Eps 9 Naga Sakti Sungai Kuning - Kho Ping Hoo
Baca online Naga Sakti Sungai Kuning - Kho Ping Hoo
Cersil Naga Sakti Sungai Kuning - Kho Ping Hoo.
"Akan tetapi kita tidak boleh lengah dan memandang rendah kekuatan lawan, Giok Cu. Sebaiknya sebelum kita berkunjung ke sana, lebih dulu kita menyampaikan surat kepada Souw Ciangkun seperti yang dipesankan Liu Taijin."
Giok Cu mengangguk setuju.
Sebelum berpisah dengan Liu Taijin, pembesar itu menitipkan surat untuk pasukan keamanan di luar kota Ceng-touw dan minta kepada mereka untuk membicarakan Thian-te-kauw dengan Souw Ciangkun.
Souw Ciangkun adalah seorang panglima yang usianya sudah lima puluh tahun dan sikapnya berwibawa.
Dia termasuk seorang panglima yang setia dan jujur, yang membenci penyelewengan dan dia amat kagum kepada Liu Taijin.
Maka, ketika dia mendengar bahwa dua orang muda yang berkunjung ke bentengnya itu adalah utusan Liu Taijin, tergopoh-gopoh dia menyambut dan mempersilakan mereka duduk di ruangan dalam.
Dia merasa agak heran juga meliha betapa utusan pejabat tinggi yang dihormatinya itu adalah seorang pemudi dan seorang gadis muda, akan tetap setelah membaca surat Liu Taijin, dia memandang kagum kepada mereka.
"Aih kiranya Tai-hiap adalah Huang-ho Sin liong, dan Nona adalah seorang pendekar wanita yang berilmu tinggi! Menurut surat dari Liu Taijin, Ji-wi akan membantu dalam penyelidikan terhadap Thian-te-kauw. Memang perkumpulan itu amat mencurigakan, dan makin lama semakin kuat saja. Akan tetapi karena mereka tidak melakukan sesuatu yang melanggar hukum, kami pun tidak dapat bertindak apa-apa. Kalau menurut Ji-wi, perkumpulan itu melakukan kejahatan apakah?"
Giok Cu diam-diam merasa heran.
Panglima ini nampaknya gagah dan baik, akan tetapi mengapa begitu lengah?
Bagaimana mungkin sebagai seorang panglima pasukan keamanan, sampai tidak dapat tahu apa yang dilakukan oleh perkumpulan seperti Thian-te-kauw itu?
"Maaf, Ciangkun.
Tentu Ciangkun lebih mengetahui daripada kami dan kami bahkan memerlukan keterangan yang sejelasnya dari Ciangkun untuk bekal penyelidikan kami."
Katanya dengan lembut, dan Han Beng mendengarkan dengan perasaan heran.
Akan tetapi dia dapat menduga bahwa tentu gadis yang cerdik itu berpura-pura saja dan ingin memancing keterangan dari perwira tinggi itu.!
Dia tahu bahwa gadis itu tentu saja mengenal Thian-te-kauw lebih baik, karena pernah hidup di antara mereka bahkan sebagai murid Ban-tok Mo-li, seorang di antara para pimpinan mereka.
Perwira tinggi itu tersenyum dan dia menarik napas panjang, bersandar di kursinya dan memandang kepada dua orang muda itu.
"Kalau menurut penyelidikan kami, biarpun Thian-te-kauw makin kuat dan makin banyak anggautanya, namun perkumpulan itu belum pernah melakukan pelanggaran. Mereka rnemiliki sebuah kuil yang bahkan menolong banyak orang. Dan mereka mengajarkan persaudaraan antara sesama manusia, bahkan mengajarkan cinta kasih antara manusia. Mereka terbagi menjadi dua bagian. Bagian perkumpulan disebut Thian-te-pang dan diketuai seorang wanita bijaksana yang disebut Phang Toa-nio (Nyonya Phang), seorang yang amat pandai dan ramah."
Giok Cu mencatat di dalam hatinya". Kiranya bekas gurunya itu, Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu, telah menjadi ketua Thian-te-pang dan kini dipuji-puji oleh panglima pasukan keamanan! "Menarik sekali!"
Serunya untuk menutupi perasaan herannya. Souw Ciangkun tersenyum.
"Memang para anggauta Thian-te-pang itu dilatih ilmu silat, akan tetapi apa anehnya itu? Ketuanya, Phang Toanio adalah seorang ahli silat yang amat pandai, dan kegiatan berlatih silat itu pun tidak melanggar hukum dan baik-baik saja. Kemudian, ada bagian lain yang hanya mengurus soal keagamaan saja, yaitu Thian-te-kauw dan Kauwcu nya (Kepala Agamanya) adalah Losuhu (Bapak Pendeta) Lui Seng Cu .........."
Giok Cu menahan ketawanya.
Tahulah ia bahwa bekas subonya telah bersekutu dengan Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu untuk bersama-sama memimpin perkumpulan agama sesat itu dengan membagi tugas sebagai pangcu (ketua perkumpulan) dan kauwcu (kepala agama).
"Ciangkun, kami mendengar bahwa perkumpulan itu mempunyai banyak pemimpin yang berilmu tinggi. Benarkah itu?"
Han Beng bertanya untuk menambah umpan agar perwira itu bercerita lebih banyak lagi.
Mendengar nada cerita perwira itu memuji-muji para pimpinan perkumpulan itu, dia pun berhati-hati dan tidak mengemukakan pendapatnya, apalagi dia memang tidak begitu mengenal perkumpulan itu, maka dia menyerahkan saja pembicaraan tadi sebagian besar kepada Giok Cu yang tentu saja lebil mengenalnya, bahkan mengenal dengan baik sekali.
"Memang benar, mereka memiliki banyak anggauta pimpinan yang lihai ilmu silatnya dan luas pandangannya! akan tetapi semua itu tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan bimbingan khusus yang diberikan oleh Kwi-ong."
"Kwi-ong (Raja Iblis) ............?"
Giok dia bertanya, benar-benar heran karena sebelum pernah ia mendengar tentang pimpinan langsung dari Kwi-ong itu. Perwira tinggi itu tertawa.
"Memang bagi orang lain tentu terdengar mengejutkan. Akan tetapi sesungguhnya, sebutan Kwi-ong itu hanya untuk merendahkan diri saja. Sebenarnya Thian-te Kwi-ong adalah seorang dewa yang ditugaskan turun ke dunia untuk mengajarkan persaudaraan dan cinta kasih!"
Ini merupakan hal yang baru bagi Giok Cu, apalagi Han Beng.
"Siapakah Itu Kwi Ong, Ciangkun, dan kalau dia bawa, bagaimana dia dapat membimbing langsung?"
Tanya pula Giok Cu.
"Mungkin kalian sudah mendengar bahwa Thian-te-kauw memuja Thian-te Kwi-ong yang dibuatkan patungnya. Dan sekarang, kadang-kadang patung itu hidup! Dan menurut pengakuan Thian-te Kwi-ong sendiri, agar tidak mengejutkan semua orang, kadang-kadang beliau menjelma sebagai seorang pemuda tampan yang menjadi penasehat. Dan tentu saja ilmu kepandaiannya tak dapat diukur, ia maklum dia bukan manusia."
Perwira tinggi itu menerangkan dengan suara yang serius.
Pada saat itu, cuping hidung Giok Cu bergerak-gerak.
Ia mencium suatu.
Keharuman yang aneh bagi orang lain, akan tetapi yang pernah diciumnya dahulu ketika ia masih menjadi murid Ban-tok Mo-li dan sejak subonya itu menjadi sekutu Lui Seng Cu.
Bau harum dupa yang khas dipergunakan untuk upacara sembahyang kepada Thian-te Kwi-ong.
Bagaimana kini bau dupa itu dapat tercium di dalam benteng?
Biarpun hanya lembut, namun cukup dapat ditangkap oleh penciuman Giok Cu yang tajam dan ia pun dapat menduga bahwa bau dupa itu datang dari balik sebuah pintu kamar yang tertutup.
Bahkan penglihatannya yang tajam dapat melihat membocornya asap tipis keluar dari celah-celah daun pintu kamar itu.
Giok Cu menjadi curiga.
Ada yang tidak beres dalam kamar itu, pikirnya.
Dan mungkin perwira tinggi ini tidak mengetahuinya.
Tiba-tiba saja tubuhnya berkelebat dan ia sudah meloncat jauh ke depan daun pintu kamar yang tertutup, mengejutkan Han Beng dan Souw Ciangkun.
Giok Cu mendorong pintu itu terbuka dan ia terbelalak.
Han Beng juga melompat mendekatinya.
Mereka berdua melihat keadaan dalam kamar itu yang aneh.
Ada sebuah meja sembahyang yang besar di dalam kamar itu, dengan patung kecil yang dikenal oleh Giok Cu sebagai patung Thian-te Kwi-ong!
Dan di atas meja itu, selain lilin bernyala dan dupa mengepul, sebagai pengganti hidangan sembahyang, nampak seorang gadis bertelanjang bulat rebah telentang!
Rambutnya yang panjang hitam itu terurai, tubuhnya sama sekali telanjang bulat.
Dan di kanan kiri meja itu berdiri masing-masing tiga orang gadis yang lain yang hanya mengenakan jubah sutera tipis yang tembus pandang dan di bawah jubah itu tidak terdapat pakaian lain!
Enam orang gadis itu nampak terkejut bukan main.
"Heiiiii! Kalian tidak boleh mengganggu mereka!"
Terdengar seruan Souw Ciangkun dan perwira tinggi ini sudah berada dekat Giok Cu dan Han Beng, wajahnya merah sekali, dan matanya nampak gelisah dan marah.
"Souw Ciangkun, apa artinya ini?' Giok Cu membentak dengan alis berkerut. Teringat ia akan pengorbanan perawan dalam sembahyangan patung Thian-te Kwi-ong. Apakah gadis yang telanjang bulat itu pun calon korban yang akan dibunuh di atas meja sembahyang sebagai korban terhadap Thian-te Kwi-ong? Kalau begitu ia memandang kepada perwira itu dengan mata terbelalak.
"Tutupkan daun pintunya dan jangan ganggu mereka, Lihiap. Aku akan memberi penjelasan."
Kata perwira itu akan tetapi suaranya gemetar dan kini wajahnya berubah pucat walaupun sinar matanya masih mengandung kemarahan.
Akan tetapi tiba-tiba terjadi hal yang dianggap aneh oleh Giok Cu.
Gadis remaja yang telanjang bulat dan tadi rebah telentang di atas meja sembahyang itu kini bangun dan cepat-cepat menyambar pakaian dan menutupi tubuhnya.
Seolah-olah ia dalam keadaan sadar sama sekali, tidak terbius atau pingsan seperti biasa para korban upacara keji itu!
Dan enam orang gadis lainnya juga kini dengan terburu-buru mengenakan pakaian mereka, pakaian sopan dan jubah mereka bergambar lingkaran Im-yang merah putih.
Seorang di antara mereka, yaitu gadis yang tadi bertelanjang bulat dan ini sudah mengenakan pakaian dan menyanggul rambutnya, memberi hormat kepada perwira tinggi itu.
"Agaknya ada gangguan, Souw Ciangkun. Sebaiknya kalau upacara kita ditunda sampai lain kali saja. Kami akan kembali lagi kalau saatnya yang baik tiba seperti dikehendaki oleh Kwi-ong. Mereka bertujuh lalu memberi hormat kepada Souw Ciangkun, tanpa melirik ke arah Giok Cu dan Han Beng, kemudian mereka membawa peralatan sembahyang mereka dan keluar beriringan dari ruangan itu seperti kelompok anggauta perkumpulan agama yang tertib dan sopan. Para penjaga di luar pun tidak berani bersikap kurang ajar kepada tujuh gadis ini yang dianggap orang-orang yang saleh dari perkumpulan agama yang terpandang di kota itu.
"Ciangkun, sekarang kami minta penjelasan!"
Giok Cu berkata setelah tujuh orang gadis itu pergi.
"Kiranya Ciangkun juga seorang anggauta Thian te Kwi-ong? Dan tadi gadis itu hendak dijadikan korban, dibunuh di meja semba yang, bukan?"
"Ah, tidak! Tidak! Engkau tidak mengerti, Nona, Tidak kusangkal bahwa aku memang merupakan seorang anggauta baru yang akan dilantik hari ini sebagai anggauta yang sah. Apa salahnya kala aku menjadi anggauta sebuah perkumpulan agama yang mengajarkan persaudara dan cinta kasih? Aku tidak melangg tugas dan hukum!"
"Hemmm, dan pengesahan itu dengar mengorbankan seorang gadis perawan, membunuhnya di atas meja sembahyang tadi, bukan?"
Giok Cu mengejek, dan dara perkasa ini teringat akan pesan Liu Taijin bahwa Thian-te-kauw kini mulai menanamkan pengaruhnya pada para pejabat.
Perwira tinggi ini agaknya sudah mulai terpengaruh pula!
"Tidak, sama sekali tidak!
Dahulu menurut penjelasan para pimpinan Thiar> ii-kauw, memang ada kebiasaan kuno seperti itu, mengorbankan seorang perawan dalam upacara pengangkatan anggauta baru.
Akan tetapi sekarang, setelah Kwi-ong berkenan memimpin sendiri, kebiasaan diubah.
Yang dikorbankan hanya kegadisannya, bukan nyawanya!"
"Ihhhhh ..............!"
Giok Cu mengerutkan alisnya dan memandang jijik.
"Jadi engkau akan memperkosa gadis tadi sebagai upacaranya?"
Wajah perwira tinggi itu berubah merah.
"Engkau salah mengerti, Lihiap.bukan memperkosa, melainkan ia dengan suka rela menyerahkan diri. Itulah inti persaudaraan dan cinta kasih! Kami melakukannya dengan dasar cinta kasih............"
"Omong kosong! Upacara cabul! Jahat, keji sekali! Ciangkun, kiranya apa yang dikatakan Liu Taijin benar. Thian-te-kauw sudah menanamkan cakarnya kepada para pejabat termasuk engkau! Kami harus melaporkan hal ini kepada Liu Taijin!"
Kata Giok Cu marah. Tiba-tiba terjadi perubahan sikap perwira tinggi itu. Dia menengadah lalu tertawa bergelak-gelak seperti orang gila! "Ha-ha-ha-ha-ha!"
Siapa berani menentang Thian-te Kwi-ong berarti mampus!
Yang mentaatinya akan hidup bahagia dan panjang usia, akan tetapi yang menentang akan mati!
Ha-ha-ha!
Thian-te Kwi-ong tak terkalahkan, ha-ha-ha-ha-ha!"
Dia mengeluarkan peluit dan terdengar suara nyaring ketika dia meniupnya dan terdengar derap kaki banyak orang.
Tempat itu telah terkepung oleh ratusan orang perajurit!
"Ha-ha-ha-ha, kalian takkan dapat lolos lagi.
Hayo kalian semua maju, tangkap dan bunuh dua orang mata-mata musuh ini!"
Mendengar perintah atasan mereka, puluhan orang perajurit memasuki ruangan dengan senjata di tangan.
Melihat ini, tahulah Han Beng dan Giok Cu bahwa keselamatan mereka terancam.
Mereka tentu saja mampu membela diri, akan tetapi bagaimana mungkin menang melawan ribuan perajurit yang berada di dalam benteng itu?
Mereka tidak akan mampu lolos dan akhirnya mereka akan tewas tercincang!
Akan tetapi, Giok Cu adalah seorang gadis yang cerdik sekali.
Melihat para perajurit itu siap mengeroyok, secepat kilat ia menotok tengkuk Souw Ciangkun, membuat perwira tinggi itu tak mampu menggerakkan kaki tangan yang mendadak menjadi lumpuh.
Sambil menodongkan pedang yang sudah dicabutnya ke leher perwira tinggi itu, ia berteriak.
"Mundur semua! Kalau ada yang berani menyerang, kubunuh Souw Ciangkun! Ancamannya ini berhasil. Para perajurit itu mundur dan bingung, tidak tahu apa yang harus mereka perbuat. Souw Ciangkun yang sudah tidak mampu menggerakkan kaki tangannya itu masih tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha! Kalian maju, tangkap dan bunuh mereka berdua! Aku tidak bisa mati, ha-ha-ha, Thian-te Kwi-ong akan melindungiku, usiaku akan mencapai seratus tahun. Ha-ha-ha-ha, siapa menentang Thian-te Kwi-ong akan mati konyol!"
Ketika perajurit itu sedang ragu dan bingung, dan anjuran perwira yang tertawa-tawa itu membuat mereka bergerak lagi untuk mengeroyok, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Kalian semua mundur!"
Ketika para perajurit mengenal orang yang memberi aba-aba itu, mereka mundur dan muncullah seorang perwira tinggi lain yang usianya sebaya dengan Sou Ciangkun, tubuhnya tinggi kurus dan sinar matanya tajam.
Dia maju menghadap Han Beng dan Giok Cu yang memandang dengan waspada dan siap siag Giok Cu masih menodongkan pedangnya di leher Souw Ciangkun.
"Nona, harap lepaskan dia. Agaknya telah terjadi sesuatu dengan dia dan pikirannya tidak wajar lagi."
Kata perwira itu dengan tegas.
Giok Cu melepaskan Souw Ciangkun yang roboh dengan lemas karena kedua kakinya masih lumpuh oleh totokan Giok Cu.
Akan tetapi, biarpun sudah terguling roboh, Souw Ciangkun masih tertawa-tawa dan berteriak-teriak memuji-muji Thian-te Kwi-ong!
Perwira itu mengangguk kepada Han Beng dan Giok Cu.
"Aku adalah Panglima Yap, komandan ke dua di benteng ini."
Kemudian dia menghadapi para perajurit yang masih berkerumun di situ dan di luar pintu pun penuh perajurit yang ingin tahu apa yang telah terjadi.
"Komandan Souw sedang sakit, biar aku yang mengurus dia. Kalian semua tinggalkan tempat ini dan atur penjagaan yang ketat, jangan perbolehkan siapa juga memasuki benteng!"
Perintahnya tegas dan semua perajurit mundur.
Setelah Souw Ciangkun seperti orang gila Itu, tertawa-tawa dan berteriak-teriak memang Yap Ciangkun yang merupakan komandan yang paling tinggi kedudukannya.
"Sudah beberapa lamanya aku memperhatikan keadaan Souw Ciangkun. Aku sudah menaruh kecurigaan ketika para gadis dari Thian-te-kauw itu dibiarkan masuk benteng. Ketika Ji-wi memperkenalkan diri sebagai utusan Liu Taijin yang hendak menghadap Souw Ciangkun, diam-diam aku memperhatikan. Ternyata terjadi seperti apa yang kami khawatirkan. Souw Ciangkun agaknya sudah terjebak oleh perkumpulan agama yang penuh rahasia itu."
"Ha-ha-ha, kalian akan mampus semua kalau menentang Thian-te Kwi-ong........ ha-ha-ha!"
"Lihiap dan Tai-hiap, dapatkah dia dibiarkan pingsan tanpa menderita?"
Yap Ciangkun bertanya.
"Karena dia atasanku, bagaimanapun aku tidak berani bertindak kasar terhadap dirinya."
Han Beng mengangguk dan sekali di menepuk tengkuk Souw Ciangkun, komandan yang seperti gila itu terkulai pingsan.
Yap Ciangkun memanggil empat orang perajurit pengawal dan memerintahkan mereka untuk mengangkat tubuh Souw Ciangkun.
"Biarkan dia di dalam kamar dan jaga baik-baik. Dia menjadi tahanan sementara'"
Perintahnya.
Setelah Souw Ciangkun diangkut pergi, Yap Ciangkun lalu mempersilakan Han Beng dan Giok Cu duduk.
Mereka duduk berhadapan, lalu dengan singkat Yap Ciangkun menceritakan tentang Thian-te-pang.
"Mereka memang tidak melakukan sesuatu yang mencurigakan. Hubungan mereka dengan para pejabat sangat baik sekali, bahkan ada kalanya mereka membantu petugas menenteramkan keadaan dan membasmi para penjahat yang berani mengganggu ketenteraman sekitar daerah Ceng-touw. Karena Souw Ciangkun juga berhubungan baik dengan para pimpinan mereka, maka aku sebagai wakilnya tidak dapat berbuat sesuatu. Sampai akhirnya aku mendengar dari para penyelidikku bahwa seringkali ada anggauta Thian-te-kauw wanita dibiarkan bermalam di kamar Souw Ciangkun! Mulailah aku curiga sampai terjadi peristiwa hari ini. Ji-wi adalah utusan Liu Taijin. Tugas apakah yang Ji-wi bawa?"
"Kami dipesan oleh Liu Taijin untuk menghubungi Souw Ciangkun yang menjadi kepala pasukan keamanan di sini, untuk bekerja sama menyelidiki keadaan Thian-te-kauw. Liu Taijin telah mendengar berita bahwa Thian-te-kauw mulai mempengaruhi para pejabat, dan kami memang akan melakukan penyelidikan ke sarang mereka."
"Tugas itu berbahaya sekali! Aku mendengar bahwa pimpinan mereka mempunyai banyak orang yang berilmu tinggi, apalagi seorang pemuda yang menjadi pemimpin umumnya. Kabarnya dia bukan manusia melainkan penjelmaan dari Thian-te Kwi-ong yang mereka puja."
"Kami dapat menjaga diri, Ciangkun. Kami mempunyai urusan pribadi dengan seorang pimpinan mereka. Urusan mengenai diri Souw Ciangkun, kami serahkan kepada Ciangkun, karena itu bukan tugas kami untuk mengurusnya. Kelak kami akan melaporkan kepada Liu Taijin seperti yang kami janjikan. Nah, kami akan segera pergi, Ciangkun,"
Kata Giok Cu.
Perwira itu bangkit dan mengantar mereka sampai ke pintu gerbang benteng.
Setelah mereka pergi Yap Ciangkun segera membuat persiapan sendiri dan dia pun mengirim laporan kepada atasannya mengenai persoalan Souw Ciangkun.
Dia tidak tahu bahwa Souw Ciangkun telah berada di bawah pengaruh sihir dari Lui Seng Cu, kauw-cu dari Thian-te-kauw.
Karena pengaruh sihir itulah maka dia seperti orang nekat dan gila, membela Thian-te Kwi-ong mati-matian biarpun dia mengalami guncangan hebat ketika rahasianya terbuka dan ketahui oleh dua orang pendekar utusan Liu Taijin tadi.
ooOOoo "Braaakkkkk ........
Meja marmar bundar itu hancur berkeping-keping ketika Can Hong San memukulkan tangannya yang terbuka saking marahnya mendengar laporan tujuh orang gadis muda cantik itu.
Baru saja tujuh orang gadis itu menghadap Kauwcu Lui Seng Cu melaporkan kegagalan mereka ketika hendak melakukan upacara sembahyang pengangkatan Souw Ciangkun sebagai anggauta yang sah dari Thian te-kauw.
Lu Seng Cu marah, dan dia pun membawa tujuh orang gadis itu menghadap "pemimpin umum"
Yang mereka sebut Can Kongcu, dan yang dikenal sebagai penjelmaan Thian-te Kwi-ong sendiri, juga yang mengaku sebagai putera mendiang Cui-beng Sai-kong.
Can Hong San di lapori karena dialah yang mengatur agar Souw Ciangkun ditarik menjadi anggauta Kalau mereka sudah dapat mengait komandan pasukan keamanan menjadi anggauta yang setia, maka keamanan dan kekuasaan mereka pun akan terjamii sepenuhnya!
Setelah tujuh orang gadis itu membuat laporannya di depan Can Hong San, pemuda itu demikian kecewa da n marahnya sehingga dia memukul hancur meja marmar di depannya.
Tujuh orang gadis itu berlutut dengan tubuh menggigil ketakutan.
Bahkan Lui Seng sendiri juga agak pucat menghadapi kemarahan pemuda yang dia tahu selain amat lihai, juga amat kejam itu.
"Siapakah kedua orang tamu Souw Ciangkun yang menggagalkan upacara itu?"
Bentaknya marah. Di antara tujuh orang gadis itu, hanya gadis yang tadinya akan dijadikan "korban"
Yang paling berani menjawab.
Hal ini tidaklah aneh karena ia merupakan seorang di antara gadis-gadis anggauta Thian-te-kauw yang paling disayang oleh Can Kongcu, yang setiap saat boleh dengan sesuka hatinya memilih para gadis anggauta Thian-te-kauw untuk Melayaninya.
"Kami masih berada di dalam kamar tu ketika Souw Ciangkun menjamu kedua orang tamunya, Kongcu. Kami tidak dapat mendengar banyak, akan tetapi kami mendengar dari percakapan mereka bahwa mereka adalah utusan seorang pejabat tinggi dari Lok-yang, dan kami mendengar Souw Ciangkun menyebut seorang diantara mereka sebagai Huang-ho Sin-liong................"
"Ah, dia lagi!!"
Can Hong San berseru dan sekali ini dia benar-benar kaget bukan main.
Tentu saja dia mengenal siapa itu Huang-ho Sin-liong.
Sudah dua kali dia dipencundangi oleh pendekar itu.
Pertama kali ketika dia hendak memperkosa Sim Lan Ci, dan kedua kalinya ketika pendekar itu menolong Bu Giok Cu yang hampir ditawannya dengan bantuan para sekutunya, yaitu mendiang Gan Lok dan lain-lain.
Dan sekarang kembali pendekar itu yang menggagalkan upacara pengangkatan Souw Ciangkun sebagai anggauta Thian-te-kauw!
"Apakah Kongcu sudah mengenal Huang-ho Sin-liong?"
Tanya Lui Seng Cu Ketua Thian-te-kauw.
"Tentu saja aku mengenal dia. Kalian gadis-gadis sial ini boleh mundur. Eh nanti dulu, coba ceritakan siapa wanita yang datang bersama Huang-ho Sin-hona itu!"
"Maaf, Kongcu, kami tidak mengenal namanya ................"
"Bodoh! Ceritakan bagaimana rupanya! usianya, pakaiannya! Engkau biasanya cerdik, Lee Cia, hayo ceritakan bagaimana keadaan gadis itu!"
Katanya kepada gadis yang tadi akan dikorbankan dalam upacara pengangkatan Souw Ciangkun sebagai anggauta. Lee Cia, gadis yang berkulit putih mulus itu, mengingat-ingat.
"la seorang gadis yang usianya tentu sudah dua puluh tahun lebih, wajahnya cantik jelita, bentuk wajahnya bulat telur dengan dagu runcing keras, bibirnya merah basah tanpa gincu, bedaknya tipis, bajunya Indah dan bersih, berwarna merah muda dan punggungnya terdapat sebatang pedang. Ia nampak galak dan keras sekali ..............."
"Ahhhhh .............. Si Keparat! Ia tentu Bu Giok Cu. .................!"
Kini Thian-te Kauw-cu Lui Seng Cu yang memandang dengan mata terbelalak kepada pemuda itu.
"Bu Giok Cu ..................? Apakah Kongcu juga mengenalnya?"
"Tentu saja aku mengenalnya! Kauw-cu, cepat kumpulkan semua pimpinan ke sini, dan kalian gadis-gadis sial boleh pergi. Malam nanti engkau datang ke kamarku, aku mau bicara, Lee Cia!!"
Kata Hong San.
Lee Cia tersipu dengan muka merah, akan tetapi ia tersenyum dan matanya berseri karena hatinya merasa girang sekali.
Hampir setiap orang gadis anggauta Thian-te-kauw yang menerima pelajaran sesat menjadi hamba nafsu dan mereka itu mengharap-harap menerima panggilan dari Can Kongcu untuk melayaninya!
Lui Seng Cu tergopoh keluar dan memanggil semua pimpinan perkumpulan itu.
Berbondong mereka datang memasuki kamar di mana Can Hong San menanti dengan tidak sabar.
Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu yang menjadi pang-cu masuk dengan sikap tenang.
Di antara para pembantu Hong San, wanita inilah yang tidak begitu menjilat dan takut, karena selain ia menjadi pangcu, juga ia adalah seorang wanita yang biar tua boleh menganggap Hong San sebagai kekasihnya juga muridnya dalam urusan pelampiasan nafsu, dalam bidang mana ia tentu saja sudah berpengalaman sekali dibandingkan Hong San yang masih muda itu.
Selain Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu dan Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu sebagai pang-cu dan kauw-cu juga hadir di siti Siangkoan Tek putera Siangkoan Bok majikan Pulau Hiu, Ji Ban To murid dari Ouw Kok Sian majikan Pegunungan Liong-San, juga dua orang murid Lui Seng Cu sendiri, yaitu Siok Boan dan Poa Kian So.
Empat orang pemuda ini dengan senang hati menjadi pembantu Can Hong San yang sakti.
Siangkoan Bok dan Ouw Kok Sian sendiri hanya menjadi sahabat saja dari orang-orang Thian-te-kauw, tidak ikut membantu karena mereka merupakan datuk-datuk dari daerah mereka sendiri.
Setelah enam orang pembantunya hadir, Hong San menyambut mereka dengan ucapan yang nadanya mengandung Kekhawatirannya.
"Kita kedatangan musuh besar yang harus kita hadapi dengan berhati-hati! Mereka adalah Huang-ho Sin-Liong dan Bu Giok Cu!"
"Ihhhhh! Giok Cu .............?"
Ban-tok Mo-li berseru kaget sekali.
Ia tadi hanya pendengar dari Lui Seng Cu bahwa Can Kongcu mengundang semua pembantu untuk berkumpul dan membicarakan urusan penting.
Lui Seng Cu tidak sempat bercerita tentang Giok Cu, maka kini mendengar nama bekas muridnya itu, ia tentu saja terkejut dan heran.
Mendengar nada suara pangcu itu Hong San memandang kepadanya.
"Engkau sudah mengenalnya, Pangcu?"
Di depan orang banyak, kedua orang ini bersikap resmi, saling menyebut pangcu kongcu, tidak seperti kalau mereka halnya berdua, maka sebutan mereka berubah menjadi "sayang".
"manis"
Dan berbagai sebutan mesra lagi.
"Mengenalnya?"
Ban-tok Mo-li tersenyum lebar dan ia memang masih nampak cantik walaupun usianya sudah lima puluh tujuh tahun, dengan gigi yang masih rapi dan kulit muka putih yang belur kisut, atau kalaupun agak kisut maka keriput ini tertutup bedak dan gincu tebal!
"Heh-heh, tentu saja mengenalnya karena ia adalah muridku sendiri bahkan seperti anak angkat karena sejak berusia sepuluh tahun ia berada di sini sampai beberapa tahun yang lalu.
"Muridmu?"
Hong San terbelalak, sudah mengukur ilmu kepandaian pangcu ini.
Walaupun lihai namun belum mampu menandinginya, sedangkan tingkat kepandaian Bu Giok Cu hebat, seimbang dengan tingkatnya sendiri!
'Tapi ............
ilmu silatnya amat hebat!
Jauh melebihi kemampuanmu, Pangcu!"
Berkerut alis Ban-tok Mo-li.
Tentu saja tidak enak perasaan hatinya kalau di Ucapan orang banyak dikatakan bahwa kepandaiannya jauh di bawah tingkat kepandaian muridnya sendiri!
"Hemmm, mungkin selama kurang lebih enam tahun ini ia belajar lagi, makin giat berlatih sedangkan aku semakin malas saja."
Katanya acuh.
"Di manakah mereka berdua itu sekarang, kongcu? Kita harus menghancurkan mereka agar tidak selalu menjadi gangguan kelak!"
Hong San lalu menceritakan tentang laporan tujuh orang gadis itu, betapa upacara peresmian Souw Ciangkun menjadi anggauta Thian-te-kauw telah gagal karena munculnya dua orang pendekar muda itu.
"Mereka pasti akan mencari kita di sini, dan karena itu kalian kukumpulkan agar kita dapat melakukan rencana dan persiapan menyambut musuh berbahaya itu."
Mereka lalu berunding dan mengatur siasat.
Hong San perintahkan kepada para pembantunya itu untuk mempersiapkan diri, memberitahu kepada para tokoh sesat yang sudah bersahabat dengan mereka, bahkan banyak tokoh sesat yang menjadi pemuja Thian-te Kwi-ong.
Dugaan Can Hong San memang tepat Han Beng dan Giok Cu pada suatu pagi dua hari kemudian, muncul di kuil Thia te-kauw!
Mereka berdua bukan orang-orang ceroboh atau bodoh.
Mereka sudah menduga bahwa pihak Thian-te-kauw tentu sudah membuat persiapan untuk menyambut mereka, karena tujuh orang gadis yang mereka jumpai di dalam benteng dan sedang melakukan upacara sembahyang untuk meresmikan pengangkatan anggauta Thian-te-kauw baru, yaitu Sou-Ciangkun, tentu tidak tinggal diam dan sudah membuat laporan kepada pimpinan mereka.
Namun, mereka berdua adalah orang-orang gagah yang sama sekali tidak menjadi gentar.
Pula, mereka tidak akan mencampuri urusan Thian te-kauw, melainkan untuk bertemu dengan Thian-te Pang-cu untuk urusan pribadi.
Pagi itu kuil masih sepi pengunjung.
Bahkan ketika Han Beng dan Giok Cu melewati pintu gerbang pertama yang paling luar, tidak nampak seorang pun anggauta Thian-te-kauw!
Sunyi seolah-olah tempat itu sudah ditinggalkan orang.
Sunyi dan lengang, akan tetapi pintu-pintu gerbang menuju ke kuil itu terbuka lebar.
Perasaan tegang memang ada, namun dua orang muda yang gagah perkasa itu melangkahi ambang pintu gerbang pertama dan tibalah mereka di pekarangan paling depan, dan seratus meter di depan terdapat sebuah pintu gerbang ke dua.
Juga pintu gerbang ini terbuka lebar walaupun di situ tidak nampak ada penjaga.
Han Beng dan Giok Cu juga memasuki pintu gerbang ini dan mereka tiba di pekarangan kuil.
kesibukan kuil belum nampak, dan ketika mereka melangkah maju menghampiri pintu depan kuil yang terbuka lebar, mereka mendengar suara gaduh di belakang mereka Ketika keduanya menengok, ternyata pintu gerbang pertama dan ke dua yang tadi mereka lewati tertutup dari luar!
Mereka saling pandang, maklum bahwa mereka telah masuk perangkap musuh Ketika mereka memandang lagi muncullah banyak kepala di balik tembok yang mengelilingi tempat itu, dan ketika mereka membalik, ternyata di depan kuil telah muncul sedikitnya lima puluh orang anggauta Thian-te-kauw pria dan wanita yang kesemuanya memegang golok atau pedang, dengan gambar tanda Im-yang putih dan merah di dada.
Mereka itu berdiri berjajar tak bergerak, hanya memandang kepada Han Beng dan Giok Cu dengan mata mengancam.
Melihat ini, Giok Cu tersenyum mengejek.
Ia sudah berjanji kepada Han Beng untuk menghadapi Ban-tok Mo-li seorang dan tidak akan mencari keributan dengan Thian-te-kauw.
Maka, melihat betapa para anggauta Thian-te-kauw semua mengepung tempat itu dengan sikap bermusuh, ia lalu mengerahkan khi-kang dan terdengarlah suaranya melengking nyaring dan menggetarkan seluruh tempat itu.
"Ban-tok M li Kami datang untuk bertemu dan bicara dengan engkau, untuk urusan pribadi yang tidak ada sangkut pautnya dengan Thian-te-kauw! Kami tidak mempunyai urusan dengan Thian-te-kauw. Keluarlah dan temui kami!" . Para anggauta Thian-te-kauw terkejut sekali dan banyak di antara mereka yang terhuyung karena tidak tahan menerima getaran suara yang mengandung tenaga khi-kang amat kuatnya itu. Kini, mereka yang berdiri tepat di depan pintu kuil, terkuak dan terbuka. Muncullah Ban-tok Mo-li dan Lui Seng Cu. Ban-tok Mo-li nampak cantik dan anggun, dengan pakaian kebesaran seorang pang-cu, tersenyum dan memegang kipasnya, melangkah perlahan menghampiri Giok Cu dan Han Beng. Di sampingnya berjalan Lui Seng Cu, dan orang ini nampak lucu karena mengenakan jubah pendeta yang longgar, pakaian kauw-cu, akan tetapi di punggungnya nampak gagang goloknya, dan tangannya memegang sebuah kebutan pendeta. Dia pun melangkah dengan sikap angkuh dan tenang. Di belakang mereka berjalan belasan orang yang nampaknya bengis dan kuat dan di antara mereka nampak pula empat orang pemuda yang dikenal baik ole Giok Cu karena mereka itu bukan lai adalah Siangkoan Tek, Ji Ban To, Sio Boan dan Poa Kian So. Tidak nampak pemuda yang mereka dengar sebagai pemimpin umum, yang dikabarkan sebagai penjelmaan Thian-te Kwi-ong itu. Dengan gaya memandang rendah Ban-tok Mo-li menatap wajah Giok Cu penuh selidik, lalu ia tersenyum ramah.
"Aih kiranya muridku Giok Cu yang datang Giok Cu, apakah engkau merindukan Subomu dan sengaja datang untuk menengok? Subomu sudah menjadi Pang-cu sekarang dan engkau akan kuberi kedudukan yang sesuai dengan kepandaianmu, Giok Cu."
"Ban-tok Mo-li!"
Giok Cu membentak.
"Tidak perlu banyak bujuk rayu. Sejak engkau dan Lui Seng Cu ingin membunuhku beberapa tahun yang lalu, aku tidak Menganggap engkau sebagai guruku lagi!"
Ban-tok Mo-li mengerutkan alisnya.
"Muridku yang murtad, memang sejak kecil engkau selalu membangkang dan murtad. Kalau engkau sudah tidak menganggap aku sebagai gurumu, lalu mau apa engkau datang ke sini?"
"Ban-tok Mo-li, aku sengaja mencarimu untuk menuntut pertanggungan jawabmu atas kematian Ayah Ibuku. Mengakulah, apa yang telah kaulakukan kepada Ayah Ibuku di perahu dahulu itu?"
Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu mengerutkan alisnya dan mengamati wajah bekas murid itu.
"Giok Cu, apa maksudmu bertanya seperti itu? Engkau melihat sendiri ketika kita naik ke perahu Ayah Ibumu. Mereka luka-luka, kemudian mereka tewas keracunan ............."
"Mereka tewas keracunan secara mendadak, ketika engkau berada di dekat mereka!"
Kata Giok Cu memancing. Ban-tok Mo-li tersenyum, sikapnya tenang saja karena ia percaya akan kekuatan pihaknya.
"Giok Cu, apakah engkau sudah menjadi gila? Engkau melihat sendiri bahwa aku tidak menyerang mereka. Mereka itu sudah keracunan ketika kita naik ke perahu mereka dan menurut pengakuan mereka, baru saja Liu Bhok Ki mengobati mereka, maka jelas bahwa Liu Bhok Ki yang meracuni mereka. Engkau tahu sendiri, bukan?"
"Bohong! Bohong dan fitnah ya kaukatakan itu, Ban-tok Mo-li!"
Han Beng berseru marah. Ban-tok Mo-li memandang kepada pemuda itu dan sinar matanya mencorong marah.
"Siapakah engkau? Hemmm, agaknya engkau yang dijuluki Huang-ho Sin liong itu. Benarkah?"
"Benar. Namaku Si Han Beng engkau bicara bohong tadi, Ban-tok li. Suhu Liu Bhok Ki tidak akan meracuni orang! Dia seorang pendekar besar, selamanya tidak menggunakan racun. Rajawali Sakti Liu Bhok Ki hanya mengandalkan kaki tangan dan sabuknya sama sekali tidak pernah menggunakan racun!"
"Huh, jadi engkau ini hanya murid Liu Bhok Ki saja? Tapi ........ aku pernah melihatmu. Benar ............ ! Engkau ........ bukankah engkau anak yang dulu bersama Giok Cu telah menemukan anak naga dan menghisap darah anak naga itu?"
"Benar, Ban-tok Mo-li. Dan kuharap engkau cukup gagah untuk mengakui perbuatanmu dan mempertanggungjawabkan darinya, tidak melakukan fitnah kepada orang lain yang sama sekali tidak bersalah."
"Bu Giok Cu, engkau yang kudidik lama bertahun-tahun sebagai murid terkasih, engkau datang menuduhku dan engkau malah percaya kepada keterangan pemuda ini?"
Ban-tok Mo-li berseru penasaran kepada Giok Cu.
"Aku telah mendengar sendiri keterangan Lo-cian-pwe Liu Bhok Ki dan aku percaya kepadanya! Dan aku memang lebih percaya bahwa engkau yang telah membunuh Ayah bundaku dengan racun, Ban-tok Mo-li. Pertama, karena engkaulah orang yang sudah biasa menggunakan racun, sesuai dengan julukanmu. Ke dua biarpun aku pernah menjadi muridmu, aku sudah mengenal watakmu yang jahat dan kejam, bahkan pernah aku nyaris tewas di tanganmu dan tangan pendeta palsu Lui Seng Cu ini. Ban-tok Mo-Ii apakah engkau demikian pengecut dan penakut untuk mengakui bahwa yang membunuh Ayah Ibuku adalah engkau?"
Wajah wanita itu berubah merah karena marah dimaki sebagai pengecut dan penakut oleh bekas muridnya sendiri.
Bagi orang golongan sesat, membunuh bukan merupakan perbuatan yang mealukan atau dianggap buruk, bahkan dianggap sebagai perbuatan yang membanggakan hati!
Maka, ia pun sama seka tidak merasa malu, bahkan dengan sikap bangga ia mengakui perbuatannya.
"Bocah sombong Bu Giok Cu! Kalau benar demikian, habis engkau mau apa? Memang, aku telah membunuh Ayah Ibumu karena pada waktu itu aku menganggap mereka sebagai penghalang bagiku untuk mengambil engkau sebagai murid. Dan aku merasa menyesal mengapa engkau tidak kubunuh sekalian pada waktu itu sehingga sekarang engkau tidak hanya mendatangkan kepusingan saja."
Biarpun ia sudah menduga sebelumnya, tetap saja wajah Giok Cu berubah bucat seketika, kemudian menjadi merah sekali ketika ia mendengar pengakuan dari Ban-tok Mo-li itu.
Dengan sinar mata mencorong seperti berapi, tubuh tegak lurus dan tangan kiri bertolak pinggang, telunjuk kanannya menuding ke arah muka Ban-tok Mo-li, Giok Cu berkata dengan suara yang nyaring dan penuh kemarahan.
"Ban-tok Mo-li! Bagus engkau telah mengakui perbuatanmu yang keji! Sekarang bersiaplah engkau! Aku datang untuk menagih hutang, membalas atas kematian Ayah Ibuku!"
Giok Cu melangkah maju menghadapi wanita yang pernah menjadi gurunya itu.
"Bu Giok Cu, dengan sedikit isyaratku saja, engkau akan dikepung puluhan orang anak buahku dan engkau akan mati konyol, biarpun engkau dibantu oleh Huang-ho Sin-liong. Akan tetapi, kami dari Thian-te-pang adalah orang-orang gagah! Kalau memang engkau menantangku, beranikah engkau bertanding dengan aku di lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) dan tidak di depan kuil ini agar tidak mengganggu mereka yang akan sembahyang dan mencemarkan pekarangan kuil yang suci?"
Giok Cu tersenyum mengejek. Ia dan Han Beng sudah berani datang ke tempat itu, ke sarang musuh, tentu saja mereka tidak takut, apalagi ditantang untuk bertanding di ruangan bermain silat.
"Di mana pun dan kapan pun tantanganmu akan kuhadapi!"
Akan tetapi Han Beng cepat berkat "Ban-tok Mo-li, kedatangan kami ini tidak ada hubungannya dengan Thia te-pang atau Thian-te-kauw.
Dan aku pun tidak akan mencampuri pertandingan, dengan Giok Cu.
Akan tetapi, kalau sampai terjadi kecurangan, kalau engkau mengeroyok Giok Cu, terpaksa aku akan ikut campur dan mencegah kecurangan itu!
Kami tidak ingin bermusuhan dengan Thian-te-kauw!"
Ban-tok Mo-li tertawa genit.
"Hik-hik, aku akan bertanding melawan bekas muridku, perlu apa aku harus dibantu orang lain? Bahkan kalau perlu engkau boleh membantu Giok Cu, aku tidak takut menghadapi pengeroyokan kalian dua orang muda yang sombong ini!"
"Ban-tok Mo-li, tidak perlu banyak cerewet. Mari kita segera bertanding sampai seorang di antara kita roboh!"
Giok Cu membentak.
Sambil tertawa Ban-tok Mo-li lalu masuk ke dalam, diikuti oleh Giok Cu dan Han Beng, juga diikuti Lui Seng Cu dan para pimpinan Perkumpulan itu.
Giok Cu tentu saja masih hafal akan keadaan di rumah itu.
Kiranya kuil itu dibangun di bagian depan dan menembus ke pinggir rumah bekas gurunya, dan lian-bu-thia yang dulu tidak begitu besar, kini telah dirombak dan menjadi sebuah ruangan yang luas, yang cukup untuk berlatih seratus orang!
Ruangan ini tertutup dan tidak mempunyai jendela, hanya ada sebuah pintu di depan, pintu besi yang kokoh.
Dengan langkah tenang dan gagah, Giok Cu mengkuti Ban-tok Mo-li memasuki ruangan itu bersama Han Beng, diiringkan oleh para tokoh Thian-te-pang.
Setelah tiba di dalam ruangan langsung saja Giok Cu berdiri di tengah-tengah dengan sikap menantang.
"Mari kita selesaikan urusan antara kita. Aku sudah siap, Ban-tok Mo-li!"
Katanya sambil memandang kepada wanita itu.
Han Beng berdiri di sudut dengan sikap tenang, namun waspada karena dia tetap merasa curiga bahwa orang-orang sesat itu dapat benar-benar bersikap gagah dan dapat dipercaya.
Dia tidak khawatir sama sekali kalau memang terjadi pertandingan yang jujur, karena dia percaya sepenuhnya akan kelihaian Giok Cu.
Yang dikhawatirkan adalah kalau orang-orang sesat itu menggunakan pengeroyokan atau jalan lain yang curang.
Maka, biarpun dia nampak tenang saja berdiri sambil bersilang lengan di dada dia tetap waspada menjaga segala kemungkinan yang dapat terjadi.
Ban-tok Mo-li masih belum banyak.
benar akan pemberitahuan Can Kongcu bahwa bekas muridnya itu kini memiliki kepandaian yang amat tinggi, jauh lebih lihai dibandingkan kepandaiannya sendiri!
Ia tidak percaya!
Dan ia pun tidak takut, karena di situ terdapat Lui Seng Cu dan para tokoh lain, bahkan di situ terdapat pula Can Kongcu yang masih belum muncul, akan tetapi yang ia tahu tentu sedang melakukan pengintaian.
Dengan langkah gemulai Ban-tok.
Mo-li Phang Bi Cu menghampiri Giok Cu di tengah ruangan itu sambil mencabut pedang dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya tetap memegang kipasnya.
Begitu pedang tercabut, nampak anar merah.
Itulah Ang-tok Po-kiam (Pedang Pusaka Racun Merah) yang ampuh sekali karena selain terbuat dari baja pilihan, juga pedang itu sudah direndam racun merah bertahun-tahun sehingga lawan yang terkena sekali goresan saja sudah terancam maut!
Namun Giok Cu sama sekali tidak merasa jerih.
Ia sudah mengenal habis-habis semua senjata dan kepandaian bekas gurunya.
Ia tahu benar keadaan pedang pusaka yang berwarna merah itu,bahkan ia pun mengenal kipas di tang kiri lawan itu.
Kipas itu nampaknya tidak berbahaya, namun ia tahu bah kipas itu lebih berbahaya daripada p dang karena kipas itu mengandung jarum-jarum halus beracun yang dapat menyambar dari dalam gagang kipas yang suda dipasangi alat.
Juga selain kedua ujung gagang kipas yang runcing mengandun racun pula, juga kebutan kipas itu mendatangkan bau harum yang juga dapa membuat kepala menjadi pening.
Ia mengenal pula bekas gurunya sebagai manusia beracun sehingga pukulan tangannya, cakaran kukunya, bahkan ludahnya mengandung racun yang dapat mematikan lawan!
"Bu Giok Cu, sudah begitu bosan hidupkah engkau maka begini tergesa-gesa minta mati?"
Tegur Ban-tok Mo-li dengan senyum mengejek.
"Ban-tok Mo-li, dua belas tahun yang lalu engkau telah membunuh Ayah dan Ibuku yang sama sekali tidak bersalah kepadamu. Sekarang aku, Bu Giok Cu anak mereka, menuntut balas atas kematian mereka yang penasaran itu. Ban-ok Mo-li bersiaplah engkau untuk menghadap Ayah Ibuku dan mempertanggung-jawabkan perbuatanmu yang jahat dan kejam!"
"Hi-hi-hik, engkau ini bekas muridku berani membuka mulut besar? Nah, kau makanlah pedangku!"
Berkata demikian, wanita itu sudah menusukkan pedangnya, tanpa memberi kesempatan pada bekas muridnya untuk mencabut senjatanya.
Memang wanita ini licik sekali dan sama sekali tidak merasa malu untuk melakukan kecurangan.
Sinar merah berkelebat menyambar ketika pedang Itu menusuk ke arah dada Giok Cu.
Gadis ini cepat meloncat ke belakang dan ketika tangan kanannya bergerak, ia sudah mencabut pedang pusaka Seng-kang-kiam pemberian Hek Bin Hwesio.
Melihat pedang yang tumpul itu, dan buruk, Ban-tok Mo-li terkekeh geli.
"Hi-hi-heh-heh, Giok Cu. Pedang apa yang kaukeluarkan itu? Untuk memotong sayur pun belum tentu dapat, begitu tumpul dan buruk! Dan engkau hendak melawan Ang-tok Pokiam dan kipas dengan pedang tumpul itu? Ha-ha!"
"Tak perlu banyak cerewet. Lihat pedang!"
Giok Cu membentak dan sudah menyerang dengan pedangnya.
Terdengar suara berdesing dari didahului angin menyambar keras, pedang itu sudah menyambar pula ke arah leher lawan.
Ban tok Mo-li yang masih tersenyum itu terkejut, senyumnya berubah dan ia cepat menggerakkan pedangnya menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya, dengan maksud begitu kedua pedang bertemu, ia akan membarerengi dengan serangan kipasnya.
"Tranggggg ............!"
Nampak bunga api berpijar dan Ban-tok Mo-li terhuyung dan hampir saja pedangnya terlepas dari tangannya!
Tentu saja hal ini sama sekali tidak pernah disangkanya sehingga rencana serangannya gagal sama sekali, bahkan hampir saja ia terpelanting!
Dengan muka pucat, ia memungut pedang dari samping dan menyerang dengan dahsyat, penuh rasa penasaran dan kemarahan.
Melihat ini, Giok Cu mengelak.
Akan tetapi, kipas itu menyambar, mengebut kearah mukanya.
Giok Cu menahan napas agar tidak perlu menyedot bau harum beracun dari kipas itu, dan ketika ujung gagang kipas menyambar sebagai lanjutan penyerangan dengan totokan, kembali ia mengelak ke belakang.
Pada saat itu, nampak sinar lembut hitam menyambar dari gagang kipas.
Hal ini pun sudah diduga oleh Giok Cu maka gadis ini dengan mudah memutar pedang memukul runtuh semua jarum halus beracun.
"Huhhh, engkau memang hanya pandai menggunakan racun dengan curang! Tak tahu malu!"
Bentak Giok Cu dan kini ia pun menyerang dengan pedangnya.
Ia sama sekali tidak sudi menggunakan ilmu yang pernah dipelajarinya dari Ban-tok Mo-li, melainkan menggunakan ilmu yang pernah dipelajarinya dari Hek-bin Hwesio.
Dan tentu saja keadaan Giok Cu lebih untung.
Semua serangan lawan sudah dikenalnya dengan baik, dan ia tahu bagaimana cara menghindarkan semua serangan itu.
Sebaliknya, Ban-tok Mo-li bingung menghadapi permainan pedang Giok Cu yang sama sekali tidak dikenalnya.
Juga wanita sesat ini kalah jauh dalam kekuatan tenaga sakti, bahkan pedangnya yang biasanya amat diandalkan itu sekali ini kehilangan keampuhannya menghadapi pedang tumpul Seng kang-kiam!
Setelah lewat tiga puluh jurus, Ban tok Mo-li tak mampu membalas serangan lagi.
la terdesak dan terhimpit hanya mampu memutar pedang melindungi tubuhnya dan main mundur terus.
Melihat ini, tentu saja Lui Seng Cu tidak mau membiarkan saja pangcu itu terancam bahaya.
"Bu Giok Cu, lepaskan pedangmu. Tiba-tiba dia membentak. Sejak tadi kauwcu ini memang sudah berkemak kemik membaca mantra dan mengerahkan kekuatan sihirnya, dan tiba-tiba ki dia melalui bentakannya hendak mengua sai Giok Cu dengan ilmu sihirnya. Giok Cu merasa betapa jantungny tergetar dan hanpir ia melepaskan pedang. Akan tetapi gadis ini pernah digembleng oleh Hek Bin Hwesio, dan ia sudah dilatih hebat sehingga kini memiliki kekuatan batin yang mampu menolak pengaruh sihir.
"Lui Seng Cu pendeta palsu!"
Ia pun membentak dan pedangnya semakin mendesak Ban-tok Mo-li, sedikit pun ia tidak terpengaruh oleh kekuatan sihir yang melepaskan Thian-te Kauw-cu (Kepala Agama Thian-te-kauw) itu.
Melihat itu Lui Seng Cu terkejut dan dia pun meloncat ke depan sambil mencabut golok besarnya.
"Heiiiii, tidak boleh curang main keroyokan!"
Bentak Han Beng sambil meloncat maju dan ketika tangan kanannya mendorong ke arah Lui Seng Cu, Kauwcu ini hampir terjengkang oleh sambaran angin dahsyat.
Pada saat itu terdengar ledakan disusul asap tebal dan muncullah seorang sosok tubuh yang menyeramkan.
Arca Thian-te Kwi-ong agaknya telah hidup!
Orang yang muka dan pakaiannya mirip patung Thian-te Kwi-ong yang disembah-sembah itu telah muncul di situ, membawa sebatang pedang kuno yang panjang dan berat.
Semua orang terkejut tak terkecuali Han Beng dan Giok yang segera berlompatan ke belakang dan mereka kini berdiri berdamping untuk saling melindungi.
Mata mereka terbelalak memandang ke arah setan itu yang berdiri tegak.
Semua pengurus dan anggauta Thian-te-kauw segera memberi hormat.
"Si Han Beng dan Bu Giok Cu! Menyerahlah kalian karena kalian sudah dikepung!"
Kata "Raja Setan"
Itu.
"Kalau kalian menakluk, akan kami beri kedudukan yang baik, kalau kalian melawa kalian akan mati konyol!"
Dan tiba-tiba saja, pintu ruangan itu ditutup dan banyak asap berembus dari luar, memasuki lian-bu-thia itu.
"Han Beng, awas asap beracun! Kita harus menerjang keluar!"
Teriak Giok Cu.
Han Beng terkejut dan dia pun menahan napas.
Akan tetapi, Ban-tok Mo-li sudah tertawa bergelak dan bersama Lui Sen Cu dan para tokoh sesat mereka menghadang dan mengeroyok dua orang pendekar muda itu sehingga mereka tidak dapat keluar.
Apalagi pintu besi itu sudah ditutup dari luar, sementara itu asap beracun yang mengandung bius itu semakin tebal.
Ternyata bahwa Ban-tok mo-li sudah memberi obat penawar kepada rekan-rekannya sehingga mereka itu menyedot asap tanpa pengaruh apa-apa.
sebaliknya, Han Beng dan Giok Cu tidak berani bernapas.
Mereka menahan napas, akan tetapi tentu saja mereka tidak mungkin dapat bertahan terlalu lama, apalagi mereka dikeroyok banyak lawan.
Akhirnya, tanpa tersentuh senjata lawan, Han Beng dan Giok Cu roboh terpelanting dan pingsan!
Ketika Han Beng dan Giok Cu siuman kembali, mereka mendapatkan diri mereka sudah duduk di atas kursi dan masing-masing terbelenggu kaki tangan mereka, terikat pada kursi sehingga tidak mampu berkutik.
Mereka masih berada di lian-bu-thia tadi, akan tetapi kini tidak ada lagi asap harum yang mengandung bius.
Di depan mereka, dalam jarak sepuluh meter, nampak belasan orang itu duduk pula berjajar di atas kursi.
Yang paling depan adalah seorang pemuda yang tampan dan yang selalu tersenyum-senyum, didampingi oleh Kauwcu Lui Seng Cu di sebelah kirinya Pangcu Ban-tok Mo-li di sebelah kananya.
Para pengurus lainnya dan para tokoh sesat duduk di belakang tiga orang ini.
Sikap mereka seperti suatu paruturan pengadilan yang hendak menghakimi Han Beng dan Giok Cu sebagai pesakitan!
Ketika Han Beng dan Giok Cu memandang kepada pemuda itu, mereka terbelalak.
"Engkau ............!"
Giok Cu dan Han Beng berseru, hampir berbareng saking herannya bertemu dengan musuh lama itu situ.
"Jangan kurang ajar!"
Bentak Ban tok Mo-li kepada dua orang tawanan itu "Kalian berhadapan dengan Can Kong penjelmaan dari Thian-te Kwi-ong. Bersikaplah hormat!"
Akan tetapi Giok Cu tersenyum mengejek.
"Penjelmaan Thian-te Kwi-ong Hemmm, memang dia iblis cilik! Hong San, ular kepala dua yang pernah membantu gerombolan pemberontak yang gagal! Dan sekarang menyelundup ke dalam Thian-te Kwi-ong! Bagus-bagus!"
Hong San tidak marah, bahkan tertawa bergelak.
"Bu Giok Cu, engkau makin cantik saja, ha-ha-ha. Dan engkau masih tetap bernyali besar tabah dan penuh semangat, pantang mundur walaupun sudah menjadi tawanan. Sungguh sikap seorang calon isteri ketua yang besar! Bu Giok Cu, ketahuilah bahwa aku ini telah menjadi pemimpin besar dari Thian-te-pang yang memiliki kekuasaan besar. Kami bukanlah perkumpulan orang jahat, melainkan perkumpulan yang gagah dan membela kepentingan umum. Aku tahu bahwa engkau dan juga Huang-ho Sin-liong Si Han Beng adalah pendekar-pendekar yang gagah perkasa. Oleh karena itu, biarpun kalian telah beberapa kali melakukan perbuatan yang menentangku, namun aku masih suka mengampuni kalian, kalau kalian suka membantu perjuangan kami. Kelak, kalau kita lberhasil, kalian tentu akan mendapatkan bagian dan memperoleh kedudukan tinggi. Nah, Bu Giok Cu, kalian sudah tak berdaya. Kalau engkau suka menjadi isteriku yang terhormat, dan Si Han Beng suka menjadi pembantuku "
"Tutup mulutmu yang kotor!"
Bentak Bu Giok Cu.
"Aku lebih suka mati daripada menjadi isteri seorang keji dan jahat macam engkau!"
"Can Hong San,"
Kata Han Beng d ngan suara tenang namun tegas.
"Kalau engkau memang seorang laki-laki yang jantan, bebaskan kami dan mari kita mengadu kepandaian untuk menentukan siapa yang lebih kuat di antara kita. Sebaliknya, kalau engkau hanya seorang iblis yang licik dan curang, setidaknya engkau tentu mengenal malu untuk mencurangi seorang wanita. Bebaskan Bu Giok Cu dan kau siksa dan bunuh saja aku. Giok Cu tidak bersalah apa-apa kepadamu!"
"Tidak! Can Hong San manusia terkutuk! Si Han Beng hanya ikut dengan aku ke sini. Akulah yang memiliki urusan pribadi dengan Si Iblis Betina Ban-Tok Mo-li. Ia telah membunuh Ayah Ibuku dan aku akan mencabut nyawanya untuk melenyapkan penasaran Ayah dan Ibuku! Bebaskan Han Beng, aku yang bertangung jawab! Kalau engkau memang jantan, biarkan aku bertanding mengadu nyawa dengan Ban-tok Mo-li, kemudian engkau boleh menandingiku dan mengeroyok aku kalau engkau berani!"
Dimaki dan dicela seperti itu, Hong ban hanya tersenyum mengejek.
"Ha-ha-ha, enak saja kalian bicara. Kalian adalah tawanan kami, kalian tidak berdaya dan kamilah yang menentukan syarat, bukan kalian."
Hong San tertawa-tawa mengamati pedang tumpul buruk milik Bu Giok Cu yang dirampasnya.
Pedang itu butut dan tumpul, sama sekali tidak menarik, namun dia tahu bahwa itu adalah sebatang pedang pusaka yang ampuh.
Memang, Seng-kang-kiam (Pedang Baja Bintang) milik Bu Giok Cu itu adalah sebatang pedang yang langka, pemberian dari Hek Bin Hwesio.
"Hemmm, agaknya kalian saling mencinta. Kalian saling berebut untuk mengorbankan diri asal yang lain dibebaskan. Mengagumkan sekali. Cinta kasih seperti itu jarang ditemui di jaman ini ha-ha-ha!"
Kembali Hong San tertawa.
Dia sengaja bersikap demikian karena di ingin sekali mengambil hati dua ora muda yang dia tahu amat lihai itu.
Mereka berdua itu jauh lebih lihai dibandingkan semua pembantunya.
Kalau saja Si Han Beng dan Bu Giok Cu mau membantu dia, tentu kedudukannya akan menjadi semakin kuat dan dia tidak akan takut menghadapi siapapun juga.
Mendengar ucapan itu, wajah Bu Giok cu menjadi kemerahan.
Juga Han Beng merasa betapa jantungnya berdebar keras.
Betapa tepatnya ucapan Hong yang tentu saja hanya merupakan ejekan itu.
Dia memang mencinta Giok Cu dan akan rela mengorbankan nyawanya untuk keselamatan gadis itu.
Akan tetapi dia juga marah sekali karena tahu bahwa ucapan itu tentu saja merupakan hal yang amat memalukan Giok Cu, bahkan juga menghina.
"Maaf, Can Kongcu. Gadis itu pernah menjadi sahabatku, oleh karena itu, kalau Pangcu memperbolehkan, serahkan saja kepadaku. Aku cinta padanya dan aku akan membujuknya agar ia suka bekerjasama dengan kita."
Kata Ji Ban To, pemuda kurus kering bermuka pucat, murid Ouw Kok Sian yang dahulu pernah menggoda Giok Cu itu.
"Berikan saja kepadaku, Can Kong-cu. Aku sanggup menundukkan Giok Cu!"
Seru Siok Boan pemuda yang gendut dan mukanya seperti kanak-kanak itu. Dia murid dari Lui Seng Cu yang menjadi Kauw-cu dari Thian-te-kauw.
"Kepadaku saja, Can Kongcu! Aku dapat membikin ia jinak!"
Teriak pula Poa Kian So, sute dari Siok Boan, yang berhidung pesek dan bertubuh pendek.
Memang dua orang murid dari Lui Seng Cu ini pernah tergila-gila kepada Giok Cu ketika gadis ini masih menjadi murid han-tok Mo-li, seperti juga Ji Ban To.
"Aih, sungguh kalian bertiga tidak tahu diri!"
Kata Siangkoan Tek, pemuda putera Siangkoan Bok yang juga menjadi pembantu utama di dalam perkumpulan Thian-te-pang itu.
"Akulah yang pantas menjadi suami Bu Giok Cu. Can Kongcu berikan saja ia kepadaku!"
Melihat betapa empat orang pera pembantunya itu memperebutkan Giok Cu, Hong San tertawa.
"Ha-ha-ha, engkau mendengar sendiri, Giok Cu dan Han Beng. Hanya ada dua pilihan bagi kalian. Pertama, kalian menakluk kepa kami dan berjanji menjadi pembantu kami yang setia, berjuang bersama kami dan mendapatkan kedudukan yang terhormat dan mulia. Dan ke dua, kalau kalian menolak, terpaksa aku membiarkan empat orang pemuda yang sudah tergila-gila kepada Giok Cu ini untuk memilikinya, mempermainkannya sepuas ha nya mereka di depan matamu, Han Beng. Mereka akan memperkosanya sampai gadis yang kaucinta ini mati di depan matamu, kemudian barulah kami akan menyiksamu sampai mati. Nah, kalian pilih yang mana?"
"Aku pilih mati daripada harus takluk padamu!"
Bentak Giok Cu dan tiba-tiba gadis itu mengerahkan tenaga dan bersama kursinya sudah meloncat ke depan.
Ji Ban To yang ingin berjasa tertubruk untuk menangkapnya, akan tetapi gadis itu bersama kursinya menerjang ke arahnya dengan kekuatan hebat.
"Bresssss ............!"
Ji Ban To mengaduh dan tubuhnya terjengkang, bergulingan di terjang gadis yang masih terbelenggu kaki tangannya pada kursi itu! "Itu pula jawabanku, keparat!"
Han Beng berseru dan dia pun meniru perbuatan Giok Cu.
Tubuhnya yang masih terbelenggu pada kursinya itu menerjang ke depan, ke arah Can Hong San.
Akan tetapi pemuda sakti ini dengan mudah mengelak sambil menggerakkan kaki menendang sehingga tubuh Han Beng yang tidak mampu menggerakkan kaki tangan Itu terpental ke samping oleh tendangan itu.
Siangkoan Tek yang mencabut pedang menubruk ke arah Han Beng dan menyerang dengan bacokan ke arah perut pemuda yang terbelenggu itu.
Han Beng melihat kesempatan baik sekali.
Diam-diam dia mengerahkan sin-kang sepenuhnya untuk melindungi kakinya dan ketika pedang menyambar, dia malah menyambut dengan kaki yang terbelenggu, pedang itu membabat belenggu ke kakinya.
Pedang itu berkelebat.
"Brettttt!"
Kain celana dan belenggu itu terbabat putus, dan kulit kaki kanan Han Beng tergores sedikit karena sudah dilindungi kekebalan.
Kedua kakinya bebas!
Han Beng meloncat dan sekali kaki kirinya menendang, tubuh Siangkoan Tek terlempar sampai lima meter jauhnya dan terbanting keras.
Padahal Siangkoan Tek memiliki tingkat kepandai yang cukup tinggi.
Namun tendangan tadi merupakan tendangan yang khas dari ilmu silat Hui-tiauw Sin-kun sehingga Siangkoan Tek yang sudah memandang rendah lawan yang terbelenggu itu terkena tendangan.
Untung yang tertendang pahanya sehingga dia tidak sampai terluka parah, hanya nyeri dan terkejut saja.
Dua orang tawanan itu mengamuk.
Han Beng yang sudah bebas kedua kakinya, walaupun kedua tangan masih terbelenggu dan kursi itu masih melekat dipunggung, mengamuk dengan tendangannya dangan kedua kakinya.
Giok Cu juga mengamuk.
Gadis ini masih terbelenggu kaki tangannya pada kursi, akan tetapi kursi itu menerjang ke sana-sini dengan ganasnya!
Betapapun juga, dua orang tawanan ia tidak dapat bergerak leluasa dan di situ terdapat banyak orang lihai.
Kalau Hong San dan para pembantunya menghendaki, tentu tidak terlalu sukar bagi mereka untuk menghentikan amukan duia orang itu dengan serangan yang mematikan.
"Jangan bunuh mereka!"
Beberapa kali Hong San berseru. 'Tangkap dan lumpuhkan saja. Aku masih belum selesai dengan mereka!"
Dalam seruannya ini terkandung kemarahannya.
Dia akan menyikat dua orang musuh itu sepuas hatinya sebelum membunuhnya.
Hong San dan para pembantunya kini mengepung dua orang tawanan yang mengamuk itu dan kini baik Han Beng maupun Giok Cu menjadi bulan-bulanan kemarahan mereka.
Mereka itu memukul, menendang dan dua orang itu terbanting-banting dan terguling-guling bersama kursi mereka.
Dalam keadaan terbelenggu pada kursi itu, tentu saja gerakan mereka tidak leluasa sama sekali.
Namun mereka adalah dua orang muda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, memiliki tenaga dalam yang kuat sekali sehingga biarpun kaki tangan mereka terbelenggu, namun luncuran tubuh mereka dengan kursi itu masih berbahaya bagi lawan.
KANGZUSI WEBSITE
http.//kangzusi.com/
Jilid 25 Apalagi karena Hong San beberapa kali memberi peringatan agar dua orang itu jangan dibunuh.
Para pembantunya menyimpan senjata mereka dan hanya mencoba untuk menangkap kedua orang yang mengamuk itu dengan kaki tangan mereka.
Inilah yang berbahaya karena siapa berani menghadapi terjangan Han Beng atau Giok Cu dengan tangan, tentu akan kena hantaman tubuh yang menjadi satu dengan kursi itu sehingga terjengkang dan terguling-guling!
"Yang lain mundur, biarkan aku, Pang-cu dan Kauwcu bertiga saja yang menangkap mereka!"
Kata Hong San setelah melihat beberapa orang pembantunya empat roboh sampai terguling-guling. Dia sendiri membiarkan tubrukan Han Beng lewat dengan elakan, dan kakinya menyambar.
"Dukkk!"
Tubuh Han Beng terpenting ketika dadanya kena ditendang tanpa dan mampu mengelak atau menangkis.
Ban-tok Mo-li dan Lui Seng Cu juga berhasil menangkap Giok Cu dari kanan kiri, menangkap sandaran kursinya dan gadis perkasa itu tidak mampu berkutik pula.
Agaknya tidak ada harapan lagi bagi Han Beng dan Giok Cu untuk dapat menyelamatkan diri dari tangan para pim pinan Thian-te-pang itu dan mereka terancam bahaya maut, terutama sekali Giok Cu yang telah diancam akan di perkosa sampai mati di depan Han Beng kalau mereka berdua tidak mau menakluk dan membantu perkumpulan itu.
Dengan marah sekali Han Beng terguling-guling oleh tendangan Hong San tadi, mengerahkan lagi tenaganya dan tubuhnya meluncur kembali ke arah Hong San, bagaikan sebuah peluru besar yang ditembakkan dari mulut meriam.
Tidak mungkin mengelak dari serangan peluri manusia seperti itu.
Hong San menyambut dengan hantaman kedua tangannya sambil mengerahkan sin-kang.
Ketika Han Beng meluncur ke arahnya, dia sudah siap memasang kuda-kuda dan kedua tangannya dengan jari terbuka menghantam ke arah lawan.
"Desssss........!!"
Kembali Han Beng bersama kursinya terlempar oleh hantaman kedua tangan itu, bahkan nampak sandaran kursi itu patah-patah.
Akan tetapi juga Hong San terhuyung ke belakang karena ketika dia memukul, Han Beng juga mengerahkan sin-kangnya sehingga pukulan lawan itu membalik.
Han Beng terbanting dan terguling-guling, matanya berkunang dan walaupun dia tidak sampat terluka parah, namun kepalanya terasa pening.
Hantaman tadi kuat sekali.
Ketika dia bergulingan, kebetulan sekali Giok Cu juga bergulingan di dekatnya.
"Han Beng, kau............ kau larilah.............,jangan korbankan diri untuk aku............ ini urusanku, biar aku yang mengamuk sampai mati."
Giok Cu berkata dengan napas terengah-engah.
"Giok Cu, kalau perlu, kita akan mati bersama."
Bisik Han Beng kembali.
Mendengar ini, Giok Cu menahan tangisnya!
la tahu bahwa mereka berdua tak berdaya dan kalau melanjutkan mengamuk dalam keadaan terbelenggu seperti itu akhirnya mereka berdua pasti akan tewas.
Tidak ada harapan sama sekali untuk dapat meloloskan diri.
Dan Han Beng mengatakan siap untuk mati bersama!
"Han Beng ........
aku ..........
cinta ........
padamu ............"
Ia membuat pengakuan terakhir ini, bukan hanya untuk menyatakan rasa terima kasih dan keharuannya, melainkan untuk membuka rahasia hatinya sendiri.
"Aku juga cinta padamu, Giok Cu."
Jawab Han Beng, suaranya terharu namun mengandung kebahagiaan besar walaupun dia tahu pula bahwa mereka berdua akan mati.
Mendengar percakapan singkat itu Hong San mengangkat tangan member isarat kepada para pembantunya untul berhenti menyerang.
"Ha-ha-ha, Si Han Beng, bagus sekar kalian saling menyatakan cinta. Kalau benar engkau mencinta Giok Cu, menyerahlah. Kalau kalian menyerah dan mau membantu kami, maka aku akan merayakan pernikahan kalian berdua. Kalian akan menjadi suami isteri yang hidup berbahagia bersama kami disini. sebaliknya, kalau kalian tetap menolak, kau akan melihat gadis yang kau cinta ini menderita penghinaan di depan matamu dan akhirnya kalian akan tersiksa sampai mati. Nah, pilihan yang mudah, bukan? Untuk yang terakhir kali, aku tawarkan kalian menakluk dan membantu kami."
"Apa yang dikatakan Can Kongcu memang benar dan menguntungkan sekali untukmu, Giok Cu. Ingat, engkau adalah bekas muridku dan engkau tahu betapa aku sayang padamu. Menyerahlah, Giok Cu, muridku!"
Ban-tok Mo-li ikut membujuk, tahu betapa Hong San yang ditakutinya itu ingin sekali agar dua orang pemuda perkasa itu menyerah dan bersekutu dengan mereka.
Giok Cu dan Han Beng saling pandang dan sejenak pandang mata mereka bertaut, penuh kasih sayang, juga penuh kebulatan tekad untuk melawan sampai akhir.
"Lebih baik mati daripada menyerah bentak Giok Cu.
"Can Hong San iblis busuk, kami adalah orang-orang yang rela mati mempertahankan kehormatan dan kebenaran Han Beng juga membentak dan kembali keduanya mengerahkan tenaga dan bergulingan dengan cepat untuk menyerang lawan dengan menghantamkan tubuh yang kaki tangannya terbelenggu itu kepada lawan. Han Beng menyerang kearah Hong San sedangkan Giok Cu menyerang kearah Ban-tok Mo-li. Akan tetapi, dua orang yang diterjang itu mengelak dengan loncatan ke samping, kemudian menendang. Tubuh Han Beng dan Giok Cu kembali terlempar dan membentur dinding. Sejak tadi Han Beng dan Giok Cu berusaha melepaskan belenggu kaki tangan, akan tetapi tidak berhasil. Kalau saja belenggu itu dari besi, mungkin mereka akan mampu mematahkannya. Akan tetapi itu terbuat dari kulit kerbau yang kuat, ulet dan juga agak lentur sehingga tidak dapat dibikin putus. Keadaan dua orang muda perkasa itu kini gawat sekali. Mereka dapat dijadikan bulan-bulanan tendangan atau pukulan tanpa mampu membalas, bahkan tentu saja para pimpinan Thian-te-pang yang lihai itu dengan mudah akan dapat menotok jalan darah mereka atau menggunakan asap pembius. Hanya karena Hong San ingin sekali menarik mereka menjadi sekutu yang untuk sementara menyelamatkan mereka, dan kini kenekatan mereka membuat para pimpinan Thian-te-pang menjadi kewalahan juga. Pada saat itu, tiba-tiba terdengar bunyi terompet dan tambur yang riuh tendah dan saling sahutan, terdengar datang dari empat penjuru. Tentu saja hal ini membuat Hong San dan para pembantunya di ruangan itu terkejut bukan main. Pada saat itu, lima orang anak buah mereka datang berlarian dengan muka pucat dan napas terengah-engah.
"Celaka ..........., Kongcu............. celaka............... tempat kita sudah terkepung pasukan pemerintah yang besar jumlahnya!"
Mendengar laporan ini, wajah para pimpinan Thian-te-pang itu menjadi pucat.
"Akan tetapi, bagaimana mungkin teriak Hong San.
"Hubungan pasukan dengan kita amat baik!"
"Aihhh, ini tentu karena gagalnya gadis-gadis itu ketika melantik Souw Ciangkun............!"
Kata Lui Seng Cu dengan suara penuh kekhawatiran.
"Benar .......... Kongcu ............ yang memimpin adalah Yap Ciangkun!"
Kata pula anak buah yang melapor.
"Yap Ciangkun merintahkan agar seniua pimpinan Thian te-pang menyerah."
Wajah Hong San yang tadinya pucat kini berubah merah.
"Jahanam! Dikiranya kita takut? Dua orang yang menjadi biang keladi ini harus kubunuh lebih dulu!"
Bentaknya dan Hong San sudah mencabut pedang Seng-kang-kiam, pedang butut tumpul milik Giok Cu yang telah dirampasnya, lalu dia menghampiri Giok Cu yang masih rebah miring terbelenggu dengan kursi.
Gadis itu memandang padanya dengan mata mencorong penuh kebencian dan keberanian, sedikit pun tidak merasa takut.
"Can Hong San keparat busuk, pengecut hina. Lepaskan belenggu ini dan mari kita berkelahi kalau memang engkau masih mempunyai nyali!"
Teriaknya.
"Perempuan tak tahu diuntung!"
Kata flong San.
"Karena keadaan darurat terpaksa kubunuh dulu engkau, kemudian pemuda kekasihmu itu!"
Dia mengangkat tangan mengayun pedang dan Giok Cu Inenghadapi maut itu dengan mata terbuka. Pada saat pedang terayun, ada sinar hitam menyambar, tepat mengenai pergelangan tangan Hong San.
"Tukkk .............!"
Hong San terkejut dan melompat ke belakang, tidak jadi menggerakkan pedang untuk membunuh Giok Cu, dan pada saat itu, nampak dua bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang tosu tua dan seorang hwesio yang sama tuanya.
Tosu itu usianya tentu sudah mendekati delapan puluh tahun, rambut dan kumis jenggotnya putih, pakaiannya pun putih semua.
Sedangkan hwesio itu usianya sebaya kulit dan mukanya hitam, perutnya gendut dan wajahnya cerah tersenyum lebar "Omitohud ..............!
Seng-kang-kiam itu tidak boleh berada di tanganmu.........!!"
Katanya kepada Hong San dan lengan kirinya bergerak, ujung lengan baju yang lebar itu sudah menyambar ke arah mu'ka Hong San.
Pemuda itu bukan orang lemah.
Melihat serangan yang dahyat itu, yang didahului oleh angin pukulan yang amat kuat, dia cepat miringkan tubuhnya dan pedang di tangannya bergerak membacok.
Akan tetapi, pedang itu bertemu dengan benda lunak dan ternyata itu adalah lengan baju yang kanan, yang telah menyambut pedang itu dan melibatnya, kemudian sekali membuat gebrakan sentakan pedang itu telah berpindah tangan!
Hong San terkejut sekali dan melompat ke belakang.
"Suhu .............!"
Kata Giok Cu girang melihat hwesio itu yang bukan lain adala Hek Bin Hwesio! "Suhu ..........!"
Han Beng juga berseri kepada tosu itu yang bukan lain adalah Pek | Tojin, susiok-couw dan juga suhunya itu.
"Omitohud, anak nekat ............!"
Hek Bin Hwesio menghampiri Giok Cu, menggerakkan pedang tumpul itu dan belenggu kaki tangan gadis itu pun putus semua, puga Pek I Tojin menghampir Han Beng, akan tetapi dia tidak melepaskan belenggu kaki tangan muridnya.
"Siancai .........., apakah engkau tidak mampu melepaskan diri dari belenggu Itu, Han Beng?"
"Belenggu ini ulet dan lentur Suhu ....................."
"Hemmm, kalau begitu jangan mencoba untuk membikin putus, melainkan meloloskan tanganmu dengan Sia-kut-hoatmu (Ilmu Melepas Tulang Melemaskan Badan)."
Han Beng baru teringat akan ilmu yang pernah dipelajarinya itu.
Tapi dalam keadaan terancam, dia tidak ingat untuk mempergunakan ilmu itu.
Dengan ilmu itu, dia dapat melepaskan sambungan tulang, melemaskan otot-ototnya sehingga bagian tubuh seperti lengan atau kaki dapat menjadi lunak dan lemas, menja kecil sekali hanya seperti tulang terbungkus kulit saja.
Dia membuat kedua lengannya lemas.
Otot-ototnya mengendur dan tulang-tulangnya seperti dapat terlepas dan dengan demikian, mak tidak begitu sukar baginya untuk menarik kedua tangannya lepas dari ikatan tali kerbau.
Demikian pula dengan mudah dia melepaskan ikatan kakinya, lalu berlutut di depan Pek I Tojin seperti jug Giok Cu yang sudah berlutut di depan Hek Bin Hwesio.
Pada saat itu terdengar suara pertempuran di luar.
Hong San dan para pembantunya hendak lari keluar, akan tetapi beberapa orang anak buah lari masuk dalam keadaan luka.
"Celaka, Kongcu ............ sebagian besar teman telah menyerah kita jauh kalah banyak ............. dan rumah ini sudah di kepung ketat!!"
Baru saja dia bicara demikian, sebatang panah meluncur dari luar dan dia pun roboh. Dan kini di ambang pintu ruangan yang luas itu muncullah seorang perwira tinggi yang berwajah keren.
"Yap Ciangkun ..............!"
Han Beng meemanggil, juga Giok Cu mengenal panglima itu. Yap Ciangkun mengangguk dan tersenyum.
"Kiranya Ji-wi masih selamat. Syukurlah dan rumah ini sudah kami kepung. Para pimpinan perkumpulan jahat Ini harus kami tangkap semua!"
"Nanti dulu, Yap Ciangkun!"
Kata Giok Cu.
"Sebelum Ciangkun melakukan penangkapan, aku ingin menyelesaikan urusan pribadiku dengan Ban-tok Mo-li!"
Yap Ciangkun mengerutkan alisnya, akan tetapi mengingat akan kelihaian gadis itu, dia pun mengangguk.
"Baiklah, Lihiap."
Dia lalu memberi isyarat kepada pasukannya untuk siap dengan anak panah mereka untuk melindungi Giok Cu.
Melihat ini, Can Hong San tertawa tergelak.
Pemuda ini amat cerdik dan dia pun melihat bahwa kini sukarlah baginya untuk dapat meloloskan diri.
Menerjang keluar sama dengan bunuh diri, oleh karena itu satu-satunya jalan haruslah membela diri secara gagah.
"Ha-ha-ha, kalian ini mengakunya saja pendekar gagah, akan tetapi ternyata hanyalah pengecut-pengecut yang berlindung di belakang pasukan pemerintah. Pendekar macam apakah itu? Si Han Beng, engkau dijuluki orang Huang-Sin-liong, Naga Sakti Sungai Kuning. Kiranya nama itu hanya kosong belaka karena kenyataannya kini engkau hanya menjadi penunjuk jalan bagi pasukan pemerintah. Kalau memang engkau gagah, mari kita bertanding dengan taruhan nyawa. Kalau engkau kalah olehku, aku berhak untuk hidup dan harus dibiarkan lolos tanpa gangguan. Sebaliknya kalau aku kalah, biarlah kubayar dengan nyawa!"
Han Beng adalah seorang pemuda yang pada dasarnya berwatak pendiam dan tidak pandai bicara.
Biarpun dia tahu bahwa Hong San membual dan memutar balikkan kenyataan, namun dia tidak pandai membalas dan hanya berkata tenang.
"Sesukamu engkau hendak berkata apa, Can Hong San. Yang jelas, aku tidak mendatangkan pasukan, dan aku tidak mempunyai permusuhan pribadi denganmu .........."
"Hong San, manusia pengecut yang bermulut busuk!"
Giok Cu memotong percakapan Han Beng yang tenang itu dengan suaranya yang lantang.
"Siapa percaya omonganmu yang berbau busuk penuh kebohongan itu? Aku dan Han Beng datang ke sini untuk berurusan pribadi dengan Ban-tok Mo-li, dan engkau mengerahkan anak buahmu untuk mengeroyok, bahkan menggunakan asap pembius menangkap kami. Siapa yang pengecut? sekarang, setelah engkau melihat pihakmu tidak berdaya, engkau berlagak sebagai orang gagah! Cih, alangkah tebalnya mukamu, dapat mengeluarkan kata-kata dan memperlihatkan sikap semacam itu. Han Beng, sambut tantangannya itu dan binasakan saja manusia iblis ini, karena kalau dibiarkan hidup, dia pun hanya akan menyebar kejahatan di antara manusia. Dan engkau, Ban-tok Mo-li, engkau telah membunuh Ayah Ibuku yang tidak berdosa. Majulah dan terimalah pembalasanku agar arwah Ayah Ibu dapat tenang!"
Menghadapi Giok Cu yang lincah galak dan pandai bicara itu, Hong San tak mampu bersuara lagi.
Mukanya berubah sebentar merah sebentar pucat karena bermacam perasaan mengaduk hatinya.
Ada marah, dan malu, ada pula benci, akan tetapi juga takut.
Bagaimanapun juga dia adalah putera mendiang Cui-beng Sai-kong Can Siok, pendiri Thian-te-pang yang besar.
Ayahnya adalah seorang datuk sesat yang disegani dan ditakuti dunia kang ouw, oleh karena itu, bagaimanapun juga dia harus memperlihatkan sikap yang gagah!
"Sing-singgggg .............!"
Nampak sinar berkelebat ketika tangan kanannya mencabut pedang sedangkan tangan kirinya mencabut suling.
Dia memang nampak gagah sekali.
Can Hong San memiliki ketampanan yang khas karena ada darah Nepal mengalir di tubuhnya.
Hidungnya terlalu mancung dan matanya yang lebar itu terlalu hitam.
Hidung mancung yang agak besar dan bibir yang merah itu menunjukkan betapa dia memiliki gairah nafsu yang besar.
Melihat ini, Yap Ciangkun berseru dengan suaranya yang berwibawa.
"Can Hong San, menyerahlah untuk kami tangkap karena engkau menggerakkan Thian-Te-Pang melakukan perbuatan yang melanggar hukum. Tidak perlu melawan karena pasukanku telah mengepung dan semua anak buahmu telah menakluk!"
"Yap Ciangkun, perkenankanlah kami menghadapi para penjahat ini secara kami sendiri, yaitu sesuai dengan peraturan di dunia persilatan."
"Maksudmu bagaimana, Tai-hiap?"
Tanya Yap Ciangkun.
"Can Hong San menantangku, maka terpaksa harus kulayani. Juga Bu Giok Cu mempunyai urusan dengan Ban-tok Mo-li dan Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu. Maka, kami berdua ingin menyelesaikan urusan ini melalui pertandingan silat."
Yap Ciangkun mengerutkan alisnya.
"Tapi ........... tapi justeru mereka bertiga itulah pucuk pimpinan perkumpulan sesat ini yang harus kami tangkap dan kami seret ke pengadilan. Kalau mereka mati, bagaimana kami dapat menuntut mereka?"
"Omitohud, jangan khawatir, Ciangkun."
Kata Hen Bin Hwesio sambil terkekeh.
"Ada pin-ceng (aku) di sini dan ada pula Pek I Tojin, tidak akan yang mati, ha-ha-ha!"
"Benar, kami dua orang tua tidak suka melihat pembunuhan. Kami yang akan mencegah agar jangan ada pembunuhan."
Kata Pek I Tojin.
Biarpun di dalam hatinya Giok tidak setuju dengan pendapat gurunya akan tetapi ia tidak berani membantah.
Ia harus membunuh Ban-tok Mo-li untuk membalas kematian ayah ibunya.
Yap Ciangkun mengangguk-angguk "Baiklah kalau begitu, akan tetapi anak buah yang lain itu harus ditangkap dulu!"
Dia lalu memberi isyarat kepada pasukan pengawalnya untuk menangkap semua orang kecuali Ban-tok Mo-li, Lui Seng Cu, dan Can Hong San.
Merasa bahwa mereka pun memiliki kepandaian, Siangkoan Tek mencabut pedangnya.
Juga Ji Ban To, murid Ouw kok Sian, telah mencabut sepasang golaknya.
Dua orang pemuda lain, yaitu Siok Boan dan Poa Kian So, murid-murid Lui Seng Cu, juga sudah siap dengan senjata golok di tangan.
Empat orang pemuda ini agaknya tidak mau menyerah begitu saja.
Mereka adalah murid-murid datuk sesat, tentu saja merasa malu kalau harus menyerah tanpa melawan.
Melihat sikap empat orang itu, Bu Giok Cu maklum bahwa dua belas orang pengawal Yap Ciangkun belum tentu akan mampu menandingi mereka, maka ia pun berkata.
"Yap Ciangkun, biar aku yang menangkapkan empat ekor anjing kecil ini untukmu!"
Giok Cu menerima pedang tumpul Seng-kang-kiam dari tangan Hek Bin Hwesio, kemudian ia pun maju menghampiri empat orang pemuda yang sudah siap itu.
Melihat ini, Han Beng merasa tidak tega.
Kalau dikeroyok empat, berbahaya juga bagi Giok Cu, maka dia pun melangkah maju.
"Biar aku membantu Giok Cu!"
Melihat para lawannya memegang senjata tajam, Han Beng yang tidak biasa menggunakan senjata tajam, melolos sabuk suteranya.
Dia telah mewarisi llmu sabuk dari Sin-tiauw Liu Bhok Ki dan biarpun sabuk sutera itu lemas dan lunak, namun di tangannya dapat menjadi senjata yang ampuh.
Siangkoan Tek adalah seorang pemuda yang cerdik.
Dia tahu akan nama besar Huang-ho Sin-liong Si Han Beng maka belum apa-apa dia sudah merasa jerih untuk menghadapi pendekar itu Terhadap Bu Giok Cu dia tidak begitu gentar karena sepanjang pengetahuannya gadis itu hanyalah murid Ban-tok Mo li.
Tentu saja dia tidak tahu bahwa gadis itu telah menjadi murid Hek Bin Hwesio yang membuat ia menjadi jauh lebih lihai daripada ketika ia masih menjadi murid Ban-tok Mo-li.
Karena menganggap bahwa lebih menguntungkan kalau bertanding melawan Giok Cu, maka sambil mengeluarkann bentakan nyaring dia sudah menggerakkan pedangnya menyerang Giok Cu.
Ji Ban To meniru Siangkoa Tek dan dia pun sudah menggerakkan pasang goloknya, membantu Siangkoan Tek dan mengeroyok Giok Cu.
Gadis itu mengeluarkan suara mengejek dari hidungnya.
"Huh, monyet-monyet kecil, memang sudah sejak dahulu kalian harus kuhajar!"
Dan dia pun menggerakkan pedang tumpulnya untuk menyambut serangan dua orang pemuda.
"Trang-trang-tranggggg ............. !"
Pedang yang tumpul itu berkelebat dengan kepalan yang sukar diikuti pandang mata oleh dua orang pemuda itu dan mereka terkejut setengah mati ketika merasa betapa tangan mereka yang memegang senjata seperti lumpuh.
Kekejutan mereka bertambah ketika mereka melihat betapa senjata mereka itu patah ujungnya!
Giok Cu tersenyum mengejek menatap wajah mereka yang berubah pucat itu.
"Hi-hik, kalian takut? Hayo berlutut dan menyerah menjadi tawanan Yap Ciangkun!"
Siangkoan Tek adalah putera tokoh esat Siangkoan Bok yang terkenal sebagai majikan Pulau Hiu.
Dia sudah menganggap diri sendiri sebagai seorang tokoh yang tinggi ilmu silatnya.
Tentu saja dia memiliki keangkuhan dan biarpun dia memang gentar menghadapi pedang butut yang ternyata ampuh itu tentu saja dia tidak sudi untuk berlutut dan menyerah sedemikian mudahnya.
Demikian pula dengan Ji Ban To, murid Ouw Kok Sian seorang tokoh yang menguasai daerah Pegunungan Liong san Dia merasa penasaran sekali dan sambil mengeluarkan bentakan nyaring, dia menyerang lagi dengan sepasang goloknya yang sudah buntung ujungnya.
Siangkoan Tek juga membantunya dan tiga batang senjata itu berkelebatan mendesing-desing, menyerang Giok Cu bagaikan hujan lebat.
Namun gadis ini tersenyum mengejek, dengan amat mudahnya menghindarkan diri dengan loncatan ke sana-sini.
Sementara itu, Siok Boan dan Poa Kian So, dua orang murid Lui Seng C tentu saja merasa malu kalau harus menyerah begitu saja.
Apalagi mereka melihat guru mereka yang menjadi kauw-cu dari Thian-te-kauw, masih berdiri tegak dan menantang.
Mereka adalah murid Kauw-cu, tentu saja kedudukan mereka cukup tinggi dan terhormat di perkumpulan itu.
Kini, melihat majunya Giok Cu dan Han Beng, mereka berdua lalu menggerakkan golok besar di tangan mereka, mengeroyok Han Beng yang hanya memegang sehelai sabuk sutera putih.
Dari kanan kiri mereka menyerang golok mereka berubah menjadi gulungan sinar putih yang menyambar-nyambar ke arah tubuh Han Beng.
Pemuda tinggi besar ini dengan sikap tenang menghindarkan diri dengan geseran-geseran kaki yang amat gesit.
Kalau dia menghendaki tentu dengan sekali pukul dia akan mampu merobohkan bahkan menebaskan dua orang lawan yang terlalu lemah baginya itu, namun dia tidak ingin membunuh orang, hanya ingin membantu Yap Ciangkun untuk menangkap mereka.
Oleh karena itu, dia pun hanya mengelak ke sana-sini sambil menannti kesempatan baik untuk membuat mereka berdua itu tidak berdaya tanpa harus melukai mereka.
Dalan hal ini, Han Beng yang berhati-hati tegar tidak melukai lawan kalah cepat dengan Giok Cu.
Giok sendiri tidak mau membunuh dua orang pengeroyoknya karena memang dia berjanji membantu Yap Ciangkun hanya untuk menangkap para pimpiran Thian te-pang, akan tetapi ia bukan pantas melukai, bahkan ingin menghajar ke dua orang pemuda yang pernah bersikap kurang ajar terhadap dirinya.
Kalau membayangkan perbuatan dua orang pengeroyoknya itu, Siangkoan Tek dan Ji Ban To ketika ia masih menjadi murid Ban-tok Mo li, ingin rasanya ia membunuh mereka!
Siangkoan Tek pernah mengganggunya secara keterlaluan hingga terpaksa ia menggunakan akal memancing Siangkoan Tek yang ketika itu lebih lihai darinya untuk masuk laut.
Ia lebih pandai berenang maka menyeret Siangkoan Tek ke laut dan.
perutnya kembung.
Apalagi Ji Ban To Bersama sutenya, mendiang Cak Su, berberdua pernah menangkapnya dan inginmemperkosanya.
Untung muncul Ban tok Mo-Ii yang membunuh Cak Su melukai Ji Ban To.
Mengingat perbuatan mereka itu saja, ingin benar rasanya menghajar mereka sampai sepuas hatinya.
Akan tetapi, Giok Cu masih tahu bahwa di situ hadir Hek Bin Hwesio gurunya yang telah berhasil merubah sifatnya yang tadinya ganas dan keras.
Ia rasa tidak enak dan malu kepada gurunya itu kalau sampai ia bertindak terkeras terhadap dua orang pengeroyoknya itu.
"Hyaaaaattttt ...........!!"
Tiba-tiba Giok Cu mengeluarkan teriakan melengking nyaring dan pedang tumpul di tangannya nyambar dengan amat cepatnya.
"Trak! Trak! Trak!"
Dua orang pengeoyok itu mengeluarkan seruan kaget karena senjata mereka kini buntung dan hanya tinggal gagangnya saja.
Sebelum mereka sempat menenangkan hati, tangan kiri Giok Cu telah menampar pundak mereka.
Terdengar bunyi tulang patah dan dua orang itu terpelanting dan tangan kiri memegang pundak kanan yang terasa nyeri bukan main karena tulang pundak kanan mereka telah remuk oleh tamparan tangan Giok Cu tadi.
Empat orang perajurit pengawal segera maju dan meringkus mereka, membelenggu tangan mereka dan membawa mereka keluar.
Melihat betapa Giok Cu telah merobohkan dua orang pengeroyoknya, Han Beng merasa tidak enak.
Dia pun mengeluarkan bentakan nyaring, sabuk sutera putih di tangannya menyambar tahu-tahu telah membelit golok besar dua orang kakak beradik seperguruan dan sekali tarik, golok mereka telah terlepas dari pemiliknya.
Setelah lepaskan golok-golok itu ke samping kembali sabuk itu berkelebat dua kali kini menjadi seperti tongkat dan ujungnya menotok jalan darah di dada kedua orang lawan.
Siok Boan dan Poa Kian mengeluh dan roboh lemas tak mampu bergerak lagi karena telah tertotok!
dengan cepat empat orang pengawal menyeret mereka keluar dari ruangan itu.
Kini, Giok Cu dan Han Beng berhadapan dengan Ban-tok Mo-li, Lui Seng Cu, dan Can Hong San.
Giok Cu yang tak ingin kedahuluan Han Beng karena ia ingin sekali menghadapi Ban-tok Mo-li, segera melangkah maju.
"Kalian bertiga adalah tokoh-tokoh utama Thian-kauw dan Thian-te-pang. Nah, sekarang aku yang maju lebih dulu. Siapa di antara kalian bertiga yang ingin melawati aku? Kutantang Ban-tok Mo-li untuk melawan aku!"
"Dan aku menantang Can Hong San untuk melawan aku!"
Kata Han Beng mendahului, maklum bahwa di antara mereka bertiga, Hong San yang paling pandai.
"Kalian tidak mengandalkan pengeroyokan?"
Ban-tok Mo-li bertanya dengan sikap curiga.
"Ban-tok Mo-li, kami bukanlah orang-orang berjiwa pengecut macam kalian?"
Giok Cu membentak marah.
"Kita bertanding satu lawan satu, tidak ada yang boleh dibantu orang lain. Di sini ada Suhuku Hek Bin Hwesio yang menjadi saksi, dan ada pula Yap Ciangkun dan para perajurit yang menjadi saksi!"
"Bagus! Kalau begitu, engkau akan mampus di tanganku!"
Bentak Ban-tok Mo-Ii yang sudah menjadi nekat karena ia pun tidak melihat jalan keluar.
"Nanti dulu, Pangcu!"
Kata Lui Seni Cu sambil maju ke depan.
"Sebelum Pangcu yang maju, biarlah aku sebagai Kauw-cu (Kepala Agama) dari Thian-te-kauw yang lebih dulu maju. Bu Giok Cu, kutantang engkau untuk bertanding melawanku kalau engkau berani!"
Lui Sen Cu juga sudah putus asa melihat betapa tempat itu telah dikepung oleh pasukan apalagi di situ terdapat dua orang kakek yang sakti.
Dia tidak akan dapat melarikan diri, oleh karena itu, dia pun ingin melawan sampai akhir dan daripada melawan yang paling akhir, sendirian saja lebih baik dia maju lebih dulu selagi masih ada teman-temannya.
"Bagus! Aku memang ingin sekali menghajarmu, Lui Seng Cu. Engkau dahulu adalah seorang perampok jahat kemudian engkaulah yang menyeret Ban Tok Mo-li sehingga ia ikut-ikutan dalam perkumpulan iblis Thian-te-kauw itu. Majulah!"
Lui Seng Cu maklum bahwa Giok Cu sekarang tidak boleh disamakan dengan Giok Cu dahulu ketika masih menjadi murid Ban-tok Mo-Ii.
Tadi pun dia sudah melihat kelihaian gadis itu ketika merobohkan Siangkoan Tek dan Ji Ban To secara mudah, hal ini saja sudah membuktikan bahwa Giok Cu amat lihai.
Namun dia mengandalkan kekuatan sihirnya sebagai kauw-cu Thian-te-kauw, mengandalan pula pengalamannya yang tentu sudah lebih luas dan banyak dibandingkan gadis itu.
Dengan golok besar di tangan, ia pun maju menghadapi Giok Cu.
Akan tetapi dia tidak segera menyerang, melainkan berdiri tegak, golok besarnya diacungkan ke arah Giok Cu, matanya memandang terbelalak tak pernah berkedip, dan mulutnya berkemak-kemik.
Dia membaca mantera dan mengerahkan kekuatan sihirnya untuk menguasai gadis itu.
Sihir ini biasa dia pergunakan untuk mempengaruhi korban-korban sembahyangan sehingga korban itu akan lupa diri dan menurut saja apa yang akan dilakukan atas dirinya.
Giok Cu yang melihat sikap Kauw cu itu, tadinya merasa geli, akan tetapi tiba-tiba ia merasa tubuhnya lemas.
Pada saat itu, terdengar suara tertawa dari Hek Bin Hwesio.
"Ha-ha-ha-ha, omitohud ..........., lawanmu itu seperti anjing saja pandai menggonggong, Giok Cu. Berhati-hatilah engkau!"
Dan terjadilah keanehan yang membuat semua orang terbelalak akan tetapi juga merasa geli karena tiba-tiba saja Lui Seng Cu mengeluarkan suara dan dari mulutnya.
"Hung-hung-huk-huk-huk Suara itu presis suara anjing yang marah, menggonggong dan menyalak-nyalak Giok Cu tertawa dan suara ketawa ini agaknya yang menyadarkan Lui Seng Cu. Wajah Kauw-cu ini seketika menjadi pucat ketika dia menoleh kearah Hek Bin Hwesio dan tahulah dia bahwa di depan hwesio hitam itu, dia sama sekali tidak berdaya. Kiranya hwesio tua Itu tahu bahwa dia mempergunakan ilmu bilur dan sihir itu bahkan membalik dan menghantam dirinya sendiri sehingga di luar kesadarannya dia tadi menggonggong seperti anjing.Tentu saja hal ini amat memalukan. Wajah yang pucat kini berubah menjadi kemerahan dan tanpa banyak cakap lagi, tanpa mengeluarkan peringatan, dia telah mengayun golok besarnya dan menyerang Giok Cu! "Singgggg ..............!"
Golok besar itu menyambar di atas kepala Giok Cu karena ketika golok itu membabat leher, gadis itu cepat merendahkan tubuhnya sehingga golok itu menyambar lewat di atas kepalanya.
Akan tetapi, sebagai susulan, kaki Lui Seng Cu menendang dengan kuatnya ke arah bawah pusar.
"Ihhhhh!"
Giok Cu marah sekali dan ia pun meloncat ke belakang untuk menghindarkan diri dari serangan yang sifatnya tidak sopan itu.
Agaknya Lui Seng Cu sudah tidak mengindahkan lagi aturan, dia menyerang mati-matian dan hendak mempergunakan segala cara untuk mencari kemenangan.
Kini goloknya sudah menyambar-nyambar lagi dengan ganasnya.
Biarpun ia memegang sebatang pedang pusaka, yaitu pedang Seng-kan kiam yang walaupun nampak butut tumpul namun ampuh bukan main, namun ia terlalu cerdik untuk menggunakan pedangnya menangkis golok lawan.
Golok itu tebal dan berat, juga tenaga Seng Cu amat besar, ilmu goloknya ganas dan dahsyat sehingga tidak percuma dia berjuluk Hok-houw Toa-to (Golok Besar Penaluk Harimau).
Kalau menangkis dan mengadu tenaga, biar pedangnya tidak mungkin dapat rusak namun ada bahaya pedangnya akan terlepas dari pegangan.
Untuk membuntungi golok itu pun bukan hal yang mudah mengingat golok itu tebal dan berat juga ia menduga bahwa tentu golok itu terbuat dari baja yang baik dan tidak mudah dirusakkan.
Giok Cu kini mempergunakan ilmunya, meringankan tubuh, mengandalkan kelincahan gerakannya untuk menghindarkan diri dari semua sambaran golok, dan setiap ada kesempaian, pedangnya meluncur dan mengirim serangan balasan yang juga amat berbahaya bagi lawan.
Terjadilah per tandingan yang amat hebat, seru dan menegangkan hati.
Karena ilmu golok Lui Seng Cu memang ganas, maka nampaknya saja dia lebih baik menyerang, menekan dan mendesak gadis itu sehingga Yap Ciangkun dan merasa pengawalnya memandang dengan alis berkerut dan hati khawatir.
Namun Han Beng, Pek I Tojin dan Hek Bin Hwesio menonton dengan sikap tenang saja.
Mereka bertiga maklum bahwa Giok Cu masih lebih unggul dan tidak akan kalah.
Mereka mengerti bahwa gadis itu menyayangi pedangnya agar tidak sampai rusak kalau beradu dengan golok yang besar dan berat itu.
Lui Seng Cu sendiri yang merasa betapa beratnya menghadapi gadis itu.
Terlalu lincah gerakan gadis itu baginya, terlalu cepat sehingga dia merasa seperti mengejar bayangannya sendiri!
goloknya tak pernah dapat menyentuh lawan, padahal dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya sehingga kini napasnya mulai memburu dan tenaganya mulai berkurang.
Sebaliknya, gadis itu semakin gesit saja sehingga pandang mata mulai kabur.
ooOOoo Tiba-tiba Giok Cu mengubuh geraknya, pedangnya membuat gerakan melengkung dan pada saat golok di tangan Lui Seng Cu meluncur lewat, pedang tumpul itu menusuk ke arah lengan ya memegang golok.
"Aughhh ....!"
Lui Seng Cu berseru keras dan tak mungkin dapat mempertahankan goloknya lagi karena lengan kanannya tiba-tiba kehilangan tenaga sama sekali.
Pedang tumpul itu hanya membuat lengan itu lumpuh saja, karena Giok Cu teringat akan ucapan Hek Bin Hwesio bahwa di situ tidak akan terjadi pembunuhan.
Kakinya bergerak menendang ke arah lutut dan robohlah Lui Seng Cu.
Sambungan lutut kanannya terlepas dan dia tidak mampu bangkit kembali.
Empat orang pengawal segera maju dan membelenggu kedua lengannya belakang dan membawanya pergi.
"Ban-tok Mo-li, sekarang maju engkau!"
Giok Cu menantang, suaranya jelas mengandung kemarahan dan dendam.
"Giok Cu, engkau mengasolah dulu, aku yang maju!"
Kata Han Beng yang melompat ke depan.
"Can Hong San, majulah, mari kita bermain-main sejenak!"
Melihat betapa Lui Seng Cu roboh, hati Hong San sudah menjadi gentar.
Akan tetapi karena tidak melihat jalan keluar, dia pun menghadapi Han Beng dengan suling dan pedangnya.
Sikapnya gagah dan dia nampak tenang saja, seolah-olah dia percaya akan kemampuan diri sendiri.
Bagaimanapun juga, dia adalah putera mendiang Cui-beng Sai-kong dan memiliki kepandaian tinggi.
Namun, di lubuk hatinya, dia merasa gentar menghadapi Si Han Beng.
Dia sudah tahu akan kehebatan pemuda tinggi besar itu, akan tetapi tidak ada jalan lain untuk menghindari pertandingan ini.
"Lihat pedang!"
Bentaknya dengan sikap gagah. Pedangnya menyambar diikuti gerakan suling yang menotok ke arah dada.
"Bagus!"
Han Beng berseru sambil mengelak, kagum juga karena serangan itu selain indah juga berbahaya.
Akan tetapi, baru saja dia mengelak, sinar pedang dan sinar suling itu sudah menyambar-nyambar lagi.
Demikian cepatnya gerakan serangan Hong San, susul-menyusul dan sambung-menyambung.
Terpaksa Han Beng meloncat ke belakang untuk melepaskan diri dari desakan serangan beruntun itu.
"Han Beng, pakailah pedangku!"
Giok Cu berseru sambil melemparkan pedangnya ke arah Han Beng.
Sebenarnya Han Beng tidak perlu meminjam pedang, akan tetapi karena Giok Cu telah melemparkan pedangnya kepadanya, terpaksa dia menerimanya.
"Terima kasih, Giok Cu."
Katanya.
Hong San mempergunakan kesempatan selagi Han Beng menyambut pedang yang dilontarkan itu, menyerang dengan sulingnya, menotok ke arah tengkuk Han Beng yang baru menoleh untuk menyambar pedang yang melayang ke arahnya.
Biarpun dia tidak melihat serangan ini, namun pendengaran Han Beng amat tajam dan dia tahu bahwa tengkuknya berancam, maka dia melempar tubuh ke samping sambil tangannya menyambar pedang lalu bergulingan dan melompat berdiri lagi dengan pedang Seng-kang-Kiam di tangan.
Hong San merasa penasaran sekali.
Dia mengeluarkan suara melengking nyaring dan dia sudah menyerang lagi dengan pedang dan suling, gerakannya semakin cepat dan dahsyat.
Namun kini Han Beng memutar Seng-kang-kiam dan ada sinar dingin yang menyilaukan mata melindungi tubuhnya.
"Tranggggg......!"
Nampak bunga api berpijar dan Hong San cepat menarik kembali pedangnya.
Untung bahwa yang dipegang juga bukan pedang murahan, melainkan pedang yang terbuat dari baja yang baik sehingga tidak sampai rusak ketika mengalami benturan sedikit tadi.
Namun dia sudah menarik sulingnya dan ia pun tidak berani mengadu pedang secara langsung.
Sementara itu, ketika melibat Giok Cu meminjamkan pedangnya kepada Han Beng, Ban-tok Mo-li yang berwatak curang dan licik itu melihat kcsempatan baik baginya.
Kalau ada rasa gentar hatinya terhadap Giok Cu, hal itu terutama sekali disebabkan pedang pusaka tumpul yang amat ampuh itu.
Kini gadis itu telah meminjamkan pedangnya yang ia takuti kepada Han Beng, suatu kesempatan yang baik sekali baginya, sekali tubuhnya bergerak, ia telah melompat ke depan, ke dekat Giok Cu dengan pedang Ang-tok Po-kian di tangan kanan dan kipas di tangan kiri!
"Bu Giok Cu murid murtad!
Engkau tadi menantangku, nah, kalau engkau memang bukan pengecut, majulah dan terimalah kematianmu di tanganku!"
Kemudian, cepat ia menyimpan pedang dan kipasnya kembali, pedangnya ia masukkan ke sarung pedang di pinggang kipasnya ia selipkan di ikat pinggangnya lalu berkata.
"Lihat, aku pun tidak menggunakan senjata. Sambutlah seranganku!"
Dan ia segera menyerang dengan kukunya.
Kuku jari tangan wanita itu mengandung racun yang amat jahat.
Hal ini tentu saja diketahui dengan baik oleh Giok Cu, bahkan ia pernah mempelajari ilmu beracun itu.
Kukunya sendiri pun dapat ia pergunakan kukunya serangan beracun, bahkan ludahnya pun dapat ia pergunakan untuk mencelakai orang.
Akan tetapi semenjak menjadi murid Hek-bin Hwesio, ia tidak mau mempergunakan ilmu sesat itu.
Kini bekas guru yang ternyata menjadi pembunuh ayah bundanya itu menyerangnya dengan pukulan beracun!
Ia cepat bergerak mengelak dan mengandalkan kegesitannya untuk melawan Ban-tok Mo-li.
la tidak menduga akan kelicikan Ban Tok Mo-li yang sengaja menyimpan senjatanya dan menyerangnya dengan tangan kosong.
Hal ini untuk memancing agar Giok Cu menerima serangannya.
Kalau perlu, setiap saat ia dapat mempergunakan pedang dan kipasnya, sedangkan Giok Cu tetap bertangan kosong!
Han Beng melihat betapa Giok Cu diserang secara hebat oleh Ban-tok Mo-li.
Kalau Ban-tok Mo-li menyerang dengan tangan kosong, dia tidak khawatir gadis itu akan kalah.
Akan tetapi Ba tok Mo-li memiliki senjata lengkap, sedangkan Giok Cu telah meminjamkan pedangnya kepadanya!
Dia sendiri sebenarnya tidak membutuhkan senjata untuk melawan Hong San.
Maka, ketika Hong San membacokkan pedang ke arah kepalanya, dia cepat menyambut dengan Seng-kang-kiam, mengerahkan tenaga sin-kang untuk membuat kedua pedang melekat, lalu pada saat lawan menusukkan suling ke arah dadanya, dia tidak mengelak melainkan menyambut dengan tangkapan tangan kirinya.
Sekali dan mengerahkan tenaga memutar pergelangan tangan, suling itu telah dapat dirampasnya dan kakinya menendang.
Hong San terkejut dan cepat melompat ke belakang pada saat tendangan melayang karena dia merasa betapa pedangnya yang tadi menempel di pedang lawan dapat ditariknya lepas.
"Giok Cu, pergunakan pedangmu!"
Han Beng berseru.
Mendengar ini, Giok Cu meloncat ke belakang dan menyambar pedang yang dilontarkan oleh Han Beng.
Bukan main marahnya Ban-tok Mo-Li melihat gadis itu telah memegang kembali pedangnya.
Akan tetapi ia menyembunyikan rasa jerihnya dan ia pun mencabut pedang dan kipasnya.
"Bagus, Engkau hendak bertanding menggunakan senjata? Lebih cepat engkau mampus di ujung senjataku!"
La pun segera menyerang. Pedangnya mengeluarkan sinar merah ketika digerakkan, namun sinar merah itu tertahan oleh sinar kehijauan dari pedang di tangan Giok Cu.
"Sit-sittttt..........!"
Jarum-jarum lembut menyambar dari gagang kipas.
Akan tetapi akal ini merupakan permainan kanak-kanak bagi Giok Cu yang sudah mengenal benar penggunaan jarum-jarum teracun dari kipas itu, maka dengan mudah ia mengelak ke kiri dan pedangnya sudah membalas dengan serangan kilat yang membuat Ban-tok Mo-li harus cepat melempar diri ke belakang sambil memutar pedang.
Sementara itu, kini Can Hong San yang kehilangan sulingnya, menjadi marah dan menyerang Han Beng dengan pedangnya.
Hatinya agak besar melihat Han-Beng tidak lagi memegang pedang tumpul ampuh itu, melainkan hanya memegang suling yang dirampas darinya.
Akan tetapi, begitu Han Beng menggerak sulingnya, Hong San terkejut bukan main dan tahu-tahu suling itu telah rnenghantam punggungnya.
"Plakkk!"
Dia terhuyung dan terkejut.
Kiranya Han Beng dapat menarik suling itu sebagai senjata tongkat yang luar biasa anehnya.
Hal ini sebetulnya tidak aneh.
Han Beng telah menguasai ilmu tongkat yang dia pelajari dari Sin ciang Kai-ong, yaitu ilmu tongkat yang disebut Tongkat Dewa Mabuk.
Gerakannya aneh, akan tetapi lihai bukan main kelihatannya kacau balau akan tetapi tahu-tahu ujung suling yang dimainkan sebagai tongkat itu telah mencuri gerakan dan menyelonong ke punggungnya!
Andaikata Han Beng hanya mempelajar ilmu silat dari Sin-tiauw Liu Bhok dan Sin-ciang Kai-ong saja, belum tentu akan mampu menandingi Can Hong San yang amat lihai itu.
Akan tetapi, Han Beng telah digembleng oleh Pek I Tojin, seorang kakek yang sakti sehingga biar tingkat kepandaiannya masih jauh lebih tinggi dibandingkan Hong San.
Hong San merasa marah dan penahan sekali ketika punggungnya kena hantam suling.
Dia membalik dan pedangnya menusuk ke arah perut lawan sedangkan tangan kirinya menyusulkan tamparan atau dorongan ke arah kepala, namun, dengan mudah Han Beng mengelak dengan menggeser kaki ke kiri, kemudian sulingnya membuat gerakan melingkar dan tubuhnya meliuk aneh, tahu-tahu ujung suling sudah menetek pinggul kiri lawan.
"Dukkk!"
Hong San hampir terpelanting karena kaki kirinya terasa lumpuh, akan tetapi dia masih mampu melompat dan memutar tubuhnya, turun ke tanah dengan kaki kanan sambil mengerahkan tenaga sin-kang untuk memulihkan kaki kiri yang terasa lumpuh.
Dia kini merasa kaget bukan main, juga amat marah.
Kemarahan yang membuat dia menjadi nekat karena dia maklum bahwa lawannya sungguh amat lihai.
Diputarnya pedangnya sehingga nampak sinar bergulun-gulung dan dia pun menyerang dengan mengerahkan seluruh tenaganya, mengeluarkan jurus-jurus maut dan tidak begitu mempedulikan segala pertahanan.
Ini serangan orang yang sudah nekat dan hendak mengadu nyawa.
Baginya hanya menang atau kalah, karena maklum bahwa tingkat kepandaiannya masih kalah oleh lawan.
Menghadapi orang yang sudah nek seperti itu, Han Beng harus berhati-hati sekali.
Orang yang nekat amat berbahaya karena semua daya kekuatannya ditujukan untuk menyerang.
Han Beng mengerahkan sin-kang dan memutar tongkatnya atau sulingnya menyambut sinar pedang.
Begitu pedang bertemu tongkat pedang itu ikut terputar karena tenaga sinkang Hong San kalah kuat, makin lama semakin cepat berputar dan akhirnya, begitu Han Beng mengeluarkan bentakan nyaring, pedang itu terlepas dari tangan Hong San dan terlempar jauh!
Hong San terkejut sekali, akan tetapi dia masih nekat, dan menerjang dengan pukulan tangan kosong, memainkan ilmu silat Koai-liong kun yang dahsyat.
Han Beng menggerakkan suling itu dan tanpa dapat dihindarkan lagi oleh Hong San, ketika tangan kirinya mencengkeram ke arah lawan, ujung suling telah mendahuluinya, menotok pergelangan tangan itu sehingga tangan kirinya lumpuh seketika.
"Aaaghhhhh!"
Hong San membentak dan tangan kanannya membuat gerakan berputar, lalu menghantam kedepan.
bahwa pukulan yang dahsyat sekali, di dahului oleh uap hitam, menyambar ke arah Han Beng.
Itulah pukulan Cui-beng-Ciang (Tangan Pengejar Roh) yang amat ampuh dan jahat.
Jarang ada lawan yang kuat menahan pukulan yang mengandung tenaga sin-kang yang mengandung kekuatan sihir ini, bahkan uap hitam itu saja sudah cukup membuat orang pingsan karena mengandung racun.
Han Beng mengenal pukulan dahsyat, maka dia pun mengerahkan tenaganya dan menyambut pukulan itu dengan telapak tangannya sambil mengerahkan tenaga sakti yang dilatihnya dari Pek I Tojin.
"Desss ..........!"
Dua tenaga sakti yang ampuh bertemu melalui telapak tangan itu dan tubuh Hong San terpental ke belakang lalu terbanting roboh.
Dia pingsan seketika sedangkan Han Beng agak terengah.
Pada saat itu, Giok Cu sudah mendesak Ban-tok Mo-li dengan pedang tumpulnya.
Kipas di tangan kiri iblis betina itu sudah tidak nampak lagi karena sudah patah-patah bertemu dengan Seng-kan Kiam dan kini Ban-tok Mo-li dengan matian-matian melawan dengan Ang-tok Po-kiam la telah mengerahkan semua ilmunya, Namun satu demi satu dapat dipunahkan oleh Giok Cu, bahkan kini gadis itu mulai mendesaknya dengan hebat.
"Plakkk! Ini untuk Ayah!"
Tangan kiri Giok Cu menampar pipi kanan Ban-tok Mo-li.
Wanita ini menjerit lirih dan terhuyung, akan tetapi tamparan itu memang diberikan untuk menghajar, bukan untuk membunuh, maka pipi yang kena tampar itu hanya matang biru dan membengkak, akan tetapi tamparan itu tidak merobohkan.
Dengan kemarahan meluap yang membuat ia menjadi nekat, Ban-tok Mo-Li memutar pedangnya sehingga nampak gulungan sinar merah dari Ang-tok Po-Kiam yang menyerang dengan ganas, namun, kini Giok Cu sudah menguasai keadaan dan memang tingkat kepandaianya masih jauh lebih tinggi kalau dibandingkan bekas gurunya itu, maka dengan mudah saja gagang pedang tumpulnya membuat sinar merah itu tiba-tiba saja kehilangan daya ampuhnya.
"Trakkkkk ......... cusss! Ini untuk Ibu!"
Kata pula Giok Cu dan kembali Ban-tok Mo-li terhuyung dan jeritannya makin keras karena kini pedang pusakanya patah menjadi dua potong dan paha kirinya disambar ujung pedang Seng-kang-kiam sehingga celananya robek dan kulit pahanya robek pula.
"Sekarang bersiaplah untuk menghadap Ayah dan Ibu!"
Teriak Giok Cu, akan tetapi pada saat itu, Han Beng melompat ke depan dan sabuk sutera putihnya nyarnbar ke arah pedang yang sudah meluncur menyerang Ban-tok Mo-li.
"Giok Cu, tahan .......!"
Serunya ujung sabuknya melibat pedang gadis itu menahan gerakannya.
"Ihhh, engkau kenapa, Han Beng? Kenapa menghalangiku membunuh iblis betina pembunuh Ayah dan Ibuku ini?"
"Maaf, Giok Cu. Ingatlah bahwa ia pernah baik kepadamu dan puterinya..............adalah isteri dari Kakak angkatku.. ....... Memang tadi ketika melihat gadis itu hendak membunuh Ban-tok Mo-li, Han Beng teringat akan Coa Siang Lee Sim Lan Ci, puteri Ban-tok Mo-li. menjadi tidak tega dan mencegah Giok Cu membunuh iblis betina yang sudah tidak berdaya itu. Ketika Giok Cu hendak membantah tiba-tiba terdengar suara ketawa berwibawa dan mengejutkan hati Giok Cu.
"Ha-ha-ha-ha! Omitohud............ ! la jahat karena membunuh Ayah Ibumu, Giok Cu, Kalau sekarang engkau membunuhnya apa bedanya antara ia dan engkau? sama-sama pembunuh jahat!"
Pada saat itu, Giok Cu tertegun dan lalu memutar tubuh dan menghadapi Hek Bin Hwesio.
"Suhu !"
Serunya dengan dua mata basah.
"Haiiiiittttt ............!!"
Tiba-tiba, mendapatkan kesempatan baik ini, Ban-tok Mo-Li menubruk dan menyerang Giok Cu dari belakang.
Kedua tangannya dengan bentuk cakar mencengkeram ke arah kepala dan punggung Giok Cu.
Serangan maut, karena semua kuku jari tangannya itu mengandung racun mematikan.
"Desssss ............!"
Han Beng yang cukup waspada, menyambut serangan itu dari samping dengan tamparan tangannya yang mengenai pundak iblis betina itu.
Ban Tok-Mo-li terpelanting dan roboh pingsan.
Empat orang pengawal cepat maju dan membelenggunya lalu membawanya keluar dari ruangan itu.
"Siancai ..............!"
Pek I Tojin berseru sambil merangkap kedua tangan depan dada.
"Hek Bin Hwesio sungguh telah memperoleh kemajuan, dapat mencegah pembunuhan. Memang, menyadarkan penjahat adalah perbuatan mulia, membunuh orang jahat adalah perbuatan kejam, hanya Tuhan yang berkuasa menentukan mati hidupnya setiap orang manusia'"
Yap Ciangkun mengucapkan terima kasih kepada Han Beng dan Giok Cu, dia membawa semua tawanan pergi meninggalkan tempat itu.
Hek Bin Hwesio dan Pek I Tojin meninggalkan bekas sarang Thian-te-pang yang kini telah diduduki oleh pasukan pemerintah.
Dengan bijaksana Yap Ciangkun menyuruh pasukan untuk memulangkan semua wanita yang menjadi korban perkumpulan agama sesat itu ke tempat asal masing-masing Di lereng yang indah dan sunyi, bawah pohon yang rindang, siang itu mereka berempat duduk di atas akar pohon sambil bercakap-cakap.
"Han Beng,"
Kata Pek I Tojm kepada muridnya.
"Kami berdua, pinto dan Bin Hwesio, telah mengambil suatu sepakatan mengenai engkau dan Nona Giok Cu ini, sebelum kami berdua pergi kami ingin mendengar dulu pendapat kalian. Bukankah begitu, Hek Bin Hwesio?"
"Ha-ha-ha, omitohud ............. kenapa engkau begitu sungkan, Pek I Tojin? Katakan saja apa yang menjadi isi hatimu, engkau sudah tahu bahwa pin-ceng menyetujui sepenuhnya, ha-ha-ha?"
"Suhu, apa sih yang Suhu bicarakan dengan Lo-cian-pwe?"
Tanya Giok Cu memandang kepada gurunya.
"Biar Pek I Tojin saja yang membicarakan karena dialah yang memiliki prasaran itu, prasaran yang baik sekali dan yang telah kusetujui sepenuhnya. Katakanlah, Pek I Tojin!"
Han Beng dan Giok Cu, juga Hek Bin Hwesio, kini menatap wajah tosu itu.
Pek I Tojin adalah seorang kakek yang biasanya pendiam dan serius, tidak seperti Hek Bin Hwesio yang suka berkelakar dan tertawa.
Akan tetapi sekali ini, Pek I Tojin nampak agak kemerahan menjawabnya, tanda bahwa apa yang akan dibicarakan mendatangkan ketegangan juga di hatinya.
Setelah berdehem dua kali, dia memandang kepada Han Beng dan Giok Cu lalu berkata.
"Begini Han Beng dan Nona Bu Giok Cu, mengingat bahwa kalian berdua adalah anak-anak yatim piatu yang hidup sebatangkara di dunia ini. Oleh karena itulah, kami dua orang tua memberanikan diri mewakili kalian masing-masing sebagai guru dan juga pengganti orang tua, dan ...........eehhh .............!"
Agaknya sukar bagi tosu itu untuk melanjutkan kata-katanya yang mendadak macet. Dia menoleh kepada Hek Bin Hwesio.
"Hek Bin Hwesio, kau bantulah aku!"
"Ha-ha-ha! Omitohud .............. engkau terlalu sungkan, Sahabat. Begini, Han Beng! dan Giok Cu. Pek I Tojin mewakili Si Han Beng meminang Bu Giok Cu. Dan pinceng sebagai wakilmu, Giok Cu, pinceng merasa setuju sekali!"
Han Beng tidak merasa kaget dan dia menoleh ke arah Giok Cu yang juga mengerling kepadanya.
Dua orang muda ini ingat betapa tadi, dalam keadaan terancam, nyawa mereka, mereka telah saling menyatakan perasaan hati masing-masing, saling menyatakan cinta!
Dan kini guru-guru mereka menjodohkan mereka.
Tentu saja mereka tidak merasa kaget, bahkan merasa berbahagia sekali.
"Bagaimana, Han Beng? Setujukah engkau kalau kujodohkan dengan Nona Bu Giok Cu?"
Tanya Pek I Tojin kepada muridnya. Han Beng memandang wajah gurunya dan dengan wajah yang cerah dan berbahagia dia mengangguk, 'Teecu setuju. Suhu."
"Ha-ha-ha-ha! Bagus sekali kalau begitu. Dan bagaimana dengan engkau, muridku? Setujukah engkau kalau pinangan Han Beng terhadap dirimu itu kuterima? Maukah engkau menjadi calon isteri Si Han Beng?"
Pada saat itu, Giok Cu merasa hatinya seperti diremas-remas, la teringat akan keadaan dirinya, teringat akan tahi lalat merah kecil di lengan kirinya, di bawah siku.
Tahi lalat merah itu adalah penanaman racun yang dilakukan Ban tok Mo-li kepadanya dahulu.
Kalau ia menyerahkan diri kepada seorang pria, begitu ia kehilangan keperawanannya, tanda tahi lalat merah itu pun akan lenyap, akan tetapi akibatnya, dalam waktu sebulan ia akan tewas karena racun yang amat hebat dan tidak ada obatnya akan bekerja membunuhnya!
Akan tetapi, didepan dua orang kakek itu bagaimana ia dapat membuka mulut menceritakan hal yang memalukan itu kepada Han Beng.
Maka, khawatir di desak suhunya yang suka berkelakar, ia pun mengangguk tanda setuju tanpa da pat mengeluarkan suara karena ia haru menekan guncangan hatinya.
"Ha-ha, kenapa mendadak engkau menjadi seorang gadis pemalu, Giok Cu Mana jawabanmu? Jawablah agar lega hati orang yang meminangmu!"
Kata Hek Bin Hwesio. Dengan muka tunduk karena tidak ingin nampak mukanya yang berduka terpaksa Giok Cu menjawab lirih.
"Teecu setuju!"
"Ha-ha-ha-ha, bagus, bagus! To-yu pinceng mengucapkan selamat kepadamu!"
"Sama-sama, pinto juga mengucapkan selamat kepadamu!"
Dua orang kakek tu tersenyum dan saling memberi hormat.
"Nah, tentang upacara pernikahan-iya, kami serahkan kepada kalian berdua. Kami berdua akan berkelana dan menikmati keindahan Gunung Thai-san. Kelak kalau sudah ada ketentuan waktunya ilian boleh mencari kami ke Thai-san mtuk memberitahu."
Kata Pek I Tojin lan bersama Hek Bin Hwesio, dia lalu pergi meninggalkan dua orang muda itu yang segera berlutut untuk mengantar kepergian guru mereka.
Setelah dua orang kakek itu lenyap, Han Beng bangkit berdiri, juga Giok Cu.
Mereka berdiri berhadapan, saling pandang dan Han Beng melangkah maju.
"Giok Cu ...............!"
Han Beng yang merasa berbahagia sekali, bukan saja karena ikatan perjodohan antara mereka, akan tetapi juga teringat akan ucapan gadis tadi yang menyatakan cinta kepadanya, segera merangkul.
"Han Beng ..............!"
Giok Cu membenamkan mukanya di dada peniuda yang di cintainya.
"Giok Cu, kita saling mencinta, dan guru-guru kita menjodohkan kita. Betapa bahagianya rasa hatiku, Giok Cu............ bisik Han Beng di dekat telinga gadis itu. Dan tiba-tiba Giok Cu menangis tanpa mengangkat mukanya dari dada Han Beng. Air mata menembus baju dan membasahi dada pemuda itu. Han Beng terkejut, akan tetapi lalu tersenyum dan tangannya membelai rambut kepala kekasihnya. Tentu kekasihnya itu menangis karena bahagia, menangis karena terharu, barangkali teringat bahwa ia tidak mempunyai orang tua lagi. Dia menunduk dan mencium rambut itu, mencium dahi itu, lalu berbisik! "Giok Cu, jangan berduka sayang. Memang kita berdua sudah tidak mempunyai ayah ibu lagi, akan tetapi kita kini saling memiliki bukan? Biarlah aku menjadi pengganti Ayahmu dan engkau menjadi pengganti Ibuku! Dan kelak, kita pergi ke perkampungan keluarga kita, kita mencari keluarga orang tua kita yang masih ada. Bukankah berarti kita akan memiliki keluarga lagi?"
Akan tetapi, ucapan hiburan Itu bahkan membuat Giok Cu semakin tersedu-sedu.
Han Beng membiarkannya sebentar, lalu perlahan-lahan dia mengangkat dagu , disitu, menatap wajah yang nampak legitu sedih.
Mata itu terpejam, akan tetapi setiap kali dibuka sedikit, air matanya mengalir keluar.
Dengan hati penuh rasa haru dan sayang, akan tetapi juga khawatir, Han Beng mengecup pipi yang basah air mata itu sehingga terasa asin olehnya.
Akan menyegarkan hati rasa itu andaikan hatinya tidak begitu hawatir, andaikan tangis itu tangis bahagia, bukan tangis yang demikian sedihnya.
"Giok Cu ............, Moi-moi sayang, hentikanlah tangismu dan katakan kepadaku, kenapa engkau begini sedih? Bukan ah sepatutnya kita bergembira, berbahagia? Aiiih, Giok Cu, jangan katakan bahwa engkau berduka karena dijodohkan dengan aku.........."
Tiba-tiba Giok Cu membuka matanya. Nampak kemerahan mata itu dan menggeleng kepala, mempererat rangkulannya.
"Tidak, Han Beng, tidak! Jangan salah sangka ........ ah, aku ........... aku berhagia sekali menjadi jodohmu ........... akan tetapi aku ........ aku .................."
"Engkau kenapa, sayang? Kenapa?"
Giok Cu menggeleng kepala dalam rangkulan pemuda itu.
"Aku tidak bisa menjadi isterimu, Han Beng. Tidak mungkin ................. uhu-hu-hu .................!"
"Ehhh?"
Han Beng terkejut seper disengat lebah.
"Kenapa, Giok Cu? Kenapa engkau berkata demikian?"
Giok Cu menggulung lengan baju kirinya dan melirik ke arah tanda bintik merah kecil di bawah siku kiri, lalu menangis lagi, membenamkan mukanya di dada kekasihnya.
Han Beng menjadi seakin bingung.
Berbagai macam dugaan timbul di dalam benaknya.
Jelas bahwa kekasihnya sedih, bukan karena berjodoh dengan dia, melainkan oleh suatu sebab lain mengenai diri kekasihnya itu.
Di mengerutkan alisnya.
Apakah Giok hendak mengatakan bahwa ia bukan perawan lagi?
Hal itu bukan tidak mungkin, mengingat bahwa gadis itu pernah menjadi murid Ban-tok Mo-li!
Andaikata demikian, dia .............
dia tidak akan peduli!
Han Beng mengatupkan giginya kuat-kuat.
Dia mencinta Giok Cu, bukan mencinta keperawanannya!
Atau ada hal lain?
Bagaimanapun juga, Giok Cu harus bicara sejujurnya.
Kalau tidak, dia akan selalu merasa tersiksa oleh segala macam dugaan yang sewaktu-waktu tentu akan timbul.
Dia lalu memegang kedua pundak Giok Cu, didorongnya lembut sehingga mereka saling berpandangan, kemudian dengan suara tenang namun tegas dia berkata, Giok Cu, pandang padaku dan dengarkan kata-kataku baik-baik.
Kita adalah orang-orang yang menghargai kegagahan, bukan?
Kita adalah orang-orang yang siap menghadapi kesukaran apapun juga, bukan orang-orang lemah yang cengeng, bukan?
Aku pun tahu bahwa engkau seorang pendekar g gagah perkasa, bukan seorang gadis yang cengeng.
Nah, usirlah semua perasaan sedih itu, kekasihku, sayangku, dan ceritakan kepadaku apa yang lelah terjadi maka engkau menjadi begini berduka setelah dijodohkan dengan aku."
Dengan lembut pula Giok Cu melepaskan kedua tangan, kekasihnya yang memegang kedua pundaknya, mengguraikan kedua ujung baju menyusut air matanya dan menghentikan tangisnya.
Kemudian, dengan kedua mata merah, ia memandang Han Beng, mencoba untuk mengumpulkan kekuatan hatinya dan membuka mulut untuk memberi penjelasan.
"Han Beng ..........., aku ............ aku.......... aku tidak pantas menjadi isterimu.........."
Ia berhenti lagi dan memejamkan mata karena tidak kuat melanjutkan.
"Lanjutkan, Giok Cu. Jelaskan mengapa? Mengapa engkau menganggap dirimu tidak pantas menjadi isteriku? Mengapa?"
Giok Cu menoleh ke kanan kiri. Para perajurit masih melakukan pembersihan dan menggeledah di semua tempat.
"Han Beng, mari kita pergi dari sini bicara di tempat yang sepi."
Han Beng mengerti, menggandeng tangan kekasihnya yang terasa dingin lalu mereka keluar meninggalkan tempat itu.
Langit di ufuk timur mulai kemerahan, tanda bahwa pagi akan segera muncul menggantikan malam.
Mereka terus berjalan sampai mereka tiba di lereng bukit yang sepi.
Han Beng mengajak kekasihnya menghampiri sebatang pohon besar di sana burung-burung sudah mulai sibuk menyambut datangnya fajar.
"Nah, di sini sepi, Giok Cu. Keluarkanlah isi hatimu dan ceritakan segalanya kepadaku. Ingat, aku adalah orang yang kaucinta dan mencintamu, aku adalah calon suamimu, juga satu-satunya orang yang dapat kaupercaya. Nah, ceritakan semuanya!"
Mereka berdiri berhadapan, dekat. Giok Cu menatap wajah kekasihnya dalam keremangan subuh.
"Han Beng, aku.............. aku ............"
Kembali gadis itu tidak anggup melanjutkan.
Ia tidak tega melihat bagaimana nanti pemuda itu menyambut keterangannya, la tidak tega melihat pembahan yang akan terjadi pada wajah yang dicintanya itu.
Betapa wajah itu akan diselimuti kedukaan dan kekecewaan yang amat mendalam.
Kalau ia memberi penjelasan, sama saja denga menusuk jantung kekasihnya dengan batang pedang berkarat!
la tidak tega!
"Han Beng, aku .................
aku tidak mampu menerangkan ................"
KANGZUSI WEBSITE
http.//kangzusi.com/
Jilid 26 Kembali kedua tangan Han Beng menangkap kedua pangkal lengan kekasihnya dan mengguncangnya sedikit.
"Giok Cu engkau harus mampu! Harus! Tidak boleh engkau membiarkan ada rahasia di antara kita!"
Dia benar, pikir Giok Cu. Dia benar, akan tetapi....."Han Beng, peluklah aku, sembunyikan mukaku agar aku dapat menceritakannya kepadamu....."
Dan iapun menjadi lemas dan tentu terhuyung kalau saja Han Beng tidak cepat memeluknya.
Han Beng memondong tubuh yang lemas itu dan mengajaknya duduk di atas akar pohon yang menonjol keluar dari tanah.
Dia setelah memangku gadis itu yang merebahkan kepalanya di dada yang bidang, menyembunyikan mukanya di dada itu.
Kini dia tidak akan melihat perubahan pada wajah kekasihnya dan iapun mulai tenang, lalu dengan lirih, namun jelas, ia bercerita.
"Han Beng, sebelumnya kau maafkan aku. Maukah kau?"
Han Beng mencium rambut itu.
"Tentu saja, bahkan tidak perlu ada maaf dariku karena apapun yang telah kau lakukan, kuanggap semua itu sudah berlalu dan tidak ada lagi. Nah, ceritakan."
"Dahulu, ketika kita saling berpisah, aku berusia sepuluh tahun!"
"Ya, ya, dan aku berusia dua belas tahun."
"Aku ditolong oleh Ban-tok Mo-li yang kemudian menjadi guruku."
"Dan aku menjadi murid Sin-tiauw Lim Bhok Ki yang dilanjutkan pula oleh Sin-ciang Kai-ong."
"Ketika aku dibawa pulang oleh Ban-tok Mo-li dan diambil murid, ia telah menggunakan jarum menusuk lenganku yang kiri ini. Lihat, Han Beng, kaulihat bintik merah kecil ini?"
Giok Cu menggulung lengan bajunya yang kiri dan mendekatkan lengannya.
Lengan yang kecil penuh dan berkulit putih halus.
Han Beng tak tahan untuk tidak menyentuh kulit dengan yang halus lembut itu dengan hidungnya.
"Lenganmu indah sekali, Giok Cu."
Giok Cu merasa betapa seluruh bulu di badannya meremang ketika lengannya dicium Han Beng, lalu menarik lengan itu.
"Ihhh, Han Beng, dengarkan ceritaku dan pandanglah bintik merah bawah siku ini. Engkau melihatnya?"
"Aku melihatnya. Bintik merah itu menambah indah lenganmu."
"Hentikan rayuanmu itu dan dengar baik-baik. Bintik itu adalah akibat tusukan jarum dari Ban-tok Mo-li, jarum beracun yang jahat sekali!"
"Ehhhhh...!!"
Kini seluruh kemesraan terbang dari kepala Han Beng dan dia memandang terbelalak, khawatir sekali.
"Jarum beracun? Akan tetapi..... hal itu tentu sudah terjadi belasan tahun yang lalu dan sampai sekarang engkau masih sehat kuat....."
"Racun itu baru akan bekerja kalau bintik itu lenyap, Han Beng."
"Ehhh? Dan sudah belasan tahun tidak lenyap, takut apa? Biarkan bintik itu tidak lenyap, tidak mengurangi keindahan lenganmu."
"Tapi, begitu bintik itu lenyap, dalam waktu sebulan nyawaku akan melayang dan tidak ada obat di dunia ini yang akan mampu menyelamatkan aku."
"Tapi..... tapi..... bintik itu masih ada dan....."
"Ya, bintik merah itu akan lenyap kalau aku..... aku tidak perawan lagi....."
"Ahhhhh.....??!"
Han Beng memandang wajah kekasihnya dengan mata terbelalak.
Baru kini dia mengerti mengapa tadi kekasihnya menangis!
Kalau Giok Cu menikah dengan dia, kalau gadis itu menjadi isterinya, dalam waktu sebulan ia akan mati keracunan!
"Itulah sebabnya mengapa aku...aku tidak dapat menjadi isterimu, Han Beng....."
Tiba-tiba Han Beng meloncat berdiri dan menarik tangan gadis itu. Giok Cu juga meloncat berdiri dan memandang bingung.
"Mari kita pergi sekarang juga"
"Ehhh? Ke mana?"
"Ke mana lagi? Menyusul Ban-tok Mo-li. la menjadi tawanan. Aku akan menemuinya dan memaksanya mengobatimu, memberi obat pemunah racun itu. Kalau ia menolak, akan kucabuti semua rambut di kepalanya, kucabuti semua kuku dari jari-jarinya, kucabuti semua otot-otot dari tubuhnya!"
Suara Han Beng mengandung desis dan Giok Cu yang ditarik ikut pula berlari, agak bergidik karena di dalam suara kekasihnya itu mengandung ancaman yang mengerikan bagi Ban-tok Mo-li.
Agaknya kemarahan telah membuat Han Beng berubah menjadi kejam dan sadis, walaupun itu baru dalam kata-kata saja.
Mereka tidak bicara lagi, berlari cepat dan Giok Cu menyerahkan segalanya kepada kekasihnya.
Hatinya terasa lega karena bagaimanapun juga, rahasia itu tidak ditanggungnya sendiri, kini telah dibuka kepada Han Beng.
Bahkan calon suaminya itu yang kini mengambil alih darinya untuk mencarikan jalan keluarnya.
Hari telah siang ketika mereka tiba di benteng, disambut oleh Yap Ciangkun yang kelihatan lelah karena penyerbuan semalam.
Akan tetapi ternyata kemuraman wajah Yap Ciangkun bukan hanya karena lelah, dan hal itu baru diketahui Han Beng dan Giok Cu ketika Han Beng bertanya tentang Ban-tok Mo-Ii.
"Kami harap agar Ciangkun mengijinkan kami bicara sebentar dengan Ban-tok Mo-li yang menjadi tawanan. Ada urusan pribadi yang amat penting hendak kami bicarakan dengan Ban-tok Mo-Ii. kata Han Beng. Mendengar ini, Yap Ciangkun menggebrak meja.
"Inilah! Justeru baru saja kami memarahi para petugas, akan tetapi semua kesalahan terletak pada pundak empat orang penjaga yang sudah mati. Sungguh celaka! Sialan mereka itu!"
"Apa yang telah terjadi, Ciangkun?"
Tanya Giok Cu, bingung melihat ulah perwira tinggi itu.
"Semalam, Ban-tok Mo-li menjadi tawanan dan ditahan di dalam sel, dijaga oleh empat orang pengawal yang dapat dipercaya. Akan tetapi, pagi-pagi sekali tadi, sel itu terbuka, empat orang penjaga mati tanpa luka dan Ban-tok Mo-li telah lenyap dari dalam selnya."
"Ahhhhh.....!!"
Wajah Han Beng menjadi berubah agak pucat saking kaget dan kecewanya.
"Bagaimana hal itu dapat terjadi?"
Yap Ciangkun mengepal tinju dan kelihatan marah dan penasaran sekali.
"Tidak ada yang tahu bagaimana hal itu terjadi. Akan tetapi ada seorang perajurit yang malam hari itu, sebelum dia meninggalkan tugas jaga untuk bertugas di tempat lain, melihat betapa Ban-tok Mo-li bersikap manis dan akrab sekali dengan empat orang penjaga itu, nampak mesra. Tidak ada yang tahu. Tahu-tahu mereka berempat terdapat tewas di tempat penjagaan dan Ban-tok Mo-li sudah tidak berada di dalam tahanan. Pintu kamar tahananpun tidak rusak kuncinya, bukan dibuka dengan paksa."
Han Beng mengerutkan alisnya.
"Apakah tidak ada kemungkinan tawanan itu dibantu orang dari luar yang meloloskarinya?"
"Segala kemungkinan memang ada, akan tetapi penjagaan amat ketat sehingga sukarlah bagi orang luar untuk dapat masuk tanpa diketahui. Setidaknya, empat orang yang bertugas jaga itu tentu mengadakan perlawanan mati-matian dan memberi tanda bahaya. Akan tetapi sama sekali tidak ada perlawanan, sama sekali tidak terdengar teriakan atau tanda bahaya lain."
"Maaf, Ciangkun.Bagaimana matinya empat orang itu? Adakah luka-luka atau tanda lain?"
Yap Ciangkun mengerutkan alis dan menggeleng-geleng kepala.
"Memang aneh sekali. Tidak ada luka. Hanya dua diantara mereka mati dengan mulut biru menghitam....."
"Hemmm, ciuman maut.....I"
Kata Giok Cu, tenang akan tetapi ia pun mengerutkan alisnya karena ia sudah dapat menduga bagaimana caranya iblis betina bekas gurunya itu berhasil meloloskan diri.
"Dua orang yang lain tewas dengar biru menghitam di leher dan pangkal paha mereka, seperti bekas terkena gigitan....."
"Hemmm, itu bekas kuku beracun!"
"Ehhh? Apa yang kau maksudkan dengan ciuman beracun dan kuku beracun, Li-hiap?"
Tanya perwira itu, heran.
"Ban-tok Mo-li adalah seorang iblis betina. Nama julukannya saja sudah menyebutkan keadaan dirinya. Ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa Racun) memiliki banyak ilmu beracun, di antaranya adalah ciuman beracun dan kuku beracun. sekali cium dan sekali gores dengan kuku sudah cukup untuk membunuh orang. Agaknya iblis betina itu mempergunakan kecantikannya untuk merayu sehingga ia berhasil keluar atau dikeluarkan dari kamar tahanan oleh empat orang penjaga itu.Ia pura-pura suka diajak bermesraan, lalu membunuh mereka dengan mudah selagi bermesraan."
Kalau bukan Giok Cu, gadis lain tentu akan bermerah muka dan segan memberi keterangan seperti itu.
Akan tetapi Giok Cu adalah seorang gadis yang sudah digembleng oleh keadaan yang keras dan beraneka macam kehidupan.
"Hemmm, sungguh keji seperti iblis!"
Kata Yap Ciangkun.
"Mari kita mengejarnya!"
Han Beng yang teringat akan keadaan kekasihnya, sudah menggandeng tangan gadis itu dan keduanya meloncat pergi dengan amat cepatnya, membuat Yap Ciangkun merasa kagum bukan main.
Dia lalu teringat akan tawanan yang lain.
Mereka adalah orang-orang yang lihai, maka dia tidak ingin kehilangan tawanan lagi.
Diperintahkan orang-orangnya untuk membelenggu kaki tangan para tawanan itu dan mengawal mereka dengan ketat sampai mereka itu dijatuhi hukuman oleh pengadilan.
Selama tiga hari tiga malam Han Beng hampir tidak pernah mau berhenti, mengajak Giok Cu untuk menjari jejak Ban-tok Mo-li.
Namun, semua usahanya sia-sia belaka.
Mereka tidak mampu menemukan jejak iblis betina itu.
Ban-tok Mo-li lenyap tak meninggalkan jejak, seperti ditelan bumi!
Pada hari ke empat, pagi-pagi setelah semalam suntuk mereka mencari di perbukitan di tepi jurang atau tebing sungai Kuning, Giok Cu telah menjadi putus asa.
Ia memandang Han Beng yang duduk bersila di tepi jurang dengan hati yang pilu.
Ia merasa kasihan sekali kepada pemuda itu.
Ia tahu betapa besarnya cinta Han Beng kepadanya sehingga pemuda itu seperti tidak mengenal lelah untuk dapat menemukan Ban-tok Mo-li, untuk dapat membebaskannya dari cengkeraman maut yang ditandai bintik merah di bawah siku lengan kirinya.
Kalau dia membiarkan dirinya menjadi isteri Han Beng, kemudian tewas dalam waktu sebulan, tentu Han Beng akan tenggelam dalam kedukaan yang hebat.Dan sekarang, merekapun gagal untuk menemukan Ban-tok Mo-li.
Andaikata mereka dapat menemukannya sekalipun, belum tentu iblis betina itu mau memberikan obat penawarnya, itupun kalau ada obat seperti itu.
Ah, ia hanya menjadi beban, hanya menyusahkan Han Beng saja dengan ikatan perjodohan itu.
Tidak, itu tidak boleh menyusahkan Han Beng.
Ia terlalu sayang kepada pemuda itu.
Biarlah dia memperoleh jodoh gadis lain yang sehat, yang akan membahagiakannya, bukan ia yang menderita penyakit maut, yang hanya akan menyusahkannya.
Giok Cu mengerling ke arah Han Beng.
Pemuda itu masih duduk bersila dan agaknya tenggelam dalam siu-lian Rambutnya kusut, pakaiannya kusut, wajahnya menunjukkan kelelahan.
Hatinya seperti ditusuk-tusuk rasanya.
Han Beng membuka matanya, terkejut mendengar suara angin itu.
Dan dia menjadi lebih kaget ketika tidak melihat lagi Giok Cu berada di situ.
"Giok Cu.....!!"
Dia berteriak memanggil sambil meloncat berdiri. Tiada jawaban.
"Giok Cu, di mana engkau?"
Han Beng kini mencari ke sekeliling tempat itu sambil memanggil-manggil.
Ketika menjenguk ke bawah tebing, dia bergidik membayangkan Giok Cu terjatuh ke sana.
Akan tetapi dia tidak melihat apa-apa di bawah sana.
Lalu dia berlari menuruni bukit karang itu.
"Giok Cu.....!!!"
Dia berteriak semakin keras.
Suaranya melengking terbawa angin dan menimbulkan gema jauh dibawah sana.
Wajah Han Beng menjadi pucat, hatinya gelisah sekali ketika sampai di bawah bukit, dia belum juga melihat bayangan Giok Cu.
"Giok Cu.....! Kembalilah.....! Aku tak sanggup hidup sendirian tanpa engkau.....!"
Teriaknya berulang kali.
Dia berlari mendaki bukit di depan dan akhirnya, dia melihat gadis itu dipuncak bukit batu karang itu, di tepi tebing yang lebih curam daripada yang tadi.Gadis itu menangis tersedu-sedan, berlutut hampir menelungkup.
Agaknya teriakannya yang terakhir itu, yang diulang-ulang, terdengar oleh gadis itu dan teriakan itu yang menahannya, membuat kedua kakinya lemas dan iapun menjatuhkan diri berlutut di situ dan menangis tersedu-sedu.
"Giok Cu.....!"
Han Beng lari menghampiri, menubruk dan merangkul gadis itu yang menangis semakin menjadi-jadi Han Beng mendekap kepala itu ke dadanya, seolah takut kalau sampai kehilangan dan terlepaslagi.
"Aih, Giok Cu kenapa engkau meninggalkan aku....Kenapa.....?"
Giok Cu terisak-isak.Ketika ia mengangkat muka memandang melalui genangan air matanya, ia melihat pemuda itu menangis! Hal ini membuat ia menjadi semakin terharu dan sedih.
"Han Beng.....!"
Ia menjerit dan merangkul pemuda itu. Mereka bertangisan dan berpelukan di tepi jurang yang curam itu.
"Han Beng, lepaskan aku..... biarkan aku pergi. Aku hanya menyusahkan saja, Han Beng. Aku tidak dapat menjadi isterimu....."
"Giok Cu, jangan putus harapan. Aku akan mencarikan obat untukmu, sampai dapat. Percayalah, aku akan dapat menolongmu, jangan engkau khawatir akan keselamatan dirimu, Giok Cu....."
Gadis itu menyusut air matanya.
"Han Beng, engkau salah sangka. Aku tidak takut mati. Aku rela mati setelah menjadi isterimu selama satu bulan. Aku rela dan aku tidak takut. Hanya aku.....aku tidak tega membayangkan engkau menangisi kematianku, Han Beng. Tidak, lebih baik kita tidak menikah, engkau carilah gadis lain yang sehat....."
"Giok Cu! Kenapa engkau berkata demikian? Ucapanmu menusuk perasaanku. Hidup ini tidak ada artinya bagiku tanpa engkau di sisiku, Giok Cu."
"Tapi.....tapi.....kalau kita menikah..... hanya sebulan kita berkumpul, lalu aku harus meninggalkan engkau untuk selamanya....."
"Tidak! Kita tetap berdampingan sampai kematian memisahkan kita, Giok Cu. Dan percayalah, sebelum engkau mendapatkan obat pemunah racun terkutuk itu, aku tidak akan menggaulimu. Bagiku, melihat engkau di dekatku dalam keadaan sehat saja sudah merupakan suatu kebahagiaan besar.Giok Cu, berjanjilah, engkau tidak akan meninggalkan aku lagi.....!"
Mendengar ini, Giok Cu merangkul dan mencium pipi pemuda itu dengan penuh keharuan, lalu berbisik di dekat telinganya.
"Aku berjanji, Koko (Kanda). Aku berjanji selamanya tidak akan meninggalkanmu lagi dan akan mentaati semua perintahmu."
Han Beng bernapas lega, lega puas dan bahagia. Dia merangkul semakin erat.
"Moi-moi (Adinda)....., terima kasih..... terima kasih....."
Sampai lama mereka duduk berdekapan di tepi tebing itu. Ketika matahari muncul di bawah sana, muncul dari balik bukit jauh di seberang sungai, Han Beng menuding.
"Lihat, Cu-moi, betapa indahnya fajar menyingsing. Lihat, masa depan yang cerah menanti kita, seperti munculnya Sang Surya. Kita tidak boleh putus asa. Kita harus berikhtiar dan kalau kita berusaha dengan kesungguhan hati, Thian pasti akan memberi jalan kepada kita."
Giok Cu mengangkat mukanya dari dada kekasihnya dan menengok.
Ia mengeluarkan seruan kagum dan mereka duduk bersanding, menyambut munculnya sang matahari sambil duduk bersila dan mengatur pernapasan.
Latihan seperti ini tidak asing bagi mereka karena dalam sinar matahari yang baru muncul terkandung kekuatan dahyat yang mereka coba tampung melalui pernapasan dan meditasi.
Setelah matahari mulai menyengat kulit, barulah mereka menghentikan latihan itu.
"Ah, sekarang aku ingat. Ada jalan untuk mencari jejak Ban-tok Mo-li!"
Kata Han Beng.
"Bagaimana, Beng-koko? Apakah jalan itu?"
"Aku teringat akan Kakak angkatku, yaitu Coa Siang Lee dan isterinya, Sim Lan Ci."
Giok Cu memandang dengan wajah berseri, la pun baru teringat sekarang.
"Ah, Suci Sim Lan Ci adalah puteri Ban-tok Mo-li! Benar, Koko, mungkin ia tahu ke mana Ban-tok Mo-li melarikan atau menyembunyikan diri." ;
"Mari kita ke sana, Cu-moi."
Han Beng bangkit berdiri sambi menggandeng tangan kekasihnya dan mereka pun menuruni bukit karang itu.
Baru sekarang mereka merasa betapa tubuh mereka lelah bukan main, juga perut mereka lapar.
Selama tiga hari ini mereka lupa makan lupa tidur ketika mencari-cari Ban-tok Mo-li.
"Kita cari dusun atau kota dulu, Koko. Perutku lapar sekali....."
Han Beng tersenyum dan mencium dahi kekasihnya.
"Kasihan engkau, Guan Cu. Kita sampai lupa makan. Aku lapar. Mari, kita cari dusun di bawah sana, baru melanjutkan perjalanan ke tempat tinggal Kakak angkatku Coa Sian Lee!"
Mereka menemukan dusun dan berhasil membeli makanan dan minuman sederhana.
Setelah makan minum, baru mereka melanjutkan perjalanan dengan hati yang ringan dan awan kedukaan sudah lenyap dari wajah mereka.
*** "Thian Ki.....!"
Han Beng memanggil ketika melihat seorang anak laki-laki berusia kurang lebih empat tahun bermain-main seorang diri di depan rumah itu.
Anak itu sedang membuat boneka dari tanah liat sehingga kedua tangan, bahkan pakaiannya, berlepotan lumpur, juga mukanya.
Nampak lucu sekali.
"Thian Ki, benar engkau Thian Ki!"
Kata pula Han Beng sambil mendekat.
Giok Cu juga ikut menghampiri, memandang kepada anak itu dengan kagum.
Seorang anak laki-laki yang sehat, wajahnya putih kemerahan dan matanya tajam dan pandangnya lembut, juga membayangkan kecerdikan.
"Paman dan Bibisiapakah.....?"
Tanya anak itu dan kembali Giok Cu kagum.
Suara itu demikian nyaring dan bening, akan tetapi mengandung kelembutan pula!
Han Beng tertawa.
Ketika dia mengangkat saudara dengan Coa Siang Lee setahun yang lalu, anak ini baru berusia tiga tahun sehingga tentu saja tak dapat mengenalnya.
Dia menggoda.
"O..kau terka siapa aku ini, Coa Thian Ki .Tahukah engkau siapa aku?"
Anak itu memicingkan kedua matanya, nampak lucu dan mungil. Sepasang alisnya berkerut dan tiba-tiba dia membelalakkan matanya sambil berkata dengan wajah berseri.
"Paman tentu Paman Si Han Beng, Huang-ho Sin-liong!"
Tawa Han Beng terhenti dan dia terbelalak.
Juga Giok Cu semakin kagum.
Dari Han Beng ia sudah mendengar tentang peristiwa kekasihnya itu dengan keluarga ini.
Ia mendengar betapa guru kekasihnya, Sin-tiauw Liu Bhok Ki yang terkenal keras hati itu, menjadi luluh kekerasan hatinya oleh sikap dan ulah Thian Ki yang baru berusia tiga tahun "Heiiiii!
Bagaimana engkau bisa tau bahwa aku adalah Pamanmu Si Han Beng?"
Han Beng berseru heran. Anak itupun tertawa senang ketika Han Beng mengangkatnya tinggi-tinggi, tanpa mempedulikan betapa kaki, tangan dan pakaian anak itu kotor oleh lumpur.
"Ayah dan Ibu bercerita banyak-banyak tentang Paman, tentang wajah Paman sehingga aku dapat mengenal Paman. Siapakah Bibi ini?"
"Aku Bibi Bu Giok Cu, Thian Ki. Aku calon isteri Pamanmu ini."
Kata Giok Cu tanpa sungkan lagi. Terhadap orang dewasa saja dara ini tidak sungkan bicara, apalagi terhadap seorang anak kecil berusia empat tahun! "Wah, Adikku Han Beng.....!"
Terdengar teriakan wanita dan muncullah seorang wanita cantik berusia tiga puluh tahun lebih.
Pakaian wanita itu serba hitam sehingga kulitnya yang putih nampak semakin mulus, wajahnya cantik manis akan tetapi sikapnya sederhana dan lembut.
Akan tetapi wanita itu menghentikan seruan dan sikapnya yang gembira ketika melihat Giok Cu, seorang gadis yang tidak dikenalnya.
"Ibu, Paman Han Beng datang bersama calon isterinya, Bibi Giok Cu.....!"
Teriak Thian Ki yang masih berada dipondongan Han Beng.
"Ahhhhh..... mari, mari, silakan masuk. Thian Ki, turun kau! Lihat, engkau membikin kotor pakaian Pamanmu!"
Han Beng menurunkan Thian Ki sambil tertawa dan pada saat itu muncul Coa Siang Lee yang berseru.
"Siapa bilang Han Beng datang bersama calon isterinya?"
"Aku, Ayah. Nah, ini Bibi Giok Cu, calon isteri Paman!"
Mereka semua saling memberi hormat.
"Aih, kalau begitu, kionghi (selamat) Adikku! Kami girang sekali dapat bertemu dengan calon Adik ipar kami!"
Coa Siang Lee yang pakaiannya serba putih, berlawanan dengan warna pakaian isterinya, menggandeng tangan Han Beng sedangkan Sim Lan Ci menggandeng tangan Giok Cu.
Mereka semua memasuki rumah, diikuti oleh Thian Ki.
Setelah mengajak tamu mereka duduk di ruangan dalam, Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci saling pandang.
Hubungan antara suami isteri ini sedemikian akrabnya sehingga ada hubungan batin yang kuat di antara mereka sehingga pandang mata mereka saja sudah cukup untuk mereka saling mengutarakan isi hati mereka.
Keduanya memandang kepada Thian Ki dan ayah anak itu berkata.
"Thian Ki, karena kegirangan engkau lupa memberi hormat kepada Paman dan Bibimu. Hayo beri hormat kepada mereka."
"Dan sesudah itu, pergi mencuci badanmu, dan bertukar pakaian. Boleh engkau bermain lagi di luar, akan tetapi jangan masuk di sini dulu sebelum kami panggil. Kami ingin bicara penting dengan Paman dan Bibimu."
Kata ibu anak itu. Thian Ki lalu melangkah maju menghadapi Han Beng dan Giok Cu, mengangkat kedua tangan di depan dada dengan sikap hormat.
"Paman Si Han Beng dan Bibi Giok Cu, terimalah hormat Coa Thian Ki!"
Han Beng dan Giok Cu saling pandang, lalu tertawa gembira Giok Cu mengangkat tubuh Thlan Ki dan menciumi kedua pipinya, lalu menurunkannya kembali.
Thian Ki tersipu lalu berlari kekamarnya untuk mengambil pengganti pakaiandan pergi mandi seperti diperintahkan ibunya.
Dia tidak membantah, tidak mengomel, melainkan taat dengan gembira.
Sungguh seorang anak yang penuh pengertian!
"Nah, duduklah, Adik-adikku.
Bagaimana kabarnya, Beng-te (Adik Beng)' Sudah lama sekali kami merindukan kunjunganmu."
Kata Coa Siang Lee.
"Di hari ini engkau muncul bersama calon isterimu yang begini gagah dan cantik. Sungguh kami merasa gembira dan bangga!"
"Adik Giok Cu memang cantik manis dan gagah perkasa, pantas sekali menjadi isterimu, Han Beng."
Kata pula Sin Lan Ci dengan akrab.
"So-so (Kakak Ipar Perempuan) tentu tidak menduga siapa Giok Cu ini, padahal ia masih Sumoi dari So-so sendiri."
Kata Han Beng.
"Ahhhhh.....??"
Sin Lan Ci terbelalak memandang kepada Giok Cu, kini penuh selidik.
"Be..... benarkah itu.....?"
Giok Cu tersenyum dan mendekatkan kursinya dengan kursi Sim Lan Ci, lalu memegang tangan wanita itu dengan sikap lembut.
"So-so, kalau diijinkan, aku lebih suka menyebut so-so daripada su-ci. Memang harus kuakui bahwa aku pernah menjadi murid Ibumu, So-so, akan tetapi hal itu telah lewat dan..."
Giok Cu tidak melanjutkan kata-katanya karena ia melihat betapa pandang mata wanita itu nampak membayangkan kepahitan. Melihat keadaan yang tidak enak itu, Han Beng cepat berkata.
"Memang Cu-moi pernah menjadi murid Ibumu, So-so, bahkan sejak usia sepuluh tahun sampai lima belas tahun. Akan tetapi, kemudian ia menjadi murid Lo-cian-pwe Hek-bin Hwesio dan tidak berhubungan dengan Ibumu lagi....."
Lan Ci menarik napas panjang dan kini ia yang memegang tangan gadis itu.
"Aku mengerti, Adikku yang baik. Aku mengenal siapa Ibuku. Bahkan engkau beruntung sekali dapat terlepas dari tangan Ban-tok Mo-li, Ibuku yang terkenal jahat dan kejam itu....."
"Maaf, So-so, aku tidak bermaksud menyinggungmu....."
"Ha-ha, tidak ada singgung-menyinggung di sini, Adikku!"
Kata Coa Sian Lee.
"Kita berada di antara saudara sendiri. Segalanya perlu dibicarakan secara terbuka dan tidak akan ada yang menyinggung karena semua ucapan keluar dari hati yang jujur. Biarpun So-somu ini puteri kandung Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu, akan tetapi ia sama sekali tidak jahat! Sebaliknya malah, isteriku ini wanita yang paling hebat di dunia ini, paling cantik, paling lembut, paling mulia, paling....."
"Sssssttttt.....'. Di depan orang lain engkau masih mencoba untuk merayuku". bentak Lan Ci. Melihat dan mendengar ini, Han Beng dan Giok Cu tertawa geli seperti juga suami isteri itu. Buyarlah sudah suasana yang tadi dirasakan tidak enak ketika nama Ban-tok Mo-li disebut dan sekarang agaknya menyebut nama itupun tidak akan mendatangkan perasaan tidak enak lagi. Bagaimanapun juga, tetap saja Han Beng merasa sungkan dan tidak tahu bagaimana dia harus menanyakan tempat persembunyian Ban-tok Mo-li kepada Sim Lan Ci tanpa menceritakan tentang semua kejahatan yang telah dilakukan Ban-tok Mo-li terhadap diri Giok Cu! "Nah, sekarang ceritakan semua pengalamanmu sampai engkau dapat memperoleh jodoh yang demikian hebat, Beng-te. Apa saja yang telah terjadi di dunia kang-ouw?"
Tanya Siang Lee dengan sikap gembira.
"Toako, sesungguhnya, sejak kecil dahulu, aku sudah menjadi sahabat Giok Cu. Ketika kecil kami saling berpisah dan baru bertemu setelah dewasa. Ketika kami saling berpisah, aku ikut Suhu Liu Bhok Ki seperti telah kalian tahu, dan ia ikut dengan gurunya, Ban-tok Mo-li....."
Han Beng memandang kepada kakak iparnya. Sim Lan Ci mengangguk-angguk.
"Sekarang aku ingat.Ibu mempunyai murid seorang anak perempuan ketika ia mengusir kami berdua. Jadi engkaukah murid itu, Adik Giok Cu?"
"Benar, So-so. Akan tetapi, lima tahun kemudian, karena..... eh, tidak cocok dengan cara hidup Subo..... maka aku meninggalkannya dan kemudian bahkan.. hemmmmm....."
"Mengapa, Adikku? Lanjutkan ceritamu."
"Tidak enak rasanya, So-so, karena itu adalah Ibumu."
Lan Ci tersenyum.
"Kaukira aku tidak mengenal Ibuku sendiri? Aku sudah tahu siapa Ibuku, siapa Ban-tok Mo-li, oleh karena itu, semua berita tentang kejahatannya tidak akan mengejutkan hatiku lagi, dan tidak akan menyinggung hatiku."
Han Beng berkata.
"Cu-moi, memang tidak ada jalan lain kecuali menceritakan semuanya kepada So-so, baru kita boleh mengharapkan bantuannya. Ceritakanlah semuanya."
Giok Cu mengangguk dan menarik napas panjang.
"Baiklah kalau begitu, So-so, aku terpaksa melarikan diri karena aku akan dibunuh oleh Subo, karena dianggap menentang Thian-te-kauw di mana Subo menjadi anggautanya, bahkan kemudian menjadi ketuanya. Aku ditolong oleh Suhu Hek-bin Hwesio. Kemudian, aku mendapat kenyataan bahwa yang membunuh Ayah dan Ibu kandungku adalah Subo Ban-tok Mo-li sendiri. Kemudian, aku dan Beng-koko menentang Thian-te-kauw dan dengan bantuan pasukan pemerintah, kami berhasil membasminya. Para pimpinannya tertawan.Ketika Subo Ban-tok Mo-li bertanding denganku, aku berhasil merobohkannya. Akan tetapi Beng-koko mengingatkan aku akan kebaikannya yang pernah kuterima, maka aku tidak membunuhnya dan membiarkannya ia ditawan oleh pasukan pemerintah seperti para pimpinan Thian-te-kauw lainnya."
Giok Cu menghentikan ceritanya, merasa lega karena melihat betapa wajah Sim Lan Ci tenang-tenang saja mendengar akan kejahatan yang dilakukan ibu kandungnya itu.
"Sebetulnya, setelah Cu-moi mengampuni dan tidak membunuhnya, dan ia menjadi tawanan pemerintah, sudah tidak ada urusan lagi kami dengan Ban-tok Mo-li. Akan tetapi, sungguh di luar dugaanku, ternyata masih ada satu hal lagi yang amat hebat, bahkan yang menyangkut keselamatan hidup Giok Cu."
Siang Lee dan Lan Ci kelihatan terkejut sekali.
"Hal apakah itu, Beng-te?"
Tanya Siang Lee. Han Beng menarik napas panjang. Tiba gilirannya untuk melanjutkan cerita itu.
"Dalam penyerbuan itu, kami dibantu oleh munculnya Lo-cian-pwe Hek-bin Hwesio dan Suhu Pek I Tojin. Kemudian, setelah Thian-te-kauw dapat dibasmi, kedua orang tua itu menjodohkan kami. Nah, setelah mendengar bahwa ia dijodohkan denganku, maka muncullah hal yang amat memusingkan kami ini, yaitu pengakuan Cu-moi bahwa ia tidak mungkin dapat menikah dengan aku atau dengan siapa pun juga."
"Eh, kenapa?"
Giok Cu cepat menggulung lengan baju yang kiri dan memperlihatkan bintik merah di siku lengan kirinya kepada Lan Ci.
"Karena inilah, So-so."
Suaranya mengandung getaran sedih.
"Itu..... bintik merah tanda keperawanan!"
Kata Sim Lan Ci yang segera mengenal tanda itu.
"Itulah, So-so."
Kata Han Beng.
"Mengapa kami datang kesini. Pertama untuk berkunjung dan memperkenalkan calon isteriku, dan kedua untuk mohon pertolongan So-so. Sebagai puteri Ban-tok Mo-li, kami yakin So-so akan mengetahui pula obat untuk menghilangkan bintik merah itu."
"Bintik merah itu tidak mungkin dapat dihilangkan selamanya!"
Kata Lan Ci sambil mengerutkan alisnya, memandang dan meraba bintik merah di lengan itu.
"Maksud So-so.....?"
Giok Cu terbelalak, terkejut dan heran.
"Selama engkau masih perawan, bintik merah itu tidak akan dapat lenyap atau dihilangkan dengan apa pun. Akan tetapi....."
Lan Ci tersenyum lebar dan kedua pipinya yang putih halus itu berubah kemerahan.
"Tanda itu akan hilang dengan sendirinya pada malam pertama pernikahan kalian, hi-hik."
Akan tetapi Giok Cu tidak tersenyum bahkan nampak berduka.
"Hal itu aku sudah tahu, So-so, dan aku tahu pula bahwa sebulan kemudian setelah menikah aku akan mati dan tidak ada obat yang akan dapat menyelamatkan aku! Karena! itu aku tidak mau menikah dengan Beng-koko. Untuk apa menikah dengan dia kalau sebulan kemudian aku harus meninggalkan dia selamanya dan membuat dia berduka?"
"Ahhh? Aku tidak pernah mendengar akan hal itu! Setahuku, tanda keperawanan itu tidak dapat dilenyapkan, akan tetapi akan lenyap dengan sendirinya pada malam pengantin yang pertama "Subo sendiri yang mengatakan demikian, dan ia adalah seorang ahli racun. Mungkin hal itu ia rahasiakan darimu, So-so."
"Hemmm, aku tidak yakin. Dahulu memang ia ingin memberi tanda itu dilenganku, akan tetapi aku menolaknya. Kalau memang benar akibatnya bukan hanya lenyapnya tanda di malam pengantin, akan tetapi juga membunuh sebulan kemudian, untuk apa dahulu ia ingin memberi tanda itu kepadaku, anaknya sendiri? Tak mungkin ia ingin melihat aku mati setelah sebulan menikah."
"Tentu ia memiliki obat pemurahnya, dan akan memberikan obat itu kepadamu, So-so."
Lan Ci mengerutkan alsinya, mengangguk-angguk.
"Hemmm...... mungkin juga kalau begitu....."
"So-so,"
Kata Han Beng.
"Kalau So-so tidak mempunyai obat pemunahnya, kami ingin mohon sebuah pertolongan lagi kepada So-so, harap So-so tidak menolaknya."
Melihat sikap yang serius dari pemuda itu, Sim Lan Ci menatap wajahnya dengan penuh perhatian.
"Tentu saja, Adikku. Tentu saja aku akan dengan sukahati menolong kalian kalau aku mampu melakukannya!"
"Begini, So-so. Setelah kami dijodohkan oleh dua orang guru kami kemudian aku mendengar pengakuan Giok Cu tentang bintik merah itu, kami segera mencari Ban-tok Mo-li di tempat tahanan. Akan tetapi, malam hari itu juga ia ternyata telah berhasil lolos dari tahanan dan melarikan diri. Kami sudah berusaha melakukan pengejaran dan pencarian jejaknya, namun hasilnya sia-sia belaka. Oleh karena itulah, kami mohon petunjuk So-so. Kemana kiranya kami harus mencari Ban-tok Mo-li, karena mungkin saja So-so mengetahui atau setidaknya dapat menduga kemana ia pergi bersembunyi. Berkata demikian, Han Beng menatap wajah so-sonya dengan penuh perhatian. Juga Giok Cu memandang kepada wanita itu penuh harapan. Sim Lan Ci menolehdan bertukar pandang dengan suaminya. Hanya sebentar, lalu wanita itu memandang Giok Cu.
"Adikku, andaikata aku dapat menunjukkan tempat di mana adanya Ban-tok Mo-li dan engkau pergi menemuinya, lalu apa yang akan kaulakukan?"
"Kami akan minta agar ia suka memberikan obat pemunah untuk melenyapkan bintik merah yang mengancam nyawa calon isteriku!"
Kata Han Beng penuh semangat.
"Andaikata ia tidak mau memberikan, lalu apa yang akan kalian lakukan?"
"Kami akan..... akan....."
Han Beng menghentikan kata-katanya, lalu saling pandang dengan Giok Cu. Gadis itu menggeleng kepalanya dengan senyum sedih, dan ia yang melanjutkan ucapan Han Beng tadi.
"Kami hanya akan mohon pertolongan bekas guruku itu. Ia telah membunuh Ayah Ibuku, bahkan hampir membunuhku, dan sebaliknya ketika aku mengalahkannya, aku tidak membunuhnya. Mungkin saja ia akan memberikan obat pemunah itu. Akan tetapi andaikata ia berkeras tidak mau, kami pun tidak akan dapat berbuat apa-apa. Semoga Thian mengampuni semua dosanya!"
Giok Cu merangkap kedua tangan di dada, teringat akan nasihat yang seringkali diberikan Hek-bin Hwesio kepadanya.
"Benar kata Giok Cu,"
Sambung Han Beng.
"Kalau memang Thian menghendaki demikian, kami tidak akan menikah, akan hidup bersama seperti kakak adik, tak terpisahkan lagi sampai mati. Kami berdua tidak akan menikah dengan orang lain. Itu merupakan sumpah batin kami berdua!"
Suami isteri itu memandang dengan hati terharu sekali. Sepasang mata Sim Lan Ci menjadi basah air mata.
"Adik-adikku yang budiman, aku percaya kepada kalian. Dan andaikata kalian terlupa dan sampai membunuh Ibuku sekalipun, aku tidak akan menyesal karena memang apa yang telah dilakukan Ibuku terhadap Adik Giok Cu sudah melewati batas. Nah, Adik-adikku, tak jauh dari sini terdapat nikouw yang tinggal di kuil. Mari kuantar kalian."
Sim Lan Ci bangkit berdiri.
"Aku juga ikut."
Kata pula Coa Siang Lee. Mereka berempat lalu keluar dari rumah itu. Lan Ci mencari puteranya, akan tetapi anak itu tidaknampak di luar.
"Tentu dia bermain di rumah tetangga."
Kata Siang Lee.
Karena menghadapi urusan penting, mereka lalu pergi mendaki bukit yang berada di luar dusun itu.
Dari bawah bukit sudah nampak tembok kuil itu.
Tak lama kemudian, tibalah mereka di kuil itu, disambut oleh seorang nikouw muda.
"Beritahukan kepada Lo-nikouw yang bertapa di ruangan belakang bahwa kami ingin datang berkunjung,"
Kata Lan Ci. Tanpa menjawab, nikouw itu hanya mengangguk, memberi hormat dengan membungkuk lalu pergi ke dalam kuil. Tak lama kemudian ia kembali sikapnya yang lembut dan hormat.
"Lo-subo (Ibu Guru Tua) mempersilakan Cu-wi (Anda Sekalian) masuk saja. Beliau sedang berada di taman belakang."
Dengan jantung berdebar Giok Cu dan Han Beng mengikuti suami isteri itu yang agaknya sudah mengenal baik tempat itu.
Mereka memasuki taman dan melihat seorang nikouw tua duduk diatas bangku, memangku seorang anak kecil laki-laki.
"Thian Ki! Engkau sudah berada disini?"
Seru Coa Siang Lee. Anak itu melompat turun dari atas pangkuan nikouw tua, lalu berlari menghampiri ayah ibunya.
"Habis, Ayah dan Ibu tidak memperkenankan aku masuk menemui tamu, maka aku lari ke sini untuk bermain dengan Bo-bo (Nenek)!"
"Mari kita keluar, Thian Ki. Biarkan Nenek bicara dengan Paman dan Bibi.' kata Siang Lee sambil memondong anaknya. Isterinya juga ikut keluar setelah mengangguk ke arah nikouw tua itu yang masih duduk dengan sikap tenang sekali. Kini tinggal mereka bertiga di situ, di taman yang sunyi. Han Beng dan Giok Cu berdiri di depan nikouw tua yang masih duduk di atas bangku. Seorang pendeta wanita gundul yang berwajah cantik dan masih nampak manis walaupun usianya sudah mendekati enam puluh tahun! Dan sekali pandang, Han Beng dan Giok Cu mengenal wajah itu. Wajah Ban-tok Mo-li tanpa bedak dan gincu! Sungguh menggelikan, juga mengherankan melihat tokoh sesat yang baru saja menjadi ketua Thian-te-pang, kini tiba-tiba saja telah menjadi seorang pendeta wanita yang gundul, dengan sikap demikian tenang dan lembut, seolah-olah serigala itu kini benar-benar telah berubah menjadi domba! "Ban-tok Mo-li.....!"
Hampir berbareng Han Beng dan Giok Cu menyebut nama itu. Nikouw itu tersenyum dan merangkap kedua tangan di depan dadanya.
"Omitohud....., akhirnya kalian dapat juga menemukan pin-ni (aku). Kalau Tuhan sudah menghendaki, pin-ni juga tidak akan menghindar lagi. Akan tetapi jangan kalian memaksa pin-ni untuk menjadi orang tahanan karena hal itu akan mencemarkan agama. Kalau kalian ingin membunuh pin-ni, nah, lakukanlah. Pin-ni tidak akan melawan, bahkan akan menerimanya dengan gembira sebagai penebusan sebagian daridosa pin-ni yang lalu."
Giok Cu melangkah maju dan mem-beri hormat.
"Subo....."
"Giok Cu, engkau masih suka menyebut pin-ni dengan sebutan itu?"
Nikouw tua itu tersenyum, wajahnya membayangkan kelembutan hati.
"Tee-cu (Murid) tidak mau menyebut Ban-tok Mo-Ii sebagai guru, akan tetapi Su-bo adalah seorang nikouw yang telah menginsafi dosa dan hendak menebusnya dengan kehidupan yang saleh. Subo, kedatangan teecu ini hanya untuk mohon pertolongan Subo....."
Wajah itu berseri dan nampaknya gembira bukan main.
"Bagus, makin banyak yang dapat kulakukan untuk menolongrnu, makin baik, Giok Cu, karena hal itu pun berarti akan meringankan dosa-dosaku! Nah, katakanlah, apa yang dapat pin-ni lakukan untukmu?"
Giok Cu menyingsingkan lengan bajunya dan memperlihatkan bintik merah itu kepada Ban-tok Mo-li yang kini dikenal dengan sebutan Lo Nikouw saja "Subo, tee-cu hanya mohon agar Subo suka memberi obat pemunah untuk bintik merah ini."
Nikouw itu memandang ke arah bintik merah itu, kemudian kepada wajah Giok Cu dan ia menahan ketawanya, tersenyum lebar dan seperti orang yang merasa geli hati.
"Ehhh? Kenapa? Itu tanda keperawananmu. Kalau engkau menikah akan hilang sendiri!"
"Memang kami hendak menikah, Su-bo. Mohon doa restu Subo,"
Kata Giok Cu.
"Omitohud.....! Kiong-hi, kiong-hi, semoga Tuhan memberkahi kalian dengan keturunan yang baik seperti Cucuku Thian Ki!"
"Tapi Subo. Bagaimana mungkin tee-cu mendapatkan keturunan kalau setelah menikah, dalam waktu sebulan teecu akan mati karena racun di lengan ini?"
"Omitohud! Siapa yang bilang begitu?"
"Subo sendiri! Dahulu ketika teecu berusia sepuluh tahun dan Subo menusukkan jarum sehingga timbul bintik merah ini, Subo mengatakan bahwa kalau keperawanan teecu hilang, maka bintik merah ini akan lenyap pula, akan tetapi akibatnya sebulan kemudian teecu akan mati dan tidak ada obat yang akan mampu menolong teecu."
"Omitohud.....semoga Sang Buddha mengampuni hambanya....."
Nikouw tua itu menutupi mulut dengan lengan bajunya yang lebar untuk menyembunyikan tawanya.
Ia nampaknya geli sekali.
kemudian, setelah tawanya yang disembunyikan itu mereda, ia memandang pada Giok Cu dengan sinar mata lembut.
"Muridku, anak yang baik. Maafkanlah. Dosa pin-ni memang bertumpuk-tumpuk. Apa yang pin-ni katakan dahulu semuanya bohong belaka. Pin-ni memberimu tanda merah dan mengancam dengan kematian itu karena pin-ni merasa kecewa dengan perginya Suci-mu Sim Lan Ci yang menjadi isteri Coa Siang Lee. Pin-ni tidak ingin kehilangan engkau, maka pin-ni sengaja memberi tanda keperawanan itu dengan ancaman agar engkau tidak berani menikah sebelum ada ijin dari pin-ni. Memang pi-ni jahat sekali, Giok Cu. Pin-ni menyesal sekali. Akan tetapi, mengenai ancaman kematian pada tanda keperawanan itu pin-ni hanya berbohong. Kalau engkau ingin menikah, lakukanlah dengan restu pin-ni, dan jangan khawatir. Engkau tidak akan kehilangan nyawa, hanya akan kehilangan tanda bintik merah saja!"
Bukan main lega dan girangnya rasa hati dua orang muda itu.
Mereka percaya kepada keterangan ini, pertama karena tadi pun Sim Lan Ci sudah berkata demikian, dan kedua karena setelah kini Ban-tok Mo-li menjadi nikouw, sikap dan kata-katanya sangat menyakinkan.
Betapapun juga, ketika Giok Cu menatap wajah bekas gurunya itu, nenek itu melihat keraguan di pandangan mata bekas muridnya.
"Omitohud..... engkau masih ragu, Giok Cu? Apa gunanya pin-ni menggunduli rambut dan menjadi nikouw, kalau pin-ni masih suka berbohong? Tenangkan hatimu dan menikahlah kalian!"
Nikouw itu lalu merangkap kedua tangan, mulutnya berkemak-kemik membaca doa lalu meningalkan mereka yang memberi hormat dengan membungkuk.
Setelah nikouw itu memasuki kuil dari pintu belakang, Han Beng merangkul kekasihnya.
Giok Cu juga merangkulnya.
Keduanya tidak berkata apa-apa, akan tetapi suatu kebahagiaan dan kelegaan menyusup ke dalam jantung mereka.
Ketika mereka menceritakan hal itu kepada Siang Lee dan Lan Ci, suami isteri ini merasa bergembira sekali.
"Siauw-te (Adik), keluargamu hanya kami, maka kami yang wajib merayakan pernikahan kalian."
"Aih, Toako, kami hanya membikin repot saja.....!"
Bantah Han Beng.
"Tidak! Engkau harus menerimanya Beng-te. Ingat, bukankah aku ini Kakakmu, pengganti orang tuamu? Engkau harus taat!"
Kata Siang Lee.
"Dan engkau juga Sumoiku, Adik Giok Cu. Engkaupun sepatutnya mentaati permintaanku, yaitu kalian harus melaksanakan pernikahan di sini, dan kami yang akan merayakannya1"
Kata pula Sim Lan Ci.
Tentu saja Giok Cu dan Han Beng merasa gembira bukan main.Karena suami isteri itu mendesak agar pernikahan segera dilangsungkan, maka mereka tidak sempat lagi untuk memberi kabar kepada Pek I Tojin dan Hek-bin Hwesio yang merantau ke Gunung Thai-san.
Mereka mengambil keputusan untuk kelak saja setelah menikah mencari guru-guru mereka untuk memberitahu dan mohon doa restu mereka.
Pernikahan dilangsungkan dengan sederhana di dusun tempat tinggal Coa Siang Lee, namun cukup meriah walaupun hanya dihadiri para tetangga.
Biarpun hanya sederhana, namun sebentar saja dunia kang-ouw sudah mendengar belaka berita itu, bahwa Huang-hoSin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning) telah menikah dengan pendekar wanita Bu Giok Cu yang namanya mulai dikenali *** Han Beng dan Giok Cu merasa berbahagia sekali ketika melihat bahwa tanda bintik merah di bawah siku lengan kiri Giok Cu benar-benar lenyap setelah malam pengantin pertama.
Mereka hidup penuh kemesraan, dan Coa Siang Lee dengan isterinya sengaja menyewakan sebuah rumah mungil untuk mereka berdua agar mereka dapat berpengantinan.tanpa ada gangguan.
Sepasang pengantin itu sudah yakin akan kebenaran keterangan Lo Nikouw maka mereka tidak pernah merasa was-was.
Bahkan setelah batas waktu satu bulan itu makin mendekat, mereka sama sekali tidak mempedulikan, sama sekali tidak merasa khawatir.
Dan memang, ternyata setelah lewat sebulan, tidak pernah terjadi apa-apa!
Kesehatan Giok Cu sama sekali tidak terganggu, bahkan!
ia nampak segar dan sehat, dengan kedua pipi kemerahan dan wajah yang mengeluarkan cahaya berseri, bagaikan setangkai bunga yang sedang mekar-mekarnya!
Akan tetapi, ketika sebulan lewat beberapa hari, Giok Cu mulai merasakan suatu kelainan, la sering merasa pening!
Ketika ia memberitahukan hal ini kepada suaminya, tentu saja Han Beng menjadi pucat pasi.
Jangan-jangan ancaman itu sedang berlangsung sekarang!
Makin hari, keadaan Giok Cu semakin gawat.
Bukan saja ia merasa pening bahkan seringkali merasa mual dan muntah-muntah!
Tentu saja Han Beng menjadi semakin bingung.
Akhirnya, mereka yang tadinya masih segan dan rikuh untuk memberitahu kepada Sim Lan Ci karena khawatir kalau wanita itu tersinggung, tidak peduli lagi dan mereka pergi ke rumah Siang Lee.
Mereka tidak dapat menahan lagi kekhawatiran hati mereka karena kini sudah dua hari Giok Cu tidak suka makan, setiap kali dicobanya makan selalu muntah.
Itu tanda keracunan!
Siang Lee dan Lan Ci menyambut mereka dengan heran karena wajah pengantin baru itu tampak tegang dan cemas.
Padahal mereka baru hampir dua bulan menjadi pengantin.
Begitu bertemu dengan Lan Ci, Giok Cu langsung merangkulnya dan menangis.
"Eiiittt..... ada apa ini? Apakah kalian yang baru menikah dua bulan sudah bertengkar? Terlalui"
Lan Ci mengomel. Akan tetapi Giok Cu yang merangkulnya menggeleng kepala dan terus menangis.
"Sssssttt..... Beng-te. Ada apakah isterimu itu?"
Siang Lee mendekati Han Beng dan berbisik. Dengan wajah penuh kegelisahan, Han Beng menjawab.
"Celaka, Toako. Agaknya ancaman itu bukan bohong belaka Isteriku.....Giok Cu..... selama beberapa hari ini memperlihatkan gejala yang amat mengkhawatirkan..... pusing, mual dan muntah, tanda-tanda keracunan....." .
"Ehhhhh?"
Siang Lee memandang kepada isterinya yang masih ditangisi Giok Cu. Lan Ci juga mendengar laporan Han Beng tadi, dan ia berkata kepada suaminya.
"Cepat sana, panggil Cui-ma! Cepat!"
"Baik.....!"
Kata Siang Lee dan ia pun cepat lari keluar. Han Beng mendekati Lan Ci.
"So-so, bagaimana ini? Isteriku....."
"Tenanglah, Kakakmu sedang mengundang Cui-ma."
"Siapa itu Cui-ma (Ibu Ma)?"
"la tabib yang paling pandai untuk mengobati penyakit keracunan macam ini."
Kata Lan Ci sambil menahan senyum.
Han Beng mengerutkan alisnya.
Kenapa kini sikap Lan Ci demikian?
Seperti main-main, seolah gembira melihat ancaman maut atas diri Giok Cu!
Jangan-jangan puteri Ban-tok Mo-li ini.....!
Ah, hampir dia menampar muka sendiri ketika merasa betapa gilanya pikiran jahat timbul.
Pada saat itu, Siang Lee sudah kembali sambil menarik lengan seorang nenek yang usianya sudah ada tujuh puluh tahun, kurus akan tetapi masih gesit.
Nenek itu tertawa-tawa dengan mulut yang tak bergigi agi.
"Hayaaa..... apa-apaan ini orang tua diseret-seret? Siapa yang harus kuperiksa?"
"Ini, Cui-ma. Pengantin baru ini yang sakit. Cepat periksa di kamarku!"
Lan Ci merangkul Giok Cu, diajak masuk ke dalam kamar, diikuti nenek itu yang jalannya terpincang-pincang.
Han Beng mengerutkan alisnya.
Nenek itu sama sekali tidak meyakinkan sebagai seorang tabib ampuh!
Dia menunggu di luar kamar, duduk di kursi dengan alis berkerut.
Dia berterima kasih kepada Siang Lee yang tidak mengajaknya bicara karena dia enggan bicara pada saat menegangkan seperti itu.
Tak lama kemudian, terdengar suara Lan Ci tertawa dan ia nampak keluar bersama Giok Cu, diikuti pula oleh nenek itu.
"Bagaimana? Bagaimana keadaannya? Parahkan?"
Tanya Han Beng sambil meloncat berdiri dan memegang lengan isterinya.
"Parah!"
Kata Lan Ci yang tertawa-tawa.
"Memang benar Giok Cu telah keracunan! Keracunan cinta sehingga ia mengandung sebulan lebih!"
"Meng..... mengandung.....??!"
Han Beng berteriak dan mendengar teriakan suaminya, Giok Cu mengangkat muka.
Mereka saling pandang, lalu mereka mengeluarkan suara setengah menangis setengah tertawa, dan mereka saling rangkul dalam pelukan yang ketat.
Mereka berciuman di depan Siang Lee, Lan Ci,!
Baca Juga: Istana Pulau Es 7
Baca Juga: Pendekar Bodoh 10