Ceritasilat Novel Online

Peristiwa Merah Salju 4

Eps 4 Peristiwa Merah Salju - Gu Long

Baca online Peristiwa Merah Salju - Gu Long

Cersil Peristiwa Merah Salju - Gu Long.

Seru Be Hong-ling uring-uringan, tiba-tiba dia berputar menghadap Yap Kay pula, katanya.

"Apa selamanya kau tidak pernah bingung?"

"Jarang sekali."

"Masakah selamanya kau tidak pernah tergerak hatimu?"

"Jarang sekali."

"Kau ... terhadapku kau pun tidak tergerak hatimu?"

"Pernah tergerak,"

Jawaban yang gamblang dan terus terang. Be Hong-ling justru seperti amat kaget, mukanya merah terus menunduk, dengan keras dia kucek-kucek ujung bajunya, lama juga baru dia menghela napas, katanya.

"Saat seperti ini, di tempat seperti ini pula, jika benar kau menyukai aku, sejak tadi kau seharusnya sudah memelukku, mencium aku."

Yap Kay tidak memberi reaksi, kembali dia menuang secawan the panas. Setelah menunggu sekian lamanya, tak tahan Be Hong-ling merengek lagi.

"Ehm, apa yang kukatakan sudah kau dengar tidak?"

"Tidak"

"Memangnya kau tuli?"

"Bukan."

"Tidak tuli kenapa tidak mendengar?"

Yap Kay menghela napas, ujarnya.

"Karena meski aku ini bukan tuli, namun aku seorang bodoh, laki-laki linglung."

Be Hong-ling mengangkat kepala melotot kepadanya, mendadak dia menubruk maju serta memeluknya dengan kencang.

Begitu kencang pelukannya sampai terasa deru napasnya memburu sesak.

Hujan bayu masih deras di luar, hawa semakin dingin, namun badan Be Hong-ling justru semakin hangat, lemas-lunglai tapi serba kekeringan.

Demikian pula bibirnya kering dan panas.

Jantungnya justru berdebar keras sekeras hujan bayu yang tumpah di padang rumput.

Pelan-pelan Yap Kay justru mendorongnya.

Di saat-saat seperti ini, Yap Kay justru mendorongnya.

Be Hong-ling melotot, mendelik dengan amarah menyala, sekujur badannya seolah-olah berubah kejang.

Dengan kencang dia menggigit bibir, seperti hendak menangis, katanya.

"Kau ... kau sudah berubah."

"Aku tidak akan bisa berubah,"

Sahut Yap Kay lembut.

"Terhadapku dulu kau tidak seperti ini."

Yap Kay tenggelam dalam alam pikirannya, lama juga baru dia menghela napas, ujarnya.

"Mungkin karena sekarang aku lebih memahami dirimu daripada sebelum ini."

"Apaku yang kau pahami!"

"Bahwasanya kau tidak menyukaiku sepenuh hati."

"Aku tidak menyukaimu sepenuh hati? Aku ... memangnya aku sudah gila?"

"Apa yang kau lakukan terhadapku, tidak lebih karena kau takut "

"Takut apa?"

"Takut kesepian, takut sebatangkara, sejak mula kau sudah dibayangi perasaan minder, kau kira tiada seorang pun di dunia ini yang betul-betul memperhatikan dirimu."

Mendadak merah membara biji mata Be Hong-ling, kepala tertunduk, katanya pelan-pelan.

"Umpama kata keadaanku benar seperti yang kau katakan, maka kau harus lebih baik terhadapku."

"Cara bagaimana aku harus bertindak baru kau anggap sikapku baik terhadap kau? Memelukmu dan menciumimu di saat-saat tiada orang lain seperti saat ini? Melakukan ...."

Belum selesai katakatanya, mendadak Be Hong-ling melayangkan telapak tangannya menampar pipinya sekuatkuatnya.

Begitu keras tamparan ini sampai telapak tangannya sendiri terasa panas dan kesemutan.

Tapi Yap Kay justru seperti tidak merasakan apa-apa, dengan tawar dia mengawasinya, mengawasi air matanya bercucuran.

Dengan air mata bercucuran Be Hong-ling mengumpat sengit.

"Kau bukan manusia, baru sekarang aku tahu hakikatnya kau ini bukan manusia, aku benci kepadamu, membencimu sampai kau mampus ...."

Sembari berteriak-teriak dia berlari lintang-pukang keluar, lari ke dalam hujan lebat.

Sekejap saja bayangannya sudah hilang ditelan derasnya air hujan yang semakin tercurah dari langit.

Yap Kay tidak mengejarnya keluar, malah bergeming pun tidak, tapi entah kenapa, tampak mimik mukanya justru berubah teramat menderita seperti tersiksa batinnya.

Karena dalam sanubarinya pun mempunyai hawa nafsu yang keras, keinginan yang besar, hampir saja dia tidak tahan hendak lari mengejar, menyandaknya serta memeluknya, tergulingguling di padang rumput di saat hujan selebat ini.

Akan tetapi keinginannya itu tidak dia laksanakan.

Apa pun tidak dia lakukan, hanya berdiri kaku seperti patung batu, dia menunggu hujan ini reda ....

Akhirnya hujan ini reda.

Yap Kay menyusuri jalan raya yang masih tergenang air, langsung masuk ke pintu sempit yang satu ini.

Dalam rumah tenang dan sunyi, hanya kedengaran satu suara saja, suara kartu dikocok.

Siau Piat-li tidak berpaling untuk menyambut kedatangannya, agaknya seluruh perhatian dia tumplekkan kepada permainan kartunya itu untuk meramalkan sesuatu.

Yap Kay langsung menghampiri, lalu duduk.

Mengawasi kartu-kartu yang terbentang di hadapannya, mimik wajah Siau Piat-li kelihatan masgul serta menguatirkan sesuatu.

"Hari ini apa yang berhasil kau ramal?"

Tanya Yap Kay. Siau Piat-li menghirup napas panjang, sahutnya.

"Hari ini apa pun tidak berhasil kuramalkan."

"Kalau tak berhasil kau ramal, kenapa harus menghela napas."

"Justru aku tidak berhasil maka aku menghela napas,"

Akhirnya kepalanya terangkat menatap Yap Kay, katanya lebih lanjut.

"Hanya peristiwa yang paling berbahaya, paling menakutkan saja selalu tak berhasil kuramalkan."

Lama Yap Kay berdiam diri, tiba-tiba tertawa, katanya.

"Tapi aku justru merasakan adanya hal...."

"O, hal apa?"

"Paling tidak hari ini kau tidak akan bangkrut."

Siau Piat-li sedang menunggu kata-katanya lebih lanjut.

Tapi Yap Kay tidak bicara banyak, cuma dari dalam kantongnya dia rogoh keluar setumpukan uang kertas yang masih baru, pelanpelan dia letakkan di atas meja, pelan-pelan pula dia dorong ke hadapan Siau Piat-li.

Mengawasi tumpukan uang ini, ternyata Siau Piat-li diam saja, tidak mengajukan pertanyaan.

Soal ini hakikatnya memang tidak perlu dibicarakan, juga tidak perlu ditanyakan.

Berselang agak lama, Yap Kay baru tersenyum, katanya.

"Sebetulnya tidak perlu aku kembalikan uang sebanyak ini kepadamu."

"O, kenapa kau kembalikan?"

"Karena hakikatnya kau sendiri pun tidak ingin betul-betul supaya aku membunuhnya, betul tidak?"

"O!"

"Kalian hanya ingin menjajal aku, apa benar aku ingin membunuhnya."

Tiba-tiba Siau Piat-li tertawa, ujarnya.

"Terlalu banyak yang kau pikirkan, banyak pikiran bukan suatu hal yang baik."

"Bagaimana pun juga, sekarang tentunya kau sudah tahu, aku bukan orang yang ingin membunuhnya."

"Sekarang penduduk kota ini siapa pun memang sudah tahu."

"Kenapa?"

"Karena Kongsun Toan sudah mati, menemui ajalnya di bawah golok Pho Ang-soat."

Senyuman yang menghias muka Yap Kay tiba-tiba menjadi kaku membeku. Selamanya belum pernah terunjuk mimik seburuk itu menghiasi mukanya. Pelan-pelan Siau Piat-li melanjutkan.

"Bukan saja Kongun Toan sudah mati, Hun Cay-thian dan Hoa Boan-thian pun sudah mampus."

"Apa mereka juga mati di tangan Pho Ang-soat?"

Teriak Yap Kay. Siau Piat-li geleng-geleng kepala.

"Siapakah yang membunuh mereka?"

"Be Khong-cun!"

Kembali Yap Kay tertegun. Lama juga baru dia menarik napas panjang, mulutnya menggumam.

"Tak habis mengerti, sungguh tidak habis mengerti."

"Ada apa yang tidak bisa kau mengerti?"

"Bahwasanya kini dia sudah tahu bila ada seorang musuh tangguh yang akan membunuhnya sembarang waktu, kenapa dua pembantunya yang terpercaya justru dia bunuh pada saat seperti ini?"

Sikap Siau Piat-li amat tawar, katanya.

"Mungkin karena dia sendiri memang manusia yang paling aneh di dunia ini, maka selalu melakukan sesuatu yang di luar dugaan orang lain."

Jawaban yang tidak boleh dianggap jawaban, tapi Yap Kay seolah-olah sudah dapat menerima arti dari jawaban yang bukan jawaban ini. Mendadak dia mengubah pokok pembicaraan.

"Dimana tamu agungmu yang berada di atas loteng kemarin malam itu?"

"Tamu agung?"

"Kim-pwe-tho-liong Ting Kiu."

Seperti baru sekarang Siau Piat-li ingat akan diri Ting Kiu, katanya tersenyum.

"Dia pun seorang yang aneh, sering dia pun melakukan hal-hal yang tidak dimengerti orang lain."

"O."

"Belum pernah terpikir dalam benakku bahwa dia pun bakal berada di tempat seperti ini."

"Bukankah dia mencari kau?"

"Memangnya siapa yang sudi mencari orang sepertiku yang cacad ini."

"Dia masih di atas loteng?"

"Sudah lama pergi."

"Kemana?"

"Mencari orang."

"Mencari orang? Mencari orang siapa?"

"Loh Loh-san."

"Mereka sahabat karib?"

"Bukan sahabat, malah musuh besar, musuh besar sejak beberapa puluhan tahun yang lalu."

"Jadi kedatangan Ting Kiu kali ini hanya untuk membikin perhitungan kepada Loh Loh-san?"

"Mungkin."

"Sebetulnya mereka punya permusuhan apa?"

"Siapa tahu? Memangnya dendam sakit hati orang-orang Kangouw sering berlarut-larut."

Lama Yap Kay termenung, tiba-tiba bertanya pula.

"Di kalangan Kangouw pada puluhan tahun yang lalu, katanya ada seorang tokoh ahli menggunakan senjata rahasia yang ganas dan culas, kabarnya dia adalah murid tunggal Ang-hoa Popo."

"Yang kau maksud adalah Toan-yang ciam Toh-popo?"

"Benar."

"Namanya memang pernah kudengar."

"Pernah melihatnya belum?"

"Lebih baik selama hidupku ini aku tidak pernah melihatnya."

"Empat murid besar dari perguruan Jian-bin-jin-mo (manusia iblis seribu muka), belakangan hanya tinggal seorang saja yang bernama Bu-kut-coa (ular tak bertulang) Sebun Jun, tentunya kau pun pernah mendengar nama orang ini."

"Lebih baik berhadapan dengan Toh-popo daripada berhadapan dengan orang ini."

"Namun menurut apa yang kuketahui, kabarnya kedua orang ini sekarang sudah berada di sini."

"Kapan mereka datang?"

"Sudah lama mereka di sini."

Kini Siau Piat-li yang termenung, tiba-tiba dia menggeleng-geleng kepala, katanya.

"Tidak mungkin, pasti tidak mungkin, kalau mereka sudah berada di sini, aku pasti tahu."

Yap Kay menatapnya, katanya.

"Mungkin mereka sudah berada di Ban-be-tong, bukankah Banbe-tong merupakan sarang naga dan gua harimau?"

Siau Piat-li sudah manggut-manggut, namun segera geleng-geleng pula.

"Mungkin karena Ban-be-tong sekarang sudah punya bantuan mereka, maka dia tidak perlu gentar menghadapi musuh besarnya yang tangguh."

Tiba-tiba Siau Piat-li tertawa, ujarnya.

"Itulah urusan Ban-be-tong, tiada sangkut-pautnya dengan kami."

"Hari ini omonganku sungguh terlalu banyak."

Agaknya dia sudah ingin pamitan, tapi pada saat itu pula dari luar tahu-tahu sudah melangkah masuk seseorang.

Seorang laki-laki serba putih, pinggangnya terikat tali rami, tangannya membawa setumpukan kertas mirip kartu undangan, seperti sampul surat pula.

Ternyata itu bukan sampul surat, juga bukan kartu undangan.

Tetapi adalah berita duka cita.

Berita duka cita Koangsun Toan, Hun Cay-thian dan Hoa Boan-thian, atas nama Be Khong-cun.

Hari penguburan adalah besok lusa.

Pagi-pagi jenazah diberangkatkan, tepat tengah hari peti mati dimasukkan ke liang lahat, selanjutnya dengan makanan tanpa daging menjamu para pelayat.

Ternyata Yap Kay pun menerima bagiannya.

Setelah menyampaikan berita duka cita itu, lakilaki berkabung ini lantas menjura, katanya.

"Sam-lopan ada pesan pula, pada waktunya diharap Siau-siansing dan Yap-kongcu hadir dalam upacara penghabisan."

Siau Piat-li menarik napas panjang, katanya prihatin.

"Sahabat lama, setelah berpisah untuk selamanya, kenapa aku tidak akan hadir?"

"Aku pun akan datang,"

Ujar Yap Kay. Laki-laki baju putih kembali menjura serta mengucapkan terima kasih. Tiba-tiba Yap Kay berkata pula.

"Agaknya tidak sedikit berita duka cita ini disebar "

"Sam-lopan adalah teman karib Kongsun-siansing selama puluhan tahun, beliau mengharap upacara terakhir ini dapat dilaksanakan sebaik mungkin."

"Jadi setiap penduduk kota sudah memperoleh berita duka ini?"

"Boleh dikata seluruhnya sudah menerima."

"Bagaimana dengan Pho Ang-soat?"

Seketika tersorot rasa kebencian pada mata laki-laki baju putih, katanya dingin.

"Dia pun memperoleh selembar, cuma aku kuatir dia tidak berani hadir pada saat itu."

Yap Kay berpikir sebentar, katanya pelan.

"Kupikir dia pasti akan datang."

"Semoga seperti harapan tuan,"

Ujar laki-laki baju putih.

"Kau sudah menemukan dia belum?"

"Belum lagi ketemu."

"Kalau kau percaya, aku mau mewakilkan kau menyampaikan kepadanya."

Sebentar bimbang, akhirnya laki-laki baju putih manggut-manggut, katanya.

"Kalau begitu membikin susah Yap-kongcu saja, terus terang Cayhe sebetulnya juga tidak sudi berhadapan dengan orang seperti dia, lebih baik bila dia tidak sampai terlihat orang lain."

Siau Piat-li sedang menatap berita duka cita yang berada di tangannya, setelah laki-laki baju putih pergi, baru dia menghela napas ringan, katanya.

"Sungguh tak nyana Ban-be-tong pun mengirim berita duka cita ini kepada Pho Ang-soat."

"Kau pernah bilang, dia kan orang aneh."

"Kau pikir Pho Ang-soat akan datang?"

"Pasti datang."

"Kenapa?"

"Karena aku tahu dia bukanlah laki-laki yang suka menyingkir dari kenyataan."

"Kalau kau anggap dia temanmu, lebih baik kau bujuk dia supaya jangan datang."

"Kenapa?"

"Memangnya kau tidak merasakan bila berita duka cita ini merupakan jebakan?"

"Jebakan?"

Yap Kay mengerut kening. Sikap Siau Piat-li amat serius, katanya.

"Kalau kali ini Pho Ang-soat sampai masuk ke Ban-betong, mungkin selama hidupnya ini jangan harap bisa kembali ke kampung halamannya pula."

"Langit bergoncang, bumi bergetar, mata 'mengalirkan air darah, rembulan guram. Sekali masuk ke Ban-be-tong. jangan harap pulang ke kampung halaman."

Setelah lohor, sesudah hujan reda cuaca cerah, langit membiru.

Yap Kay sedang mengetuk pintu tempat tinggal Pho Ang-soat.

Sejak pagi hari ini, sudah tiada seorang pun yang pernah melihat bayangan Pho Ang-soat lagi, setiap orang yang menyinggung tentang si timpang yang bermuka pucat ini, pasti menunjukkan mimik yang aneh, seolah-olah dia melihat seekor ular berbisa.

Peristiwa Pho Ang-soat membunuh Kongsun Toan, tentunya sudah tersiar luas di seluruh pelosok kota.

Tidak ada reaksi dari dalam pintu sempit itu, tapi dari pintu sebelah yang sama sempitnya, tibatiba menongol keluar kepala seorang nenek, dengan sorot mata curiga dan takut-takut mengawasi Yap Kay.

Kulit mukanya penuh dihiasi keriput, kulitnya sudah kering-kerontang.

Yap Kay tahu nenek ini adalah pemilik rumah yang disewakan ini, dengan senyum di kulum segera dia bertanya.

"Dimana Pho-kongcu?"

Nenek itu tertawa pula. Agaknya dia memang jarang marah. Tiba-tiba berkata pula nenek itu.

"Jika kau mencari si timpang yang pucat itu, dia sudah pindah."

"Sudah pindah? Kapan dia pindah?"

"Selekasnya dia akan pindah."

"Darimana kau tahu dia akan pindah."

"Karena rumahku sekali-kali tidak akan kusewakan pada seorang pembunuh."

Yap Kay akhirnya mengerti.

Bagi setiap insan yang berbuat salah terhadap Ban-be-tong, maka dia sulit untuk menetap di kota kecil di pegunungan ini.

Tanpa bicara lagi Yap Kay segera berlalu meninggalkan gang sempit ini.

Tak nyana nenek itu ternyata membuntutinya, katanya.

"Tapi kalau kau tidak punya tempat tinggal, aku boleh menyewakan kamar itu kepadamu."

Yap Kay tertawa, katanya.

"Darimana kau tahu bila aku ini bukan seorang pembunuh?"

"Kau tidak mirip pembunuh."

Tiba-tiba Yap Kay menarik muka, katanya.

"Kau keliru, bukan saja aku pernah membunuh orang, malah sudah tujuh delapan puluh orang yang menjadi korban."

Nenek itu gelagapan dan menyurut mundur dengan muka ketakutan.

Lekas sekali Yap Kay sudah keluar dari gang sempit itu, dia mengharap selekasnya bisa menemukan Pho Ang-soat.

Tapi sebelum dia berhasil menemukan Pho Ang-soat, dia malah melihat Ting Kiu.

Ternyata Ting Kiu sedang duduk di bawah emperan rumah di seberang sana, tangannya menyungging cawan sedang minum teh panas.

Pakaian perlentenya itu terbungkus oleh seperangkat jubah hijau yang baru pula, sikapnya kelihatannya acuh tak acuh dan kurang bersemangat.

Pada saat itu dari ujung jalan raya sana tengah mendatangi seorang penggembala yang menggiring empat-lima ekor kambing dengan pelan-pelan.

Penggembala kambing ini mengenakan baju pendek yang terbuat dari kapuk, kepalanya mengenakan sebuah topi rumput.

Topi rumput yang lebar ini dia tarik ke bawah sampai amblas, karena batok kepalanya memang lebih kecil dari topi rumput itu.

Dengan menundukkan kepala, tangannya menenteng sebatang galah kecil, sementara mulutnya sedang berdendang dengan lagu-lagu gembala yang lincah dan gembira.

Di tanah pegunungan yang serba belukar dan serba kekurangan dari segala kebutuhan hidup ini, setiap laki-laki mengutamakan berburu binatang liar dengan memelihara burung elang atau menggembala sapi, hanya laki-laki yang tidak punya harga diri saja suka mengembala kambing, oleh karena itu bukan saja penggembala kambing selalu miskin, dia pun selalu menjadi cemoohan dan olok-olok orang lain.

Hakikatnya tiada seorang pun di tengah jalan raya itu yang sudi melirik atau menyapanya, agaknya penggembala kambing ini juga tahu diri, dia tidak berani berjalan di tengah jalan raya, hanya satu harapannya dalam mengerjakan tugasnya sehari-hari, yaitu selekasnya membawa kambing-kambingnya ini ke kandang.

Tak nyana di antara sekian banyak orang yang berada di sepanjang jalan raya ini, justru ada seseorang yang tengah mengawasi gerak-geriknya.

Begitu Ting Kiu melihat penggembala kambing ini mendatangi, sorot matanya seketika bersinar terang, seolah-olah duduk sejak tadi di warung minuman ini memang khusus sedang menunggu kedatangan orang.

Yap Kay pun sudah menghentikan langkahnya, dengan nanar dia mengawasi penggembala kambing ini, lalu beralih pandang ke arah Ting Kiu pula.

Ternyata biji matanya pun bersinar terang.

Jalan raya masih basah oleh genangan air.

Baru saja penggembala kambing ini berkisar melewati genangan air, dia lantas melihat Ting Kiu dengan langkah lebar memapak ke hadapannya dan menghadang jalan.

Tanpa mengangkat kepala segera dia berkisar hendak lewat dari samping Ting Kiu.

Penggembala kambing biasanya penakut.

Siapa tahu Ting Kiu agaknya memang sengaja hendak cari perkara padanya, katanya tiba-tiba.

"Sejak kapan kau belajar jadi penggembala?"

Penggembala itu melengak, sahutnya gemetar.

"Sejak kecil aku sudah mempelajarinya."

"Memangnya waktu di Bu-tong-san kau hanya belajar menggembala kambing?"

Kembali penggembala itu melengak, akhirnya dia mengangkat kepala pelan, dua kali dia melirik kepada Ting Kiu, katanya.

"Aku tidak kenal dengan kau."

"Aku sebaliknya mengenalmu."

"Agaknya kau salah mengenali orang."

"Orang she Loh, Loh Loh-san, umpama kau sudah berubah jadi abu, aku tetap mengenalmu. Kali ini kemana pula kau hendak melarikan diri?"

Apa benar penggembala kambing ini Loh Loh-san? Sekian lamanya dia mcnepekur, lalu katanya menghela napas.

"Umpama kau mengenalku, aku tetap tidak mengenalmu."

Ternyata dia memang Loh Loh-san.

Ting Kiu tertawa dingin, tiba-tiba dia merenggut jubah hijau yang menutupi pakaian aslinya yang mewah menyala itu, serta punuk di punggungnya, gamblang sekali punggungnya itu bergambar naga emas dengan kelima jari kakinya.

"Kim-pwe-tho-liong?"

Loh Loh-san berteriak terkejut.

"Ternyata kau masih mengenalku."

"Untuk apa kau mencariku?"

"Untuk membuat perhitungan."

"Membuat perhitungan apa?"

"Perhitungan lama, sepuluh tahun yang lalu, memangnya kau sudah lupa?"

"Melihatmu pun aku belum pernah, perhitungan lama darimana?"

"Hutang darah tujuh belas jiwa, jangan harap kau bisa mungkir, serahkan jiwamu!"

"Orang ini gila, aku ...."

Ting Kiu tidak memberi kesempatan Loh Loh-san banyak bicara lagi, serempak kedua tangannya terkembang, tahu-tahu dia sudah mengeluarkan seutas cambuk emas lima kaki panjangnya.

Sinar emas bertaburan laksana naga emas sedang menari-nari dengan lincahnya, dengan deru angin yang kencang menyapu ke arah pinggang Loh Loh-san.

Sambil berkelit memiringkan badan, Loh Loh-san merenggut baju pendek yang terbuat dari kulit domba itu, bagai segumpal awan terus ditebarkan ke depan, bentaknya.

"Tunggu dulu!"

Ting Kiu tak menghiraukan seruannya, cambuk emasnya beruntun sudah berubah empat jurus serangan.

Loh Loh-san membanting kaki, kedua tangannya cepat memelintir baju kulit kambingnya, ternyata dia gunakan senjata lemas pula.

Inilah kepandaian sejati dari aliran dalam Bu-tong-pay yang bisa mengkhususkan sesuatu benda lemas yang dipelintir atau dibasahi untuk menjadi tongkat lemas.

Bagi orang yang sudah melatih sempurna kepandaian ini, benda apa pun bila berada di tangannya, bisa dia gunakan sebagai gaman untuk membela diri Dalam sekejap kedua pihak sudah bergebrak belasan jurus di jalan raya yang becek tergenang air itu.

Yap Kay menonton dari kejauhan, tiba-tiba dia menemukan dua hal.

Seorang setan arak yang tulen tidak mungkin bisa menjadi tokoh silat kosen dari Bu-lim, Loh Loh-san, hanya meminjam arak untuk pura-pura gila, ternyata orang memang sengaja berpura-pura untuk mengelabui pandangan orang, yang terang dia sebenarnya jauh lebih sadar dari siapa pun.

Akan tetapi naga-naganya dia memang betul-betul tidak kenal atau salah mengenali orang, memangnya apakah sebetulnya yang telah terjadi?

Yap Kau menerawang sebentar, kejap lain ujung mulutnya sudah menyungging senyum, mendadak dia merasa kejadian ini amat menggelikan.

Akan tetapi sesungguhnya hal ini tidak perlu dibuat geli.

Mati sekali-kali bukan kejadian yang menggelikan.

Kepandaian silat Loh Loh-san amat mahir dan matang, lucu Jenaka, ahli, meski serangannya tidak gencar dan ganas, terang tidak menunjukkan lubang kelemahan.

Tapi entah lantaran apa tiba-tiba dia toh menunjukkan suatu gerakan aneh yang menunjukkan lubang kelemahannya.

Suatu lubang kelemahan yang fatal dan menamatkan riwayatnya.

Orang semacam dia hakikatnya tidak pantas menunjukkan lubang kelemahan seperti itu, tangannya seolah-olah mendadak menjadi kaku dan kejang.

Dalam selikas itulah.

Yap Kay sudah melihat sorot matanya Mendadak sorot matanya menampilkan rasa gusar dan ketakutan yang luar biasa, lalu melototlah kedua biji matanya seperti biji mata ikan emas.

Cambuk emas Ting Kiu ternyata sudah membelit lehernya seperti naga berbisa yang ganas.

"Krak" , tulang lehernya patah terjirat cambuk dengan kerasnya. Ting Kiu mendongak sambil terloroh-loroh, serunya.

"Hutang darah bayar darah, akhirnya aku berhasil menuntut balas perhitungan lama ini."

Di tengah gelak tawanya, tiba-tiba badannya melejit mundur terus bersalto ke belakang di tengah udara, tiba-tiba bayangannya sudah menghilang di balik wuwungan rumah penduduk.

Tinggal Loh Loh-san yang rebah di dalam genangan air dengan kepala tertekuk lemas ke belakang, biji matanya melotot besar dan kaku.

Kelihatannya sekarang berubah pula seperti laki-laki setan arak yang tengah mabuk dan pulas di tengah jalan raya.

Tiada orang yang mendekati, tiada orang yang bersuara.

Siapa pun bila melihat seseorang yang semula segar-bugar mendadak menggeletak mampus begitu saja, persaan hatinya tentu tidak tenteram.

Tauke toko kelontong berdiri di depan tokonya, kedua tangan memeluk perut, seakan-akan merasa mual hendak muntah-muntah.

Matahari kembali terbit.

Cahayanya yang segar menyinari mayat Loh Loh-san, menyoroti noktah-noktah darah yang baru saja mengalir dari hidung, kuping dan matanya.

Lekas sekali darah itu sudah kering.

Pelan-pelan Yap Kay maju menghampiri, berjongkok, mengawasi mimik mukanya yang berubah sedemikian seram menakutkan, katanya seperti berdoa.

"Betapapun kami pernah berkenalan, masih ada pesan apa pula yang ingin kau sampaikan kepadaku?"

Sudah tentu tiada. Orang yang sudah mati masakah bisa bicara memberi pesan apa-apa? Yap Kay justru mengulurkan tangan menepuk pundaknya, katanya.

"Kau tak usah kuatir, ada orang yang akan membereskan jenazahmu, aku pun akan mengumpulkan beberapa cangkir arak untuk menyirami pusaramu."

Dengan menghela napas, pelan-pelan dia berdiri Maka dia pun melihat Siau Piat li.

Ternyata Siau Piat-li juga berjalan-jalan di luar, dengan kedua tangan dia memegangi tongkatnya untuk jalan, berdiri tenang di bawah emperan sana.

Kelihatannya raut mukanya jauh lebih pucat dari Pho Ang-soat di bawah sinar matahari.

Memangnya sepanjang tahun dia jarang terjemur sinar surya.

Yap Kay langsung menghampirinya, katanya setelah menghela napas.

"Aku tidak suka melihat orang membunuh orang, namun justru sering aku melihatnya."

Siau Piat-li diam saja, sikapnya seperti ikut berduka, lama juga baru dia bersuara.

"Aku justru sudah tahu bila dia akan berbuat demikian, sayang sekali aku tidak sempat menasehatinya."

Yap Kay manggut-manggut, katanya.

"Loh-toasiansing memang mati terlalu cepat."

Tiba-tiba terangkat kepalanya, tanyanya.

"Kau baru saja keluar."

"Seharusnya sejak tadi aku sudah keluar."

"Barusan aku sedang bicara dengan dia, ternyata tidak kulihat kau keluar "

"Dengan siapa kau bicara?"

"Loh-toasiansing "

Siau Piat-li menatapnya lekat-lekat, lama juga baru dia berkata pelan-pelan.

"Orang mati tidak bisa bicara."

"Bisa saja."

Mimik muka Siau Piat-li berubah amat aneh, serunya.

"Orang mati juga bisa berbicara?"

"Cuma apa yang dikatakan orang mati, jarang ada orang bisa mendengarkan."

"Kau bisa mendengarkan?"

"Bisa."

"Apa saja yang dia katakan?"

"Katanya kematiannya terlalu penasaran."

"Dimana letak penasarannya?"

"Katanya Ting Kiu sebetulnya takkan mampu membunuhnya."

"Tapi kenyataan dia mampus di bawah cambuk emas Ting Kiu."

"Karena ada orang dari samping yang membokongnya secara gelap."

"Ada orang membokong dia? Siapa?"

Yap Kay menghela napas, tiba-tiba dia ulurkan telapak tangannya yang terbuka di hadapan Siau Piat-li.

Tepat di telapak tangannya ternyata terdapat sebatang jarum.

Jarum yang berwarna hijau keputihan ujung jarum masih berlepotan darah.

"Toan-yang-ciam?"

Teriak Siau Piat-li tertahan.

"Ya, inilah Toan-yang-ciam (jarum pemutus usus)"

"Kalau begitu Toh-popo memang sudah berada di sini "

"Malah sudah lama dia berada di sini."

"Kau sudah melihatnya?"

"Bila Toan-yang-ciam Toh-popo disambitkan. kalau ada orang dapat melihatnya, sia-sialah dia dipanggil Toh-popo."

Siau Piat-li mandah menghela napas saja.

"Tapi aku tahu bila dia tidak menyembunyikan diri di dalam Ban-be-tong."

"Darimana kesimpulanmu ini?"

"Karena dia menetap di dalam kota ini, bukan mustahil nenek yang sedang menggendong orok itulah "

Berubah air muka Siau Piat-li, dia sudah melihat seorang nenek sedang menyeberang jalan sambil menggendong seorang bocah.

"Kalau Toan-yang ciam sudah berada di sini, Bu-kut-coa pasti juga tidak jauh."

"Memangnya selama ini dia menyembunyikan diri di dalam kota ini?"

"Amat mungkin."

"Masakah belum pernah kudapati dalam kota ini adanya tokoh Bu-lim yang begitu kosen?"

"Memangnya tokoh silat sejati tidak gampang memperlihatkan wujudnya, bukan mustahil Tauke toko kelontong itulah orangnya "

Sambil mengawasi Siau Piat-li tiba-tiba dia tertawa pula, sambungnya dengan kalem.

"Kemungkinan pula kau adanya."

Siau Piat-li ikut tertawa.

Di bawah sinar matahari, senyum tawanya kelihatan seperti menghina dan merendahkan.

Maka pelan-pelan dia membalik badan, pelan-pelan kembali ke dalam.

Bila melihat senyuman orang, Yap Kay bisa lupa bahwa laki-laki cacad yang satu ini kesepian, sebatangkara.

Tapi yang terlihat oleh Yap Kay sekarang adalah bayangan punggungnya.

Bayangan seorang yang kurus, cacad dan terasing dari pergaulan umum.

Tiba-tiba Yap Kay memburu maju menarik lengannya, katanya.

"Kapan kau pernah keluar, hayolah aku ingin mentraktir kau minum."

Agaknya Siau Piat-li amat heran dan kaget, tanyanya.

"Kau hendak mentraktir aku minum?"

"Memangnya kapan aku pernah mentraktir orang minum."

"Mau minum dimana?"

"Kemana saja bolehlah, asal tidak di dalam rumahmu."

"Kenapa?"

"Arak dalam rumahmu terlalu mahal."

"Tapi di rumahku kau boleh teken bon."

Yap Kay terbahak-bahak, serunya.

"Kau sedang memancing dan memincut aku?"

Boleh teken bon, istilah ini memang suatu pancingan yang tak terlawankan oleh setiap orang yang sedang kantong kosong. Siau Piat-li tersenyum, katanya.

"Aku hanya sedang mencari langganan saja."

"Kadang kala kau memang mirip seorang pedagang."

"Memangnya aku ini seorang pedagang."

Dengan tersenyum Siau Piat-li memandang Yap Kay, katanya lebih lanjut.

"Sekarang kau mau mengajak aku minum dimana? Menurut pendapatku tempat dimana kau boleh teken bon terhitung tempat paling murah menjual barang-barangnya, tempat minum arak adalah tempat yang paling kusenangi."

"Lalu bagaimana bila tiba saatnya kau melunasi bon itu?"

Tanya Siau Piat-li.

"Meski cukup menyebalkan dan menjengkelkan bila tiba saatnya harus membayar, tepi itu urusan kelak, apakah aku masih hidup masih merupakan pertanyaan bagiku sendiri."

Sambil tersenyum segera Yap Kay membuka pintu, membiarkan Siau Piat-li masuk lebih dulu.

Tapi dia sendiri tetap berdiri di tempatnya tidak ikut masuk.

Karena pada saat itu pula, dia melihat Cui-long.

Dengan kepala tertunduk Cui-long sedang beranjak di bawah emperan rumah ke arah dirinya.

Kenapa semalam dia menghilang?

Kemana saja selama ini?

Darimana pula dia sekarang?

Sudah tentu tak tertahan lagi Yap Kay hendak menghujani pertanyaan ini, seolah-olah dia pernah melihat kehadiran Yap Kay di depannya.

Sebaliknya seorang yang lain sedang mengawasi Yap Kay.

Pho Ang-soat.

oo Akhirnya Pho Ang-soat muncul kembali.

Baru saja jari-jari tangan Yap Kay terulur hendak menarik Cui-long, matanya kebetulan melihat Pho Ang-soat.

Orang mengawasi jari tangan Yap Kay, sinar matanya yang dingin diliputi kemarahan, kulit mukanya yang pucat sudah merah membara.

Pelan-pelan Yap Kay menarik tangannya, kembali dia mendorong daun pintu, sehingga Cui-long berkesempatan masuk ke dalam.

Setelah berada di dalam baru Cui-long berpaling sambil mengunjuk senyuman manis kepadanya, seakan baru sekarang baru dia melihat dirinya di sini.

Yap Kay justru rada sukar tertawa, karena Pho Ang-soat masih menatapnya, warna matanya mirip benar dengan suami yang sedang mengawasi gendak istrinya.

Yap Kay mengawasinya, lalu berpaling mengawasi Cui-long, sungguh dia tidak habis mengerti apa yang telah terjadi.

Tapi bukankah banyak kejadian aneh yang mengherankan di dunia ini?

Bukankah setiap malam mungkin saja terjadi hal-hal seperti ini?

Yap Kay tertawa, katanya.

"Aku sedang mencarimu."

Lama juga Pho Ang-soat menatapnya, baru sahutnya dingin.

"Kau punya urusan?"

"Ada sebuah barang yang ditinggalkan untuk kau."

"O!"

"Kau sudah membunuh Kongsun Toan?"

"Sejak mula aku memang sudah harus membunuhnya."

"Inilah berita undangan duka citanya."

"Berita duka cita?"

"Kau membunuhnya, pada hari upacara penguburannya, Ban-be-tong-cu justru mengundangmu untuk minum arak, coba katakan bukankah amat aneh kejadiannya."

Pho Ang-soat mengawasi secarik kertas yang diangsurkan kepadanya, sorot matanya seperti memancarkan perasaan yang aneh, katanya kemudian.

"haik sekali, memang amat aneh dan lucu."

Yap Kay mengawasi mata orang, katanya kalem.

"Tentunya kau pasti akan hadir."

"Kenapa?"

"Karena hari itu pasti amat ramai."

Tiba-tiba Pho Ang-soat mengangkat kepala, katanya menatapnya.

"Agaknya kau amat prihatin terhadap urusanku."

"Mungkin karena aku ini memang orang yang suka usil."

"Tahukah kau kenapa Loh Loh-san menjadi korban pula?"

"Tidak tahu."

"Lantaran dia terlalu usil dan suka turut campur urusan orang lain."

Tanpa melirik pula kepada Yap Kay, pelan-pelan dengan berjalan dari samping Yap Kay, langsung menuju ke tengah jalan.

Jalan masih tergenang air.

Kaki kiri Pho Ang-soat melangkah dulu setindak, kaki kanan baru ikut terseret maju ke depan.

Gaya jalannya aneh dan menggelikan.

Hari ini di saat dia menyeberang jalan, banyak orang mengawasi kakinya.

Tapi sekarang keadaan jauh berbeda, biasanya orang-orang di jalan mengawasi tangannya, tangan yang mencekal golok.

Golok yang sudah membunuh Kongsun Toan.

Setiap sorot mata orang yang memandangnya menampilkan rasa permusuhan.

"Sekarang seluruh penduduk kota tahu bila kaulah musuh umum Ban-be-tong, pasti takkan ada seorang pun yang menganggapmu sebagai teman."

"Kenapa?"

"Karena penduduk kota ini paling tidak separo di antaranya hidup mengandalkan Ban-be-tong. Maka sejak kini kau harus hati-hati, sampai pun minum secangkir air pun kau harus hati-hati" , itulah kata-kata Sim Sam-nio yang ditujukan kepada dirinya. Sungguh dia tak habis mengerti, kenapa perempuan ini begitu besar perhatiannya terhadap dirinya. Hakikatnya dia tidak kenal siapa perempuan ini, dia hanya tahu orang adalah teman karib Cui-long, dia adalah bini atau peliharaan Ban-be-tong-cu. Bagaimana mungkin Cui-long bersahabat dengan perempuan seperti itu? Dia tidak mengerti. Entah lantaran apa setiap berhadapan dengan perempuan ini dia seperti merasa sebal dan membencinya, besar harapannya supaya orang lekas menyingkir saja. Akan tetapi orang justru tidak bisa menyelami perasaan hatinya. Lama juga mereka berputar-putar di tengah padang rumput, besar harapan di sana mereka menemukan suatu tempat yang tenteram dan tenang, duduk berhadapan dengan Cui-long. Siapa pun sukar diberi pengertian bahwa untuk pertama kali inilah dia membunuh orang selama hidupnya, mungkin Kongsun Toan sendiri pun takkan mau percaya. Tapi memang kenyataan baru pertama kali ini dia membunuh orang. Waktu dia mencabut pedangnya dari perut Kongsun Toan, tak tertahan dia sampai muntahmuntah, memang siapa pun sukar memahami perasaan hatinya, sampai pun dia sendiri pun sulit memahami sepak terjang dirinya sendiri. Melihat seseorang yang semula segar-bugar tiba-tiba roboh menjadi mayat di depanmu, bukanlah suatu kejadian yang menggembirakan. Sebetulnya dia tidak ingin membunuh orang, namun dia dipaksa untuk membunuhnya. Tiada salju, hanya ada pasir. Merah Salju. Darah segar ikut menyembur keluar waktu goloknya dicabut, membasahi pasir kuning. Lama juga dia berlutut di atas pasir sambil tumpah-tumpah, sampai darah sudah kering, baru dia bisa berdiri pula. Waktu dia berdiri baru dia sadar bahwa Sim Sam-nio tengah mengawasinya, mengawasinya dengan pandangan yang aneh sekali, entah karena simpatik? Menghina? Memandang rendah atau merasa kasihan? Peduli apa pun, yang terang dia tidak bisa menerimanya! Tapi dia justru bisa menahan diri karena caci-maki, penghinaan dan kemarahan orang lain. Dia sudah biasa. oo Pho Ang-soat menegakkan badan, pelan-pelan dia menyeberang jalan. Kini yang terpikir hanya ingin tidur, tidur menunggu kedatangan Cui-long. Setelah tiba di luar kota, Sim Sam-nio baru berpisah dengan mereka. Dia tidak bertanya orang mau pergi kemana, hakikatnya dia memang tidak ingin melihatnya lagi. Tapi dia justru menarik Cui-long, kembali mereka kasak-kusuk. Tak lama kemudian Cui-long pun kembali.

"Biar aku pulang membereskan barang-barangku, lalu mencarimu, aku tahu. Sudah tentu Pho Ang-soat tidak pernah menduga si 'dia' sebenarnya bukan Cui-long, tapi adalah Sim Sam-nio yang dibencinya ini. Mungkin takkan ada orang tahu akan rahasia ini. BAB 17. NENEK MISTERIUS Kertas merah pengumuman itu masih merekat di dinding di ujung gang. Waktu Pho Ang-soat menuju ke sana, maka dia pun melihat nenek yang ubanan itu tengah berdiri menghadang di tengah gang sempit itu, sepasang matanya selincah kelinci sedang menatap dirinya dengan diliputi rasa benci. Agaknya nenek ini juga bukan teman karibnya.

"Maaf, sukalah memberi jalan,"

Pinta Pho Ang-soat.

"Kenapa aku harus memberi jalan?"

"Aku hendak pulang."

"Kabarnya kau mencela tempatku ini tidak baik, sekarang sudah pindah, kenapa kembali lagi?"

"Siapa bilang aku sudah pindah?"

"Aku yang bilang."

"Siapa yang bilang aku mencela tempat ini terlalu kotor?"

"Bukan kau mencela tempat ini kotor, tempat inilah yang mencelamu kurang baik."

Akhirnya Pho Ang-soat tahu dan dapat meraba juntrungan kata-kata si nenek, maka sepatah kata pun dia tidak bersuara lagi, memangnya tidak perlu dibicarakan lagi.

"Buntalanmu sudah kukirim ke toko kelontong di sebelah, sembarang waktu kau boleh pergi mengambilnya."

Pho Ang-soat manggut-manggut.

"Dan uang ini, boleh kau simpan untuk membeli peti matimu sendiri."

Memangnya dia sudah menggenggam sekeping uang perak, kini tiba-tiba dia timpukkan dengan sekuat tenaganya.

Terpaksa Pho Ang-soat harus mengulur tangan menyambuti.

Tapi dia batal menangkap uang itu.

Karena begitu uang itu melesat terbang dari telapak tangan si nenek, mendadak terpukul balik pula oleh sesuatu benda.

Soalnya uang perak itu mendadak melayang turun, sebuah benda memukulnya balik, kalau tidak, umpama jiwa Pho Ang-soat tidak ajal, maka lengannya itu yang harus dipotong menjadi cacad buntung pula.

Kini puluhan jarum itu tiba-tiba terpukul balik mengarah ke nenek yang menyambitnya malah.

Tak terkira nenek tua renta yang jalannya harus merambat tembok ini, tiba-tiba badannya melenting tinggi ke tengah udara terus bersalto dan lenyap di balik wuwungan.

Jejak penyamaran sudah ketahuan, maka dia sudah siap melarikan diri.

Siapa tahu seseorang justru sudah menunggunya di atas wuwungan.

Entah sejak kapan tahu-tahu Yap Kay sudah melejit naik ke atas wuwungan rumah pula, dia sedang berdiri menggedong kedua tangannya, tersenyum mengawasi si nenek yang coba melarikan diri ini.

Seketika berubah air muka si nenek, sepasang biji matanya yang jelilatan licin menampilkan rasa ketakutan.

Matanya tidak buta, sudah tentu dia cukup tahu bila Yap Kay bukan seorang yang gampang diingusi dan dihadapi.

"Nenek,"

Sapa Yap Kay tertawa.

"bagaimana kau berubah menjadi begini muda?"

Nenek itu tertawa kering dua kali, katanya.

"Bukan menjadi muda, yang benar tulangku jadi ringan, begitu melihat kau si ganteng ini tulangku lantas berubah menjadi ringan sekali."

"Kabarnya bila orang tua menghirup darah orang, usianya bisa menjadi muda kembali."

"Kau ingin supaya aku menghirup darahmu?"

"Bukankah tadi kau sudah menghirup darah Loh Loh-san?"

Nenek itu menyeringai iblis, katanya.

"Kakek tua bangka itu darahnya terlalu banyak mengandung alkohol, lebih baik kalau minum darahmu saja."

Di mana tangannya terayun, dari dalam lengan bajunya tiba-tiba terbang keluar dua utas benang perak, bagai ular beracun yang ganas tahu-tahu menjerat leher Yap Kay Senjata yang digunakan amat aneh dan jarang terlihat, keji dan jahat lagi.

Tapi seakan-akan Yap Kay justru seorang ahli dalam menghadapi berbagai alat senjata yang serba keji dan jahat ini.

Entah bagaimana dia bergerak, tiba-tiba badannya berkisar, seperti merogoh keluar sesuatu benda kehitam-hitaman dari lengan bajunya.

"Ting" , seketika dua utas benang perak itu lenyap tak berbekas. Jari-jari tangan si nenek yang kaku dan runcing laksana cakar burung itu seketika kaku mengejang. Yap Kay kembali menggendong kedua tangannya, berdiri di tempat semula dengan tersenyum simpul, katanya.

"Kau masih punya mainan apalagi, kenapa tidak kau keluarkan seluruhnya, biar aku berkenalan dengan kelihaianmu."

Menatapnya lekat-lekat nenek itu berkata dengan suara serak.

"Kau ... siapakah kau sebenarnya?"

"Aku she Yap, bernama Yap Kay,"

Sahutnya tertawa.

"Yap berarti daun pohon, Kay atau Kaysim berarti riang gembira. Sayang sekali bila hatiku riang, maka kau pasti takkan bisa gembira."

Tanpa bicara lagi, tiba-tiba nenek ini mengenjot kaki, badannya melejit ke tengah angkasa terus bersalto ke belakang sejauh tiga empat tombak.

Siapa tahu baru saja badannya meluncur turun dan tancap kaki, tahu-tahu dilihatnya Yap Kay sudah berdiri di depannya dengan tersenyum sambil menggendong tangan, senyum tawanya itu laksana seekor rase kecil.

Nenek ini menghela napas, serunya.

"Bagus, Ginkang yang hebat!"

"Bukan Ginkang yang bagus, cuma tulangku yang lebih ringan."

Si nenek tertawa getir, katanya.

"Agaknya tulangmu memang jauh lebih ringan dari punyaku."

Belum lagi ucapannya ini selesai dikatakan, jari-jari tangannya yang bagai cakar burung itu tibatiba merangsek empat jurus ke arah Yap Kay.

Jurus permainannya ini juga teramat aneh, ganas dan culas.

Tapi Yap Kay justru seorang ahli dalam menghadapi berbagai serangan keji dan culas.

Bukan saja gerak permainannya tidak aneh dan luar biasa, juga tidak seperti orang mau sulapan.

Cuma amat cepat, begitu cepatnya sehingga orang sulit membayangkan gerakannya.

Baru saja kedua tangan si nenek bergerak, seketika dia merasakan sesuatu benda tahu-tahu menggaris pada urat nadinya, selanjutnya kedua tangannya itu lantas menjuntai turun lemaslunglai, tak mampu bergerak lagi.

Yap Kay tetap berdiri di tempatnya dengan menggendong tangan, seolah-olah tidak pernah bergerak dan tidak terjadi apa-apa, senyum tawanya lebih riang dari tadi.

Namun harus disayangkan bila hatinya sedang riang, maka orang lain justru tak bisa bergembira.

Si nenek menarik napas panjang, katanya.

"Aku pun tidak kenal kau, kenapa kau harus bermusuhan dengan aku?"

"Siapa bilang aku hendak bermusuhan dengan kau?"

"Memangnya apa kehendakmu?"

"Tidak lain hanya ingin mentraktir kau minum arak saja."

Nenek ini melengak.

"Mentraktir minum arak?"

"Biasanya jarang aku sudi mentraktir orang minum arak, jangan kau sia-siakan kesempatan baik ini."

Si nenek mengertak gigi, katanya.

"Kemana minumnya?"

"Sudah tentu di warung Siau Piat-li, di sana aku boleh teken bon"

Tangan Pho Ang-soat masih menggenggam goloknya dengan kencang.

Dia tetap berdiri di tempatnya semula dengan gaya tetap tak berubah, bergeming pun tidak.

Tapi kulit mukanya yang pucat kini sudah membara saking bergejolak sanubarinya.

Si nenek melompat turun dari wuwungan rumah, menundukkan kepala, pelan-pelan lewat di samping orang.

Melirik pun Pho Ang-soat tidak kepadanya, tiba-tiba dia berseru.

"Tunggu!"

Maka nenek itu lantas berhenti menunggu,, agaknya dia berubah begitu mendengar katakatanya.

"Aku sudah pernah membunuh orang,"

Kata Pho Ang-soat. Si nenek mendengarkan.

"Tak jadi soal bagiku untuk membunuh lebih banyak satu jiwa."

Tangan si nenek sudah gemetar. Yap Kay sudah beranjak mendatangi, katanya dengan tersenyum.

"Membunuh orang seperti orang minum arak, hanya tegukan pertama yang sulit tertelan, kalau kau sudah menghabiskan cangkir pertama, berapa cangkir pula akan kau habiskan sudah tidak menjadi halangan, cuma...."

"Cuma bagaimana?"

Tanya Pho Ang-soat.

"Membunuh orang seperti orang minum arak, kalau terlalu banyak kau minum, kau akan ketagihan dan jadi tuman."

Sambil mengawasi Pho Ang-soat dia tertawa, katanya lebih lanjut.

"Lebih baik jangan kau tuman melakukan hal-hal seperti itu."

"Aku tidak ingin membunuhmu."

"Kau hendak membunuh dia?"

"Semula aku hanya membunuh dua macam orang, sekarang terpaksa bertambah semacam lagi."

"Macam bagaimana?"

"Orang yang ingin membunuhku."

Yap Kay manggut-manggut.

"Tadi dia ingin membunuhmu, sekarang kau hendak membunuhnya, memangnya suatu hal yang adil."

"Kau minggir."

"Aku boleh minggir, tapi kau tak boleh membunuhnya. Tahu tidak?"

"Kenapa?"

"Karena dia toh tidak betul-betul ingin membunuhmu."

Pho Ang-soat mendelik kepadanya, kulit mukanya yang pucat seolah-olah menjadi bening, lama juga baru dia berkata dengan tegas.

"Sebetulnya kau ini siapa?"

"Yang terang kau sendiri tahu aku ini orang apa, kenapa justru kau tanyakan hal ini kepadaku?"

"Aku ingin tahu lebih jelas, karena aku masih berhutang sesuatu kepadamu."

"Kau hutang apa kepadaku?"

"Hutang jiwa kepadamu,"

Mendadak Pho Ang-soat putar tubuh, katanya lebih lanjut dengan kalem.

"Cepat atau lambat aku harus membuat perhitungan kepadamu, sembarang waktu kau pun boleh minta kepadaku."

Kemudian kaki kirinya melangkah, kaki kanan lantas diseret ke depan.

Langkah kakinya sekarang kelihatan jauh lebih berat.

Tiba-tiba Yap Kay merasa bayangan punggung orang mirip benar dengan Siau Piat-li, kelihatan sama-sama kesepian, sebatangkara pula.

Malah kemungkinan keadaannya jauh lebih mengenaskan, karena dia hanya punya satu pilihan untuk menempuh arahnya.

Arah yang selamanya takkan berpaling kembali.

Ada arak di atas meja.

Yap Kay menuang secangkir penuh untuk Siau Piat-li, lalu menuang pula secangkir yang lain untuk si nenek, katanya tertawa.

"Bagaimana tempat ini?"

"Lumayan."

"Araknya?"

"Baik juga."

"Kalau begitu kau harus berterima kasih kepadaku."

"Berterima kasih kepadamu?"

"Kalau bukan aku, masakah kau bisa berada di sini minum arak."

"Kenapa tidak bisa?"

Yap Kay tertawa, katanya.

"Tempat ini adalah dunia laki-laki, Toan-yang-ciam Toh-popo meski seorang tokoh kosen Bu-lim yang menggetarkan dunia, tapi dia adalah seorang perempuan."

Nenek itu berkedip-kedip mata, katanya menegas.

"Aku ini Toh-popo?"

"Begitu melihat Loh Loh-san tersambit Toan yang ciam, aku lantas teringat kepadamu."

"Pandangan yang tajam,"

Puji si nenek sambil menghela napas.

"Tapi aku tiada maksud untuk menuntut balas kematiannya."

"Kau tidak bermaksud?"

"Karena orang yang benar-benar ingin membunuh Loh Loh-san bukan kau! Kalau tidak...,"

"Oh, kenapa?"

"Aku hanya ingin bertanya kepadamu, kenapa kau membunuh orang demi kepentingan Ban be tong?"

"Jadi orang yang betul-betul mau membunuh Loh Loh-san adalah Ban be tongcu?"

"Tentunya rekaanku tidak akan meleset."

"Jadi kau berpendapat bahwa aku membunuhnya untuk Ban be tongcu?"

Yap Kay manggut-manggut. Kata si nenek.

"Karena pada waktu itu aku pun berada di sana, dan lagi aku ini seorang nenek, maka aku ini pasti adalah Toh-popo (nenek she Toh)."

"Memangnya pengertian ini gampang diselami."

"Tentunya Toh-popo tidak mungkin seorang laki-laki."

"Sudah tentu bukan."

Mendadak nenek ini tertawa, tawanya amat aneh.

"Kau kira hal ini amat menggelikan"

"Hanya satu saja yang menggelikan."

"Satu yang mana?"

"Aku ini bukan Toh-popo."

"Kau bukan?"

"Menjadi Toh-popo memang tiada jeleknya, sayang sekali aku ini adalah seorang laki-laki tulen."

Keruan Yap Kay melenggong.

Si nenek yang disangkanya Toh-popo ini ternyata memang benar seorang laki-laki.

Dari mukanya dia mencopot sebuah kedok muka yang amat hidup dan bagus sekali buatannya, lalu pelan-pelan dia menanggalkan pakaian luarnya dan berdiri tegak.

Nenek yang semula sudah renta dan terbungkuk-bungkuk kini berubah jadi laki-laki pertengahan umur yang bertubuh kurus kering, siapa pun akan tahu bila orang ini adalah laki-laki tulen.

Baru sekarang Yap Kay tiba-tiba sadar bahwa pandangan matanya hakikatnya tidak setajam dan seahli seperti yang pernah dia bayangkan sendiri.

Kata orang itu dengan tersenyum.

"Apa perlu kau memeriksaku lagi, apa benar aku ini sebetulnya laki-laki atau perempuan?"

Yap Kay geleng-geleng kepala, katanya dengan apa boleh buat.

"Tak usahlah."

"Toh-popo tentunya tidak mungkin adalah seorang laki-laki"

"Sudah tentu bukan."

"Kalau begitu jadi aku ini terang bukan Toh-popo seperti yang kau sangka."

"Ya, kau memang bukan."

"Jadi kematian Loh Loh-san pun bukan karena aku yang membunuhnya."

Terpaksa Yap Kay harus mengakui ucapan orang, karena siapa pun tahu bahwa Toan yang ciam adalah senjata rahasia tunggal milik Toh-popo. Berkata pula laki-laki itu.

"Aku pun tidak benar-benar ingin membunuh Pho Ang-soat."

Kembali Yap Kay harus mengakui pula, karena sampai sekarang kenyataan Pho Ang-soat masih segar-bugar.

Orang itu menarik napas panjang, diangkatnya cangkir yang penuh arak, ditenggaknya habis, katanya tertawa.

"Memang arak bagus."

Setelah menghabiskan secangkir arak, dia berdiri terus beranjak pergi. Kembali terpancar rasa mencemooh dan hina pada sorot mata Siau Piat-li, katanya tersenyum.

"Lain kali harap sukalah datang pula."

Orang itu tertawa, ujarnya.

"Sudah tentu aku pasti datang, kabarnya di sini orang boleh teken bon, apalagi beberapa petak rumah bobrokku itu tak ada yang menyewanya."

Yap Kay tiba-tiba berseru memanggil.

"Sebun-jun."

Laki-laki itu segera berpaling.

Semula mukanya masih dihiasi senyuman, tapi begitu dia berpaling, air mukanya seketika berubah.

Kini ganti Yap Kay yang tersenyum senang, memang di kala hatinya riang, orang lain justru kebalikannya.

Agaknya laki-laki itu ingin tertawa pula, sayang sekali kulit daging mukanya seperti sudah kaku.

Kata Yap Kay tersenyum.

"Kalau arak ini memang bagus, kenapa Sebun-siangsing tidak mencicipinya lagi beberapa cangkir pula."

Laki-laki itu berdiri menjublek di tempatnya mengawasi dirinya sekian lama, katanya kemudian setelah menghela napas.

"Sekarang tentunya aku tidak perlu lagi bertanya kepadamu siapa kau sebenarnya."

"Ya, memang tidak perlu."

"Tapi aku ingin tanya kau, kau ini sebenarnya apakah manusia?"

Yap Kay tertawa lebar. Kembali dia yakin akan pandangan matanya yang tajam, ternyata memang tidak sejelek seperti yang sudah dia bayangkan. Katanya sambil tertawa.

"Murid-murid kesayangan Jian bin jin mo ternyata memang berkepandaian silat yang aneh dan ganas, begitu pula ilmu tata riasnya, sebetulnya aku takkan bisa melihat penyamaranmu."

Sebun Jun menghela napas, katanya.

"Sekarang kau sudah melihat kenyataan, toh belum terlambat juga."

"Sudah tentu Toh-popo pasti bukan seorang perempuan, tak mungkin pula menjelma jadi seorang nenek tulen, kalau tidak, orang lain masakah tidak bisa menebaknya dengan jitu?"

"Ya, masuk akal."

"Lalu siapakah dia sebenarnya?"

Siau Piat-li tiba-tiba tertawa, katanya tawar.

"Kemungkinan kau, kemungkinan pula aku."

"Mungkin juga memang ...."

Yap Kay termenung pula, tiba-tiba dia berjingkrak, serunya keras.

"Aku tahu sekarang, pasti dia itulah Toh-popo adanya."

Sebun Jun menghela napas pula, gumamnya.

"Sayang sekali baru sekarang kau paham, mungkin sudah terlambat."

Pelan-pelan Pho Ang-soat menghampiri terus masuk ke dalam toko kelontong.

Selamanya belum pernah dia masuk ke dalam toko kelontong ini, memang selama hidupnya belum pernah dia masuk ke toko kelontong di mana saja.

Memangnya dia sebenarnya bukan hidup di dunia yang fana ini, dia memiliki kehidupan dunianya sendiri.

Dalam dunianya itu hanya ada dendam, dendam sekali lagi dendam, tiada lainnya.

Li Ma-hou sedang mendekam di atas meja kasirnya, kembali dia sedang mendekam di atas meja kasirnya, kembali dia sedang mengantuk, seolah-olah sudah lama dia tidak pernah tidur nyenyak.

Pho Ang-soat langsung menghampiri, dengan gagang goloknya dia mengetok meja.

Li Ma-hou berjingkrak kaget dan sadar dari kantuknya, seketika dia melihat golok hitam di tangan Pho Angsoat.

Gagang dan sarung golok sama-sama hitam legam, tapi apakah tajam goloknya masih berlepotan darah!

Keruan pucat-pias selebar muka Li Ma-hou, teriaknya ketakutan.

"Kau ... apa yang kau inginkan?"

"Aku ingin minta kembali buntalanku."

"Buntalanmu ... oh, ya, di sini memang dititipi sebuah buntalan,"

Baru sekarang dia merasa lega, tersipu-sipu dia membuka laci serta mengangsurkan sebuah buntalan kain.

Sudah tentu Pho Ang-soat hanya menerimanya dengan sebelah tangan.

Sementara tangan yang lain masih kencang memegangi goloknya.

Kongsun Toan sudah ajal oleh golok ini, siapa lagi yang bakal menjadi korban kedua?

Mungkin dia sendiri pun tidak tahu.

Pelan-pelan dia membalik badan, tiba-tiba dilihatnya setumpukan telur di atas keranjang yang dijajakan, tanyanya tiba-tiba.

"Apa telur itu dijual?"

"Kau ingin beli?"

Pho Ang-soat manggut-manggut.

Mendadak dia sadar, lapar ternyata rasanya begitu menyiksa, suatu siksaan yang merupakan tekanan berat, lebih berat dari kobaran rasa dendamnya.

Sesaat Li Ma-hou mengawasinya, lalu geleng-geleng kepala, sahutnya.

"Tidak, telur itu tak kujual kepadamu."

Pho Ang-soat sudah tahu, semua pintu di dalam kota ini seolah-olah sudah tertutup rapat di hadapannya, demikian pula pintu toko kelontong ini.

Jika dia berkukuh dan berkeras hendak membelinya, sudah tentu tiada seorang pun yang bisa merintanginya.

Tapi dia bukan laki-laki macam begitu.

Sasaran utama untuk melampiaskan rasa marah hatinya jelas bukan kepada seorang nenek, juga bukan kepada Tauke toko kelontong ini.

Sinar bulan sudah guram, hembusan angin malam sudah terasa dingin.

Memangnya tiada sesuatu tempat lagi bagi dirinya di sini?

Dengan kencang dia cekal goloknya, mencekal buntalannya, memangnya dia sudah biasa hidup di dalam alam dunia yang lain.

Bagaimana pun sikap dan kelakuan orang-orang di dunia ini terhadapnya, dia tetap acuh tak acuh, dia tidak peduli kepada mereka.

Tak nyana Li Ma-hou justru menambahkan pula.

"Telur ini tidak kujual kepadamu, karena telur ini mentah, tentunya kau tidak makan telur mentah."

Pho Ang-soat menghentikan langkah, berdiri di tempatnya.

"Di belakang ada tungku, dalam tungku ada api, bukan saja bisa menggoreng telur, juga bisa menghangatkan arak,"

Demikian Li Ma-hou menambahkan.

"Berapa yang kau inginkan?"

Tanya Pho Ang-soat berpaling. Li Ma-hou tertawa.

"Ternyata Kongcu memang gampang mengerti, bolehlah dihitung dua belas tahil saja."

Dua belas tahil untuk sekali makan, sungguh tarip mahal yang menggorok leher pembelinya.

Tapi betapapun banyak kau memiliki uang perak juga tidak akan bisa mengisi perut, lapar justru merupakan siksaan yang tak tertahankan.

Li Ma-hou sedang menggoreng telur.

Nasi goreng telur.

Araknya sudah dihangatkan, masih terdapat semangkuk kecil acar dan kacang.

"Kacang dan acar ini gratis, arak pun boleh kau minum sepuasmu, silakan berapa banyak kau habiskan."

Tapi setetes arak pun Pho Ang-soat tidak meminumnya.

Karena begitu dia minum pasti mabuk, sekarang bukan saatnya minum arak.

Li Ma-hou mengantar sepiring nasi goreng telur ke atas meja, melihat arak dalam cangkirnya pula.

katanya dengan mengunjuk tawa.

"Toaya, anggap arak ini kurang enak?"

"Arak ini baik."

"Umpama tidak baik, bolehlah minum barang seteguk dua teguk untuk melepaskan lelah meringankan tekanan hati."

Pho Ang-soat sudah mulai makan.

Sedikit pun dia tidak takut bila nasi goreng itu beracun.

Cara untuk membedakan apakah di dalam sesuatu makanan ada dicampur racun ada tiga puluh enam macam banyaknya, paling tidak dia paham dua puluh macam di antaranya.

Soalnya bila dia sendiri tidak ingin melakukan sesuatu, tiada seorang pun yang kuasa memaksanya.

Sudah tentu Li Mahou bukan laki-laki yang suka memaksa orang melakukan keinginan dirinya.

Kalau Pho Ang-soat tidak mau minum, maka dia sendiri yang akan menenggaknya sampai habis.

Seteko arak yang dihangatkan tadi sekaligus dia tenggak habis, katanya tertawa getir.

"Bicara menurut isi hati, aku sering menjadi heran, kenapa sebanyak ini orang di dunia yang suka minum arak, arak sebetulnya jauh lebih sukar diminum dari obat racun "

"Kau tidak suka minum arak?"

Tanya Pho Ang-soat.

"Sebetulnya aku tidak pandai minum, sekarang juga aku sudah hampir mabuk."

Memang dia hampir mabuk, bukan saja kulit mukanya sudah merah legam, biji matanya pun sudah membara. Pho Ang-soat mengerut kening, tanyanya.

"Tidak bisa minum kenapa harus minum?"

"Arak ini sudah kupanasi, kalau tidak kuminum, besok akan rusak."

"Maka kau rela diri sendiri jatuh mabuk."

"Siapa pun bila dia ingin membuka toko kelontong, maka dia harus mempelajari satu hal."

"Hal apa?"

"Lebih baik diri sendiri yang rugi, jangan sekali-kali kau menyia-nyiakan barang yang dijajakan."

Sampai di sini Li Ma-hou menghela napas, katanya labih lanjut.

"Maka laki-laki yang tidak becus macamku ini saja yang rela membuka toko kelontong. Bukan saja tidak bisa mempersunting seorang istri, seorang teman pun dia tidak punya."

Pelan-pelan Pho Ang-soat sedang melalap nasi gorengnya, tiba-tiba dia menghela napas ringan, katanya.

"Kau salah."

"Bluk", Li Ma-hou jatuh terduduk di sampingnya, katanya.

"Dalam hal apa aku salah?"

"Hanya ada semacam orang di dunia ini yang tidak punya kawan."

"Orang macam apa dia?"

"Macam diriku ini."

Kepala Pho Ang-soat terangkat, seolah sedang menatap ke tempat jauh, seolah-olah kelihatan hambar kesepian.

Selamanya dia tidak punya teman, kelak mungkin takkan punya untuk selamanya.

Jiwa raganya seolah-olah sudah dia persembahkan demi dendam kesumat, dendam sakit hati yang takkan terlampias dan terbuka untuk selamanya.

Tapi dalam relung hatinya yang paling dalam, kenapa justru mengharap persahabatan yang simpatik?

Dengan biji matanya yang membara Li Ma-hou mengawasinya, tanyanya tiba-tiba.

"Yap-kongcu itu masakah bukan temanmu?"

"Bukan,"

Sahut Pho Ang-soat dingin.

"Tapi agaknya dia memandang kau sebagai teman karibnya"

"Itulah karena dia mempunyai ciri."

"Punya ciri?"

"Orang yang memandang diriku sebagai teman, otaknya pasti ada cirinya."

"Kalau begitu aku ini juga ada cirinya,"

Ujar Li Ma-hou.

"Kau?"

"Karena sekarang ini aku juga hendak bersahabat dengan kau."

Begitu mengoceh, lidahnya seolah-olah menjadi besar, memang cepat benar dia jatuh mabuk. Pho Ang-soat tiba-tiba meletakkan sumpit, katanya dingin.

"Nasi gorengmu ini memang tidak jelek rasanya."

Tanpa berpaling kepada Li Ma-hou, pelan-pelan dia berdiri memutar badan, karena dia tidak ingin orang melihat mimik mukanya.

Tapi Li Ma-hou justru masih mengawasinya, mengawasi punggungnya.

Tampak pundak orang sudah mulai mengkeret, agaknya perasaan hatinya tidak tenang.

Tiba-tiba terpancar cahaya aneh dari kedua biji mata Li Ma-hou, pelan-pelan dia mengulurkan tangan, seperti hendak menepuk pundaknya.

Tepat pada saat itulah, sekonyong-konyong selarik sinar dingin berkelebat.

Sebatang pisau tahu-tahu sudah menancap di atas punggung tangannya.

BAB 18.

PISAU TERBANG PENYELAMAT NYAWA Pisau sepanjang tiga dim tujuh mili.

Pisau terbang.

Begitu melihat pisau ini, selebar muka Li Ma-hou seketika berkerut-kerut mengejang.

Lalu orangnya pun roboh, seolah disambar petir yang tak bersuara.

Waktu dia roboh itulah sesuatu benda kebetulan terjatuh ke atas meja terlepas dari genggaman tangannya.

Sigap sekali Pho Ang-soat tiba-tiba membalik badan, maka dia pun melihat Yap Kay.

Dengan tersenyum Yap Kay tengah melangkah masuk.

Dia tidak membawa pisau.

Pho Ang-soat menatapnya, lalu mengawasi Li Ma-hou yang menggeletak di atas lantai, bentaknya bengis.

"Apa yang kau lakukan?"

Yap Kay mandah tertawa saja diperlakukan secara kasar.

Selalu dia suka tertawa untuk menjawab pertanyaan yang tidak perlu dia jawab.

Pho Ang-soat memang tidak perlu bertanya lagi, kini dia pun sudah melihat tiga batang jarum di atas meja.

Jarum yang mengkilap hijau keputihan.

Jarum inilah yang terjatuh dari jari-jari tangan Li Ma-hou.

Jika pisau itu tidak bertindak tepat pada waktunya, mungkin sekarang Pho Ang-soat sudah mirip Loh Loh-san rebah di tanah tanpa bernyawa lagi.

Apakah juragan toko kelontong yang biasanya bekerja secara sembrono ini adalah Toh-popo yang berhati kejam bertangan gapah itu.

Lama sekali Pho Ang-soat menggenggam kencang goloknya, waktu dia mengangkat kepala, dilihatnya Yap Kay tengah tersenyum kepadanya Mendadak Pho Ang-soat berkata dingin.

"Bagaimana kau tahu bila aku tidak akan bisa meluputkan diri dari bokongannya?"

"Aku tidak tahu,"

Sahut Yap Kay.

"Kenapa selalu kau berusaha menolong aku?"

"Siapa bilang aku menolong kau?"

"Lalu untuk apa kau kemari?"

"Tidak lebih aku hanya menyambitkan pisau mengarah punggung tangan orang ini, tangan miliknya, pisau milikku, dengan kau tiada sangkut-pautnya."

Terbungkam mulut Pho Ang-soat. Pelan-pelan Yap Kay maju menghampiri, menghirup napas dalam-dalam, lalu katanya dengan tersenyum.

"Agaknya nasi goreng ini memang lezat sekali, wangi memenuhi selera."

"Hm,"

Pho Ang-soat menggeram.

"Arak ini agaknya juga baik mutunya, sayang sekali sudah habis."

Baru saja Pho Ang-soat hendak buka suara, tiba-tiba Yap Kay sudah tertawa pula, katanya.

"Pisauku itu cukup tidak untuk menukar arak seharga seketip?"

Orang yang rebah di lantai diam saja tak bergerak, tiada ada yang menjawab.

"Kalau tidak cukup,"

Sela Pho Ang-soat.

"kau harus mengganti golokku ini."

Tetap tiada orang yang bersuara atau menjawab. Sambil menghela napas Yap Kay berjongkok menepuk pundak orang, katanya.

"Toh-popo aku sudah mengenalimu, buat apa kau ...."

Suaranya mendadak terputus, roman mukanya seketika menunjukkan keheranan dan terkejut, orang yang dia robohkan ini ternyata untuk selamanya takkan bangun lagi.

Kulit daging muka orang ini sudah mengkeret seperti karet yang kedinginan, kaki tangan pun sudah dingin kaku.

Pisau masih menancap di punggung tangannya.

Mengawasi muka itu, lalu mengawasi pisau itu pula, berkata Pho Ang-soat.

"Pisaumu beracun?"

"Tidak,"

Sahut Yap Kay.

"Kalau tidak beracun bagaimana orang ini bisa mampus?"

"Usianya agak terlalu tua, orang tua biasanya memang tak tahan kaget."

"Maksudmu dia mampus lantaran kaget dan ketakutan?"

"Punggung tangan bukan tempat vital, pisauku terang tidak beracun."

"Katamu dia ini adalah Toan-yang-ciam Toh-popo?"

"Kalau Bu kut coa (ulat tak bertulang) bisa menjadi nenek, kenapa loh-popo tidak boleh menjadi laki-laki?"

"Ya, aku pun tahu, orang macam apa sebenarnya Toh-popo itu."

"Memangnya kau harus tahu."

Pho Ang-soat tiba-tiba tertawa dingin, katanya.

"Orang seperti dia, masakah bakal mati ketakutan hanya oleh sebilah pisau sekecil itu?"

"Tapi kenyataan dia sudah mati"

"Sebetulnya pisau macam apakah itu?"

Yap Kay mandah tertawa.

Seperti biasa dia senang tertawa untuk menjawab pertanyaan yang tak perlu dia jawab.

Batang pisau ini tipis dan tajam luar biasa, memancarkan sinar kehijauan yang berkilauan.

Waktu dia mengawasi pisau ini, sorot matanya pun memancarkan cahaya.

Lama sudah baru dia bersuara kalem.

"Bagaimana pun juga, tidak bisa tidak kau harus mengakui bahwa kenyataan inilah sebatang pisau."

Lama juga Pho Ang-soat menepekur, katanya pelan-pelan kemudian.

"Sungguh tak nyana kau pun ahli menggunakan pisau."

Yap Kay tertawa pula.

"Selama ini belum pernah aku melihat kau membawa pisau."

"Memangnya pisauku tidak untuk dipertontonkan kepada orang."

Terpaksa Pho Ang-soat mengakui.

"Mungkin hanya pisau yang tidak kelihatan saja baru merupakan pisau yang paling menakutkan."

"Tiada pisau yang tidak kelihatan di dunia ini,"

Jengek Pho Ang-soat. Dengan memicing Yap Kay mengawasi pisau di tangannya, katanya kalem.

"Mungkin kau bisa melihatnya, tapi bila kau benar-benar sudah melihatnya, mungkin saat itu sudah terlambat."

Pisau yang dapat membuat orang mati ketakutan, biasanya memang sebilah pisau yang tak kelihatan.

Karena begitu kau dapat melihatnya, segalanya sudah terlambat.

Tahu-tahu pisau itu sudah tak terlihat lagi.

Mendadak pisau di tangan Yap Kay itu sudah lenyap, seperti dia pandai main sulap saja.

Pho Ang-soat tertunduk, mengawasi golok di tangannya, sorot matanya menampilkan perasaan yang aneh sekali.

Akhirnya dia paham apa yang dimaksud oleh Yap Kay.

Kongsun Toan pun belum pernah melihat goloknya itu.

Yang terlihat oleh Kongsun Toan hanyalah gagang golok dan sarung goloknya.

Yap Kay berkata tawar.

"Orang yang gampang terlihat oleh orang, sulit untuk dia membunuh orang."

Pho Ang-soat sedang mendengarkan. Pelan-pelan Yap Kay melanjutkan.

"Maka orang yang tahu cara menggunakan pisau, maka dia pun tahu cara bagaimana dia harus menyimpan pisaunya."

Pelan-pelan Pho Ang-soat menghela napas, seperti menggumam dia berkata.

"Sayang sekali hal ini sulit dilaksanakan."

"Ya, memang sulit."

"Jauh lebih sulit daripada kau menggunakannya."

"Agaknya kau sudah paham."

"Aku sudah paham,"

Sahut Pho Ang-soat sambil angkat kepala mengawasi Yap Kay. Tawa Yap Kay hangat dan simpatik. Tiba-tiba Pho Ang-soat menarik muka pula, katanya dingin.

"Oleh karena itu aku pun berharap kau memahami satu hal"

"Hal apa?"

"Selanjutnya jangan kau datang berusaha menolongku, jalanlah menuju ke tujuanmu, aku akan pergi ke arahku sendiri, bahwasanya kita tidak punya hubungan apa-apa, umpama kau mampus di hadapanku aku pun takkan menolongmu."

"Kita bukan teman?"

"Bukan."

"Ya, aku pun mengertilah."

"Kalau begitu sekarang juga silakan kau tempuh ke arahmu sendiri"

"Dan kau, kau tidak mau keluar?"

"Kenapa aku harus keluar?"

"Ada orang sedang menunggumu di luar."

"Siapa?"

"Seorang nenek yang bukan nenek."

"Untuk apa dia menunggu aku?"

"Supaya kau ke sana bertanya, kenapa dia hendak membokong kau."

Seketika bersinar biji mata Pho Ang-soat, segera dia beranjak keluar dengan langkah lebar.

Bahwasanya dia tidak perlu tergesa-gesa keluar, karena betapapun lamanya orang di luar itu harus menunggu, dia toh tidak pernah gugup dan gelisah.

Orang yang sudah mati selamanya takkan gelisah.

Perawakan Sebun Jun memang sedang-sedang saja, kini sudah meringkuk seperti trenggiling.

Mereka berada di pojokan belakang punggung lemari, biji matanya melotot keluar, seolah-olah membawa perasaan gusar dan ketakutan sebelum ajalnya.

Siapakah yang membunuhnya?

Agaknya dia sendiri tidak menduga bila orang itu akan datang membunuhnya.

Sebuah bor baja telak sekali tembus di hulu hatinya, darah yang mengalir dari lukanya masih belum lagi membeku kering.

Sekelilingnya tidak kelihatan bayangan seorang pun.

Kini tibalah saatnya orang-orang makan malam, memang biasanya jarang orang berlalu-lalang di jalan raya pada saat-saat seperti ini.

Pho Ang-soat berdiri di sana, badannya pun sudah kaku, setelah dia mendengar langkah Yap Kay yang mendatangi, baru dia bertanya dengan suara berat.

"Katamu orang-orang inikah Bu kut coa Sebun Jun?"

Berselang lama Yap Kay baru menghela napas, dengan ogah-ogahan dia mengiakan.

"Aku pun tahu orang macam apa dia sebenarnya."

"Memang pantas kau mengetahuinya."

"Tanpa memberi perlawanan dia pun tidak berteriak, tahu-tahu sudah mampus terbunuh."

"Memangnya ini serangan telak yang mematikan."

"Tak banyak orang yang mampu membunuhnya dengan cara ini."

"Banyak sekali."

"Banyak sekali?"

"Siapa pun boleh saja membunuhnya, karena dia hakikatnya sudah tidak punya daya untuk melawan."

"Kenapa?"

"Aku kuatir dia tidak sudi menunggumu, maka sebelumnya sudah kutotok Hiat-tonya!"

Yap Kay tertawa getir, sambungnya.

"Meski banyak orang yang bisa membunuh dia, namun yang benarbenar ingin membunuhnya hanya seorang saja."

"Siapa?"

"Seorang yang kuatir kau dapat mengompas keterangannya."

"Kenapa dia hendak membunuhku? Siapa pula yang menyuruh dia membunuhku? ... inikah rahasianya?"

"Tidak salah."

Pho Ang-soat tiba-tiba tertawa dingin, lalu putar badan tinggal pergi.

"Kemana kau?"

"Akan kutempuh jalanku sendiri, kenapa tidak kau tuju arah jalanmu sendiri?"

Tanpa berpaling pelan-pelan dia menyusuri jalan raya yang panjang ini.

Jalan raya ini sunyi lengang, lampion merah di atas pintu sempit itu sudah menyala.

Kebetulan segulung angin deras menghembus datang, kertas yang ditempelkan pada dinding di luar gang sempit itu seketika tertiup lepas dan terbang entah kemana.

Angin terasa dingin, malam sudah tiba, apakah musim rontok pun bakal tiba?

Angin dingin, hawa sedikit panas.

Tapi dalam rumah hangat segar seperti hawa di musim semi.

Memang bagi pandangan kaum pria, tempat ini seolah-olah sepanjang tahun adalah musim semi.

Meja-meja di pojokan sana sudah diduduki beberapa orang yang sibuk menghabiskan arak masing-masing, malam belum larut, namun mereka sudah terpengaruh oleh air kata-kata.

Baru saja Yap Kay duduk, Siau Piat-li sudah mendorong cangkir arak kepadanya, katanya dengan tersenyum.

"Jangan lupa kau pernah berjanji hendak mentraktir aku minum."

Cangkir itu sudah diisi penuh arak. Yap Kay tertawa, ujarnya.

"Jangan lupa kau berjanji aku boleh teken bon di sini."

"Siapa pun yang pernah berjanji sesuatu kepadamu, agaknya sulit juga untuk melupakannya."

"Memangnya sukar."

"Maka boleh sesuka dan sepuasmu kau minum di sini."

Yap Kay tertawa lebar, cangkir diangkat terus ditenggaknya habis, kepalanya berpaling matanya menjelajah, katanya.

"Hari ini tamu yang datang tidak sedikit jumlahnya."

Siau Piat-li manggut-manggut, ujarnya.

"Asal lampion merah menyala, segera orang bakal masuk kemari."

"Maka aku curiga apakah seharian mereka sudah menunggunya lebih dulu di luar pintu."

"Tempat seperti ini memang rada aneh, setiap orang yang pernah berkunjung dua tiga kali, lekas sekali dia sudah akan tuman, jika tidak kemari meski hanya untuk duduk dan berputar-putar saja, agaknya mereka tidak bisa tidur."

"Sekarang juga aku sudah tuman, hari ini aku datang tiga kali."

"Maka aku menyukai kau."

"Oleh karena itu kau memperbolehkan aku teken bon di sini."

Siau Piat-li tergelak-gelak.

Orang yang duduk di pojokan sana berpaling kemari dengan pandangan keheranan.

Paling tidak mereka sudah ratusan kali datang ke tempat ini, namun belum pernah mereka melihat juragan dari sarang hiburan sebatangkara dan cacad ini tertawa sedemikian riangnya.

Tapi lekas sekali Siau Piat-li sudah menghentikan tawanya, katanya.

"Apa benar Li Ma-hou adalah Toh-popo?"

Yap Kay manggut-manggut.

"Aku masih belum mengerti, cara bagaimana kau bisa mengetahuinya."

"Aku tidak tahu, hakikatnya apa pun aku tidak tahu."

"Jadi hanya tebakanmu saja."

"Aku hanya merasa sedikit heran, kenapa Sebun Jun menyuruh Pho Ang-soat mengambil buntalannya di toko kelontong itu?"

"Hanya satu saja alasannya."

"Waktu aku sampai di sana, ternyata dia mengundang Pho Ang-soat untuk makan di luar."

"Itu tidak mengherankan."

"Justru mengherankan,"

Ujar Yap Kay.

"Sekarang setiap penduduk kota ini sudah tahu bahwa Pho Ang-soat adalah musuh besar Ban be tong, orang dengan watak dan perangai seperti Li Mahou, masakah dia berani berdosa terhadap Ban be tong?"

"Benar, seharusnya dia bisa menolak atau tidak berani menyimpan buntalan itu."

"Tapi dia justru menyimpannya."

"Maka dia pasti mempunyai suatu maksud tertentu"

"Maka aku baru merasa pasti dia itulah Toh-popo."

"Tebakanmu tidak meleset."

"Untung aku tidak salah tebak."

"Kenapa?"

"Karena dia sudah mati lebih dulu karena ketakutan."

Siau Piat-li melenggong.

"Tidak kau kira bukan?"

Tanya Yap Kay. Siau Piat-li menghela napas, tanyanya.

"Lalu Sebun Jun?"

"Dia pun sudah ajal."

Diangkatnya cangkir arak di depannya pelan-pelan. Siau Piat-li menenggaknya pelan-pelan, katanya dingin.

"Agaknya hatimu memang tidak lemah."

Yap Kay menatapnya bulat-bulat, katanya tawar.

"Sekarang agaknya kau sudah menyesal karena memberi peluang kepadaku untuk tekan bon."

"Aku hanya heran, orang-orang seperti mereka bagaimana bisa datang dan berada di tempat seperti ini, malah begitu datang lantas menetap di sini lidak mau pergi."

"Mungkin mereka sedang menghindari kejaran musuh atau mungkin pula musuh besar mereka adalah Pho Ang-soat."

"Tapi waktu mereka datang kemari, Pho Ang-soat masih seorang bocah kecil."

"Lalu kenapa mereka hendak membunuh Pho Ang-soat?"

Ujar Yap kay.

"Tidak seharusnya kau bunuh mereka, karena hanya mereka saja yang patut mengajukan pertanyaan itu kepadamu."

"Memang mereka mati terlalu cepat dan belum saat ajalnya, namun.....

"Namun bagaimana?"

Siau Piat-li menegas Tiba-tiba Yap Kay tertawa pula, ujarnya.

"Jangan kau lupa bahwa manusia mati ada kalanya pun bisa bicara."

"Apa yang mereka katakan?"

"Sekarang belum bicara, karena aku belum sempat bertanya pada mereka."

"Kenapa tidak segera kau tanya?"

"Kalau aku tidak tergesa-gesa, tentu mereka pun tetap sabar."

Siau Piat-li tertawa pula, katanya tersenyum sambil menatap Yap Kay.

"Kau ini memang seorang yang aneh sekali."

"Sama anehnya dengan Sam-lopan ...."

"Lebih aneh lagi...."

Sampai di sini kata-katanya, mendadak terdengar suara ribut-ribut, di antara suara ribut-ribut terdengar orang berteriak.

"Api, kebakaran, lekas tolong kebakaran...."

Kobaran jago merah amat besar.

Yang terbakar ternyata adalah toko kelontong Li Ma-hou.

Asal kebakaran ternyata dari gubuk papan di bagian belakang itu, sekejap saja seluruh toko kelontong itu sudah terjilat begitu cepat api menjalar sampai tak bisa dikuasai lagi.

Umpama orang ingin menonton kebakaran dari seberang juga tidak mungkin lagi.

Karena bangunan rumah-rumah sepanjang jalan raya yang berhimpitan ini semuanya terbuat dari papan kayu.

Dalam sekejap seluruh penduduk jalan raya ini menjadi ribut dan sibuk, berbagai barang yang dapat dibuat wadah air sudah diboyong keluar.

Cahaya api menerangi muka Siau Piat-li, raut mukanya yang pucat kelihatan merah dan menguning ditimpa sinar api, katanya setelah menepekur.

"Agaknya api mulai menjilat dari gubuk di belakang yang menjadi dapur itu."

Yap Kay manggut-manggut.

"Waktu kau keluar, apa kau lupa memadamkan api?"

"Bahwasanya waktu itu belum saatnya menyalakan lampu."

"Apakah tungkunya tidak ada sisa api?"

"Tungku milik setiap keluarga selalu ada apinya."

"Jadi kau berpendapat ada orang yang sengaja melepas api membakar rumah itu?"

"Seharusnya aku ingat ada orang akan membakar rumah itu,"

Ujar Yap Kay tertawa.

"Kenapa?"

Yap Kay tertawa aneh, ujarnya.

"Karena mayat yang sudah terbakar hangus, selamanya dia akan betul tidak bisa bicara lagi"

Tiba-tiba dia merebut sebuah ember di tangan orang yang baru saja lewat di depannya, dengan gigih dia ikut bekerja menolong memadamkan api.

Lekas sekali Siau Piat-li sudah tidak melihat lagi bayangannya, namun sorot matanya masih kelihatan banyak dirundung persoalan dan hati pun masgul.

Tiba-tiba datang seseorang secara diam-diam ke dekatnya, lalu bertanya dengan lirih.

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

Siau Piat-li tidak berpaling, sahutnya kalem.

"Baru saja aku memperoleh suatu pelajaran."

"Pelajaran apa?"

Tanya orang itu.

"Kalau kau ingin seseorang bungkam dan tak bicara lagi, sesudah kau bunuh harus kau bakar sekalian."

Banyak sekali orang yang sibuk berusaha memadamkan kebakaran ini, sayang sekali sumber airnya yang tiada.

Untung belum lama berselang baru saja hujan, rumah-rumah penduduk tidak seluruhnya kering seratus persen, walau kobaran api tidak segera bisa dipadamkan, tapi merambatnya yang sedikit terhalang.

Yap Kay berjubel di antara orang banyak yang banting tulang menolong kebakaran, namun sepasang matanya setajam mata elang jelalatan ke setiap penjuru, menjelajahi raut muka setiap orang yang dilihatnya.

Soalnya orang yang melepas api biasanya pura-pura ikut berusaha menolong kebakaran, mungkin lantaran supaya tiada orang yang mencurigai dirinya, atau mungkin dia ingin menikmati jerih payah orang-orang yang bekerja mati-matian memadamkan api, sekaligus menikmati hasil karyanya dengan melepas api tadi.

Sudah tentu ini merupakan sifat atau sikap kejam dan tidak berperi-kemanusiaan, tapi orang yang melepas api itu memangnya bukan mustahil memiliki jiwa yang eksentrik dan kejam?

Cuma sayang sulit sekali dapat melihat jiwa orang-orang seperti ini dari lahiriah dan tingkah-laku orang ini.

Baru saja Yap Kay merasa rada kecewa, tiba-tiba terasa ada seseorang tengah menarik lengan bajunya dengan keras dari belakang.

Begitu dia berpaling, dilihatnya orang itu sudah berpaling ke arah lain dan sebat sekali sudah mendesak keluar dari gerombolan orang banyak.

Itulah seorang yang mengenakan topi beludru dan berpakaian jubah hijau.

Sudah tentu Yap Kay tidak kalah gesitnya ikut mendesak keluar dari kerumunan orang banyak.

Setelah berada di luar, yang terlihat juga cuma bayangan punggung orang baju hijau ini.

BAB 19.

CABUT RUMPUT SEAKAR-AKARNYA Biasanya Yap Kay amat senang menyelami bayangan punggung orang, terasa olehnya bayangan punggung orang ini sedikit banyak mempunyai keistimewaan sendiri, maka bukanlah soal sulit untuk mengetahui siapa sebenarnya orang itu dari bayangan punggungnya.

Akan tetapi bayangan orang baju hijau ini terasa asing baginya.

Perawakannya sih tidak terlalu tinggi, namun gerak-geriknya cukup cekatan dan gesit, lekas sekali dia sudah tiba di ujung jalan raya sana.

Sekonyong-konyong bayangan orang itu tahu-tahu sudah lenyap tak berbekas lagi.

Bintang-bintang berkelap-kelip di langit, padang rumput hening lelap tak terdengar suara apa pun.

Dengan langkah lebar Yap Kay segera mengejar ke depan, mulutnya berseru perlahan.

"Teman di depan itu apakah ada petunjuk? Silakan berhenti untuk bicara."

Langkah orang jubah hijau bukannya berhenti malah dipercepat, beberapa kejap kemudian setelah menempuh jarak tertentu, tiba-tiba badannya melejit terbang mengembangkan Ginkang Pat poh kan sian (delapan langkah mengejar tonggeret) dari tingkat tinggi.

Bukan saja Ginkang orang ini amat tinggi, gaya gerakannya amat indah.

Tampak oleh Yap Kay jubah besarnya yang kedodoran itu melambai-lambai tertiup angin, tibatiba terasa pula olehnya gerak-gerik orang ini seperti sudah amat hapal dan pernah dilihatnya entah dimana.

Semakin jauh mereka berlari, cuaca semakin gelap.

Yap Kay sendiri juga tidak perlu tergesa-gesa untuk menyandak orang itu.

Kalau orang jubah hijau ini tidak mau menemui dirinya, kenapa tadi menarik lengan bajunya?

Jika orang ini memang ingin bertemu dirinya, kenapa dirinya harus terburu-buru mengejarnya?

Angin menghembus rumput berombak, di antara sela-sela rumput yang tumbuh tinggi ternyata terdapat sebuah jalanan kecil.

Agaknya orang itu amat hapal dengan situasi dan keadaan padang rumput dan sekitarnya, di antara semak-semak rumput tinggi dia menuju ke timur lalu berbelok ke utara, kembali ke arah barat, tiba-tiba bayangannya lantas lenyap.

Ternyata Yap Kay tetap kalem dan tidak menjadi gugup karenanya, dia pun berhenti dan menunggu dengan sabar.

Betul juga tak lama kemudian terdengar sebuah suara lirih di antara semak-semak rumput panjang.

"Kau tahu siapa?"

Yap Kay tertawa, mulutnya segera bersenandung dengan suara rendah.

"Langit bergoncang, bumi bergetar, orangnya bagai jade, batu jade berbau harum. Itulah Sim Sam-nio dari Ban be tong."

Terdengar orang tertawa dari semak-semak rumput, tawa yang lincah dan merdu serta lembut. Terdengar seorang berkata dengan tertawa.

"Pandangan yang tajam, patut diberi hadiah."

"Hadiah apa?"

Tanya Yap Kay tertawa.

"Kau masuk kemari dan menikmati arak bersama,"

Sahut Sim Sam-nio.

Di tengah semak belukar padang rumput ini, cara bagaimana ada tempat menyimpan arak?

Setelah Yap Kay masuk ke dalam, baru dia mengerti, ternyata di tempat belukar ini Sim Sam-nio membangun sebuah bilik kecil di bawah tanah.

Jika bukan dia sendiri yang membawamu kemari, umpama ada selaksa orang yang menjelajah seluruh padang rumput ini juga jangan harap bisa menemukan bilik kecil ini.

Sungguh suatu tempat yang aneh dan menakjubkan, bukan saja di dalam ada arak, malah di sini juga tersedia sebuah balai-balai yang bersih, lemari rias yang antik, di atas meja riasnya malah dipajang seonggok bunga segar.

Meja antik dimana sudah tersedia arak, terdapat pula beberapa macam sayur-mayur.

Yap Kay terlongong.

Sim Sam-nio mengawasinya dengan tersenyum simpul, itulah senyuman yang menyedot sukma setiap laki-laki.

Menghadapi senyuman yang menggiurkan ini, hati setiap laki-laki akan tergugah dari ketinggian terhadap perangsang yang membangkitkan daya kelakian.

Katanya tersenyum manis.

"Apakah kau merasa heran?"

Tiba-tiba Yap Kay pun tertawa, ujarnya.

"Tidak heran."

"Tidak heran?"

Sim Sam-nio melengak.

"Perempuan sepertimu, peduli apa pun pekerjaan yang kau lakukan, aku tidak perlu merasa heran."

Jelalatan kerlingan biji mata Sim Sam-nio, katanya.

"Agaknya kau ini memang laki-laki yang serba tahu urusan."

"Demikian pula kau ini perempuan yang serba tahu."

"Oleh karena itu kita harus benar-benar menjadi orang yang betul-betul tahu urusan, duduk dulu sambil minum arak.

"Dan selanjutnya,"

Berkedip-kedip mata Yap Kay.

"Kalau kau toh laki-laki yang serba tahu, tidak pantas bertanya demikian di hadapan seorang perempuan."

"Sebetulnya aku hanya ingin mendengar kau bercerita saja."

"Bercerita tentang apa?"

"Cerita tentang Sin to ban be."

"Darimana kau tahu bila aku bisa bercerita tentang kejadian itu?"

"Bukan hanya itu saja yang kuketahui lho."

Tiba-tiba Sim Sam-nio tidak bersuara lagi.

Cahaya lampu yang redup menyinari mukanya sehingga dia kelihatan lebih cantik, namun suatu kecantikan yang merawankan, cantik dingin yang harus dikasihani.

Pelan-pelan dia menuang secangkir penuh terus disodorkan kepada Yap Kay.

Yap Kay pun duduk.

Angin menghembus masuk dari lubang di sebelah atas, sinar lampu berkelap-kelip, seolah-olah hari sudah larut malam.

Alam semesta hening lelap, memangnya siapa akan menduga di dalam bilik di bawah tanah ini dua orang sedang duduk berhadapan berdiam diri menikmati arak.

Memangnya siapa pula yang dapat meraba jalan pikiran mereka?

Kembali Sim Sam-nio memenuhi cangkirnya, pelan-pelan di tenggaknya pula, lalu katanya pelan-pelan.

"Kau tahu siapa juragan Sin to tong?"

Yap Kay manggut-manggut.

"Kau tahu bahwa Pek Thian-ih dan Be Khong-cun sebenarnya adalah saudara angkat seperjuangan dalam menempuh kehidupan pelik di antara mati dan hidup?"

Yap Kay manggut-manggut.

"Mereka berjuang mengadu pundak, dari luar perbatasan malang melintang sampai ke Tionggoan, akhirnya Sin to tong dan Ban be tong amat tenar dan disegani di Bu-lim "

"Sudah lama aku tahu Pek-locianpwe adalah tokoh yang luar biasa."

Sim-sam-nio menghela napas, katanya rawan.

"Justru karena dia seorang yang luar biasa, maka akhirnya dia mengalami kematian yang begitu mengenaskan."

"Kenapa?"

"Karena dia sehingga Sin to tong sehari demi sehari semakin besar dan jaya, bukan saja lebih unggul dari Ban be tong, di kalangan Kangouw boleh dikata tiada tokoh mana pun yang kuat mengungguli dia "

"Kukira dia pasti banyak membuat kesalahan terhadap orang banyak."

"Kebesaran tokoh Bu-lim dengan ketenarannya, memang harus diraih dengan cucuran darah."

Kata Sim Sam-nio setelah mengertak gigi.

"Dia sendiri pun tahu bahwa banyak orang Kangouw yang membenci dirinya, tapi mimpi pun tak pernah terpikir olehnya bahwa orang yang paling membenci dirinya adalah saudara angkat yang amat dekat dengan dirinya."

"Be Khong-cun maksudmu?"

Tanya Yap Kay. Sim Sam-nio manggut-manggut, sahutnya.

"Be Khong-cun membencinya, karena dia tahu dirinya tidak unggul dibanding saudara angkatnya."

"Apa benar akhirnya dia meninggal di tangan Be Khong-cun sendiri?"

"Sudah tentu ada orang lain lagi."

"Kongsun Toan?"

"Kongsun Toan hanya budak yang diperalat, hanya dengan kekuatan mereka berdua, memangnya berani mengusik Sin to tong, apalagi Pek-hujin dan Pek-jihiap merupakan tokoh-tokoh silat yang berkepandaian top pula di dunia persilatan."

Terpancar kebencian yang meluap-luap dari sorot matanya, katanya pula.

"Oleh karena itu, sedikitnya ada tiga puluh orang."

"Tiga puluh orang?"

Yap Kay sampai mengkirik seram.

"Ketiga puluh orang itu tentunya merupakan tokoh-tokoh top dunia persilatan juga."

"Kau tahu siapa mereka itu?"

"Tiada orang yang tahu ... kecuali mereka sendiri, pasti tiada orang lain yang tahu."

Tidak memberi kesempatan Yap Kay bertanya, Sim Sam-nio lekas meneruskan.

"Malam itu hujan salju baru saja berhenti, Be Khong-cun mengundang Pek-toako bersaudara untuk menikmati panorama salju, kitanya di Bwe hoa am di luar kota dia sudah menyiapkan sebuah perjamuan yang cukup mewah."

Yap Kay mendengarkan penuh perhatian, seolah-olah setiap bait demi bait dan setiap patah kata pun tidak ketinggalan, maka dia segera bertanya.

"Bwe hoa am yang terang adalah tempat ziarah orang beragama, mana bisa di sana disediakan perjamuan dan arak?"

"Orang yang benar-benar bisa membatasi diri untuk menyempitkan kehidupannya sendiri di dunia ini ada berapa banyak?"

Yap Kay manggut-manggut ia sependapat, segera dia tuang secangkir arak pula.

Dia cukup menyelami perasaan hati orang.

Perempan seperti dia ini tentu mempunyai pandangan yang eksentrik terhadap segala sesuatu yang terjadi di dunia ini.

Setelah menghabiskan secangkir arak, Sim Sam-nio bicara lebih lanjut.

"Agaknya selera tamasya Pek-toako memang amat besar, maka dia bawa seluruh keluarganya ikut serta, siapa tahu ... siapa tahu Be Khong-cun bukan ingin mereka melihat pemandangan salju yang putih, tapi adalah salju nan merah!"

Tangan yang menggenggam cangkir mulai gemetar, sorot matanya yang bersinar menjadi merah dan berkaca-kaca. Air muka Yap Kay pun prihatin, katanya.

"Apakah tiga puluh orang itu sudah dipendam dulu oleh Be Khong-cun untuk menjebaknya di Bwe hoa am?"

Sim Sam-nio manggut-manggut, katanya rawan.

"Pada malam itulah keluarga Pek-toako bersaudara, seluruhnya sebelas orang, semuanya gugur di luar Bwe hoa am, tiada satu pun yang ketinggalan hidup."

"Ya, membabat rumput sampai akar-akarnya, perbuatan mereka terlalu kejam!"

Dengan ujung bajunya Sim Sam-nio menyeka air mata, katanya pula.

"Yang paling mengenaskan adalah Pek-toako suami istri, beliau malang melintang selama hidup, waktu ajalnya ternyata badannya tidak utuh dan batok kepalanya entah terpenggal oleh siapa, sampai pun puteranya yang berusia empat tahun pun mati di bawah tusukan pedang."

Kembali dia mengisi cangkirnya, cepat sekali dia habiskan araknya ini, lalu menyambung.

"Tapi tiga puluh orang yang ikut mengeroyok secara menggelap itu, ada dua puluhan lebih yang terbunuh juga olehnya."

"Empat jari di tangan kiri Be Khong-cun yang putus itu, tentunya juga terpapas kutung olehnya."

"Di waktu Pek-toako tidak menduga dan tidak siaga, dengan seluruh kekuatan Kim kong ciang lat dia memukul Pek-toako serta melukainya dengan berat, mungkin malam itu tiada satu pun di antara mereka yang bisa selamat."

"Kim kong ciang?"

"Be Khong-cun adalah seorang tokoh yang amat berbakat, tangan kanannya meyakinkan Boh san kun (pukulan memecah gunung), tangan kiri melatih Kim kong ciang, pukulan ini sudah dia yakinkan sampai ke tingkat sembilan."

"Bagaimana dengan Pek-tayhiap?"

Bersinar biji mata Sim Sam-nio.

"Kepandaian silat Pek-toako tiada taranya, menjagoi dan tiada bandingannya di seluruh jagat, dinilai dari ilmu silat, kecerdikan pikiran, keberanian, pasti tiada seorang pun di dunia ini yang setanding dengannya."

Asal kita melihat sorot matanya, maka kita akan mengerti betapa hormat dan kagum dirinya terhadap Pek-toako itu. Yap Kay menghela napas, katanya.

"Kenapa tokoh-tokoh perkasa sejak zaman dahulu kala, selalu berakhir dengan nasib jiwanya yang amat mengenaskan?"

Dia pun menenggak habis secangkir arak baru meneruskan.

"Setelah seluruh keluarga Pek-toako meninggal dengan mengerikan, sudah tentu Be Khong-cun menjatuhkan semua tanggung jawab ini kepada orangorang yang ikut menjadi pembunuh gelap itu."

Sim Sam-nio menyeringai dingin, ujarnya.

"Lebih mengenaskan lagi, malah di hadapan orang banyak dia bersumpah hendak menuntut balas bagi kematian Pek-toako."

"Di antara tiga puluh orang yang ikut bekerja itu, ada berapa orang yang masih ketinggalan hidup?"

"Tujuh orang."

"Tiada orang tahu siapa mereka?"

"Tiada!"

"Sudah tentu mereka sendiri merahasiakan diri sendiri dan tidak mau memberitahukan kepada siapa pun, mungkin Be Khong-cun tidak akan menduga bahwa rahasia ini akhirnya bocor juga"

"Mimpi pun dia tidak pernah menduga."

"Sebetulnya aku sendiri pun tidak mengerti, cara bagaimana rahasia ini akhirnya bisa bocor?"

Sim Sam-nio menepekur sebentar, katanya kemudian.

"Satu di antara tujuh orang yang masih hidup itu, tiba-tiba tersadar lahir batinnya, maka dia memberitahukan rahasia ini kepada Pekhujin."

"Masakah manusia macam ini punya nurani?"

"Sebetulnya dia pun sudah mampus di bawah golok Pek-toako tapi Pek-toako dapat mengenalinya dari permainan silatnya, mengingat dia masih membawa manfaat, maka goloknya tidak menghabisi jiwanya."

"Siapakah orang ini?"

"Pek-hujin pernah berjanji kepadanya, sekali-kali tidak akan membocorkan namanya."

"Apa manfaatnya dia menjadi manusia?"

"Jika manfaatnya itu diterangkan, mungkin kaum persilatan akan banyak yang tahu siapa dia sebenarnya."

"Pek-tayhiap begitu hapal terhadap ilmu silatnya, apakah dia adalah teman baik Pek-tayhiap?"

"Memangnya Be Khong-cun bukan teman baik Pek-tayhiap? Tiga puluh orang pembunuh itu bukan mustahil semua adalah teman baik Pek-toako."

"Agaknya teman baik memang jauh lebih menakutkan dari musuh besar."

"Tapi setelah Pek-toako mengampuni jiwanya, sepulang di rumah terketuk juga nuraninya, kalau tidak, mungkin kematian dan penasaran Pek-toako bakal tenggelam ditelan masa."

"Dia tidak menerangkan siapa keenam orang yang lain?"

"Tidak."

"Kenapa tidak dikatakan?"

"Karena dia sendiri pun tidak tahu,"

Sahut Sim Sam-nio.

"biasanya Be Khong-cun bekerja teramat teliti dan hati-hati, dia pilih ketiga puluh orang itu menjadi pembunuh Pek-toako secara menggelap, sudah tentu sebelumnya sudah memakan waktu cukup lama untuk merencanakan dan menyelidiki pribadi-pribadi mereka, maka dia tahu bahwa orang-orang ini terang juga mendendam dan penasaran terhadap Pek-toako secara diam-diam?"

"Tentunya memang begitu."

"Tapi ketiga puluh orang itu secara langsung dihubungi oleh Ban be Khong-cun sendiri, siapapun tiada yang tahu kedua puluh sembilan yang lain."

"Tokoh-tokoh silat kelas tinggi dikalangan Kangouw kebanyakan memiliki ilmu tunggal, masingmasing dengan senjata atau gaman yang khas pula, paling tidak orang ini bisa mencari sumber penyelidikan."

"Pada malam peristiwa itu, ketiga puluh orang ini bukan saja berseragam hitam dan mengenakan kedok muka, malah senjata khas milik mereka sendiri pun sudah diganti yang lain, apalagi tentunya orang itu juga mengerti betapa menakutkan ilmu silat Pek-toako, di waktu melancarkan serangan hatinya tentu teramat tegang, sudah tentu tiada pikiran dan tidak sempat lagi dia memperhatikan orang lain."

Yap Kay tertunduk diam menepekur sekian lamanya, tiba-tiba dia bertanya.

"Lalu siapa pula Pek-hujin itu?"

Sim Sam-nio menghela napas, katanya masgul.

"Dia ... dia adalah perempuan yang patut dipuji, seorang perempuan yang harus dikasihani, walaupun dia seorang gadis yang cantik rupawan, tapi nasibnya sungguh jauh lebih mengenaskan dari siapa pun."

"Kenapa?"

"Karena laki-laki yang dia cintai bukan saja sudah punya istri dan anak, malah dia pun musuh besar perguruannya."

"Musuh besar?"

"Mulanya dia adalah putri terbesar Mo kau Kaucu"

"Mo kau?"

"Sejak tiga ratus tahun yang lalu, semua golongan dan aliran persilatan di Bu-lim bila menyinggung nama Mo kau, tiada orang yang tidak geleng-geleng kepala, sebetulnya anggota Mo kau adalah manusia juga, mereka punya daging punya darah, apalagi asal kau tidak menyalahi mereka, mereka pun tidak akan menyalahi kau."

Yap Kay tertawa getir, ujarnya.

"Aku sendiri justru beranggapan bahwa Mo kau sebetulnya hanya ada di dalam dongeng yang serba misteri belaka, siapa tahu di jagat ini memang kenyataan ada."

"Selama dua puluhan tahun belakangan ini, orang-orang Mo kau memangnya tiada satu pun yang pernah unjuk diri."

"Kenapa?"

"Karena Mo kau Kaucu pernah bertanding dengan Pek-toako di puncak Thian san dengan syarat-syarat yang harus dipatuhi oleh pihak yang kalah, bila mereka kalah, bersumpah sejak saat itu tidak akan memasuki daerah Tionggoan"

"Pek-tayhiap memang tokoh tertinggi di antara para tokoh, sungguh hebat dan patut dipuji."

"Sayang sekali kau lahir terlambat dua puluh tahun, tidak pernah bisa melihatnya."

"Betapa gagah perwira dan kebesaran jiwanya pada masa itu, sekarang pun aku masih bisa membayangkannya."

"Karena pertempuran di puncak Thian-san itulah, maka seluruh anggota Mo kau dari atas sampai ke bawah, semua memandang Pek toako sebagai musuh besarnya."

"Agaknya jiwa orang-orang Mo kau memang terlalu sempit dan eksentrik."

"Pek-hujin adalah putri tunggal Mo kau Kaucu"

"Tapi dia justru jatuh hati terhadap Pek-tayhiap."

"Justru karena Pek-toako, sampai dia tidak segan-segannya menjadi murid dan anak yang durhaka meninggalkan Mo kau dan ayah-bundanya."

"Dia sudah tahu bila Pek-tayhiap sudah punya istri?"

"Dia tahu, Pek-toako tidak pernah membohongi dia, maka dia benar-benar jatuh hati."

Yap Kay menghela napas, ujarnya.

"Kalau kau ingin orang mencintaimu sesungguh hati, maka kau pun harus menghadapinya dengan cintamu yang murni."

Sorot mata Sim Sam-nio menjadi hangat dan lembut, katanya lirih.

"Jelas dia mengetahui Pektoako takkan bisa sering-sering datang menjenguk dirinya, tapi dia rela menunggu, ada kalanya dalam satu tahun dia hanya sekali melihat Pek-toako, tapi hatinya toh sudah puas."

Pandangan Yap Kay seolah-olah memandang ke tempat nan jauh. lama juga baru dia bertanya.

"Tentunya istri Pek-tayhiap tidak pernah tahu akan permainan asmara kedua orang ini."

"Sampai ajalnya dia tetap tidak tahu karena meski Pek-toako seorang Enghiong, tapi terhadap istrinya yang satu ini dia rada takut juga, oleh karena itulah Pek-hujin itu yang menderita dan menjadi kambing hitamnya."

"Ya, aku mengerti,"

Ujar Yap Kay. Memang dia mengerti. Tragedi yang paling mengenaskan bagi perempuan adalah dia mencintai laki-laki yang tidak patut dia cintai.

"Dan yang lebih mengenaskan, waktu itu perutnya sudah mengandung keturunan Pek-toako."

Yap Kay ragu-ragu, akhirnya bertanya.

"Anak yang kau maksudkan bukankah...."

"Anak itu adalah Pho Ang-soat."

"Jadi dia kemari hendak menuntut balas kepada Ban be tong!"

Sim Sam-nio manggut-manggut, matanya berkaca-kaca, katanya.

"Untuk hari ini, entah betapa derita yang dialami mereka ibu beranak."

"Apakah selamanya Pek-hujin tidak memohon bantuan kepada Ayahnya?"

"Dia pun seorang perempuan yang berwatak keras, selamanya tidak suka dikasihani oleh siapa pun meski ayahnya sendiri, apalagi orang-orang Mo kau sudah membenci begitu rupa terhadap Pek-toako, memangnya mereka mau membantunya?"

"Kalau dia memang betul adalah putri Mo kau Kaucu, sudah tentu takkan punya teman lagi."

"Oleh karena itu dengan sepenuh hati dan dengan segala jerih payah dia tekun mengasuh dan mendidik putranya semoga kelak bisa menuntut balas bagi kematian Pek-toako."

"Agaknya putranya itu tidak akan membikin kecewa harapannya."

"Sekarang dia memang boleh terhitung tokoh yang tangguh sekali, malah aku berani bilang hanya beberapa orang saja yang mungkin kuasa menandingi dia di jagat ini, tapi memangnya siapa yang tahu, untuk meyakinkan ilmu silatnya itu berapa parah dan beratnya dia menderita?"

"Peduli melakukan apa saja, jika ingin menonjol dan lebih unggul dari orang lain, memang harus menderita."

Sim Sam-nio menatapnya lekat-lekat, tanyanya tiba-tiba.

"Dan kau?"

"Aku? ...."

Yap Kay tertawa, kelihatannya tawanya mengandung rasa pedih, lama juga dia diam saja, lalu katanya dengan kalem.

"Paling tidak aku lebih mending daripada dia, karena selamanya tiada orang yang mengurusi diriku "

"Tiada diurusi orang apakah merupakan nasib yang baik?"

Tanya Sim Sam-nio. Yap Kay tertawa pula, hanya tertawa saja tanpa berbincang apa-apa.

"Aku percaya ada kalanya aku pun akan mengurusimu,"

Demikian ujar Sim Sam-nio.

"derita bagi seseorang yang tidak pernah diurus orang serba sepi dan sunyi, aku cukup memahaminya."

Tiba-tiba Yap Kay memutar haluan, katanya.

"Kira-kira aku sudah cukup mengerti semua peristiwa ini."

"Apa yang kuuraikan barusan sudah amat jelas dan terperinci."

"Tapi kau masih melupakan membicarakan satu hal."

"Hal apa?"

"Mengenai dirimu sendiri."

Sim Sam-nio ditatapnya lekat-lekat, katanya kalem.

"Siapakah kau sebenarnya, apa pula sangkut-pautmu dengan persoalan ini?"

Lama Sim Sam-nio berdiam diri, akhirnya baru menjawab.

"Ban be tong mengira aku adalah adik Pek-hujin, sebetulnya dia salah."

"Oh! Lalu?"

Sim Sam-nio tertawa kecut, katanya.

"Sebetulnya aku pun orang Mo kau, tapi tak lebih hanya seorang pembantu yang selalu melayani keperluan Pek-hujin saja."

"Pho Ang-soat mengenalmu?"

"Dia tidak mengenalku,"

Ujar Sim Sam-nio geleng-geleng.

"sejak masih kecil, aku sudah meninggalkan Pek-hujin."

"Kenapa?"

"Karena aku ingin mencari kesempatan, masuk ke dalam Ban be tong untuk mencari berita."

"Ingin menyelidiki siapa sebenarnya keenam orang yang lain itu?"

"Yang terpenting memang itu yang kutuju"

"Kau tidak berhasil menyelidikinya?"

"Tidak!"

Sorot mata Sim Sam-nio mengunjuk rasa gegetun dan penasaran, katanya masgul.

"Oleh karena itu selama sepuluh tahun ini hidupku teramat sia-sia."

"Kau hanya seorang pembantu dekat Pek-hujin, tapi bekerja juga karena dendam ini sehingga menyia-nyiakan masa remajamu serta jiwamu selama sepuluh tahun ini."

"Karena dia teramat baik terhadapku, selamanya dia menganggap aku sebagai adik kandungnya sendiri."

"Tiada sebab lain?"

"Sudah tentu lantaran juga Pek-toako adalah laki-laki yang menjadi pujaan hatiku."

Tiba-tiba dia mengangkat kepala menatap Yap Kay, katanya pula.

"Agaknya kau seperti ingin sekali menanyakan sampai jelas setiap persoalan ini baru hati merasa lega."

"Memang aku paling suka mengorek keterangan pribadi orang lain."

Mimik muka Sim Sam-nio tiba-tiba berubah sangat aneh, katanya tetap menatap orang.

"Oleh karena itu maka kau pun suka mendekam di atas rumah mencuri dengar pembicaraan orang lain?"

Yap Kay tertawa, katanya.

"Agaknya kau sendiri juga ingin menanyakan semua persoalan baru lega hatimu."

Sim Sam-nio menggigit bibir, katanya.

"Tetapi malam itu, perempuan yang berada di dalam rumah bukan aku"

"Bukan kau?"

Tanya Yap Kay sambil mengedip-ngedipkan mata.

"Bukan!"

Mengawasi orang, mimik muka Yap Kay juga berubah aneh, lama berselang baru pelan-pelan dia bertanya.

"Siapa kalau bukan kau?"

"Cui-long!"

Mata Yap Kay tiba-tiba menyala terang, sampai sekarang baru dia paham, kenapa waktu Pho Ang-soat melihat dirinya hendak menarik Cui-long, air mukanya mengunjuk rasa marah dan naik pitam.

Pelan-pelan Sim Sam-nio mengisi cangkir sendiri dan cangkir Yap Kay, katanya.

"Oleh karena itu perempuan yang bergaul dengan kau malam itu bukan Cui-long."

"Siapa kalau bukan Cui-long?"

Sim Sam-nio menenggak habis secangkir arak, kerlingan matanya seremang kabut tebal, katanya pelan-pelan.

"Terserah kau anggap siapa dia, asal bukan Cui-long...."

Yap Kay menghela napas panjang, katanya.

"Ya, aku sudah mengerti."

"Terima kasih,"

Suara Sim Sam-nio lembut.

"Tapi aku sedikit tidak mengerti."

Tiba-tiba Yap Kay bertanya.

"kenapa kau berbuat demikian?"

Tertunduk dalam kepala Sim Sam-nio, seolah-olah dia malu Yap Kay melihat mimik mukanya. Lama berselang baru dia menghela napas, katanya rawan.

"Untuk membalas dendam, sering aku melakukan apa saja yang tidak senang kulakukan."

"Mungkin setiap orang pernah melakukan apa-apa yang tidak suka dia lakukan."

"Tapi kali ini aku sungguh-sungguh tidak mau melakukannya lagi."

Terpancar rasa iba dan simpatik pada sorot mata Yap Kay, katanya.

"Sudah tentu bukan demi dirimu sendiri."

"Memang aku amat takut bakal mencelakai dia, seharusnya tidak pantas dia punya hubungan dengan perempuan seperti diriku, cuma ... aku pun demi diriku sendiri."

"O!"

Dengan kencang Sim Sam-nio menggigit bibirnya, katanya.

"Aku sudah bekerja sesuai dengan kemampuanku, sekarang aku tidak akan sudi menyentuh laki-laki yang tidak kusenangi."

BAB 20.

MABUK UNTUK HILANGKAN MASGUL Yap Kay mengangkat cangkir, menenggaknya sampai habis, kini terasa arak ini sudah mulai getir.

Sudah tentu dia pun bisa mengerti, perempuan kalau terpaksa harus bergaul dengan lakilaki yang dibencinya, merupakan suatu hal yang amat memukul batin.

Tiba-tiba Sim Sam-nio mengangkat kepala sambil menyingkap rambutnya yang terurai, katanya.

"Selama hidupku ini, belum pernah aku menaruh hati kepada laki-laki siapa pun, kau percaya tidak?"

Sorot matanya mulai kabur, agaknya dia sudah dipengaruhi air kata-kata. Yap Kay menghela napas pelan-pelan, hanya menghela napas saja.

"Sebetulnya Ban-be-tong-cu teramat baik terhadapku, seharusnya dia sudah membunuhku."

"Kenapa?"

"Karena dia sudah tahu siapa aku sebenarnya."

"Tapi dia tidak membunuhmu."

"Maka aku harus berterima kasih kepadanya, tapi aku justru lebih membencinya."

Dengan kencang ia genggam cangkir araknya, seolah-olah cangkir itu ibarat tenggorokan Ban-be-tong-cu dan ingin dicekiknya.

Poci arak sudah kosong.

Yap Kay menuang separo araknya ke cangkir orang.

Selanjutnya dia minum pula setengah cangkir arak ini, minum pelan-pelan, seolah-olah dia merasa amat sayang dengan sisa arak yang tidak banyak lagi ini.

Kata Yap Kay dengan menatapnya.

"Kukira sekarang kau tentu tidak sudi untuk berhadapan pula dengan Ban-be-tong-cu untuk selamanya."

"Aku tidak bisa membunuhnya, terpaksa tidak melihatnya saja."

"Tapi kau memang sudah bekerja sekuat tenagamu."

Tertunduk kepala Sim Sam-nio, matanya mengawasi cangkir di tangannya, katanya tiba-tiba.

"Tahukah kau kenapa aku mau memberitahu semua ini kepadamu?"

"Karena aku adalah laki-laki yang tahu urusan."

Suara Sim Sam-nio lembut "Kau pun laki-laki yang mungil, jika aku masih muda, pasti kuusahakan untuk memeletmu."

"Sekarang kau toh belum tua,"

Sahut Yap Kay mengawasi muka orang. Pelan-pelan Sim Sam-nio mengangkat kepala balas mengawasinya, terkulum pula senyuman di ujung bibirnya yang manis itu, katanya.

"Umpama aku belum tua, tapi sudah terlambat."

Meski cantik senyumannya, tapi seperti membawa perasaan pahit getir yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Senyuman yang pilu dan menyedihkan.

Tiba-tiba dia bergegeas berdiri, putar badan, kembali dia keluarkan sebuah poci arak, katanya tertawa.

"Oleh karena itu sekarang aku hanya ingin menemani kau minum sepuasnya sampai mabuk bila perlu."

"Memang sudah lama aku tidak pernah mabuk lagi."

"Tapi sebelum kau benar-benar jatuh mabuk, ingin aku minta sesuatu supaya kau berjanji kepadaku."

"Silakan berkata "

"Tentunya kau sudah tahu orang macam apa sebenarnya Pho Ang-soat itu."

Yap Kay manggut-manggut, kemudian ujarnya.

"Aku pun amat menyenanginya."

"Kecerdikan otaknya boleh dipuji, apa pun yang dia pelajari, pasti dapat dipelajarinya dengan baik, tapi dia pun seorang yang lemah, meski kelihatan biasanya dia amat kokoh kuat, sebetulnya hanya sedapat mungkin mempertahankan diri belaka, kalau ada sesuatu pukulan yang benarbenar merusak batinnya, pasti dia tidak akan kuat bertahan."

Yap Kay diam saja, dia tengah mendengarkan.

"Waktu dia membunuh Kongsun Toan, aku pun berada di sana, selamanya kau tidak akan pernah membayangkan betapa derita batinnya setelah dia membunuh orang, setua ini hidupku belum pernah aku melihat ada orang muntah-muntah sehebat itu."

"Maka kau kuatir dia ...."

"Aku hanya menguatirkan dia tidak akan tahan mengalami penderitaan itu ... mungkin dia bisa gila jadinya."

"Tapi dia memangnya terpaksa harus membunuh orang."

"Tapi yang paling kukuatirkan hanya penyakitnya itu."

"Penyakit apa?"

"Semacam penyakit yang aneh. di dalam ilmu pertabiban dinamakan penyakit ayan, bila panyakitnya itu kumat, seketika dia tidak akan bisa mengendalikan diri."

Terpancar semacam rona yang sedih pada raut muka Yap Kay, katanya menghela napas.

"Aku sudah pernah menyaksikan sendiri betapa derita keadaannya bila penyakitnya itu kumat."

"Dan yang lebih menakutkan adalah takkan ada orang yang tahu kapan penyakitnya itu bakal kumat, sampai dia sendiri pun tidak tahu, maka dalam sanubarinya selalu dibayangi suatu ketakutan, oleh karena itu selalu dia berada dalam keadaan siap siaga, dalam keadaan tegang, selamanya dia tidak bisa mengendorkan dirinya,"

"Yang Kuasa kenapa justru memberi kesengsaraan dengan penyakit separah itu kepada orang macam dia."

"Untung belum ada orang lain yang tahu akan penyakit anehnya itu, sudah tentu Ban-be-tongcu sendiri pun tak tahu akan hal ini."

"Kau yakin benar bahwa tiada orang lain yang tahu?"

"Pasti tiada,"

Sahut Sim Sam-nio tegas.

Memang dia punya keyakinan, karena dia belum tahu belakangan ini penyakit aneh Pho Ang-soat itu pernah kumat sekali, celakanya penyakitnya itu kumat justru di hadapan Be Hong-ling.

Yap Kay berpikir sebentar, katanya.

"Jika dia merasa tegang, apakah kemungkinan kumatnya penyakit itu lebih besar?"

"Kukira demikian?"

"Jadi bila dia berduel dengan Ban-be-tong-cu. Tentu hatinya teramat tegang."

"Hal inilah yang paling kukuatirkan, kalau saat itu penyakitnya itu kumat ....."

Bibirnya tiba-tiba jadi gemetar, sehingga kata-katanya tidak bisa dilanjutkan, bukan saja tidak berani bicara, sampai memikirkan pun tidak berani. Lekas Yap Kay mengisi pula cangkirnya, katanya.

"Maka kau mengharap aku bisa melindunginya dari samping."

"Aku bukan hanya mengharap, aku sedang memohon kepadamu."

"Aku tahu."

"Kau menerima permintaanku?"

Sorot mata Yap Kay seolah-olah tertuju ke tempat nan jauh pula, lama juga baru dia buka suara.

"Aku boleh melulusi, namun yang kukuatirkan sekarang bukan hal ini."

"Apa yang kau kuatirkan?"

"Tahukah kau, belum satu jam dia kembali, beruntun ada dua orang yang ingin membunuhnya."

Terkesiap darah Sim Sam-nio, tanyanya terbelalak.

"Siapa mereka?"

"Tentunya kau pernah mendengar Toan-yang-ciam Toh-popo dan Bu-kut-coa Sebun Jun."

Sudah tentu Sim Sam-nio pernah mendengar nama mereka. Seketika berubah rona mukanya, gumamnya.

"Aneh, kenapa kedua orang ini ingin membunuhnya?"

"Bukan hal ini yang kuherankan."

"Apa pula yang kau herankan?"

"Baru saja aku menyinggung kemungkinan kehadiran mereka di tempat ini, mereka lantas muncul secara mendadak."

"Apakah kau merasa mereka muncul terlalu cepat? Secara kebetulan?"

"Bukan saja terlalu cepat mereka muncul, kematian mereka pun terlalu cepat, seolah-olah takut ada orang bakal menyelidiki sesuatu rahasia mereka, maka buru-buru diri sendiri ingin mati."

"Bukan kau yang membunuh mereka?"

"Paling tidak aku tidak perlu buru-buru ingin mereka mampus."

"Jadi kau kira ada seseorang yang membunuh mereka untuk menutup mulutnya."

"Mungkin persoalan tidak begitu sederhana."

"Apa maksudmu, aku tidak mengerti "

"Kemungkinan dua orang yang mampus itu bukan Sebun Jun dan Toh-popo yang asli."

"Bisakah kau bicara lebih jelas dan terperinci?"

"Sudah tentu mereka mempunyai suatu alasan yang mendesak, maka terpaksa menyembunyikan diri di sini."

"Benar, aku sependapat dengan kau."

"Sudah sekian tahun lamanya mereka menyembunyikan diri, sudah beranggapan tiada orang tahu jejak mereka."

"Memangnya kenyataan tiada orang yang tahu jejak mereka."

"Tapi hari ini mendadak aku bilang pada orang kemungkinan mereka bersembunyi di tempat ini."

"Cara bagaimana kau tahu?"

Yap Kay tertawa, ujarnya.

"Banyak sekali urusan yang kuketahui."

"Mungkin yang kau ketahui memang terlalu banyak,"

Kata Sim Sam-nio "Kalau aku sudah telanjur bilang kemungkinan mereka berada di sini, sudah tentu ada orang yang lantas mencari mereka."

"Yang mereka takuti bukan orang lain, tapi kau, karena mereka tidak habis mengerti cara bagaimana kau bisa tahu bila mereka berada di sini, mereka pun takkan bisa mereka-reka apa pula yang kau ketahui."

"Mereka kuatir jejaknya bocor, maka sengaja mengatur dua orang lain muncul, malah mereka berdaya-upaya supaya aku betul-betul percaya bahwa kedua orang itu adalah Sebun Jun dan Tohpopo."

"Cara apa yang mereka gunakan?"

"Banyak sekali caranya, salah satu yang paling gampang dilaksanakan, dia menyuruh seseorang membunuh orang menggunakan Toan-yang-ciam."

"Toan-yang-ciam adalah senjata rahasia tunggal milik Toh-popo, maka kau akan menduga bila orang ini adalah Toh-popo."

"Ya begitulah,"

Yap Kay membenarkan.

"Jika ingin membunuh orang, sasaran yang paling baik sudah tentu adalah Pho Ang-soat."

"Memang di situlah titik paling ganjil dari seluruh rencana kerja mereka."

"Kalau kedua orang ini berhasil membunuh Pho Ang-soat, sudah tentu baik sekali, umpama tidak mampu membunuh Pho Ang-soat, yang terang kegagalan itu tidak akan membawa akibat apa-apa kepada rencana mereka."

"Benar sekali,"

Yap Kay setuju akan analisa ini.

"Setelah mereka turun tangan, maka Toh-popo dan Sebun Jun yang asli turun tangan membunuh mereka untuk menyumbat mulutnya, supaya kau beranggapan Toh-popo dan Sebun Jun benar-benar sudah mampus."

"Siapa pun tak bakal tertarik terhadap sesosok mayat yang sudah kaku dingin, selanjutnya sudah tentu tiada orang yang akan mencari mereka."

Berkedip-kedip mata Sim Sam-nio, katanya.

"Sayang sekali ada semacam orang yang selalu punya perhatian dan tertarik terhadap mayat-mayat orang."

Yap Kay tersenyum, katanya.

"Memang ada manusia macam itu di dunia ini."

"Oleh karena itu mereka menganggap hanya membunuhnya saja belum cukup, maka mereka harus melenyapkan mayat-mayat itu pula."

Yap Kay menghela napas, ujarnya.

"Sering aku dengar orang bilang perempuan cantik kebanyakan tidak punya pikiran, agaknya omongan orang tidak bisa dipercaya."

Sim Sam-nio tersenyum lebar, katanya.

"Ada orang bilang, laki-laki yang pintar putar otak, biasanya tidak bisa memutar bacot, agaknya omongan ini tidak berlaku lagi atas dirimu."

Yap Kay tertawa. Seharusnya tidak perlu mereka tertawa saat itu Kata Sim Sam-nio.

"Sebetulnya masih ada beberapa persoalan yang belum kumengerti"

"Silakan utarakan."

"Yang jadi korban kalau bukan Toh-popo dan Sebun Jun, lalu siapa mereka?"

"Aku hanya tahu satu di antaranya memiliki kepandaian silat yang amat tinggi, terang bukan golongan keroco yang tidak punya nama."

"Tapi kau kan tidak tahu siapa dia sebenarnya?"

"Mungkin kelak aku akan tahu."

"Sesuatu yang ingin kau ketahui, akhirnya pasti bisa kau ketahui."

"Mungkin aku ini orang yang selalu dibekali akal dan selalu punya jalan untuk mencapai yang kuinginkan."

"Kalau begitu tentunya kau pun harus tahu, kenapa Toh-popo dan Sebun Jun menyembunyikan diri ke sini."

"Menurut pendapatmu?"

Sikap Sim Sam-nio tiba-tiba jadi serius, katanya.

"Tujuh orang masih hidup di antara ketiga puluh orang pembunuh itu, kemungkinan sekarang kita sudah menemukan dua di antara tujuh orang itu."

Mimik muka Yap Kay pun serius.

"Inilah urusan yang cukup penting dan genting, maka lebih baik kalau kau tidak terlalu cepat berkeputusan akan keyakinanmu."

Sim Sam-nio manggut-manggut, katanya pelan-pelan.

"Boleh tidak kalau aku umpamakan mereka saja."

Yap Kay hanya menghela napas, menghela napas juga merupakan suatu jawaban. Maka Sim Sam-nio meneruskan.

"Jika mereka belum mati, pasti masih berada di sini."

"Tidak akan salah."

"Orang-orang di sini tidak banyak."

"Tapi juga tidak sedikit."

"Menurut pendapatmu, siapa kiranya kemungkinan adalah Sebun Jun? Siapa pula kemungkinan besar adalah Toh-popo?"

"Tadi sudah kukatakan, persoalan ini siapa pun sulit untuk memutuskan terlalu cepat sebelum memperoleh data-data yang nyata."

"Tapi asal mereka belum mati, pasti masih berada di tempat ini."

"Sudah kukatakan tidak akan salah."

"Kalau mereka sembarang waktu bisa mencari dua orang untuk menjual jiwa bagi mereka, maka boleh diduga bahwa di tempat ini pasti banyak kaki tangannya."

"Benar."

"Orang-orang itu sembarang waktu kemungkinan muncul untuk membokong Pho Ang-soat."

Yap Kay manggut-manggut dengan menghela napas.

"Dan hanya hal ini satu-satunya yang amat kau kuatirkan?"

"Dengan bekal kepandaiannya, sudah tentu orang-orang itu bukan tandingannya."

Sim Sam-nio juga manggut-manggut.

"Kalau dia adalah putra tunggal tuan putri Mo-kau, berbagai kepandaian silat dari aliran samping pintu itu yang amat dibanggakan orang Mo-kau tidak sedikit yang dia pelajari."

"Ya, memang tidak sedikit."

"Tapi dia masih kurang memiliki satu hal."

"Hal apa?"

"Pengalaman,"

Katanya pelan-pelan.

"Dalam suasana seperti ini, hal ini merupakan titik tolak yang amat penting, celakanya siapa pun takkan bisa mengajarkannya."

"Oleh karena itu ...."

"Maka kau perlu memberitahu kepadanya, tempat yang benar-benar berbahaya bukan di Banbe-tong, kota kecil inilah yang benar-benar tempat paling bahaya bagi dia, dan lagi dia tidak akan bisa melihatnya, takkan pernah terbayang dan terpikir juga olehnya."

"Kau kira Ban-be-tong-cu sudah mengatur perangkap yang terpendam di dalam kota?"

"Kau pernah bilang, dia adalah seorang yang amat teliti."

"Memang begitulah kenyataannya."

"Tapi sekarang tiada seorang pun yang berada di dekatnya sudi menjual jiwa bagi kepentingannya lagi."

"Memang kematian Kongsun Toan merupakan suatu pukulan berat bagi dia."

"Seorang yang amat teliti dan hati-hati seperti dia, pasti dia pun amat besar perhatiannya bagi perlindungan diri sendiri, umpama benar Kongsun Toan adalah temannya yang paling setia, dia pasti tidak akan mempercayakan keselamatan dirinya untuk dilindungi olehnya."

"Memangnya Kongsun Toan bukan seorang yang benar-benar dapat dipercayai untuk melindungi jiwanya."

"Tentunya dia jauh lebih mengerti akan diri Kongsun Toan daripada kau."

"Oleh karena itu maka kau mengira dia pasti sudah mengadakan persiapan?"

Yap Kay tertawa, ujarnya.

"Kalau dia tidak punya keyakinan untuk menghadapi Pho Ang-soat, masakah sekarang dia masih tetap tinggal di sini."

"Apa kau berpendapat bahwa Pho Ang-soat sudah kehilangan kesempatan untuk menuntut balas?"

"Kalau dia hanya ingin membunuh Ban-be-tong-cu seorang saja, mungkin masih punya kesempatan."

"Jika dia pun ingin mencari keenam orang yang lain?"

"Sulit sekali."

Sim Sam-nio menatapnya lekat-lekat, katanya tiba-tiba dengan menghela napas.

"Sebenarnya kau sedang menguatirkan kami? Ataukah demi Ban-be-tong untuk memberi peringatan kepada kami? Sekarang aku jadi bingung dan tidak bisa membedakan lagi."

"Apa benar kau tidak bisa membedakan?"

"Walaupun kau sudah membeberkan banyak rahasia, tapi bila dipikirkan dengan seksama, hakikatnya semua rahasia itu bagi kita tiada manfaatnya sama sekali."

"O? Lalu?"

"Jika kusampaikan semua rahasia ini kepada Pho Ang-soat, dia malah akan lebih tegang, lebih kuatir, lebih gampang terbokong oleh orang."

"Kau boleh tidak usah memberitahu kepadanya."

Sim Sam-nio menatap mata orang, seolah-olah ingin meraba rahasia hati orang. Tapi dia tidak berhasil, apa pun tidak terlihat olehnya. Akhirnya dia menghela napas, katanya.

"Sekarang aku hanya ingin tahu, kau ini sebetulnya siapa?"

Yap Kay tertawa pula, ujarnya tawar.

"Bukan hanya kau saja yang pertama kali mengajukan pertanyaan ini kepadaku."

"Selamanya tiada orang yang tahu akan asal-usulmu?"

"Itulah karena aku sendiri pun sudah lupa akan diriku sendiri."

Diangkatnya cangkir, katanya tersenyum.

"Sekarang aku hanya ingat aku pernah berjanji kepadamu untuk mengiringi kau minum sampai mabuk."

Mengerling biji mata Sim Sam-nio, katanya.

"Kau benar-benar ingin mabuk?"

Tawa Yap Kay seperti mendelu, katanya kalem.

"Tidak mabuk memangnya apa yang dapat kulakukan?"

Bila Yap Kay siuman, Sim Sam-nio pun sudah mabuk.

Di kala dia mabuk, kini hanya tinggal seorang saja.

Di bawah poci yang kosong tertindih selembar kertas jambon yang ditinggalkan olehnya.

Di atas kertas jambon hanya terdapat sebaris huruf yang ditulis dengan gincu, gincu merah laksana darah.

"Perempuan yang semalam menemani kau minum di sini juga bukan aku" . Gincu yang sudah dipakai masih ditinggal di samping poci kosong, maka Yap Kay lantas menambahkan beberapa huruf pula di baris sebelahnya.

"Hakikatnya semalam aku tidak berada di sini" . Memangnya apa yang bisa dia lakukan bila tidak mabuk? Memang lebih baik mabuk. oo Subuh. Kabut pagi baru saja menguap naik ke udara laksana asap dari daun-daun rerumputan, langit di ufuk timur sudah mulai bersemu kuning kemerah-merahan, bagian luarnya yang agak aneh jauh berwarna putih perak kemilau. Rumput-rumput tumbuh tinggi dan subur menghijau. Yap Kay melangkah keluar, dia menghirup hawa pagi, hawa terasa segar dan basah. Alam semesta seperti masih tertidur, tidak kelihatan bayangan orang, tak terdengar suara apa pun, suatu ketenangan yang damai terasa aneh dan menyelimuti semesta alam nan besar ini. Tentunya Be Hong-ling sekarang masih mendengkur, jarang anak muda yang berturut-turut sampai dua malam tak bisa tidur. Betapapun rasa kantuk takkan bisa mengobati kegelisahan dan kekuatiran hati. Kalau orang tua sih jauh berlainan. Yap Kay percaya Ban-be-tong-cu pasti takkan bisa tidur meski hanya sejenak. Laki-laki seusia dia, setelah mengalami berbagai kejadian yang rumit dan menegangkan ini, kalau benar-benar dia bisa tidur sungguh kejadian luar biasa yang boleh dikata ajaib. Lalu sedang apa dia sekarang? Sedang mengenang dan menyedihi kawannya yang pergi mendahuluinya? Ataukah sedang menguatirkan keselamatan sendiri? Siau Piat-li mungkin juga sudah kembali ke atas lotengnya, mungkin sedang menenggak habis secangkir araknya yang penghabisan sebelum tidur. Entah apakah Ting Kiu sedang di sana tengah menemani dia minum arak? Lalu dimana Pho Ang-soat? Apakah dia bisa menemukan suatu tempat berteduh untuk menenteramkan diri? Yang amat dikuatirkan dan dikenang Yap Kay mungkin adalah Sim Sam-nio. Sungguh dia tidak habis mengerti kemana dia masih bisa pergi? Tapi dia percaya perempuan seperti dia, peduli dalam keadaan dan situasi yang bagaimana pun pasti punya tempat tujuan yang sesuai. Kecuali dia sudah kehilangan harga diri dan pikiran sehatnya. Entah darimana tiba-tiba muncul seekor burung elang yang gundul kepalanya, terbang melayang-layang di angkasa. Kelihatan amat letih dan kelaparan. Dengan mendongak Yap Kay mengawasinya, sorot matanya menunjukkan rona yang penuh diliputi pikiran yang mendalam, mulut menggumam.

"Jika kau ingin mencari orang mati, kau salah mencari sasaran, bukan di sini tiada orang mati, aku pun belum mati."

Dia kedip-kedipkan matanya, tiba-tiba tertawa, sambungnya.

"Untuk mencari orang mati, harus mencari tempat yang ada peti matinya, benar tidak?"

Burung elang itu berpekik rendah, seolah-olah sedang bertanya.

"Mana peti matinya? Dimana peti mati itu ...?"

Oo BAB 21.

PEDANG TANPA SARUNG Api sudah padam.

Toko kelontong Li Ma-hou sudah tinggal tumpukan puing, toko daging yang biasanya jagal kambing, babi dan sapi itu serta warung bakmi itupun mengalami kebakaran total.

Demikian pula gubuk-gubuk kayu di dalam gang kecil itu sebagian besar telah musnah.

Barang-barang perabot yang berhasil tertolong dari amukan api masih berserakan dan bertumpuk-tumpuk di pinggir jalan, beberapa ember kayu yang sudah jebol tengah menggelundung dihembus angin kencang, entah siapa sebenarnya pemiliknya?

Kayu-kayu bakar yang sudah hangus masih kelihatan basah kuyup, terang amukan api baru saja berhasil diatasi, sampai pun hembusan angin masih membawa bau hangus yang menyesakkan napas.

Penduduk kota di perbatasan biasanya bangun pagi-pagi, namun di jalan raya tak kelihatan bayangan seorang pun, mungkin karena semalam bekerja teramat berat dan keletihan menolong kebakaran, kini masih memeluk bantal mendengkur dengan nyenyak.

Kota di pinggiran yang memang sudah jauh dari keramaian ini kini kelihatan semakin sepi serta menyedihkan.

Dengan langkah pelan-pelan Yap Kay beranjak di jalan raya, dalam hati tiba-tiba merasa dibebani adanya dosa.

Betapapun kalau bukan lantaran gara-garanya, api tidak akan mengamuk, seharusnya dia ikut menjinjing ember menolong kebakaran ini.

Tapi semalam dia justru menjinjing poci arak.

Setelah kebakaran besar ini, entah berapa banyak penduduk di kota kecil ini yang bakal kehilangan tempat berteduh.

Yap Kay menghirup napas panjang, tiba-tiba teringat olehnya juragan Thio-losu pemilik warung bakmi itu.

Thio-losu sesuai dengan namanya, memang seorang jujur dan polos, bukan saja dia pemilik atau juragan warung bakmi ini, sekaligus dia merangkap sebagai koki dan pelayan, maka sekujur badannya selalu dibalut selembar kain putih seperti celemek besar yang sudah berlepotan minyak, sejak pagi-pagi sibuk sampai petang hari, hasil jerih payahnya sehari-hari dari keuntungan jual bakmi ini untuk mencari cewek, mengawini istri pun tidak mampu.

Tapi setiap hari dia tetap berseri tawa dan riang gembira, umpama kau hanya makan semangkuk bakmi dengan harga yang paling rendah cuma tiga ketip, dia tetap melayanimu dengan seri tawa dan memandang kau sebagai malaikat rezeki.

Oleh karena itu meski bakmi yang dia masak dan dia suguhkan kepadamu mirip lem, selamanya tiada orang yang mengomel atau menggerutu, tetap digaresnya dengan lahap.

Kini warung bakmi ini sudah tinggal tumpukan puing, orang jujur yang harus dikasihani ini bagaimana selanjutnya akan menyambung hidup?

Ting-losu di sebelahnya tukang jagal babi itu, meskipun sama-sama hidup sebatangkara dan tetap membujang, tapi keadaannya lebih mending daripada dia.

Ting-losu masih mampu mogor di kedai arak Siau Piat-li, menikmati beberapa cangkir arak, ada kalanya malah bisa tidur semalam suntuk di tempat hiburan itu.

Di sebelahnya lagi yaitu toko kapuk, ternyata selamat tidak sampai terbakar, sampai pun papan namanya pun tidak kurang suatu apa, demikian juga dua toko kain dan toko kerajinan tangan yang berada di seberang jalan tetap bertengger dengan megahnya, kecuali kedai arak Siau Piat-li, dalam kota ini terhitung ketiga toko ini yang paling mampu dan berkecukupan, umpama ketiganya terbakar habis juga tidak menjadi soal bagi pemiliknya.

Tapi ketiga toko yang serba kecukupan ini justru tidak kurang suatu apa.

Yap Kay tertawa getir, baru saja dia hendak mencari orang untuk tanya kabar dan dimana kiranya Thio-losu sekarang, tak nyana seseorang malah sudah mencarinya lebih dulu.

Lampion yang tergantung di atas pintu sempit itu ternyata masih menyala.

Seseorang tiba-tiba menjulurkan setengah badannya keluar, sambil melambaikan tangan tak henti-hentinya kepada Yap Kay.

Muka orang itu putih, namun bukan pucat, mukanya selalu dihiasi senyuman gembira, dia bukan lain adalah juragan atau pemilik toko kain sutra dari Hok-ciu itu, yaitu Tan-toakoan.

Di kota kecil ini tiada laki-laki lain yang bisa dibanding dia dalam kepandaian berdagang, juga tiada orang yang begitu besar rezekinya, karena dia memang seorang supel, gampang bergaul dan ramah-tamah.

Yap Kay kenal dia.

Setiap orang yang membuka pintu perdagangan di sini, boleh dikata Yap Kay sudah mengenalnya semua.

Bila merasa dirinya senggang tak punya kerja, maka dia sering mencari orang-orang ini untuk diajak mengobrol, selalu dia bisa memperoleh hasil yang di luar dugaan.

Tapi sekarang sungguh dia tidak habis mengerti untuk keperluan apa Tan-toakoan memanggil dirinya?

Tapi dia segera menghampiri, sengaja dia hiasi mukanya dengan senyuman, belum lagi dia sempat bertanya, kepala Tan-toakoan sudah menyelinap kembali ke balik pintu.

Pintu tetap terbuka.

Terpaksa Yap Kay melangkah masuk, tiba-tiba dilihatnya orang-orang yang hampir seluruhnya dia kenal kini berada di sini, hanya Siau Piat-li seorang yang justru tidak hadir.

Kecuali roman muka Tan-toakoan yang selalu mengulum senyum, boleh dikata roman muka yang lain-lain merengut dan bersungut-sungut, amat prihatin, meja di hadapan mereka tiada hidangan, juga tiada arak, kosong melompong.

Jelas Yap Kay diundang bukan untuk makan minum.

Cuaca belum terang, pelita dalam rumah pun sudah dipadamkan, semua orang yang hadir menarik muka, matanya melotot dan mengawasi dengan tajam, sikap mereka sedikit pun tidak bersahabat.

"Memangnya mereka sudah tahu bahwa kebakaran ini lantaran gara-garaku?"

Yap Kay tersenyum sambil membatin, hampir tak tahan ingin dia bertanya kepada mereka, apakah mengundang dirinya untuk membuat perhitungan dengan orang, namun bukan dirinya yang mereka cari, tapi adalah Pho Ang-soat.

"Sejak kedatangan bocah she Pho itu, malapetaka seolah-olah ikut melanda tempat ini."

"Bukan saja dia main bunuh orang, malah main lepas api membakar rumah segala."

"Sebelum kebakaran ini terjadi, ada orang melihat dengan mata kepala sendiri dia pergi ke sana menemui Li Ma-hou."

"Dia datang kemari, seakan-akan memang hendak membawa malapetaka bagi penduduk kota ini."

"Kalau dia tidak meninggalkan tempat ini, boleh dikata kita bisa tidak bisa hidup tenteram lagi."

Kecuali Tan-toakoan yang tarik urat mengutarakan pendapatnya, juragan Song dari toko kapuk, demikian pula Ting-losu dan Thio-losu, orang-orang yang biasanya tidak pandai bicara ini.

hari ini ternyata sempat juga memberi komentar.

Setiap kali menyinggung nama Pho Ang-soat, kelihatan sikap mereka amat gegetun dan benci sampai mengertak gigi, seolah-olah ingin rasanya menggigit sekeping daging di badannya saking gemasnya.

Yap Kay diam saja mendengarkan, setelah mereka habis bicara, baru dia bertanya dengan nada tawar.

"Cara bagaimana kalian siap menghadapinya?"

Tan-toakoan menghela napas, ujarnya.

"Sebetulnya kami ingin menyuruhnya pergi saja, tapi kalau toh dia sudah kemari, sudah tentu tidak mau pergi begitu saja sebelum keinginannya terlaksana, oleh karena itu "

Oleh karena itu bagaimana?"

Thio-losu segera menimbrung.

"Kalau dia membuat kami tidak bisa hidup tenteram., maka kami pun akan membuatnya hidup tidak tenteram atau membuatnya mampus kalau bisa."

Dengan kepalannya Ting-losu menggebrak meja, katanya keras.

"Walau kita ini rakyat jelata yang suka hidup damai, tapi kalau kita dibuat kepepet dan harus mencari jalan keluar, kukira kita bukan orang yang boleh dibuat main-main."

Juragan Song mengangkat pipa airnya, katanya geleng-geleng.

"Anjing saja kalau kepepet bisa melompati tembok, apalagi manusia?"

Yap Kay pelan-pelan memanggutkan kepala, seolah-olah dia anggap apa yang mereka utarakan memang masuk akal. Setelah menghela napas, kembali Tan-toakoan buka suara.

"Walau kita ada maksud menghadapinya, tapi hati ada maksud sayang tenaga tidak memadai."

Juragan Song menambahkan pula.

"Orang-orang jujur seperti kami ini sudah tentu takkan unggul melawan laki-laki pembunuh."

Kata Tan-toakoan.

"Untung kami kenal beberapa teman yang betul-betul mempunyai kepandaian sejati."

"Sam-lopan (juragan ketiga) maksudmu?"

Tanya Yap Kay.

"Sam-lopan laki-laki yang punya gengsi dan kedudukan, memangnya kami berani mengganggu dia?"

Sahut Tan-toakoan. Yap Kay mengerut kening, katanya.

"Kecuali Sam-lopan, aku sih tidak habis pikir siapa pula tokoh yang punya kepandaian sejati di sini?"

"Yang kumaksud adalah pemuda belia yang bernama Siau Lok."

"Siau Lok? (Lok si kecil),"

Yap Kay menegas dengan heran.

"Meski dia masih muda. kabarnya sudah menjadi tokoh pedang tingkatan kelas satu di kalangan Kangouw."

Juragan Song menambahkan.

"Kabarnya dalam setahun pada tahun lalu, dia membunuh tigaempat puluh orang, malah yang dibunuhnya adalah tokoh-tokoh silat dari Bu-lim."

Thio-losu mengertak gigi, katanya.

"Pembunuh yang ahli membunuh orang seperti dia, maka pantas kalau kita mencari seorang yang ahli juga untuk menghadapinya."

Tan-toakoan tarik suara lagi.

"Itulah yang dinamakan berani bertingkah kita gebuk, sewenangwenang kita hajar."

Yap Kay menepekur, tiba-tiba dia bertanya.

"Siau Lok yang kalian katakan, apakah Lok yang berarti jalan raya itu?"

"Tidak salah,"

Sahut Tan-toakoan.

"Apakah Lok Siau-ka adanya?"

"Itulah dia."

Pelan-pelan juragan Song menghela napas, ujarnya.

"Yap-kongcu, apa kau pun kenal?"

Yap Kay tertawa, sahutnya.

"Pernah kudengar saja, kabarnya orang ini menggunakan sebatang pedang yang teramat cepat dan keji."

Juragan Song segera tertawa lebar, katanya.

"Dua tahun mendatang ini, orang-orang Bu-lim yang tidak atau belum pernah mendengar nama besarnya kukira jumlahnya bisa dihitung dengan jari."

"Ya, memang tidak banyak,"

Yap Kay manggut-manggut.

"Kabarnya Sin-liong-su-kiam (empat pedang naga sakti) dari Kun-lun-san dan Ciangbunjin Tiam-jong-pay juga kalah oleh pedangnya itu,"

Juragan Song mengoceh lagi. Yap Kay manggut-manggut, ujarnya.

"Agaknya juragan Song amat hapal sekali mengenai seluk-beluk sepak terjangnya belakangan ini."

Juragan Song menyengir tawa, katanya.

"Biarlah Yap-kongcu tahu, pemuda yang hebat luar biasa ini adalah putra seorang saudaraku yang lain."

"Dia sudah datang?"

Tanya Yap Kay.

"Agaknya dia belum lupa akan famili tua yang rudin seperti aku ini,"

Juragan Song mengoceh lebih lanjut.

"Dua hari yang lalu dia menyuruh orang memberi kabar kepadaku, maka aku tahu bahwa dia kini berada di sekitar sini."

Ting-losu cepat menambahkan.

"Oleh karena itu kemarin malam kita sudah mengutus orang untuk pergi mengundangnya kemari."

"Kalau tidak terjadi sesuatu di luar dugaan"

Juragan Song berkata lebih lanjut "sebelum matahari terbenam nanti, dia pasti sudah tiba."

Thio-losu mengepal tinjunya, katanya gemas.

"Kalau dia sudah datang, kita akan membikin Pho Ang-soat tahu rasa."

Yap Kay mendengarkan saja, kini tiba-tiba tertawa, katanya.

"Hal ini kalian sudah putuskan bersama, kenapa diberitahukan kepadaku?"

Tan-toakoan tertawa, katanya mendahului yang lain.

"Yap-kongcu kau seorang yang tahu diri, selama ini kami memandang Yap-kongcu sebagai teman sendiri."

Seperti kuatir Yap Kay mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar, segera ia menambahkan.

"Tapi kami juga tahu bahwa Yap-kongcu biasanya juga baik terhadap bocah she Pho itu."

"Apa kalian takut bila aku turut campur dalam persoalan ini?"

Tanya Yap Kay.

"Kami hanya mengharap sekali ini Yap-kongcu jangan lagi melindunginya,"

Pinta Tan-toakoan.

"Aku ini orang jujur,"

Sela Thio-losu.

"maka aku pun bicara sejujurnya."

"Silakan berkata,"

Ujar Yap Kay. Kata Thio-losu.

"Lebih baik kau membantu kami membunuhnya, kilau kau tidak membantu kami. paling tidak jangan membantunya, kalau tidak...."

"Kalau tidak bagaimana ...."

Yap Kay menegas. Thio-losu bangkit berdiri, katanya dengan suara keras.

"Kalau tidak, meski aku tidak dapat merobohkan kau, aku akan mengadu jiwa juga dengan kau."

Yap Kay tertawa lebar, serunya.

"Bagus, memang omongan yang jujur, aku senang mendengar orang bicara dengan jujur."

Thio-losu senang, tanyanya.

"Kau suka membantu kami?"

"Paling tidak aku tidak akan membantu dia."

Tan-toakoan menghela napas lega, katanya mengunjuk tawa.

"Kalau demikian, sungguh kami amat berterima kasih kepadamu."

"Aku hanya mengharap bila Lok Siau-ka tiba di sini, kalian suka memberi tahu kepadaku."

"Sudah tentu, akan kuberi kabar,"

Tan-toakoan menjanjikan. Yap Kay menghela napas, mulutnya menggumam.

"Sungguh sejak I ima aku ingin bertemu dengan orang ini, demikian pula pedangnya itu ...."

Tiba-tiba seseorang menyeletuk.

"Kabarnya pedangnya itupun jarang diperlihatkan kepada orang."

Itulah suara Siau Piat-li. Orangnya masih di atas loteng, namun suaranya sudah berkumandang di bawah. Yap Kay mengangkat kepala, katanya sambil tertawa.

"Apakah pedangnya sama dengan golok Pho Ang-soat?"

Siau Piat-li tersenyum, sahutnya.

"Ada satu hal tidak sama."

"Hal yang mana?"

"Golok Pho Ang-soat peranti membunuh tiga macam manusia, tapi pedangnya hanya membunuh semacam saja."

"Hanya membunuh orang macam apa?"

"Orang hidup,"

Sahut Siau Piat-li, pelan-pelan dia turun dari loteng, kulit mukanya yang selalu pucat itu mengulum senyuman sinis, katanya lebih lanjut.

"Dia tidak sama dengan Pho Ang-soat, dalam pandangannya di dunia ini hanya ada dua macam orang, yaitu manusia hidup dan mati."

"Asal manusia hidup dia ingin membunuhnya?"

Tanya Yap Kay. Siau Piat-li menghela napas.

"Paling tidak belum pernah kudengar ada orang hidup setelah menjadi korban kelihaian pedangnya itu."

Yap Kay juga menghela napas, ujarnya.

"Sekarang aku hanya ingin tahu satu hal."

"Hal apa?"

"Entah pedangnya yang cepat? Atau golok Pho Ang-soat yang lebih cepat."

Oo Memang siapa pun ingin tahu akan hal ini.

oo Surya sudah terbit.

Tio Toa, pemimpin penjaga keamanan kota kecil ini sedang sibuk memimpin anak buahnya membersihkan puing-puing bekas kebakaran.

Orang-orang yang hadir di dalam rumah beramai-ramai keluar melihat dari kejauhan, mulut mereka sedang ribut pula saling berdebat dan berkomentar.

Siau Piat-li dan Yap Kay tetap tinggal di dalam rumah.

Dari jendela Yap Kay melongok keluar mengawasi kesibukan orang-orang di luar, katanya tersenyum.

"Tak nyana Tio Toa mau bekerja begitu giat."

"Sudah tentu dia harus bekerja giat."

"O, kenapa?"

"Siapa yang tidak tahu bahwa Li Ma-hou sebetulnya tidak ceroboh, berdagang selama puluhan tahun, kabarnya dia sudah menabung sampai ribuan tahil perak."

"Uang perak takkan terbakar habis."

"Dia pun tidak punya keturunan."

"Oleh karena itu bila bisa menemukan uang-uang perak itu, bakal menjadi milik dan bagian penjaga keamanan."

"Tak heran mereka tadi bilang kau ini orang yang serba tahu."

"Kau dengar pembicaraan mereka tadi?"

Tanya Yap Kay.

"Bila orang-orang itu mau berbincang, seperti kuatir bila percakapan mereka tidak didengar orang."

"Tak heran kau tidak bisa jatuh pulas, semula kukira ada seseorang menemani kau minum arak di atas."

Berkilat biji mata Siau Piat-li, katanya.

"Kau kira Ting Kiu."

Yap Kay mandah tertawa, ditariknya sebuah kursi, lalu duduk.

"Kau ingin mencari dia?"

Tanya Siau Piat-li.

"Bicara terus terang, yang benar-benar ingin kucari adalah Pho Ang-soat."

"Kau tidak tahu dimana dia berada?"

"Kau tahu?"

Berpikir sebentar, Siau Piat-li menjawab.

"Yang terang dia tidak akan pergi dari sini."

"Mungkin digiring dengan cambuk pun dia tidak mau diusir pergi."

"Tapi sulit dia mencari seorang penduduk yang mau menerima dirinya lagi."

"Agaknya memang amat sulit."

Kata Siau Piat-li lebih lanjut seperti menepekur.

"Namun ada sementara tempat yang tidak dimiliki orang, pintunya pun selalu terbuka lebar."

"Umpamanya tempat-tempat mana saja?"

"Umpamanya, Koan-te-bio ...."

Bersinar biji mata Yap Kay, tiba-tiba dia berdiri, katanya.

"Koan-hucu adalah orang yang paling kukagumi, memang sejak dulu aku sudah ingin pergi ke kuilnya memasang dupa memberi selamat kepadanya."

"Lebih baik kalau kau kurangi jumlah dupa yang kau bakar, supaya tidak membakar rumah "

Yap Kay tertawa, ujarnya.

"Untungnya Koan-hucu selamanya takkan buka mulut, kalau tidak, mungkin bisa terjadi."

Oo Jenazah yang sudah hangus sudah diketemukan dan dikebumikan dengan baik, tapi uang perak yang dicari ubek-ubekan tak ketemu juga.

Tio Toa sementara itu sudah keletihan dan sedang beristirahat di bawah emperan, dengan sebuah cawan besar dia tengah minum air, dengan suara keras dia memerintahkan anak buahnya supaya bekerja lebih giat lagi.

Kalau uang perak itu diketemukan, semua orang akan mendapat bagian yang setimpal.

Yap Kay maju menghampiri, berdiri di sampingnya, tiba-tiba dia berkata hampir berbisik.

"Kabarnya ada orang yang suka menyimpan uangnya dipendam di bawah kolong tempat tidur."

Seketika tergerak hati Thio Toa, berkobar semangatnya, serunya sambil berjingkrak bangun.

"Betul, sejak tadi seharusnya sudah kuduga tempat ini."

Seperti baru sekarang dia sadar yang memberi bisikan adalah Yap Kay, tiba-tiba dia berpaling pula sambil berkata dengan tertawa.

"Jika ketemu, rekening arak Yap-kongcu di sini boleh diteken atas namaku Tio Toa."

"Kukira tidak usah, aku hanya mengharap kau suka membereskan si korban selayaknya, carikan dua peti mati yang baik "

"Peti mati sudah ada, malah tidak usah beli mengeluarkan uang segala."

"O, di sini ada peti mati yang diperoleh tanpa membeli, aku belum pernah dengar."

Tio Toa tertawa, katanya.

"Yap-kongcu masa sudah lupa, beberapa hari yang lalu bukankah ada orang mengangkut peti-peti mati kemari?"

Kembali bersinar biji mata Yap Kay, tanyanya.

"Bukankah peti-peti mati itu hendak diangkut ke Ban-be-tong?"

"Dua-tiga hari belakangan ini agaknya Sam-lopan selalu ketiban sial, siapa yang berani mengangkut peti mati itu ke sana?"

"Lalu dimana peti-peti mati itu sekarang?"

"Sebetulnya ditumpuk di tanah kosong di belakang sana. kemarin waktu api berkobar, lalu kusuruh orang memindahkan ke Koan-te-bio, sungguh menguntungkan orang-orang yang mati beberapa hari ini, setiap orang masih kebagian sebuah peti mati."

"Agaknya orang-orang yang mati di daerah ini memang tepat."

Tio Toa sebaliknya menghela napas, katanya.

"Tapi yang tidak mati hidup di tempat miskin seperti ini, benar-benar tersiksa dalam hidupnya."

"Siapa bilang tempat ini miskin, bukan mustahil di dalam sana ada ribuan tahil uang perak sedang menunggu kau untuk mengambilnya."

"Terima kasih atas pujian Kongcu, segera juga akan kuambil."

Dengan menyingsing lengan baju segera dia memburu ke sana, tiba-tiba dia berpaling pula, katanya.

"Kongcu, bila di sini kau menemui kesulitan apa-apa, aku Tio Toa pasti akan memilihkan sebuah peti mati yang paling baik untuk dirimu."

Mengawasi punggung orang yang beranjak ke sana. sungguh Yap Kay menjadi bingung sendiri, entah dongkol atau geli, lama juga baru dia mengunjuk tertawa getir, gumamnya.

"Agaknya bocah ini memang teman sontoloyo."

Oo Jalan raya ini sudah termasuk daerah mewah di kota kecil ini, sudah tentu tidak hanya melulu terhadap sebuah jalan raya seperti ini saja.

Bila kau tiba di ujung sana, lalu belok ke kiri bangunan rumah, di sini kelihatan jauh lebih sederhana kalau tidak mau dikata sudah bobrok, orang-orang yang menetap di sini kalau bukan penggembala kambing, tentunya para kusir kereta atau tukang cuci binatang, demikian juga pegawai-pegawai dari beberapa buah toko besar di jalan raya ini kebanyakan menetap di sana.

Seorang nyonya yang sudah bunting tua tengah berjongkok membuat api.

Di punggungnya menggendong seorang anak kecil, di pinggirnya masih berdiri tiga orang yang lain, roman muka mereka mirip sayur-sayur hijau yang keputihan, demikian juga dia* sendiri kelihatannya sudah kuyu, sudah tua mirip seorang nenek.

Diam-diam Yap Kay menghela napas, kenapa keluarga yang miskin, anaknya justru semakin banyak?

Apakah karena mereka tidak punya uang pembeli minyak untuk menyulut dian, karena menganggur dan iseng, maka hanya begitulah kerja mereka di malam hari.

Bagaimana pun juga keluarga yang semakin miskin, anaknya semakin banyak, bila anak terlalu banyak, maka keluarga itu lebih miskin lagi, seolah-olah keadaan seperti ini sudah menjadi peraturan yang takkan berubah untuk selamanya.

Tiba-tiba Yap Kay menyadari hal ini merupakan persoalan yang amat penting, tapi tak terpikir olehnya cara bagaimana untuk membatasi kelahiran bayi-bayi dari keluarga miskin itu.

Tapi dia yakin dan percaya, hal ini kelak entah kapan pasti akan bisa ditanggulangi.

oo Maju lagi tidak berapa jauh dari jarak yang tidak boleh dikata dekat kau sudah akan bisa melihat Koan-te-bio yang bobrok tak terurus itu.

Kuil kecil ini sudah jarang dikunjungi orang, tulisan huruf-huruf emas di atas papan pengenalnya pun sudah luntur.

Pintu besarnya sudah reyot hampir roboh, peti-peti mati itu ditumpuk di pekarangan, pekarangan yang tidak begitu besar, maka peti-peti mati sekian banyaknya terpaksa harus ditumpuk.

Patung pemujaan yang terdapat di atas altar masih terpelihara baik, kalau ada orang tidur di bawah kaki patung di atas meja sembahyang jelas masih kuat.

Dan yang terang saat itu memang ada seseorang sedang rebah di sana.

Seorang yang bermuka pucat, tangannya mencekal sebatang golok yang serba hitam, sepasang matanya yang jeli bersinar tengah menatap Yap Kay dengan tajam.

Yap Kay tertawa lebar.

Pho Ang-soat tidak tertawa, mengawasinya dingin, katanya.

"Pernah kukatakan, kau jalan menuju ke arahmu sendiri, aku pergi ke tujuanku sendiri pula."

"Aku pernah mendengar kau berkata demikian."

"Lantas kenapa sekarang kau mencariku kemari?"

Tanya Pho Ang-soat.

"Siapa bilang aku kemari mencari kau?"

"Aku."

Yap Kay tertawa pula.

"Tempat ini hanya ada dua orang, seorang hidup dan seorang tonggak kayu, tentunya kau bukan sedang mencari manusia kayu itu."

"Manusia kayu, maksudmu Koan-hucu?"

"Aku hanya tahu dia adalah manusia kayu."

"Aku tahu selamanya kau tidak pernah menaruh hormat kepada siapa pun, tapi paling tidak kau harus menghormat kepadanya "

"Kenapa aku harus hormat kepadanya?"

"Karena ... karena beliau sudah menjadi malaikat."

"Dia adalah malaikatmu, bukan malaikatku."

"Jadi kau tidak percaya akan adanya malaikat?"

"Yang kupercayai bukan orang macam dia, aku pun tidak habis mengerti perbuatan apa yang patut kau hormati."

"Paling tidak dia tidak sampai dibeli oleh Co Coh, sedikitnya tidak sudi menjual sahabatnya sendiri."

"Banyak sekali orang yang tidak sudi menjual teman sendiri."

"Tapi tentunya kau pun tahu ...."

Pho Ang-soat segera menukas dengan suara dingin.

"Aku hanya tahu bila dia tidak terlalu takabur, negeri Han tidak akan gampang dicaplok dan dimusnahkan oleh musuh."

"Aku juga tahu kenapa kau tidak menaruh hormat kepadanya."

"O, apa yang kau tahu?"

"Karena orang lain banyak yang menaruh hormat kepada beliau, sebaliknya apa pun yang suka kau lakukan pasti dan harus berlainan dengan orang lain "

Pho Ang-soat tiba-tiba melejit bangun sambil memutar badan, pelan-pelan dia tinggal pergi.

"Kau akan pergi begini saja?"

"Hawa di sini terlalu pengap, aku sungguh tak tahan lagi"

Sahut Pho Ang-soat.

"Seseorang bila ingin hidup di dunia ini, maka dia perlu juga merasakan kepengapan itu."

"Itu kan cara berpikirmu, terserah bagaimana kau berpikir, kan tiada sangkut-pautnya dengan diriku."

"Lalu bagaimana menurut pikiranmu?"

"Bagaimana pun pikiranku juga tiada sangkut-pautnya dengan kau."

"Memangnya kau tidak ingin hidup langgeng di dunia ini?"

"Hakikatnya aku memang tidak pernah hidup di dunia ini."

Tanpa berpaling dia tinggal pergi.

Yap Kay tidak melihat rona wajahnya, namun dilihatnya jari-jari tangan yang menggenggam gagang golok tiba-tiba mengencang keras.

Sayang sekali, betapapun besar tenaga remasannya, derita sanubarinya takkan mungkin bisa digenggam remuk.

Mengawasi punggung orang, Yap Kay berkata.

"Adapun yang kau pikirkan, akan datang suatu hari kau pasti akan putar kembali ke dunia ini, karena kau tetap harus bertahan hidup, malah tidak bisa tidak harus hidup."

Seolah-olah Pho Ang-soat sudah tidak mendengar ucapannya, kaki kirinya melangkah setapak, kaki kanannya yang kaku lalu diseretnya maju ke depan.

Mengawasi kaki dan langkah orang, Yap Kay lama kelamaan melenggong, sorot matanya diliputi kekuatiran.

Umpama kata goloknya memang lebih cepat dari Lok Siau-ka, tapi kakinya itu ....

oo Pho Ang-soat sudah keluar dari pekarangan.

Yap Kay tidak menahannya, dia pun tidak menyinggung tentang kedatangan Lok Siau-ka.

Paling cepat Lok Siau-ka akan datang tiga jam lagi, dia tidak mengharap Pho Ang-soat diliputi rasa tegang dari sekarang sampai matahari terbenam nanti.

Memangnya kedatangannya ke sini bukannya ingin memberi peringatan kepada Pho Ang-soat.

Maksud kedatangannya adalah untuk melihat peti-peti mati yang bertumpuk di pekarangannya ini.

oo Seluruh peti-peti mati itu serba baru, pliturnya masih mengkilap terang, tapi sekarang sudah banyak tempat yang lecet dan rusak, cuma tidak terlalu parah, ada sebagian malah sudah rada hangus.

Jika Tio Toa tiba-tiba tidak ketiban rasa bajiknya, mungkin sekian banyak peti-peti mati ini sudah hangus seluruhnya.

Mungkin orang yang melepas api itu memang bermaksud membakar habis peti-peti mati ini juga.

Yap Kay meraup segenggam batu kerikil, duduk di undakan batu di depan pintu, satu per satu dia lempar batu-batu itu ke arah peti-peti mati itu.

Begitu batu mengenai peti-peti mati itu, mengeluarkan suara nyaring, maklumlah biasanya tong kosong berbunyi nyaring.

Demikianlah peti itu pertanda kosong tak berisi.

Seperti anak-anak bermain lempar batu Yap Kay terus melemparkan batu-batunya ke arah peti-peti mati dari satu peti ke peti yang lain, pada lemparannya yang kedelapan, waktu batu membentur peti mati lagi, suaranya justru berubah.

Peti mati yang satu ini seolah-olah ada isi di dalamnya.

Memangnya ada tersimpan apa dalam peti mati ini?

Bahwa peti mati kosong itu ada beberapa jumlahnya, tapi peti-peti yang berisi ternyata ada beberapa buah.

Muka Yap Kay menampilkan mimik yang aneh, segera dia beranjak maju mendekati, beberapa peti yang berbunyi lain itu dia pindah dan dipisahkan.

Kenapa tiba-tiba dia jadi tertarik terhadap peti-peti mati ini?

Waktu tutup peti dia buka, ternyata di dalamnya memang ada isinya.

Seperti lazimnya, peti mati sudah berisi jenazah.

oo Kecuali orang mati apa pula yang patut disimpan di dalam peti mati?

Bahwa di dalam peti mati terdapat mayat orang, sebetulnya bukan suatu hal yang harus dibuat heran.

Tapi mayat yang terdapat di dalam peti mati ini ternyata adalah Thio-losu yang belum lama ini masih bicara dengan dirinya di kedai arak Siau Piat-li.

Dia rebah tenang di dalam peti, cuma kain celemek yang berlepotan minyak biasa membungkus dada dan perutnya itu kini sudah tiada lagi.

Laki-laki jujur yang berjerih payah hidup mencari uang secara sederhana, kini sudah tenang dan tenteram menuju ke alam baka.

Tapi barusan saja dia masih berada di dalam kota, kain celemek yang dekil berminyak itu masih menempel di badannya, kenapa sekarang tahu-tahu rebah di dalam peti mati ini tak bernyawa lagi.

Lebih aneh lagi Tan-toakoan, Ting-losu, juragan Song dan juragan Oh yang mengusahakan hasil bumi di ujung jalan sana pun sama-sama rebah di dalam peti mati yang lain.

Beberapa orang jelas belum lama ini masih berada di dalam kota dan segar-bugar, cara bagaimana mendadak bisa mati semua di sini?

Kapan mereka meninggal?

Waktu dada mereka diraba, jazad mereka sudah dingin dan kaku, paling sedikit sudah sepuluh jam mereka meninggal.

Jika mereka sudah mati sepuluh jam yang lalu, memangnya siapa saja yang mengajak bicara dengan Yap Kay di dalam kota tadi?

Mengawasi mayat-mayat ini sedikit pun Yap Kay tidak menampilkan rasa kaget atau keheranan, dia malah tertawa penuh arti, seolah-olah dia malah menikmati sesuatu dan merasa amat puas.

Memangnya kejadian ini sebetulnya sudah berada dalam dugaannya?

oo Bahwa orang-orang ini mampus, sudah tentu ada sebab-musababnya yang membuat mereka mati.

Maka dengan cermat dan seksama Yap Kay memeriksa luka-luka penyebab kematian mereka, tiba-tiba dia menyeret mayat-mayat itu dari dalam peti, terus disembunyikan ke dalam semak-semak rumput di belakang kuil bobrok ini.

Setelah itu kembali dia tumpuk peti-peti mati itu ke tempat asalnya.

Tapi dia masih belum ingin berlalu, sekali enjot kaki, badannya malah melejit ke atas wuwungan, menyelinap bersembunyi di balik wuwungan dan menunggu dengan sabar.

Siapakah yang sedang ditunggu?

Tidak terlalu lama dia menunggu, maka dilihatnya seekor kuda sedang mencongklang dengan pesatnya dari arah padang rumput nan luas sana, orang yang bercokol di punggung kuda mengenakan pakaian mewah menyala, punggungnya membungkuk besar tumbuh punuk, ternyata orang ini bukan lain Kim-pwe-tho-liong Ting Kiu adanya.

Sudah tentu naga bungkuk berpunggung emas Ting Kiu tidak melihat kehadiran Yap Kay, begitu kudanya dibedal ke arah kuil ini dan berhenti di depan pintu, dari pelananya langsung dia tekan tangannya melejit naik ke pagar tembok.

Peti mati itu tetap bertumpuk di dalam pekarangan, dalam posisi semula seperti tidak pernah disentuh orang.

Dengan seksama Ting Kiu menjelajahkan mata ke sekelilingnya, tidak terlihat bayangan seorang pun di sekitar kuil bobrok ini.

Inilah kesempatan paling baik untuk melepas api.

Maka dia lantas bekerja mulai menyulut api.

Menyulut api untuk membakar sesuatu juga memerlukan kepandaian khusus, agaknya Ting Kiu memang sudah cukup ahli dalam bidang ini, begitu api tersulut dan berkobar, cepat sekali menelan segala benda yang terdapat di sekelilingnya.

Dia sendiri yang membawa peti-peti mati sebanyak ini kemari, sekarang yang membakar dan memusnahkan peti-peti mati inipun dia sendiri pula.

Kenapa dia bersusah-payah mengangkut peti-peti mati ini kemari?

Kenapa pula sekarang ingin membakarnya habis?

oo Matahari sudah bertengger tinggi di angkasa raya, tapi masih cukup lama untuk menunggu matahari ini terbenam ke arah barat.

Yap Kay sudah kembali ke dalam kota.

Tidak bisa tidak dia harus kembali, tiba-tiba terasa perutnya sudah keroncongan dan hampir berontak, laparnya bukan main, seolah-olah ingin rasanya menelan bulat-bulat seekor kuda.

Api masih berkobar-kobar di Koan-te-bio, cuma sekarang sudah rada mengecil, asap masih membumbung tinggi ke angkasa.

"Bagaimana Koan-te-bio bisa terbakar secara mendadak?"

"Tentu si pincang itu lagi yang membakarnya."

Sekelompok orang tengah ribut memperbincangkan kebakaran ini, di antara sekian banyak orang yang menonton kebakaran ini ternyata ada Tan-toakoan, Ting-losu dan Thio-losu.

Sedikit pun Yap Kay tidak merasa heran, seolah-olah dia sudah menduga bakal melihat mereka di tempat ini.

Tapi tidak pernah terbayang olehnya bahwa di sini pula dia bisa melihat Be Hongling.

Be Hong-ling sudah melihat dirinya, seketika terunjuk mimik yang aneh pada roman mukanya, seakan-akan sedang mempertimbangkan, entah apa perlu dia maju menyapa kepadanya.

Tanpa ragu-ragu Yap Kay sebaliknya menghampirinya, sapanya dengan tersenyum.

"Apa kabar? Baik-baik saja selama ini?"

"Tidak baik,"

Sahut Be Hong-ling ketus dengan menggigit bibir.

Berbeda dengan kebiasaannya, hari ini dia tidak mengenakan pakaian serba merah, tapi serba putih, demikian pula air mukanya pucat, kelihatannya rada kurus.

Memangnya beruntun dua malam dia tidak bisa tidur.

Yap Kay mengedip-ngedipkan mata, tanyanya.

"Mana Sam-lopan?"

"Untuk apa kau tanya dia?"

Be Hong-ling melotot.

"Ya, bertanya sambil lalu saja."

"Tidak perlu kau tanyakan."

"Baiklah aku tidak akan bertanya."

Be Hong-ling masih mendelik kepadanya, katanya.

"Aku malah ingin tanya kau, tadi kau pergi kemana?"

Yap Kay tertawa, ujarnya.

"Kalau aku tidak boleh bertanya kepadamu, kenapa kau sendiri bertanya kepadaku?"

"Aku senang."

Berkata Yap Kay dengan tawar.

"Aku pun ingin memberitahukan kepadamu, sayang sekali urusan yang harus dikerjakan laki-laki, ada kalanya tidak boleh diutarakan di hadapan perempuan."

"Jadi kau melakukan kerja yang malu dilihat orang."

"Untung aku tidak bisa dan bukan ahli membakar."

"Memangnya siapa yang melepas api?"

"Boleh kau terka sendiri?"

"Kau melihat bocah she Po itu?"

"Sudah tentu pernah kulihat."

"Kapan kau melihatnya."

"Sepertinya kemarin kalau tidak salah."

Be Hong-ling melotot gusar, dengan gemas dia membanting kaki, mukanya yang pucat berubah merah padam. Entah apa yang dipikirkan, tiba-tiba Tan-toakoan menghampiri dan berkata.

"Entah bisa tidak meluruk ke sana mencari Sam-lopan?"

"Dia tidak akan bisa menemukan,"

Jengek Be Hong-ling.

"Kenapa?"

Tanya Tan-toakoan.

"Karena aku sendiri pun tidak berhasil menemukan beliau."

Kenapa Sam-lopan mendadak menghilang?

Kemana dia pergi?

Ada orang ingin bertanya, tapi pada saat itu terdengar derap langkah kuda yang berlari mendatangi, pembicaraan mereka terputus sementara.

Seekor kuda berbulu hitam mengkilap laksana dilumuri minyak dengan badan tegap dan kaki panjang tengah mencongklang pelan-pelan memasuki kota dari ujung jalan sebelah sana.

Di punggung kuda besar ini bercokol seorang laki-laki bertubuh kekar dan berotot kencang seperti manusia besi, kepalanya gundul, bertelanjang dada, mengenakan celana panjang terbuat dari sutra hitam yang tersulam kembang dengan benang emas, sepatunya lancip, sepasang tangannya tidak memegang kendali, tapi memeluk batang tiang bendera sebesar mangkuk besar.

Di ujung tiang bendera yang empat tombak panjangnya itu, ternyata berdiri pula seseorang.

Baca Juga: Golok Sakti 6

Baca Juga: Pendekar Pendekar Negeri Tayli 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert