Eps 6 Peristiwa Merah Salju - Gu Long
Baca online Peristiwa Merah Salju - Gu Long
Cersil Peristiwa Merah Salju - Gu Long.
Oleh karena itu bila generasi mendatang bisa hidup subur dan sehat derita dan siksa, hidup mereka sekarang terhitung ada harganya untuk dikenang, biarlah semua ini berlalu dibawa sang waktu.
Bekas bacokan di atas batu nisan masih tetap ada air mata darah, ternyata sudah kering dan tak berbekas lagi.
Dengan menarik tangan si bocah Yap Kay berlutut di depan pusara, di depan batu nisan.
"Inilah saudara ayah kandungmu, selalu harus kau ingat jangan sekali-kali kau bermusuhan dengan keturunan dari keluarga yang sudah meninggal ini."
"Aku akan selalu ingat."
"Kau bersumpah tidak akan melupakan selamanya?"
"Aku bersumpah."
Yap Kay tertawa, tertawa riang gembira "Aku tahu kau memang anak yang baik."
"Aku ingin mencari ayah dan Cici, kau mau tidak mengajak aku?"
"Sudah tentu aku akan mengajakmu."
"Kau bisa menemukan mereka?"
"Kau harus ingat, asal kau punya keyakinan, tiada persoalan yang tak bisa diselesaikan di dunia ini."
Bocah itu tertawa riang.
oo Kini padang rumput kelihatan menjadi liar dan belukar, selayang pandang kesunyian melulu.
Jauh di ujung langit bersentuhan dengan bumi, cuaca kelihatan guram.
Bendera besar Ban-be-tong apakah masih akan berkibar lagi untuk selamanya?
Angin sedang mengamuk, laksana badai seperti gelombang pasang.
Dengan langkah lebar Yap Kay menyusuri jalan yang sepi itu.
Belakangan ini dia sudah hapal dengan seluk-beluk daerah sekitar sini, boleh dikata dia sudah amat berat untuk meninggalkan tempat ini.
Tapi sekarang hatinya sedang dihayati kesedihan yang sukar terputus menjelang berpisah.
Karena dia tahu kelak dia pasti akan kembali lagi.
Tatkala itu sang surya baru terbit, menyorotkan sinar ke pinggir kota.
Setiap orang pasti ingin hidup.
Setiap orang memang punya alasan dan hak untuk mempertahankan hidupnya.
oo BAB 27.
GOLOK TERLOLOS Musim rontok.
Daun rontok sedang berkembang dalam hutan ini.
Hutan di pedalaman gunung yang jauh dari keramaian dunia.
Tiga puluh empat ekor kuda, dua puluh tujuh penunggang.
Orang-orang itu bersorak-sorai di punggung kuda yang dilarikan memasuki hutan.
Kuda-kuda jempolan, kuda-kuda gagah, penunggangnya pun bertubuh kekar dan kasar.
Tapi muka mereka diliputi perasaan dingin kejam dan dendam, ada di antaranya ternyata terluka, tapi mereka tidak menghiraukan luka-luka badannya, karena hasil dari operasi mereka kali ini jauh lebih memuaskan dari biasanya.
Yang mereka buru adalah manusia, keringat dan jerih payah manusia.
Keringat dan darah orang lain.
Hasil panen mereka sudah berada di punggung kuda, itulah empat puluh peti warna perak memutih yang berat.
Orang memaki mereka berandal, perampok, tapi mereka tidak peduli.
Yang terang mereka pandang dan anggap diri sendiri adalah Hohan, orang-orang gagah, Loklim Hohan.
Orang-orang gagah dari kawanan berandal.
Orang-orang gagah dari kalangan berandal biasanya harus menggunakan cawan besar untuk minum arak, makan daging sudah tentu harus mengiris segumpal yang besar.
Arak secawan besar, daging yang besar pula.
Peti-peti perak itu semua tertaruh di atas meja, mereka menunggu pembagian dari ketua mereka.
Ketua atau Lotoa mereka adalah seorang laki-laki bermata satu, biasanya dipanggil Tokgan-liong (Naga mata tunggal).
Matanya yang buta suka dibalut dengan selarik kain hitam, karena dia merasa dirinya akan lebih berkuasa, punya wibawa yang lebih menakutkan.
Sebenarnya dia memang laki-laki yang punya wibawa, karena walau dia kejam dan telengas, dia berlaku adil.
Hanya orang yang tahu keadilan baru setimpal menjadi pentolan atau dengan istilah Lotoa bagi orang gagah kaum Lok-lim.
Apalagi dia mempunyai dua pembantu di kanan kirinya yang sembarang waktu siap mengadu jiwa demi keselamatannya, yang seorang cerdik pandai, yang lain gagah berani.
Yang berani bernama To-lo-hou (si jagal harimau).
Dan yang cerdik bernama Pek-bin-longtiong (kelana bermuka putih).
Bagi kaum Lok-lim jika tidak mempunyai julukan yang seram dan besar, tidak setimpal dia menjadi begal atau perompak.
Oleh karena itu boleh dikata sebagian besar di antara mereka sudah melupakan nama-nama asli mereka semula.
"Otak To-lo-hou (si jagal harimau) sebetulnya tidak lebih pandai dari seekor harimau sungguhan, terutama setelah dia menenggak air kata-kata boleh dikata dia malah lebih goblok dari seekor harimau, tapi jauh lebih garang dan buas dari harimau. Terutama sepasang tinjunya teramat ganas dan keji. Kabarnya sekali hantam dia bisa memukul mampus seekor harimau besar, walau belum pernah ada orang menyaksikan, tapi tiada orang yang berani tidak percaya atau curiga kepadanya. Karena sekali pukul membuat jiwa orang melayang sudah tidak sedikit jumlahnya. Kali ini waktu mereka keluar memburu mangsanya, dua Piauthau dari Tin-wan Piau-kiok yang dijuluki Thi-kim-kong, keduanya mampus hanya sekali kena pukulannya. Oleh karena itu bagian jatah dari hasil operasi mereka kali ini dia mendapat paling banyak, orang banyak juga memuji dan mengagulkan dirinya.
"Thi-kim-kong segala, kebenturan kepalan Ji-cecu kita, jangan kata besi, tak ubahnya mereka seperti kertas yang sekali tekuk lantas terlempit tak berkutik lagi."
Tok-lo-hou bergelak tawa kesenangan.
Tapi mendadak dia melengak dengan mulut terpentang lebar, karena tiba-tiba terasa olehnya gelak tawa anak buahnya serempak sirap dan melongo, semuanya memandang keluar pintu dengan pandangan terbelalak.
Waktu dia ikut memandang ke sana, gelak tawanya seketika berhenti juga.
I lampir saja dia tidak mau percaya akan pandangan matanya.
Seseorang tengah melangkah masuk dengan langkah gemulai dari pintu besar di luar sana.
Seorang yang tidak mungkin dan tidak pantas muncul di tempat seperti ini, itulah seorang perempuan, perempuan cantik jelita yang membuat semua laki-laki yang melihatnya tahan napas dan menelan air liur.
"Tempat ini dinamakan Liong-hou-ce Letaknya di belakang hutan cemara, sekelilingnya dipagari puncak-puncak gunung dengan pemandangannya yang indah dan aneh-aneh, mirip seekor binatang liar yang sedang membuka lebar mulutnya menunggu mangsa untuk dicaplok. Kawanan laki-laki penghuni Liong-hou-ce inipun merupakan serombongan binatang-binatang liar. Siapa pun takkan sudi dicaplok binatang liar, oleh karena itu bukan saja daerah ini jarang kelihatan ada orang asing, sampai pun burung terbang pun takut lewat di sini. Tapi hari ini di tempat itu kedatangan seorang perempuan yang masih asing. Perempuan ini mengenakan gaun panjang warna putih dengan baju hitam berlengan panjang pula, keduanya terbuat dari kain halus, rambutnya yang panjang terurai mayang berwarna hitam legam. Seluruh kepalanya penuh bertaburan zamrud dan mutiara, sinarnya yang kemilau beradu terang, membuat rambutnya kelihatan semakin hitam, kulit mukanya putih halus. Roman mukanya dihiasi senyuman manis yang menandakan kematangannya, langkahnya gemulai dan meliuk-liuk, pelan-pelan beranjak masuk, mirip benar dengan perempuan agung yang hendak memasuki gelanggang perjamuan yang sengaja diadakan untuk menghormati dan menyambut kedatangannya. Mata semua hadirin terbelalak, seperti mata ikan mas yang melotot keluar Mereka bukan lakilaki yang belum pernah melihat perempuan, tapi perempuan seperti ini sungguh belum pernah mereka lihat selama hidup. Lotoa mereka sadar paling dahulu, tapi Lotoa biasanya tidak sembarangan mau buka mulut. Maka dengan menarik muka segera dia memberi kedipan kepada To-lo-hou, segera dia menggebrak meja dan membentak bengis.
"Kau siapa?"
Perempuan jelita bergaun panjang mengunjuk seri tawa manis, katanya lembut.
"Masakah kalian tidak melihat bahwa aku ini seorang perempuan?"
Dari kepala sampai ujung kaki seratus persen memang dia perempuan, orang buta pun akan merasakan bahwa dia adalah perempuan. To-lo hou segera menarik muka, serunya.
"Untuk apa kau datang kemari?"
Semakin manis dan lebar senyuman si jelita, sahutnya.
"Kami hanya ingin menetap tiga bulan di sini. Boleh tidak?"
Memangnya perempuan ini sudah gila. Ternyata dia menyerahkan diri mau tidur di sarang penyamun selama tiga bukan?"
Aku harap kalian sudi menyerahkan kamar di sini yang paling bagus untuk kami, seprei dan bantal guling yang harus kami pakai lebih baik kalau setiap dua hari diganti.
"Kami biasanya suka bersih, soal makan sih boleh sekadarnya, setiap sarapan pagi siang dan malam asal ada lauk-pauk daging sapi sudah cukup, tapi harus daging sapi yang masih segar dan muda serta gurih, terutama daging pinggangnya, daging dari tempat lainnya kami tidak mau."
Siang hari kami tidak biasa minum arak, tapi setiap malam kami harap kalian suka menyediakan beberapa macam arak, terutama bila kalian mampu menyediakan anggur Persia, atau boleh juga Ciu-yap-cing yang sudah tersimpan tiga puluh tahun."
Di saat kami tidur, semoga kalian membagi orang dalam tiga kelompok untuk meronda dan berjaga secara bergantian setiap malam, tapi dilarang bersuara gaduh, karena kami gampang dikejutkan di waktu tidur, sekali siuman takkan gampang tidur lagi.
"Lain tempat sih terserah bagaimana kalian mengaturnya, aku tahu kalian memangnya orangorang kasar, oleh karena itu kami tidak terlalu membatasi kebebasan kalian."
Semua orang saling berpandangan mendengar uraian dan ocehannya, seperti menyaksikan si gila yang sedang bertembang dan berdendang.
Tapi tutur katanya wajar dan lincah serta lancar, seolah-olah apa yang dia minta sudah merupakan keharusan dan jamak, terang takkan ada orang yang berani menolak permintaannya.
Setelah orang habis bicara, tak tertahan To-lo-hou tertawa, katanya.
"Kau kira tempat apa ini? Sebuah penginapan? Atau warung makan?"
Si jelita itu tertawa riang, ujarnya.
"Tapi kami tidak akan mau membayar!"
To-lo-hou menahan geli, godanya.
"Atau kami saja yang membayar kepadamu?"
"Kalau kau tidak mengingatkan, hampir saja aku lupa, harta atau uang perak yang berada di atas meja, kami pun ingin mendapat bagian."
"Berapa banyak bagian yang kau minta?"
"Cukup separo saja."
"Apa separo tidak terlalu sedikit?"
Tanya To-lo-hou.
"Barusan sudah kukatakan, kami tidak akan terlalu mendesak dan meminta berlebihan."
Kembali To-lo-hou tergelak-gelak dengan menengadah, seperti belum pernah dia mendengar lelucon yang menggelikan hatinya.
Setiap orang ikut tertawa, hanya Tok-gan-liong dan Pek-binlong-tiong bersikap serius Kulit muka Pek-bin-long-tiong kelihatannya lebih putih dari kertas, katanya tiba-tiba.
"Tadi kau katakan kalian hendak datang, kalian ada berapa orang?"
"Hanya dua orang saja."
"Siapakah yang satu lagi?"
"Sudah tentu suamiku, memangnya aku sudi tidur seranjang dengan laki-laki lain?"
"Mana orangnya?"
"Di luar."
Tiba-tiba Pek-bin-long-tiong tertawa, katanya.
"Kenapa tidak kau undang masuk?"
"Wataknya amat jelek, aku kuatir dia turun tangan melukai kalian."
Pek-bin-long-tiong tersenyum, katanya, 'Atau kau yang kuatir kami melukai dia?"
"Bagaimana pun juga,"
Ujar si jelita tertawa manis.
"kami kemari sebagai tamu, bukan untuk berkelahi."
"Kalau begitu tepat benar kedatangan kalian, orang-orang kita di sini memangnya tidak suka berkelahi."
Tiba-tiba Pek-bin-long-tiong tertawa dingin sembari menarik muka.
"Orang-orang kita di sini biasanya cuma suka membunuh orang!"
Oo Dari pekarangan masih kelihatan hutan cemara di luar sana Orang itu sedang berdiri di dalam pekarangan, menghadap ke hutan dan memandang jauh ke alam pegunungan sekitarnya.
Hari sudah mendekati magrib, gunung-gemunung di kejauhan sudah berubah warna menjadi hijau kegelapan, di sore hari di musim rontok ini, alam semesta ini seolah-olah diliputi suasana yang serba kritis dan hambar.
Biji mata orang ini seperti pula warna pegunungan di kejauhan sana, dingin, kosong dan hambar.
Dia menggendong kedua tangannya, berdiri diam tak bergerak, dengan tenang memandang panorama yang terbentang di depan matanya.
Tapi dia sendiri merasa dirinya berada di tempat yang lebih jauh dari gunung-gemunung itu, seolah-olah dirinya sudah terlepas dari kehidupan duniawi yang nyata.
Sinar surya di waktu senja memancarkan cahaya yang terakhir, sehingga mukanya kelihatan menguning kelabu Kerut keriput pada roman mukanya bertambah banyak dan dalam, setiap jalur kerut keriput itu seolah-olah mengandung pengalaman hidup yang getir, derita dan siksa, pengalaman yang pahit dan berat.
Mungkin dia sudah terlalu tua, tapi pinggangnya masih berdiri tegak dan kekar, dalam badannya masih terpendam suatu kekuatan yang hebat dan menakutkan.
Perawakannya memang tidak tinggi, badannya tegap, tapi kekuatan terpendam itu membuat dirinya kelihatan gagah, berwibawa, sehingga orang yang berhadapan dengannya timbul rasa hormat kepadanya.
Sayang sekali kaum perompak yang berpangkalan di sini biasanya tidak kenal istilah sopansantun, tidak tahu menghormati siapa pun.
To-lo-hou mempelopori anak buahnya menerjang keluar, orang pertama yang melihat orang itu.
"Apakah kakek tua ini?"
Mendadak To-lo-hou terkial-kial.
"Sekali tinju kalau aku tidak membikin dia mampus, biarlah dia kupandang sebagai kakek moyangku selama tiga tahun!"
Berkata si jelita tawar.
"Kenapa tidak kau coba?"
"Kau tidak takut menjadi janda?"
Olok To-lohou terbahak-bahak.
Dengan bergelak tawa ini dia menerjang maju.
Perawakannya kekar dan berotot keras, suara tawanya seperti bunyi lonceng.
Tapi orang tua itu seolah-olah tidak mendengar dan tidak melihat kedatangannya.
Sikapnya kelihatan malah semakin hambar, semakin letih, seakan-akan ingin secepat mencari suatu tempat untuk istirahat.
To-lo-hou memburu ke depan orang, dari atas dia pandang orang ke bawah berulang kali, katanya.
"Apa benar kau ingin menetap tiga bulan di sini?"
Orang tua itu menghela napas, ujarnya.
"Aku amat letih, tempat ini kelihatan amat tenang dan segar "
Kalau benar ingin mencari tempat buat tidur, agaknya kau kesasar jalan ke tempat yang keliru. Di sini tidak ada ranjang, hanya ada peti mati."
Melirik pun tidak kepadanya, orang tua itu berkata tawar.
"Jika kalian tidak terima kedatangan kami. segera kami berlalu."
To-lo-hou menyeringai sadis, jengeknya.
"Kalau sudah datang, kenapa mau pergi?"
Terunjuk senyuman hina di ujung mulut orang tua itu, katanya.
"Kalau begitu terpaksa aku menunggu saja di sini."
"Menunggu apa?"
"Menunggu tinjumu."
"Kau tidak perlu menunggu lagi"
Mendadak dia turun tangan, secara berhadapan mendadak dia layangkan tinjunya menghantam dengan seluruh kekuatannya.
Sungguh pukulan mematikan, cepat, telak dan bertenaga raksasa.
Belum lagi tinjunya mengenai sasarannya, damparan anginnya yang menderu membuat rambut uban si orang tua tertiup menari-nari.
Si orang tua sedikit pun tidak bergeming, sampai pun kelopak matanya pun tidak berkedip.
Matanya mengawasi tinju To-lo-hou, ujung mulutnya kembali menyungging senyuman hina.
Maka tinjunya tiba-tiba juga melayang ke depan.
Perawakannya lebih pendek, jotosannya juga dilontarkan lebih lambat.
Tapi di waktu tinju To-lo-hou tinggal tiga dim di depan matanya, tahutahu kepalannya sudah menjotos ke hidung To-lo-hou.
Semua hadirin mendengar suara jeritan kesakitan yang diselingi suara tulang patah.
Baru saja suaranya berkumandang, badan To-lo-hou seberat ratusan kati itu, tahu-tahu terpental membal.
Terbang sejauh empat tombak, terbanting menumbuk dinding, lalu melorot jatuh.
Waktu dia roboh, hidungnya sudah penyok, naik berada di bawah mata, selebar sukanya sudah berubah bentuk.
Orang tua itu tetap bersikap seperti semula, melirik pun tidak, pelan-pelan dia keluarkan secarik saputangan untuk membersihkan noda-noda darah di tangannya, sorot matanya tetap memandang ke pegunungan di kejauhan sana.
oo Rona muka Tok-gan-liong seketika berubah hebat Setelah hilang rasa terkejut anak buahnya, serempak mereka menerjang maju sambil berteriakteriak.
Tapi Pek-bin-long-tiong mencegah mereka, lalu dia berbisik beberapa patah kata di pinggir telinga Tok-gan-liong.
Sedetik Tok-gan-liong ragu-ragu, akhirnya dia manggut-manggut.
Mendadak dia acungkan jempol, katanya dengan tertawa menengadah.
"Bagus, kepandaian bagus, tamu sehebat ini diundang pun belum tentu kita mampu mengundangnya, sudah tentu kami tidak menolak."
Pek-bin-long-tiong tampil ke depan, katanya.
"Siaute tahu Toako pasti menyambut dengan senang hati."
Dengan langkah lebar Tok-gan-liong maju mendekat ke muka si orang tua, katanya sambil bersoja.
"Entah siapa nama sahabat ini?"
"Kau tidak perlu tahu siapa aku,"
Sahut si orang tua tawar.
"kami bukan sahabat."
Tanpa berubah mimik dan sikapnya, Tok-gan-liong mengunjuk tawa pula, katanya.
"Entah berapa lama tuan ingin menetap di sini?"
"Kau tidak usah kuatir,"
Si jelita segera menimbrung.
"Tadi sudah kukatakan, hanya tiga bulan saja."
Setelah tertawa dia melanjutkan.
"Tiga bulan kemudian kami akan pergi, umpama kalian hendak menahan kami menetap sehari lagi pun tidak mau."
Sebetulnya dia tahu, tiada orang yang bakal menahan mereka lebih lama menetap di situ.
"Tiga bulan kemudian? Waktu itu kemana pula mereka harus pergi?"
Bagaimana pun juga itu urusan tiga bulan kemudian, buat apa sekarang susah-susah memikirkan tetek-bengek?
oo Jari-jarinya menggenggam kencang gagang goloknya.
Golok serba hitam.
Demikian pula biji matanya seperti mata boneka yang bercat hitam, gelap dan dalam, mirip benar dengan tabir malam yang menjelang datang.
Malam di musim rontok.
Pada malam gelap atau malam terang bulan, dia sudah menyusuri jalan besar kecil, menjelajahi semua tempat.
Entah sampai kapan baru akan berakhir perjalanannya?
Orang yang ingin dia cari sedemikian jauh belum terdengar kabar beritanya.
Dia sudah pernah bertanya entah berapa kali.
"Adakah kau melihat seorang tua?"
"Setiap orang pernah melihat orang tua, memangnya kakek tua di dunia ini tak terhitung banyaknya."
"Tapi kakek tua yang satu ini berlainan, empat buah jari sebelah tangan kakek ini sudah putus tertabas."
"Tidak pernah melihat tiada orang yang tahu kabar berita orang tua ini"
Terpaksa dia berjalan lagi, berjalan lebih lanjut.
Si 'dia' hanya menunduk kepala, pelan-pelan dia menguntit terus di belakangnya.
Kemana pun dia pergi.
Bukan lantaran dia tidak mau jalan berjajar di sampingnya, tapi adalah perasaannya sendiri yang menyangka orang tidak senang bila dirinya berjalan berjajar dengannya.
Walaupun selama ini tidak pernah dia utarakan isi hatinya ini, tapi kelihatannya dia memandang rendah kepada dirinya.
Mungkin yang dia pandang rendah bukan orang lain, tapi dirinya sendiri.
Selama ini dia pun belum pernah membujuknya, menyuruhnya menghentikan pencarian ini, bukankah pengejaran ini bakal sia-sia, tapi dia hanya tertunduk diam mengintil di belakangnya.
Mungkin dalam benaknya dia sudah tahu Pho Ang-soat selamanya tidak akan bisa menemukan orang yang dicarinya itu.
oo Jalan besar di luar gang sempit sana, sinar api terang benderang.
Entah kenapa?
Jika bukan ingin mencari tahu kepada orang, dia selalu suka menempatkan dirinya di gang-gang sempit yang gelap saja.
Sekarang akhirnya mereka sudah berada di jalan besar.
Matanya segera bersinar, ujung mulutnya yang mungil itu seketika mengulum senyuman, seolah-olah mendadak dia mendapat kembali gairah hidupnya.
Dia tidak sama dengan dia.
Dia suka keramaian, suka foya-foya, suka disanjung puji orang lain, ada kalanya dia pun senang menolak keinginan orang, tapi hal itu dia lakukan hanya untuk meninggikan gengsi dan harga dirinya, biasanya dia sudah cukup berpengalaman, cara bagaimana dia harus membuat hati laki-laki senang, laki-laki tidak akan suka bergaul dengan perempuan yang dipandangnya rendah.
Saat itu merupakan suasana teramai dalam setiap rumah makan dan warung arak, jika kau hendak mencari berita, tiada tempat lain yang lebih tepat daripada rumah-rumah makan atau warung arak itu.
Justru di jalan raya inilah merupakan komplek pertokoan dan letak dari rumahrumah makan dan warung-warung arak itu.
Baru saja mereka beranjak keluar dari jalan sempit itu, tiba-tiba terdengar seseorang berteriak keras.
"Cui-long!"
Kebetulan kedua orang itu baru saja turun dari atas loteng rumah makan sebelah jalan sempit itu, dua laki-laki besar yang berpakaian ser^a perlente, seorang menyoreng golok, seorang yang lain menggantung sebatang pedang di pinggangnya.
Laki-laki yang menyoreng golok itu sudah memburu maju menarik tangannya.
"Cui-long, kenapa kau bisa berada di sini? Kapan kau tiba?"
Tiada penyahutan.
"Aku sudah menasehatimu, jangan kau mengeram diri di tempat miskin itu, dengan bakatmu, setiba di kota besar ini, dalam jangka dua tahun aku tanggung kau bisa mengirim kepingan uang emas murni pulang dengan kereta."
Tetap tidak terdengar suara penyahutan.
"Kenapa tidak kau bicara? Kita kan kenalan lama, memangnya kau sudah lupa kepadaku!"
Agaknya laki-laki bergolok ini terlalu banyak minum arak, tanpa disadari dia berteriak-teriak di jalan raya seperti kuatir orang tidak tahu bahwa dia kenal baik dengan perempuan cantik ini.
Cui-long sebaliknya menundukkan kepala, dengan kerlingan matanya dia mengawasi sikap Pho Ang-soat.
Pho Ang-soat tidak berpaling, namun dia menghentikan langkah, otot hijau merongkol di punggung tangannya yang mencekal gagang golok.
Laki-laki yang menyoreng golok akhirnya berpaling mengawasi dirinya, lalu berpaling pula kepada Cui-long, akhirnya dia pun mengerti.
"Tak heran kau tidak mau bicara, ternyata sudah punya laki-laki, tapi kenapa tidak kau cari yang bagus, yang ganteng, kenapa menaksir seorang timpang?"
Belum lagi dia habis dengan kata-katanya, tiba-tiba dilihatnya sorot mata Cui-long yang elok itu memancarkan rasa takut.
Begitu dia menoleh mengikuti arah pandangan Cui-long, maka dia juga melihat sepasang mata yang lain.
"Sepasang mata ini tidak terlalu besar, juga tidak begitu tajam, tapi menampilkan maksudmaksud tajam yang dingin. Laki-laki bergolok ini bukan kaum keroco, bukan laki-laki berotak udang, dan lagi dia bisa minum arak, tapi waktu kedua biji mata ini mengawasi dirinya, tanpa disadarinya mendadak dia merasa mengkirik, berdiri bulu roma serta dingin kaki tangannya. Dengan dingin Pho Ang-soat menatapnya, lalu mengawasi golok di pinggangnya, tiba-tiba dia bertanya.
"Kau she Peng?"
"Kalau benar kau mau apa?"
Bentak laki-laki bergolok dengan bengis. Agaknya dia merasa kurang puas karena kaki tangan sendiri tiba-tiba jadi dingin, maka sikapnya menjadi garang dan beringas terhadap orang lain.
"Kau anggota keluarga Peng dari Ngo-hou-toan-bun-to di Siamsay?"
"Kau kenal aku?"
"Meski aku tidak kenal kau, tapi aku kenal golokmu."
Mirip dengan pakaian yang dikenakan laki-laki ini, demikian pula golok itu terlalu mewah dan berlebihan.
Bentuk golok itu amat aneh, kepala goloknya amat lebar, batang goloknya semakin lurus mengecil dan sempit, di atas gagang goloknya dihiasi benang ronce lima warna.
Laki-laki itu segera membusungkan dada, serunya keras dengan pongah.
"Benar, memang aku inilah Peng Liat!"
Pelan-pelan Pho Ang-soat manggut-manggut, katanya.
"Aku pernah dengar."
Peng Liat merasa bangga, jengeknya dingin.
"Memang pantas kau pernah mendengarnya."
"Aku pun pernah mendengar keluarga Peng adalah sahabat karib Be Khong-cun."
"Ya, kita memang keluarga bersahabat."
"Kau pernah bertamu ke Ban-be-tong?"
Sudah tentu Peng Liat pernah ke sana, kalau tidak, mana bisa dia kenal Cui-long.
"Tahukah kau dimana jejak Be Khong-cun sekarang?"
Tanya Pho Ang-soat.
"Dia tidak berada di Ban-be-tong?"
Kelihatan dia amat heran dan terkejut, agaknya peristiwa tragis yang menimpa Ban-be-tong terakhir ini belum lagi diketahuinya. Pho Ang-soat menghela napas pelan-pelan, dia amat kecewa.
"Apa kau pun kenal Sam-lopan?"
Tanya Peng Liat. Pho Ang-soat menyeringai dingin, sorot matanya tertuju ke goloknya pula.
"Golokmu itu memang bagus!"
Kembali Peng Liat unjuk sikap takabur, memang goloknya jauh lebih bagus dari golok di tangan Pho Ang-soat.
"Sayang sekali golok bukan hiasan untuk ditonton orang."
"Memangnya golok untuk apa menurut hematmu?"
"Kau tidak tahu bahwa golok untuk membunuh orang?"
"Kau kira golokku ini tidak mampu membunuh orang?"
"Paling tidak aku belum pernah melihat golokmu ini membunuh orang."
"Kau ingin melihatnya?"
"Memang ingin sekali."
Rona mukanya ikut berubah, berubah lebih pucat memutih, sepintas pandang kelihatan mengkilap bening.
Mengawasi perubahan rona muka orang, tanpa terasa Peng Liat menyurut mundur setengah langkah, tiba-tiba dia tertawa lebar, serunya.
"Lalu golokmu itu? Apakah bisa juga membunuh orang?"
Semakin takut hatinya, gelak tawanya semakin keras.
Pho Ang-soat tidak banyak bicara lagi.
Kalau dia perlu bicara, tidak perlu menggerakkan mulut, cukup dia gunakan goloknya.
Bicara dengan golok, biasanya jauh lebih berguna daripada menggunakan mulut.
Dia sudah pernah membunuh orang, membunuh orang mirip pula dengan pelacur, hanya pertama kali saja terasa tersiksa dan menderita.
Orang yang menyoreng pedang adalah seorang pemuda yang ganteng, perawakannya tinggi, kedua alisnya bertaut, raut mukanya selalu membayangkan senyum sinis dan menghina, agaknya sukar dia menghargai orang lain.
Selama ini dia berdiri di samping mengawasi dengan dingin kini tiba-tiba menyeletuk.
"Dulu pernah ada orang berkata demikian."
"Pernah bilang apa?"
Tanya Peng Liat.
"Mengatakan goloknya itu tidak bisa membunuh orang."
"Siapa yang bilang demikian?"
"Seorang yang sekarang jiwanya sudah ajal."
"Siapa dia?"
"Kongsun Toan."
"Kongsun Toan sudah mati?"
Peng Liat terkesiap kaget.
"Ya, mati oleh golok ini."
Jidat Peng Liat tiba-tiba dihiasi butir-butir keringat.
"Malah Sam-lopan sendiri pun terancam dan terdesak keluar dari Ban be-tong."
"Kau ... darimana kau tahu?"
"Aku baru saja pulang dari perjalanan keluar perbatasan."
Mata Pho Ang-soat sudah menatapnya, tanyanya.
"Untuk apa kau kesana?"
"Mencari kau."
Kali ini Pho Ang-soat sendiri pun merasa di luar dugaan.
"Aku ingin bertemu dan melihatmu,"
Kata si pemuda lebih lanjut.
"Sengaja hendak melihatku?"
"Bukan melihat dirimu, tapi ingin melihat golokmu."
Tanpa menunjukkan perasaan hatinya, suaranya pun tetap tenang dan wajar, katanya menyambung.
"Ingin aku melihat betapa cepat sebetulnya golokmu ini!"
Jari-jari Pho Ang-soat mengencang, kulit mukanya yang pucat menjadi mengkilap.
"Aku she Wan bernama Wan Ceng-hong,"
Si pemuda memperkenalkan diri.
"Keluarga Wan pun mempunyai hubungan yang mendalam dengan Ban-be-tong "
Kembali Pho Ang-soat manggut-manggut, ujarnya "Ya, sekarang aku mengerti."
"Memangnya kau harus mengerti."
"Apa sekarang kau masih ingin melihat golokku?"
"Sudah tentu."
Pho Ang-soat tertunduk, mengawasi jari-jari tangannya yang menggenggam golok.
"Tidak lekas kau cabut golokmu?"
Tantang Wan Ceng-hong.
"Aku masih ada pertanyaan."
"Boleh kau tanya."
"Kau sendiri pernah bertemu dengan Be Khong-cun?"
"Tidak."
"Cara bagaimana kau bisa tahu akan diriku."
"Kudengar dari orang lain."
"Siapa yang bilang?"
"Tak usah kau tahu siapa dia."
Setelah lama berdiam diri, akhirnya Pho Ang-soat mengangkat kepala, tanyanya.
"Kau ingin aku mencabut golok?"
"Ya, silakan cabut!"
"Baik, keluarkan dulu pedangmu!"
"Murid Thian-san-kiam-pay, selamanya belum pernah mencabut pedang lebih dulu."
Tiba-tiba terunjuk mimik aneh pada muka Pho Ang-soat, mulutnya menggumam.
"Thian-san ... Thian-san ...."
Sorot matanya menatap ke tempat jauh, seolah-olah mengandung kenangan dan rindu, merasa duka dan lara pula.
"Cabut golokmu!"
Bentak Wan Ceng-hong lagi.
Tangan Pho Ang-soat semakin kencang memegang goloknya, tangan kirinya memegang sarung golok, tangan kanan mendadak mencekal gagang golok.
Tanpa kuasa Peng Liat menyurut mundur setengah tapak lagi, mata Cui-long yang elok itu mendadak memancarkan sinar menyala karena merasa tegang dan haru.
Muka Wan Ceng-hong tetap beku tak berperasaan, tapi tanpa sadar jari-jari tangannya pun mencekal gagang pedang.
"Thian-san ... Thian-san ...."
Sekonyong-konyong sinar berkelebat.
Hanya berkelebat sekilas saja.
Setelah mata orang melihat sinar golok yang berkelebat melebihi kecepatan kilat itu, tahutahu golok di tangan Pho Ang-soat sudah kembali masuk ke dalam sarungnya lagi.
Kebetulan hembusan angin berlalu, benang-benang sutra seketika beterbangan terbawa angin.
Kiranya ronce benang sutra merah di gagang pedang Wan Ceng-hong sudah terpapas putus.
Pho Ang-soat tetap menundukkan kepala, mengawasi goloknya sendiri, katanya.
"Sekarang kau sudah melihatnya."
Muka Wan Ceng-hong tetap tidak berubah, membesi kaku, tapi jidatnya sudah basah oleh butiran keringat dingin.
"Sekarang aku sudah melihatnya."
"Golokku ini sebetulnya bukan untuk ditonton orang, tapi hari ini aku melanggar kebiasaanku untukmu."
Sepatah kata pun Wan Ceng-hong tidak bersuara lagi, pelan-pelan dia putar badan, tinggal pergi masuk ke jalan sempit di pinggir rumah makan di depan sana.
Dia tetap belum melihat golok Pho Ang-soat, yang dilihatnya hanya sambaran goloknya.
Tapi ini sudah lebih dari cukup.
oo Orangnya sudah pergi, tapi benang sutra yang bertebaran di udara masih ketinggalan terhembus angin.
Telapak tangan Peng Liat yang menggenggam golok sudah basah oleh keringat dingin.
Tiba-tiba Pho Ang-soat berpaling mengawasinya, katanya.
"Kau sudah melihat golokku?"
Peng Liat manggut-manggut.
"Sekarang giliranku ingin melihat golokmu,"
Ujar Pho Ang-soat Peng Liat mengertak gigi, giginya berkeriut, kedengarannya seperti orang mengasah pisau. Sekonyong-konyong terdengar seseorang berseru.
"Goloknya itu tidak baik dipandang mata."
Oo Kebetulan ada sebuah tandu lewat di jalan besar ini, kini berhenti di persimpangan jalan, seruan orang berkumandang dari dalam tandu.
Itulah suara perempuan, suara merdu dan enak didengar dari seorang gadis lemaja, cuma siapa dia belum kelihatan.
Kerai di depan tandu terurai turun mengalingi pandangan.
"Golok ini tidak bagus? Lalu apanya yang bagus?"
Jengek Pho Ang-soat Orang dalam tandu menjawab.
"Aku justru lebih bagus dari golok itu" . Bukan saja tawanya semerdu kelintingan, malah kata-katanya pun se ramai kelintingan berbunyi nyaring. Di tengah suara ramai dari kelintingan berdering, kerai tersingkap dan menongol keluarlah seorang gadis dari dalam tandu, seorang gadis jelita laksana teratai yang baru mekar Pakaian yang dikenakan adalah jubah panjang putih mulus, pada leher, pergelangan tangan, sampai pun kedua kakinya mengenakan gelang yang bergantungan, kelintingan emas. Ting Hun-pin. Melihat dia, Pho Ang-soat seketika mengerut alis, katanya.
"Kau?"
Mengerling biji mata Ting Hun-pin, katanya berseri tawa.
"Tak nyana kau masih mengenal aku."
Sebetulnya Pho Ang-soat tidak kenal dia. cuma pernah melihat dia berada bersama Yap Kay. Ting Hun-pin tertawa, ujarnya.
"Kukatakan golok ini tidak bagus, karena bukan Ngo-hou-toanbun-to yang asli."
"Bukan yang asli?"
Pho Ang-soat menegas.
"Jika kau benar-benar ingin bertemu dengan Ngo-hun-toan-bun-to, boleh kau pergi ke Ngohou-ceng di Koantiong."
Tiba-tiba Ting Hun-pin membalik menghadap Peng Liat, katanya tertawa.
"Sekarang dia pasti tidak ingin melihat golokmu, lekas kau pergi minum arak saja, Siau Yap pasti sedang menunggu dengan gelisah."
"Siau Yap? Apa maksudmu?"
Tanya Pho Ang-soat.
"Hari ini Siau Yap (Yap si kecil) mentraktir makan minum, kita semua adalah tamu-tamunya yang tak usah diundang."
Dia cekikikan lalu menyambung.
"Dia tidak suka tamu yang sudah mampus, maka dia pun tidak suka tamu-tamunya mati."
"Yap Kay maksudmu?"
"Kecuali dia, siapa lagi?"
"Dia pun berada di sini?"
"Di atas Thian-hok-lo sana itu, bila kau pun datang ke sana pasti dia senang setengah mati!"
"Dia tidak akan melihat diriku,"
Kata Pho Ang-soat dingin.
"Kau tidak mau ke sana?"
"Aku bukan tamunya."
"Kalau kau tidak mau ke sana, tiada orang yang memaksamu, cuma matanya mengerling tajam kepada Pho Ang-soat, katanya pula dengan tersenyum.
"Tamu-tamu yang dia undang di sana, semuanya mempunyai berita yang cepat dan tajam, jika kau hendak mencari tahu kabar apa-apa, di sanalah tempat yang tepat untuk kau cari."
Pho Ang-soat tidak banyak bicara lagi, segera dia putar badan beranjak ke Thian-hok-lo, seolah-olah dia lupa bahwa ada orang tengah menunggu dirinya.
Ting Hun-pin melirik kepada Cui long, katanya menghela napas.
"Agaknya dia sudah melupakan dirimu."
Cui long tertawa, katanya.
"Tapi kau tidak melupakan dia."
Berkedip mata Ting Hun-pin, tanyanya.
"Kenapa dia tidak membawamu serta?"
"Karena dia tahu aku bakal menguntitnya sendiri."
Betul juga segera dia menyusul. Mengawasi bayangan orang yang semampai gerak-gerik yang lembut gemulai, mulutnya berkata seorang diri.
"Agaknya itulah cara terbaik untuk menghadapi laki-laki."
Suaranya tidak tinggi dan tidak keras, namun kuping Cui-long agaknya amat tajam, tiba-tiba dia berpaling dengan tertawa, katanya.
"Kenapa kau tidak meniru caraku ini?"
Ting Hun-pin tertawa, katanya.
"Karena cara orang ini sebetulnya adalah aku sendiri yang menciptakan."
"Tamu-tamu yang hadir di dalam Thian-hok-lo memang banyak, pakaian setiap orang semuanya perlente, gagah dan ganteng. Memang ucapan Ting Hun-pin tidak berlebihan, orang-orang yang mempunyai kabar dan berita yang cepat dan tajam pendengarannya, sudah tentu merupakan tokoh-tokoh yang punya kedudukan tinggi dan orang yang punya akal sehat. Sudah tentu bukan soal gampang untuk mengundang dan mengumpulkan orang-orang seperti ini. Apalagi sekaligus mengumpul sedemikian banyak orang. Dua bulan lebih tak berjumpa, Yap Kay agaknya sudah berubah menjadi orang yang serba pintar, punya otak dan pandai menggunakan akal. Jubah berbulu yang dipakainya sekarang mungkin hanya terbeli dengan nilai lima puluh tahil perak, demikian pula sepatu kulit bersemir mengkilap, rambutnya tersisir rapi dan berminyak hitam, malah mengenakan topi yang biasanya suka dipakai putra hartawan yang suka foya-foya dengan hiasan mutiara dan zamrud segala. Sebelumnya orang ini tidak pernah berdandan mewah, hampir saja Pho Ang-soat tidak mengenalnya lagi. Tapi Yap Kay sebaliknya masih mengenalnya. Begitu dia naik ke atas loteng, Yap Kay lantas melihat dirinya. oo Sinar lampu terang berderang seperti di siang hari bolong. Roman muka Pho Ang-soat kelihatan semakin legam ditimpa sinar api. Sudah banyak orang yang melihat golok hitam itu, melihat dulu goloknya baru melihat orang yang membawanya. Sebaliknya pandangan Pho Ang-soat seolah-olah seorang pun tidak dilihatnya. Yap Kay sudah berada di depannya, mengawasinya dengan senyuman lebar. Hanya senyuman ini belum berubah, malah begitu lebar dan simpatik senyuman ini. Mungkin karena menghadapi senyuman ini. Maka Pho Ang-soat cukup melirik sekilas saja kepadanya. Yap Kay tertawa, sapanya.
"Sungguh tidak nyana kau bisa kemari "
"Aku juga tidak mengira."
"Silakan duduk."
"Aku berdiri saja."
"Tidak mau duduk?"
"Berdiri juga bisa bicara."
"Aku tahu apa yang hendak kau bicarakan."
"Kau tahu?"
Yap Kay manggut-manggut, ujarnya.
"Sayang sekali aku pun tidak berhasil mencari tahu jejak orang itu."
Pho Ang-soat termenung, lama juga baru mendadak dia berkata.
"Selamat bertemu!"
"Tidak minum dulu?"
"Tidak."
"Secangkir arak tidak akan mencelakai jiwa orang "
"Tapi aku takkan mengundangmu minum "
"Aku pernah kebentur batunya."
"Aku pun tidak akan sudi minum arakmu."
"Kita bukan teman?"
"Aku tidak punya teman."
Tiba-tiba dia membalik badan, melangkah pergi.
Mengawasi bayangan punggungnya, senyuman Yap Kay menjadi getir dan kaku.
Tapi Pho Angsoat tidak turun ke bawah loteng, karena saat itu Ting Hun-pin dan Cui-long tengah beranjak naik dari tangga loteng.
Tangga loteng terlalu sempit.
Tiba cukup untuk dua orang jalan berjajar.
Cui-long berdiri di mulut tangga, agaknya tertegun, dia sudah melihat Yap Kay, Yap Kay pun sedang mengawasi dirinya.
Pho Ang-soat pun sedang mengawasi Cui-long, sedang Ting Hun-pin mengawasi Yap Kay.
Mimik keempat pasang mata ini berlainan, tiada orang yang bisa melukiskan perasaan yang melembari sanubari mereka.
Untung lekas sekali Cui-long sudah menundukkan kepala.
Tapi Yap Kay masih menatapnya.
Pelan-pelan Ting Hun-pin maju beberapa langkah.
Pho Ang-soat segera turun dari tempatnya.
Tanpa bersuara Cui-long segera membalik badan, ikut di belakangnya, tidak melirik lagi kepada Yap Kay.
Tapi Yap Kay masih mendelong mengawasi mulut tangga yang kosong.
Tak tahan Ting Hun-pin menepuk pundaknya, katanya dingin.
"Orang sudah pergi."
"O? Sudah pergi?"
"Pergi ikut temanmu."
"O."
"Kalau kau hendak merebut cintanya, kau harus hati-hati. karena golok orang itu amat cepat."
Yap Kay tertawa. Ting Hun-pin juga tertawa, namun tawa dingin.
"Cuma perempuan itu memang tidak jelek, kabarnya dulu dia menggunakan kecantikannya itu untuk mencari uang, mungkin kau pun pernah menghamburkan uangmu kepadanya."
"Kau kira aku sedang mengawasi dia?"
"Memangnya setan yang sedang kau awasi?"
"Aku cuma berpikir...."
"Berpikir dalam hati lebih jahat daripada memandang dengan hati ...."
"Apa yang terpikir dalam benakku, selamanya tidak akan kau percaya."
Berputar biji mata Ting Hun-pin, katanya.
"Aku percaya, asal kau beritahu kepadaku, aku akan percaya."
"Aku cuma mengharap dia betul-betul mencintai Pho Ang-soat, betul-betul rela mengikutinya seumur hidup, kalau tidak ...."
"Kalau tidak bagaimana?"
"Kalau tidak, mungkin aku terpaksa harus membunuhnya."
"Kau tega?"
"Memangnya aku bukan laki-laki yang kasihan terhadap perempuan cantik yang pantas kubunuh."
"Aku tahu orang macam apa kau ini."
"O, aku orang macam apa?"
"Kau ini setan hidung belang yang lain di mulut lain di hati, oleh karena itu apa pun yang kau katakan, sepatah kata pun aku tidak percaya."
Yap Kay tertawa pula, tawa getir. Pada saat itulah, tiba-tiba dari bawah loteng ada orang berseru memanggil.
"Yap Kay, Yap Kay ...."
Seorang pemuda berbaju abu-abu dengan topi rumput kebetulan berlalu menunggang kuda, akhirnya berhenti di depan Thian-hok-lo.
sebelah tangannya memegang kendali, tangan yang lain sedang menguliti kacang.
Orang-orang yang duduk di pinggir jendela cukup berpaling lantas melihatnya, terlihat juga pedang yang terselip miring di ikat pinggangnya.
Sebatang pedang tipis tajam mengkilap tanpa sarung.
"Lok Siau-ka!"
Ada orang yang berteriak terkejut.
oo Lok Siau-ka!
Ketiga huruf nama ini seolah-olah mengandung daya tarik yang misterius, mendengar nama ini, tersipu-sipu orang berebut melongok keluar jendela.
Yap Kay mendahului di depan, katanya tertawa.
"Tidak naik kemari minum arak?"
Lok Siau-ka mendongak, katanya.
"Kau tidak makan kacangku, kenapa aku harus minum arakmu?"
"Ah, dua hal yang berlainan!"
Dia putar badan meraih secangkir arak penuh, terus dilempar ke bawah, dengan berputar-putar cangkir arak itu dengan tenangnya terbang lurus ke arah Lok Siauka, seolah-olah ada makhluk gaib yang tidak kentara menyanggahnya Lok Siau-ka tertawa, jarinya menjentik sekali, cangkir itu terjentik mencelat naik dan terbalik di tengah udara.
Arak di dalam cangkir seketika tumpah dan tepat tertuang masuk ke dalam mulut Lok Siau-ka.
"Arak bagus!"
Puji Lok Siau-ka.
"Secangkir lagi?"
"Aku hanya ingin tanya kau, apakah kau pun sudah terima undangan?"
"Kemarin baru kuterima."
"Kau akan datang tidak?"
"Kau tahu biasanya aku paling suka melihat keramaian."
"Baik, pada tanggal lima belas bulan sembilan yang akan datang kita berjumpa di Pek-hunceng."
Dikulitinya sebutir kacang, terus dilempar, baru saja dia menunggu dengan mulut terbuka hendak mencaplok kacang itu.
Tak nyana badan Yap Kay tiba-tiba melesat keluar, mulut terpentang, dia sambut kacang yang melayang turun itu, di tengah udara dia berjumpalitan membalik, dengan ringan melayang turun kembali di tempatnya.
Katanya dengan tergelak.
"Akhirnya aku berhasil makan kacangmu."
Lok Siau-ka melengak, tiba-tiba dia pun tertawa besar, diiringi gelak tawanya dia ayun pecutnya membedal kudanya pergi. Terdengar dari kejauhan suaranya berkata.
"Anak keparat, kau memang anak keparat yang bagus!"
Oo Mi kuah itu sudah dingin.
Kuahnya keruh, bagian atasnya ditaburi daun-daun sayur hijau.
Sayurnya murah pula, minya kasar, makanan yang termurah pula, mangkuknyapun sudah gumpil.
Kepala Cui-long tertunduk, tangannya sedang mengerjakan sepasang sumpit yang entah sudah pernah dipakai berapa banyak orang, diungkitnya beberapa batang mi, lalu diletakkan lagi.
Walau perutnya amat lapar, tapi mi kuah seperti ini betapa pun tidak menimbulkan selera makannya.
Biasanya mi kuah yang dimakannya dibumbui racikan enak, kuah ayam dan pangsit atau bakso, mangkuknya pun mangkuk antik yang mahal harganya.
Menghadapi mangkuk gumpil dengan mi kuah di dalamnya, dia merasa mual, menghela napas, lalu meletakkan sumpit.
Sebaliknya mi kuah di mangkuk Pho Ang-soat sudah digaresnya sampai habis, kini dengan diam-diam dia tengah mengawasinya, katanya tiba-tiba.
"Kau tidak bisa makan?"
Kecut dan dibuat-buat tawa Cui-long, sahutnya.
"Aku tidak lapar."
"Aku tahu kau tidak biasa makan hidangan sekotor ini, kau harus makan di Thian-hok-lo."
"Kau tahu aku tidak akan ke sana, aku..."
"Kau kuatir dirimu tidak disambut?"
Cui-long geleng-geleng.
"Lalu kenapa kau tidak ke sana?"
Pelan-pelan Cui-long mengangkat kepala menatap mukanya, katanya lembut.
"Karena kau di sini, maka aku pun di sini, tempat mana pun aku tidak akan ke sana."
Pho Ang-soat tidak bicara lagi.
Cui-long mengulur tangan mengelus punggung tangannya, tangan yang memegang golok.
Dalam keadaan apa pun dia cukup tahu cara bagaimana dia menenangkan hati laki-laki.
Tiba-tiba Pho Ang-soat mengipatkan tangannya, katanya dingin.
"Kau kenal laki-laki itu?"
"Cuma ... cuma tamu biasa saja?"
"Apa yang dinamakan tamu biasa saja?"
"Kau tahu, dulu aku ... di tempat seperti itu, tak urung harus kenal dengan laki-laki yang suka iseng."
Terpancar rasa derita yang mengetuk sanubari Pho Ang-soat dari sorot matanya.
"Kau harus memaafkan aku, kau harus tahu sebetulnya aku tidak sudi melayaninya."
"Yang terang aku tahu kau selalu mengincarnya."
"Sejak kapan aku pernah mengincarnya, cukup sekilas melihatnya, hatiku sudah muak."
"Hatimu muak?"
"Rasanya ingin aku membunuhnya."
"Kau kira orang she Peng itu yang kumaksud?"
"Bukan dia yang kau maksud?"
"Yang kumaksud adalah Yap Kay."
Cui-long tertegun.
"Bukankah kau pun kenal dia? Apakah dia itupun tamu biasa?"
Kini mata Cui-long yang menyorotkan derita dan siksaan batin, katanya dengan pilu.
"Kenapa kau harus bicara demikian? Kau sedang menyiksa aku? Atau sedang menyiksa hatimu sendiri?"
Muka Pho Ang-soat yang pucat menjadi merah padam, sedapat mungkin dia kendalikan emosinya, katanya tandas.
"Aku hanya ingin tahu, apakah kau pun mengenalnya?."
"Umpama dulu aku pernah mengenal dia, sekarang aku sudah tidak mengenalnya lagi."
"Kenapa?"
"Karena sekarang hanya kau seorang yang kukenal, hanya kau seorang."
Kembali tangannya terulur, dengan kencang dia genggam tangan Pho Ang-soat. Mengawasi tangannya, sikap Pho Ang-soat semakin tertekan, katanya.
"Sayang sekali aku tidak bisa memberi kehidupan mewah dan senang seperti yang kau nikmati dulu, dengan ikut aku, kau hanya akan menderita, makan mi seperti ini."
"Memangnya apa jeleknya mi seperti ini?"
"Tapi kau tiada selera untuk memakannya."
"Baik, biar kumakan."
Sumpit diraihnya serta diungkitnya mi di dalam mangkuk terus dijejalkan ke dalam mulut, melihat tawa menyengir yang dipaksakan di mukanya, mirip benar dengan orang yang disuruh makan obat racun.
Pho Ang-soat mengawasinya, mendadak dia rebut sumpit orang, katanya keras.
"Kalau kau tiada selera makan, kenapa harus dipaksakan? ... aku kan tidak memaksa kau."
Suaranya serak karena terharu, jari-jari tangannya pun gemetar. Biji mata Cui-long merah, air mata berlinang, akhirnya tak tahan dia berkata.
"Kenapa kau sekasar ini terhadapku? Aku..."
"Kau kenapa?"
"Aku hanya merasa sebetulnya kita tidak usah hidup dalam keadaan seperti ini,"
Sahut Cui-long menghela napas.
"Uang sangumu mungkin sudah habis, tapi aku masih punya cukup banyak."
Dada Pho Ang-soat turun naik, katanya serak.
"Itu milikmu, tiada sangkut-pautnya dengan aku."
"Sampai pun jiwa ragaku ini sudah menjadi milikmu, kenapa kau dan aku harus dibatasi dengan garis yang begini jelas?"
Merah membara selebar muka Pho Ang-soat yang semula pucat, sekujur badannya gemetar, katanya sepatah demi sepatah.
"Tapi kenapa tidak kau pikir, betapa kotor uangmu? Asal aku teringat asal mula uangmu itu, aku lantas mual hendak muntah."
Berubah pula muka Cui-long, sekujur badan bergetar keras, dengan kencang dia menggigit bibirnya, katanya.
"Mungkin bukan uangku saja yang kotor, badanku inipun sudah lama kotor."
"Memangnya."
"Tak usah kau suruh aku berpikir, aku sendiri sudah pernah memikirkannya, aku memang tahu sejak mula kau memang memandang rendah diriku."
Bibirnya tergigit sampai keluar darah, sambungnya dengan suara tersendat.
"Aku hanya mengharap kau sendiri pun suka berpikir."
"Apa yang harus kupikir?"
"Kenapa tidak kau pikir, kenapa aku bisa melakukan pekerjaanku ini? Demi siapa? Aku ... buat apa aku harus menyiksa diri?"
Walau sedapat mungkin dia kendalikan emosinya, tapi tak tertahan air mata bercucuran membasahi pipinya, tiba-tiba dia berdiri, katanya dengan air mata berlinang.
"Kalau kau memang menghinaku, buat apa aku selalu mempersulit dirimu, aku ...."
"Benar, kalau toh kau bisa mencari uang dengan gampang, kenapa harus ikut aku yang rudin ini, sejak lama kau sudah harus pergi."
"Kau ... benar-benar kau ingin aku pergi?"
"Buat apa main-main."
"Baik, baik, baik ... kau baik sekali,"
Teriak Cui-long. Tiba-tiba dia dekap mukanya dengan kedua tangan, terus berlari keluar dengan jerit tangis.
"Blang" , dengan keras dia banting daun pintu sampai tertutup keras. Pho Ang-soat tidak merintangi, melirik pun tidak. Dia tetap duduk di tempatnya tanpa bergerak sedikit pun. Badannya tidak gemetar lagi, tapi otot-otot hijau di punggung tangannya sudah merongkol keluar, keringat dingin sudah membasahi jidatnya. Tapi tiba-tiba dia malah roboh tersungkur, badannya kelejetan dan meronta-ronta di atas lantai, kejang, buih putih meleleh keluar dari mulutnya. Lama kelamaan dia meronta-ronta sekeras mungkin seperti binatang yang sekarat setelah digorok lehernya, deru napasnya seperti sapi yang hendak disembelih Pintu terbuka lagi, Cui-long pelan-pelan melangkah masuk. Air mata di mukanya sudah kering, biji matanya seolah-olah memancarkan cahaya terang. Tapi jari-jari tangannya gemetar. Bukan gemetar karena menderita, adalah karena haru dan tegang! Dengan nanar matanya menatap Pho Ang-soat, selangkah demi selangkah maju menghampiri. Sekonyong-konyong dia mendengar sesuatu suara, suara yang aneh Seperti orang mengunyah sesuatu. Entah sejak kapan sesosok bayangan orang sudah melompat masuk dari luar jendela, berdiri menggeledot di ambang jendela, mulutnya sedang mengunyah kacang. Lok Siau-ka. Berubah air muka Cui-long, teriaknya tertahan.
"Untuk apa kau kemari?"
"Aku tidak boleh kemari?"
"Kau kemari hendak membunuhnya."
Lok Siau-ka tertawa tawar, sahutnya.
"Akukah yang ingin membunuhnya? Atau kau yang mau membunuh dia?"
Berubah air muka Cui-long, katanya dingin.
"Kau sudah gila, kenapa aku hendak membunuhnya?"
Lok Siau-ka menghela napas, ujarnya.
"Perempuan kalau hendak membunuh laki-laki selalu bisa mengajukan banyak alasan."
Tiba-tiba Ciu-long memburu maju ke depan Pho Ang-soat katanya keras.
"Apa pun yang kau katakan, tidak kubiarkan kau menyentuhnya."
Lok Siau-ka menyeringai dingin, jengeknya.
"Umpama kau minta aku menyentuhnya, aku tidak akan tertarik, selamanya aku tidak menyentuh laki-laki?"
"Kau hanya membunuh laki-laki?"
"Aku pun tidak pernah membunuh laki-laki yang sudah roboh!"
"Jadi untuk apa kau kemari?"
"Aku hanya ingin tanya kalian, sudah menerima kartu undangan belum?"
"Undangan? Undangan apa?"
"Agaknya pergaulan kalian memang kurang luas."
"Kami tidak perlu pergaulan yang luas."
"Tanpa pergaulan yang luas, cara bagaimana bisa menemukan orang."
Tiba-tiba dia cabut pedangnya, dalam sekejap mata dia sudah meninggalkan beberapa huruf di atas dinding "Tanggal lima belas bulan sembilan. Pek-hun-san-ceng."
"Apa maksudnya?"
Tanya Cui-long. Lok Siau-ka tertawa, sahutnya.
"Maksudnya, aku harap pada tanggal lima belas bulan sembilan nanti, dengan tetap hidup kalian berada di Pek-hun-san-ceng, orang mati tidak akan disambut dan dilayani di sana."
Angin menghembus datang, sesuatu benda melayang jatuh terhembus angin dari atas jendela, itulah kulit kacang.
Tahu-tahu bayangan Lok Siau-ka sudah menghilang seperti terhembus angin.
Lambat-laun dengus napas Pho Ang-soat yang ngos-ngosan mulai reda.
Cui-long menjublek di tempat, lama sekali dia seperti lupa diri, akhirnya dia berjongkok memayangnya.
Dipeluknya orang di dadanya yang hangat dan mesra.
Biasanya dia sudah cukup berpengalaman cara bagaimana dia harus memeluk laki-laki.
* * * BAB 28.
DITEMANI WANITA Tanggal 14 bulan 9.
Cuaca cerah.
Magrib.
Di pinggir jalan raya terdapat sebuah warung teh.
Tidak semua warung wedang di pinggir jalan menjual teh, ada juga yang menjual arak.
Soalnya teh dapat kau minta dengan gratis, sebaliknya arak harus kau beli.
Di dalam warung teh ini menyediakan empat macam arak, semuanya arak yang bermutu rendah dengan harga yang murah, malah kebanyakan arak-arak keras yang membakar tenggorokan.
Kecuali arak, sudah tentu warung ini menyediakan juga makanan lain dan kue-kue, ada tahu, telur asin, bakpau dan kacang.
Sekeliling warung ini dipagari pepohonan yang rindang, di bawah pohon-pohon ini ditata meja dan bangku-bangku panjang, banyak orang yang berjajar duduk di bangku-bangku panjang ini, menaikkan kaki, minum arak mengunyah kacang.
Dengan mendelong Pho Ang-soat sedang mengawasi orang-orang yang menguliti kacang, sedang mengunyahnya dengan lahap.
Ada orang yang makan kacang, untuk mengiringi minum arak dengan tahu dan emping, ada pula orang yang makan kacang dan bakpau.
Mereka makan dengan lahapnya seolah-olah makan kacang dan tahu sudah menjadi kebiasaan mereka sehari-hari.
Tapi Pho Ang-soat terima tahu menolak kacang.
Seolah-olah kacang hanya boleh dipandang tidak boleh dimakan.
Tak tertahan Cui-long bertanya dengan suara lirih.
"Kau masih memikirkan orang itu?"
Pho Ang-soat tutup mulut.
"Lantaran dia suka makan kacang, maka kau tidak mau makan?"
Pho Ang-soat tetap membungkam.
"Aku tahu ...."
Ujar Cui-long menghela napas.
"Kau tahu apa?"
Tanya Pho Ang-soat.
"Di saat penyakitmu kumat, kau tidak sudi dilihat orang lain, tapi dia justru kebetulan datang menyaksikan keadaanmu, oleh karena itu kau membencinya."
Pho Ang-soat membungkam lagi, mulutnya terkancing kencang, sekencang jari-jarinya menggenggam goloknya.
Kecuali dirinya, di sini jarang ada orang membawa senjata.
Mungkin karena goloknya itu, maka banyak orang menyingkir mencari tempat yang jauh dari mereka.
Cui-long menghela napas pula, katanya.
"Tanggal 15 bulan 9 di Pek-hun-ceng. Kenapa dia minta kita pergi ke Pek-hun-ceng pada tanggal 15 bulan 9 itu? Sungguh aku tidak habis mengerti...."
"Banyak urusan yang tidak kau mengerti...."
"Tapi tidak bisa tidak aku harus memikirkannya."
"Memikirkan apa?"
"Dia ingin kita datang, tentu mempunyai maksud tertentu, maka aku lebih tidak mengerti kenapa kau justru mau ke sana."
"Tiada orang yang ingin kau ke sana,"
Ujar Pho Ang-soat.
Cui-long menundukkan kepala, menggigit bibir tidak bicara lagi.
Dia tidak bisa bicara dan tidak bebas bicara.
oo Di pinggir jalan raya di luar warung teh ini, berhenti beberapa buah kereta dan gerobak yang ditarik oleh beberapa ekor keledai.
Orang-orang yang mampir melepaskan lelah, menghilangkan dahaga dan lapar, kebanyakan adalah pekerja-pekerja yang banyak mengeluarkan tenaga kasar, kecuali gegares nyamikan dan arak di dalam warung ini, selama hidup mereka boleh dikata jarang pernah menikmati kesenangan hidup, berfoya-foya.
Setelah beberapa cangkir arak keras itu masuk ke dalam perut, dunia ini seolah-olah sudah berubah menjadi lebih elok dan permai.
Seorang pemuda yang bertubuh kekar sehat, berkulit hitam, baru saja keluar dari dalam warung, dengan senyum lebar dia memberi salam kepada beberapa teman sejawatnya, setelah duduk dia berseru memanggil pemilik warung dan berpesan.
"Ong-liong-cu (Ong si tuli), sediakan lima kati arak, sepuluh butir telur asin, hari ini aku yang mentraktir kawan-kawan."
Ong-liong-cu sebetulnya tidak tuli, cuma kalau ada orang menagih hutang kepadanya, dia lantas pura-pura tuli. Dengan melirik acuh tak acuh, dia mengawasi pemuda hitam itu, katanya dingin.
"Kau bocah ini sudah gila."
Anak muda itu melotot, serunya.
"Siapa bilang aku gila?"
"Kalau tidak gila untuk apa kau main traktir segala?"
Anak muda itu segera tertawa lebar, katanya.
"Hari ini aku mendapat rezeki bertemu dengan seorang tamu yang ringan tangan."
Sengaja dia tertawa penuh arti, sambungnya.
"Kalau kusinggung nama orang ini, memang dia sudah amat tenar dan dikenal banyak orang."
Semua yang hadir dalam warung menjadi tertarik dan bertanya bersama.
"Siapa orang itu?"
Anak muda itu tertawa pula, katanya geleng-geleng.
"Kalau kusebut namanya, belum tentu kalian pernah mendengarnya."
"Apa-apaan ucapanmu ini?"
"Kalau namanya tenar dikenal banyak orang, kenapa kita tidak pernah mendengar?"
"Karena kalian belum setimpal."
"Kita tidak setimpal, memangnya kau setimpal?"
"Jika aku tidak punya saudara misan bekerja di dalam Piaukiok, aku pun tidak pernah mendengar nama besarnya."
"Sudahlah jangan kau jual mahal, sebetulnya she apa dan siapa nama orang itu?"
Anak muda itu mengangkat kakinya dulu, baru menjawab.
"Dia she Lok, bernama Siau-ka."
Sebetulnya Pho Ang-soat sudah berdiri hendak membayar terus tinggal pergi, tiba-tiba dia duduk kembali ke tempatnya.
Untung orang banyak tiada yang memperhatikan dirinya, tiba-tiba dia berebut bertanya.
"Kerja apa Lok Siau-ka itu?"
"Seorang pembunuh."
Sengaja dia rendahkan suaranya menjadi lirih, tapi suaranya cukup jelas didengar orang banyak.
"Pembunuh?"
"Arti dari pembunuh adalah asal kau mau membayar kepadanya, dia mau membunuh siapa saja yang ingin kau bunuh, kabarnya setiap kali dia membunuh orang, paling sedikit menerima selaksa tahil perak."
Terbelalak mata semua hadirin, hampir saja napas pun terasa sesak.
"Cong-piauthau dari Piaukiok dimana saudara misanku bekerja, sudah ajal oleh pedangnya."
"Maksudmu adalah Ting-toaya yang setengah tahun lalu dikebumikan itu?"
"Waktu dia dikebumikan bukankah kalian juga ikut bekerja, setiap orang malah mendapat persen lima tahil perak bukan."
"Ya, pendapatan kita hari itu memang paling besar."
"Oleh karena itu tentunya kalian bisa merasakan juga, di kala hidupnya tentu dia seorang yang bukan sembarangan, tapi begitu dia kebentur Lok-toaya ini, belum lagi goloknya sempat dicabut, tahu-tahu tenggorokannya sudah berlubang terhujam pedang orang."
"Darimana kau tahu begini jelas?"
"Saudara misanku sendiri yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri, begitu pulang dia lantas menceritakan peristiwa itu serta menggambarkan orang macam apa Lok-toaya itu kepadaku, maka hari ini aku lantas mengenalnya. Bukan aku mengenali orangnya, tapi aku mengenali pedangnya."
"Apa keistimewaan pedangnya itu?"
"Pedangnya tidak pakai sarung, kelihatannya mirip besi rongsok yang tidak terpakai lagi, tapi saudara misanku itu memberitahu, selama hidupnya belum pernah dia melihat pedang yang begitu menakutkan seperti itu."
Semua orang menghela napas dan saling pandang dengan rasa kejut, tapi banyak di antara mereka yang masih sangsi.
"Sekali membunuh orang mendapat bayaran selaksa tahil, memangnya dia sudi menunggang keretamu yang bobrok?"
"Soalnya tapal kudanya kebetulan rusak, aku kebetulan lewat di jalan itu, dari Ceng-ho-tin di depan sana sampai di Pek-hun-ceng dalam jarak yang begini dekat, dia membayarkan dua puluh tahil perak."
"Agaknya rezekimu memang hari ini,"
Semua heran dan mengiri.
"kalau tidak mau ditraktir, siasia kita berada di sini, kalau kita tidak menghabiskan lima-enam tahil perak, masakah bocah ini bisa tidur setelah pulang ke rumah."
Sekonyong-konyong seseorang ikut menyeletuk.
"Mau mentraktir juga arus mengundang aku."
Oo Sejak tadi orang ini rebah di bawah pohon rindang di belakang sana, rebah di atas tanah menggunakan topi rumput besar yang sudah rusak menutupi mukanya.
Bukan saja topinya sudah rusak, sampai pun pakaiannya sudah butut banyak tambalan dan kotor, agaknya arak pun tidak mampu dibelinya, maka dia terima rebah di sana.
Ada orang yang mengerut kening, katanya.
"Mengundangmu, kenapa harus mengundangmu?"
Anak muda yang punya uang itu malah tertawa, katanya.
"Di empat penjuru lautan adalah saudara, ketambahan seorang tidak menjadi soal, saudara ini agaknya memang ingin minum arak, hayolah silakan duduk!"
Orang itu berkata dingin.
"Walau aku minum arakmu, tapi aku bukan temanmu, kau harus ingat akan hal ini."
Topi rumput dia dorong ke belakang kepalanya, lalu berdiri dengan kekemalas-malasanan, ternyata perawakannya besar, badannya kekar dan kuat setinggi delapan kaki, pundaknya dua kali lebar orang biasa, kedua tangannya yang gede selebar kipas lurus semampai di pundaknya, hampir menyentuh lututnya, tulang pipinya menonjol keluar, alisnya yang tebal dan panjang mirip sapu lidi, bibir besar mulut lebar.
Walau pakaiannya kotor dan rombeng, tapi begitu dia berdiri, sikapnya amat gagah, dandanan garang, siapa pun takut melihatnya.
Sebetulnya ada orang yang hendak menghajarnya, kenapa ikut-ikutan ditraktir sebagai temannya.
Kini tiada orang yang berani banyak mulut lagi.
Kebetulan Ong-liong-cu keluar membawa lima kati arak dan sepuluh butir telur asin, orang gede itu langsung memapak maju.
"Ini bagianku,"
Katanya seolah-olah perintah, cekak-aos dan tegas.
Tampak orang mencomot dua butir telur terus dijejalkan ke dalam mulut, hanya beberapa kali kunyah lantas tertelan ke dalam mulut.
Makan dua butir telur minum seteguk arak, dalam sekejap saja sepuluh butir telur dan lima kati arak digaresnya habis.
Semua orang mendelong mengawasi tingkah-laku orang, biji matanya seperti hampir melompat keluar.
Setelah menghabiskan tegukan araknya yang terakhir, baru orang ini merasa puas dan menarik napas, dengan kemalas-malasan dia mengelus perutnya, katanya.
"Siapkan sekali lagi seperti yang barusan ini."
"Satu kali lagi?"
Teriak Ong-liong-cu kaget. Orang gede itu menarik muka, bentaknya berngis.
"Kau tidak mendengar ucapanku?"
Bentakannya ini laksana geledek mengguntur di tengah angkasa, sampai kuping si tuli pun hampir pecah tergetar oleh suaranya.
Kebetulan anak muda itu duduk di sebelahnya, saking terkejut dia sampai berjingkrak jatuh dari atas bangku.
Sekali raih laki-laki gede itu mengulurkan telapak tangan segede kipas itu menjinjing punggung bajunya, seperti menjinjing seekor ayam, katanya menyeringai.
"Kau takut apa? takut mentraktir?"
Mending kalau dia tidak tertawa, begitu menyeringai tawa, mulutnya seperti orang mewek hampir sobek sampai ke pinggir telinganya, kelihatannya mirip setan penjaga kelenteng yang bengis dan jahat.
Saking ketakutan anak muda itu sampai pucat mukanya, sahutnya tergagap.
"Aku "Kalau kau tidak mau mentraktir, biar aku saja yang mentraktir!"
Sekali rogoh dia lantas mengeluarkan sekeping uang perak, itulah Toa-goan-po yang bernilai lima puluh tahil. Keruan mata anak muda melotot. Berkata pula laki-laki gede itu.
"Uang perak ini bakal jadi milikmu, tapi besok pagi-pagi, kau harus menungguku di sini, bawa aku ke Pek-hun-ceng, jika kau sampai membuat urusanku gagal, batok kepalamu akan menjadi persis uang perak ini."
Begitu dia kerahkan tenaga meremas dengan jari-jarinya, uang perak di tangannya itu diremasnya gepeng.
Baru saja anak muda itu berdiri tegak, saking terkesima kaget dia terpeleset jatuh lagi.
Laki-laki gede itu tergelak-gelak dengan menengadah, dia lempar uang itu ke depan anak muda itu, tanpa berpaling terus tinggal pergi.
Dia pergi pelan-pelan, tapi setiap langkah kakinya sejauh empat-lima tombak, sekejap saja bayangannya sudah menghilang ditelan tabir malam.
Terdengar suara serak dari nyanyiannya yang lantang memilukan, tapi orang yang mendengar akan mengkirik juga.
"Tanggal 15 bulan 9 bulan purnama, Darah bakal mengalir di saat bulan purnama, Darah orang-orang gagah yang takkan habis-habisnya mengalir. Batok kepala musuh tak habis dibunuh.... Suara nyanyian tetap berkumandang semakin jauh dan lama kelamaan hilang ditelan angin lalu. Lama Pho Ang-soat berdiri menjublek, tiba-tiba dia menghela napas dengan menengadah, katanya.
"Bagus sekali, batok kepala musuh yang tak habis dibunuh."
Oo Subuh.
Langit di ufuk timur sudah mulai memancarkan cahaya remang-remang, alam semesta masih tenggelam dalam kesunyian dan makhluk-makhluk berjiwa masih nyenyak tertidur.
Warung teh itu sudah kosong tidak kelihatan seorang pun, Ong-liong-cu tidak menetap di dalam warungnya, di depan warung berhenti kereta si pemuda di bawah pohon, si bocah meringkuk di dalam keretanya Kuatir dirinya datang terlambat, mungkin laki-laki gede yang galak dan beringas itu benar-benar bisa menggencet gepeng kepalanya.
Angin pagi terasa dingin menyusup tulang, sayup-sayup dari kejauhan terdengar kokok ayam jantan yang bersahutan.
Tampak seseorang tengah memecah kesunyian, menerjang hawa dingin pada hari yang masih remang-remang ini, kaki kiri melangkah setapak, kaki kanan lalu diseretnya ke depan.
Seorang perempuan yang berperawakan semampai dan montok dengan menjinjing buntalan mengikut di belakangnya dengan menundukkan kepala.
Daun pohon bergoyang-gontai terhembus angin seperti menyambut kedatangan mereka, kabut pagi baru mulai berkembang dan lambat-laun sirna tertimpa cahaya terang.
Kabut terasa dingin pula.
oo Pho Ang-soat berhenti di depan warung teh, dia berpaling mengawasi Cui-long.
Raut muka Cui-long pucat, meski dia mengencangkan pakaiannya, tapi dia masih gemetar saking dinginnya.
Di tengah kabut yang remang-remang, dia kelihatan amat letih dan kurus.
Pho Ang-soat mengawasinya diam-diam, sorot matanya yang dingin lambat-laun berubah hangat lembut, tak tahan akhirnya dia menghela napas, tanyanya.
"Kau sudah letih?"
"Seharusnya kau yang letih, seharusnya kau tidur barang sejenak."
"Aku tidak bisa tidur, tapi kau ...."
"Kau tidak bisa tidur, aku mana bisa tidur?"
Pho Ang-soat maju mendekat, menarik tangannya, tangan yang digenggamnya terasa dingin halus.
"Sebelum aku menemukan Be Khong-cun, aku tidak akan pulang, tiada muka aku pulang ke rumah."
"Aku tahu,"
Sahut Cui-long pendek.
"Karena itu aku hanya membuatmu ikut menderita bersama aku."
Cui-long mengangkat kepala menatapnya lekat-lekat, katanya halus.
"Kau harus tahu, aku tidak gentar menderita, derita apa pun dapat kurasakan."
Ditariknya tangan Pho Ang-soat, telapak tangannya dia tempelkan di mukanya, katanya lirih.
"Asal kau bersikap sedikit baik kepadaku, jangan menghinaku, umpama aku harus mati, aku pun rela."
Pho Ang-soat menarik napas segar, katanya.
"Memang aku yang salah terhadap kau, aku sudah tahu, oleh karena itu meski hari itu kau benar-benar tinggal pergi, aku tidak akan menyalahkan kau."
"Tapi cara bagaimana aku bisa pergi? Umpama kau mengusirku dengan menghajar pakai cemeti, aku pun tidak akan pergi."
Pho Ang-soat tiba-tiba tertawa lebar.
Senyumannya laksana bongkahan salju yang tersorot sinar matahari, kelihatannya mengkilat kemilauan dan cemerlang.
Mengawasi senyuman orang, Cui-long seperti termangu dan menjublek, lama sekali baru dia menghela napas, katanya.
"Tahukah kau apa yang paling kusenangi?"
Pho Ang-soat geleng-geleng kepala.
"Aku paling suka melihat kau tertawa tapi kau justru jarang mau tertawa."
Pho Ang-soat berkata halus.
"Aku akan sering tertawa kepadamu, cuma sekarang ...."
"Sekarang belum saatnya kau tertawa?"
Pho Ang-soat manggut-manggut, tiba-tiba dia merubah pokok pembicaraan.
"Kenapa orang itu tidak datang?"
Seolah-olah dia ingin selalu menyembunyikan perasaan hatinya supaya orang selalu menganggap dirinya seorang yang kaku dan dingin. Cui-long menghela napas dengan kecewa, katanya.
"Jangan kuatir, kukira dia pasti datang."
"Menurut pendapatmu, orang macam apa dia sebenarnya?"
"Kukira dia pasti musuh besar Lok Siau-ka, setelah tahu Lok Siau-ka berada di Pek-hun-ceng, masakah dia tidak akan menyusulnya ke sana?"
Pho Ang-soat mengangkat kepala, matanya memandang jauh ke alam yang masih tertutup kabut tebal, mulutnya menggumam.
"Hari ini sudah tanggal 15 bulan 9, sebetulnya peristiwa apa yang bakal terjadi? ...."
Angin pagi sepoi-sepoi, sayup-sayup tiba-tiba terdengar kumandang nyanyian yang mendatangi semakin dekat dan keras."
Darah orang-orang gagah takkan berhenti mengalir, Kepala musuh tak habis dibunuh, Kepala boleh terpenggal, darah boleh mengalir, Dendam kesumat tiada akhir.....
oo Di tengah kesunyian pagi nan dingin ini.
kedengarannya nyanyian ini amat merawankan hati.
"Dia datang!"
Kata Cui-long.
"Ya, tepat pada waktunya."
"Perlukah kita menyembunyikan diri dulu?"
Tanya Cui-long.
"Selamanya aku tidak lari, tidak pernah menyembunyikan diri pula."
Terdengar seeorang bergelak tawa di kejauhan, serunya.
"Bagus, sungguh laki-laki sejati yang tidak pernah lari dan tidak sudi bersembunyi."
Cui-long tertawa getir, katanya lirih.
"Tajam benar kuping orang ini."
Belum habis kata-katanya, tampak laki-laki gede ini sudah melangkah mendatangi, cepat sekali orang sudah tiba di depan mereka, topi rumput yang bolong itu masih dipakai di atas kepalanya, kini tangannya ketambahan sebuah holo (buli-buli) berisi arak, katanya sambil mengawasi Pho Ang-soat.
"Ternyata memang kau, memang sudah kuduga kau pasti akan menungguku di sini."
"Kau tahu?"
"Kalau aku tidak tahu, siapa yang tahu?"
Oo Sambil menengadah dia dekatkan mulut buli-buli ke mulutnya terus menenggaknya beberapa teguk, tiba-tiba dia menarik muka dan membentak bengis.
"Aku sudah berada di sini, kenapa kau tidak lekas turun tangan?"
"Turun tangan?"
"Sudah tentu menyerang dengan golokmu?"
"Kenapa harus menyerang dengan golok?"
"Untuk memenggal batok kepalaku."
"Kenapa aku harus memenggal kepalamu?"
"Orang she Si malang melintang di dunia, betapa banyak manusia yang kubunuh, memangnya siapa yang tidak menginginkan batok kepalaku ini?"
"Aku tiada niat!"
Ujar Pho Ang-soat. Laki-laki gede itu tertegun.
"Bahwasanya aku tidak kenal kau."
"Musuh orang she Si tersebar di segala pelosok dunia, mereka yang kenal diriku sudah kubunuh bersih, yang bisa meluruk kemari hendak membunuh aku memangnya mereka yang belum kukenal."
"Jadi kau selalu menunggu orang datang untuk membunuh kau?"
"Tidak salah!"
"Sayang sekali, kali ini kau pasti kecewa."
"Bukankah kau menungguku di sini untuk membunuhku?"
"Aku sudah bersumpah untuk membunuh orang, aku tidak perlu menunggu."
"Tidak perlu menunggu?"
"Aku sudah pernah menunggu sekali."
"Waktu itu kau tertipu?"
"Waktu itu aku memang tidak perlu menunggu."
Laki-laki gede itu tiba-tiba menghela napas, ujarnya.
"Memang tidak salah ucapanmu, kesempatan untuk membunuh orang memang hanya sekejap mata saja dan terus berlalu, kalau menyia-nyiakan kesempatan baik itu memang harus disayangkan, oleh karena itu sekali-kali jangan kau menunggu kesempatan untuk menunggu musuh."
"Oleh karena itu bila kau musuhku, kemarin malam aku sudah membunuh kau."
"Oleh karena itu aku bukan musuhmu?"
"Bukan."
Laki-laki gede itu tergelak-gelak, ujarnya.
"Agaknya nasibku masih baik, agaknya menjadi musuhmu bukan suatu hal yang harus dibuat gembira."
"Ya, memang bukan."
"Kalau menjadi temanmu?"
"Aku tidak punya teman."
"Hah, sampai pun Si Toa-han juga tidak setimpal menjadi temanmu?"
"Si Toa-han?"
"Aku inilah Si Toa-han (Si si gede)."
"Aku tetap tidak mengenalmu."
"Kau tidak ingin kenal dengan aku?"
"Aku tidak ingin."
"Wah susah, bukan saja tidak ingin batok kepalaku, juga tidak mau jadi temanku, jarang kulihat laki-laki macammu ini."
"Memangnya jarang ditemukan."
"Lalu apa yang kau inginkan?"
"Hanya ingin mengikuti keretamu, pergi ke Pek-hun-ceng."
"Begitu saja?"
"Ya, begitu saja."
"Baik, silakan naik kereta."
"Aku tidak naik kereta."
Si Toa-han melengak, tanyanya.
"Kenapa tidak mau naik kereta?"
"Karena aku tidak punya lima puluh tahil untuk membayar ongkosnya."
"Jadi kau hendak mengintil di belakang kereta saja?"
"Kau boleh naik keretamu, aku akan jalan kaki saja, memangnya kita tiada sangkut-paut."
Si Toa-han mengawasi mukanya yang pucat, goloknya yang hitam gelap, tak tahan dia menghela napas, ujarnya.
"Kau memang orang aneh, malah lebih aneh dari aku."
Memang Si Toa-han sendiri pun seorang aneh.
oo BAB 29.
WANITA CANTIK BERHATI BERBISA Cuaca sudah terang benderang.
Sang surya yang baru terbit laksana golok membelah kabut tebal yang halus laksana kain paris yang halus lembut, kehidupan jiwa di jagat raya mulai siuman dan bekerja kembali.
Si anak muda kusir kereta itu masih belum bangun dari dengkurnya.
Si Toa-han maju mendekat dengan langkah lebar, sekali raih dia jinjing badan orang serta berseru keras.
"Lekas bangun, hayo berangkat ke Pek-hun-ceng."
Anak muda itu kucek-kucek matanya yang masih sepat, katanya mengunjuk tawa.
"Toaya silakan naik ke atas kereta."
"Toaya tidak naik kereta."
Anak muda itu tercengang, tanyanya.
"Kenapa tidak naik kereta?"
"Karena Toaya senang!"
Sahut Si Toa-han.
oo Masih amat muda usia anak muda ini, tapi dia sudah tujuh tahun melakukan pekerjaan ini sehari-hari, selama ini belum pernah dia kebentur dengan laki-laki seaneh ini.
Uang sudah dibayar untuk ongkos perjalanan naik kereta, tapi dia malah rela berjalan di belakang kereta.
Tapi asal orang yang mengeluarkan uang suka begitu, umpama dia merangkak di belakang kereta, tiada orang yang mempedulikan dirinya.
Meski dalam hati si anak muda merasa heran dan tidak mengerti, tapi dia pun tidak ambil peduli lagi.
Begitulah segera dia jalankan keretanya di depan, di belakang kereta ikut berjalan tiga orang, laki-laki gede laksana malaikat galak, seorang timpang yang bermuka pucat, orang ketiga adalah perempuan muda yang cantik manis.
Rombongan aneh yang berjalan berjajar seperti mereka, tidak heran bila menimbulkan perhatian dan menjadi pandangan aneh orang-orang di pinggir jalan.
Tapi Si Toa-han beranjak sambil membusungkan dada, bagaimana orang memandang dirinya, sedikit pun dia tidak ambil di hati.
Sebaliknya pikiran Pho Ang-soat amat kalut, aku berjalan menurut arahku sendiri, hakikatnya dia tidak pernah melirik kepada orang lain Demikian pula Cui-long seolah-olah tidak melihat orang lain, di depan Pho Ang-soat bahwasanya tidak pernah dia melirik orang lain.
Anak muda yang pegang kendali di atas kereta diam-diam menggerutu, sungguh dia tidak habis mengerti kenapa ketiga orang ini hendak menuju ke Pek-hun-ceng.
Pek-hun-ceng bukan tempat yang harus didatangi oleh orang-orang aneh seperti mereka.
Sebetulnya tempat apakah Pek-hun-ceng itu?
Setelah menenggak araknya, tiba-tiba Si Toa-han memburu beberapa langkah ke depan mendekati kereta seraya berteriak.
"Kita bukan hendak buru-buru melawat orang mati, apa tidak bisa kau perlambat jalan keretamu?"
"Bisa, sudah tentu bisa,"
Sahut si anak muda menyengir tawa. Kalau yang menyewa kereta tidak terburu-buru, sudah tentu dia lebih tidak tergesa-gesa. Akhirnya Si Toa-han kendorkan langkah kakinya, katanya.
"Pek-hun-ceng tidak jauh dari sini, yang terang dalam satu hari kita bisa tiba di sana "
Ucapannya ini agaknya dia tujukan kepada Pho Ang-soat, tapi Pho Ang-soat anggap seperti tidak mendengar. Akhirnya Si Toa-han sejajar dengannya, tanyanya.
"Entah untuk apa kau hendak pergi ke Pekhun-ceng?"
Pho Ang-soat tetap bungkam seperti tidak mendengar.
"Kau kenal Wan Chiu-hun?"
Tanya Si Toa-han.
"Siapa itu Wan Chiu-hun?"
Akhirnya Pho Ang-soat balas bertanya.
"Wan Chiu-hun adalah Cengcu Pek-hun-ceng."
"Aku tidak kenal."
Si Toa-han tertawa, ujarnya.
"Dengan Si Toa-han saja kau tidak kenal, sudah tentu tidak kenal siapa sebenarnya Wan Chiu-hun itu."
"Kau kenal dia?"
"Bagaimana aku bisa kenal dengan si kolot tua itu?"
Lama Pho Ang-soat berdiam diri, tiba-tiba bertanya.
"Kau hanya kenal Lok Siau-ka?"
"Darimana kau tahu aku hanya kenal dia?"
Tiba-tiba Si Toa-han geleng-geleng kepala, sambungnya.
"Sudah tentu kau tahu, siapa pun akan menduga bahwa aku ke sana memang hendak mencarinya."
"Untuk apa kau cari dia?"
"Tidak untuk apa-apa, cuma ingin mengiris batok kepalanya, sekali tendang memasukkan mayatnya ke dalam selokan."
"Jadi dia musuhmu?"
"Sebetulnya bukan,"
Ujar Si Toa-han, setelah menenggak araknya, dia menambahkan.
"Sebetulnya dia adalah teman baikku."
"Teman baik?"
Si Toa-han mengertak gigi, katanya.
"Ada kalanya seorang teman lebih menakutkan dari seorang musuh, terutama teman seperti dia itu."
"Kau pernah ditipu olehnya?"
"Seluruh harta milik keluargaku telah kuserahkan kepadanya, tapi dia malah tinggal minggat, membawa semua harta dan perempuanku."
Pho Ang-soat mengerut kening, katanya.
"Kelihatannya dia bukan orang seperti apa yang kau tuduhkan."
"Justru karena tampangnya tidak mirip orang jahat, maka aku mau percaya kepadanya."
"Ada kalanya teman memang jauh lebih menakutkan dari seorang musuh,"
Pho Ang-soat menegas.
"Selamanya kau tidak punya teman?"
"Tidak."
Si Toa-han menghela napas, kembali dia menenggak arak sepuasnya. Lama sekali tiba-tiba Pho Ang-soat buka suara.
"Sebetulnya kau tidak usah mengiringi aku berjalan."
"Memang tidak perlu, sebetulnya kita bisa naik kereta bersama."
Pho Ang-soat tidak banyak komentar. Setelah menempuh perjalanan beberapa jauh, tiba-tiba Si Toa-han angsurkan buli-buli araknya sambil berkata.
"Kau minum arak?"
"Aku tidak pernah minum arak "
"Selamanya tidak pernah minum arak?"
"Sejak lahir tidak pernah."
"Berjudi?"
"Selamanya tidak pernah berjudi dengan uang."
"Apa yang suka kau lakukan?"
"Apa pun tidak suka."
"Bila seseorang tidak mempunyai sesuatu kesenangan, apa faedahnya hidup?"
"Memangnya aku hidup bukan untuk kesenangan."
"Lalu untuk apa kau hidup?"
"Untuk membalas dendam "
Mengawasi muka orang yang pucat, timbul rasa ngeri pada lubuk hatinya, katanya tertawa getir.
"Agaknya menjadi musuhmu memang bukan suatu hal yang menyenangkan."
Pho Ang-soat menunduk mengawasi goloknya, mulutnya terkancing Bercahaya sorot mata Si Toa-han, katanya mencari tahu.
"Apa kau juga kenal Lok Siau-ka?"
"Aku hanya pernah melihatnya."
"Bagaimana kau bisa melihatnya?"
"Dia hendak membunuhku."
"Akhirnya bagaimana?"
"Akhirnya dia tinggal pergi malah "
"Kau biarkan dia pergi?"
"Aku memang tidak bermaksud membunuhnya ... yang ingin kubunuh hanya seorang."
"Musuhmu?"
Pho Ang-soat manggut-manggut.
"Musuhmu hanya satu orang?"
"Sekarang aku hanya tahu satu saja."
"Agaknya nasibku lebih baik dari kau."
Setelah menenggak araknya, mulutnya bernyanyi-nyanyi kecil melagukan nyanyian yang merawankan hati itu. Tiba-tiba Pho Ang-soat menghela napas, katanya.
"Sebetulnya nasibmu lebih baik dari aku."
"Kenapa?"
"Kalau ada musuh banyak yang bisa kau bunuh, sungguh merupakan uatu hal yang menggembirakan, sayang aku ...."
Sorot matanya memancarkan derita yang tidak terperikan, katanya rawan.
"Sayang sekali musuh satu-satunya yang kucari itupun tidak bisa kutemukan "
"Siapakah musuhmu yang satu itu?"
"Kau tidak perlu tahu."
"Bukan mustahil aku bisa bantu kau menemukan dia."
Pho Ang-soat ragu-ragu, dia mempertimbangkan sekian lamanya. Akhirnya berkata.
"Dia she Be."
"Be apa?"
"Be Khong-cun."
"Majikan Ban-be-tong?"
Tanya Si Toa-han terbelalak.
"Kau kenal dia?"
Si Toa-han geleng-geleng kepala, tidak menjawab dia malah menggumam.
"Tak heran kau hendak meluruk ke Pek-hun-ceng."
"Ada hubungan apa Pek-hun-ceng dengan Ban-be-tong?"
"Sebetulnya tidak ada hubungan apa-apa."
"Sekarang ada?"
"Memangnya kau tidak tahu hari apa sekarang?"
"Darimana aku bisa tahu?"
"Jadi kau tidak menerima undangan?"
"Undangan apa?"
"Undangan pernikahan!"
"Siapa yang menyebar undangan ini?"
"Sudah tentu Pek-hun-ceng, hari ini adalah hari pernikahan Siau-cengcu mereka,"
Tutur Si Toahan.
"Aku sendiri tidak kenal dia, tapi mempelai perempuannya, kau tentu mengenalnya."
"Siapa mempelai perempuannya?"
"Ialah putri Be Khong-cun, kabarnya bernama Be Hong-ling."
Seketika berubah roman muka Pho Ang-soat.
"Kuduga Be Khong-cun pasti juga hadir di dalam pernikahan putrinya di Pek-hun-ceng."
Belum habis dia berkata, tahu-tahu Pho Ang-soat sudah melesat ke depan, melompat naik ke atas kereta.
Begitu ilmu Ginkangnya dikembangkan, gerak-geriknya secepat anak panah, lincah dan cekatan, sekali-kali orang tidak akan menyangka bila dia adalah seorang timpang.
Mengawasi gerak-geriknya, sorot mata Si Toa-han mengandung perhatian yang serius, sesaat kemudian dia baru menghela napas, seraya berseru memuji.
"Memang hebat Ginkangnya."
Saat itu Pho Ang-soat sudah menerjang ke depan kereta, sekali raih dia sambar cemeti di tangan anak muda itu.
"Tar!" , dengan keras dia melecut pantat kuda. Setiap kali mendengar kabar atau jejak Be Khong-cun, seketika dia lupa segalanya. Kereta itu dibedal kencang sebentar saja sudah pergi jauh meninggalkan kepulan debu panjang di belakangnya, Si Toa-han dan Cui-long berdua ditinggal pergi begitu saja. Cui-long menundukkan kepala, tak tertahan air mata sudah hampir bercucuran. Mendadak Si Toa-han tertawa mengawasinya, katanya.
"Jangan kuatir, dia tidak akan meninggalkan kau seorang diri."
Sembari bicara tiba-tiba dia gerakkan kakinya melangkah lebar enam-tujuh langkah mengejar di belakang kereta, dimana tangannya diulur, dia menarik bagasi kereta.
Kuda yang menarik kereta seketika meringkik panjang dan berdiri dengan kedua kaki belakangnya, secara kekerasan kereta yang berlari kencang ini berhasil dia tahan dan tarik secara mentah-mentah, setengah langkah pun tidak bisa maju lagi.
Si Toa-han berpaling kepada Cui-long, katanya tertawa.
"Silakan naik "
Cui-long akhirnya mengangkat kepala tersenyum kepadanya, waktu lewat di samping orang, tiba-tiba dia berkata lirih.
"Tidak pantas perempuan itu meninggalkan kau lari ikut Lok Siau-ka, kau adalah seorang Kuncu."
Si Toa-han menghela napas, ujarnya.
"Sayang sekali pada zaman seperti ini, Kuncu di hadapan perempuan sudah tidak lagi terpandang."
Oo Cuaca sudah terang berderang.
Sang Surya sudah menyinari segala penjuru dunia.
Hari ini adalah tanggal 15 bulan 9.
oo Jalan raya yang menuju ke Pek-hun-ceng penuh sesak dengan hilir mudiknya kendaraan kereta dan kuda-kuda yang ditunggangi anak-anak muda yang berpakaian perlente.
Biasanya kuda untuk menarik kereta memang bukan kuda yang dapat berlari cepat, tapi karena dihajar dan dipecut, sekarang dia sudah kerahkan setaker tenaganya.
Pho Ang-soat sudah mengembalikan cemeti kepada si anak muda dan duduk kembali di belakang, tangannya menggenggam kencang gagang goloknya.
Memang kedua tangannya itu tidak cocok untuk memegang kendali.
"Kenapa tidak kau menyimpan tenaga untuk menghadapi Ban-be-long-cu!"
Pho Ang-soat diam-diam saja, mukanya yang pucat bersemu hijau mengkilap.
Cui-long duduk di sampingnya, mengawasinya dengan sorot kuatir dan masgul Sementara Si Toa-han masih sibuk menenggak araknya, gumamnya, 'Aku mengharap Lok Siauka dan Be Khong-cun sama-sama berada di sini "Kalau begitu kurangilah minummu,"
Kata Pho Ang-soat.
"Kenapa?"
"Ikan yang mabuk takkan bisa membunuh orang, terutama melawan orang seperti Lok Siauka."
"Apakah sebelum membunuh orang hanya boleh makan kacang?"
Sedikitnya kacang lebih baik daripada arak."
"Dalam hal apa kacang lebih baik dari arak."
"Dalam hal apa saja lebih baik."
Bila mulut seseorang sedang mengunyah, memang membikin semangat orang kendor, sebaliknya kacang memang makanan yang menambah vitamin dan menyehatkan badan, menambah tenaga dan gairah orang.
Mata Si Toa-han melotot, seperti marah, namun dia menghela napas, katanya.
"Agaknya kita memang harus makan kacang, naga-naganya kita terlalu tegang sendiri."
Anak muda yang pegang kendali tiba-tiba berpaling ke belakang, katanya tertawa.
"Sekarang kita sudah menuju ke arah Pek-hun-ceng dari sini sudah terlihat perkampungan Pek-hun-ceng di depan sana."
Si Toa-han mengulurkan leher memandang ke tempat jauh. Katanya kemudian dengan mengerut kening.
"Agaknya Pek-hun-ceng merupakan perkampungan yang tidak kecil!"
"Keluarga Wan adalah keluarga terkaya dan berkuasa di daerah ini, setiap kali menyinggung tuan muda keluarga Wan, delapan ratus li sekitar daerah ini tiada yang tidak mengenalnya."
Si Toa-han segera mendelik, bentaknya bengis.
"Toayamu justru tidak tahu barang macam apa tuan muda dari keluarga Wan itu."
Melihat dirinya dipelototi, seketika kuncup nyali si anak muda, selanjutnya dia tidak berani banyak mulut lagi.
Tatkala itu kereta sudah memasuki jalan pegunungan, kedua sisi jalan dipagari pepohonan yang rindang, jarang kelihatan bayangan orang di sepanjang jalan ini.
Tamu yang diundang agaknya sudah berkumpul semua di Pek-hun-ceng.
"Apakah Be Khong-cun betul-betul berada di sini?"
Pho Ang-soat bertanya-tanya dalam hati, otot hijau di punggung tangannya sampai merongkol keluar, maklumlah kalau dia tidak pegang kencang gagang goloknya, jari-jarinya mungkin bisa gemetar.
Diam-diam Cui-long memegang tangannya, katanya halus.
"Kalau dia berada di sini, takkan bisa lolos, kenapa kau tegang dan gugup?"
Kelihatannya Pho Ang-soat seperti tidak mendengar ucapannya, matanya melotot memandang lurus ke depan, mengawasi golok di tangannya.
Si Toa-han pun sedang mengawasi goloknya itu, golok yang bergagang hitam dan bersarung hitam pula.
Itulah golok biasa yang tiada bedanya dengan golok umumnya, tapi bila golok ini tergenggam di jari-jari Pho Ang-soat, maka golok itu rasanya seperti membawa kegaiban.
Dengan menghela napas, Si Toa-han bertanya.
"Bolehkah aku melihat golokmu?"
"Tidak boleh."
"Kenapa?"
"Tiada orang yang pernah melihat golokku."
"Kalau aku ingin melihatnya?"
"Kalau begitu harus ada orang yang mampus, kau atau aku!"
Sedikit berubah rona muka Si Toa-han, katanya dengan tertawa.
"Pedang Lok Siau-ka sebaliknya tidak takut dilihat orang, pedangnya itu memang tidak punya sarung."
"Sembarang waktu boleh kau melihat golokku."
Sorot matanya seperti memandang ke tempat jauh, katanya lebih lanjut dengan tandas.
"Sebetulnya golok ini memang selalu membawa sebal dan sial, siapa saja yang pernah melihatnya pasti tertimpa malang."
Berubah pula air muka Si Toa-han, ingin bertanya lagi, tapi pada saat itu pula kereta tiba-tiba berhenti.
Begitu dia berpaling, maka dilihatnya sesuatu benda kecil berkilauan disorot sinar matahari, itulah sebutir kacang.
Kacang yang sudah dikuliti melayang di tengah udara.
Kacang itu melayang jatuh, masuk ke dalam mulut Lok Siau-ka.
Dengan kemalas-malasan Lok Siau-ka berdiri di tengah jalan, pedangnya pun berkilauan ditimpa sinar matahari.
Kontan Si Toa-han berjingkrak bangun, atap kereta sampai disundulnya pecah berhamburan.
Lok Siau-ka menghela napas, katanya.
"Untung kereta ini tidak kuat, kalau tidak, bukankah kepalamu yang bocor dan berlubang?"
Bengis suara Si Toa-han.
"Bukankah kau memang ingin kepalamu bocor?"
"Coba kau pikir-pikir dulu, keadaan itu memang tidak jelek, kau tuang arak ke dalam lubang kepalamu, memang lebih enak dan gampang daripada kau tuang arakmu ke dalam mulut."
Si Toa-han berjingkrak gusar, serunya.
"Masih berani kau membanyol di hadapanku? Masih berani kau menemui aku?"
"Kenapa aku tidak berani? Memangnya aku sedang menunggumu disini."
"Kau tahu kalau aku hendak kemari?"
"Banyak orang sedang heran, kenapa kau tidak duduk di atas kereta, aku sebaliknya tidak heran, umpama kau gendong kereta ini di punggungmu, aku tidak akan heran,"
Ujar Lok Siau-ka tertawa.
"Memangnya orang seperti tampangmu apa saja yang bisa melakukan?"
"Dan kau? Kerja apa pula di dunia ini yang pantang kau lakukan?"
"Pekerjaan orang goblok aku tidak sudi melakukan."
"Sudah tentu kau tidak goblok, aku inilah yang goblok, ternyata aku memandang laki-laki seperti tampangmu sebagai teman baik."
"Memangnya aku adalah teman baikmu."
"Kau ini temanku? Mana delapan puluh ribu uang perak yang kuserahkan kepadamu?"
"Sudah kugunakan."
"Apa?"
Si Toa-han berjingkrak.
"Kau gunakan sampai habis?"
"Kita toh teman baik, sebagai teman memang tidak perlu memandang harta milik siapa punya, kenapa uangmu tidak boleh kugunakan?"
"Kau ... cara bagaimana kau gunakan uang sebanyak itu?"
"Kuberikan kepada orang."
"Kau berikan kepada siapa?"
"Sebagian besar kuberikan kepada rakyat jelata yang mengungsi dari banjir sungai Huang-ho, sebagian lagi kuberikan kepada para yatim piatu dan janda-janda yang suaminya kau bunuh."
Tanpa memberi kesempatan Si loa-han bicara, lekas dia menyambung.
"Uang itu asal-usulnya tidak genah, tapi aku menggunakannya secara gamblang demi kepentingan masyarakat lagi, untuk ini pantas kalau kau berterima kasih kepadaku."
Si Toa-han menjublek sampai lama, tiba-tiba dia bertanya dengan keras.
"Lalu perempuanku, memangnya juga kau berikan kepada orang lain?"
"Perempuanmu sih tidak kuberikan kepada orang."
"Lalu dimana dia sekarang?"
"Aku sudah membunuhnya."
Si Toa-han berjingkrak gusar, teriaknya.
"Apa? Kau membunuhnya?"
"Aku membunuh orang memangnya bukan kejadian yang harus dibuat heran, kenapa kau ribut tak keruan?"
"Kau ... kenapa kau membunuhnya?"
"Karena dia ingin mencuri orang."
"Hah, mencuri orang, mencuri laki-laki? Siapa dia?"
"Aku!"
Si Toa-han melongo dan melenggong Kata Lok Siau-ka.
"Walau dia hendak mencuri hatiku, tapi dia tidak berhasil, tapi aku tidak berani tanggung laki-laki lain semua seperti diriku, aku pun tidak berani tanggung kalau perempuanmu itu tidak akan mencuri laki-laki lain, oleh karena itu terpaksa kubunuh dia, hanya dengan cara ini aku bisa menolong kesulitanmu."
"Memangnya kau tidak bisa menggunakan cara lain?"
"Cara lain aku tidak bisa, aku hanya bisa membunuh orang."
Si Toa-han menjublek lagi sekian lamanya, mendadak dia terbahak-bahak dengan menengadah, serunya.
"Bagus, bagus sekali kau membunuhnya?"
"Memangnya tepat aku membunuhnya."
"Setiap kali membunuh kau memang menyenangkan hati orang juga."
"Menghamburkan uang aku pun bisa menyenangkan hati orang."
"Benar, memang menyenangkan, mau tidak mau aku harus mengagumi dan memuji kau."
"Memang aku tahu kau pasti akan kagum dan memuji aku."
"Arakku ini lumayan, nah minumlah."
"Kacangku inipun enak, kebetulan untuk teman minum."
Keduanya tertawa terbahak-bahak berhadapan, yang satu menarik pundak, yang lain menggengam kencang tangannya.
Anak muda kusir kereta itu sampai melongo dan terkesima mengawasi tingkah-laku mereka, belum pernah selama hidup dia melihat dua orang teman seaneh dan selucu ini.
Tiba-tiba Si Toa-han bertanya pula.
"Tapi kenapa tidak kau tunggu aku pulang terus tinggal pergi?"
"Aku buru-buru hendak membunuh orang."
"Membunuh siapa?"
"Orang yang barusan berada dalam keretamu."
"Barusan? ...."
Waktu Si Toa-han berpaling, baru sekarang dia melihat Pho Ang soat yang tadi di atas kereta kini sudah tidak kelihatan bayangannya, tinggal Cui-long seorang yang masih duduk, tapi sekarang tidak tertunduk lagi, malah dengan tajam dia mengawasi Lok Siau-ka.
"Mana lakilakimu?"
Tanya Si Toa-han.
"Dia bukan laki-lakiku, karena dia tidak pernah memandang aku ini perempuannya, boleh dikata selama ini dia tidak memandang aku sebagai manusia."
"Mungkin kau salah menilainya,"
Kata Si Toa-han "Aku tidak salah ... selamanya aku tidak akan keliru menilai seorang laki-laki."
Waktu bicara matanya tetap mengawasi Lok Siau-ka, tiba-tiba dia menyeringai dingin, katanya pula.
"Sekarang akhirnya aku bisa melihat juga laki-laki macam apa kau sebenarnya."
"Aku laki-laki macam apa?"
"Laki-laki yang tidak punya nyali, laki-laki penakut."
Lok Siau-ka mandah tertawa.
"Jika kau punya keberanian, kenapa kau tidak berani mengawini Be Hong-ling?"
"Kenapa aku harus mengawini dia?"
"Karena aku tahu dia pergi ikut kau."
"Kau tahu?"
"Aku melihat dia pergi mengejar kau, aku tahu dia pasti berhasil menyandakmu."
"Agaknya tidak sedikit urusan yang kau ketahui."
"Sayang sekali sedikit sekali urusan yang diketahuinya, maka dia jatuh hati kepadamu."
"Kau kira dia memang mencintai aku?"
"Kalau tidak mencintai kau. buat apa dia mengejarmu."
"Mungkin hanya karena dia ingin aku membunuh orang bagi kesenangan hatinya."
"Laki-laki membunuh orang demi seorang perempuan bukan suatu kejadian yang harus dibuat heran, memangnya kau tidak pernah membunuh orang?"
"Apakah kau pun ingin aku membunuh Pho Ang-soat?"
"Kau berani melaksanakan?"
Lok Siau-ka tertawa dingin.
"Justru karena kau tidak berani, maka kau mencari jalan memberikan dia kepada orang lain."
"Kau kira aku yang tidak sudi mengawini dia?"
"Jika dia mengejarmu tanpa menghiraukan segalanya, bagaimana mungkin tidak mau kawin dengan kau?"
"Dalam hal ini sudah tentu ada kisahnya."
"Kisah apa?"
"Aku membawanya ke Pek-hun-ceng, dia bertemu dengan Siau Wan,tiba-tiba dia merasa Siau Wan lebih baik dari aku, maka dia lantas jatuh hati kepada Siau Wan, aku ditendangnya pergi."
Sampai di sini Lok Siau-ka menghela napas, katanya dengan menyengir kecut.
"Cerita ini tidak berbelit-belit dan tidak perlu dibuat heran, tidak jarang terjadi peristiwa seperti ini "
"Kenapa kau membawanya ke Pek-hun-ceng?"
"Karena aku sering pergi datang ke tempat itu."
"Mungkin kau hanya ingin berusaha membebaskan diri dari kuntitannya, maka sengaja kau membawanya ke sini, sengaja kau memberi peluang kepadanya untuk bertemu dengan Siau Wan."
"O, menurut rekaanmu begitu."
"Karena sebenarnya kau takut berhadapan dengan Pho Ang-soat, takut pedangmu tidak lebih cepat dari goloknya."
"O, kau kira aku takut mati "
"Tapi sekarang tentunya kau tidak perlu takut kepadanya lagi, karena dia pasti tidak akan mencarimu, sekarang sedikit pun kau tiada sangkut-paulnya dengan orang-orang Ban-be-tong."
"Memangnya sejak mula aku tiada hubungan apa-apa dengan mereka."
"Tapi sekarang Pek-hun-ceng sudah terikat besanan dengan Ban-be-long"
"Bukankah perjodohan ini memang setimpal?"
"Dan lagi dia tentu tidak tahu bahwa kaulah yang membawa Be Hong ling kemari."
"Memang tidak banyak persoalan yang dia ketahui."
"Oleh karena itu dia pun merasa Wan Chiu-hun adalah salah satu dari musuh-musuhnya."
"Ya, kemungkinan."
"Maka kemungkinan sekarang dia sudah membunuh Wan Chiu-hun."
"Memang mungkin."
"Sedikit pun kau tidak ambil perhatian?"
"Kenapa aku harus memperhatikannya? Peduli dia yang membunuh Wan Chiu hun atau Wan Chiu hun yang membunuhnya, memang apa sangkut-pautnya dengan diriku?"
"Lalu apa yang menjadi perhatianmu?"
"Aku hanya memperhatikan diriku sendiri."
Sahut Lok Siau-ka tertawa.
"Seperti juga kau, kapan kau pernah memperhatikan orang lain?"
Cui-long menggigit bibir, katanya pelan-pelan.
"Tapi aku sungguh amat memperhatikannya."
"Memperhatikan Pho Ang-soat?"
"Kau tidak percaya?"
Tiba-tiba biji matanya yang elok itu berlinang air mata, katanya pilu.
"Sudah tentu kau tidak percaya, ada kalanya aku sendiri pun tidak percaya, kenapa aku bisa berubah amat memperhatikan dirinya."
"Di kala air mata berlinang, keadaanmu sungguh amat mempesonakan, sayang sekali aku hanya suka perempuan yang bisa tertawa, bukan yang suka menangis."
Cui-long mengkertak gigi, tiba-tiba dia menubruk turun dari atas kereta entah kapan dia sudah mengeluarkan sebilah pisau, langsung dia menusuk ke dada orang.
Tapi cepat sekali tangannya sudah kena ditangkap.
Lok Siau-ka tersenyum, dengan kencang dia pegang tangan orang, katanya.
"Membunuh orang sebetulnya tidak usah kau menggunakan pisau, perempuan seperti kau, kenapa harus menggunakan pisau untuk membunuh orang?"
"Ting" , pisau itu jatuh ke atas tanah. Cui-long tiba-tiba menjatuhkan diri ke dalam pelukannya, pecah tangisnya tergerung-gerung. Barusan dia hendak membunuhnya, tapi kini dia rebah di dada orang, seolah-olah sudah menyerahkan seluruh raganya kepadanya. Karena Lok Siau-ka kenyataan lebih kuat lebih perkasa dari dirinya. Perempuan memang hanya menghormati dan mengagumi laki-laki yang lebih kuat, lebih perkasa dari dirinya. Dari samping Si Toa-han mengawasi mereka dingin-dingin saja, tiba-tiba tertawa, ujarnya.
"Barusan agaknya dia ingin benar membunuhmu."
"Memang kenyataan."
"Tapi sekarang ...."
"Sekarang dia sudah tahu takkan bisa membunuhku."
"Oleh karena itu dia sekarang sudah siap untuk kau garap!"
"Apa? Garap?"
"Masakah kau tidak tahu apa yang kumaksud dengan 'Garap' ?"
Sudah tentu Lok Siau-ka tahu. Setiap laki-laki pasti tahu.
"Begitulah perempuan, kalau dia tidak berhasil menggarapmu, kau boleh segera menggarapnya."
Lok Siau-ka menunduk mengawasi Cui-long dalam pelukannya.
Jelas Cui-long sudah mendengar seluruh percakapan mereka, tapi sedikit pun dia tidak memperlihatkan reaksi apa-apa.
Badannya terasa lembut, gemulai dan hangat.
Berkata pula Si Toa-han dengan tertawa.
"Pho Ang-soat adalah bocah yang belum tahu main asmara, perempuan ini agaknya hanya bisa dilayani oleh laki-laki setaraf kita ini."
Lok Siau-ka tiba-tiba berkata dingin.
"Memang dia sebetulnya adalah pelacur."
Mendadak kedua tangannya merenggut payudaranya, meremasnya dengan keras.
Tapi Cui-long tetap diam saja tidak menunjukkan reaksi apa-apa.
Mengawasi muka orang, sorot mata Lok Siau-ka tiba-tiba menampilkan rasa muak dan benci, sekali renggut dia jambak rambutnya, sebelah tangan yang lain pulang pergi menempeleng pipinya.
Kulit mukanya yang pucat itu seketika merah bertapak jari-jari tangan, darah meleleh dari ujung bibirnya.
Akan tetapi sorot matanya malah bersinar terang, mengawasi Lok Siau-ka, mendadak dia tertawa lebar, serunya.
"Ternyata kau adalah ...."
Lok Siau-ka tidak memberi kesempatan mulutnya mengoceh, kembali telapak tangannya melayang menampar mulutnya.
Cui-long kontan terlempar jatuh dan terguling ke bawah kereta, meringkuk lemas tak bergerak lagi.
Si Toa-han menarik napas, katanya.
"Tidak pantas kau memukulnya, kau harus ...."
"Seharusnya aku telah merenggut jiwanya."
"Kenapa? Karena dia mencuri laki-laki lain? Tapi Pho Ang-soat kan bukan temanmu, apalagi dia sendiri memangnya seorang pelacur "
"Pelacur tidak pantas dibunuh, di dunia ini masih ada perempuan yang lebih rendah martabatnya dari pelacur."
"Perempuan macam apa?"
"Pelacur pembawaan sejak lahir."
"Memangnya kau mengharap perempuan di seluruh dunia ini semuanya harus perawan tingting?"
"Buat apa kita berdiri di sini hanya mengobrol soal perempuan?"
"Kita harus kemana?"
"Melihat orang membunuh orang,"
Sikapnya menjadi bergairah, dia merasa melihat membunuh orang lebih baik daripada melihat perempuan.
"Membunuh orang? Siapa membunuh orang?"
"Kecuali Pho Ang-soat, siapa pula yang membunuh orang patut kita tonton?"
Sahut Lok Siau-ka tertawa.
"Tentunya kau pun ingin melihat betapa cepat gerakan golok Pho Ang-soat itu."
Kini muka Si Toa-han yang menampilkan mimik aneh, katanya tersenyum.
"Aku cuma mengharap dia jangan salah membunuh orang."
Oo BAB 30.
JAGO PEDANG PELINDUNG BUNGA Lok Siau-ka dan Si Toa-han sudah pergi, Cui-long masih meringkuk di bawah kereta, lemas tak bergerak.
Kusir kereta sejak tadi menyembunyikan diri di belakang kereta, mukanya pucat-pias karena ketakutan melihat adegan tadi, setelah melongo sekian lamanya baru bergegas dia maju menghampiri serta berjongkok menarik Cui-long keluar dari kolong kereta.
Dia mengira Cui-long pasti amat marah, penasaran dan tersiksa.
Siapa tahu dia justru sedang tertawa.
Selebar mukanya sudah merah menghijau karena tamparan keras tadi, darah masih meleleh dari ujung bibirnya, tapi sorot matanya penuh mengandung cemooh dan ejekan Anak muda itu melenggong.
Tiba-tiba Cui-long berkata.
"Tahukah kau kenapa dia memukulku?"
Anak muda itu geleng-geleng kepala.
"Karena dia sedang marah terhadap dirinya sendiri."
Si anak muda lebih tidak mengerti, tanyanya.
"Kenapa marah kepada dirinya sendiri?"
"Dia amat gegetun karena dirinya bukan laki-laki jantan, meski aku ini seorang perempuan, tapi dia hanya bisa melihat aku saja."
Si anak muda tetap tidak mengerti.
"Sekarang baru aku tahu, dia tidak lebih hanya seekor cacing."
"Cacing?"
"Kau belum pernah melihat cacing?"
"Sudah tentu aku pernah lihat."
"Bagaimana rupa cacing itu?"
"Lemas, dingin dan licin serta menjijik"
"Bukankah cacing tidak bisa keras?"
"Selamanya takkan bisa jadi keras."
"Nah, oleh karena itu dia adalah Cacing, di hadapan perempuan selama hidupnya anunya itu tidak akan bisa menegang keras."
Baru sekarang anak muda itu paham duduk persoalannya.
"Dia memang pelacur pembawaan sejak lahirnya" , teringat akan makian ini, serta melihat tubuh orang yang montok dan menggiurkan, mukanya nan molek ... jantung si anak muda menjadi berdegup keras, tiba-tiba dia memberanikan diri katanya megap-megap.
"Aku ... aku bukan cacing."
Cui-long tertawa manis. Waktu dia tertawa, sorot matanya malah menampilkan rasa duka dan derita, katanya halus.
"Menurut pandanganmu aku ini perempuan macam apa?"
Dengan muka merah si anak muda mengawasinya, katanya tergagap.
"Kau ... kau ... kau adalah perempuan yang amat cantik."
"Dan apa lagi?"
"Dan lagi ... dan lagi kau amat baik, baik ...."
Sungguh tak habis terpikir dalam benaknya dengan kata-kata muluk apa dia harus memuji.
"Apakah kau hendak meninggalkan aku seorang diri di sini?"
"Sudah tentu tidak,"
Sahut si anak muda dengan suara keras.
"Aku bukan laki-laki keparat seperti dia itu."
"Jadi laki-laki yang meninggalkan aku begitu saja adalah keparat?"
"Bukan saja keparat, dia memang bedebah, laki-laki pikun."
Mengawasi orang, lama kelamaan berlinang air mata Cui-long, lama sekali baru dia ulur tangannya pelan-pelan.
Jarinya nan lembut dan runcing halus.
Mengawasi jari-jari tangan yang putih halus laksana salju ini, si anak muda sampai terpesona.
"Lekas papah aku naik ke atas kereta,"
Kata Cui-long "Mau ... mau pergi kemana?"
Tanya si anak muda kebingungan "Terserah mau kemana, asal kau yang membawaku pergi,"
Kata Cui-long lembut, habis katakatanya tak tertahan air mata pun bercucuran. ^"^ "Apa benar hari ini keluarga mereka yang ada kerja?"
"Sudah tentu benar, kalau tidak, masakah mereka mengundang tamu begini banyak."
"Tapi kenapa muka semua hadirin tiada yang kelihatan riang gembira? Kelihatannya seperti melayat orang meninggal."
"Dalam hal ini tentu ada sebabnya."
"Sebab apa?"
"Sebetulnya hal itu merupakan rahasia, tapi sekarang sudah tidak bisa mengelabui kau lagi."
"Sebetulnya kenapa?"
"Orang-orang yang diundang semuanya sudah hadir hanya masih kurang seorang lagi."
"Siapa?"
"Seorang yang amat penting."
"Siapakah sebenarnya?"
"Mempelai laki-laki. Dua hari yang lalu dia pergi ke kota, hadir dalam undangan pernikahan orang, sebetulnya hari itu juga dia sudah pulang, tapi sampai sekarang dia justru masih belum kelihatan bayangannya "
"Kenapa?"
"Tiada yang tahu."
"Lalu dimana dia sekarang? Pergi kemana?"
"Tiada orang pernah melihatnya, mendadak dia menghilang."
"Aneh...."
"Memang aneh."
Oo Melihat para undangan dalam perjamuan pernikahan ini merengut dan menarik kening, semuanya seperti tegang dan tidak sabar, sungguh merupakan suatu kejadian yang tidak boleh dianggap aneh dan menarik.
Tapi Yap Kay justru tertarik oleh kejadian aneh ini.
Seolah-olah dia seperti memperoleh suatu pengalaman yang jarang terjadi dan sulit didapat, memang perjamuan pernikahan dalam suasana seperti sekarang jarang terlihat.
Dengan seksama dia memperhatikan setiap orang yang lewat dari depannya, dia tengah mereka-reka, entah berapa banyak di antaranya tengah kebat-kebit dan menguatirkan bagi keluarga Wan?
Ada raut muka orang yang amat serius, ada yang masgul, tapi mungkin karena perut mereka lapar dan ingin lekas-lekas makan minum dari hidangan yang disediakan.
Mungkin pula ada yang sedang menyesal, terasa kado yang mereka sumbangkan nilainya terlalu besar, terlalu banyak, tak setimpal dengan imbalan.
Akhirnya Yap Kay tertawa.
Ting Hun-pin duduk di sebelahnya, katanya berbisik.
"Kau tidak pantas tertawa."
"Kenapa?"
"Setiap hadirin sekarang sudah tahu bahwa mempelai laki-laki hilang, kalau kau tertawa, bukankah kau seolah-olah sedang merestui kejadian ini."
"Bagaimana pun tertawa kan lebih baik dari menangis, betapa pun mereka hari ini mengadakan pesta pernikahan, bukan melayat orang mati."
"Jangan kau mengeluarkan kata-kata yang tidak genah lagi."
"Tidak bisa."
"Apanya tidak bisa?"
"Karena kalau aku tidak bicara, kau sendiri juga akan bicara."
Ting Hun-pin sudah menarik muka, kelihatan sedang marah, sebetulnya hatinya malah amat senang.
Karena dia sudah meresapi benar-benar bahwa Yap Kay jauh berbeda dengan laki-laki umumnya, dan yang terang laki-laki pujaannya ini tidak hilang.
oo Hari sudah lohor.
Walau mempelai pria belum ada kabar, tapi tamu-tamu yang hadir kan tidak boleh menunggu terlalu lama dengan perut kosong.
Maka perjamuan cepat sekali sudah dihidangkan, oleh karena itu semangat hadirin kelihatannya rada pulih dalam kegembiraan.
Ting Hun-pin malah mengerut kening, katanya.
"Para kakakku yang jempolan itu kenapa tiada yang kelihatan?"
"Apa mereka mau datang?"
"Mereka berjanji hendak datang."
"Kau juga mengharap mereka datang?"
Ting Hun-pin manggut-manggut, katanya menahan geli.
"Ingin aku melihat bagaimana sikap cecongor Lok Siau-ka bila berhadapan dengan mereka "
"Kalau benar Lok Siau-ka berhasil membunuh mereka semua?"
"Kenapa kau memandang rendah anggota keluarga Ting kami?"
"Karena anggota keluarga Ting juga memandang rendah diriku."
"Ya hanya keluarga Be saja yang memandang tinggi pribadimu sampai putra dan putrinya dipasrahkan kepadamu."
Yap Kay mendadak menghela napas, ujarnya.
"Kalau tahu Be Hong-ling bakal menikah, tentu Siau-hou-cu akan kubawa kemari."
Sekarang Siau-hou-cu sudah dia tinggalkan di rumah seorang sahabatnya.
Seorang sahabat yang mempunyai peternakan besar, mereka suami isteri sejak lama sudah menginginkan punya anak, begitu melihat Siau-hou-cu, senang mereka bukan main seperti ketiban rezeki.
Memang Yap Kay punya banyak teman, teman yang beraneka ragam, dari tingkat tinggi sampai tingkat terendah, teman-teman yang mempunyai obyek kerja yang berlainan pula.
Memang wataknya yang supel dan suka berteman, sehingga teman-temannya pun senang bergaul dengannya.
Ting Hun-pin melotot katanya tiba-tiba dengan dingin..
"Kenapa menghela napas? Apakah karena nona Be menikah dengan orang lain, maka hatimu sedih dan mendelu."
"Yang terang nona Ting yang ayu ini toh belum menikah dengan laki-laki lain, buat apa aku bersedih?"
Tak tahan Ting Hun-pin tertawa, katanya lirih.
"Kalau kau tidak segera ke rumah meminang aku, akan datang suatu hari aku pasti menikah dengan orang lain."
"Kalau begitu aku akan...."
Sampai di sini dia merandek dan tidak meneruskan kata-katanya, karena saat itu juga dia melihat Pho Ang-soat.
oo Pho Ang-soat tetap menggenggam goloknya, pelan-pelan dia melangkah ke dalam ruang perjamuan yang besar dan luas ini.
Di dalam ruang perjamuan penuh sesak berjubel para tamu, tapi sikap dan tindak-tanduknya seolah-olah sedang berjalan di padang ilalang yang semak dan belukar.
Dalam pandangan matanya seolah-olah tiada orang lain.
Tapi perhatian hadirin seketika tertuju kepadanya, setiap orang tiba-tiba merasa ruang perjamuan yang panas dan gerah ini seketika menjadi dingin.
Pemuda timpang yang bermuka pucat ini seolah-olah membawa hawa membunuh yang tajam laksana pisau.
Yap Kay pun merasakan hal ini, katanya pelan-pelan sambil mengerut alis.
"Kenapa dia pun ke sini?"
"Bukan mustahil Lok Siau-ka yang mencarinya kemari?"
"Kenapa dia sengaja mencari kita dan membawa kemari? Aku sendiri sebenarnya juga merasa heran,"
Sampai di sini tiba-tiba dia berhenti bicara, karena Pho Ang-soat saat itu juga sudah melihat mereka, sorot matanya seolah-olah dilapisi es.
Dengan tersenyum Yap Kay segera berdiri, selamanya dia menganggap Pho Ang-soat sebagai teman sendiri.
Tapi lekas sekali Pho Ang-soat sudah melengos ke arah lain tanpa melirik pun kepadanya, pelan-pelan dia maju terus melewati orang-orang yang memagari jalanan, kulit mukanya seolah-olah sudah dilapisi es.
Tapi jari-jari tangannya yang memegang golok malah gemetar, meski kencang pegangan tangannya, tak urung gemetar juga tangan dan badannya kalau langkahnya pelan sebaliknya napasnya menderu kencang.
Ting Hun-pin geleng-geleng kepala, katanya.
"Lagaknya dia bukan hendak mencicipi perjamuan."
"Memangnya dia tidak ingin melalap hidangan."
"Memangnya apa maksud kedatangannya?"
"Sudah tentu hendak membunuh orang "
"Membunuh siapa?"
"Dia sudah berada di sini, sudah tentu orang yang punya tempat ini yang hendak dibunuhnya."
Suaranya kalem, tapi bernada berat dan prihatin. Selama berkumpul, belum pernah Ting Hun-pin melihat sikap dan mimiknya ini, tanyanya.
"Apakah dia hendak membunuh Wan ...."
Semakin serius sikap Yap Kay, pelan-pelan dia manggut-manggut.
"Membunuhnya di sini? Sekarang juga membunuhnya?"
"Selamanya dia tidak pernah menunggu untuk membunuh orang."
"Kau tidak berusaha mencegahnya?"
"Tiada orang yang kuasa merintangi dia membunuh orang."
Sorot matanya tiba-tiba berubah setajam golok, hanya orang-orang yang dibekali dendam kesumat saja yang punya sorot mata begitu menakutkan.
Ting Hun-pin kalau melihat sorot matanya ini, mungkin bisa tidak mengenalnya lagi, karena saat itu seolah-olah dia mendadak berubah menjadi bentuk manusia yang lain.
Tapi Ting Hun-pin hanya mengawasi golok di tangan Pho Ang-soat, katanya menghela napas.
"Agaknya pesta perjamuan hari ini bakal berubah menjadi bencana ...."
Oo Muka yang pucat, goloknya yang hitam.
Hati orang ini seperti juga adanya warna hitam dan putih ini, penuh dirundung pertentangan dan kontradiksi.
Apakah itu kehidupan?
Apa pula kematian itu?
Mungkin dia tidak tahu.
Dia hanya tahu membalas sakit hati.
hanya tahu adanya dendam.
oo Pelan-pelan Pho Ang-soat menyusuri pagar manusia yang mengawasinya dengan pandangan ngeri, maju terus.
Di ujung tengah ruang perjamuan sana tergantung secarik kertas warna emas yang bertuliskan "Hi"
Dilingkari hiasan kain sutra merah.
Warna merah tanda bahagia, melambangkan kesenangan dan suasana gembira.
Tapi darah juga merah.
Seorang nyonya pertengahan umur yang sanggul kepalanya penuh ditaburi perhiasan tengah membawa sebuah cangkir berisi teh, entah apa yang sedang dipercakapkan dengan temannya secara bisik-bisik.
Mendadak waktu dia berpaling, dilihatnya Pho Ang-soat yang mendatangi, Cangkir teh di tangannya tiba-tiba terlepas jatuh.
Pho Ang-soat melirik pun tidak kepadanya, tapi golok di tangannya tahu-tahu sudah terulur ke depan, kelihatannya gerak-geriknya biasa saja, tidak cepat, tapi cangkir yang melayang jatuh ternyata tepat jatuh di atas pedangnya.
Air teh dalam cangkir sedikit pun tidak tercecer tumpah.
Yap Kay menghela napas, ujarnya.
"Golok yang cepat sekali "
"Memang amat cepat,"
Ting Hun-pin ikut kagum.
Pelan-pelan Pho Ang-soat mengangkat tangannya, dia angsurkan kembali cangkir di ujung pedangnya ke hadapan nyonya itu.
Ingin tertawa, tapi kulit mukanya serasa kaku, terpaksa nyonya itu menyengir dan berkata dengan suara dipaksakan.
"Terima kasih!"
Tangannya sudah diulurkan hendak mengambil cangkir itu, tapi tangannya gemetar hebat Sekonyong-konyong dari samping terulur sebuah tangan menyambut cangkir itu.
Sebuah tangan yang tenang dan tabah.
Mengawasi tangan ini akhirnya Pho Ang-soat mengangkat kepala, maka dilihatnya orang yang mengambil cangkir itu.
Seorang laki-laki pertengahan umur yang berpakaian serba mewah, bermuka bersih dan bercahaya, meski rambut di pinggir kedua keningnya sudah memutih.
Kelihatannya masih gagah dan dan kekar, tindak-tanduknya masih menarik perhatian kaum perempuan.
Sebetulnya sukar menilai berapa sebenarnya usianya.
Jari-jari tangannya pun terpelihara dengan baik amat bertenaga.
Bukan saja amat kokoh memegang golok atau pedang, agaknya jarijarinya itupun ahli dalam menggunakan senjata rahasia.
Pho Ang-soat menatapnya, tiba-tiba bertanya.
"Kau Wan Chiu-hun?"
Orang itu tersenyum sambil geleng-geleng kepala, sahutnya.
"Cayhe Liu Tang-lay."
"Mana Wan Chiu-hun?"
"Sebentar dia akan keluar."
"Baik. aku menunggunya."
"Untuk apa tuan mencarinya?"
Pho Ang-soat tidak mau menjawab.
Sorot matanya tertuju ke tempat jauh, dalam pandangannya sudah tidak terlihat lagi adanya Liu Tang-lay yang berdiri di depan matanya.
Ternyata Liu Tang-lay juga bersikap acuh tak acuh, dengan tersenyum dia kembalikan cangkir teh itu kepada nyonya perlente itu, katanya.
"Tehnya sudah dingin, biarlah kucarikan secangkir yang lain untuk gantinya."
Nyonya itu tertawa berseri sambil menunduk, sahutnya.
"Banyak terima kasih."
Berhadapan dengan Liu Tang-lay, perasaan tertekan tadi terasa mengendor sama sekali. Ting Hun-pin juga sedang mengawasi Liu Tang-lay, katanya.
"Apakah dia itu Hou-hoa-kiamkhek Liu Tang-lay?"
Hou-hoa-kiam-khek artinya ahli pedang pelindung kembang, yang diartikan kembang tentunya perempuan-perempuan cantik Yap Kay tertawa, ujarnya.
"Ada juga orang yang menamakan Toh-bing-kiam-khek."
Toh-bingkiam-khek berarti tokoh pedang pencabut nyawa.
"Bukankah dia termasuk saudara ipar Wan Chiu-hun?"
"Bukan saja mereka famili, mereka pun mengangkat saudara "
"Kabarnya orang ini amat menarik perhatian kaum perempuan."
"O, begitukah yang kau dengar "
"Kulihat sikapnya memang lembut dan sopan terhadap perempuan, kau harus belajar banyak kepadanya."
"Memang aku harus banyak belajar kepadanya, kabarnya di rumah dia punya sembilan gundik, entah berapa lagi gendak-gendaknya di luaran, mungkin tak terhitung banyaknya."
Ting Hun-pin melotot, katanya dengan menggigit bibir.
"Kenapa kau tidak belajar yang baikbaik."
Tiba-tiba mukanya jadi merah karena disadari dalam ruang besar yang sepi ini hanya mereka berdua saja yang masih bersenda-gurau dan bicara, maka tidak sedikit hadirin yang berpaling ke arah mereka.
Memang hadirin belum ada yang tahu apa maksud kedatangan pemuda bermuka pucat ini tapi samar-samar mereka sudah mendapat firasat jelek, seolah-olah suatu bencana bakal terjadi.
Pada saat itulah semua hadirin melihat seseorang menerjang keluar dari pintu belakang, seorang perempuan yang berpakaian mewah serba merah dengan mahkota berada di atas kepalanya.
Perempuan ini adalah mempelai perempuan Be Hong-ling.
Mempelai pria hilang dan tidak diketahui arah parannya, tiba-tiba mempelai perempuan berlari keluar seorang diri, seketika mata hadirin terbelalak, mulut pun melongo, serasa bernapas pun sesak.
oo Pakaian pengantin yang dipakai Be Hong-ling amat menyolok, entah potongan atau warnanya, tapi raut mukanya ternyata amat pucat.
Dia langsung menerjang ke depan Pho Ang-soat, teriaknya dengan suara bergetar.
"Kau! Ternyata kau!"
Pho Ang-soat hanya meliriknya sekilas, seolah-olah sebelum ini belum pernah dia melihat perempuan di depannya ini. Be Hong-ling melotot, biji matanya merah membara desisnya.
"Mana Wan Ceng-hong?"
"Wan Ceng-hong siapa?"
Bertaut alis Pho Ang-soat.
"Bukankah kau sudah membunuhnya? Ada orang melihat kalian ...."
Akhirnya Pho Ang-soat mengerti, jadi tuan muda pemilik perkampungan ini adalah mempelai pria, dan mempelai pria ini adalah pemuda berpedang yang berhadapan dengan dirinya di kota Tiang-an itu.
Sekarang dia pun sudah melihat Peng Liat.
Sudah tentu Peng Liat juga menjadi tamu dalam pesta perjamuan ini, bukan mustahil Peng Liatlah yang memberi tahu hal itu kepada mereka.
"Sebetulnya aku memang bisa membunuhnya,"
Ujar Pho Ang-soat tawar. Bergetar badan Be Hong-ling, mendadak dia berteriak kalap.
"Pasti kaulah yang membunuhnya, kalau tidak, kenapa dia tidak datang, kau ... kau ... kenapa kau selalu menyakiti aku, kau ...."
Suaranya serak dan tersendat, air mata pun bercucuran.
Di dalam lengan bajunya sudah menyembunyikan sebatang pedang pendek, mendadak dia menubruk maju, laksana kilat menyambar pedang pendek di tangannya menusuk ke dada Pho Ang-soat.
Serangannya ini amat keji dan penuh dendam, rasanya ingin sekali dia tusuk tamatkan riwayat Pho Ang-soat.
Dengan dingin Pho Ang-soat mengawasinya, tiba-tiba sarung pedangnya terangkat melintang terus mengetuk.
Kontan Be Hong-ling tergentak mundur, seketika pinggangnya meliuk dan muntah-muntah dengan kerasnya.
Tapi tangannya masih mencekal pedang pendek itu kencangkencang.
"Sebetulnya bisa aku membunuh kau,"
Jengek Pho Ang-soat dingin.
Be Hong-ling berusaha menegakkan badan dengan napas tersengal-sengal, tiba-tiba dia memekik keras, kembali dia menubruk maju sambil mengayun pedang.
Agaknya kali ini dia sudah mengerahkan setaker tenaganya.
Tapi dari samping seseorang dengan ringan menarik lengan bajunya, seluruh kekuatannya yang menerjang ke depan seketika sirna tanpa bekas.
Itulah ilmu Su-nio-boat-jian-kin dari aliran Lwekeh, suatu kepandaian peranti digunakan untuk meminjam tenaga lawan.
Tidak banyak orang yang pernah meyakinkan kepandaian dari aliran Lwekeh ini, maka lebih jarang tokoh-tokoh yang benar-benar mahir dan lihai menggunakan ilmu kepandaian ini.
Meski ada, paling sedikit harus mempunyai landasan Lwekang dua-tiga puluh tahun.
Oleh karena itu orang ini tentu seorang kakek, seorang tua yang punya wibawa.
Pakaian orang ini tidak kalah perlente dan mewah, sikapnya lebih gagah berwibawa dan serius dari Liu Tang-lay, sepasang matanya menyorotkan cahaya terang, dengan bengis dia menatap Pho Ang-soat, bentaknya.
"Apa kau tidak tahu bila dia seorang perempuan?"
Pho Ang-soat tutup mulut. Semakin gusar dan beringas si orang tua, serunya.
"Walau dia bukan apa-apaku, aku tidak akan membiarkan kau bertindak kasar terhadap perempuan."
"Jadi dia adalah menantumu?"
Tiba-tiba Pho Ang-soat buka suara.
"Benar,"
Sahut si orang tua.
"Jadi kau inilah Wan Chiu-hun?"
"Tidak salah."
"Aku tidak membunuh putramu."
Dengan tajam Wan Chiu-hun mengawasinya, akhirnya dia manggut-manggut, katanya.
"Agaknya kau bukan laki-laki yang pandai membual."
"Tapi kemungkinan aku akan membunuhmu,"
Ujar Pho Ang-soat kalem.
Sekilas Wan Chiu-hun melenggong, tiba-tiba dia terbahak-bahak Biasanya dia jarang tertawa lebar, bahwa sekarang dia terbahak-bahak, karena di dalam benaknya mendadak dibayangi ketakutan yang benar-benar mengetuk sanubarinya.
Katanya dengan tertawa lebar.
"Katamu kau hendak membunuhku? Berani kau di sini mengucapkan kata-kata seperti ini?"
"Barusan sudah kukatakan, kini aku ada sebuah pertanyaan ingin bertanya kepadamu."
"Kau boleh bertanya."
"Sembilan belas tahun yang lalu, apakah kau pun berada di luar Bwe-hoa-am di Loh-sia-san?"
Tawa Wan Chiu-hun tiba-tiba berhenti seperti mulutnya mendadak tersumbat sesuatu, sorot matanya seketika memancarkan ketakutan dan ngeri, raut mukanya yang kereng berwibawa seketika berkerut-kerut berubah bentuk.
Teriaknya tertahan.
"Kau adalah Pek ... pernah apa kau dengan Pek-tayhiap?"
Mendapat pertanyaan balasan ini, muka Pho Ang-soat yang pucat seketika merah padam, badannya mulai gemetar. Anehnya tangan yang semula gemetar kini malah tenang dan mantap.
"Aku adalah putranya!"
Mulutnya mendesis.
Habis mendengar jawaban ini, jiwa Wan Chiu-hun pun melayanglah.
Golok Pho Ang-soat tiba-tiba menyambar keluar.
Membunuh orang dia tidak pernah membuang-buang waktu.
oo Sinar golok berkelebat, semua hadirin hanya melihat berkelebatnya selarik sinar perak, tiada seorang pun yang melihat jelas bentuk goloknya.
Demikian pula Wan Chiu-hun sendiri tidak melihatnya.
Tahu-tahu sinar perak atau ujung golok itu sudah amblas tembus ke dalam dadanya.
Semua kegaduhan seketika sirap dan suasana menjadi hening lelap, segala gerakan pun berhenti seluruhnya.
Sesaat kemudian baru terdengar tenggorokan Wan Chiu-hun berbunyi "krokkrok"
Seperti suara katak.
Matanya terbelalak mengawasi Pho Ang-soat, sorot matanya mengandung heran, tidak mengerti, ketakutan, duka lara dan curiga.
Dia tidak percaya bahwa sambaran golok Pho Ang-soat ternyata begitu cepat.
Lebih tidak dipercaya lagi bahwa Pho Angsoat benar-benar tega membunuh dirinya.
Dengan melotot Wan Chiu-hun mengawasi muka orang yang pucat, tiba-tiba dia meronta mundur melepaskan badannya dari tusukan golok orang.
Maka terjungkallah badannya.
Darah menyembur keluar membasahi badan, berceceran di atas lantai.
Biji matanya sudah melotot, dengan sisa tenaga dan napasnya yang terakhir dia paksakan diri berkata.
"Malam itu aku tidak berada di luar Bwe-hoa-am!"
Habis kata-katanya, melayang juga jiwanya.
Golok itu sudah kembali di dalam sarungnya, golok yang masih berlepotan darah.
Sekonyong-konyong didengarnya di belakang sebuah suara dingin yang tajam berkata.
"Kau salah orang!"
Kuping Pho Ang-soat seolah-olah pekak dan mendengung mendengar kata-kata ini, meski tidak keras orang bicara, tapi bagi pendengaran Pho Ang-soat laksana bunyi guntur menggelegar di pinggir kupingnya.
Lama sekali baru dia pelan-pelan membalik badan.
Liu Tang-lay berdiri di depannya, mukanya pucat beringas, matanya setajam golok, katanya pelan.
"Malam itu, dia memang tidak berada di Bwe-hoa-am."
"Kau tahu?"
Tanya Pho Ang-soat mengertak gigi.
"Hanya aku yang tahu."
Berkerut-kerut muka Liu Tang-lay karena emosi dan tertekan batinnya, katanya lebih lanjut.
"Malam itu, kebetulan istrinya pun meninggal karena susah melahirkan, dari malam sampai pagi dia terus berjaga di pinggir pembaringan, setengah langkah pun tidak pernah berpisah sampai istrinya ajal."
Terasa oleh Pho Ang-soat, seolah-olah dada sendiri pun terhujam oleh golok tajam, seluruh badan menjadi dingin dan basah kuyup "Tapi dia tahu jelas peristiwa berdarah di luar Bwe-hoa-am itu."
"Dia ... bagaimana dia bisa tahu?"
"Karena aku memberitahu rahasia itu kepadanya."
Setiap patah kata jawaban ini laksana martil yang mengetuk batok kepalanya.
"Akulah salah seorang dari sekian banyak orang yang berusaha membunuh ayahmu pada malam itu di luar Bwe-hoa-am,"
Kata Liu Tang-lay dengan menekan perasaan sedihnya, lalu dia berpaling mengawasi jenazah Wan Chiu-hun, katanya rawan.
"Bukan saja dia familiku, dia pun teman yang paling baik, sejak kecil kita hidup bersama, di antara kita selamanya tiada perbedaan tiada rahasia apa pun."
"Oleh karena itu kau tuturkan peristiwa itu kepadanya?"
"Tapi tidak pernah terpikir olehku bahwa aku malah mencelakai jiwanya."
Kata-kata ini laksana sebatang jarum menusuk ke hulu hati Pho Ang-soat. Berkata Liu Tang-lay lebih lanjut.
"Setelah mendengar penuturanku, dia pernah memarahi aku, dikatakan tidak pantas aku demi seorang perempuan sampai melakukan perbuatan yang memalukan itu, tapi aku maklum akan maksud baiknya, karena dia tidak tahu betapa besar cinta kasihku terhadap perempuan itu."
"Kau jadi pembunuh gelap, hanya ... hanya karena seorang perempuan?"
Tanya Pho Ang-soat.
"Benar, untuk seorang perempuan, dia bernama Kiat-ji, semula menjadi milikku, tapi mengandal kekuasaan dan harta bendanya, Pek Thian-ih merebutnya dari tanganku."
"Kau bohong!"
Hardik Pho Ang-soat kalap.
"Aku bohong?"
Liu Tang-lay terloroh-loroh menengadah.
"Buat apa aku harus bohong? Memangnya kau belum tahu orang macam apa sebenarnya ayahmu itu? Boleh kuberitahu kepadamu, dia adalah se ...."
Pho Ang-soat mendadak menggerung keras, sinar goloknya yang kemilau kembali berkelebat keluar dari sarungnya.
Dada Liu Tang-kay sudah mengucurkan darah, namun roman mukanya masih menampilkan senyuman hina dan penuh kebencian.
"Sepatah kata lagi kau berani membusukkan nama beliau, kau akan mampus pelan-pelan!"
"Wan-loji sudah mati lantaran aku, memang aku sudah tidak ingin hidup lagi, bagaimana pun kematianku tidak menjadi soal."
"Oleh karena itu kau memfitnah dengan mulutmu yang kotor."
"Kapan saja kau boleh membunuh aku, terserah cara apa yang ingin kau gunakan, tapi kau harus percaya bahwa apa yang kuucapkan adalah benar dan nyata."
Bergetar badan Pho Ang-soat, tiba-tiba dia putar badan, tahu-tahu dia lolos sebatang pedang dari pinggang seorang yang berdiri di belakangnya terus dilempar kepadanya.
Liu Tang-lay menangkap pedang itu.
"Sekarang kau sudah bersenjata."
"Ya, aku sudah bersenjata."
"Kenapa tidak segera turun tangan, memangnya kau hanya berani membunuh orang bila kau menutupi mukamu dengan kedok?"
Dengan nanar Liu Tang-lay mengawasi pedang di tangannya, mulutnya menggumam.
"Memang aku pantas membunuhmu, supaya kau tidak kesalahan membunuh orang lain, tapi darah sudah banjir menjadi aliran, aliran darah sudah panjang dan jauh ...."
Tiba-tiba dia mengayun tangan, pedang di tangannya berkelebat menjadi tabir cahaya kemilau.
Gerakan pedangnya lincah, enteng dan dahsyat.
Gerak sasarannya tepat, perubahan jurus tipunya aneh dan cepat luar biasa.
Hou-hoa-kiam-khek memang salah satu tokoh pedang yang paling kenamaan pada zaman itu, ketenarannya memang tidak bernama kosong.
Karena dia harus menebus ketenaran ini dengan darah orang banyak.
Akan tetapi hari ini dia harus menebus kebesaran namanya dengan darahnya sendiri Lekas sekali gugusan tabir cahaya terang dari kemilaunya batang pedang telah kuncup.
Tahutahu golok sudah menghujam ke dadanya.
Dengan senyum sinis dia tetap mengawasi Pho Ang-soat, katanya dengan napas tersengalsengal.
"Memang golok cepat yang tiada bandingannya di dunia, sayang sekali betapa pun cepat golok itu, kenyataan tidak akan mungkin dipungkiri."
Habis kata-katanya badannya segera tersungkur roboh.
oo BAB 31.
TERUKIR HINGGA LUBUK HATI Golok sudah kembali ke dalam sarungnya.
Pelan-pelan Pho Ang-soat membalik badan, kaki kiri melangkah, kaki kanan dengan kaku diseret maju ke depan.
Pelan-pelan dia keluar dari pagar manusia, matanya mendelong lurus ke depan, serasa ciut nyalinya melihat dua mayat yang terkapar di lantai, tiada nyali melirik pun kepada orang-orang yang memagari jalannya.
Sekonyong-konyong terdengar jerit tangis sesambatan.
Itulah tangisan Be Hong-ling, sambil tergerung-gerung dia sesambatan dan mengutuk tujuh turunan, semua kata-kata paling kotor terucapkan dari mulutnya.
Tapi Pho Ang-soat tidak mendengar, seluruh badan atau raganya seolah-olah sudah pati rasa.
Ting Hun-ho merengut, belum bicara.
Ting Hun-pin sudah menarik lengan bajunya, katanya berbisik.
"Kau lihat orang di depan itu? Orang yang pinggangnya menyoreng pedang itu."
Orang yang baru masuk dari luar adalah Lok Siau-ka. Ting Hun-ho mengerut kening, katanya.
"Apa kau juga berhubungan dengan orang seperti itu?"
"Kau tahu siapa dia?"
Ting Hun-ho manggut-manggut. Tiada kaum persilatan yang tidak kenal melihat pedangnya.
"Katanya dia hendak membunuhmu,"
Kata Ting Hun-pin.
"O. Membunuhku?"
"Begini saja sikapmu?"
"Yang terang sekarang aku masih hidup."
"Apa kau tak ingin bertanding dengannya, pedang siapa lebih cepat?"
"Pedangku selamanya tidak bisa cepat"
Ilmu pedang dari aliran Lwekeh memang mengutamakan lambat mengatasi cepat ketenangan melumpuhkan gerakan, kalau latihan ini sudah diyakinkan sampai ke puncaknya baru betul-betul boleh dianggap sudah mencapai tingkat murni dari ilmu pedang Lwekeh.
Apa boleh buat, Ting Hun-pin melotot kepada Lok Siau-ka dengan gegetun dan membanting kaki.
Lok Siau-ka sebaliknya tidak menghiraukan sikapnya.
Ting Hun-pin tiba-tiba maju memapak, serunya.
"Hai!"
Lok Siau-ka menguliti kacang terus dilempar ke atas.
"Yang berdiri di sana adalah Toakoku, kau sudah melihatnya belum?"
Lok Siau-ka sedang mengawasi kacang yang melayang jatuh.
"Bukankah tempo hari kau bilang hendak membunuhnya?"
Kacang sudah masuk ke mulut Lok Siau-ka, baru sekarang dia menjawab tawar.
"Aku pernah mengatakan?"
"Kenapa sekrang tidak kau luruk ke sana menantangnya?"
"Kebetulan, hari ini aku tiada minat membunuh orang,"
Ujar Lok Siau-kn sambil mengunyah kacang.
"Kenapa?"
"Sudah banyak yang mati hari ini."
Berputar biji mata Ting Hun-pin, katanya dengan tertawa.
"Aku mengerti, ternyata kau hanya garang di mulut, yang benar hatimu penakut "
Lok Siau-ka tertawa.
Dia tidak menyangkal, karena dia memang rada jeri terhadap seseorang.
Tapi orang yang dia takuti terang bukan she Ting.
oo Pho Ang-soat berdiri mematung, berdiri di tengah jalan, dimana tadi kereta berhenti.
Berdiri dimana tadi dia berpisah dengan Cui-long.
Tamu-tamu keluar dari Pek-hun-ceng berbondong-bondong, mereka heran dan bertanya-tanya.
"Kenapa orang ini masih berada di sini?"
Pho Ang-soat sebaliknya tidak melihat mereka, meski mereka berlalu-lalang di depan matanya.
Setelah Cui-long tinggal pergi, jagat raya ini seolah sudah kosong melompong.
Sekosong sanubarinya yang ditinggal pergi.
oo Malam.
Bintang berkelap-kelip di angkasa raya, pohon bergontai dihembus angin musim rontok.
Bulan purnama terasa benderang di musim rontok ini Bintang-bintang itu mirip dengan bintangbintang kemarin malam, demikian pula bulannya lebih bundar.
Tapi dimanakah si dia?
Bintang dan rembulan masih bercokol di angkasa raya.
Dimanakah si dia?
oo Tiga bulan.
Mereka sudah menetap bersama tiga bulan lamanya, sembilan puluh hari, sembilan puluh hari sembilan puluh malam.
Waktu tiga bulan berjalan cepat laksana sekejap mata, tapi setiap malam, setiap saat, entah berapa kenangan yang selalu mengetuk kalbu, pernah mengecap derita, tapi juga pernah senang bahagia, ada kerisauan ada pula kemesraan.
Dan semua itu sekarang sudah berselang dan takkan kembali lagi.
Pho Ang-soat mengertak gigi, langkahnya lebar, angin kering mulai menghembus air matanya.
Hari sudah petang, lampu remang-remang di dalam sebuah warung membuat suasana semakin sepi dan dingin.
Arak pun terasa getir.
Belum pernah dia minum arak, tapi sekarang dia ingin mabuk.
Secawan arak keruh yang cukup keras, dia sudah bertekad untuk menghabiskan secawan penuh.
Tapi sebelum dia mengulurkan tangan mengangkat cawan araknya, sekonyong-konyong dari samping terulur sebuah tangan mengambil cawan araknya.
"Kau tidak boleh minum arak seperti ini."
Tangan yang lebar segede kipas dengan jari-jarinya sebesar lobak, kulitnya kotor kasar dan kering, suaranya kuat dan sumbang.
Pho Ang-soat tidak perlu mengangkat kepala, dia kenal baik tangan ini, dia pun kenal suara itu.
Bukankah Si Toa-han memang seorang laki-laki kasar yang kuat dan kotor kering.
"Kenapa aku tidak boleh minum?"
"Karena tidak setimpal arak ini kau minum."
Sebelah tangan Si Toa-han yang lain tengah menjinjing sebuah guci arak yang cukup besar, dengan keras dia gebrakan guci arak ke atas meja, sekali tepuk dia bikin hancur sumbatnya, terus menuang dua cawan penuh.
Tanpa bicara dan menunjukkan sikap apa-apa, dia angkat sebuah cawan terus ditenggak habis, sementara secawan yang lain dia angsurkan ke depan Pho Ang-soat.
Pho Ang-soat tidak menolak suguhan orang, hanya mabuk yang terpikir dalam benaknya.
Arak yang terasa pahit, getir, keras dan pedas membakar kerongkongan laksana bara api menerjang masuk ke dalam tenggorokan terus turun ke perut Pho Ang-soat.
Dengan mengertak gigi dia teguk arak yang terakhir, sedapat mungkin dia kendalikan diri dan bertahan, tidak sampai batuk.
Tapi air mata tak tertahan sudah berlinang-linang.
"Dulu kau belum pernah minum arak?"
Tanya Si Toa-han sambil mengawasinya.
Tiada jawaban.
Si Toa-han tidak bertanya lagi, kembali dia isi secawan penuh arak.
Arak cawan kedua ini rasanya sudah lain.
Waktu dia tenggak habis cawan ketiga, tiba-tiba terasa oleh Pho Ang-soat timbul suatu perubahan di dalam badannya.
Selamanya belum pernah dia alami perasaan seperti ini.
Pelita yang remang di atas meja terasa memancar lebih terang, badannya semula tegang kaku, kosong melompong, tapi sekarang mendadak timbul suatu daya kekuatan hidup yang aneh dan sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Mengawasi goloknya, Si Toa-han berkata tandas.
"Salah membunuh orang bukan suatu hal yang harus dibuat perhatian. Betapa banyak para Enghiong di kalangan Kangouw, siapa yang tidak pernah salah membunuh orang?"
Tiada reaksi.
"Jangan kata lain orang, bicarakan saja Wan Chiu-hun, selama hidupnya entah berapa banyak manusia tidak berdosa yang terbunuh olehnya."
Pho Ang-soat mengangkat cawan araknya, sekali tenggak dia bikin kering.
Dia tahu Si Toa-han salah paham akan derita batinnya, maka dia lebih memelas hati.
Bahwa peristiwa pembunuhan itu hakikatnya sudah tidak menjadi perhatiannya, kini hanya soal perempuan saja yang masih mengetuk sanubarinya.
Seorang perempuan yang minggat meninggalkan dirinya, meninggalkan cinta murninya.
Si Toa-han mengisi cawannya lagi, katanya.
"Oleh karena itu kau tidak perlu berkecil hati, aku tahu kau seorang laki-laki sejati, kau ...."
"Aku bukan seorang laki,"
Tukas Pho Ang-soat.
"Siapa yang bilang?"
"Aku yang bilang."
Setelah menghabiskan araknya dia banting cawannya ke atas meja, katanya dengan mengertak gigi.
"Hakikatnya aku ini bukan manusia."
"Kecuali kau sendiri, aku berani tanggung, orang lain pasti tak punya pikiran seperti itu."
"Soalnya orang lain tiada yang mengerti dan menyelami diriku."
"Dan kau?"
Si Toa-han menegas.
"Apa kau benar-benar mengerti dan menyelami dirimu?"
Pho Ang-soat menundukkan kepala. Pertanyaan yang tak mungkin dia jawab.
"Kita bertemu di tengah jalan, sudah tentu aku tidak berani menyelami jiwamu, tapi aku berani bilang, bukan saja kau ini manusia, malah kau adalah seorang laki-laki yang lain dari yang lain, oleh karena itu kau tidak perlu mereras diri dan mengambek lantaran sesuatu persoalan."
Sikapnya sungguh-sungguh, suaranya kalem dan tegas.
"Terutama jangan lantaran seorang perempuan."
Mendadak Pho Ang-soat mengangkat kepalanya. Mendadak dia menyadari bahwa penilaian dan pandangan Si Toa-han terhadap dirinya memang tidak salah.
"Boleh kuberi tahu kepadamu, bukan saja dia tidak setimpal kau pikir, kau kenang sehingga batinmu menderita, hakikatnya tidak setimpal kau meliriknya."
"Kau ... kau ... kau tahu dia ... dia pergi kemana?"
Suara Pho Ang-soat gemetar saking tegang.
"Aku tahu."
"Ka ... katakanlah!"
"Aku tidak bisa mengatakan."
"Kenapa?"
Mengawasi muka orang, terunjuk rasa derita pula pada sorot mata Si Toa-han, setelah dia tuang habis arak dalam cawannya, baru memaksakan diri dia manggut-manggut, ujarnya.
"Baik, kukatakan, dia ... dia pergi ikut seorang."
"Ikut siapa?"
"Ikut bocah yang jadi kusir kereta itu."
Kata-kata ini laksana golok tajam menghujam ke hulu hati Pho Ang-soat. Saking terpukul batinnya, hampir saja dia menjadi gila.
"Kau bohong!"
"Selama hidupku tidak pernah bohong."
"Sekali lagi kau katakan, kubunuh kau."
"Kau boleh bunuh aku, yang terang aku tidak berbohong."
Sikap Si Toa-han tenang.
"Kau harus percaya kepadaku, harus percaya!"
Pho Ang-soat sudah menggenggam kencang gagang goloknya, tapi goloknya tak kuasa terlolos, malah matanya tak tertahan berkaca-kaca. Dia yakin Si Toa-han pasti tidak berbohong kepadanya.
"Sebetulnya kau tidak boleh menyalahkan dia, sebetulnya dia memang bukan pasanganmu, jika perjodohan ini dipaksakan, hanya derita dan sengsara ... hanya mereka berdualah yang benarbenar setimpal, karena mereka manusia sejenis."
"Mereka berdua" , kedua kata ini laksana golok menusuk hati Pho Ang-soat. Masakah perempuan pujaan hatinya ternyata adalah perempuan jalang yang kotor dan hina-dina? Tiba-tiba dia roboh terguling. Tak tertahan air mata bercucuran, tak bersuara, tapi tangis yang tak bersuara sungguh jauh lebih sedih dan memilukan dari tangis tergerung-gerung. Si Toa-han diam, dia tidak membujuknya. Dari samping dia hanya mengawasi, setelah arak dan kepedihan Pho Ang-soat habis bercucuran melalui air mata dan keringatnya, segera dia bangkit menariknya, katanya.
"Hayo, kita cari tempat lain untuk minum sepuasnya lagi."
Pho Ang-soat tidak menolak.
Seolah-olah dia sudah kehilangan kontrol dan tenaga serta gengsinya sendiri.
oo Di tempat itu bukan saja ada arak, berbagai jenis perempuan pun dapat kau cari.
Orang sering bilang arak dan perempuan biasanya merupakan pelipur lara, hanya arak dan perempuanlah yang dapat melupakan segala kesengsaraan.
Sudah tujuh hari dia mabuk di sini.
Di sini ada beberapa macam arak, beberapa jenis perempuan, dari tiga belas sampai umur tiga puluh.
Mereka cantik-cantik, mereka cukup tahu cara bagaimana menghibur laki-laki.
Sore hari itu.
Untuk pertama kali Pho Ang-soat sadar dari kehidupan yang kelelap dalam buaian cinta dan mabuk.
Hawa segar membuat pikirannya jernih, dengan langkah sempoyongan dia berjalan-jalan menyusuri taman kembang, dari sebuah pintu samping dia berada di sebuah gang lurus kecil panjang yang menuju keluar.
Suasana sepi, hidungnya dirangsang bau kembang wangi.
Setiba di ujung gang Pho Ang-soat mendorong daun pintu serta menghirup hawa segar.
Baru saja dia hendak menyongsong hembusan angin segar dan beranjak keluar dari kurungan maksiat ini.
Pada saat itu pula matanya melihat bayangan seseorang.
Cui-long.
Setelah mengalami derita dan siksa, tiba-tiba hari ini dia melihat Cui-long.
Cui-long berjalan dengan seorang pemuda, pemuda yang jadi kusir kereta itu.
Kini dandanannya sudah perlente, orang tidak akan tahu bahwa dia semula hanya bocah kusir kereta Kini dia mengenakan pakaian serba baru yang mahal harganya, dandanannya mirip benar dengan putra hartawan di kota yang suka pemogoran oo Pho Ang-soat merasakan seluruh badannya kaku mengejang.
Seluruh badannya seolah-olah berkobar, goloknya pun seperti memburu.
Golok masih dicekalnya, dia boleh menerjang maju, dalam sekejap mata dia bisa membunuh kedua manusia kerdil dan rendah ini.
Tapi dia tetap berdiri menjublek tak bergerak.
Karena tiba-tiba dirinya dirangsang rasa malu yang sukar dilukiskan, malu untuk berhadapan dengan kedua orang ini.
Memangnya setimpal dia bersedih demi perempuan jalang ini?
Dengan mendelong dia mengawasi kedua orang ini masuk ke dalam sebuah penginapan yang paling mewah dan besar di kota ini.
Cui-long berjalan di depan, kusir kereta itu mengintil di belakangnya.
Entah berapa lama tiba-tiba dia merasakan sebuah tangan mungil yang halus sedang mengelus jari-jarinya, katanya.
"Kenapa kau berdiri melongo di sini? Si-toaya sedang mencarimu ubekubekan ingin mengajakmu minum."
Seketika terasa mulutnya kering dan ketagihan arak.
Kenapa dirinya harus tetap menderita pukulan batin seberat ini.
Maka dia mulai minum, mabuk lagi.
Setelah sadar minum lagi sampai mabuk.
Gengsi, keberanian dan kekuatan sudah kelelap di dalam arak yang ditenggaknya.
Sekarang hanya golok itulah yang masih tersisa padanya.
Si Toa-han duduk di hadapannya, secangkir arak yang belum lagi ditenggaknya untuk pertama kali dalam hari ini berada di depan hidungnya.
Seperti orang yang sudah kehausan dan ketagihan arak cepat dia mengulur tangan mengambil cangkir arak itu.
Tapi tangan Si Toa-han tiba-tiba terulur maju, sekali tampar dia bikin cangkirnya tumpah.
Pho Ang-soat melenggong.
Sikap ramah dan seri tawa Si Toa-han dulu kini sudah lenyap, katanya dengan suara berat.
"Hari ini kau masih ingin minum arak?"
Dengan ragu-ragu Pho Ang-soat manggut-manggut.
"Tahukah kau berapa banyak arak yang sudah kau minum? Berapa pula yang sudah kubayar?"
Pho Ang-soat tidak tahu, dia sudah tidak ingat lagi Gadis kecil yang melayani mereka segera menjawab dengan tertawa manis.
"Sampai hari ini, rekening arak Pho-toaya seluruhnya ada tiga ribu empat ratus tahil."
"Berapa dia sudah bayar?"
"Sepeser pun tidak membayar."
Si Toa-han menyeringai dingin, katanya.
"Sepeser pun tidak bayar, mengandal apa dia masih duduk di sini minum arak?"
"Karena dia adalah teman baik Si-toaya."
"Memang dia tamuku, sekali dua kali aku boleh traktir dia, tapi masakah aku harus traktir dia seumur hidup?"
Gadis itu cekikikan, katanya.
"Sudah tentu tidak, dia kan bukan anak Si-toaya, kenapa Si-toaya harus mengongkosi hidupnya?"
Berkata Si-toaya lebih lanjut.
"Semula kutraktir dia karena kuanggap dia seorang Enghiong, tak nyana dia tak ubahnya seperti anjing buduk yang pandai gegares belaka secara gratis, sedikit pun tidak punya pambek."
Bergetar sekujur badan Pho Ang-soat, keringatpun bercucuran karena amat malu dan terpukul gengsinya.
Tapi dia mandah diam saja, dia terima segala penghinaan ini.
Karena dia tahu apa yang dikatakan memang beralasan dan kenyataan, dengan mengertak gigi pelan-pelan dia bangkit berdiri.
"Kau ingin pergi?"
Si Toa-han berteriak.
"Aku ... sudah saatnya aku pergi."
"Bagaimana dengan rekening arakmu?"
Pho Ang-soat tutup mulut. Dia tidak bisa menjawab.
"Rekening tiga hari di muka aku boleh mentraktirmu, tapi sebelas hari kemudian ...."
Gadis cilik itu segera menyambung.
"Rekening sebelas hari belakangan seluruhnya berjumlah dua ribu delapan ratus lima puluh tahil."
"Kau dengar tidak, dua ribu delapan ratus lima puluh tahil, tanpa kau lunasi lantas hendak pergi!"
Pho Ang-soat tetap bungkam, dia tetap tidak bisa memberi jawaban.
"Apakah kau tidak punya uang untuk bayar? Baik, tinggalkan golokmu, kau boleh pergi!"
"Tinggalkan golokmu!" , kata-kata ini seolah-olah geledek yang menggelegar di pinggir telinga Pho Ang-soat, sehingga Pho Ang-soat seakan-akan merasa dirinya hancur-lebur. Si Toa-han sebaliknya menyeringai bengis, sekarang dia memperlihatkan kedoknya yang asli. Entah berapa lama, akhirnya dia mendesis dengan mengertak gigi.
"Siapa pun jangan harap bisa menahan golokku."
Si Toa-han tertawa lebar.
"Kalau dulu kau yang berkata demikian mungkin aku masih percaya, tapi sekarang ...."
"Sekarang bagaimana?"
"Sekarang kau sudah tidak boleh mengatakan demikian, kau tidak setimpal lagi."
Tiba-tiba Pho Ang-soat berpaling, biji matanya sudah merah membara, sekarang baru dia benar-benar melihat jiwa Si Toa-han yang asli. Si Toa-han tertawa dingin.
"Kalau hari ini tidak kau tinggalkan golokmu, mungkin kau harus tinggalkan kepalamu "
"Tinggalkan kepalamu!" , jadi apa yang diperbuat Si Toa-han selama ini adalah hendak menunggu kesempatan untuk mengucapkan ancamannya. Ternyata semua ini merupakan suatu jebakan, suatu perangkap keji. Golok masih berada di tangannya, sembarang waktu Pho Ang-soat masih kuasa membela diri dengan senjatanya ini. Tapi sekarang dia sudah kehilangan keyakinan diri, sekali serang menamatkan jiwa musuh, keyakinan yang aneh dan berlebihan itu, karena harga diri, keyakinan dan keberaniannya kini sudah kelelap ke dalam arak.
"Cabut golokmu!"
Si Toa-han sudah berdiri, badannya yang gede laksana malaikat yang garang. 'Apa sekarang kau sudah tidak berani mencabut golokmu?"
Suaranya mengandung ejekan, malah mengandung keyakinan pula bagi dirinya.
Karena dia cukup mengerti sampai dimana tingkat kepandaian silat Pho Ang-soat, lebih mengerti pula selama setengah bulan ini Pho Ang-soat sudah banyak kehilangan.
Dan kehilangan ini merupakan perubahan yang menakutkan bagi Pho Ang-soat.
Memang siapa penyebab perubahan ini?
Bagaimana perubahan ini bisa terjadi?
Pho Ang-soat tidak mencabut goloknya.
Dia tidak bisa mencabutnya.
Karena goloknya sudah tidak berada dalam tangannya, tapi berada dalam sanubarinya.
Hatinya sedang meneteskan darah Derita, siksa, menyesal, malu dan marah.
Semua ini sudah dia resapi lantaran seorang perempuan, karena perempuan itu lari meninggalkan dirinya, ikut seorang kusir kereta.
Habis.
Kalau seorang laki-laki masih ingin hidup dalam keadaan tersiksa dan malu, peduli apa alasan dan sebabnya, maka hidupnya itu tidak akan berharga.
oo Pho Ang-soat sudah bertekad untuk mencabut goloknya.
oo Hari mulai petang.
Pho Ang-soat sudah siaga untuk mencabut goloknya.
Tapi saat itu juga tiba-tiba didengarnya seorang tertawa.
Lok Siau-ka sedang tertawa.
Entah sejak kapan tahu-tahu dia sudah muncul di depan jendela, mendekam di jendela sambil tertawa mengawasi dirinya.
Serasa menciut hati Pho Ang-soat, setitik harapan yang terpercik dalam benaknya, sekarang terputus dan luluh "Eh, jangan lupa, arak wangi, perempuan cantik, masakah kalian hendak mengadu jiwa begitu saja di tempat seperti ini?"
Si Toa-han berkata.
"Masakah membunuh orang harus memilih tempat?"
"Sudah tentu harus memilih tempat yang baik,"
Ujar Lok Siau-ka tertawa.
"Aku lebih ahli dalam membunuh orang, aku berani tanggung, disini bukan tempat yang cocok untuk membunuh orang."
"Kau hendak memilihkan tempat bagi kita?"
"Taman kembang di luar itu cukup baik, peduli dimana kalian terpukul roboh, aku berani tanggung kalian pasti akan roboh di bawah kembang."
Oo Pho Ang-soat berdiri di ujung jalanan di dalam kebun. Kini Lok Siau-ka duduk di atas jendela membelakangi kamar, katanya kepada Pho Ang-soat.
"Sebetulnya orang yang menjadi korban hari ini bukan kau."
Pho Ang-soat diam dan mendengarkan.
"Ilmu silat Lo Si keras dan ganas, meski sudah termasuk tokoh kosen tingkat tertinggi, tapi golokmu seolah-olah mengandung kekuatan iblis yang misterius, seharusnya kau bisa membunuhnya."
"Tapi sekarang lain, karena kau sudah tidak yakin lagi terhadap dirimu sendiri, sudah tentu golokmu tidak yakin lagi akan dirimu? Maka kaulah nanti yang bakal ajal."
Berkeringat telapak tangan Pho Ang-soat yang menggenggam golok.
"Kematianmu harus dibuat menyesal, tapi hal ini harus menyalahkan kau sendiri. Seorang laki-laki bila ingin menuntut balas, maka jangan jatuh hati kepada perempuan lacur yang boleh ditiduri oleh laki-laki siapa saja."
Serasa mengkeret jantung Pho Ang-soat, tiba-tiba dia bersuara.
"Seseorang bila ingin hidup lama, maka dia harus sedikit bicara."
"Memang aku sudah kebanyakan bicara,"
Ujar Lok Siau-ka membuka kacang dan dilempar ke atas, sambungnya dengan tertawa.
"Tapi kau sendiri terlalu sedikit bicara."
"O, aku tidak perlu banyak bicara,"
Sahut Pho Ang-soat. Lok Siau-ka sudah menangkap kacang itu dengan mulut, katanya sambil mengunyah.
"Seharusnya kau tanya kepadanya kenapa dia hendak membunuhmu ?'' "Aku tidak perlu bertanya."
"Kenapa?"
"Karena aku sudah tahu."
"Kau tahu apa?"
"Aku tahu, dia pasti salah seorang pembunuh di luar Bwe-hoa-am dulu itu."
Lok Siau-ka tiba-tiba tergelak-gelak, ujarnya.
"Tahun ini dia baru berusia tiga puluh, waktu itu dia masih bocah ingusan, kenapa tidak kau hitung usianya."
Pho Ang-soat melongo.
"Cuma kalau kau boleh menuntut balas bagi ayahmu, sudah tentu dia pun boleh membunuhmu demi ayahnya."
Baru sekarang Pho Ang-soat tahu, Si Toa-han sendiri memang bukan musuh keluarga Pek, tapi ayahnya tidak perlu disangsikan lagi.
Jadi perangkap ini sudah lebih gamblang lagi, tujuannya adalah untuk mencegah Pho Ang-soat pergi membunuh ayahnya.
Siapa berani bilang bahwa usaha Si Toa-han ini keliru?
Selama ini Si Toa-han tidak banyak mulut, dia sudah mengerahkan seluruh kekuatan dan hawa murninya ke seluruh badan, senjatanya adalah sebuah kampak besar berat lima puluh kati, agaknya sekali kampaknya terayun, gunung pun bisa dibelahnya hancur.
Pho Ang-soat menghirup napas panjang, katanya.
"Baik, sekarang boleh kau turun tangan."
"Biar aku mengalah, kau boleh lolos golokmu dulu, aku tetap bisa mencabut nyawamu."
Sekonyong-konyong sebelum duel ini terjadi, terdengar seorang berteriak.
"Jika kau ingin membunuhnya,, kau harus bunuh diriku lebih dulu."
Suaranya serak dan tertelan di dalam tenggorokan, namun masih bisa didengar.
Tampak seseorang dari ujung kebun sebelah sana memburu datang, jarang ada orang di waktu berlari masih tetap menunjukkan gaya yang gemulai begitu indah seperti orang menari.
Tapi rambut sanggulnya sudah berantakan, kegugupan dan gelisah serta ketakutan yang menghiasi mukanya bukan pura-pura belaka.
Seseorang pemuda mengejar di belakangnya, ingin menariknya.
"Buat apa kau urus persoalan orang lain?"
Tapi belum habis dia bicara, tahu-tahu pipinya sudah ditampar dan roboh oleh orang di depannya yang membalik tiba-tiba. Si Toa-han dan Lok Siau-ka sama-sama kaget dan heran, mereka berseru berbareng.
"Kau!"
Dalam waktu sekejap ini, yang paling kaget heran, paling terpukul batinnya, namun paling gembira dan terhibur juga adalah Pho Ang-soat.
Tiada orang yang bisa menyelami perasaan hatinya sekarang.
Cui-long langsung memburu datang menghadang di depannya.
"Untuk apa kau kemari?"
Bentak Si Toa-han.
"Aku tidak bisa melihat dia mati,"
Sahut Cui-long.
"Kau bisa melindungi dia?"
"Tidak bisa, tapi aku bisa mati lebih dulu."
"Kau benar-benar rela mati bagi dia?"
"Kalau tidak buat apa aku memburu datang?"
"Lalu kenapa waktu itu kau minggat?"
"Karena...karena waktu itu aku mengira dia membenciku, merendahkan diriku, kukira hakikatnya dia tidak pernah ingin mempersunting diriku."
Tiba-tiba berlinang air matanya, katanya lebih lanjut "Tapi sekarang baru aku tahu, dia benar-benar mencintaiku sepunuh hati. sikap kasarnya dulu hanya karena wataknya saja yang aneh."
Si Toa-han tertawa dingin. Cui-long mengertak gigi, katanya pula.
"Kalau bukan lantaran aku jangan harap kalian berani bertingkah dan menghadapinya seperti hari ini "
"Apa kau benar-benar ingin mampus di tanganku?"
"Sudah tentu benar, jika dia berkorban lantaran aku, apakah aku bisa hidup."
"Bagus, kalau begitu biar aku sempurnakan kalian bersama."
"Tunggu!"
Sentak Pho Ang-soat tiba-tiba.
"Apa kau juga tergesa-gesa hendak berlomba mendahului."
Pho Ang-soat tidak menjawab, tidak banyak bicara.
Karena sikapnya sudah menandakan segalanya.
Dalam waktu sesingkat itu, karena kehadiran dan pernyataan Cui-long, dia sudah berubah pula.
Sekarang hatinya yang pepat sudah terbuka.
Sikapnya kembali berubah penuh keyakinan, karena dia sadar bahwa sang jelita yang dipujanya sedikit pun tidak berubah, cintanya murni dan abadi.
Tangan yang memegang golok secara aneh tiba-tiba berubah tenang dan mantap.
Mengawasi perubahan sikap orang, hati Si Toa-han tiba-tiba menjadi ciut, suatu perasaan takut tiba-tiba menjalar dalam sanubarinya, dia insyaf bila sekarang dia tidak bisa membunuh orang di hadapannya ini, mungkin kelak dia takkan punya kesempatan.
Maka dengan menggerung gusar seperti harimau kelaparan dia menerjang maju.
Kampak besarnya yang berat itu sudah terayun menerbitkan deru angin kencang.
Kuntum-kuntum kembang di dalam taman seolah-olah seperti diterpa angin lesus, mendadak rontok beterbangan.
Tapi cepat sekali deru angin dan kembang-kembang yang beterbangan itupun berhenti, kelopak kembang berjatuhan.
Kampak besar itu masih teracung tinggi di atas kepala, tak bergeming, dengan melotot Si Toahan berdiri di tempatnya tanpa bergerak.
Tapi Pho Ang-soat ternyata berada di depannya, berdiri di bawah kampaknya.
Namun goloknya ternyata sudah amblas ke hulu hati Si Toa-han, tinggal gagangnya saja yang masih kelihatan.
oo Kampak Si Toa-han akhirnya meluncur jatuh, tapi sudah tidak bisa mencelakai jiwa siapa pun.
Biji matanya melotot keluar mengawasi Pho Ang-soat.
Dalam matanya penuh dilembari rasa curiga dan tidak percaya.
Tapi sekarang dia harus percaya.
Pho Ang-soat sebaliknya tidak mengawasinya, matanya tertuju pada gagang goloknya.
"Trap" , goloknya masuk kembali ke dalam sarungnya. Tapi Si Toa-han masih berdiri tegak, tiba-tiba dia menghela napas panjang, seolah-olah sedih, rawan dan berkeluh-kesah.
"Sebetulnya aku ingin menganggap kau sebagai temanku."
Itulah kata-katanya yang terakhir. Lalu dia pun terjungkal roboh. Roboh di bawah kembang. oo Pho Ang-soat tetap kaku di tempatnya, sorot matanya yang dingin ternyata menampilkan rona kepedihan.
"Aku sebetulnya tidak ingin membunuhmu."
Namun kata-kata ini tidak dia utarakan, memang ada kalanya kata-kata tidak perlu diutarakan.
oo BAB 32.
SIAU-LI SI PISAU TERBANG Kelopak kembang terakhir berguguran, semuanya berhamburan di atas jenazah Si Toa-han.
Lok Siau-ka tetap berduduk di tempatnya tidak memburu maju memeriksa jenazah temannya dia menatap golok di tangan Pho Ang-soat, sorot matanya yang biasanya dingin kini memancarkan bara yang cemerlang.
"Golokmu cepat sekali!"
Pujinya. Tiba-tiba Lok Siau-ka tertawa, katanya tawar.
"Sayang belum terhitung paling cepat "
Pho Ang-soat tidak memberi reaksi, karena dia sendiri menyadari walau dia berhasil membunuh Si Toa-han, ini belum menandakan bahwa kecepatan goloknya sudah pulih seperti sedia kala Maklumlah meski manusia besi juga akan menjadi loyo tersiksa dan menderita selama tiga belas hari.
Sebaliknya keadaan Lok Siau-ka sekarang sedang berada di puncaknya.
Oleh karena itu tawanya amat riang, tawa yang kejam.
Katanya kalem.
"Sekarang dalam hati kita masing-masing tentu memahami sesuatu."
Pho Ang-soat tetap diam. Karena dia maklum apa juntrungan ucapan Lok Siau-ka.
"Jika aku ingin membunuhmu, sekaranglah kesempatan yang paling baik, hanya orang pikun yang menyia-nyiakan kesempatan baik ini."
"Kau ...."
Teriak Cui-long tertahan.
"Kau pun ingin membunuhnya?"
"Masa kau kira aku ini laki-laki pikun?"
Ujar Lok Siau-ka tertawa.
Kacang dibuka lalu dilempar.
Tangannya kering bersih dan tenang mantap.
Tapi waktu dia mendongak hendak menangkap kacangnya, tahu-tahu sudah hilang.
Seperti tersedot oleh suatu tenaga gaib, kacang itu tiba-tiba meluncur ke belakang, jatuh ke dalam mulut seseorang.
Orang itu duduk di atas kursi dimana tadi Pho Ang-soat duduk, mengunyah kacang pelan-pelan, lalu diambilnya cangkir menenggak secangkir penuh.
Begitu membalik badan Pho Ang-soat lantas melihat dia.
Yap Kay.
Si setan gentayangan Yap Kay.
Dengan tersenyum Yap Kay meletakkan cangkirnya.
Lok Siau-ka tiba-tiba tertawa, katanya.
"Di atas meja masih ada hidangan, kenapa kau rebut kacangku?"
Baca Juga: Pendekar Pemanah Rajawali 19
Baca Juga: Kesatria Baju Putih Chin Yung