keras, lalu melancarkan serangan senjata rahasia yang secara terpisah mengancam tubuh Ong Bun kim serta Tan Liok.
Melihat datangnya serangan itu, Tan Liok maupun Ong Bun kim segera membentak keras, sepasang telapak tangan mereka serentak diayunkan kedepan.
"Jangan disambut dengan serangan pukulan."
Tiba-tiba Utusan kiri berteriak.
Sekalipun peringatan datangnya cepot, toh keadaan tetap terlambat setindak, tahu-tahu angin pukulan yang dilancarkan Ong Bun kim serta Tan Liok sudah menghajar senjata rahasia tersebut secara telak.
"Blaam! Blaaam! Blaaam !"
Terjadi tiga kait ledakan dahsyat yang memekikkan telinga dan menggoncangkan seluruh permukaan gua.
Ong Bun kim serta Tan Liok menjadi terperanjat sekali, serentak mereka menarik kembali serangannya dan mengundurkan dirinya kebelakang dengan kecepatan luar biasa.
Begitu ledakan terjadi tadi, kabut putih dengan cepat menyelimuti seluruh lorong sempit tersebut.
Dengan cepatnya pula kabut putih itu menyambar ke empat penjuru...
Dalam waktu singkat semua orang yang berada ditempat itu tak mampu untuk memperhatikan pemandangan disekitar sana lagi.
Utusan kiri segera membentak dengan suara nyaring.
"Kita terjang kedepan"
Begitu selesai berkata, tubuhnya segera menerjang kemuka dengan kecepatan tinggi disusul Bu-khek lojin dibelakangnya.
Mendadak terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati menggema dari depan sana.
Lalu terdengar pula Bu khek lojin membentak.
"Yu leng lojin, aku akan beradu jiwa denganmu!"
Ong Bun kim serta Tan Liok sama-sama tertegun, sambil membentak keras Ong Bun kim segera menerjang kedepan dengan kecepatan yang luar biasa hebatnya.
Dikala Ong Bun kim sedang bergerak maju ke-depan itulah, jeritan ngeri untuk kedua kalinya berkumandang memecahkan keheningan, kemudian tampak sesosok bayangan manusia meluncur kehadapan Ong Bun kim.
Dengan kedua belah tangannya Ong Bun kim menyambut datangnya bayangan hitam itu, ketika diamati orang itu dengan seksama, dia segera menjerit tertahan dan mundur tiga empat langkah dengan sempoyongan, orang yang berada ditangannya pun turut terjatuh keatas tanah.
Tampak Bu khek lojin telah muntahkan darah segar dan tewas dalam keadaan mengerikan.
Ong Bun kim segera saja meraung keras, teriaknya lantang.
"Yu leng lojin, kau sungguh amat kejam!"
Setelah membentak penuh kegusaran tadi, pemuda itu segera menerjang masuk kebalik kabut putih yang menyelimuti tempat itu.
Mendadak....
dikala Ong Bun kim sedang meluncur kedepan dengan kecepatan luar biasa inilah, dia merasakan datangnya segulung tenaga pukulan yang langsung menghantam keatas badannya.
Dibalik kabut putih yang sangat tebal, pada hakekatnya sulit buat Ong Bun kim untuk memperhatikan keadaan disekeliIing tempat itu.
tanpa terasa ia menjadi terkejut sekali, seraya membendung datangnya ancaman dari tangan kanannya, dia buru-buru mengundurkan diri kebelakang....
Baru saja Ong Bun kim mundur, Thia Eng telah menerjang maju kedepan, tiba-tiba terasa ada sambaran angin tajam yang menyergap tiba dengan kecepatan luar biasa, ketika Ong Bun kim mengetahui kalau serangan itu berupa senjata rahasia, buru-buru dia lancarkan serangan untuk menghalanginya.
Baru saja serangan dilepaskan, perutnya segera menjadi kesemutan, tapi dengan cepat pula keadaan pulih kembali seperti sedia kala, Ong Bun kim segera mengerti bahwa ia sudah terkena serangan senjata rahasia lawan.
"Hati-hati dia menggunakan senjata rahasia..."
Segera bentaknya dengan lantang. Baru selesai ia berkata, Tan Liok sudah menerjang kedepan sambil membentak keras.
"Yu leng lojin, sambut dulu sebuah pukulanku ini"
Begitu selesai berkata, sebuah pukulan yang disertai dengan deraian angin tajam segera meluncur kedepan, secara beruntun dia lancarkan tiga buah serangan berantai.
"Hayo berangkat!"
Teriak iblis cantik pembawa maut dengan suara amat nyaring.
Dia maju kedepan dan berkelebat lebih dulu meninggalkan tempat tersebut.
Ditengah kabut putih yang menyelimuti seluruh lorong tersebut, terdengar suara bentakan dari Tan Liok dan Yu leng lojin sedang menggema memecahkan keheningan.
"Thia congkoan!"
Kedengaran Ong Bun kim berseru dengan suara keras dan nyaring.
"Tecu ada di sini?"
"Mari kita berangkat!"
"Buncu, aku sudah terkena senjata rahasia bagaimana dengan dirimu sendiri?"
"Apa? Kau sudah terkena sambitan senjata rahasia? "Betul, cuma ku pikir luka tersebut tidak terlalu mengganggu gerak-gerikku!"
"Akupun terkena pula sambitan senjata rahasia."
Mendadak... Suara dari Tan Liok kembali berkumandang datang.
"Buncu, mari kita pergi dari sini."
"Bagaimana dengan kau?"
"Harap buncu tak usah kuatir, setelah menghabisi jiwanya nanti, aku bisa keluar sendiri dari tempat ini!"
Ong Bun kim cukup merasa yakin dengan kemampuan serta kepandaian silat yang dimiliki Tan Liok, boleh dibilang kepandaian yang dimiliki orang itu jauh diatas kepandaiannya, dia pun merasa lega dan tidak menguatirkan keselamatannya lagi.
Kepada Thia Eng segera serunya.
"Thia congkoan, hayo berangkat."
"Baik!"
Ditengah sahutan dari Thia Eng tersebut, Ong Bun kim melompat kedepan dan meluncur keluar dari lingkaran kabut putih yang amat tebal, didepan sana ia menyaksikan ada cahaya terang yang menyorot masuk dari depan gua.
Mendadak...
-oo0dw0oo--
Jilid 30 KEDENGARAN suara bentakan keras berkumandang dari depan sana, Ong Bun kim dan Thia Eng segera menerjang bersama ke luar dari gua itu dengan kecepatan tingi.
Tampak dimulut gua terdapat puluhan orang manusia tanpa sukma sedang mengerubuti Iblis cantik pembawa maut, pertarungan sedang berlangsung amat seru sekali.
Meskipun Iblis cantik pembawa maut harus mengempit tubuh Dewi mawar merah di bawah ketiaknya, tapi gerak geriknya masih gesit, cepat, cekatan dan berbahaya.
Dengan suatu lompatan lebar Ong Bun kim segera meluncur kedeapan sana, di tengah bentakan nyaring tenaga pukulannya telah dilancarkan berulang kali.
Jeritan-jeritan kesakitan yang memilukan hati segera berkumandang saling susul menyusul.
Thia Eng tidak ambil diam, diapun segera terjun ke arena pertempuran dan melibatkan diri dalam pertempuran yang amat sengit itu.
Mendadak terdengar Iblis cantik pembawa maut mendengus tertahan, tiba-tiba badannya terjungkal keatas tanah dan tak mampu berkutik lagi.
Peristiwa ini dengan cepat mengejutkan sekali hati Ong Bun kim yang sedang bertempur.
Dengan suatu lompatan kilat Thia Eng meluncur kedepan dan mencengkeram badan Iblis cantik pembawa maut.
Tapi pada saat itu juga muncullah puluhan gulung tenaga pukulan maha dahsyat yang segera menyelimuti sekujur badannya.
Dalam keadaan begini, kendatipun harus pertaruhkan keselamatan jiwanya.
Thia Eng bertekad akan menolong nyawa Iblis cantik pembawa maut, maka dikala ia berhasil mencengkeram tubuh perempuan itu, tiga buah pukulan dahsyat dengan telak menghajar diatas tubuhnya.
"Uaaaak...!"
Darah kental segera menyembur keluar dari mulutnya.
"Kubunuh kalian semua"
Bentak Ong Bun kim dengan geramnya..Ditengah bentakan yang amat nyaring, tenaga pukulannya yang maha dahsyat telah dilontarkan kedepan.
Ditengah jeritan ngeri yang memilukan hati, dua orang manusia Yu leng lojin tergeletak mati diatas tanah.
Puluhan orang Yu leng jin lainnya bertambah kalap, sekali lagi mereka menerjang kemuka dan menerkam Ong Bun kim dengan geramnya.
Ong Bun kim membentak nyaring, telapak tangan kirinya diayunkan kedepan melancarkan sebuah pukulan dahsyat.
Tenaga pukulan yang digunakan Ong Bun kim dalam serangannya kali ini benar-benar luar biasa sekeji, sayang pada saat itulah mendadak ia merasakan kepalanya pusing tujuh keliling, semuanya ber putar-putar dan pandangannya menjadi gelap setelah itu tiba-tiba badannya terjungkal keatas tanah.
Keadaan tersebut tak jauh berbeda dengan keaadaan yang dialami iblis cantik pembawa maut barusan.
Thia Eng yang menyaksikan kejadian ini menjadi terperanjat sebkali.
"Buncu!"
Teriaknya tertahan.
Tangan kanannya dengan cepat menyambar kedepan dan mencengkeram tubuh Ong Bun kim.
Sesungguhnya Ong Bun kim jatuh pingsan lantaran ia sudah terkena senjata rahasia yang amat beracun sekali, sebagai mana diketahui, sewaktu menerjang keluar dari lapisan kabut putih yang sangat tebal tadi paha nya telah terhajar sebatang senjata rahasia-beracun, dengan kekejian racun tersebut, dalam waktu singkat daya kerja racun didalam tubuhnya sudah mulai bereaksi.
Iblis cantik pembawa maut sendiripua roboh diatas tanah lantaran termakan oleh sambitan senjata rahasia beracun itu.
Begitulah, disaat Thia Eng sedang menyambar tubuh Ong Bun kim yang roboh terkapar, puluhan gulung, tenaga pukulan yang maha dahsyat kembali meluncur datang dengan kecepatan luar biasa.
"Blaamn! Blaaamn!"
Dua kali benturan keras terjadi, lagilagi Thia Eng termakan oleh dua buah pukulan keras yang dahsyat sekali.
Untuk kesekian kalinya dia muntah darah segar.
Bayangan manusia segera berkelebat lewat, beberapa sosok bayangan manusia dengan cepatnya menerjang ke arahnya.
Andaikata Thia Eng tidak takut terhadap pengaruh racun, niscaya keadaannya sekarang tak akan jauh berbeda dengan keadaan Ong Bun-kim maupun iblis cantik pembawa maut.
Untung saja keadaannya berbeda, maka dengan dua belah tangan menenteng tiga sosok tubuh manusia dia berusaha melarikan diri dari sana, padahal ketika itu dia sudah tak bertenaga lagi untuk melakukan perlawanan, ia sadar kecuali kabur dari tempat celaka tersebut, kalau tidak sudah pasti nyawa mereka akan lenyap disana.
Maka sambil berpekik nyaring, tiba-tiba tubuhnya berkelebat kedepan dan melarikan diri cepat-cepat.
"Hmmm ....! Kau anggap masih mampu untuk kabur dari tempat ini?"
Seseorang mengejek dari belakang.
Puluhan sosok manusia Yu-leng-jin dengan ketatnya mengejar terus dari belakang, sebaliknya Thia Eng meski sudah menderita luka yang cukup parah, namun gerakan tubuhnya masih tetap cepat dan ringan sebali.
Sepanjang jalanr melarikan diri dari situ, berulang kali Thia Eng muntah darah segar...
Sungguhpun badannya sudah lemas tak bertenaga, pandangan matanya sudah menjadi gelap dan langkahnya makin sempoyongan, akan tetapi ia tetap mempertahankan dirinya, dia bertekad untuk menyelamatkan diri dari sana, yang paling penting adalah menyelamatkan jiwa Ong Bunkim dari ancaman bahaya maut.
0000OdwO0000 BAB 95 BEGITU ingatan tersebut muncul didalam benaknya, tekad itu menjadi semakin bulat dan dia merasa seolah-olah mendapatkan tambahan tenaga sehingga larinya semakin lama semakin kencang.
Rupanya kawanan Yu leng jin dibelakangnya tak rela melepaskan musuhnya yang sudah terluka parah itu dengan begitu saja, dengan ketatnya mereka mengikuti terus dari belakang.
Setelah melarikan diri sekian lama, pemuda ini mulai sempoyongan dan akhirnya roboh terjengkang keataa tanah, darah segar kembali menyembur keluar dari mulutnya.
Hampir bolah dibilang ia sudah tak bertenaga lagi untuk melangkah bangun dari atas tanah.
Suara bentakan keras dan pekikan nyaring dari belakang sana terdengar makin lama semakin mendekat, suara tersebut bagaikan guntur dahsyat yang menggetarkan benak Thia Eng, membuat hatinya bergetar kembali dengan kerasnya.
Dengan susah payah dia merangkak bangun lagi dari atas tanah, kemudian sambil menggigit bibir ia membopong tubuh Iblis cantik pembawa maut serta Ong Bun kim dan kembali dia lanjutkan usahanya untuk melarikan diri dari sana.
Pandangan matanya sudah demikian kabur, hampir boleh dibilang ia sudah tak sanggup lagi untuk melihat jelas pemandangan yang terbentang didepan matanya.
"Lari !"
Hanya ingatan "lari"
Saja yang berada dalam benaknya, kecuali itu dia boleh dibilang sudah lupa dimanakah ia berada, ia sudah lupa dengan keadaan yang ada disekeliling tempat itu.
Begitulah, dengan berlarian tanpa arah tujuan, beberapa li kembali sudah dilewatkan.
Akhirnya tibalah ia diatas sebuah tebing yang amat terjal, dalam lamat-lamatnya pikiran, dia tak tahu kalau dirinya berada disuatu tempat yang berbahaya, dengan sempoyongan dia berlarian terus menelusuri tebing curam itu menuju ke atas.
Tiba-tiba kakinya menginjak tempat yang kosong..
"Aaaa !"
Ditengah jeritan tertahan, tubuhnya berikut tubuh Ong Bun kim dan Iblis cantik pembawa maut segera mencebur kedalam jurang yang tiada taranya itu.
Dalam keadaan setengah sadar setengah tidak, setelah mengalami suatu goncangan yang sangat keras, Ong Bun kim merasakan sekujur badannya menjadi amat dingin, ia mulai sadar kembali diri pingsannya.
Pemuda itu mencoba untuk menggelengkan kepalanya lalu bangkit berdiri, dengan pandangan sayu dia awasi sekejap sekeliling tempat itu, dijumpai ia berada dalam sebuah kolam yang tidak begitu besar, air kolam itu tidak dalam, sewaktu berdiri airnya hanya sebatas dada, hampir boleh dibilang ia tak tahu apa gerangan yang sesungguhnya telah terjadi.
Mendadak..
Ia mendengar jeritan kaget seorang gadis berkumandang memecahkan keheningan.
Ketika Ong Bun kim mencoba untuk berpaIing kearah mana datangnya suara itu, maka tampaklah seorang gadis telanjang sedang mandi didalam kolam tersebut.
Ong Bun kim merasa terkesiap sekali, sehingga untuk beberapa saat lamanya dia hanya berdiri termangu disitu.
Lama, lama kemudian, ia baru teringat akan Thia Eng sekalian, sambil mengerahkan sisa tenaga yang dimilikinya, dia segera menyeret mereka naik keatas tepi kolam.
Setelah mengerahkan semua sisa kekuatan yang dimiliki Ong Bun kim, akhirnya pemuda itu berhasil juga menyeret semua orang naik ketepi kolam namun dia sendiri segera roboh terjengkang setelah kehabisan tenaga...
000OdwO000 KETIKA sadar kembali dari pingsannya, pemuda itu menemukan dirinya sedang berbaring didalam sebuah kamar, agaknya kamar tidur seorang perempuan maka diapun lantas teringat kembali akan gadis telanjaag yang dijumpai kolam dalam tadi.
"Mungkinkah dia yang telah menyelamatkan jiwanya? Bagaimana dengan rekan-rekannya? Teringat sampai di situ, diam-diam Ong Bun kim merasa terkejut sekali.. Mendadak ia mendengar ada suara langkah kaki manusia bergema kearah dalam ruangan itu. Ketika Ong Bun kim mendongakkan kepalanya, maka tampaklah seorang dayang berbaju hijau yang berusia lima enam belas tahunan berjalan masuk kedalam ruangan dan menghampiri pembaringan. Ong Bun kim ingin melompat bangun, namun tak berdaya sebab seluruh badannya lemas tak bertenaga. Dayang berbaju hijau itu langsung berjalan kehadapan Ong Bun kim, wajahnya tanpa emosi, setelah memandang sekejap diri Ong Bun kim, katanya.
"Kau sudah lama sadar kembali?"
Ong Bun kim agak tertegun, kemudian sahutnya.
"Baru saja sadar, tempat manakah ini?"
"Kamar dari Ji siocia kami!"
"Bagaimana dengan rekan-rekanku?"
"Tak usah kuatir, mereka sedang merawat lukanya dalam kamar yang lain, keadaannya sudah tak menguatirkan lagi!... Sehabis mendengar perkataan itu Ong Bun kim baru merasa lega sekali, katanya kemudian.
"Terima kasih banyak nona atas budi pertolongan kalian!"
"Toh bukan aku yang menolongmu, buat apa kau musti berterima kasih kepadaku?"
"Kalau begitu, tolong sampaikan kepada siocia mu bahwa aku merasa berterima kasih sekali atas pertolongannya!"
"Siocia suruh aku datang membawamu pergi menjumpainya"
Ujar dayang berbaju hijau itu dingin.
"Mau apa?"
"Aku tidak tahu!"
"Tapi aku..."
"Disini ada sebungkus obat, telan dulu!"
Dia merogoh ktdalam sakunya dan mengeluarkan sebungkus obat kemudian diserahkan kepada Ong Bun kim.
Si anak muda itu tertegun, akhirnya dia menerima juga pemberian obat itu dan menelannya.
Tak lama setelah minum obat, akhirnya Ong Bun kim dapat bergerak kembali, ia lantas bangkit berdiri dan menengok kearah dayang berbaju hijau itu.
ujarnya sambil tersenyum.
"Nona, harap kau suka membawa jalan."
Dayang berbaju hijau itu tidak berbicara apa-apa, dia membalikkan badan dan berjalan keluar dari sana.
Ong Bun kim tak tahu dimanakah ia berada sekarang, terpaksa diikutinya dayang berbaju hijau itu keluar dari ruangan tersebut.
Sesudah keluar dari pintu mereka berbelok menelusuri sebuah serambi panjang, diluar serambi adalah sebuah kebun bunga dengan gunung-gunungan, pemandangannya sangat indah.
Tak lama kemudian, ia sudah diajak masuk ke dalam sebuah ruangan besar, perabot dalam ruangan itu rata-rata sangat indah dan mewah, Ong Bun kim menjumpai ada dua orang gadis berbaju hijau duduk berjajar didalam ruangan tersebut.
Salah seorang diantaranya ternyata gadis telanjang yang pernah dijumpai sedang mandi didalam kolam itu.
Paras muka-kedua orang gadis itu rata-rata amat cantik, sikapnya juga anggun sekali, buru-buru Ong Bun kim maju kedepan memberi hormat kemudian katanya.
Baca Juga: Hong Lui Bun 4
Baca Juga: Anak Berandalan 3