Ceritasilat Novel Online

Rajawali Lembah Huai 2

Eps 2 Rajawali Lembah Huai - Kho Ping Hoo

Baca online Rajawali Lembah Huai - Kho Ping Hoo

Cersil Rajawali Lembah Huai - Kho Ping Hoo.

Setelah semua tukang pukul berikut keluarga mereka pergi meninggalkan dusun Cang-cin, Cu Goan Ciang dan sutenya mengajak Lurah Koa dan kedua orang puteranya masuk dan bercakap-cakap di ruangan dalam.

Setelah mereka berlima duduk mengelilingi meja besar dan air teh, Goan Ciang memandang kepada ayah dan dua orang anak itu dengan sinar mata tajam, kemudian dia bertanya.

"Nah, sekarang Koa-cungcu (Lurah Koa) dan ji-wi kong-cu (kedua tuan muda), pandanglah aku baik-baik dan coba ingat, apakah kalian bertiga tidak lagi mengenal aku?"

Ayah dan kedua orang anaknya itu terkejut dan terheran mendengar ucapan Cu Goan Ciang yang mengubah sikapnya itu.

Namun, mereka tetap tidak dapat mengingat siapa pemuda ini sesungguhnya, sementara itu, Shu Ta hanya tersenyum dan minum tehnya, hanya menjadi penonton saja.

Goan Ciang memandang kepada kakak beradik Koa yang kini telah menjadi dua orang pemuda yang gagah itu.

"Koa Hok dan Koa Sek, lupakah kalian ketika kalian mengeroyok aku di luar dusun dahulu itu, ketika aku sedang menggembala ternak milik ayah kalian?"

Dua orang pemuda itu mengamati wajah Goan Ciang, kemudian mereka saling pandang dan kejutan pada pandang mata mereka menandakan bahwa mereka mulai dapat mengingat dan mengenal siapa pemuda tinggi tegap yang duduk di depan mereka itu.

"Kau... Siauw... Siauw Cu...?"

Kata mereka hampir berbareng.

Goan Ciang mengangguk sambil tersenyum, dan Lurah Koa yang tadinya tidak percaya mendengar seruan dua orang puteranya, kini baru tahu bahwa memang benar pemuda ini adalah Siauw Cu.

"Siauw Cu...! Kau... kau berani..."

Akan tetapi dia menghentikan kemarahannya ketika bertemu pandang dengan mata Goan Ciang.

"Lurah Koa, sepatutnya aku harus menghukum engkau dan dua orang puteramu, akan tetapi mengingat bahwa engkau pernah pula berbuat baik kepadaku dan kepada orang-orang di sini, maka aku mengambil keputusan untuk memaafkanmu asal kalian dapat mengubah cara hidup yang sesat ini. Engkau sebagai lurah dusun ini terlalu mabok akan kekuasaan dan kesenangan sendiri, tidak perduli akan kesengsaraan rakyat penghuni dusun. Mereka sudah diperas dengan pinjaman berbunga oleh hartawan Ji, dirampas sawah ladang mereka sebagai pembayaran hutang, akan tetapi bukan saja engkau tidak perduli, bahkan engkau membebani mereka dengan pajak paksaan yang besar, demi memperbesar kekayaanmu. Engkau dan hartawan Ji berdua telah memeras dan menghisap darah penghuni dusun, seperti dua ekor lintah gemuk, seperti dua ekor serigala buas."

"Tapi... tapi... Siauw Cu. Bukankah aku yang menolongmu ketika ibumu meninggal dunia, memberimu peti mati dan memberimu pekerjaan dan..."

"Engkau memberi peti mati hanya karena ingin kubalas dengan tenagaku yang bekerja menggembala ternakmu. Mengapa tidak kautolong ketika keluarga ayahku dilanda kebinasaan karena kelaparan? Engkau sebagai kepala dusun tidak bertanggung jawab! Dan tahukah engkau kenapa kedua orang puteramu ini menggeletak pingsan di luar dusun itu?"

"Kata mereka... karena kaupukuli..."

"Bagus! Mereka sejak kecil belajar silat dan aku tidak boleh dekat, bagaimana mungkin aku berani memukuli mereka? Ketahuilah, karena aku lebih cepat dapat menguasai ilmu silat, mereka membenciku dan ketika aku menggembala, mereka menghadangku dan merekalah yang memukuli aku. Aku melawan dan mereka roboh pingsan. Dan engkau mengirim tukang-tukang pukulmu untuk mencari aku, dan andai kata aku dapat ditemukan dan ditangkap, tentu engkau akan menyuruh tukang-tukang pukulmu untuk menyiksa dan membunuhku."

"Ah, tidak... Siauw Cu..."

"Sudahlah, akupun tahu akan segala yang kaulakukan melalui tukang-tukang pukulmu. Akan tetapi aku bukan datang untuk membalas dendam. Aku hanya ingin agar semua penindasan terhadap penghuni dusun ini dihentikan!"

"Siauw Cu, maafkan kami,"

Kata pula Koa Hok, diikuti oleh adiknya, Koa Sek.

"Bagus, kalian minta maaf, berarti kalian menyadari akan kesalahan kalian. Kalian, adalah pemuda-pemuda, jangan mengikuti jejak ayahmu yang kotor, bahkan kewajiban kalian untuk mengingatkan ayah kalian. Sekarang, semua tukang pukul sudah kita usir. Selanjutnya, semua sawah ladang yang pernah kau sita, harus dikembalikan kepada pemiliknya semula. Dan mengenai pajak, memang sudah semestinya penghuni dusun yang berpenghasilan, dikenakan pajak untuk membangun dusun, akan tetapi jangan sekali-kali menekan dan sewenang-wenang. Kalau semua ini tidak segera dilaksanakan sekarang juga, kami berduapun tidak dapat bersikap lunak."

"Baiklah... akan kulaksanakan kehendakmu, Siauw Cu,"

Kata Lurah Koa.

"Lurah Koa, aku bukan anak kecil Siauw Cu lagi, namaku Cu Goan Ciang. Tidak enak dipanggil Siauw Cu seolah aku masih seorang kanak-kanak. Nah, aku percaya bahwa engkau akan bertindak jujur dan benar-benar hendak bertaubat. Oleh karena itu, pelaksanaan pengembalian tanah sawah kepada para pemiliknya semula, kuserahkan kepada kakak beradik Koa!"

"Suheng, mereka ini sudah terbiasa bertindak curang, bagaimana kalau pelaksanaan itu tidak berjalan dengan seadilnya dan mereka menipu para petani?"

Tiba-tiba Shu Ta berkata.

"Tidak, sute. Mereka adalah dua orang pemuda yang tentu saja akan berani mengubah sikap dan tindakan masa lalu yang keliru, dan memulai dengan kehidupan baru yang sesuai dengan keadaan mereka. Pemuda-pemuda yang sudah mempelajari ilmu silat yang cukup baik, sudah sepatutnya menjadi orang-orang gagah perkasa berwatak pendekar, tidak pantas menjadi penjahat yang curang dan kejam!"

Kata Cu Goan Ciang sambil memberi isarat dengan pandang matanya kepada Shu Ta.

Diam-diam Shu Ta kagum kepada suhengnya.

Suhengnya ini, ternyata pandai bersiasat untuk membangunkan semangat orang, untuk memberi harapan kepada orang agar dapat hidup lebih baik dan bermanfaat!

Perhitungan Goan Ciang memang tepat sekali dengan penyerahan tugas itu kepada dua orang pemuda Koa itu.

Dua orang pemuda itu, yang tadinya dengan munculnya Siauw Cu merasa amat terpukul dan terbanting, merasa tidak berarti, kini mendapatkan kembali kepercayaan diri mereka, merasa diri penting.

Bahkan merekalah yang menghapus keraguan ayah mereka yang tidak rela mengembalikan sawah ladang kepada penghuni dusun.

Mereka berdua segera membuat daftar, dan membuat pengumuman, memanggil para penghuni dusun yang bersangkutan dan mengembalikan hak milik atas sawah ladang yang dahulu disita oleh kepala dusun dari mereka sebagai pembayar hutang dan pajak.

Gegerlah seluruh dusun!

Dan mereka tahu bahwa semua ini berkat pembelaan Siauw Cu.

Mereka bersyukur sekali dan memuji-muji Siauw Cu sebagai dewa penolong.

Akan tetapi masih banyak di antara mereka yang masih merasa sengsara karena tertimbun hutang mereka kepada hartawan Ji yang kini bahkan memaksa mereka membayar hutang dengan tenaga mereka sebagai buruh tani tanpa bayar, hanya sekedar diberi makan!

Juga mereka yang dahulu terpaksa membayar hutang mereka berikut bunganya kepada hartawan Ji dengan menyerahkan sawah ladang, kini masih belum mendapatkan kembali tanah mereka seperti para penghuni yang menerima kembali tanah mereka dari Lurah Koa.

"Hidup Cu-taihiap (pendekar Cu)!"

Terdengar seruan orang-orang di dusun itu.

Kehidupan di hari itu seperti dalam suasana pesta, kecuali mereka yang masih tertindas oleh kekuasaan Ji wan-gwe.

Dengan hati gembira Goan Ciang dan Shu Ta menyaksikan pengembalian tanah yang diatur oleh kedua orang kakak beradik Koa, sedangkan Lurah Koa yang tidak berdaya ternyata jatuh sakit!

Dia tinggal di kamarnya saja, namun dia sudah benar-benar menyerah, bahkan diam-diam dia menyesali semua sikap dan prilakunya selama ini.

Dia terlalu gila kekuasaan, terlalu mabok kemewahan dan juga dengan kekuasaannya dia mengumbar kesenangannya akan wanita cantik, melakukan pemaksaan dan merampas anak isteri orang!

Diam-diam diapun merasa terhibur dan timbul harapannya melihat sikap dua orang puteranya yang memenuhi permintaan Goan Ciang dengan rela dan sepenuh hati.

Mudah-mudahan mereka tidak seperti aku, pikirnya, agar kelak tidak harus memetik buahnya yang pahit seperti aku.

Ketika Goan Ciang dan Shu Ta sedang menyaksikan pengembalian tanah yang dilakukan dua orang kakak beradik Koa, tiba-tiba datang beberapa orang dusun berlari-larian menghampiri Cu Goan Ciang.

Wajah mereka pucat dan napas mereka terengah, nampaknya mereka ketakutan sekali.

"Cu-taihiap... celaka... sungguh celaka..."

Teriak mereka setelah tiba dekat. Cu Goan Ciang dengan sikap tenang bertanya.

"Harap paman sekalian tenang. Apakah yang terjadi maka paman kelihatan begitu ketakutan?"

Shu Ta juga ingin tahu, demikian pula Koa Hok dan Koa Sek. Seorang di antara orang-orang yang datang berlarian itu, mewakili teman-temannya dan berkata.

"Hartawan Ji... dia... dia mendatangkan lagi semua jagoan bekas anak buah Lurah Koa yang telah diusir keluar dusun. Berbondong-bondong mereka datang dengan lagak sombong, di sepanjang jalan menendangi penghuni yang menonton di sepanjang jalan dan kini mereka semua memasuki perumahan hartawan Ji."

Cu Goan Ciang mengerutkan alisnya dan Shu Ta menggeleng-geleng kepalanya.

"Suheng, jelas ini sebuah tantangan. Agaknya kita harus membersihkan penyakit kedua di dusun ini, hartawan Ji!"

Cu Goan Ciang mengangguk.

"Agaknya demikian, sute. Akan tetapi kita harus mendidik penduduk agar dapat membela diri terhadap penindasan penjahat. Koa Hok dan Koa Sek, kalian dengar laporan mereka tadi?"

Dua orang kakak beradik Koa itu mengangguk.

"Kalau kalian sudah mendengar, lalu apa yang akan kalian lakukan?"

Tanya pula Goan Ciang. Kakak beradik itu saling pandang, tertegun lalu memandang kembali kepada Goan Ciang.

"Apa yang dapat kami lakukan?"

Koa Hok balas bertanya.

"Kami tidak dapat berbuat apa-apa."

"Hemm, jawaban macam apa itu? Kalian adalah putera-putera lurah di dusun ini yang berkewajiban untuk mengatur dan menenteramkan dusun ini! Juga kalian adalah dua orang pemuda yang sudah susah-payah mempelajari ilmu silat dan telah memiliki ilmu kepandaian yang cukup untuk membuat kalian menjadi orang-orang gagah. Dan kini, melihat di dusun ini terancam penindasan hartawan Ji yang mengumpulkan banyak penjahat sebagai anak buah, kalian mengatakan tidak dapat berbuat apa-apa? Kalian harus bangkit dan menghadapi ancaman bahaya bagi dusun itu, kalian harus menentangnya dan menghalau para penjahat dari dusun ini!"

"Maksudmu... kami harus melawan paman Ji?"

Ketika Goan Ciang mengangguk, Koa Sek yang berseru kaget.

"Tapi itu tidak mungkin. Paman Ji adalah sahabat baik ayah dan kedua, mungkin dia akan menjadi ayah mertua seorang di antara kami, ke tiga, puterinya itupun adalah sumoi (adik seperguruan) kami! Dan ke empat, kami hanya berdua, bagaimanan mungkin menentang anak buah paman Ji yang banyak apa lagi sekarang ditambah dengan bekas anak buah ayah?"

Cu Goan Ciang memandang tajam kepada kakak beradik itu, dan sementara itu, di situ sudah berkumpul banyak sekali penduduk dusun yang ketakutan mendengar berita bahwa semua tukang pukul Lurah Koa kini telah dipanggil oleh hartawan Ji.

Kemudian Cu Goan Ciang berkata dengan suara lantang dan pandang mata tajam.

"Koa Hok dan Koa Sek, dengar baik-baik, kujawab satu demi satu alasanmu tadi. Pertama, kini hartawan Ji bukan lagi sahabat ayah kalian yang telah sadar, bukan lagi sekutu hartawan Ji dalam memeras penghuni dusun. Ke dua dan ke tiga, seorang gagah selalu bertugas untuk mempertahankan kebenaran dan keadilan, meluruskan yang bengkok dan membela yang lurus tidak perduli calon mertua, tidak perduli sumoi sendiri, kalau tidak benar haruslah dihadapi sebagai lawan. Yang dimusuhi bukanlah orangnya melainkan perbuatannya. Membela yang melakukan kejahatan, sama saja dengan kita sendiri membantu kejahatan itu. Alangkah akan baiknya kalau kalian dapat menyadarkan hartawan Ji seperti halnya ayah kalian. Kemudian ke empat, untuk membela kebenaran dan keadilan, kenapa kalian harus takut menghadapi puluhan orang anak buah hartawan Ji? Tengoklah, bukankah semua saudara kita di dusun ini akan siap membantu kalian?"

Cu Goan Ciang lalu menghadapi para penghuni dusun yang berkumpul di situ, melihat dan mendengarkan.

"Saudara-saudara sekalian, kalau kakak beradik Koa bangkit melawan anak buah hartawan Ji, apakah kalian berani membantu mereka demi keselamatan dusun kita dari penindasan?"

Serentak semua orang berteriak-teriak.

"Berani! Berani!"

Cu Goan Ciang tersenyum.

"Nah, mereka berani. Apakah kalian tidak berani, Koa Hok dan Koa Sek?"

Kakak beradik itu saling pandang, lalu sama-sama tersenyum.

"Tentu saja kami berani!"

Shu Ta bertepuk tangan.

"Bagus! Mari kita hajar mereka!"

Ketika semua penduduk menyambut ajakan Shu Ta itu dengan sorak-sorai, Cu Goan Ciang mengangkat kedua tangan ke atas minta perhatian dan semua orang berdiam diri, memperhatikan.

"Saudara sekalian! Mulai sekarang, kalian sebagai warga dusun haruslah taat kepada Lurah Koa yang telah menyadari kekeliruannya di masa lampau. Dia diwakili oleh dua orang puteranya yang gagah. Ingat, ketaatan kalian adalah demi menjaga keamanan dusun kita sendiri. Kalau kalian, di bawah pimpinan dua saudara Koa, bersatu padu, kiranya tidak mungkin ada gerombolan penjahat berani mengusik dusun kita, tidak ada yang berani melakukan penindasan kepada kalian. Akan tetapi ingat, kalian menghadapi perampok, haruslah bersikap benar dan menentang kejahatan. Jangan lalu kalian membalas dengan jalan merampok pula sehingga tidak tahu lagi kita bedanya antara kalian dan para perampok. Dan ingat pula, bukan maksudku mengajak kalian menjadi pembunuh kejam. Kita hajar mereka, agar mereka bertaubat. Kita hajar kekuasaan sewenang-wenang dari hartawan Ji, bukan hendak mencelakai dia dan keluarganya. Mengerti?"

"Mengerti!"

Teriak para penghuni dusun.

Kalau mereka mendapatkan kembali tanah mereka, tidak lagi ditindas dan dapat hidup aman dan tenteram di dusun mereka sendiri, hal itu sudah cukup, lebih dari pada baik.

Tentu saja mereka tidak mempunyai keinginan sedikitpun untuk membalas dengan jalan merampok dan membunuh.

Mereka bukan orang-orang jahat.

"Saudara sekalian, sekarang harap kalian mempersenjatai diri, bukan dengan senjata tajam, melainkan alat-alat pemukul saja dari kayu, atau tongkat, apa saja yang dapat kita pakai untuk melawan, akan tetapi bukan untuk membunuh!"

Terdengar Koa Hok berteriak lantang, membuat Goan Ciang dan Shu Ta saling pandang dan tersenyum girang. Para penghuni itu bersorak dan segera mereka berlari ke sana-sini untuk mencari alat pemukul.

"Bagus, dengan semangat kalian, aku yang kalian akan menang,"

Kata Goan Ciang kepada kakak beradik itu.

"Terima kasih, Goan Ciang. Akan tetapi kami membutuhkan bantuan engkau dan sutemu,"

Kata Koa Sek.

Tiba-tiba suasana menjadi tegang ketika nampak berkelebat sesosok bayangan dan di situ telah berdiri seorang gadis yang bukan lain adalah Ji Kui Hwa!

Gadis ini berdiri tegak dengan wajah marah, sepasang matanya bersinar dan mulut yang manis itu kini cemberut.

"Sumoi...!!"

Koa Hok dan Koa Sek berseru hampir berbareng. Dalam suara mereka saja sudah diketahui bahwa kakak beradik ini sayang kepada sumoi mereka.

"Hok-suheng dan Sek-suheng, aku datang bukan untuk berurusan dengan kalian, melainkan dengan orang yang bernama Siauw Cu! Yang mana dia?"

Ucapan itu terdengar ketus dan mata yang indah tajam itu mengamati Goan Ciang dan Shu Ta. Goan Ciang melangkah maju menghadapi gadis itu.

"Akulah yang dipanggil Siauw Cu, nona."

Sepasang mata itu berkilat dan mulut yang indah bentuknya itu tersenyum mengejek.

"Bagus jadi engkau yang bernama Siauw Cu, si sombong! Engkau dahulu adalah seorang anak dusun ini, akan tetapi setelah minggat, kini engkau kembali ke sini, mengandalkan kepandaian untuk mengacau! Jangan dikira bahwa semua orang takut padamu. Aku Ji Kui Hwa tidak takut!"

"Sumoi... tunggu dulu...!"

Seru Koa Sek sambil mendekati sumoinya. Akan tetapi, kibasan tangan gadis itu membuat dia terpaksa mundur.

"Sek-suheng, jangan mencampuri urusanku dengan si sombong ini! Aku bahkan merasa heran mengapa engkau akrab dengan pengkhianat ini!"

"Nona, apa sebabnya engkau mengatakan aku sombong, pengacau dan bahkan pengkhianat?"

Goan Ciang bertanya penasaran. Kui Hwa berdiri tegak dan kedua tangannya bertolak pinggang sehingga seolah ia hendak mengukur pinggangnya yang ramping itu dengan jari kedua tangannya.

"Hemm, engkau masih bertanya? Engkau telah ditolong oleh Lurah Koa, sehingga selain jenazah ibumu dapat dikubur selayaknya, juga engkau diberi pekerjaan menggembala ternak. Engkau diberi makan dan pakaian secukupnya. Akan tetapi apa yang kaulakukan sebagai balas budi? Engkau memukuli kedua suhengku ini sampai pingsan, lalu engkau melarikan diri, minggat tidak berani mempertanggung jawabkan perbuatanmu. Setelah bertahun menghilang, kini engkau kembali dan engkau membalas budi paman Lurah Koa dengan menghinanya, bahkan membubarkan pasukannya dan membuat kekacauan di dusun ini!"

"Sumoi, nanti dulu!"

Kini Koa Hok yang berteriak dan di meloncat ke depan gadis itu, menghalangi gadis itu menentang Goan Ciang.

"Engkau mendapatkan keterangan yang keliru! Memang Goan Ciang memukuli kami berdua sampai pingsan, akan tetapi itu kesalahan kami berdua. Kami merasa iri karena kalah pandai darinya, maka kami sengaja menghadangnya dan kami yang memukulinya untuk melampiaskan penasaran dan iri. Dia hanya melawan untuk membela diri, dan setelah kami roboh, dia melarikan diri, takut akan pembalasan ayah."

Sepasang mata itu terbelalak, akan tetapi Kui Hwa masih penasaran.

"Kalau begitu, dia kini datang untuk membalas dendam kepada kalian dan ayah kalian?"

"Tidak, sumoi!"

Kini Koa Sek yang bicara.

"Goan Ciang datang untuk menyadarkan ayah dan kami dari kekeliruan. Mungkin engkau sudah mendengar. Kami mengembalikan semua tanah penduduk yang pernah dirampas ayah. Kami ingin menjadi pemimpin dan sahabat penduduk dusun kita, bukan menjadi musuh mereka. Goan Ciang benar dan kami berterima kasih kepadanya!"

Kui Hwa merasa kecelik, akan tetapi ia memang galak dan keras hati, tidak mau sudah begitu saja.

"Jadi kalian mengangkat dia sebagai pimpinan?"

"Dia memang patut menjadi pemimpin kita, sumoi. Dia lihai, bijaksana dan adil, mengingatkan kami akan pesan suhu bahwa kita harus membela kebenaran dan keadilan, membela yang lemah tertindas..."

"Huh, aku tidak mau percaya begitu saja sebelum merasakan sendiri kelihaiannya."

"Sumoi!"

Kakak beradik itu berseru kaget.

"Cu Goan Ciang, majulah dan cabut senjatamu!"

Bentak Kui Hwa sambil mencabut pedangnya.

"Sumoi, jangan...!"

Kembali kakak beradik itu berteriak. Shu Ta menegur mereka.

"Sudahlah, saudara Koa berdua, tidak perlu mencegahnya. Nona ini benar. Sebelum berkenalan dengan orangnya, memang lebih baik kalau lebih dahulu berkenalan dengan ketangguhannya!"

Setelah dua orang kakak beradik itu mundur Goan Ciang melangkah maju, lebih mendekati gadis itu.

"Baiklah, nona. Kalau nona ingin menguji kepandaian, majulah. Nona boleh menggunakan pedangmu, dan aku akan menghadapimu dengan dua tangan kosong saja."

"Sombong, aku bisa membunuhmu!"

"Apa boleh buat, kalau aku kalah dan terbunuh olehmu, takkan ada yang menyesal, silahkan!"

"Sumoi, kau takkan menang!"

Teriak kakak beradik Koa itu. Mendengar ini, kemarahan Kui Hwa bagaikan api disiram minyak.

"Bagus, Cu Goan Ciang, kaulihat pedangku dan jaga serangan ini!"

Pedangnya berkelebat dan gadis itu sudah menyerang dengan tusukan ke arah dada Goan Ciang.

Kalau Goan Ciang berani menghadapi gadis itu dengan tangan kosong, hal ini bukan karena dia sombong, melainkan karena dia sudah tahu atau dapat memperhitungkan sampai di mana tingkat kepandaian sumoi dari kakak beradik Koa yang sudah dia ketahui kepandaian mereka itu.

Tusukan itu dapat dielakkan dengan mudah oleh Goan Ciang dan sampai sepuluh jurus serangan, dia selalu mengelak, membuat Kui Hwa menjadi semakin penasaran.

Pada jurus berikutnya, ketika pedang itu menyambar.

Goan Ciang memapaki dengan gerakan kedua tangan.

Tangan kiri dengan berani menyambut bacokan pedang itu, dan jari-jari tangannya mencengkeram pedang, lalu jari tangan kanannya bergerak menotok ke arah pergelangan tangan yang memegang pedang.

Kui Hwa mengeluh dan tangan kanannya seperti lumpuh.

Di lain saat, pedangnya telah dirampas Goan Ciang.

Akan tetapi, dasar dara ini seorang yang bandel dan tidak mau mudah mengalah, biar pedangnya sudah dirampas, ia masih belum mau menerima kalah.

Ia berteriak dan maju sambil mengirim serangan dengan pukulan-pukulan.

Goan Ciang hanya mundur sambil menangkis dan ketika tangan kanan Kui Hwa memukulnya dengan jari terbuka, memukul dengan dorongan telapak tangan, dia memapaki dengan telapak tangan kirinya.

"Dukkk!!"

Tubuh gadis itu terjengkang roboh kalau saja Koa Hok tidak cepat menyambutnya dari belakang dan mencegah gadis itu terbanting. Wajah Kui Hwa menjadi merah sekali.

"Sumoi, kami berduapun tidak mampu menandinginya, apa lagi engkau seorang diri,"

Kata Koa Hok dan kini Kui Hwa yakin bahwa ilmu kepandaian Cu Goan Ciang memang jauh lebih tinggi dari pada ilmunya, bahkan mungkin lebih tinggi dari tingkat gurunya.

Pada saat itu, para penghuni dusun sudah berkumpul membawa kayu-kayu pemukul dan jumlah mereka tidak kurang dari dua ratus orang.

Agaknya seluruh penghuni dusun sudah berkumpul sekarang, siap berperang!

Melihat ini, Kui Hwa terkejut bukan main.

"Mau apa mereka itu? Suheng, apa yang hendak kalian lakukan?"

"Sumoi, penduduk dusun terancam, tidak tahukah engkau bahwa ayahmu telah memanggil kembali dua puluh lima orang bekas anak buah ayah kembali ke dalam dusun ini dan agaknya menjadi anak buah ayahmu?"

Kata Koa Hok. Gadis itu bersungut.

"Itulah yang membuat hatiku jengkel! Karena peristiwa di sini, ayah menjadi marah dan dia mengumpulkan kekuatan, mengundang para jagoan yang diusir dari sini. Bahkan aku sendiri tidak mampu mencegah, dan ketika aku memperingatkan ayah, dia malah marah kepadaku, membuat aku jengkel dan aku mencari biang keladinya di sini!"

"Ah, engkau salah sangka, sumoi. Cu Goan Ciang adalah seorang pendekar yang hendak membersihkan dusun ini dari gangguan dan berusaha agar kehidupan penghuni dusun menjadi tenteram dan makmur. Kau ingat, sumoi, dia melakukan segala hal sesuai dengan nasihat guru kita dahulu,"

Kata Koa Hok.

"Tapi, apa yang hendak kalian lakukan dengan para penduduk yang membawa alat pemukul itu?"

"Kami hendak menyerbu ke tempat ayahmu, sumoi,"

Kata Koa Sek.

"Apa?? Kalian hendak menyerang ayah? Kalian hendal menghancurkan ayah, dan membiarkan orang-orang ini untuk merampok harta benda ayah dan membunuh ayah sekeluarga?"

Wajah gadis itu berubah pucat, lalu menjadi merah sekali.

"Jangan salah sangka, sumoi. Lihat, ketika Cu Goan Ciang datang bersama sutenya, diapun tidak mengganggu ayah sekeluarga, hanya ingin menyadarkan kami. Yang dia usir hanyalah para tukang pukul ayah karena merekalah yang mengganas di dusun ini. Sekarangpun, kami hendak menyerbu ke sana bukan untuk memusuhi ayahmu, melainkan untuk menghajar para tukang pukul ayahmu dan bekas tukang pukul ayah kami yang bergabung ke sana. Terhadap ayahmu, kami hanya ingin mengajak agar dia menyadari kesalahannya selama ini dan dapat bekerja sama dengan kami untuk memakmurkan dusun kita."

"Benar, sumoi,"

Kata Koa Sek menyambung ucapan kakaknya.

"Kita laksanakan semua nasihat guru kita dahulu. Kita tegakkan kebenaran dan keadilan, kita bela yang lemah tertindas dan menentang yang lalim dan yang menindas orang lain seperti ayah kami dan ayahmu. Kita harus menebus semua kesalahan yang telah dilakukan oleh orang-orang tua kita."

Kui Hwa mengangguk-angguk.

"Tapi... kalian berjanji tidak akan menyerang ayahku dan keluargaku?"

"Kami berjanji!"

"Baik, kalau begitu, aku akan membantu kalian!"

Ucapan Kui Hwa itu disambut sorak-sorai para penduduk yang menjadi gembira bukan main.

Gadis itu memang mereka kenal sebagai seorang gadis yang wataknya baik, jauh berbeda dengan ayahnya, bahkan sering membela mereka dari penindasan ayahnya sendiri.

Ketika tadi melihat gadis itu bertanding melawan Cu Goan Ciang, mereka merasa prihatin.

Kini, mendengar betapa gadis itu berpihak kepada mereka untuk mengusir semua tukang pukul dari tempat tinggal ayahnya sendiri, tentu saja mereka semua merasa gembira bukan main dan berbesar hati.

Juga memandang muka gadis itu, merekapun tidak ingin mencelakai orang tua gadis itu, dan semua kebencian mereka tumpahkan kepada para tukang pukul.

"Goan Ciang, apakah sekarang kita boleh berangkat?"

Tanya Koa Hok, Goan Ciang mengangguk, gembira melihat betapa Koa Hok dan Koa Sek, kini dibantu Kui Hwa, siap memimpin para penghuni dusun.

"Saudara sekalian,"

Teriaknya.

"mari kita berangkat ke rumah hartawan Ji. Akan tetapi sekali lagi ingat, kita tidak bermaksud membunuh, hanya mengusir para tukang pukul dari dusun ini untuk selamanya. Jangan mengganggu keluarga Ji, jangan pula mengambil barang seperti perampok. Aku sendiri yang akan menghukum siapa yang berani melanggar!"

Berangkatlah mereka berbondong-bondong menuju ke rumah keluarga Ji.

Tentu saja berita ini sudah sampai kepada hartawan Ji yang segera mengerahkan semua anak buahnya yang kini berjumlah lebih dari lima puluh orang.

(Lanjut ke

Jilid 04) Rajawali Lembah Huai (Cerita Lepas) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 04

"Hantam mereka! Hajar dan keroyok mereka, orang-orang tak tahu diri itu!"

Teriak sang hartawan dengan penuh semangat.

Anak buahnya juga dengan penuh semangat menyerbu keluar dari rumah itu, dengan senjata di tangan dan penuh semangat, penuh dendam.

Kini mereka berbesar hati, merasa bahwa jumlah mereka banyak sehingga mereka percaya bahwa Cu Goan Ciang dan adik seperguruannya takkan mampu menandingi pengeroyokan banyak orang.

Dua rombongan bertemu di jalan raya.

Betapa kagetnya hati para pimpinan gerombolan tukang pukul itu ketika dari depan, datang bagaikan banjir, banyak sekali penghuni dusun yang semua memegang pentungan!

Jumlah mereka jauh lebih banyak, ada dua ratus orang!

Dan di depan mereka berjalan dengan gagahnya, bukan hanya Cu Goan Ciang dan Shu Ta, melainkan juga Koa Hok, Koa Sek, dan juga nona majikan mereka sendiri, Ji Kui Hwa!

Tentu saja hal ini membuat mereka merasa jerih, akan tetapi sudah kepalang, mereka sudah berhadapan dan dengan nekat para pimpinan tukang pukul, dikepalai Bong Kit yang tinggi besar bermuka bopeng, dan Ban Su Ti yang pendek genduk, menggerakkan golok mereka menyerbu sambil memberi aba-aba kepada anak buah mereka.

Dalam beberapa gebrakan saja, Cu Goan Ciang dan Shu Ta berhasil merobohkan Bong Kit dan Ban Su Ti sehingga mereka tidak mampu bangkit kembali karena tulang kaki mereka patah-patah.

Sementara itu, Koa Hok, Koa Sek dan Kui Hwa juga mengamuk.

Para penghuni dusun, biarpun tidak pandai silat, namun mereka itu rata-rata adalah para petani yang setiap hari bekerja keras di bawah terik sinar matahari.

Tubuh mereka kuat dan semangat mereka besar karena mereka berkelahi untuk membela diri dan membebaskan diri dari penindasan.

Sebaliknya, para tukang pukul itu sudah jerih ketika melihat Cu Goan Ciang, Shu Ta, Koa Hok, Koa Sek, dan Kui Hwa.

Ditambah lagi jumlah besar dari semua penduduk yang melakukan perlawanan, mereka menjadi semakin panik dan kocar-kacir, dihajar oleh para penduduk dengan pukulan-pukulan kayu sampai mereka berteriak-teriak minta ampun.

Tidak ada seorangpun di antara mereka yang mampu meloloskan diri dari amukan penduduk dusun.

Akhirnya, mereka semua menjatuhkan diri berlutut dan menutupi kepala dengan kedua tangan, minta-minta ampun!

"Cukup, semua mundur!"

Teriak Cu Goan Ciang dan para penduduk dusun itu cepat menahan diri dan mundur, dengan sikap seperti para prajurit yang habis menang perang.

Bahkan mereka yang terluka terkena goresan senjata tajam lawan juga masih tetap bersemangat, seolah darah mereka yang mengalir merupakan tanda yang membuat mereka bangga!

Cu Goan Ciang memandang kepada lima puluh orang lebih tukang pukul yang kini berlutut semua, ada yang mengerang kesakitan, ada pula yang rebah pingsan karena pemukulan kayu yang terlalu keras.

"Kalian ini orang-orang jahat yang agaknya tidak tahu diri! Apakah kami harus membunuh dulu kalian agar kalian benar-benar bertaubat?"

Mereka menjadi ketakutan dan terdengar seruan mereka minta ampun.

"Biarlah, sekali ini kami memberi ampun. Kalian boleh pergi sekarang juga, cepat tinggalkan dusun ini dan siapa di antara kalian yang berani memperlihatkan diri, tentu kaliaan akan dikeroyok semua penduduk dan dibunuh dengan tubuh hancur lebur! Nah, pergi kalian dan bawa teman-teman kalian yang pingsan dan terluka!"

Berbondong-bondong, para tukang pukul itu meninggalkan dusun, membawa keluarga mereka dan juga menggotong teman-teman yang terluka dan tidak mampu berjalan.

Suasana menjadi sunyi dan semua orang masih berdiri di jalan raya, di depan rumah besar hartawan Ji yang daun pintunya tertutup semua.

Koa Hok menoleh kepada Cu Goan Ciang.

Dia dan adiknya kini mempunyai perasaan yang aneh, yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya, yaitu perasaan bangga bahwa mereka telah berhasil melakukan sesuatu yang baik dan gagah sesuai dengan keadaan mereka sebagai putera seorang kepala dusun, dan sebagai laki-laki.

Mereka merasa menjadi pendekar!

"Apa yang akan kita lakukan sekarang, Cu-taihiap?"

Goan Ciang tersenyum kepadanya. Baru sekarang Koa Hok menyebutnya taihiap dan diapun tidak menanggapi sebutan ini.

"Masih ada satu hal terakhir yang harus kita selesaikan,"

Katanya sambil menoleh dan memandang kepada Kui Hwa.

"yaitu menyadarkan hartawan Ji dan untuk tugas ini, saya kira nona Ji lebih tepat untuk bertindak, kalau saja ia mau melakukannya"

Kui Hwa memandang kepada Goan Ciang, memandang kagum.

Orang ini memang hebat, pikirnya, dan selain pandai memimpin orang, juga tegas, jujur dan memegang janji.

Tidak ada tukang pukul yang dibunuh, dan rumah ayahnyapun tidak dijamah.

"Baik, aku siap melaksanakan tugas. Apa yang harus kulakukan?"

Tanyanya dengan sikap yang tegas pula.

"Bagus, engkau sungguh nampak gagah perkasa, sumoi!"

Kata Koa Sek.

"Nona Ji, kami sudah berjanji padamu dan kita semua bersepakat untuk tidak mengganggu ayahmu. Kami ingin agar dia, seperti juga Lurah Koa, menyadari kesalahannya ini dan menjadi warga dusun yang baik. Kami ingin menyadarkannya, oleh karena itu, engkau masuklah dan bujuklah mereka semua keluar dan bicara dengan kami di halaman depan."

"Baik akan kulaksanakan!"

Kata Kui Hwa tanpa ragu lagi dan iapun berlari memasuki halaman rumah ayahnya yang luas.

Goan Ciang, Shu Ta, Koa Hok dan Koa Sek juga memasuki halaman, diikuti dari belakang oleh para penduduk dusun yang baru sekali ini merasa gembira dan penuh harapan.

Kui Hwa memasuki ruangan depan rumahnya, akan tetapi daun pintunya terkunci dari dalam.

Ia mengetuk pintu dan berteriak memanggil ayah ibunya.

Mendengar suara puteri mereka, hartawan Ji memberi isarat kepada pelayan untuk membuka daun pintu.

Pelayan wanita membuka daun pintu, membiarkan Kui Hwa masuk, akan tetapi ia segera menutupkan kembali daun pintu dengan mata terbelalak dan muka pucat melihat begitu banyaknya orang memenuhi halaman rumah.

Begitu melihat puterinya, Nyonya Ji segera menubruk dan merangkul sambil menangis.

Kui Hwa merangkul ibunya seperti seorang ibu menghibur anaknya yang rewel.

Sementara itu, hartawan Ji mengerutkan alisnya.

Dia tadi sudah mendengar betapa puterinya ini membantu pihak musuh, ikut menyerbu dan menghajar para tukang pukul sampai mereka semua kocar-kacir dan melarikan diri meninggalkan dusun.

"Kui Hwa, apa yang kau lakukan ini! Engkau menyerang dan memusuhi ayahmu sendiri?"

Bentaknya dengan muka merah dan mata melotot. Kui Hwa melepaskan rangkulan ibunya dan menghadapi ayahnya.

"Ayah, mereka yang benar. Memelihara tukang-tukang pukul itu mendatangkan penyakit. Mereka adalah orang-orang jahat. Keluarga Lurah Koa sudah sadar dan mengubah jalan hidup mereka, hendak membangun dusun kita dan memakmurkan kehidupan penghuninya. Saya mohon ayah juga menyadari kekeliruan sikap hidup ayah yang sudah-sudah, tidak lagi menindas penghuni dusun, melainkan mengulurkan tangan membantu mereka agar kehidupan di dusun ini menjadi makmur, tenteram dan damai."

"Huh, mereka itu hanya orang-orang malas yang kini bermaksud merampok harta kita!"

"Tidak, ayah. Buktinya setelah semua tukang pukul dienyahkan, tidak ada seorangpun dari mereka mengganggu rumah ini. Mereka menanti di halaman, menanti ayah keluar agar dapat bicara dengan mereka. Mari kita keluar, ayah."

"Tidak! Tidak sudi aku bertemu dan bicara dengan para perampok itu! Engkau anak murtad! Seharusnya engkau membela keluargamu, bukan malah membantu musuh menghancurkan keluarga sendiri!"

"Aku tidak berpihak kepada musuh. Mereka bukan musuh kita, ayah. Yang mereka musuhi adalah para tukang pukul. Mereka hendak menyadarkan ayah dari kekeliruan."

"Sudahlah, aku tidak mau keluar. Hendak kulihat mereka mau apa?"

"Kalau begitu, biarlah aku tinggal di sini, mati hangus bersama seluruh keluarga kita."

"Mati hangus? Apa maksudmu?"

Hartawan Ji Sun memandang wajah puterinya dengan alis berkerut.

"Kalau ayah tidak mau keluar, mereka akan membakar rumah ini untuk memaksa semua keluarga keluar dan membiarkan rumah ini habis dimakan api. Kalau kita tetap tidak mau keluar, berarti kita akan mati hangus di dalam sini."

Mendengar ucapan itu, Nyonya Ji dan para pelayan menjerit. Wajah hartawan itu menjadi pucat sekali.

"Kau... kau anak murtad... anak durhaka..."

Kui Hwa menjatuhkan diri berlutut di depan kaki ayahnya. Dengan kedua mata basah ia berkata.

"Ayah, bukan maksudku untuk murtad dan durhaka. Bahkan aku bermaksud baik. Ayah, apa artinya harta bertumpuk kalau penghuni dusun ini hidup sengsara dan kita dikelilingi musuh? Bukankah jauh lebih baik hidup tenteram dan damai, menggunakan sebagian dari harta kita untuk menolong manusia lain dari kelaparan dan kesengsaraan? Kalau ayah menganggap aku durhaka, terserah, akan tetapi Tuhan yang tahu bahwa bukan maksudku untuk menjadi anak durhaka. Mari, ayah, mari kita keluar dan bicara dengan mereka. Percayalah, sampai bagaimanapun, aku akan melindungi dan membela ayah."

Setelah Kui Hwa membujuk, juga ibu gadis itu, akhirnya hartawan Ji mau keluar dari pintu depan, mereka disambut sorak-sorai para penghuni dusun.

Hartawan itu terbelalak pucat melihat betapa dapat dibilang seluruh penduduk dusun itu, yang pria, hadir di halaman rumahnya!

Dan yang berada di depan adalah dua orang pemuda gagah bersama dua orang pemuda Koa putera-putera Lurah Koa.

Koa Hok dan Koa Sek yang oleh Goan Ciang diserahi tugas memimpin penghuni dusun dan bicara dengan hartawan Ji, segera melangkah maju dengan tegap dan sikap gagah, sampai mereka berhadapan dekat dengan keluarga hartawan itu.

"Paman Ji, kami girang sekali bahwa paman suka keluar untuk bicara dengan kami,"

Kata Koa Hok setelah mereka berdua memberi hormat kepada hartawan itu.

"Hemm, kalian berdua telah melupakan hubungan baik antara aku dan ayah kalian, dan kalian membawa penduduk untuk menyerbu dan mengusir anak buahku. Mau bicara apa lagi?"

Tanya hartawan itu dengan nada marah!

"Paman, justeru karena kami menyayang keluarga paman, maka kami melakukan ini.

Ayah kami telah menyadari kesalahannya selama ini, dan kami mengharap agar paman juga menyadari.

Ayah kami dan paman merupakan dua orang tokoh di dusun kita ini yang dapat memperkuat dusun, memakmurkan kehidupan penghuni dusun, bukan menjadi dua orang tokoh yang menekan dan menindas penghuni dusun.

Dengan kekayaan kedua keluarga, dengan kedudukan ayah sebagai kepala dusun, keluarga kita berdua dapat berbuat banyak demi kebaikan dusun dan para penghuninya."

"Apa yang harus kulakukan?"

Tanya hartawan itu dengan alis berkerut.

"Yang terpenting, paman menyadari bahwa menggunakan tukang-tukang pukul untuk menindas penghuni dusun kita merupakan tindakan yang salah. Kalau paman sudah menyadari, tentu paman tahu apa yang dapat paman lakukan. Hal itu kiranya dapat paman tanyakan kepada puteri paman sendiri, sumoi Ji Kui Hwa."

Mendengar ucapan itu, hartawan Ji menoleh kepada puterinya dan gadis itu dengan suara lantang berkata.

"Ayah, sekarang bukan waktunya lagi bagi ayah untuk menumpuk harta. Apa artinya kaya-raya kalau hidup ini tidak tenteram dan dimusuhi semua penghuni dusun? Kita dapat pertama-tama mengembalikan seluruh sawah ladang yang pernah ayah sita dari para penduduk dusun, kemudian, kita memberi pinjaman kepada mereka berupa bibit dan lain keperluan dengan janji pinjaman itu akan dikembalikan ketika panen, tanpa bunga! Dan kita harus membantu penduduk yang benar-benar kekurangan, memberi mereka pekerjaan dengan upah memadai."

Hartawan itu terbelalak, seperti mimpi saja mendengar ucapan puterinya itu dan hatinya tentu saja membantah.

"Tapi... tapi..."

"Ayah, dengan cara itu, kita akan hidup tenang dan tenteram, menjadi sahabat baik seluruh penghuni dusun! Dan kita tidak perlu lagi mempunyai tukang-tukang pukul. Kalau ada gerombolan penjahat berani mengacau dusun kita, maka seluruh penduduk akan bangkit melawan penjahat! Kita semua akan membangun dusun ini menjadi tempat yang makmur dan tenteram! Atau ayah memilih menjadi hartawan yang diasingkan semua penduduk, kalau ada gerombolan penjahat mengganggu kita, penduduk diam saja? Apakah ayah lebih senang hidup di antara orang-orang yang membenci kita?"

Hartawan Ji menjadi pening tujuh keliling. Mendadak dia merasa betapa kepalanya pusing dan tubuhnya gemetar, lemas.

"Sesukamulah, Kui Hwa. Kau atur sajalah, aku tidak tahu lagi... terserah kepadamu bagaimana baiknya saja..."

Dan dengan terhuyung diapun masuk ke dalam dibimbing isterinya.

"Ayah telah setuju untuk bekerja sama! Seluruh tanah yang pernah disita ayah akan dikembalikan kepada pemilik semula!"

Teriak Kui Hwa, disambut sorak-sorai para penduduk dusun Cang-cin.

Dusun itu dalam suasana pesta, bukan pesta makan minum, melainkan pesta meriah yang nampak di wajah, senyum, dan suara mereka.

Orang bergembira ria dan merasa seperti orang-orang yang tiba-tiba saja dibebaskan dari hukuman berat.

Dengan bijaksana, Cu Goan Ciang lalu memancing persetujuan semua penghuni, termasuk Lurah Koa dan hartawan Ji, bahwa mulai saat itu, kedudukan kepala dusun dipegang oleh Koa Hok dan dibantu oleh Koa Sek.

Kakak beradik ini bertugas untuk mengatur keamanan dan keadilan di dusun itu, menyusun dan melatih para pemuda dusun sehingga terbentuk pasukan keamanan yang kuat untuk menjaga keamanan dusun, menetapkan pajak yang adil dan uang pajak dipergunakan untuk upah dan pembangunan dusun.

Sedangkan urusan kesejahteraan dan perdagangan dusun itu diserahkan kepada Ji Kui Hwa.

Diam-diam Shu Ta kagum bukan main melihat tindakan suhengnya yang tegas dan yang demikian pandainya mengatur orang banyak sehingga dusun itu dalam sehari saja telah berubah sama sekali keadaannya.

Kalau tadinya, seolah-olah ratap tangis penghuni dusun membubung ke angkasa mohon keadilan kepada Tuhan, kini ratap tangis itu berubah menjadi tawa riang menghaturkan terima kasih kepada Tuhan.

Setelah semua beres, beberapa hari kemudian Cu Goan Ciang dan Shu Ta meninggalkan dusun Cang-cin, diantar oleh Koa Hok, Koa Sek, Kui Hwa dan bahkan hampir seluruh penghuni dusun mengantar kedua orang pemuda itu sampai keluar dari pintu gerbang dusun.

Setelah tiba di luar dusun dan semua pengantar kembali ke dusun, Shu Ta memandang kepada suhengnya.

"Suheng, selain bakatmu dalam ilmu silat amat baik, juga engkau berbakat untuk menjadi pemimpin. Semua itu dapat kulihat ketika engkau mengatur dusunmu itu."

"Ah, sute terlalu memuji. Semua itu kulakukan karena sejak kecil aku merasa prihatin sekali menyaksikan kehidupan penghuni dusunku. Bahkan keluargaku sendiri habis karena kehidupan yang menderita kekurangan. Andai kata kita berdua tidak datang dan mengatur seperti itu, suatu ketika mungkin saja penduduk akan memberontak dan keluarga Koa dan Ji akan menjadi korban penumpahan kebencian yang terpendam selama puluhan tahun."

"Engkau benar, suheng. Tindakanmu itu, selain menolong keadaan hidup para petani miskin di dusun itu, juga telah menyelamatkan keluarga Koa dan Ji. Mereka semua kini hidup berbahagia dan aku yakin dusun itu akan menjadi sebuah dusun yang paling makmur di seluruh daerah ini."

"Mudah-mudahan begitu. Sekarang engkau hendak pergi ke mana, sute?"

"Seperti usulmu tempo hari, suheng, kita berpisah di sini dan mari kita berdua memperluas pengalaman di dunia kang-ouw, menyelidiki keadaan dan menyusun kekuatan untuk menentang pemerintah penjajah Mongol yang lalim."

"Baik, sute. Selamat berpisah dan sampai berjumpa kembali."

Kakak beradik seperguruan itu saling peluk, kemudian saling memberi hormat dan keduanya mengambil jalan masing-masing di persimpangan itu.

Sungai Yang-ce merupakan sungai kedua sesudah sungai Kuning yang terbesar di seluruh Cina.

Sungai ini merupakan penampungan dari banyak sungai yang lebih kecil, mengalir sejak ribuan kilometer dari barat, bermula dari dua sumber yang berada di pegunungan Thang-la, yang bertemu menjadi sungai Chin-sa, mengalir turun ke selatan sampai ke propinsi Yun-nan, kemudian membelok ke timur, menerima penumpahan banyak sungai seperti sungai Cia-ling.

Sungai Han-sui dan masih banyak lagi sungai yang lebih kecil sampai akhirnya tiba di Nan-king dan memuntahkan airnya di sebelah timur Nan-king, ke laut Kuning.

Karena sungai ini melalui banyak propinsi, banyak kota dan dusun, maka tentu saja sungai ini merupakan sarana pengangkutan dan lalu lintas yang teramat penting.

Saking panjangnya sungai ini disebut pula sungai Panjang.

Satu di antara kota yang dilalui sungai Yang-ce adalah kota Wu-han.

Kota ini menjadi besar dan ramai, satu di antara sebabnya adalah karena menjadi kota bandar sungai Yang-ce itulah.

Wu-han menerima kiriman barang-barang yang mengalir dari barat, dan mengirim barang-barang dagangan ke timur, sampai ke Nan-king dan kota-kota lainnya.

Pada suatu pagi, Cu Goan Ciang memasuki kota Wu-han.

Dia melakukan perjalanan dari dusunnya menuju ke selatan dan baru sekarang dia melihat sebuah kota yang demikian ramai dan besarnya seperti Wu-han.

Beberapa kali dia berhenti dan bengong penuh kekaguman memperhatikan bangunan besar yang indah atau taman yang rapi, toko-toko penuh dengan barang yang serba aneh baginya.

Rumah-rumah makan yang mengeluarkan uap yang sedap.

Namun, dia tidak berani masuk ke dalam sebuah di antara toko-toko atau rumah makan itu karena memang dia tidak mempunyai uang.

Ketika kakak beradik Koa hendak memberi bekal kepadanya, dia menolak keras, demikian pula Shu Ta.

Goan Ciang mempunyai hati yang keras, yang tidak mau menerima pemberian begitu saja.

Aku harus bekerja untuk mencari uang pembeli makanan dan pakaian, pikirnya.

Sampai lama dia melihat para kuli angkut sedang memangguli dan membongkar muatan dari atau ke perahu-perahu yang berlabuh di bandar sungai Yang-ce pinggir kota Wu-han.

Ketika dia melihat empat orang memanggul sebuah peti besar, dan mereka itu nampak terhuyung dan hampir tidak kuat sehingga semua kuli yang lain merasa khawatir, Goan Ciang cepat melompat maju mendekat, menyusup ke bawah peti di tengah-tengah, menggunakan kedua lengannya menyangga peti lalu berteriak.

"Kalian berempat lepaskan peti ini, biar kuangkat sendiri!"

Empat orang yang tadinya sudah ketakutan akan terhimpit peti yang amat berat itu, ketika tiba-tiba merasa betapa peti itu tidak lagi menekan pundak mereka, diangkat oleh kedua tangan seorang pemuda yang tiba-tiba menyusup di tengah-tengah antara mereka, segera melepaskan peti dan melompat ke samping sehingga kini peti itu diangkat sendiri oleh kedua tangan Goan Ciang.

Empat orang itu terbelalak, lalu terdengar seruan-seruan kagum ketika Goan Ciang dengan tenang melangkah dan menurunkan peti itu ke tempat di mana barang-barang bongkaran itu dikumpulkan.

Meledaklah sorak dan tepuk tangan memujinya karena semua orang merasa kagum bukan main.

Peti itu hampir tak terangkat empat orang kuli yang bertubuh kokoh kuat, namun pemuda yang tinggi tegap dan sederhana itu dengan mudahnya mengangkat peti itu seorang diri, dan nampak ringan saja!

Setelah menurunkan peti itu, Cu Goan Ciang segera meninggalkan tempat itu karena maksudnya tadi hanya hendak menyelamatkan empat orang kuli yang akan terhimpit peti, dan melihat semua orang memujinya, dia tidak ingin berlama-lama di tempat itu.

"Heii, tunggu dulu, orang muda yang kuat!"

Terdengar seruan orang dan diapun menoleh.

Seorang pendek gendut berjalan setengah berlari terseok-seok menghampirinya, wajahnya yang bulat itu penuh senyum lebar.

Orang itu berusia sekitar empat puluh tahun dan pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang mandor kuli yang mengepalai rombongan kuli yang bekerja di situ.

Goan Ciang sudah mendengar bahwa di bandar itu terdapat ratusan orang kuli, terbagi dalam beberapa kelompok atau rombongan dan masing-masing ada mandor atau kepalanya yang mengatur dan membagi pekerjaan.

"Ada apakah, paman?"

Tanyanya.

Si gendut itu mengerutkan alisnya, agaknya tidak suka disebut paman.

Dia masih merasa terlalu muda untuk disebut paman, dan biasanya para kuli menyebutnya toako (kakak tertua), sebutan yang juga merupakan sebutan kehormatan dalam suatu kelompok, karena toako bukan saja berarti yang tertua, melainkan juga yang terkuat, terpandai dan biasanya yang menjadi pemimpin disebut toako.

"Orang muda, maukah engkau bekerja kepada kami?"

"Bekerja apa?"

"Apa lagi? Aku adalah mandor kuli, tentu saja bekerja mengangkut barang-barang, membongkar dan memuat di perahu-perahu yang berlabuh di sini."

Goan Ciang berpikir sejenak. Memang dia membutuhkan uang untuk makan, dan dia harus bekerja.

"Kalau upahnya memadai..."

"Tentu saja! Kalau engkau mau mengangkat peti-peti seperti tadi seorang diri, kami akan membayarmu lima belas keping sehari."

Goan Ciang mengerutkan alisnya.

Lima belas keping tidak terlalu banyak, hanya cukup untuk makan sehari saja.

Lalu bagaimana dia dapat membeli pakaian?

Bekerja seberat itu tentu cepat menghabiskan pakaiannya.

"Berapa upah mereka itu sehari?"

Katanya menunjuk kepada para kuli yang sibuk bekerja.

"Sama saja, lima belas keping sehari."

"Akan tetapi, aku dapat bekerja empat lima kali lipat dari mereka!"

"Baiklah, kuberi dua puluh lima keping untukmu, akan tetapi engkau harus bekerja dari pagi sampai sore, hanya berhenti mengaso untuk makan di tengah hari seperti yang lain."

Hemm, dua puluh lima keping, lumayan, pikir Goan Ciang.

Diapun mengangguk dan mulailah dia bekerja.

Tenaganya memang besar, maka mandor itu merasa gembira bukan main.

Dengan menerima Goan Ciang bekerja di situ, dengan gaji kurang dari dua orang, berarti dia untung besar.

Dia dapat memasukkan di daftar gaji lima orang untuk pemuda itu, karena memang hasil pekerjaannya sama dengan hasil pekerjaan lima orang.

Baru dua hari Goan Ciang bekerja di situ ketika terjadi peristiwa yang membuat dia kehilangan pekerjaannya.

Hari itu adalah hari gajian bagi rombongan kuli di mana dia bekerja, yang terdiri dari dua puluh orang.

Dalam dua hari bekerja, semua kuli menaruh hormat kepada Goan Ciang yang pendiam dan bertenaga amat kuat, namun tidak sombong atau berlagak itu.

Setelah sore, pekerjaan dihentikan dan para kuli itu berdiri dalam antrian untuk menerima gaji mereka yang dibagikan oleh si gendut yang duduk di atas bangku menghadapi meja kecil dan di belakangnya berdiri dua orang tinggi besar yang berwajah bengis.

Mereka adalah tukang-tukang pukul yang mengawal mandor itu.

Tukang-tukang pukul ini bertugas untuk menjaga agar para kuli tidak malas dan tidak melakukan pencurian terhadap barang-barang yang diangkut, dibongkar dan dimuat di perahu-perahu.

Semua berjalan lancar ketika tiba giliran seorang kuli dan Goan Ciang yang menjadi orang terakhir dan berdiri di belakang kuli itu.

Kuli itu masih muda, berusia dua puluhan tahun, kurus dan agak pucat tanda bahwa dia tidak sehat namun memaksakan diri bekerja karena membutuhkan uang.

Ketika tiba giliran si kurus itu, mandor gendut menghitung beberapa keping uang sambil berkata.

"Nah, ini gajimu untuk sepuluh hari!"

Orang muda itu menerima dan menghitungnya, dan dia berkata heran.

"Eh, Lai-toako, kurasa engkau salah menghitung. Kenapa dikurangi begini banyak? Mestinya aku menerima seratus keping, bukan lima puluh!"

"Hemm, engkau sudah lupa barangkali? Potongan pajak lima puluh keping, dan potongan yang lima puluh keping adalah untuk mengganti kerusakan barang dari peti yang kau angkut seminggu yang lalu."

"Tapi, toako, itu bukan kesalahanku. Peti itu sudah kutumpuk dengan baik, lalu ada anjing yang berlari menubruk peti sehingga terguling. Bukan salahku kalau isinya ada yang rusak!"

"Tidak perduli! Yang jelas, pemiliknya minta ganti dan mana mungkin aku minta ganti kepada anjing itu? Engkau yang mengangkut dan menaruh di situ, engkau pula yang harus mengganti."

"Tapi... aku butuh sekali uang ini, ibuku sakit dan..."

"Cukup, jangan banyak rewel, atau engkau ingin dihajar?"

Bentak mandor gendut itu dengan muka merah dan mata melotot.

"Biarlah lain kali saja potongan itu, Lai-toako, sungguh mati, sekarang aku membutuhkan uang itu untuk berobat ibuku..."

"Ibumu boleh mampus, apa sangkut pautnya denganku?"

Si gendut itu memberi isarat kepada dua orang tukang pukulnya.

"Usir dia!"

Dua orang tukang pukul yang tinggi besar itu melangkah maju.

Yang berjenggot lebat seperti jenggot kambing bandot maju dan menangkap lengan kanan pemuda itu, lalu memutar lengan itu sehingga si pemuda berteriak kesakitan.

Tukang pukul ke dua, yang kepalanya botak, juga maju dan mengamangkan tinjunya yang sebesar kepala kanak-kanak itu ke depan hidung si pemuda yang menyeringai kesakitan karena lengannya masih dipuntir.

"Kau ingin mukamu kuhancurkan? Hayo cepat minggat dari sini!"

Bentaknya Melihat ini, Cu Goan Ciang tidak sabar lagi. Dia melangkah ke depan dan sekali tangannya bergerak, dia menangkap siku lengan kanan si jenggot yang sedang memuntir lengan pemuda itu.

"Aduuuuhhhhh...!"

Si jenggot itu berteriak-teriak karena merasa betapa lengan di bagian siku seperti terjepit baja dan tulang lengannya seperti retak-retak rasanya, nyeri bukan main sampai kiut-miut rasanya menusuk jantung.

Terpaksa dia melepaskan lengan si pemuda, Cu Goan Ciang tidak berhenti sampai di situ saja, tangan kirinya bergerak mencengkeram ke arah dagu si jenggot lebat dan sekali dia mencengkeram dan merenggut, jenggot itu jebol dan dagu itu berdarah.

"Adoouuuhhhh... augghhhh..."

Si jenggot yang kehilangan jenggotnya itu mengaduh-aduh sambil memegangi dagunya yang berdarah, berjingkrak kesakitan.

Melihat ini, tukang pukul pertama yang kepalanya botak menjadi marah dan diapun sudah mengayun tinjunya yang besar ke arah kepala Cu Goan Ciang.

Cu Goan Ciang mengelak ke samping, secepat kilat dia menangkap pergelangan tangan yang memukul itu, kemudian dengan pengerahan tenaga, dia mendorong tangan yang terkepal itu sehingga memukul kepala si penyerang itu sendiri.

Kepalan yang besar itu kini memukul kepala yang botak.

"Takkk...!!"

Si botak itu terpelanting dan ketika dia merangkak bangun, dia mengelus kepala botaknya yang kini tumbuh benjolan sebesar telur angsa!

Cu Goan Ciang sudah melangkah maju.

Melihat mandor gendut hendak melarikan diri, tangannya dijulurkan dan dia menangkap orang itu, mencengkeram pada pundaknya sehingga si gendut berteriak-teriak seperti kerbau disembelih.

"Aduhhh... aduhhhh... ampun, lepaskan aku... aughhhh..."

Goan Ciang memaksanya duduk kembali di atas bangkunya. Si gendut terpaksa duduk dan tubuhnya menggigil, mukanya pucat.

"Cu Goan Ciang... apa... apa yang kauinginkan...?"

Tanyanya, suaranya tiba-tiba menjadi pelo dan gemetar saking takutnya.

"Apa artinya potongan pajak tadi? Sehari pajak lima keping, apa artinya ini?"

"Ahh... itu... itu sudah peraturan, aku hanya melaksanakan saja. Sudah menjadi aturan sejak bertahun-tahun..."

"Aturan siapa itu? Gaji sehari lima belas keping, dipotong pajak lima keping? Ini perampokan namanya! Hayo katakan, aturan siapa ini? Aturan yang kaubuat sendiri? Kuhancurkan kepalamu!"

"Tidak, tidak...! Bukan aku... aku hanya mandor, eh, hanya pengawal, ini aturan yang telah ditetapkan oleh Yo-loya (tuan besar Yo)...!"

"Tidak perduli aturan siapa, itu perampokan dan tidak boleh dilakukan! Hayo bayarkan kembali seluruh pajak tadi kepada mereka semua, dan kerusakan barang itupun tidak boleh dipotong. Cepat!!"

"Tapi... tapi..."

Si gendut itu mengambil kantung uang yang tadi telah disimpannya, akan tetapi Goan Ciang merampasnya dan menaruh kantung uang itu ke atas meja, di mana masih terdapat daftar para kuli, berikut alat tulis yang tadi dipergunakan untuk mencatat oleh si gendut.

"Tidak ada tapi! Cepat bayar mereka tanpa dipotong pajak atau kerusakan barang!"

Bentak Goan Ciang.

Sementara itu, dua puluh orang kuli yang masih berkumpul di situ, memandang dengan mata terbelalak.

Tak mereka sangka bahwa kuli baru yang bertenaga besar itu demikian beraninya, juga demikian perkasanya, sehingga segebrakan saja dapat menghajar dua tukang pukul yang lihai dan kejam itu.

Seorang kuli yang usianya sudah lima puluh tahun, segera mendekati Goan Ciang.

"Cu-hiante... jangan mencaro gara-gara... mereka itu kuat sekali. Kalau sampai Yo-loya mengetahui, engkau dapat celaka... lebih baik sekarang pergilah, larilah sebelum terlambat..."

Goan Ciang merasa jengkel sekali. Sikap pengecut inilah yang membuat orangnya diperas dan ditindas! "Sudah, biarkan aku yang bertanggung jawab, paman. Engkau larilah kalau takut!"

Katanya marah dan kuli itu yang bermaksud baik karena menyayangkan, kalau sampai Goan Ciang celaka, mundur dan berkumpul lagi dengan teman-temannya.

Mendengar ucapan kuli tua itu, agaknya si gendut mendapatkan kembali semangatnya.

Dia bangkit berdiri.

"Cu Goan Ciang, engkau boleh saja menghina dan memaksaku, akan tetapi tunggu sampai Yo-loya datang! Engkau akan dicincang, dan dagingmu menjadi makanan ikan sungai! Hayo, bunuh saja dia dengan golok kalian!"

Teriaknya kepada dua orang tukang pukul.

Si jenggot yang kehilangan jenggotnya dan si botak yang tumbuh tanduk itu memang merasa penasaran dan sakit hati telah dipersakiti dan dipermalukan di depan banyak orang.

Bahkan rombongan kuli-kuli yang lain tertarik oleh keributan itu dan kini datang mendekat.

Mereka berdua mencabut golok dan bagaikan gila mereka menyerang Goan Ciang sambil mengerahkan tenaga dan mengeluarkan suara menggereng seperti dua ekor beruang marah.

Goan Ciang juga marah.

Beberapa kali dia mengelak, menggunakan kegesitan gerakan tubuhnya untuk menghindarkan diri dari sambaran dua batang golok itu.

Ketika dia melihat kesempatan baik, dia menggerakkan kedua tangannya, mengisinya dengan tenaga sin-kang sekuatnya dan begitu kedua tangan itu bergerak menangkis dengan kedua lengan lawan, terdengar suara "krakk-krakk"

Dan dua batang golok itu terpental, dan dua orang lawannya juga terpelanting dan mengaduh-aduh tanpa mampu menggerakkan kedua lengan mereka karena tulang-tulang lengan mereka telah patah-patah!

Dengan wajah pucat dan mata terbelalak mereka hanya mampu mengaduh-aduh, bahkan sukar untuk bangkit duduk karena kedua lengan mereka terasa nyeri kalau digerakkan.

Si mandor gendut terkejut sekali, hendak melarikan diri, akan tetapi dua kali loncatang saja sudah cukup bagi Goan Ciang untuk menangkap leher bajunya, mengangkat tubuh itu ke atas, tangan kanan menampar ke arah mulut sehingga rontoklah semua gigi dalam mulut itu lalu dia melontarkan tubuh gemuk pendek itu ke air sungai.

"Byurrr...!"

Air muncrat dan mandor gendut itu dengan susah payah berenang ke tepi, disambut tawa geli secara diam-diam oleh para kuli.

Dua orang tukang pukul itu melihat ini, lalu terkulai dan pura-pura pingsan!

Goan Ciang dengan tenang lalu duduk di bangku tadi, membuka kantung uang, memeriksa daftar dan menghitung uang memenuhi gaji dua puluh orang itu termasuk si pemuda kurus dan dia sendiri.

Dia mengambil lima puluh keping, gajinya dua hari, dan membiarkan sisanya dalam kantung di meja itu.

Juga dia mencorat-coret daftar gaji itu, menuliskan angka-angka gaji yang semestinya tanpa memotong dengan pajak dan lain-lain.

Para mandor dan tukang pukul rombongan lain tidak berani mencampuri ketika mereka melihat kelihaian pemuda itu, akan tetapi diam-diam mereka melapor kepada majikan mereka.

Kuli yang bekerja di bandar itu berjumlah ratusan orang, terbagi dalam kelompok-kelompok.

Namun semua berada di bawah kekuasaan majikan yang disebut Yo-loya, namanya Yo Ci, seorang hartawan yang juga menjadi kepala gerombolan penjahat yang merajalela di kota Wu-han, terutama yang menguasai bandar itu.

Yo Ci inilah yang mengadakan aturan pajak, dan dia pula yang menentukan segalanya, dan para pelaksananya adalah mandor-mandor yang dikawal dua orang tukang pukul.

Begitu mendengar berita bahwa ada seorang pengacau di bandar, Yo Ci marah dan diapun mengajak selosin pengawalnya cepat pergi ke bandar itu.

Ketika itu, Cu Goan Ciang sudah selesai membayarkan semua gaji dan dia berkata.

"Mulai sekarang, jangan mau membayar pajak. Kalian harus berani menentang kalau ada aturan yang tidak adil, jangan diam saja ketakutan. Nah, sekarang kalian pulanglah."

"Tapi, Cu-taihiap, kami takut. Bagaimana kalau Yo-loya marah? Kami pasti akan dihukum!"

Kata seorang di antara mereka dan ternyata semua orang membenarkan ucapan itu.

"Aku yang bertanggung jawab! Aku tidak akan lari!"

"Bagus! Sungguh ucapan yang gagah sekali!"

Terdengar suara orang memuji dan mendengar suara ini, semua kuli nampak ketakutan dan cepat mereka itu membungkuk dan memberi hormat kepada orang yang bicara tadi.

Goan Ciang memutar tubuh memandang.

Dia seorang laki-laki yang usianya sekitar lima puluh tahun, namun masih nampak tampan dan muda, tubuhnya masih ramping dan kokoh.

Seorang pria yang gagah, dengan pakaian yang mewah pula, memegang sebatang huncwe (pipa tembakau) yang dilapis emas, kepalanya memakai topi bulat hitam.

Di belakang orang ini nampak selosing orang yang berpakaian seperti tukang-tukang pukul, pakaian ringkas dan mereka semua membawa pedang di pinggang, seperti pasukan yang berpakaian seragam saja.

Goan Ciang segera dapat menduga bahwa tentu inilah yang disebut Yo-loya dan yang ditakuti semua orang.

Inilah kepala dari para penindas kuli itu.

"Bertanggung jawab atas perbuatannya adalah sikap seorang laki-laki. Mempergunakan gerombolan tukang pukul untuk memeras dan menindas para pekerja miskin adalah sikap seorang penjahat keji yang curang!"

Kata Goan Ciang dan pandang matanya dengan tajam mengamati wajah pria itu.

Pria itu tersenyum, menghisap huncwenya dan mengepulkan asap tipis dari mulutnya, sikapnya tenang dan juga mengandung ketinggian hati, seperti sikap seorang guru menghadapi seorang muridnya.

"Hebat, engkau seorang pemuda yang hebat. Siapakah namamu, orang muda?"

Suaranya berlogat selatan, namun cara dia bicara lembut dan sopan.

"Namaku Cu Goan Ciang, dan kalau tidak salah, engkau tentu yang disebut Yo-loya dan ditakuti para kuli di sini, bukan?"

Orang itu mengangguk-angguk dan menyapu keadaan sekeliling.

Hampir semua orang di situ, baik kuli maupun pedagang, kini berada di situ dan menonton dengan wajah tegang dan tertarik.

Yo Ci sudah mendengar tentang kehebatan pemuda ini.

Sayang kalau pemuda seperti ini dibunuh saja.

Alangkah baiknya kalau dapat ditarik menjadi anak buah, atau setidaknya menjadi sekutunya.

Juga, kalau sampai dia turun tangan di tempat umum dan dia kalah, walaupun dia amat meragukan hal ini, hal itu akan merusak nama besarnya dan membuatnya malu.

"Cu-sicu (orang gagah Cu), namaku Yo Ci dan aku merasa bergembira sekali dapat berkenalan dengan seorang gagah sepertimu. Harap suka memaafkan orang-orangku yang tidak tahu diri dan percayalah, aku akan membereskan semua kekeliruan di sini. Akan tetapi, aku ingin membicarakan urusan di sini dengan sicu, dan kami persilahkan sicu untuk ikut dengan kami agar kita dapat bercakap-cakap dengan leluasa di rumah kami. Silahkan, sicu."

Cu Goan Ciang merasa heran akan sikap yang amat sopan dan ramah dari orang ini.

Bukankah majikan ini yang melakukan pemerasan terhadap para kuli itu, melalui anak buahnya?

Ketika dia menoleh dan bertemu pandang dengan kuli setengah tua yang tadi memperingatkannya, dia melihat betapa orang itu menggeleng kepala sebagai tanda agar dia menolak undangan itu.

Akan tetapi justeru sikap kuli setengah tua itulah yang membuat dia penasaran.

Dia ingin melihat apa yang akan dilakukan majikan Yo ini kepada dirinya.

"Baik, mari kita bicara di rumahmu, Yo-loya,"

Katanya gagah.

Diiringkan pandang mata khawatir dan juga kagum oleh semua kuli yang bekerja di bandar itu, Goan Ciang mengikuti rombongan Yo Ci dan para pengawalnya dan ternyata di luar bandar terdapat sebuah kereta yang tadi dinaiki Yo Ci.

Goan Ciang dipersilahkan ikut pula ke dalam kereta bersama hartawan itu.

Para pengawal menunggang kuda di kanan kiri dan belakang kereta yang dilarikan menuju ke pusat kota Wu-han.

Rumah itu besar, megah dan mewah.

Goan Ciang merasa dirinya kecil dan kotor ketika memasuki rumah gedung mewah itu bersama Yo Ci.

Belum pernah dia memasuki rumah semewah ini.

Rumah Lurah Koa dan hartawan Ji di dusunnya menjadi tidak ada artinya dibandingkan dengan rumah majikan di kota besar ini.

Akan tetapi dengan tegak dia berjalan mendampingi tuan rumah.

Di ruangan dalam, Yo Ci sengaja menyuruh semua keluarganya hadir dan dia memperkenalkan Gu Goan Ciang kepada keluarganya.

Goan Ciang hanya memandang sambil lalu saja dan membalas penghormatan mereka.

Dia diperkenalkan kepada empat orang isteri Yo Ci, dan tiga orang anaknya, yaitu dua orang puteri yang sudah remaja dan seorang pemuda.

Kemudian, setelah semua anggota keluarga diperkenalkan dan mengundurkan diri, Goan Ciang sudah lupa lagi kepada mereka, baik nama maupun wajah mereka, walaupun para isteri dan puteri tuan rumah itu merupakan wanita-wanita yang cantik jelita.

Dia memasuki ruangan tamu bersama tuan rumah dan di situ mereka bercakap-cakap.

"Cu-sicu, aku mendengar bahwa engkau menghajar beberapa orangku yang bertugas di bandar. Memang ada di antara orang-orangku yang kasar dan kurang ajar, pantas untuk dihajar. Akan tetapi kalau aku boleh mengetahui, mengapa engkau menjadi begitu marah? Apa yang menjadi sebab perkelahian itu?"

Tak enak juga rasa hati Goan Ciang menghadapi majikan yang begini lembut dan sama sekali berbeda dengan sikap mandor gendut dan tukang pukulnya.

"Maafkan aku, Yo-loya..."

"Hemm, orang lain pantas menyebut aku loya (tuan besar), akan tetapi sebaiknya engkau menyebut aku paman saja, sicu. Tak enak rasanya kausebut loya."

"Baiklah, paman Yo. Maafkan aku yang naik darah melihat betapa mandor gendut itu memotong semua gaji para kuli dengan lima keping, pada hal gaji mereka sehari hanya lima belas keping. Lebih gila lagi, mandor itu memotong gaji seorang kuli sebanyak lima puluh keping, katanya untuk mengganti barang rusak yang jatuh karena ditabrak anjing."

Beberapa saat lamanya, Yo Ci diam saja dan menarik napas beberapa kali, lalu berkata.

"Aku mengerti perasaanmu, sicu. Memang sepintas lalu nampak betapa aturan yang kami tentukan itu kejam dan memeras. Akan tetapi ketahuilah bahwa hal itu kami lakukan dengan terpaksa karena kami harus membayar pajak besar kepada para pejabat pemerintah di kota ini. Semua yang kami terima dari pajak itu tidak masuk ke kantong kami, melainkan ke kantong para pejabat. Kami hanya pemungut pajak saja."

"Kalau begitu, untuk apa diadakan mandor yang mengurusi para kuli? Biarkan mereka bekerja sendiri dan menerima upah dari pemilik barang yang mereka bongkar dan muat."

Yo Ci menggeleng kepala.

"Hal itu tidak mungkin dilakukan, sicu. Kalau dibiarkan demikian, tentu akan timbul kekacauan dan perkelahian di bandar. Mereka akan berebut muatan, bersaing upah dan memperebutkan kekuasaan untuk menjadi kepala. Dengan adanya aturan yang kami adakan, mereka semua dapat bekerja dan tidak pernah terjadi keributan."

"Tapi mereka diperas namanya. Upah lima belas keping sudah terlalu kecil, tidak cukup untuk hidup mereka yang sudah mempunyai anak-isteri, untuk diri sendiripun hanya cukup untuk makan. Bagaimana mungkin dapat hidup kalau upah sekecil itu dipotong lima keping lagi? Ini tidak adil! Untuk apa para pejabat itu diberi uang? Apakah itu sudah menjadi peraturan pemerintah?"

Yo Ci menggeleng kepala.

"Agaknya engkau tidak tahu, sicu. Setiap daerah mempunyai penguasa dan dia yang menentukan peraturan sesuai dengan seleranya. Itulah wewenangnya. Yang menentukan peraturan di bandar tentu saja penguasa bandar itu. Kami hanya membantu kelancaran aturan itu, bahkan, dengan usaha kami ini, maka keamanan para kuli itu terjamin."

Goan Ciang yang belum berpengalaman, mendengar hal seperti itu merasa penasaran bukan main.

Akan tetapi, apa yang dapat dia lakukan menghadapi penguasa, yaitu pejabat pemerintah?

Seorang diri saja, bagaimana mungkin dia menentang kekuasaan pejabat yang tentu mempunyai pasukan yang besar dan amat kuat?

Sama dengan seekor capung hendak merobohkan tembok.

Melihat pemuda itu termenung dengan alis berkerut tanda penasaran, Yo Ci lalu menghiburnya.

"Cu-sicu, semua orang juga merasa penasaran, akan tetapi apa yang dapat kita lakukan terhadap pemerintah? Kalau engkau ingin melindungi para pekerja kasar itu, bagaimana kalau engkau kuberi pekerjaan sebagai kepala dari seluruh mandor yang berada di sana? Dengan adanya engkau yang menjadi kepala, semua mandor tentu tidak akan berani berlaku curang dan tidak berani merugikan para pekerja di bandar. Dan kami akan memberi upah besar kepadamu, juga rumah tinggal yang lengkap."

Diam-diam Cu Goan Ciang terkejut mendengar penawaran yang amat menguntungkan dirinya itu.

Dari seorang pemuda miskin setengah gelandangan, tiba-tiba dia menjadi kepala semua mandor dan mendapat upah besar dan rumah tinggal!

Akan tetapi bukan itu yang dia cari.

Cita-citanya lebih besar dari sekedar menjadi kepala mandor!

"Cu-sicu, engkau tidak perlu tergesa-gesa menerima penawaranku.

Engkau tinggallah dulu di sini beberapa lamanya dan pertimbangkan baik-baik penawaranku tadi.

Sementara itu, engkau boleh mempelajari keadaan di bandar agar kalau engkau menerima tawaranku, seketika engkau sudah menguasai keadaan dan hafal akan lingkungan di bandar."

Cu Goan Ciang yang masih bimbang itu mengangguk.

Akan tetapi, di dalam hatinya, dia bukan minta waktu untuk mempertimbangkan penawaran kedudukan itu, melainkan minta waktu agar dia dapat menyelidiki keadaan di bandar dan mendapat jalan bagaiman sebaiknya untuk menolong nasib para pekerja kasar di sana.

Yo Ci lalu menjamu Goan Ciang dengan hidangan yang mewah, kemudian pelayan mengantarnya ke sebuah kamar yang disediakan untuk dia selama tinggal di gedung itu.

"Kongcu,"

Kata pelayan itu.

"di dalam almari itu terdapat pakaian yang sengaja disediakan oleh Yo-loya untuk kongcu pakai."

Setelah pelayan itu pergi, Goan Ciang berdiri tertegun, mengagumi kamar yang indah itu.

Bagaikan seorang anak kecil menemukan mainan baru, dia mencoba duduk di kursi yang terukir itu, mencoba rebah di dipan yang lunak, dan membuka almari melihat dengan mata terbelalak pakaian yang terbuat dari sutera halus, lengkap dan ketika dicobanya, ukurannyapun tepat dengan tubuhnya!

Mulai hari itu, Goan Ciang tinggal di rumah Yo Ci, diperlakukan sebagai seorang tamu yang terhormat.

Setiap hari dia pergi meninggalkan rumah itu menuju ke bandar untuk melakukan penyelidikan.

Dia merasa heran sekali melihat betapa dua puluh orang pekerja yang kemarin dibantunya, kini acuh saja melihatnya, bahkan membuang muka seolah tidak mengenalnya lagi.

Mandor gendut juga tidak ada, diganti seorang mandor yang kurus dan nampak ramah.

Dalam pengamatannya, dia mendapat kenyataan bahwa semua pekerja itu bekerja dengan tertib dan rajin, dan memang tidak pernah terjadi keributan di situ karena semua pekerja takut kepada para pengawal atau tukang pukul.

Dan memang keamanan terjaga, tidak ada barang yang hilang, tidak pernah terjadi pencurian.

Akan tetapi, dia melihat pula bahwa dalam segala bidang diadakan uang pungutan atau semacam pajak yang besar.

Hal ini dia ketahui ketika dia mendekati para pemilik perahu.

Biarpun takut-takut, para pemilik perahu inilah yang menceritakan kepada Goan Ciang bahwa setiap orang pemilik perahu harus menyerahkan sebagian dari hasil penyewaan perahunya kepada penguasa melalui anak buah Yo-loya.

Bukan hanya pemilik perahu yang dikenakan pajak, juga pemilik barang.

Baik barang yang masuk di bandar itu, maupun yang keluar, semua dikenakan pajak yang besar jumlahnya.

Hal ini,menurut tukang perahu, membuat pekerjaan mereka tidak lancar.

Terpaksa tukang perahu menaikkan tarip sewa perahum dan para pedagang menaikkan harga dagangan mereka.

Inipun secara sembunyi, karena kalau ketahuan nak buah Yo-loya, maka pajakpun akan dinaikkan sesuai dengan kenaikan sewa perahu atau harga barang dagangan!

Cu Goan Ciang melihat betapa para pedagang, tukang perahu, sampai pekerja kasar semua sudah dicengkeram oleh penguasa melalui anak buah Yo-loya, dan diperas habis-habisan!

Malam itu, setelah makan malam yang mewah seorang diri karena Yo-loya sedang keluar rumah, Goan Ciang berjalan-jalan di taman bunga yang luas dan indah milik keluarga itu.

Kamarnya memang berada di samping, menembus taman sehingga dia dapat dengan leluasa meninggalkan kamar untuk keluar rumah atau memasuki taman.

Malam itu terang bulan, udaranya juga hangat karena tidak ada angin dan terangnya bulan ditambah pula dengan lampu-lampu gantung beraneka warna yang berada di taman.

Goan Ciang duduk di atas bangku dekan kolam ikan emas, termenung.

Dia bingung memikirkan keadaan bandar.

Jelas bahwa semua orang, dari pedagang sampai pekerja kasar, diperas oleh penguasa.

Para pedagang dan tukang perahu masih dapat berusaha menutup biaya pemerasan itu dengan menaikkan tarip sewa dan harga barang.

Akan tetapi bagaimana dengan para pekerja?

Mereka tidak dapat berbuat sesuatu kecuali menerima nasib.

Juga, kenaikan harga barang-barang itu akhirnya menimpa pula rakyat kecil yang membutuhkannya, karena harganya otomatis menjadi mahal.

Dia memikirkan peran yang dipegang Yo Ci.

Benarkah Yo Ci membantu para pekerja kasar, membantu para pemilik perahu dan pedagang?

Mengatur dan menertibkan keadaan agar mereka semua tidak diganggu oleh penguasa setempat?

Ataukah Yo Ci mempergunakan hubungannya dengan para penguasa untuk mengeduk keuntungan sebesarnya dari pemerasan itu?

Membagi-bagi hasil pemerasan dengan penguasa?

Dia harus berhati-hati sebelum melihat buktinya.

Anak buah Yo Ci memang memperlihatkan kekerasan dan kekejaman, akan tetapi sikap Yo Ci baik sekali, tidak seperti orang yang suka melakukan pemerasan.

Tiba-tiba Goan Ciang dikejutkan oleh suara tawa beberapa orang wanita.

Dia hendak menyelinap pergi, namun terlambat karena pada saat itu terdengar suara yang merdu.

"Aih, kiranya Cu-sicu yang berada di sini! Maafkan kalau kami mengganggu ketenanganmu, sicu!"

Cu Goan Ciang memandang dan dia mengenal wanita yang bicara itu.

Isteri ke empat dari Yo Ci.

Isteri ke empat ini masih muda, belum tiga puluh tahun usianya dan cantik manis.

Di belakangnya berjalan lima orang gadis pelayan yang juga cantik-cantik berusia dari delapan belas sampai dua puluh tahun, dengan pakaian pelayan namun tidak menyembunyikan kecantikan wajah mereka dan kemolekkan tubuh mereka.

"Saya yang minta maaf, toanio (nyonya besar), saya telah lancang memasuki taman keluarga..."

"Aihh, sicu, mengapa begitu sungkan dan menyebutku toanio segala? Bukankah engkau menyebut suamiku paman? Nah, sepatutnya engkau menyebutku bibi, akan tetapi karena usia kita tidak berselisih banyak, lebih pantas kalau engkau menyebut aku enci. Namaku Yen Li, kausebut aku enci Yen Li, bukankah lebih mesra?"

Setelah berkata demikian, wanita cantik selir tuan rumah itu mendekatinya, dengan berani memegang tangannya dan mengajaknya duduk kembali di atas bangku panjang dekat kolam ikan.

Lima orang gadis pelayan itu sambil tersenyum-senyum juga mengepungnya, ada yang menawarkan minuman ada yang menawarkan manisan atau buah-buahan, semua dengan suara merdu dan merayu.

Dikelilingi enam orang wanita cantik itu, Goan Ciang merasa seolah tenggelam ke dalam air, membuatnya gelagapan karena bau harum menyesakkan dadanya.

Dia adalah seorang pemuda yang selamanya belum pernah berdekatan dengan wanita, dan kini enam orang wanita cantik seolah saling berebut untuk menarik perhatiannya.

Sentuhan jari tangan lembut, kerling tajam memikat dan senyum semanis madu seperti membuat dia tenggelam.

Akan tetapi, Cu Goan Ciang adalah seorang laki-laki yang keras hati.

Dia memiliki cita-cita yang tinggi dan sebelum cita-citanya itu tercapai, dia tidak mau diganggu oleh godaan wanita, apa lagi mengingat bahwa wanita ini adalah isteri muda tuan rumah.

Sungguh memalukan sekali kalau dia, sebagai tamu yang dihormati dan diperlakukan baik, kini mengkhianati tuan rumah dengan menyambut uluran tangan kotor wanita itu.

"Maaf, tidak baik begini, aku mau pergi tidur!"

Katanya dan diapun cepat menyelinap, melepaskan diri dari kepungan enam orang wanita itu dan berlari memasuki kamarnya dan menutupkan daun pintu, menguncinya dari dalam.

Terdengar langkah-langkah kaki lembut mengejarnya dan kini daun pintu kamarnya diketuk-ketuk dari luar.

"Sicu, buka pintu, biarkan aku masuk, aku ingin bercakap-cakap denganmu!"

Terdengar suara selir tuan rumah itu.

"Kongcu, bukalah, saya ingin melayani kongcu!"

Terdengar suara gadis pelayan, disusul kata-kata bujukan dari para gadis pelayan yang lain. Goan Ciang mengerutkan alisnya.

"Bagaimana mungkin mereka begitu nekat? Andai kata mereka adalah wanita-wanita tak bermalu, tentu tidak begitu caranya, tidak beramai-ramai dan terang-terangan seperti itu."

Timbul kecurigaan di hati pemuda ini.

Sungguh tidak wajar sikap mereka, pikirnya, seperti diatur saja.

Diatur oleh Yo Ci!

Kalau tidak demikian, kiranya selir itu tidak akan senekat itu.

Andai kata tertarik kepadanyapun tentu melakukan usaha hubungan secara rahasia agar tidak diketahui para isteri lain.

Akan tetapi ini demikian terang-terangan, seolah selir itu dan lima orang pelayannya tidak takut ketahuan orang lain.

Ini tidak wajar!

Diapun mendekati pintu dan berkata dengan nada suara tegas.

"Haii, kalian yang berada di depan pintu, pergilah dan jangan menggangguku, atau aku akan pergi meninggalkan rumah ini sekarang juga dan besok aku akan melapor dan protes kepada paman Yo Ci!"

Suara di luar itu berhenti, kemudian terdengar kaki-kaki ringan melangkah pergi dan mereka bersungut-sungut. Terdengar oleh Goan Ciang cemoohan beberapa di antara mereka.

"Huh, laki-laki banci!"

Semenjak malam itu, Goan Ciang tidak pernah lagi diganggu wanita.

Beberapa hari kemudian, Yo Ci mengajak dia bercakap-cakap di ruangan dalam.

Setelah menyuguhkan anggur dan makanan kering, Yo Ci lalu membuka percakapan.

"Bagaimana, Cu-sicu? Setelah beberapa hari tinggal di sini dan melakukan penyelidikan ke bandar, maukah engkau menerima tawaranku untuk bekerja membantuku? Aku akan memberi kekuasaan sepenuhnya kepadamu."

"Terima kasih, paman. Memang sudah saya lakukan penyelidikan dan saya sudah mengambil keputusan."

"Bagus!"

Seru Yo Ci gembira.

Tadinya dia sudah marah merasa hampir putus asa karena pemuda itu demikian keras hati.

Bahkan pakaian selemari penuh yang disediakannya untuk pemuda itu, tidak pernah dipakainya.

Pemuda itu selalu memakai pakaian bekalnya sendiri yang sederhana.

Dan lebih dari itu, usahanya menggoda dan menjatuhkan pemuda itu di bawah pengaruh kecantikan wanitapun gagal!

"Saya mau membantu paman, dengan syarat!"

"Apa syaratnya? Katakan! Berapa gaji yang kau minta? Akan kupenuhi."

"Bukan itu, paman Yo. Syaratnya adalah agar tidak dikenakan pajak kepada para pekerja kasar itu, dan para mandor tidak perlu membawa tukang pukul, tidak perlu dilakukan kekerasan terhadap para pekerja kasar. Selain gaji mereka tidak dipotong, juga kalau mereka sakit harus diberi biaya pengobatan dan diberi bantuan untuk mereka dapat makan selama dalam sakit."

"Tapi itu tidak mungkin!"

Yo Ci mengerutkan alisnya dan pandang matanya berkilat marah.

"Kita harus membayar pajak kepada para penguasa, orang-orangnya pemerintah. Tanpa memungut pajak dari para pekerja, bagaimana kita dapat membayar pajak kepada pemerintah?"

"Paman, saya sudah melakukan penyelidikan dan tahu bahwa paman sudah menyuruh orang memungut pajak yang besar dari para pedagang pemilik barang yang dibongkar muat di bandar, dan juga dari para juragan perahu. Mereka adalah orang-orang yang memiliki modal, cukup pantas kalau dikenakan pajak karena mereka memang mendapatkan keuntungan. Akan tetapi, para pekerja kasar itu hanya bermodalkan tenaga badan, sungguh tidak adil kalau harus diperas dan dikenakan pajak dan tidak dijamin kalau jatuh sakit dan tidak dapat bekerja."

Yo Ci mengerutkan alisnya semakin mendalam, matanya bersinar marah.

"Cu-sicu, aturan yang kauajukan ini dapat membuat aku bangkrut! Ajukan syarat lain untuk dirimu sendiri, kenapa engkau begitu membela para pekerja kasar itu? Tahukan engkau bahwa di antara mereka itu banyak terdapat penjahat-penjahat kecil yang kalau tidak dikendalikan akan menjadi pencuri, perampok dan pengacau yang jahat?"

"Paman, betapapun jahatnya seseorang, kalau dia sudah mau bekerja keras, hal itu menunjukkan bahwa dia berusaha untuk kembali ke jalan benar. Karena itu, perlu ditunjang agar jangan sampai mereka kembali terperosok ke dalam kejahatan. Kalau ditekan, bukan tidak mungkin mereka akan kembali menjadi pencuri."

Sebelum tuan rumah membantah, tiba-tiba masuk seorang pengawal melaporkan akan kedatangan Bhong-Ciangkun (perwira Bhong).

"Ah, persilahkan dia menunggu di ruang tamu, sebentar lagi aku akan menyambutnya,"

Kata Yo Ci dan setelah pengawal itu pergi, Yo Ci berkata kepada Goan Ciang.

"Nah, terpaksa kita hentikan dulu percakapan kita, sicu. Yang datang adalah perwira Bhong yang berkuasa di kota ini, bahkan dia penguasa yang ditugaskan mengatur bandar. Kebetulan sekali, mari kuperkenalkan dengan dia."

Sebetulnya Goan Ciang tidak ingin berkenalan dengan perwira pemerintah yang hendak ditentangnya, akan tetapi untuk menolak, dia merasa tidak enak kepada Yo Ci.

Pula, dia ingin melihat dan mendengar apa hubungan tuan rumah ini dengan penguasa itu.

Ketika tiba di ruangan tamu dan diperkenalkan dengan tamu itu, Goan Ciang memandang penuh perhatian.

Perwira itu masih muda, kurang lebih tiga puluh lima tahun usianya, tegap tampan dan gagah, dengan pakaian yang gemerlapan, pedang tergantung di pinggang, lagaknya angkuh ketika dia memandang kepada Goan Ciang dengan sikap merendahkan karena Goan Ciang hanya berpakaian sederhana.

Tiga orang pengawal yang tadinya berdiri di belakang perwira itu, setelah menerima isarat, lalu keluar dari ruangan tamu.

"Paman Yo Ci, siapakah pemuda ini?"

Tanyanya Bhong-Ciangkun dengan sikap angkuh.

Dari lagak, bentuk wajah dan pakaiannya, Goan Ciang dapat menduga bahwa perwira ini, bukanlah pribumi, setidaknya tentu keturunan Mongol kalau bukan Mongol asli.

"Perkenalkan, Ciangkun. Ini adalah saudara Cu Goan Ciang, calon pembantu saya, pembantu utama yang dapat diandalkan. Cu-hiante, ini adalah yang terhormat Bhong-Ciangkun."

Perwira itu hanya mengangguk, dan Goan Ciang juga tidak mengangkat kedua tangan, melainkan (Lanjut ke

Jilid 05) Rajawali Lembah Huai (Cerita Lepas) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05 membalasnya dengan anggukan biasa pula.

Tidak sudi dia bersikap hormat dan merendah terhadap seorang perwira Mongol!

Melihat sikap Goan Ciang, Yo Ci merasa tidak senang dan khawatir kalau perwira itu marah, maka cepat dia mempersilahkan perwira itu untuk duduk.

Seorang pelayan wanita datang menyuguhkan minuman dan makanan.

Melihat wanita muda itu, mata sang perwira menjadi jalang dan pelayan itu mengingatkan dia akan sesuatu, maka katanya.

"Paman, mana Nona Yo? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya sehingga merasa rindu. Bolehkah aku bertemu dan bercengkerama dengannya?"

Terkejutlah Goan Ciang.

Permintaan itu sungguh tidak pantas sekali.

Minta kepada tuan rumah agar dapat bertemu dan bercengkerama dengan gadis puteri tuan rumah!

Akan tetapi agaknya Yo Ci sama sekali tidak marah, bahkan tersenyum lebar.

"Nanti dulu, Ciangkun. Kita membicarakan urusan pekerjaan dulu, nanti Ciangkun boleh bicara sepuasnya dengannya."

Ucapan ini saja sudah menunjukkan bahwa agaknya sang perwira memang sudah bersahabat baik dengan puteri majikan itu!

Dan teringatlah Goan Ciang akan peristiwa pada malam hari itu.

Dia menduga bahwa Yo Ci sengaja menyerahkan selirnya kepadanya sebagai umpan.

Orang yang berwatak seperti itu, bukan tidak mungkin kalau juga mengumpankan puterinya sendiri kepada seorang penguasa seperti Bhong-Ciangkun.

Diam-diam Goan Ciang merasa jijik membayangkan betapa gadis puteri Yo Ci yang cantik jelita itu dijadikan alat untuk menyenangkan hati sang perwira.

"Ha-ha-ha, baiklah, paman. Nah, urusan apa yang begitu penting sehingga paman mengundang aku datang ke sini? Dan kenapa sobat Cu ini ikut hadir?"

"Justeru aku ingin bicara tentang saudara Cu Goan Ciang ini, Ciangkun. Dia adalah seorang pemuda yang tangguh dan lihai, memiliki kepandaian yang boleh diandalkan. Karena itu, aku ingin mengangkat dia menjadi pembantu utama untuk mengepalai semua mandor bandar agar keamanan terjamin dan tidak ada mandor yang curang dan mengurangi penghasilan. Akan tetapi dia mengajukan syarat..."

"Nanti dulu, paman. Saudara Cu ini apakah mampu untuk memimpin semua mandor dan menjamin keamanan di sana? Dibutuhkan seorang yang benar-benar tangguh untuk pekerjaan seperti itu, paman!"

Pandang mata Bhong-Ciangkun kini penuh selidik menatap wajah Goan Ciang, alisnya berkerut dan sikapnya penuh kesangsian. Yo Ci tersenyum lebar.

"Percayalah, Ciangkun. Sudah terbukti ketangkasannya, dan kalau perlu boleh diuji. Akan tetapi, dia mengajukan syarat dan syarat itulah yang ingin kubicarakan denganmu, minta pendapatmu bagaimana."

"Hemm, apa syaratnya? Kalau gaji besar, mudah saja..."

"Justeru itulah, dia tidak menghendaki gaji besar dan lain kesenangan untuk dirinya sendiri. Syaratnya adalah agar gaji para pekerja kasar di bandar diberikan penuh, tidak dipotong pajak..."

"Apa?? Tidak mungkin! Kita makan apa kalau pajak itu dibebaskan?"

Seru perwira itu melotot.

Ucapan ini dicatat dalam hati oleh Goan Ciang karena ucapan itu mengungkapkan bahwa pembayaran pajak atau pungutan pajak dari para pekerja kasar itu merupakan penghasilan perwira ini!

Yo Ci tidak berbohong ketika mengatakan bahwa pajak itu disetorkan kepada penguasa, mungkin dibagi di antara mereka.

"Akan tetapi, Ciangkun. Para pekerja kasar itu hanya berpenghasilan lima belas keping sehari, dan pajaknya lima keping, sungguh amat berat bagi mereka. Apakah tidak dapat dihapuskan, atau setidaknya dikurangi agar jangan terlalu berat dan mereka bisa mendapatkan penghasilan yang cukup untuk makan?"

Perwira itu menatap wajah Goan Ciang dengan sinar mata berkilat.

"Kalau engkau ingin bekerja pada paman Yo, kenapa mesti mencampuri urusan pemungutan pajak? Engkau bekerja saja dengan baik, menerima upah yang besar dan urusan pajak serahkan saja kepada kami. Engkau tinggal memerintahkan mandor untuk memotong gaji mereka, habis perkara!"

Wajah Goan Ciang mulai berubah merah.

Perwira ini sungguh angkuh, sombong setengah mati, memandang rendah sekali kepadanya dan belum apa-apa sudah menganggap dia seorang bawahannya yang harus patuh kepadanya.

"Ciangkun, aku ingin bekerja kepada paman Yo, bukan kepadamu! Pula, syaratku itu tidak boleh ditawar-tawar lagi. Diterima syukur, kalau tidakpun tidak apa-apa, aku tidak bekerja di bandarpun tidak mengapa!"

"Cu-hiante, kenapa sikapmu begini? Ingat, engkau berhadapan dengan Bhong-Ciangkun, penguasa bandar di Wu-han!"

Yo Ci terpaksa menegur karena dia khawatir kalau sampai perwira itu marah.

"Paman, aku tidak perduli siapa dia. Siapapun dia, aku tidak sudi dipaksa untuk membantu orang memeras dan menindas para pekerja kasar yang miskin itu!"

Kata Goan Ciang yang sudah marah pula.

"Bocah sombong!"

Perwira Bhong kini bangkit dari kursinya dan menudingkan telunjuknya kepada muka pemuda itu.

"Berani engkau bersikap seperti ini di hadapanku? Engkau ini agaknya sekomplotan dengan para pekerja kasar itu, ya? Hendak memberontak, ya? Para pekerja kasar itu seperti segerombolan anjing, kalau tidak diperlakukan dengan keras, mereka akan banyak bertingkah! Kau hendak memimpin mereka memberontak terhadap pemerintah?"

Bukan main marahnya Cu Goan Ciang.

Tanpa disadari, tangannya mencengkeram cawan arak di depannya dan cawan itu menjadi ringsek!

Diapun bangkit berdiri dan menentang pandang mata perwira itu dengan mata mencorong.

Melihat ini, tentu saja Yo Ci khawatir sekali kalau sang perwira akan marah kepadanya dan menyalahkan dia karena dia yang menampung Goan Ciang.

"Cu Goan Ciang, sungguh engkau mengecewakan hatiku. Engkau orang tidak berbudi. Kurang baik bagaimana kami menerimamu sebagai tamu? Akan tetapi engkau tidak dapat menghargai budi kebaikan kami, bahkan kini bersikap kurang ajar sekali terhadap Bhong-Ciangkun yang kami hormati?"

Melihat betapa Yo Ci membela perwira itu dan menegurnya, Goan Ciang tersenyum mengejek.

"Majikan Yo, aku tahu bahwa selama beberapa hari ini engkau hanya ingin membujukku. Engkau bahkan tidak segan untuk menyerahkan isterimu sebagai umpan untuk merayuku! Akan tetapi, aku bukan orang sebodoh itu. Engkau baik kepadaku hanya untuk membujuk agar aku suka menghambakan diriku kepadamu. Hemm, aku tidak sudi untuk membantumu memeras para pekerja miskin dan menjadi antek perwira ini!"

"Keparat, engkau sungguh jahat!"

Yo Ci berseru dan berteriak memanggil pengawal.

Sepuluh orang pengawal yang nampak bengis dan kuat membukan daun pintu dan berdiri di luar kamar itu, siap untuk turun tangan apabila diperintah.

Juga tiga orang pengawal perwira itu sudah siap di ambang pintu.

"Sudahlah, aku tidak mau berurusan lagi dengan kalian,"

Kata Goan Ciang dan diapun melangkah hendak keluar dari ruangan itu tanpa memperdulikan para pengawal yang berdiri menghadang di pintu.

"Tangkap dia!"

Teriak Yo Ci kepada para pengawalnya.

Mendengar perintah ini, ketika Goan Ciang sudah tiba di luar kamar tamu, para pengawal itu menghadang.

Namun, Goan Ciagn menyelinap dan meloncat, lari ke dalam kamarnya.

Memang dia selalu sudah mempersiapkan buntalan pakaiannya, maka begitu memasuki kamarnya, dia menyambar dan mengikatkan buntalan pakaiannya di punggung, kemudian dia keluar dari kamarnya melalui taman.

Kiranya para pengawal sudah menghadang di sana, bersama Yo Ci, Bhong-Ciangkun, dan tiga orang pengawal Bhong-Ciangkun.

Tidak kurang daari dua puluh orang sudah menghadangnya.

"Pemberontak, berlutut dan menyerahlah engkau!"

Teriak Bhong-Ciangkun sambil menghunus pedangnya.

"Cu Goan Ciang, engkau telah bersalah terhadap pejabat pemerintah, menyerahlah!"

Bentak pula Yo Ci yang kini sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk mempergunakan tenaga pemuda yang keras hati itu karena sia-sia saja dia membujuk, dan kini bangkit kemarahannya mengingat bahwa pemuda ini pernah menghajar anak buahnya di bandar dan merugikannya.

"Aku tidak sudi menyerah!"

Bentak Cu Goan Ciang.

"Serang dia, bunuh dia!"

Perwira Bhong yang sudah marah sekali itu berseru dan dia sendiri yang memandang rendah Goan Ciang sudah menggerakkan pedangnya menyerang, disusul oleh Yo Ci yang juga menyerang dengan menggunakan huncwenya.

Ternyata serangan kedua orang ini cukup hebat sehingga Goan Ciang cepat menggunakan kegesitannya untuk mengelak.

Akan tetapi dia disambut serangan belasan orang pengawal yang rata-rata memiliki tenaga kuat dan ilmu silat yang lumayan tangguh.

Maklum bahwa dia berada dalam bahaya karena dikeroyok banyak lawan yang cukup tangguh dan yang bermaksud untuk membunuhnya, Cu Goan Ciang segera mengeluarkan ilmu andalannya, yaitu Sin-tiauw ciang-hoat, ilmu rahasia yang dia pelajari dari gurunya, Lauw In Hwesio ketua Siauw-lim-si.

Tiba-tiba dia mengeluarkan suara melengking panjang dan tubuhnya melayang ke atas bagaikan seekor burung rajawali sehingga semua serangan lawan luput dan ketika semua pengeroyok berdongak untuk mengikuti gerakan pemuda yang melayang seperti burung itu, Goan Ciang menukik turun dan begitu dia menyambar dengan kaki tangannya, empat orang pengeroyok roboh terpelanting seperti disambar petir.

Cu Goan Ciang mengamuk dan pengeroyokan semakin ketat karena para pengeroyok marah melihat betapa pemuda itu telah merobohkan empat orang kawan mereka.

Bhong-Ciangkun mengeluarkan bentakan nyaring dan dia yang memiliki kepandaian paling tinggi di antara para pengawal, menerjang dengan pedangnya, mengerahkan tenaganya untuk memenggal leher Goan Ciang.

"Singgg...!!"

Ketika Goan Ciang mengelak, pedang itu menyambar luput dan mengeluarkan suara berdesing.

Sebelum Goan Ciang mampu membalas serangan perwira yang dibencinya itu, para pengeroyok lain sudah menyerangnya dari berbagai penjuru, bahkan huncwe emas di tangan Yo Ci ternyata lihai sekali melakukan totokan ke arah jalan darah di lehernya.

Goan Ciang kembali membentak dan melengking nyaring, tubuhnya berkelebatan gesit sekali dan ketika dia melompat ke atas lalu menyambar bagaikan seekor rajawali, kembali dua orang pengeroyok dapat dia robohkan!

Sekali ini yang roboh adalah pengawal Bhong-Ciangkun, maka perwira itu menjadi penasaran dan marah.

Pedangnya menyambar-nyambar ganas dan cepat ke arah tubuh Goan Ciang.

Karena huncwe di tangan Yo Ci juga menyambar-nyambar dengan totokannya dan semua jalan keluar dihadang oleh sambaran senjata para pengeroyok lainnya, maka Goan Ciang agak terdesak.

"Singgg... crokk...!"

Pakaian di buntalan yang terletak di punggung Goan Ciang jatuh berhamburan karena buntalan itu pecah terkena sabetan pedang di tangan Bhong-Ciangkun.

"Sekarang otakmu yang berhamburan!"

Perwira yang merasa mendapat hati karena sudah berhasil mendesak lawannya dan merobek buntalan pakaian, mendesak dengan ganasnya.

Goan Ciang sengaja menanti sampai pedang itu menyambar kepalanya.

Dengan menarik kepala ke belakang, pedang itu menyambar lewat.

Secepat kilat dia mencengkeram pergelangan tangan yang memegang pedang.

Perwira itu berteriak kesakitan dan pedangnya terlepas.

Goan Ciang menyambar pedang itu dan sekali dia mengelebatkan senjata itu, robeklah perut Bhong-Ciangkun yang mengeluarkan suara jeritan panjang lalu roboh mandi darah!

Bukan main kaget dan marahnya Yo Ci melihat perwira itu roboh dan tewas.

Dia membentak nyaring, menyuruh anak buahnya mencari bala bantuan, dan dia sendiri memimpin para pengawal untuk mengeroyok.

Huncwenya menyambar-nyambar dan memang ilmu silat Yo Ci cukup tinggi, lebih tinggi dari pada semua pengawalnya.

Namun sekali ini Goan Ciang tidak memberi hati lagi.

Dia menggunakan pedang rampasannya untuk mengamuk.

Pedang itu lenyap bentuknya berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan dalam waktu sebentar saja, para pengeroyok itu sudah kocar-kacir dan banyak yang roboh mandi darah.

Yo Ci masih bertahan dan kini dia, dibantu sisa pengawalnya, bertanding mati-matian melawan Goan Ciang.

Sebetulnya kalau dia menghendaki, Goan Ciang tentu sudah dapat merobohkan dan membunuh Yo Ci.

Akan tetapi dia tidak ingin membunuh orang yang pernah menjadi tuan rumah ini, hanya ingin merobohkan tanpa membunuh.

Pada saat itu, bermunculan banyak orang berpakaian seragam.

Pasukan keamanan pemerintah!

Goan Ciang menjadi marah.

"Yo Ci, engkau anjing penjilat penjajah!"

Bentaknya dan begitu pedangnya diputar, huncwe di tangan Yo Ci terpental dan sebuah tendangan yang keras mengenai dada Yo Ci, membuat dia terjengkang dan roboh pingsan!

Setelah merobohkan Yo Ci, Goan Ciang lalu melompat, merobohkan tiga orang penghadang dan lari keluar dari taman, dikejar oleh banyak prajurit keamanan.

Gegerlah kota Wu-han di hari itu.

Di mana-mana, para prajurit berlarian dan mencari-cari, namun bayangan pemuda yang mereka cari itu lenyap.

Para prajurit menggeledah semua rumah dan kesempatan melakukan "pembersihan"

Ini mereka pergunakan seperti biasa, demi keuntungan diri sendiri.

Ketika menggeledah rumah-rumah orang, mereka waspada terhadap barang-barang berharga yang kecil untuk disambar dan dimasukkan kantung, juga terhadap gadis-gadis atau ibu-ibu muda yang cantik untuk digoda, dicolek, bahkan ada yang sempat diperkosa!

Seluruh kota menjadi geger.

Semua orang kini mendengar bahwa pemuda yang bernama Cu Goan Ciang telah membunuh Bhong-Ciangkun penguasa bandar, juga membunuh banyak prajurit pengawal di rumah Yo Ci, majikan yang mengatur bandar.

Mendengar berita ini, banyak orang merasa puas dan gembira karena mereka semua rata-rata pernah diperas oleh Bhong-Ciangkun dan Yo Ci.

Akan tetapi banyak pula yang mengeluh karena gara-gara pemuda itu, mereka menderita rugi, ada barang yang dirampas para prajurit yang melakukan penggeledahan, ada pula perempuan yang diganggu.

Bahkan para pekerja kasar di bandar berdebar-debar penuh kekhawatiran karena mereka takut kalau-kalau para pembesar menyalahkan mereka, mengingat betapa pemuda yang mengamuk itu pada mulanya membela mereka di bandar.

Ke mana perginya Cu Goan Ciang?

Dia tidak mempunyai seorangpun kenalan di kota Wu-han yang ramai itu, dan kiranya akan sukar baginya untuk bersembunyi di dalam kota karena puluhan orang prajurit melakukan penggeledahan, bahkan semua pintu gerbang kota Wu-han dijaga ketat dan setiap orang yang keluar dari pintu gerbang diperiksa dan diamati.

Ketika Goan Ciang melarikan diri, menyelinap ke sana-sini, di antara rumah-rumah, ke sana bertemu penjaga dan ke sinipun bertemu prajurit sampai dia terengah-engah kebingungan karena pengejaran semakin rapat, tiba-tiba dia melihat serombongan orang mengiringkan sebuah joli yang dipanggul oleh empat orang.

Rombongan itu terdiri dari enam orang wanita dan enam orang pria, yang berjalan di belakang joli yang tertutup tirai merah.

Goan Ciang mendapat akal.

Cepat dia lari ke rombongan itu dan menyusup ke tengah-tengah di antara enam orang pria dan enam orang wanita.

Dua belas orang itu memandang dan nampak marah, akan tetapi dari dalam joli terdengara suara lembut seorang wanita.

"Sipa kau dan mau apa?"

"Aku mohon bantuan kalian untuk dibolehkan bersembunyi dalam rombongan ini, aku dikejar-kejar pasukan keamanan!"

"Kenapa?"

Tidak ada gunanya berbohong. Untung-untungan, pikirnya. Kalau orang ini seperti Yo Ci, menjadi antek pemerintah, tentu dia akan dikeroyok, akan tetapi kalau sebaliknya, mungkin dia akan dibantu.

"Aku telah membunuh seorang perwira."

Dua belas orang itu mengeluarkan seruan tertahan dan suara dalam joli berkata.

"Ah, kiranya engkau yang menggegerkan kota itu? Nah, engkau bersembunyilah ke sini, di dalam joli. Turunkan joli!"

Perintahnya kepada para penggotongnya.

Empat orang penggotong dan dua belas orang pengikut itu menjadi terheran-heran ketika nona mereka membuka tirai merah joli itu dan memberi isyarat kepada Goan Ciang untuk memasuki joli!

Joli itu kecil saja, kalau ditumpangi dua orang tentu akan berhimpitan!

Akan tetapi karena yang menyuruhnya adalah pemilik joli, dan dia tidak melihat tempat lain yang lebih baik untuk bersembunyi, diapun masuk ke dalam joli.

"Hayo, jalan kembali, tenang dan biasa saja, jangan panik,"

Kata wanita itu kepada para penggotong dan para pengikutnya.

Joli digotong lagi dan perjalanan dilanjutkan.

Cu Goan Ciang juga terkejut dan mukanya terasa panas, tentu berwarna merah sekali ketika dia melihat bahwa yang menyuruh dia masuk ke joli yang kini duduk di sebelahnya, bahkan duduk berhimpitan karena joli itu terlalu kecil untuk mereka berdua, adalah seorang gadis yang cantik manis berusia kurang lebih delapan belas tahun!

Gadis itu berwajah bulat telur, sepasang matanya lebar dan jeli, senyumnya wajar dan pakaiannya dari sutera halus namun riasan mukanya sederhana saja.

Biarpun demikian, kesederhanaan itu justeru membuat kecantikannya semakin menonjol.

Keharuman yang lembut membuai Goan Ciang, dan dia dapat merasakan kehangatan dan kelembutan tubuh gadis itu yang duduk berhimpitan dengan dia, beradu sisi pinggul dan paha.

Selama hidupnya, belum pernah dia berdekatan dan akrab dengan wanita dan sekali ini, dia duduk berhimpitan seperti itu.

Tentu saja jantungnya berdebar aneh dan dia seperti seekor tikus di sudut yang dihadapi kucing.

Tidak berani bergerak, bahkan kalau mungkin dia akan menghentikan pernapasannya.

Rombongan itu menuju ke pintu gerbang timur.

Di tengah perjalanan, seregu prajurit menghentikan rombongan itu.

"Berhenti!"

Terdengar bentakan perwira regu itu.

"Kami bertugas menyelidiki setiap orang yang lewat di sini."

Tentu saja Cu Goan Ciang merasa tegang.

Celaka, pikirnya, pasti dia akan ditangkap.

Yang membuat dia menyesal adalah bahwa gadis dalam joli yang berusaha menolongnya ini akan terbawa-bawa.

Maka, diapun membuat gerakan hendak meloncat keluar, akan tetapi tiba-tiba telapak tangan yang lunak dan hangat memegang pergelangan tangannya.

Ketika dia menoleh ke kiri, hampir saja hidungnya menyentuh pipi gadis itu saking dekatnya mereka berhimpitan.

Gadis itu menggeleng kepala perlahan sambil tersenyum.

Senyum itu!

Pandang mata itu!

Goan Ciang menunduk, akan tetapi biarpun dia tidak jadi meloncat keluar, seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang, siap melawan kalau sampai ketahuan dan akan ditangkap.

"Ciangkun, kami mengantar nona untuk ke luar kota,"

Seorang di antara pengawal rombongan joli itu memberi keterangan kepada kepala regu prajurit.

"Kami harus memeriksa dengan ketat, karena ada seorang buruan melarikan diri!"

Jawab perwira itu yang agaknya mengenal rombongan.

Gadis itu menguak tirai di sudut depannya dan menjenguk keluar.

Ia tersenyum manis kepada perwira itu dan suaranya terdengar halus, namun bernada teguran.

"Ciangkun yang gagah, apakah Ciangkun sudah mulai tidak percaya dan mencurigai kami dari Jang-kiang-pang?"

Melihat nona itu, si perwira cepat memberi hormat.

"Aih, kiranya Kim Siocia (Nona Kim) sendiri yang berada dalam joli. Harap maafkan kami karena kami bertugas untuk mencari seorang pelarian!"

Gadis itu hanya kelihatan kepalanya terjulur keluar dari tirai joli, mengangguk-angguk.

"Aku sudah mendengar akan keributan itu. Bukankah yang kau cari itu orang yang telah membunuh Bhong-Ciangkun? Betapa beraninya orang itu! Akan tetapi kenapa engkau menghentikan rombongan kami, Ciangkun? Apa kau kira pembunuh itu berada di dalam joliku yang kecil ini?"

"Aku tidak sebodoh itu, siocia! Akan tetapi, kami hanya ingin melihat, siapa tahu pembunuh itu menyusup di antara para pengiring siocia."

"Hemm, kalau begitu periksalah semua anak buahku. Kalau atasanmu mendengar bahwa engkau mencurigai kami, tentu dia akan merasa tidak senang, dan ketua kami akan marah dan penasaran, lalu melapor kepada atasanmu."

Wajah perwira itu berubah. Dia sudah melihat bahwa di antara enam orang pengawal pria dan empat orang laki-laki pemanggul joli, tidak terdapat pembunuh yang dicarinya.

"Maafkan kami, Kim Siocia. Kami hanya melaksanakan tugas dan sama sekali tidak bermaksud mencurigai nona. Nah, silahkan rombongan nona melanjutkan perjalanan."

Dengan sikap seperti orang marah gadis itu menutupkan tirai joli dan membentak rombongannya untuk melanjutkan perjalanan. Joli dipanggul lagi dan rombongan itu melanjutkan perjalanan.

"Terima kasih,"

Goan Ciang berbisik. Dia hanya cukup menoleh saja untuk mendekatkan mulutnya ke telinga gadis itu.

"Belum waktunya berterima kasih, kita masih belum keluar dari kota,"

Gadis itu berbisik kembali.

Benar saja.

Di pintu gerbang, kembali rombongan itu dihentikan oleh para penjaga.

Akan tetapi, gadis itu dapat pula mengatasi dengan sikapnya yang galak dan menantang akan melaporkan kepada panglima sehingga kepala penjaga menjadi takut dan membiarkan rombongan itu lewat, apa lagi karena mereka tidak melihat adanya pelarian itu di antara para pengiringnya.

Gadis itu agaknya dikenal semua prajurit keamanan dan hal ini tidaklah mengherankan.

Perkumpulang Jang-kiang-pang (Perkumpulang Sungai Panjang) merupakan perkumpulan yang amat terkenal.

Para pemimpinnya memiliki hubungan dekat dengan para pejabat tinggi di Wu-han.

Dan gadis cantik itu merupakan orang ke dua dari pimpinan perkumpulan itu karena ia adalah adik seperguruan sang ketua.

Setelah rombongan itu berhasil keluar dari pintu gerbang dengan selamat, bahkan sudah jauh dari kota Wu-han, di dekat sebuah bukit, gadis itu menyuruh rombongannya berhenti.

Joli diturunkan dan Cu Goan Ciang keluar dari dalam joli, diikuti gadis itu.

Kini mereka berdiri berhadapan dan baru dapat saling pandang dengan jelas, tidak seperti di dalam joli tadi walaupun saling berhimpitan, mereka merasa sungkan untuk saling bertatap muka karena terlalu dekat.

Setelah kini keduanya turun dan berdiri berhadapan, barulah Goan Ciang melihat kenyataan betapa cantik manisnya gadis itu, terutama matanya yang jeli dan memancarkan kecerdikan.

Tubuhnya ramping padat dan agak tinggi bagi seorang wanita.

Di lain pihak, gadis itupun baru sekarang dapat melihat dengan jelas betapa gagah dan anggunnya pemuda yang ditolongnya itu.

Seorang pemuda yang masih muda, baru dua puluh tahun usianya, namun pembawaannya sudah masak dan dewasa, dengan tubuh tinggi tegap, tegak dan anggun berwibawa, bagaikan seekor burung rajawali yang gagah perkasa.

Beberapa lamanya mereka berdiri saling berpandangan tanpa mengeluarkan kata-kata.

Hanya pandang mata mereka saja saling mengagumi.

Akhirnya Goan Ciang merasa betapa janggalnya sikap mereka, saling pandang seperti itu tanpa bicara.

Dia lalu mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat kepada gadis itu.

"Aku Cu Goan Ciang telah berhutang budi dan nyawa kepadamu, nona. Aku tidak akan melupakan budi kebaikan nona dan amat berterima kasih kepadamu. Kalau boleh aku mengetahui, siapakah nama nona dan apakah nona seorang pemimpin dari sebuah perkumpulan besar maka begitu dihormati oleh para prajurit penjaga keamanan?"

Melihat sikap Goan Ciang yang sopan, bicaranya yang lantang dan tegas, gadis itu tersenyum. Iapun mengangkat kedua tangan depan dada untuk membalas penghormatan itu.

"Cu-enghiong tidak perlu berterima kasih. Sudah sepantasnya kalau kita saling membantu, apa lagi mengingat bahwa engkau seorang gagah yang berani menentang seorang perwira yang bertindak sewenang-wenang. Kami sudah mendengar akan semua sepak terjangmu yang membela kepentingan para pekerja kasar di bandar. Engkau membela para pekerja kasar yang diperlakukan tidak adil oleh Yo Ci, bahkan engkau telah membunuh Bhong-Ciangkun, penguasa bandar di Wu-han. Kami kagum kepadamu dan sudah selayaknya kalau kami membantumu ketika engkau dikejar-kejar."

"Nona terlalu memuji. Akan tetapi, engkau belum memperkenalkan diri, nona."

"Namaku Kim Lee Siang, membantu suci yang bernama Liu Bi dan dijuluki Jang-kiang Sianli (Dewi Sungai Panjang) memimpin perkumpulan kami Jang-kiang-pang. Markas kami berada di lembah sungai Yang-ce."

"Ah, kiranya nona Kim adalah seorang pemimpin perkumpulan besar. Pantas saja para prajurit itu menghormatimu. Nah, harap nona suka menyampaikan terima kasihku kepada ketua Jang-kiang-pang atas pertolongan yang diberikan kepadaku hari ini. Mudah-mudahan lain kali aku akan dapat membalas budi itu. Sekarang, aku akan melanjutkan perjalananku."

"Engkau hendak pergi ke manakah, Cu-enghiong?"

"Ke mana saja nasib membawa diriku, nona. Yang jelas, aku tidak mungkin dapat tinggal di Wu-han lagi."

"Cu-enghiong, ketahuilah bahwa markas besar pasukan di Wu-han amat kuat dan mempunyai banyak orang pandai. Mereka tentu tidak akan berhenti sebelum dapat menemukanmu dan mereka pasti akan mengirim pasukan untuk melakukan pengejaran. Ke kota manapun engkau pergi, tentu akan dikejar-kejar. Oleh karena itu, kalau engkau suka, sebaiknya engkau bersembunyi dulu di tempat kami. Nanti setelah keadaan mereda dan tidak begitu hangat lagi, pencarian terhadap dirimu mengendur, barulah engkau dapat melanjutkan perjalananmu."

"Ah, aku hanya akan merepotkanmu saja, nona Kim."

"Sama sekali tidak! Suci dan aku akan merasa girang menerimamu sebagai tamu kami. Kami menghargai orang-orang gagah, apa lagi engkau sudah membuktikan bahwa engkau membela para pekerja kasar di bandar. Tentu suci akan menghargaimu pula. Dan engkau akan lepas dari ancaman bahaya pengejaran."

Goan Ciang mengangguk-angguk.

Dia tahu bahwa gadis ini bicara benar.

Kalau dia melarikan diri, tentu ke manapun dia pergi, dia akan selalu terancam bahaya karena dia seorang pelarian yang akan dikejar oleh pasukan keamanan.

Memang sebaiknya kalau dia mendapatkan tempat bersembunyi yang aman selama beberapa waktu.

Dia dapat melihat bagaimana perkembangannya.

Kalau sekiranya dia tidak terlalu merepotkan orang, sebaiknya dia bersembunyi di perkumpulan itu.

Andai kata perkembangannya tidak enak, sewaktu-waktu dia dapat pergi meninggalkan tempat itu.

"Baiklah, nona Kim. Dan kembali terima kasih atas kebaikanmu. Akan tetapi, dari sini biarlah aku berjalan kaki saja,"

Katanya dan dia melihat betapa gadis itu nampak tersipu, tentu teringat betapa tadi mereka duduk berhimpitan, seperti sepasang pengantin saja.

Kim Lee Siang mengangguk dan iapun memasuki jolinya, kemudian memerintahkan para pemikul joli dan pengiringnya untuk bergerak cepat.

Ketika para pemikul joli dan dua belas orang pengiring itu mulai berlari, diam-diam Goan Ciang kagum.

Ternyata bahwa mereka semua, juga empat orang pemikul joli, bukan orang-orang sembarangan.

Diapun mengikuti dari belakang dan betapa cepatnyapun mereka berlari, Goan Ciang dapat mengikuti mereka.

Rombongan baru berhenti berlari ketika mereka tiba di depan pintu gerbang sebuah perkampungan yang dikurung pagar tembok, di tepi sungai yang tinggi, merupakan tebing sungai.

Di situlah markas Jang-kiang-pang.

Karena letaknya di tebing sungai, maka tempat itu tidak pernah terancam banjir kalau musim hujan tiba dan air sungai meluap.

Juga daerah perbukitan itu memiliki tanah yang subur.

Tidak nampak dusun lain di daerah itu.

Agaknya Jang-kiang-pang telah menguasai daerah itu sehingga tidak ada orang lain yang berani menempati daerah itu.

Setelah tiba di pintu gerbang, joli diturunkan dan Kim Lee Siang keluar dari dalam joli.

Empat orang pemikul joli dan dua belas orang pengiringnya agak terengah dan mereka semua menghapus keringat dari muka dan leher.

Akan tetapi ketika Lee Siang mengerling kepada Goan Ciang, ia melihat pemuda itu sama sekali tidak terengah dan tidak berkeringat, maka diam-diam ia yang tadi sengaja hendak menguji pemuda itu, merasa kagum dan tersenyum manis.

"Mari, Cu-enghiong, kita menghadap ketua kami. Kuperkenalkan kepada suciku,"

Katanya dan Cu Goan Ciang mengangguk, lalu mengikuti gadis itu memasuki perkampungan yang menjadi pusat perkumpulan itu.

Setiap orang anggota perkumpulan, laki-laki dan wanita, yang bertemu dengan Lee Siang, memberi hormat dengan sikap ramah, akan tetapi mereka semua memandang kepada Goan Ciang dengan sinar mata curiga.

Gedung yang berada di tengah perkampungan itu, berbeda dengan bangunan-bangunan lain yang berada di situ, selain besar juga megah.

Ketika Cu Goan Ciang mendaki tangga di samping Lee Siang dan tiba di ruanga luar, dia sudah melihat adanya perabot rumah yang serba mewah, pot-pot kembang yang indah, meja kursi yang terukir, tembok yang dicat bersih dan dihias lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan indah.

Dua orang wanita yang berpakaian ringkas, agaknya merupakan pengawal rumah itu, segera menyambut mereka dan kedua orang gadis manis itu memberi hormat kepada Lee Siang.

"Di mana pangcu (ketua)?"

Tanya Lee Siang kepada mereka. Sambil mengerling ke arah Goan Ciang dengan pandang mata heran, seorang di antara dua pengawal itu menjawab.

"Siocia, pangcu sejak pagi tadi pergi ke hutan bambu kuning dan pangcu memesan agar siocia cepat menyusul ke sana."

Lee Siang terbelalak, nampak kaget sekali.

"Apakah sudah datang tantangan dari mereka?"

"Agaknya demikianlah, siocia. Pangcu tidak menceritakan kepada kami hanya memesan agar kami melakukan penjagaan ketat di sini, dan pangcu pergi bersama Ngo-liong Ci-moi (kakak beradik lima naga)."

"Ah, kalau begitu aku harus cepat menyusulnya. Mari, Cu-enghiong, mari kita pergi, mungkin aku membutuhkan bantuanmu. Nanti dalam perjalanan kuceritakan!"

Kata Lee Siang dan iapun berlari keluar dari situ.

Cu Goan Ciang hanya mengikuti saja, dan setelah tiba di luar pintu gerbang, Lee Siang berlari cepat sekali.

Goan Ciang kagum dan diapun mempercepat larinya, menuju ke barat, menyusuri sungai Yang-ce yang lebar.

"Perlahan dulu, nona. Aku perlu mengetahui duduknya perkara sebelum dapat membantumu,"

Kata Goan Ciang dan Lee Siang menghentikan larinya, akan tetapi masih berjalan terus, didampingi oleh Goan Ciang. Sambil berjalan, gadis itu bercerita.

"Tidak ada waktu untuk bicara panjang lebar, Cu-enghiong. Di Bukit Kijang, tak jauh dari sini, tinggal seorang tokoh kang-ouw she Kwa yang mengetuai perguruan silat Yang-ce Bu-koan. Beberapa bulan yang lalu, ketua Kwa meminang suci, akan tetapi ditolak keras oleh suci sehingga mereka tersinggung dan selalu mengambil sikap bermusuhan dengan kami. Dan pernah ketua Kwa mengancam akan menantang suci untuk mengadu ilmu karena penolakan suci dianggapnya suatu penghinaan. Nah, kukira sekarang ini suci menyambut tantangannya. Kabarnya ketua Kwa itu lihai seklai, maka aku mengkhawatirkan keselamatan suci. Kuharap engkau suka membantu kami kalau diperlukan."

Goan Ciang mengangguk dan mengerutkan alisnya yang tebal.

"Sungguh tidak tahu malu. Pinangan ditolak mengapa lalu marah-marah dan menimbulkan permusuhan?"

Dia mengomel, tak puas dengan sikap orang she Kwa itu.

Kini Lee Siang berlari lagi dan Goan Ciang juga tidak banyak bertanya.

Mereka berlari cepat dan tak lama kemudian mereka telah memasuki sebuah hutan.

Mudah diduga bahwa inilah yang dinamakan hutan Bambu Kuning karena di situ memang banyak tumbuh bambu kuning di samping pohon-pohon lain.

Ketika mereka tiba ditengah hutan, di mana terdapat tempat terbuka dengan petak rumput tebal, dan betapa kaget rasa hati mereka ketika melihat lima orang wanita rebah malang melintang di tempat itu, dan suasana sepi sekali walaupun masih nampak bekas pertempuran terjadi di tempat itu.

Banyak darah melumuri rumput yang terinjak-injak, senjata tajam berserakan.

"Ngo-liong Ci-moi...!"

Lee Siang berseru kaget dan cepat ia menghampiri mereka.

Ternyata tiga orang di antara mereka telah tewas, seorang terluka parah dan seorang lagi terluka ringan, akan tetapi tidak mampu bergerak karena dalam keadaan tertotok.

Agaknya baru saja mereka bertanding melawan musuh yang pandai.

Setelah membebaskan totokan kedua orang yang terluka itu Lee Siang cepat bertanya.

"Apa yang terjadi? Mana pangcu?"

Wanita yang terluka parah di dadanya merintih.

"Pangcu... tertawan mereka... cepat tolong ia, siocia..."

Dan iapun terkulai dan tewas pula. Lee Siang meloncat ke orang yang terluka ringan dan menguncangnya.

"Siapa yang menawan suci? Orang-orang Yang-ce Bu-koan?"

Wanita itu menangis lirih dan sudah bangkit duduk.

"Pangcu ditawan Kwa-kauwsu (guru silat Kwa), dan kami berlima dikeroyok belasan orang anak buahnya."

Lee Siang bangkit berdiri, mukanya berubag merah dan ia mengepal tinju.

"Keparat orang she Kwa! Enci Ciu, cepat kau pulang dan kerahkan semua saudara kita untuk menyerbu Yang-ce Bu-koan. Aku pergi dulu menolong suci!"

"Baik, siocia,"

Kata wanita itu yang masih menangisi empat orang saudaranya yang tewas.

Biarpun hatinya hancur karena belum sempat mengurus jenazah empat orang saudaranya, terpaksa ia cepat berlari pulang untuk minta bala bantuan.

Sementara itu, Lee Siang menghadapi Goan Ciang.

"Cu-enghiong, kami menghadapi urusan besar. Aku akan mencoba untuk menolong suci. Akan tetapi pekerjaan ini berbahaya sekali. Aku tidak berani memaksamu unutk membantu tetapi kalau engkau sudi membantuku, aku akan berbesar hati dan berterima kasih sekali."

"Nona Kim, kenapa berkata demikian? Bukankah katamu sudah sepatutnya kalau kita saling bantu? Tentang bahaya, sudah sering aku terancam bahaya. Mari kita kejar mereka yang menawan sucimu itu."

Pandang mata gadis itu berkilat penuh harapan dan kegembiraan, lalu iapun meloncat dan kini ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari cepat secepat mungkin.

Namun, dengan kagum ia melihat betapa pemuda itu selalu dapat mengimbanginya, bahkan nampaknya tidak mengerahkan seluruh tenaganya.

"Nona, harap berhenti dulu,"

Tiba-tiba Goan Ciang berkata dan gadis itu menahan larinya, berhenti dan memandang kepada pemuda itu. Ia mengusap keringat dari lehernya karena tadi mengerahkan seluruh tenaga untuk berlari cepat.

"Ada apakah, Cu-enghiong?"

"Nona, kurasa amat ceroboh kalau kita hanya langsung saja mendatangi Yang-ce Bu-koan, menghadapi mereka yang berjumlah banyak."

Gadis itu mengerutkan alisnya yang bentuknya indah.

"Aku tidak takut! Untuk menolong suci, aku rela mempertaruhkan nyawaku! Apakah engkau merasa jerih? Kalau engkau takut, biar aku sendiri yang akan menolongnya!"

Goan Ciang tersenyum.

"Bukan takut, nona. Akan tetapi aku khawatir kita berdua akan gagal kalau menghadapi demikian banyaknya lawan..."

"Aku tidak takut!"

Kembali Lee Siang berkata tegas.

"Bukan soal berani atau takut, nona. Akan tetapi, apa artinya kalau kita berdua gagal? Kita mungkin tertangkap atau tewas, akan tetapi yang jelas, kegagalan, kita tidak akan menolong sucimu itu. Lalu apa artinya usaha yang sia-sia itu?"

"Habis, bagaimana? Apakah aku harus berpangku tangan mendiamkan saja suci ditawan mereka?"

"Tentu saja tidak, nona. Kita memang harus berusaha untuk menolong sucimu, akan tetapi tidak secara ceroboh yang akhirnya bukannya berhasil malah membahayakan diri sendiri. Kita harus mempergunakan akal agar dapat berhasil."

Kalau tadinya wajah gadis itu muram dan marah, kini wajah itu beresri karena baru ia tahu akan maksud pemuda yang dikaguminya itu.

"Ah, engkau benar sekali, Cu-enghiong! Akan tetapi akal apa yang dapat kita pergunakan untuk menolong suci?"

"Mulai saat ini, engkau harus menyebut aku twako dan aku menyebutmu siauw-moi agar orang menduga bahwa di antara kita masih ada hubungan kekeluargaan. Kita datangi mereka dan tentu mereka sudah tahu bahwa engkau adalah sumoi dari ketua Jang-kiang-pang, akan tetapi mereka belum mengenalku. Nah, aku akan mengaku bahwa aku adalah seorang kakak misan dari sucimu. Aku akan menuntut agar kalau kepala Yang-ce Bu-koan sungguh-sungguh mencintai sucimu, dia harus mengajukan pinangan kepara aku sebagai walinya, agar perjodohan itu dilakukan secara terhormat. Serahkan saja kepadaku kalau sudah berhadapan dengan dia. Yang terpenting, kita dapat membebaskan sucimu terlebih dulu, bukan? Ini masih jauh lebih mengandung harapan berhasil dari pada kalau kita menyerbu secara kekerasan."

Wajah gadis itu bersinar-sinar penuh harapan dan kekaguman.

"Ahhh, Cu-enghiong... ah, maksudku, twako, siasatmu sungguh bagus sekali! Mudah-mudahan saja berhasil. Engkau benar, yang terpenting adalah membebaskan suci lebih dahulu dari tangan mereka. Kalau suci sudah bebas, hemm... mereka mau mengajak perang sekalipun, boleh! "Nona... eh, siauw-moi, mulai sekarang biarlah aku yang nanti bicara dengan mereka. Engkau mudah terpengaruh emosi sehingga dapat menggagalkan rencana kita."

Lee Siang tersenyum dan dalam pandangan Goan Ciang, belum pernah dia melihat wajah semanis itu.

"Baiklah, toako."

Tak lama kemudian mereka berdua sudah tiba di satu-satunya dusun yang berada di lereng Bukit Kijang.

Di dusun itulah adanya perguruan silat Yang-ce Bu-koan (perguruan silat sungai Yangce) yang mengambil namanya dari sungai besar yang mengalir di kaki bukit.

Semua penghuni dusun itu seolah-olah menjadi anggota perguruan itu karena mereka semua, yang muda-muda, menjadi murid perguruan itu, di samping murid yang berdatangan dari kota dan dusun lain.

Karena itu, ketika penghuni dusun melihat munculnya Kim Lee Siang yang mereka kenal sebagai sumoi dari ketua Jang-kiang-pang, suasana menjadi gempar dan muncullah belasan orang jagoan perguruan itu, menghadang.

Melihat sikap mereka, Goan Ciang segera berkata dengan suara yang lantang dan berwibawa.

"Hemm, beginikah caranya orang-orang Yang-ce Bu-koan menyambut calon keluarganya? Aku, Cu Goan Ciang, adalah kakak misan dari ketua Jang-kiang-pang Liu Bi yang sudah yatim piatu, aku adalah walinya dan aku ingin bicara dengan Kwa-kauwsu tentang perjodohan itu! Apakah pantas kalau aku disambut seperti seorang musuh?"

Mendengar ucapan yang lantang dan terdengara berwibawa itu, belasan orang jagoan Yang-ce Bu-koan tertegun dan bimbang.

Seorang di antara mereka lalu maju dan mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada Goan Ciang dan Lee Siang.

Bagaimana juga, yang datang dari Jang-kiang-pang hanya dua orang, tidak perlu ditakuti.

"Maafkan sikap kami, karena kedatangan ji-wi tanpa memberi kabar lebih dahulu, kami tidak menyambut secara pantas. Kalau ji-wi hendak bicara tentang perjodohan, kami persilahkan ji-wi untuk mengikuti kami bertemu dengan suhu kami."

Dengan sikap gagah Goan Ciang dan Lee Siang mengikuti mereka menuju ke sebuah bangunan besar yang megah.

Di depan bangunan itu terpancang sebuah papan nama perkumpulan yang ditulis dengan huruf-huruf besar dan gagah "Yang-ce Bu-koan."

Agaknya telah ada anggota perguruan silat itu yang telah memberi laporan kepada Kwa-kauwsu (guru silat Kwa), karena ketika dua orang tamu itu tiba di depan rumah yang pekarangannya luas, guru silat itu telah menyambut dan berdiri di atas lantai bertangga dengan sikap gagah.

Sambil melangkah maju menghampiri tuan rumah, Goan Ciang memandang penuh perhatian.

Guru silat itu memang gagah.

Tubuhnya tinggi besar dengan perut yang gendut, nampak kokoh seperti baru karang dan usianya sekitar empat puluh lima tahun, matanya lebar bulat dan hidungnya besar, bibirnya tebal.

Tidak tampan memang, akan tetapi nampak jantan dan menyeramkan bagi lawan.

Pakaiannya berwarna biru, potongannya ringkas seperti pakaian ahli silat, dengan lengan baju digulung sampai ke siku sehingga nampak sepasang lengan yang berotot dan berbulu dengan jari-jari yang panjang besar dan kasar.

Bukan penampilan yang dapat menarik hati wanita, maka Goan Ciang tidak heran mengapa ketua Jang-kiang-pang menolah lamaran laki-laki ini.

Untung bahwa Goan Ciang sudah memesan kepada Lee Siang untuk diam saka dan membiarkan dia yang bicara dengan guru silat itu, karena kalau saja tidak demikian, begitu bertemu dengan Kwa-kauwsu, tentu Lee Siang akan langsung memakinya atau bahkan menyerangnya untuk menuntut dibebaskannya sucinya.

Gadis itu menahan diri dan diam saja.

Sementara itu, Kwa-kauwsu yang sudah mengenal Lee Siang mengetahui bahwa gadis itu adalah sumoi dari ketua Jang-kiang-pang yang membuatnya tergila-gila, akan tetapi dia tidak mengenal Cu Goan Ciang walaupun tadi dia sudah mendengar laporan bahwa Cu Goan Ciang adalah kakak misan dari calon isterinya!

"Selamat datang, Nona Kim Lee Siang, atau lebih tepat kusebut adik Kim Lee Siang saja?

Dan siapakah saudara yang datang berkunjung?"

Dia pura-pura tidak tahu dan bertanya kepada Goan Ciang sambil merangkap kedua tangan depan dada sebagai penghormatan.

Cu Goan Ciang membalas penghormatan itu sedangkan Lee Siang diam saja.

Sambil tersenyum ramah Goan Ciang berkata.

"Aku bernama Cu Goan Ciang, dan aku adalah kakak misan dari adikku Liu Bi yang sudah bertahun-tahun tidak kujumpai. Ketika aku datang berkunjung, aku mendengar tentang peristiwanya dengan Yang-ce Bu-koan! Aku ingin sekali bertemu dengan guru silat dari bu-koan ini untuk membicarakan urusan itu."

"Akulah Kwa Teng atau disebut Kwa-kauwsu pemilik Yang-ce Bu-koan,"

Kata guru silat itu sambil membusungkan dada.

"Aku adalah calon suami nona Liu Bi ketua Jang-kiang-pang!"

"Ah, kalau begitu aku berhadapan dengan calon adik iparku!"

Kata Cu Goan Ciang sambil memberi hormat lagi.

"Akan tetapi aku mendengar bahwa telah terjadi keributan dan perkelahian antara engkau dan adik misanku Liu Bi, benarkah itu? Dan engkau bahkan telah menawannya? Bagaimana pula ini?"

Guru silat itu tertawa.

"Ha-ha-ha, hanya ada sedikit perselisihan. Calon isteriku itu tadinya memandang rendah kepadaku dan menantang untuk mengadu kepandaian dengan janji ia akan mau menjadi isteriku kalau aku mampu mengalahkannya. Nah, ia telah kalah dan kini ia sudah berada di sini, tinggal menanti dirayakannya pernikahan kami."

Cu Goan Ciang mengerutkan alisnya.

"Aih, Kwa-kauwsu, tindakanmu itu salah besar dan hanya akan merugikan nama besarmu sendiri saja. Seyogyanya engkau tidak menyanderanya dan setelah ia kalah, kalau engkau mengajukan pinangan secara terhormat, tentu kelak ia akan menjadi isterimu yang setia dan baik. Sebaliknya kalau secara menyandera begini, apa akan kata dunia kang-ouw? Engkau tentu dianggap sebagai seorang penculik dan pemaksa, dan adik misanku tidak akan merasa terhormat, bagaimana akan dapat menjadi isterimu yang mencinta? Juga, tentu para saudaranya akan memusuhimu dan permusuhan takkan pernah berhenti, mengganggu ketenteraman hidupmu."

Kwa-kauwsu tertegun.

Tentu saja dia tahu akan hal itu.

Akan tetapi tidak ada jalan lain baginya.

Mula-mula, dia mengajukan pinangan secara resmi terhadap ketua Jang-kiang-pang yang membuatnya tergila-gila itu, akan tetapi utusannya yang melakukan lamaran itu ditolak bahkan dihina.

Lalu dia membuat surat tantangan, menantang Nona Liu Bi untuk mengadakan pi-bu (adu ilmu silat) di hutan bambu kuning.

Dengan pengeroyokan para muridnya yang jumlahnya jauh lebih banyak, dia berhasil merobohkan lima orang anak buah gadis ketua itu dan menawannya, lalu membawanya pulang.

Karena sudah dikalahkannya, dia akan memaksa Liu Bi menjadi isterinya.

Tentu saja dia sendiri tidak menyukai cara pernikahan seperti ini yang mengandung paksaan, akan tetapi dia tidak melihat cara lain yang memungkinkan dia menikah dengan gadis yang membuatnya tergila-gila itu.

Dia sendiri seorang duda dan ketika dia melihat ketua Jang-kiang-pang, seketika dia jatuh cinta dan tergila-gila.

"Hemm, saudara Cu, kalau menurut pendapatmu, apa yang harus kulakukan untuk dapat menikah dengan Nona Liu Bi secara terhormat?"

"Kwa-kauwsu yang perkasa, aku adalah kakak misannya, satu-satunya keluarganya yang lebih tua sehingga aku dapat mewakili kedua orang tuanya yang sudah tiada, dapat menjadi walinya. Aku berhak membicarakan urusan perjodohannya dengan terhormat. Kalau secara resmi engkau melamar Liu Bi kepadaku, lalu kuterima lamaran itu dan diadakan upacara dan pesta pernikahan secara resmi, maka pernikahan itu akan terhormat dan engkau akan mendapatkan seorang isteri yang baik dan penurut. Sebaliknya, kalau engkau menggunakan cara paksaan seperti ini, bukankah keselamatanmu akan terancam setiap saat? Engkau seperti mengawini seorang musuh besar yang tiap saat dapat saja membunuhmu."

Kwa-kauwsu terbelalak.

Tadinya dia mengira bahwa setelah ketua Jang-kiang-pang itu menjadi isterinya, wanita itu akan tunduk kepadanya.

Baru sekarang dia melihat kemungkinan terjadinya hal yang diucapkan tamunya itu.

"Saudara Cu, dan engkau nona Kim, mari kita bicara di dalam kamar tamu. Silahkan!"

Katanya dan sikapnya kini berubah ramah karena dia melihat bahwa tamunya ini agaknya akan dapat menolongnya dari keadaan yang gawat itu.

Tentu saja dia ingin memperisteri Liu Bi secara wajar.

Dia bukan pula penjahat yang suka memperkosa wanita, apa lagi Liu Bi yang membuatnya tergila-gila dan dicintanya.

Cu Goan Ciang dan Kim Lee Siang melihat betapa tuan rumah masih bersikap waspada ketika Kwa-kauwsu mengiringkan mereka masuk ke kamar tamu, sepuluh orang yang agaknya menjadi murid atau pembantu utamanya, mengiringkannya dan ikut masuk ke kamar tamu.

Ketika Kwa-kauwsu mempersilahkan mereka berdua mengambil tempat duduk berhadapan dengan guru silat itu, sepuluh orang itu berdiri berkelompok di sudut ruangan, berjaga-jaga.

Kalau mereka berdua menggunakan kekerasan terhadap tuan rumah, tentu sepuluh orang itu akan maju mengeroyok, dan sebentar saja seluruh penghuni dusun itu akan mengepung mereka.

Setelah kedua orang tamunya duduk, Kwa-kauwsu berkata sambil mengamati wajah Cu Goan Ciang.

"Apa yang kaukatakan tadi memang ada benarnya dan aku sendiri menghendaki agar pernikahanku dengan Liu Bi dapat berlangsung secara wajar dan terhormat. Akan tetapi, bagaimana kalau ia menolak pinanganku yang resmi seperti yang pernah ia lakukan?"

Cu Goan Ciang tertawa.

"Aku mengenal betul watak adik misanku itu. Wataknya memang keras dan angkuh, tidak mudah tunduk. Karena, ketika engkau mengajukan lamaran, di pihaknya tidak ada walinya, maka ia merasa tersinggung dan menolak. Akan tetapi aku tahu bahwa adikku Liu Bi itu hanya mau berjodoh dengan laki-laki yang gagah perkasa dan mampu menandingi ilmu silatnya. Nah, kurasa engkau merupakan seorang pria yang cocok sekali dan memenuhi syarat untuk menjadi suaminya."

"Sebaiknya kalau engkau mengundan suci ke sini untuk bicara dengan kami, Kwa-kauwsu,"

Kata Kim Lee Siang yang sejak tadi diam saja. Guru silat itu memandang curiga kepada gadis manis itu.

"Hemm, aku meragukan apakah ia akan mau menerima pinanganku dengan baik."

Cu Goan Ciang cepat berkata.

"Kauwsu, kenapa engkau masih ragu? Aku yang menanggung bahwa adikku itu pasti akan mau menerimanya. Aku yang akan membujuknya. Sebaiknya kalai ia dipanggil ke sini agar dapat bicara denganku. Pula, kami bertiga berada di rumahmu, di tengah dusunmu, tidak ada yang perlu kau khawatirkan!"

Kwa-kauwsu mengangguk-angguk, benar juga, pikirnya.

Andai kata Liu Bi dan adik seperguruannya ini mengamuk, dibantu oleh kakak misannya sekalipun, mereka bertiga tidak mungkin dapat lolos dari pengepungan para muridnya.

Dan pemuda yang jangkung tegap ini agaknya bicara serius dan dapat dipercaya.

"Baiklah, akan kupanggil ia ke sini. Akan tetapi, kalau usaha kalian membujuknya tidak berhasil dan ia tetap hendak menolak, terpaksa kami akan menawan kalian semua!"

Kwa-kauwsu memberi isarat kepada seorang pengawal yang segera memberi hormat dan keluar dari ruangan itu.

Dengan hati berdebar tegang, Goan Ciang dan Lee Siang menunggu dan untuk menenteramkan suasana, Goan Ciang berkata.

"Kwa-kauwsu, kenapa masih mencurigai kami? Kami datang dengan maksud baik, untuk mendamaikan perselisihan di antara adik misanku dan engkau sebagai calon suaminya."

Tak lama kemudian, pintu sebelah dalam ruangan itu terbuka dan muncullah seorang wanita muda yang cantik sekali.

Cu Goan Ciang sendiri sampai tertegun melihat betapa cantiknya gadis itu.

Di belakang gadis itu, berjalan dua belas orang pengawal yang memegang golok.

Wajah gadis itu agak pucat, namun pandang matanya bersinar-sinar penuh keberanian.

Ia terbelalak heran melihat Lee Siang dan Goan Ciang.

"Suci! Aku dan Cu-toako datang untuk menolongmu!"

Lee Siang berseru dengan sikap gembira sekali melihat sucinya dalam keadaan selamat. Dengan sikap wajar dan wajah gembira, Cu Goan Ciang bangkit berdiri memandang gadis itu dan berseru.

"Piauw-moi (adik misan), agaknya engkau lupa kepadaku! Tidak aneh karena sudah lima tahun lebih kita tidak saling jumpa, piauw-moi, aku adalah Cu Goan Ciang, putera bibimu!"

"Suci, aku sendiri hampir tidak mengenal lagi kepada Cu-toako ketika dia datang kemarin!"

Kata Lee Siang dengan nada suara gembira.

Jang-kiang Sianli Liu Bi bukanlah seorang wanita bodoh.

Sama sekali tidak.

Ia seorang tokoh kang-ouw yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan amat cerdik.

Kalau sampai ia dapat tertawan oleh Kwa-kauwsu adalah karena ia sama sekali tidak menduga bahwa guru silat itu demikian tergila-gila kepadanya sehingga tidak segan melakukan kecurangan dan mengeroyoknya untuk mendapatkan dirinya, secara halus maupun kasar!

Kini, mendengar ucapan pemuda yang sama sekali tidak pernah dilihatnya itu dan ucapan sumoinya, iapun mengerti bahwa siapapun adanya pemuda itu, tentu dia datang diajak sumoinya untuk menolongnya.

Ia lalu tersenyum, dan menghampiri Goan Ciang, memberi hormat dengan ramah.

"Aih, kiranya Cu-piauwko yang datang bersama sumoi? Akan tetapi, apa yang dapat kau lakukan piauw-ko? Aku telah menjadi tawanan Kwa-kauwsu!"

Ia menoleh ke arah guru silat itu dan memandang marah. Cu Goan Ciang memang sengaja hendak mengulur waktu sambil menunggu datangnya bala bantuan. Maka dia lalu memandang kepada Kwa-kauwsu.

"Kwa-kauwsu, kalau kami dibiarkan bertiga saja di sini, aku akan mencoba untuk membujuk dan mengingatkan, menyadarkan piauw-moiku ini agar ia menyadari bahwa kini ia telah menemukan jodohnya yang cocok dan serasi. Jangan khawatir, kami tidak akan membuat ulah macam-macam, pula, bukankah engkau dengan seluruh anak buahmu dapat mengepung tempat ini dan kami sama sekali tidak akan dapat melarikan diri?"

Kwa-kauwsu mengangguk-angguk, menganggap bahwa ucapan pemuda itu memang beralasan.

Tentu saja dia akan merasa berbahagia sekali kalau Liu Bi dengan suka rela suka menjadi isterinya, bukan isteri paksaan yang kelak dapat membahayakan dirinya.

Dia lalu memberi isarat kepada para murid dan anak buahnya dan merekapun lalu meninggalkan Goan Ciang, Lee Siang dan Liu Bi bertiga saja di dalam ruangan tamu itu.

Tentu saja dia mengerahkan murid-muridnya untuk mengepung ruangan itu dengan ketat.

Cu Goan Ciang yang sudah mengatur siasat dengan Lee Siang, lalau mulai membujuk "piauwmoi"

Itu dengan kata-kata yang cukup lantang sehingga akan dapat terdengar oleh orang yang melakukan pengintaian, sedangkan Lee Siang dengan berbisik memberitahu sucinya, suaranya tertutup oleh ucapan Goan Ciang yang lantang, bahwa mereka bertiga harus menanti sampai datangnya para anggota Jang-kiang-pang yang akan datang menyerbu, barulah mereka bertiga akan mengamuk.

Juga ia mengatakan dengan lirih bahwa pemuda itu adalah seorang kenalan baru yang menjadi pelarian karena membunuh seorang perwira dan kini hendak membalas budi karena telah ditolongnya ketika melarikan diri, memiliki kepandaian yang boleh diandalkan.

Liu Bi yang cerdik melayani permainan sandiwara itu dan pura-pura menolak dengan suara keras.

"Dia telah mengeroyok dan menawanku, bahkan telah membunuh Ngo-liong Ci-moi yang menjadi pembantu utamaku, bagaimana mungkin aku dapat menjadi isterinya?"

Demikian antara lain dia berteriak.

"Piauw-moi, pikirkanlah baik-baik. Kesalahpahaman yang menimbulkan perkelahian itu adalah karena engkau menolak lamarannya dengan keras sehingga Kwa-kauwsu merasa terhina dan marah. Sudah wajar kalau dalam perkelahian jatuh korban. Bagaimanapun juga, engkau diperlakukan dengan sopan dan baik, bukan?"

"Itu memang benar, akan tetapi aku... aku belum ingin menikah."

"Piauw-moi, ingat bahwa arwah kedua orang tuamu tentu akan merasa tenteram kalau melihat engkau menikah. Usiamu juga tidak terlalu muda lagi, sudah sepantasnya kalau engkau menikah. Engkau dahulu selalu mengatakan kepadaku bahwa engkau hanya akan menikah dengan seorang pria yang mampu menandingimu. Sekarang, Kwa-kauwsu bahkan telah menawanmu. Dia memiliki kepandaian tinggi, juga perguruan silatnya besar, namanya cukup dikenal dan disegani, selain itu, walaupun dia seorang duda, dia belum mempunyai keturunan. Nah, mau apa lagi? Adapun tentang peristiwa perkelahian itu, aku yakin Kwa-kauwsu suka meminta maaf dan akan mengajukan pinangan dengan resmi kepada aku sebagai walimu."

Sengaja kedua orang ini berbantahan secara panjang lebar mengulur waktu.

Tiba-tiba terdengar ribut-ribut di luar, dan tiga orang itu mendengar dengan jelas teriakan-teriakan bahwa orang-orang Jang-kiang-pang datang menyerbu, bahkan mulai terdengar teriakan-teriakan perkelahian yang riuh rendah.

Inilah saatnya mereka bergerak.

Lee Siang mencabut pedangnya.

Ia sengaja membawa dua batang pedang dan ia menyerahkan sebatang kepada sucinya yang diterima dengan gembira.

Adapun Cu Goan Ciang sendiri memang tidak membawa senjata.

Pada saat itu, pintu depan ruangan itu terbuka dan nampak Kwa-kauwsu dengan golok di tangan, bersama belasan orang muridnya berdiri di luar pintu dan dia berteriak.

"Liu Bi, Lee Siang, dan Cu Goan Ciang! Orang-orang Jang-kiang-pang datang menyerbu. Apa artinya ini?"

Sebelum Jang-kiang Sianli Liu Bi menjawab, Cu Goan Ciang mendahului dia dan dia berkata.

"Kwa-kauwsu, biarkan kami mencegah mereka. Ini tentu kesalahpahaman dari mereka yang mengira bahwa ketua mereka diperlakukan tidak baik!"

Guru silat itu meragu, akan tetapi karena keadaan gawat, diapun mengangguk dan memperingatkan.

"Cu Goan Ciang, kalau kalian menipu kami, kalian akan kami bunuh!"

"Kita adalah antara calon keluarga sendiri, kenapa harus menipu?"

Katanya dan dia memberi isarat kepada Lee Siang dan Liu Bi untuk mengikutinya keluar.

Guru silat itu bersama belasan orang muridnya lalu mengikuti dari belakang dan ternyata memang para anggota Jang-kiang-pang sudah mulai menyerbu sehingga terjadi perkelahian di pintu gerbang.

(Lanjut ke

Jilid 06) Rajawali Lembah Huai (Cerita Lepas) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06 Kini, Liu Bi yang berseru nyaring kepada anak buahnya.

"Tahan senjata!"

Melihat betapa ketua mereka dalam keadaan selamat, juga di situ terdapat pula Lee Siang, para anggota Jang-kiang-pang mundur dan berteriak-teriak dengan gembira.

Mereka terdiri dari puluhan orang laki-laki dan wanita.

Liu Bi sekarang memimpin dan di sebelahnya berdiri Lee Siang dan Cu Goan Ciang.

Para anak buah Jang-kiang-pang berdiri di belakang mereka.

Dengan mata berkilat kini Liu Bi berdiri tegak, pedang di tangan kanan dan telunjuk kirinya ditudingkan ke arah muka Kwa-kauwsu.

"Orang she Kwa, engkau manusia curang tak tahu malu. Sekarang tinggal engkau pilih, hendak mengadakan pertempuran mati-matian dan aku akan mengerahkan seluruh orangku untuk membakar dan membasmi perkampunganmu, atau kita mengadu kepandaian secara orang gagah tanpa ada pengeroyokan dan kecurangan lain!"

Sikap ketua Jang-kiang-pang itu gagah sekali. Kwa-kauwsu marah bukan main dan memandang kepada Cu Goan Ciang.

"Orang she Cu, kiranya engkau telah menipu kami! Keparat busuk, siapa engkau sebenarnya?"

Goan Ciang tersenyum.

"Kami tidak menipumu, Kwa-kauwsu, hanya mengimbangi siasatmu yang licik. Aku bernama Cu Goan Ciang dan sahabat dari nona Kim Lee Siang. Engkau menawan ketua Jang-kiang-pang dengan menggunakan kecurangan, melakukan pengeroyokan. Nah, sekarang kami menantangmu untuk mengadu kepandaian sebagai orang gagah, atau engkau lebih menginginkan diserang habis-habisan?"

Kini ketua Jang-kiang-pang baru tahu akan kecerdikan pemuda yang mengaku kakak misannya itu yang ternyata mempergunakan siasat yang nampaknya mengalah dan lunak, hanya untuk menanti datangnya bala bantuan.

"Cu-twako,"

Katanya dengan sikap manis dan tidak ragu-ragu menyebut pemuda itu twako.

"terima kasih atas bantuanmu. Akan tetapi tidak perlu twako terlibat, biar aku sendiri yang akan menghajar pengecut Kwa ini. Hayo, Kwa Teng, kita bertanding satu lawan satu! Orang macam engkau ingin memperisteri aku? Sungguh tidak tahu malu!"

Tentu saja Kwa-kauwsu marah bukan main.

Dia telah dihina oleh Liu Bi di depan semua muridnya.

Pada hal tadinya dia sudah mengumumkan bahwa ketua Jang-kiang-pang akan menjadi isterinya.

Akan tetapi, ketika dia mengeroyok ketua itu dengan para murid andalannya, dia tahu bahwa Jang-kiang Sianli Liu Bi amat lihai dan kalau dia seorang diri menandinginya, belum tentu dia akan menang.

Untuk mengadakan pertempuran, biarpun pihaknya memiliki anak buah yang lebih banyak, namun para anggota Jang-kiang-pang rata-rata lihai dan selain itu, yang amat berbahaya baginya adalah mengingat bahwa para pimpinan Jang-kiang-pang mempunyai hubungan baik sekali dengan para pejabat di Wu-han sehingga kalau terjadi pertempuran, tentu pasukan keamanan pemerintah akan berpihak kepada Liu Bi.

Hal ini akan merupakan malapetaka baginya.

Dia menjadi serba salah.

Lalu dengan mata melotot dia menghadapi Cu Goan Ciang.

"Orang she Cu! Engkau yang menjadi biang keladi dengan menipuku sehingga terjadi pertentangan ini. Aku, Kwa Teng, menantang Cu Goan Ciang sebagai sama-sama laki-laki untuk mengadu ilmu di sini, disaksikan oleh semua anak buah kedua pihak!"

"Kwa Teng, manusia curang! Yang bermusuhan adalah engkau dan aku! Cu-twako ini adalah orang luar. Akulah yang akan menandingimu, bukan orang lain!"

Baca Juga: Istana Pulau Es 16

Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 17

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert