Ceritasilat Novel Online

Hong Lui Bun 3

Eps 3 Hong Lui Bun - Khu Lung

Baca online Hong Lui Bun - Khu Lung

Cersil Hong Lui Bun - Khu Lung.

Murid-murid dari aliran lurus terlalu takabur dan terlalu sewenang wenang, congkak dan bertingkah, bila selanjutnya kita menegakkan kebenaran di dunia ini, tanpa pandang bulu siapa menjadi penghalang kita gasak seluruhnya."

Bulat dan penuh tekad sorot mata mereka Kim-ji-tay-beng angkat suara.

"Ciang bun harus membawa Hiat-liong-ling pergi ke Tesat kok di Bu-tong-san untuk mengambil Ki kiamwi-liong peninggalan Cosu kita yang berupa tiga batang pedang mestika, meyakinkan ilmu pedang sakti yang tertera digagang pedang, lalu..."

Liok Kiam-ping buka buntaiannya terus memegang pedang panjang.

Liat jit-kiam ditangan Liok Kiam-ping panjang tiga kaki enam dim, batang pedangnya lencir, tipis laksana perak.

cahayanya kemilau, digagang pedang dihiasi sebutir mutiara yang menyolok mata, Kiam-ping tahu mutiara ini dinamakan Liat-jit (terik surya).

Dibalik gagang pedang yang lain terukir tiga orang kecil, setiap orang memegang sebatang pedang, gayanya satu dengan yang lain berbeda, disamping gambar ukiran dibubuhi huruf-huruf kecil sebagai keterangan-Mata Kiam-ping amat tajam, meski dibawah penerangan bulan sabit tapi dia dapat melihat jelas gambar ukiran itu, apalagi mutiara terik surya juga memancarkan cahaya benderang dikegelapan, beruntun dia membaca huruf-hurup keterangan itu sebagai berikut.

Jit-lun-jut-seng Liat-jit-yamyam dan Sip-yang-say-loh."

"Ciangbunjin, jadi kau sudah pernah ke Te-sat-kok ?"

Tanya Kim-jt-tay-beng heran-Liok Kiam-ping geleng-geleng, jarinya menjentik batang pedang maka berdering lah suara nyaring, katanya.

"Pedang ini kurampas dari tangan Ceng-san-biau-khek. tapi aku pun bertemu dengan Tokko cu, ia bilang suruh aku pergi ke Tesat-kok mengambil dua pedang yang lain-Dalam dua bulan aku sudah harus berhasil mempelajari tiga jurus ilmu pedang yang terukir di sini, lalu aku harus membereskan satu persoalan, kala itu boleh kita bertemu lagi. Sekarang kalian muncul di Kangouw dan beritahu kepada semua murid-murid perguruan kita suruh ia mereka menyelidiki jejak Tok-sinkiong-bing tentang musuh yang lain sih masih bisa meluruk ketempat tinggal masing-masing, bila tiba waktunya boleh kita mulai merancangkan rercana kerja selanjutnya."

"Ciangbunjin,"

Kata Kim-ji-tay-beng, urusanmu adalah urusan kita, kukira kita harus sama sama..."

"Tidak usah,"

Tukas Kiam-ping.

"ini urusan pribadi, aku harus membereskan sendiri, dua bulan lagi kita bertemu di..."

Berpikir sejenak lalu menyambung.

"kita bertemu di Kui-hunceng, letaknya tigapuluh li diluar kota Un-ciu dipropinsi Ciatkang, sekarang aku harus balik ke Jian-liu-ceng, karena janjiku belum terlaksana."

Kim-ji-tay-beng tertawa keras, katanya.

"Thi-Ciang Lau Koan ni sudah mampus terpukul pecah batok kepalanya oleh Gin-sat-ciang Loji, tentang Thi-jiau-kimpian dan It-tio-licng juga sudah dibebaskan oleh Biau-jiu-sipcoan-.."

Lekas Biau-jiu-sip-coan tampil katanya.

"Lapor Ciang bun, hamba sudah jelaskan segala sesuatunya kepada mereka, maka sekarang Thi-jiau-kim-piau pergi ke Heng-kik mencari Thi-ji-tiau, demikian pula It-tio-licng Bu-jiya ikut ke sana pula. Liok Kiam-ping manggut-manggut, katanya.

"Baiklah, kita bertemu dua bulan lagi"

"Ciangbunjin sekarang mau ke mana ?"

Tanya Kim-ji-taybeng.

"Aku akan langsung pergi ke Te-sat-kok, akan kuluruk Butong pula, karena mereka masih hutang kepadaku..."

"Walau sudah dua puluh tahun Bu-tong-pay kehilangan pamor, tapi Ciang bun seorang diri, kita bersaudara mendapat perintah Ciang bun terdahulu, betapapun harus melindungi keselamatan ciang bun, maka..."

Liok-Kiam-ping sudah berpikir, maka katanya.

"Baiklah, kalian berdua boleh ikut aku masuk ke Te-sat kok, sementara saudara-saudara yang lain boleh menungguku di Kuihunceng."

Lalu dia pandang orang banyak serta berpesan. Jagalah diri kalian baik-baik."

"Ciangbunjin juga harus hati-hati."

Serempak mereka menjawab.

Liok Kiam-ping segera membalik tubuh terus pergi menyusuri jalan raya kearah tenggara Kim-gin-hu-hoat segera mengintil dibelakangnya.

Malam semakin larut, derap kuda yang ramai kembali memecah kesunyian, lambat laun makinjauh dan tak terdengar lagi.

---ooo0dw0ooo---Hari itu cuaca cerah sehabis turun hujan saiju.

Tempatnya dibawah gunung Butong-san diwilayah ouw pak.

Seorang diri dengan berjubah putih yang melambai tertiup angin, pagi-pagi sekali Liok Kiam-ping sudah menempuh perjalanan, langkahnya enteng dan gesit laksana terbang, jauh dibelakangnya dua orang tua berusaha mengudak kedepan, tapi sejauh mana jarak mereka tetap ketinggalan beberapa tombak.

Lekas sekali Kiam-ping sudah tiba dikaki Bu-tong-san, mendongak mengawasi gumpalan mega, segera dia menoleh dan berkata.

"sudah sampai Bu-tong-san, marilah kita naik keatas."

Kim-ji-tay-beng berkata.

"Ciangbunjin apakah Liat-jit-kiamboat sudah berhasil kau yakinkan ?"

"Ketiga jurus ilmu pedang itu memang merupakan ilmu pedang sakti mandraguna, dikala gerakan pedang berlangsung, cahaya benderang dari mutiara terik surya dapat dipancarkan untuk menyilaukan pandangan mata musuh. Entah bagaimana pula kesaktian dua pedang mestika yang lain "

Gin-ji-tay-beng segera menimbrung.

Jit-jay-kiam panjang dua kaki delapan dim bobotnya sepuluh kati, Cui-le-kiam panjang empat kaki enam dim beratnya empat puluh dua kati.

Dahulu Ciangbunjin generasi perguruan kita Cosuya Ki-kiamwi-liong dengan sebatang pedang Cui-le-kia m malang melintang diseluruh jagat tiada tandingan, beliau pernah dijuluki malaikat pedang pada jaman itu.' Liok Kiam-ping melenggong, katanya.

'Masa ada pedang seberat itu ?

Bagaimana jurus permainannya bisa dilancarkan ?' Kim-ji-tay-beng berkata.

"Ki-kiam merupakan pedang yang punya kesaktian paling hebat diantara ketiga pedang mestika itu, bila gaya pedang dikembangkan hawa pedang seakanakan memenuhi angkasa, kekerasannya mampu membelah batu, lunak dapat menggempur batu menjadi bubuk. Bila Jitjay-kiam-hoat berhasil diyakinkan-baru boleh melangkah lebih maju meyakinkan Cui-le-kiam-hoat, menurut pesan para Ciangbunjin terdahulu, pelajaran harus dimulai dari dasarnya baru meningkat ketaraf yang lebih tinggi."

Liok Kiam-ping mang gut-mang gut, tanyanya.

"Apakah kalian juga mahir Wi-liong-ciang ?"

Kim-ji-tay-beng berkata.

"Waktu di Tay-san hamba mempelajari Kim-sa ciang, sementara adikku memperoleh pelajaran Gin-sa-ciang dari negeri Thian-tok. kedua ilmu pukulan ini merupakan dua diantara sepuluh ilmu pukulan dijagat ini yang paling besar perbawanya, Kim-sa-ciang nomor empat, Gin-sa-ciang nomor lima."

Hakikatnya Liok Kiam-ping tidak pernah mendengar sepuluh ilmu pukulan paling top didunia, maka dia tanya.

"Bagimana urutan itu bisa ditentukan diantara kesepuluh ilmu pukulan itu ?"

Kim-ji-tay-beng berkata dengan tertawa.

"Menurut keputusan para ahli urutannya adalah demikian. Wi-liong, Han-ping, Jik-yan, Kim-sa, Gin-sa, lima macam ilmu pukulan ini merupakan ilmu telapak tangan paling lihay diseluruh jagat. Lima jenis ilmu pukulan yang lain adalah Tay-lik-kim-kongciang dari Siau-lim-pay, Boh-giok-ciang dari Bu-tong, Hu-mociang dari Kong-tong, Bok-lian-ciang dari Hoa-san, Wi-liu-ciang dari Ceng-seng. Sementara Pan-yok-Ciang dari Kun-lun, Hwi

hong-ciang dari Tiam-jong juga termasuk ilmu pukulan yang lihay pula, tapi karena kedua ilmu pukulan ini dikombinasikan dengan kekuatan tutukan jari, maka tidak dimasukkan kedalam sepuluh ilmu pukulan paling top didunia, demikian pula ilmu pukulan dari aliran Sia-pay juga dicantumkan."

Liok Kiam-ping manggut-manggut, batinnya Ham-sim-lengmo meyakinkan Hian-ping-ciang, Hwe-hun-cun-cia pasti meyakinkan Jik-yan-ciang.

Tak heran para Ciangbun yang terdahulu tiada yang pernah melancarkan Wi-liong-ciang habis sampai jurus keenam, paling hanya sampai jurus kelima saja, jago-jago kosen yang paling top masa itupun sudah terpukul mati.

Padahal bekal Lwekangku sekarang paling mampu meyakinkan sampai jurus keempat yaitu Wi-liong-ting-gak, agaknya aku harus lebih rajin dan keras berlatih"

Angin dingin menghantam dari puncak gunung membawa beberapa kuntum kembang salju yang berjatuhan dimuka Kiam-ping, tiba-tiba dia menarik napas panjang, lalu katanya.

"Hayolah naik."

Tiga bayangan orang meluncur secerat kilat, sekali melesat beberara tombak dicapai, hanya sekejap mereka sudah tiba dilamping gunung.

Coat-kiam-gan sudah kelihatan disebelah depan.

namun batu ukiran itu kini diganti lebih besar dari yang dihancurkan Kiam-ping tempoh hari, huruf-urufnyapun bergaya lebih indah.

Empang yang berair jernih dulu kini sudah beku permukaannya oleh timbulan salju.

Mengawasi batu cadas besar berukir itu Liok Kiam-ping menjengek.

katanya.

"Biar kuberi sedikit tanda kenangan pula."

Dimana sebelah tangannya terayun keras huruf 'Coat' yang terukir diatas batu seketika hapus, debu beterbangan, saijupun rontok berhamburan-Kini gantinya adalah telapak tangan yang mendekuk dalam lima dim seperti sangat diukir ditempat itu.

Kim-ji-tay-beng menyeringai sinis, katanya.

'Dahulu kawanan Tosu hidung kerbau itu terlalu angkuh di kalangan Kangouw selalu mengagulkan diri sebagai jagonya aliran lurus, hari ini biar mereka rasakan betapa nikmatnya mencium salju dengan ceceran darah sepanjang beberapa li."

Mendadak dia menghardik, telapak tangannya tiba-tiba ditegakkan, tampak seluruh telapak tangannya mendadak berobah kuning mirip emas kemilau.

Bagitu sebelah tangannya menepuk serta menggosok, terdengar suara mendesis, tepat pada huruf "Kiam"

Diatas batu cadas itu, hurufnya hilang debu kembali sama rontok, akhirnya huruf ukiran berganti sebuah tapak tangan berwarna kuning emas.

Sebelum Kim-ji-tay-beng menarik tangannya, Gin-ji-taybeng juga membentak sekali, telapak tangan kiri menepis miring "Plak"

Suaranya nyaring, huruf "Gan"

Dipaling bawah juga terkikis habis dan tertinggal bekas telapak tangan berwarna putih perak. Dengan mendongak dia bergelak tawa, sertanya.

"Selama dua puluh tahun belum pernah aku seriang hari ini, nanti akan kubunuh kawanan hidung kerbau sebanyak mungkin biar darah mengalir jadi sungai"

Tampak oleh Liok Kiam-ping bola mata Kongsun cin-giok memancarkan cahaya buas penuh dendam, terutama telapak tangan berwarna putih perak yang teracung diudara kelihatan sedemikian menggiriskan.

Sepanjang jalan ini diam-diam Kiam-ping perhatikan kedua orang ini, ternyata kedua bersaudara ini memiliki watak yang berbeda, Kongsun cinkhing orangnya ramah dan kalem, tapi perangainya keras dan teguh pendirian, seorang jujur dan lembut, diluar, keras didalam.

Sebaliknya Gin-ji-tay-beng lebih tumpul agak lamban dan berangasan, wataknya keras dan gampang marah, seorang kasar yang jarang menggunakan otak, jadi tanpa akal, apa yang dipikir atau diinginkan harus segera dilaksanakan, kalau dibanding hatinya lebih senang dan ketarik terhadap Kim-jitay-beng tapi dia maklum bahwa kedua orang ini sedia dan rela berkorban demi dirinya, loyalitas mereka terhadap dirinya dan untuk Hong-lui-bun boleh tidak usah disangsikan-Setelah memberikan tanda mata Kiam-ping memberi abaaba lalu mendahului meluncur keatas.

Tapi baru beberapa langkah, lantas terdengar bentakan ramai dari atas gunung, beberapa bayangan orang tampak muncul berlompatan turun.

Dari kejauhan Kiam-ping sudah melihat, kawanan Tosu itu dipimpin oleh Pek-ciok Tojin diantaranya ada tiga orang lakilaki berpakaian preman, semuanya ada enam berlari turun secepat meteor jatuh "Nah, itu yang mengantar kematian telah datang."

"demikian seru Gin-ji-tay-beng sambil menyeringai sadis. Telapak tangannya saling gosok seraya menggumam.

"Sudah dua puluh tahun tidak pernah membunuh orang, tulang belulang ini menjadi risi dan gatal rasanya... Diam-diam Kiam-ping merinding mendengar pernyataan, pikirnya.

"Mana ada manusia didunia ini yang punya hobby membunuh orang ?"

Maka dia berpaling, katanya.

"Yu-huhoat, kalau tidak perlu tidak usah turun tangan keji, supaya tidak melanggar hukum alam."

Sekilas Kim-ji-tay-beng memandangnya heran, katanya.

"Ciangbun, dunia persilatan serba keji dan jahat, berbagai manusia jahat dan telengas ada dimana-mana, siapapun bila berhati baik dan mulia, sedikit lena pasti dia mengalami bahaya dan salab-salah dicelakai orang. Demikianlah Ciang bun terdahulu sudah menjadi contoh yang nyata, sehingga beliau dikeroyok oleh Liok-toa-thiancu dan meninggal di Taypa-san. jikalau sekarang Ciang bun sendiri tidak tega turun tangan, bagaimana musuh besar kita itu harus diberantas."

Merinding sekujur badan Liok Kiam-ping tiba-tiba terbayang betapa mengenaskan kematian Ibunya, maka dia kertak gigi dan mendesis penuh kebencian "Betul, hutang darah harus dibayar dengan darah.

Sikat."

Lenyap perkataannya Kim-gin-hu-hoat segera bertindak.

laksana dua anak panah mereka sudah memapak kedepan-Ditengah udara Gin-ji-tay beng membentang kaki tangan seperti hurung terbang.

ditengah udara dia menghardih sekeras guntur, tangan kiri bergerak menimbulkan deru kencang terns menukik turun.

Salah satu orang yang berlari turun itu tiba-tiba menjerit kaget.

"Hah, Gin-si-ciang."

Belum habis dia bicara, ditengah gelak tawa Gin-ji-taybeng.

tangannya sudah membelah, darah kontan muncrat, salah satu Tosu yang memburu tiba tidak sempat berkelit, kepalanya terkepruk pecah, sekali menjerit jiwapun melayang.

Sementara itu Kim-ji-tay-beng juga terapung di tengah udara, laksana elang raksasa dia menubruk kepada Pek-clok Tojin, Pek-ciok Tojin menggeram gusar, kontan dia kebut lengan bajunya menerbitkan segulung angin pukulan dahsyat menggempur Kim-ji-tay-beng yang menerjang turun.

Tapi Kim ji-tay-beng hanya mengayun sebelah tangannya, begitu cahaya kuning berkelebat, disertai deru angin dan suitan nyaring, tampak Pek-clok Tojin seperti didera oleh gelombang badai, ditengah erangan tertahan tubuhnya terpental jatuh lima kaki, lengan baju kanannya ternyata lenyap terbelah oleh pukulan telapak tangan lawan, dengan duduk tertegun dia mengawasi lengannya yang terluka menjadi kuning emas persis dalam bentuk telapak tangan, karuan dia menjerit kaget.

"Kim-sa-ciang.Jadi kau inilah Kim-ji-tay-beng ?"

Kim-ji-tay-beng terloroh-loroh, katanya, 'Sudah dua puluh tahun Lohu tidak kelana di Kangouw, ternyata kau masih ingat diriku Hahaha, serahkan jiwamu."

Lenyap suaranya, sebuah suara kereng rendah tiba-tiba mencegah.

"Kongsun Huhoat tunggu sebentar, biar aku tanya sesuatu kepadanya." ---ooo0dw0ooo---Mendengar seruan ciangbunjin, lekas Kim-ji-tay-beng menarik tangan membalik tubuh, sahutnya.

"Tunduk pada perintah ciangbun."

Begitu melihat yang berdiri didepannya adalah Liok Kiamping, Pek-ciok Tojin tampak kaget, matanya terbelalak. serunya "Pat-pi-kim-liong ? ciangbunjin Hong-lui-bun..."

Liok Kiam-ping tertawa, katanya.

"Bukankah aku pernah bilang akan meluruk ke Bu-tong pula, karena masih ada perhitungan dendam diantara kita yang belum beres"

Tiba-tiba dia menarik muka.

"Siapa yang melukai ibuku ? Apa kau juga ikut turun tangan ?"

Berubah air muka Pek-ciok Tojin, katanya.

"Bik-lo-kim-tan adalah obat mujarab perguruan kita, betapapun tidak boleh diberikan kepada orang luar..."

Beringas muka Liok Kiam-ping, serunya.

"Bu-tong adalah salah satu dari sembilan partai besar yang berhaluan lurus, sebagai beragama harus mengutamakan cinta kasih dan bijaksana. ibuku terluka parah, beliau datang mohon pengobatan kepada kalian Tosu-tosu busuk, bukan saja kalian tidak memberi malah mengeroyok dan melukainya tanpa mengenal belas kasihan-Apakah kalian manusia yang berperi kemanusiaan ? Patut tidak kalian dibunuh ?"

Tiga laki-laki tua yang berdiri disamping sana sekilas melirik kearah Pek-ciok Tojin, kata satu diantaranya.

"Nama besar Tayhiap sudah menggoncangkan Kangouw, tapi kaupun tidak boleh melulu menyalahkan pihak kita, Bik-lo-kim-tan adalah pelindung perguruan, betapapun tidak boleh sembarangan diberikan kepada orang, tentang kematian ibunda mu..."

Liok Kiam-ping terloroh-loroh, teriaknya.

"Jadi anggapmu ibuku pantas mati, begitu ? Siapa kau sebutkan namamu ?"

Berobah air muka laki-laki tua itu, katanya kereng.

"Lohu Tin-sam-siang Lau ciau kim murid preman Bu-tong, tahun ini berusia lima puluh dua, selamanya belum pernah ada anak muda seangkuh macammu berani kurungajar terhadapku..."

"Berani kau menghina ciangbun kita ."

Lukas Gin-ji-tay beng yang berangasan.

"Hehe, Lohu sudah tujuh puluh tiga, kapan pernah melihat keparat macammu berani menghina ciangbun Hong-lui-bun kita ? kunyuk, kaupun harus mampus."

Merasa bagai orang tua Tin-sam-siang Lau ciau-khim wajib memberi tegoran kepada Liok-Kiam-ping, tak nyana sikap Gin-ji-tay-beng yang kasar lebih pedas lagi mencercah dirinya, karuan gusarnya bukan main, bentaknya.

"Siapa kau ?"

"Kau sudah pantas mampus dua kali."

Jengek Gin-ji-taybeng, begitu menegakkan telapak tangan, telapak tangannya itu tiba-tiba melar makin gede dan telapak tangannyapun berobah memutih perak mengkilap.

"Gin sa ciang (pukulan pasir perak)". Desis Lau ciau-khim gemetar dengan muka berobah, jadi kau ini Gin-ji-tay beng "

"Betul, nah serahkan jiwamu keparat damprat"

Gin-ji-taybeng.

Tangan bergerak mengikuti gaya tubuhnya, secepat kilat orangannya menggempur kepala lawan dengan sebelah tangan saja.

Melihat serangan ganas Lau ciau-khim lekas miringkan tubuh sembari menangkis dengan kedua tangan, dia lontarkan Boh-giok-ciang ajaran Bu-tong-pay yang lihay dengan jurus Jan-kim-gick ( mematah emas merebuk glok ), begitu kedua tangan terpencar keduanya menekan kiri kanan dada lawan-Gin-ji-tay-beng tertawa latah, tangan kanannya menggeruk keluar, secepat kilat kelima jarinya telah mencengkeram lengan kiri lawan, sementara telapak tangan kiri membelah turun maka terdengarlah suara rkrak,"

Lengan kiri lawan ternyata telah ditabas buntung mentah-mentah oleh telapak tangan Gin-sa-ciang.

Padahal tubuhnya masih terapung ditengah udara, begitu kedua tangannya terpencar pula perubahan gerak tanganya sungguh gerakan menakjubkan dimana sinar perak berkelebat, sebelum lawan menjerit kesakitan, telapak tangannya telah mengepruk pecah pula batok kepala lawan-Ditengah hamburan darah yang muncrat, dia menyeringai lebar, ditengah loroh tawanya dia sudah jumpalitan turun di samping Kim-ji-tay-beng.

Beberapa gerakan berantai itu dilaksanakan dalam waktu singkat boleh di kata diselesaikan sekaligus, maka orang lain hanya mendengar suara ganjil, tahu-tahu tampak Gin-ji-taybeng telah melompat terbang kembali seperti seekor burung.

Setelah tegak berdiri Gin-ji-tay-beng.

Mencemooh.

"Kiranya juga begini saja Tin-sam-siang (mengejar tiga propinsi). Siapa pula berani menghina ciangbun kita, biar ia rasakan sekali pukulan Gin-sa-ciang ku"

Seluruh lengan Pek-ciok Tojin linu Pegal tak mampu digerakkan, matanya terbeliak kaget dan ngeri mengawasi Lau ciau-khim roboh terkapar, segera dia berpaling dan berkata.

"Lekas kau kembali ke biara dan laporkan bahwa Pat-pi-kimliong ciangbunjin Hong-lui-bun meluruk dan mengganas"

Tojin yang lain mengiakan, baru saja dia hendak bergerak tiba-tiba telinganya serasa pekak oleh sebuah bertakan.

Jangan bergerak.

aku sendiri akan keatas menemui ciang bunkalian, demikian pula Hwi-bing Tiang lo akan kutantang bertanding"

Tapi Tojin itu memang bandel tanpa hiraukan ancaman, cepat dia berlari keatas.

"Keparat,"

Maki Kiam-ping.

"mengabaikan peringatan, dalam jarak dua tombak akan kubikin kau mampus di bawah Wi-liong-ciang."

Ternyata Tojin itu takut mati, lekas dia berhenti dan menoleh, wajahnya pucat, panik.

tegang dan ketakutan, sorot matanya menampilkan belas kasihan melirik kearah Pek-ciok.

Liok Kiam-ping mengulum senyum sadis, seolah-olah terbayang betapa mengerikan kematian ibunya.

Maka hatinya makin mantap.

katanya menoleh.

"Mereka kuserahkan kepada kalian, aku akan naik keatas gunung lebih dulu."

Tiba-tiba tubuhnya melejit empat tombak.

terus meluncur keatas gunung dengan kecepatan kilat.

Masih sempat dia mendengar gelak tawa Gin-ji-tay-beng seperti berpesta pora saja, disertai deru aneh yang keluar dari permainan Gin-sa-ciang, Kiam-ping tidak menoleh, karena dia maklum bagaimana nasib orang-orang itu.

Jalan kecil liku-liku tidak menjadi halangan baginya, ternyata sepagi ini salju telah tersapu bersih diundakan batu, hanya gundukan saiju dikedua sisi jalan lebih meninggi.

Mendadak luncuran Liok Kiam-ping merandek lalu melayang turun-Sekilas matanya melirik.

dilihatnya dua Tojin berdiri ditengah jalan sambil menyoren pedang, sambil mendengus dia bertanya.

"Apakah ciangbun kalian diatas gunung ?"

Kedua Tojin muda ini berdiri dalam posisi menyudut, seorang memegang pedang ditangan kiri yang lain memegang dengan tangan kanan, pedang menjulur lurus kebawah, meski melihat kedatangan Liok Kiam-ping serta mendengar tegurannva, tapi mereka diam tidak bergerak.

dengan tenang menatap Liok Kiam-ping.

Liok Kiam-ping melengak malah, katanya dengan tawa lebar.

"Apakah kalian ini yang dinamakan Liong-gi-kiam-tin ?"

Melihat kedua Tojin itu tetap tidak bergeming, pelan-pelan Kiam-ping maju kedepan mereka.

"apa kalian mau menjajal Wi liong-ciang ku ?"

Sebat sekali tiba-tiba dia menyelinap maju sejauh satu kaki begitu kedua tangannya bergerak langsung dia menjojoh di it-kam hiat didada mereka.

Begitu cepat gerakan Liok Kiam-ping, di kala kedua Tojin merasa pandangannya kabur, belum sempat mereka bergerak.

dada mereka sudah terkena telak tanpa dapat menrang kis atau melawan, ditengah jeritan mereka tubuh besar itu mencelat terbang tiga tombak jauhnya, darah berceceran sepanjang jalan undakan sehingga salju pun menjadi merah.

Dua batang pedang mereka terbang ke udara dan amblas kedalam saiju tak jauh disamping tubuh mereka.

Tanpa hiraukan kedua korbannya Kiam-ping langsung enjot tubuhnya, sekali berkelebat tiba-tiba bayangannyapun sudah lenyap tanpa meninggalkan bekas.

Sepanjang jalan ini Kiam-ping tidak menghadapi rintangan lagi, secepat terbang dia sudah tiba diluar hutan cemara, pandangannya tiba-tiba benderang, ternyata dirinya sudah tiba didepan Siang-jing-koan-Didepannya terbentang sebuah lapangan yang luas.

sebuah biara kuno dengan hiasan serba antik berdiri ditengah lapangan, bangunan megah bersusun dan berlapis memanjang kebelakang sampai tak kelihatan ujungnya.

Ditengah lapangan luas itu, sebuah barisan pedang dalam sikap besar telah siap menyambut kedatangannya, puluhan Tojin bersenjata pedang sudah menduduki posisi masingmasing dalam bentuk sebuah barisan, deretan Tojin paling depan sedang bergerak pelan-pelan kekiri sementara para Tojin dideretan belakang cepat-cepat menggeser ke kanan-Bak umpama sebuah jala besar, setiap gerakan dari setiap sudut akan menjadikan padat setiap posisi yang kosong, setiap gerakan, cahaya pedang pasti menambal lobang kelemahan yang kentara, sehingga lawan yang terkepung d idala m barisan takkan mampu membobol keluar.

Berdiri dipinggir hutan diam-diam Liok Kiam-ping kaget dan heran, pikirnya.

"Barisan pedang serapat ini, umpama lalat juga sukar terbang keluar. He, aku jadi ingin tahu lebih dulu siapa gerangan yang terkurung didalam barisan?"

Dalam pada itu lekas sekali barisan pedang makin mengkeret kedalam, tapi setiap kali setelah berputar dua lingkaran mereka pasti harus mundur setapak.

"o, agaknya orang yang terkepung didalam memiliki sejurus ilmu tunggal yang lihay? Sehingga mereka jeri dan harus mundur menghindar "

Dikala Kiam-ping membatin itu, mendadak didengarnya suara hardikan, seseorang tampak melambung tinggi ditengah kepungan namun, sedianya akan jumpalitan keluar barisanpedang.

"ceng-san-biau khek."

Kiam-ping tersentak heran, untuk apa dia meluruk ke Bu-tong-san pula ?

Jubah hijau ceng-sanbiau-khek tampak melambai, ditengah udara tubuhnya melompat miring.

baru saja tubuhnya hampir lolos dari kepungan barisan, tiba-tiba terdengar sebuah bentakan ramai, sepuluh Tojin mendadak ikut melompat tinggi ke udara, dimana pedang mereka bergerak.

laksana pagar cahaya yang kokoh, mendesak ceng-san-biau-khek jumpalitan mundur kembali.

Diam-diam Kiam-ping geleng geleng, pikirnya.

"Aku tak habis mengerti cara bagaimana dia bisa sembuh secepat ini ? Pukulanku hari itu cukup membuat isi perutnya tergoncang lepas dari kedudukan semula, kenapa sekarang sudah sembuh seperti sedia kala ?"

Tiba-tiba kakinya menjejak bumi, laksana anak panah tubuhnya melesat kedepan, ditengah udara berputar lurus lalu berpaling ketempat dimana barusan dirinya berdiri.

"Hehe, kiranya Hwi-bing Totiang."

Demikian jengek Kiamping.

"beginikah orang-orang Bu-tong yang suci dan murni, pandai juga kau menyergap orang dari belakang ?"

Lekas Hwi-bing menjura, katanya.

"Bu-liang-siu-hud, ternyata Sicu masih segar bugar, dalam musim sedingin ini masih senggang kau keluyuran diatas Bu-tong-san, apakah tujuanmu mencari ceng-san-biau-khek?""

Kiam-ping tertawa dingin, katanya.

"Tempo hari kau memberi persen sekali pukulan Siau-yang-sin-kang, sekarang tulangku jadi gatal, maka ingin kau memberi persen pula sekali pukulan, bagaimana pendapat Tiang lo ?"

Kembali Hwi-bing Totiang bersabda lalu berkata.

"Sicu harus maklum, waktu ibumu meluruk kemari, Pinto masih belum keluar pada hal kau tidak tahu seluk beluk persoalannya, tapi..."

Liok Kiam-ping naik pitam, serunya marah.

"Seorang perempuan tua luka-luka minta obat tidak diberi malah dihajar sampai mati beginilah perilaku orang-orang beribadah yang mengutamakan cinta kasih ? Ketahuilah Liok Kiam-ping memeluk harapan yang tak terhingga, meresapi siksa derita kehidupan yang terbatas, tujuanku tidak lain hanya ingin mencari dan menemukan ibundaku, tapi kalian telah menghapus dan melenyapkan semua harapanku, kini aku dipaksa menjadi anak yatim piatu, coba kau pertimbangkan pantas tidak aku menuntut balas hutang darah ini ?"

Dengan wajah dingin tiba-tiba dia mendesis berat.

"Nah, rasakan dulu pukulanku."

Segulung angin dahsyat tiba-tiba timbul dari kebasan lengan bajunya, damparan angin pukulan dahsyat ini menimbulkan pusaran beberapa jalur angin lesus, pohonpohon cemara disekelilingnya sampai bergetar seperti ditiup badai.

Hwi-bing Totiang tidak menduga lawannya menyerang secepat ini, sekilas dia mengerut alis, pelan-pelan telapak tangan kanan disorong kedepan, segumpal angin panas seketika meluber disekitar depan tubuhnya laksana dinding saja menerjang kearah serangan lawan-"Blang"

Ledakan keras menyebabkan daon-daon cemara rontok. badan Hwi-bing tampak limbung sekali, tiba-tiba tubuhnya mendak kebawah terus menubruk maju, sekaligus dia melontarkan dua belas pukulan

Liok Kiam-ping sendiri juga tergetar mundur lima langkah sambil berputar merobah posisi tiga kali baru mampu membendung dan meluputkan diri dari berondongan dua belas pukulan lawan-Mendadak dia membentak sekali, tubuhnya melejit keudara, ke dua tangan menari menciptakan bayangan tangan sederas hujan, rapat dan ketat menepuk kepala Hwi-bing dari berbagai penjuru, Hwi-bing kabur pandangannya, bayangan telapak tangan lawan seperti menutup buntu semua gerak geriknya, terutama pusaran hawa deras disekeliling tubuhnya, ketat dan menghimpit ketengah sehingga tubuhnya terbelit kencang.

Hwi-bing insyaf, kecuali mundur, tiada peluang lagi untuk menyingkir dari rangsakan pukulan tangan yang lihay ini.

Maka dia kerahkan setaker Lwekang latihannya, kedua sikut menjaga seluruh Hiat-to didepan dada, kakinya melesat mundur kebelakang.

menghindar dari pukulan telapak tangan sekeras samberan guntur.

Jubah kuning emas yang dipakainya sudah melembung seperti berisi angin, Siau-yang-cin-to yang berhasil diyakinkan selama puluhan tahun d idala m gua ini dikerahkan, melindungi seluruh tubuh, kekuatan hawa yang tipis menyerupai uap putih merembes keluar dari seluruh pori-pori tubuhnya.

Tidak tanggung-tanggung Liok Kiam-ping sekaligus merabu musuhnya dengan tiga puluh satu pukulan-sayang hawa murninyapun telah kandas, dia maklum karena Lwekangnya belum cukup, maka dia belum mampu melancarkan Hwi-liongkiu-thian sampai habis pada tiga puluh enam jurus pukulan, itu berarti dia sudah sukses meyakinkan Wi-liong-ciang sampai dengan jurus terakhir.

yaitu Liong-jiau-king-thian-Kalau tiga jurus Wi-liong-ciang-hoat di lancarkan secara berantai, karena gerakan pukulan itu sambung menyambung laksana rantai baja yang berhasil membelenggu lawan sehingga tidak mampu melawan lagi sampai mati, yaitu mati karena tergetar oleh himpitan tenaga raksasa yang mampu menggugurkan sebuah gunung.

Tapi kali ini dia berhadapan dengan musuh tangguh yang lebih tinggi dari ceng-san-biau-khek.jadi lawan mampu memanfaatkan peluang yang paling singkat, untuk melancarkan pertahanan Lwekangnya yang kokoh dan kuat, pada hal diri sendiri sudah kehabisan hawa murni, adalah maklum kalau dia menjadi terdesak dibawah angin, namunjuga hanya sekejap sampai dengan lawan harus ganti napas pula Banyak persoalan berkelebat dalam benaknya, di kala tubuhnya anjlok kebawah itu, diapun sudah selesai melancarkan tiga puluh satujurus pukulan, tapi lawan hanya bermuka merah saja, bahwasanya belum lagi dia kalahkan-Maka tanpa ayal segera dia menggembor seraya melolos Liat-jit-kiam dari punggungnya, langsung digerakkan dengan jurusjit-lun-jut-seng, cahaya air yang kemilau laksana air, sinar dingin gemerlap.

selarik sinar tajam dengan deru angin kencang menyabet keleher lawan-Hwi-bing harus mundur sejauh dua tombak baru berhasil menyelamatkan diri, ternyata kekuatan Siau-yang-cin-to diluar tubuhnya hampir buyar terserang oleh kekuatan lawan-Sudah tentu bukan kepalang rasa kagetnya, mendadak terasa himpitan tenaga raksasa sudah mengendor, sementara pukulan lawan sudah habis, lekas dia menarik napas kedua tangan naik turun lalu melingkar sekali, siau-yang-cin-to yang berhasil diyakinkan dirobah menjadi segulung hawa panas terus dilontarkan sekuat tenaga.

Tak nyana baru saja dia berhasil menghimpun hawa murni, mendadak dilihatnya bola matahari nan besar benderang lagi melambung keatas begitu terang cahaya bola bundar itu sehingga kedua matanya silau tak mampu melihat lagi.

Entah kenapa rasa takut dan ngeri mendadak timbul dan menghantui sanubarinya.

Sambil menggeram, lekas dia himpun seluruh kekuatannya didorong kearah bola bundar bercahaya laksana sinar surya yang baru terbit itu.

"Sret"

Tubuh Kiam-ping tampak bergoyang, pedangnya tergetar keras dan tak mampu lagi melancarkan jurus permainannya karena diterjang oleh tenaga dahsyat sepanas lahar.

Kedua kakinya malah melesak sedalam dua dim ketanah.

Untung dia masih mampu menabirkan cahaya pedangnya sehingga gempuran dahsyat tenaga lawan dapat dipunahkan.

Pukulan hawa panas itu terbendung oleh tabir cahaya pedangnya sehingga membumbung ke angkasa, kembang saiju dipucuk-pucukpohon cemara seketika lumer dan beterbangan, daun-daun cemarapun rontok berhamburan.

Ujung pedang Liok Kiam-ping menuding serong kebawah, kedua matanya menatap tajam lawan dengan tabah dia menekan perasaan dan mengatur pernapasan serta mengendalikan darah yang bergolak.

dengan mencelos dia mengawasi tapak kakinya yang ambles kedalam tanah.

Hwi-bing Tojin juga sedang mengatur napasnya yang sengal-sengal, katanya menarik suara.

"Kiam-hoat apakah yang kau lancarkan ?"

Liok Kiam-ping menyeringai dingin, sahutnya.

"inilah Liatjit-kiam-hoat. Sekarang boleh kau rasakan betapa nikmatnya menghadapi kematian, Pernahkah kau membayang kan betapa derita ibuku dikala meregang jiwa karena dipukul luka parah ? oleh karena itu seluruh hidung kerbau Bu-tong-pay patut diganyang habis."

Kaki kiri melangkah sedangkan kedua mata menatap ujung pedang "cret"

Tiba-tiba tubuhnya berputar, dia melontarkan jurus Liat-jit-yam-yam.

Hwi-bing Totiang sudah kerahkan hawa murni kembali keTan-thian, matanya dipicingkan-tiba-tiba dilihatnya lawan mulai menggerakkan pedangnya yang memancarkan pula cahaya seterang sinar surya mencorong kearah matanya.

Meski dia sudah memicing mata, tapi yang dilihat hanyalah benderangnya terik sinar matahari, tiada benda lain yang tampak lagi.

Seolah-olah dirinya berada ditengah padang pasir yang kering kerontang terik matahari bergantung di cakrawala, begitu panasnya sampai mulutnya kering dan teng gorokan dahaga.

Lebih celaka lagi sekujur badan mendadakjuga panas seperti dipanggang sehingga menguapkan asap.

Mumpung belum kasep mendadak dia membentak sekali, Sam-wi-cin-hwe dalam tubuhnya yang dilatih selama tiga puluh tahun segera dikerahkan menggempur kebola matahari yang mencorong benderang itu.

begitu seluruh kekuatan hawa murninya dikerahkan, pikiran seketika menjadi jernih pula, maka didengarnya jeritan cengciok Tojin tak jauh disamping tubuhnya.

tapi dia sudah tidak mampu menarik hawa api yang terpusat dipusarnya.

Jeritan panjang yang menyayat hati mendadak kumandang dari hutan cemara.

Disusul sesosok bayangan putih meloncat terbang sejauh lima tombak dan "Bluk"

Terbanting ditanah.

Asap hijau tampak mengepul didalam hutan disusul bunyi keretakan dari nyala api yapg membakar dahan dahan pohon dan daun.

Lekas sekali nyala api berkobar makin besar ketiup angin pegunungan yang deras, hawa semakin panas, asap membumbung tinggi ke angkasa.

Begitu pedang Liok Kiam-ping menusuk.

cahaya pedang sudah berputar kencang berhasil memapas kutung sepasang pergelangan tangan musuh, namun dia sendiripun keterjang angin pukulan sedahsyat gugur gunung sehingga tubuhnya mencelat jatuh beberapa tombak.

Tak jauh diluar hutan sebelah kiri terdapat sebuah selokan gunung, Kiam-ping terpukut mencelat oleh gempuran seluruh kekuatan Hwi-bing Tojin sehingga matanya berkunang-kunang.

Kebetulan tubuhnya melayang jatuh kedalam selokan, begitu tubuhnya ketiup angin dingin dalam selokan otaknya menjadi jernih, seketika dia sadari pula betapa berbahaya keadaan dirinya sekarang.

Lekas dia himpun seluruh tenaga murni, kedua tangan membalik kebelakang, beruntun kedua kaki memancal pula, sehingga tubuhnya berhasil tergeser beberapa kaki diditengah udara.

Sayang napasnyapun sudah habis dan tak mampu mengerahkan tenaga lagi, jelas kelihatan didasar selokan menanti batu-batu runcing yang tak terhitung banyaknya, karuan terbang arwahnya saking ngeri rasa kejutnya bukan main-Maklumlah meski Kiam-ping pernah memperoleh saluran Lwekang Lui Gi-ok yang dilatihnya puluhan tahun, tapi karena kedua urat nadi Jin-tok ditubuhnya belum tertembus maka hawa murni tak mampu berputar menyeluruh keseluruh tubuh, adalah jamak kalau dia tidak mampu bergerak bebas ditengah udara.

Padahal hawa murni dalam tubuhnya sudah habis, dikala tubuh sudah melayang turun itu, dilihatnya didepan ada sebuah batu besar yang menonjol keluar sejauh tiga kaki, maka dia menghardik sekali dengan seluruh sisa tenaganya dia menusukan pedang kearah batu besar itu.

"Cras"

Liat-jit-kiam memang tajam mandraguna, pedang panjangnya itu hampir setengah amblas kedalam batu, meminjam daya pantulan diatas pedang, lekas Kiam-ping menarik napas sehingga tubuhnya mampu melambung jumpalitan meluncur ke bibir ngarai disebrang sana.

Memandang dasar selokan yang penuh bertaburan batubatu runcing, diam-diam Liok Kiam-ping bergidik sendiri, namun bola matanya merah menyala, begitu dia angkat kepala memandang ke arah hutan, seketika dia berdiri melongo dan ragu-ragu.

Ternyata ceng-ciok Tojin tidak menduga bahwa Sang Susiok berada didalam hutan, maka dia kira Liok Kiam-ping sengaja menyalakan api didalam hutan, karena dia hanya melihat bayangannya mencelat keluar dari dalam hutan-Maka sambil membentak dia melolos pedang terus melompat dari sebrang selokan, bentaknya gusar.

"Kenapa Sicu datang ke Bu-tong..."

Melihat noda darah yang mengotori jubah putih Liok Kiam-ping tiba-tiba dia tertegun, air mukanya berobah, tanyanya "Bagaimana Hwi-bing Susiok ? Kau..."

Memandang kobaran api yang makin besar didalam hutan-Liok Kiam-ping menyeringai dingin.

"Dia sudah mampus didalam hutan itu.."

"Apa ?"

Ceng-ciok Tojin seketika melotot "apa betul ?"

Tanyanya tersirap.

Liok Kiam-ping manggut-manggut, baru mulutnya terbuka, mendadak terdengar beberapa kali bentakan ditengah lapang disertai jeritan, lekas dia berpaling tampak beberapa Tosu roboh terkapar sehingga kepungan berlobang, lekas sekali ceng-san-blau-khek menerjang keluar dari lobang itu.

Ceng-san-biau-khek lari sipat kuping begitu mendapat peluang meloloskan diri, tak nyana begitu dia angkat kepala mendadak dilihatnya bayangan putih berkelebat, tahu-tahu Pat-pi-kim-liong sudah berdiri mcncegat didepannya, melihat betapa kereng dan garang sikapnya menyoreng pedang dengan tubuh berlepotan darah lagi, karuan kaget dan serasa terbang arwahnya, lekas dia putar tubuh lari kearah lain.

Dua kali lompat berjingkat Liok Kiam-ping sudah meluncur tiba di tanah lapang, dilihatnya ceng-san-biau-khek telah terkepung pula didalam barisan pedang para Tosu Bu-tongpay.

Kiam-ping enjot tubuh melejit empat tonbak dan meluncur turun dari tengah udara masuk kedalam barisan-Bentaknya.

"Anak keparat, kau lari kemana kau?"

Ditengah udara dia melangkah dua tindak telapak tangan terayun, pedang bergerak mengikuti gaya badannya, telapak tangan kiri terus berputar me lontarkan jurus Liong-kiap-singan bayangan telapak tangan bertaburan semua meluruk kearah ceng-san-biau-khek.

Sementara itu ceng-ciok Tojin juga sudah memburu dekat, langsung dia menubruk sehingga lobang barisan segera dapat ditambal dengan mata mendelik merah dia membentak keras.

"Bentuk Kiu-cu-lian-hoan-kiam-tin (barisan pedang berantai sembilan jago)"

Pedang melintang lurus didepan dada, kaki lantas menggeser kekanan serta berputar, makamulai dia menggerakkan barisan pedang.

Melihat Liok Kiam-ping memburu tiba serta menyerang, lekas ceng-san-biau-khek menegakkan kedua tangan, beruntun diapun menggempur dengan kekuatan pukulannya, hawa seketika menjadi dingin hampir membuat seluruh hadirin bergidik kedinginan, keadaan menjadi seperti berada dilembah es yang berhawa dingin.

sepasang telapak tangannya ternyata mengeluarkan uap putih yang merembes dengan suara mendesis sehingga hawa udara seperti bergolak.

jelas dalam menghadapi mati hidup cengsan-biau-khek telah melancarkan Hian-ping-ciang.

Liok Kiam-ping mendengus, tubuhnya lebih mendoyong turun selangkah, tenaga dia tambah dua bagian lagi.

"Blang"

Dua angin kekuatan bertarung ditengah udara, terdengar seorang mengeluarkan suara dari teng gorokan seperti suara babi akan disembelih, tapi langkahnya tersurut lima tindak.

Suara siut-siut dari samberan pedang yang kemilau mulai terdengar disekitar arena ternyata barisan pedang telah mulai bergerak dua bilah pedang tajam tahu-tahu telah menyelonong masuk mengincar dua Hiat-to mematikan dipunggung Ceng-san-biau-khek yang mundur gentayangan, serangan kilat sasaran tepat dan telak.

Perlu diketahui setelah mengadu kekuatan dengan Liok Kiam-ping tempo hari Ceng-sanbiau-khek dipukul jatuh dan semaput, lukanya cukup parah karena isi perutnya tergetar luka, apa boleh buat demi menyembuhkan luka dalamnya dia meluruk ke Bu-tong-san mencuri Bik-lo-kim-tan, walau obat mujarab itu berhasil dicuri dan ditelannya, tapi karena sedikit kurang hati-hati, jejaknya konangan, apalagi sejak peristiwa yang terdahulu Bu-tong-san sekarang dijaga keras dan ketat, maka dia tidak mampu meloloskan diri dan terkepung didalam barisan pedang, Padahal dua hari dia menyembunyikan diri diatas gunung, setelah yakin luka-lukanya agak sembuh, mumpung hari belum terang tanah pikirnya dia akan melarikan diri kebawah gunung, tak nyana jejaknya konangan oleh murid Bu-tong-pay dan sekarang terkurung didalam Kiu-cu-lian-hoan-tin-Kini lagi-lagi dia beradu pukulan dahsyat dengan Liok Kiamping, saking keras goncangan yang timbul dari akibat pertarungan kekuatan mereka, mata seketika berkunangkunang, hampir saja dia jatuh semaput lagi, untung pikirannya masih tetap jernih, lekas dia gigit lidah, rasa sakit membantu membangun semangatnya pula, terasa dua jalur pedang telah mengancam Hiat-to dipunggungnya pula.

Sigap sekali dia menegakkan tubuh, berbareng pedangnya menyampuk kebelakang, baru saja dia berhasil mematahkan serangan sepasang pedang, tak nyana begitu barisan sudah bergerak.

dua batang pedang lain tahu-tahu menyelonong pula dari bawah keatas menusuk kedua ketiaknya, tusukannya sama keras, tepat dan ganas pula, sehingga sukar dia mempertahankan diri atau menyingkir.

"Sret"

Ketiaknya tergores luka panjang.

darah seketika bercucuran.

Karuan ceng-san-biau-khek menjerit kalap seperti binatang buas yang ketaton dan panik, begitu membalik tubuh, beruntun dia lancarkan delapan jurus serangan pedang, seperti orang kalap mau mengadu jiwa saja dengan nekat dia menangkis semua pedang yang menusuknya dari berbagai arah.

sementara barisan pedang berhasil didesaknya mundur dua kaki.

Giginya berkerutuk saking gusar dan gemas, tiba-tiba dia menoleh, sambil meraung keras langsung dia merangsak kepada Liok Kiam-ping, pedang panjang terayun.

menggaris keras, Dengan kalem Liok Kiamping angkat Liat-jit-kiam, ditengah dengus suaranya tubuhnya mengendak miring, dimana batang pedangnya berputar lalu melintir dengan sebuah lingkaran bundar, ujung pedangnya tiba-tiba menutuk ke Thian-tok-hiat di tenggorokan lawan-Itulah jurus Jit-lun-jut-seng ilmu pedang yang dipelajarinya dari gagang pedang terik surya yang sekarang dipegangnya.

Pedang lawan telah ditabasnya kutung, cahaya kemilau yang memancar dari batang pedang seterang sinar surya telah membuat silau mata lawan pula.

Seperti diketahui Ceng-san-biau-khek sendiri juga mahir jurus ini.

dia tahu kearah mana ujung pedang lawan mengancam dirinya, tapi begitu mata sendiri tak bisa melihat dan tak mampu dibuka lagi, terpaksa sekuatnya dia menjejak kaki mencelat mundur kebelakang, berbareng sebelah tangannya menepuk kedepan melindungi tenggorok.

tubuhnya masih terapung diudara, tahu-tahu telapak tangannya sudah tertusuk tembus oleh pedang Liok Kiam-ping, tenaga tusukan lawan masih menyelonong maju tetap mengenai Thian-tohhiat dilehernya.

Darah segar tampak menyemprot, sebelum sempat bersuara, jiwa lantas melayang seketika.

tapi sebelum tubuhnya jatuh menyentuh tanah, kedua batang pedang telah menyambar bersilang.

karuan batok kepalanya terpapas pecah dan separo meninggalkan badan, Kejadian teramat cepat, hanya sekilas saja, begitu darah muncrat ke mana-mana, bayangan pedang yang bertaburan itu masih terus menyambar, Liok Kiam-ping merasakan bahwa ruang lingkup barisan pedang ini makin menciut.

Hakikatnya Kiam-ping tidak sempat menggunakan otaknya, Liat-jit-kiam segera dimainkan lebih kencang lagi melancarkan jurus kedua, Liat-jit-yam-yam, tabir cahaya benderang seketika membungkus tubuhnya, disertai dering benturan benda keras yang ramai, pedang panjang beberapa Tojin telah ditabasnya kutung menjadi dua.

Bola besar bercahaya terang sang surya tiba-tiba terbit dari puteran pedang panjang ditangan Liok Kiam-ping, sudah tentu mata mereka silau dan tak bisa lagi, serempak mereka menyurut mundur dengan perasaan ngeri, tapi cahaya pedang sudah mengancam dada mereka.

Ujung pedang Liok Kiam-ping sudah mengancam Bit-kianhiat, hiat-to mematikan didepan dada, tapi dilihatnya wajah banyak orang begitu ngeri dan kaget, semua memejam mata.

Walau para Tojin itu tak leluasa membuka matanya karena pancaran cahaya terang yang luar biasa, kelihatan sikap mereka sama sengaja memejam mata menunggu kematian-Perasaan hambar dan kosong mendadak merangsang sanubarinya, jiwa besar, hati bajik yang terpendam didalam lubuk batinya tiba-tiba bersemi memperlihatkan pengaruh nya.

Mendadak dia bersiul panjang tubuhnya, melambung empat tombak tingginya meluncur kebawah gunung, kebetulan menyongsong Kim-gin-hu-hoat yang sedang melayang naik kemari.

Tiga bayangan orang dalam sekejap telah lenyap dibelakang batu karang.

Para Tosu diatas gunung seperti baru sadar dari mimpi, rambut mereka semrawut, waktu meraba batok kelapa, bagian tengahnya ternyata sudah gundul kelimis.

Ditanah bersalju berserakan untaian rambut mereka.

Maka pekik kaget keluar dari mulut mereka, paduan pekik bergema diatas gunung.

Liok Kiam-ping lari berlompatan dilereng gunung, dibelakangnya Kim-gin-hu-hoat berlari pula dengan kencang.

Kim-ji-tay-beng tertawa gelak-gelak.

katanya.

"ciangbun, beberapa jurus pedangmu sungguh menyenangkan, kalau aku yang melakukan, para hidung kerbau itu pasti tidak kuampuni semua."

Gin-ji-tay-beng juga berkata.

"Bila ciangbun melancarkan Liat-jit-kiam-hoat yang dapat melawan kehebatanya kurasa terlalu sedikit. Tapi kuanggap kau terlalu welas asih, Liok-toathian-cu yang menguasai dunia, siapa tidak berlaku keji, korban ditangan mereka tak terhitung banyaknya, bila Ciangbun ingin menuntut balas bagi kematian Ciangbun kita yang dahulu, maka tidak usah kau menaruh kasihan terhadap musuh."

Liok Kiam-ping berkata.

"Jadi Tok-sin, Ham-sim-leng-mo, Hwe-hun-cun-cia, Go-hucu, Khong-tong-Koay-kiam dan Lo-husinkun diagulkan sebagai Liok-toa-thian-cu (enam saka penunjang langit)?"

"Berarti tokoh silat tertinggi sepuluh tahun yang lalu memang mereka, jikalau Ciangbun ingin diagulkan sebagai tokoh kosen nomor wahid diseluruh jagat, menurut pendapatku kau perlu menggembleng diri dalam percaturan dunia persilatan-Maklumlah untuk mencapai cita-cita harus menghalalkan segala cara, untuk ini Ciangbun perlu lebih perhatian-"

"Untuk mencapai cita-cita harus berani menghalalkan segala cara"

Beberapa patah kata ini bergema direlung hati Liok Kiamping, batinnya.

"Apakah betul? Menghalalkan segala cara demi mencapai cita-cita ?"

Gin-ji-tay beng berkata pula.

"Kalau kau bijaksana terhadap orang, orangpun akan membalas dengan tindakan bijaksana. Walau kau beranggapan tidak patut menggunakan cara Licik kepada musuh, tapi musuh tetap akan berbuat jahat terhadapmu. Begitulah nasib yang telah menimpah ciangbun kita yang dahulu hingga menemui ajalnya."

Benak Liok Kiam-ping terus mengunyah beberapa patah tadi, terkenang olehnya pada waktu dirinya masih berada di Kui-hun-ceng, dengan sikap baik dan ramah dia selalu menghadapi orang, tapi nasib yang menimpanya justeru caci maki dan hantam pukul secara keji oleh Ti Thian-bin..

Pada hal waktu itu dirinya masih seorang bocah ingusan yang tidak pandai main silat, tapi dirinya serlng mengalami pukulan dan tutukan hiat-to serta siksaan lain, betapa dirinya mengerang kesakitan sambil bergulingan ditanah becek yang berbatu.

Akhirnya dia mengepal tinju, desisnya penuh dendam.

"Betul, demi mencapai tujuan, cara apapun boleh dihalalkan."

Karena jalan pikiran yang sedikit menyeleweng ini, tak terhitung orang-orang jahat didunia ini yang mampus ditangannya oleh ketiga batang pedang sakti itu, namanya menjulang dan menggetarkan dunia, namun bencana di Tionggoan pun mulai bersemi, hal ini baiklah kita kisahkan dibagian belakang.

---ooo0dw0ooo---Cepat sekali langkah mereka, sekejap mata mereka sudah melampaui beberapa bukit dan tibalah mereka didepan Te-satkok.

Sebuah ngarai seperti pintu angin saja menjulang tegak.

diatas batang ngarai itulah berukir tiga huruf besar berbunyi "TE SAT KOK", disebelah bawah kirl terdapat pula sebarls ukiran huruf lebih kecil yang berbunyi "berhenti sampai disini"

Memandang ukiran huruf itu Gin-ji-tay-beng terkekeh dingin, katanya.

"Dari mana nenek peyot itu mengambil peraturan busuk ini, limapuluh tahun yang lalu aku juga pernah kemarl karena keki aku hendak menghapus ukiran huruf itu, tak tahunya aku dipersen dua tamparan dlkanan kiri pipiku. Lima tahun kemudian aku pulang dari Thian-tok, Ginsa-ciang sudah berhasil kuyakinkan, sungguh tak nyana tahutahu dia sudah berobah menjadi kekasih ciangbun kita yang sudah almarhum, akhirnya ketiga batang pedang sakti itupun diserahkan kepadanya. Tahun itu ciangbun dicelakai oleh Toksin yang berkomplot dengan gembong gembong iblis lain, aku kemarl mencarinya tidak ketemu hingga aku berputar kayun ditengah batu..."

Jelas bagi Liok Kiam-ping bahwa orang ternyata belum tahu bahwa Tokko cu yang tulen sudah mati, dan penghuni Te-satkok yang sekarang adalah gadis jelita.

Terlngat kepada gadis molek itu seketika terbayang wajah nan sayu dan pucat, namun senyumnya semekar bunga.

Bahwa segera juga dia akan berhadapan dengan dia, jantungnya mendadak berdegup keras.

Tak nyana kupingnya mendadak mendengar pekik aneh Kim-ji-tay-beng.

Menuding kearah dinding gunung yang menjulang disebelah kanan Kim-ji-tay-beng berkata.

"ciangbun, kau lihat apa itu ?"

Liok Kiam-ping memandang kearah yang dituding, tampak sebuah laba-laba sebesar telapak tangan dengan kulit kembang ceplok-ceplok sedang merayap diatas dinding, tidak jauh dibawah laba-laba menempel pula sebuah topeng tembaga hijau dengan taring panjang yang menjijikkan, sebatang pedang bengkok berbentuk mirip ular mendampingi laba-laba kembang itu, ujung pedang tegak diatas, gagangnya dibawah, diujung pedang yang runcing terdapat gantolan yang berkembang kekanan kiri mengeluarkan cahaya perak gemeredep.

Sekilas dia melongo, tanyanya.

"Ada apa sih ?"

Kim-ji-tay-beng seperti bicara sendiri "Tak nyana mereka pun berada disini,"

Melihat Liok Kiamping menatap dengan penuh tanda tanya, tersipu-sipu dia menjawab.

"Ciangbun, maksudmu siapa yang meninggalkan tandatanda itu ? Tok-sin-kiong-bing, Lo-hu-sin-kun, Khong-tongkoay-kiam, semua itu adalah tanda perintah mereka pada enam puluh tahun yang lalu, dimana tanda itu muncul berarti mereka sudah mencampuri persoalannya, siapapun dilarang turut campur.."

"Jadi mereka sudah masuk ke Te-sat-kok hendak mencari pedang pusaka? Lekas masuk"

Liok Kiam-ping bersuara kaget.

"Ciangbun tak usah tergesa, ketiga kurcaci yang muncul di sini bukan Sam-toa thiancu yang malang melintang enam puluh tahun yang lalu. mungkin hanya murid didik mereka. coba lihat laba-laba itu seluruhnya berkembang ceplok-ceplok, tapi diatas kepala nya tidak kelihatan ada huruf "ong" (raja), dulu setiap menggunakan perlntah nya, Tok-sin-kun mengukir huruf "ong"

Itu diatas kepala laba-labanya yang dinamakan Sin-ci-ling. melambangkan bahwa dia rajanya atau moyangnya setiap racun di dunia ini.

"Topeng setan tembaga hijau itu bagian tengahnya juga tidak terdapat mata bundar, biasanya Lo-hou-ling milik Lo-husin-kun punya tiga mata, tapi topeng ini hanya ada dua mata."

Setelah merandek lalu menyambung.

"Tentang Khong-tongkoay kiam yang berbentuk ular itu, ujung pedangnya yang bercabang itu disepuh emas kuning, jadi bukan perak. maka ini pertanda bukan dia sendiri yang datang kemari. Beberapa angkatan muda mereka ini kurasa tidak perlu dibuat takut. Lotoa, dulu -kau pernah digebuk oleh cakar setan Lo-hu-sin-kun, memangnya nyalimu sudah pecah."

Kim-ji-tay-beng tertawa, katanya.

"Memang aku ingin kau putar lidah, memangnya aku tidak kenal tanda-tanda itu ? ciangbun, kita masuk tidak ?"

"Tentu harus masuk, hayo."

Ajak Liok Kiam-ping. Lalu mendahului melesat kedalam. Kim-gin-hu-hoat saling pandang sekejap Kim-ji-tay-heng bertanya.

"Apakah perlu kita menggunakan Thian-te-ci-kio (jembatan bumi dan langit) ?"

Gin-ji-tay-beng mengangguk seraya ulur tangan kanan telapak tangan menekan pundak sang kakak demikian pula Kim-ji-tay-beng ulur tangan kiri menekan pundak adiknya.

Kedua orang saling pegang pundak lalu bergerak serempak melompat terbang ke dalam lembah.

---ooo0dw0ooo---Di dalam Te-sat-kok.

Pecahan batu berserakan ditanah, begitu melompat masuk Liok Kiam-ping lantas melihat keadaan yang ganjil ini.

Pikirnya.

"Oooh.jadi secara kekerasan mereka menghancurkan barlsan batu-batu, bukankah mereka harus membuang banyak waktu dan tenaga ? Entah dia sudah pulang atau belum ?"

Mengikuti jejak kaki dia terus berlompatan masuk kedalam, hampir menggunakan seluruh kekuatannya, maka tubuhnya meluncur bagai selarlk sinar putih lenyap dibalik tumpukan salju.

Pertama kali datang dulu Kiam-ping dalam keadaan luka parah, bila Tokko cu tidak menuntunnya keluar dengan irama seruling jelas dia bisa mati terkurung dalam barlsan barlsan batu.

Sekarang barlsan batu sudah porakporanda, pecahan batu berserakan ditanah saiju.

Beberapa tombak kemudian, waktu dia berpaling, dilihatnya Kim-gin-hu-hoat sedang mengejar datang dengan saling memegang pundak.

katanya dengan tertawa.

"Apa yang sedang kalian lakukan ini ? "

Kim-ji-tay-beng menjelaskan.

"Diantara Kungfu yang pernah kami yakinkan ada sejenis ilmu yang dapat menyalurkan tenaga sendiri ketubuh orang lain, sekarang untuk menghadapi musuh kuat, maka kami menggunakan Thian-te-ci-kio."

Liok Kiam-ping hanya angkat pundak.

tanpa bicara lagi dia meneruskan perjalanan kedalam Te-sat-kok terletak diperut gunung, luas dan besar, empat penjuru dipagari dinding ngarai, mega putih tampak memotong puncak ngarai yang terjal hingga sinar mataharl tidak kelihatan.

Deru angin dingin menghembus kencang dari dasar lembah, gema suara keras seperti gunung ambrol diterjang angin badai terdengar didepan, disusul gelak tawa latah yang berkumandang.

Liok Kiam-ping menggerung perlahan, tubuhnya meluncur seperti meteor mengejar rembulan, setiap kali lompatan lima tombak dijangkaunya, tampak bayangan putih berkelebat lantas lenyap dari pandangan mata biasa, Setelah memutar beberapa kali, lantas didengarnya sebuah suara kasar berat berkata.

"Lim-heng, sekarang giliranmu, aku mau istirahat sejenak. Maknya, siapa nyana lembah ini ada permainan anakanak yang menyulitkanjuga. Kalau tahu begini sepantasnya aku pinjam Lui-hwe-pit-le dari ong-hun-jit-sian Leng-heng, biar lembah ini kuledakkan hancur lebur."

Lenyap suara yang ini disusul suara dingin.

"Siang-heng, mungkin kau tak berpikir bila kau meminjam Lui-hwe-pit-le kepunyaan Leng-heng, malah kami bisa turun kedasar lembah mengambil ketiga pedang sakti itu? Apakah telah kau bayangkan bila seluruh lembah ini teruruk batu-batu gunung, jangan kata mau mencari pedang, jiwa sendiri juga pasti melayang, Hehehe,pada hal aku Ngo-tok-koay-mo untuk mendapatkan ketiga batang pedang mestika ini sudah jauh lari ke Tiang-pek san menangkap seekor mahluk aneh, asal kita berhasil menghancurkan barisan batu ini, aku punya akal untuk menemukan tempat penyimpan ketiga batang pedang mestika itu."

Baru dia bicara habis sebuah suara lagi berkata sinis.

"Kedengarannya mudah dilaksanakan kalau mendengar ucapan Lim heng, pada hal Tokko cu si nenek tua itu berwatak aneh dan eksentrik, Lwekangnya juga teramat tangguh, jikalau tidak mampu melawan ceng-hun-cap-ji-siau (dua belas seruling mega hijau), kita akan berputar kayun di sini sampai mampus sendiri. Khusus untuk tugas kedatanganku kemari kali ini guruku Khong-tong-koay-kiam ada mengajarkan aku serangkaian ilmu pedang dan satu cara, asal kita bertiga bisa bersatu padu, yakin kuat untuk bertanding Lwekang dengan nenek tua itu, malah aku yakin dia bukan tandingan kita."

Suara kasar serak semula berkata pula.

"Aku Ki-leng-sin Siang Wi, pasti tidak sama dengan kalian-tiga mengeroyok satu, bicara terus terang bila bukan lantaran Siau-moay merengek minta sebilah pedang, aku juga tidak sudi datang kemari... Belum habis dia bicara Ngo-tok-koay-mo menjengek dingin.

"Maksud Siang heng, bahwa maksud tujuanku dengan Bengheng memalukan?"

"Hanya kau seorang yang patut disebut Kuncu ? Kenapa tidak kau pikir, bila kita tidak mampu mengurung nenek itu, makhluk aneh milikku mana dapat menemukan ketiga pedang itu? Demikian pula gurumu Lo-hu-sin-kun juga pasti akan marah kepadamu ? Maka kuharap Siang-heng berpikir lagi sebelum mengambil keputusan..."

Ki-leng-sin Siang Wi mungkin berpikir tak perlu dia mengambil sikap bertolak belakang dari keinginan temanteman lain, maka dia berkata.

"Baiklah, anggap aku yang salah, aku minta maaf kepada kalian-Beng-heng silahkan kau jelaskan akalmu itu ?"

Sekarang Liok Kiam-ping baru jelas asal usul tiga orang di dalam lembah, mendengar nama julukan Ang-hun-jit-sian, segera dia teringat kepada pengemis cilik, seiring dengan jalan pikirannya diapun membayangkan sorot mata Tokko cu yang sendu, badannya yang kurus lemah...

Pikirnya.

"Aku akan membuatnya hidup bahagia. Dara remaja seusianya kenapa harus mengasingkan diri di atas pegunungan ? Hingga sang waktu yang serba sepi dan tawar, disini menggeragoti masa remajanya yang punya harapan cerah dihari depan ?"

Dadanya sesak oleh keberanian, Tokko cu yang hidup sengsara dan kesepian seperti berada dihadapannya, maka dia membusung dada beranjak kedepan-Sekonyong konyong alunan irama seruling bergema didasar lembah, seringan daun melayang, mengalun diudara dingin dalam lembah.

Ki-ling-sin Siang Wi segera pentang bacot dengan suara serak.

"Hai, keparat siapa didalam dan meniup kentut apa Jelek sekali, aku si gede tidak suka dengar..."

Suaranya bagai guntur, dalam lembah bergema suaranya yang kasar, tapi irama seruling tetap mengalun lembut dan jelas.

Alunan lembut irama seruling itu menampilkan perasaan seorang gadis merana yang dirundung duka, perasaan Liok Kiam-ping amat terketuk oleh makna irama seruling itu, seolah-olah dia sudah mengantar sukmanya kedalam irama seruling itu, ingin dia menggabung dua perasaan yang dimabuk cinta meresapi rasa rindu selama ini.

Dalam hati dia berkata.

"Tokko cu, hidup dalam pengasingan sebatangkara, pada hal jiwanya harum semerbak."

Dikala Liok Kiam-ping terbuai oleh rasa kesedihan yang tidak terbendung.

sayup,sayup seperti didengarnya isak tangis Tokko cu yang menyedihkan, hatinya seperti disayat-sayat, mendadak dia menggerung gusar terus melompat terbang kedepan seraya berterlak.

"Nona, aku telah tiba, Liok Kiam-ping telah datang."

Gerakannya secepat kilat, mendadak pandangan terasa kabur.

"cret"

Selarik angin pedang dengan serangan keji telah meluncur tiba mengancam Khi-hu, coat-bin Yu-bun dan Thiong-kok empat Hiat-to.

Kiam-ping menghardik sekali, serempak kedua tangannya.

bersilang langkahnya pun berhenti seketika seperti terpaku ditanah.

Tubuh bagian atas sedikit doyong "Wut"

Kontan dia memukul sekali menimbulkan gelombang angin keras mematahkan serangan pedang lawan.

Ditengah jengekan lawan, tahu-tahu sinar pedang berkelebat, membundar setengah lingkar terus mengiris maju dari samping yang diincar adalah King-bun, go-siok dan Lisiaut iga Hiat-to besar, tipunya aneh serangan ganas luar biasa.

Kiam-ping menarlk napas mendekuk dada, badannya melambung mundur tiga kaki, di mana dia gerakkan kedua tangannya, kontan dia lontarkan jurus Liong-kiap-sin-gan.

Ditengah taburan telapak tangan menerbitkan deru badai yang memutar sehingga napas sesak.

gerakanpedang lawanpun sampai mendengung dan tertahan diluar kalangan-Beruntun kakinya maju beberapa langkah.

Dalam sekejap dia menyerang delapan belas jurus pukulan hingga lawan didesaknya beberapa tombak kebelakang.

Sedikit gerakan tangannya mengendor, lantas dia mendengar pekik aneh yang melengking didepannya, ternyata seekor laba-laba hitam yang besar sekali dengan membawa sejalur gelagasi besar putih mengkilap meluncur turun dari udara menubruk dirinya.

Sambil menggeram Kiam-ping membalik telapak tangan menepuk segumpal angin menyongsong laba-laba hitam.

Sementara kakinya dengan tangkas menyurut mundur enam kaki, kedua matanya memperhatikan musuh-karena terdampar angin pukulan, laba-laba hitam beracun itu mengeluarkan suara aneh pula, ditengah udara jungkir balik dua kali lalu jatuh ditanah.

Sebuah suara dingin berkata.

"Siapa berani melukai labalaba hitamku? Hm, kau bocah ini memangnya sudah bosan hidup?"

Tampak oleh Kiam-ping didepannya berdiri tiga orang, yang ditengah memegang sebilah pedang bengkak-bengkok mirlp ular, ujungnya bercabang seperti lidah ular, dengan pandangan gusar mereka melotot kepadanya.

Lelaki muda yang berdiri disebelah kanan bermuka culas dan gelap.

mulutnya seperti ketarlk kebawah dagu, tangannya memegang sebatang bumbung bambu, benang laba-laba yang putih mengkilap itu ternyata menjulur keluar dari bumbung bambu itu, tahulah Kiamping bahwa orang pasti yang bernama julukan Ngo-tok koay-mo (iblis aneh panca racun).

Dengan dingin dia mengalihkan pandangannya ke lelaki yang berdiri disebelah kiri, diam-diam dia terkejut, ternyata lelaki ini berperawakan delapan kaki tingginya, pinggangnya lebar pundaknva besar, kepalanya sebesar kerbau, kedua pahanya sebesar batang pohon, telapak tangannya yang terbuka selebar kipas dengan jari jemarl sebesar pisang, seluruh perawakannya mirip raksasa.

Ki-ling-sin si raksasa malaikat sedang memegang pentung panjang warna kelabu, katanya dengan tertawa kepada Liok Kiam-ping.

"Hahahaha. Kenapa kau bocah ini ikut nangis sesedih ini, apa kau belum minum susu ?"

Baru sekarang Kiam-ping terlngat barusan dia menangis dan belum sempat mengusap air mata, tapi diapun melihat diujung mata si gede juga bergantung dua butir air mata yang belum sempat diteteskan, karuan dia tertawa geli, katanya.

"Kau sigede kecil ini kenapa juga berlinang air mata ? Apa kau juga belum minum susu ?"

Ki-ling-sin tersipu-sipu, lekas dia membersihkan mukanya, katanya bergelak tawa.

"Bocah cilik, apa kaupun hendak cari pedang mestika ? Sayang disini sudah ada tiga orang, sebetulnya aku juga senang melihatmu, kuberi sebatang juga tidak menjadi soal, tapi..."

Belum habis dia bicara lelaki yang memegang pedang aneh sudah menukas.

"Buat apa Beng-heng banyak bicara dengan dia. Sekali pentung kepruk pecah saja kepalanya."

Ki-ling-sin geleng kepala malah, katanya.

"Guruku suruh aku memanggil kalian Wi-heng (saudara sekerabat), tapi tidak menyuruh aku tunduk kepadamu bocah cilik ini aku melihatnya suka, aku tidak akan mengemplang dia.."

Ngo-tok-koay-mo mendengus.

"Siapa kau bocah keparat ini?, memangnya kau tidak melihat tanda kebesaran kami dimulut lembah ?"

Melihat tampangnya yang jelek dan culas, hati Kiam-ping sudah sebal, kini makin kaku sikapnya.

"Kau bedebah ini siapa? Kematian didepan mata masih membual ?"

Orang she Beng tertawa aneh, katanya menyindir.

"He, mendengar obrolanmu ini, seolah-olah kau ini seorang cianpwe di Bulim yang sudah terkenal saja, sayang belum pernah kudengar ada tokoh lihay mirlp tampangmu ini."

Setelah melirik hina lalu menambahkan.

"Kukira lebih baik kau pulang saja masuk kedalam pelukan ibu gurumu."

Belum habis dia bicara sebuah suara serak sadis berkata.

"Anak muda yang tidak tahu diri, memangnya matamu picak terhadap ciangbunjin Hong-lui-bun yang bergelar Pat-pi-kimliong Liok Kiam-ping juga tidak kenal. Bola mata kalian memang patut dikorek keluar untuk umpan anjing saja."

Dengan kaget Beng Hing menoleh ke sana, dilihatnya dua lelaki berambut uban dengan tangan bergandeng tangan tengah berlompat terbang mendatangi, melihat telapak tangan mereka yang kuning dan putih itu seketika berobah air mukanya serunya.

"Kim-gin-hu-hoat, jadi kau ini adalah ciangbunjin Hong-lui-bun ?"

"Bocah keparat tidak bernama macam diriku mana berani terlma,"

Liok Kiam-ping terbahak-bahak.

"kalian memang asing mendengar nama julukan Pat-pi-kim-liong, maka cayhe bermaksud bantu kalian supaya selalu teringat kebeneran Patpi-kim-liong."

Dengan muka masam dia menuding Ngo-tokkoay-mo, kau harus dibuntungi sebelah lengannya."

Dengan sikap kereng diapun menoleh kepada Beng Hing, kau juga harus diprotoli sebelah kupingmu."

Mengawasi Ki-ling-sin yang berdiri kebodoh-bodohan-Dia menghela napas lega. katanya.

"Tentang kau, gede cilik, sungguh aku harus minta maaf, terpaksa kau harus pulang dan laporkan kepada gurumu bahwa pedang mestika sudah diambil oleh Pat-pi-kim-liong"

Perlahan tangan Ngo-tok-koay-mo mengelus seekor kalajengking biru yang merambat dipucuk bumbungnya, katanya dengan terkekeh dingin.

"Hong-lui-bun? ciang-kiamkim-ling sudah mampus sejak lama setelah terkena racun tanpa bayangan perguruanku. Boleh dari mana pula kau menerobos keluar tahu-tahu menjadi ciangbun segala ?"

Kim-gin-hu-hoat menggertak gusar, serempak mereka melejit mumbul, Kim-gin-sa-ciang mengeluarkan deru badai membawa gulungan tenaga raksasa berpusar kedepan menimbulkan pergolakan hawa dahsyat.

Meluncur segesit belut kaki Ngo-tok-koay-mo menyurut mundur beberapa kaki, berbareng bumbung bambu ditangan kirl dia lempar keatas udara.

dari dalam bumbung beterbangan tawon-tawon beracun ta lkterh b itung jumlahnya, maka suara yang membising telinga segera kumandang diudara.

Mendadak Kim-ji-tay-bang berteriak.

"Tawon beracun dapat berbuat apa atas diriku, coba saksikan-"

Dimana tangan kanan bergerak, cahaya emas gemeredep.

deru pukulannya ternyata juga lain dari yang lain, beruntun dia memukul delapan kali, pusaran angin pukulannya ternyata berhasil merontokkan tawon-tawon beracun.

Gin-ji-tay-beng bergolak tawa, kekuatan Gin-sa-ciang ternyata berbeda pula perbawanya, udara seperti dibungkus oleh halimun tebal, tampak setiap kali tinjunya bergerak keluar, tawon-tawon beracunpun berontokan tak terhitung jumlahnya.

Badan mereka maju mundur bersama, gerak gerik mereka mirip manusia aneh yang punya dua tangan empat kaki, bila Kim-gin-sa-ciang digabung perbawanya ternyata bukan olaholah hebatnya.

Deru keras pukulan mereka seperti memenuhi lembah, tawon beracun yang beterbangan diudara makin sedikit jumlahnya, paduan suara sayap tawon yang mendengung itu makin ke lelap ditindih gelak tawa kedua kakek beruban itu.

Baru sekarang Liok Kiam-ping bisa menyaksikan perbawa pukulan Kim-sa-ciang dan Gin-sa-ciang, batinnya.

"Dengan tangan bergandeng tangan seperti ini, kekuatan mereka jauh lebih besar dari pada mengeroyok secara individu, apalagi tenaga kedua orang dapat saling isi dan membantu, menambal kekuatan kawannya..."

Ngo-tok-koay-mo mendadak menjengek.

"Jangan takabur, nih masih ada."

Kedua tangan meraih ke punggung menurunkan sebuah bumbung lagi terus diketok perlahan dua kali, maka berlompatan keluar beberapa ekor kodok puru, semua mengeluarkan suara "kok kok,"

Menubruk kearah Kim-gin-hu-hoat.

Beruntun Kim-gin-hu-hoat melontarkan beberapa pukulan terus melambung keatas, bersalto dua kali langsung menubruk kearah Ngo-tok-koay-mo, segulung angin kencang yang terlontar dari sepasang tangan mereka menyibak mega sehingga sinar mentari menyorot masuk.

Angin pukulan dahsyat itu menggulung bunga salju menerjang kearah Ngo-tok-koay-mo.

Karuan Ngo-tok-koay-mo kaget sekali, lekas dia ayun tangan, beberapa ekor ular kecil warna emas berhamburan dari lengan bajunya menubruk kearah Kim-gin-hu-hoat yang masih terapung diudara.

Kembali Kim-gin-hu-hoat menyampuk dengan kekuatan pukulan-tidak terpikir oleh mereka bahwa empat ekor ular emas ini dapat menekuk badan dan melenting, dengan lincah mereka menyelinap lewat dari deru pukulan dahsyat itu, laksana anak panah masih terus melesat kedepan.

"Hiaaat."

Berbareng mereka menghardik, dua telapak tangan terangkap "Plok"

Seekor ular emas yang melesat paling depan kena tergencet gepeng dan lebur oleh kedua telapak tangan mereka.

Bau darah ular yang amis menyebabkan kawanan ular emas yang lain melorotkan badan jatuh ditanah terus meringkel menegakkan kepala sambil menjulurkan lidah kearah Kim-gin-hu-hoat.

Gin-ji-tay-beng tertawa gelak-gelak.

serunya.

"Keparat, jangan harap caramu ini..."

Belum habis dia bicara, katakkatak puru yang mendekam ditanah itu mendadak sama bersuara aneh terus menyemburkan cairan putih dari benjolbenjol daging punggungnya, semua menyembur kearah mereka, Kim-ji tay-beng tetap waspada, bentaknya.

"Giok-te, awas."

Seiring bentakannya, tangan kirinya mengeluarkan tenaga hingga Gin-jay-beng diseretnya mumbul keudara.

Tapijarak mereka dengan kawanan katak puru terlalu dekat, walau cepat gerakan mereka, tapi paha Gin-ji-tay-beng telah kesemprot cairan putih itu.

Terdengar bunyi lirih celana di pahanya seketika bolong-bolong dan kulit pahanya seketika menjadi hitam.

rasanya panas seperti dibakar api, tiada banyak waktu langsung dia merogoh keluar sebatang badik mengkilap.

cepat dia gores dan iris kulit daging pahanya yang sudah menghitam hangus.

Liok Kiam-ping melompat maju seraya membentak, ditengah udara dan ulur tangan kepunggung, Liat-jit-kiam telah dicabutnnya maka mencoronglah sinarnya yang gemerdep melesat terbang diudara.

Begitu sinar pedang berkelebat, terdengarlah pekik aneh dari mulut kawanan binatang beracun ditanah, semua berusaha melarikan dirl dengan ketakutan-Karuan Ngo-tok-koay-mo terperanjat, tiba-tiba dia bersiul memberi aba-aba, maksudnya menganjurkan binatang beracun peliharaannya maju menyerang pula, tak nyana binatang peliharaannya itu ternyata tidak dengar perlntah lagi, semua berusaha menyelamatkan jiwa sendiri tanpa tunduk akan perintahnya pula.

Kiam-ping tarikan pedangnya kian kemari, katak-katak puru yang berlompatan itu semua ditabasnya mampus cabaya pedang seperti lidah api mencorong sejauh tiga kaki ditambah panjang pedang ada tiga kaki enam dim, sehingga jarak yang dicapai cukupjauh, maka binatang binatang beracun itu dengan mudah dibunuhnya satu persatu.

Darah berceceran diatas saiju bau amis memenuhi lembah, sisa dua ekor ular emas sempat melesat ketangan Ngo-tok-koay-mo.

Terbelalak besar mata Ngo-tok-koay-mo sungguh tak berani dia percaya bahwa binatang beracun peliharaannya lari ketakutan berhadapan dengan Liok Kiam-ping.

Dengan tangan kanan dia comot kalajengking biru yang merambat dipundaknya terus dibuang ke tanah didepannya, berbareng mulutnya mendesis-desis beberapa kali.

Kalajengking biru besar itu pelan-pelan merambat kedepan, ekornya yang panjang seketika tegak membengkok dan bergerak-gerak.

Liok Kiam-ping menjengek hidung, ujung pedang turun miring kebawah, kedua matanya menatap tajam kearah kalajengking biru yang merambat makin dekat.

Seluruh perhatian yang hadir dalam lembah inipun tertuju kearah kalajengking biru besar itu, namun serlng pula melirik kearah pedang di tangan Liok Kiam-ping, terutama sebutir mutiara diatas pedang.

Mendadak Ngo-tok-koay-mo berceloteh, seiring dengan suaranya, kalajengking itu mencelat mumbul beberapa kaki menubruk kearah muka Liok Kiam-ping.

Ekornya yang panjang dan mempunyai capit itu mematuk ke Thian-toh-hiat ditenggorokan Liok Kiam-ping, betapa tepat sasarannya ternyata tidak kalah liehay dari serangan seorang jago silat.

Tubrukan kalajengking biru ini sungguh teramat cepat, Liok Kiam-ping baru saja merasa pandangannya kabur, dan amis sudah menyerang hidung, lekas dia menjengkang badan kebelakang, cahaya pedangnya bertaburan mirip jala, cahaya membabat kalajengking itu.

Tak nyana kalajengking itu bisa menurunkan badannya menghindar tabasan pedang jatuh didepan kakinya.

Jin-tiok-ji-meh Liok Kiam-ping memang belum tembus, sehingga hawa murni dalam tubuhnya tidak bisa disalurkan secara kontinyu hingga tenaga murni juga susah dikembangkan keluar, maka tak sempat dia berkelit, tahu-tahu kalajengking sudah menubruk tiba didepan mukanya.

Kim-ji-tay-beng berteriak kaget, dari jarak tiga tombak dia datang, kelima jarinya terkembang hendak mencengkram kalajengking itu sementara Ngo-tok-koay-mo tertawa riang dan bangga, serunya.

"Hehehe, kali ini pasti mampus..."

Tak tahunya belum lenyap suaranya, kalajengking yang merayap dikaki Liok Kiam-ping mendadak memekik aneh terus terguling jatuh, perut menghadap ke langit tak bergerak lagi, jiwanya melayang.

Tawa cerah di muka Ngo tok-Koay-mo seketika kuncup, kedua bola matanya membundar besar, serunya kaget.

"Kau memiliki Hiong-ui-cu ribuan tahun ?"

Liok Kiam-ping sendiri juga melenggong sebelum dia menjawab Kim-ji-tay-beng sudah melompat datang, tanyanya "ciangbun, kau tidak apa-apa ?"

Liok Kiam-ping geleng-geleng, bahwasanya dia sendiri juga bingung kenapa dirinya membuat kawanan binatang beracun itu larl ketakutan, demikian pula kalajengking ini mati secara tiba-tiba tanpa sebab.

Namun dia tidak sempat pikir apa sebabnya, matanya menatap Ngo-tok-koay-mo serta menghampirinya.

Mendadak rasa dingin menggelitik sanubarinya, dari tatapan mata orang yang marah membuat Ngo-tok-koay-mo bergidik ketakutan, lekas dia melengos kelain arah.

Akan tetapi rasa gengsi yang tebal melembari sanubarinya membuat dia berani menoleh lagi, sekuatnya dia tenangkan dirl lalu ulur tangan kepunggung menurunkan dua bumbung bambu yang masih ada, batinnya.

"Aku percaya tidak mungkin dia memiliki Hiong-ui-cu ribuan tahun atau Su-liong-po-giok... Menepuk-menepuk bumbung, maka merayap keluar seekor kelabang merah panjang satu kaki, tepat diatas kepala kelabang terdapat sebuah tanda hitam yang menonjol. Kim-ji-tay-beng terperanjat, serunya.

"Kim-hun-ou-jit, inilah kelabang sakti yang khusus dipelihara oleh Tok-sin-kiong-bing, ciangbun, kau harus lebih hati-hati."

Selama hidup kapan Liok Kiam-ping pernah melihat kelabang sebesar ini, hatinya juga kebat kebit, namun dia tidak merasa jerl, karena yakin Liat-jit-kiam-hoat cukup ampuh untuk menabas hancur kelabang raksasa ini.

Lekas dia menghimpun hawa murni pedang bersatu padu dengan jiwa raga, pelanpelan dia mulai bergaya pembukaan dari ilmu pedang Liat-jit-kiam-hoat.

Ngo-tok-koay-mo terkekeh dingin, perlahan dia memberi aba-aba, ratusan kaki kelabang itu seketika bergerak seperti tumbuh sayap saja tiba-tiba melesat kedepan kearah Liok Kiam-ping.

Pedang panjang ditangan Liok Kiamping terayun, cahaya pedang serapat kitiran sekaligus melancarkan jurus jit-lun-kutseng, mutiara diatas pedangnya seketika memancarkan cahaya mencorong bagai matahari, cahaya terang bergerak mengikuti gerakan tubuh menyongsong kedepan.

Semula kelabang itu menyerang dengan nafsu kebinatangannya, tak nyana begitu Liok Kiam-ping balas memapak ditengah udara tubuhnya mendadak melengkung terus meletik mundur kebelakang malah.

Padahal daya tubruk Liok Kiam-ping dengan sambaran pedangnya secepat meteor jatuh di mana cahaya pedang menggarls lewat, bayangan kelabang sudah tertelan didalam libatan cahaya pedang.

"cras, eras..."

Setelah sebuah pekik keras disusul desis suara yang beruntun, disusul darah muncrat bau amis merangsang hidung, tahu-tahu kelabang raksasa itu telah terpotong-potong menjadi beberapa keping jatuh berserakan diatas salju.

Tanpa merobah gerakan daya kekuatan tubrukan Liok Kiam-ping masih laju dengan kecepatan yang sama, langsung menubruk kearah Ngo-tok-koay-mo, pedangnyapun menabas.

Setelah melemparkan kelabangnya, sempat Ngo-tok-koaymo tertawa senang, namun begitu melihat samberan pedang melanda dirinya, sementara Kim-hun-ou-jit milik gurunya telah lebur pula, karuan kagetnya seperti arwahnya copot kekahyangan, belum sempat dia pikirkan bagaimana memberlkan reaksi, segulung cahaya merah laksana mentari terbit membuat kedua matanya silau dan tak bisa melek.

Suatu ingatan berkelebat dalam benaknya, kontan dia memekik.

"Liat-jit-ki-kiam."

Sembarl memekik sepuluh jarlnya menjentik bersama, segulung asap tipis tanpa bersuara melesat keluar, namun pada saat itu pula lengan kirinya sudah tercincang oleh pedang lawan-Sejalur darah membeku dibatang pedang jelas dia tidak kuasa menghindar diri dari tabasan pedang lawan-Tapi disaat kritis itulah, sebatang pedang aneh mirip ular mendadak menyelonong keluar dari samping tubuhnya mengancam ciatbun, Ki-bun dan Bit-kian-hiat ditubuh Liok Kiam-ping.

Liok Kiam-ping tahu meski tabasan pedangnya berhasil mengutung lengan lawan, jiwa sendirljuga susah diselamatkan-Tiada persoalan untuk dipertimbangkan, sebat sekali dia memutar badannya, seperti angin lesus saja badan miring, berbareng jurus Liat-jit-yam-yam terlontar dari gerak pedangnya.

Melihat Ngo-tok-koay-mo kembali kehilangan binatang andalannya, Beng Hing juga keheranan, mendadak dilihatnya pedang panjang lencir Liok Kiam-ping mengancam Ngotokkoay-mo.

Tanpa pikir pedang ularnya langsung bergerak.

dia tahu taraf kepandaiannya kira-kira setingkat dengan Ngo-tokkoay-mo, namun baru dia bergerak pedang lawan tabu-tahu sudah mengancam leher, kesempatan untuk berkelit sudah tidak sempat lagi.

Saking kejutnya lekas dia gerakkan pedang dengan jurus Ling-coa-hoan-hu balas menyerang, bila perlu biar gugur bersama, jelas ujung pedangnya telah mengancam ketiak lawan, mendadak cahaya benderang seperti mentari terbit dipagi hari menyilaukan matanya, hati seperti terbakar, seluruh tubuh seperti dipanggang didalam tungku.

Dalam detik kritis ini baru dia teringat nasehat gurunya, kontan dia memekik.

"Liat-jit-kiam-hoat."

Namun pekikannya seperti jeritan Ngo-tok-koay-mo suaranya ditelan gelombang hawa pedang yang menderu hingga orang lain tiada yang mendengar. ---ooo0dw0ooo---"Sret"

Suara perlahan, Liat-jit-kiam Liok Kiam-ping sudah menabas putus pedang ular itu menjadi tiga potong, di mana cahayanya berkelebat lewat disamping kuping Beng Hing sebuah kuping berlepotan darah tertoblos di ujung pedang, sigap sekali Liok Kiam-ping sudan melejit mundur dua tombak.

Ling-coa-kiam Beng Hing begitu melihat pedang lawan, seketika dia menjerlt ngeri, serta merta sebelah tangannya mendekap teliinga kirl, tapi yang terasa adalah lepotan darah.

seketika dia meratap sedih.

"Kuping... kupingku..."

Dengan dingin Ngo-tok-koay-mo juga mengatasi luka dalam dua dim diatas lengannya, dengan kertak gigi dia melangkah maju dua tindak. Matanya menatap Liok Kiamping, serunya.

"Apakah kau memiliki Hiat-liong-po giok."

Baru saja Liok Kiam-ping hendak bersuara, mendadak dirasakan pandangannya gelap, kepala pening perutpun sakit, lekas dia pejam mata serta menarlk napas dalam, mengerahkan seluruh kekuatannya supaya bertahan berdiri.

Setelah berhasil menahan rasa sakit di perutnya, baru dia membuka mata, jengeknya.

"Perduli aku punya Hiat-liong-pogiok atau tidak ?"

Ngo-liong-koay-mo terkekeh dingin, katanya.

"orang she Liok. kau, sudah terkena Bui-ing-ci-tok. paling bisa hidup,.."

Matanya menggerling.

"beberapa hari, jikalau kau tidak serahkan Liat-jit-kiam untuk menukar obat penawarnya, maka..."

Degan rasa tidak percaya Liok Kiam-ping pandang Ngo-tokkoay-mo, namun dia rasakan perutnya seperti dirangsang hawa dingin, seperti ada ulat yang menggerogoti ususnya.

Gin-ji-tay-beng sudah membalut pahanya, dengan gugup dia bertanya.

"ciangbun, kau..."

Ngo-tok-koay-mo tertawa besar, katanya.

"Coba kalian lihat apakah terdapat segaris hitam ditengah kedua alisnya ?"

Waktu Gin-ji-tay-beng memerlksa benar ada garis gelap ditengah kedua alis Liok Kiam-ping, karuan kagetnya merobah rona muka, serunya kuatir.

"ciangbun..."

Liok Kiam-ping menarik muka, hawa nafsu sudah merangsang hati, sekilas dia memandang bayangan gelap dibelakang batu-batu yang berserakan sana, bayangan dia berkecamuk dalam benaknya.

Entah darimana datangnya rasa duka mendadak Liok Kiam-ping mendongak mengeluarkan pekik panjang.

Sebelum gema pekik suaranya lenyap didalam lembah dia sudah melangkah maju dua tindak.

katanya.

"Bila aku hendak mati, aku pasti bunuh kalian lebih dulu."

Dia mencegah Kim-gin-hu-hoat bicara lalu menambahkan.

"Kalian percaya tidak, cukup tiga jurus saja."

Pedang berdiri tegak, sikapnya serius mata memandang ujung padang, cahaya pedang menemong sejauh tiga dim, menambah perbawa hawa nafsunya.

Melihat keadaan Liok Kiam-ping, Ngo-tok-koay-mo mengerut alis.

Dia tahu ciang-kiam-kim-ling punya hubungan asmara dengan Tokko cu sehingga tiga batang pedang mestika warisan ciangbunjin Hong-lui-bun diserahkan kepada Tokko cu.

Hari itu waktu Liok-toa-thian-cu termasuk Suhunya mengeroyok ciang-kiam-ling-cu dengan berbagai ilmu sakti masing-masing baru berhasil menandingi Wi-liong-ciang, musuhnya di tay-pa-san, dengan racun tanpa bayangan gurunya baru berhasil mengalahkan ciang-kiam-kim-ling serta memukulnya jatuh kejurang.

Kini dengan mata kepalanya sendiri dia saksikan Liok Kiamping masih muda ini mampu mematahkan serangan binatang beracunnya, Liat-jit-kiam-hoat lawan yang tiada taranya jelas takkan mampu dilawannya.

Dasar licik dan banyak akal mendadak dia tertawa, hatinya mendapat akal, katanya.

"Tuan sebagai ciangbun dari suatu aliran, mengandal pedang pusaka lagi, umpama dapat mengalahkan kami bertiga, memangnya harus dibuat bangga ?"

"Kau kira aku menang karena pedang mestika ini ?"

Jengek Kiam-ping.

"Kalau kau punya isi, boleh bertanding pedang denganku tanpa menggunakan pedang mestika."

Pedang kutung diacungkan, matanya mendelik dendam, rasanya ingin menelan Kiam-ping bulat bulat.

Liok Kiam-ping paling benci orang munafik.

Tindakanku selamanya juga blak-blakan, ini supaya aku mati dengan embel-embel nama jelek.

"Hah, baiklah dengan tangan kosong aku lawan beberapa jurus "

Kim-gin-hu-hoat kaget, memburu maju, serunya.

"ciangbun, mereka sengaja membakar kau. Mari kau ikut kami keluar lembah, akan kucari Sau-ban-khong untuk menawarkan racun dalam tubuhmu..."

Liok Kiam-ping geleng-geleng, perlahan dia memasukkan pedang kedalam sarungnya. mendongak dia berseru lantang.

"Nona, tahukah kau, demi dirimu Liok Kiam-ping siap menaburkan darahnya di dalam Te-sat-kok ? Kuharap sebelum aku mati sudi kau keluar supaya aku dapat melihatmu sekali lagi, nona coba jawab apakah kau mengabulkan permintaanku?"

Lembab nan sunyi hanya terdengar deru angin dan gema suaranya yang memilukan, kecuali itu tiada reaksi atau suara lainnya. Berlinang air mata Liok Kiam-ping, gumamnya perlahan.

"Begitupun baiklah."

Ngo-tok-koay-mo menyerlngai sadis, katanya.

"Kita mulai mengadu Lwekang, karena adu kekuatan sekaligus dapat membedakan siapa unggul mana asor, jikalau kau dapat mengalahkan aku, maka obat penawarnya akan kuserahkan padamu, atau sebaliknya kau serahkan Liat-jit-kiam kepadaku."

Gin-ji-tay-beng gusar, katanya.

"Agaknya kalian sudah mengatur tipu daya..."

"Pertandingan dibatasi semasakan air, dalam jangka waktu sependek ini racun dalam tubuhnya tidak akan kumat. Hehehe, kalau mengulur waktu, obat penawarku juga tidak berkasiat lagi, sekarang boleh aku serahkan setengah pil obat penawarku dulu .."

Liok Kiam-ping mengangguk, katanya.

"Coba jelaskan bagaimana harus bertanding?"

Dia terima setengah pil obat penawar orang, tanpa ragu terus ditelannya.

"Kita adu telapak tangan dengan tenaga dalam saling gempur, tubuh siapa terdorong roboh kebelakang dialah yang kalah."

Segera Ngo-tok-koay-mo mendahului duduk bersila, serta ulur kedua telapak tangannya, tertawa lebar kearah Liok Kiamping.

Tampak oleh Liok Kiam-ping, kedua telapak tangan lawan putih bagai batu jade mirip tangan perempuan pingitan yang tidak pernah kerja kasar, sambil mendengus segera diapun duduk bersimpuh, tangan diulur menempel telapak tangan orang.

Baru saja kedua tangannya terjulur, mendadak didengarnya Ki-ling-sin si gede raksasa berterlak.

"Bocah cilik, kau..."

Waktu dia menoleh dilihatnya Ling-coa-kiam-khek melotot gusar kepada Siang Wi, sementara Siang Wi geleng-geleng sambil tertawa apa boleh buat, katanya.

"Tidak... tidak apaapa."

Lalu bibirnya bergerak lagi.

"Bocah cilik, hati-hati kau."

Tengah Liok Kiam-ping bimbang, Ngo-tok-koay-mo berkata.

"Kenapa sih ? Tidak berani ?"

Liok Kiam-ping mendelik.

"Kalau aku menang, kaupun harus memotong sebelah lenganmu."

Tangan diulur lurus menempel telapak tangan lawan-Ngo-tok-koay-mo tertawa dingin, batinnya.

"Telapak tanganku ini menyakinkan Ngo-tok kui-goan-ciang, biar kau merasakan Siang-tok-ih-deh, mati setelah tersiksa racun."

Tenaga keras mendampar dari telapak tangan lawan, lekas dia menurunkan tenaga dipusar, pelan-pelan dia mulai salurkan kekuatannya balas menyerang.

Ternyata telapak tangannya semakin putih, makin lama makin bening seperti tembus cahaya, hingga urat syaraf dan tulang telapak tangannya kelihatan jelas, namun pada saat itulah tampak Liok Kiam-ping mulai gemetar.

Walau telah menelan setengah obat penawar lawan, tapi obat itu tidak banyak membantu karena lawan menipunya dengan obat yang hanya dapat menahan rasa sakit belaka.

Begitu dia kerahkan tenaga sekujur badan menjadi tidak enak.

rasanya seperti habis digebuki, hawa murni mulai merembes naik dariBwe-kek-hiat, lekas sekali telah merembes ke Pauhong dan Sim-pi dua Hiat-to yang merupakan sentral darijalan darah dibagian iga.

Kini tulang rusuknya juga mulai terasa linu dan kesemutan, sementara Khi-hay-hiat dibawah lambung juga mulai nyeri seperti ada ulat bergerak disana.

Waktu yang sama terasa dari telapak tangan lawan mulai menerjang kekuatan aneh yang ganjil, sehingga jarinya ikut merasa pegal dan mati rasa, rasa pegal itu masih terus merambat pergelangan tangan-Karuan hatinya kaget, tahu dia bahwa lawan juga meyakinkan pukulan beracun, waktu dia tatap lawan, tampak wajahnya mengulum senyum licik, lekas dia menarik napas panjang, mengerahkan segala kekuatannya mendesak balik kekuatan lawan-Akan tetapi seluruh Hiat-to tubuhnya seperti tertutup, tenaganya sudah tidak mampu menembusnya, hawa dingin yang merembes ketulang rusuknya pun merambat keatas menembus Siau-yang-gi dan Koan-goan-gi.

Tanpa kuasa sekujur badannya mulai menggigil.

hawa murni yang terpusat dipusar juga tidak mampu dikendalikan lagi.

Bayangan kematian mulai merangsang hatinya, otaknya akan berhenti bekerja, sekarang dia hanya merasakan dirinya seperti melayang di awang-awang Mendadak Kim-gin-hu-hoat bergelak tawa, kedua tangan saling menekan pundak pula terus duduk bersimpuh dibelakang Liok Kiam-ping, tanpa bicara mereka mengawasi wajah lawan yang dilembari senyum kemenangan Gin-ji-tay-beng ulur tangan kiri menekan Bing-bun-hiat dipunggung Liok Kiam-ping, sementara Kim-ji-tay-beng kerahkan Kim-sa-ciang, telapak tangannya terangkat di udara, telapak tangannya kelihatan kuning mengkilap memancarkan cahaya benderang.

Liok Kiam-ping sudah dalam keadaan setengah sadar, mendadak dari punggung merembes segulung tenaga hangat terus menerjang ke pusar, semangatnya seketika bergelora, lekas diapun himpun sisa tenaganya yang tercerai terus disalurkan kelengan batas menerjang tenaga lawan-Ngo-tok-koay-mo sudah saksikan lawan sudah payah dan tinggal menunggu waktu saja untuk roboh pingsan, bila racun menyerang jantung jiwapun melayang, siapa tahu mendadak segulung tenaga raksasa laksana gugur gunung menerjang tiba.

Sekujur badannya bergetar, terasa pukulan berbisa ditelapak tangannya malah merembes balik seperti arus sungai yang bertolak belakang, karuan kejutnya bukan kepalang.

karena dia tahu dua jenis racun telah terlebur menjadi satu.

bila lawan kuat dan menolak balik pukulan racunnya, berarti dirinya bisa terpukul mampus dan keracunan.

Sembari mengerahkan kekuatan melawan mulutpun berkaok minta bantuan, maksudnya supaya kedua temannya juga membantu.

Ling-coa-kiam terkekeh dingin.

dia dorong Ki-ling-sin dan berkata.

"Siang-heng, kau maju dulu, menurut cara yang kuberitahu kepadamu tadi. duduklah dibelakang Lim-heng, kerahkan seluruh kekuatanmu disalurkan ketubuh Lim-heng."

Ki-ling-sin Siang-Wi mengerut alis, katanya.

"Beng-heng, kau suruh aku bertindak seperti itu, aku emoh..."

Beng Hing memaki.

"Bukankah kau saksikan mereka bertiga mengeroyok Lim-heng? Keadaannya sudah begitu parah dan hampir mati. Bila dia mati, kau dan aku jangan harap bisa mendapatkan pedang mestika itu."

Siang Wi cemberut, katanya.

"Aku tidak suka adu tenaga dalam dengan orang, soalnya kurang menyenangkan, kalau mau berkelahi ya pakai pentung..."

Kebetulan matanya melihat telapak tangan Kim-ji-tay-beng yang kemilau kuning itu, tanpa merasa dia bergidik merinding, katanya.

"Baik, baiklah, biar aku adu kekuatan dengan dia."

Segera dia maju dan duduk dibelakang Ngo-tok-koay-mo, sejenak berpikir lalu berkata.

"Beng-heng. Bukan lantaran aku mendengar omonganmu, maksudku adalah ingin melawan kedua tua bangka ini..."

Beng Hing tidak sabar, katanya.

"Baik, terserah kemauanmu. Lekas."

Kedua tangan menempel ciang-bun-hiat diatas kedua pundak Siang wi, sementara kedua telapak tangan Siang Wi juga menekan di ciang-bun-hiat dipundak Ngo-tok-koay-mo.

Lwekang mereka tersalur menjadi segulung arus besar merembes ketubuh Ngo-tok-koay-mo, dimulai dari pusar lalu dari kedua tangan menggempur kearah Liok Kiamping.

Kim-gin-hu-hoat sudah terkenal puluhan tahun, Kim-saciang dan Gin-sa-ciang merupakan ilmu mujijat dari ilmu pukulan tangan, terutama tenaga dalam merekapun teramat tangguh begitu mereka berhasil menyusun jembatan bumi langit kekuatan yang mendampar sungguh dahsyat sekali merembes ketubuh Liok Kiam-ping.

Sementara lawan mereka adalah murid didik Liok-toa-thiancu yang sudah kenamaan puluhan tahun, latihan Lwekang merekapun mendalam, sekali mereka bergabung, kekuatan baru yang timbul ternyata juga kuat sekali.

Celaka adalah Liok Kiam-ping, disamping terkena racun tanpa bayangan dia terkena pula racun Ngo-tok-kui-goanciang, dua jenis racun jahat, terkena tekanan tenaga dalam sedahsyat itu pula, sehingga daya kerja racun lebih cepat dan hebat, seluruh urat nadinya sudah menjadi kejang, pertempuran kedua kadar racun itu hingga kini makin senyawa.

Seluruh darah dalam tubuhnya seperti bergolak.

Gumpalan racun itupun makin besar dan keras mengikuti dorongan kekuatan tenaga Kim-gun-hu-hoat mendesak ke Khibun-hiat.

Rasa gatal dan mual segera menggelitik teng gorokan, tak tertahan lagi Kiam-ping membuka mulut.

"Huuuaaa"

Segumpal hitam besar darah menyembur keluar mengenai selebar muka Ngo-tok-koay-mo.

Setelah darah beracun tersembur keluar, seketika badan seperti hampa, pada saat itulah dua kekuatan yang tersalur dari luar tubuhnya membanjir masuk kedalam tubuhnya terus mengalir sederas air bah yang menerlang kesegala penjuru badannya, segulung tenaga gabungan yang dahsyat mendadak menerjang ke Jin-meh, lalu dengan kekuatan besar bagai guntur menggelegar kembali mengamuk ke Tiok meh, begitu Jik-hu-hian koan tembus, kekuatan didalam tubuhnya segera mirip air bah yang tak terbendung lagi luber ke manamana berputar keseluruh badan.

Setelah mengeluarkan kentut besar, seluruh badannya menjadi enteng dan melayang keudara, demikian pula kelima orang yang gandeng geret itu ikut terseret mumbul beberapa senti.

Mendadak mendelik mata Liok Kiam-ping, mulutnya meraung keras, tenagapun dikerahkan ditelapak tangan terus digentak sekuatnya.

"Blang"

Ngo-tok-koay-mo diterjang kekuatan dahsyat hingga tubuhnya mencelat tiga tombak jauhnya, begitu pantat menyentuh bumi, darah segar kontan menyembur dari mulutnya.

Ki-ling-sin juga menjerit keras, tubuhnya terguling-guling beberapa kali baru roboh setombak lebih karena jarak Liongcoa-kiam-khek paling jauh dari Liok Kiam-ping, maka tenaga yang menerjang dirinya juga jauh lebih kecil, dia hanya tertolak mundur beberapa kaki, tapi muka juga menyentuh bumi.

Kim-gin-hu-hoat memang salurkan seluruh kekuatan Lwekang mereka disalurkan ketubuh Liok Kiam-ping, namun dalam jangka seperminuman teh, mendadak mereka menyadari tenaga dalam sendiri mendadak disedot oleh suatu kekuasan aneh ditubuh Kiam-ping hingga mereka tidak kuasa mengendalikan diri pula.

Dikala mereka merasa kaget dan heran, didengarnya Liok Kiam-ping berkentut besar, kejap lain terasa tenaga besar yang mereka salurkan sudah membantu memperlancar tenaga murni Kiam-ping tanpa rintangan.

Hal ini merupakan tanda baik, baru saja mereka hendak bersorak girang, mendadak dari badan Kiam-ping menerjang balik suatu arus kekuatan yang dahsyat, belum lagi mereka sadar apa yang terjadi, kontan mereka mendehem keras, tubuh mareka tergetar mencelat beberapa kaki jauhnya.

Sigap sekali mereka sudah melompat bangun dan menyaksikan keadaan tiga lawan mereka yang runyam.

Sementara Liok Kiamping juga membalik badan, katanya agak menyesal.

"Kalian bagaimana..."

"Ciangbun,"

Lekas Gin-ji-tay-beng berkata.

"apakah kau sudah berhasil menjebol Jin-tiok-ji-meh ?"

Liok Kiam-ping menjawab.

"Ya,Jin-tiok-ji-meh dalam tubuhku sudah jebol, semua berkat..."

Belum habis dia bicara mendadak angin kencang menderu dibelakang secepat kilat menerjang Bing-bun-hiat dipunggungnya.

Kim-ji-tay-beng yang menghadap ke sana melihat lebih dulu, dia berseru memperlngatkan dan sudah siap bertindak tapi cahaya kemilau mendadak menyilau mata, desis hawa pedang setajam pisau maka terdengarlah jeritan menyayat hati, darah muncrat, daging tulang beterbangan.

Begitu sinar perak kuncup, pedang sudah kembali kesarung ditangan Liok Kiam-ping, dengan wajah membeku dia berdiri menyoreng pedang, setombak didepannya, Ngo-tok-koay-mo tampak kutung kedua tangannya, bau amis busuk dari darah hitam yang berceceran masih tampak mengucur keluar.

Ngo-tok-koay-mo menggeletak diantara batu-batu yang berserakan, seluruh tubuhnya berlepotan darah hitamnya sendiri, dia berusaha menggerakkan tangannya yang buntung, dengan suara serak setengah meratap dia berkata.

"kau punya Hiat-liong-po-giok (batu jade darah naga). bolehkah perlihatkan kepadaku? inilah permohonanku terakhir sebelum ajal..."

Sorot mata tajam Liok Kiam-ping yang berwibawa semakin sirna, kini tatapannya tak ubahnya seperti manusia biasa, katanya mengerut alis.

"Kenapa kau membokong dari belakang?"

Tapi melihat sorot mata yang penuh permohonan, akhirnya dia menghela napas, dari lehernya dia keluarkan Hiat-liong-ling, lambang kebesaran dan kekuasaan Hong-lui bun.

Seperti diketahui batu jade ini ada jalur halus warna merah mirip naga kecil, membuka cakar dan mementang mulut sedang terbang, begitu hidup dan mirip sekali.

Wajah Ngo-tok-koay-mo sudah menggelap hitam, napasnya juga mendesau tinggal satu-satu, tapi sorot matanya penuh rasa kaget dan takjub mengawasi batu jade ditangan Liok Kiam-ping dengan susah dia bermohon.

"tolong kau balik muka yang lain, aku ingin melihat bagian belakang."

Setelah melihat gambar dibalik batu jade seketika dia menjerit sekali, mulutnya menggumam lirlh. ,Ngo-tok-seng-te (tempat suci panca bisa)"

Gin -ji-tay-beng yang mendekat juga melihat gambar itu melukiskan pemandangan gunung dan sungai, sebuah air terjun terjepit diantara dua puncak-gunung, didepan air terjun terdapat tiga gubuk.

Dia maklum tempat itu mungkin tempat rahasia dimana menyimpan suatu partai harta pusaka, melihat Ngo-tok-koay-mo masih kempas kempis lekas dia membentak.

"Katakan tempat apa itu?"

Ngo-tok-koay-mo menatapnya sejenak, katanya terengah payah.

"Ngo... tok .. seng... to... di... Tay..."

Tiba-tiba kedua matanya terpejam, dua tetes air mata berlinang, jiwapun melayang.

"Tay ? Tay apa ? Lo-te, apa kau tahu apa yang dimaksud ?"

Tanya Gin-ji-tay-beng heran.

"Mungkin dia hendak mengatakan nama sebuah gunung atau suatu tempat. Tapi seingatku, di Sujwan ada Tay-pa-san, Tay-liang san, Ah-wi ada Tay-piat-san, Kiang-say ada Tay-ihnia, Say-kong masih ada Tay-soat-san, tentang nama tempat banyak lagi, umpamanya Tayli di In lam..."

Demikian Kim-jitay-beng coba menarik kesimpulan-Gin-ji-tay-beng tidak sabaran, tukasnya.

"Lotoa, tak usah kau menyebut nama tempat, yang terang kita tidak perlu perduli apa itu Ngo-tok-seng-to segala, sekarang kita kemari hendak mengambil pusaka..."

Liok Kiam-ping juga sadar dari lamunannya, dengan kasihan dia memandang mayat yang mulai membusuk diatas saiju, setelah geleng kepala dia membatin.

"Ganjaran setimpal bagi kejahatanmu sendiri, aku tidak bisa disalahkan-"

Waktu dia angkat kepala dilihatnya pandangan Ki-ling-sin Siang Wi yang mendelong bodoh sementara Ling-coan-kiam-khek melotot gusar penuh dendam, katanya dengan tertawa tawar "Kalian boleh silahkan pulang."

"Bocah cilik,"

Ujar Ki-ling-sin.

"Ilmu pedang mu sungguh lihay, mirip dengan Sumoayku, cukup sekali berkelebat jiwa orang telah dibunuhnya,"

Tapi segera dia menghela napas, katanya pula.

"Kukira lebih baik aku pulang saja, celaka kalau pantatku bolong tertusuk pedang lagi,"

Ternyata pantatnya memang sering ditusuk pedang.

"Gede cilik,"

Seru Liok Kiam-ping.

"pulanglah dan sampaikan kepada gurumu, bahwa ciangbunjin Hong-lui-bun Pat-pi-kim-liong Liok Kiam-ping dalam beberapa harl lagi akan bertandang ketempat kediamannya."

Ki-ling-sin membuka lebar mulutnya katanya.

"Bocah cilik, apa kau kenal juga guruku ? Wajahnya penuh brewok, galaknya setengah mati lho."

Liok Kiam-ping tertawa, katanya.

"cukup asal kau bilang begitu kepadanya. o, ya, apakah dia sekarang masih berada di Lo-hu ?"

Ki-ling-sin manggut-manggut, setelah mengawasi Liok Kiam-ping baru berkata.

"Bocah cilik kau begini tampan dan gagah, Sumoayku juga ayu seperti bidadari Hohoho kalian betul... betul .."

Lalu dia ketuk batok kepala sendiri serta bergoyang-goyang seperti pemain opera diatas panggung serta meneruskan.

"merupakan setimpal..."

Gin-ji-tay-beng mendelik, bentaknya.

"Bocah pikun, kau cerewet apa."

"Kakek kecil, sebaliknya kau ribut apa ? Aku sedang memuji dia, berani kau ribut mulut? Bah, rasakan pentungku."

Pentung besar warna ungu ditangannya kontan terayun dengan jurus Thay-san-ap-ting mengepruk batok kepala Ginji-tay-beng, pentung segede paha orang itu menderu keras menimbulkan pusaran angin deras mengepruk laksana guntur menggelegar.

Orang gede ini bersifat polos dan jujur jiwanya bersih tapi pikirannya agak minus, bilang berkelahi lantas mengemplang, tenaganya besar pula, sudah tentu Gin-ji-tay-beng tidak berani sembarangan-Deru angin pentung membuat jenggot rambutnya semrawut seperti diterjang badai, pakaiannyapun melambai, dengan lincah dia menyingkir beberapa kaki, berbareng Gin-sa-ciang terayun dengan jurus Liu-sa-loh-kim (pasir mengalir membawa emas) telapak tangannya mendesing menampar kepala Siang Wi.

Begitu pentungnya menyapu angin si gede meraung gusar sambil melangkah minggir dua tindak bongkot pentungnya menyontek keatas dengan jurus Liu-hun-ho-khong (mega mengembang rebah diudara), secara gesit, ternyata dia dapat berkelit dari tamparan Gin-ji-tay-beng.

Tangan Gin-ji-tay-beng menekan ujung tongkat lawan, tubuhnya lantas melayang mumbul, telapak tangan kiri tetap bergerak dengan gaya semula membelah batok kepala Siang wi.

"Plok"

Gini-sa-ciang seperti memukul karang dingin yang sudah rlbuan tahun

Jilid 10 Halaman 19 s/d 20 Hilang akan ketempat kami ? Biar aku berltahu kepada Sumoay supaya dia menunggumu."

"Liok Kiam-ping angkat pundak. katanya apa boleh buat.

"Dalam jangka tiga bulan, pasti aku datang ke Lo hu."

Siang Wi berjingkrak senang. serunya sambil melambai tangan.

"Bocah cilik, selamat bertemu, aku tunggu kedatanganmu."

Setelah bayangan gede lenyap diluar lembah, Gin-ji-taybeng berludah sambil memaki.

"Maknya, anak goblok."

Kim-ji-tay-beng tertawa, katanya.

"Bocah bodoh ini memang menyenangkan-Bila sebelum ini ketemu tentu sudah kupungut dan menjadi murid."

Gin-ji tay-beng menimbrung.

"Akupun berpikir demikian, maka tadi tidak menggunakan tenaga, sungguh tak nyana bocah bodoh itu ada meyakinkan kekuatan luar semacam Yucui-koan-ting yang keras. telapak tanganku kesemutan-"

"Liok Kiam-ping menghela napas, katanya.

"Sayang gurunya adalah Lo-hu-sin-kun, kalau tidak aku ingin membawanya malah."

Lalu dia pandang mayat yang sudah menjadi cairan hitam yang menggenangi tulang belulang, diatas salju sana menggeletak sebuah kantong kulit hitam legam, kulit itu tampak bergerak.

Segera dia melangkah ke sana, tangannya menggapai sekenanya, kantong kulit itu lantas mencelat terbang jatuh di tangannya.

Terbeliak mata Gin-ji-tay-beng, serunya.

"Ciangbunjin, memangnya kau pernah meyakinkan Hikhong-ciap-in (terima kirim udara kosong) dari Hian-bun-sinkang ?"

Liok Kiam-ping melengak malah, tanyanya.

"Apa Hi-khongciap-in ? o, maksudmu dengan tangan menangkap benda seperti caraku tadi ?"

Dengan tertawa dia melanjutkan, aku sendiri juga merasa lucu, maka mengerahkan tenaga mencengkram dari kejauhan, sementara hawa murni dalam tubuhku bertolak belakang menembus empat Hiat-to, lalu balik menerjang kedepan pula dengan cepat, tahu-tahu benda inipun sudah tertangkap ditangan."

"Bertolak belakang berarti mengalir balik Apa benar hawa murni bisa mengalir tertolak ? Latihan cara itu bisa mengakibatkan Jau-hwe-jip-mo lho." .

"Lo-toa,"

Sela Gin-ji-tay-beng.

"apa kau lupa ciangbun sudah berhasil menjebol Jin tlok-ji-meh ? Sungguh tidak nyana yang Maha Esa telah mengatur seaneh ini. Dikala ciangbun terancam bahaya dan dalam keadaan kritis itu malah memperoleh kesempatan baik..."

Liok Kiam-ping buka kantong kulit ditangannya, ternyata berisi seekor kucing kecil yang lembut bulunya, hidungnya putih memerah, cuma anehnya hidung kucing kecil ini ternyata lebih panjang dan menonjol ekornya pendek bundar seperti bola yang berbulu subur, kelihatannya amat lucu dan menyenangkan.

Tadi dia sempat mendengar Ngo-tok-koay-mo bilang kucingnya ini dapat disuruh melacak tempat penyimpanan pedang pusaka pasti binatang ini jarang ada dan sukar dicari.

Teringat pedang lantas terbayang kepada Tokko cu, namun perasaan malu dan tersinggung lantas melembarl sanubarinya, dia pikir, setelah pernyataan hati sebelum ajal tadi dilontarkan, berarti dia sudah melimpahkan rasa cintanya secara terbuka.

Tapi yang didapati hanyalah jawaban hembusan angin dingin, sebaliknya si "dia"

Sama sekali tidak menunjukkan rasa simpatiknya pada jerih payah dan darah asmaranya yang menindih. Maka dia mendengus sengit, pikirnya.

"Kau meremehkan aku, memangnya aku harus mencintaimu ?"

Tengah dia membatin Kim-ji-tay-beng sudah berseru lantang kedalam lembah.

"Tokko cu cianpwe, ciangbunjin Hong-lui-bun Pat-pi-kimliong atas perintah warisan ciang-kiam-kim-ling sengaja datang untuk menerima Jit-jay, cui-le dua pedang pusaka mohon cianpwe mengunjukkan diri..."

Sebuah suara dingin berkumandang terbawa hembusan angin lalu.

"Suruh ciang bunjin keluarkan Hiat-liong-ling..."

Liok Kiam-ping sudah menegak alis, selamanya belum pernah dia merasa dihina seperti ini, rasa gusar menggoncang perasaannya, serunya gusar.

"Pat-pi-kim-liong disini Tokko cu memangnya kau sudah tidak mengenalku lagi ?"

Gin-ji-tay-beng melengak. dia menoleh kearah Kim-ji-taybeng yang menjublek katanya.

"Lapor ciangbunjin, Tokko cu adalah isteri ciangbunjin kita yang terdahulu, ciangbun, kau..."

Dari dalam terdengar jawaban Tokko cu yang dingin.

"Boleh kau masuk kemari."

Sudah tentu Kim-gin-hu-hoat kebingungan, selama puluhan tahun mereka berkecimpung di dunia persilatan, siapapun tahu Tokkocu berwatak eksentrik dan terkenal sebagai perempuan sebatang kara yang tidak kenal kehidupan umum, dari sekian banyak manusia yang pernah masuk kelembah ini, tiada satupun yang pernah keluar lagi.

Merekapun tahu jelas tentang hubungan dan pertikaian antara ciang-kiam kim-ling dengan Tokko cu, kini dari pecakapan barusan mereka merasakan nada kesedihan, hampir terasa oleh mereka bahwa Tokko cu yang berada didalam lernbah ini bukan lagi seorang nenek tua yang tinggal menunggu ajalnya, tapi adalah suara seorang gadis belia yang sedang dimabuk cinta.

Liok Kiam-ping segera berkata kepada Kim-gin-hu-hoat.

"Baik, kalian jaga di sini, biar aku masuk sendiri."

Dengan langkah lebar dada membusung dia memasuki barisan batu.

Begitu dia tiba dipengkolan dibalik sebuah batu, cuaca di sini seketika menjadi gelap.

hakikatnya tidak bisa lagi membedakan arah dan tak tahu kemana dia harus melangkah, maka dia membentak.

"Aku sudah datang, untuk apa pula kau tetap pamer barisan batumu ini ?"

Baru selesai dia bicara, didengarnya suara lembut dan lemah terkiang dipinggir telinganya.

"Buat apa kau ribut-ribut mengumbar adatmu ?"

Sigap dia membalik badan, dilihatnya Tokko cu sudah berdiri dibelakangnya, keadaan mendadak terang benderang.

Tampak cadarnya sudah diturunkan, bulu matanya yang panjang melengkung kelihatan basah oleh air mata, matanya juga merah, wajahnya yang putih kelihatan menampilkan rasa duka, sikap dan gayanya yang serba kasihan siapapun akan terpesona melihatnya.

Demikian pula keadaan Kiam-ping sekarang, lama dia melongo baru menggerakkan bibir.

"Tadi apa kerjamu di sini ? Apa tidak mendengar suaraku ?"

Dia menunduk. suaranya lirih.

"Aku sudah dengar, tapi aku tak berani keluar menemuimu."

"Kenapa ?"

Tanya Kiam-ping. Pelan-pelan dia angkat kepalanya, katanya rawan-"Maukah kau tidak tanya lagi ?"

Kiam-ping melenggong, katanya setelah menghela napas.

"Kau tidak tahu aku hampir mati Sungguh aku tidak paham kenapa kau bersikap begitu ? Seorang diri hidup merana dalam lembah sunyi ini, deru angin sedingin itu jelas tidak cocok untuk kehidupanmu."

Ia berherti sejenak lalu menyambung "Sejak kecil sampai sebesar ini, betapa siksa derita kehidupan yang pernah kuresapi, sering dihina, dicaci dan direndahkan, tapi tak pernah aku ingin meninggalkan kehidupan bermasyarakat, mengasingkan dirl disuatu tempat sepi, karena aku berpendirian bila seseorang dapat berbuat sesuai cita rasanya, masyarakat akan memberikan penilaian lain terhadapnya.

Sekarang boleh aku beritahu kepadamu, tujuanku ialah supaya manusia dikolong langit ini mengerti, bahwa Liok Kiam-ping sekarang tidak mau lagi berada dibawah orang lain."

Kedua matanya menatap si dia dengan lekat, katanya tulus.

"Kita sama-sama hidup sengsara dan terasing sejak kecil, sekarang aku sadar seseorang perlu mendampingiku, memberi spirit dan dukungan mutlak. Apalagi bila kau hidup menyendiri dilembah mati ini, menyia-nyiakan masa remaja juga bukan suatu cara hidup yang baik, karena itu...

"Itu tidak mungkin-.."

Tukas dia menggeleng dengan nada sendu.

"aku pernah berjanji kepada Suhu, selama hidupku akan menunggui tulang belulang beliau, tidak akan meninggalkan lembah sambil menunggu Hong-lui-bun datang mengambil ketiga pedang pusaka itu..."

"Sekarang aku sudah tiba."

Kiam-ping balas menukas, berarti tugasmujuga sudah berakhir, tentang tulang kerangka itu..."

Tiba-tiba hatinya terharu, serunya.

"Belum pernah aku dengar ada nenek yang tidak tahu aturan begitu, dirinya sudah mati, orang lain harus mengorbankan masa remajanya, sehingga kesenangan, kebahagiaan orang ikut terpendam bersama kematiannya , .."

"Tutup mulutmu."

Bentak si dia.

"tak boleh kau mencercah guruku, kan aku sendiri yang berjanji kepada beliau."

"Kau sendiri yang berjanji ? coba katakan, berapa usiamu waktu itu ?"

Sekilas dia melirik. lalu menjawab lirih.

"Lima tahun."

"Hahahahaha, lima tahun."

Suaranya kaku.

"mungkinkah seorang anak lima tahun bisa punya tekad ? coba kau renungkan, apakah sekarang kau tidak menyesal ?"

Dia menepekur, katanya perlahan.

"Sejak aku tahu urusan sudah mendapat bimbingan dari Suhu, sering aku memergoki beliau menangis sendirian, maka sering aku bertanya kepada beliau, tapi tak pernah dia mau menjelaskan kepadaku. waktu itu kulihat beliau hidup kesepian, sebatang kara pula, maka aku berjanji selama hidup ini akan menemaninya sampai beliau meninggal...

"Dia memejam mata seperti mengenang masa lalu, lalu melanjutkan.

"waktu itu beliau bilang takut hidup kesepian seorang diri, bila mati jasadnya pasti juga takut kesepian, maka beliau tanya apakah aku mau berdiam dilembah ini menemaninya, Beliau bilang manusia yang hidup didunia ramai semua jahat dan licik, laki-laki jahat dan busuk itu selalu berusaha menjebloskan perempuan ke dalam jebakan mereka, dari pada hidup diluar mending hidup kesepian dalam lembah ini. Waktu itu aku masih kecil tidak tahu utusan, maka aku berjanji kepada beliau untuk menemaninya dilembah ini."

Setelah mengusap air mata, dia berkata.

"Tadi waktu kau memanggilku, aku sudah dengar, tapi aku tak berani memberi jawaban, aku hanya berani sembunyi ditempat gelap ini, mengurung diriku dikamar batu ini"..."

Tibatiba pipinya merah, sikapnya tampak malu-malu katanya lebih lanjut.

"Tapi suaramu selalu mendengung dalam telinga ku hingga aku tak tahan menutup diri dalam kamar, lama aku mondar mandir disini, Maksudku hendak mencegah kau masuk kemari..."

"Hm,"

Kiam-ping mendengus.

"umpama dirintangi rlbuan tentara berkuda, aku juga akan terjang kemarl menemui kau."

Tampak sorot matanya bagai lampu mercu suar yang benderang dan menyilaukan dia merasa relung hatinyapun tembus oleh sorot mata yang dalam ini, hatinya tersirap. katanya.

"Lwekangmu ternyata lebih tangguh lagi sebelum ini ? Seolah-olah kau sudah mencapai taraf Hoan-boh-kui-cin (dari kasar kembali kemurni), apakah kau sudah menembus Seng-si-hian-koan ?"

Liok Kiam-ping mengangguk, katanya.

"Barusan aku terkena bisa Ngo-tok-koay-mo, hampir saja mati, untunglah disaat aku hampir pingsan, seolah-olah aku melihat dirimu terbayang olehku didunia ini hanya aku satusatunya yang dapat menolong kau keluar dari lembah ini, betapapun aku tidak bisa membiarkan kau mendam masa remajamu dilembah mati ini, maka aku meronta sekuatnya, syukurlah tekadku yang membara ini masih kuasa mempertahankan diriku, sehingga gelombang kekuatan dari dua aliran yang berlawanan bergelut dalam tubuhku dan menerjang jebol Jin-tiok-ji-meh."

Lalu jari-jarinya terkepal, desisnya dengan suara teguh.

"Kali ini aku pasti akan membawamu pergi."

Si "dia"

Tersenyum, tanyanya.

"Kenapa ? Bukankah si gede pikun tadi bilang punya seorang Sumoay cantik akan diperkenalkan padamu? Kaupun sudah berjanji..."

Merah jengah muka Liok Kiam-ping katanya.

"Suhunya Lohu-sin-kun adalah musuh besar Hong-lui-bun kita, mana pernah aku berjanji kepadanya ? Apalagi aku belum pernah melihat perempuan itu, mana mungkin aku..."

Tiba-tiba dia mengipat tangan.

"kau sudah tahu bagaimana maksud hatiku, kurasa tidak perlu aku banyak bicara lagi. sekarang serahkan dulu kedua bilah pedang mestika itu, lalu aku akan berusaha menghancurkan barisan batu diluar-itu, boleh kau tetap mengenakan cadar sebagai Tokko cu, kau melabrakku akupun menyerang kau, sudah tentu aku yang menang, setelah itu aku akan paksa Tokko cu berjanji membebaskan dirimu maka selanjutnya kau bebas ikut dengan aku"

Mendengar akal bulus ini dia tertawa geli, katanya.

"Jadi kau suruh aku menyamar suhu dan berjanji padamu untuk membebaskan aku ? Apa kau kira aku betul-betul mau ikut kau ? Apa lagi belum tentu kau dapat menghancurkan barisan batu. Itulah barisan teraneh ciptaan Suhu di hari tuanya"

Liok Kam-ping acungkan tinjunya, katanya.

"Perduli barisan aneh segala, dengan Liat-jit-kiam pasti mudah aku menyapunya hancur lebur, bila perlu akan kulancarkan pula Wi-liong-ciang merobohkan batu-batu itu, tentang dirimu mau atau tidak ikut aku, itu sih soal kecil, karena kau hanya patuh atas perintah guru, bila guru suruh kau ikut padaku, maka kau harus pergi bersamaku,"

Tak-kuasa "Kiam-ping menahan rasa geli sendiri, katanya tertawa.

"coba beritahu kepadaku, siapa namamu"?"

Merah muka gadis itu, katanya.

"Untuk apa kau tanya namaku ?"

Setelah berhenti dan bimbang sejenak lalu berkata pula.

"Aku bernama Le Bun "

Kiam-ping memejam mata, desisnya.

"Le Bun? Emm, nama yang indah,"

Lalu dengan tersenyum puas berkata pula.

"Nanti bila aku menerjang masuk akan kukatakan kepada Tokko cu, supaya dia membebaskan Le Bun jikalau dia menantang, akan kuperseni dia sejurus Jit-lun-jutseng. Aku yakin pasti dapat mengalahkan dia, maka dia akan mengabulkan permintaanku membawa Le Bun pergi, selanjutnya kau akan menanggalkan jubah hitam dan cadar penutup mukamu, ikut aku keluar, waktu itu kita berdua akan .."

"Bagaimana kalau Suhu tidak mengabulkan ?"

Tanya Le Bun. Kata Kiam-ping serius.

"Jikalau Tokko cu samaranmu tidak mengabulkan, maka aku pun tidak akan pergi dari sini, jabatan ciangbun segala juga akan kubuang, akan kutemani kau selama hidup dilembah ini."

"Sudah tentu perasaan Le Bun seperti dipukul palu, perkataannya yang tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam, seperti mengebor kerelung hatinya sehingga dia berdiri menjublek.

Lama matanya menatap lengang.

sesaat lagi mendadak dia menjerit tangis menubruk ke dalam pelukannya, katanya sesenggukan.

"Kenapa kau begini baik? Kenapa ?"

Kedua tangan Kiam-ping memeluknya kencang, lembut dia mencium rambutnya, kau tanya setengah menggumam.

"Bila jiwa kehidupan nan kosong memutih itu terisi rona jiwa nan semarak, kupikir aku pasti akan memegangnya kencang, karena aku berpendapat tanpa kau, hidupku ini akan hampa, tiada arti..."

Le Bun masih terisak-isak.

menggelendot didalam pelukannya.

Hembusan dingin dalam lembah sudah tidak terasa lagi oleh mereka, jantung mereka berdebar, badan hangat hati semanis madu.

Agak lama kemudian baru Le Bun angkat kepala dan berkata perlahan.

"Jikalau Tokko cu tetap menolak, cukup asal kau membuka cadarnya, menutuk Hiat-to pelemasnya lalu menggondolnya pergi, beres "

Liok Kiam-ping bertanya.

"Jikalau kau ini Tokko cu, kau mengabulkan permintaanku tidak ?"

Le Bun mengangguk. sahutnya.

"Pasti kukabulkan,"

Segera dia meronta lepas dari pelukan serta membetulkan letak rambutnya.

"Biar aku mengambil pedang kemari."

Mengawasi bayangannya yang menghilang, Kiam-ping mengulum senyum lebar dan lega.

Entah kapan kembang salju telah berhamburan di angkasa, cepat sekali melayang turun dan berjatuhan diatas kepala dan badannya...

--ooo0dw0ooo-Kota Un-ciu di propinsi ciat-kang.

Selama beberapa hari ini kota besar ini turun hujan saiju terus menerus, sehingga banyak pedagang, pelancongan atau semua orang yang bepergian menahan diri dipenginapan, maka setiap hotel yang buka dikota ini terisi penuh.

Tengah hari itu hujan salju turun pula dengan lebat, kalau semua orang sama mendekam dalam selimut atau sembunyi dalam rumah.

Tapi, ada empat ekor kuda gagah menarik sebuah kereta berlarl kencang dijalan raya yang penuh salju itu.

Dua jalur bekas roda membekas nyata diatas saiju, menyusul dua ekor kuda berlarl cepat pula lewat.

Penunggang kuda adalah dua lelaki tua beruban, jenggot panjang yang sudah memutih meng gontai tertiup angin, keduanya sama mengenakan jubah panjang di bungkus mantel beludru tebal, sepatunya juga berpunggung tinggi hampir menyentuh lutut, dandanan kedua kakek ini mirip satu dengan yang lain-Yang berbeda hanyalah gelang yang mengikat rambut mereka, yang satu kuning emas, yang lain putih perak.

Mengelus jenggot panjang Gin-ji-tay-beng bergelak tawa, katanya.

"Ha ha ha menyenangkan, menyenangkan sekali,"

Lalu dia berpaling kepada Kim-ji-tay-beng, katanya.

"Lotoa, apa masih ingat waktu tahun lalu hujan salju menutup gunung, kita hanya bisa mengunci diri diperut gunung, sibuk bermain catur melulu, hari itu syukur dapat menjumpai ciangbunjin, penasaran selama puluhan tahun sudah tiba saatnya untuk dilampiaskan, betapa hati ini takkan senang ?"

Kim-ji-tay-beng berkata.

"ciangbunjin kita ternyata tidak kecil rejekinya, entah darimana dia mendapatkan bini secantik itu, hahaha, hari-hari buruk cuaca seperti ini, terasa jauh lebih menyegarkan dibanding tahun-tahun yang lalu,"

Melihat tembok kota sudah tak jauh didepan, dia lantas menyambung.

"Loji, lekaslah kita jalan, kita carikan dulu penginapan untuk ciangbun, sekaligus mencari jejak Biau-jinsip-coan bocah keparat itu apakah sudah tiba lebih dulu."

Kuda mereka segera dikeprak bagai terbang, lekas sekali mereka sudah melampaui kereta terus masuk kekota Un-ciu.

Sementara itu di dalam kereta Liok Kiam-ping masih belum selesai menceritakan pengalaman hidupnya selama ini.

Katanya."..

maka sekarang aku harus pergi ke Kui-hun-ceng, Hun-bin-kiam-khek Ti-thian-bin harus kubunuh, dulu aku pernah bersumpah..."

Le Bun menyeka air mata diujung matanya, katanya setelah menghela napas.

"Dalam dunia ini memang banyak persoalan tidak adil, dulu Suhu selalu menceritakan permusuhan kaum persilatan dan kehidupan Kangouw yang berbahaya, aku yakin katanya pasti benar, yang benar setiap manusia pasti punya rasa egois, karena mencemburui Siau Hong yang bersikap baik terhadapmu, sudah tentu..."

Tersenyum manis lalu bertanya.

"Sekarang kau masih menyukai Siau Hong tidak ?"

Liok Kiam-ping, geleng kepala. Katanya.

"Waktu itu aku masih kecil, hakikatnya masih hijau tidak tahu apa-apa, kejadian sudah beberapa tahun berselang, siapa tahu bagaimana keadaannya sekarang, bila kupikir kejadian masa lalu, seperti kembang yang sudah layu dan luntur warnanya, tak bisa kuperoleh lagi baunya yang harum..."

Le Bun cekikik tawa, katanya.

"Jikalau Siau Hong sekarang merupakan gadis jelita secantik kembang dan wangi lagi ? Apakah setelah bertemu dengan dia kau tidak akan menyenanginya ? Sukar aku percaya hubungan laki perempuan sejak kecil bisa dilupakan begitu saja ?"

Liok Kiam-ping menghela napas, katanya.

"Lebih baik tidak kukatakan, apapun yang kukatakan kau pasti takkan percaya, coba kau pikir, bocah berumur sepuluh tahun tahu apa? Apa lagi sekarang aku sudah memiliki kau, masa aku harus pikirkan lagi Siau Hong ?"

"Cis, siapa bilang aku ini milikmu."

"suhumu Tokko cu sudah mengabulkan lamaranku, menyuruh kau ikut aku selamanya."

Terdengar sais kereta memberl aba-aba serta melecut cambuknya, pembicaraan merekapun putus sampai di sini, lekas Kiam-ping menyingkap kerai melongok keluar, katanya.

"Kota Un ciu sudah sampai, hujan salju sungguh lebat, sampai sekarang belum juga reda"

Le Bun juga memandang keluar, katanya.

"Dulu setiap turun salju, bila angin dingin menghembus, hatikupun ikut menjadi dingin, malah bila musim dingin tiba, hatikupun membeku dan tak bisa cair, tapi sekarang bila aku melihat salju, ternyata terasa begitu indah dan menyenangkan-"

"Perasaan seseorang memang dapat mempengaruhi pandangan seseorang terhadap sesuatu yang dilihatnya, sekarang pasti kau tidak menganggap hatimu beku begitu ?"

Kereta sudah berhenti. Kim-ji-tay-beng mengetuk pintu kereta dan berkata.

"ciangbun sudah sampai ketempat tujuan-"

Liok Kiam-ping membuka pintu, angin dingin membawa kembang salju lantas meniup masuk segera dia melangkah turun, katanya.

"Apakah dihotel ini ? coh-huhoat apa kau sudah melihat mereka ?"

Kim-ji-tay-beng menjawab.

"Mereka sudah menetap di Kuihun-ceng, Biau-jiu-sip-coan bocah itu ternyata sudah menyediakan tempat bermalam, hujan salju beberapa hari ini memang teramat lebat, hotel sudah penuh dihuni orang, beberapa kamar ini sudah sejak beberapa harl yang lalu dicarter seluruhnya"

Liok Kiam-ping melangkah maju, dilihatnya hotel ini memang cukup besar. pekarangan didepan pintu saiju disapu bersih dua pelayan munduk-munduk menyambut kedatangannya, sapanya.

"Kongcu, kau sudah datang, biar hamba membawa barang bawaanmu."

"Kalian tidak perlu sibuk soal barang,"

Ujar Kiam-ping.

"lekas siapkan dulu hidangan dan seduh teh wangi. Kuda-kuda itu harus diberl makan kenyang dan dimandikan ya, nanti ada persen-"

Kedua pelayan mengiakan terus mundur, perasaan Liok Kiam-ping agak mendelu mengawasi punggung kedua pelayan, terbayang dalam benaknya waktu dulu dirinya juga kerja menjadi pelayan hotel dan tukang mandikan kuda, sebagai kacung yang sering di maki dan dihina, tapi sekarang ?

Akhirnya dia mengangguk.

batinnya.

"Kehidupan adalah perjuangan, nasib ditunjang oleh perjuangan, kesempatan akan selalu memberi peluang bagi siapapun untuk menjadi manusia...

"Dia berkata kepada Le Bun.

"Keluarlah kau. Kita makan siang dulu, setelah istirahat nanti melanjutkan perjalanan pula."

Memegang seruling pualamnya, Le Bun lompat turun serta tertawa kepada Liok Kiam ping, katanya tertawa manis.

"Seolah-olah aku ini perempuan lemah yang takut ditiup angin saja, apa tidak menggelikan Kim-gin-hu-hoat saja."

Gin--ji-tay-beng tertawa lebar, katanya.

"Ah, kenapa nona bilang begitu, Tokko cu cianpwe adalah orang yang kami kagumi, terbayang kejadian lima puluh tahun lalu, pernah kami memperoleh nasehat dan bimbingannya, berkat beliau pula aku diperkenalkan kepada Bing-tho Taysu di Thian-tiok hingga berhasil mempelajarl Gin sa-ciang, sekarang nona ngomong begini, apakah tidak menyiksa Lohu saja."

"Nona boleh langsung menyebut julukan kami saja,"

Demikian sela Kim-ji-tay-beng atau nama kami juga boleh. Jangan panggil cianpwe segala aku jadi rikuh rasanya."

"Kau boleh memanggil coh-yu-hu-hoat saja."

Ujar Liok Kiam-ping. Berempat mereka memasuki hotel, baru saja kaki melangkah masuk, terdengar suara gelak tawa ramai disebelah dalam, sebuah suara serak berisi berkata.

"Sejak lama sudah kudengar bahwa daerah ciat-kang ini terkenal dengan cewek-cewek jelita, beberapa hari ini sungguh sebal terkurung dalam hotel belum pernah ada cewek ayu yang dapat menghibur diriku. Hahaha, sungguh tak nyana, entah angin apa yang membuka mataku harl ini. Hai, nona jelita yang membawa seruling, kemarilah kau layani bapak besar minum arak dan nyanyilah barang tiga lagu."

Berobah air muka Liok Kiam-ping, Gin-ji-tay-beng sudah membentak.

"Keparat mana yang tidak punya mata di dalam? Hayo menggelinding keluar."

Maka terdengar suara kaok-kaok aneh di dalam sekeras guntur, mendadak "Blang"

Pintu besar diterjang jebol, sesosok bayangan merah tiba-tiba menggulung keluar, sebuah tangan gede berbulu mencengkram kearah muka Le Bun

Le Bun menghardik sekali, serulingnya terayun keatas, beruntun memantulkan beberapa bintik gemerdep.

sekali gerak serudingnya mengancam ciang-bun, Ki-kiat, Kibun, tiga Hiat-to besar ditubuh penyerang, Agaknya penyerang itu tidak menduga bila Le Bun pandai silat, melihat serangan secepat kilat yang mematikan ini, Sebat sekali dia memutar badan, lengan bajunya yang panjang lebar berkibar laksana segumpal mega menggulung seruling Le Bun.

Seruling pualam ditangan Le Bun tertekan turun, membawa bunyi mendesing gerakannya berobah menjadi jurus Senggwa-hwi-hoa (kembang terbang diluar kota), penyerang itu dipatahkan cengkramannya sekaligus didesak mundur balik kedalam.

Bayangan merah melompat keluar, seorang Lama besar mengawasi Le Bun dengan pandangan takjub, katanya.

"Nona manis. Kaupun pandai main silat. Hahahaha, kita Toa-hud-ya memang paling senang dilayani cewek-cewek sepintar kau .."

Liok Kiam-ping membesi muka, katanya dingin.

"Kau kepala gundul ini apakah datang dari Pakhia."

"Betul."

Sahut Lama itu, Aku ini Keting salah satu dari sepuluh Huhoat dibawah Toa-hud-ya, memang kami datang dari Pakkhia."

Dari dalam rumah berkelebat pula keluar sebuah bayangan merah, seorang Lama setengah umur keluar, dengan heran dia pandang Keting sekejap lalu alihkan pandangan nya kepada Le Bun, segera dia membuka tawa lebar kurang ajar, katanya.

"Hehehe. aku ini Keting Hud-ya, juga salah satu dari sepuluh Huhoat Toa-hud-ya. Nona manis apakah kau ikut membaca mantra hiburan bersama Hud-ya "

Gin-ji-tay-beng pernah hidup beberapa tahun di Thian-tiok belajar Kungfu dengan Bing-tho Taysu, maka dia tahu apa arti mantra hiburan yang dimaksud, karuan marahnya luar biasa, bentaknya.

"Kalian dua keparat ini pasti mampus hari ini."

Baru lenyap suaranya, dari dalam rumah kembali terdengar seorang membentak.

"Keparat tidak tahu aturan dari mana berani mengancam Hud-ya kita ? Kukira kaulah yang sudah bosan hidup."

Seorang lelaki muka kurus bentuknya seperti tikus berlenggang keluar dengan wajah menyeringai, katanya pula sambil tepuk dada sendiri.

"Tuan besar mu adalah Pekcan-wan Hou Ngo Tay-wi kelas satu dari istana raja, kalian beberapa keparat ini kecuali gadis jelita ini, siapapun pantas digorok lehernya."

Gin-ji-tay-beng melangkah setapak, katanya.

"Bedebah, kau tahu siapa kami ? Hehe, biar kau tidak penasaran sebelum mampus. Inilah ciangbunjin Hong-lui bun kita Pat-pi-kim-liong, inilah Glok-koan im dan ini Kim ji tay-beng."

Lalu menuding hidung sendiri memperkenalkan, dan aku adalah Gin-ji-taybeng Kongsun Giok."

Sebelum Pek-sanwan (lutung gunung nutih) bersuara, telapak tangannya sudah bergerak.

sinar perak berkelebat membawa desis tajam menabas keteng gorokan Hou Ngo.

Sebagai seorang Taywi kelas dua sudah tentu Hou Ngo tahu dikalangan Kangouw ada seorang yang yang bergelar Pat-pi-kim-liong sungguh tak pernah dimimpikan bahwa pemuda didepan matanya ini adalah ciangbunjin Hong-lui-bun.

Dikala dia tersirap kaget, kupingnya mendengar samberan angin tajam dtsusul sinar perak berkelebat, telapak tangan kemilau tahu-tahu sudah mengancam leher, karuan dia menjerit kaget.

"Gin-sa-ciang."

Angin pukulan yang menyesak napas tiba-tiba menindih muka, lekas dia menekuk lutut sekaligus sebelah kakinya menendang sementara tubuhnya menjengkang tangan memukul dengan jurus Sam-yang-kaythay.

Gin-ji tay-beng terkekeh dingin, katanya.

"Kiranya kau dari Tiang-pek-pay."

Tangan kanan merogoh, telapak tangan kiri diturunkan beberapa senti membelah kepundak Hou Ngo.

"Pletak"

Terdengar suara tulang patah dan remuk. Disusul dengan jeritan Hou Ngo yang mengerikan.

"Tolong Hud-ya."

Wajah Gin-ji tay-beng dilembari nafsu membunuh, jengeknya dingin.

"Rajamu datang juga takkan bisa menyelamatkan jiwamu"

Kaki mendesak maju telapak tangan membalik, dengan mudah dia tangkap kaki kanan lawan yang menendang, berbareng telapak tangan menutuk kedadanya pula.

"Pergilah."

Bentaknya. Kembali Hou Ngo menjerit keras. tubuhnya mencelat jungkir balik darah menyembur dari mulutnya menumbuk Keling. Karuan Keling mencak-mencak gusar, bentaknya.

"Pernah apa kau dengan Boktan Hwesio? Gin-ji tay-beng tertawa gelak-gelak. katanya.

"Dia suteku. kepala gundul kematianmu didepan mata, masih banyak tingkah "

Keling menyeringai ejek.

"Kukira belum tentu."

Dia mendesak lima kaki, kedua lengan saling tindih terus bergerak dengan jurus Thian-liong-siau-ho. Gin ji tay-beng membentak.

"Kiranya kau dari Thian-liongpay dari Tibet luar, pernah apa kau dengan Thian-liong Taysu ? mulut bicara tapi kedua tangan tetap bekerja tampak dia memiring tubuh tangan kiri bergerak setengah lingkar terus menepis miring mematahkan gerakan kedua tangan lawan. Keling berkata.

"Thian-liong Taysu adalah guruku, kau keparat ini tahu dari mana ?"

Gin ji tay-beng tertawa gelak-gelak, katanya.

"Apa kau kenal Se-gwa-tho-hiap (pendekar bungkuk luar perbatasan)? Dia pernah minta kepadaku supaya membunuh seorang kepala gundul yang didepan dadanya tumbuh uci-uci, apakah ditubuhmu ada uci-uci ?"

Mendengar nama Se-gwa-tho-hiap seketika berobah air muka Keling, segera mulutnya nyerocos kepada Keting dalam bahasa Tibet, begitu mutar badan lantas lari.

Gin-ji tay-beng berkata kepada Kim ji tay-beng.

"Kepala gundul ini adalah perampok bangsat yang memperkosa nyonya tua itu, tolong kau membelahnya "

Ditengah bentakannya. mendadak dia menerjang kedalam. Sebat sekali Kim-ji-tay-beng juga mengudak kearah Keting.

""Blang"

Daun jendela diterjang semplak, bagai anak panah tubuh Keling menerobos keluar hinggap diatas genteng begitu dia mengebas lengan bajunya ke belakang, terbitlah segumpal angin kencang menindih Gin-ji tay-beng yang sedang terapung hingga terdesak turun kebawah.

Sambil berkakakan kakinya menjejak.

tubuhnya mencelat kedepan pula secepat terbang, tak duga baru dua kali dia melompat deru kencang mengudak dari belakang, selarik bayangan orang seperti meteor saja melesat lewat disamping tubuhnya.

Begitu pandangan terasa kabur secara reflek kedua tangannya menggempur kedepan, sementara setangkas bajing loncat dia sudah melejit minggir terus lari kearah lain-Gerungan dingin seperti benda raksasa memukul genderang telinganya, disaat dia tersirap dan belum sempat timbul pikirannya.

"cret"

Didengarnya suara perlahan, sebuah bola bundar benderang laksana mentari yang baru keluar dari peraduannya menyilaukan mata hingga tak kuasa melihat apaapa.

Dimana selarik sinar pedang laksana lembayung berkelebat, hawa pedangpun memenuhi angkasa.

"cras"

Liatjit-kiam ditangan Liok Kiam-ping sudah menabas putar balik empat kali.

Jeritan keras putus ditengah jalan, darah dan daging orang tampak muncrat dan terpental berjatuhan, kaki tangan protol, di mana sinar kilat itu menyambar pula tubuh Keling sudah tertabas menjadi tiga potong, darah berceceran diatas genteng yang bersalju, jenazah Keling yang tidak utuh itu terbanting jatuh diatas tanah.

Gerakan Liok Kiam-ping sungguh secepat kilat, tanpa berhenti dengan gaya pedang yang sama dia melompat tinggi enam kaki.

seperti malaikat yang turun dari langit, dengan jurus Jit-lun-jut-seng begitu pedang menyamber batok kepala Keting seketika mencelat terbang keudara.

Dalam waktu yang sama "Bluk"

Dadanya juga terkena sekali pukulan Kim-sa-ciang yang dilancarkan Kim-ji-tay-beng.

Darah kembali menyembur berceceran, dari wuwuugan tubuh besar tanpa kepala itu menggelundung jatuh dipekarangan----ooo0dw0ooo---Magrib telah tiba.

Bulan sebelas didaerah Kanglam sudah mulai dingin juga.

Hari itu hujan salju cukup lebat sehingga alam semesta seperti dibungkus warna putih melulu.

Liok Kiam-ping berempat naik kuda di tengah hujan lebat itu.

Dia tetap mengenakan pakaian serba putih, hawa sedingin ini namun dia hanya mengenakan pakaian tipis dan leher dibalut syal berbulu, dengan tertawa dia berkata kepada Le Bun.

"Le Bun, ternyata kau juga pandai menunggang kuda."

Gadis jelita berpakaian hitam menunggang kuda bulu merah tertawa, katanya..

"Memangnya kau saja yang mahir naik kuda?"

Gin-ji-tay-beng yang mencongklang kuda disebelah belakang segera menimbrung dengan tertawa.

"Le-kohnio adalah murid kesayangan Tokko cu cianpwe, sudah tentu serba bisa"

Sudah sepuluh tahun Le Bun biasa berpakaian hitamdalam waktu dekat susah dia merobah kebiasaan ini, tapi lantaran Liok Kiam-ping, di bagian luar jubahnya dia mengenakan mantel berbulu.

Rambut panjangnya yang mayang terurai lembut di atas pundaknya, wajahnya yang dulu kaku dingin kini selalu mengulum senyum bahagia, sorot matanya juga tampak lincah jenaka, pipinya yang merah menampilkan jiwa raganya yang lagi mekar bak kembang segar.

Sambil menjalankan kuda sering dia menoleh mengawasi Liok Kiam-ping, pandangan mesra.

Sementara Liok Kiam-ping memandang jauh kedepan, sebuah pohon cemara besar tinggi sudah kelihatan dikejauhan seperti kakek tua yang bungkuk, karena terlalu berat dibebani hidup sengsara hingga punggungnya semakin bengkok.

Melihat pohon cemara bengkok yang diselimuti salju, terbayang dalam benak Kiam-ping waktu dirinya bermain petak dibawah pohon itu dengan Siau Hong dulu, tapi setelah Ti Thian-bin berkuasa di Kui-hun-ceng, sering dia di ancam dan dihajar karena tidak boleh bermain dan bergaul dengan nona cilik itu.

Kejadian masih segera dalam ingatannya, hari itu cuaca cerah ceria, membawa buku dia belajar membaca dipinggir sungai, belakangan Siau Hong juga datang mengajaknya bermain, sayang cuaca mendadak berubah buruk.

hujan turun cukup lebat, mereka berlari-lari mencari tempat teduh dibawah cemara itu.

Pada hari itulah Ti Thian-bin menutuk Hiat-to-nya hingga dia bergulingan ditanah becek mengerang kesakitan, siksa derlta karena otot serasa dibetot dan daging diiris ..

Dengan kertak gigi dia membatin.

"Akan kucincang dia dan kupotong-potong hingga ajalnya."

Lekas sekali mereka sudah berada dibawah cemara besar itu, sungai kecil tak jauh dibawah pohon sudah mengeras, batu besar dipinggir sungai juga ditutupi salju yang telah mengeras.

Kiam-ping lompat turun dari atas kuda menghampiri batu, dengan tangannya dia mengusap salju diatas batu, ternyata tangannya tidak merasa dingin sedikitpun, rasa hangat malah meresap ke sanubarinya.

Kiam-ping melamun meresapi kehidupan yang tidak abadi ini.

Sebuah tangan lembut mendadak terulur dari belakang menindih punggung tangannya, waktu dia menoleh, tampak Le Bun tengah mengawasinya dengan mesra.

Senyum manis nan cerah menambah lega hatinya, katanya dengan tertawa.

"Dulu sering aku bermalas-malasan diatas batu ini menyaksikan gumpalan mega diangkasa, banyak persoalan aneh-aneh kupikirkan, tapi tak pernah terpikir olehku, hari ini aku akan kembali kemari bersama kau."

Dengan kencang dia genggam tangannya, pandangannya lekat menyapu lembut wajah nan jelita.

Dari bola mata beningnya, Le Bun merasakan sentuhan jiwa yang murni, dengan puas dia menghela napas memandang bunga.

Salju yang beterbangan diangkasa, katanya perlahan.

"Seumpama kembang salju yang melayang diangkasa, begitulah nasib kehidupan manusia, akan jatuh ketempat yang berbeda lingkungan dan keadaannya, bila dua kembang salju bersentuhan diangkasa, sungguh menakjupkan kejadiannya. Demikian pula manusia yang sebelumnya tidak tahu akan nasib sendiri, bilamana suatu ketika dia bertemu dengan lawan jenis yang dicintainya, maka dia akan menyadari bahwa kehidupan masa lalu jauh hanya merupakan lembaran putih yang kosong..."

Liok Kiam-ping mengangguk tanpa bersuara, terasa jiwanya dilembari semangat juang perkasa, pelan-pelan dia berdiri, katanya sambil menuding.

"Dibelakang lereng gunung itulah letak Kui-hun-ceng, hari ini aku pasti meratakan perkampungan itu."

Lalu dia menoleh, serunya.

"coh-hucat, apakah Ang-kin-cap-pwe-ki seluruhnya sudah masuk perkampungan ?"

"Beberara harl Kui-hun-ceng ada menyebar undangan mengumpulkan tokoh-tokoh kosen daerah Kang lam dari golongan hitam maupun aliran putih, seperti sedang merayakan suatu perjamuan-Biau-jiu-sip-coan sudah berhasil menyelundup kedalam perkampungan, dalam waktu dekat mungkin sudah berhasil mendapat laporannya."

Demikian sahut Kim-ji-tay-beng. Liok Kiam-ping menyeringai, katanya.

"Beberapa tahun ini tampang Ti Thian-bin tidak pernah lepas dari ingatanku, biar dia mengundang bantuan kaum Bulim sejagat, juga pasti akan kubunuh dia. Hal ini tidak perlu dipertimbangkan lagi,"

Segera dia naik kepunggung kudanya lagi, katanya "Hayo masuk perkampungan-"

Berempat kuda mereka melewati sungai yang sudah membeku permukaannya langsung memanjat kelereng gunung terus dicongklangkan kebawah sana dimana Kui-hunceng berada.

Tembok tinggi warna kuning mengelilingi perkampungan itu, jembatan gantung diturunkan semua, sinar lampu yang benderang, berwarna warni lagi, sehingga kelihatan seperti bintang yang bertaburan.

Wajah Liok Kiam-ping tetap dingin, dia mendahului keprak kudanya tiba didepan jembatan gantung dan tanpa sangsi terus larikan kudanya masuk kedalam.

Dua orang cengting berjaga didepan pintu bersenjata tombak masih ada lagi seorang lelaki setengah baya seperti congkoan dari perkampungan ini juga berdiri didepan pintu sambil pasang mata.

Begitu Liok Kiam-ping keprak kudanya mendekat, lelaki setengah baya ini lantas menyapa dengan tertawa.

"Siauhiap ini adalah..."

Liok Kiam-ping diam saja, tapi Gin-ji tay beng sudah berseru dibelakang,.

"dari Hay-lam."

Seketika laki-laki itu mengunjuk heran, katanya bersoja "cayhe Siu-san-long cin Hiong sebagai congkoan bagian barat perkampungan ini, ternyata kalian utusan Gohu-cu cianpwe, mohon maaf tidak menyambut dari jauh, harap dimaklumi, biar cayhe segera memberl laporan kepada cengcu .."

Kim-ji-tay-beng membentak.

"Cin-toacongkoan, tidak usah merepotkan kau. Kami datang bersama ceng-san-biau-khek. ditengah jalan dia kebentur urusan, mungkin terlambat kemari atau mungkin juga sudah berada di sini ?"

Sia-san-long melenggong, katanya.

"cengsan-biau-khek ? Diapun akan kemarl ? Hoho, agaknya cengcu kami..."

"Cerewet apa lagi ?"

Bentak Gin-ji-tay-beng.

"Bocah, perut kami sudah keroncongan, lekas carikan makanan dan minuman, memangnya kami harus mengisi perut dengan angin?"

Cin Hiong tepuk kepala, katanya.

"Betul, silahkan kalian masuk."

Liok Kiam-ping masuk keperkampungan, Cin Hiong menunjukkan jalan akhirnya mereka tiba disebuah bangunan gedung besar dan tinggi, waktu dia mendongak tampak sebuah pigura besar yang tergantung diatas pintu bertulisan Ki-ing-lau tiga huruf besar.

"Silahkan kalian istirahat di dalam, makan malam segera akan diantar kekamar, cayhe masih harus bertugas dipintu besar menyambut para tamu yang lain,"

Disaat dia beranjak keluar dengan langkah buru-buru itulah seseorang juga tergopoh menerobos masuk, hingga keduanya saling tumbukan-Cin Hiong miringkan badan sambil ulur tangan kiri menahan dada, sekali Cengkram dia pegang tangan kanan lawan-Tak nyana baru saja tangannya menyentuh pergelangan lawan, mendadak terdengar suara mengeluh, dimana lawan membalik telapak tangan kelima jarinya malah mencengkram tangan sendiri terus digentak pula.

Baru saja dia hendak gunakan tenaga, mendadak dirasakan dadanya kesemutan, ada sesuatu benda yang menyelinap masuk kedalam baju dan terasa sakit sekali seperti digigit.

Kejap lain pegangan tangan lawan juga telah dilepas dan mundur, setelah melihat jelas lawannya, dia menjerlt kaget, badannya roboh terus binasa.

Seekor ular kecil warna merah menyelinap keluar dari balik bajunya, setelah ulur lidahnya beberapa kali terus merayap masuk kedalam kotak hitam yang dipegang orang itu.

Tampak oleh Kiam-ping sekujur badan Siu-san-long Cin Hiong dalam sekejap itu telah berobah hitam, jelas jiwanya melayang karena keracunan, maka tanyanya dengan mengerut kening.

"darimana kau peroleh binatang berbisa itu? Kenapa pula kau bunuh orang ini?"

Gin ji-tay-beng juga tertawa gelak-gelak. katanya.

"Biaujiu-sip-coan, kau bocah ini seperti punya banyak tangan saja, kurasa tanganmu perlu dipotong, kalau tidak dari mana kau curi ular-merah beracun ini " ---ooo0dw0ooo---Orang yang menerobos masuk itu kiranya Biau-jiu-sip-coan, kotak hitam dia tutup dan disimpan baru memberi hormat kepada Liok Kiam-ping, katanya.

"ciangbunjin, kau sudah tiba, hamba sudah mencari tahu, beberapa hari ini Ti Thian-bin akan melangsungkan pernikahannya dengan nona yang kau katakan bernama Siau Hong itu. Malah gurunya Tok-sin-kiongbing juga mengutus Hwi-hong-cu dari Ko-lok-kok untuk menghadiri pesta pernikahannya..."

"Apa ?Jadi dia murid Tok-sin ? Sejak kapan dia menjadi murid Tok sin ?' Biau-jiu-sip-coan berkata."

Beberapa tahun yang lalu dia bertemu dengan Hwi-hong-cu, dialah yang menariknya menjadi murid Tok-sin, malah diapun murid angkat Khongtong-koay-kiam..."

"Perduli dia murid siapa, aku tetap akan membunuhnya."

Desis Liok Kiam-ping.

"Sekarang jelaskan di mana sekarang Siau Hong berada ?"

"Dia memang pernah bertemu denganku tapi aku tidak berani memberitahu bahwa ciangbun sudah tiba di sini."

"Kenapa ?"

"Soalnya .."

Biau-jiu-sip-coan ragu-ragu, matanya melirik kepada Le Bun. Le Bun tertawa, katanya.

"Apakah nona Siau Hong masih merindukan dia ?"

Ucap Le Bun tersenyum ramah.

"dan minta kau membawanya menemui ciangbunjin ?' 'Ya... ya benar, dia memang bilang begitu."

Kikuk sikap Biau-jiu-sip-coan.

"Sejak kecil kuanggap dia sebagai adik, memberitahu kepadanya bahwa aku sudah berada di sini, malam ini pasti kutolong dia."

Demikian kata Liok Kiam-ping. Biau-jiu-sip-coan mengangguk, katanya.

"Mereka sudah menyelundup ke perkampungan, bila ciangbun melepas bom udara mereka segera akan bergerak."

"Baiklah."

Kiam-ping mengulap tangan, 'bersihkan jenazah ini.' Biau-jiu-sip-coan segera jinjing jenazah cin Hiong dibawa kebelakang rumah, hanya sekejap bayangannya telah lenyap. Liok Kiam-ping berkata.

"Jiwi Huhoat, bagaimana pendapat kaliap ?"

"Semua terserah kepada kebijaksanaan ciangbun.' sahut Kim-ji-tay-beng.

"Baik aku akan ke ruang besar, kalian boleh tunggu di sini saja."

Waktu Kiam-ping menyingkap jubah putihnya, tampak dikanan kiri ketiaknya masing-masing bergantung sebatang pedang, dari tangan Kim-ji-tay-beng dia menerima sebuah gulungan kain panjang katanya.

"Pedang cui-le besar ini mungkin hanya satu-satunya didunia ini, Lwekang yang kumiliki sekarangpun belum cukup kuat untuk mengembangkan tiga jurus sakti yang tertera digagang pedang."

"cui-le-ki-kiam dahulu oleh ciangbun generasi kedua Kikiam-wi-liong untuk membunuh Thian-gwat-sin-liong. Hanya sejurus gaya pedangnya masih terasa mengekang hawa udara sehingga sebuah batu karang yang menonjol diatas ngarai ikut terbelah hancur. Pada waktu itu diatas Tiang-jin-hong, dipuncak Thay-san masih juga dihadiri Siau-lim, Kun-lun dan Gobi yang mengutus jago pedang mereka, tapi mereka tiada yang mampu menandingi kehebatan cui-le-ki kiam yang digjaya, karena itu kami harap ciangbun dapat memanfaatkan kesaktiannya, hingga membawa nama besar Hong-lui-bun menggetar Kangouw."

Liok Kiam-ping membungkuk sambi bersoja, katanya.

"Kiam-ping terima nasehat.' "

Kim-ji-tay-beng tersipu-sipu, katanya.

"Jangan begitu ciangbun, mana berani aku terima."

"Aku akan berusaha sekuat tenaga meyakinkan ilmu pedang itu sampai berhasil, demi mengembangkan kebesaran dan kejayaan perguruan kita."

Le Bun berkata penuh perasaan.

"Beberapa malam ini kau tekun dan rajin mempelajari ilmu pedang, aku yakin kau pasti dapat terkenal sebagai Kiam-hiap nomor satu diseluruh jagat seperti Ki-kiam-wi-liong cianpwe dulu."

Liok Kiam-ping tertawa, katanya.

"Betapa banyak tokoh kosen orang aneh dalam Bulim yang berkepandaian tinggi, mana berani aku mengagulkan diri sebagai Kiamhiap nomor satu"

"Pertama kali kau masuk ke Te-sat-kok Lwekangmu belum tandinganku, tapi beberapa hari kemudian, kau sudah memperoleh kemajuan berlipat ganda, sekarang justru telah Hoan-bu-kui-cin, taraf tertinggi bagi pesilat yang meyakinkan Lwekang murni, kemajuan yang kau capai, dalam setahun ini jelas tidak ada orang yang dapat menandingimu.' Mendengar dorongan Le Bun, Liok Kiamping berpikir.

"Aku harus mengejar cita-cita yang diinginkan, aku bersumpah takkan mengecewakan harapannya."

Maka dengan tertawa dia berkata.

"Marilah sekarang kita tengok Ti Thian-bin diruang perjamuan-"

Pedang dia pindah ketangan kiri serta mengempitnya dibawah ketiak.

bersama Le Bun mereka berjalan keluar.

Kui-hun-ceng boleh dikata tiada perobahan besar, cuma tidak sedikit perubahan telah dibangun, maka perkampungan ini dihiasi lamplon yang beraneka ragam warnanya, cahaya reflek yang memantul dari salju putih menambah semarak dan pesona suasana yang ramai dalam perkampungan yang riang gembira.

Dengan langkah tegap mereka terus maju perlahan, sepanjang jalan tidak sedikit rnereka berpapasan dengan lelaki yang berseragam ketat, namun tiada seorangpun yang berani maju mengusik mereka, hanya beberapa kejap melirik sudah lekas melengos karena jeri melihat perbawa Liok Kiam-ping.

Le Bun mengulum senyum, katanya.

'Dulu apa kerjamu dalam perkampungan ini.' "Setiap musim dingin kami berdiam dalam rumah memanaskan badan dipinggir api unggun atau bermain-main ditumpukan salju hanya untuk memenuhi selera belaka, sejak kecil pernah aku berkeinginan tidur di dalam timbunan salju, pada hal salju mirip sekali dengan gumpalan mega di angkasa."

"Kurasa binatang kecil ini tidak sabar lagi didalam kantong, bergerak saja tidak sabar, apakah perlu dilepaskan ?"

"Ngo-tok-koay-mo mengatakan kucing ini pandai melacak sesuatu yang kita kehendaki, kurasa hidungnya memang begitu panjang pasti mahir untuk mencari pusaka simpanan lebih baik kau pelihara saja"

Le Bun buka ikatan kantong serta mengeluarkan kucing pelacak dipeluknya serta di elus-elus dengan kasih sayang, katanya tertawa.

"Aku sih tidak ingin mencari pusaka segala, aku hanya suka dan sayang kepadanya,"

Sembari bicara lekas sekali mereka sudah tiba diruang besar.

Gelak tawa ramai berkumandang didalam ruangan.

di sana sini terdengar suara ribut kasak kusuk dan pembicaraan yang mengasyikkan.

Beriring jalan Le Bun dan Liok Kiam-ping melangkah masuk-tampak mepet dinding di depan tengah sana terpasang meja panjang, diatas meja panjang ini tertumpuk barang sumbangan atau kado yang tidak terhitung banyaknya, perabot pajangan tampak antik dan mewah, setiap tiga langkah diatas dingin terpasang lentera yang memancarkan cahayanya hingga aula besar itu terang benderang seperti siang hari.

Dalam aula penuh sesak mereka duduk berkelompok yang terbagi beberapa meja besar.

sambil makan minum mereka bicara dan berkelakar.

Sekali pandang Liok Kiam-ping lantas menemukan Ki-ling sin Siang Wi juga duduk diantara kelompok tamu ditengah ruangan sana, memangnya parawakannya tinggi besar maka kelihatan saperti bangau berdiri diantara rombongan ayam, orang seorang menyengir tawa kebodoh-bodohan.

Kiam-ping berkata.

"Kau lihat, itulah Ki-ling-sin bocah gede yang linglung itu."

"Aduh. begitu mengejutkan gede badannya,"

Ujar Le Bun melelet lidah.

"Belum pernah aku melihat manusia segede itu, memang mirip raksasa penjaga kelenteng."

Suara Le Bun lembut dan merdu, namun bergema dalam aula besar seperti suara guntur, sehingga menarik perhatian hadirin, pandangan mereka tertuju kearah sepasang muda mudi ganteng dan jelita ini.

Mereka yang kemaruk paras ayu memandang Le Bun terpesona, yang berjiwa ksatria sama menatap tajam Liok Kiam-ping.

Begitu besar perhatian mereka terhadap muda mudi ini hingga suara keributan menjadi sirap.

Liok Kiam-ping menyapu pandang dari satu wajah kewajah lain, selepas matanya memandang, tetap tidak menemukan bayangan Hun-bin-kiam-khek Ti Thian-bin.

Walau dia tidak menemukan orang yang ingin dicari, tapi kehadirannya telah menarik perhatian Ki-ling-sin, kontan dia menjerit girang.

"Hai bocah cilik, kaupun datang"

Segera dia dorong orang-orang yang duduk dan berdiri disekelilingnya berteriak menyapa Liok Kiam-ping.

"Bocah gede,"

Kata Liok Kiam-ping, 'tidak pulang ke Lo-hu, kenapa kau berada di sini"

Siang Wi tertawa besar, katanya.

"Ditengah jalan aku bersua dengan murid Tok-sin Hwi-hung-cu, dia ajak aku mampir kemari, katanya di sini ada pesta banyak makanan enak,"

Belum habis dia bicara seorang tinggi kurus seperti gala berjubah biru menghampirinya serta menepuk pundaknya, meski kurus tinggi dibanding bocah gede juga masih kalah besar dan tinggi.

Siang Wi berpaling, katanya.

"O, kiranya kau Giheng.' lalu dia menuding Liok Kiam-ping dan berkata.

"inilah bocah cilik."

Lalu dia balas tuding orang kurus dan memperkenalkan kepada Liok Kiam-ping.

"Inilah Hwi-hong-cu Gi heng."

Seperti membanyol saja, hadirin tertawa geli, Hwihong-cu menjura, katanya.

"Siaute, Gi Kim-hiap, tolong tanya siapa nama besar saudara ?"

Setelah tahu orang ini murid Tok-sin, seketika Kiam-ping menarik muka, katanya tawar.

"Tidak berani, cayhe kaum kroco yang tidak punya nama, kalau kukatakan hanya mengotori kuping saja."

Berubah roman muka Gi Kim-hiap. matanya berputar dua kali, senyum sinis menghias wajah katanya.

"Kalau kau bukan kaum persilatan, kedatanganmu ini apakah karena diundang Ti-heng sebagai penonton keramaian?"

Dingin nada suara Kiam-ping.

"Ti Thian-bin mau kawinsepantasnya aku hadir ikut perjamuan ini tolong tanya di mana sekarang dia berada ?"

Hwi-hong-cu cukup cerdik dan cermat, diperhatikan sorot mata pemuda sekolahan ini redup, tak ubahnya seperti orang biasa karena, itu meski sikap Liok Kiam-ping kasar dan tidak bersahabat, sedikitpun dia tidak jeri dan ambil dihati.

Katanya kalem dengan tertawa.

"Agaknya saudara orang tahu sebagai pemilik perkampungan ini Ti-heng memperoleh dukungan dan dihormati oleh jago-jago silat golongan hitam maupun aliran putih diseluruh Kang-lam, tidak sepantasnya kau..."

Waktu pandangannya berputar, mendadak dia melihat kucing pelacak dalam pelukan Le Bun, seketika dia melongo.

Sebagai murid Tok-sin, setidaknya dia juga tahu berbagai jenis binatang aneh serta ciri-cirinya, demikian pula dengan bulu panjang subur dari kucing pelacak ini, seperti bulu tupai dengan ekornya yang rimbun pula, maka dia lantas teringat binatang aneh yang punya penciuman luar biasa dapat melacak pusaka yang tersimpan di dasar bumi, maka dia maju selangkah dan bertanya.

"Tolong tanya nona, apakan yang kau peluk itu Kucing pelacak ?"

Wajah Hwi-hong-cu tampak sadis, senyumannya cabul sorot matanya jalang, maka Le Bun tahu bahwa laki laki kurus seperti palu ini pasti bukan manusia baik, dengan dingin dia mengangguk dan menjawab.

"Betul, memang ini Kucing pelacak."

Gi Kim-hiap kegirangan katanya.

"Apa kah nona mau menjualnya kepadaku ? Aku mau membayar selaksa tahil emas..."

Hadirin banyak yang terkejut mendengar percakapan ini.

Pada saat itulah seorang pemuda berwajah agak kurus berpakaian rangkap tebal dengan corak pakaian yang mewah berjalan memasuki aula.

orang yang melihatnya segera berteriak.

"Nah itu cengcu datang."

Dibelakang Ti Thian-bin masuk pula seorang lelaki tegap bercambang bawuk menggendong pedang, dibelakangnya lagi adalah dua orang Hwesio.

Begitu berada dalam ruangan dia lantas menjura kekanan kiri, katanya.

"Pertama-tama Siaute haturkan banyak terima kasih akan kehadiran saudara-saudara sekalian, sekarang biar kuperkenalkan beberapa cianpwe kepada hadirin yang ku muliakan' Menuding laki-laki cambang bauk dia berseru lantang.

"Inilah murid Khong-tong pay bergelar Pi-san-khek The Hong, pendekar besar yang sudah lama terkenal dibarat daya, sekarang adalah Ji-suhengku.' lalu menuding Hwesio yang bertubuh gemuk. inilah Hoat-goan Taysu kepala Lo-han-tong Siaulim-si."

Maju dua langkah lalu memperkenalkan Hwesio yang bertubuh kurus lebih tua.

"inilah Ham-hun Lo-siansu dari Go-bi-pay."

Merandek sejenak mendadak dia melihat Siang Wi, sesaat dia melenggong tanyanya.

'Orang besar dari mana engkau ?' Hwi-hong-cu memapak maju, katanya dingin.

'Aku yang mengajaknya kemari, Ki-ling-sin Siang Wi-heng, murid kesayangan Lo-hu-sin-kun Locianpwe."

Ti Thian-bin menjura, katanya.

"Kiranya Siang-heng, maaf bila Siaute tidak menyambut semestinya."

Sekilas dia melihat ke hadiran Le Bun yang membopong kucing pelacak, sesaat dia melengak.

sorot matanya seperti tersedot oleh keayuan Le bun, cepat wajahnya sudah dihiasi senyum lebar, katanya sambil menjura.

"Nona selembut ini sudi berkunjung ke perkampunganku, sungguh menambah semarak perjamuan besar ini, tempat seramai ini rasanya tidak cocok bagi nona, bagaimana kalau silakan istirahat di bagian dalam..."

Le Bun mendengus, katanya tertawa "Kau kira siapa aku?' "Jejak nona menapak ribuan li, setiap insan persilatan siapa tidak kenal nona adalah putri kesayangan Lo-hu-sin-kun Giokbin-koan-im Po Yo-lan..."

Le Bun tetap tertawa dingin, alisnya mulai berdiri, dia sudah siap memberi hajaran kepada Ti Thian-bin tak nyana di sebelah sana Siang wi sudah membuka suaranya yang keras.

"Siapa bilang dia itu Siau sumoayku ? Dia malah lebih cantik dari Siau-sumoayku."

Le Bun berkata.

"Apa yang dikatakan orang gede memang betul, aku bukan Glok bin-koan-im, aku adalah Leng-bin-koanim."

Sama-sama berjuluk Koan-im, tapi yang satu berwajah putih kumala, yang lain bermuka dingin kaku.

"Leng-bin-koan-im ? Hahaha, julukan yang aneh menyenangkan-.. ' belum habis Ti Thian-bin bicara, sebatang seruling bergetar laksana ribuan batang menutup belasan Hiat-to besar Ti Thian-bin, serangan cepat lagi ganas. Ti Thian-bin lagi melengak, tiba-tiba pandangannya kabur angin dingin meringis muka, jalan darah didepan dada terancam tutukan seruling karuan kagetnya bukan main, lekas dia tarik napas mendekuk dada, berbareng kedua sikut menutup dada sementara kaki menggeser kedudukan-Tangan dan sikut Le Bun mengendap secepat kilat mendadak menyontek keatas, daya gerak seruling pualam itu secepat kilat pula mengetuk Ki-ti-hiat dilengan orang. Karena kesakitan lekas Ti Thian-bin merasa tubuhpun kesemutan, tampak jalur-jalur bayangan seruling telah menyodok lehernya pula, sambil mendehem sekali, menjengak tubuh sambil melayangkan kaki menendang lambung lawan-Berbareng dengan tendangan kakinya, dari belakangnya seorang menghardik keras, selarik sinar pedang sedang menusuk maju dari sela-sela ketiaknya menyongsong tutukan seruling Le Bun, ternyata gerakan pedang inipun tidak kalah lihay dan cepatnya. Menekuk badan mengenjot kaki Le Bun melompat mundur, namun tangan kiri membelah miring kebawah, seruling ditangan kanan mengembangkan jurus pertama dari cenghuncap-ji-siau yang bernama Hu-gua-kiauhun (berbaring melihat mega bergolak), di tengah lengking aneh seruling itu menggaris bundar terus mengiris ketangan lawan yang memegang senjata.

"Ting, ting, ting."

Beruntun ujung serulingnya berlompatan diatas tajam pedang lawan dan terakhir mengetuk tepat dibatas gagang dan batang pedang.

orang itu menggerung sekali, dimana larik pedangnya menggaris, secara aneh pedangnya menyerang dengan tipu keji menusuk leher Le Bun.

Bahwa jurus tunggal Le Bun berhasil dipatahkan dan terpental balik oleh tangkisan pedang lawan, tenaga besar yang menggetar dibatang pedang lawan membuat pergelangan tangannya kesemutan, tapi telapak tangan kirinya yang menabas turun, kebetulan pula menangkis tendangan kaki Ti Thian-bin.

Kini dilihatnya cahaya pedang berkelebat pula, dengan jelas dia saksikan pedang yang menusuk datang itu tajam pedang-nya berpencar menjadi dua jalur seperti garpu saja masing-masing menusuk ciang-tai, Yubun, King bun don Ki-bun empat Hiat-to besar.

Lekas Le Bun mengendap badan, serulingnya berobah menggunakan jurus Pek-hun-yu-yu, dengan lincah pedangnya menggaris pergi.

"Ting, ting, ting"

Kembali berdenting tiga kali, beruntun tiga serangan serulingnya tertangkis lawan, serulingnya kebetulan mengetuk diujung pedang garpu lawan-Tapi begitu pedang lawan dipelintir secara menakjubkan, serulingnya terkunci.

Beberapa jurus ini dilakukan dalam sekejap.

begitu Hunbin-kiam-khek Te Thian-bin terpental jatuh beberapa kaki, hadirin sama gempar, seseorang berteriak.

"Haya, Pi-san-khek The Hong turun gelanggang..."

Pi-san-khek (tamu pembelah gunung ) The Hong beruntun melancarkan dua jurus aneh ajaran perguruannya, tapi kedua jurus serangan lihay tertangkis oleh lawan, kini begitu dia merobah permainan berhasil menekan senjata lawan dan terkunci oleh pedangnya.

Lekas dia menurunkan sikut menyalurkan tenaga beberapa kali lebih keras, maksudnya hendak menyendal lepas senjata lawan-Tak nyana serangkum angin halus yang dikibarkan dari lengan baju putih mendadak menggulung dirinya dan kebetulan membelit pedangnya.

Setelah mendengar jengekan dingin.

"Enyahlah."

Batang pedangnya mengendap.

mendadak segulung tenaga dahsyat menerjang lewat lengan baju yang menggubat pedang terus merembes menerjang dirinya.

Pi-san-khek The Hong menggeram sekali, lengan tangannya seketika seperti dipalu godam, tubuhnya pun tergentak mundur beberapa kaki baru berdiri tegak pula.

Wajahnya berobah makin buruk.

tatapan matanya menampilkan rasa heran kearah pemuda jubah putih dihadapannya, sungguh dia tidak habis percaya bahwa yang turun tangan barusan adalah pemuda sekolahan ini.

Padahal lengannya masih linu dan lemas, pedangpun menjuntai kebawah tak kuasa digerakkan lagi, katanya.

"Tuan siapa ?"

Liok Kiam-ping tidak hiraukan pertanyaan orang, katanya berpaling.

"Le Bun, kau tidak apa apa?"

Le Bun menggeleng, katanya.

"Pi-san-khek ini adalah murid kedua Khong-tong-koay-kiam, tapi hanya memiliki sekedar tenaga besar dan permainan cakar kucing belaka, bahwasanya kau tidak perlu ikut turun ke arena."

Liok Kiam-ping membatin.

'ilmu serulingnya meski lihay, tapi kau sudah didahului oleh tipu paya lawan, jelas takkan mampu membebaskan diri dari serangan susulan pedang lawan, sekarang masih takabur, dasar nona keras kepala."

Kiam-ping hanya tertawa tanpa berbicara. Merah muka The Hong, serunya murka "Kau bocah ini datang dari mana ?"

Siang Wi mengerut alis. serunya.

"He. he, kenapa kau ribut ? Baiklah kuberitahu, pedang pusakanya amat galak dan buas, pedang mestika ditangan Beng Hing juga tertabas kutung olehnya, aku hanya melihat sinar pedang berkelebat, tahutahu sebelah kupingnya sudah protol"

"Apa?"

Pekik The Hong dengan mata membulat.

"orang gede, katamu suteku protol kupingnya oleh pedang dia ? Di mana ?"

Siang Wi gelak tawa bangga, katanya. 'Didalam Te-sat-kok digunung Bu-tong, hari itu kami..."

"Goblok."

Seru Hwi-hong-cu dengan bengis.

"katakan bagaimana dengan Ngo-tok-koay-mo Suhengku itu"

"Kau panggil apa padaku?"

Siang Wi beringas, matanya melotot.

"memangnya suaraku tidak sekeras bacotmu ?Jangan membakar amarahku, awas bila kukemplang pecah kepalamu."

Pekak kuping Hwi-hong-cu karena bentakan Siang Wi, teriaknya gusar.

"Gede goblok, memangnya kau ingin mampus ? Tidak kau jelaskan bagaimana keadaan Suhengku. awas kusikat kau dengan racun"

Sebuah suara dingin sadis tiba tiba berkata.

"Akulah yang membunuhnya, jikalau kau mau main racun, kaupun akan mengalami nasib yang sama."

Perhatian seluruh hadirin tertuju kepada orang yang berbicara ini, ternyata pemuda baju putih. Hoat-goan Taysu dari Siau-lim mengerut kening, katanya.

"Bocah ini terlalu takabur mana boleh kau bersikap kasar terhadap murid Tok-sin ?"

Ham-hun Siansu dari Go-bi juga menarik alis, katanya.

"Lolap kira anak ini pintar, tapi meski mengandal Kungfunya tinggi, betapa pun jangan mencari perkara dengan murid Toksin.' Hoat-goan Taysu berkata pula.

"Taysu, bukankah tadi kau melihat gerakannya seperti Liu-hun-hwi-siu yang sudah lama putus turunan, kelihatannya gerak permainannya memang lihay. entah murid tokoh aneh mana yang telah lama mengasingkan diri dipegunungan-' Sementara itu Hwi-hong-cu menjadi tertegun malah dan ciut nyalinya oleh pernyataan gamblang Liok Kiam-ping, sesaat dia menggigit bibir tidak tahu bagaimana baiknya. tapi tatapan mata hadirin seperti menyiksa hatinya, maklum pandangan itu lebih menyorotkan rasa hina dan memandang remeh dirinya. Untung lekas sekali sikapnya sudah tenang dari kembali wajar, memberanikan diri maju dua langkah, desisnya. 'Hm, bocah tak bernama juga berani bermulut besar, kurasa kau sudah bosan hidup,"

Liok Kiam-ping mengangguk. katanya.

"Mungkin aku memang sudah bosan hidup, tahukah kau kucing pelacak itu adalah milik Suhengmu yang diperoleh dari Tiang-pek-san ? Kenyataan sekarang berada ditanganku."

Karena kalah cepat bertindak Hun-bin kiam-khek terdesak dua jurus oleh Le Bun, hingga hiat-tonya terkebas linu, kini setelah dia salurkan tenaga dalamnya baru Hiat-to tertutuk itu terbuka dan berjalan lancar pula, katanya naik pitam.

"Bocah, berani kau datang ke Kui-hun-ceng mencari onar, jangan harap kau bisa pergi dari sini."

Akhir katanya mendadak dia menatap Liok Kiam-ping lekat-lekat sorot matanya menampilkan rasa heran, sesaat baru bibirnya bergerak.

"Kau... siapa kau?"

Liok Kiam-ping tahu setelah sekian tahun kesan-Ti Thianbin terhadap dirinya sudah pudar, maka sesaat dia belum ingat, dia tersenyum, katanya.

"Waktu aku dibesarkan di Kui hun-ceng, entah dimana kau menjadi gelandangan, sekarang aku kembali ketempatku, apa tidak boleh ?"

Ti Thian-bin melengak, sesaat melacak bayangan pemuda yang cakap.

ganteng ini, akhirnya terbayang olehnya akan bocah sebatangkara yang sering dihajar dan disiksanya dulu, sorot matanya yang melotot penuh dendam dulu betapapun tak mudah dilupakan begitul saja, tersirap darahnya, serunya.

"Kau ini Ping-ji.?"

Liok Kiam-ping terloroh-loroh bentaknya bengis.

"Betul aku memang Ping-ji yang dulu itu. Tapi sekarang adalah Pat-pikim-liong Liok kiam-ping... ' "Ho, Pat-pi-kim liong, Haya dari Hong-lui-bun.' berbagai kejutan terdengar dari berbagai penjuru hadirin, kecuali Ki-ling sin Siang Wi semua merasa kaget bahwa Pat-pi-kim-liong mendadak muncul di Kui-hun-ceng. Siang Wi bergerak tawa, katanya menggumam.

"Memang sudah kutahu bahwa bocah cilik-ini bernama apa naga emas yang punya delapan lengan, sengaja tidak kuberitahu pada kalian"

Seperti habis melakukan sesuatu yang menggembirakan, dia garuk-garuk kepala dengan tertawa bodoh.

Saking kejut berobah air muka Ti Thian-bin, tiba-tiba dia menjebir bibir, suitannya berkumandang sampai luar aula.

Maka terdengar suara tiupan trumpet dari berbagai penjuru, cepat sekali puluhan orang berseragam hitam memburu masuk kedalam aula, setiap tangan mereka membawa hiu-culian-hoan-hu (panah beranting sembilan) ciptaan cukat Bu-ho pada jaman Sam kek dulu.' Tengah hadirin menoleh kepintu besas, jendela disekeliling aula yang semula tertutup mendadak gedobrakan, kembali puluhan lelaki yang bersenjata sama muncul di jendela, Liok Kiam-ping tenang-tenang saja, katanya dengan tertawa besar-'Apa sih yang sedang kau lakukan ?

Memangnya kau siap mengganyang seluruh hadirin ?"

Semula keadaan cukup ramai dalam aula besar ini, tapi sejak kawanan seragam hitam muncul dengan senjata lengkap keadaan menjadi sepi, perkataan Liok Kiam-ping bagai guntur dipinggir telinga mereka, sorot mata mereka tertuju kearah Ti Thian-bin.

Ti Thian-bin berkata.

"Tak usah kau mengobarkan permusuhan mereka terhadapku. Hm, tak nyana setelah berpisah sekian tahuh kau telah memperoleh kemajuan sebagus ini, tapi, sayang sekali, sebentar lagi kau bakal mampus dibawah kakinya, kau tetap tidak akan bisa bertemu nona Hong."

Membesi dingin muka Liok Kiam-ping, katanya.

"Pernah kunyatakan suatu ketika aku pasti akan kembali kemari, sekarang akan kucabut nyawamu..."

Lalu dia tarik suara berseru lantang.

"Hadirin yang kami muliakan harap dengar, siapa yang merasa kurang senang dan ingin cari perkara dengan cayhe boleh tetap ditempatnya, bagi yang tidak ingin terlibat urusan ini kuharap lekas pergi saja."

Ti Thian-bin tertawa besar, katanya.

"Hadirin diharap tenang, kujamin keselamatan kalian, sebentar lagi Liok Kiam-ping ini akan manjadi landak. setelah itu sudilah kalian tetap mengikuti perjamuan kemenangan-"

Kenyataan tiada seorang hadirin yang mau pergi, Ti Thianbin membusung dada katanya.

"Liok Kiam-ping, masih ada pesan apa kau...?"

Kiam-ping menyapu pandang dari kiri kekanan, sorot matanya makin mencorong, hawa dingin diwajahnya juga makin tebal, karena dia dapati wajah setiap hadirin ternyata bersikap tak acuh dan ingin melihat keramaian belaka, dalam hati dia membatin.

"Orang-orang ini juga patut disikat."

Pada saat itulah Siang Wi sudah menghampiri dan menepuk pundaknya, katanya"

"Bocah cilik, mereka tiada yang membantu kau, biar aku yang membelamu, aku tidak takut dipanah.' Wajah beku Liok Kiam-ping menampilkan secercah senyuman bersahabat, batinnya.

"Bila orang-orang meninggalkan dirimu orang yang tetap berdiri disampingmu adalah temanmu yang sejati."

Mendadak tangan kanannya terayun keatas, maka terdengarlah suara ledakan keras dilangit-langit aula.

"Ha haha .."

Gelak tawa latah mendadak berkumandang diluar pintu, tampak bayangan berkelebat turun disusul jeritan beberapa orang para lelaki berseragam hitam berbadan tegap itu satu persatu terjungkir roboh dengan muntah darah, tidak sedikit pula yang dipukul terbang masuk kedalam aula.

Kini hadirin melihat dua orang tua muka merah dengan rambut dan jenggot putih tengah mengamuk di dalam rombongan orang-orang seragam hitam, tinju menjotos kaki menendang diselingi jerit dan pekik suara seperti kerasukan setan, dalam sekejap semua lelaki seragam hitam telah disikatnya habis.

Darah menyembur berceceran, setiap korban diberi tanda mata entah dipunggung, didada dan di mana badan mereka terpukul oleh cap tangan kuning emas atau putih perak.

"Kimgin-hu-hoat."

Ham-hun Taysu menjerit kaget.

"Hoooyaa,"

Seorang lelaki seragam hitam yang bersiaga dijendela tiba-tiba mencelat kedalam ruangan, begitu menyentuh lantai lantas tak bangun lagi.

sebilah belati menancap dipunggungnya.

Kejadian yang satu disatu disusul kejadian berikutnya, cepat sekali pemanah yang siaga dijendela itupun telah disikat habis.

Tanpa mengeluarkan suara dari luar jendela melompat masuk delapan belas laki-laki berpakaian biru dengan ikat kepala merah, sementara wajah mereka dibungkus kain hitam, gerak gerik mereka tampak enteng gesit dan tidak berisik melayang kedalam aula.

Kim-ji-tay-beng melangkah maju, serunya menjura.

"Mohon ciangbun memberi perintah.' "Kecuali bocah gede ini, seluruhnya sikat.' desis Liok Kiamping, suaranya tegas dan pendek.

"Sret"

Selarik sinar kemilau menggaris, Liat-jit-kiam yang terlolos menuding Ti Thian-bin 'Sudah saatnya kita membuat perhitungan lama, keluarkan senjatamu.' Tak terpikir oleh Hun-bin-kiam-khek bawah lawan bertindak secepat dan sehebat ini, pada hal para pemanah yang diharapkan itu merupakan tumpuan harapannya, namun belum sempat satupun yang membidikkan panahnya, semua sudah terbunuh mati, saking takut dan ngerinya dia kehilangan akal dan harga dirinya.

Tapi manusia culas semacam dirinya meski menghadapi saat-saat kritis, otaknya tetap berhasil memperoleh akal juga.

Dengan enteng kakinya menggeser kedudukan sementara pedangpun telah dicabutnya dengan nanar dia tatap Liok Kiam-ping, pelan-pelan badannya mendekati Pi-san-khek The Hong, maka terdengarlah suara ramai gemerincingnya senjata dikeluarkan, ternyata mengisyafi jiwa sendiri juga mungkin terancam, para hadirin juga keluarkan Senjata untuk membela diri.

Melihat situasi tegang dan keributan sudah didepan mata, lekas Hoan-goan Taysu dari Siau-lim tampil kemuka, setelah menjura kepada Liok Kiam-ping dia berkata.

"Apakah kedatangan Sicu kemari hanya untuk membunuh kaum Bu-lim ?"

Liok kiam-ping menjengek.

"Kenapa tidak sejak tadi Hwesio tua macammu ini buka suara ?"

Berbareng dengan habis ucapannya mendadak dia menggerung perlahan badanpun melesat kencang.

Selarik sinar pedang tampak menggaris lurus dengan suaranva yang melengking menusuk kedada Gi Kim-hiap.

Ternyata mumpung Liok Kiam-ping bicara dan tidak siaga diam-diam Hwi-hong-cu siap menggunakan racun perguruannya, tak nyana baru tangannya merogoh kantong, gerak geriknya sudah konangan Liok Kiam-ping, selarik cahaya yang benderang menyilaukan mata tahu-tahu sudah melanda tiba.

Ginkangnya termasuk yang paling unggul diantara sesama perguruan, melihat serangan ini cepat dan ganas, cerat dia melayang pergi, Badannya seringan daon yang melayang ditiup angin kencang.

namun sinar pedang itupun seperti garis-garis putih diatas daun itu, betapapun dia merobah gerakan, tetap takkan bisa meninggalkannya.

Keringat diatas kepalanya sudah berjatuhan, tenaga dalamnya juga sudah tak mampu di kendalikan lagi, pada saat kritis ini selarik sinar pedang melesat datang dari samping menahan serangan pedang lawan yang membadai.

"Trang"

Liat-jit-kiam Liok Kiam-ping kebetulan memotong dua sebatang pedang aneh bentuk ular yang menyelonong maju kaki melangkah tubuh mendesak jurus Liat-jit-yam-yam pun dilontarkan

Dalam pada itu tangan Gi Kim-hiap baru saja keluar dari kantong, jari-jarinya sudah menggenggam dua botol hitam, tapi di saat dia hendak menghamburkan air racun yang terisi dalam botol.

matanya sudah dibuat silau oleh bola besar bercahaya yang terbit didalam.

Begitu terang nyala bola bundar itu sehingga pandangannya menjadi pekat dan tak kuasa lagi melihat benda-benda didepan matanya, kecuali pancaran sinar benderang itu, jangan kata teman jejak lawanpun menghilang.

Rasa takut seketika menghantui pikirannya, sambil menjerit ngeri botol ditangannya dia lemparkan, bau amis seketika membuat sesak napas orang, sementara Hwi-hong-cu sudah melompat mundur.

Begitu sedang bergerak.

Liok Kiam-ping saksikan mimik Gi Kim-hiap yang panik ketakutan, tapi dia tidak duga lawan mampu memberi reaksi secepat itu, dua botol ditangannya telah dibuang.

Begini bau amis merangsang hidung, seketika kepalanya pening.

Dalam Te-sat-kok sekaligus dia terserang dua jenis racun jahat, untung dua tenaga raksasa yang terserap ketubuhnya telah berhasil mendesak kadar racun itu himpas dari badannya.

Tapi pengalaman pahit itu betapa pun telah terukir dalam benaknya, kini melihat lawan membuang cairan beracun pula, maka dia sudah siaga.

Padahal hanya sedikit hawa racun yang tercium ternyata kepala sudah pening, lekas dia tutup napas serta menyalurkan hawa murni, seketika jubah bajunya melembung seperti berisi penuh angin.

Sedikit menjejak kaki tubuhnya melambung dua tombak terus meluncur miring kedepan, pedangnya bergerak dengan jurus Sik-yang-say-loh (matahari sore doyong kebarat) orang dan pedang melesat bersama.

Sekuatnya Gi Kim hiap sudah melompat mundur dua tombak.

kini dia sudah dekat jendela.

diam-diam hatinya senang, dimana tangan kirinya membelah, segulung tenaga angin menerjang, sementara tangan kanan menaburkan segenggam duri-duri beracun.

badannya langsung mencelat keluar jendela.

Tak nyana tiba-tiba bayangan merah berkelebat, beberapa batang pisau terbang dengan kecepatan luar biasa menyerbu dirinya.

Badannya sedang terapung, sementara angin tajam juga mengejar dari belakang, hawa pedang yang dingin telah membuat badannya merinding.

kembali dia mengayun tangan kanan menyerang dengan Ngo-tok-kui-goan dari ilmu pukulan perguruannya, angin-badai yang timbul dari pukulan tangannya ini merontokkan serangan pisau terbang itu.

Hebat memang kepandaiannya, begitu kaki menyentuh bumi selicin belut dia sudah menyelinap sembari membalik kedua tangan, meminjam daya putar tubuhnya, dia kerahkan seluruh kekuatannya menggempur.

Tak nyana baru saja badannya berputar kemari cahaya merah sudah menghadang di depan mata.

celaka adalah sinar merah itu bagai sebatang pedang yang tajam menusuk kedalam matanya.

Begitu mata terasa sakit panas seperti dibakar, seketika dia merintih kesakitan-Pada saat itulah, Liok Kiam-ping menghardik keras, sinar pedang tampak berputar bolak balik, darah muncrat keempat penjuru.

tubuh yang sudah terbabat kutung-kutung itu mencelat jauh menjadi enam potong oleh tabasan Liat-jit-kiam Liok Kiam-ping segera memperingatkan.

"Jangan sentuh cairan hitam dilantai, itu air racun jahat."

Sementara itu Gin-ji tay-beng sedang melabrak Hoat-goan Taysu, keduanya berkelahi dengan mengadu kekuatan tinju, gerak gerik mereka cukup gesit, puluhanjurus sudah terjadi serang menyerang.

Kungfu Siau-lim-pay bermodal tenaga kekuatan Lwekang mereka cukup disegani di Bulim, tapi setelah sama adu kekuatan beberapa jurus dengan Gin-ji tay-beng, Hoat-goan Taysu harus mengakui kekuatan lawanya juga amat tangguh, disamping takjub diapun agak keder, maklum Gin-sa-ciang yang dilawannya ini ternyata masih sedikit unggul dibanding Tay-lik-kim kong-ciang siau-lim mereka.

Hoat-goan sudah kerahkan setaker tenaganya, tapi beruntun beberapa jurus dia selalu tergempur mundur, tangan terasa linu pegal lagi, maka dia mengembangkan ketangkasan gerak badannya, dia berharap dapat memperbaiki strategi perang ini dengan lunak menundukkan kekerasan, sekaligus menyimpan tenaga demi ketahanan selanjutnya.

Gin-sa-ciang yang diyakinkan Gin-ji tay beng merupakan ilmu tunggal dari negeri Se-ek.

bukan saja kekuatan pukulannya amat dahsyat, gerak gerik tubuh dan langkah kaki ternyata juga amat diperhatikan-Dahulu dengan Gin-sa-ciang dia pernah memberantas enam belas komplotan begal sindikat gelap dan kumpulan Pang atau Hwe disepanjang perbatasan utara dibilangan Ho-toh waktu itu dia sudah mengembangkan Ginkangnya yang khusus, gerakan tangan yang menakjubkan seperti bisa menangkap benda terbang, gerak serangannya menimbulkan angin badai sehingga mirip beberapa ekor burung raksasa sekaligus pentang sayap.

karena itulah dia mendapat julukan Gin-ji tay-beng (Elang raksasa sayap perak).

Kini mereka harus mengadu ketangkasan, menghadapi lawan setingkat, maka dengan bekal Lwekangnya yang tangguh dan Ginkangnya yang tinggi terus gempur menggempur dengan sengit, sergap menyergap tubruk dan menerkam, selincah kelinci seenteng burung walet, secara gencar mereka mengadu belasan kali pukulan.

Liok Kiam-ping menerawang keadaan, suasana sudah kacau, ternyata delapan belas pahlawan berani matinya gagah berani, seorang diri mereka berani terjun kedalam gerombolan jago-jago silat serta melabrak dengan sengit, mereka menggunakan gaman yang berbeda dengan permainan yang lihay pula, cepat sekali jeritan demi jeritan, darah muncrat dan berceceran, korban berjatuhan satu demi satu.

Kim ji-tay-beng melawan Ham-hun Siansu dari Go-bi, Kimsa-ciang yang dahsyat dikembangkan laksana seekor elang raksasa tubuhnya berlompatan diudara sambil memekikmekik, deru angin pukulannya sedahsyat gugur gunung, Hamhun Siansu dirabu serangan ketat.

Ham-hun Taysu tidak mau kalah angin, lengan bajunya beterbangan, gerak tubuhnya berputar sekencang gangsingan, pukulan telapak tangan yang dimainkan ternyata berbeda pula gaya maupun variasinya, selama puluhan jurus berhantam dengan Kim-ji-tay-beng, karena Lwekang kedua pihak terpaut cukupjauh, maka kedudukan atau posisinya makin terdesak dibawah angin-Ketiak kiri Liok Kiam-ping mengempit cui-le-kiam, sementara tangan kanan memegang Lian-jit-kiam, dengan sikap gagah bertolak pinggang pandangannya penuh gairah dan dendam masih membara semakin memuncak dalam benaknya, ujung mulutnya mengulum senyum sadis.

Tampak Pi-san-khek The Hong dilabrak Le Bun dengan seruling pualam putih, keadaannya sudah berada dibawah angin dan terus didesak mundur, sekuat tenaga dia tetap bertahan dengan permainan pukulan tangan, untuk bertahan atau membela diri memang masih cukup tangguh, namun jelas tidak mampu balas menyerang lagi.

Kini sorot matanya menatap ketubuh Ti Thian-bin musuh besarnya.

Mendadak berobah air mukanya, sambil menghardik dia terus menerjang.

Ternyata dengan bersenjata pedang Ti Thian-bin sedang melabrak Biau jiu-sip-coan, permainan pedangnya memang ganas dan keji setiap jurus serangannya bukan saja ditempat mematikan juga titik kelemahan lawan, hingga Biau-jiu-sip-coan dihujani serangan menggebu yang mengancam jiwanya.

Biau-jiu-sip-coan, dibekali Ginkang tinggi dengan permainan tangan yang cepat dan tangkas mengandal kegesitan gerak geriknya itu dia terus bertahan sambil berlompatan kian kemari, menggenjot juga mencakar, meraba dan merogoh.

mendadak menjerit kaget karena hampir termakan pedang lawan, tapi juga hanya bisa bergerak dalam lingkungan tertentu, tak mampu berinisiatip balas menyerang.

Tatkala itu Hun-bin-kiam-khek Ti Thian-bin sedang melancarkan jurus Giok-tay-wi-yau, tapi baru setengah jurus mendadak pedangnya dirobah dengan jurus Leng-coa-kiamhoat (ilmu pedang ular sakti) yaitu tipu pedang Kim-coa-loanbu (ular emas menari gila-gilaan), sinar pedangnya menari seperti berjoget dengan pancaran sinarnya yang kemilau, hingga berobah menjadi belasan batang pedang sekaligus mencecar Hiat-to mematikan-Melihat serangan pedang kali ini cukup ganas dan benarbenar mengancam jiwa, lekas Biau-jiu-sip-coan menjatuhkan diri berkelit dengan gerakan Keledai malas berguling ditanah, sekuatnya dia menggelundung jauh.

Pada saat itulah, Liok Kiam-ping yang menonton dari samping menyaksikan Biau-jiu-sip-coan sedang menggelundung untuk menyelamatkan jiwa tanpa memikirkan bahwa dirinya akan menggelundung kecairan racun yang dilempar dari botol Hwi-bong-cu tadi, maka tanpa ayal dia menjejak kaki meluncurkan tubuh, selarik cahaya putih tibatiba telah anjlok disamping Biau-jiu-sip-coan yang masih menggelundung.

sekali ulur tangan Kiamping cengkram baju dibelakang kuduk Biau-jiu-sip-coan terus dibawanya melompat pergi, Pada hal Biau-jiu-sip-coan sedang kegirangan karena usahanya menyelamatkan diri berhasil.

mendadak dirasakan tubuhnya tercengkram terus dijinjing pergi, karuan kagetnya serasa arwah copot dari raganya, tanpa perduli sikut kirinya tertekuk terus menyodok kebelakang, berbareng kaki kiri mendepak kebelakang.

Tak nyana baru saja serangan dilancarkan tiba-tiba tubuhnya sudah mumbul keudara, ditengah udara bersalto sekali, karuan dia menjerit panik, mengira jiwanya pasti melayang seketika.

Tak nyana sebuah suara yang sudah dikenalnya tiba-tiba berkata dengan tertawa dibelakangnya."

Inilah aku."

Lega sekali hati Biau-jiu-sip-coan, katanya.

"o, kiranya ciangbunjin. Lepaskan peganganmu.' Liok Kiam-ping, segera menurunkan Biau jiu-sip-coan, katanya.

"Hampir saja kau keracunan dan jiwamu pun amblas. o, ya, ingin aku tanya, bagaimana keadaan nona Siau Hong"

"Hamba sudah menyembunyikan dia,"

Sahut Biau-jiu-sipcoan.

"kabarnya Liong-ong-ya Tio Tin-thian dari ci-tong-kang membawa orang-orangnya sedang menuju ke Kui-hun-ceng ini, ternyata Ti Thian-bin telah mengangkatnya sebagai ayah angkat."

Liok Kiam-ping melenggong, tak kira bahwa Ti Thian-bin ternyata mahir menjilat dan mengumpak sehingga dia memperoleh tulang punggung yang kuat dan tangguh. Batinnya.

"Perduli dia murid atau anak siapa aku tetap akan membunuhnya."

Sorot matanya setajam lampu senter menatap Ti Thian-bin, sehingga orang yang dipandang menjadi risi dan tak berani bertindak gegabah.

Setelah cui-le-kiam dia selipkan diikat pinggang, perlahan dia maju beberapa langkah, lalu berhenti lima kaki didepan Ti Thian-bin.

Segagah dan sekokoh gunung angker, segera tenangkan pikiran dan hati, ujung mulutnya kembali mengulum senyum sadis.

Senyum yang dingin pula sehingga Ti Thian-bin gemetar dan berobah rona mukanya.

Tapi dasar jiwanya sempit wataknya picik, banyak muslihat lagi, lekas dia menyadarkan diri sendiri, dalam situasi seperti sekarang tidak menguntungkan bila dirinya menampilkan rasajeri atau panik, maka wajahnya segera mengulum senyum-senyum yang lebih jelek dari orang mewek.

Liok Kiam-ping berkata.

"Ilmu pedangmu belakangan ini maju pesat, boleh terhitung jago kelas satu dikolong langit, kenapa tidak kau gunakan pedang mu."

Ti Thian-bin tertawa, katanya.

"Dahulu tidak pernah terpikir dalam benakku bahwa sekarang kau bakal menjadi ciangbunjin Hong-lui-bun, kalau tidak..."

Liok Kiam-ping maju selangkah. Ti Thian-bin menyurut dua langkah, badannya gemetar makin keras.

"To-toacengcu,"

Nada perkataannya penuh ejekan.

"memangnya kau terserang malaria ? kenapa badanmu gemetar begitu rupa "

Tiba-tiba berobah suara Ti Thian-bin, katanya bernada memelas.

"Kau ingin mengambil Siau Hong bukan ? Kau boleh membawanya pergi. Selama beberapa tahun ini aku belum pernah menyentuhnya... ya, aku bersumpah..."

Kiam-ping tidak pernah duga bahwa Ti Than-bin bisa bersikap begitu takut dan memelas, namun dia menjengek hidung, bentaknya bengis.

"Dulu waktu kau menutuk hiattoku, waktu kau menendang dan menyiksaku, apa pernah kaupikirkan akibatnya seperti hari ini ?' Gemetar bibir Ti Thian-bin, ratapnya.

"Waktu... waktu itu... mungkin aku terlalu emosi... terlalu sirik..."

Pads saat itulah terdengar pula sebuah jeritan dari samping, sebuah badan besar mencelat keudara dan "Bluk"

Terbanting jatuh didepan Ti Thian-bin, darah segar menyemprot mengotori kepala dan mukanya.

Waktu dia menunduk didapatinya mayat orang itu adalah Ji-suhengnya Pi-san-khek, diatas mayatnya tidak kelihatan ada luka-luka tapi tepat diatas Thay-yang-hiat dipelipisnya mengecap tanda bundaran warna hijau, jelas jiwanya melayang karena tertutuk seruling pualam Giok-bin-koan-im.

Semakin pucat dan ngeri wajahnya, dia tahu hari ini jiwanya pasti tak bisa ditolong lagi.

maka sedapat mungkin dia tenangkan pikiran menabahkan hati pedang dilintang di depan dada, mengumpulkan tenaga menghimpun semangat, kakinya memasang kuda-kuda siap melangkah dengan gerakan Su-bupou-hoat, kedua matanya menatap lawan, pikiran melarikan diri sudah dibuangnya jauh-jauh, agaknya dia sudah siap untuk mempertaruhkan jiwa raganya dalam adu kekuatan dibabak terakhir.

Liok Kiam-ping sebaliknya mengulum senyuman menghina, pedang terangkat mengacung miring keatas, Liat-jit-kiam-hoat siap dilancarkan.

Ti Thian-bin diam tidak bersuara, pedang bergerak langkah bertindak, dengan jurus Leng-coa-jut-tong (ular sakti keluar lob hang) pedangnya menusuk lurus kedada Liok Kiam-ping.

Liok Kiam-ping diam menunggu, matanya menatap ujung pedang lawan yang menusuk tiba, sikapnya tenang dan wajar, tabah pula seteguh pohon raksasa yang siap ditimpa hujan badai.

Setengah jurus serangan telah dilancarkan Ti Thian-bin melihat lawan tetap diam tidak memberi reaksi, karuan hatinya mencelos, kiranya dia mahir menggunakan Hu-mokiam-boat ajaran Khong-tong-pay yang mengutamakan tenang laksana kaca, lincah seperti kelinci lepas kurungan, setiap titik kelemahan musuh diincar dan balas menyerang secara telak.

itulah ajaran aliran Lwekeh yang utama.

Karena itu menyaksikan lawan tidak bergeming, namun pertahanannya seperti tiada titik kelemahannya, hatinya makin kaget dan heran, lekas dia menggeser langkah, gerakan pedang diganti pula dengan jurus Sing-ling-pat-kak dari Hu

mo-kiam-hoat.

Sinar pedang berkembang mengeluarkan suara keras menusuk ke Ki-bun-hiat lawan-Ti Thian-bin melebarkan kedua matanya mendadak dia menghardik sekali pedang yang teracung terayun Liatjit-kiam menggaris lurus diudara, secara telak pedangnya mengiris turun kedalam jala cahaya pedang lawan, desir, angin tajam menyobek udara, itulah jurus Liat-jit-yam-yam.

Baru saja gaya pedangnya mulai dilancarkan, Ti Thian-bin lantas merasakan gerakannya seperti terkendali dan tertahan, celakanya hawa pedang telah melebar dalam jarak yang terjangkau bila elmaut mengancam jiwanya..

Belum sempat otaknya bekerja menemukan cara mengatasi bahaya didepan mata, bola besar cahaya terang bak matahari terbit ditengah udara, panasnya sinar matahari menyilaukan mata hingga tak mampu dia membuka matanya pula, yang kelihatan dalam bayangan matanya adalah tabir cahaya benderang berwarna merah kemuning.

Kuning seperti surya merah laksana darah.

Tanpa mengeluarkan suara Liat-jit-kiam telah membuat pedangnya kutung, disusul selarik cahaya benderang melesat diudara, maka protol pulalah sebuah lengan tangan, mencelat jauh kesana, darah menyemprot seperti air leding, lengan kanan Ti Thian-bin telah buntung.

Sambil menjerit kalap dia menerjang maju, kelima jarinya terkembang bagai ganco seolah-olah hendak mencabik dada dan merogoh jantung Liok Kiam-ping.

Pada saat kritis itulah dari luar berlari masuk seorang lakilaki berteriak.

"Liong ong-ya, Tio loyacu telah tiba..."

Tapi melihat darah berceceran, mayat bergelimpangan sementara pertempuran masih berjalan sengit didalam aula, seketika kuncup suaranya, sekejap dia melenggong, tiba-tiba putar badan terus lari sipat kuping.

Tapi hanya tiga langkah dia lari, seorang raksasa gede tubuh telah menghadang jalannya, pentung ditangannya ternyata lebih besar dari pahanya yang kurus.

Siang Wi membentak.

"Bocah keparat, lari kemana kau,"

Sekali pentungannya menyodok "Duk"

Lalu berputar pula, kepala cengting itu disodoknya pecah, sekali sapu pula tubuhnya mencelat terbang beberapa tombak.

Tanpa hiraukan korbannya dia berlari masuk pula hendak membantu bocah cilik alias Kiam-ping.

Sayang dia berlari terburu nafsu sambil menenteng pentungnya melintang, sudah tentu panjang pentung yang melintang itu membentur pintu yang lebih sempit, beberapa kali dia mendorong dengan perutnya, pentung tetap tidak terdorong masuk, memangnya sedang jengkel, sekali dia benar-benar terbakar amarahnya, sambil menggerung pentung diputar terus menggempur dinding.

"Blam"

Dinding tembok yang tebal itu jebol dan runtuh berhamburan hingga bolong besar. Setelah meraba hidung dengan keras dia menggerung, katanya.

"coba buktikan kau yang kukuh atau aku yang kuat,"

Dari lobang besar itu dia menerobos masuk ke aula, kebetulan dilihatnya Liok Kiam-ping berdiri tegak memegang pedang, sementara Ti Thian-bin pentang kelima jarinya sedang menerkam dengan beringas Kebetulan Liok Kiam-ping berdiri membelakangi pintu, jadi bocah gede ini datang dari belakang maka dia tidak melihat cahaya benderang yang dipancarkan dari pedang ditangan Kiam-ping, disangkanya bocah cilik ini sudah ketakutan hingga lupa bergerak.

Maka dia menggerung.

"Bocah cilik jangan takut, aku sigede telah datang,"

Sambil mengayun pentung dia memburu maju, yang dilancarkan adalah jurus menyapu ribuan tentara, dua lelaki kekar yang menghadang didepannya disapunya terbang dua tombak.

Setiap langkahnya ternyata mencapai jarak delapan kaki, maka hanya beberapa kali melangbah dia sudah memburu disamping Liok Kiam-ping, Tak nyana baru langkahnya tiba disamping orang, mendadak dilihatnya cahaya merah berkelebat, darah pun menyembur laksana seutas rantai, Ti Thian-bin yang menerkam dari atas udara ternyata sudah terobek-robek menjadi beberapa potong oleh Liat-jit-kiam, tubuhnya tercerai berai tidak keruan diatas lantai.

Si gede melenggong, sesaat dia takjub, begitu Liok Kiamping berpaling segera dia acungkan jempolnya sambil memuji.

"Bocah cilik, kau sungguh hebat."

Tapi melihat bocah cilik ini mengucurkan air mata, seketika dia melenggong, tanyanya sambil garuk kepala.

"Bocah cilik, apa kau senang menangis?' Setelah melancarkan Liatjit-yam-yam maka Ti Thian-bin pun terbunuh dengan mengerikan, sekilas ini diapun terkenang kepada Ji-cengcu. Sejak kecil Ji-cengcu menemukan dirinya, merawat, mengasuh serta mendidik dirinya, jiwa kecilnya tulus dan bajik, tapi sejak kedatangan Ti Thian-bin, hidupnya berobah, jiwa nyapun tersudut, hingga dirinya harus menjadi gelandangan, hidup terlunta-lunta, dihina dan dicaci, ibunya harus mati secara mengenaskan dalam pangkuan dan pelukannya pula, sementara dirinya tak kuasa menolongnya, dari berbagai peristiwa, jiwanya dipaksa untuk berobah lebih kejam, telengas dan keras diluar lemah didalam. Bahwa dia berhasil membunuh musuh membalas sakit hati sendiri, hatinya menjadi tidak tega malah, apalagi melihat nasib mayatnya yang tercerai berai, jiwanya terasa kosong. Terbayang betapa Ji-cengcu mengajarkan kasih sayang dan mendidik dirinya harus bersikap jujur dapat dipercaya dan bajik terhadap sesama manusia, betapa dia tega membunuh murid Lo Bing-hong alias Ji-cengcu yang dulu memungutnya... Berbagai persoalan membikin lahir batinnya serba kontras, maka timbul lebih nyata pula lembaran hatinya yang bijaksana dan bajik sehingga dia mencucurkan air mata. Mendengar pertanyaan Siang Wi lekas dia mengusap air mata, katanya.

"Bocah gede, selanjutnya bagaimana kalau kau ikut aku saja ?"

Terbuka lebar mulut si gede Siang Wi, katanya.

"Guruku pernah bilang.

"He si gede, kau ini terlalu bodoh, selalu tidak memikirkan apa yang kau kerjakan, sekarang aku sudah tua, bila aku sudah mati kepada siapa kau harus menurut ? Lalu siapa pula yang akan memberi engkau makan ? lalu dia membuka lebar tawanya, katanya.

"Yang benar, aku memang takut lapar, aku paling takut sebetulnya kerja baik apa yang harus kulakukan kecuali itu apapun aku tidak takut, jika kau ingin aku ikut kau, apa kau bisa memberi aku makan ? Mau memberi petunjuk kepadaku?"

Liok Kiam-ping tertawa geli oleh rentetan pertanyaan bodoh si gede, katanya mengangguk.

"Bocah gede, aku pasti bisa memberi kau makan, makan apa boleh sesuka hatimu akan kubimbing kau dan memberi petunjuk apa yang harus kau lakukan, maka jangan kau kuatir."

Tapi Siang Wi masih sangsi, tanyanya.

"Kau tahu berapa banyak makanku setiap hari ? Biar kujelaskan, aku menghabiskan dua ekor ayam, tiga kilo daging sapi segar, ditambah dua puluh mangkok nasi, tiga ekor ikan dan sayur mayur lainnya, semua itu harus...

" .

"Jangan kuatir."

Tukas Liok Kiam-ping "berapapun banyak makananmu pasti kuberikan sampai kenyang."

Siang Wi keplok kegirangan, serunya.

"Kalau begitu selanjutnya aku tidak usah memakai peneng muka setan Suhuku untuk mencari makan lagi, selanjutnya Suhu juga tidak akan berkata.

"Wi-ji, kenapa selalu kau menggunakan Lo-hou-ling untuk menipu makanan orang, sungguh memalukan"

Lalu dengan sikap sungguh-sungguh dia menambahkan.

"Tahukah kau bocah cilik ? Sejak itu.. akupun mengukir sebuah Lo-hou-ling lain yang bermuka setan dengan taringnya yang menakutkan, tapi mata setan yang kuukir hanya dua saja ."

Sampai di sini bicara mendadak dia angkat pentung penyanggah langit yang gede itu terus disapukan seraya membentak.

"Gundul cilik kemana kau."

Ternyata Hoat-goan Taysu yang melawan Gin-ji tay-beng semakin kewalahan setelah lawan menggunakan Gin sa-ciang, meski dia sudah mengerahkan segala kemampuannya, seluruh Kungfu Siau-lim-pay yang paling saktipun yang pernah dia pelajari juga tetap tak mampu menandingi ilmu pukulan pasir perak lawan yang dahsyat.

Empat puluh jurus kemudian, tenaganya sudah terkuras hingga kaki tangan sudah lemas, sambil bertahan dia terdesak mundur, suatu ketika dia memperoleh kesempatan balas menyerang dua jurus pukulan tangan dan tiga tendangan, namun lawanjuga hanya didesaknya mundur dua tindak.

Mumpung lawan mundur inilah, lekas dia mengebas lengan bajunya terus menjejak kaki, tubuhnya melesat terbang lari keluar pintu.

Siapa nyana Siang Wi si gede badan yang berotak minus ini perawakan yang delapan kaki itu memang mirip raksasa, kalau orang lari menyelinap dari bawah kakinya mungkin dia tidak memperhatikan, celaka adalah Hoat-goan Taysu melarikan diri dengan mengapungkan tubuh ditengah udara, seperti sengaja meluncur didepan matanya.

Kontan dia ayun pentungnya terus mengepruk sekuatnya.

Tubuh terapung diudara, mendadak kuping Hoat-goan Taysu pekak oleh sebuah bentakan sekeras guntur, sehingga hatinya tersirap.

di kala dia melongo itulah pentung sebesar paha telah menyapu tiba.

saking kaget lekas dia kerahkan Jian-kui-tui sehingga tubuhnya seperti merandek sekejap lalu anjlok kebawah.

Siang Wi membentak.

"Gundul cilik, masih mau lari ke mana kau ?"

Diudara pentung besarnya juga berputar satu lingkar, permainan pentung besar itu ternyata tangkas dan enteng, pinggang Hoat-goan Taysu menjadi sasaran berikutnya.

Baru kaki menginjak bumi, sementara pentung raksasa itu sudah menyabet tiba, lekas dia menarik napas, tenaga setaker dikerahkan ketangan kanan terus melontarkan pukulan Sin-liong-tiau-bwe (naga sakti mengabit ekor), telapak tangannya menepuk kebelakang.

Pada hal betapa hebat kekuatan Siang wi ?

Karena otaknya yang agak minus, maka sukar dia mempelajari ilmu, disesuaikan kondisinya maka sang guru Lo-hu-sin-kun hanya mengajar No-kang-cam-liok-gun (enam belas gelombang sungai), permainan pentung aneh yang di perolehnya dari propinsi Inlam.

Ilmu pentung ini adalah ciptaan ciangbun Tiam-jong pay, inspirasinya diperoleh setelah melihat sendiri amukan gelombang sungai No-kang yang deras dan berbahaya, maka permainannya juga mirip orang mengamuk dengan kekuatan raksasa lagi.

Setelah Siang Wi berhasil menghapalkan ilmu pentung yang satu ini, tapi juga memerlukan beberapa tahun, mengingat tenaganya yang raksasa dan kasar maka Lo-hu-sin-kun kuatir bila dia menghadapi tokoh Lwekeh yang benar-benar ahli supaya jiwanya tidak terancam bahaya, maka dia memeras keringat dan berjerih payah selama beberapa tahun pula mengajarkan Lia-bun-hwi-bu, ilmu pentung lain yang bergerak lebih santai enteng dan lincah.

Beruntung Siang wi memiliki dua jenis ilmu pentung yang berbeda, satu keras yang lain lunak.

dalam praktek lama kelamaan dia berhasil membaurkan pula kedua ilmu pentung lunak dan keras itu sehingga sedemikian mahirnya, ilmu lain diajarkan juga percuma karena otaknya takkan bisa menangkap.

Sekarang dia melancarkan jurus Liu-hun-ho-khong (mega mengalir rebah diudara) salah satu jurus dari Liu-hun-hwi-bu menyapu pinggang belakang lawan yang berusaha lari begitu cepat samberan pentungnya itu.

Begitu Hoat-goan menepuk kebelakang, kebetulan kena menepuk pentung besar Siang Wi, tenaga dalam yang dikerahkan di telapak tangannya berhasil menahan pentung orang serta menekannya turun beberapa senti.

Begitu merasa pentung tertindih menjadi berat Siang Wi mengerang sekali, cepat sekali pentung raksasa itu sudah berobah gerakan dengan jurus Ki-li-koh-tiau (arus cepat saling berlomba) menyontek keatas.

Betapa cepat variasi, gerakan pentung seberat itu sungguh menakjubkan, baru saja Hoat-goan Taysu mumbul dua kaki meminjam tenaga tolakan pentung, tapi ujung pentung Siang Wi sudah menyusul tiba dan telak menyapu belakang pinggang Hoat-goan Taysu.

"Ngek."

Kontan Hoat-goan Taysu membuka mulut menyemburkan darah.

"pletak"

Tulang punggungnya tersapu remuk.

tanpa mengeluarkan suara badannya terlempar jatuh setombak lebih, jiwa sudah melayang sebelum tububnya menyentuh lantai.

Tatkala itu pula terdengar Kim-ji-tay-beng tertawa gelakgelak, maka terdengarpupa suara "plak, plok,"

Beruntun tepukan dua telapak tangan, Hwesio tua dari Gobi itu tampak terjengkang mundur dengan melelehkan darah diujung mulutnya, beberapa kali kemudian dia terjungkal roboh bergulingan-Kiam-ping menoleh, kebetulan dilihatnya Ham-hun Siansu dari Go bi terjungkal roboh, pundaknya tampak terkena pukulan, pakaian pecah pundakpun berwarna kuning dengan tulang remuk keadaannya juga parah.

celakanya dia menggelundung ke sana, seketika dia melolong sekerasnya sambil bergulingan, makin bergerak makin keras dan sakitnya mungkinjuga bertambah dari punggungnya tampak menguapkan asap.

bau busuk dari kulit badan yang hangus menerjang hidung.

Kedua matanya tampak melotot seperti bola merah darah, alis putihnya tampak menjuntai turun basah oleh keringat.

Agaknya dia mengalami rasa sakit yang luar biasa, kedua tangan yang masih bisa bergerak telah melupakan rasa sakit dipundaknya terus menggaruk dan mencomot ke belakang, hingga kulit dagingnya membusuk makin dedel dowel, erangan kesakitan menjadikan bunyi suaranya mirip binatang buas yang kelaparan, tidak mirip lagi suara manusia.

Pertempuran besar dalam aula berhenti dengan sendirinya, semua menyaksikan adegan yang mengerikan ini tiada seorang pun yang tidak bergidik merinding.

Le Bun pernah membunuh orang, kapan dia pernah saksikan keadaan yang mengerikan seperti ini, saking seram dan ngeri mukanya pucat pasi dan menubruk dalam pelukan Liok Kiam-ping.

"Jangan takut,"

Hibur Kiam-ping.

"dia terkena racun."

Belum habis dia bicara, didengarnya Ham-hun Siansu mendadak meronta bangun mencelat lima kaki, waktu badan terbanting jatuh lagi jiwapun melayang.

cepat sekali badannya yang membusuk bartambah besar dan berobah menjadi cairan hitam.

Liok Kiam-ping menghela napas, katanya.

"Biarlah mereka pergi, keadaan sudah cukup mengerikan-' Seperti berlomba saja yang masih hidup segera angkat langkah seribu, tidak sedikit diantaranya yang terluka, namun yang terluka parah dan masih tinggal juga ada belasan orang. Menyapu pandang sekeliling ruangan, Kiam-ping berkata.

"Sejak kini Hong lui-bun mendirikan pangkalannya di sini, mulai membuka perguruan, menerima murid mengembang biakkan kebesaran Hong-lui-bun."

Belum habis dia bicara derap lari kuda yang ramai berkumandang diluar. seorang membentak dengan suara keras, mendengung seperti lonceng. 'siapa berani membunuh anak pungutku ? Liong-ongya ada disini."

"Liong-ong-ya ?"

Le bun menegas heran-"Liong-ong-ya ?"

Siang Wi juga ikut berseru kaget.

cepat sekali muncul seorang kakek diambang pintu, alis tebal mata harimau dengan batok kepala besar hampir sebesar kepalannya sendiri.

Kontan Siang wi naik pitam, dampratnya.

"Kentut makmu delapan belas kali, kau tua-tua kecil ini juga berani menamakan diri apa Liong-ong-ya (raja naga) Bukankah kau inijuga manusia ?"

Baru saja kaki melangkah masuk, orang itu sudah terkejut oleh bentakan Siang wi yang menggeledek.

tampak seorang lelaki raksasa tinggi besar dengan kulit badan hitam berdiri bertolak pinggang, seketika dia tertawa, serunya.

"Hahaha, kiranya kau bocah gede ini, hayolah kemari, rasakan Pat-potong-jin Liong-ong-ya punya."

Perawakannya juga tinggi gemuk.

tapi gerak geriknya ternyata lincah juga, sekali lompat setombak lebih dicapainya, tahu-tahu sudah berdiri di depan Siang Wi.

Melihat mayat bergelimpangan, tak sedikit anggota badan yang protol dan tercacah tercerai berai, hatinya juga kaget dan ngeri, bentaknya.

"Bocah gede bagaimana kalau kita saling hantam tiga kali."

Sembari bicara manusia tembaga kaki satu ditangannya sudah mengepruk dari atas kebawah, kepala Siang Wi dipukul.

Siang Wi percaya akan tenaga raksasanya, yakin selamanya tiada orang yang berani adu kekuatan dengan dirinya, kenyataan kakek tua ini menantang adu tenaga, maka dia tertawa besar, serunya.

"Kakek cilik, kau memang menyenangkan-"

King-thian-pang (pentung penyanggah langit) terangkat sekali ayun dia pun kerahkan tenaga memapak pukulan gada lawan-"Prang."

Begitu keras sampai pekak genderang telinga orang, keduanya tampak tergentak mundur selangkah, tiada yang kalah atau menang. Siang Wi berteriak.

"Kakek cilik, nah giliranmu merasakan pentungku."

Kali ini pentungnya menyamber miring, deru anginnya seperti bunyi knalpot truk disel yang terlalu berat membawa muatan ditanjakan, dari pentungnya timbul pusaran angin yang bergulung-gulung sehingga orang-orang yang menonton diluar gelanggang disampuk mundur.

Ternyata Liong-ong-ya juga mengayun Pat-po-tong-jin, tak mau mengalah kembali dia menangkis.

"Prang"

Suara lebih keras, badan mereka tampak limbung, tanpa kuasa keduanya menyurut dua tindak.

lantai marmer dalam ruang besar ini sampai terinjak pecah.

Ki-ling-sin (malaikat sakti raksasa) melotot matanya, sambil meraung segera dia menerkam bersama pentungnya, dimana samberan bayangan kelabu melesat diudara, cepat dan dahsyat laju kekuatannya.

Liong-ong-ya juga menggerakkan pula Pat-po-tong-jin ditangannya, badan sedikit jongkok, seluruh tenaga dalam dikerahkan, otot hijau di jidatnya sudah merongkol keluar, bibir juga terkatup kencang, wajahnya mengkilap berminyak oleh keringat.

Bagai ular hijau keluar lobang, secepat dan aneh balas menyerang.

"Prang"

Benturan keras ketiga kalinya membuat pergelangan tangannya tergetar dua kali, keringat dijidatnya rontok berhamburan, kedua kakinya amblas kedalam lantai empat dim.

Pentung besar Siang Wi mencelat mumbul keatas seperti terayun setengah lingkar lalu dia tarik turun dan dikempit dibawah ketiaknya, gelak tawa pecah dari mulutnya yang terpentang lebar.

Teriaknya.

"Puas sungguh puas. Kakek cilik, sungguh hebat kau."

Lengan Liong-ongya kesemutan pegal, tapi dia tertawa getir, katanya.

"Bocah gede, kau ini Ki-ling-sin atau Lat-pakkiuking ?"

Perlu diketahui Liong-ongya sejak dilahirkan juga memiliki tenaga raksasa, jadi kekuatannya sudah pembawaan sejak kecil, waktu mudanya dengan senjata gada tembaganya itu, dia pernah malang melintang di daerah ciat-kang dan sekitarnya, tiada orang yang mampu menahan tiga kali pukulannya, apa lagi dia mahir berenang, sehari semalam menyelam dalam air juga tidak bakal mati, maka di daerah citong-kang dia mendirikan pangkalan dan mengangkat dirinya menjadi cecu.

---ooo0dw0ooo---Selama puluhan tahun pengaruh kekuasaannya melebar sampai Thay-ouw, ketenarannya makin luas kesegala pelosok dunia, namun kebiasaan mengajak orang bertanding tiga jurus tidak pernah padam, terutama bila bertemu lelaki kekar, dia pasti menantangnya.

Tapi hari ini dia ketemu Siang Wi, tiga jurus serangan dahsyatnya betul-betul ketemu tandingan setimpal, karena heran dan kagum maka dia mengajukan pertanyaan.

"Apa ?Jadi masih ada keparat bernama Lat-pak-kiu-king ? dimana dia ? siang Wi akan mencarinya dan menantangnya adu kekuatan-"

Mendadak mimik muka Tio Tin-thian kelihatan murung dan rawan aneh perobahan mimik mukanya ini, katanya menghela napas.

"Betapapun aku sudah tua "

Tapi baru beberapa patah mendadak dia tampar mulut sendiri seraya memaki.

"Keparat, baru berusia lima puluh tahun sudah mengeluh tua, manusia hidup tujuh puluh tahun baru mulai tua."

Selesai dia berkata diluar terdengarlah pekik sorak dan jerit kesakitan-Tio Tin-thian kaget, bentaknya menggelegar.

"Ada apa anak-anak? Hayolah masuk semua."

"Kakek cilik, kentut makmu busuk"

Damprat siang Wi gusar.

"kau memanggilku anak-anak. cuh, rasakan pentungku."

Dengan langkah lebar dia memburu seraya mengayun pentung menyerang dengan jurus pertama Liu-sa-loh-kim dari ilmu pentung enam belas gelombang sungai mengamuk.

Tio Tin-thian menggerung gusar pula, pergelangan tangan diturunkan, secara lincah tembaga kaki tunggal ditangannya menyelinap dari samping balas menyerang, yang di incar adalah Ki-bun-hiat dan Yo-kin-hiat di dada dan ketiak lawan, serangan secepat kilat juga.

Melihat lawan berani mengadu kekerasan, Siang Wi membentak gusar.

"Neneknya. kau tua bangka kerdil sangka aku ini orang bodoh ? Mau menutuk Hiat-to ya ? Ketahuilah, aku tidak takut ditutuk."

Ujung pentung diketuk kebawah, badannya mencelat keatas beruntun dia merobah dua langkah, maka kelincahan dari Liu-hen-hwi-bu segera dia kembangkan, jurus Bu-bong-ling-thay (halimun tebal diatas panggung) dikembangkan mengaburkan pandangan orang, satu pentung berobah menjadi belasan batang serempak menyodok kedada lawan-Pada saat itulah diluar terdengar gelak tawa dan sorak sorai yang riuh rendah, bayangan merah tampak berkelebatan melompat masuk.

Gelak tawa orang banyak berpadu didalam aula begitu kerasnya sehingga genteng seperti bergetar, jendela juga gemeratak seperti diguncang gempa.

Maka berdirilah seorang tua berambut panjang terurai dipundak dengan gelang emas tipis melingkar dikepalanya, jubah merah menyala, mulut terpentang lebar menunjukkan barisan giginya yang rata putih sedang bergelak tawa.

Melihat orang tua rambut panjang jubah merah ini, urat syaraf Liok Kiam-ping seketika mengencang, kedua matanya lekat menatap orang tua yang tertawa latah ini.

Kim-ji-taybeng melongo, serunya.

"Hwe hun-cun-cia."

Tersirap perasaan Liok Kiam-ping, sungguh tak nyana musuh pembunuh ayah dan pemenggal buntung lengan ibunya ternyata muncul di sini, sekejap ini tak kuasa dia mengendalikan emosi, tubuhnya gemetar, bola matanya merah menyala.

Kakinya melangkah setapak seorang terasa menarik bajunya, bisiknya.

"ciangbun jangan terlalu emosi dan tegang, kendalikan ketenanganmu.' Mencelos hati Kiam-ping, seketika dia sadar, lekas dia menarik napas panjang, pelan-pelan dia melolos cui-le-kiam yang terselip dipinggang diserahkan kepada Gin-ji tay-beng, lalu membuka jubah luar, maka tampak dia mengenakan pakaian ringkas. Maju dua langkah dia berkata.

"Yang datang apakah Hwe-hun-cun-cia ciangbunjin Hwe hun-bun ?' Menyapu mayat-mayat yang tumpang tindih dilantai, Hwehun-cun-cia bergelak tawa katanya .

"Anak muda, apakah kau Hun-bin kiam-khek ?' Kiam-ping tidak layani pertanyaannya, maju lagi dua langkah baru berkata.

"Apa kau masih ingat seorang yang bernama Liok Hoat-liong ?' Hwe-hun-cun-cia geleng kepala, katanya. 'Selama hidup betapa banyak jiwa berkorban ditangan Lohu, mana bisa kuingat satu persatu nama setiap korban? Untuk apa kau tanya soal ini anak muda?"

Liok Kiam-ping menjengek, katanya.

"Liok Hoat-liong gugur ditanganmu, isterinya juga kautabas buntung lengannya, apa kau sudah melupakannya ?"

Berkerut alis Hwe-hun-cun-cia, katanya.

"Setan gentayangan dibawah tanganku tak terhitung banyaknya, mana bisa kuingat Liok Hoat-liong ? Anak muda, sekarang giliranku bertanya. Soalnya beberapa waktu yang lalu di Se-lam aku bertemu dengan Khong-tongkoay-kiam, katanya dia telah menemukan tunas muda ajaib yang jarang ditemukan selama ratusan tahun di Bulim, tunas muda yang jenius itu akan kuambil, secara bergiliran kita tua-tua bangkotan ini akan menggembleng menjadikan dia mempunyai tulang baja otot kawat, yakin kelak dia akan dapat menandingi Pat-pi-kim-liong ..."

Liok Kiam-ping terloroh-loroh, katanya.

"Tua bangka, tahukah kau siapa Pat-pi-kim-liong ? Ketahuilah, aku adalah putera Liok Hoat-liong, ini rasakan pukulanku."

Menghadapi musuh pembunuh ayah dan melukai ibunya ini, sungguh Kiam-ping sukar menahan emosi, baru beberapa patah dia sudah menerjang maju.

Tangan tunggal bergerak badanpun berkisar, jurus Llongkiap-sin-gan dilontarkan, bayangan telapak tangan bertaburan menimbulkan pusaran angin kencang pula, sederas gugur gunung melanda kedepan.

Hwe-hun-cun-cia tidak menduga bahwa kehadirannya disambut oleh sejurus serangan aneh dan lihay ini, sekilas melenggong, secepat kilat dia menyurut setengah tapak sambil mengebut lengan baju, bayangan merah laksana segumpal mega membungkus tubuhnya seluas setombak menerjang kedepan pula.

"Pyaaar,"

Terasa oleh Liok Kiam-ping jalur-jalur tenaga sebanyak ribuan menyusup tiba dari setiap lobang yang mungkin ditembus menerjang dirinya, pukulan yang dilancarkan ternyata tidak mampu membendung kekuatan lawan, sebaliknya dia merasakan tenaga pukulannya membentur dinding karang dingin yang besar, telapak tangannya tergetar sakit dan kemeng, tak kuasa dia menahan tegak tubuhnya terpaksa mundur selangkah.

Semula Hwe-hun-cun-cia hanya mengerahkan enam bagian tenaganya, tak nyana begitu bentrokan terjadi, hatinya tersirap kaget karena tidak menyangka pemuda berusia belum genap duapuluh ini ternyata membekal tenaga pukulan puluhan tahun.

Lekas dia himpun kekuatan dalamnya menambah tenaga hingga delapan bagian, baru berhasil menahan serangan lawan-begitu merasakan pusaran tenaga lawan yang hebat itu, seketika

Jilid 12 halaman 17 s/d 24 Hilang sambil menahan napas Kim-gin-hu-hoat sudah bergebrak tiga puluhan jurus dengan Hwe-hun-cun-cia, keadaan mereka sudah mulai terdesak, untung Liok Kiam-ping lekas datang dengan girang mereka berkata.

"Ciangbun masih segar bugar. baiklah kami akan keluar, asap disini terlalu tebal menyesakkan napas."

Gin-ji-tay-beng juga berkata.

"ciangbun desak dia keluar untuk berhantam diluar, di sini terlalu panas "

Hanya beberapa patah dia sudah batuk-batuk.

matapun pedas mencucurkan air mata.

lekas dia melompat terbang keluar.

Melihat sesosok bayangan menerjang datang dari tengah asap tebal, Hwe-hun-cun-cia sudah menduga pasti Liok Kiamping yang datang, terkejut juga hatinya akan semangat juang anak muda ini yang tidak kenal takut.

Disaat hati kaget itulah otaknyapun teringat akan Liatjit-kiam, karuan hatinya tersirap.

segulung tenaga dahsyat kontan menembus bolong asap tebal menggempur kearah bola api bundar yang menyala itu.

Liok Kiam-ping merasakan pukulan dahsyat lawan menimbulkan goncangan dahsyat dibatang pedangnya, lekas dia membentak seluruh hawa murninya dikerahkan di mana pergelangan tangan berputar, serangan dia robah menjadi Liat-jit-yam-yam.

Hwe bun-cun-cia memicing mata, namun pancaran cahaya pedang lawan memang terlalu benderang sehingga matanya seperti di tusuk jarum tak kuasa melek lagi Begitu memejam mata badannyapun meleset mundur beberapa kaki, kedua tangan bergerak menimbulkan hawa pertahanan melindungi badan denganJun-jan-ji-pok ilmu aliran sesat.

Desir hawa pedang menyambar dipinggir telinganya.

walau dia sudah menyurut beberapa kaki, namun pedang panjang Liok Kiam-ping bagai bayangan mengikuti gerak gerik bentuknya, tetap mengudak kemana dia berpindah, sebelum dia mengegos pula, hawa pedang yang dingin tiba-tiba berkelebat, tangan kirinya terasa perih, tiga jarinya tertabas kutung, sementara kilat pedang masih menyerang beruntun pula melukai dadanya.

Begitu merasa sakit Hwe-bun-cun-cia lantas insyaf dirinya telah terluka, saking murka dan penasaran, kaki kiri ditarik, seluruh kekuatannya dia lontarkan, tubuhnyapun mencelat pergi beberapa tombak.

sekali melejit lagi bayangannya sudah menghilang di luar rumah.

Begitu berada diluar rumah, mengawasi gedung yang sudah terjilat api, lekas dia rogoh kantong mengeluarkan sebuah benda bundar hitam terus ditimpuk kedalam.

"Glegar."

Sebuah ledakan seperti bom menggetar gedung terbakar itu hingga runtuh lebih cepat, bumi seperti digoncang hebat, debu asap dan reruntuhan menyamber ke udara.

Ki-ling-sin yang sejak tadi sudah berada di luar mendadak menjerit kaget.

"Hei, Lui-hwe-pi-lik. Itulah Lui-hwe-pi-lik (granat guntur api)."

"Hoahahaha..."

Hwe-hun-cun-cia tertawa besar sambil tolak pinggang mengawasi gedung yang terjilat jago merah, serunya.

"Musnah, musnah semua. Mega api (Hwe-hun) menyala semarak. bintang rembulanpun menjadi guram, biar seluruhnya terbakar musnah..."

Wajahnya yang beringas sadis tampak lebih menyeramkan lagi dibawah pancaran cahaya api yang berkobar makin besar, segalanya menjadi serba merah, jubah merah, darah merah, jago merah demikian gumpalan asap merah, seluruhnya merah...

Diam-diam Le Bun berdoa dalam hati.

"Kiam-ping..."

Baca Juga: Kesatria Baju Putih Chin Yung

Baca Juga: Pendekar Misterius 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert