Ceritasilat Novel Online

Hong Lui Bun 5

Eps 5 Hong Lui Bun - Khu Lung

Baca online Hong Lui Bun - Khu Lung

Cersil Hong Lui Bun - Khu Lung.

Namun darah panasnya terbakarjuga, segera dia kerahkan tenaga dikedua tangan, sekali menyedot napas dia salurkan hawa murni dari pusar terus memukul sekuatnya.

Melihat lawan berkelit kakek baju hitam makin takabur.

seenaknya saja dia menggerakkan tangan menangkis.

Kejadian sungguh d ilua r perhitungannya, begitu tenaga pukulan saling bentrok.

"Blang", kakek baju hitam tergetar mundur lima langkah, darah hampir menyembur dari dada, roman mukanya seketika pucat, jelas dia sudah terluka dalam, untung Lwekangnya cukup tangguh. maka dia masih mampu mengendalikan hawa murni melindungi badan. Memang diluar tahunya bahwa Jin-tlok-ji-meh Suma Lingkhong telah tembus. Lwekangnya sekarang setaraf denganjago kosen kelas wahid, hanya pengalamannya saja yang masih terlalu cetek. Melihat pukulannya berhasil memukul mundur lawan, tambah tabah hati Suma Ling-khong, lekas dia mendesak maju seraya melontarkan enam pukulan secara beruntun. Dengan mantap kakek baju hitam melayani serangannya dengan gerak langkah dan tipu-tipu yang lihay, dalam suatu peluang dia malah balas menyerang tiga jurus, maka terjadilah perang tanding secara seru, kedua lawan setanding sama kuat. Sementara itu kawanan penjahat yang menjatuhkan batu dan balok kedasar selat sedang disikat oleh Jian-li-tok-heng diseberang sana, dalam sekejap kawanan penjahat itu sudah lenyap tak karuan parannya Karuan kakek baju hitam menjadi gugup, Tahu gelagat tidak menguntungkan, lekas dia lancarkan dua kali pukulan mendesak mundur lawan, disaat Suma Ling-khong terhuyung dia membungkuk membusung dada, hawa murni telah dikerahkan, maka telapak tangannya yang putih pelan-pelan berobah hijau, uap hitampun tampak mengepul dengan baunya yang amis memualkan-Suma Ling-khong sedang tidak karuan perasaannya, mendadak hidungnya mencium bau amis seperti busuknya bangkai, seketika kepala pusing hampir pingsansementara kakek baju hitain sudah siap turun tangan. Mendadak didengarnya sebuah bentakan sekeras guntur.

"Bedebah masih berani mengganas."

Suara belum lenyap orangnya sudah menubruk tiba, segulung tenaga laksana amukan badai tahu-tahu telah menindih tiba.

Sebelum tahu apa yang telah terjadi, kakek baju hitam mencelat terbang dengan jeritan keras, tubuhnya melayang tiga tombak menumbuk batu.

kepala pecah tubuh remuk.

Sudah dituturkan disebelah depan bahwa Liok Kiam-ping terhenti dilekuk dinding, tak lama kemudian batu kapur dan balok yang berjatuhan dari atas terhenti, disusul suara jeritanjeritan keras serta tampak beberapa sosok tubuh orang melayang jatuh dengan jeritan ngeri.

Dalam hati dia menduga bahwa Suma Ling-khong dan Jian-li-tok-heng tengah beraksi disebelah atas.

Sementara dia sudah memulihkan pula tenaganya, setelah menghimpun tenaga sambil bersuit dia menjejak kaki dan kaki tangan bekerja sama seperti lutung manjat pohon saja.

jari-jari tangannya sekeras baja mencakar dinding terus melambung keatas, setelah bersalto dua kali dengan sigap tubuhnya sudah mencapai bibir jurang.

Dikala kakinya hinggap diatas puncak kebetulan dilihatnya kakek baju hitam sedang menghimpun tenaga hendak melancarkan Hek sat-ciang, maka sambil membentak dia menerkam lebih dulu, syukur lawan berhasil dipukulnya mampus.

Kim-kong-put-hoay-sin-kang yang diyakinkan sekarang sudah mencapai puncaknya, maka dia tidak kuatir menyedot hawa beracun dari asap hitam itu.

sedikir menutul kaki dia memburu maju sambil ulur tangan memapah Suma Ling-khong, tanyanya kuatir.

"Kenapa kau Hian-te "

Suma Ling khong sudah dalam keadaan setengah sadar, meski pernah menelan Soat-lia n, maka pikirannya sedikit jernih, dengan lemah dia menjawab.

"Bau busuk memualkan, kepala pening membuat badan terasa enteng."

Habis bicara diapun sudah pulas.

Kiam ping tahu adik angkatnya keracunan enteng, beruntun dia menutuk urat nadi supaya hawa racun tidak menjalar.

suma Ling-kong lantas dipanggulnya dibawa lari kebibir jurang.

Waktu itu magrib telah mendatang, tebir malam mulai menyelimuti jagat raya, Liok Kiam-ping memanggul Suma Ling-khong bersamaJian-li-tok-heng baru keluar dari selat yang lain-Supaya tidak terlambat memberipertoltongan, mereka berusaha mencari tempat, tapi diatas pegunungan ini tiadajejak manusia, terpaksa mereka mencari gua untuk menetap sementara.

Gua itu cetek luasnya tidak ada setombak, untuk menjaga segala kemungkinan Jian-li-tok

heng terpaksa berjaga diluar dan sembunyi dibelakang sebuah batu besar dipinggir gua.

Malam semakin berlarut, mendadak melengking sebuah siulan keras menggetar malam sunyi, tiga bayangan orang tampak meluncur turun dari puncak sebrang.

sambil maju mereka seperti mencari-cari apa.

Terdengar seorang tua serak berkata.

"Lohu datang terlambat hingga setan cilik itu sempat melarikan diri. Menurut laporan barusan ketiga orang itu masih berada disekitar sini, kenapa jejak mereka tidak kelihatan ?"

Seorang lain menanggapi.

"Sepuluh li di sekitar pegunungan ini Sudah kami geledah, memangnya bocah itu sudah jadi setan dan bisa menghilang."

"Kalian harus hati-hati."

Seorang pemuda berkata sinis.

"setan cilik itu bertangan gapah, Lwekangnya tinggi betapapun tidak boleh teledor."

Suara serak itu tertawa g elak-gelak. katanya.

"Kenapa Kengcu makin takut menghadapi urusan, dia sudah dalam kepungan kita, tumbuh sayapjuga jangan harap dapat melarikan diri,"

"Bukan aku takut urusan, namun sebelum ayah datang, apapun kita harus berhati-hati."

Jian-li-tok heng yang sembunyi dibelakang batu maklum bahwa mereka bertiga sudah terkepung dan selalu dalam pengawasan musuh, kedua saudara mudanya sedang samadi, apapun tak boleh terganggu diam-diam dia berdosa supaya ketiga orang ini lekas menyingkir ketempat lain-Dengan mengerut alis dia celingukan menerawang keadaan sekitarnya Mendadak dia merunduk pergi beberapa tombak-sengaja melangkah dengan memberatkan kaki sehingga mengeluarkan sedikit suara terus berlari daerah timur.

Maka didengarnya suara lambaian pakaian beberapa orang berkibar dibelakang, waktu dia menoleh tiga bayangan orang tampak mengudak kearahnya.

karuan hatinya senang.

Ginkangnva memang cukup hebat, kalau dia mau mengempos seluruh tenaga, ketiga orang itu jelas takkan bisa menyandak, tapi kuatir ketiga orang itu kehilangan jejaknya lalu putar balik maka dia berlari dalam kecepatan ssdang saja, mengingat situasi cukup gawat bagi keselamatan kedua saudaranya.

sengaja lari ketimur lalu belok keselatan, paling hanya puluhan tombak jauhnya dari letak gua itu.

Cukup lama juga jian-li-tok-heng putar kayuh, dari selatan mutar kebarat terus belok keutara, secara diam-diam dia menyelinap masuk ke hutan terus menyelundup balik kemuka gua.

Tampak Kiam-ping berdua sudah terbungkus oleh uap putih tebal, diam-diam dia girang bahwa usahanya berhasil mengulur waktu "setengah jam lagi pasti usaha Kiam-ping menolong Suma Ling-khong akan berhasil, biarlah kawanan iblis itu nanti merasakan kelihayan kami bertiga."

Sementara itu tiga orang yang mengudak itu akhirnya kebingungan diluar hutan, sejenak mereka celingukan lalu kasak kusuk akhirnya diputuskan untuk membagi diri menggeledah ketiga jurusan, mereka sadar bahwa musuh sengaja mempermainkan, maka sambil mengumpat caci mereka terus menggeledah hutan-Caci mereka kedengaran semakin dekat, Diam-diam Jian litok-heng merasa gelisah, kali ini jelas pasti kepergok.

maka dia membatin.

"Satu lawan dua, sekuatnya aku masih bisa menandingi mereka, bila tiga orang mengeroyokku, jelas aku tidak akan bisa menang, padahal keadaan cukup kritis bagi kedua saudaranya, meski harus berkorbanjiwa, betapapun dia harus berusaha membendung mereka jauh diluar gua. Untung pengalamannya cukup luas, akhirnya terpikir sebuah akal untuk menghadapi musuh, paling tidak masih bisa bertahan beberapa kejap lagi. Langkah orang semakin dekat, tiga tombak. dua tombak. akhirnya hanya setombak, mendadak berhenti. Suara serak tua itu berkata.

"Gua ini letaknya cukup tersembunyi, kenapa tadi tidak ditemukan, bukan mustahil bocah keparat itu sembunyi didalam sedang menyembuhkan luka,"

"Benar, aku yakin dugaanmu tidak meleset. Mari kita geledah kedalam."

Seorang tua yang lain berkata.

Maka mereka beranjak maju kedepan gua.

ternyata mereka semua berpakaian hitam.

dua tua satu muda, d ibawah sinar rembulan, kelihatan wajah mereka seburuk setan-Sekonyong-konyong serangkum angin pukulan dahsyat laksana kilat menyerbu dari samping gua, tiga orang itu dipaksa mandek dan menyurut mundur, Tahu-tahu bayangan seorang sudah menghadang dimulut gua, jengeknya dingin.

"Badut kurcaci dari mana yang tidak tahu diri berani mengoceh membuat ribut disini, Lohu sedang enak tidur sampai terjaga kaget, kalau tahu diri lekas mencawat ekor enyah dari sini."

"Anjing tua, j angan pura-pura pikun, malam ini jiwa mupun tak diberi ampun."

"Boleh buktikan jiwa siapa yang tidak terampun, kalau berani sebutkan dulu namamu."

"Tuan mudamu ini datang dari Tang-ling kedua orang ini adalah Kik-bun-toh-pek dua rasul kami."

"oooh, kiranya kawanan setan dari akherat biarlah Lohu kirim kalian pulang ketempat asal kalian-"

Suara serak itu mendengus.

"Jangan bersilat lidah, sambut dulu pukulan Lohu."

Lakilaki tua baju hitam di sibelah kanan menggerakan tangan-segulung hawa dingin segera menerjang kedepan, begitu hebat tekanan hawa dingin ini hingga napasnya terasa sesak.

Jian-li-tok-heng tahu lawan me lancarkan jenis pukulan jahat, beracun, karuan amarahnya memuncak.

kedua tangan segera bergerak diapun lontarkan serangkum angin pukulan keras.

"Pyaar."

Ledakan terjadi.

Mungkin karena kedudukan lelaki tua berada disebelah bawah hingga dia harus menyongsong pukulan lawan dari atas, maka dia terg entak mundur lima langkah, darah terasa mendidih didalam tubuhnya.

Sementara Jian-li-tok-heng hanya tergeliat sedikit, wajahnya tersenyum simpul, jelas dia berada diatas angin.

Pemuda dan seorang tua yang lain seketika berobah air mukanya, sekilas mereka saling pandang, mendadak menyergap daridua sayap.

empat telapak tangan melontarkan deru angin dahsyat.

Jian-li-tok-heng melompat keatas menghindar pukulan dahsyat, ditengah udara tubuhnya bersalto lalu menukik dengan kaki diatas, kepala dibawah, meminjam daya luncuran tubuh dari atas kedua tangannya menampar dari kanan kiri, dua arus hawa panas laksana kilat meluncur kedua musuh.

Posisinya memang unggul karena disebelah atas hingga kekuatan tamparan tangan nya bertambah hebat, kedua musuh tua dan muda terpukul mundur dua langkah, Sementara itu lelaki tua ditengah sejenak melenggong, tapi lekas sekali dia sudah menubruk maju pula.

Kini tiga orang bergerak secara ketat dan menyerang seperti berlomba saja dengan pukulan kencang.

Jian-li-tok-heng dipaksa untuk mengembangkan Sian-tianciang-hoat (pukulan halilintar) perguruannya, badannya selalu berlompatan naik turun dludara sehingga menaburkan hawa panas yang berarus tinggi, sepenuh tenaga dan perhatian dia layani keroyokan ketiga musuh.

Sebagai rasul kedua lelaki tua itu juga membekal kepandaian tinggi, kalau satu lawan satu mungkin Jian-li-tokheng masih mampu merobohkan mereka dalam lima puluh jurus, tapi dikeroyok tiga, betapapun tinggi ilmu silatnya akhirnya terdesak dibawah angin

Tiga puluh jurus kemudian Jian-li-tok-heng sudah mandi keringat, dia sudah amat payah, kaki tangan sudah terasa berat hingga gerak geriknya juga lamban.

Pemuda jubah hitam berhati lebih culas banyak akal liciknya pula.

melihat suatu kesempatan sambil membentak mendadak dia tambah daya serangannya.

Maklum dirinya menghadapi bahaya lekas Jian-li-tok-heng menyurut mundur, berbareng kedua tangan terpentang, segenggam Thi-lian-cu (biji teratai besi) dengan gaya Boan-thian-hoa-hi (hujan kembang diang kas a) dia taburkan kepada ketiga lawan, sudah puluhan tahun dia memperdalam ilmu Am-ginya ini, gaya dan gerakan serangannyaJauh berbeda dengan serangan senjata rahasia umumnya, setiap serangan Am-ginya tak pernah percuma.

kini menyadari awak sendiri terdesak dibawah angin terpaksa dia gunakan kemahiran sendiri untuk mempertahankan diri.

Kakek tua suara serak itu berada paling dekat, sedikit lena, dia terlambat berkelit, pundaknya terkena timpukan biji teratai besi, saking kesakitan dia menjerit kesakitan, darah sudah meleleh didada dan punggung.

Karuan pemuda dan seorang tua yang lain amat murka, serempak mereka menggerung sambil menerkam bersama, secara aneh mereka menggerakkan kedua tangan, hingga telapak tangan mereka menghitam legam mengeluarkan asap hitam pula.

Jian-li-tok-heng sudah siap dan hendak menyerang.

Mendadak didengarnya Kiam-ping berteriak gugup.

"Lo-koko lekas mundur, itulah Hekssat-tok-ciang"

Berbareng angin deras laksana gugur gunung memberondong dari dalam gua.

Uap hitam itu seperti dilanda badai saja tertiup buyar beberapa tombakjauhnya dan sirna dialam pegunungan, Berbareng sesosok bayangan orang telah mencelat keluar dari dalam gua.

Tampak Kiam-ping berdiri dipinggir Jian-li-tokheng dengan tatapan tajam kearah Yu-ling Kongcu dan kedua lelaki tua bermuka bengis itu.

Dengan tersenyum ejek dia berkata.

"Kukira siapa, kiranya kawaran tikus dari Tang-ling yang pandai main keroyok"

Yu-ling Kongcu menyeringai sinis, katanya.

"Hadiah sekali pukulanmu di Kwi-hun-ceng tempo hari masih belum kulupakan-Daerah seluas dua puluh li dipegunungan ini sudah terjaga ketat oleh kekuatan kita. Anjing cilik, lekas menyerah atau bunuh diri -saja, cepat atau lambat kau akan mampus juga."

Sikap Kiam-ping tetap wajar dan adem ayem, tanpa bicara dia tatap satu persatu ketiga lawanya lalu mengerling kekanan kiri, memang bayangan orang tampak bergerak dari berbagai penjuru, jelas tempat ini sudah terkepung secara ketat.

Tapi alisnya malah berdiri, katanya lantang.

'Sepak terjang kalian tiada yang perlu dibuat kaget, Yu-ling-toa-tin juga hanya begitu saja.

tempo hari cayhe sudah merasakan sendiri, untung jiwamu lolos dari telapak tanganku.

Nanti pasti tidak akan kubiarkan kau kecewa seperti dulu."

Nadanya mencemooh dan menghina.

' Mengejang muka Yu-ling Kongcu, mendadak dia mengeluarkan sebuah pelor api terus ditimpuk ketengah udara.

Dengan desis suara nyaring lalu meledaklah diudara dan kembang api warna warnipun berpijar menghias angkasa kelam.

Maka timbul berbagai suitan dan sempritan dari berbagai penjuru, semua meluruk kearah sini.

Lick Kiamping maklum bahwa pihak Tang-ling-klong sudah memboyong seluruh kekuatannya, situasi jelas cukup gawat, kawanan penjahat ini bertangan gapah dan telengas, akal lick dan busuk apa saja beramai mereka lakukan, teringat jiwanya hampir saja amblas ditengah selat sempit, seketika amarahnya mendidih pula, lekas dia merogoh keluar dua kelopak Soat-lian dan Pi-hwe-cu diserahkan kepada Jian-li-tok-heng, katanya"

Mengulum Soat-lian dapat menolak hawa racun, Pi-hwe-cu adalah mestika penunduk iblis.

didalam Yu-ling toa-tin yakin aku tidak kurang suatu apa, baiklah kita bekerja secara terpencar, ganyang habis kawanan kurcaci itu."

Sebelum mereka bertindak sebuah pekik nyaring panjang sepertijeritan setan memecah udara malam.

orang-orang Tang-ling itu seketika unjuk rasa senang.

Mungkin senang bahwa bala bantuan tangguh segera akan tiba musuh sudah terkepung seumpama semut didalam kuali, maka mereka menanti dengan penuh siaga.

Pekik suara itu makin keras dan dekat, terasa menusuk telinga.

Begitu pekik suara itu lenyap Tang-ling-g ia m-lo tahu-tahu sudah berdiri ditengah arena, Dibelakangnya meluncur datang pula dua lelaki tua berjubah hitam putih.

Dengan menyeringai lebar Tang-ling-giam lo berkata.

"Ikan yang lolos dari jaring di Kwi-hun-ceng, siapa nyana sembunyi didaerah belukar ini, hingga lohu susah payah mencari. Setan cilik, punya pesan apa lekas katakan mumpung jiwamu belum amblas."

Berhadapan dengan musuh bebuyutan, saking gusar Liok Kiamping malah tertawa.

"Jangan menyepuh emas dimukamu sendiri, kalian kawanan kurcaci yang hina dina, tukang keroyok pandai memungut keuntungan, hari ini belum pasti kalian bisa menang, tadi kau menyinggung Kwi-hun-ceng memangnya ada apa ?' ' "Biarlah kujelaskan kepadamu, supaya di alam baka kau tidak terperanjat bertemu dengan para begundalmu. Markas besar Honglui-bun yang kau bangun di Kwi-hun-ceng sekarang sudah kurebut dan kududuki. Gin-jay-beng dan lain-lain terluka parah, sekarang mungkin sudah menunggu kalian dipintu akherat' Dendam lama dan sakit hati baru saling menggejolak dalam hati perasaan Liok Kiam-ping amat terpukul oleh berita buruk ini, matanya seketika menyala gusar. Bentaknya.

"Setan tua, segala dendam kesumatku biar sekarang kutuntut kepadamu untuk melunasinya."

Lalu dia pasang kuda-kuda dan siap tempur. Lelaki jubah putih yang berbadan sedikit gemuk dipinggir Tang-ling-giam-lo tampil selangkah, katanya dengan tertawa kasar.

"Anak muda. kau punya kepandaian apa, berani bermulut besar, biarlah aku Pekhoan Kek Eng memberi hajaran kepadamu."

Melihat lawannya masih muda, dia yakin Lwekangnya juga pasti terbatas, pihak sendiri banyak jagojago kos en sudah kumpul, keinginan untuk pamer kepandaian terlalu merasuk hatinya, maka dia merasa perlu tampil lebih dulu.

Tampak dia menggeser ke samping begitu tubuhnya berputar tangannya tahu-tahu sudah memegang sebilah badik pendek.

Liok Kiam-ping berdiri santai sambil menggendong kedua tangan-sikapnya tak acuh seperti meremehkan lawan, katanya.

"Baiklah, cayhe akan layani dengan tangan kosong beberapa jurus."

Bahwa Liok Kiam-ping hendak melawan dengan tangan kosong, karuan Pek-boan Kek Eng naik pitam, serunya.

"Anak jadah, jangan takabur, rasakan ketajaman badikku"

Liok Kiam-ping tertawa angkuh, jengeknya.

"Boleh silakan mulai, jangan cerewet -saja."

Lwekang Pek-boan Kek Eng dikalangan Tan -ling-klong hanya disebelah bawah Giamlo-sin-kun, selama hidupnya terlalu jumawa dan mengagulkan kemampuan sendiri, kapan pernah dihina seperti ini dihadapan umum.

Mukanya yang gembrot putih itu seketika merah melar, sambil memekik setan, badik ditangannya mendadak menikam enam Hiat-to dibagian atas tubuh Liok Kiam-ping..

Gepakannya cepat tanpa membawa deru angin, jurus tipunya juga aneh dan susah diraba.

Begitu berkelebat badiknya seperti hampir menghunjam ditubuh lawan-Liok Kiam-ping kembangkan kelincahan gerak tubuhnya, gerak g eriknya bagai naga menari dengan tangkas dia naik turun selulup diantara samberan sinar badik lawan-Bukan saja lincah dan tangkas, badannyapun gemulai seperti senam irama saja.

Keruan makin memuncak amarah Pek-boan Kek Eng, badik ditangan dia tarikan sekencang kitiran, tabir cahaya serapatjala mengurung sekujur badan Liok Kiam-ping, sayupsayup terdengar suara gemuruh seperti gelegar guntur ditempatjauh.

Dengan gerakan yang mengaburkan pandangan secepat kilat Liok Kiam-ping seperti menari saja berlompatan kian kemari selicin belut selincah kera kadang-kadang dia malah balas menyerang, Dalam sekejap kedua orang sudah bergebrak tiga puluh jurus.

Mendadak Liok Kiam-ping menghardik sekali, jurus Liongkiap-sin-gan tiba-tiba menyelonong.

Tampak bayangan telapak tangan berlapis-lapis sedahsyat s a mb era n halilintar menepuk tiba.

Pek-boan Kek Eng mendelong, sedikit lena itu jiwanya sudah terancam elmaut.

Untunglah pada detik yang menentukan itu, sebuah tawa dingin berkumandang, sejalur tenaga pukulan deras telah mengancam Liok Kiam-ping dari belakang.

Tapi satu kaki menjelang menyentuh badan Liok Kiam-ping terasa daya pukulan itu seperti membentur tembok kokoh yang tidak kelihatan dan 'Wut' tenaga itu tercerai berai tak karuan paran Kim-kong-put-hoay-sin-kang Liok Kiamping sudah diyakinkan seirama dengan jalan pikiran hatinya, begitu merasa disergap dari belakang, kewaspadaan lantas timbul, sementara secara reflek ilmu sakti itupun telah berkembang.

setelah memunahkan sergapan dari belakang lekas dia membalik dengan gerakan langkah kesamping, kedua tangan terus memukul kearah pembokong.

Pembokongnya ternyata lelaki tua berjubah hitam bertubuh kurus tinggi, yaitu Hek-boan Toan Seng.

Bahwa sergapannya tidak berhasil, dilihatnya lawan tidak merasa apa-apa, malah tenaga pukulannya sirna seperti batu kecemplung laut, baru saja dia melenggong.

Mendadak dilihatnya sinar putih berkelebat, bayangan orang sudah menubruk kearahnya.

Karena lawan membokong secara keji Kiam-ping marah dan timbul nafsunya membunuh maka pukulannya itu dilandasi tenaga keras dan berat.

Lekas Hek-boan angkat kedua tangannya pula tapi sabelum dia kerahkan tenaga, s eg ulung tenaga laksana gugur gunung telan menindih tiba, Blang"

Dada seperti digodam, mulutnya setengah merintih tahu-tahu badannya mencelat tiga tombak jauhnya, roboh tak bangun lagi.

Kawanan penjahat diluar arena sama berteriak-tertak siap bertindak Jian-li-tok-heng amat senang bahwa kekuatan Kiamping bukan saja hebat tapi lihay, malam ini tak perlu gentar, maka hati sendiripun bertambah tabah dan mantap.

Tang-ling-giam-lo sebaliknya berobah rona mukanya, hatinya berpikir.

"Baru berpisah dua bulan, Lwekang bocah ini sudah maju sepesat ini, kalau hari ini tidak ditumpas, kelak aku pasti takkan mampu mengalahkan dia."

Mendadak bola matanya mendelik, serunya dengan galak tawa keras.

"Anjing cilik bertangan gapah, hatimu sekejam binatang. Tempo hari Lohu menaruh belas kasihan kepadamu, kalau tidak memangnya kau bisa hidup sampai sekarang.' Menyinggung pertempuran tempo hari, seketika mengobarkan dendam Liok Kiam-ping, bentaknya.

"Baiklah dendam lama sakit hati baru dibereskan sekarang saja ?"

Suasana menjadi tegang, hawa udara seperti membeku, perasaan siapa takkan tercekam menghadapi pertempuran dahsyat yang bakal beriangsung.Jantung Jian-li-tok-heng berdebar keras, dia kuatir Kiam-ping masih muda bertindak kurang perhitungan bagaimana sampai bermusuhan dengan gembong iblis besar ini, bila lena sedikit, dirinya jelas takkan mampu memberi bantuan.

Celaka adalah Peksboan Kek Eng yang masih harus melayani gempuran Jian-li-tok-heng, melihat pihak sendiri sudah jatuh banyak korban, sementara Tang-ling-sin-kun dan anaknya juga sudah mencawat ekor pada hal betapa besar kesetiaan dirinya kepada pimpinan itu, dalam keadaan gawat dirinya ditinggal sendirian dimedan laga, sungguh bukan kepalang sedih hatinya, selama puluhan tahun entah betapa besar jasa dirinya untuk pihak Tang-ling-klong, hari ini harus mati konyol ditangan musuh, namun demi jiwa sendiri terpaksa dia tetap bertahan mati-matian, meski dia insyaf dirinya tak ubahnya binatang yang sudah masuk perangkap.

namun matipun dia tidak mau menyerah, Karena gejolak perasaan menyebabkan konsentransinya menjadi buyar, sedikit lena saja, badik ditangannya sudah terpukul terbang oleh Jian-li-tok-heng.

Tapi wataknya memang keras, selama ini dia malang melintang tiada tandingan, bertempur dengan senjata juga baru kali ini, sekarang dirinya jelas sudah dikalahkan, maka dia menghela napas panjang, kedua tangan diluruskan sambil memejam mata menunggu ajal, sikapnya yang gagah sungguh patut dipuji, meski kalah sebagai seorang ksatria boleh dibunuh pantang dihina.

Mendadak timbul rasa hormat dan simpati Kiam-ping kepada orang tua ini, lekas dia berseru.

"Ampuni dia Lo-koko."

Belum habis dia bicara orangnya sudah menyelinap maju ketengah kedua orang. Katanya dengan sikap kereng.

"Kejadian hari ini patut disesaikan, aku tahu tuan menjalankan tugas, pada hal satu dengan yang lain tiada permusuhan pribadi, maka boleh kau pergi secara bebas, cuma kuharap selanjutnya sudi bekerja demi kepentingan kaum Bulim yang tertindas, membela yang benar dan menindas yang lalim."

Terbuka lebar mata Pek-boan Kek Eng, melihat pemuda ini bicara setulus hati segera dia tersenyum. katanya.

"Kungfu Siauhiap teramat tinggi, sikapmu begini ramah dan welas asih pula, sungguh Lohu harus malu diri, selanjutnya aku akan mundur dari percaturan dunia persilatan, akan kucari suatu tempat diatas gunung untuk tetirah saja, kelak bila ada kesempatan ingin aku membalas budi kebaikanmu ini."

Setelah menjura badannya lantas melompat tinggi dan meluncurjauh kearah timur.

Waktu itu sudah menjelang fajar, puluhan mayat yang bergelimpangan sudah mencair oleh racun api kunang-kunang musuh, yang ketinggalan hanyalah tulang belulang dan pakaian serta rambut mereka saja, bau amis memualkan-Kiam-ping menghela napas, katanya kepada Jian-li-tokheng.

"Lo-koko, jejak kita sudah konangan, harus secepatnya kembali kemarkaspusatpula, maka menurut pendapat Siaute, mari kita menempuh jalan putar yang sepi, meski agak jauh, yakin tiada rintangan lagi.""

Jian-li-tok-heng menepekur, katanya kemudian.

"cara inijuga baik, tapi dinilai dari situasi didepan mata, kemungkinan besar Kui-hun-ceng sudah jatuh, kekuatan musuhpun begitu besar, padahal tenaga kita masih seminim ini, jelas tidak mudah melawan secara blak-blakan-Maka aku merasa perlu untuk pulang dulu ke Ki-bun, akan meminta bantuan Kim-bun-siang-hiap. di saat kau membuka lembaran baru berdirinya Hong-lui-bun, yakin aku sudah tiba juga di sana."

"Meski merasa berat berpisah, tapi mengingat urusan cukup genting, urusan tidak boleh ditunda dan mengulur waktu, maka dia menjura mohon berpisah setelah saling berpesan supaya hati-hati sepanjang perjalanan-Setelah berpisah dengan Jian-li-tok-heng Kiam-ping dan Suma Ling-khong menempuh jalan pegunungan yang sepi dan belukar, untung Ginkang mereka sudah amat tinggi, semak belukar pegunungan tidak menjadi halangan buat perjalanan mereka.

Pada hal hati mereka seperti dibakar, ingin cepat tiba di Kwi-hun-ceng, maka Kiam-ping gandeng Suma Ling-khong hingga mereka bisa menempuh perjalanan lebih cepat lagi.

Lwekangnya memang sudah mencapai taraf tertinggi, setiap malam cukup istirahat duajam sudah pulih tenaganya dan melanjutkan perjalanan pula.

Hari itu, menjelang magrib.

Mereka sudah menempuh perjalanan sehari penuh, terasa benar perlu mencari suatu tempat untuk istirahat.

Tapi dialas pegunungan ditengah hutan lagi jauh dari kota dandesa, disaat mereka celingukan mencari tempat.

Mendadak sebuah jengek tawa dingin berkumandang dari dalam hutan di samping sana, suaranya seperti sudah amat dikenal.

Lalu tampak sesosok bayangan orang melesat laksana s a mb era n panah, sengaja orang itu menoleh sambil mengulum senyum tawa, badannya meluncurjauh kedepan seperti anak panah.

Pandangan Liok Kiam-ping amat tajam sekilas dia kenal bayangan itu adalah Tangling-lo-koay, karuan gemasnya bukan kepalang, sepanjang jalan musuh berusaha membokong dan menyergap dengan berbagai perangkap keji, hatinya teramat gusar dan dendam, kali ini dia bertekad menyandak musuh, betapapun lawan tidak boleh lolos lagi, maka dia berseru kepada Suma Lingkhong.

"Hayo kejar."

Lalu dia mendahului melambung kedepan, tapi hanya dalam sekejap ini, orang itu sudah meluncur puluhan tombak, betapa tinggi Lwekang dan Ginkangnya, sungguh mengejutkan-Kejar mengejarpun berlangsung dalam kecepatan tinggi, orang itu membelok kebawah lekuk gunung terus melambung kesebrang ternyata dibalik gunung sana terdapat sebuah perkampungan besar, perkampungan didirikran ditengah hutan lebat, maka kehadiran perkampungan ini mirip sebuah pulau ditengah samudra raya.

Hutan belukar inijelas jarang dijelajah manusia, binatang buas juga jarang kelihatan di sini, maka perkampungan besar itu cukup menyolok.

Bayangan orang didepan terus menuju ke perkampungan, sekali berkelebat lantas lenyap dibalik tembok.

Tanpa pikir Kiam-ping berdua terus mengudak masuk.

Perkampungan sebesar ini ternyata sepi hening, tidak kelihatan ada bayangan manusia.

Mereka langsung masuk kependopo, ruang besar ini terawat baik dan bersih, perabotnya mentereng, jelas masih dihuni manusia.

Mereka terus maju keluar d ari pintu samping menyelusuri serambi panjang, tiba-tiba terdengar gelak tawa orang kumandang dari kebon dibelakang.

Kebon kembang ini luas dan besar, pohon kembang yang tumbuh subur di sini semua dari jenis yang jarang didapat didunia ramai.

bentuk bangunan di sinijuga serba antik dan mewah, meskijauh dari keramaian tapi terasa betapa angker keadaan rumah ini.

Kiam-ping terus maju ke sana memasuki sebuah kamar satu seluas beberapa tombak, gelak tawa berkumandang dari kamar batu ini.

Menghadang pintu adalah sebuah meja panjang yang menjurus masuk kedalam, diujung meja sana duduk Hwe-ang-it-sian dan dua lelaki tua berusia enam puluhan-Seorang tua yang ditengah beraja h mirip burung kokok beluk, matanya juling, alisnya gombyok memutih, melihat kedatangan Liok Kiam-ping dia terloroh, serunya.

"Siapa diantara kalian adalah Pat-pi-kim-llong?' begitu mendelik matanya, mencorong cahaya kilat. Liok Kiam-ping bergelak tawa, katanya kalem.

"Angkatan muda yang tidak bernama tak usah disinggung. Sebaliknya tuan tentu seorang tokoh kosen, coba sebutkanjulukanmu.' dalam hati dia memuji akan Lwekang orang tua ini yang tinggi.

"Bagus, Lohu Tay-bok-it-siu, pejabatan cong-hu-hoat dari Ham-ping-klong. Anak muda, ceng-san-biau-kek punya permusuhan apa dengan kau, kau turun tangan keji membunuhnya ? Memangnya Ham-ping Lojin juga kau remehkan ?' Kiam-ping belum banyak tahu tentang tokoh-tokoh persilatan masa lalu. Tay-bok-it siu sudah menggetarkan B ulim tiga puluh tahun yang lalu, bahwa orang menyinggung ceng-san-biau-kek, secara langsung membuat Liok Kiam-ping terbayang akan kematian ibunya yang mengenaskan, seketika berdiri alisnya, katanya.

"Penjahat pembunuh dan pencuri siapapun patut mengganyangnya. ciangbunjin kami yang terdahulu ciang-kiam-kim-ling puluhan tahun yang lalu pernah di keroyok oleh Ham-ping Lojin hanya lantaran mereka tamak ingin merebut Wi-llong-pit-kip. tak segan mereka melanggar aturan Kangouw, meruntuhkan gengsi dan pamor mengeroyok beliau dengan enam pimpinan perguruan lain, sebagai penjabat ciangbun baru adalah menjadi kewajibanku untuk menuntut keadilan kepada mereka."

"Setan kecil. Tak usahjual lagak dihadapan Lohu. Hari ini kau pasti menebus segala dosamu. Selama hidup inijangan kau bermimpi untuk menemukan Ham-ping Lojin.' lalu berpaling kepada Ang-hun-jit-sian, 'Dendam ayahmu juga bisa kau tuntut sekarang juga, bukankah amat menyenangkan. Anak muda, kuanjurkan lebih baik kau bereskan diri sendiri saja, Lohu masih boleh bermurah hati takkan merusak mayatmu."

"Memangnya aku ini penakut? Apa keherdakmu boleh silakan saja.' "Bagus, kau akan lebih menderita dari pada mati.' 'Memangnya kau yakin dapat mengalahkan aku?' Agaknya Tay-bok-it-siu sudah memperoleh sedikit gambaran tentang Liok Kiam-ping, sekilas tampak dia melongo, dasar licik keraguan hatinya tidak dia tampilkan dirona mukanya malah dia lebih mantap bahwa rencananya pasti akan berhasil dengan baik, maka dia bergelak tawa, serunya. 'Anak muda, kau akan menerima ganjaranmu sendiri. Asal kau mampu menahan tiga kali pukulan Lohu, persoalan hari ini anggaplah tidak pernah terjadi, menepuk pantat Lohu akan segera pergi dari sini sejak itu namaku akan hapus dari percaturan Bulim.."

Kalau berani mari kau ikut Lohu.' tanpa menunggu jawaban, ketiga orang itu sudah mengundurkan diri.

Secara gamblang lawan sudah menantang sudah tentu Kiam-ping berdua pantang mundur, mengiakan bersama merekapun terus melayang masuk.

Belum genap mereka maju lima langkah.

"Blam"

Pintu dibelakang mereka menutup sendiri dengan suaranya yang keras gemuruh.

Lekas mereka memburu ke ujung meja sana, meja kursi masih ditempat semula, keadaan sudah kosong melompong, ternyata ketiga iblis itu sudah merat lewat lorong rahasia.

Liok Kiam-ping berdua terkurung dalam kamar batu yang rapat dan tebal ini, menyesal juga sudah kasep akan kecerobohan sendiri, mesti membekal ilmu sakti, untuk lolos dari kamar batu inijuga sesukar memanjat kelangit.

Tengah dia berdiri menjublek tiba-tiba didengarnya suara mendesis, dari celah-celah dinding batu dari berbagai penjuru menyembur asap putih yang berbau pedas dan busuk.

lekas sekali asap putih, ini sudah memenuhi ruang batu.

Lekas Kiam-ping kerahkan Kim-kong-put-hoay-sin-kang, tiga kaki seputar badannya seperti dilindungi papan baja, asap putih seperti tersibak ming gir bergulung keempat penjuru.

Untuk mengerahkan Kim-kung-put-hoaysin-kang terlalu memeras tenaga, bila berselfang cukup lama Kiam-ping sudah mulai mandi keringat, kepalanya juga mulai berdenyut merasa pusing.

Tiba-tiba kumandang sebuah suara bisikan lirih dari luar pintu.

"Lekas geser ke samping batu bundar dipinggir kursi d iba wah meja, dibawahnva ada lobang hawa rahasia, sementara kalian bisa menghirup hawa dan biarkan asap itu tersedot ke bawah, lalu duduklah mendekati pintu sini untuk mengatur tenaga."

Lekas Kiam-ping memapah suma Ling-khong mendekati meja, memang ditemukan sebuah batu bundar d iba wah meja terus di dorong kesamping, memang d iba wah meja terdapat sebuah lobang batu seluas satu kaki, dibawahnya adalah lobang gelap yang dalam asap itu lantas tersedot masuk kedalam lobang sehingga tawar.

Karena asap semakin menipis maka pertahanan Liok Kiamping ikut menjadi ringan pula, Jelas dia mundur kedekat pintu lalu duduk samadi, hanya sekejap kesadarannya sudah pulih, lalu diapun berbisik kearah pintu.

'Kawan mana yang memberi bantuan, sudilah memperkenalkan dirimu?' 'Aku yang rendah adalah salah satu pengawal kereta dari Hong-jang Piaukiok, bernama Tie Hok.

Bulan yang lalu kawalan barang kami dirampok didaerah Siang-tham, dan aku ditawan serta dikurung disini.

Tadi sudah timbul keinginan memberi peringatan kepada Siau-hiap supaya tidak terjebak.

sayang lawan terlalu banyak orang, kini penjagaan mulai kendor, baru ada kesempatan aku memberi keterangan-' Mendengar Hong-jang Piauklok dirampok.

Suma Ling-khong menjadi kuatir dan gusar, tanyanya.

"Bagaimana keadaan Jilopiauthau danpara Piausu yang lain?"

"Seluruhnya jatuh korban delapan belas jiwa. Ji-piauthau dan beberapa Piausu tertawan dan disekap di cu-cu-kau, kirakita sepuluh li dari sini. Untung aku yang rendah kenal baik dengan Peng-hoa-coa LiSi dari golongan hitam, aku pura-pura menyerah dan ditarik menjadi pembantu disini, secara diamdiam aku berusaha menolong dan meringankan penderitaan para saudara yang terluka"

"Syukur Tio-heng cerdik pandai dan berani menyerempet bahaya, entah tempat apa pula perkampungan ini ?' "Disinilah markas pusat yang didirikan Ham-ping-klong didaerah Kanglam, tempat ini dinamakan clok-tong-ho, seratus li dari Siang-tham. cong-thocu bernama cui-hun-jlu Sun Taycoan, yaitu lelaki tua yang duduk disebelah kanan.' Maka Liok Kiam-ping berpikir.

"Golongan Ham-ping biasa merajai daerah utara, belum pernah mengembangkan sayapnya ke Tlonggoan, kalau mendadak mendirikan markas didaerah Kang la m, pasti dibela kang persoalan ini punya rencana jahat, situasi agaknya semakin gawat. Apa pula permusuhan mereka denganpihak Hong-jang Piauklok. merampok dan membunuh mereka, sungguh susah dimengerti."

Maka Suma Ling-khong bertanya.

"Barusan ketiga gembong iblis itu hanya mundur lantas lenyap tak berbekas, apakah kamar batu ini dipasang pintu rahasia ?"

"Belum lama aku bertugas di sini, kunci rahasianya belum berhasil kuselidiki. Ada orang datang, sementara kalian harus pura-pura pingsan, nanti akan kukirim makanan-"

Suaranya makin lirih, mungkin bicara sambil menyingkir. Lekas sekali terdengar derap kaki berat mendatangi, seperti memeriksa pintu batu, terdengar seorang bersuara kasar.

"Ahjit, apa barusan kau tidak mendengar orang bicara, dalam sekejap kenapa tidak kelihatan bayangan orang, memangnya ada setan di sini. Mungkinkah kedua bocah itu masih segar bugar ?"

"Dari mana ada suara, mungkin kau sudah mabuk, kupingmu perlu dikorek."

Seorang lain berkata, 'Tang-keh tadi bilang kedua bocah itu dibius dengan asap yang mereka buat secara khusus, meski memiliki Kim-kong-sin-kang, bila bertahan terlalu lama juga akhirnya pasti semaput."

"Arak lima kati mana bisa membuatku mabuk. Kurasa lebih baik hati-hati, biar kuperiksa"

Lalu terdengar suara geseran perlahan, muncul sebuah lobang persegi diatas dinding.

Waktu kedua orang bicara diam-diam Liok Kiam-ping, sudah memburu kebawah meja menutup kembali lobang d iba wah meja lalu menggeletak di sana pura-pura pulas.

Dari lobang persegi kecil itu tampak dua mata orang menyapu pandang keseluruh ruangan-sejenak lagi terdengar dia berseru.

"He, anak muda, kau sudah tidur ? peduli kaupura-pura atau betul-betul pingsan, biar kalian kelaparan tujuh hari sampai mampus, hari kedelapan akan kuseret mayat kalian, ked a la m jurang buat makan binatang buas."

Lalu dia tutup pula lobang kecil itu. Langkah berat mereka semakinjauh. Tak lama kemudian Tlo Hok datang pula memasukkan beberapa bungkus makanan serta memberita h u.

"Kunci rahasia kamar batu ini, kecuali cong-thocu tiada orang lain yang tahu, terpaksa harus menunggu tujuh hari dan harus pura-pura mati kelaparan bila mereka membuka pintu baru menyergapnya. Supaya tidak menimbulkan kecurigaan, aku tak boleh lama lama disini, dua hari lagi baru aku akan kemari pula."

Kamar batu itu gelap gulita tiada sepereik sinar, jadi sukar membedakan siang dan malam, entah sudah berapa lama mereka terkurung didalam, suatu ketika Tio Hok datang pula membawa makanan untuk mereka.

Serasa dihukum tahunan oleh Liok Kiam-ping berdua, semenitjuga terasa lama, ingin rasanya sekali memukul membobol dinding dan menerjang keluar.

Namun gugup dan bencijuga tidak berguna.

Mungkin beberapa hari telah berselang, mendadak terdengar suara tawa orang dari kejauhan, seorang berkata.

"cong-huhoat memang tepat perhitungan, dengan mudah Pat

pi-kim-liong masuk perangkapmu. selanjutnya duri tajam didepan mata kita telah tersingkir, sekaligus menguntungkan kaum persilatan umumnya."

Seorang yang bersuara lantang berkata dengan tertawa.

"orang bilang bocah itu bagaimana pintar, ternyata pengalamannya masih terlalu cetek. hanya sedikit pakai akal, bocah itu sudah terperangkap. kini pasti sudah mampus. Selanjutnya pihak kita boleh tidur denganpulas dan menjagoi dunia persilatan."

Jadi kehadiran kita disini bakal menangkap bulus dalamjaring. Wah sayang bulus yang sudah mati, kurang menyenangkan, Khu-hiangcu dan Li-hiangcu, tolong kalian seret mayat kedua bocah itu keluar."

Bukan kepalang gemas dan benci Liok Kiam-ping, sekali kremus ingin dia menelan lawan bulat-bulat, tapi untuk meloloskan diri terpaksa dia tekan amarah danpurapura rebah semaput, secara diam-diam diapun memberi peringatan kepada Suma Ling-khong untuk siap bertindak, lebih penting menerjang keluar dulu, turun tangan tak boleh menaruh belas kasihan-Terdengar daun pintu yang terbuat dari batu tebal dan berat mulai terpentang kedua samping.

Dua lelaki muncul dari luar, dengan tertawa-tawa mereka melangkah masuk.

"Wah, keparat, bocah ini enak enak tidur, sebal aku harus menyeret mayatya keluar."

"Aalah kenapa banyak mulut, seret saja kebelakang gunung dan buang kedalam jurang."

Mendadak Liok Kiam-ping melejit berdiri, sorot matanya berapi, melotot penuh kebencian kepada kedua lelaki didepannya, Bahwa orang yang dikira sudah mampus mendadak mencelat berdiri, karuan kedua lelaki itu berjingkrak kaget menyurut tiga tindak pada hal disamping keracunan asap diapun sudah kelaparan tujuh hari, mana mungkin bisa hidup dan segar bugar begini ?

seketika ciut nyali mereka, bulu kudukpun mengkirik, wajah pucat badan menggigil.

Sebelum mereka sempat berteriak minta tolong, Kiam-Ping dan Suma Ling-khong seorang satu menceng kram serta merogoh, isi perut mereka seketika dedel berhamburan, darah menyemprot sekujur badan mereka.

Mungkin dengar suara ganjil yang mencurigakan d id a la m, maka kedua lelaki tua diluar pintu segera memburu kedepan pintu.

Kebetulan Kiam-ping berdua menerjang keluar pintu dengan badan berlepotan darah, mata melotot buas penuh kebencian, seketika mereka bergidik dan membatin.

"Memang kedua bocah ini malaikat dewata, sudah kelaparan tujuh hari tujuh malam masih tidak mati, sungguh aneh."

Memangnya dendam sudah terpendam sekian saat, kini berhadapan dengan musuh tak terbendung lagi nafsu Liok Kiam-ping, sambil menggeram kedua lengannya diabitkan, s eg ulung tenaga dahsyat kontan menerjang kearah Tay-bok-itsiu.

Kepandaian Tay-bok-it-siujuga sudah mencapai taraf tinggi, selama puluhan tahun lwekangnva belum pernah ketemu tandingan didaerah barat daya, pengalaman dan tabah pula, jiwanya culas dan keji.

Melihat serangan amat dahsyat lekas dia himpun semangat mengerahkan tenaga, namun sedikitpun tidak berani lena, kaki menggeser kesamping dari samping dia balas menyerang.

"Blang"

Kedua orang sama tergentak mundur selangkah.

Di sinilah dia memperlihatkan kelicikannya.

Dia tahu lawan pasti melontarkan pukulan sepenuh tenaga untuk melampiaskan dendam, sebelum mengukur sampai dimana taraf kekuatan lawan, betapapun dia tidak akan bertindak tanpa perhitungan, karena membuang tenaga akan berakibat fatal bagi diri sendiri.

Di waktu dia menggeser kesamping itu, kekuatan pukulan lawan tidak seluruhnya menerjang dirinya, tapi benturan kekuatan dari samping toh tetap membuatnya menyurut selangkah.

Dari sini mudah dinilai bahwa kekuatan lawan memang susah diukur, maka selanjutnya dia tidak berani melawan dengan kekerasan-Dengan mengembangkan Wi-liong-ciang-hoat, dia berputar dan menyergap secara bergerilya.

Demikian pula Suma Ling-khong jug a di bakar amarah, lawannya adalah cui hun-jiu Sun Tay-coan cui-hun-jiu (tangan mengudak mega) Sun Tay-coan merupakan bang kota n dunia persilatan yang sudah terkenal, bahwa lawan muda ini datangdatang terus melabrak dirinya, maka diapun tak berani gegabah, dengan kemahiran permainan pukulan tang a n diapun memapak maju.

Permainan mereka sama-sama mengutamakan kecepatan, keras lawan keras, tipu kontra tipu, bayangan saling tubruk danpencar, dalam sekejap mereka sudah saling labrak dua puluh j urus, Begitu dahsyat pertarungan mereka sehingga angin ribut laksana angin puyuh.

Liok Kiam-ping mencecar musuh dengan serangan kilat, desakan pukulannya menggebur sehingga lawan dipaksa mundur berkelit sambil lompat kian kemari, kadang kala saja sempat balas memukul, meski terdesak jelas lawan belum menggunakan seluruh tenaga.

Kiam-ping cukup cerdas, sudah tentu dia tahu maksud lawan, tapi untuk mengejar waktu dia pun tidak hiraukan sebab dan akibatnya, makin cepat pertempuran diselesaikan lebih menguntungkan, tapi dia juga maklum bila tidak mengguna kau j urus sakti, sedikitnya seratus jurus baru dia mampu mengalahkan musuh.

Mendadak dia merobah gerakan tubuhnya menubruk keatas lalu menyerang dcnganjurus Liong-kiap-sin-gan di susul Liong-hwi-kin-thian dari Wi-liong-ciang-hoat.

Bukan saja permainan pukulan itu dahsyat lihay, tenaganyapun teramat besar sehingga Tay-bok-it-siu seperti merasakan dirinya berada ditengah alunan gelombang samudra, terdesak mundur dan mundur terus tanpa kuasa meski dia sudah kerahkan setaker kekuatannya melawan sambil mengembang G^nkang berkelit kian kemari, beruntung dua kali dia berhasil menghindari serangan maut lawan-Lwekang Kiam-ping memang bertaraf seratus tahun sejak dia menelan Kiu-yap-cilan, tapi kalah pengalaman tempurnya kalau dibanding lawan-sementara khasiat obat mujarab itu belum berhasil dimanfaatkan semaksimal, sekarang paling baru menelorkan setengah kemukjijadannya.

"Kalau dia sudah berhasil mencapai serba top. lawan pasti binasa oleh dua jurus serangan mautnya tadi. Bahwa dalam usia semuda ini cukup dua jurus hebat yang dilancarkan tadi dapat mendesak Tay-bok-it-siujelas taraf kepandaiannyapun sudah teramat mengejutkan-Sudah puluhan tahun dengan bekal kepandaian Kungfunya yang berbeda dengan aliran silat umumnya, Tay-bok-it-siu malang melintang dikawasan kekuasaannya, hari ini dia kebentur dengan anak muda yang masih berbau pupuk bawang, tapi dirinya asor dibawah angin, betapapun ganas, licik dan piciknya, penasaran ini takkan mungkin bisa terlampias. Dari malu dia menjadi gusar, nafsujahatpun membakar sanubarinya, sejenak dia tenangkan pikiran, segera dia kembangkan Loh-ing-ciang-hoat (pukulan tangan bintang jatuh), secara latah dia harus menyerang dengan gencar. Lohsing ciang-hoat dikembangkan secara cepat dan gesit, dilandasi Lwekang latihannya selama puluhan tahun lagi, menyerang dengan rangsangan nafsu jahat pula, sudah tentuperbawa serangan balasannya ini tak boleh dipandang remeh. Kedua tela nak tangannya seperti membuahkan ribuan telapak tangan licin yang berjatuhan laksana bintang dari angkasa di selingi desir suara yang membisingkan-Tapi permainan Liok Kiam-ping sendiri sekarang juga semakin mantap dan lancar. Ling-h i po-hoat sudah terlebur dalam kombinasi permainan ilmu pukulan yang diyakinkan. Tiga puluh j urus kemudian, dengan kecepatan yang mengaburlan pandangan jago lihay. suatu kesempatan dia tetap berhasil membendung rangsakan gencar telapak tangan musuh dengan dua jurus permulaan W^ liong-ciang-hoatJ angan kira hanya dua jurus, namun pertahanannya cukup membikin Tay-bok-it-siu mati kutu dan kehilangan kesempatan untuk mencecernya. Sementara itu Suma Ling-khong sudah saling labrak dengan cui-hun-jlu Sun Tay-coan sebanyak delapan puluh jurus, sejak menelan Soat-lian, dibantu Liok Kiam-ping lagi sehinggaJin-tlok-ji-meh nya tertembus, Lwekangnya sekarang juga bertarap enam puluhan tahun, tekadnya sudah bulat untuk mengganyang musuh yang jahat dan teleng as ini, maka serangannya tidak kepalang tanggung, tenaga dalamnya laksana sumber air yang tidak pernah berhenti, makin tempur makin gagah dan semangat, karuan cui-hun-Jiu Sun Tay-coan makin keripuhan dan tobat menghadapi rangsangan pukulan lawan yang menggebu, lambat laun dia sudah menginsyafi dirinya mulai kehabisan tenaga. cui-hun-jiu Sun Tay-coan sebetulnya seorang begal besar yang disegani, bahwa dia diangkat menjadi cong-thocu d id a era h Kang la m oleh Ham-ping-klong, tentu dia memiliki bekal kepandaian yang cukup tangguh, kini menghadapi seorang pemuda yang masih hijau plonco ternyata terdesak d iba wah angin sudah logis kalau dia amat gusar, lekas dia menenangkan hati dan memusatkan perhatiannya, cui-hunsam-cap-lak-ciang ilmu tunggal kemahirannya segera dikembangkan-Maka berhamburan selebat hujan serangan kedua tangannya, sekaligus dia merebut posisi balas menyerang delapan j urus, syukur dia berhasil merebut inisiatif kembali sehingga sementara keadaan bertahan sama kuat alias setanding. Liok Kiam-ping sedang melancarkan Llong-jiau-kingthianjurus ketiga dari Wi-liong-ciang-hoat, mendadak dirasakan angin menderu-deru dibela kang nya, s eg ulung tenaga dahsyat laksana gugur gunung telah menindih dari pinggir. Tak sempat dia melancarkan serangan atau mengganti gerakan, cepat sekali dia berkisar sambil berkelit, berbareng tangannya menyampuk kebelakang, begitu kedua tenaga saling bentur "Blang"

Terdengar seorang mendehem berat, kedua orang sama sama tergetar mundur selangkah.

Waktu dia mendelik pandang, dilihatnya Tang-ling-lo-koay tengah berdiri sambil mengulum senyum.

Saking murka Liok Kiam-ping tertawa besar, serunya.

"Hanya kawanan serigala yang pandai main sergap secara licik dan hina, jiwamu pernah lolos dari telapak tanganku, baiklah hari ini tuan muda tidak akan memberi ampun lagi hepadamu."

Mulut menyeringai tapi Tang-ling-lokoay tidak tertawa, katanya.

"Setan cilik, agaknya kau sudah bosan hidup, dihadapan Lohu berdua memangnya kau masih bermimpi untuk meloloskan diri ?"

Padahal dia hanya main gertak saja, bila bertarung satu lawan satujelas dirinya takkan bisa menang, bila mereka main keroyok, betapapun tinggi dan saktinya Kiam-ping, paling juga hanya mampu mempertahankan diri belaka, namun dia banyak muslihat dan jahat, lawan digertak dan dipancing pula oleh ocehannya, lawan masih muda dan berdarah panas, tak kuatir dia lawan bakal tidak tertipu olehnya.

Betuljuga Liok Kiam-ping bergelak tertawa, katanya.

"Begitu lebih baik, kalian boleh maju bersama, supaya menyingkat waktu dan menghemat tenagaku^' Setelah mendapat kesempatan mengatur pernapasan dan istirahat sejenak, keadaan Tay-bok-it-siu sudah banyak pulih, dalam hati dia kegirangan akan kedatangan Tang-ling-sin-kun yang telah menolong dirinya, segera dia menjengek.

"Anak muda, kau memang cari mampus, hayo ganyang,"

Sambil bicara dia memberi kedipan mata kepada Tang-ling-sin-kun.

Lenyap suaranya empat telapak tangan merekapun sudah bekerja.

Pukulan dari dua jurusan membentur serta pusaran kencang laksana angin puyuh yang mengamuk.

Menghadapi dua musuh tangguh maka bulat tekad Liok Kiam-ping, lekas dia himpun seluruh kekuatannya di kedua lengan, sigap sekali kedua tangannya terentang menggentak kedua arah serangan musuh.

Benturan kekuatan dahsyat laksana ledakan gunung berapi sungguh hebat dan menggoncang bumi, tanah seluas dua tombak disekitar gelanggang seketika melesak amblas sedalam satu kaki.

Liok Kiam-ping tampak menyurut mundur tiga langkah, badannya limbung, mukanya, pucat lesi.

Sementara Tang-linglo-koay dan Tay-bok-it-siu tergetar mundur lima tindak.

darah seperti mendidih dirongga dada, napaspun tersengal berat dan sesak, wajah mereka yang beringas kelihatan lebih seram menakutkan-Sungguh mimpipun tidak pernah mereka bayangkan dengan gabungan kekuatan mereka masih bukan tandingan sepasang tangan lawan, betapa duka dan amarah mereka, sungguh lebih menderita dari menemui ajal seketika.

Sejenak mereka melenggong, tanpa berjanji mendadak keduanya meraung bersama terus menubruk dengan serangan gencar.

dalam gebrak berhasil memukul mundur musuh, sudah tentu bukan kepalang senang hati Liok Kiam-ping.

jiwa kesatrianya bangkit, kepahlawananpun membakar dada, melihat musuh melabrak lalu kedua tangan bergerak pula dengan deru gemuruh laksana guntur dengan berani dia songsong serangan lawan-Maka terdengar pula ledakanledakan beruntun, meski tidak sekeras tadi, namun pasir debu beterbangan-Dalam sekejap mereka sudah bertarung lima puluh jurus.

Sebuah gemboran keras mendadak berkumandang disertai meluncurnya sesosok bayangan merah selincah burung elang menukik serta menerjang kearah Suma Ling-khong.

Sekilas Liok Kiam-ping sempat melirik kesana, dilihatnya Ang-hun-jit-sian Leng Pwe-ing sedang menerjang kearah Suma Ling-khong, karuan hatinya kaget dan gerakanpun sedikit merandek.

Kalah menang pertarungan jago kosen hanya terpaut dalam waktu sekejap mata, siapapun dilarang memecah perhatian, hanya sepersepuluh detik Kiam-ping melengos, kedua gembong silat lawannya sudah tentu tidak mengabaikan kesempatan baik ini, serempak mereka menggebu dengan serangan gencar berusaha merebut posisi, sehingga Kiam-ping didesaknya mundur lima langkah.

Untung Liok Kiam-ping lekas menyadari kesalahannya, pikirnya.

'Pihakku hanya dua orang jago-jago kosen lawan masih akan berdatangan lebih banyak lagi, kalau terlalu lama salah-salah kami berdua bisa celaka d is ini."

Matanya yang mendelik gusar seperti hampir mencelat keluar, ditengah gejolak amarahnya mendadak dia merobah permainan silatnya, tangan kanan membundar sementara tangan kiri melingkar didepan dada lalu dig entak bersama, sekaligus dia melontarkanjurus Llong-jiau-king thian dan Wi-llong-ting-gak, dua jurus tunggal yang tiada taranya.

Tang-ling-lo-koay dan Tay-bok-it-siu sedang kegirangan bahwa rangsekan mereka bakal merobohkan lawan, mendadak dilihatnya lawan merobah permainan, serangan yang dilancarkan ternyata begitu menakjubkan, belum pernah mereka saksikan selama h id up j urus silat sebagus ini, d is a at mereka memeras otak cara bagaimana harus menyambut serangan ini.

Tahu-tahu damparan angin keras laksana amukan badai telah menggulung mereka.

Wi-liong-ciang-hoat memang merupakan ilmu pukulan yang sakti mandraguna, dahulu delapan ciangbunjin dari aliran besarpun tidak kuat menghadapi sejurus permainannya.

betapa tanggub Lwekang kedua orang inijuga belum setanding dengan gabungan delapan ciangbunjin, mana kuasa mereka melawannya.

Seperti arwah hampir copot, nyali merekapun pecah, seperti berlomba saja mereka berusaha berkelit, dengan ketangkasan gerak tubuhnya, meski berhasil mereka menghindar terjangan langsung, tak urung damparan angin kencang itupun masih menyerempet mereka sehingga terlemparjauh beberapa tombak.

Untung cukup tangkas mereka menyingkir, walau isiperutterluka parah, berkat Lwekang mereka yang tinggi, sekuatnya mereka menahan darah yang hampir tumpah dari mulut, begitu terbanting jatuh.

sigap sekali mereka masih bisa melornpat berdiri, namun pandangannya mend e long kepada Liok Kiam-ping keringat dingin membasahi jidat, punggungpun semilir dingin oleh keringat yang bercucuran.

Untuk melancarkan j urus Wi llong-ting-gak Kiam-ping cukup membuang tenaga.

karena jurus ini memang terlampau ganas dan keras, sejenak diapun berdiri menahan diri serta siap tempur pula.

"Blak, bluk"

Mendadak Suma Ling-khong terpental delapan kakijatuh terduduk ditanah, mukanya seketika pucat, jelas dia terluka dalam, Menolong orang lebih penting, lekas dia menyelinap ke sana, di mana kedua tangannya bergerak tenaga pukulannya dilontarkan pula, berbareng mulut berseru.

"Hian-te. tak usah kuatir, lekas semadi alirkan tenaga murni, lindungi isi perut dan sembuhkan luka luka."

Cui-hun-jiu dan Leng-Pwe-ing yang mengeroyok lawan berhasil memukul jatuh Suma Ling-khong, sebelum mereka sempat bertindak lebihjauh, mendadak bayangan orang berkelebat, berbareng angin kencangpun menampar tiba.

lekas mereka mencelat mundur berpencar kedua arah, namun sigap sekali mereka sudah menubruk maju pula.

Kuatir pertarungan di sini melukai adik angkat sendiri, beruntun Liok Kiam-ping membentak.

dua tangannya terayun bersama, sekaligus dia menyerang enam j urus, hingga lawan dirabunya mundur lima langkah.

Sementara itu Tang-ling-lo-koay danTay-bok-it-siu yang terluka parah mendapat kesempatan untuk mengundurkan diri.

Dengan kekuatan Sun Tay-coan dan Leng Pwe-ing, betapapun mereka bukan tandingan Liok Kiam-ping terpaksa mereka menggunakan kelincahan gerak tubuh untuk melayani rangsakan Liok Kiam-ping.

Pada hal benci Liok Kiam-ping terhadap mereka sudah tak terlukiskan dengan kata-kata, kesempatan ini tak boleh diabaikan, kuatir bala bantuan musuh datang pula segera serangannya lebih gencar dan keji.

Sekali pukul dia bikin gerakan lawan ksear kacir, lekas kedua kaki bergerak dengan Ling-hi-pou-hoat.

dengan kecepatan yang tak terukur, tiba-tiba dia menyelinap kebelakang cui-hun-jiu, sekali cengkeram dia pegangjan-kin-hiat dipundak lawancui hun-jiu SunTay-coansedang berputar kebelakang, mimpijuga tidak menduga gerakan lawan seperti setan telah menyelinap kebelakang, seketika dia rasakan tulang pundaknya kesakitan, seluruh lengan kiri lunglai badanpun lemas Sambil memperkeras Cengkramannya Liok Kiam-ping membentak beringas.

"Ham-ping-kiong mengerahkan seluruh kekuatannya ke Tlonggoan serta mendirikan cabang markasnya di Kanglam, apa maksud tujuan mereka ? Di mana sekarang Ham-sim-leng-mo ?"

"Belum lama Lohu ditarik masuk kedalam Ham-ping-klong, soal-soal itu tak bisa kujelaskan-' dia insyaf urusan ini menyangkut mati hidup pihaknya, sekarang belum tiba saatnya membeber rahasia ini, maka dia pantang membuka mulut. Berdiri alis Liok Kiam-ping, rasa dongkol, gemas dan amarahnya beberapa hari ini seketika meledak. tenaga cengkrarnannya lebhih diperkeras lagi, kelima jarinya sampai menembus kulit daging, darah meleleh ke luar, saking kesakitan cui-hun-jiu menjerit dengan badan bergetar pula 'Mau jawab tidak ?"

Bentak Kiam-ping.

"Setan keparat, kau boleh menyiksaku sampai mati, pasti ada orang menuntut balas kematianku.' Makin menyala amarah Liok Kiam-ping, tangan kiri segera menekan Beng-bun-hiat tenagapun dikerahkan, Cui-hun-jiu mengerang tertahan, badannya limbung dan melosojatuh. Dalampada ituSuma Ling-khong sudah rampung semadi, kesehatannya pulih, rasa sakit telah lenyap. Segera dia melompat berdiri, bersama Liok Kiam-ping mereka berpencar menggeledah perkampungan ini. Waktu mereka tiba dibelakang kamar batu, dilihatnya Tio Hok sudah menanti di belakang kebon sambil menuntun tiga ekor kuda, dengan gugup dia berteriak begitu melihat Kiamping berdua.

"Siauhiap. lekas kita berangkat, kalau terlambat mungkin bisa celaka, kawanan iblis sudah merat semua."

Lalu dia mendahului cemplak kepung g ung seekor kuda terus dibedal keluar pintu. Liok Kiam-ping seperti teringat sesuatu, segera dia berkata kepada Suma Ling-khong.

"Kalian berangkat lebih dulu, aku segera menyusul."

Bukan menerjang keluar dia malah memutar pula menerjang masuk kembali ked a la m perkampungan Tio Hok bawa Suma Ling-khong menuju ke cu-ca-kau, kuda mereka dapat bertari dengan kencang .J a rak sepuluh li hanya ditempuh setanakan nasi, dari kejauaan sudah tampak sebuah kuil kecil terletak diatas bukit, tengah mereka membedal kuda.

dari belakang terdengar pula derap lari kuda yang dipacu secara kilat, ternyata Liok Kiam-ping sudah menyusul.

Waktu Suma Ling-khong berdua menoleh kebelakang, tampak asap tebal membumbung tinggi keangkasa, Liok Kiamping hanya tersenyum lebar kearah mereka.

cepat sekali mereka sudah tiba didepan kuil itu.

Terdengar suara gaduh seperti benda-benda berat saling bentur diseling suara bentakan dan makian, Kiamping bertiga tahu ada kejadian apa-apa didalam, serempak mereka menyerbu ked a la m.

Tampak belasan lelaki berpakaian ketat merubung sebuah kerangkeng kayu yang besar, beramai-ramai mereka menggerakkan gaman apa saja yang terpegang sedang menghajar kearah kerangkeng kayu itu.

Did a la m kerangkeng beberapa Piausu yang terluka berusaha melawan dengan tekad yang membara, Ternyata di waktu Kiam-ping berdua masih terkurung dikamar batu, secara diam diam Tio Hok telah mengadakan kontak dengan para Piausu yang terkurung dalam kerangkeng, supaya merekapun bersiap menyambut gerakan dari luar.

Tay-bok-it-sin ngacir dengan luka parah, cui-hun-jiu SunTay-coanjuga mati, markas cabang di Giok-hong-bo sudah kehilangan pimpinan, kekuatan Ham-ping-kiong di Kanglam boleh dikata sudah jatuh.

Anak buahnya yang menjadi berpikir hendak merebut sangu untuk menempuh perjalanan-Untung kawanan Piausu yang terluka itu masih kuat melawan dan mempertahankan barang kawalan mereka.

disaat keadaan sudah kritis, syukur Kiam-ping bertiga memburu tiba tepat pada waktunya.

Serombongan penunggang kuda tampak menggiring dua buah kereta menempuh perjalanan menuju keutara, diatas kereta terdepan tertancap sebuah panji sutra segi tiga yang tersulam dua huruf Hong-jang, panjiputih dengan tulisan hitam tampak berkibar megah diatas kereta.

Puluhan orang berkuda itu ternyata bukan lain adalah rombongan Hong-jang Piauklok yang ditolong Liok Kiam-ping, belasan penunggang kuda itu kelihatannya banyak yang terluka karena wajah mereka banyak yang pucat.

Kereta paling belakang tertutup rapat oleh kain hitam hingga anginpun tidak tembus ked a la m, dari dalam kereta serirg terdenggar suara rintihan-Semenara itu Tio Hok sipelopor perjalanan jauh berada didepan sedang tarik suara dengan suara lantang dan sikap senang dan bangga.

Perjalanan masih cukup jauh untuk tiba ditempat tujuan kota Tiang-sa.

Seorang lelaki brewok berusia empat puluhan menjepit perut kudanya memburu maju kedepan, dengan tertawa dia menjura kepacia Liok Kiam-ping, katanya.

"Kali ini berkat bantuan ciangbunjin sehingga seluruh rombongan kita dapat diselamatkan, seakan kita hidup kembali, sekarang ciang bun sudi membantu pula dalam pengawalan ini, sungguh tak terhingga rasa terima kasih kami. Biarlah setelah Lo-piauthau sudah sembuh, akan kami haturkan terima kasih"

"Ah, urusan sekecil ini kenapa dibuat pikiran-Ucapan Hucong-piauthau terlalu berat. Apalagi Suma-s a mte pernah mendapat bimbingan dan rawatan Lo-piauthau, budi setinggi gunung ini pantas dibalas, bicara tentang j as a haruslah dicatat pahala Tio Hok paling besar, berkat usahanya yang berani hingga rombongan besar ini dapat di selamatkan, sepantasnya dia yang menerima pahala."

Hu-congpiauthau bergelar Thi-pi-kim-to (golok emas lengan besi) Tan Kian-thay, tokoh lihay dari Hoay yang-pay, Pat-kwato-hoat yang diyakinkan dengan enampuluh empatjalan jarang menemukan tandingan, jiwanya terbuka, lapang dada dan setia pada janji, karena supel pergaulannya amat luas dan mendapat banyak penghargaan kaum persilatan-Thi-ci-kimhoan mengangkatnya sebagai tangan kanannya yang terpercaya, dalam pengawalan kali ini, karena lawan teramat tangguh, meski dia tertawan, untung tidak terluka.

Tio Hok pura-pura menyerah dan terima menjadi antek musuh, terakhir terjadi pertempuran diluar kerangkeng pula, semua ini adalah berkat petunjuk Tan Kian-thay.

jasanya terhitung cukup baik.

Dia masih menguatirkan Thi-ci-kim-hoatJi Thian-siu yang terluka parah dan masih tidak sadarkan diri, d a la m perca kapan tampak wajahnya murung dan kesal.

Suma Ling-khong juga kuatir, maka dia bertanya.

"BarusanJi-ko sudah memeriksa penyakitnya, bagaimana keadaan Lopiauthau, apakah masih bisa disembuhkan?' Liok Kiam-ping berpikir beberapa saat lamanya, katanya.

"Agaknya dia terluka oleh serangan im-jiu. untuk menyembuhkan memang agakpeliktapi aku sudah menutup beberapa Hiat to sehingga luka-lukanya tidak menjalar. Setiba dikota Tang-sa akan segera kubuatkan resep untuk diminum, yakin dalam waktu dekat sudah sembuh kembali.^ Legalah hati Thi-pi-kim-to Tan Kian thay setelah mendengar penjelas a n Liok Kiam-ping. Tapi wajahnya masih kelihatan masgul. Sebelum magrib mereka sudah tiba di kota Tiang-sa^ Setelah menyerahkan barang kawalan dan menerima upah, mereka menginap dihotel Tiang-jun. Tlo Hok sudah diutus Thi-pi-kim-to Tan Kian-thay untuk mencari kamar, seluruh kamar yang kosong dihotel Tiang-jun boleh dikata sudah dipol, begitu rombongan besar datang, maka sibuklah hotel itu. Meski repot para pelayan tampak riang gembira, para piausu disambut ramah dan diantar kekamar masing-masing. Ternyata mereka sudah menjadi langganan lama, seluruh pegawai hotel sudah dikenal baik, maka pembicara a npun boleh sembarang a n dan bergerak bebas. Setelah makan malam Thi-pi-kim-to langsung menuju kekamar Ji-lopiauthau, Liok Kiam-ping sudah berada dalam kamar sekian, membuka tutukan Hiat-to ditubuh si pasien, lalu dia pegang urat nadi sejenak. baru badanJi-lopiauthau dibalikkan tidur tengkurap. bila dia menyobek pakaian dipunggungnya, setelah diperiksa dengan teliti seketika dia menjerit kaget. Orang banyak ikut kaget dan kuatir mendengar Liok Kiamping, semua merubung maju ingin melihat apa yang terjadi. TampakpunggungJi-lopiauthau berpeta sebuah luka gosong berbentuk segi tiga sebesar mulut cangkir. Liok Kiam-ping menghela napas, katanya.

"Memang benar terluka oleh Im-jiu, kalau tidak lekas disembuhkanjiwanya bisa terancam,"

Lalu dia suruh dua piausu membeli dua keranjang jahe lalu digodok.

airnya dituang kedalam ember besar.

Sementara Liok Kiam-ping mengeluarkan sebuah kotak tembaga yang mungil, dari dalam kotak dia keluarkan tiga puluh enam batang jarum emas yang panjang pendeknya tidak sama, dengan tangkas dia tusukkan jarum-jarum itu diatas tiga puluh enam Hiat-to yang tersebar di tubuh Jilopiauthau, sementara godokan air jahe juga sudah tersedia, mumpung air masih mengepul hangat tubuh Ji-piauthau diremdam air jahe panas itu.

Air jahe harus tetap dipertahankan hangat selama setengah jam, mulai Ji-lopiauthau menggeliat sambil merintih, agaknya amat tersiksa karena sakit, suaranya masih teramat lemah.

Beberapa kejap lagi Kiam-ping bopong Ji-lopiauthau dibaringkan diatas ranjang, jarum-jarum itu dicabutinya satu persatu berurutan dari atas kebawah, dari lobang-lobang tusukan jarum meleleh keluar air hitam.

Kedua tangan Kiam-ping kembali sibuk bekerja, mengurut dan memijat antara sendi tulang dan urat nadi, terakhir j ari telunjuknya menekan ci-tong-hiat dipunggung.

Maka tenggorokan Ji-piauthau berbunyi lalu memuntahkan sekumur darah hitam, baunya busuk memualkan-Deru napasnya mulai berat dan lancar, namun mulutnya makin merintih.

Baru sekarang Liok Kiam-ping menegakkan badan sambil menarik napas lega.

"Luka dalamnya sudah tidak menguatirkan. Tapi kadar racun sudah kebacut meresap dalam tubuh, hawa murni sudah hampir terbenam, maka dia harus cuci darah dan perlu menambah tenaga."

Setelah minta peralatan tulis segera dia membuka resep.

setelah digodok terus diminumkan-cara pengobatan Kiam-ping ternyata memang manjur dan resep yang dibuatnya juga ces-pleng, orang banyak sama memuji akan kelihayannya.

Hari kedua menjelang magrib, ruang besar hotel Tiang-jun tampak terang benderang lilin besar dan lamplon bias dipasang seterang siang hari, Ditengah ruang terletak sebuah meja panjang perjamuan yang penuh hidangan-Ternyata untuk menyatakan terima kasih atas pengobatan Liok Kiamping yang telah menyembuhkan luka-lukaJi Thian-siu, maka Thi-ci-kim-hoan cong-piauthau dari IHong-jang Piauklok mengadakan pesta besar, seluruh warg ajang-Kong Piauklok hadir bersama Liok Kiam-ping dan Suma Ling-khong.

Sebuah suara serak tua berkata.

"Kungfu, ciangbunjin tiada bandingan, bakat dan kecerdasanmu merupakan tunas harapan bagi kaum persilatan umumnya, kelak bila kelana di Kangouw hendaklah berpegang teguh dalam membela keadilan, syukurlah Thian mengkaruniai para umatnya pemuda yang sakti dan perkasa."

"Mana cayhe berani menerima pujianJi-lo-piauthau, selanjutnya mohon kau orang tua sudi memberikan petunjuk."

Demikian jawab Liok Kiam-ping Semula Thi-ci-kim-hoan menyilakan Liok Kiam-pin, duduk dipaling atas, namun dengan halus dia menampik, setelah basa basi sekedarnya, maka orang banyakpun mulai menempati kursi duduknya masing-masing.

Ditengah perjamuan itu Liok Kiam-ping bertanya asal mula kejadian pihak Ha m-ping-kiong menyergap IHong-jang Piauklok mereka.

Thi-ci-kim-hoatJi Thian-siu menghela napas, katanya.

"Losiu mendirikan Hong-jang Piauklok, berkat penghargaan para kawan, sehingga usaha ini berjalan lancar dan memperoleh kemajuan cukup baik, meski sering terjadi persoalan tapi semua dapat dibereskan dengan baik, selama belasan tahun Hong-jang Piauklok cukup terkenal didaerah Kanglam. Denganpihak Hamping-kiong hakikatnya tidakpernah bermusuhan, kejadian kali inipun amat mengherankan kami juga."

Maka Thi-pi-kim-to lantas menjelaskan.

"Menurut laporan Tio Hok yang menyelidiki peristiwa ini, agaknya pihak Hamping kiong mempunyai suatu rencana besar dengan muslihat keji d id a era h Kanglam merampok barang kawalan kita hanya sedikit memperlihatkan kekuatan mereka, supaya selanjutnya kaum persilatan di Kanglam baik aliran putih maupun golongan hitam tahu dan mau tunduk kepada keangkeran mereka, tujuannya jelas adalah hendak merajai di Tionggoan. Disamping itu tujuan utama adalah menuntut balas kepada Kiu-thian-sin liong yang dahulu pernah melukainya, seluruh kekuatan mereka hendak dipusatkan keselatan untuk menghadapi Hong-lui-bun.' Liok Kiam-ping maklum urusan tidak sederhana, namun dia berwatak angkuh, katanya dengan menegak alis.

"Tak heran Tang-ling-lo-koay dan Hwe-hun-jit-sian Leng Pwe-ing sekaligus muncul di Giok-hong-bo"

Kemungkinan merekapun sudah digaruk kedalam komplotan mereka, kawanan tikus rombongan serigala memang sama jahat.

Baik, dengan bekal kepandaian yang kumiliki, cayhe siap menghadapi tantangan mereka sampai titik darah penghabisan"

Thi-ci-kim-hoanJi Thian-siu segera angkat cangkir antiknya mengajak hadirin minum bersama, katanya kemudian.

'Losiu sudah tua dan tidak becus lagi, kejadian yang menimpa Hongjang Piauklok menimbulkan banyak korban, apapun hatiku takkan bisa tenang, selanjutnya juga malu berdiri dikalangan Kangouw, maka selanjutnya aku berkeputusan untuk membubarkan Hong jang Piauklok, atas persetujuan bulat para saudara, kami siap ikut berjuang bersama ciangbunjin demi kepentingan Hong-lui-bun, sebagai pertanggungan jawab kami atas pertolongan ciangbun dengan berlinang air mata segera dia keluarkan panji Hong-jang Piauklok bersama cap rerusahaan dia serahkan kepada Liok Kiam-ping.

Thi-pi-kim-to Tan Kiam-that segera bertepuk seraya berseru.

"inilah keinginan kami setulus hati, semoga ciangbunjin dapat menerima kami yang tidak becus ini, yakin ciangbun tidak akan mengecewakan harapan kita bersama."

Para Piausu lain seperti Pek-lik-ciang ciu-Khay, coh-sianghwi lh Tiau-hong juga berkeplok menyatakan setuju, maka bersoraklah seluruh hadirin. Dengan tertawa lebar Liok Kiam-ping berkata.

"Bahwa seluruh hadirin sudi menggabung diri kedalam Hong-lui-bun kita, sudi membantu kami berjuang demi kepentingan umat persilatan, aku mewakili seluruh anggota dan pimpinan Honglui bun menyatakan terima kasih dan menyambut dengan rasa senang dengan tangan terbuka. cuma perjuangan teramat berat dan konsekwensinya teramat besar, bagi kalian yang sudah punya keluarga kurasa perlu berpikir pula lebih matang, supaya kebahagiaan keluarga tidak menjadi berantakan Thi-pi-kim-to tertawa gelak-gelak. katanya.

"Kita ini kaum kasar, bahwa ciangbun sudi memandang dan menghargai kita, sungguh tidak sia-sia aku orang she Tan berkelana puluhan tahun di Bulim. Dibawah pimpinan ciangbun yang masih muda dan berbakat, membekal ilmu sakti pula, bila selanjutnya kami bisa memperoleh bimbingan, harapan besar masa depan teramat cerah terbentang didepan mata."

Pi-lik-ciang ciu Khay angkat cangkir araknya seraya bergelak tawa, katanya.

"Selanjutnya kita sudah menjadi anggota dan warga dari Hong-lul-bun, dengan secangkir arak ini, kami sampaikan selamat dan hormat kami kepada ciangbunjin, semoga selalu sehat, jayalah Hong-lul-bun.' lalu secangkir arak itu ditenggaknya habis. Hadirin beramai-ramai angkat cangkir araknya pula terus ditenggak habis, tempik sorakpun bergema dalam ruang pesta itu. Mendadak Llok Kiam-ping menepuk tangan sekali dan berkata kepada hadirin.

"Bahwa kalian sudi menggabung merupakan keberuntungan Hong-lui-bun kita. Namun sebelum mereka secara resmi menjadi anggota setelah mengikuti upacara, terhadap cayhe sementara mohon masih membahasakan saudara saja, kalau tidak sungguh cayhe tidak berani menerima."

Perjamuan itu terus berlangsung hingga tengah malam, banyak diantaranya yang mabuk dan digotong kedalam kamar, dalam suasana riang perjamuanpun usai.

Besok pagi setelah sarapan seluruh rombongan berdandan rapi terus berangkat.

Suma Ling-khong ingin lekas pulang ke Lok-yang untuk menghadap ibunya yang sudah sekian tahun ditinggaikan untuk sementara dia minta diri dan berpisah dengan rombongan orang banyak, seorang diri menempuh perjalanan keutara.

Meski berkumpul hanya dua bulan, namun sifat Suma Lingkhong alim, sederhana dan suka terus terang, kesan Kiamping terhadap adik angkatnya ini amat baik, kini harus berpisah, mau tidak mau terasa berat juga.

Thi ci-kim-hoatJiThian-siupegang kedua pundak Suma Lingkhong, katanya dengan berlinang air mata.

"Semoga kau hidup berdampingan dengan ibu dalam suasana riang gembira. Selanjutroya dibawah pimpinan Llok ciangbun, kau akan mulai menelusuri masa depanmu yang cemerlang, kalau ada kesempatan datanglah kedesa Ko-yang dipropinsi Shoa

tang, Losiu akan menunggu kedatanganmu,"

Akhir katanya suaranya tersendat dan air matapun bercucuran-Bahwa Ji-lopiauthau dulu mau menerima kehadiran Suma Ling-khong dalam Piaukloknya lantaran sampai setua itu dia tidak pernah dikaruniai anak.

hidupnya terasa hampa bersama seorang istri setia, maka ada makud dia memungut Suma Ling-khong sebagai anak angkat, maka dalam Piauklok Suma Ling-khong memperoleh fasilitas dan bebas bergerak.

cuma hal ini tidak dia jelaskan, sekarang baru bertemu sudah harus berpisah lagi, logis kalau orang tua ini merasa haru dan sedih.

Pengalaman Thi-ci-kim-to Tan Kian thay lehih luas, melihat orang banyak ikut mend elu, seperti berat berpisah, mendadak dia gelak tertawa, katanya.

"Saudara Suma tidak perlu berduka, bukankah ibumu hidup menyendiri dirumah, supaya tidak merasa kesepian, sarankan kalian pindah saja ke Koyang, kumpul dengan keluargaJi-lopiauthau, bukankah hubungan akanjauh lebih intim. Disamping itu Suma Lotej uga tidak perlu takut menghadapi bahaya, ibumu terlindung, sepenuh hati kau bisa menderma-baktikan tenagamu untuk kepentingan Hong-Lui-bun. Kedua belah pihak sama-sama mendapatkan keberuntungan-Llok Kiam-ping mengangguk menyatakan setuju, diapun menganjurkan kepada Suma Ling-khong .Ji Thian-hu sendiri sudah tentu teramat setuju. dia menyambut anjuran Tan Kianthay dengan tepuk tangan girang. Lekas Suma Ling-khong menjura kepadaJi Thian-siu, katanya.

"Kalau begitu Siautit akan banyak merepotkan saja, sekarang biar aku mewakili ibu mengucapkan terima kasih lebih dulu."

Beramai-ramai orang banyak saling memberi hormat lalu berpisah.

Setelah Suma Ling-khong pergi jauh baik Llok Kiam-ping putar kudanya sambil mengayun pecut, kudanya dilarikan kearah Lam-jang.

Hari itu menjelang tengah hari, orang banyak sedang bebenah, seorang pembantu Piauklok tiba-tiba berlari masuk dengan sikap gopoh terus berbisik ditelinga Lo-piauthau, tampak roman mukanya berobah, dengan nada gusardia berkata kepada orang banyak.

"Ada seseorang menuding Lohu minta bertemu, biar orang s h eJ i pergi menemuinya "

Oiang banyak seketika gempar dan marah, terutama Pi-likjiu ciu Khay yang berangasan sudah berjingkrak gusar, serunya.

"Manusia picak dari mana berani terang-terangan menantang di Piauklok kita, hayo, kita ikut keluar,"

Segera dia mengekor dibelakangJi Thian-siu, berbondong-bondong orang banyak ikut keluar.

Setiba dipekarangan luar tampak diambang pintu berdirijajar lima orang berpakaian aneh, tinggi pendek tidak rata, orang yang berdiri paling tengah berusia lima puluhan, hidung bengkok mata sipit pipi menonjol, jenggot kambing pendek menghias dagunya, jubahnya terbuat dari kain blaco, panjangnya juga hanya menyentuh lutut, dipinggang tergantung sebatang pipa cangklong, berdiri tegak tak bergerak menatap tajam.

Begitu melihat tampang kelima orang ini, seketikaJi Thiansiu melenggong, batinnya.

"Bin-san-ngo-hou yang bertabiat kejam ini kenapa mendadak meluruk kemari. Sungguh tak habis herannya kapan dirinya pernah bermusuhan dengan manusia durjana ini."

Lekas dia melangkah maju seraya menjura, sapanya ramah.

"Bin san-ngo-yu, hari ini bertandang ke Piauklok kami, entah ada petunjuk apa terhadap kami ?"

Wajah kelima orang itu tampak sadis, sikap mereka tetap kaku dan angkuh, lelaki hidung bengkok ditengah itu akhirnya mendengus, katanya.

Ji-lopiauthau tidak usah pura-pura bodoh, seorang lelaki berani berbuat berani bertanggung jawab.

Kau kira begini saja urusan bakal selesai ?"

Karuan Ji Thian-siu menarik alis, katanya.

"IHoan Han-ting, jangan kau menyembur orang dengan darah, orang sheJi selama kelana di Kangouw, selalu membedakan tegas antara budi dan dendam, selamanya pantang melakukan perbuatan jahat, jikalau kalian sengaja hendak mencari perkara, boleh silakan sebutkan cara apa yang kalian kehendaki, orang sheJi tidak akan mundur setapakpun."

Orang aneh yang berdiri disebelah kiri mendadak tertawa melengking, serunya.

"Setan tua, kau memang sombong, biarlah kujelaskan supaya kau mampus dengan meram. Due bulan yang lalu masa kau tidak ingat lagi kepada pemuda yang kaupukul luka parah dijalan raya Siang-hoay ? Hari ini kau harus membayar hutang darah itu."

SekarangJi Thian-siu baru paham duduk persoalannya, dua bulan yang lalu dalam perjalanan ke Tiang-sa, kebetulan dia melihat seorang lelaki kekar sedang menghajar seorang penjual bakso karena si penjual menuntut bayaran sepuluh mang kok yang digaresnya.Ji-Thian-siu menengahi dan membujuknya, pemuda itu malah menuding dan memakinya, karena jengkel dia tempeleng pemuda itu hingga giginya rontok.

Sungguh tidak nyana bahwa pemuda itu ada hubungan dengan Bin-san-ngo-hou.

Bahwa lawan bersikap kasar dan menantangJi Thiansiujuga naik pitam, sebelum dia bertindak seorang disampingnya telah mengejek.

"Bin-san-ngo-hou, jangan anggap kalian saja orang gagah.Ji-lopiauthau masih menepati aturan kangouw, sikapnya tidak malu sebagai orang ternama, memangnya kau kira kami takut terhadapmu ?"

Yang bicara adalah Hu-cong-piau-thau Thi-pi-kim-to Tan thian-thay.

Bin-san-ngo-hou adalah saudara angkat yang berlainan she, mereka berasal dari kalangan Llok-liem, masing-masing memiliki kepandaian khusus yang lihay, semua bertangan g apa h dan terkenal sebagai penjahat keji, tidak mau rugi selalu menuntut keuntungan.

siapa bila bentrok dengan mereka, sebelum ajal takkan berhenti, maka mereka terkenal sebagai kawanan penjahat yang sukar diajak kompromi.

Lotoa dari Bin-san-ngo-hou bergelar Hwi-hian-hou Hoan Han-ting, sekilas matanya mengerling, lalu katanya tertawa besar.

"Kukira siapa, kiranya Hu-cong-piau-thau, sudah lama kudengar Pat-kwa-ban seng-to-coat Tan-los u yang punya enam puluh empat j urus itu menggetar B ulim. orang she IHoantidak becus, biar aku mulai mohon petunjuk kepadamu. Entah Tan-los u sudi memberi pengajaran-' sikapnya terlalu j umawa. Dikalangan Kangouw, Tan Kian-tay terhitung jago kenamaan, sudah tentu dia tidak mau kalah ditantang dihadapan umum, meski tahu lawan cukup tangguh, terpaksa dia mengeraskan kepala turun gelanggang. Serunya tertawa besar.

"IHoan-lo-su ada maksud memberi petunjuk, memang kebetulan malah bagiku.' Sembari bicara dia melangkah setapak. Pat-kwa-kim-to ditangannya dig entak keatas lalu pasang kuda-kuda membuka jurus permulaan, siap siaga menanti serangan. Ai-ga-hou cia Liang yang berdiri diujung kanan berkata kepada Hwi-thian-hou Hoan han-ting. 'Memotong ayam kenapa harus pakai golokjagal, babak pertama ini boleh serahkan kepada Siaute saja untuk menghajar manusia sombong ini"

Maka dia pun tampil kedepan sambil merogoh pinggang, maka sebatang coa-kut-pian (cambuk tulang ular) yang berwarna hitam leg a m pun telah terlolos ditangannya, sekalian dia ayun serta d lob at abitkan mengeluarkan deru angin terus dituding lurus kedepan menutuk kedada Tan Kiunshay, tutukan datang secepat kilat tanpa membawa suara angin-Melihat tutukan cambuk tulang ular lawan cukup ganas Tan Kian-thay tidak mau menangkis, lekas dia menggeser minggir sambil memutar badan, berbareng tangan kanan menyampuk dengan gerakan burung Hong mengangguk, tajam goloknya menepis miring kepergelangan tangan lawan yang memegang cambuk.

Ai-ga-hou (harimau kaki pendek) cia Liang tertawa riang, tangan kanan ditarik mundur diapun berkisar membundar tahu-tahu berpindah ke belakang Tan Kian-thay cambuk ditangannya ikut menyabet keping gang lawan-Maka Thi-pi-kim-to Tan Kian-thay mengembangkan Patkwa-ban-seng-to-hoat menghadapi serangan lawan dengan tabah, maka serang menyerang antara g a man yang berbeda itu berlangsung dengan seru, dalam sekejap.

dua puluh jurus telah mereka capai.

Ternyata Ai-ga-hou lebih temb erang dan ingin lekas menang, mendadak dia merobah permainan, kini dia kembangkan Ling-coa-pia n-hoat perguruannya yang berjumlah tiga puluh enam j urus, cambuk hitamnya itu seperti berobah seekor naga yang mengamuk ditengah udara.

Kebetulan Tan Kian-thay melancarkan j urus menyapu ribuan tentara, goloknya mengubat bagian bawah lawan, d ilua r tahunya perawakan harimau kaki pendek cia Liang meski gembrot, namun Ginkangnya teramat baik sebelum golok menyambar tiba dia sudah mendahului melompat keatas setinggi delapan kaki, ditengah udara dia menggeliat sekali hingga badannya berputar arah, coa-kut-pian ditangannyapun mengepruk kebawah.

Pada hal Tan Kian-thay sudah kebacut melancarkan serangan, sementara cambuk lawan sudah mengepruk kepala, untuk berkelitjelas tidak sempat lagi, baru saja dia hendak...

Seg ulung angin kencang mendadak melesat laksana anak panah "cret"

Kontan coa-kut-pian terpental keatas, tubuh Aiga-hou cia Liang yang anjlok kebawah juga terpental mumbulpula oleh damparan tenaga dahsyat ini hingga terjengkang kebelakang.

karuan saking kaget jantung serasa hampir pecah.

Begitu melihat pecut lawan terpental lepas badannyapun mencelat mumbul kebelakang, Tan Kian-thay lantas tahu bahwa seseorang telah membantu dirinya, memangnya hati sedang berang, segera dia menubruk maju pula, goloknya membacok kesikut Ai-gahou cia Liang.

Pada hal Ai-ga-hou cia Liang masih terjengkang, tak mampu menguasai diri sendiri, mendengar desir angin tajam menyambar dari kanan lekas dia menggeliat sambil menyingkir, tapi gerakannya kalah cepat, kontan dia menjerit ngeri, tiga jari tangan kanannya protol tertabas golok, darah mengalir deras, saking kesakitan badannya gemetar, muka pucat.

sementara pecut tulang ularnya terlempar jauh keluar tembok.

Hwi-thian-hou lekas memburu maju mengeluarkan obat membalut lukanya, lalu dia memberi tanda supaya LojiJat-jihou TanJan mewakili dia menolong sang adik, setelah itu dia membalik badan turun keg elang gang.

cukup lama Bin-san-ngo-hou berbuat sewenang-wenang di Kangoaw, kapan pernah dikalahkan separah ini.

Hwi-thian-hou cukup berpengalaman-dari samping dia sudah mendapat firasat bahwa kejadian agak ganjil, dia tahupihak lawan ada seorang yang membantu secara diam-diam, namun dia juga tahu bahwa Lwekang orang cukup tinggi maka dia tidak berani sembrono menantangnya, Langsung dia menghadapiJi Thianhou sambil menyeringai, katanya.

"Berapa banyak jago kosen undangan kalian untuk membantu secara diam-diam, boleh silahkan disuruh keluar?"

Nada bicaranya sudah tidak seketus dan segalak tadi, tapi sikapnya masih tetapjumawa.

Kawanan Piausu tadi juga kuatir akan keselamatan Tan Kian-thay, dikala hati mereka berkuatir, entah kenapa Ai-gahou sendiri yang berbalik tertabas luka tangannya, keruan mereka berdiri melongo keheranan

Ji Thian-siu sendiri juga lagi melenggong, setelah mendengar perkataan lawan kembali dia tertegun, sekilas dia ragu-ragu akhirnya dia b erg elak tawa, katanya.

"Hoan los uh u, boleh tidak usah kuatir, yang hadir d is ini adalah kawan seperjuanganku, pasti tiada teman lain yang membantu secara diam-diam."

Lega juga hati Hwi-thian-hou Hoan Hanting memperoleh jawaban ini, tapi dia tetap tidak gentar, menghadapi keroyokan orang banyak. Lo-piausu marilah persoalan kita bereskan sendiri saja."

Kuatir urusan berkepanjangan, apa lagi pihak sendiri yang meluruk kemari, maka dia ingin lekas menyelesaikan persoalan ini.

Berkerut alis Thi ci-kim-hoanJi Thiansiu, katanya tersenyum.

'Untuk menghormat terpaksa menerima perintah, baiklah Losiu akan iringi kehendakmu."

Sembari bicara dia melangkah maju seraya menggerakkan kedua tangan lalu pasang kuda-kuda.

Melihat lawan maju dengan bertangan kosong, Hwi-thianhoujuga harus jaga nama baik, maka diapun tidak mengeluarkan senjata, sedikit manggut dia berseru.

"Baiklah aku mulai dulu."

Tangan kiri membundar ke kanan sementara tinju kanan menyelonong dari tengah bundaran, segumpal angin pukulan keras langsung menerjang kedana Thi-ci-kimhoan, tenaga jotos a nny a ini memang cukup hebat.

Lo-piautau baru sembuh dari luka-lukanya, kesehatannya belum sehat sepenuhnya dia tahu dalam hal tenaga dirinya jelas bukan tandingan, lekas dia berkelit miring lima langkah, berbareng membalik tangan melancarkan ilmu tangan kosong Kim-na-jiu yang punya tiga puluh enam j urus, sebat sekali dia sudah balas menyerang enam j urus, syukur rangsakan lawan berhasil dibendung.

Sebagai tertua dariBin-san-ngo-hou, sudah tentu Hwi thianhou Hoan Han-ting memiliki Kungfu yang patut dibanggakan, melihat lawan melancarkan Kim-na-jiu, bukan saja permainan sudah mahir namunjuga lihay, maka diapun tidak berani gegabah, segera dia enjot kaki melompat keatas, ditergah udara badannya berputar, kelima jari terpentang mencakar turun, kiranya dia melancarkan Hwi-eng-ciang-hoat (pukulan tangan elang).

Ciang-hoat atau pukulan tangan ini merupakan ilmu tunggal yang dirahasiakan pihak Tiang-pek-pay, kalau tidak genting tak dipamerkan didepan umum, bila dikembangkanjurus permainannya merupakan serangan berantai yang deras dan ganas, pesilat yang memainkan pukulan inipun harus memiliki Ginkang tinggi, beruntun orang bisa menukik turun tujuh kali dengan serangannya, sehingga lawan terdesak kerepotan dan tak mampu balas menyerang pula.

Hwi-eng-ciang-hoat memang ganas dan menakutkan.

Mengembangkan Kin-na-jiu-hoatjuga banyak memeras tenaga, apalagi menghadapi sergapan musuh dari atas begini, sedikit lena jiwa bisa melayangJi Thian-sinjuga sudah merasakan kekuatan sendiri takkan mampu bertahan lama, apalagi setelah sakit Lwekangnya belum pulih, hanya beberapa jurus dia sudah merasa kepayahan-Lekas sekali serang menyerang ini berlangsung sampai dua puluhan jurus, keringat sudah membasahi jidat Lo-piauthau, napasnya juga sudah mulai sengal-sengal, jelas dia sudah terdesak dibawah angin-Memperoleh angin Hwi-th ia n-hou ternyata lebih gencar menyerang.

sedikitpun lawan tidak diberi peluang, Tatkala ituThio-kim hoan sedang membungkuk meluputkan sejurus serangan lawan, sebelum dia sempat memutar tub uh, j urus Hwi-ing-po-tho yang dilancarkan Hwi-th ia n-hou sudah menceng kram turun mang ancam pundak kiri.

Disaat g anting itulah, mendadak kumandang sebuah bentakan.

"Bangsat, berani mengganas."

Sesosok bayanganputih tiba-tiba melesat disertai terjangan angin kencang meluncur bagai kilat ketengah arena.

Hwi-thian-hou sudah kegirangan bahwa cengkraman jarinya bakal meremuk tulang pundak lawan, maka daya tubrukannya diperkeras sambil menambah tenaga, tiba-tiba pandangannya serasa kabur oleh berkelebatnya bayangan putih, menyusul lengan kanan lunglai berbareng sekujur badan menjadi enteng, waktu kakinya anjlok ketanah langkahnya limbung.

Waktu dia angkat kepala dilihatnya berdiri seorang pemuda gagah, j ubah putih berkibar di tiup angin, berdiri garang menatap tajam dirinya.

Karuan kaget Hwi-th ia n-hou bukan kepalang, bagaimana lawan menyerang menggunakan j urus apa hakikatnya tidak di ketahui olehnya, tahu-tahu dirinya sudah di desak turun dan anjlok gentayanga sesaat dia berdiri menjublek.

Dengan wajah serius Llok Kiant-ping, berkata.

"Dengan kepandaian cakar kucing kalian berani meluruk ketempat orang mencari perkara. Lo-piauthau bermaksud baik, ternyata mendapat tanggapan jahat kalian lekas pulang dan hukum berat anak muridmu sendiri, selanjutnya dilarang menindas si lemah, mengganas terhadap sesama manusia, kalau kudengar kalian melakukan kejahatan, kalau membangkang hari ini akan kutuntut keadilan kepadamu"

Lawan masih begini muda, bicaranya juga pongah, namun kepandaian yang dipertunjukkan tadi memang teramat menakjubkan, siapa orang muda ini perlu, diketahui lebih dulu, maka dia merobah sikap, katanya tersenyum.

"Saudara masih begini muda kepandaianmu ternyata cukup hebat, boleh kau sebutkan nama perguruanma ?"

"Kau tidak setimpal tanya siapa diriku.

"Anak muda, jangan terlalu pongah.' "Pongah atau tidak-bila kau tetap bandel, sebentar juga bisa kau ketahui."

Loji TanJan sudah naik pitam, segera dia rneraung.

"Setan alas, memangnya kau sudah makan nyali harimau berani memusuhi kita, Bin-san-ngo-hou tidak boleh dibuat permainan, tahu.". secara tidak langsung dia sudah menandaskan bahwa mereka berlima siap turun gelanggang bersama. Pikirnya dengan tenaga lima bersaudara betapapun tinggi Kungfu bocah inijuga tak kan lolos dari keganasan mereka, maka sebelumnya dia menantang dengan menyebut nama julukan mereka bersaudara. Llok Kiam-ping juga pintar, dia juga tahu maksud orang, tapi kepandaiannya tinggi, nyalinya besar, wajahnya sengaja mengunjuk mimik menghina, katanya dengan menyeringai.

"Ah, tiada artinya, dengan kekuatan kalian berlima sampah persilatan ini, memangnya tuan muda ini ada maksud hendak menyapu kalian, nah boleh kalian maju bersama supaya tuan muda tidak membuang tenaga."

Bin-san-ngo-hou dibilang a n kekuasaannya cukup disegani, kapan mereka pernah dihina dan diremehkan begini rupa, sungguh hampir meledak dada mereka.

Hwi-th ia n-hou si licin dan penuh akalnya itujuga ikut naik pitam.

Segera dia memberi aba-aba.

"Siap."

Dari pinggang dia turunkan pipa cangklongnya terus mengeruk lebih dulu kekepala Kiam-ping.

Menyerang dengan gusar, maka pipa cangklongnya menderu keras.

Tiga saudara yang lain juga mengeluarkan senjata, dua batang pedang dan sebilah Poat-hung-to.

maka terdengarlah dering senjata ramai, di susul sinar kilat berkelebatan, karena terluka jari tangannya maka Ai-ga-hou hanya bertangan kosong, menyerang dengan tangan kiri.

Llok Kiam-ping tetap berdiri tegak sambil tersenyum, sedikitpun dia tidak gentar atau gugup menghadapi situasi gawat ini.

Bila senjata musuh hampir mengenai tubuhnya, baru dia bergerak dengan Ling-hi-pou-hoat.

seperti setan gentayangan tiba-tiba badannya berkelebat menyelinap diantara senjata lawan

Terasa pandangan kabur Ngo-houjadi bingung dan celingukan, tahu-tahu bayangan lawan telah lenyap dari depan mata.

Tiba-tiba suara lirih diluar kalangan-Waktu mereka berpaling, ternyata Llok Kiam-ping sudah berdiri dua tombak di sana, memandang mereka dengan senyum mencemooh Sekilas mereka saling pandang, siap menerjang maju pula.

Terdengar Kiam-ping sudah membentak.

"Kali ini kalian tidak boleh diberi kelonggaran lagi."

Kedua tangan segera melancarkan j urus Llong-kiap-sin-gan.

Betapa hebat, salah satu j urus W.^ liong-ciang-hoat ini.

mana Binsan-ngo-hou mampu bertahan.

Ditengah berkelebatnya samberan telapak tangan, beberapa jeritan terdengar saling susul, bayangan orangpun mencelat robohJi-hou dan Sam Hou terpukul paling keras, badan mereka terlempar lima tombak, begitu terbanting jatah tak mampu bangun lagi, darah menyembur dari mulut mereka.

Si-hou dan N go-hou berjarak lebih j a uh, maka mereka hanya keserempet angin pukulan saja.

namun merekapun mencelat satu tombak^ mukanya pucat pias, darah sudah bergolak hampir tumpah, jelas merekapun sudah terluka parah.

Kepandaian Hwi-th ia nhou Hoan han-ting paling tinggi, d iapun pandai melihat gelagat dan berkelit lebih sigap hanya terg entak mundur lima langkah, wajahnya juga pucat lesi.

Membesi kaku muka Llok-Kiam-ping, tanya.

"Mengingat kalian bersalah baru pertama terhadapku. maka kali ini aku tidak akan bertindak lebih keras, bila kelak kebentur lagi ditanganku,jiwa kalian pasti ^ak tera mpun lagi, Sekarang boleh kalian minggat dari sini.' Hwi-thian-hou tenengkan diri, dilihatnya keempat saudaranya juga terluka parah. betapa perih dan duka hatinya segera dia menggembor seperti lolong serigala.

"Sahabat, membunuh orang seumpama kau mengangguk kepala. Bin-san-ngo-hou hari ini memang hancur ditanganmu mau bunuh atau akan disembelih boleh silakan turun tangan, selama orang she IHoantetap bernapas, dendam hari ini pasti akan kubalas."

"Melihat tampangmu yang menjijikkan ini, tuan muda tak ingin mengotori tangan sendiri, maka jiwamu tetap kupertahankan-Mau menuntut balas Hong-lui bun selalu membuka lebar pintunya, kapan saja boleh kalian datang membuat perhitungan."

"Hong-lui-bun ?' mendadak Hwi-thianhou berjingkrak. seketika dia teringat seseorang, pekiknya. Jadi kau inilah patpi-kim liong,"

"Ah, itu hanya julukan tak berarti yang diberikanpara saudara,"

"Hari ini go-hou terjungkal ditangan ciangbunjin Hong-luibun terhitung setimpal juga. Selama gunung tetap menghijau biarlah airpun tetap mengalir."

Lalu dia papah kedua saudara yang terluka beranjak keluar.

Kapan para piausu itu pernah melihat pertunjukan silat sehebat tadi, semua menyaksikan dengan mendelong takjup.

setelah musuh digebah pergi baru mereka bersorak gembira.

TerutamaJi Thian-siu geleng-geleng dengan menghela napas, dia sesali umurnya yang sudah tua dan lemah tenaga, maka lebih teguh tekadnya untuk mengundurkan diri, tetirah dikampung halaman-Hari kedua Hong-jang Piauklok mengadakan perjamuan besar, mengundang para tokoh-tokoh Bulim setempat serta para sahabat, dipermaklumkan bahwa sejak hari ini Ji Thiansiu sudah Kim-bun-se-jiu (cuci tangan dibaskom emas), selanjutnya menggantung senjata tetirah dikampung bebas dari percaturan dunia persilatan-Dalam perjamuan itu antaranya hadir Bian-elang ouwyang Tekspoh, Tiang lo dari Kun-lun-pay, Klongjin-ping murid Siaulim yang terkenal dari keluarga preman, Thian-lo-jiu can cu

seng, congpiauthau dariTinwanpiauklok dan masih banyak lagi kaum persilatan terkenal.

Ditengah perjamuan Ji Thian-siu angkat cangkirnya ajak hadirin minum bersama, lalu dia berpidato.

"Berkat kerjasama yang baik denganpara sahabat Kangouw, IHong-jang Piauklok yang kudirikan dapat berdiri sampai hari ini, usaha untuk mencari sesuap nasi ini syukur dapat bertahan selama tiga puluh, tahun dan belum pernah gagal, bersama ini kami haturkan terima kasih kepada para sahabat yang selama ini telah memberi bantuan dan nasehat yang berharga, sekarang terasa usia tua tenaga lemah, maka sejak hari ini kami putuskan untuk mengundurkan diri, cuci tangan dari semua pertikaian kangouw atau urusan ekpedisi. Urusan piauklok kita yang belum sempat dibereskan sudah kami serahkan kepada can-lopiau-thau dari Tin-wan piauklok untuk mewakilinya. Hari ini sengaja kuadakan perjamuan ini, disamping menyampaikan persoalan ini sekaligus kami mohon diri kepada para sahabat, terima kas ih pula akan kehadiran kalian."

Habis pidato Ji Thian-sin anjurkan hadirin mulai makan hidangan yang sudah tersedia, maka pesta besar itupun berlangsung dalam suasana gembira.

Bian-elang ouwyang Tekspoh, Tiang lo dari Kun-lun-pay mendadak berbisik kepadaJi Thian-sin, Lo-piauthau tampak mengerut kening, sikapnya kelihatan serba susah, dari samping Klong Jin-ping murid preman Siaulimjuga kelihatan ikut membujuk, akhirnya dia berdiri dengan dengan tertawa, katanya kepada Llok Kiam-ping.

"owyang cianpwe amat mengagumi Kungfu ciangbunjin yang tiada taranya, menggetar dunia persilatan maka beliau ada maksud berlomba dengan Lote, diminta Losiu untuk menyampaikan maksud hatinya kepada ciangbun, mohon pendapat Lote."

Llok Kiam-ping bingung dan tak tahu bagaimana harus menghadapi persoalan ini, KlongJin-pin murid preman Siau-lim sudah buka suara.

"Kapan kita bisa berkumpul dalam pesta perjamuan seperti ini, mohon ciangbunjin tidak menolak, tunjukkan beberapa jurus supaya mata kita terbuka, untuk menyemarakkan perjamuan ini pula."

Hadirin sudah pernah dengar betapa hebat kepandaian Liok Kiam-ping, namun betapa hebatnya belum ada yang pernah membuktikan, maka tidak sedikit yang ingin tahu dan melihat demonstrasinya untuk menambah pengetahuan, mendengar dukungan KlongJin-ping.

maka bersoraklah para hadirin, semua keplok tanda setuju.

Melihat betapa besar hasrat hadirin melihat pertunjukan, dilihatnya pula owyang Tek-poh duduk diam sambil menatap tajam kepadanya, sikapnya kelihatan pongah, maka hatinya terbakar.

darah panasnya mendorong dirinya melakukan sesuatu, terpaksa dia berdiri dan menjura kepada hadirin, katanya.

"Hanya kepandaian permainan kera saja yang pernah kupelajari, bahwa ouwyang cianpwe sudi memberi petunjuk biarlah cayhe melayani sekuat tenaga, untuk bertanding jelas cayhe tidak berani, biarlah masing-masing menunjukkan kemampuannya saja "

Thi-ci-kim-hoan Ji Thian-sin tertawa gelak-gelak, katanya.

"Ucapan Lote memang cocok kehendak ouwyang cianpwe, nah marilah kita habiskan pula dua cangkir, sebentar kita pergi kekebun belakang, disana lapangan luas, lebih bebas bergerak."

Lekas hadirin habisi dua cangkir arak pula terus terus berdiri, suara menjadi ribut dan ramai.

Maka Thian-siu bawa orang banyak kebelakang, di mana ada lapangan latihan silat, Usia ouwyang Tek-poh sudah delapan puluh, satu-satunya Tiang lo Kun lun-pay yang masih hidup, alisnya gompyokjuga sudah uban, matanya juling tajam, jenggot rambutnya seputih saiju, wajahnya kelihatan bersih, berwibawa dan gagah, ilmu silatnya juga sudah mencapai taraf tertinggi dalam perguruannya.

Lima puluh tahun yang lalu namanya sudah terkenal di Bulim, namun jiwanya jujur, hanya sifatnya agak angkuh, sejak lama dia bersahabat dengan Thi-ci kim hoan, maka kali ini Lo-piauthau mengundangnya dalam jamuan perpisahan-Dipinggir lapangan yang terletak dibelakang kebon berdiri beberapa pucuk pohon rindang dahan pohon sebesar pelukan orang, tinggi juga beberapa tombak.

Saat itu mentari hampir mencapai titik tengah memancarkan cahayanya yang benderang, mesti masih dalam musim semi, hawa masih terasa panas.

Dibawa h pohon sudah dijajar beberapa bangku panjang serta beberapa buah meja.

Setiba dibawah pohon rindang ouwyang Tekspoh tertawa, katanya.

"Losiu amat kagum mendengar Kungfu sakti . Siauhiap. maka mengajukan permohonan yang kurang pantas ini, harap Siauhiap sudi menerangkan demonstiasi apa yang kita tunjukkan d ih a d apa n umum ?' Llok Kiam-ping mengangguk, katanya.

"Ciangpwe seorang berbudi dan luhur pula sejak lama sudah terkenal dan disegani kaum persilatan, mana berani cayhe mendahului, ingin mend emontras ikan apa boleh silakan cianpwe saja yang menyatakan"

Dalam hati ouyang Tekspoh menggerutu, namun sikapnya tetap ramah, katanya tertawa keras.

"Baiklah, kita gunakan pohon-pohon besar ini sebagai sasaran pertandingan, bagaimana ?"

Llok Kiam-ping maklum bahwa Bian-ciang (pukulan kapas) orang telah diyakinkan sampai taraf tinggi, kelihayannya pasti sukar diukur, tapi dia sudah kebacut bilang supaya orang yang mengajukan usul pertandingan, apapun dirinya tidak boleh menyesal, Maka dia mengangguk tanda setuju.

Terhadap kelihayan Kungfu Llok Kiam-ping sudah lama ouyang Tek-poh dengar dan kurang percaya, oleh karena itu dia berani mempertaruhkan kebesaran nama baiknya selama puluhan tahun ajakpemuda ini bertanding, lahirnya kelihatan sikapnya wajar dan biasa padahal hatinya tegang luar biasa, betapapun kali ini dia harus mencurahkan seluruh perhatian dan tenaga.

Tampak dia berdiri tegak kira-kira setengah tombak di depan pohon, lengan baju sudah menyingsingnya pula, pelan-pelan kedua tangannya terangkat mencapai dada, perlahan telapak tangannya menekan ke arah dahan pohonangin deras menderu keras menerjang kedepan.

"Duk"

Pohon sebesarpelUkan itu tampak bergetar.

Menyusul telapak tangan kirijuga didorong kedepan-maka pohon itu bergetar lebih keras lagi.

Disaat getaranpohon belum habis, telapak tangan secara berantai menepuk pula, begitulah kanan kiri secara bergantian maju mundur sehingga pohon itupun makin bergetar seperti digoncang lindu, dahan dan daon mulai rontok berjatuhan-Setelah pukulan ketujuh mendadak dia menarik napas terus menggentak keras "Hep", Lalu kedua telapak tangan didorong bersama tenaga pukulan sea muka n badai menerjang pohon itu' 'Krak' suara dahan putus berbunyi nyaring.

Kejap lain pohon sebesar pelukan orang besar itu pelanpelan tumbang karena dahannya patah terpukul.

Hadirin seketika bersorak kagum dan berkeplok dengan ramai.

Dengan wajah tidak berobah dan napas tidak memburu pelan-pelan ouyang Tek-poh mundur kembali ketempat duduknya, wajahnya menampilkan rasa bangga.

Sekarang Llok Kiam-ping sudah cukup ahli dalam soal Kungfu, dia tahu pukulan kapas sekaligus biasanya dapat melontarkan lima kali pukulan, bahwa orang tua ini sekaligus dapat memukul tujuh kali, jelas Lwekangnya memang mencapai taraf yang lebih sempurna.

Maka Kiam-ping juga tidak berani takebur, bukan maju dia malah beranjak mundur lima kaki, pelan-pelan dia menarik napas menghimpun hawa murni, tenaga dia kerahkan dikedua lengan, pertama dia memukul ke pucuk pohon sekali.

Damparan angin sedahsyat gugur gunung itu ternyata menghembus kencang sehingga pohon besar itu tertiup doyong kedepan, disaat dahan pohon itu seperti hampir patah mendadak Kiam-ping menambahi sekali pukul lagi.

Padahal pucuk pohon itu sudah mulai menegak lurus pula, kini didorong oleh tenaga pukulan pula hingga meliuk turun bengkok hampir menyentuh tanah dan "Bum"

Akhirnya pohon besar itu tumbang dengan suara yang gemuruh, seperti dicabut saja pohon itu roboh keakar-akarnya, Karuan hadirin yang berduduk dibangku panjang semua berdiri, saking kaget mereka menjublek.

ada pula yang melelet lidah tak mampu bersuara.

Watak ouwyang Tekspoh memang jujur dan lapang dada segera dia tertawa lebar serta bicara lebih dulu.

"Pertunjukan Hi-khong-sip-hut Siauhiap barusan sungguh membuka mata Losiu. umumnya kekuatan daya sedot dari Hi-khong-sip-but itupalingjauh hanya dapat menjangkau dalam jarak tiga tombak. bahwa Siauhiap mampu bermain sewajar itu dalam jarak lima tombak, sungguh sukar dibayangkan kehebatannya. Ada sebuah permintaan Losiu yang kurang pantas, entah Siauhiap sudi tidak selanjutnya memanggil Losiu Lo-koko (engkoh tua) ?"

Karena kagum orang tua ini ingin mengangkat pemuda ini menjadi saudara ciliknya. Llok Kiam-ping cerdik pandai, sudah tentu dia maklum maksud orang, lekas dia menjura seraya berseru.

"Mohon Lokoko suka memaafkan sikap kasarku barusan."

Ouwyang Tekspoh b erg elak tawa. serunya.

"Adik cilik, jangan begitu. Selama hidup engkoh tua ini hanya kagum dan tunduk kepadamu."

Ibarat kencangnya luncuran anak panah, itulah keinginan Llok Kiam-ping sekarang untuk selekasnya pulang kemarkas Hong-luibun di Kwi-hun-ceng, maka segera dia minta diri untuk berangkat, namun apapun ouw-yang Tek-poh tidak mengidzinkan, mengingat hubungan sudah terjalin, sungkan menolak maksud baik orang banyak pula, terpaksa Llok Kiamping menunda perjalanan semalam, hari ketiga pagi baru dia pamit dan menempuh perjalanan-Sementara Thi-ci-kim-hoatJi Thian-siu setelah menimbang terimakan urusan-urusan piauklok yang belum selesai kepada Tin-wan Piauklok^ hari itujuga dia berangkat bersama istrinya pulang ke Ko-yang di Shoa-tang.

Kini mari kita ikuti perjalanan Llok Kiam-ping dan lain-lain setelah meninggalkan kota Lam-jang, Siang malam mereka menempuh perjalanan menuju ke Un-ciu pulang kemarkas pusat di Kwi-hun-ceng, sampai hari itu mereka sudah menempuh perjalanan tiga hari tiga malam, sedikit istirahat namun makan kenyang, namun manusia mana tidak akan lelah, kalau mereka masih kuat menempuh perjalanan sehari, namun kuda tunggangan mereka sudah tidak tahan lagi.

Untunglah saat itu mereka tiba disebuah kota kecil, memilih warung arak merekapun beristirahat di sana.

Hay-bun-gau adalah sebuah desa besar yang terletak dipersimpangan jalan yang menembus keberbagai arah kota besar, perdagangan di sini cukup ramai kaum pedagang, atau pelancongan banyak yang liwat desa ini, saat itu tiba saatnya pasaran, maka warung arak itu penuh sesak ramainya luar biasa.

Setelah memilih tempat Llok Kiam-ping beramai sibuk makan dan minum.

Sekilas matanya melirik dilihatnya dipojok dinding sebelah kanan duduk seorang pemuda, berpakaian petani, caping rumput yang lebar di atas kepala ditarik turun menutupi alis, makan seorang diri dengan lahap tanpa berbicara, sambil mengunyah makanan sering dia melirik kearah rombongan Llok Kiam-ping Tampak alisnya sering berkerut dan mimik mukanya terasa aneh.

Thi-pi-kim-to sudah setengah umur berkelana di Kangouw, pengalaman dan pandangan matanya cukup luas dan tajam, secara diam-diam d iapun perhatikan gerak gerik pemuda yang mencurigakan ini, dalam hati dia menggerutu, karena sorot mata si pemuda tidak bermaksud jahat, sikapnyapun kelihatan prihatin-Setelah makan kenyang dan puas minum Tan Kian-thaypun membayar rekening, beramai orang banyak menempuh perjalanan pula.

Sejam kemudian waktu mereka membelok kearah kanan dan memutar dari samping bukit, terdengar seekor kuda dibedal kencang dari belakang, dalam sekejap kuda itu sudah memburu dekat.

orang banyak berpaling kebelakang, semua memandang heran dan mendelong, ternyata yang membedal kuda dari belakang bukan lain adalah pemuda yang tadi makan minum sendiri dalam warung arak itu, caping bambunya sudah terangkat diatas kepala, dandanannya juga tetap seperti petani.

Dikala orang banyak curiga dan menghentikan kuda serta memutar balik, pemuda itu bersama kudanya juga sudah memburu dekat sejauh tiga tombak.

mendadak dia menarik tali kekang, seketika kuda itu menghentikan larinya terus berjingkrak berdiri dengan kaki belakang sambrl meringkik.

setelah kudanya berdiri tega r pemuda petani itu lamas menjura, katanya dengan tertawa.

"Mohon kalian sudi berhenti sejenak. mohon tanya apakah kalian maupergi ke Un-ciu?' Serius wajah Llok Kiam-ping, dia tampil bertanya.

"Tuan siapa, sudi menjelaskan maksud kedatanganmu ?"

Sesaat pemuda itu diam sambil mengamati, lalu berseru.

"Kau adalah ciang..."

Tiba-tiba dia celingukan seperti kuatir didengar orang, lalu menyambung dengan suara lirih.

"ciangbunjin, sungguh kau membuat kami menunggu dengan gelisah. Aku yang rendah mendapat perintah Yu-huhoat untuk menyambut kedatanganmu."

Llok Kiam-ping tahu urusan cukup genting, maka dia bertanya.

"Bagaimann keadaan Yu-huhoat? Dimana dia sekarang ?"

"Tempat ini tidak cocok untuk bicara silakan ikut cayhe."

"lalu pemuda itu putar kudanya menerobos semak dipinggirjalan dicongklang kearah selatan-Karena si pemuda adalah orang sendiri lantas Llok Kiamping memberi tanda kepada rombongannya terus mendahului bedal kudanya memasuki semak-semak pula. Pemuda itu bawa mereka kesebuah hutan lebat, baru melompat turun serta menekuk lutut menyembah kepada Llok Kiam-ping, serunya.

"Aku yang rendah Thlo Ping, menyampaikan sembah hormat kepada ciang bun."

Sebelah tapgan Llok Kiam-ping menariknya berdiri, katanya.

"Sembahmu kuterima. lekas jelaskan bagaimana keadaan di sini ?"

Sejak ciangbun dan coh-huhoat berangkat, belum ada satu bulan, suatu hari Ha m-ping-lo-mo membawa anak buah Tang-ling dan IHwe-hun-bun mengadakan serbuan secara mendadak.

Yu-huhoat dan sigede Siang Wi berjuang matimatian, namun musuh terlalu banyak dan kuat, kekuatannya kita terpencar lagi, walau musuh berhasil ditumpas namun Yuhuhoat juga terpukul luka parah oleh Lo-mo, terpaksa dia mengundurkan diri dan buru-buru membawa nona Siau Hong yang terluka bersama Ki-ling-sin Siang Wi mundur ke San-sinblo kira-kira sepuluh li diselatan Kwi-hun-ceng..."

"Apa nona Siau Hongjuga terluka ?"

"Iya, terluka oleh Ham-ping-ciang, lukanya cukup parah. Seratus li disekitar kota Un-ciu, anak buah dan mata-mata musuh tersebar luas, terpaksa aku yang rendah menyamar dan bergerak disekitar daerah ini menunggu kedatangan ciangbun, kami kuatir ciangbun terjebak kedalam perangkap mereka. sekarang waktu sudah mendesak, kita harus cepat

cepat sampai ditempat tujuan.' lalu dia mendahului cemplak kepung g ung kuda di larikan kedalam hutan-Dialas belukar perjalananjelas lebih susah, maka mereka harus putar kayuh cukup lama baru tiba didataran rendah yang lapang sebuah sungai lebar dua tombak mencegat perjalanan mereka, mereka menyusuri sungai kearah hulu, yang ditempuh daerah pesisir berpasir batu lalu menembus hutan lebat pula, hakikatnya "bukan jalan aman yang mereka tempuh.

Kalau tiada orang yang menunjukjalan, apapun mereka takkan bisa berada dihutan belantara ini.

Mereka terus maju kira-kira dua jam lagi, baru darijauh kelihatan diantara lebat nya hutan ditengah pegunungan sana, berdiri sebuah kuil kecil.

Pada saat itu sang dewi sudah menongol dari sembunyiannya, mereka masih berada ditengah hutan, yang terdengar hanya lolong binatang dan pekik kera, rasanya seram menakutkan.

Akhirnya mereka tiba didepan kuil kecil, pintu tertutup rapat, Thlo Ping bawa mereka mutar kebelakang, terlebih dulu dia melempar tiga batu secara beruntun, baru orang banyak diajak turun dari punggung kuda melompati ragar tembok masuk kedalam kuil.

Kecuali sebuah ruang pemujaan, kuil kecil ini hanya punya dua kamar kecil, dari kamar sebelah kanan keluar dua pemuda berpakaian ringkas, mendadak melihat kedatangan Llok Kiamping dan lain-lain, semula mereka terperanjat dan melenggong, akhirnya mereka berjingkrak girang dan menyambut dengan terisak.

'ciangbunjin, akhirnya kau pulang."

Buru-buru mereka berlutut.

Lekas Llok Kiam-ping papah mereka bangun terus beranjak ke dalam kamar.

Dilihatnya Ginji^tay-beng duduk miring membelakangi dinding diatas ranjang, kedua matanya terpejam, dadanya tampak turun naik dengan keras, wajahnya yang kurus pucat tampak kuyu, deru napas yang tersengal diselingi rintih a n, jelas lukanya teramat parah, untung Lwekangnya cukup tangguh, sekuatnya dia masih bisa menjaga Hiat-to penting diatas tubuh sehingga luka-luka tidak tambah parah jantungpun terlindung, walau sekarang sudah merasa tak tahan lagi, namun otaknya masih sadar, mendengar suara keributan diluar, mendadak dia membuka mata.

begitu membentur wajah Llok Kiam-ping, sekujur badan mendadak mengejang, mulutnyapun melengking.

"ciangbun... ' orang nyapun roboh keringat sebesar kacang bertetesan. Luka dalam Gin-j^ay-beag memang teramat parah. napasnya jug a tinggal satu-satu kini melihat Llok Kiam-ping mendadak muncul seperti jatuh dari langit, saking kaget dan girang, hawa murni yang ditahan-tahan selama inipun buyar seketika, kontan dia jatuh pingsan-Llok Kiam-ping memburu keping gir ranjang, dengan kencang dia pegang kedua tangan Ginjutay-beng yang kurus kering, katanya berlinang.

"Yu-huhoat, kenapa kau ? Tak usah sedih, semua terjadi karena kecerobohanku, sehingga markas kosong membuat kau dan orang banyak menderita"

Kedua tangannya segera bekerja cepat dan telaki jarinya menutuk beberapa Hiat-to ditubuh Giniji-tay-beng, sesaat kemudian dia mulai mengurut dan memijat, pengobatan yang dilakukan berlangsung selama sebatang dupa terbakar habis, barulah Giniji-tay-beng mulai bergerak dan siuman, matanya berlinang air mata menatap Llok Kiam-ping, katanya setelah menghela napas.

"Aku memang tidak becus, sehingga markas jatuh ke tangan musuh, aku malu terhadap ciangbun dan para kawan-.."

Suaranya makin lirih akhirnya dia tertidur pulas.

Kebetulan si gede Siang Wi sedang melangkah masuk dari luar, matanya kelihatan masih ng antuk, berjalan masuk sambil kucek-kucek.

mendadak melihat d id a la m kamar banyak orang, seketika dia terbelalak.

bila melihatjelas kehadiran Llok Kiam-ping, seperti ketiban rejeki saja mendadak dia berjingkrak seraya menubruk kedepan ranjang dengan kedua lengan yang kekar dia memeluk Kiam-ping serta berteriak girang.

"Bocah cilik, akhirnya kutemukan kau lagi, Marilah, cepat kau beri aku makan, selama beberapa hari ini aku sudah kelaparan "

Lalu dia pegang tangan Llok Kiamping diseret keluar.

Kiam-ping kewalahan terhadap bocah gede yang goblok ini, setelah mengeringkan mulutnya baru dia berhasil membujuk si gede.

Kedua pemuda itupun ikut masuk serta memberi penjelasan keadaan di sini selama ini.

Ternyara setelah pindah kekuil ditengah hutan ini.

karena harus merahasiakan, maka siapapun tidak boleh sembarang a n keluar, hanya Tho Ping seorang yang ditugaskan keluar dengan menyamar untuk menyirapi berita dan menunggu kedatangan Llok Kiam-ping yang lain setapakpun tak boleh keluar pintu.

Makanan merekapun hanya binatang buruan, buah buah atau burung yang dipanggang, jadi mengalami kehidupan seperti manusia purba.

Sungguh bukan kepalang perih hati Llok Kiam-ping, lakas dia keluarkan dua kelopak Soat-lian, masing-masing untuk Giniji-tay-beng dan Siau Hong.

Kiam-ping angkat Ginjutaybeng serta dibalik tidur tengkurap.

sambil kerahkan hawa murni dike dua lengan beruntun dia menutukpula puluhan Hiat-to disekujur badan Gin-j^ay beng^ Terakhir dia menarik napas panjang menghimpun hawa murni serta meng konsentrasikan pikiran, ke dua telapak tangan menekanBingbun-hiat Ginju^ay-beng, serangkum hawa murni merembes kebawah orang tua itu.

Setanakan nasi kemudian wajah Ginij.^ay-beng yang putih mulai semu merah, napasnya juga mendesau berat, mulutnya merintih.

Llok Kiam-ping juga menarik napas lega, sekujur tubuhnya basah kuyup oleh keringat, segera dia duduk samadi memulihkan tenaga, beberapa kejap lagi dia membuka mata lalu beranjak turun masuk kekamar sebelah, dlmana Siau Honjuga sedang rebhah diatas ranjang.

Waktu pandangannya membentur tubuh Siau Hong seketika hatinya mencelos, sesaat lamanya dia berdiri melenggong didepan ranjang.

Lekas Thi-pi-kim-to Tan Kian-tay bertanya.

"Kenapa ciangbun, Bagaimana keadaan nona siau Hong, apakah masih bisa ditolong ?"

Sedih suara Kiam-ping.

"semula luka-lukanya tidak berat, namun karena tak tahu cara menyalurkan tenaga menyembuhkan luka, ketambah tertunda terlalu lama, hawa racun dinc sudah merasuk ke isi perut, Soat-lian memang berkhasiat dapat meng hidupkan jiwa orang yang hampir mati, tapi karena terdesak oleh hawa beracun sehingga khasiatnya tidak bisa bekerja. Sekarang dia perlu ditolong oleh seorang dengan tenaga luar, mendesak keluar hawa beracun sekaligus mendorong khasiat Soat-lian bekerja lebih tuntas cuma..."

Sampai d is ini tampak dia bimbang dan tak berani meneruskan-Thi-pi-kim-to Tan Khian-that"

Cukup tahu dan maklum, mendengar penjelasan Kiam-ping dia sudah tahu kesulitan si pemuda, maka dengan tertawa dia berkata.

"Kita adalah kaum persilatan yang berkecimpung di Kangouw. segala sesuatu hanya dituntut dengan kewajaran dan pengertian yang mendalam, cukup asal dalam hati berpikir bersih dan perbuatan gena h, lebih penting menolong orang daripada persoalan tetek bengek, untuk ini harap ciangbunjin bisa kesampingkan rasa malu, pikiran cabul segala.^ lalu dia suruh orang banyak keluar pintu. Kiam-ping berpikir sejenak, akhirnya dia barkeputusan. Perlahan dia melucuti pakaian Siau Hong serta merebahkannya telentang, waktu dia ulur tangan dan hampir menyentuh dadanya, seketika dia merandek^ jari-jarinya tampak gemetar. Lekas dia pejam mata tenangkan diri, setelah perasaan tentram kembali dia turunkan kedua telapak tangannya, tapi begitu tanganya memegang payudara siau Hong, gejolak jantungnya bertambah keras pula. Maklum sebesar ini usianya kapan pernah bersentuhan kulit tubuh dengan lawan jenisnya, meski Siau Hong adalah teman baiknya sejak kecil, tapi selama ini dia menganggapnya sebagai adik saja, hubungan selama ini cukap wajar dibatasi norma-norma susila cinta kasih seorang kakak terhadap adik perempuannya, belum pernah terpikir soal cinta, apalagi kepersoalan se^. Keadaan sekarang berbeda. untuk membuka beberapa Hiat-to ditubuhnya yang buntu serta menyalurkan tenaga dalam sendiri kebadan orang, terpaksa dia harus menyentuh malah menjamah tubuh Siau Hong yang montok kenyal ini, kalau terlambat sejenak lagi jiwa siau Hong mungkin tak bisa ditolong lagi. Terbayang betapa lincah danjenakanya S.au Hong diwaktu kecil, timbul rasa kasih sayangnya yang tebal, maka dia tenangkan pikiran, namun jantungnya masih berdebar. Maklum kulit badan yang halus putih sebersih batujade dengan sepas ana buah dada yang kenyal dan menantang, tercium pula bau perawan, karuan Kiam-ping seperti mabuk dibuatnya. Akhirnya Kiam-piang gigit bibir dan menarik napas panjang, setelah tenaga terhimpun, dia salurkan tenaga murni dari pusar ketelapak tangan, mulai dia menutuk tiga puluh enam hiat-to ditubuh siau Hong, lalu dimulai pijat dan urut pula, gerakan kedua tangannya makin lama makin cepat, sekujur badan Siau Hong mulai gemetar seiring dengan gerakan kedua tangannya. Sesulutan dupa kemudian, kepala Kiamping sudah terbungkus uap putih, keringat gemerobyos,jelas dalam usaha menolong jiwa Siau Hong ini dia terlalu makan tenaga, Beberapa kejap lagi tampak uap hitam yang bau amis mulai merembes keluar dari pori-pori kulit Siau Hong lambat laun warna hitam berobah hijau lalu menjadiputih. Di sinilah kelihatan usaha karya Llok Kiam-ping ternyata tidak kepalang tanggung. Untuk membalas luhur budi sahabat diwaktu kecilnya ini, tanpa segan-segan dia rela mengorbankan tenaga murni sendiri untuk menjebol Ki-keng-pat-meh ditubuh Siau Hong sehingga jalan darah dan urat nadi yang buntu terjebol seluruhnya. Siau Hong sendiri mimpi juga takpernan terpikir, karena kecelakaan kali ini dia memperoleh rejekipula, disamping memperoleh bantuan khasiat Soat-lia n, saluran tenaga Kiamping menembus Ki-kong-pat-meh nya, sehingga tenaga dalamnya maju berlipat ganda. Kira-kira sejam kemudian, paras Siau Hong sudah teratur, matanya mulai bergerak ternyata dia sudah siuman-Yang terasa pertama kali adalah sekujur badan dingin, waktu dia membuka mata ternyata pakaian sendiri sudah dilucuti, sepasang telapak tangan ternyata sedang menekan kedua payudaranya, hawa hangat terasa tersalur dari telapak tangan orang karuan kagetnya bukan kepalang, seketika matanya mendelik. Seketika rasa malu dan gusar merangsang hatinya, sekujur badan seketika mengigil, namun setelah dia melihat jelas pemuda yang berusaha menolong jiwanya ternyata adalah sang perjaka yang selama ini dirindukan, legalah hatinya, namunjantung berdebar lebih keras. Selebar mukanya merah jengah, dengan perasaan malu dia melirik kearah Llok Kiamping lalu memejam mata pula. Saluran tenaga murni Kiam-ping saat itu sudah mencapai saat-saat yang paling kritis, kuatir konsentrasi buyar, usahanya bukan saja gagaljiwa si nonapun mungkin bisa amblas maka dia lebih giat salurkan tenaganya, uap putih diatas kepalanya seperti bergolak turun naik, jelas dia sendiri sudah teramat payah. Hawa beracun dingin dalam tubuh Siau Hong sudah merembes keluar seluruhnya, sekujur badan terasa segar dan enteng, pikiran jernih pula. Dia maklum pujaan hatinya sedang salurkan tenaga murni sendiri membantupenyemhuhan badannya yang keracunan, disamping diapun rasakan Ki-kengpat-meh dalam tubuhnya sudah tembus. Karuan rasa senang bukan kepalang, hatipun manis mesra pula. Bila dia melihat wajah Kiam-ping tampak pucat dengan keringat bertetesan, sepasang bola matanya yang bundar jeli seketika berkaca-keca air mata, saking haru dia sampai menangis. Saat itulah Kiam-ping sudah menarik kedua tangannya serta menarik napas panjang, beberapa kejap lagi dia duduk s a mad i, akhirnya diapun membuka mata dan berdiri.

"Ping-ko,"

Panggil Siau Hong lirih dan mesra.

Langsung dia menjatuhkan diri kedalam pelukan Kiam-ping sambil sesenggukan-Maklum tubuhnya yang masih perawan, suci bersih telah terjamah oleh lelaki pujaan hatinya ini, maka selama hidup ini dia tidak akan menikah dengan orang lain-Rasa rindu dan cintanya yang terbenam selama beberapa hari ini, sekarang meledak tertuang dalam isak tangisnya, pelukannya semakin kencang, raut wajahnya yang kurus pucat terbenam d id a la m dada Llok Kiam-ping.

Llok Kiam-ping sendirijuga tidak kuasa membendung perasaan, tiba-tiba dia tarik dagu Siau Hong hingga tengadah bibir orang terus dilumatnya dengan bernafsu, Siau Hong mengeluh perlahan penuh kenikmatan, diapun balas merangkul lehernya, begitulah kedua muda mud i ini sama melepas rindu selama ini dalam peluk cium yang manis mesra.

Untunglah Kiam-ping masih kuat menguasai diri, mendadak dia tersentak sadar, tanyanya perlahan dengan napas memburu"

"Siau Hong, bagaimana perasaanmu sekarang ?"

Mata Siau Hong setengah terpejam seperti masih menikmati sisa-sisa kemesraan barusan, segera dia mengangguk. setelah menarik napas panjang baru dia bicara.

"Pingko, sekali pergi selama itu kau tidak pulang, aku menunggumu d elna n tersiksa, hampir gila rasanya. Kwi-hunceng sudah jatuh ketangan kawanan iblis, selanjutnya aku tak puny a rumah lagi. Ping-ko selanjutnya mau hidup diujung langit atau berkelana di Kangouw^ hanya kaulah tulang punggungku, kemana kaupergi aku akan selalu berada disampingmu .. -.

"terbayang akan nasibnya, seketika dia terisak sedih. Kiam-ping merasa iba, maka dia memeluknya pula serta menciumi rambut, mata, hidung lalu dilumatnya pula bibir Siau Hong. cukup lama mereka tenggelam dalamperpaduan cinta murni, akhirnya Kiampingpula mengakhiri ciumanpanjang itu, katanya.

"ceritanya amatpanjang, nanti kuceritakan, kau baru sembuh, badan masih lemah, perasaan tidak boleh diburu nafsu, selanjutnya kau harus melegakan hati, Siau Hong asal kau...", selanjutnya tidak kuasa dia melanjutkan-Perasaannya sekarang serba kontras, dengan Le Bun dia sudah sumpah setia sehidup semati, mana boleh dia mengabaikan cintanya terhadap Le Bun ? Tapi keadaan memaksa d la berbuat drm.ikian apalagi Siau Hong disamping harus dikasih ani. jug a amat mencintai dirinya, jiwanya yang polos dan suci serta agung pula, kini hidup sebatang kara. lalu bagaimana dirinya harus mengatur persoalan ini? Soal cinta, tokoh besar siapapun memang akan merasa pelik bila menghadapi soal asmara. Setelah bimbang beberapa saat, akhirnya Llok Kiam-ping bekeputusan secara diam-diam. soal ini sementara biar ditunda dan dikesampingkan sampai d is ini, biar bagaimana perkembangan selanjutnya. Setelah dibujuk rayu dengan kata

kata manis, baru Siau Hong menghentikan isak tangisnya dan tertawa manis.

Diluar pintu terdengar langkah orang mendatangi, lekas dia mendorong Llok Kiam-ping terus mengenakan pakaian-Kejap lain mereka sudah membuka pintu melangkah keluar kamar.

Ditengah ruang pemujaan kuil kecil ini, duduk berkeliling belasan orang.

laki perempuan-tua muda bercampur, mereka duduk bersila tanpa bersuara, wajah mereka tampak prihatin seolah-olah perasaan mereka tertekan dan memikul suatu kekuatiran yang tidak kepalang tanggung.

Mereka bukan lain adalah ciangbUnjin Hong-lu^-bun Llok Kiam-ping dan lain-lain sedang berunding cara bagaimana selanjutnya mereka akan menghadapi musuh.

Dengan suara berat tertekan Llok Kiam-ping buka suara.

"Yang hadir di sini semua adalah insan persilatan yang gagah berani, menempuh perjalanan jauh drm.i berjuang untuk kepentingan Hong-lui-bun kita, beberapa dlantaranya belum menjadi anggota secara formil, tapi bolehlah kuanggap sebagai salah satu tenaga militan dari orang kita sendiri."

Sampai di sini dia berhenti menyapu pandang hadirin lalu melanjutkan.

"Aku sendiri masih hijau dan kurang becus hingga kita disergap musuh, anggota kita banyak yang menjadi korban atau melarikan diri untuk ini aku sungguh merasa malu dan menyesal. Kini musuh sedang melebarkan sayapnya dengan seluruh kekuatannya sedang mencarijejak kita, bila perlu kita akan diganyang habis dengan keaka rakarnya. Maka aku berpendapat daripada kita duduk di sini menunggu kematian, lebih baik kita menempuh jalan bahaya, kemungkinan masih ada kesempatan merebut posisi yang lebih baik. Tapi kekuatan musuh amat besar, kurang menguntungkan kalau kita melawan secara kekerasan, maka kita harus mencari akal yang sempurna, kita harus bersatu pada siap bertempur sampai titik darah terakhir. Yakin kita akan berhasil mengusir penjajah dari markas pusat kita di Kwi

hun-ceng. Dikalangan Kaugouw pengalaman kalian cukup luas, yakin pasti dapat ikut menyumbangkan pikiran untuk memecahkan kesulitan ini, sehingga kita berhasil merebut situasi,"

Tan Kian-thay angkat bicara.

"Kekuatan musuh tersebar rata, pertama kita harus mencari tahu keadaan musuh lebih dulu, baru kita bersiap menyergapnya, secara bergerilya, lambat tapi pasti usaha kita akan membawa pengaruh dan hasil yang besar, tahu kekuatan lawan baru bisa mengukur kekuatan sendiri. setiap bertempur pasti menang."

Gin-jintay-beng ikut buka suara.

"Menurut laporan yang diperoleh belakangan ini, Ham-ping-klong sudah kerahkan seluruh kekuatannya hijrah ke selatan, disamping mereka menggaruk pula tidak sedikit jago-jago kosenBulim didaerah ini, tujuannya jelas hendak bersimaharaja di sini. Dalam arena seluas beberapa li disekitar Un-ciu tersebar mata-mata mereka. Tapi sejauh ini Ha m-ping-lo-mo sendiri belum pernah terlihat Jikalau musuh terlalu tangguh, sepantasnya kita juga mencari bala bantuan."

Demikian usul Tan Thian-thay. Tapi urusan sudah mendesak, Llok Kiam-ping sudah tidak bisa mengulur waktu lagi, katanya dengan mengerut alis.

"Markas pusat tidak boleh lama diduduki kawanan tikus sayang coh-huhoat, Lo-kokoJian-li-teksheng dan Suma Samtejuga belum datang, jikalau tidak tahu keadaan di sini mereka menyerempet bahaya menyerbu kemarkas dan kena sergap. bukankah pengorbanan mereka sia-sia? oleh karena itu aku berpendapat selekasnya kita harus bergerak lebih menguntungkan-Pi-lik-jiu ciu Khay memang berangasan, sudah setengah hari dia diam dengan rasa sebal, sekarang dia angkat bicara.

"Betul, urusan tidak boleh ditunda, meski kita harus mengorbankan jiwa juga harus merebut kembali Kwi-hung-Ceng."

Mulut si gede Siang Wijuga tidak mau menganggur, serunya.

'Marilah kau menjadi pelopor bersamaku.

Terus terang kulit badanku tebal, tidak takut ditutuk atau dipukul, Ha m-ping-elang iblis tua itupun kuat kuhadapi beberapa kali."

Pada hal di luar tahunya bahwa dia hanya keserempetsaja oleh Ha m-ping-elang iblis tua, kalau tidak Gin-jintayhengjuga tidak akanterluka separah itu, jika la u pukulan orang telak mengenai tubuhnya.

jiwanya pasti sudah melayang.

Dasar orang jujur, dalam hati ingin melakukan, setelah dikatakan maka kita segera menarik lengan ciu Khay terus diseretnya keluar.

Lekas Kiam-ping mencegah, katanya.

'Kalian begini gagah bersemangat membantu kepentingan kita, cayhe sungguh kagum dan haru, namun urusan ini betapapun tidak boleh diurus secara gegabah, harap persoalan dirundingkan dulu, setelah ada putusan konkrit baru kita bertindak."

Gin-jintay-berg tidak sabar lagi, kata nya penuh kebencian.

"ciangbun, bahwa Kwi-hun-Ceng jatuh ketangan musuh lantaran aku tidak becus mempertahankannya, umpama d is ana ada gunung golokjuga akan kupertaruhkanjiwa tuaku ini untuk merebutnya kembali."

Melihat betapa besar semangat juang para hadirin, sukar dilukiskan dengan kata-kata, saking haru air matanya bercucuran, tapi segera dia menyentak semangat dan berkata dengan tertawa.

"Kalian begini gagah berani, ini merupakan keberuntungan Hong-lui-bun kita, namun urusan memang tidak boleh ditunda, padahal mata-mara musuh tersebar luas, maka kalian harus bergerak secara rahasia dan hati-hati. MenurutpendapatkuTan-losu dan lain-lain yang belum pernah muncul dipihak Hong-lui-bun kita masih dapat bergerak bebas, Thi Ping boleh memimpin kalian berangkat langsung ke Un-ciu lewatjalan raya, sepanjang jalan harus perhatikan jejak coh

huhoat danJian-li-tok-heng, bila perlu segera mengadakan kontak dengan mereka.

Sementara cayhe bersama Yu-huhoat dan lain-lain akan berputar lewatjalan pegunungan langsung menuju ke Kui-hun-ceng."

Lalu dia mohon perdapat hadirin yang lain-Ternyata hadirin setuju akan rencananya secara mutlak.

"Begitupun baik,"

Ucap Tan Kian-thay, tapi sebelum masuk perkampungan sebaiknya kita menjanjikan suatu tempat lebih dulu untuk mengumpulkan kekuatan, supaya kekuatan tidak terpencar.' "Baiklah drmikian.

kita akan kumpu1 di hutan buah pir diluarpintu timur kota Un-ciu."

Kembali Llok Kiam-ping memberikan putusan.

Setelah rapat usai dan orang banyak bubaran, Thlo Ping bersama Tan Kian-thay bertiga masuk kekamar mempersiapkan diri dandan dengan s a mara n bentuk lain, mengingat kuda tunggangan bisa menarik perhatian, maka mereka pun berjalan kaki, langsung menuju ke ceng-dian lebih dulu.

Sementara itu Llok Kiam-ping juga sudah mempersiapkan diri, tengah malam nanti merekapun akan berangkat, Semula dia kuatirkan kesehatan Siau Hong maka dia membujuknya supaya tinggal disini merawat kesehatan, tapi Siau Hong sudah bertekad untuk ikut, apapun dia tidak mau tinggal.

Apa boleh buat terpaksa Kiam-ping membawanya.

Marilah kita ikuti d ulu perjalanan Tan Kian-thay berempat yang berjalan kaki, kira-kira menjelang magrib hari kedua, mereka sudah memasuki keresidenan ceng-dian-Begitu masuk kota lantas mereka dapatkan pada setiap sudut atau tempattempat gelap pasti terdapat beberapa lelaki kekar berwajah bengis, dengan pandangan^ melotot mereka awasi setiap orang yang berlalu lalang didepannya.

Sebagai kawakan Kangouw sudah tentu Tan Kian-thay tahu akan situasi yang genting ini, diam-diam dia memberi lirikan mata kepada ketiga temannya, dengan kalem mereka terus maju kedepan tanpa hiraukan keadaan sekelilingnya.

Disebuah ujung jalan sekilas dia melirik.

dilihatnya agakjauh dibelakang dua bayangan sedang menguntit.

Batinnya.

"Kawanan tikus ini berani menguntit terangterangan, biarlah nanti akan kuberi tanda mata diatas tubuhnya."

Diam-diam dia memberi kisikan kepada ketiga temannya untuk tahan dan bertindak menurut gelagat, dengan tenangtenang mereka terus maju kedepan, namun langkah dipercepat, tujuannya keluar kota.

Lekas sekali mereka berada ditempat yang sepi dan sekelilingnya adalah tanah tega la n yang penuh semak belukar, Tan Kian-thay saling berbisik dengan Pi-lik-jiu, mendadak dia menyelinap sembunyi d .bela kang sebuah pohon, sementara tiga orang yang lain terus jalan kedepan-Sekali lompat pula dia menyelinap masuk hutan-Kebetulan jalan disana lurus setelah tiba di ujung belokan, kedua orang dibela kang itu mempercepat langkah hingga jarak menjadi lebih dekat, karuan mereka heran dan berteriak kaget.

"Eh, memangnya kita lihat setan, tadi jelas empat orang. kenapa dalam sekejap ini hanya tinggal tiga, memangnya yang satu menyembunyikan diri ?"

"Kurasa dia tidak akan larijauh, Lo-llok, lekas kau kejar kearah sini, biar aku berputar ke sana menempuh j a la n pendek mencegat disebelah d-pan,"

Tapi sebelum mereka bergerak tiba-tiba sebuah tawa dingin disusul seorang berkata.

"Kenapa harus putar kayun membuang tenaga. Tuan bersama sudah menunggu kedatangan kalian-" . Dengan kaget kedua orang itu membalik, tampak dua tombak dibawah pohon sana berdiri seorang lelaki berpakaian petani, dengan tersenyum ramah mengawasi mereka, seketika mengkirik bulu kuduk mereka, tapi dengan bengis dia membentak.

"Agakn,ya saudara pandai menyembunyikan diri. Tapi kau harus tahu daerah iri sudah termasuk kekuasaan Ha m-ping-klong, kau datang dari mana mau kemana, jawablah terus terang supaya tidak menyesal."

Thi-pi kim-toTan Kian-thay-laki-laki yang menyamar petani b erg elak tawa, katanya "Jalan raya besar milik umum, siapapun boleh mondar-mandir di sini.

memangnya Ha mping-klong kalian berani melanggar undangundang kerajaan?

Sebaliknya kalian berdua menguntit sejak dari kota, apa maksud tujuan kalian, tolong jawab dan beri keadilan."

Tatapan matanya yang tajam membuat kedua orang itu lebih mengkirik lagi.

tapi mengingat nama besar Ha m-pingklong, dengan memberanikan diri salah satu berkata "Pertanyaanmu boleh kau ajukan kepada Tongcu kami, nah sahabat, kalau berani mari ikut aku menghadap beliau"

Habis bicaca serempak mereka putar badan terus angkat langkah seribu.

Tapi baru beberapa langkah, mendadak bayangan orang menubruk dari atas.

ternyata Pi-lik-jiu ciu Khay dan coh-sianghwi Tiau-Kong sudah menyergap dari atas pohon dan berhasil membekuk mereka, sekali telikung keduanya lantas meringis kesakitan-Tan Kian-thay tertawa dingin, katanya.

"Saudara, kalian jual apa ? Dan kami minum apa ? Kita sama-sama tahu, asal kalian maujelaskan gerakan pihak Ha m-ping-klong belakangan ini, kami tidak akan membunuh kalian-"

Kedua orang itu meringis kasihan, kata seorang.

"Kami berkedudukan rendah, apa yang diketahuijuga terbatas, kami hanya menjalankan tugas. Tiga hari yang lalu kedatangan dua kakek yang mencari tahu letak kedudukan markas pusat Hong-lu^-bun, akhirnya bentrok dengan Tok-kak-kiau cin Kong seorang Hiangcu kami yang berkedudukan d is ini, ternyata kedua kakek itu memiliki Kungfu tinggi, orang kita banyakjatuh korban. Tongcu sudah memberi laporan kilat ke markas pusat, maka sudah dijanjikan untuk membuat perhitungan mala n ini didepan Gickshud-si yang terletak d iba rat kota. Maka kami ditugaskan untuk menguntit orang-orang yang patut dicurigai. Hanya drm.ikiansaja yang bisa kuterangkan, kalian boleh silahkan melanjutkan perjalanan-"

Thi-pi-kim-to Tan Kian-thay menduga kedua orang itu pasti punya sangkut paut erat dengan Hong-lui-bun, maka dia tutuk Hiat-to kedua orang serta disembunyikan dalam hutan-Sore itu mereka berempat mampir di sebuah warung yang berada d id es a yang jauh dari kota setelah makan malam, mereka berputar kearah barat lalu membelok menuju ke kota barat.

Kira-kira kentongan kedua mereka sudah berada ditegalan di luar kota barat.

Kuil itu berdiri tunggal ditanah tegalan yang belukar, seperti orang tua sebatang kara yang sedang sakit lumpuh tak mampu bangun lagi, demikianlah keadaan kuil bobrok itu, pintunya sudah hampir ambruk, demikianpula temboknya sudah berlobang, jelas kuil ini sudah lama tidak dihuni dan diurus oleh manusia.

Kedatangan mereka terlalu dini, masih lama untuk menunggu waktu yang dijanjikan maka dengan leluasa mereka dapat mencari tempat sembunyi.

Kira-kira beberapa jam kemudian, dari arah kota tampak mendatangi beberapa bayangan orang.

Langsung mereka menuju ke arah Kuil ini dan berdiri ditanah lapang di depan kuil.

Dua orang yang menjadi pimpinan rombongan orang ini berperawakan ting g i, jeng got panjang menyentuh dada.

sorot mata merekapun tajam berkilat, jelas Lwekangnya sudah tinggi, lima orang bertubuh besar berdirijajar dibela kang mereka.

Terdengar kakek disebelah kiri berkata setelah memeriksa keadaan sekitarnya.

"Waktu yang dijanjikan sudah hampir tiba, pihak lawan masih belum kelihatan bayangannya, cinhiangcu, apa kau tidak salah menentukan tempatnya ?"

Seorang diantara lima lelaki kekar dibelakangnya segera menjawabnya sambil membungkuk badan.

'Lapor Tongcu, waktu dan tempat yang dijanjikan memang betul disini, kemungkinan setelah mendengar nama besar Ham-ping-klong kita, pihak lawan ketakutan dan pecah nyalinya tidak berani menepati janji."

"Memangnya, pihak mereka hanya dua orang. berani mereka mencari perkara dengan pihak Ham-ping-klong kita, kalau mereka ngacir tidak berani menepatijanji, aku harus puji mereka tahu gelagat malah,"

Demikian ujar kakek berjenggot hitam disebelah kanan, sikapnya tampakjumawa dan bangga.

"Jite, persoalan tidak boleh dianggap enteng, kabarnya lawanjuga cukup tangguh, biasanya orang bilang kalau bukan naga takkan berani menyebrangi sungai, jikalau mereka tidak yakin pasti menang, tentu takkan berani menantang dan membuat janji, biarlah kita tunggu saja dengan sabar."

Dari hutan sebelah kiri mendadak kumandang gelak tawa keras seorang seperti auman singa katanya.

"Pengalaman Yulotoa memang patut dipuji, sejak tadi Lohu berdua sudah menunggu kalian disini.' Belum lenyap suaranya tampak bayangan dua orang berkelebat melucur turun ditengah lapangan-Melihat gerakkan pendatang ini cukup gesit dan enteng. berbareng kedua orang tua itu menyurut setengah langkah baru sekarang mereka melihat jelas kedua lawan-Maka orang tua disebelah kiri terloroh tawa, serunya.

"Kukira slapa bernyali besar berani mencari setori denganpihak Ham-ping klong kiranya kau tua bangkaJian-li-tok-heng. Lalu siapa sahabat ini, kalau teman lama s ila h ka n perkenalkan kepada Lohu berdua."

Yang datang memang betul adalahJianli-tok-hengJinBou.

Thi-pi-kim-to Tan Kian-thay berempat yang sembunyi dalam hutan diam-diam bersorak girang, syukurlah perjalanan mereka kemari tidak sia-sia.

TampakJin Hou terkial-kial, katanya.

"Bagus, bagus, sungguh tidak nyanaJongsan-siang-hong (Sepasang ganas dariJongsan) ternyata sudi menjadi antek Ham-ping-klong. Yu-lo-toa, sejak berpisah diBwe-nia dulu sepuluh tahun tak pernah bertemu, jejakmu juga lenyap tak karuan para n, sungguh tak kuduga sekarang kau sudah menjadi Toa tongcu dari Ham-ping-klong, sungguh patut dipuji dan harus diberi selamat. Mari kupekenaikan inilah saudara angkatku tertua dari K^bun-siang-kiam It-cu-kiam Koan Yong, selanjutnya harap Yu-toa-tong-cu sudi memberi petunjuk."

Nadanya sinis dan menyindir.

Ternyata kedua kakek ini adalahJongsan-siang-hong, yang tua bernama Yu In-hwi adiknya Pek Ing, mereka adalah saudara seperguruan, ilmu silat mereka agak serong, menjurus kealiran sesat, namun tidak diketahui dari perguruan mana, sepak terjang merekapun terkenal kejam dan jahat setiap korban tiada yang diberi ampun, maka julukannyapun sepasang ganas.

Sepuluh tahun yang ^alu mereka mengganas diBwe-nia merampok barang kawalan sebuah piauklok, kebetulan kepergokJian-li-tok-heng, dalam adu kekuatan Lotoa Yu In-hwi terkena sekalipukulanJian-li-tok-heng, dengan luka parah di^a melarikan diri, selanjutnya menyepi di atas gunung memperdalam ilmu, dalam jangka sepulua tahun ini dia sudah berhasil meyakinkan Thay-im-ciang yang terlalu keji dan beracun pula, timbul niat mereka turun gunung membalas sakit hati lama, kebetulan pihak Ham-ping-klong sedang menggaruk jago-jago silat dari golongan sesat didaerah Kanglam, maka merekapun diundang serta diberi jabatan sebagai Su-tong Tongcu.

Kebetulan hari ini bersua dengan musuh lama,Jian-li-tokheng malah menyinggung kejadian lama karuan terbakar amarahnya, serunya murka.

Jian-li-tok-koay,jangan membacot melulu, hari ini Lohu akan menagih hutang kepadamu, menarik balik modal menuntut rentenya sekalian."

"Ah sesama kawan lama kenapa harus buru-buru. Sebentar pasti akan kula y animu sampai puas, soalnya Lohu selama ini tidak pernah bermusuhan denganpihak Ham-ping-klong, tapi baru aku datang kalian sudah main sergap dan menverang secara licik dan main keroyok lagi. Pada hal kau juga punya nama di kalangan Kangouw, kurasa kau berani terangterangan bertindak serta memberi penjelasan latar belakang dari aksi kalian ini."

Yu-In-hwi terkekeh lebar, katanya.

"Lohujuga sedang pikirkan persoalan ini, Jian-li-lo-koay, kau sendiri sebetulnya punya sangkut kaut apa dengan Hong-lu^bun ?' ' "Hubungan memang ada sedikit, lalu pula apa pula persoalan kalian denganpihak Hong-lu^-bun ? "

"Baiklah kujelaskan-Markas pusat Hong-lui-bun yang baru saja didirikan, kini sudah runtuh danjatuh, setiap insan persilatan yang mempunyai hubungan dengan Hong-lul^-bun, pihak Ham-ping-klong pasti tidak akan membiarkannya pergi dari daerah ciat-kang, tentu kau sudah maklum. Nah sekarang kau bersiaplah untuk terima kematian-Diam-diam berCekat hatiJian-li-tok-heng, dari nada perkataan lawan dia menduga Jite (maksudnya Llok Kiamping) kemungkinan masih ditenguh perjalanan, namun lega juga hatinya, syukur dia seorang tua, berpengalaman dan penuh perhitungan, perasaan hatinya tidak terbayang dimimik mukanya, katanya dengan nada berat.

"Apa tidak terlalu pagi kau bilang demikian-Dulu dengan rasa bajik aku mengampunijiwamu hari ini meminjam kekuatan Ham-pingklong kau menuntut balas kepadaku, memangnya kau kira Lohu takut, kepadamu, boleh silakan kau perlihatkan kepadaku."

Bahwa lawan menggorek boroknya dulu keruan Yu in-hwi naik pitam, maju selangkah kedua tangan memeluk dada, telapak tangannya mendekuk kedalam, bentaknya.

"Lihat pukulan-"

Mendadak dia dorong telapak tangannya kedepan.

Tampak segulung tenaga lunak dingin menerjang kearahJianli-tok-heng.

Jangan kira angin pukulan itu seperti lunak dan menerjang pelan, tapi semakin dekat sasarannya, ternyata damparan kekuatannya tidak kalah dahsyat dari terjangan ombak besar, badan seperti ditindih benda berat.

Jian-li-tok-heng sendirijuga tidak menduga, setelah sepuluh tahun berpisah, lawan sudah meyakinkah ilmu pukulan lihay dan dahsyat, maka dia, tidak berani gegabah.

sedikit menyingkir kesamping, berbareng kedua tangan menggelak kedepan-G-^akan kedua tangannya menimbulkan angin ribut laksana amukan badai.

"Bung"

Begitu dua arus kekuatan angin pukulan beradu, kedua pihak tergetar mundur.

DikalaJian-li-tok-heng terhenyak.

Kembali Y in-hwi telah menggerakkan kedua tangannya pula, deru angin kencang kembali menindih tiba.

kali iniJian-li-tok-heng tidak ayal lagi, segera dia paaang kuda-kuda mengerahkan tenaga, kedua tangan terayun menggempur kepada lawan-"Pyaar."

Kembali terjadi ledakan keras begitu tenaga kedua pihak saling, bentur terjadilah pusaran angin les us yang membumbung tinggi keangkasa, kedua orang yang berlaga tergetar tiga kaki kebelakang.

Tapi tubuh Yu In-hwi kelihatan agak terjengkang kebelakang, jelas dia masih kalah kuat.

KiniJian-li-tok-heng tidak memberi peluang kepada lawan, segera dia kembangkan Sian-tian-ciang-hoat (ilmu pukulan kilat meny amber), sekaligus dia menyerang dua belas jurus.

Tapi Yu In-hwi sekarang sudah membekal kepandaian tinggi, dia kira setelah menggembleng diri selama sepuluh tahun, sekali pukul dia yakin dapat mengalahkan lawan, tak tahunya dua gebrak permulaan adu tenaga ini, sekuatnya dirinya masih mampu bertahan Kini melihat lawan merobah permainan, serangan gencar merabu datang, lekas dia memusatkan pikiran dan mengerahkan tenaga pula, d eng a n permainan pukulan yang aneh diapun balas memy erang sepuluh jurus Dalam sekejap mereka saling serang tiga puluh jurus.

Dalam pada ituJi-hong Pek Ing yang berdiri dipinggir gelanggang berkata kepada It-cu-kiam "Saudara Koan, apa kau senang menganggur melihat tontonan saja ?

Sudah lama kudengar ilmu pedangmu penuh keistimewaaannya, marilah turun gelanggang, orang she Pek mohon pengajaran kepadamu."

TernyataJi-hong jauh lebih teleng as dari saudara tuanya, dia pandai melihat situasi.

ilmuJian-li-tok-heng kelihatan tangguh, kalau Lotoa mau mengalahkan musuh jelas harus banyak makan tenaga dan menggunakan akal busuk.

namun dia yakin pihak sendirijauh lebih banyak.

lawan hanya dua orang, bila terdesak oleh keadaan, mereka bisa main keroyok, kemenangan akhirnya pasti berada dipihaknya.

It-cu-kiam Koan Yong cukup cerdik, pihak fawan lebih banyak.

sekarang dirinya ditantang, maka dia menegak alis dan menjengek dingin.

"Kalau tuan ingin melemaskan otot, orang she Koan boleh saja kehendakmu". dia tahu manusia jahat berhati culas ini hakikatnya berani melakukan kecurangan busuk apapun, maka tanpa banyak kata ingin segera dia keluarkan pedang, berdiri tebak menunggu dan siaga. Ji-hong Pek Ing juga tidak ragu-ragu.

"Awas serangan."

Bentaknya pendek lalu menerjang lebih dulu.

Telapak tangannya mengincar Hoa-kay-hiat didepan dada It-cu-kiam, pukulannya membawa deru angin keras gerakannya jua berbed.a dengan pukulan umum.

It-cu-kiam tidak menyingkir atau berkelit, bila angin pukulan lawan hampir menyentuh badan, sebat sekali dia menggeliat menghindarkan pukulan telak, berbareng pedang ditang a n kanan menunuk dengan jurus Tok-coa-jut-tong (ular beracun keluar lobang) ya.tg diincar adalah Wok-chiathiat.

Melihat s erang a n pedang lawan mantap dan telak.

diamdiam terkejut juga hati Pek Ing, namun urusan sudah kebacut, jerijua tidak berguna, lekas dia kembangkan ilmu pukulan perguruannya yang aneh dan lihay, kedua tangannya membundar dan melingkar-lingkar terus ditepukkan secara beruntun pula kedepan, dia berusaha merangsak lawan sehingga mereka tak sempat balas menyerang, Tapi It-cu-kiam Loan Yong cukup tabah, dan kalem saja menghadapi serangannya yang menggebu, pedangnya masih bergetar hebat mematahkan serangan lawan sambil balas menyerang.

Tampak ditengah taburan telapak tangan, sinarpedangpun berkelebat menyamber kian kemari, makin sengitlah pertarungan mereka.

Sementara ituJian-li-tok-heng sudah saling labrak dua ratus jurus lebih dengan Yu In-hwi, keringat sudah membahasi badan mereka, terutama Yu In-hwi, napasnya sudah mulai menggeros, seperti babi yang mau disembelih.

Gerak serangan merekapun semakin lambat dan berat, setiap j urus serangan disertai langkah kaki yang berat berdentam d ita nah, jelas kedua pihak sudah kerahkan tenaga dalam.

Suatu ketika Pek Ing merasa mendapat peluang baik, disertai bentakan keras, mendadak dia pergencar serangan tangannva.

Ternyata dirabu oleh serangan mendadak yang lihay ini, It-cu-kiam kena terdesak dan mundur berulang kali.

Ternyata bentakan khusus dariJi-bong itu merupakan aba-aba pula bagi lima lelaki yang berdiri jajar diluar arena, kelima anggota Ham-ping klong itu serempak meraung maju ketengah gelanggang.

Disaat mereka hendak main keroyok itulah, mendadak terdengar bentakan-bentakan keras lain dari hutan kanan, beberapa bayangan melompat keluar menghadang kelima orang Ham-ping-klong.

Situasi berobah seketika ditengah arena pertempuran.

Siang-bong tidak tahu pihak lawan datang berapa banyak bala bantuan-disaat mereka bingung, pada hal pertarungan jago silat kelas tinggi.

kalah menang hanya ditentukan dalam beberapa detik -saja.

hanya sekilas bimbang itulahJian-li-tok heng dan It-cu-kiam sudah merebut kesempatan balas merabu lawan dengan gencar.

TerutamaJian-li-tok-heng, pengalamannya lebih luas, kalau lawan sudah berniat main keroyok.

maka pertempuran ini harus cepat dibereskan supaya pihak sendiri gampang meloloskan diri bila situasi cukup genting, apalagi pendatang baru itu semua asing dan tidak dikenalnya, entah kawan atau lawan, di saat Toa-hong, bimbang itulah mendadak dia lancarkan sejurus serangan, berbareng tangan yang lain merogoh keluar segenggam Thi-lian-cu denganBoan-thianhoa-thi (hujan kembang diudara ) biji-biji teratainya itu dia timpukkan kearah kawanan Ham-ping-klong.

Sekilas melegak itu mendadak Toa-hong rasakan angin kencang menerjang tiba, betapapun dia tidak menduga bahwaJian-li-tok-heng dapat memanfaatkan kesempatan sedetik itu sebaik ini, apalagijarak teramat dekat, meski dia sudah berkelit dengan ketangkasan gerak badannya, tak urung pundak kirinya terkena sebutir biji teratai besi melesak kedalam tulang pundak^ saking kesakitan dan targetar oleh tenaga serangan lawan-dia mundur tiga langkah, namunjuga hampir terjungkal jatuh.

Darah meleleh membasahi lengan, seketika pucat lesi selebar mukanya menahan sakit.

Diantara kelima orang itu, dua orang tersambit Hiat-to penting ditubuhnya, mereka terguling jatuh empat kaki sambil merintih-rintih, tiga yang lainjuga terluka lecet berdarah.

Meski gusar tapi pihak sendiri sudah kalah, maka Yu In-hwi meny ering as i sedih, katanya.

"Lokoay. hari ini anggaplah Lohu salah perhitungan, sehingga jatuh dalam tipu dayamu. Tapi biarlah perhitungan ini kita bereskanjuga dilain kesempatan-"

Lalu dia memberi tanda kepada anak buahnya terus berlompat pergi lenyap ditelan malam. Melihat musuh sudah pergi lekasJian-li-tok-heng menjura kepada Thi-pi-kiam-to Tan Kian-thay. katanya.

"Berkat bantuan kalian hari ini kami lolos dari kesulitan, terimalah terima kasih Los lu, mohon tanya siapakah nama besar kalian yang mulai ?"

Tersipu Tan Kian-thay belas menjura, kalanya.

"cianpwej angan sungkan, kita orang sendiii."

Lalu dia ceritakan bagaimana mereka masuk menjadi anggota Hong-lui-bun, serta bagaimana mereka berhasil menyelidiki keadaan awan sepanjang jalan ini.

MakaJian-li-tok-heng berdua baru mengerti duduk persoalannya, sejenak dia berpikir, lalu berkata.

"Kalau ciangbunjin dan lain-lain sudah berangkat lewatjalan tembus, kurasa sekarang sudah sampai di Kwi-hun-ceng, marilah lekas kita susul.' 'Tapi jejak kita sudah diketahui musuh, jikalau menempuh jalan besar, apakah tidak membuat waktu malah ?"

Thlo Ping segera menimbrung.

'Daerah pegunungan d is ini aku hapal sekali, bila perlu kita tempuh j a la n pegunungan, mungkin bisa mempersingkat waktu setengah hari.' Saat itu kentongan keempat sudah hampir tiba, maka orang banyak masuk kuil untuk beristirahat sekedarnya, begitu fajar menyingsing, mereka terus menempuh perjalanan.

Thlo Ping menunjukjalan menembus hutan belukar menuju ke Unciu...

Sekarang marilah kita ikuti perjalanan Llok Kiam-ping dan Gin-ji tay-beng yang maju ke Kwi-hun-ceng lewat jalan tembus.

Kalau dilihat kecepatan jalan mereka, dalam sehari semalam mereka sudah akan tiba di tempat tujuan, namun karena Ginkang Siau Hong masih terbatas, selalu ketinggalan jauh dibelakang, sehingga perjalanan mereka terlambat cukup lama.

Hingga magrib hari ketiga baru mereka tiba di Tho-lintun, tidak jauhnya dari Kwi-hun-ceng.

Disini mereka menemukan gua lalu menetap di situ melepas lelah.

Setelah kentongan kedua Llok Kiam-ping mempersiapkan apa-apa yang diperlukan, lalu minta diri mengembangkan ringan tubuh berlalu secepat meteor menuju kearah Kwi-hun ceng.

Ling-hi-pou-hoat memang menjagoi bulim danjarang ada tandingan, kini dia kerahkan tenaga mengembang gerak tubuh itu mencapai taraf yang paling tinggi.

kakinya cukup menyentuh daun pohon, tubuhnya sudah melesat terbang seperti berlari kencang ditanah datar, begitu pesat gerak badannya hingga tak mampu diikuti oleh mata telanjang, dalam sekedipan mata sudah meluncur puluhan tombak jauhnya.

Jarak tiga li hanya ditempuh beberapa kejap saja, Kwi-hunceng sudah terlihat tak jauh disebelah depan-Kembali ketempat asalnya, membuat Llok Kiam-ping terbayang akan kepedihan hidupnya di masa kecil, rasa benci menggelitik sanubarinya, dengan enteng dia enjot kaki tubuhnya melompati sung a i pelindung perkampungan, baru saja dia hendak lanjukan lompat kearah pintu gerbang.

mendadak dari rumpun pohon sebelah kiri terdengar suara percakapan orang yang lirih, untung pendengarannya amat tajam, pelan-pelan dia menggeremet kearah datangnya suara, tapi tidak berani terlalu dekat.

Didengarnya seorang berkata.

"cong-tongcu kita memang keterlaluan, padahal pihak musuh tidak menunjukkan gerakan apa apa, tapi kami harus tegak berdiri terus d is ini, memangnya beberapa kurcaci Hong-lui-bun itu berani berbuat apa, datang satu bunuh satu, datang dua ganyang sepasang, sia-sia mereka mengantar jiwa kemari,"

Menurut cerita Tang-ling-sin kun, Pat-pi kim-liong bocah keparat itu tenyata memang boleh juga, sampaipun conghuhoat kita juga kewalahan terhadapnya, untung beliau banyak akal dan penuh perhitungan, seka rang j a ring sudah terpasang, bila bocah itu berani datang, coba saja kalaujiwanya tidak melayang percuma."

Demikian ujar seorang lain-Berdiri alis Llok Kiamping, hanya sekali melejit dengan enteng dia turun dibelakang kedua orang itu, kedua tangannya menepuk serta meremas pundak mereka, saking kesakitan kedua orang itu sudah buka mulut hendak berteriak.

Lekas Llok Kiamping mengancam.

"Jangan bersuara perangkap lihay apa yang direncanakan Tang-ling-lo-koa y. Di mana pula sekarang Ham-ping-lo-mo berada? Lekas jawab.' Waktu mereka menoleh seketika serasa terbang arwah mereka, badan juga gemetar, kata mereka berbareng.

"Kau inilah Pat-pi-kim-liong ?' Sedikit mengangguk Kiam-ping perkeras remasannya, karuan kedua orang itu gemetar saking kesakitan, namun tidak berani bersuara, hingga gigi mereka yang berkerutuk. Kiam-ping jadi gemas, bentaknya lirih.

"Baiklah, akan kugunakan cara membetot urat mencopot sendi tulang, selama tujuh hari kalian akan tersiksa setengah mati, setelah itu baru jiwa akan melayang dengan mengenaskan', demikian ancamnya. Karuan seperti disamber gledek kejut mereka, lekas mereka meratap minta ampun. 'Kami berdua hanya bertugas juga dipos gelap ini, jagojago tangguh banyak didalam Kwi-hun-ceng, Semua tersebar ditempat-tempat strategis, setiap langkah menghadapi bahaya, tentang bagaimana rancangan perangkap itu, kami berkedudukan rendah, terus terang kami tidak pernah dengar."

Llok Kiam-ping juga maklum pengakuan mereka memang jujur, maka dengan tersenyum dia tepuk dua kali, tanpa bersuara kedua orang itu roboh, dengan sekali berkelebat laksana burung bangau dia menjulang tinggi keatas berkelebat masuk ked a la m perkampungan.

Tidak ada perobahan sejak mula dalam perkampungan ini Llok Kiam-ping dibesarkan dalam perkampungan ini, dia hapal segala seluk beluk di sini.

dengan ketangkasan gerak tubuhnya dengan mudah dia terus menyelinap lebih jauh, langsung dia menuju kependopo.

sekarang diluar pendopo tepat menghadang pintu berdiri sebuah papan batu besar, tinggi setombak lebih, empat huruf besar terukir diatas papan batu ini, bunyinya Ngo-bu-wi-yang (Kungfuku melanglang buana) empat huruf dalam goresan kuno dan kuat.

Dalam hati Kiam-ping membatin.

'Agaknya Kwi-hun-ceng hendak dijadikan pangkalan Ham-ping-klong untuk merajai Bulim didaerah Tlonggoan ini, tujuan mereka memang cukup besar, aku harus menghadapinya secara serius."

Pendopo tampak terang benderang percakapan orang dengan suara keras berisi sering kumandang dari dalam.

Selincah tupai seenteng bangau melompat Kiam-ping terus menyelinap maju mendekam dipojok tembok sekali lompat seringan kucing dia mendekap diatas payon, lalu mengintip kesebelah dalam.

Tampak sebuah meja panjang menjurus kearah pintu dan diujung dalam sana duduk tujuh orang tua, semuanya memiliki sorot mata tajam, Thay-yang-hiatjuga tampak menonjol, jelas Lwekang mereka rata-rata sudah mencapai taraf yang tinggi.

Diantara tujuh orang ini termasuk Tang-lingsin-kun, Tay-bok-it-siu, kecuali itu lima orang yang lain masih asing bagi Llok Kiam-ping.

Disebelah bawah duduk dua belas lelaki kekar berseragam sama, kemungkinan mereka itulah cap-ji-sat-sing dari Hamping-klong yang terkenal kejam itu.

Lelaki tua berwajah burung hantu bermata elang yang duduk ditengah itu sedang berkata.

"Sungguh tidak nyana, bangkotan tua sepertiJian-li-tok-heng yang pongah itu juga mau digaruk kedalam Hong-lui-bun perjalanan Yu-tongcu ke ceng-thian kemaren tidak berhasil membereskan bangkotan tua itu, paling tidak kita sudah berhasil meraba seluk beluk mereka. Ling-kun, menurut pendapatmu, apakah Pat-pi-kimliong sendiri sekarang sudah berada di Un-elu ?"

"Menurut laporan splon kita digaris depan, dua orang tampak menempuh perjalanan kearah timur, tapi entah mengapa setelah keluar dari Siang-tham, bangkotan tua itu mendadak menghilang jejaknya. Kini tiba-tiba muncul sendirian bersama It-cu kiam Koan Yong, salah satu dari Llong-bun-siang-kiam di ceng-dian, urusan memang akan memb ing ung ka n. ' MendengurJian-li-tok-heng sudah ditengah jalan, pasti akan tiba tepat pada saat nya, diam-diam Llok Kiam-ping yang mengintip diluar merasa girang. Dengan sikap hormatJongsan-toa-hong Yu in hwi berkata.

"Lebih diluar dugaan lagi, Hucongpiauthau dari Hong-jang piauklok Thi-pi-kim-to Tan Kianthay dan lain-lain tiba-tiba muncul memberi bantuan Jian-litok-heng berdua d is a at mereka sudah kepepet hampir kalah. Padahal menurut laporan yang masuk. mereka tidak sehaluan dan tidak seperjalanan-"

Tang-ling-sin-kun buka suara.

"Dari sini dapat dinilai bahwa bantuan yang mereka kerahkan agaknya tidak sedikit. Bukan mustahil sekarang sudah ada yang menyelundup ked a la m perkampungan ini."

Lelaki tua ditengah itu berkata pula.

"Kurasa belum tentu, namun lebih hati-hati dan waspada juga baik. Yu-tongcu, kamar rahasia dibela kang itu, merupakan tempat penting untuk menyimpan barang-barang berharga dari IHong-lui bun, maka penjagaan harus diperketat dan diperkuat.

"Benar, untuk itu kami sudah menambah Tan dan ^h dua Thocu untuk ikut bantu menjaga." ' Mendengar tempat penyimpanan tanda kebesaran dan barang-barang penting Hong-lui-bun sekilas Llok Kiam-ping melengak tanpa ayal segera tampak bayanganputih berkelebat, dengan enteng orangnya sudah melambung kebelakang. Karena sudah hapal tempat ini, dia menyelinap ketempat gelap terus menyelinap kesana lalu melayang turun didepan sebuah kamar besar, sejenak berhenti baru saja dia hendak menubruk kesana, mendadak sebuah bayangan besar menubruk datang, gaya tubrukannya yang keras dengan gayanya yang luar biasa, belum pernah dia melihatnya. Sambil menunduk dia menyelinap maju seraya merogoh tangan "Bluk"

Bayangan hitam itu terlempar lima tombak jauhnya, setelah mendengus-dengus beberapa kali terus rebah tak berkutik lagi.

Ternyata itulah anjing ajak dari Mongol, anjing buas dan galak sebesar anak kerbau.

Kiam-ping tahu jatuhnya anjing besar dengan suara keras itu pasti membuat kaget beberapa pos penjagaan yang tersembunyi di sekitar ini, lekas dia melambung keatas meraih dahan pohon terus menyelinap diataspohon besar.

Dugaannya memang betul, pintu kamar besar itu segera terbuka, beberapa bayangan orang berlompatan memburu kearah datangnya suara.

G-^ak g erik beberapa orang itu tangkas, langkahnya enteng, jelas mereka jago-jago lihay.

Seorang memeriksa luka anjing itu, katanya dengan kaget.

"Lwekang penyatron itu sedemikian tangguh, kelihatannya tanpa mengalami pergulatan sama sekali, sekali pukul lantas tamat riwayatnya.J a rang aku temukan lawan setangguh ini Lwekangnya. Urusan malam ini tidak boleh gegabah"

Tiba-tiba seorang berkata dengan tertawa.

"Aku yakin dia tidak akan mampu meloloskan diri dari Kwihun-ceng."

Dari dalam kamar besar kembali melesat keluar sesosok bayangan besar, sekali bersuit rendah, dia undang lima ekor anjing lainnya, secepat angin mereka memburu kebawah pohon-Seketika Kiam-ping Merasakan gelagat tidak menguntungkan, penciuman anjing teramat tajam, bila tempat persembunyiannya konangan, untuk meloloskan diri tentu memakan banyak kesulitan-Lekas dia kembangkan Ling-hipou-hoat tubuhnya melompat tinggi secepat kilat bila daya luncurnya hampir mencapai titik terakhir, kedua tangan menekan kebawah sambil mengerahkan hawa murni dari pusar, berbareng kedua kaki memancal, orang nyapun melayang naik pula, Secara beruntun sembilan kali tubuhnya jumpalitan diudara, akhirnya melayang turun di ujung payon kamar besar itu.

Rumah ini terletak tiga puluhan tombak dari pohon besar itu, kecuali Llok Kiam-ping yang sudah dibekali ilmu sakti, siapapun takkan mampu melakukannya.

Pada saat itulah kelima anjing itu menyalak-nyalak dan mengitari pohon besar itu.

Terdengar sebuah suara keras berisi berkata dengan tertawa.

"Sahabat, d is ini bukan tempat persembunyianmu.

"Belum habis bicara tubuhnya mendadak sudah melejit keatas, kedua tangan terayun kearah pohon besar, segumpal angin besar laksana amukan ombak dahsyat menyapu ranting kecil dan daon-daonpohon, begitu dahsyat daya pukulannya sungguh mengejutkan-Llok Kiam-ping yang sembunyi ditempat gelap mau tidak mau memuji dalam hati, pikirnya. Tenaga pukulan orang ini agaknya lebih unggul seurat dibanding Tay-bok-it-su."

Waktu dia menegasi ternyata lelaki tua yang barusan duduk ditengah itu, seketika timbul rasa heran dan curiganya, 'Siapakah orang ini ?

'demikian dia bertanya-tanya dalam hati.

Begitu hinggap dipucuk pohon, orang tua itu celingukan, segera dia bersuara heran, lekas dia melompat turun pula ketanah, katanya.

"Kungfu penyatron memang hebat penciuman anjing teramat tajam, pasti tidak salah tadi dia sembunyi di sini, namun dalam sekejap ini tahu-tahu sudah lenyap tanpa bekas."

"Apa tidak mungkin dia pindah keatap wuwungan sana. ?"

Kata seseorang.

Tampak orang itu tertawa g elak-g elak.

katanya.

Jangan berkelakar Liang-tongcu pohon ini berjarak tiga puluhan tombak dari pendopo.

terus terang aku Hong kiatjuga tidak punya kemampuan setinggi itu, hayolah kita menyebar keberbagai penjuru, penyatron itu pasti belum pergi."

Segera dia pimpin beberapa orang menuju kebelakang.

Setelah orang tua itu menyebut nama dirinya baru Llok Kiam-ping tahu siapa dia, ternyata Kim-kong-ci Hong kiat sudah ditakuti sejak empatpuluh tahun yang lalu, golongan hitam maupun aliran putih bila mendengar julukkannya, siapa tidak pecah nyalinya, diam-diam timbul rasa kuatir dalam benaknya.

Menurut ceritaJian-li-tok-heng, bukan saja Kungfu orang tua ini amat tinggi.terutama kedua jari telunjuk dan tengahnya meyakinkan Kim-kong-ci, tiada benda keras apapun didunia ini yang mampu menahan tonjokannya, apalagi badan manusia sekali tuding daging bolong tulang remuk.

bukan saja lihay juga berbisa dan jahat.

Dengan adanya keributan ini seluruh jago-jago yang berada d id a la m perkampungan lantas dikerahkan, semua pelosok dijaga ketat, dengan sabar mereka menunggu penyatron itu masuk perangkap.

Sementara Kim-tong-ci bersama rombongannya hilir-mudik menggeledah sana periksa sini, suasana menjadi amat tegang.

Llok Kiam-ping tahu kalau urusan berkelanjutan begini-juga akhirnya tidak menguntungkan dirinya, maka timbul hasratnya kalau tidak berani masuk sarang harimau mana dapat menangkap anak harimau, tampak sekali berkelebat dia melejit kedepan terus melorot turun mepet tembok setangkas kucing dia menerobos masuk kesebelah dalam.

Setelah melewati sebuah lorong, didepan adalah lima deret kamar berbentuk kotak.

Kamar ditengah terbuka pintunya, suara gerokanorang tidur pulas terdengar nyata, maka seorang berkata.

"Li-losu, kau terlalu banyak minum arak hingga mabuk. Cong-tongcu sudah berpesan malam ini kita harus lebih waspada, jikalau musuh menyelinap kemari, celaka bila barang-barang berharga milik Hong-lu^bun yang tersimpan di sini tercuri orang, jiwa ragamu belum setimpal untuk menebus dosa besar ini. Hayolah bangun, setelah larut malam boleh kau tidur lagi."

Diam-diam Llok Kiam-ping girang, agaknya dirinya bakal ketib a n rejeki, tanpa ayal segera dia menerobos masuk kamar.

Seorang lelaki kekar berperawakan pendek sedang duduk didepan meja, sebelah tangannya sibuk menggoncang tubuh kawannya yang menggeros diatas ranjang.

Kamar ini gelap gulita, namun pandangan Llok Kiam-ping seperti berada ditengah hari, tanpa mengeluarkan suara dia sudah tiba didekat meja, agaknya lelaki pendek itu tahu ada sesuatu didekatnya, lekas dia membalik badan, tahu-tahu bayangan putih berkelebat didepannya, kontan lengan kanannya lemas lunglai, seluruh tenaganyapun lenyap.

Llok Kiam-ping membentak lirik.

"Lekas katakan, di mana barang -barang penting Hong-lui-bun disimpan ?"

Lalu jarinya meremas lebih kencang, karuan laki-laki pendek itu kesakitan, sahutnya dengan suara gemetar "Itulah berada didalam almari."

Kontan Kiamping menutuk IHiat-topelemasnya, lalu merebahkannya dilantai.

Dengan ketajaman kedua matanya Kiamping melompat kedepan almari serta membukanya, dari dalam almari dia keluarkan berbagai tanda kebesaran dan benda-benda penting Hong-lui-bun lainnya, semua dia masukkan kedalam kantong bajunya, baru saja dia bergerak hendak mundur keluar pintu.

Mendadak didengarnya suara jepretan keras.

Sebuah papan besi baja telah anjlok menulup rapat pintu.

Disaat melenggong, mendadak angin ribut menyambar dari sebelah depan, puluhan batang Am-gi sekaligus memberondong kearahnya, semua senjata rahasia beracun.

ternyata didinding dipasangi alat-alas rahasia, jadi bukan sambitan manusia.

Lekas Kiam-ping kerahkan Kim-kong-put-hoay-sin-kang, pasang kuda-kuda mengendak pundak.

kedua lengan bajunya terayun kedepan, Damparan angin kencang merontokkan semua senjata rahasia itu, suara gemerincing darijatuhnya Am-gi itu terdengar ramai menyentuh lantai, Sekilas Kiam ping periksa dinding kamar ini, ternyata empat penjuru terbuat dari papan baja, meski ditempat gelap ternyata kelihatan mengkilap.

Meski sudah terkurung berada ditempat berbahaya sedikitpun Llok Kiam-ping tidak gugup, tiba-tiba timbul akalnya, lekas dia melolos cui le -kia m, pedang berat yang tumpul ini dia sodokkan kelobang dindin, dari mana tadi senjata rahasia melesat keluar, cui-le-kiam adalah pedang sakti darijaman dahulu, tajamnya luar biasa, mengiris besi seperti merajang sayur, maka terdengarlah suara kerikan tajam yang memekak telinga, pedang itu amblas sedalam setengah kaki begitu tenaga dikerahkan, sekali perg elang a n tangan menggentak dan berputar, papan baja itu berhasil dipotongnya membundar selebar satu kaki setengah.

Sekali kaki menutul, tubuhnya segera menerobos lobang meluncur keluar.

Waktu itu dari empat penjuru beberapa bayangan orang memburu kearah sini, demikian pula anjinganjing ajak itu menyalak-nyalak buas.

Kiam-ping mendengus ejek.

segera dia kerahkan tenaga diujung kaki mengembangkan Ling-hi-pou-hoat, tubuhnya melesat tinggi belasan tombak, hanya beberapa kali mengganti gaya, tubuhnya sudah meluncur turun di luar sungai pelincung perkampungan beberapa kali lompatan pula bayangannya lenyap dari pandangan mata.

Kapan jago-jago Ham-ping-klong itu pernah menyaksikan kepandaian sehebat itu, Ginkang dapat dikembangkan dalam jarak jauh dengan gaya tubuh yang berganti pula, karuan semua berdiri melenggong hingga lupa akan tugas yang harus dikerjakan, bila mereka menjerit kaget.

bayangan penyatron itupUn sudah lenyap.

Dengan selamat Llok Kiam-ping meninggaikan Kwi-hunceng, sepanjang jalan dia tempuh dengan kecepatan kilat langsung pulang ke Tho-lin-tun.

Waktu itu kokok a yam sudah bersahutan, hari menjelang terang tanah, di kala orang banyak menunggu gelisah, syukur Llok Kiam-ping tanpa kurang suatu.

apapun, karuan mereka bersorak menyambutnya.

Siau Hong pertama menyambut dengan riang.

"Ping-ko, kenapa sampai sekarang bau pulang ? Kita menunggu dengan rasa dag dig dug.

"Kalian harus maklum Kwi -hun -ceng sekarang dijaga ketat, setiap langkah mungkin bisa menghadapi bahaya, jikalau bukan kebetulan, susah aku turun tangan mencapai hasil."

Lalu Llok Kiam-ping keluarkan buntalan kain kuning dari sakunya. Terbelik mata Gin-juay-beng melihat barang-barang dalam buntalan itu, katanya dengan berlinang air mata.

"Semua ini gara-gara aku yang tidak becus ini, sehingga Hong-lui-bun kita mengalami bencana yang memalukan ini, sekali ini aku bersumpah untuk menjagal musuh sebanyak mungkin, untuk melampiaskan sakit hatijatuhnya markas kita. Melihat betapa benci dan dendam Gin juay-beng kepada musuh, lekas Kiam-ping menghiburnya.

"Setiap orang yang memusuhi Hong-lui-bun adalah musuh kita bersama. Yuhuhoat kau sudah berjuang gigih demi Hong-lu^-bun kita, luka-lukamujuga baru sembuh, kesehatanmu belum sembuh seluruhnya, maka kau perlu hati-hati, bila tiba saatnya boleh kau membantai mereka sesuka hatimu."

Sejenak dia pandang seluruh hadirin lalu menambahkan, Tenaga kita masih belum mencukupi untuk sementara belum boleh bergerak, menurut laporan yang diperoleh mata-mata musuh,Jian-li Lokoko dan lain-lain, dalam dua hari ini pasti dapat menyusul sampai di sini.

Sekarang sudah hampir terang tanah, lekaslah kalian beristirahat"

Mereka terns menunggu dengan sabar ditempat persembunyian hingga hari menjelang magrib, seorang murid yang ditugaskanjuga diluar tampak berlari masuk dengan langkah gopoh, katanya sambil menjura kepada Llok Kiamping.

'Lapor ciangbunjin diatas bukit sebrang tampak beberapa titik bayangan, agaknya sedang berlaju kearah sini.' Lekas Llok Kiam-ping pimpin orang banyak keluar pintu kuil.

Lekas sekali bayangan yang dimaksud sudah melesat makin dekat, semua ada enam orang, tiga orang didepan tampak bergerak enteng dan gesit, kelihatannya ttdak menggunakan banyak tenaga, yang terakhir keting g a la n puluh a n tomb a k.

kelihatan kerahkan seluruh tenaga untuk menyusul orang-orang disebelah depan.

Mata Llok Kiam-ping lebih tajam dari orang banyak.

dari kejauhan dia sudah melihat ^rang yang terdepan adalah saudara tuaJian-li-tok-hengjin Hou, lega hatinya, dengan riang segera dia enjot tubuh melompat kepucuk pohon, dari kejauhan dia sudah menggembor mema ng g ilny a .

Lekas sekaliJian-li-tok-heng meluncur kearah datangnya suara, begitu rombongan itu tiba dipinggir hutan Llok Kiamping melompat turun sudah tentu bukan kepalang girang hati mereka atas pertemuan ini, Llok Kiam-ping ajak orang banyak masuk kedalam kuil serta duduk berkeliling diatas lantai, mereka berunding cara menghadapi musuh, rapat itu memutuskan Thlo Ping bersama empat rekannya tetap tinggal di kuil ini menjaga Siau Hong, yang lain malam ini ikut bergerak menyerbu Kwi-hun-ceng.

Kentongan kedua Llok Kiam-ping bersama orang banyak.

mengikutijalan yang kemaren dia tempuh menuju ke Kwi hunceng.

Dalam jangka s emas akan air, sungai pelindung perkampungan sudah tampak disebelah depan, Waktu mereka tiba dibawah pohon besar tak jauh darijembatan, perkampungan besar itu dalam suasana sepi gelap keheningan yang mencekam.

Tengah meraka celingukan dan main selidik, mendadak tampak tiga bayangan orang laksana tupai segesit burung elang melesat lewat sungai terus lenyap ditempat gelap.

Giniji-tay-berg bersuara dalam mulut, katanyu lirih.

'Melihat gerak gerik bayangan tadi kelihatannya adalah orang pihak.

kita, mungkinkah Toako sudah kembali ?"

Kiam-ping juga merasa kenal akan bayangan itu, segera dia berpesan.

'Tak usah peduli apa betul bayangan itu cohhuhoat, tapi tak usah diragukan bahwa dia orang kita, setelah ketemu di sini lekas kita berpencar untuk menyambut mereka bertiga didalam.

Lokoko bersama Yu-huhoat silakan masuk dari arah kiri berputar darijalan kecil, maksudku untuk membingungkan musuh, namun maksudnya untuk menggencet musuh dari dua arah.

Sementara yang lain-lain tetap ikut cayhe."

Habis bicara dia mendahului melesat ke udara, langsung menyerang ke pintu gerbang perkampungan.

Terdengar bentakan gusar beberapa orang, anak buah Ham-ping-klong yang sembunyi dibalikpohon, d is emak rumput berlompatan keluar menghadang, pemimpinnya adalah seorang tua jubah panjang berwajah celurut, sambil tertawa kering dia berkata.

"Kawanan tikus berani mengusik harimau, agaknya kalian ingin mengantarjiwa dil Ham-pingklong, lekas sebut nama kalian, menyerah -saja, hukumannya pasti ringan."

Llok Kiam-ping hanya mengejek hina, tanpa bersuara dia sambut orang-orang itu dengan pukulan kedua telapak tangannya, Kiam-ping menyerang dengan gusar, maka dapat dibayangkan betapa dahsyat tenaga pukulannya, Lelakijubah panjang berwajah celurut itu adalah salah satu Tongcu dari Ham-ping-klong, ilmu silatnya tidak lemah.

tapi dibanding Llok Kiam-ping jelas terpaut amatjauh melihat Kiam-ping masin muda, dia terlalu gegabah dan memandang rendah, apalagi Kiam-ping menyerang lebih dulu, baru saja dia angkat tangan, damparan tenaga pukulan lawan sudah menerpa tiba, kontan dada seperti ditumbuk benda berat, mulutnya setengah memekik, tahu-tahu tubuhnya sudah terlempar lima tombak, rubuh untuk tidak bangun lagi.

'Hayo serbu.' 'Kiam-ping memberi aba-aba.

Bayangan orang segera saling tubruk, jeritan demijeritan, satu-satu orang Ham-ping-klong dirobohkan-Dalam sekejap penjagaan diluar pintu gerbang telah disikat habis.

Dari luar tampak cahaya lampu terang benderang d id a la m perkampungan, sayup,sayup terdengar pula suara pertempuran sengit Kiam-ping tahu tiga orang yang mendahului masuk kedalam sudah bergebrak dengan musuh.

Beberapa kali lompatan dia sudah turun didepan pintu gerbang, kontan dia pukul dengan kedua telapak tangan.

"Blam' daun pintu gerbang setebal beberapa dim itu telah dipukulnya bolong, sekali pukul lagi daun pintu pun semplak dan roboh kedalam. Bagai air bah orang banyak segera menyerbu masuk. Tujuh orang kekar mendadak menerobos keluar menghadang, yang pimpin rombongan orang itu dua orang, seorang kakek berwajah bersih dan seorang Hweslo gendut. Melihat yang membobol pintu gerbang Llok Kiam-ping, Taybok-it-siu menggerutu dalam hati.

"cepat juga kedatangan bocah ini, kekuatanku sekarang mungkin bukan lagi tandingannya, situasi amat mendesak, apapun aku tidak boleh mundur dari medan laga untung jumlah kita lebih banyak sedapat mungkin mengulur waktu, bila bantuan telah datang, segala persoalan pasti dapat dibereskan.' Segera dia terkekeh tawa, serunya.

"Llong-ciangbun, selamat bertemu, beruntung kau dapat meloloskan diri di Giok tong-bo, hari ini kau antarjiwa mu ke Kwi-hun-ceng, mati hidupmu bakal ditentukan d is ini. Sekali ini kau tidak terampun lagi."

Mata Llok Kiam-ping memandang langit sikapnya tak acuh dan menghina, katanya tersenyum.

Jago yang sudah keok, sukmamu pernah lolos dari tanganku, masih berani takabur menjual lagak.

anjing kurap macam dirimu yang terima menjadi antek orang hari ini takkan kuampuni jiwa."

Kontan dia gerakkan kedua tangannya menepuk kearah Tay bok-itsiu.

Betapa dahsyat kekuatan tepukan Llok Kiamping, Tay-bokit-siu tidak berani menyambut dia, menyingkir lima langkah terus mengembangkan pukulan tangan, pertarungan sengitpun berlangsung.

Kedua orang bergerak cepat, dalam sekejap sudah dua puluh jurus saling serang.

Bocah gede Siang Wi tampil kedepan, bentaknya kepada Hweslo gendut Hot-pun Hosiang.

"Kepala gundul, kulihat gaman di tanganmu cukup gede dan berat, tentu tenagamu amat besar, marilah kau layani pentungan ku ini, buktikan tenaga siapa lebih besar?' tanpa menunggu jawaban pentung besarnya itu sudah mengemplang kepala gundul Hoat-pun Hosiang. Sudah tentu kepala gundul bergelar Hoat-pun Siansu ini tidak menduga si gedepikun ini tidak menghiraukan aturan Kangouw, datang-datang lantas menyerang, tengah melengak pentung lawan sudah mengemplang kepalanya, lekas dia angkat Hong-pian-jan sebesar telur angsa itu menangkis keatas. Dua senjata berat beradu.

"Trang"

Kerasnya seperti genta raksasa dipalu godam, keduanya merasa pekak telinga, kembang apipun berpijar.

Hoat-pun Siansu mundur tiga langkah, kedua lengannya terasa pegal linu.

Hatinya kaget bukan main, bocah gede ini ternyata memiliki tenaga raksasa.

Si gede Siang Wijuga menyurut mundur setindak, sambil mang gut dia memuji.

"Bagus, Hweslo gundul memang berisi, nah sambut lagi pentungku."

Pentung besar itu menderu pula dari atas, mengemplang kepala, senjata serangan pentung kali inijauh lebih kuat dan keras.

Tadi Hoat-pun merasa dirugikan karena tanpa siaga harus menyambut serangan mendadak.

kini setelah ia tahu lawan bertenaga raksasa, dia tidak melawan secara keras, lekas dia berkelit minggir hingga s a mb e ran pentung lewat didepan mukanya.

Segera dia kembangkan ciang-mo-jan hoat ajaran perguruannya dengan enam puluh empat j urus serangan, la ngka h nyapun tangkas berputar mengelilingi si gede dengan permainan pentungnya yang gencar, setiap peluang tidak disia-siakan untuk menyelinap sambil menyodok dan balas meyerampang.Jangan kira badannya gendut, ternyata ginkangnya cukup tinggi, gerak geriknya gesit, permainan tongkat Hweslonya juga lincah.

Maka kedua lawan seta nding ini, bertempur dengan seru.

Tay-bok it-siu yang menempur Llok Kiam-ping kian merasa payah, pihak lawan masih ada empat orang, sementara pihak sendiri kedatangan bala bantuan dua belas orang, menurut perhitungan jumlah orang, pihaknya pasti akan menang, dasar culas dan banyak akalnya, dia tahu untuk mengakhir pertempuran hari ini, demi mencapai kemenangan, tak perlu dia hiraukan aturan Kangouw segala.

Segera dia bersiul tiga kali memberi tanda kepada anak buahnya untuk terjun kearena pertempuran-Maka cap-ji-satsing dari Ham-ping-klong segera angkat senjata melabrak musuh, enam orang langsung meluruk kearah Llok Kiam-ping.

Berkepandaian tinggi besar nyali Kiam-ping, keroyokan lawan tidak menjadikan dia jeri malah menambah kebenciannya, lebih banyak lawan meluruk kebetulanjuga malah supaya musuh lebih banyak diganyang dan pertempuran lekas usai, dengan gelak tawa Kiam-ping berkata.

"Lebih banyak kalian datang lebih menguntungkan, supaya menyingkat waktu menghemat tenaga."

Lenyap perkataannya, pancaran cahaya benderangpun menyilaukan, Liat-jit-kiam sudah dilolosnya keluar.

Disertai bentakan menggeledek, tubuh Kiam-ping melambung keudara, jurus Jit-lun-jut-sengpun dilancarkan-Seketika orang banyak disilaukan oleh terbitnya bola matahari besar yang mencorong cemerlang, bergegas mereka berlompatan mundur, padahal cap-ji-sat-sing dari Ham-pingklong memiliki kepandaian yang cukup tinggi, namun dibawah ancaman Liat-jit-kiam yang sakti, susah mereka terhindar dari renggutan elmaut, disertai jeritan mengerikan dua orang roboh binasa.

Kiam-ping kebacut benci setengah mati, maka gerakan tidak berhenti sampai di situ, di udara badannya berputar, sementara tangan kiri melancarkan j urus Llong-kiap-sin-gan, badannya meluncur serong kembali semburan darah berceceran diatas tanah.

Llok Kiam-ping bergerak selincah naga menari diudara, tangan dan pedang bergerak bersama, di mana bayangannya menerjang, serangan mematikanpun menentukan jiwa para musuhnya, kembali jeritan-jeritan saling susul.

Mimpipun Tay-bok-it-siu tidak pernah sangka bahwa lawan mampu melancarkan serangan pedang dan pukulan telapak tangan bersama, perbawanyapUn hebat luar biasa, susah dilawan apalagi ditahan, Melihat anak buahnya berguguran, saking ngeri merasa merinding bulu kuduknya, untung dia masih yakin bala bantuan tangguh masih ada dibela kang, meski harus pertaruhan jiwa raga juga dia akan bertahan mati-matian, sambil meraung gusar kedua telapak tangan menggenjot dan menjotos enam j urus, sekuatnya berhasil dia membendung rangsakan gencar Llok Kiam-ping.

Padahal Llok Kiam-ping juga ingin selekasnya membereskan pertempuran di sini untuk menerjang masuk lebih jauh, makajurus kedua Liat-jit-yam-yam segera dikenbangkanjuga.

Dua jeritan lagi, dua orang Ham-pingklong binasa.

Sekilas dilihatnya Tan Kian-thay sedang bertempur dengan dua orang dari cap-ji-sat-sing, perlawanannya tampak makan tenaga, jelas kemampuannya memang tidak lebih unggul dari kedua lawannya, gerak geriknya sudah kelihatan lamban.

Dengan mendelik gusar segera dia membentak.

"Tan-los u, jangan gelisah, cayhe datang membantu."

Lenyap suaranya orang nyapun tiba, d is a at badannya menukik ditengah udara berputar laksana damparan angin lesus, tampak sinar pedang berkelebat, kepala seorang terpenggal mencelat keudara, satujiwa telah ditamatkan lagi.

Memangnya Tan Kian-thay sudah merasa payah, mendengar seruan Llok Kiam-ping seketika berkobar semangat tempurnya, sekuat tenaga segera dia balas menyerang dengan nekad maka posisinya kinijauh lebih mending.

Dalam sekejap itu pula Llok Kiam-ping telah mengerjakan pedangnya menghabisi jiwa seorang lawannya Disaat dia hendak melabrak musuh lebih lanjut, mendadak dirasakan angin kencang menindih dari belakang dia tahu Taybok-it-siu menyergap dengan serangan dahsyat sebat sekali dia berputar sambil melayangkan telapak tangan kiri, angin deraspun melanda.

Setelah terjadi benturan kerass kedua orang inipun berkutat dengan sengit.

Dalam pada itu, lt-cu-kim Koan Yong sedang melancarkan cui -hong-kiam-hoat, dengan ketangkasan gerak tubuhnya dia berputar dan berlompatan kian kemari membingungkan kedua lawan yang mengeroyoknya, rangsakan kedua lawan dilayani secara mantap dan santai, setiap serangan musuh dia patahkan dengan serangan balasan-Disebelah pinggir Pi-lik-jiujuga sedang melawan seorang dari cap-jit-sat-sing dengan kekuatan pukulannya yang hebat, setiap j urus serangannya selalu d ib reng i dengan bentakan mengguntur, secara langsung lawan dibuat gentarjuga oleh suaranya.

Sementara coh-siang hwi ih Tiau-hlong sesuai nama julukannya, dia kembangkan ginkang terbang diatas rumput, tubuhnya bergerak bebas pergi datang berseliweran diantara rangsakan telapak tangan musuh, ternyata lawan tidak mampu menyentuh u^ung bajunya, lama kelamaan merasa pusing.

dan kabur pandangan.

Nu-kang-cap-pwe-bak yang dilancarkan Ki ling-sin Siang Wijuga hampir selesai, namun lawannya yang berbadan gendut ternyata bergerak selincah kupu menari mengitari dirinya.

si gede yang dikata bodoh ini ternyata segera dapat merobah strategi perangnya, kini dia rob a h permainan pentungnya dengan Liu-bun-hwi-bu, itulah ilmu pentung yang mengutamakan gerak lincah dan enteng.

Permainan pentung yang cepat mengatasi cepat ini ternyata membawa hasil dan bermanfaat besar bagi dirinya, hanya beberapa gebrak Hoat-pun Siansu sudah dicecernya kerepotan-Mau tak mau kepala gundul ini berpikir, Badan segede dan berat ini, kasar seperti kerbau lagi, ternyata mampu me lancarkan permainan tongkat setang kas dan lincah ini, sungguh aneh bin ajaib,"

Dua puluh jurus kemudian, Hoat-pun sudah terdesak dibawah angin, tidak mampu balas menyerang pula.

Mendadak Ki-ling-sin siang WI melancarkan j urus cai-bungoat-hun ( mengudak mega menyingkap kabut ), pentungnya menyapu pinggang Hoat-pun Siansu, serangan ini bukan saja cepat, tak terduga juga telak.

Padahal baru saja Hoat-pun meluputkan diri dari samberan berbahaya pentung lawan, sebelum dia sempat berputar dan menegakkan posisinya, angin kencang dari samberan pentung lawan sudah menindih tiba, lekas dia berusaha menjatuhkan tubuhnya kearah kanan reaksinya boleh dikata cukup cepat dan secara reftek, namun gerakannya sudah terlambat, pentung besar Siang Wi telah membentur lengan kirinya.

"Pletak"

Terdengar tulang lengan kirinya patah, saking kesakitan dia menjerit sejadi-jadinya, sambil kertak gigi lekas dia lempar dirinya mengikuti dorongan angin pentung keluar kalangan terus lari keluar perkampung an-Lucu adalah Ki-ling sin Siang Wi malah berdiri menjublek mengawasi punggung f Hoat-pun yang mencawat ekor, sesaat kemudian baru dia tersentak sadar oleh gerung a n suara marah dua orang yang lagi berhantam tak jauh disampingnya.

sambil menentang pentung besarnya segera dia menerjang masuk kedalam perkampungan.

Kini mari kita ikutiperjalananJian-litok-heng bersama Ginijiay-beng yang disuruh menyerbu dari sayap kiri, setelah meninggalkan orang banyak.

mereka mengembangkan Ginkang melompati sung a i pelindung kampung, lewat jalan kecil langsung mereka menuju kebukit kecil yang berada dibela kang perkampungan, Ginkang mereka sama-sama tinggi, begitu dikembangkan, kecepatan lari mereka seperti anak panah seenteng asap mengambang.

Dalam jangka setengah jam, mereka sudah tiba dihutan dibela kang perkampungan.

Di sini angin malam menghembus santer, sinar bintang-bintang dilangit membuat keadaan remangremang, menambah suasana seram.

Ternyata penjagaan dalam hutan tidak seketat d ibagian depan, di sini hanya dijaga lima orang, dua sedang mendengkur, tiga orang mondar mandir.

PadahalJian-li-tok-heng dan Gin-ji-ay-beng sudah menyelinap kedalam hutan, jejak mereka ternyata tidak diketahui.

Setelah saling memberi tanda kedua orang melompat bersama, empat tangan bekerja seperti berlomba, bayangan orang seperti bola mencelat terbang keatas kecantol diatas pohon, ditengah jeritan ngeri darahpun muncrat kian kemari.

Dalam sekejap lima jiwa telah dihabisi, demikiampula penjagaan selanjutnya dibereskan dengan mudah, kalau tidak melayang jiwanya pasti ditutuk Hiat-tonya.

Dengan tangkas kedua orang ini merebut jembatan gantung, baru saja mereka hendak melompat masuk kebalik tembok dari tempat gelap mendadak menerkam tiga bayangan hitam.

celakanya tiga bayangan besar menerkam bersama tanpa mengeluarkan suara, tahu-tahu sedah mengancam leher.

Mata Ginijiay-beng lebih tajam ditempat gelap.

begitu dekat dia sudah melihat yang menubruk datang adalah anjing ajak Mongol yang buas, lekas dia berseru memberi peringatan.

"Awas, anjing buas, jangan sampai mereka mendekat.' Jian-li-tok-heng segera menghentikan langkah siaga, begitu bayangan itu menubruk sejauh lima kaki, kontan dia sambut dengan pukulan kedua telapak tangan.

"Bluk"

Bayangan besar itu dipukulnya terpental balik delapan kaki terus bergulingan ditanah, Tapi anjing ajak ini agaknya berkulit tebal, pukulan biasa ternyata tak mampu melukai, setelah bergulingan dua kali, mendadak meraung buas terus menerkam balik lagi, tubrukannya jauh lebih keras malah, Agaknya Ginijay-beng lebih berpengalaman menahan anjing, dia menunggu begitu cakar anjing hampir mengenai tubuhnya, mendadak dia berkelit kesamping, berbareng dia menutul kaki, tubuhnya melejit lima kaki, begitu menggeliat pinggang kelima j arinya terkembang terus menepuk kebatok kepala anjing itu.

Anjing ajak yang diserangnya itu ternyata cukup cerdik, begitu terkamannya lupus, angin tekananpun menindih kepala, lekas dia membalik badan menggelundung lima kaki.

Sementara meminjam tepukan telapak tangannya itu, kembali Gin-j.^ay-beng melambung lebih tinggi, dimana kedua kakinya menyendal, tubuhnya menubruk ke arah anjing yang menggelundung.

Kedua telapak tangannya ditepukkanpula dengan tenaga lebih besar.

Anjing ajak itu baru saja berdiri dan hendak membalik badan, tahu-tahu angin pukulan telah menindih kepalanya pula, untung dia cepat mengenjot kaki belakangnya hingga tubuhnya memberosot kedepan, serangan mematikan dikepalanya dapat dihindarkan, namun ^ak urung punggung kaki depannya terkena pukulan telak, Ditengah lolong suaranya, badannya ambruk tidak mampu berdiri lagi.

Sementara itu Jian-li-tok-heng juga secang kerahkan seluruh kekuatannya memukul seekor anjing ajak lima kakijauhnya, Mendadak dari samping kanan, tubrukan bayangan besar sederas anak panah menyambar^ Secara gopoh dia ayun sebelah tangannya menampar kesamping .jikalau dia harus kerahkan tenaga melancarkan pukulan dahsyat secara beruntun, betapapun tangguh Lwekangnya, jelas dia takkan mampu bertahan lama, setelah beruntun melancarkan dua puluh jurus pukulan, keringat sudah bercucuran, napaspun mulai memburu.

Melihat keadaan kawannya, lekas Ginijiay-beng melompat datang, langsung dia menerkam kearah kanan mengincar seekor anjing ajak yang lain-Ternyata anjing ajak yang satu ini lebih cerdik, Melihat Gin-jiay-beng melejit keudara melesat kearannya, lekas dia mendekam ditanah tidak bergerak.

bola matanya mendelik liar.

Jian-li-tok-heng sempat ganti napas, rasa gemas merangsang hati, kekijuga dia berhadapan dengan kawanan anjing buas ini, segera dia rogoh dua butir teratai besi.

Bila anjing itu menubruk datang pula, kontan dia ayun tangan menimpukkan biji teratai besi yang sudah dia siapkan, yang diincar adalah bola matanya.

Mungkin karena jaraknya terlalu dekat, gerak gerik anjing sebesar itu diudara kurang tangkas, tak mampu dia meluputkan diri, kedua bola matanya seketika terbidik buta, biji teratai besi itu malah amblas kedalam lobang matanya.

Terdengar anjing itu meraung kesakitan, badannya masih terus menubruk maju kedua cakarnya amblas kedalam tanah, saking kesakita .

cakarnya mengaruk dan mencakar membabi buta sehingga tanah berhamburan.

Disaat kedua orang ini kerja sama mengganyang kawanan anjing ajak itulah, mendadak sebuah suitan keras kumandang dari arah pintu perkampungan-Maka muncullah dua bayangan orang menukik turun didepan mereka.

Yang datang ternyataJong-san-siang-hong, sebetulnya mereka meronda dibela kang perkampungan, kebetulan mendengar pekik anjing kesakitan, maka mereka memburu datang.

Jian-li-tok-heng sambut dengan gelak tawa.

"Sahabat lama, dua kali kau lolos dari telapak tanganku, gagahjuga malam ini karena kau dibantu oleh kawanan anjing ini.' kembali dia sindir bebuyutan ini. Saking murka Yu fn-hwi bergelak tawa, serunya.

"Mahluk keparat, jangan membual, malam ini j angan kau kira tumbuh sayap dapat lolos dari tangan kita."

"Selamat bertemu, selamat bertemu, itulah yang dinamakan orang hidup kemanapun bisa bertemu, sebentar boleh kau boyong seluruh kemampuan yang kau yakinkan selama sepuluh tahun ini, bisa terbuka mata Lohu.Jangan seperti yang terdahulu, hanya membersihkan telapak kaki terus ngacir lebih dulu, sebal aku jadinya. Nah kemarilah, waktunya masih pagi, supaya tidak terlambat kau mendaftarkan namamu kepada raja akhirat kalau terlambat, aku akan ikut gelisah didunia ini."

F Habis bicara segera pasang kuda-kuda membuat gaya siap menghadapi pertempuran seru.

Walau Lwekangnya tangguh, biasa suka berkelakar, sifat humornya itu takkan lenyap meski menghadapi bahaya, tapi keadaan malam ini berbeda, kalau tidak berani masuk sarang harimau, bagaimana dapat merobohkan musuh yang dibantu anjing ajak buas, maka dia tidak berani gegabah.

KuatirJian-li-tok-heng kecundang oleh kawanan anjing buas itu, lekas Ginij.^aybeng melompat datang disampingnya, setelah membisiki beberapa patah-kata, segera dia mundur kembali ketempatnya.

Toa-hong seperti mendadak teringat sesuatu, dengan nada sinis dia bertanya.

"Mahluk tua, sebetulnya apa hubunganmu dengan f Honglui-bun sampai kau sudi menjual jiwa untuk mereka ? Berani mencampuri urusan ini ?"

"Soal itu boleh nanti kau tanyakan kepada raja akhirat. Sekarang Lohu tidak sempat perang lidah dengan kau."

KaruanJong-san-sian-hlong mencak-mencak gusar seperti kebakaranjenggot.

Tapi mereka tahu diri, dengan bekal kemampuan mereka sekarang pihak s end iri jelas tidak mampu mengalahkan kedua lawannya, untung anjing buas berada disamping bisa membantu dengan aba-abanya, betapapun tinggi kepandaian lawan yakin malam ini mereka takkan lolos dari renggutan maut.

Setelah menilai situasi dan gelagat lebih menguntungkan, maka mereka memperlihatkan sikap takabur, dengan suatu gerakan khusus mereka memberi tanda kepada anjing ajak disertai bentakan-bentakan aneh, kedua saudara itupun ikut menerjang Empat telapak tangan menari, disertai s a mb eran angin dingin mereka memecah diri menyerang kedua musuh.

Tanpa berjanjiJian-li-tok-heng dan Gin-iay-beng melompat tinggi keudara, dua gulung tenaga angin pukulan lawan menyamber dibawah kaki mereka, dari atas mereka menukik balas menyerang dengan telapak tangan begitu meluncur turun badan berputar hinggap dibela kang kawanan anjing.

Perawakan anjing itu gede dan kekar, daya tubrukan mereka sungguh teramat kencang tapi untuk bergerak membalik ternyata agak lamban.

Begitu kaki menyentuh bumi jian-li-tok-heng dan Gin-jiay-beng berlomba menarikan empat tangan mereka, dua jalur angin dahsyat berpencar menerjang ke arah s elang kang a n belakang anjing ajak.

Walau anjing itu cukup cerdik meneruskan terj angannya kedepan, tapi begitu kedua kakinya harus memancal kebelakang, dikala tubuhnya hampir melenting hedepan itulah, kedua kaki belakangnya sudah terkena pukulan.

"Krak"

Tulang kaki belakang patah dan remuk.

saking, kesakitan anjing itu melengking keras, hanya kedua kaki depannya saja menggaruk tanah berusaha melarikan diri.

Jong-can-siang-hong tidak sempat menyelamatkan anjing itu, karuan mata mereka menyala gusar, rona f muka nyapun semakin bengis dan seram.

Sekali pukul berhasil merobohkan seekor anjing, berkobar semangat Jian-l^tok-heng dan Ginju^ay-beng, melihat mimik muka Siang-hong, sengaja dia bergelaktawa dan mengolok pula.

"Yu-ciangkun sekarang berobah menjadi keroco yang tanpa daksa, memangnya kalian antek penjahat ini juga tidak akan mampu berbuat apa lagi. Hayolah, maju, biar Loh u tamatkan pula riwayat kalian-"

Kedua manusia ganas ini terkenal jahat dan culas, sekarang mereka kecundang dan dipermainkan olehJian-li-tok-heng, saking marah mereka hanya bisa melotot gusar tanpa bisa balas mencaci.

Mendapat anginJian-li-tok-heng ternyata tidak memberi ampun, kembali dia mencemooh dengan nada iba.

"Loh, kenapa ? Sudah jeri ? Peduli takut atau tidak-malam ini kalian tidak boleh diberi ampun lagi,"

Sebelum habis bicara, dia sudah menyerang lebih dulu.

Kedua tangannya menyerang dengan delapan bagian kekuatannya, begitu didorong kemuka, s eg ulung angin kencang menerjang kearah Toa-hong.

Toa-hong Yu fn-hwi tahu bahwa lwekang lawan bebuyutannya ini amat tangguh, melawan dengan kekerasan jelas dirinya tidak akan untung, namun diburu emosi, mendadak diserang pula, karena terdesak dengan kertak gigi dia balas memukul sekali.

Dengan gusar dia memukul maka dia kerahkan seluruh tenaganya, perbawanya memang mengejutkan-"Daaar", mereka tertolak mundur selangkah.Jian-li-tokheng segera menghardik.

"Lumayan, nah sambut pukulanku pula."

Kali ini dia kerahkan setaker tenaganya.

Tadi Toa-hong Yu In-hwi sudah memukul dengan seluruh kekuatannya, kedua pihak mundur setapak^ melihatJian-litok-heng tidak memperoleh keuntungan, hatinya amat girang, dia kira Lwekang sendiri setanding dengan lawan, maka timbul keberaniannya, lekas dia himpun seluruh sisa kekuatannya menyongsong pukulan lawan d eng a n pukulan telak.

Tak nyana kali ini dia salah perhitungan, kerugian yang diderita lebih besar.

Begitu pukulan kebacut dilontarkan, seketika dia merasa damparan tenaga lawan laksana gelombang samudra yang bergulung-gulung, tahu gelagat jelek.

tak sempat lagi dia menyingkir atau berkelit ?

Begitu dua tenaga pukulan beradu, badannya terpental delapan kaki, kedua mata berkunang-kunang, darah dirongga dadanya juga bergolak, kaki lemas danjatuh terduduk sambil tumpah darah, jelas luka-lukanya tidak ringan-Ji-hong melompat maju hendak menolong tapi Giniji-taybeng telah mencegatnya.

Lwekang Pek Ing setingkat lebih rendah dari saudaranya, namunjiwanya lebih sempit, culas dan picik pula, melihat telapak tangan Glnju^ay-beng mengeluarkan sinar perak mengkilap.

pukulannya juga keras, tak berani dia melawan dengan keras.

Lekas dia mengegos minggir, mengembangkan kelincahan tubuhnya, selulup timbul diantara samberan angin pukulan lawan-Walau sudah terluka Lwekang Toa-hong cukup tangguh, lekas dia kerahkan tenaga dalam untuk menahan lukalukanya, disamping merogoh keluar dua biji pil obat terus dikunyah, setelah itu dia duduk bersimpuh samadi.

Hanya sekejap luka-lukanya berhasil disumbat hingga darah tidak mengalir terlalu banyak.

lekas sekali dia sudah berdiri, jian-litok-heng tidak memberi kesempatan pula, cepat dia menubruk maju dengan kedua tinjunya menjotos.

Toa-hong berkelit kepinggir, kini diapun mengembangkan kelincahan tubuhnya, dalam waktu singkat masih mampu dia bertahan.

Kalau lawan dibiarkan bertarung secara berputar begini, kapan pertempuran akan berakhir, celaka kalau bala bantuan lawan datang, urusan tentu lebih sukar dibereskan, berkerut alis Ginij.^ay-beng, sekilas berhasil dia mendapat akal.

Mendadak dia melejit keudara setombak ditengah udara menekuk pinggang serta menukik turun, kedua lengan membundar kekanan kiri, laksana seekor burung rajawali, menerkam dari tengah udara.

Aksi Gin-jitay-beng ternyata membuat Pek Ing tertegun karena lawan terapung diudara, maka kelincahan tubuhnya sukar dikembangkan.

Melihat musuh menerkam dari udara, tenaga pukulannyapun mendesis kencang, lekas dia kembangkan pula kelincahan langkahnya untuk menyelamatkan diri.

Diluar tahunya keistimewaan kepandaian Gin-j^aybengjustru adalah Ginkang, ditengah udara dia bisa bebas melancarkan pukulannya, apalagi Gini-^a-ciang adalah ilmu tunggal yang tiada taranya.

Pukulan ini dapat dilontarkan hanya dengan sekali sedotan napas yang dilandasi tenaga murni,jadi tidak usah ganti napas mengerahkan tenaga pula, meminjam daya putaran tubuhnya itu tenaga pukulannya bisa dikembangkan secara beruntun Karena itu dikala Pek Ing berhasil meluputkan diri dari hantaman pertama, Ginjutay-beng meminjam tenaga tekanan kebawah itu untuk mencelat mumbulpula dengan putaran sekali lagi, begitulah secara beruntun dia melontarkan pukulannya dari udara.

Maka terdengarJi-hong menggerung pendek seperti sapi disembelih, badannya mencelat terbang tiga tombak.

Untung dia pandai melihat keadaan, lompatannya kedepan sekaligus didorong tenaga pukulan lawan hingga luka-lukanya tidak begitu parah, begitu kaki menyentuh tanah sekalian dia menjejak bumi hingga tubuhnya melesat pula kedepan, hanya beberapa kali lompatan pula bayangannya sudah lenyap ditelan gerombolan pohon.

Ginjutay-beng tidak menduga bahwa lawan melicin itu, demi melarikan diri, saudara sendirijuga tidak dihiraukan, malah ngacir tanpa memberita h u kepada saudaranya.

Dikala dia menyeringai hina dan geleng geleng menghadapi perbuatan rendahJi-hong yang tidak tahu malu ini.

Mendadak didengarnya jeritan keras yang mengerikan dari arena pertarungan sebelah sana.

Waktu dia menoleh kebetulan dilihatnya badan Toa hong yang tinggi besar itu mencelat dua tombak jauhnya, darah menyembur dari mulutnya.

Ternyata begitu Ginju^ay-beng, hinggap dimuka bumi, di sanaJian-li-tok-heng juga mencelat keudara.

Ginkangnya memang tidak lebih unggul dibanding Gin-ji-tay.beng, namun mempunyai keistimewaannya sendiri pula.

Tampak selincah naga dia kembangkan kedua tangannya memukul beruntun dengan gencar.

Memang sudah terluka, tenaga makin lemah, meski lukaluka sudah diobati dan darah tersumbat keluar, namun dalam keadaan kepepet lagi, gerak geriknya sudahjauh lebih lamban-Dengan kertak gigi sekuatnya dia berhasil mengegos diri dari empat j urus serangan lawan, namun punggungnya kembali termakan jotosan keras, hingga tubuhnya ambruk tak bangun lagi.

Tanpa hiraukan korbannyaJian-li-tok-heng memberi tanda ulapan tangan kepada Gin-ji^tay-beng terus melesat masuk kedalampintu dibelakang perkampungan

Sementara itu Liok Kiam-ping masih melabrak Tay-bok-itsiu yang dibantu tiga jago kosen Ha m-ping-kiong denganpedang danpermainan telapak tangannya, walau permainannya cukup kuat dan mantap.

tapi Lohsing-cianghoatTay-bok^it-siujuga kepandaian tunggal yang sudah terkenal kelihayannya bila dikembangkan sampai puncaknya, perbawanya juga amat mengejutkan-Mau tidak mau Liok Kiam-ping membatin, kalau jalan pertempuran bertahan begini saja, kapan berakhir, terpaksa harus melancarkan serangan total dengan jurus tunggal, kalau tidak perlu dua ratus j urus baru dia mampu merobohkan para lawannya.

Keinginan timbul tenaga dalampun serta merta dikerahkan, gaya pedang ditang a n kanan menyontek, dia bergerak denganjurus Sip-yang-say-loh.

Berbareng telapak tangan kiri mertggempur lebih dahsyat lagi denganjurus Liong-jiau-kingthian-Tampak sinar pedang berkelebat diseling telapak tangan yang berlapis-lapis, laksana hujan badai, ke empat lawannya dirabu dan dilabraknya.

Walau harus tumplek seluruh perhatian dan kerahkan segala kemampuan, sedikit banyak Ta y-bok-it-siu sudah meraba sampai dimana kehebatan permainan Liat-jit-kiamhoat dan Wi-liong-ciang Llok Kiam-ping, karena itu sejak mula dia sudah waspada dan bersiaga.

Setiap j urus permainan diperhitungkan supaya tidak kebacut terperangkap oleh pancingan lawan-Melihat pancaran cahaya surya dari pedang lawan tampak lebih benderang menyilaukan mata.

dia tahu jurus kali inijauh lebih ampuh dari dua jurus terdahulu, sudah tentu dia tidak berani ayal, secepatnya dia mengegos sambil melompat mundur, syukur berhasil menyelamatkan diri.

Tapi belum sempat dia membalik tubuh, didengarnya suara keras diseling dua kalijeritan ngeri.

Dua orang pengeroyok dari cap-ji-sat-sing tampak terlempar dua tombak tak bangun lagi, darah masih terus menyembur dari mulut mereka.

Liat-jit-kiam-hoat memang ilmu sakti warisan jaman kuno, kapan hadirin pernah melihat kehebatan ilmu pedang sepetti itu, Disaat mereka tersirap kaget dan melongo, sebelum menyadari apa yang telah terjadi.

sebuah lengking suara suitan keras mendadak berkumandang dari dalam perkampungan, menyusul sesosok bayangan orang laksana kilat meluncur datang, dalam sekejap sudah meluncur turun hinggap ditengah arena.

Waktu Kiam-ping angkat kepala, dilihatnya pendatang adalah seorang lelaki tua, berambut, jenggot dan alis uban, perawakannya kekar tegap.

wajahnya merah kereng, kedua matanya merem melek memancarkan sinar cemerlang.

Menyusul terdengar bentakan-bentakan sekeras guntur dari dalam perkampungan, maka terjadilah hujan panah yang tidak terhitung banyaknya memberondong keluar secepat kilat.

Ki-ling-sin Siang Wi berada paling depan, meski dia memiliki ilmu kebal badan, badan tidak mempan senjata, namun d iba wah hujan panah begini, karena dia menerjang terlalu bernafsu, maka tak berani dia biarkan anak panah mengenai tubuh, sambil putar kencang pentungnya dia menyurut mundur, mungkin terlalu gugup dia berkelit, tak urung dua panah menancap dipantatnya, untung kulit badannya tebal, dagingnya kokoh kuat lagi, rasanya juga hanya seperti digigit semut saja, anak panah mencelat jatuh ditanah.

Namun hal ini sudah memancing amarahnya, ia membentak gusar.

'Anak kura-kura, kalau berani h ayo keluar, main sembunyi lelaki gagah macam apa ?"

Tapipembidikspembidik yang sembunyi dibalikpintu apapun tidak berani keluar, biar pecah tenggorokannya, caci makinya tidak dihiraukan-Apa boleh buat terpaksa Ki-ling-sin seret pentungnya putar balik ke arena disebelah luar.

Begitu Ki-ling-sin mundur dari dalam pintu baru memburu keluar puluhan anak buah Ham-ping-klong yang semuanya berseragam hitam, semua membawa busur danpanah, cepat sekali mereka memencar keempat penjuru, orang-orang Hong-lui-bun telah di kepung.

Dengan sikap gagah dan congkak laki-laki tua bertubuh kekar itu bertolak pinggang, pandangannya tampak meremehkan-jeng ekny a.

'Anak muda, kau inikah Pat-pikimliong, tunas muda yang baru angkat nama ?"

Kiam-ping menarik muka, katanya dingin.

"Sebagai kaum kroco tak bernama di Kangouw, malu aku menyebut gelar segala, kukira tuan seorang yang cukup tenar, boleh aku tahu gelaranmu ?' "Bagus, Lohu adalah Peksbi-sian-ang (Ki dewa alis putih) Tanghong ^ Sute Ham-ping Lojin-Kabarnya kau memukul mampus cengsan-biau-khek, menusuk mati G-^hu-cu, menggetar luka parah Hwi khong Tianglo dariBu-tong, perbawamu menggetar nyali Tang-ling, Hwe-hun-cun-ciapun kaujagal, betapa kejam dan culas perbuatanmu, kejahatanmu yang busuk telah tersiar luas di Kangouw. Lohu ingin tanya kepadamu, ada permusuhan apa mereka dengan kau, berani kau turun tangan sekeji itu ?' Mau tidak mau Kiam-ping melenggong, pikirnya. 'Menurut Lo-koko, jauh pada empat puluhan tahun yang lampau Peksbisian-ang sudah menggetarkan daerah perbatasan utara. kungfunya tinggi, setaraf dengan Ham-ping Lojin Suhengnya. Tapi sifatnya angkuh. dalam menyelesaikan urusan selalu membawa adatnya sendiri, maka segala lapisan persilatan, jeri bila berhadapan dengannya, namun selama hidupnya tak pernah dia melakukan kejahatan.' Mengorek persoalan lama membakar dendam Llok Kiamping, mendadak Llok Kiamping terloroh-loroh, katanya. 'Sepuluh tahun yang lalu, untuk merebut Wi-llong-pit-kip dan Hiat-loong-po-glok, enamperguruan diTay-pa-san mengeroyok ciang-kiam-kim-liong, tentang peristiwa ini yakin tua n pernah mendengarnya jug a. Tiga tahun yang lalu secara licik cengsan-biau-khek menyergap Lui G^-ok. tentu hal inijuga sudah kau selidiki, ibunda ku gugur lantaran polah orang-orang B utong yang katanya welas asih dan berhati bajik. ayahku mati ditangan IHwe-hun, apakah itutidakpatut kutuntut balas. Kini dikala cayhe keluar pintu, markas kosong pihak Ham-pingklong menyerbu dan menduduki Kwi-hun-ceng dan merebut tanda kebesaran dan barang barang berharga perguruan kita, anak murid kami tak terhitung yang jadi korban, betapa culas dan jahat perbuatan mereka, tolong tuan memberikan keadilan kepada kami."

Pidato Kiam-ping yang berapi-api penuh tuduhan membuat Peksbi-sian ang kehilangan muka dihadapan anak buah sendiri, namun dasar wataknya angkuh, dari malu dia menjadi gusar, betapapun dia pantang dibikin malu dimuka umum, dengan mendengus segera dia mendebat.

"Semua itu perlu diselidiki kebenarannya, tapi semua korban ini jelas adalah hasil perbuatanmu?"

Tangannya menuding mayat-mayat anak buah Ham-ping-klong yang menggeletak ditanah. Berdiri alis Llok Kiam-ping, jeng ekny a.

"Kawanan tikus, kalau tidak dibunuh memangnya dibiarkan mengganas ?".

"Anak muda, perbuatanmu memang kejam, bukti didepan mata, terpaksa Lohu memberi hajaran setimpal kepadamu."

"Dihajar terus terang aku tidak berani terima, namun kalau tuan ada minat, boleh kau tunjukkan beberapa jurus permainan kaki tanganmu, biar cayhe nanti menilainya apakah kau patut dilayani."

"Bocah menyenangkanjuga menghadapi kesombonganmu, dalam usiamu yang masih muda begini, memangnya berani kau melawan beberapa jurus pukulanku."

Karena disebut "bocah"

Kiam-ping menjadi gusar, jeng ekny a.

"Kalau tidak perca y a, boleh silahkan mencobanya.' "Baik, Lohu ingin menimbang berapa sih kemampuanmu."

Lalu melangkah maju tiga tindak.

seraya meng konsentrasikan diri, siap menyambut serangan-Ditunggu sesaat lamanya.

dilihatnya Kiam-ping berdiri santai tidak bergerak.

memandangnya dengan senyum dikulum malah, segera dia menantang .

"Bocah, h ayolah serang."

Llok Kiamping tersenyum, ujarnya.

"cayhe selamanya tidak pernah turun tangan lebih dulu."

Karuan berkobar amarahnya, seketika alis putihnya bergetar, rambutpun menegak sambil menggeram gusar, kedua tangan menggunakan setengah tenaga menekan dan menggentak keluar, berbareng mulut membentak "Lihat serangan-"

Jangan kira kedua tangan itu hanya menekan perlahan, namun damparan angin dingin yang keluar ternyata dari lamban semakin kencang, sambung menyambung seperti damparan gelombang samudra menerjang kearah Llok Kiam-ping, Sebelum tenaga pukulan tiba, hawa dingin sudah merangsang badan.

Llok Kiam-ping tahu betapa hebat Ha mping-ciang, tiada orang yang bisa ditolong bila terkena pukulan dingin, lekas dia kerahkan Kim -kcng-put-hoay-sin-kang, tiga kaki sekitar tubuhnya dibungkus tabir hawa yang kokoh tak tertembus oleh apa pun-Disamping itu dia kerahkan tenaga dikedua lengan, sekali sendai, dengan lima bagian tenaga diapun menepuk sekali.

Pertemuan dua kekuatan menimbulkan pergolakan hawa sehingga beberaga tombak sekitar gelanggang seperti diserang angin les us.

Setelah ledakan keras mereda, tampak Pek-bi-sin-ang tertolak mundur setapak, sementara Llok Kiam-ping hanya menyurut setengah tindak.

Karuan Pek-bi-sian-ang kaget dan melengak.

dia kira lawan mudanya ini, barusan sudah kerahkan seluruh kekuatannya, dirinya rugi karena memandang enteng lawan, lekas dia menggerakkan kedua tangan, pelan-pelan kedua lengan terkembang lalu menggaris bundar ketengah, sambil membentak.

'Sambut sekali lagi serangan Lohu.' sekarang dia kerahkan delapan bagian tenaganya, sudah tentu kekuatan pukulannya jauh lebih lebih hebat lagi.

Melihat betapa dahsyat pukulan lawan, Kiam-ping menduga pukulan pertama tadi lawan belum mengerahkan seluruh tenaganya, ia menggeser kekanan terus sambut pukulan lawan dengan dorongan sekali pukulanjuga, kali ini kerugian yang dialami Pek-bi-sin-ang lebih besar lagi.

Diwaktu pukulannya hampir mengenai lawan, Llok Kiamping mendadak menggeser kesamping sehingga sebagian besar tenagarya menyambar lewat, maka begitu Kiam-ping balas memukul kontan dia tergetar mundur lima langkah^ Karuan bukan kepalang amarah Pek-bi-sian-ang, kedua matanya melotot merah, tanpa bicara dia maju mendesak.

dengan serangan cepat dan gencar dia merabu lawannya, tampak bayangan telapak tangannya sedahsyat guntur seperti s a mb era n kilat.

Lekas Kiam-ping himpun seluruh semangat dan kekuatannya, mengembangkan Ling-hi-pou-hoatpula, dia bergerak selincah kupu-kupu menari diantara s a mb era n telapak tangan lawan, bila ada peluang balas merangsak tak mau kalah perbawa.

Keduanya menggunakan serangan kilat, maka pertempuran ini membuka lembaran sejarah yang belum pernah terjadi dalam dunia persilatan begitu hebat tenaga pukulan mereka sehingga hawa udara betul-betul bergolak semakin keras, suara dentuman demi dentuman menggelegar, getarannya cukup menggoncangkan bumi dan merontokkan daon-daonpohon, telinga orangpun seperti pekak.

jantung siapa takkan tegang.

Hadirin mundur semakin jauh karena di landa angin ribut, siapa tidak mauterluka oleh s a mb era n batu pasir harus mundur dan siaga.

Pepohonan dalam jarak tiga tombak mulai tumbang.

Penonton mundur lebih jauh lagi.

Betapa dahsyat pertempuran ini dapat dibayangkan-Seratus jurus telah tercapai, kedua jago yang berlaga ditengah arena sudah mulai berkeringat, napas juga sudah tersengal, namun tiada yang mau mengalah.

sepihak harus mempertahankan gengsi dan kebesaran nama puluhan tahun yang digalinya sejak muda, pihak lain harus merebut balik markas pusat yang baru didirikan, maka kedua pihak sudah kerahkan seluruh ilmu yang pernah dipelajarinya.

Lambat laun gerak g erik mereka, dari cepat semakin lamban dan berat.

Akhirnya mereka seperti sedang latihan sendiri-sendiri, setiap jurus setiap gerakan seperti diperhitungkan dengan cermat, begitu saling tubruk segebrak keduanya lantas mencelat berpencar, cukup lama kemudian baru mengadu satu jurus pula, kelihatannya seperti sedang saling jajal Kungfu dan mengukur kepandaian, pada halpetempuran babak terakhir ini sudah akan menentukan menang kalah, tapijuga menentukan mati atau hidup, Jangan kira gerakan mereka lambat dan setiap jurus permainan seperti tak acuh, padahal gerakan itu merupa kan jurus-jurus ilmu silat sakti yang amat dalam dan tinggi, sudah tentu mengandung tenaga dahsyat yang mampu membunuh musuhnya, sedikit lena resikonya besar kalau tidak terluka parah, jiwa akan melayang seketika, menyesal juga sudah kasep.

Tampak Pek-bi-sian-ang seperti teringat sejurus ilmu simpanannya yang lihay, segera dia mendesak maju dua langkah.

telapak tangan kiri yang keluar mendadak ditarik mundur kaki kanan mundur berputar setengah langkah, d is a at tubuhnya berkelebat itulah telapak tangan kanan secara areh menakjupkan menepuk perlahan dari samping sacara miring.

Cepat sekali Llok Kiampingjuga rnenyadari kehebatan serangan lawan, untuk menangkis jelas sudah tidak sempat, untung dia sudah kembangkan Ling-hi-pou-hoat mencapai puncaknya, beruntun dia ganti langkah dan gaya berkelit kesana kemari, syukur masih mampu menyelamatkan diri dari serangan berbahaya.

Dalam hati dia mengucap syukur kepada Yang Maha Kuasa karena telah memberi keselamatan hidup kepadanya.

Kini dia mengonsentrasikan pikiran dan semangat.

Bila kedua orang mulai saling labrak pula, maka jurus serangan yang dilancarkan lebih sakti.

Bola mata mereka saling melotot berkedippun tidak berani, disamping mencari titik kelemahan dan lobang pertahanan lawan, otak merekapun bekerja mencari tipu yang lihay untuk menyerang lawan, jadi di samping mengadu kekuatan merekapun mengadu kecerdikan ---oo0dw0ooo---Sang waktu berjalan teramat lambat.

Mendadak tampak wajah Liok Kiam-ping berseri tawa, mendadak dia teringat dua jurus Wi-liong-ciang yang harus dilancarkan Llong-kiap-gin-gan, ribuan lapisan bayangan telapak tangan berbentuk seperti gugusan gunung diseling suara gemuruh laksana gugur gunung, dalam waktu yang sama telapak tangan kananjuga melancarkan Wi-llong-tinggak, telapak tangan menyodok kedepan secepat kilat, kekuatannya jauh berlipat ganda dari tenaga yang tersalur ditelapak tangan kiri.

Pek-bo-sian-ang sudah merasa bingung dan pandangan berkunang-kunang menghadapi Llong-kiap-sin-gan yang dilancarkan dengan tangan kiri, untung dia memiliki kungfu yang luar biasa, secepatnya dia menyingkir baru terhindar dari ancaman elmaut, Tapi mimpipun dia tidak pernah menduga lawan yang masih muda ini sekaligus mampu melontarkan dua jurus berlainan dengan kedua tangannya, celakanya tangan kanan yang menyerang belakangan justru tiba lebih dulu, oleh karena itu baru saja dia berkelit, pundak kiri telah kena pukul secara telak.

Karuan tubuhnya gentayangan mundur lima langkah, tulang pundaknya patah, saking kesakitan dia mengertak gigi, keringat dingin berketes-ketes, matapun mendelik besar.

Untung Liok Kiam-ping menaruh belas kasihan, serangan telak itu tidak menggunakan seluruh kekuatannya, kalau tidak lengan kirinya itu pasti akan cacad selamanya.

Bagai nenek tua yang dijegaljatuh anak asuhannya saja.

pada hal Lwekangnya sudah diyakinkan lebih dari enam puluh tahun lamanya, tapi hari ini dia harus menghadapi kenyataan, dikalahkan oleh seorang pemuda yang usianya baru likuran tahun-Sungguh rasanya lebih menyedihkan dari pada jiwa melayang.

Tampak bibirnya gemetar, air mata berkaca-kaca dipelupuk matanya.

"Gelagatnya Siau-hiap sudah berhasil meyakinkan seluruh Wi-liong-ciang-hoat. Yah, cukup setimpal kekalahan Lohu, selanjutnya namaku akan hapus dari percaturan dunia persilatan-..

"lenyap suaranya, tub uh nyapun sudah melayang jauh lenyap ditelan gerombolan pohon diluar perkampungan Mendadak terdengar suara jepretan yang ramai, anak panah selebat hujan mernberondong dari empat penjuru, sorak sorai gegap gempita dari mulut para pembidik panah. Kuatir orang banyak ada yang lena dan terluka, lekas Liok Kiam-ping memberi peringatan.

"Lekas berkumpul ketengah, semua b era d u punggung perhatikan bidikan panah musuh. Bocah gede, serbulah keb arisan pemanah musuh."

Segera dia mendahului beraksi, badannya melambung lima tombak, di tengah udara, dia menekuk pinggang dengan gaya indah, berbareng lutut ditekuk terus di sendai, laksana segulung asap tubuhnya menukik ketengah semak-semak rumput sana.

Bertepatan dengan lompatan Kiam-ping yang melambung keudara itu, P^-lik-jiu cui Khay karena mundur dengan gugup, sebatang panah menancap dipahanya, saking kesakitan tubuhnya sampat tersungkur, hampir saja dia terbanting jatuh ditanah.

Untung Siang Wi berada didekatnya, lekas dia meraihnya serta menyampukjatuh hujan panah.

Sambil kertak gigi ciu Khay cabut anak panah terus bubuhi obat dan dibalut, Katanya.

"Siangheng, lekas serbu, aku masih mampu bertahan."

"Liok Kiam-ping sempat melihat peristiwa ini, karuan amarahnya makin memuncak dengan sengit dia layangkan kedua tangannya, bayangan tubuh orang satu persatu dipukulnya roboh. Di mana dia berada jeritanpun seperti berlomba, darah muncrat mayat b erg elimpa ng a n. Dengan memutar pentung besarnya Siang Wijuga menyerbu kearah para pembidik panah. Dia meyakinkan kulit kebal, tubuhnya tidak mempan senjata tajam, namun karena bidikan panah cukup kencang kuatir mukanya terpanah, diapun tidak berani menerjang terlalu cepat. tanpa berani lena sedikitpun dia terus menyerbu dengan pentungnya. Anak panah disapunya rontok. di tengah bentakannya yang keras, dia mengamuk seperti banteng ketaton ditengah gerombolan pemanah. Lekas sekali hujan panah menjadi agak reda karena serbuan Kiam-ping dan si gede, yang lainjuga ciut nyalinya dan mundur tidak berani menyerang lagi. Korban dipihak lawan sudah terlalu banyak, Kiam-ping menjadi tidak tega mengganas pula, lekas dia membentak.

"Kawanan kunyuk, lekas enyah dari sini, memangnya kalian ingin mampus ditanganku."

Baru sekarang para pembidik itu sadar, seperti mendapat pengampunan, beramai-ramai mereka angkat langkah seribu, dalam sekejap bayangan mereka sudah tidak kelihatan lagi.

Lekas Kiam-ping menghampiri ciu Khay katanya prihatin.

"Pertahanan musuh belum kita jebol, ciu-losu sudah terluka, kesalahan terletak ditangan Kiam-ping, bagaimana keadaan dirimu ? Apakah perlu beristirahat dulu ?"

Ciu Khay sudah selesai membalut luka-lukanya, menelan pil pemberian Kiam-ping lagi, segera dia melompat berdiri, katanya tertawa lebar.

"Banyak terima kasih akan perhatian ciangbun, luka-luka seringan ini masih belum mengganggu diriku, umpama badan harus hancur leburjuga sukar aku membalas budi pertolongan ciangbun yang telah menyelamatkan jiwaku dulu. Hayolah kita terjang kedalam."

Lalu dia mendahului menyerbu kedalam perka mpung a n-Pertempuran sedang berlangsung dengan seru didalam perkampungan, bentakan dan hardikan berpadu menjadikan suasana ribut.

Kiam-ping pimpin orang-orangnya terus menerjang kedalam melewati beberapa rumah dan pekarangan, akhirnya tiba diujung sebuah lorong.

Baca Juga: Kembalinya Ilmu Ulat Sutera 7

Baca Juga: Rahasia Hiolo Kumala 11

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert