Eps 6 Hong Lui Bun - Khu Lung
Baca online Hong Lui Bun - Khu Lung
Cersil Hong Lui Bun - Khu Lung.
Lorong ini panjang tiga tombak, lebarnya hanya dua kaki, dindingnya terbuat dari batu hijau yang mengkilap seperti kaca, lantainya dari ubin marmer, rata dan teratur rapi, karena cahaya di sini agak guram, sukar dilihat didalam ada perangkap apa.
Seingat Kiam-ping dulu tidak ada lorong sempit ini, jelas dibangun belum lama ini.
Karena timbul rasa curiganya, segera dia hentikan langkah, dengan ujung kakinya dia menjejak dua kali, ternyata mengeluarkan suara mendengung tanda disebelah bawahnya kosong.
Segera dia berpaling dan berseru kepada orang banyak.
"Disini banyak dipasang perangkap. setiap langkah berbahaya, maka kalian harus lebih waspada, ikuti saja langkahku."
Segera dia kembangkan Ginkang melayang kedalam lorong, orang banyak mengintil dibelakangnya.
Baru mencapai kira-kira setombak, mendadak terdengar suara keretakan dari bawah lantai, Liok Kiam-ping tahu gelagat tidak baik, segera dia berteriak.
"Lekas kalian menerjang keluar."
Secepat kilat dia mendahului melesat kedepan menerobos keluar diujung lorong sebelah depanorang banyak juga mengikuti langkahnya.
Ginkang ciu Khay memang agak rendah, pahanya terluka panah lagi hingga gerak g eriknya kurang leluasa.
Sebelum dia mencapai mulut lorong mendadak "Blum"
Sebuah papan besi sudah menutup rapat mulut lorong, Begitu menginjak bumi, Kiam-ping dikejutkan oleh suara keras, dengan dia berpaling, sekilas pandang dia lantas tahu hanya ciu Khay seorang yang ketinggalan terkurung didalam lorong.
Kontan dia anteb kedua tangan memukul kepapan besi "Bung"
Kerasnya dapat merobohkan sebuah pohon besar tapi papan besi itu tidak bergeming sedikitpun. Maka It-cu-kiam, berkata.
"Menurut pendapatku usaha menolong ciu-los u terpaksa ditunda saja, supaya tidak membuang tenaga dan waktu. Lebih penting kita bereskan dulu segala urusan, bila situasi telah kita kuasai dan Kwi hunceng terebut kembali, belum terlambat kita berusaha menolongnya keluar."
Keadaan memang cukup genting, waktu tidak boleh terbuang percuma.
terpaksa dia mengangguk menyetujui usul It-cu-kiam.
Kembali dia pimpin orang banyak terus memburu kedalam.
cepat sekali mereka tiba disebuah lapangan besar, tampak bayangan orang bergerak gerak, sorak soraipun gemuruh, ratusan anak buah Ha m-ping-klong dengan golok pedang terhunus sedang memberi aplus kepada jago-jago Ham-ping-klong yang lagi berlaga ditengah arena.
Ditengah arena tiga babak pertandingan sedang berlangsung dengan seru.
Tampak Kim-ji tay-beng sedang menggerakkan kaki tangannya, dengan napas menggeros keras sedang berusaha menghalau serangan gencar dari delapan jago-jago Ham-pingklong yang mengeroyoknya, jelas keadaannya sudah terdesak dan payah.
Seorang laki kakek berjenggot dan beralis putih, berperawakan pendek kepala plontos sedang menghadapi lima lawan-keadaannya jauh lebih minding, karena dia masih sempat balas menyerang dan mampu menendang lambung seorang lawan, dalam waktu dekat jelas dia masih kuat bertahan tidak sampai kalah..
Dipaling selatan seorang pemuda berpedang panjang juga menghadapi keroyokan tujuh orang, pedangnya diputar kencang, namun langkahnya sudah gentayangan, mundur dan maju tidak teratur, lengan kiripun telah terluka, darah mengalir membasahi badan dan kaki dengan kertak gigi dan terus berusaha melawan dengan gigih.
Kedatangan Liok Kiam-ping tepat pada waktunya, bentaknya nyaring.
"coh huhoat, jangan gugup, bala bantuan Hong-lui-bun telah datang. belum habis bicara, dia melesat turun kedepan si pemuda bersenjata pedang. Setelah meninggalkan Kwi-hun-ceng tempo hari, ternyata Kim-ji-tay-beng langsung keluar perbatasan, mencari Tiangpek-j i-lo anggota tertua Hong-lui-bun yang sekarang masih hidup, yaitu It-sisin-kang SinBunhoat dan Ai-pong-sat Thong ciau, Waktu dia tiba ditempat tetirah mereka, kebetulan kedua Tiang lo ini sedang keluar. diketahui bahwa Ai-pong-sat Thong ciau sedang bertandang ke Thian-san menemui sahabatnya, setelah Kim-ji-tay-beng menjelaskan maksud kedatangannya, maka murid penutup Ai-pongsut yang bernama TioJin-kiat, bersedia menemaninya menyusul sang guru ke Thian-san, karena harus putar balik itulah maka banyak waktu terbuang. Tiga hari yang lalu mereka sudah kembali ke Kwi-hun-ceng, mereka cukup pengalaman, melihat gelagat tidak beres, mereka tahu telah terjadi sesuatu yang tidak menguntungkan, pada hal dimana jejak ciangbunjin dan para saudara yang lain, maka malam ini mereka datang lagi, menyerempet bahaya masuk keperkampungan ingin menyelidiki, diluar tahu mereka, kemaren Liok Kiamping sudah membuat onar, makapejagaan malam inijauh lebih ketat, maka jejak mereka kenangan, terjadilah pertempuran yang tidak seimbang ini. Kedatangan Kiam-ping bagai malaikat yang terjun dari langit, kaki menginjak bumi kedua tangannya sudah memukul enam j urus, Amarahnya sudah memuncak maka serangan tidak kenal kasihan, tujuh pengeroyok s i pemuda seketika didesaknya mundur, seorang bergerak paling akhir terkena telak pukulannya, sambil mengerang tubuhnya terlempar jatuh ditengah kerumunan anak buah Hamping-klong yang berdesakan diluar arena meski parah, untung jiwanya selamat.
"lekas dia menyelinap kebelakang, menyela matkamjiwa. Darah keluar terlalu banyak, mengalami pertempuran yang melelahkan lagi, kalau tadi dia harus berjuang mati-matian mempertahankan hidup, sekuatnya masih kuat melawan, kini setelah bantuan tiba, pertahanannya lantas buyar, seketika dia sempoyongan hampirjatuh. coh-sang-hwi ih Tiau-hlong berada dibela kang Kiamping, lekas dia memburu maju memapahnya. Kiam-ping lempar bungkusan obat, katanya.
"Tolong Ih-losujaga Siauhiap ini dan bubuhi obat luka lukanya, setelah istirahat sebentar pasti sembuh."
Orang-orang Ham-ping-klong memang kaget dan terbeliak oleh keperkasaan Kiam-ping, kini setelah melihat lawan hanya beberapa gelintir manusia, lega hati mereka, serempak mereka menyerbu pula.
Belum habis Kiam-ping bicara angin pukulan sudah menyerang dari belakang tahu ada orang membokong, namun dia harus melindungi TioJin kiat, serta perhatikan musuh disebelah depan, jelas tak mungkin dia membalik tubuh menangkis, lekas dia kerahkan Kim -kong-put-hoay-sin-kang melindungi badan-Kim -kong-put-hoay-sin-kang sudah diyakinkan sempurna, keinginan timbul ilmu sakti itupun bekerja, maka pukulan deras itu hanya mencapai satu kaki diluar badannya sudah sirna tanpa bekas, Ilmu sakti apakah ini?
Demikian orangorang Ha m-ping-klong bertanya-tanya dalam hati.
Usianya masih begini muda tapi sudah memiliki Lwekang sehebat ini, sungguh luar biasa, karuanparapembokong itu terpesona dan ciut sendiri nyalinya, tak berani membokong lagi.
Lekas sekali luka-luka TioJin-kiat sudah diobati dan dibalut.
Maka Liok Kiam-ping segera memutar badan, katanya dengan seringai dingin kepada tiga orang tua.
-jadi kalian bertiga yang main bokong, begitu saja kemampuan h alia n?"
Ketiga orang tua ini adalah para Huhoat dari Ha m-pingklong.
ilmu silat mereka bertaraf kelas satu, biasanya disegani dan dihormati oleh anggota Ha m-ping-klong yang lain-Dengan gabungan kekuatan mereka bertiga ternyata tak berhasil menjatuhkan lawan muda, apalagi secara membokong lagi, disaat terkesiap itulah, mereka mendengar nada ejekan si pemuda yang kurangajar ini.
Seketika terbakar emosi mereka, serempak mereka menyerbu Kiam-ping seperti amukan banteng terluka.
Kiam-ping tidak mau melayani secara keras, dia hanya kembangkan kegesitan, lalu membalik tangan balas menyerang.
Belum ada duapuluh jurus, ketiga Hu-hoat Hamping-klong itu sudah didesaknya mundur.
Kiamping mainkan sepasang telapak tangannya menjadi ribuan lapis bayangan tangan, tiga orang itu dikurung dan dipermainkan.
Mendadak ketiga IHuhoat itu menggerung bersama, enam telapak tangan mereka menari dengan seluruh kekuatan terakhir, dengan sengit menggempur Liok Kiam-ping.
Kiamping tersenyum ejek.
kedua tangan segera menyongsong hantaman lawan-Ditengah benturan keras, ketiga Hu-hoat itu terdesak mundur tiga langkah, muka pucat napas tersengal.
Llok Kiam-ping hanya limbung selangkah.
Amarahnya sudah tak terkendali lagi, dendam dan kebenciannya terhalap orang-orang Ham-ping-klong merasuk tulang sumsum, sekali hantam berhasil, serangan selanjutnya tidak memberi ampun lagi, begitu tegak berdiri pula, tanpa bersuara dia mendahului menyerang pula.
Coh-siang-hwi Ih Tiau-hlong dan Tih tin-kiat melompat maju, seorang lawan satu bertempur dengan ramai.
Kim-ji-tay-beng dan Ai-pong-sut Thong ciau sedang berhantam dengan seluruh kemampuan, mendadak Llok Kiamping menyerbu datang dengan bentakkannya yang menciutkan nyali musuh, tahu bala bantuan Honglui-bun telah tiba, bangkit semangat tempur mereka.
Lekas sekali It-cu kiam dan Tan Kian-thay telah menyerbu tiba sambil menggerakkan senjata, sementara keadaan mereka yang terdesak berhasil ditahan-Baru hari ini Ai-pongsut kembali keharibaan Hong-lui-bun, sebelum mampu melakukanjasa apa-apa kini telah terkepung oleh musuh, hampir saja jiwa melayang dan terluka, karuan a marahnya jug a tidak ter tahan lagi.
maka mendelik gigi gemeratak.
Mumpung bala bantuan datang, cepat dia menarik napas, sambil merogoh keluar sepasang bandulannya yang sudah puluhan tahun mengangkat namanya.
Tampak dia menyendal tangan, dua benda gemerdep gelap seketika meluncur secepat meteor kemanapun lawan berkelit, bandulan itu seperti puny a mata saja juga mengudak kemana, ternyata kedua bandulannya ini dikendalikan oleh tenaga murni yang telah diyakinkan puluh a n tahun, maka bandulan itu dapat bekerja sekehendak hatinya, berputar secara wajar puluh a n tahun lamanya tetap bertahan tak pernah kecundang, namunjarang dia menggunakan g a man andalannya ini.
Baru saja kedua bandulannya digunakan menyerang, seorang lantas menggembor panik.
"Awas Yam-yam-tam (pelor belibis) Lekas menyingkir."
Dis ana Kim-ji-tay-beng berdampingan dengan It-cu-kiam, permainan telapak tangan dan pedang mereka ternyata dapat kerja sama dengan baik, perbawanyapun bertambah hebat, terutama Kim-ji-tay-beng sekaligus mengembangkan Hwi-engcap-pwe-po, Ginkang tunggalny d is a at badan terapung diudara sambiljumpalitan mendadak menukik turun disertai gempura sepasang tangan yang kemilau kuning emas, merupakan tekanan berat dan serangan berbaha bagi musuhmusuhnya.
Maka disamping tubrukan Kim-ji tay-beng yang lihay dari tengah udara, sinar pedang It-cu-kiam selalu mengancam jiwa lawan, maka keadaan mereka masih cukup tangguh untuk dikalahkan meskijumlah musuh lebih banyak.
Makin lama anak buah Ham-ping-klong makin banyak.
walaupihak Hong-luibun bertempur sebagah harimau mengamuk dan setangguh gajah, namunjumlah mereka kalah banyak, meski hebat kepandaian mereka, dalam waktu singkatjuga belum berhasil merobah situasi.
Apalagi ratusan anak buah Ham-ping-klong sorak sorai memberi aplus kepada rekan-rekannya yang terjun dimedan sana.
Hanya Llok Kiam-ping yang mampu memperlihatkan kesaktiannya, bergerak dengan Ling-hi-pou-hoat, kedua tangannya selalu membundar terus disendai kedepan.
secara beruntun dia lancarkan Llong-kiap-sin-gan, seorang IHuhoat Ham-ping-klong berhasil dipukulnya mencelatjauh terjun digerombolan kawan-kawannya.
Sementara sepasang bandulan Ai-pong-sut Thong ciaujuga berhasil melukai dua jago kosen lawan-Walau mengembangkan kelincahan Ginkangnya seperti elang menerkam dibarengi samberan pedang It-cu-kiam, namun karena lawannya adalah Tang-ling-sin-kun, dalam waktu dekatjelas tak mampu berberbuat apa-apa, makin lama dia kehabisan tenaga, keadaan semakin payah.
Pertempuran semakin genting.
Pada saat itulah dua bayangan orang bagai burung terbang meluncur datang dari belakang perkampungan.
dibawengi bentakan kerasJian li-tokheng dan GinJi-tay-beng terjun ketengah arena.
Melihat saudara tuanya kepepet, tanpa ayal dia melompat datang terus menerjang kepada Tang-ling-sin-kun, sinar perak menyambar seiring gerakan telapak tangannya, rangsakannya cukup gencar.
Jian-li-tok heng hinggap disamping It-cu-kian Koan Yong, diapun kembangkan Sian-tian-ciang-hoat, menyerang secara kilat pula.
Pertempuran lebih dahsyat lagi.
Situasi segera berobah, bahwa bala bantuan mulai berdatangan karuan pihak Honglui-bun semakin berkobar semangat tempurnya, dari pihak terdesak kini mereka balas menyerang dengan gagah.
Betapapun banyak anak buah Ham ping-klong, yang rendah kepandaiannya hanya merubung diluar gelanggang, yang merasa berkepandaian tinggi juga berusaha menyelamatkan jiwa, apalagi orang-orang Hong lui-bun menyerbu dengan mempertaruhkan jiwa.
Setelah memukul roboh dua lawan mendadak Kiam-ping memekik seram, di mana bayangan putih menyambar, tubunnya melejit keudara, maka terdengarlah jeritan-jeritan ngeri, kaki tangan protol batok kepala mencrelat, mayat berjatuhan saling tindih.
Mata Kiam-ping sudah membara saking bernapsu, tapi dia sendirijuga merasa ngeri dan merinding, dalam hati dia membatin.
"Semoga musuh tahu diri dan mundur teratur, sesungguhnya aku tiada keinginan membunuh orang sebanyak ini"
Sekilas ujung matanya menangkap gerakan ngawur cohsung-hwi ih Th ia n-h long yang sedang terdesak oleh serangan kakek bertubuh kecil pendek.
Nafsu yang sudah membara semakin berkobar lagi, disertai raungan keras, dia menubruk darijauh seraya melontarkan pukulan tangannya.
Kakek kecil itu sedang girang bahwa lawannya bakal dirobohkan, tak nyana Kiam-ping mendadak menyergapnya, sebelum musuh berhasil dirobohkan-dia sendiri sudah menjerit roboh setombak jauhnya, jiwa melayang seketika.
Kiam-ping tidak pernah berhenti, gerakannya secepat kilat menyambar kian kemari, setiapjurus serangannya pasti membawa korban, dua IHuhoat Ham-ping-klong berhasil dipukulnya lagi binasa.
Mendadak bayangan orang berkelebat didepan, dua orang kakek beruban mendadak meluncur ditengah gelanggang..
Kedua orang ini bukan lain adalah Kim-kong-ci Hong Kiat dan Tay-bok-it-siu.
Waktu Llok-Kiam-ping melawan Peksbi-sian-ang tadi, diamdiam Tay-bok-it-siu berlari masuk ked a la m perkampungan-Sebagai orang yang memegang pera nan penting dalam menduduki Kwi-hun ceng ini, setelah melihat gelagat, segera dia berlari masuk menemui Kim-kong-ci Hong-kiat serta mengatur muslihat yang lebih jahat untuk menghadapi situasi yang semakin genting, bila pihak sendiri memang tak kuat bertahan, mereka siap membakar perkampungan-Maka sampai sekarang baru kedua orang ini muncul.
Lwekang Kim-kong-ci Hong Kiat sudah mancapa i taraf ting g i, j a go silat umumnya tiada yang kuat menahan sekali serangannya, begitu hinggap ditanan kontan dia melancarkan serangan melintang mengincar lambung Llok Kiam-ping.
Dalam pertempuran yang kacau balau ini mendadak Kiamping disergap.
karuan dia melengak.
untung Lwekangnya amat tinggi, meski menghadapi bahaya dia tidak menjadi gugup, sambil mengegos mundur tiga kaki, tangannya balas menepuk sekali.
Tepukan ini dilakukan dengan gerakan membalik, tenaganya sudah tentu kurang ampuh, pada hal terjangan tenaga lawan amat kuat, untung dia menggeser langkah hingga tenaga besar lawan meny amber dari samping tubuh.
begitu kedua tenaga beradu mereka tergeliat mundur, kekuatan berimbang.
Hong Kiat terkial-kial, getaran suaranya memekak telinga, agaknya dia maupamer kekuatan Lwekangnya yang ampuh.
Llok Kiam-ping tetap bersikap tenang.
katanya.
"Siapa tuan? Ada permusuhan apa dengan Hong-lui-bun? Berani kau merebut dan menduduki markas pusat Hong-lui-bun kita? Hari ini akan kutuntut keadilan kepadamu".
"Bocah, Lohu Kim-kong-ci Hong Kiat, siapa aku kau tidak tahu, berarti kau cupat pandangan cetek pengalaman. Bukan sehari Lohu menunggu kedatanganmu, semula kukira kau sembunyi tak berani datang. Agaknya besarjuga nyalimu, biar hari ini Lohu mengganyangmu. Bicara tencang markas pusat Hong-lui-bun kalian, d ia la m baka nanti boleh kau membuat perhitungan dengan ceng-san-biau-khek, urusan akan beres sendirinya."
"Ternyata kaupun salah seorang antek Ham-ping-klong, demi menegakkan keadilan Bulim, hari ini akan kutuntut hutang darahmu." ' "Setan cilik, kau mencarijalan kematianmu, apa boleh buat biar Lohu tunjukkan kepadamu.' "Setan tua, j angan putar b a cot, siapa yang akan diantar kealam baka, buktikan dengan Kungfumu.' Kiam-ping mendanului mengembangkan Ling hi-pou-hoat, kedua tanganpun menyerang lebih dulu merebut kesempatan-Lwekang ^blis tua ini memang tangguh, Kiam-ping sendiri sudah mengalami pertempuran beberapa babak. tenaganya sudah banyak berkurang, dibabak terakhir dia yakin masih harus menghadapi pertempuran yang lebih besar lagi, maka sekarang dia tidak berani bertindak gegabah. Melihat betapa ajaib langkah lawan, seranganpun menak^upkan Hong Kiatjuga tidak berani lengah, diapun kembangkan gerak tubuhnya yang sudah diyakinkan puluh a n tahun, lawan dirabunya denga gencar. Maka kedua pihak sama-sama menyerang serba kilat, tampak betapa lincah dan tangkas gerak gerik mereka. Pertempuran kedua orang ini berbeda lagi denganpertarungan Kiam-ping melawan Pek-b^-sian-ang tadi, namun sama-sama jago kosen maka adu kekuatan inipun tidak kalah dahsyatnya. Di sebelah sana Tay-bok-it-siujuga terjunkearena, kedua tangan tangan bergerak menyerang satu j urus, sasarannya adalah Ai-thong-sut Thong cau. Bandulan ditangannya itu sudah menciutkan nyali orangorang Ha m-ping-klong, dimana bayangannya meny amber, beramai-ramaimereka melompat pergi mendadak Thong-ciau rasakan tindihan angin kencang dari belakang, lekas dia melompat miring kedepan meluputkan diri dari sergapan mematikan ini. Begitu kedua tangan menggape, kedua bandulan itu kembali ketangannya. Baru sekarang sempat Ai-pong-sut berpaling, melihat yang menyergap adalah Tay-bok-it-siu, ternyata musuh besar sejak dua puluh tahun lalu, maka segera dia balas menyerang. Agaknya dendam keduanya tidak kecil maka serangan demi serangan lebih keji dan teleng as. Watak Ai-pong-sut yang pendek lucu ini memang humor, suka ngeledek dan menggoda lawan, sambil melayani serangan lawan, dia berseri tawa sambil mencemooh.
"Sahabat baik, apakah murid kesayanganmu itu masih suka menindas orang lemah? Pukulanku dua puluh tahun yang lalu, tentu belum kau lupakan ya?' Beruntun memukul tiga kali baru Tay-bok-it-siu menanggapi.
"Sepuluh tahun yang lalu Hong-lui bun kalian digebah keluar Tlonggoa n seperti menggiring kambing oleh Hamping Lojin, yakin rupanya juga tidak manis bukan." ' Tay-bok-lo-koay' Ai-pong-sut Thong ciau yang humor ini malah naik pitam lebih dulu.
"Hari ini biar kau tahu, wibawa Hong lui-bun masih ada dan tidak boleh dibuat main-main."
Secepat kilat dia mencecar tujuh jurus, Tay-bok-it-siu terpaksa mundur mempertahankan diri.
Dalam pada itu dengan gerakan menukik dari atas disertai pukulan dahsyatnya Kim-ji-tay-beng bersama Gin-j^ay-beng bergantian merangsak musuh segagah burung rajawali.
Walau Tang-ling-sin-kun masih kuat bertahan, celaka adalah anak buah Ham-ping-klong tidak sedikit diantaranya yang menjadi korban-Sayang cara menyerang dengan sergapan dari udara terlalu makan tenaga selama tenaga murni mereka masih kuat, serangan itu tidak kurang kehebatannya, tapi paling banyak juga hanya beruntun sembilan kali, harus ganti napas sekali.
Kini mereka berendeng ditengah kepungan, untung orangorang Ham-ping-klong sedang mundur, bila mereka merubung maju pula Kim-gin-hu hoat sudah ganti napas tapi untuk menghadapi rangsakan^bersama, mereka tidak segera melambungkan diri keatas pula.
It-cu-kiam masih terus mengembangkanJi bong-kia mhoat, hawa pedangnya bagai asap mendesis nyaring, lawannya adalah seorang Tongcu Ham-ping-klong, It-cu-hikiam yang dikembangkan itu mempunyai tipu permainan yang bersambung.
Begitu dikembangkan lawan takkan diberi peluang untuk merobah posisi, sayang tenaga dalamnya sedikit lebih asor, namun kelihayan pedangnya cukup mempertahankan posisinya.
Thi-pi-kim-to Tan Kian-thay juga sedang berhantam dengan seorang jago kosen dengan mati-matian, lwekang lawan lebih tinggi, untung permainan goloknya dapat dikombinasikan dengan permainan pukulan telapak tangan kiri, tinju dan golok berganti menyerang, maka keadaan terus bertahan sama kuat.
Di kala kedua pihak masih terus bertahan dalam pertempuran dahsyat ini.
Mendadak terjadilah satu ledakan yang menggoncang bumi, tembok kamar belakang tampak runtuh.
Dengan memutar pentung gedenya Ki-ling-s in Siang wi menerjang keluar dari reruntuh rumah, seluruh badan berdebu, mulutnya berkoak-koak.
"Maknya kuntilanak. anak kura-kura semua takut digebuk. Kenapa kalian menutup pinto seluruhnya, memangnya tuan besar ini tidak dapat menghajar kalian ?' ' Seperti diketahui si gede inipun ikut Kiam-ping menerjang kedalam. badannya gede bobotnya berat, langkahnya ketinggalan dibela kang, setelah melewati beberapa gedung dan pekarangan dia sudah tak dapat menyusul rekanrekannya, bila dia tiba didepan lorong, papan besi didepan dan dibelakang sudah anjlok menyumbatjalan-Karuan gusarnya bukan kepatang kontan dia ayun pentung besinya menghajar papan besi. Sekali pukul papan besi tebal beberapa dim itu ternyata tidak bergeming. Dengan gemas sekuatnya dia menghantam dua puluhan kali, lama kelamaan tenaganya menjadi lemas sendiri, maka otaknya yang tumpul berpikir.
"Kalian mengira tuan besarmu ini tidak mampu menggunakan ilmu ringan tubuh, memangnya aku si gede ini tidak mampu menerjang masuk kedalam rumah ? Ya, biar aku terjang dari dalam rumah saja. Kalau terlambat ditinggal bocah cilik, aku bisa tidak kebagian makan malam ini."
Setiap persoalan yang dipikir pasti dilakukan, cukup lama dia putar kayun dipekarangan kecil itu, namun tetap tidak menemukan pintu lain-Karuan dia naik pitam, berjingkrak meraung-raung, pentungnya diayun terus menggempur tembok.
"Blang"
Ditengah kepulam debu dan kapur, tembok telah dihantamnya ambruk dan bolong.
Tanpa periksa lebih dulu, dia mendekam terus, menyelinap masuk.
ternyata dia memasuki kamar kecil, itulah gudang tempat menyimpan barang-barang tidak berguna.
Barang apa saja ada dikamar ini, bahwasanya tiada jalan tembus di sini.
Dasarpikunsi gede tidak pikir lagi, yang teraih telah dilemparnya keluar dari lobang tembok.
cukup asal badannya yang gede bisa maju setapakpun mending, sementara pentungnya tetap diayun mengobrak abrik, akhirnya pintu gudang itujuga dijebolnya.
Setelah diluar gudang, siapapun yang ditemuinya terus dihajar, setiap pintu yang tertutup tentu digempurnya pora k porand a, entah mereka kacung atau pelayan perempuan Ham ping-klong, semua menjerit-jerit dan lari menyingkir.
Dengan amukannya itu si gede terus menerjang kedalam melampaui dua ruang besar, baru mendengar suara sorak sorai disebelah belakang.
Waktu dia pasang mata melongok keluar jendela, aduh ramainya, ternyata semua manusia tumplek ditanah lapang besar sana.
Semestinya dia berputar keluar pintu lalu keluar dari serambi sana.
Tapi dia kuatir terlambat, pentungnya diayun terus menghajar jendela menggempur tembok.
ditengah gemuruhnya tembok ambrol cepat sekali dia sudah berlari ketengah lapangan-Mulutnya masih terus berkaok.
"Anakanak kelinci semua ada di sini, nah coba saja mau lari kemana kalian.' langkahnya ditujukan kearah rombongan orang banyak. Dengan kedua tangan pegang pentung, seperti orang gila orang-orang Ham-ping-klong dibabat dan disapunya pontang panting maka terjadilah jerit tangis yang mengerikan, yang tidak keburu lari kalau tidak pecah kepalanya, juga putus leher atau retak tulang punggungnya, yang jelas banyak yang menyesal karena waktu dilahirkan bapak ibunya dulu tidak memperpanjang tulang kaki mereka. Insyaf bahwa dirinya tidak boleh terlalu bernafsu menyerang dengan kekuatan besar, setelah mengalami beberapa kali pertarungan sengit tadi, tenaganya banyak berkurang, maka Kiam-ping menggunakan kelincahan gerak badannya ajak lawannya bertempur merebut kecekatan-Linghi-pou-hoat dikembangkan sampai puncaknya, gerakannya seenteng asap berkelebat. Hong Kiatjuga telah mengembangkan segala kemampuannya, tapijangan kata memukul lawan, ujung pakaian orangpun tak mampu disentuhnya, sebaliknya karena kedua pihak bergerak teramat cepat terasa dipukul didepan, tahu-tahu lawan sudah berada dibela kang, karuan gembong iblis yang sudah kenyang hidup ini keripuhanjuga akhirnya. Tapi pengalaman tempurnya memberikan jaminan kepadanya, kecerdikannya jug a melebihi orang, dia tahu anak muda berdarah panas dan pasti ingin menang, setelah balas menyerang dua j urus, sengaja dia b erg elak tawa.
"Boca h, jangan pamer langkah setanmu saja, berkelit selalu tanpa berani balas menyerang, memangnya begini yang dinamakan tunas muda harapan kaum persilatan-Apa kau berani adu pukulan mengukur kekuatan dalam ?"
Kalau lawan sudah mengajukan usul, betapapun dirinya tidak boleh menurunkan pamor sebagai seorang ciangbunjin, apalagi Kiam-ping memang pemuda darah panas yang congkak, meski tahu lawan sengaja memancing amarahnya, kemungkinan lawanjuga mempunyai rencana keji, apapun dia tidak harus gentar menghadapinya.
Lekas Kiam-ping menarik serangan menghentikan langkah, katanya dengan tersenyum.
"Boleh terserah bagaimana cara pertandingan, cayhe selalu melayani, betapapun aku akan buat kau tua bangka ini tunduk lahir batin."
Sedikit benaknya berpikir, Kim-kong-put-hoay-sinkang dengan sendirinya telah bekerja, pasang gaya meng konsentrasikan diri siap siaga.
Memicing sekejap mata Kim-kung-ci Hong Kiat, baru sekarang dia menatapjelas muka orang, batinnya.
"Bocah ini memang berbakat, tulangnya cocok sebagai pesilat yang akan mahir menguasai ilmu tingkat tinggi, namun wajahnya kelihatan bersih biasa, tak ubahnya anak sekolahan, siapa percaya kalau dia pernah belajar silat dan membekal ilmu sakti, apa benar latihannya sudah mencapai taraf Hoan-bukwi-cin Lwekang aliran Lwekeh yang paling top? padahal usia nya masih begini muda, tidak mungkin-.."
Disaat dia mereka-reka dalam hati itulah Llok Kiam-ping sudah mengerahkan ilmu saktinya, sorot matanya berobah mencorong tajam, saking kaget lekas dia menekan gejolak perasaannya, seketika lenyap lamunannya tadi.
Hong Kiat juga maklum, situasi yang menyulitkan hari ini memang sukar dibereskan tapi pihak sendiri yang mengajukan cara pertandingan, lawanjuga sudah siap menyambut tantangannya, sebelum bertanding malu rasanya kalau dirinya harus mundur karena j eri, untung sebelumnya dia sudah mengatur tipu daya, bila terpaksa dia yakin dirinya masih bisa meloloskan diri dengan selamat.
Hanya sekejap benaknya berputar, hati pun lega dan mantap.
Kedua tangan segera membundar dan terang kap didepan dada, seiring dengan gerakan kedua tangannya dia menghirup napas panjang, telapak tangannya pelan-pelan berobah merah, semakin merah sehingga menyala seperti darah, dengan gaya aneh pula telapak tangannya menepuk keluar.
Rembusan angin kencang terasa panas seperti lahar gunung berapi.
Ilmu sakti sudah membungkus badan, Kiam-ping tidak gentar menghadapi suhu panas, tapijuga tidak berani gagabah.
Diapun menggerakkan kedua tangan terus memapak kedepan dengan sebuah pukulan-Kali ini tiada ledakan, benturan kedua kekuatan ternyata menimbulkan desis suara yang berada tinggi seperti ban motor yang mendadak kempes, hawa panas berderai keempat penjuru lenyap dihembus angin lalu.
Lekas Kim-kong-cu Hong Kiat membentak keras, segera dia gunakan Kim-kong-ciang ^ari arhad) yang teramat keras dan ganas.
Begitu dia menuding tampak sejalur hawa putih melesat keluar dari tengah kedua jari tertunjuk dan jari tengah.
Kekuatan tenaga jarinya itu sebetulnya mampu menembus gunung atau batu besar, ilmu tunggal Hong Kiat yang diyakinkan puluhan tahun lamanya, selama berkecimpung di Kangouw belum pernah dia menemukan tandingan.
Melihat tenaga jari lawan melesat datang, lekas dia kerahkan Kim-kong-put-hoay-sinkang lebih kokoh untuk menyambut tutukanjari hebat itu secara kekerasan-Satu kaki kekuatan jari itu datang diluar tubuhnya, lantas terdengarlan suara "Duk"
Sekali, padahal pertahanan hawa pelindung badan itu setebal tiga kaki, jadi mampu menembus dua kaki, masih satu kaki kekuatan pelindung badan itu tak mampu ditembus, tenaga tutukan inipun sirna tanpa bekas.
Llok Kiam-ping tersenyum lebar, kedua tangan lantas balas menggempur.
Bahwa Kim-kong-ci-lat yang diandalkan selama inijuga tidak mampu melukai anak muda ini, sangguh Hong Kiat amat penasaran, mendadak dia menduga apakah bocah ini sudah berhasil meyakinkan Kim-kong-put-hoay-sin-kang dari aliran Hud ?
Seketika dia terhenyak kaget dan menjublek ditempatnya.
Saat itulah Kiam-ping sudah melancarkan serangan belasan, mau berkelitjelas sudah terlambat, sedapat mungkin dia menepuk sekali, namun tubuhnya seperti diterjang badai, tak tertahan dia menyurut tiga langkah baru tega k pula.
Gempuran pertama membawa hasli, berkobar semangat tempur Llok Kiam-ping, seluruh tenaga dikerahkan kembali dia menyerang dengan jurus kedua.
Kekuatan pukulannya bagai amukan gelombang pasang yang menggulung garang.
Setelah terkena pukulan pertama, maka Hong Kiat melawan lebih hatihati, lekas dia meg g egos minggir berbareng kedua tangan kerahkan seluruh kekuatan menyongsong hantam lawan-"Biang"
Keduanya mundur tiga tindak.
Mumpung lawan melenggong mendadak Kiam-ping mendorong kedua telapak tang a n pula, j urus serangan yang takterhingga hebatnya.
Ditindih amukan badai dengan gugup Hong kiat angkat kedua tangannya menangkis kedepan, tapi dalam merebut kecepatan dia terlambat sedetik, baru saja dia angkat tangan belum sempat mengerahkan tenaga, damparan tenaga lawan sudah menggulung tiba.
Sementara itu Kim-gin-hu-hoat yang menghadapi keroyokan Tang-ling-sin-kun dan lain-lain sudah semakin terdesak kepayahan, untung kedua saudara ini sering bertempur berdampingan, keempat tangan mereka dapat kerja sama dengan rapi, serang menyerang bergantian sambil melindungi rekan sendiri, meski terdesak yakin mereka masih mampu bertahan.
Pertarungan Ai-pong-sut Thong ciau yang melawan Ta ybok-it-siu kelihatan paling sengit dan menyedihkan.
Kedua musuh bebuyutan ini sama ingin menuntaskan perhitungan lama dan dendam baru, maka dalam adu kekuatan ini mereka sama mengeluarkan segala ilmu yang pernah diyakinkan, setelahjurus serangan ganas dan telengas, setapakpun tidak mau mundur meski menyadari serangan lawan teramat ampuh, sehingga serangan keji dibalas jurus ganas, tipu lawan tipu.
Benturan keras sering terdengar.
Pertempuran cara keras lawan keras ini jelas menguras tenaga, biar sampai titik darah terakhir juga mereka tidak akan mau menyerah kalah sebelum salah satu roboh binasa lebih dulu.
Mereka sudah bertarung ratusan jurus, keringat telah membasahi sekujur badan, napas juga ngos-ngosan, tenaga makin lemah, lama kelamaan gerakan mereka menjadi lambat dan berat.
Mendadak Ai-pong-sut Thong ciau seperti teringat apa-apa, wajahnya mendadak bersenyum cerah tidak menerjang musuh mendadak dia menjatuh kau diri ketanah malah, ternyata dia sedang menggunakan ilmu To-tong-kang.
Paha dan lutut digunakan bersama, tubuhnya yang kecil pendek itu mendadak menggelinding secepat bola mengelilingi gelanggang, jangan kira tubuhnya pendek gemuk, ternyata setelah dia menggunakan To-tong-kang, gerakannya ternyata cepat dan tangkas.
Yang kelihatan hanyalah gumpalan bayangan kelabu yang menggelundung kian kemari diatas tanah, bagaimana sebetulnya dia melancarkan ilmu menggelundung ditanah, hakikatnya orang sukar melihat jelas.
Menghadapi permainan aneh lawan, ternyata Tay-bok-it-siu keripuhan dan sukar melayani, maklum Te-tong-kang selalu mengincar bagian bawah orang, perawakan Tay-bok-it-siu tinggi besar, kalau tidak membungkuk tak mungkin dia dapat melayani serangan lawan, sebetulnya dia berlompatan diudara seperti elang menerkam ayam untuk menghadapi serangan ini, namun sudah terlalu banyak dia mengeluarkan tenaga, paling juga hanya beberapa jurus tentu dirinya akan kepayahan sendiri, terpaksa dia hanya main kelit, lompat sana nyingkir ^ini kalau tadi dia mampu menggasak lawan, sekarang malah terdesak d iba wah angin tak mampu balas menyerang.
Jian-li-tok-heng dan It-cu-kiam berdampingan, telapak tangan dan pedang menghadapi keroyokan enam jago tangguh Ham-ping-klong, semula masih terjadi saling serang, namun pihak musuh dapat berganti kawan, jadi secara bergiliran mengeroyok mereka berdua, setelah K^oan Yong melancarkan seluruh permainan It-cu-hwi-kiam, tenaga juga sudah lemah, untuk menangkis saja sudah terasa makan tenaga.
Jian-li-tok-heng melihat gelagat jelek.
mumpung ada kesempatan lekas dia merogoh keluar segenggam biji teratai besi.
Begitu lawan menyergap tiba, dia incar musuh terus sambitkan lima biji.
Luncuran biji teratai besi diudara mengeluarkan desing suara keras, kontan seorang menjerit roboh terkena dua biji, tiga biji lagi mengincar tiga pengeroyok yang lain, tapi berhasil dipukul jatuh.
Thi-pi-kim-to Tan kian-thay mengandal permainan tinju tang a n kirinya yang aneh, cukup gagah dia melawan dua lawan baju hitam, roboh satu maju satu, demikian lawan bergiliran mengeroyoknya, tapi sekali swing..
nya mengenai badan lawan pasti menjungkir tak bangun lagi.
Apalagi golok emasnya itujuga bukan olah-olah lihaynya.
Sayang tenaganya sudah makin lemah, beberapa kejap lagi kala u pertempuran tidak berakhir, akhirnya dia juga pasti roboh lemas kehabian tenaga.
Untung Lwekangnya tangguh, melayani secara tabah, dalam waktu singkat masih kuat melawan-Celaka adalah coh-sung-hwi ciu Khay.
makin tempur makin terdesak disamping harus menyambut serangan musuh dia harus melindungi TioJin-kiat yang terluka, untung Ginkangnya melebihi lawan, dalam keadaan terdesak kadang kala dia bisa menyergap lawan dengan ketangkasan gerak tubuhnya.
tapi itupun takkan bertahan lama.
Ki-ling-sin Siang wi masih terus mengamuk dengan pentungnya, dimana banyak orang kesitu dia mengamuk, golok lawan tidak mempan ditubuhnya, karuan orang-orang Ham-ping-klong makin kocar kacir dilabraknya seperti harimau lapar terjun digerombolan kambing, jeritan demi jeritan, korban berjatuhan semakin banyak.
Keadaan semakin kalut jeritan-jeritan mengerikan menambuh pertempuran makin sengit.
Dengan melancarkan Te-tong-kun Ai-pongsut Thong ciau mendesak Tay-bok-it-sin sehingga lawannya ini dipaksa melompat menyelamatkan diri.
agaknya lawan sengaja hendak dikuras tenaganya.
Saat itu Ai-pong-sut sedang menggunakan jurus tunggal To-coansam-jia dari Te-tong-kun yang lihay, tampak kedua kakinya memancal keatas, sementara kedua sikutnya menahan bumi, tubuhnya berputar secepat roda menggelinding kebelakang Tay-bok-it-siu.
Dengan tangkas kedua kakinya menendang dan memancal, sekaligus dia serang s elang kang a n dan pinggang lawan-Tay-bok-it-siu dipaksa melambungkan badan keudara, disaat tubuhnya meluncur turun hampir menginjak bumi, sungguh tak nyana bahwa lawan yang bergelundungan di tanah dapat bergerak secepat itu.
tahu-tahu sudah menggelinding balik, jelas kemaluan bisa pecah tertendang.
Untung Lwekangnya tinggi, menghadapi bahaya tidak gugup, dikala ujung kaki lawan hampir mengenai tubuhnya, mendadak dia mendehem keras, kedua lengan terbuka lalu menepuk kebawah, hingga tubuhnya dipaksa mumbulpula tiga kaki.
Syukur masih sempat dia menyelamatkan diri, namun keringat dingin sudah bercucuran.
Agaknya Ai-pong-sut Thong Ciau sudah menduga lawan akan berbuat demikian, sekali berkelebat dia mencelat duduk, tangan kanan terangkat mulut membentak.
"Sahabat lama, sambut lagi yang satu ini^"
"dimana sinar gemeredep gelap menyambar, ternyata bandulannya sudah melesat kearah lawan-Dengan meminjam tekanan kedua lengan Tay-bok-it-siu paksa tubuhnya mumbultiga kaki pula, pada hal hawa murninya sudah hampir ludas, saat itu tubuhnya juga melayang turun, Ternyata Ai-pong-sut tidak memberi kelonggaran pula, sepasang bandulannya ditimpuk dengan tenaga penuh, maka daya luncurnya pesat luar biasa, dalam keadaan seperti itu jelas dia takkan mampu berkelit lagi. Dalam gugupnya sedapat mungkin dia menyendal kaki, maka terdengar.
"Plak", telapak kakinya bolong tertembus, saking kesakitan dia mengerang tertahan, tub uhpun jatuh terduduk diatas tanah, sangat kaget dan ketakutan pula, ternyata dia melupakan sakit dengan jurus La y-lok-b a k-gun (keledai malas menggelundung) dia menjatuhkan diri terus menggelinding setombak lebih, sekali melejit lagi tubuhnya sudah melesat kearah hutan-Sudah kalah, terluka dan berusaha melarikan diri, tapi dia tidak lupa akan akal muslihat dan perangkap yang telah direncanakan, sambil berlari dia menimpuk tangan keatas melepas pelor api "Tar"
Selarik sinar biru menjulang tinggi keangkasa meninggalkan jalur asap putih.
Pada saat yang sama coh-siang-hwi It Tiau-hiong yang melawan keroyokan dua jago baju hitam kelihatan payah, pertempuran lama banyak menguras tenaga sehingga gerakannya menjadi lamban, maka pundak kirinya kena sekali pukulan, sambil mendehem badannya terhuyung kesamping hampir tersungkur.
Ai-pong-sut Thong ciau yang berhasil melukasi dan memukul mundur lawan kebetulan melompat berdiri dengan gusar segera dia menubruk sambil membentak.
"Kunyuk kau berani...' telapak tangannya menampar. Kedua jago Ham-ping-klong seragam hitam itu tengah kesenangan, lawan sudah terpukul, sekali jotos lagi pasti melayang jiwanya, sungguh tak nyana, mendadak serangan hebat datang dari sebelah samping, tangan yang sudah kebacut terangkat dibuat menangkis, tapi terlambat. Terdengar dua jeritan saling susul, dua bayangan orang mencelat dua tombak jauhnya, roboh muntah darah dan takkan bergerak lagi. Berkat perlindungan Coh-siang-hwi Ih Tiau-hlong sehingga TioJ in-kiat sempat bersamadi menghimpun tenaga menyembuhkan luka dalam, sudah tentu bukan kepalang rasaterima kasihnya. Kini berbalik Ih Tiau-hlong yang terluka, mana berani ayal lekas dia tinggalkan lawannya memburu kesana memapahnya. Alis Ai-pong-sut tampak berkerut, wajahnya masam diliputi hawa membunuh. Setelah merobohkan dua musuh, langsung dia terjun ketengah gerombolan musuh yang merubung maju, berputar kehadapan TioJ in-kiat, seorang lelaki setengah baya kebetulan hendak menyergap. kontan dia menjotosnya pula sampai mencelat dengan kepala pecah. Sebetulnya sudah kepalang basah, tangannya berlepotan darah, musuhpun main keroyok secara keji, sudah timbal niatnya hendak mengganyang musuh sebanyak mungkin-Tapi kedua pemuda disampingnya ini sudah terluka dan perlu dilindungi. maka tak mungkin dia meninggalkan mereka terpaksa dia keluarkan pula bandulannya.Jago-jago Ha mping-klong yang mengepung Kim-gin-huhoat, Dua jago musuh dirobohkan pula terluka parah, tapi musuh mampu melarikan diri. Tekanan seketika agak longgar bagi Kim-gin-hu-hoat dengan dua musuh dipukul mundur, semangat tempur mereka berkobar pula meski tenaga sudah banyak terkuras, seperti banteng ketaton saja dua saudara ini mengamuk kepada Tang-ling-sin-kun dan lain-lain yang mengeroyok ketat. Sinar emas dan perak samber menyamber, kalau sinar emas menepis miring, cahaya perak mengemplang turun, kerja sama mereka cukup ketat dan banyak variasi lagi, permainan lebih leluasa sehingga para pengeroyoknya kabur pandangan, namun juga Begitu melihat sinar api biru menjulang keangkasa, Hong Kiat lantas tahu bahwa Tay-bok-it-siu sudah keok dan melarikan diri, sementara Tang-ling-sin-kunjuga sibuk menghadapi kedua musuhnya, dirinya tinggal harus bertahan mati-matian, kalau rencana jahat tidak lekas dilaksanakan, kemungkinan terlambat untuk meloloskan diri. Dasar licik dan licin, jelas dirinya sudah kalah, namun sikapnya tetap tenang, mendadak dia membentak.
"Berhenti. Bocah, apa kau berani ikut Lohu pergi kesuatu tempat ? Di sana kita berdua bertanding satu lawan satu sebagai penyelesaian terakhir pertarungan malam ini?' Llok Kiam-ping memang tidak ingin banyak membunuh, diapun mengharap pertempuran kacau balau ini lekas diakhiri, orang-orang pihaknya banyakjuga yang terluka dan sudah kehabisan tenaga, mereka perlu pengobatan dan istirahat, maka dia bergelaktawa sambil menanggapi tantangan lawan.
"Umpama sarang naga gua harimaujuga boleh, asal kau sendiri tidak takut mampus, kemanapun kehendakmu pasti kuiringi.".
"Baiklah, lekas kau suruh orang-orangmu. Kiam-ping segera angkat tangan serta memberi aba-aba kepada orang-orangnya, lalu dia memperkenalkan diri kepada Tiang lo Aipong-sut Thong ciau serta menjelaskan tantangan musuh. Sementara itu orang-orang Ha m-ping-klong juga berbondong-bondong mengundurkan diri keempat penjuru. Pihak Hong-lui-bun juga mundur ke samping, istirahat dan membubuhi obat di luka-luka mereka.
"Mari silakan ikut Lohu."
Seru Hong Kiat sambil menyila h ka n Kiam-ping berjalan lebih dulu.
Dia berjalan paling depan dalam rombongan besar orang-orang Ha m-pingrklong menuju kearah kanan.
Sudah tentu Kiamping tidak mau kalah wibawa, segera dia mendahuluijuga d ih a d apa n orang banyak.
Sigede Siang Wi sesaat berdiri bingung, mengawasi rombongan besar orang
orang itu pergi, dia tidak mampu melompat tinggi atau mengembangkan Ginkang, lawan sudah mundur semua, maka dia berteriak gugup.
"Bocah cilik, hai, tunggu aku."
"orang banyak sudah berada puluhan tombak jauhnya, dalam suasana kacau, setiap orang mengurus diri sendiri, mana pikirkan si gede lagi. Lekas sekali orang banyak sudah tiba disebuah pekarangan, dibela kang pekarangan adalah sebuah gedung berloteng tingkat dua, kabut pagi tampak remang-remang, orang banyak melihat pigura besar yang tergantung, diataspintu, dimana terukir tiga huruf Pau-gwat-kan. Tanah lapang didepan loteng luasnya ada sepuluh tombak. lengkap dengan segala peralatan latihan Kungfu yang serba baru, Mungkin disinilah biasanya jago-jago Ham-ping-kiong latihan silat. Tiga jurusan dipagari tembok tinggi, kecuali pintu yang menjurus ke villa berloteng itu tiada jalan keluar. Sementara itu orang-orang Ham-ping-kiong sudah berkumpul di depan tumpukan pasir yang diratakan, diatas pasir itulah tertancap ratusan bambu-bambu sebesar jari tangan yang runcing laksana pisau Kim-kong-ci Hong-kiat berkata sambil menjura.
"Ciangbunjin, inilah sekedar permainan Tlok-tok-bu-sa-tin (barisan bambu dipasir kering) Losiu ingin mohon beberapa jurus pelajaran diatas barisan bambu ini, telapak tangan, senjata atau Am-gi boleh digunakan sesuka hati. Jikalau tuan merasa di sini kurang mencocoki selera, boleh diganti cara lain' Berdiri alis Liok Kiam-ping, sorot matanya memancar tajam, katanya dengan gelak tawa lantang. 'Kalau Hong-tongcu ada minat Cayhe sih boleh saja mengiringi.' Hong Kiat sudah mencopot jubah panjangnya, dalamnya mengenakan pakaian ketat yang cocok untuk bertanding dimedan-laga. Setelah memberi tanda sambil berkata. 'Silahkan,' segera dia melompat keatas dengan gayga Pek-hocong-thian (burung bangau menjulang ke langit), dengan ringan dia hinggap di atas pucuk bambu. Kelihatannya barisan bambu diatas pasir yang tidak padat itu biasa saja, tapi kalau mau diteliti dan diperhatikan, seorang berpengalaman akan tahu bahwa barisan ini sukar dihadapi, maklum tancapan bambu diatas pasir kering itu tidak kokoh, demikian pula bambu itu runcing, untuk mengembangkan Ginkang diatas bambu runcing itu, kalau tidak memiliki latihan Ginkang selama dua puluh tahun, orang tidak akan bergerak bebas diataSnya. Apalagi bambu-bambu sebesar jari dan runcing sejumlah seratu dua puluh delapan batang itu dipasang menurut posisi Pat-kwa. Kalau dalam pertempuran maju mundur atau serang menyerang tidak dapat menempatkan dirinya pada posisi yang tepat, kemungkinan bisa ambruk dan kalah. Apalagi pasir kering dengan tancapan bambu itu tidak boleh diinjak terlalu keras dengan tenaga dikerahkan, dalam pertempuran boleh sesuka hati menggunakan tangan kosong, senjata atau Am-gi, maka lebih sukar pula untuk melayani dua perhatian sekaligus, bagi yang belum mempunyai kepandaian tinggi dan sempurna. siapapun takkan berani mencoba atau main-main dengan maut. Jian-li-tok-heng sejak muda sudah kenyang berkelahi menghadapi berbagai macam lawan, sekilas pandang dia tahu gelagat cukup mencurigakan, lawan bilang boleh main Am-gi maka dia menduga musuh tentu mempunyai akal keji dan serangan jahat, siap membantu bila Liok Kiam-ping berada dalam keadaan kritis. Liok Kiam-ping sendirijuga cukup cerdik, bahwa lawan berani mengajak bertanding di atas barisan bambu macam ini, maka diapun tidak berani gegabah, lekas dia copotjubah bagian atas serta diikat dipinggang dengan kedua lengan bajunya, pundak tidak kelihatan bergerak. dengan gaya Ciamllong-seng-thian, badannya melambung dua tombak. Di tengah udara menekuk pinggang menggeliat dengan gerakan membundar, lalu melayang turun dengan gaya indah mempesona hinggap diatas barisan bambu. Untuk bertanding diatas barisan bambu orang hanya mengutamakan kekuatan tenaga dalam dan pengaturan napas, maka tak mungkin buka suara lagi. Maka kedua orang hanya saling menjura lalu berputar berganti tempat. Dengan tangkas Kim-kong-ci Hong Kiat. tiba-tiba menggoyang badan, tahu-tahu melejit maju menginjak dua pucuk bambu dua tindak didepan Liok Kiam-ping, tangan kanan bergerak dengan jurus To-coa-sin-hiat (ular beracun mencari lobang) langsung menutuk Jian-kin-hiat dipundak kanan. Kiam-ping mundur dengan kaki kanan, telapak tangan memotong miring menabas pergelangan. Lekas Kim-kong-ci Hong Kiat meninggikan pundak menarik tangan, kirinya menggesar selangkah, dari samping dia bergerak dengan jurus Yu-hong-hi-jim (Kumbang menari dipucuk puntul) kedua jarinya mengincar Ki-kiat-hiat ditubuh Liok Kiam-ping. Kiam-ping berputar kekanan, seringan kapas dia berpindah dua pucuk bambu, denrgan jurus Peksho-jan-ji (bangau putih pentang sayap), telapak tangannya menepuk miring Giok-simhiat dibelakang batok kepala Hong Kiat. Hong Kiat dipaksa mengkeret lebar menyembunyikan kepala, namun tidak menyurut mundur tubuhnya malah berputar kearah kiri, kedua telapak tangan mendorong kedepan denganjurus Siang-jong ciang, yang diincar Hoa-kayhiat didepan dada Liok Kiam-ping, Dalam sekejap kedua orang sudah saling serang dua puluh jurus. Gebrak pertandingan kali ini berbeda pula dengan pertarungan tad i, karena diatas pucuk bambu yang runcing lagi, tidak boleh menggunakan tenaga berat, apa lagi mengadu tenaga maka mereka hanya saling mematahkan dan merobah serangan, terutama harus mengembangkan kelincahan langkah dan gerakan tubuh yang enteng, ketimur atau mendesak kebarat, maju mundur sambil berputar, makin lama kedua pihak bergerak makin cepat laksana dua balingbaling yang saling kejar. Waktu itu Kim-kong-ci Hong Kiat harus mengegos diri dari serangan maut, badannya bergerak sekaligus melewati lima enam bambu, Liok Kiam-ping mengudak dari belakang secara ketat. Dua langkah lebih lagi dia sudah akan menyusul lawan-Wajah Kim-kong-ci Hong Kiat kelihatan masam, nafsunya sudah berkobar, maka turun tangannya juga tidak kenal kasihan lagi, begitu ujung kaki menutul bambu, badannya sedikit bergeming, kelihatannya gaya itu seperti akan berputar kearah kiri menuju belakang, yang benar meminjam gerakan menggeliat ini, secara sembunyi-sembunyi tangan kanannya sudah mengeluarkan Am-gi, itulah sebuah bumbung jarum mungil yang dinamakan hoa-toh bing-ciam sudah digenggam ditangannya Saat itu dia juga tidak memutar badan, mendadak malah menjatuhkan diri kedepan, dengan gaya Ku-gu-bong-gwat (kerbau jantung memandang rembulan), dia sudah incar gerakan lawan terus mengayun tangan kanan kebelakang "Cret"
Suaranya tidak nyaring namun Bwe-hoa-toh-bing-ciam sudah melesat kearah Liok Kiam-ping.
Lihay amat serangan Bwe-boa-bing-ciam jarum sakura pencabut nyawa) ini, tampak titik sinar dingin terbagi atas tengah bawah dan kanan kiri dari lima jurusan, daya luncurannya pesat kekuatannya jelas jauh lebih keras dari timpukan senjata rahasia jago silat manapun.
Pada hal jarum-jarum baja itu selembut bulu kerbau, tapi ditengah udara dapat mendesing nyaring memecah udara, maka dapatlah dibayangkan betapa keras daya luncurannya.
Orang-orang Ham-ping-kiong bersorak dan keplok, mereka girang bahwa cong-tongcu mereka pasti berhasil dengan serangan gelap ini, maka semua berseri tawa.
Sebaliknya orang orang gagah pihak Hong-lui-bun semua terbeliak kaget dan melongo.
hanya keajaiban atau adanya pertolongan dari melaikat dewata saja yang mampu menolong jiwa ciangbunjin mereka dari petaka ini.
Pada halJian-li-tokheng berdiri dibela kang Kim-kong-ci Hong Kiat, umpama dia timpukkan biji teratai besinya juga takkan bisa menolongnya, karuan dia gugup dan membanting kaki belaka.
Sejak mula Liok Kiam-ping sudah menduga bahwa la wan pasti sudah mempersiapkan Am-gi yang ganas danjahat, namun tak pernah dia menduga bahwa serangan bakal seganas dan selincah ini, untung sebelum dia memburu maju, mendadak dilihatnya lawan menjatuhkan diri kedepan, rasa curiga telah menghentikan niatnya, sedikit merandek ini telah menolong jiwanya.
Bila dia mendengar suara jepretan, berbareng lima bintik sinar dingin melesat keluar, lekas dia menutul kaki diujung bambu, badannya lantas menjulang keatas, syukur masih sempat dia menyelamatkan diri.
Diatas barisan bambu yang tertancap dipasir kering seperti itu sebetulnya tidak boleh menggunakan tenaga, apalagi menjejak mumbul keatas, dasar Kiam-ping berkepandaian tinggi nyalinyapun besar, terdesak oleh keadaan pula, terpaksa dia menempuh cara berbahaya.
Sama sekali tidak diduganya pula disaat tubuhnya melorot turun, Kim-kong-ci Hong Kiat menyerang pula dengan jarumjarum lembutnya untuk yang kedua kali.
Kali ini Liok Kiamping jelas takkan bisa meluputkan diri dari serangan mematikan ini.
Seperti diketahui diatas barisan bambu tidak boleh mengerahkan tenaga.
diwaktu menjulang keatas Liok Kiamping tidak bisa menggunakan tenaga besar, setelah terapung diudara segera tubuhnya akan melorot turun, hal ini sudah diperhitungkan oleh Hong Kiat.
Diluar tahunya Ling-hi-pou-hoat yang diyakinkan Liok Kiamping sudah sempurna dan dapat dikembangkan beruntun sembilan kali berputar diudara seperti burung elang jumpalitan, walau tadi kakinya tidak menggunakan tenaga untuk melambung keatas, namun ditengah udara untuk berputar terbang bukankah suatu kerja berat bagi dirinya.
Begitu mendengar suara jepretan, lantas dia tahu lawan menyerang kedua kali dengan jarum jahatnya, lekas dia menarik napas, di mana kedua lengan terkembang, tubuhnya meringkel terus meronta sekali, hingga tubuhnya melayang naik pula satu tombak, Bwe-hoa-ciam itupun tidak mengenai sasarannya pula.
Ditengah udara Kiam-ping berputar sekali, tubuhnya rebah datar diudara, begitu kaki memancal laksana seekor burung rajawali tubuhnya melesat maju memburu kearah Hong Kiat.
Bahwa Kim-kong-ci Hong Kiat menyerang dua kali dengan jarum jahat secara keji dan nakal, tanpa mematuhi peraturan dunia persilatan, orang-orang gagah Hong-lui-bun sudah berjingkrak gusar.
Beramai-ramai mereka membentak dan memaki, ada yang mengacung tinju, ada yang menggosok telapak tangan, siap bertindak bila mendapat komando.
Kini mari kita ikuti-jejak si gede Siang Wi, karena ketinggalan tepaksa dia mengudak kearah mana tadi orang banyak pergi, langkahnya lebar, pentungnya masih terus berkerja, sering pula kaki menendang apa saja yang menghalangi perjalanannya, pintu atau dinding yang menghadang juga dihajar dengan pentung baja.
Setelah sekian lama mengobrak abrik kian kemari, belumjuga dia menemukan orang banyak, karuan si gede yang pikun ini semakin bingung uring-uringan akhirnya dia pegang pentung berdiri melongo celingukan, entah kemana die harus menerjang pula.
Karena berdiam diri itulah, dalam keheningan dia mendengar suara sorak sorai orang banyak.
seketika dia berjingkrak girang, mulutnya mengoceh.
"Maknya kura-kura, akhirnya kutemukan juga."
Kembali pentungnya bekerja, tembok dijebolkan secara kekerasan-setelah membelok dua kali dia tiba disebuah serambi.
Diujung tikungan sana dilihatnya bayangan orang bergerakgerak.
Dengan getak tawa mulutnya berkaok-kaok.
"Anak kelinci, coba mau sembunyi kemana lagi."
Sambil menjinjing pentung segera dia memburu ke sana.
Keluar dari serambi panjang berliku-liku itu dia memasuki sebuah pekarangan dibawah sebuah bangunan loteng.
Tampakpula banyak lelaki sedang sibuk bekerja menggotong buntalan-buntalan kertas entah apa isinya, yang terang buntalan kertas itu semua dilempar kesebuah lobang dibawah tanah.
Memangnya sudah penasaran dan keki sejak tadi, perut lapar lagi, maka orang-orang Ham-ping-kiong yang kesamplok ditangannya tentu tidak diberi ampun, dengan mata mendelik segera dia menyerbu sambil ayun pentungnya.
orang-orang itu sedang sibuk bekerja, penuh perhatian dan hati-hati menggotong buntalan-buntalan kertas itu, mimpipun tidak menduga bahwa petaka turun dari langit mengincar jiwa mereka.
d iluar pekarangan tadi mereka sudah merasakan kelihayansi gede ini, tahu permainan pentungnya amat kencang dan berat, siapa tidak lekas menyingkir pasti celaka, apalagi sigede berkulit tebal tak mempan senjata, melihat dia menyerbu datang dengan mata mendelik laksana raksasa iblis yang jahat saja.
Seketika hampir terbang arwah mereka saking ngeri den ketakutan, siapa berani ayal, beramai ramai mereka menjerit ngeri sambil melempar buntalan kertas yang dipegang terus ngacir seperti dikejar lawan, lari ke lobang dibawah tanah.
Lobang itujuga tidak terlalu lebar, mereka berjumlah banyakjadi mereka berebutan menyelamatkan diri, yang berada dibela kang jelas terlambat.
maka tidak sedikit yang dihajar pentung hingga kepala bocor tulang patah, yang mati dan terluka parah bergelimpangan ditanah.
Akhirnya si gede kehabisan lawan, terpaksa dia mengudak kebawah lobang.
Dibawah lobang gelap gulita, begitu dia berada di bawah lobang, matanya seketika menjadi gelap tak bisa melihat apa-apa.
Sejenak dia berdiri ragu-ragu, setelah merasa pandangannya agak biasa, baru dia melihat sebuah lorong panjang berada didepannya, mau maju atau mundul kebelakang, buntalan-buntalan kertas satu kaki persegi berserakan disepanjang lorong, orang-orang yang mengangkuti buntalan itu sudah lari tak kelihatan bayangannya.
Di arena tidak teriampias rasa gusarnya akhirnya buntalan kertas itu menjadi sasaran ayunan pentungnya, isinya segera tercecer berhamburan, ternyata bubuk kuning yang berbau menusuk hidung.
Mendadak didengarnya suara mendesis tajam dari tempat gelap sana disertai percikan api, Lekas si gede memburu kesana sambil menyeret pentung.
Dua puluhan langkah kemudlan desis suara itu makin keras, tapi maju lagi lebih jauh sudah buntu, tiada jalan belok pula ?
Setelah membanting kaki dia putar batik hendak memburu kearah datangnya suara.
Mendadak dia menumbuk sebatang bambu sebesar mulut mangkok yang tegak berdiri ditengah lorong menyanggah langit-langit lorong, tanpa peduli tiga kali tujuh dua puluh satu sigede angkat pentung terus memukul, tapi tonggak bambu besar itu tidak bergeming, seperti berakar dibumi, setelah puluhan kali dipukul tetap berdiri tegak.
Gema suara pukulan pentung bergema diujung lorong sebaliknya.
Lorong terlalu sempit, tak mungkin sigede mengayun pentung menyapu miring, maka pukulan pentungnya itu tidak menggunakan sepenuh tenaganya, akhirnya sigede menumbuk dengan kedua lengan berganti kanan kiri, pundak sudah kesakitan, tonggak bambu itu tetap tidak bergerak, karuan dia menjadi jengkel, akhirnya pentung dia buang, kedua tangan pegang tonggak bambu itu terus kerahkan seluruh tenaganya mencabutnya keatas.
Siang Wi memang dibekali tenaga raksasa sejak dilahirkan, begitu dia kerahkan kekuatannya tonggak bambu itu mulai terangkat sedikit.
Setelah diulang beberapa kali, tonggak bambu itu akhirnya tercabut seluruhnya.
Karuan senangnya bukan main, bambu masih dipegang kencang terus disendai keras kesamping.
Maka terdengarlah suara gemuruh, langit-langit lorong itu ambruk sehingga bolong dan menyorotlah cahaya terang kedaiam lorong yang gelap.
Menyusui pasir kuning yang lembut seperti dituang saja menguruk kebawah.
Tenaga sendai sigede terlalu besar, begitu tonggak itu copot dia sendiri ikut tertarik kepinggir lima kaki, hingga pasir kuning menguruk seluruh kakinya sebatas paha.
Semula masih sempat kupingnya mendengar suara bentakan ramai diatas, tapi hanya sekejap suasana menjadi sepi.
Lekas si gede melonjak berdiri sambil meraih pentung terus merambat keatas lobang.
Diatas pasir tak bisa menggunakan tenaga, badan sigede yang besar berat pula, hanya dua langkah kakinya sudah terjeblos hingga dia roboh terjengkang, dengan pentungnya lekas dia menyanggah badan serta merambat bangun pula kearah lobang diatas.
Waktu dia angkat kepala selayang pandang hanya pasir kuning melulu, maka hatinya bingung dan heran.
"Tempat apakah ini ? Apakah disini ada laut ?' Tengah dia celingukan dengan bingung, mendadak didengarnya suara dari atas pasir sana serta muncul bayangan orang.
"He, bocah gede, bagamana kau bica muncul dari bawah tanah ? Sekarang jangan bergerak dulu, biar kubantu kau membuka jalan diatas pasir ini."
"Ih losu,"
Seru sigede, tolong lekas kau bantu aku. Terus terang perutku sudah lapar. Kemana pula orang banyak ?"
"Baiklah, segera aku bantu."
Lalu dia lompat turun diatas tumpukan pasir serta merambat naik pula.
Tak lama kemudian si gede sudah ditarik keluar oleh Ih Tiau-hiong tak urung sekujur badannya kotor oleh pasir kuning, Ternyata lobang besar diatas lorong kebetulan tepat ditengah barisan bambu runcing yang dipasang dipasir kering.
Seperti diketahui Hong Kiat sengaja memancing Liok Kiamping bertanding diatas barisan bambu ditancap dipasir itu, sebelumnya diapUn sudah menyiapkan Bwe-hoa-toh-bingciam yang ganas untuk adu jiwa dengan lawan-bila masih gagal juga merobohkan lawan dan pihak sendiri yang kalah, terpaksa dia akan meledakkan bom geledek yang sudah dipendam dibawah pasir, bukan saja orang-orang gagah Hong-lui-bun akan mampus seluruhnya oleh ledakan dahsyat itu, seluruh perkampungan Kwi-hun-ceng inipun akan hancur luluh oleh ledakan demi ledakan-Diwaktu dia menantang Liok Kiam-ping, sementara anak buahnya sedang sibuk mengatur bahan-bahan peledak.
Dilua r perhitungannya pula bahwa sigede yang ketinggalan ini tanpa sengaja justru main trobos masuk kelorong bawah tanah, bukan saja mematikan sumbu peledak.
barisan bambu diatas pasir itupun ambruk kebawah.
Waktu Kiam-ping meluputkan diri dari timpukan jarum musuh dengan Ginkangnya yang tinggi, tubuhnya menukik lurus kebawah seenteng kapas, turun dibela kang Kim-kong-ci Hong Kiat, Kim-kong-ci Hong kiat terpesona oleh demontrasi Ginkang yang tiada taranya itu.
maklum bahwa pihak dirinya takkan mungkin menang, ingin dia segera meleeakkan bom d iba wah pasir, tapi dia juga tahu bahwa orang-orangnya belum selesai mengatur bagian bawah, terpaksa dia harus mengulur waktu.
Diwaktu otaknya bekerja mencari akal untuk menghadapi musuh itulah, bagian tengah barisan bambu diatas pasir tepat dimana bom peledaknya terpendam mendadak ambruk dengan suara gemuruh, melesak runtuh kedalam tanah.
Sudah tentu kejadian ini bukan saja mengejutkanjuga memusingkan kepalanya, batinnya.
"Lorong sekokoh itu tanpa sebab tidak mungkin runtuh. orang-orang Hong-lui-bun semua ada disini, tidak mungkin ada yang mendadak merusak rencanaku didalam lorong bawah tanah,"
Padahal sigede yang ketinggalan itu telah dilupakan olehnya.
"Bantuan dari luar juga tidak mungkin datang secara kebetulan. Mungkinkah ada orang orang Ham-ping-kiong yang sudah mengkhianat membantu pihak musuh"
Betapun runtuhnya barisan bambu itu merupakan pukulan berat bagi pihaknya, mumpung masih ada kesempatan kalau tidak lekas pergi, bila terlambat pasti menyesal seumur hidup.
mendadak dia bersuit panjang memberi tanda kepada anak buahnya, berbareng kedua tangan didorong lurus ke depan.
Terdengar dua kali jepretan pula, dua rumpun jarum halus kembali melesat keluar dari dalam bung bung, masing-masing mengincar Liok Kiam-ping dan rombongan besar orang-orang Hong-lui-bun.
Mendengar suitan panjang dari mulut Hong Kiat, orangorang Ham-ping-kiong bergegas berlompatan mundur, tanpa membuka suara mereka berlompatan keluar pagar tembok.
Sementara Hong Kiat sendiri setelah menyambitkan jarumnya, ikut kabur dari tempat itu.
Dua kali Liok Kiam-ping selamat dari seranganjarum berbisa lawan, sekarang dia tidak perlu gentar lagi, lekas dia menyingkir lima kaki kesamping, Serangan ketiga ini pun tidak mengenai dirinya.
Sejak tadiJian-li-tok-heng memang sudah menggenggam biji teratai besi, sekarang tiba saatnya dia pamer kepandaian, lima bintikjarum menyambar ke arah orang banyak, kontan dia ayun tangan menimpukkan biji teratai besi, kelima Bwe-hoaciam kena ditimpuknya jatuh semua.
Bila Kiam-ping berhasil menyelamatkan diri dari s a mb era n Bwe-boa-ciam musuh, dilihatnya Hong Kiat sudah kabur melompati pagar tembok.
Saking gusar dia memekik seram, dengan gerakan cam-llong-seng-thian, tubuhnya melambung lima tombak, secepat panah mengudak keluar pagar.
Demikian pula orang-orang Hong-lu^bun yang lain membentak dan mencaci maki, beramai-ramai mereka mengudak keluar.
Hanya coh-siang-hwi yang terluka, dia masih harus menjaga Tio-jin-kiat, maka hanya mereka berdua saja yang masih tinggal d is itu.
Begitu tiba diluar pagar Liok Kiam-ping meluncur turun, kabut pagi masih tebal, lapat-lapat kelihatan puluh a n tombak didalam hutan bayangan orang berkelebat, tanpa ayal dia menjejak kaki ditanah, tubuhnya berlompatan beberapa kali, mengembangkan Ling-hi-pou-hoat.
G^ak tubuhnya laksana damparan angin les us, melesat kedepan dengan kencang.
Diluar sungai pelindung perkampungan merupakan hutan belantara yang lebat, maju pula kedepan adalah mulut gunung.
Sementara itu bayangan orang didepan itu masih terpaut puluhan tombak.
yakin beberapa kali lompatan pula pasti dirinya dapat menyandak.
Hatinya sudah kebacut girang, gembong iblis yang jahat kali ini pasti takkan lolos.
Tapi setelah dia mengitari perut gunung, seketika dia celingukan heran dan kaget, bayangan yang dikejarnya ternyata telah lenyap dalam sekejap ini.
Samar-samar Liok Kiam-ping masih kenal daerah sekitar ini, dulu waktu kecil sering juga dia dolan ditempat ini, melewati perut gunung, maju kedepan lagi adalah tega la n yang belukar dan tiada jalan menembus kejurusan lagi.Jarak belasan tombak hanya ditempuh sekejap mata, pada hal orang-orang Ham-ping-kiong sebanyak itu, bagaimana mereka bisa melarikan diri dalam jangka sependek ini ?
Kiam-ping tahu urusan agak ganjil, dibelakang kejadian pasti ada rahasia yang belum diketahui.
Maka dia panggil orang banyak berkumpul lalu membagi tenaga mencari ke segala jurusan-Dalam jangka satu jam daerah itu boleh dikata sudah digeledah.
tetap tidak menemukanjejak musuh.
Sementara fajar telah menyingsing, terpaksa orang banyak kembali kemulut gunung, tunggu punya tunggu semua sudah balik, hanya It-cu-kiam saja yang belum kunjung tiba.
Kiam-ping gelisah dan tidak sabar lagi.
Padahal orang banyak sudah bertempur semalam suntuk.
meski Lwekang mereka tinggi juga harus beristirahat.
Maka dia minta orang banyak pulang dulu ke Kwi-hun-ceng, bersamaJian-l^tok-heng mereka mencari ke arah It-cu-kiam pergi.
Dengan cermat mereka menyelidik dan mencari dengan teliti.
Satu jam kemudian mereka memasukijalanan kecil yang penuh ditumbuhi rumput alang alang, dua dinding gunung mengapitjalan kecil ini jadi bentuknya mirip selat gunung, tapi karena jarang dilewati orang, maka jalanan kecil ini sudah ditumbuhi rumput liar.
Selat sempit ini berliku-liku, makinjauh kedalam keadaannya makin seram dan menakutkan.
Kiam-ping berdua terus maju puluhan tombak, dipinggir dinding gunung sebelah kanan terdapat sebuah batu raksasa yang menonjol, pada hal sekitar sini tiada batu lain dan batu raksasa inipun menghadang jalan, jadi amat menyolok.
Rumput liar disekitar batu raksasa tumbuh satu kaki tingginya.
kelihatan rumput di sini morat marit seperti ditindih barang berat hingga rebah datar diatas tanah.
Maju lagi adalah semak-semak yang belukar.
Jian-li-tok-heng merasa heran, katanya.
"Daerah yang jarang dijelajah manusia, tinggi rumput lebih satu kaki, bagaimana mungkin bisa roboh kalau tidak tertindih benda berat ? Dilihat keadaannya, kejadian baru saja, mungkin... ' tiba-tiba dia jemput sepotong batu sebesar mang kok lalu lompat keatas batu raksasa serta menghantam dinding gunung dengan batu ditangannya. Ternyata bunyi ketukan itu menimbulkan gema kosong dibalik dinding, lekas dia berkata. 'Keadaan dibalik dinding agak mencurigakan, mari kita geser dulu batu besar ini.' Batu raksasa itu ada ribuan kati beratnya, tapi dengan gabungan tenaga mereka berdua dengan mudah batu itu dirobohkan kesamping, dan terbuka lah sebuah lobang persegi lebar tiga kaki. Mulut lobang ternyata rata halus seperti diiris pisau. jelas hasil buatan manusia. Lobang goa ini amat dalam dan sempit panjang tak terlihat ujungnya. Liok Kiam-ping berkata kepada Jian-li-tok-heng.
"Lo-koko, tolong kau jaga di mulut gua, biar Siaute yang -memeriksa kedalam."
Jian-li-tok-heng mengerut kening, katanya.
"Gua ini bentuknya cukup mencurigakan, kuatirnya ada perangkap didalam, biar aku saja yang masuk."
Dia kuatir sebagai ciangbun meski berkepandaian tinggi, tapi kurang pengalaman, kalau terjadi sesuatu yang tidak diharapkan tentu berabe, maka dia tidak ingin Kiam-ping menyerempet bahaya.
Liok Kiam-ping bernyali besar, wataknya angkuh lagi, bahwa Jian-li-tok-heng menguatirkan keselamatannya, sungguh terharu hatinya, dengan tersenyum dia berkata.
"Lokoko tak usah kuatir, gua kecil dialas pegunungan, yakin takkan ada mara bahaya besar, yakin Siaute masih mampu mengatasi."
Tanpa menunggu jawaban Jian-li-tok-heng segera dia melompat turun kedalam gua, dengan langkah lebar dia masuk kedalam.
Gua ini gelap gulita, lima jari sendiri juga tidak kelihatan-Setelah maju beberapa langkah Kiam-ping berdiri sejenak.
memusatkan perhatian memasang kuping, kini matanya sudah biasa ditempat gelap lambat laun pandangannya mulai terang.
Tinggi gua setombak, lebarnya empat kaki, gua inijelas buatan manusia karena dindingnya rata seperti terpacul, jelas belum lama ini dibangun.
Semakin dalam hawa terasa makin dingin dan lembab, desis air mengalir tampak gemericik diantara celah-celah dinding membasahi lantai gua.
Setiap tiga tombak diatas dinding dipasang sebuah obor dari bambu, obor padam tapi terasa masih hangat, jelas belum lama dipadamkan..
Segera Kiam-ping keluarkan ketikan lalu menyulut obor, begitulah setiap obor dia nyalakan hingga lorong gua ini semakin terang, semakinjauh keadaan semakin nyata.
Kiam-ping sudah menyusuri lorong gua satu jam lamanya, tapi belumjuga tiba diujung, dalam hati dia menggerutu, pikirnya berhenti.
"Lorong gelap macam apa ini ? Diatas pegunungan seperti ini, buat apa membuang banyak tenaga membangun proyek sebesar ini? Apa gunanya ? Setelah orang-orang Ham-ping-kiong menduduki Kwi-hun-ceng, ratusan li daerah sini boleh dikata berada dalam kekuasaan dan pengamatan mereka, mungkinkah ada rombongan besar dari golongan lain bisa membangun proyek d iba wah tanah sebesar ini dipegunungan ini ?' tak perlu diragukan lorong gua inipun pasti dibangun oleh pihak Ham-ping-kiong, sebagaijalan mundur mereka bila mengalami kekalahan total, Kemungkinan besar It cu-kiam Koan Yong juga terperangkap didalam gua ini. Karena menguatirkan keselamatan It-cu-kiam Koan Yong, maka amarah Kiam-ping berkobar, sebelum ini dirinya tidakpernah kenal dia, dengan suka rela dia datang membantu, sekarang orangnya hilang tak karuan paran, adalah menjadi kewajibannya untuk menemukan kembali mati atau hidup, betapapun dirinya tidak boleh mundur. Segera dia mempercepat langkah meneruskan perjalanan kedepan. Mendadak sebuah ledakan dahsyat terdengar dari mulut gua, begitu keras ledakan ini sehingga lorong gua di mana Kiam-ping berada seperti digoncang gempa. Dalam pada ituJian-li-tok heng yang menunggu dimulut gua sudah resah dan gelisah, tiba-tiba kupingnya mendengar tawa dingin seseorang yang lirih dibelakangnya. Dia tahu kemungkinan dirinya sekarang sudah ada dalam pengawasan musuh, sementara dia tidak boleh meninggalkan mulut gua. Maka dia pusatkan perhatian kesekitarnya. Sebuah gelak tawa memecah kesunyian, seorang berkata pongah. Jian-li-tok-heng, ternyata memang cerdik pandai, tapi hanya kau seorang memangnya dapat berbuat apa di sini?"
Habis perkataannya dari atas dinding curam melayang turun bayangan seorang laksana seekor rajawali hinggap ditengah selat.
Begitu menginjak bumi kedua tangan Kim-kong-ci Hong Kiat lantas menyilang dan bergerak turun naik bertemu ditengah terus didorong sekali kearahJ ia n-li-tok h eng.
Tahu Lwekang lawan amat tangguh, betapapunJian-li-tokheng tidak berani melawan dan menyambut secara keras.
B eg itu pukulan lawan menerpa tiba lekas dia melompat lima kaki, berbareng kedua lengannya membundar terus miring tubuh dari samping menyendal kedua telapak tangan balas menepis angin pukulan lawan-Begitu benturan terjadi, meski Jian-li-tok-heng melawan dari samping tak urung dia tergentak mundur setindak.
Sementara Kim-kong-ci Hong-kiat hanya menggeliat sedikit.
Kuatir Liok Kiam-ping segera keluar dari dalam gua, hingga rencana jahatnya yang terakhirjuga gagal pula, demi cepat menyelesaikan lawan yang satu ini, segera dia gunakan Kimkong-ci-kang.
Tampak dua jalur hawa putih melesat keluar dari kedua jarinya dengan suara memecah udara.
Kekuatan Kim-kong-ci kang dapat menusuk gunung menembus dada, sudah tentu Jian-li-tok-heng tidak berani lena, lekas dia melompatjauh tiga tombak, syukur masih sempat menghindar, melihat tujuan sudah tercapai segera Hong Kiat merogo keluar sebuah granat tangan bundarnya sebesar buah kepala terus dilempar kedalam lobang gua.
Baru saja Jian-li tok-heng menyentuh bumi, badannya lantas tergetar oleh ledakan dahsyat.
Tampak lobang gua itu sudah hancur lebur, tanah padas dan batu-batu gunung raksasa menyumbat mulut gua.
Takpernah terpikir oleh Jian-li-tok-heng bahwa lawan bakal melakukan muslihat sekeji ini, sedikit kelalaian dirinya, Kiamping terkurung didalam gua, mati hidupnya belum diketahui, karuan gusarnya seperti kebakaran jenggot, dengan nekad segera dia merogoh dua genggam biji teratai besi dengan gerakan hujan kembang diangkasa dia timpukkan kearah Kimkong ci Hong-Kiat.
Melihat mulut gua sudah ambruk dan tertutup rapat, musuh satu-satunya yang paling diseganijelas takkan mungkin bisa keliuar, namun dia kuatir ledakan keras ini memancing kedatangan orang-orang Hong-lui-bun yang lain, dirinya sendirian kalau sampai dikeroyok bisa berabe, biarlah urusan diselesaikan lain kesempatan-Maka dia berkata.
Jian-li-lo koay, apa maumu sekarang?
Bocah she Liok sudah terkubur didalam gua.
cepat atau lambat Kui-hun-ceng akan jatuh ketanganku lagi, sementara biar kalian hidup beberapa hari lagi."
Habis bicara dia langsung menjejak bumi melambungkan tubuhnya keatas, beberapa kali kakinya berpijak didinding gunung yang menonjol keluar, beberapa kalijumpalitan pula bayangannya sudah lenyap.
Karuan bukan kepalang amarah Jian-li-tok heng, ingin rasanya dia telan bulat lawan yang satu ini.
Sementara itu Kiam-ping juga mendengar ledakan dahsyat diluar, tahu gelagat jelek lekas dia berlari balik.
Tapi setiba diujung lorong, seketika dia berdiri melenggong.
Mulut gua sudah tidak kelihatan bentuknya, tanah padas dan batu-batu raksasa telah menyumbatjalan keluar, dia coba meraba dan memukulnya beberapa kali, tapi tidak bergeming sedikitpun, saking gelisah dia berteriak-teriak.
"Lo-koko, di mana kau."
Ditunggu sesaat tidak memperoleh jawaban-Maka dia membatin.
'Agaknya musuh sengaja meledakkan mulut gua, kemungkinan Lo-koko sekarang sedang melabrak musuh.
Dalam gua masih ada hawa segar, tentunya ada lobang lain yang menembus luar, aku harus berusaha mencari lobang keluar itu secepatnya supaya tidak terlambat meloloskan diri."
Bagai terbang dia berlari menyusuri lorong gua.
Obor masih menyala maka penerangan cukup untuk membedakan arah, sehingga Kiam-ping lebih leluasa mengembangkan Ginkang.
Rasa gelisah membakar dada, maka larinya bagi terbang, kecepatannya memang luar biasa.
Kira-kira seratus tombak kemudian, tiba-tiba dirasakan sepatunya agak basah, waktu dia menunduk seketika dia berusaha heran, ternyata air sedang mengalir datang dari depan dengan cepat.
Datangnya airjuga terlalu aneh, kebetulan mulut gua tersumbat baru air membanjir tiba, padahal gelagatnya gua ini belum pernah tergenang air selama ini.
Mungkinkah ini perbuatan manusia?
Setelah menyumbat mulut gua, musuh hendak membunuhnya pula tenggelam dalam lorong sempit ini.
Betapapun cerdik pandai Kiam-ping, sekarang dia kehabisan akal, sementara air bah sudah mulai deras menjadi arus kencang dengan suaranya yang gemuruh, keadaan terasa amat tegang.
Maka Kiam-ping membatin.
"Kalau air bisa masuk kemari dari depan pasti ada lobang keluarnya, apalagi arus sedemikian besarnya,jelas bukan dialirkan dari sungai kecil dan lobang air tentujuga cukup lebar dan banyak."
Air setinggi lutut, arus tak terbendung, Dalam waktu dekat seluruh lorong gua ini bisa kelelap.
namun sekuatnya Kiamping kerahkan tenaga untuk maju kedepan melawan arus.
Kira-kira sejam kemudian arus terasa makin besar dan daya terjangnya juga makin besar, hingga daya majunya semakin lambat.
Air semakin tinggi datangnya arus ternyata makin galak.
air bergulung-gulung seperti amukan ombak^ suaranya gemuruh dengan air muncrat kian kemari.
Tinggi air mencapai pundak^ Kiam-ping merasa keadaanya cukup genting, namun ia tetap berlaku tenang, dengan segala kemampuannya dia terus terjang kedepan-Tapi kekuatan arus memang teramat besar, kedua kakinya kini sukar menggunakan tenaga.
Walau Lwekangnya tinggi didalam air Kungfu setinggi langitjuga tidak berguna, namun dengan tenaga murninya, dia masih kuasa mengapungkan diri untuk maju terus melawan arus.
Tapi majunya juga menggeremet.
Mendadak sebuah arus yang bergolak besar menerjang datang, karena daya terjangnya teramat besar, tubuh Kiamping samphai terhanyut mundur sejauh satu tombak.
Lekas Kiam-ping gunakan daya berat tubuhnya, kedua kaki mengendak turun kebawah Tapi seluruh badan termasuk kepalanya seketika amblas kedalam air, telapak kaki juga tidak dapat menyentuh tanah, ternyata ketinggian air sudah melebihi tinggi badannya.
Lekas Kiam-ping meringankan tubuh mengambang kepermukaan air, namun badannya terus hanyut beberapa tombak pula kedalam gua.
Karena tanpa halang tidak puny a pegangan, dengan kekuatan tenaga murninya dia apungkan tubuhnya dipermukaan air, pasrah nasib membiarkan tubuhnya dibawa arus air entah ke mana.
Air masih terus bergulung gulung datang.
Hanya sekejap seluruh lobang gua diperut gunung ini sudah terendam air, dari sini dapat dirasakan bahwa sumber air yang menderojok kedalam gua letaknya pasti lebih tinggi dari gua ini.
Menahan napas meringankan badan hingga mengapung dipermukaan tidak bisa bertahan lama, apalagi air sudah mencapai langit-langit gua, kuping juga sudah terendam air, keadaan betul-betul gawat.
Dalam keadaan yang sudah kritis ini otak Kiam-ping masih jernih, dengan tenang dia mencari akal untuk menyelamatkan diri.
Mendadak tergerak hatinya, teringat olehnya didalam Thian-gwa-cin-keng ada sejenis latihan Lwekang dinamakan Kui-gip-tay-hoat (ilmu kura-kura tidur) yang dapat menyumbat pernapasan orang dan hanya mempertahankan denganjantung, luka-luka separah apapun dapat disembuhkan dan penyakit tidak akan merembet atau bertambah parah.
Tapi cara inijuga hanya pisa digunakan sementara dalam waktu singkat, tapi untuk menolong keadaan yang sudah kepepet begini, terpaksa dia harus berani mencobanya.
lekas dia kerahkan hawa murni dalampusar, terlebih dulu dia sumbat seluruh IHiat-to dan urat nadi, Lalu arus hawa murni itu dia tuntun keseluruh badan serta mulai menutup pernapasan, yang terjaga hanyalah kesadaran otaknya.
Kini keadaann a sudah dalam keadaan setengah sadar, tubuhnya terapung didalam air.
Kira-kira setengah jam pula, air sudan tidak mengalir masuk pula, jadi air gua ini sudah dalam keadaan tenang dan merata.
cukup lama juga keadaan tenang ini bertahan, mendadak air mulai bergerak pula, bukan mengalir kejurusan belakang tapi pelan-pelan bergerak balik kearah datangnya semula, semula turunnya ketinggian air masih perlahan, tapi setelah turun satu kaki arus yang mengalir balik ini ternyata makin cepat, seperti air dituang dari tempat tinggi menderojok kebawah.
Kini badan Liok Kiam-ping sudah terapung dipermukaan air, tak bergerak mengikuti arus air hanyut kearah mulut gua dan akhirnya rebah dipinggir sungai.
Mendadak Kiam-ping menarik napas panjang, mengerahkan tenaga mengalirkan pula arus darah dalam tubuhnya, setelah seluruh hiat-to dan urat nadi tembus, jalan berjalan normal, segera dia mencelat bangun.
Selepas mata, memandang sekitarnya.
seketika dia kaget oleh keadaan sekelilingnya.
Tampak didepannya adalah sebuah sungai yang cukup besar, ternyata air sungai memang surut tak heran air dalam guapun mengalir keluar dan membawa dirinya dipinggir sungai.
Sungai di mana dia berada ternyata dekat muara, maju takjauh lagi sudah lautan besar.
Dengan seksama dia meneliti keadaan sekitarnya, diperkirakan tempat itu adalah muara Ao-kang.
Dari Kwi-hunceng ada seratusan li jauhnya.
Ternyata diwaktu dirinya tertutup didalam gua, musuh menyumbat air sungai serta mengalirkan air kedalam gua, dengan cara ini mereka kira dapat membunuh Kiam-ping.
Betapapun tinggi kepandaian dan Lwekangnya juga pasti mati tenggelam.
Sayang rencana mereka yang sempurna ini tidak memperhitungkan kuasa alam.
Mereka juga tidak mengira bahwa Liok Kiam-ping beberapa kali memperoleh rejeki sehingga bekal ilmunya sekarang sakti mandraguna, ilmu pengobatannya jug a tinggi sekali, terutama tentang pelajaran lwekang untuk melindungi badan dan menjaga kesehatan-Biasanya air pasang juga terbatas waktunya, walau Kui-gi-tayhoat hanya kuat bertahan beberapa jam, namun kali ini justru cocok digunakan dan berhasil menyelamatkanjiwanya.
hal ini sudah tentu tidak pernah terpikir oleh musuh.
Menghadapi kekejaman dan keculasan musuh yang banyak muslihatnya.
bukan kepalang rasa gusar Kiam-ping.
Segera dia copot pakaiannya dan dikeringkan diatas batu karang dipinggir sungai, sambil menunggu Kiam-ping beristirahat dibawah pohon.
Waktu dia siuman daritidurpakaianpunsudah kering, setelah berpakaian lekas dia melompati sungai terus berlari masuk hutan belukar menuju ketimur.
Dia mengharap bisa memperoleh sesuatu yang diharapkan sambil mencari jejak It-cu-kiam Koan Yong yang hilang.
---ooo-dw-ooo---CIOK-WIJUN adalah perkampungan nelayan yang kecil, tapi letaknya yang strategis menjadikan para nelayan atau pelancongan yang mau pesiar atau berlayar harus lewat kampung ini, maka perdagangan didesa ini cukup ramai, penduduknya juga ada ribuan, namun semuanya hidup dari hasil laut, penduduknya hidup sahaja, selama ini aman tentram.
Tapi sejak Ham-ping-kiong menduduki Kwi-hun-ceng, mereka mendirikan cabang di desa ini, secara langsung menjadikan pusat kekuasaan Tang-ling-kiong yang hijrah dari Giok-hoan-to.
Waktu itu menjelang magrib, karena terkurung didalam gua hampir sehari, perut Kiamping betul-betul sudah keroncongan, setiba dijalan ingin dia mencari warung atau penginapan untuk makan dan isiirahat, sekaligus menyirapi keadaan desa ini.
Waktunya memang tepat orang makan malam, lampulampujuga sudah mulai dipasang, pelayan warung ataupara kacung banyak yang keluar berdiri dimuka pintu menyambut kedatangan para tamu, bukan saja sibuk merekajuga mandi keringat.
Waktu Liok Kiam-ping datang menghampiri, begitu melihat tampang dan dandanannya seketika seri tawa mereka kuncup, semua bersikap takut-takut serta melarang dia masuk dengan alasan sudah penuh tidak menerima pengunjung lagi, silahkan cari warung lain saja.
Beruntun Kiamping memasuki beberapa warung dan penginapan, tapi semua menolak dengan alasan sama.
Pada hal desa ini hanya terdapat sebuah jalan raya, seluruh warung dan penginapan di sini sudah dia kunjungi semua, mau tidak mau timbul rasa curiganya, pikirnya.
"Kemungkinan ada matamata atau kekuatan musuh yang dipendam di desa ini, jelas jejakku sudah kenangan mereka, kalau kutanya secara terang terang jelas takkan memperoleh hasil apa-apa, Untuk putar balik begini saja, rasanya penasaran, apalagi It-cu-kiam Koan Yong belum ditemukan, lebih baik aku bekerja secara sembunyi-sembunyi sambil menyelidik apa latar belakang dari semua penolakan mereka terhadapku. Baiklah akan kuselidiki secara diam-diam memangnya aku tidak mampu membongkar gerombolan musuh d id es a ini."
Maka dia membeli dua bungkus makanan dan sebotol arak serta seperangkat pakaian disebuah warung makan dan toko klontong terus beranjak keluar desa memasuki hutan.
Kira-kira kentongan kedua, dia mengembangkan Ginkang meluncur kedalam desa nelayan-Disetiap tempat yang dirasakan tepat didalam desa dia memberi tanda rahasia Hong-lui-bun, lalu sengaja memberatkan langkah, kakinya berlompatan sambil lari mengeluarkan suara.
Setelah berlari setengah lingkar, didengarnya suara keresekan disebelah belakang dia tahu pasti ada orang menguntit dan mengawasi gerak-geriknya, diam-diam dia merasa senang, maka dia makin memperlambat langkah.
suara keresekan dibelakang itu semakin keras dan nyata, menurut pendengarannyajarak penguntit itu kira-kira lima tombak.
Lekas Kiam-ping mempercepat langkahnya, sekali berkelebat dia sembunyi d iba wah payon rumah.
Dua bayangan orang memburu datang dari belakang, gerak gerik mereka tampak kasar dan berat, kepandaiannya biasa saja.
Setelah tiba diujung jalan kedua orang tampak celingukan, tak lama kemudianputar balik pula dan kebetulan berada d iba wah payon, keduanya bersuara heran, seorang berkata.
"Aneh, jelas kelihatan ada didepan, kenapa sekejap mata telah lenyap. Pada hal gerak geriknya lamban, memangnya dia mampu amblas kebumi ?"
"Dandanan dan perawakannya persis dengan apa yang kami terima dari pusat, tapi gerak tubuhnya tidak sebanding dengan apa yang dikatakan dalam berita acara itu. Kurasa lebih baik kita balik memberi laporan ke kantor cabang saja."
Demikian usul seorang lain-"Alah, kenapa bingung tidak karuan, urusan sekecil ini juga harus dilaporkan segala.
Musuh sudah terperangkap dalam gua dan tuang air lagi, setelah sekian lama memangnya dia masih hidup didaratan ini, sekarang tentu sudah melaporkan diri kepada Hay-liong-ong dilautan sana."
"Ya. omong sih benar, tapi kepandaian musuh luar biasa, bila dia bisa lolos dari lobang gua itu lalu terhanyut keluar pula karena air sungai surut, lalu bagaimana ? Betapapun menghadapi urusan harus hati-hati kurasa.."
Lebih penting kita utus Yu Sam pulang ke pulau untuk memberikan laporan ke istana.."
"Begitupun baik. Sedikit banyak pertanggungan jawab sudah kita lakukan-"
Setelah mencari putar kayun disekitar situ, baru ke dua orang ini putar balik kedalam desa.
Dari pembicaraan kedua orang ini Kiamping tahu bahwa musuh hanya mendirikan cabang di desa ini, kekuasaan kecil, namun belum berhasil dia mengetahui di mana markas cabang mereka.
Pulau apa pula yang mereka maksud, apakah It-cukiam ditawan ke atas pulau ?
Mumpung mereka mengutus orang pulang ke pulau, biar aku menguntitnya.
Tanpa mengeluarkan suara Kiam-ping kuntit dibelakang kedua orang itu.
Setelah melampaui beberapa gang, mereka memasuki sebuah perkampungan yang besar.
Kiam-ping mendekam ditempat gelap menunggu.
Tak lama kemudian pintu besar perkampungan terbuka dan menyelinap keluar seorang lelaki kekar, dengan langkah gugup dia menuju keping gir sungai.
Saat mana tiada rembulan sinar bintangpun guram, angin laut menghembus dengan suaranya yang ribut, hawa segar sehingga Kiam-ping merasa nyaman dan bersemangat.
Lelaki itu menghampiri sebuah kapal kecil yang berkabin dengan tertutup kain, setelah melepas tambatan dan menarikjangkar, baru saja dia hendak melompat keatas kapal.
Dua tombak dibawah pohon sana mendadak didengarnya suara gedebukan seperti ada benda b erat jatuh terus kecemplung ke sungai, air tampak muncrat.
Buru-buru lelaki itu berlari kebawah pohon, tampak air sungai gemeletuk^ tapi tidak terlihat apa-apa disekitar sini.
Mendapat kesempatan baik ini, lekas Kiam-ping melompat terbang seringan asap melayang turun ke atas kapal tanpa mengeluarkan suara.
Sesaat, memperhatikan air sungai, tiada sesuatu yang menarik perhatiannya, maka lakl-laki kekar itu kembali keatas perahu, mengangkat galah mendorong kapal ketengah sungai terus dikayuh kearah laut.
Kebetulan mendapat angin buritan maka laju kapal secepat anak panah.
Kiam-ping mendekam diatas kabin, suasana sepi yang terdengar hanya gemericik air yang tergayuh, jelas lakilaki ini cukup ahli mengemudi kapal ditengah lautan-Kecuali ketemu hujan badai atau gelombang pasang baru kapal kecil berlayar ini akan terombang ambing, sekarang cuaca baik, angin menghembus tenang, maka laju kapal amat pesat.
Kira kira satujam kemudian, laju kapal mulai diperlambat, kelihatannya sedang melewati daerah yang banyak karang, karena kapal harus putar kalian belok kiri, sering juga kapal menyerempet karang hingga mengeluarkan suara cukup keras.
Mendadak terdengar sebuah bentakan.
"Saudara dari cabang mana yang kemari membawa kapal, ada urusan apa tengah malam kemari ?' Lelaki kekar segera melompat keatas dek serta menjawab dengan suara berat, Dari markas cabang ciok-wi-cun, ada laporan penting harus langsung disampaikan kepada Kiongcu, tolong sampaikan dan bantu menunjukkan jalan-' "Ikuti aku."
Maka kapal bergerak maju pula, setelah membelok beberapa kali kapalpun berhenti di pesisir. Dari tempat tinggi terdengar sebuah suara kumandang.
"Hentikan kapal di situ, tunggu pemeriksaan-"
"Laporan Tong cu. Markas cabang dari ciok-wi-cun ada kabar penting harus disampaikan kepada Kiong-cu, hamba memberanikan diri membawanya kemari, mohon Tongcu memberikan putusan-yang bersuara adalah orang menjadi penunjuk jalan-Ternyata tempat itu merupakan benteng pertahanan yang terletak dipinggir laut. Suara lantang itu sedikit bimbang, lalu katanya pula.
"Kapal itu sudah diperika belum ?"
"Aku yang rendah tidak berani bertindak lebih dulu, mohon Tongcu maklum."
"Tan Kui-jay,"
Suara lantang itu berkata.
"turunlah kau danperiksa dengan teliti, jangan sampai mata-mata musuh menyelundup kemari."
Maka terdengar seorang mengiakan, lalu terdengar langkah seorang beranjak turun ke arah kapal. Maka petugas yang menunjukjalan itu berkata lega perlahan.
"Baiklah, selanjutnya mohon Tang-heng menunjukkan jalannya, Siaute harus segera kembali kepos penjagaan-"
Lalu terdengar gemericik air, kayuh bekerja, kapalpun bergerak mundur.
Mendengar kapal akan diperiksa lekas Kiam-ping kerahkan tenaga di kaki tangan, sambil menghirup napas tubuhnya segera meletik mumbul keatas.
kedua kaki menginjak dinding papan, sementara tangan kanan merogoh keatas memegang celah-celah langit-langit di atas kabin, begitu kaki kiri menyendalpula tubuhnya membalik, jadi tubuhnya gelantung menempel langit-langit seperti cecak.
Terasa ujung kapal bergerak.
langkah mendekat menyingkap kerai kabin lalu menyoroti kedalam kabin yang kosong tanpa perabot apapun.
Hanya sekilas pandang kerai lalu diturunkan pula.
Langkah kaki semakin jauh pula, jelas petugas itu sudah melompat kedaratan bersama utusan dari ciok-wi-cun.
(Bersambung ke Bagian 76) Tanah lapang didepan loteng luasnya ada sepuluh tombak.
lengkap dengan segala peralatan latihan Kungfu yang serba baru, Mungkin disinilah biasanya jago-jago Ham-ping-kiong latihan silat.
Tiga jurusan dipagari tembok tinggi, kecuali pintu yang menjurus ke villa berloteng itu tiada jalan keluar.
Sementara itu orang-orang Ham-ping-kiong sudah berkumpul di depan tumpukan pasir yang diratakan, diatas pasir itulah tertancap ratusan bambu-bambu sebesar jari tangan yang runcing laksana pisau Kim-kong-ci Hong-kiat berkata sambil menjura.
"Ciangbunjin, inilah sekedar permainan Tlok-tok-bu-sa-tin (barisan bambu dipasir kering) Losiu ingin mohon beberapa jurus pelajaran diatas barisan bambu ini, telapak tangan, senjata atau Am-gi boleh digunakan sesuka hati. Jikalau tuan merasa di sini kurang mencocoki selera, boleh diganti cara lain' Berdiri alis Liok Kiam-ping, sorot matanya memancar tajam, katanya dengan gelak tawa lantang. 'Kalau Hong-tongcu ada minat Cayhe sih boleh saja mengiringi.' Hong Kiat sudah mencopot jubah panjangnya, dalamnya mengenakan pakaian ketat yang cocok untuk bertanding dimedan-laga. Setelah memberi tanda sambil berkata. 'Silahkan,' segera dia melompat keatas dengan gayga Pek-hocong-thian (burung bangau menjulang ke langit), dengan ringan dia hinggap di atas pucuk bambu. Kelihatannya barisan bambu diatas pasir yang tidak padat itu biasa saja, tapi kalau mau diteliti dan diperhatikan, seorang berpengalaman akan tahu bahwa barisan ini sukar dihadapi, maklum tancapan bambu diatas pasir kering itu tidak kokoh, demikian pula bambu itu runcing, untuk mengembangkan Ginkang diatas bambu runcing itu, kalau tidak memiliki latihan Ginkang selama dua puluh tahun, orang tidak akan bergerak bebas diataSnya. Apalagi bambu-bambu sebesar jari dan runcing sejumlah seratu dua puluh delapan batang itu dipasang menurut posisi Pat-kwa. Kalau dalam pertempuran maju mundur atau serang menyerang tidak dapat menempatkan dirinya pada posisi yang tepat, kemungkinan bisa ambruk dan kalah. Apalagi pasir kering dengan tancapan bambu itu tidak boleh diinjak terlalu keras dengan tenaga dikerahkan, dalam pertempuran boleh sesuka hati menggunakan tangan kosong, senjata atau Am-gi, maka lebih sukar pula untuk melayani dua perhatian sekaligus, bagi yang belum mempunyai kepandaian tinggi dan sempurna. siapapun takkan berani mencoba atau main-main dengan maut. Jian-li-tok-heng sejak muda sudah kenyang berkelahi menghadapi berbagai macam lawan, sekilas pandang dia tahu gelagat cukup mencurigakan, lawan bilang boleh main Am-gi maka dia menduga musuh tentu mempunyai akal keji dan serangan jahat, siap membantu bila Liok Kiam-ping berada dalam keadaan kritis. Liok Kiam-ping sendirijuga cukup cerdik, bahwa lawan berani mengajak bertanding di atas barisan bambu macam ini, maka diapun tidak berani gegabah, lekas dia copotjubah bagian atas serta diikat dipinggang dengan kedua lengan bajunya, pundak tidak kelihatan bergerak. dengan gaya Ciamllong-seng-thian, badannya melambung dua tombak. Di tengah udara menekuk pinggang menggeliat dengan gerakan membundar, lalu melayang turun dengan gaya indah mempesona hinggap diatas barisan bambu. Untuk bertanding diatas barisan bambu orang hanya mengutamakan kekuatan tenaga dalam dan pengaturan napas, maka tak mungkin buka suara lagi. Maka kedua orang hanya saling menjura lalu berputar berganti tempat. Dengan tangkas Kim-kong-ci Hong Kiat. tiba-tiba menggoyang badan, tahu-tahu melejit maju menginjak dua pucuk bambu dua tindak didepan Liok Kiam-ping, tangan kanan bergerak dengan jurus To-coa-sin-hiat (ular beracun mencari lobang) langsung menutuk Jian-kin-hiat dipundak kanan. Kiam-ping mundur dengan kaki kanan, telapak tangan memotong miring menabas pergelangan. Lekas Kim-kong-ci Hong Kiat meninggikan pundak menarik tangan, kirinya menggesar selangkah, dari samping dia bergerak dengan jurus Yu-hong-hi-jim (Kumbang menari dipucuk puntul) kedua jarinya mengincar Ki-kiat-hiat ditubuh Liok Kiam-ping. Kiam-ping berputar kekanan, seringan kapas dia berpindah dua pucuk bambu, denrgan jurus Peksho-jan-ji (bangau putih pentang sayap), telapak tangannya menepuk miring Giok-simhiat dibelakang batok kepala Hong Kiat. Hong Kiat dipaksa mengkeret lebar menyembunyikan kepala, namun tidak menyurut mundur tubuhnya malah berputar kearah kiri, kedua telapak tangan mendorong kedepan denganjurus Siang-jong ciang, yang diincar Hoa-kayhiat didepan dada Liok Kiam-ping, Dalam sekejap kedua orang sudah saling serang dua puluh jurus. Gebrak pertandingan kali ini berbeda pula dengan pertarungan tad i, karena diatas pucuk bambu yang runcing lagi, tidak boleh menggunakan tenaga berat, apa lagi mengadu tenaga maka mereka hanya saling mematahkan dan merobah serangan, terutama harus mengembangkan kelincahan langkah dan gerakan tubuh yang enteng, ketimur atau mendesak kebarat, maju mundur sambil berputar, makin lama kedua pihak bergerak makin cepat laksana dua balingbaling yang saling kejar. Waktu itu Kim-kong-ci Hong Kiat harus mengegos diri dari serangan maut, badannya bergerak sekaligus melewati lima enam bambu, Liok Kiam-ping mengudak dari belakang secara ketat. Dua langkah lebih lagi dia sudah akan menyusul lawan-Wajah Kim-kong-ci Hong Kiat kelihatan masam, nafsunya sudah berkobar, maka turun tangannya juga tidak kenal kasihan lagi, begitu ujung kaki menutul bambu, badannya sedikit bergeming, kelihatannya gaya itu seperti akan berputar kearah kiri menuju belakang, yang benar meminjam gerakan menggeliat ini, secara sembunyi-sembunyi tangan kanannya sudah mengeluarkan Am-gi, itulah sebuah bumbung jarum mungil yang dinamakan hoa-toh bing-ciam sudah digenggam ditangannya Saat itu dia juga tidak memutar badan, mendadak malah menjatuhkan diri kedepan, dengan gaya Ku-gu-bong-gwat (kerbau jantung memandang rembulan), dia sudah incar gerakan lawan terus mengayun tangan kanan kebelakang "Cret"
Suaranya tidak nyaring namun Bwe-hoa-toh-bing-ciam sudah melesat kearah Liok Kiam-ping.
Lihay amat serangan Bwe-boa-bing-ciam jarum sakura pencabut nyawa) ini, tampak titik sinar dingin terbagi atas tengah bawah dan kanan kiri dari lima jurusan, daya luncurannya pesat kekuatannya jelas jauh lebih keras dari timpukan senjata rahasia jago silat manapun.
Pada hal jarum-jarum baja itu selembut bulu kerbau, tapi ditengah udara dapat mendesing nyaring memecah udara, maka dapatlah dibayangkan betapa keras daya luncurannya.
Orang-orang Ham-ping-kiong bersorak dan keplok, mereka girang bahwa cong-tongcu mereka pasti berhasil dengan serangan gelap ini, maka semua berseri tawa.
Sebaliknya orang orang gagah pihak Hong-lui-bun semua terbeliak kaget dan melongo.
hanya keajaiban atau adanya pertolongan dari melaikat dewata saja yang mampu menolong jiwa ciangbunjin mereka dari petaka ini.
Pada halJian-li-tokheng berdiri dibela kang Kim-kong-ci Hong Kiat, umpama dia timpukkan biji teratai besinya juga takkan bisa menolongnya, karuan dia gugup dan membanting kaki belaka.
Sejak mula Liok Kiam-ping sudah menduga bahwa la wan pasti sudah mempersiapkan Am-gi yang ganas danjahat, namun tak pernah dia menduga bahwa serangan bakal seganas dan selincah ini, untung sebelum dia memburu maju, mendadak dilihatnya lawan menjatuhkan diri kedepan, rasa curiga telah menghentikan niatnya, sedikit merandek ini telah menolong jiwanya.
Bila dia mendengar suara jepretan, berbareng lima bintik sinar dingin melesat keluar, lekas dia menutul kaki diujung bambu, badannya lantas menjulang keatas, syukur masih sempat dia menyelamatkan diri.
Diatas barisan bambu yang tertancap dipasir kering seperti itu sebetulnya tidak boleh menggunakan tenaga, apalagi menjejak mumbul keatas, dasar Kiam-ping berkepandaian tinggi nyalinyapun besar, terdesak oleh keadaan pula, terpaksa dia menempuh cara berbahaya.
Sama sekali tidak diduganya pula disaat tubuhnya melorot turun, Kim-kong-ci Hong Kiat menyerang pula dengan jarumjarum lembutnya untuk yang kedua kali.
Kali ini Liok Kiamping jelas takkan bisa meluputkan diri dari serangan mematikan ini.
Seperti diketahui diatas barisan bambu tidak boleh mengerahkan tenaga.
diwaktu menjulang keatas Liok Kiamping tidak bisa menggunakan tenaga besar, setelah terapung diudara segera tubuhnya akan melorot turun, hal ini sudah diperhitungkan oleh Hong Kiat.
Diluar tahunya Ling-hi-pou-hoat yang diyakinkan Liok Kiamping sudah sempurna dan dapat dikembangkan beruntun sembilan kali berputar diudara seperti burung elang jumpalitan, walau tadi kakinya tidak menggunakan tenaga untuk melambung keatas, namun ditengah udara untuk berputar terbang bukankah suatu kerja berat bagi dirinya.
Begitu mendengar suara jepretan, lantas dia tahu lawan menyerang kedua kali dengan jarum jahatnya, lekas dia menarik napas, di mana kedua lengan terkembang, tubuhnya meringkel terus meronta sekali, hingga tubuhnya melayang naik pula satu tombak, Bwe-hoa-ciam itupun tidak mengenai sasarannya pula.
Ditengah udara Kiam-ping berputar sekali, tubuhnya rebah datar diudara, begitu kaki memancal laksana seekor burung rajawali tubuhnya melesat maju memburu kearah Hong Kiat.
Bahwa Kim-kong-ci Hong Kiat menyerang dua kali dengan jarum jahat secara keji dan nakal, tanpa mematuhi peraturan dunia persilatan, orang-orang gagah Hong-lui-bun sudah berjingkrak gusar.
Beramai-ramai mereka membentak dan memaki, ada yang mengacung tinju, ada yang menggosok telapak tangan, siap bertindak bila mendapat komando.
Kini mari kita ikuti-jejak si gede Siang Wi, karena ketinggalan tepaksa dia mengudak kearah mana tadi orang banyak pergi, langkahnya lebar, pentungnya masih terus berkerja, sering pula kaki menendang apa saja yang menghalangi perjalanannya, pintu atau dinding yang menghadang juga dihajar dengan pentung baja.
Setelah sekian lama mengobrak abrik kian kemari, belumjuga dia menemukan orang banyak, karuan si gede yang pikun ini semakin bingung uring-uringan akhirnya dia pegang pentung berdiri melongo celingukan, entah kemana die harus menerjang pula.
Karena berdiam diri itulah, dalam keheningan dia mendengar suara sorak sorai orang banyak.
seketika dia berjingkrak girang, mulutnya mengoceh.
"Maknya kura-kura, akhirnya kutemukan juga."
Kembali pentungnya bekerja, tembok dijebolkan secara kekerasan-setelah membelok dua kali dia tiba disebuah serambi.
Diujung tikungan sana dilihatnya bayangan orang bergerakgerak.
Dengan getak tawa mulutnya berkaok-kaok.
"Anak kelinci, coba mau sembunyi kemana lagi."
Sambil menjinjing pentung segera dia memburu ke sana.
Keluar dari serambi panjang berliku-liku itu dia memasuki sebuah pekarangan dibawah sebuah bangunan loteng.
Tampakpula banyak lelaki sedang sibuk bekerja menggotong buntalan-buntalan kertas entah apa isinya, yang terang buntalan kertas itu semua dilempar kesebuah lobang dibawah tanah.
Memangnya sudah penasaran dan keki sejak tadi, perut lapar lagi, maka orang-orang Ham-ping-kiong yang kesamplok ditangannya tentu tidak diberi ampun, dengan mata mendelik segera dia menyerbu sambil ayun pentungnya.
orang-orang itu sedang sibuk bekerja, penuh perhatian dan hati-hati menggotong buntalan-buntalan kertas itu, mimpipun tidak menduga bahwa petaka turun dari langit mengincar jiwa mereka.
d iluar pekarangan tadi mereka sudah merasakan kelihayansi gede ini, tahu permainan pentungnya amat kencang dan berat, siapa tidak lekas menyingkir pasti celaka, apalagi sigede berkulit tebal tak mempan senjata, melihat dia menyerbu datang dengan mata mendelik laksana raksasa iblis yang jahat saja.
Seketika hampir terbang arwah mereka saking ngeri den ketakutan, siapa berani ayal, beramai ramai mereka menjerit ngeri sambil melempar buntalan kertas yang dipegang terus ngacir seperti dikejar lawan, lari ke lobang dibawah tanah.
Lobang itujuga tidak terlalu lebar, mereka berjumlah banyakjadi mereka berebutan menyelamatkan diri, yang berada dibela kang jelas terlambat.
maka tidak sedikit yang dihajar pentung hingga kepala bocor tulang patah, yang mati dan terluka parah bergelimpangan ditanah.
Akhirnya si gede kehabisan lawan, terpaksa dia mengudak kebawah lobang.
Dibawah lobang gelap gulita, begitu dia berada di bawah lobang, matanya seketika menjadi gelap tak bisa melihat apa-apa.
Sejenak dia berdiri ragu-ragu, setelah merasa pandangannya agak biasa, baru dia melihat sebuah lorong panjang berada didepannya, mau maju atau mundul kebelakang, buntalan-buntalan kertas satu kaki persegi berserakan disepanjang lorong, orang-orang yang mengangkuti buntalan itu sudah lari tak kelihatan bayangannya.
Di arena tidak teriampias rasa gusarnya akhirnya buntalan kertas itu menjadi sasaran ayunan pentungnya, isinya segera tercecer berhamburan, ternyata bubuk kuning yang berbau menusuk hidung.
Mendadak didengarnya suara mendesis tajam dari tempat gelap sana disertai percikan api, Lekas si gede memburu kesana sambil menyeret pentung.
Dua puluhan langkah kemudlan desis suara itu makin keras, tapi maju lagi lebih jauh sudah buntu, tiada jalan belok pula ?
Setelah membanting kaki dia putar batik hendak memburu kearah datangnya suara.
Mendadak dia menumbuk sebatang bambu sebesar mulut mangkok yang tegak berdiri ditengah lorong menyanggah langit-langit lorong, tanpa peduli tiga kali tujuh dua puluh satu sigede angkat pentung terus memukul, tapi tonggak bambu besar itu tidak bergeming, seperti berakar dibumi, setelah puluhan kali dipukul tetap berdiri tegak.
Gema suara pukulan pentung bergema diujung lorong sebaliknya.
Lorong terlalu sempit, tak mungkin sigede mengayun pentung menyapu miring, maka pukulan pentungnya itu tidak menggunakan sepenuh tenaganya, akhirnya sigede menumbuk dengan kedua lengan berganti kanan kiri, pundak sudah kesakitan, tonggak bambu itu tetap tidak bergerak, karuan dia menjadi jengkel, akhirnya pentung dia buang, kedua tangan pegang tonggak bambu itu terus kerahkan seluruh tenaganya mencabutnya keatas.
Siang Wi memang dibekali tenaga raksasa sejak dilahirkan, begitu dia kerahkan kekuatannya tonggak bambu itu mulai terangkat sedikit.
Setelah diulang beberapa kali, tonggak bambu itu akhirnya tercabut seluruhnya.
Karuan senangnya bukan main, bambu masih dipegang kencang terus disendai keras kesamping.
Maka terdengarlah suara gemuruh, langit-langit lorong itu ambruk sehingga bolong dan menyorotlah cahaya terang kedaiam lorong yang gelap.
Menyusui pasir kuning yang lembut seperti dituang saja menguruk kebawah.
Tenaga sendai sigede terlalu besar, begitu tonggak itu copot dia sendiri ikut tertarik kepinggir lima kaki, hingga pasir kuning menguruk seluruh kakinya sebatas paha.
Semula masih sempat kupingnya mendengar suara bentakan ramai diatas, tapi hanya sekejap suasana menjadi sepi.
Lekas si gede melonjak berdiri sambil meraih pentung terus merambat keatas lobang.
Diatas pasir tak bisa menggunakan tenaga, badan sigede yang besar berat pula, hanya dua langkah kakinya sudah terjeblos hingga dia roboh terjengkang, dengan pentungnya lekas dia menyanggah badan serta merambat bangun pula kearah lobang diatas.
Waktu dia angkat kepala selayang pandang hanya pasir kuning melulu, maka hatinya bingung dan heran.
"Tempat apakah ini ? Apakah disini ada laut ?' Tengah dia celingukan dengan bingung, mendadak didengarnya suara dari atas pasir sana serta muncul bayangan orang.
"He, bocah gede, bagamana kau bica muncul dari bawah tanah ? Sekarang jangan bergerak dulu, biar kubantu kau membuka jalan diatas pasir ini."
"Ih losu,"
Seru sigede, tolong lekas kau bantu aku. Terus terang perutku sudah lapar. Kemana pula orang banyak ?"
"Baiklah, segera aku bantu."
Lalu dia lompat turun diatas tumpukan pasir serta merambat naik pula.
Tak lama kemudian si gede sudah ditarik keluar oleh Ih Tiau-hiong tak urung sekujur badannya kotor oleh pasir kuning, Ternyata lobang besar diatas lorong kebetulan tepat ditengah barisan bambu runcing yang dipasang dipasir kering.
Seperti diketahui Hong Kiat sengaja memancing Liok Kiamping bertanding diatas barisan bambu ditancap dipasir itu, sebelumnya diapUn sudah menyiapkan Bwe-hoa-toh-bingciam yang ganas untuk adu jiwa dengan lawan-bila masih gagal juga merobohkan lawan dan pihak sendiri yang kalah, terpaksa dia akan meledakkan bom geledek yang sudah dipendam dibawah pasir, bukan saja orang-orang gagah Hong-lui-bun akan mampus seluruhnya oleh ledakan dahsyat itu, seluruh perkampungan Kwi-hun-ceng inipun akan hancur luluh oleh ledakan demi ledakan-Diwaktu dia menantang Liok Kiam-ping, sementara anak buahnya sedang sibuk mengatur bahan-bahan peledak.
Dilua r perhitungannya pula bahwa sigede yang ketinggalan ini tanpa sengaja justru main trobos masuk kelorong bawah tanah, bukan saja mematikan sumbu peledak.
barisan bambu diatas pasir itupun ambruk kebawah.
Waktu Kiam-ping meluputkan diri dari timpukan jarum musuh dengan Ginkangnya yang tinggi, tubuhnya menukik lurus kebawah seenteng kapas, turun dibela kang Kim-kong-ci Hong Kiat, Kim-kong-ci Hong kiat terpesona oleh demontrasi Ginkang yang tiada taranya itu.
maklum bahwa pihak dirinya takkan mungkin menang, ingin dia segera meleeakkan bom d iba wah pasir, tapi dia juga tahu bahwa orang-orangnya belum selesai mengatur bagian bawah, terpaksa dia harus mengulur waktu.
Diwaktu otaknya bekerja mencari akal untuk menghadapi musuh itulah, bagian tengah barisan bambu diatas pasir tepat dimana bom peledaknya terpendam mendadak ambruk dengan suara gemuruh, melesak runtuh kedalam tanah.
Sudah tentu kejadian ini bukan saja mengejutkanjuga memusingkan kepalanya, batinnya.
"Lorong sekokoh itu tanpa sebab tidak mungkin runtuh. orang-orang Hong-lui-bun semua ada disini, tidak mungkin ada yang mendadak merusak rencanaku didalam lorong bawah tanah,"
Padahal sigede yang ketinggalan itu telah dilupakan olehnya.
"Bantuan dari luar juga tidak mungkin datang secara kebetulan. Mungkinkah ada orang orang Ham-ping-kiong yang sudah mengkhianat membantu pihak musuh"
Betapun runtuhnya barisan bambu itu merupakan pukulan berat bagi pihaknya, mumpung masih ada kesempatan kalau tidak lekas pergi, bila terlambat pasti menyesal seumur hidup.
mendadak dia bersuit panjang memberi tanda kepada anak buahnya, berbareng kedua tangan didorong lurus ke depan.
Terdengar dua kali jepretan pula, dua rumpun jarum halus kembali melesat keluar dari dalam bung bung, masing-masing mengincar Liok Kiam-ping dan rombongan besar orang-orang Hong-lui-bun.
Mendengar suitan panjang dari mulut Hong Kiat, orangorang Ham-ping-kiong bergegas berlompatan mundur, tanpa membuka suara mereka berlompatan keluar pagar tembok.
Sementara Hong Kiat sendiri setelah menyambitkan jarumnya, ikut kabur dari tempat itu.
Dua kali Liok Kiam-ping selamat dari seranganjarum berbisa lawan, sekarang dia tidak perlu gentar lagi, lekas dia menyingkir lima kaki kesamping, Serangan ketiga ini pun tidak mengenai dirinya.
Sejak tadiJian-li-tok-heng memang sudah menggenggam biji teratai besi, sekarang tiba saatnya dia pamer kepandaian, lima bintikjarum menyambar ke arah orang banyak, kontan dia ayun tangan menimpukkan biji teratai besi, kelima Bwe-hoaciam kena ditimpuknya jatuh semua.
Bila Kiam-ping berhasil menyelamatkan diri dari s a mb era n Bwe-boa-ciam musuh, dilihatnya Hong Kiat sudah kabur melompati pagar tembok.
Saking gusar dia memekik seram, dengan gerakan cam-llong-seng-thian, tubuhnya melambung lima tombak, secepat panah mengudak keluar pagar.
Demikian pula orang-orang Hong-lu^bun yang lain membentak dan mencaci maki, beramai-ramai mereka mengudak keluar.
Hanya coh-siang-hwi yang terluka, dia masih harus menjaga Tio-jin-kiat, maka hanya mereka berdua saja yang masih tinggal d is itu.
Begitu tiba diluar pagar Liok Kiam-ping meluncur turun, kabut pagi masih tebal, lapat-lapat kelihatan puluh a n tombak didalam hutan bayangan orang berkelebat, tanpa ayal dia menjejak kaki ditanah, tubuhnya berlompatan beberapa kali, mengembangkan Ling-hi-pou-hoat.
G^ak tubuhnya laksana damparan angin les us, melesat kedepan dengan kencang.
Diluar sungai pelindung perkampungan merupakan hutan belantara yang lebat, maju pula kedepan adalah mulut gunung.
Sementara itu bayangan orang didepan itu masih terpaut puluhan tombak.
yakin beberapa kali lompatan pula pasti dirinya dapat menyandak.
Hatinya sudah kebacut girang, gembong iblis yang jahat kali ini pasti takkan lolos.
Tapi setelah dia mengitari perut gunung, seketika dia celingukan heran dan kaget, bayangan yang dikejarnya ternyata telah lenyap dalam sekejap ini.
Samar-samar Liok Kiam-ping masih kenal daerah sekitar ini, dulu waktu kecil sering juga dia dolan ditempat ini, melewati perut gunung, maju kedepan lagi adalah tega la n yang belukar dan tiada jalan menembus kejurusan lagi.Jarak belasan tombak hanya ditempuh sekejap mata, pada hal orang-orang Ham-ping-kiong sebanyak itu, bagaimana mereka bisa melarikan diri dalam jangka sependek ini ?
Kiam-ping tahu urusan agak ganjil, dibelakang kejadian pasti ada rahasia yang belum diketahui.
Maka dia panggil orang banyak berkumpul lalu membagi tenaga mencari ke segala jurusan-Dalam jangka satu jam daerah itu boleh dikata sudah digeledah.
tetap tidak menemukanjejak musuh.
Sementara fajar telah menyingsing, terpaksa orang banyak kembali kemulut gunung, tunggu punya tunggu semua sudah balik, hanya It-cu-kiam saja yang belum kunjung tiba.
Kiam-ping gelisah dan tidak sabar lagi.
Padahal orang banyak sudah bertempur semalam suntuk.
meski Lwekang mereka tinggi juga harus beristirahat.
Maka dia minta orang banyak pulang dulu ke Kwi-hun-ceng, bersamaJian-l^tok-heng mereka mencari ke arah It-cu-kiam pergi.
Dengan cermat mereka menyelidik dan mencari dengan teliti.
Satu jam kemudian mereka memasukijalanan kecil yang penuh ditumbuhi rumput alang alang, dua dinding gunung mengapitjalan kecil ini jadi bentuknya mirip selat gunung, tapi karena jarang dilewati orang, maka jalanan kecil ini sudah ditumbuhi rumput liar.
Selat sempit ini berliku-liku, makinjauh kedalam keadaannya makin seram dan menakutkan.
Kiam-ping berdua terus maju puluhan tombak, dipinggir dinding gunung sebelah kanan terdapat sebuah batu raksasa yang menonjol, pada hal sekitar sini tiada batu lain dan batu raksasa inipun menghadang jalan, jadi amat menyolok.
Rumput liar disekitar batu raksasa tumbuh satu kaki tingginya.
kelihatan rumput di sini morat marit seperti ditindih barang berat hingga rebah datar diatas tanah.
Maju lagi adalah semak-semak yang belukar.
Jian-li-tok-heng merasa heran, katanya.
"Daerah yang jarang dijelajah manusia, tinggi rumput lebih satu kaki, bagaimana mungkin bisa roboh kalau tidak tertindih benda berat ? Dilihat keadaannya, kejadian baru saja, mungkin... ' tiba-tiba dia jemput sepotong batu sebesar mang kok lalu lompat keatas batu raksasa serta menghantam dinding gunung dengan batu ditangannya. Ternyata bunyi ketukan itu menimbulkan gema kosong dibalik dinding, lekas dia berkata. 'Keadaan dibalik dinding agak mencurigakan, mari kita geser dulu batu besar ini.' Batu raksasa itu ada ribuan kati beratnya, tapi dengan gabungan tenaga mereka berdua dengan mudah batu itu dirobohkan kesamping, dan terbuka lah sebuah lobang persegi lebar tiga kaki. Mulut lobang ternyata rata halus seperti diiris pisau. jelas hasil buatan manusia. Lobang goa ini amat dalam dan sempit panjang tak terlihat ujungnya. Liok Kiam-ping berkata kepada Jian-li-tok-heng.
"Lo-koko, tolong kau jaga di mulut gua, biar Siaute yang -memeriksa kedalam."
Jian-li-tok-heng mengerut kening, katanya.
"Gua ini bentuknya cukup mencurigakan, kuatirnya ada perangkap didalam, biar aku saja yang masuk."
Dia kuatir sebagai ciangbun meski berkepandaian tinggi, tapi kurang pengalaman, kalau terjadi sesuatu yang tidak diharapkan tentu berabe, maka dia tidak ingin Kiam-ping menyerempet bahaya.
Liok Kiam-ping bernyali besar, wataknya angkuh lagi, bahwa Jian-li-tok-heng menguatirkan keselamatannya, sungguh terharu hatinya, dengan tersenyum dia berkata.
"Lokoko tak usah kuatir, gua kecil dialas pegunungan, yakin takkan ada mara bahaya besar, yakin Siaute masih mampu mengatasi."
Tanpa menunggu jawaban Jian-li-tok-heng segera dia melompat turun kedalam gua, dengan langkah lebar dia masuk kedalam.
Gua ini gelap gulita, lima jari sendiri juga tidak kelihatan-Setelah maju beberapa langkah Kiam-ping berdiri sejenak.
memusatkan perhatian memasang kuping, kini matanya sudah biasa ditempat gelap lambat laun pandangannya mulai terang.
Tinggi gua setombak, lebarnya empat kaki, gua inijelas buatan manusia karena dindingnya rata seperti terpacul, jelas belum lama ini dibangun.
Semakin dalam hawa terasa makin dingin dan lembab, desis air mengalir tampak gemericik diantara celah-celah dinding membasahi lantai gua.
Setiap tiga tombak diatas dinding dipasang sebuah obor dari bambu, obor padam tapi terasa masih hangat, jelas belum lama dipadamkan..
Segera Kiam-ping keluarkan ketikan lalu menyulut obor, begitulah setiap obor dia nyalakan hingga lorong gua ini semakin terang, semakinjauh keadaan semakin nyata.
Kiam-ping sudah menyusuri lorong gua satu jam lamanya, tapi belumjuga tiba diujung, dalam hati dia menggerutu, pikirnya berhenti.
"Lorong gelap macam apa ini ? Diatas pegunungan seperti ini, buat apa membuang banyak tenaga membangun proyek sebesar ini? Apa gunanya ? Setelah orang-orang Ham-ping-kiong menduduki Kwi-hun-ceng, ratusan li daerah sini boleh dikata berada dalam kekuasaan dan pengamatan mereka, mungkinkah ada rombongan besar dari golongan lain bisa membangun proyek d iba wah tanah sebesar ini dipegunungan ini ?' tak perlu diragukan lorong gua inipun pasti dibangun oleh pihak Ham-ping-kiong, sebagaijalan mundur mereka bila mengalami kekalahan total, Kemungkinan besar It cu-kiam Koan Yong juga terperangkap didalam gua ini. Karena menguatirkan keselamatan It-cu-kiam Koan Yong, maka amarah Kiam-ping berkobar, sebelum ini dirinya tidakpernah kenal dia, dengan suka rela dia datang membantu, sekarang orangnya hilang tak karuan paran, adalah menjadi kewajibannya untuk menemukan kembali mati atau hidup, betapapun dirinya tidak boleh mundur. Segera dia mempercepat langkah meneruskan perjalanan kedepan. Mendadak sebuah ledakan dahsyat terdengar dari mulut gua, begitu keras ledakan ini sehingga lorong gua di mana Kiam-ping berada seperti digoncang gempa. Dalam pada ituJian-li-tok heng yang menunggu dimulut gua sudah resah dan gelisah, tiba-tiba kupingnya mendengar tawa dingin seseorang yang lirih dibelakangnya. Dia tahu kemungkinan dirinya sekarang sudah ada dalam pengawasan musuh, sementara dia tidak boleh meninggalkan mulut gua. Maka dia pusatkan perhatian kesekitarnya. Sebuah gelak tawa memecah kesunyian, seorang berkata pongah. Jian-li-tok-heng, ternyata memang cerdik pandai, tapi hanya kau seorang memangnya dapat berbuat apa di sini?"
Habis perkataannya dari atas dinding curam melayang turun bayangan seorang laksana seekor rajawali hinggap ditengah selat.
Begitu menginjak bumi kedua tangan Kim-kong-ci Hong Kiat lantas menyilang dan bergerak turun naik bertemu ditengah terus didorong sekali kearahJ ia n-li-tok h eng.
Tahu Lwekang lawan amat tangguh, betapapunJian-li-tokheng tidak berani melawan dan menyambut secara keras.
B eg itu pukulan lawan menerpa tiba lekas dia melompat lima kaki, berbareng kedua lengannya membundar terus miring tubuh dari samping menyendal kedua telapak tangan balas menepis angin pukulan lawan-Begitu benturan terjadi, meski Jian-li-tok-heng melawan dari samping tak urung dia tergentak mundur setindak.
Sementara Kim-kong-ci Hong-kiat hanya menggeliat sedikit.
Kuatir Liok Kiam-ping segera keluar dari dalam gua, hingga rencana jahatnya yang terakhirjuga gagal pula, demi cepat menyelesaikan lawan yang satu ini, segera dia gunakan Kimkong-ci-kang.
Tampak dua jalur hawa putih melesat keluar dari kedua jarinya dengan suara memecah udara.
Kekuatan Kim-kong-ci kang dapat menusuk gunung menembus dada, sudah tentu Jian-li-tok-heng tidak berani lena, lekas dia melompatjauh tiga tombak, syukur masih sempat menghindar, melihat tujuan sudah tercapai segera Hong Kiat merogo keluar sebuah granat tangan bundarnya sebesar buah kepala terus dilempar kedalam lobang gua.
Baru saja Jian-li tok-heng menyentuh bumi, badannya lantas tergetar oleh ledakan dahsyat.
Tampak lobang gua itu sudah hancur lebur, tanah padas dan batu-batu gunung raksasa menyumbat mulut gua.
Takpernah terpikir oleh Jian-li-tok-heng bahwa lawan bakal melakukan muslihat sekeji ini, sedikit kelalaian dirinya, Kiam
ping terkurung didalam gua, mati hidupnya belum diketahui, karuan gusarnya seperti kebakaran jenggot, dengan nekad segera dia merogoh dua genggam biji teratai besi dengan gerakan hujan kembang diangkasa dia timpukkan kearah Kimkong ci Hong-Kiat.
Melihat mulut gua sudah ambruk dan tertutup rapat, musuh satu-satunya yang paling diseganijelas takkan mungkin bisa keliuar, namun dia kuatir ledakan keras ini memancing kedatangan orang-orang Hong-lui-bun yang lain, dirinya sendirian kalau sampai dikeroyok bisa berabe, biarlah urusan diselesaikan lain kesempatan-Maka dia berkata.
Jian-li-lo koay, apa maumu sekarang?
Bocah she Liok sudah terkubur didalam gua.
cepat atau lambat Kui-hun-ceng akan jatuh ketanganku lagi, sementara biar kalian hidup beberapa hari lagi."
Habis bicara dia langsung menjejak bumi melambungkan tubuhnya keatas, beberapa kali kakinya berpijak didinding gunung yang menonjol keluar, beberapa kalijumpalitan pula bayangannya sudah lenyap.
Karuan bukan kepalang amarah Jian-li-tok heng, ingin rasanya dia telan bulat lawan yang satu ini.
Sementara itu Kiam-ping juga mendengar ledakan dahsyat diluar, tahu gelagat jelek lekas dia berlari balik.
Tapi setiba diujung lorong, seketika dia berdiri melenggong.
Mulut gua sudah tidak kelihatan bentuknya, tanah padas dan batu-batu raksasa telah menyumbatjalan keluar, dia coba meraba dan memukulnya beberapa kali, tapi tidak bergeming sedikitpun, saking gelisah dia berteriak-teriak.
"Lo-koko, di mana kau."
Ditunggu sesaat tidak memperoleh jawaban-Maka dia membatin.
'Agaknya musuh sengaja meledakkan mulut gua, kemungkinan Lo-koko sekarang sedang melabrak musuh.
Dalam gua masih ada hawa segar, tentunya ada lobang lain yang menembus luar, aku harus berusaha mencari lobang keluar itu secepatnya supaya tidak terlambat meloloskan diri."
Bagai terbang dia berlari menyusuri lorong gua.
Obor masih menyala maka penerangan cukup untuk membedakan arah, sehingga Kiam-ping lebih leluasa mengembangkan Ginkang.
Rasa gelisah membakar dada, maka larinya bagi terbang, kecepatannya memang luar biasa.
Kira-kira seratus tombak kemudian, tiba-tiba dirasakan sepatunya agak basah, waktu dia menunduk seketika dia berusaha heran, ternyata air sedang mengalir datang dari depan dengan cepat.
Datangnya airjuga terlalu aneh, kebetulan mulut gua tersumbat baru air membanjir tiba, padahal gelagatnya gua ini belum pernah tergenang air selama ini.
Mungkinkah ini perbuatan manusia?
Setelah menyumbat mulut gua, musuh hendak membunuhnya pula tenggelam dalam lorong sempit ini.
Betapapun cerdik pandai Kiam-ping, sekarang dia kehabisan akal, sementara air bah sudah mulai deras menjadi arus kencang dengan suaranya yang gemuruh, keadaan terasa amat tegang.
Maka Kiam-ping membatin.
"Kalau air bisa masuk kemari dari depan pasti ada lobang keluarnya, apalagi arus sedemikian besarnya,jelas bukan dialirkan dari sungai kecil dan lobang air tentujuga cukup lebar dan banyak."
Air setinggi lutut, arus tak terbendung, Dalam waktu dekat seluruh lorong gua ini bisa kelelap.
namun sekuatnya Kiamping kerahkan tenaga untuk maju kedepan melawan arus.
Kira-kira sejam kemudian arus terasa makin besar dan daya terjangnya juga makin besar, hingga daya majunya semakin lambat.
Air semakin tinggi datangnya arus ternyata makin galak.
air bergulung-gulung seperti amukan ombak^ suaranya gemuruh dengan air muncrat kian kemari.
Tinggi air mencapai pundak^ Kiam-ping merasa keadaanya cukup genting, namun ia tetap berlaku tenang, dengan segala kemampuannya dia terus terjang kedepan
Tapi kekuatan arus memang teramat besar, kedua kakinya kini sukar menggunakan tenaga.
Walau Lwekangnya tinggi didalam air Kungfu setinggi langitjuga tidak berguna, namun dengan tenaga murninya, dia masih kuasa mengapungkan diri untuk maju terus melawan arus.
Tapi majunya juga menggeremet.
Mendadak sebuah arus yang bergolak besar menerjang datang, karena daya terjangnya teramat besar, tubuh Kiamping samphai terhanyut mundur sejauh satu tombak.
Lekas Kiam-ping gunakan daya berat tubuhnya, kedua kaki mengendak turun kebawah Tapi seluruh badan termasuk kepalanya seketika amblas kedalam air, telapak kaki juga tidak dapat menyentuh tanah, ternyata ketinggian air sudah melebihi tinggi badannya.
Lekas Kiam-ping meringankan tubuh mengambang kepermukaan air, namun badannya terus hanyut beberapa tombak pula kedalam gua.
Karena tanpa halang tidak puny a pegangan, dengan kekuatan tenaga murninya dia apungkan tubuhnya dipermukaan air, pasrah nasib membiarkan tubuhnya dibawa arus air entah ke mana.
Air masih terus bergulung gulung datang.
Hanya sekejap seluruh lobang gua diperut gunung ini sudah terendam air, dari sini dapat dirasakan bahwa sumber air yang menderojok kedalam gua letaknya pasti lebih tinggi dari gua ini.
Menahan napas meringankan badan hingga mengapung dipermukaan tidak bisa bertahan lama, apalagi air sudah mencapai langit-langit gua, kuping juga sudah terendam air, keadaan betul-betul gawat.
Dalam keadaan yang sudah kritis ini otak Kiam-ping masih jernih, dengan tenang dia mencari akal untuk menyelamatkan diri.
Mendadak tergerak hatinya, teringat olehnya didalam Thian-gwa-cin-keng ada sejenis latihan Lwekang dinamakan Kui-gip-tay-hoat (ilmu kura-kura tidur) yang dapat menyumbat pernapasan orang dan hanya mempertahankan denganjantung, luka-luka separah apapun dapat disembuhkan dan penyakit tidak akan merembet atau bertambah parah.
Tapi cara inijuga hanya pisa digunakan sementara dalam waktu singkat, tapi untuk menolong keadaan yang sudah kepepet begini, terpaksa dia harus berani mencobanya.
lekas dia kerahkan hawa murni dalampusar, terlebih dulu dia sumbat seluruh IHiat-to dan urat nadi, Lalu arus hawa murni itu dia tuntun keseluruh badan serta mulai menutup pernapasan, yang terjaga hanyalah kesadaran otaknya.
Kini keadaann a sudah dalam keadaan setengah sadar, tubuhnya terapung didalam air.
Kira-kira setengah jam pula, air sudan tidak mengalir masuk pula, jadi air gua ini sudah dalam keadaan tenang dan merata.
cukup lama juga keadaan tenang ini bertahan, mendadak air mulai bergerak pula, bukan mengalir kejurusan belakang tapi pelan-pelan bergerak balik kearah datangnya semula, semula turunnya ketinggian air masih perlahan, tapi setelah turun satu kaki arus yang mengalir balik ini ternyata makin cepat, seperti air dituang dari tempat tinggi menderojok kebawah.
Kini badan Liok Kiam-ping sudah terapung dipermukaan air, tak bergerak mengikuti arus air hanyut kearah mulut gua dan akhirnya rebah dipinggir sungai.
Mendadak Kiam-ping menarik napas panjang, mengerahkan tenaga mengalirkan pula arus darah dalam tubuhnya, setelah seluruh hiat-to dan urat nadi tembus, jalan berjalan normal, segera dia mencelat bangun.
Selepas mata, memandang sekitarnya.
seketika dia kaget oleh keadaan sekelilingnya.
Tampak didepannya adalah sebuah sungai yang cukup besar, ternyata air sungai memang surut tak heran air dalam guapun mengalir keluar dan membawa dirinya dipinggir sungai.
Sungai di mana dia berada ternyata dekat muara, maju takjauh lagi sudah lautan besar.
Dengan seksama dia meneliti keadaan sekitarnya, diperkirakan tempat itu adalah muara Ao-kang.
Dari Kwi-hunceng ada seratusan li jauhnya.
Ternyata diwaktu dirinya tertutup didalam gua, musuh menyumbat air sungai serta mengalirkan air kedalam gua, dengan cara ini mereka kira dapat membunuh Kiam-ping.
Betapapun tinggi kepandaian dan Lwekangnya juga pasti mati tenggelam.
Sayang rencana mereka yang sempurna ini tidak memperhitungkan kuasa alam.
Mereka juga tidak mengira bahwa Liok Kiam-ping beberapa kali memperoleh rejeki sehingga bekal ilmunya sekarang sakti mandraguna, ilmu pengobatannya jug a tinggi sekali, terutama tentang pelajaran lwekang untuk melindungi badan dan menjaga kesehatan-Biasanya air pasang juga terbatas waktunya, walau Kui-gi-tayhoat hanya kuat bertahan beberapa jam, namun kali ini justru cocok digunakan dan berhasil menyelamatkanjiwanya.
hal ini sudah tentu tidak pernah terpikir oleh musuh.
Menghadapi kekejaman dan keculasan musuh yang banyak muslihatnya.
bukan kepalang rasa gusar Kiam-ping.
Segera dia copot pakaiannya dan dikeringkan diatas batu karang dipinggir sungai, sambil menunggu Kiam-ping beristirahat dibawah pohon.
Waktu dia siuman daritidurpakaianpunsudah kering, setelah berpakaian lekas dia melompati sungai terus berlari masuk hutan belukar menuju ketimur.
Dia mengharap bisa memperoleh sesuatu yang diharapkan sambil mencari jejak It-cu-kiam Koan Yong yang hilang.
---ooo-dw-ooo---CIOK-WIJUN adalah perkampungan nelayan yang kecil, tapi letaknya yang strategis menjadikan para nelayan atau pelancongan yang mau pesiar atau berlayar harus lewat kampung ini, maka perdagangan didesa ini cukup ramai, penduduknya juga ada ribuan, namun semuanya hidup dari hasil laut, penduduknya hidup sahaja, selama ini aman tentram.
Tapi sejak Ham-ping-kiong menduduki Kwi-hun-ceng, mereka mendirikan cabang di desa ini, secara langsung menjadikan pusat kekuasaan Tang-ling-kiong yang hijrah dari Giok-hoan-to.
Waktu itu menjelang magrib, karena terkurung didalam gua hampir sehari, perut Kiamping betul-betul sudah keroncongan, setiba dijalan ingin dia mencari warung atau penginapan untuk makan dan isiirahat, sekaligus menyirapi keadaan desa ini.
Waktunya memang tepat orang makan malam, lampulampujuga sudah mulai dipasang, pelayan warung ataupara kacung banyak yang keluar berdiri dimuka pintu menyambut kedatangan para tamu, bukan saja sibuk merekajuga mandi keringat.
Waktu Liok Kiam-ping datang menghampiri, begitu melihat tampang dan dandanannya seketika seri tawa mereka kuncup, semua bersikap takut-takut serta melarang dia masuk dengan alasan sudah penuh tidak menerima pengunjung lagi, silahkan cari warung lain saja.
Beruntun Kiamping memasuki beberapa warung dan penginapan, tapi semua menolak dengan alasan sama.
Pada hal desa ini hanya terdapat sebuah jalan raya, seluruh warung dan penginapan di sini sudah dia kunjungi semua, mau tidak mau timbul rasa curiganya, pikirnya.
"Kemungkinan ada matamata atau kekuatan musuh yang dipendam di desa ini, jelas jejakku sudah kenangan mereka, kalau kutanya secara terang terang jelas takkan memperoleh hasil apa-apa, Untuk putar balik begini saja, rasanya penasaran, apalagi It-cu-kiam Koan Yong belum ditemukan, lebih baik aku bekerja secara sembunyi-sembunyi sambil menyelidik apa latar belakang dari semua penolakan mereka terhadapku. Baiklah akan kuselidiki secara diam-diam memangnya aku tidak mampu membongkar gerombolan musuh d id es a ini."
Maka dia membeli dua bungkus makanan dan sebotol arak serta seperangkat pakaian disebuah warung makan dan toko klontong terus beranjak keluar desa memasuki hutan.
Kira-kira kentongan kedua, dia mengembangkan Ginkang meluncur kedalam desa nelayan-Disetiap tempat yang dirasakan tepat didalam desa dia memberi tanda rahasia Hong-lui-bun, lalu sengaja memberatkan langkah, kakinya berlompatan sambil lari mengeluarkan suara.
Setelah berlari setengah lingkar, didengarnya suara keresekan disebelah belakang dia tahu pasti ada orang menguntit dan mengawasi gerak-geriknya, diam-diam dia merasa senang, maka dia makin memperlambat langkah.
suara keresekan dibelakang itu semakin keras dan nyata, menurut pendengarannyajarak penguntit itu kira-kira lima tombak.
Lekas Kiam-ping mempercepat langkahnya, sekali berkelebat dia sembunyi d iba wah payon rumah.
Dua bayangan orang memburu datang dari belakang, gerak gerik mereka tampak kasar dan berat, kepandaiannya biasa saja.
Setelah tiba diujung jalan kedua orang tampak celingukan, tak lama kemudianputar balik pula dan kebetulan berada d iba wah payon, keduanya bersuara heran, seorang berkata.
"Aneh, jelas kelihatan ada didepan, kenapa sekejap mata telah lenyap. Pada hal gerak geriknya lamban, memangnya dia mampu amblas kebumi ?"
"Dandanan dan perawakannya persis dengan apa yang kami terima dari pusat, tapi gerak tubuhnya tidak sebanding dengan apa yang dikatakan dalam berita acara itu. Kurasa lebih baik kita balik memberi laporan ke kantor cabang saja."
Demikian usul seorang lain-"Alah, kenapa bingung tidak karuan, urusan sekecil ini juga harus dilaporkan segala.
Musuh sudah terperangkap dalam gua dan tuang air lagi, setelah sekian lama memangnya dia masih hidup didaratan ini, sekarang tentu sudah melaporkan diri kepada Hay-liong-ong dilautan sana."
"Ya. omong sih benar, tapi kepandaian musuh luar biasa, bila dia bisa lolos dari lobang gua itu lalu terhanyut keluar pula karena air sungai surut, lalu bagaimana ? Betapapun menghadapi urusan harus hati-hati kurasa.."
Lebih penting kita utus Yu Sam pulang ke pulau untuk memberikan laporan ke istana.."
"Begitupun baik. Sedikit banyak pertanggungan jawab sudah kita lakukan-"
Setelah mencari putar kayun disekitar situ, baru ke dua orang ini putar balik kedalam desa.
Dari pembicaraan kedua orang ini Kiamping tahu bahwa musuh hanya mendirikan cabang di desa ini, kekuasaan kecil, namun belum berhasil dia mengetahui di mana markas cabang mereka.
Pulau apa pula yang mereka maksud, apakah It-cukiam ditawan ke atas pulau ?
Mumpung mereka mengutus orang pulang ke pulau, biar aku menguntitnya.
Tanpa mengeluarkan suara Kiam-ping kuntit dibelakang kedua orang itu.
Setelah melampaui beberapa gang, mereka memasuki sebuah perkampungan yang besar.
Kiam-ping mendekam ditempat gelap menunggu.
Tak lama kemudian pintu besar perkampungan terbuka dan menyelinap keluar seorang lelaki kekar, dengan langkah gugup dia menuju keping gir sungai.
Saat mana tiada rembulan sinar bintangpun guram, angin laut menghembus dengan suaranya yang ribut, hawa segar sehingga Kiam-ping merasa nyaman dan bersemangat.
Lelaki itu menghampiri sebuah kapal kecil yang berkabin dengan tertutup kain, setelah melepas tambatan dan menarikjangkar, baru saja dia hendak melompat keatas kapal.
Dua tombak dibawah pohon sana mendadak didengarnya suara gedebukan seperti ada benda b erat jatuh terus kecemplung ke sungai, air tampak muncrat.
Buru-buru lelaki itu berlari kebawah pohon, tampak air sungai gemeletuk^ tapi tidak terlihat apa-apa disekitar sini.
Mendapat kesempatan baik ini, lekas Kiam-ping melompat terbang seringan asap melayang turun ke atas kapal tanpa mengeluarkan suara.
Sesaat, memperhatikan air sungai, tiada sesuatu yang menarik perhatiannya, maka lakl-laki kekar itu kembali keatas perahu, mengangkat galah mendorong kapal ketengah sungai terus dikayuh kearah laut.
Kebetulan mendapat angin buritan maka laju kapal secepat anak panah.
Kiam-ping mendekam diatas kabin, suasana sepi yang terdengar hanya gemericik air yang tergayuh, jelas lakilaki ini cukup ahli mengemudi kapal ditengah lautan-Kecuali ketemu hujan badai atau gelombang pasang baru kapal kecil berlayar ini akan terombang ambing, sekarang cuaca baik, angin menghembus tenang, maka laju kapal amat pesat.
Kira kira satujam kemudian, laju kapal mulai diperlambat, kelihatannya sedang melewati daerah yang banyak karang, karena kapal harus putar kalian belok kiri, sering juga kapal menyerempet karang hingga mengeluarkan suara cukup keras.
Mendadak terdengar sebuah bentakan.
"Saudara dari cabang mana yang kemari membawa kapal, ada urusan apa tengah malam kemari ?' Lelaki kekar segera melompat keatas dek serta menjawab dengan suara berat, Dari markas cabang ciok-wi-cun, ada laporan penting harus langsung disampaikan kepada Kiongcu, tolong sampaikan dan bantu menunjukkan jalan-' "Ikuti aku."
Maka kapal bergerak maju pula, setelah membelok beberapa kali kapalpun berhenti di pesisir. Dari tempat tinggi terdengar sebuah suara kumandang.
"Hentikan kapal di situ, tunggu pemeriksaan-"
"Laporan Tong cu. Markas cabang dari ciok-wi-cun ada kabar penting harus disampaikan kepada Kiong-cu, hamba memberanikan diri membawanya kemari, mohon Tongcu memberikan putusan-yang bersuara adalah orang menjadi penunjuk jalan-Ternyata tempat itu merupakan benteng pertahanan yang terletak dipinggir laut. Suara lantang itu sedikit bimbang, lalu katanya pula.
"Kapal itu sudah diperika belum ?"
"Aku yang rendah tidak berani bertindak lebih dulu, mohon Tongcu maklum."
"Tan Kui-jay,"
Suara lantang itu berkata.
"turunlah kau danperiksa dengan teliti, jangan sampai mata-mata musuh menyelundup kemari."
Maka terdengar seorang mengiakan, lalu terdengar langkah seorang beranjak turun ke arah kapal. Maka petugas yang menunjukjalan itu berkata lega perlahan.
"Baiklah, selanjutnya mohon Tang-heng menunjukkan jalannya, Siaute harus segera kembali kepos penjagaan-"
Lalu terdengar gemericik air, kayuh bekerja, kapalpun bergerak mundur.
Mendengar kapal akan diperiksa lekas Kiam-ping kerahkan tenaga di kaki tangan, sambil menghirup napas tubuhnya segera meletik mumbul keatas.
kedua kaki menginjak dinding papan, sementara tangan kanan merogoh keatas memegang celah-celah langit-langit di atas kabin, begitu kaki kiri menyendal pula tubuhnya membalik, jadi tubuhnya gelantung menempel langit-langit seperti cecak.
Terasa ujung kapal bergerak.
langkah mendekat menyingkap kerai kabin lalu menyoroti kedalam kabin yang kosong tanpa perabot apapun.
Hanya sekilas pandang kerai lalu diturunkan pula.
Langkah kaki semakin jauh pula, jelas petugas itu sudah melompat kedaratan bersama utusan dari ciok-wi-cun.
Menunggu sesaat lagi baru Kiam-ping melayang turun.
waktu dia mengintip keluar dua bayangan orang itu sudah naik ke daratan dan sedang memanjat undakan keatas gunung.
Di sebelah kanan terdapat lima petak rumah bata panjang, dari jendela sinar lampu memancar keluar.
agaknya disinilah letak kantoran terdepan dari pos penjagaan Setelah kedua orang itu-puluhan tombak jauhnya baru Kiam-ping melompat keluar.
dengan Ginkangnya yang tinggi tidak sukar dia membuntuti kedua orang itu, supaya tidak konangan orang lain dia selalu memilih tempat gelap.
Setiba diujung undakan tampak muncul pula sesosok bayangan lain menghadang kedua orang itu, lekas Kiam-ping memperhatikan, setelah saling berbisik, Tan Kui-jay tampak putar balik, dua bayangan orang itu meneruskan perjalanan kedalam lewatjalanan kecil di samping rumah.
Baru sekarang Kiam-ping tahu mereka bergiliran membawa utusan dari ciok-wi-cun itu kedalam, penjagaan memang cukup ketat.
Maka Kiam-ping tidak berani lena, arah yang ditempuhnya juga selalu sepi dan gelap.
dari kejauhan dia terus maju, membuntuti kedua orang didepan itu.
Beruntun mereka melewati pula empat pos penjagaan, didepan sudah terlihat sebidang hutan dengan pepohonan pendek.
Setelah kedua orang itu memasuki hutan baru Kiamping kembangkan Ginkang, kedua kaki hanya menutul dipucuk pohon, beberapa kali lompatan dia sudah berada tak jauh dibelakang kedua orang itu.
Ternyata hutan pohon pendek ini cukup luas dan panjang, memagari beberapa bangunan, tidak jarang dia melihat bayangan orang bergerak d iba wah, Dengan Ginkang yang tinggi Kiam-ping terus maju dari pucuk pohon, gerakannya seringan burung, pesat lagi lincah, kalau bukan jago kosen takkan bisatahuada orang sedang berlompatan diatas pohon Sudah tentu cara yang ditempuhnya ini lebih cepat, maka dia harus sering berhenti menunggu dan mendekam untuk sembunyi bila ada orang lain disekitarnya.
Keluar dari hutan kedua orang itu memanjatjalan undakan dilereng bukit, disebelah atas tampak sebuah istana besar yang megah menjulang diatas gundukan tanah besar, letaknya tepat ditengah pulau yang paling tinggi.
Bayangan kedua orang itu tampak masuk kedalam istana.
Tanpa pikir Kiam-ping terus menguntit ke sana.
Bukan saja megah istana ini besar dan luas, bangunannya berlapis-lapis menduduki belasan hektar ditanah pegunungan, dindingnya terbuat dari batu-batu karang yang di susun sedemikian rupa, maka dapat dibayangkan betapa hebat proyek besar dipulau terpencil ini.
Didepan istana berdiri sebuah pigura batu raksasa, di mana terukir tiga huruf berbunyi "Tang-ling-klong.' ' Diam-diam Kiam-ping merasa senang, secara tidak terduga dirinya berhasil menyelundup kesarang musuh.
It-cu-kiam Koan Yong dia yakin pasti diculik kepulau ini.
Menolong orang lebih penting, sekalIrkalijejak sendiri tidak boleh konangan, maka sebelum bertindak dia merasa perlu mencari tahu seluk beluk pulau dan istana besar ini, apalagi bekerja secara diamdiamjuga lebih menguntungkan-Maka dia melompati tembok masih terus menguntit dibelakang kedua orang.
Membelok dua kali pula, langkah kedua orang itu mendadak lenyap.
Lekas Kiam-ping mendekam ditanah pasang kuping, tetap dia tidak menemukanjejak mereka, terpaksa dia angkat kepala mengawasi sekelilingnya, keadaan gelap gulita, suasana sepi lengang.
Baru saja dia hendak melompat, mendadak cahaya api tampak menyala benderang disebuah pendopo, bayangan orangpun tampak bergerak.
Tang, tang.
tang, tiga kali pukulan genta, maka bayangan orang bergerak dari berbagai penjuru, semua berlari kearah pendopo, Liok Kiam-ping tidak ayal lagi, mumpung keadaan agak ribut dia kembangkan Ginkangnya mendekam dibawah layon diluar pendopo, dari sini dengan leluasa dia mengawasi keadaan didalam.
Setelah melangkah orang banyak berhenti didalam pendopo baru Liok Kiam-ping melongok kedalam.
Sungguh hatinya kejut bercampur girang pula.
Ternyata orang-orang Ham-ping-klong yang melarikan diri dari Kwi-hun ceng semua berada disini, diantara mereka masih ketambah Yu-ling Kongcu dan beberapa orang tua baju hitam yang masih asing baginya.
Kim-kong-ci Hong Kiat bersama Tang-ling-sin-kun yang duduk ditengah mereka tampak bersikap serius dan prihatin-Setelah saling pandang tanpa bersuara akhirnya mereka duduk diam.
Tapi Tang-ling-sin-kun lekas berdiri pula serta berkata sambil menyapu pandang hadirin.
'Menurut laporan dari ciok-wi-cun yang baru saja diterima, ternyata musuh buyutan kita bocah keparat itu sudah lolos dari jebakan kita dan kini meluruk kemari, oleh karena itu malam-malam kukumpulkan kalian untuk membicarakan persoalan itu.
Seorang lelaki tua baju hitam yang duduk disebelah kanan berkata.
'Dalam pertempuran di Kwi-hun-ceng, mendadak orang-orang Hong-lui-bun bermunculan, hal ini sebelumnya tidak pernah kita perhatikan-Sekarang keadaan kita cukup payah, sementara Hamping Lojin belum bisa segera tiba, jikalau pihak Hong-lui-bun dengan segala kekuaiannya menyerbu kemari terpaksa kita harus berjuang mati-matian melawannya.' 'Melawan juga bukan cara yang baik"
Sela Kim-kong-ci Hong Kiat.
"Apalagi menurut laporan bocah keparat itu meluruk datang seorang diri, jikalau dapat kita sikat dia, maka orang-orang Hong-lui-bun yanglain tidak perlu dibuat takut."
"Kalau bocah keparat itu berani meluruk kemari, pasti ingin menolong It-cu-kiam."
Tay-bok-it-siu tertawa gelak-gelak.
"Betul, betul."
Katanya lalu berkata bisik-bisik kepada Tang-ling-sin-kun dan Hong Tiat, akhirnya mereka sama mang gut setuju, rona muka merekapun kelihatan berseri girang.
Maka Tang-ling-sin-kun lantas berseru lantang.
"Sementara kalian boleh kembali ketempat masing-masing, penjagaan dan ronda harus diperketat, begitu ada apa-apa harus segera memberi tanda, jikalau serbuan musuh memang teramat tangguh, semua harus cepat mundur ke Thay-im-low, d is ana jiwa kalian baru bisa selamat."
Lalu berkata pula kepada Kimkong-ci Hong Kiat.
"marilah kita kurung it-cu-kiam Koan Yong didalam kerangkeng besi ditengah Thay-im-lout dari samping kita menunggu dan menonton perkembangan situasi. Diam-diam girang hati Liok Kiam-ping bahwa It-cu-kiam Koan Yong memang disekap ditempat ini, Thay-im-low yang dikatakan tadi entah dimana, ada perangkap berbahaya apa ? Apapun jadinya nanti, bila dia tahu letak Thay-im-low, It-cukiam harus ditolongnya. ---ooo-dw-ooo---Ternyata seorang diri It-cu-kiam Koan Yong mengejar musuh kearah timur laut, dilihatnya lima puluhan tombak disebelah depan bayangan musuh berkelebatan lalu lenyap entah kemana, segera It-cu-kiam Koan Yong mempercepat larinya, dia mengudak sampai dasar lembah, dilihatnya rumput di sekitar sini tertindih ambruk oleh benda berat, sebagai kawakan Kangouw melihat ini dia mulai curiga. Sementara itu Kim-kong-ci Hong Kiat yang mundur paling akhir ternyata ketinggalan, bila dia tiba didepan mulut lobang, dilihatnya ada orang menyusul kemari, sebelum tahu yang datang kawan atau lawan, maka dia tutup lobang dengan batu besar terus sembunyi disemak-semak rumput. Akhirnya dilihatnya yang datang adalah It-cu-kiam Koan Yong, dia tahu orang-orang Hong -lui-bun yang lain pasti akan segera mengudak kemari, mumpung It-cu-kiam sedang langak longok kedalam lobang gua, mendadak dia lancarkan Kim-kong-ci. Sejalur tenaga angin mendadak menerjang punggung It-cukiam. Mendengar suara, hati Koay Yong terkejut, sebat sekali dia melompat maju kedepan. Diluar tahunya Kim-kong-ci teramat keras dan ganas, padahal tubuhnya sudah mencelat setombak jauhnya, namun tenaga jari lawan masih mengudak tiba, seketika dia merasa tubuh linu begitu badan tersungkur jatuh, seketika dia pingsan-Untung lompatanjauh itu mengurangi tenaga tutukanjari itu hingga dirinya tidak terluka parah, namunjuga hanya tertutuk semaput saja. Sejak semaput It-cu-kiam terus disekap dan akhirnya dipindah dalam kurungan bawah tanah diatas pulau ini. Kim-kong-ci Hong Kiat manggut-manggut sambil tersenyum, kedua orang ini lantas berdiri meninggalkan tempat itu lebih dulu. Orang banyakpun segera bubar, kembali ketempat penjagaan yang sudah ditentukan sebelum ini. Kedap lain sinar la mpupun padam, pendopo itu kembali gelap gulita, suasanapun hening. Liok Kiam-ping melompat keatas wuwungan, mendekam sejenak d eng a n penuh perhatian periksa keadaan istana megah ini. Tampat diujung timur laut sana terdapat sebuah bangunan loteng tinggi seperti berdiri tunggal ditengah air. Setelah terdengar suara berisik, mendadak sorot lampu yang benderang keluar dari jendela menyinari permukaan air, sinar reftek membuat sekitarnya benderang pula. Bentuk pucuk loteng itu mirip sebuah kurungan besi, dilihat dari kejauhan kelihatan kosong, samar-samar hanya kelihatan beberapa jeruji besi seperti mengurung atap loteng. Jaraknya terlalujauh, susah terlihat apakah ada orang terkurung d id alamnya. Kiam-ping bergerak selembut kucing selincah burung elang, lewat bayang-bayang gedung yang gelap dia berputar menuju timur laut dari gedung besar berloteng itu. Padahal penjagaan istana ini cukup ketat dan keras, namun dengan gerak g erik Kiam-ping seperti setan, ternyata masih mampu bergerak seperti mundar mandir dirumah sendiri. Setelah menyusuri serambi berliku sembilan, tampak sebuah telaga seluas belasan hektar dengan airnya yang jernih berada di atas perbukitan, ditengah telaga itulah, didirikan sebuah gedung loteng puluhan tingkat, tingkat terakhir dibuat dalam bentuk seperti kurungan dengan jerujijeruji besi, mungkin loteng tinggi inilah yang dinamakan Thayim-lou. Bentuk telapak bundar maka dari loteng itu sampai kedaratan kira-kira ada tiga puluh tombak jauhnya, tanpa jembatan menghubungkan satu dengan yang lain, tapi disekitar loteng sengaja dibuatkan pula ikatan-ikatan bambu panjang dalam bentuk Pa-tkwa sebagai tempat berpijak. Dasar berotak encer, sesaat dia berpikir setelah melihat situasi didepan mata, akhirnya berpikir.
"Loteng itu dibangun di tengah telaga, pasti dipasang jalan rahasia bambu-bambu yang mengambang diatas airjaraknya satu dangan yang lain ada lima tombak bagi yang lwekangnya biasa, jelas tidak bisa menyeberang, tadi Tangling-lo-koay bilang, bila terpaksa orang banyak harus mundur masuk ke Thay-im-lou, jiwanya pasti selamat dan tertolong, dari nada bicaranya dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang berkepandaian rendahpun dengan mudah nyeb erang kesana sembunyi d id a la m loteng. Dari sini dapat diduga bambu yang terapung itu bukan jalan sesungguhnya, dibaliknya tentu ada perangkap. Kalau mereka berani terang-rerangan menculik orang kemari dan dikurung diatas loteng, bukan saja bentuk loteng itu agak ganjil, penuh dipasangi alat rahasia, maka dapatlah dibayangkan betapa berbahayanya loteng itu. Permukaan seluas ini, kecuali meminjam bambu yang terapung itu sebagai batu lompatan tiada cara lain untuk menyeberang? Dari udara jelas tidak mungkin melesat terbang sejauh itu, apalagi memasuki loteng ? Sesaat lamanya dia menepekur, akhirnya diperolehnya sebuah cara yang baik. Didalam hutan sekitarnya dia menjemput lima enam papan lebar satu kaki. sebelum bertindak dia jemput dulu sebutir batu, setelah mengincar dia timpukkan batu itu diatas bambu-bambu yang terapung itu "Klotaks air muncrat dua kaki tingginya, dari kanan kiri bambu terapung mendadak menjeplak beberapa batang gantolan besi yang terang kap ditengah bambu. Begitu gantolan besi mengencang bambu itupun, tenggelam kedalam air. Bila orang menggunakan Ginkang tinggi berpijak diatas bambu terapung dan kaki pahanya terjepit gantolan besi, betapapun lihay Kungfumu juga jangan harap bisa meloloskan diri. Dari perangkap yang terpasang dipermukaan telaga sedemikian berbahayanya, maka dapat dibayangkan betapa lebih berbahayanya perangkap didalam loteng. Alis Liok Kiam-ping bertaut kencang, namun hatinya juga amat benci dan dendam kepada kawanan penjahat yang keji. Pertama dia lempar sebuah papan, melayang turun dipermukaan air sejauh lima tombak. karena papan terapung dipermukaan air, tak bisa di gunakan tempat berpijak untuk selanjutnya melompat pula kedepan, kecuali yang memiliki Ginkang taraf tinggi, cukup menutul sedikit saja, tubuh sudah bisa melayang pula maju kedepan-Menyusul Kiam-ping gunakan gaya Ui-koh-clong-siau (burung kutilang menjulang kemega) tubuhnya melambung tinggi lima lima tombak. ditengah udara dia menekuk pinggang memancal kedua kaki, gerakkannya pun dirobah menjadi Hwi-yen-tho-lim (walet terbang masuk hutan), laksana panah tubuhnya melesat terbang, bila daya lajunya makin berkurang dan hampir melorot turun, dia pentang kedua lengan, ujung kaki menutul dipermukaan papan yang terapung itu. Berbareng dia lempar papan kedua, sementara badannya sudah melejit tinggi pula keudara.. Begitu beruntun dia melempar lima buah papan, tubuhnya sudah melenting tinggi keudara hampir mencapai pinggir loteng. Disaat tubuh masih terapung dan hampir anjlok turun itulah.
"Biang"
Mendadak sebuah suara berkumandang dari atas loteng, berbareng sebaris anakpanah melesat datar sejajar dengan air melesat kepermukaan telaga.
Lekas Kiam-ping kerahkan seluruh sisa hawa murni dalampusarnya, begitu kedua lengan meronta keatas, syukur tubuh yang melotot turun itu masih mampu diangkatnya pula naik lima kaki, panah yang melesat sekencang itu kebetulan meny amber lewat d iba wah kakinya, waktu dia meluruskan kedua kakinya, kebetulan hinggap diloteng tingkat kedua.
Dalam menghadapi serangan berbahaya seperti itu, kalau Kiam-ping sebelum ini memperoleh penemuan gaib, hingga bekal kepandaiannya sesakti sekarang apapun dia takkan terhindar dari mara bahaya, bila yang menghadapi perangkap keji orang lain yang berkepandaian sedikit rendah, punya jiwa rangkap dua belas juga telah terkubur dalam telaga.
Loteng itu dikelilingi jendela, semua tertutup rapat, cahaya lampu tampak menyorot keluar, bayangan orang juga bergerak-gerak.
didengarnya suara perca kapan pula, namun sukar dia menentukan di mana letak orang berbicara itu.
Tujuan Kiam-ping menolong orang, hakikatnya tidak perlu menghiraukan bagaimana keadaan d id a la m loteng, Kembali die enjot kaki, tubuhnya melenting tiga tombak.
ujung kaki sedikit menutul ujung genteng, tubuhnya terus menjulang tinggi keatas, begitulah secara beruntun Kiam-ping gunakan cara yang sama, hingga terakhir dia mencapai ketinggian dipucuk loteng, Sesaat dia melongojuga setelah berada dipucuk loteng.
Kerangka kurungan besi ini terbuat dari besi sebesar lengan, dasar kurunganjuga dekuk bagian tengahnya jadi berbentuk seperti kukusan, It-cu-kiam Koan Yong tampak rebah terkulai didasar kukusan, kelihatannya tertutuk Hiat tonya.
Dinding miring yang licin tak bisa buat berpijak itu tertancap pula barisan pisau runcing yang kemilau.
Diatar kurungan Liok Kiam-ping melangkah dua tindak, kebetulan kakinya menginjak sebatang besi melintang, kejadian terjadi begitu cepat, tahu-tahu besi yang diinjak itu patah dua dan tubuhnyapun kejeblos masuk kedalam kurungan-Begitu kedua kaki menanjak tampat kosong, tubuh Liok Kiam-ping lantas anjlok kcbawah.
lekas dia kembangkan Ling-hi-pou-hoat Ginkang tingkat tinggi, begitu dia menyedot napas, tubuhnya lantas melayang turun dengan badan melintang datar, lalu menggunakan gaya Ing-wi-kiu-coan secara indah dan bagus sekali tubuhnya berkisar lalu melayang turun pelan-pelan ditengah.
Begitu berdiri tegak disamping It-cu-kiam Koan Yong segera dia mendongak memandang keatas, seketika dia mengkirik dibuatnya.
ternyata diatas langit langit tepat dibawah pucuk loteng ini, tingginya paling tidak ada puluhan tombak, empat penjuru dipasangi ujung golok yang tajam mengkilat, bila bergerak kurang hati-hati, bukan mustahil dada bisa ketembus golok atau perut robek.
Lekas dia membuka tutukan Hiat-to It-cu-kiam.
Mungkin terlalu lama rekannya ini tertutuk Hiat-tonya, walau Hiat-to sudah di buka, dia masih dalam keadaanpulas, terpaksa Kiamping harus memijat dan mengurutnya baru mulai siuman-Baru Kiam-ping buka suara mau tanya pengalamannya, tiba-tiba terdengar kekeh tawa panjang dari sebuah jendela kecil yang letaknya didinding miring.
Disusul sebuah suara dingin berkata.
"Pat-pi-kim-liong, sekarang apa pula yang bisa kau katakan ? Mungkin kesempatan untuk berpesan kepada sanak kadangmupun tidak sempat lagi. IHehehehe^' Walau amat gusar, tapi mengingat diri terkurung, tumbuh sayap juga tidak dapat terbang keluar, gugup atau mencaci makijuga tidak berguna. Sebagai cerdik cendekia, meski berada ditempat bahaya, Kiamping tetap berlaku tenang, sekilas dia menepekur, lalu b erg elak tawa.
"Kalian kawanan iblis gerombolan setan, semua jago-jago yang sudah keok ditanganku, tidak berani bertanding terang-terangan, pandainya hanya bermain muslihat mencelaka i jiwa orang, kalau hal ini tersiar dikalangan Kangouw, memangnya kalian tidak ditertawakan dan dihina kaum persilatan ? Masih berani kalian mengagulkan diri sebagai orang gagah"
"Untuk melenyapkan bocah keparat macammu, kenapa harus bicara soal aturan segala. Tapi kalau kau mau menerima dua syaratku, Lohu boleh membujuk partai-partai silat yang lain, y a kin jiwa kalian masih bisa diselamatkan-"
"Baik, coba katakan dulu apa syaratmu ?"
"Persoalanya kan sepele. Pertama, asal kau melumpuhkan Lwekang, selamanya tidak boleh mencari setori dengan kami, lalu membubarkan pula Hong-lui-bun, diumumkan secara luas selanjutnya tidak akan berkecimpung dikalangan Kangouw. Bagaimana anak muda ?' "Ini bukan persoalan sepele, patut dipertimbangkan."
"Baik, Lohu akan tunggu jawabanmu sampai besok."
Lenyap suaranya maka terdengar daun Jendela kecil itu tertutup.
Begitu mendapat kabar kilat dari clok-wi-cun, Hong Kiat dan Tang-ling-sin-kun sudah lantas menduga bahwa Liok Kiam-ping pasti lolos dari renggutan elmaut, juga sudah diduga cepat atau lambat dia pasti akan me nyelundup kepulau ini.
Maka sengaja mereka mengatur tipu daya mengurung It-cu-kiam di kurungan besi yang wadahnya berbentuk kukusan untuk memancing kedatangan Kiam-ping sekaligus membekuknya.
Undang-undang perguruan Tang-ling-kiong teramat keras hukumanpun berat, setiap murid yang khianat atau murtad, selamanya tidak pernah diberi ampun.
Kurungan besi diatas Thay-im-lou itulah biasanya para pelanggar undang-undang disekap.
bangunannya teramat kokoh dan berbelit-belit, keluar masuk pintu rahasianya.
hanya diketahui oleh Tang-ling-sinkun ayah beranak.
Sekarang mereka sudah berhasil memancing Liok Kiamping masuk perangkap.
bila mau segera turun tangan membunuhnya, segampang dia angkat tangan, tapi Tangling-sin-kun manusia tamak.
Dia mempunyai rencana lain dan mengincar Wi-llong-pit-kip serta Tnian-gwa-cin-keng dua pusaka yang dimiliki Liok Kiam-ping, maka sengaja dia mengajukan dua syarat dan mau menunggu jawaban Liok Kiam-ping.
Sudah tentu diluar tahunya bahwa Liok Kiam-ping juga sudah punya perhitungan matang sendiri, dengan bekal keyakinan dan kepercayaan pada diri srndiri, sayang dia tersekap dalam kurungan, meski tahu tidak leluasa turun tangan, maka sengaja dia mengulur waktu pura-pura mempertimbangkan usul yang diajukan lawan, waktu sepanjang ini yakin akan berhasil memperoleh akal untuk meloloskan diri.
Begitu Tang-ling-sin-kun mengundurkan diri, segera dia duduk bersimpuh mulai samadi, memulihkan seluruh tenaga, semangat dan Lwekangnya.
Kira-kira menjelang kentongan kedua, Liok Kiam-ping segera mencopotjubah panjangnya serta disobek menjadi tali kain panjang lalu disambung hingga panjangnya diperkirakan sudah tujuh tombak.
diperkirakan sudah mencukupi, lalu dia gulung tali kain itu serta digubat digubat dipinggang, setelah melolos cui-le-kiam, dia memberi pesan kepada It cu-kiam supaya menunggu dengan sabar.
lalu dia menghirup napas mengerahkan hawa murni mengenjot tubuh.
Sekali lagi dia kembangkan Ling ho-pou-hoat, meminjam tenaga murni yang dikerahkan dari pusar, tubuhnya mumbul pelan-pelan seringan kapas menerobos jaringan ujung golok yang tajam dan runcing terus maju keatas.
Mengembangkan ginkang d ipucuk pisau-pisau tajam, bukan saja diperlukan Ginkang yang tinggi, juga memerlukan Lwekang yang tangguh, baru bisa bertahan lama menembus mara bahaya.
Begitu tiba d id ekat jendela kecil didinding miring, mendadak pedang ditangannya dibuat menyodok, ujung sebuah golok yang runcing ditabasnya putus, lalu dia hinggap diatas kurungan golok yang sudah tumpul itu.
Begitu kaki mengerahkan tenaga, kembali cui-le-kiam terayun, maka terdengarlah suara berdering, pisau-pisau tajam yang dipasang disekitarjendela telah dibabatnya patah seluruhnya.
cui-le-kiam dia pindah ketangan kiri terus ditancapkan didinding tanah Hat, untuk sementara menahan setengah tubuhnya, sambil kerahkan tenaga dilengan kanan terus terayun kejendela cilik.
"Brak"
Jendela kecil itu telah dipukulnya jebol.
Maka terlihat dibalik sana adalah sebuah kamar kecil.
Kiam-ping bekerja lebih cepat telapak tangannya terus bekerja menepuk pinggir jendela setelah agak goyah sekali hantam pula lobang jendela digempurnya menjadi besar, dengan lincah dia melompat masuk.
Lekas dia ulurkan tali kain yang sudah disediakan kedasar sana.
Begitu melihat tali kain mengulur turun, Koan Yong tahu Kiam-ping sudah berhasil keluar, lekas dia merambat keatas dengan tali kain, kakinya menutul disela-sela dinding yang tidak tertancap golok, dengan cepat dia sudah memanjat keatas.
Kamar kecil ini termasuk pintunya juga terbuat dari tanah liat bercampur kapur, daun-pintunya terbuka dari luar kedalam, begitu ahlinya pembuat daon pintu sehingga sedemikian rapat dan rata, sedikitpun tidak ada celah-celah.
Dikala mereka mencari akal bagaimana harus meloloskan diri dari kamar kecil ini, mendadak terdengar langkah kaki mendatangi.
Sebelum orang itu mendekat d aon pintu, mendadak It-cu-kiam koan Yong menendang dua kali ked aon pintu hingga mengeluarkan suara keras, lalu dia memberi tanda kepada Kiam-ping supaya tidak bersuara, dengan lincah mereka sembunyi dibelakang pintu.
Akal yang digunakan koan Yong ternyata amat manjur, pada hal langkah kaki sudah lewat, mendengar dalam kamar mendadak ada suara, orang itu agaknya membalik, terdengar suara kunci berderik.
pelan-pelan daon pintupun terbuka, seorang kacung cilik melongok kedalam.
Sekali tutuk kontan Kiam-ping menutuk hiat-tonya.
Kejadian tidak terduga serta mendadak.
kacung cilik tidak sempat bersuara, tahu-tahu tubuhnya sudah tertutuk lunglai.
"Katakan, di mana Tang-ling-lo-koay dan lain-lain ? Bagaimana turun dari sini ?"
"Inilah Thay-im-to yang penuh dipasangi perangkap laksana jaring langitjala bumi, mau ketemu Sin-kun ? Kalau berani boleh ikut aku."
Koan Yong tahu bocah ini hendak main tipu, dia menjadi tertawa geli, katanya.
"Boleh, boleh, tapi bagaimana jalan keluarnya dari sini, kau harus jelaskan dulu kepada kami."
Pucat muka bocah itu, katanya tersendat.
'Wah, aku tidak tahu, bagaimana bisa menjelaskan kepada kalian.' "Kau masih bocah beginijuga sudah keras kepala, memangnya kau ingin disiksa, lekas katakan, kami pasti tidak akan menyakiti kau,"
Ternyata kacung cilik ini memang bandel, tidak menjawab dia malah pejam mata, tanpa hiraukan pertanyaan mereka berdua.
Karuan It-cu-kiam Koan Yong naik pitam, dia tendang dua kali dipunggung di bocah, katanya keki.
"Agaknya kau memang ingin disiksa baru tahu rasa. Liok-ciangbun kau saja yang turun tangan-"
Liok Kiam-ping juga menyadari tempat mereka dikurung amat berbahaya, kalau lama-lama ditempat yang penuh peralatan rahasia ini, sekali kebentur orang-orang Tang-lingklong untuk meloloskan diri tentu makan banyak waktu, kesempatan tidak boleh diabaikan, lekas dia membungkuk terus menutuk urat nadi si kacung serta membuka tutukan Hiat-to pelemas nya.
Seketika si kacung mengejang kaku lalu mendelik sambil merintih-rintih, saking kesakitan sekujur badan mandi keringat, namun bocah ini memang keras kepala, meski kesakitan tapi dia tetap bungkam dan melototkan mata.
Saking tak tahan akhirnya air matapun bercucuran, kepala mang gut berulang-ulang kearah Liok Kiam-ping, Setelah Hiat-to terbuka, sejenak dia beristirahat, lalu dengan suara sedih menjelaskan.
Jalan bercabang dalam loteng ini simpang siur, aku hanya tahu untuk turun kebawah loteng selalu harus putar kekanan beruntun tiga kali, lalu putar kekiri sekali, sekaligus diulang tiga kali, lalu dimulai lagi dari permulaan, paling akhir akan berada di mulut loteng paling bawah, tentang peralatan rahasianya, terus terang aku tidak tahu apa-apa."
Melihat bocah ini bicara setulus hati, yakin bocah ini tak berani menipu, apalagi dirinya harus segera meninggalkan tempat ini.
Maka dia serahkan si kacung kepada Koan Yong, dikempit d iba wah ketiak mereka terus keluar.
Lorong-lorong dalam loteng memang simpang siur, semuanya berbentuk bundar dan liku-liku, umpama tidak ditunjukkan jalannya, siapapun akan bingung jalan mana yang harus ditempuh.
Begitu sesuai penjelasan si kacung mereka bertiga terus turun kebawah tanpa mendapat rintangan apaapa, akhirnya mereka tiba disebuah kamar yang cukup besar.
Did a la m kamar terdengar perca kapan beberapa orang, agaknya sedang merundingkan persoalan apa yang cukup genting.
Si kacung menunjuk kedalam kamar dengan ibujarinya, sebagai tanda bahwa Tang-ling-sinkun dan lain-lain berada d id a la m.
Dengan meringankan langkah Liok Kiam-ping berputar kesebelah pinggir pintu terus mendekat serta mencuri dengar.
Kebetulan didengarnya Hong Kiat berkata dengan tawa lantang.
"Lwekang bocah itu amat tangguh, beberapa kali nasibnya selalu mujur, lolos dari berbagai perangkap. maka menurut pendapatku lebih cepat kita bunuh dia saja lebih baik, supaya tidak mendatangkan kesulitan-"
Tang-ling-sin-kun terloroh-loroh, katanya.
"Ikan yang sudah berada dalamjaring, memangnya dia mampu terbang lolos ? Tunggu saja setelah dia menerima syarat yang kita ajukan baru kita bunuh dia, kan belum terlambat". Kurasa lebih baik kita bertindak lebih hati-hati, siapa tahu terjadi sesutu diluar dugaan, bukankah bakal membuang tenaga ?"
"Siapapun yang sudah kejeblos dalam kurungan Thay-imlou, meski Lwekangnya tinggi juga jangan harap bisa lolos. Bila terang tanah, bocah itu masih keras kepala untuk membunuhnya juga segampang angkat tangan, cuma sayang ....."
Sebelum dia bicara habis, sebuah suara dingin mendadak berkumandang dari luar pintu.
"Kenapa harus tunggu sampai terang tanah, sekarang juga boleh dibereskan, bukankah lebih sederhana."
Lenyap perkataan, dua orangpun muncul diambang pintu-Karuan orang-orang dalam kamar terperanjat, serempak mereka berjingkrak dengan pandangan melotot heran-Terutama Tang-ling-sin-kun, hatinya membatin.
"Bocah ini memang anak setan, jalan rahasia dalam Thay-im-lou kecuali kami ayah beranak siapapun tiada yang tahu mungkinkah dia bisa keluar dari atas kurungan, pada hal jeruji besi sebesar lengan terbuat dari baja lagi, umpama senjata sakti apapun jangan harap dapat mematahkannya ..."
Mendadak Liok Kiam-ping membentak.
"iblis laknat, jangan pura-pura pikun, sekarang kalian tak boleh diampuni."
Dendam dan kebenciannya sudah memuncak.
segera dia kerahkan seluruh tenaga terus menggempur dengan kedua tangan-Kelihatan perlahan Kiam-ping mendorong kedua telapak tangannya, tapi damparan ingin pukulan yang ditimbulkan oleh kekuatan Lwekangnya ternyata sedahsyat gugur gunung menerjang kearah Tang-ling-sin-kun.
Mendangar bentakan Kiam-ping baru Tang-ling-sin-kun tersentak sadar, namun angin dahsyat telah menindih tiba, dalam gugupnya tak sempat menangkis, untung Lwekangnya juga sudah mancapai taraf tinggi, lekas dia melompat menyingkir sejauh setombak.
angin pukulan lawan menyamber dari bawah kakinya "Biang"
Kursi kebesarannya menjadi sasaran, kursi hancur lebur inenumbuk dinding, dindingpun retak.
Dengan enteng badannya berputar terus melayang turun kesebelah kanan-Serangan pertama luput, amarah Kiam-ping makin berkobar, berputar kekanan, kembali dua tangannya tertekuk sikut terkembang keluar terus disendai kedepanpula.
Baru raja Tang-ling-sin-kun turun dilantai, angin kencang menyamber tiba pula, dengan gugup dia melompat, namun sudah terlambat, lekas dia putar kedua lengan lalu terangkap didepan dada terus menangkis dengan seluruh kekuatan yang ada.
Dua angin kekuatan saling tumbuk mengeluarkan suara menggelar.
Tang-ling-sinkun terlempar tiga tindak baru berdiri tegak pula, darah seperti mendidih, mungkin terluka ringan-Liok Kiam-ping hanya menggeliat sedikit.
Karuan Tangling-sin-kun kaget dan tidak habis mengerti, batinnya.
"Hanya dalam jangka satu bulan, Lwekang bocah ini ternyata mencapai kemajuan seperti ini."
Makin dipikir makin goyah pendirian dan tekadnya, maka timbul hasratnya untuk melarikan diri.
Disaat Liok Kiam-ping menggempur Tang-ling-sin-kun, Kim-kong-ci Hong Kiat yang berdiri disamping juga membarengi memukulkan tenaga yang tidak kurang dahsyatnya.
Lwekangnya setengah tingkat lebih tinggi dari Tang-ling-sin-kun, maka perbawa pukulannyapun bukan olaholoh lihaynya Merasa angin pukulan dahsyat menerjang dari samping kanan, Kiam-ping tahu Hong Kiat yang licik itu menyergap dirinya, pada hal kedua tangannya kebacut dipukul kedepan, betapapun tak s empat putar tubuh menangkis atau melawan-Dalam kugupnya timbal akal bagus, mendadak dia menj engkang tubuh kebelakang, kedua kaki menjejak dengan gaya La-hi-to-jeng-poh (ikan lele meletik balik melawan arus), tubuhnya bersalto kebelakang setombak lebih, Baru saja kedua kakinya menginjak lantai, terdengar suara alat rahasia berbunyi, bayangan orang berkelebat, tahu-tahu bayangan Tang-ling-sinkun sudah lenyap.
jelas melarikan diri dari jalan rahasia.
Tang-ling-lo-koay lolos lagi dari hadapannya, karuan amarah Kiam-ping dia tumplek kepada Kim-kong-ci Hong Kiat.
Dia tahu gembong iblis ini memiliki Lwekang tangguh, Kimkong-ci pun teramat lihay, lekas dia kerahkan tenaga sarta mengembangkan Kim-kong-put-hoay-sin-kang, kedua bola matanya mencorong bagi sinar senter, langkah demi langkah mendesak kearah Kim-kong-ci Hong Kiat Kedua pihak sama-sama meng konsentrasikan diri, kamar sebesar ini menjadi sunyi senyap keheningan yang mencekam perasaan, ketenangan menjelang datangnya hujan badai.
Setindak dua tindak.
tiga tindak.
pelan tapi pasti dan mantap sementara benaknya bekerja kilat, maka berhasil dia memperoleh akal untuk menghadapi lawan yang satu ini.
Kinijarak mereka tinggal dua tombak.
Dalam gaya yang tetap dengan sikut tertekuk dua, telapak tangan didepan dada lalu berputar keluar mendadak ditepukkan keluar, Tenaga dahsyat yang dapat menggoncang gunung laksana damparan hujan badai.
Menghadapi lawan tangguh, Kim-kong-ci Hong Kiatjuga tidak berani gegabah, lekas diapun kerahkan seluruh kekuatannya, balas memukul dengan segala kedahsyatan yang dimilikinya.
Udara tersibak oleh dua jalur kekitatan yang bertumbukan mengeluarkan suara menggelegar, gedung berloteng ini seperti digoncang gempa besar Kim-kong-ci mundur selangkah, sedang Liok Kiam-ping hanya terangkat tumit kakinya.
Tahu Lwekang sendiri lebih tinggi dibanding lawan, menyala semangat tempur Kiam-ping, lekas dia maju tiga langkah sambil mengembangkan Ling-hi-pou-hoat, secepat kilat dia memukul enam j urus, merebut kesempatan merabu musuh, walau dirinya dilindungi ilmu sakti, tetap dia jeri menghadapi Kim-kong-ci yang ganas, maka dia kerahkan kelincahan gerak tubuhnya, kaki hanya menutul sedetik terus pindah posisi dan merobah gaya, namun serangan tidak menjadi kendor karenanya.
Kim-kong-ci Hong Kiat kembangkan ilmu pukulannya yang tidak kalah cepat gerakannya, diantara s a mb era n pukulan diapun bergerak tak kalah gesit, dalam waktu sesingkat itu diapun batas menyerang ilmu j urus, keadaan sementara tetap setanding.
Serang menayerang berlangsung dalam kecepatan tinggi, tipu-tipu yang dilontarkan juga semakin menakjupkan.
Deru angin pukulan samber menyamber, tak jarang terjadi benturan pukulan, sungguh pertempuran dahsyat yang jarang terjadi.
Dalam sekejap ilmu pukulan jurus.
Liok Kiam-ping membentak.
tubuhnyapun melambung keudara, disaat tubuh meluncur keangkasa itulah tangannya melolos Liat-jit-kiam.
Dibarengi gerakan tangan kiri denganjurus Llong-kiap-sin-gan, pedang ditangan kanan menyerang dengan jurus Jit-lun-jutseng.
Dua jurus serangan yang dikombinasikan dalam taburan telapak tangan dan samberan sinar pedang.
Lwekang Kim-kong-ci Hong Kiat memang tinggi, pengalaman luas.
melihat Kiamping mengeluarkan pedang, gaman dan tangan menyerang berbareng dengan jurus berbeda dia insaf detik-detik yang menentukan sudah didepan mata, maka dia sudah menyiagakan diri serta mengembangkan Ginkangnya yang khas, syukurlah dengan Ginkang yang dikembangkan sepenuh tenaga dia berhasil lolos dari renggutan maut.
Ternyata Liok Kiam-ping sendirijuga mempunyai rencana, maka lawan takkan dibiarkan lolos pedangnya berobah dengan jurus Liat-jit-yam-yam, cahaya pedang yang berkembang laksana tabir itu sepertijala saja menjaring tubuhnya dengan tekanan dahsyat.
Saking kaget Kim-kong-ci Hong Kiat tersirap.
mata silau berkunang, terasa selarik cahaya yang terang benderang laksana pancaran sang surya menerpa kearah dirinya, hingga mata tak mampu mengikuti laju senjata lawan, dalam gugupnya lekas dia kembangkan Kim-kong-ci menuding kearah cahaya yang benderang itu.
Dua jalur hawa putih laksana rantai perak besar mendesis dengan suara yang membising, untung Liok loam-ping dipaksa merandek oleh tudingan jari yang luar biasa.
Mumpung memperoleh kesempatan Hong Kiat membereset kepinggir dengan telapak kaki meluncur licin seperti terpeleset dimuka saiju, badannya lolos dari jangkauan cahaya pedang.
Lekas Kiam-ping menarik napas mengerahkan hawa murni, ditengah udara badannya berputar terus melesat dibelakang lawan dengan pedang jurus Sip-yang-se-loh.
Hong kiat betul-betul tidak berani lena, disertai hardikan keras, kembali dia kerahkan Kim-kong ci, sekuat tenaga menuding pula kearah Kiam-ping.
Kiam-ping sudah kerahkan Kim-kong-put-hoay-sin-kang tanpa batas, Kim kong-ci serangan lawan ternyata tidak dihiraukan, sekali berkelebat dia menukik turun dengan pedang terayun.
Di mana sinar pedangnya meny amber lewat, terdengarlah jeritan mengerikan-Dua jari Kimg-kong-ci yang menuding itu terbatas kutung oleh pedang, ilmu sakti macam King-kong-ci yang diyakinkan puluhan tahun lenyap dalam sekejap ini, sungguh bukan kepalang gusar dan sedih hatinya, jauh lebih sedih daripada mampus.
Bola matanya sudah melotot gusar, sambil meraung dia sudah menjejak kaki hendak menubruk dengan serangan terakhir, biar gugur bersama bila perlu.
"Jangan-"
Mendadak sebuah pekik berkumandang dibela kang, sesosok bayangan laksana kilat meny amber dari belakang tembok, sekali raih dan tarik kedua orang segera menyurut mundur dan lenyap dibalik tembok.
Tak urung ilmu sakti pelindung badan Kiam-ping juga tertembus oleh kekuatan Kimkong ci yang lihay hingga tubuh yang sempat berkelitpun terserempet, di kala tangan kanan menabas turun, pundak kanan tersambar oleh kekuatanjari musuh, untung badannya terlindung hawa sakti, walau pundaknya tidak tertembus luka, tapijuga terasa seperti dipukul palu godam yang berat, lengan kanan lemas lunglai tak bisa bergerak.
saking kesakitan hingga tenaga tab as a n kebawahpun menjadi batal, karena itu pula dia hanya menabas dua jari Hong Kiat, kalau tidak mestinya lengan lawan yang tertabas buntung, Ditengah jeritan Kim kong-ci Hong Kiat itulah, Liok Kiamping juga tidak kuat memegang pedangnya lagi, Liat-^itkiamjatuh berkerontang dilantai, orang nyapun tersuruk duduk.
Disaat It-cu-kiam Koan Yong memburu maju hendak menolongnya, sementara Tang-ling-lo-koay juga mencelat keluar dari balik dinding serta menolong rekannya itu masuk pula kelorong bawah tanah, disamping Kiam-ping selamat, Hong Kiat seniiri juga terhindar dari renggutan elmaut.
Waktu Koan Yong sadar dan menubruk maju, bayangan kedua orang itu sudak lenyap dibalik pintu rahasia.
Tapi karena terburu nafsu melarikan diri, Tang-ling-lo-koay lupa menutup kembali daonpinto.
Liok Kiam-ping menginsyapi.Jian-kim-hiat dipundak kananya terluka cukup parah, setelah dia bersamadi mengerahkan tenaga lwekang, syukur keadaannyajauh lebih sembuh, tapi gerak-geriknya masih belum leluasa.
Untuk mengejar waktu dan supaya lekas keluar dari Thay-im-loo, maka merekapun keluar dari pinto rahasia serta mengudak musuh.
Lorong rahasia itu berliku-liku, setiap beberapa langkah pasti menemukan lapisan pintu rahasia, Mereka maju terus berputar-putar, tanpa terasa ternyata kembali ketempat semula di mana tadi mereka berhantam dengan musuh.
Akhirnya Kiam-ping teringat akan Keterangan si kacung cilik, untuk meloloskan diri kenapa cara itu tidak dicoba sekali lagi.
Maka bersama It-cu-kiam Koan Yong mereka putar kekanan tiga kali belok kekiri sekali, ternyata dengan leluasa mereka bisa maju terus, setelah belak belok pula beberapa kali, di sebelah depan sudah kelihatan sinar reftek yang kemilau dipermukaan air telaga, kali ini dengan leluasa mereka bisa keluar dari Thay-im-loo.
Tahu mereka sudah tidak jauh lagi dari mulut pintu keluar, karuan Kiam-ping kegirangan, lekas dia mempercepat langkah.
Berderet merupakan lingkaran sebentuk dengan lembah, dipinggir telaga adalah rumah rumah petak yang berdiri sendiri-sendiri, air telaga memang sudah kelihatan, tapi jaraknya masih cukupjauh.
Pada hal sudah berada ditingkat terbawah, tapi Kiam-ping berdua tidak menemukan pintu untuk keluar, terpaksa hanya bisa longok-longok dari jendela terpaksa Kiam-ping keluarkan pedang, merusak jendela serta memukulnya dengan gempuran dahayat.
Tapi kamar demi kamar ini ternyata dibuat sedemikian rupa, kamar satu dengan kamar yang lain ternyata terjalin dengan lapisan tembok.
bila orang masuk kedalam, kurang hati-hati menyentuh tombol rahasia, maka lapisan tembok akan menutup kencang.
Setelah susah payah menjebol dinding demi dinding baru mereka tiba pinggir air.
Dikala mereka longok-longok kesebrang.
mendadak terdengar beberapa kali dentuman keras, disertai suara bentakan dan caci maki orang banyak.
suasana seperti ribut dan gaduh dari pertempuran besar.
---ooo-dw-ooo---Kini kita balik mengikuti pengalamanJian-li-tok-heng yang sibuk mengeduk guguran tanah cadas dimulut gua karena ledakan dahsyat oleh lemparan bom Kim-kong-ci Hong Kiat.
Tapi tenaga seorang mana mampu selekasnya mengeduk tanah cadas sebanyak itu sarta membuka mulut gua yang sudah gugur, meski teng gorokan hampir pecah panggilannya kepada "Ji-te"
Ternyata tidak mendapat penyahutan-.
mulut gua juga tidak tersumbat oleh tanah cadas saja, batu-batu segede kerbau jelas tidak mampu didorong atau dikeluarkan oleh tenaga seorang meski tokoh selihay Jian-li-tok-heng, saking gelisah akhirnya jian-lin-tok-heng berdiri bingung membanting kaki.
Sedikit dirinya lena Kiam-ping sudah terkurung d id a la m gua, bila kejadian ini tersiar di kalangan Kangouw, kaum persilatan pasti mengira dirinya takut mati, demi menyelamatkan jiwa dari serangan Kim-kong-ci sehingga keselamatan Kiam-ping kini sukar diramalkan, apakah selanjutnya dirinya masih ada muka berkecimpung di Kangouw, atau menemui orang-orang pihak sendiri ?
Di saat dia berdiri bingung dengan muka kecut itulah.
Mendadak didengarnya suara lambaian pakaian orang yang sedang berlari kencang tiba di mulut selat.
Lenyap suaranya seorang telah meluncur turun dimulut selat.
WaKtu Jian-li-tok-hang menoleh dilihatnya yang datang adalah Ai-pong-sut Thong ciau dengan Kim-gin-hu-hoat, karuan girangnya bukan main-Ternyata Ai-pong-sut Thong ciau bersama Kim-gin-hu-hoat dan lain-lain setelah kembali ke Kwi-hun-ceng cepat mereka membongkar papan besi menolong Thi-pi-kim-to Tan Kianthay, demikianpula Pi-lik-jiu cui Khay.
Beramai-ramai mereka membersihkan bahan-bahan peledak serta semua bahanbahan bakar yang sudah disiapkan musuh untuk menghancurkan Kwi-hun-ceng.
Setelah kerja berat setengah harian baru selesai.
Kini mereka kumput dipendopo besar menunggu Liok Kiamping danJian-li-tok-heng yang pergi mencari ft-cu-kiam Koan Yong.
Tengah orang banyak menunggu dengan gelisah, mendadak terdengar ledakam dahsyat yang menggoncang bumi dari arah ke mana Kiam-ping berdua pergi.
Kim-ji-tay beng merasa heran dan curiga, maka dia usul supaya lekas menyusul ke sana.
Si gede Siang Wi segera berkaok setuju dan minta ikut.
Mengingat menolong orang harus secepatnya, si gede tidak pernah meyakinkan Ginkang, kalau diajak malah menjadi beban belaka, maka bocah gede ini dibujuk dan diapusi, dia ditugaskan menemani Tan Kian thay menjaga dan melindungi perkampungan-Memangnya perut sudah lapar, sejak tadi juga sudah uringuringan, maka diam-diam dia menyingkir, tapi dalam hati membatin "Baik, biar kalian terbang kelangit, aku toh bisa menguntit kalian dari bawah tanah.
Setiap kali ada tugas.
aku selalu ditinggal.
Kali ini aku tidak mau ditipu lagi.
Apapun memang bocah cilik lebih baik terhadapku.
Ya, apapun aku harus lekas menyambutnya pulang baru perutku bisa di isi."
Lalu dia panggul pentung bajanya diatas pundak, dari kejauhan dia membuntuti orang banyak.
Badannya gede langkahnya lebar, bila dia mau kerahkan tenaga berlari kencang, kecepatannya juga tidak kalah dari seorang yang pernah meyakinkan Ginkang.
Kim-gin-hu-hoat dan lain-lain mengembangkan Ginkang berlari sambil berlompat ditanah pegunungan yang tidak rata, berbatu-batu lagi, mereka terus tancap gas ke arah Liok Kiamping pergi mencari It-cu-kiam.
Sudah tentu diluar dugaan mereka bahwa si gede yang dianggap sobloh ini ternyata juga menguntit dari kejauhan-Bila orang banyak tiba dimulut selat, mereka melihatJian litok-heng sendirian sedang sibuk mengeduk tanah dan menj ungkit batu, kelihatan gugup dan bingung, sementara mulutnya memanggil-manggil, Tahu terjadi sesuatu diluar dugaan, maka orang banyak mempercepat langkah, cepat sekali mereka sudah memburu tiba ditempat kejadian-Memangnya Jian-li-tok-heng sedang bingung seorang diri melihat orang banyak menyusul datang, lega hatinya, lekas dia jelaskan kejadian kepada orang banyak sudah tentu orang banyak ikut gugup dan bingung Maka beramai-ramai mereka bekerja mengeduk tanah dan batu supaya menemukan lorong gua dan menemukan Liok Kiam-ping.
Tapi tanah cadas dan batu-batu besar yang ambruk ini sedemikian banyak dan berat celakanya mereka tidak membawa pacul dan sekop.
dengan tenaga tangan kosong dan senjata pedang atau golok jelas tak bisa mereka bekerja.
Untunglah d is a at orang banyak mati kutu, sigedeSiang Wi tampak berlari mendatangi sambil memikul pentung bajanya, dari kejauhan bocah gede ini sudah pentang bacotnya.
"Nah, kalian semua disini, kali ini akupun tidak bakal ketinggalan lagi."
Dengan lebar dia mendatangi sambil bertanya.
"Mana bocah cilik ? Di mana dia ?' Melihat dia menyusul datang, kuatir akan keselamatannya, sebetulnya orang banyak merasa keki dan sebal, namun melihat betapa Jenaka sifatnya, yang suka usil mulutpun urung melontarkan sindirannya. cohsiang-hwi f h Th la u-h long ternyata lebih cermat dan dapat berpikir, melihat si gede memanggul pentung bajanya yang besar, dia lantas ingat pentung itu bisa dipakat untuk bekerja. Lekas dia memapak maju kedepan si gede serta menjawab sambil, menuding longsoran tanah. 'Ciangbunjin berada di bawah tanah, kebetulan kau datang, lekas gunakan tongkat bajamu menyungkil batu besar itu bersama."
Mendengar sibocah cilik terpendam karuan bocah gede menjadi gugup, dengan mulut berceloteh lekas dia sogok pentung bajanya kebawah batu.
dengan mengerahkan seluruh kekuatan ditekannya pula kebawah sehingga tongkat amblas sedikit demi sedikit, namun selebar mukanyapun merah padam.
Kim-gin-hu-hoat,Jian-li-tok-heng dan lain-lain segera maju membantu mereka berholopis-kuntut baris, syukurlah batu raksasa itu berhasil digesar maju dan tersingkir kedepan, hingga mulut lorong disebelah bawah sudah kelihatan-Setelah tergeser sedikit maka leluasa jari gampang mereka merobohkan batu besar itu.
Kecuali Thi-pi-kim-to Tan Kian-thay, orang banyak beriring masuk kedalam lobang gua, ada yang menyalakan obor, terasa lorong gua ini lembab dan bekas terendam air, lantainya becek dan licin-Kim-gin hu-hoat danJian-li-tok-heng sudah berpengalaman, mereka tahu urusan agak ganjil, maka dia berseru supaya orang banyak berjalan lebih cepat.
Kira-kira hampir satu jam kemudian, merekapun keluar gua dan tiba dipinggir sungai.
Saat itu sudah menjelang kentongan keempat, angin malam menghembus dingin, tega la n belukar depinggir sungai terasa sepi dan menakutkan-Maka orang banyak berpencar mencari ubek-ubekan disepaniang tepi sungai.
Mendadak Kim-ji-tay-beng menyuarakan siulan tanda rahasia dari hutan d is eb rang sungai orang banyak segera memburu ke sana, masuk kedalam hutan-Tampak Kim-ji-taybeng menuding tanda rahasia peninggalan Liok Kiam-ping diatas dahan pohon-Katanya.
"Tanda ini pasti ditinggalkan oleh ciangbunjin, mari lekas kita kejar."
Sesuai arah yang ditinggalkan dalam tanda rahasia, orang banyak menuju keutara akhirnya memasuki perkampungan terus maju tiba dipinggir muara.
Masih satu setengah jam baru fajar menyingsing, perkampungan masih diliputi keheningan, penduduk masih pulas dalam hawa yang dingin, maka mereka tak bisa mencari berita, terpaksa semua berkumpul dibawah sebuah pohon besar tak jauh ditepi sunjai menunggu datangnya fajar.
Begitu terang tanah sigede dibangunkan dari dengkurnya, dia masih berkaok-kaok dan ribut karena perut lapar, malah ribut minta ke restoran membeli nasi.
orang banyak akhirnya kewalahan menghadapi rengekannya, memangnya mereka juga sudah bertempur dua hari dua malam, meski sekedar istirahat, boleh dikata mereka juga keletihan, perlu makan dan minum.
Untung clok-wi-can adalah desa ramai tempat yang cocok untuk berlayar keluar lautan, perdagangan disini cukup ramai dan laris.
Rombongan besar ini terpaksa putar kayun d id es a nelayan ini, dengan dandanan tampang dan gerak gezik mereka, masih begini pagi pula, desa kecil yang b las any a tentram ini kapan pernah didatangi rombongan orang luar daerah sebanyak ini, maka kehadiran mereka cukup menarik perhatian orang banyak^ tidak sedikit yang memandang heran, pesona dan melotot, tapi penduduk jug a tiada yang menegur atau menyapa mereka.
Akhirnya orang banyak memilih sebuah restoran berloteng yang paling besar d id esa ini.
baru saja hendak melangkah masuk.
Dari depan mendatangi seorang lelaki gagah, langsung dia menghadang sambil membuka lebar kedua tangan, serunya.
"f Hari ini kami tidak jualan, silahkan kalianpindah ke restoran lain saja."
Dandanan serta tingkah laku orang inijelas tidak mirip sedang jualan, kacung atau pemilik restoran, makaJian-li-tokheng tahu bahwa orang sengaja hendak mencari gara-gara, kalau pindah kerumah makan lainjuga akhirnya akan mengalami nasib sama.
Maka dia tertawa lebar, katanya.
'Sungguh menggelikan, orang yang membuka warung kok takut dikunjungi pembeli, kalau warungmu ini tidak jualan, lekas tutup pintu saja.
Sekarang hari masih pagi, tapi pintu sudah di buka, jendela sudah terpentang, meja kursijuga mengkilap menunggu tamu, memangnya kau sengaja menolak kedatangan kami ?
Sahabat, jangan kau kira kami datang dari luar daerah lantas boleh dibuat permainan."
Lalu dengan menyeringai lebar, dia maju ke depan lelaki itu sambil menggendong kedua tangan Sementara itu sigede sudah mencium bau masakan didalam rumah makan, liurnya sudah menetes, ulat dalam perutnya jug a sudah menari-nari, sungguh laparnya tidak tertahan lagi, tanpa minta pendapat orang banyak.
segera dia melangkah maju, sekali raih dia jambak baju dibelakang kuduk lelaki kekar itu, seperti menjinjing kelinci saja dia angkat orang itu serta membentak bengis dengan mata mendelik.
"Kau mau jual nasi tidak ? Perut tuan besarmu sudah lapar. Awas kalau kau tidak mau jual padaku."
Lelaki itu bertubuh tegap.
tapi si gede ini lebih tinggi dan besar lagi, betapa hebat tenaganya, karuan merinding bulu kuduknya, apalagi badannya dijinjing keatas kontal-kantil diudara, meski keras kepalanya, terpaksa dia mengangguk juga.
Dalam hati dia membatin.
"Seorang lelaki harus pandai melihat gelagat, kenapa aku harus konyol dihadapan mereka, untung atau rugi nanti juga ada orang yang akan membereskan persoalan ini. Maka dengan menyengir kuda dia berkata. Jual atau tidak harus kulaporkan dulu kepada pemiliknya."
"Mau lapor kek atau mau kencing tidak peduli, yang terang tuan besar mau makan, lekas suruh koki masak nasi dan lauk pauk yang paling enak."
Sembari bicara dia kibaskan tangannya, lelaki itu terlemparnya setombak lebih, cukup lama kemudian baru bisa merangkak bangun sambil merintih-rintih, tulang pungguhgnya serasa patah, dengan tertatih-tatih dia mundur kedalam Tak lama kemudian keluarlah seorang tua, dibelakangnya ikut pula seorang lelaki setengah baya, tampangnya kurus kaku dan kelihatannya berhati culas.
Sambil munduk-munduk orang tua ini menghampiri sambil soja, katanya.
"Tuan-tuan silakan duduk d id a la m, memang Losiu yang salah, pelayan kurang-ajar, sehingga tuan-tuan dibuat marah, biar aku orang tua mohon maaf."
Melihat tingkah laku orang tua ini, diam-diam orang banyak geli.
Tapi perut mereka memang sudah lapar, maka merekapun tidak mau memperpanjang persoalan, terutama si gede, tanpa disilakan lagi segera dia melangkah masuk kedalam.
Orang tua dan lelaki setengah umur itu segera menyilakan orang banyak lalu ikut masuk kedalam, menarik kursi membersihkan meja.
Lalu berdiri disamping menunggu orang banyak memilih menu yang dikehendaki.
Jian-li-tok-heng menjadi sebal melihat tampang lelaki setengah umur yang kelihatan munafik.
katanya sambil mengerut alis.
"Lekas siapkan semeja penuh masakan apa saja yang bisa cepat jadi, bawakan lima kati arak wangi."
Maka lelaki setengah baya segera tarik suara kearah dapur menyerukan apa yang dipesanJian-li-tok-heng.
Pada akhir katanya dia tambahi lagi beberapa patah kata yang tidak dimengerti artinya oleh orang banyak.
Gin-ji^tay-beng lantas merasakan perkataan akhir orang pasti mengandung arti, kenapa tidak menyebut nama menu, tapi menggunakan istilah yang tidak dimengerti, segera dia jambret lengan lelaki setengah umur bermuka kurus tepos, sentaknya.
"Apa arti perkataanmu ? Jangan kau main kayu didepan kami ya ?"
Lelaki itu melengak. namun sikapnya kelihatan belum tahu apa arti istilah yang dia serukan tadi, dengan pura-pura meringis dia merengek.
"Tuan ada pertanyaan apa boleh katakan saja baik-baik, kenapa main tangan ? Istilah yang kukatakan tadi maksudnya supaya kuahnya yang panas dan tidak boleh pedas."
Dengan mendengus Gin-ji-tay-beng lepas pegangan sambil dorong tubuh orang.
Lelaki itu genta y angan pergi terus lari kedapur.
Kerja koki didapurpun cekatan, tidak berapa lama lima macam menu yang kelihatan lezat sudah dihidangkan, sementara didapur koki kedengaran masih sibuk memasak menu yang lain.
Maklum yang dipesan adalah hidangan lengkap.
seluruhnya ada dua belas macam menu.
Si gede memangnya sudah kelaparan beberapa hari, tanpa tunggu komando dia ulur tangan terus menjejal mulutnya dengan hidangan yang sudah tersedia.
Jian-li-tok-heng angkatpoci arak.
digojok-gojok beberapa kali, lalu tuang secangkir penuh, tampak warna arak agak butek.
maka dia tahu arak ini tidak beres, lekas dia singkirkan poci ke pinggir.
Setelah orang banyak mulai makan, arak dia buang keatas tanah, lalu dia memberi bisikan kepada orang dia sendiri terus meloso jatuh meringkel ditanah.
Demikian pula yang lain, ada yang mendekam dimeja, ada yang celentang ditanah dengan berbagai macam gaya yang berlainan, yang terang sebelum pura-pura pulas mereka memperdengarkan suara berisik, seperti cangkirjatuh mangkok tumplek dan piring pecah, lalu badan jatuh gedebukan.
Beberapa kejap kemudian, lelaki setengah umur itu tampak melongok keluar sekali, melihat orang banyak sudah terkulai, sengaja dia murcul dengan berteriak.
"Tuan-tuan masih mau pesan apa ?"
Lalu melangkah mendekati. orang banyak tiada yang bersuara, tetap pura-pura mabuk dan pulas. Karuan lelaki itu kesenangan, serunya dengan keplok.
"coba sekarang masih bisa bertingkah, ternyata sedikit menggunakan akal, Liok-ya sudah bikin kalian keok seluruhnya, satupun tiada yang tolos, nah, selanjutnya kalian menjadi tawananku."
Sembari bicara dia ulur tangan merogoh kantong bajuJian-li-tok-heng hendak menggagapi kantongnya.
Mendadak angin berkesiur, Hiat-to bisunya tertutuk^ tubuhpun menjadi lemas dan jatuh tersungkur.
Segera Kim-jilay-beng berdiri disampingnya, setelah membuka tutukan IHiat-tonya kontan dia persen dua kali tamparan, lalu membentak.
"Anak kura-kura juga berani main akal-akalan didepan mata kami, tidak kecil ya nyalimu. Siapa yang mendukung nyalimu, lekas terus terang, jiwamu nanti kuampuni."
Karena tamparan dua kali di kiri kanan mukanya, seketika pipinya bengap membiru, giginya juga protol dua buah, rasanya sakit pedas, darah meleleh dimulutnya.
Si gede betul-betul gemas, menyangka orang membandel lekas dia maju sambil angkat kaki menendang "Bluk"
Lengan kanan lelaki setengah umur tertendang keseleo, karuan sakitnya bukan kepalang, lelaki itu menjeiit-jerit seperti babi disembelih.
Kuatir si gede menyiksa mati orang, lekasJian-li-tok-heng mencegahnya, katanya ramah.
"Kami tahu kaupun menjalankan perintah, Maka bicara saja terus terang, kami tidak akan menyakitimu lagi, kenapa kau mau disiksa demi orang lain ?"
Insyaf jiwa sendiri tercengkram ditangan orang, akhirnya orang itu berkata setelah menghela napas.
"Desa ini dinamakan ciok-wi-can, merupakan salah satu markas cabang Ham-ping-kiong dibawah kekuasaan Tang-ling-kiong. Beberapa hari yang lalu waktu rombongan besar kembali, pernah membekuk seorang entah bernama "kiam"
Apa.
Dua hari yang lalu datang juga seorang pemuda, entah bagaimana dia bisa menyelundup ke atas pulau.
Kabarnya semalam markas pusat marah-marah lalu mengutus seorang Tocu kemari untuk memimpin kerja.
Tadi Tongcu kami bercampur diantara orang desa pura-para menonton diluar pintu, beliau tahu kalian kemari untuk mencari pemuda itu, maka aku yang rendah disuruh membius kalian-"
"Berapa jauh letak Tang-ling-kiong dari sini ? Apakah hubungan kesana selalu dengan kapal ?"
"Dari sini ke Giok-hoan-to kira-kira diperlukan tiga jam pelayaran, tapi kapal yang ada di sini semua dibawah kekuasaan markas cabang, siapa yang ingin menyewa kapaljuga harus minta persetujuan dari markas cabang."
Kau memang berterus terang, baiklah kami tidak akan menyakitimu lagi. Tapi sementara kau harus bantu menunjukkan jalan.' Sudah tentu pucat muka lelaki itu, katanya ketakutan.
"Tuan-tuan harap maklum, aku sudah terluka begini, gerak gerikku terlalu payah, umpama kalian membebaskan aku, hidupku selanjutnya juga susah diramalkan-Dari sini terus berlayar ketimur laut, tiga jam kemudian Giok-hoan-to sudah akan tercapai, Tang-ling-kiong juga sudah bisa kelihatan dari kejauhan disiang hari. Mohon kalian sudi mengampuni aku."
Melihat betapa kasihan keadaan orang, kalau tadi sudah bilang tidak akan menyakitinya lagi, terpaksa membebaskannya.
Setelah membereskan bekal apa yang harus di bawa, orang banyak langsung menuju kepinggir muara.
Kebetulan ada sebuah kapai besar berlabuh dimuara.
cohsiang-hwi lh Tiau-hong kelahiran Kang la m, sejak kecil pernah berlatih kepandaian didalam air, mengemudi kapal adalah keahliannya, maka dia tunggu orang banyak sudah naik semua, terus angkat galah mendorong kapal ketengah sungai, kapal berputar arah, sekali dia kerahkan tenaga, galah terbenam kedasar sungai, kapalpun laju kedepan, kebetulan angin menghembus kedepan, maka bila layar dikerek tanpa dikayuh kapal laju sendiri didorong angin.
Lekas sekali kapal sudah keluar muara dan kini tengah berlayar ketengah lautan, coh-siang-hwi Ih Tiau-hlong putar kemudi, kapal menuju ke timur laut.
Syukur cuaca baik, tanpa mendapat rintangan kapal berlayar tiga jam lamanya, tak lama kemudian Gickshoan-to memang sudah kelihatan darijauh, terutama Tang-ling-kiong yang dibangun dipuncakpaling tinggi diataspulau.
Sekarang saatnya air pasang maka ombak menderu besar.
Laju kapalpun menjadi terhambat, untung sudah dekat pulau, yakin kapal tidak akan terbalik dan tenggelam.
cuma semakin dekat pula u, juga semakin berbahaya, karena disekitar sini banyak karang yang tajam, sedikit kurang hati-hati bila kapal menumbuk karang akibatnya juga pasti fatal, apalagi bila tidak hafal keadaan sekitarnya.
maka coh-siang-hwi betul-betul memeras keringat, serta memperlambat lajunya kapal.
Pulau sudah didepan mata, dalam, jarak beberapa menit lagi sudah akan sampai, namun mereka seperti dihukum diatas kapal lebih lama karena laju kapal harus diperlambat kalau mau selamat, karuan Kim-ginhu-hoat menjadi keki dan gemas.
Tengah orang banyak berdiri diatas dek mendongak keatas pulau.
Dari sebuah batu besar diatas pulau, mendadak kumandang sebuah bentakan.
"Kapal pendatang harus berhenti. Setelah diperiksa baru boleh masuk."
Lalu muncullah sebuah sampan kecil panjang manghadang didepan kapal.
Sebetulnya orang banyak tidak mau hiraukan peringatan, tapi perj a la nan terhalang gelagatnya mereka harus pakai kekerasan Maka semua tiada yang bersuara, kapal terus dimajukan pelan-pelan Dalam jarak sekitar satu tombak.
mendadak Kim gin-huhoat melompat bersama, laksana panah mereka menyergap kearah sampan kecil panjang itu, sekali ayun sebelah tangan, dua orang diatas sampan telah dipukulnya terpental jatuh ke air.
Tanpa mengeluarkan suara murid Tang-ling-kiong itu telah tamat riwayatnya.
Sampan kecil itu hanya dibuat batu loncatan oleh Kim-ginhu-hoat, cepat sekali tubuh mereka sudah melambung tinggi lompat keatas batu karang, dengan mengembangkan kelincahan gerak mereka terus menerjang naik keatas pulau.
Jian-li-tok-heng dan coh-siang-hwi berjajar disebelah belakang, merekapun mengembang Ginkang tak mau ketinggalan-Si bocah gede yang ketinggalan diatas kapal sudah tentu gugup setengah mati, mulutnya lantas berkaokkaok.
"Hehe, kalian tunggu."
Dengan nekad diapun meniru melompat keatas sampan, tapi sampan kecil sementara badannya besar berat, sampan itu tidak kuat menahan lompatannya, sampan tenggelam si gedepun tercebur diair, untung dipinggir pantai, kedalaman airjuga hanya sebatas pinggang, tidak sulit si gede maju kedepan lalu memanjat karang, namun dia ketinggalan juga.
Sementara itu kawan-kawannya sudah jauh berada diatas.
Dari samping kanan mendadak melompat keluar lima bayangan orang, berdiri jajar mencegat jalan-Lelaki ditengah berusia lima puluhan, bermuka tikus bermata bebek, wajahnya kelihatan buas dan liar.
Dikanan kirinya berdiri masing-masing dua orang yang berperawakan gemuk kurus tinggi rendah tidak rata.
usia mereka juga rata sekitar empat puluh lima tahun, tampangnya juga jahat dan ganas, memang begitulah wajah asli dari kawanan bajak laut.
Melihat Kim-gin-hu-hoat dan lain-lain menyerbu datang, gerak gerik, mereka tampak gesit dan cekatan, ilmu silatnya tentu tidak lemah, tanpa bersuara terus terjang maju dengan sengit, maka dapat diduga maksud kedatangannya tentu kurang baik .
Lekas dia merogoh kantong lalu disambitkan keudara.
Letusan nyaring bergema diang kas a, maka terdengarlah suitan demi suitan bersahutan semakinjauh, bayangan orangpun tampak bergerak-gerak d ipunca k pegunungan, kekuatan orang-orang Tang-ling-kiong memang cukup mengejutkan-Setiba Kim-gin-hu-hoat berempat didepan, jalur karang rata, lelaki muka tikus segera menyambut dengan tawa sinis, katanya.
"Semua berhenti. Buang dulu senjata kalian serta sebutkan nama kalian, apa maksud kedatanganmu. Tangling-kiong bukan pasar, orang tidak boleh mondar mandir seenak udelnya sendiri."
Melotot mata Kim-ci-tay-beng, katanya tertawa.
"Di Kwihun-ceng, baru saja kalian lari mencawat ekor, di sarang sendiri ternyata sudah membusung dada, memangnya kalian sudah lupa. majulah merasakan sepasang tanganku."
Secepat kilat telapak tangannya yang sudah menguning emas itu menyerang tujuh jurus kearah Hiat-to lawan-Lelaki muka tikus ini sudah keok dan dirugikan oleh Kim-jitay-beng waktu bertempur di Kwi-hun-ceng, maka dia tahu betapa lihaynya Kim-sa-ciang lawan, maka tak berani melawan dia menyingkir lima kaki sambil, melompat.
Tangan terbalik dia keluarkan pipa cangkiong diputar kekikri, dengan deru keras pipanya mengetukJian-kin-hiat dipundak kanan lawan-Kim-ji-tay-beng mengejek hina, sengaja dia sedikit membusung dada, berbareng kaki kanan mengeser kebelakang, pergelangan ditarik pundak direndahkan, disamping menghindari serangan lawan, telapak tangan kiri dig entak.
maka serangkum angin kencang menyerang iga lawan
Jurus ini dilancarkan cepatjuga melanggar kebiasaan.
Pada hal lelaki muka tikus sudah melontarkan serangannya sepenuh tenaga di kala lawan membusung dada, mendadak lawan menggasak dengan pukulan telapak tang a n kebawah iga, baru dia sadar dirinya ketipu, untung dia memiliki Lwekang cukup tangguh, lekas kakinya menutul karang dengan gerakan ikan meletik melawan arus, tubuhnya meluncur turun kesebelah bawah.
di kala luncuran tubuhnya hampir anjlok turun dia bersalto sekali, bila kaki sudah hinggap diatas karang pula, kini dia berada dibela kang orang banyak.
Kebetulan si gede yang sudah naik kedarat saat itu sudah memburu datang, kedatangannya jug a tepat pada saatnya, d id a la m air tadi hatinya sudah jengkel, minum air asin lagi, kini melihat musuh seketika amarahnya berkobar, pentung dirangsak terus mengembang batok kepalanya."
Pada hal lelaki iua itu baru saja hinggap dikarang dan belum berdiri tegak, tahu-tahu pentung baja lawan sudah menyapu datang, saking kaget serasa pecah nyalinya, namun tak lupa dia berusaha menyelamatkan diri, lekas dia menjatuhkan tubuh kesamping terus mengelundung kedepan kaki si gede.
Sekalian pipa cangkiongnya menyapu sepasang kaki orang.
Begitu pentungnya meny amber, tiba-tiba bayangan musuh lenyap "Blang"
Pentungnya menghantam karang.
sehingga batu pecah dan muncrat.
Tengah melongo tiba-tiba pahanya terasa disapu pipa lawan, untung kulit badannya kebal, rasanya cuma pedas dan kesemutan, waktu dia menunduk musuh ternyata menggelinding kedepan kakinya.
Karuan amarahnya semakin menyala, badan berputar ke kanan, Kingthian-pang yang berbuat dari baja itu menyapu turun melintang ke kiri bawah.
celentang ditanah, untuk berkelit jelas sudah terlambat, tapi lelaki maka tikus ini ternyata cukup cerdik disaat pentung hampir mendarat ditubuhnya, sekalian dia menggelundung juga kearah kiri terus menancap kaki dengan gerakan keledai malas berguling di tanah, tubuhnya terus melayang ke air.
Bila pentung baja itu akhirnya betul-betul mengenai pantatnya, tubuh nyapun sudah menggelinding satu tapak lebar, sehingga daya sapuan pentung itu tidak begitu dahsyat, namun demikian tak urung dia mengeluh kesakitan tubuhnya tercebur kedalam air.
Begitu lelaki muka tikus menyelamatkan diri terjun keair, keempat pembantunya pecah nyalinya, tanpa berjanji mereka sudah angkat langkah seribu.
Dua diantaranya kecandak oleh Jian-li-tok-heng dan Gin-jiay-beng satu orang satu membanting mereka diantara karang, keduanya luka parah tak mampu bangun.
Dua orang lagi bergerak lebih cepat, mereka menyelinap di tikungan karang, bila di susul ke sana ternyata telah lenyap entah ke mana..
Untuk mengejar waktu, maka jago-jago Hong-lui-bun ini tidak berusaha mengudak musuh, mereka terus manjat undakan batu yang berliku-liku keatas gunung dengan ginkang yang tinggi.
sekilas si gede melongok kebawah laut, pada hal si muka tikus menyelam didalam air, melihat orang tidak muncul di permukaan air, dia kira orang sudah mampus, lekas panggul pentung baja terus menyusul pula dibela kang orang banyak.
Sepanjang undakan batu yang berterap dan bersusun dengan beberapa pos penjagaan ini memang dijaga ketat, apalagi sebelumnya mereka sudah melihat tanda ledakan diudara, maka sudah siap menyambut serbuan mereka.
Sayang mereka hanyalah jago jago kelas dua, bila orangorang Hong-lui-bun menyerbu tiba, dalam sekejap mereka sudah dibikin kucar kacir, kalau tidak mati atau luka parah, tapi ada juga yang sempat melarikan diri.
Waktu mereka tiba dldepan hutan, terdengar bunyi kentong ditabuh sekali, maka terjadilah hujan panah selebat hujanorang banyak memiliki ginkang tinggi dan merata, dengan putar kencang senjata atau mengobat-abitkan lengan baju, anak panah semua dipukul jatuh.
Kuatir dirinya ketinggalan lagi, si gede segera putar kencang pentungnya terus menerjang kearah barisan pemanah.
Pada hal hujan panah makin deras dan banyak, namun Lwekang Kim-gin-hu-hoat berempat cukup tinggi.
hujan panah berhasil disapujatuh, namun maju mereka terhambat, apalagi bidikan panah musuh terasa semakin kencang dan lihay, maka mereka berhenti, namun kedua tangan sibuk mematahkan serangan musuh.
Jian-li-tok-heng insyaf pihaknya dipihak terang musuh dipihak gelap.
kalau mereka menjadi sasaran bidikan panah mus uh, jelas tidak menguntungkan, salah-salah sedikit lena pihak mereka b akal jatuh korban-Syukurlah dalam sibuknya itu masih sempat Jian-li-tok-heng mencari akal, lekas dia berpaling memberi tanda kepada Kimgin-hu-hoat dan ih Tiau-hlong, dia suruh mereka berpencar.
Begitu mereka berpencar, maka bidikan panah barisan tidak dapat dipusatkan pada satu sasaran, dengan sendiri tekananpun berkurang, maka mereka berempat mengembangkan Ginkang masing-masing, setiap ada kesempatan terus mendesak maju.
Kini jarak mereka dengan barisan pemanah tinggal belasan tombak, Kim-gin-hu-hoat saling memberi tanda ulapan tangan, mendadak kedua orang bersiul panjang, tubuh mereka menjulang keudara, mengembangkan Ginkang tunggal mereka Eng-sian-kiu-coan (elang berputar sembilan lingkar), tubuhnya tegak lurus, kedua tangan terkembang laksana dua burung elang yang pentang sayap dan berputar di udara.
Para pemanah itu sembunyi dalam hutan, pandangan mereka hanya terarah pada ketinggian setombak lebih dari tanah, maka bidikan mereka tidak terarah keudara yang lebih tinggi, kini kedua orang ini melambung tinggi lima tombak.
jadi lenyap dari pandangan, hakikatnya lenyap dari sasaran, maka bidikan mereka tetap diarahkan yang masih berada dibawah.
Cepat sekali Kim-gin-hu-hoat sudah berputar tiga lingkar, jarak dari pohon tinggal satu tombak lagi, di tengah udara mereka menekuk pinggang, gerakan seindah perenang yang memperagakan loncatannya dari papan loncatan, begitu kaki memancal, tubuhnya seketika melesat kencang kedepan, dengan enteng mereka sudah menerobos masuk kedalam hutan, sedikit menutul dipucukpohon, tubuh mereka tidak berhenti terus anjlok ketengah para pemanah.
Para pemanah sedang sibuk pasang panah tarik busur membidikkan panah.
mereka penuh perhatian kearah depan, mimpi tidak pernah duga bahwa musuh tahu-tahu menubruk dari udara, begitu Kim-gin-hu-hoat terjun ditengah mereka, karuan terjadi jerit tangis, barisanpanah kalang kabut.
Kedua orang Hong -lui-bun ini menyerbu bagai banteng ketaton, serangan mereka tidak kenal ampun lagi, tampak di mana telapak emas dan perak mereka bergerak.
korbanpun berjatuhan meregang jiwa.
Dalam sekejap sepertiga para pemanah telah disikat roboh, sisanya yang masih hidup membuang busur dan panah terus ngacir kedalam hutan, bubar seperti kera yang ketakutan karena pohon tumbang.
Begitu hujan panah berhenti, lekas sekaliJian-li-tok-heng bertiga ikut menyerbu ke dalam hutan-Si gede berada dipaling belakang sambil menyeret pentungnya.
Kambrat-kambrat Tan-liong-kiong sudah lenyap tak kelihatan bayangannya, maka mereka dapat maju lebih leluasa, namun belumjauh mereka maju, terdengar sebuah suara serak kasar seperti bunyi gembreng berkata.
"orangorang Hong-lui-b un j angan terlalu takabur, kalau tahu diri, lekas buang senjata dan menyerah, kami akan mohon belas kasihan Kiongcu untuk mengampuni jiwa kalian, berani, maju selangkah lagi, dalam hutan inilah kalian akan terkubur dengan badan hancur."
Lalu dia memberi aba-aba.
'Tembak.' 'Dar.' letusan keras memekak telinga, maka terdengarlah suara mendesing menembus hutan mematahkan dahan dan merontokkan dadaonan-Di susul dari kiri kanan beruntun terdengar letusan pula dalam suara yang tetap keras, kekuatan daya tembak senjata musuh memang cukup dahsyat.
Jian-li-tok-heng mendengarkan suara membedakan benda, hatinya merasa aneh, maka dia melompat keatas pohon besar, dari rimbunnya pohon dia sembunyi dan mengintip kedepan, seketika keringat dingin membasahi tengkuknya.
Lekas dia melompat turun dan berkata kepada Kim-gin-hu-hoat.
'Kawanan tikus bertindak keji, entah dari mana mereka memperoleh senjata api, kalian harus lebih berhati-hati, kita harus cari daya untuk merampas atau paling tidak merusak senjata api itu,jangan dilawan secara gegabah dan berkorban sia-sia.' Berempat menepekur mencari akal, namun senjata api memang terlalu keras daya tembaknya, daging manusia biasa takkan mampu menahannya, hingga lama mereka tak berhasil menemukan jawaban.
Pada hal suara letusan senjata api semakin dekat, ternyata para pemanah tadi menggeremet maju pula kedalam hutan sambil membawa senjata api.
Untunglah letupan senjata api dari tiga arah itu hanya sekali-sekali.
ini membuktikan bahwa lawan hanya memiliki tiga batang senjata api.
Apalagi untuk mengisi peluru mereka harus berhenti cukup lama.
Sejak mula Jian-li-tok-heng sudah perhatikan, lawan sudah menembakkan kira-kira tujuh peluru, setelah menembak harus berhenti cukup lama baru menembak lagi, dia tahu senjata api itu harus selalu dibersihkan mesiunya dan ditiup keluar asapnya lalu disogok lagi baru bisa diisi peluru serta ditembakkan lagi, jadi setiap ganti peluru harus makan waktu beberapa menit, maka Kim -gin-hu-hoat berembuk.
mumpung musuh berhenti menembak itulah mereka akan menerjang keluar hutan Tapi coh-siang-hwi lh Tiau-hlong memang lebih Carmat, katanya.
"Kurasa lebih dulu dua orang menerjang keluar, menyerbu kearah rombongan penembak itu, bila waktu mendesak dan tidak sempat lagi, untuk mundur kurasa juga masih sempat"
Kim-gin-hu-hoat menerima usulnya, secara diam-diam mereka terus menyelinap kearah datangnya letusan, sembunyi ditempat yang tidak terjangkau oleh tembakan, bagitu letusan berbunyi segera melompat keluar.
Ginkang mereka kerahkan sekuat tenaga, dalam sekejap puluhan tombak mereka capai, berapa kali lompatan lagi mereka sudah akan mencapai rombongan penembak musuh.
Disaat mereka kegirangan dalam itulah, mendadak mereka seperti dihadang oleh gumpalan angin kencang yang kokoh hingga luncuran tubuh mereka terhalang.
Begitu mereka anjlok turun angkat kepala, tampak Tangling-sin-kun, Tay-bok-it-siu dan belasan orang menghadang didepan-Wajah Tang-ling-sin-kun kelihatan mengulum senyum sinis, katanya sesumbar.
"Para Hu-hoat yang terhormat. Masih mau masuk kedalam ? Biar kuberitahu kepada kalian, bocah she Liok itu sudah terperangkap di Thay-im-lou, untuk meloloskan diri hanya dalam mimpi belaka, sekarang biar Lohu beramai sekalian tangkap kamu berdua lebih dulu."
Sudah tentu Kim-gin-hu-hoat kaget, namun lahir mereka tetap wajar, mereka tahu Liok ciangbun bukan orang yang pendek umur, meski terperangkap dalam Thay-im-loo, meski kaget den sedikit Cidra, yakinjiwanya tidak akan berbahaya, betapapun harus terjang masuk meniliknya didalam.
Setelah mereka mengambil tekad, perasaanpun menjadi tenang.
Bentak Kim -gin-hu-hoat.
"iblis laknat, jangan membual, hari ini Lohu beramai akan menyapu habis kalian kawanan tikus busuk ini, Tang-ling-kiong akan kami bumi hanguskan-coba kalian tikus-tikus busuk ini akan lari dan sembunyi di mana."
Tanpa menunggu reaksi Tang-ling-lo-koay, kedua telapak tangannya bergerak menyerang dengan Kim-sa-ciang.
Lekas Tang-ling-lo-koay memusatkan, pikiran mengembangkan kelincahan tubuhnya, tubuhnya tampak lincah dan gesit menyelinap pergi datang diantara samberan telapak emas lautan, sering pula balas menyerang dengan Hek-sat-ciang yang mematikan-Melihat saudara tuanya sudah turun tangan, maka Gin-jiaybeng tidak mau ketinggalan, begitu kedua tangan bergerak.
laksana lembayung perak tubuh mencelat maju terjun ketengah arena.
Tanpa bicara segera Tay-bokit-siu memapak maju menyambut pukulannya, kedua orang inipun bertarung dengan sengit.
Pada jaman itu bedil sudah merupakan senjata api yang lihay, tapi didepan mereka orang pihak sendiri sedang melabrak musuh, maka seranganpun dihentikan-Dalam beberapa kejap kemudian Jian-litok-heng, bertiga juga tidak mengabaikan kesempatan, bersama Ih Tiau-hung dan si gede Siang Wi lekas mereka memburu maju.
Kim ji-tay-beng perang tanding melawan Tang -ling-sin-kun kedua lawan menggunakan gerakan cepat dan serangan kilat, maka bayangan mereka berkelebat cepat seperti dua naga yang berkutet secara rapat, bagi mereka yang berpandangan biasa, hakikatnya susah mengikuti apa lagi membedakan gerakan dan bayangannya.
Gin-ji-tay-beng menghadapi permainan Loh-sing-ciang-hoat Tay-bok-it-siu, keduanya sama-sama ahli bertempur saling terkam dan lompat ketengah udara, ditengah udara mereka sering adu kekuatan pula.
Bertarung ditengah udara dengan lompatan kuat dan pukulan dahsyat sudah tentu terlalu menguras tenaga, setelah puluhan jurus saling pukul, wajah mereka sudah mulai terkering at, napas juga menderu berat.
Begitu tiba ditengah gelanggang Jan-li-tok-heng terus menyerbu dengan serangan kilat.
Demikian pula si gede khusus menyerbu kearah orang banyak.
pentungnya dlobatabitkan sekencang baling-baling pesawat udara.
Ternyata orang-orang Tang-ling-kiong juga menyerbu maju memapak kedatangan mereka.
Maka ramailah pertempuran yang acak-acakan ini.
Menghadapi Tang-ling-sin-kun, Kim-jitay-beng sudah merasa payah, kini lawan dibantu tiga jago kosenpula, untuk membela diri sudah kerepotan, apalagi balas menyerang, untung dia cukup berpengalaman di medan laga.
Ginkangnya juga tinggi, dalam waktu singkat mungkin masih kuat bertahan.
Memangnya napas sudah menderu-deru seperti truk penuh muatan, keadaan Giniji-tay-beng juga tidak lebih baik dari saudara tuanya, apalagi dia dihimpit dari depan dan belakang, sehingga menjadi bulan-bulanan musuh, walau melawan dengan nekad tapijuga sudah mandi keringat.
LwekangJian-li-tok-heng juga cukup tinggi, tapi lawannya ada empat, semuanya jago-jago Tang-ling-kiong, begitu tiba dia sudah diserbu lebih dulu, maka keadaannya juga menjadi repot.
Coh-Siang hwi melawan tiga musuh, keadaannya jauh lebih terdesak lagi, kepandaiannya paling rendah diantara tiga rekannya kecuali si gede, masih untung Ginkangnya memang setaraf cuma Lwekangnya yang lebih rendah, dengan kelincahan tubuhnya dia masih mampu bikin ketiga lawannya saling tumbuk dan tubruk.
Pentung Siang Wi memang panjang dan berat, disapukan bagai angin badai, namun menghadapi jago kosen, betapapun lihay permainan tongkatnya juga tidak berguna, untung badannya kebal, meski mengalami beberapa kali benturan dan pukulan tidak kurang suatu apa.
Disaat pertempuran hampir mencapai babak terakhir, suara pertarungan yang gegap gempita disebelah depan mendadak sirap.
bayangan orang muncul seperti diterjang ombak, lalu terdengar suara gedebukan, kejap lain bayangan orang mencelat terbang disertai lolong panjang yang mengerikan-Kim-gin hu-hoat sedang bertahan mati-matian, mendengar jeritan-jeritan sekilas mereka melirik kesana, mata mereka amat tajam, meski hanya sekilas pandang, tapi mereka sudah melihat Liok Kiam-ping dibuntuti It-cu-kiam Koan Yong sedang menerjang keluar dari istana dalam.
Musuh yang merintangi disikatnya tanpa ampun.
Ternyata setiba dibawah Thay-im lou, Kiam-ping bersama Koan Yong sudah tidakjauh lagi dari telaga, disaat mereka mencari perahu atau jalan lain untuk menyeberang, mendadak mendengar suara letusan-letusan keras dari luar istana, samar-samar terdengar pula pertempuran ramai.
Mereka menduga bala bantuan Hong-lui-bun juga sudah menyerbu tiba, atau musuh Tang-ling-sin-kun dari kelompok lain tengah membuat perhitungan dengan pihak Tang-ling-kiong, apapun yantg terjadi, kesempatan baik pula bagi pihaknya untuk menerjang keluar.
Namun menghadapi permukaan air seluas ini, mau tidak mau dia berdiri bingung, dirinya bisa menyeberang dengan cara datangnya tadi.
namun It-cu-kiam Koan Yong jelas tidak bisa melakukan apa yang pernah dilaksanakannya tadi.
Dengan gelisah dia mondar mandir dibawah loteng, periksa sana meneliti sini, dengan harapan dapat menemukan kunci alat-alat rahasia, supaya dengan bebas mereka bisa menyeberang serta memberi bantuan teman-teman yang lagi berantam di luar.
It-cu-kiam Koan Yong juga merasakan di atas permukaan air telaga, dirinya jelas tidak mampu melesat terbang dipermukaan dalam jarak sejauh ini, namun pikirannya lebhih cermat, akhirnya berhasil dia memperoleh akal.
Maka katanya kepada Liok Kiamping.
"Kulihat kacung cilik tadi hanya memiliki Kepandaian kembangan belaka, tidak bisa Ginkang lagi, tapi dia bisa berada disini., pasti ada jalan rahasia lain untuk sebrang menyebrangi telaga, maka dapat dipastikan kunci alat rahasianya pasti berada diatas loteng, dijaga dan dikendalikan oleh seorang petugas pula. Bagaimana kalau kita periksa kedalam "
Seketika Liok Kiam-ping sadar, usul It-cu-kiam memang masuk akal tidak rugi untuk dicoba, maka sambil mang gut segera dia mendahului masuk pula kedalam loteng, mereka berpencar kekanan dan kiri mengetuk dinding, memeriksa setiap sudut dan kaki tembok, bila perlu ditusuk dan diungkit dengan ujung pedang lagi.
Begitu mendengar ketukan menyebabkan suara mendengung, dinding segera dibongkar dan papan lantaipun disingkap.
Usaha mereka ternyata tidak sia-sia, akhirnya ditemukan kamar bawah tanah, namun kosong melompong tidak dihuni orang.
Waktu mereka maju terus dan membongkar kaki dinding d iba g ia n tengah mendadak terdengar suara mencurigakan, bayangan orang tampak berkelebat terus lenyap dari pandangan-Liok Kiam-ping tahu tanpa sengaja mereka sudah menemukan orang yang bertugas mengendalikan alat rahasia diseluruh Tang -ling-kiong, baru saja dia hendak lompat kebawah, mendadak didengarnya derap orang berlari naik keatas tangga, bayangan orang melesat keluar terus lari kearah danau.
Sementara itu ikatan bambu panjang yang semula tersebar dan tenggelam itu kini sudah merapat dan sambung
menyambung dipermukaan air, orang itu tampak berlari sipat kuping kearah sebrang diatas bambu bambu terapung, dalam sekejap.
Separo jarak permukuan danau telah dicapainya, jelas orang inipun memiliki kepandaiaan yang lumayan, sekejap lagi dirinya bakal mencapai Sebrang.
"Lekas kejar "seru Liok Kiam-ping, lalu mendahului bergerak. tubuhnya melesat terbang keudara, lenyap suaranya, orang nyapun sudah menutul bambu terapung terus memburu orang didepan itu. Gerakan Kiamping laksana meteor mengejar rembulan, hanya beberapa kali lompatan dia sudah menyandak orang didepan itu, setelah jarak dekat lekas dia tepukkan telapak tangannya kedepan Orang didepan itu sedang mengenjot langkah sekuat tenaga, seperti para pelari yang hampir mencapai finis, sebrang sudah didepan mata, sungguh tak pernah terpikir olehnya bahwa musuh dibela kang dapat mengudak secepat kilat, baru saja dia kerahkan tenaga ditelapak kaki untuk melompat keseb erang serta menurunkan alat rahasia, sehingga bambu terapung berpencar dan kembali ke tempat semula. Tahu-tahu segulung tenaga pukulan dahsyat sudah menindih punggungnya. Kontan dia mengerang tertahan, tubuhnya memang melompat tiga tombak jauhnya, tapi "Biang"
Ambruk ditanah untuk tidak bangun lagi, jelas jiwanya tidak tertolong lagi.
Cepat sekali Liok Kiam-ping sudah hinggap diseberang, kejap lain lt-cu-kiam Koan Yong juga sudah menyusul tiba.
Baca Juga: Legenda Bunga Persik 1
Baca Juga: Manusia Yang Bisa Menghilang 1