Ceritasilat Novel Online

Peristiwa Merah Salju 2

Eps 2 Peristiwa Merah Salju - Gu Long

Baca online Peristiwa Merah Salju - Gu Long

Cersil Peristiwa Merah Salju - Gu Long.

"Cabut golokmu!"

Pho Ang-soat menjawab tawar.

"Sekarang bukan saatnya mencabut golok."

"Justru sekaranglah saatnya mencabut golok,"

Seru Kongsun Toan beringas.

"Ingin aku melihat apakah batang golokmu berlepotan darah?"

"Golokku ini bukan dipamerkan kepada orang."

"Dengan cara apa dan apa kehendakmu baru kau bisa mencabut golok?"

"Aku mencabut golok hanya karena satu alasan."

"Alasan apa? Membunuh orang?"

"Itu tergantung terhadap siapa aku berhadapan, selamanya aku hanya membunuh tiga macam orang."

"Orang macam apa saja?"

"Musuh, manusia rendah "Satu lagi orang macam apa?"

Dengan dingin Pho Ang-soat mengawasinya, katanya.

"Yaitu orang seperti kau yang memaksa aku mencabut golok."

Kongsun Toan tergelak-gelak sambil mendongak, serunya.

"Bagus, ucapan bagus. Memangnya aku sedang menunggu kata-katamu ini. Jari-jarinya sudah menekan gagang golok sabitnya. Belum lagi gelak tawanya sirna, jarinya sudah menggenggam kencang gagangnya. Biji mata Pho Ang-soat bersinar lebih terang, agaknya dia pun sudah menantikan detik-detik yang menentukan ini. Detik-detik mencabut golok! Akan tetapi pada detik-detik ini pula, di tengah padang rumput nan luas di tengah kegelapan malam sana, mendadak berkumandang pula nyanyian lagu yang memilukan itu.

"Bangkit bergoncang, bumi bergetar, Bumi berlepotan darah, bulan tidak bersinar. Bidan redup angin kencang malam pembunuhan. Laksaan kuda meringkik, manusia putus ususnya."

Suara nyanyian ini mengambang seolah-olah kedengaran dari tempat nan jauh, tapi setiap patah katanya dapat terdengar dengan jelas.

Seketika berubah air muka Kongsun Toan, mendadak terpentang kedua lengannya, serunya.

"Kejar!"

Begitu badannya melambung tinggi melesat ke sana, di tengah kegelapan sana seketika tersulut puluhan batang obor bagaikan naga panjang menggulung tiba dari berbagai penjuru.

Dalam waktu yang hampir bersamaan Hun Cay-thian pun membentak, kedua lengannya seperti burung terbang, dengan Pat-pau-kan-sian-cui-hun-sek gerakan delapan langkah mengudak tonggeret mengejar mega, seenteng asap, beruntun tiga lima kali lompatan beranting, tahu-tahu badannya sudah melesat dua puluhan tombak jauhnya.

Yap Kay menghela napas, mulutnya menggumam.

"Memang tidak malu digelari Hun-tiong-wiho (bangau terbang di tengah mega) memang Ginkangnya hebat luar biasa."

Seperti mengigau sendiri, tapi seperti juga ditujukan kepada Pho Ang-soat, tapi waktu dia berpaling lagi, Pho Angsoat yang sejak tadi berdiri di tempat itu, ternyata sudah menghilang entah kemana.

Genangan darah membeku kering, tidak lagi mengalir.

Demikian pula cahaya api semakin jauh.

Seorang diri Yap Kay berdiri di depan istal, seolah-olah di tengah alam semesta ini tinggal dia seorang diri.

Ban-be-tong-cu, Hoa Boan-thian, Pho Ang-soat, Buyung Bing-cu....

orang-orang ini seolah-olah secara serempak mendadak menghilang dari kegelapan malam.

Yap Kay menerawang sebentar, lambat-laun ujung mulutnya menyungging senyuman manis, mulutnya menggumam lagi.

"Aneh dan amat menyenangkan, agaknya tiada seorang pun di antara mereka yang tidak menarik. Obor terus bergerak memanjang dan bergerak di padang rumput. Sebaliknya bintang-bintang di cakrawala mulai menyembunyikan diri dan tak tampak lagi. Di tengah malam buta rata inilah Yap Kay putar-kayun ke sana kemari, kelayapan ke timur mondar-mandir di barat, kakinya melangkah kemana saja tanpa tujuan tertentu. Seolah-olah di tengah padang rumput sekarang ini terang tiada seorang pun yang lebih iseng dari dirinya. Lampion besar di pucuk tiang bendera itu kembali menyala. Dengan menggendong tangan, kakinya melangkah menuju ke arah lampion itu. Sekonyong-konyong derap lari kuda membedal kencang ke arah sini, keliningan kuda pun bergoncang keras berkumandang di kesunyian malam, tahu-tahu seekor kuda mencongklang pesat dari kegelapan sana menenang datang. Penunggang kuda memiliki sepasang biji mata yang jeli bening bersinar, sekilas orang melirik ke arahnya, mendadak mulutnya menghardik lirih, serempak tangannya menarik tali kekang, kontan kuda tunggangannya meringkik sambil berdiri dengan kedua kaki belakangnya dan berhenti tepat di sampingnya. Kuda yang bagus, tinggi pula teknik si penunggang kuda. Dengan tersenyum Yap Kay segera menyapa lebih dulu.

"Bibi aleman ini ternyata belum terbanting mampus, agaknya memang jempolan juga dia."

Seperti kelintingan, biji mata Be Hong-ling menatap kepadanya, katanya sambil tertawa.

"Kau setan gentayangan ini, kenapa belum pergi juga?"

"Belum lagi berhadapan dengan kecantikan Be-siocia yang rupawan masakah rela aku tinggal pergi."

"Kau bajul rendah yang pintar putar bacot ini, coba lihat kupukul kau mampus!"

Maki Be Ho-liong sambil mengayun cemetinya, seperti ular sakti ujung cemetinya segera melecut ke muka Yap Kay.

"Bajul rendah selamanya takkan gampang kau pukul mampus,"

Ejek Yap Kay, belum lagi katakatanya habis diucapkan, tiba-tiba badannya sudah mencelat dan persis duduk di punggung kuda, duduk rapat berhimpitan di belakang Be Hong-ling.

Kontan Be Hong-ling mengangkat tangan menyikut ke belakang dengan sekuat tenaga, makinya.

"Apa yang kau inginkan?"

Begitu sikutnya menyelonong ke belakang, tahu-tahu lengannya sudah disekap orang. Berkata Yap Kay pelan-pelan di pinggir telinganya.

"Bulan redup angin kencang, aku sudah kesasar sedemikian jauh tak bisa pulang, tolong Toa-siocia mengantarku pulang ya?"

Be Hong-ling mengertak gigi, makinya sengit.

"Lebih baik kau mati saja."

Kembali sikutnya yang lain menyodok ke belakang, tapi lengannya yang satu inipun tahu-tahu sudah ditelikung ke belakang, sampai bergerak pun tidak bisa lagi.

Terendus bau badan laki-laki serta deru napasnya menghembus di pinggir lehernya, rasanya geli sampai rambut kepala terasa kaku berdiri.

Ingin dia menarik leher dan mengangkat pundak, ingin menumbuk ke belakang sekuatnya, tapi entah kenapa, ternyata seluruh badan terasa lemas-lunglai tak mampu mengerahkan tenaga.

Kuda tunggangannya yang digelari Budak gincu ini, agaknya memang kuda betina, semula binal, kini mendadak menjadi aleman dan jinak-jinak merpati, langkahnya lari-lari kecil, lembut lambat-lambat lari ke arah depan.

Padang rumput nan luas dan serba melompong, sinar api yang kelap-kelip di kejauhan, seolaholah sinar api para nelayan pencari ikan di tengah samudra raya.

Hembusan angin musim rontok, rasanya juga menjadi lembut laksana hembusan angin musim semi yang sepoi-sepoi.

Mendadak terasa sekujur badannya panas memburu, serunya sambil mengertak gigi.

"Kau ... mau tidak mau kau harus melepaskan tanganku?"

"Tidak!"

Sahut Yap Kay pendek.

"Kau ini bajul hidung belang, tidak lekas kau turun, biar aku berteriak,"

Demikian ancamnya.

Sebetulnya ingin dia pentang bacot memakinya kalang-kabut, namun mendengar suaranya sendiri, terasa lembut dan mesra.

Kenapa pula hal ini bisa terjadi?

Berkata Yap Kay dengan tertawa.

"Kau takkan berani berteriak Apalagi umpama kau benarbenar berteriak, di tempat sejauh ini, siapa yang mendengar suaramu?"

"Kau ... kau ... apa yang kau inginkan?"

"Apa pun aku tidak ingin."

Deru napasnya seolah-olah selembut hembusan angin musim semi yang sejuk dan menyegarkan, pelan-pelan dia melanjutkan.

"Coba lihat, sinar bulan begini redup, malam begini sepi dan dingin, seseorang yang tumbuh dewasa dalam pengembaraan, mendadak bersua dengan gadis perawan secantik kau memangnya apa pula yang masih dia inginkan?"

Napas Be Hong-ling tiba-tiba menjadi cepat dan tersengal-sengal, jantungnya seperti hendak berontak dari rongga dadanya, ingin buka suara, kuatir suaranya terdengar gemetar.

Mendadak Yap Kay bersuara pula.

"Jantungmu sedang berdebar."

Dengan kencang Be Hong-ling menggigit bibir, katanya.

"Jantung tidak berdetak, bukankah menjadi orang mati?"

"Tapi jantungmu terang berdetak cepat, lebih cepat dari biasanya."

"Aku...."

"Sebetulnya tidak perlu kau katakan, aku pun sudah mengerti akan isi hatimu."

"Oh? Apa isi hatiku?"

"Jika kau tak tertarik dan menyukai aku, kau takkan menghentikan kudamu. Sekarang kau pun tidak akan membiarkan kudamu ini jalan pelan-pelan."

"Aku ... apa yang harus kulakukan?"

"Cukup asal kau bersuit memberi aba-aba, maka kuda ini akan segera membantingku jatuh dari punggungnya."

Mendadak Be Hong-ling tertawa, katanya.

"Terima kasih kau memberi ingat kepadaku."

Begitu dia bersuit, tiba-tiba kuda tunggangan ini meringkik terus angkat kaki depan berdiri dengan kaki belakang.

Memang terbukti Yap Kay benar-benar terjungkal dari punggung kuda.

Tapi dia sendiri pun ikut terjungkal jatuh, kebetulan jatuh ke dalam peluhan Yap Kay.

Maka terdengar keliningan berbunyi nyaring, kuda itu sudah menggerakkan keempat kakinya berlari ke tempat yang jauh.

Yap Kay menghela napas, ujarnya.

"Sayang sekali, barusan aku lupa memberi ingat kepadamu, kalau aku terbanting jatuh, kau pun ikut terperosok pula."

Be Hong-ling mengertak gigi, makinya marah-marah.

"Kau memang bajul, kau ini hidung belang "

Tapi aku ini memang hidung belang yang lincah dan mungil, benar tidak?"

"Malah tidak tahu malu lagi,"

Damprat Be Hong-ling.

Tapi setelah mengeluarkan kata-katanya ini, tak tertahan dia sendiri tertawa geli cekikikan, seketika merah jengah selembar mukanya.

Di tengah padang rumput dan luas ini, di bawah penerangan bulan sabit yang pudar, di tengah malam nan sunyi di musim rontok ini bagaimana kau tega menyuruh seorang gadis cantik yang sedang mekar, mau mengeraskan kepala dan menebalkan muka mendorong seorang laki-laki yang memang tidak dibencinya.

Seorang laki-laki yang nakal, bejat, namun serba luar biasa.

Tiba-tiba Be Hong-ling menghela napas, ujarnya.

"Orang seperti kau, sungguh belum pernah aku menjumpai."

"Memangnya laki-laki seperti aku tidak banyak jumlahnya."

"Terhadap gadis lain, apa kau pun akan bersikap seperti terhadapku?"

"Jika setiap berhadapan dengan seorang gadis aku bersikap seperti ini, tentu kepalaku ini sudah digencet gepeng."

Kembali Be Hong-ling menggigit bibir, katanya.

"Memangnya kau kira aku tidak bisa memukul gepeng kepalamu?"

"Kau pasti tidak akan berbuat demikian."

"Lepaskan tanganku, coba lihat kubikin gepeng tidak kepalamu."

Ternyata Yap Kay benar-benar melepaskan tangannya.

Sigap sekali dia putar badan sambil mengayun tangan, kontan dia menampar ke muka orang.

Tangannya terayun tinggi, tapi jatuhnya pelan-pelan saja.

Yap Kay pun tidak berkelit, dia tetap duduk di atas rumput tenang-tenang, diam saja mengawasi dirinya.

Tampak biji mata orang laksana bintang kejora di tengah malam buta.

Angin menghembus, sinar rembulan tampak semakin jauh.

Akhirnya dia menunduk pelan-pelan, katanya.

"Aku ... aku bernama Be Hong-ling."

"Aku tahu."

"Kau sudah tahu?"

"Dari Siau-toasiokmu itu aku pernah mencari tahu tentang dirimu."

Seketika mekar senyum tawa Be Hong-ling, katanya.

"Aku pun pernah mencari tahu tentang dirimu, kau bernama Yap Kay."

Yap Kay menatap mata orang, katanya pelan-pelan.

"Aku memang sudah tahu kau pasti pernah mencari tahu tentang diriku."

Tertunduk semakin rendah kepala Be Hong-ling, mendadak dia melompat bangun, mengawasi rembulan yang sudah mendoyong ke arah barat, katanya lembut.

"Aku ... aku harus pulang!"

Yap Kay tidak bergerak, dia pun tidak menarik atau menahannya. Be Hong-ling memutar badan, ingin pergi, namun berhenti pula, katanya.

"Kapan kau hendak pergi?"

Yap Kay merebahkan diri dengan tiduran telentang, lama juga baru dia menjawab pelan-pelan.

"Aku tidak akan pergi, aku menunggu kau."

"Menunggu aku?"

"Berapa lama aku ingin menetap di sini, Siau-toasiokmu itu pasti tidak akan mengusirku pergi"

Be Hong-ling berpaling sambil mengunjuk senyuman mekar dan riang, seperti burung sriti selincah kecapung segera dia melayang pergi berlari pesat.

Malam yang kelam ini lama kelamaan berubah remang-remang berwarna abu-abu Bulan sabit lambat-laun hilang tertelan oleh datangnya sang fajar.

Yap Kay masih rebah tenang-tenang tak bergerak, seolah-olah dia sedang menunggu datangnya sang fajar yang sebentar bakal menyingsing Dia tahu dirinya takkan menunggu lama lagi.

BAB 6.

SIAPA YANG MENGUBUR GOLOK Fajar menyingsing, sang surya mulai menongol di ufuk timur.

Bau amis semalam sudah terhembus hilang oleh angin pagi nan segar.

Angin pagi yang membawa bau rumput kering yang wangi.

Bendera kebesaran Ban be-tong kembali berkibar di pucuk tiang.

Dengan mulut menggigit sebatang rumput kering, pelan-pelan Yap Kay menggerakkan langkah, menuju ke arah bendera yang berkibar-kibar di tengah angkasa.

Kelihatannya dia masih begitu iseng dan acuh tak acuh, malas lagi, sinar surya yang cermelang menyinari butiran pasir-pasir yang melekat di atas badannya, semua seperti memancarkan sinar kuning kemilau.

Di tengah dan tepat di bawah pintu gerbang yang besar itu, berdiri dua orang, salah seorang di antaranya begitu melihat dirinya, segera putar badan berlari masuk ke Ban-be-tong.

Yap Kay tetap melangkah menghampiri, dengan tersenyum dia menyapa lebih dulu.

"Selamat pagi."

Namun rona muka Hun Cay-thian dingin dan sinis, sahutnya tawar.

"Selamat pagi."

"Apa Sam-lopan sudah istirahat?"

"Tidak, dia sedang menunggu kau di pendopo besar, semua orang sedang menunggumu."

Memang semua sudah berkumpul di Ban-be-tong, roman muka setiap hadirin nampak serius dan tegang.

Di hadapan setiap hadirin terpampang hidangan pagi, namun tiada seorang pun yang mau menggerakkan sumpitnya lebih dulu.

Seperti keadaan sejak mula, Loh Loh-san mendekap meja seolah-olah belum sadar dari mabuknya.

Begitu melangkah masuk Yap Kay segera bersuara menyapa.

"Selamat pagi para hadirin!"

Tiada yang memberi jawaban, tapi setiap pasang mata hadirin menatap ke arah dirinya, agaknya aneh dan lucu benar sorot mata mereka.

Hanya Pho Ang-soat seorang tetap menurunkan matanya mengawasi golok di tangannya.

Di sebelah sana terdapat sebuah jatah hidangan pagi di atas meja yang kursinya masih kosong belum dimiliki orang.

Yap Kay langsung menuju ke sana dan duduk tanpa sungkan-sungkan dia gerakkan sumpit dan melalap semangkuk bubur dengan sebutir telur.

Bubur masih hangat, habis semangkuk dia tambah semangkuk lagi.

Setelah dia kenyang dan meletakkan sumpitnya, barulah Ban-be-tong-cu mulai buka suara dengan kalem.

"Sekarang sudah tidak pagi lagi."

"Ehm, ya tidak pagi lagi."

"Semalam setelah kentongan keempat, setiap orang berada di dalam kamarnya masing-masing, dan tuan?"

"Aku tiada di kamar."

"Dimana?"

"Karena tidak bisa pulas, terpaksa aku keluyuran ke sana kemari, tanpa terasa tahu-tahu hari sudah terang tanah."

"Siapa yang dapat membuktikan keteranganmu ini?"

"Kenapa harus ada yang membuktikan?"

"Karena ada orang yang harus menuntut balik tiga belas jiwa orang!"

Kata Ban-be-tong-cu lantang dengan tatapan mata tajam.

"Tiga belas jiwa orang?"

Ban-be-tong-cu manggut-manggut, katanya.

"Tiga belas kali tebasan, tiga belas jiwa, cepat benar golok itu."

"Jadi semalam setelah kentongan keempat, ada tiga belas orang yang terbunuh oleh tabasan golok?"

"Benar,"

Seru Ban-be-tong-cu dengan muka gusar dan sedih.

"tiga belas orang, semua mati terpenggal kepalanya."

Yap Kay menghela napas.

"Anjing, kuda dan ayam tidak berdosa, manusia tak bersalah, perbuatan orang itu memang rada keterlaluan."

Ban-be-tong-cu menatap matanya katanya beringas.

"Memangnya tuan tidak tahu akan kejadian ini?"

"Aku tidak tahu,"

Gampang dan cekak-aos jawaban Yap Kay.

Ban-be-tong-cu tiba-tiba mengangkat sebelah tangannya, baru sekarang Yap Kay melihat jelas, di atas meja di depan orang sebenarnya memang ada sebilah golok.

Golok yang kemilau seperti kaca, tajam goloknya tipis runcing.

Dengan mengawasi tajam golok di tangannya itu, Ban-be-tongcu berkata.

"Bagaimana golok ini?"

"Golok bagus!"

Sahut Yap Kay.

"Kalau bukan golok bagus, masakah sekaligus dapat memenggal kepala tiga belas orang?"

Mendadak dia mengangkat kepala menatap Yap Kay, suaranya menjadi bengis.

"Memangnya tuan belum pernah melihat golok ini?"

"Belum."

"Tuan tahu dimana golok ini ditemukan?"

"Tidak tahu."

"Tepat di bawah tanah tempat kejadian pembunuhan."

"Di bawah tanah?"

"Setelah membunuh orang, lantas dia pendam golok ini di dalam taman, sayang sekali kerjanya terlalu tergesa-gesa, maka golok ini akhirnya dapat kita temukan."

"Golok sebagus itu kenapa harus dipendam di dalam tanah?"

Ban-be-tong-cu menyeringai dingin, katanya dengan tandas.

"Kemungkinan lantaran dia itu seorang yang selamanya tidak pernah menggembol golok."

Sekian saat Yap Kay terlongong, akhirnya tertawa, katanya sambil menggeleng kepala.

"Jadi Tongcu beranggapan bahwa golok ini milikku?"

"Jika kau menjadi aku, bagaimana jalan pikiranmu?"

"Aku bukan kau."

"Semalam setelah kentongan keempat, Loh-toasiansing, Buyung-kongcu, Pho Ang-soat, dan Hwi-thian-ci-cu ini, semua berada di kamar masing-masing, ada orang bisa membuktikan diri mereka."

"Maka kematian tiga belas orang itu terang bukan hasil karya mereka,"

Ujar Yap Kay. Membara biji mata Ban-be-tong-cu, serunya bengis.

"Dan tuan sendiri? Dimana kau berada setelah kentongan keempat? Siapa bisa membuktikan dirimu?"

"Tiada."

Ban-be-tong-cu tidak bertanya lebih lanjut, sorot matanya menampilkan kegusaran yang memuncak, lapat-lapat timbul keinginan membunuh.

Terdengar derap langkah berat mendekati, ternyata Hoa Boan-thian dan Hun Cay-thian sudah berada di belakang Yap Kay.

"Silahkan Yap-heng,"

Kata Hun Cay-thian sinis.

"Menyilakan aku untuk apa?"

Tanya Yap Kay.

"Silakan keluar!"

Kata Hun Cay-thian. Yap Kay menghela napas, mulutnya mengomel.

"Duduk di sini aku sudah merasa nyaman, justru sekarang aku disuruh keluar lagi"

Sambil menghela napas, pelan-pelan dia berdiri. Segera Hun Cay-thian membantu menarik mundur kursinya. Mendadak Ban-be-tong-cu berseru pula.

"Kalau golok ini memang milikmu, boleh kau bawa pergi, nah sambutlah!"

Begitu mengayun tangan, golok itu melesat terbang melengkung dengan sinar peraknya, langsung terbang ke depan Yap Kay. Yap Kay diam saja tidak menyambuti. Sinar golok menyerempet lengan bajunya.

"Trap!" , ujungnya menancap di meja sedalam tujuh dim. Yap Kay menghela napas pula, katanya menggerundel.

"Memang sebatang golok bagus, sayang sekali bukan milikku."

Akhirnya Yap Kay melangkah keluar.

Hoa Boa-thian dan Hun Cay-thian seperti bayangan yang mengikuti gerak tubuhnya, dengan ketat mengintil di belakangnya.

Siapa pun tahu, setelah Yap Kay beranjak keluar, maka selamanya dia tidak akan pernah kembali.

Semua hadirin mengawasinya, sorot mata mereka menampilkan rasa kasihan dan ikut berduka cita, tapi tiada seorang pun yang berdiri tampil bicara.

Sampai pun Pho Ang-soat pun diam saja.

Sikapnya tetap dingin seperti segala kejadian di sekitarnya tidak pernah menarik perhatiannya, seolah terhadap segala persoalan dia memandang enteng, memandang hina.

Segera Ban-be-tong-cu menyapu pandang, katanya dengan suara berat.

"Terhadap persoalan ini, apa pendapat para hadirin?"

"Hanya sepatah kata,"

Mendadak Pho Ang-soat bersuara.

"Silakan berkata."

"Bagaimana kalau Kongcu salah membunuh orang?"

"Salah bunuh, boleh bunuh lagi,"

Sahut Ban-be-tong-cu lantang dengan menarik muka. Pelan-pelan Pho Ang-soat manggut-manggut, katanya.

"Ya, aku mengerti."

"Tuan masih ingin bicara?"

"Tidak perlu."

Pelan-pelan Ban-be-tong-cu mengangkat cangkir araknya, serunya.

"Silakan, silakan makan hidangan-hidangan itu."

Sinar surya cerlang-cemerlang, menyinari bendera besar yang berkibar tertiup angin. Yap Kay langsung berjalan ke bawah sinar matahari, menengadah sambil menghirup napas dalam-dalam, katanya tersenyum.

"Cuaca hari ini sungguh amat baik."

"Ya, cuaca sebaik ini, kukira tiada orang yang ingin mati."

"Dalam cuaca sebaik ini, kukira tiada orang yang ingin mati."

"Sayang sekali, peduli cuaca baik atau buruk, setiap hari pasti ada orang mampus."

"Benar, memang harus dibuat sayang."

"Kentongan keempat semalam,"

Tiba-tiba Hoa Boan-thian bersuara "sebenarnya dimana tuan berada?"

"Di suatu tempat yang tiada manusia."

Hoa Bian-thian menghirup hawa segar, katanya.

"Sayang, sayang, sungguh sayang!"

Berkedip mata Yap Kay, katanya.

"Apanya yang dibuat sayang?"

"Tuan masih berusia begini muda sudah harus mati, bukankah amat disayangkan?"

"Siapa bilang aku akan mati?"

Ujar Yap Kay tersenyum.

"Sedikit pun aku tidak ingin mati"

Hoa Boan-thian menarik muka, katanya.

"Aku pun tidak ingin kau mati, sayang sekali ada sesuatu benda yang tidak setuju."

"Benda apa?"

Tangan Hoa Boan-thian tiba-tiba diluruskan ke bawah, tiba-tiba telapak tangannya menepuk di atas sabuk kulit selebar telapak tangan yang melingkar di pinggangnya.

"Sreng" , sebatang pedang lemas yang terbuat dari baja murni tiba-tiba tercabut dari sarungnya, sekali gentak menyongsong datangnya hembusan angin menjadi kaku dan lurus.

"Pedang bagus!"

Tak tertahan Yap Kay berseru memuji.

"Bagaimana dibanding golok itu."

"Tergantung di tangan siapa golok itu."

"Jika di tangan tuan?"

"Selamanya tanganku tidak pernah menggunakan golok, juga tidak perlu memakai golok."

"Tidak perlu pakai golok?"

"Membunuh orang aku lebih suka menggunakan tangan, karena aku paling senang menikmati suara tulang teremas hancur oleh jari-jari orang."

Berubah air muka Hoa Boan-thian, katanya.

"Pernahkah kau mendengar suara ujung pedang menusuk amblas ke dalam kulit daging manusia?"

"Belum pernah."

"Suara itupun amat nikmat kedengarannya."

"Kapan bila ada kesempatan, berilah kesempatan supaya aku bisa mendengar."

"Sebentar juga kau segera mendengarnya,"

Kata Hoa Boan-thian, pelan-pelan pedangnya sudah terayun ujung pedang teracung miring menyongsong sinar surya memancarkan cahaya kemilau yang menyilaukan mata.

Dalam pada itu, Hun Cay-thian pun tidak tinggal diam, sebat sekali dia sudah menggeser ke belakang Yap Kay.

Sekonyong-konyong sebuah suara bocah berkata.

"Sam-ik (bibi ketiga) coba lihat, mereka hendak membunuh orang pula di sini, mari kita ke sana menonton?"

Sebuah suara lembut dari perempuan berkata.

"Anak bodoh, membunuh orang ada apanya yang patut ditonton?"

"Tontonan baik, paling tidak lebih baik dari menjagal babi."

Mendengar percakapan ini, pedang Hoa Boan-thian kembali diturunkan.

Tak tertahan Yap Kay berpaling ke belakang, dilihatnya seorang nyonya berpakaian serba putih sedang menuntun seorang bocah laki-laki berpakaian merah, mereka muncul dari ujung rumah sebelah belakang sana.

Nyonya ini bertubuh semampai, rambut kepalanya semampai menghitam legam, raut mukanya berbentuk kwaci justru pucat seperti salju Dia bukan perempuan cantik yang dapat menyedot sukma laki-laki, namun setiap gerak-geriknya tampak mengandung kematangan jiwa seorang perempuan.

Peduli laki-laki macam apa pun, begitu berhadapan dengan dia akan lantas tahu, bukan saja kau bisa mendapatkan kepuasan dan hiburan dari dirinya, kau pun akan mendapatkan pengertian mendalam dan belas kasihan yang setimpal.

Bocah laki-laki yang dituntunnya itu berpakaian serba merah, rambut kepalanya diikal tepat di tengah batok kepalanya, lalu diikat dengan pita merah sutra, meskipun perawakannya tinggi kurus, namun sepasang matanya bundar besar, biji matanya hitam bening seperti buah kelengkeng jelilatan, terang bocah yang lincah dan cerdik.

Sudah tentu Yap Kay mengunjuk senyuman lebar menyongsong kedatangan mereka.

Setiap berhadapan dengan bocah dan perempuan, senyum mukanya selalu mekar simpatik dan mengasyikkan.

Setelah dekat dan melihat jelas dirinya, bocah itu kelihatan tertegun mendadak dia berjingkrak senang dan berteriak.

"Aku kenal orang ini."

Nyonya itu mengerut kening, katanya.

"Jangan membual, lekas ikut aku pulang."

Bocah itu meronta lepas dari cekalannya, terus berlompatan lari ke depan Yap Kay, katanya dengan jari kecilnya mengkili-kili ujung hidung.

"Malu, malu, malu, memeluk Ciciku tidak mau dilepaskan, coba katakan kau ini tahu malu tidak Hoa Boan-thian seketika menarik muka, katanya.

"Siau-hou-cu, membual apa kau?"

Berputar biji mata bocah ini, katanya.

"Aku tidak membual, aku bicara sesungguhnya, semalam aku melihat dia berpelukan dengan Cici, disuruh melepaskan dia tidak mau."

Tergerak hati Hoa Boan-thian.

"Semalam, kapan terjadinya?"

"Di saat hari hampir terang tanah."

Seketika berubah air muka Hoa Boan-thian Dari sebelah sana Hun Cay-thian membentak bengis.

"Apakah kau sendiri yang melihat kejadian ini? Awas jangan sekali-kali kau berbohong!"

"Sudah tentu aku melihatnya sendiri."

"Cara bagaimana kau bisa melihatnya?"

Tanya Hun Cay-thian.

"Semalam setelah kentongan berbunyi, Cici bangun, katanya mau keluar melihat-lihat, aku pun minta ikut, tapi tidak boleh, di saat dia tidak memperhatikan aku, aku lantas bersembunyi di bawah perut kuda."

"Selanjutnya bagaimana?"

"Cici tidak tahu, dia mencongklang kudanya ke tengah padang rumput, tak lama kemudian di sana dia bertemu dengan orang ini, lalu mereka..... Belum habis dia bicara, nyonya itu sudah menyeretnya pergi, namun mulutnya masih berkaok-kaok.

"Aku bicara sesungguhnya dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kenapa aku tidak boleh bicara?"

Hoa Boan-thian dan Hun Cay-thian saling beradu pandang, mukanya serba kelabu, mulut terkancing tak bersuara lagi.

Mimik muka Yap Kay juga amat aneh, entah apa yang sedang terpikir dalam benaknya.

Tiba-tiba didengarnya seseorang berkata kereng "Kau ikut aku."

Entah kapan Ban-be-tong-cu sudah beranjak keluar, mukanya membesi hijau, tangannya menggapai kepada Yap Kay, dengan langkah lebar dia keluar ke arah pekarangan.

Tatkala itu, di tengah padang rumput nan luas itu, tengah berkumandang dendang lagu gembala yang merdu.

Rombongan kuda sedang berlari kencang di bawah timpaan sinar matahari, seluruh alam semesta diliputi kebesaran jiwa kehidupan nan jaya.

Ban-be-tong-cu duduk tegak lurus, duduk di atas pelana kudanya yang berukir indah, cambuk terayun kuda membedal, seolah-olah dia hendak melampiaskan kedongkolan dan kemarahan hatinya.

Untung kuda tunggangan Yap Kay juga seekor kuda pilihan yang baik, terhitung dia bisa mengikuti dengan ketat sehingga tidak ketinggalan jauh Pucuk bukit di depan sana serba menghijau seperti permadani, kelihatannya tidak begitu tinggi dari kejauhan, tidak begitu jauh pula.

Tapi dengan mencongklang kuda seperti dikejar setan ini, mereka harus menghabiskan waktu satu jam lebih baru tiba di bawah lereng bukit.

Dengan lincah Ban-be-tong-cu terus melompat turun dari punggung kudanya, tanpa berhenti melepaskan lelah langsung dia berlari-lari mendaki bukit.

Terpaksa Yap Kay terus mengikuti jejaknya.

Di lereng bukit menempati sebidang tanah yang cukup luas terdapat sebuah pusara besar, rumput liar sudah tumbuh subur di atas pusara ini, beberapa batang pohon cemara tersebar tumbuh di sekitarnya menahan hembusan angin barat.

Tepat di depan pusara ini, berdiri tegak sebingkai papan batu besar warna hijau tinggi sembilan kaki.

Tepat di tengah papan batu ini ada terukir huruf-huruf yang berbunyi.

"Pusara para pahlawan Sin-to-tong". Di sampingnya masih terdapat beberapa nama orang, berbunyi.

"Pek Thian-ih suami istri, Pek Thian-yong suami isteri bersemayam di sini" . Ban-be-tong-cu langsung mendatangi pekuburan ini dan berhenti di depan papan batu besar itu, keringat sudah membasahi seluruh badan sehingga pakaiannya lengket dengan kulit badannya. Hembusan angin lalu di atas bukit terasa lebih dingin. Dia langsung berlutut di depan batu nisan besar ini, lama juga dia seperti berdoa dan bersembahyang, akhirnya berdiri pelan-pelan, waktu dia putar badan lagi, tampak kerut keriput yang memenuhi mukanya kelihatan semakin tajam, di tengah lekuk keriput kulit mukanya itu, entah mengandung kenangan masa lalu yang betapa memilukan dan mengenaskan. Entah betapa pula dendam sakit hati dan kebencian yang terpendam di dalamnya. Yap Kay berdiri diam tak bersuara menantang hembusan angin barat, terasa hatinya ikut mendelu dingin seperti melayang-layang, entah betapa perasaan hatinya saat itu, dia sendiri pun tidak bisa mengatakan. Dengan menatap mukanya, Ban-be-tong-cu tiba-tiba bertanya.

"Apa yang sudah kau lihat?"

"Sebuah kuburan."

"Kau tahu kuburan siapa?"

"Pek Thian ih, Pek Thian-yong ...."

"Kau tahu siapa meraka?"

Yap Kay geleng-geleng kepala. Sikap Ban-be-tong-cu kelihatan lebih rawan, katanya prihatin.

"Mereka adalah saudara tuaku, seperti saudara sepupuku sendiri."

Yap Kay manggut-manggut, baru sekarang dia mengerti kenapa orang-orang di sini memanggil Ban-be-tong-cu sebagai Sam-lopan (majikan ketiga). Ban-be-tong-cu bertanya pula.

"Tahukah kau kenapa aku harus mengubur mereka di dalam satu liang lahat di sini?"

Kembali Yap Kay geleng-geleng kepala. Ban-be-tong-cu mengertak gigi, kedua jari-jari tangannya terkepal kencang, mulutnya mendesis.

"Karena waktu aku menemukan mereka, darah daging mereka sudah digares habis oleh kawanan serigala di padang rumput ini yang kelaparan tinggal setumpukan tulang belulang melulu, siapa pun sulit membedakan mereka lagi."

Tanpa sadar kedua tangan Yap Kay ikut mengepal kencang, telapak tangannya malah basah oleh keringat dingin.

Padang rumput terbentang luas di hadapan bukit rendah ini, pada ujung yang paling jauh sana bertemu dan berdampingan dengan langit nan membiru.

Hembusan angin melambaikan rumputrumput liar yang tumbuh tinggi seperti tarian seorang penari yang gemulai dari kejauhan laksana gelombang samudra yang mengalun lambat-lambat.

Ban-be-tong-cu putar badan menghadapi padang rumput nan luas ini, pandangannya lepas lurus ke tempat nan jauh di depan sana, lama juga baru dia membuka suara pula.

"Sekarang apa pula yang kau lihat?"

"Padang rumput, alam semesta,"

Sahut Yap Kay cekak-aos.

"Dapatkah kau melihat ujung tanah nan luas ini?"

"Tidak terlihat dari sini."

"Tanah perdikan nan luas, seluas padang rumput yang tak berujung pangkal ini adalah milikku."

Kelihatannya dia mulai terpengaruh oleh emosinya, katanya pula dengan suara lantang.

"Semua kehidupan di tanah perdikan nan luas ini, seluruh harta benda di sini, semuanya termasuk milikku! Darah dagingku laksana akar yang kokoh kuat sudah tertanam dan berseri di dalam bumi ini."

Yap Kay pasang kuping, dia mandah mendengarkan saja.

Sungguh dia tidak bisa menyelami orang ini, dia pun tak bisa memahami apa makna semua kata-katanya ini.

Lama juga baru emosi Ban-be-tong-cu mulai reda, katanya kemudian dengan menghela napas.

"Siapa pun untuk dapat memiliki bumi sebesar ini bukan suatu hal atau perjuangan yang sepele."

Tak tahan Yap Kay pun menghela napas, katanya.

"Ya, memang tidak gampang."

"Tahukah kau, cara bagaimana aku bisa memiliki semua ini?"

"Tidak tahu "

Mendadak Ban-be-tong-cu menarik sobek baju di depan dadanya maka tertampaklah dadanya yang bidang kekar laksana baja, katanya.

"Kau lihat lagi apakah ini?"

Mengawasi dada orang, serasa hampir berhenti napas Yap Kay Selama hidupnya belum pernah dia melihat dada seorang dihiasi luka-luka bekas bacokan senjata tajam yang begitu banyak.

Perasaan Ban-be-tong-cu kembali bergolak, sorot matanya pun berkilat, katanya keras penuh emosi.

"Inilah imbalan yang harus kupertaruhkan, jadi segala ini harus kutukar dengan darah, keringatku, dengan jiwa para saudaraku yang gugur"

"Aku tahu."

"Oleh karena itu,"

Suara Ban-be-tong-cu semakin beringas.

"siapa pun jangan harap bisa merebut semua ini dari kedua tanganku, siapa pun tidak akan kudiamkan."

"Ya, aku maklum!"

Ban-be-tong-cu terengah-engah, orang tua yang sudah gemblengan di medan laga meski dadanya masih begitu kokoh kuat laksana baja, tapi kondisi badannya sekarang, jelas sekali sudah tidak memadai dibanding dulu.

Apa memang demikiankah tragedi yang harus menimpa setiap Enghiong yang mulai menanjak usianya.

Setelah napasnya teratur kembali, baru dia membalik badan, pundak Yap Kay ditepuknya, sikapnya berubah menjadi lemah lembut dan penuh kasih sayang, ujarnya pelan-pelan.

"Aku tahu kau seorang pemuda yang punya pambek, meski diri sendiri berkorban, kau pun takkan mau merugikan dan merusak nama orang lain, memang jarang pemuda seperti kau di dunia ini."

"Apa yang kulakukan, hanyalah karena aku merasa aku patut melakukannya, tidak perlu ditaruh dalam hati."

"Apa yang kau lakukan memang tidak salah, aku ingin kau menjadi sahabatku, malah menjadi menantuku kalau mungkin sampai di sini kembali dia menarik muka, sorot matanya setajam golok menatap Yap Kay, katanya tegas.

"Akan tetapi lebih baik kuanjurkan lekas kau berlalu saja dari sini."

"Pergi maksudmu?"

"Benar, pergi, lekaslah pergi, lebih cepat jauh lebih baik."

"Kenapa aku harus pergi?"

"Karena banyak kesulitan di sini, siapa pun bila dia berada di sini maka dia takkan terhindar dari lepotan amisnya darah segar."

"Aku tidak takut kesukaran, aku pun tidak takut bau amisnya darah."

"Tapi tidak pantas kau berada di tempat seperti ini kau harus segera pulang."

"Pulang kemana?"

"Kembali ke kampung halamanmu, di sanalah tempatmu berpijak dan tumbuh sampai hari tua."

Sekarang Yap Kay pun bergerak pelan-pelan membalik menghadapi padang rumput nan luas, lama juga baru dia buka suara pelan-pelan.

"Apa kau tahu dimana kampung halamanku?"

"Betapapun jauh letak kampung halamanmu, berapa banyak pula bekal yang ingin kau bawa, aku bisa memberi kepadamu secukupnya."

"Kukira tidak perlulah, kampung halamanku tidak jauh."

"Tidak jauh? Dimana?"

Yap Kay mengawasi sekuntum mega di ujung langit sana, katanya.

"Di sinilah kampung halamanku."

Ban-be-tong-cu tertegun. Yap Kay membalik badan pula, dengan nanar ia balik mengawasi orang, mimik mukanya menampilkan perasaan yang aneh, katanya serius.

"Aku tumbuh di sini, dewasa di sini, lalu kemana kau suruh aku harus pergi?"

Turun naik dada Ban-be-tong-cu, kedua tangannya terkepal pula, tenggorokannya berbunyi, namun sepatah kata pun tak kuasa diucapkannya.

"Tadi sudah kukatakan,"

Kata Yap Kay lebih lanjut.

"Aku hanya melakukan sesuatu yang pantas kulakukan, dan lagi selamanya aku tidak gentar menghadapi segala kesulitan, aku pun tidak takut bau darah."

"Maka kau harus tetap tinggal di sini,"

Bentak Ban-be-tong-cu bengis. Jawaban Yap Kay tegas, jawabannya hanya sepatah kata.

"Ya!"

Angin barat bergulung-gulung, pohon cemara bersuit-suit bergoyang.

Segumpal mega terhembus datang, menutupi sinar matahari, cuaca menjadi gelap.

Walau pinggang Ban-be-tong-cu masih tegak, namun perutnya sudah mengkeret, seperti sebuah tangan yang tak kelihatan sedang menindih dan meremas-remas perutnya, begitu keras dan sakitnya sampai rasanya hampir muntah-muntah.

Terasa tenggorokan dan mulutnya kecut getir.

Yap Kay tinggal pergi.

Dia tahu, namun dia tidak merintangi, malahan melirik atau berpaling pun tidak ke arahnya.

Kalau toh dia tidak bisa merintangi, buat apa dia harus mengawasi kepergian orang?

Kalau kejadian ini berlangsung lima tahun yang lalu, dia pasti tidak akan membiarkan pemuda ini pergi.

Kalau lima tahun yang lalu, mungkin dia sudah mengubur si pemuda di tanah bukit ini.

Selamanya belum pernah ada orang yang berani menolak segala omongannya, apa pun yang pernah dia ucapkan, selamanya takkan ada orang yang berani menentang.

Tapi sekarang tibalah saatnya, kenyataan dirinya sudah ditentang.

Tadi waktu mereka berhadapan, sebetulnya ada kesempatan dia melontarkan pukulan tangannya menghajar hidung si pemuda.

Kecepatan jotosan tangan ini, boleh dikata secepat sambaran kilat, kalau hal ini terjadi lima tahun yang lalu, dia yakin dirinya pasti dapat memukul roboh siapa saja yang berdiri di hadapannya.

Itulah yang dinamakan It-kun-hong-bun (sekali pukul menutup pintu)!

Sebetulnya dia amat yakin akan pukulannya ini malah boleh dikata selama ini dirinya belum pernah gagal.

Akan tetapi kali ini dia sia-siakan kesempatan ini, dia tidak turun tangan.

Beberapa tahun belakangan ini meski daging otot badannya masih kekar, keras dan kenyal, sampai pun perutnya pun tidak tumbuh lemak yang berlebihan, walau sedang duduk atau sedang berdiri, badannya tetap tegak lurus seperti tonggak kayu kokohnya selama banyak tahun ini, lahiriahnya masih kelihatan gagah belum pernah terjadi sesuatu perubahan.

Akan tetapi memangnya kelemahan badaniah seseorang sukar dilihat dari lahiriahnya.

Ada kalanya, sampai pun diri sendiri tak melihat dan menyadari.

Bukan lantaran perutnya sudah tidak kuat lagi dibakar oleh panasnya arak, bukan lantaran keisengannya terhadap perempuan terlalu sering, tidak sekuat dan segagah seperti dulu-dulu di masa mudanya.

Dan yang benar-benar berubah adalah hatinya sendiri.

Tiba-tiba disadarinya segala sesuatu yang dikuatirkan semakin bertumpuk-tumpuk, terhadap persoalan apa pun, keyakinan dirinya sudah tidak setebal dulu.

Sampai pun di atas pembaringan, di saat dia sedang bergumul dengan perempuan yang paling dia cintai, dia pun sudah tidak bisa seperti dulu dapat mengendalikan diri sesuka hati, beberapa kali belakangan ini malah dia sendiri mulai curiga apakah permainannya benar-benar masih dapat memuaskan orang lain.

Apakah segala ini sudah melambangkan ketuaan jiwanya, bila seseorang di dalam hatinya sudah merasakan kelemahan badaniahnya, baru dia benar-benar terhitung sudah jempol, sudah tua dan tak kuat lagi.

Lima tahun ...

mungkin hanya tiga tahun ...

tiga tahun yang lalu, siapa pun yang berani menolak permintaannya, jangan harap orang dapat menyingkir dari hadapannya dengan langkah berdiri.

Sekarang umpama dia rela mempertaruhkan segala kekayaan dan kekuasaan yang dia miliki, jangan harap dia bisa menebus masa-masa lalu yang sudah berselang selama tiga tahun ini.

Lalu berapa banyak lagi tiga tahun yang masih ketinggalan?

Dia tidak mau memikirkan, sekarang dia hanya bisa merebahkan diri dengan diam-diam.

Sekonyong-konyong dia merasa badannya amat letih.

Cuaca gelap, mega mendung, sebentar agaknya bakal hujan deras.

Sudah tentu Ban-be-tong-cu tahu akan cuaca yang buruk seperti ini, pengalaman hidup selama bertahun-tahun, membuat dia sudah dapat melihat adanya perubahan pikiran orang lain.

Akan tetapi dia merasa malas, malas untuk berdiri, malas pulang.

Diam-diam dia berbaring di depan batu nisan, matanya mendelong mengawasi huruf-huruf yang terukir di depan batu nisan.

"Pek-thian-ih suami istri, Pek Thian-yong suami istri. Sebetulnya mereka adalah saudara angkatnya, memangnya mereka mati dengan mengenaskan. Akan tetapi dirinya tak mungkin menuntut balas bagi kematian mereka. Kenapa? Kecuali dirinya dan orang-orang yang sudah ajal ini, orang-orang yang tahu rahasia ini tidak banyak. Rahasia ini sudah terbenam delapan belas tahun lamanya di dalam sanubarinya, seolaholah sebatang duri runcing yang menusuk hulu hatinya, setiap kali dia teringat akan peristiwa itu, seketika terasa hatinya sakit dan tersiksa. Kupingnya yang tajam tidak mendengar adanya derap kuda yang berlari datang, tapi nalarnya merasakan adanya seseorang yang sedang beranjak mendaki bukit. Langkah kaki orang ini tidak ringan, namun langkahnya lebar, besar dan cepat sekali. Dari langkah lebar dan berat ini dia tahu bahwa Kongsun Toanlah yang tengah mendatangi. Hanya Kongsun Toan seorang saja yang bisa sama-sama menikmati dan menyembunyikan rahasia itu. Dia percaya penuh kepada Kongsun Toan, umpama seorang ibunda mempercayai puteranya. Derap langkah kaki seperti suara orang bicara, setiap langkah orang pasti mempunyai derap kaki yang berlainan. Oleh karena itu cukup asal mendengar langkah kaki ini, seorang buta lantas dapat membedakan siapa dan orang macam apa yang sedang berjalan itu. Langkah Kongsun Toan memang serasi dengan perawakannya, gagah kasar, berangasan, begitu mulai bergerak tak mungkin dia mau berhenti sebelum maksudnya terlaksana. Tanpa ganti napas langsung dia beranjak naik ke lamping gunung, setelah melihat Ban-be-tong-cu baru dia berhenti, begitu berhenti mulutnya segera bertanya.

"Mana dia?"

"Sudah pergi,"

Pendek jawaban Ban-be-tong-cu.

"Kau biarkan saja dia pergi?"

Tanya Kongsun Toan. Ban-be-tong-cu menghela napas.

"Mungkin ucapanmu tidak salah aku sudah tua, sudah mulai gentar menghadapi urusan."

"Takut menghadapi urusan?"

"Takut urusan, maksudnya tidak mau melibatkan diri pula di dalam persoalan yang tidak penting dan menyulitkan diri sendiri."

"Kau beranggapan bukan dia?"

"Bagaimana pun juga, paling tidak peristiwa semalam bukan perbuatannya, ada orang yang bisa membuktikan alibinya."

"Kenapa dia sendiri tidak mau menerangkan alibinya?"

"Mungkin karena dia masih terlalu muda, terlalu muda waktu mengucapkan "muda"

Terasa ludah di mulutnya amat getir.

Getir dan kecut Kongsun Toan menunduk, dilihatnya huruf-huruf yang terukir di batu nisan, kepalannya tergenggam kencang, mimik muka dan sorot matanya pun seketika berubah entah sedang dirundung kepedihan, ketakutan atau dibakar oleh dendam kesumat.

Lama juga baru dia bersuara dengan berat.

"Apa kau bisa memastikan bila Pek-lotoa benar-benar punya anak?"

"Ehm!"

Ban-be-tong-cu hanya bersuara dalam mulut.

"Darimana pula kau bisa tahu bila anak yatimnya yang datang menuntut balas?"

Ban-be-tong-cu memejamkan mata, katanya sepatah demi sepatah.

"Tapi kami bekerja amat rahasia, kecuali mereka yang sudah meninggal, memangnya siapa pula yang mengetahui?"

"Rahasia apa pun, cepat atau lambat pasti akan diketahui oleh orang, jika ingin orang lain tidak tahu, kecuali jangan kau lakukan, pameo ini kau harus selalu mengukirnya dalam sanubarimu."

Dengan mendelik Kongsun Toan menatap huruf di atas batu nisan, rasa ketakutan yang terbayang dalam sorot matanya kelihatan semakin tebal, katanya mendesis sambil mengertak gigi.

"Jika anak yatim itu sudah tumbuh dewasa, tentunya usianya sudah sebaya dengan Yap Kay."

"Kira-kira sebaya pula dengan Pho Ang-soat."

Bergegas Kongsun Toan memutar tubuh, katanya sambil membungkuk badan mengawasinya.

"Menurut pendapatmu, kecurigaan siapa lebih besar di antara mereka?"

"Menurut situasi sekarang, kurasa Pho Ang-soat harus lebih dicurigai."

"Kenapa dia?"

"Lahirnya kelihatan pemuda ini amat tenang dingin, seorang yang amat sabar, hakikatnya sabubarinya lebih bergolak dan emosi dari orang lain."

Kongsun Toan menyeringai dingin, katanya.

"Tapi dia lebih suka merangkak lewat pagar untuk masuk pintu seperti anjing daripada membunuh orang-orang tidak becus itu."

"Soalnya orang-orang itu tiada yang setimpal dia bunuh, bukan mereka yang harus dia bunuh."

Seketika berubah air muka Kongsun Toan. Berkata Ban-be-tong-cu pelan-pelan.

"Seorang laki-laki yang menyerupai watak berangasan, keras dan selalu emosi, mendadak bisa berubah rendah diri dan terima dihina orang, hanya lantaran satu sebab saja."

"Sebab apa?"

"Dendam kesumat!"

Bergetar badan Koangsun Toan.

"Dendam kesumat!"

"Jika hatinya dihayati dendam kesumat yang harus dia tuntut, maka sedapat mungkin dia harus berusaha mengekang diri sendiri, maka dia terima merendah diri, dihina dan dipermainkan, karena tujuannya hanya ingin menuntut balas,"

Matanya terbuka, seolah-olah matanya menyorotkan rasa takut, katanya.

"Pernahkah kau mendengar kisah Kou Jan menuntut balas? Justru karena dendam yang bersemayam di dalam relung hatinya amat mendalam, maka segala sesuatu yang orang lain tidak kuat menahan dirinya, ia justru dapat mengendalikan seluruhnya."

Terangkat kepalan tangan Kongsun Toan, katanya serak gemetar.

"Kalau demikian, kenapa tidak kau biarkan aku membunuhnya?"

Pandangan Ban-be-tong-cu tertuju ke ufuk langit nan jauh kelam itu, lama dia tidak bersuara. Suara Kongsun Toan semakin berapi-api.

"Sekarang kita sudah berkorban tiga belas jiwa orang, memangnya kau masih takut salah membunuh orang?"

"Kau salah!"

Tukas Ban-be-tong-cu pendek "Kau kira dia masih punya komplotan?"

"Yang terang, persoalan ini tidak mungkin dilakukan hanya oleh tenaga seorang."

"Bukankah keluarga Pek sudah terbabat habis ke akar-akarnya?"

Badan Ban-be-tong-cu yang rebah itu tiba-tiba melenting bangun, bentaknya bengis.

"Jikalau benar sudah terbabat habis seakar-akarnya, lalu darimana pula datangnya anak yatim itu? Jika tiada seseorang yang membantunya secara diam-diam, memangnya bocah sekecil itu masih bisa hidup sampai sekarang? Jikalau orang itu bukan seorang tokoh kosen dan lihai, darimana pula dia bisa tahu akan perbuatan kita? Masakah dia bisa menyembunyikan diri dari kejaran dan razia kita?"

Tertunduk kepala Kongsun Toan, mulutnya terbungkam. Semakin kencang jari-jari Ban-be-tong-cu terkepal, desisnya lebih tegas.

"Oleh karena itu, bila kali ini kita harus bergerak, maka kita harus punya pegangan dan yakin benar pasti dapat menjaring mereka seluruhnya, sekali-kali tidak boleh meninggalkan bibit bencana pula di kelak kemudian hari."

Kongsun Toan mengertak gigi, katanya.

"Tapi kalau kita harus menunggu demikian saja, sampai kapan kita harus menunggu?"

"Betapapun lamanya kita harus menunggu, kita harus tetap menunggunya dengan sabar."

"Kini sudah tiga belas jiwa orang-orang kita amblas, kalau menunggu pula, entah berapa pula jiwa yang harus berkorban?"

"Asal toh jiwa orang lain, umpama harus mengorbankan tiga ratus jiwa apa pula halangannya?"

"Kau kuatir dia turun tangan lebih dulu?"

"Kau tak usah kuatir, dia pasti tidak akan turun tangan secepat itu terhadap kami."

"Kenapa?"

"Karena dia pasti tidak akan membuat kami mati terlalu cepat, terlalu gampang."

Menghijau kaku raut muka Kongsun Toan, telapak tangannya yang besar itu sudah menggenggam gagang goloknya.

"Satu hal yang paling penting, sampai detik ini dia belum berhasil mendapatkan suatu bukti yang nyata, bukti bahwa kitalah yang turun tangan, maka.....

"Maka bagaimana?"

"Maka dia sengaja akan membuat kita takut, karena siapa pun bila hatinya dirundung ketakutan, gampang sekali akan melakukan tindakan yang salah, di saat kita melakukan kesalahan itulah baru dia bisa berkesempatan menangkap kelemahan kita."

"Oleh karena itu sekarang kita lebih baik tidak bertindak di luar garis?"

"Oleh karena itu satu-satunya jalan yang harus kita lakukan hanya menunggu, menunggu sampai dia berbuat kesalahan lebih dulu."

Sikap Ban-be-tong-cu mulai sabar, katanya kalem.

"Hanya menunggu, selamanya tidak akan salah!"

Memang menunggu dengan sabar selamanya tidak akan salah.

Bila seseorang bisa bersabar, dapat menunggu, cepat atau lambat pasti akan mendapat peluang, mendapat kesempatan yang paling baik.

Tapi jika kau hendak menunggu, bukan mustahil pula kau harus mempertaruhkan imbalannya, justru imbalan inilah yang lebih menakutkan.

Dengan kencang Kongsun Toan menggenggam goloknya, mendadak golok tercabut, sekali ayun dia bacok batu nisan di hadapannya, kembang api muncrat.

Tepat pada saat itu pula udara dengan mega mendung kebetulan memancarkan kilat dan geledek pun menggelegar dengan dahsyatnya ...

kilauan golok Kongsun Toan seolah-olah menjadi pudar dan kehilangan cahayanya di tengah sambaran kilat itu.

Tetesan air hujan sebesar kedelai bertetesan membasahi batu nisan itu, lalu mengalir melalui celah-celah retakan yang terbacok golok barusan.

Seolah-olah batu nisan inipun sedang mengucurkan air mata menangisi nasibnya yang jelek.

BAB 7.

AWAN HITAM MENYELIMUTI LANGIT Hujan angin.

Hujan selebat ini takkan mungkin hanya merupakan setetes air belaka.

Asal kau melihat atau ketetesan setitik air dari langit, maka kau pasti akan tahu bila hujan lebat bakal segera turun.

Jendela tertutup rapat, keadaan rumah itu gelap-gulita.

Tetesan air hujan berjatuhan di atas genting, menetes di daun jendela, laksana tambur yang dipukul bertalu-talu di tengah medan laga, laksana derap laksaan kuda saling terjang.

Yap Kay duduk miring sambil menjulurkan kedua kakinya, mengawasi sepasang sepatu tingginya yang sudah butut, setelah menarik napas panjang, mulutnya menggumam seorang diri.

"Lebat benar hujan ini!"

Dengan hati-hati dan menumplekkan seluruh perhatiannya, Siau Piat-li tengah membalik kartu gadingnya yang terakhir, lama dia mengawasi kartunya ini, baru kemudian dia berpaling dengan tersenyum, katanya.

"Biasanya di sini jarang turun hujan."

Yap Kay termenung, katanya kemudian.

"Mungkin karena biasanya jarang turun hujan, maka hujan kali ini luar biasa lebatnya."

Siau Piat-li manggut-manggut, dengan seksama dia mendengarkan suara hujan di luar, akhirnya menghela napas, katanya pula.

"Hujan hari ini memang turun bukan pada saatnya."

"Kenapa bukan pada saatnya?"

"Hari ini seperti biasanya, adalah hari dimana mereka sering masuk kota membeli benang, pupur dan segala keperluan perempuan lainnya."

"Mereka? Mereka siapa yang kau maksud?"

"Satu di antara mereka, sudah pasti adalah yang paling kau ingin temui."

Yap Kay paham juntrungan kata-kata orang, namun dia bertanya.

"Darimana kau tahu bila aku ingin bertemu dengan dia?"

"Aku dapat melihatnya."

"Cara bagaimana kau melihatnya?"

Seperti menyayangi seorang puteranya, Siau-Piat-li mengelus-elus kartu gading di atas mejanya, katanya kalem.

"Mungkin kau tidak percaya, tapi memang kenyataan aku selalu dapat melihat banyak persoalan dari permainan kartuku ini."

"Lalu apa pula yang dapat kau lihat dari kartumu itu?"

Mengawasi kartu-kartu gadingnya, lama kelamaan raut muka Siau Piat-li menjadi serius, sorot matanya menampilkan rasa kuatir dan dibayangi tabir gelap, katanya.

"Kulihat segumpal mega mendung, menutupi di atas Ban-be-tong, di dalam mega mendung itu terdapat sebatang golok, golok yang meneteskan noda darah. Mendadak dia angkat kepala menatap Yap Kay katanya dengan suara tertekan.

"Semalam apakah terjadi sesuatu pembunuhan yang tragis di dalam Ban-be-tong?"

Agaknya Yap Kay tercengang oleh pertanyaan ini, lama baru dia menjawab dengan tertawa.

"Seharusnya kau merubah obyekmu menjadi tukang ramal saja."

"Sayang sekali aku hanya bisa melihat bencana atau kesedihan yang menimpa orang lain, sebaliknya tidak pernah bisa kulihat rezeki nomplok seseorang."

"Kau ... kau belum pernah meramal nasib jelekku?"

"Kau ingin tahu sebenarnya?"

"Sudah tentu."

Sorot mata Siau Piat-li mendadak jadi berubah kosong melompong, seolah-olah sedang menatap ke tempat nan jauh, katanya.

"Di atas kepalamu juga tampak segumpal mega, jelas sekali bila kau pun sedang dirundung kerisauan."

"Apakah aku memang mirip orang yang selalu risau?"

"Mungkin kerisauan itu bukan menjadi milikmu sendiri, tapi kau ditakdirkan begitu lahir di dunia fana ini sudah terlibat banyak kesulitan dan kerisauan orang lain yang selalu membelenggu dirimu, takkan mungkin kau menghindarinya."

Tawa Yap Kay tampak dipaksakan, katanya.

"Apakah di dalam gumpalan mega di atas kepalaku ini juga tersembunyi golok?"

"Umpama benar ada golok di sana pun tidak menjadi halangan."

"Kenapa?"

"Karena di dalam jiwamu terdapat banyak Kui-jin, maka di dalam menghadapi segala persoalan selalu kau dapat terhindar dari mala petaka."

"Kui-jin?"

Yap Kay menegas.

"Kui-jin yang dimaksud adalah menyukai kau dan lagi mereka adalah orang-orang yang bisa membantu kau, umpamanya.....

"Umpamanya kau?"

Tukas Yap Kay. Siau Piat-li tertawa, katanya geleng-geleng kepala.

"Kui-jin di dalam jiwamu kebanyakan adalah kaum hawa, umpamanya Cui-long!"

Mengawasi kembang mutiara di dada Yap Kay, dia menambahkan dengan tertawa.

"Semalam suntuk kemarin dia menunggu dirimu, kenapa tidak kau cari dia?"

"Tarip ranjang setinggi emas, laki-laki rudin seperti aku, bila sudah tahu bakal terusir keluar, kenapa aku harus ke sana?"

"Kau salah."

"Oh, salah."

"Perempuan di sini belum tentu semuanya harus dibayar emas."

"Aku justru mengharap mereka seluruhnya demikian."

"Kenapa?"

"Karena dengan demikian tak usah banyak pikiran dan kuatir, hati pun takkan pernah gundah dan risau."

"Apa kau mau bilang, bahwa seseorang yang dimabuk cinta pasti risau?"

"Betul."

"Kau salah lagi, seseorang bila sedikit pun dia tidak dihinggapi kerisauan, apa pula manfaatnya dia hidup?"

"Aku justru lebih senang duduk-duduk di sini, kecuali di sini siang hari tidak menerima kunjungan tamu."

"Kau sih boleh dikecualikan, kapan saja kau suka datang, terserah sampai kapan kau suka duduk di sini tidak menjadi halangan, tapi aku kembali dia menghela napas, katanya getir.

"Aku sudah tua, semangatku tidak kuat lagi, bila tiba saatnya harus tidur, seluruh tubuh rasanya hampir lumpuh."

"Jadi kau belum tidur?"

Tawa Siau Piat-li seperti rada berduka, katanya.

"Orang tua selamanya segan tidur terlalu lama, karena dia tahu masa hidupnya tidak akan lama lagi, apalagi aku ini mirip kucing malam."

Ditariknya tongkat di sisi kursinya, lalu dikempit di bawah ketiak, pelan-pelan dia berdiri, katanya tiba-tiba.

"Tengah hari nanti mungkin hujan akan reda, kemungkinan pula kau bisa bertemu dengan dia!"

Siau Piat-li sudah naik ke atas loteng.

Waktu dia berdiri, baru Yap Kay melihat jubah panjang bagian bawahnya melambai kosong.

Ternyata kedua kakinya sudah buntung sebatas lututnya.

Cara bagaimana kedua kakinya ini dibacok kutung orang?

Lantaran apa?

Siapa pun tak akan dapat mengetahui, kalau dia bukan orang sembarangan, masakah dia bisa berada di sebuah kota kecil di perbatasan serta mengusahakan dagangan yang kurang pantas ini?

(sebagai germo).

Apakah dengan usahanya ini dia ingin menyembunyikan asal-usul dirinya?

Apakah benar ada sesuatu kekuatan yang misterius benar-benar dapat mengetahui untung rugi seseorang sebelum kejadian itu sendiri terjadi?

Yap Kay sedang merenungkan hal ini, akhirnya matanya menatap ke arah kartu-kartu gading di atas meja itu, segera dia berdiri menghampiri, tangan diulur meraba-raba.

Mendadak terasa olehnya bahwa kartu-kartu gading yang diduganya, semua adalah bikinan dari baja murni.

Terdengar suara batuk-batuk kecil tertahan, sayup-sayup berkumandang dari loteng kecil di bagian belakang itu.

Yap Kay menghela napas, terasa olehnya bahwa laki-laki buntung ini bahwasanya adalah seorang yang tersembunyi dan serba misterius, setiap patah kata-katanya seolah-olah mengandung arti yang misterius pula, demikian pula setiap urusan yang dia lakukan, seolah-olah mempunyai suatu tujuan yang misterius.

Sampai pun loteng mungil tempat tinggalnya ini, kemungkinan menyembunyikan sesuatu rahasia yang tidak diketahui orang lain.

Mengawasi tangga loteng sempit yang gelap itu, tiba-tiba muka Yap Kay dihiasi senyuman lebar.

Terasa olehnya tempat ini sungguh menarik perhatiannya.

Tengah hari.

Ternyata hujan berhenti, menyeberangi jalan raya yang basah berlumpur, Yap Kay beranjak ke seberang menuju toko kelontong di sebelah samping sana.

Pemilik toko kelontong ini adalah seorang laki-laki pertengahan umur yang supel dan suka berkelakar, mukanya bulat, siapa pun yang memandang mukanya selalu dia mengulum senyuman ramah.

Pembeli kebanyakan suka membayar harga semurah mungkin dan membeli barang yang paling baik, meski kurang sedikit pembayarannya pun tidak menjadi soal, selalu dia berkata dengan ramah.

"Baiklah, sekedarnya pun bolehlah, toh sama tetangga dalam satu jalan raya."

Dia she Li, maka orang suka memanggilnya dengan Li-ma-hou (Li si ceroboh).

Yap Kay kenal Li-ma-hou, namun dia lupa memeriksa apakah di dalam toko kelontongnya ini ada jual benang, pupur dan keperluan perempuan lainnya.

Tengah hari seperti sekarang, adalah waktunya orang makan siang, maka pada saat seperti ini paling jarang orang berbelanja di toko kelontongnya.

Seperti biasanya, setelah makan siang Li-mahou sedang duduk termenung dengan malas-malas dan mengantuk di meja kasirnya.

Yap Kay pun tidak ingin membuat kaget orang, dia mondar-mandir kian kemari sedang melihatlihat, tiba-tiba didengarnya suara kereta roda menggelinding di jalan raya yang bedek, sebuah kereta besar dengan kencang sedang lewat di depan toko.

Kereta ini berwarna hitam legam, delapan kuda penariknya merupakan kuda-kuda pilihan yang sudah terlatih baik sekali.

Yap Kay masih ingat kereta inilah yang kemarin menjemput dirinya menuju ke Ban-be-tong.

Siapakah yang duduk di dalam kereta?

Baru saja dia hendak melongok keluar, di belakangnya seseorang sudah bersuara dengan tertawa.

"Agaknya bini muda Ban-be-tong-cu dan putri besarnya masuk kota hendak berbelanja lagi, entah hari ini dia mau membeli telur ayam tidak?"

"Mereka toh tidak perlu mencukupi kebutuhan dapur, untuk apa beli telur ayam?"

Ujar Yap Kay sambil membalik, maka dilihatnya entah sejak kapan Li-ma-hou sudah siuman, tengah tertawa memicing mengawasi dirinya, sahutnya.

"Nah, hal ini tentu tidak kau ketahui, perempuan jika menggunakan telur ayam buat cuci muka, semakin dicuci semakin muda dan ayu."

"Oh, jadi bini atau menantumu juga setiap hari cuci muka dengan telur ayam?"

Li-ma-hou mencibirkan bibir, katanya tertawa dingin.

"Biniku? Umpama setiap hari dia cuci muka menggunakan tiga ratus butir telur, juga tetap bermuka kering seperti kulit jeruk."

Tiba-tiba dia mengunjuk seri tawanya yang lucu, katanya pula merendahkan suara.

"Tapi dua cewek dari Ban-be-tong itu, wah cantiknya laksana bidadari, Toaya kalau kau beruntung bisa.....

"Li-ma-hou,"

Tiba-tiba terdengar suara anak kecil dari luar pintu.

"kau sedang membual apalagi?"

Lekas Li-ma-hou berpaling keluar, seketika berubah air mukanya, tersipu-sipu dia menyongsong sambil mengunjuk tawa berseri kaku.

"Tidak membual apa-apa, aku sedang membikinkan Siausiauya sebuah permen Holou."

Tampak seorang anak laki-laki sedang berdiri di ambang pintu sambil bertolak pinggang, matanya yang bundar besar sedang melotot, baju yang dipakainya lebih menyala dari warna permen Holou itu, meski kecil usianya, namun sikapnya terlalu garang dan begitu berhadapan dengan bocah cilik ini, Li-ma-hou seketika kuncup nyalinya dan pucat.

Tapi begitu bocah ini melihat Yap Kay juga berada di dalam toko ini, air mukanya pun berubah pucat, tanpa menghiraukan Li-ma-hou dia putar badan hendak tinggal pergi.

Lekas Yap Kay mengejar keluar, sekali raih dia tangkap kuncir rambut di tengah kepalanya, katanya tertawa.

"Jangan kau ini hanya Siau-hou-cu (harimau kecil), umpama kau ini Siau-hou Ti (rase kecil) juga jangan harap bisa lolos dari tanganku."

Siau-hou-cu agaknya bingung dan gelisah, katanya keras.

"Aku toh tidak kenal kau, untuk apa kau menarik-narik aku?"

"Bukankah tadi pagi kau masih kenal aku? Kenapa sekarang bilang tidak kenal?"

Merah malu selebar muka Siau-hou-cu, kembali ia mau berteriak.

"Kau patut mendengar omonganku,"

Segera Yap Kay berkata.

"berapa permen Holou yang kau inginkan nanti kubelikan, kalau tidak, akan kuadukan kau kepada ayah dan Su-siokmu, bahwa tadi pagi kau membual."

Lebih gelisah Siau-hou-cu dibuatnya, katanya dengan muka merah.

"Aku ... aku ada membual apa?"

Yap Kay merendahkan suaranya.

"Semalam kau sudah tidur pagi-pagi, juga tidak bersembunyi di bawah perut kuda tunggangan Cicimu, benar tidak?"

Biji mata Siau-hou-cu berputar-putar, katanya merengek.

"Aku toh ingin membantu kau."

"Siapa yang suruh kau bilang demikian?"

"Tiada siapa-siapa, aku sendiri... Yap Kay menarik muka, katanya.

"Tidak kau bicara jujur kepadaku, terpaksa kugusur kau pulang, kuserahkan kau kepada ayahmu."

Saking ketakutan Siau-hou-cu pucat gemetar, setiap kali mendengar soal ayahnya, maka bocah ini akan bicara sejujurnya, katanya menunduk.

"Baiklah, kau ingin tahu, biar kuberikan kepadamu, Sam-iklah yang mengajar aku untuk bilang demikian."

Yap Kay kaget, serunya.

"Apa Sam-ik? Apakah orang yang tadi pagi menarikmu itu?"

Siau hou-cu manggut-manggut. Bertaut alis Yap Kay, katanya.

"Darimana dia bisa tahu semalam aku ada bersama Cicimu?"

"Mana aku tahu?"

Sahut Siau-hou-cu memonyongkan bibirnya.

"Kenapa tidak kau tanya dia sendiri!"

"Terpaksa Yap Kay melepaskan tangannya, bocah ini selincah kelinci segera lari sipat-kuping. Setelah tiba di seberang sana, baru dia berpaling sambil mengunjuk muka setan, katanya cekikikan menggoda.

"Kau boleh pergi tanya dia, tapi jangan kau peluk dia seperti kau peluk Taciku, kalau tidak, ayahku bisa iri."

Belum habis kata-katanya, dengan tangkas dia berlari masuk ke dalam sebuah toko kain sutra.

Yap Kay mengerut alis, dia sedang termenung memikirkan kata-kata si bocah.

Terang hal ini berada di luar dugaannya.

Siapakah Sam-ik?

Darimana dia bisa tahu gerak-gerik dirinya semalam?

Kenapa pula dia mau menolong dan membereskan kesulitannya?

Sungguh dia tidak habis pikir, baru saja dia mengangkat kepala, kebetulan dilihatnya Sam-ik sedang beranjak keluar dari toko kain sutra di seberang sana.

Dandanannya masih tetap sederhana, pakaiannya serba putih laksana salju, bukan saja mukanya tidak berkenalan dengan pupur, juga tidak berias, tapi membawa kematangan jiwa seorang perempuan, siapa pun yang melihatnya tanpa menyentuhnya orang sudah akan tergila-gila.

Di waktu Yap Kay mengawasinya, sepasang biji matanya yang jeli juga sedang mengerling ke arah Yap Kay, entah memang disengaja atau tidak, malah seakan-akan mengunjuk senyuman manis kepadanya.

Tiada orang yang dapat melukiskan kecantikan senyuman ini.

Yap Kay sendiri seperti linglung dibuatnya, sesaat kemudian baru disadarinya bila di belakang orang terdapat sepasang mata lain yang juga sedang menatap ke arah dirinya.

Sepasang mata yang terang bersinar ini tiba-tiba diliputi tabir kabut, seperti terselubung kain sari.

Apakah karena semalam dia tidak tidur?

Ataukah karena dia baru saja menangis?

Berdetak jantung Yap Kay, melonjak-lonjak keras.

Dengan malu-malu kucing dan manis mesra Be Hong-ling tengah mengawasi dirinya, secara diam-diam dia telah memberikan lirikan mata yang berarti pula.

Melihat lirikan mata ini segera Yap Kay manggut-manggut.

Barulah Be Hong-ling merasa lega dan menundukkan kepala, sambil tertawa diam-diam, segumpal awan merah seketika menghias roman mukanya.

Mereka tidak perlu bicara.

Asal dengan sekali lirikan mata, bagaimana isi hatinya sudah cukup dimengerti.

Memangnya cukup dengan sekali kerlingan mata saja Yap Kay sudah akan maklum akan arti tujuannya.

Memangnya buat apa mereka harus bicara?

Suasana loteng kecil itu tetap hening tiada suara apa-apa, namun kartu gading di atas meja entah sejak kapan sudah dikukuti dan disimpan.

Jendela terbuka, namun keadaan di dalam rumah tetap gelap.

Kembali Yap Kay duduk di tempatnya tadi, duduk sambil menunggu dengan sabar.

Dia cukup tahu maksud Be Hong-ling, namun sungguh mati dia tidak habis mengerti arti kerlingan mata Sam-ik tadi.

Bini Ban-be-tong-cu sudah meninggal, laki-laki seperti dia sudah tentu di sampingnya tidak boleh kekurangan perempuan.

Memang hanya perempuan seperti itu baru setimpal berjodoh dengan laki-laki macam ini.

Yap Kay sudah berhasil meraba asal-usul dan kedudukannya, namun masih belum paham akan maksudnya.

Terutama senyuman itu.

Yap Kay menghela napas, dia tidak ingin memikirkan lagi ...

kalau dibayangkan, berarti dia kurang simpatik terhadap Be Hong-ling.

Akan tetapi senyuman yang satu ini, seolah-olah sudah terukir dalam lubuknya, betapapun tidak bisa dilupakan.

Sekarang apakah yang tengah mereka kerjakan?

Sedang beli telur di toko klontong?

Dengan telur ayam untuk cuci muka, apakah benar muka perempuan itu akan semakin muda dan cantik?

Yap Kay memusatkan segala perhatiannya, ia berusaha untuk memikirkan sesuatu yang tiada sangkut-pautnya dengan persoalan ini, tapi pikir punya pikir, selalu mereka berdua saja yang berkecamuk dalam benaknya.

Untunglah pada saat itu daun pintu pelan-pelan didorong terbuka.

Yang datang sudah tentu Be Hong-ling adanya.

Baru saja Yap Kay hendak bangun, kembali hatinya tenggelam.

Yang datang ternyata bukan Be Hong-ling, namun adalah Hun Cay-thian.

Diam-diam Yap Kay menghela napas dalam hati, ia tahu hari ini dirinya akan sulit bisa menemui Be Hong-ling.

Melihat dirinya berada di sini, agaknya Hun Cay-thian juga merasa di luar dugaan, tapi setelah masuk kemari, masakah harus putar balik?

Mendadak Yap Kay tertawa, katanya.

"Apakah tuan hendak mencari Cui-long? Apa kau ingin tanya dia, kenapa kembang mutiara ini dia berikan kepada orang lain?"

Hun Cay-thian batuk-batuk kering dua kali, tanpa bersuara dia menarik kursi terus duduk. Yap Kay tertawa pula, ujarnya.

"Laki-laki cari cewek, memangnya suatu kejadian yang paling umum di dunia ini, kenapa tuan tidak langsung masuk ke sana?"

Agaknya perasaan Hun Cay-thian sudah mulai tenang, katanya kereng.

"Aku memang sedang mencari orang, tapi bukan mencari dia."

"Memangnya mencari siapa?"

"Pho Ang-soat."

"Untuk apa kau cari dia?"

Hun Cay-thian menarik muka, agaknya dia menolak menjawab.

"Bukankah dia masih tinggal di Ban-be-tong?"

"Sudah tiada lagi,"

Sahut Hun Cay-thian.

"Kapan dia pergi?"

"Tadi pagi."

Berkerut alis Yap Kay, ujarnya.

"Kalau tadi pagi dia sudah berlalu, kenapa di kota ini aku tidak pernah melihat bayangannya?"

Hun Cay-thian ikut mengerut alis, tanyanya.

"Bagaimana dengan yang lain?"

"Yang lain juga tiada satu pun yang kembali, hakikatnya di daerah sini tiada tempat lain, jika mereka kemari, aku pasti sudah melihatnya."

Berubah sudah rona muka Hun Cay-thian, pelan-pelan kepalanya terangkat mengawasi loteng kecil di bagian belakang itu. Berkilat sorot mata Yap Kay, katanya.

"Sam-lopan berada di loteng, apa tuan ingin bertanya kepadanya?"

Sejenak Hun Cay-thian ragu-ragu tiba-tiba bergegas berdiri, pintu didorong terus melangkah keluar.

Pada saat itu ada puluhan gerobak yang ditarik keledai, sedang mendatangi menuju ke jalan raya ini dari luar kota.

Ternyata gerobak-gerobak ini semua memuat peti mati, setiap gerobak empat buah peti mati yang baru seluruhnya.

Seorang laki-laki bungkuk bermuka putih, mengenakan pakaian serba baru berwarna hijau, bercokol di punggung seekor keledai lain tengah berjalan di pinggir kereta terdepan, rona mukanya itu memang mirip seseorang yang sudah bertahun-tahun rebah di dalam peti mati, jarang tersinar cahaya matahari.

Siapa pun yang melihat peti mati sekian banyaknya ke dalam kota ini, tak urung hatinya pasti mencelos kaget.

Demikian juga Hun Cay-thian, tak tahan dia bertanya.

"Akan dibawa kemana petipeti mati ini?"

Dari kepala sampai ke kaki si bungkuk ini mengamat-amatinya, tiba-tiba tertawa, katanya.

"Dari dandanan Toaya ini, apakah kau dari Ban-be-tong?"

"Ya, betul!"

Sahut Hun Cay-thian.

"Peti-peti mati ini justru akan kami kirim ke Ban-be-tong,"

Kata si bungkuk. Berubah air muka Hun Cay-thian, tanyanya.

"Siapa suruh kau mengirim kemari?"

"Sudah tentu ada orang yang sudah membayarnya lunas, seluruhnya dia ada pesan tiga ratus buah peti mati serupa ini, terpaksa tukang kami harus bekerja siang malam ...."

Belum habis orang bicara, Hun Cay-thian sudah menubruk maju serta menariknya dari punggung kudanya, bentaknya bengis.

"Orang macam apakah dia itu?"

Saking kaget dan ketakutan, si bungkuk sampai pucat dan gemetar, sahutnya gugup.

"Dia ... seorang, seorang perempuan."

Hun Cay-thian tertegun.

"Perempuan macam apa?"

Desaknya.

"Seorang nenek,"

Si bungkuk menerangkan. Hun Cay-thian kembali tercengang.

"Kau datang darimana? Dimana nenek itu sekarang?"

"Dia pun ada ikut bersama kami,"

Sahut si bungkuk.

"Dia di ... rebah di dalam peti mati di atas kereta yang pertama itu."

Hun Cay-thian menyeringai dingin, jengeknya.

"Rebah di dalam peti mati, memangnya dia sudah mampus?"

"Belum mati, baru saja dia masuk ke sana untuk berteduh dari hujan, mungkin sekarang ketiduran."

Salah satu peti mati di atas kereta pertama ternyata memang tutupnya rada miring dan ada celah-celah lubang untuk pernapasan.

Dengan tertawa dingin Hun Cay-thian melepaskan si bungkuk, dengan langkah mantap dan siaga dia menghampiri, sekonyong-konyong secepat kilat dia sikap tutup peti.

Memang di dalam peti mati ada orang, namun bukan seorang nenek, juga bukan seorang hidup.

Yang rebah di dalam peti adalah seorang mati, laki-laki yang sudah mati kaku.

Laki-laki ini berpakaian serba hitam ketat, selebar mukanya dihiasi jambang-bauk lebat berwarna kehijauan, noktah darah yang meleleh keluar dari ujung mulutnya sudah mengering, demikian pula kulit mukanya sudah mengkeret kering merubah bentuk aslinya, kecuali itu badannya tidak tampak sesuatu luka, terang orang ini mati karena pukulan tenaga dalam yang keras, menghancurkan isi perutnya.

Yap Kay berdiri di undakan batu yang teratas, dari tempat ketinggian ini kebetulan dia pun bisa melihat wajah si korban, tak tertahan dia menjerit kaget.

"Hwi-thian-ci-cu."

Sudah tentu dia tidak akan salah lihat, jenazah ini terang adalah Hwi-thian-ci-cu.

Hwi-thian-ci-cu sudah terbukti mati di dalam peti ini, lalu dimanakah Pho Ang-soat, Buyung Bing-cu dan Loh Loh-san?

Mereka berempat dalam waktu yang sama meninggalkan Ban-be-tong, bagaimana mungkin jenazah Hwi-thian-ci-cu bisa kedapatan di dalam peti mati ini?

Pelan-pelan Hun Cay-thian membalik badan, dengan beringas dia mengawasi si bungkuk, tanyanya.

"Orang ini bukan seorang nenek."

Gemetar sekujur badan si bungkuk, dia manggut-manggut dipaksakan, sahutnya megapmegap.

"Ya, bu ... bukan."

"Lalu dimana nenek yang kau katakan?"

Si bungkuk geleng-geleng, sahutnya.

"Aku tidak tahu."

Kusir yang mengendarai kereta kuda juga berteriak.

"Aku juga tidak tahu, semula aku jalan di paling depan."

"Bagaimana kau bisa berjalan di paling depan?"

Tanya Hun Cay-thian.

"Kereta yang ini sebetulnya berada di paling akhir,"

Demikian tutur kusir itu.

"belakangan kami sadar tersesat jalan, segera putar balik di tempat itu juga, maka kereta yang semula berada di paling belakang menjadi di paling depan."

"Apa pun yang terjadi,"

Jengek Hun Cay-thian.

"seorang nenek takkan mungkin berubah menjadi seorang laki-laki, coba kau jelaskan apa yang telah terjadi?"

Si bungkuk menggeleng kepala sekeras-kerasnya, sahutnya.

"Siau-jin betul-betul tidak tahu."

Bengis bentakan Hun Cay-thian.

"Kalau kau tak tahu memangnya siapa yang tahu?"

Sebat sekali badannya berkelebat, mendadak dia turun tangan, kelima jarinya laksana cakar besi, mencengkeram ke tulang pundak kanan si bungkuk.

Semula badan si bungkuk sedang gemetar keras seperti balon yang digantung di atas tiang ditiup angin deras, namun begitu Hun Cay-thian turun tangan menyerang dirinya, badannya tidak gemetar lagi, gesit sekali kakinya melesat, tahu-tahu orangnya sudah menyelinap ke belakang Hun Cay-thian, sekaligus telapak tangannya berbalik menabas ke arah tulang rusuk Hun Cay-thian.

Bukan saja jurus ini amat cepat perubahannya, malah temponya, posisi dan sasarannya amat tepat sekali, damparan angin pukulannya pun keras dan dahsyat.

Dinilai dari gerak-gerik dan serangannya ini, maka dapatlah dimengerti bahwa permainan kedua telapak tangannya ini, paling sedikit sudah terlatih tiga puluh tahun lamanya.

Hun Cay-thian mandah tertawa dingin, ejeknya.

"Eh, ternyata memang sukup lihai!"

Dalam berkata-kata beruntun dia merubah dua kali perubahan gerak badannya, sementara kedua telapak tangannya serempak balas menyerang lima jurus.

Hun Cay-thian memang ahli dalam main kegesitan dan kelihaian Ginkangnya, kini begitu dia mengembangkan keahliannya, meskipun belum seluruhnya memperlihatkan perbawanya, tapi betapa cepat dan tangkas perubahan serangannya kiranya jarang ada orang bisa melawannya.

Tak nyana si bungkuk pun mandah tertawa lebar, katanya.

"Bagus, ternyata kau pun cukup jempolan."

Di tengah gelak tawanya, tiba-tiba badannya berputar seperti keong, tahu-tahu badannya mencelat mumbul ke atas, terus menerjang naik ke atap rumah.

Baru saja gerakannya dikembangkan, mau berubah lantas berubah, ingin menyingkir segera berlalu, gerak tubuhnya sungguh cepat luar biasa amat mengejutkan.

Sayang sekali hari ini dia menghadapi tokoh yang terkenal akan ilmu Ginkangnya yang tiada taranya di seluruh dunia, orang dijuluki Hun-tiong-hwi-liong (naga terbang di tengah mega).

Maka baru saja badannya mencelat mumbul, bayangan Hun Cay-thian tahu-tahu sudah melejit tinggi seenteng asap secepat anak panah, kelima jarinya laksana cakar garuda, sekali raih dia mencomot ke punuk di punggung si bungkuk.

"Bret" , jubah biru yang baru dia bikin pada bagian punggungnya tahu-tahu sudah tercomot sobek, maka menonjollah punuk besar yang licin memancarkan cahaya kuning kemilau di punggung orang. Disusul "Crat" , suara yang cukup keras, dari punuknya yang kemilau menguning itu, tahu-tahu melesat keluar tiga bintik sinar dingin mengincar kedua kaki Hun Cay-thian. Terdengar Hun Cay-thian bersuit panjang, tahu-tahu badannya bersalto seperti burung dara berjumpalitan di tengah angkasa, dengan gaya mendorong jendela memandang rembulan mega terbang, tahu-tahu badannya sudah berdiri tegak dan tancap kaki di wuwungan rumah sebelah sana. Betapa cepat dan gesit gerakan reflek dari keahlian Ginkangnya ini, namun tak urung ketiga bintik sinar dingin itu masih sempat menyerempet ujung pakaiannya. Waktu dia memandang ke arah si bungkuk, badan orang sudah berlompatan segesit kera, berada tujuh delapan wuwungan rumah orang, kembali punuknya yang berwarna kuning itu berkelebat sekali lagi terus menghilang. Ternyata Hun Cay-thian tidak mengejar, lekas dia melompat turun, kulit mukanya yang membesi hijau sudah dibasahi keringat, melihat bayangan musuh menghilang, mendadak dia menghela napas, ujarnya.

"Sungguh tak nyana Kim-pwe-tho-sin (bungkuk sakti punuk emas) Ting Kiu bisa muncul di luar perbatasan ini."

Yap Kay ikut menghela napas, katanya dengan menggeleng kepala.

"Sungguh aku pun tidak pernah menduga akan dirinya."

"Kau pun tahu akan dirinya?"

"Setiap insan yang berkelana di Kangouw, berapa banyak orang yang tidak tahu akan dirinya?"

Hun Cay-thian tak bersuara, kelihatan sikapnya amat prihatin dan tertekan. Berkata Yap Kay.

"Orang ini sudah puluhan tahun mengasingkan diri, mendadak secara bersusah-payah sudi mengirim peti-peti mati sekian banyak ini kemari untuk apa? Memangnya dia pun ada sangkut-paut dengan musuh-musuh kalian itu?"

Hun Cay thian tetap berdiam diri.

"Apakah Hwi-thian-ci-cu terbunuh olehnya? Kenapa pula dia dibunuh?"

Sekilas Hun Cay-thian melotot kepadanya, katanya dingin.

"Pertanyaan ini ingin kuajukan kepadamu."

"Kau tanya aku, lalu kepada siapa aku harus bertanya?"

Mendadak Yap Kay tertawa, sorot matanya beralih ke ujung jalan sana, mulut menggumam.

"Mungkin aku harus pergi bertanya kepada dia." 8 ANGIN MUSIM SEMI YANG MEMBEKUKAN Dari ujung jalan raya sana, tengah mendatangi seseorang dengan langkah pelan-pelan, langkahnya amat lamban berat seperti sulit menggerakan kaki, dia bukan lain adalah Pho Angsoat. Tangannya tetap menggenggam kencang goloknya itu, langkah demi langkah bergerak maju makin dekat, seolah-olah setiap menghadapi persoalan apa pun, langkah kakinya itu selamanya takkan berubah, takkan menjadi cepat. Tapi yang nampak baru dia seorang, kemanakah Loh Loh-san dan Buyung Bing-cu? Kenapa tidak kelihatan jejak mereka? Menyeberangi jalan langsung Yap Kay menyongsong kedatangannya, sapanya tertawa.

"Kau sudah kembali?"

Sekilas Pho Ang-soat melotot kepadanya, sahutnya dingin.

"Kau belum mampus."

"Bagaimana dengan yang lain?"

"Aku jalan amat lambat."

"Jadi mereka berlalu lebih dulu di depanmu?"

"Ehm, kenapa?"

"Orang yang jalan duluan, kenapa belum juga tiba di sini?"

"Darimana kau tahu mereka belum kembali? Dan pasti kemari?"

Yap Kay manggut-manggut, mendadak dia tertawa, tanyanya.

"Kau tahu siapa yang kembali lebih dulu?"

"Tidak tahu."

"Seorang yang sudah mati,"

Ujar Yap Kay dengan menyungging senyuman sinis di ujung mulutnya, katanya pula.

"Yang jalan cepat di depan belum lagi tiba, orang mati yang tidak jalan malah tiba lebih dulu, memang banyak serba-serbi dan kejadian ganjil di dunia ini."

"Siapa yang menjadi korban?"

Tanya Pho Ang-soat.

"Hwi-thian-ci-cu (laba-laba terbang)."

Pho Ang-soat sedikit mengerut kening sebentar dia menepekur, lalu berkata.

"Sebetulnya dia sengaja tinggal di belakang menemani aku."

"Menemani kau? Untuk apa?"

"Bertanya."

"Bertanya kepadamu."

"Ya, dia tanya, aku mendengar."

"Kau hanya mendengar, tidak menjawab?"

"Mendengar pun sudah menghabiskan tenagaku."

"Belakangan bagaimana?"

"Jalanku terlalu lambat."

"Setelah tidak berhasil mengorek keteranganmu maka dia segera menyusul teman-teman lain yang sudah berada di depan?"

Terunjuk senyuman sinis pada sorot mata Pho Ang-soat katanya tawar.

"Maka dia tiba lebih dulu."

Yap Kay tertawa. Tawa yang tidak keruan rasanya.

"Kau tanya, sudah kujawab, kau tahu kenapa?"

"Aku pun sedang heran."

"Lantaran aku ada persoalan hendak bertanya kepadamu."

"Silakan berkata, aku pun menjelaskan."

"Sekarang belum tiba saatnya bertanya."

"Harus tunggu sampai kapan baru boleh bertanya?"

"Bila tiba waktunya aku ingin bertanya."

"Baik, terserah kapan kau ingin bertanya, sembarang apa pun yang kau tanyakan, aku pasti akan menerangkan."

Begitu dia menyingkir ke pinggir, Pho Ang-soat segera beranjak lewat, melirik pun tidak melihat ke jenazah yang berada di dalam peti, seolah dia amat menghargai pandangan sorot matanya sendiri, peduli kau mati atau hidup, tidak boleh sembarangan dia mau melihatmu.

Yap Kay tertawa getir sambil menghela napas, waktu dia berpaling, dilihatnya Hun Cay-thian sedang siap mengompas keterangan kusir kereta itu, dia pun malas untuk mendengarkan daripada kau mengompas keterangan dari mulut si kusir ini, lebih baik kau langsung tanya kepada si korban kemungkinan lebih gampang dan banyak hasilnya.

Ada kalanya orang yang sudah mati pun bisa memberitahu sesuatu rahasia kepadamu, cuma sudah tentu cara yang dikemukakan jauh berlainan.

Setelah lohor.

Udara yang gelap, ternyata masih nampak juga sinar matahari yang menyelinap keluar dari celah-celah mega.

Jalan raya masih becek, belum kering, terutama karena lewatnya barisan gerobak yang membawa muatan berat.

Sekarang barisan gerobak itu sudah digusur masuk seluruhnya ke Ban-be-tong.

Kalau tidak ditanyai supaya duduk persoalannya terang seluruhnya sekali-kali Hun Cay-thian tidak akan mau melepas mereka pergi, umpama mereka memang benar-benar tidak berdosa.

Kereta indah warna hitam mengkilat yang tertarik oleh delapan kuda itu ternyata masih berada di dalam kota, belum pulang, ada empat lima orang sedang sibuk membersihkan atau mencuci kotoran lumpur yang melekat di badan kereta, ada pula yang sibuk memberi makan rumput kepada kedelapan kuda itu.

Pernah kau melihat perempuan membeli barang-barang?

Yang terang sesuatu kebutuhan yang dapat mereka beli dengan mudah dan gampang, mereka justru membelinya sampai sekian lamanya.

Karena proses untuk membeli barang-barang itu sendiri, kadang kala merupakan suatu kenikmatan bagi kaum perempuan.

Bukan saja kenikmatan, sekaligus merupakan kesempatan untuk mengobrol, saat-saat iseng untuk menghibur diri dan melepaskan ketegangan, merupakan saat-saat yang paling cocok untuk memilih dan mencoba pakaian barunya, apalagi bila ada perhiasan-perhiasan baru untuk dijajal, maka kesempatan sebaik ini sekali-kali tidak akan dilewatkan begitu saja.

"Akan tetapi kenapa harus cuci muka dengan telur ayam? Pakai telur angsa masakah tidak boleh?"

Yap Kay amat tertarik akan hal ini.

Akhirnya dia berkeputusan, kelak bila ada waktu, dia akan mencoba sendiri cuci muka dengan telur angsa, ingin dia sendiri membuktikan apakah kulit mukanya bisa semakin halus dan muda?

Tetangga toko kelontong ini adalah keluarga tukang jagal, di depan pintunya ada tergantung selembar papan berminyak dan linyit bertuliskan.

"Khusus menjual daging sapi, kambing dan babi!" . Sebelah lagi adalah sebuah warung makan kecil, papan nama warungnya lebih linyit dan mengkilap oleh minyak yang kotor, penerangan di dalam rumah pun rada gelap. Pho Ang-soat pun sedang duduk di warung kecil ini, menyeruput semangkuk bakmi. Tangan kirinya itu agaknya amat lincah, pekerjaan yang dikerjakan dua tangan oleh lain orang, dia cukup mengerjakan dengan satu tangan, malah hasilnya lebih baik. Maju lagi tak begitu jauh adalah gang sempit tempat dimana dia tinggal, meski tidak sedikit keluarga yang tinggal di dalam lorong sempit ini, namun orang yang keluar masuk jarang sekali. Tampak nenek tua renta dan terbungkuk-bungkuk itu sedang berengsot-engsot mendatangi, lalu ditempelkannya selarik kertas merah yang sebelumnya sudah dibubuhi lem, di atas dinding pojokan di sudut lorong sempit itu. Lalu dengan jalan terbungkuk-bungkuk pula dia kembali ke rumahnya. Di atas kertas merah ini, ada beberapa tulisan yang tak beraturan berbunyi.

"Disewakan, sebuah kamar baik, ranjang baru, diberi makan pagi. Uang sewa setiap bulannya dua belas tahil perak, bayar di muka. Melulu bagi jejaka yang belum punya anak" . Tadi pagi nenek ini baru saja menerima lima puluh tahil uang sewa kamarnya, agaknya sudah kemaruk akan pendapatan yang tinggi ini, maka dia ingin menyewakan pula kamar tempat tinggal sendiri, malah uang sewanya lebih mahal dua tahil. Pemilik toko kelontong sedang bersantai mengantuk, di dalam toko kain sutra di seberang sana, dua nyonya muda yang bersolek kelewat batas sedang membeli jarum dan benang, mulutnya selalu menerocos tak henti-hentinya, bicara dan kelakar tertawa kesenangan, sayang sekali raut muka mereka jauh lebih jelek dibanding Sam-ik dan Be Hong-ling Dimanakah Be Hong-ling bertiga? Kereta masih berada dalam kota, tapi kenapa bayangan mereka tak kelihatan seperti ditelan bumi. Dua kali sudah Yap Kay mondar-mandir di jalan raya ini, pulang pergi tetap tidak melihat bayangan mereka. Semula dia pun ingin masuk warung kecil itu sekedar mengisi perut, namun tiba-tiba ia batalkan niatnya, langsung dia menghampiri ke ujung gang sempit itu, lalu dirobeknya kertas merah yang menempel di atas dinding, digulung lalu disisipkan ke dalam sepatu tingginya. Di dalam sepatu tingginya ini seperti ada sebatang benda keras, entah lantakan emas atau pisau pendek? Daun pintu yang paling sempit di jalan raya ini adalah sarang hiburan di dalam kota ini. Pintunya sempit, namun denah rumah itu sendiri cukup besar. Di atas pintu sempit ini tidak diberi papan nama pengenal, tiada sesuatu tanda khas apa-apa pula, namun di atas pintu tergantung sebuah Ang-teng (lampu merah). Bila lampu merah ini menyala, berarti sarang ini sudah mulai buka dagangan, sudah siap mulai menerima uang yang kau rogoh dari kantongmu. Bila lampu padam, boleh dikata selamanya tidak terlihat ada orang pernah keluar, sudah tentu tiada yang pernah masuk juga. Di dalam rumahnya yang remang-remang gelap ini, ternyata ada orang di sini ternyata bukan Siau Piat-li yang pemiliknya sebaliknya adalah Be Hong-ling. Orang yang sedang dicari ubekubekan oleh Yap Kay tak ketemu, ternyata sudah menunggu di sini. Bukankah gerak-gerik anak perempuan ada kalanya memang sulit diraba orang? Yap Kay tertawa, tanyanya.

"Lho, bagaimana kau bisa berada di sini?"

Be Hong-ling melotot sekali kepadanya, tiba-tiba berdiri, muka berpaling terus tinggal pergi.

Sejak tadi dia sudah melamun di sana, begitu melihat Yap Kay masuk, roman mukanya sudah mengunjuk rasa girang dan berseri tawa, tapi entah kenapa, tiba-tiba dia menarik muka pula terus berlari pergi.

Yap Kay tahu nona besar ini pasti marah dan dongkol karena sudah menunggu terlalu lama.

Memangnya bila kau berhadapan dengan nona besar sedang marah-marah, cara yang paling baik untuk mengatasinya adalah tinggal diam saja, biarkan setelah rasa marahnya hilang baru mulai kau bicara.

Dalam keadaan seperti ini, bila kau menarik atau merintanginya, membujuknya pula, maka kau ini termasuk laki-laki dogol, laki-laki bodoh.

Dan Yap Kay justru bukan laki-laki goblok.

Maka dia berpeluk tangan dengan menghela napas, dia duduk di atas kursi.

Be Hong-ling sudah menerjang keluar pintu, mendadak dia putar balik pula, katanya mendelik kepada Yap Kay.

"Hai, untuk apa kau kemari?"

Yap Kay mengedip-ngedipkan mata, sahutnya.

"Mencari kau!"

"Mencari aku?"

Be Hong-ling menyeringai dingin.

"Baru sekarang kau kemari? Kau kira aku pasti menunggu kau?"

"Bukankah kini kau sedang menunggu aku?"

"Sudah tentu tidak."

"Tidak menunggu aku, menunggu siapa?"

"Aku menunggu Sam-ik."

Yap Kay melongo.

"Sam-ik? Dia pun mau datang?"

"Kau kira hanya laki-laki yang boleh kemari?"

"Apa pun aku tidak pernah menggunakan 'kira', aku juga tidak tahu bila kau sudah kemari, maka sepanjang jalan raya ini aku ubek-ubekan mencarimu tanpa hasil."

Mata Be Hong-ling melotot sekian lama mengawasinya.

"Selama ini kau sedang mencari aku?"

"Tidak mencari kau lantas mencari siapa?"

Be Hong-ling tiba-tiba cekikikan, katanya.

"Kau memang pikun kau kira hanya ada satu pintu yang bisa untuk masuk kemari?"

Ternyata dia datang dari pintu belakang, anak gadis perawan sebesar ini berada di tempat sarang seperti ini, sudah tentu dia harus main sembunyi-sembunyi.

Yap Kay menghela napas, katanya tertawa getir.

"Sungguh aku tidak habis pikir, kau pun bisa keluar masuk lewat pintu belakang."

"Bukan aku yang ingin lewat belakang, Sam-ik."

Yap Kay tertegun, tanyanya.

"Dia sudah datang?"

"Pikun, bukankah sudah kuberitahu kepadamu?"

"Mana dia?"

Be Hong-ling menggerakkan bibirnya menunjuk pintu ketiga di sebelah kiri, sahutnya.

"Tuh di dalam sana."

Membelalak mata Yap Kay, katanya keheranan "Dia di dalam? Untuk apa dia di dalam?"

"Mengobrol."

"Mengobrol dengan Cui-long?"

Ternyata di balik pintu itu adalah kamar tidur Cui-long.

"Memangnya mereka sebenarnya teman baik, setiap kali Sam-ik ke kota selalu mampir kemari dan mengobrol dengan dia."

Kembali dia melototkan mata kepada Yap Kay, katanya.

"Darimana kau bisa tahu dia bernama Cui-long? Kau pun mengenalnya?"

Tersekat jawaban Yap Kay.

"Agaknya pernah aku melihatnya sekali?"

Semakin besar biji mata Be Hong-ling.

"Seperti pernah melihat? Atau pernah berhadapan langsung?"

"Berhadapan sungguh-sungguh."

Be Hong-ling memelengkan kepala, dengan ujung matanya dia mengerling, katanya.

"Kalau tidak salah, baru kemarin malam kau tiba di sini."

"Ya, kemarin malam."

"Jadi kemarin malam kau tinggal di sini?"

"Agaknya ... agaknya memang....... Sambil mengertak gigi tiba-tiba Be Hong-ling putar badan berlari keluar tanpa berpaling lagi. Tabiat nona besar ini sungguh mirip cuaca di bulan kelima, perubahannya cepat sekali. Yap Kay menghela napas saja, kecuali berpeluk tangan apa pula yang dapat dia lakukan. Kalau laki-laki sedang bicara berhadapan dengan seorang gadis, maka setiap patah katamu harus kau pertimbangkan dengan seksama, terutama bila kau sedang bicara dengan gadis pujaanmu. Entah berapa lama berselang, tiba-tiba daun pintu pelan-pelan didorong pula, pelanpelan Be Hong-ling melangkah masuk pula, langsung duduk di hadapan Yan Kay. Rona wajahnya lebih ayu kelihatannya, seperti tertawa tidak tertawa dia tatap muka Yap Kau, katanya tiba-tiba.

"Kenapa kau tidak bicara?"

"Aku tidak berani bicara."

"Tidak kenal?"

"Aku takut salah omong, membuat kau marah saja."

"Kau takut aku marah?"

"Takut sekali."

Jelilatan biji mata Be Hong-ling, tiba-tiba dia cekikikan lagi, katanya.

"Pikun, bukan saatnya kau bicara, mulutmu menerocos terus, tiba saatnya kau harus bicara, kita malah bungkam."

Lambatlaun sorot matanya menjadi redup, katanya lebih lanjut sambil terus menatap Yap Kay.

"Pagi tadi, kau ditanyai orang dimana kau semalam berada, kenapa tidak kau terangkan?"

"Entahlah."

"Aku tahu,"

Ujar Be Hong-ling lembut.

"Kau kuatir merembet diriku, kuatir orang suka iseng omong tentang diriku, benar tidak?"

"Entahlah!"

Laki-laki yang pintar selalu dapat mencari saat yang tepat untuk pura-pura bodoh. Semakin lembut dan halus kerlingan Be Hong-ling.

"Apa kau benar-benar tidak takut mereka membunuhmu?"

"Kenapa takut, aku hanya takut bila kau marah."

Be Hong-ling tertawa mekar, begitu lembut dan hangat seolah-olah hembusan angin musim semi yang dapat mencairkan salju.

Yap Kay balas menatapnya, seolah-olah dia sudah terkesima.

Pelan-pelan Be Hong-ling menunduk, katanya.

"Bukankah tadi pagi ayah mengajak kau bicara."

"Ehm!"

"Apa yang dia katakan?"

"Dia menyuruh aku pergi, suruh aku meninggalkan tempat ini."

"Apa jawabanmu?"

Tanya Be Hong-ling, lalu menggigit bibir.

"Aku tidak mau pergi."

Be Hong-ling angkat kepala sambil berdiri, katanya menggenggam tangannya.

"Kau ... sungguh kau tidak mau pergi?"

Yap Kay manggut-manggut.

"Tiada Orang yang menunggumu di tempat lain?"

"Hanya ada satu orang yang menungguku di suatu tempat."

"Dimana?"

"Di sini."

Pecahlah gelak tawa Be Hong-ling, tawa manis yang riang, matanya berkedip seperti orang yang baru bangun dari impian indah katanya kalem.

"Selama hidupku ini belum pernah ada orang yang bicara seperti kau ini, selamanya belum ada laki-laki yang menarik tanganku ... kau tahu tidak? Percaya tidak?"

"Aku percaya,"

Sahut Yap Kay.

"Soalnya orang lain menyangka aku ini galak, maka lama kelamaan aku pun merasa diriku ini memang semakin galak, sebetulnya.....

"Sebetulnya kau ini memang tidak galak,"

Kata Yap Kay tertawa.

"Sebetulnya bila aku kadang-kadang marah kepadamu, itu hanya pura-pura belaka."

"Kenapa harus pura-pura marah "

"Karena ... karena aku berpendapat bila tidak sering marah-marah, orang lain pasti akan berani kurangajar terhadapku."

"Selanjutnya pasti takkan ada orang yang berani kurangajar terhadapmu."

"Jika ada orang kurangajar padaku, kau hendak melabraknya?"

"Sudah tentu, cuma... selanjutnya jangan kau pura-pura marah lagi."

"Tapi selanjutnya bila kau berani berada di tempat seperti ini, aku akan marah sungguhsungguh."

Tanpa bicara lagi Yap Kay merogoh gulungan kertas merah dari slop sepatunya.

Begitu membuka gulungan dan membaca isinya, seketika cerah air muka Be Hong-ling, seperti hembusan angin musim semi yang membuat segar kuntum kembang.

Mengawasinya Yap Kay merasa gadis di hadapannya ini memang amat polos, jujur dan lincah, ada kalanya tingkah-lakunya malah mirip anak-anak.

Tak tertahan ditariknya tangan orang terus diciumnya.

Sudah tentu merah jengah selebar mukanya, merah panas.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seseorang batuk-batuk kecil.

Entah kapan Sam-ik sudah membuka pintu melangkah keluar, berdiri di depan pintu dia sedang tersenyum mengawasi mereka.

Semakin merah muka Be Hong-ling, lekas dia menyembunyikan kedua tangan ke belakang punggung.

Sam-ik tersenyum, katanya.

"Nah, sekarang tiba saatnya pulang!"

"Ehm!"

Be Hong-ling bersuara berat, kepalanya tertunduk dalam.

"Aku keluar dulu dan kutunggu di sana,"

Ujar Sam-ik.

Waktu melangkah keluar, seperti sengaja matanya mengerling pula kepada Yap Kau.

Senyuman yang bisa menyedot sukma.

Senyuman Be Hong-ling cerah dan bersih, mungil, laksana sinar surya di permulaan musim semi Sebaliknya senyuman Sam-ik laksana warna kembang mekar yang kental, begitu kental sampai sukar dijajaki, begitu kental sehingga tanpa minum seseorang bisa dibikin mabuk.

Di hadapannya Be Hong-ling kelihatannya mirip anak-anak.

Siapa pun yang mengawasi langkahnya keluar, pasti akan terasa sesuatu yang luar biasa, seolah-olah dia sudah mencari sesuatu milikmu.

Sudah tentu Yap Kay tidak bisa mengemukakan perasaan hatinya, maka dia segera bertanya.

"Setiap kali kau ke kota selalu naik kereta yang satu itu?"

Agaknya Be Hong-ling tidak mengerti kenapa orang menanyakan hal ini, tapi dia manggutmanggut.

"Ada berapa buah kereta seperti itu milik ayahmu?"

"Hanya satu saja. Orang-orang di sini kebanyakan suka naik kuda."

"Karena kalian hendak naik kereta ini, maka terpaksa mereka harus kembali sendiri-sendiri."

"Mereka siapa?"

"Tamu-tamu yang semalam bersamaku berada di rumahmu "

"Mereka toh bukan anak-anak, pulang sendiri kan tidak menjadi soal? Kenapa kau harus berkeluh kesah?"

Yap Kay malah menghela napas, katanya.

"Karena kami tiga belas orang yang pergi kini sudah mampus satu, sebelas yang lain pun menghilang."

Terbelalak mata Be Hong-ling, tanyanya.

"Siapa yang mati."

"Hwi-thian-ci-cu."

"Dan yang hilang?"

"Loh-toasiansing, Buyung Bing-cu dan sembilan pengawalnya."

"Orang-orang segede itu bagaimana bisa hilang?"

"Memangnya di tempat ini sembarang waktu bisa terjadi sesuatu yang aneh-aneh."

"Mungkin hanya rekaanmu saja, bukan mustahil sekarang mereka sudah kembali."

Yap Kay geleng-geleng kepala, tiba-tiba dia berkata.

"Bolehkah aku sembarang waktu naik kereta kalian itu ke depan sana?"

"Sudah tentu boleh, cuma buat apa kau mau ke depan sana?"

"Mencari orang yang hilang itu."

"Darimana kau tahu bila mereka berada di sekitar sini? Mungkin mereka sudah pulang lewat jalan lain?"

"Tidak mungkin."

"Kenapa tidak mungkin?"

"Aku tahu."

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Ada orang memberitahu kepadaku."

"Siapa yang memberitahu kepadamu?"

Tertunduk kepala Yap Kay mengawasi tangannya, sahutnya tegas.

"Seorang mati "Hah, orang mati?"

Teriak Be Hong-ling kaget. Yap Kay manggut-manggut, ujarnya pelan-pelan.

"Tahukah kau, orang mati ada kalanya pun bisa bicara, cuma cara mereka bicara sudah tentu berlainan dengan cara bicara orang hidup."

Dengan terbelalak kaget Be Hong-ling mengawasinya, katanya tersendat.

"Apa yang dikatakan orang mati pun kau percayai?"

Kembali Yap Kay manggut-manggut, mulutnya mengulum senyuman yang penuh arti, katanya.

"Persoalan yang diberitahu oleh orang mati selamanya tidak akan salah... karena hakikatnya dia tidak perlu menipu kau."

Kedua jari-jari yang mengepal dari mayat itu kini sudah terbuka, jari-jarinya terpentang bengkok kaku.

Umpama orang mati ini bisa mengatakan sesuatu rahasia, yang terang jari-jari tangannya takkan mungkin bisa terpentang sendiri.

Jari-jari Hwi-thian-ci-cu yang semula terkepal kencang, kini sudah terpentang, jarinya melengkung dan kaku.

Ban-be-tong-cu berdiri di pinggir peti mati, sorot matanya tajam menatap kedua tangan ini.

Bukan saja dia tidak menghiraukan muka sang korban yang kerut-kemerut berubah dari bentuk aslinya, dia pun tidak memeriksa noktah darah yang meleleh kering itu, hanya jari-jari tangan ini saja yang menjadi perhatiannya.

Karena itu orang lain sama-sama menatap ke arah kedua tangan ini.

Mendadak Ban-be-tong-cu bersuara.

"Apa yang kalian lihat?"

Hun Cay-thian dan Hoa Boan-thian beradu pandang, mereka tetap bungkam. Berkata Kongsun Toan.

"Aku hanya melihat sepasang tangan orang yang sudah mati, tiada bedanya dengan keadaan orang mati lainnya."

"Justru amat berbeda,"

Kata Ban-be-tong-cu tegas.

"Apa bedanya?"

Tanya Kongsun Toan.

"Jari-jari kedua tangan ini sebetulnya terkepal kencang, belakangan dipentang oleh seseorang sehingga terpentang seperti ini."

"Kau dapat melihatnya?"

"Tulang-tulang orang mati dan darahnya sudah kaku dan membeku, bukan soal gampang untuk membuka genggaman tangan seorang yang sudah ajal, oleh karena itu maka jari-jari baru melengkung seperti ini, dan lagi jari-jarinya ini meninggalkan bekas-bekas luka."

"Apa tidak mungkin dia terluka sebelum mati?"

"Tidak mungkin."

"Mengapa tidak mungkin?"

"Kalau terluka pada waktu masih hidup, luka-luka ini pasti berdarah, cuma seseorang yang sudah lama ajalnya tidak akan mengeluarkan darah meski kau potong lengannya."

Tiba-tiba Banbe-tong-cu berputar ke arah Hun Cay-thian, katanya.

"Waktu kau melihat mayat ini, apakah dia sudah lama mati?"

"Paling tidak satu jam lamanya,"

Sahut Hun Cay-thian manggut-manggut.

"Karena waktu itu jazadnya sudah dingin kaku."

"Bagaimana tangannya waktu itu? Apakah mengepal dengan kencang?"

Hun Cay-thian menepekur sebentar, sahutnya tetap tertunduk.

"Waktu itu agaknya aku tidak memperhatikan tangannya."

Ban-be-tong-cu menarik muka, katanya dingin.

"Waktu itu apa yang kau perhatikan?"

"Aku ... aku sedang sibuk mengompas keterangan orang lain."

"Keterangan apa yang berhasil kau peroleh?"

"Apa pun tidak kudapatkan."

Berkata Ban-be-tong-cu dengan keren dan tandas.

"Lain kali kau harus ingat, sesuatu rahasia yang dapat diberitahukan oleh seorang mati, kemungkinan lebih banyak dan lebih meyakinkan dari keterangan orang hidup dan lagi jauh lebih dapat dipercaya."

Hun Cay-thian mengiakan.

"Kedua tangannya ini pasti menggenggam sesuatu di dalam jari-jari tangannya, dan barang itu pasti merupakan sumber penyelidikan yang amat penting, bukan mustahil sesuatu barang yang berhasil dia comot dari badan lawannya. Kalau waktu itu kau berhasil menemukan barang itu, sekarang kita sudah tahu siapakah pembunuhnya. Terunjuk rasa kagum dan hormat pada sorot mata Hun Cay-thian, sahutnya.

"Lain kali pasti akan kuperhatikan."

Lambat-laun roman muka Ban-be-tong-cu mengendor pula ketegangannya, tanyanya pula.

"Waktu itu, kecuali aku, masih ada siapa lagi yang berada di sekitar peti mati?"

Tiba-tiba bersinar mata Hun Cay-thian, sahutnya.

"Masih ada Yap Kay."

"Adakah kau melihat dia pernah mengusik mayat ini?"

Hun Cay-thian menggeleng-geleng kepala, sahutnya.

"Aku tidak memperhatikan, namun......

"Namun apa?"

"Agaknya dia pun amat memperhatikan mayat ini, lama dia berdiri di pinggir peti mati mengawasinya dengan seksama."

"Apa yang diketahui oleh pemuda itu, kemungkinan jauh lebih banyak dari apa yang seharusnya kau lakukan,"

Kata Ban-be-tong-cu tertawa dingin. Tiba-tiba Kongsun Toan menyela.

"Orang ini hanya maling terbang, dia mati atau hidup apa pula sangkut-pautnya dengan kita?"

"Ada, erat sekali,"

Sahut Ban-be-tong-cu.

"Apa sangkut-pautnya?"

Kongsun Toan menegas keheranan.

"Walau orang ini sebagai maling terbang namun dia seorang maling terbang yang cerdik pandai, setiap kali dia beroperasi, pasti tidak pernah gagal, dari sini dapatlah dibuktikan bahwa penyelidikannya terhadap sesuatu yang diincarnya pasti amat teliti dan tepat."

Lalu ditambahkannya dengan tekanan lebih tandas.

"Oleh karena itu maka sengaja kusuruh orang mengundangnya kemari "

Jadi orang ini sengaja kau undang kemari?"

"Aku merogoh lima ribu tahil perak untuk mengundangnya kemari"

"Untuk apa kau mengundangnya kemari?"

"Kuundang kemari supaya membantu aku menyelidiki secara diam-diam siapa yang hendak menuntut balas kepadaku."

"Kenapa kau harus mengundang dia?"

"Karena dia sendiri tidak punya sangkut-paut dengan persoalan ini, sudah tentu kewaspadaan orang terhadapnya jauh lebih kendor, maka kesempatan dan peluangnya untuk menyelidiki jejak lawan pun lebih besar."

Kongsun Toan menghela napas, ujarnya.

"Sayang sekali dia tidak berhasil mendapatkan apaapa dalam penyelidikannya, sekarang sudah pasti lagi."

"Jika dia belum mendapatkan hasil seperti yang kuharapkan, maka jiwanya takkan mampus secepat ini."

"Oh? Jadi?"

"Lantaran dia sudah menemukan rahasia si pembunuh itu, maka orang harus membunuhnya, membunuhnya untuk menutup mulutnya."

Melotot mata Kongsun Toan, katanya.

"Oleh karena itu bila kita bisa menemukan siapa pembunuhnya, sekaligus kita akan mengetahui siapa pula orang yang sedang mempersulit kita."

"Maka sumber penyelidikan yang sudah tergenggam di tangannya itu, betapa penting artinya dalam peristiwa ini."

"Biar aku pergi tanya kepada Yap Kay, apakah dia yang mengambil barang itu,"

Kata Kongsun Toan.

"Tidak perlu,"

Tukas Ban-be-tong-cu.

"Kenapa?"

"Waktu dia mati, Yap Kay berada di dalam kota, maka terang bukan dia pembunuhnya,"

Ujar Ban-be-tong-cu seraya tertawa dingin.

"Apalagi bila benar Yap Kay sudah mengambil sesuatu dari jari-jari tangannya, takkan ada orang yang bisa mengompas keterangannya."

Jari-jari Kongsun Toan meraba gagang goloknya, mulutnya menyeringai dingin, selebar mukanya dihiasi senyuman sinis yang menghina. Hening sejenak, kemudian Ban-be-tong-cu bertanya pula.

"Sebelum ajalnya, dengan siapa dia bersama?"

"Loh-toasiansing, Buyung Bing-cu dan Pho Ang-soat,"

Hoa Boan-thian segera menjawab.

"Sekarang dimana mereka berada?"

"Pho Ang-soat sudah berada di kota, Loh Loh-san, Buyung Bing-cu dan para pengawalnya tidak kelihatan."

"Pergilah cari mereka, bawa empat puluh orang untuk mencarinya,"

Ban-be-tong-cu memberikan perintahnya. Hun Cay-thian mengiakan.

"Sepuluh orang satu kelompok, terbagi menjadi empat kelompok, bawa rangsum dan air minum lebih banyak, sebelum mendapat hasil penyelidikan, kalian jangan kembali."

Hun Cay-thian kembali mengiakan.

Apa pun yang dikatakan Ban-be-tong-cu selamanya dia mengiakan saja dengan tunduk hormat, di hadapan Ban-be-tong-cu, tokoh Bu-lim yang dulu pernah malang melintang di dunia Kangouw, ternyata terima diperbudak begitu saja.

Mendadak Kongsun Toan berkata.

"Biar aku mencari Pho Ang-soat"

"Tidak perlu,"

Tegas kata-kata Ban-be-tong-cu.

"Kenapa tidak perlu,"

Seketika Kongsun Toan naik pitam.

"Kenapa bocah itu tidak boleh dicari?"

"Masakah kau tidak bisa menentukan kematian orang ini?"

Tanya Ban-be-tong-cu. Kongsun Toan tertunduk mengawasi goloknya, katanya.

"Siapa yang menentukan bagi seseorang yang bergaman harus membunuh orang dengan gamannya itu?"

Ban-be-tong-cu tidak segera menjawab pertanyaan ini, sementara Hun Cay-thian sudah tahu diri dan mengundurkan diri lebih dulu, pelan-pelan dia merapatkan daun pintu.

Terangkat kepala Kongsun Toan, tanyanya mendesak "Siapa yang menentukan dia harus membunuh orang dengan goloknya?"

"Dia sendiri."

"Dia sendiri?"

"Kalau benar dia kemari untuk menuntut balas, maka golok di tangannya itu perlambang dirinya untuk menuntut balas, maka bila dia ingin membunuh orang, dia harus menggunakan goloknya itu."

Dengan tertawa tawar Ban-be-tong-cu menambahkan.

"Jika dia bukan hendak menuntut balas, buat apa kau harus mencari dia?"

Kongsun Toan tidak bicara lagi, lekas dia putar badan melangkah keluar, derap langkahnya begitu berat laksana kerbau jantan yang sedang marah.

Mengawasi bayangan raksasa orang, sorot mata Ban-be-tong-cu tiba-tiba menampilkan rasa kuatir, rawan ketakutan, seolah dari badan orang gede ini dia sudah membayangkan sesuatu tragedi yang mengenaskan.

Empat puluh orang, empat puluh ekor kuda.

Delapan puluh kantong air terbuat dari kulit kambing yang besar-besar, penuh berisi air jernih dan membawa perbekalan rangsum secukupnya.

Golok sudah diasah tajam, panah sudah terpasang di busurnya.

Dengan teliti Hun Cay-thian menginspeksi sendiri dua kali, setelah puas baru dia manggutmanggut, namun suaranya tetap keren dan berwibawa.

"Sepuluh orang satu kelompok, berpencar mencarinya, kalau tidak ketemu kalian pun tak usah kembali."

Kongsun Toan sudah kembali ke rumahnya sendiri.

Keadaan rumah kelihatan morat-marit, tapi ruangannya besar dan nyaman, kulit-kulit binatang yang berwarna-warni bergantungan menghiasi dinding, di atas meja bertumpuk berbagai macam buah-buahan yang besar dan segar Berbagai arak berkwalitas paling tinggi.

Pada malam yang sunyi, asal dia mau, seseorang pesuruhnya akan membawakan seorang perempuan kemari, perempuan jenis apa pun menurut keinginannya, dari yang langsing ayu semampai sampai yang bertubuh tambun buntak seperti gentong air, dari usia tiga belas sampai tiga puluh tahun.

Memang itulah kenikmatan yang harus dia kecap, foya-foya merupakan sebagian dari kehidupannya yang tertekan dan selalu dirundung ketegangan.

Maklumlah, darah dan keringat yang harus dia cucurkan sudah kelewat banyak.

Namun demikian, dia belum pernah merasa puas akan kehidupan serba berkecukupan ini, karena di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, masih terpendam sebilah pisau, seutas cemeti.

Dengan kedua tangannya sendiri yang berlepotan darah memendamnya di dalam lubuk hati.

Peduli apa pun yang sedang dia lakukan, pisau itu seolah-olah bergerak di dalam lubuk hatinya, demikian pula cemeti itu, selalu melecut sukma dan nalarnya sehingga jiwanya selalu dihinggapi ketegangan dan seram.

Hujan salju nan lebat.

Di dalam lautan salju itu, seperti seekor anjing gladak yang kelaparan dan kedinginan, Pek Thian-ih merangkak-rangkak dan meronta-ronta, darah segar nan merah menyala itu menghiasi bunga-bunga salju yang putih merah.

Sampai sekarang seolah-olah Kongsun Toan masih sering mendengar ratapan dan kutukan suara orang yang mengerikan seperti lolong serigala liar yang buas.

"Kenapa kalian berbuat seperti ini terhadapku? Kalian binatang ini, binatang rendah. Umapama aku harus mati selaksa kali, aku pasti akan menuntut balas kepada kalian."

Tergenggam kencang jari-jari Kongsun Toan, mendadak dia merasa mual dan hampir muntahmuntah.

Arak masih penuh terisi pada cangkir emas besar di atas meja, sekaligus dia tenggak sampai habis, matanya sudah berkaca-kaca berlinang.

Sekarang benar-benar ada orang datang hendak menuntut balas, tapi dia terpaksa harus menyembunyikan diri di dalam rumah seperti pengantin baru yang malu-malu dilihat orang, dengan lengan baju menyeka air mata.

Entah lantaran apa dia bercucuran air mata, air mata tetap air mata.

Kembali dia mengisi penuh secangkir besar, lalu ditenggaknya pula sampai habis.

"Bersabar! Kenapa kau harus bersabar?"

"Kalau mungkin dia akan meluruk datang membunuh aku, kenapa tidak lebih dulu kuluruk dia serta membunuhnya?"

Akhirnya dia menerjang keluar.

Mungkin dia keluar tidak ingin membunuh orang, tapi hatinya sungguh dihinggapi rasa ketakutan yang tak terhingga.

Bukan dendam kesumat, bukan kemarahan.

Namun ketakutan yang menghayati dirinya!

Memang jarang seseorang yang dihayati rasa dendam dan amarah yang meluap-luap lalu meluruk orang serta membunuhnya, kalau karena ketakutan lantas membunuh orang, memang sering terjadi.

Bila seseorang ingin membunuh orang, kebanyakan bukan lantaran orang lain melukai dirinya, yang terang justru kebalikannya, karena dirinya yang melukai orang, memangnya hal ini merupakan suatu tragedi yang tragis dalam kehidupan manusia sejak dahulu kala.

BAB 9.

KOKOH BAGAI BATU KARANG Magrib.

Sinar lampu yang terakhir masih sempat menyorot masuk menerangi kaki Pho Ang-soat melalui lubang jendela, mengawasi pahanya sendiri seketika terbayang oleh Pho Ang-soat akan jari-jari manis halus yang semalam meraba-raba pahanya ini.

Dia rebah di atas ranjang, saking penatnya sampai sepatu pun malas dicopot lagi.

Namun begitu terbayang akan sepasang tangan itu, perempuan itu, kulit badannya yang halus dan lembut laksana kain sutra itu, paha dan kakinya yang berisi, serta gerak-gerik kakinya yang merangsang ...

seketika timbul gejolak aneh di relung hatinya, seolah-olah celana yang dipakainya pun hampir diterjangnya sampai jebol.

Dia cukup mengerti cara bagaimana untuk menyalurkan rangsangan yang membakar dirinya ini.

Karena dia pernah melakukan.

Akan tetapi keadaannya sekarang sudah lain, karena dia pernah memiliki perempuan, perempuan tulen.

Seharusnya tidak pantas dia memikirkan hal ini, gemblengan atau latihan yang pernah dialaminya, kemungkinan jauh lebih berat, lebih menderita dari laki-laki mana pun, akan tetapi dia tetap seorang laki-laki di saat dirinya disinari cahaya surya yang kesetanan ini, kecuali adegan itu, sungguh persoalan apa pun enggan dia memikirkannya, memang dia sudah teramat letih.

Entah kapan hujan lebat itu berhenti?

Sinar surya menjelang magrib setelah hujan ini kenapa selalu terasa lebih hangat?

Bergegas dia melonjak bangun, berlari keluar!

Dia ingin penyaluran, dia harus melampiaskan keinginan ini, tapi dia justru bertahan, harus bersabar!

Suara jalan raya tenang-tenang saja, seolah-olah penduduk kota pegunungan ini sudah mendapat firasat bahwa di kota kecil ini bakal terjadi sesuatu peristiwa besar yang mengejutkan, malah orang-orang yang suka gelandangan di jalan raya pun rela menyembunyikan diri di rumah menggendong anaknya.

Yap kay berdiri di bawah emperan rumah, mengawasi jalan raya yang becek berlumpur, seakan-akan sedang merenungkan sesuatu persoalan rumit yang tak bisa dipecahkan.

Selanjutnya dia melihat Pho Ang-soat sedang beranjak keluar dan gang sempit di seberang sana.

Dengan senyuman lebar dia memberi lambaian tangan, namun Pho Ang-soat menganggap tidak melihat dirinya, kulit mukanya yang pucat ini seolah-olah menampilkan semu merah dari kobaran hatinya, matanya dengan nanar menatap ke arah pintu sempit di seberangnya sana.

Lampu merah di atas pintu sempit itu sudah menyala.

Pandangan mata Pho Ang-soat mirip nyala lampu ini, mulai berkobar.

Jari-jarinya masih mencekal golok, pelan-pelan namun pasti dia beranjak menuju ke sana.

Tiba-tiba terasa oleh Yap Kay pemuda yang biasanya pendiam dan berwatak kaku serta tenang ini, hari ini agaknya sedikit berubah aneh.

Maklumlah bila seorang sudah menahan dirinya sekian lama, karena terdesak melampaui batas, ada kalanya dia pasti ingin melampiaskannya meski hanya sekedarnya saja, kalau tidak, siapa pun asal dia seorang laki-laki normal pasti takkan kuat menahan diri, akhirnya bakal meledak.

Yap Kay menghela napas, katanya seorang diri.

"Agaknya memang harus minum arak sepuaspuasnya."

Memang lebih baik kalau mabuk dan jatuh pulas lupa daratan, maka di saat dia siuman, meski kepala pening seperti hampir pecah, namun semangatnya pasti sudah mengendor.

Sudah tentu alangkah baiknya bila ada seorang perempuan.

Yap Kay sedang heran, dia tidak tahu apakah sebesar ini pemuda cacad ini pernah bercengkeraman dengan perempuan.

Jika selamanya belum pernah bersentuhan dengan perempuan, mungkin malah lebih mending daripada laki-laki yang pada hakikatnya belum pernah bercengkeraman atau pernah bersentuhan dengan perempuan, maka keadaan dirinya laksana tanggul besar yang kokoh kuat takkan bisa jebol dan hancur meski diterjang air bah.

Sebaliknya laki-laki yang sudah pernah memiliki banyak perempuan pun tidak berbahaya jika hakikatnya sudah tidak perlu ditahan dan dijaga lagi, masakah pertahanannya bisa luluh.

Justru yang paling berbahaya adalah laki-laki yang baru saja pernah bersentuhan, bak umpama sebuah tanggul yang sudah sedikit ada lubang, siapa pun takkan tahu kapan lubang ini bakal diterjang oleh air bah itu.

Pelan-pelan Pho Ang-soat menyeberang jalan, matanya masih tertuju ke pintu sempit dengan lampu merah di atas pintu.

Bila lampu merah menyala, berarti usaha di sini mulai didasarkan.

Meski dasaran hari ini takkan laris seperti hari-hari biasanya, namun pengunjung utama dari tempat hiburan ini adalah pelatih kuda dari peternakan kuda atau penjual kuda-kuda liar dari tempat jauh.

Yang terang orang-orang seperti mereka hari ini takkan berkunjung ke tempat ini.

Pelan-pelan Pho Ang-soat mendorong pintu, biji lehernya turun naik menelan ludah, Di dalam rumah hanya terdapat dua pengunjung dari orang-orang setempat yang baru saja bertengkar dengan bininya.

Siau Piat-li sudah turun, sudah tentu duduk di tempatnya semula, pelan-pelan orang sedang menikmati hidangan pagi.

Hidangan pagi yang sedang digaresnya itu adalah lembaran daging-daging kambing yang diiris tipis dan di pinggang, semangkuk gulai kambing, masih ada lagi cangkir besar yang berisi arak, seperti arak anggur keluaran Persia yang dituang di dalam cangkir menyala di malam hari.

Memangnya Siau Piat-li seorang laki-laki yang pandai menikmati kesenangan hidup.

Pho Ang-soat melangkah masuk, ragu-ragu sebentar, akhirnya dia memilih tempat dimana kemarin malam dia duduk.

"Minum arak apa?"

Kembali dia ragu, sampai lama baru menjawab.

"Arak tidak mau."

"Mau apa?"

"Kecuali arak, apa saja yang ada boleh disediakan."

Siau Piat-li tiba-tiba tertawa, segera dia memberi pesan kepada pelayannya.

"Kebetulan baru saja kami menerima susu kambing yang masih segar, berilah seteko kepada Pho-kongcu, anggap saja sebagai perhitungan dari dalam."

Tanpa menoleh segera Pho Ang-soat berkata.

"Tidak perlu, makanan yang kuinginkan aku bisa membayarnya sendiri."

Siau Piat-li tertawa, kerat daging panggang terakhir segera dia jejalkan ke dalam mulut, dikunyah pelan-pelan, menikmati rasanya yang manis, segar dan amis, memangnya dia seorang yang tidak suka ribut mulut.

Namun dia pun sudah tahu bahwa seseorang yang suka ribut dan adu mulut tengah mendatangi.

Derap tapal kuda yang berdentam riuh dan cepat di atas jalan raya tengah mendatangi dengan cepat sekali, akhirnya berhenti tepat di depan pintu.

"Blang" , pintu didorong dari luar secara keras dan kasar, sesosok badan laki-laki raksasa melangkah lebar masuk ke dalam rumah, tidak mengenakan topi, sementara pakaian depan dadanya terbuka lebar, golok melengkung besar terselip di pinggangnya. Kongsun Toan! Dengan tersenyum Siau Piat-li menyapa dengan gerakan tangan dan mimik mukanya, orang menganggap tidak melihat dirinya. Tapi yang dia pandang justru Pho Ang-soat. Sorot matanya seketika laksana seekor elang kelaparan yang melihat sesosok bangkai Susu kambing sudah dihaturkan, memang masih hangat dan segar. Minuman semacam ini hanya bisa dinikmati oleh penduduk perbatasan yang terpencil di dunia ramai, hanya penduduk kota di luar perbatasan ini yang benar-benar bisa menikmatinya. Seteguk saja Pho Ang-soat mencicipi, seketika dia mengerut kening. Mendadak Kongsun Toan menyeringai dingin.

"Hanya kambing yang minum susu kambing."

Pho Ang-soat tidak mendengar, diangkatnya cangkirnya, lalu dihirupnya pula seteguk. Semakin keras suara Kongsun Toan karena olok-oloknya tidak dihiraukan.

"Tak heran di sini berbau prengus. ternyata ada seekor kambing busuk di sini."

Pho Ang-soat masih tidak mendengarkan, namun jari-jari yang mencekal golok tergenggam kencang, otot hijau di punggung tangannya merongkol besar. Mendadak Kongsun Toan menghampiri.

"Biang", meja digebrak seraya membentak.

"Minggir!"

Pho Ang-soat mengawasi susu kambing di tangannya, katanya kalem.

"Kau suruh aku minggir!"

"Di sini tempat duduk untuk manusia, di belakang ada kandang kambing, di sanalah tempatmu berpijak."

"Aku bukan kambing."

Kongsun Toan menggebrak meja pula, serunya.

"Peduli kau ini barang apa, segeralah enyah dari sini, tuan besar suka duduk di tempatmu ini."

"Siapakah tuan besar?"

"Aku, aku ini tuan besar, tuan besar adalah aku."

"Prak" , cangkir teremas pecah. Dengan mendelong Pho Ang-soat m ngawasi air susunya yang muncrat di atas meja, badannya sudah bergetar keras. Kongsun Toan menatapnya, telapak tangannya yang segede kipas itu sudah meraba gagang goloknya, ejeknya dingin.

"Kau ingin menggelinding sendiri atau perlu orang lain menggotongmu?"

Dengan badan gemetar pelan-pelan Pho Ang-soat berdiri, sedapat mungkin dia mengendalikan perasaan dan emosinya, melirik pun dia tidak. Kongsun Toan tertawa lebar, serunya.

"Agaknya kambing busuk ini akan menggelinding balik keluar, kenapa tidak kau jilat kering susu kambing yang mengotori meja ini?"

Tiba-tiba Pho Ang-soat mengangkat kepala menatapnya lekat-lekat. Sepasang matanya laksana bara yang sedang menyala besar. Biji mata Kongsun Toan pun sudah merah membara, mukanya menyeringai sadis.

"Apa keinginanmu? Ingin mencabut golok?"

Pho Ang-soat tetap menggenggam goloknya dengan kencang, tak bergeming sedikit pun.

"Hanya manusia bisa mencabut golok, kambing busuk masakah bisa main senjata, jika kau ini manusia, cabutlah golokmu itu."

Dengan mendelikkan mata, Pho Ang-soat seperti ingin menelannya bulat-bulat.

Sekujur badannya gemetar dan keringat dingin bercucuran.

Dua tamu lain yang semula sedang minum arak kini sudah menyingkir ke pojok ruangan, d ngan mendelong kaget mengawasi mereka.

Sementara Siau Piat-li tenang-tenang menikmati arak anggurnya seteguk demi seteguk, jarijarinya kelihatan mengejang karena tegang.

Hening lelap hanya terdengar deru napas yang ngos-ngosan, dari kedua orang yang sedang berhadapan.

Deru napas Pho Ang-soat enteng dan pendek cepat, sedang napas Kongsun Toan keras dan panjang serta berat.

Sebaliknya orang lain justru serasa berhenti napasnya.

Tiba-tiba Pho Ang-soat memutar badan, beranjak keluar, kaki kiri melangkah dulu setapak, kaki kanan dengan kaku lalu diseretnya maju.

Sekeras-kerasnya Kongsun Toan meludah ke atas lantai, katanya menghina.

"Ternyata kambing busuk ini timpang kakinya."

Mendadak langkah Pho Ang-soat dipercepat, seolah-olah sudah tak kuasa berdiri tegak lagi, dengan sempoyongan menerjang keluar. Kongsun Toan tergelak-gelak, serunya.

"Menggelindinglah yang jauh ke dalam kandangmu, bila terlihat lagi oleh tuan besarmu, awas kupatahkan kakimu yang lain."

Segera dia menarik kursi terus duduk seraya mengg brak meja.

"Bawa arak kemari, arak bagus!"

Sekonyong-konyong seseorang berseru lantang di depan pintu.

"Bawa arak kemari, arak bagus!"

Tahu-tahu Yap Kay melangkah masuk, tangan kirinya menuntun seekor kambing.

Kongsun Toan mendelik kepadanya, dia malah seperti tidak melihat kehadiran Kongsun Toan, setelah mencari tempat, terus duduk.

Tempat duduknya berhadapan dengan Kongsun Toan.

Kongsun Toan menyeringai dingin, serunya sambil menuding meja di depannya.

"Mana araknya? Lekas."

Yap Kay pun menggebrak meja, serunya.

"Mana araknya? Lekas!"

Dalam keadaan seperti ini, sudah tentu arak segera disuguhkan.

Yap Kay langsung menuang secangkir penuh, namun tidak diminum sendiri, tahu-tahu sebelah tangannya menarik leher kambing, secangkir arak itu terus dia cekokkan ke dalam mulut kambing.

Kalau alis tebal Kongsun Toan bertaut, sebaliknya Siau Piat-li sudah terpingkal-pingkal.

Yap Kay segera tertawa lebar dan menengadah, katanya.

"Ternyata kalau orang minum susu kambing, kambing justru minum arak."

Seketika berubah rona muka Kongsun Toan, sigap sekali dia berjingkrak bangun, bentaknya bengis.

"Apa katamu?"

Yap Kay tertawa tawar, ujarnya.

"Aku sedang bicara dengan kambing ini, apakah tuan ini seekor kambing?"

Tiba-tiba Siau Piat-li ikut tertawa, katanya.

"Tempat ini bukan kandang kambing, darimana bisa ada kambing."

Kongsun Toan berpaling melotot gusar ke arahnya Siau Piat-li tersenyum, lalu katanya.

"Apa Kongsun-heng juga ada maksud ingin mematahkan kakiku? Sayang sekali sejak lama kedua kakiku ini sudah dikutungi orang."

Terkepal kedua jari-jari tangan Kongsun Toan, katanya mendesis tajam.

"Sayang sekali ada juga kaki orang yang belum buntung."

"Benar, kakiku belum buntung,"

Ujar Yap Kay.

"Baik, kau berdiri."

"Bila saatnya duduk, biasanya aku jarang berdiri,"

Ujar Yap Kay meringis-Siau Piat-li menimbrung.

"Bila masih bisa berdiri, biasanya aku jarang duduk."

"Aku ini orang malas."

"Aku ini orang yang tidak punya kaki."

Keduanya mendadak terbahak-bahak. Pelan-pelan Yap Kay mengelus kepala kambing, matanya mengerling ke arah Kongsun Toan, katanya tertawa.

"Yo-heng Yo-heng (engkoh kambing), kenapa kau selalu suka berdiri?"

Kongsun Toan justru sedang berdiri. Merongkol otot hijau di atas jidatnya, mendadak tangannya berbalik menggenggam goloknya, bentaknya.

"Sambil duduk aku pun bisa membacok kutung kedua kakimu."

Dimana sinar perak berkelebat, golok tahu-tahu sudah tercabut keluar.

"Brak" , meja besar yang terbuat dari kayu keras dan tebal itu seketika terbelah menjadi dua. Meja itu terbelah tepat di hadapan Yap Kay dan roboh. Begitu pula sinar golok membacok turun tepat di muka Yap Kay. Yap Kay tidak bergeming, sampai pun kelopak matanya pun tidak berkedip. Dia tetap tersenyum, katanya tawar.

"Tak nyana golok sabitmu ini peranti untuk membelah meja."

Kongsun Toan menggerung kalap seperti banteng ketaton, goloknya terayun membundar.

Sekujur badan Yap Kay seketika terkurung di dalam lingkaran sinar golok kemilau itu, sorot matanya seketika seperti memancarkan kilat perak.

"Tring" , kembang api muncrat. Sebatang tongkat besi tiba-tiba menyelonong maju dari samping menangkis bacokan golok sabit, terus menahannya di tengah udara. Dengan sebatang tongkatnya Siau Piat-li menangkis bacokan golok, sementara tongkatnya yang lain menyanggah bumi dan amblas lima dim ke dalam lantai Betapa dahsyat kekuatan bacokan golok ini. Tapi badan Siau Piat-li sendiri tetap bertopang di atas tongkatnya ini tanpa bergeming, demikian pula tongkatnya yang teracung ke depan menahan golok masih lempang dan tenang. Karena kekuatan bacokan ini dia salurkan ke tongkatnya yang satu sehingga ujungnya amblas masuk ke dalam lantai. Rona muka Kongsun Toan sudah pucat-pias, katanya sambil mendelik kepadanya.

"Urusan ini tiada sangkut-pautnya dengan kau."

Siau Piat-li berkata tawar.

"Di sini bukan tempatnya membunuh orang."

Darah semakin mendidih di rongga dada Kongsun Toan, namun goloknya tidak bergerak lagi.

Demikian pula tongkat besi itu sudah tidak bergeming.

Sekonyong-konyong tajam golok mulai menggesek batang tongkat, mulai terdengar suara gesekan yang lirih lembut semakin keras dan menusuk telinga.

Maka tongkat besi yang lain itu mulai amblas satu dim demi satu dim ke dalam bumi.

Tapi Siau Piat-li sendiri masih bergelantung di atas tongkatnya tidak tergoyahkan.

Tiba-tiba Kongsun Toan membanting kedua kakinya, lantai marmer hijau di bawah kakinya seketika pecah retak, cepat sekali dia sudah melangkah keluar.

Sepatah kata pun tidak bersuara lagi.

Yap Kay menarik napas panjang, katanya memuji.

"Siau-siansing, hebat benar Lwekangmu."

"Amat memalukan."

"Siapa pun bila sudah berlatih Lwekang mencapai taraf Ih-hoa-kiat-bok (memindah kembang menyambung dahan), tiada sesuatu yang perlu dibuat malu di dunia ini."

Tiba-tiba Siau Piat-li tertawa, ujarnya.

"Yap-heng tajam benar pandangan matamu."

"Pandangan Kongsun Toan tentunya juga tidak jelek, kalau tidak, masakah dia mau berlalu begitu saja."

"Mungkin juga karena orang yang benar-benar ingin dia bunuh bukan kau "

"Tapi jika bukan karena pertolongan Siau-siansing, mungkin hari ini aku sudah mampus di tempat ini."

Siau Piat-li tertawa, katanya.

"Jika aku tidak turun tangan, mungkin memang ada orang bakal mampus di sini, tapi yang terang orang itu bukan kau."

"Bukan aku? Lalu siapa?"

"Kongsun Toan!"

"Mana mungkin dia yang mati malah?"

"Dia itu laki-laki kasar berangasan, ternyata dia tidak tahu bahwa ilmu silat Yap-heng hakikatnya sepuluh kali lipat lebih tinggi dari kepandaiannya."

Yap Kay tertawa seperti mendengar suatu yang menggelikan, katanya dengan geleng-geleng kepala.

"Siau-siansiang tentunya salah hitung kali ini."

"Kedua kakiku memang buntung, namun kedua mataku ini pasti tidak akan meleset, kalau tidak, aku sudah menahan diri sepuluh tahun di sini, kenapa hari ini aku harus turun tangan."

Yap Kay menunggu kata-katanya lebih lanjut.

"Selama puluhan tahun ini, belum pernah aku melihat tokoh semuda kau, bukan saja ilmu silatnya tinggi tak terukur, malah menyembunyikan kepandaian pula, maka dia berhenti, seperti sedang menunggu pertanyaan Yap Kay selanjutnya. Terpaksa Yap Kay bertanya.

"Maka bagaimana7"

Kembali Siau Piat-li menghela napas, katanya.

"Seorang cacad sebatangkara, untuk hidup di tempat seperti ini bukan soal gampang, kalau bisa bersahabat dengan teman seperti Yap-heng Mendadak Yap Kay menukas kata-katanya dengan tertawa.

"Jika bersahabat dengan teman seperti aku, kelak kau akan terlibat banyak kesulitan."

Berkilat pandangan Siau Piat-li menatap kepadanya, ujarnya.

"Jika aku tidak takut menghadapi bahaya?"

"Boleh kita menjadi sahabat."

Seketika Siau Piat-li tertawa lebar, ujarnya.

"Kalau begitu kenapa tidak lekas kau kemari minum bersama."

"Umpama kau tidak ingin mengundang aku minum, aku pun tetap akan meminumnya."

Seorang sedang mencongklang kudanya lewat jalan raya, sekonyong-konyong sebuah tangan gede menariknya turun dari punggung kudanya secara kekerasan, terus dilempar jatuh ke tanah dengan kerasnya.

Baru saja orang ini berjingkrak hampir memaki dengan gusar, seketika dia urungkan niatnya Karena dia sudah melihat jelas orang yang menariknya jatuh dari punggung kuda adalah Kongsun Toan, dilihatnya pula roman muka Kongsun Toan yang sedang marah-marah, siapa pun takkan ada yang berani mengusik Kongsun Toan yang sedang marah ini.

Dengan tangkas Kongsun Toan mencemplak ke punggung kuda terus dikeprak cepat-cepat Dimanakah kuda tunggangannya sendiri?

Kuda tunggangan Kongsun Toan sedang membedal di tengah padang rumput, namun penunggangnya adalah Pho Ang-soat.

Begitu keluar pintu dia terus mencemplak ke atas kuda serta mengepraknya dengan goloknya, begitu keras hantaman goloknya di pantat kuda.

Seolah-olah dia menganggap kuda tunggangan ini sebagai Kongsun Toan Dia perlu melampiaskan kobaran hatinya, kalau tidak, dia bisa gila dibuatnya.

Kuda itupun seperti jadi gila, dari jalan raya terus membedal ke padang rumput, dari magrib sampai gelap akhirnya dirinya dikelilingi tabir malam nan pekat.

Angin badai menghembus datang, butiran pasir menyampuk mukanya, dia tidak berpaling, terus memapak ke depan.

Penghinaan seperti itupun dapat dia terima, ada apa pula yang tidak dapat dia terima di dunia ini?

Giginya berkerutukan kencang, darah merembes keluar dari ujung bibirnya, darah terasa getir, getir dan kecut.

Sekonyong-konyong di tengah kegelapan itu timbul setitik bintang.

Bukan bintang, namun itulah lampion besar di pucuk tiang bendera dalam Ban-be-tong, sinarnya yang menyala lebih terang dari cahaya bintang Bintang akan tiba saatnya timbul dan tenggelam, bagaimana dengan lampion ini?

Dengan kencang dia renggut bulu suri kuda, dengan kuat dia pukulkan sarung goloknya untuk membedal kudanya, dia perlu melampiaskan diri, demikian pula kecepatan lari kudanya pun dia percepat agar lebih cepat melampiaskan gejolak hatinya.

Sekonyong-konyong kuda tunggangannya meringkik dengan pilu, kaki depannya tiba-tiba tertekuk terus tersungkur jatuh.

Dengan sendirinya Pho Ang-soat ikut terjungkal dan terbanting keras bergelundungan di tanah, tanah nan tandus, tanah berpasir.

Pasir yang keras menggesek luka kulit mukanya, darah berlepotan di selebar mukanya.

Demikian pula serasa hatinya pun sudah berdarah.

Tahan sabar, sabar lagi, sampai kapan dia harus menahan sabar?

Siapa kan tahu betapa getir dan derita untuk menahan sabar ini?

Tak tertahan air matanya bercucuran, air mata darah, air mata bercampur darah.

Bintang-bintang berkelap-kelip di cakrawala.

Di bawah pancaran sinar bintang-bintang inilah tiba-tiba seekor kuda berlari-lari kecil lembut tengah berderap mendatangi, sepasang mata si penunggang kuda laksana bintang kejora yang sedang menyala di tengah kegelapan malam.

Bunyi kelintingan kuda bak irama lagu dewata, semakin jelas dan jelas, itulah Be Hong-ling.

Rona mukanya masih menampilkan senyuman mekar dan manis, sorot matanya membayangkan hidup bahagia, kelihatannya dia jauh lebih cantik dari sebelumnya.

Bukan lantaran pancaran sinar bintang yang menambah semarak, bukan karena keremangan malam nan redup ini, namun lantaran benih-benih asmara sudah tumbuh di dalam relung hatinya.

Asmara itu sendiri memangnya bisa merubah seorang perempuan menjadi genit dan mekar, meski seorang perempuan paling buruk pun akan menjadi cantik.

"Dia tentu sedang menunggu aku, melihat aku mendadak pergi pula, tentu dia lebih senang dari memperoleh rezeki apa pun "

Sebenarnya tidak pantas dia datang saat sekarang.

Tapi rasa kangennya, karena gejolak asmara itu sehingga dia melupakan segala akibatnya.

Sebetulnya dia tidak bisa keluar.

Akan tetapi cinta membuat dia lebih berani, asal dapat melihatnya, meski hanya sekejap saja, segala urusan umpama dunia bakal kiamat pun tidak menjadi perhatian dirinya.

Angin malam menghembus dingin, sedingin batang golok nan tajam.

Tapi di dalam perasaannya, angin dingin ini menjadi hangat.

Tapi di tengah hembusan angin ini, sayup-sayup dia mendengar isak tangis.

Siapakah yang menangis di tengah padang rumput nan belukar dan sepi ini secara diam-diam?

Sebetulnya dia sudah berputar ke arah lain, namun tahu-tahu putar balik, cinta bukan saja membuat dia lebih cantik, cinta pun membuat hatinya lebih luhur, lebih bajik.

Menaruh belas kasihan terhadap sesamanya, menyelami kesukaran orang lain.

Pertama-tama ditemukannya kvida tunggangan Kongsun Toan yang sudah roboh kehabisan tenaga, lalu melihat Pho Ang-soat pula.

Pho Ang-soat meringkuk di atas tanah, sekujur badannya gemetar keras tak henti-hentinya.

Seolah dia tidak mendengar kedatangannya, juga tidak melihat orang turun mendekati dirinya pula.

Dia sedang menahan derita yang paling berat di seluruh dunia, menahan siksaan yang paling menakutkan.

Di bawah sinar bintang, mukanya tampak sedemikian pucat, muka nan pucat ini berlepotan air mata yang bercampur dengan darah, air mata darah.

Baru sekarang Be Hong-ling melihat jelas muka orang dan mengenalinya, saking kaget matanya terbelalak, mulut pun berteriak tertahan.

"Kau?"

Dia belum melupakan pemuda yang aneh ini, masih segar dalam ingatannya jalur-jalur merah di pipi orang bekas lecutan cambuknya itu.

Pho Ang-soat kini sudah melihatnya, sorot matanya hampa dan kalut, seolah-olah kuda liar yang terlepas dari pingitan.

Dia meronta-ronta ingin bangkit, namun kaki tangannya seperti dibelenggu oleh tali-temali besar yang tidak kelihatan, baru saja berdiri kembali terjungkal roboh.

Berkerut alis Be Hong-ling, tanyanya.

"Kau sakit?"

Pho Ang-soat mengertak gigi, buih kental mulai merembes dari mulutnya, mirip benar dengan buih kental yang meleleh keluar dari mulut kuda yang kehabisan tenaga itu.

Penyakit yang jahat dan menakutkan ini, sudah puluhan tahun menyiksa dirinya, di saat dia didesak dan kepepet oleh situasi dan tak bisa melampiaskan kobaran hatinya, terasa dirinya sudah tidak tahan lagi untuk melampiaskan keinginan hatinya, saat itulah penyakit aneh ini bisa kumat secara mendadak.

Selama ini pantang bila penyakitnya ini kumat dilihat orang, dia rela mati, lebih baik masuk neraka daripada keadaan dirinya yang mengenaskan ini dilihat orang.

Tapi pada saat yang fatal ini, kenyataan orang telah menyaksikan keadaan dirinya yang memalukan ini.

Dia mengertak gigi, dengan sarung goloknya dia menghajar dan memukul diri sendiri.

Dia amat benci pada diri sendiri.

Seorang laki-laki yang berwatak keras, laki-laki yang amat bangga dan angkuh, kenapa justru Thian menakdirkan dirinya terserang atau terhinggapi penyakit yang jahat dan memalukan ini?

Betapa kejam dan tak adil siksaan dan derita yang luar biasa ini.

Dia rela mati, namun dalam keadaan seperti ini untuk mati pun tak mudah lagi!

Sekali-kali tak boleh mati, tugas belum selesai.

"Agaknya Be Hong-ling sudah tahu penyakit ini, katanya lembut setelah menghela napas.

"Buat apa kau memukul dirimu sendiri? Penyakit ini takkan membikin kau mati, malah cepat sekali akan.."

Mendadak Pho Ang-soat mengerahkan seluruh kekuatannya mencabut golok, dampratnya dengan menggerung gusar.

"Enyah kau, enyah dari sini, kalau tidak kubunuh kau!"

Untuk pertama kali ini dia mencabut goloknya.

Golok yang cemerlang!

Cahaya golok menyinari mukanya, muka yang berlepotan darah.

Cahaya golok nan pucat membuat raut mukanya kelihatan lebih menakutkan, seperti sudah gila, seperti sedang menyeringai iblis.

Tanpa sadar Be Hong-ling menyurut mundur dengan perasaan ngeri, sorot matanya menampilkan rasa kejut, takut dan seram.

Ingin dia tinggal pergi, namun saat itu pula tiba-tiba kaki tangan Pho Ang-soat mengejang, lalu berkelejetan dan roboh meronta-ronta.

Seperti ayam disembelih, laksana seekor kuda liar yang terjebak masuk ke dalam perangkap, liar putus asa, sebatangkara dan tiada bantuan.

Golok itu masih tergenggam di tangannya, golok yang telanjang.

Mendadak dia ayun goloknya membacok paha sendiri, begitu keras bacokan ini, golok sampai amblas ke dalam kulit dagingnya.

Darah merembes keluar melalui batang golok, lambat-laun badannya yang kejang dan merontaronta mulai lambat dan mereda, akhirnya berhenti.

Kini tinggal gemetaran saja yang membuat keringat dingin berketes-ketes, dengan kedingingan dia meringkuk seperti trenggiling.

Seperti anak kecil yang meringkuk karena ketakutan!

Sorot mata Be Hong-ling yang takut dan seram tadi kini sudah berganti menaruh belas kasihan dan simpatik.

Di tengah kegelapan, dalam malam nan dingin, anak yang sebatangkara ....

Tak tahan dia menghela napas pelan-pelan, maju menghampiri, mengelus rambutnya sambil menghibur lembut.

"Ini bukan salahmu, kenapa kau harus menyiksa diri sendiri?"

Inilah kasih sayang bak seorang ibu kepada putranya tercinta.

Pemuda sebatangkara yang menderita ini menimbulkan rasa iba, membangkitkan jiwa keibuannya.

Air mata Pho Ang-soat bercucuran pula Betapapun dia kuat perkasa, angkuh dalam keadaan seperti ini, akhirnya terketuk juga sanubarinya.

Dengan bercucuran haru, mendadak dia berteriak.

"Aku memang salah, sebetulnya aku tidak patut dilahirkan, hakikatnya aku tidak harus hidup di dunia fana yang penuh siksa ini."

Teriakannya diliputi rasa kepedihan dan putus asa.

Tertusuk pula sanubari Be Hong-ling, rasa simpati dan haru, rasa kasihan laksana sebatang jarum menusuk hulu hatinya bersama.

Tak tahan lagi dia merangkulnya dalam pelukannya, bujuknya lembut.

"Kau tidak perlu bersedih, sebentar juga kau akan pulih kembali"

Tak kuasa dia meneruskan kata-katanya, karena air matanya pun berderai, tenggorokan serasa tersumbat.

Kini Pho Ang-soat sudah tenang, tidak lagi gemetar, napasnya justru semakin memburu.

Be Hong-ling bisa merasakan deru napasnya yang panas menembus pakaiannya menyentuh kulit badannya.

Maka dadanya lambat-laun terasa panas.

Rasa kasihan dan simpati yang tak terbatas, tanpa tedeng aling-aling lagi, sehingga dia lupa diri bahwa berada dalam pelukannya adalah seorang pria.

Memang inilah kebesaran jiwa kemanusiaan yang menalari kesucian hati untuk beriba kepada sesamanya, dan semua ini dia lakukan di luar kesadarannya.

Namun sekarang dia tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh, suatu perasaan aneh yang datangnya amat mendadak dan membakar sanubarinya.

Hampir saja dia mendorongnya, namun hati terasa berat.

"Siapa kau?"

Mendadak Pho Ang-soat bertanya.

"Aku she Be suara Be Hong-ling tiba-tiba terputus, karena dia pun merasakan deru napas si pemuda ini tiba-tiba juga seperti berhenti. Sungguh dia tidak habis mengerti kenapa bisa terjadi seperti ini Tiada orang yang dapat membayangkan, betapa besar kekuatan rasa dendam seseorang, adakalanya jauh lebih membara dan besar dari rasa cinta. Karena cinta itu lembut, hangat, laksana hembusan angin musim semi, air yang mengalir di tengah hembusan angin musim semi. Dendam justru amat meruncing dan tajam laksana sebatang golok, dalam sekejap mata dapat menikam ke dalam hulu hatimu. Pho Ang-soat tidak bertanya lagi, mendadak dengan kuat dia balas memeluknya, sekali raih pakaiannya ditariknya sampai sobek. Perubahan ini terlalu cepat dan mendadak, menakutkan lagi. Be Hong-ling teramat kaget dan bergetar sanubarinya, seolah-olah dirinya menjadi kaku, lupa berkelit, lupa menyingkir, juga lupa melawan. Jari-jari Pho Ang-soat yang dingin sudah merambat di dalam dadanya yang hangat, dengan sekuat tenaga menangkap .... Perasaaan aneh laksana sebilah pisau, jantung Be Hong-ling seolah-olah tertikam berlubang oleh tusukan pisau ini, ketakutan, malu dan marah seketika memuncak dalam rongga dadanya. Serempak dia melompat bangun, serta-merta kedua tangannya bekerja pergi datang menggampar muka Pho Ang-soat. Pho Ang-soat pun tidak berkelit atau melawan, kedua tangannya masih kencang memeluknya. Demikian keras belenggu kedua tangannya ini sehingga Be Hong-ling kesakitan dan napasnya pun menjadi sesak, tak tertahan air mata berderai, dengan mengepal kedua tangannya, sekuat tenaga ia menghajar hidung orang. Sebelah tangan Pho Ang-soat segera menangkap kepalannya. Maka dadanya yang terbuka membukit terbentang di tengah hembusan angin lalu, montok dan kenyal. Biji mata Pho Ang-soat sudah membara, seperti serigala yang rakus mengincar mangsanya, dia menubruk lagi serta meraih-raih dan berusaha memeluknya lebih kencang. Be Hong-ling mengangkat dengkulnya naik turun menghajar muka orang. Entah kenapa keduanya tidak bicara dan tidak bersuara, tiada yang menjerit, memangnya jeritan di saat-saat seperti ini di tempat ini pula tiada gunanya. Keduanya seperti binatang liar, bergumul, banting membanting, meronta dan meraih serta mengoyak. Lama kelamaan semakin banyak tempat-tempat telanjang di tubuh Be Hong-ling. Pho Ang-soat sudah kesetanan, sebaliknya Be Hong-ling saking gusar dan malu pun sudah menjadi kalap, juga panik, lambat-laun dia sudah kehabisan tenaga untuk melawan. Sekonyong-konyong mulutnya terbuka menjerit sekuat-kuatnya.

"Lepaskan, lepaskan aku ... kenapa kau harus berbuat seperti ini terhadapku? Kenapa" . Dia tahu dalam keadaan dan tempat seperti ini terang takkan ada orang yang bisa menolongnya, dia pun insyaf laki-laki yang sudah kesetanan ini takkan bakal melepas dirinya. Itulah ratap tangisnya terhadap Yang Maha Kuasa akan kemalangan yang menimpa dirinya. Di tengah deru napas Pho Ang-soat yang tersengal-sengal itu terdengar mulutnya berkata.

"Hal ini kan memang kau sendiri yang menginginkan, aku tahu kau pun mengharapkan."

Boleh dikata Be Hong-ling sudah lemas kehabisan tenaga, hampir saja dia sudah putus asa dan pasrah nasib, tidak meronta lagi.

Setelah mendengar kata-katanya ini, mendadak dia himpun seluruh kekuatannya, sekali pentang mulut sekuatnya dia menggigit pundak orang.

Saking kesakitan seluruh badan Pho Ang-soat seakan-akan mengkeret, namun tetap menindihnya dengan kencang, seolah-olah ingin menindihnya sampai jiwa nafsunya tertekan keluar.

Kini mulutnya sudah lepas dari pundak orang, mulutnya mengulum darah, mengunyah sekerat daging ...

mendadak dia muntah-muntah.

Karena muntah-muntah ini, tenaganya semakin habis dan tak kuasa melawan lagi, tepaksa mulutnya menjerit-jerit pula.

"Oh, ampun aku mohon kepadamu, kau tidak boleh berbuat seperti ini."

Boleh dikata Pho Ang-soat sudah hampir berhasil menodainya, mulutnya menyahut samarsamar.

"Kenapa tidak boleh, siapa bilang tidak boleh."

Tiba-tiba terdengar seorang menyahut dingin.

"Aku yang bilang! Kau tidak boleh!"

Suaranya dingin, tenang dan dingin, terdengar menggiriskan.

Jika kemarahan terlalu memuncak, ada kalanya malah dapat membuat diri sendiri berubah menjadi tenang dan tabah, bukankah golok biasanya pun dingin dan tenang.

Dalam pendengaran Pho Ang-soat, suara orang ini memang laksana sebilah golok.

Sebat sekali badannya segera menggelundung ke samping.

Waktu dia melenting berdiri, maka dia pun melihat Yap Kay di hadapannya.

BAB 10.

MEMBUNUH MENGHILANGKAN SAKSI Yap Kay berdiri di kegelapan, berdiri di bawah pancuran sinar bintang, seperti patung batu, dingin kaku seperti batu es.

Kini Be Hong-ling pun sudah melihatnya, dengan menggapai-gapai dia meronta bangun, terus menubruk ke dalam pelukannya, memeluknya kencang-kencang, pecahlah jerit tangisnya, saking senang dan haru serta ketakutan, sepatah kata pun tak kuasa diucapkan.

Yap Kay pun tidak bersuara.

Dalam keadaan seperti ini, bujuk dan menghiburnya akan merupakan kata-kata yang berlebihan.

Pelan-pelan dia tanggalkan jubah panjangnya untuk menutupi badan orang.

Di sebelah sana Pho Ang-soat sudah menggenggam goloknya, sekali membalik dia melotot kepada Yap Kay, sorot matanya entah marah atau amat malu.

Melirik pun Yap Kay tidak hiraukan tingkah orang.

Sambil mengertak gigi Pho Ang-soat mendesis.

"Aku harus membunuh kau."

Yap Kay tetap tidak menghiraukan ancaman orang.

Sekonyong-konyong Pho Ang-soat mengayun goloknya menubruk maju.

Kakinya yang sebelah itu memang cacad, malah kaki yang sebelah pun masih mengalirkan darah, tapi begitu dia mengembangkan ketangkasannya, sungguh tidak kalah gesit dan tangkasnya dari burung sriti, lebih beringas dari seekor serigala.

Tiada orang yang bisa menggambarkan betapa tangkas dan cekatan gerak-gerik dari seorang cacad seperti dirinya.

Tiada orang yang dapat melukiskan kecepatan serta perbawa sambaran goloknya!

"Aku harus membunuh kau!"

Tahu-tahu sinar golok sudah menyambar ke arah Yap Kay.

Tak nyana Yap Kay sedikit pun tidak bergerak.

Belum lagi golok mengenai sasaran, tiba-tiba sinar golok kuncup dan berhenti di tengah udara.

Sampai lama Pho Ang-soat melototkan matanya ke arah Yap Kay, tangan yang mengacungkan golok itu semakin goyah, akhirnya gemetar, mendadak dia membalik badan terus membungkuk dan muntah-muntah dengan hebatnya.

Yap Kay tetap tidak menghiraukan dia, melirik pun tidak, namun sorot matanya sudah menampilkan rasa iba dan simpati.

Dia cukup memahami jiwa dan keadaan pemuda ini, tiada orang lain yang lebih paham dan menyelami jiwa pemuda ini dari dia sendiri, karena dia pun pernah mengalami gemblengan dan derita yang sama.

Be Hong-ling masih sesenggukan.

Pelan-pelan dia menepuk pundaknya, katanya kalem.

"Kau pulang lebih dulu."

"Kau ... kau tidak mengantar aku?"

Tanya Be Hong-ling.

"Aku tidak bisa mengantarmu."

"Kenapa?"

"Aku perlu tinggal di sini beberapa kejap lagi."

"Biarlah aku pun."

"Kau harus segera pulang, tidurlah yang nyenyak, lupakan kejadian tadi, setelah besok Be Hong-ling menengadah mengawasi, sorot matanya memohon dan harus dikasihani, tanyanya.

"Besok kau akan menengok aku?"

Mimik sorot mata Yap Kay masih aneh, lama juga baru dia berkata pelan-pelan.

"Sudah tentu aku akan menengok kau."

Dengan kencang Be Hong-ling menggenggam tangannya, air mata bercucuran pula, katanya.

"Umpama kau tidak menengok aku, aku pun takkan menyalahkan kau."

Mendadak dia putar badan, sambil menutupi dadanya dengan kedua tangan dia berlari sekencang-kencangnya seperti gila.

Derap tapal kuda itu semakin jauh dan akhirnya tak terdengar lagi, alam semesta kembali diliputi ketenangan.

Karena muntah-muntah ini seluruh badan Pho Ang-soat seolah-olah meringkuk, napasnya masih ngos-ngosan.

Yap Kay tenang-tenang saja mengawasinya, setelah orang berhenti muntah-muntah, mendadak dia bersuara dingin.

"Sekarang kau boleh membunuhku."

Dengan badan terbungkuk, Pho Ang-soat melangkah beberapa tindak, diraihnya goloknya terus menerjang ke depan.

Sekaligus dia terseok-seok ke depan sampai cukup jauh baru berhenti, kini badannya sudah rada terangkat, kepalanya mendongak, selebar mukanya yang kotor kembali dibasahi air mata, keringat dan darah.

Yap Kay datang menghampiri, berdiri di belakangnya, tenang dan menunggu, katanya kemudian.

"Kenapa tidak kau turun tangan?"

Gemetar pula tangan Pho Ang-soat yang mencekal golok, mendadak dia membalik badan, suaranya serak.

"Kau memaksa aku?"

"Tiada yang memaksamu, kau sendiri yang memaksa dirimu, malah mendesaknya sedemikian rupa."

Kata-kata ini laksana cambuk melecut keras di badan Pho Ang-soat. Berkata Yap Kay lebih lanjut dengan lebih tenang.

"Aku tahu harus melampiaskan, kini tentu kau sudah merasa nyaman, lebih baikan."

"Apa pula yang kau ketahui?"

"Aku tahu kau pasti tidak akan membunuhku."

"Memangnya tidak perlu."

"Orang yang ingin kau sakiti mungkin hanya dirimu sendiri, karena kau…"

"Tutup mulutmu!"

Hardik Pho Ang-soat dengan sorot mata yang amat menderita. Yap Kay menghela napas, katanya pula.

"Walau kau sendiri merasa berbuat salah, tapi apa yang sudah salah itu bahwasanya bukan kesalahanmu."

"Memangnya salah siapa?"

"Seharusnya kau tahu siapa dia ... sudah tentu kau tahu."

Memicing kelopak mata Pho Ang-soat, tanyanya keras.

"Siapa kau sebenarnya?"

"Aku adalah aku, she Yap bernama Kay."

"Apa benar kau she Yap?"

Bengis suara Pho Ang-soat.

"Apa kau benar she Pho?"

Keduanya beradu pandang, seolah-olah ingin meraba perasaan orang, pikiran dan nalarnya, mengorek rahasia yang terbenam di dalam sanubari masing-masing.

Cuma kalau Yap Kay selalu tenang kendor dan dingin, Pho Ang-soat sebaliknya, laksana busur yang sudah ditarik kencang.

Lalu mereka tiba-tiba mendengar suatu suara yang aneh, seolah-olah derap kaki kuda yang berlari-lari di atas tanah berlumpur, seperti jagal binatang sedang memotong daging-daging korbannya.

Sebetulnya suara ini amat lirih, namun di tengah malam buta rata yang hening lelap ini, ditambah kuping mereka berdua teramat tajam.

Malah hembusan angin pun sedang meniup datang dari arah sana pula.

Tiba-tiba Yap Kay membuka suara.

"Aku kemari, sebetulnya bukan hendak mencarimu."

"Kau mencari siapa?"

"Orang yang membunuh Hwi-thian-ci-cu."

"Kau sudah tahu siapa dia?"

"Aku belum yakin, sekarang aku ingin menyusul ke sana dan menemukan dia,"

Ringan sekali badannya melejit terus bersalto sampai beberapa tombak jauhnya, begitu menancapkan kaki dia berhenti, agaknya sedang menunggu Pho Ang-soat.

Ragu-ragu sebentar, akhirnya Pho Ang-soat mengejar juga ke sana.

Yap Kay tertawa, katanya.

"Aku tahu kau pasti akan ikut ke sana."

"Kenapa?"

"Karena setiap peristiwa yang terjadi di sini, kemungkinan ada sangkut-pautnya dengan kau."

"Kau tahu siapa aku?"

"Kau adalah kau, kau she Pho bernama Ang-soat."

Angin badai melanda, suara aneh itupun berhenti.

Pho Ang-soat menutup kencang mulutnya tanpa bersuara lagi, sejak mula dia tetap bertahan dalam jarak yang sama di belakang Yap Kay.

Ginkang dan gerak badannya memang aneh, lincah dan tangkas, malah kelihatannya indah pula.

Di saat mengembangkan Ginkangnya, takkan ada orang yang bisa melihat bahwa kakinya itu timpang.

Yap Kay sedang memperhatikan, tiba-tiba dia menghela napas, ujarnya.

"Agaknya sejak kau dilahirkan, kau sudah lantas berlatih ilmu silat."

Kaku muka Pho Ang-soat, jengeknya.

"Dan kau?"

"Aku lain."

"Apanya yang lain?"

"Aku ini seorang jenius."

"Jenius biasanya cepat mampus."

"Dapat mati lebih cepat, bukankah suatu hal yang baik juga?"

Terpancar derita yang tak terhingga dari sorot mata Pho Ang-soat.

"Aku tidak boleh mati, tak boleh matiHatinya berteriak-teriak tak henti-hentinya Sekonyong-konyong dia mendengar Yap Kay berpekik lirih. Di tengah hembusan angin yang kencang ini, penuh diliputi bau amisnya darah, sinar bintang yang berkelip-kelip menyoroti setumpukan mayat-mayat yang bergelimpangan. Seolah-olah jiwa di tengah padang rumput ini tiada harganya sepeser pun, laksana kerbau dan kuda Di samping tumpukan mayat-mayat ini sudah digali sebuah lubang besar, galiannya belum dalam, di samping berserak tujuh delapan pacul dan sekop. Jelas setelah membereskan jiwa orang-orang ini mereka sudah siap mengubur mayat-mayat ini di sini, namun melihat orang datang, secara tergesa-gesa mereka meninggalkannya demikian saja. Siapakah pembunuhnya? Siapa pun tiada yang tahu. Tetapi yang terbunuh ternyata bukan lain adalah Buyung Bing-cu beserta sembilan pemuda ahli pedang yang selalu mengikuti dirinya itu. Pedang Buyung Bing-cu sudah terlolos keluar, namun kesembilan pembantunya itu satu pun belum ada yang sempat mengeluarkan senjata, tahu-tahu jiwa sudah melayang dengan percuma Yap Kay menghela napas, katanya seorang diri.

"Pembunuhan yang cepat sekali, pembunuhan yang keji!"

Jika pembunuh itu bukan seorang ahli, masakah orang dapat bekerja demikian dan begitu keji, menghabisi kesepuluh lawannya ini.

Pho Ang-soat menggenggam goloknya, agaknya dia mulai dihayati emosi pula, seolah-olah dia sudah jeri melihat orang mati, dan mengendus bau darah.

Yap Kay sebaliknya tidak peduli.

Dari dalam kantong bajunya dia k luarkan secuil kain, di atas cuilan kain ini, terdapat sebuah kancing yang masih terjahit kencang.

Cuilan kain berkancing ini ternyata semutu dan warna dengan pakaian yang dikenakan Buyung Bing-cu, demikian pula jenis kancingnya mirip satu sama lain.

Yap Kay menghela napas panjang, ujarnya.

"Ternyata memang dia!"

Pho Ang-soat mengerut kening, agaknya dia belum paham.

"Cuilan kain ini kuambil dari genggaman tangan mayat Hwi-thian-ci-cu, sampai mati dia masih tetap menggenggam kencang cuilan kain ini."

"Kenapa?"

"Karena Buyung Bing-cu adalah pembunuhnya! Tujuannya hendak memberitahu rahasia pembunuhan dirinya kepada orang lain."

"Memberitahu kepada kau? Supaya kau menuntut balas bagi dia?"

"Sekali-kali bukan hendak memberitahu kepadaku."

"Lalu dia hendak memberitahu kepada siapa?' "Kuharap aku bisa tahu."

"Kenapa Buyung Bing-cu harus membunuh dia?"

Yap Kay geleng-geleng kepala.

"Bagaimana dia bisa berada di dalam peti mati itu?"

Yap Kay geleng-geleng pula.

"Lalu siapa pula yang membunuh Buyung Bing-cu?"

Yap Kay menepekur sebentar, sahutnya.

"Aku hanya tahu orang itu membunuh Buyung Bing-cu untuk menyumbat mulutnya."

"Menyumbat mulut?"

"Karena pembunuh itu tidak ingin kematian Hwi-thian-ci-cu berada di tangan Buyung Bing-cu, yang penting dia tidak ingin orang lain dapat menemukan Buyung Bing-cu "

"Kenapa?"

"Karena dia takut orang akan menyelidiki hubungannya dengan Buyung Bing-cu."

"Kau tidak tahu siapa dia?"

Yap Kay tidak banyak berkata lagi, dia tenggelam dalam renungannya. Lama juga baru dia buka suara pula pelan-pelan.

"Tahukah kau, tadi siang Hun Cay-thian ada mencarimu?"

"Tidak tahu."

"Katanya dia mencarimu, namun setelah melihat kau, sepatah kata pun dia tidak bicara apaapa."

"Karena yang dia cari sebetulnya bukan aku."

"Benar, yang dia cari sudah tentu bukan kau, lalu siapakah yang dia cari? Siau Piat-li? Cui-long? Jika dia mencari kedua orang itu. kenapa dia harus membual?"

Bayu menghembus semakin kencang.

Pasir kuning memenuhi angkasa, rumput-rumput mengering.

Kalau langit cemerlang laksana jade hitam yang dihiasi berlian, indah semarak, bumi justru diliputi kegelapan dan kepedihan.

Sayup-sayup hembusan angin membawa ringkikan kuda, sehingga menambah suasana padang rumput yang lenggang ini terasa semakin seram.

Pelan-pelan Pho Ang-soat berjalan di depan, pelan-pelan pula Yap Kay mengikut di belakangnya.

Sebetulnya dia bisa memburu ke depan dan berjalan di muka, tapi tidak dia lakukan.

Di antara kedua orang ini seolah-¬olah terpaut sesuatu jarak yang aneh dan tak mungkin diraba, namun seolah-olah ada suatu ikatan pula secara aneh satu sama lain.

Jauh di padang ilalang sana muncul titik-titik sinar api.

Mendadak Pho Ang-soat berkata pelanpelan.

"Ada kalanya jika bukan kau membunuhku, mungkin aku yang membunuhmu."

"Ya, akan datang suatu ketika?"

Pho Ang-soat tetap tidak berpaling. Katanya sepatah demi sepatah.

"Mungkin hari yang menentukan itu akan segera tiba."

"Mungkin hari yang menentukan itu selamanya takkan ada."

"Kenapa?"

Yap Kay menghela napas, matanya menatap jauh ke arah titik api di ujung bumi sana, ujarnya.

"Karena bukan mustahil kita bakal sama-sama mati di tangan orang lain."

Rebah di atas pembaringan, bantal sudah basah kuyup oleh air mata Be Hong-ling.

Sampai sekarang sanubarinya masih belum bisa tenang, antara cinta dan benci, seolah-olah dua tangan yang kokoh kuat hampir mengoyak-ngoyak jantungnya.

Yap Kay dan Pho Ang-soat.

Dua orang yang berlainan dan serba aneh.

Padang rumput selama ini dalam keadaan tenang dan damai, sejak kedatangan kedua orang ini, segala urusan segera berubah menjadi suatu peristiwa besar yang amat menakutkan.

Siapa pun tiada yang tahu sampai kapan perubahan ini bakal berkembang, kapan akan berakhir.

Siapakah sebetulnya kedua orang ini?

Untuk apa mereka datang kemari?

Teringat adegan malam itu, di bawah pancaran sinar bintang-bintang, dia rebah meringkuk dalam pelukan Yap Kay.

Tangan Yap Kay begitu lembut dan manis, dia sudah siap mempersembahkan segala miliknya.

Tapi orang justru tidak mau menerimanya.

Dikatakan bila dia akan pulang, mengharap dia suka tinggal, sampai pun menahannya dengan kekerasan, dia pun tidak peduli lagi.

Namun dia membiarkan dirinya pergi begitu saja, kelihatannya dia licik, licin dan nakal, bejat lagi, tapi dia membiarkannya pulang tanpa mengusik seujung rambutnya.

Di suatu malam yang lain, di bawah pancaran sinar bintang-bintang yang sama, di atas tanah berpasir juga, dia justru bertemu dengan seorang laki-laki lain yang jauh berlainan.

Sungguh mati belum pernah terpercik dalam ingatannya bahwa Pho Ang-soat bisa melakukan perbuatan sekasar itu.

Bocah yang terlihat terasing dan sebatangkara ini, sekonyong-konyong berubah seliar dan sebuas binatang jalang.

Sebab apakah yang membuatnya berubah begitu rupa?

Bila teringat akan hal ini, hulu hati Be Hong-ling seketika sakit seperti ditusuk jarum.

Selama dibesarkan seusia sekarang, belum pernah dia berhadapan dengan dua laki-laki yang jauh berbeda seperti ini, namun aneh juga kedua orang ini, sama-sama sukar dapat dia lupakan, dua orang yang selama hayat di kandung badan bakal melekat dalam sanubarinya.

Dia tahu kehidupan jiwanya selanjutnya bakal ikut berubah lantaran adanya kedua orang ini.

Tak terasa air matanya bercucuran pula.

Di atas rumah terdengar derap langkah kaki yang berat mondar-mandir kian kemari, dia tahu itulah langkah kaki ayahnya.

Kebetulan Ban-be-tong-cu tinggal di atas kamar puterinya ini Seperti lazimnya setiap malam dia pasti akan turun dari loteng menengok putra-putrinya, namun dua malam berturut-turut seolaholah beliau sudah lupa sama sekali akan kebiasaan ini.

Dua hari sudah dia tidak pernah tidur, derap-derap langkah yang berat ini akan terus berdentam sampai terang tanah baru berhenti.

Lapat-lapat Be Hong-ling mulai merasakan akan keganjilan sikap dan kerisauan hati serta ketakutan ayahnya, kejanggalan-kejanggalan sebelum ini belum pernah dia lihat menghinggapi ayahnya.

Namun kerisauan dan ketakutan kini mulai pula merangsang sanubarinya.

Ingin dia menghibur ayahnya, demikian pula dia mengharap sang ayah bisa menghibur dirinya.

Tapi Ban-be-tong-cu seorang ayah yang disiplin dan keras, meskipun amat mencintai putrinya yang satu ini, namun hubungan antara ayah dan putri seolah-olah selalu dibatasi oleh sesuatu jarak yang tak bisa didekatkan.

Bagaimana Sam-ik?

Kenapa dua hari ini tidak menemui beliau?

Secara diam-diam Be Hong-ling turun dari pembaringan, dengan telanjang kaki, lalu dipakainya mantel, bercermin di depan kaca membetulkan rambutnya.

"Mencari Sam-ik untuk mengobrol? Atau masuk ke kota pula untuk mencari si dia?"

Sulit dia berkeputusan, dia tahu seorang diri tak boleh berdiam lama-lama di dalam rumah.

Hatinya amat gundah dan tidak tenteram.

Pada saat itulah, di keheningan suasana malam tiba-tiba didengarnya derap kaki kuda sedang mendatangi dari peternakan di luar sana.

Baca Juga: Bara Naga 6

Baca Juga: Bangau Sakti 19

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert