Eps 7 Alap Alap Laut Kidul - Kho Ping Hoo
Baca online Alap Alap Laut Kidul - Kho Ping Hoo
Cersil Alap Alap Laut Kidul - Kho Ping Hoo.
Raden Banuseta adalah seorang ketua perkumpulan yang terkenal jahat, suka bertindak sewenang-wenang, bahkan anak buahnya diperintah untuk merampas Sriyani, isteri Sumanta.
Orang yang pantas untuk ditentang dan dibasminya.
Maka dia segera bangkit dan hendak keluar."Aji, tunggu dulu!
Mengapa perguruan Dadali Sakti memusuhimu?"
Tanya Ki Sudrajat.
"Belum saya ceritakan kepada paman. Tadi pagi saya mendatangi sarang mereka dan memberi hajaran kepada semua muridnya karena mereka hendak menganiaya seorang yang tidak berdosa dan hendak merampas isterinya. Sekarang, saya kira ketuanya, Raden Banuseta yang datang ke sini mencari saya. Biarkan saya keluar, paman."
"Hemm, Raden Banuseta terkenal ganas dan suka sewenang-wenang. Biarkan aku yang menghadapinya karena dia berani datang membikin ribut di rumah kami. Aku memang belum lama tinggal di sini, akan tetapi aku sudah mendengar tentang kejahatannya!"
"Lindu Aji, pengecut! Hayo keluar jangan bersembunyi di dalam seperti kura-kura. Kalau kamu tidak mau keluar, akan kubakar pondok ini untuk memaksamu keluar!"
Terdengar lagi bentakan itu.
"Paman Sudrajat, dia menantang saya, harap paman tidak mencampuri urusan antara saya dan dia."
Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban, aji sudah melompat keluar dari pintu.
dalam keremangan senja, Aji melihat bayangan dua orang di depan pondok.
Seorang laki-laki tinggi kurus berpakaian bangsawan, berusia kurang lebih empat puluh tahun, menggantungkan sebatang golok bergagang emas di pinggangnya, berdiri di depan.
Hatinya terguncang keras ketika dia mengenal orang itu.
Dia bukan lain adalah pria bangsawan yang mempunyai hubungan akrab dengan Nyi Maya Dewi, pria yang ikut pula berkunjung ke kapal Kapten De Vos, pria yang tergila-gila kepada Sulastri dan bermaksud keji dan mesum terhadap gadis itu!
"Kau.....
kau.....
Raden Banuseta?"
Tanya Aji, hatinya dipenuhi keheranan. Pria ini tersenyum mengejek dan dia mencabut goloknya yang bergagang emas.
"Benar, akulah Raden Banuseta, ketua Dadali Sakti. Lindu Aji, tempo hari engkau berhasil lolos, akan tetapi sekarang tiba saatnya engkau membayar semua hutangmu! Engkau berani mengacau Dadali Sakti, sekarang bersiaplah untuk mampus!"
Hati Aji bertambah panas.
Raden Banuseta, yang telah membunuh ayah kandungnya, bukan hanya suka bertindak sewenang-wenang dan suka merusak pagar ayu merampas isteri dan anak orang, akan tetapi juga menjadi antek Kumpeni Belanda!
"Hemm, kiranya engkau bukan hanya jahat sewenang-wenang, melainkan juga menjadi anjing peliharaan Kumpeni Belanda!"
Bentak Aji marah dan pada saat itu dia memandang kepada pria yang berdiri di belakang Banuseta.
Dia itu seorang pria berusia kurang lebih tiga puluh satu tahun, bertubuh tinggi tegap, sikapnya gagah.
Dia juga tampak tenang, berdiri menyilangkan kedua lengan di depan dada dan sinar matanya yang tajam memandang wajah Aji.
Juga Aji melihat bayangan mencurigakan dari beberapa orang yang tampaknya mengepung pondok itu dengan sembunyi-sembunyi.
Dalam keremangan malam yang mulai tiba, dia melihat mereka itu memegang tongkat.
Dimaki sebagai anjing peliharaan Kumpeni Belanda, Raden Banuseta menjadi marah bukan main.
"Kamu anjing Mataram, mampuslah!"
Dia melompat ke depan Aji dan menerjang dengan gerakan goloknya menyerang dahsyat.
Golok itu mengeluarkan suara berdesing ketika menyambar dan tahulah Aji bahwa lawannya bukan orang lemah, melainkan memiliki tenaga yang kuat dan gerakan goloknya juga cepat sekali.
Dia mengelak dengan tarikan kaki ke belakang dan mendoyongkan tubuh atas ke belakang sehingga golok yang membabat ke arah lehernya itu menyambar lewat di depannya.
Namun, begitu bacokannya yang mengarah leher itu luput, Banuseta sudah membuat golok itu bergerak melingkar dan kini berubah menjadi serangan yang menusuk ke arah perut Aji.
"Hyaaaahhhh.....!"
Bentaknya, goloknya menjadi gulungan sinar yang berdesing.
Akan tetapi Aji yang sudah waspada dan tidak memandang remeh lawannya, dengan gerakan ilmu silat Wanara Sakti, sudah dapat mengelak ke kiri dengan mudah.
Dari sebelah kanan lawan kakinya mencuat dalam sebuah tendangan kilat ke arah pinggang kanan Banuseta.
Akan tetapi ketua Dadali Sakti itu dapat pula membuang diri ke kiri sambil mengelebatkan goloknya untuk memotong kaki Aji yang menyambar lewat.
Akan tetapi Aji sudah menarik kembali kakinya dan kini tangan kanannya menusul serangan kaki kiri tadi, menampar ke arah pelipis kiri lawan.
Banuseta terkejut bukan main.
Keika tiba di perguruan Dadali Sakti dan melihat para anggauta perguruan itu menderita cedera, semua dihajar oleh seorang pemuda yang mencarinya, juga menggagalkan usaha Wiratma, wakilnya untuk merampas Sriyani dari tangan Sumanta, dia marah sekali.
Kemudian dia mendengar bahwa pemuda itu bernama Lindu Aji.
teringatlah dia akan pemuda yang pernah menjadi tawanan Nyi Maya Dewi dan dia tahu bahwa pemuda itu memang sakti mandraguna.
Maka, diapun membuat persiapan sebaiknya dan mendengar dari Wiratma bahwa musuhnya itu berada di pondok tempat tinggal Ki Ageng Pasisiran di pantai Laut Utara, dia membawa bala bantuannya menuju ke sana.
Kini, biarpun dia sudah berhati-hati, dia melihat tamparang tangan kanan Aji ke arah pelipisnya, dia terkejut dan tidak sempat untuk mengelak atau menggunakan goloknya.
maka dia lalu mengerahkan tenaga pada tangan kirinya dan menangkis dengan gerakan dari dalam keluar.
"Wuuttt..... plakk!!"
Raden Banuseta terhuyung ke belakang dan tentu akan jatuh terjengkang kalau tidak ada tangan yang kuat menangkap pangkal lengannya sehingga dia tidak sampai terjatuh.
Yang melakukan itu adalah laki-laki tinggi tegap yang tadi berdiri di belakangnya.
"Mundurlah, kakangmas Banuseta. Dia terlalu tangguh bagimu. Biar aku yang menandinginya!"
Kata pria berusia tiga puluh satu tahun lebih itu. Gerakannya ringan sekali ketika dia melompat ke depan Aji.
"Dimas, bunuhlah dia untukku!"
Kata Raden Banuseta dan dia menyelinap ke belakang dan lenyap dalam kegelapan malam.
Aji berhadapan dengan lawannya itu.
Sejenak mereka saling tatap bagaikan dua ekor jago yang hendak berlaga.
Tiba-tiba orang itu mengeluarkan bentakan nyaring dan tubuhnya bergerak cepat tangan kirinya terbuka dan mendorong ke arah dada Aji.
"Eh.....!"
Aji terkejut sekali dan cepat dia mengelak ke belakang karena dia mengenal gerakan orang itu.
Jelas bahwa orang itu mempergunakan Aji Bayu Sakti ketika melompat dan bergerak sehingga tubuhnya menjadi ringan, dan pukulan yang dipergunakan Sulastri ketika merobohkan Munding Bodas, yaitu pukulan dengan Aji Margopati!
Lawannya itu memiliki ilmu dari aliran yang sama dengan dia, walaupun dia sendiri tidak pernah dilatih Aji Margopati yang oleh mendiang Ki Tejo Budi dianggap terlalu ganas dan kejam.
Karena serangannya yang pertama gagal dan dapat dielakkan Aji, orang tinggi tegap itu berseru marah dan tubuhnya berkelebat cepat menerjang ke depan dan kembali dia mengirim pukulan Aji Margopati, kini dalam jarak yang lebih dekat.
Angin dahsyat menyambar ketika tangan kanan orang itu mendorong.
Maklum bahwa pukulan dahsyat itu sukar dihindarkan dengan mengelak, Aji lalu mengerahkan tenaga Surya Chandra dan diapun mendorongkan tangan kananya untuk menyambut pukulan lawan itu.
"Wuuuutttt..... desss.....!!"
Hebat bukan main pertemuan dua tenaga sakti itu dan akibatnya, Aji terdorong ke belakang akan tetapi lawannya juga terdorong ke belakang! "Heh..... ???"
Orang itu berseru heran dan memandang dengan mata terbelalak.
Pada saat itu, sosok tubuh tua Ki Ageng Pasisiran muncul keluar dari pintu, bertopang pada tongkatnya.
Ki Ageng Pasisiran atau yang dulu bernama ki tejo Langit memandang kepada lawan Aji itu dan di mengerutkan alisnya yang sudah putih lalu berseru dengan suara bernada penuh teguran.
"Hei! Udin, apa yang kau lakukan ini..... ?"
"Dar-dar-dar-dor-dorrr!"
Pada saat itu, dari arah kanan kiri terdengar beberapa kali ledakan dan tampak muncratnya bunga api dan tubuh kakek tua renta itu tersentak ke kanan kiri lalu roboh terkulai mandi darah!
Pelor-pelor itu menembus tubuhnya yang tidak siap.
Kini muncul Ki Sudrajat.
Dia memegang sebuah lampu gantung dengan tangan kanan, mengangkat lampu gantung itu ke atas untuk menyinari wajah lawan Aji yang masih berdiri tertegun.
"Udin! Hasanudin! Engkau..... membantu kaki tangan Kumpeni..... ?"
"Dar-dar-dar-dor-dorr.....!"
Kembali terdengar letusan berkali-kali.
Peluru bedil menyambar dari kanan kiri dan tampak bunga api berpijar-pijar.
Lampu gantung di tangan Ki Sudrajat terkena tembakan dan padam seketika, kaca lampu itu hancur dan terlepas dari tangan Ki Sudrajat.
Akan tetapi ada sesuatu yang aneh, yang membuat Ajimemandang dengan penuh kagum.
Baju yang menutup dada Ki Sudrajat berlubang-lubang, hal ini dapat dilihat jelas karena ada sinar lampu gantung yang meneranginya.
Akan tetapi tubuh itu tidak bergeming, agaknya tidak terluka dan sama sekali tidak roboh.
Agaknya aji kekebalan Ki Sudrajat hebat sekali, mampu menahan peluru bedil dan ketika dia melangkah ke luar tadi agaknya dia sudah mempersiapkan diri dan mengerahkan aji kekebalannya sehingga dia tidak roboh oleh berondongan tembakan, tidak seperti Ki Ageng Pasisiran atau Ki Tejo Langit yang tidak sempat mempersiapkan diri karena heran dan terkejut melihat Udin tadi.
Pada saat itu, di belakang Hasanudin yang masih tercengang itu muncul bayangan Raden Banuseta yang memegang sebuah senjata pistol.
Dia membidik ke arah tubuh Ki sudrajat yang berdiri tegar didepan pintu.
"Tarrr.....!!"
Tiba-tiba muncul api menyusul ledakan ini dan tubuh Ki Sudrajat roboh terkulai! "Kenapa..... kenapa andika membunuh mereka..... ?"
Hasanudin berseru, dalam suaranya terkandung penyesalan.
Tubuhnya berkelebat dan dia sudah menghilang dalam kegelapan malam.
Aji juga tertegun, bukan hanya melihat robohnya Ki Tejo Langit dan Ki Sudrajat, melainkan juga mendengar Ki Tejo Langit menyebut nama Udin, bahkan Ki Sudrajat menyebut nama Hasanudin!
Itu adalah nama kakak tirinya yang dulu ditinggalkan Harun, ayahnya, di Galuh!
Hasanudin putera Harun itu kini malah membantu Raden Banuseta, pembunuh ayahnya sendiri!
Dan karena Raden Banuseta ini antek Kumpeni Balanda, berarti bahwa Hasanudin atau Udin itu juga membantu Kumpeni Belanda!
"Tarr.....!"
Pistol di tangan Raden Banuseta meledak lagi.
Tanpa disadarinya sendiri, tubuh Aji menjerembab ke atas tanah, lalu bergulingan, tangannya menyambar sepotong batu dan sekali tangan itu bergerak menyambit, terdengar suara nyaring dan lampu gantung itu pecah sehingga menjadi gelap pekat.
Raden Banuseta menjadi jerih menghadapi Aji dalam kegelapan.
Dia tahu betapa sakti dan berbahayanya pemuda itu.
Apalagi kini Hasanudin yang ia andalkan sudah lebih dulu melarikan diri bersama dua belas orang perajurit Kumpeni, meninggalkan tempat itu.
Setelah merasa yakin bahwa para penyerbu itu telah melarikan diri meninggalkan tempat itu dan bahaya telah lewat, Aji cepat memasuki pondok, membawa keluar sebuah lampu dan digantungkan di luar.
Kemudian dia memondong tubuh Ki Tejo Langit dan Ki Sudrajat, dibawanya masuk ke dalam pondok dan merebahkan mereka di atas pembaringan.
Ki Tejo Langit yang tubuhnya disambar lima kali tembakan itu ternyata telah tewas.
Akan tetapi Ki Sudrajat belum tewas walaupun dadanya ditembusi sebutir peluru.
Aji merasa heran sekali.
Tadi dia melihat sendiri betapa berondongan peluru hanya merobaek baju orang sakti ini, akan tetapi mengapa tembakan terakhir itu, hanya satu kali saja, telah merobohkannya.
"Bagaimana keadaanmu, paman?"
Tanya Aji ketika melihat Ki Sudrajat bergerak dan mengeluh panjang.
"Aku..... terluka parah..... jahanam itu....."
"Akan tetapi saya melihat tadi berondongan peluru tidak melukai paman, bagaimana tembakan yang satu kali ini...... ?"
Ki Sudrajat menggerakkan tangan mendekap dadanya.
"Peluru perak..... Kumpeni menggunakan..... Peluru-peluru perak..... dan emas.....untuk melumpuhkan kekebalan kita...... Andika dengar baik-baik, Aji..... Si Udin itu..... Hasanudin..... agaknya dia..... tersesat..... terbujuk menjadi kaki tangan Kumpeni Belanda..... aku pesan kepadamu..... anakku..... Jatmika..... kalau bertemu dengan dia..... kau bantulah dia....."
Ki Sudrajat terkulai lemas.
"Baik, paman. Akan saya perhatikan dan penuhi pesan paman,"
Kata Aji, akan tetapi dia meraba dan memeriksa, ternyata Ki Sudrajat telah menghembuskan napas terakhir, agaknya dia tewas pada saat mengucapkan kata terakhir itu.
Semalam suntuk Aji tidak tidur, melainkan duduk bersila di dekat jenazah Ki Tejo Langit dan Ki Sudrajat.
Dia mengenang mendiang gurunya, Ki Tejo Budi dan merasa sedih bahwa pada saat dia berhasil bertemu dengan putera kandung gurunya itu, ialah Ki Sudrajat, orang itu tewas di depan matanya.
Yang lebih membuatnya prihatin lagi adalah melihat kenyataan betapa kakak tirinya, ternyata telah tersesat, tidak saja membantu musuh besar pembunuh ayah kandung sendiri, bahkan mau menjadi antek Kumpeni Belanda!
Pedih hatinya mengingat untuk menemui dan menyadarkan kakak tirinya itu.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Aji sudah menggali lubang kuburan di belakang pondok.
Digalinya dua buah lubang dan dia lalu menguburkan dua buah jenazah itu dengan penuh khidmat.
Dia merasa terharu sekali.
Dua orang yang dihormatinya itu tewas menjadi korban tembakan senapan para antek Kumpeni Belanda.
Mereka tewas tanpa ada yang melayat dan hanya dia seorang yang menguburkan mereka dalam keadaan yang sunyi, tanpa kehadiran seorangpun manusia lain.
Mereka merupakan sepasang orang muda yang serasi.
Yang pria berusia kurang lebih dua puluh tahun, berwajah tampan bersikap gagah.
Alis matanya hitm tebal melindungi sepasang mata yang mencorong, hidungnya mancung dan mulutnya berbentuk manis dan membayangkan kegagahan, apa lagi dengan adanya setitik tahi lalat di dagu, menambah kejantanannya.
Tubuhnya sedang dengan dada bidang, pakaiannya sederhana bersih dan rapi.
Sebatang keris bergagang kayu cendana hitam terselip dipinggangnya.
Adapun yang wanita berusia kurang lebih sembilan belas tahun, berwajah cantik jelita.
Mata dan mulutnya amat indah.
Sikapnya gagah perkasa sehingga ia merupakan seorang gadis yang memiliki wibawa dan membuat orang merasa segan untuk sembarangan menggoda.
Langkahnyapun membayangkan ketangkasan, tidak lemah seperti wanita kebanyakan.
Mereka adalah Jatmika dan Eulis.
Siang hari itu panasnya terik sekali.
Dua orang yang telah melakukan pejalanan sejak pagi itu tampak berkeringat.
"Uhh, panasnya....."
Eulis mengeluh sambil mengusap keringat yang membasahi dahu dan lehernya yang berkulit putih mulus.
Jatmika berhenti melangkah dan menudingkan telunjuknya ke arah kanan jalan di mana terdapat sebuah gubuk yang berdiri di tengah sawah.
Mereka telah tiba di kaki Gunung Careme di daerah persawahan yang luas dan tidak terdapat tempat yang cukup teduh untuk berlindung dari sengatan matahari.
Eulis mengangguk dan keduanya lalu berjalan menuju ke gubuk itu.
Nyaman memang duduk di dalam gubuk yang terlindung atap itu.
Selain dapat berlindung dari panasnya sinar matahari, juga di tempat terbuka itu berhembus angin semilir yang mengipasi tubuh mereka.
Mereka duduk dan menghapus keringat.
Semilir angin mendatangkan rasa nyaman dan merekapun duduk dengan nikmat dan mengantuk.
"Nyaman sekali di sini."
Kata Jatmika.
"Ya, enak sekali."
Kata Eul;is sambil tersenyum.
Jatmika memandang gadis itu dan seperti sejak pertemuan pertama, setiap kali memandang wajah gadis itu, dia terpesona.
Alangkah cantiknya, alangkah manisnya.
bentuk tubuh itu demikian indah menggairahkan, kulit yang tampak di wajah, leher, tangan dan kaki sebetis itu demikian putih mulus.
Diam-diam dia masih merasa heran dan bertanya-tanya dalam hati siapa gerangan sebetulnya gadis ini.
Jelas bukan gadis sembarangan dan ang amat mengganggu pikirannya adalah ketika dia melihat Eulis mengamuk dileroyok gerombolan di gunung Careme tadi.
Dia melihat dengan jelas gerakan gadis itu yang membuat dia terheran-heran.
Gerakan ilmu silat gadis itu dikenalnya benar karena gerakan silat itu sama dengan semua ilmu silat yang dia kuasai!
Dia mengenal Aji Margopati, bahkan mengenal Aji Sunya Hasta dan Guruh Bumi.
Bagaimana mungkin itu?
Yang menguasai semua aji-aji itu hanyalah ayahnya, Ki Sudrajat, lalu eyang gurunya, Ki Tejo Langit yang kini berjuluk Ki Ageng Pasisiran.
Juga paman gurunya, Hasanudin.
Akan tetapi dia teringat akan cerita ayahnya.
Selain kakek gurunya, masih ada saudara-saudara seperguruan eyang gurunya, yang bernama Ki Tejo Wening dan Ki Tejo Budi.
Bahkan yang bernama Ki Tejo Budi adalah kakek kandungnya yang sebenarnya, karena Ki tejo Langit itu hanyalah kakek angkatnya, Keterangan itu dia dapatkan dari ayahnya ketika dia hendak meninggalkan pantai Dermayu untuk pergi merantau.
Dia tidak tahu di mana adanya Ki Tejo Wening dan Ki Tejo Budi sekarang, tidak tahu apakah mereka berdua itu masih hidup ataukan sudah mati.
Kini, bertemu dengan Eulis, gadis yang kehilangan ingatannya itu, melihat gadis itu ada hubungan dengan seorang di antara kedua kakek itu!
Sana sekali dia tidak pernah mimpi bahwa gadis itu sesungguhnya adalah murid dari Ki Tejo Langit sendiri.
Kakek itu tidak menceritakan tentang gadis ini kepadanya ketika dia berada di pantai Dermayu.
"Eh, Kakangmas Jatmika, kenapa sejak tadi engkau memandangku seperti itu?"
Tiba-tiba Eulis bertanya denga suara menegur ketika tanpa disadarinya pemuda itu mengamatinya dengan sepasang mata penuh selidik Barulah Jatmika gelagapan dan baru dia menyadari bahwa kelakuannya tadi tidak patut.
"Eh..... ohh..... aku sungguh merasa heran melihatmu, Nimas Eulis,"
Katanya agak gagap.
"Heran?"
Tanya Eulis mulai mengamati diri sendiri untuk mencari kalau-kalau ada sesuatu yang tidak beres.
"Apakah ada sesuatu yang aneh pada diriku?"
"Memang ada yang aneh sekali, nimas, akan tetapi bukan pada dirimu."
"Lalu apa yang aneh? Katakanlah, kakangmas, engkau membuat aku menjadi penasaran dan ingin tahu."
"Nimas, ketika engkau dikeroyok oleh Gerombolan Gunung Careme itu, aku melihat gerakan ilmu silatmu dan aku mengenalnya dengan baik. Itulah yang membuat aku menjadi heran sekali karena semua aji kanuragan yang kau pergunakan untuk melawan mereka itu adalah aliran dari perguruanku. Aku tidak sangsi atau ragu lagi bahwa ilmu yang kita kuasai itu sealiran, Berarti kita ini masih saudara seperguruan. Cobalah ingat-ingat, Nimas, siapakah yang mengajarkan semua ilmu silat itu kepadamu? Siapakah gurumu?"
Eulis memejamkan kedua matanya, mengerutkan alisnya dan mencoba untuk mengingat-ingat.
Akan tetapi ia tidak dapat mengingat apa-apa sebelum mendapatkan dirinya dikeroyok tujuh orang jahat itu.
Yang dapat diingatnya hanya sejak pengeroyokan itu, sampai Jatmika menolongnya.
Sebelum itu gelap, sama sekali kosong dan ia tidak dapat mengingat apapun, ia tidak ingat siapa gurunya, tidak ingat siapa orang tuanya dan dari mana ia berasal.
Yang ia ingat hanya bahwa ia bernama Listyani dengan sebutan Eulis dan berasal dari daerah Cirebon seperti yang dikatakan Jatmika kepadanya.
Eulis membuka kedua matanya, memandang kepada pemuda yang duduk disampingnya itu dan ia menggeleng kepala.
"Aku tidak tahu, kakangmas, tidak ingat siapa guruku. Akan tetapi, bukankah engkau sendiri yang mengayakan bahwa aku bernama Listyani, biasa disebut Eulis dan berasal dari daerah Cirebon? Engkau lebih mengetahui tentang asal usulku, kakangmas, tentu engkau tahu pula dari siapa aku belajar semua ilmu ini."
Jatmika menggeleng kepalanya.
"Tidak, nimas. akupun tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa engkau bernama Listyani atau Eulis dan berasal dari daerah Cirebon. Akan tetapi engkau tentu ingat akan nama-nama semua aji yang engkau kuasai itu, bukan?"
Eulis menggeleng kepala.
"Engkau menguasai Aji Surya Hasta, Aji Margopati, dan Aji Guruh Bumi!!"
Kata Jatmika penasaran. Eulis menggeleng kepala dan menghela napas panjang.
"Aku tidak tahu, tidak mengenal nama-nama itu. Sudahlah, Kakangmas Jatmika, aku memang sama sekali tidak ingat akan masa laluku. Tentang diriku, biarlah kita ketahui bahwa aku bernama Listyani atau Eulis berasal dari daerah Cirebon dan aku menguasai ilmu-ilmu kanuragan yang sealiran denganmu. Sekarang, sebaiknya engkau menceritakan tentang dirimu, kakangmas, agar aku dapat mengenalmu lebih baik lagi."
Jatmika menghela napas panjang.
Sebetulnya ia ingin tahu sekali siapa sebenarnya gadis yang amat menarik hatinya itu.
Dia harus mengakui bahwa biarpun dia sudah bertemu dengan banyak wanita cantik, semenjak tinggal di Banten, sampai pindah ke Dermayu, namun belum pernah dia bertemu dengan seorang gadis yang begitu menarik hatinya.
Dia merasakan benar bahwa sekali ini dia benar-benar jatuh cinta kepada gadis yang tidak diketahui nama atau asal-usulnya ini.
Dia memberi nama Listyani atau Eulis hanya agar gadis itu tidak menjadi bingung.
Dia menduga bahwa gadis itu telah kehilangan ingatannya yang sebabnya tidak dia ketahui pula.
Akan tetapi mendengar ucapan Eulis tadi, dia merasa gembira sekali.
Setidaknya, gadis ini menaruh perhatian kepadanya dan ingin dapat mengenalnya lebih baik.
"Engkau sudah tahu, namaku Jatmika. Aku berasal dari Banten. Ayahku bernama Ki Sudrajat dan sejak aku kecil, ayah, ibu dan aku tinggal di Banten. Dua tahun yang lalu ibuku meninggal dunia. Ayah lalu mengajak aku menyusul eyangku yang tinggal di pantai laut Dermayu. Eyangku itu bernama Ki Tejo Langit, akan tetapi di pantai laut Dermayu eyang berjuluk Ki Ageng Pasisiran. Akan tetapi, aku tidak betah menganggur tinggal di sana, maka aku lalu berpamit dari ayah dan eyang untuk pergi merantau dan mencari pengalaman sambil mengamalkan semua ilmu yang pernah kupelajari dari ayah dan eyang. Nah, kulihat gerakan aji kanuraganmu tadi sama benar dengan aliran kami sekeluarga. Nimas Eulis, apakah ceritaku ini tidak mengingatkan engkau akan sesuatu?"
Eulis mengerutkan alisnya, mencoba untuk mengingat-ingat.
"Aku tidak ingat apa-apa, kakangmas, hanya nama Dermayu dan Ki Ageng Pasisiran itu rasanya tidak asing bagiku, akan tetapi aku tidak tahu di mana tempat itu atau siapa yang memiliki nama itu."
"Aneh sekali. Aku harus menyelidiki asal usulmu, nimas, dan aku akan membantumu sampai engkau menemukan orang tuamu. Aku akan mempertemukan engkau dengan Eyang Ki Ageng Pasisiran atau Ki Tejo Langit. Mungkin beliau mengenalmu dan dapat menceritakan siapa orang tuamu."
"Baik, kakangmas. Karena aku tidak ingat apa-apa dan merasa bingung, maka aku menurut saja apa yang akan kau lakukan untuk mencari orang tuaku agar aku dapat mengingat lagi asal usulku."
"Kita akan pergi ke Dermayu, nimas. Akan tetapi sebelum itu, kita harus pergi dulu ke Sumedang memenuhi pesan ayah dan eyang untuk membantu Gusti Pangeran Mas Gede, Adipati Sumedang menghadapi orang-orang pemberontak yang mengadakan kekacauan di daerah Kadipaten Sumedang."
"Baik, kakangmas. Aku ikut dan aku akan membantumu sekuat tenaga walaupun aku tidak tahu mengapa engkau membantu Kadipaten Sumedang dan siapa pula Gusti Pangeran Mas Gede itu."
Kembali Jatmika menghela napas panjang.
"Nimas, aku yakin bahwa seandainya engkau tidak melupakan asal usulmu, tentu engkau akan mengetahui akan keadaan yang kau tanyakan itu. Agaknya sekarang engkaupun tidak tahu akan Kerajaan Mataram dan Gusti Sultan Agung raja Mataram, bukan?"
Eulis memandang bodoh dan menggeleng kepala.
"Kasihan engkau, Nimas Eulis. Entah apa yang terjadi denganmu sehingga engkau melupakan segala hal. Ketahuilah, Kerajaan Mataram adalah kerajaan besar yang menguasai hampir seluruh Nusantara. Hampir semua kadipaten di Jawadwipa tunduk dan mendukung Kerajaan mataram yang kini sedang mempersiapkan diri dan menyusun kekuatan untuk menghadapi kekuasaan Kumpeni Belanda yang semakin merajalela."
"Siapakah Kumpeni Belanda itu, kakangmas?"
Jatmika maklum bahwa gadis ini sudah kehilangan ingatannya, maka dia harus menjelaskan segalanya agar gadis itu tidak bingung dan tahu benar di pihak mana ia harus berdiri.
"Kumpeni Belanda adalah bangsa asing berkulit bule dan bermata siwer (berwarna). Kalau engkau berasal dari daerah Cirebon, kurasa engkau pasti pernah melihat bangsa Belanda."
Eulis menggeleng kepala.
"Aku tidak ingat, kakangmas."
"Sudahlah, ketahuilah saja bahwa bangsa Belanda adalah bangsa asing yang sama sekali berlainan dengan bangsa kita. Mereka disebut Kumpeni Belanda dan sekarang mereka mempunyai benteng di Jayakarta. Akan tetapi mereka itu semakin merajalela dan berusaha menguasai perdagangan, juga berusaha memperluasa tanah yang mereka kuasai. Mereka hendak merampas tanah air kita, nimas."
Eulis mengerutkan alisnya. Biarpun ia tidak ingat sama sekali dan cerita ini merupakan hal baru baginya, namun ia dapat mengerti bahwa Kumpeni Belanda itu adalah musuh!. (Lanjut ke
Jilid 21) Alap Alap laut Kidul (Seri ke 03 Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 21
"Jahat sekali mereka!"
Katanya.
"Mereka jahat, akan tetapi juga amat kuat, nimas. Karena itu, kita berkewajiban untuk membantu Mataram dan menentang Kumpeni Belanda. Bagaimana pendapatmu, nimas?"
Eulis mengepal kedua tangannya.
"Aku juga akan membantu Mataram dan menentang Kumpeni Belanda!"
"Bagus! Nah, ketahuilah bahwa Gusti Mas Gede, Adipati Sumedang itu juga mendukung Mataram dan sekarang Sumedang dikacau oleh gerombolan pemberontak yang agaknya digerakkan oleh Kumpeni Belanda. Maka kita harus membantu Sumedang dan menentang para pemberontak itu."
"Baik, kakangmas. Aku setuju untuk bersamamu membantu Kadipaten Sumedang."
"Mari kita lanjutkan perjalanan, nimas. Sudah cukup lama kita melepaskan lelah di sini."
Kata Jatmika yang melompat turun dari atas panggung gubuk itu.
Eulis juga melompat turun dan mereka meninggalkan gubuk di tengah sawah itu, melalui pematang sawah.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke barat.
Akan tetapi ketika mereka tiba di tepi sebuah hutan, muncul lima orang dan Jatmika berbisik kepada Eulis.
"Hati-hati, nimas. Lima orang itu agaknya mencurigakan. Mereka seperti sengaja menghadang kita."
Eulis memandang ke depan dan memang, lima orang itu kini berhenti dan sengaja menghadang di jalan yang menuju ke hutan itu.
Jatmika mengambil sikap tidak acuh dan berjalan terus, Eulis berjalan di sisinya.
Akan tetapi setelah mereka tiba dekat dengan lima orang itu, seorang di antara mereka berseru.
"Benar, merekalah itu! Mereka yang telah membunuh Kakang Munding Hideung dan Paman Kolo Srenggi!"
Jatmika dan Eulis memandang orang yang bicara sambil menuding kepada mereka itu.
Mereka tidak mengenal orang itu, akan tetapi dari ucapan orang itu mereka dapat menduga bahwa orang itu tentulah seorang anak buah Munding Hideung yang berhasil meloloskan diri.
Kini pemuda dan dara itu berdiri berhadapan dengan lima orang itu dan mereka mengamati dengan penuh perhatian.
Yang bicara tadi adalah seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun.
Tiga orang lain juga sebaya dengannya.
Akan tetapi orang ke lima adalah seorang kakek berusia tujuh puluhan tahun, bertubuh tinggi besar dan mukanya kehitaman, hidungnya mancung sekali dan matanya cekung tajam.
Wajahnya mirip seekor burung kakaktua dan tangan kanannya memegang sebatang tongkat ular setinggi pinggangnya.
Kakek itu tampak menyeramkan sekali, tubuhnya yang tinggi itu agak bongkok, tulang tubuhnya besar dan sepasang matanya tajam bukan main, sinarnya seperti dapat menembus jantung.
"Apa?"
Kakek itu berkata, suaranya terdengar agak bindeng dan logatnya asing, kaku.
"Bocah-bocah ini mampu menewaskan Munding Hideung dan Kolo Srenggi? Heh, orang muda! Benarkah andika berdua yang telah membunuh Munding Hideung dan Kolo Srenggi?"
Pertanyaan ini diajukan kepada Jatmika. Pemuda itu bersikap tenang dan waspada karena dia dapat menduga bahwa kakek itu tentu seorang yang sakti mandraguna.
"Kalau yang anda maksudkan itu gerombolan penjahat yang mengganas di Gunung Careme, benar kami yang membasminya."
Jawab Jatmika dengan jujur.
"Babo-babo si keparat jahanam!"
Kakek itu memaki marah.
"Mereka itu adalah sahabatku dan muridku, dan kalian berdua berani membunuh mereka! Siapakah kalian yang begini tak tahu diri dan nekat? Ketahuilah, kini kalian berhadapan dengan Aki Mahesa Sura. Hayo mengaku siapa kalian, jangan mati tanpa nama!"
Dengan sikap tenang Jatmika menjawab.
"Namaku Jatmika dan gadis ini bernama Listyani. Kami menentang gerombolan di Gunung Careme karena mereka jahat. Aki Mahesa Sura, andika adalah seorang yang sudah tua, sebaiknya jangan membela mereka karena kalau andika membela gerombolan itu, berarti andika juga jahat dan terpaksa kami akan menentangmu!"
"Huh-huh, apa sih baik atau jahat itu? Yang baik bagiku belum tentu baik bagimu dan yang jahat bagimu belum tentu jahat bagiku! Kalian berdua telah membunuh sahabatku Kolo Srenggi dan muridku Munding Hideung, karena itu kalian harus dihukum!"
Dia menoleh ke belakang, dan berkata kepada tiga di antara orang pengikutnya.
"Panca Munding (Lima Kerbau) telah hilang dua, tinggal kalian bertiga harus dapat membalaskan dendam ini. Tangkaplah dua orang muda itu!"
Mendengar perintah ini, tiga orang laki-laki yang tadinya berdiri di belakang Aki Mahesa Sura serentak berlompatan ke depan menghadapi Jatmika dan Eulis.
"Aku adalah Munding Beureum!"
Kata seorang yang memakai sabuk berwarna merah.
"Aku Munding Koneng!"
Kata orang kedua yang bersabuk kuning.
"Aku Munding Hejo!"
Kata orang ketiga yang bersabuk hijau.
"Selama bertahun-tahun, kami Panca Munding sehidup semati di gunung Careme. Kini kalian telah membunuh dua orang kakak kami, maka menyerahlah untuk kami tangkap dan menerima hukuman dari guru kami!"
Kata Munding Beureum.
"Kami berdua tidak merasa bersalah. Kalau kalian hendak membela yang jahat, terpaksa kami akan menghajar kalian juga!"
Kata Jatmika.
Eulis juga sudah siap karena ia mengerti bahwa mereka berhadapan dengan teman-teman penjahat yang telah dibasminya bersama Jatmika.
Diam-diam dara perkasa ini telah mengerahkan tenaga saktinya, siap untuk melawan.
Munding Beureum mengeluarkan gerengan dan agaknya ini merupakan isarat bagi dua orang adik seperguruannya.
Mereka bertiga mengeluarkan suara gerengan dan tiba-tiba mereka berjungkir balik di atas tanah tiga kali dan......
bentuk mereka telah berubah menjadi tiga ekor harimau sebesar anak lembu!
Tiga ekor harimau ini menggereng dan mengaum sambil memperlihatkan taring dan mengibas-kibaskan ekor mereka yang panjang.
Tentu saja Eulis terbelalak ngeri, akan tetapi Jatmika menoleh kepadanya dan berkata lirih.
"Pergunakan Aji Guruh Bumi....."
Eulis menurut.
Bersama Jatmika ia lalu mengerahkan tenaga sakti dan memasang Aji guruh Bumi, menggedruk (membanting) kaki tiga kali ke atas tanah lalu keduanya mendorongkan kedua telapak tangan ke depan dan membentak.
"Aji Guruh Bumi.....!!"
Tiga ekor harimau jadi-jadian yang sudah bergerak ke depan hendak menubruk itu tiba-tiba dilanda angin pukulan yang amat kuat.
Tiga ekor binatang jadi-jadian itu terdorong ke belakang dan jatuh bergulingan, berubah lagi menjadi tiga orang laki-laki ang tampak terkejut.
Mereka manjadi penasaran sekali.
Ilmu mereka mengubah diri menjadi harimau ternyata dapat dipunahkan dua orang muda itu dengan aji pukulan yang amat ampuh.
Mereka lalu mencabut keris masing-masing dan serentak maju menyerang.
Munding Hejo yang paling muda sudah menerjang dan menyerang Eulis dengan tusukan kerisnya.
Eulis bergerak cepat menghindarkan diri dengan elakan ke belakang, lalu membalik dan kaki kirinya mencuat, melayang dan menyambar ke arah muka lawan.
Munding Hejo cukup cekatan.
Dia sudah mampu menghindar dari sambaran kaki itu dengan merendahkan tubuhnya lalu menyerang lagi dengan kerisnya.
terjadi perkelahian sengit antara Eulis melawan Munding Hejo.
Sementara itu, Munding Beureum dan Munding Koneng juga sudah maju mengeroyok Jatmika yang mereka anggap lebih tangguh dibandingkan gadis itu.
Mereka menyerang dengan tusukan keris, bertubi-tubi, dengan gerakan yang tangkas, cepat dan kuat.
Melihat gerakan mereka, tahulah Jatmika bahwa dua orang lawannya adalah lawan-lawan yang cukup tangguh.
Maka diapun cepat mencabut kerisnya.
Keris yang gagangnya terbuat dari kayu cendana hitam.
Keris itu berpamor emas dan itulah Kyai Cubruk, keris pusaka dari Banten yang terkenal ampuh pemberian ayahnya Ki Sudrajat.
"Trang.....! Cring.....!!"
Dua batang keris di tangan Munding Beureum dan Munding Koneng terpental ketika senjata mereka itu ditangkis oleh keris Kyai Cubruk di tangan.
Gerakan tangan Jatmika yang memegang keris itu cepat dan kuat bukan main sehingga keris itu lenyap bentuknya, dan berubah menjadi sinar yang berkelebatan dan bergulung-gulung.
Juga pemuda perkasa itu membalas serangan kedua orang pengeroyolnya bukan hanya dengan keris, akan tetapi juga tangan kirinya menyelingi tusukan kerisnya dengan tamparan-tramparan dahsyat.
Karena dia mengerahkan tenaga sakti dalam tamparan tangan kiri itu, maka tamparan itu tidak kalah hebat dan berbahayanya daripada tusukan kerisnya.
Dan setiap kali dua orang lawannya menangkis tamparannya, tubuh mereka terdorong dan mereka terhuyung ke belakang.
Bukan hanya dua orang pengeroyok Jatmika yang terdesak, juga Munding Hejo yang bertanding melawan Eulis, mulai terdesak.
Biarpun dia menggunakan keris sedangkan gadis itu bertangan kosong, namun tamparan-tamparan yang dilakukan Eulis sungguh amat hebat dan mulai mendesak Munding Hejo sehingga dia tidak mendapatkan kesempatan untuk balas menyerang.
Aki Mahesa Sura sejak tadi menonton pertandingan itu dan dia mengerutkan alisnya yang putih setelah melihat betapa lewat beberapa puluh jurus, tiga orang muridnya terdesak hebat oleh sepasang orang muda itu.
Ternyata dua orang muda itu memang sakti mandraguna, apalagi pemuda itu.
Dikeroyok dua juga masih mampu mendesak.
Pantas saja sahabatnya, Ki Kolo Srenggi, dapat tewas melawan mereka.
tentu pemuda itu yang telah mengalahkan dan menewaskan Kolo Srenggi.
Dan sekarang kalau dia diamkan saja, tentu tiga orang muridnya itu juga akan tewas di tangan mereka.
Aki Mahesa Sura yang sudah tua renta itu segera menggerakkan tubuhnya.
Tubuh jangkung agak bongkok itu sekali bergerak telah meluncur ke depan, seperti melayang saja dan tahu-tahu dia sudah berada dekat Eulis yang sedang mendesak Munding Hejo dan tongkat ularnya menyambar ke arah tengkuk Eulis.
"Syuuuutttt.....!"
Eulis terkejut dan hidungnya mencium bau amis keluar dari sinar hitam yang menyambar ke arah tengkuknya itu.
Ia cepat melangkah maju, memutar tubuh dan mengelak dari sambaran tongkat ular itu.
Akan tetapi tiba-tiba tangan kiri kakek tua renta itu menyambar menyengkeram ke arah kepalanya.
Eulis terkejut sekali.
Jarak antara ia dan kakek itu ada dua meter, akan tetapi lengan kiri kakek itu dapat mulur (memanjang) seperti karet saja dan tahu-tahu jari-jari tangan kiri itu sudah mengancam kepalanya.
Eulis cepat membuang diri ke atas tanah dan bergulingan menjauh.
Namun tetap saja tangan kiri itu mengejarnya dan tengkuknya terkena tepukan kakek itu.
"Plakkk.....!"
Tubuh Eulis tiba-tiba menjadi lemas dan ia tidak mampu bergerak lagi.
Aki Mahesa Sura menghampiri dan memegang pangkal lengan kanan Eulis dan diangkatnya gadis itu bangkit berdiri.
Akan tetapi tubuh Eulis seperti lemas tak bertenaga sehingga ia berdiri lunglai dan bersandar ke tubuh kakek itu.
"Jatmika, hentikan perlawananmu atau aku akan membunuh gadis ini!"
Aki Mahesa Sura membentak dan Jatmika cepat melompat ke belakang lalu memandang.
Alangkah kagetnya ketika dia melihat Eulis sudah tertangkap oleh kakek yang mukanya seperti Begawan Durna tokoh cerita Mahabarata itu!
"Aki Mahesa Sura!
Bebaskan gadis itu dan mari kita bertanding secara jantan!"
Jatmika membentak marah dan juga khawatir melihat Eulis sudah tak berdaya dan tertawan.
"Heh-heh-heh, Jatmika. Buang kerismu dan menyerahlah daripada engkau melihat gadis ini kubunuh di depan matamu!"
Aki Mahesa Sura mengancam sambil mengangkat tongkat ularnya, mengancam untuk membunuh gadis itu dengan tongkatnya.
"Aki Mahesa Sura, tidak malukah andika bertindak curang? Lepaskan Nimas Eulis dan mari kita mengadu kesaktian kalau andika berani!"
Kembali Jatmika menantang.
"Hah-hah-ho-ho! Ini bukan kecurangan melainkan kecerdikan, Jatmika. Kalau dengan akal dapat menang tanpa lelah, mengapa mesti menggunakan okol yang melelahkan?"
Tiba-tiba Eulis yang lemas tak berdaya itu berseru, suaranya juga terdengar lemah namun cukup lantang.
"Jangan menyerah, Kakangmas Jatmika! Lawan mereka, jangan perdulikan aku! Aku tidak takut mati!"
Aki Mahesa Sura menjadi marah. Mukanya yang berkulit hitam menjadi semakin hitam dan sepasang mata yang cekung itu mengeluarkan sinar berapi.
"Hemm, kalau ia minta mati, lihatlah betapa aku akan membunuhnya, Jatmika!"
Katanya dan dia mengangkat tongkat ularnya, siap ditusukkan pada leher Eulis yang memandang dengan mata tidak membayangkan rasa takut sedikitpun.
"Tahan.....!"
Teriak Jatmika dan kakek itu menahan pukulan tongkatnya.
"Aki Mahesa Sura, katakan dulu apa yang akan andika lakukan kalau aku mau menyerah. Kalau setelah aku menyerah andika tetap akan membunuh Nimas Eulis, apa artinya aku menyerah? Aku akan melawan sampai titik darah penghabisan dan kalau andika membunuh Nimas Eulis, aku pasti akan membunuhmu!"
Ucapan Jatmika itu dikeluarkan dengan penuh semangat sehingga dapat terasa oleh Aki Mahesa Sura bahwa ucapan itu bukan sekedar gertak belaka.
Kakek ini berpikir.
Tidak ada untungnya kalau dia membunuh gadis jelita ini.
Apalagi kalau dia melakukan itu, Jatmika tentu akan berusaha mati-matian untuk membunuhnya dan dia tahu betapa saktinya pemuda itu.
"Hemm, baiklah. Kalau engkau tidak melawan dan menyerahkan diri, aku tidak akan membunuh kalian berdua!"
Kata kakek itu.
"Bersumpahlah, Aki Mahesa Sura, baru aku mau percaya."
Kata Jatmika.
"Keparat! Engkau tidak percaya janji seorang datuk besar yang sakti mndraguna seperti aku? Baik, aku bersumpah tidak akan membunuh kalian kalau engkau mau menyerah."
"Jangan, Kakangmas Jatmika! Jangan percaya padanya, jangan menyerah dan jangan perdulikan aku!"
Teriak Eulis.
"Nimas Eulis, jangan khawatir. Aku yakin bahwa seorang tua dan terhormat seperti Aki Mahesa Sura, tidak akan melanggar sumpahnya sendiri. Nah, Aki Mahesa Sura, aku menyerah!."
Jatmika menyarungkan kembali kerisnya. Aki Mahesa Sura lalu berkata kepada tiga orang muridnya dengan suara memerintah.
"Ikat tangan mereka ke belakang, pergunakan tali pengikat pinggang kalian!"
Tiga orang murid itu lalu melolos sabuk mereka.
Sabuk itu terbuat dari lawe yang sudah dirajah (diberi kesaktian) karena itu merupakan benda yang memiliki daya yang luar biasa kuatnya.
Mahesa Sura menyeringai mengelus jenggotnya yang putih melihat tiga orang muridnya sibuk melaksanakan perintahnya.
Munding Beureum dan Munding Koneng menelikung kedua lengan Jatmika ke belakang tubuhnya, sedangkan Munding Hejo mengikat kedua pergelangan tangan Eulis ke belakang tubuhna pula.
Setelah memeriksa ikatan itu yang amat kuat, Mahesa Sura lalu menepuk tiga kali pundak dan punggung Eulis dan seketika gadis itu mampu bergerak, Eulis meronta dan berusaha mematahkan ikatan kedua tangan, namun usahanya tidak berhasil karena tali itu kuat bukan main.
Gadis itu menjadi marah dan kedua kakinya mencuat bergantian ia mencoba untuk menyerang Mahesa Sura.
kakek ini terkekeh dan mengelak, terkadang menangkis sehingga kaki gadis itu terpental dan ia merasa tulang kakinya nyeri ketika tertangkis oleh tangan kakek itu.
Melihat gadis itu sudah dapat bergerak, Jatmika diam-diam juga mengerahkan tenaga untuk membikin putus tali yang menelikungnya, namun usahanya juga tidak berhasil.
Maklumlah dia bahwa mereka berdua tidak akan dapat melepaskan diri karena itu mereka harus mempergunakan kecerdikan, menanti kesempatan untuk meloloskan diri.
Menggunakan kekerasan yang sia-sia hanya merugikan mereka sendiri.
"Jatmika, engkau sudah berjanji tidak melawan dan aku berjanji tidak akan membunuh kalian. Kalau kalian ingkar janji, akupun dapat mengingkari janjiku dan membunuh kalian."
Kata Aki Mahesa Sura.
"Nimas Eulis, kata-katanya itu benar. Kita harus menyerah, itulah yang sudah kujanjikan dan aku tidak ingin melihat engkau melanggar janji. Tenanglah, nimas, engkau tidak perlu khawatir. Bukankah aku berada di sampingmu?"
Eulis juga melihat betapa perlawanan akan sia-sia belaka, ia memandang pemuda itu dan melihat pemuda itu tersenyum dan sinar matanya seolah memberi isarat kepadanya.
Iapun berhenti meronta dan menundukkan muka lalu berkata lirih.
"Aku menyerah."
"Heh-heh-heh-ho-ho-ho!"
Aki Mahesa Sura tertawa gembira.
"Sebentar lagi malam tiba. Mari kita bawa dua orang tawanan ini ke pondok kita agar tidak kemalaman di perjalanan."
Tiga orang muridnya itu menggiring Jatmika dan Eulis memasuki hutan.
Mereka berhenti setelah hari menjadi agak gelap.
Senja telah tiba dan mereka sampai di lembah Sungai Ci Lutung di mana berdiri sebuah pondok kayu yang cukup besar.
Jatmika dan Eulis disuruh masuk dan mereka semua duduk di atas bangku-bangku kayu mengelilingi sebuah meja.
Munding Koneng dan Munding Hejo lalu sibuk bekerja di dapur mempersiapkan makanan dan di ruangan itu tinggal Aki Mahesa Sura dan Munding Beureum yang menemani atau menjaga dua orang tawanan itu.
Tak lama kemudian dua orang murid yang sibuk di dapur itu memasuki ruangan membawa sebakul nasi dan beberapa macam masakan sederhana.
"Biarkan Nimas Listyani makan lebih dulu!"
Kata Jatmika.
"Tidak, biarkan Kakangmas Jatmika yang makan."
Bantah Eulis.
"Baiklah, Jatmika akan makan lebih dulu."
Kata kakek itu.
Berdebar rasanya jantung kedua orang tawanan itu.
Mungkin kini tiba saatnya mereka memperoleh kesempatan untuk meloloskan diri!
Akan tetapi ternyata kakek itu cerdik sekali.
Dia menyuruh membebaskan ikatan kedua tangan Jatmika, akan tetapi Eulis dalam keadaan masih terikat disuruh duduk di dekatnya.
Dalam keadaan seperti ini tentu saja Jatmika tidak berani memberontak karena kakek itu akan dapat dengan mudah turun tangan membunuh Eulis!
Akan tetapi untuk dapat membuat tubuhnya tetap sehat dan kuat, Jatmika menghilangkan perasaannya yang tertekan dan diapun mulai makan.
Sehabis makan dan minum, Jatmika diikat lagi kedua lengannya ke belakang.
Barulah Aki Mahesa sura S menyuruh muridnya melepaskan ikatan tangan Eulis dan dia sendiri duduk dekat Jatmika untuk menjaga kalau-kalau gadis itu memberontak.
Eulis maklum bahwa kalau ia memberontak, tentu nyawa Jatmika terancam.
Ia menahan kemarahannya dan tidak memberontak, akan tetapi hatinya yang keras dan penuh kebencian terhadap musuh-musuhnya itu membuat ia marah sekali dan ia menolak keras ketika dipersilakan makan minum.
"Aku tidak sudi makan minum!"
Bentaknya setelah kedua pergelangan tangannya dibebaskan dari ikatan.
"Hemm, engkau tidak mau makan? Kalau engkau lebih suka menderita dan mati kelaparan, terserah kepadamu!"
Kata Aki Mahesa Sura.
"Nimas Eulis, harap engkau jangan berkeras hati seperti itu. Aki Mahesa Sura sudah berbaik hati memberi kita makan. Maka, makanlah, nimas, ini perlu untuk menjaga kesehatan tubuhmu."
Kembali mereka bertemu pandang dan Eulis melihat sinar mata pemuda itu yang mengandung isarat kepadanya.
Iapun teringat bahwa selama mereka masih belum dibunuh, hanya ditawan saja mereka berdua masih mempunyai kesempatan untuk melepaskan diri dari cengkeraman Aki mahesa sura dan tiga orang muridnya.
Akan tetapi tentu saja ia tidak akan mampu berbuat banyak kalau ia menderita kelaparan dan tubuhnya kehilangan tenaga dan menjadi lemas.
Ia maklum akan isarat Jatmika.
pemuda itu menganjurkan agar ia tetap menjaga kesehatan tubuhnya agar kalau kesempatan itu terbuka, mereka akan dapat memberontak dan melepaskan diri.
"Baiklah, baiklah!"
Katanya marah dengan bersungut-sungut ia pun mulai makan.
Tentu saja dalam keadaan seperti itu, makanpun tidak terasa sedap.
Akan tetapi ia memaksa diri untuk menelan nasi dan sayurnya dan merasa betapa tubuhnya segar kembali.
Setelah makan dan minum, eulis mempergunakan kesempatan itu untuk berkata kepada Aki Mahesa Sura.
"Aki Mahesa Sura, aku merasa badanku gerah dan kotor berkeringat, maka perkenankanlah aku untuk mandi membersihkan diri di sungai."
Aki Mahesa Sura menyeringai dan mengangguk, berkata kepada tiga orang muridnya.
"Kalian bertiga kawallah ia dan biarkan ia mandi di sungai. Pemuda ini tinggal di sini bersamaku."
Aki Mahesa Sura memang cerdik.
Dengan menahan Jatmika sebagai sandera, tentu saja Eulis tidak berdaya dan tidak berani memberontak.
Apalagi yang mengawalnya tiga orang murid kakek itu.
Melawan pengeroyokan tiga orang ini tentu saja akan berat sekali bagi Eulis.
Iapun tidak ingin memberontak karena ia tidak mau kalau sampai pemuda sahabat barunya itu dibunuh.
Kegelapan malam itu menolong Eulis sehingga ia dapat mandi di tepi sungai tanpa malu-malu karena tiga orang yang mengawalnya dan yang menjaga di darat tidak dapat melihatnya dengan jelas dan iapun dapat mandi dan membersihan badannya dengan leluasa.
Setelah mandi Eulis merasa segar dan bersemangat kembali, dan Jatmika melihat betapa segar wajah yang jelita itu ketika gadis itu kembali memasuki ruangan dikawal tiga orang murid Aki Mahesa Sura.
Munding Beureum lalu menggunakan tali ikat pinggang yang kuat itu untuk megikat lagi kedua pergelangan tangan Eulis ke belakang tubuhnya.
Aki Mahesa Sura membawa Jatmika keluar rumah dan melepaskan ikatan tangannya.
kembali kakek itu memperlihatkan kecerdikannya.
Dia sendiri yang pergi mengawal Jatmika sehingga kalau pemuda itu berani memberontak, pemuda itu harus menghadapi dia yang sakti mandraguna, sedangkan Eulis tetap berada dalam kekuasaan tiga orang itu dalam keadaan terbelenggu.
Dengan demikian, Jatmika sama sekali tidak berdaya, tidak berani untuk mencoba meloloskan diri karena hal itu akan membahayakan keselamatan Eulis.
Setelah mandi, Jatmika juga merasa tubuhnya segar dan bersemangat.
Dia memutar otaknya.
Aki Mahesa Sura merupakan orang yang paling berbahaya di antara empat orang yang menawan dia dan Eulis.
yang seorang lagi, anak buah Munding Hideung itu telah disuruh pergi oleh kakek itu, entah ke mana.
Kini kakek itu menjaganya di tepi sungai.
Kalau saja dia dapat merobohkan kakek itu sekarang, membunuhnya atau setidaknya membuat dia tidak berdaya, tentu tiga orang murid kakek itu tidak mengetahuinya dan diam-diam dia dapat menyerbu mereka untuk membebaskan Eulis!
Membayangkan kemungkinan ini, jantung dalam dada Jatmika berdebar.
ketika dia mengenakan kembali pakaiannya dalam gelap dan melangkah keluar dari tepi sungai, menghampiri Aki Mahesa Sura yang berdiri termangu tak jauh dari situ, seluruh urat syaraf dalam tubuhnya sudah menegang dan dia sudah siap siaga untuk melakukan serangan mendadak dan merobohkan kakek sakti mandraguna itu.
Akan tetapi, ketika dia melangkah sambil mengerahkan ilmunya agar tubuhnya menjadi ringan dan langkahnya tak terdengar orang, kakek itu membalikkan tubuh menghadapinya dan berkata dengan suara mengandung ejekan.
"Kalau aku menjadi engkau, aku tidak akan mencoba untuk memberontak, Jatmika. Sebelum engkau dapat merobohkanku, gadismu itu tentu akan dicabut nyawanya oleh tiga orang muridku!"
Sudah tentu saja Jatmika terkejut bukan main.
Kakek itu telah dapat menerka apa yang berada dalam benaknya.
Dia menyadari.
Tentu kakek yang cerdik itu tadi mendengar langkah kakinya yang ringan, yang tidak seperti biasa dan kakek itu sudah dapat mengambil kesimpulan apa yang berada dalam pikirannya.
Tentu saja dia merasa malu dan dia berkata.
"Aki, siapa yang akan memberontak? Nimas Eulis berada dalam kekuasaanmu, aku tidak akan memberontak dan engkau tidak akan membunuh kami seperti telah dijanjikan!"
"Heh-heh, andaikata engkau memberontak sekalipun, apa kaukira akan mudah begitu saja mengalahkan aku? Mari kita kembali. Aku ada pembicaraan penting dengan kalian berdua."
Jatmika dikawal kembali ke pondok dan seperti halnya Eulis, diapun ditelikung kembali.
Kedua lengannya diikat di belakang tubuhnya.
Mereka semua duduk kembali menghadapi meja besar yang sudah dibersihkan.
eulis duduk diapit tiga orang murid kakek itu, sedangkan Jatmika duduk di sebelah kiri Aki mahesa Sura, di seberang meja.
Biarpun dua orang tawanan itu sudah dibelenggu, agaknya kakek itu masih bersikap hati-hati dan menjaga mereka dengan ketat.
Dia sendiri menjaga Jatmika dan tiga orang muridnya disuruh menjaga Eulis.
Melihat kakek itu diam saja, hanya memandang dia dan Eulis penuh perhatian, Jatmika menjadi tidak sabar.
"Aki Mahesa Sura, sekarang katakanlah, apa yang hendak kaulakukan kepada kami yang telah kautawan? Engkau hendak membawa kami ke manakah?"
"Heh-heh, engkau tidak perlu tahu, Jatmika. sekarang jawablah pertanyaanku. Siapakah gurumu?"
Jatmika tidak ingin menyembunyikan nama gurunya, bahkan dia ingin mengagetkan hati kakek itu dengan memperkenalkan nama besar gurunya.
"Guruku adalah eyangku sendiri yang tinggal di pantai deramyu, berjuluk Ki Ageng Pasisiran, dahulu bernama Ki Tejo Langit."
Benar saja. Aki Mahesa Sura tampak terkejut.
"Ah tiga orang saudara seperguruan Tejo dari banten yang terkenal. Tejo Wening, Tejo Langit dan Tejo Budi! Kiranya engkau murid dan juga cucu Ki Tejo Langit? Bagus sekali. Tiga orang datuk Banten itu tentu tidak suka kepada Mataram. Sungguh kebetulan sekali. Kalau begitu kita masih orang sendiri dan sehaluan. Sudahlah, skan kuhapuskan saja kesalah-pahaman antara kita. Mulai sekarang kuajak kalian berdua untuk bekerja sama. Eh, akan tetapi murid siapakah Listyani ini?"
"Nimas Eulis adalah adik seperguruanku!"
Kata Jatmika karena dia sendiri tidak tahu, juga gadis itu tidak tahu murid siapakah ia.
Akan tetapi dia tidak berbohong kalau mengakui gadis itu sebagai saudara seperguruannya karena ilmu-ilmu mereka memang sealiran.
"Bagus! Cocok sudah kalau begitu. Murid Tejo Langit tentu saja tepat untuk bekerja sama dengan kami. Jatmika dan Listyani, kalian tentu bersedia untuk bekerja sama dengan kami, bukan? Kalian murid dari Banten dan aku sendiri berasal dari Pajajaran, sudah semestinya bekerja sama untuk menentang kekuasaan Mataram yang sewenang-wenang itu! Mendengar dia diajak bersekutu menentang Mataram, tentu saja seketika hati Jatmika menolak keras. Akan tetapi dia bersikap cerdik. Dalam keadaan tidak berdaya itu tidak ada untungnya untuk berkeras menentang kehendak kakek itu. Dia dapat berpura-pura bersikap lunak dan hendak mengetahui apa sebenarnya yang dikehendaki kakek itu.
"Bekerja sama sih baik saja, Aki Mahesa Sura. Akan tetapi bekerja sama menentang kekuasaan Mataram? Apakah yang kau maksudkan dengan itu?"
"Ketahuilah, Jatmika, Pangeran Mas Gede yang kini menjadi Adipati Sumedang adalah orang yang dipercaya oleh Sultan Agung di mataram dan kadipaten Sumedang akan dijadikan tempat penyimpanan ransum bagi para pasukan Mataram kalau nanti menyerang Kumpeni Belanda di Batavia, bahkan Kadipaten Sumedang juga mempersiapkan pasukan untuk membantu mataram menggempur Belanda."
"Hemm, kalau begitu lalu mengapa?"
"Dengar baik-baik. sebagai murid Ki Tejo Langit engkau tentu juga kami, memusuhi Mataram. Karena Kadipaten Sumedang menjadi antek Mataram, maka perlu sekali Adipati Pangeran Mas Gede itu dirobohkan kedudukannya diganti seorang yang lebih pantas, seorang yang tidak mau menghambakan diri kepada Mataram."
"Hemm, maksudmu hendak memberontak terhadap Kadipaten sumedang dan menggantikan adipatinya? Lalu kalau menurutmu, siapa yang akan dijadikan pengganti?"
"Siapa saja asal dapat mengambil sikap memusuhi Mataram. Bisa diambil seorang dari murid-muridku, atau engkau sendiri juga bisa, Jatmika. Selama engkau menentang Mataram, aku akan selalu mendukung dan membantumu."
"Hemm, bicara memang mudah, Aki Mahesa Sura! Akan tetapi melaksanakan itulah yang sukar. Apa kaukira mudah saja merobohkan sang adipati yang memiliki banyak pasukan perajurit, hanya mengandalkan engkau, tiga orang muridmu dan kami berdua?"
"Heh-heh-heh, engkau terlalu memandang remeh kepadaku, Jatmika! Kaukira aku sebodoh itu? aku sudah menghimpun kekuatan yang lumayan banyaknya. Walaupun tidak sebanyak pasukan Kadipaten sumedang, namun seluruh anggauta pasukan kami dipersenjatai dengan senjata api bedil, dan kalau kalian berdua mau membantu, sudah pasti Kadipaten Sumedang dapat direbut dan Pangeran Mas Gede dapat dirobohkan dan diganti orang lain."
Jatmika sejak tadi memutar otaknya.
Dia menerima pesan dari eyang dan ayahnya untuk membantu Sumedang yang sedang terancam pemberontakan.
Siapa kira dia dan Eulis kini malah telah tertawan oleh pimpinan pemberontak itu yang bukan lain adalah Aki mahesa Sura dan diajak untuk membantu pemberontakan menjatuhkan Kadipaten Sumedang!
Jatmika maklum bahwa itulah sebabnya mengapa kakek itu tidak membunuh dia dan eulis, pada hal mereka berdua sudah membunuh murid dan sahabat kakek itu!
Dia tahu bahwa kalau dia menolak, apalagi kalau kakek itu tahu bahwa dia malah membela Mataram, tentu nyawa dia dan Eulis tidak akan dapat tertolong pula!
"Bagaimana, Jatmika?
Kenapa engkau diam dan bengong saja?"
"Kakangmas Jatmika....."
"Diamlah, Nimas Eulis dan engkau turutlah saja aku!"
Jatmika memotong ucapan Eulis.
Dia tahu bahwa tentu Eulis yang sudah dia beritahu tentang keadaan Mataram itu sudah yakin bahwa mereka berdua harus membela Mataram dan sama sekali tidak boleh menentang Mataram.
Karena itu dia mendahului untuk mengatur siasat dan dia yakin bahwa Eulis akan menurut saja karena gadis yang sudah kehilangan ingatannya akan masa lalu itu merasa tidak berdaya dan hanya percaya kepadanya.
"Baiklah, Aki Mahesa Sura. Aku dan Eulis akan membantu, akan tetapi setelah kita bekerja sama, cepat lepaskan ikatan pada kedua tangan kami agar kami dapat leluasa bicara dan leluasa bergerak."
"Dan leluasa pula memberontak, dan menyerangku, bukan? Heh-heh-heh, aku tidak setolol itu, Jatmika!"
"Hemm, lalu maumu bagaimana, Aki Mahesa Sura? Kalau engkau tidak percaya kepada kami, mengapa kau mengajak kami untuk bekerja sama?"
Kata Jatmika, sengaja brtanya dengan suara bernada marah dan penasaran.
"Bersabarlah sampai besok pagi, orang muda. Seorang anak buahku sudah kusuruh memberi kabar kepada pimpinan kami. Besok pagi akan dapat kami memberi keputusan kepada kalian. Sekarang beristirahatlah. Engkau beristirahat dalam kamar bersamaku, dan Listyani akan dijaga tiga orang muridku."
"Tidak sudi aku sekamar dengan mereka!"
Eulis membentak marah.
"Aki Mahesa Sura, kalau murid-muridmu berani mengganggu selembar saja rambut Nimas Eulis aku akan.....!"
"Tenanglah, Jatmika. mereka tidak akan berani."
Kata kakek itu lalu berkata kepada tiga orang muridnya.
"Biarkan gadis itu tidur dalam kamar sebelah dan kalian bertiga berjaga di luar kamar. Awas, kalau ada yang menyentuhnya, aku akan membuntungi anggauta badan kalian yang berani menyentuhnya!"
Melihat gadis itu masih ragu dan memandang kepadanya, Jatmika berkata.
"pergilah tidur di kamar sebelah, nimas dan percayalah, Aki Mahesa Sura tidak akan melanggar janji."
Setelah jatmika berkata demikian, barulah Eulis bangkit berdiri lalu melangkah dan memasuki kamar sebelah yang diterangi sebuah lampu gantung kecil.
Dengan kedua tangan terbelenggu, gadis itu lalu merebahkan diri di atas pembaringan kayu, miringkan tubuh menghadap ke dalam dan segera ia dapat tidur karena memang ia sudah merasa lelah dan mengantuk.
"Mari kita beristirahat, Jatmika,"
Kata Aki Mahesa Sura.
jatmika bangkit dan mengikuti kakek itu memasuki sebuah kamar.
dalam kamar itu terdapat dua buah dipan kayu.
Menurut petunjuk Aki Mahesa Sura, Jatmika merebahkan dirinya di atas dipan yang berada di sebelah dalam, tidur miring membelakangi kakek itu yang duduk bersila di dipan kedua.
Jatmika maklum bahwa memberontak tidak akan ada gunanya, bahkan membahayakan keselamatan Eulis.
Maka dia mengambil keputusan untuk dapat tidur nyenyak agar tenaganya pulih kembali dan dalam keadaan segar bugar menghadapi peristiwa besok pagi.
Pemuda itu melangkah dengan muka tunduk.
Tubuhnya jangkung tegap, membayangkan kekuatan dahsyat di balik sikap lemah lembut itu.
Wajahnya tampan manis, matanya lembut namun sinarnya tajam mencorong.
Langkahnya seperti seekor harimau.
Pakaiannya yang sederhana seperti pakaian pemuda tani itu tidak menyembunyikan keadaan dirinya yang menarik, yang berbeda dengan pemuda biasa.
Memang sudah menjadi kebiasaannya kalau berjalan selalu menundukkan mukanya.
Hal ini bukan berarti bahwa dia tidak memperhatikan keadaan disekitarnya.
Biarpun selalu menunduk, namun dia peka sekali terhadap lingkungannya.
Takkan mudah bagi orang untuk lewat di dekatnya tanpa diketahuinya.
Dia peka dan selalu waspada terhadap dirinya sendiri, pikirannya, perasaannya, gerak langkahnya, dan peka terhadap apapun yang berada di luar dirinya.
Kalau dia menunduk, hal ini adalah karena sudah menjadi kebiasaannya dan hal ini sesuai dengan ajaran yang dia dapatkan dari mendiang Ki Tejo Budi.
Masih terngiang suara gurunya itu kalau dikenangnya, yang mengajarkan perihal menundukkan muka ini.
Tampaknya sederhana saja, hanya selalu menundukkan muka, namun ternyata mengandung ajaran yang amat penting sebagai penurun sikap hidup.
"Biasakanlah untuk menundukkan muka, Aji,"
Demikian mendiang Ki Tejo Budi dahulu memberi wejangan.
"Orang menundukkan muka itu selalu waspada akan langkah hidupnya, tidak akan mudah berjegal tersandung, mudah melihat kesalahan sendiri. Tidak seperti orang yang dalam perjalanan hidupnya selalu menengadahkan muka melihat ke atas, dia mudah tersandung dan jatuh tersungkur. Orang yang selalu menundukkan muka memandang ke bawah, akan tetapi dapat melihat mereka yang berada di bawahnya, yang lebih rendah, lebih miskin dan lebih kekurangan daripada dirinya sendiri. Dengan demikian dia akan selalu merasa bahwa dia adalah seorang yang beruntung, cukup tinggi, cukup berkemampuan dan berlebihan dibanding banyak orang yang berada di bawahnya sehingga dia akan dapat mengucapkan syukur dan terima kasih kepada kemurahan Gusti Allah kepadanya. Sebaliknya orang yang selalu berdongak hanya akan melihat mereka yang berada lebih tinggi darinya, lebih pandai, lebih kaya, lebih tinggi kedudukannya. Dengan demikian dia akan selalu merasa bahwa dia adalah seorang yang tidak berbahagia, yang rendah, yang kalah kaya, kalah makmur, kalah pandai oleh mereka yang berada diatasnya sehingga dia akan selalu mengomel, mencela, mengatakan bahwa Gusti Allah tidak adil kepadanya, hidupnya penuh keluh kesah dan iri hati, Lihat betapa arif bijaksananya nenek moyang kita. Mereka membuat gambar-gambar wayang kulit yang mengandung penuh arti. Lihat gambaran wayang. Semua satria arif bijaksana, semua digambar dengan muka menunduk dan lihat para raksasa yang angkara murka, semua digambar dengan muka menengadah atau dagu terangkat! Coba bayangkan, bagaimana sikap orang yang sombong, yang sewenang-wenang, yang angkara murka, yang berbangga diri dan berkepala besar, semua tentu mengangkat mukanya. Sebaliknya, orang yang penyabar, yang mengalah, yang rendah hati, yang alim, selalu tentu menundukkan mukanya! Orang yang menundukkan mukanya itu juga menundukkan hatinya terhadap Gusti Allah, setiap saat mengucapkan syukur dan memuji namaNya. Akan tetapi orang yang menengadah atau mengangkat mukanya itupun meninggikan hatinya, bisanya hanya menuntut kepada manusia lain atau kepada Gusti Allah sekalipun, agar mendapatkan ini dan itu demi kesenangan diri sendiri belaka. Camkanlah ini, Lindu Aji muridku."
Aji tidak pernah melupakan petuah gurunya itu sehingga sudah menjadi kebiasaan baginya untuk selalu merendahkan hati dan menundukkan muka, bahkan di waktu berjalan.
Dalam kewaspadaannya, juga terhadap diri sendiri, yaitu kebiasaan mawas diri yang selalu dilakukan, Aji mendapatkan bahwa dirinya sedang diombang-ambingkan berbagai perasaan.
Harus diakuinya bahwa betapa kuatnya iman dan penyerahannya kepada Gusti Allah, namun dia tidak dapat melepaskan diri sama sekali terhadap pengaruh nafsu.
Dan hal ini cocok dengan wejangan mendiang gurunya.
"Lindu Aji, tidak ada seorangpun manusia betapapun pandainya, betapapun salehnya, dapat terlepas sepenuhnya dari pengaruh nafsu. Selama kita masih mengenakan badan jasmani ini, sudah pasti kita terpengaruh oleh nafsu daya rendah benda, nafsu daya rendah hewani dan nafsu daya rendah nabati, hal ini adalah karena kita selama hidup dalam dunia ini masih amat membutuhkan mereka. Kita membutuhkan sandang papan dan benda-benda lain yang membawa daya rendah benda. Kita membutuhkan makan minum yang membawa daya rendah hewani dan nabati. Bagaimana mungkin kita terbebas dari kesemuanya itu? Dan daya-daya rendah itulah yang mengakibatkan kita masih merasakan segala macam perasaan yang bergolak dalam hati akal pikiran seperti misalnya senang, suah, puas, kecewa, marah. malu, khawatir dan sebagainya. Hanya bedanya, Aji, orang yang kuat imannya dan penyerahannya kepada Gusti Allah, pengaruh nafsu-nafsu daya rendah itu tidak sampai menyeretnya terlalu jauh, tidak sampai membuat dia melakukan perbuatan-perbuatan jahat karena ada kekuasaan Gusti Allah yang akan menahan dan membimbingnya. Tidak seperti orang tak beriman yang lalu melampiaskan nafsu-nafsunya dengan melakukan perbuatan yang keji dan sejahat-jahatnya."
Teringat akan semua ini, biarpun Aji melihat dengan jelas betapa hatinya bergolak oleh pengaruh nafsu-nafsu, dia tidak merasa khawatir akan tetapi percaya bahwa Gusti Allah tidak akan meninggalkannya.
Pada saat itu, dia merasa penasaran, marah, kecewa dan juga berduka dan khawatir.
Dia merasa penasaran dan marah melihat sepak terjang orang-orang yang memberontak terhadap Mataram dan merendahkan diri menjadi antek Kumpeni Belanda menjual nusa bangsa sendiri.
Dia kecewa sekali melihat betapa Hasanudin, kakak tirinya seayah berlainan ibu, telah tersesat dan terpikat oleh Belanda menjadi kaki tangannya pula.
Dia berduka karena kematian Ki Sudrajat putera mendiang gurunya, dan kematian Ki Tejo Langit kakak seperguruan gurunya yang memang selama ini dicarinya.
Baru saja bertemu, pada malam yang sama, mereka berdua tewas diterjang peluru-peluru senapan Kumpeni Belanda.
Dan dia terutama sekali merasa khawatir memikirkan nasib Sulastri yang jatuh ke bawah tebing lalu lenyap tanpa meninggalkan bekas!
Kini dia dibebani oleh lebih banyak tugas lagi.
Selain mambantu Mataram dalam mempersiapkan diri untuk menyerbu Kumpeni Belanda di Batavia, dia juga harus mencari Sulastri, lalu mencari Raden Banuseta yang ternyata amat jahat dan menjadi antek Belanda, selain telah membunuh ayah kandungnya, juga telah membawa serdadu Kumpeni membunuh Ki Tejo Langit dan Ki Sudrajat.
Selain itu juga harus mencari dan menyadarkan kakak tirinya, Hasanudin yang tersesat.
Dia melakukan perjalanan cepat kembali ke Gunung Careme, melewati tempat dimana Sulastri lenyap kemudian dengan cepat dia menuruni gunung itu menuju ke barat.
Dan pada sore hari itu, tibalah dia di lembah Sungai Ci Lutung.
Ketika dia berjalan santai menyusuri tepi sungai untuk mencari penyeberangan atau tempat yang nyaman untuk melewatkan malam, sukur kalau dia bisa mendapatkan makanan, tiba-tiba dia melihat serombongan orang yang dipimpin seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun yang gagah perkasa berpakaian bangsawan.
Rombongan yang mengikuti laki-laki gagah ini berjumlah dua puluh empat orang, melihat pakaian dan bentuk tubuhnya, jelas mereka adalah orang-orang sebangsa, akan tetapi mereka semua memegang senapan berlaras panjang, dan laki-laki gagah itupun menyelipkan sebatang pistol di ikat pinggangnya.
Kalau saja mereka itu berpakaian serdadu, tentu mudah diduga bahwa mereka adalah pasukan Kumpeni Belanda.
Akan tetapi mereka tidak berpakaian seragam, dan mereka itu jelas orang-orang dari bangsa sendiri.
Melihat keadaan mereka yang berjalan menyusuri pantai ke arah utara, dia tertarik sekali dan cepat dia membayangi mereka.
Ketika membayangi mereka dari jarak agak dekat sambil menyelinap di antara pohon-pohon dan semak-semak dengan pengerahan tenaga dalam sehingga gerakannya cepat dan hanya berkelebat seperti bayang-bayang, Aji mendengar seorang di antara dua losin anak buah itu bertanya.
"Gusti Menggung, tidak kelirukah jalan yang kita tempuh?"
Pria yang gagah perkasa yang memimpin pasukan itu, yang berkumis tebal sekepal sebelah seperti Raden Gatutkaca, tertawa "Ha-ha, mana bisa keliru? Aku pernah ke sini. Hayo cepat, keburu malam!"
Suaranya besar dan mantap, juga berwibawa, rombongan itu mempercepat jalannya, bahkan setengah berlari dipimpin orang yang disebut Gusti Menggung itu.
Aji dapat melihat betapa orang gagah itu dapat berlari dengan ringan, tampaknya seperti melangkah biasa saja, akan tetapi anak buahnya terengah-engah mengikutinya dengan berlari cepat!
Seorang yang cukup tangguh, pikir Aji sambil berlari agar dapat terus membayangi dari jarak dekat.
Akhirnya, setelah cuaca mulai gelap, tibalah mereka di depan sebuah pondok kayu yang cukup besar di tepi sungai itu.
Mereka berhenti di luar pintu dan pemimpin rombongan itu berseru dengan suara lantang.
"Aki (Kakek) Mahesa Sura! Apakah andika berada di dalam pondok?"
Aki Mahesa Sura yang sedang duduk bersila di atas dipan, menjaga Jatmika yang rebah di dipan yang lain, menyeringai lebar mendengar suara itu.
"Heh-heh, kiranya Denmas Tumenggung Jaluwisa telah datang, kukira besok pagi baru tiba. Tunggu, kubukai pintu!"
Aki Mahesa Sura memberi isyarat kepada Jatmika yang juga bangkit duduk untuk ikut dengannya keluar kamar. setibanya di luar kamar, kakek itu berkata kepada tiga orang muridnya.
"Kalian bawa gadis itu keluar, ke ruangan depan."
Tiga orang murid kakek itu membuka pintu kamar dan sebelum mereka masuk, Eulis sudah berada di ambang pintu.
Gadis itu tidak ingin tiga orang itu memasuki kamarnya.
Dalam keadaan terbelenggu, Jatmika dan Eulis dibawa ke ruangan tengah dan mereka disuruh duduk menghadapi meja besar tadi, terpisah.
Beberapa buah lampu gantung dipasang sehingga ruangan itu menjadi terang.
Daun pintu depan dibuka dan masuklah pemimpin rombongan tadi dengan sikap gagah.
Kakek itu menyambut dengan sikap hormat dan bergembira.
"Selamat datang di pondokku, Denmas Tumenggung Jaluwisa. Tidak kusangka andika akan datang malam-malam begini! Silakan duduk."
Pria itu adalah Tumenggung Jaluwisa, tangan kanan atau orang kepercayaan Pangeran Mas Gede, Adipati yang berusia lima puluh tahun dan menjadi penguasa di Sumedang.
Tadinya, Sultan Agung setelah diakui kekuasaannya oleh para adipati di Jawa Barat kecuali Banten, mengangkat Dipati Kusuma Dinata sebagai penguasa di daerah Jawa Barat dan menjadi wakil Kerajaan Mataram.
Setelah Dipati Kusuma Dinata meninggal dunia, kedudukannya digantikan oleh Pangeran Mas Gede.
Tumenggung Jaluwisa merupakan orang kepercayaan, juga senopati yang diandalkan di Sumedang.
Mendengar sambutan itu, Tumenggung Jaluwisa melayangkan pandang matanya, dengan memandang ke arah Jatmika dan Eulis yang dibelenggu tangannya, dan matanya bersinar melahap kecantikan gadis tawanan itu.
Kemudian dia menoleh keluar dan berkata kepada anak buahnya.
"Kalian beristirahat di pendopo. Jangan tinggalkan tempat dan tetap waspada dan berjaga-jaga."
Setelah berkata demikian, dia melangkah memasuki ruangan depan yang terang itu dan duduk berhadapan dengan Aki Mahesa Sura, tiga orang muridnya, yaitu Munding Beureum, Monding Koneng, dan Munding Hejo yang mengapit dua orang tawanan yang terbelenggu itu.
"Aki, siapakah mereka ini?"
Tumenggung Jaluwisa menuding ke arah tiga murid dan dua tawanan itu.
Sementara itu, Aji sudah menyelidiki dengan hati-hati dan kini dia mendekam di pojok luar ruangan depan itu dan mengintai dari sebuah lubang yang dibuat dengan tusukan telunjuknya pada dinding papan.
Ketika dia melihat Eulis, jantungnya berdebar tegang, dia terbelalak dan hatinya diliputi rasa girang, heran dan terharu.
"Nimas Sulastri.....!!"
Untung Aji dapat menguasai mulutnya yang hampir saja dilalui jerit hatinya itu.
Hanya dalam hati dia menjerit memanggil nama gadis itu.
sulastri masih hidup!
Ini yang terpenting dan yang kedua, gadis itu tertawan dan harus dibebaskan.
Akan tetapi dia kini sudah memiliki banyak pengalaman dan tidak mau bertindak sembrono.
Dia hendak melihat keadaan dulu dan melihat perkembangannya.
Maka, ketika Tumenggung Jaluwisa duduk lalu bertanya kepada kakek yang tadi disebut sebagai Aki mahesa Sura, Aji mengintai penuh perhatian.
"Perkenankan, denmas tumenggung. Yang tiga orang ini adalah murid-muridku. Munding Beureum, Munding Koneng dan Munding Hejo. Mereka inilah tiga dari panca Munding yang memimpin anak buah Munding Hideung di Gunung Careme. Heh, kalian bertiga, ketahuilah bahwa ini adalah Denmas Tumenggung Jaluwisa, senopati Sumedang."
Tiga murid itu merasa rendah diri dan mengangguk dengan hormat. Guru mereka sendiri saja demikian hormat terhadap tumenggung itu, tentu saja mereka harus lebih hormat lagi.
"Dan dua orang ini, siapakah, Aki?"
Tanya sang tumenggung akan tetapi sepasang matanya menggerayangi wajah cantik dan tubuh indah yang duduk begitu dekat di depannya itu.
Sekali bangkit berdiri dan meraih dengan tangannya, tentu dia sudah dapat membelai tubuh itu!
"Oh, mereka ini adalah dua orang tawanan penting kami, akan tetapi mungkin akan menjaditeman-teman seperjuangan kami.
Panjang ceritanya, denmas.
Pasti akan kuceritakan nanti.
Akan tetapi kedatangan denmas malam-malam begini sungguh mengejutkan hati kami.
Bukankah menurut rencana, besok pagi baru denmas akan tiba di sini?"
"Memang benar, Aki Mahesa Sura. Ini adalah kehendak dan perintah dari Mayor Jakuwes. Beliau menghendaki agar rencana itu dilaksanakan secepatnya, jangan sampai mendahului laporan Adipati Sumedang tentang persiapan Kadipaten Sumedang untuk kelak membantu Mataram. Karena desakan itulah maka keberangkatanku setelah menerima laporan utusanmu itu kupercepat dan malam ini aku dapat tiba di sini."
Aji mendengarkan semua ini.
Tadi dia heran setengah mati ketika Sulastri diperkenalkan sebagai seorang tawanan yang akan menjadi teman seperjuangan.
dan siapa pula pemuda tampan ganteng yang menjadi tawanan di samping Sulastri itu?
Tampaknya begitu tenang namun sinar matanya mencorong.
Juga dia tidak tahu siapa gerangan Mayor Jakuwes yang agaknya begitu besar kekuasaannya.
Tentu saja dia tidak tahu.
Yang disebut Mayor Jakuwes itu sesungguhnya adalah seorang perwira Kumpeni Belanda keturunan Portugis.
Nama aslinya adalah Jacques Lefebre akan tetapi selanjutnya akan disebut Mayor Jakuwes saja seperti yang dikenal oleh orang pribumi, baik yang menentang Kumpeni Belanda maupun yang menjadi antek bangsa asing itu.
"O, begitukah? Lega hatiku mendengar keteranganmu, denmas. Jadi tidak ada perubahan dalam rencana semula, bukan?"
"Sama sekali tidak ada perubahan, Aki. Akan tetapi bagaimana dengan tugasmu? Andika bertugas untuk menghubungi murid-murid andika untuk diajak membantu kami bersama anak buah mereka yang cukup banyak jumlahnya. Mengapa kini kami dapati Aki berada di sini berempat saja dengan tiga murid Aki, membawa dua orang tawanan? Siapakah nama dua orang tawanan muda ini, Aki?"
"pemuda ini bernama Jatmika, dan gadis ini bernama Listyani. mereka memiliki ilmu tinggi, sakti mandraguna, denmas, maka terpaksa kami ikat kedua tangannya agar tidak memberontak."
Aji dalam pengintaiannya tersentak kaget dan heran bukan main.
Kakek itu menyebut nama Sulastri sebagai Listyani!
dan pemuda tampan itu ternyata adalah Jatmika, putera Ki Sudrajat!
Teringatlah dia betapa Ki Sudrajat berpesan kepadanya sebelum mati agar kalau dia bertemu dengan Jatmika, dia suka membantunya.
Dan sekarang dia bertemu dengan Jatmika yang menjadi tawanan bersama Sulastri.
Akan tetapi mengapa Sulastri diperkenalkan sebagai Listyani?
Biarpun hati Aji merasa penasaran sekali, akan tetapi dia tidak berani gegabah turun tangan.
Orang-orang itu agaknya bukan orang sembarangan, terutama kakek yang disebut Aki Mahesa Sura itu.
Dan tumenggung itupun bukan orang lemah, ditambah lagi tiga orang murid kakek itu dan di luar masih ada dua losin orang yang memegang senjata api!
Keadaan musuh kuat sekali.
"Jatmika dan Listyani? Hemm, nama yang bagus, terutama Listyani itu. Akan tetapi ceritakan hubungan kedua orang muda ini dengan tugasmu itu, Aki!"
Aki Mahesa Sura menghela napas panjang lalu berkata.
"Kunjunganku kepada perkumpulan Munding Hideung yang dipimpin dua orang muridku, Si Munding Hideung dan Munding Bodas ternyata terlambat, denmas. Selagi aku bersama tiga orang muridku ini, Munding Beureum, Munding Koneng, dan Munding Hejo tiba di perkampungan Munding Hideung, kami bertemu seorang anggauta Munding Hideung yang menceritakan bahwa perkumpulan itu baru saja diobrak-abrik sepasang muda-mudi yang sakti mandraguna. Bahkan dua orang muridku, Munding Hideung dan Munding Bodas tewas di tangan kedua orang muda-mudi itu. Tentu saja aku menjadi marah dan dengan anggauta itu menjadi penunjuk jalan, ditemani tiga orang muridku ini, akhirnya kami dapat bertemu dengan sepasang muda-mudi itu. Kami bertanding mati-matian, akan tetapi akhirnya kami berhasil menawan mereka. Inilah muda-mudi itu, denmas, yaitu Jatmika dan Listyani ini."
"Engkau menawan kami dengan licik dan curang! engkau menangkap aku lalu Kakangmas Jatmika untuk menyerah."
Eulis membentak marah.
"Heh-heh, aku melakukan akal karena ingat agar mereka menyerah dan mau bekerja sama, denmas. Sayang kalau dua tenaganya yang begini berharga dibunuh begitu saja."
"Ah, begitukah? Bagus sekali kalau mereka mau bekerja sama dan kurasa tidak perlu lagi tangan mereka dibelenggu. Aku menerima mereka berdua sebagai pembantu-pembanruku. Lepaskan saja ikatan mereka, Aki Mahesa Sura!"
"Akan tetapi, anakmas. mereka berbahaya sekali. Kalau belum ada kepastian mereka berdua mau benar-benar bekerja sama dengan kita, aku tidak berani melepaskan ikatan mereka."
"Huh, pengecut!"
Eulis mencebirkan bibirnya.
Aji yang mengintai menahan senyumnya.
Itulah Sulastri.
Tak salah lagi.
Gadis itu boleh mengubah namanya, boleh mengubah apa saja, akan tetapi tak dapat mengubah sikapnya yang galak pemberani dan suaranya yang lantang tajam itu!
(Lanjut ke
Jilid 22) Alap Alap laut Kidul (Seri ke 03 Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 22
"Kenapa takut, Aki? Nona ini bicara benar. Kita orang-orang gagah tidak sepatutnya bersikap pengecut. Andaikata mereka berdua setelah dilepaskan belenggunya lalu mengamuk, mereka dapat berbuat apa terhadap kita? Ada andika di sini, ada pula tiga orang muridmu dan ada aku pula! Lihat ini!"
Tiba-tiba, begitu kedua tangan Tumenggung Jaluwisa bergerak, tahu-tahu dua pucuk pistol sudah berada di kedua tangannya. Gerakannya demikian cepat sehingga hampir tak tampak.
"Andika melihat ini, Aki?"
Tumenggung itu menimang pistol di tangan kiri.
"Pistol ini mempunyai peluru-peluru perak dan akan menembus semua aji kekebalan! Dan kalau mungkin gagal, masih ada pistol kedua ini. Andika lihat. Ini pistol berpeluru emas. Aji kekebalan mana mampu bertahan? dengan kedua pistol ini di tanganku, jagoan Mataram yang mana akan mampu dan berani melawan aku? Nah, kenapa andika takut melepaskan ikatan kedua orang muda yang mau bekerja sama dengan kita ini? Di luar masih ada anak buahku sebanyak dua losin orang yang semua bersenjata senapan laras panjang. Hayi buka saja ikatan mereka!"
Aki Mahesa Sura bangkit dan menghampiri Jatmika. Sebelum membuka tali pengikat kedua lengan pemuda itu, dia berkata.
"Jatmika, ingat baik-baik, kalau engkau bekerja sama dengan kami, engkau akan mendapatkan kemuliaan dan kedudukan. Akan tetapi kalau engkau mencoba untuk memberontak dan melawan, engkau akan tewas. Engkau tentu pernah mendengar, betapa banyaknya para datuk dan orang-orang yang sakti mandraguna dari Mataram, yang memiliki aji kekebalan yang amat kuat, tumbang satu demi satu ketika diterjang peluru perak atau emas. Dan denmas tumenggung ini terkenal sebagai seorang ahli tembak yang seratus kali bidik seratus kali kena!"
Setelah berkata demikian dia melepaskan ikatan kedua tangan Jatmika dan juga kedua tangan Eulis.
Aji yang masih mengintai merasa khawatir sekali.
Dia maklum bahwa ucapan Tumenggung Jaluwisa dan Aku Mahesa Sura tadi bukan hanya gertak kosong belaka.
Dia sendiri sudah menyaksikan keampuhan pistol berpeluru perak itu.
Ki Sudrajat, ayah kandung Jatmika juga tewas ketika disambar sebutir peluru perak.
Pada hal, beberapa butir peluru biasa tidak mampu melukainya, Juga Ki Tejo Langit yang sakti mandraguna itu tewas karena berondongan peluru dalam keadaan tidak siap melindungi dirinya dengan aji kekebalan.
Senjata api itu memang berbahaya.
Kalau Jatmika dan Sulastri memandang rendah dan nekat memberontak, tentu mereka akan celaka.
Akan tetapi dia merasa lega melihat sikap Jatmika tenang saja dan dia memandang kepadanya, dan di sinar matanya seperti mengisyaratkan agar gadis itu menurut saja kepadanya.
"Nah, sekarang harap kalian beritahukan kepada kami, kerja sama bagaimana yang kalian maksudkan dan tugas apa yang harus kami lakukan,"
Katanya sambil memandang tajam kepada Aki Mahesa Sura dan Tumenggung Jaluwisa. Tumenggung Jaluwisa tertawa.
"Ha-ha-ha, Jatmika, agaknya andika seorang pemuda yang jujur dan tidak mau banyak lika-liku, langsung saja ke persoalan. Bagus, aku suka sekali sikap seperti itu. Nah, dengarlah baik-baik. Kalau andika dapat melaksanakan tugas ini dengan baik bersama nona Listyani, kalian berdua akan mendapatkan kedudukan tinggi di Sumedang."
"Soal itu kita bicarakan belakangan saja, paman. Yang penting sekarang membicarakan apa yang akan kita lakukan terhadap Kadipaten Sumedang."
"Paman? Ah, benar juga. Andika masih muda, paling banyak dua puluh dua tahun usiamu, memang pantas kau sebut paman tumenggung, akan tetapi aku akan lebih suka kalau engkau dan Listyani ini menyebut kakangmas tumenggung padaku. Ha-ha, akan tetapi tidak mengapalah. Ucapanmu itu menunjukkan bahwa andika bukan seorang yang kemaruk (tamak) dan haus akan imbalan hadiah. Baik sekali. Nah, dengar baik-baik. Adipati Sumedang Mas Gede, adalah seorang yang tidak memiliki pendirian tegas. Dalam hatinya dia setuju dengan kami, tidak suka kepada Mataram dan condong membantu pihak Kumpeni Belanda yang hendak memakmurkan rakyat kami, akan tetapi pada lahirnya dia selalu mencari muka kepada Sultan Agung di Mataram. Dia seperti ular berkepala dua, siap mengkhianati kedua pihak untuk mencari keuntungan sendiri. Oleh karena itu, kami mengambil keputusan untuk menjatuhkannya dan menyerahkan kedudukan Adipati Sumedang kepada orang lain yang lebih tepat."
"Menjatuhkan? Apa yang andika maksudkan, paman?"
Tanya Jatmika, memancing untuk mendapat keterangan yang lebih jelas walaupun dia sudah dapat menduga bahwa ternyata tumenggung ini yang menjadi pemimpin pemberontakan seperti diceritakan ayahnya.
"Apa lagi kalau tidak membunuh Pangeran Mas Gede yang tidak pantas menjadi Adipati Sumedang itu? Kita bunuh dia dan seorang pengganti yang tepat, yang menentang Mataram, diangkat."
"Hemm, maafkan aku, paman. Akan tetapi bukankah paman sendiri seorang senopati Sumedang?"
"Justeru karena aku senopati pertama di Sumedang, aku mengetahui semua keadaan dengan baik dan akan memudahkan kita mengatur rencana itu. Pangeran Mas Gede merupakan kelilip dan penghalang perjuangan yang harus disingkirkan!"
"Perjuangan apa, paman?"
"Perjuangan Sumedang menentang Mataram dan membebaskan diri dari kekuasaan Mataram, berdiri dan mendatangkan kemakmuran lep[ada rakyat kita dengan bantuan Kumpeni belanda yang kaya raya dan pandai itu."
Jatmika menanti sesaat lalu bertanya dengan hati-hati.
"Mengapa paman sekalian demikian membenci Mataram?"
Tumenggung Jaluwisa membelalakkan matanya memandang Jatmika dengan penasaran.
"Mengapa tidak? Semua orang di Pasundan harus membenci Mataram. Lupakah andika akan kisah lama yang terjadi kurang lebih tiga ratus tahun yang lalu? Sang Maharaja Purana, raja Pajajaran dengan niat baik dan rendah hati mengantarkan puterinya untuk menjadi pemaisuri Sang Prabu Hayam Wuruk atau Rajasanegara. Akan tetapi apa yang dilakukan Raja Mataram itu? Raja Pasundan, Sang Maharaja Purana malah dihina, diharuskan mempersembahkan puteri beliau untuk menjadi seorang selir sebagai tanda menaklum! Pihak Pajajaran tentu saja menolak dan di Bubat itu terjadilah pertempuran yang berakhir dengan terbasminya pasukan Pajajaran. sang Maharaja Purana sekeluarga berikut semua perwira dan perajurit binasa! Hayo katakan, siapa yang tidak membenci Mataram? Aku adalah seorang keturunan Menak (bangsawan) Pajajaran, maka aku akan selalu memusuhi Mataram. Karena Adipati Sumedang Pangeran Mas Gede condong tunduk kepada Mataram, maka dia menjadi musuhku pula!"
Jatmika menghela napas panjang.
tentu saja dia sudah pernah mendengar kisah lama itu dari ayahnya, akan tetapi dengan warna atau pendapat yang lain.
Menurut ayahnya, pada waktu itu Sang Prabu Hayam Wuruk atau Rajasanegara sama sekali tidak bermaksud menumpas Sang Maharaja Purana dari Pajajaran berikut semua pasukannya.
Hal itu terjadi karena kesalah-pahaman antara Ki Patih Gajahmada dan para perwira Pajajaran, ditambah lagi usaha licik Raja Wengker untuk mengadu domba karena dia menghendaki Sang Prabu Hayam Wuruk agar menikah dengan seorang puterinya, bukan dengan puteri Pajajaran itu.
Ternyata kemudian, setelah terjadi Perang Bubat yang menewaskan Sang Maharaja Purana berikut seluruh keluarganya, Sang Prabu Hayam Wuruk benar-benar menikah dengan puteri Raja Wengker!
Akan tetapi peristiwa itu sebetulnya adalah karena urusan pribadi, sama sekali bukan merupakan permusuhan antara kerajaan Mataram dan kerajaan Pajajaran.
Maka, sungguh keterlaluan sekali kalau peristiwa itu dijadikan alasan oleh Tumenggung Jaluwisa untuk memusuhi Mataram.
Akan tetapi biarpun dalam hatinya dia tidak setuju, dia maklum bahwa kalau dia mengatakan hal itu, keselamatan dia dan Eulis akan terancam.
Dia harus cerdik, mengambil sikap seolah menyetujui semua ucapan tumenggung itu dan melihat perkembangan keadaan, mencari kesempatan untuk meloloskan diri bersama Eulis.
"Lalu bagaimana rencana itu, paman tumenggung? Dan kami berdua kebagian tugas apakah?"
"Begini. Kami sudah merencanakan untuk melakukan penyerangan dan membunuh sang adipati pada besok siang kalau dia melakukan perjalanan berburu binatang di sekitar lembah sungai. Kami akan mengerahkan orang-orang untuk menyerang pasukan pengawal adipati yang biasanya berjumlah sekitar seratus orang dan dalam keributan selagi para pengawal bertempur melawan orang-orang kami, andika berdua agar muncul, mendekati sang adipati dan membunuhnya."
"Hemm, pengawalnya ada seratus orang. Apakah penyerbuan itu tidak berbahaya sekali?"
"Tidak, walaupun orang-orang kami hanya sekitar lima puluh orang, namun mereka semua bersenjata bedil."
Tiba-tiba Eulis yang hanya kehilangan ingatan tentang masa lalunya namun tidak pernah kehilangan kecerdikan itu, setelah mengerti akan segala rencana itu, bertanya.
"Tumenggung, rencana besok siang itu, andaikata andika tidak bertemu dengan kami, lalu siapa yang akan melakukan itu?"
Sang tumenggung menatap wajah cantik itu dan tersenyum.
Tadinya kami rencanakan agar aku sendiri atau Mahesa Sura yang melakukan pembunuhan.
Akan tetapi kehadiran kalian ini sungguh menguntungkan sekali.
Kalau aku atau Aki Mahesa Sura yang melaksanakan penyerangan untuk membunuhnya, tidaklah aman karena sang adipati telah mengenal baik aku dan Aki."
"Hemm, kenapa tidak menyuruh orang lain yang tidak dikenalnya? Bukankah andika mempunyai banyak anak buah?"
"Wah, itu berbahaya. Sang Adipati bukan orang lemah. Dia cukup tangguh, Kita harus mengingat kemungkinan gagal, walaupun menurut perhitunganku, kemungkinan itu kecil sekali atau hampir tak mungkin. Akan tetapi andaikata kita gagal membunuhnya, kalau aku atau Aki yang melakukan, tentu kami akan ketahuan. Sebaliknya, kalau kalian yang melakukan, andaikata gagal sekalipun, dia tidak akan mengenal kalian. Kalau gagalpun, aku tetap aman dan dapat merencanakan penyerangan berikutnya. Mengertikah kalian sekarang?"
Jatmika dan Eulis mengangguk setelah saling pandang sejenak.
"Kami mengerti."
"Dan kalian besok siang sanggup melaksanakannya?"
Kembali Eulis memandang Jatmika dan pemuda itu yang menjawab.
"Kami sanggup!"
"Nah, sekarang kita beristirahat. Kuharap kalian setelah dibebaskan dari ikatan, tidak bertindak macam-macam karena kami belum mendapatkan bukti kesetiaan kalian dan tidak akan ragu-ragu untuk menembak mati kalian kalau kalian hendak memberontak,"
Kata pula Tumenggung Jaluwisa.
"Biar aku mengaso bersama Aki dan Jatmika. Andika boleh menempati kamar itu seorang diri,..... diajeng Listyani. Terpaksa kami harus mengawasi kalian."
Pada saat itu, Aji sudah menyelinap pergi dan dia berlari cepat di bawah sinar bulan muda.
Karena tidak menemukan perahu, dia lalu menumbangkan sebatang pohon kelapa, memotongnya menjadi dua dan menggandengnya dengan tusukan bambu.
Jadilah sebuah getek yang amat sederhana.
Dengan getek dari dua batang pohon kelapa yang digandeng dengan bambu, diapun menyeberangi sungai dan melanjutkan perjalanannya, berlari cepat menuju arah Sumedang yang sudah diketahuinya karena tadi siang dia sudah bertanya-tanya orang dalam perjalanannya.
Sambil berlari, tiada hentinya dia berpikir tentang Jatmika dan Sulastri.
Mereka itu tampak begitu akrab.
Ada perasaan tidak enak menyelinap dalam hatinya.
Betapa tidak?
Jatmika adalah seorang pemuda yang demikian tampan dan gagah.
Akan tetapi sebetulnya tidak aneh kalau mereka itu berhubungan akrab, bantahnya sendiri.
Bukankah mereka itu masih satu perguruan?
Sulastri adalah murid atau lebih tepat, cucu murid Ki Ageng Pasisiran atau Ki Tejo Langit.
Sedangkan Jatmika adalah cucu Ki Tejo Langit, putera dari Ki Sudrajat, anak angkatnya.
Berarti antara Jatmika dan Sulastri tentu saja ada hubungan baik sekali bahkan mungkin tumbuh besar dalam satu lingkungan.
Maka bukan hal aneh kalau gadis itu akrab dengan Jatmika!
Kenyataan ini menghapus rasa tidak enak di benak Aji.
Kini yang terpenting, dia harus cepat dapat bertemu dengan Pangeran Mas Gede, Adipati Sumedang yang sedang di tunggu bahaya maut.
Walaupun dia masih ragu dan juga penasaran mengapa Jatmika dan Sulastri mau menerima kerja sama itu!
Benarkah Jatmika dan Sulastri sudi menjadi antek pengkhianat dan anak buah Kumpeni Belanda?
Dia teringat pula kepada kakak tirinya, Hasanudin.
Kakak tirinya itupun sudah terseret ke lembah hina, menjadi antek Kumpeni Belanda.
Kenapa orang-orang begitu mudah terpikat umpan kedudukan dan harta benda?
Untung baginya malam itu langit cerah dan bulan muda memberikan penerangan cukup sehingga dia dapat melakukan perjalanan cepat sekali.
Ketika fajar menyingsing, tibalah dia di luar sebuah dusun.
Kebetulan dia melihat seorang petani setengah tua memanggul cangkul, agaknya petani yang amat rajin ini sudah hendak bekerja di sawah ladangnya sepagi itu.
Aji menghadang di depan petani itu dan sebelum petani itu terkejut, Aji sudah mendahului dengan teguran yang ramah dan lembut.
"Selamat pagi, paman. Rajin benar sepagi ini sudah hendak bekerja di ladang."
"Yah, kalau saya menanti sampai matahari terbit, jangan-jangan saya malah tidak sempat lagi menggarap ladang, denmas."
"Jangan sebut saya denmas, paman. Saya juga orang desa seperti paman. Akan tetapi kenapa kalau matahari terbit paman malah tidak sempat menggarap ladang?"
"Wah, nakmas. Orang sedusun kami jadi repot sejak malam tadi. Kami harus melayani tamu agung, maka saya pagi-pagi sekali segera saja ke ladang agar terhindar dari kesibukan nanti."
"Tamu agung? Siapakah dia, paman?"
"Wah, bukan blaen-blaen (main-main), anakmas. Tamu yang kini bermalam di rumah kepala dusun adalah Gusti Adipati Sumedang sendiri! Para pengawalnya, kurang lebih sertaus orang bersama perwira-perwiranya mondok di pendopo rumah kepala dusun sampai penuh dan ramainya bukan main. Semalam kami harus melayani semua keperluan para perajurit itu."
Berita itulah yang dicari Aji.
"baiklah, paman. Lanjutkan perjalananmu dan terima kasih."
"Andika hendak ke mana?"
Tanya petani itu melihat Aji hendak melangkah ke arah dusun.
"Aku ingin menonton Gusti Adipati dan para perajuritnya,"
"Wah, hati-hati, nakmas. Mereka galak-galak, salah sedikit mereka main tampar!"
Aji tidak menjawab melainkan cepat memasuki dusun itu.
Tidak sukar baginya menemukan rumah kepala dusun yang jauh lebih besar daripada rumah penduduk lainnya.
Dan dari luar saja tampak betapa di pendopo terdapat lima orang perajurit yang bertugas jaga.
Mereka melakukan penjagaan secara bergiliran.
Aji cepat memasuki pekarangan rumah besar itu dan segera menghampiri pendopo.
Lima orang penjaga itu terserang kantuk yang harus mereka tahan-tahan tadi.
Tidak anek kalau mereka itu menjadi tidak sabaran dan mudah marah.
Melihat seorang pemuda dusun menghampiri mereka, seorang diantara para penjaga yang membawa tombak ini segera menghadang dengan galak dan kasar dia menodongkan ujung tombaknya ke depan dada Aji.
"Hei, mau apa kamu datang ke sini tanpa dipanggil? Mau nyolong (mencuri), ya?"
Aji mengerutkan alisnya. Heran dia melihat sikap seorang perajurit Sumedang ini, tiada bedanya dengan serdadu Kumpeni belanda yang angkuh.
"Ki sanak, aku datang membawa berita penting sekali untuk Gusti Adipati."
Kata Aji dengan sikap hormat dan suaranya lembut. Penjaga itu menjadi semakin marah. Empat orang kawannya sudah datang pula menodongkan tombak mereka kepada Aji.
"Apa kaubilang? Siapa sudi menjadi sanakmu? Hayo katakana, apa makasudmu datang malam-malam ke sini. Awas, jangan bohong dan bicara yang bukan-bukan atau tombakku akan menjebolkan isi perutmu!"
"Tadi sudah kukatakan bahwa aku datang membawa berita penting sekali untuk Gusti Adipati."
Ujung tombak itu ditekan dan merapat di kulit dada Aji.
"Petani kotor macam kamu mana mempunyai berita penting untuk Gusti Adipati? Paling-paling kalau bertemu kamu ingin mengajukan permohonan, minta ini itu! Hayo pergi atau tomabak ini akan kutusukkan di perutmu!"
Bukan hanya tombak si pembicara yang menekan kulit Aji, juga empat batang tombak lain menekan kulit tubuhnya, dua di depan, satu di kiri, satu di kanan dan satu di punggungnya.
Dia telah dikepung lima batang tombak yang siap menusuk.
"Kalian penindas rakyat, sungguh keterlaluan!"
Berkata demikian, dia menggerakkan kedua tangannya sambil memutar tubuhnya.
Tombak-tombak itu ditusukkan karena para perajurit mengira dia melakukan perlawanan, akan tetapi senjata-senjata itu terpental dan ketika tangan Aji menampar lima kali, tombak-tombak itu patah-patah.
Aji menggerakkan kakinya yang menyambar-nyambar dan lima orang itu berpelantingan dan jatuh terbanting keras.
"Hei, apa yang terjadi di sini?"
Terdengar bentakan nyaring dan dua orang dengan gerakan trengginas telah berhadapan dengan Aji.
Melihat dua orang itu berpakaian sebagai perwira, Aji cepat mencabut keris pusaka Kyai Nagawelang dan memperlihatkannya kepada dua orang perwira itu.
"Mudah-mudahan andika berdua mengenal pusaka itu!"
Kata Aji yang mengangkat keris itu sehingga tertimpa sinar lampu gantung yang berada di pendopo.
"Apa artinya ini?"
Bentak seorang perwira.
"Ah..... itu..... Keris Pusaka Kyai Nagawelang! Andika utusan Gusti sultan Agung dari Mataram?"
Kata perwira ke dua. Aji mengangguk dan menyarungkan kembali kerisnya.
"Benar, ki sanak. Ketahuilah, aku datang hendak menghadap Gusti Adipati sekarang juga. Ada pengkhianatan dan para pengkhianat merencanakan untuk membunuh Gusti Adipati pada siang hari ini. Karena itu, harap segera laporkan kepada beliau agar aku dapat menghadap dan bicara dengan beliau."
Mendengar ini, dua orang perwira itu terkejut bukan main.
Apalagi setelah mereka mengenal Kyai Nagawelang dan tahu bahwa pemuda yang merobohkan lima orang perajurit itu adalah utusan Sultan Agung di Mataram.
"Mari, ki sanak, mari masuk saja. Akan kami hadapkan Gusti Adipati!"
Kata dua orang perwira itu dan Aji lalu diiringakn memasuki rumah melalui pendopo.
Semua perajurit pengawal ketika mendengar akan apa yang terjadi, menjadi heran dan menghujani lima orang yang dirobohkan Aji tadi dengan pertanyaan-pertanyaan.
Adipati Pangeran Mas Gede tentu saja terkejut sekali ketika digugah dari tidurnya dan seorang perwira menghadap dan melapor akan kedatangan Aji yang membawa berita pengkhianatan yang mengancam nyawa adipati itu.
Cepat Adipati Pangeran Mas Gede bertukar pakaian, mencuci muka dan tak lama kemudian dia sudah menerima Aji di ruangan belakang, ditemani oleh lima orang perwira, yaitu para pimpinan pasukan pengawal itu.
Pada waktu itu, Sumedang memang dirongrong oleh gerakan-gerakan gerombolan yang tampaknya ada tanda-tanda hendak memberontak, maka dalam perjalanan berburu binatang ini Adipati Pangeran Mas Gede membawa seratus orang pengawal dipimpin lima orang perwira.
Di depan sang adipati Sumedang, kembali Aji memperlihatkan keris pusaka Kyai Nagawelang sehingga sang adipati percaya kepadanya.
"Andika bernama Lindu Aji? Nah, setelah kami merasa yakin bahwa andika memang utusan Gusti Sultan Agung, sekarang ceritakanlah dengan gamblang tentang apa yang andika sebut sebagai pengkhianatan yang mengancam keselamatan kami itu."
Dengan jelas Aji lalu menceritakan tentang percakapan antara Tumenggung Jaluwisa dan Aki Mahesa Sura tentang pengkhianatan meraka, dan tentang rencana mereka untuk besok siang turun tangan membunuh sang adipati yang sedang melakukan perburuan binatang di Lembah Sungai Ci Lutung.
Mendengar laporan ini, Adipati Pangeran Mas Gede menepuk pahanya sendiri dengan marah.
"Keparat Jaluwisa! Kiranya dia merencanakan pengkhianatan dan pembunuhan keji! Akan tetapi kami mempunyai seratus orang pasukan pengawal!"
"Gusti Adipati, harap diketahui bahwa Tumenggung Jaluwisa akan mempersiapkan orang-orangnya yang berjumlah lima puluhan orang, akan tetapi mereka semua memegang senapan yang mereka dapatkan dari Kumpeni Belanda."
"Setan jahanam! Kalau begitu berbahaya juga. Hei para perwira pengawal, bagaimana baiknya menurut kalian?"
Seorang di antara lima orang itu berkata.
"Demi keselamatan paduka, sebaiknya kalau kita segera kembali saja ke kadipaten, Gusti Adipati."
"Maafkan saya, paman adipati."
Kata Aji yang teringat akan nasib Jatmika dan Sulastri. Kalau penyerangan itu urung atau gagal, tentu keselamatan dua orang itu terancam sekali.
"Saya kira justru ini saat yang terbaik sekali bagi paduka untuk membasmi para pemberontak itu."
"Tapi mereka kuat sekali, anakmas! Bagaimana mungkin seratus orang pasukan kami dapat melawan lima puluh orang yang memegang bedil?"
Kata sang adipati.
"Juga amat membahayakan keselamatan Gusti Adipati!"
Kata seorang pengawal. Mereka semua tidak menyetujui usul Aji. Akan tetapi dengan sikap tenang Aji berkata.
"Paman Adipati, kita mempunyai suatu hal yang amat kuat dan yang menjamin kita untuk dapat mengalahkan mereka, yaitu bahwa kita telah mengetahui rencana mereka, sebaliknya mereka sama sekali tidak menduga bahwa paduka telah mengetahui keadaan dan rencana mereka. Kita dapat memanfaatkan keuntungan itu untuk menjebak mereka dan menghancurkan mereka, menangkap dan menghukum pengkhianat Tumenggung Jaluwisa dan Aki Mahesa Sura yang membantunya itu."
"Hemm, bagaimana mengaturnya, anakmas Lindu Aji? Aku tetap khawatir kalau sampai gaga, tentu akan terjadi malapetaka. Tumenggung Jaluwisa itu cukup sakti dan dia memang pandai menggunakan senjata api. Apalagi yang namanya Aki Mahesa Sura itu! Dia sakti mandraguna dan pandai sihir, bahkan kabarnya dia dapat mengubah dirinya menjadi harimau jadi-jadian!"
"Harap Paduka jangan khawatir. Biar saya yang mengaturnya. Saya yang akan menggantikan paduka di dalam kereta, dan saya yang akan menghadapi Mahesa Sura. Sebaiknya sekarang juga kita berangkat, paman Adipati, agar kita dapat tempat yang cocok untuk melaksanakan rencana kita menjebak mereka. Kita dapat merundingkan teantang rencana jebakan itu dalam perjalanan."
Pangeran Mas Gede akhirnya menyetujui dan pagi-pagi sekali rombongan ini bergerak meninggalkan dusun dan setelah tiba di tepi sungai Ci Lutung, Aji mencari tempat yang baik untuk menjebak lawan.
Ketika tiba di lembah sungai yang berhutan, Aji menghentikan rombongan itu.
Dia lalu mengatur pasukan pengawal, membaginya menjadi tiga rombongan dan menyuruh mereka mempersiapkan gendewa dan anak panah sebanyaknya.
Senjata bedil lawan akan dibalas dengan anak panah.
Dia mengatur sedemikian rupa sehingga tiga rombongan pasukan itu bersembunyi dan mengepung tempay itu dari tiga jurusan.
Mereka diperintahkan untuk tetap bersembunyi dan berlindung di balik batang-batang pohon dan batu-batuan besar.
Aji lalu menggunakan tali untuk mengikat semak-semak belukar dan pohon-pohon kecil yang berada di tengah dan yang terkepung tiga rombongan itu.
"Paduka sebaiknya ikut bersembunyi bersama para perwira pengawal dan meninggalkan kereta di depan sana. Biar saya yang menggantikan paduka berada dalam kereta."
"Akan tetapi kami tidak takut, Kami bahkan ingin menghajar sendiri pengkhianat Jaluwisa itu!"
Kata Pangeran Mas Gede penuh semangat.
"Jangan, paman adipati. Saya percaya akan kemampuan paduka, akan tetapi ketahuilah bahwa Jaluwisa memiliki dua pistol berpeluru perak dan emas yang tidak dapat ditahan oleh aji kekebalan. Biarlah saya yang akan menghadapi mereka, bersama dua orang sahabat saya."
"Siapa dua orang sahabatmu itu?"
"Mereka adalah saudara-saudara seperguruan saya, seorang pria dan seorang wanita yang sekarang menjadi tawanan Tumenggung Jaluwisa. Saya akan membebaskan mereka, dan kami bertiga rasanya cukup untuk menghancurkan kekuatan Jaluwisa dan Mahesa Sura."
"Baiklah kalau begitu."
Pangeran Mas Gede lalu ikut bersembunyi dan siap bertempur kalau keadaan membutuhkan bantuannya.
Aji berpesan kepada para perajurit pengawal agar jangan dulu menyerang dengan anak panah mereka sebelum dia memberi isyarat.
"Aku akan memancing mereka, dibantu beberapa orang perajurit aku akan menarik tali-tali dan menggoyang-A goyang pohon kecil dan semak belukar yang sudah diikat tali. Tentu mereka akan mengira bahwa kita bersembunyi di situ dan mereka akan menghujani tempat-tempat itu dengan tembakan bedil-bedil mereka. Nah, kalau bedil-bedil mereka kosong dan mereka sibuk mengisi bedil mereka dengan peluru baru, aku akan memberi isyarat dengan teriakan burung alap-alap seperti ini."
Aji mengeluarkan suara mirip lengkingan burung alap-alap.
"Setelah mendengar isyarat itu, barulah kalian menghujani mereka dengan anak panah itu jangan terlalu lama dan kalian harus cepat berpindah tempat berlindung yang sebelumnya harus sudah dipersiapkan agar kalau mereka memberondongkan peluru ke arah kalian tidak akan ada yang kena peluru. Kalian hanya menyerang begitu ada tanda dariku, menghujani anak panah lalu berpindah lagi. Mengerti?"
Semua perajurit mengangguk dan merasa gembira.
Pemuda senopati muda yang menjadi utusan Sultan Agung itu tampak demikian tenang dan tegas, agaknya sudah yakin akan kemenangan mereka, maka perajurit juga penuh semangat.
Setelah semua orang bersembunyi di tempat masing-masing, Aji duduk pada tempat kusir kereta Adipati Sumedang yang dia sembunyikan agak jauh dari tempat yang terkepung itu, menanti dengan sikap tenang.
Semua orang menanti di tempat persembunyian masing-masing, dengan hati tegang dan tidak bersuara, bahkan napaspun ditekan agar jangan bersuara keras.
Matahari telah naik tinggi dan mendatangkan siang yang panas, akan tetapi mereka yang mengatur baris pendam di hutan itu mersa sejuk karena pohon-pohon besar dengan daunnya yang rimbun bagaikan payung-payung raksasa melindungi mereka dari sengatan sinar matahari.
Sejam lebih mereka menunggu, sejam yang rasanya lama sekali menimbulakan perasaan jemu, ragu-ragu, dan semakin tegang.
Akhirnya terdengar suara gaduh, suara banyak orang datang ke arah tempat itu.
Semua perajurit pengawal Sumedang cepat mendekam dan bersembunyi.
Tak lama kemudian muncullah rombongan itu.
Tumenggung Jaluwisa dan Aki mahesa Sura berjalan di depan dan di antara mereka berjalan Jatmika dan Eulis.
Di sepanjang perjalanan mereka bersikap waspada.
Ketika mereka tiba di situ, tiba-tiba di depan, agak jauh tampak sebuah kereta meluncur perlahan.
Tumenggung Jaluwisa segera mengenal kereta yang biasa dipakai Adipati Pangeran Mas Gede itu.
"Itu keretanya! Wah, mereka tentu berada di sini. Jatmika dan Listyani, cepat kalian sergap kereta itu dan bunuh penumpangnya. Kami yang akan menghancurkan pasukan pengawalnya!"
Kata Tumenggung Jaluwisa yang memberi isyarat kepada lima puluh anak buahnya.
Mereka lalu berpencar dan siap dengan bedil mereka.
Pada saat itu, orang-orang sudah diberi petunjuk Aji menarik-narik tali, membuat beberapa semak belukar dan pohon-pohon kecil bergoyang-goyang.
Melihat ini, tanpa diperintah lagi, anak buah Jaluwisa segera memberondongkan peluru bedil mereka ke arah sasaran itu.
Terdengan bunyi ledakan-ledakan bergemuruh dan tampak asap mengepul dari moncong-moncong senapan.
Sementara itu, Jatmika dan Eulis sudah cepat berlari ke depan, menuju arah kereta.
"Nimas, jangan bunuh orang! Kita hanya pura-pura membantu mereka."
Kata Jatmika ketika mereka berdua berlari cepat. Pada saat itu mereka tiba di dekat kereta, sesosok bayangan berkelebat turun dari atas kereta dan terdengar suara bayangan itu.
"Jatmika dan Sulastri, cepat lari bersembunyi ke belakang kereta!"
Suara itu demikian kuat wibawa dan pengaruhnya sehingga Jatmika dan Eulis tanpa ragu lagi cepat berlompatan ke belakang kereta dan ikut mendekam di samping Aji.
"Hei, kalian berdua pengkhianat rendah!"
Terdengar Tumenggung Jaluwisa berteriak marah ketika melihat dua orang muda yang tadinya diharapkan akan menyerang dan membunuh sang adipati yang berada di dalam kereta, kini malah berlompatan dan berlindung di belakang kereta.
"Aki, kita bunuh mereka!"
Tumenggung Jaluwisa mencabut dua buah pistolnya dan membidik ke arah kereta.
"Dar!! Dar!!"
Bidikannya ternyata memang tepat sekali.
Terdengar suara kuda meringkik dan dua ekor kuda yang menarik kereta itupun roboh, berkelojotan sebentar lalu mati karena kepala mereka telah tertembus peluru pistol.
Pistol itu masih meledak beberapa kali dan beberapa butir peluru menyambar ke arah kereta, tentu dimaksudkan untuk menyerang orang yang berada dalam kereta.
Tentu saja peluru-peluru itu terbuang sia-sia karena dalam kereta itu tidak ada siapapun.
"Kalian jangan bergerak dulu. Dua buah pistol itu berbahaya, terisi peluru perak dan emas, dapat menembus semua aji kekebalan. Aku akan berusaha untuk menyingkirkan dua buah pistol itu lebih dulu!"
Kata Aji dan diapun cepat berkelebat meninggalkan Jatmika dan Eulis.
Pemuda dan gadis itu memandang dengan kagum dan heran.
Jatmika tidak mengenalnya dan pemuda itu menyebut Eulis dengan sebutan Sulastri!
"Nimas, engkau mengenalnya?"
Bisik Jatmika kepada Eulis. Gadis itu mengerutkan alisnya dan menggeleng. Ia memang sama sekali tidak ingat lagi kepada Aji. Tumenggung Jaluwisa dan Mahesa Sura berlari menghampiri kereta itu.
"Jatmika dan Listyani, hayo keluar dari tempat persembunyian kalian! Kalian tidak dapat lolos dari tanganku!"
Bentak Jaluwisa.
Akan tetapi pada saat itu, terdengar bunyi pekik burung alap-alap setelah berondongan tembakan dari para anak buah pemberontak itu berhenti.
Tiba-tiba dari berbagai jurusan, menyambar puluhan batang anak panah.
tentu saja banyak anak buah pemberontak yang menjadi korban.
mereka menjerit dan mengaduh.
Mendengar ini, Jaluwisa dan Mahesa Sura kaget dan menengok.
Mereka melihat banyak anak buah mereka roboh, akan tetapi anak buah yang lain sudah sempat mengisi bedil dan mulai memberondong ke arah dari mana datangnya anak-anak panah tadi.
Melihat ini, Aji menggunakan kepandaiannya untuk melompat keluar ke depan kereta dan memperlihatkan diri kepada Tumenggung Jaluwisa dan Aki Mahesa Sura.
"Heh kalian anjing-anjing peliharaan Kumpeni Belanda! Tidak malukah kalian mengkhianati tanah air dan bangsa? Dosa kalian sudah bertumpuk, hayo cepat menyerah!"
Tumenggung Jaluwisa tidak mengenal Aji.
Dia marah sekali dan dua buah pistol di kedua tangannya meledak-ledak, akan tetapi bayangan Aji sudah lenyap lagi.
Kembali terdengar pekik burung alap-alap dan hujan anak panah menyerang para anak buah gerombolan pemberontak.
Terdengar pekik kesakitan dan beberapa orang roboh pula menjadi korban hujan anak panah.
Mereka yang masih belum terluka cepat menembakkan senapan mereka ke arah dari mana datangnya anak panah.
dari teriakan yang terdengar dapat diketahui bahwa setidaknya tentu ada beberapa orang anak buah pasukan pengawal yang terkena tembakan.
Tumenggung Jaluwisa dan Aki Mahesa Sura menjadi marah sekali.
Aki Mahesa Sura lalu menerjang ke arah semak belukar.
Banyak anak panah menyerangnya.
Akan tetapi kakek itu tidak memperdulikan serangan itu dan tetap maju dan memutar tongkat ularnya.
banyak anak panah terpental oelh putaran tongkat ular itu dan beberapa batang anak panah mengenai pundak dan dadanya, akan tetapi anak-anak panah itu seperti mengenai batu karang saja dan runtuh tanpa meninggalkan bekas luka, kecuali merobek baju kakek itu.
Pada saat itu, Jatmika yang sejak tadi bersembunyi di belakang kereta bersama Eulis, tak dapat menahan diri lagi untuk tidak keluar.
Dia melompat keluar.
"Kakangmas Jatmika, hati-hati.....!"
Eulis juga ikut melompat ke luar. Tumenggung Jaluwisa yang masih mencari bayangan Aji, cepat membalikkan tubuhnya dan mengangkat kedua tangannya.
"Dar.....! Darr.....!"
Dua moncong pistolnya menyemburkan api dan asap.
Jatmika dan Eulis yang sudah diperingatkan Aji tentang keampuhan pistol-pistol perak dan emas itu, cepat membuang diri ke atas tanah dan bergulingan ke belakang batu-batu besar sehingga mereka terhindar dari sasaran pistol.
Kemarahan Tumenggung Jaluwisa memuncak melihat pemuda dan gadis tawanannya itu ternyata tidak membantunya.
Dan kemarahannya semakin berkobar ketika dia melihat kegagalan tembakannya.
Dengan alis berkerut dan mata mencorong dia berlompatan untuk mencari dua orang itu yang tadi bergulingan ke belakang batu-batu.
Tiba-tiba ada angin menyambar dari arah belakangnya.
Tumenggung Jaluwisa terkejut, maklum bahwa ada yang menyerangnya dengan kekuatan besar.
Dia cepat membalik dan mengangkat kedua tangan, siap menembak.
Akan tetapi tiba-tiba dua buah tangan menyambar dan tepat mengenai kedua pergelangan tangannya.
"Aduh.....!"
Tumenggung Jaluwisa berseru kaget, merasa kedua tangannya seperti patah dan kedua pistol yang digenggamnya terlepas dari kedua tangannya dan terlempar jauh!
Jaluwisa ternyata tangguh juga.
Pukulan yang tepat mengenai kedua pergelangan tangannya itu hanya mampu membuat dua buah pistolnya terlempar, akan tetapi tidak melukainya.
Cepat tubuhnya melompat ke belakang.
Ketika dia mengangkat muka hendak melihat siapa penyerangnya, Aji sudah melompat, tubuhnya berkelebat dan dia telah meninggalkan Jaluwisa karena dia melihat amukan Aki Mahesa Sura yang merobohkan beberapa orang perajurit pengawal.
Amukan Aki Mahesa Sura memang menggiriskan.
Dengan tongkat ularnya, kakek ini menerjang puluhan orang perajurit pengawal.
Melihat kakek ini tidak dapat terluka oleh anak panah mereka, para perajurit sudah menjadi panik.
Mereka mencabut golok dan ada yang menggunakan tombak menyerang kakek tua renta itu, namun mata golok dan tombakpun tidak mampu melukai kulitnya.
Sambil tertawa-tawa kakek itu menggerakkan tongkat ularnya dan banyak perajurit roboh bergelimpangan sambil menjerit-jerit kesakitan, tubuh mereka berkelojotan dan bekas bagian tubuh yang terkena sambaran tongkat ular, kulitnya berubah menghitam yang makin lama menjadi semakin lebar, Ternyata senjata tongkat ular itu mengandung bisa yang amat ampuh!
Dalam waktu beberapa menit saja, belasan orang perajurit pengawal berjatuhan dan berkelojotan dalam sekarat!
Tiba-tiba ada angin menyambar dari samping.
Kakek yang berpengalaman ini maklum bahwa ada serangan orang sakti.
Dia melompat menghindar dan memutar tubuh.
Kiranya yang menyerangnya dengan tamparan kuat itu hanyalah seorang pemuda tampan berpakaian sederhana, akan tetapi bukan Jatmika.
Pemuda itu adalah Aji.
"Munding Hideung dan Munding Bodas adalah orang-orang sesat, akan tetapi ternyata gurunya bahkan lebih jahat lagi. Aki Mahesa Sura, andika yang sudah tua renta kenapa tidak mencari jalan terang agar kelak kepulanganmu ke alam baka tidak akan tersesat ke neraka jahanam?"
Kata Aji sambil memandang dengan sinar mata mencorong.
Melihat kakek itu menghadapi pemuda yang tadi memimpin mereka dan mengatur siasat, para perajurit pengawal timbul kembali keberanian mereka.
Dua orang melompat dan menubruk dari belakang, menusukkan tombak mereka ke arah punggung Aki Mahesa Sura.
"Asrrgghh.....!"
Kakek itu mengeluarkan gerangan seperti seekor binatang buas, tubuhnya membalik, tongkatnya menyambar dan dua batang tombak itu kini bertemu dengan dadanya dan kdua senjata itu patah!
tongkat ular menyambar mengenai dua orang penyerangnya yang segera terpelanting roboh dan berkelojotan!
"Semua mundur, serbu anak buah gerombolan pemberontak.
Biar aku yang melawan kekek ini!"
Bentak Aji dan para perajurit itu sadar bahwa mereka bukanlah tandingan kakek itu.
Kembali mereka menyusup mencari perlindungan ketika sisa anak buah gerombolan menembaki mereka.
Kini tanpa dikomando, para perajurit pengawal mengerti bagaimana caranya menghadapi musuh yang bersenjata api itu.
Pada saat letusan berhenti dan musuh sibuk mengisi peluru, mereka menyerang dengan anak panah.
Bahkan kemudian setelah dekat, mereka menyerbu dengan senjata tombak dan golok.
Terjadi pertempuran berdarah.
Anak buah gerombolan kini tidak sempat lagi menggunakan bedil.
Merekapun mencabut golok dan melawan dengan senjata itu, nmun, jumlah mereka jauh berbeda.
Kalau pasukan pengawal masih memiliki sisa anak buah sebanyak enam puluh orang, pihak pemberontak kini tinggal dua puluh orang saja!
Melihat Aji melompat pergi, Tumenggung Jaluwisa cepat melompat ke arah di mana dua buah pistolnya terlempar.
Akan tetapi ketika dia tiba di situ, dua buah pistolnya itu telah diinjak oleh dua orang yang bukan lain adalah Jatmika dan Eulis!
"He, pengkhianat pemberontak, kamu mencari ini?"
Eulis hendak membanting kakinya untuk menginjak hancur pistol yang berada di bawah kakinya.
"Jangan injak, nimas!"
Jatmika memperingatkan sehingga gadis itu terkejut dan tidak jadi membanting kaki ke atas pistol itu.
Jatmika takut kalau-kalau pistol yang diinjak itu akan meledak.
Dia lalu membungkuk dan memungut dua buah pistol itu, tersenyum mengejek kepada Tumenggung Jaluwisa.
"Senjata jahanam pemberian Belanda inikah yang kau cari, Tumenggung Jaluwisa?"
Setelah berkata demikian, Jatmika mengerahkan tenaga dan melontarkan dua buah pistol itu ke arah sungai yang berada di bawah tebing.
"Keparat!"
Tumenggung Jaluwisa marah bukan main melihat dua buah pistol kesayangan dan andalannya dibuang dan lenyap ke bawah tebing. Dia mencabut goloknya yang mengkilat saking tajamnya.
"Kalian telah mengkhianatiku! Sekarang aku menyesal mengapa tidak dari kemarin kalian kubunuh. Akan tetapi aku belum terlambat. Bersiaplah kalian untuk mampus! Haaaiiittt.....!!"
Tumenggung itu melompat seperti seekor singa kelaparan, menerkam dan menerjang kedua orang muda itu dengan sambaran goloknya yang berubah menjadi sinar putih bergulung-gulung.
Namun, Jatmika dan Eulis sudah siap siaga.
mereka melompat ke belakang sehingga sambaran golok itu luput.
Melihat keris pusakanya Kyai Cubruk kini terselip di pinggang Tumenggung Jaluwisa, Jatmika berseru nyaring.
"Manusia curang! Kalau engkau memang gagah perkasa, kembalikan keris pusakaku kepadaku, baru kita bertanding sampai seorang diantara kita mati!"
Akan tetapi seruan Jatmika ini seperti mengingatkan tumenggung itu akan pusaka yang dirampasnya dan yang kini berada dipinggangnya.
"Ha, kau menginginkan keris ini? Baik, siapkan dadamu dan keris ini akan kukembalikan padamu!"
Tangan kirinya mencabut keris pusaka itu dan kini dengan buas dia menggerakkan golok dan keris untuk menyerang kalang kabut!
Tadi Jatmika dan Eulis sudah memungut sepotong ranting kayu sebesar lengan mereka, sepanjang kurang lebih satu meter dan dengan senjata sederhana ini mereka menghadapi serangan golok dan keris itu.
Tentu saja pemuda dan gadis perkasa itu bersikap hati-hati sekali, tidak membiarkan senjata mereka bertemu langsung dengan golok lawan karena kalau hal itu terjadi, tentu ranting kayu di tangan mereka akan terpotong!
Mereka berdua lebih banyak mengandalkan kelincahan gerakan mereka yang ditunjang ilmu meringankan tubuh Bayu Sakti.
Terjadilah perkelahian yang seru, akan tetapi kini Jatmika dan Eulis lebih banyak menyerang dengan tongkat ranting kayu mereka.
Biarpun hanya ranting kayu, namun karena ditunjang tenaga sakti yang amat kuat, maka senjata sederhana itu menjadi senjata yang ampuh sekali.
Tumenggung Jaluwisa maklum akan hal ini, maka diapun berusaha keras agar jangan sampai terkena senjata dua orang pengeroyoknya.
Apalagi ketika Jatmika dan Eulis menyeling serangan tongkat mereka dengan pukulan Aji Margopati (Jalan Maut) yang dahsyat bukan main, tumenggung yang tangguh itu terkejut dan mulailah dia terdesak hebat.
Sementara itu Aji sudah saling berhadapan dengan Aki Mahesa Sura.
Tidak ada seorangpun dari kedua pihak berani membantu.
Mereka berdua berdiri saling pandang.
Kakek itu bertopang pada tongkat ularnya dan sepasang alis putih yang tipis itu berkerut-kerut, hidungnya kembang kempis karena kakek tua renta itu tadi mengamuk sehingga napasnya memburu.
Mulut dengan bibir yang tebal itu agak menyeringai, dan dari sepasang matanya menyambar sepasang sinar yang amat berwibawa dan berpengaruh.
Di lain pihak, berdiri dalam jarak dua meter, Aji berdiri dengan tegak dan kedua tangannya tergantung santai di kanan kirinya, sepasang matanya juga memandang wajah kakek itu dan menyambut "serangan"
Sinar mata lawan itu dengan berani.
Ya, biarpun kedua orang itu hanya berdiri saling pandang tanpa bergerak atau mengeluarkan kata-kata, namun sebenarnya mereka sedang mengadu kekuatan melalui sinar matanya!
Sepasang mata seekor kucing Candramawa mampu menjatuhkan seekor cecak yang sedang merayap di atas dinding atau mampu membuat seekor tikus yang tengah berlari menjadi lumpuh hanya dengan pandang matanya, maka Aki Mahesa Sura inipun mampu menyerang dan melumpuhkan lawan hanya dengan kekuatan sinar matanya yang lebih dahsyat daripada sinar mata seekor kucing Candramawa!
Begitu bertemu dan beradu pandang Aji sudah merasakan serangan dahsyat melalui sinar mata itu.
Namun dia bersikap tenang saja dan memperkuat penyerahannya kepada kekuasaan Gusti Allah.
Penyerahan total ini mendatangkan Kekuasaan Gusti Allah yang melindungi jiwanya dan menyebar ke seluruh tubuhnya sehingga sebuah kekuatan mujijat terbentuk.
Aji hanya tinggal mengerahkan kekuatan ini melalui pandang matanya menyambut serangan sinar mata Aki Mahesa Sura.
"Uuhhhh.....!!"
Kakek itu mengeluh dan mengerahkan seluruh tenaga batinnya untuk memperkuat serangan sinar matanya.
Akan tetapi dia merasa seolah kekuatan sihir matanya itu bertemu dengan kekuatan yang maha dahsyat.
Hal ini tidaklah aneh karena dia menentang sumber dari segala kekuatan yang telah menyusup ke dalam diri Lindu Aji, Kakek itu seperti kebanyakan orang sakti mandraguna yang lain, memperoleh kekuatan ajaibnya melalui segala cara, penyiksaan diri, penyembahan berhala, dan segala macam cara sesat lain lagi.
Karena itu seperti kebanyakan orang, dia mendapatkan aji-ajinya dari kekuasaan gelap sehingga ilmu-ilmunya adalah ilmu hitam yang berasal dari kekuatan iblis dan setan.
Memang bagi manusia biasa, kekuatan yang berasal dari kuasa gelap ini luar biasa dan dahsyat sekali sehingga menakutkan.
Ilmu-ilmu hitam ini biasa dipergunakan oleh manusia sesat untuk sarana mencapai semua keinginannya, memuaskan semua gejolak nafsunya, dan akibatnya biasanya hanya menguntungkan diri sendiri merugikan orang lain, atau menyenangkan diri sendiri menyusahkan orang lain.
Ilmu hitam dari kekuasaan gelap atau iblis inilah yang menjadi sumber dari segala macam kejahatan seperti santet, tenung, sihir dan segala macam ilmu aneh yang menjadi alat bagi manusia sesat melakukan perbuatan jahat.
Kekuasaan gelap ini pula yang terkadang dimiliki beberapa orang dukun.
Mereka ini menggunakan kekuatan yang timbul dari kekuasaan gelap untuk membantu orang-orang, dengan imbalan yang menyenangkan tentu saja, untuk mencari "pesugihan", kenaikan pangkat, atau untuk memikat seorang wanita yang diinginkannya dan banyak lagi perbuatan-perbuatan sesat yang haram dilakukan manusia baik-baik karena semua perbuatan itu tujuannya hanya memuaskan nafsu sendiri dengan merugikan oramng lain.
Manusia yang suka mencari kesenangan melalui cara ini akhirnya akan terjerumus ke dalam perangkap iblis, menjadi budak setan.
Bukan hal yang tidak mungkin bahwa nafsu keinginannya yang bersifat kedagingan dan duniawi itu dapat diperoleh, akan tetapi mungkin di luar kesadarannya, dia telah terikat dan dijadikan budak iblis.
Iblis tidak pernah memberi anugerah.
Yang dapat diberikannya hanyalah semacam "jual beli"
Dan setiap orang yang telah memanfaatkan "jasanya"
Sudah pasti harus membelinya dengan pengorbanan tertentu.
Dan biasanya, pengorbanan yang diberikan itu tidak sepadan dengan yang diterimanya.
Pengorbanannya jauh lebih hebat dan mengerikan.
Berbeda dengan kekuatan yang didapatkan manusia dengan penyerahan diri kepada Gusti Allah.
Apa yang didapatkan ini merupakan anugerah, merupakan tuntunan, bimbingan, suatuanugerah karena manusia itu telah mencapai tingkat keimanan yang paling dalam yaitu penyerahan diri sepenuhnya, penyerahan dengan tawakal, ikhlas dan taat.
Demikianlah, tidak mengherankan ketika Aki Mahesa Sura mengerahkan kekuatan ilmu hitamnya, dia merasa seolah sinar lampu bertemu sinar matahari, seperti air bertemu samudra.
Dia tidak tahan lagi dan melangkah mundur sambil memejamkan matanya.
Kekuatan sinar matanya yang dipergunakan untuk menyerang tadi terasa seperti membalik dan menghantam dirinya sendiri.
Terpaksa Aki Mahesa Sura memejamkan kedua matanya dan tubuhnya terhuyung ke belakang.
Namun karena dia memang sakti dan kuat, dia dapat memulihkan keadaannya.
Tidak, dia sama sekali tidak merasa kalah.
Orang seperti kakek ini yang merasa telah memiliki kedigdayaan, mempunyai kemampuan tinggi dan merasa dirinya sakti mandraguna, tidak mengenal perasaan mengaku kalah atau mengaku salah.
Dia merasa dirinya paling pintar!
Ini merupakan kelemahan kebanyakan manusia, yakni merasa dirinya paling pintar.
Pada hal, mengaku diri pintar adalah suatu kebodohan besar, karena pengakuan atau perasaan diri sendiri pintar ini menutup semua kemungkinan untuk mencapai pengertian lebih banyak.
Seolah sebuah gelas yang sudah penuh, bagaimana dapat menampung air dari luar.
Beruntunglah dia yang dengan tulus ikhlas mengaku dirinya masih bodoh, bagaikan gelas yang masih belum penuh sehingga dapat menerima pengisian dari luar sehingga "isinya"
Bertambah-tambah.
Orang yang mengaku dirinya pintar, sesungguhnya hanyalah keminter (sok pintar).
Cobalah tanya kepada orang yang sok pintar itu, berapa helai sih jumlah kumis atau jenggotnya?
Dia tidak akan mampu menjawab.
Menghitung jenggot sendiri saja tidak mampu kok berani mengaku pintar!
Menggelikan dan lucu yang membuat kita senyum masam.
Seperti juga tidak ada manusia sempurna, juga tidak ada manusia pintar.
Mungkin dia pintar dalam satu hal, akan tetapi bodoh dalam lain hal.
Yang Maha Pintar hanyalah Gusti Allah.
Yang Maha Sempurna hanyalah Gusti Allah.
Bahkan sekelumit "kepintaran"
Yang dimiliki manusia juga anugerah Gusti Allah!
Aki Mahesa Sura tidak merasa kalah, bahkan menjadi penasaran dan marah bukan main.
Mana dia kalah oleh seorang pemuda "ingusan"?
Akan tetapi dia ingin tahu juga siapa pemuda yang mampu menahan serangan sinar matanya itu.
"Huh, bocah keparat yang berani melawan Aki Mahesa Sura! Mengakulah, siapa namamu agar jangan engkau mati tanpa meninggalkan nama!"
"Aki Mahesa Sura, orang tuaku memberiku nama Lindu Aji."
Jawab Aji sejujurnya tanpa maksud merendahkan atau mengagungkan diri dengan nama itu.
Akan tetapi jawaban yang jujur itu malah membuat kakek itu membelalakkan matanya dengan jantungnya berdebar keras.
Teringat dia akan mendiang gurunya, Resi Mahesa Badag yang pernah memperingatkannya.
"Awaslah kalau engkau bertemu seorang manusia yang namanya menggetarkan bumi, karena dia itu memiliki anindyaguna (keunggulan sempurna) dan karenanya dia aniwirya (tidak dapat dilawan), memiliki siyung (taring) Sang Batara Kala. Maka, jauhilah dan jangan dilawan."
Dasar manusia yang sudah menjadi budak nafsu, Aki Mahesa Sura yang sombong dan merasa diri sendiri terpandai itu sama sekali tidak terpengaruh pesan gurunya itu.
Dia tetap tidak sudi mengaku kalah terhadap seorang pemuda kencur!
Sepandai-pandainya pemuda itu, bagaimana mungkin dapat mengalahkannya?
Waktu yang dia pergunakan untuk berjerih payah mempelajari dan mengumpulkan semua ilmu itu, masih lebih banyak dari pada usia bocah di depannya itu!
Karena itu dia merasa yakin bahwa dia pasti akan dapat menglahkan dan membunuh pemuda yang lancang berani menentangnya itu.
"Lindu Aji, engkau lihat, apa yang kupegang ini?"
Bentaknya sambil mengangkat tongkat ularnya ke atas. Aji merasa betapa dalam suara kakek itu terkandung getaran yang amat kuat maka maklumlah dia bahwa kakek itu hendak "menyerang"
Melalui suaranya yang mengandung hawa sakti. Dia masih bersikap tenang ketika memandang tongkat itu dan berkata tanpa nada mengejek.
"Aki Mahesa Sura, aku melihat engkau memegang sebuah bangkai ular kering yang kau jadikan tongkat."
"Uwah! sudah butakah matamu? Pusaka Sarpasakti ini memiliki kesaktian Kalabahnisanghara (penumpasan dengan api maut), siapa berani melawan akan dihancur binasakan! Karena itu aku perintahkan kamu, hei Lindu Aji . Berlututlah dan menyembahlah engkau agar terbebas dari kehancuran!"
Dalam suara Aki Mahesa Sura, terutama sekali dalam kalimat terakhir, terkandung getaran yang teramat kuat, yang seolah mendatangkan tangan tak tampak yang menekan dan memaksa Lindu Aji untuk bertekuk lutut.
Namun, segera pemuda yang merasakan pengaruh sihir itu berzikir menyebut nama Allah berulang-ulang sesuai dengan detak jantung dan pernapasannya.
Muncullah kekuatan baru dalam dirinya dan rasa tertekan tadipun lenyap, bahkan dia mengangkat muka memandang Aki Mahesa Sura yang masih mengangkat tongkat ularnya ke atas dan memandang kepadanya sambil menggerak-gerakkan tongkat itu yang seolah menjadi hidup kembali.
"Hentikan badutanmu itu, Aki. Tidak ada gunanya sama sekali."
Kata Aji dengan tenang.
Aki Mahesa Sura kembali tertegun.
Pemuda itu sama sekali tidak terpengaruh!
Sedikitpun tidak.
Heran sekali dia.
Pada hal, belum pernah ada orang yang mampu menolak serangan sihir melalui suaranya itu semudah itu!
"Hemmm, engkau berani, ya?
Lihat sekarang serangan halilintar dari tongkat pusakaku!"
Dia mengangkat tongkat itu ke atas. kepala ular kering itu berada di atas dan ekornya di bawah.
"Hyaaaahhhh.....!"
Kakek itu mengeluarkan teriakan melengking dan tiba-tiba dari moncong ular kering yang terbuka itu menyambar keluar sinar kehijauan, meluncur ke arah kepala Aji!
Pemuda ini sudah siap, baik batiniah maupun lahiriah.
Jiwanya menyerah sepenuhnya kepada Kekuasaan Gusti Allah sedangkan raganya selalu siap untuk menjaga diri, berusaha sekuat kemampuannya untuk menyelamatkan dirinya.
Memang demikianlah yang selalu diajarkan oleh mendiang gurunya, Ki Tejo Budi dahulu.
Manusia hidup haruslah memenuhi dua kelengkapan itu agar dapat disebut manusia seutuhnya.
Secara rohani, dia harus selalu dekat selalu ada kontak dan komunikasi, selalu di"jumenengi"
Roh Allah yang Maha Suci dalam arti kata, Kekuasaan Gusti Allah selalu manunggal (bersatu) dalam dirinya.
Dan secara jasmani, dia harus selalu mempergunakan semua anugerah Gusti Allah berupa badan dan hati akal pikiran ini untuk berikhtiar, berusaha untuk keselamatan jasmaninya, untuk kesejahteraan hidupnya di dunia dan terutama sekali, untuk membantu pekerjaan Gusti Allah, yaitu membangun kehidupan manusia di dunia yang penuh kedamaian, penuh kesejahteraan, penuh kasih sayang antara manusia.
Dalam keadaan seperti itulah Aji menghadapi serangan tongkat pusaka di tangan Aki Mahesa Sura.
Didasari iman penyerahannya kepada Gusti Allah, Aji lalu menyambut sinar hijau itu dengan dorongan telapak tangan kirinya sambil mengerahkan Aji Surya Chandra.
Sinar hijau yang keluar dari moncong ular kering menyambar dahsyat, bertemu dengan telapak tangan kiri Aji yang dikembangkan.
Sinar itu seolah terpental membalik dan menyambar kepala ular kering itu sendiri.
"Uhhh.....!!"
Kembali Aki Mahesa Sura terhuyung, terbawa oleh tongkatnya sendiri yang seperti terserang sinar hijau yang keluar dari moncongnya.
Agaknya telapak tangan Aji tadi bekerja seperti sebuah cermin dan ketika sinar hijau menyambarnya, maka sinar itu seperti bertemu dengan cermin (Lanjut ke
Jilid 23) Alap Alap laut Kidul (Seri ke 03 Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 23 dan bayangannya terpantul membalik dan menyerang sumber sinar hijau itu sendiri.
Aki Mahesa Sura menjadi semakin marah dan penasaran.
Dua macam serangan mempergunakan kekuatan sihir melalui mata dan suaranya telah digagalkan, bahkan serangan ketiga melalui tongkat ular juga terpantul membalik.
Namun dia belum juga jera.
Dia telah bertahun-tahun mempelajari ilmu-ilmu dari Pajajaran, maka kini dia mengerahkan semua kekuatannya untuk menyerang dengan sihir ilmu hitam yang dianggap paling ampuh.
Tiba-tiba dia menancapkan tongkat ularnya ke atas tanah setelah itu dia mengeluarkan suara menggereng yang amat kuat sehingga menggetarkan sekeliling tempat itu, kedua tangannya diangkat ke depan dada dan membentuk cakar harimau, menggetar penuh tenaga dahsyat dan bergerak-gerak saling menyilang, kemudian dia berjungkir balik tiga kali dan tubuhnya berubah menjadi seekor harimau yang amat besar!
Harimau sebesar kerbau itu memandang Aji dengan sepasang mata bersinar-sinar mencorong, moncongnya mengeluarkan suara menggereng, mengaum dan bibirnya tertarik-tarik memperlihatkan taring dan gigi yang putih mengkilap dan runcing mengerikan, kedua kaki depannya menggaruk-garuk tanah dan apabila kuku-kukunya itu ada yang menggurat batu, maka terperciklah bunga api!
Aji menghadapi harimau itu dengan tenang.
Dan maklum sepenuhnya bahwa mahluk yang berada di depannya itu adalah seekor harimau jadi-jadian.
Pernah dia berhadapan dengan Munding Hideung dan Munding Bodas, murid-murid kakek ini dan dua orang pemimpin gerombolan itupun pernah memepergunakan ilmu hitam yang serupa, yaitu mereka menjadi dua ekor harimau jadi-jadian.
Namun dia dapat memunahkan sihir mereka itu dengan Aji Tirta Bantala (Ilmu Air dan Tanah).
Kekuatan mujijat yang muncul karena iman dan penyerahannya kepada Gusti Allah dapat memunahkan ilmu hitam kedua orang pimpinan gerombolan itu.
Dan sekarang dia berhadapan dengan harimau jadi-jadian buatan Aki Mahesa Sura yang tentu jauh lebih dahsyat dan berbahaya dibandingkan dua orang muridnya!
Timbul keinginan dalam hati Aji untuk menguji kemampuan dirinya sendiri melawan harimau jadi-jadian itu dengan ilmu-ilmu yang pernah dia pelajari dari mendiang Ki Tejo Budi.
Bagaimanapun juga, dia memiliki pegangan batin yang amat kuat, yaitu keyakinannya bahwa kepasrahannya kepada Gusti Allah.
Kalau sudah begitu, apa yang perlu ditakuti lagi?
Apapun yang terjadi dengan dirinya, sepenuhnya menurut kehendak Gusti Allah dan akan diterimanya dengan penuh rasa syukur karena apapun yang ditentukan Allah, betapa burukpun dalam pandangan manusia, sesungguhnya adalah yang terbaik baginya!
Dalam menghadapi segala hal, dia harus berikhtiar berusaha sekuat tenaga untuk melindungi dirinya.
Ikhtiar, usaha atau bekerja adalah wajib di samping iman penyerahan diri sepenuhnya yang merupakan keharusan manusia.
Bekerja saja tanpa dilandasi adanya bimbingan Gusti Allah dapat menyesatkan, membuat kita lupa diri dan hanya mengejar hasil pekerjaan itu tanpa perduli apakah cara bekerja itu diridhoi Gusti Allah atau tidak.
Sebaliknya, hanya bimbingan kepada jiwa kita saja oleh Gusti Allah tanpa mengerjakannya dengan jasmani kita, juga membuat kita tidak mungkin dapat hidup di dunia ini.
Keduanya, olah kerja dan iman penyerahan haruslah sama-sama kuat.
Dengan demikian, hidup akan menjadi seutuhnya sebagai seorang manusia.
"Haunnggg..... grrrrr.....!!"
Tiba-tiba harimau sebesar kerbau itu melompat dan menubruk, menerkam dengan dahsyatnya kepada Aji.
Pemuda ini sudah siap dan waspada.
Dia segera mengerahkan kelincahan berdasarkan Aji Bayu Sakti dan menggerakkan tubuhnya, bersilat dengan ilmu silat Wanara Sakti.
Bagaikan seekor kera, atau lebih tepat lagi, bagaikan gerak gerik sang Hanoman dalam kisah wayang Ramayana, dia telah menyusup di bawah terkaman harimau jadi-jadian itu sehingga terkaman itu luput.
Akan tetapi ketika Aji membalikkan tubuh dan berada di belakang harimau itu, tiba-tiba harimau itu menggerakkan ekornya yang panjang dan bagaikan ssebatang toya (tongkat) baja ekor itu menyambar dan menghantam kuat sekali ke arah pinggang Aji!
Pemuda itu terkejut juga, tidak pernah menduga akan serangan yang mendadak itu.
Karena untuk mengelak dia sudah tidak mempunyai kesempatan lagi, maka Aji lalu menyalurkan tenaga dari Aji Surya Chandra ke lengan kirinya dan menangkis sambaran ekor yang lebih besar daripada lengannya itu.
"Wuuuttt..... dukkk!!"
Aji merasa betapa tubuhnya tergetar saking kuatnya sambaran ekor harimau jadi-jadian itu.
Akan tetapi harimau itupun menggereng dan ekornya terpental ketika bertemu lengan Aji.
Harimau itu cepat sekali sudah memutar lagi tubuhnya dan cakar kananya menyambar dengan kecepatan kilat ke arah leher Aji.
Pemuda itu masih dapat mengelak dengan miringkan tubuhnya, akan tetapi dengan cekatan cakar harimau itu dapat mengejar dan mengenai pundaknya.
"Brettt.....!"
Baju di pundak Aji robek, akan tetapi kuku-kuku rincing itu hanya mendatangkan guratan pada kulit pundaknya, tidak melukainya sama sekali karena tubuh Aji terlindung oleh kekuatan mujijat yang membuatnya kebal.
Sekali lagi harimau raksasa itu membuat lompatan menerjang dan menerkam.
Namun Aji dapat mengelak dengan lebih cepat lagi.
Harimau itu mengamuk, menerkam dengan kedua cakar depannya dan berulang-ulang memukul dengan ekornya.
Namun semua serangan itu dapat dihindarkan Aji dengan elakan dan kalau perlu serangan itu dipatahkan dengan tangkisan lengannya.
Pertarungan sengit terjadi.
Beberapa kali Aji terkena hantaman ekor akan tetapi pukulan itu hanya membuat dia terguncang sedikit dan ekor yang memukul itupun terpental.
Sebaliknya beberapa kali tamparan tangan Aji mengenai tubuh binatang jadi-jadian itu.
Akan tetapi tubuh harimau itupun kuat dan kebal sekali.
Harimau itu terkadang terpelanting oleh pukulan tangan Aji, akan tetapi seperti tidak merasakan nyeri, binatang itu sudah bangkit dan menyerang lagi.
Setelah cukup lama berkelahi dan belum juga dapat mengalahkan pemuda itu, harimau jadi-jadian itu menjadi kesetanan.
Matanya mencorong seperti berapi dan moncongnya mengeluarkan uap panas.
dengan gerengan yang menggetarkan jantung kini harimau itu menerkam lagi dengan lompatan tinggi.
"Wiiii.....!"
Aji cepat menyusup ke bawah perut mahluk jadi-jadian itu seperti ketika ia menyerang pertama kali.
Secara tiba-tiba dia membalik ketika berada di belakang harimau dan sekali sambar, tangan kanannya sudah menangkap ekor harimau itu.
Harimau itu meronta, namun Aji sudah mengerahkan tenaga dan mengayun lalu memutar-mutar tubuh harimau yang besar itu ke atas kepalanya.
Harimau itu mengaum-aum marah akan tetapi tak mampu melepaskan diri dan diputar-putar cepat sekali seperti kitiran lalu mengayun dan melontarkan tubuh harimau besar itu sambil membentak.
"Pergilah kau!"
Tubuh harimau raksasa itu terlempar melalui pohon-pohon menuju ke arah sungai dan tak tampak lagi.
Aji cepat mencari Sulastri dan Jatmika.
Setelah memutar tubuhnya, dia melihat Jatmika dan Sulastri sedang bertarung melawan empat orang lawan yang tangguh.
Masing-masing dikeroyok dua orang lawan dan mereka bertanding mati-matian.
Tadi, setelah Aji berhasil memukul lepas dua buah pistol dari tangan Tumenggung Jaluwisa, senopati Sumedang ini segera dikeroyok dua oleh Jatmika dan Eulis.
Mereka berkelahi dengan seru dan biarpun tumenggung itu seorang yang digdaya, namun menghadapi pengeroyokan Jatmika dan Eulis, dia kewalahan juga dan mulai terdesak.
Memang, senjata di tangan dua orang muda itu hanya ranting kayu, namun di tangan mereka ranting itu menjadi senjata yang ampuh.
Apalagi mereka menyelingi serangan ranting itu dengan tangan kiri yang melancarkan pukulan dengan Aji Margopati yang dahsyat dan ampuh.
Biarpun Tumenggung Jaluwisa mengamuk dengan golok di tangan kanan dan keris Kyai Cubruk milik Jatmika di tangan kiri, namun tetap saja dia terdesak larena dua ujung ranting itu dapat mematahkan semua serangannya, dan pukulan Margopati itu menyambar-nyambar dahsyat.
"Kena.....!!"
Tiba-tiba Jatmika membentak dan ujung ranting di tangannya, dengan telak sekali menusuk pergelangan tangan kiri tumenggung itu.
Tumenggung Jaluwisa terkejut, walaupun pergelangan tangannya tidak terluka namun sedetik tangan itu seperti kaku dan lumpuh sehingga keris rampasan yang dipegangnya terlepas.
Dengan gerakan cepat Jatmika menyambar keris pusakanya yang terjatuh di atas tanah itu.
Eulis cepat memutar rantingnya ketika Tumenggung Jaluwisa hendak menghalangi Jatmika memungut keris pusakanya sehingga pemuda itu akhirnya berhasil mengambil Keris Kyai Cubruk.
Kini dengan keris di tangan kanan dan ranting di tangan kiri, Jatmika menyerang dengan hebat, dibantu oleh Eulis yang tingkat kepandaiannya tidak terpaut banyak dibandingkan tingkat kepandaian Jatmika.
Tadi saja tumenggung itu sudah terdesak.
Apa lagi sekarang.
Dia memutar-mutar goloknya sehingga senjatanya itu berubah menjadi gulungan sinar yang menjadi perisai melindungi dirinya.
Namun, tetap saja dia terdesak dan kerepotan.
Tumenggung itu berulang kali mengeluarkan teriakan sebagai isarat kepada para pembantunya.
Tiba-tiba muncul tiga orang yang memegang golok dan serentak mereka menyerbu dan membantu sang tumenggung.
Mereka itu bukan lain adalah Munding Beureum, Munding Koneng, dan Munding Hejo.
Tadi, tiga orang ini memimpin anak buah melawan para perajurit pengawal dan dengan adanya mereka bertiga yang mengamuk, biarpun jumlah anak buah itu tidak banyak dibandingkan pasukan pengawal, mereka mampu mendesak.
Akan tetapi tiga orang itu mendengar isarat tumenggung yang minta bantuan.
Maka mereka meninggalkan anak buah mereka dan membantu Tumenggung Jaluwisa.
Munding Beureum dan Munding Koneng mengeroyok Eilis, sedangkan Munding Hejo membantu sang tumenggung mengeroyok Jatmika.
Keadaan menjadi terbalik.
Kalau tadi Tumenggung Jaluwisa yang terus terdesak, sekarang Jatmika dan Eulis yang terdesak dan terpaksa mereka harus mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuh Bayu Sakti untuk bergerak cepat mengelak dari hujan serangan para pengeroyok.
Aji yang sudah kehilangan lawan, melihat keadaan Jatmika dan Sulastri, melompat dan langsung dia menerjang ke arah Munding Beureum yang mengeroyok Sulastri.
"Nimas Sulastri, jangan khawatir, aku datang membantumu!"
Setelah berteriak demikian Aji lalu menampar ke arah pengeroyok yang ikat pinggangnya berwarna merah, yaitu Munding Beureum.
"Wuuuutttt.....!"
Munding Beureum terkejut bukan main melihat datangnya angin pukulan yang dahsyat.
Dia terpaksa melemparkan tubuhnya ke samping, lalu menjatuhkan diri dan sambil bergulingan dia membabatkan goloknya ke arah kaki Aji.
Gerakannya memang cekatan sekali.
Sambil bergulingan goloknya menyambar-nyambar secara bertubi ke arah kedua kaki Aji.
Aji berloncatan menghindar, akan tetapi ketika golok itu menyambar berulang-ulang, dia menggunakan kaki kanannya untuk memapaki dan menendang sambil mengerahkan tenaga.
"Dess..... sing.....!"
Golok itu terlepas dari tangan Munding Beureum dan meluncur ke arah Eulis atau Sulastri.
Gadis itu menyambar dengan tangan kirinya dan ia sudah berhasil menangkap golok itu pada gagangnya.
Melihat tubuh Munding Beureum masih bergulingan dan mendekatinya, ia lalu meluncurkan tongkat ranting kayunya ke arah tubuh yang bergulingan itu, sambil mengerahkan tenaga.
"Wirrr..... capp!"
Ranting kayu itu menancap ke dada Munding Beureum sampai hampir tembus!
Orang itu mengeluarkan teriakan parau dan tewas tak lama kemudian.
Eulis atau Sulastri girang bukan main mendapatkan pertolongan walaupun ia terheran-heran mendengar pemuda itu menyebutnya Nimas Sulastri!
Sebutan nama ini terasa akrab di telinganya, juga rasanya ia tidak asing dengan wajah dan suara pemuda itu.
Akan tetapi ia lupa lagi di mana dan bilamana pernah berjumpa dengan pemuda itu.
Ia tidak dapat banyak berpikir karena kini Munding Koneng yang melihat saudara seperguruannya tewas, menjadi marah dan menyerangnya dengan ganas sekali.
Eulis menangkis dengan golok rampasannya.
"Cringgg.....!"
Bunga api berpijar ketika dua batang golok bertemu.
Namun kini Eulis memperlihatkan kehebatannya.
Ia dahulu memang mahir dan sudah terbiasa bersilat pedang.
Maka kini, memegang sebatang golok, ia dapat memainkannya dengan dahsyat sehingga Munding Koneng segera terdesak.
Melihat keadaan Sulastri kini hanya menghadapi seorang lawan dan mampu mendesaknya, Aji lalu membantu Jatmika yang masih dikeroyok dua oleh Tumenggung Jaluwisa dan Munding Hejo.
Dia menerjang ke arah pengeroyok yang sabuknya berwarna hijau dan yang memainkan sebatang golok.
"Wuuuttt.....!"
Tamparan tangan Aji ampuh sekali dan mendatangkan angin pukulan dahsyat.
Munding Hejo terkejut dan dia membabatkan goloknya untuk menyambut tamparan tangan itu dengan maksud agar tangan yang menamparnya itu terbabat bunting oleh goloknya.
"Dessss..... krek.....!!"
Hebat sekali pertemuan dua tenaga itu.
Golok itu patah dan tubuh Munding Hejo terlempar seperti daun kering disapu angin.
Dia terlempar dan jatuh terguling-guling dekat dengan beberapa orang pasukan pengawal.
Melihat musuh roboh terguling-guling, lima orang perajurit pasukan menghujani tubuh Munding Hejo dengan tusukan tombak dan bacokan golok.
Getaran pukulan Aji tadi membuat Munding Hejo tidak mampu lagi mengerahkan aji kekebalannya sehingga tubuhnya rusak dan nyawanya melayang karena hujan serangan itu.
Pada saat itu tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan ke dekat lima orang perajurit yang membacoki dan menusuki tubuh Munding hejo yang sudah tak bernyawa lagi.
"Heeeeiiiitttt..... arrrggghhh.....!"
Terdengar bentakan dan gerengan dahsyat dan orang itu mendorongkan kedua tangannya ke arah lima orang perajurit itu.
Angin yang amat kuat menyambar dan lima orang perajurit itu berpelantingan roboh dan tidak mampu bangkit lagi karena mereka semua tewas!
Aji terkejut dan cepat menghampiri.
Ternyata dia berhadapan dengan Aki Mahesa Sura yang berdiri memegang tongkat ularnya dengan pakaian basah kuyup.
Agaknya ketika dia menjadi harimau jadi-jadian dan dilemparkan Aji tadi terjatuh ke sungai akan tetapi tidak terluka dan dia dapat keluar dari sungai dengan tubuh dan pakaian basah kuyup.
Tadi melihat betapa seorang muridnya, Munding Hejo dibantai, dia menjadi marah dan sekali serang dia telah membunuh lima orang perajurit pengawal!
Sementara itu, semua anak buah pemberontak telah dapat dirobohkan dan sebagian lagi melarikan diri.
Para perajurit pengawal yang masih hidup kini hanya menjadi penonton bersama Adipati Pangeran Mas Gede, tidak berani mendekati pertempuran hebat antara Eulis atau Sulastri melawan Munding Koneng, Jatmika melawan Tumenggung Jaluwisa, dan Aji yang kini saling berhadapan dengan Aki Mahesa Sura.
"Babo-babo, Lindu Aji! Penghinaan ini harus kautebus dengan nyawamu!"
Wajah kakek itu tampak bengis dan menyeramkan, seperti wajah iblis sendiri karena mengandung hawa amarah yang memuncak.
Sinar matanya penuh ancaman maut, tongkat ular di tangan kanannya menggigitl saking kuatnya emosi menguasainya.
Aji bersikap tenang.
"Aki Mahesa Sura, cobalah renungkan lagi. Siapa yang menghina dan siapa yang menyulut api permusuhan dan pertempuran ini? Masih belum terlambat kalau andika menyadari kesalahan, bertaubat dan mengubah jalan hidupmu agar mendapatkan penerangan sejati dan menuntunmu ke jalan kebenaran."
"Aaahhh!"
Seperti iblis sendiri kakek itu menjadi marah mendengarkan ucapan itu, ucapan yang sama sekali berlawanan dengan keinginan hatinya.
"Tak perlu berkhotbah di sini! Sekarang tinggal engkau atau aku yang menang atau mati!"
Setelah berkata demikian, kakek itu mendorongkan telapak tangan kirinya ke arah Aji sambil berteriak lantang.
"Aji Bajra Kalantaka! Mampuslah!!"
Hebat dan dahsyat bukan main Aji Bajra Kalantaka (Kilat Dewa Maut) ini.
Dari tangan kiri itu menyambar sinar yang menyilaukan mata, yang mencuat bagaikan sambaran halilintar ke arah Aji.
Aji cepat merangkap kedua tangan di depan dada, melebur diri ke dalam kekuasaan Gusti Allah dan otomatis tangan kanannya mendorong ke depan.
Tidak tampak apapun dari telapak tangan kanannya.
Akan tetapi sinar kilat yang menyambar dari telapak tangan kiri kakek itu tiba-tiba terhenti di tengah jalan tertahan oleh sesuatu yang tidak tampak namun yang kuat sekali.
Tejadilah adu kekuatan.
Kakek itu mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong kekuatan yang menghalang itu.
Sampai mulutnya mengeluarkan suara bekah-bekuh, tubuhnya gemetar dan keringatnya mulai membasahi mukanya, napasnya mulai terengah dan sinar kilat mulai terdesak mundur dan kembali ke telapak tangannya.
Sejenak tangan kiri kakek itu terkulai lemas.
Untung bahwa Aji tidak mendesaknya, kalau hal itu dilakukan, tentu kakek itu akan roboh.
Namun, biar kakek itu sudah tua renta, semangatnya menggebu-gebu, dia tidak mau kalah dan merasa kuat.
Apalagi dia sedang marah dan penasaran.
Semangatnya ini yang membuat dia tiba-tiba dapat menguasai dirinya kembali dan kini dia mengeluarkan pekik menyeramkan.
"Auuurrrggghhh.....!"
Tubuhnya menerjang ke depan, tongkat ularnya diputar cepat sehingga berubah menjadi gulungan sinar hitam dan kini dia menggunakan ilmu silat yang cepat dan kuat untuk menyerang Aji.
Menghadapi serangan cepat dan kuat yang amat berbahaya ini, Aji juga cepat bergerak lincah dan cekatan bagaikan seekor kera.
Dan memainkan ilmu silat yang disebut Aji Wanara Sakti, mengelak dengan cepat dan balas menyerang.
Terjadilah pertandingan adu ilmu silat yang seru, cepat dan mengeluarkan angin berdesir desir.
Tubuh mereka lenyap bentuknya, berubah menjadi bayang-bayang yang berkelebatan di antara gulungan sinar hitam tongkat itu.
Dan ternyata ilmu silat yang dimainkan Aki Mahesa Sura itu memang hebat bukan main sehingga Aji sendiri kewalahan menghadapi sinar bergulung-gulung dan berkelebatan menyambar-nyambar seperti kilat itu.
Hanya dengan kelincahan Aji Wanara Sakti saja dia masih mampu berkelebatan mengelak dan menghindarkan diri dari sambaran tongkat maut.
Sementara itu, pertandingan antara Jatmika melawan Tumenggung Jaluwisa juga berlangsung dengan hebat dan seru.
Tumenggung itu adalah senapati Sumedang, bahkan tangan kanan Pangeran Mas Gede, maka ilmu silatnya juga amat dahsyat.
Denngan golok besarnya, dia berusaha keras untuk merobohkan Jatmika yang melawan golok itu dengan keris pusakanya Kyai Cubruk.
Namun, senjatanya itu, biarpun merupakan pusaka ampuh, merupakan senjata yang pendek sehingga jangkauannya kalah jauh dibandingkan golok di tangan sang tumenggung.
Oleh karena itu, dia harus bergerak dengan hati-hati dan menggunakan semua kelincahannya untuk menandingi lawan.
Mereka saling serang dengan seru dan mati-matian.
Hanya pertandingan antara Eulis melawan Munding Koneng yang agak berat sebelah.
Biarpun Munding Koneng juga seorang digdaya, merupakan seorang di antara Panca Munding murid-murid Aki Mahesa Sura, namun melawan Eulis yang tingkat kepandaiannya setingkat dengan Jatmika, dia kewalahan sekali.
Dara perkasa yang kini bersenjatakan sebatang golok rampasan itu memiliki kecepatan gerakan yang membuat Munding Koneng repot sekali.
Kadang pandang matanya kabur melihat dara itu berkelebatan di sekitarnya dan golok di tangan mungil itu menyambar-nyambar dan sinarnya bergulung-gulung menyilaukan mata.
"Trang-trang-trang.....!"
Bertubi-tubi golok mereka bertemu ketika Munding Koneng menangkis serangan yang datang dengan gencar itu.
Tiba-tiba Eulis mengeluarkan bentakan melengking dan kembali goloknya menyambar dari atas, membacok ke arah kepala lawan.
Munding Koneng kembali menangkis dengan sekuat tenaga.
Harapan satu-satunya hanyalah mengadu tenaga dengan harapan tangkisannya akan membuat golok di tangan dara itu patah atau terlepas dari pegangan karena dalam hal kecepatan dia kalah jauh sehingga dia terus terdesak.
"Singgg..... trakkkk !"
Dua batang golok bertemu dan saling melekat! Kesempatan yang hanya beberapa detik ini dipergunakan oleh Eulis untuk memukul dengan tangan kirinya.
"Syuuuttt..... plakk!"
Dada Munding Koneng terkena pukulan Margopati tangan kiri Eulis.
"Aduhhhh.....!"
Tubuh laki-laki itu terjengkang dan dia terbanting keras, tak dapat bangun lagi karena pukulan ampuh dan dahsyat itu telah merusak isi rongga dadanya.
Eulis menoleh, memandang ke arah Jatmika yang masih bertanding dengan seru dan berimbang melawan Tumenggung Jaluwisa.
Tanpa ragu-ragu lagi Eulis melompat dan langsung menyerang senopati Sumedang itu dengan goloknya.
"Wirrrr.....!"
Jaluwisa terkejut dan cepat melompat ke samping mengelak.
Akan tetapi Jatmika sudah menyerangnya dan Eulis juga sudah menerjang lagi.
Tumenggung Jaluwisa dikeroyok dua dan sekarang keadaan berubah.
Senopati Sumedang yang memberontak itu mulai kewalahan dan dia hanya dapat mengelak dan menangkis dihujani serangan golok dan keris.
Pertandingan berat sebelah ini tidak berlangsung lama.
Setelah bersusah payah mempertahankan diri, Jaluwisa menjadi nekad.
Dia ingin mengadu nyawa.
Biar dia roboh asal dapat merobohkan pula Jatmika.
Setelah didesak terus, akhirnya dia membalas, menyerang dahsyat sekali ke arah Jatmika, membacokkan goloknya ke arah leher pemuda itu dengan mengerahkan seluruh tenaganya.
Jatmika terkejut dan cepat menangkis dengan kerisnya.
"Trangggg.....!!"
Jatmika tergetar dan terhuyung, akan tetapi pada saat itu, sinar golok di tangan Eulis menyambar tepat mengenai lambung Jaluwisa yang tak terlindung.
"Cratttt.....!"
Darah muncrat dan Jaluwisa terhuyung, tangan kiri mendekap lambungnya yang terluka parah.
Jatmika menggunakan kesempatan itu untuk menerjang dan keris pusakanya menyambar dan menusuk ke arah leher senopati Sumedang itu.
Jaluwisa mengeluarkan teriakan lemah dan robohlah dia dalam gelimangan darahnya sendiri.
Jatmika dan Eulis kini memandang ke arah Aji yang masih bertanding seru melawan Aki Mahesa Sura.
Tanpa diperintah, seperti sudah bersepakat saja, sepasang orang muda ini sudah menerjang maju dan mengeroyok Aki Mahesa Sura.
Kakek itu terkejut sekali karena dapat merasakan bahwa tingkat kepandaian dua orang muda yang maju membantu Aji itupun memiliki tingkat kesaktian yang sudah kuat sekali sehingga dia terdesak hebat.
Tadi, ketika bertanding melawan Aji, kakek itu sudah merasa betapa sukarnya mengalahkan pemuda itu.
Aji yang diserang tongkat ular yang berubah menjadi sinar bergulung-gulung itu telah mencabut keris pusaka Kyai Nogowelang dan melakukan perlawanan mati-matian.
Pemuda inipun maklum betapa saktinya kakek yang dihadapinya.
Ketika Jatmika dan Sulastri atau Eulis datang membantunya, dia merasa girang dan dia mempercepat gerakan kerisnya untuk mendesak kakek yang sakti mandraguna itu, Ketika golok di tangan Eulis dan keris di tangan Jatmika kembali menyerang dari depan dalam saat yang berbareng, kakek itu mengerahkan tenaga pada tangan kanannya dan menggunakan tongkat ularnya untuk menangkis, sementara itu tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka menghantam ke arah Aji, didorongkan dan dari telapak hitam itu keluar asap hitam.
Melihat serangan ini, Aji cepat mendorongkan tangannya untuk menyambut sambil mengerahkan tenaga sakti dari Aji Suryo Candra.
"Trangg-trangg.....!"
Jatmika dan Eulis tergetar dan terhuyung oleh tangkisan tongkat Aki Mahesa Sura dan kakek itu hanya bergoyang tanda bahwa pertemuan senjata itupun menggoyahkannya.
Pada saat itu, dua tenaga sakti bertemu di udara, antara dorongan tangan kakek itu yang bertemu dengan dorongan tangan Aji.
"Wuuuttt..... desss.....!"
Sebetulnya kakek itu memiliki tenaga sakti yang kuat sekali.
akan tetapi pada saat itu, tenaganya terbagi.
Sebagian tadi untuk menangkis golok Eulis dan keris Jatmika, dan sebagian lagi untuk menyerang Aji.
Tangkisan terhadap dua senjata itu sudah membuat kakek itu tergetar dan sisa tenaganya yang dipakai untuk menyerang Aji yang menggunakan Aji Surya Chandra.
Aki Mahesa Sura terkejut dan dari mulutnya keluar keluhan panjang, tubuhnya terhuyung ke belakang seperti terbawa angin.
Melihat keadaan kakek ini, Jatmika dan Eulis tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.
Mereka berdua menerjang ke depan.
Keris pusaka Kyai Cubruk di tangan Jatmika dan golok di tangan Eulis berkelebat.
"Cratt-cratt!"
Kakek itu tidak sempat melindungi tubuhnya dengan aji kekebalan karena dia sudah terguncang oleh pertemuan tenaga saktinya dengan sambutan Aji tadi.
Perutnya terobek pedang dan ulu hatinya tertikam keris!
Dia roboh, akan tetapi dapat bangkit kembali dan dengan wajah menyeramkan, dia lalu mendorongkan kedua tangannya ke arah Jatmika dan Eulis.
Asap hitam mengepul dari kedua telapak tangannya dan asap itu menyambat ke arah Jatmika dan Eulis.
"Awas.....!"
Aji berseru khawatir, maklum betapa hebat serangan kakek yang sudah terluka parah itu.
Jatmika dan Eulis tak sempat mengelak lagi.
mereka berdua, seperti sudah bersepakat, menekuk lutut dan keduanya mendorongkan telapak tangan mereka ke depan, menyambut pukulan dahsyat kakek itu dan mengerahkan Aji Margopati.
"Wuuuttt..... bressss.....!!"
Tubuh Jatmika dan Eulis terpental dan terbanting roboh, dan tubuh kakek itupun terjengkang dan roboh tak bergerak lagi.
Aji terkejut dan cepat menghampiri Jatmika dan Eulis yang terbanting roboh.
Dua orang itu sudah bangkit duduk bersila dan mengatur pernapasan.
Aji merasa lega bahwa mereka berdua ternyata hanya terguncang saja dan tidak menderita luka berat.
Dia melihat bahwa kakek itu telah tewas pula seperti para muridnya, Juga dia melihat bahwa anak buah Tumenggung Jaluwisa telah tewas semua, menjadi korban amukan para perajurit pengawal.
Pertempuran benar-benar telah selesai dan biarpun di pihak pasukan pengawal banyak juga yang roboh dan tewas terkena tembakan, namun pihak para pemberontak itu telah terbasmi, tidak ada yang lolos.
Adipati Sumedang, Pangeran Mas Gede, menghampiri Aji.
Kini Jatmika dan Eulis juga sudah bangkit berdiri dan kesehatan mereka sudah pulih kembali.
"Aduh, anakmas Lindu Aji, kami merasa bersyukur dan berterima kasih sekali kepada andika. Kalau tidak ada andika yang memperingatkan kami dan tidak membantu merobohkan pengkhianat Jaluwisa dan para pembantunya, entah apa yang akan terjadi dengan kami."
Kata sang adipati dengan terharu.
"Sesungguhnya yang menyelamatkan paduka adalah Gusti Allah, sedangkan kami bertiga ini hanya melaksanakan tugas kami saja."
Kata Aji dengan rendah hati.
"Andika sungguh seorang muda yang bijak, anakmas Aji. Dan siapakah pemuda dan dara ini? Kami juga harus mengucapkan terima kasih kepada meraka."
Kata pangeran Mas Gede.
"Mereka ini adalah saudara-saudara seperguruan saya, bernama Jatmika dan Sulastri."
Aji memperkenalkan.
"Bukan, aku bukan Sulastri. Namaku Listyani dan biasa disebut Eulis!"
Kata Eulis sambil mengerutkan alisnya dan memandang heran kepada Aji. Pangeran Mas Gede tersenyum.
"Siapapun juga namamu, nini, andika tetap merupakan seorang dara yang telah menolong kami. Nah, sekarang kami mengundang andika bertiga ke Kadipaten Sumedang sebagai tiga orang tamu kehormatan kami. Kami ingin menjamu andika bertiga untuk menyatakan syukur dan terima kasih kami."
Aji terkejut dan heran bukan main ketika tadi mendengar bantahan Sulastri yang tidak mengakui namanya, bahkan mengatakan bahwa namanya Listyani atau Eulis.
Saking herannya dia hanya berdiri memandang gadis itu dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.
Ketika mendengar ucapan sang adipati yang mengundang mereka bertiga untuk ikut ke Kadipaten Sumedang, Aji cepat berkata dengan sikap hormat.
"Harap paduka maafkan bahwa kami terpaksa tidak dapat memenuhi undangan paduka karena kami masih mempunyai urusan penting sekali yang harus kami selesaikan. Biarlah lain kali kalau semua sudah beres, kami berkunjung ke Sumedang dan menghadap paduka."
Adipati Sumedang mengangguk-angguk.
"Baiklah dan selamat tinggal, Anak mas Lindu Aji. Kami hendak kembali secpatnya ke kadipaten."
Dia memerintahkan sebagian perajurit untuk mengurus semua mayat yang bergelimpangan dan mengurus teman-teman yang terluka, sedangkan sebagian lagi mendapat tugas untuk mengawalnya pulang ke kadipaten.
"Mari kita meninggalkan tempat ini aku mau bicara dengan andika berdua."
Kata Aji kepada Jatmika dan Sulastri.
Jatmika yang juga ingin sekali mengetahui siapa sebenarnya pemuda perkasa yang telah menolong dia dan Eulis itu mengangguk kepada Eulis yang tampak ragu.
Mereka lalu mengikuti Aji meninggalkan tempat bekas pertempuran dimana banyak perajurit pengawal sibuk mengurus para teman yang terluka dan jenazah-jenazah uang berserakan.
Setelah berada agak jauh dari tempat bekas pertempuran, Aji memberi isyarat kepada Jatmika dan Eulis untuk S berhenti.
Mereka duduk di atas batu dan Aji memandang dengan penuh selidik kepada Eulis yang sejak tadi diam saja.
"Nimas Sulastri, mengapa engkau tidak mengakui namamu sendiri dan berganti nama Listyani atau Eulis? mengapa, nimas."
Tanya Aji kepada Eulis yang tampak bingnung mendengar pertanyaan ini. Eulis menggeleng kepala dan mengerutkan alisnya sambil menatap wajah Aji dengan senar mata penuh keheranan.
"aku tidak mengenal andika dan namaku memang Listyani dan biasa disebut Eulis. Tanya saja kepada Kakangmas Jatmika ini. Bukankah begitu, kakangmas?"
Eulis menoleh kepada Jatmika. Aji memandang kepada Jatmika dan pemuda ini mengangguk, lalu berkata kepada Aji.
"Ki sanak, kami berdua mengucapkan banyak terima kasih atas bantuanmu sehingga menyelamatkan kami berdua dan juga sang adipati. Gadis ini memang bernama Listyani atau Eulis, kenapa andika menyebutnya Sulastri? Apakah andika mengenalnya?"
"Mengenalnya?"
Aji mengerutkan alisnya.
"Tentu saja aku mengenalnya dengan baik, bahkan aku juga mengenal namamu dengan baik, Kakang Jatmika. Andika putera Paman Sudrajat, bukan?"
Jatmika menatap tajam wajah Aji.
"Benar! Bagaimana andika tahu? Apakah andika mengenal ayahku?"
"Sebelum aku menjawab pertanyaan ini, aku ingin engkau lebih dulu menjelaskan. Kalau engkau memang Kakangmas Jatmika putera Paman Sudrajat, kenapa engkau tidak mengenal Nimas Sulastri dan menyebutnya Listyani ayau Eulis? Hal ini aneh sekali. Sebagai putera Paman Sudrajat berarti engkau adalah cucu Eyang Ki Ageng Pasisiran atau Eyang Ki Tejo Langit. mustahil kalau engkau tidak mengenal Nimas Sulastri karena ia adalah murid Eyang Ki Tejo Langit."
Jatmika terbelalak menatap wajah Aji, lalu menoleh dan memandang Sulastri.
"Duh Gusti.....! Jadi..... ia ini Sulastri murid eyang? Bapa pernah bercerita tentang ia..... dan memang kami belum pernah saling berjumpa.....!"
Jatmika lalu menghampiri Sulastri dan memegang kedua pundak gadis itu, mengguncangnya.
"Engkau Sulastri.....! Pantas aku mengenal ilmu-ilmu yang kau mainkan. Engkau Sulastri, bukan Listyani atau Eulis!"
"Kakangmas Jatmika, engkau ini bagaimana sih? Bukankah engkau sendiri yang mengatakan bahwa namaku Listyani dengan panggilan Eulis?"
"Ya, karena ketika kita saling bertemu aku tidak mengenalmu dan engkau kehilangan ingatanmu, tidak ingat siapa namamu dan tidak ingat apa yang telah terjadi. Karena itu aku memberimu nama Listyani atau Eulis."
"Ohhh.....!"
Sulastri duduk lagi di atas batu, memegangi kepalanya dengan kedua tangan.
"Kalau begitu..... siapakah aku ini..... ?"
"Engkau adalah Sulastri, puteri Paman Subali di Dermayu, nimas dan aku Lindu Aji, murid eyang Guru Tejo Budi. Engkau ingat, bukan?"
Sulastri menggeleng kepalanya kuat-kuat.
"Tidak, tidak....! Aku tidak ingat sama sekali tidak ingat.....!"
Lalu dia menundukkan mukanya dan memegangi kepala dengan kedua tangan lagi seolah hendak memaksa ingatannya yang hilang agar kembali.
Akan tetapi kini Jatmika memandang wajah Aji dengan mata terbelalak penuh kejutan.
"Andika murid..... Eyang Tejo Budi? Ahh, Adi Lindu Aji, bagaimana kabarnya dengan Eyang Tejo Budi? Di mana dia sekarang? Sudah bertahun-tahun aku merindukannya, ingin sekali menghadap dan sujud di depan kakinya!"
Aji merasa terharu sekali.
Dia maklum apa yang menjadi gejolak hati Jatmika.
Ki Tejo Budi adalah kakek kandung pemuda itu, karena Ki Sudrajat adalah putera kandung Ki Tejo Budi, hanya anak angkat Ki Tejo Langit.
Baca Juga: Mutiara Hitam 6
Baca Juga: Istana Pulau Es 21