Ceritasilat Novel Online

Peristiwa Merah Salju 3

Eps 3 Peristiwa Merah Salju - Gu Long

Baca online Peristiwa Merah Salju - Gu Long

Cersil Peristiwa Merah Salju - Gu Long.

Hanya mendengar derap langkahnya saja lantas bisa membayangkan, kuda yang mendatangi pasti seekor kuda jempolan yang terpilih satu di antara ribuan ekor di antaranya, maka penunggangnya tak usah disangsikan pasti seorang jagoan, dari anak buah Ban-be-tong.

Pada tengah malam buta, jika tiada urusan genting pasti takkan ada orang yang berani mengganggu ketenteraman ayahnya Baru saja dia mengerut kening, lantas didengarnya suara ayahnya yang berwibawa.

"Apakah sudah diketemukan?"

"Buyung Bing-cu sudah ditemukan,"

Itulah suara Hun Cay-thian.

"Kenapa tidak digusur kemari?"

"Dia pun sudah mampus, Ce-suhu menemukan mayatnya empat li dari sini, tubuhnya tercacah hancur oleh orang."

Sekejap hening, lalu terdengar suara lambaian baju meluncur dari jendela atas ke bawah.

Tapal kuda berderap lagi menuju keluar dan hilang ditelan malam.

Sekonyong-konyong timbul perasaan ngeri dan ketakutan luar biasa pada benak Be Hong-ling, Buyung Bing-cu juga mati, dia pernah melihat pemuda perlente yang angkuh ini, kemarin dia masih kelihatan begitu pongah dan sehat, malam ini ternyata sudah jadi mayat.

Demikian pula ahli-ahli kuda ayahnya, dulu waktu kecil suka mengejar dirinya menunggang kuda.

Selanjutnya giliran siapa pula yang terbunuh?

Yap Kay?

Hun Cay-thian?

Kongsun Toan atau ayahnya?

Seluruh penghuni dalam tanah perdikan ini seolah-olah sudah dibayangi kematian.

Dia merasa dirinya sedang gemetar, cepat-cepat dia menarik pintu, dengan telanjang kaki dia berlari keluar, papan di sepanjang serambi yang dilalui terasa dingin laksana es.

Kamar Sam-ik terletak di ujung serambi panjang ini.

Pelan-pelan dia mengetuk pintu, tiada reaksi, ketukannya lebih keras, tetap tidak mendapat jawaban.

Sudah selarut ini, masakah Sam-ik tidak berada dalam kamarnya?

Terpaksa dia memutar ke belakang pintu, pekarangan sepi sunyi, pelita dalam kamar Sam-ik sudah padam.

Sinar bintang menyinari jendela kertas yang memutih ini, dengan keras dia mendorong, daun jendela segera menjeplak terbuka.

"Sam-ik!"

Pelan-pelan dia memanggil ke dalam.

Tetap tidak terdengar penyahutan.

Ternyata kamar ini kosong melompong tiada seorang pun, di dalam selimut yang terbentang itu berisi dua guling besar.

Angin malam terasa dingin menghembus dari pekarangan.

Tak tahan lagi Be Hong-ling bergidik merinding.

Sekonyong-konyong pula disadarinya bahwa orang-orang di sekitarnya, kecuali dirinya, semuanya mempunyai rahasia pribadi masing-masing.

Demikian pula ayahnya.

Selama hidupnya ini belum pernah dia mengetahui akan pnbadi masa silam ayahnya, selamanya dia pun tidak berani bertanya.

Waktu dia angkat kepala dengan terkejut, di ambang jendela tampak sesosok bayangan, seorang raksasa, disusul ia dengar suara Kongsun Toan yang bengis.

"Kembali ke kamarmu!"

Tak berani memandang orang, seluruh penghuni Ban-be-tong, siapa pun merasa takut dan jeri terhadap Kongsun Toan.

Dengan menarik kencang mantelnya, segera dia menerobos keluar sambil menunduk, langsung kembali ke kamarnya, lapat-lapat didengarnya Kongsun Toan sedang tertawa dingin di luar jendela Sam-ik.

oo "Blang", daun pintu dia tarik tertutup dengan keras, jantung Be Hong-ling berdebur dengan keras.

Terdengar lari kuda di luar dibedal keluar dan menjauh, terus tak terdengar lagi.

Dia melompat ke atas pembaringan, menarik selimut terus menyembunyikan diri di dalam selimut, badannya gemetar seperti kedinginan.

Terasa olehnya takkan lama lagi bakal terjadi suatu peristiwa besar di tempat ini, sungguh dia tidak mau melihat peristiwa itu berkembang, dia tak mau mendengarnya juga.

"...sebetulnya aku tidak patut dilahirkan di dunia ini, aku tidak patut tumbuh di dunia fana ini teringat akan kata-kata Pho Ang-soat, tak terasa air mata bercucuran membasahi mukanya. Tak tahan dia bertanya pada diri sendiri.

"Kenapa aku harus dilahirkan? Kenapa aku dilahirkan dalam keluarga ini?"

Bantal Pho Ang-soat pun basah, namun dia sudah pulas dalam tidurnya.

Di saat sadar dia tidak pernah menangis, dia bersumpah sejak kini takkan gampang mengalirkan air mata.

Tapi air matanya bercucuran di tengah alam mimpinya.

Karena kesadaran jiwanya yang suci baru bisa memerangi rasa dendam hatinya, sehingga dia sadar dan bertobat bahwa tadi dirinya sudah melakukan perbuatan terkutuk yang memalukan.

Menuntut balas, memangnya merupakan suatu tingkah-laku dari kehidupan manusia sejak dahulu kala yang turun termurun sudah menjadi tradisi tak tertulis.

Seolah-olah sama tuanya dengan pertumbuhan manusia sejak zaman kuno.

Meski perbuatan rendah seperti itu tidak patut dipuji, namun merupakan suatu yang serius dan gagah.

Akan tetapi hari ini justru dirinya sudah menyalahi kegagahan ini.

Air matanya bercucuran di alam mimpi yang buruk, suatu mimpi yang menakutkan, terlihat dalam impiannya itu ayah bundanya bergelimang di dalam lumpur darah, meronta-ronta di alam bersalju, sedang berteriak-teriak kepadanya supaya dirinya menuntut balas sakit hatinya.

Sekonyong-konyong sebuah tangan yang halus dingin terjulur masuk ke dalam selimutnya, pelan-pelan mengelus punggungnya yang telanjang.

Ingin dia berjingkrak bangun, namun dua tangan dengan hangat dan lembut menekan badannya, disusul sebuah suara merdu dan halus berbisik di pinggir telinganya.

"Kau sedang berkeringat."

Seluruh otot-otot dagingnya yang mengejang seketika mengendor seperti tanggul yang bobol diterjang air bah, betapapun dia akhirnya datang juga.

Gelap sekali.

Jendela sudah tertutup, kerai sudah tertarik, rumah gelap ini bagai sebuah kuburan gelapnya.

Kenapa dia selalu muncul di tengah kegelapan, secara diam-diam, lalu lenyap pula di tengah kegelapan?

Dia membalik hendak duduk, tapi dia menekannya pula.

"Kau hendak apa?"

"Menyulut api."

"Tidak boleh pasang lentera."

"Kenapa? Aku tidak boleh melihatmu?"

"Tidak boleh,"

Sahutnya sambil menurunkan badan menekan dada orang, lalu katanya pula seperti berbisik dengan tertawa.

"Tapi aku boleh berjanji kepadamu, aku bukan perempuan yang jelek, memangnya kau sendiri tidak merasakan?"

"Kenapa aku tidak boleh melihatmu?"

"Karena kalau kau tahu siapa aku, bila di tempat lain kau melihat aku, sikapmu pasti akan berubah, sekali-kali jangan sampai diketahui atau dilihat lain orang bila di antara kita ada mempunyai hubungan gelap ini."

"Akan tetapi.."

"Tapi kelak pasti akan kuberi kesempatan untuk kau melihat aku, namun setelah peristiwa itu berlalu, terserah berapa lama kelak kau ingin mengawasi aku."

Dia tidak banyak bicara lagi, sementara jari-jarinya sedang sibuk membuka kancing bajunya. Namun perempuan itu lekas menangkap tangannya.

"Jangan sembarangan bergerak."

"Kenapa?"

"Aku harus lekas-lekas pulang,"

Sahutnya menghela napas.

"Barusan sudah kukatakan, aku tidak akan membiarkan orang lain tahu akan hubungan rahasia kita ini."

Pho Ang-soat menyeringai dingin dalam kegelapan. Agaknya perempuan itu cukup tahu, dalam keadaan seperti ini bila keinginan laki-laki dicegah atau ditolak, betapapun orang akan marah atau naik pitam.

"Di sini aku sudah tahan menderita hidup selama delapan belas tahu, bertahan terus kau pun takkan bisa membayangkan derita yang kualami, kenapa aku harus bertahan, apa tujuanku?"

Suara perempuan itu menjadi serius dan kereng.

"Tujuanku hanya untuk menunggu kau, menunggu kau menuntut balas. Selama hidupku ini memangnya hanya kuperuntukan pembalasan ini, belum pernah kulupakan, maka kau pun tak boleh lupa."

Tiba-tiba sekujur badan Pho Ang-soat serasa dingin kaku, keringat dingin membasahi kasur dan selimut.

Memangnya dia kemari bukan untuk bersenang-senang.

Bahwa perempuan ini sudi menyerahkan miliknya kepadanya, tujuannya hanya untuk menuntut balas.

"Tentunya kau tahu betapa menakutkan orang seperti Be Khong-cun itu, ditambah anak buah yang membantunya,"

Sampai di sini dia menghela napas, lalu menyambung.

"Jika sekali gempur kita tidak berhasil melumpuhkan dia, kelak mungkin selamanya takkan ada kesempatan lagi."

"Kongsun Toan, Hun Cay-thian dan Hoa Boan-thian, gabungan kekuatan mereka bertiga tidak perlu dibuat takut."

"Bukan mereka yang kumaksud, Hoa Boan-thian dan Hun Cay-thian hakikatnya tidak ikut campur atau tahu seluk-beluk peristiwa itu."

"Memangnya siapa yang kau maksudkan?"

"Sementara orang yang tidak berani unjuk diri, sampai detik ini aku belum berhasil menyelidiki siapa mereka sebenarnya."

"Mungkin hakikatnya tiada orang-orang lain itu."

"Betapapun gagah perkasa ayah dan pamanmu kedua, hanya mengandal Be Khong-cun dan Kongsun Toan berdua, masakah berani, mengganggu usik seujung rambut mereka? Apalagi istri mereka adalah ksatria jantan pula di antara kaum hawa sampai di sini suaranya kedengaran tersendat. Pho Ang-soat sendiri tak mampu bersuara juga, lama juga baru dia melanjutkan.

"Sejak ayahmu meninggal secara mengenaskan, orang-orang Kangouw memangnya amat curiga, tokoh silat mana yang mampu membunuh kedua pasang suami isteri perkasa tiada bandingannya di kolong langit ini?"

"Sudah tentu tiada orang bakal mengira bila Be Khong-cun manusia berhati serigala itu yang melakukannya,"

Suaranya mengandung kemarahan dan dendam.

"Akan tetapi kecuali Be Khongcun dan Kongsun Toan, pasti masih ada orang lain pula, kedatanganku kemari tujuan utama adalah menyelidiki rahasia ini, sayang sekali selama ini belum pernah aku memergoki dia ada hubungan dengan tokoh silat kosen dari dunia Kangouw, sudah tentu dia sendiri pun tutup mulut serapat sumbat botol, selamanya tidak pernah menyinggung peristiwa itu."

"Tujuh delapan tahun penyelidikanmu sia-sia, memangnya sekarang kita lantas bisa berhasil menyelidiki latar belakang peristiwa itu."

"Sekarang paling tidak kita sudah mendapatkan kesempatan."

"Kesempatan apa?"

"Sekarang ada orang yang sedang mengancam dia, bila dia sudah terancam dan terdesak sehingga menemui jalan buntu, sudah tentu dia akan menuntun orang-orang di belakang layar itu."

"Siapa saja yang sedang mengancam dirinya?"

Tidak menjawab dia malah berbalik bertanya.

"Kemarin malam, tiga belas orang itu apakah bunuh diri?"

"Bukan?"

"Lalu kematian kuda itu?"

"Bukan aku yang membunuhnya!"

"Kalau bukan kau, lalu siapa?"

"Memangnya aku pun sedang heran."

"Kau tak bisa menebaknya?"

"Yap Kay maksudmu?"

"Orang ini memang serba misterius, kedatangannya di sini tentu mempunyai sesuatu tujuan, tetapi jelas bukan dia yang membunuh orang-orang dan kuda-kuda itu."

"O? Bukan dia?"

"Aku tahu kemarin malam dia berada bersama siapa."

Untung rumah itu amat gelap, tiada yang tahu akan mimik muka Pho Ang-soat, mimik mukanya amat aneh.

Pada saat itulah terdengar genting di atas kamar mereka berbunyi "Tak".

Seketika berubah air muka si perempuan, katanya dengan nada berat.

"Kau tetap di sini, jangan kau mengeluyur keluar."

Habis kata-katanya dia dorong daun jendela terus menerobos keluar.

Pho Ang-soat melihat sesosok bayangan langsing secara remang-remang, lekas sekali orang sudah menghilang.

Empat orang sudah mabuk dan tak sadarkan diri, keempat orang ini adalah ahli-ahli mengurus kuda dari Ban-be-tong yang sudah berusia lanjut.

Biasanya mereka memang sering mabuk, namun entah kenapa hari ini mereka justru jatuh pulas lebih cepat dari biasanva Menghadapi tiga belas kawan mereka yang setia mendadak mati dengan begitu mengenaskan, menghadapi peristiwa-peristiwa yang mengerikan ini terjadi dan berlangsung secara bertubi-tubi, betapa mereka takkan lekas mabuk?

Waktu orang keempat terjungkal roboh, kebetulan Yap Kay tengah menenteng pakaiannya, menyelinap masuk dari daun pintu sebelah belakang.

Sejak tadi dia sudah berada di sini, barusan dia pergi ke kakus untuk buang air, bila arak terlalu banyak masuk perut, dengan sendirinya orang akan lebih sering kencing, cuma kali ini waktu dia keluar untuk kencing, keluarnya terasa sedikit lama.

Baru saja dia masuk, Siau Piat-li segera memberi kedipan isyarat kepadanya, dia langsung menghampiri.

Senyuman Siau Piat-li seolah-olah mengandung arti yang mendalam, katanya tersenyum.

"Ada orang minta kepadaku untuk menyampaikan sesuatu barang kepadamu."

"Cui-long maksudmu?"

Berkedip-kedip mata Yap Kay Siau Piat-li pun mengedip mata, katanya.

"Apakah selamanya kau ini pintar?"

"Sayang sekali setiap berhadapan dengan perempuan yang kusukai, aku ini menjadi pikun? Lalu dari tangan Siau Piat-li dia menerima sebuah lempitan kertas yang dibikin model jantung, kertas warna biru muda itu ada sebaris tulisan yang berbunyi.

"Adakah kau berikan kembang mutiara kepada orang lain?" . Yap Kay memegangi kembang mutiara di depan dadanya, seolah-olah dia sudah jadi linglung. Mengawasi pemuda di depannya ini, tiba-tiba Siau Piat-li menghela napas, ujarnya.

"Jika aku dua puluh tahun lebih muda dari usiaku sekarang, pasti aku ajak kau berkelahi."

Yap Kay tertawa pula, katanya.

"Peduli berapa usiamu, yakin kau bukan laki-laki yang mau berkelahi lantaran seorang perempuan "

"Agaknya kau keliru menilai diriku."

"O? Masa?"

"Tahukah kau bagaimana kedua kakiku ini sampai putus?"

"Karena perempuan?"

Siau Piat-li tertawa getir, ujarnya.

"Setelah aku tahu bahwa perempuan itu tidak lebih hanya seekor anjing betina, namun sudah terlambat."

Kembali dia tertawa lebar, katanya.

"Tapi si 'dia' itu pasti bukan perempuan seperti yang kulukiskan barusan, dia jauh lebih bersih, lebih suci dari perempuan mana pun yang pernah kulihat, meskipun dia berada di tempatku, namun selamanya belum pernah dia menjual diri sendiri."

"Memangnya apakah yang dia jajakan?"

"Yang dia jajakan adalah ciri laki-laki yang tak bisa membelinya namun semakin besar hasratnya untuk membelinya."

"Kalau kau dorong daun pintu kedua, kau akan memasuki sebuah lorong jalanan, jalanan yang lebar, kedua sisinya berderet meja dan kursi. Pada ujung lorong terdapat sebuah pintu pula. Kalau kau ketuk dan pintu tidak terbuka, maka kau harus menunggu di lorong jalanan lebar ini. Yap Kay sedang mengetuk pintu. Lama juga baru dari balik pintu ada penyahutan.

"Siapa yang mengetuk pintu?"

"Seorang tamu,"

Sahut Yap Kay.

"Hari ini Siocia tidak menerima tamu."

"Bagaimana kalau tamu yang bisa menendang pintu sampai roboh? Mau diterima tidak?"

Ujar Yap Kay melucu. Terdengar tawa cekikikan semerdu kelintingan di balik pintu, katanya.

"Pasti Yap-kongcu yang datang."

Seorang gadis bermata besar jeli dengan tersenyum lebar membuka pintu, serunya "Ternyata benar Yap-kongcu adanya."

"Tamu yang bisa menendang pintu sampai pecah di sini apa hanya aku seorang?"

Tanya Yap Kay tertawa. Nona cilik ini mengerling mata, sahutnya dengan nakal.

"Masih ada satu lagi."

"Siapa?"

"Keledai yang mendorong gilingan!"

BAB 11.

BISIKAN DI TENGAH MALAM Dalam pekarangan kecil ini tertanam beberapa kelompok bambu kuning yang tersebar di sanasini, kembang kuning kecil tumbuh subur di pojokan sana.

Kerai bambu sudah tergulung ke atas, seorang bidadari beralis lentik tak berpupur tak memakai gincu, dengan bertopang dagu sedang duduk di depan jendela mengawasi kedatangannya dengan mendelong.

Raut mukanya mungkin tidak terhitung amat cantik, namun dia memiliki sepasang mata yang seolah-olah bisa bicara, serta mulut berbibir tipis yang pandai berkicau.

Meski dia duduk tenang-tenang di tempatnya, secara wajar sudah menampilkan gaya dan wibawa agung yang memabukkan laki-laki, jauh berlainan dengan kebanyakan perempuan yang sering kalian lihat.

Seorang perempuan demikian, terhadap laki-laki siapa pun pasti sudah cukup berlebihan.

Untuk memperoleh kerlingan manisnya saja banyak laki-laki yang datang kemari, mereka akan pura-pura menjadi seorang laki-laki sejati, seorang sosiawan, seorang laki-laki sejati yang mempunyai uang banyak dan berpendidikan.

Tapi begitu mendorong pintu Yap Kay langsung masuk ke dalam, langsung merebahkan diri di atas ranjangnya, sepatu tingginya pun tidak dicopot lagi, maka tampak dua lubang besar di dasar sepatunya.

Bertaut alis lentik Cui-long, katanya.

"Apa kau tidak bisa membeli sepatu baru?"

"Tak bisa!"

"Tidak bisa?"

"Karena sepatu ini bisa melindungi aku."

"Melindungi kau?"

Yap Kay mengangkat sepatunya, menuding lubang di sepatunya, katanya.

"Kau sudah melihat kedua lubang ini? Dia bisa menggigit orang, siapa-siapa bila tak sungkan padaku, dia akan bisa menggigitnya."

Cui-long tertawa, berdiri dan segera datang menghampiri, katanya tertawa.

"Aku jadi ingin tahu apakah dia bisa menggigit aku."

Kontan Yap Kay menariknya sambil berkata.

"Dia tidak berani menggigit kau, tapi aku berani."

Cui-long menjerit lirih, dengan aleman dia sudah rebah dalam pelukan Yap Kay.

Pintu tidak tertutup, andaikata tertutup, adegan romantis pun takkan bisa terbendung di dalam rumah.

Dengan muka merah nona kecil itu berlari menyingkir, namun dalam hati, besar hasratnya untuk mengintip secara diam-diam.

Burung kenari di emperan agaknya terkejut, segera dia berkicau merdu tak henti-hentinya.

Di atas wuwungan rumah yang gelap itu, mendekam sesosok bayangan orang, sinar bintangbintang yang remang-remang menerangi potongan badannya yang ramping, kepalanya mengenakan cadar menutupi mukanya.

Dia sedang menguntit seseorang hingga tiba di tempat ini, jelas sekali dia melihat bayangan orang itu berkelebat di atap rumah yang mi Namun begitu dia mengejar sampai di sini, bayangan orang itu sudah menghilang.

Dia tahu tempat apa di sebelah sana, namun dia tidak berani turun, tempat ini tidak akan menyambut kedatangan perempuan.

"Siapakah dia? Kenapa dia mencuri dengar pembicaraan kami di atas rumah? Lalu apakah yang sudah didengarnya?"

Kalau ada orang bisa melihat mukanya, pasti dengan jelas melihat mukanya yang diliputi gugup dan ketakutan.

Sekali-kali rahasia dirinya tidak boleh diketahui orang lain, ini merupakan pantangan.

Sejenak ia ragu-ragu, akhirnya dia mengertak gigi melompat turun.

Dia berkeputusan untuk menyerempet bahaya.

Selama hidupnya ini, dia sudah sering melihat berbagai mimik muka laki-laki yang beraneka ragamnya, namun hanya Thian yang tahu, bila seorang laki-laki melihat perempuan memasuki sebuah sarang pelacuran, bagaimana mimik mukanya saat itu.

Mata semua orang terkesima, seolah-olah mendadak melihat seekor kambing masuk ke dalam sarang serigala.

Bagi seekor serigala, bukan saja kedatangan kambing ini merupakan tantangan, malah boleh dikata suatu penghinaan.

Hanya Tuhan yang tahu perempuan yang kesetanan ini untuk apa masuk ke tempat ini, akan tetapi perempuan ini sungguh cantik luar biasa.

Seorang laki-laki jagal yang setengah mabuk matanya melotot bundar.

Orang ini datang dari luar daerah kemari untuk membeli kambing, dia tidak kenal siapa perempuan ini, dia pun tidak tahu perempuan macam apakah perempuan ayu ini.

Yang terang perempuan di dalam rumah ini pasti adalah pelacur, umpama bukan pelacur pastilah kira-kira setingkat dengan itu.

Dengan sempoyongan segera dia berdiri dan maju menghampiri.

Tapi orang yang duduk di sebelahnya segera menariknya.

"Jangan perempuan ini."

"Kenapa?"

"Dia sudah punya keluarga."

"Keluarga siapa dia?"

"Ban-be-tong!"

Tiga huruf nama ini seolah-olah mempunyai tenaga gaib, bola yang baru saja melembung seketika menjadi kempes lagi.

Sam-ik melangkah masuk, mukanya mengulum senyum manis, pura-pura tidak mendengar dan tidak menghiraukan bisik-bisik orang lain.

Sebetulnya tidak bisa tidak dia harus mendengarkan.

Ada sementara laki-laki yang menatap dirinya, warna matanya seolah-olah sedang melihat dirinya mondar-mandir di hadapannya dengan telanjang bulat.

Untunglah Siau Piat-li segera menyapa dia.

"Sim Sam-nio untuk apa kau kemari? Sungguh merupakan tamu agung!"

Langsung dia menghampiri ke sana, katanya tersenyum.

"Siau-sianseng tidak menyambut kedatanganku?"

Dengan tersenyum Siau Piat-li menghela napas, ujarnya.

"Sayang sekali aku tidak bisa berdiri menyambut kedatanganmu."

"Aku kemari mencari orang."

"Mencari aku?"

"Kalau aku hendak mencari kau, tentu datang di saat tiada orang di sini."

"Aku pasti menunggumu, yang terang aku tidak perlu takut orang mengurungi kedua kakiku lagi."

Keduanya sama-sama tertawa. Keduanya sama-sama maklum masing-masing adalah rase tua yang licin dan licik "Cui-long ada tidak?"

"Ada, kau hendak mencari dia?"

"Ehm!"

Siau Piat-li menghela napas pula, ujarnya.

"Kenapa laki atau perempuan ingin menemui dia?"

"Aku tidak bisa tidur, ingin mengajak ngobrol dia."

"Sayang sekali kau terlambat setindak."

Bertaut alis Sim Sam-nio, katanya.

"Memangnya di dalam kamarnya malam-malam begini juga ditempati tamu?"

"Kali ini seorang tamu yang istimewa."

"Apanya yang istimewa?"

"Istimewa karena dia rudin."

"Tamu yang terlalu rudin, masakah kau pun membiarkan dia masuk?"

"Sebenarnya ingin aku memperingati dia, sayang sekali berkelahi aku bukan tandingannya, lari pun kalah cepat."

"Kau tidak membohongi aku?"

"Berapa orang yang bisa membohongi kau di dunia ini?"

"Siapakah orang yang kau maksud itu?"

"Yap Kay."

"Yap Kay?"

"Sudah tentu kau tidak akan mengenalnya, walaupun dia baru dua hari datang kemari, orang yang mengenalnya sudah tidak sedikit jumlahnya."

Senyum Sim Sam-nio masih begitu manis menggiurkan, namun sorot matanya sudah menampilkan hawa nafsu yang runcing tajam.

Namun cepat sekali kelopak matanya yang memicing melebar pula.

Dilihatnya seseorang.

"Blang" , mendorong pintu dengan kasar, dengan langkah lebar masuk ke rumah itu. Seorang raksasa bagai gembong iblis yang garang. Dengan memegangi gagang goloknya Kongsun Toan berdiri di ambang pintu, mimik marah dan seringai mukanya yang bengis sungguh cukup membuat orang yang bernyali kecil berhenti napasnya. Demikianlah napas Sim Sam-nio serasa sudah berhenti. Siau Piat-li menghela napas, ujarnya.

"Orang yang harus datang tiada satu pun yang muncul, orang yang tidak harus kemari justru datang semua."

Dipunggutnya selembar kartu gadingnya, lalu pelan-pelan diraba-raba serta diletakkan kembali di atas meja, katanya pula sambil geleng-geleng kepala.

"Agaknya besok pasti ada hujan badai, kalau tiada urusan lebih baik jangan keluar pintu."

Kongsun Toan tiba-tiba menghardik keras.

"Kemari kau!"

Laki-laki jagal itu tiba-tiba berjingkrak bangun, teman di sebelahnya tak sempat menariknya, tahu-tahu orang sudah menerjang ke depan Kongsun Toan, katanya keras sambil menuding hidung Kongsun Toan.

"Bicara terhadap perempuan mana boleh sekasar tampangmu ini, awas kau Belum habis bicara, tiba-tiba tangan Kongsun Toan melayang menggampar mukanya. Perawakan si jagal ini cukup tinggi besar dan kekar lagi, namun badannya yang beratnya ratusan kati itu ternyata terlempar terbang oleh tempelengan sekali saja, melampaui dua meja.

"Blum!" , dengan keras menumbuk dinding. Waktu badannya melorot jatuh, mulutnya berdarah, kepala pun bocor, darah bercucuran Melirik pun Kongsun Toan tidak memandang kepadanya, matanya tetap melotot kepada Sim Sam-nio, bentaknya bengis.

"Kemari!"

Kali ini Sim Sam-nio tidak bersuara lagi, sambil menunduk dia melangkah maju. Kongsun Toan tidak banyak bicara lagi.

"Blak", dia mendorong pintu hingga terbuka, katanya.

"Ikut aku keluar!"

Kongsun Toan berjalan di depan, Sim Sam-nio mengikut di belakang.

Langkahnya sungguh amat lebar, sedapat mungkin Sim Sam-nio mempercepat langkahnya baru bisa mengintil di belakangnya, gerakan Ginkang sekali lompat tiga tombak jauhnya tadi, kini sudah dilupakannya sama sekali.

Malam sudah semakin larut Lumpur becek di jalan raya belum kering, setiap tapak berjalan pasti meninggalkan jejak lubang yang cukup dalam.

Angin menghembus dari arah padang rumput, dingin sekali.

Dengan langkah lebar Kongsun Toan menuju ke ujung jalan tanpa menoleh, mendadak dia buka suara.

"Untuk apa kau keluar?"

Pucat muka Sim Sam-nio, katanya.

"Aku toh bukan tawanan, sembarang waktu aku ingin keluar pun boleh."

"Kutanya kau,"

Seru Kongsun Toan kata demi kata.

"untuk apa kau keluar?"

Suaranya kalem, namun setiap patah katanya membawa tekanan berat, buas dan diliputi nafsu membunuh. Sim Sam-nio menggigit bibir, akhirnya dia menunduk dan menjawab.

"Aku keluar ingin mencari orang."

"Mencari siapa?"

"Memangnya peduli apa dengan kau?"

"Urusan Be Khong-cun adalah urusan Kongsun Toan pula, tiada orang yang boleh mengingkari dia."

"Kapan aku pernah mengingkari dia?"

"Barusan!"

Hardik Kongsun Toan bengis.

"Kalau hanya ingin mengobrol dengan perempuan terhitung mengingkari dia, jangan kau lupa aku inipun seorang perempuan, sudah biasa perempuan suka mengobrol dengan perempuan."

"Siapa yang kau cari?"

"Nona Cui-long!"

"Itu bukan perempuan, dia itu pelacur!"

"Pelacur? Kau pernah melacuri dia? Kau ingin melacuri dia?"

Mendadak Kongsun Toan membalik badan, sekali melayangkan kepalannya yang gede dia hantam perut orang.

Sim Sam-nio tidak berkelit, juga tidak melawan.

Mulutnya mengeluarkan suara seperti babi disembelih, seketika badannya meliuk sambil sempoyongan mundur tujuh delapan langkah, akhirnya jatuh terduduk di tanah, mulut seketika muntah-muntah, air kecut dalam perutnya pun tumpah keluar Kongsun Toan memburu maju, sekali raih dia jambak rambut orang terus dijinjingnya serta membentak beringas.

"Aku pun tahu kau inipun pelacur, tapi kau pelacur ini sekarang sudah tidak bisa menjajakan diri lagi."

Sim Sam-nio mengertak gigi, sedapat mungkin dia menahan diri, namun air matanya tak tertahan telah bercucuran, katanya gemetar.

"Kau ...apa yang kau inginkan?"

"Pertanyaan yang kuajukan, harus kau jawab dengan baik, tahu tidak?"

Sim Sam-nio mengertak gigi tanpa menjawab.

Telapak tangan Kongsun Toan segede kapak segera menabas ke pinggangnya.

Seketika badan Sim Sam-nio seperti hampir mengkeret meringkuk kesakitan, air mata bercucuran lebih deras.

"Kau tahu tidak?"

Hardik Kongsun Toan. Terpaksa dengan badan bergetar Sim Sam-nio manggut-manggut "Jam berapa kau keluar?"

"Baru saja."

"Langsung kemari?"

"Kau sudah bertemu dengan pelacur itu?"

"Belum."

"Kenapa belum?"

"Dia sedang terima tamu."

"Kau tidak mencari orang lain? Tidak pergi ke lain tempat?"

"Tidak."

"Tidak?"

Kembali kepalannya menghajar dengan keras, mengenai daging mengeluarkan suara yang aneh, agaknya dia senang mendengar suara seperti ini. Tak tahan Sim Sam-nio berteriak.

"Betul-betul tidak, betul-betul tidak"

Kongsun Toan menatapnya dengan beringas, kepalannya terkepal. Mendadak Sim Sam-nio menubruk maju, dengan kencang dia memeluknya, serunya dengan sesenggukan keras.

"Jika kau suka memukulku, pukullah aku sampai mati... bunuhlah aku saja."

Dengan kedua tangannya dia memeluk leher orang, sementara kedua kakinya memiting pinggangnya.

Seketika timbul suatu perubahan pada badan Kongsun Toan, dia sendiri sudah merasakan akan perubahan ini.

Dengan merebahkan kepala di atas pundaknya, Sim Sam-nio sesenggukan lebih memilukan, ratapnya.

"Aku tahu kau suka memukulku, pukullah, pukullah!"

Badannya bergerak-gerak dengan aneh dan merangsang, demikian pula kedua kaki dan pantatnya ikut bergoyang-goyang.

Kemarahan yang memancar dari sorot mata Kongsun Toan kini sudah berubah menjadi nafsu birahi, jari-jari yang terkepal kencang pun mulai mengendor.

Deru napas orang tepat berada di pinggir kupingnya, di atas Napasnya mendadak menderu-deru kasar seperti banteng kehabisan tenaga Ini Sam-nio merintih dan mengigau.

"Kau bunuh aku pun tak menjadi soal, yang terang aku tidak akan memberitahu kepada orang lain "

Kongsun Toan sudah mulai gemetar.

Siapa pun takkan percaya laki-laki inipun bisa gemetar.

Siapa pun takkan bisa membayangkan manusia segede dan sekekar ini macam apa tampangnya bila dia gemetar menahan emosi.

Jika kau kebetulan bisa menyaksikan, pasti kau tidak akan merasa tak mungkin malah akan merasa takut, takut sekali.

Kini mimik mukanya pun tengah menampilkan derita, karena dia tahu dirinya harus menahan keinginan dan nafsu yang menyala-nyala ini.

Lalu dia melayangkan lagi kepalannya memukul perut orang, seketika badan Sim Sam-nio mengejang dan kelojotan, tangan terlepas, kaki pun lemas jatuh ke tanah berlumpur, badannya meringkuk seperti cacing.

Kini tangan Kongsun Toan terkepal lagi, dengan melotot menyeramkan, tiba-tiba dia meludah ke muka orang, lalu melangkah lewat badan orang, mencari kudanya.

Bukan perempuan ini yang dia benci, dia ingat dirinya sendiri, gegetun kenapa dia harus menolak tawaran menantang ini, kenapa pula dirinya tidak berani menerimanya?

Kini Sam-nio sudah menyeka air mata.

Pukulan tangan Kongsun Toan laksana tanduk sapi, tempat dimana terkena pukulan, dagingnya sakit mencapai tulang sumsum, sebelum besok pagi, tempat-tempat bekas pukulan itu pasti akan menghijau besar.

Akan tetapi sedikit pun hatinya tidak merasa marah, penasaran dan mengeluh karena sekarang dia sudah tahu Kongsun Toan sekali-kali tidak akan membocorkan kejadian ini kepada siapa pun, dia tidak ingin Ban-be-tong cu mengetahui bila di waktu malam dirinya pernah keluyuran di luar.

Kini yang tahu rahasia dirinya tinggal seorang lagi, orang yang mencuri dengar di atas rumah itu.

Apakah Yap Kay?

Dia mengharap semoga orang itu bukan Yap Kay.

Karena seseorang yang dirinya sendiri mempunyai rahasia, biasanya takkan membocorkan rahasia orang lain.

Sekarang dia yakin dirinya punya pegangan buat menghadapi Yap Kay.

"Apa benar kau ini Yap Kay?"

"Apa tidak boleh bila aku ini Yap Kay?"

"Tapi orang macam apakah sebenarnya Yap Kay itu?"

"Seorang laki-laki amat miskin namun juga pandai terutama menghadapi perempuan mempunyai caranya sendiri."

"Berapa banyak perempuan yang pernah kau miliki?"

"Coba kau terka?"

"Perempuan-perempuan macam apa saja mereka itu?"

"Semua bukan perempuan baik-baik, tapi terhadapku cukup baik."

"Dimana saja mereka berada?"

"Dimana saja ada, selama hidup aku paling takut naik ke ranjang tidur seorang diri, mirip sekali bila mau main catur seorang diri."

"Tiada orang yang mengurus kau?"

"Aku sendiri tidak bisa mengurus diriku."

"Di rumah kau tidak punya sanak-kadang lainnya?"

"Rumah pun aku tidak punya."

"Lalu darimana kau kemari?"

"Dari tempat aku kemari."

"Mau ke tempat yang hendak kau tuju?"

"Baru sekarang ucapanmu benar."

"Selamanya kau tidak pernah membicarakan kisah hidupmu masa lalu dengan orang?"

"Selamanya tidak."

"Apakah kau mempunyai banyak rahasia yang tak ingin orang tahu?"

Yap Kay duduk di sampingnya, mengawasinya, di bawah pancaran sinar pelita yang remangremang kelihatan rada pucat dan letih. Tapi matanya masih terpentang lebar. Tiba-tiba dia berkata.

"Aku hanya punya satu rahasia."

Semakin membelalak biji mata Cui-long, tanyanya.

"Rahasia apa?"

"Aku ini siluman rase tua yang sudah bertapa menjadi manusia hidup selama sembilan ribu tujuh ratus tahun."

Lalu dia melompat turun dari pembaringan, memakai sepatunya dan mengenakan pakaian terus melangkah keluar.

Cui-long menggigit bibir, diam saja mengawasi orang keluar, mendadak sekeras-kerasnya dia pukuli bantal di sampingnya, seolah-olah dia mengharap bantal ini adalah Yap Kay.

*** BAB 12.

AHLI SENJATA RAHASIA Pekarangan kecil ini sepi lengang tak terdengar suara apa pun, loteng kecil di bagian belakang itu ada cahaya api yang menyala keluar.

Siau Piat-li sudah naik ke loteng?

Apa saja yang dia dapat kerjakan bila berada di atas loteng sekecil itu?

Apakah di atas loteng juga ada kartu untuk meramal?

Ataukah ada perempuan yang dia rahasiakan?

Sejak mula Yap Kay sudah merasakan seorang misterius yang menarik perhatiannya, pada saat itulah tiba-tiba muncul tiga bayangan orang di atas kertas jendela.

Tiga orang.

Baru saja mereka berdiri, bayangan mereka segera lenyap tersorot oleh cahaya api.

Bagaimana mungkin ada tiga orang di atas loteng kecil itu?

Siapakah dua orang yang lain?

Berkilat sorot mata Yap Kay, sungguh tak kuasa dia kendalikan rasa ingin tahunya.

Jarak pekarangan dan loteng itu tidak jauh, setelah mengencangkan pakaiannya, segera dia melejit terbang ke arah sana.

Bangunan loteng ini model persegi, dikelilingi pagar kayu, bentuk bangunannya mirip dengan gardu pemandangan, dengan ringan ujung kakinya menutup pagar, badannya terus bergelantung di emperan loteng.

Kebetulan daun jendela yang teratas sedikit terpentang, dari sini bisa mengintip ke dalam, kebetulan dapat dilihatnya di dalam rumah tepat di tengah-tengah terdapat sebuah meja bundar.

Di atas meja tersedia hidangan dan arak.

Dua orang sedang minum arak duduk berhadapan, yang menghadap kemari adalah Siau Piat-li.

Di hadapannya duduk seorang yang mengenakan pakaian perlente, jari-jari tangannya yang sedang mengangkat sumpit mengenakan tiga buah cincin yang bentuk masing-masing amat aneh.

Kelihatannya mirip tiga buah bintang.

Orang ini ternyata adalah seorang bungkuk.

Sinar api dalam rumah tidak begitu terang, namun hidangan dan araknya justru masakan yang paling mahal dan lezat.

Si bungkuk dengan pakaian perlente tengah mengangkat cangkir araknya dengan jari-jari tangan yang bercincin aneh itu.

Cangkirnya bening hijau dan kemilau, ternyata buatan batu pualam yang terukir indah.

Siau Piat-li sedang tertawa, katanya.

"Bagaimana arak ini?"

"Araknya biasa, cangkir ini masih mending,"

Agaknya si bungkuk ini jauh lebih pintar berfoyafoya dibanding Siau Piat-li.

"Aku memang tahu kau sukar dilayani, maka sengaja kutitip orang untuk membeli anggur Persia asli ini dari selatan, tak nyana hanya mendapat pujian 'biasa' dari kau."

"Anggur Persia ada beberapa macam kwalitas, yang ini memang yang paling biasa."

"Kenapa kau sendiri tidak mau membawa yang paling baik."

"Sebetulnya sudah kusiapkan, sayang sebelum aku berangkat terjadi sesuatu sehingga keberangkatanku terburu-buru dan lupa membawanya."

Naga-naganya mereka memang sudah berjanji untuk mengadakan pertemuan di sini.

Yap Kay semakin tertarik, karena sekarang dia tahu si bungkuk ini adalah Kim-pwe-tho-liong (naga bungkuk berpunggung emas) Ting Kiu adanya.

Siapa pun takkan menyangka Kim-pwe-tho-liong ternyata menyembunyikan dirinya di sini?

Apalagi sudah berjanji lebih dulu dengan Siau Piat-li.

Kenapa dia membawa peti-peti mati itu?

Apakah dia ada intrik dengan Siau Piat-li untuk menghadapi Ban-be-tong-cu?

Diam-diam Yap Kay mengharap Siau Piat-li bertanya kepada Ting Kiu, apakah sebenarnya yang terjadi sebelum dia pergi?

Tapi Siau Piat-li justru mengalihkan pokok pembicaraannya, katanya.

"Waktu datangmu kali ini adakah di tengah jalan kau bertemu dengan perempuan yang amat yahud?"

"Tidak, belakangan ini perempuan yang betul-betul yahud, seolah-olah sudah semakin jarang."

"Kemungkinan lantaran sekarang kau sudah mulai bosan bermain dengan perempuan."

"Kabarnya di tempatmu ini ada perempuan yang hebat."

"Bukan saja hebat, boleh dikata malah dahsyat."

"Kenapa tidak kau undang dia kemari untuk menemani kita makan minum?"

"Dalam dua hari ini tidak boleh."

"Kenapa?"

"Dalam dua hari ini dalam benaknya sudah ada orang lain."

"Siapa?"

"Laki-laki yang mendapat perempuan seperti dia pasti akan tergerak dan tertarik, tentulah mempunyai kepandaian yang lain dari yang lain."

Ting Kiu manggut-manggut.

Biasanya dia jarang mau menyetujui komentar seseorang, namun kali ini berlainan.

Tiba-tiba Siau Piat-li seperti tertawa geli, ujarnya "Tapi ada kalanya orang ini justru seperti orang goblok."

"Goblok?"

"Habis bisa tidur bergumul dalam selimut yang wangi dan hangat dia tidak mau, malah senang bersembunyi di luar terima dihembus angin malam."

Semula hati Yap Kay amat senang karena dirinya dipuji-puji.

Memangnya laki-laki siapa pun bila mendengar orang lain sedang memperbincangkan kehebatan dirinya dalam bermain perempuan, hatinya tentu amat bangga dan syur.

Akan tetapi kata-kata Siau Piat-li selanjutnya sungguh membuat perasaannya sangat tidak enak.

Mendadak dia merasa dirinya memangnya seperti maling kecil yang baru saja ditendang keluar dari atas ranjang oleh orang.

Sementara Siau Piat-li sudah berpaling keluar ke tempat persembunyiannya, mukanya tengah berseri tawa mengawasi daun jendela dimana dia bersembunyi.

Tangan Ting Kiu yang mengenakan cincin aneh itu sudah meletakkan cangkir di atas meja, gaya dan gerakan tangannya itu amat aneh.

Dia pun berpaling seraya berkata dengan tergelakgelak.

"Tuan rumah enak-enak minum arak di dalam, masakah membiarkan tamunya minum angin di luar, tuan rumahnya memang kurang genah."

Terpaksa Yap Kay membuka jendela dan melayang masuk.

Waktu di luar pekarangan tadi, Yap Kay melihat tiga bayangan orang, lalu dimana bayangan orang ketiga itu?

Segala perabot dalam loteng kecil ini amat sederhana, terang tak mungkin ada tempat buat bersembunyi.

Maklumlah di tempat sempit ini, segala keperluan diletakkan di tempattempat yang strategis sehingga sembarang waktu asal kau menggerakkan tangan bisa menjamahnya dengan mudah.

Dari atas rak kayu di sebelahnya Siau Piat-li mengambil sebuah cangkir yang terbuat dari batu jade buatan zaman dinasti Han, katanya sambil tersenyum.

"Aku ini orang malas, orang cacad lagi, kalau tiada keinginan tidak ingin bergerak."

Yap Kay menghela napas, ujarnya.

"Kalau orang malas seperti kau terlalu banyak di dunia ini, kehidupan dunia pasti jauh lebih nyaman."

"Karena komentarmu ini, kau cukup setimpal untuk mencicipi arak anggur buatan Persia ini."

"Sayang sekali arak ini adalah kwalitas yang paling biasa,"

Lalu Yap ay angkat cangkir itu ke arah Ting Kiu, katanya lebih lanjut.

"Tempo hari aku sudah bertemu dengan Ting-siansing, maaf kalau aku kurang adat."

Ting Kiu membesi muka, katanya dingin.

"Kau tidak kurang adat, juga tidak usah minta maaf segala."

Berkata pula Yap Kay.

"Namun terhadap laki-laki vang amat paham mengenai seluk-beluk arak dan perempuan, selalu menaruh hormat dan salut."

Muka Ting Kiu yang pucat buruk itu mendadak berubah senang, katanya.

"Siau-lopan barusan hanya salah mengucapkan kata-katanya."

"O, kata-kata apa?"

Tanya Yap Kay.

"Bukan saja kau pintar main perempuan, terhadap laki-laki kau pun pintar bermanis-manis mulut."

"Itupun tergantung apakah dia itu benar-benar seorang lelaki, belakangan ini laki-laki yang benar-benar sejati sudah banyak berkurang."

Tak terasa Ting Kiu tertawa geli.

Laki-laki yang buruk rupa akan selalu merasa dirinya jauh lebih punya pambek sebagai laki-laki sejati dari anak muda yang ganteng, demikian pula bagi perempuan buruk yang selalu merasa dirinya lebih pintar dari perempuan cantik lainnya.

Baru sekarang Yap Kay berkesempatan menenggak habis arak dalam cangkirnya!

Suasana pertemuan tiga pihak kini mulai mengendor dan riang, dia tahu ucapan muluk-muluk yang perlu dia utarakan sudah lebih dari cukup.

Lalu apa pula yang harus dia ucapkan?

Pelan-pelan Yap Kay menduduki kursi yang tinggal satu, memangnya di sini tadi tempat duduk orang ketiga itu.

Cara bagaimana baru dia bisa mencari tahu orang ini?

Dengan cara apa pula baru dia bisa mengorek keterangan rahasia mereka?

Bukan saja dia memerlukan suatu pertanyaan yang lihai dengan cara diplomasi, malah pertanyaan inipun tidak boleh meninggalkan bekas-bekas yang mencurigakan.

Di saat Yap Kay menepekur dan menimbang-nimbang, tiba-tiba Ting Kiu berkata.

"Aku tahu kau pasti punya banyak omongan yang hendak ditanyakan kepadaku."

Mimik mukanya masih mengulum senyum, namun sorot matanya sedikit pun tidak merasa senang, katanya pelan-pelan.

"Tentunya kau ingin tanya kepadaku, kenapa datang ke tempat ini? Kenapa mengantar peti mati sebanyak itu? Bagaimana pula bisa kenal dengan Siau-lopan? Persoalan apa pula yang sedang dirundingkan di sini?"

Yap Kay juga berseri tawa, namun sorot matanya dingin tajam, diam-diam dia menginsyafi bahwa Ting Kiu ternyata jauh lebih sukar dihadapi dari apa yang dia bayangkan sebelumnya.

"Kenapa kau tidak bertanya?"

Ting Kiu bertanya.

"Jika aku bertanya, apakah ada gunanya?"

"Tidak."

"Oleh karena itu aku tidak bertanya."

"Tapi ada sebuah hal aku boleh memberitahu kepadamu."

"O, hal apa?"

"Ada orang bilang di atas badanku dari atas sampai ke bawah setiap tempatnya ada membawa senjata rahasia, apa kau pernah mendengarnya?"

"Ya, pernah kudengar."

"Kabar yang tersiar di kalangan Kangouw biasanya kurang dapat dipercaya."

"Di atas badanmu seluruhnya ada membawa senjata rahasia?"

"Tidak salah."

"Seluruhnya ada berapa macam?"

"Dua puluh tiga macam."

"Setiap macamnya dibubuhi racun?"

"Hanya tiga belas saja yang beracun, soalnya ada kalanya aku perlu mendapat keterangan dari korbanku."

"Malah orang bilang, katanya sekaligus kau dapat menyambitkan tujuh macam senjata rahasia yang berlainan."

"Ya, tujuh macam!"

"Cepat benar kerja tanganmu."

"Tapi masih ada seorang yang lebih cepat dari aku."

"Siapa?"

"Yaitu Siau-lopan yang duduk di sebelahmu ini."

Siau Piat-li selalu menghias mukanya dengan senyuman, katanya menghela napas.

"Seorang cacad yang malas, kalau tidak berusaha belajar beberapa macam senjata rahasia, masakah dia bisa bertahan hidup."

"Benar, masuk akal."

"Dapatkah kau melihat dimana kiranya senjata rahasianya disembunyikan?"

"Di dalam tongkat besinya?"

Ting Kiu menepuk meja, serunya.

"Bagus, pandangan yang tajam, kecuali dalam tongkat besinya?"

"Tempat lainnya juga ada?"

"Hanya ada delapan macam, namun dalam sekejap mata dia sekaligus bisa menyambitkan sembilan macam senjata rahasia."

"Di kalangan Kangouw, tokoh yang ahli senjata rahasia kiranya tiada yang bisa lebih unggul dari kalian "

"Mungkin seorang pun tiada lagi."

"Sungguh tak nyana aku justru bisa duduk di antara dua tokoh kosen yang ahli dalam alat senjata rahasia, sungguh merupakan kebanggaan"

"Kesempatan ini memang tidak banyak, maka kuanjurkan supaya kau duduk baik-baik dan tenang-tenang saja, karena sekali kau bergerak, paling sedikit ada enam belas macam senjata rahasia yang bakal menyerangmu."

Dengan menarik muka Ting Kiu menambahkan.

"Aku berani bertaruh, di dunia ini pasti takkan ada orang yang bisa menghindar diri dari berondongan enam belas macam senjata rahasia ini."

"Aku percaya."

"Oleh karena itu apa pun yang kutanyakan, lebih baik kau segera menjawab dengan baik."

Yap Kay menghela napas, ujarnya.

"Untungnya aku ini memangnya tidak mempunyai sesuatu rahasia yang harus disembunyikan terhadap orang lain!"

"Memang lebih baik bila kau tidak punya,"

Jengek Ting Kiu, mendadak dari lengan bajunya dikeluarkan segulung kertas terus dibeberkan di atas meja, katanya.

"Kau she Yap, bernama Yap Kay."

"Ya."

"Kau termasuk shio Hou (macan)?"

Yap Kay segera mengiakan.

"Tapi sejak masih orok kau sudah meninggalkan tempat ini?"

"Benar."

"Sebelum empat belas tahun, kau selalu menetap di sebuah biara di puncak Ui-san?"

Yap Kay manggut-manggut.

"Yang kau latih mestinya Ui-san-kiam-hoat, namun belakangan waktu kau bergelandangan di Kangouw, secara main curi kau mempelajari beberapa macam kepandian silat, waktu usia enam belas, pernah juga jadi Hwesio untuk beberapa bulan, tujuanmu hanya untuk mencuri belajar Hokhou-kun pihak Siau-lim-pay?"

"Ya."

"Belakangan kau pun pernah mencuri sesuap nasi dalam kalangan Piau-kiok di kotaraja, setelah hutang bertumpuk-tumpuk karena kalah judi, terpaksa kau harus meninggalkan pekerjaanmu?"

"Tidak salah!" 'Di Kanglam lantaran seorang perempuan yang bernama Siau-pak-khia, kau bunuh Kay-si-samhiong, maka terpaksa lari kembali ke Tionggoan?"

"Tepat sekali."

"Dua tahun belakangan ini, kau hampir menjelajahi seluruh daratan selatan dan utara sungai besar, dimana-mana kau menimbulkan urusan, namun karena itu kau pun sedikit angkat nama sehingga namamu cukup terkenal."

Yap Kay menghela napas, ujarnya.

"Pengalaman hidupku agaknya kalian jauh lebih jelas dari aku sendiri, buat apa pula kau tanya kepadaku?"

Setajam aliran listrik pandangan Ting Kiu, tanyanya pula.

"Sekarang n ku hanya tanya kau, kenapa kau harus ke tempat ini?"

"Kalau aku bilang daun jatuh kembali ke dekat akarnya, kalau di sinilah kampung kelahiranku, sudah tentu aku harus pula menengoknya, kalau aku berkata demikian, kalian mau percaya tidak?"

"Tidak percaya."

"Kenapa?"

"Karena kau sudah ditakdirkan lahir menjadi gelandangan."

"Kalau aku bilang kecuali tempat setan ini, sudah tiada tempat lain untuk aku berpijak, apa kalian mau percaya?"

"Omonganmu ini masih boleh kuterima,"

Kembali Ting Kiu membeber kertas itu lebih panjang, katanya lebih lanjut.

"Uang terakhir yang kau dapatkan, bukankah hasil kemenangan kacang emas yang kau peroleh dari Lo-koan-tang itu?"

"Benar,"

Sahut Yap Kay.

"Sekarang sekantong kacang emas itu mungkin sudah menjadi milik orang lain, apa benar?"

"Aku sebal dengan kacang, meskipun kacang kapri, kacang lanjar, kacang buncis, kacang kulit ataupun kacang emas sama saja."

Ting Kiu mengangkat kepala menatapnya, katanya.

"Tiada orang lain yang mengundangmu kemari?"

"Tidak."

"Tahukah kau, kesempatan untuk mengeruk uang di tempat ini bukan gampang?"

"Aku bisa melihatnya."

"Lalu cara bagaimana kau ingin hidup lebih lanjut?"

"Yang terang aku belum pernah melihat di sini ada orang mati kelaparan."

"Kalau kau tahu di tempat lain ada kesempatan untuk mendapatkan laksana tahil perak, mau ke sana?"

"Tidak mau."

"Kenapa?"

"Karena bukan mustahil di tempat ini aku justru jauh bisa memperoleh lebih banyak uang."

"O?"

"Aku dapat merasakan tempat seperti ini di sini lambat-laun akan memerlukan tenaga orang seperti diriku."

"Orang macam apa kau ini?"

"Seorang yang memiliki ilmu silat tinggi, dan yang penting aku bisa menutup rahasia orang serapat tutup botol, jika ada orang mau membayar aku untuk melakukan sesuatu tugas, tentu aku tidak akan mengecewakan si pembayar."

Sejenak Ting Kiu menepekur, sorot matanya memancarkan sinar terang, katanya tiba-tiba.

"Berapa taripmu untuk membunuh orang?"

"Itu tergantung siapa yang harus kubunuh."

"Yang kumaksud tarip yang tertinggi?"

"Tiga laksa."

"Baik, sekarang kuberi selaksa sebagai uang muka, setelah tugasmu selesai, sisanya kulunasi."

Seketika terpancar sinar terang dari mata Yap Kay, katanya.

"Siapa yang ingin kau bunuh? Pho Ang-soat?"

"Pho Ang-soat tidak setimpal berharga tiga laksa "

"Memangnya siapa yang setimpal?"

"Ban-be-tong-cu!"

Siau Piat-li duduk diam saja, seolah-olah sedang mendengar percakapan kontrak dagang dua orang yang sama sekali tiada sangkut-pautnya dengan dirinya.

Bola mata Ting Kiu menyala, dengan tajam tengah menatap muka Yap Kay, tangan yang mengenakan tiga buah cincin berbintang itu kembali memperlihatkan gerakan dan gaya yang aneh.

Akhirnya Yap Kay menghela napas.

"Kiranya kalian yang hendak membunuh Ban-be-tong-cu, ternyata kalian."

"Kau tidak mengira?"

Tanya Ting Kiu dengan mata jelalatan.

"Ada dendam apa kau dengannya? Kenapa mau membunuhnya?"

"Lebih baik kalau kau mengerti, sekarang kamilah yang bertanya kepadamu, bukan kau yang mengajukan pertanyaan."

"Ya, aku mengerti."

"Ingin tidak kau mengeruk uang tiga laksa tahil?"

Yap Kay tidak menjawab, juga tidak perlu menjawab, tangannya sudah terulur ke depan. Dua puluh lembar kertas uang yang masih baru, setiap lembar berharga seribu tahil.

"Lho kok dua laksa?"

Tanya Yap Kay.

"Ya."

"Agaknya kau memang royal."

"Bukan royal, namun hati-hati."

"Hati-hati?"

"Seorang diri kau takkan mampu membunuh Ban-be-tong-cu "

"O, lalu?"

"Maka perlu kau mencari pembantu."

"Jadi selaksa untukku, sisanya untuk pembantuku itu?"

"Tidak salah "

"Siapa yang setimpal kau bayar setinggi ini?"

"Siapa tentunya kau lebih tahu."

"Kau ingin aku mencari Pho Ang-soat?"

Ting Kiu diam saja sebagai jawaban.

"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku bisa membeli dia "

"Kau bukan temannya?"

"Dia tidak punya teman."

"Tiga laksa tahil cukup untuk mencari orang teman."

"Kalau ada orang tidak mau menjual diri?"

"Sedikitnya kau harus mencoba dulu."

"Kenapa tidak kau sendiri mencobanya?"

"Kalau kau tidak ingin memperoleh tiga laksa tahil ini, sekarang masih boleh kau kembalikan."

Yap Kay tertawa senang, berdiri terus mengundurkan diri Mendadak Siau Piat-li menyeletuk dengan tertawa.

"Kenapa tidak minum dulu dua cangkir baru berangkat? Kenapa tergesa-gesa?"

Yap Kay mengacungkan uang di tangannya, katanya tertawa.

"Ingin segera bisa menghabiskan selaksa tahil ini."

"Uang sudah berada di tanganmu, kenapa terburu-buru."

"Kalau sekarang tidak kuhambur-hamburkan, kelak mungkin tiada kesempatan lagi."

Mengawasi bayangan orang yang menerobos keluar jendela, tiba-tiba Siau Piat-li menghela napas.

"Inilah seorang pintar."

"Memangnya."

"Kau mempercayainya?"

"Tidak seluruhnya?"

Siau Piat-li memicingkan mata, tanyanya.

"Oleh karena itu baru kau mau teken kontrak dagang dengan dia?"

Ting Kiu tersenyum, ujarnya.

"Ini suatu kontrak yang istimewa "

Seseorang bila kantong kosong, tiba-tiba memperoleh rezeki nomplok dengan mengantongi selaksa tahil uang, maka berjalan pun terasa ringan bagai terbang.

Tapi langkah Yap Kay justru kebalikannya, terasa berat.

Kemungkinan lantaran dia terlalu penat dan kehabisan tenaga.

Cui-long memangnya perempuan pandai yang bisa membikin laki-laki perkasa lelah kehabisan tenaga.

Kini sinar api dalam biliknya sudah padam, mungkin sudah tidur.

Terbayang olehnya sebentar dia bakal tidur nyenyak di sampingnya dengan nyaman, menghirup bau wangi, mengelus-elus punggungnya yang halus telanjang itu, rangsangan ini sungguh tak kuasa Yap Kay untuk menolaknya.

Langkahnya pelan-pelan, mendorong pintu lalu melangkah masuk.

Daun pintu ternyata hanya ditutupkan saja tanpa dikunci dari dalam, agaknya orang memang sedang menunggu dirinya.

Sinar bintang menyorot masuk ke dalam rumah, dia tertidur dengan seluruh badan tertutup selimut, agaknya tidurnya teramat nyenyak.

Yap Kay tersenyum, segera dia maju sambil menyingkap selimut itu.

Sekonyong-konyong sinar pedang berkelebat, sebatang pedang laksana seekor ular beracun tiba-tiba mematuk keluar dari balik selimut, menusuk ke arah dada Yap Kay.

Dalam keadaan demikian, jarak begitu dekat lagi, boleh dikata tiada tokoh silat mana pun yang lihai bisa meluputkan diri dari tusukan pedang ini.

Tapi Yap Kay justru laksana seekor rase yang sudah lama dikejar-kejar dan hendak ditangkap oleh pemburu, setiap detik setiap waktu tak pernah lupa bersiaga dan waspada.

Dalam waktu yang gawat ini pinggangnya tiba-tiba seperti putus, mendadak melengkung atau tertekuk ke belakang, maka sinar pedang menyerempet dadanya.

Sebat sekali badannya melenting seperti pegas melompat mundur, berbareng kakinya melayang menendang pergelangan tangan yang memegang pedang.

Tapi tangkas sekali orang yang bersembunyi di dalam selimut itupun sudah melompat keluar, tidak merangsek lebih lanjut, dimana sinar pedangnya membundar, sekaligus dia melindungi mukanya, lalu menubruk ke arah jendela di sebelah belakang.

Yap Kay tidak mengejar, namun dia berseru dengan tertawa "Hun Cay-thian aku sudah mengenalimu, kau pergi pun tak berguna."

Orang itu sudah menerjang daun jendela sampai hancur, namun badannya seperti mobil yang mendadak direm seketika berhenti, berdiri kaku, lama juga baru dia pelan-pelan berpaling muka.

Memang bukan lain Hun Cay-thian.

Punggung tangannya yang memegangi gagang pedangnya dihiasi otot-otot kencang yang merongkol keluar.

Sorot matanya buas dan diliputi nafsu membunuh.

"Ternyata yang sedang kau cari bukan Pho Ang-soat, juga bukan Siau Piat-li, yang kau cari ternyata Cui-long."

"Dapatkah aku kemari mencarinya?"

Tanya Hun Cay-thian dingin.

"Sudah tentu boleh,"

Sahut Yap kay tertawa.

"Laki-laki seperti kau ini, mencari perempuan seperti dia itu, memangnya suatu hal yang jamak, entah lantaran apa kau harus mengelabui aku?"

Berkilat biji mata Hun Cay-thian, tiba-tiba dia tertawa, ujarnya.

"Aku kuatir kau jelus."

Yap Kay tertawa, serunya.

"Yang jelas seharusnya kau, bukan aku." ^•"•^ Hun Cay-thian merenung sebentar, lalu katanya.

"Dimana dia?"

"Seharusnya akulah yang mengajukan pertanyaan ini kepadamu."

"Kau tidak melihatnya?"

"Waktu aku berlalu, dia masih berada di sini."

"Tapi waktu aku tiba di sini, dia justru sudah tiada."

Yap Kay mengerut kening.

"Mungkin pergi mencari laki-laki lain"

"Selamanya dia tak pernah mencari laki-laki, sudah berlebihan laki-laki yang mencarinya."

"Nah, dalam hal ini kau tidak tahu, laki-laki yang mencari dia, sudah tentu berbeda dengan lakilaki yang dia cari."

"Kau kira dia mencari siapa?"

"Berapa laki-laki yang patut dia cari di tempat ini?"

Berubah air muka Hun Cay-thian, mendadak dia putar badan terus menerobos keluar.

Kali ini Yap Kay tidak merintangi, karena mendadak menyadari beberapa persoalan yang ingin benar dia ketahui.

Tiba-tiba terasa olehnya bahwa Cui-long ternyata perempuan yang misterius, tentu perempuan ini juga menyembunyikan banyak rahasia.

Perempuan seperti dia, jika hendak mengusahakan dagang seperti ini.

banyak tempat akan lebih subur pendapatannya, tidak perlu dia memendam diri di tempat ini.

Bahwa dia terima tinggal di sini, tentu dia mempunyai suatu tujuan yang luar biasa.

Akan tetapi tujuan Hun Cay-thian mencari dia, terang jauh berbeda dengan maksud laki-laki lain yang ingin mencarinya, antara kedua orang ini, pasti terjalin suatu ikatan rahasia yang pantang diketahui orang lain.

Tiba-tiba Yap Kay menyadari lebih lanjut, setiap orang di sekitarnya seolah-olah memendam rahasia masing-masing, sudah tentu dirinya sendiri termasuk di antaranya.

Kini segala rahasia dari berbagai orang-orang itu seolah-olah lambat-laun akan bakal tiba saatnya terbongkar seluruhnya.

Yap Kay menghela napas, besok masih banyak tugas yang harus dia selesaikan, akhirnya dia berkeputusan untuk tidur lebih dulu.

Dia mencopot sepatu, terus menyusup ke dalam selimut dan tidur.

Lalu ditemukannya sebuah pakaian dalam yang berada di dalam selimut.

Pakaian dalam perempuan yang dia copoti sendiri.

Kalau dianya sudah tiada, kenapa pakaian dalamnya tertinggal di sini?

Mungkinkah karena dia teramat gugup dan buru-buru, sampai pakaian dalam pun tak sempat dipakai lagi, ataukah dia diseret orang dan didesak untuk berlalu?

Kenapa dia tidak meronta atau berteriak minta tolong?

Yap Kay berkeputusan untuk menunggu di sini, menunggu dia pulang.

Akan tetapi dia takkan pernah kembali lagi.

Hari sudah subuh, sebentar lagi fajar bakal menyingsing.

Pho Ang-soat masih belum bisa tidur.

Be Hong-ling juga tidak tidur.

Siau Piat-li dan Ting Kiu masih berada di loteng menikmati araknya.

Kongsun Toan juga sedang minum.

Di bawah loteng.

Seolah-olah semua orang sedang menunggu, menunggu suatu kabar yang misterius.

Ban-be-tong-cu, Hoa Boan-thian, Loh Loh-san dan Sim Sam-nio, dimana mereka?

Apakah mereka pun sedang menunggu?

Malam ini terasa panjang.

Malam ini delapan belas jiwa orang kembali berkorban Pasir beterbangan, sesaat sebelum hari terang tanah, alam semesta masih selalu diliputi tabir kegelapan berselimut kabut tebal, hawa terasa amat dingin.

Di tengah deru angin ribut ini, sayup-sayup seperti terdengar derap lari kuda.

Tujuh delapan orang duduk lemas, dengan badan terbungkuk-bungkuk di punggung kuda, semuanya mabuk, untung belum sampai terjungkal roboh.

Kuda mereka memang sudah kenal jalan, maka mereka bisa pulang dengan selamat sampai di rumah.

Tukang-tukang kuda yang biasa hidup kesepian ini, sepanjang tahun harus bekerja giat banting tulang berteman binatang, kaku dan paha mereka sudah kebal karena sering tergesek kulit binatang.

Sekali tempo menghibur diri ke kota, mabuk-mabukan, boleh dikata mereka sudah tidak punya tempat hiburan yang layak.

Entah siapa di antara rombongan berdelapan orang ini yang menggumam.

"Besok bukan giliranku piket, malam ini seharusnya aku mencari cewek-cewek ayu untuk menghibur diri dan tidur semalam suntuk memeluk si dia."

"Siapa suruh kau selalu kantong kosong, punya sedikit uang lantas beli air kuning (maksudnya arak) untuk menuang perut."

"Kalau bayaran besok, aku pasti ingat mengirit beberapa duit."

"Kukira lebih baik kau cari kerbau betina saja untuk melampiaskan kebutuhanmu, yang terang perempuan mana yang mau kau gauli?"

Maka mereka terloroh-loroh geli dan bersorak-sorai.

Siapa dapat merasakan kegetiran hidup mereka di dalam nada gelak tawa mereka.

Tidak punya uang, tidak punya bini, tak punya rumah.

Umpama kata mereka roboh binasa di tengah padang rumput yang liar ini juga takkan ada orang b rsedih dan mengucurkan air mata baginya.

Terhitung kehidupan macam apakah ini?

Seseorang di antaranya mendadak mengempit perut kuda kencang-kencang, dengan sekeras tenaganya mengeprak kuda terus membedal ke depan dengan mulut berteriak-teriak kesetanan.

Orang lain justru bergelak tertawa geli melihat kelakuannya itu.

"Siau-hek-cu agaknya sudah jadi gila."

"Sedikitnya sudah tujuh delapan bulan tidak pernah menyentuh perempuan, tempo hari yang dia gauli malah nenek-nenek yang sudah kerempeng badannya."

"Kalau perempuan seperti Cui-long dapat menemani aku tidur semalaman, mati pun aku rela."

"Aku malah suka Sam-ik, badannya yang montok menggiurkan rasanya bisa kau remas keluar air teteknya."

Sekonyong-konyong sebuah lolong jeritan berkumandang di tempat gelap sana.

Siau-hek-cu yang menerjang kegelapan ke depan itu mendadak menjerit ngeri, lalu terjungkal roboh dari punggung kudanya.

Kebetulan tersungkur di bawah kaki seseorang.

Seseorang bagaikan setan gentayangan tiba-tiba muncul dari tempat gelap, tangannya menenteng sebuah golok panjang melengkung peranti menjagal kuda.

Arak yang panas seketika menjadi keringat dingin "Siapa kau?

Setan atau manusia?"

Orang itu tertawa, ujarnya.

"Masakah siapa aku kalian tidak kenal?"

Dua orang yang terdepan akhirnya melihat jelas siapa dia, seketika mereka menghela napas lega, katanya mengunjuk tawa berseri, 'O, kiranya Baru saja suaranya keluar, golok jagal itu sudah memapas kutung kepalanya.

Darah segar muncrat kemana-mana, sementara itu teman-temannya sudah menyusul tiba, semua orang melotot mengawasi orang ini, sorot matanya mengunjuk ketakutan dan tidak percaya.

Sungguh mereka tidak habis mengerti dan hampir tidak percaya akan penglihatannya sendiri, kenapa orang ini mendadak menurunkan tangan jahatnya.

Kuda meringkik dan berjingkrak-jingkrak, orang-orang yang masih ketinggalan hidup serempak menjerit ketakutan.

Beramai-ramai mereka putar haluan dan mengeprak kudanya untuk lari.

Tapi laksana bayangan setan tiba-tiba orang itu sudah menubruk maju dan bergerak lincah kian kemari sambil mengerjakan goloknya.

Dimana goloknya berkelebat jiwa seorang pasti melayang.

Terdengar seseorang menjerit ketakutan.

"Kenapa? Sebenarnya apa tujuanmu?"

"Jangan kau salahkan aku, salah kalian sendiri yang terima diperbudak oleh Ban-be-tong-cu."

Dua orang tampak meringkuk di pinggir api unggun, sorot matanya yang redup kelelahan tengah mengawasi wajan di atas api unggun.

Air di dalam wajan sudah mendidih, uap putih yang mengepul terhembus buyar ditelan kabut tebal.

Salah seorang pelan-pelan memasukkan dua kerat daging kuda yang sudah kering dan keras itu ke dalam wajan, mendadak dia tertawa, tawa rawan yang menusuk pendengaran.

"Aku dibesarkan di Kanglam, waktu kecil aku selalu bermimpi ingin mencicipi daging kuda, kini terhitung sudah bosan dengan daging yang satu ini."

Dengan mengertak gigi dia melanjutkan dengan lebih sedih.

"Setelah lanjut usia bila aku harus tetap makan daging kuda, lebih baik aku tinggal di neraka saja."

Temannya yang lain tidak menghiraukan ocehannya, sebelah tangannya pelan-pelan tengah merogoh ke dalam celananya. Waktu tangannya dikeluarkan telapak tangannya sudah berlepotan darah.

"Kenapa? Tergesek pecah lagi? Memangnya nasibmu yang punya kulit daging begitu tipis? Baru hari pertama kau sudah tidak kuat bertahan, besok masa kau masih kuat bertahan?"

Bahwasanya memangnya siapa yang kuat bertahan bercokol di punggung kuda berlari-lari terus selama enam jam tak henti-hentinya.

Waktu mulai masih mending, tahap lima jam kemudian, pelana kudanya serasa tumbuh jarum-jarum runcing yang menusuk pantatnya.

Mengawasi telapak tangannya yang berlepotan darah, tak tahan anak muda ini menggerutu.

"Loh Loh-san, kurcaci yang dilahirkan anjing, kemana sih kau menyembunyikan diri, sehingga kami harus menderita mencarimu."

"Kabarnya orang ini setan arak, bukan mustahil dia sudah terbanting mampus dari punggung kudanya."

Dalam kemah di sebelah mereka terdengar suara dengkur yang berlainan nada dan suara, air dalam wajan sudah mendidih pula.

Laki-laki yang lebih tua tengah mengumpulkan ranting-ranting kering dimasukkan ke dalam api unggun, lalu dijemputnya setangkai rantai yang lebih besar untuk mengaduk daging dalam wajan.

Mendadak dari kejauhan terdengar lari kuda mendatangi.

Cepat sekali seseorang menunggang kuda membedal datang dari tempat gelap.

Serempak kedua orang ini meraba gagang pedang seraya berjingkrak berdiri, bentaknya bengis bersama.

"Siapa yang datang?"

"Inilah aku!"

Sahut seseorang di tempat gelap.

Suara yang agaknya sudah amat dikenal.

Laki-laki yang lebih muda segera menjeput ranting kayu yang menyala dari api unggun terus diangkat tinggi-tinggi di atas kepala untuk menerangi.

Cahaya api menyinari muka laki-laki di atas kuda.

Serempak mereka tertawa berseri, sapanya.

"Malam sudah larut, kau orang tua kenapa belum lagi istirahat?"

"Ada urusan aku dengan kalian."

"Urusan apa?"

Tidak ada jawaban, sekonyong-konyong selarik sinar golok menyambar dari atas kuda, kepala laki-laki yang lebih tua seketika terpenggal jatuh, badannya roboh ke atas api unggun menumpahkan isi wajan.

Keruan laki-laki yang lebih muda berdiri melongo, saking kaget mulutnya terpentang lebar tak kuasa bersuara.

Kenapa orang ini berbuat sekeji ini terhadap mereka?

Sampai mati dia masih belum mengerti.

Dengkur di dalam kemah masih terus berlangsung.

Mereka memang sudah bekerja keras sehari, maka tidurnya nyenyak, umpama geledek menggelegar di pinggir kuping mereka, mereka pun takkan tersentak bangun.

Kasihan adalah seseorang pertama yang dibikin terkejut dan terbangun, karena dia mendengar suara seperti tapal kuda yang menginjak lumpur, serempak melihat darah segar muncrat beterbangan dari tengah Baru saja dia ingin minta tolong, tahu-tahu golok orang sudah membacok putus lehernya.

Setengah jam lagi fajar akan menyingsing.

Yap Kay memejamkan mata rebah di dalam selimut, seolah-olah sudah pulas.

Pho Ang-soat menggayung seember air dingin, dia sedang mandi Kongsun Toan sudah kebanyakan air kata-kata, dengan langkah sempoyongan dia terseok-seok melangkah keluar, melompat naik ke punggung kudanya.

Pelita di atas loteng sudah padam.

Tinggal Be Hong-ling seorang diri masih membelalakkan mata, dia sedang menunggu dengan sabar.

Ban-be-tong-cu, Hun Cay-thian, Hoa Boan-thian, Loh Loh-san dan Sim Sam-nio?

Di saat banjir darah terjadi di padang rumput, dimanakah mereka?

Dimana pula Cui-long sekarang berada?

Dengan kencang tangan Be Hong-ling memegangi selimutnya, badannya basah oleh keringat dingin.

Sayup-sayup dia seperti mendengar jerit ngeri jauh di padang rumput sana, kalau dalam keadaan biasa, mungkin dia sudah lari keluar untuk menengoknya.

Tapi sekarang dia sudah melihat banyak kejadian yang amat menakutkan, dia tidak berani melihatnya lagi, tidak tega untuk melihatnya.

Hawa dalam rumah amat gerah dan pengap, namun jendela pun dia tidak berani membukanya.

Rumah ini memang dibangun menyendiri dari bangunan-bangunan yang lain, namun bangunannya kokoh kuat dan besar serta luas.

Kecuali dua bujang yang sudah lanjut usia, hanya terdapat mereka ayah beranak.

Kongsun Toan dan Sim Sam-nio yang menempati rumah besar ini.

Mungkin karena Ban-be-tong-cu hanya mau mempercayai beberapa orang ini saja, tentunya Siau-hu-cu sekarang sudah pulas dalam impian, dua bu inang yang sudah setengah pikun, umpama sudah bangun juga seperti tertidur layaknya.

Kini dalam rumah besar ini tinggal dia seorang diri, sebatangkara di dalam kegelapan membuat dia diliputi ketakutan.

Dengan mengertak gigi Be Hong-ling bangun berduduk.

Angin keras menghembus kertas jendela yang baru saja diganti, tiba-tiba sesosok bayangan orang muncul di atas kertas jendela itu.

Sesosok bayangan orang yang bertubuh tinggi kurus, terang bukan ayahnya, juga pasti bukan Kongsun Toan.

Terasa oleh Be Hong-ling perutnya serasa meringkuk kejang kaku.

Pedangnya tergantung di ujung ranjang.

Bayangan di atas jendela tidak bergerak, seolah-olah sedang memperhatikan suara di dalam rumah, sedang menunggu kesempatan untuk menerjang masuk.

Sekeras-kerasnya Be Hong-ling mengertak gigi, pelan-pelan menggeremet mengulur tangan meraih pedang, pelan-pelan pula tanpa bersuara melolos pedang, lalu digenggamnya erat-erat.

Bayangan di jendela mulai bergerak agaknya hendak membuka jendela, keringat dingin yang keluar dari telapak tangan Be Hong-ling yang menggenggam gagang pedang sudah membuat ronce pedangnya basah kuyup.

Sedapat mungkin dia mengendalikan diri, supaya tangannya tidak gemetar, lalu pelan-pelan dia himpun semangat dan mengerahkan tenaga, dipusatkan ke telapak tangan yang mencekal pedang.

Dia sudah siap melompat dari tempatnya ke arah jendela terus menusukkan pedangnya.

Dalam rumah amat gelap, gerakan yang sudah dia siapkan, maka dia harap orang di luar tidak tahu akan gerak-geriknya ini.

Tapi sebelum tusukannya dilancarkan, sekonyong-konyong bayangan di luar jendela itu tahu-tahu sudah lenyap.

Maka dia pun mendengar derap lari kuda yang sayup-sayup dibawa angin.

Tentunya orang di luar itupun sudah tahu akan kedatangan orang, maka segera dia menyingkir.

"Akhirnya toh ada orang datang!"

Be Hong-ling rebah di atas ranjang, seluruh badannya serasa runtuh seluruhnya.

Baru pertama kali dia benar-benar meresapi rasa ketakutan yang tulen seperti ini.

Kemanakah orang di luar jendela tadi?

Waktu dia membesarkan nyali, hendak mendorong daun jendela, derap kaki kuda sudah tiba di luar jendela.

Ia dengar suara bengis ayahnya yang tertekan sedang memberi perintah, 'Jangan bersuara, ikut aku ke atas!"

Ban-be-tong-cu bukan pulang sendirian!

Siapakah yang ikut dia pulang?

Yang datang hanya seekor kuda, masakah Ban-be-tong-cu menunggang satu kuda dengan seorang yang lain?

Tengah dia heran dan bertanya-tanya dalam hati, sekonyong-konyong didengarnya suara rintihan perempuan yang lemah, lalu langkah kaki mereka naik ke atas loteng.

Bagaimana mungkin Ban-be-tong-cu pulang membawa seorang perempuan?

Dia tahu perempuan ini terang bukan Sam-ik, suara rintihan itu kedengarannya masih genit dari suara perempuan muda.

Baru saja dia berdiri, lalu diam-diam merebahkan diri pula.

Dia cukup memahami ayahnya.

Semakin tegang urat syarafnya, laki-laki semakin perlu perempuan, laki-laki yang menanjak usianya, semakin perlu dihibur perempuan yang masih muda.

Betapapun Sam-ik sudah rada tua.

Tiba-tiba Be Hong-ling merasa dia amat kasihan.

Laki-laki bisa sembarang waktu keluar dan pulang membawa perempuan, tapi bila perempuan di tengah malam buta tiada di dalam rumah, sungguh merupakan suatu kejadian yang tak boleh dimaafkan.

Kertas jendela sudah kembali ke warna asalnya, putih menguning.

Dimana orang tadi?

Sudah tentu orang tidak akan menghilang begitu saja seperti setan yang ketakutan sinar matahari, dia pasti masih bersembunyi di suatu tempat yang tersembunyi, mencari kesempatan dengan kedua jari-jari tangannya yang dingin untuk mencekik leher orang.

"Sasaran pertama kemungkinan adalah aku,"

Tiba-tiba Be Hong-ling dijalari ketakutan, untunglah ayahnya sudah pulang, fajar pun telah menyingsing.

Sebentar dia ragu-ragu, akhirnya dengan menggenggam pedang, telanjang kaki merundukrunduk keluar, kalau tidak bisa menemukan bayangan hitam tadi, duduk atau berdiri hatinya takkan bisa tenang.

Lampu yang terpasang di serambi panjang sudah padam, masih gelap, amat sunyi.

Kakinya yang telanjang berindap-indap di papan serambi yang dingin, tujuannya hanya ingin menemukan orang itu, namun dia pun takut bila orang itu mendadak muncul di hadapannya.

Saat itu pula, didengarnya suara air dituang.

Suaranya berkumandang dari kamar Sam-ik.

Apakah Sam-ik sudah pulang?

Atau orang itu yang bersembunyi di sini?

Detak jantung Be Hong-ling rasanya bisa mencotot keluar dari rongga dadanya.

Dengan kencang dia mengertak gigi, pelan-pelan dan merunduk-runduk maju menghampiri, sekonyongkonyong papan di bawah kakinya berbunyi.

"Ngek" , hampir saja dia berjingkat saking kagetnya, maka dilihatnya daun pintu Sam-ik terbuka segaris. Sepasang mata yang tajam terang sedang mengawasi dirinya dari belakang pintu. Itulah mata Sam-ik. Baru sekarang Be Hong-ling menghela napas lega, katanya lirih.

"Syukurlah, terima kasih kepada langit dan bumi, akhirnya kau pulang!" *** BAB 13. RAHASIA SIM SAM-NIO Dalam kamar tidak menyulut pelita. Sim Sam-nio tengah mengenakan jubah panjang yang lebar, agaknya sedang mandi, mukanya kelihatan berlepotan darah.

"Kau ... kau terluka?"

Seru Be Hong-ling kejut. Tidak menjawab pertanyaan ini, Sim Sam-nio malah balas bertanya.

"Kau tahu aku barusan keluar?"

"Tak usah kuatir,"

Ujar Be Hong-ling tertawa.

"aku pun seorang perempuan, aku boleh purapura tidak tahu."

Dia tertawa bukan lantaran dia sudah tahu rahasia orang, dia tertawa adalah karena dia beranggapan sekarang dirinya sudah besar, sudah dewasa.

Menutupi rahasia orang lain memangnya suatu hal yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang sudah matang.

Sim Sam-nio tidak banyak bicara lagi, pelan-pelan dia rendam kain sari yang berlepotan darah itu ke dalam air, diawasinya kainnya yang berlepotan darah itu pelan-pelan tergenang basah ke dalam air.

Mulutnya pun masih mengeluarkan bau darah, memangnya darah yang sudah terdorong sampai di tenggorokannya terus dia pertahankan sampai dia kembali ke rumah baru dia muntahkan.

Hantaman kepalan Kongsun Toan memangnya bukan ringan.

Be Hong-ling sudah melompat naik ke atas pembaringan, kedua kakinya ditarik bersila.

Sebelum ini selalu dia merasa kikuk dan risih serta hati-hati pula, sekarang justru berubah sembarangan, katanya tiba-tiba.

"Apakah di tempatmu ini ada arak, aku ingin minum secangkir saja."

Sim Sam-nio mengerut kening, katanya.

"Sejak kapan kau mulai belajar minum arak?"

"Di waktu usiamu sebesar aku dulu, masakah kau belum belajar minum?"

Balas tanya Be Hongling.

"Araknya disimpan di laci terbawah di dalam lemari itu "

Kata Sim Sam-nio sambil menuding sebuah lemari di pojokan sana.

"Memangnya aku sudah menduga kau pasti menyimpan arak di sini, jika aku jadi kau, bila malam tidak bisa tidur, pasti aku bangun minum arak seorang diri."

"Dua hari ini, naga-naganya kau memang sudah tambah dewasa."

Be Hong-ling sudah menemukan arak, dibukanya sumbat botol terus dituangnya dengan mulut beradu mulut seteguk saja, katanya tertawa.

"perempuan di tengah malam buta tiada di dalam rumah, sungguh merupakan suatu kejadian yang tak boleh dimaafkan."

Kertas jendela sudah kembali ke warna asalnya, putih menguning.

Dimana orang tadi?

Sudah tentu orang tidak akan menghilang begitu saja seperti setan yang ketakutan sinar matahari, dia pasti masih bersembunyi di suatu tempat yang tersembunyi, mencari kesempatan dengan kedua jari-jari tangannya yang dingin untuk mencekik leher orang.

"Sasaran pertama kemungkinan adalah aku,"

Tiba-tiba Be Hong-ling dijalari ketakutan, untunglah ayahnya sudah pulang, fajar pun telah menyingsing.

Sebentar dia ragu-ragu, akhirnya dengan menggenggam pedang, telanjang kaki merundukrunduk keluar, kalau tidak bisa menemukan bayangan hitam tadi, duduk atau berdiri hatinya takkan bisa tenang.

Lampu yang terpasang di serambi panjang sudah padam, masih gelap, amat sunyi.

Kakinya yang telanjang berindap-indap di papan serambi yang dingin, tujuannya hanya ingin menemukan orang itu, namun dia pun takut bila orang itu mendadak muncul di hadapannya.

Saat itu pula, didengarnya suara air dituang.

Suaranya berkumandang dari kamar Sam-ik.

Apakah Sam-ik sudah pulang?

Atau orang itu yang bersembunyi di sini?

Detak jantung Be Hong-ling rasanya bisa mencotot keluar dari rongga dadanya.

Dengan kencang dia mengertak gigi, pelan-pelan dan merunduk-runduk maju menghampiri, sekonyongkonyong papan di bawah kakinya berbunyi.

"Ngek" , hampir saja dia berjingkat saking kagetnya, maka dilihatnya daun pintu Sam-ik terbuka segaris. Sepasang mata yang tajam terang sedang mengawasi dirinya dari belakang pintu. Itulah mata Sam-ik. Baru sekarang Be Hong-ling menghela napas lega, katanya lirih.

"Syukurlah, terima kasih kepada langit dan bumi, akhirnya kau pulang!"

BAB 13. RAHASIA SIM SAM-NIO Dalam kamar tidak menyulut pelita. Sim Sam-nio tengah mengenakan jubah panjang yang lebar, agaknya sedang mandi, mukanya kelihatan berlepotan darah.

"Kau ... kau terluka?"

Seru Be Hong-ling kejut. Tidak menjawab pertanyaan ini, Sim Sam-nio malah balas bertanya.

"Kau tahu aku barusan keluar?"

"Tak usah kuatir,"

Ujar Be Hong-ling tertawa.

"aku pun seorang perempuan, aku boleh purapura tidak tahu."

Dia tertawa bukan lantaran dia sudah tahu rahasia orang, dia tertawa adalah karena dia beranggapan sekarang dirinya sudah besar, sudah dewasa.

Menutupi rahasia orang lain memangnya suatu hal yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang sudah matang.

Sim Sam-nio tidak banyak bicara lagi, pelan-pelan dia rendam kain sari yang berlepotan darah itu ke dalam air, diawasinya kainnya yang berlepotan darah itu pelan-pelan tergenang basah ke dalam air.

Mulutnya pun masih mengeluarkan bau darah, memangnya darah yang sudah terdorong sampai di tenggorokannya terus dia pertahankan sampai dia kembali ke rumah baru dia muntahkan.

Hantaman kepalan Kongsun Toan memangnya bukan ringan.

Be Hong-ling sudah melompat naik ke atas pembaringan, kedua kakinya ditarik bersila.

Sebelum ini selalu dia merasa kikuk dan risih serta hati-hati pula, sekarang justru berubah sembarangan, katanya tiba-tiba.

"Apakah di tempatmu ini ada arak, aku ingin minum secangkir saja."

Sim Sam-nio mengerut kening, katanya.

"Sejak kapan kau mulai belajar minum arak?"

"Di waktu usiamu sebesar aku dulu, masakah kau belum belajar minum?"

Balas tanya Be Hongling.

"Araknya disimpan di laci terbawah di dalam lemari itu "

Kata Sim Sam-nio sambil menuding sebuah lemari di pojokan sana.

"Memangnya aku sudah menduga kau pasti menyimpan arak di sini, jika aku jadi kau, bila malam tidak bisa tidur, pasti aku bangun minum arak seorang diri."

"Dua hari ini, naga-naganya kau memang sudah tambah dewasa."

Be Hong-ling sudah menemukan arak, dibukanya sumbat botol terus dituangnya dengan mulut beradu mulut seteguk saja, katanya tertawa.

"Memangnya aku ini sekarang sudah besar, maka kau harus memberitahu kepadaku, siapa yang kau cari waktu kau keluar tadi?"

"Kau tak usah kuatir, yang pasti bukan Yap Kay."

"Memangnya siapa? Pho Ang-soat?' Jari-jari Sim Sam-nio yang sedang mengucek kain basah dalam baskom seketika berhenti kaku, lama juga baru pelan-pelan dia berpaling menatapnya.

"Buat apa kau menatapku? Apakah karena tebakanku betul?"

Mendadak Sim Sam-nio merebut botol arak di tangannya, katanya.

"Kau sudah mabuk, kenapa tidak kembali ke kamarmu tidur saja, setelah sadar kembalilah menemui aku."

Seketika Be Hong-ling menarik muka, katanya dingin.

"Tidak lebih aku hanya ingin tahu dengan cara apa kau berhasil memeletnya, tentunya caramu itu cukup baik untuk menipu, kalau tidak, masakah dia bisa kepincut terhadap kau perempuan yang sudah tua ini."

Dingin sorot mata Sim Sam-nio, katanya kata demi kata.

"Apakah si dia yang kau taksir? Bukan Yap Kay?"

Seolah-olah mukanya digampar dengan keras, muka Be Hong-ling yang pucat seketika berubah merah padam.

Agaknya besar hasratnya menerjang maju menampar pipi Sim Sam-nio, namun saat itu juga dia mendengar langkah kaki yang mendatangi di atas papan di luar serambi sana.

Langkah kaki yang lambat dan berat, akhirnya berhenti di luar pintu, disusul seseorang berseru lirih tertahan.

"Sam-nio, kau sudah bangun?"

Itulah suaranya Ban-be-tong-cu.

Seketika berubah air muka Sim Sam-nio dan Be Hong-ling, lekas Sim Sam-nio memberi tanda dengan gerakan mulutnya ke arah ranjang, Be Hong-ling menggigit bibir, namun tanpa ayal tersipu-sipu dia menyusup ke dalam selimut.

Seperti keadaan Sim Sam-nio yang serba hati-hati dan seolah-olah dirinya berdosa, karena dia sendiri pun mempunyai rahasia yang pantang diketahui orang.

Untung Ban-be-tong-cu tidak masuk, tanyanya pula sambil berdiri di luar pintu.

"Baru bangun?"

Sim Sam-nio mengiakan "Enak tidurmu?"

"Tidak enak."

"Hayolah ikut aku ke atas mau tidak?"

"Boleh saja."

Hubungan mereka sudah kental selama puluhan tahun, maka percakapan mereka pun cekak dan zakelijk.

Diam-diam Be Hong-ling merasa heran.

Terang tadi dia mendengar ayahnya sudah membawa seorang perempuan, sekarang minta Sam-ik naik ke atas?

Lalu siapakah perempuan yang dia bawa pulang?

Seorang diri Ban-be-tong-cu menempati tiga bilik besar di atas loteng, pertama kamar buku, sebuah lagi kamar tidur, yang lain adalah ruang rahasia, sampai sedemikian jauh Sim Sam-nio sendiri belum pernah masuk ke dalam kamar rahasianya ini.

Waktu beranjak naik ke loteng, pinggangnya masih tegak lurus, dilihatnya dari punggungnya, siapa pun takkan menyangka dia sudah seorang tua.

Tanpa bersuara Sim Sam-nio mengikuti di belakangnya.

Setiap kali diminta untuk naik, tidak pernah dia menolak, sikap orang tidak begitu hangat namun juga tidak begitu dingin Adakalanya sebagai perempuan normal dia pun bisa mempersembahkan pelayanan yang hangat dan memuaskan seratus persen.

Memang itulah perempuan yang masih diinginkan oleh Ban-be-tongcu.

Perempuan yang terlalu merangsang dan terlalu besar nafsunya sudah tidak lagi memenuhi seleranya.

Sudah tidak memadai lagi dengan kondisi badan serta usianya sekarang.

Pintu kamar di loteng tertutup rapat, Ban-be-tong-cu sengaja berhenti di luar pintu, tiba-tiba dia putar badan menatapnya, tanyanya, 'Tahukah kau untuk apa kuajak kau naik kemari?"

Sim Sam-nio tertunduk, sahutnya lembut.

"Terserah apa pun yang kau inginkan tidak menjadi soal bagi aku "

"Kalau aku ingin membunuhmu?"

Serius nada ucapan Ban-be-tong-cu mukanya bersungguhsungguh Tiba-tiba timbul rasa ngeri dan hawa dingin menjalari kuduknya, baru sekarang dia sadar bila dirinya telanjang kaki.

Tiba-tiba Ban-be-tong-cu tertawa pula.

"Sudah tentu aku tidak akan membunuhmu, di dalam ada orang sedang menunggumu."

"Ada orang menunggu aku? Siapa?"

Mimik tawa Ban-be-tong-cu aneh, sahutnya pelan.

"Selamanya kau tidak akan menduga siapa dia."

Dia membalik mendorong pintu, serasa hampir tiada keberanian Sim Sam-nio melangkah ke dalam.

oo Akhirnya hari sudah terang tanah.

Pelan-pelan Pho Ang-soat sedang melalap bubur hangat yang baru saja dimasaknya.

Lapat-lapat Yap Kay sudah merasakan bahwa Cui-long tidak akan pulang, dia sedang mengenakan sepatunya Loteng kecil itu sunyi senyap tiada suara apa-apa, Kongsun Toan sedang memasukkan kepalanya ke dalam kubangan air kuda, seperti kuda kehausan dia minum air dingin sepuaspuasnya, tapi umpama seluruh air sebuah sungai pun takkan bisa membuat pikirannya sadar.

Hembusan angin pagi dari padang rumput terasa membawa bau amis yang tawar.

Hoa Boan-thian dan Hun Cay-thian pun sudah kembali ke rumahnya masing-masing, mereka sudah siap menuju ke pendopo besar untuk sarapan pagi.

Setiap pagi seperti lazimnya mereka mesti sarapan pagi di pendopo besar, ini sudah merupakan tata tertib Ban-be-tong.

Akhirnya Sim Sam-nio membesarkan hati, melangkah masuk ke kamar Ban-be-tong-cu.

Siapakah yang sedang menunggu dirinya di dalam?

Dengan memeluk kedua lututnya, Cui-long sedang duduk meringkuk di atas kursi besar yang nyaman terbuat dari kayu cendana.

Kelihatannya dia amat letih dan ketakutan.

Waktu Sim Sam-nio melihat dia, kedua orang itu kelihatannya sama-sama kaget.

Dengan dingin Ban-be-tong-cu mengamati reaksi mimik mereka, katanya tiba-tiba.

"Sudah tentu kalian kenal satu sama lain."

Sim Sam-nio manggut-manggut.

"Sekarang dia sudah kubawa pulang, supaya selanjutnya kau tidak usah mencarinya di tengah malam buta rata."

Reaksi Sim Sam-nio amat aneh, seperti sedang menerawang, hakikatnya tidak mendengarkan ucapan Ban-be-tong-cu ini.

Lama berselang baru pelan-pelan dia bergerak ke hadapan dengan Ban-be-tong-cu, katanya kalem.

"Kemarin malam aku memang pernah keluar."

"Aku tahu."

"Orang yang hendak kucari bukan Cui-long."

"Aku tahu,"

Sahut Ban-be-tong-cu, dia sudah duduk, sikapnya masih tenang dan wajar, siapa pun takkan bisa membedakan perasaan hatinya dari mimik mukanya.

Sim Sam-nio menatapnya bulat-bulat, katanya kata demi kata.

"Orang yang kucari adalah Pho Ang-soat!"

Ban-be-tong-cu sedang mendengarkan, sampai pun kelopak mata dan kulit daging ujung matanya sedikit pun tidak bergerak.

Bukan saja sorot matanya tidak menampilkan rasa kaget dan marah, malah menampilkan perasaan simpatik dan memakluminya.

Suara Sim Sam-nio pun tenang, pelan-pelan dia melanjutkan.

"Aku mencarinya, karena aku beranggapan dialah si pembunuh yang menewaskan orang-orang itu."

"Bukan dia"

Ujar Ban-be-tong-cu. Sim Sam-nio manggut-manggut pelan-pelan.

"Memang bukan dia, tapi sebelum aku berhasil menyelidikinya dengan gamblang, betapapun hatiku takkan bisa tenang."

"Aku mengerti."

"Dari sikapnya terhadap diriku, aku dapat menyimpulkan perempuan sejak dilahirkan memang mempunyai suatu perasaan aneh, kalau dia membenciku, maka sikap dan tindak-tanduknya terhadapku pasti berlainan."

"Aku paham!"

"Tapi terhadapku dia justru amat sungkan waktu aku ke sana, meski dia kelihatannya rada kaget waktu aku hendak berlalu, dia toh tidak coba menahanku."

"Memang dia seorang Kuncu sejati!"

"Sayang sekali, kau punya teman yang bukan Kuncu betul-betul."

"O?"

Sim Sam-nio mengertak gigi, dengan mata merah tiba-tiba dia singkap pakaian bagian bawahnya.

Bagian bawah yang telanjang hanya ditutupi selembar kain ini.

Meski usianya sudah menanjak tiga puluh tahun, namun potongan badannya masih begitu molek, terpelihara dengan baik sekali.

Dadanya montok, dua bukit berdiri kenyal, perutnya datar mengercil, sementara kedua pahanya jenjang halus dan padat, sayang sekali pada titik perempuan yang dihiasi alas subur menghitam itu, kelihatan daging-daging yang membiru hijau.

Tak tertahan Cui-long menjerit tertahan sambil menutup mulut dengan tangan dan mata terbelalak ngeri, berderai air mata Sim Sam-nio, katanya dengan suara gemetar.

"Kau tahu siapa yang menghiasi badanku ini?"

Mengawasi bekas luka-luka di perut Sim Sam-nio, terpancar rasa gusar pada sorot mata Banbe-tong-cu, lama juga dia menepekur baru bersuara.

"Aku tidak ingin tahu."

Sudah tentu Sim Sam-nio cukup tahu, kalau orang tidak ingin tahu, itu berarti dia sudah tahu. Tanpa melanjutkan persoalan ini, pelan-pelan Sim Sam-nio membetulkan pakaiannya pula, katanya rawan.

"Baik juga kalau kau tidak tahu, aku hanya ingin supaya kau tahu, demi kau, apa pun aku rela melakukannya."

Perasaan gusar yang berkobar di sorot mata Ban-be-tong-cu sudah berubah menjadi derita, lama juga baru menarik napas, katanya.

"Beberapa tahun ini, kau memang banyak melakukan pekerjaan untukku, juga banyak menderita."

Sim Sam-nio sesenggukan pilu, tiba-tiba dia berlutut mendekam di bawah lututnya, tangisnya pecah tak terkendali lagi.

Pelan Ban-be-tong-cu mengelus rambutnya yang halus, sorot matanya tertuju keluar jendela.

Angin pagi nan sepoi-sepoi menghembus datang dari padang rumput, rumput menari-nari laksana gelombang ombak samudra timbul tenggelam, sang surya baru saja terbit, cahayanya yang merah menguning menyinari gelombang rumput yang menari-nari tertiup angin, rombongan kuda tengah berderap menyongsong sinar surya.

Berkata Ban-be-tong-cu setelah menghela napas.

"Semula tempat ini merupakan padang belukar, tanpa kau, mungkin aku sendiri tidak akan mampu membangun tempat ini sedemikian indah, tidak ada orang tahu betapa besar bantuanmu terhadapku."

Berkata Sim Sam-nio sesenggukan.

"Asal kau tahu saja, aku pun cukup puas."

"Sudah tentu aku tahu, kau membantuku merubah tempat ini jadi sedemikian indah permai, cuma di kala aku harus kehilangan semua milikku ini, betapa rawan dan derita sanubariku."

Mendadak Sim Sam-nio mengangkat kepala, teriaknya kaget.

"Kau ... kau ... apa katamu?"

Ban-be-tong-cu tidak mengawasinya lagi, katanya pelan-pelan.

"Aku sedang membentangkan sebuah rahasia."

"Rahasia apa?"

"Rahasia dirimu!"

"Aku ... aku punya rahasia apa?"

Semakin tebal rasa derita dalam sorot mata Ban-be-tong-cu, katanya tegas.

"Sejak pertama kali kau datang kemari, aku sudah tahu siapa dirimu sebenarnya."

Bergetar sekujur badan Sim Sam-nio, seolah-olah ada dua tangan yang tidak kelihatan tiba-tiba mencekik lehernya.

Napas pun serasa berhenti seketika, pelan-pelan dia bangkit berdiri, melangkah mundur setindak demi setindak, sorot matanya memancar ketakutan.

"Kau bukan she Sim,"

Ujar Ban-be-tong-cu.

"kau she Hoa!"

Seperti dipukul godam kepala Sim Sam-nio mendengar kata-kata ini. Baru saja dia berdiri, hampir saja dia terpeleset jatuh lagi.

"Gundik Pek Thian-ih yang bernama Hoa Pek-hong adalah kakak kandungmu."

"Kau ... darimana kau tahu?"

"Mungkin kau tidak percaya, tapi sebelum kau datang kemari, aku sudah pernah melihatmu, aku pernah melihat kalian kakak beradik bergaul rapat dengan Pek Thian-ih. Waktu itu kau masih kecil, kakakmu sudah mengandung keturunan Pek Thian-ih."

Badan Sim Sam-nio yang gemetar tiba-tiba berhenti, seluruh badannya serasa kejang dan kaku.

"Setelah Pek Thian-ih meninggal, aku pernah mencari kakak beradik itu, namun selama ini kakakmu dapat menyembunyikan diri baik-baik, memangnya siapa bakal menduga kau justru tahu-tahu sudah berada di sini."

Sim Sam-nio mundur pelan-pelan, akhirnya dia menemukan kursi dan duduk di situ.

Laki-laki di hadapannya inilah, selama tujuh tahun, setiap bulannya paling sedikit ada tujuh kali dia harus menemani kebutuhan orang bermain di atas ranjang, menahan elusan jari-jari tangan tak berkuku yang kasar seperti berduri, menahan bau keringatnya yang prengus.

Ada kalanya seolah-olah dia merasa yang tidur di sebelahnya adalah seekor kuda yang tua.

Tujuh tahun lamanya dia menahan diri, karena dia selalu berpandangan akhirnya usahanya pasi akan mendapat hasil yang memuaskan sesuai rencana, dan untuk mencapai tujuan dia sudah siaga cepat atau lambat harus mempertaruhkan imbalannya.

Baru sekarang pula dia menyadari akan langkah-langkah dirinya yang salah, salah secara mengerikan, salah secara menakutkan.

Tiba-tiba ia menyadari dirinya mirip seekor cacing di tangan anak kecil, dirinya sedang dan selalu dipermainkan orang.

"Aku sudah sejak lama tahu kau siapa, tapi selama ini aku tidak membongkar kedokmu, kau tahu kenapa aku harus merahasiakan hal ini?"

Tanya Ban-be-tong-cu. Sim Sam-nio geleng-geleng kepala.

"Karena aku menyukaimu, dan lagi aku memang memerlukan perempuan seperti kau."

Tiba-tiba Sim Sam-nio tertawa, katanya.

"Malah orang secara sukarela masuk rumah menyerahkan dirinya sendiri secara gratis."

Memang dia sedang tertawa, namun tawa yang sayu dan pedih lebih menderita dari menangis. Mendadak terasa mual dan hampir muntah-muntah.

"Aku sudah lama tahu hubunganmu dengan Cui-long."

"O?"

"Sesuatu yang terjadi di sini Cui-long yang menyiarkan keluar, sesuatu yang terjadi di luar, Cuilong pula yang menyampaikan kepada kau."

Ban-be-tong-cu tiba-tiba tertawa, katanya lebih lanjut.

"Kau gunakan orang seperti dia untuk menyampaikan berita, memangnya suatu rencana kerja yang baik sekali."

"Sayang sekali, serapi-rapi aku bekerja toh tetap sudah kau ketahui"

"Selama ini aku tidak pernah mencegah dan mengganggu kalian, soalnya aku tiada sesuatu berita rahasia yang harus disampaikan kepadamu."

"Kemungkinan kau pun ingin tahu berita di luaran dari pihakku."

"Sayang sekali Cicimu justru jauh lebih cerdik dari kau, beberapa tahun sudah berselang, aku tetap tak berhasil mencari tahu tempat tinggalnya."

"Oleh karena itu sampai detik ini dia tetap segar-bugar."

"Bagaimana dengan anaknya?"

"Masih tetap hidup."

"Sekarang sudah datang kemari?"

"Menurut dugaanmu bagaimana?"

"Yap Kay atau Pho Ang-soat?"

"Kau tidak akan bisa merabanya?"

"Meski kau tidak mau terus terang, aku pun bisa mencari akal untuk mengetahuinya."

"Memangnya kenapa kau harus bertanya kepadaku."

Ban-be-tong-cu menghela napas, ujarnya.

"Sebetulnya sampai detik ini aku belum ingin membongkar rahasiamu, terus terang aku tidak tega memutus hubungan kita yang sekarang."

"Sayang sekali kau dipaksa dan harus segera membongkar kedok asliku."

"Ya, begitulah kenyataannya."

"Kenapa?"

"Karena hal ini tidak boleh berlarut-larut lagi."

"Kalau toh sudah berlarut sampai puluhan tahun, apa halangannya berlarut beberapa hari lagi?"

Sikap Ban-be-tong-cu amat prihatin, katanya.

"Aku punya anak, beberapa ratus saudara, aku tidak tega melihat mereka mati satu per satu di hadapanku menjadi korban keganasan orang."

"Semalam berapa pula yang menjadi korban?"

"Sudah cukup banyak yang menjadi korban?"

"Menurut anggapanmu, siapakah pembunuhnya? Yap Kay? Pho Ang-soat?"

"Peduli siapa pembunuhnya, aku berani bersumpah kepadamu, dia pasti takkan lolos!"

"Hutang uang bayar uang, hutang jiwa bayar jiwa ... begitu maksudmu?"

"Tidak salah."

Sim Sam-nio tiba-tiba tertawa dingin, tanyanya, 'Lalu bagaimana dengan dirimu?"

Sorot mata gusar Ban-be-tong-cu seketika berubah ketakutan, ketakutan yang luar biasa.

Mendadak dia berjingkrak berdiri berpaling ke arah jendela, seolah tidak ingin mimik mukanya dilihat oleh Sim Sam-nio.

Pada saat itulah dari luar kedengaran suara kelintingan berdering nyaring.

Ban-be-tong-cu menghela napas, ujarnya.

"Cepat benar, sehari sudah berlalu, sarapan pagi sudah tiba saatnya."

"Masih bisa kau makan hari ini?"

"Itulah tata tertib yang sudah kutegakkan, paling tidak aku tidak boleh melanggarnya sendiri."

Tanpa melirik lagi kepada Sim Sam-nio dengan langkah lebar dia beranjak keluar.

"Tunggu sebnetar,"

Seru Sim Sam-nio. Ban-be-tong-cu sedang menunggu.

"Masakah begini saja kau hendak berlalu?"

"Kenapa tidak boleh?"

"Kau ... bagaimana keputusanmu akan diriku?"

"Tidak apa-apa."

"Aku tidak mengerti maksudmu."

"Aku tiada maksud apa-apa."

"Kau sudah membongkar rahasiaku, kenapa tidak kau bunuh aku?"

"Membongkar rahasiamu adalah satu persoalan, membunuh adalah persoalan lain."

"Akan tetapi ...."

"Aku tahu sudah tentu kau tidak akan bisa menetap lagi di sini."

"Kau biarkan aku pergi?"

Ban-be-tong-cu tertawa, tawa yang pedih, ujarnya pelan-pelan.

"Kenapa pula aku harus melarangmu? Memangnya aku harus membunuhmu?"

Terpancar rasa kaget dan heran serta tak mengerti pada sorot mata Sim Sam-nio.

Sampai detik ini.

baru dia menyadari dirinya belum memahami jiwa orang, mungkin sejak permulaan dirinya memang belum bisa memahami karakternya.

Tak tertahan dia bertanya pula.

"Kalau kau biarkan aku pergi, kenapa pula kau bongkar rahasiaku?"

Ban-be-tong-cu tertawa pula, ujarnya tawar.

"Mungkin aku hanya ingin supaya kau tahu, aku ini bukan orang pikun."

Sim Sam-nio menggigit bibir, katanya.

"Atau mungkin juga lantaran kau tidak ingin aku menetap di sini pula."

"Ya, mungkin,"

Sahut Ban-be-tong-cu.

Tanpa bicara lagi tanpa menoleh dia terus turun dari loteng.

Langkah kakinya lambat dan berat kejap lain sudah terdengar tiba di bawah.

Mungkin perasaan hatinya jauh lebih berat lagi.

"Kenapa dia tidak membunuhku? Memangnya dia amat baik terhadapku?"

Terkepal kencang kedua jari-jari tangan Sim Sam-nio, akhirnya dia berkeputusan untuk tidak memikirkan persoalan ini lebih lanjut, kalau dipikir hanya menambah kedukaan saja.

Orang inilah yang sudah menipu dirinya, mempermainkan dirinya, tapi di saat orang lain hendak membunuhnya, dia justru membiarkan dirinya pergi.

Mungkin bukan sengaja orang hendak menipunya, justru sebaliknya dirinya yang hendak menipunya.

Peduli apa pun yang pernah dia lakukan dulu, tapi terhadap dirinya, boleh dikata orang tidak terlalu jelek, tidak menyia-nyiakan dirinya.

Tiba-tiba serasa ditusuk sembilu hulu hati Sim Sam-nio.

Sebetulnya tidak pantas dia dijalari perasaan seperti ini, belum pernah terbayang olehnya dirinya bakal dijalari perasaan seperti ini.

Tapi manusia tetap manusia.

Manusia pasti mempunyai perasaan, kontras dan derita.

Sementara itu Cui-long sudah berdiri menghampirinya dan berjalan ke hadapannya, katanya lembut.

"Kalau dia sudah memberi jalan kepada kita, kenapa tidak segera kita berlalu?"

Sim Sam-nio menghirup napas panjang ujarnya.

"Sudah tentu harus pergi, cuma ... mungkin aku memang tidak patut kemari."

Oo BAB 14.

RINGKIK KUDA JEMPOLAN Ban-be-tong-cu pelan-pelan duduk.

Meja panjang terbentang lurus di hadapannya, mirip sebuah jalan raya yang amat panjang.

Dari rawa dan genangan darah berjalan sampai di sini, bahwasanya memang dia sudah menempuh perjalanan yang amat jauh.

Jauh dan menakutkan.

Mulai dari sini, kemana pula dia harus pergi?

Apakah harus kembali ke rawa-rawa dan ke genangan darah itu?

Pelan-pelan Ban-be-tong-cu menjulurkan tangan ke atas meja, kerut keriput kulit mukanya kelihatan lebih jelas di bawah pancaran sinar matahari pagi, lebih mendalam, lebih banyak, setiap jalur kerut keriput mukanya entah mengalami betapa besar derita dan jerih payah.

Di dalamnya termasuk darah keringatnya sendiri, termasuk pula darah keringat orang lain.

Hoa-boan-thian dan Hun Cay-thian sudah menunggu di sana, duduk tenang dan diam, agaknya banyak persoalan bergejolak dalam sanubarinya.

Maka tampak dengan langkah sempoyongan Kongsun Toan beranjak dari luar, begitu masuk ruang pendopo besar ini seketika dirangsang bau arak yang memualkan.

Ban-be-tong-cu tidak mengangkat kepala melihatnya, juga diam-diam saja tak menghiraukan kedatangan orang.

Terpaksa Kongsun Toan mencari tempat duduknya sendiri, duduk tertunduk, agaknya dia tahu maksud Ban-be-tong-cu.

Saat seperti ini tidak pantas dirinya mabuk-mabukan.

Sungguh malu dan angkara murka pula hatinya, marah dan benci terhadap dirinya sendiri.

Ingin rasanya dia mencabut golok, membelah dadanya sendiri, sehingga arak yang terbaur dalam darahnya mengalir keluar.

Suasana dalam ruang pendopo terasa tegang dan lengang.

Sarapan pagi sudah tersedia, terdapat sayur-mayur yang segar, serta panggang daging sapi yang masih mengepul.

Ban-be-tong-cu tiba-tiba tersenyum, katanya.

"Lumayan juga hidangan pagi ini."

Hoa Boan-thian manggut-manggut.

Hun Cay-thian juga manggut-manggut.

Hidangan memang lumayan, namun siapa yang ada selera untuk makan?

Cuaca memang baik juga, namun hembusan angin pagi nan sepoi-sepoi agaknya membawa bau anyir darah yang menandakan firasat jelek.

Kata Hun Cay-thian dengan menunduk kepala.

"Rombongan pertama dari orang-orang yang disuruh meronda kemarin malam sudah ...."

"Laporan boleh kau sampaikan setelah makan,"

Tukas Ban-be-tong-cu "Ya,"

Hun Cay-thian mengiakan.

Maka semua orang menunduk, menggares hidangan masing-masing tanpa bersuara.

Daging sapi muda yang terpanggang lezat terasa getir dan kecut setelah dikunyah.

Hanya Ban-be-tong-cu seorang yang melalap hidangannya dengan selera penuh.

Yang dia kunyah mungkin bukan hidangannya, namun pikirannya sendiri Segala persoalan ini tiba saatnya harus dibereskan satu per satu.

Ada kalanya persoalan itu sendiri tidak akan bisa beres mengandal kekuatan dan kepandaian silat yang tinggi, maka kau harus menyelesaikannya menggunakan daya pikiran dan kecerdikanmu.

Maka banyak sekali yang harus dia pikirkan, harus dia pecahkan satu per satu, segalanya serba kalut, maka perlu dikunyah pelan-pelan supaya satu per satu dapat dia cerna ke dalam perutnya.

Sebelum Ban-be-tong-cu menurunkan sumpitnya, orang lain tiada yang berani menghentikan makannya.

Akhirnya dia meletakkan sumpitnya juga.

Letak jendela itu tinggi.

Cahaya matahari menyorot masuk miring, menyinari debu-debu yang menumpuk tebal di dalam ruang pendopo besar ini.

Mengawasi debu yang bergulung-gulung di antara sorot sinar matahari, mendadak Ban-be-tong-cu berkata.

"Kenapa hanya di tempat yang terkena sorot sinar matahari baru ada debu?"

Tiada yang menjawab, tiada orang yang bisa menjawab.

Bahwasanya pertanyaan ini bukan persoalan yang harus mereka pecahkan.

Pertanyaan yang lucu dan bodoh.

Pelan-pelan sorot mata Ban-be-tong-cu menyapu pandang mereka satu per satu, kembali dia tertawa, katanya.

"Karena hanya di tempat yang tersorot sinar matahari saja baru kau dapat melihat debu, soalnya bila kau tidak melihat debu itu sendiri, maka sering orang menyangka bahwa debu itu bahwasanya tidak pernah ada."

Pelan-pelan dia melanjutkan.

"Sebetulnya peduli kau melihat atau tidak, debu itu selamanya pasti ada."

Pertanyaan bodoh, jawaban yang pintar.

Namun tiada orang yang mengerti kenapa mendadak dia mengajukan persoalan ini, maka tiada satu pun di antara mereka yang memberi tanggapan.

Maka Ban-be-tong-cu lantas meneruskan pula.

"Demikian pula banyak persoalan di dunia ini yang mirip dengan debu ini, mungkin dia selalu sudah melibatkan dirimu, namun kau sendiri tidak pernah melibatkannya, maka kau selalu mengira persoalan itu hakikatnya tidak pernah ada."

Ditatapnya Hoa Boan-thian dan Hun Cay-thian lekat-lekat, sambungnya pula.

"Untunglah sorot sinar matahari selalu bersinar ke dalam, cepat atau lambat pasti akan menyorot masuk ...."

Dengan kepala tertunduk Hoa Boan-thian dengan mendelong mengawasi setengah mangkuk sisa buburnya, tanpa bersuara tidak menunjukkan perubahan mimik mukanya.

Tapi tanpa menunjukkan perubahan mimik justru merupakan suatu sikap yang aneh juga dalam pandangan orang lain.

Mendadak dia berdiri, katanya.

"Rombongan pertama yang ditugaskan meronda di luar, sebagian besar adalah anak buahku, aku harus segera membereskan penguburan mereka "

"Tunggu sebentar,"

Seru Ban-be-tong-cu.

"Tongcu masih ada pesan apa?"

"Tidak ada."

"Memangnya harus menunggu apa?"

"Menunggu kedatangan seseorang."

"Menunggu siapa?"

"Seorang yang cepat atau lambat pasti akan datang."

Akhirnya Hoa Boan-thian duduk kembali dengan gerakan kalem, namun dia bertanya juga.

"Jika dia tidak datang?"

"Kita akan menunggunya terus,"

Ujar Ban-be-tong-cu menarik muka.

Waktu itu sikapnya menjadi kereng, berarti persoalan yang menyangkut pembicaraan sudah berakhir.

Perdebatan sudah tidak boleh terjadi pula Oleh karena itu semua yang hadir duduk pula, diam dan menunggu.

Menunggu siapa?

Untung tidak Lama kemudian mereka sudah mendengar suara lari kuda yang mendatangi dengan cepat.

Tak lama kemudian seorang laki-laki berseragam putih sudah berlari masuk memberi lapor dengan membungkuk badan.

"Di luar ada orang mohon bertemu."

"Siapa?"

Tanya Ban-be-tong-cu.

"Yap Kay,"

Sahut laki-laki itu.

"Hanya dia seorang diri?"

"Ya, hanya seorang diri."

Tiba-tiba tersimpul suatu senyuman aneh menghias muka Ban-be-tong-cu, mulutnya menggumam.

"Ternyata dia betul-betul kemari, cepat benar kedatangannya."

Bergegas dia berdiri, terus melangkah keluar. Tak tahan Hoa Boan-thian bertanya.

"Apakah dia yang Tongcu tunggu?"

Tidak mengakui juga tidak menyangkal, Ban-be-tong-cu malah berkata kereng.

"Lebih baik kalian tetap tinggal di sini saja menunggu aku kembali Kali ini kalian tidak akan lama menunggu, karena lekas sekali aku sudah akan kembali."

Kalau Ban-be-tong-cu sudah berkata lebih baik kalian menunggu di sini, itu berarti kalian harus menunggunya sampai dia kembali.

Semua orang sudah tahu dan mengerti akan maksud katakatanya.

Mengawasi sinar matahari yang menyorot masuk dari luar jendela, Hun Cay-thian seperti sedang memikirkan persoalan sulit yang mengganjal hatinya, seolah-olah dia sedang mengunyah dan menganalisa ucapan Ban-be-tong-cu tadi.

Sementara jari-jari tangan Kongsun Toan terkepal kencang, sorot matanya merah membara mengandung darah.

Hari ini melirik pun Ban-be-tong-cu tidak dan tak mau mengajak bicara dengan dirinya, kenapa sikapnya berubah sedemikian dingin?

Apa sebabnya?

Hoa Boan-thian sebaliknya diam-diam sedang bertanya dalam hati.

"Cara bagaimana Yap Kay bisa mendadak datang ke sini? Untuk apa kedatangannya? Darimana Ban-be-tong-cu bisa tahu bila pemuda ini bakal datang? Benak masing-masing dirundung pikiran sendiri-sendiri, tiada seorang pun yang berhasil memecahkan pertanyaan yang berkecamuk dalam benak masing-masing. Hanya satu orang saja yang bisa memberi berbagai pertanyaan ini. Sudah tentu orang yang dimaksud bukan mereka sendiri. Cahaya matahari cerlang-cemerlang. Yap Kay berdiri di bawah pancaran sinar matahari. Asal setiap waktu ada sinar matahari, seolah-olah dia selalu berdiri di bawah sinar matahari ini. Sekalikali dia tidak akan pernah berdiri di tempat yang gelap teraling dari sinar matahari. Saat itu dia sedang mendongak, mengawasi bendera besar yang melambai-lambai tertiup hembusan angin padang rumput. Begitu asyiknya dia mengawasi bendera putih ini, seolah-olah tidak menyadari bahwa Ban-be-tong-cu sudah keluar. Ban-be-tong-cu langsung mendekati, berdiri di sampingnya. Dia pun menengadah ikut mengawasi bendera putih besar itu. Di tengah bendera putih besar ini bertuliskan lima huruf besar warna merah segar berbunyi.

"Kwan-tang-ban-betong". Tiba-tiba Yap Kay menghela napas, ujarnya.

"Bendera besar yang megah, entah apakah setiap hari kalian mengereknya ke atas tiang?"

"Ya, selalu berkibar,"

Sahut Ban-be-tong-cu.

Kini perhatiannya dia tumplekkan kepada Yap Kay, matanya mengawasi setiap perubahan gerak-gerik Yap Kay, begitu cermat dan seksama pengamatannya.

Akhirnya Yap Kay pun berpaling, balas mengawasinya, katanya pelan.

"Untuk mengibarkan bendera seperti ini di tengah angkasa, tentunya bukan suatu hal yang gampang."

Lama Ban-be-tong-cu berdiam diri, katanya setelah menghirup napas panjang.

"Ya, memang tidak gampang."

"Entah adakah persoalan yang gampang di dunia ini?"

"Hanya satu."

"Membohongi diri sendiri."

Yap Kay tertawa. Ban-be-tong-cu justru tidak tertawa, katanya tawar lebih lanjut.

"Untuk menipu orang memangnya suatu hal yang sulit dilaksanakan, namun untuk membohongi diri sendiri justru amat gampang."

"Akan tetapi apa hakikat dari seseorang yang harus membohongi dirinya sendiri?"

"Karena bila seseorang bisa menipu dirinya sendiri, maka hidupnya sehari-hari akan tetap riang gembira."

"Dan kau? Kau bisa tidak menipu dirimu sendiri?"

"Aku tidak bisa."

"Maka hidupmu selalu tidak pernah senang."

Ban-be-tong-cu tidak menjawab, memang tidak perlu menjawab.

Mengawasi keriput kulit muka orang, sorot mata Yap Kay menampilkan belas kasihan dan simpati akan penderitaannya.

Keriput itu hasil karya lecutan cambuk yang bertubi-tubi, cambuk yang tercekam dalam sanubarinya sendiri.

oo Pekarangan di dalam pagar tidak begitu luas, padang rumput di luar justru tak berujung pangkal luasnya.

Kenapa manusia suka hidup mengurung diri di dalam pagar?

Tanpa berjanji secara serempak mereka bergerak memutar badan, pelan-pelan beranjak ke pintu gerbang.

Langit membiru laksana baru dicuci, cuaca cerah, hawa segar, rumput panjang melambai menari ditiup angin bergelombang, alam semesta seolah membawa suasana yang serba rawan dan memilukan.

Selepas mata memandang, Ban-be-tong-cu menghirup napas, katanya mendelu.

"Sudah terlalu banyak orang-orang mati di sini."

"Mereka yang mati adalah orang-orang yang tidak patut menjadi korban."

Ban-be-tong-cu sigap berpaling, sorot matanya setajam aliran listrik, katanya.

"Memangnya siapa yang patut mampus?"

"Ada orang bilang yang harus mampus adalah aku, ada pula yang beranggapan kau, maka ...."

"Maka bagaimana?"

"Maka ada orang menyuruhku kemari membunuhmu."

Ban-be-tong-cu menghentikan langkahnya, mengawasinya lekat-lekat, mimik mukanya tidak menunjukkan rasa kejut atau keheranan.

Seolah-olah hal ini sudah dalam dugaannya.

Beberapa ekor kuda yang terpencar dari rombongannya entah mendatangi darimana, Ban-betong-cu mendadak mencelat tinggi mencemplak ke punggung kuda, tangannya melambai kepada Yap Kay, kuda terus dikeprak dengan kencang.

Agaknya dia sudah memperhitungkan Yap Kay pasti akan mengikuti jejaknya.

Ternyata Yap Kay memang mengikutinya.

Tempat itu sudah dekat di ujung langit lereng bukit itu seolah-olah sudah merupakan suatu alam yang lain dari yang lain.

Yap Kay pernah datang ke tempat ini.

Setiap kali hendak membicarakan sesuatu urusan rahasia, Ban-be-tong-cu senang membawa orang ke tempat ini.

Seolah-olah hanya di tempat ini saja baru dia bisa membuka belenggu pagar yang mengelilinginya.

Bekas bacokan golok Kongsun Toan masih membekas di atas batu nisan.

Pelan-pelan Ban-betong-cu mengelus bekas-bekas bacokan ini, seperti orang yang sedang mengelus bekas bacokan golok di atas badan sendiri.

Entah karena apa setiap kali dia berhadapan dengan batu nisan ini lantas menimbulkan kenangan peristiwa tragis yang dulu itu?

Lama dan lama sekali, baru dia membalik badan.

Hembusan angin sampai di sini, terasa menjadi seram.

Rambut kepala di ujung pelipisnya yang memutih uban terhembus angin melambai, seolah-olah kelihatan menjadi lebih tua dari usianya.

Tapi kedua matanya masih begitu tajam, Yap Kay ditatapnya lekat-lekat, katanya.

"Ada orang menyuruhmu membunuh aku?"

Yap Kay manggut-manggut.

"Tapi kau tidak ingin membunuhku?"

"Darimana kau tahu?"

"Karena bila kau ingin membunuhku, kau tak akan memberitahu hal ini kepadaku."

Yap Kay mandah tertawa, tidak mengakui dia pun menyangkal.

"Tentunya kau pun sudah tahu,"

Ujar Ban-be-tong-cu lebih lanjut.

"Untuk membunuhku bukan suatu tugas yang gampang dilaksanakan."

Yap Kay menepekur, katanya kemudian.

"Kenapa tidak kau tanya kepadaku, siapakah yang menyuruh aku membunuhmu?"

"Aku tidak perlu bertanya."

"Kenapa?"

"Hakikatnya selama ini aku tidak pernah memandang orang-orang itu dengan sebelah mataku,"

Lalu dia menambahkan dengan suara lebih kalem.

"banyak orang yang ingin membunuhku, tapi yang patut kuperhatikan hanya satu orang saja."

"Siapa?"

"Sebenarnya aku sendiri juga belum berkepastian orang itu sebetulnya kau? Atau Pho Angsoat."

"Sekarang kau belum berkeputusan?"

Ban-be-tong-cu manggut-manggut, kelopak matanya mengkeret, katanya pelan-pelan.

"Sebetulnya sejak permulaan aku sudah harus dapat memastikan."

"Jadi kau berpendapat kematian orang-orang itu adalah Pho Ang-soat yang membunuhnya?"

"Bukan."

"Memangnya siapa kalau bukan dia?"

Terpancar derita dari sorot mata Ban-be-tong-cu, pelan-pelan dia bergerak membalik, memandang lepas ke padang rumput luas nan jauh di sana.

Sampai lama dia tidak menjawab pertanyaan Yap Kay, katanya kemudian dengan suara kereng.

"Aku pernah berkata, tempat ini kuperoleh dari hasil jerih payah memeras keringat dan bercucuran tumpah darah, takkan ada seorang pun yang bisa merebutnya dari tanganku."

Kata-kata ini bukan jawaban.

Yap Kay justru seperti sudah dapat menyimpulkan suatu makna berarti di dalam beberapa patah katanya itu, maka dia pun tak bertanya lagi.

Langit membiru, di antara warna kebiruan itu seolah-olah membawakan selingan warna abuabu perak yang sulit dipandang, mirip benar dengan samudra.

Bendera besar yang berkibar di angkasa, dari sini kelihatannya begitu kecil dan terpencil menyendiri di angkasa sana, huruf yang terpancang di atas bendera sudah tak bisa terbaca lagi.

Memang banyak urusan di dunia ini seperti itu.

Jika kau merasakan sesuatu persoalan yang genting dan berat .1 kibarnya, bila kau menerawang dan menganalisanya dari sudut lain, maka kau akan mendapatkan serta menyadarinya bahwa urusan itu hakikatnya bukan suatu persoalan yang harus dipandang serius.

Lama juga tiba-tiba Ban-be-tong-cu berkata pula.

"Kau tahu aku punya seorang putri."

Tak tahan hampir saja Yap Kay tertawa geli. Sudah tentu dia tahu llan-be-tong-cu punya seorang putri.

"Kau pun mengenalnya?"

Tanya Ban-be-tong-cu. Yap Kay manggut-manggut, sahutnya.

"Aku kenal!"

"Menurut pendapatmu bagaimana putriku itu?"

"Dia baik sekali,"

Sahut Yap Kay, memangnya dia mengenalnya dengan baik sekali.

Adakalanya memang dia mirip putri pingitan yang Iri lalu dimanjakan, namun nuraninya sebetulnya lembut, bijaksana dan kijik.

Lama pula Ban-be-tong-cu berdiam diri, tiba-tiba dia membalik menatap Yap Kay pula, katanya.

"Apa benar kau menyukainya?"

Seketika Yap Kay menyadari dirinya tertegun melongo oleh pertanyaan ini, sungguh belum pernah terbayang olehnya Ban-be-tong-cu bakal mengajukan pertanyaan ini.

"Tentu kau merasa heran,"

Kata Ban-be-tong-cu lebih lanjut.

"kenapa aku tanyakan hal ini kepadamu?"

"Memang aku merasa sedikit heran."

"Kutanya kau, karena kuharap kau suka membawanya pergi."

Yap kay melengak, tanyanya menegas.

"Membawanya pergi? Membawa kemana?"

"Terserah kemana kau hendak membawanya, ke tempat yang kau sukai, kau boleh membawanya, apa pun yang ada di sini, bila kau suka boleh membawanya."

Tak tahan Yap Kay bertanya.

"Kenapa kau suruh aku membawanya pergi?"

"Karena ... karena dia amat menyukai kau."

Berkilat biji mata Yap Kay, katanya.

"Dia menyukai aku, memangnya kami tidak boleh tetap tinggal di sini?"

Berselimut bayangan gelap pada muka Ban-be-tong-cu, katanya pelan-pelan.

"Segera akan terjadi banyak peristiwa di sini, aku tidak ingin dia terlibat dalam peristiwa ini, karena pada hakikatnya dia sendiri tiada sangkut-pautnya dengan persoalan ini."

Yap Kay menatapnya bulat-bulat, tiba-tiba menghela napas, ujarnya.

"Kau memang seorang ayah yang baik hati."

"Kau tidak terima anjuranku?"

Tiba-tiba terunjuk mimik aneh pada sorot mata Yap Kay, pelan-pelan dia pun membalik badan memandang jauh ke padang rumput yang terbentang luas.

Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Ban-be-tong-cu, lama kemudian baru bersuara pelan.

"Aku pernah bilang, di sinilah rumahku, jika aku sudah kembali, maka aku tak mau pergi pula."

"Kau tidak terima?"

Berubah muka Ban-be-tong-cu.

"Aku tidak bisa membawanya pergi, tapi aku juga boleh berjanji kepadamu, peduli peristiwa apa pun yang terjadi di sini, dia pasti tidak akan terlibat di dalamnya,"

Terpancar sinar terang dari matanya, dengan kalem dia melanjutkan.

"Karena persoalan itu memang tidak bersangkut-paut dengan dia "

Mengawasi pemuda di hadapannya, mata Ban-be-tong-cu pun memancarkan sinar terang, tiba-tiba dia tepuk pundak orang, katanya.

"Marilah kutraktir kau minum arak "

Arak tergeletak di atas meja.

Arak tidak bisa menyelesaikan tekanan batin seseorang, namun arak justru bisa membantu kau menipu diri sendiri.

Kongsun Toan menggenggam cangkir emasnya, dia sendiri bingung kenapa dia harus minum arak, sekarang bahwasanya bukan saatnya bagi dia minum arak.

Tapi arak ini merupakan cangkir kelima sejak tadi pagi Hoa Boan-thian dan Hun Cay-thian tengah menatap kepadanya, bukan saja tidak membujuknya untuk tidak minum lagi, mereka pun tidak mengiringi dia minum.

Bahwasanya mereka dengan Kongsun Toan memangnya mempunyai suatu jarak tertentu, arak yang membatasi hubungan mereka, kini jarak itu rasanya semakin jauh.

Mengawasi arak dalam cangkir emasnya, tiba-tiba terketuk sanubari Kongsun Toan, mendadak terasa olehnya betapa dirinya harus dikasihani, kini dirinya sebatangkara dan kesepian.

Dia mengalirkan darah, mengucurkan keringat, berjuang selama hidup, lalu apa yang dia peroleh sekarang?

Segala hasil jerih payahnya kini menjadi milik orang.

Menipu diri sendiri memangnya terdapat dua cara yang berlainan, pertama adalah menganggap diri sendiri besar, angkuh dan pongah, cara yang lain adalah diri sendiri harus dikasihani, bersimpati akan nasibnya sendiri.

Seorang anak laki-laki merunduk masuk secara diam-diam, pakaiannya yang merah menyala, kucir rambut yang hitam di tengah kepalanya, meski anak inipun putra orang lain, tapi dia amat menyukainya.

Karena bocah inipun amat menyukai dirinya, mungkin hanya bocah ini yang benarbenar menyukai dirinya di seluruh dunia ini.

Diulurkan tangannya memegang pundak si bocah, katanya dengan tersenyum.

"Setan kecil, apakah kau hendak mencuri arak lagi?"

Bocah itu geleng-geleng kepala, tiba-tiba dia bertanya lirih.

"Kau ... kenapa kau memukul Samik?"

"Siapa yang bilang?"

Kongsun Toan tersentak bangun.

"Sam-ik sendiri yang bilang,"

Sahut bocah itu.

"Agaknya dia pun mengadu pada ayahnya, lebih baik kau hati-hati sedikit."

Membeku muka Kongsun Toan, hatinya pun terasa dingin.

Baru sekarang dia mengerti, kenapa pagi ini sikap Ban-be-tong-cu jauh berlainan terhadap dirinya, tidak seperti biasanya.

Sudah tentu bukan mengerti keseluruhannya, cuma dia merasa dirinya sudah sedikit menyadari.

Namun suatu pengertian yang jauh lebih celaka daripada tidak mengerti sama sekali.

Dia dorong bocah itu serta bertanya.

"Dimana Sam-ik?"

"Sudah keluar,"

Sahut si bocah Tanpa banyak bertanya lagi Kongsun Toan sudah berjingkrak terus menerjang keluar.

Gerakgeriknya mirip benar dengan seekor binatang liar yang terluka.

Hun Cay-thian dan Hoa Boan-thian tetap duduk di tempatnya tanpa bergerak.

Karena Ban-betong-cu menyuruh mereka tinggal dan menunggu di sini.

Maka mereka tetap akan menunggu sampai dia kembali.

Rumput padang ilalang tumbuh subur dan tinggi, bendera besar Ban-be-tong masih berkibar di kejauhan.

Pasir terasa hangat.

Pho Ang-soat membungkuk mencomot segenggam pasir kuning ini.

Salju kadang-kadang juga bisa terasa hangat seperti ini bila salju itu berlepotan darah, dia genggam pasir itu erat-erat, butiran pasir seakan-akan sudah melesak masuk ke kulit dagingnya.

Maka dia pun melihat Sim Sam-nio, bahwasanya dia hanya melihat dua perempuan cantik yang masih asing baginya.

Mereka menunggang kuda, kuda dilarikan tergesa-gesa, demikian pula sikap mereka kelihatan gugup dan terburu-buru.

Pho Ang-soat menundukkan kepala.

Selamanya dia belum biasa menatap perempuan secara lekat, hakikatnya dia belum pernah melihat Sim Sam-nio.

Tahu-tahu kedua kuda tunggangan justru berhenti di depannya.

Tapi langkahnya tidak berhenti karenanya, kaki kirinya melangkah ke depan, kaki kanan dengan kaku lalu diseret maju meninggalkan jalur memanjang di atas pasir.

Mukanya ditimpa sinar matahari, namun kulit mukanya kelihatan mirip ukiran dinding salju di puncak gunung es.

Salju yang selamanya tidak pernah cair meski disinari cahaya matahari.

Tak nyana perempuan di punggung kuda tahu-tahu sudah melompat turun, mencegat di depannya, Pho Ang-soat tetap tidak berpaling.

Dia boleh tidak usah berpaling melihat muka orang.

Tapi kupingnya mau tidak mau harus mendengar ucapan orang.

Tiba-tiba didengarnya perempuan di depannya berkata.

"Bukankah kau begitu getol ingin melihatku?"

Seketika sekujur badan Pho Ang-soat mengejang kaku, mengejang kaku karena sekujur badannya tiba-tiba panas membara seperti dibakar.

Dia memang belum pernah melihat muka Sim Sam-nio, namun sudah sering dan hapal benar dengan suaranya.

Di bawah pancaran sinar matahari, suara ini ternyata masih sedemikian lembut dan hangat seperti di tempat gelap.

Jari-jari tangan yang lembut dan hangat itu, bibir yang basah dan hangat itu, suatu perasaan aneh atau nafsu yang semanis madu ...

semula terasa seperti berada di tempat nan jauh laksana khayalan belaka.

Tapi dalam sedetik ini, segala khayalan dan segala yang diimpi-impikan mendadak berubah menjadi kenyataan.

Pho Ang-soat menggenggam kencang jari-jarinya, sekujur badannya bergetar lantaran tegang dan emosi, hampir kepala pun tak berani diangkatnya.

Akan tetapi betapa besar hasrat dan keinginannya untuk melihat wajah perempuan pujaannya ini.

Akhirnya dia mengangkat kepala juga, akhirnya dilihatnya kerlingan mata yang manis dan mempesona, senyuman yang menyedot sukma.

Yang dilihatnya adalah Cui-long.

Orang yang berdiri di hadapannya adalah Cui-long.

Dengan senyuman mekar bak bidadari orang tengah menatap dirinya.

Sim Sam-nio sebaliknya seperti orang yang masih asing berdiri di kejauhan.

"Sekarang kau sudah melihatku!"

Ujar Cui-long lembut.

Sorot mata Pho Ang-soat yang semula dingin membeku, seketika seperti memancar cahaya cemerlang yang dipenuhi gairah yang menyala-nyala.

Dalam sekejap ini, dia sudah mencurahkan seluruh perasaan hatinya, terhadap perempuan yang berdiri di hadapannya ini.

Inilah perempuan pertama yang pernah bergaul dengan dia.

Sim Sam-nio masih tetap berdiri di kejauhan tanpa beringsut dari tempatnya, matanya tidak menampilkan mimik perasaannya Karena relung hatinya hakikatnya tidak dihayati perasaan seperti dia.

Tidak lebih dia hanya melakukan sesuatu yang harus dia lakukan, demi menuntut balas, apa pun yang harus dan sudah dia lakukan adalah jamak dan pantas dia lakukan.

Akan tetapi segala persoalan sudah berubah sama sekali, kini dia tidak perlu meneruskan peranannya lagi.

Dia pun pantang diketahui hubungan rahasia dirinya dengan Pho Ang-soat, demikian pula Pho Ang-soat sendiri harus dicegah untuk mengetahui.

Mendadak dia merasa perutnya mual seperti hendak tumpah-tumpah.

Pho Ang-soat masih menatap Cui-long, dengan seluruh perhatian mengawasinya, kulit mukanya yang pucat sudah bersemu merah.

"Belum puas kau melihatku?"

Tanya Cui-long tertawa lebar. Pho Ang-soat tidak menjawab, dia tidak tahu cara bagaimana harus menjawab.

"Baiklah,"

Ujar Cui-long pula.

"biarlah kau pandang aku sepuas hatimu."

Perempuan yang pernah berkecimpung di dalam sarang pelacuran, memangnya mempunyai suatu cara khusus di saat dia bicara berhadapan dengan laki-laki.

Gumpalan salju di puncak gunung pun bisa dibikin cair karenanya.

Tak tertahan akhirnya Sim Sam-nio bersuara.

"Jangan lupa saja yang pernah kuberitahukan kepadamu tadi."

Cui-long manggut-manggut, tiba-tiba menghela napas pelan-pelan, ujarnya.

"Sekarang kubiarkan kau melihatku sepuas hatimu, karena situasi sudah berubah."

"Situasi apa yang berubah?"

Tanya Pho Ang-soat.

"Ban-be-tong sudah ...."

Belum habis kata-kata Cui-long, sekonyong-konyong terdengar derap lari kuda mendatangi.

Seekor kuda menerjang tiba, penunggangnya bertubuh kekar gagah laksana menara, namun gerak-geriknya selincah kelinci.

Waktu kuda meringkik dengan kaki depannya terangkat tinggi, penunggangnya dengan tangkas sudah melompat turun.

Berubah hebat air muka Sim Sam-nio, dia memburu maju bersembunyi di belakang Cui-long.

Kongsun Toan ikut mengudak datang, tangannya kontan menampar muka Cui-long sambil membentak bengis.

"Minggir!"

Namun bentakannya tiba-tiba terputus.

Telapak tangannya pun tidak berhasil menampar muka Cui-long.

Sebatang golok mendadak terjulur keluar dari samping menahan tangannya yang melayang, sarung pedang hitam legam, gagang pedang pun hitam pekat.

Namun jari-jari tangan yang memegangnya justru putih memucat.

Merongkol keluar otot-otot hijau di atas jidat Kongsun Toan, berpaling muka dia melotot kepada Pho Ang-soat, bentaknya beringas.

"Lagi-lagi kau."

"Ya, inilah aku."

"Hari ini aku tidak ingin membunuhmu."

"Hari ini aku pun tidak ingin membunuh kau."

"Kalau begitu lebih baik kalau kau menyingkir."

"Aku justru senang berdiri di sini."

Kongsun Toan mengawasinya, lalu mengawasi Cui-long pula, mimiknya seperti heran, katanya.

"Apakah dia ini binimu?"

"Ya,"

Sahut Pho Ang-soat pendek. Kongsun Toan mendadak terloroh-loroh, serunya.

"Apakah kau tidak tahu bila dia ini seorang pelacur?"

Mengejang kaku sekujur badan Pho Ang-soat.

Pelan-pelan dia mundur dua langkah menatap Kongsun Toan, kulit mukanya yang pucat seolah-olah mengkilap terang tembus cahaya.

Kongsun Toan masih terkial-kial, seolah-olah selama hidupnya belum pernah dia menghadapi sesuatu yang paling menggelikan.

Pho Ang-soat sedang menunggu.

Jari-jari tangannya yang mencekal pedang pun seolah-olah sudah mengkilap tembus cahaya.

Jalur urat nadi dan jalan darah pada otot tangannya bisa terlihat dengan jelas.

Setelah loroh tawa Kongsun Toan berhenti, sepatah demi sepatah segera dia menantang.

"Cabut golokmu!"

Dua patah kata saja, suaranya enteng, seenteng deru napasnya.

Kata-katanya pelan, sepelan kutukan dari neraka.

Kongsun Toan seketika mengejang pula sekujur badannya, tapi biji matanya justru memancarkan sinar membara.

Katanya sambil menatap Pho Ang-soat.

"Apa katamu?"

"Cabut golokmu!"

Pho Ang-soat mengulangi tantangannya.

Matahari sudah terik.

Pasir bergulung-gulung dihembus angin di bawah terik matahari, udara cerah dan cahaya matahari nan cemerlang kelihatan semarak, namun suasana membawa nafsu membunuh yang kejam d m sadis.

Di sini, meski jiwa terus tumbuh dengan subur, namun sembarang w.iktu kemungkinan gugur pula.

Seolah-olah di alam semesta ini segala makhluk di dalamnya seolah-olah saling membunuh secara kejam, di sini tiada cinta kasih, tiada peri-kemanusiaan.

Jari-jari Kongsun Toan sudah menggenggam gagang goloknya.

Golok sabit, gagang perak.

Batang golok yang mengkilap dingin, kini seperti sudah btrubah membara terpanggang di atas tungku.

Telapak tangannya sudah bei keringat, jidatnya pun sudah basah, sekujur badannya seolah-olah sudah menyala di bawah pancaran terik matahari.

"Cabut golokmu!"

Arak dalam darahnya seakan-akan sedang mengalir di seluruh tubuhnya.

Sungguh panas sekali, serasa sukar ditahan lagi.

Pho Ang-soat tak bergeming di hadapannya, laksana gunung salju yang kokoh dan tak pernah cair sepanjang tahun.

Sebongkah es yang mengkilap tembus cahaya.

Terik matahari sepanas ini, sedikit pun tidak mempengaruhi dirinya.

Peduli dimana pun dia berada, selalu seperti berdiri di puncak salju yang tinggi dan jauh di sana.

Deru napas Kongsun Toan seperti kurang tenteram, sampai dia sendiri pun sudah mendengar deru napas sendiri.

Seekor kadal pelan-pelan menongol keluar dari balik tumpukan pasir, pelan pelan pula merambat ke dekat kakinya.

"Cabut golokmu!"

Bendera besar berkibar di kejauhan sana, hembusan angin lalu membawa suara ringkik kuda.

"Cabut golokmu!"

Butiran keringat mengalir turun lewat ujung matanya, terus melesak kedalam jambang-bauknya yang kaku sekeras jarum, akhirnya membasahi bahu dan punggungnya.

Apakah Pho Ang-soat selamanya tidak pernah berkeringat?

Tangannya masih tetap dengan gayanya memegangi golok.

Sekonyong-konyong Kongsun Toan menggerung laksana singa mengamuk, golok tercabut, tangan terayun!

Sinar golok sabitnya mirip bianglala cepat laksana kilat menyambar, sinar goloknya membundar.

Tahu-tahumenukik balik membacok Hiat-to besar yang terletak di belakang leher Pho Ang-soat sebelah kiri.

Pho Ang-soat seperti tidak berkelit, juga tidak melawan.

Mendadak dia malah menerjang maju.

Sarung golok di tangan kirinya mendadak menahan tajam golok melengkung yang membacok turun itu.

Sementara goloknya sendiri pun sudah tercabut.

"Clep!" , tiada orang yang dapat melukiskan suara apakah itu, sampai pun Kongsun Toan sendiri pun tidak tahu suara apa yang didengarnya itu, sedikit pun dia tidak merasa sakit dan menderita, cuma tahu-tahu terasa isi perutnya mendadak seperti dipuntir dan mengkeret, serasa hampir muntah. Waktu dia menunduk, maka dilihatnya ada gagang pedang hitam yang menghiasi perutnya, gagang golok yang mengkilap. Seluruh batang golok amblas ke dalam perutnya, ketinggalan gagangnya saja. Selanjutnya dia lantas merasa seluruh kekuatan badannya sirna secara aneh dan ajaib, kedua kakinya tak kuat lagi menopang berat badannya. Dengan mengawasi gagang golok ini, pelanpelan dia roboh terjungkal, hanya gagang golok itu saja yang dia awasi, sampai mati pun dia belum pernah melihat macam apa sebenarnya golok Pho Ang-soat kecuali gagangnya yang hitam itu. Pasir kuning dibasahi darah hangat, Kongsun Toan rebah di genangan ceceran darahnya sendiri. Jiwanya sudah berakhir, kesulitan, penderitaan dan kesengsaraan hidup serta utangpiutangnya pun sudah berakhir seluruhnya. Tapi bencana yang bakal menimpa orang lain justru baru saja akan dimulai. Lohor, matahari semakin terik. Di dalam cuaca seterik ini, begitu darah mengalir, lekas sekali sudah menjadi kering. Tapi keringat selamanya tidak pernah membeku. Hun Cay-thian sedang sibuk menyeka keringatnya, sambil menyeka keringat, mulut menenggak air, agaknya dia seorang yang tidak tahan menderita. Tidak demikian halnya dengan Hoa Boan-thian, dia justru jauh lebih bisa menahan diri. Seekor kuda pelan-pelan berlari masuk ke dalam pekarangan besar itu. Seseorang tengkurap di punggung kuda. Seekor kadal tengah menjilati darah yang membasahi badan orang. Sebatang golok sabit yang besar terselip miring di pinggangnya, matahari menyinari rambut kepalanya yang awut-awutan. Kini dia takkan bisa berkeringat lagi. Sekonyong-konyong, kilat menyambar, guntur pun menggelegar, hujan lebat laksana ditumpahkan dari langit. Pendopo besar itu sudah mulai guram, air hujan masih deras bercucuran di luar emperan seperti kerai mutiara. Air muka Hoa Boan-thian dan Hun Cay-thian seperti perubahan cuaca yang mendung, dingin dan gelap. Dua laki-laki yang basah kuyup menggotong jenazah Kongsun Toan masuk ke dalam pendopo, lalu membaringkan di atas meja. Tanpa bicara apa-apa diam-diam mereka mengundurkan diri pula. Melirik pun mereka tidak berani berpaling ke arah Ban-be-tong-cu. Ban-be-tong-cu berdiri di tempat gelap di belakang pintu angin, bila kilat menyambar baru terlihat mukanya. Tapi tiada orang yang berani melihat ke arahnya. Pelan-pelan dia duduk di depan meja, dengan kencang dia pegang tangan Kongsun Toan. Tangan yang kasar, dingin dan kaku Dia tidak mengucurkan air mata, namun mimik wajahnya lebih pilu sedih daripada gerung tangisnya. Biji mata Kongsun Toan melotot keluar, seolah-olah sorot matanya menunjukkan rasa derita dan ketakutan sebelum ajal. Memang selama hidupnya berkecimpung di dalam suasana ketakutan, dalam kehidupan yang serba derita dan tertekan, maka selamanya wataknya menjadi berangasan dan suka marah-marah. Sayang sekali orang-orang hanya melihat lahiriahnya yang kasar dan suka marah-marah itu, tidak pernah mau menyelami lubuk hatinya yang paling dalam. Hujan rada mereda, namun cuaca semakin gelap. Tiba-tiba Ban-be-tong-cu berkata.

"Orang ini adalah saudaraku, hanya dia inilah saudaraku yang sejati."

Entah sedang mengigau atau sedang bicara dengan Hoa Boan-thian dan Hun Cay-thian, namun dia melanjutkan.

"Jika tiada dia, mungkin aku takkan bisa hidup sampai sekarang."

Akhirnya Hun Cay-thian menarik napas panjang, katanya berduka.

"Kami tahu dia seorang yang baik."

"Memang dia seorang baik, tiada orang yang lebih setia seperti dia, tiada orang yang lebih berani seperti dia, namun selama hayatnya, belum pernah dia mengalami hidup tenteram dan bahagia."

Hun Cay-thian dan Hoa Boan-thian hanya mendengar saja, kadang-kadang ikut menghela napas. Suara Ban-be-tong-cu sudah tersendat pilu.

"Dia tidak seharusnya mati, namun sekarang dia sudah mati."

"Pasti Pho Ang-soat yang membunuhnya,"

Ujar Hun Cay-thian sengit. Dengan mengertak gigi Ban-be-tong-cu manggut-manggut, lalu ujarnya.

"Memang akulah yang salah terhadapnya, seharusnya aku menerima usulnya, membunuh orang itu lebih dulu."

"Sekarang...."

"Sekarang sudah terlambat, terlambat...."

"Tapi kita lebih tak bisa melepas Pho Ang-soat pergi, kita harus menuntut balas bagi kematiannya,"

Kata Hun Cay-thian beringas.

"Sudah tentu harus menuntut balas, cuma ...."

Mendadak Ban-be-tong-ai berseru, sambungnya dengan bengis.

"Cuma sebelum menuntut balas, masih ada urusan yang harus kuselesaikan."

Berkilat sorot mata Hun Cay-thian, tanyanya ingin tahu.

"Urusan apa?"

"Kau kemari, biar kujelaskan kepadamu."

Hun Cay-thian segera maju mendekat.

"Aku ingin supaya kau melakukan sesuatu bagiku."

"Silakan Tongcu katakan!"

"Aku ingin kau mampus!"

Tiba-tiba tangannya terbalik, tahu-tahu golok sabit Kongsun Toan sudah disambarnya, dimana sinar golok berkelebat, secepat kilat tahu-tahu sudah menyambar ke arah Hun Cay-thian.

Tiada orang yang dapat menggambarkan kecepatan dari sambaran golok ini, tiada orang akan menduga secara tiba-tiba dia turun tangan terhadap Hun Cay-thian.

Dan anehnya, Hun Cay-thian sendiri justru seperti sudah berjaga-jaga akan serangan ini.

Dimana sinar golok berkelebat, badan Hun Cay-thian serempak melejit naik, dengan gaya mendorong jendela memandang rembulan mega terbang, badannya bersalto ke belakang.

Maka darah pun seketika beterbangan muncrat kemana-mana.

Meski tinggi Ginkangnya dan cepat pula reaksinya menghadapi perubahan yang mendadak ini, sayang dia masih kalah cepat dari sambaran golok Ban-be-tong-cu.

Ternyata pergelangan tangan kanannya sudah tertabas kutung oleh tabasan golok.

Kutungan tangannya dengan darah berceceran jatuh ke atas lantai.

Namun Hun Cay-thian sendiri ternyata tidak terjungkal roboh.

Seorang tokoh kosen dari Bu-lim yang sudah berpengalaman tempur ratusan kali sekali-kali takkan gampang dibikin roboh secara gampang.

Punggungnya membelakangi dinding, mukanya sudah pucat-pias, sorot matanya penuh diliputi rasa heran dan ketakutan.

Ban-be-tong-cu tidak menyerangnya lebih lanjut, dia tetap duduk tenang di tempatnya, dengan nanar dia mengawasi ujung golok di tangannya yang berlepotan darah.

Hoa Boan-thian ternyata tetap berada di tempatnya mengawasi kejadian ini dengan sikap dingin acuh tak acuh, tak kelihatan perubahan mimik mukanya.

Asal golok itu bukan membacok kutung tangannya, dia tidak perlu banyak peduli.

Lama juga baru Hun Cay-thian bisa buka suara, katanya dengan mengertak gigi.

"Aku tidak mengerti, aku ... sungguh aku tak mengerti."

"Kau harus tahu,"

Dingin suara Ban-be-tong-cu. Kepalanya terangkat mengawasi lukisan rombongan kuda yang berlari di atas dinding, katanya lebih lanjut.

"Tempat ini memangnya milikku, siapa pun yang ingin merebutnya dari tanganku, maka dia harus mampus!"

Lama Hun Cay-thian berdiam diri, tiba-tiba menghela napas, katanya.

"Kiranya kau sudah tahu seluruhnya."

"Sudah lama aku tahu."

"Agaknya terlalu rendah penilaianku terhadap kau,"

Hun Cay-thian tertawa getir.

"Aku toh sudah pernah bilang, banyak urusan di dunia ini mirip dengan debu, meski sudah berada di sampingmu, namun selamanya tidak pernah kau melihatnya, demikian pula aku tidak pernah jelas mengenal dirimu."

Berkerut-kerut kulit muka Hun Cay-thian, keringat dingin bercucuran, katanya setelah tertawa getir.

"Akan tetapi sinar matahari cepat Uiu lambat toh pasti menyorot masuk."

Meski muka tertawa, namun mimiknya lebih jelek, lebih tersiksa dari orang yang sedang menangis.

"Sekarang kau sudah mengerti bukan?"

Tanya Ban-be-tong-cu.

"Aku sudah mengerti,"

Sahut Hun Cay-thian. Sambil mengawasi orang, tiba-tiba Ban-be-tong-cu menghela napas, ujarnya.

"Tidak semestinya kau mengkhianati aku, seharusnya kau sudah mengerti akan martabatku."

Tiba-tiba tersimbul senyuman aneh di muka Hun Cay-thian, katanya.

"Meski aku mengkhianati kau, akan tetapi ...."

Dia tidak menyelesaikan kata-katanya ini.

Baru saja sorot matanya beralih kepada Hoa Boan-thian, pedang Hoa Boan-thian tahu-tahu sudah menembus dadanya, memanteknya di atas dinding.

Selamanya dia takkan punya kesempatan mengeluarkan isi hati yang ingin diutarakan.

Pelanpelan Hoa Boan-thian mencabut pedangnya.

Pelan-pelan Hun Cay-thian melorot jatuh.

Setiap orang cepat atau lambat pasti akan roboh juga.

Meski betapapun jaya, gagah dan menyolok waktu dirinya hidup, di saat dia roboh kelihatannya tiada bedanya dengan manusia umumnya.

oo BAB 15.

BUNGA BETERBANGAN DI ANGKASA Darah yang bertetesan di ujung pedang sudah membeku kering.

Pelan-pelan Hoa Boan-thian membalik badan mengawasi Ban-be-tong-cu, Ban-be-tong-cu pun sedang mengawasi dia, katanya tawar.

"Kau membunuhnya!"

"Karena dia mengkhianati kau."

"Sekarang kau pun sudah mengerti?"

"Aku tidak mengerti, aku hanya tahu orang yang mengkhianati kau harus mati!"

"Apa kau tahu cara bagaimana dia mengkhianati aku?"

"Aku ingin bisa tahu."

"Buyung Bing-cu, Loh Loh-san, mereka adalah dia yang mengundangnya.'' Muka Hoa Boan-thian menampilkan rasa kaget, teriaknya tertahan.

"Bagaimana bisa dia yang mengundangnya? Memangnya apa hubungan kedua orang ini dengan dia?"

"Tidak punya hubungan apa-apa."

"Kalau tidak punya hubungan, kenapa mengundang mereka kemari? Aku tidak paham."

Dua buah pertanyaan yang bodoh sekali.

Biasanya Hoa Boan-thian bukan orang yang bodoh.

Tapi Ban-be-tong-cu seperti tidak memperhatikan, memangnya dia tidak biasa menjawab pertanyaan bodoh orang lain.

Tapi kali ini dia justru menjawabnya.

"Justru karena mereka memang tidak punya hubungan dengan dia, maka dia mengundangnya kemari."

"Untuk apa mengundang mereka kemari?"

"Untuk membunuh orang."

"Membunuh orang? Membunuh siapa?"

Ban-be-tong-cu menggenggam golok sabit katanya kalem.

"Para saudara yang terbunuh dalam dua hari belakangan ini, adalah buah karya mereka."

Hoa Boan-thian berjingkat kaget, serunya.

"Mereka yang membunuh? Bukan Pho Ang-soat?"

Ban-be-tong-cu geleng-geleng, sahutnya dingin.

"Pho Ang-soat hanya ingin membunuh satu orang saja."

Umpama Hoa Boan-thian memang seorang bodoh, dia takkan bertanya lebih lanjut, sudah tentu dia sudah tahu siapa yang hendak dibunuh oleh Pho Ang-soat.

"Akan tetapi, mengapa Hun Cay-thian mengundang orang-orang itu untuk membunuh para saudara itu?"

"Karena dia hendak memaksa atau mendesakku meninggalkan tempat ini."

Berkerut alis Hoa Boan-thian.

"Memaksamu pergi?"

"Jika aku pergi, bukankah tempat ini menjadi miliknya?"

Hoa Boan-thian menghela napas, katanya.

"Seharusnya dia menyadari kau bukan orang yang bisa digertak pergi begitu saja."

"Tapi dia pun tahu bahwa aku mempunyai seorang musuh lihai yang tangguh, apa yang dia lakukan tidak lain hanya supaya aku menyangka musuh besarku itu sudah meluruk datang."

Terunjuk senyuman sinis di ujung bibirnya, lalu menyambung.

"Memang hampir saja aku percaya waktu peristiwa itu terjadi."

"Kejadian apa pula yang membuat kau mulai curiga?"

"Meski rencananya matang dan teliti, toh dia salah memperhitungkan suatu hal."

"O, hal apa?"

"Sudah tentu dia takkan menduga musuh besarku yang tulen itu meluruk datang juga bertepatan dengan kejadian malam itu."

"Memangnya suatu kejadian yang amat kebetulan."

"Kedatangan Pho Ang-soat memang bukan secara kebetulan."

"Bukan dia?"

"Dan lantaran dia tahu Hun Cay-thian mempunyai rencananya ini, maka dia lantas kemari hanya bila Ban-be-tong terjadi sesuatu peristiwa yang merubah susana saja, baru dia mempunyai kesempatan yang betul-betul baik "

"Cara bagaimana pula dia bisa tahu akan rencana Hun Cay-thian?"

Terpancar rasa tersiksa pada sorot mata Ban-be-tong-cu, lama juga baru dia berkata.

"Karena Sim Sam-nio sebenarnya adalah komplotan mereka."

Kelihatannya Hoa Boan-thian amat tercengang, katanya.

"Tapi bagaimana pula Sim Sam-nio bisa tahu akan hal ini?"

"Karena Cui-long pun orang kepercayaan mereka."

"Cui-long?"

"Cui-long berhasil dipelet, melalui Cui-long sebagai kusir untuk menyambung berita pulang pergi, di luar tahunya bahwa Cui-long sekaligus juga membocorkan berita itu kepada Sim Samnio."

Hoa Boan-thian menarik napas panjang, katanya.

"Agaknya bila laki-laki terlalu mempercayai perempuan, usaha besar apa pun yang tengah dirintisnya pasti akan gagal total."

"Dia salah menilai Cui-long, dia pun salah menilai Hwi-thian-ci-cu."

"Waktu itu siapa pun takkan menduga bahwa Hwi-thian-ci-cu adalah orang yang kau undang."

"Oleh karena itu maka rahasia mereka seluruhnya ketahuan oleh Hwi-thian-ci-cu."

"Oleh karena itu pula maka Hwi-thian-ci-cu harus mati."

"Benar, tentunya dia terbunuh oleh Buyung Bing-cu untuk menyumbat mulutnya."

"Tapi kenapa Buyung Bing-cu sendiri akhirnya pun jadi korban?"

"Sebelum menemui ajalnya tentu Hwi-thian-ci-cu berhasil memegang suatu bukti, dan bukti itu pasti dia dapat dari badan Buyung Bing-cu."

Hoa Boan-thian manggut-manggut, dia pun teringat jari-jari Hwi-thian-ci-cu waktu itu tergenggam dengan kencang dan kaku.

"Sudah tentu Hun Cay-thian tidak pernah memperhatikan jari-jari Hwi-thian-ci-cu, karena hanya dia yang tahu siapa yang membunuh Hwi-thian-ci-cu."

"Tapi tidak pernah terpikir olehnya bahwa ada orang lain yang memperhatikan jari itu, malah bukti penting yang tergenggam oleh jari tangan itu diambilnya."

"Dia kuatir orang berhasil menyelidiki hubungan antara mereka, maka Buyung Bing-cu harus dibunuhnya untuk menutup mulutnya."

"Sungguh tak terkira ternyata dia seorang yang kejam dan culas."

"Sekarang kau sudah paham seluruhnya."

"Masih ada dua hal aku kurang mengerti."

"Kau boleh bertanya."

"Loh Loh-san adalah angkatan tua dari Bu-lim yang kenamaan, Buyung Bing-cu adalah putra hartawan kaya raya turun temurun, dengan kedudukan dan tingkat mereka, masakah begitu gampang terima diundang untuk diperalat orang lain?"

"Sudah lama Buyung Bing-cu mengiler dan mengimpikan dapat mengangkangi usaha besar Ban-be-tong, dengan berbagai daya-upaya dia ingin merebutnya, seseorang bila timbul rasa tamak dan loba, maka dengan mudah dia diperalat orang lain tanpa dia sendiri sadar bila dirinya sudah menjadi budak."

Hoa Boan-thian menggut-manggut, ujarnya.

"Orang yang semakin kaya semakin kikir dan tamak, hal ini aku cukup tahu, namun ... Loh Loh-san cara bagaimana pula bisa tertarik oleh pancingan mereka?"

Sebentar Ban-be-tong-cu menepekur, katanya kemudian pelan-pelan.

"Bukan dia yang mengundang Loh Loh-san kemari."

"Bukan dia, memangnya siapa?"

"Memangnya Hun Cay-thian bukan biang keladi dalam rencana jangka panjang ini."

"O, lalu siapa?"

"Kemarin malam, Loh Loh-san, Buyung Bing-cu, Pho Ang-soat dan Hwi-thian-ci-cu, semua menyekap diri di dalam kamar masing-masing, tapi tiga belas saudara dari istal bagian kuasamu menjadi korban."

"Waktu itu aku mengira Yap Kaylah yang turun tangan menangani mereka."

"Memangnya pembunuh itu sengaja hendak menimpakan bencana ini kepada Yap Kay, tak nyana ada orang yang membuktikan alibi Yap Kay waktu itu."

"Kau kira Hun Cay-thian pembunuhnya?"

"Bukan dia."

"Kenapa bukan?"

Ban-be-tong-cu menarik muka, katanya.

"Aku cukup mengenal baik ilmu silatnya, demikian pula sampai dimana taraf kepandaian tiga belas saudaranya yang menjadi korban itu, mengandal tenaganya seorang tidak begitu gampang dalam waktu sesingkat itu membereskan mereka."

Sikap Hoa Boan-thian ikut prihatin, katanya.

"Maka kau mengira di belakang tabir peristiwa ini pasti ada seorang lain pula yang menjadi biang keladinya."

"Dugaanku tidak akan salah."

"Kau kira orang itulah biang keladi yang sesungguhnya?"

"Benar."

"Kau tahu siapa dia?"

Ban-be-tong-cu tidak menjawab secara langsung, katanya pelan-pelan, Pertama, hubungan orang ini dengan Loh Loh-san pasti amat mendalam dan intim sekali, maka Loh Loh-san baru bisa terbujuk olehnya untuk melakukan persekongkolan ini."

Hoa Boan-thian manggut-manggut, ujarnya.

"Ya, masuk akal."

"Kedua, kedudukan orang ini pasti cukup tinggi di Ban-be-tong."

"Darimana kau bisa menyimpulkan hal ini?"

"Karena dia mempunyai kedudukan yang tinggi, setelah berhasil memaksaku lari, baru dia bisa memegang tampuk pimpinan di Ban-be-tong."

Kembali Hoa Boan-thian tenggelam dalam alam pikirannya, akhirnya dia manggut-manggut, katanya.

"Ya, masuk akal juga."

"Tentunya dia pula seorang yang biasanya amat dipatuhi oleh Hun Cay-thian, maka Hun Caythian baru mau diperintah olehnya."

"Masuk akal pula."

Semakin kereng sikap Ban-be-tong-cu.

"Keempat sudah tentu dia pula orang yang amat dipercaya dan dijunjung sebagai pimpinannya oleh ketiga belas orang korban itu, justru karena mereka tidak bersiaga dan berjaga-jaga, maka dengan mudah jiwa mereka dihabisi tanpa mereka menyadari elmaut sedang mengintip jiwa mereka."

Tiba-tiba Hoa Boan-thian tertawa, tawa yang aneh sekali, katanya pelan-pelan.

"Justru karena hubungannya intim dengan Loh Loh-san, maka di hadapan orang dia sengaja berpura-pura saling membenci dan sebal, supaya orang lain tidak pernah menduga adanya ikatan erat di antara mereka."

"Ya, begitulah."

"Kini tinggal sebuah hal masih belum sempat mengerti."

"Kau masih boleh bertanya."

Hoa Boan-thian menatapnya bulat-bulat, tanyanya.

"Semua kenyataan ini apakah hasil dari kesimpulan sendiri?"

"Bukan seluruhnya."

"Jadi ada orang yang membocorkan rahasia kepadamu?"

"Benar!"

"Siapa orang itu?"

"Cui-long."

"Lagi-lagi dia?"

Hoa Boan-thian mengerut kening. Tiba-tiba Ban-be-tong-cu tertawa, katanya tawar.

"Hun Cay-thian mengira Cui-long sudah patuh dan bertekuk lutut kepadanya, demikian pula Sim Sam-nio mengira Cui-long amat setia kepadanya, di luar tahu mereka Tak tertahan Hoa Boan-thian menukas, katanya.

"Mereka semuanya salah hitung."

"Mereka sama-sama salah, kesalahan itu amat menggelikan "

"Bahwasanya Cui-long adalah orangmu?"

"Juga bukan."

"Lalu siapakah dia sebenarnya ...."

Ban-be-tong-cu balas menukas, katanya.

"Kau kan tahu api profesinya?"

Terujuk rasa benci dan muak pada air muka Hoa Boan-thian, katanya dingin.

"Sudah tentu aku tahu, dia adalah pelacur."

"Kapan kau pernah mendengar seorang pelacur pernah setia terhadap seseorang?"

"Benar seseorang bila dia toh rela menjual dirinya sendiri, sudah tentu tidak akan segan-segan menjual diri orang lain."

"Cuma kelihatannya dia sih bukan manusia seperti yang kau kira."

Tiba-tiba Hoa Boan-thian tertawa, ujarnya.

"Soal ini jadi memben suatu pengajaran kepadaku."

"Pengajaran apa?"

"Pelacur tetap pelacur, meski dia cantik rupawan laksana bidadari dia tetap adalah pelacur."

"Agaknya kau jarang mengeluarkan omongan sekasar ini."

"Bukan saja hari ini terlalu banyak omong kasar, aku pun terlalu bodoh dalam bicara."

"Tentunya kau sudah paham seluruh persoalannya?"

"Apakah sekarang sudah terlambat "

"Agaknya memang sudah terlambat."

Hoa Boan-thian tertindak, katanya setelah menepekur beberapa saat lamanya.

"Musuhmu yang sesungguhnya apa benar Pho Ang-soat?"

"Tidak akan salah!"

"Aku bisa mewakilkan kau membunuhnya."

"Kau tidak akan mampu membunuhnya."

"Paling tidak aku bisa menyumbangkan sedikit tenagaku kepada kau ' "Tidak perlu."

"Sekarang Kongsun Toan dan Hun Cay-thian sudah mati, kalau kau pun membunuh aku, bukankah kedudukanmu bakal terpencil?"

"Itu urusanku sendiri."

Kembali Hoa Boan-thian menepekur agak lama, katanya kemudian dengan menghela napas.

"Terhitung sudah puluhan tahun aku berkerja kepadamu."

"Enam belas tahun."

"Dalam enam belas tahun ini, aku pun pernah mengucurkan darahku bagi tempat ini, mengalirkan keringat bagi kepentinganmu."

"Daerah ini bisa sesubur, sejaya dan semakmur sekarang, memangnya bukan hasil tenaga satu orang untuk membangunnya."

"Kali ini paling-paling aku hanya ingin memaksamu menyingkir ke tempat jauh, hakikatnya tiada maksud jahat hendak membunuhmu."

"Pohon besar di tengah pekarangan itu, tentunya kau masih pernah melihatnya."

Hoa Boan-thian manggut-manggut.

"Beberapa tahun belakangan ini, dia tumbuh dengan cepat dan subur, tumbuh dengan baik."

Terunjuk rasa rawan pada sorot mata Hoa Boan-thian, katanya kalem.

"Waktu aku datang, pohon itu belum lagi setinggi pagar, sekarang dua orang pun takkan bisa memeluknya!"

"Tapi bila kau hendak memindahkan ke tempat lain, dia pasti akan lekas menjadi kering dan layu."

Hoa Boan-thian hanya diam sebagai jawaban.

"Demikian pula diriku, mirip dengan pohon tua itu, akarku sudah tumbuh dengan kokoh kuat di daerah ini, kalau ada orang ingin aku pergi dari sini, aku pun akan mati kering dan layu."

Terkepal kedua jari-jari Hoa Boan-thian.

"Karena itu ... karena itu kau ingin aku mati."

Ban-be-tong-cu berkata sambil mengawasinya.

"Kau sendiri yang bilang, siapa pun yang berkhianat terhadapku, maka dia harus mampus."

Mengawasi jari-jari tangannya yang mencekal pedang, Hoa Boan-thian menghela napas panjang, ujarnya.

"Ya, memang aku pernah bilang begitu."

"Sebetulnya aku bisa memaksa kau untuk berduel dengan Pho Ang-soat."

"Aku pun pasti akan menerima perintahmu."

"Tapi aku lebih senang turun tangan sendiri, sekali-kali aku tidak akan rela membiarkan orang lain membunuhmu,"

Kata Ban-be-tong-cu tandas.

"karena kau adalah kerabat Ban-be-tong, karena kau pun adalah sahabat baikku."

"Aku... aku mengerti."

"Baik sekali kalau kau mengerti."

"Sekarang aku hanya ingin bertanya sepatah kata pula."

"Silakan berkata."

Mendadak Hoa Boan-thian mengangkat kepala mengawasinya, katanya bengis.

"Puluhan tahun aku berjuang banting tulang, sampai sekarang apa yang berhasil kuperoleh, tidak lebih seperti budak yang harus tunduk dan kau perintah seenakmu sendiri, jika kau menjadi aku, mungkinkah kau pun akan berbuat seperti apa yang kulakukan sekarang?"

Tanpa berpikir Ban-be-tong-cu segera menjawab.

"Pasti akan kulakukan, cuma ...."

Terpancar sinar terang setajam pisau dari biji mata Ban-be-tong-cu.

"Jika perbuatanku kurang hati-hati, rahasiaku ketahuan oleh orang, kau pun akan mati dengan meram tanpa menyesal."

Hoa Boan-thian balas mengawasinya, mendadak dia mendongak dan bergelak tertawa, katanya.

"Bagus, mati dengan meram tanpa menyesal apa segala, sayang sekali aku belum tentu pasti akan mati di tanganmu."

Pedang panjang di tangannya segera terayun, kembang pedangnya laksana kuntum kembang beterbangan menari-nari di tengah udara, bentaknya beringas.

"Asal kau dapat membunuhku, aku pun akan mati dengan tenteram."

"Baik sekali, memang itulah ucapan seorang laki-laki sejati."

"Kenapa tidak segera kau bangkit dari tempat dudukmu."

"Duduk di sini aku pun tetap bisa membunuhmu."

Gelak tawa Hoa Boan-thian sudah terhenti, otot-otot hijau di punggung tangannya yang mencekal pedang sudah merongkol keluar saking kencang dan tegangnya.

Ban-be-tong-cu sebaliknya masih tetap duduk di tempatnya dengan adem-ayem, tenang-tenang mengawasi golok di tangannya.

Melirik pun tidak kepada Hoa Boan-thian.

Seluruh darah daging sekujur badannya tiba-tiba berubah melengkung laksana besi baja.

Hoa Boan-thian menatapnya, selangkah demi selangkah mendesak maju, ujung pedangnya bergertar keras, jari-jari tangannya yang mencekal pedang mulai goyah dan lengan pun ikut gemetar.

Sekonyong-konyong mulutnya menghardik, sinar pedangnya berubah laksana pelangi, seketika badannya mencelat terbang.

Badan bersama pedangnya laksana kilat menerjang...

keluar jendela.

Ban-be-tong-cu menghela napas panjang, katanya.

"Sayang ...."

Baru dua patah katanya, tibatiba badannya pun sudah mencelat terbang. Golok melengkung berubah laksana bianglala perak.

"Ting" , golok dan pedang beradu. Sinar golok tiba-tiba membundar miring terus bergerak menyisir batang pedang mengiris ke depan. Hoa Boan-thian adalah seorang ahli pedang, betapa cepat gerak perubahan ilmu pedangnya, di jagat ini jarang ada tandingannya Tapi kali ini baru dia betul-betul menyadari segala gerak perubahannya ternyata sudah terkunci buntu dan mati kutu oleh gerakan lawan lebih dulu. Apalagi badannya sedang terapung di tengah udara, di saat tenaganya menjelang habis dan tenaga baru yang dia kerahkan belum lagi bekerja. Dalam waktu sesingkat itu, sinar golok yang menyilaukan mata tahu-tahu sudah menutup mukanya, menyumbat pernapasannya. Tiba-tiba dia merasa dingin, dingin menakutkan.

"Jika kau berani berduel dengan aku, sungguh aku bisa mengampuni jiwamu" , itulah kata-kata terakhir Ban-be-tong-cu yang masih sempat dia dengar. Kilat dan guntur sudah berhenti, namun cuaca semakin gelap. Kembali Ban-be-tong-cu duduk tenang-tenang di tempatnya semula, kelihatannya seolah-olah amat letih, juga sedih dan risau. Di hadapannya terbaring jenazah Kongsun Toan, Hun Cay-thian dan Hoa Boan-thian. Sebetulnya mereka bertiga adalah teman-teman karibnya yang terdekat, pembantu yang paling boleh diandalkan tenaganya, kini sudah menjadi mayat yang tak berjiwa dan tak berperasaan lagi, tak ubahnya seperti mayat-mayat orang lain yang tidak dia kenal sebelumnya. Tapi orang yang masih hidup tidak mungkin tidak mempunyai perasaan. Memangnya siapa yang bisa mengerti perasaannya, perasaan hati orang tua yang sudah kenyang berkecimpung dalam perjuangan hidup. Sebetulnya apa saja yang pernah dia miliki? Sekarang apa pula yang masih tersisa? Darah yang berlepotan di atas dinding pun sudah kering, tetesan darah baris demi baris seperti sebuah gambar berwarna yang sengaja dibubuhkan di atas dinding. Dua orang dengan langkah merunduk melongok ke dalam, melihat keadaan dalam pendopo besar, seketika mereka menahan napas. Ban-be-tong-cu tidak bergeming, lama kemudian baru dia berseru.

"Perintahkan ke seluruh Ban-be-tong, semua saudara diharuskan berkabung dan tidak boleh makan barang berjiwa tiga hari, siapkan pula segala keperluan untuk membereskan jenazah Hoa-siangcu dan Hun-siangcu beserta Kongsun Toan. * * * BAB 16. SEKALI MASUK JARANG HARAP PULANG Di tengah-tengah padang rumput terdapat sebuah kapel peristirahatan minum teh. Para pengembala kuda suka menamakan tempat ini sebagai sarang tenteram, bahwasanya tempat ini tidak lebih dibangun dari rumput alang-alang yang sederhana sekali. Tapi di sekeliling padang rumput ini, hanya tempat ini saja satu-satunya tempat yang bisa untuk berteduh dari teriknya matahari dan hujan bayu. Begitu hujan mulai turun, Yap Kay dan Be Hong-ling sudah berlari masuk ke sarang tenteram ini untuk berteduh dari curahan air yang tumpah dari langit Hujan deras. Titik air selebat butiran mutiara yang berderet-deret berhamburan dari langit. Padang ilalang nan luas tak berujung pangkal, kelihatannya seperti dunia impian belaka. Be Hong-ling duduk di bangku panjang di samping teko air teh, kedua tangannya memeluk lutut, dengan mendelong mengawasi padang rumput yang diterpa hujan. Sudah lama dia tidak bicara. Bila perempuan tidak bicara, biasanya Yap Kay juga tidak mengusiknya supaya dia buka suara. Selamanya dia berpendapat bila perempuan jarang berbicara, maka laki-laki pasti berumur sedikit lebih panjang umur. Sinar kilat menyinari wajah Be Hong-ling. Air mukanya jelek sekali, terang lantaran kurang tidur, dan dilihat gelagatnya seperti dirundung banyak persoalan yang mengganjal sanubarinya. Tapi air muka seperti ini kelihatannya malah berubah lebih matang, lebih tahu banyak urusan. Yap Kay menuang secawan teh, sekaligus dia tenggak habis, dia harap yang terisi di dalam teko air teh ini adalah air kata-kata. Sebetulnya dia bukan setan arak, hanya di kala hatinya riang atau di saat hatinya bebal dan nsau baru dia ada hasrat minum arak. Sekarang hatinya sedang mendelu, pikiran sedang pepat. Sekarang tiba-tiba dia ingin minum arak. Be Hong-ling mengangkat kepala memandangnya sekejap, katanya tiba-tiba.

"Biasanya ayahku menentang kita berhubungan."

"O, lantas?"

"Tetapi hari ini dia justru menyuruh aku mengajakmu keluar bertamasya."

Yap Kay tertawa, ujarnya.

"Memang orang giliran yang tepat, sayang waktunya yang tidak benar."

Be Hong-ling menggigit bibir, katanya.

"Apa kau tahu kenapa mendadak dia berubah haluan?"

"Tidak tahu."

"Pagi hari ini,"

Kata Be Hong-ling pula menatapnya.

"tentu kau sudah banyak bicara dengan dia."

Yap Kay tertawa tawar, ujarnya pula.

"Tentunya kau sudah tahu dia bukan laki-laki yang suka cerewet, demikian pula aku."

Be Hong-ling tiba-tiba berjingkrak bangun, katanya keras.

"Kalian pasti banyak membicarakan apa-apa yang tidak ingin kuketahui, kalau tidak, kenapa kau tidak mau memberitahu kepadaku."

Yap Kay menepekur sebentar, katanya kalem.

"Betulkah kau ingin supaya aku memberitahu kepadamu?"

"Sudah tentu betul."

"Kalau aku bilang dia ingin kau kawin dengan aku, kau percaya tidak?"

"Sudah tentu tidak percaya."

"Kenapa tidak percaya?" 'Aku ...."

Mendadak Be Hong-ling membanting kaki, membalik badan, serunya.

"Hatiku sedang kusut, kau masih menggodaku."

"Kenapa hatimu kusut?"

"Aku pun tidak tahu, kalau aku tahu, hatiku takkan bingung seperti ini."

"Kedengarannya ucapanmu ini amat janggal dan lucu, namun masuk akal juga "

"Memang kenyataan demikian,"

Baca Juga: Peristiwa Burung Kenari 5

Baca Juga: Golok Sakti 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert