Eps 4 Hong Lui Bun - Khu Lung
Baca online Hong Lui Bun - Khu Lung
Cersil Hong Lui Bun - Khu Lung.
Ingin dia menerjang masuk ke dalam kobaran api, tapi Kim-ji-tay-beng keburu menangkap lengannya.
"Nona, ciangbun tidak akan mengalami bahaya, dia bukan manusia yang berusia pendek, sekarang mungkin sudah lolos dari arah lain-.. Le Bun juga yakin apa yang dikatakannya memang benar, lekas dia berputar lari kearah jendela lain yang belum terjilat api, Bahwa bujukannya berhasil menahan dan menyadarkan Le Bun, Kim-ji-tay-beng, katanya.
"Mari kita labrak tua bangka itu, umpama jiwa kita harus berkorban juga biar adu jiwa dengan dia."
Kembali mereka saling memegang pundak, tenaga murni terjalin Kim-gin-sa-ciangpun dilancarkan, ditengah gemuruhnya lengking suara disertai dua gelombang pukulan dahsyat seperti gugur gunung melanda.
Hwe-hun-cun-cia terkial-kial.
bentaknya.
"Keparat yang tak habis dibunuh. Serahkan jiwa kalian-"
Sekali lengan baju mengebas,Jik-yam-ciang yang bersuhu panas tinggi menerjang kedepan.
"Plok"
Tubuhnya tergeliat, tapi kedua kakinya amblas sedalam tiga dim didalam tanah.
Tangan Kimji-tay-beng mendorong lalu menyanggah, dia salurkan tenaga pukulan lawan yang terlontar kearahnya kepada Gin-ji tay-beng, kebetulan Gin-ji tay-beng juga berbuat serupa, begitu kedua tenaga dahsyat itu saling bentur lantas sirna tidak berbekas.
Karena yakin Liok Kiam-ping sudah mati oleh am-gi lawan yang ganas, maka kali ini mereka melabrak musuh mengajaknya gugur bersama.
Selama tiga puluh tahun belakangan ini kedua orang yang meyakinkan bersama sejenis ilmu tunggal yang harus dilancarkan dua orang berbareng dan dinamakan Ho-hap-ut-ki (gotong royong saling bantu) dilandasi tenaga Thian-te-ci-kio pula, sehingga kedua orang ini seia sekata, kekuatan dua orang terbaur, menyerang bersama sehingga gerakanpun serasi dan merata.
Meski taraf kemampuan mereka masih lebih asor dibanding Hwe-hun-cun-cia, tapi karena tenaga murni lawan juga terkuras tidak sedikit, maka sekarang mereka berada diatas angin-Semangat Kimji-tay-beng makin menyala, tangan kanannya beruntun menyerang dengan Kim-sa-ciang, dimana sinar emas gemerdep beruntun dia melancarkan delapan pukulan, demikian pula Gin-ji-tay-beng memukul delapan kali.
Sesama tenaga murni menimbulkan kekebalan, bolak balik sama membantu, damparan angin seperti amukan gelombang samudra, bergulung-gulung dengan angin ribut, Hwe-hun-cuncia terdesak mundur tiga tindak.
Hwe-hun-cun-cia sudah terluka tiga jari dan dadanya oleh Liat-jit-kiam Liok Kiam-ping, darah segar masih terus bercucuran, belum sempat memberi obat dan membalut lukaluka, sudah dikerubut oleh kedua orang ini, karuan dia kelabakan-Dasar wataknya memang buas dan liar, selama puluhan tahun sejak taraf kepandaiannya meningkat belum pernah dia ketemu tandingan, kini terdesak oleh keroyokan Kim-gin-hu-hoat, maka sifat liarnya menjadi kumat, rambut kepalanya kaku berdiri, sorot matanya buas, seperti banteng ketaton-sekuat tenaga dia gerakkan kedua tangannya, setelah terjadi ledakan keras, angin ribut melanda ke berbagai penjuru membawa hawa panas yang mengejutkan-Begitu bentrok pandang dengan mata orang, tak sadar Kim-ji-tay-beng bergidik seram, lekas Kim-sa-ciang dilontarkan pula, namun tetap tak kuasa menahan terjangan tenaga lawan yang ampuh, lekas dia membentak keras.
'Khing-te.
Dia sudah gila, hati-hati.' karena memusatkan perhatian-semangat dan tenaga mereka terjalin cukup tangguh dan gerak gerik kedua orangpun terkontrol dengan rapi, tekad menuntut balas bagi kematian ciangbun mereka menjadikan serangan mereka semakin tangguh.
Maka berulang terjadilah bentrokan yang menimbulkan ledakan keras, bumi bergetar debu membumbung, pohon disekitar rumah rontok daunnya.
Dengan badan yang terluka Hwe-hun-cuncia bertempur mati-matian seperti binatang yang terluka mengamuk dalam kepungan, di bawah amarah yang menggila, setiap pukulannya dilandasi setaker tenaganya.
Walau Kim-gin-huhoat sudah menjalin kekuatan dengan Thian-te-ci-kio, karena lawan mengamuk seperti orang gila.
kini berbalik mereka yang terdesak malah, sekejap lagi jelas mereka takkan kuat menahan serbuan gencar ini, mereka terus terdesak mundur ke arah gedung yang lagi menyala panas.
Sementara itu Le bun berputar kesebelah gedung sana, mulut berteriak-teriak.
"Kiamping, Kiam-ping..."
Bocah gede Siang Wi ternyata menangis sedih, katanya dengan cucaran air mata.
"Dia sudah hancur oleh ledakan granat api paman Hwehun-cun-cia. Huuaaa, bocah cilik kenapa jiwamu sependek ini...
"begitu dia membuka mulut menangis gerung-gerung sungguh tak terbendung pula cucuran air matanya. Sudah tentu Le Bun ikut bersedih, katanya penuh kebencian.
"Hayo kita tuntut balas kematiannya ."
Siang Wi angkat pentungan terus mendahului lari balik.
teriaknya.
'Hwe-hun-cuncia tua bangka keparat, serahkan jiwamu.' Seperti disayat-sayat hati Le Bun, secepat kilat dia mendahului melesat terbang, berarti dia lari mengitari gedung besar ini satu lingkar, didapati Kui-Hun-ceng ternyata sepi lengang, bayangan seorangpun sudah tidak kelihatan lagi.
Hanya suara nyala api saja yang memusnahkan gedung, asap tebal membumbung keangkasa.
Ternyata Angkin-cap-pwe-ki juga tidak kelihatan batang hidungnya, demikian pula Biau-jiusip-coan tidak kelihatan bayangannya.
Dengan perasaan kebat kebit dia baru berjalan setengah lingkaran.
pandangannya seperti dibungkus kain hitam saja.
kecuali sinar api, tiada benda lain yang terlihat.
Mendadak sebuah lengking tawa berkumandang dibelakangnya, dengan tersirap Le Bun membalik, secara reflek serulingnya bertaburan, cahaya putih telah membungkus badannya, sekali putar pula seperti kitiran saja dia sudah membalik badan sambil menyurut mundur.
Waktu pandangannya tertuju ketanah, bola matanya terbelalak.
rasa seram dan ngeri seketika menghantui hatinya, dihadapannya bertumpuk belasan mayat orang yang masih melelehkan darah segar.
cepat dia melompat maju mendekat, mayat-mayat ini bukan lain adalah anak buah Liok Kiam-ping, siapa lagi kalau bukan Ang-kin-cap-pwe-ki, dihitung memang genap semua ada delapan belas mayat.
Tanpa merasa dia menjerit tertahan sambil mendekap mulut, ditengah jeritannya itu tiba-tiba didengarnya sebuah jengek tawa kaku dibelakangnya, sedingin es suara itu sehingga jantungnya ikut merasa dingin.
Begitu dia menoleh dilihatnya bayangan seseorang hitam gelap terbungkus dalam asap tebal, serunya terkejut.
"Siapa kau ?"
Bayangan itu seperti setan yang tidak berbentuk saja, tubuhnya seperti ikut melambai ditiup angin lalu, Kebetulan angin menghembus hingga asap agak mernbumbung ke atas, dibawah cahaya api dia melihat jelas wajah orang itu, seketika rasa merinding timbul dalam benaknya, kapan dia pernah melihat seraut wajah seburuk ini.
Wajah itu tidak mirip muka manusia karena dia hanya memiliki sebuah mata hidung ya bengkok bolong separoh, bibirnya merekah hingga giginya yang putih kelihatan merongos dengan gusi yang merah menjijikan, rambutnya kusut masai menutupi muka, sehingga separo kepalanya tertutup rapat.Jubah kembang dasar warna hitam tampak sempit membungkus tubuhnya yang kurus tinggi laksana galah, lengan bajujusteru longgar dan panjang tampak melambai tertiup angin sehingga tubuhnya kelihatan melegot, selintas pandang orang pasti sangka dia ini dedemit.
Le Bun bertanya pula.
"Siapa kau "
"Hehehe, genduk ayu, siapa aku.?"
Suara nan dingin seperti gerujug air es dari lembah yang paling rendah, hawapun terasa seperti membeku.
Le Bun menarik napas menambahkan hati, seruling melintang didepan dada, tanyanya pula dengan suara bengis.
'Siapa kau sebetulnya ?"
Orang itu terkekeh, separti melayang saja dia melejit maju, katarnya dingin. 'Aku adalah Kiong bing.
"Apa Tok-sin-kiong-bing ?' pekik Le Bun tersirap. Kiongbing tertawa dingin, ujarnya.
"Ban-tok-ci-ong, ong-tiong-ci-sin-' artinya raja selaksana racun, raja diantara malaikat. Lalu perlahan dia mengeluarkan telapak tangan dari balik lengan bajunya. aku datang dari Kosiok-Kiong, ternyata dua muridku sudah mati, genduk. apa kau yang membunuh mereka ?"
Tidak menjawab Le Bun bertanya malah.
"Apakah kau yang membunuh mereka?"
"Mereka terkena racun tanpa bayanganku, semua sudah mampus, jikalau kau tidak mau menerangkan, kaupun akan mampus seperti mereka."
Telapak tangan orang tampak mengkilap biru, dalam gelap dibawah cahaya jago merah kelihatan begitu mengerikan, namun Le Bun cukup tabah, katanya.
"Darimana kau tahu bahwa muridmu sudah mati ?"
Tok -sin -Kiong -bing berkata.
"Sukma mereka sudah putus, sudah tentu aku tahu mereka sudah mati..."
Melihat kucing pelacak dalam pelukan Le Bun, sorot matanya semakin menyala, katanya.
"Muridku itu pergi ke ouw-lan, kenapa kucing pelacak miliknya bisa berada ditanganmu ?"
Mendadak dia menghardik.
"Serahkan jiwamu,"
Segera dia menerkam sambil membuka kelima jari tangannya, belum tiba tapi bau bacin dan amis telah merangsang hidung Le Bun.
"Hait "
Le Bun membentak nyaring, serulingnya menggaris lurus.
Suitan pendek memetakan setabir cahaya putih membungkus tubuhnya.
Gerak gerik Kiong-bing betul-betul mirip setan gentayangan, begitu kelima jarinya menyentuh tabir sinar putih lawan, sebat sekali orangnya sudah melayang pergi, ditengah udara dapat membelok arah dan berada dibelakang Le Bun.
Kembali Le Bun taburkan bayangan serulingnya, namun kembali dia kehilangan jejak Kiong-bing, serulingnya dituntun setengah lingkar, jurus ceng-hun to-to dari permainan dua belas jurus seruling mega hijau menciptakan sinar berderai selaksa banyaknya.
Kiong-bing menyeringai, katanya.
"Ternyata kau murid Tokko cu nenek peot yang galak itu"
Segera dia tambah dua bagian tenaga dan mengencangkan gerakan tangan, beruntun dia menjotos sepuluh kali menendang delapan kali.
disamping lincah diapun lancarkan serangan ganas dan keji, Le bun telah didesaknya hingga tak mampu mengembangkan permainan seruling tunggal ajaran gurunya.
Sambil terkekeh Kiong bing mengebut tangan kiri hingga menerbitkan segulung angin kencang menahan gerakan seruling panjang, sementara kelima jari tangan kanan menjentik, lima jalur angin panas segera mendesis keluar dari kuku jarinya.
Karena seruling panjang terbendung oleh tenaga lawan, tangan kiri sudah siap melolos cui-le-loam yang diserahkan Kiam-ping kepadanya, mendadak bau pedas yang menyengak hidung telah menyebabkan otaknya seperti linglung.
lekas dia menahan napas.
Sekuatnya dia gerakkan serulingnya dengan Jan-hun-piapia, tangan kiripun telah mencabut cui-le-kiam.
Tak nyana baru setengah jalan, mendadak jantung seperti tersumbat, mata gelap badanpun roboh terjungkal.
Cui-le-po-kiam yang telah terlolos itu tertindih badannya hingga amblas seluruhnya kedalam tanah tinggal gagangnya saja.
"Bluk"
Le Bun terguling kepinggir, kucing pelacak melompat kaget, tapi lekas sekali menyusup kedalam tanah.
Melihat kucing pelacak itu hendak melarikan diri, lekas Toksin pentang kelima cakarnya, begini cepat gerakannya mencengkram, namun yang berhasil dipegang hanyalah secomot bulu putih.
binatang aneh itupun telah lenyap tak karuan parannya.
Dia tahu bila binatang aneh sejenis ini terlepas, untuk menangkapnya pula perlu membuang banyak tenaga, sekarang dia tidak membawa jala atau peralatan lain, terpaksa biarkan saja dia lenyap.
Sekali raih dia mengempit Le Bun terus melompat kebelakang rumah sambil tertawa dingin, hakikatnya dia tidak perhatikan pedang yang terbungkus kain dan seruling putih milik Le Bun.
Kobaran api memang amat besar, lekas gedung besar itu telah terbakar habis, kini tinggal menunggu padamnya saja, angin malam yang dingin mulai mengembus datang pula sehingga terasa malam di musim dingin ini betul-betul terasa sepi, Ditanah lapang diluar gedung yang terbakar menjadi puing, Kim-gin-hu-huat dibantu Ki-ling-sin Siang wi masih berhantam seru melabrak Hwe-hun-cun-cia.
Enam belas jurus amukan gelombang sungai Siang wi dilancarkan dengan mahir, tenaga kuat pentung berat, maka dari samberan pentung itu sungguh amat berbahaya, apalagi Siang wi cukup cerdik mengincar tempat berbahaya ditubuh lawan-Kim-gin-hu-hoat tetap menggunakan keahlian masing-masing terus menggempur gencar dari arah berlawanan dengan Siang Wi, keadaan tetap sama kuat dan serang menyerang terus berlangsung.
Syaraf Hwe-hun-cun cia memang mendekati gila, ada kalanya beruntun dia melancarkan jurus-jurus aneh dan lihay, tapi adakalanya gerak geriknya tampak lugu dan hanya berkelit melulu mengandal ketangkasan gerak tubuhnya, namun puluhan jurus kemudian napasnya mulai tersengal.
Diantara keempat orang saling labrak ini, Siang wi beradat paling berangasan-keinginan menuntut balas bagi kematian Liok Kiam-ping adalah sedemikian mendesak maka dia benarbenar telah tumplek seluruh tenaga dan kemampuannya.
serangannya seperti nekad dan tanpa perhitungan lagi.
Melihat Siang wi menyerang segencar itu, Kim-gin-hu-hoat ikut terbakar amarahnya, merekapun tidak mau kalah tenaga, jadi seperti berlomba saja mereka berusaha merobohkan lawan lebih dulu, kedua lengan bergandeng laksana jembatan itu terus pegang memegang makin kencang, tenagapun dimanfaatkan sesuai kebutuhan sehingga satu sama lain saling isi tanpa kuatir kehabisan bensin, sementara tangan kanan kiri mereka melancarkan pukulan andalan mereka dengan lebih hebat pula.
Sementara itu Hwe-hun-cun-cia memutar badannya sekencang roda, Jik-yam-ciang dikerahkan sampai puncak kehebatannya, suhu panas terasa membakar kulit dan mengeringkan hawa, sejauh ini dia tetap tabah dan ketat mempertahankan diri, betapapun berbahaya serangan ketiga lawannya, meski agak terdesak dia masih tetap bertahan, apalagi kedua tangannya masih bebas bergerak meski tiga jarinya putus, namun membelah mencengkeram, membacok dan menutuk.
pusaran hawa panas laksana mega api yang membumbung keudara, sehingga kelihatannya dari pertempuran inipun ditelan kobaran api yang menyala.
Lekas sekali gedung telah menjadi puing-puing dan jago merah juga sudah padam tapi, mereka masih terus berhantam puluhan jurus lagi.
Siang Wi jadi tidak sabar, teriaknya.
"Tua bangka kecil, kubunuh kau."
Suaranya bagai petir menggelegar, hingga Hwe-hun-cun-cia tergetar pekak dan linglung sesaat, pada saat itulah Kim-ji-tay-beng telah menegak telapak tangan membelah batok kepalanya dengan kecepatan luar biasa, berbareng Gin-ji-tay-beng juga menepuk telapak tangannya ke Khi-hay-hiat di bawah lambung Hwehun-cun-cia.
Belum telapak tangan mereka mendarat desir angin kencang telah menggetar genderang telinga Hwe-hun-cun-cia, lekas dia menarik napas mendekuk dada dan perut.
Mega merah tampak berkembang "Plak, plok"
Ke dua telapak tangannya memapak dua serangan lawan yang mematikan, begitu sikutnya menekan kebawah mengikuti gerakan badan seperti mendadak dia mempunyai belasan tangan saja, beruntun dia telah melancarkan sepuluh kali pukulan dari peluang yang diperolehnya dalam adu kecepatan-Pentung Siang wi juga menderu keras menyodok Bing-bunhiat dipunggung Hwe-hun-cun-cia dengan jurus Hun-kay-busan (mega tersingkap kabut buyar).
Hwe-hun-cun-cia berhasil mendesak Kim-gin-hu-hoat mundur puluhan langkah, mendengar deru pentung yang menyodok datang, sengaja dia menyerong langkah satu tindak sambil membalik tubuh menyampuk kebelakang.
"Plang"
Telapak tangan kirinya berhasil mengemplang pentung Siang Wi.
"Hoooo!"
Siang wi memekik, menekuk lutut pasang kudakuda merendahkan badan sekuatnya dia menyendal ujung tongkat, kontan mega merah kena disengkelitnya mumbul secara mentah-mentah Hwe-hun-cun-cia telah dilemparnya tujuh tombak tingginya.
Hwe-hun-cun-cia memperlihatkan kelincahan gerak tubuhnya, sambil menukik turun dia membentak.
,Siang Wi, apa yang kau lakukan ?
Memangnya kau tidak mengenalku lagi ?' Siang Wi melenggong, katanya tergagap.
"Tapi bocah cilik kau..."
Sampai di sini mendadak dia membelalakkan bola matanya bukan menatap Hwe-hun-cun-cia tapi melongo kearah belakangnya, yaitu diantara puing-puing gedung yang terbakar habis rata dengan bumi.
Hwe-hun-cun-cia menggeser jauh ke sana baru membalik badan, begitu matanya menangkap esuatu ditengah puingpuing gedung yang terbakar habis itu, seketika dia berjingkat eperti dipagut ular beracun, seluruh urat syarafnya menjadi tegang.
Diantara tembok dan belandar yang belum terbakar habis, dibelakang sebuah dinding yang ambruk separo, muncul cabaya bundar kehijauan yang remang-remang, ditengah keremangan cahaya hijau itu kelihatan sesosok bayangan hitam.
Seiring dengan bergeraknya cahaya hijau remangremang itu sisa api yang masih menyala disekitarnya seketika padam, seperti takut oleh cahaya hijau remang-remang itu.
"Pi-tok-cu."
Pekik Hwe-hun-cun-cia tersirap kaget.
Dengus dingin masih berkumandang, mendadak cahaya remang-remang dari pantulan sebuah mutiara telah melambung keudara setinggi enam tombak lalu meluncur turun dihadapan Hwe-hun-cun-cia.
Lekas Hwe-hun-cun-cia menyilang kedua tangan didepan dada sambil pasang kuda-kuda, bentaknya.
"Siapa kau "
Cahaya mutiara yang remang-remang itu mendadak sirna, dig anti selarik sinar putih berkilat, tampak Liok Kiam-ping dengan memegang pedang panjang dua kaki lebih, tangan kiri memegang sebutir mutiara hijau sebesar telur angsa tergenggam ditengah jari-jarinya.
Siang Wi adalah orang pertama yang berjingkrak kegirangan, serunya.
"Bocah cilik, hahaha ternyata kau tidak mati. Aku sigede ini sampai menangis karena mengira kau telah mati."
Liok Kiam-ping mengangguk. katanya.
"Hwe-hun-cun-cia, masih mau lari ke mana kau?"
Memancar bayangan ketakutan disorot mata Hwe-hun-cunsia, sungguh tak pernah terpikir olehnya bahwa Lui hwe-pi-lik yang dahsyat itu ternyata tidak mampu membinasakan anak muda ini, dari sorot matanya yang memancar penuh dendam, nyali sendiri menjadi ciut dan ngeri.
Mendadak dia mengumpat dengan pekik menggila, dua butir benda bundar hitam laksana paluru melesat dari tangannya menerjang kearah Liok Kiamping.
Liok Kiam-ping juga menghardik rendah sebat sekali dia bergerak laksana bayangan setan, bayangan pedangnya tampak bergetar tujuh warna cahaya bertaburan diudara dengan desir hawa pedang yang berputar, dua butir granat api petir itu berhasil dibelit oleh cahaya pelangi itu terus dilempar keluar jatuh d iatas jembatan gantung diluar perkampungan-Dua kali ledakan dahsyat menghancur lebur jembatan gantung yang terbuat dari balok-balok besar itu.
Ditengah bentakan Liok Kiam-ping, cahaya pelangi itu kontan mengubat kedepan dengan jurus Hong siap-bik-hong (pelangi meluncur dilangit biru), hawa pedang yang mengembang dilandasi cahaya warna warni itu mengurung sekujur badan Hwe-hun-cuncia.
Hwe-hun-cun-cia makin mengamuk dengan pekik suaranya yang buas, menekuk sikut melintang tangan, perawakannya yang tegap kekar berdiri tegak tak bergeming, di dalam suatu peluang yang teramat pendek, beruntun dia menenuk delapan kali, asap merah bagai gelombang pasang, suhu panas yang mampu menghanguskan kulit badan menerjang kearah Liok Kiam-ping.
Liok Kiam-ping tertawa lantang, tangan yang tertekuk tampak berputar, sekaligus dia gunakan variasi permainan pedangnya.
menciptakan pertahanan cahaya keremangan di depan badannya, pukulan membara lawan yang membakar kulit itu berhasil dibendung diluar garis serta sirna tercerai berai.
Dimana ujung pedangnya mendengung menggetar deras, maka kuntum demi kuntum sinar pedang seperti memberondong Hiat-to didepan dada lawan-Kembali Hwe-hun-cun-cia berteriak seperti lembu kesakitan-sebat sekali dia menyurut dua langkah, bayangan telapak tangannya juga berhamburan seperti bunga saiju pertahanannya cukup ketat dan rapat melindungi seluruh Hiatto ditubuhnya, sementara kaki masih sempat pula menendang.
Dengan mengamuk dia melancarkan serangannya, maka perbawanya jelas tidak seperti biasanya tapi karena terlalu lama bertempur.
tenaga dan Lwekangnya banyak dikorting badannya terluka pula, betapapun gerak geriknya sudah tidak setangkas tadi.
Liok Kiam-ping terkekeh dingin, ujung pedang menyelonong lurus serta dipelintir sekalian "Blek"
Telapak tangan lawan berhasil ditusuknya bolong, sebelum darah mengucur keluar, tujuh jalur cahaya warna warni telah menjadi tabir cahaya benderang menjulang keudara.
Hwe-hun-cun-cia memekik kesakitan-kaki kanannya yang menendang itu ternyata juga tertabas buntung oleh pedang lawan dalam samberan kilat tadi, Lebih celaka lagi telapak tangan kiri yang tertoblos bolong itu juga termakan tajamnya pedang hingga tersayat-sayat, darah dari kulit dagingnya berceceran diatas salju, saking kesakitan seluruh badan menjadi lemas dan terjatuh di atas tanah.
Badannya yang terbungkus jubah merah itu tampak menggelinding dua kali, lekas tangan kanannya mencomot segenggam salju untuk menyumbat pergelangan kirinya yang buntung, sementara paha kiri yang buntung juga digosokgosok dipermukaan salju, pikirnya dengan salju yang dingin membekukan darah dan daging supaya rasa sakit hilang atau berkurang dan darah segar tidak terlalu banyak mengalir, tapi salju yang dingin itu bukan berhasil menahan rasa sakit dan menghentikan keluarnya darah, rasa sakit justru bertambah menyiksa.
Setelah merintih dua kali, tangan kanan menyanggah badan, dengan sebelah kaki kanan dia melompat berdiri, rambut panjang yang semrawut menutupi muka yang menyeringai pucat buas dan kesakitan, hingga tampangnya yang memang jelek bertambah seram menakutkan-Wajah Liok Kiam-ping dilembari hawa membunuh, tenang dan dingin dia mengawasi Hwe-hun-cun-cia, dua perasaan sedang memerangi batinnya, pikirannya menjadi kacau, terbayang olehnya waktu didalam rumah makan tempo hari, pengemis cilik itu ternyata amat cocok dengan dirinya, namun dendam keluarga menuntut dirinya harus turun tangan sendiri mencabut jiwa musuh besar ini.
Terbayang akan betapa kejam dan mengerikan kematian ayahnya seperti yang diceritakan ibunya sebelum ajal, rasa benci bertambah menyala terhadap Hwe-hun-cun-cia yang satu ini, pikirnya.
Jika bukan lantaran kau, aku pun takkan bisa menjadi manusia seperti sekarang ?
Tapi imbalan yang harus kupertaruhkan juga tidak kecil artinya..."
Mendadak dia menggembor keras panjang, melimpahkan segala rasa hatinya, entah duka lara, amarah dan penasaran, gema suaranya mengalun tinggi dan jauh sampai lama masih berkumandang diudara.
Merah berapi Hwe-hun-cun-cia pandang Liok Kiam-ping, seperti patung batu tanpa bergeming sedikitpun.
Liok Kiam-ping sebaliknya menghiasi wajahnya dengan air mata yang meleleh, maju setapak dia membentak.
"Apa pula yang ingin kau katakan ?' Mendadak pandangan Hwe-hun-cun-cia seperti ditutupi halimun, seolah-olah dirinya berada di kegelapan, menghadapi dua bola sinar terang yang kelap kelip laksana bintang kejora. namun sinar kelap kelip itu cukup membuat bola matanya terasa pedas dan sakit, namun dengan lekat dia tetap mengawasinya dan tidak rela memejam mata. Mendadak terbayang olehnya akan cucu perempuannya, mulutnya lantas menggumam.
"Ping-ji, anak sayang... Menghadapi musuh laknat yang barusan sudah mengamuk gila sungguh ingin rasanya Kiam-ping menelannya bulat-bulat. sekarang pertama kali dia saksikan kerut mukanya ya menua, kasap dan pucat, rambut yang awut-awutan, rasa iba lantas timbul dalam benaknya "Aih, yang mati sudah mati. terhadap orang tua yang sudah tanpa daksa kenapa aku harus membuat perhitungan untung rugi? Keadaannya mirip d ia n ditengah tiupan angin badai, sekejap lagi juga akan padam dan tamat riwayatnya, biarlah diampuni saja jiwanya."
"Ah tidak. Dendam orang tua sedalam lautan-selama beberapa tahun ini betapa derita hidup yang kualami, apakah tidak patut aku menuntut balas kepadanya ? Aku harus membunuhnya, tak boleh dilepaskan-"
Dua macam jalan pikiran yang berbeda bergelut dalam lubuk hatinya, tapi akhirnya dia berpaling dan berjalan pergi tanpa bersuara lagi.
"ciangbun,' kata Gin-ji tay-beng.
"kenapa kau mengampuni dia ?' Kiam-ping geleng-geleng kepala, setelah menghela napas dia bertanya. 'Mana Le Bun ? kenapa tidak kelihatan bayangannya ?"
Kim-ji-tay-beng menjawab. 'Dia mencarimu kearah sana. ciangbun, bagaimana kau bisa selamat dari ledakan granat lidah api ?"
Liok Kiam-ping hendak menjawab, tiba-tiba terdengar jeritan yang mengerikan, setelah terdengar suara gedebukan Siang Wi berkaok-kaok.
"celaka, bocah cilik, lekas kemari, paman Hwe-hun mati"
Waktu Kiam-ping menoleh dilihatnya Hwe-hun-cun-cia sudah menggeletak ditanah batok kepalanya pecah, darah dan otaknya berceceran diatas saiju, jelas dia bunuh diri dengan memukul pecah kepala sendiri.
Kim-ji-tay-beng berkata.
"ilmu sakti ciangbun mulai memperlihatkan perbawanya yakin sebentar lagi akan menggemparkan dunia. dia tahu jiwa sendiri takkan bisa diselamatkan maka rela bunuh diri..."
Liok Kiam-ping menghela napas, katanya.
"Kau tidak tahu, karena dia sekarang merasakan betapa derita orang yang tersiksa karena kaki tangan buntung, maka dia terbayang kepada para korbannya yang telah mati, mungkin jiwa bajiknya menginsyafkan dirinya maka..."
Siang Wi menyela.
"Bocah cilik, Sumoaymu yang manis itu, disebelah sana tadi aku melihatnya ..
"Hayo kita menyusulnya kebelakang, masih ada Ang-kincap-pwe-ki...
"ujar Kiam-ping, lalu mendahului beranjak ke sana.
"Betul,"
Seru Gin-ji-tay-beng.
"sampai sekarang belum kulihat bayangan mereka."
Beramai mereka lompat kebelakang gedung, setelah mengitari runtuhan tembok, terasa perkampungan sebesar ini ternyata sunyi lengang, tiada sesuatu suara seperti tiada kehidupan di sini, sinar apipun tidak kelihatan, setiap penghuni perkampungan ini seperti pulas dalam mimpi, namunjuga tidak terdengar suara gerosan mereka.
"Eh. memangnya penghuni perkampungan iri sudah mampus seluruhnya ?"
Demikian omel Gin-ji-tay-beng.
"kenapa tidak kelihatan seorangpun ?"
Kim-ji-tay-beng berkata.
"Memangnya aku juga heran, kenapa tiada seorangpun ke luar menolong kebakaran. meski tiada kelihatan sinar api, tak mungkin mereka tidur selelap ini?" ---ooo0dw0ooo---Liok Kiam-ping diam saja terus beranjak kedepan, dia juga sedang pikirkan keadaan yang aneh ini, terbayang olehnya waktu dirinya masih berada didalam aula yang terbakar, Hwehun-cun-cia melemparkan granat lidah apinya. Ledakan dahsyat menggelegar disamping tubuhnya, secara reflek dia melompat kebelakang, tapi karena getaran dahsyat dari ledakan itu dia jatuh semaput. celakanya tanpa terasa dia roboh diatas balok besar yang sudah menyala. Entah berapa lama kemudian, terasa ubun-ubun kepalanya seperti diketuk perlahan sehingga badannya bergetar sekali, tapi orangnya juga lantas sadar. Begitu dia membuka mata segera dia menemukan dirinya berada dalam pelukan seseorang, tabir cahaya hijau yang remang-remang membungkus tubuhnya. Pada hal seluruh gedung itu sudah ditelan jago merah, nyala api mengeluarkan suara gemeratak. tapi api dan asap seperti menyingkir bila menyentuh cahaya remang-remang hijau itu, seperti sengaja ditahan di luar garis oleh selapis kaca, suhu panas juga tidak terasakan sama sekali. Kini dia sudah sadar seratus presen, tapi wajah orang itu tetap belum dilihatnya, tapi dia sadar telapak tangan orang itu menekan punggungnya. Bau arak wangi menyengak hidung, tapi bergerakpun dia tidak berani, kuatir orang tahu bahwa dirinya sudah siuman, celaka bila orang turun tangan keji menepuk Bing-bun-hiat,jalan darah mematikan ditubuhnya. Dia terus bernapas pelan dan merasa, sambil mengerahkan seluruh tenaganya, dia sudah siaga bila perlu dalam keadaan tak terduga dia akan menyerang atau turun tangan lebih dulu. sekaligus berusaha membebaskan diri dari tekanan telapak tangan orang dibelakang punggungnya. Tak nyana, baru saja dia kerahkan tenaga dan sikutnya hampir menyodok Ki-tihiat dilengan atas lawan, kupingnya mendengar orarg menegur dengan suara rendah berat. 'Kau sudah siuman anak muda ?"
Telapak tangan itupun ditarik dari punggungnya, begitu dia membuka lebar kedua matanya pula, dilihatnya dirinya rebah telentang dipangkuan seorang Hwesio, wajah Hwesio ini tampak angker dan berwibawa, siapa lagi kalau bukan Hwesio malas takang gares yang kepalanya penuh borok.
Kiam-ping menjerit kaget, bergegas dia merangkak bangun, serunya.
"Locianpwe, ternyata engkau.' Hwesio malas tertawa, katanya.
"Beberapa hari tidak ketemu kau, Kungfumu ternyata memperoleh kemajuan lipat ganda, tidak sia-sia mata lamurku ini meramalkan saatnya kau akan menonjol. He, dalam sekejap lagi yakin gembonggembong iblis jahat dari angkatan tua itupun bukan lagi tandinganmu."
Biasanya Hwesio malas ini berkelakar dan bicara malasmalasan-Kini sikapnya tampak serius dan tekanan suaranya tandas, entah apa sebabnya. Maka dengan ramah dan merendah dia tertawa, katanya.
"Locianpwe, bagaimana kaupun berada di sini ?"
Hwesio koreng menghela napas, katanya.
"Ditengah jalan aku bertemu Tok-sin-Kiong-bing, dikalangan Bulim tersiar luas bahwa seorang jenius Bulim telah ditemukan mereka, beramai-ramai gembong-gembong iblis itu hendak memungutnya menjadi murid, dengan melenyapkan seluruh aliran putih dan lurus, didesak oleh keadaan terpaksa aku merasa perlu untuk menerimanya menjadi murid, siapa nyana aku datang terlambat setindak, kebetulan kupergoki Tok-sin..."
"Tok-sin ?"
Liok Kiam-ping menjerit "di mana cianpwe bersua dengan dia?"
"Dikaki Thian-thay-san dipropinsi ciat-kang. Dia membual katanya orang itu sudah dia temukan-Kini dia sekap didalam sebuah gua untuk mempelajari beberapa teori ajaran mereka beberapa orang, didalam gua itu, konon terdapat pelajaran tunggal serba mulejijat dari peninggalan Hou-hun Siang jin, gembong silat nomor satu dari golongan sesat."
Setelah menghela napas, lalu melanjutkan.
"Sudah sepuluh tahun aku tidak bertemu dengan Tok-sin, entah beberapa tahun ini Kungfu beracun apa yang berhasil diyakinkan sehingga badannya serba kebal dan lihay, hanya beberapa patah kata dia ajak aku bicara, tahu-tahu aku sudah keracunan oleh binatang beracun peliharaannya, setelah seratus jurus, kadar racun sudah merembes kedalam tulang dan urat nadi, karena tidak kuasa mengendalikan diri terpaksa aku melarikan diri .."
Dengan menyengir sedih dia melanjutkan.
"Sejak aku Hweshio tua ini keluar dari Lo-han-tong tahun itu, selamanya belum pernah mencawat ekor melarikan diri, tapi kali ini... ai."
Setelah mengoceh napas suaranya lebih berat.
"Bakatmu cukup baik meski tidak terhitung jenius yang sukar ditemukan selama ratusan tahun, tapi kau merupakan pilihan juga. Jintiok-ji-meh dalam tubuhmu sudah tembus. maka kemajuan sehari umpama orang lain seribu hari, tapi manusia berlatih silat tidak boleh disamakan seperti membangun jembatan, sekali lompat lantas ingin mencapai taraf yang tiada taranya, oleh karena itu aku memandang perlu untuk menyalurkan Lwekang yang kuyakinkan selama hidup ini dengan cara Kayting tay-hoat dari Siau-lim, membantu kau memupuk dasar untuk membangun Kim-kong-put-hoan-sin-kang, bila tiba saatnya badanmu akan terlindung oleh hawa murni. selaksa jenis racunpun takkan mampu mencelakai jiwamu, bila telah beratus tahun jiwamu akan copot dari raganya dan terbang kesorga .."
Liok Kiam-ping bingung, dia tidak tahu apa maksud perkataan Hwesio malas, diapun tidak tahu apa itu Kim-kongput-hoay-sin-kang segala. maka dia bertanya "Cianpwe, seluruh omonganmu ini."
Hwesio malas mencegah perkataan selanjutnya, katanya.
"Aku sudah terkena racun Tok-sin, tiada suatu cara atau obat mustajab apapun dapat menyembuhkan diriku, karena itu aku ingin menyembuhkan diri dengan Bo-thi-sian-kang yang belum sempurna kuyakinkan, sayang kebentur lagi dengan peristiwa Hwe-hun-cun-cia yang menimpuk granat lidah api sehingga pertahanan hawa murni yang telah kuhimpun disekitar jantungku tergetar buyar, maka kini usiaku tinggal dua jam lagi, setelah dua jam aku akan mati.."
"Dimana tadi kau bersamadhi ? Kenapa pula bisa berada diaula ini ? oh, ya, bagaimana pula mutiara ditangan cianpwe..."
Hweshio malas mengerut kening, katanya.
"Jangan tanya terlalu banyak. sekarang akan kuajarkan teori dari ajaran rahasia Kim-kong-put-hoay-sin-kang aliran Hud-bun yang tulen kepadamu. Lalu seluruh Lwekangku akan kusalurkan kedalam tubuhmu, setelah kau siuman, berusahalah menemukan Tok-sin, bunuh dia, lebih penting lagi kau harus menyelidik jenius silat yang belum pernah ada sejak seratusan tahun yang lalu, siapa she dan namanya, sekuat tenaga kau harus merebutnya, atau minimal berusaha supaya dia kelak tidak terjeblos kejalan sesat..."
Lalu dia serahkan mutiara ditangannya kepada Liok Kiam-ping, katanya.
"Inilah Pit-hwecu (mutiara pencegah api), salah satu dari sepuluh mutiara besar yang tersakti didunia ini, kau harus menyimpannya baikbaik..."
Maka dia mulai menurunkan ilmu Kim-kong-put-hoaysin-kang, secara teliti, sabar memberikan penjelasan dan contoh.
Cepat sekali Liok Kiam-ping sudah memahami dan hapal diluar kepala, katanya menghela napas.
"Kalau sepuluh tahun aku lebih dini masuk Siau-lim, sekarang tentu sudah berhasil kuyakinkan kungfu kebal yang tiada taranya, ilmu sakti mandraguna yang tidak akan mampu melukai diriku, jiwakupun tidak akan ajal hari ini karena keracunan oleh Toksin ?"
Air mata tak tertahan meleleh membasahi pipi.
Setelah kau berhasil, kuminta kau banyak memberi bimbingan dan pengawasan terhadap murid-murid Siau-lim kita, tegakkan keadilan dan kebenaran kaum persilatan-.."
Mendadak sekujur badannya mengejang terus gemetar, lekas dia berkata, suaranya mendengung.
"Lekas pejamkan matamu."
Masih segar dalam ingatan Liok Kiam-ping, waktu dirinya menolong Lui Giok dulu orangpun dalam keadaan luka parah dan keracunan, tak nyana beberapa tahun kemudian dalam keadaan yang sama, hari ini dia bertemu dengan Hwesio malas.
Kedua orang ini sama-sama rela mengorbankan jiwa sendiri menyalurkan tenaga kedalam tubuh supaya dirinya memperoleh kemajuan, tanpa terasa darah seperti mendidih, hatinya amat haru, teriaknya.
"cianpwe jangan kau..."
Hwesio malas membentak.
"Aku berusaha demi kesejahteraan umat persilatan, jikalau jenius silat yang jarang ada seratusan tahun ini terjatuh ketangan kawanan sesat dan berhasil meyakinkan ilmu jahat mereka, apakah Siau-lim-pay, Bu-tong-pay, Hoa-san-pay, Khong-tong-pay dan Hong-lui-bun bisa tetap hidup jaya ?"
Mulut Liok Kiam-ping sudah terbuka hendak bicara, dilihatnya sekujur badan Hwesio malas bergidik, tubuhnya terguncang keras, perlahan mukanya seketika menjadi hitam, maka tak berani dia banyak mulut lagi, sementara telapak tangan Hwesio malas telah menekan Pek-hwi-hiat tepat dibatok kepalanya.
Tetesan air sederas hujan lebat gemerujuk diatas badannya, setelah mengalami proses penggemblengan seperti Gatotkaca yang digembleng menjadi perkasa mempunyai otot kawat tulang besi, maka gelombang panas terasa mengalir sederas arus sungai, tenaga dalam yang menggejolak merembes keseluruh sendi tulang pembuluh darah dan menguap lewat pori-pori...
Akhirnya Kiam-ping jatuh pingsan----ooo0dw0ooo---Setelah siuman pula, didapati tangannya masih menggenggam Pit-hwe-cu, sementara Hwesio malas tidak kelihatan bayangannya, namun disamping tubuhnya menggeletak seperangkat jubah Hwesio yang penuh, tambalan dan sepasang sepatu rumput, agaknya sengaja ditinggalkan untuk dirinya, Kiam-ping lantas menduga bahwa Hwesio malas telah meninggal.
Kiam-ping masih bingung sampai taraf mana kebolehan dirinya sekarang, tapi jurus yang dilancarkan baru dari pancaran cahaya berobah menjadi kalem dan mantap.
cukup satu jurus saja, maka Hwe-hun-cun-cia yang dua puluh tahun yang lampau diagulkan sebagai salah satu Liok-toa-thian-cu buntung kaki tangannya, permainan jurus secepat dan ganas ini, meski mengandal ketajaman Jit-jay-kiam sehingga mengaburkan pandangan mata, tapi kalau bekal lwekang si penyerang sendiri belum memadai juga takkan mampu mengembangkan jurus pedang taraf tinggi itu.
Kiam-ping kegirangan bahwa taraf kepandaiannya sekarang telah maju berlipat ganda.
maka dia membatin.
"Aku akan berantas seluruh orang-orang jahat itu.' Tabir malam telah menyelimuti jagat alam semesta sedemikian sepi, bintang-bintang kelap kelip diangkasa raya. Hembusan angin terasa dingin menyegarkan badan-Bola mata Liok Kiam-ping tampak menyala ditengah kegelapan, pandangannya tetap jelas dan terang seperti ditengah siang hari, setiap tempat atau sudut gelap tetap bisa dijelajalinya deeganjelas. Mendadak berobah air mukanya, serunya. 'Nah, disana."
Secepat kilat dia melejit ke sana. ditengah udara tangan kirinya seperti meraih sesuatu, tampak sesosok mayat orang melesat terbang kedalam tangannya.
"Ha, ciu Bun-thong.' Kim-ji-tay-beng menjerit. Dingin suara Liok Kiam-ping. 'Mati keracunan-' "Mereka mati semuanya."
Gin-ji tay-beng mendesis seram, suaranya gemetar mukapun berobah. Bercucuran air mata Kim-ji-tay beng, katanya sedih.
"Mereka mati keracunan oleh Tok-sin, kalau tidak ada seorangpun dalam dunia ini mampu membunuh mereka sekaligus."
"Tok-sin... Kiong-bing.. ' Liok Kiam-ping mendesis, mendadak dia lempar mayat serta menggembor sambil angkat kedua tangannya.
"Le Bun, Le Bun ..' Suaranya terhanyut oleh angin lalu dari tersiar sampai jauh, namun ditunggu-tunggu tidak mendapat jawaban-Badannya mendadak berputar, udara mendadak menjadi wangi, bayangan berkelebat, tiba-tiba jejaknya menghilang. Siang-wi mengedip mata serta menguceknya beberapa kali, tapi kenyataan Liok Kiam-ping sudah lenyap. serunya.
"Bocah cilik, kenapa kau menghilang ?"
Gin-ji-tay-beng juga tersirap serunya.
"Ginkang ciangbun kenapa mendadak sehebat ini mencapai taraf Sip-heng-bu-sing ( menyerap langkah tanpa bayangan), pergi datang bagai angin lalu ? Mungkin..."
Kim-ji-tay-beng berkata.
"Tadi kulihat sorot mata ciangbun meski biasa, tapi setiap merem melek seperti memancarkan cahaya gemeredep laksana kilat, jelas dia berhasil meyakinkan entah ilmu sakti apa pula..."
"Ilmu sakti apakah didunia ini yang dapat membuat bola mata memancarkan cahaya, sungguh mengejutkan-.."
Gin-jitay-beng setengah percaya. Seperti paham tidak paham Siang Wi mengawasi mereka, serunya.
"Apa yang sedang kalian ributkan ? Kenapa tidak lekas mencari bocah cilik, perutku sudah mulai lapar, tak boleh pergi tanpa urus perutku."
Segera dia pentang langkah berlari lebih dulu. Mengawasi mayat yang tertumpuk dari kawan-kawan sendiri Gin-ji-tay-beng menghela napas.
"Bekal Kungfu mereka memang belum patut untuk menunaikan tugas berat. Ai, selama puluhan tahun, betapa berat tugas yang dipikul setiap anggota Hong-lui-bun, akhirnya mereka mengalami nasib begini."
Kim-ji-tay-beng berkata.
"Mumpung sudah keluar. aku akan undang kawan kawan lama serta para Tiang lo kita yang sudah mengasingkan diri untuk tampil pula kedalam kancah perjuangan demi mendirikan dan memulihkan kekuasaan perguruan kita. biarlah kita melakukan tugas bakti dikalangan Kangouw, demi kesejahteraan umat manusia umumnya, supaya pupuk dasar yang gemilang kita bangun pula sehingga cemerlang dikolong langit."
Kejap lain mereka sudah mengejar Ki-ling-sin.
Setelah dua kali menggembor tidak mendapat jawaban, hati Kiam-ping makin gelisah, tanpa memberi pesan lagi segera dia kembangkan Ginkangnya tinggal pergi.
Badannya terapung setinggi enam tombak diudara, hawa murni sambung menyambung terus berputar diseluruh badannya, sehingga badannya menjadi ringan seperti burung yang terbang, setiap kali lompatan mencapai delapan tombak baru badan melayang turun, begitu kaki menginjak tanah sekali menarik napas pula, tubuhnya sudah melamblung pula kedepan, pada saat itulah mendadak kupingnya menangkap suatu gerakan suara yang sudah amat dikenalnya, tampak sebuah benda putih berbulu melompat keatas terus menyusup kedalam pelukannya.
Waktu Kiam-ping menunduk, itulah kucing pelacak yang semula berada ditangan Le Bun.
karuan kagetnya bukan main, tanyanya.
"Mana Le Bun?"
Setelah terucap pertanyaan baru dia sadar, seekor binatang mana bisa diajak bicara.
Dua kali kucing pelacak mengeong lalu melompat turun ketanah, ekor panjang dengan bulu yang mekar itu tegak berdiri.
Lekas Kiam-ping mengendap hawa murni tubuhpun meluncur turun, maka dilihatnya ujung jubahnya yang menggeletak diatas tanah, lekas dia membungkuk dan memegang pedang terus dicabutnya.
"Cui le-ki-kiam,"
Tiba-tiba dia memekik sedih.
"Sreng"
Pedang mestika dia cabut, seketika cahaya-pedang memancar keudara seperti lembayung menembus kelangit.
Begitu tangan kanan terayun, cahaya pedang melebar seperti memenuhi angkasa, suara geludukpun menggeletar, selarik sinar terang melesat diudara dan "Trap"
Sebuah dinding tinggi sebuah rumah lima tombak didepan sana ditembaknya ambruk.
Ditengah mengepulnya debu Kiam-ping berdiri menjublek didalam rumah, ternyata tanpa sengaja barusan dia telah mengembangkan Gi-kiam-ci-sut, taraf tertinggi dari ilmu pedang.
Dalam keadaan risau dan gelisah karena kehilangan Le Bun, saking gusar dan sedih, tanpa sadar sekenanya Liok Kiam-ping mengembangkan jurus Gin-ho-can-can seperti yang terukir digagang pedang terus menimpukkan cui-le-ki-kiam.
Tak nyana begitu dia kerahkan hawa murni seiring dengan gerakan gaya pedangnya, seluruh semangat dan darah daging seperti senyawa dengan pedang besar panjang empat kaki lebih ini melesat kedepan.
Setelah tembok ambruk rumah runtuh baru dia sadar gerakan jurus itu merupakan Gin-kiam ci-sut (ilmu mengendalikan pedang) hawa pedangnya bukan saja kuat, hebat juga tajam sekali, hingga seluruh bangunan rumah itu runtuh seperti digoncang gempa, hancur lebur rata dengan tanah, betapa dahsyat jurus pedang ini, sungguh Kiam-ping melenggong kaget dan tidak berani membayangkan akibatnya bila dia lancarkan jurus pedang ini kepada sesama manusia.
Sekejap dia berdiri melongo, mendadak pedang berat itu dia lempar keangkasa, ditengah desir angin tajam cahaya lembayung seperti menembus angkasa, sementara badannya juga ikut melambung keudara mengejar cahaya benderang itu.
Begitu kaki tangan bekerja, terdengar pula angin ribut menimbulkan damparan angin badai, nyata ditengah udara Kiam-ping kembangkan Liong-hwi-kui-thian, bayangan telapak tangan yang rapat ketat seperti tabir telapak tangan yang sengaja dianyam rapi dan teliti, dalam sekejap itu secara beruntun tanpa ganti napas dia sudah berhasil melancarkan tiga puluh enam jurus.
Begitu selesai gerakan tangannya, secara sukses berarti dia telah mewarisi ilmu Liong-jiu-kingthian itu.
Beruntun gerak tubuhnya berobah sembilan gaya, dari jurus Liong-jiau-king-thian berhasil dirobah menjadi Wi-liongting-gak, angin pukulannya melanda keempat penjuru sehingga runtuhan puing-puing rumah disapu bersih dari tempatnya semula.
Gerakannya belum berhenti sampai disitu, kedua telapak tangannya bergerak pula, tubuhnya terapung tiga kaki.
di mana kedua tangannya terayun dengan melompat keluar, maka terbitlah segulung tenaga dahsyat seperti gunung meletus gelombang badai mengamuk, rumah disebelahnya lagi yang berjarak tiga tombak diterjangnya runtuh dan ambruk, genteng beterbangan, kayu dan balok yang patah serta debu membumbung keangkasa, suara menjadi gemuruh.
Pada saat itulah cui-le-kiam yang menjulang tinggi keangkasa sudah meluncur, dengan desing suaranya yang keras, menukik lurus tetap diatas kepalanya.
Kiam-ping tepuk kedua tangan, dengan mudah dia tangkap pedang berat itu serta anjlok turun ditanah.
Saking girang dia sampai menangis, karena Wi-liong-ciang telah berhasil diyakinkan dengan sempurna.
Kim-ji-tay-beng berlari mendatangi lebih dulu, serunya.
"ciang bun kau tidak apa-apa"
"Tidak apa. apa,"
Ujar Kiam-ping menggeleng, 'Le Bun pasti diculik oleh Tok-sin, Aku harus segera mengejarnya."
Gin-ji-tay-beng juga memburu tiba, serunya "ciangbun, apa kau kuat lawan dia ?"
"Pupuk dasar Kim-kong-put-hoay-sin-kang telah kupelajari dengan baik, selaksa racun tidak mempan kepadaku, aku yakin pasti dapat membunuhnya"
Demikian ujar Kiam-ping tegas. Gin-ji tay-beng tersirap terbalik, serunya.
"Kim-kong-puthoay-sin kang ? Bukankah itu Lwekang tinggi dari aliran Hud, darimana ciangbun bisa mempelajarinya "
"Dengan Ginkangku sekarang yakin dapat menyusul Toksin-"
Kata Kiam-ping.
"kalian tunggu aku di sini saja."
Kim-ji-tay-beng berkata.
"Perkampungan ini menjadi sepi, barusan aku sudah memeriksa kesegala pelosok. seluruh penghuni perkampungan ini tua muda, laki perempuan semua terbunuh, semua mati karena sebatang jarum diatas jidat mereka."
Bercekat hati Kiam-ping, tanyanya.
"Apa kalian melihat Biau-jiu-sip-coan?"
Kim-gin hu-hoat menggeleng bersama bertanda mereka tidak melihat juga tidak menemukan mayatnya. Liok Kiam-ping berpikir sejenak. katanya kemudian.
"Toksin pasti belum jauh, bukan mustahil dia masih berada diperkampungan ini, kalian jaga di sini aku akan memeriksa. lenyap suaranya tubuhnya sudah mencelat sepuluh tombak jauhnya, berlari berlompatan ditengah udara. Kui-hun-ceng diliputi kegelapan nan senyap. tiada suara atau tak kelihatan bayangan kecil hidup, Kiamping kembali ketempat dimana waktu kecil dia tinggal. terbayang masa kecil dulu, sang waktu ternyata telah berselang tanpa terasa, sekarang dirinya harus sibuk berkelana di Kangouw, memikul tugas berat dan mulia. terlibat dalam pertikaian dan permusuhan yang berkepanjangan. Walau sekarang Kungfunya sudah tambah hebat, namun...
"Aih,"
Dia menghela napas panjang, rumah kecil yang terletak disamping gedung besar masih kelihatan berdiri terpencil di sana, itulah rumah kecil dimana dulu dia tinggal, timbul rasa kesepian dalam lubuk hatinya, didalam dunia yang luas ini, dia hidup sebarangkara.
tiada sanak tiada kadang.
Maka tanpa disadarinya betapa tersiksa batinnya setelah dia ditinggalkan Le bun, perasaan sepi dengan gejolak yang tak karuan kembali merangsang hatinya jelas dulu tidak pernah dia mengemban perasaan seperti ini.
Pikirnya.
"Dua anak yatim piatu bertemu dan hidup berdampingan memang merupakan pelipur lara... ' Liok Kiam-ping meluncur turun didepan rumah kecil yang terpencil itu, baru saja dia hendak melangkah maju mendadak sebuah gerakan perlahan yang sedikit menimbulkan suara lirih telah tertangkap oleh ketajaman kupingnya, mendadak dilihatnya sesosok bayangan menyelinap dibelakang pagar bambu disebelah sana, hidungnya mendengus secepat kilat tubuhnya mumbul terus meluncur kedepan-Maka dilihatnya sesosok bayangan dengan tersipu sedang menyelinap kedalam sebuah lobang, kontan dia membentak. 'Lari ke mana."
"Ser"
Angin tajam menerjang, sebatang panah melesat ketenggorokkannya.
Dengan kedua jari dia jepit batang panah, berbareng tangan kirinya menangkap terus ditarik, seperti menangkap sesuatu, sedikit badan berputar setengah lingkar lalu anjlok kebawah, maka bayangan itu menjerit kaget dan panik, tidak menerobos masuk bayangan itu lantas terbetot keluar menggelundung ke samping.
Ternyata Kiam-ping melancarkan ilmu sakti Hi-khong-ciapin (menerima dan menuntun diudara kosong) yang dipelajarinya tanpa sengaja, orang yang menyelinap masuk kelobang gua itu berhasil dibetotnya keluar oleh tenaga saktinya dari kejauhan-mendengar jeritan kaget itu baru dia menyadari bahwa tawanannya ini ternyata adalah seorang perempuan-Perempuan dengan rambut panjang terurai, maka dia bertanya dengan suara berat.
"Siapa kau?"
Perempuan itu menyingkap rambut yang menutupi wajahnya, suaranya ketus, jawabnya berani.
"Aku manusia biasa."
Tampak jelas oleh Kiam-ping seraut wajah bundar telur dari seorang gadis belia yang masih bersifat kekanak-kanakan-Sepasang bola matanya yang bundar hitam jeli memancarkan cahaya seperti mata seekor kancil yang mungil ketakutan karena tertangkap oleh pemburu.
Wajah nan jelita dan sudah amat dikenalnya, sorot mata yang pernah membuat hatinya kesengsem dan rindu, tanpa terasa tercetus jeritannya.
"Siau-hong, kaukah."
Bola mata sigadis tampak terbeliak lalu mengedip dua kali, tanyanya bimbang.
"Kau..."
"Aku ini Kiam-ping, engkoh-pingmu."
Kata Liok Kiamping setengah tersendat. Gemetar bibir Siau Hong, cepat dia menerkam kedalam pelukannya, pekiknya kegirangan.
"Ping-koko."
Setelah memeluk badan ramping yang montok berisi ini baru mencelos hati Kiam-ping dan sadar tidak patut dia lakukan hal ini, maka dengan tersipu lekas dia kendorkan pelukannya serta melepas pelukannya.
Agaknya Siau Hong juga sadar terlalu diburu emosi, lekas diapun mundur, pipinya merah malu kepalapun tertunduk.
Kiam-ping gosok-gosok tangan, katanya.
"Siau Hong, kau baik-baik bukan ? Sekian tahun tidak bertemu, kau sudah tumbuh sebesar ini."
Baru beberapa patah kata pembicaraan mereka diluar berkumandang suara isak tangis yang ramai terbaur dengan gelak tawa orang yang riuh pula.
Sesosok bayangan putih denganjubah panjang sempit, kepala memakai topi tinggal berperawakan tinggi kurus tertangkap disudut mata Kiam-ping, di kepekatan malam, selintas pandang orang akan ketakutan disangka ketemu setan gentayangan.
Kiam-ping merangkul Siau Hong yang menjerit ketakutan serta membentak.
"Siapa itu?"
"Hehehe, dikota kematian yang dihuni setan gentayangan ini, muncul sepasang manusia hidup, serahkan jiwa kalian perkara beres?"
Suaranya dingin sumbang menggiriskan-Seperti berada disatu lembah gunung, hamburan pekik suara dingin bergema di alam mistik menggabung menjadi paduan suara yang gegap gempita mendengung dalam telinganya.
"Serahkan jiwamu, mau apa lagi ?"
Serahkan nyawamu. Mau apa lagi ?"
Bayang-bayang putih yang tidak terhitung jumlahnya mendadak bermunculan disekitarnya makin dekat dan nyata mereka menggerakkan kaki tangan terus merubung maju semakin dekat.
Kiam-ping mendengus hidung, terasa Siau Hong semakin merapat dan memeluk kencang badannya, tubuhnya yang gemetar terasa dingin, dengan penuh kasih sayang dan kasihan Kiam-ping merangkulnya pula kedepan dada, katanya perlahan.
"Jangan takut, mereka takkan berani melukai kau."
Setan putih didepan merogoh kebelakang menurunkan sebatang payung kertas warna putih suaranya dingin memekik.
"Serahkan nyawamu, mau apa lagi ?"
Muncul pula sesosok bayangan hitam di belakang Pek-busiang, dandanannya mirip tinggi dan perawakannya juga sama, pakaiannya serba hitam, tangan juga memegang sebatang payung kertas warna hitam, jelas dia ini Hek-busiang.
Hek-bu-siang juga memekik.
"Serahkan nyawamu. mau apa lagi?"
Cahaya ungu mulai merembes ditubuh Kiam-ping, sorot matanya yang berkilat kadang-kadang terlihat tiba-tiba lenyap seiring dengan meram-meleknya kedua mata, dengan tenang dan dingin dia saksikan tingkah polah orang-orang yang makin dekat, lebih jelasnya mereka boleh dianggap sebagai bayangbayang setan.
---ooo0dw0ooo---Saat mana Kim-kong-put-hoay-sin-kang telah bekerja dan mulai mengembang melar sisi tubuhnya dengan hawa murni yang melindungi tubuhnya Setelah bayang-bayang setan itu mendekat dalam jarak setombak lebih baru dia membentak."
Berhenti Siapa diantara kalian berani maju selangkah lagi, jiwanya akan kurenggut."
Suaranya seperti benturan logam keras, begitu keras frekwensinya hingga bayang-bayang setan serempak menghentikan langkah, tiada satupun yang berani bergerak gegabah. Kiam-ping bertanya pula.
"Siapa yang utus kalian kemari ?"
"Hehehe, hihihi..."
Berbagai nada gelak tawa berpadu, tampak Pek-bu-siang maju selangkah.
"Huh,"
Kiam-ping mendengus sambil mengebas dengan lengan baju, serangkum tenaga lembut pelan-pelan mendampar kedepan.
Lekas Pek-bu-siang memutar payung putih, dari samping dia menubruk ke arah Kiamping sambil menyendal payungnya keatas sehingga tubuhnya yang terapung tertahan sejenak diudara, mirip para cutis yang bergantung diudara, tapi baru beberapa kaki tubuhnya menerjang kedepan, tiba-tiba ditahan oleh serangkum tenaga lunak itu, seketika dia rasakan tubuhnya seperti terjungkal kedalam kolam lumpur, kaki tangan seperti terbelenggu kencang, bukan saja kaki tangan tak mampu bergerak, bernapaspun terasa berat, karuan kejutnva bukan kepalang, lekas dia kerahkan seluruh kehuttannya meronta sambil balas menyerang dengan telapak tangan.
Tapi biru saja telapak tangannya menepuk, sejalur angin sekeras palu godam telah mengetuk dadanya.
Ditengah jeritannya, darah menyembur, tubuhnyapun melayang seperti burung yang ketembak diudara jatuh tiga tombak jauhnya "bluk"
Jiwa melayang seketika.
Pukulan dahsyat Kiam-ping yang hebat cukup menciutkan nyali kawanan setan itu, semua berdiri terlongong tiada satupun yang berani maju lagi.
Ketenangan mencekam.
Siau Hong tiba-tiba bertanya perlahan.
"Ping koko, kenapa kau menggantung tiga bilah pedang ? Apakah setiap pedang mempunyai ilmu yang berbeda ?"
Liok Kiam-ping mengangguk. tanyanya."
Apa kau pandai bersilat?"
Siau Hong geleng-geleng, tertawa menunduk dengan malu-malu. Kiam-ping membentak pula.
"Siapa mengutus kalian kemari? Kalau tidak menjawab temanmu itu sebagai contohnya."
Tangannya menuding kemayat Pek-bu-siang.
Hek-bu-siang tidak juga jeri setelah melihat jiwa temannya melayang percuma, mendengar ancaman Kiam-ping dia mendengus ejek.
payung dikembangkan terus menubruk maju, ujung payung yang runcing malah menerjang ke Jitkian-hiat didada Kiam-ping, pesat laksana geledek menyamber, tangkas dan telak pula sasarannya.
Kelima jari Liok Kiamping berkembang memapak tutukan payung lawan, ditengah jalan, mendadak dirobah dengan jurus Liong-jiau-king-thian dari Wi-liong-ciang.
"Plak"
Kelima jarinya tepat memukul ujung payung lawan, tapi seketika mendesis angin-angin tajam, puluhan batang jeruji payungpayung menjepret dan melesat bagai panah ke berbagai Hiatto Liok Kiam-ping.
"Kawanan tikus mampus."
Ditengah bentakan Kiam-ping, ujung pedang sudah bergerak, menaburkan tabir cahaya yang rapat menangkis puluhan jari-jari payung yang terbuat dari baja itu.
hingga tersapu rontok di tanah.
Karena pukulan keras menggetar payung hingga seluruh lengannya lemas dan linu, karuan bukan kepalang kaget hatinya, namun masih sempat dia menekan tombol digagang payung hingga kerangka payung menjepret bagai anak panah menyerang musuh.
Berbareng dia jumpalitan kebelakang melarikan diri, tak nyana baru kaki menginjak tanah.
"Siut."
Angin pedang yang tajam mendesing tahu-tahu menyamber tiba.
Lekas dia menarik napas, sementara kaki merobah beberapa kali posisi dari kedudukan, tubuhnya ikut berputar seiring dengan gerakan kedua telapak tangannya yang melancarkan Ham-Sat-cin-khi.
Sayang baru saja tubuhnya membalik, pandangan matanya mendadak terbentur oleh bola cahaya yang mencorong terang bagai surya, cahaya merah yang menyilau mata membuat silau pandangan dan pedas matanya Ham-sat-cin-khi yang dilancarkan ibarat saiju kecemplung bara, seketika sirna tanpa bekas, belum sempat dia membalik tubuh pula, cahaya pedang yang dingin telah membelit tubuh.
"Hoaaa...
"jeritan ngeri menjelang nyawa terenggut bergema diangkasa. Darah dan daging muncrat ke berbagai penjuru, anggota badan yang protol juga berceceran. cukup sejurus Jit-lun-jut-seng dilancarkan Kiam-ping berhasil membabat Hek-bu-siang menjadi empat potong, padahal kejadian sedemikian cepat, pedangnya juga hanya berkelebat sekali, karuan bayang-bayang setan itu menjerit jeri terus mundur kebelakang. Pada saat itulah pekik nyaring memilukan mendadak kumandang disebelah belakang, seperti datang dari ujung langit seperti pula kumandang dari neraka, yang jelas suara pekik itu bergema diangkasa raya sukar diraba asal juntrungannya. Begitu pekik setan ini bergema, bayangbayang itupun mulai bergerak lagi sambil berjerit tangis, makin lama makin tambah, mereka yang sudah mundur kini berlompatan majupula semakin dekat. ---ooo0dw0ooo---Terasa oleh Kiam-ping, Siau Hong yang berada dalam pelukannya gemetar makin keras, pelukannya juga makin kencang, cepat dia menunduk memberi hiburan beberapa patah kata. Disaat dia menunduk sekejap itu, matanya menangkap secercah senyuman licik namun lekas sekali sirna tak membekas. Kiam-ping bertanya.
"Siau Hong adakah sesuatu yang menyenangkan hatimu ?"
Bergetar tubuh siau Hong, lekas dia menggeleng, katanya.
"Ping koko, aku takut..."
Timbul suatu pikiran aneh dalam benak Kiam-ping. dalam hati dia mendengus.
"Hehehe, kota setan istana iblis."
"Hehehe, setan-setan menari-nari."
Bayang-bayang hitam kembali merubung maju, sedang kakek pendek dengan kepala sebesar ember bertanya dengan suara dingin.
"Kota iblis dan istana setan mana boleh didatangi manusia hidup. Hek-pekbu-siang, hayo tangkap dia dan serahkan kepadaku ""
Pekik dan jerit tangis setan kembali berceloteh, suara gemetar memberi laporan.
"Hek-nek-bu-slang sudah berpulang keneraka. tak bisa hidup lagi..."
Liok Kiam-ping tertawa terkial-kial, bentaknya beringas.
"Kalian menyaru setan menyamar iblis, kapan akan berakhir? Memangnya kalian sudah bosan hidup? Hayo maju, biar kusikat kalian kawanan setan iblis."
Tubuh pendek kecil kakek kepala besar itu mendadak melayang, kedua telapak tangannya secara aneh dan cepat memukul dua belas jurus, membelah, menjotos dan menempiling kearah Liok -Kiam-ping.
Melihat serangan cukup ganas, Kiam-ping berputar untuk menghindar diri, tak nyana Siau Hong memeluknya terlalu kencang tak mau lepas sehingga gerak geriknya tidak leluasa serangkum bau wangi tiba tiba terendus dari rambutnya menusuk hidung, seketika berobah hebat air muka Kiam-ping.
Mendadak dia membentak keras, begitu lawan menubruk tiba cahaya pedangnya berkelebat, dengan jurus Liat-jit-yam-yam dia menciptakan lapisan cahaya pedang dengan arus hawa murni yang melapisi bayangan pedang.
Begitu serangan dilancarkan sikakek pendek melihat lawan dipeluk kencang seorang gadis, seperti tidak tahu cara bagaimana harus melawan, lekas dia menambah tenaga pukulannya.
luncuran tubruknya juga dipergencar.
Tak nyana ditengah bentakan mengeledek, selarik sinar pedang berkelebat sekali lantas lenyap.
tiba-tiba bola cahaya laksana surya memancarkan sinarnya yang benderang, bola matanya seketika sakit seperti tertusuk pisau, saking kaget, lekas dia pejam mata berbareng kakinya menendang beruntun.
Kuping mendengar deru angin sementara kedua telapak tangan berpencar, telapak tangan kiri laksana gada mengepruk turun.
"Bu-ing-tui bagus."
Bentak Liok Kiam-ping memuji tendangan tanpa bayangan lawan-Serangan pedangnya laksana kilat, ujung pedang tegak diatas, gagang pedang berada dibawah, secara melintang dia menggaris satu kali "Sret, sret"
Liat-jit-kiam berhasil menggaris sobek dua jalur dibaju lawan, dibarengi hardikan nyaring.
"Enyahlah."
Berbareng kakinya balas menendang secepat angin lesus.
Ham-yang-hiat dibagian lutut lawan ditendangnya, kakek kate itu menjerit sekali, tubuhnya mencelat terbang lima tombak dan jatuh terbanting tidak bangun lagi.
Dengan robohnya kakek kate ini suasana mendadak menjadi sepi, bayang-bayang setan kembali mundur dalam jarak cukup jauh, maka kumandanglah sebuah suara dingin berseru.
"Yu-Ling Kongcu tiba."
"Yu-ling-kongcu?"
Kiam-ping menjengek tiba-tiba dia menunduk dan tanya.
"Kau kenal Yu-ling Kongcu ?"
Terasa tubuh Siau Hong bergetar, meski Siau Hong menggeleng, tapi dalam hati dia membatin.
"Terserah apa yang ingin kau lakukan, pendeknya Kim-kong-put-hoaysinkang telah berhasil kuyakinkan, racun tak mempan, takut apa lagi ?"
Waktu dia angkat kepala, tampak seorang pemuda berpakaian jubah bulu dengan memegang kipas lempit beranjak mendatangi, wajahnya putih bersih, alis tebal gelap.
gayanya mirip pemuda pemogoran.
Pandangan Liok Kiam-ping beralih kepada seorang aneh yang berdiri disamping si pemuda, pikirnya.
"Ada manusia seburuk ini didunia ?"
Orang ini hanya punya mata tunggal, memancarkan sinar yang menyedot sukma orang, katanya dingin.
"Kau bocah ini datang dari mana ?"
"Tuan tentu bukan kaum kroco, sebutkan dulu namamu,"
Jengek Liok Kiam-ping. orang itu menyeringai tawa, katanya.
"Akulah rajanya racun, kau bocah ingusan yang baru keluar kandang, masakah Lohu yang terkenal Tok-sin Kiong-bing juga tidak dikenal lagi "
Terbelalak mata Liok Kiam-ping, bentaknya gusar.
"Jadi delapan belas mayat itu kau yang membunuh ?"
Tok sin terkekeh, katanya.
"Selaksa racun berkumpul ditubuhku, siapa berani melanggar diriku?"
Berobah sadis wajah Kiam-ping, tanyanya.
"Tadi ada seorang gadis apakah kau yang menculiknya ?"
"Tok-sin menyeringai pula, ujarnya.
"Ho jadi genduk itu milikmu? Sekarang dia sudah menjadi gundik Yu-ling Kongcu."
"Apa ?"
Pekik Liok Kiam-ping, bentaknya beringas.
"Berani kau mengusik seujung rambutnya, biar kau rasakan ketajaman pedang saktiku?"
Yu-ling Kongcu tertawa lirih, katanya.
"Kongcu ini baru datang di Tionggoan, belum pernah aku melihat pemuda segagah kau. Hehe, agaknya memang berisi. Hek-pek bu-siang kujuga terbunuh ditanganmu, kenapa tidak kau mencari tahu lebih dulu, siapa berani menyentuh anak buahku, siapa bisa lolos dari tanganku?"
Lalu dia menoleh dan berkata pula.
"Kiong-toasiok. benar tidak perkataanku?"
Tok-sin Kiong-bing terkial-kial. katanya.
"Anak muda, kau telah terkena racunku, paling lama kali masih bisa bertahan setengah jam lagi, masih berceloteh lagi ?"
Liok Kiamping tertawa besar, katanya.
Jangan mimpi disiang hari bolong, racunmu yang tidak seberapa ini, cayhe tidak peduli, kedua muridmu itu sebagai bukti, memangnya Liok Kiam-ping semudah itu terbunuh kalian ?"
Beringas mata Tok-sin, mendadak dia menjerit. Jadi kau ini Liok Kiam-ping ? Pat-pi-kim-liong dari Hong-lui-bun ? Serahkan jiwamu."
Mendadak jari-jari tangannya mencakarcakar, mulut komat kamit seperti memanjat doa, akhirnya berteriak.
"Anak muda, robohlah."
"Belum tentu."
Jengek Liok Kiam-ping pedang tegak didepan dada, seluruh hawa murni dalam tubuh kembali tersalur merata, Kim-kong-put-hoay-sin-kang aliran Hud telah melapisi tubunnya dengan selapis hawa murni.
Setelah sekian lama mulut Tok-sin berceloteh tetap tidak melihat Liok Kiam-ping roboh, mendadak dia menghardik bengis.
"Ing-ing."
Sebuah tangan tanpa bersuara telah menekan punggung Liok Kiam-ping, demikian pula Tin-siau-hiat didepan dadanya juga kena dicengkram oleh Siau Hong. Maka Tok-sin tertawa dingin, katanya.
"Anak muda, kau tidak mengira bukan."
Waktu Kiam-ping menunduk. dilihatnya wajah Siau Hong menampilkan mimik yang sukar dilukiskan, tanyanya dengan rasa menyesal.
"Siau Hong, kenapa kau berbuat demikian ?"
"Apa kau masih kenal Siau Hong?"
"Jadi kau bukan Siau Hong ?"
"Aku berirama Ing-ing, aku menyamar..."
"O, jadi kalian tahu kalau aku kemari?"
Waktu dia melirik dilihatnya Yu-ling-kongcu sedang menggoyang kipas, sementara sorot mata Tok-sin Kiong-bing semakin buas dan mendekat. Serunya dengan terbahak-bahak.
"Kau kira tidak tahu kalau dia ini Siau Hong palsu ? Memangnya Pat-pi-kim-liong manusia bodoh yang berotak tumpul ?"
Kiong-bing menatapnya dengan tatapan melotot-penuh tanda tanya. Liok Kiam-ping berkata pula.
"Hweslo malas dari Siau-lim apakah kau yang mencelakai?"
Sebelum Tok-sin menjawab, Yu-ling Kongcu sudah tanmpil kemuka, katanya.
"Terus terang saja, akulah yang memukul hwesio keparat itu hingga luka parah, dalam dua jam jiwanya pasti melayang, sekarang yakin tidak tertolong lagi,"
"Bagus, dendam ini boleh diperhitungkan sekalian."
"Jadi ada bagianku ? Hahaha, sejak kedatanganku dari Go cui-ho sampai disini, belum pernah kulihat orang segagah dan pandang kematian seperti berpulang keharibaan yang Kuasa seperti dirimu."
Padahal dua Hiat-to mematikan ditubuh Liok Kiam-ping sudah terancam ditangan Siau Hong, tapi wajah tenang air muka tidak berobah, nada perkataannya tetap lantang, sikapnya wajar berani bicara angkuh lagi, maka hatinya amat kagum.
"Terima kasih akan pujianmu, bila cayhe belum ingin mati, siapapun dengan menggunakan cara keji pun jangan harap dapat membunuhku."
Lalu dia menunduk dan berkata.
"Kuyakin kaupun dipaksa untuk melakukan tugasmu ini, cayhe tidak akan menuntut balas kepadamu lekas kau menyingkir saja..."
Perkataan tegas suara terang, Kiam-ping memang bicara setulus hatinya. Melihat kedua tangan ing-ing seperti hendak dilepaskan, cepat Tok-sin membentak.
"Ing-ing"
Bagai gerakan setan, kelima jari terpentang terus menerkam datang.
Liok Kiam-ping menghardik keras, pedangnya menggaris lurus, selarik lembayung melesat bagai ular perak.
Ing-ing kertak gigi, tenaga dikerahkan dikedua telapak tantgan terus menggaplok kedua Hiat-to mematikan ditubuh Liok Kiam-ping, tak nyana begitu dia kerahkan tenaga, tenaga lunak yang liat tiba-tiba timbul dari badan Liok Kiam-ping menerjang balik kepada dirinya.
Karuan Ing-ing menjerit kaget, sekujur badan seperti digenjot keras, tubuhnya membal terbang tiga tombak dan jatuh semaput.
Pukulan Tok-sin sekeras gunung ambruk menindih kepala lawan-Namun kilat pedang Liok Kiam-ping menggaris miring menampar tenaga pukulan lawan hingga sirna tanpa bekas, baru saja pedang didorong hendak menusuk kedepan.
Tok-sin memang tidak malu sebagai kawakan Kangouw, Lwekang, pengalaman dan Gingkangrya memang sudah tangguh, begitu melihat cahaya pedang menyerang, saking kaget danjeri lekas dia menarik serangan sembari memutar badan mundur ketempat semula.
Tanyanya dengan nada kejut.
Jadi kau sudah berhasil mengambil ketiga batang pedang sakti itu"
Dan berhasil meyakinkan Hu-deh-lo-khi (hawa sakti pelindung badan ?"
"Kalau benar mau apa ? Sekarang kau sudah takut ? Honglui-bun kita punya permusuhan sedalam lautan dengan kau, nah serahkan jiwamu."
Hati mulai jeri, tapi lahirnya Tok-sin bersikap wajar, sambil terkekeh dingin kelima jarinya terbuka, serangkum asap hijau segera menyebar terus menerjang kearah Liok Kiam-ping.
Terbang melayang lengan baju Liok Kiam-ping, segulung angin berpusar meluncur keluar dari lengan bajunya, jengeknya dingin.
"Hanya begini saja kemampuanmu."
Sejak malang melintang di kangouw dan disegani kawan atau lawan, kapan Tok-sin pernah diremehkan seperti ini, karuan rona mukanya berobah, sekali tepuk dada, seekor ular kecil warna hijau segera melenting keluar.
tampak dia ayun tangan, ular kecil itu terbang melesat diudara terus menerjang ke arah Liok Kiam-ping secepat kilat.
Tampak oleh Kiam-ping ular kecil ini tumbuh sayap kecil dari kulit daging merah, maka ular ini dapat terbang dan terapung di udara, lekas dia kembangkan gaya pedangnya, begitu pedangnya dipelintir sinar pedang lantas mengincar ular kecil yang menerjang tiba.
Agaknya ular kecil ini sudah terlatih baik, menghadapi serangan balasan tiba-tiba tubuhnya melengkung terus melenting setengah lingkar, secara lincah dia menghindar dari tusukan pedang, terus mengegos sekali membelit pergelangan tangan Kiam-ping.
Toksin menjebir bibir bersuit nyaring, sekalian dia copot jubah besarnya, hingga kelihatan tulang-tulang rusuknya yang kurus kering, diatas tubuhnya penuh dirambati ular kelabang, kalajengking, laba-laba dan berbagai binatang beracun lainnya, semua bergelantung menggigit kulit dagingnya, kelihatannya memang amat menggiriskan-Begitu dia menggetar tubuh belasan ekor binatang berbisa ditubuhnya itu semua mencelat ke udara, mengikuti ular terbang kecil itu semua meluruk kebadan Liok Kiam-ping.
Binatang berbisa ini sudah terpelihara sejak lama dengan menghisap darah badannya, maka gerak geriknya semua gesit dan cekatan, seperti berlomba saja mereka berebutan mengincar sasaran ditubuh Liok Kiam-ping.
Liok Kiam-ping menggentak tangan, hawa pedangnya bertambah tebal membungkus tubuh-dimana sinar pedang berkelebat.
"Cras."
Ular terbang yang mendahului menerjang itu kena ditabasnya kutung menjadi dua.
Tak nyana ular terbang yang tinggal separo tubuhnya itu masih melenting terbang kedepan sambil pentang mulut menggigit dadanya.
Tok-sin sudah membuka lebar mulutnya hendak tertawa.
tapi sebelum suaranya keluar dari tenggorokan, dilihatnya ular hijau itu tahu-tahu terbalik jatuh, lalu dengan rasa ketakutan merambat kembali.
Gerak gerik Liok Kiam-ping selincah terbang, sinar pedangnya berputar melindungi badan, tiga kali maju tiga kali mundur.
di mana pedang bergerak kepalapun terpenggal, setiap binatang berbisa yang memanggut datang pasti rontok dengan badan terbelah.
Tiba-tiba Kiong-bing menjerit tanya.
"Kau membawa Hat-liong-po-giok ?"
Seketika berobah air muka Tok-sin, kaki tangannya tampak menggigil, maka terdengarlah suara keretekan yang ramai memanjang, seiring dengan suara yang nyaring itu, tubuhnya yang kurus kering itu lambat laun mengkeret satu kaki lebih kecil, telapak tangannya menjadi hitam legam, bau amis menyerang hidung.
Perlahan dia maju selangkah, telapak tangan kanan tegak didepan katanya.
"Lekas serahkan Hiatliong-po-giok. aku tidak akan membunuhmu."
"Membunuhku ? Memangnya kau mampu ? Saat kematianmu sebaliknya sudah di ambang mata."
Kiong-bing menggeram rendah, tangan kiri sedikit tertekuk, telapak tangan kanan segede kipas mendadak membelah dengan menyertai segulung hawa hitam menerjang kedepan terus memenuhi udara.
Liok Kiam-ping tahu hawa hitam ini pasti beracun jahat, kaki melesat mundur sambil berputar ujung pedangnya menciptakan beberapa sinarperak gemerdep.
setiap kuntum menerjang keluar, menyusup lewat dari tenaga pukulan tangan lawan terus mengiris dari samping dengan jurus Jitlun-jit-seng.
Laksana segumpal angin dingin yang melayang ditengah udara, kakinya mengincar lima kaki, Kiong-bing merobah dua posisi terius menyelinap kesamping lawan, sehingga terhindar dari pancaran langsung cahaya surya yang cemerlang dari pedangnya.
Berbareng telapak tangannya beruntun menggempur belasan jurus, didalam jurus sembunyi tipu, dalam tipu mempunyai variasi pula-, cepat lincah dan lihay menggaplok Hiat-to mematikan Liok Kiam-ping.
Liok Kiam-ping memutar badan membungkuk punggung, pedangnya menyelonong dari bawah ketiak kiri, disinilah letak keanehan darijurus Liat-jit-yam-yam, mutiara diatas pedang memancarkan cahaya terang secara aneh seiring dengan jurus ini dikembangkan, terciptalah bola matahari yang benderang menyilaukan mata, maka ujung pedang secara lincah telah menusuk kedalam dada Tok-sin Kiong bing.
Kiong-bing menjerit aneh, dadanya mendcadak mendekuk.
mata tunggalnya terpicing, mendadak tubuhnya mumbul keudara, kedua kakinya terus menjejak keubun-ubun dikepala Liok Kiam-ping Liok Kiam-ping ganti mencelos hatinya, tak nyana bahwa Kiong-bing memiliki Ginkang setinggi ini, bukan saja mampu meluputkan diri dari jurus serangan pedang yang lihay masih mampu balas menyerang lagi, lekas Kiam-ping berjongkok seperti orang bercokol dipunggung kuda, sementara pedang ditarik turun melindungi dada ujungnya siap menunggu diatas kepala.
Dengan menjengkang menekuk lutut, dia menggetar jurus Liat-jit-kiam-hoat yang ketiga yaitu Sip-yang-say-loh.
Mata kuping Kiong-bing teramat tajam dan jeli, dimana ujung kakinya menutul seluruh tubuhnya lantas melayang jauh tiga tombak tapi tangannya sempat menaburkan segenggam puyer.
Serangan pedang dilancarkan Kiam-ping lantas kehilangan jejak musuh, baru sekarang dia benar-benar meresapi kehebatan jurus pedang ini dan kagum kepada cianpwe ciangbun yang dahulu menciptakan Ki-kiam-wi-liong ini.
Maklum ilmu pedang ini serbaguna dan sempurna, semakin tinggi kepandaian lawan, maka pancaran cahaya, mutiara diatas pedang semakin terang, bila mata lawan tak berhasil dibikin silau, maka jurus serangan itu sendiripun takkan berhasil.
Melihat lawan menaburkan puyer putih, Kiam-ping tahu pasti sebangsa bubuk beracun, jarak sedemikian dekat, Toksin menaburkan disertai tenaga Lwekang pula, maka badannya terkena sedikit taburan puyer putih, Tok-sin tertawa gelak-gelak disaat itulah mendadak Liok Kiam-ping melompat dengan kecepatan luar biasa, ditengah gemuruh suara guntur dan badai, selarik lembayung benderang dengan suaranya yang nyaring melesat kearah Kiong-bing.
"Gi-kiam-king-khong (naik pedang melesat diudara)."
Yuling Kongcu memekik kaget, dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dlapun ikut meluncur kesana.
cahaya pedang berkelebat hanya sekejap lantas sirna, maka terdengar Tok sin menjerit ngeri, kaki tangannya putus terbabat, sementara Liok Kiam-ping terdengar mengerang tertahan, tubuhnya terpental jatuh setombak lebih.
Begitu badan menyentuh tanah, lima jari tahu-tahu sudah mengancam tiba menutuk berbagai Hiat-to didepan dada.
Karena tertabur sedikit bubuk racun, Liok Kiam-ping diburu amarah maka dia mencabut cui-le-kiam serta melancarkan jurus pertama Gin-to-cau-cau dan berhasil membabat buntung kaki tangan Tok-sin.
Namun telapak tangan Tok-sin sebelum tertabas juga berhasil memukul dadanya, itulah pukulan yang dilandasi kekuatan dahsyat sebelum ajalnya, maka Kiam-ping seperti diterjang kekuatan raksasa bagai letusan gunung berapi, tubuhnya terpental terbang.
Sebelum sempat berdiri tegaki Yu-lihg Kongcu menambahi pula dengan kelima tutukan jari, kembali mulutnya mengerang, tubuhnya jumpalitan tiga kali baru berdiri tegak.
Berobah air muka Yu-ling Kongcu, katanya.
"Kau sudah meyakinkan Kim-kong-put-hoay-sin kang dari aliran Hud ?"
Jeritan menyayat hati keluar dari mulut Kiong-bing yang masih meronta-ronta, suaranya terdengar gemetar.
"Kongcu, kemarilah kau."
"Ada apa ?"
"Thian-tok-bun di In-lam ada semacam ilmu sakti aneh dapat memecahkan Kim-kong-put-hoay-sin-kang, waktu Kongcu datang beberapa waktu yang lalu aku belum sempat beritahu kepadamu soalnya aku sendiri belum tahu letaknya..."
"Aku tahu, kali ini ayah suruh aku ke Tionggoan mencari paman memang disuruh tanya kepada paman cara bagaimana untuk membuka tujuh lapis pintu Thian-tok-bun serta kunci rahasianya, mempelajari ilmu mukjijat itu, karena tahun besok ayah sudah akan berduel dengan Pek-bi-sin-ceng di Im-san musim semi yang akan datang..."
Kiong-bing tarik napas dua kali, katanya.
"Maka sekarang aku akan beritahu kepada kau. Thian-tok-bun terletak diselatan kota Tayli, gambarnya tertera diatas Hiat-liong-pogiok. bila kau berdiri diujung timur tempat itu, bila sinar surya terbit dan cahayanya tepat menyinai batu jade itu..."
Dia batuk dua kali, diujung cakar naga didalam gambar naga darah itu... disitulah .. letak dari pintu besarnya..."
Lekas Yu-ling Kongcu tekan punggung Kiong-bing menyalurkan tenaga dalam mempertahankan hawa murninya, tanyanya.
"cara bagaimana untuk membuka pintu besar itu ? "Hiat-liong-po-giok..."
Beruntun dia menarik napas dua kali.
"tuntutkan-.. sakit hati... ku..."
Terbayang senyum sinis diwajah Yu-Iing Kongcu, katanya.
"Bila ada Hiat-liong-po-giok. berbagai racun didalam tidak akan berani melanggarmu. Betul?"
Agaknya Kiong-bing mendapat firasat bahwa Yu-ling Kongcu mengandung maksud jahat, dengan suara berat dia berkata megap-megap.
"Untung dahulu ayahmu ikut membantu hingga aku berhasil membunuh ciangkiam-kimling. pulang dan laporkan kepada ayahmu, aku berterima kasih kepadanya.."
Setelah terpukul dadanya, tertutuk pula Hiat-tonya, kontan Kiam-ping rasakan dadanya sesaka dia tahu Kungfu kedua orang ini merupakan jago kelas wahid di Bulim, kuatir terluka dalam yang parah, lekas dia salurkan hawa murni, setelah berputar satu kali keseluruh tubuh baru dia sadar akan kemukjijatan Kim-kong-put-hoay-sin-kang, kenyataan memang segala racun tidak mampu melukai, pukulan dahsyat dan tutukan lihay juga tidak mempengaruhi kesehatannya.
Mendengar suara Kiong-bing, Kiam-ping tersirap.
lekas dia melompat maju, tanyanya.
"Siapa yang membunuh ciang -kiam -kim-ling ?"
Kontan Yu-ling Kongcu mengebut lengan baju seraya menghardik.
"Kembali "
Kiam-ping menegak telapak tangan membelah.
"Memangnya kau mampu "Plak"
Benturan keras menggeliat pundak kedua pihak.
Yu ling Kongcu menggerung rendah, dalam sekejap dia lontarkan dua puluh jurus pukulan, cepatnya seperti kitiran dahsyatnya laksana damparan ombak memukul karang, setiap gerak serangan yang setu kejurus yang lain hakikatnya tidak kelihatan titik kelemahan.
Kiam-ping juga kembangkan kelincahan tubuh, kedua telapak tangannya menari selincah burung walet, Liong-hwiekiu-thian dilancarkan, sekaligus dia memukul tiga puluh enam jurus.
Sejak Hweslo malas menyalurkan tenaga dalamnya menggunakan Kay-ting-tay-hoat kedalam tubuhnya dibawah kobaran api besar, Lwekangnya sekarang sudah susah diukur tingginya secara reflek dan lancar dengan mudah dia sudah mampu mengembangkan Wi-liong-ciang seluruhnya.
"Plak. plak. plak. plok."
Ledakan-ledakan kecil yang nyaring semakin santer dan keras hingga menimbulkan pusaran hawa yang makin kencang, saiju seluas setombak lebih tersapu bersih hingga tampak tanah dan pasir.
Karuan hadirin disekitar gelanggang berdiri melongo, jantung serasa pecah nyali ciut, semua berdiri mematung.
Secara beruntun Yu-ling Kongcu harus menyambut tiga puluh enam jurus pukulan, hingga kedua tangannya terasa pegal kesakitan, pundak menurun langkah menyurut dua undak.
Kembali Liok Kiam-ping mendesak.
"Siapa pembunuh Ciang-kiam-kim-ling ?"
Waktu dia menegas kesana, ternyata Tok-sin Kiong-bing sudah mati sesak napas karena digencet oleh dua tenaga raksasa yang beradu.
Sekilas Liok Kiam-ping menatap dingin kepada seluruh penonton diluar gelanggang, lalu pandangan dia tujukan kepada Yu-bing Kongcu, bentaknya.
"Mereka itu adalah telurtelur busuk yang kau bawa kemari ?"
Yu-ling Kongcu terkekeh tawa, katanya.
"Tak pernah terpikir dalam benakku, di Tionggoan juga ada lawan setangguh kau apakah kau ini jenius silat Bulim yang sukar diperoleh semenjak ratusan tahun ini ?"
"Aku tidak peduli jenius silat segala."
Jeng ek Liok Kiamping.
"sekarang serahkan adik Bun kepadaku."
"Pernahkah kau mendengar Yu-ling-giamlo dari Go cui-ho ?"
Tanya Yu-ling-Kongcu dengan angkuh.
"sesuatu yang diinginkan oleh Yu-ling Kongcu kapan pernah tidak tercapai ?"
Sementara itu Ing-ing yang pingsan d ita nah sudah siuman, melihat keadaan Kiong bing yang menggiriskan, berteriak kaget.
"Susiok."
Yu-ling Kongcu terkekeh pula, katanya.
"Tugas seringan itu juga tidak becus kau lakukan, untuk apa kau masih hidup didunia ini ?"
Dimana kipas lempitnya berputar segulung hawa dingin berputar terus menggulung kedepan-Liok Kiam-ping menghardik.
"Tidak semudah itu."
Telapak tangannya bergerak dengan jurus Wi-liong-ting-gak.
mantap dan kokoh, kuat dan rapat seperti jala memenuhi udara, ditengah gemuruh suara yang sayup,sayup menerjang kearah Yu-ling Kongcu.
Sebat sekali Yu-ling Kongou ber-putar-putar mengegos dari terjangan utama, miring tubuh sambil menggempur balik dengan segulung kekuatan menangkis gelombang akhir dari tenaga pukulan lawan-"Daar."
Badannya tergoncang keras hingga limbung, kedua kakinya melesak kedalam tanah dua dim, pakaiannya berderai seperti dihempas angin badai sampai koyak-koyak.
Liok Kiam-ping juga merasakan tenaga perlawanan berat dan sekokok gunung balas menahan tenaganya, tanpa kuasa dia menyurut setengah tindak baru tegak pula.
Hatinya sudah dibakar amarah.
wajahnya dilembari nafsu membunuh, maju setapak lebar mulut menggerung.
"Rasakan pukulanku sekali lagi."
Dari arah yang berbeda kedua tangannya menggaris bundar sementara tenaga murni telah dipusatkan ditelapak tangan terus menggempur.
Pusaran-pusaran hawa kecil bertambah melebar dan deras cukup kuat untuk merobohkan gugusan gunung menerjang kearah Yu-ling Kongcu.
Yu-ling Kongcu tertawa enteng, badannya melambung tinggi tiga tombak menghindarkan diri dari terjangan dahsyat ini, di udara dia ayun tangan kanan "Cret"
Tiga batang jari kipasnya mendadak melesat keluar, dua diantaranya rneng incar kedua mata Liok Kiam-ping, sementara sebatang lagi melesat ke tenggorokan Ing-ing.
"Haaak."
Jeritan Ing-ing terputus seperti tenggorokannya keselak, jari kipas lempit telak mengenai tenggorokkan Ing ing.
darah tampak mengalir deras, rebah tak berkutik pula.
Bukan kepalang gusar Liok Kiam-ping, lengannya diulur seperti tangan kera saja, tahu-tahu Cui-le-kiam telah dilolosnya, di bawah pancaran sinar bintang yang kelap kelip.
pedang panjang tebal dengan punggung lebar seperti tanduk badak ini laksana kilat menyamber berkilauan berputar laksana arus...
Hanya sedikit menggerakkan pergelangan tangan, kedua barang jari kipas itu telah diirisnya menjadi beberapa keping, jiwa Ing-ing jelas tak tertolong lagi.
hati agak menyesal, maka dia berkata.
"Pedangku ini sudah kulolos jikalau kau tidak serahkan Le Bun, hati-hatilah batok kepalamu."
Nada bicaranya ternyata tenang dan kalem, tapi mengandung wibawa yang menciutkan nyali orang. Sekilas Yu-ling Kongcu melenggong, segera wajahnya mengulum senyum, kata-nya.
"Baiklah tugasku ke Tionggoan ini boleh di kata sudah berhasil, tiada sesuatu yang perlu kukuatirkan lagi, seorang perempuan kenapa harus kuributkan."
Lalu dia mendongak serta bersiul aneh, maka jerit dan pekik kawanan setan yang aneh memilukan itu bersahutan pula, lekas dia membentak.
"Gusur perempuan itu kemari."
Sambil menggendong kedua tangan dengan santai dia melangkah dua tindak. kaki terangkat dengan lirih dia tendang punggung kakek kate membuka tutukan Hiat-tonya lalu membentak.
"Goblok. enyah dari hadapanku, Tersipu-sipu kakek kate itu merangkak bangun serta munduk-munduh sambil mengiakan, lalu melompat jauh lenyap ditelan kegelapan-Liok Kiam-ping membatin.
"Keparat ini memang lihay, usianya masih muda mampu memimpin jago-jago lihay sebanyak itu, siang tadi aku pasti bukan tandingannya, tapi sekarang aku yakin sedikit lebih unggul, dalam seratus jurus jiwanya pasti dapat kutamatkan-"
Lalu terbayang waktu dirinya masih berada dibawah kobaran api besar. setelah menghela napas dia membatin pula.
"Jenazahnya terbakar habis tak berbekas, sehingga aku tak mampu menunaikan tugas baktiku sebagai tanda terima kasihku kepada beliau. Walau aku sudah berhasil menuntut balas sakit hatinya, tapi tugas berat yang akan datang menindih diatas tubuh ku."
Sementara itu enam bayangan orang tampak berlari mendatanpi secepat terbang. Liok Kiam-ping bercekat hatinya, teriaknya..Kalian-.."
Ternyata enam orang yang datang semua mengenakan jubah hitam alis putih jeng got panjang semua kakek tua, setiap orang memanggul satu orang.
Tampak Le Bun, Kim-ji-taybeng, Gin-ji-tay-beng, Siang Wi, Biau-jiu-sip-coan dan seorang perempuan-Yu-ling Kongcu tertawa ramah, katanya.
"Inilah Yu-ling-Liok-lo, hehehe, meski tuan berilmu tinggi, tapi anak buahmu juga begitu saja, sebaliknya didalam Yu-ling-kiong kami, jagojago silat tak terhitung banyaknya, satu lebih unggul dari yang lain, kekuatan kami cukup kuat untuk menguasai dunia."
Merandek sejenak lalu menyambung.
"enam orang yang kau inginkan sudah kukeluarkan, lalu mana barang yang kuinginkan ?"
"Kau ingin apa?"
"Hiat-liong-po-giok..."
"Jangan kau mimpi..."
"Kungfumu tinggi, tapi sebilah pedangmu memang mampu sekaligus membunuh keenam orangku ini ? sebaliknya berani kau bergerak. orang-orang yang kau kenal baik ini bakal melayang jiwanya, lalu aku akan kumpulkan mereka dengan keroyokan sekian banyak orang, jangan harap kau dapat mengalahkan kami, bila tiba saatnya .."
Otak Liok Kiam-ping bekerja secara kilat, dia tahu umpama dirinya sekaligus melancarkan tiga jurus ilmu mengendali pedang, paling hanya dapat membunuh dua orang diantara enam Yu-ling-Liok-lo, sementara jiwa Le Bun berenam masih susah diselamatkan-Lebih parah lagi Yu ling Kongcu cukup tangguh, dalam belasan gebrak jelas dirinya takkan mampu merobohkan dia, kalau dapat membekuk dia dan dijadikan sandera untuk barter tawanan baru jiwa keenam kawannya itu dapat diselamatkan-Pada hal Siang Wi berenam semua lunglai, agaknya pingsan kalau tidak tertutuk Hiat-tonya tentu terbius racun, dalam hati dia lantas mengomel.
"Kalian adalah kawakan Kangouw tapi juga kecundang begini mengenaskan ? Ai, bagaimana aku harus bertindak ?"
Berbagai persoalan berkecamuk dalam benaknya, akhirnya dia menghela napas, katanya.
"Kalau aku sudah serahkan hiat-liong-po-giok, sebaliknya kau ingkar janji, apa yang harus kulakukan ?"
Yu-ling Kongcu tepuk dada, katanya lantang.
"Yu-ling Kongcu adalah putra jago nomor satu dari aliran sesat diseluruh jagat Yu-ling-giam-lo, memangnya setiap patahku kau anggap apa ?..."
Belum habis dia bicara, sesosok bayangan hitam tampak melesat datang dari jarak enam tombak. sebuah suara dingin kumandang.
"orang-orang Yu ling-Kiong kalian semua adalah manusia jahat yang ingkar janji cuh, masih bermulut besar dihadapan umum."
Waktu Kiam-ping menoleh kearah datangnya suara, seketika dia memekik kaget .
"Tok-sin Kiong-bing."
Yu-ling Kongcu juga menjerit kaget "Kau..."
"Hahahaha...
"galak tawa sadis bergema diangkasa seiring dengan luncuran tubuhnya. Tampak orang inipun bermata tunggal, bibir tebal, rambut panjang tidak terurus, wajahnya tampak sadis dan buas, siapa lagi kalau bukan Tok-sin Kiongbing. Melihat mayat ditanah seketika mendelik liar matanya, wajahnya makin kelam, pekiknya.
"Siapa yang membunuh dia ?"
Yu ling Kongcu maju dua langkah, katanya sambil menjura kepada Kiong Bing.
"Kiong-toasiok. bagaimana kaupun datang kemari ?"
Kiong Bing tertawa besar bernada sedih katanya.
"Adikku ikut kau ke Tionggoan memandang muka ayahmu maka dia mau bekerja, tak nyana kau justru berpeluk tangan melihat keadaannya begini mengenaskan, memangnya kau tidak takut aku menuntut kepada kau ?"
Suaranya sedih, dendam dan penasaran, dingin dan bengis pula.
"Paman Kiong,"
Lekas Yu-bing Kongcu berkata dengan tawa kering, kebetulan kau datang Ji-siok terbunuh oleh Pat-pi-kimliong Siautit memang sedang berusaha menuntut balas kematian Ji-siok."
Berkilat mata Kiong-bing, maju dua langkah dia menekan suara.
"Anak muda, apa betul yang dikatakan ?"
Bahwa Tok-sin Kiong Bing muncul lagi satu sungguh membuat Liok Kiam-ping kebingungan, susah dia membedakan kedua Kiong-bing ini, setelah cukup lama mengamati tetap tidak bisa membedakan mana tulen siapa yang palsu, dalam hati dia membatin.
"Jikalau mereka muncul bersama, mungkin aku masih bisa membedakan mana Tok-sin Kiong-bing yang tulen,"
Yang benar kedua Kiong-bing dulu ikut mengeroyok ciangkiam-kim-ling, tapi kedua orang ini muncul secara beruntun sehingga ciang-kiam-kim-ling melenggong sekilas, tapi sekilas itu sudah cukup untuk Kiong-bing menggunakan racun tanpa bayangan-Mengandal persamaan wajah mereka inilah maka Kiongbing bersaudara sering berganti posisi dan menyerang silih berganti mengaburkan pandangan lawan, gerak gerik mereka seperti setan saja, Ginkang mereka sudah merupakan jago top lagi sehingga banyak tokoh-tokoh kangouw terjungkal ditangan mereka, memang pantas kalau akhirnya mereka diagulkan sebagai salah satu dan Liok-toa-thian-cu.
Melihat Liok Kiam-ping mendelong kearahnya, tak bersuara pula, saking gusar dia terloroh tawa katanya.
"Bocah kemaren sore seperti dirimujuga berani menantang kepada Tok-sin Kiong-bing ?"
Dengan nada tak acuh Liok Kiam-ping bertanya pula.
"Apakah betul kau ini Tok sin ?"
"Memang nya perlu diragukan ?"
"Dulu waktu ciang-kiam-kim-ling terbunuh, apa kau juga mengeroyoknya ?"
Tok-sin Kiong Bing melengak, katanya kemudian "Oo, jadi kau inilah ciangbunjin Hong-lui-bun yang baru..."
"Betul, diriku inilah."
Sahut Liok Kiam-ping mengangguk.
Menghijau kaku muka Tok-sin Kiong-bing, otot hijau diatas jidatnya merongkol besar, kulit dagingnya yang merongkol kelihatan jelas diatas kulit dagingnya yang berbeda warna, begitu seram dan sadis.
"Saudara kembarku itu apakah kau yang membunuhnya ?"
"Betul, kawanan setan komplotan siluman, siapapun patut mengganyangnya"
"Anak muda, ternyata kau juga kejam telengas, akan kusayat-sayat kulit dagingmu sampai hancur lebur."
Sementara itu diam-diam Yu-bing Kongcu sedang memikirkan satu hal.
"Apakah persoalan Hiat-liong-po-giok harus kuperbincangkan ? Posisiku jelas lebih menguntungkan, kenapa kuatir bocah itu takkan menyerahkan kepadaku, tapi siluman tua ini ada disini, bila tahu aku yang menggetar mati adiknya dengan Im-jiu, sulit untuk melawan serangannya yang nekad lalu bagaimana baiknya? Beberapa persoalan berkelebat dalam benaknya, akhirnya dia mengulum senyum licik, maka dia maju selangkah dan berkata kepada Kiong-bing.
"Paman Kiong, bocah ini kebal segala racun, racunmu yakin takkan berguna terhadapnya, tadi Kiong-jisiok juga pernah manyerangnya dengan ular terbang, tapi disabat hancur malah."
Kong-bing melongo, serunya setengah percaya.
"Apa ? Ular terbang juga tidak mampu melukai dia ?"
Lalu dia mengerut alis. serunya bengis.
"Anak muda, apa kau memiliki Hiat-liongpo giok ?"
Tangan kanan Yu-bing Kongcu memegang pundak Kiongbing, katanya perlahan.
"Betul, batu jade mestika itu memang berada ditangannya, malah diapun tahu rahasia cara membuka kamar batu Thiantok-bun-.."
"Apa betul?"
Kiong-bing menegas dengan suara tinggi. Seringai sadis menghias wajah Yu-bing Kongcu, katanya.
"Dibawah pancaran sinar matahari pagi, batu jade itu akan memperlihatkan gambaran naga terbang..."
Mendadak dia menghardik, tenaga yang dikerahkan ditelapak tangan segera menggaplok Bing-bun-hiat dipunggung Kiong Bing.
Sepenuh perhatian Tok-sin Kiong-bing mendengarkan cerita Yu-bing Kongcu tentang rahasia besar kaum persilatan, sungguh tak pernah terbayang bahwa Yu-bing kongcu bakal membokong dirinya dengan cara sekeji ini.
belum lenyap suara hardikannya.
punggungnva telah digaplok dengan tenaga raksasa.
Dengan jeritan mengerikan tubuhnva mencelat dua tombak..
"Bluk"
Begitu muka menyentuh tanah darahpun menyembur dari mulutnya.
Tapi Yu-bing Kongcu juga mengerang tertahan, dia menyurut dua langkah.
lengan kirinya dipegang dan dipijatpijat, wajahnya tampak menyeringai sadis.
Bola mata Kiong-bing melotot keluar, sekuatnya dia menyanggah tubuh dengan kedua tangan, tubuhnya setengah duduk.
sorot matanya berapi-api menatap Yu-bing Kongcu penuh kebencian-suaranya serak.
"Kau... kenapa berbuat sekeji ini ?"
Yu-bing Kongcu tertawa sinis. Katanya.
"Selama tiga puluh tahun ayah berusaha mencari rahasia cara membuka gudang Thian-tok-bun, maka beliau merendahkan diri berusaha merangkul kalian bersaudara. siapa nyana kalian licik dan picik, terlalu egois dan temaha sejak memperoleh keterangan dari mulut ciang-kiam-kim-ling cara membuka gudang itu kalian tetap merahasiakannya sampai sekarang. tadi adikmu sudah membeberkan rahasia itu, untuk apa pula kau masih hidup". Serasa serak penasaran keluar dari tenggorokan Kiong bing, pelan-pelan dia merangkak bangun dengan langkah sempoyongan menghampiri Yu-bing Kong cu terkekeh dingin, katanya.
"sekarang biar kau mampus dengan tenteram, jiwa adikmu tadi juga aku yang menamatkan."
Mendadak dia melompat maju menerjang ketubuh Kiong bing, di mana telapak tangannya berkelebat, Kiong-bing telah dihajarnya mencelat jauh terguling-guling ditanah, Kiong-bing masih merintih-rintih, darah menyembur pula beberapa kali, sekujur badan gemetar, namun tetap dapat merangkak berdiri lagi.
Menyaksikan betapa keji dan telengas cara Yu-bing Kongcu membokong dan berusaha membunuh Kiong-bing, Liok Kiam
ping mengerut kening, disadarinya bahwa Hiat-liong-po-giok miliknya itu ternyata mempunyai arti besar didalam percaturan dunia persilatan, dibalik batu yang sekeping itu ternyata menyangkut banyak persoalan penting yang terpendam sekian lama, menyangkut banyak jiwa manusia, Sudah tentu Kiam-ping amat setuju bila manusia macam Kiong-bing diberantas dari muka bumi, tapi melihat kakak beradik itu mati penasaran oleh kawan yang berbuat keji dan jahat, sebagai seorang ksatria, seorang pendekar yang menjunjung kebajikan, sebetulnya Kiam-ping tidak bisa berpeluk tangan sayang dia masih sadar bahwa Le Bun berenam masih digenggam lawan, maka dia tidak berani sembarang bertindak, Dengan suara serak Kiong-bing berkata.
"Kau memang kejam, memang tidak malu sebagai murid Tang-ing..."
Setelah berganti napas, sorot matanya beralih kearah Liok Kiam-ping, katanva pula.
"Apapun yang terjadi kau harus pertahankan batu jade itu, karena diselatan kota Tayli dipropinsi In-lam terdapat sebuah tempat Ngo-tok-sengto .."
Sorot matanya menampilkan mohon belas kasihan, lalu meratap.
"Disana terdapat gudang penyimpanan harta pusaka Thian-tok-bun, merupakan rahasia besar kaum persilatan yang diperebutkan sejak beratus tahun lalu, didalamnya tersimpan sepucuk pohon Kiu-yao-ci-lan yang ditanam oleh Thian-gwa sinlo dan ada lagi..."
Dia berusaha ganti napas, tapi mendadak kepalanya terkulai, napaspun berhenti.
Yu-Ling Kongcu tidak segan membunuh komplotan sendiri untuk menutup mulutnya supaya rahasia besar itu tidak bocor, dari sini Liok Kiam-ping meresapi betapa besar sangkut pautnya Hiat-liong-po-giok itu bagi kaum persilatan khususnya.
Dirasakan pula kehidupan kaum persilatan yang penuh liku-liku ini ternyata serba berbahaya dan jahat.
Manusia durjana macam Yu-ling Kongcu yang tidak segansegan mengganyang kawan sendiri, ingkar janji dan lupa budi, maka patut dirinya selalu waspada dan tidak kenal kasihan terhadapnya.
Yu-ling Kongcu tertawa besar saking senang dan bangga, katanya anak kura2, sekarang tiba saatnya kau serahkan batu itu kepadaku."
Tidak menjawab langsung Liok Kiam-ping malah balas bertanya.
"Darimana kau datang kemari, Apakah tujuanmu meluruk ke Kui-hun-ceng ini hanya lantaran batu mestika itu ?"
"Ya , .. boleh dikata demikian, tapi sayang .."
"Sayang apa..."
"Dikalangan Kangouw tersiar luas bahwa Pat-pi-kim-liong adalah tunas muda yang diagulkan sebagai jago diantara jagojago muda, sebagai ciangbunjin Hong Lui Bun, masakah tentang datuk-datuk persilatan seperti Lam coat. Pak-ong. Tang-leng, Say-bong dan Tiong-sin-ceng juga tidak tahu."
"Kenapa aku peduli tetek bengek itu, tugasku adalah memberantas kawanan siluman jahat, membela kebenaran mendukung keadilan kaum persilatan "
"Kau bocah masih berbau pupuk bawang juga berani bermulut besar."
"Cayhe hanya tahu bekerja sekuat tenaga, kedengarannya kau ini datang dari Tangling.
"Ah, betul, tuan muda ini memang putra tunggal Yu-ling-giam-lo..."
"Lwekangmu biasa saja, yakin Giam lo Lokoay juga takkan lebih hebat seberapa."
Berubah air muka Yu-ling Kongcu, namun cepat sekali sudah wajar pula,jengeknya tertawa sinis.
"Bocah pikun, memang aku hanya memperoleh dua bagian ilmu sakti Yuling-giam-lo-saja, tapi kenyataan kau tidak mampu mengalahkan aku, cuh, lekas serahkan batu mestika itu. Aku tiada tempo ngobrol denganmu."
Liok Kiam-ping mengawasi orang-orang yang berdiri seperti patung disekitar gelanggang, tenggorokan Le Bun masih terancam oleh sepuluh jari-jari setan kakek tua itu.."
"Sebelum kau jelaskan dulu maksud tujuanku kemari, terpaksa cayhe tidak bisa memenuhi tuntutanmu."
Jawab Liok Kiam-ping tegas.
"Memangnya kau tidak hiraukanjiwa mereka ?"
Ancam Yuling Kongcu.
"Mestika Bulim patut dimiliki oleh insan bajik dan bijaksana, manusia kotor rendah dan hina dina macam dirimu, bila mendapatkan mestika ini pasti akan lebih mengganas dan bersimaharaja. Demi kesejateraan umat persilatan, jiwa beberapa orang itu boleh kukorban, apalagi bila kau bunuh mereka, bukan saja tiada faedahnya bagi dirimu jiwamupun harus kaujadikan tumbal."
Yu-ling Kongcu jadi serba salah, katanya dengan wajah berobah.
"Anak muda, kau memang jumawa, memangnya siapa yang menjadi tulang punggungmu."
Tujuan Liok Kiam-ping mencari posisi yang menguntungkan, bila nanti terpaksa dia harus melancarkan tiga jurus sakti dari cui-le-kiam untuk membekuk Yu-bing Kongcu, maka sengaja dia ajak orang berdebat serunya dengan gelak tawa.
"Lam-coat, Pak-ong, Tang-ling, Say-bong, Tlong-sin-Ceng pernahkah kau pikir apa hubungannya Tiong sin-ceng dengan Kim-kong-put-hoay-sin-kang yang kuyakinkan ?"
Betul juga Yu-ling Kongcu tampak tersirap kaget, serunya. Jadi, kau ini murid didik Hou-bun-sin-ceng ? Apa kau bukan ciangbunjin Hong-lui-bun ?"
Yakin lawan sudah terlibat dalam persoalan yang sengaja diada-ada, pelan-pelan secara santai dia bergerak kekiri dua langkah katanya.
"Apakah ahli waris beliau tidak patut menjadi ciangbunjin Hong-lui-bun?"
Bahwasanya Liok Kiam-ping tidak tahu bahwa dikolong langit ini betul-betul ada Lam-coat, Pak-ong, Tang-ling saybong dan Tiong-sin-ceng segala, karena kepepet terpaksa dia membual belaka.
Tapi Yu-ling Kongcu menjublek.
batinnya.
"Hiat-liong-pogiok adalah mestika Bulim, siapa memiliki dia bakal menjadi jago nomor satu diseluruh jagat jika benar dia murid Tiongsin-ceng, sejak lama sepantasnya dia sudah pergi ke Ngo-tokseng-te di In-lam. Kenapa dia tidak tahu dimana manfaat Hiatliong-po-giok itu?"
Disaat menepekur itulah Liok Kiam-ping sudah mengeluarkan cui-le-kiam.
Ditengah bentakannya secepat kilat dia melesat, ujung pedang menusuk kearah Yu-ling Kongcu.
Sejak tadi Kiam-ping sudah mempersiapkan diri sekali sergap harus berhasil membekuk lawan, tampak sinar pedang memenuhi udara membawa samberan angin tajam perbawanya sungguh hebat dan mengejutkan-Reaksi Yu-ling Kiongcu ternyata cukup sigap mesti disergap.
lekas dia kebut lengan baju kiri menimbulkan segulung angin besar sementara kipas ditangan kanan terkembang sekuatnya dia tahan serangan pedang sembari menyurut mundur lima langkah, syukur masih berhasil dia menyelamatkan diri.
Tapi Liok Kiam-ping tidak memberi peluang kepadanya, sekuatnya dia salurkan segala kekuatan dan daya mampunya, hawa pedangnya menembus pertahanan hawa kekuatan lawan sekokoh papan baja dan bayangan kipas yang sekuat hujan deras.
"cras, eras,"
Beberapa kali suara tabasan disertai bendaberda halus berjatuhan di tanah, cahaya pedang tampak berkembang diudara lalu melingkup ke satu jurusan mengerojok turun-Terdengar Yu-ling Kongcu menjerit seperti binatang liar terluka, kedua tangannya menghindar serta menepuk.
segera dia mengembangkan Yu -ling-ciang-kang, tampak halimun putih mulai mengembang makin lama makin tebal menjadi hawa pertahanan yang membungkus sekujur badannya.
Yu-ling-ciang adalah ilmu pukulan paling ganas dari aliran sesat, tenaga pukulan yang dingin beracun setiap kena sasaran, lawan pasti jatuh pingsan dan akhirnya binasa, Yuling Kongcu memperoleh warisan keluarga, maka kemampuannya bolehlah diandaikan, begitu mengembangkan Yu-ling-ciang sungguh perbawanya luar biasa.
Ditengah gemuruh suara guntur dan badai, cu-le-kiam ditangan Liok Kiam-ping seperti membentur dinding karang besar, serangannya seperti ditahan dan sukar menembus pertahanan lawan-Mendadak dia memekik nyaring, semangat berkobar badanpun melejit keatas, seluruh tenaga dalamnya disalurkan keujung pedang, secara gencar dan kerap ujung pedangnya menusuk kelapisan kabut tebal putih itu.
Suara ledakan keras mengakhiri pertahanan sekeras karang itu, ternyata kabut tebal itu tertusuk bolong dan kempes, asap tebal terlempar ke segala penjuru, disusul suara orang seperti tertelan dalam tenggorokan, cahaya pedangpun sirna, tampak Liok Kiam-ping berdiri tegak ditengah gelanggang, pedang terpeluk tegak didepan dada, wajahnya tampak semu merah, napas sedikit memburu.
Enam kaki didepannya.
wajah Yu-Ling Kongcu tampak pucat lesi, bibirnya gemetar, sorot matanya melanda penuh kebencian, darah tampak menetes dari tangan kanan mengotori saiju putih dibawah kakinya, jelas dia sudah terluka.
Selebar muka Kiam-ping dilapisi hawa sadis, bentaknya dengan tekanan berat.
"Kalau kau tahu diri lekas bebaskan tutukan Hiat-to mereka, cayhe tidak akan menuntut kepentingan pribadi, kau boleh pergi dengan hidup, tapi jangan kau menolak arak suguhan, menyesalpun kau akan kasep"
Hampir saja jiwanya melayang oleh pedang lawan, rasa takut masih menghantui sanubarinya, tapi sadar watak Yubing Kongcu memang culas dan telengas, licik dan licin, picik serta pandai berpura-pura, sekuatnya dia menahan gejolak hatinya, mendesis kebencian dia berkata.
"Mereka tertutuk oleh Yu-ling-toan-hun-ci, ilmu tutuk tunggal keluargaku, kecuali aku tiada orang mampu membebaskan."
"Jiwa mu sudah terancam dibawah pedang, masih berani keras mulut, memangnya ingin lekas mampus."
Ancaman Liok Kiam-ping sambil mendekat menuding pedang.
Lekas Yu-ling Kongcu berkelit sambil mundur, tapi sekali dia bergerak ketahanan hawa murninya ikut buyar, kontan dia memuntahkan darah segar, wajahnya lebih pucat lagi.
"Isi perutmu sudah tergoncang dan terluka oleh gerakan hawa pedangku, jikalau tidak lekas samadi menyembuhkan luka-luka dengan hawa murni sendiri, dalam jangka satu jam, kau akan mampus tanpa kubur kalau tidak percaya boleh kau coba tarik napas, apakah Khi-hay hiat tidak sakit?"
Walau tidak percaya tapi Yu-ling Kongcu mencoba menarik napas dalam, Khi-hay-hiat seketika sakit seperti ditusuk jarum karuan dendamnya makin membara, timbul akal busuknya.
Mendadak kedua tangan terayun, kabut hitam pekat seperti menyembur dari kedua tangannya berkembang luas diudara.
bersama dengan melebarnya kabut hitam.
maka ramailah celoteh kawanan setan yang menggiriskan-Liok Kiam-ping mengendus bau busuk dari mayat, seketika kepalanya pusing, lekas dia kerahkan hawa murni melancarkan Kim-kong-put-hay-sin-kang melindungi seluruh badan dan Hiat-to.
Kim-kong-put-hoay-sin-kang adalah ilmu sakti pengusir iblis dari aliran Hud, begitu tenaga sakti disalurkan, lahir batin senyawa serta merta timbal suatu tenaga pertahanan yang hebat didalam batin, jangankan racun tidak mempan, segala macam senjata tajampun takkan mampu melukai.
Untuk pertama kali ini Liok Kiam-ping mempraktekkan ilmu sakti ini dalam kancah pertempuran, sembari menghapal teori yang pernah diajarkan Hwesio sakti, sekaligus dia kombinasikan pula dengan Kay-ting-tay-hoat yang disalurkan kedalam tubuhnya, padahal Lwekang Hwesio sakti meliputi latihan selama seratusan tahun, maka betapa besar kemajuan yang dicapai Liok Kiam-ping, sungguh merupakan kejadian yang belum pernah terjadi selama ini.
Kira-kira semasakan air kemudian, kesadarannya telah jernih, bila dia membuka, kedua mata, sekelilingnya tetap diliputi abut hitam, kegelapan melulu seolah-olah dirinya berada dineraka, benda lain tiada yang kelihatan disekelilingnya.
Bau busuk yang memuakkan bertambah tebal, jeritan-jeritan setan masih terus bersahutan disekitarnya.
dikejauhan tampak sinar kunang-kunang kerlap-kerlip.
suasana mengerikan seumpama menyedot sukma.
Maka Kiam-ping membatin.
"Mungkin inilah yang dinamakan Yu ling-toa-tin ?"
Segera Kiam-ping melompat berdiri turun menerjang kedepan dengan harapan dapat menerjang keluar barisan meminjam cahaya pedang dari sinar kunang-kunang itu masih terus terbang seliweran disekitar badannya.
Sekonyong-konyong sebuah suara dingin berkumandang dibela kang.
"He, Pat-pi-kim-liong, bocah bagus. bagaimana rasanya Yu-ling-toa-tinku ini ? Dalam sekejap lagi mayatmu akan luluh tak berbekas oleh kabut beracun yang menyadap seluruh badanmu... Liok Kiam-ping tidak hiraukan ocehan orang, Lwekangnya tetap disalurkan, semangat terhimpun, mendadak dia melompat terbang, pedangnya bergerak deagan jurus Jit-lun
jut-seng, selarik cahaya benderang menerangi langit membawa geseran suara memecah udara, Dibawa h pancaran sinar pedangnya yang benderang lapat-Iapat dia melihat berkelebatnya bayangan beberapa orang.
Sungguh kebencian telah menjalari sanubarinya, tenaga dikerahkan tangan bergerak dengan gaya pedang menaburkan tiga kuntum sinar pedang, dengan kecepatan yang luar biasa menusuk kebayang-bayang manusia itu.
"Aduh."
Sebuah jeritan melengking, disusul semburan darah yang tercecer.
serempak beberapa jalur angin tajam memberondong kearah tubuhnya.
Secara reflek Kiam-ping ayun pedangnya menangkis dengan jurus Liat-jit-yam-yam, cahaya pedang yang cemerlang menyilau mata berkembang diudara.
Jeritan yang mengerikan kembali memekik, tubuh seorang tampak roboh menggeletak sebuah lengan tertabas butung dan tersapu pergi oleh putaran pedang "bluk"jatuh ditanah bersalju.
Waktu Kiam-ping menegasi seorang kakek tua rambut panjang berpakaian blaco telah binasa tertembus pedang tenggorokannya, seorang lelaki setengah umur lagi buntung lengannya, mukanya pucat, saking kesakitan badannya menggigil sambil kertok gigi terguling-guling meregang jiwa.
Sekali jambak Kiam-ping jinjing orang ini, bentaknya.
"Lekas katakan bagaimana barisan ini berputar, nanti jiwamu kuampuni."
Tiba-tiba terdengar Yu-ling Kongcu berkata dari luar barisan.
"Pat-pi-kim-liong, jangan bertingkah, coba dengar ini suara siapa ?"
"Oh, Kiam-ping, kenapa kau?"
Itulah suara Le Bun yang cemas dan kuatir.
"Le Bun, di mana kau ? Aku tidak apa-apa"
"Kiam-ping, kau terkurung dalam barisan bentuk barisan ini menggunakan teori cin-hoan-kiu-Kiong-pat-kwa dan..."
Tibatiba suaranya terputus, kalau tidak didekap mulutnya tentu Hiat-to bisunya ditutuk.
Mengingat Le Bun tertawan musuh, sungguh amarahnya berkobar makin besar.
Terbayang dendam orang tua belum terbalas, tugas berat Hong-lui-bun juga belum sempat dia bereskan, kini dirinya terkurung didalam barisan sementara kekasihnya menjadi sandera musuh, sungguh serasa pecah dadanya, bagaimana pula dia harus menunaikan pesan Hwesio sakti?
Menegakkan keadilan dalam percaturan dunia persilatan-Terbayang kepada Hwesio sakti, seketika dia teringat bahwa didalam kantong bajunya masih menyimpan Pit-hwe-cu.
Dalam bahaya menemukan jalan buntu mendadak memperoleh penerangan sinar harapan, seketika terbangkit semangatnya, lekas dia kembalikan pedang kesarungnya lalu mengeluarkan Pit hwe cu.
cahaya hijau remang-remang seketika menjulang diangkasa, pancarannya mencapai tiga tombak membundar, dalam jangkauan sinarnya segala sesuatu disekitarnya dapat terlihat jelas.
Kiam-ping segera menyapu sekelilingnva tampak Yu-ling Kongcu berdiri setombak lebih diarah selatan, sibuk memberi perintah dan aba-aba kepada anak buahnya, memperketat kepungan-Melihat kesempatan tak boleh disia-siakan, lekas dia kerahkan tenaga dikedua lengan, hawa murni tersalur keseluruh tubuh, di mana tumit kakinya menutul bumi badannya menerjang dengan kecepatan anak panah.
Yu-ling Kongcu sedang kesenangan sambil tuding sana tunjuk sini sementara mulut berkaok-kaok, mendadah cahaya hijau berkelebat, disusul gelombang tenaga raksasa mendadak menyapu datang sedahsyat amukan gelombang samudra, lekas dia menjejak mundur sambil berputar.
Liok Kiam-ping sudah kebacut gusar, maka serangannya ini teramat bernafsu, bagaimana juga musuh pantang lolos dari incarannya, dimana dia salurkan tenaganya terus ditarik balik pula, menyelinap terus melompat pula seperti ulat dalam perut saja, dia mengudak dengan ketat, kelima jari tangan kanannya tertekuk laksana cakar mencengkeram urat nadi lawan-Luka dalam Yu-ling Kongcu cukup parah dan belum sempat disembuhkan, mau tidak mau gerak geriknya menjadi lamban, sebelum kakinya menyentuh tanah, seketika dia rasakan pergelangan tangan mengencang kesakitan, kontan lengan kanannya menjadi linu lemas, lekas sekali sekujur badan juga lunglai.
Karena barisan tanpa komando maka barisan setan itupun bubar sendiri, lekas sekali pemandangan sekitarnya telah kembali terang seperti biasa.
Sinar pagi tampak benderang dan cuaca cerah ceria, ternyata sang fajar telah menyingsing tanpa terasa, berarti Kiam-ping bertempur semalam suntuk.
Dengan suara berat Kiam-ping membentak.
"Lekas buka tutukan Hiat-to mereka, aku boleh mengampuni jiwa mu, atau kau akan merasakan siksaan hidup, kalau masih bandel mayat-mayat itu menjadi contohmu,"
Sembari bicara tenaga diperkeras, tulang pergelangan tangan Yu-ling Kong cu seperti hampir patah, saking kesakitan gemetar badan Yu-ling Kongcu.
Wataknya memang biadab, culas dan kejam, selama mengembara di Kangouw, kapan dia pernah kecundang begini mengenaskan, menjadi tawanan musuh dan diancam lagi, tapi jiwa raga sendiri berada digenggaman orang, apa boleh buat dia menghela napas, segera dia memberi perintah anak buahnya untuk membebaskan tutukan Le Bun, Kim-gin-huhoat berenam.
Setelah mereka berenam sadar dan tidak kurang suatu apa, baru Liok Kiam-ping lepas cengkramannya, lekas dia memburu kesana menggiring serta melindungi mereka ketempat yang selamat, orang banyak masih terlongong bingung.
Yu-Ling Kongcu mendengus ejek.
katanya.
"Keparat, jangan temaha, sejak kini Tang-ling-Kiong tidak akan berpeluk tangan-"
"Segala tanggung jawab akan kuhadapi, kapan saja aku tunggu tuntutanmu.. Mendadak seorang berkata.
"Kenapa kapan saja, sekarang juga jiwa mu pasti mampus disini,"
Suara dingin kumandang dari belakang, nadanya rendah dan sadis.
cepat Kiam-ping membalik, tiga tombak dipinggir pohon berdiri seorang lelaki tua berambut uban, wajahnya menyeringai kejam, hidung elang tulang pipi menonjol, bola matanya seperti srigala yang haus darah, mendelik tanpa berkedip.
Melihat tampangnya yang buruk dan kejam siapapun akan merinding.
Bahwa orang ini tiga tombak berada dibelakangnya tanpa disadari, betapa tinggi Lwekang dan Ginkangnya, sungguh amat mengejutkan-Begitu melihat orang, tua ini Yu-ling Kongcu seketika berjingkrak senang, teriaknya.
"Ayah, keparat ini bernama Pat-pi-kim-liong, Hiat-liong po-giok berada ditangannya, tapi dia..."
"Aku sudah tahu,"
Tukas orang itu aseran-Kim-ji-tay-beng mencelos, pikirnya.
"Sudah puluhan tahun siluman tua ini tidak pernah muncul di Kangouw, hari ini mendadak berada disini, urusan ini tentu sukar dibereskan secara damai."
Orang tua sadis itu melangkah setapak. suaranya bergema.
"Bocah, jadi kau inilah Pat-pi-kim-liong, tunas harapan kaum persilatan masa kini?"
"Mana berani, tapi memang akulah adanya.."
Orang itu menuding mayat-mayat yang bergelimpangan, katanya.
"Kaukah yang membunuh mereka .."
"Terpaksa cayhe harus bertindak untuk membela diri."
"Terpaksa apa. Bocah semuda kau ini sudah berhati kejam, membunuh anak buah Lohu, terpaksa Lohu akan menuntut keadilan kepadamu"
"Haha, mengumbar anak berbuat jahat adalah keliru, membantai umat hidup melanggar hukum alam. meyakinkan ilmu sesat lagi, patut menjadi musuh bersama umat manusia. Ang-kin-cap-pwe-ki, anak buahku itu seluruhnya kalian bantai, bagaimana pula kau akan memberi pertanggungan jawab?" ---ooo0dw0ooo---"Setan cilik pandai berputar lidah, jangan kira kau ini murid Hou-hun Hwesio Lohu tetap berani menyikatmu."
"Demi keadilan dan kebenaran-kaum persilatan, meski gugur dimedan laga juga cukup terpandang, cayhe menurut saja apapun kehendakmu.
"Bocah tekebur, berani kau menghadapi tiga pukulan Lohu ?"
"Jangan kata tiga jurus, tiga puluh jurus juga tidakjadi soal bagi cayhe."
"Melihat sikap dan tutur katamu, kau memang cukup gagah dan perkasa, Lohu jadi kagum kepadamu, biarlah hari ini aku melanggar kebiasaan, mencobamu tiga jurus, bila kau kuat menandingi persoalan ini anggap himpas sampai di sini, kalau kau kalah Hiat-long-po-giok harus kau serahkan kepadaku, jiwamu tetap kupertahankan"
Angkuh adalah watak utamanya, sebagai ciangbun lagi, dihadapan anak buahnya betapapun dia harus mempertahankan gengsi, pantang dipandang enteng lawan, maka Kiam-ping tertawa gelak gelak. katanya.
"Jikalau cayhe kalah, jangan kata Hiat-liong-po-giok, batok kepalaku juga boleh dipenggal dan terserah apa kehendakmu. Sebaliknya bila kau yang kalah, terpaksa aku harus menuntut balas kematian ciangbunjin kita yang terdahulu ciang-kiamkim-ling yang kalian keroyok di Tay-pa-san dulu."
"Boleh, boleh, nah awas bocah", perhatikan seranganku."
Pelan-pelan dia ulur kedua tangannya lurus kedepan dada, kedua telapak tangan terus bertepuk perlahan, namun segulung tenaga tiba-tiba menerpa muka.
Hanya lima bagian tenaganya saja, tapi dengan latihan Lokoay yang hampir mencapai seratus tahun ini, perbawa serangan ini ternyata amat mengejutkan, damparan tenaga yang menyerang itu sungguh sedahsyat gelombang yang berderai.
Menghadapi musuh tangguh betapapun Liok Kiam-ping tidak berani gegabah, segera dia salurkan tenaga saktinya, seluruh kekuatan dipusatkan dipusar, kedua tanganjuga menepuk dengan enam bagian tenaga.
"Byaaaar "
Seperti ledakan petir, begitu kedua tenaga pukulan berada, badan Liok Kiam-ping sedikit menggeliat.
Lokoay kira usianya masih muda, umpama sejak dalam perut ibunya meyakinkan Lwekang juga masih terbatas, maka kali ini dia agak pandang rendah lawannya, maka hanya menggunakan lima bagian tenaganya.
Di luar tahunya Liok Kiam-ping beruntun memperoleh mukjijad sehingga Jin-tiok-jimeh sudah tembus, Lwekangnya sekarang boleh dijajarkan sebagai tokoh paling top di Bulim, setelah pukulan beradu Lokoay tergentar mundur selangkah "Setan alas, kiranya kau memang tangguh, baik sambut pukulanku ini,"
Kembali dia gerakkan kedua tangan.
kali ini pukulan dahsyat membawa deru gemuruh seperti geluduk menggulung kearah Liok Kiam-ping.
Badai mengamuk, ombak menjerit, hawa udara seperti bergolak.
bukan kepalang hebat perbawa serangan ini.
Liok Kiam-ping tahu lwekang Siluman tua ini amat hebat, sebetulnya dia mampu berkelit, tapi wataknya juga congkak, betapapun tangguh kekuatan musuh, dia tidak mau dipandang rendah.
"Haait,"
Mulut menggembor pendek.
kedua tangan mengerahkan dua belas bagian tenaga memapak angin badai.
Dua jalur kekuatan saling gubat dan bentur sedemikian dahsyatnya laksana ular raksasa yang bertarung sengit saling lilit sehingga.
menimbulkan pusaran angin puyuh, gemuruh suaranya sedahsyat gunung meletus tanah menjadi berlobang seluas setombak sedalam beberapa kaki.
kapan orang-orang diluar gelanggang itu pernah melihat adu kekuatan sedahsyat ini, semua melotot dan melongo tiada yang bersuara, saking takjub sampai lupa bersorak memuji.
Setelah lenyap suara gemuruh, kedua pihak tampak tertolak mundur tiga tindak, terhitung, seri alias sama kuat.
Sungguh Lokoay tidak mengira dalam usia semuda ini, Lwekangnya ternyata setangguh ini, Bila hari ini lawan semuda ini tidak dilenyapkan dari muka bumi.
kelak pasti merupakan bibit bencana, maka hasrat membunuh semakin tebal melembari hatinya.
cepat dia mengendap badan, kedua tangan memeluk dada, telapak tangannya berurubah merah menjadi hitam dan mulai mengepulkan asap hitam terus menyelubungi sekujur badan, setelah menggaris bundar kedua tangan terus ditepuk kedepan sekuat tenaga.
"Heksat-tok-elang. Awas ciangbun."
Kim-ji-tay-beng berteriak memperingatkan, cepat dia memberi tanda kepada Ginjutay-beng, keduanya lantas melompat maju kepinggir arena, sepasang tangan mereka menahan punggung Liok Kiam-ping.
Le Bun juga menguatirkan keselamatan pujaannya, diapun melompat maju, demikian pula Siang Wi dan yang lain ikut memburu dekat.
Begitu mendengar peringatan Kim-ji-tay-beng, hati Liok Kiam-ping sudah mencelos, lekas dia kerahkan Kim-kong-put hoay-sinkang, seluruh kekuatan dia himpun dikedua tangan terus disendai keluar.
Ledakan dahsyat kembali menggelegar nnenggoncang bumi, kuping hadirin sampai pekak.
genderang telinga serasa pecah.
Terasa oleh Liok Kiam-ping segumpal tenaga gelap bagai segugus gunung menindih kearah dirinya, kekuatannya melandai sambung menyambung, sehingga badannya tergoncang mengikuti getaran tenaga lawan-Untung segera dia merasakan adanya searus tenaga hangat meresap kedalam badan, dia tahu Kin-gin-hu-hoat telah membantunya dari belakang, lekas dia pusatkan pikiran mengendap hawa murni kepusar, lalu kembali dia dorong kekuatan menahan damparan tenaga lawan yang dahsyat.
Betapapun Kim-kong-put-hoay-sin-karg baru saja berhasil diyakinkan, landasannya belum kokoh, kekuatan asap beracun Lokoay kang, telah diyakinkan hampir seabad, mana kuat dipertahankan terus, akhirnya serangkum bau busuk menyengat hidung membuatnya pusing tujuh keliling, seluruh tenaga seperti ludes seketika.
Nafsu Lokoay sudah berkobar, pelan-pelan dia angkat pula tangan kanan siap memukul pula.
Untunglah pada saat kritis itu seseorang membentak.
"Tiga jurus sudah genap. apakah Tang-ling-heng hendak menjilat ludah sendiri, sungguh memalukan kaum persilatan-"
Lenyap suara maka muncullah seorang pelajar setengah baya berusia empat puluhan mukanya putih jenggot panjang, perawakan sedang, sepasang alisnya memanjang turun beradu dengan rambut dipelipisnya, tidak marah tapi sikapnya kereng berwibawa.
Lekas Tang-ling Lokoay tarik tangan sambil melejit kepinggir terns berputar, katanya gelak-gelak.
"Kukira siapa mempunyai kepandaian sehebat ini, ternyata kau Lam-coat
heng, tiga puluh tahun tidak bertemu, Lwekang Loheng ternyata maju tidak sedikit."
"Sudah, jangan mengagulkan diriku, bocah ini sudah genap menerima tiga jurus pukulanmu, sebagai pentolan Bulim dari angkatan tua lagi, memangnya kau hendak memungut keuntungan dari dia?"
Merah muka Tang-ling Lokoay, katanya tertawa.
"Sejak Lohu berkecimpung di Bulim kapan pernah ingkar janji?"
Lalu kedua tanagan mengebas, setelah mengucap selamat bertemu, dia berlari pergi membawa seluruh anak buahnya. Lekas Kim-ji-tay-beng melangkah maju seraya menjura, katanya.
"Mohon tanya Locianpwe, bukankah kau Jit-coat Suseng dari Si-gwa-ngo-song?"
Lam-coat mengangguk dengan tertawa, ujarnya.
"Puluhan tahun terasing dari Kangouw, ternyata masih ada orang kenal Losiu agaknya kau ini dari aliran Kim-sa Thian-san-beng dipadang pasir itu ?"
Lalu dipandangnya Kim-ji tay-beng lekatlekat.
"Betul, beliau adalah kakek guru, sudah meninggal banyak tahun..."
Sementara itu Le Bun sedang memeriksa badan Liok Kiamping, apakah terluka tidak, terasa napasnya teramat lemas, tinggal satu-satu saja, mukanya pucat, sungguh hatinya sedih seperti disayat-sayat, air matapun sederas hujan-Lam-coat memegang pergelangan memeriksa urat nadi, katanya menggeleng.
"Untung anak ini membekal Kim-kongput-hoay-sin-kang, kalau tidak jangan kata dia menahan secara kekerasan pukulan Hek sat ciang hanya tertiup sedikit bau busuk beracun saja, isi perut orang dapat membusuk seketika..agaknya Hou-hun-ceng punya hubungan cukup intim dengan bocah ini."
"ciangbunjin memang pernah memperoleh didikan dari padri sakti itu sebelum ajalnya,"
Kimji-tay-,beng menjawab ramah dan hormat.
"Apa Hou-hun Taysu sudah almarhum, Lwekangnya jarang ada tandingan di Bulim, bahwa bocah ini mendapat kepercayaan dari padri sakti, merupakan keuntungan umat persilatan umumnya. Sekarang biar Losiu bersamadi membantu dia mengobati luka-lukanya."
Beruntun jarinya bekerja menutuk tiga puluh enam Hiat-to ditubuh Kiam-ping tanpa berhenti, tutukannya tepat dan lincah, lalu dia duduk bersimpuh, telapak tangan menekan Bing-bun-hiat dipunggung.
Satu jam kemudian uap putih mengepul diatas kepalanya, makin lama makin tebal menurun membungkus tubuh.
Wajah pucat Liok Kiam-ping semakin semu merah, deru napasnya yang tipis juga tambah berat, mendadak kaki tangan mengejang sekali, dengan dia membuka mata perlahan dia tatap muka setiap hadirin, dia tahu seseorang tengah membantu dirinya menyembuhkan luka dalamnya yang parah, lekas dia memejam mata memusatkan semangat.
mendadak segulung arus panas luar biasa bersemi dari pusar terus melanda keseluruh badan melalui seluruh urat syarafnya hingga berputar satu lingkaran-Kiamping pernah memperoleh saluran Lwekang Padri sakti dengan Kay-ting-tayhoat, inti tenaganya terbenam didalam pusar sehingga tak kuasa dikembangkan menyeluruh, kini setelah didorong oleh tenaga Lwekang Lam-coat yang tangguh, tenaga inti yang terbenam itu seperti meledak saja terbaur dan senyawa dengan tenaga murninya, sehingga Lwekannya maju tidak sedikit.
Sekarang wajahnya sudah merah segar, rasa sakit yang menyiksa tadi sudah lenyap.
lekas dia berkata perlahan.Terima kasih cianpwe..."
Jidat Lam coat sudah mandi keringat, terasa adanya segulung arus panas yang lebih kuat lagi menyedot tenaga murni yang dia salurkan ketubuh orang hingga dia hampir tak kuasa mengendalikan diri, disaat dia sudah hampir payah itulah, tiba-tiba didengarnya Kiam-ping bicara, lekas dia hentikan saluran tenaga serta membuka kedua mata.
Lekas Liok Kiam-ping berdiri serta menjura, menyatakan terima kasih akan budi pertolongannya.
Kembali Kim-ji-tay-beng membuka suara lebih dulu, tanyanya.
"Sudah puluhan tahun cianpwe mengasingkan diri, kali ini mendadak menampakkan diri, apakah..."
"Panjang ceritanya,"
Demikian ujar Lamcoat.
"enam puluh tahun yang lampau, kami lima tua b angka yang tidak mau mampus saling menjajal Kungfu dipuncak Ui-san, memperebutkan jago nomor satu diseluruh jagat, Waktu itu Losiu kira setelah rampung meyakinkan Kian-le-cin-khi, pasti sedikit diatas angin dibanding keempat lawan lain-Tak nyana beruntun tiga kali aku berhantam dengan mereka, tiada satupun yang mampu kurobohkan, kekuatan tetap sama kuat. Maka tiga puluh tahun yang lalu kami berkeputusan untuk mendidik seorang murid, ditentukan pada hari raya Tiongciu tahun depan murid masing-masing harus dipertandingkan dipuncak Uisan pula. Bagi pemenangnya memperoleh hak mempelajari ilmu silat keempat lawan yang lain-Konon Lamhay Gau-cu telah menemukan seorang jenius silat yang sukar dicari selama sekian tahun mendatang ini, sekarang bocah itu sudah diantar kebarat daya. Karena waktu amat mendesak. waktu Losiu menguntit jejak mereka, kebetulan kulihar sinar kunang-kunang d is ini, jadi secara kebetulan kepergok disini,"
Lalu dia berputar mengawasi seruling pualam ditangan Le Bun, wataknya yang suka bicara timbul lagi, tanyanya.
"Nona cantik jelita, pintar dan berbakat, kurasa kaupun sudah mahir dalam permainanmu itu."
"cianpwe terlalu memuji, ajaran guru hanya kulitnya saja yang berhasil kuyakinkan, mohon cianpwe sudi memberi petunjuk."
Le bun merendah diri.
"Nah, coba kau tiup sebuah lagu untuk mencuci kuping Losiu yang hampir tuli ini."
Le bun tersenyum manis, segera ia angkat serulingnya meniup sebuah lagu, iramanya kalem mengalun enteng mengambang di angkasa terus meninggi sehingga merasa ikut terbang keangkasa, betapa mengasyikkan dan mengetuk sanubarinya.
Lam-coat keplok sambil tertawa lebar, katanya.
"Nadanya bening dan tunggal, sayang mengandung rasa rawan, apakah nona dirundung kerisauan masa lampau, bila kau percaya kepada Losiu, senang aku ajarkan seluruh Kungfu milikku kepadamu."
Sejak kecil Le Bun sudah biasa menyepi di Te-sat-kok.
sifat pendiam, hidup sengsara, perkataan Lam-coat seperti mengaduk perasaan yang terpendam sekian lamanya.
seketika bercucuran air matanya, saking haru tak tahu bagaimana dia harus menjawab.
Lekas Kim-ji-tay-bong menimbrung.
"Pek-locianpwe memiliki Kungfu yang tiada taranya, nona inilah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan-"
Lalu dia menatap Liok Kiam-ping. Liok Kiam-ping tertawa, katanya.
"Ilmu sakti Locianpwe memang menggetar dunia, mana mungkin adik Bun tidak sudi menjadi murid beliau. Baiklah tahun depan setelah pertandingan dipuncak Ui-san berakhir, aku akan menanti kedatanganmu di Te-sat-kok."
Le Bun tersenyum senang, lekas dia berteriak.
"Suhu."
Tersipu-sipu dia hendak menyembah.
Lam-coat tertawa gelak-gelak.
katanya "Bagus, bagus, muridku tidak usah memberi hormat.
Sekarang juga kita pulang lalu dia mengulap tangan kepada orang banyak", menarik Le Bun terus melompat terbang, sekejap saja bayangan mereka telah lenyap.
Lama Liok Kiam-ping mendelong mengawasi bayangan kedua orang yang sudah tidak kelihatan-tiba-tiba disampingnya seseorang memanggilnya lirih.
"Ping-ko."
Liok Kiam-ping tersentak sadar sambil mengiakan dalam mulut.
"Siau Hong, kau baik-baik saja?"
Suaranya haru gemetar.
Sejak kecil dia hidup sebatangkara, Siau Hong yang polos, arif dan suci dipandangnya seperti adiknya sendiri, Masa lalu bagai halimun, tak terasa dia amat hambar menghadapi tantangan hidup ini.
Kokok ayam terdengar dikejauhan.
Kiam-ping mengguman.
"Hari hampir fajar. Biarlah segala sesuatu dimulai dari permulaan-" ---ooo0dw0ooo---Musim dingin, Jalan raya yang menuju kepropinsi In-lam sudah tebal dilapisi saiju, seekor kuda berlari bagai terbang, menantang hembusan angin dingin, terasa berderap menuju kekota Tayli. Penunggang kuda adalah seorang pemuda jubah putih, sorot matanya bercahaya, gagah dan tampan, namun kedua alisnya berkerut seperti dirundung banyak pikiran-Dia bukan lain adalah Pat-pi-kim-liong Liok Kiam-ping untuk menemukan dan menyelidik Ngo-tok-seng-te, dia memerlukan diri menempuh perjalanan kebarat seorang diri. Waktu itu jalan raya membelok kelereng bukit, keadaan jalan pegunungan makin berbahaya, lari kudapun terpaksa diperlambat, selepas mata memandang pemandangan putih melulu, tanpa terasa dia teringat... Lwekang sendiri belum mencapai taraf tinggi, bukan tandingan Hek-sat-tok-ciang dari Tang-ling. Bagaimana mampu menuntut balas dendam perguruan, membangun perguruan dan menyusun kekuatan, Sebelum ajal padri sakti menurunkan ilmu, pesannya sukar dilaksanakan-Ang-kin-cap-pwe-ki mati secara mengenaskan, tenaga dan jago-jago perguruan yang betul-betul dapat diandalkan tiada. Maka dia menugaskan kepada Kim-jin-hu-hoat untuk keluar perbatasan mengundang para Tianglo yang sudah lama mengasingkan diri untuk terjun pula kekancah pergolakan di Kangouw entah kapan mereka baru akan pulang, entah berhasil tidak mereka menunaikan tugas. Apa sangkut paut Hiat-liong-po-giok dengan Ngo-tok-sengto ? Maka sekarang dia memerlukan meluruk kepropinsi Inlam untuk mencari Ngo-tok-seng-to ? Apakah maksud tujuannya dapat tercapai ? ---ooo0dw0ooo---Lantaran Hiat-liong-po-giok. Tang-ling tidak segan-segan kerahkan seluruh kekuatannya, dari sini dapat dibayangkan betapa besar faedah Hiat-liong-po-giok itu bagi kaum persilatan-Masa depan dikala pikirannya bekerja dan mendadak melengak itu, tiba-tiba ujung matanya sempat menangkap gerakan sebuah bayangan orang diatas bukit sebelah kanan-Kiam-ping membatin.
"Mungkin ada orang menguntit diriku.Juga menuntut Hiat-liong-ling ?"
Lekas dia keprak kudanya berlari lebih kencang, lekas sekali dia sudah tiba disebuah belokan diperut gunung.
Mendadak dari lembah disebelah depan kumandang gelak tawa orang.
Kiam-ping tersirap kaget, lekas tangannya menarik tali kendali menghentikan kuda, sekali tekan pelana dia dorong kuda itu, sementara tubuhnya melejit tinggi dengan gerakan ciam-liong-seng-thian-Ditengah udara dia menekuk pinggang terus menggeliat, tubuhnya berputar, dengan gaya indah melompat jauh lima tombak.
badannya lantas mepet dinding di atas karang.
Baru saja tubuhnya hinggap diatas dinding, lantas didengarnya sebuah suara serak berkata.
"Hahaha, kalau begitu, tidak sia-sia jauh-jauh dari barat aku meluruk ke Tlonggoan-Yakin dimalam Tlongelu tahun depan, aku pasti dapat mengalahkan para tua b angka itu menjagoi seluruh jagat."
Menyusul seorang lagi bicara.
"Lo-cianpwe memiliki kepandaian yang tiada tandingan, pertemuan di Ui-san tahun depan, yakin kau orang tua dapat mengalahkan lawan-lawan menjagoi Bulim. Tadi yang diberikan kepada cayhe apakah Soat-lian ?"
Suara serak tua itu kedengaran agak marah, katanya kaku.
'Aku ini malaikat picak dari dunia barat, selama namaku menggetar Kangouw, kapan aku pernah ingkar janji, cukup asal kau ramu dengan beberapa jenis obat, soat-lian sekotak ini cukup kau manfaatkan seumur hidupmu.
Baiklah, aku akan segera pulang kegunung.
o, ya, siapa nama bocah itu ?' Seorang lain menjawab.
"Bernama Suma Ling-khong, cayhe telah menutuk kesadarannya, cianpwe cukup menyingkirkan balutan obat diatas jidatnya, segera dia pulih seperti sedia kala."
Mendengar "Suma Ling-khong"
Liok Kiam-ping agak tersirap. batinnya.
"Nama ini seperti sudah kukenal."
"Hm,"
Suara serak itu berkata.
"Go-hucu. Adakah kau menyuruh orang berjaga di mulut lembah ? Memangnya kau belum percaya kepada Malaikat picak dari barat ini?"
Kembali mencelos hati Liok Kiam-ping, sungguh tak nyana sedikit gerakan bersuara dikala tubuhnya menyentuh dinding karang juga tidak terlepas dari pendengaran si picak dari barat ini, dapat dibayangkan betapa hebat Lwekangnva.
Sungguh tak nyana hanya karena kemaruk sekotak Soat-lian, Go-hu-cu rela mengorbankan jenius silat yang jarang ditemukan selama ratusan tahun, padahal akibatnya bisa mendatangkan bencana kaum persilatan-Lebih celaka lagi karena jenius silat yang dibicarakan itu bukan lain adalah Suma Ling-khong.
Sekarang Kiam-ping teringat waktu dirinya menjadi gelandang dulu bersua dengan bibi angkatnya, beliau pernah berpesan supaya dia bantu mencarikan putranya yang hilang, Bukankah namanya Suma Ling-kong suaminya bernama Suma Liang.
Rasa benci menggejolak sanubari Liok Kiam-ping, benci terhadap kawanan penjahat dari golongan hitam yang rendah dan hina.
Maka dia merasa punya kewajiban untuk membela keadilan menegakkan kebenaran, bunuh dan bunuh semua durjana itu, hanya diberantas habis kaum penjahat itu baru bisa membela kaum lemah yang arif dan tak berdosa.
Dikala hati terkejut itulah didengarnya Go-hu-cu tertawa kering, katanya.
"Mohon cianpwe tidak marah dulu, soalnya cayhe kuatir ada orang luar menerobos kedalam lembah, maka sebelumnya telah mengatur beberapa perangkap dimulut lembah, harap dimaklumi."
Bong-seng atau malaikat buta tertawa riang, katanya.
"Hanya perangkap begitu apa artinya. jikalau Lam-coat mau kemari, dia tetap bisa keluar masuk dengan bebas. Kini semua sudah lengkap. Meski Jit-coat Suseng sendiri datang kemari juga aku tidak perlu gentar terhadapnya. Hahahaha."
Belum reda rasa kuatir Liok Kiam-ping, tiba-tiba didengarnya suara Bong-seng bersuara lirih diujung lembah sempit dikejauhan sana.
"Soat lian itu tidak bisa dibiarkan terlalu lama, nanti bisa lenyap khasiatnya."
Agaknya dia sudah siap tinggal pergi. Dengan mengerahkan tenaga dalam Go hu-cu berteriak lantang.
"Terima kasih akan petunjuk cianpwe, selamat bertemu."
Lalu dia terkekeh tawa sendiri, dengan memperoleh tulang punggung sekuat ini, selanjutnya aku tidak perlu takut terhadap Tang ling."
Agaknya diantara kawanan penjahat itu satu dengan yang lain ada pertikaian yang mendalam juga demi memperjuangkan kepentingan masing-masing, Sekonyong-konyong sebuah suara dingin menjengek dibelakang.
"Kukira selanjutnya kau tidak akan punya kesempatan lagi."
Sudah tentu Go-hu-cu berjingkat kaget, dia kira Lam-coat telah tiba, dengan sigap dia membalik tubuh, Tahu-tahu didepannya berdiri seorang Suseng (pelajar) berjubah putih, dengan sikap galak dan tatapan tajam tengah mengawasi dirinya, ujung mulutnya menyeringai dingin.
Sejenak dia tenangkan diri lalu b erg elak tawa, katanya.
"Anak muda, kau murid siapa ? Untuk apa datang kemari ' Melihat pelajar ini masih muda legalah hatinya, Padahal dia tidak berpikir secara cermat, betapa tinggi taraf lwekang sendiri setelah latihan puluhan tahun, namun orang berada dibelakang tidak diketahui kapan kedatangannya, Ginkang yang hebat inijelas dirinya bukan tandingan-"Jangan pamer usia tua bangka. Murid siapa dari perguruan mana, tidak perlu kau tahu. Bila kau bisa menjawab dua pertanyaanku, boleh aku melanggar kebiasaan mengampuni jiwamu kali ini."
"Lohu Go-hu-cu dari Lam-hay, selama berkecimpung puluhan tahun di Kangouw belum pernah ada orang bertingkah kasar dan berani menghinaku. Anak muda, jangan tema h a dihadapanku, nasibmu bisa celaka nanti"
Tapi begitu dia angkat kepala melihat tiga batang pedang yang terselip dipunggurg Liok Kiam-ping seketika dia menjerit kaget seraya berjingkrak, serunya.
"Ha pedang dari Hong Lui Bun, jadi kau ini Pat-pi-kim-liong ?."
"Ah, mana berani, orang tak bernama seperti diriku mana berani mengagulkan diri,"
Sesaat keduanya berdiam diri, akhirnya Go-hu-cu angkat alis serta menyeringai dingin.
"Anak muda, kebetulan kau datang, lekas serahkan Hiat-liong-po-giok, boleh Lohu mengampuni jiwamu, kalau tidak... hm."
"Kalau tidak kenapa?"
Jengek Kiam-ping.
"Bersiaplah untuk mampus."
"Kau yakin dapat membunuh aku ?"
"Anak muda masih berbau bawang kau tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi. Lihat pukulan"
Dimana kedua tangannya menggaris bundar.
Segumpal angin pukulan seketika menerpa kedepan sedahsyat badai, Liok Kiam-ping menggeram gusar.
Tenaga dikerahkan dari pusar.
Lwekangnya lantas membanjir keluar, kedua tangannyapun menepuk kedepan menyongsong terjangan angin badai pukulan lawan-Setelah terjadi ledakan hebat, tampak badan Liok Kiamping tergeliat sekali, sementara Go-hu-cu seperti disodok keras terhenyak mundur lima kaki, roman mukanya berobah hebat.
Darah seperti mendidih dalam tubuhnya.
Sungguh gusar danpenasaran bukan main, sambil meraung murka beruntun dia menaburkan pula beberapa kali pukulan telapak tangan, tenaganya lebih besar, tapi Kiam-ping sendirijuga sudah bertekad untuk bertindak cepat, beruntun diapun memukul tak kalah kerasnya hingga Go-hu-cu didesaknya mundur beberapa langkah.
Maju setapak lebar, Kiam-ping membentak.
"Di mana Suma Ling-khong sekarang ?"
"Kusekap dalam gua dilekuk gunung sebrang sana, sekarang mungkin sudah dibawa oleh Bong-seng dari dunia barat."
"Siapa biang keladi atas terjadinya pengeroyokan kepada ciang-kiam-kim-ling dulu ?"
"Hal itu... Lohu tidak boleh menjelaskan-"
"Tua bangka keparat, hari ini tak terampun jiwamu. Tidak tanggung-tanggung lagi "
"Sret"
Kiam-ping melolos Liat-jit-kiam, di mana sinar perak berkelebat, secepat kilat pedang menusuk keJit-kian dan Siang-kik didepan dada Go-hu-cu.
"Tersirap darah Go-hu-cu melihat lawan melolos senjata, lekas dia mundur tiga langkah, tongkat ditangannyapun menjojoh dan menyontek, cepat dan aneh tongkatnya itu menutuk ketabir cahaya pedang lawan-Selincah belut langkah Liok Kiam-ping menggeser kedudukan sambil menambah tenaga di tangan, di mana lengannya menggentak batang pedangnya bergetar mengeluarkan dengung suara yang membising, cahaya pedang seketika seperti meledak tercerai berai, kiranya Kiamping sudah berkeputusan untuk melancarkan Jit-lun-jut-seng, gaya pertama dari Liat -jit-kiam-hoat yang lihay itu. Seketika Go-hu-cu melihat bola matahari terbit didepan matanya. Begitu terang benderang cahayanya sehingga kedua matanya silau, pandangan menjadi gelap dalam hati dia sudah mengeluh celaka, namun betapapun dia masih berusaha menyelamatkan diri, badan berputar sembari melancarkan Liuhun-koay-hoat (ilmu pentung mega mengalir) untuk menolong diri, jurus ini bukan bertahan tapi justru balas menyerang ketabir cahaya pedang lawan-Liu-hun-koay-hoat merupakan ilmu kebanggaan Go-hu-cu hasil daya ciptanya sendiri setelah menyelami berbagai ilmu tongkat atau pentung dari berbagai perguruan silat lihay, hasil kombinasi dari ciptaannya ini memang luar biasa lihay dan kuat. Permainannya mengutamakan serangan untuk mematahkan serangan lawan, bila permainan pentung sudah dikembangkan dia tidak pernah mundur sebelum lawan ambruk atau awak sendiri binasa. Dalam arena setombak bayangan pentungnya mampu melukai lawan dengan serangan yang mengejutkan. Go-hu-cu yakin pentungnya cukup berat, permainannya juga keras, pedang panjang macam apapun takkan kuat menahan sekali ketukan senjatanya, walau dia rasakan daya serangan pedang Liok Kiam-ping ini teramat ganas dan kokoh. Namun dia masih berani menyelinap balas menyerang secara kekerasan-Ternyata perhitungannya meleset, sebelum ujung pentungnya mengenai tabir cahaya pedang lawan, segulung arus panas tiba-tiba telah menindih badannya, napas seketika terasa sesak. Matanyapun berkunang-kunang, saking takutnya lekas dia menjengkang tubuh sambil kerahkan tenaga diujung tumit kakinya, badannya rebah datar hampir menyentuh bumi, ternyata pentung ditangan kanannya masih mampu balas menyerang delapan jurus dengan serangan aneh pula. Delapanjurus dilontarkan bersama sehingga menjadikan satu gerakan-pada hal tujuh jurus diantaranya hanya serangan gertak sambel, jurus terakhir barulah serangan mematikan yang cepat dan keji. Bayangan pentung berlapis-lapis diudara merabu kedalam tabir cahaya pedang, ternyata arus panas dari tekanan hawa pedang lawan berhasil ditahannya sebagian besar, sayang sekali tujuh jurus terdahulu dari permainan tongkatnya itu hanya gerakan kosong belaka, sehingga jurus terakhirjuga tidak bisa dilancarkan sepenuh hati, di mana cahaya kilat menyamber, tahu-tahu pundaknya telah tergores luka berdarah. Ditengah keluhan kesakitan dari mulutnya, gerak pentungnya sedikit tertunda, namun jurus terakhir permainan pentungnya pun telah mencapai gerakan yang berisi dan kebetulan memapak batang pedang lawan.
"Trang"
Ujung pedang lawan berhasil digetar mumbul dua dim.
Liok Kiam-ping menghardik keras.
Kakinya mengenjot tubuh terapung, telapak tangan tertekuk lalu, menindih dengan jurus Llong-kiap-sin-gan, segulung angin kencang menindih batok kepala lawan-Pada hal saat itu gerakan Gohu-cu terhenti sejenak karena luka-luka dipundaknya, di kala tubuhnya berusaha membrosot pergi, kebetulan gerakannya menyongsong datangnya tindihan telapak tangan Kiam-ping.
Sambil menggembor keras kedua tangan dia dorong keatas dengan setaker tenaganya.
"Biang"
Ditengah ledakan dahsyat tampak saiju beterbangan, terlalu besar tenaga yang dikerahkan Go-hu-cu sehingga dia tergetarjatuh dan terbanting cukup keras di tanah.
Untung otaknya masih menyadari bahaya masih mengancamjiwanya lekas dia menggelinding pergi beberapa tombak.
Syukurjiwanya selamat dari serangan dahsyat ini.
Jantung masih berdebar, pandangan juga terbeliak sungguh tak pernah terpikir olehnya bahwa pemuda lawannya ini memiliki Lwekang setangguh itu, terutama setelah dia melancarkan ilmu pedangnya, tangan kiri masih mampu melancarkan serangan aneh pula, gerakan dua tangan yang memerlukan pemecahan konsentrasi kedua jurusan sungguh cukup mengejutkan-Sudah tentu tak pernah terpikir olehnya bahwa berulang kali Liok Kiam-ping mendapat penemuan aneh, dilandasi bakat dan kecerdikan otak yang luar biasa lagi, kini Jin-tiok ji-meh dibadannyajuga telah tembus, mendapat saluran tenaga dalam dari padri sakti lagi Lwekangnya sudah bertaraf enam puluhan tahun.
Untung disaat dirinya menjengkang tubuh sambil menjejak kaki berusaha lolos tadi kakinya terpeleset oleh licinnya saiju sehingga gerakannya sedikit merandek.
Maka secara aneh dan kebetulan batok kepalanya luput dari tindihan telapak tangan dan dirinya sempat menangkis dengan kedua tangan, walau jiwa selamat tapi keadaannya sudah cukup runyam.
Sekilas ujung mata Liok Kiam-ping menangkap beberapa gerakan bayangan orang dimulut lembah, gerak gerik mereka tampak cepat dan tangkas, tahu bahwa bala bantuan Go-hu
cu tengah mendatangi, jika la u bangsat tua ini lolos, kelak pasti memerlukan banyak tenaga untuk menumpasnya.
Begitu kerahkan tenaga pada pedangnya Liok Kiam-ping mernb entak sadis.
"Hutang darah bayar darah. Setan tua, serahkan jiwamu."
Dengan jurus sip-yang-say-loh, ujung pedangnya tampak bergetar memetakan jalur-jalur sinar pedang yang mendengung mengancam berbagai Hiat-to besar didepan dada Go-hu-cu.
Meski hidup setua ini, sebagai bang kota n silat kelas tinggi pula, kapan Go-hu-cu pernah menyaksikan gaya pedang sedahsyat ini, saking gugup lekas dia menurunkan pundak sambil menyontek dengan pentung, sekaligus dia mengamuk dengan dua belas j urus serangan pentungnya.
"cras, kras"
Ditengah samberan angin kencang disertai suara yang ramai, hawa udara seperti bergolak.
Pentung panjang ditangan Gohu-cu terpotong menjadi puluhan keping dan terlempar keberbagai penjuru.
Go-hu-cu menjerit ngeri sambil mundur sempoyongan, tangannya tertabas buntung tepat sebatas sikut, sisa pentungnya terbang beberapa tombak jauhnya, darah mencucur bagai ledeng, saking kesakitan kedua bola matanya melotot bundar beringas, badan menggigil keringat berketesketes, perlahan-lahan tubuhnya terjungkal roboh dan semaput.
Tiba-tiba angin kencang memberondong dari berbagai penjuru, puluhan deru senjata tajam meny amber tiba kearah Liok Kiam-ping.
Dengan tekanan suara berat Kiam-ping membentak.
"Kawanan tikus berani mati."
Mendadak tubuhnya melejit keatas sambil melancarkan Liong-hwe-kiu-thian, sekaligus dia memukul tiga puluh enam kali jotosan, ditengah samberan angin ribut terdengarlah jeritan-jeritan orang yang meregang jiwa.
Penyergap gelap ini ternyata adalah anak murid Go-hu-cu yang dibawanya dari Lam-hay, mereka kira dengan tenaga orang banyak main keroyok seorang lawan, betapapun tinggi kepandaian musuh pasti dapat mereka ganyang bersama.
Liok Kiam-ping menyerang dengan hati terbakar, makum kalau perbawa serangannya dahsyat luar biasa, di mana angin pukulan menyamber, jeritan saling susul pula orang terlempar sungsang sumbel menemui ajalnya.
Sementara itu Go-hu-cu sudah siuman dari pingsannya, wajahnya yang pucat masih menyeringai sadis hingga kelihatan seram, melihat anak buahnya dibantai habis-habisan sungguh pedih dan gusar bukan kepalang, sambil menahan sakit lekas dia melompat berdiri.
Liok Kiam-ping menuding dengan pedang, dampratnya.
"Waktu kalian mengeroyok ciang-kiam-kim-ling dahulu, pernahkah kalian membayangkan nasib kalian sekarang. Katakan siapa biang keladi pengeroyokan itu?"
Go-hu-cu mendengus sekali, sambil tertawa bengis dia memutar badan seraya berteriak.
"Locianpwe, lekas kemari."
Belum habis dia bicara sambil berputar itu tangan kirinya terayun, serangkum hujan sinar segera meluncur kebadan Liok Kiam-ping.
Kiam-ping melenggong oleh teriakan pura-pura lawan, mendadak dirasakan angin tajam merangsang badan.
Lekas dia kerahkan Kim-kong-put-hoay-sin kang melindungi badan, mulut memoentak.
"Bangsat kurcaci, cari mampus,"
Dengan jurus Sip-yang-say-loh ujung pedangnya sudah meluncur lurus kedepan.
Secara licik Go-hu-cu berusaha membokong lawan dengan jarum-jarum berbisa, namun Am-ginya ternyata rontok oleh hawa pelindung badan lawan, celaka pula ujung pedang lawan tahu-tahu sudah menusuk tiba dan amblas kedalam dadanya.
Jiwa Go-hu cu amblas seketika.
Pelan-pelan Kiam-ping menarik pedangnya, di kala tubuh Go-hu-cu ambruk itulah sebuah buntalan kuning menggelundung jatuh disamping tubuhnya.
Kiam-ping tahu itulah buntalan berisi Soat-lian yang diberikan oleh Bong-seng kepada Go-hu-cu tadi sebagai imbalannya menculik Suma Ling-khong.
Kiam-ping jemput buntalan itu tanpa diperiksa terus disimpan kedalam kantong dan beranjak menuju ke kota Menjelang magrib Kiam-ping sudah berada di hotelJut-lay.
Setelah menempuh perjalanan jauh dan mengalami pertempuran sengit, sungguh badan teramat capai.
Setelah makan malam dia padamkan lampu terus beristirahat.
Dalam keadaan layap-layap tiba-tiba terasa adanya geseran suara angin diatas genteng, Kiam-ping tahu ada sesuatu yang tidak beres diluar tanpa mengeluarkan suara dengan lincah dia melompat turun terus membuka jendela, sekali tutul tubuhnya sudah meluncur keluar, ditengah udara dia menggeliat sambil bersalto hingga tubuhnya mumbul pula beberapa kaki, ditengah udara tubuhnya berputar lurus dengan enteng hinggap diatas genteng, didengarnya sebuah suara tertawa dingin dari arah kiri beberapa tombak jauhnya, begitu dia menoleh bayangan hitam tampak berkelebat menghilang dikegelapan.
Orang itu sembunyi ditempat gelap dan sengaja hendak mempermainkan, karuan Kiam-ping merasa dongkol, lekas dia kembangkan Ginkang mengudak kencang.
Ternyata Lwekang dan Ginkang orang itu juga sama tinggi, hapal daerah sekitar sini pula, dengan dia bermain petak terus ngacir ke arah barat, sesampai ditembok kota berputar kearah selatan-Walau Ginkang tinggi, karena tidak hapal keadaan, lawan bermain petak secara licin lagi maka susah buat Kiam-ping untuk menyandaknya.
Kebetulan didepan menghadang sebuah hutan gelap.
Bayangan itupun meluncur masuk ke sana.
Dengan gusar Kiam-ping lantas membentak.
"Tokoh kosen dari mana kau, silakan keluar, kalau membandel terpaksa cayhe..."
"Anak muda,"
Sebuah suara berkumandang dari dalam hutan.
"sambut ini."
Segulung bayangan putih lantas menyambar. Kiam-ping ulur tangan meraih bayargan putih itu, kiranya segulung kertas. Dimana tertulis demikian.
"Tengah malam dikala bulan purnama tepat dicakrawala tiga hari lagi, kami tunggu kedatanganmu di Tho-te-blo di kota barat, tertanda Khong-tong-sam-kiam."
Kiam-ping tahu urusan lantaran matinya Pi-san-khek yang dibunuhnya tempo hari, maka dia bergelak tertawa, serunya angkuh.
"orang she Liok akan datang tepat pada waktunya, yakinlah kalian tidak akan kecewa."
Tanpa bicara lagi segera dia putar balik kedalam hotel, ternyata kokok ayam sudah bersahutan didalam kota, hari menjelang fajar.
Baru saja dia merebahkan badan, sebuah suara serak tibatiba didengarnya bicara di jendela sebrang kamarnya.
"Losam hayo bangun, siapkan kereta untuk berangkat, bukankah sebelum petang kita harus tiba di Ting-Jwan, memangnya kau lupa ? cilaka bila kita tersusul oleh keempat tua bangka tak mau mampus itu, aku tak berani membayangkan akibatnya."
Suara orang ini gerak dan tidak keras, tapi dipagi yang hening ini ketambahan pendengaran Liok Kiam-ping amat tajam maka dia mendengar jelas perkataannya. Batinnya.
"Empat tua bangka tak mau mampus ? Mungkinkah..."
Sesaat lagi didengarnya kesibukan dikamar sebrang, pelayan datang bantu menggotong sesuatu benda-benda berat dinaikkan keatas kereta, diam-diam Liok Kiam-ping tersenyum dalam hati.
Setelah kereta orang itu berangkat haripun sudah terang tanah, Kiam-ping tidak tergesa-gesa, dengan kalem dia membersihkan badan dan sarapan pula, setelah membayar rekening baru dia melanjutkan perjalanan naik kuda.
---ooo0dw0ooo---Belasan li setelah keluar kota, sebuah kereta hitam yang ditarik dua kuda telah tersusul tak jauh disebelah depankereta itu seperti dibungkus kain hitam saja karena empat penjuru terbalut kain hitam.
Dua lelaki kekar berwajah bengis duduk didepan kereta, satu memegang tali kendali yang lain mengayun pecut, pakaian mereka ketat dengan topi rumput ditekan rendah, namun jelas keadaan mereka cukup menyolok.
Kereta itu dilarikan cukup cepat mes kij a la nan d is ini tidak rata, pecut terus berdentam diudara sehingga kedua kuda penarik kereta berlari kesetanan kearah utara.
Menjelang lohor kereta tertutup itu tiba disebuah lekuk gunung yang membelok kekanan, tiba-tiba seorang membentak dibelakang kereta.
"Hai, hentikan kereta, siapa yang disembunyikan dalam kereta ?"
Sebelum kereta sempat dihentikan, sais kereta merasa angin menyambar lewat disamping kereta.
Mendadak dilihatnya seorang pemuda bagus berdiri tolak pinggang tak jauh didepan kereta.
Legalah kedua hati sais kereta, sambil menyeringai laki-laki disebelah kanan tertawa dingin, jengeknya.
"Ditengah jalan -raya, siang hari bolong lagi, siapa yang berada didalam kereta, memangnya apa sangkut, pautnya dengan kau?"
Pecut ditangannya sudah terayun, temannya menarik tali kendali sehingga kuda sedikit menyingkir kesamping hendak menerobos lewat.
Karuan tambah besar rasa curiga Liok Kiam-ping, lekas dia dorong kedua tangan, hingga kedua ekor kuda seperti ditahan oleh tembok hawa yang kokoh, sambil meringkik panik kedua kuda itu berdiri dan berjingkrak binal, karuan kabin kereta yang enteng itu ikut tertarik dan ketubruk ambruk jumpalitan, kedua sais itupun terlempar beberapa tombak jauhnya .
Ternyata kepandaian kedua sais ini cukup lumayan-begitu badan menyentuh bumi mereka sudah melompat bangun pula.
Mata terbelalak mengawasi sipemuda.
Begitu kereta ambruk dari dalam kereta menggelundung keluar sebuah buntalan kain-panjang yang bergerak-gerak.
Berdiri alis Liok Kiam-ping, lekas dia memburu maju sekali jambret dia robek, buntalan kain itu, maka tampak seraut wajah pemuda putih cakap.
Beralis lentik tegak seperti pedang, kedua matanya berkedip tak bercahaya.
Seketika timbul amarah Liok Kiam-ping, sebat sekali dia melompat membalik kesana sambil ulur tangan, kelima jarinya mencengkram tulang pundak salah seorang lelaki seraya membertak.
"Katakan, siapa yang suruh kalian melakukan penculikan ini?"
Lelaki itu bandel dan beringas, makinya.
"Anjing cilik, tuan besarmu tidak siaga berhasil kau sergap. Boleh kau bunuh aku saja, jangan harap dapat keterangan dari mulutku "
Sudah tentu makin membara amarah Kiam-ping, sedikit tambah tenaga, kelima jarinya amblas kekulit daging pundak orang, saking kesakitan lelaki itu meringis kesakitan, keringat dingin membanjir.
Laki-laki temannya itu mendadak menggerung gusar seraya menggerakkan kedua tangan sambil menubruk maju.
Lebih berkobar amarah Liok Kiam-ping, dimana telapak tangannya terayun "Plak"
Jeritan terdengar cukup mengerikan, batok kepala orang itu ditempelengnya pecah danjiwa melayang seketika, mayatnya terlemparjauh menggelinding kebawah selokan-Melihat temannya binasa, lelaki yang menyergap itu menjadi pecah nyalinya, tubuhnya kebacut menubruk itu lekas dijatuhkan keping gir terus menggelinding kebawah selokan pula.
"Byuuur"
Dengan selulup dalam arus air yang deras dia berhasil menyelamatkan diri.
Menolong orang lebih penting maka Kiam-ping biarkan saja orang itu menyelamatkan diri, lekas dia keluarkan si pemuda dari buntalan kain serta membersihkan segulung kapas diatas kepalanya, didalam kapas ternyata terdapat obat bius, setelah gulungan kapas disingkirkan maka pemuda itupun siuman-Kiam-ping mencopot kuda penarik kereta, bersama si pemuda mereka langsung menuju ke kota Tayli.
Pemuda itu bukan lain adalah Suma Ling khong.
Sejak kecil ayahnya pergi tidak pernah pulang, maka dia bertekad meninggalkan rumah mencari sang ayah, dikala dia mengembara dan tiba dikota Lam-jang, karena kelaparan, sang u habis pula akhirnya dia diterima menjadi pembantu di Hong-jang Piauwklok, pemilik Piauwklok adalah Thi-cay-kimhoa (Pelor emas jari besi) Ji Thiansiu.
Suma Ling-khong memang pemuda cerdik pandai, otaknya encer, setiap senggang para Piausu latihan silat, selalu dia menyempatkan diri menonton diam-diam, lama kelamaan dia hapal dan mahirjuga akan permainan ilmu silat beberapa Piausu itu, dasar jiwanya lapang supel dan suka bergaul lagi, maka para Piausu itupun suka rela memberi petunjuk kepadanya, tanpa merasa beberapa tahun telah berselang, latihan silatnya ternyata sudah memperoleh pupuk dasar yang lumayan, sayang belum menemukan guru pandai.
Bulan yang lalu secara tidak sengaja Go-hu-cu memergoki pemuda ini ditengah jalan, sebagai ahli silat pandangannya cukup tajam, diam-diam dia merasa kaget dan heran akan bakat tulang pemuda yang jarang ditemukan ini, lalu dia menyergapnya dan menutuk Hiat-tonya, hari itu juga dia bawa pemuda itu ke In-lam, maksudnya hendak diserahkan kepada Bong-seng untuk barter dengan beberapa kelopak soat-lian Liok Kiam-ping memperkenalkan dirinya.
Maka selanjutnya kedua pemuda itu hidup berdampingan saling membahasakan saudara.
Usia Kiam-ping lebih tua maka dia menjadi kakak.
---ooo0dw0ooo---Tanpa merasa tiga hari sudah menjelang.
Begitu petang mendatang rembulanpun telah menongol dari peraduannya memancarkan cahayanya yang benderang.
Sesosok bayangan tampak melesat terbang dari dalam kota, gerakannya lincah, berlompatan sambil berlari kencang diwuwungan rumah penduduk.
arahnya kearah barat, manusia biasa pasti takkan mampu mengikuti gerak kecepatannya.
Lekas sekali, bayangan itu sudah tiba dipintu kota barat terus meluncur keluar kota, arahnya tetap kebarat lurus.
Kira-kira semasakan air bayangan itu membelok kekiri menuju keatas bukit dan melompat kepucuk pohon yang paling tinggi.
dari puca k pohon dia celingukan, lapat-lapat dilihatnya jauh diujung hutan sebelah barat ada sebentuk bayangan hitam gelap yang berdiri angker diantara lebatnya hutan, maka dia membatin.
"Mungkin itulah Tho-te-blo yang dijanjikan kawanan iblis itu."
Dengan bersiul panjang sesosok bayangan putih tampak meluncur dengan kecepatan kilSat menyambar, ditengah udara kaki kiri memancal kaki kanan, maka tubuhnya melesat pula lebih kencang kedepan, beberapa kali lompatan berjangkit bayangan putih itu sudah meluncur turun didepan sebuah biara kecil.
Tengah dia celingukan dan pasang kuping, dari dalam hutan mendadak berkumandang sebuah tawa dingin.
"Anak muda ternyata dapat dipercaya, datang menepati janji, sayang datangmu dengan rasa senang, pulangya bakal diusung sebagai mayat. Dari samping biara diantara gerombolan pohon pelan-pelan beranjak keluar tiga orang tua dengan berpakaian aneh, wajah bengis punggung memanggul pedang, setombak didepan Liok Kiam-ping mereka berhenti. Begitu berhadapan Liok Kiam-ping lantas merasa muak. melihat tampang mereka ia tahu ketiga orang inijelas bukan manusia baik-baik, namun dia menahan sabar dan bertindak menurut aturan Kangouw, sapanya dengan tertawa.
"Siapa kalian ? untuk urusan apa mengundang cayhe kemari?"
"Lohu bertiga Khong-tong-sam-kiam (tiga jago pedang dari Khong-tong), yakin kau pernah dengar julukan kami, tentang persoalan apa kami mengundangmu kemari, anak muda, kurasa tak usah kau berpura-pura pikun, Pi-san-khek The Hong apakah menemui ajalnya ditangan orang-orang Honglui-bun kalian ?"
"Kejadian memang demikian, biarlah cayhe seorang yang tanggung jawab."
"Ada permusuhan apa kau dengan dia, sampai hati kau membunuhnya?"
"Sebagai insan persilatan, berduel di tengah laga kalau tidak terluka tentu mati, siapa suruh dia membantu manusia lalim melakukan kejahatan, kematiannya merupakan ganjaran setimpal.
"Ganjaran setimpal apa. Anak muda tahukah kau aturan Kangouw, hutang darah harus bayar darah."
"Jadi kau menuntut balas kematiannya? Lalu bagaimana dengan pertanggungan jawab ciangbun kalian waktu ikut mengeroyok ciang-kiam-kim-ling dulu ?' "Keparat, tak usah banyak bacot, mari kita tentukan kalah menang dengan kepandaian."
"Boleh, untuk ngirit tenaga, boleh kalian maju bersama.."
Sudah puluhan tahun Khong-tong-sam-kiam menggetar dunia persilatan wilayah barat, kapan pernah dihina begini rupa, karuan amarah mereka memuncak.
satu sama lain saling lirik sekejap lalu membentak bersama.
"Keparat, kau memang ingin mampus."
"sret"
Tiga jalur pedang seketika menusuk bersama kearah Liok Kiam-ping.
Kiam-ping menyurut mundur tiga tindak di mana tangan kanan terangkat Liat-jit-kiam sudah terlolos ditangan-Badan tampak berkisar lengan kanan menyabet pedangnya balas menusuk ketiga lawan, gaya serangannya jauh lebih cepat, lihay dan mengeluarkan samberan angin kencang.
Hawa pedang seketika saling s amber dan bergelut dengan ketat dalam pencaran cahaya benderang, empat batang seperti empat ekor naga yang lagi bertempur diangkasa, naik turun, berputar dan saling terjang.
cepat sekali tiga pulah jurus telah berselang, Kiam-ping mengencangkan gerakan pedangnya sambil menambah tenaga hingga serangannya tampak lebih berwibawa, tiga lawannya di desak mundur membela diri.
Bahwa serangan musuh mendadak tambah gencar.
ketiga lawan itu segera meng konsentrasi segala daya kemampuan, satu sama lain memberi isyarat rahasia maka serempak mereka mengembangkan Sam-jay-kiam-hoat.
Sam-jay-kiam-hoat adalah ilmu pedang Khong tong-pay yang tidak sembarang diturunkan kepada murid didiknya, barisan pedang ini mengutamakan saling isi dan menjaga keserasian permainan satu dengan yang lain, gerak g eriknya aneh dan berantai.
kalau kepala diserang ekornya membelit, kalau ekor yang diserang kepala balas memagut, selincah ular selicin belut, lihay tapi juga ganas.
Seketika Kiam-ping rasakan hawa pedang lawan laksana gugusan gunung saja menindih dari empat penjuru, gerak g erik pedangnya terasa berat dan tertahan-Sambil meronta Kiam-ping menjerit keras, tenaga tersalur dari pusar sehingga hawa jeritannya seperti menggetarkan semesta, sekali enjot kaki badannya mumbul keudara sementara pedang melancarkan jurus Jit-lun-jut-seng, tabir cahaya pedang berkembang lebar laksana jala menungkrup turun, sementara telapak tangan kiri ikut menyerang dengan jurus Liang-kiapsin-gan membelah musuh yang berada diujung kiri.
---ooo0dw0ooo---"Trang"
Sebatang pedang mencelat tinggi keudara, Lo-toa tampak menggelinding jatuh setombak lebih, tiga jari tangannya terpapas buntung, darah tampak mengalir deras, saking kesakitan dia kertak gigi sambil melompat berdiri.
Dalam waktu yang sama "Blang"
Disusul sebuah jeritan pula, badan Losam yang gede itu mencelatjauh terbanting ditanah rebah tak bergerak lagi, jelas terpukul luka parah.
Hanya Lo-ji yang masih berdiri ditempatnya dengan menjublek, kedua bola matanya melotot bundar mengawasi lawan-Tampak Liok Kiam-ping memeluk pedang berdiri sekokoh gunung, gagah perkasa, wajahnya tampak kereng berwibawa, Loji merinding dibuatnya kala beradu pedang dengan sorot matanya.
Lekas dia tenangkan hati lalu menyeringai sadis katanya.
"Selama gunung tetap menghijau, hadiah tabasanpedang dan pukulan tangan hari ini pasti akan datang suatu hari kami akan menuntut balas kepadamu."
Lalu dia panggul Losam memapah Lotoa berjalan pergi tertatih-tatih ditelan kegelapan didalam hutan.
Liok Kiam-ping tertawa bingar serunya "Setiap saat akan kutunggu kalian di Kui-hun-ceng.
Hari ini sementara kutitip batok kepala kalian, jikalau kalian bernyali kecil musim rontok tahun depan tuan muda ini pasti meluruk ke Khong-tong membuat perhitungan dengan pihak Khongtong kalian."
Belum lenyap gema suaranya, tubuhnya sudah melejit tinggi keudara, di kala lenyap suaranya, bayangannya sudah meluncur enam puluhan tombak jauhnya.
Langsung dia kembali ke hotel masuk kekamar lewatjendela.
Tanpa ganti pakaian dia duduk samadi diatas ranjang, menjelang fajar dia sudah rampung dengan samadinya, dilihatnya Suma Lingkhong masih tidur nyenyak.
pikirannya jadi gundah.
"Tulang adik Ling-khong memang berbakat berlatih silat, laksana batu akik yang belum diasah, kalau sudah jadi tentu murni dan cemerlang, masa depannya tidak bisa diukur."
Fajar telah menyingsing, angin utara menghembus tetap santer, meski cuaca cerah ceria, namun hawa udara masih tetap dingin.
Dua ekor kuda hitam putih tampak di congklang keluar kota menuju kepintu barat kota Tayli terus dipacu menuju ke Tiamjongsan.
Mereka bukan lain adalah Liok Kiam-ping dan Suma Lingkhong.
Propinsi in-lam merupakan dataran tinggi, merupakan gunung gemunung yang sambung menyambung laksana gajah beriring.
Mereka terus meg congklang kuda dijalan pepunungan yang naik turun dan lika liku.
Pegunungan didaerah Tayli terkenal, sebagai penghasil batu-batu marmer yang bermutu baik, semakin tinggi keadaan jalan semakin buruk.
kuda tidak bisa dinaiki lagi.
terpaksa mereka turunjalan kaki, kuda ditinggal dilamping gunung.
Dengan mengembang Ginkang mereka terus memanjat naik kepuncak dengan gerakan gesit dan tangkas.
Lekas sekali mereka sudah tiba diatas puncak, angin terasa menghembus lebih kencang seperti mengiris kulit, daerah inijarang dijelajah manusia, yang terdengar hanyalah deru angin dan rabang binatang serta lolong serigala.
Kiamping berdua bukan bermaksud menikmati pemandangan alam, maka mereka beruntun melampaui dua puncak terus menuju kearah selatan, pegunungan tandus yang berbatu-batu ini semakin sulit dicapai, tiada jalan untuk dilalui.
Akhirnya Liok Kiamping berhenti, menerawang dan berpikir.
"Tempat ini kira-kira tinggal sepuluh li lagi dari kota, arah yang kutuju sesuai yang ditujukkan oleh Goantay-beng, kenapa daerah ini begini belukar ?' Setelah memperhatikan keadaan sekeliling, dilihatnya dibalik ngarai sebelah kanan sana dataran gunung kelihatan lebih rendah dan lapang, kelihatannya adajejak kehidupan manusia di sana. Maka dia bergerak ke sana melalui celah dua karang besar dengan keentengan tubuh mereka terus menyelinap kesebelah kanan-Dataran lapang disebrang gunung sudah kelihatan didepan mata. tapi bagi Suma Ling-khong terasa amat payah untuk mencapai jarak yang tidak begitu jauh maklum Lwekang dan kepandaiannya memang masih jauh dibanding kemampuan Liok Kiam-ping. Sesulutan dupa kemudian, mereka baru tiba diperut gunung. di sini keadaan juga agak datar, semula merupakan sebuah dasar lembah cipta a n alam namun luas dasar lembah ini memang mengagumkan, kedua puncak gunung yang sebrang menyebrang tampak mencakar langit, bentuknya seperti dua saka raksasa yang menunjang langit, mulut lembah sempit, menjurus kesebelah kiri seperti terdapat sebuah jalanan gunung kecil yang tembus kedasar lembah, cukup seorang berjaga atau bertahan dimulut lembah, meski berlaksa pasukan besarpun jangan harap bisa menerjang masuk kedalam, keadaan memang cukup berbahaya dan strategis. Liok Kiam-ping sudah bertekad bulat.
"Hayo masuk."
Katanya terus mendahului menyelinap kedalam.
Suma Ling-khong mengintil dibelakangnya.
Kira-kira ratusan tombak kemudian, dasar lembah semakin menyempit, kepulan asap semakin tebal sehingga mengganggu pandangan mata.
Setiba diujung lembah, ditanah berserakan abu dan kayu arang serta genteng dan bata, jelas di sini dulu pernah ada orang tinggal.
Pada hal dinding gunung tinggi, kabut tebal mengambang rendah, hakikatnya sukar meneliti dan mencari atau menemukan sesuatu gua, atau tempat tinggi yang diharapkantapi Liok Kiam-ping cukup sabar meneliti keadaan sekitarnya, kebetulan angin menghembus lalu membawa kabut tebal sehingga secercah sinar mentari menerobos masuk menyinari sebuah batu putih besar disebrang sana, meski hanya sekilas sudah cukup bagi Liok Kiam-ping untuk menentukan arah, segera dia melompat tinggi naik keatas batu karang putih itu.
---ooo0dw0ooo---Berkat ketelitiannya diatas batu putih ini dia temukan ukiran sebuah naga hitam begitu indah dan bagus sekali ukirannya, diatas batu karang itu seperti hidup saja lebih menggirangkan lagi karena bentuk ukiran naga diatas batu ini mirip dengan yang berada didalam Hiat-llong-po-glok miliknya.
Karuan bukan kepalang riang hati Kiam-ping, kebetulan sinar mentari menyorot masuk pula melalui celah kabut tebal tepat dipucuk cakar naga yang terpentang ke depan-Tanpa menyia-nyiakan kesempatan Kiam-ping lantas tekan tangan tepat diujung cakar naga.
Sekonyong-konyong terdengarlah suara gemuruh dan keriut nyaring, sebuah papan batu disebelah samping batu karang mendadak melesak turun kebawah dan mencuatlah sebuah lobang gua.
Dimulut lobang gua diatas dinding karang berukir empat huruf berbunyi.
"Th ia n-tok-piat-h u."
Sungguh senang Liok Kiarn-ping bukan main, tanpa ragu segera dia melangkah masuk menuruni undakan batu yang menurun berputar dan berliku entah betapa dalamnya, ratusan undakan kemudian waktu mereka berputar keka nan terdengar pula suara gemuruh, waktu mereka angkat kepala papan batu diatas-pintu gua itu ternyata telah menutup sendiri.
Jalan keluar sudah buntu, terpaksa mereka harus terus maju.
Lorong gelap diperut gunung ini ternyata cukup panjang dan semakin dalam menjorok kebawah, hawa lembab dan dingin, dinding di kana kiri lorong ternyata licin dan halus seperti kaca layaknya, jelas memang manusia yang membangun lorong panjang ini.
Setelah belok beberapa kali pula, lorong makin sempit dan mulus mendatar, didepan mencegat sebuah Hlolo batu setinggi manusia.
Kiam-ping tertegun sejenak.
dia heran lalu maju sambil angkat kedua tangan pegang kedua kuping hlolo lalu berputar kekanan kiri.
Maka terdengarlah suara keras seperti ada sesuatu benda yang anjlok-Hlolo batu ini berputar sendiri dan menggeser kesebelah kanan mepet dinding.
Diatas tanah dimana tadi hlolo berada terdapat ukiran beberapa huruf yang berbunyi kiri tiga kanan empat tengah melintang, Kiam-ping tidak sempat perhatikan dan tidak tahu apa makna ukiran huruf itu, buru-buru dia terus beranjak maju tanpa sangsi.
Beberapa langkah kemudian dia menemukan lorong bercabang, keadaan semakin ruwet dan bola k balik.
Tapi Kiam-ping tidak banyak pikir dia terus maju setiap ada jalanentah belok kiri atau putar kekanan, kira-kira setanakan nasi kemudian ternyata mereka putar kembali ketempat semula, hiolo batu masih tetap mepet dinding.
Keringat sudah membasahi jidat Suma Ling-khong, napasnya juga sedikit tersengal.
Baru sekarang Kiam-ping menyadari gelagat yang tidak menguntungkan, tapi otaknya memang encer, tiba-tiba tergerak hatinya, sekilas dia melirik ukiran huruf ditanah itu, hatinya lantas paham duduk persoalannya."
Cepat dia gandeng tangan Suma Ling-khong, setiap tiga langkah belok kekiri, maju empat langkah belok kekanan, setelah maju pula tujuh langkah terus melintang ketengah.
Secara beruntun dia lakukan tiga kali.
Betul juga akhirnya dia keluar dari lorong batu ini dan tiba diujung lorong.
Diluar lorong keadaan lebar dan berada disebuah kamar batu besar yang luasnya lima tombak.
Empat butir mutiara sebesar telur angsa terpasang diempat penjuru dinding dengan pancaran cahayanya yang benderang, sehingga kamar batu ini seperti berada disiang hari bolong saja.
Kamar sebesar ini ternyata kosong melompong, Kiam-ping berdua lantas merasa hambar, sejenak mereka celingukan serta berdiam diri, maka didengarnya gemericik suara air, tapi sukar ditentukan dari mana datangnya suara air.
Kiam-ping berdua jalan berdampingan mulai dari kiri meneliti sekali putaran tapi tidak menemukan apa2, dikala mereka beranjak ketengah ruangan, terasa lantai dimana mereka berpijak seperti bergerak, maka terdengarlah suara gemuruh.
Sebuah batu raksasa ribuan kati tepat ditengah langit-langit ruanganjatuh menindih kepala mereka.
Kiam-ping menghardik.
"Lekas menyingkir,"
Sekenanya dia menarik Suma Ling-khong sambil menjejak kaki, secepat kilat dia melompat menyingkir, tepat d isaat kakinya menyentuh tanah, batu raksasa itupun sudah amblas dengan suara gemuruh menggoncangkan seluruh kamar batu.
Batu putih di mana tadi Kiam-ping berdua berdiri pecah dan retak, dari bawah menyembur beberapa jalur mata air yang deras menyentuh langitlangit kamar.
Belum lenyap rasa kaget mereka, tiba-tiba dirasakan sepatu mereka basah, ternyata dalam sekejap kamar batu ini sudah digenangi air.
Kiam-ping melenggong, katanya.
"Kita harus lekas mencari jalan keluar, tinggalkan dulu tempat ini.' Sambil menggandeng Suma Ling-khong dia melompat keatas batu raksasa yang anjlok dari atas. Sementara itu air sudah semakin tinggi. semburan airpun makin mereda dengan makin meningginya genangan air, namun sumber air semakin besar dan lobangpun makin meluas, sekejap lagi batu besar inipun bakal tenggelam. Padahal jalan mundur sudah tersumbat, air sudah memenuhi kamar batu ini, dalam beberapa kejap lagi mereka bisa mati tenggelam dikamar batu ini. Dasar cerdik dalam menghadapi jalan buntu ini tiba-tiba timbul akalnya. Terasa dari lobang dimana tadi batu raksasa ini jatuh angin dingin menghembus turun, keadaan diatas gelap gulita tidak tahu menembus kemana lobang besar dilangit-langit kamar, tapi Kiam-ping tidak peduli lekas dia peluk pinggang suma Lingkhong seraya membentak.
"Naik."
Laksana roket badan mereka menembus lobang gelap itu, ditengah udara dia menggeliat pinggang terus berputar datar, dikala badannya meluncur turun kakinya sudah hinggap ditempat keras.
Ternyata disebelah atas kamar batu terdapat dunia lain-Hawa dingin menusuk tulang.
Kiam-ping berdua menarik napas lega, sekilas mereka celingukan baru melihat jelas keadaan sekeliling.
Ternyata mereka berada disebuah lembah mati, yang dikelilingi oleh dinding gunung yang curam dan tinggi menembus mega, dasarnya adalah batu marmer yang mengkilap hasil kerja tangan manusia Tapi jelas lembah ini buntu tiada jalan tembus keluar.
Belasan tombak disebelah depan berdiri sebuah bangunan berbentuk mirip kelenteng yang menempel dinding gunung, seluruhnya terbuat dari batu marmer yang ditatah dan dipahat kelihatannya begitu angker dan megah.
Cahaya matahari menjelang magrib masih sempat rnenyinari lembah buntu ini, seluruh lembah diliputi halimun tipis.
pemandangan tampak mempesona.
Setelah putar kayuh setengah harian diperut gunung Kiamping dan Suma Lingkhong sudah cukup lelah, merasa lapar, lekas mereka beristirahat dan makan rangsum kering.
Dengan menghela napas Liok Kiam-ping berkata.
"Lembah buntu ini ternyata dibangun semegah ini, betapa mengagumkan proyek besar ini, pasti banyak mengorbankan banyak keringat dan tenaga, beruntung kita lolos dari bahaya, tak nyana terkurung pula dilembah mati ini, burungpun takkan bisa keluar dari sini.' Lantas dia membatin.
"Dalam istana marmer itu mungkin ada pintu rahasia untuk keluar, kalau tidak mana mungkin pembuat lembah buntu ini keluar masuk."
Suma Ling-khong yang selama ini tidak berkomentar mendadak bicara.
"Daripada terkurung di sini, marilah kita maju lebih jauh kedalam istana itu."
Maka berendeng mereka melangkah masuk kedalam pintu gerbang istana yang megah itu, mereka masuk dari kanan kiri.
istana ini dibangun diperut gunung pula, jelas tiada celah lobang sedikitpun, pintunya tertutup rapat, suasana sunyi tak terdengar suara apapun, begitu sepi dan lengang sehingga menimbulkan rasa curiga dan was-was.
Tiba-tiha Suma Ling-khong bersuara kaget, serunya.
"Pingko, coba kau kemari, lihat apa ini?' , Lekas Kiam-ping memburu datang dan memeriksa, pada dinding kanan terukir pula seekor naga, besar kecil dan gayanya mirip dengan ukiran naga di batu karang diluar tadi. Tanpa banyakpikir dengan gagang pedang Kiam-ping memukul badan naga, suaranya mendengung jelas dibalik dinding adalah tempat kosong. Bila gagang pedangnya mengetuk cakar naga serta menekannya sedikit, dinding itu mendadak melesat ke dalam, maka terdengarlah suara gemuruh, pintu gerbang istana pelan-pelan terpentang ke kanan kiri. Sebat sekali mereka lantas melompat masuk kedalam' baru beberara langkah mereka beranjak terasa angin ribut dibelakang dan ...'Blam."
Pintu gerbang raksasa itu menutup rapat pula.
Dalam istana terang benderang oleh cahaya mutiara diatas dinding dan langit-langit, menakjubkan adalah adanya mutiara itu terpadu dalam beberapa warna, merah, hijau, kuning, biru, dan jambon sehingga menciptakan panorama yang indah didalam ruang istana ini.
Bentuk ruang istana ini memanjang kedalam.
Tepat ditengah pada ujung ruangan mepet dinding sana terdapat sebuah pembaringan batu marmer, diatas pembaringan duduk bersimpuh seorang lelaki tua berwajah bersih berjubah kuning, alisnya memutih turun menjulai panjang, jenggot panjang menyentuh dada, kedua matanya terpejam mirip padri sakti sedang bertapa.
Kiam-ping batuk-batuk kering dua kali lalu melangkah mendekat, serunya sambil menjura.
"Generasi muda angkatan baru Liok Kiam-ping bersama adik angkat Suma Ling-khong menyampaikan sembah sujud kepada Lotiang yang mulia."
Habis bicara dia menyingkir kesamping berdiri tegak menunggu jawaban-Tunggu punya tunggu orang tua itu tetap duduk diam tidak bergerak seperti tidak mendengar atau melihat kehadiran mereka.
Maka dia ulangi lagi sampai tiga kali.
Tetap tidak melihat reaksi slorang tua maka dalam hati Kiam-ping menggerutu.
Akhirnya dia memberanikan diri melangkah dekat serta ulur tangannya menyentuhnya, jubah kuning itu lantas rontok menjadi abu dan kelihatanlah kulit badannya yang sudah mengering, ternyata orang tua ini sudah lama meninggal, mungkin sudah banyak tahun sehingga pakaiannyapun luruh di makan waktu.
Disamping pembaringan terdapat sebuah meja batu, diatas meja ditaruh sebuah kotak besi dan sebuah botol porselin, kotak besi ini tertutup rapat tiada lobang kuncinya jadi susah untuk membukanya, tapi Kiam-ping tidak kalah akal, dia keluarkan cui-le-kiam lalu mengirisnya satu lingkaran, sekali ketuk pula kotak besi itu eg era menjeblak terbuka.
Didalamnya berisi se
Jilid buku hersampul biru terbuat dari kulit kambing, tepat di tengah sebelah atasnya berjajar empat huruf "Thian-gwa-cin-king"
Dalam gaya tulisan kuno. Dibawah buku terta ruh pula selembar kain sutra tipis, diatas kain padat tulisan-tulisan huruf kecil yang berbunyi.
"Aku adalah Sute ciang-kiam-kim-ling bernama In-liong-kiu-sian Tio Thian-hou, kami mendapat pendidikan perguruan bersama, karena memperebutkan kedudukan ciangbun, maka kami bertanding dan aku dikalahkan, membawa adat kemauan sendiri, aku mencuri lambang kebesaran perguruan, sehingga menimbulkan bencana dunia persilatan, berbagai perguruan silat saling berebutan karenanya, sejak kejadian yang harus d isesalkan itu, meski lambang kebesaran perguruan sudah dikembalikan, namun ciangbun Suheng ciang-kiam-kim-ling sudah keburu menjadi korban pengeroyokan kawanan penjahat di Tay-pa-san. Sejak itu Wi-liong-pit-sin dan Hiatliong-giok-ling juga lenyap di kalangan Kangouw. Bencana gara-gara perbuatanku yang brutal sehingga perguruan kita runtuh total, sungguh sesal kesalahanku tak terampun lagi, maka aku bersumpah untuk bertobat ditempat ini, selama hidup takkan berkecimpung lagi di Kangouw. Kiu-yap-cilan dan Thian-gwa-cin-king yang kuperoleh setelah hari tuaku kutinggaikan di sini untuk kuberikan kepada sesama perguruan yang punya jodoh sebagai penebus dosa-dosaku di masa lalu.
"Thian-gwa-cin-king adalah ciptaan Thian-gwa-sin-mo yang hidup dua ratus tahun yang lalu hasil kombinasi yang dia himpun dari inti sari berbagai perguruan silat tinggi baik aliran putih maupun golongan hitam. Apa yang termuat dalam buku pelajaran ini merupakan ilmu sakti mandraguna yang tiada taranya. Semoga ilmu sakti ini berguna untuk menunjang kebenaran memberantas kejahatan, pelaj arilah secara lurus dan murni.
"Gambar ukiran diatas dinding adalah Ling-hi-poa-hoat, untuk meyakinkan Ginkang ini harus memiliki pupuk dasar pergantian napas ditengah udara, ketambah makan Kiu-yap
ci-lan baru akan berhasil mencapai taraf yang paling tup, dalamjangka dua bulan harus berhasil secara meyakinkan-"Pintu batu sudah tertutup, tiada jalan keluar, dua bulan kemudian boleh menggeser batu raksasa dibela kang dinding ranjang batu ini.
dan keluar dari lorong rahasia.
Pil obat didalam botol dan sari batu yang yang terdapat dilekuk meja dapat dimakan dan di minum sebagai penahan lapar.
obatobatan di botol-botol kecil merupakan obat mujarab untuk menyembuhkan segala luka dalam dan peranti pemunah racun, boleh digunakan bila perlu.
"Bagi slapa yang berjodoh memperoleh semua peninggalanku ini harus bekerja demi kepentingan perguruan serta mengembang luaskannya. Dilarang berbuat jahat, lalim dan tamak, apalagi mencontoh perbuatan dosaku masa lalu. Jenazahku boleh dikebumikan dibawah ranjang batu ini Tertanda murid Hong-lui-bun yang berdosa Tio Thian-hou."
Setelah tahu orang tua ini adalah angkatan tua perguruan sendiri. lekas Liok Kiam-ping taruh buku dan lempitan kain itu serta berlutut dan menyembah hormat, serunya.
"cianpwe sudah menyesali kesalahan dan menebus dosadosa masa lalu. tiada alasan untuk bertobat dan menyalahkan diri sendiri pula. Boleh silakan istirahat dengan tenang dialam baka, Kiam-ping mewakili seluruh pimpinan dan anggota Hong-lui-bun menghaturkan terima kasih dan menerima peninggalan cianpwe yang tak ternilai harganya ini. Kami bersumpah untuk mengembang luas kan kebesaran dan kejayaan perguruan, yakin tidak akan menelantarkan harapan cianpwe serta para leluhur kita. Meski harus hancur leburjuga kami tidak akan mundur."
Lalu Kiam-ping dan Suma Lingkhong bekerja sama menggeser ranjang batu serta membuka papan batu dibawahnya, ternyata disitu sudah digali sebuah liang lahat yang terbuat dari batu marmer sedalam lima kaki, pelan-pelan mereka memasukkan tulang belulang In-hong-kiusian Tio Thian-hou kedalam lobang, setelah ditutupnya pula mereka berlutut dan menyembah pula sebagai penghormatan terakhir lalu menggeser balik ranjang batu ketempat semula.
Setelah beristirahat sejenak Kiam-ping mulai membalik halaman Thian-gwa-sin-kang.
Bab pertama adalah pelajaran Kiam-hoat seluruhnya ada dua belas jurus, setiap jurus mengandung tiga gaya gerakan-Bab kedua pelajaran Ginkang, terbagi pula dua pelajaran A dan B.
Bab ketiga mengajarkan Pek-kut-im-kang, untuk mempelajari ilmu ini diharuskan menyerap tulang sumsum mayat manusia untuk menambah kemurnian tenaga dalam sendiri, setiap kali telapak tangan mengenai tubuh lawan, isi perut orang akan digetar hancur dan membusuk.
ilmu ini teramat ganas dan jahat, bila ilmu berhasil diyakinkan mencapai taraf paling tinggi, pukulan Pek-kut-im-kang dapat menghancurkan pertahanan Kim-kong-put-hoay-sin-kang atau hawa pelindung badan yang sakti sekalipun.
Beberapa lembar di bawahnya lagi ternyata sobek dan lenyap.
mungkin karena ilmu pelajarannya teramat jahat maka orang sengaja membuangnya.
Bab keempat adalah cara penggunaan racun.
Bab kelima adalah ilmu pengobatan, Kiam-ping memilih ilmu pengobatan ini sebagai bekal dalam menunaikan tugas berat sebagai ciangbunjin yang harus dipikulnya.
Sementara ilmu pedang dan Ginkang dia anjurkan kepada Suma Ling-khong untuk mempelajarinya.
Sejak itu mereka berada didalam istana tertutup itu.
Sesuai petunjuk Kiam-ping berdua menemukan jalan sempit diujung ruang yang menjurus kebelakang istana.
Di sana terdapat sebuah air terjun yang lebar dua tombak, deras airnya yang mengerojok ke bawah sungguh amat dahsyat, air seperti dituang dari langit masuk kedalam sebuah selokan buatan manusia mengalir kebawah kamar batu.
tidak heran semburan air dibawah kamar batu tadi begitu keras.
Tak jauh dipinggir empang dibawah air terjun tumbuh sepucuk pohon didalam sebuah pot besar, bentjuk pohon ini mirip kembang anggrek tapi bukan anggrek, warnanya ungu tua.
terdapat sembilan daun, jadi inilah kiu-yap-ci-lan yang sukar diperoleh karena seribu tahun baru tumbuh sekali.
Pohon kecil ungu sembilan daun itu seperti dibungkus asap hijau, selintas pandang bentuknya mirip batu pualam.
Bau harum merangsang hidung, jelas sudah hampir tiba saatnya pohon ini akan masak dan rontok daunnya.
Kiam-ping tidak ayal lagi, lekas dia ulur tangan memetiknya terus dijejaikan kedalam mulut.
Segera dia bersimpuh bersamadi, maka terasa segulung hawa panas seperti bara yang menyala didalam pusar menerjang seperti lahar dahsyatnya keseluruh urat nadi dalam tubuhnya.
Begitu panasnya sampai uap mengepul diatas kepalanya, mukanya merah seperti darah.
arus panas dalam tubuhnya terus mengalir keseluruh sendi tulang dan menguap keluar lewat pori-pori kulit badannya menjadi keringat merah, sekuatnya Kiam-ping bertahan diri akan siksa yang hebat ini.
Beberapa jam kemudian baru arus panas dalam tubuhnya mulai menurun dan berputar balik kedalam pusar pula danterbaur dengan hawa murni dalam tubuhnya kembali mengalir satu putaran menembus dua belas pintu penghalang dan begitulah seterusnya dia lupa akan dirinya.
Entah berapa kejap kemudian, waktu dia siuman membuka mata, terasa sekujur badannya segar dan nyaman sekali.
bergegas dia melompat berdiri, ternyata tubuhnya mencelat mumbul seenteng kapas mencapai sepuluh tombak.
jelas Ginkangnya telah mencelat maju berlipat ganda dibanding sebelum ini.
Di luar kesadaran Liok Kiam-ping sendiri semadinya itu telah makan waktu tujuh hari lamanya, Kui-yap-ci-lan yang ditelannya benar-benar sudah meresap didalam tubuh dan menjadikan Lwekangnya bertambah pula satu kali lipat.
Setelah dia berdiri tegak dan mengenang kembali apa yang telah dialaminya, mendadak didengarnya suara Suma Ling khong berseru girang dibela kang.
"Ping-ko, sekali duduk satu minggu kau tidak sadarkan diri, Siaute sampai gelisah mati."
"Hiante,"
Ujar Kiam-ping.
"syukur kau tidak mengusik aku, Baiklah setelah dasarmu terpupuk baik, akan kubantu kau samadi rnenembus Hiat-to penghalang."
Mulai hari kedelapan dibawah bimbingan Kiam-ping, Suma Ling-khong mulai mempelajari teori dan mempraktekkan ajarah ilmu pedang, terasa beberapa jurus ilmu pedang itu teramat ganjil dan sukar untuk dikembangkan-meski Kiamping memberi petunjuk dan contoh dari samping, tapi dia hanya berhasil menghapalkan satu gerakan, karuan hatinya jadi risau.
Malamnya sesuai teori Lwekang yang diajarkan Kiam-ping dia mulai bersamadi dan mengatur pernapasan-Sementara Liok Kiam-ping sendiri tenggelam dalam keasyikannya mempelajari Ling-hi-pou-hoat yang terukir diatas dinding.
Pada hal Lwekang dan kecerdikan otaknya sudah merupakan bekal baik, tapi ternyata dia harus memeras keringat juga, cukup lama baru mulai berhasil dia selami.
Ilmu pengobatan baru pertama kali dipelajari, maka dia merasa perlu mulai mempelajari tentang Ko-king-pat-meh.
Kim-kang-put-hoay-sin-kang adalah ilmu sakti puncak tinggi dari aliran Hud, ilmu yang paling sukar dipelajari dan dipahami, tapi sejak Kiam-ping menelan Kiu-yap-cilan, Lwekangnya sekarang setarap dengan jago kosen yang pernah meyakinkan Lwekang selama seratus tahun, didalam samadinya itu secara diam-diam dia berhasil menyelaminya secara tuntas, maka kemajuan yang dicapainyapun teramat pesat dan menyeluruh.
sebulan telah menjelang Sembilan jurus ilmu pedang telah berhasil dipelajari oleh Suma Ling-khong, namun jurus kesepuluh terasa tenaga tidak memadai, berulang kali dia mengulang dan diulang lagi selalu gagal, saking jengkel akhirnya dia buang pedang membanting kaki sambil berkeluh kesah.
Saatnya memang sudah tiba.
disamping Kiam-ping tahu landasan Lwekang Suma Lingkhong memang masih terlalu cetek, maka dia keluarkan selembar kelopak Soat-lian diserahkan kepada Suma Lingkhong, katanya..
"Lekas telan, lalu samadi sesuai ajaran Simhoat yang kuajarkan' Soat-lian merupakan obat mujarab yang selalu diimpikan oleh setiap insan persilatan, khasiatnya dapat menambah Lwekang dan menyembuhkan luka memunahkan racun pula, bagi kaum persilatan yang makan kelopak kembang saiju akan dapat membantu memperlancar ilmu yang dipelajari serta menambah kekuatan-Begitu kelopak kembang saiju masuk mulut Suma Lingkhong rasakan tenggorokan menjadi dingin harum, liurnya tertelan masuk keperut lantas menjadi manis dan hangat, langsung berkembang keseluruh badan. Kiam-ping tekan kedua telapak tangannya di Bing-bun-hiat serta membentak.
"Awas Hiante, kosentrasi dan alirkan hawa murni "
Lekas sekali segulung arus panas merembes dari telapak tangannya masuk ke badan Suma Ling-khong mendorong khasiat Soat-lian untuk bekerja lebih menyeluruh keseluruh tubuh menembus semua Hiat-to yang menghambat kemajuan Lwekangnya.
Suma Ling-khong memang agak tersiksa karena terasa seluruh urat nadi dalam tubuhnya seperti mendadak melar dan hampir meledak.
darah seperti mendidih, laksana lahar gunung berapi melanda kesetiap pelosok tubuhnya, hingga keringat gemerobyos membasahi seluruh badan, mendadak tubuhnya makin keras dan menggigil hampir roboh.
Pada saat-saat kritis itulah mendadak Liok Kiam-ping membentak enteng.
"Hati-hati Hiante, tahanlah sedikit."
Mencelos hati Suma Ling-kong, namun dengan ketahanan luar biasa sekuatnya dia bertahan diri untuk menekan gejolak arus panas dalam badannya, berkat bakat dan pembawaan tulangnya yang luar biasa serta ketenangan dan kemantapan hatinya, tak lama kemudian gejolak arus panas itu mulai mereda, arus panas itu seperti kuncup saja mengalir balik kedalam pusar, setelah penuh lalu melanda pula dengan gelombang yang lebih besar menjebol Seng-si-hian-koan sehingga seluruh Hiat-to dalam tubuhnya berjalan lancar.
Liok Kiam-ping tampak tersenyum simpul, pelan-pelan dia menarik tenaga serta menurunkan kedua tangan, wajahnya tampak sedikit pucat.
Suma Ling-khong tahu kakak angkatnya telah membantu dirinya menjebol Jin-tlok-ji-meh dengan mengorbankan tidak sedikit tenaga murni sendiri, sudah tentu bukan kepalang rasa haru dan terima kasihnya.
Setelah melihat Kiam-ping membuka kedua mata, lekas dia memburu maju serta berseru.
"Ping-ko...' 'Tidak apa-apa, Hiante, lekas teruskan latihanmu ' ucap Liok Kiam-ping tersenyum. Maka kedua orang lebih giat dan rajin berlatih, karena Lwekang keduanya maju pesat, maka latihan selebihnya ternyata lebih lancar dan kemajuan yang dicapainyapun sungguh diluar dugaan-Dalam lembah seperti ini tak bisa membedakan siang dan malam, tanpa terasa sudah dua bulan mereka meyakinkan ilmu sakti dilembah buntu itu. Setelah membenahi segala sesuatu yang perlu dibawa mereka kembali kedalam istana dan berlutut mohon restu kepada arwah ln-liong-kin-sian Tio Than-hou. Kejap lain mereka sudah berada dipinggir rawa dibawah air terjun. Dengan kekuatan raksasa mereka berdua tidak banyak makan tenaga merobohkan batu raksasa yang berada dipinggir rawa. Dengan mengeluarkan suara gemuruh batu raksasa itu menggelundung kedalam rawa, sementara air langsung dituang lewat lobang besar, dibawah batu raksasa mengalit keluar. Kiam-ping berdua segera menerobos keluar dan meluncur turun dibawah sebuah pohon besar. Selepas mata memandang, sang surya masih berada ditengah angkasa, sungguh tak kepalang rasa lega hati mereka. Hembusan angin sepoi nan sejuk menambah kobaran semangat. Mengingat dendam perguruan dan keluarga selama beberapa tahun, dengan bekal ilmu yang telah dipelajarinya, Kiam-ping bertekad menuntut batas, semang at j uang mendadak menggelora dirongga dada, tanpa merasa dia mendongak serta menggembor sekeras guntur menggelegar, suaranya mengalun tinggi mendatar rendah dilembah pegunungan bergema d ia la m semesta. Laksana anak panah dua bayangan orang meluncur secepat kilat menuju kearah kota Tayli. ---ooo0dw0ooo---Lima hari kemudian-Sepasang kuda dilarikan berendeng menuju kearah Kwiciu, hari itu mereka tiba di Poh-an dan tak jauh kedepanpula mereka sudah akan tiba di Sa-cu-nia. Mendadak dari arah hutan didepan sana kumandang benturan senjata keras serta bentakan orang yang lagi berhantam. Kedua penunggang kuda itu tetap mempertahankan laju kuda mereka langsung menuju kedalam hutan-Tampak empat orang lagi bertempur saling tubruk dan terjang. Tiga lelaki berwajah bengis tengah mengeroyok seorang lelaki tua berambut uban, mulut ketiga lelaki bengis itu terus mengoceh meledek dan menghina.
"Setan tua, tak kira kau akan mengalami nasib jelek seperti hari ini bukan ? Diakherat nanti tolong sampaikan salam kami kepada saudara kelima kami ya."
"Haya, sayang luput. Eh, kenapa tidak kau angkat sedikit telapak tanganmu, memangnya sudah tak mampu bergerak ?"
"Jian-li-tok-heng (berjalan sendiri seribu li) hari ini bakal selangkahpun takkan mampu berjalan lagi. hehe."
Seperti kucing mempermainkan tikus mangsanya saja ketiga lelaki bengis itu mencemooh kakek ubanan yang bermuka pucat.
gerak g eriknya tampak lamban dan langkahpun limbung, setiap gerak serangannya selalu kandas ditengah jalan seperti dia tidak kuat lagi mengeluarkan tenaga, gelagatnya mirip seorang yang terkena racun dan tak mampu menyalurkan Lwekang pula.
Agaknya kakek beruban ini berdarah panas, meski keadaan sudah payah, tapi matanya tampak mencorong gusar, mendadak dia tarik napas serta menerjang dengan dua jurus serangan.
Ketiga lawannya sedang kesenangan menggoda dan meledek, sehingga tak bersiaga bahwa kakek yang sudah keracunan ini mampu balas menyerang secara keji.
---ooo0dw0ooo---"Bluk"
Seorang kena digenjot secara telak hingga mencelat terbang setombak lebih dengan muntah darah, terguling beberapa kali lantas tidak bergerak, jelas tertuka parah.
Maklum si kakek meski terluka namun menyerang dengan seluruh sisa tenaga, lawan berhasil dirobohkan, namun Lwekang sendirijuga bobol dan pertahanan menjadi buyar, mata seketika berkunang hampir saja diapunjatuh semaput.
Dua lelaki yang lain melihat saudara mereka roboh terluka parah, karuan naik pitam dan dendam, serempak mereka menubruk maju dengan niatjahat.
bentaknya bersama.
"Setan keparat, masih berani mengganas."
Empat j alur tenaga angin dahsyat memberondong kearah kakek tua ubanan.
Sementara itu si kakek sendirijuga sudah limbung, mana mampu balas menyerang pada detik-detikjiwanya hampir terenggut elmaut itulah mendadak seseorang menghardik sekeras guntur.
'Kawanan kunyuk berani mengganas." .
ditengah hardikan tampak bayanganputih melesat seorang pemuda jubah putih tahu-tahu sudah berdiri ditengah.
Ternyata Liok-Kiamping Ling khong sudah menonton sejak tadi di luar arena, melihat ketiga orang itu mempermainkan sikakek mereka sudah merasa keki, kini bertindak keji lagi, maka Kiam-ping segera bertindak.
Waktu dia meraba pernapasan orang, ternyata desau napasnya sudah makin berat.
jelas sudah keracunan cukup parah, maka lekas dia menggerakkan jari tangan sekaligus menutuk tiga puluh enam Hiat-to, sementara dia cegah kadar racun merembes kejantung.
Dengan tertawa dingin dia mendengus..
"Sahabat, membunuh orang sekali penggal batok kepala jatuh ketanah. Umpama dendam kalian setinggi gunung, pada hald ia sudah keracunan separah ini, sepantasnya tak perlu kalian mempermainkan begitu rupa. kalau tahu diri lekas kalian enyah dari hadapanku."
Kedua orang itu kaget akan gerak ketangkasan Kiam-ping, tapi melihat usianya masih begini muda, apapun tak mungkin memiliki Kungfu tinggi maklum mereka tidak tahu bahwa Liok Kiam-ping sudah berhasil menyempurnakan bekal kepandaiannya.
Yang paling tua segera menyeringai, jeng ekny a.
"Kenapa tidak kau cari tahu lebih dulu, dengan siapa kau berhadapan, setiap persoalan yang telah ditangani Ki-bun-sam-kiat, siapapun dilarang mencampuri."
"Aku tidak perduli siapa kalian, yang terang bertindak adil membela kebenaran adalah makna hidupku, sebagai kaum persilatan sepatutnya aku membela yang lemah menindas yang lalim, Bahwa kalian begini pongah, biarlah rasakan beberapa jurus pukulanku."
Habis bicara, dia menggendong tangan sambil menengadah dengan sikap santai, bahwasanya dia tidak pandang sebelah mata kepada kedua orang ini.
Dalam wilayah ini Ki-bun-sam-kiat termasukjagoan yang disegani, biasanya orang lain menunduk-nunduk terhadap mereka, kapanpernah dihina begini rupa, saking gusar otot hijau sampai merongkol dijidat mereka, bola matapun mendelik seperti ingin menelan bulat-bulat lawannya.
Liok Kiam-ping justru sengaja mengejek dengan tertawa pongah.
"Bagaimana ? silahkan mulai, Tuan mudamu tidak sabar menunggu lagi."
Kedua orang saling memberi tanda kedipan mata, tanpa bicara mereka menubruk dari kiri kanan masing-masing melancarkan enam pukulan ganas yang mematikan, Liok Kiam-ping bergerak dengan Ling-hi-pou-hoat tampakjubah putihnya berkibar, selincah naga menari selulup timbul diantara bayangan pukulan kedua lawan, mumpung ada kesempatan, sengaja dia mau menjajal dan mempraktekkan langkah ajaib yang baru dipelajarinya.
Kedua orang itu mengerahkan segala kemampuan serta tenaga sekuatnya menyerang dengan sengit, tiga puluh jurus telah berlalu, jangan kata melukai lawan, ujung baju lawanpun tak mampu disentuhnya, baru sekarang mereka insyaf hari ini betul-betul ketemu batunya.
Jika la u pertempuran terus dilanjutkan seperti ini, umpama lawan tidak balas menyerang pihak sendiri akhirnya juga pasti jatuh lemas Kehabisan tenaga, padahal keringat dingin sudah membasahi tubuh, segera mereka menarik diri mundur serta berdiri tegak sambil mengawasi Liok Kiam-ping dengan mendelong, katanya dengan tergagap.
"Siapa kau sebenarnya ?"
Liok Kiam-ping tertawa lebar, katanya menuding tiga batang pedang dipunggung.
"Memangnya kalian tidak tahu apa artinya ?"
Seketika kedua orang itu bergidik, serunya.
"Kau pat-pikim-liong ?' 'Takut ya ? Nah kalian potong sendiri kuping sebelah kiri, tuan mudamu ampuni jiwa kalian-Kalau membandeljangan harap bisa pergi dengan tetap bernyawa."
Bahwa Liok Kiam-ping menjatuhkan ceng-san-biau-khek, sekali pukul melukai Hwi-bing, pedangnyapun membelah Tayhun, pertempurannya melawan Tok-sin Klong-bing sudah menggetarkan seluruh Bulim, golongan hitam maupun aliran putih siapa tidak jeri padanya.
Karuan kedua orang itu serasa terbang arwahnya, melawan jelas bukan tandingan dan tak berani lagi.
larijuga takkan bisa lolos, akhirnya mereka saling pandang, seorang lelaki harus pandai melihat gelagat, selama dada masih bernapas.
kapan saja masih ada kesempatan mencari balas, yah apa boleh buat, akhirnya mereka kertak gigi, secara kekerasan mereka tarik protol kuping masing-masing, saking kesakitan mereka gemetar, lekas mereka bimbing saudara yang terluka terus ngacir tanpa bercuit lagi.
Lekas Liok Kiam-ping papah kakek ubanan terus diangkat naik kepunggung kuda di bawa lari kekota menginap disebuah hotel.
Dalam pada itu rona muka si kakek dari hijau sudah berobah hitam, tubuhnya meringkel seperti menyusut, desau napasnya juga tinggal satu-satu, jelas racun sudah terlalu merasuk tubuhnya.
Liok Kiam-ping keluarkan sebuah botol porselin kecil mengeluarkan tiga pil warna merah, sekali pencet dia buka geraham si kakek terus jejaikan tiga butir pil obat ke dalam mulutnya.
Beruntun dia menutukpula beberapa hiat-to dileher dan didada orang.
Kira-kira semasakan air kemudian, tubuh si kakek tampak bergetar, setelah menggeliat dia mulai merintih, mendadak badannya mengejang sekali terus membalik badan dan tumpah-tumpah mengeluarkan gumpalan darah kental hitam, matapun terbuka, namun tubuh masih lunglai rebah dipinggir ranjang sesaat dia awasi kedua pemuda didepan ranjang.
"Lotiang sudah merasa lega bukan?"
Ujar Liok Kiam-ping. Kakek itu menghela napas, katanya tersendat haru.
"Losiu terkena Toan-hun-san .. .. kecuali... Jinsom... atau Soat-lian..."
Belum habis bicara mendadak dia terkulai pingsan Kiam-ping teringat akan Soat-lian yang disimpan dalam sakunya, kejadian memang teramat kebetulan atau mungkinjuga ada jodoh dan nasib si kakek ubanan memang mujur dan belum saatnya ajal.
Setelah menelan sekelopak Soat-lian, Kiam-ping papah si kakek duduk bersimpuh, dia sendiri duduk dibela kang orang menyalurkan tenaga lewat telapak tangan yang menempel dipunggungnya, bantu memperlancar bekerjanya khasiat obat.
Terasa dalam tubuh si kakek timbul segulung hawa dingin seperti gumpalan es yang melawan saluran tenaganya, lekas dia kerahkan setaker tenaganya secara kekerasan dia berusaha menjebol dan melumerkan hawa dingin itu.
Lekas sekali wajah pucat si kakek makin bersemu merah, tiba-tiba perutnya berbunyi berkerutuk seperti suara katak berkotek, kontan mulutnya terpentang dan menyemburlah cairan hitam yang berbau amis.
Setelah muntah kedua kalinya, orang nyapun sudah sadar.
Uap putih tampak mengepul diatas kepala Liok Kiam-ping, keringat juga membasahi wajahnya mengalir turun Keleher, jelas keadaannya cukup payah juga dalam mengerahkan Lwekang membantu penyembuhan si kakek, setelah orang sadar dia turunkan ke dua tangan serta bersamadi.
Beruntun si kakek tidur pulas dua hari satu malam, hari ketiga baru dia siuman-Dia maklum pemuda didepannya ini yang telah menyelamatkanjiwanya, bergegas dia turun dari pembaringan hendak menghaturkan terima kasih.
Lekas Liok Kiam-ping menekan pundaknya, katanya.
"Lotiang masih lemah, badan belum sehat, tidak boleh sembarang bergerak."
"Pertolongan Siauhiap sungguh setinggi gunung, meski Losiu harus hancur lebur juga. tak setimpal untuk membalas budi pertolonganmu."
"Urusan sekecil ini kenapa dibuat kapiran, Lotiang jangan pikirkan soal budi segala. Entah bagaimana Lotiang bermusuhan dengan ketiga penjahat itu, racun yang di gunakan juga begitu ganas ?' Kakek itu menghela napas panjang. Baiklah kami perkenalkan, kakek ini adalah begal tunggal yang berjiwa pendekar Jian-li-tok-hengJin Hou yang kenamaan di daerah barat laut, Sian-tian-ciang-hoat dan Thi-lian-cu merupakan bekal kepandaiannya yang lihay, selama tiga puluh tahun belum pernah ketemu tandingan. Tapi wataknya teramat angkuh dan memandang kejahatan sebagai musuh utama, penjahat yang terjatuh ditang a nnya tiada yang pernah diberi ampun, terutama kaum penjahat pasti ciut nyalinya bila berhadapan dengan dia, maka musuhnya boleh dikata tersebar luas. Sepuluh tahun yang lalu waktu dia lewat Kian-yang, kebetulan Ki bun-sam-hong sedang melakukan kejahatan dan kepergok olehnya maka dia turun tangan menghajar mereka. Beberapa hari yang lalu mereka kepergok d id a la m kota, diluar tahunya dia dikuntit dan diincar oleh Ki-bun-sam-hong, direstoran minuman teh yang ditenggaknya secara diam-diam telah dicampur racun Toan-hun-san, sayang dia sadar setelah terlambat, dengan gusar dia labrak ketiga lawan ini, sayang racun sudah bekerja akhirnya dia sendiri yang terkepung dan hampir saja binasa secara konyol, untung Liok-Kiam-ping kebetulan lewat serta menolongnya, kalau tidak tentu jiwanya sudah melayang. Kakek ini berwatak tegas dan berpendirian teguh, budi dan dendam digaris bawahi dengan jelas, selama hidup tak pernah dia mau menerima budi kebaikan orang lain, kali ini berkat pertolongan Kiam-ping, sehingga jiwanya yang sudah terenggut elmaut berhasil ditarik balik, apapun dia rela mendampinginya dan sudi merendahkan diri sebagai pembantu. Liok Kiam-ping menggoyang tangan, katanya.
"Jangan Lotiang berpikir demikian tekadmu akan menyiksa batinku saja. Syukurlah bila kau sudi mendarma baktikan tenaga untuk kepentingan perguaua n kita saja, kami pun sudah amat berterima kasih."
"Boleh, cuma Losiu ada satu permintaan yaitu jangan memanggil Lotiang padaku, sementara ini boleh kita saling membahasakan sebagai saudara seangkatan saja. Kalau kau kukuh pendapat Losiujuga tidak mau terima."
"Untuk menghormat lebih baik menurut perintah. Lo-koko, biar kita istirahat beberapa hari, tiga hari lagi boleh kita melanjutkan perjalanan ketimur."
Musim semi lebih dini datangnya di Kanglam, saat mana cuaca baik, hawa segar, alam semesta seperti dilembari kehidupan baru.
Dijalan raya yang menuju ke kota Tin-wan, tampak tiga ekor kuda dicongklang dalam kecepatan sedang, Mereka bukan lain adalah Liok Kiam-ping bertiga yang tengah menempuh perjalanan pulang kemarkas pusat Hong-lui-bun yang telah berdiri di Kui-hun-ceng.
Liok Kiam-ping kuatir markas pusat yang kosong tanpa penjagaanjago kosen, bila diserbu musuh, keadaan pasti kocar kacir, celaka kalau sampai terebut oleh musuh, maka rasa gugupnya seperti ingin baru-buru menolong kebakaran, sepanjang jalan tiada hasrat menikmati panorama daerah Kang lam nan permai.
Setelah melampaui sebuah bukit, jalan pegunungan semakin buruk dan sukar dilewati, maka mereka memperlambat lari kuda.
Mendadak dari arah belakang terdengar seekor kuda dibedal kencang mendatangi membawa kepulan debu kuning yang membumbung keangkasa, penunggang kuda berpakaian ringkas mendekam dipunggung kuda cepat sekali kuda itu melesat lewat disamping mereka, topi rumput diatas kepalanya ditarik rendah hingga hanya kelihatan hidung dan mulutnya saja.
Padahal jalan pegunungan sejelek itu, tapi kuda itu dapat dilarikan sekencang angin, jelas lelaki itu memang akhli menunggang kuda, tunggangan itujuga sudah biasa dan hapal akanjalan dan keadaan disekitar gunung ini.
Kira-kira lima tombakjauhnya mendadak penunggang kuda itu menoleh serta melotot kearah Liok Kiam-ping bertiga namun lari kudanya tidak menjadi lambat.
Jian-li-tok-heng seorang kawakan Kangouw, pengalamannya luas, segera dia menjengek.
'Kawanan iblis akan datang mengantar kematian.
Hayo kejar.' lalu dia mendahului keprak kudanya mengudak dengan kencang.
Tapi setelah meegitari perut gunung dalam waktu sekejap saja mereka hanya mengejar kepulan debu yang masih membumbung dludara, jejak lelaki berkuda itu sudah lenyap tak karuan paran.
Tapi mereka bertiga masih terus larikan kudanya dengan kencang, tak lama kemudian mereka sudah takjauh dari kota Tin-wan, setelah masuk kota perut terasa lapar maka mereka memasuki sebuah restoran bermerk Ki-eng-lau.
Setelah memilih tempat memesan masakan, mereka tidak banyak berbincang, begitu hidangan tiba lantas digares dengan lahap.
restoran itu penuh sesak.
pelayan tampak sibuk.
Takjauh disebrang sana beberapa orang persilatan sambil makan sedang mengobrol panjang lebar, suaranya keras dan satu sama lain seperti berlomba bicara maka tanpa pasang kuping juga dapat dengar pembicaraan mereka.
Seorang lelaki bersuara serak sedang berkata.
"Bicara terus terang, Ham-glok-ling Ham s im-leng-mo Lo-cianpwe memang sudah menggetar B ulim sejak puluhan tahun yang lalu, sungguh tak nyana kali ini terjungkal ditangan Pat-pi-kimliong, ceng-san-biaukhekpun ajal ditangannya. Betapa takkan bikin marah beliau?" .
"Dengan gusar dia hijrah keselatan, seluruh kekuatan Hampeng-klong dikerahkan, jelas Kui-hun-Ceng pasti sukar mempertahankan lagi, yakin pasti tertumpas rata dengan bumi. Diam-diam Liok Kiam-ping mengeluh dalam hati, dengan tenaga Gin-jay-beng dan sibocah gede Siang Wi, betapapun mereka bukan tandingan iblis tua itu. Sekilas dia melirik kesana, dilihatnya dimeja sebelah kanan duduk empat lelaki berpakaian ringkas. dandanan mereka menunjukkan sebagai kawanan Piausu.
"Konon Tang ling Kongeujuga ingin menuntut balas sekali pukulan, sejauh ini dia juga sedang kerahkan tenaga menyelidik jejak musuh."
Pihak Hwe-hun-bunjuga punya permusuhan setinggi langit, secara diam-diam mereka berintrik dengan pihak Tang-ling untuk mengganyang musuh."
Terhadap beberapa orang diatas loteng ini Liok Kiam-ping tidak perlu gentar, namun dia menguatirkan keadaan markas pusat, musuh teramat tangguh, maka hatinya jadi gelisah, maka selera makannya jadi menurun-Tengah dia kebingungan, didengarnya derap seorang yang menaiki tangga loteng maka muncullah seorang lelaki perawakan tinggi bercaping rumput, langkahnya lebar menaiki loteng.
Begitu tiba diatas loteng, melihat kehadiran Liok Kiamping bertiga, seketika berobah air mukanya, langsung putar tubuh lari kebawah.
Laki-laki itu bukan lain yang tadi mereka kejar ditanah pegunungan-Liok Kiam-ping sudah berdiri.
LekasJian-li-tokheng menekan tangannya serta berbisik.
"Biarkan dia pergi disini banyak orang, biar nanti kita kerjain didepan."
Setelah kenyang mereka membayar rekening terus turun dan naik kuda melanjutkan kearah timur.
Menjelang magrib mereka sudah memasuki perbatasan Siang-kin dan tiba di Ban-san.
Dikatakan Ban-san selaksa gunung memang tidak berkelebihan, karena daerah disini merupakan gunung gemunung yang belukar dan jarang dijelajah manusia.
Setiba dibalik gunung mereka mulai memasuki sebuah selat sempit.
Selat ini dipagari tembok karang yang menjulang tinggi tegak selicin kaca, puncaknya ditelan mega, ditengah merupakan selat sempit yang berkelok-kelok yang harus jalan beriring satu-satu, bagi siapa saja yang pertama kali lewatjalan ini pasti merinding dan was-was.
Karena kejadian siang tadi cukup mencurigakan, maka Jiantok-heng bersiaga dan hentikan kuda serta menerawang pegunungan ini.
Sang surya memancarkan sinarnya yang terakhir, hingga bayangan gunung sebelah kiii tamrak benderang, tampak bayangan kepala beberapa orang bergerak diatas sana, jelas musuh telah mengaturjebakan d id a la m selat sana, maka dia suruh Kiam-ping berdua berhenti untuk menempuh jalan putar saja.
Berkepandaian tinggi maka nyali Liok Kiam-ping amat besar, dia yakin kemampuan diri sendiri, kalau hanya dinding securam itu masih belum mempersulit dirinya, sekilas dia menerawang, maka timbul akal dalam benaknya, katanya lirih.
"Lo-koko dan Hian-te silahkan naik keatas puncak dari kiri kanan.' Lalu dia tuntun kedua ekor kuda mereka dikeprak masuk kedalam selat. Jian-li-tok-heng tidak menduga dan tak sempat mencegah. Terpaksa dia membagi arah dengan Suma Ling khong seperti berlomba saja mereka melompat dan memanjat naik keatas puncak. Seorang diri dengan tiga ekor kuda Liok Kiam-ping terus congklang kudanya maju lebih jauh. Kira-kira tiga puluh tombak jauhnya, didengarnya suara sempritan saling bersahutan disebelah atas. Kejap lain didengarnya suara gemuruh seperti ada gempa hebat meruntuhkan puncak gunung. Waktu dia mendongak dilihatnya belasan Batu-batu besar bergelundungan dari atas bersama taburan karungkarung kapur dan balok-balok kayu raksasa, laksana hujan saja berjatunan dari atas menyumbat selat sempit ini. Kiam-ping lompat turun dari punggung kuda terus mengembangkan Ginkang, secara lincah dan enteng dia berlompatan klan ke mari menghindarkan diri dari hujan batu dan karung-karung kapur yang beterbangan. Sementara kedua tangan menepuk dan terayun, tenaga angin dahsyat dari kedua tangannya di sapunya minggir terpental jauh beterbangan. cukup payah juga usaha menyelamatkan diri dari hujan batu dan kapur serta balok-balok kayu, namun Kiam-ping terus maju kedepan. Tiba-tiba didengarnya ringkik kuda dibelakang, tiga ekor kuda itu akhirnya binasa oleh hujan batu dan terpendam tanpa bisa berkutik lagi karena tubuhnya hancur lebur. Pada hal panjang selat ini tidak terukur ujungnya, mau tidak mau gelisah juga hati Kiam-ping. Kiam-ping maklum kalau kejadian berlanjut sedikit lama, tentu tenaga sendiri akhirnya terkuras habis, dan jiwa terancam elmaut, nasibnya akan seperti ketiga ekor kuda itu, mati dengan badan hancur ketiban batu-batu raksasa. Mendadak kumandang gelak tawa ramai diatas puncak. seorang berseru lantang.
"Pat-pi-kim-liong, dalam selat itulah tempat liang kuburmu."
Seorarg lagi berteriak.
"Kalau mau hidup lekas serahkan barang milikmu yang paling berharga, jiwamu nanti boleh diampuni. melihat depan atau belakang sudah tersumbat, umpama Kungfumu setinggi langitjuga harus binasa didalam selat ini.' lalu terdengar pula gelak tawa ramai bergema di angkasa. Liok Kiam-ping cukup cerdik, diatahuhujan kapur itu hanya untuk menutupi pandangannya supaya dirinya susah maju lebih lanjut, kalau suara gemuruh hujan batu masih berlangsung disebelah depan, tapi dibela kang keadaan sudah hening. Mendadak Liok Kiam-ping membentak gusar.
"Kawanan tikus yang tidak tahu malu muslihat keji, kalian jangan harap dapat membunuhku, hari ini tuan muda akan memberi keadilan kepada kalian-"
Lenyap suaranya mendadak dia mengenjot kaki, tubuhnya melenting keatas, mengembangkan Ling-hi-pou-hoat seperti naga terbang saja tubuhnya legat-legot mumbul puluhan tombak^ dikala luncuran tubuhnya mengendor, dia menekuk punggung menggeliat pinggang, berbareng kaki menancap dinding karang sehingga tubuhnya meluncur pula lebih tinggi, untung selat ini tegak lurus lebarnya juga kurang setombak, hal ini membantu Liok Kiam-ping untuk menjejakkan kakinya dikiri kanan dinding gunung sehingga tubuh-lebih pesat meluncur lebih tinggi keatas.
Dalam sekejap seratus tombak telah dicapainya.
Dalam pada ituJian-li-tok-heng meloncat keatas lewat sisi kiri, didepan dia dihadang sebuah jurang, terpaksa dia harus berlari-lari mengitari bibir jurang menuju ke arah sebrang, kira-kira setanakan nasi baru dia tiba dimulut jurang sebrang, sekali menghirup napas dia kerahkan tenaga dipusar terus melambung jauh kedepan, karena menguatirkan keselamatan adik angkatnya, sedetikpun tak boleh terbuang, maka tanpa berhenti dia masih terus tancap gas berlari bagai terbang diatas pegunungan berbatu.
Sementara itu Suma Ling-khong yang belum punya pengalaman Kangouw juga sudah melampaui dua puncak.
setiba diatas dia jadi kehilangan arah, apalagi pegunungan batu ini tidak rata setelah berputar klan kemari dia merasa semakin jauh meninggaikan suara gaduh dari batu-batu yang dihamburkan kedalam selat, gema suaranya mengalun diudara susah dibedakan dari mana arahnya.
Sejenak dia tenangkan hati lalu melompat kepucuk sebuah pohon, kebetulan dilihatnya asap tebal mengepul dari dasar selat, api berkobar amat besar disebelah bawah, lekas dia melompat turun terus memburu ke sana.
Dalam pada itu secara beruntun sembilan kali Liok Kiamping secara zig-zag menjejakkan kedua kakinya sambil mengembangkan Ginkang sudah hampir mencapai puncak, sayang hawa murni dalam tubuhnya mendadak mengendap.
sehingga tubuh yang terapung itupun seperti direm secara mendadak.
Karuan jantungnya melonjak kaget, sehingga menambah cepat tubuhnya anjlok ke bawah.
Lekas dia konsentrasikan pikiran, kebetulan disebelah bawah dilihatnya dinding karang sebelah kiri ada bagian melekuk, di mana kebetulan ada tempat untuk berpijak, lekas dia menggeliat pinggang bersalto ke samping kiri dan secara tepat kakinya berhasil hinggap di lekuk karang itu.
Dari ketinggian seratusan tombak dia memandang kebawah, tampak jago merah membara dengan asap tebal yang bergulung-gulung ke angkasa, meski membekal ilmu sakti tak urung ciut juga nyali Liok Kiam-ping, terlambat sedikit tentu dirinya sudah terbakar hangus didasar selat, perasaan menjadi berat.
Dari kejauhan Jian-li-tok-heng juga mendengar suara gemuruh bagai guntur menggelegar, hatinya semakin gugup maka langkahnya lebih cepat lagi melayang kemulut selat diatas puncak.
cepat sekali dilihatnya puluhan lelaki seragam hitam sedang sibuk bekerja melempar batu, karung kapur dan belirang serta balok-balok kayu kedalam selat.
Amarahnya tak tertahan lagi, dengan mempercepat langkah cukup beberapa kali lompatan, laksana elang dia menubruk keatas.
Belasan lelaki yang sibuk menghujani batu dan balok kedalam selat itu mimpipun tidak pernah duga banwa elmaut bakal merenggut jiwa mereka.
Begitu menubruk tiba kontan Jian-li tok-heng menggenjot dengan kedua tangannya berbareng kedua kakipun menendang, empat lelaki seketika dipukul dan ditendangnya roboh, dua terjungkal kedalam selat dengan jiwa melayang seketika.
Seperti harimau mengamuk ditengah gerombolan kambing saja Jian-li-tok-heng mengganyang belasan lelaki yang terhenyak kaget, maka terdengar jeritan-jeritan ngeri saling susul, sebagian besar dari belasan lelaki itu dipukul jatuh kedalam selat yang curam dan dalam ditelan lautan api.
' Beruntung bagi yang berdiri sedikit jauh melihat gelagat jelek lekas mereka lempar karung dan meletakkan batu terus ngacir menyelamatkan diri.
Dalam sekejap seanua sudah kabur tak kelihatan bayangannya pula.
Suma Ling-khong mengembangkan Ginkang berlomparan dipucukpohon, tubuhnya meluncur secepat anak panah, beberapa kali lompatan sudah mencapai puncak sebelah kanan, bentaknya keras.
"Bangsat kurcaci, serahkan jiwa kalian."
Sebelum dia turun tangan, mendadak bayangan hitam berkelebat, didepannya menghadang seorang kakek baju hitam, hidung elang pipi panjang dagupendek.
kedua sorot matanya mencorong terang, kedua pelipisnya menonjol, jelas Lwekangnya amat tangguh.
Melihat yang datang pemuda berusia belum genap dua puluh tahun, kakek baju hitam, lantas menyeringai hina, bibirnya juga mengejek.
"Bocah yang masih bau tetek. memangnya kau sudah bosan hidup, Biar Lohu antar kau pulang kedalam pelukan nenekmu dialam baka."
Setelah lawan buka suara kedua tangannya sudah melingkar terus didorong menerbitkan segumpal angin tenaga.
Baru pertama kali ini Suma Ling-khong bergairah melawan musuh, jelas pengalamannya masih cetek.
mendadak dirasakan angin deras menampar dirinya, untuk menangkis jelas dia terlambat, lekas dia berkelit mundur lima kaki, untung masih sempat meluputkan diri.
Baca Juga: Peristiwa Burung Kenari 2
Baca Juga: Anggrek Tengah Malam 1