Ceritasilat Novel Online

Hong Lui Bun 7

Eps 7 Hong Lui Bun - Khu Lung

Baca online Hong Lui Bun - Khu Lung

Cersil Hong Lui Bun - Khu Lung.

Legalah hati mereka.

Dari tempat tinggi mereka terus menerjang turun kebawah, dengan kencang mereka menerjang kearah datangnya pertempuran-Setelah melompati pagar tembok Liok Kiam-ping dan It-cukiam melihat Tang-ling-sin-kun bersama begundalnya sedang mengeroyok Kim-gin-hu-hoat berlima, karuan memuncak amarah mereka.

Keadaan coh-siang-hwi ih Thian-hiong saat itu paling kritis, dengan ginkang tinggi, dia harus berkelit kian kemari dari sergapan para lawamnya, namun karena terkepung rapat itu dia sudah terdesak mundur kebawah tembok jalan mundur sudah tiada, maka gerak geriknya makin terbatas, mendadak segulung tenaga menindih badan, jelas jiwanya takkan tertolong lagi.

Untung kedatangan Liok Kiam-ping sedetik lebih cepat, kedua tangannya menggempur dengan lekuatan gugur gunung, menukik dari tengah udara, belum tiba orangnya, tenaga pukulan sudah melanda.

Dua kekuatan dahsyat beradu.Jago Tang-ling-kiong yang menggempur dengan sekuat tenapa itu jelas bukan tandingan Liok Kiam-ping, apalagi kedudukannya disebelah bawah, maka akibat yang dideritanyapun lebih mengenaskan pula.

Begitu pukulan menindih hingga dadasesakdiatahu elmaut tengah mengancam jiwa, sebisanya dia menjatuhkan tubuh kebelakang, tapi sudah terlambat.

"Blang", kedua lengannya patah, dadapun seperti ditumbuk benda berat ribuan kati, darah menyembur dari mulutnya, orangnyapun terbanting gepeng tak bergerak ditanah. Gempuran Liok Kiam-ping makin mengobarkan amarahnya, musuh yang kebentur ditangannya tiada yang diberi ampun, sedikit menutul sebat sekali, dia sudah melabrak kearah Tangling-sin-kun, musuh yang merintangi dibabat dan diterjangnya kocar kacir. Sambil menghardik kedua tangannya menggempur terpencar kearah Tang-ling-sin-kun dan dua jago yang membantunya. Lwekang kedua orang yang membantu Tang-ling-sin-kun, setingkat lebih rendah di banding jago yang tertindih gepeng oleh pukulan Liok Kiam-ping, namun sekuatnya mereka mempertahankan diri, namun sebelum mereka sempat bersuara pukulan Kiam-ping sudah bikin mereka terpental jauh jatuh ditengah gerombolan anak buahnya. Coh-siang-hwi sendiri juga tersibak mundur membentur dinding oleh s ambera n tenaga kuat. Begitu melihat yang menolong dirinya adalah Liok Kiam-ping, entah dari mana datangnya tenaga dan semangatnya, sambil angkat pedang lekas dia lari balik kearah gerombolan Tang-link-kiong yang sedang mengeroyok Kim-ji-tay-beng, seorang jago memapak dirinya. kedua orang seimbang bertempur dengan seru. It-cu-kiam Koan Yong juga menerjang kearahJian-li-tokheng yang dikeroyok musuh, dengan kekuatan mereka berdua, keroyokan musuh berhasil dibendung. Liok Kiam-ping memekik panjang dan keras, nadanya tinggi melengking menemtbus mega, genderang telinga serasa pecah, sebelum gema suaranya lenyap. tubuhnya sudah terapung di udara, kedua kaki menendang dan mendepak. sementara tangan kanan menjotos, telapak tangan kiri membabat, empat lawan sekaligus diserangnya jumpalitan tak bangun lagi, kejap lain dia sudah berada di samping Gin-ji-taybeng. Begitu mendengar pekik suara Liok Kiam-ping, Tang-lingsin-kun dan gembong-gembong iblis lainnya tertegun, setelah melihat bayangan Liok Kiam-ping baru mereka betul-betul terpukul lahir batin, semua mereka-reka dalam hati.

"orang ini manusia biasa atau malaikat dewata ? Thay-im-lo kokoh kuat berdinding baja berlantai besi, manusia baja juga jangan harap dapat membobol ke luar, apalagi dia harus menolong seorang ?"

Di saat lawan melengak itulah Gin-jitay-beng memperoleh kesempatan ganti napas, namun masih tersengal-sengal.

Amarah Liok Kiam-ping benar-benar memuncak.

musuh besar didepan mata, bola matanya menyala gusar, kedua tangannya menari, tenagapun dikerahkan.

"Biang, Blang"

Dua jiwa orang telah digasaknya pula.

Umpama burung yang sudah ketakutan melihat bidikan panah, demikian pula nyali Tay-bok-it-siu sudah pecah, kini melihat Liok Kiam-ping menyerbu dengan serangan dahsyat, gempuran tenaganya mampu merobohkan gugusan gunung, mana berani dia melawan-lekas dia kembangkan kelincahan tubuhnya, dalam hati dia sudah mengatur rencana melarikan diri.

Walau kulit badan kebal tidak mempan senjata, tapi musuh yang mengepung Siang wi semua adalah jago-jago silat, sasaran yang diincar diatas tubuhnya juga tempat-tempat yang lemah, mau tidak mau dia harus berlaku lebih hati-hati dan selalu harus menyelamatkan titik kelemahannya.

Saat itu dia sedang mengembangkan Na-kang-cap-pebak dan sudah hampir habis, lawan masih belum berhasil dirobohkan, seketika dia teringat tempo hari betapa leluasa dia menyikat musuh yang bergerombolan dengan teriakan yang gegap gumpita.

Ya.

kenapa tidak aku menerjang kerombengan besar musuh daripada terkepung disini.

Segera dia robah permainan tongkatnya, kini dia ganti menggunakan permainan Liu-hunhwi-bu, ilmu pentung mega mengalir kabut terbang, tampak ditengah putaran pentungnya yang kencang, laksana mega mengambang seperti air mengalir saja dia menerjang kelingkaran luar.

Jago-jago Tang-ling-kiong itu tidak menduga akan perobahan permainan pentungnya, begitu si gede menerjang keluar, mereka juga belum siaga, demi menyelamatkan jiwa terpaksa mereka melompat menyingkir, kepungan keb a cut jebol maka sigedesudah menerjang ketengah gerombolan orang banyak.

orang-orang Tang-ling-kiong berteriak-teriak^ senjata menyerang s era buta n, namun karena jumlah musuh terlalu banyak, berdesakan lagi, satu sama lain malah saling tumbuk dan terhalang, sehingga senjata susah digerakkancara tempur si gede, yang mengincar bagian lemah musuh memang bermanfaat, pihak Tang-ling-kiong memang dlobrak abrik kalang kabut, tidak sedikit yang pecah nyalinya dan arus manusiapun berpencar dan bergerak makinjauh.

Melihat musuh dipukul mundur ketakutan, si gede kegirangan, terlak nya.

"Nah, kalian takut sekarang. Haha, sungguh menyenangkan-' kembali dia putar pentungnya terus mengejar seperti menggiring kambing. Melihat Liok Kiam-ping terjun kearena pertempuran, lolos dari segala upaya, yang menjebaknya, maka Ta ng-ling-s inkun sudah tahu bahwa hari ini pihaknya pasti akan mengalami kekalahan total, keadaan yang sudah fatal begini, kalau dirinya tidak melancarkan ilmu tunggal simpanan, untuk melaloskan diri nanti pasti sukar. Beruntun dia cecar Gln-j^aybeng enam pukulan hingga lawan terdesak tiga langkah. Tubuhnya sedikit membungkuk kedepan, kedua telapak tangan didorong lurus sebatas dada, hawa murni dipusar dikerahkan pula, telapak tangannya yang putih mulai bersemu hijau, dari hijau berobah pula menjadi hitam. Seperti sepasang cakar, uap hitam merembes keluar, begitu pengerahan tenaganya mencukupi dibarengi bentakan dia memukul kearah Gin-ji-tay-beng dan coh-siang-hwi Ih Tiau-hiong. Gin-ji-tay beng terdesak mundur, baru saja dia siapkan tenaga hendak balas menggempur, mendadak dilihatnya telapak tangan lawan berobah hitam mengeluarkan asap gelap. maka dia tahu lawan sudah mengerahkan ilmu Hekssatelang, asap hitam itu mengandung racun jahat, manusia sukar tertolong bila menghisap asap racun itu. Tempo hari Gin-jitay-beng sudah merasakan sendiri betapa lihaynya pukulan beracun musuh. Lekas dia berteriak.

"Itulah Hekssat-ciang, lekas menyingkir,"

Lalu dia mendahului melompat keatas dengan gerakan Peksho-ciong-thian, syukur serangan luput tidak mengenai dirinya.

Coh-siang-hwi Ih Tiau-hiong kaget mendengar peringatan kawannya, lekas dia menerjang keping gir, tapi sudah terlambat, hidungnya telah menghirup sedikit asap hitam itu, seketika tububnya lunglai dan terperosokjatuh.

Tatkala itu kebetulan Kiam-ping memukul mundur Tay-bokit-siu, semestinya dia sudah siap menambahi sekali pukulan lagi, namun mendadak dilihatnya Ih Tiau-hiong roboh keracunan, lekas dia kerahkan Kim-kong-put-hoay-sin-kang, tubuhnya mencelat mumbul bersalto ke belakang.

Menolong jiwa orang lebih penting, lekas dia keluarkan Soat-lian dijejalkan kemulut Ih Tiau-hiong serta berpesan supaya dia bersamadi mengerahkan hawa murni membantu khasiat Soatlian menawarkan racun-Setelah berdiri dia membalik terus menyerang sejurus kearah Tang-ling-sin-kun-Amarahnya benar-benar sudah memuncak.

nafsunya sudah ketagihan merenggut jiwa orang, maka pukulannya ini dilandasi kekuatan yang hebat, walau pundak kanannya terluka oleh Kim-kong-ci dan belum sembuh, namun pukulan dengan sepenuh tenaga ini ternyata bukan olah-olah dahsyatnya.

Beberapa kali pernah mengalami kekalahan dibawah pukulan orang, maka kali ini Tang-ling-sin-kun betul-betul sudah jeri, Hekssat-ciang juga tidak berguna terhadap lawan, gempuran sedahsyat ini, lekas dia melompat lima kaki kepinggir, begitu gempuran dahsyat lawan menyerempet dipinggir tubuhnya, tenaga yang dipersiapkan kontan dilontarkan membalas dengan gempuran hebat.

"Blum"

Dentuman keras, tanah selebar satu tombak melesak amblas seperti ditindih batu segede gajah sedalam satu kaki.

Pukulan balasan Tang-ling-sin-kun sirna tanpa bekas, seperti tiupan angin dari mulut melawan hembusan angin lalu.

Tang-ling-sin-kun sudah kerahkansetakertenaga dan segala kemampuannya, sekuat tenaga dia berkelit baru terhindar dari rangsakan lawan, namun balas menyerang sudah tidak mampu lagi.

Celaka adalah anak buah Tang^ling-sinkun, tidak sedikit yang menjadi korban oleh tenaga pukulan Liok Kiam-ping yang nyasar, satu persatu korban bergelimpangan, yang terluka parah juga merintih-rintih menyedihkan-Melihat It-cu-kiam Koan Yong selamat dan sekarang mendampingi dirinya, bukan kepalang senangJian-li-tok-heng, semangat tempurnya menyala lagi, diantara s a mb era n telapak tangan, seorang musuh kena digenjotnya terjungkal, keadaan ini seimbang.

lt-cu-hwi-kiam yang dilancarkan Koan Yong juga bergulunggulung, sedemikian ketat serangan pedangnya sehingga musuh kerepotan menangkis.

Kerja sama dengan serangan kilat telapak tanganJian-li-tok-heng lagi, sungguh pertahanan mereka sekokoh baja, serangan juga deras.

Empat jago Tang-ling-kiong lawan mereka berbalik kedesak kerepotan, mereka terus menyurut mundur sambil berpencar, pikirnya hendak merobah posisi dan menggunakan perlawanan cara lain-"Aduh,"

Mendadak seorang jago Tag-ling-kiong menjerit roboh, ternyata telapak tangan Jian-li-tok-heng telah mendarat di Ling-tai-hiat ditengkuknya.

"Bluk "

Tubuhnya terlempar setombakjauhnya, jiwa melayang seketika. Seorang jago Tang-ling-kiong yang lain merinding dan panik oleh jeritan temannya, sekilas tertegun, pedang It-cukiam sudah menabas tiba.

"cret"

Pundak kiri bagian belakang tergores luka panjang satu kaki, darah seketika mengucur deras, saking kesakitan lekas berlari pergi.

Melihat keempat lawannya kini mati satu terluka satu, kemenangan jelas berada di pihaknya maka It-cu-kiam Koan Yong tidak tega, serunya dengan tekanan berat.

"Sahabat, lekas tinggalkan arena pertempuran yang tidak kenal kasihan ini, masing-masing tidak bermusuhan, kamijuga tidak ingin membunuh. Lekas kalian pergi saja.' It-cu-kiam Koan Yong memang berpikir bajik, tapi tak pernah terpikir olehnya bahwa anak buah Tang-ling-kiong terkenal buas dan culas, biasanya bertangan gapah, apalagi peraturan amat keras, sementara Tang-ling-sin-kun sendiri masih hadir dan melawan musuh, mana berani mereka melarikan diri, apalagi pertempuran masih begini kacau, siapa menang dan mana bakal kalah masih sukar diramalkan-Kedua orang itu segera menyeringai, katanya.

"Anak murid Tang ling-kiong tiada yang penakut, j angan kira kalian pasti menang."

Tanpa menunggu reaksi It-cu-kiam, mumpung lawan tidak menduga, mereka maju bersama melabrak dengan pedang ditanga n-Tujuan Jian-li-tok-heng berdua adalah setelah lawan terdesak kewalahan, pihaknya memberi kelonggaran supaya musuh tahu diri dan mundur teratur, siapa duga maksud baik mereka justru d is a la h artikan oleh lawan, sifat buas mereka justru makin membara, serangan bukan lagi gencar tapi, juga ganas dan kotor, main bokong dan sergap pula.

Jian-li-tok-heng gelak-gelak saking marah, serunya.

"Sebelum melihat peti mati kalian memang belum kapok, baiklah, Lohu berdua sempurnakan keinginan kalian.' serangan dipergencar dengan tenaga dahsyat, tipu-tipu lihay dilontarkan, kedua lawan dan anak buahnya yang mengepung arena didesaknya mundur pula hingga tak mampu balas menyerang. Namun kedua jago Tang-ling-kiong masih terus bertahan dengan bandel, mereka ingin bertempur sampai titik darah penghabisan, bila perlu biar gugur bersama, lama kelamaan terbakar amarah It-cu-kiam, apalagi mengingat mereka masih berada di sarang musuh, selain ditawan musuh dirinya juga tersiksa dan banyak menderita. Maka dengan sengit segera dia putar pedang ikut menggempur. Melihat Liok Kiam-ping meluruk kearah Tang-ling-sin-kun, sudah tentu dalam hati Tay-bok-it-siu bersorak girang, kini s a at paling baik untuk menyelamatkan diri, lekas dia gempur Gin-jitay-beng tiga kali pukulan. bila lawan terdesak mundur, mendadak dia kembangkan Ginkang meluncur ketanah miring diluar sana. Gin-jitay-beng memang terdesak mundur oleh gempuran musuh yang mendadak. baru saja dia menubruk balik, lawan sudah ngacir lebih dulu, terpaksa dia awasi musuh pergi dengan mendelong, saking dongkol dia membanting kaki. Rasa penasarannya segera dia tujukan kepada anak buah Tang-ling-kiong dan jago-jagonya, tubuhnya melompat tinggi mengembangkan Glngkang Eng-sian-kiu-coan ditengah udara dia menukik naik turun dengan pukulan sepasang telapak tangannya ke arah orang banyak. Tampak cahaya perak laksana kilat menggempur kebawah, begitu tubuhnya melorot turun kebetulan gempuran tenaganya menyanggah tubuhnya sehingga tertolak ke udara pula, sungguh mirip elang yang menerkam kelinci, musuh sebanyak itu saling berdesakan lagi, tidak sedikit yang menjadi korban pukulan peraknya. Disamping puluhan korban yang berkepandaian biasa ada dua jago Tang ling-kiong yang mampus jug a. Demikian pula Kim-ji tay-beng bertindak seperti adiknya, Tang-ling-sin-kun sudah ditandingi Llon Kiam-ping dirinya tidak perlu membantu ciangbunjin, maka kini dia bergerak lebih bebas, jago-jago Tang-ling-kiong dilabraknya seperti banteng ketaton. Di mana cahaya emas berkelebat, dua orang menjerit roboh dengan kepala pecah. Si gede masih terus mainkan tongkatnya melawan serbuan anak buah Tang-ling-kiong yang tidak kenal takut sama sekali, pada hal setiap pentung si gede mendarat ditubuh mereka kalau tidak kepala pecah, tulang patah, pasti perut kesodok bolong, lama kelamaan orang-orang Tang-ling-kiong hanya berputar-putar dan lari kian kemari tetap mengepungnya, akhirnya sigede dikeroyok pula oleh jago-jago yang berkepandaian lebih tinggi. Setelah keracunan keadaan coh-siang-hwi ih Tiau-hong diantara sadar tak sadar setelah menelan Soat-lian, semangatnya sudah jauh lebih baik, Soat-lian memang obat mujarab peranti pemunah racun, tapi Hekssat-ciang memang teramat ganas, meski hawa racun sudah didesak keluar, tapi tenaga dan Lwekangnya belum pulih, maka dia tetap bersimpuh ditanah. Melihat ih Tiau-hiong duduk ditanah menyembuhkan lukaluka, seorang jago Tang-ling-kiong anggap ada kesempatan, mendadak dia menerobos maju terus melompat kebelakang coh-siang-hwi ih Tiau-hiong, pedang terangkat hendak menusuk. Disebelah sana Jian-li-tok-heng berhasil menewaskan seorang jago, kebetulan ujung matanya menangkap ancaman bahaya yang mengancam jiwa ih Tiau h long, karuan rasa kagetnya tercetus dari bentakannya yang menggelegar, menyusul ke sana jelas sudah terlambat, kontan dia sambitkah biji teratai besi, yang diincar adalah urat nadi dipergelangan tangan yang memegang pedang.

"Ser, ser,"

Biji teratai besi mendesing di udara dan "Plak,"

Aduh, orang itu menjerit ngeri.

Tangannya tertembak bolong, tulangpun patah, saking kesakitan dia meraung mundur sambil mendekap tangannya yang terluka, pedang jatuh di tanah.

Berhasil meny alamatkan jiwa Ih Tiau-hiong, Jian-li-tokheng tidak berhenti, lekas dia memburu ke sana lalu berjaga dihadapan ih Tiau-hiong.

Menghadapi perlawanan Tang-ling-sin-kun yang mengembangkan kelincahan gerak tubuh-yang aneh dan lihay, Liok Kiam-ping agak kewalahan juga menghadapi kelicikan lawan, bila bertempur begini terus sedikitnya dua ratus jurus baru dirinya bisa mengalahkannya.

celakanya bila waktu terulur lebih lama lagi, siapa tahu bala bantuan tangguh pihak lawan keburu datang, hal itu pasti tidak menguntungkan pihaknya maka dia harus secepatnya merobohkan gembong laknat ini.

Otaknya memang encer, sekilas berpikir, segera dia mendapat cara untuk mengatasi jurus tunggal musuh.

Segera dia perkeras gerak serangannya, bagai amukan angin gila sekaligus dia mencecar tujuh jurus, Tangling-sin-kun didesaknya mundur tiga langkah tangan meraih kebelakang, maka Liat-jit-kiam-pun telah dicabutnya.

Kontan dia lancarkan jurus Jit-lun-jut-seng .

Padahal Tang-ling-sin-kunjuga sudah siap menggempur.

mendadak dilihatnya sinar surya mencorong diangkasa menyilaukan mata, jarak seperti begitu dekat, begitu pandangan menjadi gelap hakikatnya dia tidak melihat di mana musoh berada, tahu betapa lihay jurus serangan diri Liat-jit-kiam-hoat, lekas dia menyurut lima kaki.

Keyakinan sudah semayam dalam benak Liok Kiam-ping, menyusul tubuhnya yang melar keudara, jurus kedua Liat-jityam-yam disambung membelah kepala, sementara telapak tangan kiri menggempur dahsyat denganjurus i-hwe-kiu-thian-Baru saja Tang-ling-sin-kun berdiri tegaki sementara lawan sudah mengudak tiba, sebelum serangan tiba, hawa panas laksana lahar gunung merapi telah merangsang, cahayanya yang benderang jauh lebih cemerlang darijurus pertama tadi.

Mau mundur lagi jelas tidak keburu, lekas dia kerahkan seluruh kekuatannya, sambil menggerung pula dia lontarkan pukulannya kearah bola matahari, berbareng kakinya menggeser berusaha menyingkir pergi.

Diluar tahunya jurus serangan telapak tangan Liok Kiamping ternyata tidak menggunakan sepenuh tenaga, ditengah jalan mendadak berobah jadi jurus Llong-jiau-king-thian, mumpung lawan berkelit dan menyingkir, jari-jarinya telah berhasil mencengkram urat nadi dipergelangan tangannya.

Pedang sudah terangkat hendak memenggal.

Begitu niat nadi tercengkram seketika tubuh Tang-ling-sinkun merasa lemas den separo tubuhnya seperti kaku, terpaksa dia pejam mata menunggu ajal.

Mendadak terdengar sultan-sultan nyaring beberapa kali, seluruh orang-orang Tang-ling-kiong menghentikan pertempuran terus lari menyingkir, tinggal orang-orang Honglui-bun yang masih berada ditengah gelanggang.

Kiam-ping tahu sesuatu yang tidak beres, waktu dia angkat kepala, tampak orang-orang Tang-ling-kiong menyingkir ke tiga jurusan, dari ketiga jurusan ini terpancang tiga pucuk bedil yang diarahkan kearah gelanggang.

Terdengar suara Yu-ling Kongcu membentak.

"Pat-pi-kimliong, berani kau turun tangan keji kepada bapakku, hari ini kalian harus terkubur pula di pulau ini. Baiklah bebaskan dulu bapakku, boleh kita tentukan suatu tempat dan hari apa terserah untuk bertanding menentukan kalah menang, bagaimana ?"

Liok Kiam-ping membatin.

"Maksud ke datang a nku hanya menolong It-cu-kiam, tujuan sudah tercapai, buat apa barus menumpahkan darah di sini ? Tang-ling-sin-kun berulang kali keok ditanganku, untuk membereskan dia kelak masih ada kesempatan."

Maka dengan gelak tawa dia berkata.

"Asal Asal bertanding berdasar kepandaian sejati, kapan saja Liok Kiamping masih melayani."

"Baik,"

Jeng ek Yu-ling Kongcu, pada pertandirgan silat di Ui-san tahun ini, kita bereskan perhitungan hari ini."

Liok Kiam-ping berpaling dan tersenyum kepada Tang-lingsin-kun, katanya. 'Mobon Sin-kun mencapaikan diri mengantar kami seperjalanan,"

Lalu dia berseru kepada orang banyak terus beranjak kepinggir laut.

Ih Tiau-hiong kembali pegang kemudi mengerek layar, kapal kecil itu segera berlayar menuju ke ciokswi-cun.

---ooo0dw0ooo---Mentari memancarkan cahayanya yang benderang hawa tidak begitu panas, burung berkicau dipucukpohon, musim semi memang tampak permai dan sejuk didaerah Kang lam.

Tatkala itu orang-orang Hong-lui bun sedang sibuk membangunjalan, serta memperbaiki gedung, luar dalam tampak sibuk bekerja dengan giat, namun suasana yang ramai ini terasa tentram dan bergembira.

Mereka sibuk mempersiapkan segala keperluan demi tercapainya kejayaan nama besar Hong-lui-bun dikalangan Kangouw, markas besar harus dibangun dengan segala bentuk kemegahannya, supaya berwibawa dan kelihatan angker.

Sejak kembali dari Tang-ling-kiong, Liok Kiam-ping lantas pimpin seluruh anggota Hong-lui-bun membangun dan memperbaiki Kwi-hun-ceng, banyak yang dirombak dan adapula bangunan baru, terutama lorong-lorong bawah tanah telah disumbat buntu, serta mencari para anggota yang bubar dan terpencar.

Dalam jangka satu bulan, proyek besar dalam membangun markas pusat Hong-lui-bun inipun berakhir, bentuk gedung serta warnanya telah berobah, demikian pula jalan raya sekitarnya yang menjurus kearah Kwi-hun-ceng telah diperlebar dan diratakan sehingga Hong-lui-bun tampak lebih angker dan disegani.

Pagi hari itu setelah sarapan pagi Liok Kiam-ping kumpulkan Tianglo Hong-lui-bun Ai-pang-sut Thong ciau, Kimgin-hu-hoat di Pau-gwat-lou untuk membicarakan kapan peresmian berdirinya Hong-lui-bun didunia persilatan akan diadakan.

Kim-ji-tay-beng memberi usul.

"Sekarang orang-orang kita sudah bermunculan di Kangouw, tiba saatnya angkat nama dan menegakkan wibawa, sekaligus menuntut balas bagi kematian ciangbun kita, serta melampiaskan penasaran kita dua puluh tahun harus menyembunyikan diri biar selamat. ciangbun, kuharap kau dapat memaklumi perasaanku.' Giniji-tay-beng juga angkat bicara.

"Yang terang Hong-luibun kita sudah jelas bermusuhan dengan Ham-cui, Tang-ling, Hwe hun, Bu-tong, Siau-lim, Gobi dan lain-lain golongan silat, umpama kita berlaku bajik hati mereka justru sekejam binatang, apapun urusan takkan berakhir demikian saja, banyak urusan besar harus kita tanggulangi dikelak kemudian hari, oleh karena itu perlu kita membuat kejutan lebih dulu, masing-masing Kita gempur perguruan silat itu satu persatu, supaya kita tidak dikeroyok lagi seperti nasib yang menimpa ciangbun kita dulu."

"Menuntut balas melampiaskan dendam benar adalah tugas mulia dan itu memang yang utama bagi kita."

Demikian ujar Ai-pong sut Thong ciau.

"tapi hanya mengandal tenaga kita sekarang masih jauh dari mencukupi. Berkat bantuan para Enghiong sehingga kali ini kita berhasil merebut kembali Kwihun-ceng, betapapun mereka bukan atau belum menjadi anggota kita."

Jadi menurut aturan Bulim, perguruan atau golongan mana yang tidak banyak menerima murid serta mendidiknya.

generasi demi generasi merupakan tradisi.

Hanya Pang atau Pay saja yang boleh mengumpulkan sebanyak mungkin tunastunas muda, serta tokoh-tokoh lihay dan orang aneh yang berkepandaian tinggi, berjuang berdampingan demi mencapai cita-cita tinggi.

Maka Losiu berpendapat,"

Hong-lui-bun sudah dua puluh tahun hapus dari percaturan dunia persilatan, anggota lama kita sudah bubar dan tersebar entah kemana, kalau kali ini kita harus berdiri pula dan merehabilitir nama baik Hong-lui

bun kita dulu, lebih baik kalau memupuk kekuatan dasar dan memperbanyak anggota, dengan kekuatan utuh dan besar, baru kita bisa menjagoi bulim."

Mendengar petunjuk Locianpwe yang satu-satunya ini, Liok Kiam-ping juga merasakan betapa gawat urusan yang harus dihadapinya.

Maklum, soalnya pengalaman dirinya di kalangan Kangouw masih terlalu cetek sehingga sukar baginya mengambil suatu kesimpulan dan keputusan, setelah manggut-manggut Kiam-ping mohon petunjuk lebih lanjut kepada Ai-pong-sut Thongciau.

"Baiklah, menurut pendapat cianpwe, bagaimana kita harus mempersiapkan diri supaya lebih sempurna. Kiam-ping masih muda cetek pengalaman, mohon banyak diberi petunjuk."

Melihat sikapnya yang polos dan setulus hati, maka Aipong-sut menghela napas, katanya.

"Situasi sudah mendesak. Hong-lui-bun pantang mundur, jikalau urusan ini sampai gagal bukan saja mengabaikan harapan dan cita-cita para cianpwe yang telah berada dialam baka, selanjutnya akan mengalami masa bahaya dan kemungkinan bisa runtuh lagi. oleh karena itu kita harus memperbesar, nama dan melebarkan kekuatan selanjutnya diganti menjadi Hong-lui-pang. Pintu dibuka lebar untuk menerima dan mengumpulkan orang-orang gagah sebanyak mungkin, baru kita akan berdiri dalam percaturan Bulim, selanjutnya tinggal usaha kita untuk memperbesar sayap dan menambah kekuatan-Tentang tata tertib dan peraturan, tetap kita gunakan ketentuan-ketentuan yang telah dicapai oleh para cianpwe terdahulu. Ini adalah usul pribadi Losiu sendiri, mohon ciangbun dan lain-lain ikut mempertimbangkan lebih dulu.' Kim-gin-hu-hoat ternyata langsung mengangguk tanda setuju. Liok Kiam-ping lantas berkata dengan prihatin.

"ini persoalan besar jaya atau runtuhnya perguruan kita. Petunjuk cianpwe memang sesuai situasi dan kondisi. Maka Kiam-ping harus lebih giat bekerja. Baiklah dikala peresmian akan kupanjatkan doa kepada para cosu dan cianpwe yang telah mendahului kita, supaya beliau-beliau lega hati."

Selanjutnya Kim-ji-tay-beng berkata.

"Kalau mengundang dan menerima banyak orang gagah dariBun dirobah jadi Pang. Disaat Hong-lui-pang akan diresmikan, kita harus menyebar luas undangan untuk sesama kaum persilatan, sebagai gengsi dan menjaga harga diri."

Liok Kiam-ping mengangguk, tapi lekas dia mengerut alis, katanya.

"Menilai situasi yang kita hadapi sekarang, musuh terlalu banyak. kurasa tidak benar kalau urusan dibesarbesarkan-Tapi peresmian Hong-lui-pang merupakan urusan besar, adalah pantas kalau hal ini disampaikan kepada para Bulim cianpwe..."

Sebelum dia bicara habis Ai-pong sutThong ciau sudah ditatapnya seperti mohon pendapatnya.

Betapapun usia Ai-pong-sut memang lebih tua, pengalamanjuga lebih matang, sejenak dia menerawang lalu berkata dengan seri tawa.

"Urusan tiada yang sempurna dan kita tidak boleh terlalu menitik beratkan sesuatu pada urusan bercabang. Demi menyesuaikan keadaan yang kita hadapi sekarang, terpaksa harus bekerja demi keuntungannya saja, marilah kita tentukan dulu kapan peresmian akan dirayakan, baru selanjutnya dipilih pula siapa-siapa yang patut kita undang bagaimana pendapat ciangbun ?' Liok Kiam-ping memuji berulang kali. Sudah tentu Kim-ginhu-hoatjuga setuju saja. Maka mereka berempat lantas merundingkan waktu untuk peresmian itu. Baru saja rapat kerja itu berakhir. Kebetulan Suma Lingkhong telah datang. Dua saudara muda bertemu lagi, sudah tentu bukan kepalang riang hati mereka, hubungannya semakin intim. Baru saja Liok Kiam-ping turun dari atas loteng, tiba-tiba didengarnya sebuah suara semerdu kicau burung kenari.

"Pingko, kenapa sampai sekarang baru bubar rapatnya, betapa gelisah aku menanti. Apakah kalian mau berangkat lagi? Jangan seperti tempo hari waktu menyerbu ke Tang-lingkiong, begitu lama kaupergi hingga aku menunggu dengan merana..."

Tiba-tiba siau Hong sudah berdiri didepannya, dengan langkah gemulai menyambut dirinya, entah karena sudah terlalu rindu atau keki, dengan cemberut tiba-tiba dia membalik tubuh pula terus melangkah pergi dengan lebar.

Sudah terlalu biasa Kiam-ping memanjakan nona jelita yang menjadi teman bermainnya sejak kecil.

Sejak dia menyembuhkan luka-lukanya, nona binal ini sudah anggap Kiam-ping sebagai teman hidupnya seumur hidup, maka makan minum dan dandanan, semua menuntut dan harus dipenuhi, kemanapun Kiam-ping pergi selalu dia mendampingi.

Kali ini karena harus merundingkan urusan besar, maka terpaksa Siau Hong disuruh menunggu di bawah.

Sebenarnya cinta Liok Kiam-ping sudah dicurahkan kepada Le Bun, padahal Kiamping pemuda romantis, lelaki sejati yang berpegang teguh pada norma-norma susila.

apapun dia tidak akan mengalihkan cintanya kepada gadis lain, terhadap Siau Hong yang sebatang kara ini, hanya belas kasihan belaka yang meresap dalam sanubarinya, maka dalam hal apa saja dia selalu membela dan melindunginya seperti adik kandung sendiri.

Kini melihat Siau Hong mengumbar adat pula, lekas dia memburu dua langkah, dengan lembut dia pegang kedua tangannya, lalu berkata dengan tawa lembut.

"Hari ini harus membicarakan pemulihan perguruan kita dalam percaturan Bulim, maka banyak persoalan yang harus dibicarakan, sehingga kau menunggu terlalu lama. Tentang perjalanan ke Tang-ling-kiong tempo hari, mengingat pentingnya menolong jiwa orang, terpaksa aku hatus bekerja keras hingga terlambat pulang. Waktu sudah lohor, hayolah kita makan siang."

Melihat betapa besarperhatian Kiamping terhadap dirinya, seketika lebar senyum Siau Hong, dia balas memeluk lengan Kiamping serta melangkah gemulai ikut Kiam-ping menyusuri jalan kecil berbatu menuju kekamar makan Tiga hari kemudian.

Luar dalam Kwi hun-ceng sudah disapu dan dibersihkan serta dipajang, sejak pinggir jembatan sampai diluar pintu gerbang perkampungan, setiap tiga tindak dipasang sepasang tamplon merah.

Dibawa h lamplon berdiri seorang pemuda berpakaian ketat warna hijau.

Empat lamplon besar dengan cahayanya yang benderang tergantung masing-masing dua di kanan kiri pintu gerbang, cahayanya menerangi daonpintu gerbang yang bercat merah hingga kelihatan semarak.

Hong-lui-ting terletak tak jauh dibela kang pintu gerbang, menghadap keluarpintu pula, jendela kaca tampak bersih dan dihiasi guntingan kertas yang rapi dan bagus dengan berbagai corak dan warna.

Semua kelihatan bersih mengkilap.

didepanpintu berdiri delapan orang lelaki seragam biru muda, semua berperawakan kekar berotot dengau daging merongkol, tampak betapa besar semangat mereka dengan pandangan lurus menyala.

Lantai Hong-lui-ting yang mengkilap bagai kaca itu terbuat dari batu hijau, luasnya ada satu setengah bau, ruang seluas ini hanya disanggah dua saka bundar besar di kanan kiri ruangan tengah, melingkari kedua saka beton besar itu adalah relif dua ekor naga besar yang berebut mutiara, proyek bangunannya sungguh luar biasa.

Mepet dinding diujung ruangan sana, dikiri kanan dijajar dua baris kursi besar bersandar dikanan kiri dan belakang terbuat dari kayu cendana, alas kursi adalah kasur bundar terbuat dari beludru biru bersulam indah, menambah semarak dan angker.

Sejajar dengan dua baris kursi kebesaran itu tergantung disebelah atas lampu sorot sebanyak puluhan buah, sehingga seluruh ruangan besar ini benderang seperti di siang hari bolong.

Tepat ditengah ruangan letaknya agak ke belakang terdapat sebuah meja panjang, asap dupa tampak mengepul dari hlolo yang berada diatas meja.

Disebelah kiri terdapat meja kecil, sebuah kotak batu jade berada di atasnya, permukaan batujade berukir empat huruf berbunyi wi-hongpit-kip.

diatas kotak batujade terletak sekeping batujade warita putih hijau mengkilap.

ditengahnya terukir seekor naga warna darah yang sedang pentang cakar, ukirannya begitu bagus seperti hidup, Dibelakang kotak tertancap tiga batang panji masingmasing berwarna merah biru dan putih, ditengah setiap panji disulam benang hitam bertuliskan dua huruf "HONG LUI".

Diatas rak meja panjang itu tertancap sebuah pentung bambu sebesar mulut mangkok, bagian luarnya dibungkus kain kuning.

Dibelakang meja panjang terdapat tempat pemujaan, di sana dipuja sinci cousu IHonglui-bun Kiu-thian sin-llong, dan para cianpwe dari beberapa generasi.

Kain gordyn warna kuning tampak menjuntai dari langit-langit terbelah dua kekanan kiri.

Didepan gordyn tergantung sebuah lampu abadi yang akan menyala sepanjang jaman Ruangan sebesar itu kini diliputi keheningan.

Kira-kira menjelang tengah hari, bunyi genta bertalu sembilan kali, maka dari belakang ruangan muncul Tan Kian-thay, dilengan kirinya terikat secarik kain merah yang bertuliskan ci tong dua, huruf kuning, dibelakangnya ikut delapan anak-anak berbaju hijau.

Begitu masuk ruang besar Tan Kian-thay pimpin kedelapan anak-anak itu menuju kemuka meja panjang serta menyampaikan sembah hormat kearah pemujaan.

Setelah itu mereka berpencar, menyalakan Tingeoa, lilin dan menyiapkan meja sembahyangan, dengan teliti dan penuh perhatian-Dua batang lilin merah sebesar lenganpun sudah dinyalakan, dibatang lilin itu ada ditulisi huruf yang berbunyi 'bersatu padu kita teguh"

Sementara lilin sebelah kanan ditulisi "melebarkan sayap membesarkan kekuatan", dibawah penerangan yang benderang, persiapan ini berjalan tertib hikmad.

Thipi-kim-toTan Kian-thay membalikkan badan lalu berdiri tegak disamping kiri pintu, kedua tangannya terkembang, maka delapan anak-anak berseragam hijau itu berpencar berdiri jajar di kanan kiri pintu.

Tak lama kemudian, dari kejauhan terdengar derap langkah yang lembut tapi kerap dan banyak.

Maka dari pintu kiri membelok masuk empat pasang lampu istana yang kelihatan antik berwarna merah, dibelakangnya adalah pemuda berjubah putih, alis lentik mata menyala semangatnya gagah, langkahnya mantap dan enteng langsung menuju, kearah pintu.

Delapan lamplon antik istana itu sudah berpencar pula di kanan kiri pintu semuanya angkat tinggi lampu diatas kepala, Tan Kian-thay memburu maju keambang pintu serta menjura.

Liok Kiam-ping sedikit mengangguk terus melangkah masuk kedalam ruang besar.

Dibelakangnya adalah orang-orang gagah serta anggota Hong-lu^-bun, beriring satu persatu melangkah masuk.

pelan tapi pasti ruang besar itu akhirnya penuh sesak dibanjiri manusia.

Liok Kiam-ping langsung menuju kedepan tengah menghadap kepemujaan, maka protokol segera menarik suara.

"Upacara dimulai."

Seorang petugas atau pembantu upacara segera maju menyerahkan sembilan batang dupa wangi kepada Liok Kiam-ping, maka Liok Kiam-ping mulai menyampaikan sembah sujudnya kepada pemujaan setelah doa dipanjatkan maka dupa itu ditancapkan diatas hiong-lo kuningan berukir kepala singa.

Setelah itu dia berlutut tiga kali menyembah sembilan kali.

Hadirinpun ikut menjura kearah altar.

Setelah berdiri pula pelan-pelan Kiam-ping membalik menghadap keluar, Ai-pongsut Thong ciau melangkah maju dari rombongan orang banyak, terlebih dulu dia menjura kearah altar lalu berseru lantang.

'Sejak ciangbunjin Hong-luibun kita mengalami keroyokan serta gugur oleh enam partai besar perguruan di Tay-pa-san, tanda kebesaran dan Pit-kip kita juga direbut hingga akhirnya tak karuan paran, maka seluruh anggota kita tercerai berai dan dipaksa menvembunyikan diri secara terpencar dua puluh tahun lamanya.

Demi memikul tugas dan tanggung jawab warisan para leluhur, hari ini Liok-ciang bun menegakkan pula nama kebesaran Hong-lui-bun kita, bersumpah untuk menuntut balas, maka sejak hari ini kita memaklumkan kepada hadirin bahwa selanjutnya kita merobah dan memperluas Hong-luibun menjadi Hong-lui-pang, semoga kita bersatu padu, berjuang bahu membahu memperkuat diri dan masa depan yang lebih cemerlang.

Yakin para Enghiong yang mengadiri upacara kebesaran ini, semua punya tekad dan cita rasa yang seirama dengan kita, maka hadirin pasti juga setuju akan kebi^aksanan dari ciang bun.' Serentak hadirin mengiakan bersama sambil angkat tinju kanan keatas kepala.

'Setuju ' suaranya bergema dan bertalutalu hingga mengalun panjang dan lama.

Ai-pong-sut berputar menghampiri.

meja kecil disebelah kanan, mengambil Hiat-llong-po-giok serta diangkat setinggi alis, setelah menjura tiga kali kearah altar lalu mendekati Liok Kiam-ping serta mengalungkan batu pusaka itu dileher Liok Kiam-ping.

Kembali hadirin bersuara dalam paduan yang rendah berat.

"Pangcu."

Semua menjura hormat. Lekas Liok Kiam-ping balas menjura, setelah mengangguk dia ulapkan tangan serta berkata dengan tersenyum.

"cukup sampai sekian saja."

Lalu wajahnya berobah serius. katanya lebih lanjut.

"Atas kebijaksanaan dan kewelas-asihan para cosu kita, hari ini Kiam-ping diangkat menjadi ciang bun dan menerima warisan serta cita cita besar para leluhur, sejak kini sebagai Llong-thian Pangcu dari Hong-lui-pang, tugas utama adalah menegakkan Hong-lui-pang didalam percaturan dunia persilatan, giat bekerja demi membela kebenaran dan keadilan kaum Bulim, Kami kuatir dengan bekal kemampuanku yang kurang becus ini tidak mampu memikul tugas dan tanggung jawab berat, untuk itu kami mohon kesudian para cianpwe dan saudara serta seluruh anggota kita untuk memberikan nasehat, petunjuk dan koreksi, segala persoalan harus dimusyawarahkan dan ditampung bersama. Dengan bekal Kungfu yang kumiliki aku bersumpah untuk membela keutuhkan Pang kita serta rela berkorban demi tegaknya kebesaran Hong-lui-pang pula."

Habis Liok Kiam-ping menyampaikan pidato sambutannya, protokol melambai tangan keluar, dua orang pembantu upacara segera menggotong masuk sebuah guci perak tinggi satu kaki dengan kaki sepanjang dua kaki ketengah ruang besar.

Dua orang lagi dibelakangnya membawa sebuah guci arak simpanan lama, segel dibuka arakpun dituang kedalam guci perak berbareng empat orang itu memberi hormat kepada Kiam-ping lalu mengundurkan diri kes ambing.

Maka Thi-pi-kim-to Tan Kian-thay selaku protokol tarik suara pula.

"Bersumpah setia minum arak darah."

Seorang pembantu upacara lain segera tampil kedepan, sebelah tangan menyunggih sebuah nampan perak.

diatas nampan menggeletak sebilah pisau yang kemilau tajam kedepan Liok Kiam-ping, sebelah lututnya tertekuk, kedua tangan dia angkat nampan berat berisi pisau tajam kehadapan sang Pangcu.

Liok Kiam-ping ambil pisau cilik itu serta berkata.

"Atas kebijaksanaan para cos u, sehingga para Enghiong sudi menyatukan diri kedalam Hong-lui-pang kita, selanjutnya Hong-lui-pang akan terjun dalam percaturan dunia persilatan, inipun merupakan keberuntungan dan kebahagian kaumBulim, mohon para saudara sudi bersatu padu seia-sekata berjuang bercama menanggulangi segala kesukaran. Sekarang cayhe memberi contoh, dengan darahku ini kutuang kedalam arak sebagai tanda setia kawan"

Pisau kecil tajam itu segera mengiris ujung jari tengahnya, darah segera mengucur dan menetes kedalam guci perak.

dengan lantang mulutnya membacakan naskah sumpah serta sepuluh larangan besar setiap anggota.

Selanjutnya Ai-pong-sut, Kim-ji tay-beng Kongsun cinkheng, Ginjutay-beng Kongsun cin-giokJian-li-tok-hengJin Hou dan lain-lain berurutan maju kedepan diambil darahnya.

Setelah seluruh hadirin sudah memberikan darahnya, semua kembali ketempat semula.

Acara selanjutnya adalah pemberian hormat kearah altar pemudaan para cos u, dua belas orang maju bersama berdiri satu barisan, d iba wah komando protokol mereka bersumpah setia.

Setelah seluruh acara selesai.

Dengan lantang Liok Kiamping berkata.

"upacara perserikatan kita bersama telah berakhir. Sekarang silakan protokol membacakan daftar para Tong-cu dan Hiangcu Hong-lui-pang kita.' Ruang sebesar itu, dengan hadirin sebanyak itu, ternyata hening lelap. seluruh hadirin berdebar jantungnya. Liok Kiam-ping melangkah kedepan menjura kearah altar lalu dari atas meja panjang dia mengambil se

Jilid buku tebal bersampul kulit kambing, itulah buku jurnal dari permulaan berdirinya Hong-lui-pang.

Thi-pi-kim-to-Tan Kian-thay memburu maju dua langkah menjura kepada Liok Kiamping lalu terima buku tebal itu dari tangan Liok Kiam-ping.

Sejenak dia tenangkan diri serta membasahi teng gorokan-maka dengan lantang dia membacakan.

"Para calon Tongcu dan Hiangcu kita sudah diputuskan dalam rapat. Jin-bong-tong Tongcu Kim-ji-tay-beng Kongsun cin-kheng, tugasnya mengatur jadwal kerja para anggota serta diberi wewenang penuh dalam keanggotaan-Kim-ji-tay-beng segera tampil kedepan altar, dengan laku hormat. dia menyulut dupa serta sembahyang kearah altar, lalu membalik kearah Kiam-ping memberi hormat pula, dengan kedua tangan dia terima selembar panji kebesaran jabatannya lalu mundur kesamping. Protokol melanjutkan dengan lantang, Jun-lui-tong Tong-cu Jian-li-tok-heng Jin Hou, berkuasa dalam hukum serta berhak memberi jasa kepada anggota yang berpahala. Jian-li-tok-hengJin Houjuga maju kedepan altar memberi hormat selayaknya, dari Kiam-ping diapun menerima selembar panji kecil warna biru. Hoat-hi-tong Tongcu Gin-ji-tay-beng Kongsun Cin-giok, mengurus ransum dan dana. Ginjutay-beng juga menerima selembar panji warna putih. Lebih lanjut adalah.

"Sing-tong-cu It-cu-kiam Koan Yong pelaksana hukuman. Ci-tong-cu bagian protokol Thi-pi-kim-to Tan Kian-thay. Coh-huhoat Coh-sung-hwi lh Tiau h long, Yuhuhoat Ki-ling-sin Siang Wi. Congsinje (komisaris umum) Suma Ling-Khong. Cong koan perkampungan Pi-lik-jiu Ciu Khay, selanjutnya di bacakan pula para Hingcu dan Thocu, mereka juga menerima tanda jabatan yang terbuat dari sekeping bambu kuning. Para angggota biasa juga menerima selembar kain panjang yang berbeda warna dan tulisannya, tanda para anggota terbagi dalam beberapa barisan yang harus tunduk kepada pimpinan masing-masing. Terakhir Liok Kiam-ping berseru lantang, pula. 'Hari ini Pang kita berdiri secara resmi, berkat bantuan Tiang lo kita sejak generasi lampau Ai-pong-sut Thong-locianpwe yang ikut memberikan saran dan pendapatnya, maka beliau juga patut mendapat kehormatan dari seluruh anggota."

Hadirin serempak menjura kepadanya.

Sampai di sini maka upacara resmi berdirinya Hong-lui-pang telah berakhir.

Suasana berobah riang gembira, satu sama lain memberi salam dan selamat, cukup lama ramah tamah ini berlangsung acara terakhir adalah perjamuan, dalam ruang samping sudah tersedia lengkap puluhan meja perjamuan, hadirin segera mencari tempat duduk.

Kembali suasana menjadi ramai oleh gelak tawa yang riuh rendah.

Bila perjamuan usai haripun sudah hampir tengah malam.

Liok Kiam-ping kembali ke Pau-gwat-lau, Siau Hong seperti burung mungil segera lari menyongsongnya.

memicingkan matanya yang masih ng antuk dengan Jenaka dia mengawasi wajahnya.

Liok Kiam-ping tertegun, katanya penuh kasih sayang.

"Kenapa belum tidur. kalau kedinginan kau bisa selesma"

Betapa kasih sayang dan besar perhatian Kiam-ping terhadap dirinya, sungguh manis dan senang hati Siau Hong dengan wajah merah dan aleman dia pegang kedua lengan Kiam-ping, bibirnya yang merah merekah mendesis haru.

"Ping-ko."

Segera dia menjatuhkan diri kedalam pelukan Kiamping.

Sikapnya yang aleman tidak perlu dibuat heran, sejak Liok Kiam-ping kembali di Kwi-hun-ceng, hanya Kiam-ping seorang yang pandang sebagai orang dekatnya, Kiam-ping begitu kasih sayang dan memperhatikan segala kebutuhannya, betapa hatinya takkan senang dan haru hingga sesenggukan-Liok Kiam-ping melenggong, lekas dia pegang pundak Siau Hong dan berkata lembut.

"Siau Hong, jangan terlalu emosi, di sini banyak orang, sebentar mungkin ada orang datang, hari sudah larut malam, kau harus istirahat."

Bicara punya bicara nada suaranya ternyata makin sember, tenggorokannya terasa tersumbat.

Sejak kecil bukankah Liok Kiam-ping juga sudah sebatangkara, pernah hidup terlunta-lunta, melihat betapa haru Siau Hong, dengan sendirinya terketuk hula sanubarinya.

Mendengar suara Kiamping juga tersendat, lekas Siau Hong angkat kepalanya, dengan berlinang air mata dia tersenyum manis, barusan dia mau bicara, didengarnya langkah orang mendatangi dari bawah loteng, tersipu-sipu mereka memisah diri.

---ooo-dw-ooo---Tiga bulan kemudian Malam hari dimusim panas.

Kwi-hun-ceng tampak berdiri gagah perkasa ditengah kegelapan, disepanjang sungai pelindung perkampungan mondar mandir rombongan ronda.

Disekeliling Hong-lui-ting juga terpendam para penjaga yang tersembunyi, namun tidak sedikit pula para Hiang-cu serta Thocu yang bertugas jaga dibagian luar, ini pertanda ada persoalan penting sedang dibicarakan, ternyata rapat memang sedang berlangsung didalam.

Ruang besar itu terang benderang.

Didepan meja panjang duduk berderat belasan orang, Liok Kiam-ping duduk ditengah, diatas kursi berukir indah, sebelah kanan duduk Ang pong-sut Thong Ciau lalu berurutan Kim-ji tay-beng Kongsun Cin-kheng,Jian-li-tok-heng Jin Hou, Gln-ji-tay-beng Kongsun Cin giok dan seterusnya dengan beberapa Hiangcu, hadirin bersikap serius dan duduk tegak menambah suasana menjadi hikmad.

Liok Kiam-ping membuka suara lebih dulu.

"Sudah tiga bulan sejak Hong-lui-pang kita berdiri, berkat kerja sama para saudara, sampai sekarang kita telah berhasil mencapai kemajuan tahap pertama, para Thocu dari berbagai cabang juga sudah menunaikan tugasnya. Dalam beberapa hari belakangan ini, laporan terus masuk. ada beberapa perguruan yang pernah bermusuhan dengan kita, secara diam-diam sedang berlatih diri serta mengundang bala bantuan menambah kekuatan, jelas mempunyai rencana jahat terhadap pihak kita, terutama Ham-cui, Tang-ling dan Sebong sudah ada tanda-tanda akan berserikat, bila saatnya sudah tiba, pasti akan mengadakan aksi yang tidak menguntungkan kita. Sementara Siau-lim, dan Gobi agaknya juga sudah terhasut oleh Bu-tong, tanpa hiraukan nama baik dan kebesaran perguruan mereka di Bulim, secara diam-diam memilih dan menguji jago-jago mereka untuk bergabung menyerbu markas besar kita ini. Demikian pula Pa-kian toahud dari Tibet juga ada niat jahat terhadap kita. Menyaring seluruh laporan ini, jelas posisi Pang kita dalam bahaya, untuk itu harap persoalan kita rundingkan bersama, entah bagai mana pendapat kalian. Maka Ai-pong-sut bicara lebih dulu.

"Hong-lui-pang kita baru memupuk dasar kekuataannya, kekuatan luar dalam sudah terjalin dengan baik, sudah saatnya kita beraksi untuk bertindak kepada para musuh, dengan menggempur musuh lebih dulu, kita akan menegakkan wibawa di Kangouw,jikalau kita menunggu partai-partai persilatan itu bergabung mengeroyok kita, nasib ciangbun kita yang dahulu menjadi contoh yang nyata, maka beliau mati di Tay-pa san dikeroyok enam perguruan bestar, hal ini perlu kita pertimbangkan secara mendalam."

Menyinggung dendam perguruan, Hoat-Tongcu Girn ji-taybeng berkata penuh emosi sambil melotot mata.

"Yang menamakan dirinya perguruan besar tidak lebih hanyalah manusia yang sudi berbuat kotor dan rendah, demi meruntuhkan kita dan merebut tanda kebesaran tidak segansegan mereka main bunuh jikalau dendam kesumat ini tidak segera di balas bagaimana kita tegak berwibawa di Kangouw, betapa kita harus bertanggung jawab kepada arwah leluhur kita."

Jin-hung-tong Tongcu Kim-ji-tay-beng juga tampil bicara dengan menegak alis.

"Membalas dendam kematian ciangbunjin kita yang terdahulu merupakan tugas utama yang harus segera kita lakukan. Urusan tidak berlaru-larut, mumpung situasi masih menguntungkan kita sebelum musuh bergabung dan meluruk kemari, lebih menguntungkan bila kita turun tangan lebih dulu, satu persatu kita gempur dan hancurkan."

Pi-lik-jiu Ciu Kay juga terbakar amarahnya, katanya.

"Cianpwe kita mengalami ajalnya secara mengenaskan dalam pengeroyokan yang tidak seimbang, dendam ini tidak boleh ditunda pula. Pangcu, meski harus terjun kedalam lautan api. Ciu Khay siap menpelopori"

Hadirin yang lainjuga memeluk dendam dan kemarahan yang memuncak, semua bertekad menuntut balas, semangat tempur mumpung menyala.

MakaJun-lui-tong Tong-cuJian-li-tok-heng Jin Hou angkat bicara dengan kalem.

"Menyerang atau bertahan harus pandai melihat gelagat, terutarna sebelum menyerang harus dapat mengukur kekuatan lawan dan mempertimbangkan tenaga sendiri. Untuk itu lebih baik kita jadikan dendam permusuhan lama menjadi ukuran, atau kita pilih dulu yang dekat baru menggempur yang lebih jauh pelajaran sudah membuktikan, markas pusat kitapun tilak boleh kosong. Hal inipun perlu dipertimbangkan."

Liok Kiam-ping manggut, katanya.

"Usul kalian memang seirama dengan tekadku, menilai kekuatan musuh, kukira pihak Ham-cui paling tangguh, selanjutnya Se-bong, Pa-kim Tay-hud yang utama. Selanjutnya Bu-tong, Hwe-hun dua partai ini pernah kusikat habis kekuatan inti mereka, yakin dalam waktu dekat mereka takkan berani bertindak. Tang-ling juga sudah kita obrak abrik, mereka sudah takluk dan bergabung kepada Ham-cui Malah anasir-anasir mereka sudah diselundupkan ke Tionggoan pula, maka tindakan pertama kita harus menggempur Ham-cui-kiong, sekaligus mencegah mereka kerja sama dengan Se-bong, Setelah itu baru kita luruk ke Tibet mengganyang Bong-siu, Sa-yang dengan pihak Tang-ling kita sudah menjanjikan waktu pertandingan, bila sekarang kita serbu, apakah tidak melanggar aturan, entah bagaimana pendapat hadirin ?' lalu Kiamping mengeluarkan selembar peta, diataspeta itu memberi garis-garis sebagai jalan dari mana mereka harus menggempur musuh. Sing-tong-cu It cu-kiam Koan Yong berkata. 'Kawanan jahat yang selalu ingkar janji dan sering berbuat keji, tak perlu kita bicara tentang aturan dengan mereka.' "Betul."

Seru Gin-ji-tay-beng, bersikap aturan dengan mereka akan merugikan kita sendiri. Kematian ciangbunjin kita yang terdahulu karena dikeroyok di Tay-pa-san merupakan contoh yang nyata."

Coh-siang-hwi Ih Tiau-hiong berpikir panjang, katanya perlahan.

"Untuk menggempur musuh kita harus kerahkan seluruh kekuatan, baru punya keyakinan bisa menang, dengan sendirinya pertahanan markas besar kita menjadi lebih lemah, dalam situasi yang sudah gawat luar dalam sukar mengadakan ikatan kerja sama, Tang-ling dekat didepan mata, umpama duri yang mengancam keselamatan kita, sembarang waktu akan meluruk kemari lebih dulu. Maka mereka perlu dilenyapkan lebih dulu, tentang bagaimana kita serbu partai perguruan yang lain, biarlah kita tentukan lagi setelah saatnya tiba.' Pendapat Coh-siang-hwi Ih Tiau-hiong memang obyektif, orang banyak hanya memperhitungkan cara bagaimana menyerbu musuh, tidak memikirkan pertahanan sendiri, apalagi musuh terlalu banyak, bukan mustahil di saat markas kosong, musuh lain meluruk datang, bukankah sejarah akan berulang, Coh-siang hwi memang cerdik dan cermat tak heran orang banyak kagum dan memujinya. Liok Kiam-ping memuainya berulang kali, katanya.

"Cohhuhoat memang betul, situasi memang seperti apa yang diuraikan-Maka keputusan pertama saat ini adalah serbu dulu Tang-ling, tapi kita juga harus mengadakan segala persiapan untuk menghadapi segala kemungkinan."

Ci-tong-su Thi-pi-kim-to Tan Kian-thay berkata.

"Dalam menghadapi situasi didepan mata, kurasa kekuatan kita tidak boleh dipencar, apakah pada arah menyerbuan kita, sepanjang jalan perlu didirikan pos-pos penghubung, bila menghadapi situasi genting, bagaimana harus memberi tanda S.o.S., bagaimana pula pihak yang lain harus segera memberi bantuan, semua ini harus kita bicarakan juga."

"Hal ini memang sudah kupikirkan,' ucap Liok Kiam-ping.

"Baiklah sekarang kita tentukan, Suma Cong-sin harus memimpin puluhan orang kita yang cekatan, pandai bekerja bertindak cepat untuk mengatur segala keperluan kita di sepanjang jalan, kontak harus selalu diadakan sehingga lancar dan tertib. Tiga buah kapal besar sudah harus disiapkan di Ciok-wi-cun untuk dipakai"

Cong sin-je Suma Ling-khong berdiri, sambil menjura dia menyatakan terima tugas, Terus mohon mengundurkan diri, segera mempersiapkan tugasnya.

Liok Kiam-ping berkam kepada Ai-thong-sut -Thong ciau dengan tertawa.

"Markas pusat ini perlu dijaga juga, untuk ini aku mohon cia npwe suka menerima tugas berat, dibantu oleh Ciu-congkoan. Bila menghadapi persoalan genting lekaslah adakan hubungan dengan tanda panah api. Selebihnya harus ikut dalam penyerbuan ini. Diantara anak buah para Tongcu, pilih dulu sepuluh Hiangcu sebagai pengawal."

Rapat ini diakhiri setelah hadirin makan tengah malam.

---ooo-dw-ooo---Dari dalam Kwi-hun-ceng dicongklang puluhan kuda tunggangan, dipimpin oleh seorang pemuda jubah biru berwajah putih cakap.

penunggang kuda dibelakangnya semua berpakaian ketat warna hitam, perawakan kekar tubuh tegap.

Setiba diluar perkampungan kuda dibedal kencang, penunggangnya mendekam dipunggung kuda, lekas sekali rombongan besar berkuda tadi lenyap ditelan tabir malam-Pemuda cakap itu adalah Suma Lingkhong yang sekarang menjabat komisaris umum Hong-lui-pang, malam itu dia pimpin belasan, orang menuju ke ciok-wi-cun serta mengatur pos-pos penjagaan sebagai kontak antara markas pusat dengan rombongan besar yang akan menyerbu ke Tang-lingkiong, merekapun harus menyiapkan tiga buah kapal besar.

Besok pagi, hari belum terang tanah, didepan perkampungan telah berjajar dua barisan panjang, semua berdiri tegak penuh semangat, sepasang matanya menatap kearah pintu gerbang, tampak betapa gagah perkara barisan ini.

Tak jauh disisijembatan, tiga puluhan anak buah Hong-luipang, setiap tangan memegang tali kendali seekor kuda, perawakkan tinggi badan kekar kaki panjang, selintas pandang orang biasa juga akan tahu, kuda-kuda itu semua pilihan.

Dengan tenang mereka melalui dipinggir sungai.

Tak lama kemudian, dari dalam perkampungan beranjak keluar serombongan orang, dua orang berjalan paling depan, sebelah kiri adalah pemuda jubah putih, wajah cerah mata bersinar, laagkahnya tegap gagah, dan bukan lain adalah -Hong-lui-pang Pang-cu Pat-pi-kim-liong Liok Kiam-ping, Aipong-sut Thong ciau berjalan disebelah kanan, tampak wajahnya bundar, jenggot alisnya putih, kepalanya plontos, tubuhnya pendek gemuk, semangatnyapun bergairah, suara bicaranya lantang, wajahnya cerah dan tersenyun lebar dan ramah, Dibelakangnya adalah orang-orang gagah Hong-lui-pang, tinggi rendah, tua muda tidak ketinggalan Setiba rombongan besar ini didepan perkampungan, barisan yang berada diluar itu segera siap tegak lalu memberi hormat.

Liok Kiam-ping sambut dengan anggukan sedikit kepala.

setelah mereka melewati jembatan Liok Kiam-ping menghentikan langkah, dengan senyum ramah dia berkata kepada Ai-pong-sut Thong Ciau.

"Kiam-ping serba tidak mampu, mana berani membuat capai Cianpwe mengantar sejauh ini, mohon silakan berhenti sampai di sini saja, Terima kasih."

Ai-pong-sut Thong Cau berkata.

"Ah, kenapa Pangcu bilang demikian Terpaksa Losiu tunduk akan perintah, semoga kalian sukses dalam tugas. lekas pulang."

Liok Kiam-ping menerima tali kendali, setelah mengucap selamat berpisah, segera dia cemplak kuda terus dibedal keluar hutan orang-orang gagah yang lainjuga naik kepung g ung kuda masing-masing.

Lekas sekali rombongan besar Hong-lui-pang ini sudab lenyap dikejauhan Dibawah terik matahari Liok Kiam-ping pimpin barisannya menempuh perjalanan dalam kecepatan tinggi, daerah yang mereka lalui sekarang adalah pegunungan yang berhutan belukar, maka kuda terpaksa dilarikan agak perlahan, hingga hari sudah lohor, mereka yang berada dibela kang sudah merasa gerah dan capai, maka Kiam-ping perintahkan barisan beristirahat, setiap orang membawa rangsum kering sendiri, sambil istirahat mereka makan siang, hanya beberapa kejap istirahat setelah makan, mencongklang kuda pula melanjutkan perjalanan secara tertib tidak banyak berisik.

Menjelang magrib, sebelum mentari terbenam, ciok-wi-can sudah jauh kelihatan di sebelah depan.

Diwaktu barisan depan mulai memasuki hutan pula, sayup,sayup Kiam-ping mendengar suara caci maki dan bentakan serta bentrokan senjata tajam yang beradu disebelah depan agaknya ada orang lagi bertempur sengit, dari suaranya kedengarannya bukan hanya satu dua orang.

Tahu ada sesuatu yang tidak beres, lekas Kiam-ping memberi tanda kebelakang barisan, segera dia mendahului lompat turun dari punggung kuda terus menerobos hutan bertari kearah datangnya suara.

Lekas sekali orang banyak telah tiba di gelanggang pertempuran, tampak Suma Ling-khong bersama dua anak buahnya sedang dikeroyok oleh tujuh orang Tang-ling-kiong.

seorang anak buah Suma Ling-khong tampak terluka lengan kirinya, darah membasahi separo badannya, namun dia masih bertempur gagah berani.

Tak jauh dikaki tembok sana, tampak rebah seseorang, dari dandanannya jelas adalah anggota Hong-lui-pang.

Seorang diri suma Ling-khong sedang melawan seorang tua jubah hitam dan lima orang Tang-ling-kiong, kelihatan keadannya sudah demikian payah, untung Lwekangnya terpupuk baik dan kuat, dalam waktu dekat masih kuat bertahan.

Laki-laki tua jubah hitam adalah seorang Tongcu dari Tang -ling-kiong, bulan lalu dia ditugaskan pegang pimpinan markas cabang Tang-ling-kiong di ciok-wi-ca.-Memergoki Suma Lingkhong mencari kapal dan hendak menyewanya pergi ke ciokshoan-to, maka dia menampilkan diri serta bertanya dengan sikap menantang karena tiada persesuaian kata, maka mereka saling labrak.

Semula dia masih mampu menandingi Suma Ling-khong, tapi lama kelamaan dia semakin terdesak.

Melihat pihak lawan hanya ada empat orang, sementara pihak sendiri lebih banyakjumlah dan tenaganya, maka dengan siulan lagu khusus dia memberi isyarat kepada anak buahnya supaya ikut terjun kedalam arena.

Seorang diri menghadapi keroyokan orang banyak.

semula Suma Ling-khong masih gagah perkasa, serang menyerang dengan leluasa, celaka adalah tiga anak buahnya, ilmu silat mereka biasa saja, mana kuat menghadapi serbuan belasan musuh, dalam per tempuran seru itu seorang anak buahnya menjerit roboh, saat itulah lengannya terbacok luka panjang, untung Suma Ling-khong sempat memburu datang menolongnya sehingga jiwanya diselamatkan Melihat adik angkatnya dikeroyok dan anak buahnya menjadi korban, karuan bukan main gusar Liok Kiam-ping, ditengah bentakan, dia melompat maju seraya mengayun kedua tangan sebelah tangan menggempur kearah lelaki tua jubah hitam, tangan yang lain menggempur kawanan Tangling-kiong.

Pihaknya sudah hampir menang, suma Ling-khong tinggal tunggu waktu menerima kekalahan, mimpipun tidak terbayang dalam benaknya bahwa elmaut justru merengut nyawanya, begitu mendengar bentakan, sementara damparan angin kencang sudah melanda tiba, mau menangkis sudah terlambat.

Tahu-tahu dia rasakan dada seperti ditumbuk kepala kerbau, kerongkongan seketika menjadi anyir, darah segarpun menyembur dari mulutnya, tubuhnyapun terlempar dua tombak jauhnya.

tanpa mengeluarkan jeritan, nyawanya melayang seketika.

Hanya segebrak Liok Kiam-ping telah tamatkan riwayat lelaki tua jubah hitam sudah tentu anak buah Tang-ling-kiong yang lain menjadi panik dan terbang sukmanya, melirikpun tidak berani, mereka berlomba melarikan diri.

Gusar Suma Ling-khong belum termampias, dengan gemas masih sempat dia membunuh dua orang dengan pedangnya, agaknya masih belum puas lagi, dia terus mengudak.

Lekas Liok Kiam-ping menyusulnya serta memanggilnya.

"Hian-te, musuh sudah lari tak usah dikejar, lebih penting kita selesaikan dulu urusan kita."

Suma Ling-khong menghentikan langkah terus putar balik, dia sendiri turun tangan membubuhi obat serta membalut luka anak buahnya.

Kejap lain orang banyak langsung menuju ke sungai.

Sementara itu orang-orang Tang-ling-kiong sudah tidak kelihatan lagi bayangannya, Ciok-wi-can seperti kedatangan perampok.

para nelayan dan keluarganya masuk pintu, tiada seorangpun yang berkeliaran dijalanan, demikian pula toko, warung dan hotel restoran semua tutup pintu, tidak heran kalau keadaan dermaga juga sepi lengang.

Dengan susah payah berhasil juga mereka menggunakan tiga kapal layar, cukup tiba muat seluruh orang-orang Honglumpang yang datang.

Coh-siang-hwi tetap pegang kemudi di kapal paling depan, berlayar ketimur laut menuju ke Giokkoan-to.

Karena pernah datang, sekali maka In Tiau-hiong lebih leluasa bekerja, kapal mereka tidak mengalami hambatan sedikitpun, kali ini.

mereka hanya memerlukan waktu dua jam, Tang-ling kiong sudah jauh kelihatan diatas bukit.

Sudah tentu pihak Tang-ling-kiong sudah kelihatan bayangan orang berlari kian kemari menempati pos-pos penjagaan mereka agaknya musuh sudah siap menyambut serbuan mereka.

Kira-kira lima tombak lagi kapal sudah akan menepi, tapi Liok Kiam-ping sudah tidak sabar lagi, segera dia mendahului melompat tinggi lima tombak.

dengan gaya seorang juara loncat indah dia meluncur keatas hinggap diatas karang tak jauh dibawah undakan batu.

Kejap lain orang-orang gagah lainnyapun eudah berlompatan keatas darat.

Seperti air bah yang tak terbendung lagi, orang-orang Hong-lui-pang terus menyerbu keatas, ternyata perlawanan musuh tidak berarti hingga mereka mencapai depan istana, ternyata ditanah lapang diluar istana inilah Tang-ling-sin-kun pusatkan seluruh kekuatannya untuk menyambut serbuan mereka, Kecuali seluruh anak buah Tang-ling-kiong, pihak musuh ketambah dua padri perawakan kasar dengan kasa warna merah.

Liok Kiam-ping bersama rombongannya maju terus sampai dipinggir tanah lapang.

Padri disebelah kiri gelak-gelak tertawa, katanya.

"Apakah kalian datang dari Kui-hun ceng, Pinceng beramai memang sedang bersiap-siap bersama Tang-ling-sin-kun untuk meluruk kesarang kalian, kebetulan kalian datang sendiri. agaknya yang maha Kuasa nemang memberi berkah kepada kepada kalian untuk mencari jalan kematian. kembali dia akhiri perkataannya dengan loroh tawa latah. Padri bertubuh sedikit kate disebelah kanan ikut menimbrung.

"itulah yang dinamakan berbuat jahat memperoleh ganjaran semestinya, cepat atau lambat jiwa kalian harus menebus dosa."

Betapa jumawa sikap dan tutur katanya sungguh menyebalkan, seolah-olah para pendekar dari Hong-lui-pang sudah dianggapnya domba-domba yang sudah siap dijagal.

Berdiri alis Liok Kiam-ping, maju selangkah dia membentak sambil menuding.

'Kepala gundul, jangan takabur dan membual belaka, sebutkan dulu nama kalian, Hong-lui-pang tidak sudi bergebrak dengan kawanan celurut yang tidak punya nama."

Umpat caci Kiam-ping ternyata manjur, kedua padri asing mendelik gusar, bentaknya geram.

"Anak muda, kau inilah Pat-pi-kim-liong bukan, kami Kelin dan Kelong dua diantara sepuluh Huhoat Pa-kim Tayhud juga tidak kau ketahui, buat apa kau mengagulkan diri dlkalangan Kangouw. ingin aku tanya ada permusuhan apa perguruan kita dengan kau, berani kau membunuh Keling dan Keting dua Huhoat kita, hari ini kau harus menebus dosamu."

Liok Kiam-ping menerawang.

"Bagaimana jadinya padripadri Tibet ini bisa sekongkol dengan pihak Tang-ling-kiong, jelas dalam persoalan ini pasti ada seseorang yang menjadi promotor dari muslihat keji ini."

Lalu dia menyeringai dingin.

"Wah kurang hormat agaknya sikapku tadi, kiranya tokoh kosen dari luar perbatasan yang masih liar, memang harus di akui cayhe belum pernah mendengar nama kalian. Perbuatan jahat, memperkosa, merampok serta membunuh semenamena adalah pantangan utama kaum persilatan, sebagai insan persilatan, menjadi kewajiban kita bersama untuk menegakkan kebenaran, membela yang lemah menindas yang lalim, terhadap manusia durjana yang keliwat berbuat jahat, siapapun wajib menumpasnya. Dengan alasan itulah maka aku wakilkan guru kalian membersihkan anasir jahat, kalian adalah pendeta dari perguruan besar yang ternama, kenapa sebaliknya bicara soal dengan dan pembalasan segala."

Makin berkobar amarah kelin, bentaknya dengan melotot.

"Tutup mulutmu, membersihkan anasir jahat adalah menjadi kewajiban perguruan kita sendiri, umpama hari ini lidahmu dapat berkembang laksana bunga teratai juga jangan harap mencuci bersih dosa kesalahanmu, apapun hari ini kita pasti menuntut balas bagi kematian kedua Sute."

Liok Kiam-ping tertawa menyindir.

"Hanya kalian berdua, apa yakin dapat tercapai?"

Kelong menimbrung.

'Kami dapat perintah kemari untuk membantu Tang-ling-sin-kun, biar kuberitahu kepadamu, guru kami Pa-kim Tayhud dengan empat Huhoat besar segera juga menyusul datang langsung meluruk ke Kui-hun-cang.

sekarang umpama kalian ingin putar balikjuga jangan harap bisa lolos.

Nah, coba kalian lihat kebelakang, apa yang ada di sana."

Tangannya menuding kebelakang orang banyak.

Jian-li-tok-beng dan coh-siang-hwi segera membalik badan, tampak dari arah jalan mereka datang tadi.

pihak Tang-lingkiong telah memasang tiga pucuk bedil, ternyata Tang-lingsin-kun yang culas dan jahat ini insyaf bahwa Hong-lui-pang kali ini pasti menyerbu dengan segala kekuatannya, apakah pihaknya kuat membendung serbuan mereka masih merupakan tanda tanya, mumpung padri Tibet ajak mereka perang mulut, diam-diam dia sebar juru tembaknya berputar kebelakang lalu mencari posisi yang baik siap menembak bila diberi aba-aba.

Jarak orang-orangnya dengan kedua padri Tibet tidak terlalu jauh dari orang-orang Hong-lui-pang, maka mereka agak kuatir bila tembakan bedil mengenai pihak sendiri.

Jian-li-tok-heng banyak pengalaman, coh-siang-hwi cermat dan teliti, kedua orang segera membisiki sesuatu kepada Liok Kiam-ping.

Langsung Liok Kiam-ping angkat lengan kanannya seraya membentak.

"Lekas berpencar dan terjang kedepan, jangan biarkan mereka menyingkir jauh, dekati secara ketat."

Belum habis bicara orangnya sudah mendahului melompat keatas menubruk kedepan, berbareng kedua tangan bergerak menyerang sejurus kepada Kelin.

Memikirkan keselamatan markas pusat di Kui-hun-ceng, pasti Ai-pong-sut Thong can yang berada di sana takkan kuat melawan serbuan musuh.

maka dia merasa perlu urusan di sini segera dibereskan untuk segera pulang memberi bantuan, maka serangannya ini menggunakan tenaga penuh.

Kelin adalah Huhoat terbesar dari sepuluh murid Pa-kim Tayhud, Lwekangnya tangguh, biasanya dia terlalu agulkan dirinya, kali ini ada kesempatan meluruk ke Tionggoan, dia pikir musuh masih terlalu muda, betapapun tinggi Lwekangnya juga pasti bukan tandingannya, maka dia juga gerakkan kedua lengan menangkis hanya dengan delapan kekuatan "Blang"

Dentuman menggelegar.

Badan Kelin yang tinggi besar itu terpental delapan kaki dan jatuh terduduk darah bergolak sudah menyentuh tenggorokan, untung Lwekangnya tinggi, lekas dia telan kembali darah yang sudah hampir menyembur keluar, lekas dia keluarkan sebutir pil merah terus ditelannya, mukanya yang kasar berwarna coklat mengkilap kini menjadi pucat hijau, jelas luka dalamnya tidak ringan

Pukulan Liok Kiam-ping benar-benar memecah nyalinya, dari mana bocah ini bisa memiliki Lwekang setangguh ini ?' Mendengar aba-aba Liok Kiam-ping Kim-ji-tay-beng segera memberi tanda kepada saudaranya, segera mereka berpencar menubruk kearah Tang-ling-sin-kun dan Kim-kong-ci Hong Kiat.

Empat orang ini sudah menjadi musuh bebuyutan, bukan sekali ini mereka sudah bertarung, kekuatan mereka kira-kira seimbang, kini bertarung merebut mati hidup, maka setiap pukulan menggunakan seluruh kemampuan mereka.

Jian-li-tok-heng melompat kedepan Tay-bok-it-siu, katanya gelak tertawa.

"Saudara lama memalukan kalau kami menganggur, hayolah menambah keramaian"

Mulut berceloteh, kaki tangan bekerja, dia mainkan pukulan kilatnya merabu Tay-bok-it-siu segencar hujan badai.

Telapak tangannya berpeta laksana lapisan baling-baling mengurung tubuh lawan Tay-bok-it-siu siap membalas olok-olok lawan, apa celaka serbuan lawan terlalu gencar sesaat dia tersedak kerepotan, terpaksa dia meng konsentrasikan diri mengembangkan Lohing-ciang-hoat, selincah kupu menari dia berlompatan kian kemari setiap peluang tidak diabaikan untuk balas menyerang.

Melihat Kelin Sang Suheng roboh hampir muntah darah dalam segebrak.

Kelong merinding dibuatnya, namun dia nekad menerjang maju dengan sergapan dahsyat membendung pukulan Liok Kiam-ping.

Liok Kiam-ping terloroh tawa, katanya.

"Kalian berdua boleh maju bersama, supaya aku tidak membuang tenaga."

Kedua tangan bergerak.

kini menepuk kedua lawan Dalam pada itu It-cu-kiam Koan Yong, Thi-pi-kim-to Tan Kian-thay dan coh-siang-hwi Ih Tiau-hiang juga menerjang maju melabrak lima jago Tang-ling-kiong.

Sementara si gede Siang Wi tanpa bicara menerjang ketengah rombongan besar anak buah Tang-ling-kiong, Belasan hiangcu yang lain juga menyerbu dengan sengit.

Pertempuran besar berlangsung dalam ketegangan yang memuncak.

benturan senjata tajam diselingi jerit kesakitan, jiwa melayang dan korbanpun berjatuhan diantara ceceran darah yang mengerikan Kim-ji-tay-bang melawan Tang-ling-sin-kun, kedua lawan sama-sama memiliki Ginkang tinggi, mereka mengadu kelincah dan ketangkasan, Lwekang merekajuga setanding, maka pertarungan mereka kelihatan lebih dahsyat, pukulan telapak tangan berwarna kuning emas berbentuk laksana busur yang berpindah-pindah, gerak gerik mereka kelihatan sebat dan saling merebut kesempatan, maka mereka berusaha dahulu mendahului menyerang lawan Kim-ji-tay-beng juga kuatir akan keselamatan markas pusat, maka dia tidak ingin bertempur berkepanjangan, sambil bersiul panjang tubuhnya melambung keangkasa, ke dua tangan terkembang laksana sayap burung mengembangkan Eng-sian-kiu-cwan (elang sembilan putaran) Ginkang andalannya, sinar emas dari kedua telapak tangannya menindih turun dari atas kebatok kepala Tang-ling-sin-kun-Berada di bawah jelas posisi Tang-lin-sin-kun, agak terjepit, melihat lawan menudih dengan setaker tenaganya, dasa rjahat dan otaknya licik, jelas dia tidak mau dikalahkan dengan menderita rugi besar, lekas dia menggeser lima kaki kepinggir, tubrukan dari atas terhitung dapat diluputkan.

Begitu kaki menyentuh tanah, baru saja dia membalik hendak balas menggempur, tak nyana segulung tenaga dahsyat telah menindih tiba laksana gugur gunung.

Ternyata meminjam daya pantul pukulannya yang luput, Kim-ji-tay-beng melambungkan pula tubuhnya sambil berputar satu lingkar mengudak musuh yang menyingkir.

Belum tubuhnya menerjang tiba angin pukulannya sudah menerjang tiba lebih dulu.

Melihat gempuran lawan berantai, untuk menangkis dengan membalik tidak sempat lagi, Tang-ling-sin-kun tahu lebih penting menyelamatkan diri, lekas dia menjejak kaki melompat maju sekalian, begitu ujung kaki menyentuh tanah, kembali dia kerahkan tenaga hingga tubuhnya melejit kedepanpula lebih jauh.

Begitu turun tangan Gin-ji-tay-beng menggunakan caranya pula, setiap pukulannya dilandasi kekuatan Lwekangnya yang dahsyat, padahal taraf Lwekang setingkat lebih asor dari Hong Kiat, namun kekuatan Kim-kong-ci Hong Kiat sudah dipunahkan oleh Liok Kiam-ping, maka Lwekangnya dikorting cukup besar, sehingga pertarungan melawan Gin-ji-tay-beng cukup seimbang.

Setelah mengadu beberapa kali pukulan, bahwa .tenaganya tidak lebih asor, semangat tempur Gin jitay-beng semakin besar, apalagi dia tahu Hong Kiat baru mengalami luka dalam yang cukup parah, meski sudah sembuh juga belum pulih seperti semula, kekuatannya tidak akan kuat bertahan lama, maka serangannya tidak pernah kendor.

Tiga puluh jurus kemudian, Hong Kiat sudah terdesak hingga napasnya sengal-sengal.

Sedang Gin-ji-tay-beng hanya berkeringat jidatnya.

Jian-li-tok-heng sesuai nama gelarannya, diapun mengembangkan kelincahan gerak tubuhnya, Tay-bok-it-siu terus dicecar dengan serangannya, diselingi pula olok-olok yang membakar amarah lawan, karuan Tay-bok-it-siu semakin naik pitam, serangan balasannya semakin sengit dan bernafsu.

Si gede Siang Wi putar tongkat besarnya menerjang kian kemari diantara rombongan besar orang-orang Tang -lingkiong, dimana tongkatnya menyambar, batok kepala pecah, kaki tang a n putus, jeritan demi jeritan.

seperti rumput yang disapu badai saja, anak buah Tang-ling-kiong diterjangnya tercerai berai.

Makin mengamuk Siang wi makin bernapsu, sementar mulutnya berkaok-kaok pula.

"Anak kura-kura, kemana kalian akan lari."

Ditengah menghambur serangan dan caci makinya, sekonyong-konyong segulung angin pukulan dahsyat menerjang dari depan.

Karuan si gede melengak.

gerakannya tertunda sesaat, setelah melihat yang membokong adalah Yuling Kongcu yang juga menghadang didepannya, dengan murka dia ayun tongkatnya mengemplang.

Ternyata sejak tadi Yu-ling Kongcu memimpin juru tembaknya dan memencar kekuatan barisan senjata apinya ini ditempat-tempat strategis, mendadak dilihatnya sigede mengamuk dan membantai anak buahnya dengan tongkat besarnya, lekas dia melompat maju menghadang.

Dia tahu sigede ini meyakinkan kekebalan, senjata tidak mempan, tenaganyapun dahsyat, sukar dilawan dengan kekuatan kasar, melihat pentung lawan mengemplang segera dia kembangkan kelincahan badannya berkelit kekanan, kedua lengan membundar terus terangkap didepan dada serta didorong dengan landasan Hek-sat-ciang kedua telapak tangannya berwarna hitam legam mengeluarkan asap hitam pula.

Bahwa badannya kebal selama bertempur belum pernah menderita kalah, mana si gede tahu kelihayan Hek-sat-ciang, melihat dorongan kedua telapak tangan lawan perlahan dan lemah, pentungnya tetap diputar memapak maju.

Seketika hidungnya mengendus bau racun, kepala menjadi pusing pandanganpun gelap.

"Bluk"

Tongkat besarnya terlepas jatuh, langkahnyapun sempoyongan hampir jatuh.

Melihat serangan berhasil, Yu-ling Kongcu tidak menyianyiakan kesempatan, lekas dia maju selangkah, tangan terangkat terus membelah.

Coh-siang-hwi sedang melabrak seorang jago Tang-lingkiong, jaraknya paling dekat, ditengah pertempuran sengit, dia mendengar tongkat beratjatuh, sekilas dia melirik ke sana, melihat sigede kecundang oleh Yu-ling Kongcu, tempo hari dia pernah terluka juga pukulan Heks sat-ciang Tang-ling-sin-kun.

tahu betapa lihaynya pukulan sesat ini, maka tanpa ayal sekuatnya dia menggempur lawannya hingga terdesak mundur.

kaki kerahkan tenaga menjejak sekuatnya, tubuhnya melambung keudara meluncur kesamping si gede, sambil menahan napas dari samping dia menusuk telapak tangan musuh.

Yu-ling Kongcu tengah lancarkan serangan mematikan, tiba-tiba selarik sinar putih dingin menyambar tiba, betapapun tinggi kungfunya, dia dipaksa menyelamatkan diri dengan membatalkan serangan lebih dulu, lekas dia berkelit kesamping.

Dilihatnya pula asap beracun Heks-sat-ciangnya tidak membawa pengaruh terhadap penyergapnya ini, lekas dia melompat sambil ayun tinju menyerang.

Lebih penting menolong orang, maka coh-siang-hwi berdiri tegak ditengah gelanggang sambil menuding pedang menahan serangan musuh.

Tapi kepandaian Yu ling Kongcu teramat tinggi bagi dirinya, maka dia dipaksa melayani dengan cukup berat.

It-ji-hwi-kiam yang dilancarkan Koan Yong bertubi-tubi laksana semburan sumber air yang deras, lawan digempur ketat sehingga keripuhan-Sementara Thi-pi-kim-to Tan Kian-thay disamping melancarkan ilmu goloknya juga mengembangkan coh-pit-kun (tinjau lengan kiri) dikombinasikan permainan Pat-kwa-to-hoat, sehingga perbawa permainannya berlipat ganda.

Sementara Liok Kiam-ping menahan Kelin dan Kelong, tenaganya lebih kuat, ketrampilannyajuga lebih unggul, namun permainan silat kedua paderi Tibet ini memang aneh dan lihay pula, Lwekang mereka juga tangguh, hingga Kiamping dipaksa untuk mencurahkan perhatiannya.

Mendadak dia bersiul, kedua tangannya melintir terus disendai dengan jurus Llong-kiap-sin-gan.

Wi-liong-ciang merupakan ajaran silat warisan jaman kuno, tampak bayangan telapak tangan berterbangan diselingi gemuruh guntur yang menggelegar, seluruh Hiat-to ditubuh lawan menjadi incaran jari jemarinya.

Betapapun tingginya kungfu Kelin dan Kelong, kapan pernah menyaksikan ilmu pukulan selihay ini, denganjurus apa musuh menyerang, hakikatnya dia belum melihat jelas, maka dia tidak berani melawan dengan pukulan keras pula, dalam seribu kesibukannya lekas dia kembangkan ajaran perguruan yang tidak sembarang diajarkan kepada muridnya, yaitu Liu-sipbiau-hong-pou-hoat, badannya bergeming langkahpun bergerak.

Diluar tahunya jurus serangan Liok Kiamping tidak diteruskan, sebelum tenaga dikerahkan, telapak tangan kiri yang dilandasi tenaga berputar balik dengan jurus Liong-jiauking-thian, secepat kilat menabok belakang batok kepala Keling yang gundul.

Kelong sedang kebingungan karena kuatir Kelin mati dibawah pedang Liok Kiam-ping, apapun dia tidak menduga bahwa gerak gerik lawan bisa segesit setan, tahu-tahu sudah putar balik kebelakangnya, serangannya jauh lebih dahsyat dan sigap dari serangan yang terdahulu.

Padahal angin pukulan sudah menyentuh badan, berkelit jelas tidak sempat, namun dia tetap berusaha menjejak kaki, badannya mumbul kedepan, tapi terasa pinggangnya seperti ditumbuk Suatu benda ribuan kati.

mulutnya seketika mengerang tertahan, orang nyapun ambruk tersungkur, darah menyembur sejauh setombak dari mulutnya.

Sudah tentu Kelin tersirap kaget, serasa terbang arwahnya, nyalinya pecah, lekas dia bersalto beberapa kali, menyelinap kedalam rombongan orang banyak terus menghilang.

Baru sekarang Liok Kiam-ping sempat menjelajah pandang sekelilingnya, dilihatnya si gede menggeletak ditanah, cohsiang-hwi melindungi mati-matian menghadapi serangan Yuling Kongcu, dia membatin sigede tentu semaput terkena pukulan Hek-sat-ciang yang beracun, padahal dengan kekebalan badannya, tak mungkin dia bisa kecundang secepat ini, kuatir coh-siang-hwi juga menjadi korban, lekas dia melesat kesana, tiba diarena.

langsung dia menepuk tangan kearah Yu-ling Kongcu.

Pada saat yang sama, seorang jago pedang Tang-ling-kiong secara diam-diam menyelinap kebelakang si gede yang menggeletak miring tak bergerak.

tiba-tiba pedangnya menusuk kepunggungnya.

Sudah tentu cohsiang-hwi Ih Tiauhiong tersirap gusar, bola matanya melotot membara, untuk membebaskan diri dari serangan Yu-ling Kongcujelas tidak bisa, mana mungking dirinya mampu menyelamatkan jiwa si gede.

Walau kepalang pusing tujuh keliling, pandangan berkunang-kunang, tapi kekebalan si gede ternyata tidak jadi pudar, punggungnya terasa sakit seperti kena lecutan pakaian dipunggung, bolong dan sobek.

garis putih seperti goresan kapur menghias punggungnya.

Melihat si gede tidak kurang suatu apa, lega hati coh-sianghwi, namun amarahnya juga memuncak.

dia benci kepada jago yang membokong secara licik, tanpa bersuara dengan kertak gigi dia merangsa sengit.

Tang-ling-sin-kun didesak mundur berulang kali, karuan semakin membara amarahnya, semula dia berikrar untuk mengulur waktu, setelah para juru tembaknya menempati posisi yang menguntungkan baru akan mengganyang musuh.

Tapi setelah dia menerawang arena pertempuran dilihatnya pihak sendiri jatuh korban lebih banyak.

orang-orang Hong-luipang bertempur seperti banteng ketaton laksana harimau ngamuk celakanya dua padri Tibet yang diandalkan juga sudah dikalahkan, situasi jelas tidak menguntungkan pihaknya, bila tidak segera melancarkan pukulan jahatnya, kemungkinan urusan bisa berantakan, Serta merta dia kerahkan Hek-sat-ciang-kang, dua gumpal asap hitam menyembur dari telapak tangannya menerjang kearah Kim-jitay-beng yang menukik turun Ditengah udara sedang menukik lagi, tahu-tahu dirinya disongsong semburan asap hitam uncuk memutar tubuh jelas tidal keburu lagi, lekas Kim-ji-tay-berg menahan napas serta memberatkan badan anjlok kebawah turun ditanah.

Liok Kiam-ping berhasil membatalkan sergapan Yu-ling Kongcu, baru saja dia hendak menyerang pula, ujung matanya menangkap situasi yang mengancam jiwa rekan-rekannya yang lain, dengan darah tersirap lekas dia menggentak, tubuhnya melambung.

kedua tangan mumpung tubuh masih menerjang kemuka sekuatnya dia pukulkan menimbulkan damparan angin lesus.

Begitu keterjang angin lesus gumpalan asap hitam beracun itupun buyar, meski ada sebagian yang melanda kearah Kimji-tay-beng, untung dia sudah menutup napas, hingga asap racun tidak sampai melukainya.

Tapi hatinya sudah kebat kebit dan mengucap syukur.

Mumpung Liok Kiam-ping menolong Kim-ji-tay-beng, Yuling Kong cupunya peluang berlari kearah barisan juru tembaknya.

Dalam pada itu Gin-ji-tay-beng masih bertarung dengan Hong Kiat, keduanya mengerahkan tenaga latihan puluhan tahun, gempur menggempur adu kekuatan.

Kini napas Gin-jitay-beng juga sudah senin kempis, badan Hong Kiat sudah basah kuyup, napasnya berat tinggal satu-satu, Limu puluh jurus kemudian gerak gerik mereka mulai lamban.

Setiap kali mengadu pukulan harus diselingi istirahat yang cukup makan waktu, begitu bentrok lantas terpencar pula, seperti bocah bermain petak satu sama lain saling kejar.

Seratus jurus kemudian, gerakan mereka benar-benar diperhitungkan, keduanya sudah kehabisan tenaga, laksana dian yang hampir kehabisan minyak.

namun jurus serangan yang dilancarkan justru merupakan ilmu simpanan yang sakti dan tunggal, cukup lama baru melontarkan sejurus serangan Jian-li-tok-heng masih terus mempermainkan Tay-bok-it-siu dengan serangan dan olok-olok, tujuh turunan Tay-bok-it-siu telah dimakinya hingga mata mendelik rambut berdiri, saking murka dan gemas, ingin rasanya dia kremus musuh yang satu ini.

Maka serangannya dilandasi kekuatan besar, laksana angin ribut saja dia menggempur dengan sengit.

Rangsakan badai Tay-bok-it-siu ini justru telah melanggar pantangan bagi setiap pesilat didalam arena pertarungan antara mati dan hidup.

Melihat pancingan berhasil dan saat sudah tiba, maka Jian-li-tok-heng juga lancarkan permainan pukulannya mencapai puncak kehebatannya.

Dengan sendirinya keadaan Tay-bok-it-siu lebih mendekati adu jiwa secara ngawur dan menghabiskan tenaga.

Kebetulan saat itu Jian-li-tok-heng tengah melancarkan jurus cui-hun-cu-bu, (mengejar mega menyandak kabut), kedua telapak tangannya menepuk secara bersilang, kecepatannya luar biasa.

Dirangsak oleh serangan hebat ini Tay-bok-it-siu menyurut selangkah, telapak tangannya sekalian balas menepuk kepundak kiri mengincar Thian-conghiat di pundak kiri Jian-li-tok-heng mengundurkan kaki kiri, berbareng tubuhnya berputar ke kanan, dlkala berputar itulah sigap sekali tangan kiri sudah menggenggam dua butir biji teratai besi.

Bila tubuhnya sudah berputar berhadapan, tangan kanan mencengkeram pergelangan tangan Tay-bok-it-siu dengan jurus memetik bintang merogoh rembulan Karena jarak terlampau dekat, Tay-bok-it-siu dipaksa berkisar sambil berkelit, diwaktu dia menyurut mundur inilah, tangan kiri Jian-li-tok-heng menutupi lengan kanan yang melengkung lalu menggunakan im-jiu menggentak.

tampak dua titik bayangan gem melesat ke kanan kiri pundak Taybok-it-siu.

Jurus Am-toh-tan-jiang (diam-diam menyebrang sungai) me rupakan jurus tunggal yang peranti untuk membebaskan diri dari ancaman elmaut berbareng balas menyerang, sebetulny merupakan permainan keji dan kotor, selama hidup jarang dia guankan, kini mengingat dirinya berada di sarang musuh, menguatirkan keselamatan para saudara yang lainpula, maka dia tidakpikirkan resikonya lagi, tapi setiap dia lancarkan jurus keji ini, tiada lawan yang mampu menyelamatkan diri.

Tay-bok-it-siu diburu amarah, hatinya tegang dilandasi emosi lagi, sehingga serangannya kurang kontrol, begitu merasa samberan angin tajam dia juga sudah menginsyafi adanya bahaya, secepat kilat dia berkisar sambil merendahkan tubuh, meski cukup sigap dia bergerak tak urung pundak kirinya terkena am-gi lawan Jarak sedemikian, daya luncuran biji teratai besi teramat besar hingga senjata rahasia itu tembus melobangi pundaknya.

Saking kesakitan dia menjerit ngeri, badannya terhuyung tiga langkah.

Kali ini Jian-li-tok-heng tidak memberi ampun lagi, laksana setan dia menubruk maju dengan mengayun kedua tangan menyerang Hong-kay-hiat dan Tam-tiong-hiat didada orang.

Serangan ini lebih keji dan menamatkan riwayat orang.

Karena terluka gerak gerik Tay-bok-it-siu sudah jauh lebih lamban, untuk berkelit sudah tidak mampu lagi, cepat dia sumbat beberapa Hiat-to bagian atas disekitar luka, sekalian menjatuhkan diri menggelundung kesana.

Sayang usahanya tetap terlambat serambut, pukulan lawan menyerempet Sengkiat-hiat dan telak mengenai dada, tubuhnya terlempar dua tombak darah menyembur dari mulutnya.

begitu terbanting ditanah dengan luka parah dan semaput.

Jian-li-tok-heng tahu, pukulannya berusaha teramat berat, umpama tidak mati iblis tua ini pasti terluka parah, dalam jangka lima tahun paling cepat baru bisa memulihkan tenaga semula.

Setelah Tay-bok-it-siu dipukulnya roboh, tanpa ayal Jian-litok-heng menyerbu kearah Kim-ji-tay-beng sambil bersiul panjang keduanya mahir Ginkang tinggi, dari kiri kanan mereka menggencat musuh mengudak keluar kalanganmenyusurijalanan kecil mereka berlari kencang kearah kiri terus berputar balik, hanya dalam sekejap tanpa banyak mengeluarkan suara mereka sudah menyelinap kedalam hutan, Mereka merunduk hati-hati dan penuh perhatian menyelinap kebelakang barisan juru tembak yang sudah siap membidikkan bedilnya.

Mendadak keduanya membentak bersama, kedua tangan masing-masing menggempur dengan seluruh kekuatan mereka kearah kawanan juru tembak.

Maka terjadilah penjagalan secara tuntas, di mana angin pukulan melanda jiwa melayang mayat bergelimpangan.

Kaki tangan protol darah berhamburan.

hanya beberapa orang yang sempat melarikan diri kedalam hutan karma jarak mereka tidak terjangkau oleh kekuatan pukulan mereka berdua, sekejap mata musuh telah ngacir dan tidak kelihatan lagi.

Lekas Jian-li-tok-heng melejit kedepan mendekati beberapa pucuk bedil yang ditinggalkan begitu saja, dengan gerak cepat dia kumpulkan beberapa pucuk bedil, serta memegang satu dan siap menarik pelatuknya.

Lain lagi yang dilakukan Kim-ji-tay-beng, dia langsung memanjat keatas ngarai yang berpohon rotan menjuntai kebawah, setelah melampaui sebuah gundukan karang, dia menyusuri lekukan karang menyelinap kebelakang hutan diarah lain, Ginkangnya tinggi gerakannya laksana burung elang yang menyelinap keselah-selah dahan pohon-Bila dia sudah tiba diatas kawanan juru tembak mendadak dia menarik kedua lengannya, laksana malaikat dewata dia terjun dari tengah udara.

Juru tembak itu sedang tumplek perhatian kearah gelanggang pertempuran didepan sana, mimpi juga tidak menduga bahwa elmaut mengancam dari belakang hutan, malah penyergap mempunyai Kungfu tinggi, bila mereka sadar telah kedatangan musuh, untuk menyelamatkan diri atau bertindak sudah tidak keburu lagi.

Sebelum Kim-ji-tay-beng anjlok kebawah, tenaga sudah dikerahkan dikedua tangan.

"Plak, plok"

Beruntun dua juru tembak terdekat telah ditempeleng dan ditabok batok kepalanya, dua jiwa melayang seketika.

Begitu kedua kaki hinggap diatas tanah, ke dua tangannya lantas bekerja, cahaya emas lantas gemerlapan diudara, jeritan demijeritan, berapa kali dia gerakan tangan mengangkat kaki, beberapa orang telah dirobohkan lagi dengan patah tangan, kaki keseleo, mayat tumpang tindih.

Saat itulah juru tembak diarah kanan sana sudah mulai membidikkan bedilnya dengan suaranya yang menggelegar..

"Dar."

Asap mengepul pelor besipun beterbandan sehingga daon-daon pohon rontok berhamburan dengan suaranya yang keresekan.

Jian-li-tok-heng yang sembunvi di hutan sebelah depan segera menggeser arah bedil, tapi dia tidak berani balas menembak karena kuatir bila Kim-ji-tay-beng belum berhasil dengan sergapannya, pihak dirinya kemungkinan bisa jatuh korban lebih banyak, sekali salah langkah, urusan besar bisa gagal total.

Sementara itu Kim-ji-tay-beng sudah menyikat juru tembak dihutan sebelah kiri, segera dia angkat sepucuk senapan terus menembak kearah hutan sebelah kanan-"Dar."

Karuan orangorang Tang-ling-kiong tersirap kaget dan bingung, namun nyali mereka memang sudah ciut, siapa berani mengadu jiwa raga sendiri dengan pelor besi yang mengandung pasir besi, ingin membuang bedil melarikan diri, namun Yu-ling Kong-cu berada dibelakang mendorong semangat tempur mereka, keadaan jadi serba susah, maju mundur berabe, terpaksa hanya mengeluh dalam hati.

Mendengar tembakan Kim-ji-tay-beng Jian-li-tok-heng kegirangan, segera diapun menarik pelatuk bedil menembak kearah kanan, serumpun lidah api menerjang kearah hutan sebelah kanan Maka Kim-ji-tay-beng tahu bahwa Jian-li-tokheng juga sudah berhasil, tanpa ayal kembali dia membidik pula dengan beberapa kali tembakau.

Reaksi jian-li-tok-heng juga tidak lambat, tembakan demi tembakanpun dibidikkan.

Suara "Dar, dor"

Tembakan bedil kuno memang cukup keras hingga mereka yang lagi berhantam ditengah arena pekak telinga.

Sudah tentu juru tembak orang-orang Tang-ling-kiong tidak hiraukan perintah lagi, beramai-ramai mereka lari lintang pukang keempat penjuru.

Yu-ling Kongcu berkaok-kaok sambil mengancam, tapi menyelamatkan jiwa lebih penting, Siapapun tiada yang tunduk akan perintah dan ancamannya lagi.

Karuan amarahnya memuncak.

sambil menggerung dengan mata membara dia melompat ma menerjang kearena, Heksat-ciang di lancarkan sekuat kemampuannya, yang dijadikan sasaran serangan kejinya adalah para Hiangcu, Thocu Honglui-pang.

Tindakan Yu-ling Kongcu memang keji, di mana asap hitamnya menyembur, beberapa jiwa seketika melayang.

Karuan beberapa jago kosen Hong-lui-pang yang sibuk mengganyang musuh dipaksa putar balik melindungi orang sendiri.

orang-orang Tang-ling-kiong sebelumnya sudah menelan obat pena war racun, kalau musuh kuatir menghirup asap beracun sebaliknya pihak mereka menyerbu majupula beramai-ramai.

Melihat situasi yang mendesak bertaut alis Liok Kiam-ping, mendadak dia membentak keras, tubuhnya melejit ke atas menubruk kearah Yu-ling Kongcu.

Begitu tekanan menjadi enteng, Tang-ling-sin-kun kini dapat bergerak bebas, make timbul niat jahatnya, jelas para juru tembak dan bedil pihaknya sudah terjatuh ketangan musuh, terpaksa dia kembangkan senjata ampuh satu-satunya yang masih ada yaitu melancarkan Hek-sat-ciang yang ganas.

Kini ganti dia yang melabrak ke rombongan orang-orang Hong-lui-pang.

Lwekangnya tangguh maka Hek-sat ciang memperlihatkan kekuatannya yang mengejutkan, sebelum tenaga pukulan mengenai sasaran, semburan asap hitam telah melanda lebih dulu, siapa saja sedikit menghirup asap hitam ini, kontan jatuh pingsancoh-siang-hwi Ih Tiau-hiong berteriak.

"Kalian harus menahan napas, cari tempat yang lebih tinggi dan melawan angin,"

Cara yang diserukan ternyata memang tepat, dalam waktu dekat pihak Hong-lul-pang masih belum terancam secara fatal, namun untuk bertahan selamanya diposisi yang lebih menguntungkan jelas tidak mungkin, apa lagi mereka harus melindungi orang-orang yang sudah keracunan, balas menyerang juga serba susah.

Dalam pada itu Gin-ji-tay-beng dengan Hong Kiat sudah berhantam dua ratus jurus, tenaga kedua belah pihak sudah hampir ludes, bola mata mendelik bunder, keduanya saling melotot dengan langkah berat maju setindak demi setindak.

Mendadak Gin-ji-tay-beng menggeram rendah, tenaga terakhir dia kerahkan dikedua tangan terus menggempur kedepan, Gumpalan angin pukulan memang menerpa, tapi kekuatannya sudah jauh berkurang.

Hong Kiat juga kertak gigi, kedua tangan terangkat lurus didepan dada, dari pusar dia kerahkan sisa tenaganya memapak pukulan lawan-\ "Blang"

Dua kekuatan beradu.

Kim-kong-ci Hong Kiat terg entak mundur pula tiga langkah, tubuhnya sempoyongan, tenggorokan terasa anyir, meski sekuatnya dia menahannya supaya tidak tumpah, tapi darah tetap meleleh dari ujung mulut, jelas luka-lukanya tambah parah.

Giniji-tay-beng hanya tergentak selangkah, namun darah bergolak didadanya, matapun berkunang-kunang.

Ternyata kedua musuh ini masih belum kapok, sudah selemah itu kondisi mereka, tapi masih belum ada yang mau kalah dan mengakhiri pertarungan adu jiwa ini.

Dengan langkah berat limbung kembali mereka maju selangkah dua langkah akhirnya berhadapan pula dalam jarak dekat.

Tembakan-tembakan dari sebelah kanan sudah bungkam, Jian-li-tok-heng dan Kim-ji-tay-beng mendengar pertempuran ditengah arena bertambah kalut, maka mereka menduga Yuling Kongcu mengabaikan bedil-bedil, mereka terjun ketengah arena.

Secepatnya mereka menghancurkan bedil rampasan, lalu meluruk kehutan sebelah kanan.

Bedil-bedil yang ditinggalkan, mereka hancurkan pula, terus terjun ketengah gelanggang..

Tang-ling-sin-kun sudah mengembangkan Hek-sat-ciang pada tingkat paling tinggi, bau amis mengarungi seluruh gelanggang pertempuran, Gin-ji--ay-beng sedang mengadu kekuatan terakhir dengan Hong Kiat, keadaannya sudah benar-benar lemah kehabisan tenaga, mana dia sempat perhatikan keadaan sekelilingnya, kebetulan dia berdiri diposisi bawah jadi menghadap kearah datangnya angin Sekilas dia tarik napas, hawa racunpun disedotnya cukup banyak, kontan badannya limbung dan tersaruk jatuh ditanah.

Kim-kong-ci Hong Kiat mengira ada peluang, mendadak dia menghimpun tenaga dan semangat, maju dua langkah tangannya terus diayun Untung Kim-ji-tay-beng terjun kearena tepat pada waktunya, melihat adiknya terluka dan semaput, kini hampir dipukul Hong Kiat pula, lekas dia menghardik sambit mempercepat langkahnya, laksana luncuran anak panah dia memburu kedepan Hong Kiat.

Sinar emas berkelebat, anginpun menderu kencang menindih keatas kepala Hong Kiat..

Tapi asap hitam mengebul menghadang jalan, Kim-ji-taybong harus bergerak secara hati-hati.

sehingga gerakannya banyak tertunda, dengan sendirinya tenaga pukulannya banyak berkurang, maka Hong Kiat hanya tergentak mundur jatuh tersungkur.

Begitu tiba ditengah gelanggang tampak oleh Jian-li-tokheng, orang-orang Tang-ling-kiong sudah memburu datang pula, yang diburu dan diincar adalah orang-orahg Hong-luipang yang sudah tidak berkutik ditanah, seorang Hiangcu yang semaput ditanah sudah terbunuh oleh bacokan senjata musuh, keadaan yang lain juga amat berbahaya.

Lekas dia rogoh segenggam biji teratai besi, kedua tangan menimpuk dengan gaya hujan kembang di angkasa, dia taburkan biji teratai besinya kearah orang-orang Tang-ling-kiong.

Orang-orang Tang-ling-kiong tengah kegirangan, pikirnya dengan mudah dapat mengganyang musuh, tak nyana belum lagi mereka banyak bertindak jiwa sendiri sudah amblas disambar biji teratai besi, tidak sedikit yang menjerit roboh, yang selamat dan hanya terluka segera sipat kuping.

Tapijumlah mereka memang terlalu banyak.

yang depan roboh yang belakang maju pula.

Walau biji teratai besi amat ampuh, betapapun tak mampu membendung arus manusia yang menyerbu secara bergelombang.

jelas situasi amat mendesak.

Menghadapi situasi yang amat kritis coh-siang-hwi tidak pernah gugup atau bingung otaknya memang encer, disamping mencari akal dia bantu para Hiangcu dan Thocu, mumpung Kim-ji-tay beng dan Jian-li-tok-heng memburu datang membendung serbuan orang-orang Tang-ling-kiong.

lekas dia pimpin beberapa orang mengumpulkan kawan-kawan mereka yang roboh kesuatu tempat serta dijaga ketat, situasi berobah lebih enteng dan tidak segawat tadi.

Bukan kepalang benci Liok Kiam-ping akan kelicikan dan kekejian Yu-ling Kongcu dan bapaknya, begitu menerjang tiba dia menyerang dengan jurus Llong-kap-sin-gan.

Wi-liongciang adalah ilmu pukulan digdaya, kini dia menyerang dengan amarah lagi.

Maka perbawanya lebih dahsyat.

Sekujur badan Yu-ling Kongcu seperti dikurung oleh lapisan telapak tangan Dulu Yu-ling Kon-cu pernah kecundang ditangan Liok Kiamping, Lwekang Liok Kiam-ping sekarang jauh maju berlipat ganda, sebelum tenaga pukulan tiba, damparan angin sudah menyapu tiba, karuan pecah nyali Yu-ling Kongcu, lekas dia kembangkan langkah ajaibnya, sekuatnya mengegos tujuh kaki kepinggir.

Bahwa serangannya luput amarah Liok Kiam-ping semakin memuncak.

segera dia melompat keatas denganjurus Llonghwe-kiu-thian menyerang musuhnya pula.

Begitu ujung kaki menyentuh tanah, tenaga gempuran musuh laksana tindihan gunung ambruk telah mengancam punggungnya pula, untuk berkelit lagi kali ini sudah tidak keburu, tapi otaknya memang licik, meski terancam bahaya tidak lupa dia mencari akal menyelamatkan diri, terpaksa dia menjatuhkan diri dengan gerakan keledai malas bergulingan dia menggelundung setombak lebih.

Tenaga pukulan Liok Kiam-ping kedua inijauh lebih ampuh.

"Biang"

Tempat dimara Yu-ling Kongcu berpijak barusan terpukul bolong, tanahnya seperti dikeduk rata.

Yu-ling Kongcu menggelundung cukup cepat, tapi sekujur badan teruruk oleh tanah yang terkeduk oleh kekuatan pukulan tangan Kiamping, keadaannya sungguh lucu dan ruyam.

Melihat putra kesayangannya terancam oleh Liok Kiamping, lekas Tang-ling-sin-kun memburu kebelakang Liok Kiamping, tanpa buka suara mendadak dia menggempur punggungnya.

Tujuannya menolong jiwa putranya maka dapat dibayangkan perbawa kekuatan pukulannya.

Tahu musuh menyergap dengan serangan dahsyat, Kiamping kerahkan Kim-kong-put-hoay-sin-kang menutup seluruh badan.

Begitu teka nan pukulan Tang-ling-sin-kun tiba dibelakang tubuhnya, maka terdengarlah letupan beruntun, seperti riak gelombang yang berbuih terus sirna tanpa bekas.

Karuan saking kaget berobah air muka Tang-ling-sin-kun, pikirnya.

"Sinkang bocah ini agaknya sudah pulih dan maju berlipat ganda pula malah, pertempuran hari ini agaknya sulit mempertahankan Tang ling-kiong pula."

"karuan merinding bulu kuduknya, keringat dinginpun bertetesan. mendadak dia mencebir bibir bersiul sekali, diam-diam dia memberi tanda rahasia kepada Yu-ling Kong cu putranya supaya lekas melarikan diri. Sementara kedua tangan dengan segala daya kemampuannya menggempur Kiam-ping beberapa jurus. Mendengar suara Yu-ling Kongcu tahu maksud sang ayah, segera dia putar badan menyerbu kearena pertempuran orang banyak kembali dia kembangkan Hek-sat-ciang, seperti gila dia merabu kepada musuh. Kuatir pihak sendiri jatuh korban pula, lekas Kiam-ping menepuk sejurus serangan kepada Tang-ling-sin-kun, dari arah samping mendadak dia mencegat ke sana. Ternyata tindakan Yu-ling-Kongcu hanya pancingan belaka, begitu Liok Kiam-ping memburu kemari, segera dia menyelinap kedalam rombongan anak buahnya terus menghilang. Setelah meluputkan diri dari serangan Kiam-ping, melihat sang putra sudah berhasil menyelamatkan diri, kuatir Kiam-ping membalik melibat dirinya dalam pertempuran sengit pula, lekas dia mencelat mundur, sempatjuga dia meraih tubuh Hong Kiat yang menggeletak terus lari kepinggir laut dan menghilang. Kejadian berlangsung sekejap mata orang-orang yang lagi baku bantam itu ternyata tiada yang tahudan sadar bahwa Yuling sin-kun bapak dan anak telah melarikan diri. Melihat tidak sedikit anak buahnya yang menggeletak keracunan, bila tidak segera diberi pertolongan, racun menyerang jantung, meski punya obat dewa juga takkan mungkin bisa ditolang lagi. Maka dia bekerja secara kilat, Hiatto mereka dia tutuk satu persatu, lalu dia keluarkan tiga kelopak kembang teratai saiju, serta dibagi-bagikan kepada semua yang menjadi korban Soat lian obat mujarab, bagi mereka yang keracunan membawa khasiat yang luar biasa, untung orang banyak tidak berat keracunan, tiga kelopak kembang salju itu sudah lebih dari cukup untuk menolong mereka. Tengah Kiam-ping sibuk menolong anak buahnya itu, mendadak didengarnya sempritan melengking sahut bersahutan, waktu dia angkat kepala, dilihatnya anak buah Tang-ling-kiong sedang berlompatan mundur kepinggir laut dan ngacir kedalam hutan. Agaknya baru sekarang mereka sadar bahwa Tang-ling-sin-kun dan anaknya telah menyelamatkan jiwa lebih dulu, tahu Tang ling-kiong takkan kuat bertahan lagi, maka beramai-ramai mereka melarikan diri. Kim-ji-tay-bengJian-li-tok-heng dan lain-lain sudah mengudak dan mengganyang musuh, namun Kiam-ping keburu mencegah dan menarik balik mereka. Lekas sekali para korban sudah siuman, Kiam-ping sendiri sudah mandi keringat. Belum lagi mereka sempat mengatur napas, mendadak dari arah barat daya terdengar dentuman keras, asap biru tampak meluncur ketengah udara lalu meledak keras memercikan kembang api dan asap merah. Itulah tanda bahaya yang sudah dipersiapkan oleh pihak Hong-lui-pang, karuan hati Kiam-ping beramai kaget dan gugup, Kiam-ping membatin. Kemungkinan Pa-kim Tayhud sudah meluruk ke Kwi-hun-ceng, maka markas pusat perlu memberikan tanda bahaya dan minta bantuan Maka dia perintahkan Kim-ji-tay-beng dan It-cu-kiam Koan Yong sementara tetap tinggal diatas pulau ini, menghancurkan sarang musuh, untuk segera menyusul pulang. lalu Kiam-ping pimpin semua anak buahnya kembali, dengan tiga kapal yang mereka bawa lekas sekali mereka sudah berlayar menuju ke ciok-swi-cun. Dalam perjalanan kembali ke ciok-wi-cun itulah, mendadak terlihat dari depan meluncur mendatangi sebuah tongkang kecil sempit yang berlajupesat kearah kapal mereka. Lwekang Kiam-ping tangguh daya, penglihatannya jauh lebih tajam dari orang lain, jarak masih jauh, tapi dia sudah melihat Suma Ling-kong berdiri diujung tongkang sambil tolak pinggang mengawasi kedua kapal besar yang mendatangi. Kebetulan cuaca cerah cerah, tiada angin tiada ombak. kapal berlaju dengan kecepatan tinggi, dalam sekejap tongkang kecil itu sudah dalam jarak sepanahan Kiam-ping segera memberi tanda kapal memperlambat daya lajunya. setelah dekat benar, Kiam-ping memberi aba-aba lalu meraih tambang panjang yang dilemparkan Suma Ling-khong. Tongkang kecil itujuga tidak dinaikan, cuma ditambat disamping kapal hingga berlaju jajar melanjutkan perjalanan kedepan. Setelah berada di atas kapal Suma Ling-khong lantas melaporkan keadaan Kwi-hun-ceng. Ternyata Pa-kim Tayhud dengan ke empat muridnya telah meluruk ke Kwi-hun-ceng, katanya mau menuntut balas kematian Keting dan Keling. Aipong-sat Thong cau dan Pi-lik-jiu cin Khay sedang pimpin seluruh kekuatan yang ada menghadapi tantangan musuh. Lwekang tangguh, kepandaian tinggi, seorang diri Ai-pongsut Thong cau masih mampu menghadapi Pa-kim Tayhud seorang, tapi keempat murid besarnya itujuga memiliki Kungfu tinggi, beringas dan mahir berperang, jelas Pi-lik-jiu ciu Khay danpara Hiang-cu yang ditinggalkan susah melawan ketangkasan mereka. Beruntung jumlah mereka lebih banyak dengan kekuatan keroyokan yang terpimpin, sementara serbuan musuh masih dapat dibendung. Melihat situasi amat mendesak. jiwa orang-orang sendiri terancam bahaya, suatu kesempatan Ai-pong-sut menimpuka n pelor tanda bahaya. Dalam jarak belasan li orang-orang Hong-lui-pang dipendam sepanjangjalan antara markas pusat sampai ke ciokswi-cun, maka secara beruntun, dari satu penjagaan kepenjagaan yang lain tanda bahaya dan minta bantuan itu terus disambung sehingga terlihat dari Tang lingkiong. Terakhir Suma Ling-khong yang melepas tanda s.o.s itu sehingga terlihat oleh Liok Kiamping dan lain-lain Segera Kiam-ping suruh coh-siang-hwi dan lain-lain membantu para kelasi sehingga kapal layar ini laju lebih cepat lagi, beruntung saat itu ada angin buritan lagi, sehingga perjalanan yang biasa makan waktu dua jam kali ini bisa ditempuh dalam satu jam lebih sedikit, lekas sekali orang banyak sudah mendarat di ciokswi-cun. Suma Ling-khong kembali menjadi pelopor barisan, dia menunjukan jalan dan arah sehingga Liok Kiam-ping bisa terus membedal kuda secara berganti memburu ke Kwi-hun-ceng, belum setengah perjalanan kuda mereka sudah ambruk keletihan, terpaksa mereka ganti berlomba lari, semula rombongan mereka masih bisa bergerombol, namun karena Ginkang masing-masing berbeda lama kelamaan banyak yang ketinggalan di belakang, jarakpun makin jauh. Celaka adalah si gede yang tidak pernah meyakinkan Ginkang, dia hanya bisa barlari dengan langkah lebar, meski sudah kerahkan seluruh tenaganya, tetap dia ketinggalan paling belakang. keringat sudah membasahi badan, napas juga egos-ngosan. Dua jam lamanya Liok Kiam-ping tancap gas, berlari dalam keeepatan tinggi, Kwi-hun-ceng sudah tampak dikejauhan-Jarak masih cukupjauh, namun dia sudah mendengar gegap pertempuran yang riuh rendah. Amarah Kiam-ping mendidih dirongga dadanya, segera dia percepat larinya, tubuhnya meluncur bagaikan anak panah melampaui sungai pelindung perkampungan Sekilas dilihainya Ai-pong-sut sedang berhantam sengit melawan seorang padri Tibet bertubuh tinggi besar berkasa merah dengan gelang emas melingkar diatas kepalanya yang gundul. Takjauh dipinggir sana, Pi-likjiu ciu Khay bersama orang-orang Honglui-pang lainnya sedang mengerubut dua padri Tibet kasa kuning yang menyerang bagai serigala kelaparan jelas pihak mereka terdesak payah meski berjumlah lebih banyak. dipinggir gelanggang menggeletak tiga mayat orang-orang pihak Hong-lui-pang yang jadi korban keganasan musuh. ---ooo0dw0ooo---Marilah kita bertolak kebelakang sejenak. Dua hari setelah rombongan Kiam-ping berangkat, menjelang lohor peronda kampung jauh diluar garis sungai pelindung berlari tergopoh mernberi laporan.

"Ada lima padri yang tidak diketahui asal usulnya, tanpa hiraukan peringatan juga tidak mau menjelaskan maksud kedatangan mereka, tapi Lwekang dan Kungfu mereka teramat tinggi terus menerjang kedalam perkampungan, beberapa kawan telah ditutuk mati kutu, gelagatnya tidak menguntungkan bagi Hong-lui-pang kita."

Ai-pong-sut yang memperoleh laporan melengak kaget, sejenak dia berpikir tak habis dia berpikir, kawan atau musuh yang meluruk datang, lekas dia panggil Pi-lik-jiu dan pimpin para Hiang-cu yang lain keluar menyambut, tak lupa dia perintahkan perketat penjagaan Waktu mereka tiba dipintu gerbang perkampungan, tampak lima padri berdiri jajar menghadang pintu.

Yang berdiri ditengah adalah seorang Thauto (imam berambut) dengan rambut ubanan muka merah seperti bayi usianya sudah tujuh puluhan, kedua matanya terpejam, wajahnya yang keriputan tampak merah, mirip sebuah patung batu, yang diletakan ditengah jalan.

Dikanan kirinya berdiri masing-masing dua padri berkasa kuning, semuanya beralis tebal, mata melotot bertampang bengis dan menyeramkan Ai-pong-sut Thong cau membatin.

"orang sering bilang, bukan naga ngamuk takkan menyebrang kali, kawanan padri yang tidak memiliki kepandaian tinggi takkan berani bersikap garang dan berani meluruk ke Kwi-hun-ceng, maksud kedatangan mereka jelas hendak mencari gara-gara, hari ini aku harus hadapi mereka dengan hati-hati, apalagi tampang mereka begitu bengis dan buas, jelas bersikap bermusuhan"

Segera dia tampil kedepan serta menyapa lantang.

"Harap tanya siapakah nama-nama gelar Taysu dan tetirah dikelenteng mana selama ini ? Apa maksud kedatangan kalian ke Kwi-hun-ceng kita ? Semoga sudi menjelaskan pula."

Padri berambut dengan tubuh kekar gede ditengah mendadak membuka kedua matanya, sinar terang mencorong dari bola matanya, suaranya berat.

"Asal Pat-pi-kim-liong keluar, urusan akan mudah dibereskan, kalian tidak perlu tanya siapa kami.' Melihat betapa j umawa sikap mereka.

"Ai-pong-sut yang berdarah panas ini amat gusar, tapi latihan Lwekangnya tinggi, kesaabarannya juga melebihi orang biasa, Sebelum dia tahu asal usul lawan dan tahu maksud kedatangannya, sedapat mungkin dia kendalikan emosi, katanya.

"Siang kemaren karena sesuatu urusan penting Liok pangcu sedang keluar pintu. Taysu boleh jelaskan apa maksud kedatanganmu, bila dia sudah pulang pasti akan kulaporkan kepadanya."

Padri berambut itu menyeringai.

"Masa begini kebetulan, kami datang dari Lun-put-si di Tibet selatan, dari ribuan li meluruk kemari, memangnya harus percaya oleh beberapa patah omonganmu, pulang dengan penasaran, apapun kami harus masuk menggeledah perkampungan ini. Sicu silakan kau minggir."

Habis bicara kakinya bergerak terus melangkah lebar menerjang kedalam.

Padri tibet ini bergelar Pa-kim Tayhud, pemimpin besar Lun-put-si di Tibet selatan, kedudukannya hanya dibawah Dalai Lama, Kungfunya merupakan aliran tersendiri dan menjagoi Tibet Selatan, Thian-liong-toa-patsek yang diyakinkan pernah menggetarkan Bulim.

Waktu mengembara diBulim dahulu Ai-pong-sut pernah merasakan sendiri kelihayan lawan, pada hal waktu itu taraf kepandaiannya juga belum seberapa, dia yakin dengan bekal kemampuannya sekarang kira-kira dirinya masih mampu mengatasinya.

Kini meski dia agak tercengang menghadapi kekasaran lawan, jelas dirinya dipaksa untuk turun tangan-segera dia membentak.

"Berdiri Kwi-hun-ceng adalah markas pusat Hong-lui-pang, mana boleh kau trobosan di tempat suci kita, agaknya kau memang mencari setori, silahkan pamer kepandaianmu, Losiu akan melayanimu."

Pa-kim Tayhud gelak tertawa, katanya.

"Kakek cilik ternyata bernyali besar, tentunya kau bukan orang yang tidak ternama, sebutkan dulu nama gelarmu, akan kupertimbangkan apakah setimpal menghadapiku."

Sudah puluhan tahun Ai-pong-sut Thong cau melang melintang di kangouw, kapan pernah dihina begini rupa, saking gusar dia terbahak-bahak serunya.

"Losiu Thong cau, seorang kroco di Kangouw, marilah kau coba rasakan sekali pukulanku."

Kedua tangan segera menyodok dengan delapan kekuatan tenaganya kearah Pa-kim Tayhud.

Lwekang Pa-kim Tayhud sudah mencapai taraf sempurna, melihat lawan menyerang, dia hanya sedikit merendahkan pundak.

kedua tangan terangkat, dengan lima tenaganya balas menepuk kearah serangan musuh.

Dua jalur kekuatan bentrok "Dar."

Ai-pong-sut kelihatan limbung tapi tidak tergeser dari kedudukan, sebaliknya Pa-kirn Tayhud tertolak mundur tiga langkah.

Baru sekarang dia insaf dirinya dirugikan karena terlalu memandang enteng lawan, dihadapan keempat muridnya dia kecundang karuan amarahnya membara, saking murka dia terkial dingin.

"Tidak nyana, kakek kecil seperti kau juga punya bobot, marilah adu kekuatan sekali lagi."

Kali ini dia menekuk lutut pasang kuda-kuda, lengan bawah menempel dada ke dua telapak tangan terkembang menghadap keluar, dengan mengerahkan setaker tenaga kedua tangannya mendorong kearah Ai-pong-sut.

Damparan angin badai seketika menggulung menyebabkan hawa bergolak dengan desis suaranya yang ribut.

Dalam gebrak pertatria beruntung dirinya lebih unggul seurat, kini melihat lawan menggempur dengan seluruh kekuatannya, tak berani dia melawan, lekas dia mengegos minggir setombak sambil berkelit dia merogoh keluar sebutir pelor peringatan ditimpukan keudara, pelor itu meledak mengeluarkan asap biru membumbung lebih tinggi ke angkasa, ledakanpelor minta bantuan ini lekas sekali sudah terdengar oleh komisaris umum Suma Lingkhong yang berada di clokswi-cun, selanjutnya meneruskan kepada Liok Kiam-ping dan kawankawan-Melihat lawan melepas pelor Pa-kim Tayhud tahu bahwa lawan minta bantuan, maka dia lebih yakin lagi seorang Aipong-sut cukup dirinya melayaninya, jikalau pihak lawan kedatangan bala bantuan, pihak sendirijelas akan kalah.

Rasa jeri yang menggelitik sanubarinya seketika sirna, diapun bersiul memberi aba-aba kepada keempat muridnya, Empat padri yang menonton dipinggir gelanggang segera merubung maju melabrak orang-orang Hong-lui pang.

Begitu pertarungan di mulai Pi-lik-jiu ciu Khay sudah menaruh perhatian terhadap keempat Lama jubah kuning ini, kini melihat mereka maju serentak.

segera dia siapkan anak buahnya.

"Hayo, ganyang musuh.' dia mendahului mencegat salah satu dari keempat Lama itu. Tiga Lama yang lain berpencar melabrak orang-orang Hong-lui-pang, pertempuran menjadi kacau dan suara gegap gumpita. Pa-kim Tayhud juga pergencar serangannya, dibarengi gerak langkah yang gesit pula Ai-pong-sut sudah merasakan kelihayan musuh, maka diapun kerahkan seluruh kemampuannya, segala pikiran dan semangat dipusatkan, dengan penuh waspada dia layani rangsakan musuh. Berhasil mendesak musuh Pa-kim Tayhud bertambah garang, lawan tidak diberi peluang lagi ? Begitu serangan dilancarkan, segencar baling-baling bayangan telapak tangannya merabu seluruh Hiat-to mematikan ditubuh Aipong-sut. Untung ketangkasan gerak Ai-pong-sut cukup lihay, perawakannya kate kecil dan kurus lagi maka dia leluasa bergerak diantara samberan pukulan lawan Dalam sekejap lima puluh jurus telah tercapai, Pa-kim Tayhud insyaf bila pertempuran berjalan lama pasti tidak menguntungkan pihaknya, maka dia bertekad selekasnya mengakhiri pertarungan, maka gerakan kedua kaki tangannya semakin gencar, disamping dia memberi semangat kepada keempat muridnya menggasak musuh sebanyak mungkin-Sekonyong-konyong terdengar jeritan seorang anggota Hong-lui-pang, sedikit lena punggungnya kena dijambret oleh ceng krama n seorang Lama, tubuhnya lantas dilempar pergi lima kakijauhnya, roboh untuk tidak berkutik lagi. Pik-lik-jiu ciu Khay takjauh dari tempat kejadian, ingin membantujuga sudah terlambat, apalagi lawan yang dihadapinya cukup tangguh, seorang diri hakikatnya dia sendiri merasa berat melayaninya, mana sempat menolong orang lain, terpaksa dia menyaksikan seorang kawannya roboh binasa. Namun bola matanya mendelik buas. Hiiiaaat... ' ditengah pekik liarnya, serentak dia lontarkan enam jurus pukulan-Lama yang jadi lawannya gelagapanjuga oleh rangsakan lihay dan mendadak ini, seketika dia terdesak mundur tiga tindak. Sementara itu Ai-pong-sut yang melabrak Pa-kim Tayhud sudah mencapai seratus jurus, betapapun ganas dan lihay serangan Pa-kim Tayhud, namun ujung pakaian lawanpun tak mampu disentuhnya. Mendadak Pakim Tayhud merobah permainan, badannya yang segede anak kerbau mendadak mencelat keudara, kedua lengan terkembang, ditengah udara berputar laksana seekor naga, pukulan telapak tangannya membawa gemuruh guntur menindih kearah Ai-pong-sut. Begitu dia mengembangkan Thian-liong-toa-pat-sek. perbawanya sungguh laksana guntur menggelegar kilat meny amber, bayangan pukulan berderai diang kas a, sehingga susah dijaga atau dibendung. Dahulu pernah Ai-pong-sut melihat gerakan pukulan tangan yang khas dan lihay ini, tapi dulu Lwekang lawan masih belum mencapai taraf yang dikehendaki,jadi perbawanya tidak begitu hebat, kini setelah puluhan tahun kembali Pa-kim Ta yhud melancarkan serangan terhadap dirinya, gelagatnya berbeda pula, mau tidak mau dia kerepotan dan gelagapan pula, waktu melawannya jug a terasa bimbang dan kurang mantap. Untung Ginkangnya sudah mencapai tarap tinggi, langkahnya ajaib pula, sekuatnya dia kembangkan kesebatan tubuhnya baru selamat dari serangan lawan-Tapi hanya berkelit dan mandah diserangjuga bukan cara bertempur yang benar, sehingga dalam melayani serangan lawan terasa makin terdesak dan payah. Setiap jurus dari permainan Thian-liong-toa-pak-sek ini mengandung tiga gerakan variasi, setiap gerakan terbagi pula tiga tipu lihay, setiap tiga jurus dilancarkan harus berganti napas sekali. Bila ilmu pukulan ini dilancarkan harus dilandasi kekuatan Lwekang yang sudah diyakinkan puluhan tahun, tenaga terpusat dipusar kekuatan tersalur ke seluruh tubuh yang membutuhkan jadi berbeda dengan langkah Ling-hi-poukhong tubuhnya bergerak diudara. Pa-kim Tayhud mengejar kemenangan dalam waktu singkat, maka seluruh tenaga dan kemampuannya dipertaruhkan, gerak kedua tangannya menimbulkan damparan angin sekeras amukan badai dig urun prahara. Melihat betapa dahsyat lawan mempergencar serangan, sedikit lena pasti jiwa melayang, lekas Ai-pong-sut konsentrasikan pikiran, sekuat tenaga dia hadapi dan lawan serangan musuh dengan tabah. Kedua orang adalah jago kosen Bulim yang jarang ada tandingan, Lwekang mereka sudah mencapai taraf kesempurnaannya, dengan adu kekuatan setaker tenaga ini, maka dapat dibayangkan betapa hebat pertempuran ini. Benturan demi benturan terus berlangsung, saking dahsyat akibat dari adu kekuatan ini, pohon-pohon tiga tombak disekitar arena tersapu gundul daonnya oleh getaran angin pukulan mereka, ditengah-kepulan debu yang membumbung tinggi hakikatnya susah dibedakan bayangan kedua orang yang lagi baku bantam ini. Sebetulnya Ai-pong-sut Thong cau dapat menundukan lawan dengan ilmu tunggal perguruannya Yan-yam-tam (sepasang pelor belibis), namun setelah pertempuran memuncak sejauh ini, kesempatan mengeluarkan kedua bandulannya itu sudah tiada, mana mungkin dia melancarkan ilmu tunggalnya itu, terpaksa dia kembangkan Ginkangnya, mengikuti situasi dia berlompatan kian kemari. Dua ratus juras telah tercapai, kedua orang yang baku hantam ini masih terus berkutet siapapun tidak berani lena. Keduanya ingin menuntut balas kematian orang pihaknya yang telah gugur, meski tenaga sudah banyak terkuras, namun mereka masih terus serang menyerang dengan tenaga berat. Pertempuran dahsyat yang jarang terjadi dan terlihat di Bulim. Saking murka otot hyau diatas kepala Pi-lik-jiu ciu Khay tampak merongkol keluar mulutpun berkaok-kaok, namun dia tidak mampu membantu anak buahnya yang digasak musuh. Dua Lama tampak melompat jauh ke depan terus menerobos kedalam perkampungan Kalau dibagian luar pertempuran berjalan seru, penjagaan didalam perkampungan juga cukup ketat, namun jago-jago lihay mereka sudah dikerahkan diluar, maka sisa yang berjaga didalam tidak berarti sama sekali. Siau Hong sebetulnya ingin ikut Kiamping dalam penyerbuan ke Tang-ling-kiong, namun setelah bujuk sana bujuk sini terpaksa dia mau ditinggalkan, beberapa hari ini hatinya sedang masgul, maka seharian dia tidak mengunjukan diri, saat itu dia sedang bermalas-malasan diatas tempat tidur. Begitu musuh menggrebek datang Ai-pong-sut lantas melarang siapapun memberitahu kepadanya. Setelah pertempuran berjalan cukup lama, pekik dan jeritan diarena pertempuran semakin keras dan mengerikan, dalam keheningan diatas loteng, Siau Hong dapat mendengarkan sayup,sayup, semula dia kira orang-orang Hong-lui-pang sedang latihan secara masal, tapi lama kelamaan dia mendengar juga suara jeritan yang menyayat hati terasa gelagat tidak beres, memangnya hati sedang masgul, pikiran kalut lagi, kepingin melakukan sesuatu. Bergegas dia melompat turun dari ranjang terus lari keluar. Baru raja dia sampai di Hong-lul-ting, bentakan dan jeritan itu terdengar riuh dari pekarangan luar. Segera dia percepat langkahnya melesat keluar. Sejak menelan soat-lian, Lwekangnya maju berlipat ganda, mendapat bimbingan danpetunjuk Kiam-ping lagi serta latihan bersama jago-jago kosen pula, maka taraf kepandaiannya sekarang sudah cukup tangguh, kira-kira satu kelas denganjago kosen di Bulim. Begitu tiba diarena pertempuran, seketika matanya mendelik gusar, alis tegak berdiri. Dilihatnya dua lama jubah kuning berperawakan tinggi besar sedang mengganas, korban sudah berjatuhan dengan mengerikan-Tapi orang-orang Hong-lui-pang tiada yang takut mati, gugur satu maju dua, depan roboh yang belakang mendesak maju, semangat tempur mereka yang tinggi sungguh cukup membuat jeri musuhnya. Disertai pekik melengking Siau Hong jinjing pedangnya meluruk kearah salah satu padri Lama terus menusuk. Bencinya keliwat batas karena Lama ini terlampau ganas dan keji, maka serangannya ini menggunakan jurus Hian-li-kiamhoat yang baru saja diyakinkan. Hian-li-kiam-hoat memang serasi untuk permainan seorang perempuan, gerakannya gemulal enteng dan lincah, setiap gerakannya merupakan serangan yang ketat hingga Lama itu didesaknya mundur. Sayang dia baru belajar dan gerakan belum sempurna, Lwekangnya belum cukup kuat untuk melandasi permainan ilmu pedangnya, hanya sekejap serangannya kuncup ditengah jalan, dari pihak yang mendesak segera menjadi pihak yang didesak malah. Pada hal ilmu pedang ini khusus bermanfaat untuk menyerang, kini terpaksa hanya untuk bertahan, maka keadaannya semakin parah. Lima puluh jurus kemudian dia sudah terdesak dibawah angin, sekujur badan basah kuyup oleh keringat, napasnya pun tersengal berat. Melihat betapa cantik menggiurkan gadis lawannya ini, timbul niat jahat Lama jubah kuning, untuk membekuknya hidup -hidup, maka serangannya diperhitungkan sekali, kalau tidak sejak tadi Siau Hong tentu sudah dikalahkan, mungkinjiwa juga sudah melayang. Pertempuran dibilangan luar ternyata masih terus berlangsung dalam suhu tinggi. Pa-kim Tayhud terpaksa harus mengulang permainan Thian-liong-toa-pat-sek, kini berbeda pula cara bertempur mereka, tidak lagi mengembangkan kelincahan tubuh, tapi melancarkan pukulan berat yang mengurus tenaga. Jidat basah alis Ai-pong-sutpun sudah lengket. Demikian pula napas Pa-kim Tayhud menderu seperti babi yang siap dijagai. Setelah dua Lama menerjang masuk keperkampungan, tekanan terhadap Pi-lik-jiu ciu Khay jauh berkurang, walau pihaknya berjumlah banyak, keadaan masih bertahan sama kuat, namun mereka tidak mampu merobohkan atau memukul mundur musuh. Disaat orang banyak bertempur mati-matian itulah, sebuah siulan bernada tinggi mengalun diang kas a, sebelum lenyap gema suaranya, sesosok bayangan sudah meluncur turun hinggap ditengah arena. Begitu Liok Kiam-ping tiba, disusul beberapa bayangan orang berdatangan pula. Karena Lama yang meluruk datang masih asing bagi dirinya, untuk tahu seluk beluk lawan, maka Kiam-ping sengaja gunakan hardikan Say-cu-bong. 'Kalian berhenti.' sementara langkahnya lebar menghampiri Pa-kim Tayhud. Bentakannya sekeras geledek. hadirin seperti dikemplang kepalanya, semuanya tergetar mundur, siap bertindak menurut perintah. Melihat orang orang Hong-lui-pang datang pada saatnya, sungguh senang dan lega hati Ai-pong sut, lekas dia bersimpuh menenangkan hati bersemadi, setelah baku hantam selama dua jam, keadaannya boleh dikata sudah teramat payah. Begitu berhadapan dengan Pa-kim Tayhud, Liok Kiam-ping menyeringai dingin, katanya.

"orang beribadat harus mengutamakan welas asih, bebas dari duniawi, menganjurkan umat Tuhan berbuat bajik dan menjadi teladan kaum penjabat. Tanpa sebab Taysu menyerbu kemarkas kita, main bunuh lagi, cayhe mohon tanya kepada Taysu apa alasanmu."

Pa-kim Tayhud menenangkan hatijuga, segera dia menatap pemuda yang menghampiri, katanya.

"Tentu tuan inilah Patpi-kim-liong Liok Kiam-ping adanya, kami bercokoljauh diselatan Tibet, tak pernah bersaing atau bermusuhan dengan semua aliran persilatan di Tionggoan-Beberapa bulan yang lalu dua muridku keling dan Keting karena sesuatu urusan datang ke Tionggoan, ternyata keduanya gugur dalam menunaikan tugas oleh pukulan Liok-pangcu, mohon sudi kiranya memberi keadilan kepadaku."

Kiam-ping berpikir.

Jadi dia inilah Pakim Tayhud, mungkin dia digosok danperCaya pengaduan muridnya, sengaja meluruk datang menuntut balas, permusuhan telah terjadi, pertikaian ini jelas tak mungkin didamaikan lagi."

Maka dengan tersenyum dia berkata.

"Sejak dahulu kala, peradaban bangsa kita paling menentang perbuatan cabul. Bagi kaum persilatan jaga merupakan kejahatan yang paling kotor danpantas diganyang, Keling dan Keting sebagai murid Taysu sepantasnya berdarma bahti kepada umat manusia, banyak menimbun kebajikan, tapi sebaliknya mereka justru bertindak lalim, mengandal Kungfu yang tinggi menindas sesama kaum persilatan yang lemah, ditengah siang hari bolong, menggoda perempuan berbuat mesum lagi, maka kematiannya setimpal menebus dosanya. cayhe mewakili pihak yang berdiri di tengah keadilan menghukum mereka, maka Taysu harap maklum dan periksa adanya."

Pa-kim Tayhud mendengus hidung, katanya.

"Padri perguruanku, bila benar membuat pelanggaran dia akan dihukum oleh adat dan undang-undang perguruan, orang lain tidak pantas menghukumnya, kau sudah lancang bertindak. tidak memberi penjelasan pula kepadaku, hari ini urusan terlanjur sejauh ini, kalau kami sudah berani meluruk kemari, sebelum urusan beres, jangan kira kami takut lantas mau ngacir."

Tahu urusan tidak bisa dijelaskan, saking murka Kiamping tertawa lebar, katanya.

"Kiranya Taysujuga hanya begini saja, kau lebih cenderung bermusuhan daripada melaksanakan kebajikan, Baiklah, urusan hari ini terpaksa diselesaikan dengan kekuatan Kungfu."

Mengencang alis Pa-kim Taysud, katanya.

"Memang itulah maksud kedatanganku, entah bagaimana kau akan bertanding."

Sebagai tuan rumah aku sih menuruti kehendak tamu, boleh Taysu mengajukan caranya, aku pasti mengiringi."

Pa-kim Taysu membatin.

"Bocah ini amat sombong, konon Liat-jit-kiam-hoatnya ganas dan digjaya, kalau bertanding senjata mungkin aku tiada harapan."

Maka dengan tersenyum dia berkata.

"Baiklah, bagaimana kalau kita bertanding tenaga pukulan ?"

"Boleh saja, sekuatnya aku akan melayani."

"Baik, pertama kita mengadu tiga kali pukulan."

Lalu dia mengempit ketiak dengan kedua telapak tangan bergerak membundar terus berjaga didepan dada. Bentaknya.

"Nah silahkan serang lebih dulu."

Kungfu Kiam-ping tinggi, hatinya tabah, musuh tangguh didepan mata, meski kelihatan sikapnya ramah dan santai, dia berkata tawar.

"cayhe tidak sudi mendahului."

Melihat lawan masih muda belia, umpama sejak dilahirkan dari rahim ibunya bocah ini sudah belajat silat, paling juga baru memiliki latihan Lwekang dua puluh tahun, namun berani bermulut besar dan seangkuh ini, maka bertaut alisnya, bentaknya gusar.

"Sambut pukulan."

Kedua telapak tangan menyilang maju terus berputar lurus dengan tepukan delapan bagian tenaganya.

Liok Kiam-ping merasakan betapa dahsyat pukulan lawan, dia konsentrasikan diri, badan sedikit jongkok kaki setengah langkah menyurut mundur, kedua tangan menghimpun delapan puluh prosen tenaganya balas menepuk kedepan.

"Byaar."

Dentumam keras menggoncang bumi sehingga menimbulkan reaksi yang bukan kepalang hebatnya.

Pa kim Tayhud tersurut selangkah lebar.

Liok Kiam-ping hanya melangkah setengah tindak pula.

M impipun tak pernah terbayang dalam benak Pa-kim Tayhud, bocah semuda ini ternyata memiliki Lwekang setangguh ini, maka dia tidak berani ayal, lekas dia kerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, pelan tapi meyakinkan disalurkan kedua lengan, gerakan lamban memberi peluang supaya benaknya berpikir mencari akal, cara bagaimana dirinya harus menggempur dan menjatuhkan lawan, Kali ini pukulannya betul-betul menggunakan setaker tenaganya, kembali pukulan dilontarkan.

Liok Kiam-ping juga sudah bersiap.

dia eambutpula dengan pukulan kedua tangan.

Kali ini Liok Kiam-ping coba mempraktekan ilmu pukulan lengket yang baru dipelajarinya dari Thian-tok-cin-keng, begitu kedua tenaga raksasa beradu, tenaga yang tersalur mendadak disedotnya kembali.

Karena benturan dahsyat ini badan Pakim Tayhud sebetulnya sudah terjengkang kebelakang.

mendadak terasa segulung tenaga besar menyedot sehingga kekuatan pukulannya yang dahsyat tersirap kedepan, maka tanpa kuasa tubuhnya tersuruk maju selangkah malah.

Tapi dia tidak tahu bahwa Liok Kiam-ping telah menggunakan akalnya, dia sangka tenaga land as a n lawan kurang kokoh sehingga terlanda oleh tenaga pukulannya hingga pertahanannya jebol.

Maka hatinya diam-diam senang, dengan setaker tenaganya pula dia melontarkan sekali pukulan lagi.

Liok Kiam-ping mempraktekkan manfaat besar untuk percobaan kecil, ternyata manjur dan berguna, betapa senang hatinya sungguh sukar dilukiskan-Begitu usahanya berhasil, semangat tempurnya makin menyala.

Melihat lawan menggempur pula, dari deru suaranya dia tahu pukulan kali ini lebih dahsyat pula, lekas dia kembangkan pula daya lengket, kedua tangan yang didorong lurus kedepan mendadak ditarik mundur.

Begitu gempurau dilancarkan, tenaga pukulannya ternyata seperti tengelam di lautan, bukan saja tidak menimbulkan reaksi malah tubuhnya tersuruk maju dua langkah pula, lekas dia kerahkan tenaga diujung jari-jarinya supaya tubuh terkendali.

Saat itulah Liok Kiam-ping kerahkan seluruh tenaga dikedua telapak tangan terus menggenjot kedada lewan.

Begitu pukulannya sirna Pa-kim Tayhud sudah tahu gelagat mengancam dirinya, lekas dia melempar tubuh sendiri kebawah, terus menggelundung pergi dengan gerakan Uihong-toa-gun sin (naga kuning menggelundung pergi).

Tapi pukulan Kiam-ping memang teramat dahsyat, meski reaksinya cukup cekatan, tak urung badannya tergentak dua tombak jauhnya, beruntung dia sempat menggelundung sehingga luka-lukanya tidak begitu parah, namun nyalinya sudah pecah.

Ternyata Kiam-ping juga tidak mau bertindak terlalu kejam, maka dia tidak mengudak serta menyusuli serangan pula sambil berdiri menggendong tangan, dia tersenyum ditengah arena, lawan ditatapnya tajam.

Begitu kedua kaki mendepak badan Pa-kim Taysu sudah mencelat berdiri, melihat betapa sikap lawan dirasa mencemooh dan menghina, amarahnya malah berkobar, selebar mukanya merah coklat, sambil menggeram buas dia lancarkan Thian-liong-toa-pat-sek merabu dengan sengit.

Liok Kiam-ping kembangkan Leng-hi-pou-hoat, gerakannya tampak santai dan tak acuh, berkelebat kian kemari ditengah samberan pukulan lawan tubuhnya tampak lemah gemulai tapijuga gagah.

Sementara ituSiau Hong melawan seorang Lama bernama Keping, tenaganya sudah lemah Keping menggoda pula dengan ceriwis sehingga amarahnya makin menyala, namun dengan kertak gigi dia mengamuk dengan serangan gencar, meski langkahnya sempoyongan tak karuan, sering pula serangan lawan tak sempat dihiraukan lagi boleh dikata, dia sudah nekat dan ingin adujiwa dengan musuh.

Hal ini-justru membuat keping kerepotanjuga, karena ingin membekuknya hidup,hidup, dia harus berusaha menyelamatkan diri dari serangan lawan, dia dipaksa mundur tiga langkah.

Namun Lwekangnya tangguh, kepandaian tinggi, hati tabah dan tenang, setelah mundur, dia curahkan perhatian, sering balas menyerang lagi sambil tetap mengoceh dengan olokolok yang kotor.

Seorang Lama lagi bernama Kelu, dengan bahasa Tibet mendadak dia memberi peringatan kepada Keping, Segera dia pergencar seraagannya kepada orang-orang Hong-lui-pang yang mengeroyoknya, lawan dilabraknya kocar kacir.

Tenaga lemah sebaliknya kepala seperti hampir pecah, Siau Hong masih nekat menyerang membabi buta, karena tanpa penjagaan sama sekali sudah tentu banyak.

kelemahannya hingga musuh mendapat banyak kesempatan untuh menyergapnya.

Sekonyong-konyong dirasakan pinggang terasa linu, pedang panjang jatuh ditanah orangnya juga roboh.

Sekali raih Keping berhasil menyambar tubuhnya, sekali lompat dia lari kepinggir tembok serta melompat keluar sana.

orang-orang Hong-lui-pang berusaha merintangi, namun mereka digasak oleh Kelu hingga jatuh pontang panting.

Begitu Keping melompat keluar tombok, lekas sekali Kelu sudah menyusul, nampak dua bayangan kuning berkelebat diluar tembok terus menyelinap kedalam hutan-Gerakan mereka teramat cepat, orang banyak yang berkepandaian biasa tiada yang mampu menyandak apa lagi merintangi.

Dengan langkah ajaibnya Liok Kiamping sementara itu sedang menghadapi Thianliong-toa-pat-sek Pa-kim Tayhud, pertarungan hebat yang jarang terjadi dalam Bulim selama ini, kedua pihak bergerak penuh perincian, setiap serangan sudah diperhitungkan secara masak disamping menyerang dengan tipu lihay, sekaligus berusaha memecahkan serangan lawan, maka adu kekuatan ini memuncak tegang, tiga tombak disekitar arena hawa terasa mendidih, hingga penonton di luar gelanggang seperti dihembus angin panpas dari tungku yang membara.

Lima puluh jurus kemudian Thian-liongtoa-pat-sek telah dikembangkan mencapai puncaknya, dikala tubuhnya melambung berlegot diudara laksana nags, lapisan bayangan telapak tangan terus menindih laksana jala besar.

Kiam-ping lebih waspada, seluruh perhatian dia curahkan untuk melawan serangan disamping dia mencari luang untuk balas menyerang dengan juras yang mematikan-Sekarang Pakim Tayhud baru sadar bahwa lawan sejauh ini melawan masih belum melawan dengan sepenuh tenaga, umpama dia boyong seluruh kemampuannya melancarkan Thian-liong-toapat-sekpulajuga tiada artinya lagi.

Celaka adalah bila lawan melontarkan ilmu simpanannya yang sakti, pasti dirinya akan kecundang dan beroleh malu besar.

Makin dipikir hati makin kecut, jikalau dirinya tidak mendahului melancarkan ilmu simpanan yang ganas, sebentar lagi untuk berlalu dari tempat ini kemungkinan sudah terlambat.

Mendadak dia turunkan badannya kepinggir sambil menggentak lengan kanan, selarik sinar berkelebat meluncur kebatok kepala Liok Kiam-ping.

Melihat serangan lawan belum mencapai sasaran sudah ditarik balik serta mencelat mundur hati Kiam-ping sudah curiga, tengah membatin tiba-tiba selarik sinar putih telah mengancam kepalanya.

Lekas dia kembangkan jurus penyelamat Sui-bong-biau-si (melayang mengikuti arah angin) dari Leng-hi-pou-hoat, tubuhnya bergerak laksana setan dalam kecepatan yang tak terukur, sekali berkelebat bayangannya sudah lenyap.

Pa-kim Tayhud sudah kegirangan bahwa serangan kejinya bakal melumpuhkan lawan, namun dalam sekejap mendadak bayangan lawan lenyap dari pandangan mata, karuan dia melenggong.

Seluruh hadirin yang menyaksikan diluar gelanggang juga tiada yang tahu dengan gerakan apa Liok Kiam-ping menyingkir Karena melenggong gerakan Pa-kim Tayhud sedikit merandek, Jian-li-tok-heng banyak pengalaman, baru sekarang dia melihat sebuah benda mengkilap bundar berbentuk seperti topi, seketika dia menjerit kaget.

"Hiat-te-cu."

Hiat-te cu adalah senjata ampuh kaum Lama yang punya kedudukan tinggi diistana raja yang berkuasa sekarang, biasanya jarang dipertunjukan dimuka umum, hadirin juga hanya pernah mendengar namanya, belum pernah menyaksikan sendiri.

Am-gi seperti ini hanya dikendalikan oleh kekuatan hawa murni pemakainya, dalam jarak setombak lebih masih mampu terjangkau, hanya keserempet saja jiwa bisa melayang, apa lagi kalau kepala kecaplok, leher putus jiwa melayang, merupakan senjata rahasia paling jahat masa itu.

Beruntung Liok Kiam-ping berulang kali menemukan rejeki besar, Lwekangnya sudah bertambah lipat ganda, maka dengan mudah dia meluputkan diri.

Mendengar pekik suara Jian-li-tok-heng, jantung lantas berdegup, Tapi sikapnya tetap tenang dan wajar, katanya setelah terkekeh dingin.

"Ternyata TaySu juga punya kedudukan tinggi di istana, sungguh cayhe berlaku kurang hormat."

Bahwa serangannya luput Pa-kim Tayhud kebingungan sendiri, mendadak didangarnya lawan bersuara di belakang, amarahnya semakin membara, kembali tangan kanan menggentak terus di sendai, berbareng badan berputar, di mana cahaya putih berkelebat ke belakang, kali ini dia menyerang dengan setaker tenaga, maka daya luncur Hiat-tecujauh lebih pesat.

Tapi cara yang digunakan justru telah melanggar pantangan kaum persilatan umumnya.

"Haaaiiiit."

Kiam-ping menggembor panjang, Kim-kongput-hoay-sin-kang dikerahkan, kedua tangan berganti memukul kearah sinar putih yang meny amber tiba, berbareng tubuh menggelundang pergi, syukur masih sempat menyelamatkan diri.

Kali ini Pa-kim Tayhud yakin serangan yang dilancarkan sepenuh tenaga ini pasti dapat merobohkan lawan, tak nyana baru saja cahaya putih mumbul mencapai ketinggian tertentu, terasa gerakannya seperti terbendang tembok baja.

jelas Hiatte-cu tak mampu menembus pertahanan Kim-kong-put-hoaysinkang, lekas dia kerah-kan tenaga menekan tangan kebawah supaya Hiat-te-cu yang bercahaya kemilau itu menungkrup kebawah, namun pukulan Liok Kiam-ping sudah menerjang tiba.

""Blam"

Cahaya putih terpukul serong ke pinggir.

Dua kali serangannya tidak berhasil, mengkirik sendiri bulu kuduk Pa kim Tayhud hal ini belum pernah terjadi selama dia menggunakan Hiat-te-cu, namun dasar licik dan licin, segera dia bergelak tawa, katanya.

"Agaknya Sicu sudah meyakinkan ilmu sakti mandraguna dari aliran Buddha, Kim-kong-put-hoay-sin-kang. Baiklah selama gunung tetap menghijau, pada tanggal sembilan bulan sembilan tahun ini, Lolap akan meluruk balik ke Kwi-hun-ceng guna mohon pengajaran lebih jauh."

Tanpa menunggu jawaban Liok Kiam-ping segera bawa kedua muridnya terus berlalu masuk kedalam hutan-orang banyak hendak mengejar, tapi dicegah oleh Liok Kiam-ping.

Waktu mereka beranjak kedalam perkampungan, dari dalam berlari keluar seram dengan orang semua merubung ke depan Liok Kiam-ping, sebelum memberi hormat seorang telah memberi laporan dengan muka pucat.

"Pangcu, celaka dua belas, nona Siau Hong diculik dua orang Lama setelah ditutuk hiat-tonya. kami beramai tak mampu merintangi dan mengejarnya, harap Pangcu lekas bertindak."

Mendangar kabarjelek ini karuan semua orang Hong-luipang kaget dan gusar, semua melenggong saling pandang.

Terutama Liok Kiam-ping, sedihnya bukan main, menyesal kenapa membiarkan Pa-kim Tayhud bertiga berlalu begitu saja.

Meski otaknya enter namun menghadapi kejadian mendadak begini, dia jadi kebingungan dan kehabiaan akal.

Sambil meng gereget segera dia bergerak hendak mengudak.

Tapi Ai-pong-sut dan lain-lain membujuk orang banyak segera kembali keperkampungan, mencari akal untuk bertindak supaya tindakan tidak sia-sia, kalau mengejar tanpa rencana, bukan saja tidak berhasil, urusan mungkin b ia a lebih parah.

Liok Kiam-ping menghela napas panjang dengan langkah berat dia pimpin orang banyak banyak masuk kependopo.

Lekas sinar tabir malam telah menyelimuti alam semesta, hembusan angin senja terasa semilir memabukan.

Sudah saatnya orang beriatirahat, namun mereka masih sibuk berunding dan mengatur merancang apa yang harus dilaksanakan Menjelang tengah malam seluruh Kwi-hunceng masih kelihatan sibuk.

bayangan orang tampak bergerak hilir mudik, lampu terang benderang di segala pelosok.

petugas bekerja keras, burung-burung merpati pos satu persatu dilepaskan, bunyi desiran angin sayapnya terdangar ramyai data dalam sekejap tertelan tabir malam.

keadaan agaknya cukup tegang.

Merpati pos itu sudah terlatih sedemikian rupa, meski dihujan lebat atau malam gelap juga dapat menunaikan kewajibannya dan baik.

Lilin besar menyala didalam Pau-gwat-lou, pimpinan tertinggi Hong-lui-pang sedang mengadakan sidang darurat, wajah mereka kelihatan serius, semua menepekur mencari akal, suasana hening terasa mencekam hingga napas mereka terdangar berat, petugas ronda diluar jaga mondar mandir dengan langkah prihatin, bicara tidak berani keras.

Setelah menghela napas Liok Kiam-ping berkata.

"Karena kelalaian cayhe hingga Pa-kim Tayhud pergi dengan bebas, terjadi pula perobahan tak terduga ini hingga sulit untuk menolong siau Hong. Betapapun Lama jubah kuning itu harus dibekuk dan dihukum setimpal, kalau tidak bila hal ini tersiar diluar, wibawa Hong-lui-pang yang baru berdiri akan pudar dan mengalami pukulan berat"

Lalu geleng-geleng dan menghela napas pula. Jun-lui-tong TongcuJian-li-tok-heng berkata.

"Pangcu, bukan saatnya kau menyalahkan diri sendiri, tadi kita semua juga hadir, siapapun tidak menduga dalam perkampungan terjadi periatiwa yang kebetulan ini, yang penting sekarang kita harus menyelidiki jejak musuh. Hoat-hi-tong Tongcu Ginju tay.beng angkat bicara.

"Siau Hong terculik dari markas pusat, betapapun kita harus berusaha sehingga mereka tak mampu lari jauh, menurut pendapatku lekas kita kerahkan seluruh kekuatan mengudak ke berbagai arah, umpama tumbuh sayap juga mereka takkan bisa lolos."

Aipong-sat berkata.

"Urusan tidak boleh terburu nafsu, kukira lebih penting kita cari tahu jejak musuh baru mengejarnya serentak, kalau berpencar mengudak tanpa tujuan, bukan saja menghabiskan waktujuga membuang tenaga, hasilnya nihil lagi, musuh punya kesempatan menyergap kita, maka akibatnya lebih parah."

Gin-ji-tay-beng mendebat.

"Dunia seluas ini, dalam waktu singkat kemana kita harus mencarinya."

Gin-ji-tay-beng gelisah katanya.

"Dunia seluas ini, ke mana kita harus mencarinya ?' Maka Liok Kiam-ping bertanya kepada Jin-bong-tong Tongcu Kim-ji-tay-beng.

"Apakah laporan dari berbagai cabang sudah tiba."

"Burung dara pos yang membawa surat sudah dilepas, namun paling cepat juga besok pagi baru bisa memperoleh jawaban"

Demikian sahut Kim-ji-tay-beng.

Jian-li tok-heng menimbrung.

'Tampang dan dandanan mereka gampang dikenali, bila berbagai kekuatan cabang kita dikerahkan, yakin jejak mereka pasti dapat ditemukan secepainya, semoga sebelum terang tanah, kita sudah memperoleh laporan yang diharapkan-' Kata Liok Kiam-ping kemudian setelah terpekur.

'Kalian sudah bekerja berat semalam suntuk.

satu jam lagi sudah bakal terang tanah, silakan kalian beristirahat saja, pulihkan dulu tenaga dan semangat supaya besok bekerja lebih baik."

Memang orang banyak sudah letih, segera mereka berpamitan dan mengundurkan diri, untung mereka memiliki dasar Lwekang tangguh, hanya samadhi satu dua jam juga sudah cukup untuk memulihkan kondisi semula.

Kira-kira sejam kemudian, dua suitan berbunyi diudara, dua ekor burung datang menukik turun kedalam Kui-hun-ceng.

Sementara itu Liok Kiam-ping yang sedang samadi sudah mengatur pernapasan dan mengerahkan hawa murni satu putaran, kondisinya boleh dikata sudah pulih seperti sedia kala, memang Lwekangnya sudah amat tinggi, maka pendengarannya teramat tajam, mendengar suara burung dara yang menukik turun, hatinya amat senang, baru saja dia berdiri.

Seorang Hiangcu berseragam biru sudah muncul diambang pintu ruang langsung memburu kedepan Liok Kiamping serta mengangsurkan sepucuk surat dengan kedua tangannya, katanya.

"Lapor Pangcu, inilah surat laporan dari cabang di Tinkang diutara sungai, silakan memeriksanya."

Liok Kiam-ping mengangguk seraya terima surat itu, dia suruh Hiangcu itu mengundurkan diri.

Sementara itu orang banyak juga sudah memburu datang dari berbagai penjuru, tampak semangat mereka sudah segar dan gagah.

Gin-ji-taybeng yang berwatak berangasan membuka suara lebih dulu.

"Padri Tibet itu datang dari Lun-pu-si, kenapa sekarang menempuh perjalanan ke utara, mungkinkah hanya perangkap belaka?"

Jian-li-tok-heng si ahli pikir berkata.

'Pa-kim Tayhud memiliki Hiat-te-cu, kemungkinan besar dia adalah salah satujago kosen istana yang baru diundang untuk mengisi kekosongan jabatan di sana, sekarang kebetulan dalam perjalanan ke Pak-khia, mumpung ada kesempatan dia ingin menggunakan kekuatan pemerintah memancing kita masuk perangkapnya.

Kalau dugaanku ini betul, maka urusan memang cukup genting."

Ai-pong-sut Thong can mengangguk, katanya.

"Kota raja dijaga ketat, kalau padri Tibet itu meminjam kekuatan pemerintah untuk melawan kita memang patut dipikirkan secara cermat, urusan hanya boleh di selesaikan dengan akal, jangan pakai kekerasan yang tanpa perhitungan maka menurut pendapat Los iu, perbuatan mereka yang rendah dan hina dina ini pasti takkan berani dilakukan secara terangterangan, karena perbuatan merekapun termasuk melanggar hukum."

Bertaut alis Liok Kiam-ping, katanya.

"Dari kejadian yang beruntun ini, kedatangan padri Tibet kemari dan membela pihak orang-orang Glokshoan-to pasti sudah direncanakan sebelumnya, dibela kang layar pastijuga ada seorang biang keladinya, tujuannya jelas untuk meruntuhkan Hong-lui-pang kita, menculik Siau Hong tidak lain hanya untuk memancing aksi kita saja, bukan mustahil sekarang mereka sudah mengatur berbagai perangkap keji, namun perangkap apapun Hong-lui-pang kita pantang mundur"

Mendadak Kim-ji-tay-beng tepuk tangan dan berseru.

"Betul, apakah kalian masih ingat begal tunggal Hwe-giam-lo SiuJan yang tiga puluh tahun lalu pernah malang melintang di Say-pak. tiga kali meluruk ke puncak Gobi membunuh Go-bi ciangbun dan delapan belas muridnya ?"

Jian-li-tok-heng mengangguk, katanya.

"Betul, Grmbeng laknat ini berilmu tinggi, entah dari aliran atau perguruan mana, konon sejak dua puluh tahun yang lalu sudah mengasingkan diri entah di mana, untuk apa kau menyinggung begal jahat itu ?"

"Kukira tidak meleset, Kungfu orang ini basil ajaran orang barat, kalau tidak salah sealiran dengan Bong-siu, sekarang penjabat komandan pengawal raja di istana, bukan mustahil dia berintrik dengan kawanan padri Tibet itu."

"Kalau dugaan ini betul, berartiBongsiujuga sudah berada di kota raja.Jikalau mereka bergabung, urusan memang cukup gawat bagi kita."

Melotot mata Gln-ji-tay-beng, katanya.

"Peduli Hwe-giamlo, Bong-siu atau siapa saja, bila kebentur ditangan kita jiwanya pasti tidak terampun lagi, biarlah kita mengobrak abrik istana raja juga tidak perlu dibuat takut, kalau tidak sungguh penasaran-"Ji-te,"

Cegah Kim-ji-tay-beng, kau selalu mengumbar adat melulu, tujuan lawan memang membakar amarah kita, sekaligus untuk menjaring seluruhnya.

Bila masuk kota raja, sebelum jelas duduknya persoalan, kularang kau mengunjuk diri dan membuat onar."

Ai-pong-sut Thong cau tertawa, katanya.

"Kalau benar Hwe-giam-lo SiuJan berada di kota raja, dengan dia Losiu masih ada perhitungan lama yang belum dilunasi, mumpung kali ini ada kesempatan, biar kubereskan sekalian di kota raja."

BerkataJian-li-tok-heng serius.

"Musuh berani membuat profokasi terhadap kita, pasti sebelumnya sudah ada persiapan, dalam keadaan kita ditempat terang musuh dipihak gelap. maka untuk masuk ke kota raja kita harus menyamar dan dibagi beberapa kelompok, yang penting kita harus berusaha masuk kekota raja tanpa konangan dan kumpul di suatu tempat, secara diam-diam bekerja di bawah tanah mencaritahu situasi di sana, setelah urusan cukup terang baru turun tangan, yang terang pihak kita harus berusaha supaya tidak bentrok langsung dengan kekuatan pemerintah, supaya tidak menimbulkan sesuatu yang tidak kuharapkan-"

Liok Kiam-ping mengangguk menyatakan setuju.

"Baiklah, kita persiapkan secepatnya sekarang kalian boleh mempersiapkan diri dan terus berangkat. KepadaJin-bongtong Tongcu kuserahkan tugas dan tanggung jawab untuk memegang tampuk pimpinan dimarkaspusat ini dibantu Yuhuhoat, ciu-con-koan dan para Tongcu serta Hiang-cu yang tidak ikut serta."

Habis bicara segera dia berbangkit, orang banyakpun lantas mengundurkan diri mempersiapkan bekal masing-masing.

Tekad Liok Kiam-ping begitu besar untuk lekas menolong Siau Hong di kota raja sekaligus untuk menegakkan wibawa Hong lui-pang pula, begitu mengundurkan diri bersama cohsiang-hwi Ling-khong mereka menyamar pelajar yang akan ujian ke kota raja.

Ai-pong-sat Thong cau seperjalanan dengan Jian-li-tok-heng menyamar pedagang, mereka berangkat belakangan dari arah lain.

Gin-ji-tay-beng dan Thi-pi-kim-to Tan Kian-thay bersama Itcu-kiam Koan Yong beserta beberapa IHiangcu menyamar orang-orang piauklok yang pulang kekota raja.

Sebelumnya sudah dijanjikan setiba di kota raja akan berkumpul di Thiankic.

Pakkhia adalah kota raja yang sudah dibangun sejak jaman kuno melalui beberapa kali dynasti, kota kuno yang megah dan angker ini amat besar, luas dan ramai, penduduk padat, perdagangan ramai kehidupan makmur, lalu lintas dalam kota amat ramai bagi orang yang belum pernah datang ke kota raja pasti gampang kesasar.

Menjelang magrib dari pintu barat pelan-pelan masuk tiga ekor kuda yang dijalankan lambat-lambat, dibelakangnya mengintil dua orang kacung cilik yang memikul keranjang berisi buku, alat-alat musik dan pakaian, sambiljalan mereka bicara riang gembira.

Tiga orang penunggang kuda itu masih muda dan gagah berpakaian pelajar, kebetulan mereka dijalan raya yang ramai dan merupakan daerah mewah, sepanjang jalan raya ini berderet toko-toko serba ada dan restoran besar, orang-orang besar dan kaya sering mondar mandir disini, maka kedatangan ketiga pemuda inipun tidak menarik banyak perhatian-Tidak ada yang tahu atau menduga bahwa ketiga pemuda ini bukan lain adalah samaran Hong -lui -pang Pancu Pat-pikim-liong Liok Kiam-ping beserta rombongannya.

Setiba di jalan Selatan, Liok Kiam-ping menginap di hotel Si-hay-jun.

Habis membersihkan badan dan makan malam, Liok Kiamping berpesan kepada kedua kacung cilik supaya menjaga pintu, lalu bersama coh-siang-hwi Ih Tiau-hlong dan Suma Ling-khong keluar pintu mencari berita.

Arus manusia yang berlalu lalang dijalan raya penuh sesak.

Liok Kiam-ping bertiga memasuki sebuah Restauran Hoa-inglou, pelayan menyilakan mereka naik kelantai dua, saat makan malam, maka restoran ini penuh dikunjungi orang-orang yang suka merogoh kantong, terpaksa Kiam-ping bertiga mendapat tempat dipojok timur mepet dinding.

Para tamu restoran ini kebanyakan berpakaian ketat, sambil makan minum mereka bicara sambil senda gurau, waktu Kiam-ping bertiga naik keloteng, para tamu menoleh kearah mereka namun tiada, yang ambil perhatian.

Kiam-ping memilih beberapa masakan dan memasan sepoci arak.

Hatinya dirundung kuatir akan keselamatan Siau Hong, maka tiada selera makan minum, maka dia hanya menemani coh-siang-hwi dan Suma Ling-khong makan minum saja, namun dengan penuh perhatian dia selalu perhatikan para tamu yang hilir mudik silih berganti.

Dari tempat duduk yang termasuk kelas mewah disebelah dalam sana, mendadak kumandang gelak tawa, seorang berkata.

"Siko, kau memang hebat, obat mujarab seperti itu, bila diserahkan ke ong-hu, meski genduk itu terbuat dari besijuga akirnya pasti luluh, apa kehendakmu dia pasti menurut saja, bila Siu-ya senang, cukup sepatah katanya, tanggung seumur hidupmu takkan kekurangan Kami bersaudara juga pasti dapat ketiban rejeki. Hayolah Siaute suguh kau secangkir."

Disusul seorang tertawa terloroh sinis, katanya.

"Itupun hanya kebetulan saja, dari seorang teman tanpa sengaja aku mendengar tentang kasiat obat itu, padahal harganya tidak seberapa, cuma kalau dicampur dalam suatu ramuan kasiatnya memang luar biasa, bila kuserahkan kepada siu-ya, manfaatnya pasti besar bagi beliau. Pagi tadi aku disuruh bertugas diluar, oh, ya, Li-lote bagaimana dengan tugasmu ke selatan kali ini ?"

Sebuah suara melengking berkata.

Jikalau bukan karena tugas ini, aku masih ingin bersenang-senang di Hang cu beberapa hari ?

Konon untuk merebut balik Siau Hong sigenduk genit itu, pihak lawan mengerahkan seluruh kekuatannya meluruk kekota raja, menurut perhitungan, dalam dua hari ini pasti sudah berada di kota raja."

"Semua itu sudah dalam perhitungan Siu-ya. bila mereka sudah berada dikota raja, saat hong-lui-pang hancurpun sudan tiba.. ' Pendengaran Liok Kiam-ping amat tajam, pada hal suasana restoran itu ramai dan ribut, namun percakapan beberapa orang ini dapat didengarnya dengan jelas. Mendengar mereka menyinggung Hong-lui-pang, menyebut Siau Hong lagi, maka dia menduga beberapa orang ini pasti kaki tangan musuh, mengingat soal obat dan kasiatnya segala, sesaat dia melenggong dibuatnya. Coh-siang-hwi yang lagi makan dengan lahapnya selalujuga memperhatikan keadaan sekitarnya, melihat mimik muka Kiam-ping agak ganjil segera dia bertanya.

"Pangcu, kau melihat apa ? "

Kiam-ping memberi kedipan mata, katanya.

"Di sini banyak orang, mari bicara diluar saja."

Lalu dia mendahului berdiri, coh-siang-hwi ikut turun kebawah.

Tak lama kemudian Liok Kiam-ping kembali sendirian, berbisik-bisik sejenak dengan Suma Ling-kheng lalu pura-pura makan minum dengan kalem pada hal kupingnya memperhatikan percakapan orang-orang dibilangan dalam.

Agaknya beberapa orang berkerumun lagi dibilik dalam kelas vip sehingga suasana terdengar lebih ramai, yang jelas semua menyanjung puji kepada la kolaki yang dipanggil si-ko tadi, sementara Si-ko selalu terkekeh kesenangan.

Terdengar Si-ko berkata.

"Para saudara, orang-orang seperti kami yang hidup dibawah golok dan pedang, bila tiba saatnya memang perlu mencari hiburan sepuasnya, bukan aku Jik-lian coa PekJi-hay mengagulkan diri, selama hidupku tiada sesuatu keahlianku, namun bicara main perempuan, aku yakin lebih ahli dan lihay dari kamu semua, perempuan macam apa saja, h eh e, ditang a nku pasti dia tunduk dan menyerah lahir batin, demikian pula Siau Hong genduk genit itu, meski dia berontak dan melawan, cukup lima tetes saja, pasti dia pasrah dan menyambut hangat kepadamu."

"Pek-siko, apa nama obat mujarabmu itu ."

"O, namanya cong-jun-kiu, siapa saja yang meminumnya, akan segera melayang ke sorga.' Mendengar Siau Hong akan dikerjai dengan obat mesum, bergetar sekujur badan Liok Kiam-ping, dengan menggereget dia membatin.

"Kawanan bangsat itu memang berani melakukan perbuatan jahat macam apa saja"

"Di mana siau Hong disekap belum berhasil kuselidiki, pada hal waktu cukup mendesak, terpaksa aku mulai turun tangandari orang-orang ini, umpama jejak ia sampai konangan musuh juga apa boleh buat."

Karena gejolak amarahnya, alisnya berdiri napaspun memburu, hampir tak terkendali dia hendak terbang kedalam melabrak orang-orang itu.

Untunglah pada saat itu didengarnya seorang berkata dengan suara serak.

"Kalau demikian berapa lama lagi obat mujarabmu itu dapat kau ramu Siko ?"

"Dalam dua hari lagi juga pasti sudah manjur."

Mendengar masih ada tempo dua hari cukup untuk menyelidik dan mengatur rencana, sedikit lega hati Liok Kiamping.

Tak lama kemudian terdengar langkah ribut dari dalam, seorang laki-laki kurus setengah umur berjubah panjang tampak melangkah keluar lebih dulu, matanya yang sipit memicing, langkahnya sengaja dibuat-buat menuju ke anak tangga, sikapnya ter-lalu pongah.

Di belakangnya ada lima orang lelaki yang beda perawakan, semuanya bersikap garang dan tengik.

Setiba dimulut tangga, seorang lelaki dibela kang yang bertubuh kekar mendadak berkata kepada laki-laki kurus didepannya.

"Siko, sekarang mau kemara, Siaute masih ada sedikit urusan harus segera kubereskan, terpaksa tidak dapat meng iring imu. bila ada persoalan besok pagi kami bertemu lagi di Siang-hok-teh-lau saja bagaimana ?" 'Li-lote, kenapa terburu nafsu, baru saja tiba sudah kangen agaknya, tidak kumpul semalam kenapa sih. Baiklah besok kami bertemu di Siang-hok-teh-lau.' habis bicara terus turun loteng, Mumpung kedua orang itu sedang bicara, diam-diam Liok Kiam-ping mengincar punggung si-ko terus menjentik jari, segulung bayangan hitam segera meluncur menempel dibaju punggung laki-laki kurus setengah umur itu, lalu Kiam-ping memanggil pelayan supaya menghitung rekeningnya. Sementara itu coh-siang-hwi Ih Tiau-hiong sudah menunggu d iba wah loteng, mendengar suara Liok Kiam-ping dia sudah maklum, begitu rombongan enam orang itu turun segera dia mengincar mereka, dilihatnya pula noda hitam dipunggung laki-laki kurus itu, segera dia tersenyum penuh arti, segera dia melangkah keluar restoran lebih dulu lalu menyingkir kepinggir, setelah rombongan orang itu beranjak beberapa tombak baru dia mengikuti mereka. Bila Liok Kiam-ping dan Suma Lingk-hong tiba dibawah loteng, sementara lh Tiau-hiong sudah puluhan tombak jauhnya. Kuatir Ih Tiau-hiong mengalami bahaya bila jejaknya konangan musuh, maka dari kejauhan Kiam-ping berdua juga mengintil sambil pasang mata. Setiba diujung jalan raya besar Jik-lian-coa PekJi-hay angkat tangannya berpisah dengan kelima orang yang lain, langkahnya dlpercepat menyelinap kedalam sebuah gang kecil dan menghilang ditempat gelap. Sudah tentu Ih Tiau-hiong tidak mau ketinggalan, Ginkangnya memang tinggi segera dia melejit ke atas seraya memberi ulapan tangan kearah Liok Kiam-ping berdua, sebat sekali diapun menyelinap kedalam gang kecil itu. Dengan kecepatan langkah Coh-siang-hwi lekas sekali dia sudah menyusul bayangan didepan, tampak jik-lian-coa terus mengayun langkah secepat terbang, agaknya dia amat apal seluk beluk daerah ini, jalan yang ditempuh selalu daerah gelap dan sempit tersembunyi, gerak geriknya cekatan lagi, beberapa kali hampir Coh-siang-hwi ketinggalan dan kehilangan jejaknya. Akhirnya dia tiba didepan sebuah rumah pendek berpetak disini dia berhenti sejenak lalu Celingukan, akhirnya angkat tangan mengetuk pintu tiga kali, dari dalam rumah segera terdengar sebuah suara perempuan berkata.

"Sebentar, Si-ya bukan ? kenapa sampai sekarang baru datang."

Maka daun pintu terbuka, PekJi hay segera menyelinap masuk.

Sebat sekali ih Tiau-hiong meluncur turun didepan pintu, dengan kapur dia memberi tanda silang dipinggirpintu lalu melejit mumbul keatas wuwungan, dia merunduk maju ke arah sinar lampu yang menyala disebelah dalam.

Setelah melewati sebuah pekarangan, dari arah kamar kiri mendadak didengarnya suara perempuan tertawa cekikikan, katanya.

"Hihi, tanganmu selalu tidak genah, membuatku geli saja. Hm, kau minum arak lagi."

"oh, mestikaku, biar kuberitahu kabar gembira padamu, dua hari lagi aku akan ketiban rejeki, bila uang sudah ditang a nku boleh sebagian kuberikan kepada Ai-losam, biar dia mencari bini lain, selanjutnya kau akan menjadi biniku yang resmi, hehehe."

"Sebal aku mendengar ocehanmu. Berapa kali kau bilang begitu, buktinya sampai sekarang tetap tetap tiada buntutnya, memangnya aku maupercaya obrolanmu.' "Hehehehe, kali ini pasti tidak ngapusi lagi, kenyataan sudah didepan mata, malahan barang yang kuperlukan juga berada di sini.' "Barang apa, memangnya betul-betul dapat mendatangkan rejeki ?"

"Dua botol arak itulah, Siu-congya dari istana ingin memakainya, bila dia sudah membuktikan kasiat arak buatanku itu, bukan saja kami bakal ketiban rejeki, bukan mustahil aku bakal mendapat jabatan penting di istana. Kalau aku sudah punya pangkat, apa lagi yang kau kuatirkan. Hehehe, eh, di mana kedua botol arak itu."

"Ya tetap dirak minuman dikamar sebelah. Aku jadi muak bila mengendus bauarakdari mulutmu, kau tidur dulu, biar kubikinkan bubur kuah untuk menghilangkan rasa mabukmu. lalu perempuan itu keluar pergi kedapur. Sudah tentu Coh-siang-hwi tidak membuang kesempatan baik ini, dengan enteng dia meluncur dipekarangan menyelinap kekamar sebelah kanan, meminjam sedikit cahaya api dari kamar sebelah, samar-samar dilihatnya pada rak dipinggir almari ada dua buah botol putih porselin, diperut botol masing-masing ditempel kertas merah, diatas kertas merah itu satu ditulis cong-jun-ciu yang lain bertulis coa-cuiciu. Coh-siang hwi raih botol yang bertulis cong-jun-ciu, membuka tutup serta mengendus baunya, lalu dia tuang seluruh isi botol itu dikaki tembok. dari teko yang ada diatas meja dia tuang air teh kedalam botol, setelah disumbat pula lalu ditaruh ditempat semula. Sebat sekali tanpa mengeluarkan suara dia sudah melompat keluar rumah, saat mana Liok Kiam-ping dan Suma Ling-khong juga sudah tiba didepan rumah petak itu. Segera Coh-siang-hwi memberi laporan singkat, diam-diam Liok Kiam-ping bersyukur, mereka bertiga segera balik ke hotel Si-hay-jun. Besok pagi, mereka bertiga dibagi dua, Coh-siang-hwi sendirian berangkat menuju ke Thoan-klo, Kiam-ping seperjalanan dengan Suma Ling-khong. Thian klo merupakan daerah teramai dikota raja, bagian utara terdapat Lian-hoa-ti (empang teratai), sebetulnya lebih cocok kalau dikatakan danau teratai karena empang teratai ini amat luas dan besar, tepat ditengah empang terdapat gundukan tanah hingga mirip sebuah pulau, dari pulau ini dengan sebrang dibangun jembatan yang berliku-liku keberbagai penjuru, perahu dapat lewat dibawah jembatan-Saat itu musimnya kembang mekar, berbagaujenis kembang yang ditanam di sekitar empang teratai seperti berlomba memampilkan keindahannya, Hawa segar harum semerbak. Sang-hok-teh-lau terletak di selatan empang teratai, sepagi itu para tamu sudah memenuhi seluruh restoran berlantai dua ini, seorang pemuda berjubah biru dengan santai tengah duduk menikmati secangkir teh dipinggir jendela yang menghadap kedanau. Tak lama kemudian, tangga loteng bergetar oleh derap langkah dua laki-laki berpakaian ketat, setiha di atas loteng, matanya melotot menyapu pandang seluruh hadirin, suasana yang semula ramai seketika hening, beberapa orang tampak berdiri menjura kepada kedua orang ini, pelayanpun segera menyilakan mereka duduk. Salah seorang berkata.

"Siapkan dulu beberapa poci the yang paling baik, nanti sebentar ada orang yang akan datang."

Pelayan mengiakan terus mengundurkan diri menyiapkan yang diminta.

Belum lama kedua orang laki-laki ini duduk, anak tangga berderap lagi, kali ini datang lima orang kaum persilatan, yang terdepan adalah laki-laki setengah abad berkulit muka merah perawakannya gagah, berpakaianjubah panjang warna kuning sutra, sepatu pendek bersol tinggi, langkahnya tegap dan enteng, setiba diatas loteng dia batuk dua kali, suaranya berat berisi, jelas Lwekangnya cukup tangguh.

Empat orang dibelakangnya adalah orang-orang yang pernah muncul di Hoa-ing-lau kemarin jik-lian-coa PekJi-hay diantaranya.

Dua laki-laki yang datang duluan bergegas menyambut dengan laku hormat lalu berdiri di kanan kiri.

Laki-laki tua kekar itu hanya mengangguk sedikit lalu membuka kedua tangan, katanya.

"silakan duduk. kami bicara dengan santai saja."

Lalu dia mendahului duduk di kursi tengah.

Yang lain segera menarik kursi di sekeliling meja.

Coh-Siang-hwi ih-Tiau-hiong masih muda, namun pengalamannya d id a la m Piauklok cukup luas, maka tokohtokoh Bulim yang terkenal belakangan ini dia cukup tahu dan kenal, melihat laki-laki kekar muka merah ini, diam-diam hatinya kaget, batinnya.

"Bukankah dia ini Seng-si-ciang IHou Kongki yang bertangan gapah itu, agaknya dia yang menjadi pemimpin rombongan orang-orang ini.' Diluar tahunya bahwa Seng-si-ciang Hou Kong-ki sekarang adalah tangan kanan Hwe-giam-to SiuJan yang terpercaya, urusan besar kecil diluar istana dipercayakan kepada Hou Kong-ki. Belum sempat orang-orang ini berbicara dari bawah loteng muncul lagi empat orang tua yang berpakaian sama. Begitu empat orang tua ini muncul, Seng-si-ciang Hou Kong-kipun berdiri menyambut, setelah basa basi ala kadarnya, orang banyak duduk pula ditempatnya. kedatangan empat orang tua ini kembali membuat Cohsiang-hwi kaget dan bertanya-tanya dalam hati, kenapa Biau

san-si-sat inipun sekomplotan dengan mereka, jelas persoalannya tidak boleh diremehkan.

Biau-san-si-sat sejak kecil hidup didaerah Biau, semula mereka anak keluarga Nyo yang kelantar ditanah rantau, setelah ayah bunda mereka mati, sejak kecil mereka dirawat oleh seorang aneh serta dididik sampai besar, masing-masirg diberi nama Nyo Llong, Nyo Hou, Nyo Hong dan Nyo in, seluruh kepandaian orang tua itu diturunkan kepada empat bersaudara ini, menjelang tua mereka berhasil menciptakan b arisan pis a u terbang yang dilancarkan bersama, Tokoh lihay kelas wah id di bulim juga jarang yang mampu mengalahkan barisan pisau terbang mereka, selama puluhan tahun malang melintang menjadikan watak mereka terlalu angkuh dan sombong.

Setelah bisik-bisik entah merundingkan apa dengan rekanrekannya, maka Seng-si-ciang Hou Kong-ki angkat bicara kepada Blau-san-si-sat.

"Kami patut mengucap terima kasih akan kesudian kalian datang ke kota raja untuk bantu membasmi orang-orang Hong-lui.pang, Siu-tangkeh sedang disibukkan urusan dinas hingga tak sempat menyambut kedatangan kalian, maka kami yang disuruh menyambut dan menyatakan maaf."

Lalu dia berdiri dan menjura. Nyo Llong tertua dari Biau-san-si-sat bergelak tawa, katanya.

"Kami sesama kaum persilatan adalah jamak saling bantu. Apa lagi Bong Siu Locianpwejuga tulis surat rnengundang kami, maka kami bersaudara tidak bisa menampik, apa lagi demi memberantas kejahatan di Bulim untuk ini Hou-tangkeh tidak usah kecil hati. Apa benar musuh bernyali begitu besar berani meluruk ke kota raja membuat onar. Bila perlu biar kami luruk kes arangnya untuk membabat habis mereka saja."

Habis bicara keempat saudara itu bergelak tawa dengan angkuh. Seng-si-ciang IHou Kong-ki segera menjelaskan.

"Menurut laporan, orang-orang Honglui-pang sudah bergerak secara berpencar, dihitung perjalanan mereka, sekarang mungkin sudah berada dikota raja."

Lalu dia berpaling kepada jik-liancoa PekJi-hay dan bertanya.

"Dua hari ini, adakah orangorang yang patut dicurigai berada dikota raja."

PekJi-hay menjura lalu menjawab hormat.

"Sejak kemaren belum kelihatan orang-orang yang patut dicurigai, namun laporan diterima, kemaren ada pemuda pelajar yang tiba di sini, keadaan mereka patut diperhatikan, namun gerak geriknya seperti tidak pandai silat..."

Sampai di sini secara kebetulan dia angkat kepala, mendadak dia beradu pandang dengan Coh Siang-hwi yang kebetulanjuga sedang memperhatikan omongannya, segera dia menghentikan perkataan lalu dilanjutkan dengan bisik-bisik.

Ih Tiau-hiong terlalu asyik mendengar percakapan mereka hingga tidak menyadari sikapnya yang terlalu menyolok, setelah beradu pandang dengan PekJi-hay, hatinya mencelos kaget, lekas dia melengos, namun sudah terlambat, tahu gelagat tidak menguntungkan, apalagi apa yang iinginkanjuga sudah diperoleh, maka dia merasa tidak perlu tinggal lamalama di sini, setelah memanggil pelayan membayar rekening segera dia meninggalkan restoran itu.

Dengan langkah lebar dia menuju ke timur sesuai petunjuk yang ditinggalkan Liok Kiam-ping dengan sandi-sandi rahasia setelah putar kayun dia membelok pula dari arah selatan kebarat.

Setelah keluar dari pintu barat lurus kedepan akan tiba di Hay-tian, sebuah danau yang dipagari pohon yang-liu sepanjang pinggirnya.

kearab utara danau Coh-siang-hwi melangkah menuju ke dermaga dibawah pohon ditambat beberapa buah perahu, berjalan kira-kira sepanahan, dikejauhan Liok Kiam-ping dan Suma Ling-khong sudah kelihatan sedang berdiri menikmati keindahan alam permai di sekitar danau.

setelah dekat Coh-siang-hwi memberi tanda kedipan mata serta menjura, katanya.

"Maaf bikin kalian menunggu lama, perahu sudah tersedia, silakan naik, biar kutunjukan tempat-tempat tamasya yang menyenangkan."

Tanpa menunggu jawaban Kiam-ping dia mendahului lompat keatas perahu serta memegang galah.

Kiam-ping tahu ada persoalan yang kurang beres, namun dengan tertawa dia ikut naik ke atas perahu bersama Suma Ling-khong.

setelah perahu dikayuh ketengah danau.

Cohsiang-hwi kerahkan tenaga, setiap galah ditangannya bergerak perahu laju dengan kencang.

Selama ini mereka tiada yang bicara, setanakan nasi kemudian, perahu sudah beberapa li ditengah danau.

Tak lama kemudian perahu membelok ke selatan memasuki daerah semak belukar daon-daon welingi di sini tumbuh subur, para pelancong jarang yang mau mengkayuh perahunya ketempat ini..

Coh-siang-hwi sengaja membelokkan perahunya kedalam rumpun doan-daon welingi untuk menghilangkanjejak mereka.

Ditempat belukar ditengah danau inilah coh-siang-hwi melaporkan apa yang telah dilihat dan didengarnya kepada Liok Kiamping.

Bertaut alis Liok Kiam-ping setelah mendengar laporannya, katanya menghela napas, tak nyana urusan berbuntut makin luas, kelihatannya mereka memang sudah mengatur rencana secara matang, menurut situasi sekarang kekuatan mereka cukup merepotkan kita, bukan mustahil dibela kang mereka masih ada lawan dan rencana keji yang sukar diduga."

"Pangcu,"

Kata Coh-siang-hwi, 'menurut pendapatku, agaknya mereka juga mempersiapkan kekuatan pemerintah untuk menghadapi kami, namun secara diam-diam mengumpulkan dulu jago-jago kosen dari berbagai daerah untuk menjaring kita bersama, jelas tujuan mereka teramat keji dan jahat.' Suma Ling-khong berkata.

"Bahwa mereka sudah mengerahkan kekuatan untuk melawan kita, tentu sudah punya rencana yang cukup matang, maka menurut pendapatku, pihak mereka tentu sudah menaruh curiga terhadap Ih-heng dan sudah tahujejak kita di sini"' Ih Tiau-I Hong seperti ingat sesuatu, katanya.

"Betul, hal ini tadi tidak kuperhatikan, waktu PekJi-hay bentrok pandang dengan aku, orang-orang disekitarnya lantas diam dan saling bisik-bisik, sepanjang jalan kemari tadijuga rasanya ada orang menguntit namun beberapa kali aku menoleh tidak pernah kulihat ada orang yang patut dicurigai."

Liok Kiam-ping menepekur sejenak. katanya kemudian.

"Agaknya daerah Toa-mo-siang sudah tidak mengutungkan bagi pihak kita, namun rombongan lain belum sempat kita hubungi, bagaimana mungkin kita menyingkir lebih dulu."

Coh-siang-hwi ih Tlou-hiong memeras otak.

katanya kemudian.

'Dari nada bicara mereka sepanjang jalan kelihatannya sudah mereka atur mata-mata mengintai yang tersebar luas diseluruh kota, oleh karena itu..."

Sampai di sini mendadak dia berhenti, karena mendadak suara gemericik air terka y uh terdengar disebelah belukar sana. Pendengaran Liok Kiam-ping lebih tajam mendadak dia menjerit kaget.

"celaka."

Begitu kaki menjejak diatas perahu tubuhnya lantas melambung lima kaki, diudara kedua tangan terkembang sambil menggeliat pinggang, tuh uh ny a lantas melesat lebih jauh kedepan Suara keresekan disebelah depan yang semula lirih ternyata semakin ribut dan cepat seperti seorang yang sedang lari ketakutan tanpa hiraukan jejak sendiri yang sudah konangan.

Dengan mengembangkan Ginkangnva Kiam-ping menutul dipucuk daon-daon welingi, disaat ketiga kali dia melambung keatas, dilihatnya seorang lelaki kekar sedang melajukan sebuah sampan kecil menerobos gerombolan daon-daon welingi.

Ditengah gerungan gusarnya, tubuh Kiam-ping meluncur lebih pesat lagi, dengan jurus Llong-hwi-kiu-thian kedua lengannya berputar lantas mencomot ke arah kedua pundak lelaki diatas sampan itu.

Merasa angin kencang menyerang tiba, laki-laki kekar itu tahu gelagatjelek mengancam dirinya, pada hal diatas sampan tak mudah bergerak atau berkelit, baru saja dia hendak tinggalkan sampan terjun keair, ternyata sudah terlambat, kedua pundak sudah tercengkram oleh Liok Kiam-ping, saking kesakitan dia menjerit tertahan, sambil kertak gigi.

Lekas sekali Coh-siang-hwi sudah mengkayuh perahunya menyusul tiba, dia kenal lelaki kekar ini juga berada di Sianghok-teh-lau datang bersama Seng-si-ciang Hou Kong-ki, segera dia berbisik kepada Liok Kiam-ping.

Liok Kiam-ping memelintir lengan orang serta membentak kereng.

"Atas perintah siapa kau menguntit kami bertiga lekas mengaku."

Lelaki itu menyeringai sinis, katanya.

"cayhe kebetulan bertamasya diperairan ini, tiada sangkut paut apa dengan kalian, apalagi daerah ini masih termasuk wilayah kota raja, siapapun bebas mondar mandir di sini dan patuh akan hukum kerataan, memangnya kehadiranku di sini melanggar larangan kalian-"

Liok Kiam-ping tak bisa bicara oleh debat orang, sesaat dia perhatikan roman orang, tampangnya yang kasar, mirip maling jahat yang sering melakukan kekejaman, sudah tentu dia tidak percaya bahwa orang kebetulan bertamasya diperairan ini.

Maka Kiam-ping menarik muka serta mendesis.

"Kalau kau tidak merasa berbuat salah, kenapa melihat kami kau lantas melarikan diri ?"

Orang itu mendelik, katanya.

"Kapan aku melarikan diri, bertamasya mengendalikan sampan adalah kejadian biasa, ditempat seperti ini memangnya harus memilih arah tertentu ? Kurasa kau sendiri yang terlalu curiga terhadap orang lain-"

Liok Kiam-ping tersenyum, katanya.

"Debatanmu memang pintar dan masuk akal tapi dalam posisi kami hari ini, lebih baik keliru membunuh orang daripada membebaskan jiwamu, jika tidak mengaku terus terang, boleh kau rasakan Siu-im-nimeh-jiu-hoat yang cukup nikmat."

Laki-laki inijuga seorang ahli silat, sudah tentu dia tahu ancaman Liok Kiamping bukan gertak sambel melulu, maka berobah air mukanya, namun lawan masih berusia begini muda, tak mungkin memiliki Lwekang tinggi untuk melancarkan ilmu taraf tinggi yang amat ditakuti bagi kaum persilatan umumnya, maka dia membungkan sambil memejam mata.

Bertaut alis Liok Kiam-ping menghadapi kebandelan lelaki ini, pelan-pelan dia rangkap kedua jari tangannya terus menutuk dua belas hiat-to besar ditubuh laki-laki kekar ini, lalu sambil tersenyum dia mundur dan menanti.

Semula lelaki kekar itu hanya merasa tubuhnya geli dan kesemutan sedikit, tanpa ada reaksi lain, maka mendadak dia melotot dilihatnya Liok Kiam-ping memeluk dada sambil nlenunduk mengawasi dirinya, dalam hati segera dia membatin.

'Kesempatan sebaik ini, kalau tidak sekarang lari kapan lagi."

Begitu timbul keinginan melarikan diri segera dia kerahkan tenaga sambil menarik napas panjang, berbareng kedua kaki menjejak hendak terjun kedalam air.

Tak nyana begitu dia menarik napas dan mengerahkan tenaga, seketika keram kaki tangan lemas lunglai, seluruh tenaga tak mampu dikerahkan, tubuh yang seharusnya mencelat seketika meringkel diatas geladak seperti cacing kekeringan, napas mulai sesak mulutpun megap-megap.

darah dalam tubuhnya seperti mengalir balik.

Liok Kiam-ping tersenyum, katanya.

"Mumpung darah dalam tubuhmu belum bertolak belakang, lekas kau mengaku saja, cayhe tidak akan menyiksamu lebih lanjut, supaya kaupun tidak menderita lebih parah ."

Tapi lelaki kekar ini tetap membandel, katanya.

"Bila kalian meninggaikan danau ini, pihak kita pasti akan memberi hajaran setimpal kepadamu."

Mendelik mata Kiam-ping, katanya, kereng.

"Agaknya sebelum tersiksa kau belum kapok dan tak mau bertobat, baiklah rasakan saja betapa nikmat siksaanku."

Seketika laki-laki kekar, sekujur badan seperti ditusuki jarum hingga tulangpun terasa sakit seperti dipelintir dan copot, urat nadi seperti digigit semut, pegal linu karena darah yang mengalir balik, saking kesakitan keringat dingin membanjir keluar sambil meraung-raung tubuhnya berkelejetan.

Ih Tiau-hiong tertawa dingin, katanya.

"Seorang laki-laki harus pandai melihat gelagat, percakapan kalian semalam di Hoa-teng-ciu-lau sudah kami dengar seluruhnya, sekarang kami hanya membuktikan pengakuanmu saja. Lekas kau mengaku saja supaya tidak tersiksa lebih parah."

Betapapun keras hati laki-laki kekar itu, akhirnya tak tahan oleh siksaan berat ini, tahu persoalan memang tidak bisa mengelabui orang, sambil meratap dia berkata.

"Tolong di bebaskan-.. dulu... tutukan Hiat... toku... aku akan .. bicara jujur... ' 'Goblok.' maki Liok Kiam-ping, kalau sejak tadi kau berterus terang, kau tidak akan tersiksa seperti ini."

Lalu dia tutuk beberapa Hiat-to ditubuhnya. Setelah napasnya agak tenang baru lelaki kekar itu berkata.

"Aku yang rendah memang diperintah oleh Seng-si-ciang Hou Kongki untuk menguntit kalian, tujuan kami adalah mencari jejak orang-orang Hong-lui-pang yang datang kekota raja."

Liok Kiam-ping mengancam.

"Siapa perancang rencana jahat memancing pihak Hong-lui-pang masuk kota raja ? Nona Siau Hong sekarang disekap dimana ?"

"Seluruh rencana dirancang sendiri oleh Bong Siu dan Hwegiam-lo Siu Jan, secara diam-diam mereka juga mengundang beberapa benggolan penjahat didaerah Biau untuk bantu menghadapi musuh, tekad mereka besar untuk memberantas seluruh orang-orang Hong-lui-pang. Tentang nona Siau Hong kabarnya ditahan di istana Ka-cin-ong, padri Tibet sudah beberapa kali hendak menodai kesuciannya, tapi selalu gagal, tapi tepatnya dimana dia ditahan kami tidak tahu."

Mendengar Siau Hong hampir ternoda dan melawan matimatian demi mempertahankan kesuciannya, sungguh bergelora darah Liok Kiam-ping, tanyanya dengan beringas.

"Apa kah Ka-cin ongya tahu akan kejadian ini ?"

"ongya sedang sibuk merebut kekuasaan dengan Sam-pwelek, maka secara diam-diam diapun sedang menggaruk banyak jago-jago kosen untuk menunjang usahanya, sebagai pelindung dan pengawalnya, meski biasanya dia menaruh kepercayaan kepada Hwe-giam-lo dan Pa-kim Tayhud, tapi bila dia tahu akan rencana kedua orang ini pasti akan ditentang dan dilarangnya, maka sejauh ini mereka bekerja diluar tahu ongya."

Lega hati Liok Kiam-ping, dia cukup puas akan jawaban orang ini, maka timbul niatnya hendak membebaskan jiwanya. Tapi Ih Tiau-hiong segera tampil kedepan, katanya.

"Pangcu, kami masih berada didaerah berbahaya, ada aku pantang ada musuh, betapapun orang ini tidak boleh diampuni."

Sudah tentu laki-laki itu meratap dan minta-minta ampun.

Liok Kiam-ping menepekur sejenak.

apa boleh buat, mendadak dia melotot kereng, dengan ujung jari tengah dia tekan Bing-bun-hiat dikepala orang, jiwanya seketika melayang.

Selanjutnya Coh-siang-hwi.

yang bekerja melucuti pakaian orang serta diseretnya ke dalam sampan serta diikat dengan ikat pinggang, sebelah tangannya segera memukul hancur dasar sampan hingga berlobang besar cepat sekali sampan itupun tenggelam beserta mayat lelaki kekar itu.

Kejap lain Coh-siang-hwi sudah meng kayuh perahu mereka keluar dari semak semak daon welingi putar balik kearah datang semula.

Setelah mengembalikan perahu di tempat semula serta meninggaikan beberapa keping uang, Kiam-ping bertiga langsung mendarat, belum jauh mereka berjalan, mendadak dilihatnya sandi rahasia Hong-lui-pang mereka yang menuding kearah selatan-Jalan raya yang mengitari danau hanya menuju keutara dan selatan, sesaat mereka perhatikan keadaan sekelilingnya, setelah di rasa tiada orang yang patut dicurigai, lalu mereka berlenggang sambil bersenda gurau seperti pelancongan umumnya menuju keselatan lewat deretan barak-barak penjual wedang dan makanan-Kira-kira setengah jam mereka menuju kearah selatan, diarah teluk danau sebelah timur dari kejauhan sudah terdangar gelak tawa Ai-pong-sut Thong cau yang lantang.

Mereka mempercepat langkah, diujung warung paling pojok.

mereka melihat Ai-pongsut Thong can sedang duduk berhadapan dengan Jian-li-tok-heng menikmati teh panas.

Begitu Kiam-ping bertiga datang Aipong-sut lantas bergelak tawa pula, serunya.

"Para KongCuya sejak kapan masuk kota raja ? Musim panas memang saatnya bertamasya di danau. Sungguh kebetulan cuaca hari ini cukup cerah, bersua pula di sini, biar nanti aku orang tua menjadi petunjuk jalan, sekarang silakan nikmati dulu teh panas, biar aku yang traktir."

Dengan tertawa ih Tiau-hiong angkat bicara.

"Siau-seng bertiga kemaren sudah tiba di sini, banyak terima kasih akan maksud baik Lotiang, bahwa Lotiang harus merogoh kantong, kami bertiga menjadi sungkan untuk menampik maksud baik ini.' maka mereka bertiga mencari tempat duduk. Ai-pong-sot tetap tertawa lebar, katanya.

"Ah, kenapa Kongcu begitu sungkan, selanjutnya bila kalian sudi selalu mampir ke warung kami, terus terang orang tua seperti aku ini sudah amat girang dan berterima kasih. Nah, silakan kalian melepas lelah sambil main catur."

Lalu dia dorong papan dari biji catur kehadapan Liok Kiam-ping dan Suma Ling-khong.

Jian li-tok-heng celingukan, melihat sekeliling tiada orang lain, sambil pura-pura melihat orang main catur dia berbisik.

Jejak kami sudah diketahui musuh, tempat-tempat penting di dalam kota sudah diawasi pihak musuh, terutama daerah Toamo-siang dan pintu barat, mata-mata musuh lebih banyak.

tadi kami kemari sesuai petunjuk rahasia Pangcu, hampir saja kami kepergok dengan mereka ?"

Liok Kiam-ping bertanya.

"Kalian kapan tiba ? Apa pula yang kalian ketahui ?"

Jian-li-tok-heng menerangkan.

'Kemaren malam baru tiba, kebetulan bersua dengan seorang teman baik yang kebetulan dinas di istana Ka-cin-ong, dari keterangannya sedikit banyak sudah kami ketahui seluk beluk istana secara lengkap.' Siau Hong disekap di mana ?"

Tanya Liok Kiam-ping..

"Konon dipuncak tertinggi Ling-hong-kek. tingkat bawah adalah kediaman para padri Tibet, bila malam tiba penjagaan ketat, anjing ajakpun dilepas bebas secara bergerombol, umpama orang dalamjuga tidak berani bergerak sembarangan disekitarnya. Kabarnya padri Tibet hendak menggunakan kekerasan dengan obat mesum, maka kami rasa perlu segera memberi laporan kepada Pangcu, marilah kita bicarakan bagaimana untuk mengatasi persoalan pelik ini."

Liok Kiam-ping mengangguk, katanya.

"Sekarang kita pulang dulu ke dalam kota lalu mempersiapkan diri, nanti malam kita pergi menolong Siau Hong."

Ih Tiau-hong berkata.

"Saat ini mereka memang mengharap kedatangan kita, maka gerakan kita ini harus seratus persen dirahasiakan, kurasa istirahat saja diluar kota. malam nanti kita bersama menyelidik ke istana, lalu bekerja melihat situasi dan kondisi, aku yakin asal kita berlaku hatihati dengan rencana yang sempurna, pasti berhasil dengan gemilang. Bagaimana pendapat Pangcu ?"

"Begitupun baik, jikalau mengejutkan musuh tentu mereka memperketat penjagaan-Kita memang perlu memberikan kejutan kepada mereka."

Demikian ujar Liok Kiamping, lalu bertanya.

"Apakah rombongan Hoat-hi-tong sudah tiba, dapat tidak mengadakan kontak dengan mereka ?"

Jian-li-tok-heng menjawab.

'Mereka bergerak dalam rombongan piauklok.

masuk kota raja secara terang-terangan, lawan pasti tidak akan menaruh curiga, bila sedikit diperhatikan kurasa tidak sukar mengadakan kontak dengan mereka."

Saat itu mentari sudah doyong kebarat, hari menjelang petang.

orang banyak meninggalkan warung teh lalu bermalam di Tay-hud-si diluar kota.

Kentongan kedua baru saja lewat, lima bayangan orang dengan kedok hitam menutup kepala yang kelihatan hanya bola mata saja beruntun meluncur keluar dari dalam kuil kecil kuno diluar kota timur itu.

Gerak gerik mereka cekatan dan tangkas, bagai meteor terbang dalam sekejap mereka sudah lenyap ditelan kegelapan-Setiba dikaki tembok kota, satu orang ditinggalkan, empat yang lain segera melambung tinggi keatas tembok kota langsung meluncur kedalam.

Setiba dijalan raya seorang ditinggalkan berlari kearah Toa-mo-siang.

Sementara tiga bayangan yang lain belok ke utara terus berlari bagai terbang.

Gerak langkah mereka cepat dan enteng, Ginkang mereka memang teramat tinggi, selincah kucing tanpa mengeluarkan suara mereka terus maju kedepa n sebuah istana besar dengan pintu gerbangnya yang tinggi tebal dan angker.

Saat itu sudah tiba saatnya aplusan penjaga, namun keadaan di sini amat ketat dan keras, tinggi tembok tiga tombak lebih, bagipesilat yang ginkangnya biasa jelas tak mungkin naik keatas tapi bagi ketiga sosok bayangan itu tidak menjadi soal.

Setelah berbisik dan berunding sekian saat ketiga bayangan itu merunduk kearah barat dari kaki tembok sejauh puluhan tombak.

mendadak menjejak kaki tubuh melambung tinggi hinggap diatas tembok secara enteng tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, sengaja ketiga orang ini berpencar, jarak masing-masing ada dua tombak, dengan mengembang ginkang, memerobos semak belukar, berlindung ditempat gelap.

mereka terus merunduk maju kedalam istana.

Istana yang satu ini luasnya hampir seratus hektar, gedung-gedung dibangun seperti berlapis-lapis merupakan sebuah kota kecil didalam sebuah kota besar, bentuk istana yang satu hampir mirip dengan yang lain, biasanya untuk mencari alamat seseorang didalam istana jug a memerlukan waktu setengah hari.

Apalagi ketiga orang ini baru pertama kali ini masuk istana, mereka harus bergerak secara sembunyi, takut kepergok lagi, maka usaha mereka seperti menggagap jarum didasar laut.

Untung sebelumnyaJian-li-tok-heng sudah memperoleh informasi yang diperlukan dari temannya yang berdinas di istana, arah yang dituju sudah cukup jelas maka mereka maju lebih leluasa, namun karena penjagaan di istana dengan rombongan rondanya yang ketat, maka mereka tetap harus berhati-hati, betapapun hal ini merupakan hambatan yang cukup berarti juga.

Setelah melewati dua gedung istana, mungkin sudah tidak jauh lagi dari kediaman para kerabat istana maka penjagaan di sini lebih keras, rombongan ronda kaum persilatan terus hilir mudik.

Kiam-ping bertiga berunding sejenak lalu mereka berpencar ketiga jurusan, timur barat dan selatan, dari tiga ini serempak melucur kearah Ling-hong-kek.

Jian-li-tok-heng bergerak dari kanan menuju ketimur dengan kecepatan maksimal, tengah dia mengitari sebuah empang teratai meluncur kebelakang sebuah gunungan, dari lobang gua disebelah kanan gunungan menerobos keluar sesosok bayangan mengadang didepannya.

orang ini berusia tiga puluhan, tubuhnya kuat dan tegap.

bergaman golok punggung tebal, begitu melompat kedepan lantas membentak kereng.

"Kurcaci dari mana malam-malam berani terobosan di istana, hayo menyerah dan ikut tuanmu menghadap congkau (guru kepala), mungkin jiwamu bisa diampuni. Sudah tentu Jian li-tok-heng tidak sempat melayani orang, jengeknya dingin. Jangan ribut, malam-malam aku kemari memang hendak mencari orang, kalau kau mau membantu tolong tunjukan jalannya."

Sembari bicara tubuhnya terus menerjang, kedua tangan menepuk kearah Ki-bun dan Tanthian dua Hiat-to besar ditubuh besar ditubuh orang.

Mendengar orang datang mencari kenalan baiknya, laki-laki tegap itu melenggong sekejap.

baru saja mulutnya terbuka hendak bicara, mendadak terasa segulung angin kencang menindih tiba, karuan darahnya tersirap namun sebelum dia sempat bersuara tubuhnya sudah diterjang pukulan hingga mencelat tiga tombak dan terbanting mampus dengan darah menyembur dari mulutnya.

Sebat sekali Jian-li-tok-heng memburu ke sana serta meraih mayat orang, begitu membalik badan dia lempar mayat orang kedalam gua digunungan sebelah kanan, begitu menutul kaki pula tubuhnya melambung tinggi laksana burung raksasa.

Dibela kang gunungan ada sebuah jembatan gantung yang menjurus ke bilangan dalam, baru saja dia hendak melejit keatas jembatan, mendadak didengarnya suara batuk perlahan disebrang sana, dengan seksama dia perhatikan, dilihatnya sesosok bayangan orang kurus tinggi setengah baya sedang mendekam ditempat gelap dipinggirjembatan.

Jian-li-tok-heng tahu penjagaan istana memang amat keras, sebelum tugas sendiri terlaksana, apapun jejak dirinya tidak boleh konangan, bila menerjang secara kekerasan jelas makan banyak tenaga, salah-salah urusan bisa gagal total jadinya, maka dia berkeputusan untuk bertindak dengan akal, pada hal tempat ini sudah dekat dengan kediaman para kerabat istana, tidak boleh gembar gembor, apa boleh buat, dengan mengerut alis dia meraih sebutir krikil terus dilempar ketengah jembatan gantung.

"Klotak"

Suara batu berdentam diatas jembatan, laki-laki setengah umur disebrang itu segera menorobos keluar.

Begitu melempar krikil Jian-li tok-heg lantas melompat tinggi kepucuk gunungan, sengaja dia menggunakan tenaga sehingga langkahnya mengeluarkan suara.

Kepandaian laki-laki kurus setengah baya itu agaknya tidak rendah, telinganya tajam pandai membedakan suara lagi, melihat bayangan orang berkelebat diatas gunungan lekas dia kembangkan ginkang memburu ke sana.

Sebat sekali kakinya sudah hinggap dipuncak gunungan, selayang mata memandang sekelilingnya gelap pekat, tiada kelihatan bayangan atau jejak manusia disaat dia bingung dan celingukan mendadak terasa kesiur angin kencang dari samberan Am-gi yang menyerang datang dari arah kanan, tahu ada orang membokong dirinya, kaki kanan menggeser mundur selangkah sambil miring tubuh, baru saja dia selamat dari samberan Am-gi, tahu-tahu segulung angin pukulan yang belakangan sudah memukul pinggang di mana Hiat-to pelemas badannya tertutuk dengan telak.

pandangan seketika menjadi gelap, orangnyapun roboh semaput.

Agaknya Jian-li-tok-heng sengaja mengeluarkan suara untuk menarik perhatian musuh supaya mengejarnya, begitu musuh mengejar tiba dia sembunyi dibela kang batu lalu balas menyergapnya .

Sementara itu Ai-pong-sut bergerak dari barat menyusup hutan dengan kecepatan luar biasa pula, daerah yang dilalui adalah hutan tua yang ditumbuhi pohon-pohon besar dan rimbun keadaan sunyi dan hening, Ginkangnya sudah mencapai taraf yang sempurna menginjak dahan atau menyentuh daon, tubuhnya melayang laksana burung terbang, hanya sekejap dia sudah melewati hutan lebat ini.

Didepan dia dihadang sebuah empang lebar, ditengah empang dibangun sebuah panggung batu, diatas panggung ini berdiri sebuah kopel bundar ada pintu jendela yang yang tertutup rapat, keadaan gelap gulita tiada penerangan, agaknya sudah lama tempat ini tidak dihuni orang.

Disekitar empang tertambat beberapa sampan untuk tamasya.

Sejenak Ai-pong-sut berdiri menerawang keadaan, untuk menempuh perjalanan lebih cepat kedepan, menyebrangi empang ini lebih cepat dan pendek tengah dia berpikir mendadak dari dalam hutan didengarnya sebuah suara serak berkata.

"orang sering memuji kungfu Siucongkau bagaimana lihaynya tapi menghadapi persoalan ternyata bernyali sekecil tikus, memangnya tempat sepi terpencil seperti sarang setan di sinijuga harus kita jaga segala. Huh, sungguh menyebalkan."

Seorang lagi bergelak tawa, katanya.

"Memangnya siapa bilang tidak. Mengingat dahulu betapa kita berdua mondar mandir di Tionggoan, jelek-jelek juga pernah merebut nama dan gelaran, walau sekarang aku kehilangan lengan kiri, kapan aku pernah mengerut alis, siang tadi begitu mendengar Pat-pi-kim-liong sudah tiba di kota raja, keadaan menjadi ribut dan gelisah, seluruh kekuatan dikerahkan untuk bersiaga, Li-lote kurasa persoalan kecil terlalu dibesar-besarkan."

Suara serak itu berkata pula.

"Jit-ko, anggaplah nasib kami yang jelek. kebetulan diwajibkan jaga di tempat ini..."

Ai-pong-sut tahu kedua orang ini adalah penjaga yang diutus dari istana untuk memperketat keadaan, karena tempat ini sepi danjauh dari keramaian, maka kedua petugas ini sedang menggerundel.

Segera dia menarik napas menghimpun hawa murni, langkahnya enteng menghampiri kearah datangnya suara, Lwekangnya memang sudah tinggi ditempat gelap dapat melihat jelas seperti diaiang hari, dari kejauhan sudah tampak olehnya ditanah iapang dipinggir hutan sana, duduk beradu pundak dua laki-laki berpakaian ketat, mulut mereka masih terus menggerundel panjang pendek.

Memangnya Ginkang Ai-pong-sut sudah amat tinggi, bergerak hati-hati meminjam kegelapan dan sembunyi didahanpohon lagi, secepat kilat dia berkelebat kebelakang kedua orang, tenaga yang sudah dikerahkan dikedua telapak tangan terus menggablok punggung mereka.

Di mana dua jalur angin pukulan melanda "Blang"

Orang disebelah kiri terpukul roboh terjerembab tidak bergerak lagi, tapi laki-laki diaebelah kanan yang buntung lengan kirinya berkepandaian lebih tinggi, begitu merasa angin pukulan menyerang kontan dia menjatuhkan diri terus menggelundung pergi hingga jiwanya selamat.

Sigap sekali dia melompat bangun terus mencebir bibir bersuit panjang, sultannya melingking tinggi menembus hutan terdangar nyaring dimalam hari, maka tampak gerakan beberapa bayangan orang dari berbagai penjuru memburu kemari.

Berkepandaian tinggi nyali Ai-pong-sut amat tinggi, sedikitpun dia tidak terpengaruh oleh datangnya bala bantuan musuh, tangannya tetap menyerang gencar sambil mengembangkan giniang, gerak geriknya laksana setan, sebelum laki-laki buntung sempat melihat jelas lawannya, tenaga pukulan dahsyat kembali telah menerpanya, lekas dia angkat tangan tunggainya menangkia.

"Krak"

Pergelangan tangannya seketika patah, tubuhnyapun tersapu lima kaki jauhnya, saking kesakitan mulutnya hanya sempat menjerit sekali lantas terbanting semaput.

Cepat sekali beberapa bayangan orang sudah meluruk tiba, Ai-pong-sut dikepung dari segala jurusan.

Melihat kawan mereka roboh semua, insaf lawan yang dihadapi amat tangguh, pendatang ini tidak berani segera turun tangan, sesaat mereka saling melotot hingga keadaan hening sejenak.

Akhirnya seorang laki-laki setengah umur berperawakan sedang tampil kedepan bentaknya sambil menuding.

"Dari kepandaianmu pasti bukan seorang kroco, berani meluruk kemari kemari harus main sembunyi-sembunyi macam panca longok, menyergap orang-orang yang berkepandaian rendah lagi, memangnya kau tidak merasa malu."

Ji-pong-sut tertawa lebar, katanya.

"Menghadapi kawanan tikus macam kalian, memangnya perlu bicara aturan Kangouw segala."

Laki-laki tengah umur terkekeh dinginjengeknya.

"Agaknya kau memang ingin diaiksa, malam inijangan harap kau biaa lolos dari sini. Hayo kawan-kawan ganyang dia."

Lalu dia lolos pedang panjang serta menyerang dengan jurus Hekscua-tosim, yang diincar adalah Jian-kin hiat dipundak lawan Lima orang yang lainjuga menubruk maju, maka sinar golok dan samberan pedang silih berganti, semua merabu ketubuh Ai-pong-sut.

Ai-pong-sut mendangus geram, serunya.

"Kalian juga belum setimpal bergebrak dengan aku."

Belum habia dia bicara mendadak tubuhnya berkelebat, dengan gerak langkah ajaib tahu-tahu tubuhnya menyelinap keluar dari samberan golok danpedang musuh.

Padahal tenaga sudah tersalur dikedua tangan, di mana telapak tangannya menampar dan menggenjot "Blang, bluk"

Dua orang menjeritjatuh binasa.

Mungkin daerah ini terlalu terpencil maka petugas yang dinas di sini berkepandaian kelas dua, maka dengan mudah Ai-pong-sut merobohkan dua lawan dalam satu gebrak.

Sudah tentu empat kawannya yang lain copot nyalinya, tanpa berjanji serempak mereka sudah siap ngacir selamatkan jiwa, sayang kesempatan sudah tidak ada lagi, terasa kaki menjadi goyah, sebuah jeritan kumandang pula, seorang terpukul terbang dan jatuh kedalam air.

Tiga orang lagi makin tidak karuan perlawanan mereka, jangan kata menyerang, membela diripun rasanya terlalu repot.

Ai-pong-sut ingat dirinya umpama berada di sarang harimau, dia perlu segera membantu Liok Kiam-ping diaebelah depan bersama Jian-li-tok-heng untuk menolong Siau Hong, maka waktu tidak boleh terbuang percuma, segera dia pergencar gerakan tangannya, dua orang dipukulnya luka parah pula.

Tinggal laki-laki setengah umur tadi yang masih melawan dengan nyali pecah, mumpung Aipongsut merobohkan kedua temannya, segera dia melompat jauh ke sana menorobos kedalam hutan.

Ai-pong-sut tidak sempat mengejarnya, namun kuatir orang pulang memberi laporan segera dia timpukan sepasang Yam-yam-tam dengan tenaga dikerahkan sepenuhnya pelor belibianya bagai meteor memburu kepunggung laki-laki setengah baya itu.

Yam-yam-tam adalah senjata andalan Aipong-sut yang terkenal, selama ditimpukan tidak pernah meleset, laki-laki itu terlalu bernafsu menyela matkanjiwa hingga tidak menduga bahwa jiwanya diburu peluru lawan "Blang"

Punggungnya ketembak secara telak.

tenaga timpukan Ai-pong-sut agaknya teramat besar, pelornya itu melesak amblas kepunggung orang dan tembus keluar dadanya, laki-laki itu menjerit lalu tersungkur binasa.

Dengan menggapa tangan kanan pelor baja Ai-pong-sut telah melesat balik ketangannya.

Sejenak dia berdiam diri memperhatikan keadaan sekelilingnya, lalu melangkah keping gir empang, melompat keatas sebuah sampan dan duduk diujung belakang, kedua tangan segera menepuk kebelakang secara beruntun, sampan kecil itu segera meluncur secepat panah kearah sebrang.

Setengah jam Ai-pong-sut Thong cau sudah mendarat disebrang, kembali dia mengembangkan Ginlangnya yang tinggi melesat kearah timur.

Kini mari kita ikuti perjalanan Liok Kiam-ping, setelah berpisah dengan kedua pembantunya, segera dia kembangkan Leng-khong-pou-hi, seperti naik mega layaknya meluncur kepusat istana.

Daerah yang dilalui adalah gedung-gedung istana yang menjulang tinggi bertingkat, maka untuk meluncur diantara wuwungan istana kemungkinan sekali jejaknya gampang konangan namun demi menolong orang maka dia tidak hirauhan akibat ya akan dialaminya namun dia bergerak secara hati-hati dan main sembunyi juga.

Gerakan tubuhnya laksana segumpal asap yang melayang diudara, hanya pakaiannya saja berkibar mengeluarkan suara, namun sekali berkelebat lantas lenyap daripandengan mata.

Bagi orang biasa pasti menyangka yang dilihatnya barusan adalah burung yang terbang lewat.

Tengah Kiam-ping meluncur dengan keceepatan tinggi, mendadak dari samping terdangar sebuah suitan lirih, selarik sinar putih melesat keluar menerjang dirinya.

Lekas Kiam-ping menggentak kedua lengan sehingga luncuran tubuhnya sedikit diperlambat, sebat sekali, tubuhnya berputar meluputkan diri, gerak geriknya lemas gemulai.

"Pletak"

Sebuah bola perak jatuh dipermukaan genteng. Menyusul sebuah gerungan kumandang dari tempat gelap.

"Kepandaian bagus,"

Tahu-tahu dua laki-laki tua berusia lima puluhan melompat keluar mengadang didepannya. Dengan mendelik salah seorang diantaranya menegor.

"Kepandaian saudara amat tinggi, malam buta rata keluyuran di istana, kalau bukan maling pasti rampok atau pembunuh gelap. lekas sebutkan namamu, supaya kami tidak kesalahan tangan." ' Liok Kiam-ping mendangus ejek. 'Kalau salah tangan memangnya kenapa?' "Hehe, agaknya kau memaksa Losiu turun tangan menahanmu."

"Memangnya kau yakin dapat menahan aku, Dalam tiga jurus bila kau dapat mengalahkan aku, boleh terserah tindakan apa yang ingin kau lakukan terhadapku ."

Kedua orang tampak gusar.

"Bangsat takabur.' serempak mereka membentak, empat tangan bergerak dari kiri kanar, memukul ke berbagai Hiat-to mematikan ditubuh Liok Kiamping. Empat jalur tenaga menderu seperti mengurung Liok Kiamping ditengah arena, perbawa serangan kedua orang ini memang cukup mengejutkan-Namun kungfu Liok Kiam-ping tinggi, nyalinyapun besar, meski dikeroyok dua dengan serangan gencar lagi. dia tetap berdiri sekokoh gunung, bila tepukan tangan kanan hampir menyentuh tubuhnya baru mendadak dia mengembangkan Leng-hi-pou-hoat. sekali berkelebat tubuhnya lenyap dan menyelinap keluar darijangkauan tenaga pukulan lawan-Bahwa jejaknya sudah konangan maka diapun tidak mau membuang waktu, kedua lengan melingkar, lengan kanan bergerak danggan jurus Llong-kiap-sin-gan. Pukulan Wi-liongciang-hoat adalah ilmu warisan sejak jaman dulu, kapan kedua lawan ini pernah melihat ilmu sehebat ini, disaat mereka melenggong karena serangan sendiri mengenai tempat kosong, pukulan Liok Kiam-ping sudah menerpa tiba, mau berkelit sudah terlambat, seorang menggeram perlahan, tubuhnya terjungkal roboh keping gir. Seorang lagi sempat berkelit sehingga jiwanya lolos dari lobang jarum, lekas dia berusaha melompat pergi melarikan diri. Sudah tentu Liok-Kiam-ping tidak memberi kesempatan dia melarikan diri, kembali dia gerakan dua tangan, kali ini, menyerang dengan jurus Llong-hiau-king-thian, baru saja ujung kaki orang tua itu menyentuh genteng, tubuhnya seketika tersuruk mumbul karena lambungnya terkena telak pukulan Kiam-ping, tubuhnya terlempar jauh melayang jatuh kebawah. Tanpa hiraukan korbannya Liok Kiamping kerahkan seluruh kekuatannya mengembangkan Leng-hi-pou-hoat, tubuhnya meluncur lebih kencang lagi kedepan. Bila orang-orang dibawah gedung menjadi geger. Sementara dia sudah meluncur ratusan tombak jauhnya. Liok Kiam-ping meluncur turun ketanah dan menyelinap ketempat gelap. untung letak Ling-hong-khek sudah diketahui arahnya, meski putar kayun belak belok kian kemari menghindari kawanan ronda dan para penjaga Liok Kiam-ping masih bisa maju dengan leluasa. Dikala dia menyelinap kebelakang sebuah pohon besar, dari tempat gelap dipojok sana mendadak menerobos kelua sesosok bayangan hitam besar, sebelum kedua cakarnya tiba, dengan napasnya yang memualkan sudah menyampuk hidung. Mendengar suara Kiam-ping lantas bersiaga, sebat kakinya menggeser kekiri sehingga tubrukan bayangan itu mengenai tempat kosong, sekilas melirik baru dia melihatjelas yang menyergap dirinya adalah seekor anjing Tibet yang tinggi kekar sebesar anak kerbau, bila mendekam ditanah panjang tubuhnya ada delapan kaki, kedua matanya menatap jalang siap menerkam pula. Dari cerita Jian-li-tok-heng dapat diketahui bahwa anjing Tibet ini segarang harimau, tangkas dan kuat, cerdik pula, cakarnya beracun, buasnya luar biasa, meski badan sudah terluka selama badan masih bisa bergerak akan terus melawan dan menyerang sampai ajal. Kaum Bulim kelas satu juga kewalahan menghadapinya. Terutama anjing yang satu ini kelihatannya sudah terlatih baik sekali, untuk membunuhnya pasti memerlukan tenaga. Mungkin penasaran karena terkamannya barusan luput, sambil menggeram kembali dia menerjang. Tapi gerakan anjing kali ini memang cukup cerdik, kelihatannya tubuhnya menerkam padahal gerakan tubuhnya masih sempat berobah sambil menunggu reaksi lawan, bila lawan berkelit kekiri sekaligus gerak perobahan tubuhnya akan mengikuti gerakan lawan-Untung menghadapi anjing yang sudah terlatih baik ini, sedikit banyak Kim-ping sudah punya pengalaman, tahu betapa buas dan jahatnya anjing ini, bahwa dua kali tubruknya tidak mengenai sasaran, anjing ini berjalan melingkar mengelilingi dirinya, jelas anjing ini sedang mencari posisi dan siap menerkam pula bila sudah mendapatkan peluang, maka Kiam-ping tumplek perhatian dan mengerahkan tenaga. Bahwa pancingannya tidak berhasil anjing buas ini naik pitam, mendadak dia mendekam pula terus meraung, kaki belakang menjejak tubuhnya lantas menerkam mumbul keatas, betapa besar tenaga yang dikerahkan untuk tubrukan dahsyat ini sampai mengeluarkan deru angin kencang. Tujuan Kiam-ping memang memancing amarahnya, begitu anjing itu menerkam pula dengan buas, mendadak dia menggeser kekanan satu langkah, kedua kaki menutul bumi, tubuhnya melejit mumbul delapan kaki, ditengah udara dia menekuk pinggang, secara berputar dia sudah melejit diatas anjing kedua tangannya terus menepuk kebawah. Tahu batok kepalanya ditempiling anjing buas ini memang cerdik, begitu kedua kakinya menerkam kosong pula, kontan dia menjatuhkan badannya kekiri, tubuh sebesar anak kerbau itu menggelinding lima kaki kepinggir.

"Blum."

Karuan tepukan telapak tangan Kiam-ping yang dahsyat membuat lobang besar di atas tanah sedalam dua kaki, sungguh dia tidak habis mengerti bahwa seekor anjing ternyata secerdik ini dapat meluputkan diri dari serangan telapak tangannya, sekilas dia melenggong lekas dia menarik napas lagi, meminjam daya pantul dari pukulan telapak tangan kebawah, kedua kaki memancalpula sehingga tubuhnya melejit minggirjuga ke samping, di mana kedua lengannya ditekuk lalu digentak.

dua jalur tenaga pukulan yang mampu meremukkan batu raksasa melanda kedepan.

Anjing besar itu sedang bergulingan ditanah, keempat kakinya terangkat diudara, belum sempat membalikkan tubuh dan berdiri diatas kakinya, dan dadanya sudah kena pukulan telak.

"Bluk, dua kali, tubuhnya yang besar seketika gepeng dan remuk seperti ditindih benda berat ribuan kati tanpa mengeluarkan suara jiwanya melayang seketika. Meski berhasil membinasakan anjing lihay ini, tak urung Liok Kiam-ping merasa bersyukur pula dapat merobohkannya. Segera dia kembangkan pula Ginkangnya, melesat lebih dalam. Begitu mencapai seberang Ai-pong-sut sudah kembangkan ketangkasan gerak tubuhnya terus meluncur kepusat istana, sekali lompatan sepuluh tombak dicapainya, badannya memang pendek sehingga lebih leluasa bergerak diantara pucuk pohon. Dibawah memang pernah kepergok para penjaga, namun karena gerakan tubuhnya teramat cepat, mereka berkepandaian rendah lagi. maka para penjaga itu merasa kabur pandangan, kapan pernah menyangka bahwa seseorang telah menyelundup kedalam. Beberapa kejap lamanya Ai-pong-sut meluncur dengan kecepatan tinggi tanpa menemukan rincangan apapun, ternyata keadaan sebelah depan makin rata dan lebar, sunyijuga hening, keadaan tidak seperti didalam lingkungan istana, maka dia menduga kemungkinan dirinya salah arah, segera dia menghentikan langkah melompat tinggi kepucuk pohon lalu menerawang sekitarnya. Seketika dia berdiri melenggong dipucuk pohon, karena keadaan yang dilihatnya sekarang jauh berbeda dengan apa yang digambarkan oleh Jian-li-tok-heng, mungkin setelah dirinya keluar hutan tadi sudah kesasar, apalagi telah dia menggenjot tenaga meluncur dengan kecepatan tinggi, dengan arah yang ditujupasti lebih jauh lagi, pada hal lingkungan istana seluas ini, dalam waktu sesingkat ini ke mana dia harus mencaritahu ? Waktu dia menengak meneliti letak bintang, diduga sekarang sudah menjelang kentong keempat, saat ini kemungkinan Liok Kiam-ping danJian-li-tok-heng svdah berada di Ling-hong-khek, bahwa dirinya datang terlambat jelas bakal bikin kapiran urusan besar. Satu jam lagi, petugas pagi dari istana bakal keluar melaksanakan kerja rutin untuk turun tangan jelas akan lebih sukar. Karuan hatinya bingung dan gugup, untunglah pada saat itu dikejauhan didangarnya suara kentong a n peronda, pikirnya.

"Untuk. tanya jalan terpaksa harus memaksa peronda itu,"

Sebat sekali dia meluncur turun kebawah terus memburu kearah utara dan menyelinap kebelakang sebuah potlon dan menunogu.

Tak lama kemudian cahaya lentera yang guram mulai menyorot keluar dari balik hutan-Ai-pong-sot sudah mengincar tepat, sebat sekali dia melompat keluar, tangan kanan terangkat, dengan kecepatan kilat dia mencengkram pergelangan tangan orang.

Saking kaget orang yang diaargap ini membuang galah di mana lenteranya tergantung hingga lampupun padam.

Tahu bahwa dirinya disergap kawanan maling atau penjahat yang beroperasi didalam istana peronda waktu ini segera meratap.

"Harap Hohan memberi ampun, lepaskan tanganku, aduh, aduh."

"Ling-hong-khek di mana. Lekas katakan-' desis Ai-pongsot.

"Itulah tempat tinggal kaum Lama, letaknya disebelah tenggara, melampaui pekarangan besar ini, akan tampak sebuah menara tunggal yang menjulang tinggi itulah. Tapi di sana amat berbahaya, malam hari dijaga keras dan dironda kawanan anjing besar."

Demikian orang itu menerangkan sambil menuding kesatu arah.

"Kau memang jujur. tapi maaf, kau harus istirahat sejenak."

Ujar Ai-pong-sut lalu menutuk Hiat-topenidurnya, tubuhnya dia jinjing kepinggir direbahkan dibawah pohon besar.

Kira-kira satu jam lagi hampir terang tanah, waktu sudah mendesak maka Ai-pongsat tidak ayal lagi melesat kearah tenggara melewati pagar tembok tinggi.

Dipekarangan luar yang dikelilingi tembok tinggi inilah lingkungan dalam bagi para petugas istana, tempat tinggal mereka didalam deretan rumah pendek yang menjurus kebarat, seluruh petugas saat itu dikerahkan seluruhnya, yang ketinggalan juga yang sudah kelelahan setelah bertugas.

Terdengar sebuah suara melengking berkata.

"Genduk cilik itu memang manis sekali, siapa pun yang melihatnya pasti menaksir padanya, sayang dia jatuh ditangan kawanan padri bengis yang kasar itu, jangan kata perempuan melihat tampang mereka lelaki siapapun merasa jijik, kalau genduk itu diserahkan kepadaku, tanggung dalam tiga hari pasti sudah takluk lahir batin, dengan gaya apa saja juga pasti dengan senang hati dia melayani."

Seorang lain bertanya.

"Kalau pakai kekerasan apa pula bedanya, kan juga sama-sama senang dan nikmat, kawanan padri itu justru bermuka-muka, ingin dia menyerahkan kesucian suka rela. Hm.Jit ko kau cukup ahli main perempuan, apa bedanya main paksa dengan suka rela?"

Suara melengking itu berkata.

"Rasanya tentu berbeda. sayang genduk itu masih terlalu hijau, kalau tidak. hehehe, wah, pasti nikmat sekali."

"Konon Jik-lian-coa sedang meramu sejenis arak obat, cukup minum beberapa tetes perempuan berhati paling keraspun akhirnya akan menurut kepadamu, apa keinginanmu pasti dilayani sepuas hati."

Mendengar musuh hendak memperkosa Siau Hong dengan arak obat, sudah tentu jantung Ai-pong-sut berdebar tegang.

Maklum dia belum tahu kalau arak obat itu sudah dibuang dan diganti dengan air teh oleh coh-sing-hwi dirumah gendak Jiklian-coa PekJi-hay.

Didengarnya suara melengking itu berkata pula.

"Arak obat apa.Jik-lian-coa hanya ingin bermuka-muka saja didepan Siucongkau, malam tadi kabarnya arak obatnya itu tidak manjur sedikitpun, saking gusar padri asing itu persen satu gamparan di muka Jik-lian-coa, sekarang dia sudah menghadap kepada Glam-lo-ong di akhirat."

Mendengar Siau Hong selamat lega hati Ai-pong-sut, segera dia menyusuri tembok menuju keselatan terus membelok ketimur.

Betuljuga tidakjauh setelah dia melampaui pekarangan besar ini, dilihatnya sebuah bangunan loteng dua tingkat yang diterangi api lilin besar dan lamplon yang dikerek tinggi dari kejauhan sudah kelihatan beber bayangan orang bergerak mondar mandir d iba wah loteng.

Pada hal keadaan sekeliling amat sunyi senyap.

Maka Aipong-sut menduga Liok Kiam-ping danJian li-tok-heng pasti belum tiba ditempat itu, maka dia tidak ingin bergebrak mendahului rekan-rekannya, maka dia merunduk lebih maju sambil menunggu kesempatan ditempat gelap.

---ooo0dw0ooo---Kini kita ikuti perjalanan Jian-li-tok-heng yang melewati jembatan gantung membelok kesebuah lorong, dilihat keadaan sekitarnya, lorong ini seperti menjurus kedalam perumahan, pengalaman Kangouwnya amat subur, dia tahu larangan keras bagi setiap orang yang mondar mandir diperumahan para dayang atau Thaykam, maka penjagaan di sinijuga pasti lebih keras, sekilas dia celingukan, mendadak dia mepet dinding, kaki menutul bumi, kedua tangan diulur maju mundur, dengan Pia-hou-kang dia merambat masuk kedalam.

Disaat dirinya hampir mencapai mulut lorong mendadak didengarnya suara lambaian baju orang yang berlari mendatangi, ternyata sekitar sini juga ada penjaga gelap.

diam-diam dia bersyukur dalam hati bahwa dirinya tidak bertindak gegabah.

Namun dalam keadaan seperti dirinya tidak boleh berpeluk tangan, dengan mengerut alis jari tangannya mengorek batu dinding terus ditimpukan keluar.

Suara berisik terdengar sepuluh tombak disemak belukar sana.

Suara orang orang kaget terdengar dimulut lorong, seorang berkata.

"Mari kami periksa ke sana."

Menyusul derap kaki orang beranjak dari dekat menjauh.

Jian-li-tok-heng tahu para Busu atau pengawal istana yang ditugaskan didalam istana semua pilihan melalui ujian berat, rata-rata memiliki kepandaian tinggi, orang tidak mudah ditipu, maka dia mencomot lagipecahan dinding lebih besar, dengan tenaga lebih keras dia timpukan ketempat lebih jauh lagi..

Kedua Busu itu sedang melangkah ke sana, belum lagi memeriksa keadaan di sini, suara berisik kembali terdengar disebelah kanan, kali ini mereka tidak ayal lagi, dengan kesebatan gerak badan mereka terus memburu kearah suara berisik.

Melihat akalnya berhasil mengelabui musuhJian li-tok-heng mempercepat gerak kaki tangannya terus merambat masuk dan menyelinap kedalam.

Mengikuti serambi panjang ya berpagar, dari bilangan dalam di mana terdapat bilik-bilik buku mengitari ruang kembang, maju lebih lanjut adalah istana kediaman para putri.

Dari pengkolan serambi sebelah kiri terdengar langkah mendatangi, suaranya perlahan, untung malam sunyi, kalau bukan tokoh setingkat Jian-li-tok-heng susah mendengar jelas.

Serambi hanya ada satu, kekanan kiri tak mungkin menyingkir, mundur kebelakang juga tiada tempat untuk menyembunyikan diri, dalam gugupnya jian-li-tok-heng angkat kepalanya, seketika hatinya bersorak girang.

Segera dia menjejak kaki melejit mumbul keatas pilar yang melintang diatas serambi, dengan sebelah tangan dia memeluk belandar, kedua kaki tertekuk sambil bertopang didinding belakang, maka seluruh tubuhnya mepet dilangit-langit.

Kejadian berlangsung dalam waktu singkat, betapa gesit dan cekatan gerak gerik serta tindakannya sungguh amat tegas dan berbahaya.

Baru saja Jian-li-tok-heng meyelinap keatas belandar, dua orang biau berpakaian ketat dengan menyoreng pedang dipinggang mendadak muncul dari arah dalam dengan langkah lebar dan cepat mereka lewat dibawahnya.

Setelah bayangan kedua orang ini lenyap dibelokan sana, lekas Jian-li-tok-heng melompat turun, begitu kedua kaki menyentuh lantai, selincah kucing tubuhnya terus melesat kesebelah dalam.

Penerangan disebelah dalam agak terang, dua kamar dideretan depan diterangi dua lampu kaca hingga keadaan jauh lebih terang mungkin disinilah kamar dinas para peronda yang sering mondar mandir menunaikan tugasnya.

Jian-li-tok-heng adalah begal budiman yang sering beroperasi secara tunggal didaerah selatan, sasaran oprasinya adalah pembesar korup dan hartawan kikir yang menindas rakyat, segala seluk beluk dalam gedung-gedung besar sudah biasa dijelajahinya.

Sekilas dia menerawang keadaan lalu melesat langsung kebilangan dalam.

tiba didepan sebuah jendela, meminjam cahaya remang-remang, dari celah-celah jendela dia mengintip kedalam.

Kebetulan kamar yang diintipnya ini adalah tempat ganti pakaian setiap Ko-cin-ong hendak melakukan dinas, mepet jendela, terbentang sebuah meja panjang melintang, dibelakangnya terdapat sebuah kursi kebesaran warna merah dengan ukiran serba antik, ditempat duduknya dilembari kasuran empuk yang disulam gambar bunga mekar.

Jian-li-tok-heng segera ulur tangan kanan sedikit menjinjing daon jendela, sementara tangan kiri merogoh secarik sampul, surat yang sudah ditulis dan dipersiapkan sebelumnya, begitu melompat kedalam kamar, dia tindih sampul suratnya itu dibawah tatakan tinta, lalu dia menyelinap keluar pula menutup daon jendela serta mengundurkan diri dari arah datangnya tadi.

Bahwa separo tugasnya sudah tercapai betapapun lega juga hatinya, langkahnya juga terasa lebih enteng, sekali menjejak kaki tubuhnya segera melejit tinggi keatas genteng.

Namun sedikit geseran pakaiannya dipinggir payon telah mengejutkan orang-orang didalam kamar.

Mendadak dua bayangan orang melesat keluar dari dalam, tanpa bersuara dengan kencang menguntit dibelakang Jian-litok-heng .

Jian-li-tok-heng sedang mengayun langkah dengan kecepatan tinggi, kupingnya yang tajam mendengar lambaian pakaian disebelah belakang, segera dia insyaf sedikit kelalaiannya barusan sudah mengundang perhatian musuh sehingga dirinya dikuntit.

Dia tidak berani lari kearah Linghong-kek karena kuatir menggagalkan rencana besar, lekas dia membelok kekanan terus melesat kebelakang gunungan yang tersebar dibeberapa tempat.

Kedua biau yang menguntit dibelakangnya juga termasuk jago kosen di Bulim, meski Jian-li-tok-heng mengembangkan kemahirannya, mereka juga hanya ketinggalan belasan tombak saja.

Tahu kedua lawan cukup tangguh.

setiap melompat dan menyelinap.

Otak Jian li tok-heng berpikir dan mencari akal cara bagaimana menghadapi kedua lawannya ini.

Setelah melewati jembatan gantung, dia tidak menuju keatas gunung, malah mengitari gunungan terus menyusur keselatan.

Aksinya ini memang membuat kedua penguntitnya bingung dan tertegun, maklum sebagai petugas dalam yang menjaga keselamatan penghuni istana, mereka tidak boleh meninggalkan tempat tugasnya terlalu jauh, pada hal mereka sudah berada diluar jembatan gantung.

jauh melampaui lingkungan tugasnya, petugas yang biasa dinas di sini juga tidak kelihatan muncul maka mereka tahu bahwa urusan tidak beres.

Padahal musuh didepan mata apapun mereka tidak bisa putar balik, berhenti sejenak kedua orang itu tampak bisikbisik, agaknya sedang berunding, maka seorang putar balik kedalam istana yang lain-mengejar lebih lanjut.

Lega hati Jian-li-tok-heng setelah melihat seorang lawannya mengundurkan diri, kalau satu lawan satu dia tidak perlu gentar, maka sengaja dia memperlambat langkah, setelah jarak dekat mendadak dia berhenti dan menunggu.

Dilihatnya pengejarnya ini seorang pendek berusia lima puluh lebih, langkahnya enteng gerak badannya lincah, dalam sekejap orang sudah melejit datang berhenti dua tombak didepannya.

Laki-laki pendek ini menyapa dingin.

'Apakah tuan orang Hong-lui-pang, harap bicaralah terus terang saja."

Jian-li-tok-heng mengangkat kedua tangan, katanya tertawa.

"Tidak setimpal kau tanya siapa diriku, kalau dapat mengalahkan sepasang telapak tanganku, boleh nanti kau mengetahui"

Laki-laki tua pendek naik pita matanya mendelik gusar, bentaknya beringas.

"Bangsat bernyali besar, memangnya di sini kau kira tiada hukum. Lihat pukulan' kedua telapak tangannya memukul dengan gempuran dahsyat kedada jian-li-tok-heng. Jian-li-tok-heng mendengus hina, kedua lututnya ditekuk sambil melangkah mundur setengah langkah, delapan bagian tenaga dikerahkan lalu mendorong sebelah tangannya. Begitu pukulan kedua pihak saling bentur "Daar."

Ledakan dahsyat membuat kedua orang tertolak selangkah.

Jian-li-tok-heng tahu kekuatan lawan masih dibawahnya, setelah sejurus menjajalnya, dia yakin dirinya lebih unggul, maka semangat tempurnya makin berkobar, bentaknya.

"Nah sambutjuga pukulanku."

Dengan seluruh kekuatannya dia dorong kedua tangan memukul lawan-Bahwa adu kekuatan segebrak tadi berhasil seri alias sama kuat, rasa nyeri orang pendek seketika lenyap.

Meski menghadapi damparan pukulan dahsyat kedua tangan lawan, sedikitpun dia tidak gentar lagi, lekas dia kerahkan setaker tenaganya pula, dengan berani dia songsong pukulan musuh.

Sudah tentu akibatnya cukup fatal bagi dirinya, bukan saja tubuhnya terpental mundur lima langkah, darah juga bergolak dadapun sesak mata berkunang-kunang, jelas dia sudah terluka dalam.

Gebrak kedua berhasil melukai lawan, sudah tentu makin berkobar semangat Jianli-tok-heng.

Baru saja dia menggerakkan tangan siap menggempur pula.

Mendadak di lihatnya lawan melejit minggir tiga langkah lebar menempatkan dari pada posisi lebih tinggi membelakangi arah angin, di mana tubuhnya sedikit melengkung, kedua tangan memeluk dada lalu berputar kedalam, pelan-pelan telapak tangannya bergerak menghadap keluar, telapak tangan yang semula putih lambat laun berobah menjadi merah darah, Begitu telapak tangannya menekan kedepan, segumpal hawa panas yang membara seketika menerjang kedepan seperti lahar gunung berapi.

Betapa luas pepgalaman Jian-li-tok-heng melihat telapak tangan lawan merah membara mengeluarkan suhu panas pula, karuan hatinya kaget setengah mati, jeritnya.

Baca Juga: Peristiwa Merah Salju 7

Baca Juga: Merpati Pedang Purba 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert