Eps 1 Merpati Pedang Purba - Kauw Tan Seng
Baca online Merpati Pedang Purba - Kauw Tan Seng
Cersil Merpati Pedang Purba - Kauw Tan Seng.
Kouw Kiam Tjing Wan Team
Kolektor E-Book
Kouw Kiam Tjing Wan Team
Kolektor E-Book
MERPATI PEDANG PURBA (KOUW KIAM TJING WAN) Diterjemahkan oleh . Kauw Tan Seng Team
Kolektor E-Book
Sumber Pustaka . Aditya Indra Jaya Kontributor – scan . Awie Dermawan OCR – editing -Pdf . Tan Willy DISCLAIMER
Kolektor E-Book
adalah sebuah wadah nirlaba bagi para pecinta Ebook untuk belajar, berdiskusi, berbagi pengetahuan dan pengalaman.
Ebook ini dibuat sebagai salah satu upaya untuk melestarikan buku-buku yang sudah sulit didapatkan dipasaran dari kpunahan, dengan cara mengalih mediakan dalam bentuk digital.
Proses pemilihan buku yang dijadikan abjek alih media diklasifikasikan berdasarkan kriteria kelangkaan, usia,maupun kondisi fisik.
Sumber pustaka dan ketersediaan buku diperoleh dari kontribusi para donatur dalam bentuk image/citra objek buku yang bersangkutan, yang selanjutnya dikonversikan kedalam bentuk teks dan dikompilasi dalam format digital sesuaĆ kebutuhan.
Tidak ada upaya untuk meraih keuntungan finansial dari buku-buku yang dialih mediakan dalam bentuk digital ini.
Salam pustaka!
Team Kolektor Ebook KOUW KIAM TJING WAN Sebuah rumah bertingkat tertampak njata diantara sekian banjak rumah2 penduduk dusun lainnja disebuah desa.
Gandjil nampaknja, seluruh rumah2 penduduk dusun itu terdiri daripada seratus sepuluh buah termasuk rumah bertingkat itu.
Desa itu di-lindungi oleh sebuah sungai jang tidak seberapa lebar dan besarnja.
Ketika mula pertama keluarga rumah bertingkat ini pindah kedusun ini, penduduk dusun pada umumnja pun pernah merasa ter-heran2.
Sepuluh tahun dengan tak terasa telah berselang, seakan''' dirasakannja baru sekedjap mata sadja, maka penduduk dusun itupun kini telah mendjadi biasa melihat tjara hidupnja jang sangat berlainan dari penghuni2 rumah bertingkat itu.
Selama itupun tiada seorang dusun tetangga pernah masuk kerumah bertingkat itu, mereka pun hanja mengetahui, bahwa rumah itu didiami oleh seorang ajah dengan seorang puterinja serta dua orang katjung atau pesuruh.
Ketika keluarga itu pindah kedusun itu, puterinja baru berumur delapan atau sembilan tahun dengan sepasang kuntjir dikepalanja.
Kini ia sudah mendjadi gadis remanja jang elok tjantik itu nampaknja se-akan2 terkandung suatu rahasia jang tak diketahui oleh umum, maka orang jang pernah menemuinyapun selamanja belum pernah melihat ia menundjukkan bersenjum.
Ketika itu sudah larut malam, tetapi didalam rumah bertingkat itu masih tampak sinar pelita dan bajangan orang sinar pelita menjorot pada mukanja jang rupawan.
Nampaknja ia tengah berduduk disamping medja buku dan matanja sedang memandang sebuah lukisan jang terbentang diatasnja dengan bengong.
Adapun lukisan itu adalah sebuah lukisan sansui (panorama) biasa sadja tetapi jelas, bahwa panorama itu bukan panorama daerah selatan.
karena gunung jang terlukis pada gambar itu demikian megah dan agungnja.
sedikitpun tiada mengandung sifat panorama daerah selatan jang pegunungannja indah permai.
Ia menunduk dan djari tangannja sedikit demi sedikit menggeser diatas lukisan itu, nampaknja ia hendak mentjari sesuatu pada lukisan itu, jang diulanginya ber-kali', achirnja ia menghela napas dan berdiri, tertampak pada wadjahnja seperti seorang orang putus harapan.
Lalu terdengar ia menggerutu seorang diri katanja impian senantiasa tak dapat dipertjaja, mengapa aku pertjaja kepada hal tahajul ?"
Ia tengah djalan mondar-mandir didalam ruang atas itu, se-konjong2 terdengar ada suara orang naik pada anak tangga.
Maka dengan ter-gesa2 ia menggulung lukisan itu lalu dirnasukkan di-dalam rak buku, setelah mana diambilnja sed
Jilid buku diIetak-kannja diatas medja dan dibatjanja dengan penuh perhatian.
Baru sadja ia selesai melakukan segala sesuatu tadi, tiba2 maka dari luar pintu terdengar suara orang batuk2 ketjil, lalu disusul dengan suara bitjaranja seorang tua "Ah !
Hong, belum tidur-kah kau ?"
Pada wadjah mukanja nampaknja is agak ketakutan dan men-djawabnja .
"Ajah. aku sedang membatja buku, masuklah !"
Pintupun segera terbuka.
dan nampak seorang tua melangkah masuk dengan langkah kaki jang per-lahan2.
Selagi masuk kedalam kamar, sinar mata mentjorong menatap keseluruh kamar.
Puteranja jang disebut A Hong itu agak kuatir perbuatannja tadi diketahui sikakek, dengan buku ia mengalingi mukanja.
tetapi dengan matanja jang djeli dan lebar itu,.
mengikuti sorot mata ajah-nya jang memutar naik turun.
Setelah lewat beberapa saat lamanya.
barulah orang tua itu duduk dengan perlahan, A Hong sekarang mendjadi lega hatinja dan berkata .
..Ajah, kaupun belum tidur ?"
"Ja! Aku tak dapat tidur, impian jang buruk selalu mengganggu tidurku!"
Djawab orang tua itu. A Hong mendadak sadja mendjadi terkedjut nampaknja.
"Impian buruk? Kau bermimpi apakah Ajah ?"
Tanjanja. Orang tua itu berdiam sebentar lalu meng-ibas2kan tangannja sambil berkata "Ahh, tidak usah dikatakan lagi."
Nampak tangannja orang tua yang dikibas2kan itu besar dan Tebal telapak tangannja, dan ditengahnya bersemu merah dan bertjahaja.
Setelah mendengar kata2 sang ayah itu, dalam lubuk hatinya A Hong merasa heran.
Pikirnja, ia sendiripun pada beberapa hari terakhir ini, diwaktu malam hari senantiasa dapat impian buruk, didalam mimpi itn, ia beracla didalam keadaan seperti setengah sadar, tidurpun bukannja tidur.
Hal jang sedemikian itu telah terdjadi beruntun tiga malam.
Dan apa jang mengheran-kan ialah, mengapa ajahnjapun djustru pada hari ini djuga mendapat impian buruk.
Ia tidak mengetahui apa jang dimimpikan ajahnja itu, ia hendak menanja, tetapi mengingat akan impiannja sendiri, ia tidak berani membuka mulutnja.
Untuk sesaat lamanja keadaan mendjadii sunji-senjap, tidak ada suara apapun djua, satu2nja suara hanja letusan pelita jang meletik itu.
Sekalipun A Hong nampaknja membatja buku, tetapi se-benarnja matanja senantiasa menatap ajahnja setjara sembunji.
Orang tua itu tengah memikirkan sesuatu, kepalanja menunduk, sesaat kemudian dengan setjara se-konjong.
Ia berkata "A Hong, kau memikirkan apa ?
Kau tidak usah takut mengatakan sesuatu kepada ajahmu, djanganlah menjembunjikan kata2 jang hendak diutjapkan Itu didalam hatimu!"
Dengan mendadak sadja A Hong mendjadi sangat terkedjut dan berkata "Ajah, aku tidak memikirkan apa2 !"
Mendengar kata2 anaknja itu, orang tua itu se-konjong2 ber-diri, tangannja menepuk medja hingga menerbitkan suara berisik, sepasang alisnja berdiri, dan matanja melotot, tadinja masih ter-hitung seorang tua jang mendatangkan rasa hormat, kini se-konjong2 berubah bagaikan suatu malaikat jang djahat dan bengis.
Medja buku jang terbuat daripada kaju tjendana ungu itu pun gemeretak seakan2 tak kuat menerima tenaga tepukannja itu.
A Hong buru2 berdiri, mendukung bukunja mundur menjingkir, gerakannja tjepat bagaikan angin menghembus, halaman buku itupun ter-balik', didalam halaman buku itu mendadak berkelebat sinar mentjorong, ternjata dalam halaman buku itu terselip dua bilah pisau Liu Jap To (Pisau berhentuk daun pohon Liu) jang tipis bagaikan kertas.
Dan pada keadaan sedemikian itu diperguna-kan oleh A Hong untuk menjelipkan pisau tipis itu diantara ke-dua djari tangannja.
Kedua mata si orang tua itu mentjorong menatap A Hong sekian lamanja atau se-konjong' sikapnja djadi melemah, ia menghela napas kemudian lalu berkata ,.A Hong, walau bagaimana-pun aku toh ajahmu bukan ?"
A Hong menganggukkan kepalanja, terpaksa, tetapi djari menengah bersama empu djari tangan kanannja telah mendjepit hulu pisau Liu hiap To itu.
Pisau tipis itu hanja lima dim pandjangnja dan selebar djari tangan, kedua belahnja tadjam.
Samasekali ia tidak memperlihatkan perubahan sikap dan gerak-geriknja, hanja dengan diam2 ia mendjepit pisau tipis itu dan di-angkatnja, tetapi ia masih mengalinginja dengan buku agar tidak terlihat oleh si orang tua.
Orang tua itu.berkata pula "A Hong, setelah kau mengetahuinja, maka seharusnja kau turut kata-ajahmu ini.
Djangan membuat ajahmu marah."
A Hong berkata sambil menggigit bibirnja "Ajah, sekalipun kata2mu itu benar, tetapi kata2 ibuku, apakah aku tidak dapat mendengarnja ?"
Sambil berkata, matanja jang besar itu mengerling dan menatap muka si orang tua, se-akan' ia hendak menem-busi isi lubuk hatinja si orang tua.
"A Hong. ibumu telah meninggal dunia, mengapa demikian kata mu ?'' kata orang tua itu sambil memperlihatkan wadjah jang muram. A Hong berkata dengan sikap adamnja .
"Ajah, dimana ibu sekarang, kau beritahukanlah kepadaku!"
Berkata A Hong, lagu suaranja demikian keren sehingga tiada mirip'nja dengan hubungan ajah dan anak.
Maka berubahlah dengan segera air mukanja si orang tua, telapak tangan kanannja diangkat dengan per-lahan', pergelangan tangan kanannja berbalik se-konjong ".
Tengah ia hendak menjerang A Hong dengan telapak tangannja, atau dengan se-konjong"
Pula telah berubah pikirannja, pergelangan tangannja menurun, telapak tangannja menepuk media buku sehingga berdeburan.
Ter-njata medja itu telah berlobang.
Pit (alat tulis Tionghoa terbuat daripada bulu dan bambu), tinta bak, kertas dan sebagainja ber-lompatan karena gontjangan hadjaran telapak tangan itu.
Pelita minjak pun terpental beberapa dim tingginja dan apinja hampir padam.
Dengan diam' A Hong mengertek gigi, tangan kanannja menekuk kebelakang, tenaganja disalurkan pada kelima djari tangannja.
Maka dengan terdengarnja suara ,.sret"
Liu Jap To-nja menembus bukunja, melesat langsung kearah si orang tua.
Djustru tepat pada waktu itu, api pelita pun terpadamkan oleh samberan angin jang keluar akibat pukulan telapak tangan si orang tua itu.
Maka oleh karenanja didalam kamar itupun tiba2 mendjadi gelap gulita, apapun tak tertampak.
Dalam pada itu ,terdengar pula suara bentaknja si orang tua.
katanja .
"Budak tjilik, achirnja kau pertjaja akan budjukan si wanita siluman, melupakan budi, malah sebaliknja menggigit si penolong !"
Menjusul dengan itu lalu terdengar pula suara sedomprangan jang tak hentianja.
Setelah menjerang dengan Liu Jap To-nja, A Hong buru2 me-lompat dan mengambil lukisan jang ditelitinja tadi lalu diselipkan pada badju diatas dadanja.
Setelah mana ia bersembunji dibelakang rak tempat rnenaruh buku'.
Maka dirasakannja ada banjak potongan kaju tipis melesat kesegala pendjuru dengan membawa pangaruh jang hebat, bagai-kan deru angin dan halilintar, terbang menantjap masuk kedalam dinding tembok.
Didalam keadaan jang sedemikian itu, A Hong sudah gemetar, bernapaspun tidak berani rasanja.
Dua buah kaki kursi telah melesat dengan pesatnja, hampir sadja mengenai ke-palanja.
Dengan terdengarnja suara "Prak !
Prak !"
Semua menantjap diatas dinding tembok.
Beberapa saat kemudian barulah suasana tenang dengan mendadak.
Maka terdengar pula panggilan si orang tua "A Hong !
A Hong !
Dimana kau ?
Djangan dengar dan pertjaja kata2 si wanita iblis, tidak boleh kau pertjaja kepada impian !
A Hong.
aku tidak menjalahkan kau melukai aku dengan pisau terbang.
lekas kemarilah kau !"
A Hong tidak tergerak sama sekali hatinja.
Si orang tua memanggilnja pula beberapa kali, setelah mana barulah A Hong berkata dengan sikap jang dingin "Ajah, kutahu bukan impian, lekaslah kau tjeriterakan padaku!"
Si orang tua berdiri dengan napas sengal', ia menantikan pemantik api, ia djalan dengan sempojongan kearah sudut kamar, ia menjinarinja, nampak pada sudut kamar itu terdapat sebuah pelita minjak jang masih utuh, lalu dinjalakannja dengan pemantik api itu, iapun lantas memutar tubuhnja.
Nampak bahwa tangan kirinja melindungi bahunja, darah segera membasahi lengan badjunja, perabot dan kursi-medja dalam ruang itu telah pada hantjur lebur tak keruan.
Wadjah mukanja putjat lesi.
Ia bertanja kepada A Hong .
"Masih ada apa lagi jang dapat ditjeriterakan ? Djika tidak ada aku, maka tulang majatmu pun sudah mendjadi abu. Kini kau membalas budiku dengan memperlakukan aku setjara begini !"
Belum lagi A Hong mendjawabNya, tiba-tiba terdengar suara aneh yang terbit dari atas rumah.
Suara gemuruh terdengar tak henti-hentinya se-akan-akan guruh dan Guntur sambung-menjambung, tetapi suara itu datangnja dari atap rumah.
Suara gemuruh itu serupa dengan roda kendaraan yang mengeluduk diatas atap rumah.
Mendengar suara gemuruh itu A Hong bersama si orang tua dengan tak terasa masing2 menengadah, serta menatapkan pandangan matanja keatas.
Dengan terdengarnja suara mendebur jang dahsyat dan se-konjong itu, maka batu dinding tembok berhamburan dan pada atap rumah itu telah terdapat suatu lobang besar.
A Hong bersama si orang tua dengan serentak melompat minggir njala api pelita itupun berkelak-kelik hingga beberapa kali, menjusul mana segumpal bajangan hitam meluntjur turun dari lobang besar itu.
Ketika tadi setjara mendadak atap rumah itu petjah dan berlobang, suara dan pengaruhnja betapa mengedjutkan orang, tetapi ketika segumpal bajangan hitam itu menurun kedalam rumah sedikitpun tidak bersuara.
Ketika A Hong bersama si orang tua memandangnja setjara tenang maka tertampaklah oleh mereka, bahwa jang turun dari lobang itu adalah sebuah kendaraan jang beroda tunggal.
Didalam kendaraan itu termuat seorang wanita jang mengenakan pakaian hitam, rambutnja jang pandjang menutupi bahu dan mukanja.
Orang hanja nampak kedua matanja jang mencorong bersinar.
Wanita itu mengutik sedikit dengan tangannja.
maka kendaraan itu segera berputar arah.
la tertawa pandjang dan menjeram kan sambil berkata "Tay Lek Kim Kong, baik2 sadjakah selama kita berpisah ?"
Lagu suaranja sangat menjedapkan telinga.
Menurut lagu serta tekanan lidahnja dapat diketahui bahwa wanita itu datang dari daerah utara.
Menampak wadjah wanita itu, A Hong sangat tergerak hatinja Kiranja wanita itu sama rupanja dengan wanita jang ia temukan beruntun2 tiga hari didalam alam mimpi.
Didalam alam mimpi itu si wanita mengaku sebagai ibunja kini djelas apa jang dilihatnja itu bukanlah mimpi, tetapi sungguh terdjadi, wanita itu muntjul dengan mendadak.
Tapi benarkah wanita itu ibunja jang sedjati ?
Ia jadi sangat sangsi, tengah ingin bertanya atau si orang tua sudah berkata dengan sangat marahnja .
"Siluman, aku hendak mengadu djiwa denganmu!"
Maka dengan terdengarnja suara gemeroncang orang segera nampak si orang tua telah mengeluarkan sendjatanja Sam Tjiat Kun (Pentungan beruas tiga) jang terbuat daripada badja murni.
sinarnja berkilat2.
Ia melangkah miring satu tindak, kemudian dengan menggunakan tipu pukulan "Liaw Tjee Hui Hiat" (bintang alih melesat) mendadak ia membalikkan tangannja menjerang si wanita aneh itu.
Wanita itu mula' bertangan hampa.
ia membungkukkan tubuh-nja, tangannja me-raba kebawah kiri-kanan kendaraan, maka dengan terdengarnja suara mendjeblak, kendaraan itu menurun dua kaki kebawah, dan setelah itu tahu' pada tangan si wanita aneh itu telah mentjekal suatu sendjata jang berbentuk lingkaran ,dan dengan terdengarnja suara gemerintjing ia telah menjambut serangan pentungan beruas tiga itu, keras lawan keras, sehingga lelatu apinja muntjrat kesana-sini akibat bentrokan kedua sendjata itu.
Karena bentrokan tenaga itu si orang tua mundur beberapa langkah dengan ter-hujung'.
A Hong pun lantas mengetahui, bahwa sendjata jang dipergunakan oleh wanita aneh itu bukan lain daripada roda kendaraan itu, jang terbuat daripada besi hitam murni.
Si orang tua itu berkata dengan napasnja jang mengap2 sam-bil mengertak giginja..
"Tidak seharusnja dahulu hari aku berlaku baik hati, kini benar2 aku mesti binasa dalam tanganmu!"
Si wanita berambut pandjang itu tertawa ter-kekeh"
Dengan anehnja, rambut pandjangnja terhembus angin me-riap.
berkibar-an kian-kemari.
Setelah bertahan sabar untuk sekian lamanja, A Hong sudah tidak dapat terus menutup mulutnja, ia memanggil dengan suara perlahan "Ibu!"
Demi mendengar suara panggilan itu, si wanita itu berpaling dan berkata dengan tangisannja .
"Anak jang baik, aku akan mem-buat perhitungan lama dengan orang ini, setelah mana aku baru ber-tjakap' setjara asjik denganmu!"
Orang tua itu bangkit amarahnja.
"Perempuan siluman, kau mentjari aku untuk membuat perhitungan lama, itulah dapat dimengerti, tetapi mengapa kau datang malam' menggunakan dupa ratjun jang membuat orang mabuk dan membuat A Hong pingsan, setelah itu kau mengambil kesempatan diwaktu dia belum sadar betul, kau pura2 mendjadi roh atau saitan untuk mengadu domba, memisahkan hubungan erat antara kami bapak beranak ?"
Kata orang itu.
"Omong kosong, hubungan apa ?"
Dampratnja wanita itu, se-belah tangannja sekali diangkatnja, maka ia dengan kendaraannja jang sudah tak beroda itu, sama2 membubung tinggi, berbareng dengan itu kelima djarinja tak henti2nja dibuat main, dengan demikian roda jang berada didalam tangannja berputar sehingga men-dengung.
Dengan itu ia menerdjang si orang tua.
Nampak jang demikian itu si orang tua segera mendjatuhkan diri untuk menghindarkannja, sambil memukulkan pentungannja setjara melintang dengan tak kurang tjepatnja pula, tetapi baru sadja tangan bergerak, si wanita berambut pandjang itupun meng-gerakkan tangannja, dan kendaraannja jang tak beroda jang me-ngapung dua kaki diatas tantai itu berputar dengan mendadak dan segera berhadapan dengan si orang tua, rodanja sekali mem-balik lalu menjambut serangan si orang tua itu.
Si orang tua telah mentjoba tenaga dalamnja wanita itu, dan telah mengetahui bahwa tenaga dalam lawannja djauh lebih kuat daripada tenaga dalamnja sendiri, maka ia tidak berani keras adu keras pula buru2 ia menarik pentungannja menjerang setjara me-mutar, tetapi hal itu sudah terlambat, dan terdengarlah suara gemerintjing jang keras.
Setelah itu si wanita rambut pandjang itu memutarkan pula rodanja dan menjalurkan tenaga dalamnja jang dahsjat dengan tjepat, maka si orang tua ber-ulang.
lompat mundur sampai tudjuh atau delapan langkah, maka dengan ter-dengarnja suara "Buk"
Satu kali, ia tertumbuk pada dinding tembok, darah segar menjembur keluar dari mulutnja.
A Hong dilain pihak tak tahu apa jang ia harus perbuat.
Me-nurut setjara kepantasan, si orang tua itu adalah ajahnja, dengan sendirinja ia seharusnja mernbantui si orang tua, tetapi impian buruk jang ia alami itu tak dapat tidak membuat ia merasa ragu'.
Lagipula tadi ia telah pula mendengar si orang tua mengutuk si wanita itu, jang dikatakannja telah menggunakan dupa ratjun membuat ia mabok, setelah mana wanita itu ber-pura2 menjamar sebagai malaikat atau saitan.
Kata2 itu makin membuatnja ia lebih ragu2 lagi.
Pikirnja djika wanita itu hendak mentjelakainja, mengapa tidak melakukannja pada waktu itu ?
Dari sini dapat diketahui, bahwa wanita itu sama sekali tidak bermaksud mentjelakainja.
Tetapi benarkah wanita itu ibu kandungnja sendiri ?
Karena itu dengan diluar kceauannja sendiri ia meng-ingat' ke-adaan alam mimpinja selama tiga hari berturut' itu.
Pada waktu itu, suara tong tong baru sadja terdengar dua kali, djadi hari baru sadja antara djam sepuluh dan djam sebelas.
A Hong baru tengah membatja buku.
Dengan mendadak sadja dirasakannja selaput matanja memberat.
Semendjak ia pindah di dusun kecil di dekat Desa Hoa Koan bilangan daerah propinsi Kuantung ini.
Tiap tiap malam selewatnya bunyai tong tong tong 3 kali antara jam dua puluh empat tengah malam dan jam satu dinihari.
A Hong senantiasa berlatih tjara menggerakkan tenaga dalam.
Maka menurut kebiasaannja ia tidak tidur sama sekali di waktu malam.
Untuk baginja ilmu penggerakan tenaga dalam jang dipeladjarinja itu adalah ilmu istimewa keluarga itu, tidak memerlukan istirahat, Apa jang dipentingkan ialah ber-duduk dan melatih djalan pernapasan.
Maka pada waktu sebelum djam dua puluh empat ia senantiasa membatja segala buku2.
Dan oleh karena hal tersebut diatas sudah dilakukan setiap malam hingga sudah mendjadi kebiasaan, maka ketika selaput matanja memberat, ia merasa ter-heran2, menggunakan tenaga hawa sedjatinja untuk memberantasnja, tetapi hal itu bukan sadja membuatnja djadi sadar, bahkan sebaliknja, rasa kantuk-nja makin men-djadi' dan terdjatuh kedalam alam jang samar2, schingga ia tidak dapat membedakan apakah ia sebenarnja di alam sadar atau sedang dalam bermimpi.
Djustru pada waktu itu, terasa olehnja suatu siliran angin dari daun djendela jang terbuka dengan mendadak.
Seorang wa-nita berambut pandjang duduk pada sebuah kendaraan jang beroda tunggal bagaikan terbang sadja agaknja masuk kedalam kamar sambil memanggil .,A Hong !
A Hong !"
A Hong merasa heran dalam hati pikirnja, mengapa wanita ini mengetahui akan namanja ? Maka buru2 ia bertanja .
"Siapa kau?"
"Akulah ibumu!"
Djawab wanita itu sambil menangis. A Hong ,djadi melengak, ia berkata kemudian .
"Kau djangan bersenda-aurau denganku, ibu kandungku telah meninggal dunia ketika aku baru dilahirkan Iagipula suara lagu kata2mu tidak tjotjok, ibuku seorang penduduk desa Sam Tjui bilangan daerah propinsi Kwantung !"
Wanita itu menghela napas.
"A Hong, kan telah terpedaja !"
Katanja, ..apakah kau kira pendjahat tua itu bapakmu ?
Tidak sadja dia bukan ajahmu, bahkan dia adalah orang jang membunuh ajah-bundamu, seorangmusuh besarmu.
Djika kau hendak rnengetahui keadaan jang se-benarnja, hendak mengetahui makam dan tulang belulang ajahmu, serta tempat simpanan mustika aneh, jang waktu itu dia hendak merampasnja tetapi tidak berhasil, kau boleh mentjari sebuah lukisan panaroma, jang disimpannja didalam rak buku, jang terbuat dari hambu itu, dan memeriksannja dengan teliti !
Anak jang ibumu belum meninggal dunia, kau harus mendengar dan pertjaja akan kata ibumu!"
A Hong mendengarnja dengan ter-bengong' ketika ia hendak membuka mulut untuk hertanja, tiba' si wanita berambut pandjang itu sudah menekankan tangannja diatas medja buku (medja tulis) dan pada seketika itu djuga, dia ber-sama' kendaraannja, mundur dan keluar dari djendela akan segera menghilang.
Setelah wanita itu sudah pergi, A Hong telah terbangun dengan mendadak, tetapi segala keadaan didalam alam mimpi itu masih djelas seperti nampak didepan matanja.
Ia djadi terbengong2 seorang diri untuk sekian lamanja.
Ia menunggu suara tong tong, kemudian terdengar olehnja suara tong tong dipukul tiga kali.
maka waktu itu sudah djam dua puluh empat lewat.
Dan ia segera melatih ilmunja mendjalankan pernapasan dengan teratur dan tjaranja mengerahkan tenaga dalam.
Pada keesokan harinja, ia hanja menganggapnja kedjadian semalam itu sebagai mimpi buruk sadja.
Tetapi malam berikutnja, kembali ia dapat impian jang serupa dengan keadaan semalam ,si wanita berambut pandjang itu datang bagaikan terbang sadja.
A Hong djadi semakin heran didalam hatinja.
Malam ketigapun demikian djuga.
A Hong mentjoba men-tjari' apa’ diatas rak tempat penjimpan buku.
itu, dan benar sadja dengan setjara mudah ia dapat menemukan segulung lukisan tua jang disimpan didalam buluh bambu.
Maka lalu dibentangkannja lukisan itu untuk diperiksa, tetapi apa jang ia ketemukan hanja lukisan panorama biasa sadja, tak dapat diketemukan sesuatu jang mentjurigakan.
A Hong memeriksanja lagi dengan teliti.
tidak djuga berhasit menemukan apa2.
Pada malam keempat, A Hong djadi makin tjuriga, pikirnja apakah Tay Lek Kim Kong Oey Ling jang ia panggilnja ajah itu bukan ajah kandungnja?
Apakah benar seperti apa jang dikatakan oleh perempuan berambut pandjang itu.
Bahwa orang jang dipanggil ajah itu sebenarnja adalah musuh besarnja pembunuh ajah-bundanja sendiri ?
Djustru tengah ia terbengong' itu.
Tay Lek Kim Kong Oey Ling sudah datang dan masuk kekamar.
Dan oleh karena ia itu buru2 ia simpan gambar itu dan pura' membatja buku.
la menjelipkan dua buah Liu Jap To atau pisau setipis kertas itu didalam halaman buku itu.
Kemudian setelah ia mendengar orang tua itu mengatakan, Bahwa biar bagaimanapun djuga ia harus menganggapnja ajah dan sebagainja, maka ketjurigaannja makin men-djadi2.
Setelah Tai Lek Kim Kong menggebrak medja dan gusar, barulah A Hong pertjaja benar2 apa jang ia lihat didalam alam mimpinja serta katanja wanita berambut pandjang itu benar adanja, lalu dilepaskannja serangannja dengan pisau tipis Liu Jap To itu.
Samasekali tidak disangka, setelah Tay Lek Kim Kong terluka, wanita berambut pandjang jang disaksikannja didalam alam mimpi itu telah menggedor atap rumah dan turun dari atas, dan sekali bertemu segera bertempur.
A Hong menjaksikannja dengan terpaku dipinggir.
Setelah nampak Tay Lek Kim Kong terpental, dan punggungnja tersentuh dinding tembok dan menjemburkan darah segar dari mulut-nja, jang mana menandakan dia telah mendapat luka berat, maka A Hong lalu teringat, bahwa selama belasan tahun ini.
Tay Lek Kim Kong Oey Ling hidup bersama2 dengannja didusun ketjil ini, dan memperlakukannja seperti ajah terhadap anak kandung-nja.
Ilmu silat jang dimilikinja hingga sekarang inipun adalah Tay Lek Kim Kong jang mengadjarkannja.
Mengingat akan hal itu, maka didalam hatinja sebenarnja timbul rasa tidak tega, lalu lari kepadanja.
Tay Lek Kim Kong Oey Ling nampak akan hal itu, dengan mendadak sadja ia berseru .
"Djangan mendekat ! Aku adalah musuh atau pembunuh ajahmu!"
Mendengar perkataan itu A Hong sangat terkedjut, lalu me-nanja .
"Kau … Kau ……"
Tay Lek Kim Kong tertawa sedih sambil berkata .
"Tidak salah, aku ini pembunuh ajahmu !"
Ia mengangkat tangannja jang gemetar itu, sambil menundjuk pada wanita berambut pandjang. ia berkata .
"Diapun pembunuh ajahmu, tangannja lebih kedjam daripada aku! Dia lebih beratjun ! Setelah dia membunuh ajah dan ibumu, sehingga kini belasan tahun telah berselang, tapi masih djuga ia tidak mau membiarkanmu, tidak mau membiarkan aku djuga!"
Malam ini didalam waktu sesingkat itu telah terdjadi hal jang mengakibatkan suatu perubahan jang terlampau besar bagi penghidupan A Hong selama ini, maka tak tahulah ia apa jang harus diperbuat.
maka ia berkata .
"Dia …. dia ….. kau ….. kalian ini semua sebenarnja orang matjam apa ?"
Tay Lek Kim Kong Oey Ling berkata dengan napas sengal2.
"A Hong aku terhadapmu seperti djuga ajahmu ,sadja, Kau panggillah aku sekali saja"
Hati A Hong sudah tidak keruan rasanja, ia tidak turuti kebendaknja orang tua itu.
Setelah mana ia nampak si wanita berambut pandjang itu sambil memperdengarkan suara tertawa aneh berulang2, roda jang ada ditangannja diketukkan kelantai.
maka orang serta kendaraan itu membumbung tinggi, akan kemudian roda itu terpasangkan pada asanja.
maka kendaraan itu menjadi pula kendaraan jang berodla tunggal, dan selandjutnja tangan si wanita itu menolak, maka kendaraan itu segera djalan kearah pintu dengan tjepatnja.
Terdengar suara gemuruh dari menggelindingnja roda kendaraan itu jang turun dari anak tangga rumah bertingkat itu.
Menampak kepergiannja wanita itu A Hong berseru .,Tunggu dulu sebentar !"
Tetapi kendaraan beroda tunggal itu bukan main tjepatnja.
A Hong baru turun dari empat atau lima tingkat anak tangga, kendaraan itu sudah menjentuh pintu jang masih tertutup hingga menerbitkan suara mendebur dan pintu itu sudah berlobang besar, dan wanita berambut panjang itu bersama2 kendaraannja telah keluar dari lobang itu .
A Hong memburuhnya keluar dari pintu jang terbobol itu untuk melihatnja maka nampak wanita itu sudah berada terpisah empat atau lima puluh kaki jauhnya dan sesaat kemudian sudah menghilang didalam kegelapan.
A Hong mengetahui, bahwa ia tak akan berhasil mengejarnya, dengan perasaan ter-paksa ia kembali ke tingkat dua.
Ia tampak Tay Lek Kim Kong sudah jatuh di lantai, wadjahnja putjat lesi menge!uarkan air peluh se-besar' kedele.
nampak A Hong masuk dengan napas empas-empisi, ia memanggil "A Hong!
A Hong !"
A Hong memang berhati mulia dan luhur, kedjadian malam ini telah membuat hati dan semangatnya kacau, kini menampak Tay Lek Kim Kong Oei Ling ,sudahhabis tenaga dan akan menemui adjalnya maka timbulalah rasa kasihannya, ia menunduk dan bertanja "Ayah ada apa memanggilku ?"
Mendengar pertanjaan Itu Tay let Kim Kong memperlihatkan sedikit senjuman sambil berkata _A Hong, achirnja kau mau djuga, memanggilku ajah, jerih-pajahku selama belasan tahun ini .,.dapat djuga dikatakan tidak sia-sia, Iekaslah kau rusakkan rak buku terbuat dari bambu bintik' itu, didalam rak itu terdapat sebuah lukisan panorama jang erat hubungannja dengan kau, aku akan menundjukkan kepadamu.
" ' "Tak usah kau ambil dari dalam rak buku, lukisan itu sudah ada padaku."
Lalu diambilnja lukisan itu dari dalam badjunja.
Mendengar kata2 A Hong itu, Tay Lek Kim Kong Oey Ling dengan mendadak sadja berubah wadjah mukanja, ia berkata ,Apakah si wanita iblis itu jang mentjeriterakan kepadamu ?
Dia ……..
dia ……… ,.Ajah, apakah dia bukan ibu kandungku ?"
Tanja A Hong, memotong.
-Tay Lek Kim Kong Oey Ling sudah tidak ada tenaga untuk mendjawab lagi, ia hanja membentangkan lukisan itu, djari telundjuknja bergeser', berhenti pada lukisan suatu puntjak gunung dan berkata .
"A ……………."
A Hong tengah mendengarnja dengan penuh perhatian, tetapi beberapa saat telah lewat, tidak ada kata' lain jang diutjapkan orang tua itu.
ia menatapi wadjah si orang tua, maka diketahuilah bahwa Tay Lek Kim Kong Oey Ling sudah tidak bernapas lagi, kiranja baru dia menjebut kata "A", napasnja sudah lantas berhenti dan meninggal dunia.
Semendjak A Hong mendjadi dewasa dan mengerti urusan, sekalipun ia pernah merasa, bahwa ajahnja jaitu Tay Lek Kim Kong Oey Ling, seorang jang mengcrti ilmu sastera berbareng mengerti djuga ilmu silat, berbitjara mengenai tjeritera penghidupan didunia persilatan seakan.
diapun salah seorang jang berilmu tinggi, tetapi sebaliknja dia malah membawanja hidup menjepi didusun sesunji ini.
Hal ini memang agak aneh, tetapi ia samasekali tidak menjangka, bahwa riwajatnja atau asal-usulnja sendiri ada demikian anehnja.
Ia samasekali tidak mengira, bahwa Tay Lek Kim Kong jang mcmperlakukannja sebaik ini, sebenarnja bukan ajahnja sendiri, malah pada mendjelang menemui adjalnja mengaku, bahwa dia adalah musuh jang membunuh ajah kandungnja sendiri.
Tentang wanita beramhut pandjang jang menggunakan kendaraan beroda tunggal dan jang sepak terdjangnja sangat aneh seakan' tingkah-lakunja saitan atau iblis itu, baginja terlebih aneh serta penuh dengan rahasia.
Siapakah dia sebenarnja, tidak dapat diketahuinja.
A Hong terbengong untuk beberapa saat lamanja memandangi djenazah Tay Lek Kim Kong.
Achirnja ia ambil lukisan jang masih didalam tangannja orang tua itu, lalu ditelitinja dibawah sinar pelita, diperiksanja dengan seksama gambar puntjak gunung itu.
Puntjak gunung itu didalam lukisan hanja sebesar kepalan tangan, tetapi setelah diperiksanja dengan seksama, maka diketahuilah, bahwa disitu terlukis empat atau lima orang, wadjah rupanja seperti hidup.
A Hong tergerak hatinja, sinar pelita sangat suram, untuk sementara tidak djelas baginja, lalu dengan sangat hati2 dimasuk.-kannja kedalam sakunja.
Setelah mana ia mengambil sepasang golok Liu Jap To jang tersangkut pada dinding tembok, lalu ia masuk ke kamar tidur, setelah keluar pula, ia telah mengenakan pakaian berwarna ungu tua dan herkantjing rapat.
Dengan hati se-akan' tidak tega meninggalkannja, ia menatap kamar buku jang selama hidupnja itu mendjadi tempat berlatih dan membatja itu, lalu mendukung djenazah Tay Lek Kim Kong Oey Ling, dibawanja keluar dan turun dari rumah bertingkat itu.
Keadaan dusun pada malam itu sangat sunjinja.
Ia terus jalan sampai diudjung dusun baru menghentikan langkah kakinja.
Dengan menggunakan golok Liu Jap To itu, ia menggali tanah dan menguburnja djenazah Tay Lek Kim Kong itu dengan sembarangan sadja.
Setelah mana ia menengadah dan menghela napas pandjang.
Ia sudah mengambil ketetapan untuk mentjari tahu mengenai asal-usul dirinja sendiri, dan djuga akan berusaha mengetahui siapa sebenarnja ajah serta ibu kandungnja.
la berdiam ditempat itu untuk sesaat lamanja, kemudian lalu melangkahkan kakinja kearah utara.
Ia berdjalan terus tak henti'nja, sampai pada hari sudah terang tanah tibalah ia disebuah kola ketjil.
Hari itu kebetulan adalah hari pasaran untuk kota itu, banjak sekali orang berhilir mudik, ia jang semalam suntuk tidak tidur, perutnja merasa lapar.
Lalu masuklah ia kesebuah rumah makan.
Baru sadja ia melangkahkan kaki atau dari hadapannja terlihat seorang jang tubuhnja ketjil berdjalan ter-hujung2 sambil seradak-seruduk kian-kemari.
A Hong miringkan tubuhnja, orang itupun miringkan badannja, hampir sadja menjentuh tubuhnja, tetapi achirnja hanja lewat dengan saling tersenggol sadja.
A Hong tidak hendak berurusan dengan orang hanja soal ketjil ini.
ia djalan perlahan2 masuk, baru sadja ia duduk belum lagi memesan barang makanan, tiba2 orang jang tadi hampir bertubrukan dengannja itu telah kembali dengan kedua tangannja Memegang sebuah lukisan sambil di pandangnya dengan penuh perhatian.
A Hong jadi terkejut, tangannya merogoh ke dalam sakunya, maka ia mengetahui gambar lukisan panorama yang dibawanya telah hilang.
Maka bukan main kagetnya, ia menggebrak meja sambil berseru "Eh !
Kau ini, mengapa pada siang hari yang terang benderang ini berani mentjuri barang orang ?"
Orang itu tertawa ha ha hi hi.
Tertampak oleh A Hong bahwa Orang itu mengenakan badju pandjang jang gerombongan, pada kepalanja memakai topi brtlu jang aneh bentuknja, rornannja tja-lap ganteng.
seorang pemuda jang berusia tudjuli atau detapan betas tahun.
Tetapi pada dahinja teluh tertampak tudjuh atau dela-pan lekuk' jang datum, narnpaknja sungguh lutju.
Dengan tertawa meringis is herkata "Eh !
Nona, hati2ah dengan kata2mu, siapa jang mentjuri barangmu ?"
Lagu suara perkataannja adalah lagu lidah orang daerah utara, suaranja empuk se-akan2 keluar dari mulutnja seorang pemudi sadja.
A Hong sangat gelisah, ia melompat selangkah dan merebut-nja dengan tangan kanannja, ia mempersatukan kelima djarinja bagaikan sendjata tombak tjagak rnenjerang kedua mata orang itu.
sedang tangan kirinja ia membolak-balikan pergelangan tangannja.
dengan demikian ia menggunakan tipu pukulan "Pwat In Na Gwat" (menjingkap awan mengambil rembulan), ialah salah satu matjam pukulan dalam Ilmu silat "Siam Kin Na Djiu" (ilmu silat tangan kosong), ia merebut lukisan jang dipegang oleh orang itu.
Tetapi samasekali tak disangka, bahwa gerakan orang itu sedemikian gesitnja ia lompat berkelit, dan dengan kesempatan itu ia telah mendjambret bangku pandjang untuk menutupi kepala serta mukanja.
A Hong makin gelisah tertjampur gustar, maka dengan terdengarnja suara gemerontjang, kedua golok Liu Jap To-nja telah terhunus, dan sinarnja jang putih berkilau membuat orang silau matanja.
Ia membalik tangannja, golok Liu lap To segera menjambar mengenai bangku pandjang itu.
Orang itu melepaskan bangku pandjangnja sambil berseru "Tjelaka!
Perampok wanita menggunakan sendjata!"
Samasekali A Hong tidak menjangka, bahwa orang itu akan melepaskan tangannja dengan mendadak, karena terlampau ba njak ia mengerahkan tenaganja, ia terhnjting mundur kebelakang dua langkah.
Sementara itu ia menatap kepada orang itu, maka dilihatnja orang itu mentjemoohkannja dengan memainkan rupa mukanja.
Sungguh membuat orang djadi djengkel bertjampur merasa lutju.
Karena itu A Hong berkata "Sahabat !
Lukisan itu tak akan ber-guna hagimu, sebaliknja bagiku sangat berharga, kuminta dengan hormat kau suka mengembalikannja!"
Orang itu mengeluarkan suara tertawania sambil memainkan bahunja turun-naik, nampaknja ia tidak sudi meluluskan permintaan A Hong.
A Hong djadi tidak berdaja, dengan terpaksa ia mengedjarnja pula.
Didalam rumah makan itu memang terdapat belasan tamu jang sedang makan dan minum, tetapi karena perkelahian kedua orang itu, maka kesemuanja pada lari menjingkir.
Pelajan rumah makan itu bersama pemiliknja djuga ketakutan.
Ada pula seorang pelajan rumah makan bersembunji didalam lemari.
Pemilik rumah makan itu tidak berani melihat dengan mengangkat kepalanja.
Ia berseru "Radja perampok wanita, ampunilah djiwaku!"
Tengah ribut2 itu, ada dua orang masuk dengan langkah lebar, jang seorang berusia kira2 dua puluh tudjuh atau dua puluh delapan tahun, jang seorang lagi baru berumur dua puluhan.
Mereka berseru dengan serentak .
"Mengapa kalian berkelahi ?"
Jang usia mudaan, lidah suaranja berlidah penduduk pribumi tempat itu, jang tuaan berlidah orang daerah utara.
Nampak ada orang datang, A Hong lalu menundjuk orang itu sambil berkata "Orang ini telah merampas sebuah lukisanku."
Jang berusia mudaan berkata .
"Oh, ada kedjadian jang dem-kian ?"
Ia berpaling kepada orang itu sambil mendamprat . ,,S-habat, kulihat kaupun salah seorang dari kalangan Kang-ouw, mengapa turun tangan men,hina ,wanita ?"
Orang itu meleletkan lidahnja sambil berkata .
"Ai ! Hebat benar ! Aku bernama Tju Sam Hwa, namamu siapa ? Apakah kau seorang hidung belang ?"
Pemuda itu melengak lalu bertanja . .,Mengapa aku disebut hidung belang ?"
Orang itu tertawa terkekeh", lalu berkata pula .
"Hidung belang suka akan wanita jang berparas elok, apakah kau tidak mengetahui ? Kau nampak nona ini elok rupanja, sekali masuk lalu mengatakan aku salah, apakah kau masih terhitung orang djudjur ?"
Pemuda itu berubah roman wadjahnja.
Pikirnja, dengan hanja mendengar dari satu pihak sadja lantas menjalahkan orang, me-manglah tidak benar.
Maka ia tidak dapat membantah perkataan Tju Sam Hwa dan diam sadja.
Jang usianja tuaan, nampaknja djudjur polos.
maka ia tak dapat ber-kata'.
Setelah membungkam sekian lamanja.
achirnja orang jang usia-nja mudaan itu berkata .
"Saya jang rendah She Siang bernama Ban. Kalian berdua mengapa bertengkar disini, harap memberikan pendjelasan!"
Mendengar perkataan itu, A Hong meng-gedruk'kan kakinja sambil berkata .
..Bukankah telah kukatakan tadi bahwa orang ini merampas sebuah lukisan ?
Akupun tidak minta kalian mengurus soal ini, aku sendiri mempunjai daja tmtuk merebut kembali !"
Setelah berkata begitu, ia mernbolang-balingkan kedua golok Liu Jap To-nja, lalu melompat madju.
Tangan kirinja meng-gunakan tipu pukulan "Swat Hwa Kai Tong" (Bunga saldju menutupi kepada), Lengan kanannja menggunakan tipu pukulan "Ling Wan Hian Tho" (Kera sakti rnenjadjikan buah Tho) ia menjerang dengan tjepat dengan kedua goloknja.
Orang itu berseru njaring .
"Aduh ibuku!"
Ia lantas melom-pat tinggi kira2 puluhan kaki tingginja.
Tangannja diulur, mendjambret kaso rumah, lain bergojang kian-kemari, kedua kakinja melurus, maka dengan segera orangnja bagaikan anak panah meninggalkan busurnja lompat keluar sampai ditengah djalan.
A Hong berseru .
,.Hei, bangsat, djangan lari !"
Setelah mana ia menenteng golok Liu Jap To-nja lalu mengedjarnja dari belakang, orang' jang nampak keadaan itu lalu pada menjingkir.
Ternjata kedua orang jang baru datang itu tidak mengenal satu pada lain.
Maka Siang Ban memberi hormat kepada orang itu, sambil bertanja .
-Kakek ini she apa dan nama apa ?"
"Aku jang rendah Thia It Kwie,"
Djawahnja orang itu.
"Thia-heng. kedua orang tadi tinggi sekali ilmu silatnja. Pihak mana jang salah sementara sukar diketahui djelas, bagai-mana djika kita mengedjarnja dari belakang ?"
Berkata Siang Ban.
Rupanja Thia It Kwie berkeberatan, Siang Ban tidak puas agaknja.
ia berkata .
.,Peribahasa ada mengatakan bahwa didjalan nampak hal jang tida adil, menghunus golok untuk menolong.
Thia-heng mengapa menolak ?"
Thia It Kwie menghela napas.
"Siang Heng tidak tahu"
Katanya "
Orang yang merebut lukisan itu adalah sumoyku"
Mendengar kata-kata Thia It Kwi itu, Siang ban terkejut.
"Sumoyku itu sangat nakal"
Kata Thia It Kwi pula "aku ……. Aku…….. tidakberani membuat ia marah !"
Mendengarkata2 itu, Siang Ban hampir tak tertahan untuk tidak tertawa ia lalu berkata "Mustahil seorang laki2 takut kepada perempuan? Hajo, djalan !"
Ia lalu menarik tangan dengan paksa.
Maka dikisahkan kedua orang jang kedjar-mengedjar itu, tidak antara lama sudah keluar dari kota ketjil itu.
Dari kedjauhan telah nampak bukit Hwa San jang hidjau dan rindang pohonnja.
A Hong mengerahkan segenap tenaganja, tetapi orang itu tetap berada didepannja dengan djarak antara beberapa belas kaki, tak dapat ditjandak.
Gambar lukisan panorama itu telah diberi petungjuk oleh Tay Lek Kim Kong Oey Ling semalam, dipuntjak gunung pada lukisan itu ada beberapa lukisan manusia jang sangat hidup dan mirip keadaan jang sebenarnja.
Maka daripadanja pasti ada sesuatu rahasia jang besar, dan hal ini belum ia dapat ketahui djelas, tetapi lukisan itu telah dirampas oleh orang itu.
Maka bagaimana mana A Hong dapat membiarkannja dengan begitu sadja?
Oleh karena itu A Hong mendampratnja .
si orang She Tju.
djika kau tidak mau berhenti.
nonamu tak akan berlaku sungkan lagi !"
Sambil berkata demikian ia sudah membuka sutera ungu jang ada pada bagian pinggangnja, tampaklah didalamnja sebaris golok Liu Jap To jang pandiangnja kira2 lima dim dan berdjumlah kira2 tiga atau empat puluh buah.
kesemuanja berkilau2 menjilaukan mata.
Tju Sam Hwa tidak menghiraukan antjaman itu, malah ia ber-kata .
..Kalau kau mempunjai kepandaian, keluarkanlah semua!
Apa gunanja menggertak.
sadia ?"
Mendengar tantangan itu, panaslah hatinja A Hong, ia berkata ..Baiklah !"
Dengan udjung goloknja ia mentjongkel did-lam kantong sutera itu, maka dengan terdengarnja suara gemerintjing beruntun2 tudjuh buah golok Liu lap To beterbangan di udara.
A Hong hergerak dengan tjepatnya, kedua tangannya diangkat erentak serentak, tangan kirinja melontarkan tiga buah golok terbang tangan kanannja melontarkan empat buah, ketudjuh buah golok terbang itu melesat meluntjur kearah Tju Sam Hwa.
Baru sadja ketudjuh buah golok Liu hap To itu melesat, lalu Ia memindahkan goloknya pada tangan kirinja, dan tangan kanannya meraba pula bagian pinggangnja, diambilnja pula tudjuh buah golok Liu Jap To ditumpuk menjadi satu di tangannya, dibalingkannya tangannya maka tujuh buah golok terbang melesat pula malah lajunya melebihi ketujuh buah golok terbang yang pertama tadi, tidak antara lama kemudian, yang dilepaskan belakangan ini telah melombai golong terbang yang pertama dan meluncur terlebih dahulu.
Nampaknja Tju Sam Hwa sama sekali seakan tidak bersiaga, golok terbang jang dilepaskan belakangan itu sudah hampir mengenai sasarannja.
tetapi dengan mendadak ada orang berseru di samping "Hati2lah Sumoay !
Berikanlah sedikit rasa kasihan nona!"
Setelah mana maka orang dapat nampak, bahwa ada sesosok tubuh jang dilindungi segumpal sinar murni terbang melintang dari samping, kiranja orang itu tengah memainkan pedang pandjangnja sewaktu orangnja masih berada diudara.
Kembang2 dari permainan pedangnja itu telah memukul ketudjuh buah golok Liu Jap To jang sudah hampir mengenai Tju Sam Hwa itu.
Tetapi ketudjuh buah golok terbang baru sadja tertampak djatuh semua, tudjuh buah golok terbang jang menjusul telah tiba ketika orang itu memainkan pedangnja untuk menghadapinja sudah tidak keburu, hanja dapat ia menjampok djatuh lima buah golok, dan dua buah golok terbang jang lainnja berhasil menerobos masuk dalam djaring bajangan pedang jang rapat itu menantjap pada kedua belah bahunja.
Golok menantjap masuk hingga tiga dim lebih dalamnja, darahnja mengalir keluar.
A Hong nampak, bahwa golok terbangnja salah melukai orang lain, maka dengan tidak disengadja ia telah mengeluar suara "Ah !"
Kiranja orang itu bukan lain daripada Thia It Kwie, Tju Siu Hwa sebaliknja berpaling kebelakang dan mentjomel "Suko, lagi kau datang mentjampuri urusan orang lain.
Belasan besi jang bobrok itu tak mungkin dapat melukai aku!"
Sambil kata demikiaa mukanja memperlihatkan wadjah orang jang tidak senang.
Thia It Kwie tertawa getir sekali, lalu menotok djalan darahnja Kian Tjing Hiat sendiri agar supaja darahnja berhenti mengalir.
A Hong merasa sangat malu, ia djalan mendekati hendak berkata2, tetapi wadjah mukanja berubah merah karena djengahnja.
Sebaliknya, Thia It Kwie malah membudjuknja .
"Nona djangan kuatir hanja luka pada kulit sadja." .A Hong melengak, in pikir didalam hatinja, dikolong langit ini mengapa terdapat orang sedjudjur ini ? Orang mengatakan bahwa orang2 didaerah utara banjak jang sederhana dan djudjur, ,Sungguh dapat dipertjaja. Maka ia lalu berkata dengan suara perlahan.
"Aku ….. Aku tidak sengadja menjerangmu."
Thin It Kwie berkata sambil tertawa wadjar .
"Sumoayku sangat nakal, suka menerbitkan onar, Iegakanlah hatimu nona, aku akan suruh dia mengembalikan barang nona."
A Hong djadi ragu22 .,Nona, nona Tju ini suka main', semuanja terbit karena salah paham sadja."
Siang Ban tjampur bitjara.
"Hm ! Kalian berdua djangan berlagak rojal, lukisan ini adalah miliku, siapa pun djangan ingin memintanja,"
Kata Tju Sam Hwa sambil memperlihatkan wadjahnja jang muram. Thia It Kwie membudjuk "Sumoay, dimana kau memiliki Iukisan? Lekaslah keluarkan dan kembalikan kepada nona ini !"
"Fui ! Apa katamu ? Kau mana tahu aku mempunjai lukisan?"
Berkata Tju Sam Hwa dengan marah. Thia It Kwie terdiam tidak dapat berkata'. Tju Sam Hwa baru sadja merampasnja dari tangannja A Hong merampas lukisanmu. katakanlah pada lukisan itu terdapat apa ?"
"Sebuah lukisan panorama, pada puntjak gunung terdapat pula lima atau enam manusia sebesar kedele,"
Djawah A Hong.
Tju Sam Hwa baru sadja merampasnja dari tangannja A Hong dan baru sadja melihatnja dengan sepintas lain, pasti ia tidak akan dapat menemukan orang seketjil itu, Tetapi ia berlagak dan berkata .
"Benar. masih ada apa lagi ?"
A Hong melengak "Tidak ada apa' lagi,"
Djawabnja. Tju Sam Hwa berkata sambil bersenjum ewa .
"Maka dapat diketahui, bahwa lukisan itu bukan milikmu. Diatas gardu gunung itu terdapat papan jang melintang, kata' apakah jang tertalis pada papan itu, dan siapakah jang menulisnja ?"
A Hong terbengong sesaat lamanja.
In pikir didalam lukisan memang benar terdapat sebuah gardu, tetapi gardu itu hanja lebih kurang satu dim tingginja.
Kalau benar terdapat papan tulisan jang melintang, tapi mustahil masih terdapat tulisan?
Maka ia lalu mendampratnja "Kau membohong apa ?"
Tju Sam Hwa berkata .
"Suko, kau hendak membantui orang luar, kali ini sebaliknja kau salah membantu orang."
Wadjah muka Thia It Kwie berubah merah karena djengahNya. Ia berkata .
"Sumouy, mana dapat aku membantu orang lain ? Mustahil kau masih belum mengetahui isi hatiku?"
Kiranya sudah lama Thia It Kwie merindukan asmara kepada sumouynya.
akan-tetapi oleh karena ia adalah seorang djudjur maka maksud hatinja itu senantiasa disimpannja tidak dintarakannja, kali ini karena sangat gelisah, maka terlandjur ia menjatakan isi hatinja, sesudah itu iapun sangat djengah ke-merah'an mukanja.
Dengan suara menghina Tju Sam Hwa berkata "Fui !
Tebal amat mukamu !
Sahabat ini,"
Katanja sambil menundjuk Siang Ban .
"kuminta papan tulisan melintang pada gardu itu tertulis.
"Lok Sui Teng"' (Garda air ria) tiga kata' dan jang membubuhi tanda tangan bernama Siang Djiu Beng,"
Lain ia membentangkan lukisan itu.
Siang Ban mendengar dlisebutnja Siang Djiu Beng djadi melengak.
Lalu bersama Thia It Kwie ia sama melihatnja.
dan kesudahannja memang benar seperti apa jang dikatakan oleh Tju Sam Hwa.
Kata2 itu demikian ketjilnja, tidak lebih besar daripada bidji widjen, tetapi djika tersorot oleh sinar matahari sebaliknja nampak sangat djelas.
setjoretpun tidak sembarang tulis.
Tulisan itu berbentuk style tulisan kurus dari zaman kaisar Song Wi Tjong.
Thia It Kwie seorang djudjur ia merantau kedaerah selatan ber-sama' denganTju Sam Hwa, sebenarnja ia mengetahui djelas bahwa sumoaynja itu tidak memiiiki lukisan.
tetapi kini nampak, bahwa apa jang dikatakannja semua benar.
maka dengan terpaksa ia berpaling kepada A Hong clan berkata .
,.Nona, kata2 Sumoay, ku tidak salah."
A Hong ter-heran'. ia pikir didalam hatinja . ..Mengapa dia rnengetahui rahasia didalam lukisan itu ?"
Maka ia buru2 berkata ..Kiraku dia kebetulan sadja. Lukisan itu dengan sebenarnja adalah milikku." .,Apakah kau hendak mengakui hal milik orang ?"
Kata Tju Sam Hwa agak mendongkol.
Lain ia membalik tubuh dan lari.
Siang Ban mengikutinja sambil berseru .
.,Nona Tju, tunggu, Siang Djiu Beng itu adalah ajahku, mengapa namania terdapat didalam lukisan itu ?"
Tju Sam Hwa menoleh pun tidak. Siang Ban pun terus mengedjarnja. A Hong pun hendak mengedjarnja, tetapi dihaIang-halangi oleh Thia It Kwie sambil berkata "Nona, djangan menjusahkan Sumoayku!"
A Hong sangat marah.
ia mengangkat goloknja hendak membatjok, tetapi pedang pandjangnja Thin It Kwie terkulai kebawah sama sekali tidak punya kehendak untuk membalas.
A Hongpun tampak luka dibahunya Thia It Kwie masih meneteskan darah, maka tak tega ia membatjoknya pula.
Ia menengadah dan melihat bahwa Siang Ban bersama Tju Sam Hwa sudah lari djauh, ia lain menghela napas sambil berkata.,,Tjampur tangannja kalian telah membuat urusan bahkan bertambah katjau!
Lukisan itu memang benar milikku."
"Segulung lukisan, ada pada hargania ?"
Djawab Thia It Kwie.
Menampak akan kedjudjurannja Thin It Kwie itu, menimbulkan kesan baik dalam hatinja A Hong, tambah pulan Thia It Kwie memang benar tidak mengetahui apa gunanja lukisan itu, tidak dapat ia menjalahkannja.
Maka ia lalu mentjeriterakan asal-usul-nja lukisan itu serta riwajat hidupnja sendiri dengan setjara sepintas lalu.
Mendengar penuturannja A Hong itu, Thia It Kwie terkedjut, lalu berkata "Kiranja Tay Lek Kim Kong Oey Liong itu baru meninggal dunia belum lama, kalau demikian halnja, maka si wanita beramhut pandjang itu tentunya, Tok Niotju Nie Kiauw.
Hal ini kiranja tidak perlu disangsikan lagi.
A Hong belum pernah berkelana di dunia Kangouw.
ia tidak mengetahui siapa jang disebut Tok Niotju Nie Kiaw itu, dan bagaimana sepak-terjangnya.
Lalu ia bertanya .
"Suaminja siapa namanja?"
"Suami Tok Niotju Nie Kiauw itu djustru Tay Lek Kim Kong Oey Ling sendiri,"
Djawab Thia it Kwie. A Hong djadi makin tidak mengerti mengenai urusannja. Ia masih tidak tahu jang sebenarnja ajah ibu kandungnja. Ia diam terpaku untuk beberapa saat lamanja.
"Sudikah nona memberitahukan she dan nama nona ?"
"Aku she ………………….."
Baru sadja ia hendak mengatakan she "Oey"
Mendadak is berhenti.
Karena sudah terbukti bahwa Tay Lek Kim Kong Oey Ling bukan ajahnja jang benar,, mustahil ia menggunakankan she keluarga Oey itu ?
Tetapi she apa sebetulnja ia, sama sekali ia tidak mengetahuinja.
is bersangsi untuk sekian lamanja, baru kemudian ia berkata .
"Aku dipanggil A Hong." ,,Nona Hong,"
Berkata Thia It Kwie.
"setelah lukisan itu se-demikian herharganja bagimu, maka baiklah kita bersama' menjusul Sumoayku untuk memintanja kembali."
Nampak sepak-terdjang Thin It Kwie sedemikian djudjurnja. maka didalam hati A Hong bertambah kesan baiknja kepadanja, Ia berkata .
"Baiklah, tetapi apakah lukamu. tidak mendjadi halangan ?"
Thin It Kwie berkata sambil bersenjum .
"Tidak usah dikuatirkan."
Demikianlah kedua orang itu lain bersama lari dengan tjepatnja.
Tempat dimana peristiwa itu terdjadi, sebenarnja sudah termasuk daerah kaki gunung Hwa San, mereka berdua lari disepandjang djalan, sehingga dua djam lamanja, masih belum nampak bajangan, Tju Sam Hwa bersama Siang Ban.
A Hong sangat gelisah.
Thin It Kwie merasa djengah, karena ia maka urusan orang djadi rusak.
Maka ia lalu berkata .
,.Nona Hong, djika urusan itu ada hubungannja dengan Tay Lek Kim Kong serta Tok Niotju Nie Kiauw, kebetulan sekali aku telah mendengar sebuah berita dikalangan dunia Kang-ouw."
A Hong pun bagaikan seorang jang sakit keras, lain mentjari tabib dengan sembarangan sadja.-Maka ia lalu bertanja .
.,Kedjadian apa, tjobalah kau tuturkan !".
Kira' dua puluh tahun yang lalu, Oey Ling bersama Nie Kiauw sudah saling bentrok,"
Thin it Kwie mulai menutur, ..tetapi mereka telah mempunjai seorang anak.
mereka lalu menitipkan anak mereka itu kepada salah seorang.
ke-dua2 suami-isteri itu siapapun tidak mengurusnja.
Kemudian oleh karena terlampau banjak kedjahatan yang diperbuat oleh Nie Kiauw didalam dunia Kang-ouw, maka banyak orang Kang-oaw sama membentjinja.
Paling terachir Tok Niotju Nie Kiauw tclah melakukan pula suatu hal jang oleh dunia Kang-ouw dianggapnja sangat busuk dan memalukan."
"Kedjadian apakah itu ?"
Tanja A Hong.
"Tok Niotju Nie Kiauw mendjabat sebagai pengawal istana radja Hok Ong, seorang radja keparat, dengan mengandal kepada pengaruhnja berbuat segala kedjahatan. tidak lagi mengindahkan tata-susila kemasjarakatan. Tidak lagi mengindahkan pada hukum negara. Terhadap segala orang dia suka berlaku sewenang". Tok Niotju Nie Kiauw seringkali membantunja berbuat kedjahatan, ini masih soal yang kedua, yang paling menimbulkan kemarahan umum didalam dunia Kang-ouw itu ialah Tok Niotju Nie Kiauw mengumpulkan beberapa banjak orang'' busuk serta bersifat rendah dipuntjak gunung Ki Lian San, mengerojok pendekar besar pada djaman itu, jaitu suami-istri keluarga she Hok, sehingga mereka mendapat luka parah dan terbinasa. Kala itu Tay Lek Kim Kong Oey Ling pun ikut serta mengerojok !"
Teringat kepada kata2 yang diutjapkan oleh Tay Lek Kim Kong ketika mendjelang adjalnja. maka tergeraklah dalam hati A Hong, ia bertanja "Siapakah namanja Hok Tay-hiap suami-isteri itu?"
"Mereka ialah Kian-kun Pat Kiam Hok Eng Pek dan Tan Tjing Lie-hiap Teng Lan, karena dia pandai sekali melukis !"
Mendengar penuturan itu, A Hong tergerak pula hatinja.
"Mengapa Tok Niotju Nie Kiauw memusuhi mereka ?"
Tanja-nja.
"Aku sendiripun tidak mengerti dan tidak djelas,"
Djawab Thia It Kwie.
"hanja djika mendasarkannja pada berita2 jang tersiar didalam kalangan Kang-ouw, katanja kedua suami-isteri keluarga she Hok itu telah memperoleh suatu sendjata aneh serta berharga bagi dunia persilatan. Tetapi berbitjara mengenai hal ilnu silat serta tenaga mereka, sebenarnja mereka sudah tidak usah menggunakan lagi mustika itu, maka oleh Tan Tjing Lie-hiap digam-barkannja sebuah lukisan, didjelaskannja mengenai tempat penjimpanan sendjata mustika itu. Tok Niotju Nie Kiauw djustru pergi untuk mendapatkan gambar lukisan itu!"
"Mungkin lukisanku jang dibawa lari oleh Sumoaymu itu !"
Kata A Hong.
"Tak mungkin,"
Djawab Thia It Kwie, .,djika benar lukisanmu jang ditjarinja, sudah tentu dia akan merebutnja dari tanganmu!"
Pikirnja A Hong kata2 itu memang sangat beralasan dan Hok Tay-hiap suami-isteri itupun mungkin sekali ajah ibu kandungnja sendiri.
Kini Tay Lek Kim Kong telah meninggal dunia, maka asal ia menanjakannja kepada Tok Niotju Nie Kiauw, hal ini akan dapat diketahui semuanja.
Tetapi apa jang membuat ia sangat heran, mengapa Tju Sam Hwa mengetahui akan rahasia didalam lukisan itu, dan lebih mengetahui djelas daripada ia sendiri ?
Kedua orang itu lain berunding, mereka merasa sekalipun tidak dapat menemui Tok Niotju Nie Kiauw, mentjari Tju Sam Hwa pun sama sadja.
Oleh karena ini, mereka meneruskan per-djalanannja mentjari Tju Sam Hwa.
Mereka menempuh perdjalanan hingga matahari terbenam di-sebelah barat.
Tetapi masih djuga mereka belum berhasil menemukan bajangan Tju Sam Hwa hersama Siang Ban.
Malam hari itu dengan sangat terpaksa mereka menumpang menginap disuatu rumah keluarga pemburu.
Mereka terus-menerus menempuh perdjalanan sampai tudjuh atau delapan hari lamanja, daerah pegunungan Hwa San telah di-lalui, masih djuga mereka tidak berhasil mentjari Tju Sam Hwa Dan Siang Ban, Tengah mereka berputus asa dan tidak mengetahui apa yang harus diperbuatnya, tiba2 mereka dapat mendengar dari serombongan pengawal piauw jang datang dari djurusan utara.
Menurut tjeritera mereka, maka pada waktu sekarang ini dikota keradjaan telah digemparkan oleh adanja sebuah berita mengenai suatu peristiwa jang aneh.
bahwa be-runtun2 sehingga tiga kali, tempat penjimpan gambar lukisan di dalam istana radja terjadi peristiwa kebakaran ketjil.
Tjaranja kebakaran itu terjadipun sangat aneh sekali.
Orang mengatakan bahwa didalam istana radja telah kedatangan seorang siluman rase.
Siluman rase ini agaknja sangat gemar akan lukisan, segala tempat lain tidak dia bakar, hanja tempat2 penjimpan gambar lukisan jang dibakarnja.
Sungguh membuat orang merasa heran.
Orang mengatakan, menurut seorang pengawal dari istana jang pernah melihatnja bahwa siluman rase itu berupa seorang wanita jang berambut pandjang menutupi mukanja, duduk pada sebuah kendaraan beroda tunggal terbang sana terbang sini dengan anehnja.
Selama beberapa hari ini hubungan A Hong dengan Thia It Kwie telah makin akrab dan rapat.
Mendengar semua kata2 tadi A Hong merasa aneh sekali di dalam hatinja.
Maka berkatalah ia kepada Thin It Kwie dengan suara perlahan "Kak It Kwie, bukankah wanita itu djustru Tok Niotju Nie Kiauw jang kupernah temuinja?"
"Adik Hong, bagaimana djika kita teruskan perdjalanan kita ini sampai di ibukota keradjaan, untuk menjelidiki berita itu ? Tju Sumoay telah tnengetahui rahasia didalam lukisan itu, didaerah propinsi Kwanglung kita tidak dapat menemuinja, mungkin mereka pun pergi kekota radja. Pikirnja A Hong karena is sekarang seorang jang jatim piatu sebatang kara, kemanapun jang ditudjunja sama djuga. Mendapat kawan seperti Thia It Kwie jang suka menemaninja bersama2 menempuh perdjalanan ribuan lie itu adalah hal jang sukar di-tjari. Samasekali in tidak mengetahui, bahwa didalam hati sanubarinja Thia It Kwie hanya terdapat seorang Tju Sam Hwa, maksud hatinja untuk pergi kekota radja itupun hanja hendak bertemu dengan Tju Sam Hwa. Kedua orang itu lain membeli dua ekor kuda djempolan untuk ditunggangi sebagai ganti lelah kakinja, Mereka menudju kearah utara, selang beberapa hari, tibalah mereka dalam wilajah propinsi Kangsai. A Hong tidak pandai bahasa daerah itu, sekali berkata-kata menjadi bahan tertawaan orang, segala sesuatunya mendapat bantuan dari Thia It Kwi maka ia semakin berterima kasih terhadap Thia It Kwi. Semua orang di dalam rumah penginapan menjangkanja mereka suami-isteri jang berusia muda. Ketika itu sekalipun A Hong merah wadjahnja, tetapi dalam batinnya merasa sedikit nikmat jang tak terkatakan. Sebaliknya Thia It Kwi sedikitpun tidak mempunjai rasa apa2'. Setelah menempuh perdja!anan sctengah bulan lebih, mereka sadah masuk dalam wilajah Kota radja. Keadaan kota itu benar ramai dan megah agung pemandangannya, bila dibandingkan dengan kota-kota lainnya. Malam ituu mereka berdua bermalam pada sebuah rumah penginapan, mereka mentjari tahu tentang hal2 siluman rase jang muntjulkan diri diistana radja, dengan tjara menaja kepada pelajan rumah penginapan itu. , Penuturan pelajan rumah penginapan itu hampir serupa dengan tjeritera anggota perusahaan pengawal piauw. Katanja memang benar ada wanita berambut pandjang jang pergi kesana-sini dengan tidak meninggalkan bekas. Kini Keng Sa Kin Tee Tak telah mengundang Toa-piauw-tauw Tan Tjiang Poa San Kie Tuan memimpin barisan Kim Wie Ie rneronda dan berdjaga siang malam terus-menerus. Dua hari terachir ini belum terdengar ada kejadian apa-apa. Mendengar akan tjerita itu keduanya saling memberi isyarat satu sama lain. Malam itu mereka tidur siang-siang, pada djam dua puluh empat dan djam satu A Hong bangun lebih dulu, ia membuka djendela dengan perlahan2 dengan menggunakan tipu Jauw-tju Moan Sim (burung kalik membalik badan), ia mendjedjakkan kakinja pada langkah djendela, lalu disusul dengan tipu To Kwa Tju Liam (keree mutiara digantung berbalik) kedua kakinja bergeser silih berganti, segera ia sampai dikamar Thia It Kwie. Ia mengetuk djendela dengan perlahan. Thia It Kwie membuka djendela. setelah mana keduanja lalu melompat keatas atap rumah dan berlarian bagaikan terbang, sesaat kemudia mereka lalu nampak bangunan istana jang megah, mereka djalan menudju ke-istana dengan sangat ber-hati2 sekali. Tengah mereka hendak melompat naik masuk dari dinding tembok, atau dengan mendadak mereka nampak sebuah kendaraan beroda tunggal, didorong dari suatu gang jang dalam dengan tidak hersuara apa2. Mereka terkejut dan hendak menjingkir. tetapi mereka segera mendengar Sret Sret !"
Dua kali, dua buah sendjata rahasia sudah datang menjamber, Buru-buru Thia It Kwie menarik A Hong berkelit kesamping, kedua sendjata rahasia itu telah mengenai dinding tembok, dan segera terdengar pula suara bentakan dari dalam .
"Siapa ?"
Segera diatas dinding tembok itu muntjul kepala orang, tetapi kendaraan beroda tunggal itu sudah menghilang didalam waktu sekedjap mata sadja.
Thia lt Kwie bersama A Hong bersembunji disudut dinding tembok, maka terdengarlah kata2 orang jang, berada diatas dinding tembok itu "Ada apa, satu saitan pun tidak ada!"
Kemudian Thia lt Kwie bersama A Hong memutari tembok itu setjara diam2, setelah melalui kira-kira puluhan kaki djauhnja, maka suara didalam dinding tembok mulai sunji, mereka lalu mendjedjak tanah dan lompat masuk kesebelah dalam tembok, mereka tahu bahwa tempat itu adalah ruang samping dari istana.
Diluar ruang itu terdapat sebuah telaga ketjil, bajangan rembulan tertjermin dimuka air telaga dengan sangat indahnja.
Di-tengah' telaga itu terdapat pula sebuah gardu ketjil.
Thia It Kwie berkata dengan berbisik..
"Adik Hong, kita bersembunji dulu didalam gardu itu, kita bertindak lebih landjut melihat gelagat."
Setelah mana mereka lari dengan pesat menjusur gili2, dan sekali berkelebat, mereka sudah masuk kedalam gardu.
Baru sadja mereka masuk, mereka segera tampak ada serombongan orang mendjindjing tanglong djalan mendatangi.
Seorang jang terdepan berdjanggut pandjang jang berjanggut pandjang me-lambai2, nampaknja gagah, ia tidak memperhatikan bahwa didalam gardu ada orang, ia melewatinja dengan begitu sadja.
Baru sadja kedua orang itu hendak keluar dari gardu, atau dengan mendadak pula mereka nampak dua bajangan orang lari dengan pesatnja bagaikan anak panah sadja datang pada tepi telaga, berhenti sesaat lalu lari kearah gardu.
Thia It Kwie bersama A Hong terkedjut dan tempel-menempel mendjadi satu sembunji disudut gardu.
Kedua bajangan hitam itu setelah masuk kedalam gardu djuga bersembunji disudut gardu, berhenti tidak bergerak.
Setelah lewat berapa saat lamanja, maka terdengar salah seorang dari kedua orang itu berkata "Aneh, njata.' nampak dia (perempuan) datang kearah sini, mengapa tidak nampak dia melewat dari pinggir telaga ?"
Mendengar lagu lidah orang jang berbitjara itu A Hong ketahui adalah orang sekampung dengannja, maka tergeraklah di dalam hatinja.
Terdengar pula seorang lainnja berkata .
, tak nampak dia datang kemari?"
Bahwa suara itu adalah suara pembitjaraannja Tju Sam Hwa! A Hong pun, tidak dapat tinggal diam lagi, maka ia berkata .
"Kiranja kalian pun berada dikota radja!"
Kedua orang jang masuk kedalam gardu belakangan itu, memang benar Tju Sam Hwa bersama Siang Ban.
Mendengar kata A Hong itu mereka sangat terkedjut.
Siang Ban segera menjalakan pemantik api, sekali njala segera dipadamkan pula.
Dalam tjahaja penerangan jang sekelebatan itu, Tju Sam Hwa pun ada bersama A Hong, tetapi karena ia sedikitpun tidak mempunjai rasa tjinta terhadap Thia It Kwie, sebaliknja didalam setengah bulan ini, hatinja berkesan baik pada Siang Ban jang beroman tjakap itu, ia tidak mendjadi gusar.
Ia malah berseru "Suheng kaupun ikut datang bersama ?"
Thia It Kwie nampak Tju Sam Hwa jang pagi sore selalu dirindukannja sudah tukar pakaian wanita, dan selalu bersikap dingin terhadapnja. bukan main gelisahnja, ia berkata "Sumoay !"
Setelah mana lalu ia hendak mnendekatinja. A Hong segera menariknja erat. sambil berkala ,,Kakak lt Kwie, kita berada didalam istana, suaramu itu akan mendatangkan bahaja!"
Mendengar peringatan Thia It Kwie baru tersadar, tetapi ternjata suaranja ituterdengar oleh peronda, akan kemudian tampak mendatanginja tiga orang dengan masing' menenteng golok pada tangannja.
Siang Ban mendjaga diambang pintu gardu, ia menjambuti orang Pertama jang menjerbu masuk kedalam gardu itu, dengan mentjekal pergelangan langannja lalu dipuntirnja, maka dengan terdengarnja suara ,.buk"
Orang itu telah terdjatuh, kedua kawannja jang mengikutinja pun terdjatuh karena tersentuh tubuhnja jang djatuh itu.
Setelah mana Siang Ban pun melesat keluar bagaikan anak panah.
Tju Sam Hwa pun segera mengikutinja.
Kedua orang itu semua bergerak tjepat dengan melihat gelagat, gerakannja pun sangat lintjah, sekedjap sadja sudah masuk kedalam tempat jang gelap tak tertampak lagi.
Thia It Kwie bersama A Hong nampak orang telah mengetahui tempat sembunjinja, mereka insjaf, bahwa tak dapat mereka diam disitu lebih lama lagi, maka merekapun saling menjusul melompat keluar, memutari tepi telaga bersembunji dipinggir gunung2an.
Waktu itu sudah terdengar suara hiruk-pikuk didalam gardu di tengah telaga itu, dan disekitarnja telah mendjadi terang dengan sinar api jang ber-gojang Disana-sini.
A Hong berbisik' kepada Thia It Kwie, katanja ..Kakak It Kwi, entah apa maksudnya mereka masuk kedalam istana '?"
Ia mengulangi dua kali tidak ada djawaban.
Ia djadi tjuriga dan menengok kesebelah untuk Iantas mendjadi terkedjut.
Kiranja Thia It Kwie jang tadi bersama2 ia berdiri berendeng sembunji dipinggir gunung'an itu, kini sudah menghilang entah kemana.
A Hong djadi sangat ketakutan, segera ia mundur dua langkah.
Tetapi ia rasakan kakinja menjentuh suatu benda jang empuk, hampir sadja ia terserimpat dan djatuh.
Ia buru2 menunduk dan menelitinja, ia nampak bahwa benda jang empuk itu sebenarnja tubuh manusia, jang rebah melintang tertiarap ditanah.
Ia segera membalikkan tubuh itu, dan ternjata orang itu bukan lain daripada Tju Sam Hwa!
Matanja membelalak, djelas bahwa dia telah tertotok djalan darahnja.
Menampak Tju Sam Hwa jang telah rebah itu, hatinja A Hong madju mundur.
Tju Sam Hwa telah merampas lukisannja lagi-pula pada beberapa hari ini, bahwa Tin It Kwie jang ia tjitai-nja itu.
segenap hatinja tertudju pada Tju Sam Hwa sadja.
Tetapi kini semua si-wi (pengawal didalam istana) sudah mendekat ke-pinggir gunung2an itu, djika in melarikan diri sendiri, sudah dapat dipastikan Tju Sam Hwa akan terlihat oleh mereka.
Sekali Tju Sam Hwa terlihat oleh pengawal istana.
maka ia jang malam2 masuk kedalam istana pasti akan dihukum mati.
Ini berarti menjingkirkan duri dimatanja mengingat akan hal ini.
hampir sadja ia akan lari begitu sadja.
Tetapi dipikirnja lagi, se-baliknja.
Djika ia meninggalkannja begitu sadja dengan, tidak menghiraukannja samasekali, sebenarnja terlampau rendah sifat-nja, biar bagaimanapun, ia toh sama' segolongan orang dalam rimba persilatan.
Didalam bingungnja itu ia belum dapat ,menemukan dimana djalan darahnja jang tertotok itu, terpaksa ini mengempitnja dan dibawa menjingkir.
Pada saat itu, didalam istana telah tampak sinar api disegala pendjuru, A Hong pun sudah tidak mempunjai daja akal untuk mentjari dimana adanja Thia It Kwie hersama Siang Ban.
Dengan sangat terpaksa ia mendukung Tju Sam Hwa lari sembarangan sadja.
Dengan susah-pajah ia berhasil djuga keluar pintu istana, mengenali djalan dan arah djurusannja, ia dapat kembali kekamarnja melalui djendela.
Sampai pada saat itu, A Hong baru mengeluarkan napas lega.
Direbahkannja Tju Sam Hwa diatas peraduan, tengah hendak menjalakan api, mendadak ia dapat dengar orang tertawa dengan seramnja.
Sementara itu ia tampak disudut kamar itu suatu letusan lelatu, mula2 api itu berwarna hidjau, sebentar sadja sinar api itu mendjadi, membantul kearah pelita minjak, sekali mengenai sumbu, pelita itu segera menjala.
A Hong mengenali ini adalah sematjam sendjata rahasia jang pernah ditjeriterakan oleh Tay Lek Kim Kong Oey Ling.
Sendjata rahasia sematjam ini sangat hebat, orang menjebutnja "Leng Jan Souw Hun" (Api dingin mentjari njawa).
Adapun sendjata rahasia sematjam ini terbuat daripada belirang, garam salpeter dan lain' bahan, jang ditjampur satu sama lain menurut resep jang sangat dirahasiakan, dibuatnja mendjadi butiran berbentuk pil.
Waktu hendak dipergunakan orang memetjahkan kulitnja dengan kuku djari tangan lalu dibantulkan.
Dia dapat menjala sendiri dengan hembusan angin, djika menjentuh kulit daging manusia.
maka ketjuali orang itu sudah habis terbakar tak nanti dia dapat terlepas, lagipula sendjata rahasia sematiarn ini mengandung ratjun didalamnja.
Siapa sadja jang terkena sendjata rahasia sematjam ini, sebagai kesudahan dari serangan api dan bisa ini, akan sukar dapat diobatinja.
Maka sendjata rahasia ini adalah sendjata jang paling ampuh, berbahaja, djahat serta paling berbisa.
Maka sekalipun sendjata rahasia ini hanja dipergunakan untuk menjalakan pelita, tetapi A Hong tak dapat bertahan diri untuk tidak terkedjut.
Ia segera berpaling kebelakang, maka nampak olehnja, bahwa si wanita aneh berambut pandjang dan berkendaraan beroda tunggal itu tengah tersenjum iblis terhadapnja, dengan rambutnja ter-urai' tertiup angin.
Dengan segera A Hong mentjekal sepasang golok Liu Jap To ditangannja dan mundur selangkah sambil berkata .
"Kau datang pula untuk apa ?"
Si wanita berambut pandjang jang aneh itu menundjukkan senjumnja jang menjeramkan.
"A Hong, aku adalah ibu kandung-mu, mengapa kau berlaku demikian kasar terhadapku ?"
Berkata wanita aneh itu. ,.Bukankah kau ini Tok Niotju Nie Kiauw ?"
Tanja A Hong. Wanita itu terkedjut dengan mendadak lalu berkata ...Siapa jang memberitahukan kepadamu? Apakah Tay Lek Kim Kong Oey Ling ?"
Nampaknja wanita itu sangat gusar, lengannja jang pandjang itu bergoyang-goyang bagaikan setan sadja rupanja.
A, Hong pun ,dengan diluar kehendaknja sendiri telah mundur pula selangkah sambil berkata .
"Kau tak usah perduli akan hal ini" . Si wanita berambut pandjang jang aneh itu tertawa ter-kekeh. sambil berkata Aku memang benar Tok Niotju Nie Kiauw, biarlah kau lihat wadjahku jang asli!"
Ia memutar tangannja, lalu rambutnja jang pardjang itu di-singkapnja kekiri dan kanan.
Pada sangkanja A Hong, maka jang akan muntjul dihadapannja mestinja suatu roman jang sangat menakutkan orang tetapi samas ekali diluar dugaannja, apa jang dilihatnja dibawah penerangan sinar pelita itu sebenarnja wadjah jang sangat tjantik, ketjuali pada pipi kirinja terdapat tanda bekas luka, maka Tok Niotju Nie Kiauw itu benar2 seorang jang elok rupawan.
Usianja pun hanja kira"
Tiga puluhan, tidak terlampau tua. Oleh karena itu A Hong djadi ter-begong', lalu berkata "Apa maksudmnu datang kemari ?"
Tok Niotju Nie Kiauw berkata -Kuhendak menanjamu, apakah kau memiliki njali tjukup besar ?
Djika njalimu ketjil, maka apapun tak usah dikatakan lagi, tapi djika kau mempunjai tjukup njali, maka ikutlah aku, ku akan membawa kau kesuatu tempat."
A Hong segera meng-gojangkan tangannja.
"Aku tidak ingin pergi. silahkan kau pergi sendiri !"
Katanja. Tok Niotju Nie Kiauw berubah wadjah mukanja, lalu berkata. ,.Djika kau tidak pergi. maka orang idam'anmu akan terantjam djiwanja!"
"Dia mengapa dapat ketahui orang jang aku tjintai ?"
Pikirnja.
Tetapi iapun tak dapat tidak memperhatikan keselamatannja, karena hilangnja Thia It Kwie didalam istana terlampau mengherankan.
Ia hendak menjatakan suka ikut, tetapi iapun kuatir kepada si wanita aneh ini, jang belum diketahui hatinja, ia kuatir akan merugikan dirinja sendiri.
Maka ia sangat sangsi.
Tok Niotju Nie Kiauw mendorongkan tangannja pada dinding tembok, maka kendaraan beroda tunggal itu meluntjur dengan tanpa suara, ia menatap kepada Tju Sam Hwa jang menggeletak diatas peraduan, lalu mengulurkan tangannja kedalam saku dalamja, diambilnja keluar gambar lukisan jang dulu ditjurinja dari saku A Hong, lain diberikannja kepada A Hong sambil ber-kata "Aku senantiasa berbuat baik kepadamu, tetapi kau senantiasa bertjuriga terhadapku, hal jang sedemikian itu, sebenarnja terlalu tidak mengenal akan jang baik dan jang buruk !"
A Hong menerima lukisan itu dengan hati bingung.
Tok NioTju Nie Kiauw berkata pula ,.Dia kutotok djalan darahnja pada bagian Ki Bun Liok Hiat, didalam dua djam akan terbuka sendiri djalan darahnja itu.
Djika kau masihragu2 tidak dapat mengambil ketetapan, apabila terdjadi sesuatu kepada diri-nja, djanganlah kau menjalahkan aku !"
Mendengar kata.
itu.
maka A Hong mengetahui, bahwa wanita itu sudah tahu dengan djelas siapa pemuda idam'annja itu, lagipula ia mengetahui, djika ia tidak turuti kehendaknja wanita itu, djiwa Thia It Kwie akan terantjam bahaja, dan sukar ditolong.
Oleh karena itu, dengan terpaksa diluar keinginannja, sambil mengertek gigi ia berkata .
.,Baiklah, aku akan ikut kau pergi !"
"Duduklah dibelakangku !"
Kata Tok Niotju sambil menepuk kendaraannja.
A Hong masukkan sepasang golok Liu Jap To-nja kedalam sarungnja, lalu madju beberapa langkah, dengan memberanikan hati ia duduk dibelakang Tok Niotju Nie Kauw "Kau djangan takut.
kedua kakiku walaupun sudah buntung, tetapi selama belasan tahun ini, senantiasa aku hidup diatas kendaraan ini, bagiku kendaraan ini berguna daripada sepasang pahamu, kau duduklah dengan mantap berkata Tok Niotju.
Pantas sadja dia selamanja tidak turun dari kendaraannja, kiranja dibelakang alingan badjunja jang pandjang itu, kedua kakinja sudah buntung, pikir A Hong.
Sekali tubuhnja Tok Niotju bergojang.
maka kendaraannja itu sudah melompat keatas dapur, sekali dikerahkan tenaganja, maka kendaraan itu dengan muatannja sudah meluntjur keluar dari djendela, turun diatas atap rumah disebelahnja dengan sedikitpun tiada suaranja.
Pada waktu naik dan turun, badju pandjang jang dikenakan oleh Tok Niotju Nie Kiauw terbembus angin dan tersingkap.
A Hong meneliti dengan seksama, ia menjaksikan.
bahwa bentuk buatannja kendaraan itu sangat istimewa.
Rangka kendaraan itu hanja sekerat besi jang rata, dibuatkan dua buah lobang bundar untuk memasukkan paha jang terdjepit kentjang.
Kendaraan itu benar' merupakan sebagian dari anggota tubuhnja Tok Niotju.
Hanja tiga kali lompat sadja kendaraan itu sudah turun ditanah dataran.
Didalam hatinja, A Hong tak hentinja menerka' kemana ia akan dibawanja.
Hanja ia nampak Tok Niotju Nie Kiauw menggunakan tangannja mendorong pada dinding tembok, kendaraannja Segera meluntjur bagaikan terbang sadja.
Djalan jang dilalui semakin lama semakin sepi dan sampailah mereka dihadapan pintu kelenteng.
Setibanya dihadapan pintu kelenteng itu, tampak tikapnja Kiauw mendjadi tegang, ia berkata dengan suara pelan .
"A Hong, djika kau menginginkan si orang she Thia itu tidak terbinasa, semua itu mengandal kepada ketjil atau besarnja njalimu, sebentar walaupun kau menjaksikan apa sadja, djangan-lah kau bersuara !"
Nampak bahwa kelenteng tua itu sudah rubuh dinding temboknja, rumput liar jang pandjangnja setinggi lutut, tumbuh di-sekelilingnja dengan suasana jang sunji-senjap, membuat orang bergidik tanpa merasa dingin.
Entah sebentar lagi apa jang akan disaksikannia, tak dapat A Hong meramalkannja lebih dulu.
Tetapi pikirnja pula, bahwa bagaimanapun djuga sekarang ia sudah tiba disini, maka selain menjatakan setudju, baginja sudah tidak ada lain djalan lagi.
Nampak A Hong sudah menjetudjuinja, maka senanglah didalam hatinja Tok Niotju Nie Kiauw.
Maka beruntun ia membuat kendaraannja melompat berulang2, setelah naik ketingkatan kelenteng itu lalu melewati halamannja jang sunji serta penuh dengan rumput liar.
masuklah mereka diserambi besar Tay Hiong Po Tian.
Adapun keadaan serambi kelenteng, Tay Hiong Po Tian itu, banjak patung' Buddha bergeletakan disana-sini dengan tak teratur.
Tok Niotju Nie Kiauw pun terus djalan menudju keserambi belakang, disitu sedikit suara manusiapun tidak ada.
Maka di-dalam hati A Hong merasa sangat heran, ia berkata dengan suara perlahan "Sebenarnja kita hendak pergi kemana ?"
Mendengar pertanjaan itu dengan sekonjong' Tok Niotju Nie Kiauw menghentikan madjunja kendaraannja, clan berkata dengan bengisnja.
"Kau telah berdjandji tidak akan bersuara, mengapa sekarang kau bertanja ?"
A Hong terkedjut dan meleletkan lidahnja.
Selewatnja serambi belakang, terdapat pula satu serambi tempat patung Buddha, di-situ terdapat pintu besi besar jang terkuntji rapat.
Tok Niotju Nie Kiauw berhenti, diulurkannja tangannja tetapi tak dapat ia mentjekal pergelangan besi pada pintu itu, lain ia mundur dan menggedornja dengan kendaraannja beruntun tiga kali, maka dengan mendadak pintu itu terbuka.
Pada telinganja A Hong segera terdengar suara mendengung, setelah didengarnja dengan teliti, kiranja suara jang mendengung Itu adalah suaranya orang banjak jang-riuh rendah.
maka A Hong memandangnya dengan teliti, kini terlihatlah olehnja, bahwa terdapat orang jang ratusan djumlahnja, terbagi mendjadi dua rombongan, setiap orang memperlihatkan wadjah muka jang merah-padam karena tengah bertengkar, entah apa jang mendjadi sebab persilisihan itu.
Setelah Tok Niotju Nie Kiauw masuk kedalam serambi lalu ada dua orang jang menutup pintu.
Masuknja mereka itupun tidak ada jang mempedulikannja.
A Hong djadi merasa seperti masuk didalam kabut halimun jang tebal, pemandangan jang di-lihatnja itu gelap-petang persoalannja baginja.
Ia menengok ke-sana-sini tiada seorang jang ia kenal.
Ia hendak bertanja, tetapi urung, karena ia ingat akan pesan Nie Kiauw, bahwa apapun jang' ditampaknja.
ia tidak boleh bersuara jang akibatnja akan merugikan Thia It Kwie, maka terpaksa ia membungkam.
Tidak antara lama, diantara beberapa puluh orang jang berada dirombongan disebelah kanan itu, tampak seorang jang tubuh-nja gemuk berdiri dengan mendadak dan berkata dengan suara njaring dan gusar "Apa gunanja kalian bertjektjok, anak ketjil ini mengaku she Siang, apa dia anaknja Siang Djiu Beng atau bukan, asal kita menanjanja, maka dengan segera akan dapat kita ketahui, mengapa harus banjak berisik ?"
Dari rombongan di-sebelah kiri itupun madju seorang datuk usia pertengahan jang berdiri dan berkata .
"Benar katemu itu, lekaslah bawa ia keluar !"
Waktu itu barulah A Hong dapat mendengar dengan djelas, bahwa kiranja rombongan orang jang disebelah kiri itu kesemua-nja terdiri dari orang' daerah selatan, dan rombongan disebelah kanan itu, kesemuanja berlidah suara orang daerah utara.
Tetapi siapakah gerangan jang disebut orang she Siang itu Ia belum dapat mcngetahuinja.
Tengah A Hong berada didalam lamunan pikirannja, maka segera pada waktu itu djuga A Hong tampak seorang jang kedua tangannja ditelikung diikat dipunggungnja, didorong keluar.
Demi nampak wadjah orang itu, A Hong lantas mengenali, bahwa orang itu tidak lain daripada Siang Ban.
Kemudian terdengar si gemuk dan si orang setengah tea itu membentak dengan berbareng "Orang she Siang, apakah ajahmu bernama Siang Djiu Beng ?"
Mata Siang Ban menjapu keseluruh tempat itu, ia nampak orang jang berdjumlah seratus sepuluh orang itu, situ persatu alisnja berdiri, matanja membelalak menandakan mereka sedang dalam gusar dan tidak memperlihatkan niat baik.
Dan mengingat dia tidak tahu dengan cara bagaimana tahu2 telah tertawan dari dalam istana dan dibawahnya kemar, amaka pikirnya bahwa orang' ini semua lebih tinggi ilmu silatnja padanja, maka djika ia mengaku puteranja Siang Djiu Beng tentu sadja tidak menguntungkan baginja, karenanja, ia lain menjangkal nja samasekali.
Pada setengah bulan jang lalu, ketika Siang Ban menjusul dan berteriak menjuruh Tju Sam Hwa berhenti, A Hong pernah mendengar dari mulutnja Siang Ban sendiri mengatakannja bahwa dia anaknja Siang Djiu Beng, kini dia menjangkal, maka A Hong berpendapat, bahwa Siang Ban itu terlampau tidak berguna sama sekali, didalam hatinja sangat marah, maka diluar kemauannja sendiri A Hong mendampratnja "Oran begini mengapa berani membohong ?"
Karena seruannja itu, seratus sepuluh pasang mata semua menatap padanja.
"Siapakah kau nona? Mengapa kau mengetahui bahwa dia membohong ?"
Tanja si gemuk A Hong sadar.
bahwa ia telah terlepas kata, tetapi tidak dapat ia menariknja kembali.
Ia menengadah, nampak Tok Niotju Nie Kiauw sudah mundur kesudut ruangan, melototkan mata kepadanja dengan sangat gemasnya, maka dengan sangat terpaksa ia berkata .
"Setengah bulan jang lampau aku sendiri pernah dengar dia mengatakannja!"
Keseratus sepuluh orang jang berada diruang itu mendjadi gempar karena girangnja.
Siang Ban ketakutan, wadjah mukanja membiru laksana warna besi, ia tidak mengetahui apa jang mereka hendak perbuat terhadap dirinja.
Nampaklah madjunja si gemuk serta orang berusia pertengahn itu tiga langkah didjadikan dua langkah, lalu mengulurkan tangannja masing' untuk membukakan dengguannja Siang Ban Lalu jang satu menariknja kekiri, jang lain menariknia kekanan keduanja tidak ada jang mau mengalah.
Romhongan kedua pihak lalu ber-teriak2 pula.
Suaranja mendengung memetjah angkasa Seluruh ruang itu tergetar rasanja.
Kedua orang itu sambil menarik Siang Ban sambil perang mulut saling mentjatji.
Setelah saling mentjatji sekian lamanja mendadak si gemuk turun tangan menjerang, si orang berusit pertengahan itu berkelit, maka Siang Ban menggunakan kesempatan itu untuk membebaskan diri.
Ia belum lenjap dari kagetnja.
Ia menatap keseluruh ruangan seorang pun tiada jang ia kenal, dengan terpaksa ia lari ke-tempat A Hong berdiri.
A Hong menanja dengan suara perlahan ,.Apakah kau nampak It Kwie ?"
"Thia-heng tengah ditahan mereka didalam kamar kaju di-halaman belakang. tapi aku tak tahu apa jang mereka sedang pertengkarkan orang' ini pun tidak dapat diketahui sebenarnja" . A Hong djadi sangat gelisah, ingin ia keluar, tetapi pintu besi sudah tertutup rapat. Terpaksa ia berdiri diambang pintu dengan Siang Ban. Si gemuk itu meski trokmok tubuhnja, tetapi gerakannja sangat lintjah, ia tengah bertempur dengan si kurus jang berusia pertengahan itu dengan seimbang tiada jang menang atau kalah. Tetapi orang sebanjak itu tidak memperhatikan kepada orang jang sedang bertempur, sebaliknja mereka semua mengarahkan pandangan matanja pada Siang Ban, sehingga Siang Ban djadi kikuk dan kuatir. Sebentar sadja mereka telah bertempur tudjuh atau delapan belas djurus. Se-konjong' terdengar suara bentakan Tok Niotju Nie Kiauw jang berkata "Semua berhentilah !"
Orang nampak didalam tangannja telah mentjekal roda kendaraan itu, dan kendaraannja pun sudah menudju kearah mereka jang sedang berkelahi.
Roda kendaraan jang dipegang,ja ber-putar' sehingga menerbitkan suara.
Menampak datangnja roda kendaraan jang sedemikian dahsjat itu.
kedua orang jang bertempur itu tidak berani memapakinja.
maka dengan serentak mereka melompat kepinggir untuk berkelit.
Dan roda itu terbang lurus menghantam dinding tembok sehingga masuk setengahnja.
Tok Niotju Nie Kiauw membentak dengan bengisnja "Tidak dinjana setelah pemimpin partai Tjeng Liong Pay Siang Djiu Bong meninggal dunia, maka didalam partainja telah terpetjah dua mendjadi golongan selatan dan golongan utara, dan kini memperebutkan anaknja.
Apakah kiranja masih memimpikan hendak memperebutkan mustika aneh jang telah hilang dari tangannja Siang Djiu Beng waktu dahulu itu ?"
Kata' itu bagi Siang Ban dan A Hong sama sekali tidak dimengerti, tetapi semua orang jang berdjumlah seratus sepuluh orang itu, kesemuanja berubah wadjah mukanja.
Maka terdengar-lah si gemuk itu berkata "Mendengar lagu suara lidahmu, apakah kau seorang anggota partai Pek Tjong ?"
Tok Niotju Nie Kiauw mengeluarkan suara tertawa jang aneh dan berkata "Partai Tjeng Liong Pay seketjil ini, semasa Siang Djiu Beng masih hidup, ketika bertemu dengan aku dia masih berlaku hormat, maka apapula golongan Pek Tjong ?
Aku she Nie bernama Kiauw dan orang mendjulukinja Tok Niotju!"
Si gemuk beserta si kurus saling pandang untuk sesaat lama-nja, kiranja mereka mengetahui akan nama Tok Niotju Nie Kiauw itu, mereka segera mundur selangkah serta berkata dengan ber-bareng .
"Ada keperluan apakah kau datang mengundjunginja" ? Tok Niotju Nie Kiauw tertawa ter-kekeh.. ,.Waktu dahulu ketika Siang Djiu Beng masih hidup, mustika aneh itu telah hilang dari tangannja, apakah kini kalian masih ingin memperebutkannja ? Apakah kalian tidak mau mengeluarkan papan perintah Siang Tjiu Beng jang diserahkan kepada golongan selatan dan golongan utara !"
Si gemuk berkata dengan sangat gusarnja .
"Matjam apa kau? Ada kehormatan apa kau hendak menjuruh kami mengeluarkan papan perintah ?"
Tok Niotju tertawa gelak.
sambil menepuk tanah dengan me-ngerahkan tenaganja.
Maka setelah itu orangnja membubung naik keudara, kelima djari tangannja melengkung bagaikan kaitan, terus mentjakar dada si gemuk.
Dengan segera si gemuk berkelit.
Tetapi serangannja kepada, si gemuk its hanja siasat belaka.
Sasaran sebenarnja adatah kepada si kurus.
Tangan kiri Tok Nio-tju mengibas kebelakang, iapan turun ketanah sambil menjerang dengan tipu pukulan "Pwat Bu Kian Djit" (Menjingkap kabut melihat matahari), si kurus sudah tidak keburu berkelit, pergelangan tangannja telah tertjekal.
Tjepat luar biasa gerakan Tok Niotju Nie Kiauw itu, sekali ia menjekal pergelangan tangan si kurus, sebelah tangannja jang lain lantas merogo kesakunja si kurus, setelah mana tahu2 di-dalam tangannja sudah memegang sebuah papan besi hitam jang pandjangnja kira2 satu kaki dan kira2 lima dim lebarnja.
Djika pihak setelah si gemuk berkelit dengan ripuhnja, belum lagi ia dapat berdiri dengan betul, atau Tok Niotju Nie Kiauw sudah mempergunakan si kurus sebagai sendjata, dikibaskan ke-arahnja dengan menggunakan tipu "Memindjam benda mengeluarkan tenaga" , si gemuk sudah terhadjar dengan serunja, terpelanting djatuh ditanah.
Setelah mana dengan Tiat Pai (papan besi) ditangan Tok Niotju mendjedjak tanah, dan tubuhnja melesat, dengan tak diketahui lagi, Tiat Pai jang serupa pada tubuh gemuk itu telah berpindah kedalam tangannja.
Dengan terdengarnja suara gemerintjing, maka kedua Tiat Pai itu dirangkap mendjadi satu, lalu ia berseru dengan njaringnja "Tiat Pai jang diturunkan oleh Tjeng Liong Tjouw (datuk pendiri partai Tjeng Liong Pay) sudah terangkap mendjadi satu, siapa berani mem-bangkang tidak menurut perintahku, lekaslah berdiri keluar !"
Keseratus sepuluh orang jang memenuhi ruang itu, tidak peduli laki maupun perempuan, tua atau muda, tidak satu orang jang berani bersuara.
Nampak keadaan demikian, wadjah muka Tok Niotju Nie Kiauw tertampak riang dan puas agaknja.
Tengah ia hendak berkata.
lagi, se-konjong' terdengar suatu suara bentakan pendek, dan segera orang nampak seseorang membuka pintu samping dan lari masuk, dan dari kedjauhan orang itu sudah berkata .
"Kau djangan buru' merasa puas lebih dulu!"
A Hong menatapkan pandangan matanja kearah muka orang itn, maka tertampak olehnja, bahwa orang itu tidak lain daripada Thia It Kwie.
la djadi merasa girang sekali, segera ia menubruk-nja sambil berseru It Kwie Ko (kakak It Kwie)!"
Tetapi sebelum ia dapat menubruk Thia It Kwie, mendadak ia merasakan ada hawa dingin menjamber disisi tubuhnja, kiranja Tok Niotju Nie Kiauw telab memburu datang dan menangkapnja.
Nampak akan hal itu, maka buru' A Hong menjerang dengan telapak tangannja.
Tetapi betapa gesit gerakan Tok Niotju itu, sebelum telapak tangan A Hong mengenai sasarannja atau rambut pandjang jang memenuhi kepala itu terangkat naik dengan setjara mendadak.
A Hong merasakan, bahwa ada suatu tenaga dahsjat menjerang dirinja, dan segera djuga pandangan matanja mendjadi kabur.
Tahu' bahunja sudah tertjekal oleh lengan pandjang Tok Niotju sehingga tak berdaja.
"A Hong, mendengar kata`ku ada banjak faedahnja bagimu, lekaslah kau suruh si orang she Thia ini djangan banjak mulut, kau bawa dia keluar. Jika tidak, dia akan terantjam djiwanja!"
Memperingatkan Tok Niotju.
sambil mengendorkan tjekalannja.
A Hong pun nampak Thia It Kwie memperlihatkan wadjah jang penuh perhatian terhadap keselamatannja.
Maka dalam pikiran A Hong tidak perduli kata Tok Niotju Nie Kiauw itu dapat dipertjaja atau tidak.
tetapi keadaan ditempat ini baginja sangat aneh bin adjaib.
Maka ia berpendapat lebih baik lekas2 meninggalkan tempat ini.
sebenarnja sangat ingin mengetahui asal usulnja, sedjak ia bertjampur gaul dengan Thia It Kwie, dan didalam hati sanubarinja sudah timbal bibit asmara, ia lupa mentjari tahu akan riwatjatnja sendiri.
Oleh karena pikir nja jang demikian itu, maka ia menurut sadia kehendaknja Tok Niotju dan berkata pada Thia It Kwie .
"It Kwie, mari kita lekas pergi !"
"A Hong. aku mempunjai pendirian sendiri,"
Djawabnja It Kwie.
Lalu ia berkata kepada semua orang jang ada diruang itu dengan suara njaringnja "Tuan2 sekalian, kedudukan pemimpin partai Tieng Liong Pay sedari awal telah dikukuhkan turun temurun, njonja ini dengan merampas Leng Pai (Papan perintah) dari pemimpin kedua golongan selatan dan utara, tjara bagaimana lantas dia dapat menjuruh kalian menurut sadja segala perintah-nja ?
Urusan ini adalah berkenaan dengan nasib partai Tjeng Liong Pay dikemudian hari, maka kuharap suka memikir-kannja dengan seksama!"
Mendengar kata' Thia It Kwie demikian itu, maka ke-seratus sepuluh orang itu semua tergerak dan berubah karena menampak kedua pemimpin golong selatan dan utara dalam waktu seke-djap mata sadja sudah dapat dilukai oleh Tok Niotju Nie Kiauw mereka tidak berani bersuara sedikitpun.
Karena mengingat bahwa partai Tjeng Liong Hoag Pay adalah partai jang berpengaruh besar, Thia It Kwie tidak tega akan melihat partai besar ini terdjatuh kedalam tangan Tok Niotju Nie Kiauw, maka dengan melupakan rasa bentjinja, hahwa orang' Tjeng Liong Pay telah menotok djalan darahnja diwaktu ia berada didalam istana.
dan ditawan serta dibawanja kesini itu, ia berbitiara mengenai keadilan dan kepentingan partai itu, tapi kini ternjata ia tampak bahwa itu tiada seorangpun jang berani bersuara.
maka didalam hatinja merasa mendongkol, ia lalu berkata kepada Siang Ban "..Siang-heng.
(kakak Siang) kau adalah ahliwaris dari pemimpin partai Tjeng Liong Pay, apakah kau tidak mau keluar berbitjara untuk kepentingannja saudara2 ini?"
Mendengar kata' Thia It Kwie int. Siang Ban mundur selangkah lalu berkata sambil meng-gojangkan tangannja .
"Aka tidak menjadi pemimpin pun tidak mengapa!"
Baca Juga: Bara Naga 1
Baca Juga: Rondo Kuning Membalas Dendam Kho Ping