Ceritasilat Novel Online

Hong Lui Bun 8

Eps 8 Hong Lui Bun - Khu Lung

Baca online Hong Lui Bun - Khu Lung

Cersil Hong Lui Bun - Khu Lung.

"Jik-yanciang." . Pukulan telapak tangan sejenis jik-yan-ciang memerlukan landasan kekuatan murni, kekuatannya mampu membakar sebatang balok besar, dengan mengerahkan Lwekang tenaga pukulan dapat disalurkan melalui telapak tangan yang membara -panas, untuk meyakinkan Jik-yan-ciang harus diyakinkan sejak kecil dan selama hidup belum pernah kawinbila kawin ditengah jalan latihannya akan buyar dan salahsalah membahayakanjiwa sendiri. Siapa saja yang terkena pukulan ini kulit badannya hangus, isi badannyapun hancur luluh menjadi abu, tiada obat sakti macam apapun didunia ini yang mampu menyembuhkan pukulan ini, jikalau bukan menghadapi musuh besar yang tangguh biasa nya tidak boleh dilancarkan, karena praktek dari pukulan hebat ini juga menguras tenaga murni sendiri. Berbeda bila Lwekang lawan lebih tangguh, seperti sekarang dia menghadapi Jian-li-tokheng Jian li-tok-heng sendiri juga bersyukur karena dua kali adu pukulan tadi lawan tidak mengerahkan pukulan jahat nya ini, apalagi tahu tenaga sendiri masih lebih unggul, maka dia melayani serbuan lawan dengan tabah. Suatu kesempatan dia mengerahkan hawa murni dari pusar, tenaga dikerahkan dikedua tangan terus-memapak pukulan dahsyat lawan-Ledakan keras mendesis seperti bara yang menganga h mendadak disiram air, asap mengepul hawa bergolak. Karena posisinya disebelah bawah, meski suhu panas tertiup buyar oleh angin lalu, namun sisa kekuatanya masih menerpa turun mengikuti arah angin sehingga rambut dan sedikit jenggot Jian-li-tok-heng terbakar hangus. Setelah sedikit cidera dalam bentrokan pertama tadi, lakilaki tua pendek kali ini tidak melawan secara keras pula, setelah melontarkan pukulannya sebat sekali dia sudah menggeser kedudukan-Melihat betapa kokoh dan hebat daya pukulan lawan, mau tidak mau mencelos hatinya.

"Dengan geram Jian-li-tok-heng menggerung sekali, sambil mengudak kembali dia lontarkan pukulan dahsyat pula. Laki

laki tua pendek sedang melenggong, apapun tidak menduga bahwa pukulan tangguh lawan melanda secepat ini, apalagi Jik yan-ciang terlalu menguras tenaga, dirinya belum sempat ganti napas, sementara pukulan lawan bagai gugur gunung sudah menindih dadanya seperti ditumbuk barang ribuan kati, karuan tubuhnya terlempar delapan kaki, mulut terpentang darah segar menyembur, badannya terkapar tak mampu bangun lagi.

Jik-yan-ciang memang bukan olah-olah hebatnya, akibat pukulan dahsyat tadi daon-daon pohon disekitar gelanggang ternyata sudah rontok hangus dan menguning, mau tidak mau Jian-li-tok-heng merasa takjup, tapi juga ngeri membayangkan kedahsyatan pukulan bara ini.

Diperhitungkan, bahwa terang tanah tidak akan lama lagi, lekas dia kembangkan Ginkang, mengitari gunungan meluncur langsung kearah Ling-hong-kek Dalam pada itu Liok Kiam-pingjuga sedang kerahkan Linghi-pou-hoat pada puncaknya, hanya sekejap dia sudah melampaui beberapa gedung dan taman kembang.

Tengah berayun langkah, kira-kira sepuluh tombak disebelah depan, diatas genteng kaca istana, sesosok bayangan orang berkelebat lantas lenyap.

padahal pandangan dan pendengarannya sudah keliwat tajam, namun gerakan orang memang teramat cepat sehingga dia tidak melihat dan mendangar jelas.

Pikirnya.

Jarang kulihat gerakan tubuh secepat itu, mungkinkah Hwe-giam-lo sendiri keluar melakukan inspeksi ?

Atau Bong Siu yang sengaja hendak mencegat diriku?

Bila bergebrak di sini pihak musuh terlalu banyak, lebih baik kupancing saja ketempatjauh supaya lebih leluasa turun tangan"

Segera dia melejit mumbul keudara, sengaja dia merandek gerakan sehingga orang didepan itu sempat melihat gerakannya lalu membelok kekanan menerobos ke tempat gelap.

Dalam jarak sepanahan dia meluncur, dia menoleh kekiri, dilihatnya sesosok bayangan orang sedang berputar dari arah kanan membelok kedepan seperti hendak mencegat dirinya dari arah lain-Kiam-ping mempercepat langkah.

dirinya sudah melesat keluar dari taman terus meluncur kedalam hutan, lalu meluncur turun dan menunggu disebuah tanah lapang.

Hanya sekejap bayangan dibelakang itu pun sudah mengejar tiba dan hinggap tiga tombak didepannya.

Pendatang ini berusia tujuh puluhan, rambut dan jenggotnya sudah memutih saiju, namun semangatnya masih kelihatan gagah dan menyala, terutama sorot matanya mencorong bagai lampu senter, jelas Lwekangnya sudah teramat tangguh, perawakannya tinggi besar, tampangnya liar dan buas, dipinggangnya terselip sebatang Giam-ong-pian.

Liok Kiam-ping cerdik pandai, melihat gaman lawan lantas dia tahu dengan siapa dirinya berhadapan-Menghadapi lawan tangguh sedikitpun dia tidak berani gagabah, lekas dia himpun semangat dan konsentrasikan pikiran, siap siaga menghadapi pertempuran sengit.

Seperti tertawa tidak tertawa Hwe-giam-lo siu Jan terlorohloroh, katanya.

"Melihat kepandaianmu yang luar biasa tadi, pasti kau inilah Pat-pi-kim-liong Pangcu Hong-lui-pang yang baru. Usiamu masih begini muda, belum ada setahun keluar kandang, namun sudah membuat geger dunia persilatan, sehingga ayam anjingpun tak bisa hidup tentram. Malam ini berani kau meluruk kemari, jangan kau salahkan Lohu kalau bertindak keji padamu, demi kepentingan kaum persilatan umumnya, terpaksa aku tuntut jiwa ragamu di sini.' Liok Kiam-ping merasa mual melihat sikap tengik dan mimik orang yang jelek. tawanyapun lebih mengerikan dari tawa setan, melihat betapa takabur sikapnya, sungguh tak terkendali amarah Liok Kiam-ping, segera dia mendongak tertawa lantang, suaranya laksana genta raksasa yang bertalutalu diangkasa, sehingga Hwe-giam-lo merasa mendangung kupingnya. Tahu lawan sengaja pamer Lwekang, lekas Hwegiam-lo memusatkan tenaga murni untuk bertahan-Begitu menghentikan tawanya Liok Kiam-ping berkata.

"Dendam permusuhan kaum persilatan sudah lazim diputuskan dengan adu kekuatan, yang kuat menang yang lemah binasa, apa kemampuanmu boleh kau tunjukan kepadaku, apapun kehendakmu pasti kuiringi.' Siu Jan lulusan perguruan Tiang-pekspay, belakangan dia terjun dalam kalangan liok-lim, selama beroperasi tiada korbannya yang ditinggaikan hidup, potlot raja akherat ditangannya itu sudah diyakinkan hampir lima puluhan tahun, belum pernah ketemu tandingan, maka dia dijuluki Hwe giamlo (raja akhirat hidup). Tiga puluh tahun yang lalujago-jago kosen Bulim bergabung mengganyangnya, untung dia sempat meloloskan diri, tahu di Tionggoan dirinya sudah tak mampu bercokol lagi, maka dia minggat ke Se-ek dan masuk Thianllong-si meyakinkan ilmu yang lebih ganas, dengan Bong Siu dia seperguruan, sepuluh tahun yang lalu dia turun gunung dan terjun pula dalam percaturan Kangouw, selama malang melintang di Tionggoan belakangan ini belum pernah ketemu tandingan musuh-musuhnya yang lama satu persatu telah dibunuhnya, sehingga sepak terjangnya semakin telengas. Liok Kiam-ping menantangnya, karuan dia bergelak tawa dengan jumawa, katanya.

"Asal kau kuat melawan tiga puluh jurus seranganku, persoalan malam ini boleh sementara di hentikan sampai di sini saja ?"

Liok Kiam-ping menyeringai dinging, jengeknya. Jangan hanya tiga puluh jurus, seratus jurus juga belum pasti kau dapat mengalahkan aku, tapi..."

Sengaja Kiamping merendek memancing reaksi lawan "Tapi kenapa?"

Desak Hwe-giam-lo Siu Jan.

"Kalau sebaliknya kau yang bukan tandinganku, bagaimana pula penyelesaiannya ?.. Hwe-giam-lo Siu Jan berpikir sejenak. katanya kemudian.

"Baiklah, persoalan malam ini biar Losiu berpeluk tangan menjadi penonton saja, kau boleh meluruk ke Ling-hong-kek. tapi tempat lain dalam lingkungan istana kularang kau trobosan ke sana."

Menurut hematnya umpama dalam tiga puluh jurus dirinya tidak mampu membereskan anak muda ini, padri Tibet yang berada di Ling-hong-kek juga sudah mempersiapkan diri menyambut kedatangannya, dirinya tidak perlu ikut turun tangan, umpama Kiamping berhasil menolong kekasihnya, begitu dia meninggalkan Ling-hong-kek.

dirinya punya alasan untuk mencegatnya lagi.

Di sinilah letak kelicikannya, muslihatnya memang banyak untuk menyudutkan Liok Kiam-ping.

Apapun usia Kiam-ping masih muda, pengalaman kurang, tanpa pikir segera dia berkata.

"Begitupun baik, seorang kuncu pasti menepati janjinya "

Sebelum Kiam-ping habis bicara kedua tangan SiuJan sudah terangkat kedepan dada, dimana tampak sikutnya ditekuk turun telapak tangan tertarik mundur, dibarengi gerungan berat dia tepukan telapak tangannya kedepan-Melihat gerak pukulan lawan tidak membawa kesiur angin, Kiam-ping tahu serangan lawanpasti ada susulannya yang lebih keji, betuljuga belum sempat dia menemukan cara bagaimana dirinya harus melawan, damparan angin pukulan yang lunak kuat sudah menerjang datang, secara mendadak tiga tombak sekitar badannya seperti sudah dilingkupi tenaga pukulan lawan, betapa dahsyatperbawapukulan ini sungguh mengejutkan-Lekas Liok Kiam-ping kembangkan Kim-kong-put-hoay-sinkang, sekujur badan dilindungi rapat dan kokoh, tenaga lunak pukulan lawan begitu menyentuh hawa pelindung badannya lantas meletup lirih seperti bunyi gesekan kikir dengan besi, kekuatan pukulan lawan sirna tanpa bekas.

Sementara kedua telapak tangannya yang sudah siaga dengan tenaga penuh dia dorong kedepan-Melihat kekuatan Thay-im-ciang yang dilontarkan sirna seperti kecemplung laut, sungguh bukan kepalang kaget dan heran SiuJan, tengah dia melenggong, pukulan dahsyat lawan sudah balas menerjang dirinya laksana amukan gelombang samudra.

Lekas dia menarik napas mengerahkan tenaga serta memukul kedepan.

"Byaaar."

Dua kekuatan raksasa beradu menimbulkan goncangan hebat.

Kedua lawan tertolak mundur selangkah.

Diluar tahu Hwe-giam-lo bahwa reaksinya barusan cukup cepat, tangkisan pukulan kedua timbul secara reftek sehingga dia tidak sampai kecundang, bila hanya sekali adu pukulan, sudah pasti dia akan kalah dan terluka parah.

Namun demikian dia sudah mendapat firasat bahwa dalam adu kekuatan tenaga dalam, dirinya memang bukan tandingan anak muda ini, apalagi dia menduga lawan memiliki ilmu pelindung badan dari aliran Hud, kalau tidak mana mungkin Thay-im-ciang yang sudah diyakinkan puluhan tahun tidak mempan terhadap anak muda ini.

Mau tidak mau mengkirik bulu kuduknya.

Lekas dia melolos potlot bajanya, maju selangkah tangan kanan merogoh kebawah, potlotnya justru menusuk ke Jian-kin-hiat di pundak Liok Kiam-ping.

Gerakan potlot bajanya ternyata menimbulkan deru kencang dan samberan angin dingin, jelas latihan ilmu potlotnya sudah mencapai taraf yang patut dibanggakan Liok Kiam-ping menyeringai dingin, kaki kanan mundur setapak.

tubuhnya setengah berputar, telapak tangan kiri tegak menepis miring kelengan orang.

Menyambut serangan dengan perobahan serangan yang mengunci gerakan lawan selanjutnya.

Begitu serangan luput telapak tangan lawan sadah menepis lengan kanan sendiri, lekas SiuJan menjorok kekanan satu langkah, di mana potlotnya berputar segera dia kembangkan Lui-ting poan-hoat yang memiliki tujuh puluh dua jurus tunggal.

Gerak potlotnya secepat kitiran, angin menderu di selingi gemuruhnya guntur.

Liok Kiam-ping memusatkan lahir batin untuk mengembangkan Leng-hi-pou-hoat, tubuhnya bergerak selincah kupu menari selulup timbul diantara samberan potlot lawan yang gencar, setiap mendapat peluang telapak tangannya pasti balas menggempur dengan dahsyat.

Kalau rangsakan potlot menimbulkan gemuruh suara, sebaliknya permainan telapak tangan Kiam-ping berkembang makin meluas, pusaran tenaga kedua pihak yang bergulat menggetar rontok daon dan ranting pohon, debu terbang membumbung keudara.

Dalam .sekejap sepuluh jurus sudah lewat.

Kedua pihak merangsak dengan kecepatan tinggi.

Gemuruh guntur yang ditimbulkan dari geseran udara oleh ujung potlot raja akhirat ditangan SiuJan cukup menggetarkan nyali orang, demi mempertahankan kejayaan namanya selama puluhan tahun ini, dia sudah kerahkan seluruh kemahiran permainan potlotnya untuk merobohkan lawan yang satu ini.

Sebaliknya Liok Kiam-ping harus berjuang demi kebenaran dan kebangkitan kembali wibawa Hong-lui-pang dipercaturan dunia persilatan, kedua pihak pantang mundur dan kalah, sudah logis kalau pertempuran dahsyat ini bukan olah-olah hebatnya.

Tiga puluh jurus sudah hampir jelang, Liok Kiam-ping pikir perlu mengembangkan ilmu sakti mendadak dia berputar dengan kedua lengan terkembang dan melingkar, jurus Llongkiap-sin-ganpun terlontar secara reftek.

Wi-liong-ciang-hoat memangnya peninggalan orang kuno yang sakti mandraguna, apalagi dilancarkan oleh Liok Kiam-ping yang sekarang sudah dibekali kekuatan Lwekang tangguh, perbawanya seumpama malaikat kaget setan menangis, cuacapun berobah oleh kehebatan permainannya.

Ribuan bayangan telapak tangan sekaligus seperti memberondang kearah Hwe-giam-lo dalam waktu yang sama.

Melihat lawan merobah permainan, bayangan telapak tangan seketika merabu dari berbagaijurusan, karuan Hwegiam-lo melengak kaget, lekas dia kerahkan tenaga menggerakan potlot bajanya, secara beruntun dia menyerang enam jurus kearah bayangan telapak tangan yang rapat berlapis-lapis itu, syukur dia sempat menyelamatkan diri.

Serangan balasan potlot siuJan terasa lihay juga oleh Liok Kiam-ping, sebelum serangan lawan mencapai sasaran, mendadak dia melejit lima kaki ke udara, ditengah udara kedua kaki memancal sehingga tubuhnya seperti bertahan sejenak, kini kepala dibawah kaki diatas, sambil menukik dia kembangkan kedua lengan, dibantu daya tukikan kebawah dia lancarkan serangan Llong-hwi-kiu-thian, telapak tangannya menepuk turun-Tadi SiuJan sudah dipaksa mengerahkan seluruh kekuatanuya baru berhasil menyelamatkan diri dari serangan lihay lawan, rasa kejut belum lagi bilang, kini lawan menukik dengan serangan tak kalah dahsyatnya pula, sudah tentu dia tidak berani melayani, tubuhnya menjengkan mundur kebelakang, begitu ujung kaki menutul bumi, tubuhnya lantas meluncur datang kebelakang.

"Blam."

Tempat barusan dia berpyak tanahnya seperti dikeduk pacul berlobang besar sedalam tiga kaki.

Meminjam daya pantul dari pukulan telapak tangannya ketanah, kembali kedua kaki Liok Kiam-ping memancal, tubuhnya bersalto di udara, seperti bayangan setan, dia mengudak ke sana kembali kedua tangannya menyerang dengan jurus Llong-jiau-king-thiam.

Kedua kaki SiuJan belum menyentuh tanah, sementara angin pukulan Liok Kiam-ping sudah memburu tiba, untung Lwekangnya sadah amat tinggi, dalam keadaan kepepet bagi orang lain sudah tidak mungkin terhindar bencana, SiuJan sempat kerahkan hawa murninya sehingga tubuhnya mencelat mumbul keatas hanya dengan sekali sedotan perut, tubuhnya melayang miring kepinggir, namun demikian, gerakannya sedikit terlambat, pantatnya keserempet oleh deru angin pukulan yang dahsyat, seiring dengan daya dorongan yang kuat tubuhnya terlempar setombak lebih .

Untung tubuhnya tidak cidera, begitu kaki menyentuh bumi sekaligus dia menutul terus melesat jauh kedepan lenyap ditelan kegelapan-"Terima kasih,"

Seru Liok Kiam-ping, begitu bergerak pula, tubuhnya langsung meluncur kearah Ling-hong-kek.

Karena kegaduhan pertempuran Liok Kiam-ping melawan Hwe giamlo, setelah SiuJan menyingkir, anak buahnya seperti juga ditarik mundur seluruhnya hingga suasana menjadi sepi lengang, keheningan yang mencekam ini terasa menyolok oleh Kiam-ping.

Tapi tujuan Liok Kiam-ping menolong orang, apapun yang terjadi dan keadaan bagaimanapun yang harus dihadapinya, dia tidak perlu gentar lagi, dia langsung bergerak sesuai petunjuk Jian-li-tok-heng kearah depan Lekas sekali sebuah gedung berloteng yang menyendiri jauh dari bangunan gedung-gedung istana lainnya menjulang didepanya.Jarak masih jauh hingga sukar melihat jelas tulisan apa yang terukir diatas pigura raksasa diatas loteng, tapi dilihat keadaan sekitarnya Kiam-ping yakin gedung tunggal itulah pasti Ling-hong-kek adanya.

Dengan langkah hati-hati dia menyelinap dari hutan, baru saja hendak melampaui tanah kosong didepan hutan, dari kanan kiri hutan mendadak muncul dua padri jubah kuning, dengan mendelik mata dan bertolak pinggang mereka mengawasi Liok Kiam-ping.

Padri disebelah kiri sudah dikenal oleh Liok Kiam-ping, waktu orang meluruk ke Kwi-hun-ceng tempo hari, seorang lagi pasti adalah salah satu dari sepuluh murid pelindung Pakkim Tayhud.

Padri disebelah kiri membentak.

"Bangsat kurcaci hentikan langkahmu, Tempat suci kediaman Pak-kim Tayhud sedang tetirah, siapa pun dilarang keluyuran disini, selangkah kau berani maju lagi, kau akan menyesali hidupmu yang pendek ini.' Liok Kiam-ping bergelak tawa, katanya.

"cayhe memang ada urusan penting ingin bertemu dengan Pak-kim Tayhud, tolong sampaikan keinginanku.' Padri Tebet itu berludah serta menjengek.

"Manusia rendah, tengah malam buta rata berani keluyuran di istana terlarang, memangnya kau sudah bosan hidup, berani bermimpi ingin bertemu dengan Tayhud segala. Ketahuilah, kau berada ditempat penjagalan manusia, lekas kau bunuh diri saja, aku berjanji tidak akan merusak jazadmu, kalau tidak, hehehe..."

Liok Kiam-ping tertawa geli malah melihat betapa jumawa sikap padri ini, desisnya dengan nada tinggi.

"Kalau tidak kenapa?"

"Hehehe,, akan kucacah hancur dijadikan pergedel untuk makan anjing peliharaanku."

"cara yang bagus, sekali kerja dua hasil, biarlah cayhe sempurnakan keinginan kalian,' membarengi habis perkataannya kedua tangan Kiam-ping menggenjot kearah kedua padri Tibet itu. Angin pukulannya menerjang dahsyat setajam pisau, .belum lagi tubuh terkena telak oleh pukulan, samberan angin pukulannya sudah mengiris perih muka mereka, karuan kedua padri Tibet meraung kaget terus menjatuhkan diri menggelundung jauh dengan jurus penolong jiwa Ui-liong-hoan-sin (naga kuning membalik badan) salah satu jurus dari Thian-llong-toa-pat sek ajaran Pakim Tayhud, syukur mereka masih sempat menyelamatkan jiwa, namun keringat dingin sudah membasahi sekujur badan Mendapat angin Liok Kiam-ping tidak menyia-nyiakan kesempatan, segera dia memburu maju, sementara kedua padri itupun sudah mencelat berdiri. Hanya sejurus dia sudah bikin kedua padri ini menggelundung jatuh menyelamatkan jiwa, betapa hati mereka takkan ciut, namun mereka tetap bandel, setelah saling lirik serentak keduanya angkat tangan, dari kanan kiri menggempur bersama kearah Kiam-ping. Kedua padri ini merupakan murid Pakim Tayhud yang diandalkan, biasanya terlalu mengagulkan kepandaian, meski gabungan pukulan mereka cukup lihay, tapi menghadapi permainan Liok Kiam-ping, hakikatnya kedua lawan ini dipandang sepele olehnya. Ditengah tawa dingin Kiam-ping, sebat sekali tubuhnya berkisar keluar arena, sambil membalik badan sebelah tangannya menepuk kebelakang.

"Blang"

Kedua padri itu dipukulnya mundur lima langkah.

Tampang mereka yang kasar dan bengis tampak merah lalu pucat, biji lehernya turun naik seperti menelan darah segar yang hampir tertuang keluar.

Lutut goyah badan sempoyongan, jelas mereka sudah terluka dalam yang cukup parah.

Ternyata kedua padri ini berkepala batu, tahu dirinya bukan tandingan, namun mereka pantang mundur, lekas mereka telan dua butir obat serta mengatur pernapasan, hanya sekejap mendadak keduanya sudah menghardik bersama, seperti serigala yang kelaparan serempak mereka menerjang kearah Liok Kiam-ping.

Rangsakan sengit dilancarkan dengan gerakan nekad seperti ingin mengadu jiwa, Liok Kiam-ping terdesak mundur selangkah oleh kenekadan kedua lawannya.

Tapi begitu dia menggeser minggir, dibarengi dengus hidung, tangannya sudah siap menggampar.

Pada saat itulah segulung tenaga angin kencang mendadak menubruk tiba dari belakang.

Belum sempat melontarkan serangan Kiam-ping sudah melompat minggir kekanan.

Meminjam daya lompatan kepinggir ini, kedua tangannya menepuk kepunggung padri sebelah kanan.

Beruntun disergap dan dibokong, karuan Liok Kiam-ping naik pitam, maka gempuran kedua tangannya ini dengan landasan tenaga dahsyat, padri padri yang sudah terluka ini mana kuat menahan pukulannya.

Begitu telapak tangan kanannya mengenai punggung orang, tulang pundaknya seketika kemeretak.

putus dan hancur, badannya terbanting roboh bergulingan sambil melolong kesakitan baru jatuh semaput.

Berhasil merobohkan seorang lawan Kiam-ping segera membalik badan, lima kaki di depannya mendekam seekor anjing sebesar anak kerbau seperti yang telah dibunuhnya tadi, anjing yang satu ini lebih besar dan garang, sorot matanya berkilat hijau siap menerkam.

Melihat kawannya terluka parah padri yang satu tambah gusar, sambil meraung gusar dia memburu maju sambil memukul dengan setaker tenaganya dari samping kiri Kiamping.

Dalam waktu yang sama anjing yang mendekam itupun menyalak sekali terus menerkam juga.

Lekas Kiamping kembangkan Leng-hi-pou-hoat, tubuhnya mengendap lalu menyelinap serta menjejak.

tubuhnya melambung dua tombak tingginya, ditengah udara dia menggeliat sekali hingga badannya menukik turun, kedua tangannya sudah menjulur lurus kebawah merindih batok kepala anjing besar itu.

Tak nyana sebelum pukulannya mengenai sasaran, dari samping tahu-tahu meluncur datang sesosok bayangan anjing besar yang lain dengan kecepatan luncuran anak panah, kedua cakar depannya naik turun seperti hendak menyobek tangan Liok Kiam-ping Anjing ajak yang dipelihara disini merupakan pilihan dan terdidik dengan keras, dari kepala hingga ekornya yang pendek panjang delapan kaki setengah, kalau berdiri dengan kaki belakang tinggi mencapai satu tombak, maka tubrukan anjing yang satu ini hampir mencapai sama tingginya dengan Liok Kiam-ping yang sedang menukik kebawah, sedikit lena bukan mustahil kedua tangannya kecaplok oleh anjing besar yang rakus darah ini.

Bahwa anjing bergerak sepandai ini sungguh diluar dugaan Liok Kiam-ping, lekas dia kerahkan tenaga dari pusar, menyedot hawa meringankan tubuh sehingga daya anjlok tubuhnya kebawah seperti dihentikan sedetik diudara, begitu kedua kakinya menyendal, tubuhnya melayang tiga tombak jauhnya hinggap dengan kedua kakinya.

Begitu Liok Kiam-ping mulai bergebrak disebelah sini, mendadak Ai-pong sut Thong ciau melompat keluar dari tempat gelap.

tujuannya menerjang kearah loteng ditengah, mendadak dua bayangan berkelebat, tahu-tahu Keling dan Kelong sudah menghadang didepannya.

Melihat yang menghadang dirinya adalah kedua penculik Siau Hong, meski usia Ai-pong-sut sudah lanjut, tak kuat dia menahan gejolak marahnya, saking gusar dia melotot tertawa besar.

"Kepala gundul yang tidak patuh ajaran agama, kalau disorga kau tidak akan diterima, biar hari ini kuantar nyawamu keakhirat saja."

Keling mendelik gusar, bentaknya.

"Bangsat tua yang ingin mampus, tempo hari Hudya tidak sempat mencabut nyawamu, hari ini berani kau menyerahkan jiwa ragamu, agaknya takdirmu sudah diambang mata."

"Jangan membual, di Kwi-hun-ceng kalian tidak mencawat ekor, memangnya hari ini kalian sudah mampus. Siapa yang akan ketimpa ganjaran, nah buktikan saja,"

Sembari bicara kedua tangannya menggempur Keling dan Kelong.

Dia menyerang dengan gusar, ingin merebut waktu lagi, maka pukulannya ini tidak tanggung lagi hebatnya.

Kedua padri ini juga jago kosen yang pandai menilai pukulan lawan, melihat gempuran hebat lawan, serempak mereka angkat telapak tangan dengan seluruh kekuatan menangkis.

Mereka kira dengan gabungan kekuatan mereka berdua yakin pasti menang, apalagi mengadu kekuatan dengan seluruh tenaga yang mereka miliki.

Tak nyana begitu kekuatan pukulan beradu.

Kedua padri itu tertolak mundur selangkah.

Tubuh Ai-pong-sut hanya bergeming sedikit.

Untung pukulannya itu ditujukan kedua jurusan, sehingga kekuatannya terpencar, bila sasarannya hanya seorang musuh tanggung jiwanya sudah melayang.

Kapan kedua padri jubah kuning mengkirik dibuatnya dalam gebrak selanjutnya mereka tidak berani main tangkis dan melawan secara keras.

Mengalahkan kekuatan kedua lawannya, Ai-pong-sut berderai tawa, serunya.

"Dengan bekal kalian yang tak seberapa juga berani membual. Nah, sambut sekali lagi pukulan Lohu,"

Sembari bicara ia maju selangkah, kedua tanganpun didorong kedepan.

Lekas kedua padri itu melompat minggir kedua arah.

Pengalaman Aipong-sut sudah puluhan tahun di Kangouw, cara bagaimana dia harus menggunakan akal mengelabui musuh sudah terlalu mahir bagi dirinya, setelah mengadu pukulan segebrak tadi, dilihatnya kedua bola mata kedua padri ini selalu saling lirik, maka dia tahu bahwa nyali mereka sudah pecah, maka pukulan serempak dengan kedua telapak tangan kali ini hanya gerakan gertak sambel belaka, begitu kedua padri sudah mencelat kepinggir dari pukulan diteruskan tenagapun disalurkan, sasaran yang dipilih adalah punggung Keling yang jaraknya lebih dekat.

Padahal kaki Keling belum lagi menginjak bumi, tenaga pukulan sedahsvat gugur gunung sudah menindih punggung "Blang"

Tubuhnya yang kekar besar itu mencelat ke depan dua tombak jauhnya, mulut terpentang darah segarpun menyembur, tanpa bersuara dia roboh terkulai.

Karuan serasa terbang arwah Keling saking ketakutan, lekas dia bersiul panjang pendek dua kali, maka muncullah dua ekor anjing besar dengan tubrukan sekencang angin les us, dari kiri kanan moncongnya menggigit kepundak Ai-pongsut.

Tahu kedua anjing ini susah dilawan dengan kekerasan, otak Ai-pong-sut yang cerdik mendapatkan akal, lekas dia menjatuhkan diri lalu mengembangkan Te-tong tui, dimana dengan tendengan dan sapuan kedua kakinya tubuhnya menggelinding pergi datang.

Ternyata kedua anjing ini juga sudah terlatih cukup pandai, begitu tubrukannya luput, tangkas sekali sudah putar balik serta menubruk pula dengan kecepatan kilat.

Kelong si padri jahat ikut menyergap dari samping.

Diancam serbuan dari tiga jurusan, bagi seorang jago yang berkepandaian agak rendah cukup salah satu serangan ketiga musuhnya mengenai sasaran, kalau tidak binasa juga pasti luka parah.

Tapi lain dengan Ai-pong-sut yang kenyang pengalaman, meski terancam dia tidak menjadi gugup, dengan tabah dia hadapi sergapan lawan, namun serangan memang gencar dan lihay, melejit mumbul keatas jelas tidak keburu, meminjam daya terjang kedepan dia kembangkan ke dua lengannya sambil menyedot perut sehingga tubuhnya terangkat lima kaki.

cakar kedua anjing yang menerkam dari kanan kiri menyerempet lewat dibawah kakinya, keadaannya sungguh amat berbahaya.

Bila tubuhnya anjlok kebawah pula Ai-pongsut menekuk pinggang menyendal kaki, dengan gerak tubuh yang indah dia melayang keluar setombak jauhnya.

Dalam pada itu Jian-li-tok-heng juga sudah tiba disebelah barat Ling-hong-hek, jaraknya masih tiga puluhan tombak dari kejauhan sudah mendangar benturan senjata dan suara bentakan dari arah tenggara, dia tahu bahwa Liok Kiam-ping sudah mulai bergebrak dengan musuh, untuk mencapai harapan yang sudah direncanakan sebelumnya, sekaligus untuk memecah kekuatan musuh, maka dia bertekad menerjang ke Ling-hong-kek dari arahnya.

Ternyata penjagaan di sini memang lebih kendor hingga dia lebih leluasa maju terus hingga dia dihadang oleh seorang padri saja, maka terjadilah pertempuran yang cukup sengit, untung padri lawannya ini berkepandaian lebih rendah dari Keling.

Untuk mengejar waktu, maka Jian-li-tok-heng merabu lawannya dengan serangan gencar, gerak tubuh dikembangkan laksana angin puyuh, Siantian ciangpun dilancarkan secepat kilat, tampak bayangan berkelebat diselingi bayangan telapak tangan memberondang kesekujur badan padri jubah kuning itu.

Dalam jangka sepuluh jurus padri itu sudah didesaknya mundur, keadaannya cukup gawat.

Disaat Jian-li tok-heng melontarkan sejurus serangan telak.

mendadak lawannya menghardik sekali seraya melompat mundur lima kaki Jian-litok-heng jejak kaki melompat memburu, kedua tangannya naik turun menggempur dada lawan-Disaat genting bagi jiwa si padri inilah, dua ekor anjing besar mendadak menerjang tiba dari kiri kanan-Umpama pukulan diteruskan, umpama tidak mati padri Tibet ini pasti terluka parah, namun Jian-li-tok-heng sendiri juga pasti menjadi korban kebuasan kedua anjing galak itu.

Sebagai penduduk asli daerah selatan Jian-li-tok-heng cukup tahu akan kebuasan dan keganasan anjing Tibet ini, apalagi cakarnya dilumuri racun, umpama tidak tergigit, cukup tercakar juga orang biaa binasa apalagi kedua anjing ini menubruk bersama dengan moncong dan cakarnya sekaligus.

Sudah tentu menyelamatkan jiwa sendiri lebih penting, lekas dia ayun kedua lengan keatas sehingga daya luncuran tubuhnya kedepan seperti direm secara mendadak, berbareng kaki menutul bumi hingga tubuhnya melejit lebih tinggi dua kaki, cakar dan dua moncong anjing menyambar lewat d iba wah kakinya.

Jian-li-tok-heng tahu anjing Tibet sebesar anak kerbau ini memiliki tenaga raksasa tubrukannya tidak kalah dari seekor singa, tapi menyerang dengan membalik badan gerak geriknya jauh terganggu dan lamban.

Mumpung anjing itu menerkam kedepan, tubuhnya dimiringkan, kaki kanan menjejak punggung anjing, dengan ringan tubuhnya melayang setombak jauhnya.

Lalu dia kembangkan cui-pat-sian, tubuhnya limbung seperti orang mabuk yang gentayangan, dengan ketangkasannya dia berputar dan pergi datang ditengah tubrukan dan sergapan kedua anjing galak itu.

Umpama jago kosen kelas tinggi juga susah melayani permainan cui-pat-sian Jian-li-tok-heng.

Apalagi kedua ekor anjing besar ini, meski tenaga besar betapapun gerakan berputar dan membalik kalau lincah dan cepat.

Padri jubah kuning yang menonton dari samping selalu berkaok-kaok memberi aba-aba, lama kelamaan dia menjadi gelisah dan tak sabar lagi, dibarengi gerungan gusar akhirnya dia terjun pula ketengah gelanggang.

Saat mana kedua ekor anjing itu berada di kanan kiri, padri jubah kuning menyerang dari arah depan, jadi sekaligus Jian-li-tok-heng dikeroyok dari tiga jurusan-Tapi tujuan Jian-li-tok-heng memang memancing ketiga musuhnya ini menyerang serempak tampak betapa gemulai gerakan tubuhnya, dengan lincah tahu-tahu dia sudah menyelinap keluar dari kepungan ketiga lawan, sebat sekali dia berputar kebelakang padri jubah kuning, telapak tangannya terus menggablok punggung orang.

Padri jubah kuning hanya merasa bayangan berkelebat, bayangan lawan telah lenyap.

disaat dia melenggong itulah, pukulan telapak tangan lawan sudah mengancam punggung.

Sebetulnya bekal kepandaiannya juga tidak lemah, maka dia menjebak kaki melompat ke kanan.

Jian-li-tok-heng memang paksa lawan berkelit ke samping, maka dia hanya menepuk dengan tangan kiri, begitu lawan bergerak lebih kencang, tangan kanan menyusul dengan jotosan meski tenaganya tidak begitu keras, tapi padri jubah kuning yang berperawakan tinggi besar ini kena ditonjoknya sampai mencelat beberapa tombak jauhnya.

Celakanya tubuh padri jubah kuning yang besar ini menubruk anjing yang ada di sebelah kanan.

Bahwa tubrukannya kena tempat kosong, kaki belum lagi menyentuh tanah, mendadak padri jubah kuning menubruk nya dengan keras, keruan anjing itu kumat sifat liarnya, sebelum tubuhnya ketumbuk jatuh secara reftek kedua kaki depannya mencakar.

benda yang menumbuk badannya.

"Bret"

Di susul jeritan kesakitan, jubah kuning ditubuh padri Tibet tercakar sobek kulit dagingnyapun ikut tercakar dedel dowel.

Saking kesakitan sekujur badannya gemetar.

Jian li-tok-heng juga tidak kenal ampun lagi, di saat padri itu sedang merangkak berdiri secepat kilat Jian-li-tok-heng menubruk kedekatnya serta persen lagi sekali tempilingan "Plak"

Ling-tong hiat dibelakang punggung si padri kena dipukulnya sekali, tubuhnya yang besar kembali tersungkur ke depan menubruk anjing, darah yang menyembur dari mulutnya mencuci moncong dan badan anjing ganas itu.

Mumpung kedua lawan itu berguling saling tindih Jian-litok-heng kembangkan Ginkang, dengan kecepatan angin puyuh dia melesat kearah Ling-hong-kek.

Tapi anjing yang disebelah kiri ternyata menyalak sekali terus mengudak dengan tak kalah kencangnya.

Tapi Jian-li-tok-heng tidak kalah akal, dan berlari secara zig-zag sehingga anjing besar yang kalah tangkas gerak geriknya ini berhasil ditinggalkan beberapa tombak dibelakang.

Ling-hong-kek sudah didepan mata, cukup dua kali lompatan berjangkit lagi Jian-litok-heng yakin dirinya sudah bisa mencapai gedung berloteng itu, diam-diam hatinya sudah kegirangan Pada saat itulah segumpal bayangan merah laksana angin puyuh mendadak menukik turun dari tengah udara mencegat didepannya, dua tangan didorong dengan kekuatan damparan badai, menyongsong kedatangan Jian-li-tok-heng yang sedang mengayun langkah secepat terbang.

Kedua pihak sama-sama mengerahkan tenaga, betapapun tinggi Ginkang Jian-li-tokheng, dalam keadaan ke pepet seperti ini jelas tidak mungkin menyingkir.

Untung pengalaman tempurnya amat luas, meski menghadapi bahaya tidak gugup, segera dia kerahkan tenaga berat hingga tubuhnya anjlok kebawah, begitu kaki menyentuh tanah langsung menjatuhkan tubuhnya ke kanan terus menggelundang delapan kakijauhnya.

Syukur bentrokan dahsyat dapat dihindarkan Ternyata yang menyongsong dirinya bukan lain adalah Pakim Tayhud, orang tengah berdiri tolak pinggang, senyumannya sinis seperti menghina dan mencemooh.

Jian-li-tok-heng bergelak tawa lalu berseloroh.

"Siapa nyana seorang guru besar ternyata juga bertindak secara rendah main bokong, bila tersiar luas didania Kangouw, memangnya nama baikmu tidak pingin kau pertahankan lagi."

Mendelik mata Pa-kirn Tayhud, bentakmya.

"Bangsat, tak usah kau mengoceh di sini, kau berani keluyuran di sini melanggar larangan, hukumannya sudah mati, berani melukai para penjaga lagi, jiwamu tak terampun lagi. Lekas bereskan dirimu sendiri, kalau jatuh ketanganku, tubuhmu takkan bisa utuh lagi."

"Kepala gundul macam tampangmu yang tidak patuh ajaran agama, memangnya masih ada hukum dimatamu. Jangan main tindas karena kekuasaan berada ditanganmu, memangnya kau kira kami gentar kau gertak dengan kekuasaan istana. Padri agung apa macammu ini, kau tidak lebih hanya anjing penjaga pintu belaka."

"Bedebah, agaknya kau sudah bosan hidup. Malam ini Lolap takkan mengampuni jiwamu. Lihat pukulan-"

Tangan kanan terangkat membundar ke kanan, tangan kiri tegak lurus kedepan membundar ke kiri, gerakan secara aneh ini beradu ditengah dada lalu di dorong bergantian.

Pusaran angin kencang laksana amukan angin puyuh segera mendampar kearah Jian-li-tok-heng.

Karena pundak keserempet angin pukulan lawan, Jian-litok-heng sudah berlaku waspada, dia tahu betapa tangguh pukulan orang kini serangan justru tidak menimbulkan deru angin kencang, dia kira lawan hanya menggertak untuk memancing reaksinya, maka dia lebih waspada kaki menyingkir tiga langkah ke kanan serta bersiap siaga.

Ternyata dugaannya memang tidak meleset, disaat tubuhnya menggeser kepinggir itulah s eg ulung angin kencang yang dilancarkan belakangan malah telah menerjang tiba lebih dulu, kekuatannya sedahsyat ombak menghantam karang.

Lekas kedua kakinya menutul bumi, dengan kerahkan seluruh tenaga di kedua lengan sekuatnya dia memukul terus.

"Blang"

Kedua lawan tergentak mundur selangkah.

Terasa oleh Jian-li-tok-heng, tenaga lawan setengah tingkat lebih tinggi dari dirinya, kalau tadi dia tidak menyingkir kepinggir, sehingga tenaga inti pukulan lawan menyamber lewat disamping tubuhnya, jelas dirinya takkan kuat melawan kekuatan pukulan lawan, akibatnya juga sudah dapat dibayangkan Perawakan Pa-kim Tayhud kekar tegap dan tangkas, mendapat angin dia mencecar dengan serangan deras.

Tampakjotosannya samber menyamber, tiga tombak sekeliling arah seperti dibungkus oleh kepulan debu, hawa kotor udara bergolak.

Menghadapi amukan lawan yang memiliki kekuatan seperti kerbau mengamuk ini, Jian-li-tok-heng melayani lebih waspada, dia kembangkan ketangkasan gerak tubuhnya, kelit sana trobos sini, setiap ada peluang diapun balas menyerang sehingga lawan kewalahan juga dibuatnya.

Cepat sekali tiga puluh jurus sudah lewat.

Selama ini Jian-litok-heng lebih banyak mengembangkan Ginkangnya dari pada balas menyerang, sejauh ini keadaan tetap berimbang, dia yakin kalau pertempuran berjalan secara begini saja, dirinya masih kuat bertahan cukup lama.

Sementara itu Liok Kiam-ping sedang sibuk melayani tubrukan-tubrukan anjing yang dikendalikan musuh, d ari pengalaman tempur akhirnya berhasil ditemukan satu cara untuk mengatasinya.

Segera dia kerahkan kedua kakinya secepat kilat tubuhnya berputar, dan berkisar kesebelah kiri.

Mengikuti gerakannya, anjing disebelah kiri yang tetap melotot ikut bergerak membalik.

Mendadak Kiam-ping melompat balik kesebelah kiri anjing, berbareng sebelah tangannya melolos Liat-jit-kiam, sengaja gerak langkahnya diperlambat, maka tubrukan kencang dari anjing besar itu sudah menerkam kepalanya.

Liok Kiam-ping berkelebat dengan Leng hi-pou-hoat, tubuhnya melayang enteng lima kaki, sedikit tumitnya menutul tanah, badannya melejit setombak, dengan gerakan khusus ditengah udara badannya berputar arah menerjang balik kearah padri jubah kuning diarah lain, pedang ditangan kanan bergerak dengan jurus Jit-lun-jut-seng.

Berbareng telapak tangan kiri menyerang dengan jurus Llong-hwe-kiu-thian, mengincar batok kepala anjing yang menerkamnya.

Pedang dan pukulan telapak tangan dilancarkan bersama.

Perbawanya memang luar biasa.

Liok Kiam-ping, meraung sekali.

Padri jubah kuning sedang berihtiar membokong dikala lawan terapung, sungguh tak pernah terduga bahwa ditengah udara Liok Kiam-ping mampu putar balik menerjang dirinya malah.

Mendadak segumpal sinar benderang berbentuk bola sudah menindih diatas kepalanya, cahaya benderang seterik sinar matahari membuat silau dan gelap pandangannya, hakikatnya dia tidak jelas kedudukan Liok Kiam-ping disebelah mana, tahu jiwa sendiri terancam elmaut, lekas dia gunakan gerakan naga kuning membalik tubuh, jurus penyelamat dari Thian-long-toa-patsek.

dia menjatuhkan diri terus menggelundang pergi, semoga jiwanya masih sempat diselamatkan Kapan pernah diduganya bahwa Liat-jit-kiam-hoat yang sakti ini bila serangan sudah dilancarkan, kecuali ilmu silat lawan teramat tinggi dan sudah siaga sebelumnya, mungkin masih mampu melawan atau menyingkir.

Bagi yang berkepandaian cetek jelas takkan lolos dari renggutan elmaut.

Padri jubah kuning dibanding Liok Kiamping masih terlampau jauh, sekilas tertegun oleh perbawa Liat-jit-kiam, meski dia sempat berkelit juga sudah terlambat.

Di mana sinar benderang berkelebat, darah segera muncrat, ditengah jeritan ngeri batok kepalanya yang gundul terbelah menjadi dua.

Anjing yang menubruk dari sebelah kanan juga secara telak kena kepruk telapak tangan Liok Kiam-ping, meraung sekali tubuh nya terlempar berguling-guling.

Untung kulit badannya tebal, agaknya luka nya juga tidak berat, namun pukulan dan rasa sakit telah mengobarkan sifat liarnya.

Liok Kiam-ping menarik napas, kembali tubuhnya berputar lurus dengan gaya indah bagai burung terbang dia melesat kebelakang anjing, kedua tangan terangkap kedua kaki berkembang dengan kecepatan kilat punggung anjing diserangnya pula dengan tusukan.

Karena kebesaran badan meski kokoh kuat namun untuk berputar balik gerakan si anjing agak lamban, sudah tentu dia sukar melihat lawan yang menukik dari atas, namun dia cukup cerdik dan tahu kalau dirinya diserang dari atas, lekas dia menerobos maju kedepan hingga tusukan Kiam-ping mengenai tempat kosong.

Sudah tentu Liok Kiam-ping tidak membiarkan lawan lolos, kedua kaki kembali menjejak tubuhnya bersalto sekali lagi kedepan mengudak tiba, kembali pedangnya bergeLar dengan tusukan telak.

Anjing itu sedang melompat kedepan, kaki depannya belum menyentuh bumi, sementara pedang Liok Kiam-ping sudah menusuk tiba.

"Bles"

Liat-jit-kiam menusuk pantat anjing sedalam satu kaki lebih, saking kesakitan mulutnya meraung keras, tubuhnya bergetar dan kelojotan, sedikit kerahkan tenaga Liok Kiam-ping menekan pedangnya kebawah terus hinggap turun diatas tanah.

Karena tekanan pedang itulah perut dan selangkang anjing terbelah hingga isi perutnya kedodoran, jiwa anjing melayang seketika.

Baru saja Liok Kiam-ping hendak membalik tubuh, anjing yang seekor lagi tanpa mengeluarkan suara sudah merunduk dekat disampingnya, begitu kaki depan terangkat tubuhnya segera menerkam dengan gerung a n seram.

Melihat terkaman buas dalam jarak dekat lagi, melompat keatas sudah tidak keburu, terpaksa dia menggoyang kedua pundak memaksa tubuhnya berputar, namun pedang panjang yang dipegangnya kesaruk cakar anjing sehingga berkerontang dan terangkat keatas satu kaki lebih Liok-Kiamping sendiri juga belum sempat pasang kuda-kuda hingga dia keterjang mundur tiga langkah.

Kejadian hanya terpaut beberapa detik, namun perobahan ini sungguh tak terduga, keadaan cukup genting bagi Kiamping.

Disamping kaget amarahnya berkobar, sembari bersiul panjang dia melambungkan tubuh tiga tombak, laksana burung rajawali dia menukik turun pula dengan sebelah telapak tangannya menepuk ke batok kepala anjing buas itu.

Padahal tepukannya ini hanya gerak gertakan belaka, namun Lwekangnya amat tinggi, maka gerakannya itupun menimbulkan deru ingin yang cukup berat.

Anjing itu amat cerdik, merasa angin menindih tiba, lekas dia mengegos ekor tubuhnya berputar menerobos kekanan.

Tapi setelah menyerang dengan telapak tangan kiri, Kiam-ping meninggikan kedua pundak Liat-jit-kiam ditangan kananpun membelah tiba.

cahaya emas yang berkilau membawa desis suara yang memekak telinga menyamber secepat kilat.

Padahal anjing itu sedang memutar badan, kaki depannya sedang terangkat, sinar pedang sudah menyabet tiba, karuan kedua kaki depannya terpapas putus.

"Bluk"

Badannya yang besar berat terbanting keras, saking kesakitan anjing itu bergulingan sambil kaing-kaing.

Menolong lebih penting, maka Liok Kiam-ping tidak hiraukan korbannya terus berlari kencang pula kedepan dengan mengembangkan Ling-hi-pou-hoat.

Dalam pada itu Ai-pong-sut Thong cau sudah melayang tiba dan berdiri setombak jauhnya sejenak dia berhenti, dua ekor anjing dari kanan kiri kembali menubruk ke arah dirinya.

Tubrukannya jelas lebih garang dan keras dari anjing-anjing yang menyergap dirinya tadi.

Sigap sekali dia kembangkan ilmu ringan tubuh, bayangan tubuhnya mendadak seperti berpencar dibeberapa tempat berputar kian kemari seperti barisan ular diselingi bayangan telapak tangan dan tinjunya.

Betapapun sengit serbuan padri jubah kuning dan kedua ekor anjing galak itu, namun ujung bajunya saja tidak mampu disentuhnya.

Badan anjing besar dan kaku menubruk balik dan memutar badan terlalu lamban, Ai-pong-sut menangkap titik kelemahan ini, dia selalu bergerak kebelakang, karena tubrukan-tubrukan kedua anjing yang berbadan besar, lama kelamaan padri jubah kuning sering saling tumbuk dan keterjang minggir malah, hal ini makin menguntungkan Aipong-sut juga, sehingga dia tidak perlu menaruh perhatian terlalu besar untuk melayani kedua anjing ini.

Hanya sebentar kedua anjing itu sudah megap-megap kehabisan tenaga dan sesak napas, namunjuga makin membangkitkan sinar buas dan liarnya, setiap kali menerkam dan menyerang, raungan dan geramannya terasa seram menggiriskan Ai-pong-sut benar-benar mengembangkan ketangkasan gerak badannya, setiap posisi tubuhnya boleh di kata tidak pernah berhenti meski hanya sedetik, gerak g eriknya enteng dan melayang bagai asap.

keruan kedua anjing selalu menubruk tempat kosong mengamuk sejadi-jadinya, namun gerak gerik mereka semakin lamban Melihat kesempatan sudah tiba mumpung lawan kehabisan napas dan tenaga mendadak Ai-pong-sut melompat keatas seekor anjing, tenaga dikerahkan dikedua telapak tangannya terus menggablok punggung anjing.

Anjing ini sedang megap-megap.

mana menduga dirinya bakal disergap.

bila dia merasa punggungnya diserang, lekas dia jejak kaki belakang, tapi dengan telak punggung Ai-pongsut sudah menindih punggungnya.

"Krak"

Tulang punggungnya patah.

Anjing itu terguling-guling dengan raungannya yang mengerikan lalu menggeletek tak bernyawa lagi.

Seekor lagi kebetulan berada dibelakang, dengan sisa kekuatannya dia menerkam datang.

Ai-pong-sut sudah mengincar tepat sasarannya, di saat tubuh anjing itu terapung diudara, telapak tangannya terayun, badannya merendah dengan telak dia tepuk dadanya.

"Bluk"

Ditengah jeritan yang menyeramkan, badan besar anjing itu terlempar setombak lebih, darah menyembur dari moncongnya yang panjang.

Keadaan Ai-pong-sut sendiri juga cukup payah setelah membinasakan kedua anjing besar itu, sejenak dia berdiri mengatur napas, waktu dia celingukan padri jubah kuning ternyata sudah tak kelihatan bayangannya.

Jian-li-tok-heng harus kerahkan seluruh tenaga dan kemahirannya untuk menempur Pa-kim Tayhud, namun dia masih terdesak dibawah angin, namun dia tidak patah semangat, dengan tabah dan berani dia layani serbuan Pa-kim Tayhud sehingga lawan tidak sempat memecah perhatiannya.

Tengah baku bantam dengan sengit, mendadak terdengar dua kali lolong anjing yang roboh Pa-kim Tayhud tahu dua anjingnya sudah binasa, kuatir rencana yang telah diaturnya berantakan dia perlu memberi bantuan ketempat lain, beruntun dia lancarkan enam pukulan gencar, sehingga Jianlitok-heng didesaknya mundur setombak.

Baru saja dia membalik hendak menyingkir, Jian-li-tok-heng tahu maksud lawan, sudah tentu dia tidak tinggal diam meski dirinya terdesak mundur terus, apapun dia bertekad untuk melabraknya untuk mengulur waktu supaya Liok Kiam-ping punya kesempatan menolong orang.

Maka begitu Pa-kim Tayhud membalik segera dia menubruk majupula seraya memaki.

"Kepala gundul, kau belum mengalahkan aku, kenapa mau pergi. Hayolah, layani aku tiga ratus jurus, jangan takut, paling aku hanya menabok kepalamu yang gundul saja."

Dengan mengerahkan delapan bagian tenaganya dua tangannya bergerak.

tinju kanan menggenjot dada, telapak tangan kiri menempiling kepala, tapi begitu serangan dilancarkan, sebat sekali kakinya sudah melompat minggir kesamping.

"Di sinilah letak kecerdikannya, tahu tenaga sendiri bukan tandingan lawan, dia tidak mau adu tenaga, tujuannya hanya melibat lawannya ini supaya tidak masuk kedalam Ling-hongkek. maka serangannya itupun hanya gertakan belaka, tenaga yang dikerahkan juga tidak sepenuhnya, begitu menyergap lantas lompat menyingkir.

"Sebagai seorang guru besar dari suatu aliran sudah tentu Pa-kim Tayhud harus jaga gengsi dan wibawa, mana dia mau dicaci maki serendah itu, memangnya dia berdarah panas, melihat lawan menggenjot dan menempiling, segera dia mendengus, tubuhnya berputar secepat lesus, tenaga sudah tersalur dikedua lengan.

"Plak"

Tahu-tahu kedua telapak tangan sendiri bertepuk didepan dada terus didorong menangkis jotosan Jian-li-tok heng.

"Blang""

Dorongan telapak tangannya menghancurkan batu gunung sehingga debu terbang krikil mencelat, namun bayangan lawan tiba-tiba lenyap dari depan matanya.

Tengah dia celingukan, mendadak dari samping kanan didengarnya gelak tawa lantang.

"Sia-sia kau hidup setua ini, ternyata mata picak kuping tuli, sejak tadi, cayhe berdiri disini, kenapa batu tidak berdosa kau pukul hancur. Kalau ditonton kaum persilatan apakah perbuatan lucu ini ditertawakan orang?"

Demikian Jian-li-tokheng mengolok.

Bahwa pukulanya luput karuan membara amarah Pa-kim Tayhud, sebat sekali dia bergerak tanpa bersuara menerjang kearah Jian-li-tok-heng, dia tahu lawan takkan berani mengadu tenaga dengan dirinya, maka dia tidak melontarkan pukulannya.

Diluar tahunya jian-li-tok-heng sudah punya rencana, begitu Pa-kim Tayhud bergerak.

dengan kecepatan gerak tubuhnya dia melompat juga beberapa tombak kedepan, dengan gerak yang tak kalah cepatnya dia menjejak mundur pula secara bergantian, bila Pa-kim Tayhud mengudak dimana barusan dia berada bayangannya ternyata sudah tidak kelihatan, karuan dia mencak-mencak gusar seperti kebakaran jenggot Pa-kim Tayhud ahli dalam tenaga dalam, sementara jian-litok-heng ahli dalam Ginkang, kalau berhantam jelas Pa-kim Tayhud lebih unggul, namun bermain petak.

jelas Jian-li-tokheng lebih lincah dan unggul.

Maka dalam lompat melompat ini, jarak mereka tetap terpaut beberapa langkah, akhirnya jian-li-tok-heng pancing lawannya kepinggir hutan, katanya membalik kearah Pa-kim Tayhud dengan tawa lebar.

"Kalau kau berani dan punya kemampuan, hayolah bertanding dengan aku didalam hutan jangan suruh anjingmu membantu, hanya buat menakuti orang saja,"

Habis bicara dengan kekeh tawa menghina dia menyelinap dulu kedalam hutan Sebagai cianbunjin suatu aliran besar, selama puluhan tahun Pa-kim Tayhud disegani didaerah Hay-lam, merupakan jago kosen yang cukup top diwilayahnya, kapan dia pernah dicemooh dan dihina begini rupa.

Bentaknya "Kunyuk mau mampus, lari keujung langitpun Hudya tidak akan mengampuni jiwamu,"

Sembari mengumpat dia memburu kedalam hutan Daerah itu merupakan hutan kembang Bwe, kembang sakura yang lebat dan rimbun, luasnya ada belasan hektar.

Begitu menyelinap ke hutan, telinga Jianli-tok-heng yang tajam mendengar lambaian pakaian dibelakang, maka dia tahu bahwa padri dari Tibet itu tengah mengudaknya, diam-diam dia girang, segera dia percepat langkahnya mengembangkan Ginkang pada puncaknya, badannya bergerak secepat burung selulupan diantara dahan-dahan pohon Dengan perawakannya yang tinggi kekar Pa-kim Tayhud juga kerahkan tenaga dalamnya mengudak dengan kencang.

Dalam pada itu Liok Kiam-ping yang mengembangkan Leng-hi-pou-hoat cukup beberapa kali tutul kaki tubuhnya melambung makin tinggi hinggap dilantai kedua gedung besar tinggi itu.

Baru saja kakinya hinggap di pinggir jendela, serangkum tenaga besar sudah membelah mukanya.

Padahal tubuhnya masih terapung diudara, kedua kakijuga belum berdiri tegak, serangan sudah tiba, betapapun tinggi Lwekangmu juga takkan kuat menahan pukulan telak ini, untung Kiam-ping cerdik dan cermat, cekatan lagi, kedua tangan menggentak terbuka, badan yang sudah melorot kebawah secara kekerasan seperti disedotnya keatas pula hingga mumbul tiga kaki, sekali raih pula kedua tangan menangkap payon, kedua kakinya menendang pula, segera dia hinggap diatas daon jendela yang terbuka, betapa lincah gerak geriknya.

Baru saja dia pernahkan diri, serangan angin kencang menyambar lewat dibawahnya tiba-tiba didengarnya dibalik jendela suara orang keheranan, seorang padri baju kuning tiba-tiba muncul d lambang jendela, kepalanya melongok keluar lalu celingukan dengan pandangan kaget dan heran Ternyata padri ini bersiaga didalam rumah, dilihatnya bayangan orang melayang kearah jendela, lekas dia kerahkan tenaga lalu mernukul dengan kedua tangannya.

Terasa pandangan mendadak kabur, bayangan yang diserangnya tahu-tahu lenyap.

tinggi loteng ini ada beberapa tombak, dibawah juga tetap sunyi tiada suara gaduh jatuhnya sesuatu, karuan dia menjerit heran dan tidak percaya, lekas dia memburu ke jendela dan berdiri melongo.

Liok Kiam-ping geli akan kecerobohan padri dungu ini, segera dia melompat turun, kedua kakinya menendang dan menjejak ke batok kepala sigundul ini.

Padri jubah kuning sedang melongo mendadak bayangan berkelebat pula didepan mata, segulung angin besar menyerang kepala, belum sempat dia melihatjelas penyerangnya, lekas dia melompat mundur kedalam kamar.

Karena tendangan kakinya luput Liok Kiam-ping melayang turun kedalam kamar.

Kontan dia gerakan kedua lengannya pula menyerang padri jubah kuning.

Lwekangnya tangguh pukulannya ini mampu meremukan batu gunung, maka perbawanya sedahsyat amukan gelombang badai.

Padri jubah kuning baru berdiri tegak.

bayangan seorang mendadak melayang masuk disusul pukulan dahsyat menindih dada.

Kamar diatas loteng ini tidak begitu luas, berkelit kepinggir tidak leluasa, padahal pukulan sudah tiba, lekas dia angkat kedua tangan sambil kerahkan seluruh kekuatan memapak pukulan lawan "Duk, krak"

Benturan keras diselingi suara tulang patah, pergelangan tangan padri jubah kuning remuk.

badannyapun seperti di lempar menumbuk dinding lalu membal balik pula tersungkur roboh sambil muntah darah, begitu menyentuh lantai badan terkulai untuk tidak bangun lagi.

Liok Kiam-ping tidak pedulikan korbannya, lekas dia memburu kearah kamar sebelah.

Kamar ini besar dan mewah, suasana hening, tiada bayangan lain kecuali Siau Hong yang terlena diatas sebuah kursi besar beralas bulu tebal, rambutnya tak karuan, wajahnya pucat dan terkulai lemas, jelas dia tertutuk Hiat-tonya.

Sigap sekali Liok Kiam-ping sudah melompat kedepannya, jarinya segera bekerja cepat menutuk beberapa Hiat-to ditubuh Siau Hong.

Sebelah telapak tangan menekan Bingbun-hiat menyalurkan hawa murni kedalam tubuh Siau Hong.

Tak lama kemudian Siau Hong sudah bersuara perlahan lalu pelan-pelan membuka mata, sesaat lagi baru dia melihat jelas siapa yang berada didepannya, Liok Kiamping sedang memanggil-manggil lirih namanya, sungguh bukan kepala girang dan sedih hatinya, seperti anak kecil yang aleman sudah lama berpisah mendadak melihat orang dekatnya, sambil menjerit segara dia menubruk kedalam pelukan Liok Kiam-ping sambil sesenggukan.

Jangan kira Liok Kiarn-ping memiliki Lwekang tinggi membekal ilmu sakti, di arena pertempuran segagah naga mengamuk.

gembong-gembong iblis yang mati ditangannya tak terhitung lagi, namun menghadapi sifat aleman Siau Hong, ternyata dia bingung dan gundah hatinya.

"Sudah adik Hong jangan bersedih, sekarang kami masih berada disarang harimau, musuh tangguh berada disekitar kita, mari berusaha keluar dulu dari tempat ini, kelak kita rencanakan lagi menuntut balas supaya teria mpias rasa penasaran ini."

Siau Hong gadis pingitan yang pandai membaca, maka dia cukup tahu diri, soalnya bila tidak kuasa menahan gejolak perasannya maka sekedar melampiaskan rasa rindu belaka, setelah diberi ingat oleh Kiam-ping, cepat diapun sadar akan situasi yang masih cukup gawat ini.

Dari jendela mereka melompat turun secara bergilir, Kiam-ping melompat duluan baru Siau Hong mengikuti.

Setelah hinggap diatas tanah Liok-Kiam-ping mendongak sambil membuka mulut memekik panjang seperti alunan naga diangkasa, suaranya menembus hutan menggelegar dimaya pada.

Mendadak.

sesosok bayangan orang dengan kecepatan mengejar angin meluncur dari arah timur.

Hanya sekejap Aipong-sut sudah meluncur turun hingga didepannya.

Pekik panjang Liok Kiam-ping memang isyarat yang sebelumnya sudah dijanjikan Sementara itu Jian-ii-tok-heng sedang kejar mengejar main petak dalam hutan sambil melabrak Pa-kim Tayhud.

jaraknya dengan Pa-kim Tayhud tetap dipertahankan sejauh satu tombak.

jarak yang tak mungkin terjangkau oleh pukulan dahsyat macam apapun yang dilontarkan lawan dari belakang.

Dengan ketangkasan gerak badannya kadang-kadang dia berlari diatas tanah, bila terdesak dia melambung keatas pohon lalu menyembunyikan diri, Pa-kim Tayhud disergapnya dari belakang dengan pukulan keras, namun sebelum mengenai sasaran dia sudah melayang pergi pula.

Bila Pa-kim Tayhud mencaci maki sambil mengejar, sementara dia sudah menyelinap kebelakang pohon, celakanya mulut Jian-li-tokheng tidak mau berhenti mengoceh.

"Dengan kemampuan yang tidak seberapa ini berani meluruk ke Tionggoan, lekas mencawat ekormu kembali ke Lun-pu-si di Tibetmu, mengasingkan diri menghapus nama, mungkin kau masih bisa panjang umur, kalau bandel kau akan mampus di sini tanpa ada liang untuk menguburmu Hweslo gundul, aku bermaksud baik, jangan kau salah tampa. Bukankah dalam ajaran agamamu juga ada peringatan yang mengatakan, insafilah kesalahanmu, kembalilah kejalan benar, falsafat yang baik ini harus kau resapi benar, jangankan melawan takdir malah, kau bisa kualat dan menyesalpun kasep."

Pa-kim Tayhud dicaci maki, di goda dan dicemooh, karuan gusarnya bukan main, tampangnva yang kasar dan berwarna merah itu kini lebih membara lagi seperti warna darah yang mengkilap.

Sementara kakinya tak pernah kendor mengudak dengan kencang.

Tengah kedua orang ini saling kejar, dari arah Ling-hongkek terdengar beberapa kali jeritan, beberapa ekor anjing agaknya terbinasa pula.

Seketika Pa-kim Tayhud seperti dikemplang kepalanya, pikirnya kaget.

"Mungkin anjingku terbunuh mati seluruhnya, itu berarti Ling-hong-kek terancam bahaya. Keributan di sini sudah berlangsung sekian lama, kenapa Hwe-giam-lo SiuJan dan lain-lain tiada yang muncul, memangnya mereka sembunyi kemana? Padahal karena anjurannya aku meluruk ke Kwi-hunceng menuntut balas, meski Ling-hong-kek daerah terlarang, namun di saat musuh menyerbu tiba, memangnya pantas mereka menyingkir malah, pasti ada sebabnya kenapa mereka tidak turut membantu Mungkin mereka juga kesamplok musuh atau menghadapi bahaya lainnya?"

Makin dipikir makin gundah, hatinya tidak karuan rasanya.

Yang benar, mana dia mengira bahwa SiuJan sudah dikalahkan Liok Kiam-ping dan kini sedang mengatur rencana busuknya?

Karena menguatirkan keadaan Linghong-kek, dirinya perlu segera balik ke sana, lekas dia kerahkan tenaga mempercepat langkah mengudak Jian-li-tok-heng, begitujarak agak dekat, kedua telapak tangannya terus didorong, gumpalan tenaga dahsyat menerjang kedepan.

jian-li-tok-heng sedang lari sambil melompatjauh ke depan, mendadak deru angin kencang mengudak dari belakang, dia tahu padri Tibet ini sudah dibuat gusar betul-betul, tujuannya memang memancing amarah nya supaya, dirinya lebih leluasa mempermainkan dia, sebelum angin pukulan mendera tiba dia sudah melayang keping gir terus menyelinap kebelakang tiga pucuk pohon-Diluar sadarnya, kali ini dia ketipu malah.

Setelah melontarkan pukulannya, Pa-kim Tayhud tidak lagi mengejarnya dia malah lari terus kedepan menuju keluar hutan, kearah di mana Ling-hong-kek berada.

Begitu Jian-li-tok-heng membalik badan pula, ternyata Pakim Tayhud sudah meluncur dua puluhan tombak disebelah depan-Sudah tentu dia tidak berpeluk tangan dan tidak akan membiarkan padri asing ini pergi apapun harus dipermainkan lagi beberapa kejap.

lekas dia menyelinap dari jarak dekat berusaha mencegat orang, serunya.

"Hweslo, kalah belum menang pun tidak kenapa lari."

Ginkangnya memang lebih tinggi maka cepat sekali dia sudah memperpendekjarak mereka, setelah dikejarnya mencapai jarak lima tombak mendadak dia ayun tangan menimpukan dua butir biji teratai besi kedepan Pakim Tayhud.

Mendengar suara Pa-kim Tayhud tahu serangan lawan tiba, lekas dia mengerem daya luncuran tubuhnya, baru saja dia mau berputar kesebelah kanan, timpukan biji teratai besi kedua lawan sudah menyamber tiba pula.

Karuan amarahnya tak tertahan lagi, akhirnya dia nekad menghentikan langkah serta membalik badan, kedua tangan dilandasi seluruh kekuatan menggempur Jian-li-tok-heng yang sedang memburu tiba.

Tujuan Jian-li-tok heng menahannya di sini, supaya tidak balik ke Ling hong kek.

setelah menimpukan senjata rahasia segera dia menghentikan langkah serta mengawasi saja dengan tersenyum.

Begitu Pa-kimTayhud membalik terus menghantam, cepat dia berkelit kepinggir.

Kali ini Pa-kim Tayhud betul-betul gemas dibuatnya, hawa nafsu sudah menghantui hatinya, sambil menggerung dia memburu maju seraya mengembangkan ciam-liong-sengthian kedua kakinya yang sudah terapung itu menutul pucuk dahan hingga tubuhnya melejit lima kaki lebih tinggi, ditengah udara dia membentang kedua tangan serta memancal kaki, laksana naga terbang tubuhnya melesat lurus.

Dipucuk dahan yang lemas dan tak mungkin bisa menggunakan tenaga dia mampu mengem-bangkan Ginkangnya, kecuali Pa-kim Tayhud memiliki Lwekang dan latihan yang tinggi, siapapun takkan mampu melakukannya.

Melihat daya serangan lawan cukup kuat Jian-li-tok-heng tahu lawan sudah dibuat gusar, serangan kali ini menggunakan seluruh tenaganya, lekas dia kembangkan Ginkang tunggalnya, melesat minggir sejauh mungkin-Diluar tahunya di kala daya luncuran tubuh Pa-kim Tayhud hampir habis, di saat tubuhnya sudah melorot kebawah, mendadak kedua tengannya seperti menggapai laksana sepasang sayap burung, kedua kaki sama injak, sehingga tubuhnya melesat maju lebih jauh lagi.

Masih dalam jarak setombak lebih mendadak Pa-kim Tayhud mendorong tangan kanan, segumpal cahaya putih tahu-tahu sudah menindih diatas kepala.

Ternyata saking sengit disaat mengejar dia sudah keluarkan Hiat-te-cu.

Sudah tentu Jian-li-tok-heng kaget dan pecah nyalinya, namun dia tahu kekuatan Hiat-tocu hanya mampu mencapai setombak, tapi Pa-kim Tayhud mampu melancarkan Hiat-tocu dalam setombak lebih, betapa dahsyat tenaga yang dikerahkan sungguh amat mengejutkan, dimakluminya pula am-gi sejenia Hiat-te-cu bila sudah dilancarkan, jarak seluas satu tombak sudah dibawah incarannya, kearah manapun sudah tiada peluang untuk meloloskan diri.

Untung dikala kepepet otaknya yang encer segera memperoleh akal.

Secara mentah-mentah dia memberatkan badan sehingga tubuhnya anjlok terus menyelinap ketengah rumpun pohon yang lebat.

Sebelum kakinya menyentuh bumi, suara ribut sudah terjadi dipucuk pohon diatas kepalanya, ranting daon beterbangan, sekilas sempat dilihatnya daban-dahan pohon disekitar dirinya sudah terbabat gundul, karuan mengkirik hati Jian-li-tok-heng.

Setelah menggelundung pergi dan melompat tinggi kebeberapa pucuk pohon yang lain dia bergelak tawa serta mengolok.

"Kepala gundul kalau marah ternyata menakutkan. Apa salahnya pohon-pohon di sini hidup subur, kenapa kau membabatnya roboh, memangnya kau tidak takut ketimpa dosa."

Pa-Kim Tayhud diam saja, mulutnya menggeram, diamdiam dia bersiap pula hendak menerjang maju.

Sekonyong-konyong didengarnya pekik nyaring yang mengalun tinggi menembus hutan dan udara dari arah Linghong-kek.

Nadanya tinggi berisi, jelas orang yang memekik memiliki Lwekang tangguh, kemungkinan murid-muridnya yang berada di Linghong-kek sudah disikat musuh seluruhnya.

Sekilas melenggong lekas dia memutar balik terus memburu kearah Ling-hong-kek.

Mend engar pekik suara itu, Jian-li-tok-heng tahu bahwa Liok Kiam-ping sudah berhasil menolong Siau Hong, segera diapun memburu kearah yang sama.

Setelah memekikan suaranya Liok Kiamping segera raih pinggang Siau Hong terus dibawanya melompat jauh keluar diikuti Ai-pong-sut, cepat sekali mereka sudah melayang puluhan tombak.

Ginkangnya memang sudah mencapai taraf tertinggi, meski memeluk Siau Hong, dengan mengerahkan tenaganya, daya luncurnya ternyata tetap mengejutkan-Jian-li-tok-heng menguntit dibelakang Pa-kim Tayhud seperti berlomba menuju ke Ling-hong-kek tapi Liok Kiam-ping bertiga sudah melayang pergi lebih dulu, jaraknya ada tiga puluhan tombak.

Kala Pa-kim Tayhud tiba didepan gedung, dipelataran menggeletak mayat seorang muridnya dan dua ekor anjing.

dia tahu dirinya, terlambat datang.

sehingga segala rencananya gagal total.

Lekas dia ayun langkah pula mengejar kearah Liok Kiam-ping bertiga.

Jian-li tok-heng juga tahu bahwa bayangan yang bergerak didepan adalah gaya Liok Kiam-ping, maka tanpa berjanji kedua orang itu berlomba lari pula menyusul ke sana.

Liok Kiam-ping sudah meluncur seratusan tombak.

dia melampaui sebuah balairung, baru saja hendak meluncur turun ketanah, mendadak sebuah bentakan nyaring menggelegar.

"Bangsat, tinggalkan orang yang kau bawa."

Suara lambaian yang ramai meluncur dari berbagai penjuru, puluhan orang muncul mencegat didepan mereka.

Karuan Liok Kiam-ping mencelos kaget, dilihatnya yang mencegatnya dua tombak disebelah depan adalah sebarisan orang, pemimpinnya adalah dua orang tua beruban, sebelah kiri berusia delapan puluhan tahun, kedua matanya terpejam, namun sikapnya kelihatan kereng dan berwibawa, mungkin orang tua inilah yang bergelar Bong-siu (aki buta), disebelah kanannya adalah Hwe-giam-lo SiuJan, di kanan kiri mereka masing-masing berdiri Biau-san-si-sat dan Seng si-ciang Hau Kong-ki, dibelakang mereka masih berdiri pula serombongan jago-jago Bulim dengan perawakan campuran, semua berpakaian seragam, mata menyala Thay-yang-hiat menonjol, jelas mereka juga memiliki kepandaian yang tidak boleh dipandang rendah, menghadapi pencegatan dengan jumlah sebesar ini, mau tidak mau Kiam-ping mengkirik juga.

Liok Kiam-ping cukup cerdik, sekilas berpikir, dia lantas tahu apa yang terjadi, segera dia tertawa lantang, serunya.

"Kukira siapa, ternyata Siau-tangkeh sendiri, memangnya janjimu tadi sudah kau jilat kembali, Kau kerahkan bantuan sebanyak ini memangnya ingin main keroyok "

Hwe-giam lo terkekeh, katanya.

"Tadi Losiu hanya berjanji tidak akan mencampuri urusanmu di Ling-hong-kek saja, bila kau mencari onar ditempat lain dalam wilayah istana ini, maka aku tidak boleh berpeluk tangan Lemparlah senjata dan menyerah saja biar ongya sendiri yang akan menjatuhkan hukuman kepadamu."

Habis dia bicara bayangan merah mendadak berkelebat tiba.

Pa-kim Tayhud sudah meluncur tiba disamping.

Matanya mendelik mukanya beringas, baru saja dia hendak buka suara menegor Hwe-giam-lo.

Hwe-giam-lo lebih licin, melihat tampang mukanya dia sudah tahu duduk persoalannya, lekas dia memapak selangkah serta berkata menjura dengan tertawa.

"Karena ada urusan lain, maka Losiu beramai datang terlambat, sementara kawanan tikus berhasil kami cegat di sini. apapun yang terjadi malam ini tak boleh membiarkan mereka keluar dari istana. Harap Taysu tunggu sejenak. Setelah Losiu beramai membekuk kawanan tikus ini. Boleh terserah bagaimana kau akan menghukum mereka."

Jelasnya dia meng umpak tapi juga menghasut.

Maklum tokoh kosen seperti Pakim Tayhud yang punya kedudukan tinggi, mana dia mau meminjam tangan orang untuk membekuk musuh.

Maka dia terloroh-loroh, katanya.

"Kenapa Siu-tangkeh bilang begitu, kawanan tikus ini membuat onar di Ling-hong

kek, anggaplah aku kurang hati-hati dan kepandaian Lun-pu-si kurang becus. Tapi Lolap seorang diri tetap tidak akan membiarkan mereka lolos dari sini."

Mendangar percakapan mereka Liok Kiam-ping menarik kesimpulan bahwa pertempuran dahsyat takkan bisa dihindarkan lagi, Situasi setegang ini sudah tidak lagi menarik urat syaraf bagi Liok Kiam-ping, namun kehadiran Siau Hong serta keselamatannya mau tidak mau akan merupakan beban dan menjadi pikirannya juga.

Liok Kiam-ping kumpul ditengah kepungan musuh, dengan suara berbisik mereka berunding lalu ketiganya berdiri menghadap ketiga jurusan, Siau Hong berada ditengah mereka.

Liok Kiam-ping serahkan cui-le kiam kepada Siau Hong supaya gadis ini siaga sendiri dan bila perlu turun tangan untuk membela diri.

Sementara Kiam-ping bertiga sudah mencopot jubah luarnya serta digulung dan diikat dipinggang, siap tempur.

Maka kakek uban yang berdiri di sana sambil memejam mata berkata.

"Siu-sute, sekarang waktunya sudah hampir pagi sebentar lagi dinas pagi sudah tiba, untuk turun tangan sudah tidak leluasa lagi."

Hwe giam-lo mengiyakan perlahan lalu membentak kepada Liok Kiam-ping.

"Bangsat, masih punya pesan apa boleh kau sampaikan kepadaku, kalau tidak Lohu beramai tidak kenal kasihan lagi kepadamu."

Liok Kiam-ping terbahak-bahak katanya.

"Kalian sampah persilatan yang tidak tahu malu menculik gadis remaja berusaha memperkosa dengan obat mesum lagi, diluar tahu pihak penguasa berbuat sewenang-wenang, beginikah kalian anggap awak sendiri orang gagah kaum persilatan-Apalagi kawanan tikus seperti kalian, siapa saja yang tak pernah lolos dari cengkraman tanganku, dengan tenaga orang banyak kalian masih mimpi hendak mengeroyokku, sungguh menggelikan, orang gila yang mimpi dimabuk kepayang. Karena boroknya dikorek dihadapan umum sudah tentu Hwe-giam-lo SiuJan naik pitam dampratnya gusar.

"Kunyuk, yang tidak tahu mampus, kematian sudah didepan mata masih berani mengoceh tak karuan, kalian memang tidak boleh diberi ampun,"

Kedua tangan diputar kekanan kiri lalu berpadu didepan dada, perlahan didorong kearah Liok Kiam-ping.

Tekadnya besar membalas kekalahannya tadi, maka kali ini dia menyerang dengan seluruh kekuatannya.

Liok Kiam-ping menerawang.

"Jumlah mereka banyak. kekuatannya jelas lebih besar, untuk mencapai kemenangan harus menyelesaikan pertempuran secara cepat, maka serangannyapun tidak kenal ampun lagi."

Melihat betapa dahsyat pukulan kedua tangan lawan, Kiam-ping tidak ayal lagi, lekas dia tarik napas kerahkan tenaga dikedua tangan, dengan sepuluh kekuatannya menepuk maju menyongsong pukulan lawan-Beberapa kali Liok Kiam-ping ketiban rejeki dan selalu mujur, maka Lwekangnya sekarang sudah jarang ada tandingan di Bulim, dengan sepuluh bagian kekuatannya ini.

perbawanya sudah laksana gugur gunung.

"Byaar,"

Ledakan menggelegar mengakhiri adu kekuatan ini.

Liok Kiam-ping tergeliat sedikit.

Sementara Hwe-giam-lo SiuJan tergentak mundur tiga langkah.

baru saja dia berdiri tegak Liok Kiam-ping mendesak setapak^kedua tangannya kembali menepuk pula.

Pukulan kedua ini lebih kuat deras dari tangkisan pertama tadi.

berkelit sudah tidak sempat lagi bagi Hwe-giam-lo SiuJan, kalau menangkis dengan pukulan juga jelas dirinya bakal kecundang lebih parah, disaat dia bimbang itulah.

Mendadak didengarnya seorang membentak dibelakang.

"Jangan gentar sute."

Segumpal damparan angin kencang laksana amukan lesus mendampar kearah tenaga pukulan Liok Kiam-ping Kembali terjadilah ledakan lebih dahsyat, bumi goncang, kedua orang tertolak selangkah, deru napas kedua orang mendadak menderu sesak dan berat.

Tiga tombak disekitar arena seperti disibak oleh kekuatan angin lesus yang mendadak meledak tercerai berai.

Penonton disekitar gelanggang seperti ditindih dadanya sehingga menyurut mundur lebih jauh.

Pertempuran adu kekuatan sedahsyat ini memang belum pernah terjadi.

Bong Siu bergelak tawa, katanya.

"Kawanan kunyuk yang malu dilihat orang, ternyata kau memang sedikit berisi, sayang malam ini harus tewas disini."

Liok Kiam-ping balas menjengek.

"Siapa nyana Bong Siu dari barat yang diagulkan sebagai Bulim cianpwe ternyata juga menjadi pesuruh yang tunduk perintah orang, menyerang secara membokong lagi, apa pula kemampuanmu hayolah keluarkan, kalian maju bersama juga akan kutandingi seorang diri."

"Bocah sombong, bila kau mampu lolos dari sepasang tangan Lo-siu, malam ini boleh kau pergi dari sini dengan bebas, kalau tidak maka kau harus menyerah dan dibelenggu menunggu hukuman,"

Sembari bicara dia sudah menghimpun tenaga dan semangat, perlahan kedua tangan bergerak lalu membentak.

"Sambutlah pukulan Lohu."

Liok Kiam-ping tetap kerahkan sepuluh bagian tenaganya menyambut dengan keras.

Kedua orang terhuyung tiga langkah oleh kekuatan lawan Bong Siu berkunang-kunang.

Sementara napas Liok Kiam-ping memburu.

Kelihatannya kedua pihak sudah sedikit cidera, untung Lwekang kedua orang sudah mencapai taraf tinggi, istirahat sejenak.

gejolak darah dirongga dada sudah berjalan normal lagi.

Seluruh hadirin menonton sambil menahan napas, rasa tegang mengencang detak jantung mereka, suasana hening lengang.

Terutama Siau Hong, jantungnya seperti hendak melompat keluar, saking tegang napas ikut memburu dan berat.

Liok Kiam-ping tahu pihaknya malam ini pihaknya serba sulit, maka diinsyafinya bahwa pertempuran adu tenaga akan merugikan pihak sendiri, tapi wataknya angkuh dan tinggi hati, dihadapan umum betapapun dia tidak mau asor dibawah orang lain Setelah mengatur napas dan kendalikan kekuatannya, mendadak dia menghardik.

"Sambut juga pukulanku."

Kedua tangan membundar lalu menjojoh, kali ini dia kerahkan dua belas kekuatannya, pukulannya ternyata tidak menimbulkan gelombang angin deras seperti tadi.

Tak pernah terpikir oleh Bong Siu bahwa lawan ternyata memiliki kekuatan setangguh ini, jarang dia berhadapan dengan lawan sehebat dia, konon lawan masih muda belum genap dua puluh tahun, bagaimanapun dia latihan dan meyakinkan ilmujuga tak mungkin bisa mencapai taraf setinggi ini, memangnya tokoh kosen siapa yang menitis dibadannya, di saat hatinya bimbang dan menimang-nimang itulah.

Hardikan Liok Kiam-ping disertai pukulannya menyentak kaget lamunannya.

Tenaga pukulan lawan semula masih lunak dan enteng, namun kian lama tambah besar dan mendampar hebat laksana guntur menggelegar.

Betapa dahsyat tenaga pukularnya sungguh belum pernah selama hidup di lihatnya.

Seluruh hadirin tiada yang tak terpesona dan melelet lidah oleh kedahsyatan pukulan Liok Kiam-ping.

Walau tahu kekuatan pukulan lawan teramat dahsyat, namun sebagai seorang tokoh besar yang disegani didalam Bulim, sudah tentu Bong Siu malu untuk menyingkir.

Terpaksa dia menekuk lutut serta melangkah mundur setengah langkah, tenaga dari pusar dikerahkan dikedua lengan lalu menangkis dengan pukulan keras juga.

Ledakan sedahsyat guntur membuat seluruh hadirin pekak dan tersibak mundur, akibat dari benturan kedua kekuatan sungguh bukan olah-olah hebatnya.

Badan kedua jago yang berlaga ini seperti dilempar gempa sejauh delapan kaki.

Siau Hong menjerit kaget serta memburu ke sana.

Tapi Aipong-sut lebih cepat sekali raih dia sudah pegang lengan Liok Kiam-ping yang hampir jatuh serta memapahnya berdiri.

"Bluk"

Bong Siu terlempar duduk lalu bersamadi menekan darah yang hampir menyembur, namun darah sudah meleleh di ujung mulutnya.Jelas luka-lukanya cukup parah.

Hwe-giamlo SiuJan dari lain-lain memburu maju merubungnya.

Liok Kiam-ping juga menelan kembali darah yang sudah hampir menyembur keluar meski merasa kepala pusing, namun daya ingatnya masih tetap jernih, setelah dipapah Aipong-set sekalian dia duduk bersimpuh, dari dalam kantong bajunya dia merogoh ke luar selembar kelopak Soat-lian terus dikulumnya.

Setelah itu dia mulai samadi mengerahkan Lwekang.

Soat-lian adalah obat mujarab, begitu masuk mulut lantas mengeluarkan sari manisnya dan tertelan kedalam mulut, lekas sekali luka dalamnya sudah diobati.

Memangnya Lwekang Kiam-ping amat tangguh, dengan mengerahkan tenaga menyalurkan hawa murni sekali putaran, luka-luka dalamnya boleh dikata sudah sembuh sama sekali.

Demikian pula Kiuyap-ci-lan didalam tubuhnya mulai menunjukan kasiatnya setelah mengalami gembleng dan adu kekuatan barusan, dibantu kasiat Soat-lian lagi, makin terbaur dan senyawa dengan jiwa raganya, tenaga bukan saja pulih Lwekangnya malah maju setingkat Hanya sekejap semangatnya sudah pulih, segera dia melompat bangun dengan gairah, sorot matanyapun lebih mencorong dibanding sebelum terluka tadi.

Bong Siu juga menelan beberapa butir obat untuk menyembuhkan luka dalamnya, tapi kasiat obatnya tidak seampuh Kiu-yap-ci-lan dan Soat-lian.

maka dia agak terlambat dan saat itu masih samadi.

Melihat wajah Liok Kiam-ping cerah dan bergairah, Siau Hong tahu bahwa luka dalamnya sudah pulih, rasa kuatirnya tadi seketika sirna, tanyanya penuh perhatian.

"Ping-ko, bagaimana luka-lukamu ? Apa sudah sembuh ? keadaanmu tadi sungguh menakutkan."

Liok Kiam-ping tertawa, katanya.

"Luka-lukaku sudah sembuh, tapi kita masih dalam kepungan musuh, apapun harus cari akal untuk menjebol kepungan lebih dulu."

Lalu dia memberi tanda kepada Ai-pong-sut dan Jian-li-tok-heng, katanya perlahan.

"Sekarang kita maju bersama..."

Belum habis dia sudah mendahului bergerak.

Memangnya Ai-pong-sut dan Jian-li-tok-heng sudah tidak sabar lagi.

melihat Liok Kiam-ping memberi aba-aba, serempak merekapun menyerbu.

Bong Siu masih bersamadi, ketiga musuh tangguh ini sudah beraksi terpaksa Hwe-giam-lo menyuruh Biau-san-si-sat maju mencegat Liok Kiam-ping.

Sementara dia dan Pa-kim Tayhud masing-masing menghadapi Ai-pongsut danJian-litok-heng.

Begitu maju ketengah arena Biau-san-si-sat lantas mengepung Liok Kiam-ping ditengah, mereka bergerak mengelilingi makin lama makin cepat, lama kelamaan bayangan tubuh mereka sudah tidak kelihatan, demikian arena putaran mereka makin mengecil.

Berdiri ditengah kisaran bayangan musuh, perasaan Liok Kiam-ping menjadi gundah dan risau, mendadak dia maju setindak.

tangannya memukul kearah Nyo Llong.

tertua dari Biau-san-si-kiat yang kebetulan berputar didepannya.

Diluar tahunya keempat saudara Nyo ini menggunakan Susiang-tin (barisan empat gajah) yang mengutamakan tenang mengatasi aksi, kalau lawan tidak bergerak diri sendiri harus diam, maka begitu Liok Kiam-ping melontarkan pukulan dengan kedua tangannya, orang ketiga dari Biau-san-si-sat Nyo Hong melontarkan pukulan dari belakang memukul punggung Liok Kiam-ping menggeram rendah, kedua lengan terkembang, dengan sebelah tangan dia menangkis pukulan Nyo Hong.

"Blang"

Nyo Hong tertolak mundur setapak lebar.

Meminjam benturan keras ini tubuh Liok Kiam-ping mencelat mumbul tiga kaki, tubuh yang terapung berputar lurus dan datar, melesat setombak jauhnya, dia kira dengan lompatan sejauh ini dirinya sudah tolos dari kepungan keempat lawannya.

Tak nyana waktu dia angkat kepala dan melihat seputarnya.

Biau-san-si-sat tetap berdiri diempat penjuru sekaku batu, d irinya jelas masih dalam kepungan mereka, karuan hatinya heran dan bingung.

Tapi Liok Kiam-ping cukup cerdik, melihat bentukan dan keadaan keempat lawannya dia lantas tahu bahwa barisan ini akan bergerak bila disentuh, maka gerakan selanjutnya dia amat berhati-hati.

Kali ini dia melompat lagi dengan gaya ciam-llong-seng-thian setinggi tiga tombak ditengah udara dia mengeliat serta berputar mengembangkan Ginkang yang tiada taranya, kedua tangan terkembang laksana seekor burung raksasa yang pentang sayap.

Dalam hati dia sudah bertekad dengan mengincar satu sasaran untuk menggempurnya dari atas udara.

Tak nyana Su Siang-tin memang hebat dan lihay, begitu dia bergerak, Biau-san-si-sat juga lantas beraksi, mereka berlompatan dari satu pojok ke pojok lain, gerak gerik mereka sudah terlatih dan mahir sekali.

Karuan Kiam-ping kebingungan malah, dalam kurungan yang bergerak begini dia jadi kehabisan akal kesasaran mana dia harus menyerang.

Padahal ginkang Ing-wi-kiu-coan paling banyak hanya bisa dikembangkan sembilan kali putaran, setelah itu harus anjlok turun kebumi berganti napas.

Liok Kiam-ping sudah terbang berputar lima kali, keadaan cukup mendesak.

dia pantang bimbang lagi, sekilas berpikir segera dia pilih Nyo Hou yang berada paling dekat untuk dijadikan sasaran serangannya, kedua kaki memancal, dengan badan menukik dia menepuk dari atas.

Tak nyana sebelum dia lontarkan pukulannya Nyo Hong menubruk datang dari kiri kanan-Gerak gerik mereka teramat aneh dan cepat, hampir susah dikelit dan dihindari.

Bahwa serangan gagal awak sendiri terancam serangan musuh malah, lekas dia punahkan tenaga pukulannya, kedua lengan menggentak naik keatas, sehingga tubuhnya menggeliat mumbul tiga kaki kesamping, syukur sempat meluputkan diri.

Waktu berhantam di Kwi-hun-ceng tempo hari Ai-pong-sut Thong cau harus banyak memecah perhatiannya sehingga padri Tibet lawannya sempat memungut keuntungan daripada dirinya, dalam hati selama ini dia merasa penasaran, maka begitu menubruk maju dia papak Pa-kim Tayhud serta melabraknya dengan sengit.

Pa-kim Tayhud sendiri juga sedang uring-uringan, memangnya rasa dongkolnya tidak terlampias mendadak bayangan berkelebat segulung angin pukulan sudah menyapu mukanya.

Daya serangan cukup deras, membalik tangan menang kia sudah tidak sempat, lekas dia melompat pergi ke sebelah kanan.

Menghadapi musuh besar sudah tentu Ai-pong-sut tidak menyia-nyiakan kesempatan, segera dia kembangkan Ginkangnya yang tinggi, bagai bayangan setan mengikuti gerak gerik lawan-Sekali gempur pula dengan kedua tangan dia cecar lawan dengan damparan angin dahsyat.

Pa-kim Tayhud belum berdiri diatas ke dua kakinya, dari belakang pukulan lawan sudah menderu tiba, karuan dia makin beringas, ditengah gerungan gusarnya kedua tangan terkembang, badannya yang besar dengan jubah kedodoran itu melayang tinggi setombak ditengah udara dia menekuk pinggang sambil menendang dengan badan membalik.

Dua jurus pukulan Ai-pong-sut membuat lawannya berkelit secara runyam, rasa dangkol hatinya sedikit teria mpias, maka sifat humornya segera kambuh, setelah tawa berkakakan dia berseloroh.

"Sampah persilatan padri jahat yang ingkar ajaran agama, dengan bekal kepandaianmu yang cukup mahir main lari dan menyingkirjuga berani bermuka-muka di Tlonggoan. Gundul tua malam ini adalah saat terbaik kau bertobat dan minta ampun, untung beberapa peng awalmu itu sedang menunggumu diperjalanan ke akhirat, sebentar kuantar jiwamu untuk menyusul mereka"' Karena terapung diudara Pa-kim Tayhud tidak bisa bersuara, terpaksa dia hanya melotot sambil mendangus saja, di mana kedua tangannya menggaria kebawah, dia memutar balik tubuhnya terus balas menubruk. Serangan yang dilancarkan dengan rasa gusar memang tangguhnya luar biasa. Ai-pong-sut berada diaebelah bawah sudah tentu tidak berani menyambut secara keras, lekas dia geser kedua kaki kekanan, dengan sebat dia berkiaar kebelakang Pa-kim Tayhud seperti gerakan gangsing yang berputar, kedua telapak tangan terus menggempur dan merogoh bagian bawah badan lawan-Bahwa tubrukan kedua tangan mengenai tempat kosong, mendadak tenaga merogoh dan menyapu datang kebagian bawah tubuhnya, lekas kedua kaki memancal berbareng tinjunya menjotos kebawah, meneruskan daya tubrukan dia menjerit minggir setombak kesebelah kiri. Serangan Ai-pong-sut kali ini tidak maksud melukai lawan, tujuannya hanya memaksa turun lawannya, maka sebelum mengenai sasaran kedua tangan ditarik. tubuh berputar kembali dia berkelebat kebelakang Pa-kim Tayhud. Kedua telapak tangannya ditarikan sekencang angin ribut, beberapa hiat-to ditubuh Pa-kim Tayhud dirabunya dengan gencar. Bayangan merah seketika terbungkus oleh bayangan telapak tangan yang tak terhitung banyaknya. Tak pernah terpikir oleh Pa-kim Tayhud bahwa orang tua pendek gemuk yang satu ini gerak-geriknya ternyata begitu tangkas, sedikit lena dirinya terdangar oleh rangsakan lawan tapi sebagai maha guru silat suatu aliran, Kungfunya memang mempunyai kelebihan sendiri dalam alirannya, lekas dia sudah balas menyerang enam jurus pukulan, keadaan sekarang berimbang. Hwe-giam-lo SiuJan adalah manusia licik dan munafik, dia langsung menubruk kearah Siau Hong, tangan kiri bergerak dengan Kim-liong-jiu mencengkram pundak kanan Siau Hong. Siau Hong berkelebat mundur sambil mengayun cui-le-kiam dengan jurus Pak-coa-toh-sim menuruk urat nadi dipergelangan tangan Sinar pedang berkelebat, cahayanya ternyata mencorong selebar satu kaki, sekilas pandang bagi seorang ahli pasti tahu bahwa pedang itu adalah gaman sakti peninggalan jaman kuno. Cengkraman Hwe-giam-lo itu hanya pancingan reaksi saja, begitu sinar pedang bergerak dia sudah menekuk sikut menarik pergelangan, untung gerakannya masih cukup tangkas, namun keringat dingin sudah membasahi jidatnya, hatinya rasa kagetpun menggelitik hati. Lekas dia kembangkan gerakan tubuhnya, secepat kilat jari tangan kanan menggantol urat nadi Siau Hong yang memegang senjata, gerakannya cukup gesit dan aneh, jelas dia yakin bahwa cengkramannya pasti berhasil. Jian-li-tok-heng bekerja lebih cermat dan seksama, diamdiam dia sudah menerawang situasi malam ini tidak menguntungkan pihaknya, hatinya sudah siaga bukan memikirkan cara bagaimana mengejar kemenangan tapi berusaha supaya tidak kalah dan fatal, maka sejak tadi dia selalu memperhatikan keadaan Siau Hong dan tak berani meninggalkannya terlalu jauh, supaya bisa memberi bantuan bilamana perlu. Melihat Siau-Hong terancam oleh cengkraman Hwe-giamlo segera dia menghardik.

"Bangsat tua, stop "

Dengan jurus cian-bwe-jiu (gerakan tangan menggunting kembang Bwe), jari tangannya menjojoh urat nadi dilengan kanan Hwe-giamlo SiuJan.

Hwe-giam-lo sudah senang bahwa cengkeramannya pasti berhasil, tak nyana bahwa Jian-li-tok-heng juga sudah mengancam lengannya dengan ujung jari, kalau tidak menarik serangan, lengan sendiripun pasti celaka, maka dia tidak sempat melukai musuh.

Lekas dia menurunkan pundak serta miringkan tubuh sambil berputar, jari telunjuk dan tengah tangan kanan terangkap balas menutuk ci-tong-hiat dipunggung Jian-li tok-heng, menarik serangan merobah gerakan cepat tepat dan pas, gerak geriknyapun mahir dan wajar.

Sebelum serangan dilancarkan penuh, angin tajam sudah mengancam punggung, lekas Jian-li-tok-heng melangkah maju dengan kaki kiri, gerakan dirobah Pek-ho-can-ji, telapak tangan kiri menepuk cong-hiat-hiat dibelakang batok kepala lawan, gerakan sekaligus dari seorang ahli kungfu yang benarbenar berisi.

Lekas Hwe-giam-lo menarik leher sembunyikan kepala, tutukan jari tangan kanan berobah mencengkeram, ke atas balas menyodok urat nadi tangan kiri Jian-li-tok-heng yang menyerang tiba, sementara tangan kiri dengan Im-ciang menepuk ki-bun-hiat dibelakang iga, satu jurus dua gerakan, serangan kali ini bukan saja lihai juga menakjubkan.

Jian li-tok-heng menekuk lutut sehingga tubuhnya setengah jongkok sambil menarik serangan, sementara tangan kanan menepuk serangan tangan kiri lawan dengan jurus Latf-pihoa-san "Plak"

Kedua tangan mereka beradu jian-li-tok-heng tergetar keras, tubuhnya bagian atas tergeliat mundur, kakinya mundur setengah langkah.

Hwe-giam-lo SiuJan berkedudukan disebelah bawah, getaran pukulan keras ini membuatnya jatuh duduk diatas genteng, tangan kirinya sakit sekali seperti tulang pergelangannya patah.

Memperoleh angin Jian-li-tok-heng makin bersemangat dan gagah, mendesak selangkah kedua tangannya mengepruk kebatok kepala Hwe-giam-lo siuJan, serangan kedua tangan ini menghimpun seluruh tenaganya, sudah tentu perbawanya cukup mengejutkan Hwe-giam-lo sedang kesakitan dan hendak melompat berdiri, ingin menuntut balas rasa sakitnya ini, mendadak pukulan lawan sudah menindih tiba pula, lekas dengan gerakan keledai malas berguling dia menggelundang setombak jauhnya.

Padahal pukulan Jian-li-tok-heng teramat keras, karuan genteng kaca dibawah kakinya pecah hancur berantakan.

Dalam pada itu Liok Kiam-ping melayang tiga tombak kepinggir, begitu kedua kakinya hinggap dibumi, Biau-san-sisat tahu-tahu sudah berada disekelilingnya pula, mereka tetap bergerak cepat mengelilingi dirinya.

Memangnya wataknya keras dan tinggi hati, sudah tentu tak mau dirinya dipihak yang didesak dan terancam dalam barisan, ditengah bentakannya kedua tangan terpentang kekiri kanan masing-masing menempur Nyo Liong dan Nyo Hou saja, kedua pukulannya dilancarkan dan Nyo Hun didepan dan menubruk maju pula.

Sudah ia tak sempat melukai lawan, ia berputar dengan tangkas dan kedua tangannya dibuat menangkis tubrukan kedua musuhnya ini.

"Blang, blang", Loji dan Losi dari Biau-san-si-sat terpukul mundur. Kiam-ping siap mengudak tapi Nyo Llong dan Nyo Hong sudah menambal kekosongan posisi mereka, kekuatan pukulannya bertambala dahsyat ditambah daya tubrukannya kedepan Lekas Liok Kiam-ping ayun kedua tangannya menangkis secara keras kearah damparan pukulan lawan-Tapi pukulan menangkis baru dilontarkan, sementara deru angin kencang sudah menderu pula dari kanan kiri. Akhirnya Liok Kiam-ping berdiri ditengah tak bergerak, gerak tubuhnya berputar ditempat, ia terus menggempur kekanan dan belakang. Seranganya yang cukup tangkas ini didesak pula oleh keempat musuh sehingga terdesak dibawah angin, segera ia tarik tangan setelah melontarkan serangan susulan lawan sudah mencegat dirinya lebih dulu. celakanya gerak mereka makin menciut, badan terasa beku dan menyesak napas. Liok Kiam-ping terus menggempur dengan kedua tangannya secara kilat. Serangan kilat secara keras adu tenaga lagi paling menguras tenaga, betapapun tangguh Lwekang Liok Kiamping, jelas takkan kuat bertahan terlalu lama. Semasakan air kemudian, napasnya sudah menderu berat, keringat sudah membasahi jidatnya. Ai-pong-sut masih terus melabrak Pa-kim Tayhud dengan gusar dan dandam, dengan ketangkasan tubuhnya, dia cecar lawannya sehingga Pa-kim Tayhud didesak mundur berulang kali, namun dari padri Tibet inipun berjuang sekuat tenaga sehingga keadaan masih bertahan sama kuat. Mereka sama menyerang secara kilat, setiap serangan menggunakan seluruh kekuatan pula, maka benturan pukulan yang dahsyat terus menggelegar dengan suaranya yang keras menggoncang bumi, hawa bergolak ditengah arena, genteng kaca beterbangan kesegala penjuru. Dua bayangan merah dan kelabu seperti saling gubat lalu naik turun saling gontok. hakikatnya sukar dibedakan denganjurus serangan apa mereka menggempur musuhnya. cara adu tenaga yang dilakukan kedua lawan setandang ini berbeda lagi, namunjuga menguras tenaga. Ratusanjurus kemudian, keringat sudah berketes-ketes dijidat meleleh keleher Ai-pong-sut. Mata Pa-kim Tayhud beringas, jenggotnya basah, napasnya ngos-ngosan seperti babi yang akan disembelih. Tapi kedua orang ini tiada yang mau mengalah, keduanya masih terus baku hantam dengan sengit. Setelah Hwe-giam-lo SiuJan dipukulnya menggelundung pergi Jian-li-tok-heng sudah siap menerkamnya pula. Mendadak dirasakan sejalur tenaga lunak menggulung dari belakang, deru angin pukulan lunak ini membawa bau busuk. Jian-li. tok-heng hanya menyedot sedikit bau busuk ini, rasanya sudah mual hampir tumpah, maka dia berpikir mungkinkah ini Sip hu-ciang (pukulan mayat busuk) yang pernah kudangar dan belum pernah kulihat itu. Konon pukulan ini mampu membuat busuk mayat korbannya dalam sekejap. bagi yang menyedot hawa busuknya saja, bisa tumpahtumpah dan semaput."

Apapun Jian-li-tok-heng tidak menyangka bahwa lawannya sudah meyakinkan pukulan jahat yang paling beracun didunia ini, untung dia bersiaga dan hanya menyedot sedikit hawa busuk.

kalau sampai tumpah dan semaput, akibatnya tentu amat fatal.

Tanpa pikir dia melompat tinggi mencari kedudukan yang lebih tinggi menanjak angin, sambil menahan napas...

"Tindakannya memang berhasil. Hawa busuk beracun ini didesak keluar dengan tenaga dalam melalui ujung jari yang dijentikan atau diseling dalam pukulan telapak tangan, maka daya pukulannya cukup tangguh, sementara hawa beracunnya tertolak balik oleh hembusan angin lalu. Padahal Jian-ti-tok-heng bergerak tanpa perhitungan, namun sekaligus dia sudah memperoleh kedudukan yang menguntungkan, karena hawa beracun itu tidak mampu melawan angin, celaka adalah anak buah Hwe-giam-lo sendiri yang berdiri dibawah, beberapa prang tampak meloso jatuh. terus terguling jatuh dari atas genteng. Musuh tak berhasil dirobohkan malah orang sendiri yang keracunan, karuan Hwe-giam-lo makin gusar danpenasaran, lekas dia hentikan serangan pukulan hawa busuk beracun, mengerahkan hawa murni memulihkan tenaga Maklum setiap kali pukulan beracun dilancarkan, tenaga dalam sendiri akan dikorting beberapa puluh prosen sesuai daya tahan dan lama dari pukulan itu dilancarkan, untuk memulihkan kekuatan harus mengerahkan hawa murni dan bersamadi cukup lama. Anak buahnya yang lain segera berlompatan turun, disamping menyingkir juga menolong beberapa temannya yang keracunan, Hwe-giam-lo sudah menghimpun semangat menyusun kekuatan pula. Betapapun gencar pukulan Liok Kiam-ping yang terkepung didalam Su-siang-tin tetap tak mampu menjebol atau merobohkan keempat lawannya karena kerja sama Biau-sansi-sat cukup ketat dan rapat, beruntun dia menggempur hampir seratus jurus tetap tak mampu memecahkan barisan lawan Padahal dengan bekal Lwekang Liok Kiam-ping sekarang, jarang ada tokoh silat di Bulim yang mampu menandanginya, setiap pukulannya mampu menghancurkan batu menggugurkan gunung. Sayang Su-siang-tin merupakan daya cipta bersama dari Biau-san-si-sat, kelihatannya mereka memukul secara bergiliran dengan tenaga individu, pada hal setiap salah seorang mereka menyerang, gabungan tenaga mereka berempat sebagai landasannya, itu berkat kerja sama ketat dan serasi serta gerakan berputar mereka dari satu kedudukan kelain kedudukan secara berantai, maka semakin cepat mereka berputar mengelilingi musuh kekuatannya tambah besar. Sudah tentu Liok Kiam-ping tidak tahu seluk beluknya, dengan gencar dia terus menggebuk musuhnya dengan kekuatan penuh, lama kelamaan dia kehabisan tenaga sendiri, hingga serangan yang semula gencar menjadi lamban-Sejenak dia menentramkan hati mengatur napas, pikirannya menjadi jernih, untung daya kekuatan barisan lawan mengutamakan tenang mengatasi aksi, gerakan mereka merupakan reaksi dari gerakan lawan, cepat atau lambat balas menyerang setiap ada kesempatan Serangan Liok Kiam-ping sudah jauh lebih lambat, maka reaksi Su-siang-tinpun mengendor. Tapi keadaan tetap tegang. Otak Kiam-ping memang encer, sejenak dia menerawang, lekas sekali dia sudah menyimpulkan sesuatu, meski agak nyerempet bahaya, rasanya lebih mendang daripada main gempur tanpa membawa hasil sedikitpun. Mendadak dia berhenti dan berdiri tegak mengerahkan hawa murni. Secara reflek Kim-kong-put-hoay-sin-kang telah bekerja membungkus dirinya dengan hawa sakti. Kedua tangan sudah bersilang tegak didepan dada penuh dilandasi kekuatan, setelah mengincar kedudukan lawan mendadak dia melompat maju seraya memukul kearah Nyo Liong. Kali ini seluruh tubuhnya sudah dilindungi Sinkang, cukup dia memperbesar tenaga, hawa sakti itupun bekerja semaksimal mungkin, sebat sekali dia ikuti gerak gerik Nyo Liong dari belakang. Mendadak tangan terayun memukul sejurus pula. Begitu pukulan dilancarkan, Nyo Hong dibelakangnyapun sudah menepuk tiba dengan pukulan dahsyat. Melihat lawan tidak berkelit Nyo Hong yang memukul dengan kedua telapak tangan bersorak girang dalam hati, tak nyana satu kaki sebelum pukulannya mengenai tubuh Liok Kiam-ping, tangannya tak mampu maju lagi seperti ditahan suatu tenaga sekokoh dinding. Jelasnya tenaga pukulannya sirna tak berbekas, seperti batu kecemplung laut, hanya desis suara yang mengerik saja yang terdangar. Karuan Nyo Liong mengkirik seram dan pecah nyalinya, ilmu macam apakah yang dilancarkan lawan, memangnya dia pandai sulap dan ilmu hitan ? Pada saat itulah.

"Blang"

Dengan telak pukulan Liok Kiamping mengenai Nyo Liong tubuhnya yang besar mencelat terbang setombak lebih terbanting diatas genteng.

Sejurus serangannya berhasil Liok Kiamping tidak kepalang tanggung lagi, memutar miring badannya, kedua tangan kembali menepuk kearah Nyo Hou yang menerjang tiba.

Su-siang-tin dipimpin oleh Nyo Liong tenaganya sebagaiporos kekuatan dari barisan empat gajah ini, setiap serangan balasan selalu dibawah pimpinannya, begitu Nyo Liong kepuku jatuh, barisan jadi pecah, kekuatannyapun buyar.

Karena itu dikala Liok Kiam-ping memukul Nyo Hou, Nyo Hun yang berada di belakangnya juga memukul dengan kedua tangannya, tapi kekuatan pukulannya jauh lebih rendah dibandang pukulan gabungan tadi Pukulan musuh hanya menimbulkan sedikit reaksi dipunggung Liok Kiam-ping, lekas sekali sudah sirna oleh tangkisan hawa saktinya.

Karuan Biausan-si-sat melongo dan ciut nyalinya.

Diantara Biau-san-si-sat, kepandaian dan Lwekang Nyo Hou paling tinggi, orangnya juga lebih cerdik, begitu melihat saudara tuanya terpukul jatuh, maka dia insyaf Su-siang-tin takkan mampu mengurung lawan lagi, maka dia sudah kaget dan siaga.

Begitu kedua adiknya gagal merobohkan lawan, Liok Kiam-ping sudah balas menepuk dengan kedua tangan, mana dia berani menangkisnya, lekas dia mengegos pergi lima kaki.

Sementara Nyo Liong sudah berdiri, mendadak dia menghardik.

"Lihat pisau."

Tangan terayun, selarik sinar kemilau meluncur lurus mengarah dada Liok Kiam-ping.

Dari cerita Jian-li-tok-heng, Liok Kiam-ping tahu bahwa Biau-san-si-sat memiliki kepandaian menimpuk pisau terbang secara bergabung pula, kekuatan barisan pisau terbang empat bersaudara ini amat ganas dan lihay, biasanya jarang dilancarkan bila tidak dipaksa.

Mendangar Nyo Liong menghardik lekas dia berputar menatap tajam, selarik sinar dingin laksana kilat menyambar tiba, mendangar suara dia dapat membedakan, senjata apa yang menyerang, bahwa Nyo Liong sudah menyerang dengan pisau terbang, maka para saudaranya, pasti akan ikut menghujani dirinya dengan senjata rahasia yang sama, maka Kiam-ping tidak berani lena sedikitpun.

Lekas dia kembangkan Leng-hi-pou untuk meluputkan diri.

Tak nyata sebelum dia berdiri tegak, dua jalur angin telah menyambar pula dari ka nan kiri, jelas dirinya sudah terancam oleh bidikan kedua pisau terbang ini, untung Lwekangnya tinggi dan bekerja menurut jalan pikirannya, mendadak dia membentang kedua lengan serta menghantam kebawah sehingga tubuhnya mencelat naik lima kaki, duajalur sinar kemilau menyambar dari bawah kakinya secara bersilang, namun mendadak melesat mundurpula balik kearah datangnya.

Kiranya, pisau terbang yang diyakinkan Biau-san-si-sat berbeda dengan Am-gi umumnya, pisau terbang mereka dikendalikan dengan tenaga dalam, namun karena batang pisau cukup lencir panjang, tak bisa brputar atau melingkar balik, terpaksa ditimpukan dan disedot balik saja.

Liok Kiam-ping terapung diudara, sesaat dia melenggong menyaksikan ilmu tunggal yang aneh dan menakjupkan ini, lekas dia menggeliat pinggang menggerakkan kaki tangan, di mana kedua lengannya menggaris kebawah tubuhnya melayang turun setombak jauhnya, sekalian dia merogoh kebelakang melolos Liat-jit-kiam serta melompat maju pula.

Bahwa pukulan hawa beracun Hwe-giam-lo bukan saja tidak berhasil merobohkan lawan malah orang sendiri yang menjadi korban, maka-gusarnya sudah memuncak, sekilas dia melirik kepertempuran Kiam-ping dan Ai-pong-sut, keadaan mereka masih amat tangguh.

Biau-san-si-sat dan Pa-kim Tayhud belum mampu merebut kemenangan, jikalau malam ini tak mampu merobohkan dan membekuk mereka, maka dirinya jelas takkan mampu bercokol lebih lama di kota raja, maka tanpa menghiraukan peraturan Bulim, lekas dia membentak.

"Kalian lekas maju, malam ini jangan biarkan mereka lolos dari sini."

Lalu dia mendahulul menubruk kearah Jian-li-tok-h eng .

Dipinggir gelanggang masih ada belasan Wisu atau guru silat dalam istana yang menontonpertempuran, mereka sedang asyik dan pesona oleh kesaktian ilmu Liok Kiam-ping, bentakan Siu-Jan mengejutkan mereka serempak semua melolos senjata terus merubung maju.

Melihat muka Siu-Jan beringas, jian-li-tok-heng yang pemikir ini lantas tahu bahwa pertempuran malam ini susah dibereskan, apalagi dia harus melindungi Siau Hong, maka gebrak selanjutnya dia tidak berani adu kekuatan, dengan Ginkang yang tinggi dia melayang keluar kalangan.

Baru saja dia hendak balas menyerang, serombongan Wisu mendadak menyerbu tiba.

Karuan dia naik pitam, dampratnya.

"Kawanan tikus tidak tahu malu, berani main keroyok. baiklah jiwa kalian takkan kuampuni."

Dengan melontarkan Sian-tian-ciang dia songsong kedatangan kawanan Wisu itu dengan gempuran dahsyat.

Gerak geriknya selincah ikan berenang didalam air, badannya menyelinap pergi datang diantara samberan sinar golok dan pedang musuh, sementara kedua tangannyapun tidak nganggur.

beberapa lawan balas dipukulnya jatuh bangun.

Hwe-giam-lo sudah marah dan serangannya sepenuh tenaga.

Ditambah beberapa kawannya, maka rangsakan mereka cukup menjadikan tekanan berat.

Tapi Jian-li-tokheng justru menyerang lebih gencar dan mengamuk seperti banteng ketaton, meski dikeroyok keadaan tetap berimbang alias sama kuat Jian-li-tok-heng juga menyerang para pengeroyoknya dengan rasa gusar, maka perbawanya juga cukup hebat, namun tiga puluh jurus kemudian, keadaannya mulai berbeda.

Lwekangnya setaraf dengan Hwe-giam-lo dengan bekal pengalamannya, meski cukup payah menghadapi keroyokan namun dia masih cukup kuat bertahan, namun rangsakan lima pengeroyoknya memang perlu diperhitungkan, akhirnya dia terdesak semakin payah.

Disaat dia bertahan mati-matian itulah, mendadak terdengar jeritan menyayat hati, seorang gurusilat mencelat terbang karena punggungnya termakan pukulan sejauh beberapa tombak, darah menyebur dari mulutnya sehingga genteng kaca menjadi merah.

Siau Hong berdiri dibelakang Jian li-tok-heng, kini Jian-litok-heng terkepung musuh, sudah tentu Siau Hong terpencil malah, dua laki-laki agaknya ingin memungut keuntungan, dari kanan kiri mereka menyergap datang.

Memangnya Siau Hong sudah benci setengah mati terhadap kawanan Busu dari istana, matanya mendelik gigi gemeratak.

melihat musuh main keroyok lagi maka amarahnyapun terbakar, cui-le-kiam segera dia sendal menusuk lurus kearah lakl-laki yang menyergap dari kiri.

Laki-laki disebelah kiri ini cengar cengir sambil melintang golok menangkis pedang, dikira gadis cantik terang lemah, sekali ketuk juga pasti pedangnya terlempar terbang.

Tak nyana begitu senjata beradu "Trang"

Golok sendiri tahu-tahu patah menjadi dua.

Karuan cengir tawanya seketika menjadi kaku, arwah serasa terbang dari raganya, sambil miring tubuh lekas dia mencelat jauh kepingir.

Siau Hong benar-benar gemas, baru saja pedangnya bergerak hendak mengudak.

terasa angin tajam memburu tiba dari kanan-Lekas dia tarik pedangnya berkelit sambil membalik pedang menyongsong tabasan golok lawan-Tapi Lwekang orang yang satu ini lebih tinggi, melihat pedang Siau Hong mampu membuat putus goloktebal kawannya, segera dia tahu pedang lawan gaman pusaka yang tajam luar biasa, maka ia tidak berani membenturnya, pergelangan ber-putar goloknyapun dipelintir dari menabas dirobah menepis miring, yang diincar adalah pinggang Siau Hong.

Tangkisannya luput golok lawan malah membacok pinggang, lekas Siau Hong melangkah mundur setapak.

berbareng ujung pedang didongak keatas dengan jurus Sip-lito-so menusuk pundak kanan lawan-Baru setengah jalan serangannya, tahu-tahu angin kencang menyerang dari belakang, ternyata lelaki yang putus goloknya membuang sisa goloknya terus menubruk dengan pukulan tinjunya.

Lekas Siau Hong menurunkan pundak.

Menarik pergelangan, kaki kiri menjejak tubuhnya berkelit kekanan, tangan kanan balik menabas dengan jurus So-cin-pwe-ki (So cin memanggul pedang) kepada lelaki yang menyergap daribelakang.

sebelum serangannya berhasil, laki-taki bergolok disebelah pinggir sudah melompat maju pula menyerangnya.

Lekas Siau Hong kembangkan Hian-li-kiam-hoat, dengan berani dan tabah dia lompat sana terjang sini dari samberan golok dan pukulan tangan kedua lawannya, untung cui-le-kiam ditangannya tajam luar bias a.

Kedua musuhnya jeri terhadap senjata ampuh ini, maka dalam waktu singkat Siau Hong masih kuat bertahan-Ai-pong-sut Thong cau masih baku bantam dengan Pa-kim Tayhud, kekuatan mereka berimbang, serang menyerang adu tipu adu kekuatan, tenaga mereka sudah terkuras banyak, maka gerakan mereka mulai lamban dan kelihatan lelah.

Mendadak enam orang merubung datang ikut mengepung Aipong-sut, maka sinar golok, pedang dan tombak samber menyamber sederas hujan merabu ke badannya yang gemuk pendek.

serangan gencar ini memangpatut dibuat kaget dan jeri.

Kalau dalam keadaan biasa Thong cau boleh tidak pandang sebelah mata terhadap mereka, tapi disamping menghadapi Pa-kim Tayhud yang setaraf, tenaganyapun sudah lemah, maka terasa betapa payah dia harus melayani serbuan keenam orang ini.

Untung keadaan Pa-kim Tayhud sendirijuga lebih payah, melihat enam orang merubung maju segera dia mengundurkan diri kepinggir lalu duduk bersimpuh mengerahkan hawa murni berusaha memulihkan kondisi.

Tekananjauh berkurang maka sekuatnya Ai-pong-sut masih mampu melayani keroyokan keenam guru silat ini.

Namun dia hanya bertahan tiga puluh jurus, selanjutnya keadaan bertambah payah, lebih banyak bertahan daripada menyerang, gerak geriknya lamban dan selalu berkelit saja menghindari serangan.

Hatinya sudah gelisah, kalau keadaan seperti initerus berlangsung, pihak mereka pasti akhirnya binasa semua atau menjadi tawanan musuh, daripada berkorban secara percuma terpaksa harus nekad menerjang kepungan meskHarus menempuh bahaya..

Lekas dia merebahkan diri diatas genteng terus melancarkan Te-tong-tui, untung genteng di atas istana datar dan luas, genteng kaca di sinipun cukup rapi, maka cukup leluasa dia mengembangkan ilmu tendangannya sambil bergulingan diatas genteng.

Tangan dan sikut serta kakinya bekerja dengan baik sekali, tubuhnya yang gendut seperti bola yang bisa membal saja bergelundungan kian kemari.

Kecepatannyapun cukup mengejutkan-Keenam lawannya dirabu dengan tend a ng an berantai sampai mencak-mencak kerepotan dan lompat mundur sehingga arena lebih besar dan lebih leluasa bagi gerak geriknya.

Tapi lama kelamaan ke enam lawannya mulai berlaku cerdik, serempak mendadak mereka menubruk maju bersama.

Setiap lawannya terdesak mundur Ai-pong-sut rebah diam diatas genteng mengatur napas menghimpun tenaga, begitu keenam lawannya merubung maju pula segera dia bergerak pula.

Sulit keenam lawannya yang bertaraf menengah menyelami permainan Te-tong-tui yang aneh dan lihay, mereka jadi bingung dan tak tahu bagimana harus melawan, setiap Ai-pong-sut menggelundung datang tersipu mereka melompat menyingkir.

Sehingga keenam orang ini satu sama lain seperti berlomba menyelamatkan diri tanpa sadar untuk melawan dan berdaya untuk mengalahkannya, hal ini meng untung kan Ai-pongsut untuk menyusun kekuatannya kembali.

Hanya sekejap dia beristira hat sambil bergulingan, semangat dantenaganya sudah lekas pulih.

Bila keenam orang itu merangsak maju pula, diam-diam Aipong-sut sudah kerahkan tenaga dan mengembangkan tipu terlihay dari Te-tong-tui yang dinamakan bersuara ditimur menggempur barat.

Gerak geriknyapun bertambah cepat dan tangkas.

Jelas dia menggelundung ketimur, namun secepat kilat mendadak melenting kebarat, sehingga orang sukar menjajagi ke mana a rah serangannya.

"Aduh."

Sekonyong-konyong seorang melolong kesakitan, seorang lelaki kekar terpental roboh diatas genteng.

Kedua lututnya tersapu patah, saking kesakitan dia melolong seperti babi disembelih, keringat bertetesan diatas jidat sesaat kemudian dia berkelejetan terus jatuh semaput.

Sejurus serangannya telak merobohkan musuh, baru saja Ai-pong-sut akan meneruskan permainannya, Pa-kim Tayhud yang selesai bersamadi melihat orang pihaknya menjadi korban segera mencelat berdiri sambil menghardik, kedua tangannya mengembangkan Thian-liong-toa-pat-sek terus menerjang maju.

Kedua telapak tangannya menepuk kebadan dan kepala Ai-pong-sut.

Deru pukulannya laksana hujan bayu, perbawanya amat mengejutkan.

Melihat kedahsyatan serangan lawan, lekas Ai-pong-sut menggelundung kesamping, berbareng dia perhatikan di mana lawan akan menaruh kedua kakinya, dia siap bertindak dengan sergapan mematikan.

Diluar tahunya Pa-kim Tayhud juga sudah berencana didalam bertindak.

meminjam tenaga tepukan kedua tangannya, sekalian dia mengerahkan tenaga mukjijat dari Thian-liong-toa-pat-sek, tubuhnya mendadak mencelat balik sambil menggeliat dia memutar tubuh, sehingga tubuhnya laksana naga melingkar diudara.

Kembali telapak tangannya menepuk deras kearah Ai-pong-sut.

Daya serangannya jauh lebih keras lagi.

Ternyata Thian-liong-toa-pat-sek adalah lawan utama dari Te-tong-tui yang dia kembangkan.

Kalau pertempuran begini dilanjutkan berarti dirinya akan selalu dipihak yang diserang dan kemungkinan besar jiwa bisi celaka, maka segera mencelat berdiri pula diatas kedua kakinya.

Lima orang sisa pengeroyoknya tadi segera merubung maju pula sambil angkat pedang dan golok.

Setelah sedikit memulihkan tenaga dan semangatnya, gerak gerik Ai-pong-sut mulai tangkas pula, dengan kesebatannya dia pergi datang diantara sambaran golok dan tombak serta pedang, namun karena harus bersiaga oleh sergapan Pa kim Tayhud dari sebelah atas, jadi kelihatan keadaan tetap dalam keadaan terdesak.

Sudah setengah malam dia bertempur, kekuatannya boleh dikata sudah hampir habis, tadi waktu melancarkan Te-tongtui berkesempatan memulihkan sedikit tenaga, kinHarus menghadani Pa-kim Tayhud yang dibantu lima orang lagi, maka keadaannya makin gawat s Tigapuluhjurus kemudian, keadaannya sudah makin payah, napas sesak keringat gemerobyos Tapi dia tetap bergelut mati-matian.

Begitu mengeluarkan Liat-jit-kiam, baru saja kaki Liok-Kiam-ping menutul genteng, deru angin dibelakang sudah menerpa tiba.

Tanpapikir dia balikanpedang terus menabas.

"Tring"

Sebatang pisau terbang telah dipukulnya mabur beberapa tombak jauhnya.

Baru saja dia melejit ke sana memburu musuh, angin kencang mengudak tiba pula dari belakang, tapi sebelum dia membenturnya jatuh dengan pedang, samberan senjata musuh telah ditarik mundur.

Baru Liok Kiam-ping sempat menerawang keadaan sekitarnya, dua larik sinar putih dari kanan kiri meluncur dengan gerakan zigzag melesat tiba.

Berkelit keempat penjuru serba susah, dipukul jatuhjuga susah, terpaksa hanya melambung keudara, namun baru saja dia melejit sinar putih sudah melesat ting gi diatas kepalanya, lekas dia mengembang kedua tangan sehingga daya mumbulnya direm, berbareng kedua kaki memancal tubuhnya rebah datar ditengah udara, sehingga dua batang pisau terbang meluncur lewat diatas dan bawah tubuhnya, pisau diatas menyerempet sobek bajunya, sungguh amat berbahaya.

Kecuali Liok Kiam-ping memilik Lwekang tinggi, siapapun sukar terhindar dari samberan pisau terbang yang lihay tadi.

Disamping kaget sudah tentu gusar Liok Kiam-ping bukan main, mendadak dia bersuit keras, segera dia kembangkan Ing-wi-kiu-coan dari Leng-hi-pou yang paling top, tubuhnya berputar di tengah udara laksana elang melayang terus menukik menerkam kelinci, serangannya adalah batok kepala Nyo Hou yang ditempiling dengan dahsyat.

Nyo Houtahu diri, insaf dirinya bukan tandingan, lekas dia melompat menyingkir sambil menerobos pergi dari lingkaran pukulan lawan-Hal ini justru menjadi Harapan Liok Kiam-ping diwaktu pedangnya membelah turun, telapak tangan kiripun sudah siap.

begitu dia incar di mana Nyo Hoa beranjak.

mendadak dia tepukan telapak tangannya.

Tapi pada saat sama "Ser"

Angin menyambar kencang dibawah kakinya, terpaksa Kiam-ping batalkan tepukan tangannya, kedua kaki memancal tubuhnya meluncur lurus kedepan melampaui tubuh Nyo Hou, turun setombakjauhnya..

Sambitan pisau terbang Nyo Hun menyambar lewat dibawah Liok Kiam-ping segera di raih oleh Nyo Hou.

Sementara Nyo Liong membentak dengan aba-aba rahasianya, berempat serempak mereka merubung maju pula.

Maka sinar putih samber menyamber dari empat penjuru kearah Liok Kiam-ping yang terkepung ditengah Kini melangkah dengan Leng-hi-pou, pedangnya bergerak secara lincah, pisau terbang yang meluncur tiba diketuknya pergi, pertahanannya Cukup kokoh tak tertembuskan tapi pisau terbang itu tiada yang terketuk jatuh, setiap tertangkis pasti mental balik kearah pemiliknya, sehingga keempat lawannya tak pernah kehabisan senjata, kalau tidak terpegang oleh pemilik semula pasti juga disambar saudaranya yang lain-Perlu diketahui setiap saudara Nyo memiliki lima batang pisau terbang, meski setiap kali menyerang hanya mampu digunakan sebatang.

namun bila tak keburu menarik balik pisau pertama dengan mudah mereka akan menggunakan yang kedua, maka begitu permainan dikembangkan mereka tidak akan pernah kehabisan senjata karena pisau itu akan terus ditimpukan silih berganti.

Barisan pisau terbang yang diyakinkan Biau-san-si-sat, selama ini jarang dikembangkan, kaum persilatan hanya pernah dengar belum pernah menyakslkan yang pernah menyakslkan juga hanya beberapa gelintir orang saja, selamanya belum pernah gagal apa lagi dlkalahkan selama berkecimpung di Kangouw menghadapi musuh tertangguhpun mereka paling hanya menggunakan dua batang, lawan pasti sudah gugur dibawah pisau terbang mereka.

Tapi ma lam ini mereka sudah keluarkan empat batang, selama hidup juga baru pertama kali ini dikembangkan.

Untung Liok Kiam-ping berapakali ketiban rejeki sehingga Lwekangnya sekarang sudah bertaraf paling tinggi, walau harus menangkis dan menghadapi serbuan pisau terbang yang gencar, keadaannya masih tetap wajar dan kuat, sayang dia lebih banyak bertahan dari pada menyerang.

Dengan cui-le-kiam Siau Hong, kembangkan Hian-li-kiamhoat, setelah dididik oleh Kiam-ping, kepandaiannya sudah cukup lumayan, kalau satu lawan satu kedua lelaki itu jelas bukan tandingannya, namun kedua lawan ini mengoceh dan merabu dengan serangan gencar, semula dia labrak kedua lawannya dengan gencar, tapi setelah Hian-li Kiam-hoat habis dilancarkan, gerak geriknya menjadi lamban, apa lagi tenaga dalamnya makin menipis sehingga makin lama makin terdesak dibawah angin-Namun demikian dia sudah bertahan sebanyak tujuh puluh jurus, namun napas memburu, keringatpun sudah membasah kuyup sekujur badannya.

Mendapat kesempatan kedua lelaki itu mempergencar serangannya.

Saat itu Siau Hong baru berkelit dari tabasan golok musuh, pukulan telapak tangan lelaki yang lain juga sudah menyerobot tiba dari pinggir.

Terpaksa dia menutul kaki melejit pergi, pada hal da lam keadaan lelah, dia harus melompat beruntun dua kali, sudah tentu gerak geriknya menjadi lebih lambat.

"Plak,"

Langkahnya gentayangan karena pundaknya tersapu oleh pukulan tangan lawan tubuhnya tergentak mundur beberapa langkah baru berdiri tegak lagi.

Tulang pundaknya seperti remuk.

sakitnya bukan main-Lelaki bergolok itu diam-diam merunduk dari belakang terus membacok dengan serangan ganas.

Rasa sakit hampir membuat Siau Hong semaput, mendadak dirasakan angin tajam mengancamjiwa lagi, diam-diam dia sudah mengeluh dalam hati.

Untuk berkelit sudah tidak sempat lagi, jiwanya jelas susah diselamatkan lagi.

Jian-li-tok-heng yang menghadapi keroyokan enamjago kosen walau merasa kepayahan, tapi pengalamannya paling luas.

Ginkangnyajuga amat tinggi, maka dalam beberapa kejap dia masih bermain wajar.

Memaklumi diri, berada disarang musuh, ada musuh tanpa aku, maka sambil berhantam diam-diam dia sudah siapkan beberapa biji teratai besi, siap bertindak bila perlu.

Dia tahu kepandaian Siau Hong terbatas, pengalaman tempurnya juga cetek, bila gadis harus ditolongnya ini sampai roboh danjatuh lagi ketangan musuh, berarti nama besar Hong-lui-pang akan runtuh total, maka sambil melayani keenam lawannya, tak lupa dia selalu perhatikan keadaan Siau Hong.

Melihat Siau Hong diancam bacokan golok, kontan dia membentak.

tanpa hiraukan keadaan diri sendiri yang kepepet mendadak dia melambung keudara sambil menimpuk., biji teratai besi ditangannya seluruhnya dia timpukkan kearah lakilaki bergolok itu.

Bahwa goloknya akan membelah batok kepala gadis ini, pahala besar akan diperoleh, terbayang olehnya pangkat akan dijabatnya pula, karuan senangnya bukan main sehingga dia lupa daratan, memangnya dia juga tidak menduga bahwa Jian-li-tok-heng mampu memecah perhatian menolong Siau Hong, mengancamjiwanya dengan senjata rahasia.

Bila dia tersentak kaget ternyata sudah terlambat.

Lengan kanan, ping gang dan lehernya sekaligus ketimpuk lima biji teratai besi.

Rasa sakit membuatnya menjerit kesakitan, goloknya jatuh berkerontang diatas genteng, orangnyapun roboh tersungkur, Menghadapi perobahan diluar dugaan, disamping kaget Siau Hong segera sadar bahwa jiwanya tertolong dari renggutan elmaut.

Dilihatnya Jian-li-tok-heng melambung turun hinggap disampingnya, katanya perlahan 'Nona Siau Hong, bagaimana keadaanmu ?"

Siau Hong tertawa manis, sahutnya "Tidak apa-apa hanya terkejut -saja."

Disaat mereka tanya jawab, 'Hwe-giam-lopimpin anak buahnya merubung majupula.

Maka mereka mulai baku hantam pula lebih sengit.

Walau berdampingan dengan Siau Hong, namun karena kepandaian terlalu rendah, maka Jian-litok-heng harus bekerja lebih keras, selalu bertindak melindungi keselamatan Siau Hong, sudah tentu keadaannya lebih payah.

Menghadapi Pa-kim Tayhud seorang yang selalu menggempur dengan tenaga dahsyat, Ai-pong-sut sudah kepayahan, apa lagi masih diserang oleh lima lawan yang lain, karuan keadaannya lebih berat.

Akhirnya disadarinya bahwa melayani dengan pukulan berat cara yang betul, umpama tidak terpukul luka parah juga akhirnyamati kelelahan sendiri, lekas dia pusatkan pikirannya, kini dia kembangkan ring an tubuhnya, dari menyerang dia mulai bertahan, dengan ketangkasannya dia berkelit dan menyingkir dari serbuan lawan-lawanya.

sudah tentu setiap peluang baik tidak diabaikan, namun serangannya juga hanya sejurus tanpa menggunakan tenaga ampuh.

cara yang ditempuh ternyata membawa manfaat bagi dirinya, bukan saja tidak terdesak seperti tadi, tenaganya bisa dipertahankan untuk jangka lebih panjang, sudah tentu dia tidak lupa memutar otak mencari akal, untuk menjatuhkan lawan

Sementara Pa-kim Tayhud pimpin orang-orangnya merabu dengan gencar, tapi menghadapi gerakan lawan yang segesit kera, dalam waktu simgkat mereka kewalahanjuga dibuatnya.

Ai-pong-sut menerawang keadaan, terang tanah sudah akan tiba tak lama lagi, jelas mereka tak boleh bertahan lama bertempur disini, betapapun pertempuran harus di akhiri secepatnya dan meninggalkan tempat ini.

Padahal dalam kepungan serapat ini dan tekanan cukup berat, mana mungkin meloloskan diri.

Sang waktu berjalan tanpa kenal kasihan kokok ayam sudah terdengar dikejauhan, karuan hatinya makin gelisah.

Pukulan dahsyat Pa-kim Tayhud bagai gugur gunung menindih kepalanya, disaat hati gelisah, sedikit lena tindihan a ng in pukulan itu sudah dekat diatas tubuhnya, berkelit ke kiri kanan jelas tidak keburu, secara reftek dia gunakan langkah sempoyongan menyurut mundur, syukur masih sempat menyelamatkan jiwa.

Karena langkah sempoyongan itulah, tiba-tiba didengarnya suara berdering nyaring didalam bajunya, meski suara lirih tapi sudah menyentuh kesadarannya.

Begitu dia memeriksa keadaan, rasa girang segera terunjuk diatas alisnya yang tegak.

Mumpung berkelit dengan berputar badan mendadak dia merogoh keluar Yam-yam-tam dari kantong bajunya, dia incar seorang laki-laki dibelakang, lalu melangkah setindak, begitu jarak agak dekat, pelor besinya segera dia timpuk.

Jarak terlalu dekat, laki-laki itu sedang menyerbu dengan bernafsu, mana menyangka lawan bakal menyergap dengan pelor besinya yang sudah terkenal di Kangouw.

Terdengar jeritan keras menggetar udara ditengah malampekat.

Begitu roboh dipermukaan genteng darahnya sudah berceceran mengalir kebawah.

Bahwa pelornya berhasil merobohkan musuh, semangat juang Ai-pong-sut berkobar pula.

Dua lingkaran lagi dia berputar pelor besinya ditimpuk lagi.

"Pluk"

Batok kepala seorang laki ditimpuknya pecah, tanpa mengeluarkan suara korbannya jatuh terguling, da rah dan otaknya berceceran diatas genteng.

Sisa orang pengeroyok menjadi ciut nyalinya, meski tidak berani mundur, tapi serangan mereka sudah jauh lebih kendor dan hati-hati.

Sebaliknya.

Pa-kim Tayhud melotot gusar, jengotnya yang sudah basah oleh keringat tampak bergerakgerak kaku, Beruntun malam ini dia kecundang secara beruntun, meski awak sendiri tidak terluka, namun para muridnya yang dijadikan pengawal pribadanya juga runtuh total, demikian pula anjing-anjing peliharaannya yang dibawanya dari Tibet terbunuh semuanya, betapa hatinya takkan penasaran.

Melihat Ai-pong-sut Thong cau unjuk kegagahannya, dengan yam-yam-tam beruntung merobohkan dua orang yang mengeroyoknya bersama dirinya, bila hal ini tersiar di dunia persilatan, di mana selanjutnya dia harus menaruh muka ?

Bukankah nama besar Lun-pu-si ikut runtuh pula ?

Saking malu menjadi gusar, nafsu membunuhnya makin berkobar, mumpung tubuh sedang berputar, diapun merogoh kedalam kantong dadanya, terus menggayun tangan, selarik sinar putih kemilau segera melesat kearah Ai-pong-sut, Ternyata diapun keluarkan Hiat-te-cu, senjata rahasia tunggal dari perguruannya yang lihai.

Sebelum mengeluarkan pelor besinya Ai-pang-sutjuga sudah pikirkan akibatnya, Dia tahu Hiat-te-cu amat ganas dan mengerikan bila dilancarkan dalam setombak terjangkau oleh kehebatan senjata rahasia ini, namun didalampertempuran yang serabutan begini, bukan musuh.

Karena itu dia kembangkan ketangkasan langkahnya berputar diantara rombongan musuh yang merabunya berpencar juga dengan gaman mereka, sehingga Pa-kim Tayhud harus berpikir dua belas kali sebelum melancarkan Hiat-te-cu.

Pelor besinya justru bergerak dengan leluasa, namun dia juga tidak berani menggunakan tenaga sepenuhnya, kuatir sedikit pecah perhatian, diri sendiri kena sergapan yang fatal, untuk berkelit mungkin tidak keburu lagi.

Meski leluasa menyerang musuh betapapun dia tetap berlaku waspada.

Untuk menyelamatkan jiwa ketiga sisa pengeroyoknya menyingkir agakjauh kepinggir gelanggang sehingga Pa-Kim Tayhud memperoleh banyakpeluang melancarkan Hiat-tecunya.

Ai-pong-sut juga sudah punya perhitungan matang, melihat lawannya berputar dengan kedua pundak terangkat lengan terayun kebelakang sinar putih lantas berkelebat, langsung dia menjatuhkan diri menggelundung pergi setombak jauhnya.

Maka terdengar suara gaduh dan gemuruh.

genteng kaca pecah beterbangan selebar satu tombak dengan percikan kembang api, pecahan kaca menyambar ke kekuatan serangan Hiate-cu memang cukup mengejutkan.

Walau sebelumnya sudah siaga dan menggelindang pergi dan selamat, tapi melihat betapa hebat perbawa serangan itu, mau tidak mau mengkirik juga bulu kuduknya.

Liok Kiam-ping kerahkan tenaga murninya menempur barisan pisau terbang Biau-san-si-sat betapapun manusia berdiri darah daging, setelah bertempur setengah ma lam, lawan yang dihadapi musuh tangguh lagi, apa lagi sekarang dikeroyok empat, lama kelamaan dia susah memberi perlawanan-Disamping pintar Kiam-ping, juga berbakat, sudah tentu dia tidak ingin selalu terkepung oleh barisan lawan, benaknya bekerja secara kilat, mendadak dia teringat permainan kombinasi ilmu pukulan dengan ilmu pedang, dalam keadaan terkepung begini terpaksa dia harus berani menempuh bahaya Setelah memukul pergi sebatang pisau terbang yang meluncur tiba, mendadak dia menerobos kepinggir, ujung pedangnya menusuk kearah Nyo Hong, berbareng telapak tangan kiri menggenjot, segulung angin kencang menyapu dari belakang Nyo Hun.

Kedua jurus serangannya dilancarkan serempak Biau-sansi-sat terlongong sejenak.

terutama Nyo Hun dan Nyo Hong, lebih penting mereka berkelit dan menyelamatkan diri, tak sempat menarik balik pisau terbang sendiri, lekas mereka melompat keluar kalangan.

Tapi pada saat itulah dua batang pisau terbang telah disambitkan oleh Nyo Hou, Tak sempat melukai lawan lekas Liok Kiam-ping melompat mumbul keatas, disamping menyelamatkan diri sekalian pedangnya meluncur laksana lembayung menus uk kearah Nyo Liong.

Mumpung Liok Kiam-ping mumbul keatas itulah.

Nyo Hong, dan Nyo Hun sudah melompat majupula menduduki posisi masing-masing, Liok Kiam-ping tetap terkepung ditengah mereka.

Liok Kiam-ping amat gusar, kedua kaki menjejak tubuhnya meluncur terus ke udara.

Amarahnya sudah tak terkendali lagi, maka serangannya sudah tidak perhitungan lagi, tekadnya besar untuk mematahkan barisan pisau terbang lihay ini, Mumpung tubuhnya berputar datar, pedang ditangan kanan menyabet kepinggir membelah Nyo Hong, sementara dengan tekanan tenaga raksasa tangan kirinya menggempur Nyo Hou.

Nyo Hong sedang berkisar kedepan, mendadak angin keras menindih turun, cahaya terang menyilau mata pula, seketika dia mengeluh dalam hati.

Tapi dalam kepepet otaknya yang cerdik memperoleh akal, lekas dia, timpukan sebatang pisau terbangnya keatas, sambil melompat minggir sejauh mungkin-Liok Kiam-ping sedang lancarkanseranganpedangnya, mendadak samberan angin kencang dari luncuran sebatang pisau menembus udara melesat keatas, karuan gerakannya sedikit merandek sambil miring tubuh.

Karena dia miring tubuh inilah sehingga Nyo Hong sempat melompat keluar kalangan.

Baru telapak tangan Kiam-ping bergerak Nyo Houjuga sudah siaga, lekas diaperkuat tenaga kakinya hingga tubuhnya menubruk kedepan lebih pesat, meminjam sapuan tenraga lawan dia melompat lebih jauh beberapa tombak.

Pada saat itulah pisau terbang Nyo Liong dan Nyo Hun sudah meluncur tiba.

Meminjam tenaga tolak pukulan tangan kirinya tubuh Kiam-ping melayang keudarapula, Tapi Biau-sansi-sat tetap mengepungnya, kini gerak langkah mereka bertambah kencang.

Secara beruntun dan berantai ganti berganti mereka terus merabu Liok Kiamping dengan timpukan pisau terbang.

Kedua pihak bergerak adu kecepatan-Maka hanya cahaya benderang saja yang samber menyambar, siapa lena pasti termakan samberan sinar tajam itu.

Pertempuran makin tegang.

Liok Kiam-ping dan kawan-kawan masih terus berjuang dengan gigih.

Mendadak bunyi genta yang ditabuh bertalu lembut kumandang dari istana dalam.

Itulah genta tanda berkumpul, panggilan kilat, bahwa genta berbunyi sepagi ini, sudah tentu Hwe-giam-lo dan kawan-kawannya amat terkejut, mereka bertanya-tanya.

"Mungkin ada musuh yang membuat onar di istana ?"

"Harap kalian berhenti."

Dari kejauhan kumandang seruan yang kuat berisi.

Liok Kiamping berempat memangnya sudah kepepet dan hampir kehabisan tenaga, seruan itu justru sesuai Harapan, kalau kawanan Wisu semua mundur dan berdiri ke belakang Hwe-giam-lo, merekapun berkumpul menghadap kearah datangnya suara.

Siu-Jan sudah buka mulut hendak bicara mendadak dilihatnya dua bayangan orang meluncurpesat laksana bintang terbang, gerak tubuhnya tangkas dan lincah,jelas kedua orang yang mendatangi ini memiliki Ginkang tinggi.

Hanya sekejap kedua bayangan itu sudah meluncur tiba didepan mereka.

Hadirin baru jelas melihat yang datang ini adalah dua pengawal raja yang bergaman golok tebal.

Begitu kedua orang ini tiba, Siu-Jan segera tampil kedepan, sambil menjura dia menyapa.

"Tayjin berdua untuk keperluan apa kelihatan terburu-buru. Genta berbunyi didalam istana, tentu ada keonaran terjadi. Losiu sedang pimpinan anak buah mencegat kawanan bangsat yang trobosan di istana, bila sudah kubekuk mereka pasti akan kugusur dan laporkan kepada ongya..."

Belum habis dia bicara kedua Wisu bergolok tebal itu sudah mendengus dingin kata seorang.

"ongya justru sedang kuatir karena hal ini. Maka kami disuruh kemari tanya duduk perkaranya kepada Siu-tangkeh dan Pakim Taysu, perintah kilat diajukan supaya kalian segera masuk memberi laporan-Diperintahkan pula bila penyatron memang tidak sengaja membuat kegaduhan, harap lekas suruh orang mengantar mereka keluar istana, dilarang mempersulit mereka."

Liok Kiamping bertiga saling pandang sejenak.

mereka tahu rencana berhasil, maka mereka mengulum senyum lega.

Sudah tentu perkataan kedua orung Wisu bergolok itu laksana pentung mengemplang batok kepala Siu-Jan, tahu bahwa kedoknya sudah terbongkar, malam ini jelas tak mungkin menahan orang-orang Hong-lui-pang di sini, sebetulnya sudah ingin berlaku nekad menahannya secara kekerasan, namun dihadap kesaksian kedua pejabat tinggi istana bergolok tebal ini, betapapun tak berani membangkang perintah secara terang -terangan Walau hati kaget dan jeri, namun sikapnya tetap berlaku wajar, dengan bergelak tawa segera dia menjawab.

'Losiu memang ingin segera memberi laporan kepada ongnya, silakan Tayjin berangkat lebih dulu, setelah Losiu menyelesaikan urusan di sini, segera aku masuk memberi laporan kepada ong-ya.

Lalu dia berpaling kearah Liok Kiam-ping, katanya.

'Malam ini kalian memang mujur, dapat pergi tanpa kurang suatu apa, tapi dosa kalian memang terlalu besar, kaum persilatan sudah sudah ingin menumpas kejahatan yang kalian lakukan-Tiga hari lagi di saat rembulan bercokol ditengah cakrawala, kita selesaikan persoalan malam ini di Ban-siu-san, pada waktunva bila kalian tidak datang kita akan meluruk ke Kwi-hun-ceng dan akan kami bumi Hanguskan seluruh perkampungan itu.' "

Liok Kiam-ping bergelak tawa, katanya. 'Muslihatmu sudah terbongkar, masih berani membual, sungguh tidak tahu diri. Baik, cayhe pasti menepati pertemuan di Ban-siu-san"

Lalu dia peluk pinggang Siau Hong mendahului meluncur pergi. Ai-pong-sut dan Jian-li-tok-heng juga bergerak di kanan kirinya. Dengan tertawa Siu-Jan berkata kepada Biau-san-si-sat.

"Tolong kalian bersaudara mengantar mereka sampai dipintu gerbang istana."

Lalu dia memberi kedipan mata kepada mereka.

"Setelah mengiakan empat bersaudara Nyo itu segera melayang pergi dengan kecepatan tinggi. Ternyata seperti biasanya pagi-pagi Ka-cin-ong sudah bangun setelah membersihkan badan dia masuk kekamar mau ganti pakaian untuk mengadakan sidang pagi, dikamar pakaiannya itulah mendadak dia menemukan secarik kertas diatas meja tulisannya. Itulah tulisan atau laporan yang ditinggaikan Jianli-tok-heng, dalam laporan dipaparkan kejahatan dan intrik yang dilakukan Hwe-giam-lo Siu-Jan dengan Pa-kim Tayhud, di luar tahu ongya melakukan penculikan gadis dan berusaha memperkosanya dengan obat mesum. Demi menolong gadis yang tak berdosa itu, waktu yang mendesak tak mungkin memberi laporan langsung kepada ongya, mohon maaf sebesar-besarnya bahwa mereka langsung bertindak di istana. Ka-cin-ong berwatak keras, jujur dan benci kejahatan, apalagi kejahatan perkosaan, kalau betul anak buahnya melakukan perbuatan terkutuk dan kotor ini, bila bocor dan diketahui orang-orang yang menentang politiknya, bukankah akan meruntuhkan nama baik dan kedudukannya, karena itu dia menabuh genta serta memberi perintah membebaskan para penyatron, kalau tidak Liok Kiam-ping pasti takkan bis a pergi dengan leluasa. Biau-san-si-sat apaljalanan di istana, terpaksa Liok Kiamping mengikuti langkah mereka, sepanjang jalan mereka berlompatan diwuwungan rumah, lalu melompat turun menyusuri taman kembang yang panjang dan luas langsung menuju kegerbang istana. Biau-san-si-sat sengaja hendak menjajal Ginkang Liok Kiam-ping bertiga, diam-diam mereka saling mengedip mata terus mempercepat langkah, laksana panah terbang mereka meluncur pesat sekali. Sejak kecil mereka dibesarkan diatas pegunungan hidup didalam gua yang curam dan terjal, tenaga kaki mereka jauh lebih kuat dari kaum persilatan umumnya, apalagi mereka latihan tekun dan rajin, dalam bidang khusus mereka memiliki kelebihan orang lain-Kali ini mereka, diundang ke Tionggoan pikirnya punya kesempatan untuk pamer kepandaian, merebut nama mencapai kedudukan tinggi, apapun tak terpikir sebelumnya bahwa malam pertama mereka menggebrak melawan musuh, barisan pisau terbang kebanggaan merekapun tak memperoleh hasil yang diharapkan, memangnya hati lagi kesal dan penasaran, mumpung ditugaskan mengantar mereka keluar, kini mereka kembangkan kekuatan kaki, hendak meninggalkan musuh jauh dibelakang biar malu dan melampiaskan rasa dongkol mereka. Mereka lari dengan sepenuh tenaga, kecepatannya memang amat mengejutkan, tubuh mereka laksana empat gumpal asap meluncur dengan kecepatan kilat menyambar. Bagi yang berpandangan kura ngjeli pasti sukar membedakan bentuk badan mereka. Cukup lama Biau-san-si-sat mengayun langkah kilat, lekas sekali mereka sudah dekat tembok yang dekat dengan pintu gerbang, secara diam-diam mereka pasang kuping mendengarkan gerakan dibelakang, mereka kira Liok Kiamping berempat sudah jauh ditinggal dibelakang maka sambil tertawa pongah mereka saling pandang. Tak nyana baru saja mereka berhenti, terasa angin kesiur menyambar disamping badan, ternyata Liok Kiam-ping sudah melompat tinggi melampaui kepala mereka meluncur keatas tembok. Liok Kiam-ping bergelak tawa, katanya.

"Kalian tak usah mengantar jauh-jauh, tolong sampaikan kepada Siu-tangkeh, perjan Jian, di Ban-siu-san esok lusa, cayhe beramai pasti datang. Selamat bertemu"

Habis berkata dia pimpin Ai-pong sut dan Jian-li-tok-heng melompat keluar.

Lompatan-nya mencapai beberapa tombak jauhnya.

Kecepatan gerak tubuh dan jarak lompatannya yang jauh dan enteng sungguh membuat Biau-san-si-sat berdiri melenggong, sesaat lamanya mereka tak mampu bersuara, Akhirnya Nyo Liong mendengus gemas lalu mendahului putar tubuh lari balik kedalam istana.

Belum ada seratus tombak Liok Kiamping berempat meninggalkan istana, mendadak dibelakang terdengar bentakan lalu disusul benturan senjata beradu, suasa bentakan seperti amat dikenal, diduga Coh-siang-hwi Ih Tiauhiong mencegah musuh yang menguntit mereka.

Tapi mereka juga tahu kepandaian Coh-siang-hwi memang tidak tinggi, namun otaknya encer, ginkangnya tinggi, pasti tidak sukar dia memancing musuh kearah lain, maka mereka terus maju kedepan, tanpa menguatirkan keselamatannya.

Fajar sudah hampir menyingsing, orang-orang kota bangun lebih pagi, jalan raya sudah mulai tampak orang berlalu lalang, peronda danpenjaga-penjaga kotajuga masih bekerja dan siap kembali kepangkalan, walau Kiam-ping tidak perluperlu kuatir kebentur mereka, namun untuk menempuh perjalanan cepat jadi agak terganggu.

Karena itupula tekad mereka untuk lekas keluar kota lebih besar.

Syukurlah akhirnya mereka tiba diluar kota, tiba ditempat yang dijanjikan, baru saja Kiam-ping hendak memanggil Suma Lingkhong untuk pulang bersama ke Tay-hud-si, mendadak diatas tembok kota lima puluhan tombak dari tempat mereka berdiri seperti ada bayangan seorang melompat turun kebawah tembok, hanya sekali berkelebat lantas lenyap.

Liok Kiam-ping menguatirkan keselamatan Suma Lingkhong yang seorang diri menunggu di tempat ini, bila musuh tahu jejaknya lalu mengeroyok dan membekuknya, tentu tentu anggota Hong-lui-pang lain yang bertugas didalam kota akan terancam pula keselamatannya, maka Kiam-ping menyuruh Jian-li-tok-heng tinggal di sini menunggu dan mencari jejak Suma Ling-khong, bila perlu jejak mereka sepanjang jalan harus dilenyapkan, demikian pula harus peri hatikan adakah mata-mata musuh yang menguntit mereka.

Lalu Liok Kiamping gendong Siau Hong bersama Ai-pong-sut kembali ke Tayhud-si.

Padri-padri penghuni Tay-hud-si sedang sembahyang pagi, suara mantram mengalun jernih dipagi nan cerah dan segar, mendengar mantram yang lembut ini rasa penat seketika tak terasa lagi.

Sungkan masuk daripintu depan, Liok Kiamping berputar kesamping melompat masuk melompati pagar tembok.

Setelah masuk kamar, istirahat sekedarnya, maka Siau Hong menceritakanpengalamannya sejak di culik.

Setelah dibawa kekota raja dia disembunyikan didalam Ling-hong-kek, beberapa kali padri-padri Tibet itu hendak merenggut kesuciannya, entah dengan bujukan atau rayuan selalu tidak berhasil.

Ternyata Bong Siu dan Hwe-giam-lo tidak ambil peduli akan maksud cabul kawanan pa dri Tibet itu, memang ingin memancing kedatangan Liok Kiamping dengan kehadiran Siau Hong didalam istana.

Tapi Pa-kim Tayhud tidak sabar lagi, sering mereka mendesak Bong Siu dan Hwe-giamlo untuk segera bertindak.

entah bagaimana akhirnya mereka mau menahan sabar, bila dalamjangka dua hari Liok Kiamping tidak keburu menolongnya, akibatnya sungguh tidak berani dibayangkan.

Siau Hong mengakhiri ceritanya dengan tangis sesenggukan diatas kursi ma las.

Liok Kiam-ping merasa kasihan dan sedih pula, namun kuatir diketahui kawan padri dalam kuil ini, tentu bikin runyam keadaan, maka dia membujuk dan menghiburnya.

Mendadak daon jendela terpukul perlahan dan membuka, tampak cob-siang-hwi ih Tiau-hiong melompat masuk dengan pakaian pelayan warung arak.

Setelah berpisah dengan Liok Kiam-ping, seorang diri dia bergerak didaerah Ta-mo-siang, tahu jejak pihaknya sudah menarik perhatian orang-orang istana, maka dia menduga, dijalan-jalan raya pasti dyaga oleh mata-mata musuh yang mengawasi gerak-gerik pejalan kaki.

Saat itu kentongan ketiga baru lewat namun penduduk kota raja masih banyak yang keluyuran dijalan raya.

toko-toko masih buka, hotel dan restoranpun tak ketinggalan, suasana terang benderang, untuk mengembangkan ginkang jelas tidak leluasa.

Pengalaman coh Siang-hwi Cukup luas, Cerdik dan Cekatan lagi, sedikit menaruh perhatian dia lantas menemukan beberapa orang yang sembunyi dipojok jalanan yang gelap.

Diemper toko dan sepanjang jalan, gerak gerik mereka patut dicurigai.

Maka dia pilih gang sempit dan lorong sepi, setelah putar kayun kian kemari akhirnya dia tiba didaerah yang tak jauh dari Ta-mo-siang-nya, sambil menyambar sebuah kranjang dia melompat keluar pagar lalu berjalan berlenggang dari gang sempit diujung timur.

Topi sengaja dia tarik rendah, langkahnya lebar, berjalan diantara kerumunan orang-orang kota yang mondar mandir, mulutnya bernyanyi kecil.

Lekas sekali dia sudah tiba didepan Su-hay-ju, seketika hampir saja dia berdiri kaku saking kaget.

Ternyata didepan pintu besar hotel masing-masing berduduk didepan lelaki berseragam ketat, disekitar hotel bayangan orangpun bergerak selepas mata memandang, jumlah orang yang mengurung hotel ini sedikitnya ada empatpuluh orang Demikian pula diruang besar, dikamar kasir semua dijaga orang-orang penting.

Coh-siang-hwi Ih Tiau-hiong bernyali besar, tabah dan teliti, seperti tak terjadi apa-apa dia jinjing kranjang ditangannya melangkah masuk kedalam sambil mendengus nap berat.

Laki-laki yang duduk diujung pintu serempak melototi kepadanya.

namun lekas sekali mereka sudah melengos kearah lain, seperti tidak sudi berurusan dengan pelayan yang berbau apek.

Coh-siang-hwi langsung masuk kedalam menuju kebilik barat, secara kasar dia berteriak.

"Siangkong hidangan sudah kuantar."

Sebelum pintu terbuka dia sudah mendorongnya terbuka serta menyingkap kerai menyelinap masuk Semua anggota Hong-lui-pang yang menyaru kacung buku melongo, baru saja mereka hendak menegor lekas Coh-sianghwi angkat jarinya mendesis didepan mulut mencegah mereka bicara, Tidak lama dia berada didalan kamar.

Dari, penjelasan kedua rekannya itu dia mendapat kabarjejak Kim-gin tay-beng yang menginap di Hotel Bok-jun tak jauh dari sini, maka begitu keluar dari Su-hay-jun, dia langsung menuju ke Hokjun khek-can-Kira-kira seratus tombak dia menuju keutara, dari kejauhan sudah tampak sederetan kereta barang yang diparkir didepan hotel Bend era IHong-jang Piaukiok berkibar ditiup angin, tampak merah dan angker bendera piaukiok itu.

Coh-siang-hwi amat teliti, didepan hotel dia adakan pemeriksaan lebih dulu.

Setelah yakin tiada sesuatu yang mencurigakan baru dia melangkah masuk kedalam hotel.

Dalam hati dia menduga mereka mungkin sudah berhasil mengelabui orang-orang istana yang bertugas ditempat ini.

Diujung serambi yang membelok kekanan, kebetulan dia bersua dengan Thi-pi-kim-to Tan Kianthay yang sedang berjalan.

Lekas dia memburu maju sambil memberi tanda ulapan tangan sekalian dia melempar segulung kertas.

Sekilas pandang Tan Kian-thay sudah kenal samaran Cohsiang-hwi, tahu urusan agak ganjil lekas dia raih gulungan kertas itu lalu dibeber dan dibaca, akhirnya dia manggut.

Karena tugasnya selesai lekas Coh-siang-hwi berputar keluar hotel.

Dijalan raya dia tidak balik dari arah datangnya tadi tapi mengembangkan ginkang menuju ketempat gelap.

Kentongan ketiga baru saja lewat Coh-siang-hwi Ih Tiauhiong sudah menyembunyikan diri dibawah pohon rimbun didepan istana Ka-cin-ong.

Sayup-sayup didengarnya suara ribut didalam dia menduga Liok Kiam-ping tentu sudah turun tangan, sebetulnya besar niatnya ikut menerjang masuk membantu, namun mengingat tugasnya disini amat penting, terpaksa dia menahan sabar.

Kentongan keempat sudah lewat, Liok Kiamping beramai belum juga keluar, karuan hatinya makin gelisah.

Suara ributribut dalam mendadak juga hening dan sepi, karuan rasa gugupnya bertambah besar.

Sudah tentu diluar tahunya saat itu Liok Kiamping sudah jauh menjelajah kedekat Ling hongkek.

Coh-siang-hwi menunggu dengan rasa tidak karuan-Mendadak dilihatnya empat bayangan orang dengan kecepatan kilat serta lincah melesat keluar dari dalam istana.

Waktu dia tegasi, dilihatnya yang keluar adalah Liok Kiamping menggendang siau Hong, dibelakangnya adalah Ai-pong-sut dan Jian-li-tok-heng tahu usaha mereka berhasil, sungguh girangnya bukan main Baru saja dia hendak bersuara memanggil, mendadak dilihatnya sesosok bayangan orang laksana burung terbang bergerak mengintil dibelakang Liok Kiam-ping dalam jarak tiga puluhan tombak.

Coh-siang-hwi tertawa dingin, pikirnya.

"Bong Siu memang teramat Culas dan licik agaknya dia ingin menjaring kita semuanya. Sayang malam ini kau membentur ditangan ih Thiau-hiong, jangan harap keinginanmu bisa terkabul.. segera dia kambangkan coh-sian-hwi (terbang diatas rumput) laksana panah meluncur dia melesat ke sana mencegat bayangan hitam itu. Hanya beberapa kali lompatan puluhan tombak sudah dicapainya. Kontan dia ayun tangan menimpukkan segenggam pasir kearah bayangan hitam yang menguntit itu. Bayangan itusedang meluncur pasti tidak menduga bakal disergap. namun dia berusaha mengerem daya luncurannya serta melompat tinggi kesamping, waktu dia menoleh pandang kearah penyergapnya, baru dia melihat jelas dandanan Cohsiang-hwi, karuan dia menggerutu dalam hati.

"Dalam waktu begini kenapa aku kesamplok dengan orang rendahan, mungkinkah pihak mereka sudah menanam orang-orangnya di kota raja ?"

Lalu dia membentak.

"Berdiri, Kunyuk bernyali besar, berani kau membokong tuan besarmu."

Memangnya Coh-siang-hwi orang apa, tanpa hiraukan tegoran orang dia tetap melangkah lebar kedepan.

Sudah tentu laki-laki baju hitam itu merasa teri hina, amarahnya membara, mungkin sudah biasa dia berbuat sewenangwenang didalam kota, segera meloncat kedepan mencegat ih Tiau-hiong seraya mengayun golok, bentaknya.

"Keparat, memangnya kau sudah makan nyali Harimau berani melawan perintahku."

Coh siang hwi melirik hina, jengeknya.

"Jalan raya tempat umum, siapapun boleh berjalan dengan bebas, di kota raja kau berani main Cegat, memangnya mau rampok atau, begal ?' Saking gusar laki-laki itu bergelak tawa, serunya.

"Keparat, jangan pura-pura pikun, kau kira tuan besarmu gampang kau apusi, bicaralah jujur, kalau bohong awas .."

"Awas apa ?"

Tantang Coh-siang-hwi.

"Kau akan kuringkus dan kugusur kepenjara."

"Memangnya aku melanggar hukum, berani kau menangkap aku."

"Keparat berani melawan, rasakan golokku."

Golok besarnya segera menabas leher Coh-siang-hwi.

Sudah tentu cob-siang-hwi tidak pandang sebelah mata, sengaja dia bersikap gugup dan ketakutan, langkahnya sempoyongan dua tindak, kebetulan dia dapat meluputkan diri sementara mulutnya berteriak-teriak.

"Tolong rampok membunuh orang, Tolong ada begal disini"

"Keparat, sampai pecah tenggorokanmu juga tak berguna. damprat laki-laki baju hitam, kembali goloknya membelah dari atas. Coh-siang-hwi menggeliat tubuh lalu berkelit kekiri, mulutnya masih mengoceh.

"Rampok kejam, bila kena bacokanmu, bukankah badanku terbelah jadi dua."

Mendadak dia menggeser ke kiri tubuhnya setengah jongkok sambil berputar, tangan kanan menekan kepantat laki-laki baju hitam.

Gerak geriknya Cekatan..

Bacokan golok mengenai tempat kosong, karena terlalu bernafsu laki-laki itu menggunakan tenaga besar sehingga tubuhnya ikut terseret maju, baru dia berusaha mengerem tubuhnya "Plak"

Pantatnya kena ditabok sekali karuan tubuhnya mencelat kedepan, walau Coh-siang-hwi tidak menggunakan banyak tenaga, tapi rasa sakit pedas membuat dia berdiri meringis.

Karena pantatnya dihajar sudah tentu laki-laki itu makin gusar, bentaknya.

"Keparat, ternyata kau juga berisi, serahkan nyawamu."

Baru saja goloknya terayun hendak menubruk maju, mendadak dari hutan sebelah kiri kumandang suara serak berat berkata.

"Siau-hoa-pan (Macan kumbang cilik), kenapa kau, jangan biarkan penyatron melarikan diri,"

Suaranya sudah amat dikenal.

Belum lenyap suaranya sesosok bayangan orang sudah meluncur turun disamping mereka.

sekian melirik Coh-siang hwi melihat jelas, pendatang ini adalah Seng-si-ciang Hou Kongki.

Maka tahulah dia bahwa musuh mengerahkan seluruh kekuatannnya untuk mengejar jejak mereka, menduga Liok Kiam-ping beramai sudah pergi jauh, maka dia harus berusaha meloloskan diri.

Hou Kong-ki menyeringai dingin.

"Anak muda, tidak kecil nyalimu berani mencegat petugas hukum, lekas ikut Lohu kembali ke istana, hukumanmu boleh diperingan, kalau membangkang, hm, hehehe."

"Kalau membangkang kenapa ?"

"Kau akan mampus di sini.' "Ah, apa iya, kukira tidak."

"Bedebah, kau ingin mampus."

Damprat Hou Kong-ki, kedua tangannya memukul dengan tenaga dahsyat kearah Coh-siang-hwi.

Selicin belut Coh-siang-hwi menerobos lewat dari bawah melompat setombak jauhnya, Seng-si-ciang (pukulan mati hidup) Hou Kong-ki bersuara heran, tak nyana bocah yang sepele ini ternyata memiliki ketangkasan luar biasa, kembali dia maju dua langkah, kedua tangan kembali memukul, daya pukulannya lebih besar dan hebat.

Baru saja ujung kaki Coh-siang-hwi menginjak tanah, belum lagi berdiri tegak, pukulan kedua lawan sudah mendera tiba.

Jelas terlambat sedikit dia bakal terluka parah.

Untung dia memiliki ginkang tinggi, Cukup menutul sedikit tubuhnya sudah melambung dua tombak, di tengah udara kembali tubuhnya melejit seperti ikan yang melenting dari permukaan air, sehingga tubuhnya mumbul lebih tinggi hinggap dipucuk pohon.

Beg itu dia mengembangkan ginkangnya Seng-si-ciang Hou Kong-ki betul-betul terlongong dibuatnya.

Sekilas dia melenggong itulah, begitu menutul pohon tubuh Coh-siang-hwi sudah melambung tinggi pula kedepan, beruntun beberapa kali lompatan sudah mencapai belasan tombak.

Seng-si-ciang Hou Kong-ki termasuk orang ternama, sudah tentu dia pantang berpeluk tangan membiarkan lawan lolos dari hadapannya.

Sambil menggerung gusar segera dia melompat juga ke atas pohon terus mengudak kencang.

Coh-siang-hwi tahu seng-si-ciang Hou Kong-ki pasti mengejar dirinya, maka sengaja dia berputar ke selatan.

gerak geriknya segesit kelinci yang lari ketakutan mencari perlindungan, dari beberapa lompatannya dapat dinilai betapa sempurna latihan ginkangnya, hanya sekejap dia sudah meluncur seratusan tombak jauhnya.

Lwekang Seng-si-ciang cukup tangguh, melihat lawan bergerak tangkas dan gesit, lekas diapun mengembangkan Ginkang.

Namun sudah setaker tenaga dia kerahkan, Coh-siang-hwi masih puluhan tombak disebelah depan.

Karuan makin berkobar amarahnya, tanpa pikirkan akibatnya segera dia kerahkan dua belas tenaganya, kini langkahnya lebih enteng dan Cepat, sehingga jarak kedua pihak ditarik lebih pendek tinggal belas an tombak lagi, namun napas Hou Kongki sendiri juga sudah sesak dan sengal-sengal, badan basah kuyup oleh keringat.

Kini Coh-siang-hwi berlarian kearah barat, didepan lapatlapat terlihat kemilau Cahaya refteksinar dipermukaan air.

Menurutperi hitungan kecepatan larinya, dia menduga dirinya sudah hampir tiba diujung akhir dari Lam-hay.

Karuan hatinya girang.

langkahnya dipercepat, hanya sekejap dia sudah meluncur dekat ketempat yang dituju.

Selepas mata memandang permukaan air melulu, suasana hening sepi tiada bayangan manusia, menyusuri pesisir dia berlari terus kebarat lalu menuju kesemak-semak daon welingi yang berbentuk selat.

Semak-semak welingi tumbuh subur setinggi manusia, dari pinggir sini menjurus kesebrang sana.

Ih Tiau-hiong kerahkan tenaga murninya, segera dia kembangkan Ginkang Ting-bing-to-cui, tubuhnya meluncur seringan kupu ketengah semak welingi.

Ujung kakinya menutul pucuk daon welingi, daya pantulnya tubuhnya terus melejit majupula secara berganda.

Hanya beberapa kali lompat berjangkit seratus tombak telah dicapainya gerak geriknya tidak kalah cepat berlari ditanah datar.

Memang tidak malu dia dijuluki Coh-siang-hwi, kenyataan memang dia mampu meluncur secepat angin diatas rumput.

Setiba dipinggir semak-semak welingi, selepas mata memandang sekitarnya belukar melulu, menyaksikan betapa hebat Ginkang orang, yakin diri sendiri tidak mampu melakukan, terpaksa dia berdiri melongo dan menghela napas gegetun, akhirnya dia membanting kaki laluputar balik.

Baru saja Coh-siang-hwi selesai menceritakan pengalamannya, kerai tiba-tiba tersingkap Jian-li-tok-heng dan Suma Ling-khong melangkah kekamar.

Sebelum duduk mulut Jian-li-tok-heng sudah mengomel.

"Kawanan kunyuk itu memang licin dan licik, kalau aku terlambat datang, Suma-hiante tentu ketipu mereka..."

Setelah berpisah dengan Liok Kiam-ping, Jian-li-tok-heng menyelinap masuk kehutan.

Di sini dia berhenti sejenak dan menunggu, tak lama kemudian tiga bayangan hitam secara beruntun meluncur tiba dari depan, jarak setiap bayangan ada dua puluh tombak, gerak gerik mereka tangkas langkah ringan, jelas mereka mereka memiliki Kungfu yang boleh diandalkan.

Bayangan terdepan setiba didepan hutan mulutnya mendadak bersuara heran, kedua kaki menjejak.

tubuhnya lantas meluncur kearah Liok Kiam-ping pergi.

Sebelum tubuhnya meluncur pula mendadak dari samping kanan hutan menerobos keluar seorang, pedang panjang berkelobat terus menabas turun.

Bayangan hitam itu memang Cekatan, melihat pedang terpaut lima dim di atas kepalanya, lekas dia kerahkan Jian-kin-tui sehingga tubuhnya melorot kebawah terus mengegos pula kepinggir.

Disaat tubuhnya berputar bayangan hitam itupentang kelimajarinya dengan jurus Tam-tui-ciang menepuk kepundak penyergapnya .

Penyerang ini ternyata bukan lain adalah Suma Ling-khong.

Suma Ling-khong pasang kuda-kuda merendahkan tubuh sehingga pundaknya tidak kena tepukan lawan, pedang ditangan kanan dari membelah diganti menggiris lengan bayangan hitam.

Gerakan pedangnya enteng dan lincah, secepat kilat menyambar, lengan lawanjelas pasti teriris oleh tajam pedangnya.

Mendadak dari kiri membelah segulung tenaga keras membentur tangan kanan Suma Ling-khong yang memegang pedang sehingga tertolak mundur keatas.

Bayangan hitam yang datang duluan segera berputar seperti gangsingan menerobos pergi dari bawah sinar pedang, mumpung Suma Ling-khong terjengkang kebelakang, Ujung kakinya dengan gaya ikan lele melompati pintu naga tubuhnya meluncur setombak jauhnya, Melihat dua lawan mengeroyoknya, karuan Suma Lingkhong naik pitam, matanya mendelik gusar, kini dilihatnya jelas kedua orang baju hitam berusia lima puluhan, pendatang dulu berperawakan lebih gemuk.

Suma Ling-khong tenangkan hati menghimpun tenaga, dia tahu sebentar lagi akan terang tanah, urusan tidak boleh diulur panjang, dia harus berusaha meloloskan diri secepatnya, baru saja dia a ngkat pedang hendak melabrak lawan-Bayangan hitam ketiga telah meluncur tiba pula dipinggir gelanggang.

Perawakan orang ketiga ini agak kekar tinggi, rambut dan alisnya sudah memutih, usianya diatas enampuluh, matanya cekung hidangnya betet, bolamatanya bersinar biru, jelas lwekangnya amat tinggi.

Begitu dia tiba kedua orang baju hitam yang datang duluan segera menjura dan memberi hormat lalu berdiri dikanan kirinya.

Laki-laki berub an ini terkial-kial dengan nada dingin, suaranya lebih jelek dari pekik kokok-beluk, wajahnya yang tirus tampak menyeringai seram dan sadis, siapapun akan mual melihatnya.

Setelah puas tertawa dia berkata sinis.

'Tikus bernyali besar, tengah malam buta rata berani kau mencegat petugas hukum yang menjalankan tugas, kalau tahu diri lekas laporkan di mana pangkalan kawanan bangsat Honglui-pang, Losiu akan ampuni jiwamu kalau membangkang jiwamu tidak terampun lagi."

Suma Ling-khong balas tertawa lantang, serunya.

"Mohon maaf, kiranya kalian petugas hukum yang sedang dinas tengah malam buta rata makan angin bercapek lelah, sungguh petugas teladan yang patut dipuji. Bicara tentang di mana pangkalan orang-orang Hong-lui-pang, terus terang saya ini orang awan yang tidak tahu apa-apa, kalian petugas hukum tentunya cukup mampu untuk mencarinya sendiri."

Laki-laki muka tikus merasakan jawaban Suma Ling khong bernada menyindir, seketika merah mukanya, dengusnya.

"Kurcaci busuk, agaknya kau sudah bosan hidup,"

Kedua tangan terangkat kedua tangan menepuk bersama kedepan, segulung tenaga kencang menerjang kearah Suma Lingkhong.

Seumpama kambing-kambing kecil yang tidak takut harimau.

Suma Ling-khong tidak pedulikan betapa lihaynya lawan, lekas dia mas ukan pedang, dengan kedua tangan dia balas memukul sekuat tenaga menangkis pukulan lawan-"Plak"

Benturan keras mengakibatkan Suma Ling-khong tergentak tiga langkah, da rah dalam tubuhnya agak mendidih.

Laki-laki tua muka tikus tertolak setengah langkah.

Karena adu pukulan dirinya lebih asor Suma Ling-khong agak grogi, hatinya bimbang di saat dia kebingungan-Laki-laki muka tikus tidak memberi kesempatan lagi kepadanya, kedua tangan bersilang, disertai gerungan keras dia dorong pula kedua tangan dengan dua belas bagian tenaganya memukul kearah Suma Ling-khong.

Perbawa pukulannya jauh lebih dahsyat dari jurus pertama tadi.

Sekilas tenaga Suma Ling-khong sudah terlambat mau berkelit, dada terasa sesak seperti ditindih barang berat, jelas dia bakal terluka pa rah oleh pukulan dahsyat ini.

Untunglah pada saat gawat itu, dari hutan disampingnya mendadak meluncur segulung kekuatan deras menyongsong pukulan dahsyat laki-laki muka tirus.

"Byaar"

Ledakan yang terjadi dari benturan kedua pukulan laksana gemuruh halilintar, menimbulkan pusaran hawa yang membumbung tinggi keudara.

Setelah melontarkan pukuian menangkis serangan laki-laki muka tirus Jian li-tokheng sudah melompat ketengah gelanggang sambil bergelak tawa.

Serunya.

"Sungguh tak nyana Hou-san-it-siu ternyata juga mengabdi diri kepada kerajaan. ong-losu, caramu main berantas tanpa memberi peringatan lebih dulu apakah tidak terlalu picik, apa tidak takut merusak nama baikmu selama ini ?"

Hou san-it-siu adalah namajulukan laki-laki muka tirus, namanya ong Tang, dari perguruan Tiang-pekspay, Lwekang ajaran perguruannya sudah diyakinkan mencapai taraf tertinggi, tiga puluh tahun yang lalu namanya sudah menggetar Kangouw, namun karena sifatnya yang eksentrik menimbulkan kebencian khalayak ramai, sehingga dia susah bercokol lagi dipercaturan dunia persilatan-Dua puluh tahun yang lalu, karena suatu peristiwa, perb uatannya dianggap kotor hina dan memalukan sehingga diusir dari perguruan, maka selanjutnya dia menyembunyikan diri.

Diluar tahu orang luar dia terjun kealiran Micong di Tibet memperdalam ilmu.

Kali ini atas undangan Bong Siu dan Pa-kim Tayhud sengaja dia datang membantu untuk membrantas orang-orang Honglui-pang.

Kaum persilatanjarang yang tahu seluk beluknya.

Sungguh tak nyana bahwa Jian li-tok-heng membongkar asal-usulnya, karuan dia melenggong, tapi lekas sekali dia sudah bergelak tawa, katanya.

"Entah sudara dari a lira n mana, ternyata masih mengenal Losiu, sudikah kau memperiihatkan wajah aslimu ? Atau sudi kiranya sebutkan nama gelaranmu ?"

Ternyata Jian -li -tok -heng mengenakan cadar hitam menutupi mukanya, dengan gelak tawa dia berkata.

"Bagus, bagus. Asal kau dapat mengalahkan kedua tanganku, siapa diriku boleh nanti kuberi tahu kepadamu."

Memangnya watak Hou-sau-it-siu eksentrik, karuan dia naik pitam.

"Sahabat, agaknya memandang rendah orang she ong, terpaksa biarlah kita tentukan dengan adu kepandaian saja."

Lalu dia bersiap mengerahkan tenaga.

Jian-li-tok-heng berdiri dengan sikap jumawa, hakikatnya tidak kelihatan dia bersiap atau memasang kuda-kuda.

Di sinilah dia memperlihatkan kematangan pengalamannya, sebelum bergebrak.

dia tidak ingin memperlihatkan aliran kepandaian silat sendiri kepada lawan.

Ditunggu-tunggu lawan lawan tetap berdiri tak acuh, Housan-it-siu menjadi tak sabar, serunya.

"Kenapa ? Hayo serang."

Makin berkobar amarah Hou-san-it-siu sung guh tak terpikir olehnya bahwajiwanya sendiri sudah eksentrik, ternyata lawan yang dihadapinya justru lebih nyentrik lagi ?

Karena itu, betapapun dia jumawa dan tinggi hati.

mau tidak mau harus berlaku waspada, apalagi dalam adu kekuatan pukulan tadi sedikitpun dirinya tidak memperoleh keuntungan-Segera dia mengkonsentrasikan pikiran dan batin, seluruh kekuatan Lwekang dikerahkan dikedua lengan, ditengah hardikan rendah.

"Lihat pukulan."

Kedua tangan mendadak menjotos kedada Jian-li-tok-heng.

Sebelum pukulannya mengenai sasaran, suara angin mengamuk sudah menunjukkan perbawa pukulannya .

Melihat lawan menghimpun tenaga Jian-li-tok-heng tahu bahwa serangannya pasti sepenuh tenaga, apalagi deru pukulannya seperti angin ribut, maka Jian-li-tok-heng tidak berani ayal, lekas dia menyurut selangkah, kedua tangan menbundar didepan dada lalu kerahkan tenaga menangkis kearah pukulan lawan Dua kekuatan beradu.

Tubuh bagian atas Jian-li-tok-heng terjengkang sedikit, kaki kanan mundur setengah langkah Hou-san-it-siu tertolak mundur tiga langkah berat baru berdiri tegakpula.

Bahwa latihannya puluhan tahun ternyata sia-sia, karuan amarahnya makin memuncak.

padahal dia sudah berlatih sepuluh tahun dengan rajin, hari ini pertama kali mengadu kepandaian setelah keluar kandang, ternyata dirinya kecundang ditangan lawan yang tidak dikenal, karuan mukanya merah padam, sehingga mukanya yang tirus kelihatan jelek dan seram.

Adu pukulan menang seurat, kemenangan jelas dipihaknya, maka Jian-li-tok-heng bergelak tertawa.

"Dengan bekalmu yang tak seberapa ini berani menahan orang. Nah, sambutlah sejurus pukulan Lohu."

Sembari bicara tenaga dikerahkan dikedua tangan serta ditekan keluar dengan gerakan enteng, gayanya seperti menggempur dengan keras, padahal tenaga tidak disalurkan Sekali kena pukulan Hou-san-it-siu sudah teramat jeri, sudah tentu dia tidak berani menangkis, lekas menjejak mundur selangkah, ternyata samberan tenaga lawan mendadak sirna, karuan dia melongo kaget, batinnya.

"Pukulan macam apakah ini ?"

Mumpung lawan mundur dan melenggong, mendadak Jianli-tok-heng mendesak setapak lebar, kali ini tenaga pukulannya betul-betul dilontarkan dengan tepukan dahsyat, perbawa pukulannya betul-betul lebih mengejutkan dari pukulan yang tad i.

Sedikit lena pukulan dahsyat sudah menindih tiba, balas memukuljelas tidak keburu, lekas Hou-san-it-siu gunakan Bitcang-pou (langkah menyesatkan jejak) berkelebat hilang dari tempat berdirinya.

Gerak tubuhnya ternyata cukup tangkas mengejutkan, langkahnya itu memang kepandaian tunggal yang tidak sembarang di ajarkan kepada orang aliran Bit-ciong, padahal Jian li-tok-heng juga tokoh yang mahir menggunakan kesebatan tubuhnya, pandangannya yang tajam ternyata tidak sempat mengikuti gerakan lawan, tahu-tahu orang sudah lolos dari damparan angin pukulannya.

Tahu keadaan agak ganjil lekas Jian-li-tok-heng melompat mundur lima kaki jauhnya.

Hoa-san-it-siu terkekek pongah, tangan bergerak.

kembali ia menubruk dengan serangan gencar.

Dengan kesebatan Bitciong-pou yang mengaburkan pandangan, dia bergerak dengan kecepatan luar biasa, sejauh ini dia tidak berani main keras lagi.

Maksud Jian-li-tok-heng semulaingin memukul mundur lawan, lalu menyusul ke dalam Tay-hud-si, menghadapi langkah lawan yang mengaburkan pandangan, sukar juga dia meninggalkan lawan, kecuali diapun ikut bergerak sebat untuk melabraknya dengan sengit.

Baku hantam kedua orang ini makin cepat, bayangan mereka berkelebat saling gubat, hingga susah diikuti dan dibedakan bayangan mereka.

Tenaga pukulan Jian-li-tok-heng lebih kuat, dalam melancarkan serangan dan menyambut serangan lawan, dia lebih banyak aktif dari lawannya, setiap peluang tidak pernah diabaikan, segera balas menyerang dengan serangan telak.

ins af tenaga lebih asor, Hou san-it-siu tidak berani melawan dengan kekerasan, hanya lena sekilas saja, rangsakan lawan yang hebat telah menyudutkan dirinya keposisi yang terdesak.

Dalampada itu Suma Ling-khong tengah menyaksikan dengan takjup, Mendadak didengarnya seorang membentak.

"Kawan, kau jangan nganggur saja."

Sebelum Suma Lingkhong memberi jawaban, empat gulung angin pukulan sudah memberondong tiba dari kanan kiri, betapa hebat sergapan yang diluar dugaan ini, cukup mengejutkanjuga.

Begitu mendengar bentakan, belum sempat Suma Lingkhong perihatikan lawan yang menyergap.

pukulan sudah menderu tiba, lekas dia menjejak kedua kaki, tubuhnya melejit setombak ditengah udara dia menggeliat pinggang hingga tubuhnya berputar setengah lingkar, dengan gaya yang indah dia meluncur dua tombak jauhnya.

Hatinya geram karena dua lawan membokong secara licik dan kejam, segera dia memekik keras, tangan meroboh pedang panjang dipunggung.

sekali gentak dengan gerakan membundar dia menusuk Jian-kin-hiat dipundak laki-laki baju hitam yang perawakan pendek gemuk dengan jurus Pekcoatoh-sin.

Bahwa pukulan derasnya luput, tahu-tahu pedang lawan sudah menusuk dari kanan, lekas dia menurunkan pundak sambil menyurut mundur.

Seorang baju hitam yang lain hendak memungut keuntungan, mumpung gerak pedang Suma Ling-khong berputar, dari pinggir mendadak dia menggempur pula dengan sekali pukulan.

Belum lagi tusukan pedangnya dilancarkan sepenuhnya, pukulan angin lawan telah menerpa tiba, lekas dia geser kaki kanan hingga tubuhnya setengah miring, tusukan pedang kedepan dengan sendirinya ikut bertolak balas menabas pergelangan lawan yang membokong ini.

Sebat sekali laki-laki gemuk pendek sudah membalik badan, kembali dia menubruk dengan jurus Siang-tui-ciang menggempur Ling-tai-hiat dipunggung Suma Ling-khong.

Mengikut gerak pedangnya yang menabas miring, kaki kanan Suma Ling-khong menutul hingga tubuhnya minggirtiga langkah.

Gerak pedangnya bukan saja lincah juga cepat dan kuat, bolak balik dia cecar kedua lawannya dengan serangan mematikan.

Sinar pedangnya gemerdep diantara samberan pukulan tangan yang gencar, meski dikeroyok dua, dia masih melayani lawannya dengan seimbang.

Sementara itu, dengan keunggulan tenaganya Jian-li-tokheng terus mencecar lawannya, dalam hati dia membatin.

'Kentongan kelima sudah lewat, sebentar lagi akan terang tanah, bertempur cara begini, mungkin harus seratus jurus baru dapat membekuk lawan."

Tiba-tiba timbul akal dalam benaknya, setelah lawan dia rangsek dengan serangan membadai, mendadak gerakannya menjadi lamban, kaki tangan kelihatan kaku dan berat.

Disaat melangkah dan memutar badan sengaja dia melimbungkan tubuh, napaspun mulai memburu.

Hou-san-it-siu kira setelah merangsak gencar lawan mulai kehabisan tenaga, tak terpikir olehnya bahwa orang sedang mengembangkan gerak langkah aneh ciptaan sendiri yang dia cangkok dari cui-pat-sian-Karena senang, Hou-san-it-siu kembangkan Bit-clong pou sekuat tenaganya, gerak tubuhnya berkelebat laksana kilat menyambar, boleh dikata membuat pandangan orang kabur, tenaga serangannyapun mulai keras dan berani.

Tahu lawan sudah terpancing oleh muslihatnya, makin kacau gerak gerik Jian-li-tok-heng, tubuhnya limbung kian kemari, ada kalanya dia membuat kakinya meleset beberapa langkah baru berdiri pula..

Meski gerakannya sudah pontang panting, namun Hou-san-it-siu tetap tak mampu menyentuh ujung bajunya, apa lagi menjamah badannya.

Waktu itu Jian li-tok-heng sedang meluputkan diri dari tendangan dan Cengkraman bersama dari hou-san-it-siu yang sudah bernafsu meroboh kan dia, dengan terus sempoyongan dia mundur dua langkah.

sebelum dia berdiri tegak.

Hou-sanit-siu sudah menerjang tiba, kedua tangan menggempur dengan dua belas bagian tenaganya secara beruntun.

Mendengar deru angin Jian-li-tok-heng sudah bersiaga, tahu Hou-san-it-siu menggempur dengan setaker tenaga, lekas dia bergerak dengan Jit-sing-lian-hou-pou, sebat sekali badannya berkelit kekanan, disaat tubuhnya roboh hampir menyentuh tanah, setangkas tupai mendadak tubuhnya berputar laksana gangsingan, dengan kecepatan yang tak terukur, dia menyelinap kepinggir kanan Hou-san-it-siu, di mana kedua tangannya menjojoh kebawah iga dan ketiak lawan Bahwa lawan sudah dicecarnya pontang panting, Hou-sanit-siu sudah kegirangan karena lawan akan dipukulnya roboh, celakanya begitu serangan kebacut dilontarkan, bayangan lawan mendadak lenyap.

sebagaijago silat kenamaan dia lantas insaf posisi sendiri yang tidak menguntungkan, menarik serangan jelas tidak sempat.

saking bernafsu menyerang tubuhnya ikut tersuruk kedepan, baru saja dia hendak kendalikan diri, angin kencang sudah mengancam lambungnya.

Jikalau pukulan lawan kena dengan telak kalaujiwanya tidak mampus seketika pasti juga sekarat, Untung Lwekangnya tinggi, meski terancam bahaya tidak gugup, sekalian dia kerahkan tenaganya menerjang maju selangkah, dengan sendirinya, sasaran pukulan Jian-li-tok-heng menjadi serong, kekuatannyapun sirna sebagian, namun pantatnya tetap kena dengan telak.

Ditengah jeritan mengerikan tubuh Hou-san-it-siu yang keras itu terbang setombak jauhnya, tulang rusuk pantatnya patah, setelah terbanting ditanah dia meronta-ronta sambil merintih kesakitan Mendengar jeritan Hou-san-it-siu, kedua laki-laki baju hitam yang bergebrak dengan Suma Ling-khong segera melompat keluar kalangan pertempuran, berbareng mereka memburu datang memberi pertolongan, melihat luka-luka Hou-san-it-siu amat parah, lekas mereka menggotongnya pergi tanpa bersuara sepatahpun.

Suma Ling-khong hendak mengudak.

lekas Jian-li-tok-heng mengulap tangan mencegahnya, setelah ketiga orang itu tak kelihatan bayangannya, lekas mereka kembali ke Tay-hud-si.

ooooo)dow(ooooo Setelah Jian-li-tok-heng menceritakan pengalamannya, sementara itu hari sudah terang tanah, setelah bertempur semalam suntuk.

mereka merasa badan penat,perut lapar dan dahaga setelah makan ala kadarnya, mereka beristirahat, waktu bangun tidur hari sudah menjelang lohor.

Dengan suara lirih Liok Kiam-ping berkata.

"Bahwa semalam kita berhasil lantaran bekerja menurut rencana dan situasi memang menguntungkan-Bahwa muslihat musuh menjebak kita tidak terlaksana, bukan mustahil selanjutnya mereka akan lebih jahat dan membalas dengan segala daya, secara terbuka Hwe-giam-lo Siu-Jan sudah menyatakan tantangan untuk berduel, membuktikan bahwa mereka siap mempertaruhkan seluruh kekuatan mereka untuk menumpas kita. Yang menjadi kapiran adalah Kongsun Tongcu dan lainlain belum lolos keluar kota situasi berobah cukup cepat dan genting, tiada cara untuk mengadakan kontak dengan mereka, hal ini cukup membuat kita prihatin-' "Hm,"

Ai-pong-sut bersuara dalam mulut, lalu katanya.

"Peristiwa ini sudah diketahui oleh Ka-cin-ong, umpama dia tidak mengadakan pengusutan secara teliti, paling sedikit cukup menyiutkan nyali mereka, hingga selanjutnya tak berani sewenang-wenang lagi, hakikatnya mereka seperti ma can kertas, kuat diluar lemah didalam, tantangan duel itu hanya gertak sambel belaka."

Setelah menepekur Jian-li-to-heng angkat bicara.

"Kurasa tidak seluruhnya betul, melihat betapa kuat dan ketat penjagaan dalam kota, mata-matanya tersebar luar, dari sini dapat disimpulkan bahwa Siu-Jan sudah punya suatu kekuatan meski kecil didalam kota raja, bilaintrikjahat mereka belum terbongkar, yakin mereka masih berani bertindak."

Berdiri tegak alis Liok Kiam-ping, desisnya.

"Jikalau mereka masih berani berlaku sewenang-wenang, demi keselamatan, kejayaan dan nama baik Hong-luipang kita, betapapun akan menghadapinya dengan berani."

Ai-pong-sut Thong cau berkata. Jikalau kebentur padri Tibet lagi, akan Losiu hajar mereka dengan sepasang Yamyam-tuiku."

Agaknya setelah dua kali gebrak tak berhasil merobohkan lawan, hatinya amat penasaran Coh-siang-hwi Ih Tiau-hiongjuga berkata.

"Kali ini mereka sudah lama mempersiapkan diri maka kekuatannya cukup tangguh. setelah mengalami kekalahan sekali pastitakkan berpeluk tangan, apalagi kota raja adalah daerah kekuasaan mereka, jikalau bertarung terang-terangan, pihak kami jelas tidak periu gentar, yang harus dikuatirkan mereka meng gunakan cara kotor, tidak menghiraukan aturan Bulim lagi, maka keadaan kita jelas cukup kritis. Sesuai yang diutarakan oleh Pangcu, lebih baik kita berusaha membantu Kongsun Tongcu beramai keluar kota, balik kekuatan kita berkumpul, menghadapi sesuatu perobahanpun tak perlu takut, disamping itu tenaga harus dipencar untuk mencari berita, mata-mata mereka tersebar diseluruh pelosok kota, banyak orang mulut usil, jejak kita gampang konangan bila dapat sedikit mengetahui seluk beluk musuh, betapapun kita lebih mudah menghadapinya."

Jian-li-tok heng menyatakan akur, katanya.

"Konon Bansiu-san berada dibarat kata, daerah luas itu tak ada jeleknya kita periksa bersama, supaya besok sudah ada persiapan untuk bergerak."

Setelah makan slang, beramai mereka berangkat secara berpencar.

Ai-pong-sot Thong cau dan Jian-li-tok-heng adalah kawan seperjalanan yang cocok, mereka menyamar sebagai pedagang kelilingan, berangkat lewat pintu selatan-Liok Kiam-ping sendiri mengenakan jubah biru yang sudah luntur warnanya, memakai kacamata putih yang bundar dan melorot dipucuk hidung dengan berkumis panjang, tangan memegang galah bergantung secarik kalin panjang yang sebagai tanda pengenal sebagai tabib dan peramal kelilingan, Coh-siang-hwi sebagai pembantu atau penyambung lidah berangkat pada rombongan bedua.

Semula Siau Hong ribut ingin ikut, namun setelah dibujuk orang banyak.

terpaksa dia mau tinggal di Tay-hud-si.

Liok Kiam-ping berangkat dari pintu barat, dengan langkahnya yang ditirunya dari tabib kelilingan umumnya, keadaannya memang mirip sekali, sambiljalan lewat Celah kacamatanya yang bundar, takpernah lena keduamatanya melirik kekanan kiri, disetiap sudut kota terutama dipos-pos penjagaan pintu kota, tidak sedikit orang-orang yang patut dicurigai sebagai kaki tangan musuh.

Sambil menenteng galah, tangan yang lain pegang kipas, kelakuannya yang tengik, Liok Kiam-ping berienggang keluar kota, ternyata gerak geliknya yang sengaja dibuat-buat meniru tabib kelilingan itu tidak menarik perhatian mereka.

Setelah menyusuri dua jalan raya.

makin kebarat keadaan makin sepi, namun pemandangan alam di sini semakin permai, hawapun sejuk.

Ternyata daerah barat yang terdapai sebidang hutan luas ini, bukan saja pepohonan tumbuh subur dan rindang, di sana sini tampak gedung berloteng atau villa antik yang dlbangun ditengah hutan, jelas penghuni setiap gedung itu kalau bukan pejabat pemerintah pasti Hartawan besar yang kaya raya, boleh dikata merupakan daerah elite.

Maju lagi kearah selatan terdapat sebuah danau buatan, dipinggir danau sebelah timur terdapat sebuah restoran berloteng.

Liok Kiam-ping menuju restoran itu langsung naik keloteng.

Setelah menempati sebuah kursi, dia menurunkan kacamatanya.

Mendadak pandengannya tertuju kearah sebelah kanan, di mana terpaut tiga meja duduk seorang tua, mengenakan jubah panjang dengan sepatu tinggi, wajahnya putih berjenggot pendek halus yang sudah memutih, matanya besar tajam dengan alis lentik tegak, sikapnya kelihatan gagah dan kereng.

Namun wajahnya kelihatan agak pucat, sorot matanya pudar, sering batuk-batuk.

Sekilas pandang Liok Kiam-ping lantas tahu bahwa orang tua ini mengidam penyakit dalam yang cukup parah, kalau tidak lekas dlobati bisa membahayakan jiwanya, tak urung dia melirik beberapa kali.

Agaknya orang tua itujuga sudah memperi hatikan kedatangannya, melihat wajahnya yang bersih, hatinya merasa kagum akan ketampanannya, bila pandangan mereka bentrok, lakl-laki tua lantas tersenyum dan menyapa.

"Tuan ini agaknya juga penggemar alam, punya hobby yang sama, bagaimana kalau duduk kemari beromong-omong ' Memangnya Liok Kiam-ping sedang risau dan kesepian, sudah tentu dengan senang hati dia menghampiri lalu duduk dihadapan orang tua. Setelah saling memperkenalkan diri, orang tua ini mengaku she Liong. Semula mereka hanya ngobrol tentang pemandangan alam dan soal-soal obyek turis, lambat laun mereka membicarakan pengalaman mengembara di Kangouw. Terasa oleh Liok Kiam-ping bahwa orang tua she Liong ternyata luas pengetahuan dan pendidlkan tinggi. Demikian pula orang tua she Liong mengagumi sikap gagah Liok Kiam-ping secara tutur katanya yang ramah dan sopan, ternyata pengetahuannya juga tidak cetek. Dalam percakapan itu, orang tua she Liong sering batukbatuk dan berludah keluar jendela. Maka Liok Kiam-ping menyatakan ingin memeriksa penyakitnya, ternyata orang tua memberi tanggapan yang ramah dan membiarkan dirinya diperiksa. Bila Liok Kiam-ping sudah memeriksa danyut nadi pergelangan tangan kiri orang tua, maka dia berseru kaget.

"Agaknya cayhe salah lihat, semula Lo-tiang ( kau orang tua ) kusangka seorang pembesar yang lagi Cuti, ternyata seorang kosen dari Bulim..."

Lalu dengan tersenyum dia meneruskan.

"agaknya Lo-tiang terlalu menguras tenaga dalam bermain cinta sehingga kehabisan hawa dan tenaga murni, seumpama dian yang sudah hampir kehabisan minyak. kalau tidak lekas dlobati...' "

Orang tua she Liong gelak-gelak, katanya riang.

"Betul, betul, Liok-siansing boleh katakan saja terus terang..."

Liok Kiam-ping cerdik pandai, namun dia tidak banyak bicara lagi, dari pemeriksaan urat nadi diketahui bahwa orang tua ini sebetulnya memiliki Kungfu yang tinggi, namun dia tidak banyak bicara soal ini, dari dalam kantongnya dia mengeluarkan sebutir Soat-lian suruh orang tua she Liong menelannya, lalu dia duduk dibelakang orang, telapak tangan kanan menekan Ling-tai-hiat.

Begitu Soat-lian masuk mulut lantas tertelan kedalam perut, rasanya yang getir harum lantas diketahui bahwa obat ini amat mujarab, hawa hangat lantas timbul dari pusar, hanya sekejap sekujur badan merasa segar, napas enteng dan panjang, tulang tulang yang semula terasa linu telah sirna.

Setengah jam kemudian, Liok Kiam-ping mengakhiri pengobatannya katanya menjura.

"Penyakit Lo-tiang sudah sembuh sembilan puluh prosen, selanjutnya dilarang dekat dengan kaum hawa, minumlah banyak obat-obatan yang menambah tenaga, pasti usia bisa bertahan lebih lama cayhe masih ada janji, sampai disini pertemuan ini, cayhe mohon diri, semoga bertemu lagi dilain kesempatan-"

Orang she Liong gelak-gelak, katanya.

"Selama hidup orang she Liong memang gemar belajar silat, pengalamanku boleh dikata Cukup luas dalam hal ini, sungguh tak nyana Lioksiansing masih begini muda, namun memiliki taraf kepandaian setinggi ini."

Lalu dia merogoh kantong mengeluarkan sebuah kantong cilik sutra berlapis bulu yang disulam indah dengan warna warni yang bagus, katanya tertawa.

"Barang dalam kantong ini meski mestika yang beri harga, yakin takkan terpandang oleh Siansing, tapi bagi kelanamu di Kangouw kelak yakin akan membawa banyak manfaat. orang she Liong mengagumi bakat dan kepandaianmu, semoga kelak masih ada kesempatan bertemu lagi. sudilah kau terima tandamata ini."

Habis bicara tanpa menunggu jawaban Liok Kiam-ping, dia putar turuh terus turun loteng dan beranjak lebar menyusuri pinggir danau kearah selatan-Terasa amat mendalam makna ucapan orang she Liong, maka Liok Kiam-ping simpan kantong sutra berbulu itu kedalam bajunya, setelah bayar rekening dia berangkat menuju kearah Tlong-lam-hay.

Saat itu hari sudah petang, menjelang magrib keadaan ternyata sudah sepi, maka Liok Kiam-ping tidak segan mengembangkan Ginkang menyusuri pinggir danau, begitu pesat luncuran tubuhnya, bayangannya laksana segumpal asap yang terbang susah diikuti mata telanjang orang biasa.

Hanya setanakan nasi lamanya, dia sudah tiba diujung Lam-hay.

Langkahnya diperlambat, dengan keadaan yang serupa dia berlenggang dijalan Tiang-an barat, tak jauh dari Si-pay-lou dia menemukan sebuah warung arak kecil, setelah makan malam dia minta kamar dan menutup pintu.

Kantong sutra pemberian orang she Liong segera dia keluarkan serta menuang isinya, ternyata didalam hanya ada sebuah batu jade mainan berbentuk hati, ditengahnya bertuliskan empat huruf yang berbunyi "seperti Tim datang sendiri".

"Tim"

Artinya aku, membahasakan diri seperti sebagai raja.

Dari tulisan empat huruf itu Liok Kiam-ping menarik kesimpulan bahwa orang tua she Liong tadi adalah Baginda raja yang berkuasa sekarang, yaitu Kaisar Kian Long.

Seperti diketahui ayah Baginda raja Kian Liong yang berkuasa sekarang yaitu Yong cin dahulu pernah belajar silat dikuil Siaulim, setelah tua dan mangkat, Kian Liong diangkat sebagai ahli warisnya, sudah tentu Kungfunya juga tidak lemah.

Tengah Kiam-ping menepekur, mendadak didengarnya seorang bicara dengan suara melengking.

"Lo-liok, lekas sedikit, kalau terlambat, kau bisa di caci maki dan hukum pentung."

Seorang serak suara menjawab.

"Dalam kota raja yang terlarang, menghadapi beberapa orang juga begitu tegang. Bukankah Siu congya sendiri yang memimpin operasi kali ini, memangnya kawanan itik itu bisa terbang kelangit. Hayolah habiskan lagi dua kati arak ini, terus terang kesempatan jarang ada, kalau arak belum masuk perut, rasanya tiada gairah kerja."

"Jangan gegabah. Kau tahu situasi cukup tegang. makaJangan kau melalalkan tugas, hari masih panjang, kesempatan minum masih ada. Betapa tinggi Kungfu Siucongnya, orangnya pandai lagi, namun kali ini tampak dia begitu serius memimpin seluruh gerakan kali ini. Soalnya musuh memang teramat tangguh dan hebat, terpaksa selaruh kekuatan dikerahkan-"

Demikian ucap suara melengking.

"hayolah, kalau kau masih malas berjalan, biar aku berangkat lebih dulu."

"Ya, ya, baiklah,"

Orang yang bersuara serak agak gugup.

"tunggu sejenak biar kuhabiskan dulu sepoci ini."

Lalu terdengar tenggorokannya menenggak arak dengan bernafsu, setelab berkecek mulut dia memuji arak bagus.

Langkah mereka lekas sekali menuju ketangga loteng terus beranjak keluarwarung merangkap penginapan sederhana ini.

Mau tidak mau Liok Kiam-ping membatin.

"Mungkin jejak Ginjutay-beng dan lain-lain sudah konangan mereka, maka malam-malam mereka mengerahkan bala bantuan untuk mengeroyok Ginjutay-beng beramai ? Atau bukan mustahil Tay-hud-si tempat kita berpijak diketahui mereka, sekarang mereka slap menggerebek tempat itu."

Setelah direnungkan dia berkeputusan untuk mencari tahu dudukpersoalannya lebih dulu, bila perlu biar bertindak lebih dulu saja.

Segera dia keluar pintu, dengan dandanan semula dia beranjak kearah Tak-mo-siang.

Sekarang mari kita ikuti perjalanan Ai-pong-sut Thong cau dan Jian-li-tok-heng yang berputar dari selatan lalu masuk kota dari pintu barat.

Disekitar Ban-siu-san mereka putar kayun sebentar lalu membelok kearah Thian-kio, mendadak ditempat yang tersembunyi mereka menemukan tanda rahasia Honglui-pang mereka.

Sebagai kawakan Kangouw, mereka tetap bersikap tenang dan wajar, mereka menuju kearah yang ditunjukan oleh tanda rahasia.

Tak lama mereka berjalan, dari arah depan dilihatnya Tlo Ping salah seorang pembantu mereka yang terpercaya sedang berjalan gopoh dari depan-Jian-li-tok-heng sudah hampir menyapa, untung dari kejauhan Thio Ping sudah memberi tanda serta menuding kebelakang, maka Jian-li-tok-heng lantas melihat tiga orang laki-laki pakaian ketat tengah menguntit dibelakang Thio Ping, dibelakang ketiga laki-laki menguntit pula dua laki-laki setengah umur berjubah panjang, jaraknya sekitar dua tombak.

Kelihatannya kedua orang setengah umur ini berjalan santai sambil tuding sana tunjuk sini seperti menikmati pemandengan alam sekitarnya, namun langkah mereka tidak pernah kendor.

jaraknya tetap bertahan sekitar dua tombak dibelakang ketiga orang berpakaian ketat.

Sekilas pandang Jian-li-tok-heng lantas tahu, Thio Ping sedang dikuntit orang.

setelah memberi tanda kedipan mata kepada Ai-pong-sut.

mereka batuk bersama dua kali lalu putar tubuh berjalan cepat disebelah depan Thio Ping malah.

Kepandaian Thio Ping biasa saja, namun dia cerdik pandai dan pemberani, hari ini tugasnya mencari orang disekitar Thian-kio, tugas yang diemban cukup berbahaya, maka Setiba ditempat yang dituju, segera dia membuat tanda rahasia gawat, setengah hari lamanya dia putar kayun hampir menjelajahi seluruh Thian Kio namun, bayangan Liok Kiamping dan lain-lain tiada yang ditemukan, tengah kebingungan, ternyata dirinya sudah menarik perhatian orang, sehingga ke manapun dia pergi selalu dikuntit lima orang itu.

Tapi tugas belum selesai, betapapun dia tidak mau tinggal pergi, maka dia ajak kelima orang itu bermain petak.

lama kelamaan, meski dia cukup tahan akhirnya merasa bingung dan gugup, dia tahu dirinya harus berusaha meloloskan diri dari kuntitan musuh.

Mendadak didengarnya suara orang batuk-batuk.

waktu dia angkat kepala dilihatnya Jian-li-tok-heng dan Ai-pong-sut Thong ciau berada disebelah depan, karuan hatinya lega Sambil merunduk jalan didepan Jian-litok-heng dan Aipong-sut bisik-bisik, akhirnya mereka melangkah lebar menuju timur kearah Thian-lam.

Thio Ping membuntuti dibelakang mereka.

Dalam sekejap satu li sudah mereka tempuh, keadaan semakin sepi dan belukar, di sini jarang ada orang melancong, pinggir jalan juga dipagari pepohonan yang lebat dan rimbun, keadaan di sini memang lebih sejuk dan segar.

Bila mereka memanjat ketanjakan sebuah bukit rendah, sekilas Jian-li-tok-heng menoleh kebelakang ketiga laki laki itu masih mengekor dibelakang, namun dua orang jubah panjang tidak kelihatan lagi, agaknya menyembunyikan diri entah dimana.

Kini mereka menyusuri jalan pegunungan kecil, daerah ini agaknya jarang dikunjungi orang, pepohonan lebih rungkut dan belukar.

Mendadak Jian-li-tok-heng mendengus geram, begitu membalik tubuh dengan langkah cui-pat sian dia menyelinap dari samping Thio Ping menerjang kebelakang, gerak geriknya selemah daon teratai yang ditiup angin lalu, badannya langsung menumbuk orang ditengah.

Aksinya teramat mendadak, ketiga orang itupun sedang berjalan dengan langkah Cepat, kejadian yang tak terduga ini membuat mereka kaget setelah Jian-li-tok-heng menabrak tiba, sebelum sempat buka suara laki-laki ditengah itu sudah meloso roboh dengan pinggang tertutuk Hiat-tonya.

Kedua teman orang itu, berjingkat mundur sambil bersiaga, maka sikutan dan tendangan Jian Ii-tok.heng tidak berhasil merobohkan mereka, Bentak orang yang dikanan.

"Berdiri, Kalian bernyali besar melukai orang didaerah terlarang, memangnya kau kira kami tidak mampu membekukmu."

Jian-li-tok-heng bergelak tawa, katanya.

"Barusan Losiu terpeleset hingga tersuruk kedepan, untung tidak menabrak kalian, temanmu ini Hanya pingsan sebentar, keadaan hanya kebetulan, kenapa aku disalahkan. Apalagi sejak tadi kalian menguntit kami, entah apa maksudnya, tolong dijelaskan."

"Siapapun boleh melancong di sini, memangnya kau ini opas atau begal, perlu aku memberitahu siapa aku kepadamu. Sebaliknya kau melukai orang, berikan tanggung jawabmu."

Bentak orang disebelah kiri.

Sementara itu Ai-pong-sot sudah mendapat penjelasan dari Thio Ping, ternyata jejak mereka sudah konangan, sekeliling hotel sudah dikepung dan diawasi, padahal kebanyakan orang-orang Hong-lui-pang sudah mengundurkan diri dari kota serta berkumpul ke Tayhud-si tapi di kota masih ada Ginj.

taybeng, dan Thi-pi-kim-to Tan Kian-thay dan beberapa jago kosen yang lain yang tinggal dalam hotel, keadaan mereka cukup gawat, maka Thio Ping merasa harus segera melaporkan hal ini.

Sudah tentu mendelik gusar Ai-pong-sut setelah mendapat laporan Thio Ping disamping gemas diapun dongkol akan kelicikan dan kekejaman musuh yang bermusuhan hendak menjaring Hong-lui-pang, maka dia memberi bisikan kepada Thio Ping supaya keluar dari pinto En-tin-bun, setelah berputar lewat clok-an-bun langsung menuju kebarat dan lurus ke Tay-hod-si.

Setelah Thio Ping pergi, kebetulan Ai-pong-sot melangkah maju waktu laki-laki di di sebelah kiri habis mengoceh.

Segera dia menanggapi.

"Saudara kukira mata mu tidak picak, tugas apa yang kalian lakukan? Langkah apa pula yang akan kami lakukan ? Kukira kau juga sudah maklum, bicaralah terus terang, kami tidak akan menyiksamu, kalau membangkang rasakan bila kau sekarat bagaimana rasanya."

Ternyata laki-laki itu balas menjengek.

"Kalian sudah terkepung di sini masih berani petingkah, berani kalian meninggalkan Thiantam, coba saja rasakan bogem kita."

Jian-li-tok-heng tergelak-gelak. katanya.

"Kurcaci yang tidak tahu di untung, memangnya kalian setimpal-..."

Belum habis bicara tangannya sudah terayun menyambit biji teratai besi mengincar kedua laki-laki pongah itu.

Kepandaian kedua orang ini teramat rendah, jarak dekat, mereka tengah mendengar perkataan lawan, serangan secara mendadak lagHingga mereka tersentak kaget bila angin tajam sudah menyambar tiba, belum sempat berkelit mereka sudah mengeluh terjungkal roboh tak bernyawa lagi.

Setelah kedua orang inipun roboh binasa oleh biji teratai besi, kuatir kedua laki-laki setengah umur yang sembunyi dalam hutan menyusul tiba, lekas dia tarik Thong cau melompat kedalam hutan-Memangnya mereka ahli ginkang dengan kecepatan gerak tubuh laksana meteor mengejar rembulan, mereka lari berlompatan berputar dari arah lain mengitari bukit langsung balik kearah Bak-mo-siang.

Saat itu tiba saatnya memasa ng lampu, keadaan di Bakmo-siang masih ramai, restoran penuh dikunjungi orang-orang yang lapar, tetabuan dan nyanyian terdangar di setiap restoran dari para pengamen atau pelacur yang sengaja disewa untuk menemani para tamu.

Dibandang siang tadi, pejalan kaki dijalan raya jauh lebih berjubel, ditengah keramaian terasa juga ketegangan, seperti keheningan menjelang datangnya hujan badai, hawapun terasa panas.

Sebagai kawakan Kangouw, melihat keadaan di sini sesaat mereka melenggong bingung.

Ternyata seratus langkah disekitar hotel di mana semula orang-orang Hong-lui-pang menginap.

barisan tentara bertombak atau bergolok tajam kemilau tampak berjaga dan memeriksa, setiap orang yang lewat diperiksa indentitas dan arah tujuannya.

Lebih jauh disebelah depan lagi, adalah orang-orang persilatan yang menyembunyikan diri, dari tampang dan sikap mereka, mudah sekali ditebak bahwa mereka jago-jago kelas satu di Bulim.

Dikanan kiri pintu hotel berduduk delapan guru silat dari istana, sementara Sengsi-ciang Hou Kong-ting duduk ditengah ruang besar, keduamatanya melotot lurus menatap keluar.

Sementara dari kantor hotel sering terdengar tawa orang yang keras dan berisi, jelas petugas juga berada di sana.

Gelagatnya kekuatan musuh dikerahkan, untung Gin-jitaybeng sudah perintahkan anak buahnya mengundurkan diri keluar kota, kalau seluruhnya terjebak dalam kepungan, urusan tentu cukup berabe.

Disaat mereka berdua sembunyi disuatu tempat gelap.

mendadak dilihatnya Liok Kiam-ping melangkah tiba dengan gayanya yang tetap dibuat-buat supaya samarannya benarbenar mirip tabib kelilingan, ternyata kawanan tentara itu hanya mendengus jijik kearahnya.

Maka dengan leluasa Liok Kiam-ping menuju ke hotel lalu membelok ke kiri masuk kedalam gang kecil, sekali berkelebat dia menyelinap masuk dari pintu samping serta membelok kelorong.

Agaknya orang-orang Siu-Jan sudah peri hatikan sebelah depan dan sekitar hotel, dalam jarak seratus tombak sudah mereka jaga dan awasi, tapi bagian belakang hotel ternyata agak diabaikan, hanya beberapa petugas saja yang berjaga di sini, maklum betapapa ketat penjagaan, mereka juga harus memikirkan kepentinganpenguasa hotel, tamu-tamu keluar masuk seperti sedia kala, bila Liok Kiam-ping menyelinap keserambi sebelah timur, sayup,sayup dia sudah mendengar gelak tawa Gin-jitay-beng.

Lekas dia menuju kearah pintu terus menyelinap ke dalam kamar.

Sementara itu, Gin-jitay-beng, It-cu-kiam Koan Yong, Thipi-kim-to Tan Kian-thay dan lima Hiangcu lagi sedang makan minum dibawah lilin yang benderang, sambil bercakap dan berkelakar diam-diam mergka berundang mencari akal untuk meloloskan diri.

Mereka juga tahu sejak pagi tadi jejak mereka sudah konangan oleh Seng-si-ciang Hou Kong-ting, maklum berita Hong-jang piaukiok tutup usaha sudah tersiar luas, setelah mereka mencari berita kepihak kalangan Piaukiok membuktikan bahwa berita itu benar, sudah tentu jejak rombongan piausu ini menarik perhatian dan patut dicurigai, maka tanpa ayal Siu-Jan perintahkan anak buahnya meng awas Hotel serta menjaganya ketat.

Pagi itu Tan Kian-thay dengan beberapa orang keluar hotel, ditengah jalan mereka kesamplok dengan serombongan lakilaki berpakaian ketat, dari dandanan mereka yang cukup menyolok, sikapnya garang melotot kepada rombongan mereka lagi.

Tan Kianthay cukup berpengalaman, dia tahu gelagat agak ganjil, lekas dia kumpulkan orang-orangnya lalu diambil putusan, membawa beberapa tenaga yang dapat diandaikan tenaganya dia berputar kayun menyusuri beberapa jalan raya laluputar balik kearah hotel.

Sementara orang-orang lain diperintahkan pergi ke Tay-hud-si.

Hanya Thio Ping seorang yang ditugaskan pergi ke Thian-kio, ditempat yang sudah ditentukan menunggu kedatangan Liok Kiam-ping dan lain-lain-Waktu Tan Kian-thay kembali ke hotel, orang-orang yang bertemu ditengah jalan tadi ternyata tersebar disekitar hotel, hal ini membuktikan rasa curiganya tadi, lekas dia membusung dada beranjak masuk dengan langkah tegap.

Tujuannya adalah menarik perhatian musuh kepada dirinya supaya saudara-saudaranya yang lain lolos dengan selamat tiba di Tay-hud-si.

Sikapnya yang tenang seperti menguasai situasi ini justru diluar dugaan Siu-Jan dan kamrat-kamratnya.

Situasi yang genting diluar dilaporkan kepada Gin-jitaybeng, maka mereka tak berani bergerak secara gegabah, bila musuh tidak menyerbu atau mengusik mereka, maka merekapun takkan beraksi, sambil menunggu tugas Thio Ping, semoga selekasnya bertemu dengan Liok Kiam-ping serta datang menolong.

Pada hal hari sudah magrib, Thio Ping tidak kunjung pulang memberi kabar, maka mereka menduga urusan pasti gagal, akhirnya mereka berkesimpulan untuk bergerak nanti malam sebelum bertindak malam itu sengaja mereka berpesan hidangan yang luar biasa untuk makan minum dan brpesta, sudah tentu maksudnya untuk berunding mencari akal.

Begitu Liok Kiam-ping menerobos masuk lewat jendela dengan samarannya yang serba aneh dan lucu, karuan orang banyak melengak heran dan kaget, setelah Liok Kiam-ping menurunkan kacamata topinya, baru orang banyak mengenali dirinya, serempak semua berdiri memberi hormat.

Liok Kiam-ping mendekati meja perjamuan meraih sebuah cangkir lalu membalik kearah luar jendela, setelah menenggak habis teh dalam cangkir, cangkir beling itu lantas diremasnya pecah berkeping-keping.

Mendadak lengan kanannya terayun ke arah sepucuk pohon besar diluar jendela.

Terdengar tiga kali jeritan, dari atas pohon yang rimbun daonnya beruntun jatuh bayangan empat orang, begitu terbanting di tanah masih berkeleetan beberapa kejap baru jiwanya melayang.

Sudah tentu orang banyak berdiri menjublek.

pada hal betapa tinggi lwekang Ginjutay-beng, namun musuh sembunyi dalam jarak sepuluh tombak diatas pohon tanpa mereka ketahui, maka dapat dibayangkan betapa tinggi kepandaian orang yang sembunyi diatas pohon.

Tanpa hiraukan para korbannya Liok Kiam-ping berkata kepada orang banyak "Diluar terjaga ketat oleh pasukan kerajaan gelagatnya malam ini terpaksa kita harus berani bertindak baru bisa menyelamatkan diri, sekarang mumpung pimpinan mereka belum tiba, lekas kita beraksi lebih dulu pasti berhasil melabrak kepungan."

Lalu dia menanggaikan jubah luarnya langsung berlompat keluar jendela.

orang banyak sejak tadi sudah menyiapkan buntalan, serempak mereka bersiap keluar.

Tapi pada saat itulah didengar seorang berkata dengan suara sinis.

"Begini saja kalian mau pergi, apa tidak terlalu mengabaikan sahabat."

Dari tempat gelap serempak melompat keluar enam orang.

Waktu Liok Kiam-ping angkat kepala, tampak dibawah potion berdiri jajar enam orang, Seng-si-ciang Hou Kong-ting berdiri ditengah.

Liok Kiam-ping bergelak tawa, ujarnya.

"Kukira siapa, kiranya Hou-tangkeh yang ke mari, kami rakyat awam yang mematuhi Hukum. tidak mencuri bukan maling, entah mengapa tengah malam buta tangkeh main cegat."

Seng-si-ciang Hou Kong-ting terkekeh dingin, katanya.

"Atas perintah Ka-cin-ong Losiu diutus ke mari untuk mengundang tuan dan kawan-kawan ke istana untuk mempertanggung jawabkan peristiwa semalam."

Liok Kiam-ping mendengus ejek.

"Meminjam kekuasaan sewenang-wenang menculik perempuan, tahu salah tidak berani menyelesaikan urusan secara jantan lalu berbuat curang menggunakan kekuasaan, berani memalsu perintah Ka-cin-ong pula, aku heran setua ini kau hidup ternyata tidak tahu malu, pantasnya nama busukmu tercoret dari kalangan persilatan-"

Berkerut alis Hou Kong-ting, caci maki pedas membuatbolamatanya melotot, hingga wajahnya yang beringas kelihatan lebih seram menakutkan, bentaknya.

"Tengah malam menyelundup ke istana hukumannya adalah mati, masih berani mengoceh tak karuan,"

Kata Hou-tangkeh.

"kalau tahu diri lekas menyerah, mungkin hukuman bisa diperingan, ketahullah hotel ini sudah terkepung rapat oleh pasukan besar tumbuh sayap juga jangan harap bisa terbang,"

"cayhe beramai mematuhi Hukum tak pernah melanggar aturan, sebagai rakyatjelata juga tahu hidup berdampingan. Kau tua bangka ini sebagai penegak hukum justru main tindak dan sewenang-wenang. Kalau mampu, hayolah bekuk kami dengan kemampuanmu."

Rasa gusar Liok Kiam-ping sudah memuncak.

mumpung, Siu-Jan dan lain-lain belum tiba, maka mereka harus lekas meninggalkan tempat ini, maka sebelum Hou Kong-ting menjawab dia sudah menyerang dengan sebelah tangannya.

Sebelum, tenaga pukulan tiba deru angin sudah melanda sedahsyat badai mengamuk.

Seng-si-ciang Hau Kong-ting sudah buka mulut hendak balas memaki, melihat lawan menyerang dengan pukulan keras, lekas dia pasang kuda-kuda dengan menekuk lutut merendahkan tubuh, tenaga dikerahkan seluruhnya dikedua tangan langsung menyongsong pukulan-"Byaaar."

Dua jalur pukulan beradu menimbulkan ledakan dahsyat.

Tubuh Hou Kong-ting terlempar setombak jauhnya, jatuh duduk ditanah, darah bergolak didadanya, napas sesak, kedua tulang lengan sampai jari-jarinya putus dan remuk, mukanya pucat berkeringat, jelas lukanya tidak ringan-Segera Liok Kiam-ping memberi tanda supaya orang banyak dalam kamar lekas keluar dan berangkat, sebelum mereka melompat keatas tembok.

mendadak seorang berkata lantang.

"Para sahabat, urusan belum beres, kenapa mau pergi ."

Lenyap suaranya tampak Biau-san-si-sat meluncur turun di tengah gelanggang.

Melihat Biau-san-si-sat tiba, maka Liok Kiam-ping tahu sebentar Siu-Jan dan lain-lain tentu juga datang, untuk mengejar waktu lekas dia memberi aba-aba.

"Semua serbu."

Lalu dia mendahului memukul dengan tenaga dahsyat kearah Biau-san-si-sat.

Dinilai lwekang Biau-san-si-sat, mereka tidak memiliki kepandaian yang berarti, lihay mereka dalam permainan gabungan yang merupakan barisan pedang yang rapat dan ketat, gerak gerik mereka serasi dan terlatih baik sekali Hingga lawan tak sempat balas menyerang karena kerepotan melayani rangsakan mereka.

Demikianpula kali ini mereka berpencar dengan kepungan barisan kepada Liok Kiam-ping cuma keadaan kali ini berbeda dengan kemaren malam, soalnya orang-orang Hong-lui-pang kali ini maju bersama, jumlahnya lebih banyak dari mereka, jelas mereka takkan bisa mengeroyok Liok Kiam-ping, apalagi arena pertempuran terlalu sempit, posisinya jadi berdesakan, salah bergerak bukan mustahil teman sendiri termakan senjata, jelas mereka tak mampu mengembangkan barisan-Begitu Biau-san-si-sat berpencar, Gin-jitay-beng segera melabrak Nyo Hou, sementara To-pi-kim-to Tan Kian-thay mencegat Nyo Hong, It-cu-kiam Koan Yong menghadapi Nyo Hun.

Melihat pihaknya tak mampu bergabung yo Liong tahu mereka takkan bisa mengemban barisan, padahal kepandaian sendiri terbatas, menghadapi kepandaian Liok Kiam-ping yang tangguh sudah tentu tak berani dia melawan secara keras, untung Lwekangnya paling tinggi diantara saudaranya, lekas dia melompat lima tindak.

meski cepat dan cekatan reaksinya, tak urung dia keserempet oleh angin pukulan Liok Kiam-ping hingga tersurut setindak baru berdiri tegak, hatinya tersirap kaget.

Liok Kiam-ping menyeringai dingin, segera dia kembangkan Leng-hi-pou-hoat, gerak geriknya bagai setan gentayangan, sekalian dia gerakan kedua tangan terus menyodok.

sejalur angin kencang menerpa ke arah Nyo Liong dari arah Samping.

Baru saja berhasil menyelamatkan diri dari pukulan pertama, belum tegak berdiri, pukulan kedua yang keras telah menerpa tiba pula, bergegas dia menjejak kaki Seraya menjengkang kebelakang, meminjam daya dorongan angin pukulan lawan dia gunakan gerakan ikan meletik, tubuhnya meluncur lurus Setinggi Satu kaki dipermukaan tanah, gerak geriknya memang lincah cekatan.

Ginjutay-beng yang mencegat Nyo Hou melabraknya dengan sengit.

Diantara empat bersaudara ini, Lwekang Nyo Hou paling tinggi, melihat gerakan Gin Jay-beng membawa getaran angin Serta telapak tangannya berobah perak kemilau, dia tahu orang tua ini memiliki Lwekang tangguh, Gini-a-ciang merupakan pukulan ampuh yang ganas pula, begitu turun tangan lantas merangsak dengan kecepatan tinggi, dia harap lawan dapat didesaknya dibawah angin-Memangnya Gin-a-ciang yang dimainkan Gin-jay-bong mengutamakan kecepatan dan kelincahan, lawan yang satu ini agaknya mencocoki seleranya, maka permainan telapak tangannya makin gencar saja.

Gempur menggempur dengan tenaga keras kedua orang ini jelas menguras tenaga, ditengah samberan sinar perak yang menderu keras membuat lingkungan dua tombak disekitar gelanggang hawa bergolak.

debu beterbaran, daon pohon rontok beri hamburan, betapa cepat gerak gerik mereka hingga susah dibedakan bayangan mereka yang sesungguhnya.

Dua puluh jurus kemudian, gerakan yo Hou mulai lambat dan berat, lama kelamaan lebih sering bertahan daripada merangsak sengit.

Lwekang Gin-ji-ay-bong memang amat tinggi, makin tempur makin gagah, ditengah berkelebat bayangan tubuhnya, pukulan telapak tangan pasir peraknya semakin menimbulkan pergolakan yang lawan terdesak dibawah angin-It-cu-kiam Koan Yong menghadapi Nyo Hong, orang ketiga dari Biau-san-si-sat, kepandaian mereka seimbang, terus juga berhantam secara kilat, gerak-gerik Nyo Hong sedikit lebih lincah tapi permainan pedang It-cu-kiam menang dalam menyerang, bila ilmu pedang dikembangkan, sinar pedangnya melintas diangkasa, membuat udara bergelombang.

Untung langkah Nyo Hong cukup cepat, pukulan tangannya menimbulkan suara keras, ditengah samberan pedang ia berkelit, menyelinap.

melompat secara bebas dan cekatan, sejauh mereka masih sama kuat alias seri Kalau Nyo Hun yang menghadapi Thi-pi-kim-to Tan Kianthay berbeda keadaannya, kalau yang satu bergerak pergi datang selincah kera, yang lain mantap dan kuat, Pat-kwa-to kan dikombinasikan dengan pukulan lengan kiri yang lihay, cepat dan tangkas gerak gerik nyata dia dicecar pontang panting dan menyapu balas menyerang.

Para Hiang-cu Hong-lui-pang bertiga menyerbu ketengah arena, melabrak orang-orang baju hitam yang baru masuk dari luar, satu sama lain beri hantam dengan seru.

orangorang Hong-lui-pang menyadari posisi mereka yang terjepit.

Kalau tidak bergerak cepat lolos dari kurungan, setiap saat jiwa terancam bahaya, maka mereka bertempur dengan gagah.

Suara pertempuran gegap gumpita itu, terdengar seorang mengerang kesakitan, tampak badan Nyo Liong tersaruk dua langkah keserempet angin pukulan Liok Kiam-ping, darah sudah merembes keluar dari bibirnya, mukanya pucat, tubuhnya gontai.

Ternyata menghadapi kelincahan Nyo Liong yang tinggi Ginkangnya, hingga serangan lihaynya selalu dikelit lawan, untuk mengejar waktu, timbul hawa membunuhnya mendadak dia memutar kedua tangan satu lingkar lalu menyodok keluar dengan jurus Liong-kiap-sin-gan.

Wi-liong-ciang-hoat adalah ajaran kuno yang digdaya, sejak kecil Nyo Liong hidup di Biau-kiang daerah terpencil yang masih liar, kapan pernah menyaksikan pukulan dahsyat yang tiada taranya, terasa ribuan bayangan telapak tangan seperti memberondang sekaligus kesekujur badan.

Karuan pecah nyalinya, lekas dia menjejak mundur dengan kelincahan tubuhnya, padahal lompatannya mundur berjangkit dua kali, namun tak urung damparan angin pukulan musuh masih membuatnya dadanya sesak darah yang menyembur ke tenggorokan ditelannya pula.

Insaf luka sendiri tidak ringan, mana dia berani ayal, lekas dia jejak kaki, tubuhnya melejit tinggi keatas rumah.

Liok Kim-ping siap mengejar, mendadak sesosok bayangan menusuk.

daripuncakpohon dengan sambaran laksana bintang jatuh, kedua tangannya menindih kepala dan dadanya.

Betapa dahsyat tenaga pukulan yang dilancarkan menukik disertai daya luncur kencang ini, hakikatnya Liok Kim-ping tidak sempat berpikir, lekas dia kembangkan kesebatan langkahnya, tubuhnya berkelebat minggir beberapa kaki lolos dari jangkauan tenaga pukulan dahsyat ini.

Bila dia membalik badan maka dilihatnya yang membokong ini bukan lain adalah Hwe-giam-lo Siu-Jan, saking gusar Kiamping malah tertawa.

"Memang hebat serangan Siu-tangkeh yang main sergap secara curang ini, janjimu sendiri belum kau tepati, kenapa sudah menjilat ludahmu pula, hari ini main keroyok dengan bantuan pasukan besar segala. Apa sih maksudmu ."

Siu-Jan terkekeh dingin, jengeknya.

"Liok-pangcu, jangan mendapat angin kau tidak mau mengalah kepada lawan, Nyo Liong jelas kau kalahkan, kenapa kau masih akan membunuhnya. Apa salahnya Lohu turun tangan menolong jiwanya. Bicara soal kejadian malam ini, sebagai petugas yang menjalankan perintah, jauh berbeda dengan janji pribadi besok malam, bila kalian mau ikut Lohu kembali ke istana, ongya sendiri yang akan memeriksa persoalan ini."

Liok Kiam-ping tahu lawan sengaja menindas pihaknya dengan alasan hukum, maka dia menjengek.

"Menculik orang menuntut balas segala adalah kalian yang melakukan, sebagai petugas hukum kerajaan, kau boleh bekerja secara terangterangan, kenapa kalian justru bertindak secara pengecut, main sergap dan intai, mengepung dengan pasukan segala. Umpama kau kerahkan selaksa pasukan juga kita takkan gentar. Kalau tahu diri lekas tarik anak buahmu dan jangan jiwa mereka yang kau korbankan."

Berdiri alis Hwe-giam-lo Siu-Jan, dampratnya gusar.

"Bedebah, kalian berani melawan petugas hukum, baiklah, jangan menyesal kalau Lohu bertindak secara tegas demi menegakkan hukum yang berlaku. Disini terlalu sempit, kalau beranHayo ikut aku keluar.

"lalu dia mendahului melompat ke luar tembok. Liok Kiam-ping tahu mereka hendak main keroyok denganjumlah yang lebih besar, tapi wataknya memang angkuh, sejak dia menjabat Pangcu Hong-lui-pang, kapan dia pernah di kalahkan lawan, bahwa lawan sudah menantang, umpama masuk ke sarang naga juga pasti di bunuhnya, tanpa ayal segera dia ikut melompat ke atas tembok. Satu di depan yang lain dibelakang, kedua orang ini mengembang kelincahan, hanya beberapa kali lompat jauh mereka sudah berada disatutanah lapang yang luas. Hwe-giam-lo berdiri tegak ditengah lapang. cepat sekali Liok Kiam-ping juga sudah melompat tiba, sebelum dia berdiri tegak, dari tempat gelap mendadak menerobos puluhan orang mengepung Liok Kiam-ping, situasi Cukup tegang dan mendebarkan. Sebetulnya dikepung belasan orang Liok Kiam-ping juga tidak merasa gentar, bahwa Bong Siu akipicak dari barat serta Pa-kim Tayhud dari Tibet juga muncul dan berdiri di kanan kiri Siu-Jan benarbenar mengejutkan hatinya. Pengalaman tempur Liok Kiam-ping sekarang sudah cukup matang, sengaja dia tertawa lantang, serunya. ,Entah apa kemampuanku ini sehingga bikin capai para cianpwe menungguku ditempat ini, tapi baiklah bila kalian ada maksud maju bersama, cayhe juga tidak akan mundur."

Bong Siu maju selangkah, bolamatanya yang putih terbeliak, katanya.

"Anak muda, jangan setelah mendapat kemenangan lantas congkak. Semalam kita belum puas, sekarang Lohu akan mengiringi babak pertama."

"Boleh -aja, hayolah kau boleh menyerang lebih dulu."

Tantang Liok Kiam-ping tertawa.

Bong siu amat penasaran bahwa kemaren malam dia kecundang, maka kali ini dia kerahkan Gun-goan-kang yang jarang pernah dia gunakan selama hidup, kedua lengan terangkat lurus didepan dada, Lwekang sudah tersalur keseluruh tubuh, diserta Hardikan mengguntur dia dorong kedua tangannya, damparan angin lesus yang menderu hebat berkisar kearah Liok Kiam-ping.

Liok Kiamping insyaf orang tua ini sudah bertekad menuntut kekalahannya kemaren dengan pukulan yang ampuh, maka Kim-kong-put-hoay-sin-kang dia kerahkan, Lwekang tersalur dari pusar terus bergerak dengan serangan Liong-kiap-sin-gan.

Ternyata begitu dua kekuatan beradu tubuh Liok Kiam-ping hanya sedikit tergentak saja.

Tenaga pukulannya yang dahsyat seperti batu kecemplung laut tak berbekas, sementara damparan pukulan sirna oleh ketahanan kesakitan Kim-kongput-hoay-sinkang, satu li disekeliling tubuhnya, hawa seperti meletus karena gesekan keras oleh tekanan dahsyat.

Gun-goan-kang dilontarkan berdasar kekuatan murni seorang perjaka yang belum pernah kawin, pukulan biasa takkan mampu menahan atau mematahkannya, maka pukulan Liok Kiam-ping tersibak buyar keempat penjuru.

Untung Liok Kiam-ping sudah mengerahkan Kim-kong-puthoay-kang hingga tubuhnya terlindung dan memunahkan kekuatan pukulon Gun-goan-kang, kalau tidak jelas dia akan kecundang.

otaknya cerdas, sekilas menepekur, lekas sekali dia sudah menyadari keanehan pukulan lawan, maka selanjutnya dia tidak mau mengadu kekuatan, namun tenaga sakti pelindung badan tidak pernah kendor.

Bahwa pukulan Gun-goan-kang tidak mampu merobohkan lawan Bong siu juga melengak heran, betapapun dia tidak habis mengerti dalam usia semuda ini Kiam-ping pernah meyakinkan ilmu mujijat dari aliran Hud tertinggi.

Maka kedua kali dia menggerakan tangan, kali ini dia menyerang dengan sepenuh tenaga.

Angin bergolak ditengah udara, laksana amukan badai yang lebih dahsyat, hingga para penonton dipinggir gelanggang tersedak mundur.

Kali ini Liok Kiam-ping sudah punya pegangan, sejak tadi dia sudah mendapat cara untuk melayani pukulan lawan, kedua tangan lawan terangkat, sigap sekali dia sudah menyingkir delapan kaki kepinggir, meluputkan diri dari damparan telak pukulan lawan-Mendadak kedua tangan melingkar terus menepuk.

serangan balasan dilontarkan dari arah kanan-Tapi serangan belum berhasil merobohkan musuh, Bong Siu hanya bergeming sedikit saja Namun demikian amarah Bong Siu sudah berkobar, biji matanya melotot, rambut kepalanya tegak kaku.

mendadak dia menarik napas panjang, tenaga tersalur sepenuhnya di kedua lengan menggempur kearah Liok Kiam-ping.

Desiran angin yang keras dan banyak laksana letusan gunung seketika menindih badan-Liok Kiam-ping luruskan kedua tangan, dengan tenaga lengket dia tarik kedua tangannya kebelakang terus dituntun keluar.

Perawakan Bong siu yang gede kekar tampak terhuyung maju tiga tindak, bila tenaga pukulan lawan sudah hampir sirna, mendadak Liok Kiam-ping balas menepuk dengan kedua tangan-"Blang."

Bong siu tergentar mundur tiga langkah kembali ketempat semula baru tegak pula, umpama seorang kakek yang disengkelitj atuh oleh bocah cilik, pada hal Gun-goankang sudah dia yakinkan puluhan tahun, ternyata tak mampu merobohkan lawan, celakanya awak sendiri hampir celaka malah.

Pada hal Gun-goan-kang teramat menguras tenaga, setelah tiga jurus lekas dia menarik diri menghimpun Semangat mengendalikan tenaga.

lwekangnya memang sudah tinggi, sedikit menghimpun tenaga dan mengatur napas, semangatnya sudah segar kembali.

sebaliknya Liok Kiam-ping tetap berdiri menggendong tangan sambil tersenyum simpul.

Bong siu memang kawakan Kangouw yang licin, walau hatinya penasaran, tapi lahirnya dia masih tersenyum ramah, katanya.

"Anak muda, tidak lemah lwekang mu, marilah kau sambut lagi beberapa pukulan Lohu."

Mulut bicara kaki bertindak, dengan keeepatan berantai dia serang Liok Kiamping tujuh pukulan tiga tendangan Menghadapi rangsakan hebat dan gencar lawan, Liok Kiamping tetap tersenyum lebar, dia kembangkan Leng-hi-pouhoat, badannya turun naik dan berlompatan diantara samberan pukulan dan tendangan.

Beruntun diapun balas menyerang sembilan pukulan lima tendangan.

Rangsakan Bong siu baru terbendung dan dipunahkan.

Kali ini kedua pihak bergerak dengan kecepatan luar biasa hingga susah dibedakan bentuk bayangan mereka, laksana dua ekor naga yang bergelut saling gubat, beruntun terdengar suara bak-buk yang ramai, angin pukulan berderai keempat penjuru menimbulkan kepulan debu dan pasir.

Kapan hadirin pernah saksikan adu kekuatan sedahsyat danselihay ini, kecepatan gerak kedua lawan ini susah diikuti dengan pandangan telanjang, padahal dalam sekejap mereka sudah beri hantam lima puluh jurus Keringat sudah membasahi jidat Kiam-ping napas Bong siu mulai tersengal.

Lambat laun serangan dan tangkisan kedua pihak semakin lambat.

Makin lama situasi takkan menguntungkan pihaknya, maka Liok Kiam-ping menerawang situasi, bila berjalan lama, bukan saja tenaga sendiri terkuras, untuk mengalahkan lawan juga harus lima ratas jurus kemudian, apalagi salah seorang dari pihak Siu-Jan ikut terjun ketengah gelanggang, maka dirinya pasti kalah.

Maka jalan paling baik adalah lekas mengakhiri pertempuran-Keinginan timbul segera dia menjejak kaki tubuhnya melejit setombak lebih, ditengah udara dia menekuk pinggang memancal kaki Hingga tubuhnya menukik turun sambil mengembangkan kedua lengan, terus menyerang dengan jurus Liong-hwi-kiu-thian-Dibawah serangan pukulan Wiliong-ciang yang dijaya ini, Bong Siu seperti ditindih lapisan telapak tangan yang berkelebatan-Seketika Bong Siu rasakan ribuan telapak tangan memberondong kearah tubuhnya dalam waktu sekejap.

Lwekangnya melebihi orang lain, meski tahu perbawa pukulan ini teramat dahsyat dan perobahannya sukar dijajagi, lekas dia kembangkan ketangkasan langkahnya, beruntun berputar tiga lingkar baru lolos dari tindihan pukulan dahsyat.

"Blum."

Ledakan keras menggetar bumi, tanah di mana tadi Bong Siu berdiri terpukul amblas sedalam satu kaki lebih.

Meminjam daya tolak dari pukulannya, seringan burung gerak badan Liok Kiam-ping melayang turun kepinggir.

Baru saja ujung kaki menyentuh tanah, jurus Liong-jiau-king-thian telah dilontarkan lagi dengan kekuatan gugur gunung kepunggung Bong Siu.

Baru saja Bong Siu merasa lega dan bersyukur bahwa ia lolos dari serangan maut lawan, belum lagi berdiri tegak.

pukulan sedahsyat gugur gunung lawan telah menerjang tiba pula, mendengar kesiur angin dia sudah siaga, lekas dia melompat tinggi ke udara sambil melayang maju tiga kaki, namun gerakannya sedikit terlambat, punggungnya sempat tertekan oleh daya pukulan dahsyat lawan, sakitnya bukan kepalang, namun dia kertak gigi.

Gerakan Kiam-ping memang cepat luar biasa, dengan satu kisaran lebar, dia sudah berkelebat kesebelah depanBong Siu kedua tangan sekarang bergerak dengan serangan jurus Wiliong-tin-gak yang sakti.

Sedetik sebelum serangan dilontarkan, dari samping didengar gerungan keras, dua jalur angin keras melanda dari kanan kiri, Bila Liok Kiamping tetap melontarkan jurus saktinya itu, Bong Siu jelas ajal seketika, namun awak sendiri juga tidak luput dari ancaman kedua pukulan dahsyat itu.

Sudah tentu menolong jiwa sendiri lebih penting, ditengah jalan dia tarik serangan, meminjam daya tolak tarikan kedua lengannya dia melayang mundur kebelakang, pada hal sebat sekali dia menarik atau membatalkan serangan, namun demikian Bong Siu tergetar sempoyongan oleh sisa tenaga pukulannya yang tak terkontrol lagi.

Wi-liong-king-thian memang jurus terampuh dari Wi-liongciang, perbawanya bukan olah-olah hebatnya.

Dua puluh tahun yang lalu, Kiu-thian-sin-liong pernah sekaligus merobohkan sembilan ciangbunjin dari sembilan parta perguruan silat kenamaan dengan jurus ini, enam mati tiga luka parah, tragedi yang menyedihkan ini merupakan peristiwa yang tecatat dengan tulisan tinta emas dalam lembaran sejarah persilatan-Betapapun tinggi Lwekang Bong Siu juga bukan tandingan kekuatan gabungan sembilan ciangbunjin, untung Liok Kiam-ping dipaksa menarik serangan, hingga dia hanya tersaruk lima langkah, tapi luka-lukanya tidak ringan.

Peryergap yang menolong Bong Sin bukan lain adalah Hwegiam-lo Siu-Jan dan Pa-kim Tayhud, karuan amarahnya tak terkendali lagi, sindirnya.

"Kalian tokoh lihay dari Bulim, sebagai Cikal bakal dari suatu aliran lagi, perbuatannya ternyata begini rendah, membokong dengan serangan jahat. Marilah kalian maju bersama, biar aku tamatkan riwayat kalian berdua."

Dicaci dan dicemooh karuan Siu-Jan dan Pa-kim Tayhud murka dan malu, mata mendelik gusar seliar binatang buas.

Serempak mereka menggerung sambil siap menerjang.

Mendadak beberapa bentakan nyaring mengurungkan niat mereka, puluhan bayangan orang meluncur turun kedua pihak musuh yang beri hadapan-Sekilas Liok Kiam-ping melihat Gin-jlay-beng menyusul kemari setelah menggasak para musuhnya.

Seperti dituturkan disebelah depan Nyo Liong melarikan diri setelah terluka oleh samberan angin pukulan Liok Kiamping, lalu Liok Kiam-ping mengejar Siu-Jan ketempat ini, di dalam pekarangan hotel Gin-ji-tay-beng masih terus bertarung dengan yo Hou, memangnya Biau-san-si-sat sudah merasa payah, melihat saudara tua mereka lari pula, maka semangat tempur mereka makin luluh.

Tapi Gin-jiay-bing pergencar serangannya yang mematikan, Nyo Hou sebagai orang yang terkuat dari Biausan-si-sat juga masih setingkat dibawah Gin-jlay-beng, mengalahkan lawan jelas tidak mungkin, namun untuk membela diri jelas masih mampu.

Karena itu meski Gin-jitaybeng sudah pergencar serangannya tetap belum mampu merobohkan lawan-Saking bernafsu menggasak musuh, mendadak dia melompat delapan kaki keudara, ditengah udara tubuhnya berputar laksana burung raksasa, lalu dengan sergapan kilat dia menukik turun, Kedua tangannya bergerak dengan kilau peraknya yang mengaburkan pandangan-yo Hou menjadi pusing dan berkunang-kunang merasa angin menindih tiba, dia tahu dirinya takkan kuat menangkis, lekas dia menjatuhkan diri kepinggir sejauh satu tombak.

Ginjutay-beng tertawa ejek.

meminjam tenaga pukulan sendiri dia layangkan tubuhnya kesana sambil pentang kedua tangan, berbareng kedua kaki menjejak hingga tubuhnya melesat maju mengudak musuh, dengan jurus bulu besi terpentang diudara, dia menubruk turun dari belakang batok kepala Nyo Hou.

Jurus ini merupakan permainan Ginji-tay-beng yang sudah terkenal puluhan tahun, selama hidup jarang digunakan, menyadari malam ini mereka terkepung musuh, kuatir keselamatan Liok Kiam-ping terancam dikeroyok musuh disebelah luar, dia wajib memberi bantuan kesana, maka dia merasa perlu secepatnya menyelesaikan pertempuran ini.

Baca Juga: Kilas Balik Merah Salju 7

Baca Juga: Si Pisau Terbang Pulang Yang Yl

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert