Eps 11 Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id
Baca online Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id
Cersil Setan Harpa - Khu Lung Tjan Id.
"Terima kasih banyak atas pertolongan yang telah nona berdua berikan kepada kami!"
"Tak usah banyak adat"
Tukas nona baju hijau yang agak tua-an dengan dingin.
Ketika mendengar suara dingin yang hakekatnya tanpa emosi ataupun perasaan itu, Ong Bun-kim merasakan hatinya bergidik, dengan wajah agak berubah diawasinya kedua orang itu tanpa berkedip.
Nona baju hijau yang lebih tua-an itu kembali berkata dengan suara dingin.
"Kau jangan keburu senang dulu, aku belum menyelamatkan kalian, jarum beracun itu masih belum tercabut keluar"
Ong Bun kim merasa tercekat sekali, tapi kemudian katanya sambil tertawa.
"Tapi bagaimanapun juga kau telah menolong kami semua dari ancaman maut."
"Siapa namamu?"
"Aku bernama Ong Bun kim!"
"Siapa pula kedua perempuan dan seorang pria itu?"
"Yang lelaki adalah anak buahku!"
"Kalau begitu, kau adalah seorang ketua dari suatu perguruan besar dalam dunia persilatan?"
"Benar!"
"Apa nama perguruanmu itu? Aah, soal ini tak perlu kutanyakan, toh kami sama sekali tidak tahu menahu tentang segala macam perguruan yang ada dalam dunia persilatan."
Setelah berhenti sebentar, kembali lanjutnya.
"Siapa pula yang perempuan itu?"
"Dia adalah bibiku dan ciciku !"
"Mereka bertiga sudah terkena jarum berbisa"
Kata nona berbaju hijau itu dengan suara dingin.
"Terutama sekali cicimu, agaknya dia sudah terkena pengaruh ilmu sesat!"
Mendengar perkataan itu Ong Bun kim merasa terperanjat sekali.
"Dari... dari mana kau bisa tahu?"
"Aku dapat melihatnya !"
Timbul rasa hormat dan kagum dalam hati Ong Bun kim setelah mendengar perkataan itu. katanya.
"Tidak kusangka kalau nona adalah seorang tokoh lihay yang berilmu silat sangat tinggi, maaf kalau Ong Bun kim kurang hormat"
"Tak usah sungkan-sungkan, aku ingin bertanya kepadamu, kalian ingin mati ataukah ingin hidup?"
Mendengar pertanyaan tersebut, kembali Ong Bun kim menjadi termangu-mangu.
"Bagaimana dengar, mati? Bagaimana pula dengan hidup?"
"Ada syaratnya!"
"Apakah syaratnya?"
"Jika ingin mati, kami tak akan menolong kalian dan menghantar kalian keluar dari Siau sui kian ini..."
"Seandainya ingin hidup?"
"Aku akan menolong kalian, tapi kalian dilarang pergi meninggalkan tempat ini."
"Jadi kami harus tetap tinggal disini untuk selamanya?"
"Benar, lagi pula kau sudah melihat tubuh adikku dalam keadaan telanjang bulat, lelaki dan perempuan ada batasnya, setelah kau melihat bagian rahasia dari tubuh adikku, sudah sepantatnya jika kau memberi pertanggungan jawabnya pula!"
Ong Bun kim segera merasakan tubuhnya bergidik dan merinding, katanya agak gemetar.
"Maksudmu... maksudmu..."
"Kau harus mengawini adikku!"
"Soal ini..."
"Jika kau tak sanggup untuk melakukan nya, lebih baik kalian mati saja disini."
"Kau menggertak aku?"
Seru Ong Bun kim.
"Boleh dibilang begitulah!"
Untuk sesaat lamanya Ong Bun kim menjadi tertegun dan berdiri termangu-mangu, sampai lama sekali dia baru berkata.
"Boleh saja untuk mengawininya, tapi kami harus pergi meninggalkan tempat ini!"
"Tidak bisa."
"Kenapa kau bersikeras menyuruh kami untuk tetap tinggal disini?"
Seru Ong Bun-kim penasaran.
"Sebab kau dan anak buahmu itu akan menjadi suami kami. kalian harus tahu bahwa jarum beracun itu sudah menghajar paha dan bawah perut kalian, teori ini sudah teramat jelas sekali, dan andaikata kami harus menolong kalian maka terpaksa pakaian musti di..."
Ketika berbicara sampai disitu, mendadak ia membungkam dan tertawa jengah, tambahnya.
"Sekalipun tidak ku jelaskan, tentunya kau juga mengerti bukan?"
"Yaa, aku mengerti!"
"Maka dari itu kalian harus tetap tinggal ditempat ini!"
"Kami toh bisa saja membawa kalian pergi meninggalkan tempat ini...?"
Kata Ong Bun kim.
"Kami tidak akan pergi dari sini, sekarang kau musti pertimbangkan secara baik-baik, mau atau tidak terserah kepadamu sendiri, kami tak akan memaksa!"
Ketika dilihatnya pihak lawan sudah tidak memberi kesempatan lagi untuk melakukan perundingan, maka iapun bertanya Iagi.
"Apakah kau bisa membebaskan pengaruh ilmu Gi sin tay hoat dari kakak misanku itu?"
"Tentu saja bisa!"
Tiba-tiba muncul suatu saat didalam benaknya, dia merasa kalau pun pihak lawan memaksanya dengan menggunakan kekerasan, mengapa tidak ia luluskan lebih dulu kemudian baru membuat rencana selanjutnya?
Jika mereka ingin melarikan diri dari tempat itu, rasanya hal tersebut masih bukan sesuatu perbuatan yang terlalu menyulitkan.
Berpikir sampai disitu, maka ujarnya sambil tersenyum.
"Baiklah kululuskan permintaanmu itu"
"Benar-benar meluluskan atau cuma berpura-pura."
"Tentu saja benar-benar meluluskan!"
"Bagus sekali, jika kau mempunyai niat jahat, akhirnya yang rugi toh juga kalian sendiri!"
Ong Bun kim merasakan hatinya bergidik setelah mendengar perkataan itu, tapi wajahnya masih tetap tenang seperti sedia kala, katanya.
"Tak mungkin, harap kau jangan kuwatir"
"Aku tak akan bisa berlega hati..."
Dia lantas berpaling kearah gadis berbaju hijau disisinya seraya berkata lagi.
"Adikku, ajaklah dia untuk mengobati luka itu!"
Nona berbaju hijau itu segera bangkit berdiri sembari berkata.
"Ong sauhiap, harap kau bersedia mengikuti diriku!"
Seraya berkata ia lantas bangkit berdiri dan beranjak dari tempat tersebut. Baru saja Ong bun-kim akan pergi, nona baju hijau tersebut telah bertanya lagi.
"Ong Sauhiap, ada satu hal lupa kutanyakan kepadamu."
"Urusan apa?"
"Siapakah nama anak buah mu itu?"
"Dia bernama Thia Eng!"
"Ehmm. silahkan kalian pergi!"
Ong Bun kim segera mengikuti nona berbaju hijau yang lebih muda itu menuju ke kamar sendiri.
"Berbaringlah"
Kata nona berbaju hijau itu kemudian. Ong Bun kim tersenyum, tanyanya kemudian.
"Nona siapa namamu?"
"Aku bernama Lu Lan, enciku bernama Lu Hong!"
Ia tertawa, cantik sekali sewaktu tertawa juga menawan hati.
"Nona Lu kenapa kalian bersikeras untuk menahan kami tetap tinggal disini?"
Tanya Ong Bun kim kemudian.
"Ibuku yang menetapkan peraturan tersebut"
Jadwab Lu Yan sambail tertawa, lalu setelah berhenti sejenak terusnya.
"Ong sauhiap, kaupun jangan terlalu menyalahkan kami karena kami telah memaksamu untuk mengawini kami berdua, andaikata luka yang kalian derita letaknya ditempat lain, tentu saja kamipun tak akan memaksa kalian untuk tetap tinggal ditempat ini...."
"Aku mengerti!"
"Suatu perkawinan yang berdasarkan pada suatu paksaan tak mungkin bisa mendapat kebahagiaan, sebab hubungan antara suami isteri adalah hubungan yang didasari oleh cinta kasih, aku pikir lebih baik tunggu saja sampat kalian memahami kami sebelum perkawinan dilangsungkan."
Gadis itu bisa mengucapkan itu, sesungguhnya hal ini sama sekali diluar dugaan Ong Bun kim, mendadak ia menemukan bahwa pihak lawan sangat baik dan berbudi luhur.
Maka diapun tertawa dan manggut-manggut.
Kembali gadis itu berkata.
"Berbaringiah, aku hendak menotok jalan darahmu?"
Sekali lagi Ong Bun kim manggut-manggut dengan suatu gerakan cepat nona berbaju hijau itu mengayunkan tangan kanannya melancarkan sebuah totokan.
Ong Bun kim segera tertidur dengan nyenyaknya...
Ketika sadar kembali, Lu Yan si nona berbaju hijau itu sudah berdiri didepan pembaringan seraya berkata.
"Jarum beracun itu sudah kucabut keluar, akupun telah membubuhkan obat diatasnya, lewat satu dua hari kemudian luka tersebut akan sembuh dengan sendirinya kau tak usah kuatir."
Ong Bun kim menghela napas panjang ujarnya kemudian.
"Nona Lu entah bagaimana caranya aku harus mengucapkan banyak terima kasih kepadamu ?"
"Sudahlah, jumpai mereka!"
"Baiklah!"
Ong Bun-kim lantas turun dari pembaringan dan berjalan keluar dari ruangan, ia merasa meski mulut lukanya agak sakit, akan tetapi sama sekali tidak menjadi halangan lagi, maka dia mengikuti Lu Yan menuju keruangan lain.
Dari dalam kamar tampak seseorang berjalan keluar, dia adalah Lu Hong, wajahnya masih tetap dingin, kaku, tanpa emosi.
Setelah memandang sekejap ke arah Ong Bun-kim, katanya.
"Sekalipun Thiar sauhiap sudah ttermakan oleh jqarum beracun, trapi berhubung kekuatan tubuhnya luar biasa, racun dari jarum tersebut tak mampu menjalar kemanamana, sekarang ia telah sembuh kembali, masuk dan tengoklah dia, adikku, mari kita pergi."
"Bagaimana dengan bibi dan kakak misanku?"
"Sekarang kami akan pergi menolong mereka berdua."
Sesusah berkata, mereka lantas beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.
Ong Bun kim juga jalan masuk kedalam kamar.
Ia saksikan Thia Eng sedang berdiri didepan pembaringannya sambil termangu-mangu, ketika mendengar suara langkah kaki, dia lantas mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Ong Bun kim lekat-lekat, kemudian tegurnya.
"Buncu, apakah kau?"
"Benar, baikkah keadaanmu?"
"Terima kasih banyak atas perhatian buncu, tapi bagaimana kita sekarang ?"
"Apanya yang bagaimana?"
"Nona itu bilang kau dan aku harus tetap tinggal disini"
"Ya, betul!"
"Aaah, hal ini mana boleh jadi? Seandainya dalam perguruan sampai terjadi suatu musibah, akibatnya tentu tak akan terlukiskan dengan kata-kata, apakah Buncu tidak berpikir sampai kesitu?"
"Aku sudah berpikir sampai kesitu, tapi kita harus tinggal ditempat ini."
Secara ringkas dia lantas menceriterakan apa yang terjadi kepada Thia Eng. Mendengar itu, dengan wajah berubah Thia-Eng lantas berseru.
"Kita harus kawin dengan mereka?"
"Benar?"
"Aaaah, hal ini mana boleh jadi... tidak mungkin, tidak mungkin... aku tak bisa menerima syarat ini, aku telah berjanji dengan Yu Cing..."
"Aku tahu,"
Bisik Ong Bun kim.
"itulah sebabnya kita harus melarikan diri dari sini."
"Tapi.... mampukah kita kabur dari sini?"
Yaa. mampukah mereka untuk melarikan diri dan situ? Dengan suara dalam dan berat sahut Ong Bun kim;
"Sekalipun tidak mampu untuk melarikan diri, kita juga harus mencobanya."
"Buncu adalah seorang ketua dari suatu perguruan besar, mana boleh kau ingkari janji yang telah kau ucapkan? Aku lihat cara ini tak bisa dilakukan."
Kontan Ong Bun kim berdiri tertegun setelah mendengar perkataan dari Thia Eng tersebut, betul, bagaimanapun juga dia adalah ketua dari suatu perguruan besar, mana boleh ucapan seorang ketua dari satu perguruan tak bisa dipegang teguh?
Seandainya dia sampai mengingkari janji, dan peristiwa itu sampai tersiar luas didalam dunia persilatan, bukankah semua orang akan mentertawakannya?
Maka sesudah termangu-mangu sejenak, dia pun lantas berpaling dan memandang sekejap kearah Thia Eng, lalu tanyanya.
"Lantas.apa yang musti kita lakukan?"
"Aku.... aku mana tahu !" 0000OdwO0000 BAB 96 SETELAH tertegun beberapa saat lamanya, Ong Bun kim segera menggertak giginya kencang-kencang, kemudian berkata.
"Demi teratasinya semua masalah yang kita hadapi, mau tak mau aku harus mengingkari janji satu kali, selesai membasmi perguruan Yu leng bun dari muka bumi, aku baru akan balik lagi kesini untuk memberi keterangan kepada mereka!"
"Tapi bagaimana caranya untuk melarikan diri"
"Tentu saja kabur dikala mereka sedang tidak menaruh perhatian!"
Thia Eng manggut-manggut, ia cukup memahami perasaan dari Ong Bun kim, seandainya bukan dikarenakan tugas dan kewajibannya yang berat demi kepentingan perguruan, sesungguhnya dia bukan seseorang yang mau mengingkari janji.
Maka kembali Thia Eng bertanya.
"Seandainya mereka memaksa kita untuk kawin?"
"Kita berusaha untuk mengulur waktu."
"Maksudmu kita menunda terus saat perkawinan itu, dan kalau bisa tidak kawin dengan mereka...?"
Tanya Thia Eng dengan wajah tertegun.
"Benar!"
"Tapi kau toh sudah meluluskan permintaan orang!"
"Yaa, ketika itu aku terdesak oleh keadaan, mau tak mau aku musti meluluskan permintaannya."
Thia Eng menghbela napas panjadng, katanya.
"Aaai... aku kuatir bkalau kejadian ini bakal mengakibatkan terjadinya suatu peristiwa yang tak terselesaikan."
Belum lagi perkataan itu disampaikan, terdengar suara langkah perlahan bergema memecahkan keheningan, sewaktu mendongakkan kepala, tampak Lu Yan sambil mengajak Iblis cantik pembawa maut berjalan mendekati mereka.
Kepada Ong Bun kim, Lu Yan berkata sambil tertawa.
"Ong sauhiap, bibimu sudah sembuh dan sehat kembali seperti sedia kala, nah berbincang-bincanglah dengannya."
"Bagaimana keadaan ciciku?"
Dia sedang di bawa oleh ciciku untuk mendapat pengobatan secara khusus guna mematahkan pengaruh Gi sin tay hoat didalam tubuhnya, aku percaya tak lama lagi kesehatannya akan pulih kembali seperti sedia kala, harap kalian berlega hati, apakah masih ada pekerjaan lain yang kalian butuhkan untuk kulakukan?"
Dalam pembicaraan tersebut, dapat terlihat pancaran sinar matanya yang lembut dan mendalam.
"Aai... tak ada urusan lainnya lagi."
Jawab Ong Bun kim sambil tertawa.
"tolong sampaikan kepada cicimu bahwa Ong Bun kim merasa berterima kasih sekali."
"Tak perlu sungkan-sungkan, nah aku pergi dulu"
"Silahkan nona !"
Lu Yan tertawa ewa dan segera beranjak pergi meninggalkan tempat itu... Menatap bayangan punggung Lu Yan dengan wajah termangu, akhirnya tanpa sadar Ong Bun kim menghela napas panjang.
"Mereka betul-betul sepasang nona yang sangat baik!"
Puji Iblis cantik pembawa maut dengan lirih.
"Baik?"
Kata Ong Bun kim dengan wajah tertegun.
"Yaa, aku merasa mereka amat baik, terutama sekali encinya!"
"Apa? Encinya amat baik?"
Teriak Thia Eng pula dengan suara keras.
"tampangnya dingin kaku tanpa emosi..."
"Kau keliru besar, sesungguhnya gadis semacam itulah baru bisa dibilang seorang gadis yang berhati sangat baik, sekalipun mukanya dingin kaku tanpa emosi, padahal perasaannya hangat dan ramah, dan kesemuanya ini merupakan suatu kenyataan yang tak bisa dibantah."
"Aku lihat tak mungkin?"
"Mau percaya atau tidak terserah kepadamu Bun kim, tentunya saudara ini adalah Thia congkoan dari perguruanmu bukan?"
"Betul A ih, aku lupa untuk memperkenalkan kalian berdua."
Iblis cantik pembawa maut segera tertawa katanya.
"Tidak menjadi soal, bila pengaruh Gi-sin tay hoat pada Soh cu telah bebas nanti, kita boleh segera pergi meninggalkan tempat ini."
"Pergi?"
Kata Thia Eng sambil tertawa dingin.
"aku kuatir kalau kita tak akan pergi lagi dari sini untuk selamanya!"
"Kenapa?"
"Mereka tidak memperkenankan kami untuk pergi dari sini!"
"Ooooh... Bun kim, benarkah ada peristiwa semacam ini...?"
Ong Bun kim manggut-manggut dan secara ringkas menceritakan apa yang telah mereka alami kepada Iblis cantik pembawa maut.
Ketika setelah mendengar perkataan itu, paras muka Iblis cantik pembawa maut segera berubah hebat.
"Kalau begitu... kau sudah meluluskan permintaan mereka untuk tidak pergi dari sini?"
Serunya dengan perasaan terperanjat.
"Benar!"
"Dan kaupun sudah mengabulkan permintaan mereka untuk kawin dengan mereka?"
"Betul !"
"Setuju untuk kawin dengan mereka bukan suatu masalah yang terlampau serius, akan tetapi kalau tak boleh pergi meanggalkan tempat ini, urusan jadi berabe, perguruan Sin kiam-bun akan kehilangan pemimpinnya, andaikata sampai terjadi sesuatu peristiwa yang tak diinginkan bagaimana jadinya?"
"Betul, itulah sebabnya kita harus berusaha untuk melarikan diri dari sini!"
"Melarikan diri?"
"Ya, betul, selain melarikan diri aku rasa tiada cara lain yang lebih baik lagi!"
Iblis cantik pembawa maut mengerutkan dahinya rapatrapat, kemudian berkata.
"Yaa, tampaknya terpaksa kita harus berbuat begitu, cuma seandainya kita bisa mempunyai suatu cara yang bisa diubah-ubah menurut keadaan, hal ini jauh lebih baik lagi."
"Cara apakah itu?"
"Tak ada salahnya bagi kalian untuk menikah dengan kedua orang gadis itu."
"Aaah, hal ini mana boleh terjadi?"
Teriak Thia Eng memprotes "aku toh sudah punya kekasih..."
"Wouw...! Tak kusangka begitu setia Thia congkoan terhadap kekasihnya, cuma, andaikata sobat perempuanmu itu tahu kalau gadis itulah yang telah menyelamatkan jiwamu, dia pasti dapat memaafkan perbuatanmu ini"
"Setelah kawin, apa yang harus kami lakukan?"
Tanya Ong Bun kim kemudian.
"Setelah kawin kalian baru melarikan diri, entah berhasil atau tidak, akulah yang akan mengatasi keadaan tersebut nantinya."
"Cara apa yang hendak kau pergunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut."
"Pokoknya akal bagus sudah kususun didalam benak, tak usah kuatir, urusan tak nanti akan bertambah runyam."
Tak lama kemudian kembali terdengar suara langkah kaki manusia menggema datang, menyusul kemudian tampak Lu Hong sambil mengajak si Dewi mawar merah berjalan mendatang, paras muka gadis itu masih tetap dingin, kaku, tanpa emosi.
Sedangkan paras muka Dewi mawar merah penuh diliputi perasaan bingung dan sangsi, ditatapnya sekejap wajah Ong Bun-kim sekalian dengan termangu, kemudian berdiri tertegun disitu tanpa mengetahui apa yang harus dilakukan.
Ong Bun kim sekalian pun berdiri termangu-mangu disana tidak mengetahui pula apa yang musti diperbuat.
Sampai lama, lama sekali, akhirnya Lu Hong yang memecahkan keheningan, katanya.
"Pengaruh ilmu sesat Gi sin tay hoat yang mencekam benakmu kini sudah kupunahkan."
"Terima kasih banyak atas bantuan nona!"
Dengan termangu-mangu Dewi mawar merah menatap wajah Ong Bun kim sekian lama, setelah itu katanya.
"Adik Ong, apa yang telah terjadi? Aku... aku seolaholah telah melupakan segala sesuatu-nya.... aku...akupun merasa seakan-akan telah melakukan banyak pekerjaan?"
"Ya, kau memang sudah melakukan suatu pekerjaan yang menakutkan sekali. Hayo cepat menjumpai ibumu!"
"Ibuku.....?"
Dengan perasaan bergidik dan ngeri ia menatap wajah Iblis cantik pembawa maut lekat-lekat. Iblis cantik pembawa maut segera menghela napas panjang, ujarnya kemudian.
"Ceritakanlah segala sesuatu yang telah terjadi kepadanya, agar ia menjadi jelas dengan segala peristiwa ini!"
Ong Bun kim manggut-manggut dan secara ringkas menceritakan segala sesuatu yang telah terjadi itu kepada Dewi mawar merah...
Ketika selesai mendengarkan kisah cerita itu, tiba-tiba Dewi mawar merah menutupi wajah sendiri sambil menangis tersedu-sedu, serunya dengan amat sedih.
"Oooh Thian! Benarkah aku telah melakukan perbuatanperbuatan yang begitu menakutkan !"
"Benar !"
"Aku..."
Tiba-tiba ia menutupi mukanya sambil menangis terisak, kemudian beranjak dari situ dan menerjang keluar lewat pintu depan.
Ong Bun kim terperanjat sekali, sekali melompat ia lantas mengejar kedepan sambil bentaknya.
"Cici, mau apa kau?"
"Minggir... aku... aku tak ingin hidup lagi..."
Seperti orang gila dia lari meninggalkan tempat itu. Sekali lagi Ong Bun kim melompat ke depan dan menghadang jalan perginya, kemudian membentak lagi keras-keras.
"Cici, kau sudah gila?"
"Aku telah melakukan perbuatan yang amat menakutkan... aku... aku...tak ingin hidup lagi!"
Dalam kesedihan yang luar biasa ia menjadi kalap seperti kehilangan ingatan dan kesadarannya.
"Weess...!"
Sebuah pukulan dahsyat tiba-tiba dilontarkan kedada Ong Bun kim.
"Cici,"
Hardik Ong Bun kim keras-keras.
Tangan kanannya segera diayunkan kemuka untuk menangkis datangnya ancaman tersebut, kemudian sebuah pukulan lain dilontarkan untuk menyongsong serangan dari Dewi mawar merah.
"Blamm."
Suatu benturan keras yang memekikkan telinga segera menggema memecahkan keheningan, secara beruntun Dewi mawar merah mundur sejauh tujuh delapan langkah.
"Cici kau sudah gila?"
Sekali lagi Ong Bun kim membentak dengan suara menggelegar. Dengan termangu-mangu dewi mawar merah mengawasi wajah Ong Bun kim tanpa berkedip lalu katanya.
"Adik Ong, aku tak ingin hidup....."
"Bodoh, semua peristiwa ini terjadi karena hasil karya dari Yu leng Iojin, kesalahan tidak terletak diatas dirimu, jika lantaran urusan kecil saja kau lantas tak ingin hidup, apakah tindakkan mu itu tidak akan menyedihkan ibumu?"
"Tapi... tapi.. aku..."
"Tak perlu berpikir yang bukan-bukan lagi, cepat jumpai ibumu!"
Dewi mawar merah belum beranjak, ia masih berdiri termangu-mangu di situ. Sementara itu, Iblis cantik pembawa maut telah berjalan mendekat, dengan wajah yang basah oleh air mata pekiknya.
"Soh-cu !"
"Ibu !"
Dewi mawar merah menjerit pedih, kemudian secara tiba-tiba lari ke muka dan menubruk ke dalam pelukan Iblis cantik pembawa maut sambil menangis tersedu-sedu.
Yaa, sesungguhnya pertemuan ini memang merupakan suatu peristiwa yang sangat mengharukan.
Lama, lama kemudian Iblis cantik pembawa maut baru mendorongnya bangun, setelah itu katanya sambil menghela napas.
"Sudahlah, segala sesuatunya kini sudah lewat, kau pun tak perlu bersedih hati lagi"
"Tapi ibu....aku... aku merasa amat bersalah kepadamu... aku malu kepadamu..."
"Kesalahan toh bukan terletak pada dirimu, kenapa kau musti merasa bersalah kepadaku?"
Ong Bun kim yang berada di sampingnya segera menimbrung sambil tertawa lebar.
"Cukup! Sekarang kau musti berterima kasih kepada nona Lu serca Thia sauhiap!"
Dewi mawar merah manggut-manggut dan beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Setelah berada dalam kamar lain, Dewi mawar merah lantas berkata kepada Lu Hong.
"Nona Lu terima kasih banyak atas budi pertolonganmu!"
"Tak usah !"
"Cici, sekarang jumpailah Thia sauhiap."
Kata Ong Bun kim kemudian, dia adalah congkoan dan perguruan kami."
Sewaktu sorot mata Dewi mawar merah dialihkan keatas wajah Thia Eng, ia tampak agak tertegun, kemudian untuk sesaat lamanya mengawasi wajah pemuda itu sambil termangu-mangu.
Menyaksikan keadaan ini, semua orang menjadi tertegun dan berdiri melongo.
Ong Bun kim seperti telah menemukan sesuatu, tanpa terasa bergidik hatinya.
"Cici, kenapa kau?"
Tegurnya kemudian. Seperti baru sadar dari impiannya, buru-buru Dewi mawar merah memberi hormat, katanya.
"Thia sauhiap, terimalah salam hormat dari Yap Soh cu."
"Nona Yap tak perlu banyak adat!"
Sahut Thia Eng cepat-cepat sambil tertawa.. Dalam pada itu Lu Hong telah berkata kepada Ong Bun kim sekalian.
"Silahkan kalian berbincang bincang, aku hendak pergi dulu!"
Sambil tertawa Iblis cantik pembawa maut segera berkata.
"Nona Lu, kami bisa mendapat kembali keselamatan jiwa, kesemuanya ini adalah berkat bantuan serta pertolonganmu, kamipun tak akan banyak berterima kasih kepadamu, toh dikemudian Thia sauhiap pasti akan lebih menyayangi dirimu."
Mendengar ucapan tersebut, paras muka Lu Hong yang dingin kaku seperti es itu segera tampak warna semu merah karena jengah.
"Ibu apa yang sedang kau katakan?"
Tiba-tiba terdengar Dewi mawar merah berseru keras.
"Aku sedang mengatakan, Nona Lu dan Thia sauhiap akan segera melangsungkan pernikahannya"
"Sungguh,.,.., sungguhkah ini?"
Suaranya kedeagaraa agak gemetar keras, seakan-akan perasaan kecilnya mendapatkan saatn pukulan yang berat sekali.
Siapa saja itu orangnya dapat mendengar bahwa dibalik ucapan dari Dewi mawar merah itu penuh diliputi oleh perasaan kecewa, sedih dan kecewa yang sangat besar.
Mendengar itu iblis cantik pembawa maut merasakan jantungnya berdebar keras, dia merupakan seorang perempuan juga, sudah barang tentu dia-pun bisa memahami arti perkataan dari putrinya itu.
Tanpa terasa bergidik keras perasaan hati perempuan ini, sahutnya kemudian.
"Tentu saja sungguh."
Tentu saja Lu Hong sendiri dapat melihat jelas perubahan wajah maupun pekikan hati dalam perasaan Dewi mawar merah.
Ong Bun kim sendiri hanya bisa berdiri termangu-mangu sambil mengawasi wajah Dewi mawar merah, perasaan pedih tanpa terasa muncul dalam hati kecilnya.
Kepada Lu Hong, Iblis cantik pembawa maut itu segera berkata.
"Nona Lu, ada satu persoalan aku ingin bertanya kepadamu"
"Katakanlah!"
"Tolong tanya, perkawinan ini hendak dilangsungkan dengan upacara yang bagaimana?"
"Soal ini...."
Lu Hong menjadi jengah sekali sehingga tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Tak usah malu-malu"
Kata Iblis cantik pembawa maut Iagi, toh kita sudah menjadi orang sendiri, upacara perkawinan macam apapun yang kau inginkan boleh dikatakan secara terang-terangan"
"Aku tidak tahu, pokoknya yang sederhanapun sudah cukup!"
"Kalau begitu bagaimana kalau perkawinan tersebut kita selenggarakan pada hari ini jugs!"
"Locianpwe..."
Teriak Thia Eng.
"oooh, betul! Aku dan Ong buncu adalah sesama saudara angkat dia menyebutmu A ih, akupun harus memanggil A Ih pula kepadamu. A ih! Haruslah persoalan ini diselenggarakan cepat-cepat?"
Iblis cantik pembawa maut segera tertawa.
"Cepat atau lambat toh akhirnya kalian harus kawin juga, daripada menunda-nunda lagi, toh ada baiknya kita cepat-cepat selesaikan persoalan ini!"
Kemudian sambil berpaling ke arah Lu-Hong, ucapnya.
"Nona Lu, bagaimana menurut pendapatmu? "Aku aku.... tidak tahu... saat kalian bersungguh hati, kapanpun upacara itu akan diselenggarakan, bagi kami adalah sama saja"
Selesai berkata dengan tersipu-sipu dia lantas menundukan kepalanya rendah-rendah. Kembali Iblis cantik pembawa maut tertawa.
"Kalau begitu, malam ini juga upacara perkawinan kalian berdua akan diselenggarakan."
Begitulah, malam itu dengan suatu upacara perkawinan yang sederhana dan hidmat Ong Bun kim serta Thia Eng melangsungkan pernikahannya dengan kakak beradik keluarga-Lu yang cantik jelita itu, selesai upacara merekapun dihantar masuk kedalam kamar pengantin.
Malam semakin hening...
Setelah berada didalam kamar pengantin, baik Ong Bunkim maupun Lu Yan tak tahu apa yang musti dikatakan, mereka berdua sama-sama merasa rikuh untuk mulai dengan suatu pembicaraan.
Sampai lama, lama sekali, akhirnya Lu Yan memecahkan keheningan lebih dahulu, katanya.
"Ong siangkong, apakah kau tidak bersungguh hati untuk menikah denganku?"
Mendengar pertanyaan itu, Ong Bun-kim segera tertawa.
"Nona tak usah berpikir yang bukan-bukan."
Hiburnya.
"Asal kau bersungguh hati dan tidak mengandung maksud yang tidak baik, aku akan merasa puas sekali, mari kita tidur!"
Gadis itu segera memadamkan lentera dan bersamasama naik ke atas pembaringan.
Malam yang syahdu dan penuh romantis itupun berlalu oleh terbitnya sinar matahari diufuk timur.
Semua kejadian bagaikan suatu impian...
dengan suasana yang mirip dalam impian inilah kedua orang lelaki tersebut melewati suatu malam yang bahagia, romantis dan syahdu tapi justru karena peristiwa semalam membuat kedua orang itu sama-sama merasa sedih dan bimbang.
Sesungguhnya kedua orang gadis itu masih suci bersih merekapun ramah dan halus budinya.
oooOdwOooo BAB 97 TETAPI, dalam suatu keadaan yang terpaksa, kedua orang gadis itu harus menyerahkan kebahagiaan hidupnya kepada dua orang lelaki asing yang sebelum itu tak pernah dikenalnya, berbicara bagi mereka sendiri, siapakah yang bersedia untuk berbuat demikian?
Keesokan harinya, tiba-tiba Ong Bun kim menjumpai Thia Eng agak murung dan sedih, tanpa terasa dia lantas bertanya.
"Thia congkoan kenapa kau?"
Thia Eog memandang sekejap kearah Ong Bun kim lalu sahutnya.
"Buncu, dia..."
Ia menjadi tergagap dan tak sanggup melanjutkan katakatanya.
"Kenapa dia?"
Tanya Ong Bun-kibm keheranan.
"Sdebetulnya merekaa adalah sepasabng nona yang baik sekali!"
"Kenapa?"
"Tahukah kau, mengapa mereka tidak memperkenankan kita berdua pergi meninggalkan tempat ini?"
"Tidak tahu!"
"Sebab ayah mereka dimasa lalupun pergi meninggalkan ibu mereka dan tak pernah kembali lagi, kejadian tersebut membuat ibu mereka menjadi sedih sepanjang hari sehingga akhirnya mati dalam keadaan mengenaskan. Sekarang merekapun takut kehilangan kita berdua, malah semalam ia telah menangis sedih semalam suntuk!"
"Kenapa ia menangis?"
"Dia menangis karena cepat atau lambat kita pasti akan pergi, dia bilang begini.
"Segala sesuatunya sekarang terserah pada suara liangsim kalian sendiri, aku hanya berharap agar kalian jangan lupa dengan kami perempuanperempuan yang mengenaskan!"
"Lantas menurut pendapatmu haruskah kita pergi?"
"Aku tidak tahu!"
"Jadi kita tak akan pergi?"
"Akupun tak tahu!"
Yaa, perasaan batin Thia Eng saat ini betul-betul saling bertentangan, tentu saja hal ini dikarenakan dia adalah seorang pemuda yang jujur, berbudi, tahu akan tanggung jawabnya sebagai seorang lelaki.
Kini ia sudah kawin dengan Lu Hong, tapi bagaimanakah pertanggungan jawabnya nanti dengan Yu Cing?
Sebaliknya kini Lu Hong telah menyerahkan kehormatan serta mahkota kegadisannya kepadanya, tegakah dia pergi meninggalkan gadis tersebut seorang diri?
Apakah dia ingin menjadi seorang lelaki pengecut yang tak bertanggung jawab.
Oleh sebab itu, untuk sesaat lamanya Thia Eng hanya bisa berdiri termangu disana.
Kembali Ong Bun kim berkata.
"Kita harus pergi bagaimanapun juga, kita harus pergi diri sini, pokoknya kau harus ingat, asal kita bisa pergi dari sini. Aku pasti bisa membereskan persoalan selanjutnya"
"Ya, tampaknya kita memang harus berbuat demikian."
Belum habis Thia Eng berkata, terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang memecahkan keheningan, lalu kelihatan Iblis cantik pembawa maut berjalan masuk kedalam ruangan.
Setelah kedua orang pemuda itu memberi hormat, Iblis cantik pembawa maut berbisik kepada mereka.
"Malam ini kalian boleh pergi dari sini!"
Ong Bun kim dan Thia Eng segera manggut-manggut bersama.
Malam itu, selesai bersantap malam dengan menggunakan alasan hendak kencing Ong Bun kim meninggalkan pengawasan Lu Yan sementara Thia Eng juga mengikuti Ong Bun kim berjalan keluar dari kamarnya.
Kedua orang itu saling bertukar pandangan sekejap kemudian-bersama-sama meluncur keluar dari gedung tersebut.
Setelah keluar dari pintu gerbang, mereka baru menjumpai lembah tersebut dikelilingi oleh bukit karang yang keras disekelilingnya, untuk beberapa waktu lamanya Ong Bun kim dan Thia Eng tidak berhasil menemukan jalan keluar.
Kedua orang itu menjadi ragu-ragu dan bimbang untuk sesaat lamanya, dengan sinar mata tajam mereka berusaha mencari ke sana ke mari disekitar sana, akhirnya ia berhasil menemukan sebuah gua karang didepan sana, agaknya gua itulah merupakan satu-satunya jalan tembus ditempat itu.
Dengan suatu gerakan cepat Ong Bun kim segera menerjang masuk ke dalam gua itu, kemudian setelah memberi tanda kepada temannya, bersama Thia Eng mereka berlarian menelusuri gua itu.
Gua itu besar sekali, juga panjang, hampir belasan kaki dalamnya, tiba-tiba dari depan sana berkumandang suara percikan air yang cukup nyaring, ketika Ong Bun kim mendongakkan kepalanya, tampak sebuah air terjun yang amat besar telah menghadang jalan pergi mereka.
Setelah menembusi air terjun tersebut, tibalah mereka didalam kolam dimana mereka terjatuh sebelumnya.
Ong Bun kim menjadi girang sekali, serunya tanpa terasa.
"Akhirnya kita berhasil meloloskan diri dari kurungan!"
"Aaai...! Bagaimana pun juga, aku tetap merasa tak tega untuk pergi meninggalkan mereka!".
"Jangan kuatir, suatu ketika kami pasti akan kembali lagi untuk mencari mereka"
"Aku takut Yu Cing tak dapat memaafkan diriku..."
Ong Bun kim menghela napas panjang, katanya kemudian.
"Kita harus menryuruh mereka unttuk memahami keqadaan kita yangr sesungguhnya."
"Aku kuatir kalau hal ini sulit sekali"
Gumam Thia Eng sambil menghela napas dalam-dalam.
"Untuk sementara waktu, lebih baik kita jangan memikirkan persoalan ini lebih dulu, mari kita pergi!"
Dengan murung Thia Eng manggut-manggut, kemudian bersama Ong Bun-kim melompat naik keatas tepi kolam dan berlarian pergi meninggalkan tempat itu.
Dikala Ong Bun-kim dan Thia Eng sudah siap-pergi da-ri sana inilah, mendadak terdengar suara bentakan nyaring bergema memecahkan keheningan.
"Berhenti!". Dua sosok bayangan manusia laksana sambaran petir cepatnya langsung, menerjang ke arah Ong Bun-kim dan Thia Eng. Bentakan tersebut amat dikenal oleh kedua orang pemuda tersebut, dan pada hakekatnya bagaikan dua batu besar yang menghantam dada mereka keras-keras, membuat kedua orang itu tertegun dan berdiri melongo. Terasa bayangan manusia berkelebat lewat, dua sosok bayangan manusia tahu-tahu sudah melayang turun dihadapan mereka. Ong Bun-kim dan Thia Eng segera mengalihkan sorot matanya ke depan, apa yang kemudian terlihat membuat kedua orang pemuda itu terkesiap sekali. Rupanya kedua sosok bayangan manusia itu adalah Lu Hong dan Lu Yan! Lu Hong muncul dengan wajab penuh kemarahan, sedangkan La Yan bermuram durja dan kelihatan amat sedih. Sambil tertawa dingin Lu Hong segera menegur.
"Heehhh heeehh heeehh kalian berdua akan pergi dengan begitu saja?!"
Teguran tersebut membuat Ong Bun kim serta Thia Eng menjadi serba salah dan tak tahu bagaimana harus menjawab, mereka pun tak mengira kalau begitu cepat Lu Hong dan Lu Yan telah tiba disitu.
untuk sesaat mereka menjadi tertegun dan berdiri bodoh.
Lu Hong kembali tertawa dingin, ejeknya.
"Tidakkah kalian berdua merasa kalau kepergian kalian ini terlampau cepat..."
"Nona Lu!"
Ucap Thia Eng dengan tergagap.
"kami... kami..."
"Bukankah kalian harus pergi dari sini, Ong Bun kim, tindakanmu ini sungguh jauh diluar dugaan kami."
Merah padam selembar wajah Ong Bun kim karena jengah, tapi sahutnya dengan cepat.
"Bagaimanapun juga kami harus pergi dari sini!"
"Tidakkah kalian merasa kalau kepergian Ini terlampau tergesa-gesa? Setelah mempermainkan tubuh kami, kalian lantas ingin pergi dengan begitu saja?"
"Kami sama sekali tidak bermaksud demikian!"
Seru Ong Bun kim dengan gelisah.
"Kalau begitu, kalian berdua menganggap kami sudah tiada harganya untuk dikenang kembali?"
Kamipun tidak pernah berpendapat demikian, cuma, bagaimanapun juga kami harus pergi dari sini."
"Lupakah kalian berdua dengan apa yang sudah kalian janjikan?"
"Kami tak pernah melupakannya!"
"Kalau memang belum melupakannya, mari ikut kami pulang kedalam lembah!"
"Tidak, kami tak bisa turut kalian pulang kembali kedalam lembah"
Sahut Ong Bun kim dingin. Paras muka Lu Hong segera berubah hebat.
"Bagaimana? Jadi kalian bersikeras akan pergi juga dari tempat ini?"
Tegurnya.
"Benar !"
"Kalau aku tidak memperkenankan kalian pergi dari sini?"
"Aku harap kalian sudi beringan tangan terhadap kami"
"Aku tak akan membiarkan kalian pergi dari sini,"
Kata Lu Hong dengan wajah berubah.
"Ong-Bun kim, ketika kalian mengatakan bersedia tinggal disini, aku telah berbicara sangat jelas, seandainya kalian ingin melarikan diri maka yang rugi kalian sendiri"
"Apa yang hendak kau lakukan?"
Tanya Ong Bun kim dengan perasaan bergidik.
"Sederhana sekali, jika kalian bersikeras akan pergi meninggalkan tempat ini, terpaksa aku akan membinasakan kalian berdua."
"Tegakah nona turun tangan sekeji itu terhadap kami?"
"Jika kalian tidak setia lebih dulu, kenapa aku tidak tega untuk membunuh kalian?"
Diam-diam Ong Bun kim merasa amat bergidik sekali, tapi di luar dia tetap berkata.
"Tapi bagaimanapun juga kami harus pergi dari sini."
"Kalau begitu cobalah kau pergi dari sini !"
Paras muka Ong Bun kim menjadi berubah hebat, dia segera tertawa dingin tiada hentinya, dia tidak percaya kalau Lu Hong kakak beradik benar-benar bisa membunuh mereka berdua.
Begitu selesai tertawa dingin, dia lantas menutulkan ujung kakinya keatas tanah dan meluncur kedepan dengan kecepatan luar biasa.
Gerakan tubuh dari Ong Bun kim ini dilakukan dengan kecepatan luar biasa, tapi gerakan tubuh dari Lu Hong jauh lebih cepat lagi daripada dirinya.
Diantara berkelebatnya bayangan manusia, tahu-tahu ia sudah menghadang jalan pergi Ong Bun-kim sambil membentak keras.
"Cari mampus rupanya kau..."
Ditengah bentakan nyaring, telapak tangan kanannya segera diayunkan kedepan.
Pukulan itu dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, seketika itu juga Ong Bun kim di desak mundur kembali kebelakang, selapis hawa pukulan tak berwujud yang kuat sekali Belum sempat tubuhnya berdiri tegak, serangan kedua dari Lu Hong telah dilancarkan kembali.
Agaknya Ong Bun kim tidak menyangka kalau musuhnya memiliki gerakan tubuh yang sedemikian cepatnya, dengan cepat dia menggerakkan badannya siap untuk menghindarkan diri kesamping.
tapi pada saat itulah serangan ketiga dari lawan telah meluncur tiba.
Menghadapi datangnya ancaman tersebut tak sempat lagi buat si anak muda itu untuk menghindarkan diri, agaknya dia segera akan terluka diujung telapak tangan Lu Hong.
Disaat yang kritis itulah, mendadak terdengar suara bentakan nyaring bergema memecah keheningan.
"Tahan !"
Bentakan itu amat keras dan membuat Lu Hong yang sedang melancarkan serangan tanpa terasa menarik kembali gerakan tubuhnya dan mundur kebelakang, Untung saja bentakan tersebut datang tepat pada waktunya, kalau tidak niscaya Ong Bun kim sudah terluka diujung telapak tangan musuh.
Ketika semua orang mendongakkan kepalanya, maka tampaklah Iblis cantik pembawa maut dan Dewi mawar merah telabh muncul di depdan mata.
"Hei, apa yang telah terjadi?"
Iblis cantik pembawa maut segera berpura-pura menegur.
"Kedua orang itu bersiap-siap kabur dari sini setelah merenggut mahkota kegadisan kami!"
Kata Lu Hong dengan dingin. Dengan paras muka berubah, Iblis cantik pembawa maut segera berseru keras.
"Bun kim, tindakanmu ini keliru besar".
"Keliru besar?"
"Benar, kedua orang gadis itu toh sudah menikah dengan kalian berdua, mengapa kalian pergi meninggalkan istri-istri kalian yang baru dikawini?"
"A ih, kami tidak bermaksud melarikan diri dari pertanggungan jawab..."
"Kalau begitu, kalian...."
"Kami hanya terpaksa harus pergi dari sini!"
"Kenapa?"
"Aku adalah seorang ketua dari perguran Sin kiam bun yang membawahi beratus-ratus orang jago, bayangkan saja mungkinkah suatu perguruan besar dibiarkan sehari tanpa pemimpin? Apalagi aku mempunyai dendam kesumat sedalam lautan dengan Yu leng lojin, bagaimanapun juga, dendam kesumat ini harus dituntut balas..."
"Betul."
Kata Iblis cantik pembawa maut kemudian.
"sudah puluhan tahun lamanya Yu leng lojin mencelakai dan menyiksa diriku, akupun harus pergi mencarinya untuk membalas dendam atas sakit hati ini..."
Ong Bun kim segera berkata kembali.
"Andaikata Yu leng lojin menggunakan kesempatan ini melaksanakan penyerbuan terhadap perguruan Sin kiam bun, maka akibatnya benar-benar tak bisa dilukiskan dengan katakata."
"Oleh sebab itu kalian harus pergi dari sini."
"Benar."
Iblis cantik pembawa maut segera berpaling kearah Lu Hong, kemudian katanya;
"Nona Lu, lebih baik biarkan saja mereka pergi dari sini!"
"Apa? Kau... kau.... kau bilang apa?"
"Biarkan saja mereka pergi dari sini!"
"Tidak."
"Tetapi mereka telah berjanji untuk tinggal di sini bersama kalian, tapi seandainya kalian pun mencintai mereka berdua, sewajar-nya bila kalian membantu kedua orang itu. Orang lelaki lebih mementingkatn tanggung jawab pekerjaan darri pada soal cinta, dalam hal ini kalian tak akan sanggup untuk menghalangi niatnya!"
"Tidak bisa. mereka tak bisa pergi tinggalkan tempat ini, bagaimana bila mereka tidak bertanggung jawab dan kabur dengan begitu saja?"
"Tidak mungkin, mereka bukan terhitung manusia semacam itu, atau lebih baik begini saja, bagaimana kalau kalian berdua ikut bersama kami untuk pergi meninggalkan tempat ini?"
"Aaaah, hal ini mana mungkin?"
"Kenapa tidak mungkin? Toh kalian belum tentu enak tinggal di sini terus menerus...."
Mendadak Lu Hong seperti teringat akan sesuatu, ia lantas berkata. -oo0dw0oo--
Jilid 31
"AKU lupa menanyakan sesuatu hal, apakah mereka berdua telah beristri?"
"Waah, kalau soal itu sih aku kurang begitu tahu...."
Jawab Iblis cantik pembawa maut.
"Sudah!"
Sahut Ong Bun-kim cepat.
"Haaaah? Sungguhkan perkataan itu....?"
Seru Lu Hong sambil menjerit tertahan.
"Benar!"
"Kenapa .... kenapa tidak kalian katakan sedari dulu?"
Suara dari Lu Hong itu keras dan nyaring, juga penuh diliputi oleh gejolak emosi!
"Kalian tidak menanyakan soal itu kepada kami, sedangkan kami pun melupakannya .....
aku telah mempunyai tiga isteri, sedangkan Thia congkoan juga sudah mempunyai seorang kekasih...."
Untuk sesaat lamanya Lu Hong berdiri tertegun disitu, agaknya peristiwa ini merupakan suatu peristiwa yang sangat memedihkan hati mereka.
Mendadak kedua orang kakak beradik itu saling berangkulan dan menangis tersedu-sedu.
Isak tangis mereka yang memedihkan hati ini sebaliknya malah membuat Ong Bun-kim dan Thia Eng sama-sama menjadi tertegun.
Iblis cantik pembawa maut memandang sekejap ke arah Ong Bun kim serta Thia Eng, kemudian sambil menepuk bahu Lu Hong dan Lu Yan, hiburnya lembut.
"Kalian berdua tak usah bersedih hati..."
"Mereka... mereka adalah seorang Iblis."
Maki Lu Hong sambil menangis tersedu-sedu.
"mereka... mereka telah membohongi kami berdua."
"Mereka toh tidak membohongi kalian apa-apa..."
Kembali hibur iblis cantik pembawa maut sambil menghela napas.
"bagaimanapun juga, bukan suatu hal yang aneh bila ada seorang lelaki memiliki tiga istri empat orang gundik..
"Tidak.... kaa.,.. kam...."
La menangis dengan teramat sedihnya, saking pedih perasaannya ia sampai tak tahu apa yang harus diucapkan.
"Sudahlah."
Kembali Iblis cantik pembawa maut menghibur.
"bagaimanapun juga. toh urusan telah menjadi begini rupa, lagipula mereka juga tidak termasuk manusia yang melupakan budi, asal kau dapat bergaul dengan berdampingan perempuan yang lain, sesungguhnya hal ini bukan terhitung suatu masalah besar.."
"Tapi. setelah kepergian mereka dari sini, mungkinkah akan balik kembali kemari?"
"Jika kalian pun ikut bersama kami pergi meninggalkan tempat ini, urusan toh beres? Kemungkinan sekali, kami masih membutuhkan bantuanmu dalam menghadapi perguruan Yu-leng bun nanti."
"Kau suruh kami ikut kesana hanya disuruh menerima ejekan dan sindiran mereka ?"
"Tidak mungkin."
"Tidak, kami tiada sanak tiada keluarga, andaikata sikap mereka terhadap kami tidak baik!"
"Begini saja"
Kata Iblis cantik pembawa maut kemudian.
"jika kalian tidak menampik, bagaimana kalau menjadi putriku saja? Jadi andaikata mereka sampai berbuat sesuatu yang menyia-nyiakan kalian, akulah yang akan membuat perhitungan dengan mereka, setuju bukan?"
"Keadaan situasi telah berkembang menjadi begini rupa. tampaknya terpaksa mereka harus berbuat demikian."
Maka Lu Hong dan Lu Yan bersama-sama menjatuhkan diri berlutut diatas tanah kemudian setelah melakukan penyembahan, ujarnya.
"Ibu angkat, harap terimalah hormat dari kami berdua!"
Iblis cantik pembawa maut menjadi girang sekali, katanya kemudian.
"Bagus, bagus! Tak usah banyak adat"
Dengan kedua belah tangannya dia membimbing bangun kedua orang gadis itu, sementara matanya bergidik kearah Ong Bun kim dan Thia-Eng.
Kedua orang pembuda itu segera maju bersama ke depan sambil katanya dengan lambat.
"Terima kasih banyak atas kesediaan Niocu (istri) untuk memaklumi keadaan kami"
Lu Hong melirik sekejap ke arah Thia Eng lalu berkata.
"Asal kau tidak melupakan apa yang telah kukatakan kepadamu hal ini sudah lebih dari cukup."
"Thia Eng tak akan melupakan untuk selamanya"
OooOdwOooo BAB 98
"SUDAH, sudahlah"
Seru Iblis cantik pembawa maut kemudian.
"kejadian yang sudah lewat biarkan saja lewat, kita harus layangkan pikiran kemasa depan. Nah! waktu sudah tidak pagi lagi, kita harus segera lanjutkan perjalanan !"
Mendengar ucapan tersebut, Lu Hong segera berkata kehadapan Iblis cantik pembawa maut.
"Ibu angkat, harap kalian menunggu sebentar disini, aku hendak membereskan buntalanku lebih dulu, sekalian akan kuajak serta satusatunya dayang yang hidup bersama kami selama ini, kasihan kalau membiarkannya hidup seorang diri disini!"
"Baik, pergilah untuk menyelesaikan pekerjaanmu, cepatlah pergi dan cepat kembali"
Lu Hong tidak banyak berbicara lagi, dia segera membalikkan badan dan berlarian menuju ke gua Lui lian tong.
Tak lama kemudian, ia sudah muncul kembali bersama dengan seorang dayang berbaju hijau.
Menanti semua orang sudah berkumpul, Iblis cantik pembawa maut baru berkata.
"Baiklah! Sekarang semuanya telah beres, hayo kita melakukan perjalanan"
Begitulah, satu rombongan yang terdiri dari lima orang perempuan dua orang lelaki segera berangkat meninggalkan Jeram Siao sui kian menuju ke daratan Tionggoan.
Suatu hari sampailah mereka disuatu tempat yang tak jauh letaknya dari gua Bu cing toh.
Mendadak terdengar seseorang membentak dengan suara dingin "Siapa disitu?"
Menyusul bentakkan tersebut, sesosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran petir melayang turun persis dihadapan Ong Bun-kim, ternyata yang datang adalah Yu Cing..".
Begitu menjumpai kehadiran Ong Bun kim dan Thia Eng disitu, dengan perasaan bergolak keras Yu Cing segera berteriak keras.
"Engkoh Thia..."
Dia segera menjatuhkan diri ke dalam pelukan Thia Eng dan menangis terisak saking girangnya.
Tindakan yang dilakukan gadis tersebut sungguh diluar dugaan siapapun termasuk Thia Eng sendiri, ia menjadi tertegun untuk beberapa saat lamanya.
"Nona Yu, kenapa kau?"
Tegur pemuda itu kemudian.
"Kau. ...akhirnya kau kembali juga!"
Rasa cintanya yang amat mendalam terpancar keluar dari balik ucapannya itu. Ong Bun-kim yang menyaksikan kejadian itu segera tertawa lebar-godanya.
"Nona Yu, jangan lupa masih ada kami semua disini! Masa ditinggal pacaran sendiri?"
Merah padam selembar wajah Yu Cing karena jengah, kemudian kepada Ong Bun-kim ujarnya.
"Tecu menjumpai Buncu!"
"Tak usah banyak adat!"
Pelan-pelan Yu Cing mengalihkan sinar matanya kebelakang kedua orang pemuda lalu, kemudian bertanya.
"Siapakah keempat orang itu?"
"Dia adalah A ih ku, yang ini enciku, yang ini..."
Ketika memperkenalkan diri Lu Hong, ia menjadi terhenti sebentar, tapi segera sambungnya kembali.
"Dia adalah istri Thia congkoan..."
"Apa?"
Yu Cing segera menjerit tertahan, paras mukanya berubah sangat hebat dan secara beruntun dia mundur sejauh tiga-empat langkah lebih kebelakang.
Diam-diam tercekat juga perasaan Ong-Bun kim setelah menyaksikan kejadian itu, tapi ujarnya kembali.
"Dia adalah isteri Thia Eng congkoan, bernama Lu Hong."
Mendengar perkataan itu, paras muka Yu Cing segera berubah menjadi pucat pias bagaikan mayat, perkataan dari Ong Bun kim ibaratnya guntur yang membelah bumi ditengah hari bolong dengan cepat membuat Yu Cing berdiri bodoh dan kaku bagaikan sebuah patung arca di dalam sebuah kuil.
Yaa, hakekatnya kenyataan ini merupakan suatu pukulan yang sangat berat bagi perasaan gadis ritu.
Air matanyta segera jatuh qbercucuran bagarikan anak sungai, mukanya berubah menjadi pucat pias seperti mayat, sambil menahan isak tangisnya ia bergumam lirih.
"Kau telah kembali akhirnya kau telah kembali juga.... tapi kau kembali dengan membawa seorang isteri....!"
Mendadak ia menutup muka sendiri sambil menangis tersedu-sedu, kemudian tanpa berbicara lagi ia membalikkan tubuhnya berlari menuju ke gua Bu cing tong.
Dengan perasaan tercekat Thia Eng memburu kemuka dan menghadang dihadapan Yu Cing, lalu serunya-dengan cemas.
"Nona Yu! Jangan pergi dulu.... coba dengarkan dahulu penjelasanku"
"Tidak perlu! Kau tidak perlu memberi keterangan lagi"
Bentak Yu Cing dengan setengah kalap.
"aku tak sudi mendengarkan perkataanmu lagi, enyah kau dari hadapanku"
Tanpa berpikir panjang, telapak tangannya segera diputar sambil menepuk kedepan, sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke dada Thia Eng.
Dengan cekatan Thia Eng menghindarkan diri ke samping.
kemudian melompat mundur kebelakang.
Pada saat itulah Ong Bun kim meIompat ke-muka dan menghadang ditengah antara kedua orang itu, bentaknya.
"Nona Yu, tahan"
Mendengar bentakan itu, serta merta Yu Cing menarik kembali serangannya sambil mundur dua langkah kebelakang, kemudian sambil mengawasi wajah Ong Bun kim lekat-lekat ia bertanya dengan suara yang serak kedengarannya.
"Buncu ada perintah apa?"
Ong Bun kim segera tertawa terbahak-bahak dengan nada setengah menggoda serunya.
"Nona Yu, tampaknya besar juga api cemburumu? Tapi kata orang semakin besar rasa cemburunya, itu menandakan kalau semakin besar pula rasa cintanya!"
"Aku..."
"Nona Yu, apabila duduknya persoalan tidak diketahui dengan jelas, lebih baik jangan mengumbar rasa cemburumu lebih dulu, tahukah kau, coba kalau kami tidak diselamatkan jiwanya oleh nona Lu, sudah sedari dulu nyawa kami pulang ke alam baka"
"Ooh! Jadi ia menikah dengannya lantaran untuk membalas budi pertolongan itu?"
Dalam pada itu, Lu Hong telah berjalan menghampiri Yu Cing, kemudian ujarnya dengan lembut.
"Nona Yu, dalam peristiwa ini kamilah yang bersalah, sesungguhnya dia memang tak mau menikah denganku..."
Secara ringkas dia lantas menceritakan semua peristiwa yang telah terjadi, menceritakan juga dimana letak luka yang diderita Ong Bun kim berdua sehingga mau tak mau terpaksa mereka harus memaksa kedua orang pemuda itu untuk mengawini dirinya berdua.
Setelah mendengar penjelasan tersebut, Yu Cing segera menghela napas panjang katanya.
"Kalau begitu aku yang sudah salah menuduh kalian... seandainya taci berdua tidak menolong mereka, mungkin jiwa mereka berdua sudah melayang sedari dulu.... sudahlah, aku..... aku tidak akan menyalahkan kalian."
"Kalau begitu, kau bersedia memaafkan aku bukan?"
"Kau tidak seharusnya meminta maaf kepadaku, sebab kau sana sekali tidak bersalah."
"Kalau memang begitu, kau harus kawin dengan Thia congkoan, aku tahu dia sangat mencintai dirimu... bersediakah kau untuk mempunyai suami yang sama denganku?"
Yu Cing menghela napas panjang, agaknya dia tak menyangka, kalau Lu Hong memiliki jiwa yang begitu terbuka, kepada Lu Hong segera ujarnya.
"Asal kau bersedia, aku akan berterima kasih sekali kepadamu.... Apa pula yang akan kukatakan lagi?"
Suatu pergolakan samudra cinta, akhirnya berhasil juga ditenangkan kembali. Maka Yu Cing lantas berkata kepada Ong Bun kim.
"Semua anggota perguruan mengira kalian berdua telah tewas ditangan musuh..."
"Bagaimana dengan Hu kaucu..?"
Tanya Ong Bun kim kemudian dengan cepat.
"Kemarin dulu dia sudah kembali kemarkas!"
"Selama beberapa hari belakangan ini, apakah didalam perguruan telah terjadi sesuatu peristiwa yang luar biasa?"
"Tidak ada, cuma selama dua hari belakangan ini dalam perguruan telah kehilangan dua puluhan orang anggota kita, malah termasuk juga diantaranya Ti teng kok dan kelelawar malam."
"Aaah Masa benar benar sudah terjadi perisitiwa semacam itu ?"
"Betul"
"Mari kita cepat masuk !"
Selesai berkata, dengan suatu gerakan yang amat cepat Ong Bun kim segera meluncur kedepan dan menerobos masuk kedalam gua Bu cing-tong.
Dalam pada itu wakil ketua Tan Liok, Giok-bin hiap Tiang seng lojin.
Tay khek cinkun.
Kwan Siau ciu sekalian beserta ratusan anggota perguruan lainnya telah menyambut kedatangannya di luar gua.
"Tecu sekalian menyongsong kedatangan Buncu didalam markas besar perguruan."
Kata Tan Liok.
"Silahkan kalian semua bangkit berdiri"
Ucap Ong Bun kim.
"Terima kasih Buncu"
Serentak semua orang bangkit berdiri.
Ketika Dewi mawar merah bersua kembali dengan Hian ih lihiap kedua duanya saling berpelukan sambil menangis tersedu-sedu.
Ong Bun kim sendiri setelah bertemu dengan ketiga orang istrinya yakni Lan Siok ling, Kwan Siok kim dan bunga Iblis dari neraka, ia baru memperkenalkan Iblis cantik pembawa maut kepada semua orang.
Serentak semua orang bangkit berdiri dan memberi hormat kepada Iblis cantik pembawa maut.
Setelah itu Tan Liok baru berkata kepada Ong Bun kim.
"Buncu bagaimana ceritamu sehingga bisa meloloskan diri dari mara bahaya?"
Ong Bun kim lantas mengisahkan kembali pengalamannya selama ini, sekalian memperkenalkan Lu Hong dan Lu Yan kepada semua orang.
Lu Yan pun lantas memberi hormat kepada Lan Siok ling, Tan Hong hong serta Kwan Siok kim, sementara ketiga orang gadis itu pun menaruh rasa suka dan sayang kepada Lu Yan, berhubung gadis itu telah menyelamatkan jiwa Ong Bun kim.
Setelah suasana santai berlalu, dengan wajah serius Ong Bun kim baru berseru.
"Hu buncu"
"Tecu ada disini!"
"Konon dalabm perguruan kitda telah kehilangan belasan orang anggota perguruan tanpa diketahui jejaknya lagi?"
"Benar!"
"Kenapa.?"
"Maaf Buncu, tecu tak mampu untuk memecahkan tekateki ini, meski penyelidikan telah dilakukan dengan seksama, akan tetapi hasilnya tetap nihil."
Mendengar jawaban tersebut, Ong Bun kim mengerutkan dahinya rapat-rapat, ia merasa kejadian tersebut sesuatu yang mustahil bisa terjadi, masa dua puluhan orang anggota perguruan bisa lenyap dengan begitu saja hingga hilang tak berbekas?
Akhirnya Ong Bun kim memimpin para anggota perguruannya masuk kembali ke dalam gua Bu cing tong.
Setelah Tan Liok menyerahkan kembali pedang Sin kiam tersebut, berkatalah Ong Bun kim.
"Silahkan kalian beristirahat, jika ada urusan kita bereskan besok saja!"
Semua anggota perguruan segera mengundurkan diri dari ruangan pertemuan dan kembali ke kamarnya masingmasing untuk beristirahat.
Ong Bun kim dengan mengajak Lan Siok ling, Tan Hong hong, Kwan Siok kim dan Lu Yan kembali kedalam kamarnya sendiri, makin dipikir persoalan itu dia merasa kejadian ini semakin mencurigakan dan sama sekali tak masuk diakal.
Kepada Kwan Siok kim tanyanya kemudian.
"Adik Kwan, ketika terjadi peristiwa tersebut, apakah kau sama sekali tidak tahu apa-apa?"
"Aaaa masa begitu aneh kejadiannya ! Kapan terjadinya peristiwa itu?"
"Hari ini dan kemarin!"
Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Ong Bun kim, tanyanya kembali.
"Siapa-siapa saja yang turut lenyap dalam peristiwa aneh yang terjadi kali ini?"
Satu persatu Kwan Siok kim segera menyebutkan namanama mereka yang turut lenyap dalam peristiwa itu.
Ternyata diantara yang lenyap itu selain si kelelawar malam dan Tamu pembawa lampu, terdapat Juga kaucu dari Hiat hoo kau dan Cengcu dari Pek im ceng.
Mendadak Ong Bun kim bangkit berdiri dan berjalan keluar dari kamar...
"Kau hendak kemana?"
Dengan cepat Tan Hong hong bertanya.
"Kalian tidurlah dulu, aku akan keluar."
Setelah berada diluar pintu, Ong Bun kim langsung menuju ke kamar tidurnya Hu buncu Tan Liok.
Jarak antara kamar Hu buncu dengan kamarnya hanya selisih beberapa langkah saja.
Ong Bun kim segera mengetuk pintu.
"Siapa ?"
Dari ruangan terdengar suara dari Hu buncu Tan Liok menyahut.
"Hu buncu, aku..."
Tan Liok segera membuka pintu dan buru-buru memberi hormat, katanya cepat.
"Buncu, ada urusan apa malam-malam begini kau berkunjung kedalam kamarku?"
"Hu Buncu, terhadap lenyapnya para anggota perguruan kita, apakah kau sudah mengutus orang untuk melakukan pemeriksaan dan penyelidikan yang seksama?"
"Sudah, sudah dilakukan pemeriksaan yang seksama, akan tetapi hasilnya nihil!"
"Kalau begitu coba undanglah kemari Tiang-siang lojin membahas bersama persoalan ini!"
"Baik !"
Setetah mengiakan Tan Liok segera berangkat dan berjalan keluar dari pintu ruangan.
Begitu Tan Liok sudah berlalu dari dalam ruangan, dengan suatu gerakan yang amat cepat Ong Bun kim menerobos masuk ke dalam ruangan, sementara sepasang matanya yang jeli memeriksa setiap sudut dinding ruangan itu dengan seksama.
Apakah Ong Bun kim curiga kalau Tan Liok yang telah membunuh anggota perguruannya?
Yaa, benar, ia memang mencurigai Tan-Liok, sebab ketika mereka meninggalkan perguruan Yu leng bun, Tan Liok masih melangsungkan pertarungan sengit melawan Yu leng lojin, siapa tahu kalau Tan Liok telah ditawan oleh Yu leng lojin dan dicekoki pil Huan sim wan?
Bila pil itu telah masuk kedalam perut, maka dia akan mulai membunuh manusia.
Kecuali Tan Liok yang melakukan pembunuhan tersebut, siapa pula yang bisa membuat kawanan jago lihay itu lenyap tak berbekas.
Setelah masuk kedalam kamar Tan Liok, dengan seksama Ong Bun kim mulai melakukan pemeriksaan disetiap saat ruangan, akhirnya dalam kamar tersebut ia berhasil menemukan sebuah pintu kecil.
Ketika pintu didorong maka terbukalah pintu itu kesamping dan muncul sebuah ruangan, ruangan tersebut gelap sekali, dengan sangat berhati-hati Ong Bun kim segera berjalan masuk kedalam.
Baru berjalan lebih kurang satu kaki mendadak kakinya seperti tersangkut dengan suatu benda, ketika diamati dengan seksama, tiba-tiba ia menjerit kaget.
Ternyata puluhan sosok mayat bergelimpangan diatas tanah.
Bergidik Ong Bun-kim menyaksikan kejadian itu, untuk beberapa saat lamanya dia sampai berdiri tertegun di tempat itu.
Peristiwa ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang tak berani dia percayai, ternyata Tan Liok betul-betul sudah diberi pil Huan-sim-wan oleh Yu-leng lojin dan ia sudah mulai membantai anggota perguruannya secara keji.
Mendadak ...
Dikala Ong Bun-kim sedang berdiri termangu-mangu itulah, terdengar suara tertawa dingin yang menyeramkan berkumandang memecahkan keheningan.
Dengan perasaan terkesiap Ong Bun-kim segera berpaling ke belakang entah sejak kapan Tan Liok telah berdiri dibelakangnya dengan wajah yang mengerikan sekali.
Hawa napsu membunuh yang amat tebal menyelimuti seluruh wajahnya, dengan suara yang menyeramkan dia berkata.
"Buncu! Kau memang terlalu cerdik....sudah kuduga, kau pasti mengetahui rahasiaku ini..."
Semacam perasaan seram, ngeri dan takut yang belum pernah dirasakan sebelumnya dengan cepat menyelimuti perasaan Ong Bun-kim, segera bentaknya dengan keras.
"Hu-buncu, kau..."
"Benar, akulah yang telah menjagal ke dua puluhan orang anggota perguruan kita yang telah lenyap beberapa hari ini!"
"Hu-buncu, kau masih tidak menyerahkan diri untuk mengaku dosa ?"
Mendengar perkataan itu, Tan Liok segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh..... haaahh.... haaahhh..... Buncu, kau pun seseorang yang sudah hampir mati..."
Ong Bun-kim memandang sekejap sinar mata Tan Liok yang diliputi oleh hawa pembunuhan itu, kemudian tegurnya.
"Kau... kau apa... apa yang hendak kau lakukan?"
"Apa yang hendak kau lakukan? Haahhh... haaahh... haahhh... tentu saja membunuhmu!"
"Kau... kau berani?"
"Buncu rahasiaku sudah kau ketahui, tentu saja aku tak akan berdiam diri saja menunggu sampai kau yang datang membunuhku. Buncu! Serahkan pula selembar nyawamu!"
Tiba-tiba dia menggerakkan tubuhnya dan langsung menerjang ke arah Ong Bun kim.
Kejadian ini segera membuat perasaan Ong-Bun kim menjadi amat terkesiap.
Sewaktu memasuki ruangan kecil itu tak seorangpun yang mengetahui selain itu ilmu silat yang dimiliki Tan Liok juga jauh lebih Iihay dari pada kepandaiannya bila pertarungan sampai berlangsung maka sudah pasti dia bakal tewas ditangan Tan Liok.
Yaa.
kejadian ini sesungguhnya merupakan suatu peristiwa yang cukup menggetarkan perasaan siapa pun.
Begitu Tan Liok menubruk kemuka sambil melancarkan serangan, Ong Bun kim segera meloloskan pedangnya sambil melancarkan sebuah serangan dengan kecepatan luar biasa.
Ong Bun kim tahu dalam hatinya, dalam keadaan demikian dia perlu nekad dan bila perlu beradu jiwa, apapun yang terjadi, ia harus berusaha keras untuk meloloskan diri dari dalam ruangan rahasia tersebut.
Asal pertarungan tersebut dapat dialihkan kedalam kamar Tan Liok, maka Thia Eng yang tinggal di kamar sebelah, Giok bin hiap dan istrinya yang berada dalam kamar lain, niscaya akan mendengar suara pertarungan ini dan berdatangan ke sana.
Oleh karena itu didalam melancarkan serangannya ini, Ong Bun kim telah mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya.
Pedang Sin kiam memang bukan sebilah pedang sembarangan, dibawah sambaran cahaya pedang yang berkilauan.
Tan Liok kena di desak balik kembali ke tempat semula.
Ong Bun kim segera membentak keras, secara beruntun dia melancarkan tiga buah serangan lagi.
Tan Liok memang tak malu disebut seorang jagoan yang berilmu sangat tinggi, setelah berhasil memunahkan ketiga buah serangan berantai yang dilancarkan Ong Bun-kim, dengan cepat dia balas melancarkan pula dua buah serangan dahsyat.
oooOdwOooo BAB 99 DI DALAM melancarkan serangan tersebut, Tan Liok bukan saja mempergunakan tenaga serangan yang kuat, gerakkannya pun amat cepat dan jurus serangannya amat ganas, tampaknya ia bertekad untuk membinasakan Ong Bun kim di ujung telapak tangan.
Ong Bun kim pantang menyerah dengan begitu saja, dia melakukan perlawanan dengan mati-matian, soal mati hidup sudah tidak dipikirkan lagi.
Suatu pertarungan sengit antara mati dan hidup pun segera berlangsung dengan hebatnya.
Walaupun Ong Bun kim telah melancarkan serangkaian serangan nekad yang tidak memperdulikan mati hidupnya, namun tetap gagal untuk memaksa Tan Liok mundur kebelakang, dengan keadaan semacam itu, Ong Bun kim segera menyadari kalau gelagat tidak menguntungkan.
Mendadak...
Tan Liok membentak keras, dua buah pukulan dahsyat dilancarkan secepat kilat.
Ong Bun kim menjadi amat kaget dan tak sempat menghindarkan diri lagi, tubuhnya segera tersapu oleh tenaga pukulan lawan...
"Uaak!"
Darah kental segera menyembur keluar membasahi seluruh permukaan, tubuhnya juga turut roboh terjengkang keatas tanah.
Tan Liok semakin garang, sambil melompat ke muka dia lancarkan tubrukan maut.
Mendadak Ong Bun kim melompat bangun dari atas tanah, cahaya tajam berkilauan diudara, bersamaan dengan melompat bangunnya badan tadi, pedang Sin kiam tersebut disambitkan ke arah Tan Liok.
Tindakan yang dilakukan Ong Bun kim ini sama sekali diluar dugaan Tan Liok, buru-buru dia berkelit kesamping mencoba untuk menghindarkan diri, sayang sekalipun dia cepat toh tindakan tersebut terlambat juga selangkah.
"Breeet....!"
Pakaian yang dikenakannya itu gobek sebagian besar, darah segar segera bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.
Dikala Tan Liok sedang menghindarkan diri dari ancaman itulah.
Ong Bun kim sambil mempertaruhkan jiwanya kabur menuju ke arah jalan semula.
Tindakan dari Ong Bun kim ini sama sekali diluar dugaan Tan Liok, menanti ia menyadari akan hal tersebut, Ong Bun kim sudah keluar dari dalam ruang rahasia tersebut.
Tan Liok segera membalikkan badan sambil melancarkan tubrukan, bentaknya.
"Kau anggap bisa kabur dari cengkeramanku ?"
Dengan gaya harimau lapar menerkam kambing, ia menerjang ketubuh Ong Bun kim.
Dalam pada itu Ong Bun kim sudah berada didalam kamarnya, darah segar muntah terus dari mulutnya, tampaknya ia sudah tak bertenaga untuk melakukan serangan lagi.
Mendadak...
Ditengah bentakan keras yang memekikkan telinga, sekali lagi Tan Liok melancarkan serangannya menghantam tubuh Ong-Bun kim, serangan tersebut dilancarkan dengan kecepatan luar biasa.
Ong Bun kim membentak nyaring!
"Tan Liok kau berani membunuhnya?"
Sewaktu membentak Ong Bun kim telah berteriak dengan mempergunakan sisa sekuatan yang dimilikinya, suara itu keras memekikkan telinga, dalam bentakan itu pula dia menangkis datangnya ancaman tersebut.
"Blaaammm !"
Benturan kekeresan itu membuat Ong-Bun kim merasakan pandangan matanya berkunang-kunang dan kepalanya pusing tujuh keliling.
"Uaaaaakkkk...."!"
Sekali lagi dia muntah darah tegar, tubuhnya segera roboh terkapar diatas tanah. Tan Liok tertawa seram.... selangkah demi selangkah dia maju kedepan siap mencabut nyawa pemuda itu.
"Blaamm....!"
Tiba-tiba terdengar benturan yang keras sekali, pintu kamar itu tahu2 didobrak orang menyusul kemudian Thia Eng melangkah masuk dengan tindakan Iebar.
Ketika dia mengetahui apa yang telah terjadi, dengan perasaan tercekat segera tanyanya.
"Hai apa yang terjadi?"
Tan Liok tidak menjawab pertanyaan itu. selangkah demi selangkah dia berjalan menghampiri Thia Eng, kemudian bertanya.
"Thia congkoan, serahkan saja selembar nyawamu!"
Thia Eng sama sekali tidak tahu apa gerangan yang telah terjadi, ketika serangan dahsyat dari Tan Liok meluncur datang, bagaimana ia mungkin bisa menghindarkan diri? "Blaaamm..."
Ditengah benturan keras, serangan itu bersarang telak diatas tubuh Thia Eng, sambil muntah darah segar tubuhnya segera mencelat ke luar pintu.
Sesosok bayangan manusia segera menyambut datangnya tubuh Thia Eng yang sedang melayang keluar itu.
Dalam pada itu puluhan orang jago telah bermunculan didalam ruangan itu, orang yang berada dipaling depan adalah Giok bin hiap, kedengaran ia membentak dengan suara keras.
"Hu buncu. apa-apaan kau ini... Hai, apakah kau sudah tidak waras otaknya?"
Tan Liok mengalihkan sinar matanya memperhatikan keadaan disekeliling tempat itu, tampak olehnya Tiang seng lojin, Tay khek Cinkun, Lui Thian ciu, Kwan Siau ciu, Leng po siancu, Iblis cantik pembawa maut.
keempat orang istri Ong-Bun kim beserta Lu Hong telah berdatangan semua ditempat itu.
Dengan suara yang menggetarkan sukma, wakil ketua dari Sin kiam bun ini kembali membentak.
"Hm kalian boleh maju kedepan dan mencoba-coba untuk menyerang diriku!"
"Hu buncu !"
Dengan suara menggeledek Giok bin hiap membentak keras.
"sebenarnya apa yang telah terjadi?"
Dalam pada itu, Ong Bun kim telah bangkit berdiri, terus menyeka darah yang membasahi ujung bibirnya, ia membentak keras.
"Hu buncu, mengapa kau tidak segera menyerahkan diri untuk mengaku dosa-dosamu?"
Tan Liok mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak dengan seramnya.
"Haaahhh..... haaahh... haaahhh mengaku salah? Hmmm... Siapakah diantara kalian yang sanggup untuk menghadapi diriku? Siapa.....?"
"Buncu, sebenarnya apa yang telah terjadi?"
Dengan perasaan keheranan Giok bin hiap segera bertanya.
"Dia telah membunuh puluhan orang jago lihay kita, orang-orang yang lenyap selama ini ternyata dibantai semua ditangannya! Dialah pembunuh keji itu!"
"Haaahhh !"
Giok bin hiap menjerit kaget.
"sungguhkah perkataanmu itu?"
"Tidak salah lagi?"
Jawab Tan Liok pula sambil tertawa dingin.
"aku telah membunuh mereka, oleh karena perbuatanku diketahui oleh Buncu, maka aku hendak membunuh dirinya..."
Pengakuannya yang terang-terangan ini segera membuat semua orang merasa terperanjat sekali sehingga untuk beberapa waktu lamanya mereka hanya berdiri tertegun.
Peristiwa ini merupakan suata bkejadian yang mdimpipun tak peranah diduga olehbnya tapi kenyataannya telah terjadi, yaa siapa yang akan menduga jika anggota perguruan Sin kiam bun mereka sendiri..?
Sambil tertawa dingin Tan Liok lantas berkata.
"Minggir kalian semua, aku akan pergi."
Seraya berkata dia lantas beranjak dan siap berlalu dari dalam ruangan tersebut. Dengan suara dalam dan berat Giok bin hiap segera membentak.
"Hu buncu, dosamu besar dan tak terampuni, apakah kau belum juga menyerahkan diri?"
Tan Liok adalah seseorang yang kesadaran otaknya sudah mundur dan tidak normal, ketika mendengar perkataan itu ia mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.
Mendadak sebelum gelak tertawanya selesai, ia melompat kedepan sambil melancarkan terjangan kilat, sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan kemuka.
Mendadak.,...
Suara bentakan nyaring bergema memecahkan keheningan, Lu Hong yang berdiri disamping telah menerjang kemuka dengan kecepatan luar biasa, begitu tiba dihadapan Tan Liok, sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke depan.
Serangan yang dilancarkan Lu Hong ini dilakukan dengan kecepatan luar biasa, ternyata akibat-nya Tan Liok kena didesak oleh serangan tersebut sehingga terus mundur kembali ketempat semula.
Paras muka semua orang berubah hebat setelah menyaksikan kejadian itu, tak seorangpun yang menduga kalau ilmu silat yang dimiliki Lu Hong telah mencapai kehebatan yang begitu luar biasa.
Sekalipun Tan Liok sendiri juga dibikin terperanjat oleh serangan ini, Tanpa terasa mukanya berubah hebat, bentaknya.
"Siapa kau?"
"Aku bernama Lu Hong, sejak pertama kali berjumpa denganku tadi, aku telah tahu kalau tubuhmu sudah terkena racun yang teramat keji, coba kalau kedudukanmu bukan wakil ketua dari perguruan Sin kiam bun, sejak tadi rahasiamu sudah kubongkar, sekarang lebih baik menyerah saja."
"Hmm ! Jangan dianggap kau hebat sendiri, silahkan saja untuk menjajal kemahiranku ?"
Lu Hong segera membentak keras, sekali lagi dia meluncur ke depan sambil melancarkan sebuah pukulan dahsyat.
Dalam melancarkan serangan kali ini, Lu Hong telah memakai segenap tenaga dalam yang dimilikinya, kehebatan dari serangan terdsebut betul-betaul luar biasa sbekali.
Tan Liok juga tak mau menunjukkan kelemahan dengan cepatnya, secara beruntun dia melancarkan juga tiga buah serangan.
Dalam pada itu, Giok bin hiap telah berjalan kehadapan Ong Bun kim, segera tegurnya.
"Bun-cu, bagaimana keadaanmu? Tidak apa-apa bukan?"
Dengan keadaan yang mengenaskan Ong Bun kim mengangguk lirih.
Giok bin hiap cukup memahami perasaan Ong Bun kim pada saat ini, sebab Tan Liok adalah seorang anggota perguruan yang setia tapi ia toh melakukan juga peristiwa semacam ini, tak heran kalau kejadian ini membuat hatinya merasa pedih sekali.
Mendadak terdengar suara bentakan nyaring berkumandang memecahkan keheningan.
"Roboh kau...!"
"Blaaammm..."
Diiringi bentakan keras yang memekikkan telinga, tubuh Tan Liok roboh terjengkang ke atas tanah.
Akhirnya Tan Liok berhasil juga dikuasahi, semua orang yang berada disekeliling arena baru tersadar kembali dari lamunannya.
Ong Bun Kim menghela napas panjang, tiba-tiba air matanya jatuh bercucuran membasahi pipinya.
Kepada Lu Hong katanya kemudian.
"Terima kasih banyak atas bantuanmu yang telah menaklukkan dirinya, kalau tiada kau entah bagaimana akibatnya?"
"Buncu perlukah ku bunuh dia.......?"
Tanya Giok bin hiap tiba-tiba.
"Jangan!"
Sahut Ong Bun kim sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, kemungkinan besar dia sudah dicekoki pil Huan sim wan dari Yo leng lojin sehingga ia sampai melakukan perbuatan terkutuk tersebut.
Sekarang yang harus kita lakukan adalah bagaimana caranya untuk selamatkan dia dari pengaruh obat beracun itu."
"Buncu aku mempunyai obat yang mujarab untuk membebaskan dia dari pengaruh obat itu!"
Kata Lu Hong tiba-tiba.
"Sungguh?"
"Betul!"
"Kalau begitu cepat bebaskan dia dari pengaruh obat sesat yang menghilangkan pikiran itu."
Lu Hong manggut-manggut, dari dalam sakunya dia mengeluarkan sebuah botol porselen kecil dalam botol porselen itu berisikan cairan berrwarna putih, dengan paksa dia membuka mulut Tan Liok lalu meneteskan beberapa tetes cairan kedalam mulutnya kemudian dengan mengerahkan tenaga dalamnya yang sempurna mulai menguruti berbagai jalan darah penting disekujur badan Tan Liok.
Sementara itu, Ong Bun kim telah berjalan maju kedepan dan memungut kembali pedang sin kiamnya dari atas tanah, Tiang seng lojin juga mengeluarkan sebutir pil dan diberikan kepada Ong Bun kim agar ditelan, kemudian katanya.
"Ternyata dugaanku tidak meleset, pada akhirnya ilmu sesat dari Yu leng lojin berhasil juga dipatahkan oleh orang, ya...! Jasa ini boleh dibilang merupakan jasa dari Lu Hong"
Ong Bun kim manggut-manggut, dalam kenyataan seandainya dalam peristiwa hari ini tiada Lu Hong yang hadir disana, maka akibatnya sukar untuk dibayangkan dengan kata-kata.
Dalam pada itu setelah Tan Liok diberi minum air suci "Leng sui", kemudian diuruti beberapa jalan darah dalam tubuhnya dan segera tersadar kembali.
Dengan pandangan berat dia membuka matanya kembali dan memperhatikan sekeliling tempat itu dengan pandangan keheranan, kemudian serunya tertahan.
"Hei apa yang sebenarnya telah terjadi?"
"Hu buncu, apakah engkau tidak tahu perbuatan apa saja yang telah kau lakukan selama ini..."
Tanya Tiang Seng lojin dengan suara nyaring.
Tan Liok menggelengkan kepalanya berulang kali, kemudian berusaha uatuk mengingat kembali semua kejadian yang telah dialaminya ini.
Tiba-tiba mukanya mulai berubah mulutnya juga mulai bergumam lirih.
"Ya aku teringat sudah sekarang aku terkena obat pemabuk dari Yu leng lojin dan dibekuk olehnya kemudian aku dicekoki sebutir pil Huan sim wan, setelah itu aku merasa kesadaranku makin punah, aku tak bisa mengendalikan jalan pikiran serta perasaanku lagi.... semua perintah dan perkataannya kuturuti... sekembalinya ke markas, aku mulai membunuh orang secara diam-diam, aku mulai membantai anak buahku secara rahasia, aku berbuat demikian hanya menuruti perintah Yu leng lojin belaka....yaa, perintah tersebut terasa tak bisa kulawan tak mampu kubangkang... aku merasa terkendalikan olehnya."
Ketika berbicara sampai disitu, tiba-tiba ia berteriak seperti orang kalap.
"Ooh Thian ! Aku telah membunuh orang anggota perguruan.... aku pun ingin membunuh Bun cu, aku... aku..."
Jeritan keras macam orang kalap itu kedengarannya mengerikan sekali, membuat setiap orang merasakan hatinya menjadi bergidik.
Semua orang menjadi terkesiap dibuatnya dengan pandangan terperanjat bercampur seram mereka mengawasi tingkah lakunya itu tanpa berkedip.
Tiba-tiba Tan Liok berteriak lagi seperti orang kalap.
"Yu leng tojin telah mencelakai diriku... dia telah nencelakai diriku..."
Mendadak tangan kanannya diayunkan ke udara, kemudian membacok keatas ubun-ubun sendiri.
Setelah sadar kembali dari pengaruh sesat itu, Tan Liok merasa amat bersedih hati sekali, akhirnya terbentik ingatan untuk bunuh diri guna menebus dosa-dosanya itu.
kalau tidak, bagaimanakah pertanggung jawabnya terhadap sukma-sukma gentayangan yang telah tewas ditangannya itu?
Belum sempat telapak tangan itu menghajar diatas ubunubun sendiri, Lu Hong telah menggerakkan tangannya untuk mencengkeram tangan Tan Liok, kemudian katanya.
"Mau apa kau?"
"Biarkan aku mati... biarkan aku mati..."
Teriak Tan Liok dengan suara keras. Ong Bun kim segera bertindak cepat, dengan suatu lompatan kilat dia menyerbu ke depan kemudian bentaknya keras-keras.
"Hu buncu, kau sudah gila?"
Sesudah dibentak oleh Ong Bun kim, Tan Liok baru seperti sadar dari impiannya, dia segera berteriak.
"Buncu...!"
Dengan cepat dia maju kehadapan Ong Bun kim, lalu menjatuhkan diri berlutut dihadapannya seraya berkata.
"Bun cu. berilah kematian kepada tecu! Berilah kesempatan bagi tecu untuk menebus dosa, tecu telah melakukan kesalahan besar, tecu teramat berdosa... oooh Bun cu! Ijinkan kepada tecu untuk menghabisi nyawaku..."
Ong Bun-kim menggelengkan kepalanya berulang kali, kemudian menghela napas panjang.
"Aaaai... kau tak bisa disalahkan, dalam peristiwa ini kau tidak bersalah..."
"Aku telah membantai anggota perguruan secara brutal, dosaku sudah teramat besar dan tak bisa diampuni lagi."
"Yaa, itulah disebabkan kau sudah terpengaruh boleh pil Huan sim-wan dari Yu-leng lojin!"
Tan Liok kembali menjerit.
"Buncu, berilah kematian kepadaku. Bila tidak, hatiku tak akan menjadi tenteram!"
Ong Bun kim menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Hu buncu."
Ujarnya lembut.
"aku ingin bertanya kepadamu, sesudah Yu leng lojin memberi obat Huan sim wan tersebut, bukankah kau diperintahkan untuk membunuh anggota perguruanku?"
"Benar, dia menyuruh aku untuk membantai para jago anggota perguruan kita yang berilmu silat agak tinggi, kemudian aku di-suruh menulis surat rahasia memberi kabar kepadanya, agar dia dapat segera turun tangan untuk membasmi perguruan Sin kiam bun dari muka bumi."
Tiba-tiba satu ingatan melintas didalam benak Ong Bun kim dengan cepat katanya.
"Bagus sekali, Hu buncu! Bersediakah kau membuat pahala untuk menebus dosamu itu?"
"Tecu bersedia!"
"Kalau begitu, mari kita mempergunakan siasat untuk menjebak siasatnya, sebentar tulislah sepucuk surat rahasia kepadanya, katakan kalau kau telah berhasil membunuh para jago perguruan Sin kiam bun yang berilmu tinggi serta mereka yang berkedudukan agak tinggi di dalam perguruan, kemudian suruh dia memimpin anak buahnya untuk datang melakukan penyerbuan. Di samping itu kabarkan juga dalam surat tersebut bahwa aku masih bilang tak ada kabar beritanya dan hingga kini belum kembali, bisa kau lakukan bukan?"
"Baik! Akan tecu lakukan dengan sebaik-baiknya!"
"Kalau begitu, tulislah surat sekarang juga."
Siasat ini memang betul-betul merupakan suatu siasat yang amat bagus sekali untuk membunuh Yu leng lojin, seandainya Yu leng lojin membawa kawanan begundalnya berdatangan kesana, maka keadaan mereka ibaratnya ikan yang masuk kedalam jala, tak akan ada kesempatan lagi buat mereka untuk melarikan diri.
Suatu keadaan yang berbahaya, penuh diliputi hawa pembunuhan dan menyeramkan akhirnya berhasil juga teratasi dengan aman dan tentram tanpa menimbulkan pertumpahan darah lebih jauh.
Saat itu juga Ong Bun kim menitahkan Tan -Liok untuk menulis sepucuk surat dan menitahkan kepada Lu Yan untuk membawanya ke perguruan Yu leng bun.
Lu Yan bisa terpilih untuk melaksanakan tugas ini, karena pertama Yu leng lojin tidak kenal dengan Lu Yan, kedua andaikata siasat itu gagal dan ketahuan belangnya, dengan kepandaian silat yang dimiliki gadis tersebut ia masih sanggup untuk menghadapinya.
Suatu badai pertempuran berdarah pun segera berkembang dan makin mendekati ke ambang pintu.
"Buncu"
Ujar Tan Liok kemudian kepada Ong Bun kim.
"Yu leng lojin sudah pasti tidak tahu kalau pengaruh obat Huan sim wan dalam tubuh ku telah dipunahkan, sampai waktunya nanti kalian boleh menyembunyikan diri dibalik kegelapan, biar aku yang menghadapi mereka, kalau tidak bisa jadi akan mempergunakan rencananya yang lihay untuk mengatasi keadaan, apabila sampai terjadi keadaan seperti ini sudah pasti banyak sekali anggota perguruan kita yang akan menjadi korban di tangannya"
"Bagus sekali! "seru Ong Bun kim kegirangan,"
Kalau begitu, kita laksanakan rencana ini dengan begini saja"
Sepuluh hari kemudian, Yu Lan telah kembali dengan selamat, setelah melaporkan semua kejadian yang dialaminya sepanjang perjalanan, gadis inipun menyerahkan juga sepucuk surat balasan yang ditulis oleh Yu leng lojin!
000OdwO000 BAB 100 DENGAN hati berdebar semua orang memperhatikan isi surat tersebut, terbacalah isi surat tersebut berbunyi demikian.
Tan Hu buncu.
Surat laporan rahasiamu telah kuterima, sungguh gembira hatiku setelah mengetahui akan kesuksesan mu melenyapkan para jago lihay dari perguruan Sin kiam bun.
Secepat mungkin aku akan datang ke sana bersama kawanan jago andalanku, harap kau menyambut kedatanganku.
Bila perguruan Sin kiam bun telah kita lenyapkan.
seluruh dunia persilatan didunia ini akan menjadi milik kita.
Semoga sukses.
Tertanda.
Yu leng lojin"
Selesai membaca isi surat tersebut, Ong Bun kim segera tertawa dingin tiada henti-nya.
"Yu leng lojin wahai Yuleng lotjin."
Serunya sinis "tak nyana pada akhirnya kau akan termakan juga oleh siasat busuk yang kau susun sendiri."
Alhasil, Tiang-seng lojin, Giok-bin-hiap serta sekalian anggota perguruan Sin kiam bun kelas satu dipersiapkan untuk menyembunyikan diri diuar pintu gua sambil menantikan kedatangan musuh.
Sedangkan para jago yang berjaga-jaga di dalam gua, jumlahnya kurang lebih mencapai empat lima puluhan orang.
Hari itu terlihatlah dari luar gua Bu cing tong berkelebat datang puluhan sosok bayangan manusia dengan kecepatan luar biasa, menyaksikan kehadiran dari kawanan iblis tersebut, semua orang yang menyembunyikan diri disekitar tempat itu merasakan hatinya bergetar keras sekali...
Tak salah lagi.
Yu leng lojin benar-benar telah memimpin anggota perguruannya datang ke situ untuk melakukan pembantaian secara besar-besaran.
Tak lama kemudian, puluhan sosok bayangan manusia itu telah tiba didepan mulut gua, orang yang berada dipaling depan tak lain adalah Yu leng lojin sendiri.
Terdengar gembong iblis tua itu tertawa dingin tiada hentinya, dengan langkah yang sombong dia melayang turun tepat didepan mulut gua Bu cing tong.
Dibelakangnya turut serta kurang lebih empat puluhan orang anggota perguruannya!
Setelah rombongan itu tiba disana, salah seorang Yu leng jin yang ada dalam rombongan itu bertanya kepada Yu leng lojin dengan suara agak lirih.
"Bun-cu, apakah sudah tiba pada waktunya untuk melancarkan serbuan ?"
"Benar!"
"Bisa dipercayakah keadaannya?"
"Jangan kuatir, Tan Liok akan membantu usaha penyerbuan kita ini dari dalam!"
"Siapa yang akan dikirim untuk menyerbu lebih dahulu kedalam gua tersebut?"
"Aku!"
Begitu selesai berkata, Yu leng lojin segera melompat maju lebih dahulu menyerbu ke depan sana.
Tapi belum berapa langkah dia menerjang masuk ke dalam gua, mendadak terdengar suara-suara bentakan nyaring yang amat memekikkan telinga berkumandang memecahkan keheningan.
"Siapa kau?"
Dua sosok bayangan manusia melayang turun didepan mulut gua, mereka ternyata adalah dua orang penjaga gua tersebut. Yu leng lojin segera tertawa dingin tiada hentinya, kemudian membentak nyaring.
"Minggir !"
Orang yang ada disebelah kanan itu berlagak pilon, seperti tidak tahu maksud lawan, dia menegur.
"Siapakah kau?"
"Aku datang kemari untuk membasmi semua orang dari Sin kiam bun dari muka bumi..."
Belum habis ucapan tersebut diucapkan, serangan telapak tangannya sudah diayunkan kedepan.
Dua kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan keheningan, lalu kedua orang penjaga gua itu roboh terjengkang ke atas tanah.
Tiba-tiba...
Kembali ada sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu Tan Liok sudah melayang turun didepan gua.
Dengan cepat Yu leng lojin mengalihkan sinar matanya kepada Tan Liok, kemudian bertanya.
"Hu buncu. bagaimanakah keadaannya disini?"
"Berkat doa restu dari Bun cu, segala sesuatunya berjalan dengan lancar dan sukses!"
Mendengar jawaban itu, Yu leng lojin menjadi teramat bangga sekali ia segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh... haaahh.. haaahhh..... Hu buncu, jasamu sungguh tidak kecil!"
"Buncu apa yang harus kulakukan sekarang? Harap kau segera memberi petunjuk!"
"Sebentar, kita akan melangsungkan suatu pertarungan, dan waktu itu kau harus berlagak tidak tahan serta melarikan diri dari depan gua ini..mengerti?"
"Baik."
Sahut Tan Liok dengan cepat, kemudian ia tertawa dingin tiada hentinya. Pada saat itulah Tan Liok segera mendongakkan kepalanya lalu sambil tertawa tergelak-gelak dengan nyaringnya dia membentak.
"Yu leng lojin! Ada urusan apa kau berkunjung kedalam markas perguruan kami?"
"Mau apa...? Haaahhh... haaahhh.... haaahhh.... aku datang untuk membasmi perguruan Sin kiam bun..."
"Hmmm..... tua bangka celaka kau jangan tekebur lebih dahulu sebelum bicara benar, lebih baik dicoba dulu kemampuanmu!"
Waktu itu, sudah barang tentu Yu leng lojin tidak tahu kalau pengaruh pil Huan sim wan ditubuh Tan Liok sudah dipunahkan lama sekali, diapun tak menyangka kalau Tan Liok akan menyerang secara berpura-pura lagi bila pertarungan berkobar nanti.
Demikianlah, seusai mengucapkan kata-kata tersebut, Yu leng lojin segera membentak keras, kemudian mengayunkan telapak tangannya melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke arah Tan Liok.
Didalam melancarkan serangannya kali ini, Yu leng lojin tidak menyerang dengan sesungguh hati, serangan yang dilancarkan olehnya itu tak lebih cuma sebuah serangan ripuan belaka.
Mendadak...
Dengan cekatan Tan Liok menghindarkan diri dari serangan maut Yu leng lojin itu, kemudian sambil mengigos dia menerjang ke hadapan Yu leng lojin, sebuah pukulan yang dahsyat dengan cepat dilancarkan ke muka.
Tentu saja Yu leng lojin tidak menyangka kalau Tan Liok bisa melancarkan serangan tersebut bersungguh hati, tak sempat untuk berkelit lagi.
badannya segera terkejar telak oleh serangan itu.
"Blaamm..."
Diiringi suara yang keras, pukulan itu menghajar telak didada lawan.
Dengan sempoyongan Yu leng lojin segera mundur belasan langkah ke belakang, tak tahan dia segera muntahkan darah segar.
Dengan perasaan amat terkesiap, Yu leng lojin membentak keras.
"Tan Liok, kau..."
Tan Liok mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, serunya dengan suara dingin bagaikan es.
"Yu leng lojin, aku menghendaki jiwa anjingmu!"
Suara bentakan dari Tan Liok ini penuh disertai dengan hawa napsu membunuh yang mengerikan, sedemikian seramnya suara itu sehingga membuat semua orang yang mendengarnya menjadi bergidik.
Begitu bentakan dikumandangkan, tubuhnya seperti anak panah yang terlepas dari busurnya segera meluncur kehadapan Yu leng lojin.
"Tan Liok!"
Dengan suara keras Yu leng lojin membentak.
"kau telah memunahkan pengaruh pil Huan sim wan milikku."
Suaranya mulai kedengaran agak gemetar dia merasa hal ini mearupakan suatu kejadian yang tak mungkin. Mendadak dari sisi tubuhnya bergema suara Ong Bun kim yang sedang berkata dengan suara dingin.
"Benar, perkataanmu Yu leng lojin, ia telah berhasil membebaskan diri dari pengaruh pil Hian sim wan milikmu itu"
Mendengar perkataan itu dengan paras muka berubah hebat Yu leng lojin membalikkan tubuhnya, terlihat olehnya bahwa puluhan jago Yu leng bun yang didampinginya itu telah berada didalam kepungan musuh yang jumlahnya beberapa kali lipat lebih besar dari jumlah kawanan jagonya.
Menyaksikan kesemuanya itu, paras muka Yu leng lojin segera berubah menjadi pucat pias seperti mayat.
Ong Bun kim segera tertawa dingin ujarnya.
"Yu leng lojin, tidak kau sangka bukan bakal menjumpai keadaan seperti ini?"
Paras muka Yu leng lojin berubah menjadi kehijauhijauan.
peristiwa yang berlangsung dihadapannya sekarang benar-benar diluar dugaannya, kenyataan tersebut membuat perasaannya menjadi terkejut bercampur bergetar keras.
Ong Bun kim tertawa dingin, kembali ujarnya.
"Yu leng lojin, sepanjang hidupmu kau selalu mempergunakan siasat busuk untuk mencelakai orang, tak kau sangka bukan akhirnya bakal termakan oleh siasat busukmu sendiri."
Ditengah pembicaraan tersebut, selangkah demi selangkah pelan-pelan la berjalan mendekati Yu leng lojin.
Tiba-tiba Yu leng lojin membentak keras, tubuhnya melompat kedepan dan secepat kilat berusaha melarikan diri melalui jalan semula.
Dengan cekatan Thia Eng munculkan diri dari tempat persembunyiannya, seraya menghadang jalan perginya, dia membentak keras.
"Yu leng lojin, kau anggap masih mampu melarikan diri dari hadapan kami?"
Ditengah bentakan tersebut, sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan kedada Yu Leng Lojin.
Sebagaimana diketahui Yu Ieng lojin sudah menderita luka dalam yang cukup parah akibat dari pukulan dahsyat yang dilontarkan Tan Liok, sudah barang tentu dalam keadaan seperti ini, kelihayannya juga jauh berkurang.
Buru-buru dia menangkis datangtnya serangan yang dilancarkan roleh Thia Eng tersebut...
"Blaaam!"
Ditengah benturan nyaring, kuda-kudanya menjadi tergempur dan tak tahan tubuhnya segera mundur puluhan langkah dengan sempoyongan.
Paras muka Yu leng lojin berubah menjadi keabu-abuan, sekarang ia benar-benar mati kutunya.
Ong Bun kim segera tertawa dingin, ejeknya.
"Yu leng lojin. kau tak akan berhasil melarikan diri dari tempat ini dalam keadaan selamat!"
"Belum tentu!"
Sahut Yu leng lojin sambil tertawa dingin pula, sekalipun keadaan yang terbentang didepan mata sudah tidak menguntungkan baginya, namun dia enggan untuk mengakui kelemahan tersebut.
"Yu-leng lojin. saatmu untuk melakukan kejahatan telah berakhir, hari ini serahkan saja selembar jiwa anjingmu kepada kami!"
Begitu selesai berkata, Ong Bun-kim segera menggerakkan tubuhnya dan menerjang ke arah Yu-leng lojin, pedang Sin-kiam diputar kencang dan langsung dibabat ke atas tubuh lawan.
Berbareng waktunya ketika Ong Bun-kim mengayunkan pedang sin-kiam untuk menyerang Yu-leng lojin, puluhan orang anggota Yu-leng-bun yang berada disekitar tempat itupun segera menerjang pula ke depan sambil melancarkan serangan.
Mendadak terdengar suara bentakan keras yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan keheningan, beratus orang jago dari Sin kian-bun bagaikan gelombang besar disamudra serentak menyerbu pula ke dalam arena pertempuran.
Kawanan jago dari Yu-leng-bun jumlahnya hanya mencapai puluhan orang saja, mana mungkin mereka bisa menandingi serbuan dari jago-jago Sin-kiam-bun yang telan diliputi oleh hawa napsu membunun itu?
Dalam waktu singkat, jeritan demi jeritan ngeri bergema memecahkan keheningan.
Dengan suatu gerakan cepat, mendadak Thia Eng menyerbu ke hadapan Yu-leng lojin sambil membentak keras.
"Yu leng lojin, serahkan jiwa anjingmu!"
Sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan ke depan.
Dikala Thia Eng melepaskan serangannya itu, suara bentakan lain bergema pula, Lu Hong dengan gerakan tubuh yang amat cepat telah menubruk ke muka sambil melancarkan serangan.
Sesudah Lu Hong turun tangan, Ong Bun kim, Giok-binhiap Iblis cantik pembawa maut, Tay-khek cinkun bersamasama maju pula ke depan melakukan serangan berantai.
Bayangkan saja betapa cepat dan lihaynya serangan dari beberapa orang itu, jangan toh Yu-leng lojin memang sudah terluka dan tak tahan, sekalipun seorang jago yang memiliki kepandaian silat beberapa kali lipat lebih hebat pun tak akan tahan juga.
Didalam keadaan seperti ini, tentu saja tiada waktu atau kesempatan lagi baginya untuk melepaskan racun.
Dengusan tertahan berkumandang memecahkan keheningan, sebuah pukulan dahsyat dari Thia-Eng telah menghajar telak ditubuh Yu leng lojin.
Menyusul kemudian cahaya tajam berkilauan membelah angkasa, pedang Sin kiam dari Ong-Bun kim meluncur pula kedepan dengan kecepatan luar biasa.
Jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera bergema memenuhi angkasa, tahu-tahu dada Yu leng lojin sudah tertusuk oleh pedang Sin kiam tersebut sehingga tembus ke punggungnya.
Tidak banyak mengerang lagi, tewaslah gembong iblis yang berhati keji Ini dalam keadaan mengerikan, akhirnya dia harus mati juga diujung pedang Sin kiam.
Iblis cantik pembawa maut segera menggeledah tubuhnya dan mengambil kembali kitab pusaka Hek mo keng tersebut.
Beginilah akhir dari seorang manusia yang berhati busuk, siapa berbuat mulia dia akan memperoleh kebajikan, siapa berbuat jahat dia akan memperoleh hukuman.
Rasa dendam dan benci Iblis cantik pembawa maut, Dewi mawar merah, Hian Ih lihiap dan Tan Liok terhadap Yu leng lojinm tampaknya belum terlampiaskan semua, secara beruntun mereka lancarkan beberapa pukulan dahsyat ke atas tubuhnya sehingga gembong iblis tua yang banyak melakukan kejahatan itu harus mati dengan tubuh yang hancur tak karuan.
Suara bentakan mulai mereda.
Hawa napsu membunuhpun pelan-pelan makin menghilang.
Puluhan jago Yu leng bun yang bterlibat dalam dpertarungan senagit itu akhirnyba berhasil dibasmi sampai habis.
Dengan suara dingin Ong Bun kim berkata.
"Pentolan Iblis yang banyak melakukan kejahatan telah lenyap dari muka bumi. dunia penilaian pun untuk sementara waktu akan menjadi aman dan tentram."
Tan Liok mendongakkan kepalanya teriaknya seram.
"Haaahh....haaahhh... haaahh... Yu-leng lojin, akhirnya kau mampus juga...."
Mendadak... Dia mengangkat tangan kanannya ke udara lalu dibabat keatas ubun-ubun sendiri. Menyaksikan kejadian itu. dengan suara keras Ong Bun kim segera membentak.
"Hu-buncu..."
Dia melompat kedepan dan menyambar tangan kanan Tan Liok, sayang tindakannya itu terlambat selangkah.
Jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera berkumandang memecahkan keheningan.
Tan Liok dengan batok kepala yang hancur serta isi benak yang berceceran diatas tanah tergeletak mati diatas tanah.
Semua orang menjadi terkesiap dibuatnya oleh peristiwa berdarah ini....
Dengan suara keras dan mendekati histeris, Tan Hong hong berteriak keras.
"Ayah..."
Dia melompat kedepan dan menubruk kedalam pelukan Tan Liok kemudian, menangis tersedu-sedu.
Tan Liok menghantam batok kepala sendiri untuk membunuh diri, kejadian mi benar-benar merupakan suatu peristiwa yang jauh diluar dugaan siapapun juga, sehingga untuk beberapa saat lamanya segenap jago yang berada dalam ruangan itu menjadi tertegun dan berdiri kaku seperti patung patung arca.
Air mata jatuh bercucuran membasahi seluruh wajah Ong Bun-kim.
bisiknya dengan pedih.
"Oooh Thian, ia benar-benar menghabisi nyawa sendiri untuk menebus dosanya itu."
"Yaa. dia memang menghabisi nyawa sendiri untuk menebus dosa-dosanya terhadap perguruan."
Ia telah dicelakai oleh Yu leng lojin dan melakukan pembantaian terhadap puluhan orang anggota perguruannya, sekalipun kejadian ini berlangsung karena ada sebab musababnya, namun kejadian ini tetap amat menyakitkan hatinya, sebab itu dia menggunakan darah dan jiwanya buntuk menebus ddosa-dosanya itua.
Titik air matba jatuh berlinang hampir di seluruh wajah para jago yang hadir disana, peristiwa tersebut memang merupakan suatu kejadian yang amat mengharukan sekali.
Tiang seng lojin segera menepuk bahu Tan Hong hong sambil hiburnya lembut.
"Nona Tan.... ooh, Buncu hujin! Harap jangan bersedih hati, sekalipun ayahmu te ah melakukan kehilafan terhadap perguruan, akan tetapi iapun berjasa besar karena telah selamatkan perguruan Sin kiam bun dari kehancuran... untuk menebus dosanya terhadap anggota perguruan yang tewas di-tangannya, ia tak segan-segan menghabisi jiwanya sendiri, perbuatannya ini benar2 merupakan suatu perbuatan yang sangat mulia dan agung.....!"
Ong Bun kim yang berada disampingnya, buru-buru turut menghibur pula dengan suara lembut.
"Niocu! Harap kau jangan terlalu bersedih hati. sekalipun ia telah tiada, namun kesetiaan serta jiwa ksatrianya akan selalu berada dalam kalbu setiap orang...."
Tiba-tiba Tan Hong hong menubruk kedalam pelukan Ong Bun kim dan menangis tersedu-sedu. Selang beberapa saat kemudian Ong Bung kim baru berseru dengan suara lantang.
"Thia congkoan!"
"Tecu siap !"
"Gunakan upacara yang paling megah dan paling besar untuk penguburan jenasah Hu buncu, sekarang bawalah layonnya kembali ke dalam perguruan.."
"Baik !"
Thia Eng segera membopong jenazah Tan Lok dan pelan-pelan rombongan itupun kembali kegua Bu cing tong. Tiba-tiba Dewi mawar merah berjalan mendekati Ong Bun kim, kemudian bisiknya.
"Adik Ong, Ada apa?"
Ong Bun kim memandang sekejap wajah Dewi mawar merah ketika menyaksikan mimik mukanya yang penuh diliputi oleh rasa sedih itu, dia menjadi agak tertegun.
"Aku hendak pergi dari sini."
Bisik Dewi mawar merah dengan suara pedih.
"Kenapa? Kenapa kau hendak pergi dari sini? Apa yang telah terjadi? Katakan kepadaku."
"Aku tak ingin berdiam terlalu lama ditempat ini, sebab keadaan tersebut hanya akan menambah kesedihan dalam hatiku saja... maka lebih baik aku pergi saja dari tempat ini?"
"Kau merasa sedih...? Katu merasa sedih...? Kenapa? Kenapa kau bersedih hati?"
"Yaa, aku merasa amat pedih!"
Mendadak Ong Bun kim seperti memahami akan sesuatu, dia segera berseru.
"Ooh... mengerti aku sekarang, apakah disebabkan kau mencintai Thia congkoan?"
Dewi mawar merah menunduk dengan tersipu-sipu, lalu dengan wajah agak memerah dia mengangguk.
"Yaa, benar!"
Ong Bun kim segera tertawa lebar setelah menyaksikan pengakuan gadis tersebut.
"Andaikata kau memang mencintai Thia congkoan, mengapa kau harus pergi dari sini?"
"Sebab.... sebab dia tidak mencintai diriku, lagi pula dia telah mempunyai dua orang istri aai..."
"Seandainya kau bersedia untuk mempunyai seorang suami secara bersama sama dengan mereka, tak ada salahnya kalau aku akan menjadi mak comblang bagimu."
"Aku kuatir mereka justru tak sudi untuk-menerima kehadirannya ini.."
Belum habis ucapan tersebut, mendadak dari belakang tubuhnya terdengar suara Lu Hong sedang berkata.
"Semenjak berada didalam jeram Sian siu tian tempo hari, aku sudah mengetahui kalau kau mencintai Thia congkoan, nona Yap kau tak usah pergi dari sini! Bagaimana kalau persoalan ini serahkan saja penyelesaiannya ditanganku?"
Dewi mawar merah tidak menyangka kalau Lu Hong yang berada dibelakang tubuhnya sempat mendengarkan pembicaraannya itu, kontan saja wajahnya berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus.
Lu Hong segera maju ke depan dan menggenggam tangannya erat erat, kemudian katanya.
"Enci Yap, mari kita masuk!"
Dengan mulut membungkam Dewi mawar merah mengangguk, kemudian bersama Lu Hong masuk kedalam gua.
Suasana diluar gua Bu cing tong pulih kembali dalam keheningan.
Disana berbaring empat puluhan sosok mayat, mayatmayat tersebut melambangkan suatu kematian, juga melambangkan suatu kedamaian setelah lewatnya suatu pertempuran berdarah.
Tapi benarkah dunia persilatan bisa tenang dan damai untuk selamanya...
Sampai disini pula cerita "Setan Harpa"
Ini, semoga pembaca sekalian bisa puas dengan cerita tersebut. TAMAT
Baca Juga: Peristiwa Bulu Merak 3
Baca Juga: Kilas Balik Merah Salju 6