Eps 2 Hong Lui Bun - Khu Lung
Baca online Hong Lui Bun - Khu Lung
Cersil Hong Lui Bun - Khu Lung.
Lalu sambil mengelus jenggot dia melanjutkan.
"Aih, jagojago muda bermunculan pada setiap angkatan, yang tua sudah lemah, yang muda lebih mengungkuli. Entah bagaimana keadaan Sa-locianpwe sekarang, sudilah Siauhiap menyampaikan salam hormatku kepada belian-"
Melihat Tojin setengah umur ini, Pingji lantas tahu bahwa orang inilah yang tempo hari berdiri dibelakang ceng-Ciok hingga dirinya terluka parah.
Mendengar bahwa Kiu-thian-sinliong seorang diri melawan keroyokan delapan ciangbun besar dan murid-muridnya, maka tahulah Ping-ji bahwa Kiu-thiansin-liong adalah guru si orang aneh pemilik Wi-liong-pit-sin.
orang aneh itu pula yang telah mencipta dirinya menjadi seorang jago kosen setelah dirinva digembleng dan disaluri Lwekang latihannya selama puluhan tahun, hingga dalam waktu singkat dirinya dipaksa untuk menjadi tokoh silat kelas wahid.
Tapi Tojin setengah umur menyangka dirinya adalah ahli waris langsung dari Kiu-thian-sin-liong, maka dia jadi raguragu, akhirnya dia berkata tak acuh.
"oh, banyak terima kasih akan maksud baik Totiang, selama ini guruku memang baikbaik -saja."
Sedikit berobah air muka Tojin setengah umur, tapi segera dia tertawa lantang.
"Berkat kemurahan Thianlah, sehingga kami yang lebih muda akan dapat melihat kehebatan angkatan tua yang masih panjang umur. Ha haha."
Dia tertawa sambil mendongak.
tawanya lantang, tapi Ping-ji merasakan nada suaranya agak getir, menandakan hatinya tidak tentram dan ngeri.
Maklumlah, dahulu seorang diri Kiu-thian-sin-liong melawan keroyokan delapan ciang bun dan tujuh puluh dua muridmuridnya, akhirnya dia tetap dipihak yang unggul hingga inti kekuatan kaum Bulim aliran luues boleh di kata tertumpas dalam peristiwa besar itu, siapa tidak ngeri danjeri mendengar nama Kiu-thian-sin-liong.
Kini Hwi-bing Tojin mengira pemuda dihadapannya ini adalah ahli waris yang mampu melancarkan Wi liong-ciang ciptaan Kiu-thian-sin-liong dulu, betapa hatinya takkan kaget.
Apalagi pemuda ini bilang gurunya Kiu-thian-sinliong masih hidup sehat, maka tak kuasa dia menahan rasa kaget dan takutnya.
Melihat sang Susiok pucat dan jeri, berkerut kening cengciok Tojin, pikirnya.
'Ai, nasib Bu-tong kita memang lagi sial, gembonggembong iblis bakal bermunculan lagi, bagaimana kita harus bertindak?
Ai, kehidupan kaum persilatan mungkin takkan aman tentram lagi.' Tengah perasaan mereka dirundung rasa takut, jeri dan kuatir, dari kejauhan mendadak terdengar jeritan menyayat hati.
Karuan mereka sama berobah air mukanya sekejap saling pandang.
Akhirnya ceng-ciok Tojin membanting kaki seraya berteriak 'Siang-jing-koan-.' Dia mendahului mengebas lengan baju terus berlari secepat angin dari arah datangnya tadi.
Ditengah jalan mereka bersua seorang Tojin yang lagi berlari mendatangi dengan langkah sempoyongan jatuh bangun, darah tampak mengotori muka dan sekujur badannya.
Melihat ceng-ciok Tojin lari mendatangi kontan dia tersungkur roboh dan kebetulan jatuh dalam pelukan cengelok Tojin yang meraihnya, 'Lapor...
ciang bun Siang-jingkoan...
dirampok...
Bik-lo-kim tan direbut orang baju...
hijau berkedok."
Seperti disamber, geledek ceng-ciok Tojin mendengar laporan Tojin yang terluka parah ini.
"Bangsat."
Teriak Pek-Ciok Tojin mengepal tinju, aku bersumpah akan mengganyang cenn-sin-biau-khek. ya pasti dia,"
Tiba-tiba Ping-ji berteriak di belakang.
Tanpa banyak bicara segera dia berlari kearah Siang jing-koan.
Hwi-bing, ceng-Ciok din Pek-Ciok sama tertegun, mereka melenggong mengawasi bayangan Ping-ji.
Dengan nada bimbang Hwi-bing mendesis.
"ceng-san-biau-khek?"
Pek-Ciok Tojin mengangguk, katanya.
"Tadi bocah itu bilang, dia menggunakan Hian-ping-ciang."
"Ho, Hian-ping-ciang ?"
Seru Hwi-bing kaget.
"Hian-pingciang dari golongan Pak-hay yang sudah putus turunan itu...?" ---ooo0dw0ooo---Musim dingin. Bunga salju beterbangan di angkasa, bertaburan menyelimuti mayapada. Lok-yang, sebuah kota besar yang ramai, dikala hujan salju selebat ini, tiada nampak manusia berkeliaran dijalan raya, hanya dua tiga orang saja yang terbungkuk-bungkuk menempuh perjalanan dideru angin dingin. Hujan deras ini berlangsung tiga hari tiga malam, penduduk kota menyekap diri dirumah, perdagangan sepi, tiada pembeli, tiada yang penjual, hanya penguasa hotel saja yang bisa duduk ungkangungkang dikamarnya yang di hangati api unggun sambil menghitung berapa keuntungan yang bakal diperolehnya dari para tamu yang tak mungkin meninggalkan penginapan-Meski hujan salju itu amat lebat, akan datang saatnya reda, demikianlah setelah angin ribut berlangsung sampai hari ketiga tengah malam, hari keempat pagi, sang surya telah mulai menampakkan dirinya diufuk timur. Suasana yang paling ramai sudah tentu dihotel, para tamu bergegas menyiapkan barang bawaannya, kuasa hotel, kasir sampai pelayan berjajar di ambang pintu mengantar para tamunya berangkat menuju arahnya masing-masing . Seorang kacung sedang sibuk menyapu dan membersihkan pintu, dia bekerja sambil menggerutu menyesali nasibnya yang kedinginan diluar pintu. Tiba-tiba suara kelinting kuda berbunyi dan seekor kuda berhenti dibelakangnya, lekas kacung ini berpaling. Tahu-tahu dibelakangnya berdiri seorang pemuda yang bermantel putih bulu panjang, wajahnya putih cakap beralis lentik, meski hawa dingin tetap kelihatan wajahnya yang gagah dan kereng. Dengan senyum geli sipemuda mengawasi sikacung yang kotor mukanya karena lumpur dan debu, disampingnya berdiri seekor kuda putih, seluruh tubuhnya seputih salju-Setelah melongo sesaat baru sikacung ingat akan tugasnya, bergegas dia melangkah maju, menyambut dengan tawa meringis lucu.
"Tuan, kau... mau cari penginapan?"
Melihat ulah sikacung yang lucu ini Pingji tertawa geli, katanya.
"Hm, ya. Adakah kamar kelas satu yang bersih disini ?"
Si kacung segera membusung dada, kata nya.
'Ada, tentu ada.
Bukan aku suka membual, Eng-hiong-kek kita ini tiga puluh li disekitar Lokyang tiada bandingannya, tiada orang tidak tahu segala servis kami nomor satu dibanding hotel-hotel kelas tinggi lainnya.
Apalagi tiada orang yang tidak kenal Bujiya kita Tuan, jika kau menginap dihotel kita, kutanggung kau akan kerasan dan bisa bersenang-senang dengan santai, bukan saja bersih, juga memenuhi syarat-syarat kesehatan, menu yang kami sediakan yakin memenuhi selera tuan-..
hehehe...' Lalu dia terima tali kendali kuda dan berkata pula sambil miring kepala.
'Tuan, kau tidak membawa apa-apa ?"
Ping-ji geleng kepala sambil berkata.
"Rawat kudaku baik-baik dan beri makan sampai kenyang."
Sementara itu dua pelayan telah memburu keluar menyambutnya, pemuda ini hanya berpesan beberapa patah serta merogoh kantong memberikan sekeping uang perak lalu beranjak keluar pula, katanya mau jalan-jalan-Sementara itu kuda putihnya sudah dituntun kekandang belakang oleh kacung cilik tadi, Kalau orang lain kedinginan dan suka tutup pintu mengeram dalam selimut tebal, sementara itu Ping-ji sedang beranjak sambil membusung dada, dengan langkah berlenggang dia putar kayun seperti mengukur jalan raya kota Lok-yang saja.
Kedua tangannya digendong dibelakang, mengawasi cuaca buruk diangkasa diam-diam dia menghela napas, gumamnya sendiri.
"Aih, tahun lalu bukankah aku masih seorang gelandangan ? Waktu itu cuacapun seburuk ini, tapi aku hanya mengenakan pakaian tipis, banyak tambalan lagi, untunglah aku ditolong perempuan petani itu, syukurlah tekadku besar sehingga aku tidak mati kedinginan atau kelaparan."
Ping ji masih terus mengayun langkah tanpa tujuan, pikirannya bekerja pula.
"Sungguh aku tidak tahu cara bagaimana aku harus berterima kasih serta membalas budi kebaikan orang aneh yang tak kuketahui nama dan asal usulnya itu, aku digembleng dan dipaksanya menjadi diriku seperti sekarang, tanpa dia hari ini aku tidak akan seperti ini, Tapi dia telah meninggal. Hm, ceng-san biau-khek keparat itu. Awas kau."
Demikian desisnya sambil mengacungkan tinjunya.
Sejak peristiwa di Siang-jing koan, di mana diketahui cengsan-biau-khek telah mencuri Bik-lo-kim-tan obat sakti pelindung Bu-tong-pay, segera dia mengudak jejaknya sampai dibawah gunung, bukan maksudnya membantu pihak Butong menangkap pencuri atau merebut balik obat mujarab itu, tapi dia ingin menghajar dan membekuk ceng-san-biau-khek untuk membalas dendam serta merebut balik Wi-liong-pit-sin.
Dikala termenung diatas ngarai dibelakang gunung Bu-tong tempo hari dia sudah bersumpah, meski mengudak sampai keujung langit juga dia akan menemukan ceng-san-biau-khek.
menuntut balas kematian si orang aneh.
Ini tugas utama yang tidak boleh ditawar lagi.
Persoalan lain boleh di kesampingkanoleh karena itu, meski dia sudah berhadapan dengan cengciok Tojin, terhadap orang-orang Bu-tong yang membunuh ibundanya, sementara tidak dipersoalkan-Tapi di Bu-tong-san dia mengejar sampai di Tong-ting-ouw, jejak ceng-san-biau
khek tidak pernah ditemukan, maka selanjutnya dia berkelana di Kangouw.
Sebagai insan persilatan, pengembaraannya memang mendatangkan banyak kesulitan, keuntungan tapi juga kesulitan, namun semua itu malah menambah perbendaharaan pengalamannya.
Sepanjang jalan tidak pernah dia mengabaikan setiap kesempatan untuk menyelidiki jejak ceng--an-biau-khek, namun yang dludaknya ini seperti lenyap dari permukaan bumi, entah dimana dia menyembunyikan diri.
Suatu hari dia mendengar suatu berita yang menggelikan tapijuga menjengkelkan dirinya, kejadian tidak lama satelah dia meninggalkan Bu-tong-san, waktu itu dia sedang makan disebuah restoran, entah dari mana datangnya berita angin itu, namun lekas sekali telah tersiar luas dlkalangan Kangouw.
Dari seorang tamu yang telah mabuk disebuah restoran dia mendengar berita begini.
Entah bagaimana Wi-liong-pit-sin muncul pula di kangouw dan berhasil direbut oleh ceng-san-biau-khek yang pernah menjatuhkan dua murid lihay Tok-pi-cun-cia dari Biau-kiang, serta berhasil meyakinkan ilmunya.
Entah karena persoalan lain seorang diri dia meluruk ke Bu-tong, melabrak Bu-tong ciangbun dan Jik-ciok Tojin, sebelum ada kesudahan pertempuran itu, tiba-tiba muncul pula seorang pemuda murid Bu-lim-it-ki yang bergelar Kiu-thian-sin-liong, berjubah hijau bernama julukan Pat-pi-kim-liong (Naga emas berlengan delapan), akhirnya dengan wi-liong-ciang, Pat-pi-kim-liong berhasil memukul luka parah ceng-san-biau-khek, namun berhasil melarikan diri, sebelum merat ceng san-blau-khek berhasil mencuri sebutir Bik-lo-kim-tan, obat mujarab yang merupakan urat nadi pihak Bu-tong-pay.
Sudah tentu pihak Bu-tong gempar dan gusar, anak muridnya segera dia perintahkan mengejar dan merebut kembali obat itu, mati atau hidup harus membawa ceng-san
biau-khek keatas gunung.
Bersama itu undangan pun disebar kepada delapan perguruan besar untuk Cancut taliwanda membekuk Pat-pi-kim-liong, karena berita tersiar luas bahwa Kiu-thian-sin-liong telah muncul pula di kalangan Kangouw.
Mendengar cerita urakan yang tidak karuan parannya itu, Ping-ji geli tapi juga dongkol.
Pikirnya ia sejak kapan aku berobah jadi Pat-pi-kim-liong segala.
Syukur julukan ini enak didengar, maknanya juga baik.
Tapi dia amat kaget karena berita yang tersiar luas di kalangan Kangouw ternyata secepat itu, walau kabar angin itu lebih banyak merupakan bualan, namun ada beberapa bagian yang boleh dipercaya.
Agaknya karena terdesak keadaan Bu-tong-pay menggunakan cara lama, dengan gabungan kekuatan orang banyak seperti dulu mengeroyok Kiu-thian-sin-liong.
Setelah bimbang sejenak.
akhirnya Ping-ji melangkah keutara.
Waktu dia lewat di ou-ling, dia mendengar pula berita lain yang mengejutkan, konon Han-sim-leng-mo iblis tua dari Pak-hay yang sejajar dengan Kiu-thian-sin-liong pada delapan puluh tahun lalu membawa serombongan murid, cucu murid dan buyut muridnya berbondong keselatan mau menyerbu Tionggoan, maksudnya mau membuat perhitungan dengan Kiu-thian-sin-liong.
Perlu diketahui bahwa ceng-san-biau-khek ternyata adalah murid Ham-sin leng-mo secara kebetulan ceng-san-biau-khekdipukul luka parah oleh Pat-pi-kim-liong, murid tunggal Kiuthian-sin-liong.
Pendek kata, bercorak ragam berita yang simpang siur di kalangan Kangouw.
Maka perguruan besar sama sibuk menulis undangan disebar ke berbagai penjuru, suasana menjadi tegang, maklum Ham-sin-leng-mo dari Pak-hay dulu pernah membuat onar besar di Tionggoan.
Demikian pula kaum Lioklim (kalangan begal) juga menyebar Liok-lim-tiap untuk menyambut kedatangan Ham-sin-leng-mo.
Karena sebelum ini Ham-sin-leng-mo sudah mengirim muridnya untuk menyampaikan Ham-kut-ling, perintah kebesaran Hian-pingkiong.
Mendengar berita ini diam-diam Ping-ji girang, pikirnya.
"ceng-san-biau-khek ternyata adalah salah seorang jagoan dari Hian-ping-kiong, agaknya setelah lolos dari Bu-tong-pay langsung dia pulang ke Pak-hay mengadu gurunya serta menghasutnya keluar... Ping-ji mempercepat perjalanan, pada hal hujan salju cukup lebat, tapi cuaca buruk tidak menghalangi tekatnya, hari itu dia tiba di kota Lok-yang, kota kuno yang pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan-kerajaan di zaman dulu. Sebagai kota kuno yang pernah menjadi ibu kota kerajaan, maka kota Lok-yang masih meninggalkan bekas-bekas kejayaannya, jalan-jalan raya dalam kota dibuat dari balok kayu besar, lebar dan bersih. Sekarang Ping-ji sedang mengayun langkah diatas jalan raya yang sudah dilampiri salju, otaknya terus bekerja mengunyah kenangan lama... Tanpa terasa hari sudah petang, toko-toko atau rumahrumah di sepanjang jalan raya sudah mulai menyulut dian atau pelita. Hembusan angin kencang menyampuk Ping-ji menyadarkan lamunannya, segera dia angkat kepala melihat cuaca, pikirnya.
"Ah, hari sudah petang, buat apa aku keluyuran tanpa guna dijalan raya nan dingin ini."
Maka dia memutar balik haluan-Jalan raya sepi lengang, hanya deru angin menyelimuti kesunyian alam ini.
Mendadak di ujung jalan raya jauh didepan sana berkumandang suara kelintingan disertai derap kaki kuda yang dicongklang pelan-pelan, Ping-ji angkat kepala, dilihatnya dari arah depan mendatangi sebuah kereta kuda yang lewat disamping tubuhnya.
Ping-ji sempat melirik sekejap kereta itu ditarik tiga ekor keledai, tirai kereta diturunkan rendah, kereta itu muat apa tidak terlihat, tapi sekilas itu sudah jelas bagi Ping-ji untuk melihat kusir kereta adalah seorang laki-laki tua berdandan orang kampungan.
Tiba-tiba tergerak hatinya, karena lirikan sekejap tadi dia melihat kusir kereta kampungan itu mengangkat kepalanya memandangnya, jelas orang kampungan tapi sorot matanya ternyata tajam berkilat.
Waktu Ping-ji menoleh lagi, tampak kereta itu sudah pergi menjauh dan lenyap ditelan kabut, namun dijalan raya bersalju meninggalkan dua jalur panjang.
Agak lama Ping-ji menjublek ditempatnya, dengar rangsangan curiga akhirnya pelan-pelan dia beranjak kembali kehotelnya, otaknya masih juga bekerja, terbayang olehnya sehari semalam di dalam Te-sat-kok.
Pikirnya.
"Tokko cu yang nyentrik itu memang sukar diselami jiwanya, tapi aku harus berterima kasih kepadanya, karena terlentang diatas balok dipan yang dingin sehari semalam itu, terasa Lwekangnya lebih tangguh dari sebelum ini."
Lalu dia menarik napas panjang, celingukan sekejap.
yakin sekelilingnya tiada orang lain yang memperhatikan dirinya, segera dia mempercepat ayunan langkahnya.
Luncuran tubuhnya secepat anak panah meluncur, dalam sekejap tinggal setitik bayangan saja dan lenyap dari pandangan.
Lekas sekali dia sudah tiba di depan hotel lalu mengendorkan langkahnya, dengan langkah lebar dia beranjak masuk-Tiba saatnya pasang pelita, seorang pelayan bertugas didepan pintu menyambut tamu, dibawah penerangan lampu angin, dilihatnya penyambut tamu ini adalah kacung yang tadi menerima kudanya, dengan senyum manis segera dia maju menghampiri.
Agaknya kacung cilik itu sedang sibuk dengan pekerjaannya, begitu ujung matanya menangkap bayangan orang masuk buru-buru dia berlari keluar menyambut dengan mulut menyerocos.
Tapi serta melihat yang datang adalah Ping-ji seketika dia, berdiri melongo, cepat dia menunduk dengan malu.
Ping-ji tersenyum geli, katanya.
"Bagaimana kudaku ?"
Kacung cilik itu bernama Siau-tang, dengan gelagapan dia menjawab.
"Sudah... sudah dimandikan dan diberi makan tuan-"
Ping-ji tertawa lebar, katanya.
"Banyak terima kasih, rawatlah baik-baik, nah terimalah ini untuk beli arak."
Lalu dia rogoh sekeping uang diberikan kepada Siau-tang.
Karuan Siau-tang kegirangan, dengan munduk-munduk dia menyatakan terima kasih, ludahnya berhamburan-Waktu dia angkat kepala lagi, dilihatnya pemuda ganteng ini berdiri tegak dengan kepala terangkat memandang lurus kedepan pintu.
Sebuah kereta ditarik tiga keledai berhenti didepan pintu, atap kereta bertumpuk salju, ketiga ekor keledai itupun berkeringat napasnya juga ngos-ngosan, jelas baru saja menempuh perjalanan jauh yang melelahkan-Bergegas siau-tang berlari keluar menyambut, tirai kereta tersingkap beruntun turun dua muda-mudi yang berpakaian tebal dilihat tampangnya kedua muda mudi ini adalah kakak beradik, pemudanya bertampang kampungan, sikap dan tindak tanduknya seperti orang jujur, tapi yang pemudi ternyata berwadah jelita, berpakaian gaun panjang warna hijau gelap.
ini terlihat dari balik mantelnya yang tersingkap lebar karena tidak terkancing.
Rambutnya dikepang dua, panjang terurai lembut didepan dada, kini dia sedang menunduk membetulkan pita merah diujung kuncirnya.
Kusir kereta adalah laki-laki tua petani berusia lima puluhan, mukanya kuning seperti malam, berkumis pendek, berjubah sutra dengan warna yang sudah luntur, cemetinya dia tancap disela-sela tempat duduk terus melompat turun melangkah lebar ke dalam sini.
Lekas Siau-tang memburu maju sapanya.
"Tuan-tuan silahkan masuk. silahkan-"
"Ciangkui ada tidak "
Petani itu batas bertanya.
Mengira orang adalah teman baik ciangkui Siau-tang menyambut lebih hormat, sahutnya.
'Sayang sekali tuan, Jiya ada urusan kebetulan keluar pintu.
Kalian mau istirahat saja atau mau nginap.
hotel kita menyediakan kamar bagus dan bersih, tanggung memuaskan-" 'Laki-laki tua itu menghentikan langkah katanya sambil mengerut kening.
'Kalau begitu aku batal menginap.
hari belum malam masih dapat aku menempuh perjalanan ke kota depan-Siau-tang jadi gugup, teriaknya.
'Tuan, kenapa terburuburu.
Hari sudah malam, cuaca buruk lagi, kau...
hai Kwisiansing."
Si kasir alias Kwi-siansing agaknya mendengar ribut-ribut diluar, bergegas dia memburu keluar. Lekas Siau-tang berkata.
"Kwi-siangsing, tuan ini adalah teman Jiya kita..."
Laki-laki tua menukas.
"Kebetulan lewat sini, maksudku hanya mampir sambil menengok Bu-ciangkui saja. Kalau dia ada.."
"Tuan, kenapa sungkan. Jiya memang tidak dirumah, para pelayan jelas takkan berani kurang hormat kepadamu. Kenyataan kau sudah berada di sini dan tak sudi mampir, bila Ji-ya pulang, kita pasti kena marah,"
Demikian kata si kasir dengan mata kedip-kedip. Setelah batuk-batuk lalu melanjutkan.
"Apalagi cuaca sedingin ini, keledaimu pasti tak tahan jalan jauh."
Laki-laki tua itu bimbang dia celingukan keluar dan kedalam. Melihat sikap orang agak tergerak. lekas Siau-tang lari keluar hendak menarik kereta kedalam.
"Ayah. Kita pulang saja."
Demikian ucap nona jelita itu, agaknya dia tidak senang menginap diluaran.
"Maksudku juga demikian, tapi kalau hujan salju lebih deras lagi, celakalah kita ditengah jalan-"
Demikian ujar laki-laki tua sambil mengerut kening, dan lagi pakaian kita kurang tebal, kau bisa kedinginan dan masuk angin-"
"Memangnya ? Hujan selebat itu menempuh perjalanan bisa sakit. Tuan, legakan hatimu, lekas Siau-tang, bawa kereta kedalam dan kasih keledai makanan secukupnya."
Agaknya si kasir lebih cerdik, segera dia bertindak sehingga ketiga ayah beranak itu terpaksa menginap di hotelnya.
"Silahkan tuan, dibilangan belakang ada kamar tersendiri."
Sambil menyilahkan si kasir mendahului menunjuk jalan.
Lewat pintu mereka tiba dipekarangan, langsung masuk ruangan besar, keadaan di sini panas dan penuh sesak.
meja kursi di duduki para tamu yang belum berangkat, diantara mereka terdiri piausu, pedagang, ada pula kawanan begal atau pencoleng yang sedang main kartu alias judi.
Melihat gadis jelita lewat ruang besar kawanan pejudi itu sama bersiul dan berteriak-teriak dengan celoteh tak karuan, dengan muka merah nona itu menunduk terus berjalan-Hanya sekilas laki-laki muka kuning layangkan pandangannya keruang besar terus mengerut kening.
Tapi pemuda dibelakangnya mendelik pandang keseluruh hadirin, sesaat dia berdiri lalu lekas-lekas menyusul laki-laki tua muka kuning kebelakang.
Sang kasir bawa mereka ke pekarangan dalam, dilihatnya Ping-ji sedang berdiri dibawah pohon menikmati kembang sakura yang lagi mekar.
Ala kadarnya sang kasir menyapa kepadanya serta terus membawa para tamu kekamar yang disediakan-Waktu di sapa Ping-ji menarik sorot matanya dan menoleh sekilas dia melongo melihat ketiga tamu ini laki-laki tua muka kuning juga memandangnya dengan sorot keheranan, hanya sedikit mengangguk terus beranjak kebelakang, Ping-ji pun asyik menikmati kembang sakura.
Tapi dengan penuh perhatian dia ikuti langkah sang kasir yang menempatkan para tamunya didua kamar dideretan belakang, setelah mengatur segala sesuatunya lalu mohon diri keluar menuju kedepan.
Ingin Ping-ji kembali kekamarnya terus tidur, tapi setelah merasakan segarnya angin malam yang dingin ini, rasa kantuknya telah lenyap.
maka sambil menggendong tangan dia mondar mandir dipekarangan, pikirnya gundah, menerawang nasib hidupnya sejak dia ketemu orang aneh dan diberi ajaran Kungfu yang tiada taranya, sehingga sejarah hidupnya banyak berobah, hampir larut malam dia masih terlongong dipekarangan bunyi keriut suara daun pintu terbuka pelan-pelan menyentak lamunannya, waktu dia menoleh dilihatnya seraut wajah jelita menongol dari balik pintu, tapi begitu melihat dirinya berdiri dipekarangan, lekas wajah jelita itu mengkeret masuk dan menutup pintu pula.
Ping-ji terpesona, terbayang betapa jeli bola mata cewek jelita ini, rambutnya yang hitam legam dikepang dua.
"Bola matanya mirip sekali dengan Siau-hong, sayang kuncir, Siauhong tidak sepanjang itu."
Demikian Ping-ji melamun, akhirnya dia tertawa geli sendiri, pikirnya. , Kenapa sih aku ini, melenggong didepan pintu kamar seorang gadis he."
Bergegas dia menuju kekamarnya.
Diwaktu dia menutup daun pintu kamarnya, ujung matanya menangkap suatu gerakan bayangan kearah pekarangan depan-Dari perawakan bayangan itu Ping-ji tahu ,bahwa pemuda tanggung itu yang bergerak kedepan secara sembunyi-sembunyi.
Setiba didepan ranjang timbul rasa curiganya, pikirnya.
"Malam selarut ini, mau kemana dia ? Tingkah laku mereka memang agak aneh."
Lalu terbayang akan gadis kuncir besar itu.
"Selama setahun ini, Siau-hong tentu tambah besar, kuncirnya mungkin juga sudah sepanjang itu. Ah, kapan aku bisa meluangkan waktu untuk menjenguknya. Tanpa terasa sudah hampir dua tahun, aku dilibat segala urusan tetek bengek"
Karena belum kantuk dia duduk dipinggir ranjang, membesarkan pelita serta mengeluarkan se
Jilid buku serta membacanya dengan asyik.
Tengah Ping-ji asyik menghapalkan ayat-ayat ajaran Nabi, tiba-tiba didengarnya suara ribut-ribut diruang besar, semula dia tidak ambil peduli, tapi keributan semakin keras dan gaduh, suara caci maki tercampur tempik sorak pula.
Belakangan suara tempik sorak berganti suara gemerincing pecahnya perabot dan meja kursi yang porakporanda orang banyak sama menjerit kaget dan ketakutan-Akhirnya keributan ini menarik perhatian Ping-ji, pelan-pelan dia menutup buku serta melangkah keluar.
Langsung dia menuju keruang besar, di mana suara keributan makin jelas.
Waktu Ping-ji memasuki ruang besar, dilihatnya pemuda tanggung yang datang bersama laki-laki tua muka kuning itu sedang bertolak pinggang serta menuding seorang didepannya, bentaknya gusar.
"Bayar dulu baru enyah dari sini."
Laki-laki yang dituding itu berperawakan kekar, dada lebar, tangan merongkol, alisnya tebal, sambil menyeringai dia balas memaki.
"Bocah keparat. Berani kau bertingkah di sini, memangnya kau berani menghina kita orang-orang Hwe-hunbun ..
"Mendengar laki-laki kekar ini tepuk dada menyebut nama Hwe-hun-bun, hadirin sama berobah air mukanya, seperti melihat setan saja, tidak sedikit yang segera kabur dari situ. Masih, ada enam laki-laki yang tetap berada ditempatnya, jelas mereka adalah komplotan laki-laki kekar. Sesaat Ping-ji berdiri melongo, pikirannya tergerak, dia heran entah kenapa orang banyak mengundurkan diri begitu laki-laki kekar itu menyebut nama Hwe-hun-bun, sehingga dia tidak sempat mengikuti perkembangan yang sekejap ini, pemuda tanggung itu itu sudah digampar mukanya hingga bengap. kawanan bajingan itupun merubung dan menghajarnya pergi datang, tapi si pemuda memang bandel, meski muka dan tubuhnya sudah babak belur tapi dia tetap tidak menjerit, atau merintih, untung sang kasir lekas keluar melerai. Gadis kuncir itupun telah berlari keluar dan meratap sambil menangis.
"Lepaskan adikku, kalian orang besar, kenapa menganiaya bocah."
Ditengah gelak tawa latah laki-laki kekar, dia menghampiri si gadis serta ulur tangannya yang gede merenggut dagu si gadis serta menatapnya dengan memicing mata, seringainya sadis dan bajul, desisnya.
"cewek seayu ini, kenapa tidak sejak tadi kau kemari, urusan kan lekas beres ? Hehehe, Yahaha."
"Saudara ini."
Sang kasir segera menarik muka dan berseru lantang, bertindaklah yang genah. Ditempat Bu-jiya, siapapun di larang membuat onar."
Mendengar nama Bu-jiva, agaknya laki-laki kekar itu melanggong dan sesaat berdiri kaku, tapi kembali dia tertawa latah, ajarnya.
"Baiklah, tuan kasir, didepan Bu-jiya tolong jelaskan duduk persoalannya. Genduk ayu, ikutlah kekamarku. Hahaha."
Tangannya berpindah hendak menangkap lengan si gadis lekas, si gadis menyurut mundur sambil menjerit minta tolong.
Berdiri alis Ping-ji, nafsu membunuh telah melembari wajahnya, diluar dugaan sebuah suara tiba-tiba terkiang dipinggir telinganya.
"Jangan tuan menyusahkan diri."
Ping-ji kaget serta menoleh kebelakang, seketika dia melenggong, dibelakang tiada tampak bayangan seorangpun, tiba-tiba sebuah suara serak berkata ditengah kerumunan orang banyak.
"Tuan-tuan harap sudi memberi kelonggaran-Anakanak masih kecil tidak tahu urusan, memang mereka yang salah, biar aku mohon maaf saja, harap tuan-tuan suka memberi ampun padanya."
Waktu Ping-ji pandang kemuka pula, laki-laki kusir kereta muka kuning itu tengah munduk-munduk memberi hormat kepada kawanan bajingan, air mata bercucuran, air liur meleleh, jelas putra putrinya yang digoda dan dihajar orang, tapi dia malah minta ampun dan maaf kepada kawanan pengeroyok itu.
Berderai gelak tawa kawanan bajingan, ada yang memaki, menghina, dan menyindir tapi laki-laki tua itu menunduk sambil mundur sambil menggandeng putra putrinya maksudnya mau meninggalkan ruang besar ini, tapi laki-laki kekar segera menghadang, desisnya dengan menyeringai sadis.
"Mau ngacir ? Memang semudah ini urusan diselesaikan-" 'Maksudmu... 'Bayangan gelap melambari wajah laki-laki tua muka kuning, lekas dia mengerut alis, tangannya melepas gandengan putrinya lalu meraba keikat pinggang, agaknya hendak mengetatkan yang tapi sejenak dia bimbang lalu membatalkan niatnya. 'Keluarkan uangmu, dan ganti kesalahan anakmu."
Laki-laki kekar berkata serakah, seperti kucing yang mengendus bau ikan, sikapnya garang dan menantang.
"Yah, mereka yang salah, duitku malah yang direbut."
Demikian teriak pemuda tanggung penasaran-"Bandel, apa yang telah kupesan di rumah."
Laki-laki tua muka kuning berwajah kampungan mendelik, lalu berpaling kepada putrinya serta mengomel pula, budak tidak tahu diri, disini tempat apa, berani kau kelayapan di sini."
"Yah, mereka . mereka..."
Nona berkuncir itu sesenggukan-.
"Tahumu nangis melulu."
Damprat pula laki-laki kampungan itu.
"Memangnya ada orang baik disarang judi."
Berkerut alis Ping-ji. Dilihatnya laki-laki kekar itu melangkah maju seraya ayun tangan "Plak"
Kontan laki-laki kampungan digamparnya dua kali.
"Siapa bukan orang baik. Katakan, biar kurobek mulutmu."
Darah tampak meleleh diujung mulut laki-laki kampungan, dengan air mata meleleh dia munduk-munduk menyurut mundur tanpa berani bersuara atau membalas dia tarik tangan putra putrinya hendak pergi.
"Berhenti."
Hardik laki-laki kekar.
Mendelik mata Ping-ji, amarahnya sudah membakar dada, sambil mengebas lengan baju pelan-pelan dia berdiri, tiba-tiba tergerak hatinya, waktu dia menunduk, tampak diatas meja menancap sebuah benda sehingga lengan baju kirinya terpaku dipermukaan meja.
Sekilas melenggong Ping-ji jemput benda yang berbentuk cakar garuda, seperti terbuat dari besi tapi bukan besi, warnanya-legam, panjang satu dim lebih, ditengah telapak cakar terukir sebuah huruf "Sun".
Waktu dia angkat kepala dilihatnya laki-laki tua kampungan sedang gelenggeleng, mulutnya seperti menggumam.
"Kalah tidak bayar, main pukul, menganiaya putra putriku, kalian kira aku takut, yang benar aku memberi muka kepada Bu-jiya, kalau tidak.. Hm."
"Hoho, jangan main gertak dengan nama Bu-jiya."
Jengek laki-laki kekar.
"Terserah bagaimana pendapatmu, yang terang aku tidak akan melawan-' Demikian ujar laki-laki kampungan-katakatanya menimbulkan gelak tawa kawanan bajingan itu. Laki-laki kekar itu tertawa paling keras tiba-tiba dia melangkah maju pula, tinju sebesar kepala segera dilayangkan mengenjot muka laki-laki kampungan, lawan menyurut mundur Meluputkan diri. 'Sudah tentu laki-laki kekar jadi sengit amarahnya makin besar, sambil menggerung dia mengudak seraya menampar deraan telapak tangannya segede kipas.
"Plak, plok"
Dua kali tamparan keras berkumandang disusul jeritan yang mengerikan-Tampak laki-laki kekar terhuyung jatuh celentang.
darah meleleh dari mulutnya, kedua pipinya bengkak membiru, mulutnya merintih-rintih.
Hadirin tiada yang tahu apa yang telah terjadi, semua mendelong mengawasi laki-laki kampungan itu, pelan-pelan dia angkat tangan kanan yang kurus kering serta pelan-pelan membuka jari-jarinya, delapan jari tangan yang berlepotan darah jatuh dilantai satu persatu.
"cukup aku protoli jari-jari iblismu sabagai imbalan perbuatanmu"
Sudah tentu ciut nyali kawanan bajingan itu, muka pucat badan gemetar, tampang yang semula garang dan sadis tadi entah kemana perginya, mimik wajah mereka lebih mirip anjing yang kena gebuk dan mencawat ekor, hati mereka kebat kebit, tiada yang tahu giliran siapa diantara mereka bakal menerima nasib seperti pentolan mereka, maklum mereka pun tadi ikut mengeroyok pemuda tanggung itu.
Diluar dugaan laki-laki kampungan merogoh kantong mengeluarkan sebentuk uang perak terus dilempar kedepan laki-laki kekar yang masih merintih-rintih, katanya.
"Ambil uang itu sebagai ongkos obat. Jangan kau kebentur ditanganku lagi, hukumannya lebih berat."
Siapapun tiada yang menduga bahwa urusan akan berakhir begini saja.
Lega hati kawanan bajingan, dilihatnya laki-laki kampungan pergi menggandeng putra putrinya, serempak tanpa berjanji mereka saling berebut memunguti uang yang berceceran dilantai, setelah dikuras bersih beramai-ramai membimbing laki-laki kekar meninggalkan tempat itu.
Ruang besar itu menjadi sepi kecuali pelayan yang menggerutu membersihkan lantai membetulkan meja kursi yang porak poranda.
Ping-ji orang terakhir yang meninggalkan ruang itu, sambil menghela napas dia melangkah kebelakang menuju kekamarnya.
"Engkoh cilik,"
Sebuah suara berkumandang dibelakang, tunggu sebentar."
Waktu Ping-ji berpaling dilihatnya laki-laki kampungan berdiri didepan pintu serta menggapai tangan kearahnya dengan wajah tersenyum ramah.
Sejenak Ping-ji berdiri tertegun, akhirnya dia melangkah menghampiri, laki-laki kampungan mundur sambil melebarkan pintu menyilakan Ping-ji masuk serta menutup daun pintunya.
Berada didalam rumah, hawa terasa hangat, ditengah ruang terdapat sebuah meja, dipinggir meja terdapat anglo yang sedang membara apinya.
"Silakan duduk engkoh cilik."
Laki-laki kampungan menyilahkan duduk, sekedar basa basi Ping-ji lalu duduk dipinggir meja.
Dengan sorot mata penuh tanda tanya dia pandang laki-laki kampungan, orang itu tersenyum lebar serta berkata pula.
"Engkoh cilik, tahukah kau, apa maksudku mengundangmu kemari ?"
Ping-ji melongo, pikirnya.
"Ada-ada saja pertanyaanmu, sebelum ini aku belum mengenalmu, mana tahu apa maksudmu mengundangku kemari ?"
Tapi lahirnya dia bersikap wajar, sahutnya.
"Sudah tentu Wanpwe tidak tahu harap Lopek (paman) sudi menjelaskan-"
Laki-laki kampungan muka kuning mengelus jenggot kambing dibawah dagunya, katanya gelak tertawa.
"Ah. mana berani aku berlaku kurang hormat. Bukankah engkoh cilik she Liok?"
Ping-ji tertegun, pelan-pelan dia menggeleng. Laki-laki kampungan itu ikut melongo, mulutnya mendesis.
"Lalu... tolong tanya siapa she engkoh cilik ?"
Sekali pandang Ping-ji sudah yakin bahwa laki-laki kampungan muka kuning adalah seorang tokoh aneh yang menyembunyikan asal usul sendiri.
beberapa kejadian didalam rumah tadi lebih meyakinkan bahwa dia seorang kosen yang lihay, maka dia maklum bahwa orang pasti punya sesuatu maksud sehingga mencari tahu asal usul dirinya, namun dia sendiri jadi bingung dan tak tahu bagaimana harus menjawab, padahal kejadian serupa sudah beberapa kali dia alami.
Sebetulnya secara ngawur bisa dia menyebutkan she apa, namun melihat sorot mata orang begitu tulus dan betul-betul mengharap jawaban sejujurnya, karuan dia melenggong dan geleng-geleng kepala.
Melihat dia bimbang lalu geleng-geleng kepala, laki-laki muka kuning kira dia tidak mau memberi tahu, maka dia menghela napas kecewa, katanya rawan.
"Terus terang saja engkoh cilik, Ditengah jalan raya tadi, begitu melihat kau aku sudah tahu bahwa kau membekal Kungfu tinggi, hawa sedingin itu kau hanya berpakaian tipis, maka aku melirik dua kali kepadamu, tapi sekilas pandang tadi terasa pula wajahmu seperti sudah amat kukenal, mirip sekali dengan seorang sahabatku she Liok diwaktu muda dulu, maka aku memberanikan diri mengundangmu kemari, ternyata dugaanku meleset..."
Kaget Ping-ji setelah mendengar penjelasannya, katanya gugup.
"jangan salah paham, terus terang, Wanpwe punya kesukaran pribadi yang tidak mungkin kujelaskan-jadi bukan tidak sudi memberi keterangan kepada paman-Bicara sejujurnya, Wanpwe sendiri sejauh ini tidak tahu riwayat hidupku..."
Bersinar bola mata taki-laki muka kuning, katanya.
"o, jadi Lohu yang banyak curiga malah, harap engkoh cilik tidak kecil hati."
Lama dia melamun mengawasi bara yang menyala diatas tungku, setelah menarik napas panjang dia berkata pula dengan nada rawan.
"Tigapuluh tahun yang lalu, Lohu pertama kali berkecimpung di kalangan Kangouw, dengan sebatang Kiu-coan-kim-pian (ruyung emas sembilan putaran) dan ilmu pukulan Le-hun-jiau (cakar pemisah sukma) aku diagulkan dengan julukan Thi-jiu-kim-pian (cakar besi ruyung emas), waktu itu diutara dan selatan sungai besar siapa tidak akan mengacung kan jempol setiap kali mendengar julukan Thia-jiau-kim-pian Sun-Bing-ci.....
"Dia seperti tenggelam dalam kenangan lama, seperti menggumam pula mengisahkan masa lalunya kepada Ping-ji.
"Tapi kala itu ada pula seorang jago muda yang bernama Ittio-liong Bu Kim menjagoi utara sungai konon usianya, masih muda, tapi pipa cangklongnya yang dia gunakan sebagai gaman ternyata memiliki permainan luar biasa, namanya sudah dikagumi dan diagulkan oleh kalangan orang-orang gagah. Maklum masih berdarah panas, Lohu lantas meluruk keutara menantang It-tio-liong (seekor naga). Maklum masih sama-sama muda, berdarah panas, karena tidak cocok dalam pembicaraan begitu ketemu kami lantas saling labrak. bertarung dengan seru. Boleh di kata kita ketemu lawan setanding, setelah bertempur tiga ratus jurus lebih tetap seri. Pertempuran berakhir pada jurus tiga ratus dua puluh, dengan Le-hun jiau aku berhasil mencomot pakaiannya dan meninggalkan lima jalur cakaran jariku didepan dadanya, tapi pipa cangklongnya juga berhasil mengetuk kepalaku sehingga abu rokoknya mengotori rambut kepalaku.
"Akhir pertempuran itu boleh dikata seri alias setanding, tiada pihak yang kalah, dari bertarung itulah timbul rasa simpati kami masing-masing, maka sejak itu kami terikat sebagai sahabat baik..."
"Sejak kejadian itu, ke utara atau di selatan sungai besar, di mana ada jejakku, kesitu pula dia pergi, selama beberapa waktu kita tak pernah berpisah, dengan sebatang ruyung emas dan pipa cangklongnya, tidak sedikit kita membuat pahala besar bagi kaum yang tertindas .."
Seperti melupakan kehadiran Ping-ji saja Thia-jiau-kim-pian Sun Bing-ci meneruskan kisahnya, tapi pandangannya tetap terlongong kearah tungku yang masih menyala baranya "Pada suatu kesempatan yang kebetulan, aku bersama It-tio-liong menghadiri suatu pertemuan besar kaum Bulim di Ui-san, yang bergelar Swan-bong-it-kia m (pedang angin lesus Liok Hoat-liong betul-betul membuat aku dan It-tio-liong amat kagum, Waktu itu dengan sebatang pedangnya, beruntun dia menjatuhkan Kun-lun-sam-kiam dan jago-jago kosen dari Tiang-pek-pay yang terkenal dengan cap-ji-lian-hoan-kiam, sehingga dia di sanjung puji seluruh hadirin, ketambah sikapnya yang ramah dan sopan sehingga menarik perhatian banyak orang.
Maka setelah pertemuan itu usai, aku dan Ittio-liong mencarinya, setelah bicara semalam, suntuk kita sama merasa cocok satu dengan yang lain, maka malam itu juga kita bertiga angkat saudara..."
Makin besar semangat Thi-jiau-kim-pian menceritakan kisah masa lalu, baru sekarang dia angkat kepala memandang Pingji, melihat sikap Ping-ji hambar dan bingung, seperti prihatin akan ceritanya, maka dia batuk-batuk lalu meneruskan kisahnya.
"Karena usiaku paling tua maka aku sebagai Toako, Swan-bong-it-kiam genap berusia dua puluh, paling muda, jadi sebagai Losam. Seperti harimau tumbuh sayap saja, kami bertiga malang melintang di kalangan Kangouw mendarma baktikan diri untuk insan persilatan-.."
Mendengar kisah Swan-bong-it-kiam Liok Hoat-liong, hati Ping-ji sudah tidak karuan rasanya, batinnya.
"Siapakah Liok hoat-liong itu ? Apakah ada hubungan dengan aku sehingga tadi dia tanya apakah aku she Liok? Liok Hoat-liong... Liok Hoat-liong.. ."
Meski hatinya gundah, namun dia diam saja mendengarkan kisah Thi-jiau-kim-pian-"Kira-kira lima tahun kemudian, Liok-laote kita itu sudah menikah.
isterinya bernama Bun Wi-lan, putri tunggal Luitang-ban-li Bun Gan-pek Bun-loyacu, pesta pernikahannya boleh di kata menggemparkan dunia persilatan, karena mempelai laki-laki adalah Swan-bong-it-kiam Liok Hoat-liong yang gagah dan cakap, sementara isterinya adalah putri kesayangan sesepuh persilatan yang cantik, cerdik dan anggun-"Masih segar dalam ingatanku, pada malam pengantennya itu, aku dan Bu Kim secara diam-diam menyeret Liok-laote kesebuah warung arak yang letaknya tiga puluh li dari rumahnya, maklum selanjutnya dia akan bebas dari perserikatan kita bertiga sebagai perjaka, oh ya, hampir lupa aku memberitahu kepadamu, waktu itu aku dan it-tio-liong belum menikah.
Pada hal Liok-laote sudah mabuk.
tapi dia masih memeluk guci arak.
dengan air mata bercucuran dia bilang tidak mau menikah...
hahaha." ---ooo0dw0ooo---Seolah-olah dia berada dalam pesta perjamuan di masa lampau dulu, wajahnya yang semula kuning tampak merah menyala penuh semangat, sorot matanyapun mencorong terang.
"Selamanya takkan pernah terlupakan olehku, betapa senang dan gembira hati kami, bahwasanya Liok-laote sudah lupa bahwa malam itu adalah malam pertama pernikahannya, kami juga berlaku egois tetap menahannya sehingga dia tidak bisa pulang, entah sudah berapa guci arak kita habiskan bersama, tapi kami masing-masing tetap memeluk satu guci, pada hal arak yang wangi dan keras telah membakar kerongkongan, tapi kami seperti kuatir selanjutnya takkan punya kesempatan berbincang-bincang lagi, seperti berlomba saja kita terus mgomong panjang-lebar, bicara tentang pengalaman kita bertiga dan banyak lain-.. entah berapa lama kami ngomong, tiba giliran Liok-laote mengisahkan pengalamannya betapa dengan sebelah tangannya dia membelah roboh Tiam-jong-it-koay, ternyata telapak tangannya menabok batok kepalaku.
"Pada hal aku sendiri juga sedang membual tentang pengalamanku seorang diri berhasil menggenjot mampus Hekcui-sin-kiau, tinjuku telak menggasak perutnya. Sehingga meja terbalik hidangan berantakan, Liok-laote juga tumpah-tumpah mengotori seluruh badanku. Pada saat yang sama It-tio-liong juga membual bagaimana dengan sepasang tinjunya berhasil menundukkan Soat-san-siang-koay, saking senang dan bangga kedua tangannya menindih. 'Maka kepalaku dan kepala Liok-laote diadunya, kami bertiga sama-sama roboh terjungkal, It-tio-liong malah menindih diatas kami berdua .Jikalau pelayan tidak membangunkan aku, entah sampai kapan aku akan lelap dalam buaian mimpi, tapi waktu aku bangun sudah hari kedua menjelang lohor.
"Betapapun takkan kulupakan, waktu dia siuman, It-tioliong masih menggeros, kepalanya tertutup panci, sisa kuah yang terisi didalam baskom berbunyi kelutukan setiap kali napasnya keluar masuk. Demikian pula Liok-laote yang jadi penganten juga nyenyak memeluk nampan, paha ayam masih terkulum dalam mulutnya, waktu aku memukulnya bangun, mulutnya masih mengigau minta cium, apapun tidak mau bangun-.. kejadian itu sungguh amat menyenangkan, lucu dan kocak."
Sampai di sini wajahnya yang semula berseri berobah makin buram, mata berkaca-kaca dan suaranyapun serak."...
sejak hari itu kamipun berpisah.
Seorang saudara sepupuku yang berdagang kulit ternak diluar perbatasan terbunuh oleh sekawanan perampok setelah barang-barangnya dirampas.
begitu mendengar berita buruk ini aku segera menyusul keluar perbatasan, setelah aku berhasil menuntut balas, itu sudah tiga tahun kemudian aku membawa sepasang putra putri saudara sepupuku, yaitu muda mudi yang kau lihat tadi, kembali ke sini.' Baru sekarang Ping-ji tahu bahwa nona berkuncir dan pemuda tanggung itu ternyata adalah keponakan laki-laki kampungan muka kuning berjuluk Thia-jiau-kim-pian ini.
Dengan suara serak Thia-jiau-kim-pian meneruskan kisahnya.
'Tapi sejak itu aku putus hubungan dengan Swanhong-it-kiam.
Di San-say, dari seorang teman aku mendengar, sejak aku berada diluar perbatasan, It tio-liong pernah bertanding dengan seorang gembong iblis yang datang dari luar perbatasan dan kalah satu jurus, sesuai perjanjian, setelah kalah dia mengundurkan diri selanjutnya tidak akan mempelajari ilmu silat lagi, maka waktu aku menyusulnya kemari, ternyata dia sudah membuka rumah makan Enghiong-kip ini, dengan rasa sedih kami berbincang tentang pengalaman hidup sejak berpisah...
kusinggung tentang berita Swan-hong-it-kiam, ternyata Bu-jite tidak tahu menahu jejaknya, cuma setahun setelah aku keluar perbatasan, katanya mereka pernah bertemu sekali, katanya Liok-laote amat lesu dan patah semangat.
tutur katanya tidak seriang dan segagah dulu, sejak berpisah tak pernah mendengar kabar beritanya pula...
Mendengar kisah suka duka masa lalu orang tua ini, Ping-ji ikut merasakan betapa riang gembira dan pahit getir kehidupan mereka.
Tapi kehidupan didunia ini memang tidak abadi, kalau dulu mereka hidup senang namun sekarang mereka sama menghadapi nasib hidup sendiri-sendiri.
Terhadap It-tio-liong yang sekarang jadi pemilik Eng-hiong-kip ini, diam-diam diapun merasa kagum dan simpati terhadap nasib hidupnya.
"Maka aku pulang kekampung halaman membawa kedua keponakanku di ouw-lam, di sana aku mencari suatu tempat yang aman dan dan mengasingkan diri..."
Demikian laki-laki muka kuning meneruskan kisahnya."
Karena pengalaman masa lalu yang menyedihkan sungguh terlalu dalam menggores sanubariku dan saudara sepupuku itu mati karena dia pandai main silat, maka saking putus asa, aku tidak pernah menyinggung ilmu silat kepada kedua keponakanku, akupun larang mereka belajar silat.
kami hidup bercocok tanam, semula aku sudah berpendirian biar hidup tentram sebagai petani sampai mati, biarlah kedua keponakanku menjadi manusia awam yang hidup bersahaja, bebas dari keruwetan hidup insan persilatan."
Sampai disini dia menambah arang diatas tungku sehingga api meletik, lekas sekali bara api menyala makin mencorong sehingga wajahnya yang kekuningan tampak berminyak mengkilap.
sorot matanya seperti memancarkan cahaya aneh, suaranya terdengar berat.
"Tapi urusan justeru tidak semudah yang kuidamkan. Tidak lama setelah aku hidup tentram, kudengar berita yang tersiar luas di Kangouw bahwa pihak Hwe-hun-bun telah menyebar "Twe-hun-leng memerintahkan semua anggota Hwe-hun-bun untuk mencari jejak Swan-hongit-kiam Liok Hoat liong, karena Swan-hong-it-kiam Liok Hoatliong membunuh Biat-biau-kiam-khek Leng Pwe-kiat putra kesayangan Hwe-hun-cun-cia. ciangbunjin Hwe-hun-bun, maka hatiku yang semula sudah tentram mulai bergolak pula, buru-buru aku membereskan keperluan anak-anak terus menemui It-tio-liong tapi It-tio-liong juga tidak tahu duduk persoalannya..."
Kembali tergerak hati Ping-ji waktu mendengar Hwe-hunbun, pikirnya.
"Bukankah laki-laki kekar tadijuga bilang dirinya ada hubungan dengan Hwe-hun-bun ?"
Karena Thia-jiu-kim-pian meneruskan ceriteranya, maka dia pun tidak menyela.
"Aku sibuk mencari berita dari berbagai pihak. namun hasilnya nihil, sementara Hwe-hun-bun sendiri juga gagal menemukan jejak Swan-bong-it-kiam, entah Liok Hoat-liong sembunyi dimana, karena dirumah masih ada urusan, terpaksa aku kembali ke ouw-lam. Sejak itu, tak pernah aku mendengar berita Liok-laote lagi.
"Tapi suatu hari, kejadian kira-kira tahun lalu dimusim dingin menjelang lohor, untuk menyambut tahun baru, aku perlu kekota Tiang-san membeli barang-barang keperluan-Dijalan raya aku bertemu dengan seorang perempuan setengah baya dengan pakaian kotor koyak-koyak, lengannya buntung sebelah dan bicaranya tidak genah, langkahnya gentayangan, mulutnya yang mengoceh tidak berhenti menimbulkan perhatian serombongan anak-anak nakal yang menggodanya karena ingin tahu segera aku menghampiri setelah dekat baru kukenali, perempuan ini bukan lain adalah isteri Liok-loate yang tak karuan kabar beritanya yaitu Bun Wilan-.. ' Waktu mendengar Thia-jiu-kim-pia n mengatakan perempuan buntung lengannya, darah terasa mendidih didada Ping-ji, mata mendelik, dengan tangan gemetar dia pegang pergelangan tangan Thi-jiau-kim-pian, tanyanya gugup. 'Apakah perempuan buntung lengan kiri, ada sepasang lesung pipit dikedua pipinya, berusia empat puluhan?' Bercahaya bola mata Thi-jiau-kim-pian-Dilihatnya mata Ping-ji terbelalak. Berkaca-kaca menatapnya penuh harap. karuan sesaat diapun tertegun, akhirnya dia manggut dan bertanya heran. 'Kau... dari mana kau tahu ? Dimana kau pernah melihatnya ?' Pecah tangis Ping-ji, air mata bercucuran, rasa duka tak terbendung lagi sehingga dia menangis gerung-gerung. Thijiau-kim-pian jadi diam saja membiarkan dia menangis sampai puas dan reda baru tanya duduk persoalannya. Dengan menekan rasa duka, maka Ping-ji ceritakan riwayat hidupnya, bagaimana sejak kecil dia hidup di Kui-hun-ceng, belakangan karena disiksa oleh Ti Thian-bin dia minggat dari kampung halamannya, terus diceritakan sampai sekarang dirinya berada di hotel ini. Akhirnya mereka berpandangan menghela napas panjang bersama. Tanpa mereka sadari cuaca yang semula gelap kini sudah benderang, sinar mentari telah menerobos dari celahcelah jendela, diluar sadar mereka hari sudah terang tanah. Menyongsong datangnya sang fajar Ping-ji mondar mandir di pekarangan, cahaya mentari makin panas, salju yang bergantungan dipucuk pohon mulai lumer dan menetes jadi air, Ping-ji tidak pedulikan pakaian, rambut dan sepatunya basah, dengan menggendong kedua tangan dia terus jalan bolak balik, otaknya terus bekerja.
"Dalam usiaku yang delapan belas ini, aku sudah kenyang menghadapi ujian hidup, diriku sudah tergembleng seumpama otot kawat tulang besi.
Ada kalanya keadaanku sudah mirip rumput kering yang terinjak roboh, tapi syukurlah aku masih tetap kuat bertahan dan berdiri pula.
Seperti juga kembang sakura ini, meski di musim dingin dia tetap bertahan kokoh dan berkembang semerbak kuharap akupun akan sekokoh kembang sakura, mengembangkan kekuatan kedua tanganku, menyambut ujian, derita hidup yang bakal kuhadapi pula..."
Sambil menunduk dia seka air yang menetes dijidatnya serta melangkah beberapa tindak seperti apa yang di katakan paman Sun apa yang harus kucari sudah jelang, sudah pergi dan tak mungkin kugapai pula, syukurlah aku dapat menemukan paman Sun, saudara angkat paling dekat orang tuaku, di bawah bimbingan dan asuhannya, aku akan memperoleh tumpuan cinta kasih seperti rumput yang mendapat rabuk sehingga dia mendapat tunjangan hidup melawan derita, dendam kesumat orang tua tidak boleh kulupakan, tugas berat masih harus kupikul, merebut balik Wiliong-pit-sin dan menegakkan kembali kejayaan Hong-luibun-..
Tanpa terasa dia merogoh keluar Hiat-liong-ling yang tergantung dilehernya, dengan mendelong ia awasi garis naga yang membuka mulut mengulur cakar, didalam mainan kalungnya itu, mulutnya kembali menggumam.
"Tugas berat ini harus kuat kupikul, Hong-lui-bun akan kudirikan dan kutegakkan bagai kilat menyamber guntur menggelegar menyapu jagat menjagoi Bulim, akan kubuat mereka tahu bahwa dikalangan Kangouw telah muncul seorang jago bernama Liok Kiam-ping.
"Tapi hal ini akan terlaksana bila aku berhasil merebut Wiliong-pit-sin. Ya, aku harus selekasnya menemukan Wi-liongpit-sin lebih dulu."
Setelah mengebas lengan baju, langsung dia beranjak kedalam kamar tidurnya.
---ooo0dw0ooo---Hari masih pagi, setelah ganti pakaian Ping-ji beranjak keluar menyusuri jalan raya yang penuh sesak.
Lok-yang pernah menjadi ibu kota dari beberapa dynasti kerajaan dulu, maka kota ini cakup makmur, taraf kehidupan penduduk cukup baik, deretan gedung-gedung sepanjang jalan raya yang beralas balok-balok batu ini cukup mewah dan megah, bangunannya serba kuno dan mentereng lagi, Lokyang merupakan pusat perdagangan pula, maka begitu fajar menyingsing, kaum pedagang sudah sibuk bekerja mencari nafkah dan keuntungan sebanyak mungkin, ada jamak kalau lalu lintaspun ramai berlalu lalang.
Mengikuti arus lalu lintas yang padat dijalan raya Liok Kiam-ping Pendekar muda kita ini berjalan kedepan tanpa tujuan.
Meski sebesar ini tapi Kiam-ping sudah biasa hidup menderita dalam kemiskinan, berada di kota makmur seramai ini, matanya jadi jelilatan tak ubahnya orang desa masuk kota segala sesuatu menjadi perhatiannya, begitulah sambil berlenggang, mirip orang pelancongan saja, dia terus berjalan kedepan sambil celingukan kekanan kiri.
Tiba-tiba dirasakan ada orang menginjak kakinya, begitu dia menoleh, tampak seorang laki-laki setengah umur bertopi kain berdandan mirip Busu tengah menoleh juga kearahnya sambil mengangguk dan tersenyum minta maaf, Kiam-ping pikir, mungkin orang tahu salah menginjak kakinya, maka diapun tidak ambil peduli.
Kiam-ping masih meneruskan perjalanannya ditengah kerumunan orang-orang yang simpang siur.
Tiba-tiba diapun merasakan dirinya menginjak sesuatu, keadaan cukup dimakluminya maka dia tidak sempat menunduk.
karena dia tahu tanpa sengaja diapun menginjak kaki orang.
lekas dia berpaling, didapatinya seorang pemuda berdandan pekerja tengah tersenyum ramah kepadanya, Liok Kiam-ping tersenyum sambil mengangguk.
Mendadak arus manusia berdesakan dari arah belakang, pemuda itu ditumbuk dari belakang hingga menerjang kedepan dan keduanya kembali bertubrukan, tanpa berjanji mereka saling minta maaf.
Tanpa sengaja waktu Liok Kiam-ping berpaling, didapatinya tidak jauh diantara kerumunan orang banyak yang simpang siur, ada sepasang mata tajam tengah memperhatikan dirinya, waktu dia menegasi.
kiranya laki-laki setengah umur yang tadi menginjak kakinya, tampak tulang pipinya menonjol sepasang matanya seperti mata burung elang, memancarkan sinar terang.
Bimbang dan curiga Kiam-ping dibuatnya, pelan-pelan dia memutar kepala tiba-tiba dilihatnya tak jauh dibelakang lakilaki setengah umur itu berdiri pula seorang Hwesio kurus yang ngantuk, orang banyak berdesakan sehingga dia tidak sempat perhatikan dandanannya, tapi kepalanya yang gundul kelihatan kelimis mengkilap.
tapi kepalanya tumbuh banyak borok yang bernanah.
Hwesio ini kelihatannya Jenaka, matanya kelihatan seperti beberapa hari tidak tidur, hidungnya besar, dengan cengar cengir Hweslo itu meram melek memperlihatkan muka jeleknya seperti sengaja menggoda dirinya.
Liok Kiam-ping tidak tahu, gaya lucunya itu ditujukan kepada siapa, maka dia hanya manggut beberapa kali terus melengos kearah lain, kebetulan arus manusia berdesakan pula makin padat, maka dia tidak ambil perduli kepada kedua orang itu, semula dia kira laki-laki setengah umur dengan hwesio kudisan itu sehaluan, tetapi beberapa langkah kemudian, waktu dia menoleh pula, kedua orang itu sudah tidak kelihatan-Dengan perasaan was-was lekas Kiam-ping mendesak keluar dari arus orang banyak membelok kesebuah gang kecil, diujung gang berdekatan dengan jalan raya terdapat sebuah restoran kecil berloteng, kain panjang yang bergantung diatas tinggi bertuliskan cong-goan-lau tiga huruf besar warna merah.
Seorang pelayan berdiri dimuka rumah sedang tarik suara menarik perhatian orang-orang yang lalu lalang supaya mampir sarapan pagi, dipujikan masakan lezat dari koki ternama dengan sajian-arak tulen paling harum.
Pagi ini Liok Kiam-ping memang belum sarapan, perut lagi lapar, maka tanpa pikir segera dia melangkah masuk.
pelayan segera menyambut mencarikan meja diatas loteng tingkat kedua.
Diatas loteng ada delapan meja, jendela berkaca, keadaan rapi bersih.
dibagian luar dibawah jendela yang mengarah kejalan raya dipetak menjadi beberapa bilik ditutupi gordyn-Kiam-ping menempati salah satu bilik serta memesan beberapa masakan, Gordyn disingkap kesamping.
Sambil menunggu masakan yang dipesan Liok Kiam-ping mencicipi secangkir arak yang disuguhkan, arak yang masih hangat, rasanya memang harum dan sedap.
tanpa sadar dia memuji.
"Arak bagus."
Tiba-tiba didengarnya suara seorang menggerutu.
"Maknya, kurcaci itu memang pantas mampus, siapa bilang tidak bagus, goblok, sontoloyo, arak simpanan beberapa tahun begini kok tidak bagus, cek. cek cek aduh wanginya, maknya."
Suara orang ini tidak begitu genah, agaknya mulutnya sedang mengulum sesuatu hingga bicaranya kurang lancar.
Liok Kiam-ping kaget mendengar suara gerutu ini, dengan tangan dia menyingkap gordyn dan melongok keluar, dilihatnya beberapa meja dibagian ruang tengah duduk beberapa orang tamu, mereka sedang sibuk makan sarapan yang dipesannya, jelas mereka tidak pernah bicara, maka dengan curiga dia mengamati sekelilingnya.
"Maknya, maling cilik ini langak-longok entah mencari apa, awak sendiri terancam bahaya masih perhatikan orang lain, memangnya mengincar panggang bebekku ini"
Aduh mak. panggang bebekku bisa terbang, hanya kaulah jiwa hidupku, jangan pergi, maknya."
Kain gordyn dlseberang kebetulan tersingkap oleh hembusan angin lalu, mata Kiam-ping cukup tajam, sekilas dilihatnya seorang Hwesio kurus dengan kepala kelimis penuh borok bernanah tengah meringkuk memeluk guci arak.
jubahnya yang kotor terbuat sari kain blaco banyak tambalan lagi, diatas meja bertumpuk beberapa guci kosong, meja didepannya juga penuh piring mangkok yang terbalik, jelas hidangan semeja penuh itu terus dikuras bersih kedalam perutnya .
Tampak oleh Liok Kiam-ping hwesio itu sudah mendengkur memeluk guci tengkurap dimeja, sekerat tulang ayam masih terkulum dalam mulutnya, seiring dengan dengkurnya, tulang ayam itu keluar masuk mulut nya.
Kiam-ping geli, gelenggeleng kepala, kebetulan gordyn tersingkap pula, dilihatnya muka si Hwesio berkerut-kerut, seperti tertawa tidak tertawa tulang pipinya seperti lebih menonjol lagi, Sambil menggeros mulutnya mengigau pula.
"Maknya. jaman memang sudah terbalik, orang tidurpun tidak bisa tenteram lagi, maknya, aku toh bukan penganten, kepala gundulku memang bercambang, tapi mukaku sudah kisut, apanya yang bagus dipandang, memang seperti kepala gundulku ini menjadi malu rasanya, kalau bisa aku ingin sembunyi kedalam guci saja... aduh mak."
Merah muka Kiam-ping, waktu dia berpaling, beberapa tamu dimeja lain agaknya ketarik juga oleh omelan si Hweslo, semua menoleh kearah sana, maka Kiam-ping membatin.
"Hwesio lusuh ini pasti seorang kosen aneh, jangan kira dia memejam mata, tapi segala gerak-gerik diriku ternyata tidak lepas dari pengamatannya."
Tengah dia menepekur, tiba-tiba didengarnya dibawah loteng ada suara ribut, tamu-tamu diatas loteng sama kaget, yang duduk dipinggir jendela sama melongok kebawah, ada pula yang berlari kebawah.
Kiam-ping juga melongok kebawah lewat jendela.
Tampak seorang pengemis cilik dengan pakaian rombeng berdiri dekat pintu, usianya sekitar lima belasan.
Seorang lakilaki gendut berdandan ciangkui tampak berdiri tolak pinggang sedang memaki.
"Pengemis mampus, kenapa kau tidak berkaca dengan air kencingmu, dengan tampang dan dandananmu berani masuk ke restoranku. Bah. ayoh enyah, jangan mengotori permadaniku yang mahal ini."
Pengemis itu bermuka kuning pucat, agaknya kurang makan tidak cukup vitamin, perawakannya juga terlalu kecil, jelas pertumbuhannya kurang normal tidak sepadan dengan usianya, mukanya berlepotan lumpur dan hangus, tapi gerakgeriknya ternyata lincah dan cekatan, meski dimaki dia tetap tenang-tenang malah membuat muka setan meledek si ciangkui, secara tak acuh dia menggentak-gentak kaki, sehingga lumpur yang melekat disepatu bututnya rontok mengotori lantai marmer yang bersih mengkilap.
Karuan ciangkui makin gusar, tubuhnya yang gendut tampak gemetar menahan amarah namun melihat tamu tamu melongok kearahnya, kuatir membuat takut para tamu dan merugikan dagangan sendiri ciangkui tidak berani bertindak kasar, lekas dia masuk mengambil tiga biji bakpao, dengan rasa berat dia sodorkan tiga bakpao itu sambil memaki.
"Maknya, bajingan tengik pengemis sebal, bakpao buatan restoran kami bukan saja enak juga mahal, anggaplah aku yang sial hari ini harus kehilangan duit bakpao ini. Hayo ambil dan lekas enyah, supaya tuan-tuan tamu tidak muak melihat tampangmu."
Pengemis cilik menjengkit bibir, tangannya diulur menerima dengan sikap tak acuh bakpao yang diberikan si ciangkui.
"Aduh, maknya, sudah diberi bakpao masih mengotori dan menyakiti tangan tuan besarmu. cuh, kurang ajar, pengemis mau mampus."
Ternyata waktu menerima bakpao sipengemis sengaja mencakar dengan jari-jarinya yang kotor dipunggung tangan si ciangkui hingga meninggalkan bekas jalur merah.
Saking gusar sambil membanting kaki hampir saja dia terpeleset jatuh.
Liok Kiam-ping tertawa geli, baru saja dia menyingkap gordyn, dan mau melangkah kebawah loteng, tiba-tiba didengarnya suara gerutu tadi.
"Maknya, arak bagus, arak bagus, sungguh sedap dan nikmat. Ai, uruslah dirimu sendiri, jangan hiraukan persoalan orang lain, salah-salah bisa celaka nanti. Maknya, kenapa perutku keroncongan lagi.""
Waktu Liok Kiam-ping berpaling, gordyn diseberang tersingkap lebar menyangkut di atas meja persegi, diatas meja tahu-tahu bertambah pula sebuah guci, Hwesio kurus itu tengah duduk tegak sambil memeluk guci menuang arak kedalam mulut, sebelah tangan masih memegang paha bebek panggang, piring mangkok yang kosong tadi sudah tersingkir kesamping, sementara hidangan baru berserakan pula didepan mejanya.
Karuan Liok Kiam-ping melongo, batinnya.
"Darimana dia memperoleh hidangan sebanyak itu, seakan akan tiada habishabisnya, dia gegares masakan-masakan lezat di restoran ini?"
Tapi waktu dia menoleh keluar, seketika dia tertawa geli di tahan-tahan, ternyata hidangan orang lain yang tamutamunya berlari turuh kebawah melihat keributan sekarang sudah disikatnya semua.
Didengarnya Hwesio itu mengoceh pula.
"Makanya, bocah bodoh jangan heran, kitakan gegares dengan gratis tapi bapakmu ini tetap yang rugi. Nah, biarlah kuberi bagian kepadamu. cuh."
Daging paha ayam yang terkulum dimulutnya tiba-tiba disembur keluar.
Tangan kanan diulur mencopot sepatu dengan telapak sepatu kotornya itu dia menyeka mulut, lalu dengan jari-jarinya yang berminyak dia garuk-garuk jari-jari kakinya yang gatal, bau kurang sedap segera merangsang hidung.
Hampir saja Liok Kiam-ping muntah saking mual, tapi dilihatnya Hwesio itu kelihatan nyaman dan kenikmatan, mulutnya tertawa lebar, akhirnya dia angkat tangannya yang dibuat menggaruk jari-jari kakinya terus dicium sekeras-kerasnya entah karena gatal lekas jarijari tangan berminyak itu menggaruk pula kepala gundul yang berbungah borok-borok bernanah, mulutnya berceloteh pula.
"Aduh mak, nikmat sekali."
Sambil mengoceh lekas dia angkat pula guci arak terus dituang kedalam mulut.
Karuan Liok Kiam-ping berdiri terbelalak.
karena dengan jelas dia mengikuti segala gerak gerik si Hweslo, waktu tangannya menggaruk kepala, kotoran borok dan sindap kepalanya sama rontok dan berjatuhan kedalam guci araknya.
Karuan Liok Kiam-ping merinding dan jijik.
"Pengemis keparat, ingin mampus kau, biar kuhajar kau."
Suara ciangkui yang mencak-mencak makin keras dibawah loteng, maka terdengar pula suara salak anjing.
Lekas Kiamping putar badan melongok kebawah, dilihatnya ciangkui sedang menuding dan memaki kepada pengemis cilik.
Lekas dia beranjak.
Waktu itu pengemis cilik masih pegang bakpao dan sedang bermain-main dengan seekor anjing buduk.
mulutnya berkaok-kaok.
"Hayolah sayang, lekas makan, biar lekas gemuk."
Sembari bicara dia melempar secuil bakpao keudara, anjing buduk kecil itu menyalak terus melompat menyambar bakpao itu serta di kunyah dengan lahap.
ekornya bergoyang-goyang kesenangan-Sudah diberi bakpao tidak mau pergi mengabaikan peringatannya pula, karuan si ciangkui murka seperti kebakaran jenggot, sambil menggerung dia angkat tinjunya sambil memburu hendak menjatuhkan bogem mentah diatas kepala si pengemis.
Mendadak ada menepuk pundak serta berseru.
"Sabar."
Waktu dia menoleh, ternyata pemuda baju putih yang duduk dimeja kelas satu diatas loteng, segera dia turunkan tangan serta menjura dengan muka berseri.
"oh, kau tuan, maaf bikin kaget kau saja."
"Hm, tidak apa-apa semua kerugianmu boleh hitung dalam rekeningku, jangan kau membuat keributan lagi dengan engkoh cilik ini."
Demikian ujar Liok Kiam-ping.
"Ah, mana, mana, sungguh kurang enak. kenapa tuan yang harus merogoh kantong. Dengan sikap munafik si ciangkui mundukmunduk. Liok Kiam-ping ulapkan tangan lalu berkata sambil menjura kepada pengemis cilik itu.
"Saudara ini, kalau mau boleh silahkan masuk makan minum bersamaku, bagaimana"
Bahwa Liok Kiam-ping melerai sehingga keributan tidak makin besar, sudah tentu si ciangkui menjadi rikuh sendiri, tak tahunya Liok Kiam-ping malah undang pengemis kotor itu kedalam restoran, karuan dia berdiri terbeliak.
dengan wajah cemberut dia awasi sepatu si pengemis yang berlumpur.
Dengan tak acuh dan lirikan hina si pengemis melirik kepada si ciangkui, lalu katanya tertawa kepada Liok Kiam ping.
"Apa betul ? Kau mau teraktir aku makan minum ?' Melihat orang tertawa seketika Liok Kiam-ping tertegun, meski mukanya kotor, tapi gigi pengemis cilik ini ternyata putih rata, kalau tertawa wajahnya kelihatan molek, maka dia tersipu-sipu menjawab.
"Betul, kalau kau sudi dan aku mendapat kehormatan-"
Sejak kecil kiam-ping alias Ping ji sudah kenyang dihina dan menderita, di waktu berkelana di kangouw diapun sudah sering di hina dan di caci maki, maka dia sudah meresap bagaimana keadaan orang yang dipandang rendah dan diabaikan orang lain, tapi belum pernah dia menyerah pada keadaan, maka dikala dia melihat pengemis cilik ini ternyata bersikap tak acuh dan tidak rendah diri meski dicaci dan di hina, wataknya mirip dirinya, hatinya amat kagum dan terkesan pada pengemis cilik ini, sehingga dengan rendah hati dia mengundangnya makan minum bersama.
Sudah tentu ciangkui gendut itu yang gugup, katanya munduk sambil bersungut "Tuan ini harap.
...."
Liok Kiam-ping berpaling sambil mengerut alis, katanya "Apa pula yang kau ributkan, lekaslah siapkan hidangannya.
"Lalu dia silakan pengemis cilik.
"hayolah saudara, silakan masuk."
Pengemis cilik manggut2, kembali dia tertawa manis, setelah tepuk2 tangan membersihkan tangan membetulkan pakaian segera dia beranjak masuk dengan langkah lebar.
Bahwa pemuda baju putih berperawakan gagah ini ternyata berlaku hormat kepada pegemis dekil ini, karuan si ciangkui penasaan dan mewek2, tapi dia tidak berani bertingkah lagi, dengan langkah gedebukan dia mengintil dibelakang.
Liok Kiam-ping iringi pengemis cilik naik keloteng, dia silakan pengemis cilik memilih tempat duduknya dulu, lalu dia duduk dan berkata.
"saudara ingin masakan apa boleh silakan pesan saja, tidak usah rikuh."
Jelilatan bola mata si pengemis cilik, tanyanya.
"Apa betul kau suruh aku memesan apa saja yang kuinginkan ?"
"Betul, boleh kaupesan apa saja yang kau inginkan-Hai, pelayan dengarkan dan catat apa yang dipesan Kongcu ini"
Pelayan jadi geli karena Liok Kiam ping membahasakan Kongcu kepada pengemis cilik ini, dengan menggiakan dia menekap mulut. Pengemis cilik kontan melerok. dengusnya.
"Apa yang kau tertawakan, menghina aku ya. Memangnya kau kira aku tidak sesuai makan direstoran ini."
"Pelayan tidak berani tertawa lagi, tapi dia tidak mau kalah, katanya.
"Asal tuan bisa menyebutkan apa yang ingin kaupesan, restoran kami tanggung bisa menyediakan-"Baik, Dengarkan, siapkan empat porsi itik mandarin digoreng telor, daging kelinci saos brambang, telapak biruang masak jahe dan kuah lidah ayam."
Sipengemis cilik menoleh kearah Kiam-ping tersenyum bangga.
Ternyata pelayan berdiri gemetar dengan muka meringis kecut, matanya terbelalak bingung.
Padahal Liok Kiam ping pernah menjadi pembantu di restoran di waktu berkelana, belum pernah dia mendengar nama-nama masakan seperti yang di pesan pengemis cilik ini, Melihat mimik pelayan hatinyapun geli, dia tahu bahwa koki restoran pasti takkan mampu menyiapkan pesanan ini, maka segera dia berkata.
"Pergilah sampaikan kepada ciangkui, sedapat mungkin, usahakanapa yang dipesan, masa kota sebesar ini tak mampu membeli bahan-bahan yang diperlukan itu."
Lalu Kiam-ping membujuk sipengemis.
"saudara tunggu saja dengan sabar. Silahkan minum."
Tengah mereka bicara, atas dan bawah restoran ini tibatiba sama geger, para tamu berteriak-teriak heran dan marahmarah, seorang tamu diatas loteng mengumpat.
"Maknya, ciangkui, hai pelayan, kemana hidanganku yang dimeja tadi."
"Brak"
Tiba-tiba seorang lagi menggebrak meja serta memaki.
"Kuntilanak. ciangkui keparat, mana udang basah dan ayam gorengku, kenapa lenyap?"
Ternyata setelah keributan dibawah usai, para tamu yang melihat keramaian ini putar balik kemeja masing-masing, ternyata masakan yang mereka pesan telah lenyap tanpa karuan paran, maka beramai-ramai mereka berkaok-kaok hingga disana sini terjadi keributan pula..
Suara berat berkumandang ditang galoteng, ciangkui memburu naik keatas dengan napas ngos-ngosan, dengan muka cemberut dia berteriak.
"Aduh mak. celaka aku ..habislah sudah."
Kedatangannya amat kebetulan bagi tamu-tamu yang kehilangan hidangan diatas loteng, seorang tamu kepala gede dekat tangga segera menjambret bajunya serta membentak.
"Kebetulan kau kemari ciangkui keparat, coba jawab, mana hidangan semeja yang kupesan tadi?"
Ciangkui mengerling kemeja, dilihatnya piring mangkok telah kosong sisa kuahnya saja sedikit, sekilas melongo segera dia membentak.
"Lho, bukankah sudah... sudah habis kau makan-"
"Kepalamu botak."
Maki tamu kepala besar sambil mengetuk batok kepala ciangkui "Setan alas, tadi masih ada setengah ayam panggang, dua hati-ampla, sepoci arak.
hanya kutinggal sebentar melihat keributan dibawah eh tahu-tahu terbang tak karuan paran, kau pemi1ik restoran masih purapura pikun, maknya, memangnya restoranmu ini gelap ?
"Betul.
Hajar saja, ganyang ciangkui."
Tamu-tamu yang penasaran merubung maju main jotos dan tinju Karuan ciangkui menjerit-jerit minta tolong seperti babi hendak disembelih.
Liok Kiam-ping tidak tega, lekas dia maju melerai, waktu naik ke loteng tadi, ciangkui juga sudah sesambatan, maka segera dia keluar dan bertanya.
"Ada apa ciangkui"
Melihat Liok Kiam-ping seperti mendapat pertolongan sambil memeluk kepala ciangkui sembunyi kebelakangnya, serunya.
"Kongcuya, nenek moyangku tujuh turunan, aku tidak ingin hidup lagi, biarlah aku lompat dari atas loteng biar mati saja.' Melihat muka orang benjut dan matang biru, air mata bercucuran lagi Liok Kiam-ping jadi memelas. Mendadak didengarnya suara gerutu serak itu pula. 'Aduh mak neneknya tujuh turunan, kepala gundul ini juga tidak ingin hidup, biar aku masuk ke dalam guci, masih sepagi ini tidak bisa tidur maknya, biar aku mampus saja."
Lekas Liok Kiam-ping menoleh ke sana, dilihatnya ciangkui gendut sudah memburu ke sana serta menyingkap gordyn. kontan dia berteriak-teriak sesambatan.
"oh, Thian, bangsat keparat ini, biarlah aku mati saja. Hwesio busuk, pendeta bau, anjing kurap pencuri kudisan-Biar aku adu jiwa dengan kau."
Ternyata diatas meja didepan si Hwesio bertumpuk sedikitnya ada sepuluh guci arak tapi guci-guci arak itu sudah kosong, mejanya penuh piring mangkok dan tulang-tulang ayam serta kuah yang berceceran tidak karuan, Hwesio butut itu sedang duduk ungkang-ungkang sambil memeluk guci arak.
matanya merem melek.
sebelah tangan menggaruk jari kaki, tangan yang lain menggaruk kepala.
Dengan menyeringai lebar dia berkata kepada ciangkui.
"oho, ciangkui yang terhormat kau juga tidak ingin hidup, bagus sekali biar Pinceng sejalan ke akhirat bersamamu. Tapi belum sempurna aku menikmati duniawi ini marilah kau ikut mencicipi, supaya kau bisa bawa oleh-oleh untuk dihaturkan kepada Ji-lay-hud."
Habis bicara dia tarik tangannya yang menggaruk sela-sela jari kaki serta dicelumnya terus disodorkan kemuka ciaugkui pula.
Sungguh hampir pecah perut Liok Kiam-ping saking geli, tapi dia tahan rasa gelinya melihat ciangkui sudah melotot dengan beringas seperti hendak melabrak si Hwesio lekas dia melangkah maju, katanya.
"ciang kui, jangan kurang ajar terhadap Taysu ini, ada urusan baiknya dibicarakan secara damai"
Ternyata ciangkui masih mau menurut, katanya dengan air mata meleleh.
"Tuan muda, kau tidak tahu, Hwesio busuk yang pantas mampus ini entah berapa kali sudah makan minum direstoran kecilku ini. Pertama kali dia datang, pelayanku melarang dia masuk, tapi dia keluarkan lima tahil perak. seperti tuan besar naik keloteng serta minta makan minum seharga lima ketip. sisanya dititipkan kepada kas, maka kami melayani sewajarnya, tak nyana beberapa kali dia datang pula sampai belasan bon bertumpuk. makin lama hidangan yang dipesan makin banyak. habis makan cukup teken bon terus tinggal pergi sambil tepuk pantat. Kalau kami tidak menyambutnya, kuatir bon-bon yang terdahulu tidak dibayar, kalau dilayani hutangnya semakin menumpuk. celakanya setiap kali makan dia selalu garuk kaki dan kepalanya yang borokan, baunya cukup bikin orang muntahmuntah, hingga tidak sedikit tamu-tamu kami yang terusir olehnya. Sering terjadi dia minta dua guci arak, tapi dia mungkir katanya cuma minum satu guci, kenyataan memang hanya satu guci kosong di atas meja, tak tahunya belakangan waktu pelayan membersihkan loteng ini menemukan beberapa guci kosong yang ditumpuk dibelakang gordyn.
"Itu belum selesai, restoranku ada menyimpan puluhan guci arak yang paling baik kwalitetnya, tadi karena Kongcu datang dan minta arak bagus maka kusuruh orang turun kebawah tanah mengambil arak simparan itu, ternyata gucinya kosong araknya habis. Nah, kau lihat belasan guci bertumpuk di sini, bukankah Hwesio busuk ini yang mencurinya, manusia jahat, oh terkutuk kau. oh Thian, bagaimana aku harus hidup selanjutnya."
Baru sekarang Liok Kam-ping jelas duduk persoalannya, pikirnya.
"Tak heran Hwesio ini terus tenggak arak tak habishabis, perbuatannya juga terlalu, arak simpanan ternyata di kuras seluruhnya."
Diam-diam dia merasa keki dan kurang simpati kepada Hwesio ini, apalagi dia juga tahu hidangan tamu-tamu lain juga dia yang nyikat maka dia tarik ciangkui dan berkata.
"Sudahlah, jangan ribut, berapa rekening Taysu ini, nanti biar aku yang melunasi."
Ciangkui terbelalak girang, katanya sambil menyeka air mata.
"Dan bon kedua dia mulai hutang enam ketip, bon ketiga tujuh ketip. bon keempat delapan ketip dan seterusnya makin bertambah dengan beberapa guci arak, tiga ayam panggang, empat kati daging sapi, kesembilan teken bon enam tahil..."
"Sudah, sudah, tak usah diuraikan satu persatu, total jendral berapa rekeningnya ?", tukas Liok Kiam-ping tidak sabar.
"Sampai hari ini dia sudah makan tiga belas kali dan belum pernah bayar, maka jumlah seluruhnya adalah dua puluh sembilan ketip, belum lagi lima belas guci arak empat guci harganya empat ketip. dua guci lima ketip dan tiga guci enam ketip jadi seluruhnya seharga tiga puluh empat tahil tiga ketip."
"Maknya kurcaci, Ciangkui jangan kau menggorok leher orang, memangnya ada orang mau bayar lantas kau ngoceli seenak udelmu sendiri". Hanya sebelas kali aku makan di sini, rekeningnya juga tidak lebih dari enam belas tahil lima ketip. Lima belas guci arakmu itu juga belum jadi, banyak tercampur air lagi, hanya dua guci yang boleh disebut arak tulen, berani kau membual menguras kantong orang, memangnya urusan semudah itu diselesaikan?"
Demikian umpat si Hwesio sambit menegakkan leher dengan gaya duduk tetap tidak berobah.
"Sudah, sudah, anggap saja beres Ciang kui, lekas siapkan hidangan pesananku, temanku sudah tidak sabar menunggu, berapa rekening yang ada nanti kubayar seluruhnya"
Lalu Kiam-ping tepuk-tepuk pundak Ciangkui mendorongnya turun loteng, lekas dia putar balik serta memberi hormat kepada si Hwesio.
"Taysu mengutamakan kebajikan dan cinta kasih, harap tidak lagi membuat perkara dengan orang-orang awam, kalau sadi boleh silakan duduk semeja dan makan minum lagi."
Hwesio kurus melerok kearah Ciangkui yang mulai turun loteng serta berteriak.
"Neneknya si gendut, jangan-jangan matamu tumbuh dileher, menghina orang beribadat, memangnya Pinceng tidak punya uang. Nah, berapa hutangku kulunasi seluruhnya, sisanya boleh kau bagi rata kepada para pelayan, tidak usah dikembalikan."
Sembari bicara dia merogoh kelengan baju mengeluarkan segelondong besar uang perak ditaruh dimeja, lalu menoleh kearah Kiam-ping serta tertawa lebar, katanya.
"Buyung kau mau mentraktir aku makan minum, bagus, sekali, tapi aku punya semacam penyakit, yaitu tidak suka bercampur dengan orang yang bersuara sumbang, manusia tengik yang tinggi mata... nya, apalagi badannya yang berbau busuk aku juga tidak mau dekat-dekat maka kupikir batal saja. Buyung, bulu kambing tumbuh dibadan kambing, ulat arak dalam perutku kembali menagih hutang. Hai, pelayan, ciangkui gendut, bawakan dua guci lagi."
Demikian si Hwesio ngoceh sambil garuk-garuk kepala terus duduk menggelendot dinding, lekas sekali sudah menggeros.
Sungguh tak kira bahwa Hwesio ini bertabiat aneh dan kasar, sesaat Liok Kiam-ping berdiri melongo, akhirnya dia putar balik ketempatnya, katanya tertawa kepada pengemis cilik.
"Maaf, bikin saudara menunggu terlalu lama."
Setelah tertawa pengemis cilik berkata.
"orang lain benci melihat tampangku, kenapa kau masih mau mengundangku makan minum ?"
Liok Kiam-ping melenggong, dengan lekat-lekat dia tatap orang dilihatnya pengemis cilik juga menatapnya dengan seksama, wajahnya meski kotor tapi kelihatan Jenaka dan molek, pipinya yang agak kurus, dengan sepasang bola mata yang jeli dan bening, mulutnya kecil mungil kelihatan memonyong memperlihatkan wataknya yang keras, ternyata hidungnya juga mancung.
Dari wajah pengemis cilik Liok Kiam-ping memperoleh suatu firasat, yaitu hubungannya dengan pengemis cilik ini harus blak-blakan, terus terang dan tidak perlu sembunyi-sembunyi, apalagi munafik, karena sorot mata orang sudah memberikan jaminan kepadanya bahwa pengemis ini dapat dipercaya.
Maka tanpa banyak pikir dia berkata.
"Aku justru tidak benci, maka aku undang kau kemari, peduli amat dengan pandangan orang lain terhadapmu."
Pengemis cilik tertawa, katanya.
"Kau tidak takut orang menggodamu sebagai anak bodoh, mentah-mentah ditipu sehingga mentraktir aku makan minum."
"Ah, Siaute tak pernah punya pikiran demikian, apalagi aku sendiri yang mengundang kau makan minum."
Demikian jawab Liok Kiam-ping lantang.
Tengah bicara tiba-tiba langkah orang yang berat berderap di tangga loteng, Liok Kiam-ping menoleh bersama pengemis cilik.
Tampak serombongan orang telah naik keloteng yang terdepan adalah seorang kakek berjenggot Panjang menyentuh dada, meski rambut dan jenggot sudah ubanan, tapi sorot matanya tajam, selintas pandang siapapun tahu bahwa kakek ini seorang jago silat tinggi membekal lwekang tangguh, tampak dia mengenakan pakaian kasar, sepatu rumput, dandanannya mirip seorang nelayan-orang-orang yang dibelakangnya terdiri beraneka orang ada yang bercambang bauk.
ada busu muda, beramai-ramai mereka menduduki beberapa meja, suasana jadi ramai karena teriakan mereka yang memesan makanan-Dari sela-sela gordyn Liok Kiam-ping mengintip keluar, tibatiba gordyn tersingkap seorang pelayan masuk sambil membawa nampan disusul dua pelayan lagi, masing-masing membawa hidangan yang dipesannya tadi, setelah menata hidangan diatas meja pelayan yang tertua menjelaskan.
"Tuan, hampir seketika kita jelajah baru berhasil menyiapkan hidangan istimewa ini."
Liok Kiam-ping mengulap tangan suruh mereka lekas keluar, lalu poci diangkatnya mengisi cangkir arak si pengemis cilik, katanya tertawa.
"Mari kita habiskan lagi secangkir ini."
"Ah, Siaute betul-betul tak berani minum banyak, harap saudara memberi maaf."
Tapi karena Kiam-ping sudah angkat cangkir nya, terpaksa diapun ambil cangkir araknya serta menghirupnya seteguk -saja. Katanya tertawa.
"Nah, mari kita cicipi masakan pesananku, koki restoran ini entah pandai tidak menyesuaikan seleraku."
Liok Kiam-ping segera angkat sumpitnya serta mangisi mangkoknya, katanya memuji.
"Hidangan ini memang istimewa, rasanya juga enak. bicara terus terang baru pertama kali ini Siaute selama hidup merasakan masakan masakan ini. Mari kusuguh secangkir lagi.' Karena dipuji pengemis cilik tertawa riang, katanya perlahan. 'Apa betul kau suka makan hidangan ini ?"
"Ya, betul."
Sahut Liok Kiam-ping.
"Kalau kau suka, kelak bila ada kesempatan biar kumasak untukmu, mau ?". Liok Kiam-ping melongo, katanya girang.
"Sudah tentu mau. Maaf ya, Siaute sampai lupa tanya siapa nama saudara dan tinggal di mina ?"
Tiba-tiba merah mata pengemis cilik, katanya menggeleng.
"Rumahku jauh sekali akupun tak ingin pulang. Tentang namaku, boleh kau panggil aku Pin-ji saja.' Liok Kiam-ping heran, tanyanya.
"Pin-heng, mana ada orang punya rumah tidak mau pulang."
Tiba-tiba pengemis cilik tertawa lebar katanya.
"Wah, sayurnya sudah dingin. hayolah sikat, hidangan ini biasanya paling suka kumakan-"
Melihat orang sengaja mengalihkan persoalan-Kiam-ping tahu orang sengaja tidak mau membicarakan tentang dirinya maka dengan tersenyum segera dia angkat sumpitnya serta mulai makan dengan lahapnya.
Sementara itu orang-orang ditengah ruang masih ribut berkelakar, tiba-tiba seorang bergelak tawa, suara serak keras seperti gembreng pecah berkata.
"Hahaha, orang she Ci memang beruntung, ditempat ini dapat bertemu dengan Hankang-ih-un Kongsun-loyacu marilah biar Cayhe menghatur secangkir arak kepada kongsun-cianpwe."
Hadirin lantas tertawa berderai, lalu terdengar suara orang tua serak berkumandang.
"Mana berani, mana berani, lohu mana boleh menerima penghargaan ini, terima kasih akan penghargaan hadirin, baiklah secangkir ini kuhaturkan pula kepada kalian-Dari gordyn yang sedikit tersingkap Kiam-ping melihat keluar, dilihatnya dimeja tengah ruang laki laki tua berdandan nelayan tadi tengah angkat cawan berputar memberi hormat kepada hadirin dengan tawa lebar, ternyata meja yang tersebar di dalam ruang besar itu sudah dikumpulkan menjadi satu baris ditengah ruang, hadirin beramai-ramai angkat cangkir masing-masing serta tenggak habis bersama.
"Biasanya Kongsun cianpwe umpama burung bangau yang tidak menentu dimana hinggap hidup bebas laksana dewa, kali ini entah gerangan apa yang menyebabkan kau orang tua terjun keduniawi, apakah kau orang tua juga menerima surat undangan Thi-kiam Lau-ongya, maka jauh-jauh memburu datang kemari ?"
Demikian tanya seorang laki-laki muka kelam berjubah kuning.
"Benar, biasanya Lohu hidup bebas tidak terkendali, mana boleh dibanding Jiheng yang masih muda dan banyak berjasa, sejak berpisah dengan Lau-lote, sudah puluhan tahun, air gelombang sungai yang dibelakang memang mendorong yang didepan, yang hadir sekarang semua masih muda gagah perkasa lagi, angkatan setua Lohu memang pantas cuci tangan mengundurkan diri saja dari percaturan dunia Kangouw."
Demikian ujar Han-kang-ih-un Kongsun Jin ong sambil mengelus jenggot, sambil tertawa lebar dia berpaling kearah seorang muda dengan ikat kepala dari kain hitam berwajah bersih, tanyanya.
"Bun hiantit, apakah ayahmu selama ini baik-baik saja? Sudah sekian tahun tidak berjumpa, sungguh kangen sekali."
"Berkat doa Cianpwe, selama ini ayah sehat walafiat, kali ini ayah sedang sibuk oleh suatu pekerjaan, maka Siautit yang diutus untuk menghadiri pesta ulang tahun Lau loyacu, disamping untuk mencari pengalaman, beliaupun ada titip sepucuk surat untuk disampaikan kepada Lau-loyacu..."
Demikian jawab pemuda itu berdiri sambil menjura.
"Hahaha, ayah Ibun-heng adalah Seng-jiu-tok-liong (tangan suci membunuh naga), biasanya suka keliaran entah karena pusaka apa yang menyibukkan dia, kali ini dia tidak mau meluangkan waktunya kesini."
Kata seorang laki-laki setengah umur.
"Betul Ibun-loyacu punya hobby mengoleksi benda-benda antik dan barang pusaka, dahulu seorang diri diapun meluruk ke Jik-liong-tong membunuh Tok-kak-liong didasar laut sehingga namanya terkenal di Kangouw. Bukan mustahil kali ini dimana muncul pula binatang raksasa yang mengandung mestika telah diluruknya pula, untuk ini sudilah Ibun-heng suka menerangkan-"
Demikian ujar seorang laki-laki mata siwer duduk disamping pemuda she Ibun itu.
Karena ditanya pandangan seluruh hadirin tertuju kearah dirinya pula, terpaksa pemuda she Ibun tersenyum, sekilas dia menyapu pandang hadirin lalu mengawasi Ban-kang-ih-un, katanya dengan nada berat.
"Yang hadir disini termasuk sesama kawan sehaluan, baiklah Ibun Kong memberanikan diri memberikan penjelasan, tapi apa yang Cayhe tahu sekarang juga tidak lengkap. mungkin belum memuaskan hadirin-Soalnya berita yang ayah terima juga simpang siur, kini sedang dicari kebenarannya..."
Dia batuk-batuk mengawasi hadirin lalu menyambung.
"Hadirin adalah insan persilatan yang sudah berkecimpung di Kangouw, tentunya juga sering dengar bahwa setengah tahun ini dunia persilatan telah dibuat geger oleh munculnya Wi-liong-pit-sin-"
"Wi-liong-pit-sin ?"
Laki-laki muka kelam jubah kuning Ui inbun berteriak kaget lebih dulu.
Melihat hadirin sama terbelalak dengan muka kaget dan curiga, pelan-pelan Ui bun Kong manggut-manggut, wajahnya kelihatan serius.
Sementara itu Liok Kiam-ping sedang menceritakan riwayat hidupnya, tiba-tiba di dengarnya orang-orang diluar membicarakan Wi-liong-pit-sin, seketika dia melenggong dan menghentikan kisahnya.
Pengemis cilik sedang asyik mendengarkan kisah hidupnya, mendadak orang menghentikan ceritanya, segera dia mengerling, di lihatnya Liok Kiam-ping sedang mengintip keluar dengan penuh perhatian-"Kabarnya Wi-liong-pit-sin telah terebut oleh Ceng-sanbiau-khek, apa betul?"
"Di San-say aku juga mendengar kabar seorang yang berjuluk Pat-pi-kim-liong dengan Wi-liong-ciang telah memukul luka parah Ceng-san-biau-khek. Lain lagi, konon Patpi-kim-liong adalah ahli waris Kiu-thian-sinlicng, entah benar tidak ?' Hadirin sama angkat bicara, yang dibicarakan menyangkut Wi-liong-pit sin dan Pat-pi-sin-liong. Karena Liok Kiam-ping membelalakan mata mengintip keluar, maka pengemis cilik juga pasang kuping. Terdengar Ui bun Kong menggoyang tangan dan tertawa, katanya.
"Harap tenang sebentar, dengarlah lebih lanjut apa yang kuketahui."
Suara ribut lantas sirep. Ibun Kong menggosok telapak tangan, katanya pula.
"Menurut berita yang tersiar memang Wiliong-pit-sin terebut oleh Ceng-san-biau-khek, tapi tak lama ini seorang murid Bu-tong ada yang turun gunung, konon ada seorang pemuda berjubah hijau seorang diri meluruk ke atas gunung, dengan tangan kosong dia mengalahkan Ceng-ciok Tojin, Ciangbunjin yang berkuasa di Bu-tong-san sekarang, serta beberapa murid terbesar Bu-tong-pay, ilmu yang digunakan mengalahkan jago-jago Bu-tong kabarnya diperoleh dari Wiliong-pit-sin, hal ini sudah cukup mengejutkan, lebih celaka lagi katanya pemuda ini mengaku sebagai ahli waris Kiu-thiansin-liong, sudah tentu pihak Bu-tong gempar dan kaget setengah mati.
"Kebetulan, entah karena apa Ceng-san-biau khek juga menyelundup ke Bu-tong mencuri obat mujarab pelindung Butong, entah karena apa pula dia bentrok dengan Pat-pi-kimliong, Ceng-san-biau-khek yang berkepandaian tinggi ternyata dikalahkan dan lari dengan luka parah."
Tiba-tiba pengemis cilik melihat mata Liok Kiam-ping memancarkan cahaya benderang, diam-diam dia kaget dan heran-Untung Liok Kiam-ping lekas sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan pengemis cilik, lekas dia membalik sambil tertawa, katanya angkat cangkir.
"Ah, Pin-heng, maaf akan sikapku yang linglung, Mari kita habiskan hidangan ini. Wah sayang semua sudah dingin-Hai pelayan, hayo bawa kedapur panasi lagi hidangan ini."
Pengemis cilik tersenyum manis, katanya.
"Ehm ya, hidangan sudah dingin. Sudahlah, masakan yang terulang masaknya tidak enak rasanya. Pelayan, bikinkan lagi hidangan baru seperti ini."
Hadirin sedang asyik mendengarkan cerita ibun Kong tentang berita besar yang terjadi di Kangouw akhir-akhir ini, karena gangguan ini mereka sama menoleh kemari, tampak dua pelayan sedang menyelinap keluar membawa hidangan, tiba-tiba dari arah lain berkumandang pula sebuah suara ribut "Maknya, neneknya, hai pelayan, apakah hidangan itu akan kalian buang.
Lekas, lekas bawa kemari, kasihan kepada bapakmu gundul ini, dikelenteng aku memelihara anjing liar, sudah beberapa hari tidak diberi makan, biar hidangan itu kubawa pulang untuk makanan anjing."
Perhatian hadirin kembali ketarik kesana, tampak dibalik gordyn yang tersingkap seorang Hwesio kurus berjubah butut dengan kepala penuh borok tengah duduk ungkang-ungkang, jari tangannya tergigit, dengan matanya yang jelilatan mengawasi hidangan diatas nampan pelayan, air liurnya sampai bertetesan.
"Neneknya, hidangan yang dipesan si buyung memang sedap. dahulu waktu bapak gundul ini sembunyi didapur istana setengah bulan hidangan apa tak pernah kurasakan, mana lebih sedap dari hidangan yang empat macam ini, neneknya keparat, sungguh bapak gundul amat menyesal, kenapa dulu harus meyakinkan Tong-ci-kang segala, kalau tidak biar aku pelihara rambut menjadi preman, tanggung dapat bini melahirkan seorang nikoh cilik."
Lalu terdengar mulutnya berkecek melalap hidangan yang diberikan pelayan suara ocehannya tak terdengar lagi. Sudah tentu Liok Kiam-ping tertawa geli batinnya.
"cianpwe ini memang Jenaka, tapi juga rusuh, sudah kuundang dia makan bersama tidak mau, sekarang pakai alasan memelihara anjing segala ? Hahaha."
Makin dipikir tak tertahan dia tertawa bergelak.
Melihat dia tertawa pengemis cilik ikut tertawa, matanya tetap mengawasi lekat-lekat.
Tiba-tiba orang-orang diluar sama menjerit heran dan kaget, seorang berteriak.
"He, kemana Hwesio malas tadi? "Aah, baru saja masih makan hidangan yang akan diberikan pada anjing liar."
Lekas Kiam-ping menyingkap gordyn, dilihatnya hadirin sama melongok ketempat duduk si Hwesio, tapi kecuali tumpukan guci arak dan empat piring, di sana tidak kelihatan lagi bayangan si Hwesio, bayangan Hwesio malas itu ternyata telah lenyap.
Baru saja dia hendak berbangkit tiba-tiba terasa dibelakang ada angin kesiur di susul bau apek yang menyesak hidung, lekas Kiam-ping berpaling, tampak diatas jendela dipinggir meja duduk bertengger Hwesio malas itu, dengan memicing kedua matanya orang tengah tersenyum lebar kepadanya.
Lalu dengan mata berkedip Hwesio malas berkata kepada pengemis cilik.
"Setan cerdik, jangan main gara-gara, buyung ingin aku tanya, apakah kau datang dari tempat yang hawa panas itu "
Agaknya pengemis cilik melengak. tapi dia pura-pura bodoh, tanyanya.
"Hwesio gede, pakaianku yang tipis penuh tambalan lagi, di mana ada tempat panas, pengemis ini jadi ingin kesana supaya tidak kedinginan."
Ternyata hwesio malas juga melengak. tapi tiba-tiba dia manggut-manggut seperti memahami sesuatu, katanya.
"o, ya aku tahu, wah, bagus, legakan saja, tapi..."
Tiba-tiba dia berhenti sambil melongok keluar lalu berdiri dan berkata lirih dengan mata memicing.
"Buyung, lain kali kalau ada hidangan sedap jangan lupa panggil aku, kalau tidak. hehe, awas ya."
Dengan sikap misterius sengaja dia berkedip kepada Liok Kiam-ping tiba-tiba angin berkesiur, bayangannya tahu-tahu sudah lenyap.
Menyaksikan gerak gerik orang begitu gesit dan tangkas Liok Kiam-ping melongo sekian lamanya, akhirnya dia pandang pengemis cilik penuh tanda tanya, karena dia tidak habis mengerti apa yang dibicarakan tadi, tapi pengemis cilik hanya tertawa manis saja.
Suara Ui bun Kong berkumandang pula dengan lantang.
"Sudahlah cianpwe itu adalah orang kosen yang tidak sudi bercampur dengan kita orang-orang rendahan, kenapa di buat heran. oh, ya sampai di mana ceritaku tadi ?"
"Sampai ceng-san-biau-khek melarikan diri dengan luka parah,"
Sambung seorang lain.
"Ya, betul betul, kalian tentu tidak menduga bukan. cengsan-biau-khek ternyata adalah murid Ham-sin-leng-mo iblis tua dari Ham-ping-kiong di laut utara itu."
Demikian tutur Ibun Kong dengan bangga.
"Ham-sin-leng-mo ?"
Seorang tiba-tiba menjerit kaget.
"Betul, bahwa muridnya terluka parah oleh murid Kiu-thiansin-liong. sudah tentu Ham-sin-leng-mo mencak-mencak gusar, segera dia keluarkan Ham-giok-ling, sesumbar hendak meluruk ke Tionggoan menuntut balas kepada Pat-pi-kim-liong (naga emas delapan lengan)."
"Ya, hal ini telah menggemparkan kaum Bulim di enam propinsi utara. apakah Ham-sin-leng-mo sudah masuk keperbatasan-Waktu aku datang dari Kang-lam, aku mendengar berita ini, tapi apakah hal ini ada sangkut pautnya dengan ayahmu?"
Tanya seorang hadirin
"Ah, kenapa Khong-ping-heng jadi gelisah.
Persoalannya memang di sini.
Sebelum Ham-sin-leng-mo memasuki Tionggoan, ayah sudah memperoleh kabar, katanya ceng-sanbiau-khek mendapat perintah gurunya Ham sim-leng-mo akan meluruk ke Te-sat-kok yang berada dibelakang gunung Butong mencari harta pusaka yang terpendam di sana."
"Te-sat-kok ? Apakah Te-sat-kok yang dijaga oleh Tokko cu itu?"
"Betul, menurut apa yang dikatakan pihak Bu-tong, Pat-pikim-liong juga pernah masuk Te-sat-kok. entah kenapa, dia bisa ke luar dengan hidup, Tentunya hadirin tahu bagaimana aturan busuk nenek tua yang aneh itu. Tak nyana ada kalanya larangannya terlanggar juga."
"Lalu siapa yang memperoleh harta pusaka dalam Te-satkok itu Pat-pi-kim-liong atau ceng-san-biau-khek ?"
"Menurut berita yang tersiar di Kangouw dalam lembah itu ada tersimpan tiga bilah pedang mestika dan buku pelajarannya, kecuali harta pusaka yang tak ternilai digagang pedang masing-masing dihiasi sebutir mutiara besar. Menurut hasil penyelidikan ayah, tidak pernah dipergoki ada orang keluar membawa harta pusaka, namun diperoleh suatu kejadian yang aneh..."
Sampai di sini nada suara Ibun Kong lebih berat dan tertekan, matanya menyapu seluruh hadirin, lalu meneruskan.
"Ditengah perjalanan waktu ayah menuju ke ouw-pak. ternyata beliau menemukan Tokko cu yang belum pernah meninggalkan Te-sat-kok. entah karena apa tiba-tiba dia muncul disebuah penginapan di ow-pak."
"Hoo, apa benar ?"
Hadirin menjerit kaget dan heran.
Liok Kiam-ping mendengarkan juga berjingkat kaget, air mukanya berobah, matanya terbelalak.
sungguh dia hampir tak kuasa mengendalikan gejolak perasaannya.
karena sejauh ini dia masih menguatirkan luka-luka atau keselamatan orang baju hitam yang berwatak eksentrik itu.
"Porsoalan bukan hanya itu saja. Konon pihak Hong-lui-bun di Thiam-lam juga mengutus orangnya ke Kanglam, tujuannya mencari Pat-pi-kim-liong, karena Wi-liong-pit-sin milik Kiuthian-sin-liong itu adalah milik pihak Hong-lui-bun."
"Hah..."
Hadirin kembali berseru kaget.
Wajah Liok Kiam-ping pucat pasi, keringat dingin menghiasi jidatnya, kedua tangannya meraba-raba mainan kalung didepan dadanya.
Sudah tentu pengemis kecil yang duduk didepannya makin melongo, karena kaget dan takjub, Tanyanya.
"Apa yang kaurogoh didada mu?"
Liok Kiam-ping tertawa getir, geleng-geleng tidak menjawab, ternyata mendengar pihak Hong-lui bun mengutus orang hendak mencari dirinya, tiba-tiba dia tertawa riang, tangannya lantas mengelus mainan kalung atau Hiat-liongling, lencana kebesaran yang dipegang ciangbunjin Hong-luibun.
Tak nyana tiba-tiba tawanya beku, jari-jari tangannya gemetar, matanya terbeliak karena Hiat-liong-ling mainan kalung yang tergantung didapan dadanya entah mengapa mendadak lenyap.
masih segar ingatannya, waktu dihotel tadi dia masih keluarkan mainan kalung serta diperiksanya dengan seksama.
Tapi kenyataan sekarang Hiat-liong-ling telah lenyap.
karuan hatinya ciut, jantung berdebar-debar.
Dikala ia melenggong itulah tangga loteng kembali bergetar, maka hadirin kembali menjadi ramai saling sapa.
"Ha, Biau-jiu-sip-coan, angin apa yang meniupmu kemari ?"
Tergerak hati Liok Kiam-ping, dari celah-celah gordyn dia melongok keluar tampak diatas loteng bertambah seorang laki-laki setengah umur, tulang pipi menonjol, muka kurus dengan kepala diikat kain Busu matanya menyapu pandang hadirin-ternyata dia tidak hiraukan tegoran orang banyak.
"Biau-jiu-sip-coan, Biau-jiu-sip-coan (Sip coan si tangan jail)? Ah, ya, pasti dia."
Melihat laki-laki bertulang pipi tinggi ini bernama Biau-jiu-Sip coan, dia bukan lain adalah laki-laki yang tadi menginjak kakinya dijalan raya tadi, begitu mendengar nama Julukan Biau-jiu (tanganjail) lantas Kiamping ingat siapa orang ini.
seketika amarah membakar dada, bergegas dia berdiri, tapi mendadak didengarnya suara Hwesio malas menggerutu pula.
"Maknya, anjing kurap. baru sekarang kau kemari... hidangan lezat yang kusediakan untukmu sudah kuganyang habis... maknya kurcaci, anjing kurap. wah, sedaaap."
Mendengar suara ini Biau-jiu Sip coan kontan berubah pucat, seperti melihat setan dia gemetar ketakutan, dengan langkah lebar dia memburu kearah datangnya suara.
Begitu menyingkap gordyn melihat Hwesio malas duduk ungkangungkang sambil menggeros lekas dia tekuk lutut terus menyembah, serunya.
"Hamba punya mata tidak tahu tingginya gunung, berbuat salah terhadap Sian-su, mohon Sian-su memberi ampun, ampun.' Lalu dia menyembah pula berulang-ulang sampai jidatnya membentur lantai. Sudah tentu hadirin sama kaget dan berjingkrak berdiri, betapapun mereka tidak percaya bahwa Sip coan si tangan jail ternyata terlutut dan menyembah minta ampun kepada Hwesio kurus Celutak yang suka gegares ini. Ditengah tatapan heran orang banyak tiba-tiba Hwesio dekil itu mernbalik tubuh sambil menggeliat, mulutnya mengigau. 'Neneknya anjing, sia-sia kau punya mata anjing, melihat orang juga tidak kenal orang sendiri.' Karuan Biau-jiu Sip coan melenggong lekas dia berpaling, dilihatnya tak jauh dibelakangnya seorang pemuda jubah putih, perawakan kekar gagah, dengan tatapan tajam orang tengah mengawasi dengan sorot marah sekilas dia tertegun, burn-buru dia merangkak maju serta menubruk kedepan kaki orang kini dia berlutut didepan Liok Kiam-ping wajahnya pucat berobah merah, hitam lalu pucat lagi, sesaat lamanya mulutnya megap-megap tak mampu bicara, setelah tenangkan diri baru dia bersuara gemetar. 'Siang Bu-thian alias Sip coan murid Hong-lui-bun generasi kedelapan menyampaikan sembah hormat kepada ciangbun, mohon ampun akan kekurang ajaran tadi, mohon ampun."
Begitu merasakan Hiat-liong-ling yang selalu tergantung didadanya lenyap dicuri orang, Liok Kiam-ping sudah gusar bukan main, kini melihat laki-laki setengah umur bermata elang yang menginjak kakinya dijalan raya tadi muncul, dia lantas tahu bahwa barang miliknya pasti dicuri orang ini, tak nyana tahu-tahu orang berlutut didepannya minta ampun dan mengaku murid Hong-lui-bun pula, karuan Kiam-ping berdiri melenggong rasa gusar lenyap seketika, akhirnya dia mengulap tangan dan berkata.
"Baiklah, kau boleh berdiri, aku tidak mengusut kesalahanmu."
Mendengar kesalahannya tidak diusut dan diampuni dosadosanya, bukan kepalang senang hati Biau-jiu-sip-coan, lekas dia melompat berdiri, merogoh kantong mengeluarkan suatu benda, dengan kedua tangan dia haturkan benda itu kepada Kiam-ping, serunya.
"Inilah .. inilah medali emas milikmu ciangbun."
Kiam-ping menerima benda itu, memang betul adalah Hiatliong-ling miliknya, sedikit manggut terus disimpan dalam bajunya.
"Hah, Hong-lui ciangbun."
Tiba-tiba seseorang berteriak.
hadirinpun ikut gempar.
Derap langkah kembali berdentam ditangga loteng, lekas sekali muncul seorang laki-laki tua setengah berlari, mukanya merah berjubah kuning dengan ikat pinggang merah.
"He, Sang-jiu-king-thian (tangan tunggal menyanggah langit) Tanloyacu."
Seorang laki-laki berpakaian kembang lantas mengenali laki-laki tua yang baru datang.
"Hahaha, selamat bertemu, selamat bertemu. Tak nyana begini banyak orang berkumpul di sini. Tolong tanya kepada hadirin apakah kalian pernah melihat pengemis cilik berpakaian compang camping ?"
Setelah bergelak tawa lakilaki tua jubah kuning menjura kepada hadirin. Pengemis cilik. Hal ini lantas berkelebat dalam benak Kiamping.
"Tan-losiok-siok. Apa kau orang tua mencari aku?"
Entah kapan pengemis cilik berdiri dibelakang Kiam-ping dan bersuara sambil tersenyum kepada laki-laki tua jubah kuning. Tahu-tahu laki-laki tua jubah kuning berkelebat, serunya dengan tawa riang.
"Haha, betapa susah aku mencari kau. Anak sayang. keponakan perempuan sayang..."
"Paman-marilah pergi."
Lekas tukas pengemis cilik.
"Aduh. Sayang mau kemana kau. Hai."
Teriak laki-laki jubah kuning sambil memburu kearah jendela terus melompat turun mengejar pengemis cilik.
"Pin-heng, kemana kau. Hai tunggu."
Melihat pengemis cilik tiba-tiba menerobos jendela tinggal pergi, buru-buru Kiamping berteriak memanggil, lekas diapun menyeplos keluar lewat jendela.
Seorang laki-laki bengis mencoba menghadang, namun Kiam-ping hanya menggetarkan sedikit tangan kanannya kedepan, serangkum angin kuat menerpa laki-laki bengis itu.
Karuan pecah nyalinya, buru-buru dia menunduk sambil mengayun balik tangan menyerang dengan cambuk.
tapi mulutnya seketika menjerit ngeri, tubuhnya tersungkur kedepan dengan batok kepala pecah, darah muncrat menyiram jalan raya, tubuhnya rebah didepan kudanya sendiri.
Liok Kiam-ping menyeringai dingin, setelah mengebas lengan baju dia siap beranjak pergi..
Sementara itu manusia berjubel dipinggir jalan, tiba-tiba banyak orang menjerit kaget sambil memandang kuatir kearah dirinya, sekilas Kiam-ping melenggong, di dengarnya kuda dilarikan kencang mendatangi dari jalan raya didepan sana.
cepat sekali muncul beberapa orang menunggang kuda.
Kiam-ping mendengus hidung dan berdiri tegah menanti.
Segera rombongan berkuda itu sudah dekat, penunggangnya berseragam coklat berlompatan turun, satu diantaranya yang berjenggot pendek agaknya pemimpin mereka, maju beberapa langkah dia menjura serta menegor Liok Kiam-ping.
"Siapa tuan ini ? Kenapa kau membunuh anggota Pang kita?"
Tampak oleh Liok Kiam-ping tampang orang-orang itu bengis dan garang, selembar daon bambu tampak terselip diatas ikat kepala laki-laki jenggot pendek sebagai tanda pimpinan rombongan, dengan menyeringai dingin Kiam-ping balas bertanya.
"Tuan sendiri siapa ? Kenapa anak buahmu diumbar melukai orang seenak udelnya sendiri ?"
Pertanyaannya meniru nada ucapan orang namun suaranya lebih dingin dan ketus.
Agaknya laki-laki itu tidak menyangka bakal balas ditanya serupa itu, sesaat dia berdiri bingung.
sekilas dia menoleh mengawasi teman-temannya lalu memandang kedua teman yang menggeletak binasa ditengah jalan-Agaknya tahu diri bahwa pihak sendiri yang salah, maka dengan mengerut alis dia menjura pula kepada Liok Kiamping, katanya "cayhe Pek-pou-yu-hun (sukma gentayangan seratus langkah) ong Lui, anak buah Seng-lotangkeh dari ceng-tiokpang yang berkuasa didaerah San-say, atas perintah kami menunaikan suatu tugas di selatan, bahwa anak buahku kesalahan tangan melukai orang, pasti akan dihukum sesuai undang-undang perserikatan kami, tapi tuan sendiri turun tangan membunuh mereka, untuk ini sudilah tuan memberi keadilan-" ---ooo0dw0ooo---Tegak alis Liok Kiam-ping, dengusnya.
"Jangan tuan anggap remeh perbuatan anak buahmu, sewenang-wenang membunuh orang dosanya pantas dihukum mati, tidak mendengar nasehat lagi, turun tangan hendak membunuhku pula. Bahwa kematiannya itu cukup setimpal"
Pek-pou-yu-hun ong Lui naik pitam, alis tebalnya berkerut, katanya sambil mengacung cemeti ditangan.
"Bagus, tuan juga bertindak seenak udelmu sendiri, biarlah aku yang rendah menyaksikan sampai dimana kepandaianmu, bicara begitu takabur."
Tiba-tiba tangannya meuyendal cemeti panjang ditangannya melingkar-lingkar diatas kepalanya, tenaga sudah dikerahkan akan mengayun cemeti, namun mendadak dia tarik kembali tenaga serta berteriak.
"Tunggu sebentar."
Lalu dia berpaling kebelakang dan berkata pada salah seorang anak buahnya.
"Li Yan gak. bawa para saudara dan antarkan Kimling itu ke Jian-lui-ceng langsung diserahkan kepada Lau-ongya, sesuai pesan Tang keh, sampaikan omonganya. Sebentar aku akan menyusul ke sana. Lekas berangkat"
Laki-laki bernama Li Yan-gak mengiakan serta memberi aba-aba kepada teman-temannya, semua cemplak kepunggung kuda siap pergi.
"Tunggu dulu."
Bentak Liok Kiam-ping, mendengar ong Lui suruh anak buahnya menyerahkan Kim-ling (lencana emas) kepihak Jian-liu-ceng, tergerak hati Liok Kiam-ping, maka dia berseru mencegah.
Orang-orang yang sudah bercokol dipunggung kuda serempak menoleh Pek-pou-yu-hun ong Lui pun berdiri melongo, dengan siaga dia menarik muka, katanva.
"Mau apa kau?"
"Aku ingin tanya, barang apa yang akan kalian antar ke Jian-liu-ceng ?"
"Hm, apakah tuan tidak keterlaluan, jangan kau mencampuri urusan kami."
Demikian ancaman Ong Lui.
"Memang nya kau tahu persoalan tiada sangkut pautnya dengan aku, kenapa aku tidak boleh turut campur ?"
Kiamping balas menjengek.
"Kau..."
Ong Lui tergagap karena tidak menduga akan jawaban Kiam-ping, air mukanya berobah.
"Siapa kau sebenarnya, berani mempermainkan aku ?"
"Aku adalah aku. Setelah kau menjelaskan hal itu pasti kujelaskan siapa aku,"
Demikian ujar Kiam-ping dengan tatapan tajam. Sesaat lamanya Pek-pou-yu-hun berdiri melenggong, akhirnya dia batuk-batuk dan berkata.
"Baiklah, hal ini memang tidak perlu dirahasiakan-Nah dengarkan-Permulaan bulan ini markas pusat Pang kita di san-say menerima Hamgiok-ling dari Ham-sin-leng-mo di Ham-ping-kiong dilaut utara, perintah menyatakan kami harus mencurahkan seluruh kekuatan kaum Liok-lim (kaum begal) di enam propensi utara untuk menemukan jejak Pat-pi-kim-liong yang pernah melukai ceng-san-biau-khek. seluruh golongan kita perintahkan pula untuk siap-siap membuka jalan, bukan saja Ham-sin-leng-mo sendiri yang akan hijrah ke selatan, sekaligus beliau pun menantang kepada Kiu-thian-sin-liong. Begitu menerima perintah ceng-tiok-pang kita segera bekerja keras, mengingat Jian-liu-ceng yang dikuasai Laungoyacu disini adalah markas cabang Hwe-hun-bun sekte utara, Lau-ngoyacu berpengalaman dan punya hubungan luas, maka kami diperintahkan kemari menyampaikan Ham-giokling. Nah sekian saja keteranganku, sekarang giliranmu menjawab pertanyaanku."
Liok Kiam-ping tersenyum, katanya kalem.
"Lho, bukankah aku sudah menjawab?' "Kau..."
Pek-pon-yu-hun garuk-garuk kepala kebingungan, mendadak dia tersentak kaget serunya dengan mata terbeliak.
"Kau inilah Pat-pi-kim-liong ?"
"Hehehe, banyak terima kasih, terserah bagaimana kalian akan menjuluki diriku, biarlah anggap sebagai kehormatan-"
Ujar Liok Kiam-ping mengebas lengan baju terus bersoja.
Anak buah Ong Lui sama menjerit kaget dan jeri, ada yang hampir jatuh dari punggung kuda.
Lekas ong Lui menjura dengan muka serius "Nama besar tuan memang sudah menggoncangkan Kangouw, mehon maaf bahwa tadi kami berlaku kurang hormat.
Sebagai seorang laki-laki pantang menjilat ludahnya sendiri, tantangan sudah kuajukan meski bukan tandingan aku tak pernah mengerut alis, mohon tuan sudi memberi pelajaran-"
Bahwa lawan masih berani ajak bertanding setelah tahu asal usul dirinya, diam-diam Liok Kiam-ping memuji keberaniannya dengan tersenyum dia menggeleng, katanya.
"Lekas kalian pergi saja, Aku tidak akan mencari setori dengan kalian-cuma sampaikan pesanku, suruh mereka menyampaikan tantanganku kepada iblis tua dari laut utara itu, kapan saja dia datang pasti akan kusambut dengan tangan terbuka. Demikian pula kepada ceng-san-biau-khek, katakan bahwa Pat-pi-kim-liong akan menuntut balik barang yang telah dicurinya."
Orang-orang ceng-tiok-pang melongo sekian lamanya, akhirnya Pekpou-yu-hun ong Lui mengangguk seperti menyadari suatu hal dia menjura, anak buahnya di suruh mengangkut dua mayat saudara mereka terus tinggal pergi tanpa banyak bicara lagi.
Kiam-ping tunggu setelah rombongan itu pergi jauh baru beranjak pelan-pelan, dalam hati dia membatin.
"Ha, kapan aku pernah bermimpi, suatu ketika aku bakal diberi julukan, banyak orang terkejut mendengar jukanku. Hm, Ham-sin-lengmo, ceng-san-biau-khek, marilah kemari, akan kuganyang mereka satu persatu."
Belum pernah dia merasa hatinya seriang ini, tanpa sadar ingin dia menggerak lengan bersuit panjang.
Untung lekas dia sadar akan keadaan sekelilingnya, lekas sekali jalan raya ini kembali ramai sebagaimana biasanya, orang-orang yang teriuka ketumbuk kuda tadipun sudah ditolong orang, maka pelan-pelan Kiam-ping putar badan tinggal pergi tanpa hiraukan orang-orang yang memandangnya dengan kagum.
Pandangan Kiam-ping sendiri tidak lepas menyelidik kearah orang banyak mencari jejak pengemis cilik atau laki-laki tua jubah kuning, tapi dia kecewa karena yang diharapkan tidak tercapai.
"He, kenapa aku jadi ketarik pada pengemis cilik itu?"
Siapa dia? Siapa pula laki-laki tua jubah kuning yarg bergelar Siang-jiu-king-thian ?"
Kiam-ping bingung, dia tidak mengerti kenapa amat simpati terhadap pengemis cilik itu.
mungkin karena riwayat pengemis hampir mirip dengan penderitaan hidupnya, demikian pikirnya.
Kiam-ping langsung kembali ke Eng hiong kip, dia merasa perlu tanya kepada Thi-jiau-kim-pian tentang asal usul Thiciang Lau-ngoya, baru akan bertindak apa yang harus dia lakukan-"Siapakah Hwesio malas itu ?
Yakin dia seorang kosen aneh.
Agaknya Biau-jiu-sip-coan juga punya nama di Kangoaw, dia mengaku sebagai anggota Hong-lui-bun.
Haha, lucu, murid Hong-lui-bun ternyata berani mencuri lencana kebesaran ciangbun Hong-lui-bun-"
Tanpa merasa Liok Kiamping tertawa sendiri. Maka dia berkeputusan setelah menemui Thi-jiau kim-pian dan diajak meluruk ke Jian-liu-ceng.
"Akan kuproklamirkan dihadapan mereka bahwa Pat-pi-kim liong adalah Ciangbunjin Hong-lui-bun."
Demikian batin Kiamping pula sambil beranjak cepat-cepat.
Tiba-tiba dari arah depan mendatang sebuah kereta ditarik tiga ekor keledai, yang menjadi kusir kereta bukan lain adalah paman angkatnya Thi-jiau-kim-piam Sun Bing-ci, tapi disampingnya duduk pula seorang laki-laki brewok.
Agaknya Sun Bing-cijuga sudah melihat dirinya, lekas dia menarik kendali menghentikan kereta.
"Lekas naik."
Baru saja Liok Kiam-ping menjura dan menyapa Sun Bing-ci telah mendesaknya, walau merasa heran, tanpa banyak bicara Liok Kiam-ping terus melompat keatas kereta.
"Tar."
Sun Bing-ci ayun cemeti membedal keledainya, kereta meluncur cepat ke depan-Roda mengeluarkan suara ramai di jalan raya yang berbalok batu berpadu dengan tapal keledai sehingga kedengaran nyaring.
orang-orang yang jalan ditengah jalan sama menyingkir kepinggir, tidak sedikit yang memperhatikan tiga laki laki menunggang kereta yang berbeda dandanan ini.
Seorang laki-laki setengah bungkuk berwajah kuning seperti petani, laki-laki brewok yang bertubuh tegar bermuka kereng dan pemuda sekolahan baju putih.
Sepanjang jalan mereka tiada yang bicara beberapa kali Kiam-ping ingin bertanya, tapi melihat sikat Sun Bing-ci yang serius seperti kuatir dan prihatin, dia urungkan niatnya.
Lekas sekali kereta sudah keluar kota, Lok-yang jauh ketinggalan dibelakang.
"Kiam-ping."
Akhirnya Sun Bing-ci bersuara.
"tahukah kau kenapa sejak tadi aku tidak bicara denganmu"?"
Kiam-ping melongo, geleng-geleng kepala.
"Biar kuberitahu, saudara ini adalah keponakan Bu-jipekmu, dikalangan Kangouw di juluki Lik-su-cui Bu Wi-pin, kalian boleh berkenalan, kelak satu sama lain harus saling membantu,"
Demikian ujar Sun Bing-ci menuding laki-laki brewok lalu menyambung.
"Bu-hiantit, pagi tadi sudah kujelaskan kepadamu, tidak perlu kubicarakan lagi."
Laki-laki brewok tertawa lebar kepada Kiam-ping, sapanya ramah.
"Liok-heng masih muda sudah berjasa besar, Siaute sungguh amat kagum."
Lalu dia menjura.
"Ah, mana, selanjutnya mohon Bu-heng suka memberi petunjuk."
Ujar Kiam-ping.
Laki-laki brewok ternyata ramah dan periang, Kiam-ping merasa cocok dan simpati padanya.
Thi-jiau-kim-pian celingukan sebentar, melihat tiada orang dia berpaling menyingkap kerai bertanya kedalam kabin kereta "Lan-ci, bagaimana keadaan adikmu?"
Kiam-ping ikut berpaling, dilihatnya pemuda yang dihajar babak belur itu rebah didalam kereta.
kepalanya masih dibalut, mukanya juga benjol-benjol biru, matanya terpejam, agaknya sedang pulas.
Nona berkuncir duduk disamping, sahutnya sambil angkat kepala.
"Khing-te barusan tidur paman-"
Sahut gadis itu. Tanpa sengaja pandangannya bentrok dengan tatapan Kiam-ping, lekas dia melengos dengan muka merah.
"Lan-ci, nama yang indah. Jadi nona berkuncir ini bernama Sun Lan-ci."
Demikian batin Liok Kiam-ping.
"Kiam-ping, apa yang kau lamunkan?"
Tiba-tiba Sun Bing-ci menegor.
"Ha, tidak apa-apa."
Kiam-ping tergagap.
"Hm,"
Sun Bing-ci geleng-geleng tidak mengerti, lalu berkata kepada laki-laki brewok.
"Wi-pin, sekarang boleh kau ceritakan secara ringkas tentang persoalan pamanmu kepada Kiam-ping."
Lalu dia menggeser tempat duduknya bertukar arah dengan Bu Wi-pin.
Liok Kiam-ping hanya mengawasi mereka berdua dan bingung.
Setelah batuk-batuk Bu Wi-pin tersenyum, katanya "Saudara Kiam-ping, yakin kau merasa heran akan sikap kami barusan, biarlah Siaute jelaskan-"
Berhenti lalu celingukan.
"sejak kecil ayah bundaku sudah meninggal. maka aku dibesarkan oleh It-tio-liong Bu-jisiok, karena seorang diri susah mengurus aku, maka Bu-jisiok mengirim aku ke Kun-lun san, waktu aku turun gunung, kebetulan Bu-jisiok kalah bertanding melawan seorang iblis dari luar perbatasan, sehingga beliau mengundurkan diri dari percaturan dunia persilatan-Sejak itu Ji-siok suruh aku mengembara mencari pengalaman, syukurlah aku tidak menyia-nyiakan pendidikan perguruan, dengan sebatang palu godam aku malang melintang di enam propinsi utara, akhir kali aku menjatuhkan Kim-to Pang Mo, tidak sedikit pula gembong penjahat ditujuh propinsi selatan yang kukalahkan, termasuk Hian-thian-kaucu Bun Hoan-gay sehingga aku di juluki Lik-su-cui (Martil raksasa), tapi dibanding kau saudara Kiam-ping kemampuan dan apa yang kucapai bukan apa-apa."
Lalu dia tertawa bingar sambil mengawasi Liok Kiam-ping.
"Laki-laki jujur dan sahaja,"
Demikian batin Liok Kiam-ping, kesannya lebih baik.
"Tahun itu aku pulang untuk merayakan tahun baru dirumah Ji-siok, atas petunjuk Ji-siok aku disuruh menyelundup ke Hwe-hun bun mencari tahu berita Swanhong-it-kiam, yaitu ayahmu, entah bagaimana nasibnya, karena waktu itu pihak Hwe-hun-bun mengerahkan anak muridnya mencari jejak ayahmu."
Karena menyinggung ayahnya Kiam-ping mendengarkan penuh perhatian, matanya mendelik terang.
"Waktu itu Siaute seorang bekerja mencari kabar kemanamana, tapi tiada yang tahu dimana jejak Liok-cianpwe, tanpa terasa setengah tahun telah berselang. dari mulut seseorang Siaute mendapat kabar bahwa Hwe-hun-bun-cia ciangbunjin Hwe-hun-bun telah menemukan ayahmu serta memukulnya sampai luka parah. orang yang memberitahu kepadaku itu mengaku bernama Suma Liang bergelar Tiong siau-kiam-khek. Waktu itu keadaannya amat lesu, loyo dan patah semangat, badannya penuh luka-luka, luka dalamnya lebih parah lagi, waktu kutemukan dia berada disebuah selokan gunung, buruburu Siaute menolongnya dan memberi pengobatan."
Sampai disini dia menoleh, dilihatnya pancaran cahaya mata Liok Kiam-ping lebih tajam lagi, didengarnya Liok Kiamping menggumam.
"Suma Liang, Tiong-siau-kiam-khek, Suma Liang ? Suma Ling-khong..."
"Kau kenal dia ?"
Tarya Bu Wi-pin.
"Tidak "
Kiam-ping menggeleng, tiba-tiba dia pegang lengan Wi-pin.
"Akhirnya bagaimana ? Lanjutkan ceritamu..."
"Untuk membuktikan kebenaran cerita itu, Siaute pernah naik ke Bu-ling-san di Gikpak tapi penyelidikan nihil, tiada yang kuperoleh. Namun beberapa tahun yang lalu waktu Siaute hadir dalam perjamuan seorang sahabat tanpa sengaja kudengar bahwa pihak Hwe-hun-bun waktu mengudak Swanhong-it-kiam dulu, katanya urusan itu menyangkut seorang gagah disekte utara yang bergelar Thi-ciang Lau Koan-ni, yaitu pemilik atau penguasa Jian-liu-ceng sekarang Thi-ciang Lau-ngoya."
Sekilas dia melirik Kiam-ping lalu melanjutkan-"Lao Koan-ni pernah bertemu beberapa kali dengan Bu-jisiok.
waktu itu dia sudah menjabat Tong-cu yang berkuasa disalah satu cabang Hwe-hun-bun di sekte utara.
Maka setelah hal ini kulaporkan kehadapan Bu-jisiok, aku disuruh terus menyelidiki secara diam-diam, tak lama kemudian seorang perempuan setengah baya yang buntung sebelah lengannya seorang diri meluruk ke Bu ling-san menantang Hwe-hun-cun-cia.
Ternyata perempuan setengah baya itu tak karuan parannya, tiada orang tahu nasibnya, tiba-tiba tersiar bahwa perempuan lengan buntung itu meluruk ke Bu-tong minta obat tapi gagal, celakanya dia terpukul luka parah oleh para Tosu Bu-tong, beruntung waktu itu seorang pemuda juga meluruk ke Bu-tong mengaku putera perempuan itu, seorang diri dia memukul jatuh Bu-tong Ciang bun, sebelum pergi secara demonstratip dia melancarkan Wi-liong-sin kang yang pernah menggetarkan Kangouw..."
Melihat Liok Kiam-ping mendengar kisahnya penuh perhatian, Bu Wi-pin batuk-batuk lalu melanjutkan.
"Keadaan waktu itu, karena Liok-lote sendiri juga mengalami tentu kau lebih jelas dari Siaute. Tapi satu hal mungkin Liok-lote tidak tahu, yaitu sejak Bu-tong-ciangbun mengeluarkan perintah menangkap Pat-pi-kim-liong, demikian pula Han-ping-kiong dilaut utara juga mengeluarkan Han-giok-licng untuk meringkus Pat-pi-kim-licng juga, ternyata Lau-ngoya kelihatan sibuk, beberapa hari ini dia menyebar juga undangan untuk merayakan limapuluh tahun hari lahirnya, orang-orang Kangouw tidak sedikit yang diundang, aku yakin dibelakang pesta ulang tahunnya itu ada tersembunyi hal-hal yang patut dicurigai..."
Bu-jisiok juga menerima undangannya, Diam-diam beliau sudah berkeputusan untuk menepati undangan itu, tanpa masuk kesarang harimau mana bisa mencari tahu seluk beluk musuh, maka dua hari yang lalu beliau sudah berangkat ke Jian-liu-ceng, Selama beberapa tahun ini hubungan beliau dengan Lau-ngoya cukup baik, keluar masuk Jian liu-ceng leluasa, tiada orang yang merintangi penyelidikannya secara diam-diam ternyata memperoleh hasil, beliau mendapatkan suatu rahasia.."
Sampai disini Bu Wi-pin tutup mulut, karena dilihatnya tak jauh disebelah depan dijalan raya muncul beberapa bayangan orang yang menuju kemari.
Thi-jiau-kim-pian yang diam saja sejak tadi tiba-tiba mengayun cemeti membedal keledai lebih cepat, dengan gagang cemetinya dia menyendal kerai yang tersingkap sehingga tertutup, Lekas sekali beberapa penunggang kuda telah dibedal lewat disamping kereta, debu tebal beterbangan memenuhi udara.
Sekilas Liok Kiam-ping menangkap bayangan mereka, yaitu kawanan ceng-tiok-pang yang bentrok dengan dirinya dikota tadi, agaknya mcreka juga melihat Liok Kiam-ping, dua orang bersuara kaget dan heran, tapi cepat sekali mereka sudah lewat kebelakang dan pergi jauh.
"Waktu amat mendesak. biarlah Siaute meringkas ceritanya."
Demikian ujar Bu Wi-pin setelah penunggang kuda itu pergi jauh.
"Waktu itu Siaute juga pernah masuk ke Jianliu-ceng, Ngo-jiau-eng Ling Kong-hiap congkoan dari perkampungan itu adalah kenalan baikku, maka akupun bisa keluar masuk secara bebas. Begitu Bu-jisiok mendapat bukti surat-surat hubungan rahasia pihak Hwe-hun-cun-cia dengan Thi-ciang Lau-ngoya, secara diam-diam Siaute lantas di suruh pergi ke ouw-lam menemui Sun-supek menjelaskan perihal itu..."
"Waktu itu aku sudah meninggalkan ow-lam, maka Wi-pin tidak menemukan aku"
Thi-jiau-kim-pian yang berdiam sejak tadi tiba-tiba menimbrung lagi.
"Tadi baru Wi-pin pulang dan bertemu di Eng-hiong-kip. dia jelaskan semua persoalannya kepadaku, Karena daerah ini termasuk kekuasaan Thi-ciang Lau Koan-ni, maka sepak terjang kita harus hati-hati, Sekarang aku sendiri akan pergi ke Jian-liu-ceng, bila perlu bisa membantu Bu Kim. Kiam-ping Hiantit, satu hal perlu aku berpesan kepadamu, keadaannya sekarang belum jelas, musuh ditempat gelap kita ditempat terang, segala sesuatunya tidak boleh gegabah, setelah waktunya baru kita boleh unjuk diri, dendam sakit hati orang tuamu, kau sendiri yang harus membalasnya."
Lalu dia menerawang keadaan sekelilingnya serta menambahkan kepada Bu Wi-pin.
"Wi-pin, Sesuai apa yang pagi tadi kukatakan kepadamu, hati-hatilah kau melindungi Lan-ci dan Lan-khing ke barat bersama Kiam-ping, pergilah ke Heng-kik menemui cong-piau-thau Wi-wan Piaukiok Thi-jibeng Pui Thian-tek setelah urusan di sini beres, segera aku menyusul kalian ke sana, urusan cukup genting, sekarang juga kalian harus berangkat."
Kebetulan tiba di persimpangan jalan tiga, dia belokkan kereta kekiri lalu menghentikan kereta, katanya kepada Kiamping.
"Kiam-ping barang-barangmu yang kau tinggal dihotel biar aku yang mengurusnya, patuhi pesanku, lindungi kedua saudaramu dan langsung ke Heng-kik menemui Thi-ji-beng (elang sayap besi), karena putra Pui Thian-tek yang bernama Pui kin-wi, adalah calon suami Lan-ci, sejak kecil waktu masih dalam kandungan mereka sudah merangkap jodoh-Baiklah, kita berpisah disini."
Lalu dia serahkan cemeti kepada Bu Wi-pin, setelah menepuk pundaknya terus melompat turun.
"Paman.."seru Liok Kiam-ping.
"Ada apa?"
Tanya Thi-jiau-kim-pian sambil membalik tubuh, dilihatnya mata Liok Kiam-ping merah dan mewek-mewek hendak menangis. Sampai di sini dia merandek menelan air liur.
"Dendam orang tua terukir dalam sanubariku, sebagai seorang putra yang memikul tugas mulia ini, mana dapat hidup tentram sebelum sakit hati ini terbalas, untuk itu tak perlu aku takuttakut dan bertindak main sembunyi, paman dan para saudara sudah giat bekerja dan susah payah ikut membantu betapapun Kiam-ping tidak boleh berpeluk tangan saja, Kiamping bertekad membunuh musuh dengan kedua tangan sendiri, betapapun paman jangan menempuh bahaya seorang diri."
Tegak alis Thi-jiau-kim-pian, katanya dengan nada serius.
"Kiam-ping, pandanglah pamanmu, apakah aku ini orang yang takut mati ?
Bukan begitu maksudku menyuruh kau pergi, soalnya saatnya belum matang, sebelum terbukti bahwa Thiciang Lau Koan-ni ada hubungan dengan Hwe-hun-cun-cia sehingga Swan-bong-it-kiam celaka ditangan mereka, betapapun kita tidak boleh bertindak sembarang.
Kau baru berkecimpung di Kangouw pengalaman cetek.
walau kau membakal Wi-liong-sin-kang, betapapun harus bertindak hatihati.
orang-orang jahat kaum persilatan serba licik dan licin, kau jelas takkan kuasa menghadapi keganasan mereka, mengingat betapa berat dan penting tanggung jawab mu, maka tak boleh sembarang menyerempet bahaya, kalau kau mengalami sesuatu sebelum berhasil, apakah kau mampu bertanggung jawab kepada kedua orang tuamu di alam baka ?"
Melihat Kiam-ping tertunduk dengan air mata berkaca-kaca, setelah berhenti sejenak dia menambahkan dengan nada agak kalem.
"Memikirkan kepentinganmu, kuharap kau tidak lupa dendam orang tua, bakarlah semangatmu, arahkan kecerdikanmu, tiba saatnya akan kuberi kesempatan kau turun tangan sendiri. Dan lagi hubungan kami dengan Lau-ngoya masih baik, kehadiranku di Jian-liu-ceng yakin tidak akan berbahaya. Bila paman dan Bu-jisiok berhasil mendapatkan buktinya, belum terlambat kubeber persoalan ini. Ooh, ya, hampir lupa aku memberitahu kepadamu, guru Thi-ciang Lau Koan-ni ber-nama It-hou-cu adalah Susiok ayahmu, waktu Lau Koan-ni berkelana di daerah utara pernah berkenalan dan punya hubungan baik dengan putra kedua Hwe-hun-cun-cia yang bernama Leng Pwe-kiat, sudah cukup sekian saja, waktu sudah mendesak. lekas kalian berangkat."
Sambil melambai tangan Thi-jiau-kim-pian Sun Bing-ci segera putar tubuh tinggal pergi.
Liok Kiam-ping menggigit bibir, setelah tarik napas dia membusungkan dada.
Pemuda brewok Wi-pin mengayun cemetinya.
"Tar..."
Keretapun bergerak berlari kedepan, meninggalkan debu kuning yang beterbangan ditiup angin lalu.
Agak basah juga kelopak mata laki-laki muka kuning alias Thi-jiau-kim-pian Sun Bing-ci, pelan dia turunkan tangan sambil menghela napas, setelah membetulkan pakaiannya tiba-tiba dia menjejak tanah, tubuhnya meluncur kencang kedepan-Sekejap setelah bayangannya lenyap.
Ditempat di mana tadi dia berdiri tiba-tiba berkelebat bayangan satu orang, Tampak orang ini berjubah biru, mengenakan ikat pinggang kain merah.
Sorot matanya tajam, Thay-yang-hiat di kedua pelipisnya tampak merongkol besar.
Dengan bertolak pinggang dia mengawasi bayangan punggung Thi-jiau-kim-pian, tiba-tiba menyeringai sambil mendengus dingin, terkulum senyum sinis yang sadis diujung bibirnya, setelah membanting kaki cepat diapun mengudak ke sana.
Tak pernah terpikir olehnya, bahwa tak jauh dibelakang pohon dimana dia berdiri, ada sepasang mata jeli tajam tengah memperhatikan gerak geriknya pula, sepasang mata yang tersembunyi dibalik cadar hitam, tangan orang ini tampak memegang sebatang seruling putih panjang tiga kaki bentuknya agak aneh.
---ooo0dw0ooo---Kereta keledai itu berlari dalam kecepatan sedang meninggalkan taburan debu yang membumbung di angkasa, meninggalkan dua jalur bekas roda di tanah kering yang berderu tebal.
Pemuda brewok agaknya seorang periang yang pegang kendali sambil berdendang dan bernyanyi, tak pernah dia mau peduli akan kehidupan yang serba sulit ini.
Liok Kiam-ping duduk setengah tidur ditempat kusir, pandangannya lantang ketanah tegalan yang membentang luas tak tercapai ujung pangkalnya, sementara temannya masih terus tarik suara, dia melamun, pikirannya melayang jauh menyusuri pengalaman hidupnya selama ini.
Pemuda sakit masih tidur nyenyak.
nona kuncir juga duduk tenang didalam kereta memainkan kuncir panjang yang menjuntai di depan dada, kepala tertunduk wajah merah jengah, entah apa pula yang tengah dipikir dalam hatinya.
"Wi-pin-heng,"
Tiba-tiba Liok Kiam-ping tersentak dari lamunannya.
"Ingin aku bicara dengan kau."
Tiba-tiba dari pinggir jalan sana terdengar pula seorang berdendang meniru nyanyian yang dibawakan si brewok.
"Ha, Wi-pin-heng,"
Kiam-ping berjingkrak berdiri.
"Maaf, Siaute teringat suatu urusan penting. Boleh kalian berangkat dulu, segera aku menyusul kalian-.."
Sebelum mendapat jawaban dia melompat turun terus lari ketanah tegalan sana.
"Hai, hai, Liok-lote, kenapa kau ? Mau ke mana ?"
Teriak Wi-pin.
"Hai, Liok-toako..."
Nona berkuncir juga melongok keluar ikut memanggil dengan kedua mata berlinang air mata. Tapi Kiam-ping seperti tidak mendengar suara mereka, dengan kencang dia lari ke sana.
"Lan-ci, biarlah dia pergi, kita lanjutkan perjalanan, Lioktote mungkin ada urusan biar nanti dia menyusul didepan"
Demikian ujar Wi-pin lalu membedal keretanya pula.
"Hihi, hahaha..."
Debu masih bertaburan, entah dari mana tiba-tiba muncul seorang Hwesio berjubah dekil banyak tambalan, kepalanya yang gundul tumbuh borok, bernanah, tapi tepat diubun-ubun kepalanya berderet tiga baris sembilan titik hitam selomotan dupa.
Memandang kearah Liok Kiamping yang berlari-lari ditengah tegalan dia melelet lidah serta membuat mimik setan, sambil menjinjing jubah pelan-pelan dia mengudak ke sana.
"Lho, kemana dia, aneh ?"
Sementara itu Kiam-ping tengah berdiri diatas gundukan tanah celingukan, hanya rumput bergerak tak kelihatan bayangan orang.
Pada hal waktu dia duduk diatas kereta tadi, jelas dia melihat Hwesio tua pemalas yang membuat onar direstoran dikota Lokyang itu tengah tidur diatas batu ditanah tegalan ini, menirukan dendang si brewok menarik perhatiannya.
"Perduli pada dia, biar aku menyusul ke Jian-liu-ceng saja, supaya tidak terlambat menyusul mereka."
Demikian pikir Kiam-ping.
Tapi begitu dia membalik sambil angkat kepala keanehan tiba-tiba muncul didepan matanya, hampir dia tidak percaya akan apa yang dilihatnya, tapi ini kenyataan, tak jauh didepannya seorang tengah berlari-lari kecil sambil menjinjing jubahnya, siapa lagi kalau bukan Hwesio kurus pemalas tukang gares hidangan orang?
"Lo-cianpwe."
Serunya terus angkat langkah mengejar.
Tapi Hwesio tua itu seperti pikun tidak merdengar panggilannya.
sambil kedua tangan menjinjing jubah kakinya berlari-lari enteng sejauh delapan tombak didepannya.
"Ha, dia sedang menguji aku."
Demikian pikir Liok Kiamping, bangkit semangatnya, segera dia tancap gas menjejak kedepan dengan luncuran kencang, langkahnya seperti air mengalir mega mengambang, tubuhnya melesat bagai anak panah.
Tapi, Hwesio tua didepannya tetap menjinjing jubah dan berlari-lari kecil, tidak kelihatan dia bergaya atau mengerahkan tenaga, tapi jaraknya tetap delapan tombak di depan Kiam-ping.
"Ah, Ling-khong-lei-toh." . Serta merta langkah Kiam-ping agak mengendor, kiranya dia Hwesio Siau-lim-si."
Akhirnya Kiam-ping berhenti.
"Hiiiihi, hahaha."
Tahu-tahu Hwesio kurap didepan itupun berhenti dan tengah melambai tangan kepadanya, apa boleh buat Kiam-ping angkat pundak serta menghampiri.
"Ha, buyung, tidak jelek. lekas beritahu kepada Hwesio rudin. Apakah ilmu yang kau yakinkan itu kau peroleh dari Sa Kiu si bocah itu?"
Setelah Kiam-ping didepannya Hwe siomalas tertawa dan menegur.
"Siapa? Sa Kiu ? Siapa itu Sa Kiu?"
Kiam-ping terbelalak heran.
"Siapa ? Bukankah kungfumu kau pelajari dari Kiu-thiansin-liong Sa Kiu bocah itu ?"
Hwesio malas bertanya dengan terbelalak.
"Kiu-thian-sin-liong? Bocah siapa ? heran-"
Kiam-ping makin bingung.
"Sontoloyo. Dulu waktu Hwesio rudin ini masih kecil jadi kacung membawakan poci teh untuk cosuya, bocah itu masih ingusan dan suka ngompol dan bobrok. apa salahnya kalau aku anggap dia masih bocah ?"
Demikian omel si Hwesio sambil melorok.
"Jadi... kau... cianpwe..."
Kiam-ping garuk-garuk kepala, mata terbeliak mengawasi Hwesio rudin, sungguh dia tak mau percaya bahwa Hwesio tua kurus Jenaka ini ternyata berusia lebih seabad.
"Hiihi."
Hwesio malas tertawa menyengir sambil memicing mata, hidungnya yang besar merah mendengus-dengus seperti congor babi membuat gerakan dan mimik yang lucu, lalu dari kantongnya dia merogoh segelondong perak diangsurkan kepada Kiam-ping, katanya.
"Nah, ini uangmu, sebagian kuambil untuk membayar rekening restoranneneknya sesungguhnya aku harus terima kasih kepada maling cilik itu, kalau tidak karena dia, mana Hwesio rudin ini bisa makan gratis dari uangmu"
Kiam-ping tahu bahwa uang itu memang miliknya, maka tanpa sungkan dia menerima nya, dia maklum apa yang telah terjadi, maka tidak banyak bicara.
"Anak muda berkeliaran di luar harus hati-hati, Jangan kau kira kau pandai main cakar ular lantas malang melintang di Kangouw, bila bertemu dengan maling neneknya, mungkin jiwa sendiri ambles juga tidak kau sadari"
Demikian Hwesio rudin memberi nasehat dengan nada sungguh-sungguh.
"Mungkin maling cilik itu melihat tampangmu memang mirip manusia, maka sengaja menginjak kakimu. Begitu kau perhatikan senyumannya, tanpa kau sadari barangmu telah digerayangi. Hm, kalau Hwesio rudin ini tidak memergoki perbuatanmu, memangnya aku sudi turut campur."
Melihat mimik Kiam-ping meringis lucu hatinya jadi girang, serunya pula.
"Buyung, tahukah kau bagaimana aku menghajar adat maling cilik itu? Haha haha."
Kiam-ping tahu 'maling cilik' yang di maksud adalah Biaujiu-sip-coan, memang dia tidak habis mengerti cara bagaimana Hwesio rudin ini mempermainkan Biau-jiu-sip-coan sehingga maling jail ini tunduk dan patuh melihat si Hwesio seperti melihat nenek moyangnya.
Didengarnya Hwesio rudin bicara.
"Hm, melihat uang perak segede itu dirogoh dari kantongmu, aku si tua bangka ini menjadi mengiler. Padahal dahulu waktu Hwesio rudin sembunyi didalam Bu-lung-tiam cosuya mencuri makan manisan pun tidak buang tenaga sedikitpun, itupun belum apa-apa, cukup sebuah jari Hwesio rudin ini berputar, barangbarang simpanan dalam kantong maling cilik itu lantas pindah kekantong buanaku ini. Tapi berbuat jahat tidak bajik, betapapun Hwesio rudin ini harus menanam budi dan kenal kasihan, lencana kebesaranmu itu tetap kutinggal dalam kantongnya, sekalian aku tinggalkan juga kulit borok kepalaku didalam kantongnya, hahaha, coba pikir lucu tidak?"
Lalu dia garuk-garuk pula kepalanya yang borokan-Hampir Kiam-ping muntah saking mual tapi Hwesio rudin malah berteriak. 'Neneknya moyang, buyung. Kau berhasil menemukan pengemis cilik tidak?"
"Dia... ya, sekarang Wanpwe juga sedang mencarinya."
"Bohong, barusan kulihat kau main mata dengan cewek dalam kereta itu."
Hwesio rudin pura-pura marah sambil menarik muka.
"Ah, mana... aku..."
Kiam-ping gelagapan "Kau apa ? Lekas pergi, carilah pengemis cilik itu dan serahkan kepada Hwesio rudin, ketahuilah cacing dalam perut Hwesio rudin sudah berontak. lekas cari dia."
"Lha, kemana Wanpwe harus mencarinya.?"
Kiam-ping kebingungan-"Goblok. tumpul, telur busuk. memangnya kau tidak bisa... oh"
Setelah memaki kalang kabut Hwesio rudin sendiri juga kebingungan,"
Neneknya, kalau tidak pergilah cari laki-laki berjenggot baju kuning itu, hajar pantatnya, kalau dia tidak datang, pengemis cilik juga tidak akan lari. Maknya kurcaci."
"Bocah berjubah kuning berjenggot pendek, Siapa ? Maksudmu Siang-ciu-king-thian ?"
"Betul, bocah keparat itu. Neneknya, melihat bulu kera disekitar mulutnya, aku jadi geli, nanti bila kepergok ditanganku, boleh kau cabut beberapa lembar bulu keranya itu."
"Mencabut jenggotnya ? Wah."
Kiam-ping melotot mengawasi Hwesio rudin.
"Ya, cabut bulu keranya. Neneknya melihat bulu panjang itu Hwesio rudin jadi gatal, dulu disiniku juga tumbuh bulu halus, celakanya untuk makan minum aku jadi susah dan kerepotan-Neneknya, kalau bulu tidak basah kena kuah, nasi berhamburan mengotori jubahku, Eh, kau kan tahu biasanya aku orang tua paling suka kebersihan, maka saking gemas aku cabuti semua bulu keraku, heheheilahahaha."
Demikian kelakar Hwesio rudin sambil meraba dagu sendiri sambil meram melek.
"Wah lucu juga."
Ujar Kiam-ping geli, tapi alisnya bertaut.
"Hahaha,... he, buyung, kenapa kau mengerut alis ? Apa kau takut atau tidak mampu, kan gampang, nah, cukup begini dan begini haha, aku yakin kau pasti dapat mencabut beberapa lembar bulu keranya itu, ha haha."
Lalu dia mendekat dan bisik-bisik dipinggir telinga Kiam-ping sambil kaki tangan bergerak-gerak.
akhirnya dia tertawa besar dengan lantang.
Liok Kiam-ping mendengar dan asyik memperhatikan gerak-gerak si Hwesio, gerakan kocak tapi belum pernah dia melihatnya, sekilas dia melongo, tanpa sadar dia ikut bergelak meniru gerak-gerik orang.
"Betul, ya begitu, ha ha hi, lucu sekali bila bulu keranya tercabut habis, dia akan dinamakan kera plontos. Ha ha ha waduh perutku mules Hweshio rudin mau buang air besar, buyung, selamat bertemu... ha ha ha..."
Sambil memegang celana membuka kolor Hweshic rudin berlari kearah gerombolan rumput.
Liok Kiam-ping masih mengerut kening membayangkan beberapa gerakan tadi kian dibayangkan makin aneh lucu tapi juga terasa lihay, sesaat dia melenggong sementara itu Hwesio rudin sudah menyelinap hilang tak kelihatan lagi bayangannya.
"Wah, betul-betul hebat... lucu .. dan menyenangkan-ha ha, bagus."
Tanpa terasa Liok-kam-ping terkial-kial geli sambil tepuk tangan kegirangan-Ditengah gelak tawanya, badannya melesat kencang menuju ke Jian-liu-ceng.
Menjelang lohor, mentari bercokol ditengah angkasa, debu mengepul tinggi dijalan raya diluar kota Lokyang yang menuju kebarat.
Beberapa penunggang kuda tampak membedal kudanya keluar kota.
Dua ekor kuda tampak berlari pesat ke arah barat, dua penunggangnya masih muda, terdengar seorang berkata.
"Suheng, sudah hampir sampai bukan?"
"Em, ya, tidakjauh lagi,"
Sahut sang suheng.
"Suheng, nah lihat, bukankah itu Jian-liu-ceng?"
Yang bertanya ternyata seorang nona penunggang kuda hitam.
"Ya, betul."
Sahut sang Suheng dengan suara rendah.
Lekas sekali mereka sudah tiba di depan sebidang hutan pohon Liu yang rindang, lapat-lapat tampak tembok tinggi ditengah kerumunan-pepohonan lebat disebelah sana.
Memasuki hutan jalanan disini mulai dilandasi batu-batu krikil yang lembut, dlujung jalan sana berdiri megah sebuah pintu gerbang perkampungan-Pagar temboknya tinggi beberapa tombak.
dibilangan luar pohon tumbuh subur dan rindang, rumah-rumah tampak dibangun berlapis-lapis di bagian dalam tembok.
Rumah-rumah di dalam tampak dipajang warna-warni, suasana riang gembira, jelas perkampungan sedang diliputi suasana ramai bahagia.
Perkampungan ini bukan lain adalah Jian-liu-ceng atau perkampungan ribuan pohon liu yang terkenal di Kangpak.
Pintu gerbang perkampungan terbuka lebar, manusia tampak hilir mudik keluar masuk, puluhan centeng berseragam hijau berpakaian rapi berderet didepan pintu sambil membusung dada, mereka bertugas menyambut para tamu-tamu yang datang serta mengantar kedalam.
Lekas sekali kedua penunggang kuda itu sudah membedal kuda mereka didepan pintu gerbang, mendadak tali kendali ditarik sehingga kuda meringkik sambil melonjak berdiri dengan kaki belakang.
"Haya, Lat-pa-kiu-king telah tiba, maaf tidak menyambut darijauh, silahkan, silahkan-"
Seorang laki-laki berjubah biru yang berdiri didepan pintu segera menyapa sambil menjura, laki-laki ini bermulut besar berbibir tebal.
Laki-laki gede penunggang kuda itu memang benar adalah Lat-pa-kiu-king (tenaga kasar menjunjung sembilan hiolo), sesuai perawakannya yang tegap dengan daging otot yang merongkol, suaranyapun rendah berat berisi, terasa betapa kuat tekanan kata-katanya "Aai mana berani, orang She Shin datang bersama Sumoay, mohon maaf."
Setelah balas menyura dia menunjuk gadis penunggang kuda bersepatu tinggi dibelakangrya.
"Inilah Sumoay ku Ang-ji-to sat ( dedemit sayap merah ), karena mengagumi kebesaran nama nama Lau-cengcu, sengaja ikut kemari akan menyampaikan sembah sujud."
Laksana segumpal api saja, gadis satu ini berpakaian serba merah menyala, pakaian sari yang membelit ketat tubuhnya yang ramping semampai, montok berisi lagi, kulit dagingnya begitu putih halus dan lembut bagai susu, matanya bundar, alisnya lentik, hidung tegak dan bibir merah sedikit menjengkit naik menandakan wataknya keras dan aleman-Berdiri didepan kuda sambil bertolak pinggang, bergaya lagi laksana bintang panggung layaknya.
"Haya, sungguh kurang hormat, nama besar Nona Cin sudah tersiar luas dikalangan Kangow, sungguh beruntung orang She Li hari ini dapat menyambut kehadirannya disini, mari silahkan, silahkan masuk ."
Demikian sambut laki-laki jubah biru sambil menyilakan tamunya masuk ke perkampungan, dua orang laki-laki sudah maju menerima kendali kuda serta menuntunnya ke samping.
Setelah balas memberi hormat, Lat-pa-kiu-king bersama sang Sumoay beranjak masuk.
Seorang centeng berjalan didepan menunjukkan jalan----ooo0dw0ooo---Agaknya perjamuan sudah dimulai di balairung yang besar, para tamu sudah kumpul disana disambut tuan rumah, pestapun telah dimulai, suasana begitu ramai dan meriah, wajah setiap orang cerah dan gembira, orang orang Jian-liuceng tiada yang tidak repot semua berjalan lancar sesuai rencana.
Diujung serambi panjang disebelah timur balairung, tampak seorang laki-laki jubah biru tengah mondar mandir sambil menggendong tangan, ikat pinggang kain merah tampak menyolok, sikapnya yang gelisah tampaknya sedang menunggu sesuatu dengan tidak sabar, namun dia berusaha bersikap wajar seperti lagi iseng sambil longok-longok kesekitarnya.
Tiba-tiba dia bergegas memapak maju serada menjura kepada seorang laki-laki muka kuning berdandan petani yang mendatangi, sapannya.
"Hah, Thi-jiau-kim-pian, Sun-loyacu, cayhe Ngo-jiau-eng Ling Kong hiap adalah kenalan baik Wi-pin-heng, sudah lama kudengar nama besarmu, baru hari ini aku bersua disini, sungguh beruntung,"
Thi-jiu-kim-pian yang sedang menyusuri serambi panjang itu kelihatan melengak. tapi segera dia paham dan balas menjura, katanya tertawa.
"Masa begitu. Ngojiu-eng juga telah ternama di kangou, mana berani Losiu mendapat penghormatan ini, beruntung juga losiu berkenalan dengan tuan ."
Lalu dia tertawa lebar sambil menjura, dikala tubuhnya membungkuk itulah tiba-tiba dia berkata lirih "Ling-heng, barusan . , ."
Laki-laki kurus jubah biru segera menegakkan jarinya didepan mulut sambil mendesis, setelah celingukkan tidak nampak orang dia berkata gugup.
"Rahasia It-tio-liong Bu-jiya sudah konangan, sekarang dia disekap dipenjara bawah tanah di belakang perkampungan..."
"Hah ?"
Laki-laki muka kuning berjingkrak kaget.
"Urusan amat mendesak. Lau-ngoya sekarang berada di balairung menyambut kedatangan murid terbesar Hwe huncun-cia Ang-hun-jit-sian (megah merah berkelebat tujuh kali) Leng Pwe-ing. Penjara bawah tanah kini hanya dijaga oleh Kiau Le dan Beng Liang, biar aku ketaman belakang menunggumu, disana kita berunding lagi dan bertindak melihat gelagat."
Habis berbisik laki-laki jubah biru menjura lagi lalu berkata keras.
"Silahkan Sun-loyacu tunggu sejenak. setelah cayhe membereskan pekerjaan, pasti akan kutemani kau orang tua."
Sebelum dijawab Thi-jiau-kim-pian, buru-buru dia tinggal pergi dengan langkah lebar.
Laki-laki muka kuning melenggong beberapa kejap ditempatnya, mendadak matanya bersinar, tinjunya terkepal gemas dan gegetun, melihat sekelilingnya tiada orang, dilihatnya perjamuan sedang meriah dibalairung, bergegas dia meninggalkan tempat itu, Begitu bayangannya lenyap dibalik tembok.
dari belakang gunung-gunungan tak jauh dari serambi panjang itu tiba-tiba muncul dua orang, seperti laki-laki kurus tadi, merekapun berjubah biru dengan ikat pinggang kain merah.
Kedua orang ini beranjak keluar dengan tertawa saling pandang, yang dikiri adalah laki-laki setengah umur dengan jenggot pendek.
sambil menjengek dia berkata kepada temannya.
"He, muslihat kita cukup lancar, inilah yang dinamakan tipu mengundang tuan masuk perangkap Hehehe."
"Betul, memang bagus, permainan sandiwara Hoan-thian-ju (tikus langit jumpalitan) memang mirip sekali. Tua bangka sebatang kara itu juga kena ditipunya, Haha."
Keduanya lalu tertawa latah dengan gembira, laki-laki jubah biru disebelah kanan membalik tubuh melangkah kepekarangan belakang, temannya yang berjenggot pendek berdiri diam mengawasi punggungnya sejenak.
akhirnya dia melangkah kedalam balairung sambil menggendong tangan-Ditengah balairung, seorang laki-laki tua muka merah tengah angkat sebuah medali perak berisi arak yang cukup besar, dengan senyum lebar ia berputar menyapu hadirin, dandanannya mirip seorang hartawan, jubahnya serba kuning emas, dibagian tengah tersulam sebuah huruf "Siu"
Atau panjang umur yang besar dengan dipelinti benang hijau pupus, mengenakan topi beludru segi empat, hingga rambut samping saja yang kelihatan sudah ubanan.
Sambil bergelak tawa dia ajak hadirin menghabiskan arak masing-masing.
Serempak hadirin menyambut dengar riang dan gelak tawa terdengar riuh, beramai-ramai mereka menghaturkan ucapan selamat panjang umur, banyak rejeki, suasana makin gembira setelah sayur mayur mulai berdatangan disuguh, pesta porapun dimulai, dara-dara jelita mengantar makanan menuang arak satu lebih cantik dari yang lain, dandanannya yang menyolok, dengan tubuh semampai yang menggiurkan, alunan musik menambah semarak perjamuan bebas iri, hadirin tenggelam dalam suasana pesta gila-gilaan dua gadis cantik tampak bergaya dan menari gemulai dengan gerakan merangsang.
Tiada satupun hadirin yang tidak tertawa lebar dan pesona, arak terus dituang kedalam mulut, sebagian besar hadirin sudah setengah mabuk.
Sekonyong-konyong suatu pekik mengeri menghentikan suasana riang gembira, entah siapa yang mendahului, tapi pandangan hadirin satu persatu menoleh kearah luar, tatapan mereka membayangkan rasa heran dan panik, jeritan gadisgadis cantik menambah suasana menjadi gempar, musik berhenti, tarianpun terputus, perjamuan seperti beku, perhatian para hadirin tertuju kearah pintu besar, dimana tampak sesuatu mengalir dari atas, cairan merah kental -Darah, wanginya arak lenyap berganti bau anyir yang memualkan.
Hadirin melotot, merinding dan bergidik seram.
Diambang pintu tampak berdiri seorang pemuda, jubah putih yang dipakainya tampak melambai ditiup angin, wajahnya yang cakap ganteng tampak beku dan sinis, hadirin merasakan ancaman serius dari tatapan mata dan ujung mulutnya yang menyengir sadis.
"Siapa yang bernama Lau Koan-ni ?"
Pertanyaan ini seperti pilar es yang dingin menusuk sanubari hadirin, sorot matanya yang dingin tajam seperti mengiris lubuk hati mereka.
Tiba-tiba seorang hadirin menjerit ngeri, disusul jeritanjeritan lain yang ketakutan-Akhirnya tercetus sebuah pekik dari mulut seorang.
"Pat-pi-kim-liong."
"Hah, apa? Pat-pi-kim-liong?"
Yang kenal dan tidak kenal ikut menjerit panik dan histeris.
"Jadi pemuda inilah Pat-pi-kim-liong"
Berdebar jantung Lau Koan-ni, serta merta dia menoleh kearah darah yang meleleh dipintu, itulah darah yang mengalir dari tubuh puluhan laki-laki yang bertumpuk diluar pintu dekat dinding, para korban semua berseragam hitam.
Darah mengalir dan berceceran dipekarangan luar.
Lebih mengejutkan lagi adalah kejadian diluar hakikatnya tidak diketahui sama sekali.
"Siapa itu Thi-ciang Lau Koan-ni, silakan tampil kedepan."
Suaranya dingin itu berkumandang ditengah balairung.
Thi-ciang Lau Koan-ni berdiri mematung kulit mukanya berkerut-kerut, sorot matanya memancar tajam, tiba-tiba dia bergelak tawa sambil menengadah.
sambil angkat cangkir araknya dia melompat berdiri."
Ha ha ha, jago kosen dari mana telah tiba, hingga Lohu kurang hormat tidak menyambut maaf, maaf, silakan masuk. silakan masuk."
Ditengah gelak tawanya dengan langkah lebar dia beranjak kedepan menyongsong kedatangan Liok Kiam-ping. Mendadak di hadapan Pat-pi-kim liong.
"Kau inikah Pat-pikim-liong ?"
Seorang muda dengan ikat kepala pelajar berwajah bersih tiba-tiba merebut maju diantara hadirin, menuding dan melotot kepada Liok Kiam-ping.
Pat-pi-kim-liong hanya mendengus sambil melirik dingin, jengeknya.
"Enyah kau."
"Haaah."
Pekik pemuda itu, karena tak menduga akan reaksi Kiam-ping, sekilas melenggong, tiba-tiba bola matanya melotot, gusar memancarkan dendam membara, hardiknya.
"Kunyuk pongah. Susah payah tuan besar mencarimu tidak ketemu, kebetulan kau muncul di sini, serahkan jiwamu."
Berdiri alis Pat-pi-kim-liong, jengeknya "Siapa kau ?"
"Ha, kau jeri ? Baik, biar kau tahu supaya maripun kau bisa meram. Tuan muda ini Adalah Bu-tong-ci-eng (tunas harapan Bu-tong) Ting ciau, guruku bergelar Lan-ciok, tentunya kau masih ingat siapa beliau ? Ha haha, setengah tahun ini tak pernah tuan mudamu ini melupakan dirimu, nah sekarang tiba saatnya aku menagih hutang kepadamu."
Bu-tong-ci-eng Ting ciau beringas dan kalap.
suaranya bergetar, wajahnya yang ganteng pucat saking emosi.
Sekilas Pat-pi-kim-liong menerawang sekelilingnya, tampak Thi-ciang La u Koan-ni berdiri diam dengan wajah heran dan kaget, tapi sorot matanya menampilkan rasa syukur dan senyumannya kelihatan licik.
Setelah mendengus Pat-pi-kim-liong melirik Ting ciau, katanya keren.
"Kalau sekarang kau mengundurkan diri masih ada kesempatan hidup,"
"Cuh, obrolanmu lebih merdu dari nyanyian, ketahuilah celurut, kematianmu sudah tergenggam ditanganku, serahkan jiwamu."
Berkelebat nafsu sadis diwajah Liok Kiam-ping, bola matanya benderang memancarkan cahaya kemilau,jengeknya.
"Kaki kirimu sekarang sudah masuk ke dalam peti mati, jikalau membual lagi kau akan menyesal selama hidup."
Karuan makin berkobar amarah Bu-tong-ci-eng, desisnya dengan mengertak gigi.
"Bagus, kunyuk busuk. kalau bukan kau biar aku yang mampus hari ini. Lihat pukulan-"
Kedua tangan lurus kedepan, sekali menggaris terus berputar mundur serta didorong dengan gempuran angin dahsyat menindih kearah Liok Kiamping.
"He, he, berhenti. Saudara ini, ada persoalan apa boleh dibicarakan, jangan berkelahi."
Sambil membuka kedua tangan Lau Koan-ni berteriak dari samping.
Pat-pi-kim-liong menggeram sekali, alisnya tegak.
tidak kelihatan dia bergerak, tiba-tiba tubuhnya berkelit dua langkah ke samping, lengan bajunya mengebas.
Bu-tong-ci-eng Ting ciau rasakan napas sesak.
pandangan kabur, lekas dia miringkan tubuh sambil mendongak kepala, ditengah gerungannya, kedua tangan bersilang.
menambah dua bagian tenaga terus menggempur pula.
Jurus ini dia menggunakan ilmu Bu-tong yang dibanggakan yaitu tipu Yaumo-siu-mo (siluman iblis menyerang dibekuk).
Tujuannya membendung serangan musuh serta balas menyerang mengincar Thay-yang dan Tay-im dua Hiat-to mematikan dikepala lawan-Tapi segulung tenaga lunak yang kuat tiba-tiba menumbuk tabir pukulannya menindih langsung kedadanya.
Bayangan kematian seketika menggejolak di sanubarinya, dengan pejam mata sekuatnya dia kerahkan tenaga menyongsong pukulan-"Blang"
Ledakan keras menggelegar ditengah mereka, menimbulkan pusaran angin kencang ditengah jeritan panjang yang menyayat hati tampak Bu-tong-ci-eng tertolak mundur sempoyongan, wajahnya kelihatan panik dan ketakutan, darah meleleh diujung mulutnya, badannyapun menggigil.
"Kau... kau... ini... menggunakan-.. Wi... liong .. ciang...
"suaranya gemetar, darah menyembur makin banyak setiap kali mulutnya terbuka.
"Bluk"
Akhirnya dia terkulai roboh, ternyata lengannya putus sebatas pundak.
"Wi-liong-ciang."
Hadirin ada yang memekik ngeri.
Liok Kiam-ping berdiri gagah dan angkuh, sorot matanya yang sadis ditarik dari wajah Ting-ciau yang mengejang kesakitan, satu persatu dia tatap wajah hadirin, akhirnya berhenti dimuka Thi-ciang Lau Koan-ni.
Lau Koan-ni tersentak seperti sadar dari lamunan, lekas dia melangkah maju dan berkata.
"Ai, tidak nyana, kenapa kalian terus berkelahi. Apakah tidak merepotkan saja."
Suaranya ramah dan simpatik, agaknya kasihan terhadap Ting ciau yang menjadi korban, tapi juga seperti memuji akan kepandaian hebat pemuda baju putih.
"Hm,"
Liok Kiam-ping tetap dingin dan kaku.
"ada satu hal ingin aku tanya padamu."
"Oh, tuan begini sungkan, sungguh merepotkan saja. Mari silahkan duduk di dalam, minum dulu dua cangkir, masih banyak waktu untuk bicara, sungguh beruntung Lohu dapat menyambut kehadiranmu. Hahaha."
Bertaut alis Liok Kiam-ping, dia mendengus tidak sabar, akhirnya berkata dengan tertawa.
"Kalau kau takut didengar orang lain, boleh kau mencari tempat lain."
Lau Koan-ni melenggong, tapi dia lantas bergelak tertawa. Tiba-tiba bayangan kelam berkelebat, sebuah suara kasar berkata.
"Eh, kurcaci sombong dari mana berani kurang ajar kepada tuan rumah yang merayakan hari bahagia, memangnya sudah bosan hidup,"
Seorang laki-laki brewok tiba-tiba melompat berdiri di depan Kiam-ping, setelah menepuk dada dia menuding hidung Kiam-ping sambil menghardik pula.
"Neneknya. pelajar kecut, gara-gara kau membuat onar, tangan bapakmu ini tak sempat memeluk si genit, kau ingin berkelahi, nah rasakan dulu bogem mentahku."
Tinju hitam sebesar kepala tiba menggenjot mkuka Liok Kiam-ping.
"Waaaah"
Lolong mengerikan disertai semburan darah segar keluar dari mulutnya.
badannya yang besar dan kasar rebah tak bergerak diatas lantai hijau, kepalanya pecah, darah tercampur otak berhamburan.
Mencorong bola mata Liok Kiam-ping, desisnya geram.
"Aku paling benci manusia yang bermulut kotor, orang ini setimpal dibikin mampus."
Hadirin menjadi gempar, satu dengan yang lain berebut memaki, ada pula yang menganjurkan.
"Ganyang saja, gasak manusia ganas yang tak berperi kemanusiaan ini."
"Hai, hai, nanti dulu sabar."
Thi-ciang Lau Koan-ni menjeritjerit menahan amarah hadirin, persoalan masih bisa dibicarakan, jangan membuat onar lebih besar."
Lalu dia menoleh kepada Liok Kiam-ping dan berkata.
"Perbuatan tuan apakah tidak terlalu... terlalu... kejam. Tanpa sebab kau membunuh anak buahku, kini membunuh pula tamuku... apakah tidak keterlaluan ?"
Dengan gelak tawa dia mengakhiri perkataannya, lalu celingukan mengawasi para hadirin, melihat para tamunya semua bermuka gusar, ada pula yang kaget dan takut, tapi tidak sedikit yang mengertak gigi mengepal tinju, diam-diam dia tersenyum dalam hati, pancingannya agaknya berhasil.
Wajah Liok Kiam-ping dilembari hawa hijau, maju setapak dia tuding Lau Koan ni dan membentak bengis.
Jawab pertanyaanku, apakah kau kenal Swan hong-it-kiam Liok Hoatliong ?"
"Swan-hong-it-kiam Liok Hoat-liong."
Terdengar seorang menjerit diantara hadirin-"Siapakah yang gembar gembor di sini, mengganggu suasana saja."
Sebuah suara berkumandang dari tempat duduk dipojok sana.
Tegak pula alis Liok Kiam-ping dia menoleh kearah datangnya suara, tampak diatas meja di mana tadi Lau Koanni duduk.
duduk seorang tua muka merah, perawakannya tinggi besar, berjubah sutra merah tua sorot matanya yang bengis tengah menatap dingin kearah Liok Kiam-ping.
Disampingnya duduk seorang tua berjenggot panjang, hidung singa mata harimau Liok Kiam-ping kenal orang ini, dia bukan lain adalah laki-laki jubah kuning yang mengaku bergelar Siang-jiu-king-thian yang pernah dilihatnya di restoran di kota Lok yang itu.
Maka hidungnya mendengus hina jengeknya.
"Siapa mengoceh tak karuan di sini mengganggu usahaku ?"
"dengan nada sama dia balas bertanya. Tiba-tiba terasa bayangan merah berkelebat, kesiur angin lesus yang berat menindih datang, waktu dia angkat kepala ujung mulutnya menyeringai ejek. sedikitpun dia tidak bergeming. Ternyata laki-laki jubah merah telah melayang kedepan bersama meja yang dia duduki, lima kaki didepan Liok Kiam-ping. wajahnya seperti dilapisi salju, dengan gusar dia melotot kepada Liok Kiam-ping, bentaknya.
"Kau ini barang apa ?"
"Kau juga barang apa ?"
Liok Kiam-ping balas menjengek tak kalah angkuhnya.
"Wut"
Bersama meja yang diduduki tiba-tiba tua jubah merah melejit keatas terus mengepruk kepala Liok Kiam-ping.
"Bagus."
Seru Liok Kiam-ping, sebelah kakinya menggeser setelah langkah, kedua telapak tangan tiba-tiba terangkat ditengah berputar membuat satu lingkaran terus didorong kedepan, jurus Liong-kiap-sin-gan dilancarkan-Ditengah deru angin yang berseliweran tampak bayangan merah berkelebat kian kemari.
bersama meja dibawah pantatnya, laki-laki jubah merah bersalto beberapa kali ditengah udara lalu melayang turun enteng.
Tampak wajahnya kelam, sorot matanya kaget dan heran, sekian saat dia melotot mengawasi Liok Kiam-ping.
"Kau ini barang apa. hanya begini saja. Hm"
Jengek Pat-pikim-liong Liok Kiam-ping, padahal hatinya juga kaget "Siapa dia? Pukulanku tak mampu merobohkan dia ?"
Pikiran lain segera berkelebat dibenaknya, mendadak dia maju selangkah seraya membentak.
"Kau... kaukah Hwe-hun-cun-cia ?"
Bercahaya mata laki-laki jubah merah. Tapi laki-laki jubah kuning Siang-jiu-king-thian sudah membentak sekali seraya melompat keluar. Bentaknya.
"Bocah kurang ajar, tidak tahu aturan, biar lohu menghajar adat kepadamu."
Ditengah udara tubuhnya miring terus menindih turun, angin pukulannya menindih Liok Kiam-ping.
Liok Kiam-ping tidak gentar, telapak tangan terangkat.
secepat kilat dia melancarkan serangan balasan, ditengah taburan telapak tangannya, tubuhnya sudah terbungkus rapat dari sarangan lawan, sementara tangan kiri-balas mengancam ketiak kiri laki-laki jubah kuning.
Tahu ketiaknya terancam lekas laki-laki jubah kuning menegakkan telapak tangan kanan dengan jari-jari rapat membelah turun terus menepis miring, pergelangan tangan Liok Kiam-ping dibabatnya.
Liok Kiam-ping tertawa dingin, tangan kiri ditarik ganti telapak tangan kanan yang menggempur dengan gerakan melingkar memapak telapak tangan kanan laki-laki jubah kuning.
"Plak"
Begitu tangan kedua orang beradu keduanya bergetar, Liok Kiam-ping limbung beberapa kali, laki-laki jubah kuning jungkir balik beberapa kali baru melayang turun, tapi juga sempoyongan pula beberapa langkah.
Matanya terbeliak mengawasi Liok Kiam-ping, rasa ngeri menghantui nalurinya, walau dirinya berada diudara mengadu pukulan, posisinya lebih rugi, tapi selama puluhan tahun dia malang melintang di Kangouw dengan tangan tunggal, tak nyata hari ini tak mampu menandingi pukulan dahsyat anak muda ini, untung dia membekal Lwekang tangguh, kalau tidak jelas dirinya kecundang habis-habisan.
Liok Kiam-ping juga mencelos hatinya, pikirnya.
"Tangan tunggal menyanggah langit memang tidak bernama kosong, kekuatan pukulannya ternyata tidak asor dibanding kawanan Tosu busuk Bu-tong-pay. Tapi jurus permainannya tadi mirip ilmu pukulan Siau-lim-pay, kenapa dia bergaul bersama orangorang jahat ini ?"
Ujung mulutnya menjengkit, maju selangkah dia berkata.
"Kupandang muka Pin-te (pengemis cilik), hari ini aku tidak mengulur panjang urusan dengan kau. Tapi seorang cianpwe minta aku menghajar adat kepadamu, karena kau menyebabkan Pin-te melarikan diri."
"Ha, apa ?"
Teriak laki-laki jubah kuning dengan terbeliak.
"Apa Pin-te? Pin-ji ?"
Laki-laki jubah merah kini telah mendongakan tubuhnya, dengan melotot dia menatap Liok Kiam-ping lalu menoleh kearah laki-laki jubah kuning Siang-jiu-king-thian-"Em, ya, Pin-ji.
Bocah ini adalah pelajar yang pagi itu bersama Pin-ji direstoran."
Laki-laki jubah kuning mengangguk kepada laki-laki jubah merah. Liok Kiam-ping maju selangkah pula, bantaknya sambil mengawasi laki-laki jubah merah.
"Siapa kau sebenarnya?"
Sebelum laki-laki jubah merah bersuara Thi-ciang Lau Koan-ni tampil kedepan, katanya menjura.
"Jangan kurang ajar. Inilah Ang-hun-jit-sian Leng Pwe-ing Leng-toa-tongcu Siau-ciang-hun Hwe-hun-bun. inilah Siang-jiu-king-thian Tan Sik-san Tan loyacu congkoan sekte utara dari Hwe-hun-bun kita. Hm, masih jauh kau untuk menandingi mereka."
Setelah menunjuk laki-laki jubah merah lalu Sang-jiu-kingthian
"Apa ?Jadi kau adalah putra Hwe-hun-cun-cia ? Hm."
Dingin setajam sembilu sorot mata Liok Kiam-ping, hadirin merasakan betapa kaku dan dingin tatapan matanya, penuh dendam dan kebencian-"Jelaskan, dimana Hwe-hun iblis tua bangka itu?"
Setengah memekik teriakan Liok Kiam-ping.
"Hus, anak kurang ajar, jangan bertingkah."
Hardik Thiciang Lau Koan-ni. Bola mata Liok Kiam-ping membara merah, desisnya dengan mengertak gigi.
"jangan harap kalian bisa hidup lagi."
Ditengah gerungan sengit, kedua tangan menghantam ke arah Ang-hun-jit-sian Leng Pwe-ing. Ang-hun-jit-sian mengeluarkan suara auman rendah.
"Wut"
Bersama meja tubuhnya mencelat terbang, ditengah udara dia menekuk pinggang berputar dua kali, dengan gaya tidak berobah secara lurus dia mengepruk batok kepala Liok Kiamping.
Liok Kiam-ping mendak tubuh sambil berkisar kedua tangan ditekuk kedalam satu melingkar yang lain mulur kedepan, dilandasi kekuatan dahsyat jurus Liong-kiap-sin-gan membelah kearah Ang-hun-jit-sian-"Pyaaar."
Ditengah ledakan dahsyat bayangan merah mencelat tinggi melayang turun setombak jauhnya.
Meja cendana yang tebal dan besar itu sudah hancur berhamburan-Liok Kiam-ping berdiri gagah, dengan sedikit memicing dia awasi Ang-hun-jit-sian tanpa berkedip, raut mukanya kencang kedua tangan lurus bersilang didepan dada.
Melihat gaya pertahanan Liok Kiam-ping mencelos juga hati Ang-hun-jit-sian, kedua pipinya tampak gemetar, biji matanya membulat menatap lawan tanpa berkedip.
Diam-diam hatinya mengumpat, sungguh dia tidak habis mengerti bagaimana mungkin pemuda didepan matanya ini memiliki Kungfu setinggi dan setangguh ini, kalau benar berita yang didengarnya, lawan menggunakan Wi-liong-sin-kang nya.
Dalam segebrak tadi lawan hanya menggerakkan kedua tangannya secara berganti, tapi tenaga yang timbul ternyata sedahsyat itu menyampuk muka.
jikalau dia tidak menyergap memungut keuntungan dari posisi sendiri dan begitu merasa kurang sip terus menekuk pinggang jelas sekarang dirinya sudah kecundang.
Sungguh dia tidak habis mengerti, ditengah amarahnya, kekuatan lawan ternyata mengandung wibawa yang tak kuasa dibendung dan ditandingi, bukan saja aneh, kokoh dan tebal.
Padahal dia sudah bergerak cukup tangkas, namun dirinya masih keserempet oleh angin pukulan, untung hanya meja itu yang hancur.
Bibirnya terkatup kencang, giginya gemeretak menandakan betapa geram hatinya.
Tiba-tiba berkerut alis-Liok Kiam-ping.
Jilid 07 Hal 33 s/d 34 Hilang mendadak dia menghardik keras, tubuhnya melambung, ditengah deru keras, lengan bajunya yang juga merah menggulung sekencang hujan badai yang mengamuk, tubuhnya dibungkus bayangan merah yang kokoh dan kuat membendung rangs akan pukulan Liok Kiam-ping.
Maka terdengarlah suara rplak, plok"
Yang ramai dan beruntun, angin membubung tinggi menyentuh langit-langit, bayangan merah mulur keatas turun kebawah pula bagai sebatang tonggak baja, ledakan telapak tangan makin keras menggoncangkan bumi..
Dalam sekejap Liok Kiam-ping sudah mengadu dua belas pukulan tangan dengan Ang-hun-jit-sian, deru angin kencang terus menyambar keempat penjuru sehingga hadirin tardesak mundur sungsang sumbel.
Dalam baku hantam yang sengit ini, Ang hun-jit-sian memutar otaknya, dia maklum sang waktu berjalan tanpa kenal kasihan, manusia setua dirinya agaknya dilarang menjagoi dunia.
secara langsung dia telah meresapi lawannya yang muda berpakaian serba putih ini bergerak selincah naga menari, secepat kilat menyambar, kegagahannya selama ini seperti runtuh seketika, keperkasaan lawan mirip bayangan dirinya dikala muda dulu, diam-diam dia mengeluh akan ciptaan alam yang tidak adil, kenapa manusia yang berusia lanjut harus semakin lemah tenaganya, kenapa orang yang sudah berumur pantang menjagoi dunia dan berkuasa dimaya pada ini.
Dari tatapan mata pemuda lawannya ini, dia melihat setitik harapan, harapan bersimaharaja didunia ini, harapan balas dendam kesumat.
Dia maklum pemuda lawannya ini membenci dirinya, karena ayahnya membunuh ayah sipemuda, tapi apakah dia dapat memaklumi sebab musabab dari pertikaian ini?
Mungkinkah dia memberi penjelasan dan dapat dimaklumi lawan?
Mau tidak mau hatinya agak grogi, kalau lawan pasti akan menuntut balas kematian ayahnya, lalu bagaimana dengan kematian adiknya ?
Adik sepupunya Biau-hun-kiam-khek mati terbunuh oleh Swan hong-it-kiam Liok Hoat-liong.
Bila terbayang keadaan ayahnya yang kehilangan kesadarannya, syarafnya terganggu sehingga mirip orang gila dan kini jejaknya tidak diketahui parannya, yaitu Hwe-hun-bun ciang bun Hwe-hun-cun-cia, hatinya makin kuatir, apalagi terbayang pula putrinya yang binal dan minggat dari rumah, hatinya menjadi lemah, semangatnya luluh.
Dari sorot mata lawan Liok Kiam-ping merasakan kesedihan seorang gapah yang menemui jalan buntu, walau menyadari kepandaian lawan amat tangguh, tapi diapun meresapinya secara loyo dan menunjukkan ketuaannya yang mulai kropos, Dendam kebencian sedang menyala dalam relung hatinya, ingin rasanya dia mengganyang seluruh musuh-musuhnya, tapi apakah dirinya mampu ?
Laki laki tua yang sebelum ini kelihatan garang dan gagahpun sudah patah semangat..
tatapan matanya bukan lagi mohon belas kasihan, akan tetapi...
"Huh."
Mandadak dia sadar dari lamunannya, dengan heran dan kaget diapun mendapati lawannya tengah menjublek.
entah karena apa pertempuran berhenti sejenak.
Lawanpun mengawasi dirinya dengan tatapan melenggong.
Mendadak terasa dua sorot mata licik dan telengas memancar kearah dirinya, sorot mata sadis yang penuh muslihat keji membuat hatinya tersirap.
ujung matanya menangkap gerakan sebuah telapak tangan gede hitam menyelonong keluar dari lengan baju kuning.
Sebuah hardikan disusul damparan kencang melanda dada.
Hadirin sama menjerit kaget, sigap sekali Liok Kiam-ping menyadari elmaut mengancam jiwanya, tubuhnya menjengkang mundur kebelakang terus jungkir balik.
Hadirin menjerit takjub dan kaget pula melihat betapa cepat reaksi Liok Kiam-ping yang lihay dan cekatan-Gerak tubuh Liok Kiam-ping bukan saja cepat juga enteng, sambil jungkir balik kedua lengan bajunya tidak berhenti bekerja, Liok-hwi-kiu-thian tiba-tiba menerbitkan tabir telapak tangan yang berlapis-lapis menjaring kearah Thi-ciang Lau Koan-ni yang menyeringai sadis.
Bahwa pukulannya luput sudah membuat Thi-ciang Lau Koan-ni kaget, tahu-tahu tabir telapak tangan lawan memberondong dirinya, karuan bukan kepalang kagetnya, sekejap itu sinar buas terpancar disorot matanya, alisnya berkerut menampilkan kekejian hatinya, tenggorokannya menggeram berat, sedikit menggeser kesamping dia pasang kuda-kuda, begitu dia membalikkan kedua telapak tangan, gumpalan hawa hitam yang kencang laksana gugur gunung menerpa kearab Liok Kiam-ping yang masih terapung ditengah udara.
---ooo0dw0ooo---"Daar "
Ledakan hebat menimbulkan damparan angin bergolak.
Thi-ciang Lau Koan-ni mengerang rendah.
matanya melotot merah, kulit mukanya berkerut merut, beruntun dia tertolak tiga langkah.
Darah segar yang panas terasa mengalir turun membasahi mukanya, darahnya betul-betul tersirap.
tapi waktu tak memberi kesempatan dia menyadari apa yang terjadi, karena pandangannya terasa pusing berkunangkunang, darah bergolak dalam tubuhnya, teng gorokan sudah sesak dan terasa amis.
Sementara itu Liok Kiam-ping bersalto dua kali baru melayang turun-"duk"
Dia tersurut selangkah baru berdiri tegak.
bola matanya beringas, darah tampak meleleh diujung bibir, noda darah tampak juga mengotori jubah putih didepan dadanya.
Amarah tampak membakar hatinya, sorotmatanya yang menyala dingin menatap Lau Koan-ni yang berdiri menjublek.
sambil menggerung dia kertak gigi seraya mengerjakan kedua tangan, pukulan Wi-liong-ciang yang digdaya dilontarkan sekuat tenaga.
"Huaaa..."
Jeritan terlontar dari mulut Lau Koan-ni, jeritan putus asa yang menyedihkan-"Uaaaaah,"
Hadirin pun ikut menjerit panik.
Liok Kiam-ping betul-betul sudah dirasuk setan, dengan gregetan serangannya semakin sengit dan deras, setiap kali langan bajunya bergerak dimana bayangan putih berkelebat, jeritan mengerikan bergema, darahpun berhamburan
Lau Koan-ni rebah dalam pelukan Siang-jiu-king-thian yang berusaha memapahnya berduduk.
sambil mendengus, sebat sekali dia sudah melejit disamping laki-laki jubah kuning.
Karuan Siang-ji-king-thian menjerit kaget, serta merta dia angkat sebelah tangan nya menyampuk.
Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan jeritan kaget, dengan heran matanya jelalatan karena bayangan lawan tahu-tahu lenyap dia merasa dagunya kesakitan luar biasa, tanpa kuasa dia menjerit sejadi-jadinya sambil terhuyung mundur, perasaan kaget dan panik melembari wajahnya, dengan suara gemetar dia menuding Liok Kiam-ping"
"Kau... kau... apakah ini..."
Pelan-pelan Liok Kiam-ping angkat tangan kiri, dimana jarijarinya terbuka, secomot jenggot putih beterbangan ditiup angin lalu.
Matanya yang bercahaya seperti mata harimau menyapu pandang mayat-mayat disekelilingnya, serta hadirin yang pucat, ngerti dan ketakutan, lalu berputar menghadapi Siang-jiu-king-thian Tan Sik-san.
"Membantu kejahatan melakukan kekejaman, sepantasnya kucabut nyawamu. Tapi mengingat kau murid didik Siau-limpay, hari ini kuampuni jiwamu, kelak perguruan sendiri yang akan menghukummu. Hm,"
Lalu dia maju selangkah menuding Lau Koan-ni yang rebah dilantai, bentaknya dengan kertak gigi.
"Kau main licik dengan muslihat kejam, melukai orang secara membokong, sepantasnya kucabut nyawamu sekarang juga, tapi keadaan sekarang tidak akan menguntungkan kau, akan kubuat kau mencicipi betapa nikmatnya seluruh tubuh digigiti semut, biar kau rasakan betapa derita bila otot mengejang daging meng kerut, tapi semua itu dapat kutunda bila kau menjawab pertanyaanku, bagaimana kematian ayahku ? Katakan"
Suaranya bukan saja gusar dilembari rasa dendam dan kebencian, maklum sakit hati telah menjalari sanubarinya, hakikatnya Kiam-ping sendiri sudah tidak mampu membendung emosinya.
Lalu dia menghardik pula.
Thi-jiau
kim-pian dan It-to-liong kau kurung dimana ? Bagaimana keadaannya ? Lekas katakan-"
Lau Koan-ni memejam mata, rambutnya awut-awutan, rebah dilantai tanpa bergerak, kedua lengannya putus sebatas sikut, betapa sedih dan pilu hatinya, rasanya ingin bunuh diri saja, tapi dendam menggejolak hatinya, betapapun dia tidak boleh mati, sudah menjadi wataknya selama hidup apa yang dirugikan harus dibalas, maka dia bertekad untuk bertahan hidup, berusaha menuntut balas.
Karena watak yang tidak mau kalah itulah, dia pernah menjual jiwa teman baiknya Swan-hong-it-kiam, sehingga sekarang dia memperoleh kedudukan tinggi, nama mulia dan disanjung bawahannya, kapan jiwanya masih hidup, wataknya itu takkan pernah pudar.
Maka dia memejam mata, beristirahat menghimpun kekuatan, tidak hiraukan pertanyaan Liok Kiam-ping Sudah tentu Liok Kiam-ping naik pitam, tangannya terangkat seraya membentak.
'Masih bungkam, jangan menyesal, bila kau merasakan siksaanku."
Lau Koan-ni tetap diam sambil memejam mata, maka tangan Liok Kiam-ping terayun-Pada saat itulah seekor kuda meringkik keras berhenti didepan balairung, hadirin menoleh dengan kaget, tampak seekor kuda putih langsung menerjang kedalam balairung.
"Ha, Seng-jiu-tok-liong Ibun-loyacu,"
Diantara hadirin ada yang berteriak.
"Haya, ayah."
Seorang berteriak pula. Kuda itu berhenti ditengah ruangan terus angkat kepala meringkik sekali, diatas punggungnya tengkurap seseorang yang berlepotan darah.
"Ayah."
Bayangan orang bergerak.
tiba-tiba Ibun Kong menerobos keluar dari gerombolan orang banyak langsung memburu kesamping kuda serta memapah turun Seng-jiu-tokliong Ibun Kiong, ayahnya.
Terpejam mata Ibun Kiong, bibir gemetar, darah masih meleleh, jubahnya pecah berlepotan darah.
"Ayah. ayah."
Ibun Kong menjerit-jerit serta merebahkan ayahnya di atas lantai.
Kuda putih itu seperti tahu keadaan majikannya tiba-tiba dia berbenger dan geleng-geleng kepala lalu mengeluh rendah.
Tangan Liok Kiam-ping masih terangkat, tapi tanpa kuasa dia menoleh mengawasi kuda yang muncul membawa Sengjiu-tok-liong yang luka-luka.
Waktu di cong-goan-lau dia dengar Ibun hong menceritakan jejak ayahnya yang pergi ke ow-pak untuk menyelidiki sesuatu mengenai rahasia Te-satkok, kenapa sekarang tiba-tiba muncul disini dalam keadaan yang mengenaskan?
Karena digoncang-goncang tubuhnya oleh ratap-tangis Ibun Kong, pelan-pelan Seng-jiu-tok-liong membuka mata, tatapannya kaku, mukanya bergidik, bibir gemetar, akhirnya dengan tergagap dia berkata.
"Pedang... pedang... Liat-jit... ki-kiam... di .direbut... ceng-san... biau..."
Karena ganti napas suaranya terputus, tubuhnya mengejang dan berkelejetan.
"Hah ceng san-biau-khek."
Seorang di samping berteriak.
"Hm, lagi-lagi ceng-san-biau-khek."
Desis Liok Kiam-ping.
"Lekas katakan, dimana ceng-san-biau-khek sekarang."
Serunya keras sambil menyibak orang banyak yang merubung maju.
Agaknya keadaan Seng-jiu-tok-liong sudah teramat payah, seperti dian yang sudah kehabisan minyak.
pelan-pelan dia memejam mata dan kepalanyapun terkulai miring.
"Haya, ayah. Keparat kau, serahkan jiwamu."
Mendadak Ibun Kong berjingkrak kalap terus menampar kearah Pat-pikim-liong.
Otak Liok Kiam-ping sedang memikirkan Wi-liong-pit-sin dan ceng-san-biau-khek, mulutnya mengigau, hakikatnya tidak sadar akan serangan Ibun Kong, tapi secara reftek lengannya menyampuk.
Kontan Ibun Kong menjerit kesakitan-"Ceng-san-biau khek.
Hm, dimanapun kau berada, aku pasti dapat menemukan jejakmu, buktikan saja."
Demikian teriak Liok Kiam-ping seraya melangkah keluar pintu. Dari kejauhan terdengar suaranya berkumandang .
"Lau Koan-ni, batok kepalamu sementara kutitipkan diatas lehermu, bila Thi-jiau-kim-pian dan It-tio-liong kau ganggu seujung rambutnya, kau akan mampus konyol ditanganku, tubuhmu akan kusobek menjadi abon"
Tiba-tiba hadirin ada yang berteriakpula.
"Hah, Biau-jiu-sipcoan."
Disusul pula teriakan kaget yang lain.
"Ho, Kim-ginhou-hoat."
"He, itu kan cap-pwe-ang-kin dari Hong-lui-bun-"
Teriakan kaget saling bersahutan menyambut kedatangan beberapa orang. Terdengar Biau-jiu-sip-coan berteriak di luar rumah.
"Hai, ciangbun, tunggu sebentar."
"Ha, masa iya, dia Hong-lui ciangbunn?"
Hadirin terbelalak kaget.
"Ooooh, ayah..."
Ibun Kong menjerit dan menubruk jenazah ayahnya, menangis menggerung-gerung, tiba-tiba dia mendongak. alisnya tegak matanya tegang, tinjunya terkepal, mulutnya mendesis.
"Ceng-san-biaukhek. aku bersumpah takkan sejajar dengan kau didunia ini."
Demikian dia bersumpah sambil memegang lengannya yang kesakitan karena disampuk Liok Kiam-ping tadi.
Liok Kiam-ping sedang berlari-lari ditanah gersang yang berdebu, jalan raya ini kalau hujan becek.
bila kering berdebu tebal.
Otaknya masih diliputi rasa dendam.
perkataan seng-jiutok-liong sebelum ajal masih terngiang ditelinganya, dengan gemas dia mengepal tinju dan mendesis..
"Bila kepergok lagi. pasti tak kan kubiarkan dia lari.
"Awas kau ceng-san-biau-khek."
Tiba-tiba bayangannya meluncur secepat anak panah.
Beberapa jurus permainan Hwesio rudin itu ternyata memang lihay dan lucu, gayanya seperti wataknya yang Jenaka, tapi kenyataan lihaynya luar biasa, Demikian Liok Kiam-ping membatin setulus hati dia memuji dan memuja Hwesio rudin yang malas dan Jenaka itu, kenyataan beberapa jurus gerakan yang diajarkan kepadanya itu ternyata adalah ilmu mujijat yang tiada taranya.
Dia tidak tahu ilmu sakti itu dari aliran mana dan apa namanya, tapi waktu dia kembangkan ilmu aneh itu di Jian-liu-ceng, kenyataan jenggot Siang-jiu-king-thian berhasil dicabutnya hanya dalam segebrakan saja.
"Entah dari mana Biau-jiu-sip-coan menemukan Kim-ginhou-hoat dan cap-pwe-ang-kin segala ?"
Demikian batin Liok Kiam-ping, pula sembari mengayun langkahnya, mungkin dia pulang ke sarang Hong-Lui-Bun, dan tadi baru menyusul tiba ke Jian-liu-ceng"
Waktu dia keluar tadi ada melihat serombongan orang menunggang kuda, Biau-jiu-sip-coan diantara mereka kuda yang dinaiki berkembang putih hitam, dibelakangnya dua orang laki-laki tua bermuka merah dengan rambut ubanan dan serombongan orang berkuda putih berjubah biru laut, kepala diikat kain merah, karena buru-buru dia tidak perhatikan mereka, sebab tujuannya ingin selekasnya menemukan ceng-san-biau-khek merebut balik Wi-liong-pitsin.
---ooo0dw0ooo---Cuaca cerah, angin meniup semilir, rambutnya terurai, pakaiannya melambai, Liok Kiam-ping terus mengayun langkah berlari-lari dijalan besar kearah selatan-Di persimpangan jalan dia berhenti sejenak menerawang sekelilingnya, dari bekas tapak kuda yang membekas ditanah jalanan, sukar dia membedakan dari arah mana kedatangan Seng-jiu-tok-liong, kali ini dia perlu bertindak cermat, supaya tidak mengabaikan suatu kesempatan baik.
Sesaat dia berdiri kebingungan, matanya masih menjelajah sekelilingnya, tiba-tiba dia tersentak girang, dilihatnya tetesan darah diantara batu-batu krikil, mengikuti arah jalur tetesan darah dia terus, melangkah maju kearah timur, tetesan darah masih belum kering seluruhnya dengan mudah dia ikuti terus jejaknya.
Dengan lega akhirnya dia mengepal tinju pula, entah dari mana datangnya perasaan lega, tiba-tiba dia mendongak terus menggembor sekuat-kuatnya.
Mendadak beberapa suara bentakan dingin disertai suara yang amat dikenalnya berkumandang disebelah sana.
"Heh, suara siapa itu, seperti amat kukenal."
Sekilas melengak.
lekas dia menjejak kaki meluncur kearah datangnya suara.
Setelah melampaui gundukan tanah panjang seperti tanggul dia dihadang sederetan pohon yang telah gundul dedaonannya.
Ditengah hutan yang pohon-pohonnya sudah gundul sana tampak dua orang lagi bertarung sengit, deru angin pukulan yang keras, menyebabkan debu pasir dan daon-daon kering bertaburan, beberapa pucuk pohon yang kering telah tumpang kesapu pukulan-Tubuh ramping yang dibungkusjubah hitam dengan cadar hitam pula, bergaman seruling putih, ternyata sudah amat dikenalnva, karena dia bukan lain adalah Tokko cu penghuni Te-sat-kok dan lawannya bukan lain adalah ceng-san-biaukhek yang sedang diubernya.
Didengarnya ceng-san-biau-khek menggembor pendek.
tiba-tiba tangannya memancarkan lembayung perak mengetuk seruling putih ditangan Tokko cu, berbareng tangan kiri terayun memukul lambung kanan Tok ko cu.
Seketika pandangan Liok Kiam-ping terbeliak terang, jelas dilihatnya ceng-san-biau khek bersenjata pedang tajam yang kemilau selintas pandang senjata itu tak ubahnya seperti pedang besi umumnya.
Badan pedangnya lebih lencir dari pedang biasanya, tapi lebih panjang, memancarkan cahaya kemilau yang dingin menyilaukan mata, setiap ditarik, menimbulkan desir angin pedang yang tajam.
"Ya,. mungkin itulah Ki-kiam seperti yang dikatakan Sengjlu-tok-liong, apakah Tokko cu..."
Waktu dia menerawang di lihatnya Tokko cu mendengus dingin sambil mendak kebawah terus selulup kepinggir, jubah hitamnya yang lebar tampak berkibar, namun seruling putih ditangannya laksana lidah ular mematuk dan menjodoh, gerakannya aneh dan secara licin menghindar dari serangan pedang ceng-san-biau-khek.
Ternyata lengan baju kirinya sempat mengebas menggulung pergelangan tangan ceng-sanbiau-khek.
seruling ditangan kanan serong mengincar Sinhong, Yu-bun, Siang-kik Ling-hi danSin-ciang hiat-to penting ditubuh lawan-Gerakan ceng-san-biau-khek sedikit merandek seperti mengerem serangan, agaknya dia tidak menduga akan serangan Tokko cu yang ganas.
secara kekerasan dia berusaha mengendorkan gerakannya serta menyurut dua kaki, sementara pedang panjang ditangannya menutup jalan tengah dengan membundar sertajuri tangan kiri menjentik, ditengah dering suara nyaring, dia menarik napas serta menghardik, tangannya terayun balik sambil menggentak pedang panjang.
"Cring"
Getaran kencang menimbulkan cahaya perak melambung laksana gugusan gunung, dari jalur-jalur pedang berobah menjadi ceplok-ceplok sinar kembang membawa desis angin kencang meluruk kemuka Tokko cu.
Ternyata Tokko cu tidak kalah lihay, sambil mendengus lengan bajunya mengebas kaki minggir setengah langkah, seruling di tangan kanan terulur keatas, ujung serulingnya bergetar menimbulkan irama tajam langsung menusuk keta bir sinar pedang ceng-san-biau-khek.
Dalam sibuknya lekas ceng-san-biau-khek menutul beberapa kali dengan ujung pedang, terus mengiris kepergelangan tangan-Tangan Tokko cu yang memegang seruling ".Sret, sret, sret"
Menyusul dia menabas dan membalas tiga kali sambil melompat ke samping lima langkah, baru sekarang dia sempat menghela napas lega.
Sepasang mata jeli bundar dibalik cadar, kelihatan mendelik gusar, menandakan hatinya amat penasaran dan marah.
Setelah ganti napas, baru saja ceng-san-biau-khek mau buka suara tiba-tiba dilihatnya bayangan Tokko cu dengan jubah kedodoran lebar itu melambung tinggi keudara, laksana burung rajawali dengan tekanan dahsyat laksana kilat menyambar, serulingnya menukik turun berubah selarik bianglala mengepruk batok kepala lawan-Begitu dia angkat kepala matanya jadi silau oleh pantulan cahaya seruling lawan, kiranya sang surya kebetulan terbit memancarkan cahayanya yang cemerlang, secara reflek cahaya surya memantul balik dari seruling pualam menyoroti matanya sehingga silau.
Untunglah begitu menyadari situasi tidak menguntungkan selekasnya dia menggentak pedang tegak lurus didepan dada terus di angkat keatas sementara tangan kiri menekan batang pedang ikut melandasi posisi tegak pedangnya hingga lebih kokoh, syukur keprukan seruling Tokko cu berhasil digagalkan kepalanya selamat dari samberan elmaut.
Begitu Tokko cu melayang turun belum lagi lawan berdiri tegak sambil menggerung mendadak dia sampukan pedangnya, begitu ujung pedang tertuju lurus kedepan, gerakan dia robah menjadi tusukan kemuka Tokko cu baru setengah jalan, kembalipergelangantangan menggentak sehingga timbullah taburan jalur sinar kemilau yang berkembang lebar mengurung gerakan lawan.
Bahwa serangannya hampir melukai lawan dan ternyata gagal, kini terasa sinar pedang lawan balas mengincar jiwanya saking kaget, tahu-tahu sinar pedang telah menyilaukan mata ujung pedang panjang cengsan-biau-khek telah mengancam hidung.
Sungguh tak pernah terpikir bahwa perobahan secepat dan segawat ini bahna gugupnya menggeram sekali, tangan kiri melindungi muka, berbareng tubuhnya mencelat mundur beberapa langkah.
"Cret"
Tiba-tiba terasa pundaknya dingin ternyata ujung pedang ceng-san-biau-khek berhasil menusuk bolong jubah dipundaknya, sekaligus menyontek lepas cadar hitam yang menutupi kepalanya.
"Hah."
Kontan ceng-san-biau-khek menjerit kaget, matanya terbeliak pula, ternyata lawan yang berdiri didepannya bukan nenek reyot yang ubanan, tapi seraut wajah molek jelita berkulit putih halus, cantiknya bukan kepalang.
Bola matanya yang bening mendelik tajam membuat jantungnya berdebar.
sesaat lamanya dia menjublek mengawasi bibir lembut yang mungil.
ceng-san-biau-khek benar-benar terpesona akan keayuan dara manis ini sehingga sesaat lamanya dia melenggong, tak tahu apa yang harus dia lakukan-Darah tampak merembes membasahi pundak.
ternyata si "dia"
Juga berdiri terlongong namun hanya sedetik, tiba-tiba dia membentak nyaring terus menubruk sengit, kembali serulingnya menarik sinar putih mengeluarkan suitan nyaring pula menutuk ke Thian-toh-hiat ceng-san-biau-khek, begitu gemasnya sehingga serangannya ini seperti hendak membinasakan lawan-Tak nyana begitu dia bergerak pundak kirinya terasa kesakitan luar biasa sehingga tubuhnya bergetar, ternyata tenaga tidak mampu dikerahkan lagi.
Tanpa sadar dia menjerit kesakitan, darah tampak membanjir lebih banyak dari lukalukanya.
Ceng-san-biau-khek memang terpesona oleh kecantikan orang hingga menjublek seperti kehabisan akal, kini melihat keadaan lawan, tahulah dia bahwa pedang ditangannya memang tajam luar biasa, kemungkinau tulang pundak lawanjuga tergores luka, maka dia tertawa riang, katanya.
"Ah, maaf cianpwe..."
Lalu dia menekan berat suaranya, sebetulnya aku tidak bermaksud Melukai lenganmu yang seputih saiju..."
Sembari bicara kakinya menghampiri kearah Tok Ko cu.
Tak nyana belum habis dia bicara, dari belakang mendadak menggelegar sebuah bentakan segulung tenaga pukulan berat tiba-tiba menerjang punggung.
begitu dahsyat pukulan ini sehingga hawa terasa menderu dengan suaranva yang aneh.
Karuan bukan main rasa kagetnya, air muka berobah hebat, lekas dia mengegos minggir tiga kaki kesamping, untung s empat-ugadia hindarkan terjangan pukulan dahsyat ini.
Begitu kaki menyentuh tanah sigap sekali dia membalik tubuh seraya balik menggempur, pedang ditangannya menggaris melintang melindungi dada.
Tampak yang menyerang dirinya adalah seorang pemuda gagah jubah putih, alisnya tegak mata melotot, wajahnya tampak gusar, dengan bertolak pinggang orang sudah berdiri dipinggir Tokko cu.
Begitu melihat jelas lawan seketika dia menjerit kaget.
"Ha, kau ? Pat-pi-kim-liong?"
Diam-diam ceng-san-biau-khek mengkirik, sungguh tak pernah diduga bahwa Pat-pi-kim-liong yang selalu mempersulit dirinya mampu menarik balik tenaga gempuran sedahsyat itu secara mentah-mentah, taraf Lwekang setangguh ini jelas tidak mungkin dapat dilakukan dirinya.
Maklumlah ajaran Lwekang mengutamakan pengendalian napas, kalau latihan sudah mencapai puncaknya orang dapat mengatur hawa murni sesuka jalan pikirannya, sehingga suatu gempuran dahsyat mungkin saja direm atau ditarik balik, namun tenaga ribuan kati ada kalanya bisa dirobah menjadi kekuatan ratusan kati, itu pertanda bahwa latihan Lwekangnya belum sempurna.
Adalah jamak kalau sekarang ceng-san-biau-khek amat kaget, pikirnya pula.
'Dalam jangka pendek aku berpisah dengan dia, dari mana dia bisa memperoleh tambahan ilmu dan Lwekang setangguh ini ?' Mau tidak mau semangat tempurnya menjadi goyah, tapi bila dia melihat pedang pusaka ditangan, keangkuhan menjalari sanubarinya, pikirnya pula.
'Dia ingin cari gara-gara padaku.
biar kupersen dia dengan jurus Jit-lun-jut-seng (sang surya baru terbit).' Kembali berhadapan dengan raut wajah jelita yang pernah menggetar sanubarinya dulu, Kiam-ping benar-benar dag dig dug, kini dilihatnya tubuh orang limbung dan lemas lunglai, rasa iba merasuk hatinya, natmun rasa gusar lebih merangsang emosinya, sehingga dia lebih banyak menaruh perhatian kepada ceng-san-biau-khek dengan tatapan gusar.
Tiba-tiba didengarnya Tokko cu merintih kesakitan, lekas Liok Kiam-ping berpaling, tampak wajah orang yang jelita dihiasi butiran keringat dingin, darah yang merembes membasahi jubah hitamnya yang lengket dengan badan.
Terpaksa dia bertanya dengan suara kuatir.
'Kau...
bagaimana kau ..
' Tokko cu menegakkan badan, bibirnya gemetar, sahutnya dengan tertawa meringis.
'Hati-hatilah terhadap pedangnya itu, mengandung racun api, seluruh tubuhku sekarang seperti terbakar, terutama luka luka ku seperti dipanggang diatas tungku.' Lekas Kiam-ping mengeluarkan sebuah kotak persegi dari batu pualam, seluruh pil obat yang ada dia tuang semua seraya berkata.
'Nah, ambillah, semua ditelan-' Setelah menyerahkan obat dia membalik badan terus menubruk maju seraya membentak.
Sejak tadi ceng-san-biau-khek berdiri mematung disamping, agaknya dia amat menyesal melukai lawan, atau mungkin terlalu kesengsem akan kecantikan lawannya, maka matanya nanar tak berkedip.
Tatapan dan tubrukan Liok Kiam-ping baru mengejutkan dirinya.
tahu-tahu bayangan tangan pukulan telah memburu sekencang kitiran kepada dirinya, hawa sekeliling tubuhnya seperti bergolak oleh gencetan keras dari berbagai penjuru.
Sekali dia melesat minggir, tangan yang pegang pedang teracung miring mencipta kanta bir sinar pedang, menyusup diantara bayangan telapak tangan lawan, batang pedangnya yang lencir panjang dengan leluasa menyelonong maju mengincar Hoan-bun, Siang-ki, Kiksti tiga Hiat-to besar, cepat lagi jitu, serangan pedang yang ganas sekali.
Melihat pedang lawan bergerak mengeluarkan suara mendengung seperti bunyi ribuan tawon, Liok Kiam-ping menghardik sekali, pukulan membalik, tubuh berputar, beruntun dia berpindah dua posisi, sekonyong-konyong menarik serangan sambil mendakpasang kuda-kuda terus memberondong dengan jurus Licng-kiap-sin-gan, serangannya berobah menjadi bayangan telapak tangan yang tak terhitung jumlahnya menyodok iga kiri lawan-Pakaian ceng-san-biau-khek tampak berkibar, begitu serangan luput, pedang sudah ditarik mundur melindungi tubuh, cukup sigap memang perobahan permainannya, tak nyana begitu pedangnya mengiris miring, tahu-tahu gerakannya sudah terkunci oleh serangan lawan hingga pedangnya seperti tak mampu bergerak lagi.
Sungguh tak terpikir bahwa gerakan lawan secepat ini, dalam gugupnya lekas dia mengkeret tubuh menarik telapak tangan kiri, tubuhnya setengah berputar, seluruh kekuatan dia kerahkan ditelapak tangan terus menepuk denganpukulan Hian-pingciang.
Hawa seketika menjadi dingin dengan desis suaranya yang mengeluarkan uap putih segulung kekuatan dingin kontan melanda kearah Liok Kiam-ping.
"Pyaaar."
Dua kekuatan beradu ditengah udara, hawa dingin yang membekukan kontan terpencar cerai berai, kekuatan dahsyat bagai gugur gunung betul-betul membuat ceng-san-biau-khek mengerang tertahan, tubuhnya tergentak tujuh langkah.
Liok Kiam-ping menghardik keras, tubuhnya melejit tinggi tiga tombak ditengah udara tubuhnya melompatjauh kesana menyusuli dengan gempuran lebih dahsyat, hakikatnya dia tidak memberi peluang kepada musuh untuk mempersiapkan diri.
Dua langkah kakinya beranjak ditengah udara, kedua tangan bersilang beruntun dia menjotos dua puluh satu pukulan, jalur-jalur angin kencang yang situ lebih keras dari yang lain, semua menggulung kearah ceng-sin-biau-khek.
Pakaian ceng-sin-biau-khek seperti ditiup angin badai.
"Bret"
Jubah bagian dadanya tersampuk sobek sebagian besar, keadaannya sekarang tak ubahnya seperti berada di tengah kepungan pasukan berlaksa jumlahnya padahal dia itu hanya mampu bertahan dengan serangan balasan sejurus saja, yaitu membendung tenaga raksasa yang menindih dari atas.
Kedua kakinya berdiri kokoh seperti berakar dibumi, pedangnya teracung miring keatas menyongsong pukulan telapak tangan lawan yang mengepruk turun.Jurus ini dinamakan Pat-kakham-sing (bintang dingin delapan sudut) salah satu jurus petilan dari ilmu Pak-hay-pay yang sakti, gerakannya kelihatannya sederhana, tapi didalamnya mengandung daya tahan dan serangan dengan perobahan yang sukar diraba, besar manfaatnya untuk membobol serangan tenaga ribuan kati.
Bahwasanya keistimewaan ilmu yang diyakinkan ceng-sanbiau-khek selama ini adalah Ginkang dan pukulan telapak tangan, kini dia menggunakan ilmu pedang yang tidak begitu dikuasainya melawan Wi-liong-ciang yang sudah diyakinkan sempurna oleh Liok Kiam-ping, jelas perbandingannya terlampau jauh dan tidak sebanding, adalah jamak kalau dia memperoleh kerugian besar.
Sayang kesempatan mendahului telah lenyap pula, karena terdesak oleh kekuatan tindihan lawan, terpaksa dia hanya bisa memperkokoh kedudukan sekuat tenaga menghadapi rangsakan musuh, sekali-kali dia tak berani berganti posisi atau menggeser kedudukan sehingga memperlemah pertahanan sendiri hingga termakan oleh gempuran lawan-Bagai malaikat yang turun dari langit Liok Kiam-ping membentak sambil melontarkan pukulannya yang hebat, kekuatan pukulan yang dilontarkan dari telapak tangannya membikin sekujur tubuh ceng-san-biau-khek makin amblas kebumi, pedang ditangannya pun melengkung mengeluarkan dengung suara keras.
Secara gencar Liok Kiam-ping melontarkan tiga puluh pukulan ditengah udara, kaki ceng-san-biau-khek pun makin amblas kedalam bumi sampai menyentuh lutut.
Keringat tampak gemerobyos diwajahnya, sorot matanya yang panik dan tegang jelas kelihatan, maklum sebesar ini belum pernah merasakan betapa ngerinya seseorang menghadapi kematian, arwah seakan telah direnggut oleh elmaut.
Dadanya sesak.
darah mendidih, seluruh urat nadinya berdenyut keras, syarafnya seperti hampir pecah, sekuatnya dia telan kembali darah yang sudah menerjang keteng gorokan-Tapi.
akhir tiga puluh serangan Liok Kiam-ping, ceng-sanbiau-khek pun tak kuasa bertahan lagi, darah menyembur sebanyak-banyaknya.
Untunglah pada saat-saat kritis itu pula, hawa murni Liok Kiam-ping juga tak mampu diganti pula sehingga tubuhnya anjlok kebawah, begitu dia menarik napas panjang, tangannya sudah siap menggempur pula kearah ceng-san-biau-khek.
Begitu merasakan tindihan ribuan kati dari atas mengendor, ceng-san-biau-khek pun meronta sekuatnya seraya memekik keras, kedua lututnya tertekuk ketanah, dengan sisa tenaganya sekuatnya dia melontarkan serangannya lebih dulu, tapi tangannya gemetar dan berat sekali seperti diganduli barang ribuan kati, selebar mukanya merah padam.
Liok Kiam-ping sedang meluncur turun, tahu-tahu sinar gemerdep telah melandai, pedang panjang tajam beracun itu telah menggaris tiba, seketika timbul secercah cahaya benderang laksana pancaran sang surya yang cemerlang, cahaya gemerdep yang benderang itu betul-betul membuat matanya silau seperti ditabiri warna serba merah menyala, bayangan lawan pun lenyap ditelan tabir merah menyala itu, sehingga gerakan ceng-sanbiau-khekjuga tidak kelihatan-Pada hal pikirannya masih jernih dan segar, dia tahu waktu itu sudah menjelang magrib, pancaran sinar surya tidak mungkin secemerlang ini, tabir merah itu sungguh amat menyakiti bola matanya tanpa kuasa dia memejam mata.
Tapi pada detik-detik krisis itulah tiba-tiba terasa Thian toh-hiat dibagian lehernya seperti dituding ujung pedang yang runcing dingin, jaraknya tinggal beberapa dim saja hampir menyentuh kulit.
Mau tidak mau Kiam-ping kaget dan tersirap oleh perobahan yang tak terduga ini, hakikatnya dia tidak menyadari akan anceaman ujung pedang yang sudah mengincar tenggorokan ini.
Untunglah pada saat-saat gawat itu mendadak didengarnya sebuah pekik peringatan.
'Hai lekas berkelit.' Itulah pekik suara perempuan yang penuh prihatin dan panik serta gugup, Secara reflek tanpa pikir Liok Kiam-ping menggembor bagai guntur menggelegar, tubuh bagian atas secara reflek menj engkang mundur tiga dim, berbareng telapak-tangan kiri terangkat menyampuk sementara kelima jari tangan kanan menceng kram pula.
Gerakkannya ini adalah jurus Liong-jitcing-thian, jurus ketiga dari Wi-liong-ciang.
Baru sekali ini pula ceng-san-biau-khek melontarkan jurus Jit-lun-jut-seng ilmu pedang yang berhasil dia pelajari dari catatan yang terukir digagang pedang, mutiara sakti Liat-jit (matahari) yang terpasang diatas pedang memancarkan cahaya kemilau yang dapat membikin sila u pandangan mata lawan, begitu gaya pedang dilancarkan, selarik sinar pedang bergerak tenggorokan lawan akan menjadi sasaran tusukan pedang panas itu.
Serangan secepat kilat ini, jelas mampu menusuk bolong tenggorokan orang dan tamat riwayatnya, tak nyana Tokko cu yang menonton disamping mendadak menjerit memberi peringatan, sehingga lawan tersentak sadar dan mampu meluputkan diri.
Lekas dia tarik napas, seluruh tubuh doyong kedepan, dengan gaya tetap dia dorong pedangnya tetap menusuk tenggorokan-tak nyana tiba-tiba pandangannya kabur, lima jalur angin kencang dari jari-jari lawan mencengkram Yang-ko, Pian-ie, Un-liu, Toalin, dan Lau-kicng lima hiat-to ditelapak dan pergelangan tangannya.
Dalam keadaan tubuh terjengkang kedepan, tak mungkin pula dia bisa merobah gerakan, begitu tangan lemas jari terlepas, pedang panjangpun terampas oleh lawan-Maka telapak tangan kiri Liok Kiam-ping yang menepuk turun itu melingkar setengah bundar, secara menakjubkan menepuk dadanya.
"Blang"
Untung dia sempat sedikit mendak sehingga tepukan telapak tangan Kiam-ping mengenai pundak kanan ceng-san-biau-khek.
tampak bayangan hijau mencelat, laksana layang-layang putus benang tubuhnya mencelat mabur beberapa tombak dan "Bluk"
Terbanting keras rebah celentang.
Liok Kiam-ping tenangkan diri mengendalikan gejolak hatinya, sesaat lamanya baru pandangannya pulih seperti sedia kala.
dilihatnya ceng-san-biau-khek yang celentang mandi darah disana, dengan geram dia mendengus keras.
Waktu dia menelan air liur, terasa bagian lehernya sakit, serta merta dia angkat tangan meraba, tangannya berlepotan darah..
Ternyata ujung pedang lawan tadi juga sempat menyentuh kulit lehernya hingga tergores lecet.
Karuan Kiamping bergidik merinding, kembali dia mengawasi ceng-sanbiau-khek yang pingsan, dengan langkah lebar lekas dia menghampiri Tokko cu.
Tubuhnya yang semampai lemas menggelendot didahan pohon, wajahnya pucat pias, namun tubuhnya yang agung dan suci seperti memancarkan cahaya bening sehingga kelihatan dia lebih anggun dan asri.
Berdegup jantung Liok Kiam-ping melihat bibirnya yang terkatup menjengkit keatas menahan sakit.
Disadarinya bahwa jantungnya berdetak lebih keras dari biasarya, maklum sekarang dia menghadapi gadis jelita yang masih suci murni, tapi bukan lagi seorang Bulim cianpwe yang berkedok.
Agak lama dia megap-megap baru kuasa mencetuskan suaranya.
"Kau... bagaimana luka-luka mu ?"
Tokko cu hanya tertawa ewa sahutnya lirih.
"obatmu mujarab luka-lukaku sudah mengering, darah tidak keluar lagi"
Lalu dia menyingkap rambutnya yang menjuntai lemas dari sanggulnya, gaya dan gerakannya nan lembut sungguh indah mempesona. Lok Kiam-ping coba tersenyum sewajarnya, katanya.
"Itulah obat mujarab buatan Siau-lim-pay, semula memang kukira amat mujarab maka kuberikan kepadamu, karena aku sendiri belum pernah memakai..."
Dia bicara sejujurnya.
"serangan pedangnya tadi sungguh teramat lihay, pedangnya ternyata mampu memancarkan cahaya benderang laksana surya sehingga mataku tak mampu terbuka, untung kau memberi peringatan-kalau tidak..."
Kiam-ping angkat pundak serta geleng-geleng lalu meraba lehernya pula.
Tokko cu geli melihat tingkah lucu dan kikuk Liok Kiamping, tapi dia hanya mengangguk saja, tadi akupun tak mampu membuka mata karena jurus pedangnya yang aneh itu."
Lalu dia mengawasi pedang panjang lencir ditangan Kiam-ping, diatas gagang pedang ada dicatat tiga jurus pelajaran ilmu pedang, Suhu pernah menjelaskan bahwa ketiga jurus pedang ini merupakan kombinasi intisari ilmu pedang dari berbagai cabang persilatari yang paling top..."
Sampai di-sini baru dia sadar telah kelepasan omong, maka lekas dia tutup mulut, sungguh dia sendiri tidak habis mengerti, kenapa hari ini dia banyak bicara, pada hal selama didalam Te-sat-kok belasan tahun dia amat pendiam dan bersikap eksentrik, tapi sejak pemuda yang satu ini menerobos masuk ke Te-sat-kok entah kenapa perangainya berobah, pada hal dulu dia tinggi hati, angkuh, dingin dan sekarang...
---ooo0dw0ooo---Tanpa terasa dia menghela napas, terbayang olehnya betapa gurunya memberi pesan kepadanya disaat dekat ajalnya, dirinya diwajibkan menjaga ketiga pedang pusaka, tapi pemuda gagah, teguh dan perkasa ini ternyata telah terukir didalam relung hatinya yang sebelum ini telah tersumbat olel segala perasaan keduniawian-Kini otaknya tengah menerawang, dengan mendelong dia mengawasi pemuda ganteng ini, perasaan mulai bersemi dalam lubuk hatinya, bayangan sang perjaka telah terukir dalam benaknya.
Entah mengapa tiba-tiba mukanya yang pucat itu bersemu merah, dengan tertawa lirih dia menunduk malu hingga tampak barisan giginya yang putih rajin.
"Senyumannya laksana bunga mekar."
Demikian batin Kiam-ping, meski dia hanya mengenakan jubah hitam."
Selama hidup baru pertama kali ini Kiam-ping menyaksikan senyuman semanis dan mekar seperti ini, tanpa sadar dia menghela papas panjang, puas dan lega..
"Siapa namamu ?"
Tanya Tokko cu dengan suara nyaring lembut.
"Aku she Liok bernama Kiam-ping, tapi kau boleh panggil Kiam-ping padaku, karena aku suka orang memanggilku demikian,"
Sahut Kiam-ping sambil menatapnya lekat-lekat.
"Berkat pertolonganmu tempo hari, seingatku aku belum sempat berterima kasih kepadamu, apakah kau masih salahkan kelakuanku yang sembrono itu ?"
Merah wajah Tokko cu, katanya menggeleng.
"Semula aku kira kau adalah manusia tamak yang mengincar harta pusaka dalam lembah, maka..."
Lekas Kiam-ping memberi penjelasan.
"Tanpa sengaja aku masuk ke sana, tapi waktu itu ku kira betul-betul adalah seorang cianpwe yang sudah terkenal di Kangouw, karena kulihat ceng-san-biau-khek agak jeri terhadapmu."
Diam-diam dia merasa heran oleh perobahan sikap gadis rupawan ini, tindak tanduknya jauh berobah dibanding waktu masih berada didalam lembah. Diam-diam Kiam-ping membatin.
"Mungkin dia sengaja bersikap kereng dan ketus karena mengenakan kedoknya itu, pada hal dia seorang nona yang baik hati.' Apa yang diduganya memang benar, setiap gadis tentu punya kedok muka yang palsu ada kalanya seorang gadis aleman, binal, malu-malu semua itu hanya untuk menjaga gengsi, mempertahankan harga diri, akan tetapi bila mereka sudah berada didekat apa lagi dalam pelukan sang perjaka yang dicintai, secara tidak sadar mereka akan menanggaikan kedok palsu mereka. Begitu menyinggung ceng-san-biau-khek, serta merta Tokko cu lantas menoleh kesana tiba-tiba dia berjingkat, karena ditanah hanya ketinggalan ceceran darah dan se
Jilid buku tua, bayangan ceng-san-biau-khok ternyata telah lenyap entah kemana. 'Dia sudah lari, disaat kami..."
Terbayang betapa mesra tadi dirinya berdiri berhadapan, tanpa merasa dia menoleh kearah Liok Kiam-ping dengan muka jengah.
Kebetulan Liok Kiam-ping juga tengah menatapnya.
begitu pandangan bentrok lekas dia melengos sambil tertawa Cekikik.
Lekas Liok Kiam-ping menghampiri ketempat ceng-sanbiau-khek rebah tadi, segera dia berjongkok memungut buku tipis yang kuno itu begitu melihat tulisan diatas sampul buku seketika dia menjerit girang.
"Wi-liong-pit sin."
Tokko cu juga melenggong, lekas dia memburu maju dan bertanya.
"Apa ? Wi-liong-pit-sin ?"
Gemetar jari-jari Liok Kiam-ping dengan terbalik dia mulai membuka lembaran buku Wi-liong-pit-sin, halaman ada sebuah potret orang dan dibawahnya ada tulisan, langsung dia membuka lembaran keempat dimana tercantum jurus keempat dari Wi-liong-pitsin-Wi Bong-ting-yak."
Dengan rasa haru dan senang dia memekik.
"Tokko cu bertanya. Jadi kau adalah murid Kiu-thian-sinliong ? Bergelar Pat-pi-kim-liong ?"
Liok-Kiam-ping menjawab dengan anggukkan kepala, langsung membalik halaman terakhir, tampak di-sini ada tulisan berbunyi.
"Aku inilah ciangbunjin generasi kedua dari Hong-lui-bun. orang-orang Kangouw menjuluki Ki-kiam-wiliong padaku, dengan ilmu pukulan wi-liong aku malang melintang diselUruh jagat, namun tiada seorang lawanpun yang mampu melawan aku lima jurus pukulan.
"Musim rontok tahun itu, waktu aku lewat Tong-pek-san kebetulan bersua dengan Thian-to-sin-liong yang datang dari Thiantiok ( India ) daripadanya aku memperoleh Lian-jit, cui ie dan Jit-jay tiga mutiara, lalu kupaksa pawang pedang yang paling jempolan pada masa ini-In-tiong-cu untuk menggemleng sebilah pedang mestika. Untuk menundukkan dia terpaksa aku menggunakan Wi-liong-hiong-khong menutuk Jie-kan-hiat didadanya, namun dia berhasil meloloskan diri juga..."
Diam-diam Liok Kim-ping bergirik sendiri, tak pernah terbayang olehnya ada manusia sehebat ini didunia, setelah terkena tutukan didada dengan jurus Wi-liong-hiong-khong masih mampu melarikan diri.
Karena Jit-kian-hiat adalah salah satu dari tiga puluh enam Hiat-to besar yang mematikan di tubuh manusia, sedikit tergetar saja dapat mengakibatlan kematian jiwa manusia.
Tiba-tiba terasa lehernya gatal dan nyeri, dua jalur hawa panas seperti menyembur kulit lehernya, tapi Kiam-ping diam saja dan tidak menoleh, karena dia tahu Tokko cu juga ikut membaca buku yang dibentangnya dibelakang, deru napas hidungnya menyebur lehernya.
Tiba-tiba dia menarik napas panjang, seolah-olah dia ingin menghirup seluruh bau harum yarg tersiar diudara kedalam dadanya, bau harum yang menyejukkan teruar dari badannya yang manis dan lembut.
Tokko cu heran dan tidak mengerti kenapa Kiam-ping berulang kali tarik napas dalam tanyanya.
"Kenapa sih kau?"
"Ah, tidak apa-apa."
Liok Kiamping tersipu-sipu.
"aku hanya ingin mengganti napas segar yang harum diudara..."
Tiba-tiba dia menoleh, melihat orang menunduk malu-malu, seketika Kiam-ping sadar telah kelepasan omong. Segera dia simpan Wi-liong-pit-sin lalu berkata.
"Nona, kau...siapa namamu ?"
Tokko cu angkat kepala, dengan berani dia balas menatap. suaranya lirih.
"Nama hanyalah tanda pengenal untuk seseorang saja. Boleh kau memanggilku Tokko cu -saja, tentang,..."
Dia merandek lalu menambahkan..
"Pedang ini memang pantas menjadi milikmu, masih ada dua batang lagi tertinggal di Te sat kok, semua akan kuserahkan kepadamu. Dulu suhu pernah berpesan waktu dia meninggalkan ketiga batang pedang ini, supaya aku menyerahkan kepada ciangbunjin Hong lui bun. Semoga selanjutnya kau dapat malang melintang di Kangouw menguasai Bu lim..."
Sinar matanya memancarkan cahaya aneh, tapi akhirnya dia menghela napas rawan, katanya sendu.
"Kepintaranmu pasti dapat mengangkat namamu, semoga kau baik-baik saja. Ah, ada orang datang, Aku mau pergi..."
Segera dia jemput cadarnya, dengan gesit terus berlari pergi kearah lembah gunung sana. Melihat orang pergi, lekas Kiam-ping mengejar seraya memanggil.
"Nona, tunggu sebentar."
Tokko cu berhenti dan menoleh, pandangannya penuh tanda tanya. Dengan memberanikan diri Kiam-ping bertanya.
"Nona apakah mau kembali ke-Te-sat-kok ? Maukah kau berkelana di Kangouw bersamaku ?"
Tokko cu manggut-mang gut, tapi lekas dia geleng-geleng pula. Kiam-ping mendekat dua langkah, tanyanya.
"Nona ada ganjelan hati apa ? Dari sorot matamu aku merasakan banyak persoalan menguatirkan diriku..."
Tokko cu tertawa, tawa yang sendu, dan dingin, maklum tawanya tersembunyi dibalik cadarnya. Liok Kiam-ping berkata pula.
"Tidak sepantasnya kau mengenakan jubah hitam ini, kaupun tak usah mengenakan cadar, karena... karena kau begitu cantik. Dan lagi kaupun masih begini muda..."
Lama Tokko cu menjublek, akhirnya geleng kepala, tanpa bersuara pelan-pelan dia memutar tubuh terus tinggal pergi, bayangannya lenyap dikejauhan-Diwaktu orang membalik tubuh jelas tampak oleh Liok Kiam-ping, air mata berkaca-kaca dipelupuk mata si gadis.
Diam-diam dia menarik napas panjang, terasa bukan kepalang masgul hatinya, mendadak dia mendongak serta menggembor sekuatnya, suaranya mengalun tinggi ditengah udara, kejap lain dia sudah melangkah lebar menyongsong kedatangan puluhan penunggang kuda yang mendatangi.
---ooo0dw0ooo---Hari sudah mulai gelap.
rombongan berkuda itu membedal kencang kedepan, jarak masih cukup jauh, lekas Kiam-ping membuka jubah luarnya untuk membungkus pedang mestika lalu berdiri tegak dipinggir jalan menunggu kedatangan belasan penunggang kuda itu.
Secepat lesus rombongan berkuda itu telah tiba, dalam jarak beberapa tombak mereka telah berhenti.
Biau-jiu-sipcoan mendahului lompat turun terus berlutut dan menyembah, serunya lantang.
"Murid-murid Hong-lui-bun menghadap ciang-bun...' Sementara itu, para penunggang kuda yang lain juga sudah melompat turun, semua berdiri tegak berbaris lurus, serempak merekapun berlutut dalam gerakan yang rapi menyembah kepada Liok Kiam-ping. Gemuruh suara mereka yang lantang.
"Ang-kim-cap-pwe-ki murid Hong-lui-bun menghadap ciangbun, semoga ciang bun sehat dan panjang umur..."
Kedua kakek berambut uban bermuka merah berbareng menjura kepada Kiam-ping satu diantaranya yang mengikat rambut dengan gelang emas berkata.
"Mohon ciangbun keluarkan Hiat-liong-ling dan mengangkat tinggi supaya semua murid-murid mengenalinya, selama hidup ini kita bakal menjadi pengikut ciangbun, untuk menunaikan tugas bakti warisan ciangbun yang dahulu."
Liok Kiam-ping sadar dari lamunannya yang hambar, katanya dengan melenggong.
"Kau ini kah Hu-hoat..."
Laki-laki tua bergelang emas dekat kepalanya menjura, sahutnya.
"Hamba Kimji-toa-beng (elang besar sayap emas) Kongsun cin-khing sebagai coh-huhoat, atas perintah warisan ciangbun yang terdahulu kami menyambut dan menjunjungmu..."
Mata Liok Kiam-ping melirik kearah ke kiri si tua yang rambutnya diikat gelang perak. katanya.
"Dia pun Huhoat "
Laki-laki bergelang perak dikepalanya menjura, katanya.
"Hamba Gin-jiay-beng (elang besar sayap perak) Kongsun cingiok. berkat kemuliaan hati cianghun yang dulu diangkat sebagai Yu-huhoat..."
Maka Liok Kiam-ping merogoh Hiat-liong-ling serta diangkatnya tinggi, serunya.
"Boleh kalian periksa apakah betul ini?"
Sorak sorai lebih gemuruh dari tadi bergema ditanah tegalan yang terbentang luas, ditengah tempik sorak orangorang Hong-lui-bun itu, tampak King-ji-tai-beng dan Gin-ji-taybeng berlinang air mata, serempak mereka berlutut didepan Liok Kiam-ping.
Tersipu-sipu Liok Kiam-ping memapah mereka berdiri, katanya gugup "cayhe masih membutuhkan bantuan kalian, terutama tenaga kalian kedua Huhoat, lekaslah berdiri jangan banyak peradatan."
"Terima kasih, kami patuh perintah ciangbun-sahut cohyu-hu-hoat. Demikian pula delapan belas penunggang kuda seragam biru laut, berdiri serta menjura pula, tegak lurus membusung dada, tampak betapa gagah perkasa sikap dan semangat mereka. ---ooo0dw0ooo---Sementara itu tabir malam telah menyelimuti jagat raya. bulan sabit telah bergantung dilangit timur, memancarkan cahaya peraknya yang redup, Berhadapan dengan para pahlawan gagah yang penuh semangat semua patuh dan menghormati serta menyanjung dirinya, bukan kepalang haru dan senang serta lega hati Liok Kiam-ping, yakinlah dia bahwa sejak kini kebesaran nama Pat-pi-kim-liong bolehlah dipertahankan dan terus ditegakkan di kalangan Kangouw. Kebesaran nama, kedudukan dan Kungfu yang tinggi merupakan impian setiap insan persilatan-Juga perempuan cantik."
Demikian batin Liok Kiam-ping, karena raut wajah Tokko cu yang cantik rupawan, gerak geriknya yang lembut gemulai tak pernah lepas dari ukiran sanubarinya.
Suasana hening, Kiam-ping berdiri tegak menengadah, terbayang olehnya betapa sengsara kala dulunya menjadi gelandangan-namun kehidupan melarat dan siksa derita itu telah menggembleng dirinya, kesempatan telah memberikan harapan dan mengangkat nasib dirinya kejenjang kehidupan yang lebih lumrah baik, dari sekarang dia memperoleh apa yang selama ini selalu diimpikan olen setiap insan persilatan, dirinya telah menjadi ciangbunjin Hong-lui-bun-Semua itu merupakan hasil dari kesabaran keteguhan dan perjuangan yang gigih melawan kesengsaraan dan penghinaan, walau semua siksa derita itu sudah lalu, tapi bagaimana dengan yang akan datang ?
Dia maklum itupUn memerlukan perjuangan gigih dan tabah, karena dia sadar banyak urusan yang harus dia bereskan-Sambil mengawasi bulan sabit yang tergantung diatas cakrawala.
mengepal tinju Liok Kiam-ping, batinnya.
"Ayah, ibu, sudahkah kau melihat? Putramu sekarang sudah menjadi seorang ciangbunjin, selanjutnya bila musuh-musuhmu bertekuk lutut dibawah kakiku, yakin kalian akan menyaksikan dengan tersenyum tentram, yakin itu tidak akan lama lagi..."
Demikian dia berdosa dan bersumpah dalam hati. Selesai dia mengheningkan cipta didengarnya Kim-ji-taybeng berseru lantang.
"Ciangbunjin, harap terimalah perintah warisan ciangbunjin generasi yang terdahulu..."
"Ooh,"
Liok Kiam-ping bersuara pendek.
dia terima s eg ulung kain sutra putih yang diangsurkan-Kim-ji-tay-beng dengan kedua tangan, pelan-pelan dia buka gulungan kain sutra itu.
Setetes noda darah, lalu setetes lagi tapi noda darah ini sudah kering, sudah berobah warna kehitaman, jelas noda darah ini sudah cukup lama, setelah dia membeber seluruh gulungan kain sutra diatasnya tampak beberapa baris hurufhuruf yang ditulis dengan tinta darah, seketika dia merasa hidmat dan bergidik, sekilas dia pandang orang-orang didepannya, dilihatnya merekapun tengah menatapnya penuh perhatian, tatapan penuh harapan supaya dia membacakan secara keras-Maka Liok Kiam-ping mulai tarik suara.
"Aku sebagai ciangbun generasi ketujuh Hong-lui bun, ciang-kiamkin-ling sedang sekarat diatas pegunungan Tay-pa-san, yang paling kurindukan hanyalah Hiat-liong-ling dan Wi-liong-pitsin perguruan kita. Selanjutnya bila siapa memiliki Hiat-liongling maka dialah sebagai pewaris ciangbun generasi kedelapan perguruan kita, ketentuan ini harap menjadikan undangundang bagi seluruh murid-murid perguruan.
"Seorang diri aku meluruk ke Tionggoan karena kurang hati-hati dan tidak mengenal kelicikan orang Kangouw, tanpa diduga aku terbokong oleh orang jahat, sekarang racun telah menggeragoti badanku, racun sudah meresap kedalam urat nadi hawa murni sudah buyar, aku yakin jiwaku takkan tertolong lagi, maka kutulis pesanku ini kepada seluruh muridmurid Hong-lui-bun, betapapun harus menemukan Hiat liong
ling atau siapa pun yang memilikinya, biarlah dia memimpin kita untuk menuntut balas.
"Musuh besarku adalah Tok-sin-kiong-bing, Ham-sim-lengmo, Hwe-hun-cun-cia dari Heng-bu-san, Ngo-hu-cu dari Lamhay, Kong-tong-koay-kiam, Lo-hu-sin-kun dari Lohu-san, maka ciangbunjin yang akan datang harus..."
Pesan itu hanya sampai di sini, lebih kebawah lagi adalah genangan darah yang mengental, jelas menulis sampai di sini ciang-kiam-kimling sudah kehabisan tenaga, jiwapun melayang.
Liok Kiam-ping menarik napas panjang, dilihatnya orangorang didepannya semua berlinang air mata, maka dengan tekanan berat dia berkata.
"Aku bersumpah akan menuntut balas atas kematian ciang kiam kim-ling, kita ganyang semua manusia kurcaci."
Lalu dia meninggikan suaranya.
"Manusia jahat dikalangan Kangouw terlalu banyak dan ada dimanamana.
Baca Juga: Pedang Ular Emas 11
Baca Juga: Peristiwa Merah Salju 4