Ceritasilat Novel Online

Merpati Pedang Purba 2

Eps 2 Merpati Pedang Purba - Kauw Tan Seng

Baca online Merpati Pedang Purba - Kauw Tan Seng

Cersil Merpati Pedang Purba - Kauw Tan Seng.

Bukanlah sesungguhnja Siang Ban menginginkan kedudukan itu sebenarnja oleh karena ia takut kepada Tok Nioju Ni Kiauw jang lihay itu.

Anggota partai Tjeng Liong Pay dari golongan selatan maupun utara jang herada diruang itu sebenarnja tidak sedikit jang memiliki ilmu silat jang tinggi, djika mereka dapat ber-satu-padu, maka sekalipun Tok Niotju Nie Kiauw sangat tinggi ilmu silatnja, akan sukar dapat mendjatuhkan mereka.

Hanja sangat disajangkan bahwa merekapun telah terpengaruh oleh satu sama lain, ditambah pula merekapun telah terpengaruh oleh Tok Niotju Nie Kiauw diwaktu turun tangan tadi, maka mereka tidak ada seorang pun jang berani keluar untuk bertempur.

Setelah mendengar kata Siang Ban serta melihat keadaan semua orang itu, maka Tok Niotju Nie Kiauw tertawa gelak sambil berkata "Orang she Thia!

Pemuda she Siang itu sendiri tidak hendak mengurusnja, maka untuk apa kau masih bersitegang leher untuk keluar bitjara ?

Djika kau tahu gelagat.

lekas-lah kau enjah dari tempat ini.

Djika tidak, maka djangan menjalahkan aku menlanggar pantangan membunuh !"

Mendengar akan kata"

Tok Niotju itu.

maka Thia It Kwie segera mundur tiga langkah untuk terus menghunus pedang pandjangnja sambil berkata dengan suara njaring "Apakah orang sebanjak ini tiada seorangpun jang berani menemani aku untuk bertempur dengan wanita ini ?"

Disaat itu, sekalipun diruang itu terdapat seratus lebih orang, tetapi suasananja sunji-senjap sedikit suarapun tidak terdengar.

A Hong nampak Thia It Kwie demikian bersemangatnja ia pikir tentu ada sebab2nja.

Maka ia berkata dengan suara njaring.

"Kakak It Kwie, aku bersama kau!"

Mendapat sambutan A Hong itu, Thia It Kwie sangat tertarik dan tergerak didalam hatinja, ia berseru .

"A Hong jang djempolan !"

Berbareng dengan utjapannja itu ia melangkahkan kakinja setjara miring satu langkah, dengan tangannja membalik, udjung pedangnja menusuk langsung kearah tenggorokan Tok Niotja Nie Kiauw.

A Hong nampak Thia It Kwie turun tangan menjerang Tok Niotju, maka iapun membolang-balingkan sepasang goloknja membatjok Nie Kiauw.

Nampak keadaan itu, Tok Niotju Nie Kiauw tertawa terkekeh', lalu menghantamkan Tiat Pay jang ada dikedua tangannja itu ke-tanah, hingga memperdengarkan suara "Brak !

Brak !"

Dua kali, maka ia pun mundur dengan tjepatnja.

Golok A Hong bersama pedang Thia Tt Kwie kesemuanja menjerang tempat kosong.

Thia It Kwie madju pula dan bergerak dengan enteng dan gesitnja, kakinja mengindjak kedudukan Tiong Kiong, lalu dilandjutkan mengindjak kedudukan Hong Buat didalam barisan Patkwa, pedangnja menusuk ulu hati lawannja.

Kali ini Tok Niotju Nie Kiauw berkelit pun tidak, ia tunggu sampai pedang pandjang Thia It Kwie hampir menusuk pada sasarannja, mendadak sadja pergelangan tangannja membalik, dan Tiat Pay jang dlipegangnja menekan kebawah dengan tjepatn menindih punggung pedang Thia It Kwie.

Thia It Kwie merasa kesemutan pada tangannja, ia hendak menarik pedangnja dan, membatalkan serangannja, tetapi ia rasakan tindihan Tiat Pay itu se-akan2 suatu tenaga melekat jang dahsjat, tak berhasil ia menarik pedangnia, ia segera mengetahut, bahwa lawannja menggunakan ilmu benda menjalurkan tenaga.

Maka iapun deng,an buru-mengeluarkan seluruh sernangatnja, dengan menggunakan tipu "Po Goan Siu It"

Ia mengumpulkan tenaga sedjatinja untuk mendjaga diri, dengan tjara ini ia dapat melajani tenaga dalam Tok Niotju Nie Kiauw.

Segala sesuatu ini berdjalan didalam sekedjap mata sadja, sepasang golok A Hong pun sudah datang membatjok, tetapi sekalipun A Hong telah mempeladjari ilmu silat untuk banjak tahun sebenarnja ia tidak mempunjai pengalaman dalam melawamusuh.

Lagipula Tok Niotju Nie Kiauw adalah salah satu tokoh jang tersohor didalam dunia Kang-ouw.

Ketika Tok Niotju mendjadi kepala saitan wanita jang nomor satu atau nomor dua.

A Hong masih belum terlahir.

Maka tenaganja dibanding dengan ,tenaga Tok Niotju, terlampau djauhlah selisihnja.

Maka ketika goloknja membatjok.

Tok Niotju menangkis dengan Tiat Pay, dan dengan terdengarnja suara "Prak !"

Maka golok pada tangan k irinja lantas mendjadi patah dua potong, sementara potongan golok jang patah itu terpental dan melesat kearah dadanja.

Masih dapat dikatakan beruntung djuga, ia keburu mengetahui gelagat buruk, segera menggunakan tipu Tiat Pan Kio (Djembatan papan besi) ia menengadah dan melengkungkan tubuh ke belakang, maka kutungan golok itu melesat meluntjur lewat pada batas dadanja, dan menantjap pada tihang besar ruang itu.

Nampak akan hal itu maka keringat dingin membasahi seluruh tubuhnja, kerena rasa takutnja.

Dilihatnja pula keadaan Thia It Kwie, Ia nampak dia pun sudah mandi keringat.

A Hong djadi gelisah dengan tidak menghiraukan apa nanti akibatnja, Lengan kirinja meraba kepinggangnja, segera tampak empat-belas golok terbang berhamburan kearah kepala Tok Niotju.

Tetapi Tok Niotju tidak mnemperlihatkan perubahan apapun djuga, lengannja ditarik kembali.

Tiat Pay jang ada ditangan Tok Niotju Nie Kiauw, karena pengerahan tenaga dalamnja jang membuatnja menempel pada pedang Thia It Kwie dengan eratnja, menjebabkan bahwa dengan ditariknja lengan tangannja itu, Thia It Kwie pun tak dapat menguasai dirinja sendiri telah ikut tertarik madju dua langkah.

Dengan demikian Tok Niotju telah menggunakan Thia It Kwie sebagai pengumpan golok terbang.

Ketika itu Thia It Kwie tengah menggunakan seluruh tenaganja untuk melawan tenaga dalam Tok Niotju Nie Kiauw, ia tidak mempunjai kesempatan lagi untuk menangkis golok terbang jang menjerangnja setjara ber-tubi Itu, nampaknja orang sudah pasti menjaksikan, bahwa keempat-belas buah golok terbang itu akan menantjap semua pada tubuh Thia It Kwie, satu pun tak akan ketinggalan.

A Hong nampak, bahwa tangan Nie Kiauw demikian kedjam-nja, dan segera goloknja akan melukai si pemuda idamannja itu, maka ia segera berseru .

"Kak It Kwie. djangan takut !"

Sambil berkata begitu, is melompat tinggi, golok Litt Jap To jang berada ditangan kanannja dimainkannja sehingga terdengar belasan suara gemerintjingan, maka keempat-belas buah golok terbang jang dilepaskannja, semua terpukul dan mental djatuh ketanah.

Setelah mana barulah ia turun ketanah dan mengeluarkan naps lega, tetapi baru sadja ia turun, Tiat Pay jang tertjekal ditangan kiri Nie Kiauw sudah menjapu bagian pinggangnja, maka buru' ia mundur.

Thia It Kwie djadi terbagi perhatiannja, dan tenaga dalamnja agak kendor, lalu terdesak oleh tenaga dalam Tok Nio-tju Nie Kiauw.

Karenanja tak dapat ia bertahan, dengan menentang bahaja ia menarik mundur tenaga dalamnja sendiri dan mundur berapa langkah dengan tubuh ter-hujung'.

Pada umumnja djika orang tengah mengadu tenaga dalam, sangat berbahaja djika orang mundur ditengah djalan, karena lawannja akan mengambil kesempatan diwaktu orang tidak berdjaga, mendesakkan tenaga dalamnja kepada orang itu.

Demikian djuga dengan halnja Thia It Kwie, baru sadja dia mundur Segera djuga ia terluka parah didalam tubuhnja, matanja berkunang2 dan hampir sadja ia memuntahkan darah.

Tok Niotju Nie Kiau jang mempunjai maksud hendak menguasai Tjeng Liong Pay menampak kedatangan Thia It Kwie itu, menjebabkannja sangat membentji Thia It Kwie.

Kini nampak Thia It Kwie telah mundur dan mendapat luka didalam tubuh, ia tidak mau melewatkan ketika sebaik ini.

Maka Tiat Pay ditangan kanannja dialihkannja pada tangan kirinja, lalu dengan mengulur tangan kanannja ia hendak menjengkeram dada Thia It Kwie.

Thia It Kwie merasa adanja hawa dingin menjerang bagian dadanja, tak dapat ia menahan darah panas jang dikulumnja di-dalam mulut, ia mengerutkan dadanja dan bertindak miring satu langkah.

Tok Niotju Nie Kiauw sekali mentjengkeram, mengenai tepat pada lengan tangannja Thia It Kwie sehingga lengan badju Thia It Kwie memberebet terkojak.

Dan darah jang terkulum dalam mulutnja achirnja pun tak dapat tertahan pula, ia lantas memuntahkan darah segar.

Nampak keadaan itu dalam hati A Hong bagaikan tersajat pisau rasa pedihnja.

Ia marah bertjampur gelisah dan berkata pada Tok Niotju .

"Kau membawa aku kesini, apakah maksudmu menjuruh aku menjaksikan kau metjelakai padanja ?"

Nie Kiauw berkata sambil tertawa aneh .

"Kau sudah melanggar djandjimu kepadaku, tak dapat kau menjalahkan aku jang telah berlaku bukan semestinja!"

Untuk kedua kalinja Nie Kiauw mengulur tangannja untuk mentjengkeram A Hong.

Laksana rnentjari hidup didalam kematian A Hong membatjokkan goloknja, Nie Kiauw tidak mengubah djalan serangannja, hanja mengangkat sedikit lengannja keatas, membalikkan pergelangan tangannja serta mengebut dengan lengan badjunja.

Maka sebagai kesudahannja A Hong sudah tidak dapat tetap mentjekal golok dengan eratnja, dan terpentallah golok itu keatas dan menantjap di dinding tembok.

Sebaliknja djari tangan Nie Kiauw jang membengkok bagaikan kaitan itu menjerang Thia It Kwie.

Orang nampak bahwa kedua orang itu bukan tandingannja Nie Kiauw dan segera akan tidak dapat menghindarkan bahaja maut.

Tetapi ketika djari tangan Nie Kiauw sudah hampir mengenai sasarannja ,dengan setjara mendadak sadja la djadi terbengong2 menanja .

,.Sebenarnja kau she apa ?"

Mendengar pertanjaan itu, A Hong berdua Thia It Kwie saling memandang, dan tidaklah mereka mengerti kepada siapa pertanjaan itu ditudjukan.

Orang hanja nampak, bahwa setelah menanja demikian itu Tok Niotju Nie Kiauw dengan tangannja menutupi mukanja, A Hong berpendapat, bahwa itulah suatu ketika jang bagus sekali untuk melarikan diri, makaia dengan segera mcnggendong Thia It Kwie dibawa lari melalui pintu samping.

Setelah mana mereka hanja dapat dengar suatu panggilan jang sedih katanja .

"Kalian berdua lekas kembali !"

Suara itu memang benar suara panggilan Nie Kiauw.

A Hong tak menghiraukan lagi suara panggilan itu, ia terus lari dengan tjepatnja, tidak antara lama sudah keluar dari kuil.

Ia nampak bahwa pada halaman belakang kuil itu tertambat seratus sepuluh ekor kuda, ia melepaskan tambatan seekor kuda, lebih dahulu diletakkannja Thia It Kwie pada pelana, lalu ia sendiri melompat keatas punggung kuda itu, dan menepuk perut kuda itu dengan tangannja, maka kuda itu meringkik pandjang dan lari membedal.

A Hong kuatir Tok Niotju Nie Kiauw menguber dari belakang, maka ia tidak berani berhenti sebentar sekalipun, karena ia insjaf ketika tadi ia bersama Tok Niotju menumpang kendaraannja ladju kendaraan itu tidak kalah tjepatnja daripada kuda djempolan.

Ia kaburkan kudanja terus-menerus hingga malam sudah berganti fadjar.

Ia mengira', bahwa ia telah menempuh perdjalanan sedjauh kurang lebih tiga atau empat puluh lie, dan melihat bahwa dibelakang tiada orang jang mengedjarnja, barulah ia berani menghentikan kudanja untuk beristirahat.

Kebetulan se-kali bahwa tempat itu berada ditepi sebuah sungai ketjil.

Ia telah bertempur untuk setengah malaman dan ber-lari2 menempuh perdjalanan untuk setengah malam pula, dengan demikian satu malam itu ia tidak tidur sama sekali, kini ia rasakan mulutnja bukan main hausnja.

Maka segera ia mendukung Thia It Kwie jang terus-menerus merintih itu untuk diturunkan dan direbahkannja ditepi sungai.

Lalu ia sendiri mcmbungkukkan tubuhnja minum air sungai itu.

Setelah ia minum beberapa tjeguk air sungai, baru sadja ia hendak meraup air untuk diberikan pada Thia It Kwie, maka dengan se-konjong' sadja dari tjerminan dimuka air sungai itu ia nampak dibelakangnja telah bertambah seorang lain lagi.

Bagaikan burung jang takut akan anak panah, maka belum djuga ia mengetahui djelas siapa sebenarnja orang itu, ia sudah membalikkan tangannja dan menjerang orang itu.

Orang itu ber-kelit dengan melompat.

Setelah A Hong berbalik tubuh dan melihatnja dengan njata, maka ia mengetahui bahwa orang dihadapannja itu kiranja Tju Sam Hwa.

A Hong nampak pada muka Tju Sam Hwa itu memperlihatkan semangat membunuh, ditangannja mentjekal suatu Djoan Pian (rujung lemas) jang pandjangnja kira2 tudjuh kaki, dan sambil bersenjum ewa dia menatap pada dirinja.

Sikapnja Tju Sam Hwa jang sedemikian itu membuat A Hong sangsi, tetapi mengingat bahwa semalam ia pernah menolongnja dari dalam istana, maka ia berkata "Oh, kiranja kau, adik Tju!"

Dengan tidak di-sangka' samasekali, baru sadja A Hong habis mengatakan itu, Tju Sam Hwa sudah menjabetkan sendjata Djoan Pian-nja.

Didalam keadaan mendadak dan tidak keburu berdjaga' itu, A Hong terpaksa berkelit, dan hampir sadja ia tertjemplung ke dalam sungai.

Tju Sam Hwa jang menampak serangannja tidak berhasil.

lalu menjusulnja dengan serangan berantai tiga kali sabetan beruntun.

A Hong djadi semakin tidak mengerti, maka buru' ia berseru ,.Adik Tju.

mengapa dengan sadja menurunkan tangan kedjam ?

Katakanlah dengan djelas lebih dulu!"

Mendengar kata' itu Tin Sam Hwa. berkata dengan tjemasnja.

"Kutjintjang kau si anak liar dari selatan ini, barulah dapat terlampiaskan kebentjian didalam hatiku!"

Iapun segera menjusulkan serangan berantainja tiga kali, sehingga A Hong djadi repot bukan main.

Thia It Kwie telah terluka sangat parahnja, dengan memaksa-kan diri ia berbalik dan berkata dengan napas jang sengal'.

"Su-moay, apakah masih tidak hendak djuga berhenti menjerang?"

"Setelah, sakit hati lainnja boleh tidak dihalas, tetapi sakit hati jang disebabkan pembunuhan ajahku, tak mungkin aku tidak membalasnja !"

Djawab Tju Sam Hwa dengan mendongkol. Mendengar akan kata' Tju Sam Hwa itu, A Hong melengak dan berkata "Siapakah jang membunuh ajahmu ?"

Tju Sam Hwa menjabetnja sekali lagi dengan Djoan Pian-nja seraja berkata dengan gemasnja . .,Kau memang tidak pernah, tetapi ajahmulah pembunuh ajahku!"

Mendengar tuduhan itu, A Hong djadi tidak dapat menangis berbarengpun tidak dapat ia tertawa, ia segera berkata .

"Siapa ajahku sampai hari ini aku masih belum mengetahuinja, kali ini aku merantau didalam dunia Kang-ouw, menempuh perdjalanan djauh dari daerah selatan hingga sampai dikota radja, tudjuanku jang terutama ialah hendak mengetahui akan hal ajahku. Mengapa sebelum djelas merah atau putih, kau sudah menjerang orang setjara menggelap ?"

Mendengar pernjataan A Hong itu, Tju Sam Hwa djadi melengak, achirnja is berkata "Kalau begitu, gambar lukisan itu mengapa bisa berada ditanganmu ?"

Mendengar pertanjaan itu lalu A Hong mentjeriterakannja sepandjang pengalamannja jang telah lampau itu dengan tjepatnja, setelah mana ia bertanja ..Aku sendiri djustru hendak menanjamu, mengapa kau dapat mengetahui rahasia didalam gambar itu?"

Tju Sam Hwa dengan mata mengembang airmata lantas berkata A Hong, kiranja kau bukan puterinja Tay Lek Kim Kong ?

" ,.Benar, aku tahu akan hal ini pun baru selama setengah bulan ini.

Mendjelang Tay Lek Kim Kong menemui adjalnja, dia telah berkata bahwa dia adalah musuhku pernbunuh ajahku.

Maka djika demikian akan halnja pembunuh ajah kita berdoa jalah Tay I,ek Kim Kong Oey Ling!"

"Masih seorang lagi, jaitu Tok Niotju Nie Kiauw !"

Kata Tju Sam Hwa menamhahkan. Mendengar utjapan Tju Sam Hwa itu, A Hong melengak. ..Bagaimanakah sebenarnia hal ini ?"

"Semendjak-pada hari itu aku mengerti sedikit urusan,"

Tju Sam Hwa menutur.

"Ajahku sudah meninggal dunia, hanja aku seorang diri menemani ibuku tinggal bersama, kamipun tidak tinggal didalam sebuah rumah, hanja herdiam didalam suatu guha dipegunungan jang lebat. Apa jang kami makan hanja daging binatang dan buah'an hutan jang tumbuh liar di-hutan'. Penghidupan kami itu tiada bedanja dengan penghidupan orang hutan. Ibuku dari permulaan hingga achir tahun senantiasa rebah didalam guha dengan tidak dapat bergerak. Kala itu aku sudah ber-usia enam tahun, ibuku dengan se-konjong' sadja berkata padaku .

"Sam Hwa, hingga kini kau masih belum mengetahui apa nama She mu. Sudahlah, kuberi kau she Tju saja, Tju artinya berdoa atau memohon kepada Tuhan. Kuharap kau senantiasa berdoa kepada Tuhan agar kau jangan sampai tercelakakan oleh musuh lagi. Aku terlebih mengharap pula, bahwa kau dapat membalaskan sakit hati ajah bundamu jang besar !' . itu aku masih belum begitu mengerti urusan. Aku lalu menanja selandjutnja, siapa nama ibu dan ajahmu ? Ibu berkata dengan menghela napas pandjang ,Sam Hwa lebih baik kau tidak mengetahuinja, setelah ibumu meninggal dunia, kau jang sebatang kara. djika merantau didalam dunia Kang-ouw, jang terpenting ialah bersiap terhadap dua orang, jang satu TOK NIOTJU NIE KAUW dan jang lain TAY LEK KIM KONG OEY LING !' "

Mendengar sampai disitu A Hong memotong, katanja "Kalau begitu, maka pembunuh ajahmu itu tidak salah lagi kedua orang ini."

Tju Sam Hwa berkata sambil menghela napas "Ketika itu akupun tidak menanja dengan djelas, hanja mendengar penuturan ibuku dengan ter-bengong@" .

Ibuku kemudian melandjutkan 'Sam Hwa.

aku sudah bertahan diri hingga empat atau lima tahun lamanja, nampaknja sekarang sudah tidak mampu bertahan lagi, djika kiranja nanti dikemudian hari dapat berhasil mempeladjari ilmu silat, boleh memeriksa gambar lukisan ini dengan teliti, untuk mengetahui akan rahasianja.

Lalu diambilnja segulung gambar lukisan dan berkata Pula Selama hidupku, kepandaianku ialah mcnggambar lukisan.

Dengan mendadak sadja Thia It Kwie menggerakkan tubuh dan berseru .

,Tan Tjing Lie-hiap !"

Mendengar seruan itu, Tju Sam Hwa melengak dan bertanja.

"Siapa Tan Tjing Lie-hiap itu ?"

Sangat parah lukanja Thia It Kwie itu, dengan memaksakan diri ia mengutjapkan kata2 ,.Tan Tjing Lie-hiap. itu,"

Napasnia sudah tidak lurus lagi, mukanja memerah dan napasnja sengal". Buru' A Hong berkata . .,Kak It Kwie, kau dengar dulu sampai Sam Hwa habis menuturkan barulah kau mengatakan sesuatu!"

Thia It Kwie masih tidak mau menyerahkan diri, ia mendesak Sam Hwa katanja . ..Sumoay, lekaslah kau katakan !"

Tju Sam Hwa djadi tidak dapat mengerti maksud mereka itu. maka ia lalu melandjutkan tjeriteranja .

"Sambil kata begitu ibuku lalu mengambil segulung lukisan dari tumpukan rumput, Itulah sebuah lukisan panorama jang biasa sadja."

Mendengar uraian itu A Hong tergerak didalam hatinja, lalu diambilnja lukisan jang ada didalam sakunja sambil berkata "Apakah lukisan ini ?"

Tju Sam Hwa anggukkan kepalanja sambil berkata .,Sedikitpun tidak salah.

Ketika itu aku menjambutinja dan melihatnja dengan sepintas lalu, kurasa sedikitpun tiada jang menarik hati, lalu kutaruhnja sembarangan sadja disamping.

Nampak tingkah lakuku itu ibu menghela napas sambil berkata .

'Lukisan ini kau harus simpan baik', Sam Hwa, djangan hilang !

Diatas puntjak gunung jang terdapat pada lukisan itu, terdapat lima atau enam orang, diatas papan tulisan pada gardu dipuntjak gunung itu ada kata2

"Lok Sui Teng" (Gardu menikmati air) jang ditulis oleh Siang Wu Beng ! Djika hendak mendapatkan mustika berharga, harus bertanja kepadanja'. Baru sadja habis kata'nja itu, ia sudah berteriak berapa kali dan achirnja berkata . 'Djika Tuhan mempunjai mata. suruhlah Sam Hwa mendapatkan guru jang pandai. untuk membalaskan sakit hati mengenai darah sedalam lautan ini !' Setelah mengatakan demikian, ibuku lalu menemui adjalnja. Ketika itu aku menangis meng-gerung ", sebagai seorang anak ketjil aku tidak berdaja, lalu dengan membawa lukisan itu aku turun gunung. sepandjang djalan aku hidup dengan tjara minta' sebagai pengemis untuk dua tahun lamanja. Pada suatu hari, seorang jang bertubuh tinggi besar melihat aku sedang memandang lukisan sertater-kenang' kepada ibuku sambil menangis menepas air mata, lalu merampas lukisan itu dan mengantjam hendak memu-kul aku. nampak romannja sangat menakutkan orang !" .,Masih untung ketika itu datang pula seorang lain, maka orang jang merampas lukisanku itu dihadjarnja sehingga melarikan diri. Penolong itu mengangkat aku mendjadi muridnja, didalam dunia Kang-ouw. terkenal dengan djulukan Thang Thian Wan (si kera menembus langit) Meng Keng Hai. Aku beladjar ilmu silat dibawah pimpinannja selama tudjuh-delapan tahun lamanja.

"Setelah aku mcndjadi dewasa, mengingat akan kata"

Ibuku menjelang wafatnja, lalu mengambil kesempatan ketika aku turun gunung bersama Suheng.

kutjari Tay Lek Kim Kong Oey Ling bersama Tok Niotju Nie Kiaaw.

Hari itu aku tiba di sebuah kota ketjil dalam propinsi Kanton, aku menjamar sebagai seorang laki' tengah makan dan minum.

nampak romanmu jang tidak tenang dan lari masuk ke dalam, semula aku hanja ingin bersenda gurau denganmu, kutjuri barangmu sedikit, tidak disangka, bahwa barang jang kutjuri itu adalah segulung lukisan."

"Aku bentangkan lukisan itu. Aku lantas mendjadi terkedjut, kiranja lukisan ini adalah lukisan jang diberikan kepadaku mendjelang wafat ibuku! Karenanja, aku tidak suka mengembalikannja kepadamu. Aku dengar pula berita, bahwa istana keradjaan terbit suatu kedjadian mengenai siluman rase, ada seorang wanita jang berambut pandjang. Kudengar dikalangan Kang-ouw orang mengatakan. bahwa Tok Niotju Nie Kiauw keluar pula ke dunia Kaag-ouw untuk kedua kalinja. Siang Ban mengatakan pula, bahwa ajahnja bernama Siang Djiu Beng, aku kuatir diapun ada huhungannia dengan lukisan itu, maka aku lalu bersama2 dia datang kekota radja ini. Tidak kusangka, bahwa bukan sadja Siang Ban ketjil njalinja, diapun seorang jang tiada gunanja sama sekali. .,Dengan susah-pajah kuseretnja masuk kedalam istana, dia sudah gemetar ketakutannja bukan main. Dan apa jang telah terdjadi selandjutnja kaupun mengetahuinja, tak usah aku mentjeriterakan."

"Sebenarnja apakah jang terlukis didalam lukisan itu ?"

Tanja A Hong dan Thia It Kwie.

"Aku masih ingat ibu mengatakan hahwa djika aku hendak mendapatkan mustika berharga, harus menanjakannja kepada Siang Djiu Beng. Maka kuingin mentjari Siang Ban, tidak kusangka sekali Siang Ban tidak suka memberi keterangan dan sengadja menjimpangkan persoalan pura2 tidak tahu. Aku sangat djengkel dan tidak ingin memberitahukannja mengenai rahasia didalam lukisan itu, sedangkan tentang lukisan itu sendiri akupun belum pernah memeriksanja dengan tetiti."

"Sekarang untuk melihatnja lagi pun belum terlambat."

Kata A Hong, jang segera dibebernia lukisan itu ditanah.

Kala itu matahari baru terbit, tjuatja terang sekali, kedua orang itu semua terperandjat setelah menelitinja lukisan itu dengan seksama sekian lamanja.

Kiranja puntjak gunung sebesar kepalan tangan didalam lukisan Itu jika dipandang dengan sepintas lalu, biasa saja keadaanja, tetapi sekali ditelitinya dengan seksama, maka semua rumput, pohon dan orang semua nampak dengan djelas sebagai keadaan yang sebenarnja.

Djika orang melihatnja agak lama, rasa nja seperti diri sendiri berada didalam alam lukisan itu, benar' sebuah lukisan tjat air jang sangat indah.

Didalam lukisan itu sama sekali ada delapan orang, diantaranja dua orang wanita.

Tju Hwa demi melihatnja, maka air matanja mengalir dan berseru dengan sedihnja.

"Ibu!"

A Hong pun sudah melihatnja dengan njata, diantara kedua orang wanita itu jang satu mirip sekali dengan Tok Niotju Nie Kiauw, jang lain romannja tampan serta alim, pada tangannja mentjekal pinsil untuk menggambar jang besar tengah menotok kearah Tok Niotju Nie Kiauw, dan Tok Niotju Nie Kiauw itu djatuh kebelakang.

Dilain sebelah daripada lukisan itu terdapat seorang jang gagah dan tjakap.

Dengan tangan tak bersenjata tengah dikepung dan dikerojok oleh lima orang, pada bagian tubuhnja sudah mendapat luka2.

Diantara ke lima orang pengerojok itu A Hong dapat mengenali salah satunja adalah Tay Lek Kim Kong Oey Ling.

Setelah meneleliti sekian lamanja, A Hong berkata "

Sam Hwa, lukisan ini mestinja dilukis oleh ibumu, setelah dia terluka dan dapat menghindarkan bahaja, dan dilukiskannja berdasarkan ingatannja."

"Mungkin demikian keadaannja."

Kata Tju Sam Hwa.

"ketika itu aku tentunja sudah terlahir tetapi dimanakah aku berada ketika itu ?"

A Hong Ialu meneliti sekali lagi dengan seksama, maka setelah itu dengan se-konjong ia berseru dengan kagetnja.

"Sam Hwa……. lihatlah dua orang kanak' dirumpun semak' Seorang anak jang ketjil ini adalah kau sendiri, dan jang besar ini, … ..Entji A Hong,"

Mcnjambungkan Tju Sam Hwa.

Kiranja didalam rumpun semak' itu benar2 terdapat dua orang anak, seorang anak jang usianja kira' tiga atau empat tahun, tengah melihati orang Jang sedang bertempur itu dengan mata membelalak, dan seorang anak lainnja jang masih ketjil hanja baru dapat merangkak, tengah merajap ketepi tebing gunung, nampaknja sudah hampir terdjatuh dari alas tebing itu kebawah.

Jang besar itu mata serta keningnja sangat mirip dengan A Hong, jang ketjil sedikitpun tak nampak bedanja dengan Tju Sam Hwa.

Kedua orang itu menengadah dengan serentak, dan pandang memandang satu sama lain sekian lamanja.

Maka berkatalah A Hong ."Sam Hwa, apakah sebenarnja kesemuanja ini ?

Mengapa akupun berada didalam lukisan ini ?"

"Ja, mengapa kaupun bisa berada didalam lukisan ini ? Mengapa ?"

Mengulanginja Tju Sam Hwa. A Hong mentjurahkan segenap pikirannja untuk mengingatkan kata2 jang pernah diutjapkan oleh Tay Lek Kim Kong mendjelang adjalnja dan achirnja is mendadak berseru .

"Sam Hwa!"

"Tjitji !"

Sam Hwa menjambutkan.

Karena itu mereka lalu saling memeluk merangkul, entah perasaan mereka itu sedih atau gembira.

Kiranja mereka telah sama dapat berpikir, bahwa keduanja sebenarnja adalah kakak-beradik, seajah seibu.

Sebagai kesudahannja dari pertempuran diatas gunung itu, Tay Lek Kim Kong membawa A Hong kedaerah selatan hidup menjepi disalah satu dusun didaerah propinsi Kanton, sehingga A Hong mendjadi dewasa dan sebaliknja Tju Sam Hwa mengikuti ibunja jang telah terluka berdiam didalam guha untuk beberapa tahun lamanja barulah diterima oleh Thong Thian Wan Theng Keng Hai sebagai muridnja.

Pada masa itu sekali pun mereka tidak dapat mengetahui keadaan jang sebenarnja, tetapi dari apa jang terlukis didalam lukisan itu mereka agak dapat meraba akan keadaan diri mereka.

Saudara sekandung terpisah sekian tahun lamanja sehingga ketika saling bersua satu sama lain tidak dapat rnengenalinja, malah tadi Tju Sam Hwa masih mengira, bahwa A Hong anak perempuan pembunuh ajahnja dan menjerangnja dengan sendjatanja, tetapi tidak membuat mereka merasa sedih ?

Demikian kakak-beradik itu mengguguk menangis dengan sedih untuk sekian lamanja, lalu saling memandang djuga, maka achirnja Tju Sam Hwa memanggil .

"Tjitji !"

Dan A Hong memanggilnja "Adik !"

Setelah mana mereka saling peluk memeluk pula dengan eratnja.

Barulah setelah itu A Hong mendadak teringat akan tjeritera Thia It Kwie mengenai hal ichwal Tok Niotju Nie Kiauw bersama Tay Lek Kim Kong Oey Ling jang katanja telah mengadjak beberapa orang berilmu didalam kalangan djalan hitam untuk memusuhi Hok Tay-hiap suami-isteri.

Dan isteri Hok Tay-hiap itu mendapat djulukan Tan Tjing Lie-hiap.

Tetapi untuk seketika itu tak dapat isaingat siapa Tan Tjing Lie-hiap itu, hanja berseru memanggil ..It Kwie !

It Kwie " , tidak ter-sangka2 olehnja, bahwa berulang dua kali ia memanggil tidak djuga mendapat djawaban.

Kiranja kedua orang itu karena perasaan mereka sendiri jang mendatangkan rasa terharu, suka dan duka tertjampur aduk itu, -sudah sekian lamanja tidak memperhatikan kepada Thin It Kwie.

A Hong sangat menjinta dan memperhatikan keselamatan Thia It Kwie, maka dengan segera setelah tidak mendapat djawaban atas panggilannja itu, ia berpaling dan nampak Thin It Kwie telah djatuh pingsan, wadjah mukanja putjat scperti kertas, ia segera memeriksa urat nadinja maka diketahui bahwa ketokan urat nadi nja sangat lemah.

"Sam Hwa. lekas kau kemari !"

A Hong berseru memanggil. Tju Sam Hwa segera memeriksanja, iapun berkata dengan kagetnja . ,Luka didalam tubuhnja sangat parah, kita berdua tak dapat mengobatinja!"

A Hong sangat gelisah, ia menengadah, matanja mengembeng air dan berkata .

"Sam Hwa, apa jang kita harus perbuat Tju Sam Hwa berpikir sebentar Lantas berkata "

Ketjuali men-tjari Siang Ban, tidak ada lain daja lagi, dia pernah mengatakan kepadaku, bahwa dia mernpunjai pit Tjeng Liong Wan, obat dari resep obat Tjeng Liong Pay jang istimewa, segala luka dalam, dengan makan sebutir sadja, tidak hanja lukanja dapat disembuhkan bahkan dapat pula menambah tenaganja!"

Mendengar kata2 it, A Hong segera berkata .,Adik jang baik, kuminta kau suka menolongku mentjari dia sekali ini."

Demi mendengar permintaan kakaknja itu, dengan mendadak wadjah mukanja Tju Sam Hwa berubah mendjadi merah darah, ia rnemutar tubuhnja seraja berkata ,Aku tidak mau pergi !"

A Hong terheran lalu bertanja . ."Mengapa ?"

Didjawabnja "Kami baru sadja bertengkar !"

Djawabnja Tju Sam Hwa, karena itu Tju Sam Hwa memperlihatkan wadjahnja seorang jang kemalu2an.

A Hong dapat menerka beberapa bagian mengenai duduknja perkara jang sebenarnja.

A Hong menafsirkan bahwa tentunja kedua orang itu sudah lama suka sama suka, tetapi Tju Sam Hwa sangat nakal, ia berbuat tidak selajaknja terhadap Siang Ban, dlan Siang Ban sebagai anak muda jang berdarah muda pula, maka kedua orang itu lalu bertengkar.

Oleh karena memikir demikian maka A Hong lalu berkata .

"Adik jang baik, menolong orang penting artinja."

Mendengar perkataan itu, Tju Sam Hwa monjongkan bibirnja seraja berkata .

"Kau suka kepada Suhengku, sebaliknya aku jemu kepadanja. Kuberitahu kepadamu, sebenarnya dia mencintai aku tetapi aku tidak menghiraukannja. Tjitji, tak usahlah kau urus soal tetek bengek urusan orang lain ini ! Aku tidak mau pergi !"

A Hong sungguh merasa kewalahan terhadap adiknja ini, maka achirnja ia berkata .

"Kau tidak mau pergi, akulah jang akan pergi, kau djagai dia, pasti kau takkan menolaknja, bukan ?"

Dengan tidak menunggu djawaban lagi, ia segera membalikan tubuh dan lompat keatas punggung kuda jang segera dibedalkannja kearah djalan jang telah dilaluinja semalam.

Tju Sam Hwa bertjemberut, ia membungkuk, dengan djari tangannja ia menuding dahi Thia It Kwie sambil mentjomel "Semua gara'mu, kami kakak beradik baru sadja bertemu kembali sudah kau tjeraikan lagi !"

Ia sama sekali tidak mengira, bahwa tudingan djarinja itu telah menotok tepat djalan darah "In Tong Hiat".

Hawa sedjatinja sekali terpukul.

Thia It Kwie lantas tersadar dari pingsannja.

Thia It Kwie telah lama berada didalam keadaan tidak sadar, ia tidak mengetahui.

bahwa A Hong bersama Tju Sam Hwa telah dapat saling mengatahui, bahwa berdasarkan keadaan didalam lukisan itu mereka sebenarnja adalah kakak-beradik seajah seibu.

Ia memandang kesekelilingnja, hanja nampak Tju Sam Hwa seorang didampingnja, ia menjedot hawa dua kali dan dengan memaksakan diri ia mengangkat lengan tangannja memegang tangan Tju Sam Hwa.

Sebaliknja Tju Sam Hwa mengibaskan tangannja dengan kuatnja dan melepaskan tangannja dari tjekalan Thia It Kwie.

Thia It Kwie menghela napas pandjang dan berkata dengan lemahnja .

"Sam Hwa, kurasa aku tak dapat hidup pula, tenaga dalam Tok Niotju Nie Kiauw itu sangat hebat. Mendengar bahwa Thia It Kwie terluka oleh karena bertempur dengan Tok Niotju Nie Kiauw, maka Tju Sam Hwa bangkit akan rasa senasib dan setia kawannja, maka ia berkata .,Mengapa kau bertempur dengan dia ?"

Thia It Kwie tidak sempat mentjeriterakannja dengan djelas, ia memanggil pula "Sam Hwa !" ,.Ada apa ? Katakanlah !"

Berkata Tju Sam Hwa.

.,Luka didalam tubuhku sangat berat, kurasa aku tak dapat bertahan meski untuk beberapa hari sadja sekalipun, maka bila aku mati, kuhendak berkata kepadamu sepatah dua kata Sam Hwa, aku menjintai kau sudah semendjak lama sekali, apakah kau mengetahuinja ?"

Tju Sam Hwa anggukkan kepalanja.

Karena riang hatinja Thia It Kwie mendadak mendjadi merah wadjah mukanja.

Tetapi dengan tidak di-sangka' karena gontjangan hatinja itu ia terdjatuh pula didalam keadaan pingsan.

Tju Sam Hwa memalingkan kepalanja tidak hendak melihatnja, tetapi mengingat, bahwa orang sedang dalam keadaan pingsan, maka sekalipun tiada rasa tjinta dalam hubungan pria dan wanita, tetapi toh masih mempunjai rasa persaudaraan dalam satu perguruan.

Maka ia menolaknja berulang kali, ingin dengan perbuatannja itu menjadarkan Thia It Kwie.

Tetapi karena parah lukanja, Thia It Kwie tetap tinggal dalam keadaan tidak sadar.

Tju Sam Hwa djadi tidak berdaja, dengan terpaksa ia duduk di-tepi sungai dengan mendongkol.

Dalam hal tjinta memang sama sekali tidak dapat dipaksakan.

Didalam mata Tju Sam Hwa, kemabukan tjintanja Thia It Kwie ini dirasakannja sangat mendjemukan.

Karenanja, sekalipun Thia It Kwie mengutarakan rasa hatinja didalam keadaan luka parah itu, rasa djemunja malah makin men-djadi'.

Tju Sam Hwa duduk menghadapi sungai ketjil.

Lumut hidjau jang meng-utas' mengandung air, bergojang melambai, dengan air sungai jang djernih bening hingga dapat terlihat dasar sungainja, kesemuanja ini membuatnja ia tertarik dan mengawasinja dengan bengong, ia ter-menung' dan pikirannja melajang kepada diri Siang Ban.

Selama satu bulan terachir ini ia senantiasa ber-sama' dengan Siang Ban, sekalipun ia dapat tahu, bahwa Siang Ban mempunjai banjak sekali sifat kelemahan, tetapi telah dapat mengisi dan menduduki tempat dalam hatinja.

Ia melamun "Dimanakah se-karang Siang Ban berada, apakah pada saat ini diapun seperti aku tengah memikirkannja ?"

Demikian ia melamun.

Setelah semalam ia berpentjaran dengan Siang Ban didalam istana, sehingga kini mereka belum pernah berdjumpa lagi.

Maka dimana Siang Ban kini berada, Tju Sam Hwa pun tidak menge-tahuinja.

Ia berkeinginan sangat untuk mentjarinja, tetapi ia harus menunggu dan mendjagai Thia It Kwie jang tengah pingsan.

Ia melirik pada Thia It Kwie, dan didalam hatinja bertambah rasa gemasnja.

Tengah ia termenung"

Itu, dengan se-konjong"

Ia teringat bahwa Siang Ban mempunjai Tjeng Liong Wan, A Hong tadi menjuruhnya mencari Siang Ban dan setelah ia tidak mau meluluskan permintaannja, A Hong lantas menunggang kuda untuk mentjarinja, apakah ini tidak menandakan bahwa A Hong mengetahui dimana Siang Ban berada.

Tadi malam didalam istana ia telah tertotok jalan darahnja oleh seseorang, untung ia tertolong oleh A Hong dan dibawa kembali kerumah penginapan.

Setelah A Hong diadjak Tok Niotju Nie Kiauw pergi beberapa djam kemudian ia baru sadarkan diri, dan pergi dari rumah penginapan itu dengan tak tentu arahnja, dan setjara kebetulan sadja ia dapat ketemukan A Hong dan Thia It Kwie ditepi sungai maka mengenai kedjadian diruang kelenteng bobrok itu, dimana kedua golongan partai Tjeng Liong Pay saling bertengkar.

Tok Niotju Nie Kiauw turun tangan membuat semua orang Tieng Liong Pay djatuh dibawah pengaruhnja dan Lain Kedjadian itu Tju Sam Hwa sedikitpun tidak mengetahuinja.

ia Tju Sam Hwa hanja merasa, tingkah laku A Hong itu sangat mentjurigakan.

Terhadap Thia It Kwie, ia tidak memperhatikannja tetapi terhadap Siang Ban, Ia tidak dapat tidak memikirkannja dengan mendjadi gelisah hatinja.

Ia kuatir pula Siang Ban mmengalami bentjana, ia kuatir pula Siang Ban berubah hatinja dan mentjintai A Hong.

Ia berpikir dan berpikir lagi berulang"

Hatinja tidak tenteram.

Ia berdiri dengan mendadak.

diseretnja Thia It Kwie dan diletakkan diatas rumput ditepi sungai, ia memutar tubuh dan mematahkan sebuah tjabang pohon jang banjak daunnja untuk menutupi tubuh Thia It Kwie lalu dilibatkannia sendjatanja Djoan Pian (rujung lemas dipinggangnja dan sesudah itu ,ia menggunakan ilmu ginkang (ilmu mengentengkan tubuhnja lari menjusul kearah dimana A Hong tadi membedalkan kudanja.

'Tidak antara lama kemudian Thia It Kwie sudah ditinggaikannja djauh'.

Maka dikisahkanlah bahwa setelah A Hong membedalkan kudanja, didalam hatinja selalu memikirkan keadaan lukanja Thia lit Kwie.

Sebentar' ia memetjut kudanja agar kuda itu lebih tjepat larinja.

Kuda berlari' setjepat angina, setelah dua djam lamanja maka dari djauh sudah dapat nampak bajangan rumah kelenteng bobrok itu, A Hong mengerti djika ia hendak bertemu dengan Siang Ban sedikitnja ia harus bertemu pula dengan Tok Niotju Nie Kiauw, hal mana sesungguhnja sangat berbahaja baginja, tetapi bila ingat djiwa pemuda buah hatinja jang perlu ditolong itu, tidak menghiraukan bahaja jang mungkin dihadapinja.

Setelah Nampak rumah kelenteng yang bobrok itu, ia bersangsih sebentar, lalu di pecutnya pula kudanya supaya lari lebih cepat dan sebentar saja, ia sudah tiba di depan rumah berhala itu, Ia segera turun dari tunggangannya, Kedua buah golok Liu Tjap To nya semalam sudah hilang semua.

Ia meraba dibagian pinggangnya ternyata golok terbangnja masih ada tudjuh buah.

Maka ia mematahkan sebuah cabang pohon, dibuangnya pula Semua daunnja, Ia timbang2 beratnja, kiranja dapat digunakan sebagai sendjata, lain djalan melewati halaman jang penuh rumput liar, masuk keruang besar, terus menudju keruang belakang.

Tiba diruang belakang.

ia nampak pintu besi sudah terdjeblak terbuka lebar2.

Sekalipun waktu itu sudah siang, dalam ruang itu tetap gelap menjeramkan.

Sinar lampu masih tetap menjoroti tempat itu, dengan membesarkan hatinja A Hong djalan masuk untuk segera mendjadi terkedjut.

Ternjata ruang jang penuh dengan ratusan orang itu.

kini sudah sunji-senjap seorangpun tidak nampak.

Diatas lantai masih menggeletak seorang majat jang tidak lain daripada si kurus yang dibinasakan oleh Tok Nioiju Nie Kiauw semalam.

"Kemana, mereka ?"

A Hong mendjadi bingung, Dikolong langit jang sedemikian luasnja ini, kemana mentjari Siang Ban?

Ia teringat pula pada keadaanIt Kwie jang djika tidak memperoleh obat Tjeng Hong Pay akan sukar tertolong djiwanja, pilulah rasa hatinja, dan dengan tidak dirasanja air mengalir dari sepasang matanja.

Tengah ia menangis seorang diri itu, ia dapat dengar suara jang terbit dari suatu sudut ruang kelenteng itu.

la terkedhut dan mengangkat kepalanja untuk mengetahui darimana datangnja suara itu.

maka tertampak olehnja ada segunduk benda ber-gerak' disudut ruang itu.

Maka setelah diperhatikannja, tampak djelas olehnja, bahwa benda jang ber-gerak' itu kiranja seorang manusia.

Nampak akan hal itu maka timbullah suatu harapan dalam otak A Hong, segera dihampirinja dan dilihatnja, ternjata orang itu tidak lain daripada si gemuk, pemimpin Tjeng Liong Pay golongan utara itu, kedua matanja sudah hilang sinar semangatnia, nampaknja sudah hampir mati !

Nampak kedatangan A Hong itu.

dia berkata dengan napas sengal2 .

,.No………..na, aku ………..

ber…….

Pesan ………………..

suatu hal ………………..

kepada ......mu……………………."

Buru' A Hong bertanja "lopek (paman), kemana perginja Siang Ban ? Apakah kau mengetahuinja ?"

Si gemuk itu se-akan"

Tidak dapat rnendengar pertanjaannja orang, ia melandjutkan kata'nja ..Aku berpesan 'kepada mu suatu hal.

Pada mendjelang wafatnja pemimpin partai Tjeng Liong Pay pernah dia memberikan sebuah lukisan kepadaku tetapi aku tidak tahu apa gunanja lukisan itu maka kuherikan kepada seorang teman, dan teman itupun lain mempersembahkannja kedalam istana, kini, aku sudah dapat mengetahui, bahwa bukan sadja lukisan itu menundjukkan tempat penjimpan mustika aneh lagipula sangat erat hubungannja dengan nasib partai Tjeng Piong Pay kini lukisan itu telah diberikan pula oleh seorang putera kaisar kepada orang lain menurut sepandjang berita lukisan itu terdjatuh ditangan seorang djahat didaerah suku Biauw dipropnsi Kwietju jaitu ditangan Tok Pek Yauw Hun San Kam (Sam Kam si Roh siluman berlengan tunggal) nona kau harus mengambilnja lukisan itu".

Sampai disini napas si gemuk itu empas-empis ter-putus , A Hong jang ingin mengetahui adanja Siang Ban sekarang, dengan memaksakan diri bertahan sabar mendengarkan tjeritera si gemuk sampai disitu.

Ia segera bertanja pula "Lopek, dimana Siang Ban ?

Dimana sekarang dia berada' Si gemuk itu dengan susah-pajah membuka pula matanja, dengan menghela napas ia berkata .

.,Ah, djika siang"

Kutahu, maka untuk apa golongan selatan bertengkar dengan golongan utara.

Partai Tjeng Liong Pay mengapa mesti terpetjah-belah mendjadi dua golongan selatan dan golongan utara?

Kini sia' sadja hanya menguntungkan orang djahat !"

Suara jang diutjapkan itu makin lama makin memilukan hati jang mendengarnja dan ketika ia mengalakan sampai kepada kata' "orang djahat"

Itu maka kepalanja terkulai dan selandjutnja tidak berdenjut dan telah menemui adjalnja.

A Hong tidak dapat mentjari dimana Siang Ban berada, ia akan tak dapat menolong djiwa Thia It Kwie, maka hal rahasia partai Tjeng Liong Pay jang ia dapat dengar dari si gemuk itu, sama sekali tidak menarik hatinja.

Setelah ter-bengong untuk sekian lamanja, A Hong meninggalkan tempat itu dengan hati sedih serta gelap pikirannja.

Tetapi baru sadja ia keluar dari pintu kelenteng, hatinja belum djuga merasa puas, maka kembali ia masuk pula kedalam, ia mentjari-nja dengan teliti diruang samping depan dan belakang dengan pengharapan dapat menemukan seseorang jang dapat memberi-tahukan dimana adanja Siang Ban.

Ia memasuki ruang samping, halaman belakang, disamping kiri halaman belakang itu terdapat istal kuda, dan disamping kanan ia dapatkan sebuah kamar penjimpan kaju bakar.

-A Hong masuk kedalam kamar itu, nampak disitu tertumpuk penuh dengan ranting kaju kering, baru sadja ia hendak keluar atau ia teringat pada kata’ Siang Ban semalam, bahwa Thia It Kwie tertahan didalam kamar kaju bakar.

Maka ia pikir, kamar kaju bakar jang dikatakan Siang Ban itu mestinja ditudjukan ke-pada kamar kaju bakar ini, karena mengingat akan hat ini, maka hatinja merasa pilu dan sedih.

Disitu ia berhenti sebentar, atau se-konjong-ia dengar suara orang ber-kata'.

A Hong meragukan pendengarannja sendiri, ia mengira, bahwa telinganja salah mendengar, tetapi rasanja suara kata-itu sangat djelas, ia dapat menangkap kata' jang diutjapkan dengan suaranja seorang jang gelisah dan ketakutan, katanja "Aku benar' tidak mengetahuinja.

ketika ajahku hampir meninggal dunia, aku bersama ibuku djauh berdiam didaerah propinsi Kwangtung.

Dia meninggal dunia didaerah utara, bagaimana aku dapat mengetahuinja?"

A Hong dapat menangkap pula suaranja orang jang menjeramkan .

,.Djika kau tidak mau mengatakannja.

kutotok djalan darahmu Tjit In Hiat, sehingga kau akan herada didalam keadaan mati tidak hiduppun tidak.

Urat darahmu Ki Keng Pat Mek kesemuanja melemah, sekalipun sehelai kertas mengebut pada tubuhmu, kau akan merasa sakit seperti di-iris' dengan pisau, dan sesudah mengalami pahit-getir untuk beberapa tahun lamanja barulah kau akan mati !"

"Tjian-pwee, aku dengan kau tiada gandjalan dan tiada per-musuhan apapun djuga, hendaknja djangan menurunkan tangan sekedjam ini !"

Terdengar djawahnja orang jang duluan. Kini A Hong dapat mengenali suara itu dengan djelas, tak akan salah lagi orang jang mengeluarkan kata"

Me-mohon' itu adalah Siang Ban, dan jang lain adalah Tok Niotju Nie Kiauw, tetapi didalam tumpukan kaju kering itu mengapa dapat ter-sembunjikan manusia?

Maka dengan djalan indap' ia memutari tempat sekitar kamar kaju bakar itu, tetapi suara pembitjaraan didalam kamar kaju bakar ini tempat berlangsung.

A Hong djadi sangat herannja.

ketika itu ia dapat mendengar pula kata "Orang she Siang, mustika aneh itu telah diketahui dan diketemukan oleh Kian Kun Pat Kiam Hok Eng Pek suami-isteri, dengan ilmu kepandaian mereka jang sedemikian tingginja masih djuga mereka tidak luput terbinasa dibawah tanganku, apakah kau masih ingin membohongi aku, bukankah ini berarti bahwa kau sudah bosun hidup ?"

Mendengar disebutkannja nama Kian Kun Pat Kiam Hok Eng Pek suami-isteri, maka A Hong teringat kepada scmua hal jang terlukis didalam lukisan panorama itu, karenanja hatinja merasa sangat sedih.

dan karena kurang hati'nja, maka kakinja meng-indjak sebuah ranting kering jang menerbitkan suara.

Karena terdengarnja suara itu maka pertjakapan didalam tumpukan kaju bakar kering itu lalu berhenti dengan tiba'.

Setelah mana terdengarlah seruan aneh dari Tok Niotju Nie Kiauw, .

.,Siapa diluar ?"

Lalu disusul dengan menggesernja tumpukan kaju bakar se tinggi itu, dan terdengar suara ranting' kaju bakar terpidjak tak henti'nja,.

menjusul itu orang lalu nampak sebuah kendaraan beroda tunggal jang ditumpangi oleh seorang wanita berambut pandjang keluar dari dalam tumpukan kaju bakar itu.

Nampak djedjaknja telah cdiketahui orang.

A Hong merasa tidak herguna ia sembunji"

Lagi, maka dengan membesarkan hati-nja ia mendamprat.

Tok Niotju Nie Kiauw menggojangkan kepalanja, sehingga rambut pandjang itu membelah kekedua sisi kanan dan kiri, ketika menampak A Hong, mendadak ia melengak, lalu berkata "A Hong kemana perginja anakku "

A Hong tengah bersiaga dengan segenap perhatiannja untuk ber-djaga' bilamana dia menjerang dengan se-konjong-tetapi ketika berhadapan dia telah menanjakan anaknja, maka pikir A Hong bahwa wanita ini mestinja sudah mendjadi gila.

Tetapi ia nampak pula bahwa wanita itu tidak menundjukkan sikap menjerang, hati-nja merasa lega, dengan atjuh tak atjuh ia mendjawab "Entah-lah.

aku tidak tahu!"

Pada pokoknja memang A Hong tidak tahu apa jang dikata-kan oleh Tok Niotju Nie Kiauw itu, ia hanja ingin memperpandjang waktu sadja, dan dengan demkiian ia dapat mentjari kesempatan dan berdaja bagaimana sebaiknja.

Maka setelah mana Sambil berkata A Hong maju beberapa langkah, ia melihat ke tempat dimana Tok Niotju Nie Kiaw tadi keluar.

Kiranya tumpukan kayu bakar setinggi itu hanya merupakah suatu barang penutup sadja untuk mengelabuhi mata orang.

Kayu2 itu sebenarnja ditempelkan pada bagian Iatar dinding kamar, demikianpun pada kamarnja pula dihias sedemikian sehingga ketika ditutup orang hanja mendapatkan tumpukan kaju bakar sadja.

jika bukan orang jang mengetahui akan seluk-heluknja, maka apapun tak akan dapat menjangkanja hahwa didalam tumpukan kayu bakar sebenarnja adalah sebuah kamar.

A Hong nampak Siang Ban tengah duduk disebuah kursi degan wadjah putjat karena ketakutan, dia tidak terkekang, tetapi telah mendjadi lemas tidak berdaja karena sangat takutnja.

Menampak akan keadaan itu, A Hong segera memberikan isjarat.

Walaupun Siang Ban mengerti akan isjarat itu.

tetapi karena ketjil njalinja, sedikitpun ia tidak berani berkutik.

Tambah pula semalam suntuk ia dikompes oleh Tok Niotju Nie Kiauw ditanjainja apakah ajahnja sebelum meninggal dunia, tidak me-jerahkan kepadanja segulung lukisan jang menundjukkan tempat penjimpan mustika aneh.

Ditanja juga apakah benar gambar itu menurut berita telah dimasukkan Orang kedalam istana?

Siang Ban hanja mengetahui bahwa ajahnia bernama Siang Beng tetapi ia tidak mengetahui bahwa ajahnja itu mendjadi pemimpin partai Tieng Liong Pay, baru semalam ia mengetahui akan hal itu.

Sudah tentu ia tak mengetahui hal mengenai rahasia mustika dan sebagainja itu.

Dengan terus-menerus ia digertak dan ditakut-takuti oleh Tok Niotju Nie Kiauw, ia menjadi lemas karena takutnja.

A Hong nampak Siang Ban sedemikian takutnja sehingga tidak berani memikirkan akan berdaja meloloskan diri, maka ia mengedrukkan kakinja terns-menerus.

Ketika itu Tok Niotju Nie Kiauw telah melesat dan merintangi dihadapannja A Hong dan berkata ..A Hong, orang ini kutahan karena kuhendak menanjakan sesuatu daripadanja, djanganlah kau menginginkan mengadjak dia pergi!"

A Hong tergerak didalam hatinja, lalu berkata .

"Tok Niotju. bukankah kau hendak mengompesnja supaja dari dirinja kau dapat memperoleh rahasia tentanya hal mustika aneh jang diperoleh Kian Kun Pat Kiam Hok Eng Pek Tap-hiap suami-isteri? Dan kau hendak menanjakan dimana adanja lukisan jang menun-djukkan tempat penjimpan mustika itu, jang telah diserahkan oleh Tay-hiap suami-isteri kepada Siang Djiu Beng itu, aku ini, aku tahu semuanja, kau tanja sadja kepadaku!"

Karena ingin lekas.

menolong djiwa Thia It Kwie, maka dengan tidak sajang' lagi A Hong hendak mentjeriterakan rahasia jang didengarnja dari si gemuk tadi kepada Tok Niotju, untuk menukarnja dengan keselamatannja Siang Ban.

Mendengar kata A Hong itu, Tok Niotju setengah pertjaja dan setengah tidak,.

Ia berkata .,Tjoba kau katakan !"

"Menurut kata orang, lukisan itu sudah terdjatuh ditangan pendjahat didaerah suku Biauw, jaitu Tok Pek Im Hun San Kam!"

Kata A Hong. Demi mendengar penuturan A Hong itu, Tok Niotju Nie Kiauw tertawa gelak., lalu berkata .,A Hong, kau hendak menipuku pergi djauh kedaerah suku Biauw ?"

"Dengan sebenarnja aku dengar berita itu dari pemimpin partai Tjeng Liong Pay golongan utara.' djawab A Hong. .,Ah ! Kiranja si gemuk itu belum mati ? Aku tertipu olehnja I"

Demikian terdengar gerutu sesalnja Tok Niotju.

"Nah, pertjajakah kau sudah akan kata'ku sekarang ?"

Kata A Hong. Tok Nioiju Nie Kiauw berulang’ tertawa. ,.Orang jang didjulukkan "Tok Pek Im Hun Sam Kam"

Itu adalah sahabat lamaku, sekalipun daerah suku Biauw itu sangat djauh, djika kau berani mendusta, dikolong langit seluas ini, masih tidak ada tempat untuk kau dapat bersernbunji !"

Kata Tok Nio-tju Nie Kiauw mengantjam.

Iapun lantas memutar roda kendaraannja dan mendesir pergi keluar dan jang tertinggal hanja dengungan desiran roda jang menggema di udara sadja.

Nampak Tok Niotju Nie Kiauw telah dapat pergi oleh A Hong dengan dua tiga patah sadja, maka sambil menjeka air peluhnja dikepala karena ketakutannja itu,.

Siang Ban berdiri dan menghormat kepada A Hong sambil berkata "Aku berterima kasih alas budimu jang sudah suka menolong djiwaku.

Ah, selama setengah malaman tadi sungguh si wanita siluman itu telah membuatku mati ketakutan !"

A Hong tidak sempat menertawai akan kelutjuan sikap jang ketakutan bukan pada tempatnja itu, ia segera bertanja "Apakah kau membawa Tjeng Liong Wan "

"Ja, benar, apakah nona hendak makan pit itu ?"

"Bukan aku tetapi kakak It Kwie jang semalam terluka parah itu, harap kau suka memberikannja sebutir."

Mendengar penuturan A Hong its, Siang Ban sekonjong’ berubah air mukanja dan berkata "Siapa sadja jang memerlukan pil itu, asalkan nona jang minta, aku akan segera memberikannja, tetapi apabila diberikan kepada Thia It Kwie, aku tidak akan memberikannja!"

Hampir sadja A Hong meragukan akan pendengaran telinganja sendiri, ia bertanja .

"Apa alasannja ?"

Siang Ban tertawa getir dan berkata "Ketika tadi bertemu dengan Tok Niotju apakah jang dia tanjakan, apa kau masih ingat ?"

A Hong sudah melupakannja hal itu, maka ia balik bertanja .

"Apa jang dikatakannja ?"

"Bukankah tadi dia menanjakan dimana adanja anaknja itu ?"

"Itulah pertanjaannja jang gila, mengapa kau menganggapnja sungguh’ ?"

Kata A Hong. Wadjah Siang Ban berubah suram, lalu berkata .

"Nona Hong, dia sedikitpun tidak gila, hanja kepergianmu bersama Thia It Kwie semalam agak terlampau tjepat sedikit, tidak sempat mengetahui keadaan sesungguhnja !"

A Hong jang selalu kuatirkan keselamatannja Thia It Kwie segera menjimpangkan pembitjaraan katanja .

"Lekaslah kau berikan Tjeng Liong Wan kepadaku, karena djika terlambat, dia tak akan dapat disembuhkan pula."

He ! Ha !"

Tertawa Siang Ban.

"itu malah tjotjok dengan maksud hatiku. Aku djustru menghendaki dia mati, baru habis perkaranja!"

Mendengar kata' Siang Ban jang demikian itu, maka hati A Hong djadi sangat tergontjang, sekalipun sifat tabiatnja sangat baik, dalam suasana jang demikian itu, pasti tak akan dapat bertahan sabar lagi.

Maka dilintangkannja tjabang pohon ditangannja itu sambil mendampratnja "Siang Ban!

Djangan dibitjarakan pula, bahwa hari ini aku telah menjelamatkanmu dari bahaja dan melepas budi atas dirimu.

Tapi disamping itu kau harus ingat bahwa lukanja Thia It Kwie itu disebabkannja semalam dia bitjara atas dasar keadilan untuk partai Tjeng Liong Pay-mu.

Mengapa kau demikian tidak berbudi ?"

Nampak A Hong melintangkan batang pohon. Siang Ban pun segera menghunus golok tunggalnja dan berkata .

"Apa nona -Hong hendak turun tangan?"

Didalam hati A Hong sangat gelisah serta marahnja, dengan tjabang pohon jang dipergunakannja sebagai pentungan Tjee Kun, ia menggetarkannja tiga kali beruntun sebagai tipu pukulan jang disebut "Hong Hong Sam Tiam Thauw" (Borung hong hong tiga kali anggukkan kepala).

Pentungan itu menghantam bagian atas, tengah dan bawah tubuh Siang Ban.

Dengan membalikkan tangannja Siang Ban membatjok, maka tjabang pohon itu telah terpapas satu kali.

Sebenarnja A Hong sama sekali tidak bermaksud bermusuhan dengan Siang Ban.

Pukulannja dengan Hong Hong Sam Tiam Thauw tadi sebenarnja masih mempunjai tiga perubahan jang hebat jakni Tan Hong Tiauw Yang " (Burung Tan Hong memodja matahari).

"Hong Hui Sam Tjak" (Burung Hong terbang tiga kali lingkaran) dan "Loan Hong Hoo Bang" (Burung Hong djantan dan betina berkitjau bersama). Tetapi ketiga tipu pukulan ini semua tidak dipergunakan oleh A Hong. Mengenai dirinja Siang Ban, ia memang bernjali ketjil penakut, bukan orang sebangsa pendekar besar, tetapi ia pun tidak dapat dikatakan sebangsa orang rendah jang pengetjut. Kini nampak A Hong turun tangan, iapun segera mentjabut golok melawannja. Sebenarnja ia mempunjai suatu maksud jang A Hong sekalipun mimpi tak mungkin dapat menjangkanja. A Hong hanja mengira, bahwa Siang Ban tidak mempunjai rasa persahahatan dan peri keadilan, tidak rela memberikan pil Tjeng Liong Wan, sebaliknja menginginkan kawannja binasa, maka sangatlah marah dan gelisahnja, sekali ia memutar tubuh, maka tjabang pohon sebesar lengan tangan itu dibarengi dengan mengerahkan tenaga jang dahsjat, be-runtun Menghantam Siang Ban dengan tak menaruh rasa kasihan. Ilmu silat jang dimiliki A Hong adalah hasil pengadjaran dan latihan Tay Lek Kim Kong Oey Ling sendiri. Ilmu tenaga dalam jang ia jakinkan itu termasuk golongan tjabang ilmu ke Buddha-an jang disebut "Kim Kong Sian". A Hong mengikutinja berlatih ilmu silat semendjak masih ketjil, sekalipun ia seorang wanita jang biasanja disebut golongan lemah, tetapi tenaga dalamnja sebenarnja tidaklah ketjil. Maka sekali A Hong mengeluarkan kepandaian ilmu silatnja. segera Siang Ban merasakan dirinja terkurung oleh bajangan tjabang pohon sebesar lengan dan berwarna tua itu. Maka dengan buru’ Siang Ban mengeluarkan ilmu permainan goloknja untuk melajaninja. Tengah mereka bertempur seru tak dapat dipisah orang itu, se-konjong terdengar ada orang berseru dari belakang "Hal, Tjitji ! Mengapa kau bertempur dengan dia ?"

A Hong dapat mengenali, bahwa suara itu adalah suara seruannja Tju Sam Hwa, adiknja.

A Hong berpikir, bahwa ia telah menjuruhnja Tju Sam Hwa menunggui Thia It Kwie, mengapa dia datang kemari ?

Mungkinkah Thia It Kwie sudah menemui adjainja ?

Karena memikir demikian, hatinja tergontjang, dan gerakan tangannjapun djadi kendor.

Djustru ketika itu Siang Ban membatjok setjara miring.

hampir sadja bahunja kena terbatjok.

Untung Tju Sam Hwa keburu datang menangkis dengan Djoan Pian-nja, sehingga golok jang sedang menurun itu tertangkis dan tertahan.

dan A Hong dapat kesempatan untuk berkelit, dan segera bertanja "Bagaimana keadaannja It Kwie ?"

A Hong menanti djawaban Tju Sam Hwa dengan hati gelisah, ia tidak harapkan djawaban jang ia kuatirkan itu.

Oleh karena itu, ia tidak dapat meneruskan kata2nja lagi, ia merasakan serba salah, membuatnja tangan serta kakinja tidak dapat diam.

Tju Sam Hwa menatap kepada Siang Ban dan berkata ..Hei, orang she Siang, sebenarnja aku sudah tidak akan memperdulikanmu lagi, tetapi tak dapat tidak aku harus menanjakan padamu, mengapa kau bertempur dengan Tiitjiku ?"

Mendengar disebutnja Tjitji, maka Siang Ban djadi melengak.

"Apa ? Nona Hong itu Tjitjimu ? Bilamana kalian saling angkat saudara ?"

Tanjanja. ,.Kami berdua adalah saudara kandung, pagi ini baru kami ketahui akan hal itu."

Siang Ban melengak sebentar, lalu berkata "Oh ! Kiranja begitu ? Aku ada kata' jang hendak kukatakan kepadamu, kau kemarilah !"

"Djika ada kata’, maka katakanlah disinipun aku dapat mendengarnja!"

Djawabnja Tju Sam Hwa. Mendengar kata' Tju Sam Hwa itu, Siang Ban diam’ gelisah, ia berkata pula .

"Sam Hwa, aku tidak hendak bersenda-gurau denganmu, lekaslah kau dekatkan telingamu kepada mulutku!"

Dengan terpaksa dan ogah'an Tju Sam Hwa menempelkan telinganja didekat mulutnja Siang Ban, A Hong pun tidak mengetahui kata' spa jang dikatakan oleh Siang Ban kepada Tju Sam Hwa, hanja nampak setelah adiknja mendengarkan beberapa patah kata, hampir saja dia berjingkarak dan berkata "Apakah Sungguh kata-kata mu ini ?"

Lagi sekali Siang Ban menatap A Hong lalu berkata .

"Mengapa aku mesti berdusta ?"

Didalam hati A Hong bertjuriga, ia mengira bahwa jang di katakan oleh Siang Ban itu adalah mengenai dirinja, maka ia lalu berkata .

"Sam Hwa, tak perduli apa yang dia katakan, tetapi menolong sesama orang mendapat kesukaran adalah hal jang, seharusnja diperbuat oleh kita kaum Kang-ouw. mengapa kau kena dikibuli olehnja"

Mendengar kata2 itu.

maka wadiahnja Tju Sam Hwa berubah mendjadi sedih bertjampur marah, dengan suara jang ditekankan ia berkata .

..Tjitii, orang itu tidak ditolong juga tidak mengapa!

" ..Bukankah Thin It Kwie itu Suhengmu "

Berkata A Hong.

"Benar, tetapi tahukah Tjitji siapa dia itu ?"

Kata Tju Sam Hwa itu mengandung sebab. maka A Hong lalu mengangkat kepalanja dan berkata terhadap Siang Ban .

"Kau katakanlah hal jang sebenarnja kepadaku, siapa sebenarnja dia itu?"

Sekalipun in berkata demikian, tetapi didalam hatinja diam’ ia berkata pada diri sendiri, bahwa tidak perduli siapa dia itu, tjintaku terhadapnja tetap tidak akan berubah.

Tengah Sang Ban hendak membuka mulutnja, atau Tju Sam Hwa sudah mentjegahnia, ia madju beherapa langknh kearah A Hong dan berkata .

"Tjitji, terhadap Suheng …. Fui ! Dia bukan Suhengku hatimu terhadapnja, aku tahu, tetapi , tidak dapat kau mentjintainja !"

"…….Mengapa ?"

Tanja A Hong dengan tidak mengerti. -Dia adalah anaknja Tok Niotju Nie Kiaw"

Mendengar pengutaraan itu A Hong sangatlah terkedjut, lain berkata . ..Bohong !"

Siang Ban madju selangkah sembari berkata ."Nona Hong untuk apa kami mendustaimumu '?

Semaiam setelah kau pergi, bagaikan orang gila sadja Tok Niotju hendak mengedjar kalian, katanja pada lengan tangan Thin It Kwie terdapat tudjuh buah butiran merah, serupa dengan bintang utara atau bintang tudjuh.

Dia djustru anaknja tunggal jang diperolehnja sesudah mendjadi suami isteri dengan Tay Kim Kong Oey Ling, Setelah anak itu terlahir lalu dititipkan kepada orang lain untuk dipelihara agar mendjadi besar!"

Berita ini bagi A Hong se-akan' bunjinja halilintar disiang hari terang tjuatja.

Djika beberapa hari sebelumnja, bergontjang hati setelah mendengar berita itu, tetapi tak seperti sekarang ini hebatnia.

Karena pagi hari ini in sudah tahu bahwa Tay Lek Kim Kong, terlebih lagi Tok Niotju Nie Kiauw djustru musuh besarnja jang membunuh ajah serta ibunja!

Dengan perkataan lain, berarti, bahwa Thia It Kwie itu adalah anak laki' daripada musuh besarnja jang tidak dapat hidup bersama didalam dunia ini, tetapi djustru orang inilah jang ia tjintai sepenuh hatinja !

Ia merasa gelap penglihatan matanja dan pening kepalanja, hampir' ia tidak dapat berdiri tetap.

Ia nampak sorot mata Siang Ban dan Tju Sam Hwa terpusat serta tertudju kepadanja.

Terlebih' lagi sinar mata Tju Sam Hwa jang seakan' mengandung suatu tjatjian dan kutukan hebat, jang mentjatjinja ,.Apakah kau lupa akan sakit hati ajah bundamu jang seperti samudera dalamnja ?

Kau tidak boleh mentjintai anak musuh besarmu !

Malah kau masih berdaja sedapat"

Untuk memperoleh pil Tjeng Liong Wan guna menolong anak musuh besarmu ? Dapatkah kau ber-laku demikian ?"

Katjaulah rasa hatinja, berdengung"

Telinganja, tidak dapat lagi ia tinggal lama' didalam kamar kaju bakar itu, ia memutar tubuhnja segera lari keluar pintu kelenteng.

Ia lompat keatas punggung-kuda tunggangannja, ditjambuknja kuda itu ber-ulang' dengan hebatnja.

Ia membiarkan kuda itu lari ke arah selatan, Ia pun tidak menghiraukan kemana dirinja hendak pergi.

Iapun tidak menghiraukan bahwa dalam saat jang tidak lama sadja kudanja sudah mandi keringat.

Entah sudah berapa lamanja kuda itu berlari, sehingga kakinja lemas dan gemetaran.

Mata hari sudah turun disebelah barat, hari sendja jang merah warnanja menghias setengah langit.

Wadjah A Hong jang elok rupawan itu memerah se-akan' warna darah merah tua.

Hatinia menghampa!

Otaknja kosong tiada pikiran apa’, hanja men-tjambuk' kudanja supaja lari, terus lari!

Achirnja kuda itu tak tahan lagi akan lelahnja, kaki depannja bertekuk, lalu meringkik pandjang.

dan rebahlah ditanah !

Kuda itu rubuh setjara mendadak, A Hong tak keburu melompat turun, ia terlempar djatuh dari atas punggung kudanja.

Ia bangkit berdiri lalu memutar tubuh hendak dipetjutnja pula kudanja, tapi nampak olehnja bahwa tubuh kudanja itu telah penuh dengan bekas2 tjambukannja, kedua matanja pun menge-luarkan air mata !

melihat keadaan kudanja itu, A Hong tak tega hati untuk menurunkan tjambuknja, bertepatan pula dengan itu kudanjapun meringkik pula dengan sedihnja.

Karena bunji ringkikan kuda jang sangat menusuk hati itu, maka terbangkitlah semua rasa pahit getir jang terkandung didalam hati A Hong, air matanja bagaikan air tumpah sadja mengalir dengan tak putus'nja.

Sambil berpeluk diatas punggung kuda, ia menangis meng-gerung, sekian lamanja ia menangis sepuas hatinja sehingga sang surja sudah terbenam sama sekali, tabir hitam menjelubungi bumi, barulah ia mengangkat kepalanja, dengan maka menghadap langit jang remang’ itu ia berkata seorang diri .

"Oh Allah; mengapa begini buruk nasihku ?"

Setelah kuda itu berebah ditanah sekian lamanja, tjukuplah baginja dapat beristirahat, ketika A Hong bangkit berdiri, kuda itupun bangkit berdiri djuga, dan mentjari rumput jang tumbuh disekitar tempat itu untuk dimakannja.

Lalu sambil meringkik kuda itu meng-gojang'kan ekornja, se-akan' ia hendak menjatakan bahwa diapun sampai mengerti terhadap kesedihan jang diderita oleh madjikannja Demikianlah A Hong menunggangi pula kudanja menudju keselatan dengan tidak mengetahui kemana hendak perginja, dimana tempat tudjuannja.

Demikianlah hari ganti hari minggu berganti minggu, dengan tak dirasanja ia telah menempuh perdjalanan lebih dua bulan lamanja, ia tetap mengarah keselatan, naik gunung turun gunung dan menjeberangi sungai, tidak tahu ia harus pergi kemana.

Lebih dua bulan ia menempuh perdjalanannja jang tak tentu arahnja itu, ia menderita lahir maupun bathin, ibarat bunga jang segar kini ia melaju, tubuhnja mengurus, kedua matanja jang besar nampak mendelong dalam, tetapi nampaknja lebih djernih sinar matanja.

la tidak mempunjai kawan untuk ber-tjakap2.

kawan satu'nja hanja si kuda tunggangannja.

Sepandjang djalan ia mengalah akan nasibnja dengan tidak ada orang jang menghiburnja.

Pada suatu hari dengan tidak terasa ia telah melewati daerah perbatasan propinsi Kang-say dan masuk ketepi batas daerah propinsi Kwi Tjiu.

Daerah itu adalah daerah pegunungan, disana sini penuh dengan puntjak' gunung, hutan serta rimba raja.

la telah masuk djauh kedalam rimba.

Daun runtuh jang membusuk entah sudah berapa ratus tahun mendjadi empuk laksana kapuk sehingga diindjak oleh kaki kuda sedikitpun tiada menerbitkan suara apapun djua.

Suasana jang aneh adjaib jang terdapat di tempat itu, sungguh tidak dapat terlukiskan dengan kata2.

Semula oleh karena menghampanja lubuk hati A Hong itu, ia tetap djalan madju kedepan dengan tiada perhatian apapun.

Tetapi setelah ia memasuki daerah rimba raja belukar ini belasan lie djauhnja, pandangan matanja makin lama makin sunji dan lengang, maka didalam hatinjapun mulai timbul rasa kuatir atau takutnja, karena sedari ketjil ia senantiasa hidup didalam suasana riang dan ramai didaerah pertanian dipedesaan daerah propinsi Kwangtung, jang indah gunungnja, jang djernih airnja, tetapi kini ia selalu melihat atau menghadapi pohon2 aneh jang setinggi langit, hidungnja senantiasa mengendus bebauan busuk basah jang semakin lama semakin menghebat.

Halimun tebal mengapung diantara tjela' pohon, ada pula kabut tebal jang se-akan’ membeku mendjadi Benda padat, mengeluarkan sinar bagus serta adjaibnja.

Ingin sekali A Hong balik dan keluar, tetapi beberapa kali ia putar balik ia hanja merasa di-mana serupa sadja keadaannja, tidak dapat ia menemui djalan jang dilaluinja tadi.

Ia djalan untuk sekian lamanja, achirnja in malah kehilangan arah, ia tersesat djalan, ia djadi tidak berdaja, terpaksa ia pasrah kepada nasib, dan djalan kedepan sekenanja sadja.

Makin djalan makin mendalam, achirnja ketika hari sudah mulai gelap dengan se-konjong’ sadja ia nampak sinar lampu menguning seperti warna kuning djeruk se-bentar2 menimbul menghilang dihadapannja.

Rasa hatinja A Hong laksana menemui bintang penolong, ia mentjambuk kudanja agar djalan tebih tjepat, sampai pada tempat jang djaraknja masih beberapa ratus kaki djauhnja dari sinar lampu itu ia menghadapi suatu tebing gunung jang bangunannja seperti sekolah sadja, jang tingginja kira’ ratusan kaki panjangnja.

Dari atas tebing itu, terdapat air terdjun dimana terdapat seutas rotan liar jang terkulai menurun.

Pikirnja A Hong baik buruk bagaimanapun sudah telandjur tiba disini, dengan menentang sekali bahaja memandjat naik apa pula jang harus ditakuti ?

Oleh karena pikirannja jang demikian itu, lalu ditinggalkannja kuda tunggangannja, ia melompat naik dan mendjambret rotan liar itu.

ia lompat turun lebih dahulu, untuk mentjoba kuat atau tidaknja rotan jang dipegangnja itu, achirnja dapat diketahuinja, bahwa rotan liar itu menyusur dinding tebing, tidak antara lama ia telah dapat memandjat sampai diatas lamping gunung itu.

la mendongak untuk melihat kedepan, ia djadi melengak.

Djika bukan disaksikannja dengan mata kepala sendiri sungguh ia tak akan pertjaja bahwa ditempat sesepi sunji seperti ini, ia dapat menjaksikan sebuah tempat segandjil seperti jang ia alami ini.

Kiranja diatas lumping gunung ini adalah sebuah tanah datar, batu'nja putih bagaikan kemala, rata melitjin tiada taranja.

Pada tanah datar itu terdapat sebuah rumah bertingkat jang indah.

Kisi' pada emper tirisan berukiran indah, sekalipun dikota-radja, djarang terdapat rumah bertingkat seindah ini.

Sinar lampu jang terlihat A Hong tadi djustru dari dalam rumah bertingkat ini.

Pada mulanja A Hong hanja mengira, bahwa sinar lampu itu mestinja datang dari sebuah rumah keluarga pemburu sadja, tidak disangkanja bahwa ditempat sesepi ini dapat diketemukan rumah bertingkat sebagus ini.

A Hong berpendapat bahwa penghuni rumah ini mungkin orang jang luar biasa dan mempunjai sebab' jang terahasia.

Ia lompat keatas tingkatan batu, baru sadja ia berdiri tetap, se-konjong' nampak pintu terbuka dan dari dalam tampak seorang jang menggendong tangan djalan keluar degan perlahan'.

Dengan buru' A Hong menjelinap sembunji dibelakang kisi', ia nampak orang itu djalan terus turun kebawah tingkatan, dan berdiri diatas tanah datar, serta, mengamati dan memandang rembulan muda berbentuk sabit di langit.

Makin dilihat bajangan orang itu, rasanja A Hong makin kenal, karena orang itu njata' dan djelas, bahwa tidak lain daripada Thia It Kwie !

Tetapi tidak berani A Hong mempertjajai akan ia punja pandangan matanja itu, karena Thia It Kwie telah terluka dari pada bulan jang lain.

Selama dua bulan achir ini, dengan pendek dapat dikatakan, bahwa ia tidak berani berfikir mengenai diri Thia It Kwie.

Karena ia tahu, djika Thia It Kwie binasa, dapat dikatakan ia juga jang membunuhnja dengan tjara tidak langsung.

Ia membentji diri sendiri, ia tidak berani mengingat akan hal ini lagi, tetapi malam ini sebaliknja seperti dengan disengadja ia telah menjaksikan bajangan belakang orang ini.

Siapakah orang ini kalau bukan Thia It Kwie ?

Hampir sadja A Hong hendak lari menghampirinja, tidak perduli orang ini manusia atau setan.

Ia ingin menghampirinja, perlunja untuk menyatakan isi hatinya dan mengutarakan pengalamannya yang pahit getir selama dua bulan lebih ini.

Tetapi baru sadja ia melangkah selangkah dengan tindakan kaki jang perlahan itu, maka suatu pikiran lain menjerangnja setjepat -kilat .

"Dia adalah anak laki-nja Tok Niotju Nie Kiauw, musuh besarnja hutang darah ajah-bundanja sedalam lautan sebanjak air hudjan."

Pikiran ini se-akan2 sendjata tadjam jang menusuk hatinja!

Dengan mendadak sadja ia menghentikan langkah kakinja jang hendak mulai menapak ketanah itu.

Djustru pada ketika itu djuga, orang itu telah merasa mendengar suara lembut jang datang dari belakangnja, segera ia berpaling.

Pada saat jang sedemikian itu, segala pikiran apapun tak dapat lagi mendesak atau menekan akan rindu asmaranja A Hong terhadap Thia It Kwie.

Ia lompat kedepan, ia tarik tangan Thia It Kwie, air matanja lantas mengutjur turun.

Ia memanggil .

"Ka-kak It Kwie ! Kakak It Kwie !"

Thia It Kwie terkedjut lalu berkata .

"A Hong, djangan bersuara ! Mengapa kau bisa ada disini ?"

Lalu ditariknja A Hong diadjak kebelakang rumah bertingkat itu. A Hong sesenggukan, ia tidak dapat ber-kata`, setelah berselang beberapa saat lamanja barulah ia dapat berkata .

"Kakak It Kwie, tidak matikah kau ?"

Banjak kata' jang hendak diutarakan oleh A Hong, tetapi hanja sepatah kata tanja itu sadjalah jang dapat keluar dari mulutnja.

"A Hong, aku berterima kasih kepadamu, bahwa kau telah menolongku keluar dari rumah kelenteng bobrok itu. Tetapi mimpipun aku tidak akan memikirnja, bahwa Tok Niotju Nie Kiauw adalah ibu kandungku ! Ketika Sam Hwa menarik aku direbahkan diatas rumput ditepi sungai, aku sudah per-lahan' tersadar, tetapi aku tidak ada tenaga untuk memanggilnja. Tidak lama kemudian dengan mendadak Tok Niotju datang, aku pikir kali ini matilah aku. Aku hanja mengharap djangan sampai dia melihat aku. Tetapi tak kusangka djustru dia lari langsung kepadaku. Ia mengulurkan tangan kanannja mentjekal aku, lalu dinaikkannja keatas kendaraan beroda tunggalnja. Sepandjang djalan dia terus menerus mengobati aku dengan mengerahkan tenaga dalamnja, sampai pada lukaku sudah agak mendingan, dia kata bahwa aku adalah anak kandungnja sendiri !"

A Hong menengadah lalu berkata .

"Kakak. It Kwie, kali pertjajakah akan hal itu ?"

Thie It Kwie anggukkan kepalanja dan berkata .

"Ja, setelah dia menitipkan aku kepada seorang tani keluarga she Thia, selandjutnja tidak pernah dia datang menengok aku. Se-sudah berusia lima belas tahun, baru aku belajar ilmu silat, aku benar-tidak mengetahui asal-usulku sendiri."

Menutur sampai disini, Thia It Kwie berhenti sebentar dan menghela napas, kemudian barulah ia melandjutkan .

"A Hong, beberapa tahun jang telah lampau, kupernah mentjeriterakan padamu mengenai sedikit hal ichwalnja Tay Iek Kim Kong dan Tok Niotju, aku pernah kata, bahwa mereka mempunjai seorang anak. Tidak kusangka bahwa anak mereka itu adalah aku sendiri ! Tuhan sungguh mempermainkan kita manusia !"

Didamping Thia It Kwie, A Hong ingin sekali menumpahkan segala isi hatinja selama dua bulan ini, ia tidak akan menghiraukan se-gala'nja, Ia tidak mentjeriterakan mengenai hal, bahwa Tok Niotju itu sebenarnja adalah musuh besarnja jang telah mem-bunuh ajah bundanja, agar tidak mengganggu kenikmatannja di-saat ia berdampingan dengan buah hatinja itu.

Dengan sesungguh-nja ia mentjintai Thia It Kwie segenap hatinja.

Tetapi setelah berhenti sebentar, Thia It Kwie berkata pula "A Hong, aku memberitahukan kepadamu, setelah kau mendengarnja, djanganlah kau bersusah hati."

Terkedjutlah hati A Hong demi mendengar kata’ Thia It Kwie itu, ia segera bertanja "Mengenai hal apa ?"

"Tempat ini adalah daerah suku Biauw jang disebut Tok San Tjai, pemilik rumah ini she_San"

Bernama ..Kam"

Orang men-djulukinja "Tok Pak Im Hun". Mendengar pendjelasan Thia It Kwie itu, A Hong berkata.

"Ah ! Kupernah mendengar nama orang ini."

"Tok Niotju Nie Kiaw datang kesini karena hendak mentjari sebuah mustika jang diketemukan oleh Kian Kun Pat Kiam Hok Eng Pek Tay-hiap dahulu itu, A Hong"

Berkata sampai disini Thia It Kwie berhenti sebentar, lalu kedua matanja menatap A Hong dengan sikap jang penuh kesungguhan hati.

Nampak sikap si djantung hati jang sedemikian itu, A Hong bertanja "Apa ?"

Thia It Kwie berkata dengan sangat sedihnja "Kian Kun Pat Kiam Hok Eng Pek Tay-hiap itu adalah ajahmu, pun djuga ajah Tju Sam Hwa, kiranja kau dan Tju Sam Hwa itu adalah saudara seajah dan seibu.

Hal ini adalah hal jang, sungguh' benar didalam kenjataannja.

jang aku pernah dengar dari pembitjaraannja juga, ketika Thin It Kwie bertjeritera sampai disini, mengira, bahwa demi mendengar akan berita itu, A Hong pasti terkedjut, tetapi ia sama sekali tidak mengetahuinja, bahwa A Hong sebenarnja sudah tahu lebih dulu daripadanja, dan mendengarinja dengan tenang tidak her-kata2.

Demi menjaksikan sikap A Hong jang demikian itu, didalam hati Thia It Kwie merasa sangat herannja, tetapi ia lalu melandjutkan "A Hong, Hok Tay-hiap suami-isteri benar.

telah teraniaja oleh Tok Niotju Nie Kiauw jang bersekongkol dengan Tay Lek Kim Kong Oey Ling dan Tok Pek Im Hun San Kam ini mengerojok mereka dipuntjak gunung Ki Kian San !"

A Hong masih tetap bersikap tenang, dan Thia It Kwie pun lalu melandjutkan tjeriteranja "Mereka bermaksud memaksa Hok Tay-hiap suami-isteri memberitahukan kepada mereka, di-mana tempat disembunjikannja mustika itu.

Tetapi Hok Tay-hiap suami-isteri mengetahui dengan djelas, bahwa d jika mustika jang tiada keduanja ini terdjatuh ditangan mereka orang' djahat ini, pasti mereka akan makin banjak melakukan kedjahatan, maka sekalipun mereka sudah tidak tahan lagi melawan Tok Niotju bertiga kawannja, mereka tetap tidak mau memberitahukannja.

Tan Tjing Lie-hiap Teng Lan mematahkan kedua kaki Tok Niotju, tetapi ia sendiripun dengan mernbawa Tju Sam Hwa tergelintjir kebawah lembah gunung!"

Setelah Tay Lek Kim Kong dan kawan’nja membinasakan Hok Tay-hiap, maka Tay Lek Kim Kong jang sebenarnja bukan seorang jang terlampau djahat, hanja oleh karena terbudjuk oleh Tok Niotju Nie Kiauw baru mau bekerdja sama untuk melakukan pengerojokan terhadap Hok Tay-hiap suami-isteri itu, dia tidak tega untuk mentjelakai kau, bahkan membawanja pergi berkelana ke-mana2 dan achirnja tinggal menetap menjepi dihawah kaki gunung Hwa San didaerah propinsi Kwangtung sehingga belasan tahun lamanja.

Tok Niotju sekalipun patah kedua kakinja, tetapi dia sangat tjerdas, dia dapat membuat suatu kendaraan beroda tunggal dan kepandaiannjapun semakin tinggi, dia mentjari dimana bersembunjinja Tay Lek Kim Kong jang tinggal menjepi hersama kau, achirnja kau dapat cliketemukan djuga, lalu diadu domba supaja kau dengan Tay Lek Kim Kong berselisih tidak berakur pula.

"..Tok Niotju mengetahui benar, bahwa istri Tan Tjing Lie-hiap pernah melukis suatu lukisan jang dapat menundjukkan dimana tersimpannja mustika jang langka itu. Ia mengira, bahwa gambar itu tersimpan dirumah kediamannja Tay Lek Kim Kong. ,.Dia menggeratak dan menggeledah beberapa hari didalam rumah Tay Lek Kim Kong, dia hanja menemukan sebuah lukisan panorama jang sama sekali tiada gunanja baginja. Karena itu maka dengan sengadja dia turun tangan sendiri untuk membinasakan Tay Lek Kim Kong."

Mengenai dibinasakannja Tay Lek Kim Kong oleh Tok Niotju itu,,A Hong telah menjaksikannja sendiri, djustru oleh karena kedjadian itulah ia meninggalkan tempat kediamannja jang sudah didiami selama belasan tahun itu.

Thia It Kwie berhenti sebentar untuk melegakan napasnja, setelah itu lalu melandjutkan tjeriteranja..

"Tok Niotju pergi kekota radja ia masuk kedalam istana untuk mentjari lukisan itu, tetapi dia tidak berhasil djuga menemukannja. Ia dengar berita, bahwa lukisan itu berada ditempat kediaman Tok Pek Im Hun San Kam ini, maka dia lain datang kedaerah suku Biauw ini. Akupun dibawanja bersama. Tetapi San Kam menjangkal keras dan kebenaran berita itu, Tok Niotju berselisih dengan San Kam sudah semendjak dua hari ini."

A Hong hanja mendengari tjeritera Thia It Kwie dengan melongo sadja, setelah lewat beberapa saat lamanja, barulah ia berkata "Kakak It Kwie, sekarang kita telah djadi musuh besar !"

Thin It Kwie terkedjut, lalu bertanja . ..Mengapa ?"

"Ajah bunda kita kedua pihak mempunjai permusuhan serta rasa kebentjian jang sudah saling membunuh."

Djawab A Hong.

,.A Hong, mengapa kau mengutjapkan kata’ jang demikian ?

Selama dua bulan terachir ini aku sudah memikirnja setjara mendalam.

Aku menjintai Sam Hwa, tetapi orang jang sungguh'' menjintaiku itu sebaliknja malah kau sendiri !"

A Hong berkata dengan sajunja "Tetapi apa gunanja akan hal itu, apakah kita masih dapat berhubungan dengan baik ?"

"A Hong, kuharap kau dapat mengerti, perkara keturunan kita jang lampau, itulah perkara mereka sendiri, apakah kita masih terlibat oleh mereka itu ?"

A Hong menatap Thia It Kwie sambil menimbang2 akan kata’nja tadi, lalu ia menghela napas pandjang dan memanggil "Kakak It Kwie !"

Belum lagi Thin It Kwie membuka mulutnja, mendadak mereka mendengar suara "Druk"

Jang sangat keras, jang asalnja dari rumah bertingkat itu.

Menjusul dengan suara itn, terlihat sebuah bajangan hitam melesat keluar dan terdjatuh diatas Iantai.

Orang itu segera hendak berbangkit, tetapi sebelum ia dapat Berdiri tetap, maka tertampak pula ada sebuah roda besar jang garis tengahnja kira’ dua kaki menembus dinding tembok dengan suara dengungannia jang aneh, langsung melesat dengan ladjunja.

Orang itu bergulingan, tetapi tidak berhasil menghindarkan diri, dengan mengeluarkan suara ngeri sekali orang itu telah terkena roda dengan tepatnja.

Orang itu dengan memaksakan diri berdiri, lari dengan terhujung’ beberapa langkah, lalu jatuh kembali tak dapat bangkit pula.

A Hong nampak dengan djelas, bahwa orang itu hanja mempunjai lengan tunggal.

Menjusul itu tertampak pula sesosok bajangan hitam lompat turun dari rumah tingkat atas, rambut pandjangnja terurai terhembus angin, orang itu tidak lain daripada Tok Niotju Nie Kiauw.

Tok Niotju telah turun ditanah, ia mengulurkan tangannja memegang roda kendaraan, setelah mana tubuhnja meninggi kira' dua kaki, ternjata roda itu sudah terpasang gala pula as dibawah kendaraannja.

Tok Niotju Ni Kiaw tertawa .

"He, he. he."

Terhadap majat Tok Pek Im Hun. A Hong bergontjang hati dan semangatnja. Tok Niotju Ni Kiaw berpaling dan melihat mereka bagaikan kilat sadja sorot matanja, dan berkata .

"Bagus, A Hong, kiranja kau disini !"

Baru sadja kata’ itu habis diucapkan atau sudah terdengar suara dampratan dari seorang wanita yang datangnya dari lamping gunung, katanja .

"Kakak Ban, benar saja dia berada disini!". Nampak djelas sesosok tubuhjang langsing dengan tjara "Burung kulik berbalik tubuh"

Ia djumpalitan naik dari lamping gunung itu dan berdiri tegk ditanah datar, tangannja mentjekal tjambuk pandjang, laksana ular santja sakti keluar dari liangnja, ia menjerang dan menjerbu Nie Kiauw dengan sabetan tjambuknja.

Orang itu tidak lain daripada Tju Sam Hwa.

Menjusul datangnja Tju Sam Hwa itu, nampak pula dengan segera seorang jang naik dari lamping gunung, tangannja memegang pedang pandjang jang ber-kilau sinar putihnja jang tidak lain daripada Siang Ban.

Tetapi setelah ia naik, nampaknja ia mendjadi takut tidak berani madju.

Tju Sam Hwa berseru .

,.Hei, Kau si kantong nasi ini, sampai pada saatnja apa jang ditakutinja lagi ?"

Tjambuk panjang Tju Sam Hwa menggeletar tak henti2nja, Tok Niotju berkelit ke kanan dan ke kiri dengan bertjokol diatas kendaraannja, tetapi gerakannja sangat lintjah sekali, serangan tjambuk Tju Sam Hwa jang dahsjat itu dapat dihindarinja dengan mudah.

Tju Sam Hwa sangat terpengaruh, karena dorongan atau panggilan suara hatinja jang hendak menuntut balas bagi sakit hati ajah-bundanja, maka dengan dikawani Siang Ban terus pergi kearah selatan, menjusul Tok Niotju Nie Kiauw sampai disini.

Tetapi sampai tiba saatnja, ternjata njali Siang Ban seketjil njali tikus tidak herani madju menempur Nie Kiauw.

Tj u Sam Hwa telah beruntun’ menjerang Tok Niotju dengan tjambuknja sampai tudjuh atau delapan belas serangan masih belum djuga berhasil.

Tok Niotju Nie Kiauw tertawa mengedjek sambil berkata.

"Budak ketjil, kiranja kau hendak menuntut balas untuk sakit hati ajah-bundamu ? Pergilah kau keachirat untuk bertemu dengan ajah-bundamu itu!"

Dan serentak dengan perkataannja itu, ia menjerang dengan Pek Khong Tjiangnja (tapak membelah udara) menggempur tjambuk Tju Sam Hwa, samberan angin Pek Khong Tjiang itu membuat Tju Sam Hwa merasakan mulutnja tergetar kesemutan, dan tjambuknja hampir terlepas dari tjekalannja.

Ia mundur beberapa tindak dengan dan matanja nampak A Hong tengah berdiri damping berdamping dengan Thia It Kwie.

berseru .,Kakak Hong, kau pun datang kesini ?"

A Hong hendak madju, tetapi ditarik oleh Thia It Kwie. A Hong berseru . It Kwie, kau djangan menjalahkan aku !"

Sambil berkata demikian ia meronta.

Ia tidak berhasil meronta hingga terlepas.

tetapi lukisan jang dikantonginja itu terdjatuh dilantai dan terbentang.

Ia membungkuk hendak mendjemputnja atau nampak olehnja dibawah sorotan sinar rembulan bahwa dibelakang lukisan itu terlihat ada beberapa baris tulisan, in tak pernah memperhatikan bagian belakang lukisan itu, ia tidak menjangka bahwa dibawah sinar sang puteri malam itu malah dapat terlihat, bahwa di belakang lukisan itu terdapat tulisan.

Ia membungkuk dan menunduk, serta meronta hingga terlepas dari tjekalan Thin It Kwie, ia segera djemput lukisan itu, ia mengangkat kepala dan tampak Siang Ban ketika itu sudah menggunakan pedang pandjangnja bersama Sam Hwa menempur Tok Niotju Nie Kiauw.

A Hong segera melompat mendjauh tiga langkah, ia nampak Thia It Kwie berdiri terpaku bagaikan patung, karena dua pikiran jang bertentangan satu sama lain, sedang mengaduk didalam otak-nja.

Dengan buru’ A Hong membatja tulisan jang berada dibelakang lukisan itu, maka terbatjalah olehnja tulisan jang seperti berikut .

Mustika jang ditemukan dahulu itu adalah sendjata tadjam jang dibuat orang dahulu kala namanja ..Hui Liong Kouw Kiam " (Pedang purba naga terbang) tersimpan pada tempat kediaman Tok Pek Im Hun San Kam, dibawah lamping gunung "

Giok Tjiang Pin", didalam gua gunung disamping batu besar jang berbentuk hati manusia.

tiada orang jang mengetahui.

Kata' ini tertulis dengan buku rumput ..Long-in-.

tjauw", djika tidak dilihat dibawah sinar rembulan tak akan tertampak.

Kutulis ini untuk anakku Sam Hwa.

Setelah membatja tulisan itu, A Hong djadi ter-bengong2.

Kira-nja pada mendjelang adjalnja ibunja masih menjimpan rahasia sebesar ini.

karena ketika itu.

Sam Hwa masih ketjil, dia kuatir djika rahasia ini diketahui orang, pedang Hui Liong Kouw Kiam ini akan terampas oleh orang lain..

Djustru A Hong kini berada ditempat kediaman Tok Pek Im Hun San Kam.

Entah pedang itu ada atau tidak.

Setelah berpikir demikian, ia lalu memutar tubuhnja dan lari kearah lamping gunung.

Ia masih dapat rnendengar tjatjian Tju Sam Hwa .

"A Hong, apakah sakit hati ajah-ibu kau tidak menghiraukannja ?"

A Hong tidak sempat untuk berbantah.

Ia malah buru’ turun ketebing meluntjur kebawah dengan berpegangan rotan liar.

Menampak perginja A Hong, Thia It Kwie sudah seperti gila.

iapun lari ketepi tebing dan berseru dengan njaringnja .

"A Hong ! A Hong ! Apakah kau hendak mentjari pedang purba untuk men-tjelakai ibuku ?"

Thia It Kwie sekalipun ia mengetahui kelakuan djahat ibunja itu jang sebenarnja lebih dari pantas dihukum mati, tetapi djika dilihat dari sudut perasaan anak terhadap ibu kandungnja, maka biar bagaimanapun baik busuk masih ibunja sendiri, tidaklah tega hatinja.

Ketika tadi A Hong mernbatja kata2 jang terdapat dibelakang lukisan itu, Thia It Kwie pun dapat melihatnja djuga, dan pikirnja sekalipun A Hong masuk dalam kalangan dan ikut mengerojok Tok Niotju Nie Kiaw, tentunja mereka bukan tandingan Tok Niotju.

Iapun tak nanti membiarkan Tok Niotju melukai ketiga orang itu, tetapi seteiah nampak A Hong lari kearah tebing gunung dan meluntjur dari lamping gunung, maka sekalipun ia tidak mengetahui apakah sehenarnja pedang Hui Liong Kouw Kiam itu tetapi mengingat, bahwa belasan tahun jang, lampau, didalam dunia persilatan pernah terdjadi pertempuran dahsjat jang mengakibatkan banjak pendekar jang terbinasa oleh karena memperebutkan pedang ini, maka mestinja pedang ini sangat hebat, mengingat sampai disini.

maka is buru’ lari mengedjarnja.

A Hong baru turun kepada tempat rotan liar, is menengadah dan nampak pada wadjah muka Thia It Kwie jang sikapnja agak berlainan daripada biasanja, ia mendjadi sangat terkedjut, kedua tangannja mengendor dan segera meluntjur turun belasan kaki, maka buru' ia memegang dengan eratnja.

"A Hong. kau naiklah!"

Seru Thia It Kwie.

Mengingat akan sakit hati jang sebesar gunung sedalam samudera itu.

A Hong tidak mau menurut perkataan Thia It Kwie ini.

Ia segera meluntjur pula sekali ayun sudah belasan kaki, tangannja telah beset karena tergosok rotan liar itu.

A Hong sudah tidak mau menghiraukan lagi rasa njeri pada luka ditangannja itu.

Thia It Kwie membungkukkan tubuhnja sehingga segenap tubuh bagian atasnja keluar dari lamping gunung, dan berseru "A Hong!

Kau naik !

Kau naiklah lekas !"

Kedua tangannja mendjambret rotan liar itu, tali di-gontjangkannja, ,dan A Hong lain ter-ajun' diudara, dan tjekalannia kepada rotan itu hampir terlepas.

Dengan susah-pajah ia baru dapat turun sampai ketanah.

Nampak A Hong tidak mau dengar kata, Thin It Kwie pun turun meluntjur.

A Hong segera men-tjari= disekitar tempat itu, benar djuga ia dapat menemukan sebuah batu besar berbentuk hati manusia.

Ia membuka papan bulat dengan sekuat tenaga dan mengulur tangan merogoh dibawah batu, dengan terdengarnja suara "Trang !"

Pada tangannja jang ditarik keluar itu, telah tertjekal sebuah pedung jang pandjangnja kira' empat lima kaki, bentuknja seperti naga hidup, ada tanduknja, ada pula sisik dan kukunja.

Warnanja hidjau tua, mengeluarkan hawa dingin.

Djika dikibas kan maka pedang hanja nampak segumpal sinar hidjau.

Sangat besar hati A Hong mendapatkan pedang itu, ia menoleh kebelakang dan nampak Thin It Kwie sudah mengedjar sampai disitu djuga.

A Hong lalu berdjumpalitan dan memandjat tebing setjara mati'an.

Thia It Kwie pun mengikutinja dari belakang hendak mentjegahnja.

Baru sadja A Hong berdiri tetap didataran tanah batu, ia nampak Tok Niotju Nie Kiauw sambil membolang-balingkan rodanja mendesak Siang Ban dan Tju Sam Hwa ketepi samping gunung.

Ia nampak kedua orang itu sudah katjau permainan silatnja, asal-kan Tok Niotju menjerang sekali sadja, pasti kedua orang itu akan terdjatuh kebawah tebing dan hantjur lebur daging dan tulangnja.

Maka buru’ ia berseru .

"Sam Hwa, minggir !"

Dengan sekali tangannja menggetar, maka Hui Liong Kouw Kiam ditangan A Hong mengeluarkan segumpal sinar hidjau, ia lalu menghantamkan pedang itu tepat dihadapan Tok Niotju Nie Kiauw.

Tok Niotju tidak mengetahui hebatnja pedang itu, maka ia menangkis dengan rodania, maka sebagai kesudahannja, dengan terdengarnja suara "Trang !"

Rodanja itu telah terbelah mendjadi dua.

Tok Niotju sangat terkedjut, menjusul gerakan tadi A Hong melangkah madju dan menjodokkan pedangnja.

Tok Niotju tidak berani melawan dengan kekerasan, ia berkelit kesamping.

Tju Sam Hwa bersama Siang Ban nampak ada ketika untuk dipergunakan, lalu madju serentak mengerojok.

Tok Niotju mundur ber-ulang2, didalam kerepotannja itu ia lupa, bahwa tubuhnja berada didekat samping gunung, sekali ia kurang hati’ pedang A Hong telah menjerang untuk ketiga kali-nja.

Tok Niotju melenggak kebelakang, dengan mendadak sadja ia merasa tubuhnja mengapung ia tergelintjir kebawah djurang sambil memperdengarkan djeritannja jang mengerikan.

Demikian tamatlah riwajatnja Tok Niotju Nie Kiauw jang tersohor djahatnja itu.

Djustru pada ketika itu, Thia It Kwie pun sudah naik sampai diatas.

Ia mengawasi tempat Tok Niotju Nie Kiauw terdjatuh ke-bawah itu dengan ter-bengong’ dan tidak dapat ber-kata'.

A Hong menjerahkan Hwa Liong Kouw Kiam kepada Tju Sam Hwa seraja berkata "Sam Hwa, ini adalah barang wasiat ibu untukmu !"

Setelah mana ia lari kepada Thia It Kwie dan berkata .

"Kakak It Kwie, bukankah tadi kau katakan, bahwa hendaknja kita djangan tertarik2 oleh urusan keturunan kita jang sudah lampau ?"

" ..Benar katamu "

Djawab Thia It Kwie, lalu ia mentjekal dan mengepal' tangan A Hong dengan eratnja.

Tju Sam Hwa dibelakang mereka nampak keadaan jang demikian itu, memperlihatkan wadjah muka jang mengedjek dan tertawa tjekikikan.

Bulan sabit tergantung diangkasa, dan angin halus meniup sepoi’, dua pasang pemuda pemudi itu kesemuanja merasa, bahwa semendjak hari ini dan selandjutnja, mereka benar' tidak ada jang dibuat kuatir, tiada jang dibuat gandjalan, dapat hidup didalam dunia Kang-ouw, melakukan hal' jang sesuai dengan prikeadilan dan kebenaran, menolong si lemah dan menjingkirkan mereka jang djahat.

— T A M A T — Kouw Kiam Tjing Wan Team

Kolektor E-Book

Kouw Kiam Tjing Wan Team

Kolektor E-Book

Baca Juga: Tiga Naga Dari Angkasa Kho Ping Hoo

Baca Juga: Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 14

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert