Eps 5 Peristiwa Merah Salju - Gu Long
Baca online Peristiwa Merah Salju - Gu Long
Cersil Peristiwa Merah Salju - Gu Long.
Seorang yang mengenakan pakaian merah kedodoran, menggendong kedua tangan, berdiri di ujung tiang, meski kuda itu berlari dengan pesat, tapi dia tetap berdiri angker dan tenang tak bergeming sedikit pun, kelihatannya seperti lebih tegak dari berdiri di tanah datar.
Hanya sekilas Yap Kay mengawasi dari kejauhan, tak tahan dia menghela napas, katanya menggumam seorang diri.
"Cepat benar kedatangannya."
Oo Kuda gagah itu sudah mencongklang masuk kota, setiap orang di jalan raya tak tahan untuk tidak mendongak mengawasi orang yang berada di atas tiang bendera itu dengan pandangan kaget, heran dan senang seperti melihat tontonan akrobatik.
Setiap penduduk kota sudah tahu siapa sebenarnya orang di atas tiang bendera ini.
Tiba-tiba kuda gagah itu meringkik panjang, lalu menghentikan langkah kakinya.
Orang serba merah di atas tiang tetap menggendong kedua tangannya di belakang, tanpa bergerak dia mendongak sambil bertanya.
"Sudah sampai?"
"Ya, sudah sampai,"
Laki-laki gundul segera menjawab.
"Ada orang keluar menyambut kedatangan kami tidak?"
"Agaknya ada beberapa orang."
"Orang macam apa saja mereka itu?"
"Sepintas pandang masih mirip manusia umumnya."
Orang baju merah manggut-manggut, gumamnya.
"Cuaca hari ini baik sekali, memang cocok hawa seperti ini untuk membunuh orang."
Yap Kay tertawa, katanya.
"Sayang sekali di atas sana hanya bisa membunuh beberapa ekor burung kecil, orang mana bisa kau bunuh dari tempat ketinggian seperti ini."
Orang baju merah segera menunduk melotot kepadanya.
Dilihat dari bawah, kelihatan jelas bahwa orang adalah seorang pemuda yang berwajah ganteng, sepasang biji matanya bersinar terang laksana mutiara.
Dari tempatnya yang tinggi melotot kepada Yap Kay, bentaknya bengis.
"Barusan dengan siapa kau bicara?"
"Kau,"
Sahut Yap Kay pendek.
"Kau tahu siapa aku ini?"
"Memangnya kau ini Lok Siau-ka, bocah yang membunuh orang tidak mengedipkan mata?"
"Agaknya tajam juga pandanganmu"
Jengek orang baju merah sinis.
"Ah, terlalu memuji."
"Siapa kau?"
"Aku she Yap."
"Mereka mengundangku kemari untuk membunuh orang, apa kau orangnya?"
"Agaknya bukan!"
"Sayang sekali,"
Ujar orang baju merah. Yap Kay ikut menghela napas, ujarnya.
"Ya, memang sayang sekali."
"Kau pun merasa sayang?"
"Ya, sedikit saja."
"Setelah kubunuh orang itu, bagaimana kalau kubunuh kau juga?"
"Baik sekali"
Sahut Yap Kay spontan, kelihatannya dia amat senang bertanya jawab. Orang baju merah menengadah pula, katanya dingin.
"Siapa bilang dia kelihatannya mirip manusia, memang matamu buta."
"Ya, memang mata hamba buta,"
Sahut laki-laki gundul.
"Apakah di sini ada orang she Tan?"
Tan-toakoan segera tampil ke depan, sahutnya dengan menjura.
"Inilah Cayhe adanya."
"Kau mengundangku kemari untuk membunuh orang?"
Tan-toakoan mengunjuk tawa, katanya.
"Kedatangan Lok-tayhiap terlalu pagi, orang itu belum lagi tiba."
"Lekas suruh dia kemari, supaya lebih cepat aku membunuhnya, tiada tempo aku menunggu terlalu lama di sini."
Dari nada ucapannya, seolah-olah kalau bisa mampus terbunuh olehnya, siapa pun akan merasakan suatu kebanggaan, maka sejak tadi seharusnya sudah menunggu kedatangannya malah.
Tan-toakoan menyengir dan kelabakan, katanya mengunjuk tawa dibuat-buat.
"Lok-tayhiap sudah tiba di sini, kenapa tidak silakan duduk dulu minum secangkir dua cangkir."
"Di atas sini lebih silir dan nyaman ...."
Tukas orang baju merah kaku dingin.
Belum habis dia bicara, sekonyong-konyong "krak" , tiang bendera sebesar mangkuk besar itu tiba-tiba putus tepat di tengah-tengah menjadi dua potong.
Orang baju merah seketika menggentak kedua lengannya, kelihatannya laksana kelelawar merah tengah pentang sayap, dengan berputar-putar melayang turun ke bawah.
Sudah tentu semua orang yang mengawasi dengan terkesima dan terbelalak, tiba-tiba Be Hong-ling bertepuk tangan seraya berseru memuji.
"Ginkang bagus...."
Baru dua patah diucapkan, tukasnya dingin.
"Memangnya siapa pula kau ini?"
Biji matanya hitam dan bersinar. Merah muka Be Hong-ling, sahutnya dengan menunduk.
"Aku ... aku she Be."
"Blang" , baru sekarang kutungan tiang bendera itu berdentam jatuh di atas atap rumah, jelas sekali kalau rumah itu ambruk bakal menindih kepala beberapa orang yang menonton di emperan rumah. Tak terkira laki-laki gundul itu tiba-tiba memburu maju, dengan kepalanya yang plontos itu dia terjang tiang bendera itu, sehingga mencelat tinggi dan jatuh empat-lima tombak, terlempar ke belakang wuwungan rumah. Tak tahan Be Hong-ling tertawa pula, katanya.
"Keras benar kepala orang ini!"
Orang baju merah berkata.
"Lebih baik kalau kepalamu pun sekeras kepalanya."
"Kenapa?"
Tanya Be Hong-ling sambil mengedipkan mata.
"Karena sisa tiang bendera yang lain itu, sebentar bakal mengetuk batok kepalamu,"
Ujar orang baju merah. Be Hong-ling tertegun. Kata orang baju merah lebih lanjut dengan muka merengut.
"Cara bagaimana tiang bendera ini bisa tiba-tiba putus? Memangnya bukan kau yang cari gara-gara? Begitu melihat tampangmu, aku lantas tahu kau pasti bukan manusia baik-baik."
Merah padam pula selebar muka Be Hong-ling, tapi kali ini merah lantaran hatinya terbakar, tangannya masih mencekal cemeti, mendadak dia ayun tangan terus melecut ke muka orang baju merah.
Memangnya kapan Be-toasiocia pernah dihina dan dibikin marah oleh orang.
Tak nyana sekali ulur tangan, dengan mudah ujung cemetinya telah ditangkap oleh orang baju merah, katanya tertawa dingin.
"Eeh, tidak kecil ya nyalimu, berani turun tangan terhadapku."
Begitu tangannya terangkat dan menarik ke belakang, tanpa kuasa Be Hong-ling terseret jatuh ke depan, baru saja tangannya hendak diulur menggampar muka orang, tahu-tahu tangannya yang sudah terulur itu tertangkap kencang oleh jari-jari orang.
Leher Be Hong-ling ikut merah, desisnya mengertak gigi.
"Kau ... lepaskan tidak cekalanmu?"
"Tidak!"
"Apa yang kau inginkan?"
"Berlutut dulu menyembah tiga kali kepadaku, lalu merangkak pula dua putaran, baru kuampuni jiwamu!"
"Jangan kau harap,"
Be Hong-ling berpekik beringas.
"Kalau begitu jangan harap aku akan melepaskan tanganmu."
Be Hong-ling mengertak gigi, serunya sambil membanting kaki.
"Orang she Yap, kau ... kau, memangnya kau sudah mampus?"
Yap Kay menghela napas, ujarnya.
"Memang di sini ada seorang mati, tapi terang bukan aku!"
"Siapa bilang bukan kau?"
Yap Kay tertawa sambil menengadah memandang ke wuwungan di seberang, katanya.
"Tiang bendera ini terang adalah kau yang membikin patah, kenapa kau biarkan saja orang lain terima getahnya lantaran perbuatanmu."
Tak tahan semua orang memandang ke sana, tapi wuwungan itu kosong, tiada apa-apa, jangan kata manusia, bayangan burung atau setan pun tidak terlihat.
Tapi tiba-tiba dari belakang wuwungan mencelat keluar dua buah benda kecil, jatuh di jalan raya, itulah kulit kacang.
Tak lama kemudian kembali sesuatu benda terlempar jatuh, itulah kulit buah jeruk yang sudah dikeringkan menjadi manisan.
Melihat kedua benda ini, seketika berubah rona muka orang baju merah, katanya dengan mengertak gigi.
"Agaknya setan keparat itu sudah datang."
Laki-laki gundul manggut-manggut, mendadak dia menghardik, badannya mencelat setinggi tujuh kaki sembari mengayunkan sisa tiang bendera yang kutung di tangannya, mengemplang ke belakang wuwungan rumah.
Terdengar angin menderu disusul suara gemuruh dari berhamburannya debu dan pecahan genting, seolah-olah seluruh rumah ini hendak dipukulnya ambruk.
Siapa tahu tiba-tiba dari balik rumah sebelah sana melesat selarik sinar hijau, hanya berkelebat sekali, tiang bendera itu tahu-tahu putus sejengkal pula.
Sudah tentu pukulan kepala gungul mengenai tempat kosong, sehingga badannya terjungkal roboh dan terbanting keras di atas tanah.
Tiang bendera yang putus itu tiba-tiba mencelat, lalu melayang jatuh pula, dari bawah emperan rumah sana kembali sinar hijau berkelebat.
Kutungan tiang bendera yang masih tiga kaki panjangnya itu sekaligus menjadi kutungan tujuh-delapan keping, semuanya berjatuhan ke atas tanah.
Pandangan mata semua orang mendelong.
Yap Kay menghela napas pula, katanya seperti menggumam.
"Pedang yang cepat sekali, memang tidak bernama kosong!"
Orang baju merah sebaliknya membanting kaki dengan gemas, katanya dongkol.
"Kalau sudah kemari, kenapa tidak kau turun saja."
Dari balik wuwungan sana ada seseorang menjawab.
"Di atas sini lebih silir!"
Orang baju merah berjingkrak mencak-mencak, serunya keras.
"Kenapa selalu bermusuhan dan mencari gara-gara kepadaku?"
Orang itu balas bertanya.
"Kenapa kau selalu suka bermusuhan dengan orang lain?"
"Aku bermusuhan dengan siapa?"
Tanya orang baju merah.
"Jelas kau tahu bahwa tiang bendera itu bukan nona Be itu yang memutuskan, kenapa kau mempersulit dirinya?"
"Aku sedang senang!"
Sahut orang baju merah. Yap Kay tertawa. Biasanya Be Hong-ling binal dan tidak kenal aturan, siapa tahu hari ini dia kebentur orang yang lebih binal, lebih tidak aturan lagi. Berkata orang baju merah.
"Memangnya aku tidak suka melihat tampangnya, apa sangkutpautnya dengan kau? Kenapa kau bicara membela dia kalau aku digoda dan dibuat marah orang lain, kenapa kau tidak bantu aku menghajarnya?"
"Siapa sih kau?"
Tanya orang itu.
"Aku ... aku ...."
Gelagapan orang baju merah.
"Lok Siau-ka gembong iblis yang membunuh manusia tanpa berkesip itu, kapan pernah dibuat marah dan terima dihina orang!"
Tertunduk kepala orang baju merah, katanya.
"Siapa bilang aku ini Lok Siau-ka?"
"Bukankah kau sendiri yang bilang?"
"Orang itu yang bilang, bukan aku."
"Kau bukan Lok Siau-ka, memangnya siapa sebenarnya Lok Siau-ka?"
"Kau'"
"Kalau aku ini Lok Siau-ka, kenapa kau hendak menyaru jadi dia?"
Tiba-tiba orang baju merah berjingkrak pula, serunya.
"Karena aku suka kepadamu, aku kemari hendak mencarimu."
Semua orang melenggong dan terkesima mendengar kata-katanya yang terus terang dan blak-blakan ini, semua orang mengawasinya.
"Kenapa kalian mengawasi aku,"
Seru orang baju merah.
"Memangnya aku tidak boleh menyukai dia?"
Tiba-tiba dia raih kain merah yang mengikat kepalanya, lalu katanya keras.
"Mata kalian memang sudah buta, masakah tiada yang tahu bahwa aku ini perempuan!"
Memang dia perempuan tulen. Lalu orang macam apa sebenarnya Lok Siau-ka itu? Kata orang baju merah mendongak.
"Aku sudah melepaskan dia, kenapa kau tidak turun tangan juga?"
Ternyata tak terdengar lagi jawaban atau suara orang itu di balik wuwungan.
"Kenapa tidak kau bicara? Memangnya mendadak kau bisu?"
Tetap tidak mendapat jawaban.
Orang baju merah mengertak gigi, mendadak dia menjejakkan kaki melompat naik ke sana.
Mana ada orang di belakang wuwungan?
Orangnya sudah menghilang, di sana ditinggalkan setumpukan kulit kacang yang sudah kosong.
Berubah muka orang baju merah, teriaknya.
"Siau Lok, orang she Lok, kau mampus dimana, hayo lekas keluar!"
Tiada orang keluar. Tiada orang menjawab. Orang baju merah membanting kaki dengan gemas, katanya.
"Akan kulihat sampai kapan kau bisa menyembunyikan diri? Umpama bersembunyi ke ujung langit, akan kutemukan kau juga."
Tampak bayangan merah berkelebat, tiba-tiba dia pun menghilang.
Laki-laki gundul itu tiba-tiba mencelat bangun, melompat ke punggung kuda terus dibedal pergi.
Tan-toakoan terlongong di tempat, katanya seperti menggumam.
"Agaknya perempuan itu rada sinting."
Be Hong-ling juga menjublek, tiba-tiba dia menghela napas, katanya.
"Aku sebaliknya kagum kepadanya."
Tan-toakoan melenggong, tanyanya.
"Kau mengaguminya?"
Be Hong-ling tertunduk, katanya perlahan.
"Bila dia menyukai seseorang, berani bicara blakblakan di hadapan orang banyak tanpa takut ditertawakan, paling tidak dia lebih berani dari aku."
Oo Tengah hari.
Waktu hembusan angin berlalu, kulit-kulit kacang beterbangan jatuh dari atap rumah, namun bayangan gelap dalam lubuk hati Be hong-ling tidak dihembusnya menghilang Sorot matanya seperti memandang ke tempat jauh, tapi sengaja atau tidak sengaja, tak tahan mengerling ke arah Yap Kay Yap Kay sebaliknya sedang mengawasi kulit-kulit kacang yang beterbangan dihembus angin, seolah-olah tiada sesuatu benda di dunia ini yang jauh lebih menarik perhatiannya kecuali kulitkulit kacang itu.
Entah karena apa tiba-tiba merah pula selebar muka Be Hong-ling, pelan-pelan dia membanting kaki, mulutnya mencibir bersuit ringan, kuda hitamnya segera berlari datang dari kejauhan.
Segera dia mencemplak naik ke punggungnya, tiba-tiba cemetinya terayun balik, kulit-kulit kacang di atas wuwungan yang tidak terhembus jatuh itu seketika mencelat dan berjatuhan ke muka Yap Kay, katanya keras.
"Kalau kau menyukainya, biar kuberikan semuanya kepadamu."
Waktu kulit-kulit kacang itu berjatuhan, kuda tunggangannya sudah mencongklang jauh. Seperti tertawa tidak tertawa Tan-toakoan mengawasi Yap Kay, katanya.
"Sebetulnya meski sesuatu tidak diuraikan dengan kata-kata, tidak jauh berbeda dengan diucapkan. Yap-kongcu, benar tidak menurut pendapatmu?"
Yap Kay berkata tawar.
"Tidak dikatakan sudah tentu jauh lebih baik daripada dikatakan!"
"Kenapa?"
Tanya Tan-toakoan.
"Karena orang yang cerewet sering membosankan."
Tan-toakoan tertawa, sudah tentu tertawa palsu. Yap Kay berlalu dari depannya, mendorong daun pintu yang sempit itu, gumamnya.
"Tidak bicara tidak menjadi soal, kalau tidak makan barulah takkan tertahan lagi, kenapa orang banyak justru sering tidak paham akan hal ini?"
Terdengar seseorang menanggapi.
"Tapi asal ada kacang, tidak makan pun tidak menjadi soal."
Oo Orang ini duduk di dalam rumah, membelakangi pintu, di atas meja di sampingnya ada setumpuk kacang kulit.
Dia membuka sebutir kacang, dilempar ke atas, lalu disambut dengan mulutnya, tinggi lemparannya, mulut pun menyambut dengan tepat.
Yap Kay tertawa, katanya tersenyum.
"Belum pernah kau meleset?"
Orang ini tidak berpaling, jawabnya.
"Selamanya tidak akan meleset."
"Kenapa?"
"Lemparan tanganku mantap, mulutku pun mengincar dengan tepat."
"Oleh karena itu orang mengundangmu kemari untuk membunuh orang, untuk membunuh orang bukan saja memerlukan gerakan tangan yang mantap, mulut pun tidak boleh cerewet, malah harus tenang dan rapat."
Berkata orang itu dengan tawar.
"Sayang sekali mereka tidak mengundangku kemari untuk membunuh kau."
"Setelah kau bunuh orang itu, mau tidak kau membunuhku?"
"Bagus sekali!"
Yap Kay bergelak tertawa.
Tiba-tiba orang itupun tertawa lebar.
Tan-toakoan yang baru saja masuk justru menjublek di tempatnya.
oo Dengan tertawa lebar Yap Kay beranjak menghampiri, duduk di hadapan orang, tiba-tiba dia ulur tangannya menjemput sebutir kacang.
Tawa lebar orang itu tiba-tiba kuncup.
Dia pun seorang pemuda.
Seorang pemuda yang aneh, memiliki sepasang mata yang aneh pula, sampai pun waktu dia tertawa, sepasang matanya itu tetap dingin, seperti biji mata orang mati, tidak berperasaan, tidak beremosi.
Mengawasi kacang di tangan Yap Kay, katanya.
"Letakkan."
"Aku tidak boleh makan kacangmu?"
Tanya Yap Kay.
"Tidak boleh. Kau bisa menyuruhku membunuh, tapi jangan sekali-kali kau makan kacangku."
"Kenapa?"
"Karena Lok Siau-ka bilang demikian!"
"Siapa itu Lok Siau-ka?"
"Aku inilah."
Oo Biji matanya kelabu berwarna mati, tapi menyorotkan sinar tajam setajam golok. Mengawasi kacang di tangannya, Yap Kay menggumam.
"Kelihatannya hanya sebutir kacang belaka."
"Memangnya!"
"Tiada bedanya dengan kacang lainnya?"
"Tiada bedanya."
"Memangnya kenapa aku harus makan kacang yang ini?"
Dengan tersenyum pelan-pelan dia kembalikan kacang itu. Lok Siau-ka tertawa lagi, tapi sorot matanya tetap dingin, katanya.
"Tentu kau inilah Yap Kay adanya."
"O?"
Yap Kay bersuara dalam mulut.
"Kecuali Yap Kay, tak habis kupikir ada orang seperti kau ini."
"Apakah ini umpakan?"
"Ada sedikit."
"Sayang sekali betapapun tinggi umpakanmu, tidak sebanding dengan sebutir kacangmu ini."
Lama Lok Siau-ka mengawasinya lekat-lekat, lama juga baru dia berkata pelan-pelan.
"Selamanya kau tidak pernah membawa pisau?"
"Paling tidak belum pernah ada orang melihat aku membawa pisau?"
"Kenapa?"
"Coba kau terka?"
"Karena selamanya kau tidak pernah membunuh orang? Atau karena kau membunuh orang tidak perlu pakai pisau?"
Yap Kay tertawa, namun sorot matanya sedikit pun tidak memancarkan keriangan hatinya.
Matanya sedang mengawasi pedang Lok Siau-ka.
oo Sebatang pedang yang amat tipis, tipis tapi tajam luar biasa.
Tidak pakai sarung pedang.
Pedang tipis ini tersoreng miring terselip di ikat pinggangnya.
"Kau tidak pakai sarung pedang?"
"Paling tidak jarang orang melihat aku pakai sarung pedang."
"Kenapa?"
"Coba kau terka?"
"Karena kau tidak suka sarung pedang? Atau karena pedang ini memang tidak punya sarung?"
"Pedang macam apa pun, bila dia berhasil digembleng, semula tidak pernah memakai sarung."
"O?"
Yap Kay bersuara heran.
"Sarung pedang dibuat belakangan."
"Kenapa pedang ini tidak pakai sarung?"
"Yang membunuh orang adalah pedangnya, bukan sarungnya."
"Sudah tentu."
"Yang ditakuti orang juga pedang, bukan sarungnya."
"Masuk akal."
"Oleh karena itu sarung benda hanya berlebihan belaka."
"Selamanya kau tidak pernah melakukan perbuatan yang berlebihan?"
"Aku hanya membunuh orang yang berlebihan!"
"Orang yang berlebihan?"
"Sementara orang hidup di dunia ini, memangnya tidak berguna, berlebihan!"
"Uraianmu terdengar amat mengasyikkan, cukup menarik juga."
"Sekarang kau pun sudah sependapat?"
"Aku tahu ada dua yang selalu menyoreng pedang tanpa menggunakan sarung pedang juga, tapi mereka tidak bisa membanyol dengan uraian kata-katanya yang menarik."
"Mungkin umpama kata mereka berkata, belum tentu kau bisa memahaminya."
"Atau mungkin juga mereka memang tidak mau berbicara."
"O?"
Ganti Lok Siau-ka yang bersuara heran.
"Aku tahu mereka bukan orang yang suka cerewet, cukup asal mereka sendiri saja yang tahu akan pengertian itu, jarang mereka uraikan hal-hal itu kepada orang lain."
Lok Siau-ka menatapnya, katanya.
"Betul kau tahu orang macam apa sebenarnya mereka itu?"
Yap Kay manggut-manggut.
"Kalau begitu terlalu banyak apa yang kau ketahui."
"Tapi aku belum tahu akan dirimu."
"Untung kalau kau belum tahu."
"Untung?"
"Kalau tidak, orang yang akan mampus pertama kali di sini bukan Pho Ang-soat tapi kau!"
"Sekarang bagaimana?"
"Sekarang aku belum perlu membunuh kau."
"Kau tak usah membunuhku, juga belum tentu mampu membunuhnya."
Lok Siau-ka tertawa dingin "Kau pernah melihat ilmu silatnya?"
"Belum!"
"Kalau kau belum pernah menyaksikan, bagaimana kau punya keyakinan?"
"Tapi aku tahu bahwa dia seorang timpang."
"Memangnya timpang ada beberapa macam."
"Tapi ilmu silat orang timpang umumnya hanya ada satu macam."
"Macam yang mana?"
"Dengan ketenangan mengatasi pergerakan, bergerak ke belakang mendahului lawan, itu berarti bahwa begitu dia turun tangan harus lebih cepat dari lawannya."
Yap Kay manggut-manggut, ujarnya.
"Oleh karena itu maka dia mampu bergerak menundukkan lawan lebih dulu."
Tiba-tiba Lok Siau-ka mencomot segenggam kacang terus dilempar ke atas.
Sekonyongkonyong pedangnya bekerja.
Dimana sinar pedang berkelebat, seolah-olah hanya sekali berkelebat saja, tahu-tahu pedang sudah terselip di pinggangnya.
Sementara kacang-kacang itu berjatuhan ke telapak tangannya, kacang yang sudah terkupas kulitnya, lebih bersih dari orang mengulitinya satu per satu.
Sedang kulit kacangnya sudah hancur-luluh.
Tiba-tiba seseorang bersorak memuji di luar pintu, sampai pun Yap Kay sendiri ada niat hendak bersorak memuji.
Pedang yang cepat.
Lok Siau-ka menjemput sebutir kacang, diangsurkan ke mulut, katanya dingin.
"Menurut penilaianmu, apakah dia bisa lebih cepat dari aku?"
Sebentar Yap Kay berdiam diri, akhirnya berkata lirih dengan menghela napas.
"Aku tidak tahu ... untung aku masih belum tahu."
"Harus disayangkan kacang-kacangku ini."
"Kacang itu tetap kau sendiri yang memakannya."
"Tapi kacang harus satu per satu dikuliti dan sebutir demi sebutir dimakan, baru benar-benar enak dan nikmat."
"Kalau aku malah lebih suka makan kacang yang sudah dikuliti."
"Sayang sekali kau tak bakal mencicipinya."
Dimana tangannya terayun, kacang di tangannya melesat terbang sambung menyambung, ternyata semuanya melesak amblas ke dalam tonggak penyanggah rumah.
"Lebih baik kacangmu kau buang daripada dimakan orang?"
"Cewekku pun demikian, lebih baik aku membunuhnya daripada dia dipeluk orang lain."
"Asal yang kau sukai, sekali-kali kau tidak akan meninggalkan untuk dimiliki orang."
"Begitulah!"
"Untung yang menjadi kesukaanmu hanya kacang dan perempuan belaka."
"Aku juga suka uang perak."
"O."
"Karena tanpa uang perak, takkan bisa beli kacang, takkan bisa kau mempunyai cewek."
"Masuk akal, walau banyak benda di dunia ini jauh lebih berharga daripada uang, tapi ada kalanya benda-benda itu hanya bisa dibeli dengan uang."
Lok Siau-ka tertawa. Tawa yang dingin dan aneh, katanya dingin.
"Kau sudah mengoceh setengah harian, hanya sepatah katamu ini baru mirip ucapan Yap Kay tulen."
Oo BAB 22.
SEBELUM DAN SESUDAH MEMBUNUH Tan-toakoan, Thio-losu, Ting-losu, sudah tentu sudah masuk semua, seolah-olah mereka sedang menunggu petunjuk Lok Siau-ka.
Tapi Lok Siau-ka sebaliknya seperti tidak pernah melihat atau tahu akan kehadiran mereka.
Sampai sekarang dia tetap tidak berpaling mengawasi mereka, namun berkata dingin.
"Di sini adakah orang yang mau membayar uang kepadaku?"
"Ada, sudah tentu ada!"
Tan-toakoan segera menjawab dengan mengunjuk tawa.
"Apa yang kuinginkan kau bisa melaksanakan seluruhnya?"
"Siau-jin akan berusaha sekuat tenaga."
"Lebih baik kalau kau bekerja sekuat tenaga."
"Silakan memberi petunjuk."
"Aku minta lima kati kacang, kacang goreng, tidak terlalu panas, tapi jangan setengah matang."
Tan-toakoan segera mengiakan.
"Aku minta pula segentong air panas, gentong kayu yang tingginya enam kaki."
Kembali Tan-toakoan mengiakan.
"Siapkan pula dua perangkat pakaian dalam yang serba baru, kain belacu atau kain kaci pun boleh."
"Dua perangkat?"
Tanya Tan-toakoan.
"Ya, dua perangkat, seperangkat kuganti untuk membunuh orang, habis membunuh ganti pula seperangkat yang lain."
"Ya,"
Tan-toakoan manggut-manggut.
"Kalau kacang-kacang itu ada sebutir saja yang busuk atau rusak, maka tanganmu akan kutabas kutung, kalau ada dua butir, jiwamu akan tamat."
Dingin bulu kuduk Tan-toakoan, tersipu-sipu dia mengiakan lagi. Tiba-tiba Yap Kay bertanya.
"Kau harus mandi dulu baru akan membunuh orang?"
"Membunuh orang bukan membunuh babi, membunuh orang merupakan tugas suci bersih yang menyenangkan."
"Orang yang harus kau bunuh memang harus menunggu kau mandi lebih dulu?"
"Dia boleh tidak usah menunggu, aku pun boleh mengutungi kakinya lebih dulu, setelah mandi baru kucabut jiwanya."
"Tak nyana sebelum kau membunuh orang, masih memerlukan banyak kesulitan."
"Setelah aku membunuh orang masih ada juga kesulitannya."
"Kesulitan apa?"
"Kesulitan yang paling besar."
"Perempuan?"
"Itulah ucapanmu kedua yang pintar!"
"Kesulitan paling besar bagi laki-laki memangnya perempuan, kukira laki-laki yang paling bodoh pun paham akan hal ini."
"Oleh karena itu maka kau harus menyediakan juga seorang perempuan, perempuan yang paling baik."
Tan-toakoan ragu-ragu, katanya.
"Tapi bagaimana kalau nona baju merah itu kembali datang."
Lok Siau-ka tiba-tiba tertawa, katanya.
"Kau kuatir dia cemburu?"
"Bagaimana aku tidak akan takut, batok kepalaku ini kan gampang dikepruk sampai pecah."
"Kau kira dia betul-betul sedang mencari aku?"
"Memangnya bukan kau yang dicari?"
"Bahwasanya selamanya belum pernah aku melihat orang seperti dia itu."
Tan-toakoan melenggong, katanya.
"Lalu tadi dia ...."
Lok Siau-ka menarik muka, katanya.
"Masakah kau tidak tahu bila dia memang sengaja hendak mencari gara-gara?"
Tan-toakoan melongo.
"Tentu kalian sendiri yang membocorkan kabar ini, dia tahu aku hendak kemari, sengaja memburu datang lebih dulu."
"Untuk apa dia kemari?"
"Kenapa tidak kau tanya kepada dia?"
Tiba-tiba terpancar rasa takut dalam sorot mata Tan-toakoan, namun kulit mukanya sebaliknya sedang tersenyum palsu.
Senyum palsu ini seolah-olah sudah diukir di kulit mukanya.
oo Toko kain sutra milik Tan-toakoan tidak terhitung besar, tapi di kota kecil di pedalaman yang jauh dari keramaian kota besar sudah termasuk toko yang paling mentereng.
Sudah tentu toko kainnya hari ini jarang dikunjungi pembeli, maka kedua pembantu tokonya hari ini kelihatan duduk-duduk saja dengan malas, mereka mengharap hari lekas petang, supaya lekas pulang, kalau di toko mereka sebagai pelayan, di rumah mereka sebaliknya menjadi juragan.
Tidak lama Tan-toakoan berada di tokonya, begitu pulang lantas pergi pula tergesa-gesa menuju ke bilangan belakang.
Setelah melewati sebuah pekarangan kecil, dia tiba di tempat tinggalnya sendiri.
Selamanya tidak akan pernah terpikir olehnya di pekarangan kecil ini ada seseorang sedang menunggu kedatangannya.
oo Dalam pekarangan kecil ini terdapat sebatang pohon cemara, Yap Kay sedang berdiri di bawah pohon ini, katanya dengan tersenyum.
"Tidak menduga aku berada di sini?"
Tan-toakoan melengak, segera dia tertawa dibuat-buat, katanya.
"Kenapa Yap-kongcu tak menemani Lok-tayhiap mengobrol? Bukankah kalian tadi bicara begitu asyik?"
"Kacang pun dia tidak mau berbagi kepadaku, perutku sudah kelaparan, seekor kuda pun bisa ku telan bulat-bulat."
"Aku buru-buru pulang hendak membikin api menggodok air, di dapur masih ada sedikit sisa makanan, kalau Yap-kongcu tidak merasa ...."
Yap kau lekas menukas, katanya.
"Kabarnya Tan-toako pandai memasak sayur, agaknya hari ini aku beruntung dapat menikmati hidangannya."
Tan-toakoan menghela napas, ujarnya.
"Sayang sekali kedatangan Yap-kongcu hari ini tidak kebetulan, beberapa hari ini dia lagi sakit."
"Lagi sakit?"
Yap Kay mengerut kening.
"Sakitnya tidak ringan, sehari-hari rebah saja di ranjang tidak bisa bangun."
Yap Kay tiba-tiba tertawa dingin, katanya.
"Aku tidak percaya."
Tan-toakoan kembali melengak, katanya.
"Buat apa aku harus membohongi Yap-kongcu?"
"Kemarin dia masih segar-bugar, bagaimana bisa hari ini tiba-tiba jatuh sakit? Ingin aku menengoknya, dia terserang penyakit apa?"
Dengan muka bersungut, dia sudah siap menerjang ke dalam rumah. Tan-toakoan menundukkan kepala, katanya pelan-pelan.
"Kalau demikian biar Cayhe bawa Yap-kongcu menengoknya."
Betul juga dia bawa Yap Kay memasuki ruang tamu terus menuju ke kamar tidur, pelan-pelan membuka pintu sambil menyingkap kerai.
Cahaya dalam kamar tidur amat guram, kalau tidak mau dikatakan gelap, daun jendela tertutup rapat, kamar penuh ditaburi asap dupa yang berbau wangi.
Seorang perempuan rebah di atas ranjang menghadap ke arah tembok, rambutnya awutawutan, tubuhnya ditutup selimut tebal, kelihatannya memang orang sakit.
Yap Kay menghela napas, katanya.
"Agaknya aku keliru menyalahkan kau."
"Tidak menjadi soal,"
Ujar Tan-toakoan tertawa dibuat-buat.
"Cuaca begini panas, kenapa dia masih selimutan? Tak sakit bisa menjadi sakit."
"Mungkin dia terserang malaria, semalam badannya masih gemetar kedinginan meski sudah kututupi dua lapisan selimut tebal."
Yap Kay tertawa pula, katanya tawar.
"Orang mati masakah masih bisa gemetar?"
Belum habis dia bicara, tiba-tiba dia sudah menerjang masuk, terus menyingkap selimut.
Warna merah melambari seluruh badan orang yang kaku dan tertutup selimut.
Darah memang berwarna merah!
Badan orang ternyata sudah kaku dingin.
oo Pelan-pelan Yap Kay menutup pula jenazah orang dengan selimut itu, seolah-olah takut kalau membikin kaget perempuan ini.
Dia anggap orang selamanya tidak akan bangun lagi.
Yap Kay menghela napas, pelan-pelan dia berpaling muka.
Tan-toakoan masih berdiri di tempatnya, senyuman dingin dan sadis menghiasi mukanya, seolah senyuman ini sudah terukir di kulit mukanya.
Kata Yap Kay setelah menghela napas.
"Agaknya selamanya aku takkan beruntung menikmati hidangan Tan-toaso lagi."
"Orang yang sudah mati memang tidak bisa masak lagi,"
Ujar Tan-toakoan dingin.
"Dan kau?"
"Aku bukan orang mati."
"Tapi kau juga patut demikian!"
"O, masa?"
"Karena aku sudah melihatmu di dalam peti mati."
Kelopak mata Tan-toakoan seperti meronta-ronta, roman mukanya tetap tersenyum yang memang sudah terukir di kulit mukanya. Kata Yap Kay.
"Untuk menyaru jadi Tan-toakoan memang bukan tugas yang sulit, karena orang itu setiap saat selalu tersenyum palsu, memang mukanya seolah-olah mengenakan kedok."
"Oleh karena itu orang ini pantas mati,"
Jengek Tan-toakoan.
"Tapi betapapun mirip samaranmu, kau tak akan bisa mengelabui bininya, tiada kepandaian tata rias yang begitu lihai dan misterius di dunia, ini."
"Oleh karena itu bininya itu patut juga dibikin mampus."
"Aku hanya heran, kenapa kalian tidak memasukkan sekalian mayat istrinya ke dalam peti mati?"
"Kalau ada orang tidur di sisi kan lebih baik, supaya pelayan-pelayan toko tidak curiga."
"Kau tidak mengira bila ada orang lain mencurigai kau?"
"Memang tidak kuduga."
"Oleh karena itu aku pun pantas dibikin mampus."
"Hakikatnya persoalan ini sebenarnya tiada sangkut-pautnya dengan kau."
"Aku mengerti, tujuan kalian hanya untuk menghadapi Pho Ang-soat."
Tan-toakoan manggut-manggut, ujarnya.
"Dia memang patut mampus!"
"Kenapa?"
"Kau tidak mengerti?"
"Setiap musuh Ban-be-tong harus mampus?"
Terkancing mulut Tan-toakoan.
"Kalian orang-orang undangan Ban-be-tong?"
Semakin kencang mulut Tan-toakoan.
Tapi sekarang jari-jarinya sudah terlepas, semula tangannya kosong, kini melesatlah segulung sinar dingin bagai hujan deras dari tangannya.
Tepat pada waktu yang sama, dari luar jendela juga melesat masuk setitik sinar bintang laksana perak, mendadak berpencar laksana kembang bertaburan di pucuk pohon.
Setitik sinar perak mendadak berubah menjadi bintik-bintik kembang yang bertaburan, dimana sinar-sinar perak itu menyambar, sinarnya yang menyala membuat orang sukar membuka mata untuk melihatnya.
Tapi pada saat itu pula sebilah pisau kecil tahu-tahu sudah menghujam ke tenggorokan Tantoakoan.
Sampai ajalnya tetap tidak melihat darimana datangnya pisau kecil yang menamatkan jiwanya.
oo Pisau itu tidak terlihat, namun senjata-senjata gelap itu terlihat dengan jelas.
Kalau senjatasenjata gelap itu kelihatan jelas, tapi bayangan Yap Kay tiba-tiba menghilang tak keruan paran.
Kejap lain, bintik-bintik sinar perak yang bertaburan di dalam kamar pun mulai mereda dan kuncup seluruhnya.
Bayangan Yap Kay tetap tidak kelihatan.
Angin menghembus di luar jendela, namun sudah tidak terdengar lagi dengus napas di dalam kamar.
Lama berselang, mendadak sebuah tangan pelan-pelan mendorong daun pintu, sebuah tangan yang elok, jari-jarinya panjang, kukunya juga terpelihara dengan baik.
Tapi lengan bajunya justru amat kotor, kumal, dekil berminyak lagi.
Tangan ini terang bukan tangan Thio-losu, namun lengan baju itu adalah lengan baju Thio-losu, seraut wajah tiba-tiba menongol masuk, itulah muka Thio-losu.
Dia tetap tidak melihat bayangan Yap Kay, namun dia melihat pisau di tenggorokan Tan-toakoan.
Mendadak jari-jarinya mengejang.
Tahu-tahu tenggorokannya sendiri pun mendadak tertusuk sebilah pisau kecil.
Sampai ajal dia tetap tidak melihat pisau ini.
oo Pisau yang sudah menancap di tenggorokan orang lain sudah tentu tidak berbahaya lagi sudah tentu dia bisa melihatnya dengan jelas.
Sayang sekali, dia hanya melihat pisau yang itu saja.
Apa benar hanya pisau yang tidak kelihatan baru benar-benar menakutkan?
Seenteng asap melayang Yap Kay meluncur dari atas langit-langit rumah, terlebih dulu dia jemput masing-masing satu macam senjata rahasia, dua batang senjata rahasia tergenggam di tangannya, baru pelan-pelan dia mencabut pisaunya sendiri.
Dengan nanar dia awasi pisaunya sendiri, sikap dan mimik wajahnya tiba-tiba jadi serius, begitu seriusnya seolah-olah dia amat segan dan menghormatinya.
"Aku pasti tidak akan menyuuruh kau membunuh orang yang tidak pantas mampus, aku berjanji, orang-orang yang kubunuh adalah manusia yang memang pantas menemui ajalnya."
Oo Song-lopan atau juragan Song sudah membuka mata.
Dalam kamar hanya ada dua orang, keduanya tidur di atas ranjang, salah seorang perempuan tidur menghadap ke dalam tembok, cara tidurnya mirip dengan istri Tan-toakoan, cuma rambut kepalanya sudah ubanan.
Memang usia mereka suami istri sudah cukup lanjut.
Setelah dalam kamar itu terdengar suara orang ketiga, kedua biji mata juragan Song baru terpentang lebar.
Yang pertama-tama dilihatnya adalah sebuah tangan.
Di antara jari-jari tangan ini terdapat dua benda yang aneh, sebuah mirip dengan duri rumput liar di tengah pegunungan, sebuah yang lain seperti kelopak kembang yang terbuat dari air raksa.
Waktu dia mengangkat kepalanya, baru dilihatnya Yap Kay.
Karena inipun guram, namun kedua biji mata Yap Kay justru terang laksana dua pelita, kedua pelita tajam ini sedang menatap dirinya, katanya.
"Kau tahu apakah ini?"
Juragan Song geleng-geleng kepala, sorot matanya memancarkan keheranan dan ketakutan, lehernya pun serasa kaku.
"Inilah senjata rahasia."
"Senjata rahasia?"
"Senjata rahasia adalah senjata yang dapat membunuh orang secara menggelap."
Entah mengerti atau tidak penjelasan ini, yang terang juragan Song manggut-manggut.
"Kedua macam senjata rahasia ini masing-masing dinamakan Ngo tok-ji-ih-bong dan Hwe-jigin-hoa, keduanya adalah senjata rahasia tunggal milik Hoa Hong (tawon kembang) dan Phoa Ling."
Juragan Song menjilati bibirnya yang kering, katanya tertawa dibuat-buat.
"Nama besar Tayhiap ini belum pernah kudengar."
"Mereka bukan Tayhiap."
"Bukan?"
"Mereka adalah maling rendah yang paling kotor, maling pemetik bunga (tukang perkosa)."
Sampai di sini Yap Kay menarik muka, katanya lebih lanjut.
"Selamanya aku menghargai jiwa orang lain, tapi orang-orang kotor dan rendah seperti mereka menjadi kekecualian bagiku."
"Aku tahu, tiada orang yang tidak membenci maling cabul."
"Tapi mereka adalah lima aliran terendah yang paling suka menggunakan senjata rahasia jahat."
"Lima orang maksudmu?"
"Kelima orang ini dijuluki Kangouw-ngo-tok (lima racun dari Kangouw), kecuali orang yang kusebut tadi, masih ada tiga orang lagi yang lebih jahat dan berbisa."
"Apakah kelima orang ini sama-sama sudah datang?"
"Mungkin satu pun tiada yang ketinggalan."
"Kapan sih mereka datang?"
"Kemarin lusa, yaitu pada waktu ada orang membawa peti-peti mati itu kemari."
"Kenapa aku tidak melihat adanya lima orang asing yang datang ke kota kecil ini?"
"Yang datang pada hari itu bukan hanya kelima orang ini saja, cuma mereka semua bersembunyi di dalam peti mati, maka tiada orang dalam kota ini yang melihat mereka."
"Si Bungkuk itu mengantar peti mati kemari, apakah tujuannya hendak mengangkut pula orang-orang itu kemari?"
"Mungkin demikian."
"Apakah sekarang mereka masih bersembunyi dalam peti mati?"
"Sekarang peti-peti mati itu sudah berisi mayat-mayat tulen."
"Jadi mereka sudah mampus semuanya,"
Juragan Song menghela napas lega.
"Sayang sekali bukan mereka yang mampus, semuanya orang lain."
"Bagaimana mungkin bisa orang lain?"
"Karena waktu mereka keluar, lalu mengganti orang lain masuk kesana "
"Siapa saja yang menggantikan mereka?"
"Sekarang aku baru tahu Hoa Hong adalah Tan-toakoan, Phoa Ling menggantikan Thio-losu."
"Mereka ... cara bagaimana mereka menukar diri?"
"Di dunia ini ada seorang, sebenarnya dia ahli di bidang tata rias."
"Siapa?"
"Sebun Jun."
Juragan Song mengerut kening, katanya.
"Siapa pula gerangan Sebun Jun? Kenapa selamanya tidak pernah kudengar?"
"Sekarang aku juga ingin tahu siapa sebenarnya dia itu, tapi cepat atau lambat, akhirnya aku pasti berhasil menemukannya "
"Menurut katamu dia bikin Hoa Hong menyaru jadi Tan-toakoan, Phoa Ling menyaru jadi Thiolosu?"
Yap Kay manggut-manggut, katanya.
"Sayang sekali betapapun tinggi teknik dan ahlinya seseorang menggunakan tata riasnya, dia tidak akan bisa mengelabui sanak-kadangnya sendiri, oleh karena itu orang pertama yang terpilih oleh mereka adalah Thio-losu."
"Kenapa?"
"Karena bukan saja Thio-losu tidak punya sanak-kadang, dia pun tidak punya teman, apalagi jarang mandi, orang yang berani bergaul dan berdekatan dengannya memangnya tidak banyak jumlahnya "
"Oleh karena itu umpama dia berubah apa pun, takkan ada orang yang memperhatikan."
"Sayang sekali, orang-orang seperti Thio-losu dan Ting-losu di dalam kota kecil ini hanya ada beberapa orang saja."
"Kenapa mereka memilih juga Tan-toakoan?"
"Karena dia yang mau mendekatinya."
"Tapi dia kan punya istri."
"Maka istrinya itu harus mampus."
Juragan Song geleng-geleng kepala.
"Itulah yang dinamakan menutup pintu duduk di dalam rumah, bencana datang dari langit."
Dengan menghela napas, dia bergerak hendak duduk, tapi Yap Kay lantas menekan pundaknya, katanya.
"Aku sudah banyak menceritakan kejadian ini kepadamu, maka ada sebuah pertanyaan ingin juga kutanyakan kepadamu."
"Silakan berkata."
"Bahwa Thio-losu ternyata adalah Phoa Ling dan Tan-toakoan alias Hoa Hong, lalu kau siapa?"
Juragan Song melenggong, katanya tergagap.
"Aku she Song, dipanggil Song-toaya, namun belakangan jarang ada orang memanggil namaku."
"Apakah karena semua orang tahu bahwa kau ini bangkotan licin dan licik, maka tiada orang mencari perkara dan bergaul dengan kau."
Juragan Song tertawa dipaksakan, katanya.
"Untung sekali mereka belum mengincar diriku untuk menjadi duplikat mereka "
"O? Masa?"
"Kupikir, Yap-kongcu tentu tidak beranggapan aku inipun samaran palsu."
"Kenapa bukan?"
"Istri tuaku ini sudah hidup puluhan tahun bersamaku, memangnya dia tidak bisa membedakan aku ini tulen atau palsu?"
"Kalau dia memang sudah menjadi mayat, sudah tentu takkan bisa membedakan dirimu."
"Memangnya kau kira aku sudi tidur seranjang dengan sesosok mayat?"
"Perbuatan apa saja yang tidak pernah kalian lakukan? Jangan kata hanya orang mati, umpama mayat seekor anjing ...."
Belum dia bicara habis, nenek ubanan yang tidur di bagian dalam ranjang tiba-tiba menghela napas panjang sambil menggeliat membalik badan.
Kata-kata Yap Kay tidak diteruskan lagi.
Orang mati sedikitnya tidak mungkin bisa menggeliat, terdengar pula nenek ubanan ini mengigau seperti bicara apa-apa di alam mimpinya ...
orang mati sudah tentu tidak bisa mengigau.
Tangan Yap Kay sudah ditarik mundur.
Terpancar sinar puas dan senang pada sorot mata juragan Song, katanya.
"Perlahan Yapkongcu membangunkan dia, boleh kau tanya langsung kepadanya."
Terpaksa Yap Kay menyeringai kikuk, katanya.
"Tidak usahlah!"
Akhirnya juragan Song bangun berduduk, katanya tertawa.
"Kalau begitu silakan Yap-kongcu duduk di ruang tamu untuk menikmati secangkir teh."
"Ah, bikin repot saja, tidak usahlah!"
Seperti tidak enak tinggal lama-lama lagi di situ, dia sudah siap hendak tinggal pergi, siapa tahu mendadak juragan Song mencengkeram lengan nenek ubanan itu terus diangkatnya dan dilempar ke arah Yap Kay.
Sudah tentu perbuatannya ini amat di luar dugaan, baru saja Yap Kay kebingungan, apa perlu dia mengulur tangan menyambut lemparan badan orang.
Pada saat itu pula, dari dalam selimut tadi mendadak menyembur keluar segulung asap tebal.
Asap tebal yang berwarna ungu muda itu seolah-olah kabut pagi yang ditimpa sinar surya di waktu fajar baru menyingsing, begitu indah dan menakjubkan.
Baru saja Yap Kay menyanggah badan nenek ubanan itu, terus diangsur kembali ke atas ranjang, namun dia sendiri sudah terselubung di dalam kabut ungu yang tebal itu.
Mengawasi orang, sorot mata Song-lopan menyorotkan rona sadis dan bengis, dia tunggu orang roboh di bawah kakinya oo Ternyata Yap Kay tidak roboh seperti yang diharapkan.
Setelah kabut tebal itu sirna, juragan Song masih tetap melihat sinar mata Yap Kay tetap terang menyala.
Sungguh merupakan suatu keajaiban.
Siapa pun asal mengendus sedikit Hoa-kut-ciang, manusia besi pun akan menjadi lumpuh tak bertenaga lagi.
Sekujur badan juragan Song menjadi kaku mengejang karena dijalari rasa takut yang mencekam sanubarinya.
Yap Kay balas mengawasinya, katanya pelan-pelan dengan menghela napas.
"Ternyata memang kau."
"Kau sudah tahu siapa aku sebenarnya?"
"Kalau tidak tahu, sekarang aku sudah roboh terkapar."
"Jadi sebelum kemari kau sudah siap siaga?"
"Bahwa aku sudah bicara panjang lebar dengan kau, sudah tentu kau tidak akan membiarkan aku berlalu demikian saja, jika tidak siap sedia, masakah aku berani meluruk kemari?"
Juragan Song mengertak gigi, katanya.
"Tapi aku tak habis mengerti cara bagaimana kau mampu melawan kekuatan Hoa-kut-ciang."
"Kau boleh memikirkannya sendiri."
Bersinar lagi biji mata Song-lopan.
"Asal kau mau membeberkan siapa yang merias dirimu, mungkin kau masih bisa berpikir sepuluh atau dua puluh tahun."
"Kalau tidak kukatakan?"
"Kalau begitu selamanya kau takkan punya kesempatan untuk berpikir lagi."
Song-lopan menatapnya, katanya dingin.
"Mungkin hakikatnya aku tidak perlu berpikir, mungkin aku pun bisa memaksa kau mengatakan."
"Sedikit kesempatan pun kau sekarang tiada lagi"ancam Yap Kay.
"O."
"Asal tanganmu bergerak, seketika aku bisa membikin kau mampus di atas ranjang,"
Tutur katanya lemah lembut, namun nadanya mengandung keyakinan yang menggiriskan orang yang diancam, siapa pun tak berani untuk tidak mempercayai ancaman ini. Kata Song-lopan dengan menghela napas.
"Sebetulnya siapakah kau, aku tidak tahu, tapi aku percaya kepadamu."
"Aku tanggung kau tidak akan kecewa,"
Ujar Yap Kay tertawa.
"jika tidak kubeberkan, selamanya kau tidak akan tahu siapa ...."
Kata-katanya tidak sempat habis diucapkan.
Sekonyong-konyong sekujur badannya tiba-tiba gemetar dan mengejang, sorot matanya berubah jadi kelabu lalu hitam, mirip benar dengan dua pelita yang tiba-tiba padam karena kehabisan minyak.
Sebat sekali Yap Kay menerjang maju.
Maka dilihatnya sebatang jarum menancap di atas jidatnya.
Sebarang jarum yang berwarna hijau keputihan.
Toh-popo turun tangan lagi!
Ternyata dia memang belum mati Dimanakah dia?
Apakah dia menyamar jadi istri juragan Song ini?
Tapi nenek ubanan ini terang sudah lumpuh, napasnya pun berhenti, memangnya Hoa-kut-ciang tidak bisa dilawan oleh siapa pun seperti keadaan Yap Kay sekarang.
Darimana Toan-yang-ciam ini ditimpukkan?
Waktu Yap Kay angkat kepala, maka dilihatnya sebuah pintu angin di langit-langit rumah, daun pintunya sudah tersingkap terbuka.
Dia tidak segera menerjang naik ke atas.
Dia cukup tahu macam apa sebenarnya senjata rahasia seperti Toan-yang-ciam itu.
Darimana tadi dia masuk ke kamar tidur ini, sekarang dari sana pula dia keluar.
Karena dia tahu jalan yang ditempuhnya ini paling aman.
oo BAB 23.
BUNYI KELINTINGAN Di bilangan luar tembok terdapat pula sebuah pekarangan kecil.
Waktu Yap Kay mengundurkan diri dan keluar dari pintu, sinar surya masih tetap cermelang, seekor kucing tengah mengawasi seekor kupu-kupu yang sedang menari-nari di atas rumput kembang di pojok tembok sana.
Ingin menangkapnya, tapi agaknya malas bergerak.
Sudah tentu tiada bayangan seorang pun di atas rumah.
Yap Kay tahu di atas rumah pasti takkan bisa menemukan bayangan orang, sudah tentu Tohpopo tidak begitu goblok masih menunggunya di atas sana.
Tiba-tiba dia menghela napas, dia merasakan dirinya mirip dengan kucing jantan itu, dikiranya asal dirinya mau turun tangan, dengan mudah akan bisa menangkap kupu-kupu itu.
Sebetulnya umpama kucing itu tidak malas, tetap dia tidak akan bisa menangkap kupu-kupu itu.
Kupu-kupu bukan tikus, kupu-kupu bisa terbang.
oo Kupu-kupu terbang lebih tinggi, sekonyong-konyong sepasang tangan terulur masuk dari luar tembok.
"Plak" , kupu-kupu itu tahu-tahu sudah terjepit di antara kedua telapak tangannya. Kupu-kupu menghilang, tangan itupun lenyap. Tapi di atas tembok tahu-tahu duduk seseorang. Di luar tembok ternyata adalah sebuah sawah ladang yang sudah lama telantar, entah yang ditanam di sana gandum atau kapuk. Di tanah tandus seperti ini, tanaman apa pun yang kau tanam di sini, pasti tidak akan menghasilkan panen yang memuaskan, tapi toh tanah di sini tetap dicangkul dan ditanami apa saja yang bisa tumbuh. Itulah kehidupan. Semua orang harus hidup, setiap orang harus berdaya-upaya untuk hidup. Di tengah-tengah ladang telantar ini terdapat sebuah bangunan rumah kecil yang bobrok, penghuninya adalah keluarga yang paling muskin di tanah tandus yang serba kekurangan ini. Maka anak-anak kecil yang tumbuh dan dilahirkan dari rumah kecil reyot ini, semuanya memiliki roman muka yang pucat hijau seperti warna sayur. Akan tetapi anak betapapun tetap anak. dia tetap tumbuh menjadi dewasa dengan riang dan lincah. Saat itu kebetulan ada tujuh delapan anak-anak tengah berjajar membundar berdiri mengelilingi pohon dengan membelalakkan mata mengawasi seseorang yang duduk di bawah pohon. Yap Kay yang sedang duduk di atas tembok pun sedang mengawasi orang ini. Orang ini memiliki raut muka bundar, biji mata yang besar, kulit badannya putih laksana salju, kalau tertawa tampak lesung pipit pada kedua pipinya. Perempuan ini belum terhitung amat cantik, tapi tak usah disangsikan bahwa dia ini seorang gadis elok yang lincah dan Jenaka. Waktu itu dia mengenakan gaun panjang warna putih yang terbuat dari kain halus dan lemas semampai, di atas lehernya yang jenjang dan putih itu mengenakan kalung gelang warna kuning yang terbuat dari emas, pada kalung gelang emas ini tergantung pula dua buah kelintingan emas. Kedua tangannya masing-masing juga mengenakan gelang bundar emas, di atas gelang tangannya itupun tergantung masing-masing dua kelintingan emas, bila angin menghembus, kelintingan yang tergantung di badannya itu lantas bersuara nyaring dan merdu. Tapi tadi dia tidak berpakaian seperti ini, tadi dia mengenakan seperangkat pakaian serba merah yang kebesaran. Kalau tadi dia berdiri di atas tiang bendera, sekarang dia duduk di bawah pohon. Di hadapannya menyanding sebuah meja kayu yang sudah hampir rusak, di atas meja pendek ini tertata sebuah anak-anakan kecil terbuat dari tanah liat yang mengenakan pakaian merah, sebuah medali perak yang diukiri kembang, sebuah mainan kalung dari batu akik, sebuah rantai yang berwarna-warni, sepasang dompet yang bersulam daun dan kembang teratai, sebuah sangkar burung dan sebuah tempayan ikan. Kupu-kupu yang baru saja dia tangkap juga berjajar di antara barang-barang itu. Siapa pun takkan tahu darimana gadis ini membawa barang-barang itu kemari. Anehnya, di dalam sangkar burung itu terdapat sepasang burung kenari, demikian pula di tempayan itu terdapat beberapa ekor ikan mas. Anak-anak yang mengelilingi dan mengawasinya itu, seolah-olah sedang mengawasi bidadari yang baru saja turun dari kahyangan. Gadis itu bertepuk tangan, lalu katanya tertawa.
"Baik, sekarang kalian boleh berbaris, satu per satu maju ke depan memilih barang, tapi satu orang hanya boleh mengambil satu, yang tamak dan nakal akan kuhajar pantatnya."
Anak-anak itu ternyata amat patuh dan mendengar aba-abanya.
Anak pertama beranjak maju, setengah harian matanya terbelalak mengawasi barang-barang di depannya, sekian lama dia menjublek, karena semua barang-barang yang terpampang di depannya belum pernah dilihatnya, boleh dikata dia sudah kabur dan bingung melihatnya, tapi akhirnya dia toh memilih medali perak itu.
Anak kedua memilih sepasang burung kenari.
Gadis cantik bermata besar itu berkata dengan tertawa.
"Bagus, pilihan kalian baik sekali, kelak pasti bisa belajar berdagang, yang lain bisa belajar sekolah dan jadi penyair yang kenamaan."
Kedua anak itu tertawa lebar, tertawa riang gembira.
Anak ketiga adalah perempuan, yang dia pilih adalah dompet bersulam itu.
Anak keempat berusia paling kecil, ingusnya masih meleleh keluar, sekian lama dia celingukan pilih sana-sini, akhirnya dia memilih kupu-kupu mati itu.
Gadis itu mengerut alis, katanya.
"Kau tahu apakah ini?"
Anak itu manggut-manggut, sahutnya.
"Kupu-kupu yang telah mati."
"Tahukah kau barang yang lain lebih bagus dari kupu-kupu mati ini?"
Anak itu manggut-manggut.
"Kenapa tidak kau pilih lain barang, kenapa kau ambil kupu-kupu mati ini?"
Anak itu menyeka ingusnya dengan tangan, sahutnya ragu-ragu.
"Karena bila aku memilih barang yang lain, mereka pasti mencari akal untuk merebutnya, aku tidak unggulan berkelahi dengan mereka, barang yang tidak baik ini pasti tidak akan direbutnya, aku bisa bermain beberapa hari dengan aman dan tenteram."
Gadis mata besar mengawasinya, tiba-tiba tertawa, katanya.
"Tak kukira kau bocah sekecil ini sudah begini pintar."
Merah muka anak itu, dia menundukkan kepala. Kata gadis itu sambil mengedip mata.
"Aku kenal satu orang, cara berpikirnya boleh dikata persis dengan kau."
Tak tahan tanya anak itu.
"Dia pun bukan tandingan orang lain?"
"Dulu dia selalu kalah melawan orang, maka dia pun seperti kau, selalu rela diri sendiri yang rugi dan menderita."
"Belakangan bagaimana?"
"Lantaran itu maka dia giat mempelajari ilmu dan kepandaian, sekarang tiada orang yang berani melawannya lagi."
Anak itu tertawa senang, katanya.
"Sekarang semua barang yang baik pasti sudah menjadi miliknya."
"Benar, oleh karena itu bila kau ingin memiliki barang-barang baik, maka kau harus belajar seperti dia, kejarlah ilmu dan tuntutlah kepandaian, kau paham?"
"Aku tahu, seseorang bila tidak ingin dihina dan dianiaya orang, maka dia sendiri harus punya kepandaian."
"Benar sekali,"
Puji si gadis, lalu dari tangannya dia menanggalkan sebuah kelintingan emas, katanya.
"Nih kuberikan kepadamu, jika ada orang merebut milikmu ini, laporkan kepadaku, biar kuhajar pantatnya."
Ternyata anak itu geleng-geleng kepala, katanya.
"Sekarang aku tidak mau."
"Kenapa?"
"Karena kau pasti akan pergi, kalau kuterima, cepat atau lambat toh bakal mereka rebut, kelak bila aku sudah punya kepandaian, sudah tentu aku bakal memiliki banyak barang."
"Bagus,"
Seru gadis itu bertepuk tangan.
"Kau bocah ini kelak pasti jempolan."
"Apakah aku bisa menyerupai temanmu itu?"
Tanya si anak dengan berkedip-kedip mata.
"Betul sekali,"
Sahut si gadis, tiba-tiba dia membungkukkan badan mencium pipi si anak kecil mungil ini.
Dengan muka merah bocah ini segera berlari pergi, tapi beberapa langkah kemudian dia berhenti dan berpaling, tanyanya pula.
"Orang yang mengejar ilmu dan menuntut kepandaian itu siapa namanya?"
"Kenapa kau tanyakan namanya?"
"Karena aku akan belajar seperti dia, maka namanya harus kuukir dalam sanubariku."
Berkedip-kedip mata si gadis, sahutnya lembut.
"Baik, kau ingat, dia she Yap dan bernama Kay."
Oo Akhirnya bocah-bocah itu berlalu seluruhnya.
Gadis itu menggeliat dan memuntir pinggang, badannya menggelendot ke batang pohon di belakangnya, sepasang matanya yang besar dan bening tengah mengerling ke arah Yap Kay.
Yap Kay sedang tersenyum simpul.
Kata si gadis dengan mengerling penuh arti.
"Apa yang kau banggakan? Aku hanya menyuruh setan kecil yang masih ingusan untuk belajar seperti dirimu saja."
"Sebetulnya dia lebih patut kalau belajar seperti kau."
"Apaku yang harus dia pelajari?"
"Asal melihat barang baik, ambil dulu urusan belakang, peduli akhirnya direbut orang atau tidak?"
Gadis itu menggigit bibir, melotot kepadanya, lama juga baru dia berkata pelan-pelan.
"Tapi kalau memang barang yang kusukai, umpama ada orang berani merebutnya, cepat atau lambat aku pasti akan merebutnya kembali, merebutnya kembali meski harus mempertaruhkan jiwa dan raga."
Yap Kay tertawa getir, katanya menghela napas.
"Tapi barang apa saja yang sudah diincar dan disenangi oleh Ting-toasiocia, memangnya siapa yang berani merebutnya?"
Gadis itu tertawa cekikikan, katanya tersenyum lebar.
"Mereka tidak datang merebutnya, terhitung nasib mereka yang mujur."
Saking gelinya dia tertawa terpingkal-pingkal, semua kelintingan di badannya sampai tergoncang dan berbunyi nyaring.
Dia atau gadis mata besar ini bernama Ting Hun-pin.
Maka kelintingan di badannya itupun dinamakan kelintingan milik Ting Hun-pin.
oo Kelintingan Ting Hun-pin ini bukanlah barang mainan seperti mainan umumnya, barang mainan ini tidak boleh dibuat main-main dengan sembarangan.
Bukan saja barang mainan ini tidak lucu dan menggelikan, malah boleh dikata amat menakutkan.
Sebetulnya orang-orang persilatan di Kangouw boleh dikata jeri dan ketakutan menghadapi kelintingan milik Ting Hun-pin ini.
Tapi Yap Kay terang tidak perlu menakutinya.
Seolah-olah tiada sesuatu di dunia ini yang bisa membuatnya takut.
Setelah tertawa Ting Hun-pin lantas mengawasinya dengan mendelik, serunya.
"Hai, kau sudah lupa belum?"
"Lupa apa?"
Tanya Yap Kay.
"Urusan yang kau minta agar aku mewakilkan kau menyelesaikan itu, jelek-jelek aku sudah menyelesaikan tugasku dengan baik."
"O, soal tugas apa?"
"Kau suruh aku menyaru jadi Lok Siau-ka, untuk menyelidiki asal-usul orang-orang itu."
"Agaknya kau tidak berhasil mencari tahu siapa mereka sebenarnya."
"Hal ini tidak boleh kau salahkan aku."
"Tidak salahkan kau, memangnya harus menyalahkan siapa?"
"Salahmu sendiri, kau sendiri yang bilang dia tidak akan datang begitu cepat."
"Pernah aku bilang demikian?"
"Kau malah bilang, umpama dia sudah datang, kau pun takkan dirugikan."
"Memang kau agaknya tidak dirugikan."
"Tapi kapan aku pernah dibuat malu oleh orang demikian?"
"Siapa suruh kau tidak mau bekerja dengan baik. pintarmu hanya menyalahi orang lain melulu."
Tiba-tiba biji mata Ting Hun-pin mendelik bundar lebih besar dari kerlingannya, serunya keras.
"Orang lain? Siapa orang lain yang kau maksud? Memangnya apa hubunganmu dengan dia? Sampai sekarang kau masih bicara membelanya?"
Yap Kay geleng-geleng dengan tertawa getir.
"Paling tidak dia toh tidak berbuat salah kepadamu."
"Meski dia tidak salah kepadaku, tapi melihat dia berdiri di sampingmu, aku merasa terlalu menyolok pandangan."
Orang lain pasti mengira dia sedang cemburu kepada Lok Siau-ka, siapa tahu ternyata lantaran Yap Kay.
Jadi kata-kata yang dilontarkan kepada Lok Siau-ka tadi, hakikatnya dia tujukan kepada Yap Kay.
Dengan melotot dan bertolak pinggang, sikapnya lebih garang, katanya pula.
"Sudah tiga bulan lebih aku mengejarmu, dengan susah-payah baru kutemukan kau di sini, kau minta aku menyaru jadi malaikat meniru setan, aku pun menurut saja, dalam hal apa kurang memuaskan hatimu, hayo katakan!"
Apa pula yang masih bisa dikatakan oleh Yap Kay?
Dengan jengkel Ting Hun-pin membanting kaki, begitu kakinya bergerak suara kelintingan segera berdenting, jadi kakinya pun ada kelintingan, tapi kata-katanya lebih cepat dan lebih nyaring dari suara kelintingannya.
Umpama Yap Kay ada maksud hendak bicara, dia toh tiada kesempatan untuk bicara.
"Kutanya kau, terang kau hendak menghadapi Ban-be-tong. kenapa membantu putrinya juga? Sebetulnya budak itu punya hubungan rahasia apa dengan kau?"
"Hubungan apa pun tiada,"
Sahut Yap Kay.
"Baik, kau sendiri yang bilang, kalau kalian tiada hubungan apa-apa. biar sekarang juga kuluruk dia dan membunuhnya."
Setiap patah kata yang pernah diucapkan oleh Ting-toasiocia, selamanya pasti dilaksanakan. Tersipu-sipu Yap Kay melompat turun, katanya sembari mencegah dan mengalinginya.
"Entah berapa banyak gadis-gadis yang pernah kukenal memangnya kau hendak membunuh mereka semua?"
"Aku hanya bunuh yang satu ini?"
"Kenapa?"
"Aku senang."
"Baiklah, sebetulnya apa kehendakmu atas diriku?"
"Aku ingin kau apa? Memangnya apa yang kuinginkan lantas kau mau menurut?"
"Asal apa yang kau minta masuk akal dan tidak kelewat batas, apa pun keinginanmu pasti kupenuhi."
"Apa benar?"
"Ehm!"
Berputar biji mata Ting Hun-pin, katanya.
"Pertama, aku ingin selanjutnya kemanapun kau pergi, jangan kau tinggalkan aku."
"Ehm, baik!"
Biji mata Ting Hun-pin yang besar menyipit, dengan memicingkan mata dia mengawasi Yap Kay, sementara barisan giginya yang putih seperti biji mentimun itu menggigit bibir, katanya sambil mengerling.
"Masih ada, kau harus menggandeng tanganku, berjalan-jalan satu putaran di dalam kota, supaya penduduk kota tahu aku adalah ... adalah temanmu, kau mau tidak?"
Yap Kay menghela napas, katanya dengan kecut.
"Jangan kata hanya menggandeng tanganmu, umpama aku harus menggandeng kakimu pun tiada halangannya."
Ting Hun-pin tertawa riang.
Bila dia tertawa, kelintingan di badannya segera berbunyi nyaring, senyaring suara cekikik tawanya.
Tatkala itu segulung angin sedang menghembus, terasa sepoi-sepoi, hawa segar dan nyaman.
Dalam keadaan seperti ini, suara kelintingan Ting Hun-pin kedengarannya sungguh amat mengasyikan.
oo Terik matahari.
Bumi seolah-olah dipanggang menjadi panas dan merekah, sepanas roti yang baru dikeluarkan dari tungku panggangan.
Be Hong-ling sedang mengeprak kudanya sekencang-kencangnya, membedal di padang rumput.
Padang rumput nan luas, langit cerah tak berujung pangkal.
Butiran keringat berderet-deret mengalir turun laksana mutiara melalui ujung hidungnya, bertetesan, seluruh badannya seolah-olah sedang dipanggang di atas tungku.
Hakikatnya dia tidak tahu sekarang dirinya hendak menuju kemana.
Sampai sekarang baru dia benar-benar meresapi betapa dirinya harus dikasihani mendadak timbul rasa iba dan simpatik terhadap keadaan dirinya yang serba kasihan.
Walaupun dia punya rumah, tapi tiada seorang pun keluarga di rumahnya yang betul-betul mau memahami dirinya.
Sim Sam-nio tinggal pergi, sekarang ayahnya menghilang entah kemana.
Bagaimana dengan teman-teman?
Tiada seorang pun yang menjadi temannya, para gembala kuda itu terang bukan, Yap Kay ...
lebih baik kalau Yap Kay mampus saja.
Mendadak dia menyadari bahwa dirinya seolah-olah sebatangkara di dunia ini, tiada seorang pun yang menjadi saudaranya lagi.
Perasaan yang mencekam sanubarinya ini boleh dikata hampir membuatnya gila.
oo BAB 24.
TERIK MATAHARI MENYINARI PANJI SAKTI "Koan-tang-ban-be-tong!"
Bendera besar yang bertuliskan kelima huruf menyolok ini berkibar-kibar dengan megahnya di tengah angkasa.
Jika kau berdiri di padang rumput, melihatnya dari kejauhan, ada kalanya kau akan merasa mirip sepasang kekasih yang harus berpisah, sedang melambaikan sapu tangan di kejauhan.
Kelima huruf besar yang menyolok dengan warna merah itu, mirip benar dengan cucuran darah sang kekasih.
Air mata dan darah.
Bukankah kelima huruf menyolok itu hasil dari sulaman air mata dan darah.
Saat itu berdiri seseorang di tengah padang rumput, diam-diam mengawasi bendera besar yang berkibar-kibar ini.
Perawakannya rada kurus tapi kekar dan kuat, namun seolah-olah membawa gambaran sunyi dan sebatangkara.
Langit membiru, rumput tumbuh subur menjulang tinggi, dia berdiri di sana, mirip sebatang pohon yang tumbuh dengan kekar dan kuat di padang rumput.
Pohon pun kuat dan kekar, sebatangkara pula.
Entahlah apakah pohon itu juga merasa menderita dan dendam seperti perasaan yang bergejolak dalam benaknya.
Be Hong-ling dari kejauhan sudah melihatnya, melihat golok hitam di tangannya.
Bayangan orang yang samar-samar, golok yang membawa firasat jelek.
Tapi begitu Be Hong-ling melihatnya, dalam lubuk hatinya yang paling dalam tiba-tiba timbul rasa hangat yang tak bisa diutarakan, seolah-olah baru saja secangkir arak pahit yang keras dan panas dia tuang ke dalam tenggorokannya.
Semestinya tidak pantas dia punya perasaan seperti ini.
Seorang yang tidak sebatangkara, bila melihat seorang lain yang sebatangkara, perasaan seperti itu kecuali dirinya sendiri, siapa pun tidak akan bisa menyelaminya.
Tanpa banyak pikir, dia keprak kudanya menuju ke arah orang.
oo Seolah-olah Pho Ang-soat tidak merasakan kedatanganya, paling tidak berpaling melihat ke arahnya.
Be Hong-ling melompat turun dari punggung kuda, berdiri di belakang orang, dia pun mengawasi bendera besar itu, di kala hembusan angin berlalu, kupingnya dengan jelas dapat mendengar napas Be Hong-ling yang tersengal-sengal.
Angin sepoi-sepoi saja.
Terik panas matahari terasa membara sehingga hembusan angin terasa tertekan, sehingga kekuatan angin amat lemah, tapi bendera masih kuasa dihembusnya sampai berkibar-kibar.
Tiba-tiba Be Hong-ling berkata.
"Aku tahu apa yang tengah kau pikirkan."
Pho Ang-soat tak mendengar, dia menolak untuk mendengarkan. Be Hong-ling berkata pula.
"Dalam hatimu tentu sedang berpikir, akan datang suatu hari aku pasti akan membacok roboh bendera ini."
Bibir Pho Ang-soat terkancing rapat, dia pun menolak untuk berbicara. Tapi dia tidak bisa melarang Be Hong-ling berpidato, katanya dingin.
"Tapi selamanya kau takkan mampu merobohkannya. Untuk selamanya!"
Punggung tangan Pho Ang-soat yang menggenggam golok semakin kencang sampai otot-otot hijau merongkol keluar.
"Oleh karena itu,"
Kata Be Hong-ling lebih lanjut.
"kuberi nasehat kepadamu, lebih baik kau lekas menyingkir, semakin jauh kau pergi semakin baik."
Pho Ang-soat tiba-tiba membalik badan, menatapnya tajam. Sorot matanya seolah memancarkan bara, seolah-olah hendak membakarnya menjadi hangus. Lalu berkatalah dia dengan tandas dan tegas.
"Kau tahu yang hendak kubacok roboh bukan bendera itu, tapi adalah batok kepala Be Khong-cun!"
Kata-katanya setajam golok. Tanpa disadari Be Hong-ling menyurut mundur dua langkah, tapi suaranya malah lebih keras.
"Kenapa kau harus membencinya begitu rupa?"
Tiba-tiba Pho Ang-soat tertawa, barisan giginya yang memutih tampil ke depan, tawa seringai yang lebih mirip binatang buas yang sedang marah.
Siapa pun melihat tawa seperti ini, pasti akan merasakan betapa besar dan menakutkan dendam yang bersemayam di dalam relung hatinya.
Tanpa sadar Be Hong-ling menyurut lagi setengah langkah, katanya keras.
"Tapi selamanya kau pun takkan bisa merobohkan dia, dia jauh lebih kuat dari yang kau bayangkan, hakikatnya kau takkan bisa menandinginya!"
Suaranya seperti orang berpekik. Maklumlah semakin takut hati seseorang, tanpa disadari suaranya pasti akan lebih besar. Suara Pho Ang-soat sebaliknya dingin dan tenang.
"Kau tahu aku pasti dapat membunuhnya, dia sudah tua, terlalu tua, begitu tuanya hingga dia tidak berani mengucurkan air mata, tidak berani mengalirkan darah."
Dengan kencang Be Hong-ling mengertak gigi, tetapi badannya sebaliknya terasa lemas dan lunglai, sampai pun tenaga untuk marah pun sudah berakhir, hanya takut yang melembari sanubarinya.
Tiba-tiba Be Hong-ling menundukkan kepala, katanya rawan.
"Benar, beliau memang sudah tua, tidak lain seorang tua bangka yang sudah tak punya kekuatan, oleh karena itu umpama kau membunuhnya, bagi dirimu pun tidak akan membawa manfaat apa-apa."
Terunjuk senyuman sadis pada sorot mata Pho Ang-soat, katanya.
"Apa kau memohon kepadaku untuk tidak membunuhnya7"
"Aku ... aku sedang meminta kepadamu, selamanya belum pernah aku minta-minta kepada siapa pun."
"Kau kira aku pasti menerima permintaanmu?"
"Asal kau sudi menerima, aku ...."
"Kau kenapa?"
Tiba-tiba merah muka Be Hong-ling, katanya tertunduk semakin dalam.
"Boleh terserah kepadamu apa yang kau hendaki akan diriku, kau akan pergi, aku ikut kau, kemana kau minta aku pergi, selalu aku ikut kau."
Tanpa berganti napas Be Hong-ling mengutarakan maksudnya, setelah selesai bicara, baru dia sadar, menyesal kenapa dia mengeluarkan kata-kata seperti itu.
Diam-diam lahirnya bertanya, apakah setulus hati dia mengutarakan janjinya itu.
Apakah karena dia sedang memancing dan menjajaki hati Pho Ang-soat, apakah Pho Ang-soat masih begitu getol dan bergelora menginginkan dirinya untuk memuaskan nafsunya!
Tapi cara yang dia tempuh bukankah akal yang paling goblok, terlalu bahaya dan amat menakutkan.
Untung Pho Ang-soat tidak segera menampik, orang hanya mengawasinya dengan dingin.
Tibatiba terasa oleh Be Hong-ling, bukan saja sinar matanya sadis, malah mengandung juga rasa rendah menghina dan jijik yang lebih menyakiti hati daripada kesadisannya itu.
Seolah-olah orang sedang berkata.
"Kemarin malam kau menolakku begitu rupa, kenapa hari ini kau mencariku lagi?"
Serasa tenggelam hati Be Hong-ling, penghinaan tanpa suara dengan mimik dan sorot mata ini, sungguh jauh lebih besar pukulannya daripada kau tolak secara mentah-mentah.
Mengawasinya, tiba-tiba Pho Ang-soat berkata.
"Hanya sepatah kata ingin kutanya kepadamu. Apa benar lantaran ayahmu saja kau minta kepadaku? Ataukah untuk dirimu sendiri?"
Tanpa menunggu jawaban, segera dia putar badan melangkah pergi dengan gaya jalannya yang aneh dan lucu.
Gaya jalan yang lucu dan jelek serta tak enak dipandang ini, seolah-olah malah menjadikan sindiran pula yang pedas dan menusuk perasaan.
Dengan kencang Be Hong-ling menggengam jari-jarinya dengan keras dia mengertak gigi, tapi akhirnya dia roboh juga.
Pasir terasa hangat,, terasa asin, getir dan panas.
Demikian juga air matanya.
Kalau tadi dia sedang merasa kasihan akan nasibnya sendiri, simpati akan penderitaannya, kini sebaliknya dia sedang membenci awak sendiri, begitu bencinya sampai hampir gila, begitu besar kebencian kepada diri sendiri, ingin rasanya bumi ini merekah dan kiamat segera menguburnya hidup-hidup.
Kalau tadi dia hanya ingin menghancurkan orang-orang yang mengingkari dan membuang dirinya, sekarang justru dia ingin menghancurkan dirinya sendiri....
oo Untuk menghancurkan orang lain mungkin agak sukar, sebaliknya hendak menghancurkan diri sendiri, jauh lebih gampang.
Peduli siapa pun paling sedikit pasti bisa menemukan lima puluh cara untuk menghancurkan diri sendiri.
Sudah tentu satu di antara kelima puluh cara itu adalah cara yang paling bodoh.
oo Gudang di bawah tanah itu lembab dan gelap.
Gudang ini sebetulnya hanya untuk menyembunyikan arak, kini layon Kongsun Toan berada di sini.
Begitu juga Ban-be-tong-cu pun berada di sini.
Dia berlutut di lantai batu yang lembab dingin, berlutut di depan layon Kongsun Toan, kelihatannya menderita dan sedih.
Mungkin yang dia sedihkan bukan kematian Kongsun Toan, tapi adalah dirinya sendiri.
Masa lalu bagai asap mengepul tinggi dan menghilang.
Kini laksana asap tebal yang bergulunggulung kejadian masa lalu kembali terbayang di depan matanya.
Di dalam relung hatinya.
Kegagahan di masa muda, perjuangan gigih di masa usia menanjak, serta pikiran iri dan jelus yang menghantui sanubarinya setelah menginjak usia lanjut....
Darah yang tergenang di dalam cangkir arak emas di waktu angkat saudara, darah di atas golok waktu membunuh orang, darah mengalir di dadanya, mengalir membasahi salju.
Sekarang noktah-noktah darah di atas golok sudah tercuci bersih, darah di dadanya sudah dingin.
Dengan apa hutang darah itu harus dilunasi?
Manusia kenapa setelah lanjut usia, baru akan menyadari betapa besar dan menakutkan serta memalukan dosa-dosa yang pernah dilakukannya di masa lalu!
Sekarang apakah dia sedang menyiksa diri?
oo Hendak menyiksa orang lain mungkin sulit, tapi untuk menyiksa diri sendiri, sudah tentu jauh lebih gampang.
Setiap insan di dunia ini pasti dengan mudah akan dapat menemukan lima puluh cara untuk menyiksa diri.
Tapi siksa bukan penghancuran, ada kalanya penyiksaan melulu hanya untuk membuat dirinya menjadi tenang dan sadar, lebih teguh dan kuat imannya.
oo Sinar matahari kebetulan menyinari jalan raya.
Tiada bayangan seorang pun yang lewat di jalan raya, tapi di antara celah-celah pintu atau celah-celah jendela dan lubang dinding, entah berapa pasang mata sedang mengintip keluar, mengintip satu orang.
Mengintip Lok Siau-ka.
Saat itu Lok Siau-ka sedang merendam diri dan mandi di dalam sebuah gentong air kayu setinggi enam kaki, gentong kayu itu terletak tepat di tengah jalan raya.
Airnya penuh, dia berdiri di dalam gentong air, kebetulan hanya kepalanya saja yang menongol di permukaan air.
Seperangkat pakaian yang serba baru, terlempit dan tergosok rapi tengah ditaruh di atas rak di sebelah gentong kayu.
Demikian juga pedangnya berada di atas rak, di sebelahnya lagi sudah tentu tersedia pula sebungkus kacang.
Tinggal mengulur tangan saja dengan mudah dia menjemput kacang, baju dan pedang, saat itu dia sedang menjemput sebutir kacang, dikupas kulitnya, isinya terus dilempar ke atas, mulut pun terbuka.
Kacang itu tepat masuk ke dalam mulut.
Kelihatannya dia amat gembira menikmati kacangnya.
Cahaya matahari amat terik, air dalam gentong itupun menguapkan asap panas, tapi sebutir keringat pun tidak kelihatan di raut wajahnya.
Agaknya dia merasa kurang puas, gentong diketokketoknya dengan keras, serunya lantang.
"Godok air, godok air panas lebih banyak."
Dua orang segera berlari keluar dari balik pintu sempit itu sambil menenteng dua teko besar berisi air panas, kedua orang ini adalah Ting-losu dan seorang yang lain bermuka kuning, memelihara kumis tikus, dia bukan lain adalah juragan beras, yaitu Oh-ciangkui.
Selintas pandang dia kelihatannya mirip benar dengan seekor tikus yang sedang mencuri beras.
Kata Lok Siau-ka mengerut kening.
"Kenapa hanya kalian berdua, mana orang she Tan?"
Oh-ciangkui mengunjuk tawa, katanya.
"Dia sebentar akan datang, mungkin sekarang dia sedang mencari cewek, maklumlah perempuan di tempat ini yang benar-benar cantik sukar dicari."
Sampai di sini ucapannya, seketika matanya terbelalak, karena dilihatnya seorang perempuan cantik muncul di sana.
oo Perempuan ini muncul diiringi suara kelintingan yang nyaring merdu, suara tawanya yang cekikikan itupun semerdu dan senyaring suara kelintingan.
Matahari menyinari badannya, seluruh badannya memancarkan cahaya emas kemilau, tapi kulit badannya begitu mulus laksana batu jade.
Pakaian yang dikenakan adalah gaun sutra tipis yang lemas, waktu angin menghembus, napas setiap laki-laki yang mengawasinya pasti akan berhenti.
Jari-jari tangannya yang runcing dan mulus, tengah menggandeng lengan seorang laki-laki.
Kalau biji mata Oh-ciangkui melotot terpesona, demikian juga mata-mata yang mengintip di dalam rumah itupun terpesona dan kagum.
Lapat¬lapat mereka masih ingat, perempuan ini adalah nona baju merah yang amat menyenangi Lok Siau-ka itu.
Siapa pun takkan menduga kini dia tengah menarik lengan Yap Kay, dalam waktu yang genting ini mendadak muncul bersama di tempat ini.
Kebanyakan orang tahu bahwa nanti perempuan gampang dan cepat berubah, betapapun mereka tidak menduga perempuan ini berubah begini cepat.
Ting Hun-pin justru tidak mempedulikan apa yang tengah dipikir orang lain.
Demikian pula sorot matanya sedikit pun tidak peduli pandangan orang lain.
Memangnya tiada orang lain dalam pandangan matanya, dia hanya mengawasi Yap Kay, katanya tiba-tiba dengan tertawa.
"Hari ini terang adalah cuaca yang cocok untuk membunuh orang, kenapa justru ada orang hendak menyembelih babi?"
"Menyembelih babi?"
"Kalau tidak menyembelih babi, untuk apa memerlukan air panas sebanyak itu?"
Yap Kay tertawa, ujarnya.
"Kabarnya orang melahirkan anak juga memerlukan air hangat."
Berkedip-kedip biji mata Ting Hun-pin, katanya.
"Anehnya, kenapa begitu dilahirkan, bocah itu sudah begini gede."
"Apakah kandungan raksasa?"
Dengan bersungguh-sungguh Ting Hun-pin manggut-manggut, katanya menahan geli.
"Ya, pasti kandungan raksasa."
Tak tertahan, terdengar seseorang tak kuat menahan geli dan tertawa di belakang pintu.
Tapi suara tawa tiba-tiba berubah jadi suara jeritan, sekeping kulit kacang tiba-tiba terbang masuk melalui celah-celah pintu dan merontohkan dua buah giginya.
Roman muka Lok Siau-ka membesi hijau, seolah-olah duduk di dalam air es, matanya menatap Ting Hun-pin, katanya menyeringai.
"Ternyata kau nona Ting yang ingin mampus."
Mengerling genit biji mata Ting Hun-pin, katanya berseri tawa.
"Betapa menusuk pendengaran istilah 'ingin mampus' yang kau katakan ini, kenapa tidak kau panggil namaku yang terdengar lebih enak dirasakan itu?"
"Seharusnya aku sudah ingat akan dirimu,"
Ujar Loh Siau-ka.
"Tidak banyak orang yang berani menyaru sebagai diriku."
"Sebetulnya namamu sendiri pun tak enak didengar, aku tetap heran, kenapa ada orang memanggilmu Bwe-hoa-lok (menjangan kembang)?"
"Mungkin karena mereka tahu bahwa tanduk menjangan amat tajam, siapa pun yang membenturnya pasti binasa."
"Kalau begitu lebih mirip kalau kau dinamakan Toa-cui-gu (kerbau air) saja, bukankah tanduk kerbau lebih lihai?"
Lok Siau-ka seketika menarik muka. Baru sekarang dia benar-benar menyadari adu mulut dengan perempuan adalah cara yang kurang pintar, oleh karena itu segera dia merubah pokok pembicaraan tanyanya.
"Apakah Toakomu baik-baik?"
"Selamanya dia baik-baik, apalagi belakangan dia memenangkan sebilah pedang pusaka, dia menang bertanding pedang dengan Hwi-king-kiam-khek dari Lam-hay-pay. Tentu kau tahu dia paling suka menggunakan pedang bagus."
"Lalu bagaimana dengan Jikomu?"
Tanya Lok Siau-ka pula.
"Sudah tentu dia pun baik-baik, belakangan ini dia malah menghancur-leburkan Hoa-hong-tong di Hopak, tiga ekor harimau yang ganas dan telengas itu terpenggal kepalanya, kau kan tahu dia paling suka membunuh kaum perampok."
"Lalu Samkomu?"
"Dia yang lebih baik, dengan persaudaraan Lamkiong dia bertempur tiga hari lamanya, pertama adu nyanyi, lalu main catur, baru adu pukulan, dan bertanding pedang, akhirnya tiga puluh guci Li-ji-ciu simpanan keluarga besar Lamkiong selama bertahun-tahun dia miliki seluruhnya, di samping itu dia hukum mereka untuk bernyanyi dan berjoget,"
Dengan tersenyum lebar dia meneruskan.
"Kegemaran Ting-samsiauya adalah arak dan perempuan cantik, tentunya kau pun sudah tahu."
"Apa yang paling disukai oleh para Cihumu?"
Tanya Lok Siauka pula. Cihu adalah suami kakak perempuan.
"Yang paling disukai oleh Cihuku sudah tentu Ciciku."
"Kau punya berapa Cici?"
"Tidak banyak, hanya enam."
"Tiga engkoh, enam kakak?"
"Memangnya kau belum kenal dengan Sam-kiam-khek dan Jit-sian-li dari keluarga Ting?"
Lok Siau-ka tiba-tiba tertawa, ujarnya.
"Baik sekali."
"Apa maksudnya baik sekali?"
"Maksudku ialah, untung keluarga Ting banyak perempuannya, laki-lakinya sedikit."
"Memangnya kenapa?"
"Kau tahu selamanya aku tidak suka membunuh perempuan."
"O, lalu?"
"Untung tidak banyak. Hanya membunuh tiga orang."
Tiba-tiba Ting Hun-pin menghela napas, katanya.
"Tidak baik sekali."
"Tidak baik sekali?"
"Mereka tidak di sini, sudah tentu tidak baik."
"Kalau mereka di sini?"
"Asal satu di antara mereka di sini, sekarang kau sudah menjadi mayat menjangan."
Lekat-lekat Lok Siau-ka mengawasinya, tiba-tiba dia alihkan sorot matanya ke tumpukan kacang di sebelahnya.
Seolah-olah karena dia akhirnya berhasil memilih sesuatu yang lebih baik, maka dia merasa puas dan bangga akan pilihannya, sampai pun biji matanya yang bersinar tajam, kini berganti lembut dan kalem.
Lalu diambilnya sebutir kacang, dikupas dan dilempar.
Kacang yang bulat segar memutih itu di bawah sinar matahari kelihatan membawa cahaya redup yang melegakan hati dan menyolok pandangan, melihat kacang itu melayang jatuh masuk ke dalam mulutnya, baru dia pejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam, lalu mulailah dia mengunyah.
Sinar matahari yang panas, air mandi yang hangat, kacang yang segar dan kering.
Terhadap segala sesuatu yang diinginkan dia merasa puas.
oo Sebaliknya Ting Hun-pin merasa kurang puas.
Semua ini seolah-olah sebuah pertunjukan sandiwara yang sebenarnya bisa dilanjutkan ke babak-babak selanjutnya.
Malahan dia sudah siap melanjutkan peranannya sendiri.
Tak terkira Lok Siau-ka ternyata seorang pemain yang lugu dan kaku, seolah-olah pemain yang sedang beraksi di atas panggung tiba-tiba melupakan kata-kata yang harus diucapkan, secara tegas dan langsung menolak memerankan adegan selanjutnya.
Sungguh suatu kejadian yang menyebalkan.
Ting Hun-pin menghela napas, katanya sambil berpaling ke arah Yap Kay.
"Sekarang tentunya kau sudah tahu orang macam apa dia sebetulnya?"
"Dia memang seorang yang pintar."
"Orang pintar?"
"Orang pintar akan lebih tahu makan kacang dengan mulut tentu jauh lebih menggembirakan daripada adu mulut dengan perempuan."
Ting Hun-pin menjadi gemas, ingin rasanya menggigitnya sekali.
Jika Yap Kay mengatakan Lok Siau-ka adalah seorang tuli, seorang lemah, maka sandiwara ini tetap bisa diteruskan.
Siapa nyana Yap Kay ternyata pun seorang pemain yang bodoh, bahwasanya dia tidak mau bekerja sama dengan dirinya.
Setelah mengunyah habis kacang di mulutnya, Lok Siau-ka menghela napas pula, gumamnya.
"Baru sekarang aku tahu, ternyata perempuan pun suka melihat laki-laki mandi, kalau tidak, kenapa dia tidak mau berlalu?"
Ting Hun-pin membanting kaki, tangan Yap Kay ditariknya, katanya dengan muka merah.
"Hayo kita pergi."
Yap Kay tertarik pergi.
Begitu mereka putar badan, maka terdengarlah kumandang gelak tawa Lok Siau-ka, tawa besar, tawa gembira.
Ting Hun-pin mengertak gigi, dengan kuku jarinya dengan keras dia cengkeram tangan Yap Kay.
"Tanganmu sakit tidak?"
Tiba-tiba Yap Kay bertanya.
"Tidak sakit."
"Kenapa tanganku sakit sekali?"
"Karena kau ini keparat, apa yang perlu kau katakan selamanya tidak mau kau utarakan."
"Kata-kata yang tidak patut diucapkan, selamanya aku pun tidak pernah mengatakan."
"Kau tahu aku ingin kau mengatakan apa?"
"Ehm, ya, aku tahu!"
"Kau kira tidak pantas dikatakan?"
"Karena tiada gunanya lagi."
"Kenapa tidak berguna?"
"Karena Lok Siau-ka sudah tahu bahwa kita sengaja hendak memancing kemarahannya. Dia pun sadar dalam situasi seperti ini dirinya sekali-kali tidak boleh marah."
"Darimana kau tahu bila dia sudah tahu?"
"Karena bila dia tidak tahu, tidak perlu dia tunggu sampai sekarang, sejak tadi dia sudah menjadi mayat menjangan."
"Agaknya kau amat mengaguminya."
"Tapi yang paling kagum justru bukan dia."
"Siapa?"
"Aku sendiri."
Ting Hun-pin menahan geli, katanya.
"Aku masih tak melihat dalam hal apa kau patut dikagumi."
"Paling tidak ada satu hal"
"Hal yang mana?"
"Di waktu orang lain mencengkeram tanganku dengan kuku jarinya, ternyata aku masih purapura tidak tahu "
Akhirnya tak tertahan Ting Hun-pin terpingkal-pingkal, katanya sambil melepas tangan.
"Adakalanya kau memang mirip dengan golek kayu."
Dengan menarik tangannya, tawanya mekar dan riang sekali.
Tiba-tiba Ting Hun-pin merasa puas dan bangga akan segala sesuatu di sekelilingnya, sehingga tidak disadari olehnya bahwa sepasang mata yang cemburu dan benci sedang mengawasi mereka.
oo Sorot mata Be Hong-ling menampilkan kebencian dan cemburu yang tak terperikan, seperti mata serigala yang kelaparan mengincar mangsanya dia mengawasi mereka masuk ke dalam toko Tan-toakoan.
Mereka memang berkeputusan untuk menunggu di sini, menunggu sampai Pho Ang-soat muncul, menunggu duel yang amat mendebarkan dan menakutkan itu.
Kebetulan bagi Ting Hun-pin, sekalian dia bisa membeli bahan-bahan pakaian baru.
Memang jarang perempuan menyia-nyiakan kesempatan baik untuk membeli pakaian.
Be Hong-ling melihat mereka dengan bergandeng tangan masuk ke dalam toko, kedua tangan yang bergandengan ini, sungguh-sungguh telah merenggut hatinya.
Kenapa tiada laki-laki di dunia ini yang mau menarik tangannya seperti itu?
Dia membenci dirinya sendiri, kenapa dirinya selalu tidak menarik perhatian orang lain.
Di belakang tembok terdapat sebuah tempat gelap, sinar matahari tidak menyorot sampai di sini.
Terasa olehnya, dirinya bak seorang anak hnram yang dibuang oleh ayah-bundanya di pinggir jalan.
oo Air panas diantar datang pula.
Lok Siau-ka mengawasi Oh-ciangkun si juragan beras menuang air panas itu ke dalam gentong mandinya, katanya.
"Kenapa orangnya belum datang juga?"
"Orang siapa?"
"Orang yang kalian ingin supaya kubunuh."
"Dia pasti akan datang."
"Dia saja seorang masih belum cukup."
"Masih perlu siapa lagi?"
"Perempuan."
"Aku memang hendak mencari Tan-toakoan."
"Mungkin selamanya dia tidak akan kemari lagi."
"Kenapa?"
Lok Siauka tidak menjawab pertanyaan ini, dengan mata terpicing merem-melek dia mengawasi tangan orang.
Tangan orang kelihatan kering menguning dan kurus, tapi amat tenang dan gerak-geriknya mantap, teko besar yang penuh terisi air panas itu seolah barang kosong belaka terjinjing di tangannya.
Mendadak Lok Siau-ka tertawa, katanya.
"Orang lain bilang kau ini adalah juragan beras di sini, apa betul?"
"Sudah tentu ...."
Oh-ciangkui mengunjuk tawa berseri.
"Tapi semakin kupandang kau ini sedikit pun tidak mirip."
Tiba-tiba dia merendahkan suaranya.
"Sejak mula aku sudah berpendapat tidak pantas kalian mengundangku kemari."
"Kenapa?"
Tanya Oh-ciangkui "Dulu bila kalian ingin membunuh orang, bukankah selalu turun tangan sendiri?"
Air panas dalam teko sudah habis, tapi tangan yang menjinjing teko itu masih terangkat bergantung di tengah udara.
Lama juga baru tangan ini diturunkan, tiba-tiba Oh-ciangkui juga merendahkan suaranya dan berbisik.
"Kami hanya mengundangmu untuk membunuh orang, bukan untuk menyuruhmu menyelidiki asal-usul kami."
Pelan-pelan Lok Siau-ka manggut-manggut, katanya tersenyum.
"Memang masuk akal."
"Tarip yang kau minta, kami sudah membayarnya lunas, kan tiada orang yang menanyai asalusulmu."
"Tapi mana perempuan yang kuinginkan?"
"Perempuan..."
Belum habis Oh-ciangkui menjawab, tiba-tiba didengarnya seseorang berkata lantang.
"Itu bergantung perempuan macam apa yang kau inginkan?"
Itulah suara perempuan.
Lok Siau-ka segera berpaling, maka dilihatnya seorang perempuan pelan-pelan muncul dari balik tembok yang gelap sana.
Perempuan yang masih muda belia, gadis yang cantik rupawan, tapi sorot matanya penuh mengandung rasa kebencian, kemarahan dan dendam yang memburu oo Be Hong-ling sudah beranjak sampai ke tengah jalan.
Cahaya matahari menyinari mukanya, roman mukanya menampilkan mimik yang aneh, biasanya bila seseorang pesakitan digusur ke gelanggang hukuman untuk dipenggal kepalanya, mimik mukanya sering menampilkan perasaan seperti yang ditunjuk oleh mimik Be Hong-ling sekarang.
Pandangan Lok Siau-ka dari kaki pelan-pelan meninggi mengawasi mukanya, akhirnya berhenti pada sepasang bibirnya.
Bibirnya tipis dan basah lembut, mirip benar dengan delima merekah yang baru saja matang.
Lok Siau-ka tertawa, katanya tersenyum.
"Kau yang bertanya kepadaku perempuan jenis apa yang kuinginkan?"
Be Hong-ling manggut-manggut. Lok Siau-ka tertawa pula, ujarnya.
"Perempuan seperti kau inilah yang sedang kuharapkan, tentunya kau pun sudah tahu."
"Kalau begitu perempuan yang kau inginkan sekarang sudah ada."
"Kau sendiri maksudmu?"
"Ya, aku inilah."
Lok Siau-ka tertawa lebar.
"Kau kira aku menipumu?"
Be Hong-ling menegas.
"Sudah tentu kau tidak akan menipuku, cuma kurasa paling tidak kau harus unjuk tawa dulu kepadaku."
Be Hong-ling segera tertawa. Siapa pun harus mengakui bahwa dia memang sudah tertawa. Tapi Lok Siau-ka malah mengerut kening.
"Kau belum puas juga?"
Tanya Be Hong-ling.
"Soalnya aku tidak suka melihat perempuan yang tertawa mirip orang menangis."
Bibir Be Hong-ling sampai berdarah karena tergigit kencang, lama baru dia berkata lirih.
"Walau jelek tawaku, tapi tugas lain pasti dapat kulakukan dengan baik."
"Kau bisa kerja apa?"
"Kerja apa saja yang kau inginkan?"
Lok Siau-ka mengawasinya lekat-lekat, tiba-tiba dia raih handuk di dalam baskom terus dilempar ke arahnya. Terpaksa Be Hong-ling menangkapnya.
"Tahukah kau untuk apa handuk itu?"
Tanya Lok Siau-ka. Be Hong-ling geleng-geleng kepala.
"Untuk menggosok punggung,"
Kata Lok Siau-ka.
Mengawasi handuk basah di tangannya, tangan Be Hong-ling tiba-tiba gemetar, tahu-tahu handuk itu jatuh karena tangannya menjadi lemas.
Tapi lekas sekali dia sudah meraihnya, lalu dipegangnya dengan kencang.
Seolah-olah dia sudah mengerahkan seluruh tenaga untuk memegangi handuk itu, punggung tangannya yang berkulit halus putih itu kelihatan otot-otot hijaunya yang merongkol karena terlalu keras mengerahkan tenaga.
Sebetulnya dia sudah tahu barang yang sudah tergenggam di tangannya takkan bisa terlepas jatuh lagi.
Memangnya dia tidak akan rela membiarkan barang apa pun jatuh dari tangannya, cukup banyak dia kehilangan.
Sudah tentu Lok Siau-ka tetap mengawasinya, sorot matanya tersenyum tajam laksana ujung jarum, seolah-olah hendak menghujam ke hulu hatinya.
Dengan mengertak gigi, tiba-tiba dia bertanya.
"Ada sepatah kata ingin kutanyakan kepadamu."
"Terus terang aku tidak suka perempuan yang cerewet, tapi kali ini boleh kulanggar kebiasaanku ini, boleh kau bertanya!"
"Perempuan yang kau inginkan sekarang sudah kau dapat, tapi orang yang ingin kau bunuh sekarang masih segar-bugar."
"Jadi kau tidak ingin dia hidup?"
Tanya Lok Siau-ka. Be Hong-ling manggut-manggut.
"Kau kemari, hanya karena aku hendak membunuhnya?"
Be Hong-ling manggut-manggut pula sebagai jawaban. Lok Siau-ka tertawa pula, katanya tawar.
"Kau tidak usah kuatir, kutanggung dia tidak akan berumur panjang."
Oo Waktu berlalu tanpa terasa, hari menjelang lohor, terik matahari semakin membara.
Tiba-tiba Be Hong-ling merasakan dirinya seperti semut yang berada di dalam kuali, dirinya sedang digodok dan dipanggang.
Dengan menggenggam kencang handuk di tangannya, pelanpelan dia maju menghampiri.
Lok Siau-ka tersenyum menyambut kedatangannya, giginya yang putih laksana mutiara berkilau ditimpa sinar matahari, kelihatan mirip benar dengan binatang liar....
oo BAB 25.
PEDANG YANG MENGGETARKAN Hujan belum lama turun, tidak semestinya cuaca begini panas.
Keringat berketes-ketes membasahi jidat, lalu mengalir membasahi leher, terus mengalir turun membasahi pakaian yang memang sudah kuyup.
Kadal yang berwarna gelap tengah mencari makan di tengah-tengah tumpukan pasir, seolaholah ingin mencari suatu tempat yang nyaman untuk berteduh.
Rumput yang baru saja basah oleh air hujan, kini kering-kerontang pula oleh terik matahari.
Sampai pun hembusan angin pun terasa membara Hembusan angin yang datang dari padang rumput, terasa laksana deru napas setan iblis yang tersiksa di neraka.
oo Hanya di dalam rumah, hawa rada nyaman dan dingin.
Di atas meja panjang lebar tiga kaki, banyak bertumpuk-tumpuk berbagai warna corak kain sutra, tidak kurang banyaknya pula mode pakaian yang sudah jadi.
Yap Kay duduk di sebuah kursi rotan di pinggiran sana, kedua kakinya terjulur panjang, dengan bermalas-malasan dia mengawasi Ting Hun-pin memilih kain dan pakaian.
Dua orang pelayan toko, seorang yang berusia lebih tua berdiri di samping dengan meluruskan kedua tangannya.
Seorang lagi yang lebih muda mencari kesempatan mengeluyur keluar melihat keramaian.
Agaknya cukup lama mereka bekerja dalam bidang ini, mereka cukup mengerti di kala perempuan sedang memilih pakaian, lebih baik laki-laki menyingkir dan jangan banyak komentar dari pinggiran.
Akhirnya Ting Hun-pin memilih seperangkat pakaian warna hijau pupus, setelah diukur dan kira-kira pas dengan potongan badannya, lalu diletakkan pula, katanya menghela napas.
"Tak nyana koleksi barang di sini ternyata banyak ragamnya."
"Orang lain merasa barang-barang di sini terlalu sedikit untuk dipilih, memangnya kau malah merasa kebanyakan?"
Tanya Yap Kay. Ting Hun-pin manggut-manggut, katanya.
"Semakin banyak barang, semakin sulit aku menentukan pilihanku, jika hanya beberapa potong saja, mungkin seluruhnya sudah kuborong."
"Kau bicara jujur dalam hal ini,"
Ujar Yap Kay. Pelayan tua itu berkata dengan tertawa.
"Soalnya nyonya muda dari Ban-be-tong dan putrinya sering berbelanja di sini, terpaksa toko kami harus menyediakan banyak koleksi dengan mode yang mutakhir, sungguh harus dimaafkan."
Tak tahan Ting Hun-pin tertawa, katanya.
"Kau tidak perlu minta maaf segala, kan bukan salahmu."
"Tapi pembeli selamanya selalu benar,"
Sahut pelayan tua.
"kalau nona merasa persediaan barang toko kami terlalu banyak, itu adalah kesalahan toko kami."
"Agaknya kau memang pandai berdagang, terpaksa aku tidak bisa tidak harus membelinya,"
Ujar Ting Hun-pin. Pelayan muda yang berdiri di depan pintu, tiba-tiba melangkah masuk seraya menghela napas panjang.
"Tak terduga, sungguh tak terduga..."
Ting Hun-pin mengerut kening, tanyanya.
"Kau tidak mengira bila aku bakal membeli?"
Pelayan muda itu tertegun, dengan tersipu-sipu dia bersoja dan menjawab dengan tawa dibuatbuat.
"Mana hamba berani punya dugaan demikian!"
"Memangnya apa maksudmu dengan tidak menduga?"
"Hamba hanya tak menduga Be-toasiocia ternyata sudi menggosok punggung orang yang sedang mandi."
"Be-toasiocia?"
"Ya, putri tunggal dan kesayangan Ban-be-tong Sam-lopan."
"Apakah nona yang berpakaian merah itu?"
"Sam-lopan hanya mempunyai seorang putri kesayangan saja."
"Dia sedang menggosok punggung siapa?"
"Yaitu tuan yang sedang mandi di tengah jalan raya itu."
Berputar biji mata Ting Hun-pin, segera dia berpaling ke arah Yap Kay. Mata Yap Kay merem-melek memicing, agaknya mengantuk.
"Hai, kau sudah mendengar belum?"
Tanya Ting Hun-pin.
"Ehm."
"Apa maksud ehm itu?"
Yap Kay menggeliat, katanya.
"Kalau laki-laki menggosok punggung perempuan, tak usah kau banyak komentar, aku sudah lari keluar melihatnya, perempuan menggosok punggung laki-laki kan sudah jamak dan tidak perlu dibuat heran, apanya yang enak dilihat."
Ting Hun-pin menatapnya sekian lama, akhirnya dia tertawa cekikikan. Pelayan muda itu tiba-tiba menghela napas pula, katanya.
"Hamba sih mengerti apa maksud nona Be yang sebenarnya."
"Oh, kau tahu apa?"
Tanya Ting Hun-pin.
"Bahwa nona Be sudi merendahkan derajat dan menderita malu, lantaran demi Sam-lopan."
"Oh, demi ayahnya."
"Karena si timpang itu adalah musuh besar Sam-lopan, nona Be kuatir usia Sam-lopan yang sudah lanjut, mungkin bukan tandingan orang."
"Oleh karena itu dia terima merendahkan derajat serta menanggung malu, maksudnya supaya Lok Siau-ka mewakilkan dia membunuh si timpang itu."
Pelayan muda manggut-manggut, katanya sambil menghela napas.
"Dia memang putri yang berbakti."
Ting Hun-pin tiba-tiba tertawa dingin, katanya.
"Mungkin memang dia suka menggosok punggung laki-laki."
Pelayan itu melengak ingin bicara lagi, tapi pelayan yang lebih tua lekas memberi kedipan, segera ia batal bicara dan mundur.
Tatkala itu terdengarlah derap kaki kuda di luar sana.
Derap kaki kuda yang riuh dan kacau.
Agaknya tidak sedikit penunggang kuda yang mendatangi.
Kata Ting Hun-pin sambil mengerling.
"Coba kau keluar, lihat siapa saja yang datang."
Meski pelayan muda itu rada penasaran, tapi dia keluar juga dengan kepala menunduk. Tak lama kemudian dia sudah masuk dan memberi laporan.
"Yang datang adalah tukang-tukang kuda dari Ban-be-tong."
"Berapa banyak yang datang?"
"Sekitar empat-lima puluh orang."
Ting Hun-pin menepekur sebentar, dengan tajam dia melirik ke arah Yap Kay, katanya.
"Apakah mereka datang hendak melihat keramaian?"
Yap Kay menggeliat lagi, sahutnya.
"Itu tergantung mereka itu orang-orang goblok atau orangorang pintar."
"Jika mereka kemari hendak membantu, maksudmu mereka adalah orang-orang goblok?"
"Ya, seratus persen orang goblok!"
Ujar Yap Kay tertawa, lalu sambungnya.
"keramaian sebagus ini, hanya orang goblok pula yang menyia-nyiakan tontonan sebaik ini."
Ting Hun-pin tertawa, tanyanya.
"Apakah kau ingin benar menunggu untuk menonton? Sebetulnya golok Pho Ang-soat lebih cepat atau pedang Lok Siau-ka lebih cepat?"
"Umpama aku harus menunggu tiga hari, aku pun dengan senang akan menunggu."
"Oleh karena itu kau bukan orang bodoh."
"Sudah tentu bukan."
Oo Waktu itu sudah terdengar berbagai suara berpadu di jalan raya sana, ada suara orang batuk, ada suara orang berbisik-bisik, ada yang tertawa, tapi kebanyakan adalah suara helaan napas yang heran dan gegetun serta gemas.
Melihat putri juragan mereka, Be-toasiocia, sedang menjadi babu menggosok punggung lakilaki yang tidak dikenalnya, sudah tentu banyak orang heran, kaget dan merasa penasaran.
Tapi jelas tiada orang yang berani mencampuri urusan ini.
Orang goblok di dunia ini memang tidak banyak.
Sekonyong-konyong segala suara sirap, semuanya berhenti, seolah-olah angin pun menjadi beku dan berhenti berhembus.
Kedua pelayan toko itu juga merasakan suatu tekanan suasana yang mendadak seperti menyesakkan napas, mencekam sanubarinya.
Biji mata Ting Hun-pin mendadak memancarkan sinar terang, gumamnya.
"Sudah datang, akhirnya datang ...."
Oo Tiada orang bergerak, tiada suara apa pun. Setiap orang yang hadir merasakan suatu tekanan yang tak terlawan begitu berat tindihan tekanan ini sampai bernapas pun sesak.
"Datang, sudah datang, akhirnya datang ...."
Mentari nan terik, angin yang panas.
Angin menghembus dari padang rumput.
Lumpur becek dan genangan air di jalan raya sudah kering.
Perlahan¬lahan, dia melangkah melewati jalan yang semula becek ini.
Kaki kiri melangkah setapak, kaki kanan lalu diseret ke muka dengan kaku Walau perlahan-lahan jalannya, tapi tidak pernah berhenti.
Setiap pasang mata tengah mengawasinya, sinar mentari pun sedang menerangi mukanya.
Kelihatan mukanya pucat-pias, memutih sampai seperti tembus cahaya dan mengkilap, mirip benar dengan puncak gunung salju yang tidak pernah lumer.
Tapi sorot matanya seolah-olah sudah menyala.
Matanya sedang melotot mengawasi Be Hongling.
oo Tangan Be Hong-ling sudah berhenti, handuk basah di tangannya meneteskan air.
Setetes, dua tetes ....
Alam semesta ini seolah-olah hanya ketinggalan suara tetesan air ini.
Namun darah justru sedang bertetesan dalam relung hatinya.
Setetes, dua tetes ....
Duka, sedih dan perih, malu dan kemarahan akhirnya membakar dendamnya.
Pandangan Pho Ang-siat seperti sedang bertanya.
"Kenapa kau belum pergi juga? Kenapa masih tinggal di sini?"
"Aku tidak mau pergi karena aku ingin melihat dia mampus di hadapanku."
Hatinya sedang meronta-ronta, sedang menjerit, tapi roman mukanya tidak menampilkan perubahan apa-apa.
Rona muka Be Hong-ling seolah-olah sudah membeku dingin pula.
Kini pandangan Pho Ang-soat menatap ke muka Lok Siau-ka, sebaliknya Lok Siau-ka melirik pun tidak, dia malah melambaikan tangan kepada Ting-losu dan Oh-ciangkui.
Terpaksa mereka maju menghampiri.
"Kalian ingin aku membunuh orang ini?"
Tanya Lok Siau-ka. Ting-losu ragu-ragu, setelah melirik ke arah Oh-ciangkui, akhirnya keduanya manggutmanggut.
"Apa benar kalian ingin aku membunuhnya?"
"Sudah tentu,"
Sahut Ting-losu. Lok Siau-ka tiba-tiba tertawa, ujarnya.
"Baik, aku pasti membunuhnya untuk kalian."
Diulurnya sebelah tangannya, pelan-pelan dia jemput pedang di atas rak.
Jari-jari Pho Ang-soat yang memegang golok seketika kencang.
Lok Siau-ka tetap tidak mengawasinya, tetapi menatap pedang di tangannya, katanya kalem.
"Tugas yang pernah kujanjikan pasti akan ku laksanakan."
"Sudah tentu, kau memang selalu menepati janji."
"Kau tidak kuatir?"
"Tidak, aku percaya!"
Lok Siau-ka menghela napas, ujarnya "Kalau kalian sudah lega., bolehlah mampus saja."
Ting-losu mengerut kening, tanyanya.
"Apa katamu?"
"Kataku, kalian boleh mampus saja."
Pedang di tangannya tiba-tiba terayun, bergerak amat lambat, pelan sekali, tapi tidak menabas atau menusuk ke arah siapa pun.
Mengawasi pedang orang yang sudah bergerak, kulit daging Ting-losu tiba-tiba berkerut-kerut seperti mengejang, disusul sekujur tubuhnya pun bergetar mengejang pula.
Semua orang heran mengawasi perubahan mukanya, tiada yang tahu apa sebenarnya yang telah terjadi?
Tapi tubuh Ting-losu tiba-tiba roboh terkapar.
Begitu dia roboh, darah segera muncrat bagai air mancur dari bawah perutnya.
Baru sekarang semua orang melihat jelas, dari dalam gentong air itu tahu-tahu keluar sebilah pedang, ujung pedang masih berlepotan darah yang berketes-ketes.
Kiranya waktu Ting-losu memperhatikan pedang di tangan Lok Siau-ka yang bergerak perlahanlahan itu, pedang di tangan kiri Lok Siau-ka tahu-tahu menusuk keluar dari dalam gentong air, telak sekali menembus perutnya.
Dalam waktu yang hampir sama, Oh-ciangkui pun ikut roboh, bedanya darah muncrat dari tenggorokannya.
Kini pedang di tangan kanan Lok Siau-ka pun berlepotan darah, darah masih menetes.
Begitu Oh-ciangkui melihat pedang yang menusuk keluar dari dalam gentong, pedang di tangan kanan Lok Siau-ka tiba-tiba berubah arah, bertambah cepat, laksana kilat menyambar, tahu-tahu tenggorokannya sudah berlubang, jiwanya pun melayang.
oo Tiada orang bergerak, tak ada suara apa pun, sampai pun napas orang pun seperti sudah berhenti.
Mengawasi darah yang menetes di ujung pedangnya, Lok Siau-ka menghela napas, katanya.
"Orang yang mempunyai tugas kerja seperti diriku, umpama sedang mandi pun harus selalu waspada dan menyiapkan apa yang perlu di dalam gentong mandi ini, sekarang tentunya kalian sudah mengerti semua."
"Tapi aku tidak mengerti,"
Tiba-tiba Be Hong-ling berkata dengan suara serak "Kau tidak mengerti kenapa aku membunuh mereka?"
Tanya Lok Siau-ka. Memang tiada orang yang mengerti. Sudah tentu Be Hong-ling juga tidak mengerti, katanya.
"Orang yang harus kau bunuh bukan mereka saja bukan?"
Tiba-tiba Lok Siau-ka tertawa pula, kepalanya bergerak, sorot matanya akhirnya tertuju ke arah Pho Ang-soat "Kau tahu tidak?"
Tanyanya. Sudah tentu Pho Ang-soat pun tidak tahu, tidak ada orang yang mengerti.
"Sebetulnya tujuan mereka sebenarnya bukan mengundangku kemari untuk membunuh kau,"
Demikian Lok Siau-ka menjawab pertanyaannya sendiri.
"Bukan untuk membunuhku?"
"Mereka hanya ingin main bokong dan menyerang secara gelap kepadamu di saat kau berduel dengan aku."
Pho Ang-soat agaknya masih belum paham.
"Akal ini memang baik, karena peduli siapa pun yang bergebrak dengan aku, pasti dia tidak akan punya kemampuan untuk bersiaga dari bokongan orang lain, apalagi serangan gelap yang dilancarkan dari dalam gentong air ini."
"Dalam gentong air?"
Pho Ang-soat menegas.
"Kau tidak mengerti?"
Lok Siau-ka menegas. Pho Ang-soat tetap tidak mengerti, orang lain pun tiada yang tahu. Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara "Blang"
Yang keras sekali serasa bumi bergetar.
Kiranya suara itu berkumandang dari dalam gentong kayu yang besar itu, disusul gentong itu mendadak bergetar retak dan pecah.
Air muncrat kemana-mana, seiring dengan muncratnya air, tiba-tiba sesosok bayangan orang menerjang keluar dari bawah gentong air.
Cepat sekali gerakan orang ini, tapi gerakan pedang Lok Siau-ka lebih cepat lagi, dimana pedangnya berkelebat, suara jeritan menyayat hati berkumandang di tengah udara.
Sesudah air muncrat laksana cahaya perak yang ditimpa sinar matahari, kini disusul pula dengan hujan darah yang berceceran kemana-mana, seseorang tersungkur roboh dan terkapar tidak berkutik lagi, orang ini bukan lain adalah Kim-pwe-tho-liong Ting Kiu.
oo Tiada suara, napas seperti berhenti semua.
Jeritan yang mengerikan seketika kelelap ditelan hembusan angin panas yang menghembus datang dari padang rumput.
Entah berapa lama berselang, Ting Hun-pin baru bersuara dengan menghela napas.
"Gerakan pedang yang cepat sekali."
Yap Kay manggut-manggut dia pun mengakui kecepatan sambaran pedang yang luar biasa ini.
Siapa pun takkan bisa tidak mengakui, meski sebatang besi biasa bila sudah berada di tangan Lok Siau-ka, ternyata berubah menjadi sebilah pedang yang sakti mandra guna.
"Sekarang mau tidak mau aku pun harus kagum kepadanya,"
Ujar Ting Hun-pin.
"O? Kenapa?"
"Walau belum tentu dia pintar, juga belum tentu manusia baik-baik, tapi dia memang pintar main pedang."
Oo Tetesan darah terakhir pun sudah berakhir. Tatapan mata Lok Siau-ka baru beralih dari ujung pedangnya ke arah Pho Ang-soat, katanya tersenyum.
"Sekarang kau sudah mengerti?"
Pho Ang-soat manggut-manggut, sudah tentu sekarang dia sudah tahu, setiap orang pun tahu.
Bagian bawah gentong air ini ternyata kosong, di dalamnya bersembunyi seseorang.
Memang setelah gentong itu terisi air, siapa pun tiada yang tahu berapa dalam gentong air ini.
Sudah tentu Lok Siau-ka pun tidak berdiri dengan tegak, oleh karena itu tiada orang menduga bahwa bagian bawah gentong air ini ternyata ada lapisannya.
Oleh karena itu bila Kim-pwe-tho-liong Ting Kiu menimpukkan senjata rahasia dari bawah gentong air ini secara gelap, mimpi pun Pho Ang-soat tidak akan menduganya.
Kata Lok Siau-ka.
"Sekarang tentunya kau sudah mengerti, aku mandi bukan lantaran ingin bersih saja, adalah orang sudi membayar lima ribu tahil perak kepadaku."
Dia tertawa, lalu berkata lagi.
"Demi lima ribu tahil perak ini, mungkin Yap Kay sendiri pun mau saja mandi air panas."
Yap Kay tersenyum.
Muka Pho Ang-soat sebaliknya tetap dingin dan pucat, di bawah terik matahari yang begitu panas, setetes keringat pun tidak kelihatan di wajahnya.
Kata Lok Siau-ka dengan suaranya yang kalem.
"Akal ini aku sendiri pun merasa kagum juga, sayang sekali mereka toh tetap salah memperhitungkan satu hal."
"Hal apa?"
Tak tahan Pho Ang-soat bertanya "Mereka salah menilai diriku,"
Sahut Lok Siau-ka.
"Oh, salah menilaimu."
"Aku pernah membunuh orang, selanjutnya juga masih akan membunuh, aku pun suka uang, demi lima ribu tahil perak, sembarang waktu aku mau saja disuruh mandi."
Sampai di sini dia tertawa lebar, katanya dengan suara tawar.
"Tapi aku tidak suka dan tidak sudi diperalat orang lain, apalagi dianggap alat pembunuh."
Pho Ang-soat menghela napas panjang, sorot matanya yang membeku mulai lumer.
Tiba-tiba dia merasa pemuda yang berdiri di hadapannya dengan badan basah kuyup ini paling tidak masih merupakan manusia.
Kata Lok Siau-ka lebih lanjut.
"Jika aku ingin membunuh orang, selamanya aku suka turun tangan sendiri."
"Memang suatu kebiasaan yang baik."
"Sebetulnya masih banyak lagi kebiasaanku."
"O, kebiasaan apalagi?"
"Aku masih ada kebiasaan baik, yaitu selamanya aku tidak pernah menjilat lagi setiap perkataan yang pernah kuucapkan."
"O, lalu?"
"Sekarang aku sudah terima pembayaran orang, aku pun sudah berjanji kepada mereka untuk membunuhmu."
"Aku sudah mendengarnya."
"Oleh karena itu aku tetap akan membunuhmu."
"Tapi aku sebaliknya tidak ingin membunuhmu."
"Kenapa?"
Tanya Lok Siau-ka.
"Karena biasanya aku tidak suka membunuh orang macam tampangmu,"
Sahut Pho Ang-soat.
"Aku termasuk orang macam apa?"
"Seorang jenaka yang menggelikan."
"Aku ini jenaka? Suka humor maksudmu?"
Tanya Lok Siau-ka keheranan. Banyak orang memakinya dengan kata-kata kotor yang tak enak didengar, tapi belum pernah ada orang yang mengatakan dirinya jenaka. Kata Pho Ang-soat tawar.
"Biasanya aku merasa orang yang mandi mengenakan celana, jauh lebih lucu daripada orang yang kentut menanggalkan celana."
Tak tahan Yap Kay tertawa, Ting hun-pin juga terpingkal-pingkal.
Laki-laki besar kalau mengenakan celana yang basah kuyup kelihatan memang amat lucu dan jenaka.
Tiba-tiba Lok Siau-ka juga tertawa, katanya tersenyum.
"Lucu, lucu, sungguh tak pernah terpikir olehku orang ini ternyata lucu juga, biasanya aku paling suka orang sepertimu."
Tiba-tiba dia menarik muka pula, katanya dingin.
"Sayang sekali aku tetap akan membunuhmu."
"Sekarang juga kau akan membunuhku?"
"Sekarang juga aku akan turun tangan."
"Dengan mengenakan celanamu yang basah itu?"
"Umpama tidak bercelana, aku tetap akan membunuhmu juga."
"Bagus sekali."
"Apanya yang bagus?"
"Aku sendiri pun merasa sayang bila kesempatan ini disia-siakan."
"Kesempatan apa?"
"Kesempatan untuk membunuhku."
"Hanya sekarang aku punya kesempatan untuk memunuhmu?"
"Karena kau tahu sekarang aku takkan membunuhmu."
"Apa maksudmu?"
Tanya Lok Siau-ka bingung.
"Aku hanya memberitahukan kepadamu,"
Ujar Lok Siau-ka.
"Setiap perkataan yang pernah kuucapkan tidak pernah kujilat kembali."
Lok Siau-ka mengawasinya, roman mukanya menampilkan mimik yang aneh dan lucu.
Sebaliknya raut muka Pho Ang-soat tidak menampilkan mimik perasaan hatinya.
Mendadak Lok Siau-ka tertawa.
Di atas rak kayu terdapat sebuah kantong kulit yang tertindih di bawah pakaian Tiba-tiba dia ungkit pakaiannya dengan ujung pedang, lalu dari dalam kantong kulit itu dia keluarkan dua carik uang kertas.
Selembar seharga sepuluh ribu tahil, selembar yang lain seharga lima ribu tahil.
Kata Lok Siau-ka.
"Meski orangnya belum kubunuh, tapi aku sudah telanjur mandi, maka lima ribu tahil ini aku terima, selaksa tahil ini kukembalikan kepadamu."
Lembaran selaksa tahil itu dia lempar ke atas badan Ting-losu, mulutnya menggumam.
"Maaf, setiap orang tak urung pernah ingkar janji, tentunya kalian takkan menyalahkan diriku."
Memang tiada orang menyalahkan dia, orang mati sudah tentu tidak akan bicara.
Kembali Lok Siau-ka mencungkit kantong kulitnya dengan ujung pedangnya terus tinggal pergi, berpaling pun tidak kepada Pho Ang-soat, melirik ke arah Be Hong-ling juga tidak.
Semua orang hanya mengawasinya dengan mendelong, tapi waktu dia berjalan tiba di depan Yap Kay, tiba-tiba dia menghentikan langkah.
Yap Kay masih tersenyum.
Dari atas ke bawah, demikian bolak-balik dua kali dia mengawasi Yap Kay, tiba-tiba Lok Siau-ka tertawa, katanya.
"Kau tahu kenapa aku sudi menerima lima ribu tahil perak ini?"
"Tidak tahu,"
Sahut Yap Kay sambil menggeleng kepala.
"Nah, kuberikan kepadamu,"
Ujar Lok Siau-ka mengangsurkan uangnya.
"Berikan kepadaku? Kenapa kau berikan kepadaku?"
"Karena aku ingin memohon sesuatu kepadamu."
"Memohon apa?"
"Supaya kau suka mandi, jika kau tetap tidak mau mandi, mungkin aku bisa kau bikin kelengar karena bau badanmu yang apek."
Tanpa memberi kesempatan kepada Yap Kay bicara lagi segera dia melangkah lebar tinggal pergi.
Yap Kay mengawasi uang di tangannya, entah geli, dongkol atau senang.
Ting Hun-pin tak tahan ikut tertawa, katanya.
"Bagaimana pun juga, hanya disuruh mandi lantas dibayar lima ribu tahil, sungguh kejatuhan rezeki nomplok "
Yap Kay sengaja menarik muka, katanya dingin.
"Agaknya kau amat kagum kepadanya."
"Tapi bukan dia yang paling kukagumi,"
"Kau sendiri orang yang paling kukagumi?"
"Bukan aku tapi kau."
"Kau pun kagum kepadaku?"
Ting Hun-pin manggut-manggut, sahutnya.
"Karena di dunia ini ternyata ada laki-laki yang mau membayar lima ribu tahil menyuruh orang mandi."
Yap Kay tak tertahan hendak tertawa, tapi dia tidak tertawa.
Karena pada saat itu pula, tiba-tiba dia mendengar orang menangis tergerung-gerung.
Yang memangis ternyata adalah Be Hong-ling.
Sudah lama dia menahan diri, dia sudah menggunakan seluruh kekuatannya yang paling besar untuk mengendalikan emosinya.
Tapi dia tetap tak tahan untuk tidak menangis tergerung-gerung.
Bukan saja sedih dan pilu, hatinya pun dongkol dan marah.
Karena dia merasa orang yang menghina dan merusak namanya adalah dia sendiri pula, bahwasanya tiada orang lain yang menjebloskan dirinya.
Waktu dia mulai menangis, Pho Ang-soat kebetulan tengah beranjak maju, lewat sampingnya.
Tapi melirik pun dia tidak kepada Be Hong-ling, sekilas kerlingan mata pun tidak, seperti pula waktu dia melewati mayat kim-pwe-tho-liong.
Tukang-tukang kuda dari Ban-be-tong semua berdiri di emperan rumah, ada yang tertunduk kepalanya, ada yang sengaja mengarahkan pandangannya ke tempat lain.
Sebetulnya mereka pun laki-laki pejuang yang ludah kenyang mengalami pahit getir kehidupan, tapi sekarang dengan mendelong mereka hanya mengawasi saja putri tunggal junjungan mereka dihina dan disapu habis pamornya, ternyata semuanya pura-pura tidak melihat.
Tiba-tiba Be Hong-ling menerjang ke sana, dia tuding Pho Ang-soat, serunya dengan suara serak.
"Kalian tahu siapa dia? Dia adalah musuh besar pangcu kalian, yaitu pembunuh yang membunuh kawan-kawan kalian, dia sengaja hendak menghancurkan Ban-be-tong, kalian hanya berpeluk tangan menjadi penonton saja."
Tetap tiada orang yang bersuara, tidak ada orang yang mengawasi dirinya.
Sorot mata semua orang tengah mengawasi seorang laki-laki pertengahan umur yang bermuka ambang-bauk.
Biasanya mereka memanggil orang ini sebagai Kiau-lotoa, karena dialah tukang kuda yang tertua dan berkuasa di antara mereka di dalam Ban-be-tong.
Selama hidupnya, boleh dikata dia melewatkan hidupnya di dalam Ban-be-tong, dia sudah mempertaruhkan masa remajanya dari kehidupan yang paling berharga di dalam Ban-be-tong secara sia-sia.
Kini kedua kakinya sudah bengkok, sudah cacad karena bertahun-tahun hidup di punggung kuda, demikian pula punggungnya sudah bungkuk, sepasang matanya yang semula tajam bersinar dan berwibawa kini sudah guram, merah berair karena terlalu banyak menghabiskan air kata-kata.
Di kala dia tidur di atas papan kayu yang dingin dan keras sambil mengelus-elus bekas luka dan daging kapalan di kaki dan pahanya, pernah juga terpikir olehnya untuk mencari hidup dengan jalan lain ke tempat yang jauh.
Tapi tiada suatu tempat untuknya pergi, karena akarnya hakikatnya sudah tumbuh dan kokoh di dalam Ban-be-tong.
Pertama kali Be Hong-ling duduk di punggung kuda, juga dialah yang menggendongnya, kini dia tengah menatap orang tua yang sudah loyo ini, katanya keras.
"Kiau-lotoa, hanya kau seorang yang paling lama ikut ayahku, kenapa kau pun tidak bersuara?"
Sorot mata Kiau-lotoa memancarkan rasa duka dan lara, tapi sedapat mungkin dia mengendalikan emosinya, lama juga baru dia bisa menghela napas, katanya pelan.
"Aku pun tak bisa berbuat apa-apa lagi "
"Kenapa?"
Kiau-lotoa mengepal tinju, katanya mendesis dengan mengertak gigi.
"Karena sekarang kau sudah bukan orang Ban-be-tong."
"Siapa yang bilang?"
Desak Be Hong-ling tercengang.
"Sam-lopan yang mengatakan,"
Sahut Kiau-lotoa. Be Hong-ling menjublek.
"Dia beri kita semua setiap orang seekor kuda, tiga ratus tahil perak, menyuruh kita bubar."
Jari-jarinya mengepal semakin kencang, giginya pun mengertak berkeriutan, suaranya serak gemetar.
"Demi Ban-be-tong, kita menjual jiwa seumur hidup, tapi kalau Sam-lopan bilang kita harus bubar, maka kita segera berangkat dan pergi."
Dengan terkesima Be Hong-ling mengawasinya, pelan-pelan kakinya menyurut mundur.
Tiada yang bisa dia katakan lagi.
Selama ini Yap Kay hanya pasang kuping mendengarkan dengan cermat, sampai di sini mendadak dia menjerit.
"Celaka!"
"Apanya yang celaka?"
Tanya Ting Hun-pin.
Yap Kay geleng-geleng kepala, belum lagi dia berbicara, mendadak di kejauhan dilihatnya asap tebal bergulung-gulung menjulang tinggi di angkasa.
Dimana biasanya bendera dari sutra putih Ban-be-tong berkibar.
oo Jago merah berkobar-kobar mengeluarkan asap hitam yang tebal.
Waktu Yap Kay dan lain-lain memburu ke sana, Ban-be-tong sudah menjadi lautan api.
Memangnya semua serba kering, begitu api berkobar, segalanya tak bisa diatasi lagi.
Apalagi di antara kobaran api itu terendus juga bau minyak tanah, lebih celaka karena ada dua tiga puluhan tempat yang berkobar bersama, begitu api menjilat dari satu tempat ke lain tempat dengan bantuan angin padang rumput, seluruh Ban-be-tong sudah ditelan kobaran si jago merah.
Rombongan kuda meringkik dan berlari kian kemari, saling terjang, sungsang-sumbel, injak menginjak, semua ingin menerjang keluar dari kepungan api.
Memang tidak sedikit yang berhasil menerjang keluar dan berlari ke empat penjuru, tapi kebanyakan terkepung mati hangus.
Bau asap membawa hawa sedap dari daging yang terpanggang dan hangus.
"Ban-be-tong sudah hancur, hancur-lebur bersama seluruhnya."
"Orang yang menghancurkan tempat ini adalah orang yang membangunnya pula."
Seolah-olah Yap Kay melihat Be Khong-cun berdiri di tengah-tengah kobaran api, tengah tertawa dingin kepadanya.
"Tempat ini adalah milikku, tiada orang yang boleh merebutnya dari tanganku."
Sekarang dia benar-benar melaksanakan janjinya, kini Ban-be-tong akan selamanya menjadi miliknya yang abadi.
Kalau kebakaran ini semakin besar, telapak tangan Yap Kay justru berkeringat dingin.
Siapa pun takkan ada yang dapat menyelami isi hatinya, siapa pun tiada yang tahu apa yang terkandung dalam pikirannya?
Tiba-tiba Ting Hun-pin menghela napas, ujarnya.
"Kalau tidak bisa diperoleh, terpaksa biar dihancurkan saja, apa yang dilakukan orang itu agaknya memang tidak salah."
Mukanya merah oleh cahaya api, mendadak dia berteriak tertahan.
"Aneh, kenapa di sana masih ada seorang bocah?"
Oo Langit menjadi merah membara oleh kobaran api yang menjulang tinggi ke angkasa, matahari tetap bercokol di angkasa raya ikut menyaksikan peristiwa bersejarah ini.
Entah sejak kapan angin mulai menghembus pula.
Dimana api berkobar, di situ pasti ada angin.
Rumput-rumput tinggi di padang rumput di kejauhan sana tengah tergoyang-gontai terhembus angin, kobaran api tidak sampai di sini, pasir kuning bergulung-gulung terbawa pusaran angin puyuh, akhirnya lenyap ditelan kobaran api.
Ringkik kuda yang sekarat dan meregang jiwa masih terus terdengar, kedengarannya begitu seram dan siapa pun yang menyaksikan pasti bisa mual dan muntah-muntah.
Di bawah pancaran sinar matahari, di antara rumput-rumput tinggi yang menari turun naik itu, betul juga ada seorang bocah sedang berdiri mematung dan terlongong di sana.
Dia mengawasi kobaran api yang hampir menyentuh langit, seluruh rumah dan harta milik keluarganya disapu dan dilalap habis seluruhnya.
Agaknya air matanya sudah ikut terbakar kering, seolah-olah dirinya sudah kaku dan pati rasa.
Siau-hou-cu.
Kiranya bocah ini adalah putra Be Khong-cun yang terkecil.
Tak tahan Yap Kay lekas memburu ke sana, katanya.
"Kau ... kenapa kau masih di sini?"
Siau-hou cu tidak berpaling dan tidak bergerak, suaranya lirih menjawab.
"Aku sedang menunggu kau."
"Menunggu aku?"
Yap Kay melengak heran.
"bagaimana kau bisa menunggu aku?"
"Ayah menyuruh aku menunggu kau di sini, dia tahu kau pasti akan kemari."
"Lalu dimana ayahmu?"
Tanya Yap Kay.
"Sudah pergi ... sudah pergi ...."
Sahut Siau-hou-cu, sampai sekarang baru raut mukanya menampilkan rasa sedih dan pilu, seperti hampir menangis. Tapi ternyata dia mampu menahannya. Tak tahan Yap Kay menarik tangannya, katanya.
"Kapan dia pergi?"
"Sudah pergi cukup lama?"
"Dia pergi seorang diri?"
Siau hou-cu geleng-geleng.
"Siapa pula yang ikut dia?"
"Sam-ik."
"Sim Sam-nio?"
Teriak Yap Kay. Siau-hou-cu manggut-manggut, ujung bibirnya gemetar, katanya serak hampir sesenggukan.
"Dia pergi membawa Sam-ik, namun tidak mau membawa aku, dia ... dia ...."
Belum habis katakatanya, akhirnya bocah ini pecah tangisnya dengan sedih.
Betapapun usianya masih terlalu muda.
Yap Kay mengawasinya, tak tahu betapa perasaan hatinya sendiri, tak tahan Ting Hun-pin pun sedang menyeka air matanya secara diam-diam.
Tiba-tiba bocah itu menubruk ke dalam pelukan Yap Kay, katanya meratap dengan sesenggukan.
"Ayah suruh aku menunggu kau di sini, katanya kau pernah berjanji kepadanya, pasti akan merawat dan mengasuhku dengan baik, masih ada lagi Ciciku ... benar tidak? Benar tidak?"
Bagaimana mungkin Yap Kay menjawab tidak? Ting Hun-pin sudah menarik Siau-hou-cu, katanya lembut.
"Aku tanggung dia pasti akan merawat dan mengasuhmu, kalau tidak, aku pun tidak akan mau kenal dia lagi."
Bocah ini mengangkat kepala mengawasinya sebentar, lalu menunduk, katanya.
"Mana Ciciku? Apakah kalian pun akan menjaganya baik-baik?"
Ting Hun-pin tidak bisa menjawab pertanyaan ini, dia hanya tersenyum getir.
Baru sekarang Yap Kay sadar, entah Be Hong-ling sekarang kemana?
Kemana pula Pho Angsoat?
oo Lewat lohor, mentari sudah doyong ke arah barat.
Kobaran api di padang rumput tetap menyala, tapi jauh lebih lemah.
Angin barat laut menghembus dengan kencang, cuaca sudah mulai berganti.
Koan-tang-ban-be-tong yang sudah malang melintang dan bersimaha-raja bertahun-tahun kini sudah dibumi-hanguskan rata dengan bumi, tinggal puing-puingnya saja.
Be Khong-cun yang membangun usaha besar dengan kedua tangannya, kini entah berada dimana?
Siapa sih yang mengakibatkan semua ini terjadi?
Dendam kesumat!
Ada kalanya kekuatan cinta pun takkan unggul melawan dendam yang membara!
oo Dalam benak Pho Ang-soat dilembari dendam kesumat.
Tapi sekaligus dia pun membenci awak sendiri, mungkin yang paling dia benci adalah dirinya sendiri.
Jalan raya sepanjang ini tiada bayangan manusia, paling tidak dia tidak melihat manusia hidup.
Semua orang sudah memburu ke Ban-be-tong melihat kebakaran.
Bukan saja kebakaran besar ini sudah menghancurkan juga kota kecil ini, meski secara tidak langsung, banyak orang bisa melihat dan mereka pun tahu, kota kecil ini cepat sekali bakal menjadi kering-kerontang seperti pula mayat Kim-pwe-tho-liong yang masih terkapar di jalan raya sana.
Seorang diri Pho Ang-soat beranjak di jalan raya ini, kaki kirinya melangkah dulu setapak, kaki kanan lalu pelan-pelan diseretnya ke depan.
Langkahnya pelan-pelan, tapi tidak berhenti.
Sebelum menemukan Ban-be-tong, dia tetap akan terus berjalan ke depan.
"Mungkin aku harus mencari seekor kuda,"
Di saat dia berpikir demikian, maka dilihatnya bayangan seseorang muncul dari gang sebelah muka sana.
Seorang perempuan yang bertubuh ramping dan montok, tangannya menenteng sebuah buntalan yang besar.
Cui-long!
Tiba-tiba jantung Pho Ang-soat serasa ditusuk-tusuk sakitnya, karena dia sudah bertekad untuk melupakan dia.
Sejak dia tahu orang selama bertahun-tahun ini bekerja demi Siau Piat-li, dia sudah berkeputusan untuk melupakannya.
Tapi kenyataan dialah perempuan pertama yang pernah dinikmatinya selama hidupnya.
Agaknya Cui-long memang sudah menunggunya sejak tadi, dengan menundukkan kepala dia datang menghampiri, katanya lirih.
"Kau hendak pergi?"
Pho Ang-soat manggut-manggut.
"Mencari Ban-be-tong-cu?"
Tanya Cui-long. Pho Ang-soat manggut-manggut lagi, sudah tentu dia harus menemukan Ban-be-tong-cu.
"Memangnya kau hendak meninggalkan aku seorang diri di sini?"
Jantung Pho Ang-soat kembali sakit seperti ditusuk sembilu.
Dia sudah tidak ingin bertemu dan melihatnya lagi, tapi tak tertahan akhirnya dia mengangkat kepala mengawasinya juga.
Sekilas pandang sudah cukup.
Cahaya matahari kebetulan menyinari mukanya, mukanya kelihatan pucat cantik, namun kurus.
Sorot matanya mengandung api asmara, seolah-olah sedang berkata kepada dirinya.
"Kau tidak membawaku pergi, aku pun tidak berani minta kepadamu, tapi aku tetap ingin kau tahu, aku selamanya sudah menjadi milikmu."
Nafsu birahi yang menyala dan asyik-masyuk di tengah kegelapan, pelukan hangat laksana bara, bibir yang hangat basah dan manis wangi, dada yang montok padat serta kenyal dalam sekilas ini terbayang dalam kelopak matanya.
Telapak tangannya mulai berkeringat dingin.
Kepalanya tertimpa sinar matahari, matahari yang terik serasa membakar rambutnya.
Semakin dalam kepala Cui-long tertunduk, rambut kepalanya yang lebat dan hitam legam terurai memanjang bertebaran ditiup angin.
Tak tertahan pelan-pelan Pho Ang-soat mengulurkan tangan, menggenggam rambutnya.
Rambut kepalanya hitam legam mirip warna goloknya.
Golok yang diwarnai hitam legam.
Sarung goloknya hitam goloknya pun hitam.
Orang sering bilang warna hitam membawa firasat dan melambangkan malapetaka, ada pula yang bilang hitam melambangkan kematian.
Bagaimana menurut pendapatmu?
oo BAB 26.
DENDAM SEDALAM LAUTAN Matahari sudah terbenam, jalan raya ini tetap tak kelihatan bayangan orang.
Hanya di atas loteng kecil itu terlihat sinar pelita, seseorang mendorong terbuka daun jendela di atas loteng itu, dia mengawasi jalan raya panjang yang sunyi.
Dia tahu sebentar tabir malam akan datang dan menyelimuti alam semesta.
oo Noda-noda darah sudah kering.
Hembusan angin menyingkap rambut kepala Kim-pwe-tho-liong.
Siau Piat-li memejamkan mata, pelan-pelan dia menghela napas, pelan-pelan pula dia menutup daun jendelanya.
Pelita di atas meja baru saja disulut.
Dia duduk di bawah penerangan pelita tunggal yang guram ini, seperti pula pelita ini dia pun merasa sebatangkara di dunia ini.
Kenapa sementara orang harus sebatangkara?
Kenapa begitu kesepian?
Sinar pelita menyoroti mukanya, kerut keriput pada kulit mukanya bertambah banyak, entah betapa derita?
Betapa rahasia yang terkandung dalam keriput itu?
Dituangnya secangkir arak, pelan-pelan dia menenggak, seolah-olah sedang menunggu sesuatu.
Tapi apa pula yang bisa dia nantikan?
Segala apa yang baik di dalam kehidupan ini sudah berselang mengikuti perginya sang waktu, masa remajanya dulu, sekarang yang masih dia nantikan satu-satunya hanyalah kematian.
Kematian yang kesepian, mati dengan merana, tapi ada kalanya bukankah kematian itu juga manis madu.
Malam semakin kelam.
Tanpa berpaling melihat cuaca diluar jendela, hal ini sudah dia rasakan.
Cangkirnya sudah kosong, waktu dia hendak menuang arak ke dalam cangkirnya, tahu-tahu didengarnya suara yang berkumandang di bawah loteng.
Suara dadu dimainkan, dikocok di dalam cawan.
Tiba-tiba ujung mulutnya menampilkan senyuman pahit yang misterius, seolah-olah dia memang sudah menduga pasti akan mendengar suara ini.
Maka diraihnya tongkat besinya, pelanpelan dia beranjak ke bawah.
oo Entah sejak kapan sebuah pelita sudah menyala di bawah loteng.
Bayangan seseorang duduk di bawah pelita, dia tengah bermain sendiri dengan biji-biji dadunya, sorot matanya pun menampilkan senyuman getir dan misterius.
Yap Kay jarang tertawa seperti itu.
Mengawasi dadu di atas meja, dia tidak berpaling untuk menyambut kedatangan Siau Piat-li.
Sebaliknya Siau Piat-li mengawasinya dengan lekat, pelanpelan duduk di hadapannya, katanya tiba-tiba.
"Apa yang kau lihat?"
Lama Yap Kay termenung, baru dia menghela napas, katanya.
"Apa pun aku tidak melihatnya."
"Kenapa?"
"Karena sejak dimulai aku sudah salah."
Siau Piat-li pun menghela napas, katanya manggut-manggut.
"Setiap orang pasti pernah bersalah!"
"Tidak pernah terpikir olehku bahwa Ban-be-tong-cu bakal minggat, sungguh tak pernah terpikir olehku."
"Semula aku pun mengira dia tidak akan pergi."
"Tapi dia lebih pintar dari apa yang pernah kita pikirkan, dia tahu siapa pun takkan menyianyiakan melihat duel antara Lok Siau-ka dengan Pho Ang-soat."
"Kalau dia ingin pergi, memang saat itulah kesempatan paling baik."
"Mungkin memang dia mencari kesempatan ini, maka dia mengundang Lok Siau-ka kemari."
"O."
"Dia sengaja sudah mengatur tipu daya ini, sengaja dia membuat orang lain tahu, tujuannya tidak lain hanya supaya orang banyak tahu bahwa dia memang sengaja hendak membokong Pho Ang-soat, ingin membunuh Pho Ang-soat."
Yap Kay menghela napas, katanya lebih lanjut.
"Jika orang lain sedikit pun tidak menaruh curiga akan maksud tujuannya ini, sudah tentu orang tidak akan menduga bahwa dia memang sengaja hendak mencari kesempatan ini untuk melarikan diri."
Siau Piat-li ikut tertawa, katanya tawar.
"Cirimu yang terbesar mungkin karena kau berpikir terlalu banyak."
Setelah menghela napas, dia menyambung.
"Menurut pendapatku seseorang sebetulnya lebih baik bila tidak berpikir terlalu banyak."
"Benar, memang lebih baik kalau tidak berpikiran terlalu banyak,"
Ujar Yap Kay.
"Jika jalan pikiranmu cukup sederhana, mungkin kau akan sadar dan bisa menangkap maksudnya bahwa dia hanya mencari kesempatan untuk melarikan diri."
"Ya, benar."
"Kau tahu apa ciriku yang terbesar?"
Tanya Siau Piat-li menghela napas. Yap Kay geleng-geleng kepala.
"Ciriku pun karena berpikir terlalu banyak."
Yap Kay menatapnya, katanya.
"Oleh karena itu kau pun tidak mengira dia akan pergi? Benar tidak?"
Siau Piat-li manggut-manggut. Kembali terunjuk senyuman tajam dari sorot mata Yap Kay, katanya sepatah demi sepatah sambil menatapnya tajam.
"Oleh karena itu maka kau mewakilkan dia pergi mengundang Lok Siau-ka kemari."
"Sejak kapan kau tahu akan hal ini?"
Tanya Siau Piat-li. Bukan saja sikapnya amat tenang, malah sedikit pun dia tidak mengingkari.
"Kau tidak menyangkal akan tuduhanku?"
"Buat apa menyangkal di hadapan orang seperti dirimu?"
Siau Piat-li tertawa.
Yap Kay tertawa juga, namun tawanya tidak sewajar dan lantang seperti biasanya, seakan-akan dia merasa amat sayang terhadap orang yang satu ini.
Tawa Siau Piat-li semakin sedih dan memilukan, katanya kalem.
"Mungkin sebetulnya kita termasuk orang satu jenis, cuma ...."
"Cuma jalan yang kita tempuh berlainan!"
Tukas Yap Kay.
"Mungkin aku memang salah arah."
"Tapi kau sebetulnya tidak mirip dengan orang yang gampang salah menempuh jalan tujuanmu."
"Hanya satu macam sebab menempuh jalan benar, tapi salah menempuh ke jalan sesat terlalu banyak ragamnya tujuanmu."
"O."
"Setiap orang yang salah menempuh jalan tujuannya, semua mempunyai sebab dan alasan sendiri-sendiri."
"Lalu apa alasan dan sebab-musababmu?"
"Jalan yang kutempuh ini mungkin bukan pilihanku sendiri."
Sorot matanya memancarkan duka dan lara yang menekan perasaannya, seolah-olah sedang mengawasi tempat nan jauh, lama juga baru dia melanjutkan dengan pelan-pelan.
"Mungkin ada orang begitu dilahirkan sudah diharuskan untuk menempuh ke arah jalan yang satu ini, oleh karena itu hakikatnya tidak ada peluang baginya untuk memilih ke arah jalan yang lain."
Yap Kay sedang mendengarkan.
Dia sudah merasakan bahwa Siau Piat-li sudah bersiap memuntahkan banyak persoalan yang tidak seharusnya dia bicarakan dengan orang lain.
Berselang agak lama baru Siau Piat-li menyambung.
"Tentunya kau pun sudah menduga bahwa sebetulnya aku bukan she Siau."
Yap Kay mengakui.
"She dan nama seseorang juga atas pilihannya sendiri, bahwasanya dia sendiri tidak diberi peluang untuk memilih namanya sendiri."
Yap Kay sependapat dengan apa yang dikatakan ini.
"Kalau begitu dilahirkan kau she Ong, peduli kau mau tahu tidak, selama hidupmu kau harus tetap she Ong."
"Aku mengerti akan makna kata-katamu ini, tapi apa maksudmu mengemukakan hal ini, aku tidak paham."
"Maksudmu mau bilang, kita sebetulnya termasuk orang yang sama, tapi jalan yang ditempuh berlainan, tidak lain karena nasibmu lebih beruntung dari aku."
Seperti ragu-ragu, akhirnya dia bertekad, katanya sepatah demi sepatah.
"Karena kau bukan she Sebun."
"Sebun? Sebun Jun?"
"Apa kau sudah menduga sejak lama?"
Siau Piat-li tertawa getir.
"Waktu aku melihat nenek tua palsu, yang akhirnya mati di dalam toko Li Ma-hou baru aku menyadari."
"O."
"Waktu itu baru teringat olehku, aku hanya memanggil sekali Sebun Jun, dia lantas berpaling muka, tapi tidak mengawasi aku, sebaliknya mengawasi kau."
"Ya, waktu itu memang begitu kejadiannya."
"Dia berpaling karena dia merasa heran dan melengak, kenapa aku mendadak bisa memanggil namamu."
"Oleh karena itu baru kau mengira bahwa dia adalah Sebun Jun."
"Setiap orang pernah berbuat salah."
"Apalagi dia pun tidak menyangkal."
"Di hadapanmu masakah berani menyangkal?"
"Waktu itu kau masih mengira Li Ma-hou adalah Toh-popo."
Yap Kay tertawa gertir, katanya.
"Sampai sekarang aku masih tidak habis pikir, dimanakah sebetulnya Toh-popo menyembunyikan diri."
"Selamanya kau tidak akan menemukan dia."
"Kenapa?"
"Karena siapa pun takkan menduga Toh-popo hakikatnya adalah satu orang dengan Sebun Jun."
Baru sekarang Yap Kay benar-benar terkejut, serunya berjingkrak bangun.
"Satu orang yang sama?"
"Jangan lupa kepandaian tata rias memangnya merupakan keahlian bagi keluarga Sebun."
Yap Kay menghirup napas panjang, katanya dengan tertawa getir.
"Sungguh aku tidak pernah menduganya!"
Dua kali dia melirik ke arah Siau Piat-li.
"Sampai sekarang aku masih bingung cara bagaimana kau bisa menyamar jadi seorang nenek."
"Jika bisa melihatnya, aku bukan lagi Sebun Jun."
"Tak heran orang-orang Kangouw bilang hanya Sebun Jun adalah murid penutup Jian-bin-jin satu-satunya yang mewarisi kepandaiannya."
"Bukan murid penutup."
"Lalu apa?"
"Aku adalah putranya."
"Jadi ayahmu adalah Jian-bin-jin?"
Terpancar senyuman sedih dan hambar pada sorot mata Siau Piat-li, katanya pelan-pelan.
"Sampai aku sendiri pun tidak tahu apakah ini merupakan keberuntunganku? Atau sebal?"
Yap Kay diam saja, tidak sembarang orang bisa menjawab pertanyaan ini.
"Siapa pun tidak bisa tidak harus mengakui, ayahku almarhum adalah salah seorang jenius dalam Bu-lim, betapa luas, besar dan hebat ilmu silatnya, sampai sekarang belum ada orang yang bisa membandinginya."
Yap Kay sendiri pun tidak bisa tidak harus mengakui "Selama hidupnya, tiba-tiba laki-laki, lain saat sudah perempuan, kadang-kadang lurus tiba-tiba sesat, ada orang yang menganugrahi Jian-bin-jin-mo, ada pula yang menjulukinya Jian-bin-jin-sin, tiada orang tahu bagaimana sebenarnya dia itu."
"Dan kau?"
Tanya Yap Kay.
"Aku pun tidak tahu,"
Ujar Siau Piat-li menghela napas.
"Aku hanya tahu meski dia turunkan seluruh kepandaian silat yang dia pelajari selama hidupnya kepadaku, tapi beliau juga meninggalkan beban kepadaku!"
"Beban apa?"
"Dendam kesumat!"
Kedua patah kata ini dia ucapkan dengan lamban, seolah-olah baru bisa dia ucapkan setelah mengerahkan setaker tenaganya.
Yap Kay cukup paham akan perasaan hatinya, mungkin tiada orang lain yang lebih mengerti dibanding dirinya, betapa berat orang memikul dendam kesumat!
"Sampai sekarang,"
Siau Piat-li melanjutkan.
"orang Kangouw tiada yang tahu sebetulnya dia masih hidup atau mati, ada orang bilang dia sudah menyebrang ke lautan timur, tetirah di sebuah pulau terpencil, malah ada orang bilang sekarang dia sudah menjadi dewa."
"Bagaimana sebetulnya?"
Tanya Yap Kay.
"Sebetulnya sudah tentu beliau sudah wafat."
"Cara bagaimana kematiannya?"
"Mati di bawah golok!"
"Golok siapa?"
Tiba-tiba Siau Piat-li mengangkat kepalanya menatap dia, katanya tandas.
"Tentunya akan lebih tahu golok siapa! Golok siapa di dunia ini yang mampu membunuhnya!"
Yap Kay diam saja. Terpaksa dia harus diam, karena dia sudah tahu golok siapa sebetulnya yang membunuh Jian-bin-jin-mo. Berkata Siau Piat-li dingin.
"Kabarnya Pek-tayhiap pun seorang jenius dari Bu-lim, konon bukan saja ilmu goloknya menjagoi Bu-lim, malah boleh dikata tiada taranya di jagat ini."
Nada katakatanya terasa mengandung dendam kesumat yang membara dan tajam, lebih tajam daripada senjata, dengan tertawa dingin dia menyambung.
"Tapi bagaimana karakternya? Dia..."
Yap Kay segera menukas ucapannya.
"Kau tidak berhak mengeritik karakternya, karena kau membencinya."
"Kau salah, aku tidak membencinya, hakikatnya aku toh tidak kenal dia "
"Tapi kau ingin membunuhnya!"
"Memang aku ingin membunuhnya, malah besar tekadku untuk membunuhnya meski aku harus mempertaruhkan apasaja dan mengorbankan apa saja, tahukah kau kenapa begitu besar tekadku?"
Yap Kay geleng-geleng kepala.
"Karena dendam berbeda dengan cinta. Dendam tidak dibawa sejak dilahirkan, bukan pembawaan, umpama ada orang memikulkan beban dendam permusuhan kepadamu, kau tentu akan merasakan hal ini "
"Tapi...."
Kali ini Siau Piat-li yang menukas ucapannya.
"Pho Ang-soat umpamanya, dia tahu dan dapat merasakan, karena pengertian ini mirip juga dengan tekadnya yang besar hendak membunuh Banbe-tong-cu "
Setelah menghela napas, dia menyambung.
"Pho Ang-soat juga tidak pernah kenal Ban-be-tong-cu, tapi dia harus membunuhnya."
Akhirnya Yap Kay manggut-manggut, katanya.
"Oleh karena itu malam itu kau pun berada di Bwe-hoa-am."
Pandangan Siau Piat-li kembali seperti tertuju ke tempat jauh, mulutnya menggumam.
"Hujan salju malam itu amat lebat...."
Tiba-tiba sorot pandangan Yap Kay berubah tajam berkilat, katanya dengan menatapnya.
"Kau masih ingat akan peristiwa malam itu?"
"Sebetulnya aku ingin melupakan, sayang sekali peristiwa itu justru melekat di dalam relung sanubariku."
"Karena kedua kakimu buntung, tertabas pada malam itu."
Siau Piat-li mengawasi kakinya yang buntung, katanya tawar.
"Memangnya berapa tokoh kosen di dunia ini yang mampu membacok kutung kakiku."
"Walaupun dia mengutungi kakimu, tapi dia meninggalkan jiwamu."
"Bukan dia yang meninggalkan jiwaku sampai sekarang, tapi adalah hujan salju yang lebat itu."
"Hujan salju?"
"Karena salju membikin kakiku yang buntung membeku, maka aku masih bisa hidup sampai sekarang, kalau tidak, mungkin badanku sudah hancur luluh dan membusuk."
"Oleh karena itu kau tidak bisa melupakan hujan salju malam itu."
"Aku pun tidak bisa melupakan golok yang satu itu,"
Tiba-tiba terpancar rasa ngeri dalam sorot matanya, pertempuran berdarah yang seru malam itu seolah-olah kembali terbayang di depan matanya.
Salju nan putih, darah yang merah ....
Darah berceceran di atas salju, salju yang putih menjadi merah.
Demikian pula sinar golok yang kemilau itu menjadi merah, kemana sinar golok menyambar dan berkelebat, asap merah segera beterbangan kemana-mana.
Butiran keringat sebesar kacang berketes-ketes di atas jidat Siau Piat-li, itulah keringat dingin.
Lama sekali baru dia menarik napas, katanya.
"Orang yang tidak menyaksikan peristiwa malam itu, sekali-kali tidak akan percaya dan membayangkan betapa dahsyat dan menakutkan golok itu, tokoh-tokoh kosen dari Bu-lim, ternyata sebagian besar mampus oleh sambaran golok ini!"
"Kau tahu siapa saja orang-orang itu?"
Siau Piat-li tidak tahu. Kecuali Ban-be-tong-cu, tiada orang kedua yang tahu.
"Aku hanya tahu,"
Ujar Siau Piat-li.
"orang-orang itu tiada satu pun yang tidak membencinya!"
Semakin tebal rasa ngeri dalam sorot matanya, kedua jari-jarinya terkepal kencang, katanya lebih lanjut dengan serak.
"Golok yang satu ini tidak layak berada di tangan seorang manusia awam yang mempunyai darah dan daging. Itulah golok iblis yang hanya dapat digembleng dari lapisan neraka ke delapan belas!"
"Kau takut terhadap golok itu?"
"Aku ini manusia, tidak bisa tidak harus takut!"
"Oleh karena itu sekarang kau pun takut juga terhadap Pho Ang-soat, karena kau mengira golok itu sekarang berada di tangannya."
"Sayang sekali, hal ini tidak akan membawa rezeki bagi dia."
"Ah, masa ya?"
"Karena golok iblis itu selalu membawa kematian dan sial bagi siapa saja,"
Suaranya tiba-tiba berubah amat misterius, kedengarannya mirip benar dengan kutukan suara yang berkumandang dari neraka. Tak tertahan Yap Kay bergidik seram dibuatnya, katanya tertawa dipaksakan.
"Tapi dia masih belum ajal juga."
"Sekarang memang belum, tapi tak boleh diingkari bahwa selama hidupnya, jiwanya akan terkubur oleh golok itu juga, kalau dia hidup, dia tidak akan pernah mengecap kesenangan, karena dalam sanubarinya hanya dilandasi dendam tiada lainnya."
Yap Kay tiba-tiba berdiri, dia memutar badan mendekati jendela, lalu membukanya.
Seolah-olah dia merasa dirinya amat gerah dan sumpek, begitu sumpeknya sampai bernapas pun sesak.
Siau Piat-li mengawasi bayangan punggungnya, katanya tertawa.
"Tahukah kau, sejak mula aku selalu mencurigai dirimu."
Yap Kay tidak menjawab, dia pun tidak berpaling. Kegelapan nan kelam di luar jendela laksana arang.
"Kuminta kau membunuh Ban-be-tong-cu, tujuanku hanya untuk memancing dirimu."
"O, begitu?"
"Tapi bukan aku yang memikirkan akal ini, malam itu ada tiga orang yang berada di atas lotengku."
"Dan seorang lagi adalah Ban-be-tong-cu."
"Ya, memang dia."
"Ting Kiu salah seorang pembunuh di luar Bwe-hoa-am malam itu?"
"Dia belum setimpal, dia tidak lebih hanya si bungkuk yang tamak harta belaka."
"Oleh karena itu kalian menyogoknya."
"Tapi kami tidak berhasil menyogok kau, waktu itu aku tidak pernah mengira, kau bakal menceritakan hal ini kepada Ban-be-tong-cu, imbalan yang kupertaruhkan sebetulnya tidak kecil."
"Imbalan yang kau keluarkan memang cukup untuk menyogok banyak orang, sayang sekali orang-orang itu sekarang sudah menjadi mayat semua."
"Kematian mereka tidak perlu dikasihani tidak perlu dibuat sayang."
"Dan yang disayangkan Pho Ang-soat tetap hidup, dia tidak mati seperti yang diinginkan kalian."
"Hal itu sebetulnya tidak perlu dibuat sayang, karena aku sudah tahu cepat atau lambat akan datang suatu hari dia pun pasti akan mampus di bawah golok itu."
"Be Khong-cun maksudmu?"
"Kau kira Pho Ang-soat bisa menemukan dia?"
"Kau kira dia tidak akan bisa menemukannya? "
Memangnya dia seorang yang mirip serigala, sekarang berubah jadi rase, rase biasanya memang sukar dicari, sudah tentu lebih sukar dibunuh"
"Kalau mendengar ucapanmu ini, juragan toko kulit pasti akan menentangnya."
"Kenapa?"
"Jika tiada rase yang mati, darimana datangnya kopor, tas dan dompet serta baju luar yang terbuat dari kulit rase itu?"
Terkancing mulut Siau Piat-li, dia tidak bisa menyangkal.
"Jangan lupa di dunia ini masih ada anjing pemburu, dan anjing pemburu biasanya memiliki hidung yang tajam "
Tiba-tiba Siau Piat-li tertawa dingin pula.
"Umpama benar Pho Ang-soat memiliki hidung setajam anjing pemburu, tapi mungkin sekarang dia hanya bisa mengendus bau pupur wangi di bawah perempuan saja."
"Kenapa?"
"Karena Cui-long!"
"Memangnya dia pergi membawa Cui-long?"
Siau Piat-li manggut-manggut.
"Apakah Cui-long berada di sampingnya, lalu dia tidak akan berhasil menemukan Be Khongcun?"
"Jangan lupa perempuan biasanya paling menyenangi barang-barang antik dan perhiasan, bukan jaket kulit rase."
Kali ini Yap Kay yang terkancing mulutnya. Tiba-tiba Siau Piat-li tertawa pula, katanya.
"Sebetulnya apakah Pho Ang-soat bakal bisa menemukan Be Khong-cun, memangnya ada sangkut-paut apa dengan aku? Apa pula sangkutpautnya dengan kau?"
Lama juga Yap Kay termenung, lalu menatapnya nanar, katanya pelan-pelan.
"Kenapa tidak kau tanya orang macam apa aku sebenarnya?"
"Aku pernah bertanya, banyak orang pun pernah bertanya."
"Kenapa sekarang kau tidak bertanya?"
"Karena aku sudah tahu kau she Yap bernama Kay."
"Tapi orang macam apa pula Yap Kay sebenarnya?"
"Dalam pandanganku dia tidak lebih pemuda yang suka iseng mencampuri urusan orang lain."
"Kali ini kau yang salah,"
Ujar Yap Kay tertawa.
"Kenapa salah?"
"Yang ku campuri bukan urusan iseng."
"Bukan?"
"Pasti bukan!"
Lama sekali Siau Piat-li balas mengawasinya, tiba-tiba bertanya.
"Siapa kau sebetulnya?"
Yap Kay tertawa, ujarnya.
"Aku tahu kau pasti akan mengulangi pertanyaan ini."
"Urusan yang kau ketahui memang terlalu banyak."
"Sebaliknya urusan yang kau ketahui terlalu sedikit."
Siau Piat-li tertawa dingin.
"Kau tidak akan mengakui hal ini?"
Siau Piat-li tetap tertawa sinis.
Tiba-tiba Yap Kay maju mendekat, membungkuk badan, entah membisiki beberapa patah kata apa di pinggir kupingnya.
Begitu lirih kata-katanya, kecuali Siau Piat-li, siapa pun terang tak mendengar.
Hanya mendengar sepatah kata saja, senyuman dingin yang menghias muka Siau Piat-li seketika membeku, setelah Yap Kay selesai dengan perkataannya, setiap jengkal kulit daging sekujur badannya seolah-olah tegang dan mengejang.
Angin menghembus dari jendela, sinar pelita bergoyang-goyang dan berkelap-kelip.
Sinar pelita yang bergoyang-goyang menyinari mukanya, dalam sekejap ini roman mukanya itu seolah-olah sudah berganti rupa menjadi bentuk roman muka orang lain.
Waktu Yap Kay mengawasi, rona matanya juga seperti sedang mengawasi seorang lain.
Tiada orang yang bisa melukiskan mimik mukanya dengan kata-kata.
Bukan saja heran dan melengak kaget, bukan saja dilembari rasa takut, tapi juga perasaan hancur dan luluh.
Hanya seseorang yang merasa segalanya sudah hancur dan luluh, maka rona mukanya baru menampilkan mimik seaneh itu.
"Sekarang apakah kau sudah mengakui?"
Tanya Yap Kay kemudian. Siau Piat-li menarik napas, sekujur badannya seolah-olah mendadak mengkeret. Namun sejenak berselang baru dia menghela napas.
"Memang apa yang kutahu terlalu kerdil, aku memang salah!"
"Kan sudah kukatakan, setiap orang pasti pernah dan tak terhindar untuk berbuat kesalahan."
"Sekarang aku baru sadar dan benar-benar memahami maksud hatiku, meskipun hal ini sudah terlambat, tapi kukira lebih baik juga daripada tidak tahu sama sekali."
Lalu dia menunduk mengawasi dadu di atas meja "Semula kukira dadu-dadu ini bisa memberitahu banyak urusan kepadaku, siapa tahu apa pun dia tidak memberitahu, hasilnya nihil!"
Dadu itu mengkilap tersorot sinar pelita, tangan diulurnya, lalu digenggam dan digosok-gosok di telapak tangannya.
Tangannya kelihatan kurus panjang dan bersih kering.
Mengawasi dadu di tangan orang, Yap Kay berkata.
"Bagaimana pun juga dia sudah menemani kau beberapa tahun lamanya."
"Dadu ini sudah menemaniku mengatasi banyak kesepian, jika tanpa dadu-dadu ini, kehidupanku pasti terasa lebih tersiksa, oleh karena itu walau dia menipu aku, aku tidak menyalahkannya."
"Aku mengerti."
"Kau juga mengerti?"
"Jika ada orang menipumu, paling tidak lebih mending daripada hidup kesepian."
Siau Piat-li tertawa pilu, ujarnya.
"Kau memang tahu, maka aku selalu merasa bila mengobrol bersama kau, bagaimana pun merupakan suatu kejadian yang menggembirakan."
"Terima kasih."
"Oleh karena itu aku ingin menahanmu di sini untuk menemani aku, sayang sekali aku pun tahu kau pasti tidak mau."
Dengan tertawa getir dia menghela napas, mendadak dia turun tangan, jarijarinya mencengkeram pergelangan tangan Yap Kay.
Gerak-geriknya sebetulnya begitu indah gemulai dan wajar, tapi gerakan tangannya kali ini berubah begitu cepat laksana kilat, begitu cepatnya boleh dikata tiada orang yang mampu meluputkan diri.
Jari-jari tangannya hampir menyentuh tangan Yap Kay.
"Krak" , tiba-tiba terdengar sebuah benda yang teremas hancur. Tapi bukan pergelangan tangan Yap Kay, tapi adalah kotak tempat dadu yang terletak di atas meja. Pada detik-detik itulah secepat kilat Yap Kay menggunakan kotak kayu tempat dadu ini untuk menggantikan tangannya. oo Kotak itu sebetulnya terbuat dari kayu cendana yang terukir indah dan berwarna gelap mengkilap serta keras sekali. Kayu seperti itu terang jauh lebih keras dan kuat dibanding tulang tangan siapa pun, tapi berada di dalam cengkeraman jari-jari Siau Piat-li, ternyata berubah seperti kayu yang keropos dan teremas hancur-lebur. Bubuk kayu berjatuhan melalui celah-celah jari tangannya. Sementara Yap Kay ternyata berada tiga kaki dari tempat duduknya semula. Lama juga Siau Piat-li baru bersuara sambil mengangkat kepala.
"Kau mempunyai sepasang tangan yang lincah."
Yap Kay tersenyum, ujarnya.
"Oleh karena itu aku ingin mempertahankannya, mempertahankan di atas lenganku ini."
"Tentunya kau pun memiliki hidung setajam anjing pemburu "
"Hidung inipun tidak boleh diremas hancur, terutama kedua tanganmu itupun tidak boleh dibuat cacad."
Setelah puluhan tahun mengucek dan meremas-remas dadu yang terbuat dari biji besi, peduli benda apa pun yang berada di tangannya, pasti akan teremas hancur dengan mudah. Yap Kay tertawa, katanya pula.
"Dadu ini sudah menemani kau puluhan tahun, kotaknya yang indah itu malah kau remas hancur, bukankah orang yang melihatnya bisa merasa kecewa dan dingin bulu kuduknya."
Siau Piat-li menghirup napas, mulutnya menggumam.
"Agaknya kau memang orang yang tidak berperasaan sedikit pun."
Badannya tiba-tiba mencelat, dengan tongkat besi di tangan kirinya sebagai poros, dia gunakan tongkat besi di tangan kanan menyapu.
Tiada orang yang bisa melukiskan perbawa dari sapuan tongkatnya ini.
Kamar sekecil ini boleh dikata sudah terkurung dan penuh oleh bayangan tongkat besi yang luar biasa dahsyat dan hebatnya itu.
Begitu tongkat menyapu datang, dalam rumah ini seperti mendadak terbit angin lesus.
Namun Yap Kay tahu-tahu sudah berada di langit-langit rumah.
Dengan ujung jarinya dia menggantol belandar.
Mendadak Siau Piat-li berjumpalitan di tengah udara, kedua tongkat besinya teracung ke atas.
Dari dalam kedua tongkat ini mendadak melesat keluar puluhan bintik-bintik sinar dingin laksana bintang beramburan.
Toan-yang-ciam!
Toan-yang-ciam miliknya ternyata disembunyikan di dalam tongkat besinya, bahwasanya kedua tangannya tidak usah bergerak, tak heran tiada orang tahu cara bagaimana dia membunuh para korbannya.
Sebatang Toan-yang-ciam saja sudah tiada orang yang bisa meluputkan diri.
Apalagi Toanyang-ciam yang tersambit sekarang cukup untuk mencabut jiwa tiga puluh orang.
Tapi Yap Kay justru adalah orang yang ketiga puluh satu.
Tiba-tiba bayangannya lenyap tak berbekas.
Setelah dirinya kelihatan lagi, Toan-yang-ciam ternyata sudah tidak berbekas lagi.
oo Siau Piat-li kembali duduk di atas kursinya, seolah-olah sedang mencari jarum-jarumnya yang sudah tidak berbekas itu.
Dia tidak bisa mempercayai kenyataan ini.
Selama puluhan tahun Toan-yang-ciam hanya pernah gagal sekali, pertama kali di luar Bwehoa-am.
Dia percaya tidak akan pernah terjadi lagi untuk yang kedua kalinya.
Tapi sekarang mau tidak mau dia harus percaya.
Seringan kapas Yap Kay melayang turun, lalu duduk kembali di hadapannya, dengan tenang dan diam saja dia mengawasi muka orang.
Suasana dalam rumah tenang kembali, tiada angin, tiada jarum menyambar, seolah-olah tiada terjadi apa-apa.
Entah berapa lama berselang, Siau Piat-li kembali menghela napas, katanya.
"Aku ingat ada orang pernah bertanya kepadamu, sekarang aku pun ingin bertanya kepadamu."
"Silakan bertanya."
Siau Piat-li menatapnya, katanya sepatah demi sepatah.
"Kau sebetulnya apakah manusia? Apakah terhitung sebagai manusia?"
Yap Kay tertawa.
Bila ada orang mengajukan pertanyaan ini padanya, dia selalu merasa gembira, karena ini menandakan apa yang barusan dia lakukan, sebetulnya tiada orang lain yang mampu melakukannya juga Sudah tentu Siau Piat-li tidak menunggu jawabannya, katanya pula.
"Tiga kali barusan aku menyerangmu, sebetulnya tiada orang lain yang mampu meluputkan diri."
"Aku tahu."
"Aku ingin kau mampus."
"Kau tidak usah menjelaskan."
"Tapi sekalipun kau tidak balas menyerang kepadaku."
"Kenapa aku harus membalas, kan kau yang ingin aku mati, bukan aku yang ingin kau mampus."
"Lalu apa yang kau ingin kan?"
"Tiada yang kuinginkan,"
Sahut Yap Kay tertawa, lalu menyambung.
"Kau tetap boleh membuka sarang pelacuranmu di sini, bermain dadu, minum arakmu sendiri pula."
Kedua kepalan Siau Piat-li tergenggam kencang, kelopak matanya memicing, katanya pelanpelan.
"Dulu aku melakukan ini, karena aku punya tujuan, karena aku ingin melindungi Be Khongcun, ingin aku menunggu orang itu datang membunuhnya."
Mungkin karena derita pukulan batinnya, kulit mukanya berkerut-kerut mengejang, suaranya menjadi serak.
"Sekarang tiada sesuatu beban pikiranku lagi, mana bisa aku tetap hidup lebih lanjut seperti ini."
Yap Kay menghembuskan angin dari mulutnya, katanya tawar.
"Itulah urusanmu sendiri, kau harus bertanya kepada dirimu sendiri"
Dengan tersenyum dia berbangkit, putar badan terus tinggal pergi.
Langkahnya tidak cepat, namun tidak berpaling lagi, juga tidak berhenti.
Memang sekarang tiada orang yang mampu menahan dirinya.
oo Tapi Siau Piat-li terpaksa harus tetap tinggal di sini.
Dia tiada tempat tujuan lain kecuali menetap di sini.
Mengawasi punggung Yap Kay yang beranjak keluar pintu, mendadak sekujur badannya gemetar keras, keringat dingin pun bercucuran membasahi badan.
Seperti anak kecil yang ketakutan setelah tersentak bangun dari mimpi buruk.
Tapi kenyataan memang Siau Piat-li seolaholah baru saja siuman dari mimpi buruk, tapi setelah dia sadar, tekanan batin yang bersemayam dalam benaknya lebih membuatnya menderita dan tersiksa daripada dalam impian buruk itu.
Malam telah larut, lebih tenang.
Tiada manusia, tiada suara apa pun, dadu di atas meja di bawah penerangan pelita juga masih tergeletak di situ.
Mendadak dia renggut dadu-dadu itu terus dilempar keluar dengan sisa tenaganya.
Waktu dadu tersambit keluar, air matanya pun tak tertahan bercucuran ....
Seseorang bila tiada alasan lagi untuk mempertahankan hidup, umpama dia berumur panjang, hidupnya bakal sia-sia juga, tiada bedanya dengan orang mati.
Di situlah letak derita terbesar bagi manusia.
Pasti tiada yang jauh lebih besar.
Fajar telah menyingsing, cahaya keemasan cemerlang di ufuk timur.
Kegelapan malam akhirnya berlalu, cepat atau lambat pancaran sinar matahari akan menggantikannya.
Langit berwarna biru kehijauan, sudah tidak kelihatan lagi cahaya api dan asap.
Betapapun besar kobaran api, akhirnya pasti padam.
Orang-orang yang berjuang memadamkan kebakaran sudah pulang, Yap Kay berdiri di lereng gunung, mengawasi piung-puing yang sudah rata dengan bumi.
Walau dalam hati dia merasa sayang, namun sedikit pun dia tidak merasa sedih Karena dia menyadari bumi seluas ini dengan segala benda-benda di permukaannya pasti tidak akan bisa dihancur-leburkan keseluruhan, demikian pula jiwa manusia.
Memangnya jiwa dan sukma manusia sambung menyambung bergiliran hidup dalam mayapada ini.
Maka bumi dan segala makhluknya akan tetap hidup abadi.
Dia tahu jiwa kehidupan bakal tumbuh lagi dari bawah puing-puing yang sudah runtuh ini.
Kehidupan jiwa yang indah.
Seolah-olah terbayang pula suatu bentuk pemandangan indah di depan matanya, seluas mata memandang warna hijau melulu.
Hembusan angin yang sepoi-sepoi, lapat-lapat membawa kumandang suara kelintingan, semakin lama kelintingan itu semakin nyaring merdu, disusul suara cekikik tawa yang nyaring merdu berpadu.
Dengan menggandeng tangan anak kecil itu Ting Hun-pin tengah mendatangi, katanya tertawa semerdu kelintingan.
"Kali ini ternyata kau malah sudah tiba lebih dulu."
Yap Kay tersenyum sambil mengawasi bocah itu.
Melihat raut muka si bocah yang diliputi gairah hidup, dia tahu keyakinan dan kepercayaan dirinya selamanya tepat dan betul.
Segera dia menyongsong maju, ditariknya tangan si anak yang lain, dia ingin membawa bocah ini ke suatu tempat, ingin dia memendam dendam dan sakit hati yang bersemayam dalam dada si bocah di sana.
Dia mengharap kelak bila bocah ini sudah tumbuh dewasa, hanya cinta kasih yang melandasi jiwanya, tiada dendam tiada permusuhan.
Bahwa generasi yang sekarang bergelimang hidup dalam suasana dendam dan permusuhan, lantaran terlalu banyak sakit hati dan dendam bersemayam dalam sanubari mereka, tiada terbetik rasa cinta sedikit pun.
Baca Juga: Maling Romantis 4
Baca Juga: Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 19