Eps 1 Peristiwa Merah Salju - Gu Long
Baca online Peristiwa Merah Salju - Gu Long
Cersil Peristiwa Merah Salju - Gu Long.
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com Peristiwa Merah Salju BIAN CHENG LANG ZI THE BLACK SABRE Gu Long (Khu Lung) PENDAHULUAN Dalam rumah itu tiada warna lain kecuali warna Hitam!
Gelap dan pekat.
Sinar matahari menjelang magrib yang menyorot masuk ke dalam rumah pun berubah warna menjadi abu-abu, menandakan firasat jelek.
Sebelum sinar matahari menyorot masuk, dia sudah berlutut di sana, berlutut di depan sebuah pemujaan warna hitam, di atas sebuah kasuran bundar yang hitam pula.
Kain tirai penutup pemujaan itu melambai turun, tiada orang bisa melihat barang apa yang berada di dalam pemujaan itu, takkan ada orang yang bisa melihat raut wajahnya pula.
Karena mukanya tertutup cadar hitam, jubah lebar yang panjang semampai menutupi seluruh badan, laksana gumpalan awan nan lembut, yang kelihatan hanya sepasang jari-jari tangan yang kering, kurus dan berkerut-kerut seperti cakar setan.
Kedua tangannya terangkap di depan dada, mulutnya komat-kamit, tapi terang bukan sedang berdoa memohon berkah dari Yang Maha Kuasa, namun mulutnya sedang mengutuk.
Mengutuk Yang Maha Kuasa, mengutuk sesama manusia, mengutuk segala makhluk hidup di alam semesta ini.
Seorang pemuda yang berpakaian serba hitam pula berlutut di belakangnya, seolah-olah sejak zaman dulu kala dia memang sudah berlutut di situ mengiringi orang, seolah-olah dia akan terus berlutut sampai dunia kiamat.
Cahaya matahari menyinari mukanya.
Raut wajahnya kelihatan cakap ganteng dan amat menonjol, tapi bentuk serta mimiknya laksana ukiran patung yang terbuat dari gumpalan salju dari puncak gunung tertinggi.
Sinar matahari semakin guram, angin menderu semakin kencang.
Mendadak dia berdiri, disobeknya kain tirai hitam itu, serta dirogohnya keluar sebuah kotak besi hitam dan tempat pemujaan itu.
Memangnya kotak besi hitam inikah barang yang dia puja-puja?
Dengan kencang dia memegang kotak itu, sampai urat-urat hijau di tangannya merongkol keluar, namun tangannya gemetar terus tak henti-hentinya.
Di atas altar pemujaan terdapat sebilah golok, sarung golok berwarna hitam legam, demikian pula gagang golok bercat hitam.
Mendadak dia mencabut golok, sekali ayun dia belah kotak besi itu menjadi dua.
Tiada barang lain di dalam kotak besi itu kecuali setumpuk bubuk merah menyala.
Segera dicomotnya segenggam bubuk merah, katanya.
"Kau tahu apa ini?"
Tiada orang tahu kecuali dia sendiri.
"Inilah salju, merah salju!"
Suaranya melengking tajam menggiriskan, seperti jeritan setan di tengah malam nan dingin.
"Waktu kau dilahirkan, salju ini sudah merah, merah berlepotan darah!"
Pemuda baju hitam itu menundukkan kepala. Dia maju ke depan si pemuda, pelan-pelan dia taburkan bubuk salju merah itu ke atas kepala, pundak dan badannya.
"Kau harus ingat, sejak sekarang kau adalah malaikat, malaikat penuntut balas! Peduli apa pun yang kau lakukan, tidak perlu kau menyesal, peduli dengan cara apa pun kau menghadapi mereka, memang sepantasnyalah kau lakukan!"
Suaranya mengandung keyakinan yang terdengar amat ganjil, seolah-olah kutukan malaikat iblis dan setan yang paling jahat di atas langit atau di bumi ini, seluruhnya sudah tersembunyi di dalam bubuk salju yang merah ini, kini seluruhnya sudah bersemayam dan terbenam di dalam raga si pemuda ini.
Lalu dia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, mulutnya menggumam.
"Untuk hari ini, aku sudah mempersiapkan diri delapan belas tahun lamanya, tepat delapan belas tahun, kini segala apa yang diperlukan sudah siap seluruhnya, tidak segera kau berlalu?"
"Aku....."
Pemuda itu masih tertunduk. Mendadak dia ayun dan mengacungkan golok itu tinggi-tinggi terus dibanting hingga menancap di lantai di depan si pemuda, bentaknya bengis.
"Lekas pergi, penggal kepala mereka dengan golok ini sebelum mereka mampus seluruhnya, jangan kau kembali menemui aku, kalau tidak, bukan Thian akan mengutuk kau, aku pun akan mengutukmu."
Hujan angin sedang mengamuk di luar.
Dengan mendelong dia mengawasi si pemuda yang pelan-pelan berjalan keluar, menuju kegelapan malam nan pekat, lama kelamaan bayangannya seolah-olah tertelan dan bersenyawa dengan tabir malam nan pekat itu.
Demikian pula golok hitam di tangannya seolah-olah sudah terbaur dalam kegelapan ini Tabir malam memang sudah menyelimuti seluruh jagat raya.
BAB 1.
ORANG YANG TAK MEMBAWA PISAU Dia tidak bersenjata.
Begitu masuk dilihatnya Pho Ang-soat!
Memang di sini sudah banyak orang, orang-orang dari berbagai kalangan dan beraneka ragam, tapi orang seperti dia, tidak pantas berada di tempat seperti ini.
Karena dia tidak setimpal.
Itulah suatu tempat yang aneh, tempat yang luar biasa.
Musim rontok hampir berlalu, tapi di sini hawa masih hangat sejuk seperti musim semi.
Kini malam sudah larut, tapi tempat ini masih terang benderang seperti siang hari bolong.
Di sini ada arak tapi bukan warung arak.
Banyak orang berjudi, tapi bukan tempat perjudian.
Di sini ada kalanya bisa kau cari perempuan yang dapat melayani segala kesenanganmu, namun di sini bukan sarang pelacur.
Bahwasanya tempat seperti ini tidak perlu memakai nama, namun ratusan li di sekitarnya, tempat ini amat terkenal, tempat yang yang paling ramai dikunjungi orang dari segala penjuru dunia.
Di tengah ruang besar tersebar rapi delapan belas meja.
Meja mana pun yang kau pilih dan kau duduk di sana, segala macam arak dan hidangan yang paling lezat, dan mahal dapat kau nikmati, jikalau kau masih ingin mencari kesenangan lain, maka kau cukup mendorong pintu.
Delapan belas pintu tersebar di seluruh pelosok ruangan besar ini.
Peduli pintu mana yang kau dorong dan kau masuk ke sana, pasti kau takkan kecewa, tak pernah menyesal telah mencari kesenangan di sini.
Di belakang ruangan besar ini, masih terdapat tangga tinggi yang menuju ke atas loteng.
Tiada orang tahu tempat apakah loteng tinggi di belakang ini, tiada orang yang pernah naik ke atas sana untuk melihat keadaannya.
Karena hakikatnya setelah berada di sini kau tidak perlu susah-susah naik ke atas loteng, di bawah sudah cukup terlayani dan menemukan apa saja yang kau inginkan.
Di ambang tangga terdapat sebuah meja persegi yang rada kecilan, menyanding meja kecil ini duduklah seorang laki-laki pertengahan umur yang berpakaian perlente dan berdandan amat menyolok sekali.
Agaknya dia selalu duduk menyendiri, di tempatnya ini, seorang diri bermain dadu.
Jarang orang melihat dia melakukan pekerjaan lain kecuali dadu di tangannya itu, tiada orang yang pernah melihat dia bangkit berdiri dari tempat duduknya.
Kursi yang diduduki lebar besar dan empuk.
Di sisi kursi tegak dua tongkat kayu merah.
Banyak orang pergi datang, hilir mudik di dalam ruangan besar ini, namun tiada seorang pun yang pernah menarik perhatiannya.
Apa pun yang dilakukan orang lain, seolah-olah tiada sangkutpautnya dengan dirinya.
Namun kenyataan bahwa dia adalah pemilik atau majikan dari rumah megah ini.
Suatu tempat yang aneh, umumnya memang dimiliki oleh seorang yang aneh pula.
Jari-jari Pho Ang-soat menggenggam sebilah golok.
Sebilah golok yang bentuknya amat aneh, sarung dan gagangnya serba hitam mengkilap.
Dia sedang makan, sesuap nasi sesuap lauk-pauk perlahan-lahan dia makan.
Karena dia makan menggunakan sebelah tangannya.
Tangan kiri menggenggam golok, peduli apa pun yang sedang dia kerjakan, selamanya tidak pernah dia lepaskan goloknya ini.
Golok nan gelap, baju yang hitam, biji mata kelam pula.
Hitam mengkilap.
Oleh karena itu meski tempat duduknya jauh dari pintu besar, tapi waktu Yap Kay melangkah masuk, sekali pandang matanya lantas melihat dirinya, melihat golok di tangannya pula.
Tapi Yap Kay sendiri selamanya tidak pernah membawa senjata.
Musim rontok hampir menjelang.
Malam semakin larut.
Di sepanjang jalan raya mi, hanya di atas pintu itu saja yang masih memasang sebuah lampion merah.
Sebuah pintu kecil dan sempit, sinar lampion remang menerangi tanah tandus di muka pintu, angin musim rontok menghembus keras menerbangkan pasir dan dedaunan kering.
Sekuntum kembang seruni yang sudah layu terguling-guling di atas tanah terhembus angin, entah darimana datangnya, tak tahu bakal kemana pula terhembus angin.
Bukankah kehidupan manusia mirip juga dengan sekuntum seruni layu ini, yang terima diombang-ambing terhembus angin ke sana kemari, memangnya siapa pula yang tahu akan nasib sendiri.
Oleh karena itu kenapa pula manusia harus bersedih dan berduka serta bergulat terhadap nasib sendiri?
Kalau seruni ini dimiliki seseorang, maka dia pun tidak akan terima nasibnya yang jelek tidak menentu itu, karena dia sudah pernah mengecap kehidupan nan gemilang dan semarak.
Pernah dipuja dan dipandang serta disayang oleh manusia.
Dan itu sudah lebih dari cukup baginya.
Pada ujung jalan yang sana, adalah padang rumput nan luas tak berujung pangkal, demikian pula pangkal jalan di sebelah yang lain adalah padang rumput yang tak berujung pangkal pula.
Maka lampion ini seolah-olah merupakan setitik pancaran sinar mutiara di tengah-tengah padang rumput ini.
Langit bersambung pasir kuning, pasir kuning mencapai ujung langit.
Seolah-olah manusia pun berada di pinggir langit.
Demikianlah keadaan Yap Kay seakan-akan dia baru datang dari ujung langit itu.
Menyusuri jalan panjang ini, pelan-pelan dari tempat kegelapan langsung menuju ke tempat yang disinari cahaya lampion itu Lalu dia duduk di tengah jalan, kaki pun diangkat ke atas.
Sepatu tinggi yang dipakai terbuat dari kulit domba, biasanya hanya penggembala ternak yang mondarmandir di padang rumput saja yang sering memakai sepatu tinggi semacam ini.
Seperti pula penggembala di padang rumput, sepatu inipun sudah mengalami pahit getirnya kehidupan, tahan panas tertimpa hujan, tahan segala siksa dan penderitaan hidup.
Tapi sekarang alas kaki sepatu ini sudah berlubang saking tipis dan sering tergesek dengan tanah, dengan sendirinya telapak kakinya pun ikut tergesek luka mengeluarkan darah.
Mengawasi telapak kakinya yang terluka, dia menggeleng-geleng kepala seolah-olah merasa tidak puas dan kurang senang.
Bukan tidak puas terhadap sepasang sepatu tingginya ini, tapi kurang senang dan tidak puas terhadap kakinya sendiri.
"Tapak kaki orang macamku ini, kenapa begitu tak berguna bisa pecah tergosok tanah seperti kaki orang lain?"
Dicomotnya segenggam pasir terus dituang ke dalam lubang di atas sepatunya.
"Kau begini tidak becus, biar ku bikin kau lebih tersiksa, lebih menderita."
Dia berdiri, sehingga pasir menggosok luka-luka di telapak kakinya.
Lalu dia tertawa, tawanya laksana secercah sinar matahari yang mendadak muncul di tengah-tengah kepulan debu pasir yang beterbangan memenuhi langit.
Lampion itu terombang-ambing ditiup angin.
Segulung angin menghembus datang, seruni layu itu terhempas terbang Sekali raih sigap sekali dia menangkap kembang layu itu.
Kelopak kembang sudah rontok tinggal beberapa lembar yang terbawa masih kokoh bertahan di atas tangkainya yang sudah mengering.
Ditepuk-tepuknya pakaiannya yang seharusnya sudah dibuang ke dalam tempat sampah, dengan teliti dan hati-hati dia selipkan tangkai kembang layu ini ke dalam sebuah lubang di atas bajunya.
Melihat sikapnya, seolah-olah pemuda hartawan bangor yang baru saja berdandan dengan perlente menyisipkan sekuntum kembang merah segar yang menyolok seharga ribuan tahil emas di atas jubah beludrunya.
Maka dia merasa puas akan segala sesuatunya mengenai keadaan diri sendiri.
Kembali dia tertawa lebar.
Pintu sempit itu tertutup.
Dengan mengangkat kepala dan membusungkan dada, dengan langkah lebar dia beranjak maju mendorong pintu.
Maka dia lantas melihat Pho Ang-soat.
Pho Ang-soat bersama goloknya.
Golok masih tergenggam di tangan yang pucat memutih, sebaliknya golok itu tetap hitam mengkilap.
Dari goloknya, lalu melihat tangannya, terakhir dari tangan Yap Kay melihat mukanya.
Muka yang pucat, biji mata yang hitam bening.
Terpancar senyuman pada mata Yap Kay, seolah-olah hatinya amat puas melihat segala sesuatu yang dipandangnya.
Dengan langkah lebar dia melangkah ke depan Pho Ang-soat, lalu duduk berhadapan.
Sumpit Pho Ang-soat tidak berhenti, sesuap nasi sesuap sayuran, makannya lambat, namun tidak berhenti atau melirik kepadanya.
Mengawasi orang, tiba-tiba Yap Kay tertawa, katanya.
"Selamanya kau tidak minum arak?"
Bukan saja tidak mengangkat kepala, Pho Ang-soat pun tidak menghentikan makannya.
Pelanpelan dia lalap sisa nasi di dalam mangkuknya, baru dia meletakkan sumpit dan mangkuk, sekarang dia mengawasi Yap Kay.
Senyuman Yap Kay laksana sinar matahari.
Sebaliknya roman muka Pho Ang-soat yang pucat itu tetap kaku tidak berubah, rada lama kemudian baru sepatah demi sepatah menjawab.
"Aku tidak minum arak."
"Kau tidak minum?"
Tanya Yap Kay.
"Bagaimana kalau kau traktir aku dua cangkir saja?"
"Kau ingin aku mentraktir dua cangkir arak? Kenapa?"
Tanya Pho Ang-soat.
Kata-katanya amat lambat, seolah-olah setiap patah katanya harus dia pertimbangkan dulu baru diucapkan, karena setiap patah kata yang diucapkan dari mulutnya, dia selalu berani bertanggung jawab.
Maka dia amat hati-hati, selamanya tidak pernah mengucap kata-kata yang salah.
"Kenapa?"
Yap Kay berkata.
"Karena aku merasa kau boleh dipandang. Kecuali kau, di tempat ini boleh dikata tiada seorang pun yang boleh dipandang."
Pho Ang-soat menunduk, mengawasi tangannya. Bila dia suka bicara, begitulah sikap dan mimiknya.
"Kau sudi tidak?"
Tanya Yap Kay. Pho Ang-soat tetap memandang tangannya sendiri.
"Inilah kesempatanmu yang paling baik, kalau kau sia-siakan kesempatan terakhir ini, apa kau tidak merasa sayang?"
"Tidak merasa sayang,"
Sahut Pho Ang-soat akhirnya sambil geleng-geleng kepala. Yap Kay tertawa lebar, katanya.
"Kau ini memang menyenangkan, bicara terus terang, kecuali kau, umpama orang lain berlutut dan minta-minta kepadaku, aku pun takkan sudi minum setetes araknya."
Suaranya lantang dan keras seolah-olah dia sedang bicara dengan seorang tuli, sehingga orang lain mau tidak mau pasti mendengar ucapannya.
Asal mendengar kata-katanya, siapa pun takkan bisa mengendalikan amarahnya.
Serempak beberapa orang yang ada dalam rumah ini sudah berdiri, orang yang bergerak paling cepat dan tangkas adalah seorang pemuda berpakaian abu-abu menyoreng pedang.
Pinggang pemuda ini ramping, pundaknya justru lebar, pedangnya dihiasi beberapa butir berlian yang kemilau, kuncir pedangnya pun merah dalu warnanya amat serasi dengan warna baju yang dipakainya.
Tangannya sedang memegangi sebuah cangkir yang penuh berisi arak, entah bagaimana dia bergerak, cuma putar badan tahu-tahu sudah menerobos tiba di hadapan Yap Kay.
Arak yang memenuhi cangkirnya, ternyata setetes pun tiada yang tercecer keluar.
Agaknya bukan saja pemuda ini berpakaian serba mewah, dalam latihan ilmu silatnya tentu juga tidak kal.ih mewahnya.
Sayang sekali Yap Kay tidak melihat polahnya, Pho Ang-soat pun tidak melihat.
Pemuda baju abu-abu itu menampilkan senyum lucu yang dibuat-buat, karena dia tahu seluruh perhatian hadirin dalam rumah ini semua tertuju kepada dirinya.
Pelan-pelan dia menepuk pundak Yap Kay, katanya.
"Aku traktir kau minum arak mau tidak?"
"Tidak!"
Sahut Yap Kay.
"Cara bagaimana baru kau mau? Bagaimana kalau aku berlutut meminta-minta kepadamu?' "Baik sekali!"
Ujar Yap Kay Pemuda baju abu-abu tertawa lebar, orang lain ikut tertawa pula. Yap Kay pun tertawa, katanya dengan memicingkan mata.
"Cuma walau kau berlutut di depanku, aku pun tidak mau minum."
"Kau tahu siapa aku?"
Tanya pemuda itu.
"Kurang jelas, sampai pun kau ini apakah manusia, aku sendiri juga kurang tahu."
Kaku senyuman lebar yang menghias muka si pemuda, jari-jari tangannya sudah mencekal gagang pedangnya.
"Sreng" , pedang sudah dilolosnya. Tapi yang dipegang hanya gagang pedang saja karena batang pedangnya masih ketinggilan di dalam sarungnya. Baru saja pedang terlolos sepertiga, mendadak Yap Kay mengulur tangannya menyentik, maka pedang panjang yang terbuat dari baja murni itu seketika patah. Tepat satu dim di bawah gagangnya, meski pedang tadi sudah terlolos keluar sebagian, namun karena terjentik patah, kutungan pedang itu kembali melorot masuk ke sarungnya. Mengawasi kutungan pedang di tangannya, pucat-lesi selebar muka si pemuda. Tiada orang yang tertawa lagi dalam rumah ini, bukan saja tak bisa tertawa, sampai pernapasan pun rasanya hampir berhenti, hening lelap, yang kedengaran hanya sebuah suara lirih saja. Suara dadu yang kelotokan. Apa yang terjadi barusan seolah-olah hanya dia seorang saja yang tidak tahu menahu. Walau Pho Ang-soat melihat, namun roman mukanya tetap tak menunjukkan mimik hatinya. Mengawasi orang, kata Yap Kay tertawa.
"Coba kau lihat, aku tidak membohongi kau, sulit bukan orang minta aku minum araknya."
Pelan-pelan Pho Ang-soat menganggukkan kepala, sahutnya.
"Kau tidak membohongi aku."
"Lalu kau mau traktir aku tidak?"
"Tidak,"
Pelan-pelan Pho Ang-soat geleng-geleng kepala, pelan-pelan pula berdiri dan membalik badan seolah-olah dia tak sudi membicarakan hal ini.
Tapi sebelum beranjak dia sempat berpaling kepada pemuda baju abu-abu itu, katanya kalem.
"Gunakanlah uangmu yang kau belikan pakaian untuk membeli pedang yang bagus, tapi lebih baik kalau selanjutnya kau tidak usah membawa pedang kalau pedang dibuat perhiasan, sungguh amat berbahaya."
Kata-katanya pun pelan jujur dan setulus hatinya.
Memang inilah nasehat yang berguna.
Tapi bagi pendengaran pemuda baju abu-abu ini, sungguh tak keruan rasa hatinya.
Mengawasi Pho Ang-soat, mukanya yang pucat seketika membesi hijau.
Pho Ang-soat sedang berjalan keluar pelan-pelan jalannya lebih lambat dari kata-katanya, malah gaya jalannya pun amat aneh.
Kaki kirinya melangkah dulu ke depan, barulah kaki kanannya pelan-pelan terseret maju di permukaan lantai.
"Ternyata dia seorang timpang."
Agaknya Yap Kay terkejut dan heran, merasa sayang dan kasihan pula.
Kecuali ini, jelas dia tidak punya perasaan atau maksud lainnya.
Kedua tangan pemuda baju abu-abu terkepal kencang, marah dan kecewa pula, sebetulnya dia mengharap Yap Kay merenggut Pho Ang-soat kembali ke tempat duduknya.
Meski kepandaian silat Yap Kay amat menakutkan, tapi orang timpang ini tidak perlu dibuat takut.
Sekilas pemuda ini memberikan lirikan mata, orang-orang yang duduk semeja dengan dirinya seketika bergerak, dua orang berdiri pelan-pelan, agaknva merekahendak mengejar keluar.
Pada saat itulah dalam rumah ini berkumandang sebuah suara yang aneh dan menusuk pendengaran.
"Kau tidak sudi ditraktir minum orang lain, sudikah kau mentraktir orang lain?"
Suaranya rendah dan halus, setiap orang mendengar dengan jelas.
Seolah-olah orang yang bicara ini berada di samping telinganya, namun dimana dan siapa yang bicara, tiada seorang pun yang tahu.
Akhirnya baru ada orang melihat, kiranya laki-laki pertengahan umur yang berpakaian perlente dan rapi itu tengah berpaling mengawasi sambil tersenyum lebar.
Yap Kay pun tertawa, katanya.
"Orang mentraktir aku atau aku mentraktir orang dua persoalan yang tidak sama."
"Benar, tidak sama"
Kata laki-laki pertengahan umur tertawa. Maka biar aku saja yang mentraktir, seluruh hadirin aku traktir."
Sikapnya begitu angker seolah-olah dia menganggap dirinya sebagai majikan atau pemilik tempat ini.
Pemuda baju abu-abu tiba-tiba mengertak gigi, bergegas dia berlari meninggalkan tempat ini.
Berkata Yap Kay pelan-pelan.
"Namun bila aku mentraktir orang minum, siapa pun tidak boleh tidak harus minum, harus minum sampai mabuk."
Pemuda baju abu-abu menghentikan langkahnya di ambang pintu, dadanya turun naik, serunya sambil berpaling ke belakang.
"Apa kau tidak tahu mentraktir orang minum arak perlu menggunakan uang."
"Uang? Coba kau lihat apakah orang seperti tampangku ini ada membawa uang?"
"Kau memang tidak mirip orang yang tidak punya duit,"
Jengek pemuda abu-abu.
"Untungnya beli arak belum tentu harus memakai uang perak, pakai kacang juga boleh."
Pemuda itu melengak, serunya.
"Kacang? Kacang apa?"
"Kacang seperti ini!"
Sahut Yap Kay kalem, entah sejak kapan tahu-tahu tangannya mencekal sebuah kantong, tangannya menyendal, kacang yang berada di dalam kantong seketika berjatuhan, seolah-olah dia menggunakan permainan sulap belaka.
Ternyata kacang yang dituang dari dalam kantong itu adalah kacang emas.
Mengawasi kacang-kacang emas yang bergelundungan memenuhi lantai, lama si pemuda baju abu-abu melongo, akhirnya dia mengangkat kepala dan berkata dengan tawa dibuat-buat.
"Hanya satu hal aku tidak mengerti."
"Apa-apa yang tidak kau ketahui, pasti aku tahu."
"Kau tidak mau orang mentraktir minum, kenapa kau malah ingin mentraktir orang, adakah hal ini berbeda?"
Dengan mengedip-ngedipkan mata, Yap Kay menghampiri, katanya lirih.
"Kalau ada anjing mau mentraktir kau makan tahi, kau mau tidak?"
Berubah muka si pemuda baju abu-abu, sahutnya.
"Sudah tentu tidak mau."
"Aku pun tidak mau,"
Ujar Yap Kay tertawa.
"tapi aku sering memberi makan anjing."
Waktu Pho Ang-soat berjalan keluar, entah sejak kapan di luar sudah bertambah dua buah lampion.
Dua orang laki-laki serba putih menenteng dua lampion ini, tegak lurus berdiri di tengah jalan.
Pelan-pelan Pho Ang-soat menutup pintu, dengan langkah pelan-pelan pula dia menuruni undakan pintu, melangkah ke depan, baru sekarang dia melihat di belakang kedua orang yang membawa lampion ini masih ada orang ketiga.
Lampion bergoyang-gontai terhembus angin, namun ketiga orang ini seperti patung batu, tegak tak bergerak.
Sinar lampion menyoroti badan dan muka mereka, dari rambut kepala sampai ke ujung kaki mereka, penuh ditaburi debu pasir kuning yang tebal, dipandang dalam keremangan malam, kelihatan keadaan mereka amat seram menakutkan dan misterius.
Bahwasanya Pho Ang-soat anggap tidak pernah melihat mereka, waktu dia berjalan pandangan matanya tertuju ke kejauhan di depan sana.
Entah mengapa sorot matanya kaku dingin tak berperasaan meski menampilkan emosi, terang bukan perasaan hangat, kasih sayang, malah kebalikannya menampilkan penderitaan, dendam dan kedukaan yang mendalam?
Pelan-pelan dia menyusuri jalan raya, laki-laki ketiga yang berdiri di belakang dua temannya yang membawa lampion, mendadak memapak maju, katanya.
"Harap tuan berhenti sebentar."
Pho Ang-soat lantas berhenti.
Orang minta dia berhenti, dia lantas berhenti, bukan saja tidak bertanya siapa dia, enggan bertanya apa alasan orang menyuruhnya berhenti.
Ternyata sikap orang ini amat sopan, tapi waktu badannya membungkuk, sorot matanya tetap mengawasi golok di tangannya, baju yang membelit pakaiannya tiba-tiba seperti mengkeret kencang, terang seluruh badannya sudah disiagakan berjaga dari segala kemungkinan.
Namun Pho Ang-soat tidak bergerak, golok di tangannya pun tidak bergeming, malah sorot matanya pun tertuju lurus ke depan ke tempat nan jauh.
Kegelapan memenuhi jagat raya itu.
Lama juga baru orang baju putih ini merasa lega dan mengendor ketegangannya, tanyanya sambil tersenyum.
"Maaf kalau Cayhe memberanikan diri bertanya, apakah hari ini tuan baru tiba di sini?"
"Ya,"
Sahut Pho Ang-soat. Hanya sepatah kata jawabannya, namun dia renungkan dulu sekian lamanya baru bersuara.
"Tuan datang darimana?"
Tanya orang baju putih. Pho Ang-soat menundukkan kepala, matanya mengawasi goloknya. Setelah menunggu lama, orang baju putih unjuk tawa dipaksakan pula, tanyanya pula.
"Apakah tuan segera hendak berlalu?"
"Mungkin."
"Mungkin juga tidak pergi?"
"Mungkin!"
"Kalau tuan sementara tidak pergi, Sam-lopan ingin mengundang tuan besok malam bertandang ke rumahnya untuk sesuatu keperluan."
"Sam-lopan?"
"Yang kumaksud tentunya adalah Sam-lopan dari Ban-be-tong."
Ternyata kali ini dia tertawa.
Sungguh menggelikan bahwa orang tidak kenal siapa sebenarnya Sam-lopan.
Tapi dalam pandangan Pho Ang-soat seolah-olah memang tidak ada sesuatu yang menggelikan di dunia ini.
Orang baju putih agaknya tak bisa tertawa lebih lanjut, lalu batuk-batuk dua kali dan berkata pula.
"Sam-lopan ada berpesan kepada Cayhe, betapapun harap tuan suka datang, kalau tidak....."
"Kalau tidak kenapa?"
Tanya Pho Ang-soat.
"Kalau tidak, Cayhe tidak bisa pulang memberikan pertanggung jawaban, terpaksa biar berdiri di sini saja tak usah pulang."
"Kau mau berdiri di sini?"
"Ya!"
"Sampai kapan?"
"Sampai tuan sudi menerima undangan."
"Baik sekali Di saat orang baju putih menunggu jawabannya, tak terkira dia malah putar badan tinggal pergi. Kaki kirinya melangkah lebih dulu, lalu kaki kanan diseret maju. Kaki kanannya itu seolaholah sudah cacad dan kaku mati rasa. Keruan berubah air muka orang baju putih, seluruh pakaian di badannya melembung kencang seperti ditiup angin, namun setelah Pho Ang-soat pergi jauh ditelan kegelapan, dia tetap berdiri di tempatnya tak bergerak. Segulung angin menghembus datang membawa taburan pasir, namun berkedip pun matanya tidak pernah bergerak. Orang di sampingnya yang menenteng lampion tak tertahan bertanya lirih.
"Membiarkan dia pergi begini saja?"
Orang baju putih mengencangkan mulut tidak bersuara, namun sejalur darah merembes keluar dari ujung mulutnya, pelan-pelan mengalir ke lehernya, namun cepat sekali noda darah ini menjadi kering terhembus ingin berpasir.
Pho Ang-soat tidak berpaling.
Asal dia berjalan ke depan, selamanya lidak pernah berpaling ke belakang.
Deru angin semakin keras, dalam gang sempit itu merupakan sederetan rumah-rumah gubuk rendah yang dibuat dari papan, seolah-olah hampir terhembus roboh oleh hempasan angin berpasir yang kencang ini.
Pho Ang-soat langsung menuju ke arah ujung, lalu berhenti di depan pintu sebuah rumah yang terakhir.
Begitu langkahnya berhenti, daun pintu lantas terbuka.
Tak terdengar suara orang, tiada sinar lampu, keadaan dalam rumah lebih gelap dari luar.
Tanpa bersuara Pho Ang-soat terus melangkah masuk, lalu dia membalik badan merapatkan pintu lalu dipalangnya pula.
Seolah-olah dia sudah biasa berada dalam kegelapan ini.
Dalam kegelapan sekonyong-konyong terulur sepasang tangan, memegang sebelah tangannya.
Itulah sepasang tangan yang halus, hangat dan lembut Pho Ang-soat berdiri kaku, dia biarkan saja jari-jari kedua tangan ini memegangi tangan kanan yang tidak memegang golok, maka terdengarlah sebuah suara seperti berbisik di pinggir telinganya berkata.
"Sudah lama aku menunggumu "
Itulah suara merdu, hangat merayu dan manis, suara seorang muda, gadis remaja yang genit. Pho Ang-soat mengangguk, lama juga baru pelan-pelan dia berkata.
"Memang sudah lama kau menunggu."
"Kapan kau datang?"
Tanya gadis itu.
"Hari ini, waktu magrib tadi."
"Kenapa tidak langsung kau kemari."
"Ya, tidak!"
"Kenapa?"
"Sekarang kan aku sudah berada di sini "
"Benar, sekarang kau sudah di sini, asal kau sudah tiba betapapun lamanya aku menunggu juga setimpal."
Berapa lama sebenarnya dia sudah menunggu? Siapa pula gadis ini? Kenapa dia menunggu di tempat ini? Tiada orang tahu, kecuali mereka sendiri, di dunia ini terang takkan ada orang yang tahu.
"Segalanya sudah kau siapkan?"
Tanya Pho Ang-soat.
"Semuanya sudah siap, apa pun yang ingin kau lakukan cukup asal kau katakan saja."
Pho Ang-soat tidak banyak bicara lagi. Suara gadis itu semakin lembut merangsang.
"Aku tahu apa yang kau inginkan, aku tahu. Jarijarinya menggeremet di kegelapan, akhirnya menemukan kancing-kancing pakaian Pho Ang-soat. Jarinya lincah dan mahir serta tangkas benar. Tiba-tiba Pho Ang-soat sudah telanjang bulat. Dalam rumah serapat dan pendek ini tiada angin, tapi kulit dagingnya seolah-olah kedinginan terhembus angin dingin sampai gemetar dan mengejang. Bagai bisikan impian yang merayu suara gadis itu berkata.
"Selama ini kau adalah seorang bocah, sekarang aku ingin kau menjadi seorang laki-laki sejati, karena ada kalanya sesuatu urusan hanya bisa dikerjakan oleh laki-laki sejati. Bibirnya hangat dan basah, dengan ringan dan bernafsu menciumi dada Pho Ang-soat. Begitupun jari-jarinya terus bekerja memancing dan menggelitik.... Akhirnya Pho Ang-soat melorot jatuh, roboh ke atas ranjang, namun golok di tangannya tidak pernah terlepas. Seakan-akan golok ini sudah merupakan darah daging raganya, menjadi salah satu bagian dari kehidupan jiwanya. Selamanya dia tidak akan terlepas, tidak akan berpisah. Sang fajar telah menyingsing, cahaya remang sudah menyorot masuk melalui sebuah jendela kecil di tempat yang tinggi. Mereka masih nyenyak dalam impian dan tenggelam dalam kenikmatan. Golok masih berada di tangannya. Bangunan rumah ini terbagi dua ruangan bagian belakang adalah sebuah dapur. Dari dapur terendus bau nasi yang harum. Seorang nenek yang sudah ubanan tengah menggoreng telur di atas wajan, tak lama kemudian goreng telur mata sapi sudah dia taruh di atas sebuah tatakan kembang. Nenek ini sudah peyot dan bungkuk, kulitnya kering keriputan, mungkin karena terlalu banyak bekerja berat, kedua tangannya itu sudah sedemikian kasar, jelek dan tak terurus lagi. Kamar bagian depan ternyata diurus begitu rapi, bersih dan nyaman, kasurnya baru, sepreinya baru saja diganti. Pho Ang-soat masih nyenyak dalam tidurnya. Tapi waktu si nenek melangkah masuk dari dapur dengan langkah hati-hati, tahu-tahu matanya sudah terbuka lebar. Tidak kentara rasa kantuk sama sekali dari kedua matanya. Dalam bilangan dua petak kamar rumah ini, tinggal mereka berdua saja yang ada. Kemanakah gadis yang genit dan romantis semalam itu? Memangnya dia pun sudah lenyap mengikuti datangnya fajar. Masakah dia memang silumana jadi-jadian di malam hari? Mengawasi si nenek yang melangkah ke dalam kamar, sedikit pun Pho Ang-soat tidak menunjukkan perubahan mimik muka, mulut terkancing, apa pun tiada yang dia tanyakan. Kenapa dia tidak mengajukan pertanyaan? Memangnya dia anggap pengalaman semalam sebagai mimpi indah belaka? Telur itu baru digoreng, masih terdapat tahu yang segar, lobak dan kacang yang direbus dengan garam. Nenek itu meletakkan tatakan di atas meja, katanya sambil mengunjuk tawa berseri.
"Hidangan pagi hanya lima sen uang perak, termasuk sewa kamar seluruhnya empat ketip tujuh sen, satu bulannya terhitung sepuluh tahil perak, harga seringan ini di daerah ini sudah termasuk tarip yang paling murah"
Pho Ang-soat meletakkan sekeping perak di atas meja, katanya.
"Aku tinggal tiga bulan, perak ini bernilai lima puluh tahil."
"Sisanya yang dua puluh tahil?"
"Setelah aku mati belikan peti mati."
"Kalau kau belum mati?"
"Simpan saja untuk beli peti matimu kelak"
Keluar dari gang sempit yang jorok ini, tibalah di jalan raya yang panjang itu.
Angin badai sudah reda Cahaya matahari membuat taburan pasir kuning di sepanjang jalan raya berkilauan seperti emas murni.
Jalan raya kini sudah banyak orang berlalu-Ialang, namun pandangan Pho Ang-soat bentrok ke arah laki-laki baju putih semalam itu.
Dia tetap berdiri di tempat semalam, sampai pun gayanya pun tidak berubah.
Pakaian yang putih bersih kini sudah berlepotan debu menguning, tapi raut mukanya tetap pucat lesu, pucat seperti tidak berdarah.
Secara diam-diam banyak orang yang berlalu-lalang melontarkan sorot pandangan aneh dan heran kepadanya, sorot mata yang menyala dan lebih tajam dari terik sinar matahari di musim rontok ini.
Kalau dia sudah tahan dan menerima keadaan dirinya semalam suntuk, maka dia pun tetap bertahan oleh pandangan orang banyak yang menusuk perasaan ini.
Memangnya sabar dan bertahan itu merupakan suatu siksaan, tapi sabar dan bertahan itu sendiri kadang kala merupakan suatu seni pula.
Dan laki-laki baju putih ini amat tahu akan seni semacam ini.
Memang sering orang yang tahu akan seni seperti ini bisa memperoleh keuntungan dan hasil gemilang sesuai dengan harapannya.
Lambat-lambat Pho Ang-soat sudah mendatangi ke arahnya, tapi sorot matanya masih tertuju lurus ke depan nan jauh sana.
Dari kejauhan mendadak hembusan debu pasir menguning yang bergulung-gulung mendatang, tujuh ekor kuda tengah dibedal kencang, laksana anak panah menerjang ke jalan raya ini.
Penunggangnya semua adalah ahli cekatan di punggung kuda, waktu membedal tiba di hadapan orang ini mendadak badannya mencelat tinggi dari pelana kudanya, bendera diacungkan miring, golok terus dilolos, ketujuh penunggangnya bergelantung di pinggir pelana, golok terayun sebagai pemberian hormat.
Itulah penghormatan yang paling sering dilakukan oleh kaum penunggang kuda.
Dari cara pemberian hormat ini, boleh diperkirakan bahwa laki-laki baju putih ini tentu mempunyai kedudukan yang tidak rendah.
Bahwasanya dia boleh tidak usah menghadapi siksaan diri seperti ini, tapi dia toh rela merasakan dan tetap sabar.
Siapa pun kalau dia rela menyakiti diri dan merendahkan diri seperti ini, maka dia pasti mempunyai suatu tujuan tertentu.
Lalu apa maksud dan tujuannya?
Sinar golok berkelebat menyinari raut mukanya yang kaku tak berperasaan, dalam sekejap mata ketujuh ekor kuda ini sudah membedal tiba di ujung jalan raya sana.
Sekonyong-konyong kuda yang terakhir meringkik keras dan melonjak berdiri dengan kedua kaki belakangnya, sekali penunggang kudanya menarik tali kekangnya, kuda itu lantas berputar membalik ke arah datangnya semula, laksana anak panah tiba-tiba membedal balik.
Penunggangnya mencelat naik dan berdiri di atas pelana, tangannya mengangkat tinggi sebatang tombak hitam dari besi panjang.
Begitu kuda menerjang lewat, orang itupun mengayun tangan dan tombak panjang itu meluncur bagai anak panah menancap tegak di tanah di samping laki-laki baju putih, balutan kain sutra warna putih yang tergulung di ujung pangkal tombak segera melambai tertiup angin, ternyata itulah sebuah panji segi tiga.
Di tengah panji putih ini tertulis lima huruf besar warna merah dara, berbunyi.
"Kwan tang ban be tong."
Panji besar ini berkibar-kibar dihempas angin pagi nan cerah, kebetulan mengalingi muka orang baju putih dari sorot matahari.
Dalam waktu sekejap kuda tunggangan itu ternyata sudah putar balik pula, mengejar temantemannya dan menghilang di ujung jalan lain meninggalkan lautan debu panjang.
Cahaya matahari pagi menyinari panji besar itu.
Puluhan pasang mata yang berada di pinggir jalan menjublek mengawasi panji besar itu, saking terpesona mereka lupa bersorak.
Sekonyong-konyong seseorang tertawa lepas dengan lantang, serunya.
"Kwan tang ban be tong, bagus benar Kwan tang ban be tong!"
BAB 2.
BAN BE TONG Lampion di atas pintu sempit itu sudah padam.
Seseorang tengah berdiri di bawah lampion itu, tertawa dengan menengadah, gelak tawanya menggetarkan debu yang melekat di atas lampion itu dan runtuh berhamburan, jatuh di mukanya.
Dia anggap sepi dan seperti tidak merasakan.
Memangnya menghadapi segala persoalan Yap Kay selalu bersikap acuh tak acuh, bersikap tak peduli.
Baju yang dia pakai tetap baju yang rombeng, kotor dan bau, yang dia kenakan semalam kemana pun dia pergi, di sana seolah-olah diliputi semacam bebauan busuk, bau kulit yang mengering atau bau mayat yang hampir membusuk.
Tapi berdiri di tempatnya, seakan-akan dia anggap setiap orang senang menikmati bau busuk yang keluar dari badannya.
Lubang bajunya yang merekah itu masih terselip sekuntum kembang, tapi bukan kembang seruni yang layu itu, namun sekarang sudah ditukar sekuntum kembang mutiara.
Entah kembang mutiara milik perempuan siapa yang diambilnya dari hiasan sanggulnya.
Dari pandangan ke tempat jauh, tiba-tiba Pho Ang-soat menarik sorot matanya menatap lekatlekat ke muka Yap Kay.
Tapi dia malah beranjak ke tengah jalan, menghampiri ke depan laki-laki baju putih dengan langkah sempoyongan, seperti orang mabuk hendak menangkap rembulan di permukaan air, namun sepasang matanya terpentang lebar, ketajaman biji matanya seperti biji mata Jengis Khan yang sedang memanah rajawali.
Lalu dengan memicingkan mata, dia mengawasi laki-laki baju putih, katanya.
"Semalam, agaknya kau sudah berada di sini."
"Ya,"
Sahut laki-laki baju putih.
"Sekarang kau masih di sini."
"Benar!"
"Apa yang kau tunggu di sini?"
"Menunggu tuan."
Yap Kay tertawa menyengir, ujarnya.
"Menunggu aku? Aku toh bukan perempuan cantik molek, buat apa kau menunggu aku?"
"Dalam pandangan Sam-lopan, gadis-gadis molek di seluruh jagat ini, tiada satu pun yang memadai seperti tuan sebagai Enghiong besar."
"Baru hari ini aku tahu bahwa aku ternyata seorang Enghiong, tapi memangnya orang macam apakah sebenarnya Sam-lopan itu?"
"Seorang yang simpatik, mengenal dan menghargai Enghiong."
"Bagus, aku senang terhadap orang demikian, dimana dia? Boleh aku suruh dia mentraktir aku minum arak."
Bahwa dia bilang hendak menyuruh orang mentraktir dia minum, seolah-olah dia sudah memberi muka kepada orang itu.
"Memangnya Cayhe mendapat tugas dari Sam-lopan,"
Demikian kata laki-laki baju putih ini.
"Kedatangan Cayhe mengundang tuan untuk menghadiri perjamuan kecil pada malam nanti."
"Perjamuan kecil aku tidak mau, sediakan arak yang banyak dan paling bermutu."
"Di dalam Ban-be-tong ada menyimpan tiga ribu gantang, tuan boleh minum sepuasnya."
Yap Kay bersorak kesenangan, serunya.
"Kalau demikian, kau tidak mengundang aku, juga aku pasti akan meluruk ke sana."
"Terima kasih"
"Kau sudah berhasil mengundang aku, kenapa tidak segera berlalu?"
"Tamu yang harus kuundang seluruhnya ada enam orang, sekarang baru lima orang yang menerima undangan."
"Maka kau belum menunaikan tugas dan tidak bisa pulang?"
"Ya."
"Siapa yang tidak mau menerima undanganmu?"
Tanpa menunggu jawaban laki-laki baju putih, tiba-tiba dia sudah tertawa lebar pula, serunya.
"Aku tahu siapa yang kau maksudkan, agaknya bukan saja dia tidak mau mentraktir orang minum arak, dia pun tidak mau menerima undangan orang lain untuk minum arak."
Laki-laki baju putih hanya menyengir kecut.
"Umpama kau berdiri tiga hari tiga malam di sini, aku berani tanggung kau tidak akan bisa menggerakkan hatinya, yang betul-betul bisa menarik perhatiannya di dunia ini mungkin hanya sesuatu saja."
Laki-laki baju putih terima menghela napas saja.
"Untuk menggerakkan hati orang macam dia, hanya ada satu cara saja."
"Mohon petunjuk."
"Peduli kemana pun ingin mengundangnya, terang dia tidak akan sudi menerima undanganmu, kau pancing dia pun tidak berguna. Tapi asal kau dapat menggunakan sesuatu cara yang menarik perhatiannya, umpama kau tidak mengundangnya, dia akan datang sendiri, malah harus pergi ke sana!"
"Sayang sekali Cayhe betul tidak tahu dengan cara apa baru aku bisa menarik perhatiannya."
"Boleh kau lihat caraku,"
Ujar Yap Kay, tiba-tiba dia putar badan, dengan langah lebar dia menghampiri Pho Ang-soat.
Agaknya Pho Ang-soat memang berdiri di sana sedang menunggu dirinya.
Yap Kay menghampirinya dalam jarak yang amat dekat, seolah-olah ada sesuatu rahasia yang hendak dia bicarakan, katanya lirih.
"Tahukah kau siapakah aku sebenarnya? Apa hubungannya dengan kau?"
"Kau siapa? Masakah punya sangkut-paut dengan aku?"
Raut mukanya tetap tidak berubah, namun jari-jari tangan yang mencekal gagang golok kelihatan menonjol urat-uratnya. Yap Kay tertawa, katanya.
"Kalau kau ingin tahu, nanti malam datanglah ke Ban-be-tong, di sana kuberitahu kepadamu."
Tanpa memberikan kesempatan kepada Pho Ang-soat untuk bicara, bergegas dia putar tubuh tinggal pergi, langkahnya pun cepat dan enteng seakan-akan kuatir Pho Ang-soat mengejarnya.
Namun bergerak pun Pho Ang-soat tidak bergeser dari tempatnya, kelopak matanya diturunkan, matanya mengawasi golok di tangannya, kelopak matanya semakin mengkeret dan akhirnya memicing sipit.
Sementara Yap Kay kembali ke hadapan laki-laki baju putih, katanya sambil menepuk pundak orang.
"Sekarang kau boleh pulang memberi laporan, malam nanti aku tanggung dia pasti duduk di dalam Ban-be-tong."
Laki-laki baju putih ragu-ragu katanya.
"Betulkan dia mau pergi?"
"Umpama dia tidak mau pergi, sudah menjadi tanggung jawabku, kau sudah tidak punya kewajiban apa-apa lagi di sini."
"Terima kasih!"
Kata laki-laki baju putih mengunjuk tawa lebar.
"Tak usah kau sungkan terhadapku, kau harus berterima kasih kepadamu sendiri."
"Terima kasih kepadaku sendiri?"
Seru laki-laki baju putih melengak.
"It-kiam-hwi-hoa Hoa Boan-thian yang sudah menggetarkan Kangouw dua puluh tahun yang lalu, ternyata sudi berdiri sehari semalam di sini untuk orang lain, kenapa aku tidak bisa membantu kesulitannya?"
Mengawasi Yap Kay, mimik laki-laki baju putih amat aneh, lama berselang baru dia berkata tawar.
"Agaknya banyak urusan yang tuan ketahui."
"Untungnya tidak terlalu banyak,"
Sahut Yap Kay tertawa. Laki-laki baju putih ikut tertawa, tersipu-sipu dia menjura, katanya.
"Selamat bertemu nanti malam "
"Ya, harus bertemu nanti malam!"
Sekali lagi laki-laki baju putih menjura, pelan-pelan dia membalik badan dicabutnya tiang bendera itu terus menggulungnya, mendadak dengan ujung tiang benderanya ini dia menutul tanah, tahu-tahu badannya sudah melambung tinggi.
Kebetulan dari jalan samping sana membedal keluar seekor kuda, maka tepat sekali badan laki-laki baju putih meluncur dan hinggap di punggung kuda.
Kuda kekar itu meringkik panjang, tahu-tahu kakinya sudah berlari pesat puluhan tombak jauhnya.
Mengawasi punggung orang yang pergi jauh, tiba-tiba Yap Kay menghela napas, gumamnya.
"Agaknya Ban-be-tong merupakan sarang naga gua harimau, jago-jago silat tak terhitung banyaknya ..."
Lalu diulurkannya kedua tangannya di kedua sisi sambil menggeliat terus berbangkit.
Waktu dia berpaling ke arah Pho Ang-soat, entah kapan bayangan Pho Ang-soat sudah tidak kelihatan.
Langit membiru cerah, pasir menguning terbentang luas.
Pasir kuning bersambung dengan langit, berpadu dengan pasir kuning.
Selepas mata memandang, jauh di ujung langit sana tampak selembar bendera putih yang besar sedang melambai-lambai di tengah angkasa dengan megahnya.
Kalau bendera itu seolah-olah berada jauh di ujung langit.
Demikian juga letak Ban-betong itu seolah juga berada di ujung langit.
Padang rumpat nan luas tak berujung pangkal, jalanan di sini terbuka oleh derap kaki kuda jauh memanjang, lurus lempang menuju ke arah kibaran bendera besar.
Di bawah bendera besar itulah Ban-be-tong berada.
Seorang diri Pho Ang-soat berdiri di tengah padang rumput nan liar ini, berdiri di pinggir jalan kuda, dari kejauhan dia mengawasi bendera besar itu, entah berapa lama dia berdiri, berapa lama dia mendelong mengawasi bendera itu?
Sekarang baru pelan-pelan dia menggerakkan badan.
Dari ujung langit yang berpadu dengan pasir menguning itu, tiba-tiba muncul setitik merah, bagaikan meteor jatuh sedang meluncur mendatangi.
Itulah seekor kuda gincu, seorang yang berpakaian serba merah.
Baru tiga langkah Pho Ang-soat beranjak dari tempatnya, didengarnya derap kaki kuda sudah berada di belakangnya.
Dia tidak berpaling, melangkah lagi beberapa tindak, kuda tunggangan itu tahu-tahu sudah menerjang lewat di sampingnya.
Penunggang kuda yang berpakaian serba merah itu sudah berpaling, sepasang matanya yang bening setajam gunting, sekilas menatap ke golok di tangannya, sigap sekali jari-jari tangannya yang halus dan mungil itu sudah menarik kekang menghentikan lari kudanya.
Kuda yang bagus, penunggangnya pun cantik molek, namun Pho Ang-soat seolah tidak melihatnya, kalau dia tidak sudi melihat, apa pun dianggapnya tidak terlihat.
Si cantik di atas kuda justru sedang mengawasinya dengan tajam, katanya tiba-tiba.
"Kaukah orang itu? Orang yang tidak sudi diundang oleh Hoa-siangcu?"
Rupanya cantik, suaranya pun merdu. Pho Ang-soat tidak mendengar. Bertaut alis si penunggang cantik ini, serunya lantang.
"Kau dengar, malam nanti jika kau tidak berani datang, kau ini kunyuk keparat, biar kubunuh kau buat umpan anjing."
Cemeti di tangannya mendadak segalak ular beracun dengan gencar melecut ke muka Pho Ang-soat. Pho Ang-soat tetap tidak melihatnya. Tiba-tiba ujung cemeti menukik turun terus menggulung enteng.
"Tar" , dengan ringan saja meninggalkan sejalur semu merah di kulit mukanya. Pho Ang-soat tetap seperti tidak melihat dan tidak merasakan, namun jari-jarinya yang mencekal golok otot-ototnya tiba-tiba merongkol kencang. Terdengar si cantik di atas kuda cekikikan, serunya mengolok.
"Ternyata kau ini manusia kayu."
Suara cekikikan semerdu keleningan itu semakin jauh, meninggalkan buntut debu panjang yang menguning di angkasa, sekejap saja yang kelihatan hanya setitik merah saja.
Baru sekarang Pho Ang-soat mengangkat sebelah tangannya meraba muka yang kena cemeti tadi, mendadak sekujur badannya bergetar dengan keras.
Hanya jari-jari tangannya yang mencekal golok saja masih kelihatan teguh dan kokoh buat tak bergeming sedikit pun.
Yap Kay masih berbangkis lagi beberapa kali.
Tiada orang memperhatikan, sedikitnya hari ini dia sudah berbangkis tiga empat puluhan kali.
Tapi dia justru tidak mau pergi tidur.
Dia malah kelayapan ke timur keluyuran ke barat, memandang kiri mengawasi kanan, seolah-olah terhadap segala sesuatu yang dipandangnya amat menarik perhatiannya Namun untuk tidur, sedikit pun belum timbul seleranya.
Saat itu dia baru saja keluar dari sebuah toko kelontong, baru saja dia menyeberang jalan hendak menuju ke warung di sebarang sana yang berjualan bakmi.
Dia suka mengobrol dengan berbagai orang dari berbagai kalangan, terasa olehnya setiap pemilik toko di daerah ini aneh-aneh semua.
Bahwasanya orang yang aneh tidak lebih dan tak lain tak bukan adalah dirinya sendiri, langkah kakinya tidak cepat, namun berlainan dengan gaya Pho Ang-soat.
Walau Pho Ang-soat seorang cacad, seorang timpang yang jalannya amat lamban, tapi di waktu berjalan badannya tetap tegap dan lurus, laksana sebatang tonggak.
Berlainan dengan Yap Kay, jalannya kemalas-malasan seperti kurang makan dan tak punya semangat, seolah-olah tulang-tulang sekujur badannya sudah copot semua, cukup sekali tutul kepalanya, badannya pasti akan terjungkal roboh.
Waktu dia menyeberang jalan itulah sekonyong-konyong seekor kuda tengah dibedal kencang menerjang jalan laksana anak panah lepas dari busurnya.
Itulah seekor kuda gincu warna merah menyala, penunggangnya secantik kembang Tho, termasuk kembang Tho yang berduri.
Belum lagi kuda itu menerjang tiba di depan Yap Kay, penunggangnya sudah mengayun cemetinya sambil membentak.
"Apa kau ingin mampus? Lekas minggir!"
Dengan kemalas-malasan Yap Kay mengangkat kepala, sekilas melirik kepadanya, agaknya untuk berkelit pun sudah amat enggan.
Terpaksa si cantik menarik tali kekang sekerasnya, namun cemeti di tangannya segera terayun dengan sengit.
Kali ini dia lebih tak kenal sungkan seperti menghadapi Pho Ang-soat tadi.
Cemetinya melecut dengan keras.
Tapi dengan ayal-ayalan Yap Kay mengangkat sebelah tangannya, tahu-tahu ujung cemetinya sudah terpegang olehnya.
Seolah-olah jari-jari tangan ini bisa bermain sulap secara ajaib, sembarang waktu dapat melakukan sesuatu yang pasti berada di luar dugaan.
Keruan merah padam selebar muka gadis baju merah ini, semerah gincu yang dia poleskan di bibirnya.
Yap Kay hanya menggunakan tiga jarinya menjepit ujung cemetinya, tapi walau dia sudah mengerahkan setaker tenaganya, jangan harap dia bisa menarik lepas cemetinya itu.
Sudah tentu kejut dan gugup si gadis bukan main, makinya.
"Kau ... apa yang kau inginkan?"
Dari ujung matanya Yap Kay mengerlingkan, sikapnya masih kemalas-malasan.
"Aku hanya ingin memberitahukan beberapa hal kepadamu."
Gadis baju merah menggigit bibir, serunya.
"Tidak mau kudengar."
Berkata Yap Kay tawar.
"Tidak mau dengar juga boleh, cuma seorang perawan besar kalau sampai terjungkal jatuh dari punggung kuda, tentu merupakan tontonan gratis yang paling menarik."
Sekonyong-konyong terasa oleh gadis baju merah segulung tenaga raksasa tiba-tiba menerjang ke arah dirinya melalui cemetinya yang tertarik kencang ini, terasa sembarang waktu dirinya memang bisa terjungkal roboh dari atas kuda, tak tahan segera dia berseru.
"Kau ada omongan apa? Mau kentut lekas kentut."
"Tidak pantas kau segalak ini,"
Ujar Yap Kay tertawa.
"kalau tidak galak, kau ini toh gadis cantik yang mungil. Tapi begitu menarik muka, kau mirip induk harimau yang buruk rupa dan membosankan."
"Masih ada apalagi?"
Seru gadis baju merah menahan amarah.
"Masih ada, peduli kuda gincu ini atau induk harimau, kalau menginjak orang sampai mampus, kau harus menebus jiwa orang."
Pucat muka gadis baju merah saking dongkol, serunya penuh kebencian.
"Sekarang kau boleh lepaskan tanganmu, bukan?"
Mendadak Yap Kay tertawa, katanya.
"Masih ada sebuah hal."
"Hal apa?"
"Laki-laki seperti aku ini, bertemu dengan perempuan macammu ini, kalau namamu saja tidak kutanyakan, lalu melepasmu pergi begini saja, bukankah aku terlalu menyepelekan diriku, juga memandang enteng dirimu juga."
Gadis baju merah mengejek dingin.
"Kenapa aku harus memberitahu namaku kepadamu."
"Karena kau tidak ingin jatuh dari punggung kuda."
Roman muka gadis baju merah bersemu kuning, biji matanya tiba-tiba berputar, katanya tibatiba.
"Baik, biar kuberitahu aku bernama Bibi, she Li, nah kau sudah harus lepas tangan bukan?"
Dengan tersenyum Yap Kay melepaskan tangannya, katanya.
"Bibi Li, nama ini..... Walau dia sadar, tapi kuda dan penunggangnya sudah melonjak ke depan, terus berlari bagai mengejar angin. Terdengar gadis baju merah tertawa lebar di punggung kudanya, serunya.
"Sekarang kau sudah mengerti bukan, aku adalah Bibi Li dari kau cucu keparat ini."
Agaknya dia kuatir Yap Kay mengejar datang, maka setelah puluhan tombak jauhnya, tiba-tiba badannya mencelat naik melambung tinggi bagai burung walet meluncur masuk ke dalam pintu sempit kecil di pinggir jalan itu.
seolah-olah bila dia sudah masuk ke dalam pintu sempit ini pasti tiada orang yang berani mengganggu dan menyakiti dirinya lagi.
Delapan belas meja di dalam pintu itu masih kosong melompong Hanya sang majikan yang aneh dan misterius itu tetap duduk di meja kecil di bawah tangga, orang itu sedang main dadu.
Hari sudah siang.
Siang hari bolong tempat ini biasanya tidak pernah melayani pengunjung.
Dagangan yang diusahakan pemilik rumah ini bukan usaha terpandang dan boleh dipuji, namun tata-tertib dan peraturan yang berlaku di sini amat keras.
Maka setiap orang yang berada di sini harus tunduk dan patuh akan peraturan ini.
Laki-laki pertengahan umur ini sudah memelihara rambut uban di kedua samping atas telinganya, jalur-jalur keriput yang menghias mukanya itu entah mengandung pahit getir, suka ria dan betapa banyak rahasia, namun kedua jari-jari tangannya terpelihara begitu baik laksana jarijari seorang gadis pingitan.
Begitu mentereng pakaian yang dikenakan, boleh dikata sudah terlalu mewah, terlalu berkelebihan.
Di atas meja ada cangkir arak terbuat dari emas, arak yang terisi di dalam cangkir berwarna kuning mengkilap seperti batu zamrud.
Saat itu dia sedang meletakkan lembaran kartu satu per satu di alas meja menjadi formasi Patkwa.
Begitu menerobos masuk gadis baju merah lantas meringankan langkahnya, pelan-pelan dia maju menghampiri sambil menyapa.
"Paman kau baik-baik saja."
Begitu berada di dalam rumah ini, gadis yang liar, binal dan nakal ini seketika berubah menjadi sopan-santun tahu aturan dan lemah lembut.
Laki-laki itu tidak mengangkat kepala berpaling ke arahnya, cuma dengan tersenyum dia mengangguk, sahutnya.
"Duduklah!"
Gadis baju merah lantas duduk di hadapannya, seolah hendak bicara, tapi lantas dia mengulapkan tangan, katanya.
"Tunggu sebentar."
Ternyata dia mau dengar kata, duduk di tempatnya dan menunggu dengan sabar.
Laki-laki itu masih tetap mengamati kartu-kartu yang sudah berbentuk Patkwa di atas meja, mukanya bersih dan angker, kurus rada keriput, seperti sudah kenyang tertimpa panas dan hujan, sikapnya kelihatan amat prihatin dan perasaan semakin berat, lama kemudian baru dia menengadah sambil menghirup napas panjang, roman mukanya yang semula cerah seketika diliputi rasa kuatir, hilanglah selera mainnya.
Tak tahan bertanya gadis baju merah.
"Benarkah dari lembaran-lembaran kartu ini kau dapat meramalkan banyak persoalan?"
"Ehm,"
Laki-laki itu mengangguk. Berkedip-kedip mata gadis baju merah.
"Hari ini apa saja yang dapat kau ramal?"
Laki-laki itu mengangkat cangkir emasnya, lalu menghirup seteguk, sahutnya tawar.
"Ada kalanya sesuatu urusan lebih baik tidak kau ketahui saja."
"Kalau tahu kenapa sih?"
"Rahasia alam sulit diraba, kalau kau tahu kemungkinan malah kau bisa tertimpa malapetaka."
"Kalau tahu ada petaka, bukankah bisa berusaha menghindar?"
Pelan-pelan laki-laki itu menggeleng kepala, sikapnya amat prihatin, katanya.
"Setiap petaka belum tentu selalu dapat dihindarkan, dan yang ini jelas tidak mungkin dihindari. Lama juga gadis baju merah mengawasi kartu-kartu di atas meja itu, mulutnya menggumam.
"Kenapa aku tidak bisa melihat apa-apa dari kartumu ini?"
"Justru kau tidak melihatnya, maka aku lebih gembira dari kau."
Sesaat lamanya gadis baju merah terlongong pula, akhirnya berseri tawa.
"Urusan ini aku tidak peduli, aku hanya ingin tanya kau, malam ini kau datang ke rumah kami tidak?"
"Malam ini?"
Laki-laki ini mengerut kening.
"Ayah bilang, nanti malam ayah ada mengundang beberapa tamu yang istimewa, maka beliau pun ingin mengundang paman hadir dalam perjamuan kecil itu, sebentar lagi kereta akan datang menjemput."
Laki-laki itu termenung sebentar, katanya.
"Mungkin lebih baik aku tidak hadir saja."
Cemberut muka gadis baju merah, katanya.
"Sebenarnya ayah juga tahu kau tidak akan mau menerima undangannya, tapi dia menyuruh aku kemari, susah-susah aku kemari malah di tengah jalan aku digoda oleh setan cilik, hampir saja aku mati saking jengkel."
Terdengar seorang menanggapi dengan tertawa.
"Setan kecil tak pernah menggoda bibi centil, malah bibi centil hendak menendang mampus setan cilik."
Gadis baju merah seketika menjublek di tempatnya.
Entah sejak kapan Yap Kay datang dengan kemalas-malasan ia menggelendot di depan pintu, cengar-cengir mengawasi dirinya.
Seketika berubah roman muka di gadis.
"Berani kau terobosan kemari?"
"Yang tidak boleh terobosan ke tempat seperti ini bukan aku, tapi adalah kau."
Gadis baju merah membanting kaki, serunya.
"Paman, tidak lekas kau usir dia keluar, coba kau dengar apa-apaan ucapannya itu."
Laki-laki itu tertawa, katanya.
"Hari hampir gelap, lekas kau pulang saja, supaya ayahmu tidak gelisah menunggu kau pulang."
Kembali gadis baju merah melongo, tiba-tiba dia membanting kaki sekeras-kerasnya terus menerobos lewat di samping Yap Kay.
Langkahnya terlalu tergesa-gesa, hampir saja dia tersungkur jatuh kesandung palang pintu.
Yap Kay tertawa geli, katanya.
"Bibi centil berjalanlah dengan baik, kalau sampai tersungkur mampus, tiada orang yang bisa mengganti jiwamu lho."
Gadis baju merah terus menerjang keluar.
"Blang" , daun pintu dia tutup sekeras-kerasnya, tibatiba dia menarik daun pintu sedikit terbuka dan menongolkan kepala ke dalam sambil mengolokolok.
"Terima kasih atas perhatian cucu baik, bibi kamu takkan mati terjatuh."
Habis kata-katanya daun pintu ditutup pula sekeras-kerasnya, terdengar seruan panggilan di luar pintu, disusul derap kuda berlari mendatangi, sebentar berhenti di depan pintu, kejap lain suaranya sudah menghilang di ujung jalan.
Yap Kay menghela napas, mulutnya menggumam dengan tertawa getir.
"Kuda gincu yang jempolan, induk harimau yang cantik pula."
Laki-laki itu tiba-tiba menyeletuk dengan tertawa.
"Hanya separo benar kata-katamu."
"Yang mana tidak benar?"
"Orang-orang di sekitar sini memberi julukan kepada kuda dan pemiliknya itu, orangnya digelari harimau gincu, kudanya dijuluki budak gincu."
Yap Kay tertawa. Laki-laki itu melanjutkan.
"Dia itulah puteri tunggal tuan rumah yang akan mengadakan perjamuan nanti malam."
Yap Kay kaget, serunya.
"O, jadi dia ini puteri Sam-lopan dari Ban-be-tong?"
Laki-laki itu manggut-manggut, sahutnya tersenyum.
"Maka kuanjurkan nanti malam kau harus lebih hati-hati, jangan sampai pahamu itu tergigit oleh harimau gincu itu."
Yap Kay tertawa lebar, mendadak dia dapati laki-laki di hadapannya ini berjiwa lapang terbuka seperti lahirnya yang sebatang kara dan misterius, maka dia bertanya.
"Siapakah sebenarnya nama Sam-lopan itu?"
"She Be, Be Hong-ling."
"Be Hong-ling, kenapa dia pakai nama perempuan?"
"Ayahnya bernama Be Khong-cun, puterinya bernama Be Hong-ling."
Sepasang matanya yang tajam seolah-olah bisa menembus hati orang sedang mengawasi Yap Kay, katanya pula sambil tersenyum.
"Yang benar kau ingin ketahui tentunya bukan nama ayahnya, tapi nama harum puterinya."
Yap Kay bergelak tawa, serunya.
"Semoga tuan rumah yang mengadakan perjamuan nanti malam, seperti juga pemilik tempat ini senang humor dan gampang mulut, tidak sia-sia Yap Kay menempuh perjalanan ini."
"Yap Kay?"
"Benar, Yap berarti daun, Kay berarti terbuka atau boleh juga diartikan senang dan riang."
"Benar-benar sesuai namanya dengan pribadi orangnya."
"Lalu siapakah nama majikan di sini?"
Laki-laki itu menepekur sebentar, sahutnya.
"Cayhe Siau Piat-li."
"Siau bunyi daun terhembus angin, Piat berarti berpisah, Li berarti rawan, apa benar begitu maksudnya?"
Tanya Yap Kay.
"Apakah tuan merasa namaku ini mengandung firasat jelek?"
Tanya Siau Pait-li.
"Firasat jelek belum tentu, cuma ... lapat-lapat membuat orang merasa hambar dan menusuk perasaan saja."
"Tiada perjamuan yang tak bubar di dunia ini, kehidupan manusia takkan bisa selamanya tidak akan berpisah dalam suasana yang menyedihkan, kelak tentunya tuan akan pergi meninggalkan tempat ini, kenapa pula Cayhe tidak akan demikian, maka kalau mau dipikirkan secara seksama, namaku inipun terlalu umum sekali."
Yap Kay bergelak tawa pula, ujarnya.
"Tapi sejak zaman dulu kala, hanya berpisahanlah yang sering mengakibatkan jiwa melayang, tapi tuan menggunakan nama yang amat mengetuk hati orang, sudah seharusnya kau paham akan segalanya."
Siau Piat-li ikut tertawa lebar, katanya.
"Benar, memang harus paham segalanya."
Lalu ditenggaknya habis secangkir araknya, mengawasi cangkir yang dipegangnya, terlongong sekian lama dan mendadak berkata pula keras "Sebenarnya dalam kehidupan manusia umumnya, peristiwa yang benar-benar dapat mengetuk sukma orang bukan hanya perpisahan saja, namun adalah berkumpul."
"Berkumpul?"
"Kalau tidak berkumpul, masakah ada perpisahan?"
Lama mulut Yap Kay komat-kamit, akhirnya menghela napas, mulutnya mengigau.
"Benar, kalau tak berkumpul, mana bisa berpisah ...? Kalau tidak berkumpul, mana mungkin harus berpisah.....?"
Berulang kali dia senandungkan katakatanya ini, seperti orang linglung lagaknya.
"Oleh karena itu tuan pun salah, maka seharusnya kau pun sudah paham akan selanjutnya."
Yap Kay maju menghampiri, menuang arak terus ditenggaknya habis sekali tegukan, kembali mukanya berseri riang, katanya.
"Jikalau tiada kesalahan tadi, masakah ada secangkir arak ini? Oleh karena itu kesalahanmu itu sendiri ada kalanya juga bermanfaat."
Tiba-tiba derap roda kereta dan ringkik kuda mendatangi, akhirnya berhenti di luar pintu. Siau Piat-li menarik napas panjang, katanya.
"Baru saja bicara soal berpisah, agaknya memang sudah tiba saatnya berpisah, kereta dari Ban-be-tong sudah datang menyambut tamunya."
"Tapi kalau tiada perpisahan, masakah bisa berkumpul?"
Yap Kay meletakkan cangkir dengan tertawa, tanpa berpaling lagi dengan langkah lebar dia beranjak keluar. Mengawasi langkah orang menghilang di luar pintu, Siau Piat-li menggumam seorang diri.
"Kalau tiada perpisahan, masakah bisa berkumpul pula? Cuma harus disayangkan, ada kalanya suatu perpisahan selamanya takkan bisa berkumpul kembali. Sebuah kereta besar warna hitam dengan delapan kuda yang berjajar memanjang dua-dua berhenti di depan pintu. Warna hitam yang gelap mengkilap, seseorang berdiri tegak menyambut kedatangan tamu. pakaiannya serba putih sebersih salju Di atas kereta ada tertancap miring selembar bendera sutra putih dengan tulisan "
Kwan-tang-ban-be-tong"
Dari tulisan merah darah yang menyolok. Baru saja Yap Kay menghampiri, orang baju putih segera menjura sambil menyapa dengan tertawa.
"Tuan tamu yang tiba pertama kali, silakan naik ke atas kereta."
Usia orang ini lebih muda dari Hoa Boan-thian, namun sekitar empat puluhan tahun, mukanya bulat, kulitnya putih halus memelihara sedikit kumis dan jenggot, tanpa tertawa orang yang memandang mukanya sudah akan merasa simpatik dan ingin berkenalan padanya.
Mengawasi orang, Yap Kay bertanya.
"Kau sudah kenal aku?"
"Cayhe belum kenal."
"Kalau belum kenal, darimana kau tahu kalau aku salah satu tamu dari Ban-be-tong kalian?"
Laki-laki baju putih ini tertawa, katanya.
"Tuan baru saja datang, namun kegagahan tuan sudah tersebar luas di seluruh pelosok kota, apalagi kalau bukan seorang Enghiong seperti tuan, masakah kau bisa mengenakan kembang mutiara milik perempuan tercantik di seluruh jagat ini?"
"Kau kenal akan asal-usul kembang mutiara ini?"
"Semula kembang mutiara ini adalah aku yang memberikan,"
Sahut orang baju putih, tanpa memberi kesempatan Yap Kay bicara, tiba-tiba dia menghela napas dan menyambung dengan tertawa getir.
"Cuma harus dibuat sayang, meski aku ini menganggap diriku terlalu romantis, toh aku belum berhasil mendapat hadiah senyuman manis dari si cantik itu."
Yap Kay tertawa, katanya menepuk pundak orang.
"Dulu aku pun pernah disanjung oleh orang, tapi baru pertama kali ini selama hidupku aku mendapat puji sanjung sedemikian menggembirakan hati."
Bilik kereta itu lebar, bersih dan nyaman, sedikitnya bisa memuat duduk delapan orang Tapi sekarang hanya Yap Kay seorang yang berada di dalamnya.
Waktu bertemu dengan Hoa Boan-thian tadi dia sudah merasa Ban-be-tong merupakan sarang naga gua harimau, setelah melihat laki-laki baju putih yang ini lebih besar keyakinannya, bukan saja pihak Ban-be-tong pandai menilai orang, mereka pun pandai menempatkan seseorang pada jabatan yang sesuai.
Siapa saja kalau bisa mendapat pembantu orang seperti ini dalam menunaikan tugasnya dengan tak kenal lelah dan setia, maka orang itu tentulah seorang tokoh yang luar biasa.
Pikiran Yap Kay jadi ingin lekas-lekas tiba di sana, ingin melihat dan berhadapan orang macam apakah sebenarnya Sam-lopan itu, maka tak tahan dia bertanya.
"Mana tamu-tamu yang lain?"
"Kabarnya ada seorang tamu lain tuanlah yang menanggung kedatangannya,"
Sahut laki-laki baju putih ini.
"Kau tidak usah kuatir, orang ini pasti akan hadir, malah kutanggung dia akan bekerja menurut caranya sendiri, yang kutanya adalah empat tamu yang lain."
Laki-laki baju putih ini termenung, sahutnya kemudian.
"Sekarang seharusnya mereka sudah tiba."
"Tapi kenyataan mereka sekarang belum datang."
Tiba-tiba laki-laki baju putih ini tertawa pula, katanya.
"Oleh karena itu kami tidak perlu menunggu yang harus datang, mereka akan berangkat sendiri."
Tabir malam sudah menjelang.
Padang rumput nan belukar ini kelihatan sepi, lebih luas dan besar.
Bendera Ban-be-tong sudah tertelan kegelapan malam yang tak menentu ujung rimbanya.
Laki-laki baju putih duduk di hadapan Yap Kay, mukanya dihiasi senyuman lebar.
Senyuman mekar di mukanya kelihatannya selalu tidak akan pudar dan tak pernah merasa lelah.
Derap kaki kuda membuka kesunyian laksana bunyi guntur di kejauhan.
Tiba-tiba Yap Kay menghela napas, katanya.
"Kalau malam ini hanya aku seorang yang hadir dalam pesta undangan ini, mungkin selanjutnya aku tidak akan bisa pulang ke rumah lagi."
Orang baju putih seperti tertusuk perasaannya, namun dia tetap tersenyum dibuat-buat.
"Ah, mana boleh berkata begitu?"
"Kabarnya di dalam Ban-be-tong ada disimpan tiga ribu gantang arak paling bagus, kalau hanya aku seorang saja yang menghabiskan, bukankah aku bisa mampus terlalu banyak minum air katakata?"
"Untuk hal ini tuan boleh tidak usah kuatir, di dalam Ban-be-tong tidak sedikit jago-jago minum yang punya takaran besar, umpama saja Cayhe sendiri suka menemani tuan minum beberapa cangkir."
"Kalau benar banyak jago-jago silat tangguh di dalam Ban-be-tong, maka jiwaku jelas takkan selamat lagi."
Senyuman laki-laki baju putih kelihatan seperti kaku sebentar, katanya.
"Setan arak sih memang ada, mana ada jago-jago silat kosen segala?"
"Yang kumaksud memangnya jago-jago dalam minuman keras, begitu banyak orang di sana kalau satu per satu mereka mengajak aku minum, luar biasa sekali bila aku tidak mabuk sampai mati."
"Tujuan Sam-lopan mengundang tuan tidak lebih hanya sekedar berkenalan dan bersahabat dengan Enghiong sejati, meski beliau menyuruh orang menyuguh arak, tidak lebih hanya sekedar basa-basi belaka, masakah para tamu dilolohnya sampai mabuk."
"Tapi aku toh merasa takut juga."
"Takut apa?"
"Takut kalian meloloh aku,"
Ujar Yap Kay tertawa.
Laki-laki baju putih ikut tertawa.
Tepat pada saat itulah di tengah padang rumput nan luas terbuka itu lapat-lapat seperti kedengaran semacam lagu nyanyian yang aneh, nyanyian sedih dan memilukan seperti orang menangis dan meratap, mirip pula doa kutukan yang amat janggal kedengarannya, tapi setiap patah kata nyanyiannya kedengaran dengan jelas.
"Langit bergoncang, bumi bergetar. Mata mengalirkan darah, bulan tidak bersinar. Sekali masuk Ban-be-tong. Golok memotong pisau, manusia putus ususnya! Langit bergoncang, bumi bergetar. Air mata bagai darah, orang putus ususnya. Sekali masuk Ban-be-tong, jangan harap kau bisa pulang ke kampung halaman."
Begitu pilu dan seperti ratapan jiwa, terasa suara nyanyian ini bergema di udara terbuka di tengah padang rumput nan luas ini, seolah-olah mengandung doa kutukan, seperti pula setan gentayangan yang sedang meratapi nasibnya di tengah malam buta.
Lama kelamaan berubah air muka orang baju putih, mendadak dia mengulur tangan membuka daun jendela, katanya.
"Maaf, permisi sebentar."
Belum habis kata-katanya, badannya sudah menerobos keluar lewat jendela, sekali berkelebat bayangannya telah menghilang entah kemana. Kusir kereta segera mengayun cambuknya.
"Tar!" , kedelapan kuda penarik kereta meringkik bersama, serempak menghentikan langkah dan kereta pun berhenti. BAB 3. GOLOK TAK TAJAM, MANUSIA TANPA PERASAAN Begitu melesat tiga tombak jauhnya, ujung kaki laki-laki baju putih menutul bumi dengan gaya It-ho-jiong-thian (burung bangau menjulang ke langit), bagai seekor belibis badannya melambung tinggi meluncur ke depan sana. Tegalan belukar di tengah padang rumput sepi hening, di tengah kegelapan malam, melulu kelihatan reflek sinar pasir kuning yang kemilau, mana ada bayangan manusia. Gema suara nyanyian yang memilukan itu seolah-olah masih mengalun terbawa angin lalu. Angin badai sedang menderu. Terdengar suara laki-laki baju putih tengah membentak di kejauhan sana.
"Agaknya saudara sengaja hendak cari gara-gara, kenapa tidak berani muncul."
Suaranya rendah dan berat, tapi tenaganya penuh dan berisi, setiap patah katanya bergelombang terdengar sampai jauh.
Lenyap beberapa patah kata-katanya itu kembali laki-laki baju putih ini sudah berlompatan dengan tangkasnya puluhan tombak jauhnya, tahu-tahu bayangannya sudah menyelinap hilang ke dalam semak belukar di pinggir jalan sana.
Angin menghembus sehingga rumput-rumput liar itu tertiup menari-nari laksana deru ombak samudra yang mengalun turun naik.
Tak kelihatan bayangan orang, juga tidak mendapat jawaban.
Laki-laki baju putih menjengek dingin.
"Baik, asal kau sudah berada di sini, coba buktikan sampai kapan kau bisa menyembunyikan diri."
Lalu dia menengadah melihat cuaca, badannya tiba-tiba bersalto mundur, beruntun tujuh delapan kali lompatan, sigap sekali badannya sudah meluncur turun di pinggir kereta.
Yap Kay masih duduk di dalam kereta dengan menggelendot kemalas-malasan, jari-jarinya mengetuk-ngetuk berirama dinding kereta, sementara mulutnya menirukan nyanyian itu, Begitu masuk Ban-be-tong, golok memotong pisau, orang putus ususnya, jangan harap bisa pulang ke kampung halaman ..."
Matanya terpicing, mukanya seperti tersenyum simpul, seolah-olah dia amat tertarik dan sedang menikmati baik-baik syair lagu ini.
Setelah membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam kereta, laki-laki baju putih mengunjuk tawa dibuat-buat, katanya.
"Entah orang gila darimana yang sembarang menyanyikan lagu sinting. Harap tuan jangan percaya begitu saja."
"Peduli benar atau tidak arti nyanyiannya ini, sedikit pun tidak ada sangkut-pautnya dengan aku, kudengar atau tidak bukan menjadi soal."
"Oh?"
Laki-laki baju putih bersuara dalam tenggorokan.
"Coba lihat,"
Kata Yap Kay lebih lanjut sambil menepuk-nepuk badannya.
"Bukan saja aku tidak membawa golok, ususku mungkin sudah luluh dan membusuk oleh kerasnya arak, apalagi aku sudah berkelana sampai di ujung langit, empat lautan menjadi rumahku, hakikatnya aku tidak punya kampung halaman, jika Sam-lopan betul-betul hendak menahan aku di Ban-be-tong, memangnya kebetulan malah bagi aku."
Laki-laki baju putih bergelak tawa, katanya.
"Tuan memang seorang yang lapang dada, periang dan suka humor, orang lain terang tak bisa memadai."
Yap Kay mengedip-ngedipkan matanya, katanya tersenyum.
"Yan hong hwi ho Hun Cay-thian memiliki tiga macam Ginkang tunggal yang tiada taranya, bukankah sama saja tiada orang lain yang bisa memadai?"
Sekilas laki-laki baju putih ini melongo, lekas sekali dia sudah bergelak tertawa, serunya.
"Puluhan tahun sudah orang she Hun menyingkir dari kalangan Kangouw, sungguh tak nyana sekali pandang tuan masih bisa mengenali diriku, sungguh pandangan yang tajam luar biasa."
"Pandanganku memang tidak begitu baik, tapi Tui-jian-tui-gwat-hwi hun sek (gaya mendorong jendela mencapai bulan mega terbang), It ho ciong thian-koan-hun-sek (bangau menjulang ke langit menonton awan) dan Pat poh kan sian cui hun sek (delapan langkah mengejar tonggeret mengudak mega). Ginkang puncak tinggi yang jarang terlihat di kalangan Kangouw, aku masih bisa membedakannya dengan baik."
"Ah, sungguh harus disesalkan,"
Ujar Hun Cay-thian (mega di atas langit).
"Kepandaian selihai itu kalau masih harus disesalkan, rasanya Cayhe harus melompat turun dari kereta ini untuk bunuh diri saja."
Berkilat biji mata Hun Cay-thian, katanya.
"Tuan masih semuda ini, tapi bukan saja punya pengalaman dan pengetahuan yang luar biasa, malah berbagai ilmu silat dari berbagai cabang dan golongan dapat diketahui dengan baik, sebaliknya sampai detik ini Cayhe masih belum tahu sedikit pun asal-usul tuan, bukankah harus disesalkan?"
"Memangnya aku ini gelandangan yang menjadikan empat lautan sebagai tempatku berteduh, jika tuan bisa mengetahui asal-usulku, barulah boleh terhitung aneh."
Hun Cay-thian sedang menepekur masih ingin dia mengajukan pertanyaan, mendadak dari luar didengarnya tiga kali ketukan pintu entah siapa yang mengetuk pintu di luar.
"Siapa?"
Bentak Hun Cay-thian.
Tiada penyahutan, tapi dari luar kembali terdengar ketukan pintu tiga kali.
Hun Cay-thian mengerut alis, mendadak dia mendorong terbuka pintu kereta.
Pintu kereta terpentang dengan menjeblak lebar, semak-semak belukar di pinggir jalan seperti terbang mundur ke belakang, umpama orang-orangan dari kertas pun takkan mungkin bisa tergantung di luar pintu, apalagi badan manusia yang masih hidup.
Tapi hanya manusia yang masih hidup saja yang bisa mengetuk pintu.
Dengan muka bersungut Hun Cay-thian menjengek dingin.
"Hanya manusia yang paling goblok saja sudi melakukan perbuatan tak sopan ini."
Dia sudah hendak menarik daun pintu, sekonyong-konyong sebuah tangan semampai turun dari atap kereta.
Sebuah tangan yang kurus kering berwarna kekuningan, jari-jari tangannya malah mencekal sebuah mangkuk pecah.
Maka terdengarlah suara aneh melengking bukan laki-laki bukan perempuan berkata di atap kereta.
"Ada arak tidak, lekas tuang secawan untukku, aku sudah hampir mampus kekeringan."
Setelah melihat tangan ini, ternyata Hun Cay-thian malah tertawa, katanya.
"Untung di dalam kereta ada kusimpan arak, kenapa Loh-siansing tidak turun saja?"
Pelan-pelan dua kaki yang berlepotan lumpur yang mengenakan sepatu rumput yang sudah rombeng dan berlubang alasnya, tengah bergoyang-gontai mengikuti gerakan kereta yang berguncang di tengah jalan raya.
Yap Kay jadi kuatir, takut orang ini terpeleset jatuh dari atap kereta.
Tak nyana tiba-tiba bayangan orang berkelebat, tahu-tahu orang itu sudah berada di dalam bilik kereta, dengan tegak dan lurus duduk di hadapan Yap Kay.
Matanya berkedip-kedip setengah mengantuk setengah mabuk, dengan acuh tak acuh mengawasi Yap Kay.
Sudah tentu Yap Kay pun sedang mengawasi dia.
Tampak orang ini mengenakan pakaian jubah Siucay, bukan saja dicuci bersih, malah tidak kelihatan ada tambalan.
Dipandangnya dulu tangannya, lalu beralih ke kakinya, siapa pun takkan menyangka orang bisa mengenakan pakaian seperti itu.
Semakin dipandang, Yap Kay merasa orang ini sungguh lucu dan menarik.
Loh-siansing ini mendadak melotot, katanya.
"Kenapa kau menatap aku? Kau kira bajuku ini hasil curian?"
Yap Kay tertawa, sahutnya.
"Kalau benar hasil curian, tolong kau beritahu dimana tempatnya, biar aku pun ke sana mencuri sepotong."
Loh-siansing masih melotot, tanyanya.
"Sudah berapa lama kau tak pernah salin pakaian?"
"Belum begitu lama, kira-kira belum tiga bulan!"
Seketika bertaut alis Loh-siansing, katanya.
"Tak heran di sini seperti ada bau udang busuk yang menyesakkan napas."
Yap Kay balas bertanya.
"Berapa hari kau salin pakaian?"
"Berapa hari baru salin pakaian? Celaka dua belas, setiap hari sedikitnya aku salin dua tiga kali."
"Kalau mandi?"
"Kalau mandi memang berabe,"
Kata Loh-siansing sungguh-sungguh.
"aku tidak sembarang mencuci badan."
"Kau ini umpama botol baru diisi arak baru, sebaliknya aku ini bagai botol lama diisi arak baru, jadi kami berdua boleh dikata setahil tiga uang, kenapa pula harus dibedakan antara kau baru dan aku lama, kau wangi atau aku busuk?"
Lama juga Loh-siansing mengamatinya, tiba-tiba biji matanya jelilatan, mendadak berjingkrak bangun, serunya lantang.
"Bagus sekali, lucu benar, perumpamaanmu memang tepat, kau ini tentu seorang sekolahan yang pintar, hayolah, lekas keluarkan araknya, setiap kali berhadapan dengan anak sekolahan, kalau tidak minum dua cangkir, tentu aku bisa jatuh sakit keras."
Hun Cay-thian tersenyum, katanya.
"Mungkin kalian memang belum kenal, Loh-siansing adalah tokoh kenamaan dari Bu-tong, orang Kangouw yang paling kenyang duduk di bangku sekolahan pula, nama aslinya Loh Loh-san Loh-toasiansing."
"Cayhe Yap Kay,"
Yap Kay memperkenalkan sendiri.
"Aku pun tidak peduli kau ini Yap Kay atau Yap Pit, cukup asal kau ini orang sekolahan yang pintar, biar kuiringi kau minum tiga cangkir."
"Jangan kata hanya tiga cangkir, tiga ratus cangkir juga boleh."
"Benar, hanya seorang ahli yang sekali minum bisa menghabiskan tiga ratus cangkir, janganlah sia-siakan kesempatan sebaik ini, mana araknya, hayolah!"
Dari bawah tempat duduk yang tersembunyi Hun Cay-thian mengeluarkan dua buah guci arak, katanya tertawa.
"Sam-lopan sedang menunggu, harap Loh-siansing jangan mabuk dulu di atas kereta ini."
Mendelik mata Loh Loh-san, katanya.
"Peduli amat dengan Sam-lopan atau Su-lopan, yang kuhormati bukan Lopan (majikan), aku hanya sungkan terhadap anak sekolahan yang pintar, marilah kita habiskan secangkir dulu!"
Baru tiga cawan masuk perut, mendadak "Trang", cawan rongsokan itu tiba-tiba jatuh menggelundung ke pojok kereta.
Waktu Hun Cay-thian berpaling, dilihatnya Loh Loh-san sudah meliuk lemas meringkuk di atas tempat duduknya, ternyata sudah mabuk.
Tak tertahan Yap Kay tertawa geli, katanya.
"Laki-laki ini cepat benar mabuknya."
"Tahukah kau, laki-laki ini masih punya sebuah nama yang lain, yaitu Sam-bu Siansing."
"Apa Sam-bu Siansing?"
"Hidung belang tapi tidak punya keberanian, senang arak tidak punya takaran, suka judi selamanya tidak pernah menang, serba tidak maka dinamakan Sam-bu, maka ia sendiri lantas menamakan dirinya Sam-bu Siansing,"
Demikian Hun Cay-thian menerangkan.
"Kalau dia memang seorang sekolahan yang romantis apa sih halangannya? Tiada ruginya juga dia punya nama itu."
"Sungguh tak nyana tuan pun bisa sejiwa dan sepandangan dengan laki-laki ini."
Yap Kay mendorong daun jendela, katanya sambil menarik napas.
"Sampai kapan baru kita akan sampai di Ban-be-tong?"
"Sekarang sudah tiba?"
Yap Kay melongo, katanya.
"Masakah sekarang sudah sampai?"
"Belum sampai kelewatan, di sini pun sudah merupakan perbatasan milik Ban-be-tong."
"Berapa sih besarnya Ban-be-tong?"
Hun Cay-thian tertawa, ujarnya.
"Meski tidak begitu besar, tapi dari umur ke barat, umpama kau naik kuda yang paling cepat dan membedalnya sekencang mungkin, dari pagi-pagi kau berangkat sampai hari magrib baru kita akan tiba di ujung barat sana."
Yap Kay menghela napas.
"Kalau begitu apakah Sam-lopan hendak mengajak-kami-makan nyamikan pagi."
"Tempat penyambutan Sam-lopan berada tak jauh di depan sana,"
Sahut Hun Cay-thian.
Memang di tengah hembusan angin malam yang sepoi-sepoi dari kejauhan sayup-sayup sudah terdengar suara ringkik kuda dari perbagai penjuru.
Bila kau melongok keluar melalui jendela, di tempat nan jauh sana sudah kelihatan cahaya api di depan sana.
Tempat penyambutan atau perjamuan Ban-be-tong, tentunya di tempat yang diterangi cahaya api itu.
Cahaya api terang benderang, kereta berhenti di depan sebuah pagar kayu.
Pagar kayu setinggi tiga tombak.
Bagian dalam yang dikelilingi pagar tinggi ini merupakan bangunan rumah-rumah yang luas dan besar, entah berapa banyak.
Sebuah pintu gerbang berdiri megah di kegelapan malam, tiang bendera yang berdiri tegak di belakang pintu gerbang ini entah berapa pula tingginya.
Tapi bendera di pucuk tiang sudah diturunkan.
Dua baris laki-laki berseragam putih berjajar di dua samping pintu gerbang, empat orang di antaranya tersipu-sipu memburu maju membuka pintu.
Begitu menginjakkan kaki di atas bumi, Yap Kay langsung menggeliat sambil menghirup napas sedalam-dalamnya, matanya lantas dijelajahkan ke sekelilingnya, terasa betapa megah dan luas bangunan di sini, sekali-kali takkan bisa dibayangkan oleh seorang penduduk kota di daerah luar perbatasan di sini.
Hun Cay-thian menghampiri ke dekatnya, katanya tersenyum.
"Bagaimana menurut pendapat tuan mengenai tempat ini?"
"Aku hanya merasa seorang laki-laki sejati memang harus mempunyai pambek, Sam-lopan bisa memiliki apa yang dia miliki sekarang, memang tidak sia-sialah hidupnya."
"Memangnya seorang yang luar biasa, tapi bisa mendapatkan apa ying dia miliki sekarang, memangnya bukan suatu perjuangan yang gampang "
Yap Kay manggut-manggut, tanyanya pula.
"Bagaimana dengan Loh-siansing?"
"Dia sudah roboh, tak bisa berjalan lagi."
Berkilat biji mata Yap Kay, mendadak dia tertawa pula, katanya.
"Untungnya tamu yang naik kereta ini bukan hanya kami berdua saja."
"Oh?"
Hun Cay-thian melengak heran. Yap Kay sudah maju ke sana, menepuk pundak kusir kereta yang sedang menyeka keringat di depan kereta, katanya tersenyum.
"Tuan terlalu capai!"
Kusir ini melengak, katanya mengunjuk tertawa.
"Memangnya ini kerjaan Siaujin yang harus dilakukan."
Kata Yap Kay.
"Sebetulnya kau kan bisa duduk di dalam kereta dengan nikmatnya, kenapa harus merendahkan diri dan menghabiskan tenaga."
Sesaat lamanya kusir ini melongo, mendadak dia tanggalkan topi rumputnya, terus bergelak tawa sambil menengadah.
"Bagus, memang pandanganmu tajam, sungguh kagum, sungguh kagum."
"Di saat kereta berhenti sebentar di tengah jalan tadi, tuan bisa menerobos keluar dari bawah kereta, menutuk Hiat-to kusir kereta, terus dilempar ke semak-semak di pinggir jalan, serta menelanjangi pakaian untuk kau pakai sendiri, betapa cepat gerak-gerikmu, rapi bekerja, sungguh harus dibuat kagum."
Kusir kereta ini kembali melengak, tanyanya.
"Darimana kau tahu siapa aku ini?"
"Di kalangan Kangouw kecuali kau Hwi thian ci cu (laba-laba terbang), siapa pula yang mempunyai gerakan selincah dan secepat itu, sungguh patut dibuat kagum."
Dengan tertawa lebar, Hwi thian ci cu segera mencopot jubah putihnya terus dibuang, maka tampaklah seragam pakaiannya yang hitam ketat, langsung dia menghampiri Hun Cay-thian serta menjura, katanya.
"Cayhe hanya sekedar main-main saja, harap Hun siangcu tidak ambil di hati."
"Tuan sudi datang, berarti sudah memberi muka kepadaku. Silakan!"
Tatkala itu Loh Loh-san sudah digotong dua orang turun dari kereta dan dibawa masuk ke dalam.
Setelah menjura, Hun Cay-thian berjalan di depan menunjukkan jalan, hngsung mereka melewati sebuah pekarangan besar dan luas.
Dua daun pintu besar dari kayu putih yang menghadang jalan mereka, tiba-tiba terbuka dengan mengeluarkan suara keriutan.
Sinar lampu menyorot keluar dari sebelah dalam, tampak seseorang berdiri tegak di ambang pintu, seolah-olah seluruh badannya sudah sesak menghadang di depan pintu besar ini.
Perawakan Yap Kay tidak terhitung rendah, tapi dia harus mendongak baru bisa melihat jelas tampang orang ini.
Ternyata orang berjambang-bauk lebat, pakaiannya serba putih, pinggangnya mengenakan sabuk kulit hitam lebar satu kaki, di dalam sabuknya ini terselip miring sebatang golok melengkung besar yang berbentuk aneh warna hitam legam, tangan kanannya sedang menggenggam sebuah cangkir arak.
Dalam genggaman tangannya, cangkir itu tidak besar, tapi kalau lain orang belum tentu cukup memeganginya dengan kedua tangannya.
Lekas Hun Cay-thian melangkah ke depan, sapanya tertawa.
"Mana Sam-lopan?"
Laki-laki jambang-bauk ini menyahut.
"Sedang menunggu, tamunya sudah datang semua?"
Siapa pun bila pertama kali mendengar suara bicaranya, pasti akan berjingkrak kaget, waktu ucapan pertama keluar dari mulutnya, serasa seperti bunyi guntur di pagi hari, begitu keras sampai telinga orang terasa mendengung.
"Tiga orang tamu sudah datang lebih dulu,"
Sahut Hun Cay-thian. Tegak alis laki-laki raksasa ini, tanyanya bengis.
"Mana yang tiga lagi?"
"Mungkin sebentar sudah tiba."
Laki-laki raksasa ini manggut-manggut, katanya.
"Aku bernama Kongsun Toan, aku ini orang kasar, kalian silakan masuk."
Sesuai dengan namanya 'Toan' atau putus, kata-katanya pun diucapkan dengan terputus-putus.
Di belakang pintu atau di sebelah laki-laki raksasa ini adalah sebuah pintu angin yang besar dan lebar terbuat dari kayu putih pula, tingginya hampir dua tombak, bukan saja tidak diberi lukisan, juga tiada huruf-huruf yang tertulis di atasnya, tapi kelihatan mengkilap karena dicuci bersih.
Baru saja Yap Kay dan lain-lain memasuki pintu, mendadak terdengar derap lari kuda yang ramai mendatangi, sembilan ekor kuda tengah membedal datang dari kegelapan malam di luar sana.
Begitu tiba di luar pagar kayu itu, penunggangnya memiringkan badan dan mengangkat sebelah kakinya, tahu-tahu badannya sudah melompat turun di atas tanah, bukan saja gerakan penunggang dan kudanya rapi dan serasi, sampai pun dandanan mereka pun seragam.
Kesembilan orang ini sama mengenakan topi berhias warna kuning emas, jubah panjang dengan warna abu-abu mulus, di pinggang masing-masing menyoreng pedang panjang, gagang pedangnya ditaburi berlian yang kemilau, cuma satu di antara sembilan orang ini pinggangnya mengenakan sabuk emas, pangkal pedangnya dihiasi sebutir Ya-bing-cu (mutiara yang bersinar di malam hari) sebesar kelengkeng.
Sembilan orang ini adalah pemuda-pemuda ganteng dan gagah, semua berperawakan tegap dan kekar, sikapnya angker dan berwibawa, di antara delapan pemuda yang lain, dengan membusungkan dada berbondong mereka melangkah masuk.
Kata pemuda bersabuk emas itu dengan tersenyum.
"Cayhe datang sedikit terlambat, mohon maaf, mohon maaf."
Mulutnya mohon maaf, tapi raut mukanya amat angkuh, siapa pun yang melihat mimik mukanya akan tahu hakikatnya, hatinya sedikit pun tak ingin mohon maaf.
Setelah melewati pekarangan lebar itu, sembilan orang ini langsung menuju pintu besar dari kayu putih itu.
Kongsun Toan mendadak membentak seperti geledek.
"Siapa yang bernama Buyung Bing-cu?"
Pemuda perlente yang bersabuk emas itu bertolak pinggang, matanya memandang ke atas, sahutnya dingin.
"Inilah aku."
Berkata Kongsun Toan bengis.
"Sam-lopan hanya mengundang kau seorang, suruh pengawalmu ini mundur keluar."
Berubah air muka Buyung Bing-cu, katanya.
"Mereka tidak boleh masuk?"
"Tidak boleh."
Seorang pemuda yang dekat di belakang Buyung Bing-cu meraba gagang pedangnya seperti hendak mencabut senjata.
Mendadak sinar kilat berkelebat, belum lagi pedangnya tercabut keluar, tahu-tahu sudah tertabas kutung menjadi dua berikut sarungnya oleh golok sabit Kongsun Toan.
Cepat sekali golok Kongsun Toan sudah kembali ke dalam sarungnya, bentaknya bengis.
"Siapa berani main senjata di Ban-be-tong, pedang ini sebagai contohnya."
Berubah hijau, pucat dan merah padam rona muka Buyung Bing-cu, mendadak tangannya menampar balik ke belakang, menggampar pipi pemuda itu, bentaknya gusar.
"Siapa suruh kau melolos pedang? Tidak lekas kalian menggelundung keluar."
Tanpa berani bercuit lagi pemuda itu memegangi pipinya yang bengap terus mengundurkan diri sambil menundukkan kepala.
Yap Kay merasa geli.
Dia kenal pemuda ini adalah orang yang memaksa dirinya minum arak kemarin malam itu.
Naga-naganya pemuda ini sembarang waktu ingin benar melolos pedang, sayang sekali sebelum senjatanya terlolos tahu-tahu sudah tertabas kutung lebih dulu oleh orang.
Di balik pintu angin adalah sebuah pendopo besar.
Siapa pun yang baru pertama kali melihat pendopo ini, bukan mustahil dia akan kaget bukan main.
Memang pendopo ini lebar puluhan tombak saja, tapi panjang dan amat dalam sekali, boleh dikata sulit dibayangkan dan diukur beberapa panjangnya.
Bila seseorang dari ujung sini hendak menuju ke ujung pendopo yang sana, kemungkinan dia harus melangkah dua ribu tindak.
Dinding pendopo sebelah kiri bergambar kuda yang tak terhitung banyaknya sedang berderap, ada yang sedang meringkik, mengangkat kepala, ada yang sedang mendirikan bulu surinya, ada pula yang mengangkat kaki depannya, setiap gaya kuda-kuda itu berlainan, setiap kuda digambar begitu hidup, gagah dan perkasa.
Pada dinding sebelah kanan, yang dikapur bersih, hanya bertulisan huruf yang besar, setinggi tiga kali manusia, tintanya hitam mengkilap dan keras, gaya tulisannya hidup seperti naga terbang burung hong menari.
Tulisan itu berbunyi.
"Ban-be-tong" ! Tepat di tengah-tengah pendopo ini terdapat sebuah meja panjang terbuat dari kayu putih pula, begitu panjang sehingga selintas pandang sebuah jalan raya, orang bisa melarikan kudanya di atas meja ini. Pada kedua sisi meja panjang ini, kira-kira ada tiga ratusan pasang kursi kayu putih juga. Jika kau belum pernah mengunjungi Ban-be-tong, selamanya tidak akan pernah terbayang olehmu di dunia ini ternyata terdapat meja sedemikian panjangnya, pendopo yang luas dan begini besarnya! Bukan saja dalam pendopo ini tiada pajangan yang antik, tapi juga tiada perabot-perabot yang mewah, tapi setiap orang yang berada di sini akan merasakan kebesaran, kemegahan, keangkeran dan keagungannya. Siapa pun yang berada di sini, sanubarinya tentu merasa khidmat dan napas pun terasa berat. Pada ujung meja di sebelah sana, pada sebuah kursi besar yang lebar, duduk seorang baju putih, sebenarnya orang bagaimana laki-laki yang duduk di atas kursi kebesaran itu, tiada yang melihat jelas, yang terang dia duduk di sana dengan angker dan gagah. Umpama dalam rumah ini tiada orang lain, dia pun tetap duduk dengan tegak beraturan, meski kursi besar itu ada sandarannya, tapi pinggangnya duduk tegak lurus seperti tonggak kayu. Seorang diri dia duduk menyendiri di tengah pendopo yang besar dan panjang ini, jaraknya dengan orang-orang di sebelah sini begitu jauh. Seolah-olah dia memang sengaja menjauhkan diri dari kehidupan duniawi yang serba kotor ini. Meski Yap Kay tidak melihat jelas raut mukanya serta mimiknya, namun dia sudah melihat akan kesepian dan kesebatang-karaannya. Seolah-olah dia benar-benar sudah menutup diri dari kesibukan dunia, tiada kegembiraan, tiada kenikmatan, tiada berfoya-foya dan tidak punya teman. Memang beginikah imbalan seorang Enghiong di dalam mencapai cita-citanya? Seorang diri dia duduk di tempat nan jauh menyepi dari keramaian, seolah-olah sedang merenungkan, entah merenungkan pahit getir perjuangannya masa lampau? Atau sedang meresapi kehidupan manusia yang merana? Sedemikian banyak orang beranjak masuk membuat ribut, dia seolah-olah tidak pernah mendengar, tidak pernah melihat kehadiran mereka. Tapi dia itulah majikan atau pemilik Kwantang-ban-be-tong. Meski sekarang dia sukses di dalam perjuangannya di medan laga, namun dia sendiri belum berhasil memerangi tekanan batin yang merangsang sanubarinya yang paling dalam, kekontrasan antara lahir dan batin. Oleh karena itu meski sekarang dia memiliki segala apa yang ada di muka bumi ini, namun dia sendiri belum berhasil mendapatkan ketenangan dan kedamaian hidup yang sejahtera dan tenteram. Dengan langkah lebar Hun Cay-thian menuju ke sana, meski langkahnya lebar, namun tindakannya amat ringan, pelan-pelan dia menghampiri ke pinggir orang, setelah membungkuk hormat dengan suara lirih dia berbisik di pinggir telinganya. Setelah itu baru laki-laki itu seperti sadar dari lamunannya, segera dia bangkit berdiri, katanya sambil merangkap kedua tangannya.
"Silakan tuan-tuan, silakan duduk."
Dengan tangan menggenggam gagang pedang, Buyung Bing-cu melangkah lebih dulu. Tahutahu Kongsun Toan melangkah menghadang di depannya. Berubah pula air muka Buyung Bing-cu, katanya dengan nada berat.
"Tuan ada petunjuk apalagi?"
Kongsun Toan tidak berbicara, sorot matanya seperti harimau lapar menatap pedang di pinggangnya. Kembali berubah air muka Buyung Bing-cu, katanya.
"Apa kau ingin aku menanggalkan pedangku?"
Dengan sikap dingin Kongsun Toan manggut-manggut, katanya sepatah demi sepatah.
"Tiada orang yang boleh membawa pedang memasuki Ban-be-tong."
Pucat hijau lalu merah padam air muka Buyung Bing-cu keringat mulai membasahi hidungnya yang tinggi mancung, otot hijau pada punggung tangannya sudah merongkol keluar pada tangannya yang mencekal gagang pedang.
Kongsun Toan tetap berdiri di tempat, dengan dingin mengawasi dan berdiri sekokoh gunung.
Lama kelamaan jari-jari Buyung Bing-cu gemetar, agaknya tak tahan lagi dia sudah akan mencabut pedangnya.
Untunglah pada saat itu mendadak sebuah tangan kurus kering dan kuat terjulur maju, pelan-pelan menahan tangannya yang mencekal pedang.
Sigap sekali Buyung Bingcu berpaling, dilihatnya secercah senyuman mekar dari muka Yap Kay.
Katanya kalem.
"Apakah bila tangan tuan memegangi senjata di tangan baru berani memasuki Ban-be-tong?"
"Tang" , pedang itu akhirnya jatuh di atas meja. Sebuah lampion besar warna putih mentah laksana lampu langit pelan-pelan dikerek ke pucuk tiang bendera yang puluhan tombak tingginya. Lima huruf merah menyala jelas sekali berjajar membundar mengelilingi lampion besar ini, berbunyi.
"Kwan tang ban be tong" . Dengan menggelendot pada pagar, anak-anak muda yang menyoreng pedang itu sedang menengadah mengawasi lampion besar yang dikerek ke atas ini Tak tahan ada di antaranya yang tertawa dingin mengejek.
"Kwan tang ban be tong, hmm, pongah benar lagaknya."
Terdengar seseorang menanggapi.
"Ini bukan berlagak, tapi hanya merupakan suatu pertanda khas belaka."
Tadi jelas tiada orang berada di bawah tiang bendera itu, entah sejak kapan tahu-tahu orang ini sudah bertolak pinggang di bawah tiang bendera, sekujur badannya serba putih.
Nada bicaranya kalem dan pelan, sikapnya angker dan mantap.
Orang ini tidak membawa senjata.
Tapi dia bukan lain adalah tokoh ahli pedang kenamaan di Kangouw, It kiam kwi hoa Hoa Boan-thian (kembang bertebaran di langit).
Agaknya pemuda seragam abu-abu itu tiada yang tahu siapa dia sebenarnya, segera ada yang bertanya.
"Pertanda? Pertanda apa?"
Pelan-pelan Hoa Boan-thian menerangkan.
"Lampu ini hanya sebagai pertanda untuk memberitahu kepada jago-jago Kangouw yang kebetulan lewat di sini, di dalam Ban-be-tong, kini ada urusan penting yang sedang dirundingkan, kecuali orang-orang yang diundang oleh cukong pemilik Ban-be-tong, orang lain peduli dia punya urusan penting apa pun, lebih baik tunda saja sampai besok pagi."
Mendadak terdengar seseorang menanggapinya pula dengan dingin.
"Bagaimana jika ada orang datang malam ini juga?"
Dengan tenang seperti acuh tak acuh Hoa Boan-thian mengawasinya, mendadak tangannya terulur, mencabut pedangnya yang tersoreng di pinggangnya.
Memangnya jarak mereka amat dekat, tapi Hoa Boan-thian begitu mengulur tangan lantas berhasil mencabut gagagnnya, sekali gentak, pedang panjang yang terbuat dari baja murni ini seketika berbunyi nyaring dan putus jadi tujuh delapan potong.
Karenanya pemuda itu berdiri mendelong dengan pandangan terkesima tanpa berani banyak tingkah lagi.
Sisa kutungan pedang yang pendek itu pelan-pelan dimasukkan kembali ke dalam sarung pedang si pemuda, baru Hoa Boan-thian berkata tawar.
"Hembusan angin badai berpasir di sini amat besar, di dalam kamar samping sana ada disediakan hidangan, kenapa kalian tidak ke sana saja mimum barang dua cangkir?"
Tanpa menunggu reaksi mereka, pelan-pelan dia putar badan tinggal pergi.
Pemuda-pemuda itu beradu pandang, jari-jari mereka dengan kencang menggenggam gagang pedang masing-masing, namun tiada satu pun di antara mereka yang berani mencabutnya.
Pada saat itu pula mereka tiba-tiba mendengar di belakang ada orang berkata kalem.
"Pedang bukan barang hiasan, orang yang tidak tahu menggunakan pedang, lebih baik jangan menyoreng pedan."
Itulah kata-kata kasar yang menusuk perasaan, namun dikatakan setulus hati oleh si pembicara.
Karena orang bukan hendak mencari kesukaran, maksudnya hanya ingin memberi nasehat kepada pemuda-pemuda hijau ini.
Keruan berubah air muka pemuda-pemuda jubah abu-abu ini, serempak mereka memutar badan, maka tampaklah si pembicara pelan-pelan muncul dari tempat gelap.
Langkahnya amat lambat, kaki kirinya melangkah dulu selangkah, kaki kanannya selalu diseretnya ke depan.
Dengan tajam mereka tujukan pandangan masing-masing ke depan pendatang ini, entah siapa tiba-tiba mengajukan pertanyaan.
"Apakah si timpang ini yang semalam kau temukan di warung minuman itu?"
Pucat dan menghijau muka pemuda yang ditanya, dengan tajam ia mengawasi Pho Ang-soat sambil mengertak gigi, katanya mendadak.
"Apakah golokmu itu pajangan?"
"Bukan!"
Sahut Pho Ang-soat.
"Kalau demikian, kau tahu cara menggunakan golok?"
Pho Ang-soat menundukkan kepala mengawasi golok di tangannya.
"Kalau begitu kau tahu cara menggunakan golokmu itu,"
Kata pemuda itu.
"kenapa tidak kau gunakan untuk kami lihat?"
"Golok ini bukan untuk tontonan."
"Bukan tontonan, memangnya untuk membunuh orang? Memangnya kau pun mampu membunuh orang?"
Mendadak pemuda itu bergelak tertawa.
"Kalau kau memang berani, haraplah kau bunuh aku saja, terhitung kau memang berani dan pintar bertindak."
Pemuda yang lain ikut tertawa, terdengar seorang lain berkata.
"Jika kau tidak berani, jangan harap kau bisa melangkah masuk pintu besar ini, silakan kau merangkak masuk lewat pagar ini."
Lalu mereka bergandengan tangan serta melebarkan kaki berdiri menghadang di depan pintu.
Pho Ang-soat tetap menundukkan kepala mengawasi golok di tangannya, lama juga baru dia bergerak, ternyata dia benar-benar membungkukkan badan menerobos lewat melalui bawah pagar kaki masuk ke dalam pintu.
Seketika para pemuda itu terloroh-loroh senang, agaknya sudah lupa akan hinaan yang diterimanya tadi, pedang diputus orang tadi.
Bahwasanya Pho Ang-soat anggap tidak mendengar gelak tawa mereka yang menghina, pelanpelan dia menerobos pagar terus beranjak masuk dengan langkah berat, entah sejak kapan pakaian sekujur badannya sudah basah kuyup oleh keringatnya sendiri.
Mendadak gelak tawa para pemuda itu terputus sirap sama sekali, entah siapa melihat lebih dulu telapak kaki di atas lantai, maka tiada seorang pun yang bisa meneruskan tawanya.
Karena mereka tahu, setiap langkah kaki Pho Ang-soat meninggalkan telapak kaki yang melesak dalam ke lantai batu itu.
Mirip benar dengan ukuran golok atau pisau buatan seorang ahli.
Terang dia mengerahkan seluruh tenaga badannya, baru berhasil mengendalikan emosi dan kemarahan hatinya.
Sebenarnya dia bukan laki-laki yang bisa bertahan, tapi demi suatu sebab, mau tidak mau dia harus tahan uji dan tahan sabar.
Memangnya apa tujuannya?
Hoa Boan-thian berdiri di bawah emperan jauh di sebelah sana, mimik mukanya amat aneh, seakan-akan merasa kaget dan heran, namun seperti gentar dan ketakutan.
Maklumlah bila seseorang melihat seekor serigala kelaparan sedang memasuki rumahnya, nah seperti itulah mimik muka Hoa Boan-thian saat itu.
Dan sekarang dia sedang mengawasi Pho Ang-soat Pedang itu masih menggeletak di atas meja.
Setiap orang sudah menempati sebuah kursi dan tersebar pada ujung meja panjang di kanan kiri majikan Ban-be-tong.
Ban-be-tong-cu tetap duduk lurus tegak di tempatnya, kedua tangannya terpentang terletak di atas meja.
Sepasang tangan yang tidak lengkap lagi, karena jari-jari tangan kirinya tinggal ibu jarinya saja yang tetap utuh tumbuh di tempatnya.
Lucu sekali jari-jari yang lain ternyata sedikit pun tidak meninggalkan bekas-bekasnya.
Tebasan golok itu hampir dikata memapas kutung telapak tangannya.
Tapi dia tetap berani berlaku terang-terangan, diletakkan di atas meja tanpa disembunyikan.
Karena kehilangan jari-jari ini dia merasa bukan sesuatu yang memalukan, sebaliknya sebagai peristiwa yang harus dibanggakan.
Ya, itulah bekas atau catatan abadi di atas badannya yang takkan luntur seumur hidup dari hasil perjuangannya yang gigih.
Setiap kerut keriput yang menghiasi kulit mukanya, seolah-olah ukiran hasil dari pengalaman hidupnya yang amat berbahaya, menderita seolah-olah dia sedang memberitahu kepada orang lain peduli persoalan apa pun jangan harap dapat merobohkan dirinya.
Sampai pun membuat dia membungkuk badan pun jangan harap.
Tapi sepasang sorot matanya, kelihatan tenang damai, sedikit pun tidak menampilkan cahaya berwibawa yang menggetarkan nyali orang.
Apakah kehidupan yang penuh siksa dan derita itu sudah memudarkan kewibawaannya selama ini?
Ataukah lantaran dia sudah mempelajari cara untuk menyembunyikan sorot matanya yang berwibawa itu di hadapan orang?
Sekarang dia sedang mengawasi Yap Kay dengan nanar.
Setelah mengawasi satu per satu, sorot matanya berhenti lama pada setiap wajah hadirin, paling akhir berhenti pada raut muka Yap Kay.
Memang dia sering lebih lama menggunakan kedua matanya daripada menggunakan lidahnya.
Karena dia tahu banyak melihat dapat menambah pengetahuan dan pengalaman, sebaliknya banyak bicara melulu menambah bencana bagi manusia.
Yap Kay sedang tersenyum simpul.
Mendadak Ban-be-tong-cu juga tertawa, katanya.
"Selamanya tuan tidak pernah membawa senjata?"
Dengan tersenyum Yap Kay manggut-manggut sebagai jawaban.
"Kenapa?"
Tanya Ban-be-tong-cu.
"Karena aku tidak memerlukannya."
Segera Ban-be-tong-cu manggut-manggut, ujarnya.
"Tidak salah, keberanian yang sejati, memangnya bukan diperoleh dari golok atau pedang!"
Buyung Bing-cu mendadak tertawa dingin, jengeknya.
"Seorang persilatan bila tidak membawa golok atau pedang, belum tentu lantas bisa membuktikan bila dia benar-benar punya keberanian."
Kembali Ban-be-tong-cu tertawa, katanya tawar.
"Keberanian itu sendiri memangnya suatu yang aneh, bukan saja tidak bisa kau lihat, tak mungkin kau raba dan bisa kau rasakan, hakikatnya kau pun tidak bisa membuktikannya, oleh karena itu sorot matanya beralih ke muka Yap Kay, katanya lebih lanjut pelan-pelan "
Seorang yang benar-benar mempunyai keberanian, ada kalanya di dalam pandangan orang, dia malah seorang lemah yang penakut."
"Masuk akal,"
Seru Yap Kay sambil menepuk paha."
Aku memang kenal orang seperti itu."
"Siapakah dia?"
Segera Ban-be-tong-cu bertanya.
Yap Kay hanya tersenyum tidak menjawab, matanya berpaling mengawasi seseorang yang baru saja muncul dari balik pintu angin.
Tawanya amat aneh dan mengandung arti yang mendalam.
Mengikuti pandangan orang, Ban-be-tong-cu ikut berpaling ke sana, seketika dia melihat kedatangan Pho Ang-soat.
Di bawah penerangan lampu dalam pendopo ini, jelas tertampak muka Pho Ang-soat yang pucat-pias, begitu pucat memutih seolah-olah tembus cahaya.
Tapi sepasang biji matanya hitam bening, mirip kegelapan malam di luar yang tak berujung pangkal, entah berapa banyak tersembunyi mara-bahaya, betapa banyak rahasia yang terkandung di dalamnya.
Sarung golok hitam legam, tiada kembangan tiada hiasan.
Dengan kencang dia pegang goloknya ini, pelan-pelan dia membelok dari pintu angin, butiran keringat di ujung hidungnya belum lagi kering, tiba-tiba dilihatnya seorang raksasa laksana sebuah gunung sedang menghadang di depannya, dia bukan lain Kongsun Toan adanya.
Dengan pandangan tajam dan beringas Kongsun Toan sedang mengawasi golok di tangannya.
Pho Ang-soat pun sedang mengawasi golok di tangannya sendiri, kecuali golok ini, boleh dikata belum pernah dia melirik kepada sesuatu benda atau kepada siapa pun.
Berkata Kongsun Toan dengan suara kereng.
"Tiada orang yang boleh masuk Ban-be-tong dengan membawa pedang, juga tiada orang boleh masuk Ban-be-tong dengan membawa golok."
Lama juga Pho Ang-soat berdiam diri, akhirnya berkata pelan-pelan.
"Selamanya tidak ada?"
"Tidak ada."
Pelan-pelan Pho Ang-soat manggut-manggut, dari golok di tangannya sorot matanya beralih ke arah golok melengkung yang terselip miring di pinggang Kongsun Toan, katanya tawar.
"Dan kau? Kau bukan manusia?"
Berubah hebat air muka Kongsun Toan. Buyung Bing-cu mendadak tertawa lebar, serunya sambil mendongak.
"Bagus, pertanyaan bagus!"
Arak dalam cangkir emas di tangan Kongsun Toan pelan-pelan tumpah keluar, mengalir dan membasahi telapak tangannya yang hitam kasar bagai baja.
Cangkir emas itu sudah teremas gepeng oleh jari-jari tangannya.
Mendadak cangkir emas gepeng itu mencelat terbang ke atas, disusul sinar perak berkelebat.
"Ting-ting-ting" , cangkir emas yang gepeng itu ternyata sudah tertabas menjadi tiga potong dan jatuh di bawah kakinya. Sinar golok melengkung itu laksana bianglala masih memancarkan sinar kemilau. Gelap tawa Buyung Bing-cu seketika sirap seperti putus tertabas oleh sinar golok. Pendopo sebesar ini, seketika hening lelap tiada suara. Dengan telapak besinya pelan-pelan Kongsun Toan mengelus-elus batang pedangnya yang tajam, matanya berkilat menatap Pho Angsoat, katanya tandas.
"Jika kau punya golok seperti ini, boleh kau bawa kemari."
"Aku tidak punya."
"Memangnya golok apa di tanganmu itu?"
Tanya Kongsun Toan mengejek.
"Tidak tahu. Aku hanya tahu, golok ini bukan untuk menabas cangkir arak."
Dia harus mendongak baru bisa melihat muka Kongsun Toan yang kasar seperti ukiran dari batu, dengan tekad dan watak yang kukuh.
Sekilas saja dia memandang muka orang, lalu memutar badan, sorot matanya menampilkan rasa hina dan memandang rendah, kaki kiri melangkah dulu, kaki kanan lalu diseretnya ke depan.
"Kau hendak pergi?"
Bentak Kongsun Toan garang. Tanpa berpaling Ang-soat menjawab tawar.
"Aku kemari bukan menonton orang memotong cangkir arak."
"Kau sudah berani kemari, maka golok itu harus kau tinggalkan, mau pergi, golok itu harus juga kau tinggalkan baru boleh pergi."
Pho Ang-soat menghentikan langkahnya, pakaiannya yang belum kering mendadak mengencang, tampak otot-otot besar di badannya merongkol keluar.
Lama juga baru dia bertanya pelan-pelan "Siapa yang bilang demikian?"
"Golokku ini,"
Sahut Kongsun Toan "Sebaliknya golokku ini tidak berkata demikian."
Kulit daging di balik pakaiannya kelihatan mengejang, bentaknya bengis.
"Apa yang dia katakan?"
Separah demi sepatah Pho Ang-soat berkata.
"Ada golok harus ada orang, ada orang tentu ada golok."
"Kalau aku harus menahan golokmu itu bagaimana?"
"Kalau golok di sini, maka orangnya harus di sini pula."
"Bagus, bagus sekali!"
Bentak Kongsun Toan keras.
Di tengah bentakannya ini sinar golok laksana lembayung berkelebat, cepat sekali membacok ke arah pergelangan tangan Pho Ang-soat, Pho Ang-soat tetap berdiri dalam gaya semula, goloknya tidak keluar dari sarungnya, tangannya pun tidak bergeming.
Pada detik-detik yang menentukan dimana golok melengkung itu hampir saja memapas kutung pergelangan tangannya, sekonyong-konyong seseorang membentak.
"Tahan!"
Sinar golok seketika berhenti tepat pada saat seruan ini menghardik, tajam golok melengkung itu tinggal lima dim lagi dari pergelangan tangan Pho Ang-soat.
Tapi tangannya tetap tenang dan tak tergoyahkan sekokoh batu cadas.
Dengan melotot Kongsun Toan menatap tangan ini, keringat sebesar kacang berbaris menetes turun dari jidat ke muka, terus membasahi pakaian di depan dadanya.
Bila goloknya sudah terayun, di dunia ini hanya satu orang saja yang kuasa menyuruhnya berhenti.
BAB 4.
HIDUP MATI BERSAMA GOLOK Syukurlah tebasan golok ini tidak diteruskan.
Memangnya siapa yang tahu bagaimana akibatnya bila golok itu ditebaskan?
Yap Kay menghirup napas panjang, terunjuk senyum di kulum, dengan senyuman ini dia mengawasi Ban-be-tong-cu.
Ban-be-tong-cu juga sedang tersenyum, mulutnya menggumam.
"Bagus, ternyata memang tabah, punya keberanian."
Yap Kay tertawa lebar, katanya.
"Mata Cayhe ini belum buta, untunglah pandanganku kepada seseorang tidak keliru."
"Apakah dia itu Pho-kongcu yang tidak mau datang meski sudah tiga kali diundang Hoasiangcu?"
"Itulah dia!"
Sahut Pho Ang-soat pula.
"Kalau Pho-kongcu sudah sudi kemari, berarti sudah memberi muka, silakan, silakan duduk!"
Mendadak Kongsun Toan membalik badan, sorot matanya berkilat menatap Ban-be-tong-cu, serunya serak.
"Goloknya?"
Tersorot pandangan penuh arti yang mendalam dari Ban-be-tong-cu, katanya tertawa.
"Sekarang aku hanya melihat orangnya, sudah tidak melihat lagi goloknya."
Kongsun Toan mengertak gigi, kulit daging sekujur badannya sampai berkerut-kerut mengejang, mendadak dia membanting kaki.
"sreng" , golok sabitnya menukik turun amblas ke dalam sarungnya. Lama berselang baru Pho Ang-soat pelan-pelan membalik badan, dengan langkah kakinya yang berat melangkah masuk duduk di tempat kejauhan Tangannya masih erat menggenggam goloknya. Golok yang dipegang tangan ini terletak di samping pedang panjang milik Buyung Bingcu yang tergeletak di atas meja dengan mutiaranya yang kemilau itu. Warna sarung goloknya yang kelam itu seolah-olah membuat pudar cahaya mutiara besar itu. Demikian pula cahaya muka Buyung Bing-cu seketika itu pudar, mukanya menghijau pucat, mendadak dia berjingkrak berdiri. Sorot mata Hun Cay-thian bersinar tajam, sejak tadi dia memang sedang mengawasi orang, mukanya mengulum senyum.
"Tuan.... Tak menunggu kata-kata orang, Buyung Bing-cu sudah menyela.
"Kalau ada orang berani membawa golok masuk ke dalam Ban-be-tong, kenapa aku tidak boleh membawa pedang?"
"Sudah tentu boleh, cuma ...
"Cuma apa?"
"Cuma apakah tuan berani juga menanggung akibatnya, beranikah? Bila pedang ada orangnya hidup, pedang tiada orangnya gugur?"
Buyung Bing-cu tertegun, sorot mata yang semula mengandung senyum mengejek, perlahanlahan beralih ke arah telapak tangan besi Kongsun Toan yang mengeluarkan otot hijau merongkol itu, terasa bulu kuduknya berdiri, badannya semakin dingin dan giris.
Selama ini Loh Loh-san mendekam di atas meja seperti baru bangun dari mabuknya, mendadak dia menggebrak meja, serunya tertawa lebar.
"Bagus, pertanyaan bagus Mendadak badan Buyung Bing-cu berkelebat, dengan langkah sebat mendadak dia melangkah maju meraih ke arah pedangnya. Tapi sebelum jari-jarinya sempat meraih ke arah pedangnya.
"Brak-prang" , suaranya amat ramai, tahu-tahu tujuh pedang sekaligus telah dilempar ke atas meja pula. Itulah tujuh pedang yang serupa dengan hiasan yang seragam pula, di gagang pedang dihiasi tujuh biji zamrud yang sewarna dan serupa pula, tampak kemilau di bawah penerangan sinar api yang terang benderang. Keruan jari-jari tangan Buyung Bing-cu seperti kaku berhenti di tengah udara, jari-jarinya benar-benar menjadi kaku. Entah kapan Hoan Boan-thian pun sudah berada di dalam, meski ia tidak menampilkan rasa hatinya, dengan tenang dia mengawasi orang, katanya tawar.
"Jika tuan ingin menyoreng pedang, silakan sekaligus bawa ketujuh pedang ini."
Mendadak Loh Loh-san bergerak tertawa pula, serunya.
"Kwan tang ban be tong ternyata memang sarang harimau goa naga, agaknya orang-orang yang datang kemari malam ini takkan bisa pergi dengan leluasa. Kedua tangan Ban-be-tong-cu tetap terpentang di atas meja, duduk tenang-tenang, tegak lurus, tidak pernah bergeming dari gayanya semula Peduli terjadi peristiwa apa pun di tempat ini seolah-olah dia boleh berpeluk tangan di luar kalangan tidak perlu turut campur. Sampai melirik pun agaknya dia tidak sudi mengawasi Buyung Bing-cu. Raut muka Buyung Bing-cu amat jelek sekali, matanya melotot ke arah pedang di atas meja, lama juga dia menjublek di tempatnya, akhirnya dia bertanya.
"Mana mereka?"
"Orangnya masih ada,"
Sahut Hoan Boan-thian. Hun Cay-thian segera tertawa, timbrungnya.
"Di dunia ini memang jarang ada orang yang benar-benar konsekuen, berani sama-sama gugur bersama alat senjatanya."
Loh Loh-san segera menanggapi dengan tertawa.
"Nah, oleh karena itulah bagi orang yang pintar dia tidak mau membawa senjata, maka dia tidak perlu menyoreng pedang."
Kepalanya masih mendekam di atas meja, entah masih mabuk atau tidak, tiba-tiba tangannya menggapaigapai di atas meja seperti sedang mencari apa-apa, mulutnya menggumam.
"Mana araknya? Kenapa di sini selalu hanya bisa menemukan pedang atau golok, sukar benar menemukan arak?"
Akhirnya Ban-be-tong-cu bergelak tertawa, serunya.
"Bagus, pertanyaan bagus, hari ini aku mengundang kalian, memangnya ingin minum sepuas-puasnya bersama kalian sampai mabuk. Hayo lekas siapkan arak!"
Loh Loh-san mengangkat kepala, dengan matanya yang sipit masih mengantuk dia mengawasi orang, katanya.
"Apakah kalau belum mabuk tak bisa pulang?"
"Ya, sebelum mabuk takkan pulang."
"Tapi kalau benar-benar sudah mabuk, bagaimana? Apa bisa pulang?"
"Sudah tentu bisa!"
Loh Loh-san menghela napas sambil mengelus dada, kembali dia mendekap di atas meja, mulutnya mengomel.
"Kalau demikian legalah hatiku... mana arak?"
Arak sudah disuguhkan, cangkirnya emas, tekonya besar terbuat dari perunggu, araknya berwarna hijau bening.
Rona muka Buyung Bing-cu mirip benar dengan arak yang menghijau ini, sikapnya menjadi kikuk dan runyam, mau duduk atau berdiri?
Ataukah dia harus keluar saja?
Mendadak Yap Kay juga menggebrak meja.
katanya.
"Arak sebagus ini, kalau tidak dinikmati sepuasnya, bukankah menyia-nyiakan hidup? Masa muda jangan dibuang percuma? Sudah lama aku dengar Buyung-kongcu seorang pemuda serba bisa, pandai silat pintar sastra, seorang seniman yang pandai tarik suara lagi, entah sudikah tarik suara di sini untuk menghibur hati nan lara menyemarakkan suasana?"
Akhirnya Buyung Bing-cu mengalihkan sorot matanya, dengan tajam dia pandang Yap Kay seolah-olah hendak menelannya bulat-bulat.
Ada sementara orang setiap mengulum senyum selamanya tidak mengandung perasaan jahat, Yap Kay justru orang macam ini.
Lama juga Buyung Bing-cu mengawasinya, mendadak dia menghela napas panjang, katanya.
"Baik!"
Lalu ditariknya sebuah teko besar, menuang secangkir penuh terus ditenggaknya habis, dengan mengetuk cangkir emas yang berdering nyaring sebagai iringan musiknya, segera dia tarik suara mulai berdendang.
"Langit bergetar bumi bergoncang. Mata mengalirkan darah, bulan tak bersinar. Begitu masuk ke Ban-be-tong. Golok menguntungi pisau, manusia putus ususnya."
Berubah rona muka Hun Cay-thian mendengar nyanyian ini.
Serempak Kongsun Toan membalik badan, sorot matanya gusar menyala-nyala, telapak besinya sudah meraih gagang goloknya pula.
Cuma sikap Ban-be-tong-cu tetap tenang tak bergerak, malah rona mukanya menampilkan senyuman terang seolah-olah sedang menikmati makna lagu ini.
Kembali Buyung Bing-cu menenggak habis secangkir arak, seolah-olah dengan arak ini dia hendak membangkitkan keberaniannya, katanya keras.
"Bagaimana pendapat kalian mengenai syair laguku ini?"
"Aku pernah mendengarnya,"
Yap Kay mendahului buka suara. Bercahaya sorot mata Buyung Bing-cu, sahutnya.
"Setelah tuan mendengarnya, bagaimana pendapat tuan?"
"Terasa olehku hanya sebaris kalimat saja yang benar-benar mengandung arti."
"Hanya satu kalimat saja?"
"Ya, hanya satu saja."
"Kalimat yang mana?"
Yap Kay memejamkan mata, segera dia pun tarik suara bersenandung pelan-pelan.
"Golok memutus pisau, orang putus ususnya. Beruntun dia ulangi dua kali, lalu membuka kedua matanya pula mengerling ke arah Ban-be-tong-cu, katanya tersenyum.
"Entah apakah Tongcu juga bisa menikmati dimana letak kebagusan dari kalimat ini?"
"Mohon petunjukmu!"
Kata Ban-be-tong-cu.
"Golok memutus pisau, orang putus ususnya. Kenapa tidak dikatakan pedang memutus pisau, justru dikatakan golok memutus pisau?"
Dengan sorot matanya yang tajam berkali-kali dia pandang Buyung Bing-cu lalu berpindah kepada Pho Ang-soat, terakhir dia menatap Ban-be-tong-cu.
Tenang-tenang Pho Ang-soat duduk di tempatnya, dengan tenang mengawasi golok di tangannya, kelopak matanya seolah-olah sedang mengkeret menyipit.
Sebaliknya biji mata Buyung Bing-cu memancarkan cahaya terang, tanpa sadar dia sudah duduk kembali, ujung mulutnya mengulum senyuman aneh yang penuh mengandung arti.
Begitu sorot matanya bentrok dengan pandangan Yap Kay, seketika menampilkan rasa terima kasih yang tak terhingga.
Mungkin Hwi-thian-ci-cu memang laki-laki yang tidak suka cerewet, maka dia pun selalu hanya menggunakan sepasang matanya.
Diam-diam dalam hati dia sudah bertekad hendak mengikat persahabatan dengan Yap Kay.
"Menjadi sahabatnya agaknya jauh lebih menyenangkan daripada menjadi musuhnya, juga lebih mudah."
Melihat titik terang ini, segera Hwi-thian-ci-cu mengangkat seteko arak di depannya terus ditenggak habis, katanya dengan mengerut kening.
"Memangnya kenapa harus golok memotong pisau, dimanakah letak kebagusan dari makna kata-kata ini?"
Hoa Boan-thian menarik muka, katanya dingin.
"Kebagusan dan makna kata-katanya, tentu hanya bisa diutarakan oleh orang yang melagukan nyanyian ini, seharusnya kalian langsung bertanya kepadanya."
Yap Kay manggut-manggut sambil tersenyum, katanya.
"Memang pantas, agaknya Cayhe salah sasaran. Mendadak Ban-be-tong-cu tertawa lebar ujarnya.
"Tuan tidak salah bertanya."
Berkilat pula sorot mata Yap Kay, serunya.
"Mungkin Tongcu juga...... Dengan suara berat Ban-be-tong-cu segera memutuskan kata-katanya.
"Golok kuda dari Kwantang tiada duanya di seluruh dunia, entah pernahkah kalian dengar pameo ini?"
"Golok kuda dari Kwan-tang? .... Apakah di antara golok dan kuda dari Kwan-tang ini satu sama lain mempunyai hubungan?"
"Bukan saja ada hubungan, malah sangkut-pautnya sangat erat."
"Oh!"
Yap Kay bersuara dalam mulut dengan manggut-manggut.
"Dua puluh tahun yang lalu, dalam Bu-lim hanya diketahui adanya To-be-bun, tiada yang tahu adanya Ban-be-tong."
"Tapi dua puluh tahun kemudian, dalam Bu-lim justru hanya dikenal adanya Ban-be-tong, tiada yang tahu adanya To-be-bun."
Seri tawa yang menghias muka Ban-be-tong-cu sudah lenyap, lama dia berdiam diri, akhirnya menarik napas, katanya sepatah demi sepatah.
"Itulah karena orang-orang dari Sin-to-tong sudah mati dan tersapu bersih pada tujuh belas tahun yang lalu."
Meskipun rona mukanya kelihatan tenang-tenang saja, namun kerut keriput mukanya seolah-olah menyembunyikan keinginan membunuh yang menghayati sanubarinya, siapa pun yang melihatnya pasti akan merinding dan bergidik.
Siapa pun yang pernah melihatnya sekali, pasti takkan berani melihatnya untuk kedua kalinya.
Tapi Yap Kay justru masih menatap mukanya, tanyanya.
"Entah cara bagaimana pula orangorang Sin-to-tong itu sampai ajal seluruhnya?"
"Seluruhnya terbunuh di bawah golok."
Mendadak Loh Loh-san menggebrak meja pula, mulutnya mengigau.
"Ahli renang akhirnya mati kelelap, ahli golok belakangan mati di bawah golok orang lain, memang omongan orang kuno tidak salah, masuk akal, masuk akal... mana arak!"
Ban-be-tong-cu mengawasi tangan kirinya yang tertabas kutung empat jarinya, setelah orang bicara habis, dengan tandas dia melanjutkan.
"Setiap warga Sin-to-tong, semuanya adalah saudara dari Ban-be-tong, setiap orang terpenggal kepalanya oleh golok orang, seluruhnya mampus di bumi bersalju, hutang darah ini selama delapan belas tahun mendatang seluruh saudara-saudara dari Ban-be-tong tiada satu pun yang pernah melupakannya."
Yap Kay tidak menyingkir dari tatapan sorot mata orang, sikapnya tetap wajar dan tenang, setelah merenung, akhirnya bertanya pula.
"Selama delapan belas tahun ini, apakah Tongcu belum berhasil menyelidiki, siapakah pembunuh sebenarnya?"
"Belum!"
"Tangan Tongcu ini.....
"Terpapas juga oleh golok yang sama."
"Tongcu mengenal golok itu, namun tidak mengenal siapakah orang itu?"
"Golok tidak mungkin bisa ditutupi dengan kain hitam seperti yang dipakai untuk menutupi mukanya."
"Benar, kalau golok dibungkus kain hitam maka dia tidak akan bisa membunuh orang."
Pho Ang-soat tetap menatap golok di tangannya, mendadak dia menyela dingin.
"Kalau golok berada di dalam sarungnya?"
"Berada di dalam sarungnya, sudah tentu golok itupun takkan bisa membunuh orang."
"Bahwa golok tetap berada di dalam sarungnya, apakah lantaran kuatir dikenali oleh orang?"
Tanya Pho Ang-soat.
"Aku tidak tahu,"
Sahut Yap Kay.
"Aku hanya tahu satu hal."
Pho Ang-soat sedang pasang kuping mendengarkan. Sambil tertawa Yap Kay berkata.
"Aku tahu bila aku ada sangkut-paut dengan peristiwa berdarah delapan belas tahun lalu, tentulah aku takkan membawa golok memasuki Ban-be-tong ini."
Sambil tersenyum dia melanjutkan.
"Kecuali aku ini seorang pikun, kalau tidak, lebih suka membawa tombak atau pedang, sekali-kali tak berani membawa golok."
Pelan-pelan Pho Ang-soat berpaling muka, sorot matanya beralih dari goloknya sendiri ke muka Yap Kay, sorot matanya memancarkan mimik yang aneh sekali.
Baru pertama kali ini dia menatap muka orang begini lama, bukan mustahil merupakan yang terakhir pula.
Pandangan Buyung Bing-cu sudah pudar seperti mabuk arak, mendadak dia berseru lantang.
"Untunglah peristiwa itu terjadi delapan belas tahun yang lalu, peduli membawa golok atau membawa pedang, kukira sudah tidak menjadi soal lagi."
"Kukira belum tentu,"
Jengek Hoa Boan-thian dingin.
"Semua yang hadir di sini,"
Kata Buyung Bing-cu lebih lanjut.
"kecuali Loh-siansing, yang masih anak-anak semua, memangnya mereka waktu itu sudah pandai membunuh orang?"
Tiba-tiba Hoa Boan-thian mengalihkan pokok pembicaraan, tanyanya.
"Entah tuan sudah pernah menikah belum?"
Agaknya Buyung Bing-cu belum menangkap juntrungan pertanyaan ini, terpaksa dia manggutmanggut.
"Sudah punya keturunan belum?"
"Satu putra satu putri,"
Sahut Buyung Bing-cu.
"Jika tuan ada bermusuhan dengan orang, jika tuan sudah tua tak punya tenaga, lalu siapa yang harus menuntut balas sakit hati tuan?"
"Sudah tentu puteraku yang bertanggung jawab menuntut balas."
Hoa Boan-thian tertawa saja, dia tidak bertanya lebih lanjut. Memang dia tidak perlu banyak kata lagi. Lama juga Buyung Bing-cu melongo, akhirnya berkata dengan tertawa getir.
"Apakah tuan mencurigai bahwa di antara kami adalah keturunan dari pembunuh itu?"
Hoa Boan-thian menolak menjawab pertanyaan ini, menolak menjawab biasanya berarti pula semacam jawaban. Merah jengah selebar muka Buyung Bing-cu, katanya.
"Kalau demikian, hari ini Kongcu mengundang kami kemari, memangnya ada maksud tertentu?"
"Ya, memang ada!"
Jawaban Ban-be-tong-cu tegas dan lantang.
"Mohon keterangan!"
Seru Buyung Bing-cu. Berkata Ban-be-tong-cu pelan-pelan.
"Kalau ada manusia, tentu ada anjing ada ayam, sepanjang perjalanan kemari, adakah kalian mendengar lolong anjing dan suara ayam berkotek?"
"Tidak pernah,"
Buyung Bing-cu menjawab lebih dulu.
"Adakah kalian tahu apa sebabnya?"
"Mungkin sekitar sini tiada orang yang memelihara anjing dan ayam,"
Kembali buyung Bing-cu menjawab.
"Peternakan kuda di pinggir perbatasan, mana mungkin tiada orang memelihara anjing dan ayam?"
"Oh, jadi ada?"
Tanya Buyung Bing-cu.
"Hanya Hoa-siancu seorang saja, dia ada memelihara delapan belas ekor anjing ajak yang dibawanya dari perbatasan Tibet."
Dengan ujung matanya Buyung Bing-cu melirik ke arah Hoa Boan-thian, katanya dingin.
"Mungkin anjing-anjing peliharaan Hoa-siangcu tiada satu pun yang bisa menyalak, bukankah anjing galak yang pandai menggigit orang tidak perlu menyalak?"
Hoa Boan-thian menarik muka, katanya.
"Tiada anjing yang tidak bisa menyalak di dunia ini."
Tiba-tiba Loh Loh-san bersuara lagi.
"Hanya semacam anjing saja yang tidak bisa menyalak."
"Anjing mati?"
Tanya Hoa Boan-thian.
"Benar,"
Loh Loh-san tertawa lebar "Anjing mati, hanya anjing yang sudah mati takkan bisa menyalak lagi, demikian pula hanya orang yang sudah mati takkan bisa bicara lagi.
Hoa Bian-thian mengerut kening, tanyanya.
"Kalau orang mabuk?"
"Orang mabuk bukan saja pandai pentang bacot, malah dia selalu mengeluarkan kata-kata yang menyebalkan."
"Agaknya kau jujur dalam hal ini,"
Jengek Hoa Boan-thian. Kembali Loh Loh-san terloroh-loroh, katanya.
"Memangnya omongan jujur biasanya amat menyebalkan bagi orang yang berhati jahat ... mana arak?"
Gelak tawanya mendadak terputus, kembali dia jatuh pulas di atas meja. Hoa Boan-thian mengerut kening, selebar mukanya menampilkan rasa muak. Tiba-tiba Hun Cay-thian menyela bicara.
"Di dalam Ban-be-tong semula ada dua puluh satu ekor anjing jantan, tujuh belas anjing betina, jumlah seluruhnya tiga puluh delapan ekor, ayam ada tiga ratus sembilan puluh tiga ekor, rata-rata setiap hari bertelur tiga ratus butir, yang dimakan setiap hari ada empat puluh ekor, belum masuk dalam hitungan ini."
Bagai seorang koki yang biasa bekerja di dapur, dengan hapal di luar kepala satu per satu dia sebutkan data-data yang ada kepada hadirin. Yap Kay tertawa, katanya.
"Entah berapa banyak ayam jantan? Berapa ayam betina? Kalau yang betina lebih banyak dan yang jantan sedikit, terpautnya terlalu banyak lagi, maka Hoa siangcu harus lekas-lekas tambah obat kuat, supaya ayam-ayam betina tidak terpengaruh dalam memproduksi telur."
Hun Cay-thian segera tertawa, katanya.
"Tuan ternyata memang orang baik hati, sayang sekali sekarang tidak perlu susah-susah lagi."
"Kenapa?"
Tanya Yap Kay tidak tahu. Mendadak Hun Cay-thian menarik muka, katanya.
"Kini ketiga puluh delapan anjing, tiga ratus sembilan puluh tiga ayam seluruhnya sudah mati bersih dalam semalam suntuk."
Bertaut alis Yap Kay, tanyanya.
"Cara bagaimana matinya?"
Hun Cay-thian berprihatin, sahutnya.
"Terputus kepalanya dengan golok, semuanya mampus dengan kepala terpenggal."
Mendadak Buyung Bing-cu tertawa, katanya.
"Jika Hun-siancu ingin menemukan jejak pembunuh anjing dan ayam itu, aku sih bisa memberi sedikit bantuan."
"Oh? Coba jelaskan."
"Pembunuh itu adalah seorang koki, kalau suruh aku sekaligus membunuh tiga ratus ekor ayam, terang aku belum becus melakukannya."
Hun Cay-thian menarik muka, katanya.
"Dia bukan koki."
"Darimana kau tahu?"
Tanya Buyung Bing-cu menahan geli.
"Sekaligus orang ini mampu membunuh empat ratusan anjing dan ayam tanpa diketahui oleh orang lain, betapa cepat gerakan goloknya itu! Golok kilat yang cepat sekali."
Yap Kay manggut-manggut, timbrungnya.
"Memangnya gerakan golok yang amat cepat sekali."
"Tebasan golok secepat ini, jangan kata ayam dan anjing, umpama manusia pun leluasa dibunuhnya satu per satu."
Kata Yap Kay tertawa.
"Itu tergantung orang-orang macam apa saja yang dia bunuh."
Sorot mata Hun Cay-thian menatap ke arah Pho Ang-soat, katanya.
"Golok tuan ini apakah sekaligus mampu mengutungi empat ratusan kepala anjing dan ayam?"
Mimik Pho Ang-soat tidak berubah, sahutnya dingin.
"Sembelih ayam memotong anjing, tidak perlu menggunakan golokku ini."
Mendadak Hun Cay-thian menepuk tangannya, serunya.
"Nah, itulah betul!"
"Apanya yang betul?"
Tanya Yap Kay.
"Seorang yang memiliki kepandaian golok selihai itu, dengan senjata setajam itu, masakah dalam semalam suntuk sengaja meluruk kemari hendak menyembelih ayam memotong anjing?"
"Jika otak orang itu sinting, tentulah dia terlalu iseng dan mencari kerja pocokan untuk melemaskan otot dan tulang."
"Masakah tuan-tuan belum bisa meraba kemana tujuan dari perbuatan pembunuh ini?"
Tanya Hun Cay-thian.
"Tak bisa kuraba,"
Sahut Yap Kay.
"Umpama kalian belum bisa meraba juntrungannya, tentunya pernah juga mendengar beberapa patah kata."
"Kata-kata apa?"
Tanya Buyung Bing-cu. Sorot mata Hun Cay-thian mendadak menampilkan rasa takut dan seram, katanya tandas.
"Anjing ayam tidak ketinggalan hidup!"
"Apa? Anjing ayam tidak ketinggalan hidup?"
Seru Buyung Bing-cu terkesiap kaget.
"kenapa ayam anjing diberantas seluruhnya?"
"Kalau membunuh tidak beres keseluruhannya, masakah bisa tidak meninggalkan bibit bencana di kelak kemudian hari?"
"Kenapa harus memberantas sampai ke akar-akarnya? Memangnya... para pembunuh delapan belas tahun yang menghabiskan seluruh anak murid Sin-to-bun itu, hari ini meluruk datang pula ke Ban-be-tong?"
Tanya Buyung Bing-cu tak mengerti.
"Tentulah mereka adanya,"
Sahut Hun Cay-thian yakin.
Meski sedapat mungkin dia kendalikan emosinya, namun rona mukanya sudah menghijau.
setelah mengatakan kata-katanya, lekas dia angkat cangkir menenggak habis araknya, lalu menyambung perlahan.
"Kecuali mereka, terang tak mungkin orang lain."
"Darimana kau bisa berpendapat begitu?"
Tanya Buyung Bing-cu "Kalau bukan mereka, kenapa ayam anjing dibunuhnya lebih dulu, baru dia membunuh manusia? Bukankah berarti mengusik rumput mengejutkan ular?"
"Lalu kenapa pula mereka harus berbuat demikian?"
Tanya Buyung Bing-cu setengah tak percaya. Hun Cay-thian mengepal jarinya kencang-kencang, keringat dingin sudah membasahi jidatnya, katanya dengan mengertak gigi.
"Karena mereka tidak ingin kami mati terlalu cepat, mati dengan gampang!"
Di tengah kegelapan malam di luar yang sepi, sayup-sayup terdengar suara ringkikan kuda, suasana di dalam Ban-be-tong menjadi tambah sunyi, tegang mencekam perasaan.
Pho Ang-soat tetap mengawasi golok di tangannya.
Yap Kay sebaliknya celingukan kian kemari memperhatikan air muka setiap hadirin.
Entah sejak kapan kembali Kongsun Toan sudah mencekal sebuah cangkir yang lain, dengan lahapnya dia sedang menenggak habis araknya secawan demi secawan.
Sementara Hoa Boan-thian sedang berdiri menggendong kedua tangannya, dengan enteng dia mondar-mandir di bawah dinding gambar kuda-kuda yang hidup itu, langkah kakinya berat dan berdentam laksana diganduli rantai besar ribuan kati beratnya.
Dengan muka memutih Hwi-thian-ci-cu sedang menengadah melihat langit-langit rumah dengan mendelong, entah apa yang sedang dipikirkan.
Arak yang baru masuk ke dalam perut Buyung Bing-cu lekas sekali sudah mengalir keluar menjadi keringat dingin.
Peristiwa berdarah delapan belas tahun yang lalu ini, bila tiada sangkutpautnya dengan dia, kenapa dia harus menampilkan perasaan yang begitu takut?
Walaupun Ban-be-tong-cu masih tenang-tenang dan duduk lurus tak merubah gaya duduknya, seolah-olah segala persoalan tidak menyangkut dirinya Akan tetapi kedua tangannya itu sudah amblas melesak ke permukaan meja.
Sekali mabuk menghilangkan kerisauan hati, memang orang yang mabuk lebih enak.
Tapi apa benar Loh Loh-san betul-betul mabuk?
Seketika ujung mulut Yap Kay menampilkan senyuman manis, mendadak dia menyadari di antara sekian banyak hadirin, yang benar-benar tidak berubah hanyalah dirinya sendiri.
Lilin besar sudah menjadi pendek.
Angin menghembus masuk dari balik pintu angin, sehingga api lilin bergoyang-gontai, sehingga roman muka orang-orang di dalam Ban-be-tong ini ikut berubah-ubah, dari hijau menjadi pucat lalu merah menyala, seolah-olah setiap hadirin mengandung maksud-maksud jahat terhadap sesama orang yang hadir dalam rumah ini.
Sesudah lama keheningan ini mencekam perasaan mereka, akhirnya Buyung Bing-cu mengunjuk tawa kecut, katanya lebih dulu.
"Masih ada sebuah hal yang belum kumengerti."
"Oh? Hal apa?"
Tanya Hun Cay-thian.
"Mereka sudah membabat habis seluruh Sin-to-tong, seharusnya kalianlah yang mencari mereka untuk menuntut balas, kenapa malah mereka yang lebih dulu meluruk ke sini mencari perkara kepada kalian?"
"Sin-to dan Ban-be semula memangnya seperguruan, sejak mula mereka sudah berjuang bersama, senasib sepenanggungan."
"Jadi kau maksudkan bahwa mereka pun bermusuhan dengan pihak Ban-be-tong kalian?"
Buyung Bing-cu menegaskan.
"Malahan dendam kesumat yang tidak mungkin dilerai lagi,"
Ujar Hun Cay-thian.
"Kalau begitu kenapa mereka harus menunggu delapan belas tahun baru meluruk kemari membuat perhitungan?"
Pandangan Hun Cay-thian seolah-olah tertuju ke tempat yang jauh, katanya pelan-pelan.
"Pertempuran delapan belas tahun yang lalu, meskipun mereka memberantas habis seluruh orangorang Sin-to-tong, namun kerugian yang mereka derita pun tidak ringan"
"Maksudmu waktu itu mereka sendiri sudah tidak punya tenaga untuk mencari perhitungan kepada kalian?"
"Ban-be-tong berdiri di Kwan-tang, pasukan kudanya sudah berderap luas memasuki Tionggoan selama tiga puluhan tahun, belum pernah ada seseorang yang berani mencari permusuhan dan mengganggu usik meski hanya sebatang rumput atau sebatang pohon milik Ban-be-tong kami."
"Umpama benar mereka harus memulihkan tenaga dan menghimpun tenaga lagi, toh tidak perlu menunggu delapan belas tahun lamanya,"
Debat Buyung Bing-cu. Setajam golok mata Hun Cay-thian menatap ke mukanya, katanya.
"Mungkin karena mereka sendiri sudah patah semangat, banyak yang cacad dan tenaga lemah karena sudah tua, oleh karena itu mereka perlu menunggu tunas-tunas muda berkembang dan tumbuh dewasa, baru berani meluruk datang menuntut balas."
"Agaknya tuan memang ada menaruh curiga kepada kami beramai?"
"Sakit hati delapan belas tahun yang lalu masih terbenam dalam sanubari, sakit hati hari ini kembali tumbuh, ratusan saudara penghuni Ban-be-tong semua mempertaruhkan jiwanya untuk pertempuran terakhir yang menentukan ini, apakah tidak pantas kalau kami beramai harus bertindak kelewatan?"
"Tapi bukankah semalam kami baru tiba di tempat ini?"
Buyung Bign-cu mendebat lagi. Yap Kay tiba-tiba tertawa, selanya.
"Justru karena kami orang-orang asing yang baru tiba kemarin malam, maka kecurigaan mereka terhadap kami lebih besar."
"Kenapa?"
Tanya Buyung Bing-cu pula.
"Karena kejadian itu baru kemarin malam pula terjadi."
"Memangnya begitu tiba di sini, kami lantas turun tangan, apakah tidak mungkin orang-orang yang sudah tiba tujuh delapan hari lebih dulu yang turun tangan?"
"Dendam perhitungan delapan belas tahun yang lalu, sedetik pun tidak bisa ditunda-tunda lagi, apalagi harus menunggu tujuh delapan hari?"
Buyung Bing-cu menyeka keringat di atas jidatnya, gumamnya.
"Soal ini tidak boleh dicampuraduk dalam persoalan ini."
"Bisa tidak dibicarakan bersama, yang terang kita harus berterima kasih kepadanya."
"Terima kasih?"
Yap Kay menenggak dulu secangkir arak, lalu katanya dengan tersenyum.
"Jika bukan kecurigaan terhadap kita terlalu besar, masakah hari ini kita bisa berkumpul di sini menikmati arak simpanan bertahun-tahun dari Ban-be-tong?"
Tiba-tiba Loh Loh-san menggebrak meja pula, serunya tertawa lebar.
"Bagus, ucapan bagus, seseorang bila bisa berpikir secara terbuka menghadapi setiap persoalan, maka dia akan hidup senang bahagia menjadi manusia... arak, mana arak."
Arak segera ditenggaknya habis. Buyung Bing-cu segera mengejek dingin.
"Ternyata bisa juga kau menenggak habis secangkir arak lagi."
Melotot mata Loh Loh-san, katanya.
"Asal aku tidak pernah melakukan perbuatan terkutuk, peduli dia mau menganggap aku ini sebagai pembunuh ayam, pembunuh anjing, yang terang memang tiada sangkut-pautnya dengan aku, kenapa aku tidak bisa menghabiskan arak ini?... araknya? Masih ada arak tidak?"
Waktu arak diangsurkan kepadanya, dia sudah roboh mendekam di atas meja lagi, segera hidungnya menggeros keras.
Dengan mendongkol Hoa Boan-thian melotot kepadanya, ingin rasanya sekali jinjing dia seret orang ini dari tempat duduknya terus dilempar keluar pintu.
Terhadap orang lain, terhadap urusan apa pun, selalu Hoa Boan-thian dapat menguasai diri dan bersabar, menguasai emosi.
Kalau tidak, masakah dia sudi berdiri semalam suntuk di tengah hembusan angin badai yang dingin dan kotor itu, tapi begitu berhadapan dengan Loh Loh-san, amarahnya seketika seperti hendak meledak, rona mukanya yang dingin kaku seketika menampilkan rasa muak dan benci.
Yap Kay sebaliknya amat tertarik.
Terhadap persoalan apa pun, jika ada sesuatu yang rada ganjil atau istimewa, sekali-kali dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan malah dia pasti amat ketarik untuk mencampuri atau ingin mengetahui seluk-beluknya.
Di kala dia mengamat-amati orang lain, Ban-be-tong-cu pun sedang mengawasi dirinya.
Entah memang sengaja atau tidak?
Sorot mata kedua orang tiba-tiba bentrok, laksana tajamnya senjata yang tiba-tiba saling bentur, seketika kedua sorot mata mereka sama-sama memuncratkan kembang api.
Ban-be-tong-cu tertawa dipaksakan seolah-olah hendak mengutarakan apa-apa.
Tapi tiba-tiba Buyung Bing-cu mengejek dingin pula.
"Sekarang boleh terhitung aku paham seluruhnya."
"Kau paham apa?"
Tanya Hun Cay-thian.
"Tentunya Sam-lopan berpendapat, di antara kami berlima, satu di antaranya pasti kemari dengan tujuan menuntut balas, bahwa hari ini kami diundang dan dikumpulkan di sini, bukan lain adalah hendak menemukan siapakah orang itu sebenarnya!"
"Apakah bisa menemukannya?"
Tanya Ban-be-tong-cu tawar.
"Tidak mungkin,"
Sahut Buyung Bing-cu.
"Bukan saja orang tidak memberikan tanda pengenal di raut mukanya, kalau dia diharuskan mengakui sendiri, mungkin lebih sukar dari memanjat ke langit"
Ban-be-tong-cu tersenyum, ujarnya.
"Kalau tidak bisa ditemukan, buat apa Cayhe harus bersusah-payah dengan mengadakan perjamuan minum arak ini?"
Yap Kay segera menimbrung dengan tertawa.
"Urusan yang susah-susah tentunya Sam-lopan tidak akan sudi melakukannya."
"Kiranya Yap-heng lebih memahami maksudku."
"Pertemuan malam ini,"
Sela Buyung Bing-cu pula.
"Apakah maksud yang sebenarnya? Apakah Sam-lopan masih ada petunjuk lainnya? Ataukah memang benar-benar hanya ingin mengundang kami minum sepuasnya belaka?"
Setelah menenggak habis tiga cangkir arak, agaknya pemuda anak hartawan ini menjadi besar nyalinya, pertanyaannya selalu tajam dan mendesak keterangan tuan rumah.
Agaknya Yap Kay pun menaruh perhatian akan hal ini, seolah-olah pada diri Buyung Bing-cu dia menemukan sesuatu tanda-tanda yang luar biasa.
Ban-be-tong-cu masih menepekur, tiba-tiba dia bangkit berdiri, katanya tertawa.
"Sekarang malam sudah larut, jalan kembali ke kota terlampau jauh, untuk itu Cayhe sudah menyiapkan beberapa kamar tamu untuk kalian, sukalah kalian menyesuaikan diri dengan keadaan yang serba kekurangan ini, ada omongan apa biarlah dibicarakan besok saja."
Yap Kay segera menggeliat sambit berbangkis, katanya.
"Benar, ada omongan apa tidak berhalangan dibicarakan besok saja."
Hwi-thian-ci-cu baru sekarang buka suara.
"Agaknya Yap-heng memang seorang yang bisa menyesuaikan diri. Sayang sekali bukan setiap orang di dunia ini bisa seperti Yap-heng, gampang mau menyesuaikan diri dengan keadaan."
Bersinar pandangan Ban-be-tong-cu, tanyanya.
"Jadi tuan?"
Hwi-thian-ci-cu menghela napas, ujarnya.
"Orang seperti aku ini, kalau tidak mau menyesuaikan diri juga tidak bisa lagi "
Sementara pandangan Buyung Bing-cu tertuju pada delapan pedang di atas meja itu katanya.
"Apalagi tempat di sini tentunya jauh lebih aman, nyaman dan menyegarkan daripada hotel di dalam kota."
"Pho-kongcu "Asal golokku ini boleh tinggal di sini, maka jiwa ragaku berada di sini,"
Sahut Pho Ang-soat.
"Tidak bisa,"
Teriak Loh Loh-san.
"Aku tidak bisa tinggal di sini."
Hoa Boan-thian seketika menarik muka, katanya.
"Kenapa tidak bisa tinggal di sini?"
"Jika tengah malam buta rata bocah itu gentayangan main bunuh, celaka bila kesalahan memenggal kepalaku, bukankah aku mampus dengan penasaran?"
"Jadi tuan berkukuh hendak tinggal pergi?"
Dengan tingkah mabuknya, mendadak Loh Loh-san tertawa, katanya.
"Tapi jika besok pagi kalian masih bisa menyediakan arak, umpama betul-betul kepalaku terpenggal mampus juga setimpal dan pasrah nasib."
Setiap orang bangkit berdiri, tiada satu pun yang berkeputusan hendak berlalu.
Mereka merasa meski malam ini sukar mereka lewatkan dengan tenang dan tenteram, namun tinggal di sini lebih baik daripada berlalu atau pulang ke kota.
Apalagi seorang diri berjalan di tengah padang rumput yang belukar, bukan mustahil kemungkinan bisa mengalami sesuatu di luar dugaan.
Hanya Kongsun Toan seorang yang masih duduk angker di tempatnya, secangkir demi secangkir dia terus melalap arak dari cangkirnya.
BAB 5.
MALAM DI TEPI KOTA Angin badai mereda, malam semakin larut.
Orang yang berjalan di depan sebagai penunjuk jalan sambil menenteng sebuah lentera adalah Hun Cay-thian.
Dengan langkah kakinya yang berat, pelan-pelan Pho Ang-soat mengikut di belakangnya, ada sementara orang memang selamanya tidak merelakan orang lain berjalan di belakangnya.
Yap Kay justru sengaja mengendorkan langkahnya, dia ketinggalan di belakang.
Terpaksa Pho Ang-soat ikut melambatkan jalannya, berjalan berjajar di sampingnya.
Langkah kakinya yang berat terdengar laksana tajamnya golok sedang mengerik tulang.
Tiba-tiba Yap Kay tertawa dan katanya membuka kesunyian.
"Sungguh aku tidak habis mengerti, ternyata kau pun mau tinggal di sini."
"Oh?"
Pho Ang-soat bersuara dalam mulut.
"Malam ini Ban-be-tong-cu mengundang kita, kemungkinan maksudnya ingin mengetahui apakah di antara orang-orang yang diundangnya ini ada yang tak mau tinggal di sini."
"Kau bukan Ban-be-tong-cu."
"Kalau aku ini dia, aku pun akan berbuat seperti ini, siapa pun jika dia bermaksud membunuh habis keluarga musuhnya, sekali-kali dia tidak akan sudi tinggal di rumah musuhnya."
Setelah berpikir sebentar, dia lantas menambahkan.
"Umpama mau tinggal, tentulah dia bisa memperlihatkan gerak-gerik yang janggal dan lain daripada orang lain, malah bukan mustahil dia akan melakukan sesuatu perbuatan yang luar biasa."
"Jika kau, kau pun akan berbuat demikian?"
Tanya Pho Ang-soat. Yap Kay tertawa, tiba-tiba dia mengalihkan ke soal lain.
"Tahukah kau, siapakah orang yang paling dia curigai dalam benaknya?"
"Siapa?"
"Kau dan aku."
Pho Ang-soat tiba-tiba menghentikan langkahnya, dengan nanar dia mengawasi Yap Kay, tanyanya tegas.
"Sebetulnya kau atau bukan?"
Yap Kay ikut berhenti dan putar badan berhadapan sahutnya kalem.
"Seharusnya akulah yang mengajukan pertanyaan ini kepadamu, sebetulnya kau atau bukan?"
Keduanya sama-sama berdiri tegak di tempatnya tanpa bergerak, keduanya saling pandang, mendadak mereka sama-sama tertawa.
"Agaknya baru pertama kali ini aku melihat kau tertawa,"
Kata Yap Kay.
"Bukan mustahil yang terakhir kalinya pula,"
Sahut Pho Ang-soat. Mendadak Hoa Boan-thian muncul dari kegelapan, biji matanya memancarkan sinar terang sedang mengawasi mereka, katanya dengan tersenyum.
"Kenapa kalian sama-sama tertawa riang?"
"Karena sesuatu yang tidak menggelikan."
"Ya, sedikit pun tidak menggelikan,"
Pho Ang-soat menambahkan. Kongsun Toan masih sibuk menenggak araknya tak habis-habisnya. Ban-be-tong-cu mengawasi orang minum, lama berselang, akhirnya dia menghela napas, katanya.
"Aku tahu kau ingin minum sampai mabuk, tapi setelah kau mabuk tidak akan bisa membereskan sesuatu."
Mendadak dengan sekuat tenaga Kongsun Toan menggebrak meja, katanya keras.
"Kalau tidak mau memangnya kenapa? Bukankah sama saja membikin jengkel orang lain?"
"Bukan dibikin jengkel, itulah bersahabat, siapa pun ada kalanya dia harus bisa menahan sedikit sabar."
Jari-jari Kongsun Toan pelan-pelan meremas kencang, sehingga arak mengalir keluar membasahi meja, Kongsun Toan mengawasi cangkir yang teremas gepeng di telapak tangannya, katanya tertawa dingin.
"Tahan, sabar! Selama tiga puluh tahun aku ikut kau keluar hidup masuk mampus, mengalami seratus tujuh puluhan kali pertempuran besar kecil, darahku yang mengalir sudah cukup membuat orang kelelap mati, sekarang kau masih mau menyuruh aku bersabar, lebih celaka lagi hari ini aku harus dibuat malu dan dongkol oleh seorang bocah timpang."
Sikap Ban-be-tong-cu masih tetap tenang, katanya dengan menghela napas.
"Aku tahu akan tekanan batinmu, aku pun.....
"Tak usah kau katakan lagi,"
Mendadak Kongsun Toan menukas dengan keras.
"Aku sudah tahu akan maksudmu, sekarang kau sudah punya keluarga, punya keturunan, maka setiap tindakanmu tidak boleh sembrono seperti dulu lagi."
Sambil menggebrak meja, mulutnya mengomel lebih lanjut, sambil menyungging senyum sinis.
"Aku tidak lebih hanya seorang pesuruh, seorang pegawai kecil dari Ban-be-tong, seumpama harus dibuat jengkel dan dipermainkan orang demi Sam-lopan, sudah merupakan suratan takdir."
Mengawasi muka orang, terpancar perasaan duka pada sorot mata Ban-be-tong-cu, lama dia termenung, baru membuka suara.
"Siapakah majikan? Siapa pula pegawai? Dunia kita ini semula memangnya kita bersama yang membuka dan mendirikannya, umpama anak kandungku sendiri tidak seakrab dan sekental hubungan kita. Segala sesuatu di tempat ini, kau memiliki separo, apa pun yang kau inginkan, sembarang waktu bisa kau ambil, umpama kau ingin putriku, aku pun boleh segera memberikan kepadamu."
Suaranya terdengar tawar dan datar, namun makna dan perasaan yang terkandung di dalam setiap patah katanya benar-benar cukup membuat seseorang yang berhati baja mengucurkan air mata.
Kongsun Toan tertunduk diam, matanya berkaca-kaca, tak tertahan air matanya akhirnya berketes-ketes.
Untunglah saat itu Hun Cay-thian, Hoa Boan-thian berdua sudah balik kembali.
Di hadapan kedua orang ini, sikap Ban-be-tong-cu lebih keren dan tenang, katanya dengan suara berat.
"Apakah mereka semua tinggal?"
Lekas Hun Cay-thian mengiakan. Perasaan duka pada sorot mata Ban-be-tong-cu sudah sirna, kini berubah dingin kaku dan tajam, katanya setelah menepekur sebentar.
"Loh Loh-san, Buyung Bing-cu dan maling terbang itu tinggal tidak perlu dibuat heran."
"Kau kira mereka tidak perlu dicurigai?"
Tanya Hun Cay-thian.
"Paling tidak kecurigaan terhadap mereka lebih ringan."
"Kukira belum tentu,"
Sela Hoa Boan-thian.
"Belum tentu?"
Tanya Ban-be-tong-cu.
"Buyung Bing-cu bukan orang yang gampang diurus, sikap dan tingkah-lakunya memang sengaja dia lakukan, menurut kedudukannya, setelah dihina dan diremehkan seperti itu, tak mungkin dia ada muka masih bertingkah di sini, membual lagi."
Ban-be-tong-cu manggut-manggut, katanya.
"Aku pun sudah menduga perjalanannya kali ini tentu mempunyai suatu rencana dan tujuan, tapi terang tujuannya bukan terhadap Ban-be-tong."
"Bagaimana dengan Loh Loh-san?"
Tanya Hoa Boan-thian.
"Sastrawan palsu ini berada dimana pun selalu suka mengagulkan diri sebagai angkatan tua, kenapa dari tempat sejauh itu, susahpayah meluruk datang ke perbatasan yang serba miskin dan belukar ini?"
"Kemungkinan dia sedang menghindarkan diri dari kejaran musuhnya,"
Ujar Ban-be-tong-cu. Hoa Boan-thian tertawa dingin, katanya.
"Anggota Bu-tong-pay banyak dan tokoh-tokoh silatnya berkepandaian tinggi, selamanya hanya orang lain yang menyembunyikan diri dari tuntutan musuh mereka, kapan mereka pernah lari dari tanggung jawab?"
Tiba-tiba Ban-be-tong-cu menghela napas, katanya.
"Dua tiga tahun yang lalu, penghinaan sekali tusukan pedang di bawah bukit Bu-tong-san itu, sampai sekarang masih belum bisa kau lupakan?"
"Aku tidak pernah melupakannya,"
Sahut Hoa Boan-thian, rona mukanya menjadi kelam.
"Tapi Bu-tong kiam khek Wi hun cu yang melukai kau dulu bukankah sudah mati di bawah pedangmu?"
Kata Hoa Boan-thian sambil mengertak gigi penuh kebencian.
"Sayang sekali anak murid Butong-pay belum terbunuh habis seluruhnya."
Mengawasi orang, Ban-be-tong-cu menghela napas, katanya.
"Kepalamu dingin, pandanganmu tajam, tiada orang bisa melawan kecekatanmu dalam menghadapi perubahan setiap kejadian, sayang sekali jiwamu terlalu sempit, kemungkinan kelak kau akan dirugikan oleh watakmu yang buruk ini."
Hoa Boan-thian menundukkan kepala, mulutnya terkancing, tapi dadanya turun naik, jelas perasaannya tidak tenang. Hun Cay-thian ganti tampil bicara dengan persoalan lain.
"Di antara kelima orang ini, walau kecurigaan terbesar tertuju kepada Pho Ang-soat, tapi seperti apa yang dikatakan Yap Kay, jika benar dia kemari ... untuk menuntut balas, buat apa dia datang ke Ban-be-tong membawa golok?"
Sorot mata Ban-be-tong-cu menaruh perhatian dan penuh arti, katanya.
"Bagaimana dengan Yap Kay sendiri?"
Hun Cay-thian berpikir sebentar, katanya.
"Ilmu silat orang ini amat tinggi, cerdik dan berpikiran panjang, jika benar dia adanya, jelas benar-benar merupakan musuh tangguh yang amat menakutkan."
Mendadak Kongsun Toan menimbrung dengan suara dingin.
"Kalian sudah bicara panjang lebar, sudahkah kalian tahu siapa sebenarnya yang harus kalian curigai?"
"Belum ada,"
Sahut Hun Cay-thian.
"Kalau toh belum bisa kalian tentukan kepada siapa kalian harus curiga, kenapa tidak bunuh saja kelima orang itu, kan beres."
"Jika salah membunuh bagaimana?"
Tanya Ban-be-tong-cu.
"Salah membunuh, boleh cari yang lain dan bunuh lagi."
"Sampai kapan baru pembunuhan ini berakhir?"
Tanya Ban-be-tong-cu pula. Kongsun Toan mengepal erat jari-jarinya, otot hijau di jidatnya merongkol keluar. Sekonyong-konyong sebuah suara anak kecil memanggil di luar pintu.
"Su-siok (paman keempat), aku tidak bisa tidur, marilah kau mendongeng saja supaya aku lekas tidur."
Mendengar suara bocah ini, Kongsun Toan menghela napas, seolah-olah mendadak dia berubah menjadi orang lain, seluruh daging badannya yang tegang tadi seketika mengendor, pelan-pelan dia melangkah keluar.
Mengawasi bayangan punggung orang, sorot mata Ban-be-tong-cu tak ubahnya seperti sedang mengawasi putranya sendiri yang paling disayang.
Pada waktu itu, di luar terdengar suara kentongan ditalu, malam semakin larut, sudah kentongan kedua.
Kata Ban-be-tong-cu pelan-pelan.
"Menurut aturan, kalau toh mereka mau tinggal menginap di sini, tentu tidak akan menunjukkan sesuatu gerakan apa-apa, tapi kami tidak boleh lena dan ceroboh."
Hun Cay-thian dan Hoa Boan-thian mengiakan bersama. Hun Cay-thian segera menambahkan.
"Aku sudah memberi petunjuk kepada saudara-saudara kita yang jaga malam ini kutambah delapan kelompok, sejak sekarang setiap setengah jam mereka harus meronda saling bertemu pada tempat tertentu sebanyak tiga kali, asal melihat orang yang patut dicurigai, segera harus membunyikan peluit atau menabuh gembreng memberi laporan."
Ban-be-tong-cu manggut-manggut, tiba-tiba seperti amat letih dia berdiri dan melangkah enteng keluar pintu, selepas mata memandang, dia mengawasi padang rumput yang sudah diselimuti tabir malam itu, perasaannya seperti gelapnya malam yang mulai diselimuti kabut tebal.
Hun Cay-thian mengikut di belakangnya, katanya sambil menghela napas.
"Semoga malam ini bisa damai tenteram tak terjadi apa-apa, supaya kau bisa istirahat sehari dengan baik-baik, persoalan yang harus kau hadapi besok pagi mungkin lebih banyak, lebih sulit."
Ban-be-tong-cu menepuk pundaknya, katanya setelah menghela napas dengan menengadah.
"Setelah pertempuran kali ini, memang tiba waktunya kita harus istirahat. Hembusan angin terus berlalu, sinar lampu di atas tiang bendera itu tiba-tiba terhembus padam, tinggal bulan sabit yang menyendiri tergantung di cakrawala masih memancarkan sinar redup. Dengan mendelong Hun Cay-thian mendongak mengawasi bulan sabit ini, sorot matanya diliputi kerisauan dan kekuatiran yang tidak terhingga. Bukankah Ban-be-tong bakal mengalami nasib yang sama dengan lentera di atas tiang bendera yang tinggi itu, meski tinggi tempatnya, jauh sinar lampunya mencapai, namun siapa tahu kapan kecemerlangan sinarnya itu bakal pudar dan padam? Malam semakin kelam, sinar rembulan sudah remang-remang, suasana sepi tak terdengar ringkik kuda. Di padang rumput belukar di luar perbatasan ini di tengah malam yang hening dingin ini, berapa orang pula yang bisa pulas? Mata Yap Kay terbuka lebar, dengan mendelong dia mengawasi kegelapan malam di luar jendela. Kini dia tidak tertawa. Senyuman yang selalu terkulum pada mukanya, bila tiada orang senyuman mekarnya ini pasti kuncup. Dia tidak tidur. Meski suasana di Ban-be-tong sini hening lelap, tapi pikirannya timbul tenggelam, seolah-olah pasukan perang yang sedang berderap menuju ke medan laga, sayang sekali siapa pun tiada yang tahu persoalan apa yang tengah bergejolak dalam benaknya. Pelan-pelan dia mengelus jari-jarinya, jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya terasa kasar, kasar seperti batu padas, telapak tangannya sudah kapalan, menonjolkan kulit daging yang keras. Itulah bekas-bekas peninggalan selama bertahun-tahun dia memegang pisau. Tapi dimanakah pisaunya? Selamanya dia tidak pernah membawa pisau, apakah karena pisaunya sudah dia sembunyikan di dalam hati? Tangan Pho Ang-soat masih menggenggam kencang golok hitamnya. Dia pun tidak tidur, sampai sepatunya pun tidak dia lepas. Sinar rembulan yang redup dingin menyinari mukanya yang pucat kaku, menyinari golok hitam di tangannya. Pernahkah goloknya ini dia cabut? Kentongan ketiga ... Kentongan keempat... Sekonyong-konyong di tengah kegelapan malam nan sunyi senyap ini terdengarlah suara tambur dan gembreng ditabuh bertalu-talu dengan riuhnya. Di bagian belakang Ban-be-tong serempak melesat keluar empat bayangan orang, bagai anak panah cepatnya mereka melesat ke arah barat dimana terdapat istal kuda. Hembusan angin seolah-olah membawa bau amis darah yang bisa memualkan orang. Lampu di kamar Yap Kay menyala lebih dulu, sesaat kemudian baru dia berlari keluar. Buyung Bing-cu dan Hwi-thian-ci-cu dalam waktu yang sama mendorong pintu berlari keluar. Cuma pintu kamar Loh Loh-san yang masih terkancing rapat, dari dalam terdengar suara gerosan keras seperti babi mendengkur. Sebaliknya pintu kamar Pho Ang-soat tidak bergeming, tak menunjukkan sesuatu reaksi.
"Apakah barusan ada orang memberi tanda dengan pukulan gembreng?"
Tanya Buyung Bingcu. Yap Kay manggut-manggut.
"Kau tahu ada kejadian apa?"
Tanya Buyung Bing-cu.
Yap Kay geleng-geleng kepala.
Pada saat itulah tampak dua sosok bayangan orang tengah melesat mendatangi, seorang menenteng sebilah pedang yang memancarkan sinar kemilau seperti kembang beterbangan, sebaliknya seorang yang lain bergerak lincah seperti burung bangau.
Sorot mata Hoa Boan-thian melirik ke arah tiga orang yang berdiri di luar pintu, gerak badannya tidak berhenti, langsung menerjang ke arah pintu kamar Loh Loh-san.
Di depan pintu dia berhenti sejenak, didengarnya suara gerosan keras seperti babi mendengkur.
Sementara bayangan Hun Cay-thian bersalto di tengah udara, dengan ringan meluncur ke depan pintu kamar Pho Ang-soat, serempak tangannya mendorong, ternyata dengan mudah pintunya terdorong terbuka.
Tampak Pho Ang-soat dengan angkernya berdiri di belakang pintu, tangannya masih mencekal golok, sorot matanya tajam bersinar menciutkan nyali orang.
Tanpa disadari Hun Cay-thian menyurut mundur dua langkah, mukanya membesi hijau, katanya.
"Barusan kalian tidak pernah meninggalkan tempat ini?"
Tiada yang menjawab. Memang tidak perlu pertanyaan ini dijawab.
"Siapa di antara kalian yang mendengar sesuatu gerakan atau suara?"
Tanya pula Hoa Boanthian.
Tiada yang menjawab pula.
Buyung Bing-cu mendadak mengerut kening seperti hendak buka mulut, namun belum sempat suaranya keluar, tiba-tiba dia terbungkuk-bungkuk dan muntahmuntah.
Kiranya bau darah yang anyir dan amis itu terhembus angin sampai di sini.
Sekonyong-konyong ribuan kuda meringkik dan gaduh laksana dunia hampir kiamat.
Langit bergoncang, bumi bergetar.
Mata mengalirkan darah bulan tidak bersinar....
Mata mengalirkan darah, bulan tidak bersinar.
Ribuan kuda meringkik, manusia putus ususnya ....
Siapa pula yang tahu tragedi yang paling mengenaskan dan suara apa pula yang paling menakutkan di dunia ini?
Terang sekali bukan pekik orang hutan di dalam selat sempit, bukan jerit tangis setan-setan gentayangan di tanah pekuburan, namun itulah suara paduan ringkik dan lolong laksaan kuda yang serempak menyatakan duka citanya di tengah malam kelam di padang rumput ini.
Tiada orang yang bisa melukiskan dengan kata-kata suara macam apakah itu, malah mungkin juga belum pernah ada orang yang mendengarnya.
Jika tidak dunia kiamat atau terjadi bencana alam, jika tidak mengalami peristiwa tragis, masakah sekian banyak kuda di tengah malam buta rata meringkik dan melolong bersama, suaranya yang memilukan?
Umpama seorang yang berhati baja, mendengar suara seperti itu, tak urung pasti berdiri bulu roma serta serasa terbang arwahnya.
Istal di bagian barat berisikan kuda-kuda jempolan dan pilihan satu di antara seribu, kuda pilihan yang takkan bisa dibeli dengan laksaan uang emas.
Darah segar masih mengalir dengan derasnya dari dalam istal, bau amis begitu tebal membuat siapa pun yang mengendusnya pasti tumpah-tumpah.
Namun Ban-be-tong-cu tidak tumpah.
Dengan kaku dia berdiri di antara genangan air darah kuda-kudanya yang tersayang, seperti kehilangan semangat.
Sementara dengan kedua lengannya yang kokoh kekar Kongsun Toan memeluk sebatang pohon di depan istal, begitu kencang pelukannya, namun sekujur badan masih gemetar dengan hebat sampai daun-daun pohon rontok berhamburan.
Genangan darah membuat daun-daun itu terapung.
Waktu Yap Kay tiba di tempat itu, tak usah bertanya, dia pun sudah paham apa yang telah terjadi.
Setiap orang yang mempunyai mata tentu sudah melihat dan mengerti.
Bagi orang yang punya hati baik, pasti dia tidak akan tega melihat keadaan yang begini mengenaskan.
Boleh dikata tiada binatang di dunia ini yang mempunyai potongan badan terindah seperti kuda, tiada yang mempunyai ketahanan dan ketabahan hidup seperti kuda.
Tulang-tulangnya yang kokoh kekar, tenaga hidupnya yang luar biasa, semua itu merupakan perlambang kehidupan yang paling sempurna dari kehidupan dunia binatang.
Memangnya siapa yang begitu kejam dan tega membunuhnya dengan sekali bacok memenggal kepalanya?
Sungguh pembunuhan yang lebih kejam dan telengas dari membunuh manusia.
Yap Kay menghela napas, waktu dia membalik badan, kebetulan dilihatnya Buyung Bing-cu di kejauhan sedang membungkuk badan tumpah-tumpah lagi.
Demikian pula selebar muka Hwithian-ci-cu pucat lesi, keringat dingin membasahi selebar mukanya.
Jauh di sebelah sana Pho Ang-soat berdiri di tempat gelap, tabir malam menyelubungi mukanya, namun sarung golok di tangannya masih menampilkan sinar kemilau ditimpak sinar bulan sabit yang redup.
Kongsun Toan melihat golok ini, segera dia memburu ke sana seraya membentak.
Baca Juga: Ilmu Ulat Sutera 4
Baca Juga: Pendekar Patung Emas 9