Eps 1 Sejengkal Tanah Sepercik Darah - Kho Ping Hoo
Baca online Sejengkal Tanah Sepercik Darah - Kho Ping Hoo
Cersil Sejengkal Tanah Sepercik Darah - Kho Ping Hoo.
Sejengkal Tanah Sepercik Darah (Serial Sejengkal Tanah Sepercik Darah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 01 Malam Jumat Kliwon.
Langit hitam pekat bagaikan beludu hitam terhampar luas ditaburi ratna mutu manikam bintang-bintang gemerlapan di angkasa.
Tiada segumpalpun awan putih.
Jutaan bintang berkedip penuh rahasia, saling bercengkerama membicarakan rahasia alam dalam bahasa yang bisu.
Cahaya dingin redup jutaan bintang menciptakan bayang-bayang raksasa beraneka bentuk dari pohon-pohon.
Dalam kediamannya, antara cahaya redup dan bayangan, pohon-pohon itu lebih hidup dari pada di kala siang, kehidupan penuh rahasia.
Angin semilir berbisik-bisik.
Para penghuni pohon besar agaknya merundingkan sesuatu, merasakan datangnya sesuatu yang hebat, malapetaka yang hanya mampu dilakukan oleh makhluk yang disebut manusia.
Bahkan para makhluk halus gemetar dibuatnya, melihat apa yang akan terjadi sebagai akibat ulah manusia, mahluk yang mereka takuti.
Rumah bilik bambu sederhana itu berdiri agak terpencil, di ujung dusun yang sudah tidur lelap itu.
Lebih tepat dinamakan padepokan, tempat tinggal seorang petani setengah pertapa yang suka hidup menyendiri dan menyepi.
Rumah itu nampak sunyi dan gelap, seolah-olah tiada penghuninya.
Akan tetapi, di ruangan belakang, yang dijadikan pula sebagai sanggar pamujan atau tempat bersamadhi, duduklah seorang laki-laki bagaikan arca batu.
Kedua kakinya bersila dengan sikap bunga padma, kedua kaki saling tertumpang di paha, kedua lengan bersilang merangkul pundak, tubuhnya yang tegap kokoh itu tegak Jurus, kedua mata terpejam.
Dari pernapasannya dapat diketahui bahwa dia tidak sedang bersamadhi, akan tetapi seluruh perhatiannya bersatu penuh kewaspadaan karena pria inipun dapat merasakan sesuatu yang akan terjadi, yang agaknya makin dekat menghampirinya dengan ancaman yang mengerikan.
Sejenak jantungnya berdebar dan rasa gelisah mengguncang batinnya ketika pikirannya membayangkan kemungkinan datangnya marabahaya.
Rasa takut tercipta oleb pikiran sendiri.
Pikiran membayangkan sesuatu yang tidak ada, yang mungkin terjadi, yang menceiakakan, dan muncullah rasa takut.
"Hong Wilaheng, Nir Baya Sedya Rahayu......."
Bibirnya berkomat kamit dan suaranya Sendiri ini mengusir bayangan pikiran.
Maka tenang kembalilah hatinya, heninglah batinnya dan kewaspadaanyapun kembali.
Dia siap menghadapi apapun juga karena dia yakin bahwa sepandai-pandainya manusia, siapapun dia, pada akhirnya akan menyerah kepada nasib, kepada keputusan dari kekuasaan yang paling tinggi, yang tak terukur oleh akal budi dan kemampuan manusia.
Hidup dan mati hanyalah terlaksananva garis yang telah ditentukan sebelumnya.
Dia hanya harus berikhtiar, itulah wajib.
Senyum ketenangan menghias wajah yang sudah tidak muda lagi itu.
Ruangan sanggar pamujan itu terbuka dan sinar angkasa berbintang menerangi wajahnya, keharuman malam menembus hidungnya dan tembang malam kutu-kutu dan belalang memasuki telinganya.
Ki Baka memang tidak muda lagi.
Usianya sudah enampuluh tahunan walaupun tubuhnya masih tegap dan kokoh kuat, tubuh seorang petani yang setiap hari menggeluti tanah dengan kerja keras.
Diapun bukan petani biasa, bukan pula pertapa biasa.
Ketika mudanya, dia seorang yang perkasa, tangkas dan sakti mandraguna.
Pernah nama Baka malang melintang di lembah Sungai Brantas, disegani dan dihormati, bukan sebagai seorang penjahat, melainkan sebagai seorang gagah perkasa yang selalu menentang pelaku-pelaku kejahatan tanpa pandang bulu.
Akan tetapi, semua itu telah ditinggalkannya.
Bahkan Ki Baka lalu lenyap dari dunia ramai, menyembunyikan diri.
Dia malu.
Kakaknya, yang juga terkenal sebagai seorang yang sakti mandraguna, yang bernama Ki Baya, telah memberontak terhadap Kerajaan Singasari.
Merampok, membunuh rakyat, menentang kerajaan, sampai akhirnya kakaknya itu ditumpas dan terbunuh.
Dia malu, dan diapun menghilang, menjadi petani setengah pertapa di dusun kecil itu, dusun Kelinting yang sepi, jauh dari keramaian kota dan kerajaan, bahkan jauh pula dari pamong praja yang paling kecil pangkatnya sekalipun.
Akan tetapi malam ini, malam Jumat Kliwon yang lain dari pada biasanya.
Ki Baka masih bersila dengan hening, seluruh panca indranya bersatu dan tepat pada saat tengah malam, tiba-tiba segalanya itu terhenti, seolah-olah dunia ini berhenti berputar pada detik tengah malam itu, seperti yang hafal olehnya.
"Rep sidhem premanem tan ana sabawaning walang alisik, gegodhongan tan ana obah, samirana datan surailir......." (Sunyi senyap hening tiada suara belalang berbisik, tiada daun bergerak, anginpun tiada sumilir......) Detik itu, detik tengah malam yang sejak tadi ditunggunya, karena dia tahu bahwa setiap tengah malam ada tiba detik seperti ini, di mana segala sesuatu berhenti sesaat, dan Ki Baka memusatkan seluruh keadaan dirinya lahir batin kepada Hyang Wisesa.
"Duh Gusti, hamba menyerahkan segala yang ada ini kepada paduka, dengan rela, dengan pasrah......."
"Kulik........! Kulik........! Kulik.......!"
Burung malam itu terbang lewat, jeritannya memecah keheningan sedetik saja.
Cuping hidung Ki Baka kembang kempis ketika dia mencium bau keharuman yang tidak wajar, bau sari cendana, bukan bau pohon, rumput dan tanah.
Dan diapun sudah siap siaga kembali.
Setelah keadaan di luar dirinya itu menyeretnya ke dalam kesadaran, diapun mengenangkan segala yang terjadi.
Sebagai seorang bekas pendekar yang banyak tahu akan dunianya kaum gentho, rampok, maling, kecu, bajak dan gerombolan-gerombolan pengumbar angkara murka, budak-budak nafsu, loba, tamak dan kesenangan, pengejar-pengejar kekuasan duniawi tanpa memperdulikan cara demi tercapainya kepuasan nafsu, dia tahu bahwa kini terjadi geger di dunia yang hitam itu.
Baru saja kakaknya, Ki Baya, mengumpulkan para gerombolan jahat itu untuk diajak bersekutu, dihasutnya untuk menentang pemerintah Kerajaan Singasari.
Gerakan kakaknya itu gagal, dapat dihancurkan, Ki Baya tewas dan sekutunya lari cerai berai, banyak pula yang tewas.
Kemudian aman untuk sementara.
Kemudian Kerajaan Singasari mengerahkan semua kekuatan pasukannya, dikirimnya pasukan yang besar itu ke negeri Melayu, dengan harapan negeri itu akan menerima kedaulatan dan kekuasaan Singasari dengan damai dan suka rela, tanpa perang karena memang kekuasaan dan pengaruh Singasari sudah terkenal sampai ke negeri itu.
Peristiwa pengiriman pasukan besar inlah yang menggegerkan dunia hitam.
Pasukan besar berikut para senopati yang gagah perkasa, meninggalkan kerajaan Kalau kucing-kucing berada di rumah, tentu tikus-tikus tidak berani berkeliaran.
Akan tetapi kini kucing-kucing itu pergi, rumah kosong tanpa penjaga yang tangguh, dan tikus tikuspun mulai bergerak.
Ki Baka tahu benar akan hal ini.
Dan diapun tahu bahwa begitu hamba-hamba nafsu yang selalu mempergunakan hukum rimba itu berani bergerak bebas, tentu dirinya menjadi sasaran pertama, karena dia tidak sudi membantu mendiang Ki Baya sehingga dia dianggap sebagai seorang pengkhianat, dan kedua, apa lagi kalau bukan karena tombak Tejanirmala.
Tombak pusaka itu dikenal dengan sebutan Ki Ageng Tejanirmala, sebilah tombak penolak bala, tombak yang dikeramatkan, memiliki petuah pelindung diri dan bahkan keluarga, juga negara.
Menurut cerita orang dari mulut ke mulut, Ki Ageng Tejanirmala pernah menjadi pusaka Sang Prabu Sanjaya dari Kerajaan Mataram, limaratus tahun yang lalu.
Menurut kata orang, Ki Baka sendiri belum pernah membuktikannya, demikian ampuhnya Ki Ageng Tejanirmala sehingga dengan mengacungkannya, air banjir yang merusak dusun dapat dibelokkan, bahkan kebakaran besar dapat dipadamkan.
Semua niat buruk dalam hati musuh dapat ditundukkan dan dipatahkan, demikian ampuhnya tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala.
Ki Baka tahu bahwa akhirnya mereka akan berdatangan, manusia-manusia berwatak iblis itu.
Dan sekaranglah saat terbaik bagi mereka untuk muncul di dunia ramai, selagi kerajaan lemah ditinggalkan pasukan dan para senopati perkasa ke tanah Melayu.
Karena sudah dapat diduganya sebelumnya, dia sudah siap siaga.
Sebulan yang lalu puteranya, Nurseta, telah disuruhnya pergi dari situ Disuruhnya pergi bertapa ke Gua Kantong-bolong di tebing pantai laut selatan yang curam itu.
Sebuah Gua yang menurut dongeng pernah menjadi tempat pertapaan Ki Petruk, ponakawan yang amat terkenal dari keluarga Pandawa.
Karena itu diberi nama Gua Kantong-bolong karena Kantong Bolong adalah satu diantara nama poyokan Ki Petruk.
Tiba-tiba terdengar bunyi suling ditiup orang.
Ki Baka tetap tidak bergerak, akan tetapi telinganya mendengarkan penuh perhatian.
Dia mengenal suara suling itu.
Nadanya Slendro, cengkok Banyuwangen.
Siapa lagi kalau bukan Ki Sardulo?
Akan tetapi dia diam saja, menanti sampai peniup suling itu menyelesaikan lagunya.
Sebuah lagu tantangan.
Jelas.
Namun tak ditanggapinya.
Dia takkan mendahului.
Biarlah mereka itu membuat gerakan pertama, membuat gebrakan pendahuluan, baru dia akan memperlihatkan siapa sebenarnya Ki Baka.
Bukan orang yang mudah digertak begitu saja.
Seorang jantan tulen.
Tak pernah merasa takut karena bersenjatakan kebenaran yang diyakininya.
Belum habis suara suling itu ditiup orang, lapat-lapat terdengar suara orang bertembang.
Suaranya merdu dan jelas, tembangnya Pangkur dan isi lagunya juga tantangan.
Diapun segera mengenal siapa panembing itu.
Siapa lagi kalau bukan Gagak Wulung, si mata keranjang itu.
Kemudian terdengar suara tembang lain.
Kidung yang ditembangkan ini agak asing, dengan suara meliuk-liuk memelas, akan tetapi segera dia mengenalnya sebagai tembang dari tanah Pasundan.
Suara itu merdu bukan main, suara seorang wanita, demikian lembutnya, demikian menyentuh sehingga Ki Baka merasa betapa suara itu menyusup ke dalam kalbunya.
Cepat dia menarik napas panjang dan mengerahkan tenaga sakti untuk melawan pengaruh kidung yang demikian kuat itu.
"Hemm, Dedeh Sawitri juga datang"
Pikirnya kaget juga.
Tak disangkanya tokoh wanita dari Pasundan itu datang pula bersama yang lain.
Akan ramai sekali ini, pikirnya gembira.
Sedikitpun tidak ada rasa takut dan waswas Seorang satria harus berani menghadapi apapun dan siapapun.
Kebenaran merupakan senjata pamungkas yang amat ampuh.
Badan boleh hancur, nyawa boleh melayang, namun kebenaran akan tetap menghidupkan semangat juangnya.
Kurang lebih setengah jam lewat tengah malam.
Bintang-bintang di langit semakin cemerlang cahayanya, redup dingin kehijauan sinamya menerangi sanggar pamujan yang terbuka itu.
Ki Baka maklum akan kehadiran bebarapa orang mengepung sanggar pamujan, makin lama mereka semakin mendekat dan kini sudah terasa olehnya kehadiran mereka di sekelilingnya.
Sedikitnya tentu ada lima orang yang berada dekat di sekelilingnya, tidak ada jarak tiga tombak, dan dia dapat menduga bahwa banyak lagi yang mengepung tempat itu dari jarak aman, agak jauh.
Lapat-lapat terdengar suara berisik mereka, seperti sarang lebah diganggu, diseling suara dehem menggerutu.
"Hemmm...........sssssshhhh........ kakang Baka, benarkah engkau telah menjadi orang yang demikian angkuhnya sehingga tidak lagi mau menyambut datangnya tamu?"
Tiba-tiba terdengar suara orang, suaranya serak dan diseling suara mendesis seperti ular atau seperti orang sakit gigi.
Ki Buka membuka matanya, tersenyum.
Wajahnya cerah ketika sinar sejuta bintang menimpa wajahnya yang agak ditengadahkan.
Seraut wajah yang ganteng dan gagah.
Seperti itulah agaknya wajah Sang Gatutkaca kalau sudah berusia enampuluh tahun.
Kumisnya masih tebal dan melintang garang walaupun sudah bercampur uban, matanya ketika terbuka nampak lebar dan mencorong, menyambar-nyambar ke kanan kiri dengan tenang-namun dengan kekuatan seperti kilat menghunjam.
Ketika tersenyum, otot di dagu dan lehernya mengejang, memberi gambaran kejantanan yang perkasa.
"Adi Sardulo, aku tidak tahu bagaimana caranya menyambut tamu tak diundang yang datang pada tengah malam buta. Keangkuhan hanyalah kedok yang suka dipakai orang bodoh yang merasa pintar untuk menyembunyikan kebodohannya. Aku seorang bodoh yang lugu, tahu benar akan kebodohanku, maka aku tidak membutuhkan keangkuhan. Andika datang tanpa diundang, nah, masuk sajalah, adi Sardilo"
Tiba-tiba ada bayangan berkelebat menyambar memasuki sanggar pemujan, bagaikan seekor burung garuda terbang masuk dan tahu-tahu, seorang laki-laki telah berdiri di atas sebongkah batu yang berada dua tombak d depan Ki Baka.
Laki-laki itu berusia kurang lebih limapuluh tahun, bertubuh tinggi kurus dengan wajah yang kurus seperti tengkorak terbungkus kulit, mukanya licin tanpa kumis dan jenggot, matanya sipit terpejam, dan pakaiannya serba hitam, dengan ikat pinggang berwarna putih dari sutera panjang seperti selendang.
Tangan kirinya memegang sebatang suling bambu hitam pula.
Begitu kedua kakinya hinggap di atas batu, laki-laki ini mengeluarkan suara mendesis yang menggetarkan jantung, mendekati lengking, dan sebongkah batu yang diinjaknya itu amblas ke dalam tanah lantai sanggar pamujan itu.
Ki Baka masih tetap tersenyum, dia diam, dia maklum bahwa adik seperguruan mendiang Ki Baya kakaknya itu ternyata telah memperoleh kemajuan pesat dalam ilmu tenaga dalam.
Itulah ilmu memberatkan tubuh yang dipamerkan sehingga batu itu tidak kuat menahan beban badannya sehingga amblas.
Jelaslah sudah, orang yang datang-datang memamerkan kekuatannya, sudah tentu berrmaksud menggertak untuk memaksakan kehendaknya melalui kekerasan.
"Adi Sardulo, kalau kunjunganmu ini hanya untuk pamer kekuatan, sungguh tidak lucu. Lihat, jutaan bintang di angkasa menyaksikan perbuatanmu, apakah engkau tidak malu. Apa artinya kekuatanmu itu dibanding denan kesaktian bintang-bintang itu?"
"Kakang Baka, aku datang dengan niat baik. Kalau tidak, apa kaukira kau masih bisa hidup sekarang? Tentu sudah kuserang sejak tadi dengan sulingku"
"Hemm, mati hidupku di dalam tangan Hyang Widhi, Sardulo. Nah, katakan, apa keperluanmu datang berkunjung di tengah malam buta begini?"
Ki Sardulo memandang ke sekelilingnya dan kembali dia mendesis.
"Ssssssh! Hemm, banyak orang mendengarkan kita, kakang Baka. Akan tetapi biarlah, kukira kedatangan mekapun mempunyai niat yang tidak jauh bedanya. Aku datang untuk mengingatkanmu akan kematian kakang Bayaraja"
"Hemm, adi Sardulo Kakang Baya telah lama meninggal dunia, apa lagi yang harus diingat?"
"Sssshhh! Dengar suara khianat!"
Ki Sardulo meludah ke kiri dan air ludahnya mengeluarkan bunyi keras ketika mengenai tanah.
"Kakang Baka, saudara kita itu mati terbunuh. Sekaranglah tiba saatnya kita membalas dendam atas kematiannya"
"Jagad Dewa Bathara........!"
Ki Baka berseru lirih.
"Lalu kepada siapa kita harus lembalas dendam atas kematian kakang Baya, adi Sardulo?"
"Sssssshh! Kakang Baka tidak perlu berpura-pura. Kepada siapa lagi kalau tidak kepada Kerajaan Singasari? Kerajaan Singasari yang menumpas kakang Baya, dan terutama sekali kepada Raden Wijaya karena dialah ang memimpin pasukan yang telah menewaskan kakang Baya!"
"Engkau keliru, adi Sardulo. Tidak ada manusia mampu membunuh manusia lain, Pembunuh tunggal hanyalah Sang Hyang Pamungkas, tangan manusia hanya menjadi alasan belaka. Hidup mati berada di tangan Hyai Widhi. Kalau Sang Hyang Pamungkas sudah menghendaki, siapapun akan mati, dengal cara apapun. Kalau engkau hendak membalas dendam, sepatutnya engkau membalas kepada Hyang Pamungkas!"
"Engkau gila, kakang Baka, bagaimana mungkin aku membalas kepada Sang Pemberi Hidup dan Sang Pencabut Nyawa?"
"Nah, kalau tidak mungkin, buanglah dendammu jauh-jauh. Mendiang kakang Baya meninggal dunia karena akibat ulahnya sendiri. Dia merampok, membanuh, memberontak, melanggar semua hukum para dewata dan hukum para manusia. Apa pula yang perlu disesalkan kecuali bahwa dia mati dalam keadaan menyimpang dari kebenaran? Mati hidup bukan urusan manusia, akan tetapi kelakuan benar atau jahat sepenuhuya berada di tangai kita sendiri"
"Kakang Baka! Sejak dahulu engkau memang pengkhianat! Tidak membela kakak sendiri, bahkan melarikan diri dan menyembunyikan diri. Dan kinipun mengelak dari tanggung jawab membalas dendam, Laki-lak macam apakah engkau ini?"
Tiba tiba Ki Baka bangkit berdiri.
Tubuhnya yang tinggi besar itu nampak kokoh kuat dan penuh wibawa.
Dadanya yang tak tertutup pakaian itu bidang dan kokoh seperti batu karang yang tidak akan gentar menghadapi hantaman setiap gelombang yang datang menerpa.
Sepasang matanya yang lebar itu mencorong penuh semangat hidup.
"Ki Sardulo! Namaku Baka dan aku seorang laki-laki sejati. Seorang laki-laki haruslah mempunyai pendirian dalam hidupnya, haruslah mampu menemukan kebenaran di dalam pandangannya dan setia terhadap kebenaran itu. Tanpa kesetiaan terhadap kebenaran yang didambakannya, dia tidak patut dinamakan laki-laki. Aku adalah seorang kawula Singasari dan sebagai seorang kawula, aku harus setia kepada negara dan bangsa Sejengkal tanah hanyalah tanah, namun di situlah kita berpijak, kita hidup dan kita mati. Sepercik darah hanyalah darah, namun dengan itulah kita hidup, kita memiliki kehormatan. Kalau para pimpinan di negaraku kuanggap tidak benar, sebagai kawula maka kewajibanku adalah umuk menyadarkan dan mengingatkan, demi negara, demi bangsa! Kalau para pemimpin di negaraku kuanggap benar, sebagai kawula maka kewajibanku adalah untuk mendukung dan membela. Kedua hal ini akan kulakukan demi negara dan bangsa, kalau perlu kupertaruhkan dengan selembar nyawaku. biarpun kakang Baya itu kakangku sendiri, akan tetapi dia membahayakan kewibawaan negara, membahayakan keamanan bangsa.Tentu saja aku tidak sudi membantunya, bahkan aku bersukur bahwa akhirnya dia dapat dibinasakan. Nah, aku sudah bicara, tidak ada apa-apa lagi yang perlu diperbincangkan"
Setelah berkata demikian, Ki Baka duduk bersila kembali di atas batu tempat dia bersamadhi.
Hening sejenak setelah suara Ki Baka yang lantang tadi terdengar.
Kata demi kata bukan hanya menghunjam ke dalam batin Ki Sardulo, akan tetapi agaknya juga dirasakan benar oleh setiap orang yang mendengarkan pada waktu itu.
Tiba-tiba Ki Sardulo mengeluarkan suara mendesis hebat, air ludahnya sampai memercik-mercik keluar, matanya yang sipit agak melebar dan kelihatan merah, Dia sudah marah sekali!
Kemudian dia mengeluarkan suara mendesis yang dilanjutkan gerengan seperti seekor binatang buas dan tubuh yang jangkung itu telah menerjang ke arah Ki Baka dengan dahsyatnya.
Sukar mengikuti gerakan tubuhnya yang secepat itu, seperti kilat menyambar, didahului suling bambu hitamnya yang menghantam kearah dada Ki Baka.
Suling itu berubah menjadi sinar hitam bergulung-gulung, dan serangan itu didahului oleh sambaran angin yang berputar seperti angin lesus.
Ki Baka mengenal baik Ki Sardulo yang memiliki Aji Gereng Sardulo (Auman Harimau) dan juga Aji Suling Lesus.
Diapun tahu bahwa Ki Sardulo juga mengenal dirinya, maka sekali serang, tentu Ki Sardulo tidak main-main dan berusaha untuk mencapai kemenangan sekali pukul.
Dalam serangan ini, tentu Ki Sardulo mengeluarkan ajinya yang paling ampuh dan tenaganya yang paling kuat.
Diapun sudah siap dan melihat hantaman suling dengan Aji Suling Lesus, dibarengi gerengan seperti harimau mengamuk, dia tidak mau sembarangan menangkis.
Dengan tubuh masih duduk bersila, tiba-tiba tubuhnya itu melayang meninggalkan batu di mana dia duduk bersila.
Memindahkan tubuh dalam keadaan masih duduk bersila ini bukanlah ilmu sembarangan saja.
Hanya orang yang sudah memiliki kesaktian tinggi saja mampu melakukannya, apa lagi gerakan itu dilakukan tiba-tiba untuk menghindarkan serangan maut yang demikian dahsyatnya.
"Darrrr........!"
Terdengar suara keras dan nampak debu mengepul memenuhi ruangan anggar pamujan itu, batu-batu kecil beterbangan ke sana-sini dan ternyata batu besar yang tadi diduduki Ki Baka kini telah hancur berkeping-keping, tidak kuat menerima hantaman Ki Sardulo dalam serangan maut yang dahsyat tadi.
Bahkan dinding bambu di belakang batu itupun ikut pula roboh, membawa sebagian genteng, menimbulkan suara berisik.
"Ki Sardulo, membangun adalah pekerjaan manusia bijaksana, sebaliknya merusak hanyalah permainan kanak-kanak bodoh dan manusia-manusia picik yang bejat akhlaknya. Engkau datang datang hanya menimbulkan pengrusakan, sungguh menjijikkan"
Kata Ki Baka yang kini sudah berdiri dengan sikap tenang dengan kedua lengan bersedakap dan sinar mata penuh teguran memandang wajah kurus seperti tengkorak hidup itu.
Ki Sardulo merasa malu, juga penasaran sekali.
Serangannya tadi hebat bukan main, sudah diperhitungkannya baik-baik dan dia hampir yakin bahwa sekali serang, Ki Baka tentu akan roboh tewas, setidaknya terluka parah.
Akan tetapi apa hasilnya?
Dia hanya menghancurkan batu dan merobohkan dinding bambu.
"Babo-babo, keparat! Jangan engkau mengelak, Baka. Belum lecet kulitmu, belum retak tulangmu, belum menetes darah dan engkau sudah lari dari seranganku, Baka pengecut, hadapilah seranganku kalau engkau Seorang jantan sejati"
Muka yang gagah itu menjadi agak kemrahan.
Ucapan itu memanaskan telinga dan hati "Ki Sardulo namamu, seperti harimau pula lakumu.
Sombong, tinggi hati dan memadang remeh orang lain.
Majulah, Sardulo, dan kerahkan semua aji kedigdayaanmu"
Katanya, suaranya masih tenang, setenang hatinya yang tidak mudah terguncang walau dia mulai panas.
Ki Sardulo yang sudah penasaran dan marah sekali, kini memutar-mutar suling hitamnya di atas kepala dan terdengarlah suara mengaung-ngaung, seolah-olah suling itu ditiup dan dimainkan orang.
Suara itu makin lama makin tinggi melengking ketika putaran itu makin cepat dan lenyaplah bentuk sulingnya, berubah menjadi sinar hitam yang melengking-lengking.
Itulah puncak dari Aji Suling Lesus.
Kini Ki Sardulo tidak mau bergerak kepalang tanggung, dia mulai maju dengan langkah-langkah teratur, bermain silat dengan berjingkat, gerakannya aneh dan berputar-putar, seolah-olah tubuhnya dituntun oleh gerakan suling yang menjadi gulungan sinar hitam, menghampiri Ki Baka yang sudah siap.
Ki Baka juga maklum akan kehehatan lawan, maka diapun menurunkan kedua lengan yang tadi bersedakap, Ialu kedua kakinya terpentang lebar berdiri kokoh kuat bagaikan sel batang pohon karena dia memang sedang mengerahkan ajinya yang disebut Aji Wandiro Kingkin (Beringin Kokoh).
Dengan aji ini kedua kakinya seperti menghisap tenaga dari bumi, seolah-olah akar-akar pohon beringin yang menyedot kekuatan dari bumi dan mengalirlah Aji Sari Patolo (Sari Bumi) ke dalam tubuhnya.
Kekuatan yang memenuhi tubuhnya pada saat itu sukar dibayangkan kehebatannya dan pada saat Ki Sardulo menyerangnva sambil mengeluarkan desis yang dilanjutkan gerengan seperti harimau, Ki Baka lalu menggerakkan kedua tangannya, menyamhut dengan doroncan kedua telapak tangan dengan Aji Bajra denta (Kilat Putih).
"Desss.......!!!"
Ki Sardulo yang bertubuh yang tinggi kurus seperti disambar petir, terdorong ke belakang dan berputaran, terhuyung, kemudian terpelanting dan bergulingan seperti sehelai daun kering tertiup angin.
Ketika tubuhnya tiba di luar sanggar pamujan dan dia berhasil bangkit duduk, nampak dia muntah dan darah segar keluar dari mulutnya.
Kakek tinggi kurus ini cepat duduk bersila dan mengatur pernapasannya yang terengah-engah, untuk menyelamatkan nyawanya karena dia telah terluka sebelah dalam tubuhnya oleh guncangan hebat dan oleh tenaganya sendiri yang membalik.
Masih untung baginya bahwa Ki Baka tadi bergerak hanya untuk menangkis dan menolak tenaga serangannya, bukan untuk menyerangnya.
Kalau Ki Baka tadi berniat menyerangnya, tentu tidak akan seringan itu akibatnya, dan mungkin saja dia tidak akan mampu bangkit lagi.
Kini muncullah seorang laki-laki yang tampan.
Usianya kurang lebih empat puluh lima tahun, tubuhnya sedang dan tegap, pakaiannya seperti priyayi saja, pesolek dan tampan, wajahnya tersenyum-senyum ketika dia melangkah masuk ke dalam sanggar pamujan dan berrhadapan dengan Ki Baka yang masih berdiri di situ dan kini sudah bersedakap lagi.
"Sampurasun, Ki Baka yang gagah perkasa"
Kata laki-laki itu, orang yang tadi bertembang Pangkur dengan nada penuh tantangan.
"Dhirgahayu kepadamu, Gagak Wulung"
Jawab Ki Baka dengan sikap manis dan hormat.
"Angin baik apakah yang meniupkan andika sampai ke tempat ini di malam yang muIia ini? Apakah ingin menikmati keindahan dan kesucian malam Jumat Kliwon bersamaku, mencoba untuk menghitung jumlahnya bintang di langit?"
Laki-laki tampan yang bernama Gagak Wulung itu tertawa bergelak, suara ketawanya genit dan dibuat-buat agar terdengar gagah dan menarik.
Memang Gagak Wulung ini terkenal sekali, selain terkenal sebagai seorang jagoan di Kediri yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, digdaya dan sakti mandraguna, juga dia terkenal sebagai seorang pria mata keranjang, seorang perayu wanita yang tidak ketulungan lagi.
Istilahnya tuk-mis (batuk klimis), yaitu tidak tahan kalau melihat wanita yang batuknya kelimis (dahinya halus) dala arti cantik manis.
Siapapun wanita itu, perawan atau janda, tunangan atau isteri orang pasti akan digodanya dengan rayuan mautnya.
Entah berapa banyak sudah wanita yang jatuh ke dalam pelukannya, melalui bujuk rayu atau kalau perlu melalui kekerasan.
Dan memang dia seorang pria yang tampan dan gagah, pandai pula merayu sehingga sukar bagi wani untuk menolaknya.
"Ha ha ha-ha! Ki Baka yang bijaksana. Aku belumlah sepandai andika yang suda mampu menghitung jumlahnya bintang di langit. Kemampuanku barulah menghitung jumlah perempuan jelita yang pernah duduk diatas pangkuanku, ha-ha-ha! Kedatanganku selain membawa salam hangat dari para rekan di Kediri, juga menyampaikan undangan mereka kepadamu, Ki Baka. Kami amat mengharapkan bantuanmu dan kerja sama untuk menegakkan kebenaran dan keadilan"
Ki Baka memandang dengan mata terbelalak.
Heran dia mendengar seorang seperti Gagak Wulung ini menyebut-nyebut tentang kebenaran dan keadilan.
Pada hal dia tahu benar, siapa Gagak Wulung ini.
Seorang hamba nafsu berahi yang juga malang melintang mengandalkan kepandaiannya, menegakkan hukum rimba yang sama sekali tidak mengenal kaidah kebenaran dan keadilan.
Apa maksudnya kini, di malam Jumat yang keramat, secara tiba-tiba bicara tentang penegakan kebenaran dan keadilan?
"Maaf kalau aku belum tanggap akan maksud hatimu, ki sanak,"
Kata Ki Baka halus.
"Akan tetapi, kebenaran dan keadilan macam apakah yang kau maksudkan itu? Kalau memang kebenaran dan keadilan yang kaubawa dan tawarkan kepadaku, sudah tentu Ki Baka siap mempertaruhkan nyawanya untuk menegakkannya"
"Ha-ha-ha, bagus, bagus! Memang siapapun tahu bahwa Ki Baka adalah seorang satria sejati, seorang pendekar perkasa, seorang gagah yang patut dihormati. Ki Baka, tentu engkau tahu bahwa dahulu Kerajaan Dhaha adalah kerajaan yang besar dan siapakah yang tidak tahu akan Sang Prabu Dandang Gendis? Siapa tidak mengenal nama besar Sang Prabu Kertajaya? Sayang bahwa ketika itu orang-orang seperti kita belum terlahir sehingga ada saja orang hina dari dusun, seorang maling biasa yang bernama Ken Arok sempat bangkit dan mengumpulkan kekuatan menghancurkan Kediri yang jaya. Akibatnya, sampai kini Kediri menjadi taklukan Singasari. Tidakkah merupakan suatu penegakan kebenaran dan keadilan kalau kini orang-orang gagah berusaha untuk membangkitkan kembali kejayaan Kediri? Nah, andika diundang untuk itu, Ki Baka. Marilah ikut bersamaku untuk menemui para satria dan pendekar, untuk membicarakan usaha penegakan kebenaran dan keadilan itu!"
Ki Baka mengerutkan alisnya.
"Hemm, omongan apakah yang kau keluarkan itu, Gagak Wulung? Apakah engkau hendak membujuk aku untuk mengotorkan tanganku dengan permainan pemberontak? Apakah engkau, dengan kata-katamu yang halus, dengan lidahmu yang tajam, hendak membujuk agar aku membalikkan punggungku terhadap Sang Prabu Kertanegara, keturunan dari dua orang pangeran, yaitu Sang Pangeran Rangga Wuni dan Sang Pangeran Mahesa Cempaka, kepada siapa di waktu muda aku telah menjadi pengawal dan senopati mereka? Ketahuilah, Gagak Wulung. Orang harus tegak di atas bumi di mana kedua kakinya berpijak. Kalau engkau sebagai orang K.ediri, hal itu adalah hakmu, bahkan mungkin kewajibanmu. Akan tetapi aku orang Singasari dan aku akan membela Singasari. Aku bukan bangsawan, bukan darah keraton dan keluarga raja, oleh karena itu, urusan kerajaan bukanlah urusanku. Aku hanyalah kawula yang harus setia kepada penguasanya, selama penguasa itu benar dan menurut aku, Sang Prabu Kertanagara adalah seorang penguasa yang bijaksana dan patut dibela kawulanya. Nah, simpan bujuk rayumu untuk orang-orang Kediri. Juga ingatlah, bukankah sikap Sang Prabu Kertanagara amat baik dan bijaksana terhadap Kediri? Biarpun Kediri sudah ditaklukkan, bukankah keluarga rajamu masih diberi hak hidup dan kedaulatan? Bahkan diajak berbesan? Nah, sudah cukuplah aku bicara, jangan engkau mengeluarkan kata-kata beracun yang amat berbahaya. Persatuan adalah usaha pembangunan yang bijaksana, akan tetapi perpecahan adalah usaha pengrusakan yang picik dan bahkan jahat!"
Muka Gagak Wulung menjadi merah.
Semua jawaban itu sudah merupakan pukulan kata-kata yang melumpuhkannya.
Akan tetapi tentu saja dia merasa malu untuk mundur begitu saja sebelum berusaha sekuatnya.
Kembali dia tertawa dan suara ketawanya semakin nyaring, untuk menutupi rasa malunya.
"Ha-ha ha-ha, engkau memang seorang yang terkenal keras hati dan keras kepala, Ki Baka. Tidak mengherankan kalau kerabatmu sendiri memusuhimu dan engkau dianggap sebagai pengkhianat. Akan tetapi sudahlah, kedalanganku bukan untuk membujukmu menjadi sekutu dan sahabat kami, melainkan untuk menyerahkan Ki Ageng Tejanirmala kepadaku. Serahkan Tejanirmala kepadaku dan aku akan pergi sebagai seorang tamu yang baik dan berterima kasih, Ki Baka"
"Hemm, nampaklah belangnva kini. Memang sebaiknya jujur saja, Gagak Wulung. Engkau datang hendak merampok Ki Ageng Tejanirmala, begitu saja, tidak perlu memakai kata-kata yang berliku-liku. Akan tetapi, pusaka itu sama sekali tidak cocok untuk golonganmu, Gagak Wulung. Untuk apa engkau minta Ki Ageng Tejanirmala? Pusaka itu adalah penolak bala, sedangkan golonganmu adalah justeru pengundang malapetaka. Kebalikannya, Gagak Wulung. Tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala sama sekali tidak akan berjodoh dengan golonganmu"
"Cukup semua alasan itu. Serahkan tombak pusaka Tejanirmala atau terpaksa aku akan mempergunakan kekerasan, Ki Baka"
Ki Baka tersenyum. Dia tidak menjadi heran karena dia sudah mengenal benar watak orang-orang seperti Gagak Wulung.
"Engkau melihat sendiri tombak pusaka itu tidak berada di tanganku, dan andaikata adapun tidak akan kuberikan kepadamu. Nah, apa yang akan kaulakukan terhadap diriku ini, Gagak Wulung?"
"Babo-babo, keparat! Engkau menantangku. Jangan mengira aku selemah Ki Sardulo yang hanya pandai mengaum seperti harimau, Ki Baka. Sumbarmu seperti dapat membendung air Kali Brantas, seperti dapat melompati puncak Gunung Semeru"
"Hemm, kau minta pending apa, akan kulayani. Gagak Wulung"
"Heiiiiittt ahhhh.......!"
Gigak Wulung lalu memasang kuda-kuda, mengangkat kaki kanan ke atas, ditekuk lutut dan pergelangannya, menunjuk ke depan, sedangkan kaki kiri agak lurus, menyerong dan kesamping, tangan kanan dibuka dengan ibu jari ditekuk, diletakkan telentang di pinggang, tangan kiri juga dibuka dan diletakkan di depan dada seperti setengah sembah, matanya melirik kearah Ki Baka, sikapnya itu gagah sekali, merupakan pembukaan pencak silat yang penuh gaya, juga mengandung penghimpunan tenaga sakti karena kedua tangan itu mula-mula gemetar, lalu menggigil, dan nampaklah uap nengepul dari kedua telapak tangan yang menjadi kemerahan itu!
Ki Baka terkejut.
Dia pernah mendeng tentang ilmu atau aji yang bernama Aji Hasta Rudira (Tangan Darah) atau Hasta Jingga, (Tangan Jingga).
Yang manakah ini?
Agaknya Hasta Jingga, pikirnya dan dugaannya memang benar.
Itulah Aji Hasta Jingga yang berhawa panas sekali.
Kedua telapak tangan Gagak Wulung menjadi kemerahan dan mengepulkan uap putih seperti asap.
Baru tersentuh saja, sudah panas, apalagi kalau terkena pukulan telapak tangan ini, tubuh lawan dapat menjadi hangus kulitnya dan patah-patah tulangnya.
Bukan hanya aji ini sangat ampuh, akan tetapi Gagak Wulung juga merupakan seorang ahli pencak silat yang cekatan dan gerak annya indah sekali.
Dia tidak hanya menguasai aliran ilmu pencak silat dari dalam Kerajaan Dhaha, bahkan dia telah pula mempelajari aliran dari pesisir kidul (pantai selatan), dan pernah pula dia berguru kepada seorang pendeta Buddhis Bangsa Cina yan merantau sampai ke Kediri, mempelajari ilmu silat yang amat cepat dan aneh, yang gerak-geriknya seperti gerak-gerik seekor monyet dan diberi nama Aji Wanoro Sekl (Kera Sakti).
Selain itu, Gacak Wulung juga memiliki suatu ilmu yang amat buas, yang di beri nama Aji Gagak Rodra Gagak Buas, dengan loncatan-loncatan seperti terbang dan cakaran-cakaran yang mematikan.
Ki Baka bersikap tenang.
Dia belum pernah bertanding melawan jagoan ini, walaupun sudah lama dia mendengar nama besar Gagak Wulung sebagai seorang ahli pencak silai yang sukar dicari bandingnya.
Orang ini bukan musuhnya, dan sesungguhnya, sudah bertahun-tahun dia sudah melenyapkan semua kebencian dari dalam hatinya sehingga dia tidak pernah punya musuh.
Dia boleh saja dimusuhi orang karena hal itu merupakan urusan orang itu sendiri, akan tetapi dia tidak akan memusuhi orang lain.
Gagak Wulung ini datang untuk merampas Ki Ageng Tejanirmala.
Memang pada saat itu, tombak pusaka itu tidak berada padanya.
Namun, bagaimanapun juga, dia harus mencegah pusaka itu terjatuh ke tangan orang-orang dari golongan hitam.
Tombak pusaka itu tidak boleh sekali-kali disalah-gunakan orang.
Ombak pusaka itu, seperti segala benda lain di dunia ini, dapat saja diselewengkan dan disalah-gunakan.
Pijar bunga api dapat menghidupkan orang, dapat dipergunakan untuk memerangi kegelapan dan memasak makanan, memasak air dan sebagainya.
Namun, pijar unga api itupun dapat saja disalahgunakan, dipergunakan untuk membakar rumah orang misalnya.
Karena itu, dia harus mempertahankan Ki Ageng Tejanirmala dari sentuhan mereka yang menjadi hamba nafsu agar keagungan dan kesucian pusaka keramat itu tidak tercemar dan ternoda.
"Hyaaaattt.......!"
Tiba-tiba Gagak Wulung yang setapak demi setapak maju mendekat dengan jalan memutar untuk tiba di sebelah kiri Ki Baka, melakukan serangan pertama.
Kakinya menendang dengan cepat, dengan tumit menyambar dan menghajar ke arah lambung Ki Baka.
Yang diserai tidak menjadi gugup, melainkan menarik sikutnya ke belakang melindungi lambung dan menangkis tumit kaki lawan.
"Bukk!"
Kaki itu ditarik kembali dan ki tubuh Gagak Wulung sudah membalik, kedua lutut ditekuk dan dari bawah, tangannya menyambar ke atas, yang kiri mencengkeram arah perut, yang kanan menampar ke arah dagu.
Gerakannya indah dan cepat, juga amat berbahaya karena kedua serangan itu dilakukan dengan dua tangan yang dipenuhi Aji Harta Jingga.
Namun, Ki Bika dengan tenangnya meloncat ke belakang sehingga serangan gagal sama sekali.
Gagak Wulung lalu mengeluarkan seruan parau seperti suara gagak marah, dan tubuhnya kini menyambar-nyambar dengan cepatnya, bagaikan seekor burung gagak kelaparan memperebutkan bangkai.
Inilah Aji Gagak Rodra, semacam ilmu pencak silat dari golongan sesat yang dipelajari Gagak Wulung di pesisir kidul.
Gerakannya, kacau balau akan tetapi justeru kekacauan ini yang membuat lawan menjadi bingung, disertai teriakan-teriakan parau dan empat buah kaki dan tangannya menyerang dari berbagai urusan.
Dihujani serangan seperti itu, Ki Baka juga cepat memainkan Aji Bajradenta yang ampuh, disertai Aji Wandiro Kingkin yang membuat tubuhnya kokoh kuat.
Setiap kali dia menangkis, nampak tubuh Gagak Wulung terpental.
Orang ini kaget bukan main.
Dia menambah tenaganya dan memancing dengan cengkeraman ke arah kepala.
Ki Baka tidak memperdulikan pancingan ini, melainkan menyambut dengan tangkisannya.
Dua tangan bertemu diudara, keduanya sama-sama mengerahkan aji kesaktian.
"Dukkk......."
Tubuh Gagak Wulung tergetar hebat dan diapun terdorong ke belakang, kedua kakinya terasa kehilangan kekuatan dan tanpa dapat dicegah lagi diapun jatuh berlutut.
Marahlah Gagak Wulung.
Dia mengeluarkan suara pekik nyaring dan kini tubuhnya meloncat ke atas, lalu dia menyerang dengan ilmu silat Wanoro Sekti yang membuat tubuhnya berkelebatan cepat sekali.
Ki Baka terkejut dan berusaha mengimbangi kecepatan lawan.
Namun, dia kalah cepat dan biarpun dia sudah berusaha untuk mengelak, menangkis dan membalas, tetap saja dua kali dia terkena tamparan tangan lawan.
sekali pada pundaknya dan sekali lagi pada dadanya.
Ki Baka terhuyung dan merasa betapa dadanya nyeri, napasnya agak sesak, akan tetapi dengan pengerahan Aji Sari Patala, kekuatannya pulih kembali dan dia kini bersikap hati-hati sekali.
Dia tahu bahwa ilmu silat yang dimainkan lawan ini cepat bukan main, sukar sekali diduga kemana perkembangannya.
Oleh karena itu, diapun tidak banyak bergerak, melainkan berdiri dengan tenang namun penuh kewaspadaan dan setiap kali nampak bayangan lawan berkelebat dan tangan atau kaki lawan mencuat dalam serangan kilat, dia lalu menyambut dengan dorongan Bajradenta yang amat dahsyat.
Akal ini berhasil baik sekali karena pada suatu ketika, sambutannya sedemikian dahsyatnya sehingga tubuh Gagak Wulung terlempar keluar sanggar pamujaan dan dia terbanting jatuh.
Mukanya pucat sekali, napasnya memburu dan biarpun dia tidak terluka seperti halnya Ki Sardulo, namun jagoan Kediri ini maklum bahwa kalau dilanjutkan, dan kalau lawannya menghendaki, dia dapat menghadapi bahaya maut.
"Bukan main"
Tiba-tiba terdengar pujian suara halus.
"Ki Baka sungguh seorang pria yang jantan dan gagah perkasa, ganteng dan menarik. Agaknya seperti andika inilah penjelmaan Raden Gatutkaca dari Pringgadani"
Ki Baka mengangkat muka memandang Wanita itu memang cantik, bukan kecantikan karena pulasan, melainkan memang pada dasarnya cantik dan memiliki daya tarik yang amat kuat.
Rambut itu seperti mahkota saja, ikal mayang dan hitam lebat, panjang terurai.
sebagian menutupi bukit dada yang membusung padat, sebagian menutupi leher yang kulitnya halus kuning dan mulus, dengan anak rambut terikal di pelipis, sinom halus melingkar-lingkar di dahi, kacau dan tidak tersisir, namun sungguh menambah daya tarik yang menggetarkan jantung setiap orang pria.
Wajahnya manis sekali, terutama pada mata dan mulutnya.
Sepasang mata itu demikian jeli, demikian jernih, demikian tajam lirikannya.
dengan dua ujung mata yang meruncing ke atas, mata penuh gairah dan penuh tantangan, seperti yang tampak pada mata wanita yang memang memiliki kehangatan dan gairah membara sejak dewasa.
Lalu mulut itu.
Bibir itu demikian hidup, seolah-olah memiliki nyawa tersendiri.
seperti sepasang ular yang dapat bergerak-gerak menantang, sepasang bibir itu seolah dicipta untuk bercumbu, menjadikan madu asmara yang manis memabukkan.
Bibir yang merah membasah, bergetar dan bergerak penuh undangan, kadang terbuka memperlihatkan kilatan gigi yang rata dan putih bersih dan kadang pula cukup lebar memperlihatkan rongga mulut yang merah penuh rahasia, dan ujung sebuah lidah yang merah jambon, yan menjilat-jilat tepian bibir dengan jilatan memikat.
Seorang perempuan yang cantik, genit kewes, luwes membuat gemas dalam usia yang sukar diduga berapa, seperti tigapuluhan tahun lebih, perempuan yang matang segala-galanya, yang menjanjikan segala-galanya yang dapat diharapkan seorang laki-laki.
"Ni Dedeh Sawitri........,"
Kata Ki Baka dan dia menahan napas untuk melawan pengaruh yang memancar keluar dari diri wanita itu yang mengusik hatinya dan mulai membakar gairah kelakiannya.
Diam-diam dia terkejut dan maklum bahwa ini bukan sewajarnya.
Sudah lama dia dapat menidurkan naga gairah kelakiannya, akan tetapi mengapa kini tiba tiba saja naga itu bergerak menggeliat hendak bangun?
Memang Ni Dedeh Sawitri ini cantik akan tetapi dia sudah sering melihat wanita yang lebih cantik lagi sebelumnya tanpa terpengaruh sedikitpun juga.
Dan melihat betapa kerling mata dan senyum itu memang tidak sewajarnya.
Tahulah dia bahwa tentu wanita ini seorang ahli yang memiliki semacam aji asihan, yaitu ilmu untuk memikat hati melalui kekuatan yang tidak wajar.
"Hik-hik, andika memang seorang satria pandai mengingat wanita, Ki Baka. Baru berjumpa satu kali saja, engkau masih ingat kepadaku, masih ingat pula akan namaku"
Kata wanita itu dan kini selagi bicara, tubuhnya ikut pula bicara.
Tubuh yang padat dan matang, dengan lekuk lengkung sempurna, irama bagian dada dan pinggulnya sungguh mengandung daya tarik yang amat kuat, pinggangnya yang ramping itu seolah-olah dapat digerakkan bagaikan tubuh seekor ular saja.
Melilit leher, pundak dan pinggul itu seperti tiga bagian yang disambung dengan penyambung yang lentur.
"Ni Dedeh Sawitri, aku yakin bahwa kedatangan andika ini bukan sekedar hendak memuji-mujiku. Katakan saja dengan singkat, apa keperluanmu mengunjungiku? Untunglah selain andika, masih ada banyak orang lain yang malam ini berkunjung kepadaku. Andaikata tidak ada mereka dan hanya andika seorang yang datang........"
"Hik-hik, kalau aku sendiri yang datang, jadi berduaan saja denganmu, bukan begitu? hik, tentu akan asyik sekali, Ki Baka. Dan.... hemm, engkau memang menarik sekali, jantan dan di dalam hatiku seperti ada api membakar, mendatangkan kehangatan yang panas melihat dirimu...."
Ucapan yang dikeluarkan dengan gaya yang khas, dengan suara khas berlagu daerah Parahyangan, sungguh merdu merayu dan memikat hati.
"Bukan demikian maksudku, Ni Dedeh Sawitri. Andikapun tentu tahu bahwa kalau demikian keadaannya, aku tidak akan berani menerimamu. Nah, katakanlah, apakah andika ini datang dengan suatu maksud tertentu. Kelirukah dugaanku kalau andika datang untuk merampas tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala pula?"
Kembali wanita itu tertawa, sekali ini mulutnya terbuka lebih lebar sehingga nampak jelas deretan giginya, rongga mulutnya lidahnya.
Sambil tertawa itu, Ni Dedeh Sawitri mengerahkan aji kesaktiannya, aji pengasihan yang disebut Aji Asmoro Limut.
Ada pancaran aneh dari dalam dirinya, yang membuat jantung pria berdebar penuh pesona dan ia nampak selain cantik manis juga berhati sekali, Namun, diam-diam Ki Baka telah mengerahkan kekuatan hatinya untuk mencegah pengaruh itu dan ketika wanita itu tertawa dengan mulut terbuka agak lebar, ia melihat kekejaman tersembunyi di balik mulut yang terbuka itu, seperti mulut seekor ular yang siap untuk mencaplok mangsanya dan diapuan bergidik.
Perempuan ini sungguh jauh lebih berbahaya dari pada dua orang yang tadi menyerangnya.
"Ki Baka, ucapanmu memang benar sekali. seorang wanita adalah mahluk lemah yang perlu sekali dilindungi, bukan? Oleh karena aku sungguh amat membutuhkan Tejanirmala untuk menjadi pelindungku. Engkau tahu, di dunia ini banyak sekali manusia jahat, aku sebagai wanita lemah, sangat membutuhkan pusaka itu untuk menyelamatkan diri. Dan aku percaya, seorang laki-laki jantan perkasa seperti andika tentu akan selalu mengalah selalu mengalah terhadap wanita lemah. Ki Baka, serahkanlah Ki Ageng Tejanirmala kepadaku, dan selama hidupku, aku, Ni Dedeh Sawitri tidak akan melupakan Ki Baka"
"Hemm, andika segolongan dengan mereka, dan biarpun perempuan, andika memiliki kepandaian tinggi, cukup untuk berjaga dan membela diri, bahkan sisanya terlampau banyak untuk andika pergunakan menyebar malapetaka kepada orang lain. Ki Ageng Tejanirmala juga tidak jodoh dengan andika, Dedeh Sawitri, dan karena pusaka itu tidak berapa padaku, maka akupun tidak dapat menyerahkannya kepadamu. Senyum lebar yang menghias wajahnya itu, perlahan-lahan berubah. Mula-mula kelihatan wajah itu penuh keraguan dan keheranan, agaknya wanita itu merasa heran dan penasaran bagaimana ilmunya yang biasanya amat ampuh, yaitu Aji Asmoro Limut, kini tidak mempan terhadap Ki Baka. Bukttinya, pria itu tidak kelihatan tertarik, bahkan tidak kelihatan menurut atau memenuhi permintaannya. Senyum itu makin menghilang seperti awan tipis terbawa angin dan alis yang hitam kecil melengkung itu mulai berkerut, sepasang mata yang tadinya jeli dan ramah itu kini nampak mencorong penuh kemarahan, mulut yang tadinya tersenyum berubah cemberut.
"Ki Baka, apakah engkau sudah bosan hidup dan memilih mati dari pada menyerahkan pusaka itu kepadaku?"
Bentak wanita itu marah.
"Tidak ada manusia yang berhak memilih mati atau hidup, Ni Dedeh Sawitri, namun dia dapat memilih antara jalan hidup yang benra dan jalan hidup yang salah. Dan aku memilih kebenaran"
"Keparat, kalau begitu akulah yang akan membunuhmu dan mengirim nyawamu ke neraka"
Bentak wanita itu dan iapun sudah menggerakkan kakinya dan tubuhnya sudah berkelebat kedepan Ki Baka dengan gerakan yang amat cepat seperti burung terbang saja.
Wanita itu kini menggerakkan kedua lengannya, saling bersilang naik turun dan dua tangannya dibuka, jari-jari ditegangkan dan terdengarlah suara mendesis dan dari kuku-kuku sepuluh jarinya yang panjang meruncing itu keluarlah uap hitam dengan bau yang amis.
Itulah Aji Sarpakenaka yang amat mengerikan karena setiap kuku jari tangan itu mengandung kekuatan dahsyat dan racun yang amat berbahaya.
Jangankan sampai tergurat atau tergores sehingga kulit terluka berdarah, yang tentu akan membuat lawan tewas seketika seperti dipagut ular kobra, bahkan baru tercium saja bau amis itu sudah cukup membuat lawan menjadi pening kepala dan sukar untuk melakukan perlawanan.
Selain Aji Sarpakenaka yang amat jahat itu, juga Ni Dedeh Sawitri menguasai pencak silat Parahyangan yang gerakannya cepat dan tangkas.
Setelah semua tenaga Aji Sarpakenaka terkumpul di kedua tangannya dan berpusat di kuku jari tangan, wanita itu mulai menyerang dengan kedua tangan mencakar-akar, seperti seekor harimau menyerang.
Gerakannya cepat sekali, dan serangannya bertubi-tubi.
Ki Baka maklum akan kehebitan ilmu wanita ini, maka diapun tidak berani memandang rendah.
Begitu lawan mengerahkan Aji Sarpakenaka, dia sudah menahan napas dan mengerahkan kekuatan batinnya untuk melindungi diri dari hawa beracun, dan ketika Ni Dedeh Sawitri menyerang, diapun cepat meloncat ke samping, mengelak.
Ni Dedeh Sawitri menyerang terus, mengejar kemanapun lawan melompat untuk menghindarkan diri dan semakin lama, serangannya menjadi semakin gencar, makin cepat dan kuat bagaikan gelombang lautan.
Namun, kini Ki Baka tidak hanya mengelak saja, melainkan juga menangkis.
Kedua lengannya sudah terlindung oleh tenag sakti Aji Sari Patala (Inti Bumi) dan denga Bajradenta dia berani pula menangkis dan balas menyerang.
Terjadilah perkelahian yang amat seru antara kedua orang sakti itu.
Tetapi seperti yang sudah diduganya, wanita ini memang hebat dan sakti, jauh lebih tangguh dibandingkan dua orang lawan sebelumnya.
"Plakkkl"
Ketika Ki Baka menangkis dengan kuatnya sehingga tubuh lawan agak terhuyung ke belakang, tiba-tiba Ki Baka merasa betapa kulit lengan kirinya gatal-gatal.
Dia cepat melihat dan terkejutlah dia karena ada tanda merah jingga pada kulit lengan kirinya.
Teringatlah dia akan perkelahiannya melawa Gagak Wulung tadi.
Jelaslah bahwa tanda merah jingga ini merupakan bekas tapak tangan Gagak Wulung yang menggunakan Aji Hasta Jingga tadi.
Kiranya, biarpun dia keluar sebagai pemenang, ada bekas tangan beracun itu.
di kulit lengan kirinya dan sekarang baru rasa setelah berkali-kali dia beradu tenaga dengan Ni Dedeh Sawitri.
"Celaka....."
Keluhnya dalam hati.
Pengaruh racun itu amat berbahaya, kalau dia tidak dapat mengobatinya dengan jalan mengatur pernapasan.
Akan tetapi pada saat itu, tidak mungkin dia mengobati luka beracun itu.
Ni Dedeh Sawitri sudah menyerang lagi.
'Siuuuuutt........
wuuttt......."
Dua kali cairan lewat dekat lehernya, membuat Ki Baka cepat mencurahkan perhatiannya.
Kalau dia lengah dan terkena goresan kuku beracun itu, akan celakalah dia.
Agaknya, Gagak Wulung juga tahu akan kebingungan Ki Baka.
Tiba-tiba dia meloncat dalam sanggar pamujan yang kini menjadi gelanggang perkelahian itu dan dia tertawa.
"Hahaha, Ni Dedeh Sawitri yang manis, yang jelita, mari kubantu merobohkan Ki Baka yang sombong ini!"
Dan diapun sudah menerjang dan mengeroyok Ki Baka yang terpaksa harus meloncat pula ke samping.
"Cih, laki-laki tak bermalu. Siapa sih yang ingin kaubantu?"
Ni Dedeh Sawitri membentak.
Akan tetapi Gagak Wulung hanya tertawa dan melanjutkan pengeroyokannya.
Pada saat itu Ki Sardulo juga meloncat masuk dan ikut pula mengeroyok tanpa banyak cakap lagi.
Muncul pula tiga orang lain yang sejak tadi hanya menjadi penonton.
Mereka adalah tiga orang yang bersenjatakan clurit, yaitu arit Madura panjang melengkung.
Melihat kumis mereka, pakaian mereka yang jelas menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang Madura, kemudian senjata clurit mereka, Ki Baka maklum siapakah tiga orang itu.
Tentulah jagoan-jagoan dari Madura yang terkenal dengan julukan mereka, yaitu Clurit Lemah Abang.
Clurit Lemah Abang ini nama sebuah perkumpulan atau gerombolan yang pernah menjagoi di pantai Madura, kemudian mereka itu ikut terpukul ketika pasukan Singasari menyerbu ke Madura dan menaklukkan pulau itu.
Dikeroyok oleh enam orang yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi itu, Ki Baka yang sudah terluka oleh Aji Hasta Jingga, menjadi repot juga.
Apa lagi tiga orang jagoan Madura itu adalah pimpinan gerombolan Clurit Lemah Abang.
Permainan senjata clurit mereka berbahaya sekali dan nampaklah tiga sinar putih bergulung-gulung, bagaikan tiga ekor ular yang menyambar-nyambar.
Namun, sedikitpun tidak ada perasaan gentar di dalam hati Ki Baka.
Dia pantang mundur dan mengamuk, bagaikan Sang Gatutkaca mengamuk ketika dikeroyok oleh bala Kurawa yang licik dan curang.
Tubuhnya yang kokoh kuat itu bergerak ke sana-sini menyambut serangan setiap orang pengeroyok, gelung rambutnya terlepas sehingga rambut itu riap-riapan menambah kegagahannya, seolah-olah setiap helai rambut ikut pula mengamuk membela diri.
Karena para pengeroyoknya bukan orang orang lemah dan tingkat kepandaian mereka hanya sedikit di bawah tingkatnya, maka tentu saja Ki Baka tidak terhindar dari hantaman mereka.
Bahu kiri dan paha kanannya berdarah, kulitnya robek oleh sabetan clurit, pundak kanannya juga nampak menghitam karena pukulan suling Ki Sardulo, dan yang amat mencemaskan hatinya adalah goresan kecil pada punggungnya oleh kuku jari tangan Ni Dedeh Sawitri.
Dia merasa betapa luka-luka itu mendatangkan kenyerian yang menyusup ke tulang, dan kepalanya mulai pening akibat luka beracun, gerakannya mulai kacau, namu tak sedikitpun keluhan pernah keluar dari mulutnya dan semangat perlawanannya tak pernah mengendur sedikitpun juga.
Bagaimanapun juga, keadaan Ki Baka sudah gawat sekali.
Agaknya, tidak lama lagi dia tentu akan roboh juga.
Berulang kali para pengeroyoknya membujuknya agar menyerahkan tombak pusaka itu, namun dia tidak pernah menjawab dengan kata-kata, melainkan menjawab bujukan mereka dengan pukulan dan tendangan.
Pada saat itu, terdengarlah suara orang bertembang mocopat.
Tembangnya Sekar Pangkur dan biarpun suara itu lirih namun kata-katanya jelas terdengar semua orang yang sedang berkelahi itu.
"Kawaca raras kawuryan miwah mundi savadibya umingis ing mangka punika tuhu aling-alinging anggo nanangi hardanning kacing hawa napsu manawi sampun anggreda dadya rubeda ngribedhi Hardaning kang panca Indra pan kuwasa amangreh kanang diri engrubeda mrih tan lulus saged rumesep ing tyas arnulita ing dria pamrih kepencut anilepken kawaspadan lir tiang ningali ringgit" (Kalian menyukai baju perang dan membawa senjata terhunus, padahal semua itu menghalangi kebenaran dan membangkitkan hawa nafsu, kalau dibiarkan berlarut-larut akan menjadi penghalang yang merepotkan. Rangsangan panca indera sepenuhnya menguasai diri pribadi, menjadi penghalang yang menggagalkan, menyusup ke dalam batin sanubari, mempengaruhi kepribadian memikat diri, melenyapkan kewaspadaan, bagaikan orang nonton wayang) Tembang itu biasa saja dan sederhana. namun semua orang terkejut karena suara yang lirih dan lembut itu seolah-olah mempunyai daya sedot yang menghisap tenaga sakti yang mereka kerahkan dalam perkelahian itu. membuat mereka semua merasa lemas seolah-olah semua tenaga mereka habis dan barulah mereka masing-masing menyadari betapa lelah dan lemasnya tubuh mereka akibat perkelahian itu. Dengan sendirinya mereka menghentikan serangan, menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan tenaga dan menghilangkan kelelahan dan pada saat itu, Ki Baka yang sudah lelah dan pening, terhuyung dan dia tentu akan roboh kalau saja pada saat itu tidak ada sebuah tangan yang menangkap lengannya. (Lanjut ke
Jilid 02) Sejengkal Tanah Sepercik Darah (Serial Sejengkal Tanah Sepercik Darah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 02 Ki Baka mengangkat muka, melihat bahwa yang menangkap lengannya adalah seorang kakek tua renta yang memakai kain pengikat kepala berwarna putih, juga mukanya putih seperti muka mayat penuh keripu tanda usia tua, dengan rambut, jenggot dan kumis yang sudah berwarna kelabu.
"Marilah, kaki, kita pergi dari sini"
Bisik kakek itu sambil menarik lengan Ki Baka, diajak pergi dari dalam sanggar pamujan yang telah menjadi gelanggang yuda itu.
Biarpur kepalanya pening dan tubuhnya lelah, Ki Baka membuat gerakan menolak terhadap ajakan kakek yang tidak dikenalnya itu.
"Aku tidak takut mati"
Kakek itu tertawa tanpa membuka mulut. tertawa di dalam mulutnya dan matanya bersinar-sinar walaupun mukanya masih seperti mayat.
"Tidak takut mati bukan berarti bunuh diri, karena bunuh diri berarti takut hidup? Kalau tidak takut mati kenapa takut hidup?"
Biarpun pening, Ki Baka tercengang mendengar ucapan itu.
Dia mencoba untuk membelalakkan mata memandang kakek itu, akan tetapi pandang matanya kabur dan dia menurut saja ketika kakek itu menarik lengannya dan diajak pergi dari situ dengan langkah satu-satu, sama sekali tidak tergesa-gesa.
Bahkan terdengar pula dia rengeng-rengeng (bersenandung) dengan tembangnya, menuntun Ki Baka pada lengannya seperti orang menuntun seekor domba.
Ki Sardulo, Gagak Wulung, Ni Dedeh Sawitri dan tiga orang ketua Clurit Lemah Abang yang tadinya mengatur pernapasan, tiba-tiba sadar ketika melihat Ki Baka digandeng pergi seorang kakek tua renta bermuka mayat yang tadi muncul setelah menembang.
Tentu saja mereka terkejut sekali .
"He! Berhenti!"
Bentak Ki Sardulo.
"Siapa andika? Mau kaubawa ke mana Baka?"
Gagak Wulung juga membentak meloncat mengejar.
"Ki Baka itu harus diserahkan kepadaku"
Ni Dedeh Sawitri juga berseru.
Tiga orang Madura, ketua Clurit Lemah Abang juga ikut melakukan pengejaran.
Kakek itu tiba-tiba berhenti dan membalikkan tubuhnya melindungi Ki Baka dan menghadapi enam orang itu.
"Kalian ini bocah-bocah tak tahu diri! Hayo pergi semua dan jangan ganggu aku"
Akan tetapi enam orang jagoan itu tidak mengenal kakek ini, maka mereka memandang rendah.
Mereka harus membunuh kakek ini, baru menangkap Ki Baka dan memaksanya menyerahkan tombak pusaka.
Seperti dikomando saja, enam orang itu lalu menerjang kakek itu.
Tiga batang clurit menyambar, sebatang suling hitam meluncur, kuku berbisa Ni Dedeh Sawitri juga mencakar dan pukulan beracun Hasta Jingga dari tangan Gagak Wulung menghantam pula.
Kakek itu kembali tertawa tanpa menggerakkan mulutnya dan kedua tangannya mendorong ke depan seperti hendak menolak semua serangan yang ditujukan kepadanya itu.
Enam orang itu tiba-tiba merasa seolah-olah ada angin badai menyambut mereka.
Mereka mengerahkan tenaga untuk melawan.
Namun semua tenaga mereka itu membalik dan merekapun seperti daun-daun jati yang kering dan patah dari tangkainya, melayang-layang dan terhuyung-huyung ke belakang.
kemudian roboh karena merasa kaki mereka seperti kehilangan tenaga sama sekali.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya enam orang sakti itu dan mereka hanya dapat memandang kakek yang masih terus melangkah satu-satu sambil menggandeng lengan Ki Baka, meninggalkan mereka yang kini tidak lagi berani bergerak, dan juga belum mampu bergerak mengejar.
Baru setelah lama kakek dan Ki Baka itu lenyap ditelan kegelapan malam menjelang fajar, mereka bangkit dan menyumpah-nyumpah.
kemudian mereka berenam, ditambah dengan anak buah mereka yang jumlahnya semua tak kurang dari tigapuluh orang, mulai mencari di rumah Ki Baka.
Mereka merobohkan rumah itu, mengobrak-abrik segala yang ada, bahkan ada yang mencangkuli tanah disekitar tempat di mana rumah itu tadi berdiri.
Usaha mereka dilanjutkan sampai matahari naik tinggi.
Tempat itu porak poranda, rumah itu sudah roboh dan hancur, dan tampaknya menjadi seperti tegalan yang baru saja dicangkul dan diluku untuk segera ditanam.
Akhirnya, setelah gagal menemukan benda yang mereka cari, yaitu tombak pusaka Tejanirmala, merekapun pergi berpencaran meninggalkan ujung dusun yang sunyi itu.
Biarpun dia berada dalam keadaan setengah sadar, namun Ki Baka masih dapat melihat betapa kakek yang menolongnya itu sekali dorong saja dapat membuat enam orang tokoh sesat itu mundur terhuyung dan tidak berani mengejar mereka ketika kakek itu menggandeng dan menariknya pergi meninggalkan para datuk golongan hitam itu.
Dalam keadaan setengah pingsan karena luka-luka yang dideritanya, kini terasa semakin nyeri, bahkan menyesakkan dada, Ki Baka merasakan bahwa dia diajak memasuki sebuah hutan tak jauh dari pondoknya, kemudian kakek tua renta yang mukanya seperti mayat itu berhenti.
"E-ladalah Aku sudah pikun, hal yang teramat penting kulupakan, kaki, mereka itu orang-orang yang nekat dan takkan berhenti mencari sebelum menemukan Tejanirmala. Sungguh berbahaya kalau meninggalkan mereka itu di sana, sebaiknya kalau kau bawa serta"
Ketika berhenti, Ki Baka sudah duduk sersila kembali dan mengatur pernapasan untuk melawan rasa nyeri yang menghentak-hentak dalam tubuhnya.
"Sudah kusimpan baik-bak"
Berkata Ki Baka.
"Ah, andika tidak mengenal betul siapakah mereka. Di manapun kau sembunyikan, tentu akan dapat mereka temukan, kecuali kalau kau bawa serta. Katakan di mana letak pusaka itu, aku akan mengambilnya agar pusaka itu berada terus tanganmu"
Ki Baka masih pening, namun dia dapat menangkap kebenaran ucapan itu, maka tanpa sadar bahwa dia melanggar keputusan hatinya sendiri untuk tidak membuka rahasia penyimpanan pusaka itu kepada siapapun juga selain pada Nurseta, kini dia berkata lirih.
"Di puncak pohon aren kembar di kebun belakang pondok......"
"Tunggu, akan keselamatkan pusaka itu dan aku serahkan kepadamu!"
Sekali berkelebat kakek itupun lenyap dari depan Ki Baka yang agak merasa heran menyaksikan kesaktian penolongnya itu.
Dia melanjutkan usahanya mengumpulkan hawa murni untuk melawan rasa nyeri akibat luka-lukanya yang beracun.
Tombak itu disimpan oleh Ki Baka diantara tangkai daun aren, setelah dia lepaskan gagangnya terlebih dahulu, tidak akan ada yang menyangkanya bahwa pusaka itu disimpan disana, hanya kepada Nurseta saja, rahasia itu dia berikan.
Dengan kesaktiannya yang tinggi, kakek renta itu dapat menemukan tombak pusaka Ageng Tejanirmala, terselip di puncak diantara dua batang pohon aren, biarpun jauh dari situ dia melihat kawanan gerombolan liar itu masih sibuk mencari-cari, mencangkuli kebun bahkan merobohkan pondok tempat tinggal Ki Baka.
Di dalam hatinya, kakek itu mentertawakan mereka dan bagaikan setan saja dia sudah berkelebat lenyap dan kembali ke dalam hutan di mana dia meninggalkan Ki Baka.
Ki Baka membuka matanya ketika dia mendengar suara kakek itu tertawa kecil.
Dibukanya matanya dan diangkatnya kepalanya memandang.
Seorang kakek yang wajahnya sangat mengerikan, pucat seperti mayat kering keriput, dan biarpun ada suara ketawa kecil keluar dari mulutnya, namun mulut itu sendi tak bergerak sama sekali.
Dia mengingat-ingat namun tidak pernah dia melihat atau mendengar akan tokoh sakti seperti kakek ini.
"Heh-heh, sudah kudapatkan, Apakah ini pusakanya?"
Berkata kakek sambil mencabut keluar sebuah tombak yang warnanya putih seperti perak dan menyerahkannya kepada Ki Baya.
Ki Baka menerimanya.
Sekali pandang saja ia mengenal pusaka itu dan diapun mengangguk, lalu meletakkan pusaka tanpa gagang itu ke atas batu di sebelahnya.
"Berat sekali, kanjeng paman. Paduka telah menyelamatkan nyawa saya, bahkan sudah menyelamatkan pula Ki Tejanirmala. Saya hanya dapat menghaturkan terima kasih dengan sembah dan semoga Hyang Maha Agung saja yang akan membalas budi paduka itu dengan berkah yang berlimpahan. Selain itu, saya mohon bertanya, Siapakah gerangan paduka vang sakti mandraguna ini?"
Kembali muka mayat itu tertawa tanpa mengbuka mulut.
"Heh-heh-heh, tentang namaku, mudah Ki Baka, akan tetapi yang lebih penting sekarang adalah memeriksa luka lukamu dan mengobatinya. Biarkan aku memeriksa tubuhmu, kaki"
Kakek itu memeriksa dan memang Ki Baka menderita luka-luka yang cukup parah dan berbahaya.
Selain tubuhnya memar-memar, juga luka-luka yang mengeluarkan darah.
Namun, kulit daging itu tidaklah sehebat dua luka yang deritanya sebagai akibat pukulan bekas tangan Hasta Jingga dari Gagak Wulung dan goresan kuku Sarpakenaka dari Ni Dedeh Sawitri, luka inilah yang dapat mencabut nyawa Ki Baka kalau tidak cepat diobatinya.
"Hong Wilaheng........! Pukulan tangan merah dan kuku ular ini berbahaya sekali, kaki harus dilenyapkan hawanya yang beracun dalam tubuhmu sekarang juga, kalau terlambat sehari saja, nyawamu tidak akan tertolong lagi, kaki"
Mendengar ini, Ki Baka bersikap tenang saja.
Dia seorang laki-Jaki sejati, seorang jantan yang tidak gentar mendengar ancaman kematian sebagai akibat dari perjuangan menentang gerombolan jahat.
Akan tetapi diapun maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang kakek sakti yang agaknya akan mampu mengobatinya, maka diapun memberi hormat dengan sembah.
"Tiada lain saya hanya menyerahkan kepada paduka, kanjeng paman, kalau paduka berkenan mengobati dan menyembuhkan saya tentu usaha saya tidak akan berhenti sampai di sini saja"
"Heh-heh-heh, engkau seorang satrya yang berhati baja, kaki Baka. Baiklah, aku akan mencoba untuk mengusir hawa beracun dari tubuhmu, akan tetapi untuk itu aku harus menyerangmu dan hawa seranganku itu akan mengusir hawa beracun kedua pukulan jahat itu" 'Silakan, paman,"
Kata Ki Baka dengan tabah.
Kakek itu kini menyilangkan kedua lengannya, dengan tangan terbuka, kedua lengan itu bergetar dan perlahan-lahan dia berjalan mengitari Ki Baka, berhenti di belakang pendekar itu.
Kemudian dia memukulkan kedua telapak tangannya ke arah punggung Ki Baka sambil mengeluarkan suara melengking.
"Huuuuhhh........!"
Kedua tangan kakek itu menghantam punggung dan Ki Baka seketika merasa seolah-olah tubuhnya disambar petir, dimasuki hawa panas yang membuatnya hampir tidak tahan lagi.
Pandangan matanya berkunang dan biarpun ia sudah memejamkan kedua mata, namun tetap saja bumi seakan berputaran, Dia hanya mendengar suara kekeh kakek itu dan perlahan-lahan, hawa panas yang menyusup ke dalam tubuhnya itu makin berkurang dan akhirnya lenyap.
"Heh-heh-heh, bekas pukulan Hasta Jingga dan kuku Sarpakenaka itu telah lenyap, kaki, nyawamu telah diselamatkan"
Ki Baka melihat ke arah bekas pukulan dua orang lawan tangguh tadi dan hatinya girang karena memang benar bahwa bekas tangan merah itu sudah lenyap dan ketika meraba ke arah bekas goresan kuku Sarpakenaka, bekasnya juga telah lenyap dan gatal-gatal dan nyeri dari kedua pukulan racun itupun tak terasa lagi.
Dengan girang diapun menyembah ke arah kakek itu.
"Kembali paduka telah menolong saya, kanjeng paman. Sungguh besar budi yang paduka limpahkan kepada saya"
"Heh-heh, tidak ada budi dan dendam di dunia ini, kulup, budi dan dendam hanya permainan perasaan orang-orang tolol...."
Ki Baka kagum dan tentu saja dia mengerti dan mengangguk-angguk.
"........ yang ada hanyalah jual-beli, untung rugi....... heh-heh-heh!"
Ki Baka terkejut bukan main, terbelalak memandang kepada kakek itu.
"Apa....... apa maksud kanjeng paman?"
Kakek itu mengambil tombak pusaka Ageng Tejanirmala dari atas batu, mengamatinya dan menciumnya penuh kagum, lalu menyelipkan tombak itu diikat pinggang dibalik jubahnya.
"Maksudku? Sudah jelas. Tombak pusaka ini untuk aku, heh-heh!"
Kakek itu lalu membalikkan tubuhnva hendak pergi.
"Hei...... nanti dulu......!"
Ki Baka membentak diapun meloncat untuk mengejar, akan tetapi dia mengeluh dan terguling roboh ke atas tanah, karena begitu dia mengerahkan tenaga dan meloncat.
Perutnya seperti dicengkeram dari sebelah dalam, membuat napasnya sesak dan perutnya nyeri bukan main.
Kakek itu berhenti melangkah, berbalik dan mentertawakan Ki Baka.
Lalu bicara tanpa menggerakkan bibirnya.
"Ha-ha-heh-heh-heh, Ki Baka. Racun pukulan Hasta Jingga dan kuku Sarpakenaka memang telah lenyap, digantikan oleh hawa racun pukulanku. Engkau tidak akan mati oleh itu, asal saja engkau tidak mengerahkan tenaga dalammu. Jadilah orang biasa saja, berhenti dan jangan lagi memikirkan Tejanirmala yang sudah berada di tanganku, heh-heh!"
Bukan main kagetnya hati Ki Baka mendengar ini.
Wajahnya pucat sekali.
Dia telah tertipu.
Kakek yang memang telah menyelamatkannya, ternyata adalah seorang yang ingin merampas tombak pusaka dengan cara yang licik..
"Siapakah engkau sebenarnya......?"
Tanyanya, sepasang matanya mencoba untuk memandang penuh selidik, seolah hendak mengungkap rahasia di balik wajahnya yang seperti mayat.
"Aku.......? Heh-heh, aku adalah Sang Wiku Bayunirada"
Setelah berkata demikian, kemudian dia membalikkan tubuh hendak pergi.
Ki Baka sekali lagi mengerahkan tenaga untuk mengejar dan merampas kembali pusaka itu, akan tetapi makin keras dia mengerahkan tenaga, semakin keras pula dia terbanting dan menjadi setengah pingsan.
Lapat-lapat dia mendengar suara ketawa kakek itu.
"Heh-heh, pukulanku itu kunamakan Mirga-parastra, kalau tadi kukerahkan semua ajiku, tentu engkau sudah mampus. Akan tetapi, aku membatasi tenagaku dan hanya membuat engkau menjadi seorang tapadaksa. Ha ha ha, engkau akan hidup sampai hari tua, asal saja kau tidak mengerahkan tenaga saktimu. Engkau sekarang menjadi orang biasa, tidak usah lagi mencari aku untuk merampas kembali Ageng Tejanirmala yang sudah berada di tanganku......"
Suara itu makin sayup dan akhirnya menghilang bersama orangnya.
Ki Baka duduk bersila, termenung.
Dia memang hidup, akan tetapi berada di bawah tekanan Aji Marga-parastra (Jalan Maut) sehingga dia tak berdaya, menjadi manusia lemah, dan tombak pusaka itu tetap berada tangan seorang yang amat sakti.
Kalau saja kakek itu seorang baik-baik, hatinya tidak akan sekhawatir ini.
Akan tetapi kakek yang mengaku bernama Wiku Bayunirada itu, dia menyangsikan kebaikannya, penuh rahasia dan caranya mendapatkan tombak pusaka itupun bukan suatu cara yang jantan.
Lemaslah Ki Baka dan diapun terkulai pingsan.
"Hayo, mengaku saja, dimana bocah keparat itu! Atau engkau juga ingin mampus seperti yang lain?"
Bentak Gagak Wulung, disusul dengan sabetan ranting kayu yang sudah berlumuran darah itu ke punggung kakek dusun.
"Tar-tar-tarrr.....!"
Kakek dusun itu menggeliat dan mengaduh, punggungnya yang telanjang dan kurus seperti tulang yang terbungkus kulit itu berdarah.
"Ampun, gusti....... hamba.....tidak tahu........!"
Keluhnya.
Mendengar keluhan ini, Gagak Wulung menjadi semakin marah.
sekali dia mencambuk, dengan pengerahan tenaga, sehingga membuat kakek itu terkulai lemas dan tak dapat bergerak lagi, tewas karena tulang punggungnya retak-retak.
Sekali tendang, mayat kakek itu terlempar ke tumpukan mayat-mayat yang jumlahnya sudah belasan orang, mayat para penduduk dusun Kelinting.
Kalau para datuk sesat yang lain sudah meninggalkan dusun itu ketika gagal menemukan tombak pusaka, ada dua orang diantara mereka yang belum pergi.
Mereka adalah Gagak Wulung dan Ni Dedeh Sawitri.
Kedua orang ini memang saling tertarik satu sama lain.
Setelah semua teman-temannya pergi, mereka berdiri saling pandang.
Gagak Wulung yang mata keranjang itu tentu saja sejak tadi sudah terpikat, sebaliknya Ni Dedeh Sawitri juga memandang pria itu dengan sinar mata tertarik, karena selain gagah dan tampan, juga datuk dari Kediri itu memiliki ilmu kepandaian tinggi sehingga sempat mendebarkan jantungnya dan membangkitkan gairahnya.
"Hei, Gagak Wulung, kenapa engkau tidak pergi pula, minggat dari sini dan menggigit telunjukmu karena kegagalan ini?"
Ni Dedeh Sawitri tersenyum mengejek.
"Aih, Ni Dedeh Sawitri, engkau tentu mengenal aku. Selagi ada mata yang begini indah mengerling tajam, mulut yang begitu indah tersenyum manis, bagaimana aku mampu bergerak pergi? Engkau telah mempesona hatiki, Ni Dedeh. bagaimana kalau kita menjadi sahabat dan saling menyenangkan?"
"Ih, urusan gagal engkau hanya ingin bersenang diri saja"
Ni Dedeh berkata sambil mencibirkan bibirnya yang merah basah, yang membuat Gagak Wulung Menjadi gemas.
Kalau tidak ingat bahwa Ni Dedeh Sawitri amat berbahaya, tentu telah disergapnya tubuh itu dan digigitnya bibirnya yang mencibir itu.
"Lalu, apakah kita harus murung terus menerus? Kakek keparat itu saktinya bukan main, dan pula, apa gunanya Ki Baka tanpa tombak pusakanya? Biarlah dia bersama kekek iblis itu mampus dimakan setan"
Gagak Wulung menyumpah "Akan tetapi, Ni Dedeh. Jangan mengira bahwa Gagak Wulung orang bodoh. Masih banyak jalan bagiku untuk mendapatkan tombak pusaka itu"
"Wah, benarkah? Bagaimana caranya?"
Ni Dedeh Sawitri tertarik sekali dan otomatis kakinya melangkah mendekat. Gagak Wulung menggerakkan kedua tangannya bertolak pinggang, dengan sikap kemenangan dan jual mahal.
"Wah enaknya!, Engkau yang enak dan senang kalau kuberitahu, dan aku hanya menjadikan kau menjadi seorang saingan yang sangat berat "
"Ah, jangan begitu, Gagak Wulung. Bukankah kau tadi mengatakan bahwa kita dapat menjadi sahabat? Beritahulah sayang yang tampan, yang ganteng....."
Gagak Wulung tertawa. Dia seorang perayu wanita dan kini ada wanita mencoba merayunya "Aku tidak butuh rayuan, melainkan membutuhkan bukti jika engkau memang benar ingin bersahabat denganku"
Sepasang alis yang indah bentuknya berkerut.
"Bukti yang bagaimana?"
"Mulutmu itu! Bibirmu yang manis, biarkan aku mencium bibirmu sebagai tanda persahabatan"
Ni Dedeh Sawitri tersenyum, jantungnya berdebar.
Baru kali ini dijumpai seorang pria yang selain berkepandaian tinggi, tampan juga ahli merayu dan jantan.
Sengaja ia tersenyum agak lebar memperlihatkan deretan gigi dan ujung lidah menjilat bibirnya yang atas.
"Boleh, akupun ingin merasakan bagaimana ciuman seorang yang terkenal sebagai seorang penakluk wanita datuk dari Daha ini!"
Gagak Wulung girang bukan main, lalu melangkah maju menghampiri.
Dia seorang datuk sesat, seorang jagoan yang tinggi ilmunya, maka tentu saja dia bukanlah orang yang sembrono.
Ketika dia merangkul dan mendekap, dia sudah melindungi dirinya dan siap turun tangan kalau wanita cantik namun berbahaya itu mempunyai niat buruk terhadap dirinya.
Akan tetapi tidak, Ni Dedeh Sawitri mengalihkan mukanya yang cantik, membuka sedikit mulutnya, bibirnya siap dan matanya dipejamkan.
Gagak Wulung agak gemetar, lalu menunduk dan mencium mulut itu dengan bibirnya.
mengecupnya dengan sepenuh perasaannya, dengan mesra sedangkan kedua tangannya merangkul, telapak tangannya di punggung dan pundak wanita itu.
Ni Dedeh Sawitri menerimanya dengan mulut panas dan membalas ciuman itu tidak kalah hangat dan mesranya, tangannya juga meiangkul pinggang pria itu.
Pada saat kedua mulut saling mengecup, Ni Dedeh Sawitri menggerakkan kukunya pada pinggang.
Gagak Wulung merasakan ini dan otomatis telapak tangannya menekan pundak wanita itu.
Sebagai seorang berilmu tinggi, Ni Dedehpun merasakan hal ini dan keduanya lalu melangkah mundur sambil saling pandang Muka mereka merah, oleh gairah api nafsu yang timbul dari ciuman itu, sebagian pula ole kecurigaan akan apa yang masing-masing rasakan tadi.
Ni Dedeh Sawitri menyentuh pundaknya yang ditekan, dan Gagak Wulung meraba pinggangnya yang tadi seperti digurat.
Ni Dedeh Sawitri tersenyum.
"Hebat! Ciumanmu memang ciuman maut dan hatiku sudah berkobar oleh ciumanmu. Akan tetapi nyawamu terancam maut, Gagak Wulung.
"Sekarang buka rahasiamu itu, katakan cara bagaimana untuk mendapatkan tombak pusaka itu atau akan kubiarkan kau mampus!"
Ancaman wanita cantik ini disambut senyum mengejek oleh Gagak Wulung.
"Kalau begitu, biarlah kita sama-sama mati, Ni Dedeh Sawitri. Dan percayalah, mati bersama denganmu sungguh nikmat, sampai matipun kita akan bergandeng tangan dan sama-sama memasuki neraka kalau perlu. Kaukira aku tidak tahu bahwa Sarpakenaka beracun itu tadi telah menggores pinggangku? Dan tengoklah pundakmu, buka baju itu dan kau akan lihat"
Ni Dedeh Sawitri cepat menyingkap baju yang menutupi pundak dan iapun melihat tanda tapak di situ.
"Hasta Jingga""
Serunya ngeri dan marah.
"Tentu saja! Engkau terluka Hasta Jingga yang beracun, dan akupun terluka Sarpakenaka beracun. Keduanya sama mematikan"
"Ah, engkau memang cerdik, Gagak Wulung. Kita sama-sama cerdik, dan agaknya memang kita sudah saling berjodoh. Nah, marilah, kau obati lukaku dulu"
"Hmm, dan lukaku?'' "Akan kuobati pula"
"Tidak perlu susah-susah, Ni Dedeh Sawitri. Jika kau mau menerima cintaku, kalau kau mau melayaniku dan menyerahkan diri kepadaku, dengan sendirinya bekas pukulan itu akan lenyap. Hebat ilmuku, ya"
Mendengar ini, Ni Dedeh terbelalak lalu tertawa, rongga mulutnya yang kemerahan itu tampak menggairahkan bagi Gagak Wulung.
Hi-hi-hi-hi, Gagak Wulung.
Sungguh aneh, sungguh banyak persamaan diantara kita, racun di tubuhmu karena Sarpakenaka itupun akan lenyap kalau engkau sudah sebadan denganku!
Ha, tentu engkau mempergunakan Hasta Jingga itu untuk melukai wanita yang mau melayanimu dan karena pengobatannya hanya melalui hubungan badan, terpaksa ia akan melayanimu dengan sukarela!"
"Dan demikian pula dengan engkau, kau sudah menjatuhkan pilihan kepada seorang pria. Hanya heranku, pria mana di dunia ini ya tidak mau dengan suka rela menggaulimu tanpa kaupergunakan Sarpakenaka?"
Keduanya tertawa dan Gagak Wulung menjelaskan rencananya.
"Engkau tahu, Ni Dedeh Sawitri, bahwa Ki Baka mempunyai seorang putera"
"Ah, aku tidak pernah mendengar akan hal itu!"
"Nah, aku yakin bahwa tombak pusaka tentulah diberikan kepada puteranya. Kini tinggal mencari puteranya itu untuk dapat menemukan dan merampas tombak pusaka Tejanirmala"
Wajah yang cantik itu berseri.
"Siapa nama puteranya dan di mana dia?"
"Inilah yang aku tidak tahu. Aku tidak tahu siapa namanya, dan tidak tahu pula dimana kini dia berada"
Wanita itu cemberut.
"Hemm, jangan main gila kau, Gagak Wulung. Kalau tidak tau apa artinya semua rencanamu itu?"
"Nah, di sini tandanya engkau belum mengenal benar siapa kekasih barumu ini! memang aku tidak tahu siapa namanya dan tetapi disini ada penduduk dusun yang tentu tahu, diamana dia berada. Marilah kita tanyai mereka!"
Gagak Wulung bangkit dan menyambar tangan Ni Dedeh Sawitri, diajaknya memasuki dusun itu.
Ni Dedeh Sawitri sudah tersenyum kembali dan diam-diam ia merasa semakin suka kepada pria ini.
Seiain dapat menjadi seorang kekasih yang amat menyenangkan karena kepandaian bermain cinta, juga pria ini memiliki kedigdayaan dan amat cerdik pula, dapat menjadi sekutu yang amat menguntungkan.
Dan hasil dari rencana kedua orang ini merupakan malapetaka bagi penghuni dusun Klinting.
Sudah belasan orang menjadi mayat yang bertumpuk dan berserakan ketika dipaksa mengaku.
Mereka mengumpulkan seluruh penduduk dengan kekerasan, tua muda, laki-laki, perempuan, dari bayi sampai kakek nenek jompo, semua disuruh keluar rumah dan dikumpulkan di lapangan terbuka itu.
Tadinya tentu saja ada beberapa orang laki-laki yang tidak mau mentaati perintah itu.
Sekali menggerakkan tangan, sepasang manusia iblis itu membunuh dua orang laki-laki muda yang tidak taat itu dan semua penduduk dusun itu menjadi ketakutan dan tidak ada lagi yang berani membantah.
Seorang demi seorang ditanyai dan karena mereka tidak mengaku, mereka disiksa dan dibunuh.
Kakek yang terakhir dibunuh oleh Gagak Wulung itu membuat semua orang semakin ketakutan.
Namun, mereka adalah orang-orang dusun yang baik.
Mereka maklum bahwa dua orang ini jahat dan mereka mencari Raden Nurseta tentu mempunyai niat buruk oleh karena itu ketika mereka ditanyai tentang putera Ki Baka, mereka tidak mau memberi tahu.
Ni Dedeh Sawitri mengerutkan alisnya, dengan jengkel dan ia menahan tangan Gagak Wulung yang hendak menyeret laki-laki berikutnya untuk ditanyai dan disiksa atau dibunuh kalau perlu.
Dia memandang temannya dan Ni Dedeh Sawitri tersenyum, menunju ke arah seorang gdis cilik yang berjongkok dengan tubuh gemetar di sudut, diantara ayah dan ibunya yang juga sama takutnya.
"Kau coba perawan itu dengan cara lain"
Bisik Ni Dedeh Sawitri.
Gagak Wulung yang cerdik segera mengerti akan maksud kawannya.
Dia tersenyum dan melangkah maju dan sekali sambar, dia sudah menjambak rambut gadis cilik itu.
Gadis itu menjerit, gelungnya terlepas dan bagaikan seekor kelinci yang digantung pada telinganya siap untuk disembelih, ia diangkat oleh Gagak Wulung.
Seorang gadis cilik yang usianya baru duabelas tahun.
"Siapa bapak dan ibunya? Maju ke sini"
Bertanya Ni Dedeh Sawitri.
Ayah dan ibu anak itu dengan tubuh gemetar dan muka pucat, merangkak maju dan mata ibu itu terbelalak kearah puterinya yang masih tergantung pada rambutnya yang dipegang Gagak Wulung.
"Nah, sekarang kalian katakan, siapa nama anak Ki Baka itu dan di mana dia berada. Jika kalian tidak mau mengaku, perawan kecil ini akan diperkosa di depan kalian! sampai mampus!"
"Ohhh....... tidak.......!"
Pria yang menjadi ayah anak itu memekik dengan muka pucat.
"Jangan........ oh, jangan........"
Teriak ibunya dan menjerit sambil menangis lalu bergulingan di tanah untuk meraih anaknya, akan tetapi sebuah tendangan dari Ni Dedeh Sawitri membuatnya terjungkal.
"Kalau kalian tidak ingin anak kalian diperkosa sampai mati, katakan, siapa nama putera Ki Baka dan di mana dia bersembunyi!"
Bentak wanita kejam itu.
"Aku ....... kami......... tidak tahu......."
Ayah dan ibu gadis itu menggeleng kepalanya keras-k eras.
"Hemm, Gagak Wulung, hayo, tunggu apa lagi? Perkosa anak itu agar mereka melihatnya!"
"Brett brett-brettt!"
Beberapa kali tangan kiri Gagak Wulung merenggut dan mencabik-cabik, pakaian yang tadinya menutupi tubuh anak perempuan itupun robek-robek dan tanggal semua dari tubuhnya.
la kini telanjang bulat metonta-ronta, masih tergantung pada rambutnya.
Melihat tubuh gadis yang belum mekar benar itu, Gagak Wulung tersenyum senyum dan tangan kirinya kini meraba-raba secara kurang ajar sekali.
"Jangan........! Ah, nama putera Ki Baka adalah Raden Nurseta.........'"tiba-tiba ibu anak itu menjerit. Gagak Wulung tersenyum, jari-jari tangannya mencubit payudara anak itu yang mulai membukit.
"Aih, seperti buah mangga ya ranum!"
Ni Dedeh Sawitri membentak Iagi, dimana dia sekarang? Di mana adanya Nurseta itu sekarang?"
"Itu........ saya........ saya tidak tahu ......."
Ibu anak menangis menggugu "Ah, ampunkan kaml, ampunkan anak saya..."
Mendengar itu, Gagak Wulung lalu berlutut dan merebahkan anak perempuan itu atas tanah terJentang dan dia membuat gerakan seolah-olah hendak melepaskan pakaianya sendiri.
Melihat ini, tiba tiba ayah anak itu berteriak.
"Jangan-.....! Raden Nurseta sebulan yang lalu pergi ke Goa Kantong Bolong di pantai Segara Kidul"
Mendengar ini, Gagak Wulung dan Ni Dedeh Sawitri saling pandang dan tersenyum.
Gagak Wulung tersenyum bangga lalu melepaskan gadis cilik itu bangkit berdiri setelah mengelus perut gadis itu, mengebutkan bajunya dan berkata.
"Hemm, sayang....... ia mulus dan ranum....... !"
"Huh......."
Ni Dedeh Sawitri mendengus, tangan kirinya bergerak ke arah tubuh telanjang yang masih terlentang itu.
"Crattt......!"
Tidak nampak gerakan tangannya saking cepatnya, akan tetapi tahu-tahu perut gadis itu tergurat kuku, robek panjang dan ia berkelojotan sebentar, lalu tewas dengan tubuh membiru.
"Ha-ha-ha, engkau cemburu ya..........?"
Gagak Wulung tertawa.
"Siapa cemburu!"
Bentak Ni Dedeh Sawitri.
Ayah dan ibu anak itupun menjerit, menubruk mayat puteri mereka.
Gagak Wulung dan Ni Dedeh Sawitri tidak perduli, mereka bergandengan tangan dan Gagak Wulung berkata "Mari kita saling mengobati, baru pergi mencari Nurseta"
Ditariknya tangan wanita itu memasuki sebuah rumah yang dianggap paling besar di dusun itu.
Mereka menemukan kamar tidur dan segera mereka masuk ke dalamnya, melempar diri ke atas pembaringan dan dua orang hamba nafsu ini tenggelam dalam buaian api nafsu yang membara.
Tak seorangpun diantara penghuni dusun berani mendekati rumah itu, mereka sibuk mengurus mayat-mayat yang berserakan, membawanya ke tanah kuburan untuk menguburkannya secara baik-baik.
Bahkan setelah selesai penguburan mayat-mayat itu, sampai hari menjadi malam, mereka masih berkumpul di tempat kuburan, tidak ada yang berani memasuki dusun mereka.
Dua orang hamba nafsu itu puas sekali.
Belum pernah selama hidup mereka menemukan seorang kekasih yang dapat mendatangkan kenikmatan dan kepuasan seperti pada hari itu.
Tentu saja mereka menjadi saling melekat dan saling membutuhkan, bukan hanya sebagal kekasih yang dapat memuaskan, namuri juga sebagai rekan, sebagai sekutu yang menguntungkan.
Setelah bermain puas menyalurkan nafsunya, keduanya merasa lelah sekali, akan tetapi juga ternyata bahwa tanda keracunan benar telah lenyap dari tubuh mereka.
Hal ini membuat mereka semakin akrab dan saling percaya.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka sudah meninggalkan dusun Kelinting tanpa ada seorangpun penghuni dusun yang mengetahuinya.
Bunyi menggelegar berkali-kali mengguncangkan dinding terjal bukit karang di tepi laut selatan, setiap kali ombak yang semakin besar menuju pantai tertahan oleh dinding karang itu.
Air laut pecah berhamburan, bagian terkecil menjadi uap membubung ke ata membasahi daun-daun dan semak-semak yan masih sempat tumbuh di dinding itu.
Jauh dibawah sana, nampak air laut berbuiir mengeluarkan suara mendesis-desis, kemerasak seperti air mendidih, buih-buih putih diayun ombak dan bermain-main dengan gembiranya sampai alun yang kuat mendorongnya dan menghancurkannya ke tepi dinding karang.
Buih itu hancur berantakan, namun selalu berkumpul kembali di atas permukaan air yan tenang sejenak sehabis gempuran dahsyat pada batu karang.
Mereka menanti datangnya ombak yang bergulung datang dari tengah, semakin ke tepi semakin meninggi, untuk kemudian dengan kekuatan terkumpul dahsyat menghantam batu karang yang menjadi dinding terjal bukit karang itu.
Betapa besar, dahsyat, dan kuasanya alam!
betapa indahnya, betapa perkasanya.
Pemuda yang duduk bersila di mulut Goa itu, di tengah dinding terjal bukit karang, aman dari jangkauan ombak karena terlampau tinggi bagi ombak untuk mencapai Goa Pemuda itu sejak matahari teibit, duduk bersila di Goa Kantong Bolong itu.
Seperti pesona dia memandangi matahari terbit, samudera membiru, lalu permainan alun dan ombak.
Penuh kagum dia memandangnya dan tiada bosannya dia mengamati semua itu semenjak dia bertapa di situ sebulan lebih yang lalu.
Pemuda itu adalah Nurseta, putera Ki Baka yang kini berusia enambelas tahun.
Nurseta memiliki tubuh yang sedang saja, namun tegap dan kekar karena sejak kecil dia bekerja berat di sawah dan di samping itu, sejak kecil dia digembleng oleh Ki Baka, melatih diri dengan olah raga, pencak silat, melakukan tapa brata, samadhi dan memperkuat tenaga luar dan dalam dari tubuhnya.
Wajahnya, halus tampan, namun pakaiannya sederhana sekali.
Pagi hari itu, dia hanya mengenakan celana hitam sampai di bawah lutut dan berselimut sarung kasar sederhana.
Dipandang sepintas, dia mirip seorang pemuda tani biasa.
Namun, kalau orang memperhatikan sinar matanya yang kadang-kadang mencorong, senyumnya dan bayangan pada wajahnya yang ramah dan penuh kehalusan, gerak geriknya, maka akan terdapat kesan bahwa pemuda ini bukanlah pemuda biasa, melainkan seorang yang "berisi".
Namun, pada saat seperti itu, seperti pada pagi-pagi yang lalu, Nurseta mengalami hal baru, bukan ulangan dan pada saat itu dia merasa benar bahwa dirinya itu bukan apa-apa, hanya menjadi bagian kecil dan tidak ada artinya bagi alam maya pada ini.
Tiada bedanya antara dirinya dengan air yang pecah berhamburan itu atau dengan segumpal awan yang melayang-layang di angkasa itu atau bahkan dengan seekor diantara burung-burung camar yang terbang di atas permukaan air laut itu.
Dia bukan apa-apa, sebagian kecil saja dari hasil karya cipta yang Maha Agung ini.
Kalau pada saat itu dia terjun ke bawah, lenyap ditelan air bergelombang, hal ini tidak akan mengubah segalanya.
Segalanya masih akan berlangsung seperti apa adanya dan diapun akan hilang begitu saja.
Bukankah semua manusia itu akhirnya juga akan lenyap direnggut maut?
Tidak perduli apakah dia itu laki-laki atau perempuan, kaya atau miskin, raja atau jembel, berpendidikan atau tidak.
Seperti tokoh-tokoh wayang itu.
Baik raksasanya yang jahat maupun rajanya yang berkuasa, pada akhirnya akan mengalami hal yang sama, yaitu masuk kotak yang ditutup oleh Ki Dalang dan habislah.
Alam sungguh indah dan agung, kalau dipandang oleh mereka yang mampu membuka mampu membuka dengan waspada, tanpa prasangka, tanpa pendapat, tanpa penilaian, tanpa pamrih.
Nurseta terseret kembali oleh pikirannya.
Ia terkenang masa kecilnya.
Dia tidak ingat lagi bagaimana wajah ibunya, namun dia masih ingat betapa dia ditimang-timang, dikeloni, masih terasa olehnya akan kasih sayang itu.
Bukan diingat melainkan terasa batinnya menjadi hangat.
Diapun teringat akan ayahnya, Ki Baka yang ditinggalnya sebulan yang lalu.
"Kulup, angger Nurseta"
Demikian kata ayahnya pada suatu pagi, sebulan yang lalu.
"Ketahuilah bahwa sempurnanya ilmu melalui pelaksanaan. Tanpa pelaksanaan, segala ilmu yang dipelajari takkan ada manfaatnya dari untuk memperdalam ilmu, haruslah disertai latihan dan tapa brata merupakan latihan terbaik. Tapa brata memperkuat batin dan membangkitkan tenaga dalam di tubuhmu. Oleh karena itu, kulup. Hari ini juga, pergilah engkau ke Goa Kantong Bolong di tepi Segara Kidul dan bertapalah di sana sampai aku datang menyusulmu"
Teringat akan ayahnya akan muncul, perasaa rindu di hati pemuda itu.
Ayahnya seorang yang amat menyayangnya.
Terkenang dia akan sikap ayahnya apabila dia bertanya tentang ibunya "la sudah tiada, angger dan tidak ada gunanya membicarakan mendiang ibumu, yang hanya akan mendatangkan kedukaan dan kehilangan belaka"
Demikian ayahnya selalu mengelak.
Ayahnya memiliki ilmu kepandaian yang tingai dan biarpun dia telah digembleng sejak kecil, namun baru separuh saja ilmu-ilmu ayahnya dapat dikuasainya.
Terutama sekali dalam penggunaan ilmu mengerahkan tenaga dalam seperti Aji Sari Patala, dia masih jauh, belum sekuat ayahnya sehingga kalau dia memainkan silat Aji Bajradenta.
Biarpun gerakannya lebih lincah dan cepat dibandingkan ayahnya, namun dia kalah tenaga.
Inilah agaknya yang mendorong ayahnya untuk mendesak agar dia bertapa di dalam Goa itu.
Selama satu bulan menyepi di tempat itu.
Ia selalu bersamadhi, menghimpun tenaga murni dan berlatih pernapasan, hanya tidur atau mata sudah tidak kuat bertahan, hanya makan atau minum kalau perut sudah menuntut.
Minum air sumber di atas bukit, makan sayur dan buah atau ketela, bukan makan mencari kelezatan, melainkan makan atau minum sebagai pemenuhan tuntutan perut belaka.
Jalan naik atau turun antara puncak bukit yang menjadi tepi tebing curam ke Goa Kantong Bolong, merupakan jalan yang amat sukar.
Bukan jalan manusia karena dia harus bergantungan pada akar-akar dan batu-batu.
Sangat berbahaya bagi manusia biasa karena sekali injakan kaki atau pegangan tangan terlepas, tubuh akan terjatuh meluncur ke bawah setinggi seratus tombak lebih dan akan hancur lumat diterima batu-batu karang yang runcing dan tajam di bawah sana, atau diterima ombak besar dan badan akan dihempaskan ke dinding karang sampai remuk.
Karena sukarnya jalan yang ditempuh untuk mencapai Goa itu, maka hampir tidak pernah ada orang yang berani mencari Goa itu, karena di situpun tidak ada sesuatu yang menguntungkan mereka.
Akan tetapi, pada pagi hari itu, tanpa sepengetahuan Nurseta yang sedang duduk bersila menikmati keindah dan keagungan alam yang terbentang luas di depannya, nampak dua orang menuruni tebi curam itu dengan cekatan, bagaikan dua ekor kera saja.
Hal ini menunjukkan bahwa kedua orang itu sudah pasti bukan orang sembarangan, melainkan orang-orang yang telah memilki ilmu meringankan tubuh yang sudah tinggi tingkatnya.
Maka, dapat dibayangkan betapa kaget dan heran rasa hati Nurseta ketika tiba-tiba saja ada seorang laki laki dan seorang wanita meloncat dari atas dan berdiri di depannya.
Diapun cepat bangkit berdiri dan memandang pada mereka penuh perhatian.
Biarpun masih muda dan kurang pengalaman, namun Nurseta memiiiki kecerdikan dan diapun dapat menduga bahwa dua orang ini tentu orang-orang sakti, makanya mereka dapat datang ke Goa itu, juga pandang mata mereka mengeluarkan sinar yang keras dan tajam.
Yang laki-laki berusia empatpuluh tahun lebih, tampan pesolek, dan seorang wanita yang usianya tigapuluhan tahun, namun memiliki kecantikanan luar biasa, juga pakaian dan dandanannya pesolek dan rapi.
Keduanya tersenyum memandangnya, seperti orang yang girang menemukan orang yang mereka cari.
Nurseta tidak menyukai sinar mata mereka yang mengandung kekerasan.
"Maaf"
Kata Nurseta yang sejak. kecil sudah diajar kesopanan oleh Ki Baka.
"Siapakah paman dan bibi, dari mana dan ada keperluan apa berkunjung di Goa yang sunyi ini?. Sepasang mata wanita itu memandang penuh kagum. Bukan main pemuda remaja ini, pikirnya dan gairahnya telah membuat sepasang pipinya berubah merah dan air liurnya membasahi rongga mulut seperti seorang hamil muda melihat mangga yang ranum. Akan tetapi pada saat itu ia masih teringat akan kebutuhannya, maka ia lalu bertanya dengan suara halus dan nadanya manis memikat.
"Apakah namamu Nurseta?"
Nurseta mengangguk membenarkan, tanpa menjawab karena pandang mata wanita itu, dengan senyumnya yang manis, membuatnya terpesona seolah-olah dia tidak sedang berhadapan dengan manusia biasa, melainkan dengan seorang dewi.
Inikah Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul seperti yang pernah didengarnya dalam dongeng?
Akan tetapi pakaiannya tidak seperti pakaian ratu, walaupun kecantikannya memang luar biasa.
"Dan engkau putera Ki Baka?"
Tiba-tiba terdengar suara laki-laki itu bertanya dengan suara membentak seperti orang marah.
Memang, di dalam suara Gagak Wulung itu tersembunyi kemarahan karena dia cemburu oleh lihat sikap Ni Dedeh Sawitri yang jelas nampak kagum dan tertarik kepada pemuda remaja ini.
Nurseta kini memandang Kepada penanya itu.
Seorang laki laki yang tampan dan gagah seperti juga wanita itu, pesolek dan elok, namun ada sesuatu pada pandang matanya yang membuat dia waspada dan berhati-hati.
Ada kekerasan tersembunyi di balik ketampanan itu.
Dan diapun merasa heran bagaimana dua orang ini dapat menduga siapa dia dan putera siapa.
Nursetapun mengangguk.
"Benar, aku bernama Nurseta, putera Baka di dusun Kelinting"
Gagak Wulung dan Ni Dedeh Sawitri saling pandang.
Diam-diam mereka agak gentar juga mengingat bahwa pemuda ini, biarpun masih remaja, adalah putera Ki Baka yang sakti mandraguna.
Mereka tidak meragukan bahwa tentu pemuda yang sedang bertapa dalam Goa seperti ini telah menerima gemblengan ayahnya dan memiliki aji kesaktian yang tak boleh dipandang ringan.
Maka, melalui pandang mata, mereka tahu bahwa mereka harus menjalankan siasat pertama seperti yang telah mereka rencanakan sebelum mendaki tebing tadi, yakni hendak membujuk remaja itu secara halus.
"Kaki Bagus Nurseta"
Kata wanita itu dengan suara halus penuh daya pikat.
"Aku ada adalah Ni Dedeh Sawitri, seorang sababat baik dari Ki Baka, dan dia ini adalah Gagak Wulung juga sahabat baik ayahmu. Kami berdua datang ke sini karena diutus oleh ayahmu"
Sambil berbicara, wanita ini telah mengerahkan ilmunya, yaitu Asmoro Limut yang dapat membuat hati orang tiba-tiba merasa suka dan tunduk bepadanya, suka memenuhi semua permintaannya.
Daya yang kuat itu memancar melalui sinar matanya, juga melalui senyumnya yang manis.
Nurseta merasakan pengaruh ini dan dia melihat betapa wanita ini sungguh ramah dan baik hati sekali di samping kecantikannya yang luar biasa, dan seketika diapun menaruh kepercayaan kepada wanita ini.
"Tidak mungkin seorang wanita secantik itu, seramah dan sehalus itu mempunyai niat buruk"
Pikirnya.
"Untuk urusan apakah ayahku mengutus paman dan bibi datang ke sini?"
Tanyanya.
"Kami diutus oleh ayahmu untuk minta agar engkau menyerahkan tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala kepada kami karena pusaka itu amat diperlukan ayahmu sekarang ini"
Kata Ni Dedeh Sawitri sambil mengerahkan aji kesaktiannya memperkuat daya penakluk melalui Aji Asmoro Limut.
Nurseta memandang heran dan terbelalak.
Seketika pengaruh itu lenyap dan dia menyadari bahwa kedua orang ini telah membohonginya.
Tidak mungkin ayahnya mengutus mereka untuk meminta tombak pusaka itu, karena tombak itu berada pada ayahnya.
"Akan tetapi....... aku tidak membawa tombak pusaka itu. Tombak itu tidak pernah terpisah dari ayahku!"
Katanya dengan terus terang karena dia memang merasa heran sekali.
"Ah, mana mungkin? Ayahmu sendiri yang mengutus kami, harap engkau tidak berbohong orang muda!"
Kata Ni Dedeh Sawitri penasaran. Nurseta mengerutkan alisnva.
"Aku tidak mengatakan kalian berbohong. Tetapi kalau andika berdua tidak percaya, silakan menggeledah Goa yang tidak berapa besar ini"
Dan dua orang itu lalu mencari-cari seluruh sudut dalam Goa, dan memang mereka tidak menemukan apa-apa kecuali beberap potong pakaian pemuda itu, batu-batu yang disusun untuk membakar ubi dan selebihnya tidak ada apa-apa didalam Goa itu.
"Ah, apakah Ki Baka telah menjadi linglung karena luka-lukanya yang parah itu"
Berkata Gagak Wulung dengan sengaja, karena dia sudah putus asa melihat tempat tinggal pemuda itu, dan dia tidak dapat menemukan tombak pusaka yang diperebutkan itu.
Nurseta terkejut bukan main, sambil memandang wajah Gagak Wulung.
Ia berkata "Paman, apakah ayahku sedang terluka parah?
Apa yang terjadi atasnya?"
Kembali Gagak Wulung saling pandang dengan Ni Dedeh Sawitri dan mereka melanjutkan siasat yang sudah mereka rencanakan.
"Kaki Nurseta, ayahmu memang terluka parah. Segerombolan orang jahat datang hendak merampas tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala dan ayahmu dikeroyok sampai terluka parah. Untung ayahmu tidak tewas karena kebetulan kami yang menjadi sahabat-sahabatnya datang berkunjung dan kami berhasil mengusir mereka. Karena ayahmu mengkhawatirkan tombak pusaka itu, maka dia minta agar kami suka berkunjung ke sini dan meminta tombak itu dan mengantarkan kepada ayahmu"
Tentu saja Nurseta terkejut bukan main mendengar bahwa ayahnya terluka parah.
"Tombak pusaka itu tidak pernah diberikan kepadaku, Kalau sampai ayah berkata demikian, tentu karena dia terluka parah sehingga ayah lupa. Tetapi dimanakah ayahku sekarang?"
"Dia berada di atas tebing ini, kami yang mengawalnya dan karena luka-lukanya, dia tidak dapat turun ke tebing ini"
"Kalau begitu, aku harus melihat ayah"
Nurseta tidak memperdulikan kedua orang tamunya dan dengan cekatan, seperti seekor monyet saja, dia meloncat dan merayap naik keatas Goa, terus memanjat melalui tebing terjal, dengan berpegang pada akar-akar atau celah-celah batu karang.
Melihat pemuda itu benar-benar tidak membawa tombak pusaka, kedua orang itupun cepat menyusulnya dan karena mereka berduapun memiliki ilmu kepandaian tinggi, tidak sukar nagi mereka untuk memanjat naik.
Hanya beberapa detik saja selisihnya ketika kedua orang itu telah meloncat ke tepi tebing.
Mereka melihat Nurseta mencari-cari ayahnya dengan pandang matanya.
"Di mana ayahku?"
Tanya Nurseta kepada kedua orang itu.
Kedua iblis itu tertawa, mereka tidak lagi mempergunakan siasat berbohong seperti tadi.
Gagak Wulung sudah bersiap mempergunakan kekerasan untuk menangkap pemuda remaja itu dan menyiksanya agar suka menunjukkan di mana ayahnya menyimpan tombak pusaka Tejanirmala.
Akan tetapi, Ni Dedeh Sawitri memberi isyarat dengan matanya kepada kawannya itu, lalu ia mendekati Nurseta.
"Bocah bagus, ketahuilah bahwa ayahmu telah kami tawan. Nyawanya berada di tangan Kami dan kami akan menukar nyawa ayahmu itu dengan tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala. Nah, karena kau seorang putra yang berbakti, tentu kau mau menukar keselamatan ayahmu dengan tombak pusaka itu. Sekarang berikan tombak pusaka itu kepada kami dan kami akan membebaskan ayahmu"
"Tombak itu ada pada ayah, bukan padaku!"
Nurseta berkata, gelisah membayangkan bahwa ayahnya berada dalam cengkeraman kedua iblis ini.
"Akan tetapi kau pasti tahu di mana disimpannya tombak itu oleh ayahmu. Nah. tunjukkan kepada kami tempat penyimpanannya untuk ditukarkan dengan nyawa ayahmu"
Nurseta bukan seorang pemuda yang bodoh, tadi, di dalam Goa, dua orang ini mengatakan bahwa mereka utusan ayahnya yang katanya berada di atas tebing, akan tetapi ternyata ucapan mereka itu hanyalah bohong belaka.
Siapa dapat menjamin bahwa perkataan mereka yang telah menawan ayahnya ini bukan merupakan suatu kebohongan yang lain lagi?
Lagi pula, dia tahu bahwa ayahnya adalah seorang yang gagah perkasa dan pantang mundur dalam membela kebenaran.
Untuk mempertahankan sebuah pusaka seperti Ki Ageng Tejanirmala, tentu ayahnya suka mempertaruhkan nyawanya sebab pusaka seperti itu akan ternoda dan dapat mendatangkan malapetaka kalau terjatuh ke dalam tangan orang orang sesat dan dia dapat menduga bahwa kedua orang ini bukanlah orang (Lanjut ke
Jilid 03) Sejengkal Tanah Sepercik Darah (Serial Sejengkal Tanah Sepercik Darah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 03 baik-baik.
"Tombak pasaka Ki Ageng Tejanirmala adalah milik ayahku dan hanya beliau yang tahu di mana pusaka itu disimpan, Aku tidak mau pergi bersama kalian, aku hendak kembali bertapa dalam Goa Kantong Bolong"
Setelah berkata demikian, dia hendak menuruni lagi tebing yang curam itu. Akan tetapi, dua orang itu meloncat dan menghadang di depannya "Kau harus ikut dengan kami"
Bentak Gagak Wulung marah.
"Aku tidak mau"
Jawab Nurseta, yang sudah siap menghadapi kekerasan yang agaknya hendak dipergunakan kedua orang itu.
"Hemm, kau berani membantah perintah kami? Kalau begitu, akan kuseret kau dengan paksa!"
Bentak Gagak Wulung dan diapun sudah menerkam bagaikan seekor harimau menubruk seekor kijang muda.
Namun, kijang muda ini bukan sembarangan kijang, dan dengan sigapnya Nurseta mengelak dan melempar tubuh ke samping memindahkan kaki dengan gerakan cepat sehingga tubrukan itupun hanya mengenai tempat kosong belaka.
Namun pada saat yang sama, dari belakangnya ada angin dahsyat menyambar, Nurseta membalik sambil menangkis lengan wanita yang telah menyerang dari belakang untuk mengcengkeram pundaknya itu.
Gerakan Nurseta memang gesit, begitu kakinya diputar tubuhnya membalik dan tangannya sudah menangkis.
"Dukkk!"
Wanita itu mengeluarkan teriak tertahan, karena tangkisan pemuda itu yang memutar lengannya ternyata mengandung tenaga yang kuat sekali, sehingga lengannya terpental.
Sebaliknya, Nurseta juga merasakan getaran kuat pada lengannya.
Maklumlah Nurseta bahwa dia menghadapi dua orang lawan yang memang tangguh.
Oleh karena itu, diapun segera membalas serangan mereka dengan mempergunakan kakinya menendang kearah perut Gagak Wulung dari arah samping.
Yang ditendang dapat menghindarkan diri dengan lompatan kecil, kini Ni Dedeh Sawitri sudah menyerang kembali, bahkan ia mempergunakan Aji Sarpakenaka karena ia ingin menangkap pemuda ini yang ternyata memiliki kepandaian yang cukup tangguh.
Nurseta terkejut.
Kuku jari itu runcing dan tajam, juga mengeluarkan bau yang amis, tahulah dia bahwa kuku itu mengandung aji pukulan beracun yang jahat.
Ayahnya sudah pernah memberitahu akan adanya aji-aji yang jahat dan beracun, dipergunakan oleh orang-orang dari golongan sesat.
Maka, diapun tidak berani sembarangan menangkis, melainkan hanya mengelak.
Tahu-tahu kini Gagak Wulung sudah menyerangnya kembali, gerakan Gagak Wulung ini lincah dan gesit, seperti seekor monyet saja dan tahu-tahu tangannya sudah menusuk kearah pelipis Nurseta, sedang tangan kedua sudah mencengkeram lambung.
Bukan main cepat dan berbahaya.
Nurseta cepat menekuk lututnya sehingga seragnan ke pelipisnya lewat di atas kepalanya, menangkis cengkeraman ke arah lambung sambil mengerahan tenaganya.
"Dukkk!!"
Kembali Nurseta terkejut karena lengannya terpental, tanda bahwa tenaga Gagak Wulung inipun kuat sekali dan mungkin dia hanya mampu mengimbanginya.
Padahal dia dikeroyok oleh dua orang dan kini dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya karena kedua orang lawannya sudah menghantamnya dari kanan kiri secara bertubi-tubi.
Melihat betapa warna telapak tangan Gagak Wulung berubah menjadi merah, Nurseta semakin waspada.
Dia sudah mendengar akan pukulan beracun yang membuat kedua tangan mejadi merah dan mengeluarkan hawa panas, maklum bahwa dua orang lawannya ini merupakan tokoh-tokoh sesat yang pandai mempergunakan aji kesaktian yang kotor beracun, Nurseta bersikap hati-hati dan diapun mengeluarkan semua kepandaiannya.
Namun, dia karena ia masih muda dan kurang pengalaman dalam perkelahian, dan kini dia harus menghadapi pengeroyokan oleh dua orang yang selain pandai dan sudah memiliki pengalaman yang banyak.
Segala gerak tipu kecurangan mereka miliki sehingga belum sampai duapulub jurus mereka berkelahi, sebuah goresan kuku dengan Aji Sarpakenaka telah mengenai pangkal tangan kiri Nurseta, sedangkan tamparan Hasta Jingga oleh Gagak Wulung juga mengenai paha kanannya.
Nurseta merasa betapa kaki kanan yang terkana tamparan itu panas dan terasa lumpuh, sedangkan tangan kirinya juga terasa nyeri dan gatal-gatal.
Nurseta maklum bahwa dia telah terkena pukulan beracun di dua tempat.
"Kalian manusia jahat! Jangan harap aku menyerah sebelum nyawa meninggalkan badan!"
Bentaknya dan diapun mengamuk. Namun, dengan luka-luka itu, tentu saja gerakannya menjadi lamban dan kaku.
"Gagak, jangan bunuh dia! Kita masih memerlukannya"
"Huh, pastilah untuk kau ambil sari perjakanya"
Tiba-tiba terdengar suara orang bernyanyi dengan suara yang lembut sekali, tetapi kata-kata yang dinyanyikan terdengar sangat jelas bagi ketiga orang yang sedang terlibat dalam perkelahian itu.
Gagak Wulung dan Ni Dedeh Sawitri terkejut bukan main mendengar suar tembang itu.
Mereka mengira bahwa yang muncul adalah kakek yang pernah menyelamatkan dan membawa pergi Ki Baka, tentu saja mereka gentar dan takut dan siap untuk melarikan diri, karena mereka sudah maklum akan kehebatan aji kesaktian kakek penolong Ki Baka itu.
Apa lagi ketika mereka melihat dari jauh kakek itu juga mengenakan pakaian serba putih, seperti pakaian kakek penolong Ki Baka.
Keduanya menahan diri dan tidak lagi menyerang Nurseta melainkan memandang kearah kakek yang sedang bertembang itu.
Hal ini melegakan hati Nurseta, karena pada saat yang genting karena dia terluka oleh pukulan yang sangat beracun oleh kedua orang pengeroyoknya.
Setelah orang yang bertembang itu tiba di depan mereka, barulah Gagak Wulung dan Ni Dedeh Sawitri mendapat kenyataan bahwa mereka salah kira.
Kakek ini sama sekali bukanlah kakek yang pernah menolong dan membawa pergi Ki Baka.
Kakek ini sangat berbeda.
Kalau kakek yang menolong Ki Baka itu mukanya pucat seperti mayat dan penuh keriput dan tak pernah nampak mulutnya bergerak walaupun sedang tertawa atau bicara, sebaliknya kakek ini wajahnya seperti wajah seorang anak muda saja, kulit mukanya belum berkeriput dan masih kemerahan walaupun rambut, kumis dan jenggotnya sudah putih semua.
Mulutnya penuh dengan senyum, sepasang matanya mengeluarkan sinar lembut dan ramah, pakaiannya sangat sederhana hanya terbuat dari kain kasar berwarna putih.
Yang mirip diantara kedua kakek itu adalah pakaian dan ikat rambutnya sajalah, kedua-duanya memakai kain berwarna putih.
Usia merekapun agaknya sebaya walaupun kakek ini wajahnya tetap segar seperti wajah orang muda saja layaknya.
Melihat kenyataan bahwa kakek ini bukanlah kakek yang mereka takuti itu, timbul pula keberanian Gagak Wulung dan Ni Dedeh Sawitri.
Tentu saja tidak semua kakek memiliki kesaktian seperti kekek penolong Ki Baka.
"Heh, orang tua, mau apa kau ke sini, pergilah, kami tidak ada urusan dengan kakek-kakek!"
Gagak Wulung membentak.
"Pergi dan jangan mencampuri urusan kami..!!"
Ni Dedeh Sawitri juga membentak marah.
Kakek itu tersenyum lebar, katanya "Heh-heh-heh, kulit memang tidak menentukan isi buah durian, kulitnya buruk akan tetapi isinya manis, sebaliknya mundu halus kuning isinya asam"
Tentu saja ucapan ini mengandung makna bahwa dua orang yang tampan dan cantik itu ternyata hanya elok pada lahirnya saja, akan tetapi wataknya sungguh tidak sesuai, begitu bertemu mengeluarkan kata-kata kasar dan mengusirnya.
"Sudahlah, perlu apa melayani tua bangka yang suah pikun"
Kata Ni Dedeh Sawitri.
"Hayo kita tawan dia!"
Dan iapun sudah menyerbu Nurseta yang berdiri sambil melepas lelah.
Tubuhnya terasa nyeri semua, terutama bekas goresan kuku Sarpakenaka dan tamparan Hasta Jingga.
Kepalanya sudah pening dan kedua kakinya gemetar.
Namun, melihat wanita itu sudah menyerangnya lagi, dia masih sempat mengelak dan kini Gagak Wulung juga sudah maju menyerangnya.
"Heh-heh, dua orang yang memiliki aji kesaktian hitam mengeroyok seorang pemuda remaja. Sungguh tidak adil dan aku akan menonton kalian memetik buah pahit dari tanaman yang kalian tanam sendiri. Heh, orang muda, jangan takut dan lawanlah mereka"
Katanya.
Tanpa diperintah sekalipun, Nurseta memang bertekad untuk mempertahankan nyawanya segigih mungkin, sampai titik darah terakhir!
Dia teringat selalu akan satu diantara wejangan ayahnya, yang pernah berkata begini.
"Kulup, anakku Nurseta, ingatlah selain bahwa Hyang Maha Agung telah menganugerahi kita manusia dengan tubuh sempurna dan tanah untuk mempertahankan kehidupan kita. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaganya, menjaga tanah dan tubuh kita. Ingatlah kulup, bahwa tanah atau tanah air, harus dijaga dan dibela, kalau perlu dengan taruhan nyawa, karena di tanah air inilah terdapat sejarah semenjak nenek moyang kita, dimana mereka dikuburkan, dimana kita dilahirkan, dimana kita mencari makan, sandang dan papan, dimana kita berbangsa dan berkebudayaan. Sejengkalpun tanah harus kita pertahankan, karena itu milik kita, hak kita sebagai anak bangsa. Dan tubuh kitapun harus dipertahankan sebaik mungkin, karena seperti juga tanah, tubuh merupakan anugerah Hyang Maha Agung, yang hanya dititipkan saja kepada kita, untuk kehidupan dan kebahagian hidup kita. Kalau tubuh kita sakit, kita harus mengobati. kalau terancam, kita harus menyelamatkannya. Sekarang dia dikeroyok dua orang yang hendak membunuhnya, atau setidaknya Ingin menawan dan menyiksanya untuk memaksanya menunjukkan dimana adanya letak pusaka Tejanirmala. Hanya kepadanyalah ayahnya memberitahukan letak pusaka itu disimpan, yaitu di puncak sebuah diantara dua batang pohon aren di kebun belakang. Dia harus membela diri, sepercik darahnya harus dibela, demikian juga dengan sejengkal tanah airnya. Akan tetapi, ada keanehan yang membuat Nurseta terkejut, kaget dan juga bingung. Setiap kali tangan atau kaki dua oran lawannya itu melayang untuk menyerangnya, tangan atau kaki lawannya itu tertahan atau seperti tertangkis oleh sesuatu yang tidak nampak sehingga tidak sampai mengenai tubuhnya. Melihat keanehan ini, Nurseta yang cerdik dapat meduga bahwa ada orang sakti mandraguna ya membantunya dan siapa lagi orang sakti itu kalau bukan si kakek tua renta itu. Karena, selain mereka bertiga yang hadir di situ hanya kakek itulah yang tersisa. Nurseta menjadi girang dan segera membalas dengan tamparan-tamparan, pertama kearah dada Gagak Wulung dan yang kedua kalinya dia menampar kearah pipi Ni Dede Sawitri.
"Desss! Plakkk!"
Dua serangannya itu tepat mengenai sasaran, seolah-olah sama sekali tidak dielakkan oleh kedua orang lawannya.
Gagak Wulung roboh terjengkang dan Ni Dedeh Sawitri terpelanting.
Meraka cepat meloncat berdiri kembali dengan muka pucat.
Betapa mereka tidak akan menjadi gentar kalau tadi semua serangan mereka tertumbuk pada kekuatan tak nampak yang membuat serangan mereka tidak dapat menyentuh kulit pemuda remaja itu, dan ketika pemuda itu membalas, betapapun mereka berusaha menangkis, namun mereka tidak mampu menggerakkan tubuh, baik untuk menangkis maupun mengelak.
Mereka merasa penasaran sekali.
Ilmu iblis apakah yang dipergunakan oleh pemuda ini?.
"Keparat, rasakan pembalasanku!"
Bentak Ni Dedeh Sawitri dan kini kedua tangannya terbuka dengan kuku-kuku jari tangannya sudah penuh dengan Aji Sarpakenaka maju menyerang Nurseta.
Serangan ini merupakan serangan maut, karena terkena sekali goresan satu kuku saja sudah berbahaya, apa lagi kalau terkena goresan sepuluh kuku.
Akan tetapi, selagi Nurseta menghindar, ternyata gerakan kedua tangan musuhnya itu terhenti di tengah jalan dan melihat Nurseta melangkah maju, lalu mengirim hantaman dengan kekuatan Aji Sari Patala, dan jurus dari Aji Bajradenta dia mengarahkan kearah ubun-ubun kepala wanita itu.
Tetapi, selagi tangannya bergerak, tiba-tiba dia teringat akan pesan ayahnya.
"Ingat, kulup. Jangan sekali-kali membunuh, betapapun jahatnya orang itu, kecuali hanya kalau terpaksa untuk membela diri dari ancaman maut. Membunuh adalah kesalahan yang paling besar dan dikutuk oleh Hyang Wisesa, angger"
Teringat akan perkataan ayahnya itu, Nurseta cepat menyelewengkan pukulan tangannya, sehingga pukulan itu tidak mengenai ubun-ubun, melainkan mengenai pundak kiri Ni Dedeh Sawitri, dan tenaganyapun sudah banyak dikurangi.
"Desss........!"
Betapapun juga, tubuh itu terpetanting untuk kedua kalinya dan kini tidak dapat segera bangkit karena pundaknya terluka parah, tulangnya seperti patah rasanya dan wanita itu memegangi pundaknya sambil merintih lirih.
Melihat keadaan teman sekaligus kekasihnya ini, marahlah Gagak Wulung.
Kedua lengannya digerak-gerakkan dan ketika kepalan tangannya dibuka nampak kedua tangan itu kemerahan dan mengeluarkan uap, lalu mengeluarkan bentakan dahsyat sambil menerjang Nurseta menggunakan kedua telapak tangan yang dialiri Aji Hasta Jingga sepenuhnya.
Serangan itu mengarah kebagian kepala dan dada.
Belum lagi pukulan-pukulan itu sampai, Nurseta sadah merasakan datangnya sambaran angin panas dan selagi dia siap untuk rnengelak, tiba-tiba saja Gagak Wulung berteriak kaget karena kedua tangannya terhenti di udara seperti tertahan oleh kekuatan yang tidak tampak.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Nurseta untuk membalas dengan tendangan.
Tendangannya meluncur ke arah bawah pusar dan tentu lawan akan roboh tewas kalau mengenai sasaran.
Namun Nurseta kembali teringat, tidak boleh membunuh dan diapun mengubah arah tendangannya.
"Desss..!"
Tendangan itu mengenai pinggul dari tubuh Gagak Wulung, yang mengakibatkan Gagak Wulung terjengkang dan terbanting keras diatas tanah.
Gagak Wulung mencoba merangkak bangun, dan ia saling pandang dengan Ni Dedeh Sawitri, kemudian keduanya memandang kearah kakek tua renta yang masih tersenyum dan berdiri tidak jauh dari arena perkelahian.
Mereka mengerti, bahwa kakek itulah yang menurunkan bantuan kepada Nurseta.
Mereka maklum bahwa keadaan mereka dalam bahaya, maka dengan pandangan mata, keduanya sudah sepakat untuk melarikan diri.
Mereka meloncat dan lari sekuat tenaga meninggalkan tempat itu seperti dikejar setan.
Sementara itu, kakek tadi sangat kagum melihat tindakan Nurseta tadi, dua kali Nurseta mengubah gerakannya, serangan maut menjadi serangan yang tidak membabayakan nyawa lawan.
Hal inilah membuat dia tersenyum lebar dan kini ia mengamati pemuda remaja itu penuh perhatian.
Dia mengangguk-angguk, tangan kirinya mengelus jenggot panjang putih, tangan kanan memutar-mutar seuntai tasbeh seperti menghitung biji-biji tasbeh itu tanpa henti.
Nurseta adalah seorang pemuda yang cerdas.
Dia tahu bahwa tanpa ada yang menolongnya, tentu kini ia sudah roboh tertawan atau mungkin juga sudah tewas.
Dan penolongnya tentu kakek tua renta ini.
Maka, tanpa ragu diapun menjatuhkan diri berlutut didepan kakek itu, menghaturkan hormat "Berkat pertolongan Eyang, saya masih bisa bernafas sampai saat ini, entah bagaimana saya dapat membalas budi kebaikan itu....."
Sampai di sini, Nurseta tidak kuat lagi menahan nyeri yang sejak tadi menghentak-hentak tubuhnya karena racun-racun pukulan kedua orang lawannya sudah mulai bekerja dan Nursetapun terguling roboh, pingsan.
Kakek itu lalu duduk bersila memeriksa keadaan tubuh Nurseta.
Melihat bekas goresan kuku yang menjadi biru kehitaman, bekas tangan Hasta Jingga yang kemerahan.
Kakek tersebut menarik napas panjang, lalu mengheningkan cipta.
Dari mulutnya mengeluarkan puja-puji mantram lirih.
Kedua telapak tangannya yang agak gemetar karena mengandung tenaga sakti itu kini mengurut-urut bagian tubuh Nurseta yang terkena pukulan beracun.
Ketika kedua tangan itu mengurut-urut bekas goresan kuku Sarpa Kenaka, kedua telapak tangannya berubah hitam karena hawa beracun itu tersedot oleh kekuatan yang terkandung di dalam kedua tangan kakek tersebut.
Kakek itu kemudian mencuci tangannya dengan rumput basah.
Kemudian ia mengurut lagi luka yang diakibatkan oleh pukulan Hasta Jingga dan racun itupun tersedot sehingga kedua telapak tangan kakek itu berubah merah.
Dicucinya kembali kedua telapak tangan itu dengan rumput basah.
Tak lama kemudian Nurseta siuman dari pingsannya, ia membuka kedua matanya dan cepat dia bangkit duduk, Ia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi.
Dan ketika ia merasa bahwa luka-lukanya tidak terasa nyeri, dan melihat betapa bekas pukulan kedua orang lawannya yang tangguh itupun tidak berbekas lagi, kembali ia menyembah kakek yang duduk bersila di depannva dan kakek itupun sedang memandangnya sambil tersenyum.
"Luka saya telah sembuh,, sudah pasti bahwa paduka yang kembali telah menolong saya. Eyang, terima kasih saya haturkan dan......."
Kakek itu mengangkat tangan kanannya keatas sebagai isyarat agar pemuda itu tidak melanjutkan kata-katanya.
"Kulup, lepaskan kembali ikatan itu. Dendam dan budi hanyalah pengikat batin, menjadi beban dan memperkuat rantai karma. Tidak ada menolong atau menolong, karena perbuatan itu selalu menyembunyikan pamrih. Sudah menjadi kewajiban tiap orang manusia untuk menolong dalam batas kemampuannya, untuk mengulurkan tangan memberi makanan bagi yang kelaparan, memberi minum yang kepada yang haus, mengbati yang sakit, dan menginsyafkan yang sesat"
Nurseta menghormat dengan khidmatnya dan iapun maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang kakek yang bukan saja sakti mandraguna, namun juga bijaksana, seorang yang berhati bersih.
"Ampun beribu ampun, Eyang, bukan makud saya untuk membantah. Akan tetapi, jauh bedanya dendam dengan budi. Dendam memang seyogyanya ditiadakan dari batin, akan tetapi budi? Tidakkah sudah sewajarnya kalau kita harus mengenai budi yang dilimpahkan orang lain kepada kita, Eyang?"
"Heh-heh-heh, memang seharusnya demikianlah menjadi orang muda, selalu ingin mengetahui akan kebenaran. Ketahuilah, kulup, dan mari kita selidiki bersama. Apakah bedanya dendam dengan budi? Bukankah keduanya itu timbul dari batin yang mempertimbangkan untung rugi."
"Hamba mengerti, Eyang"
Katanya mengangguk-angguk.
"Kulup, sekarang aku ingin bertanya. Siapakah andika dan mengapa pula tadi andika dikeroyok oleh dua orang itu?"
Maklum bahwa dia berhadapan dengan orang yang sakti mandraguna dan bijaksana. Nurseta lalu menjawab "Saya kira Eyang tidak akan khilaf lagi siapa saya dan mengapa saya dikeroyok oleh mereka"
"Heh-heh-heh, bocah bagus. Orang yang mengaku mengerti sesungguhnya tidak mengerti, dan orang yang mengaku pintar sesungguhnya adalah bodoh. Jawablah pertanyaanku tadi dan ceritakan semuanya, kalau engkau tidak berkeberatan"
Nurseta terkejut dan teringat bahwa dia teahl salah bicara.
"Harap maafkan saya, Eyang. nama saya Nurseta dan nama ayah saya Ki Baka yang bertempat tinggal dusun Kelinting. Kurang lebih sebulan yang lalu saya disuruh oleh saya bertapa di dalam Goa Kantong Bolong di bawah tebing itu. Sedangkan kedua orang yang menyerang saya tadi, adalah Gagak Wulung dan Ni Dedeh Sawitri. Tiba-tiba saja mereka sudah berada di dalam Goa Kantong Bolong, mereka mengatakan bahwa ayah saya terluka parah oleh orang-orang yang hendak merampas tombak aka Ki Ageng Tejanirmala. Mereka mengatakan diutus ayah untuk mengambil tombak pusaka itu dari saya. Sedangkan saya tidak pernah menerima tombak itu dari ayah, sewaktu saya mendengar bahwa ayah saya terluka, saya lalu naik keatas tebing dan mereka mengejar sampai di sini. Dan mereka lalu mengeroyok saya dan hendak memaksa saya menunjukkan dimana adanya tombak pusaka itu. Demikianlah ceritanya Eyang dan kalau Eyang memperkenankan, mohon saya dapat mengetahui, siapakah nama Eyang dan dimana tempat tinggal Eyang"
Kakek itu mengangguk-angguk.
Sejak tadi pandangan matanya selalu mengamati sosok pemuda remaja yang duduk bersila di depannya itu dan dia mendapat kesan bahwa pemuda ini merupakan seorang calon pendekar yang sangat berbakat, seorang calon satria yang dapat dibanggakan kelak.
"Kulup Nurseta, ketahuilah. Orang menyebut aku Panembahan Sidik Danasura. Adapun padepokanku berada di Teluk Prigi, di Segoro Wed (Lautan Pasir) di tepi pantai Laut Selatan. Sudah menjadi kesenanganku untuk menjelajah pegunungan selatan dari timur sampai ke utara dan tuntunan kekuasaan Hyang Widhi sajala yang membawaku ke sini dan melihat engkau terancam bahaya maut. Sekarang, apa yang hendak kaulakukan selanjutnya, kulup?"
"Eyang Panembahan, kemunculan dua orang itu jelas hendak mencari dan merampas tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala, dan saya merasa khawatir akan nasib ayah saya di dusun Kelinting. Saya rencan hendak pulang menengok keadaan ayah saya"
Kembali kakek itu mengangguk-angguk "Sudah lama aku mendengar akan tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala itu, angger.
Hemh, orang-orang mencari keselamatan melalui pusaka, padahal, tidak ada pusaka yang lebih ampuh dari pada keadaan batin sendiri.
Pusaka hanyalah alat, benda mati, kalau dipergunakan untuk kebenaran dan kebaikan maka jadila ia pusaka keramat, sebaliknya, kalau dipergunakan untuk kekeliruan dan kejahatan, jadilah ia benda terkutuk.
Mereka yang menyerangmu itu termasuk golongan sesat yang takkan menyerah begitu saja sebelum niat mereka tercapai, maka amatlah berbahayalah kalau engkau melakukan perjalanan seorang diri.
Kalau kau tidak keberatan, marilah kita jalan bersama, kulup"
Tentu saja Nurseta merasa girang bukan main.
Dengan adanya kakek ini, dia boleh merasa aman terhadap ancaman dan gangGoan orang sakti yang jahat itu.
Dan siapa tahu ayahnya benar-benar menderita luka parah dan kakek ini akan dapat menyembuhkannya, seperti yang dilakukan pada dirinya tadi.
Maka Nursetapun menjawab "Tentu saja saya tidak keberatan, bahkan saya merasa gembira dan berterima kasih sekali, Eyang panembahan"
Mereka lalu bangkit dan berjalan meninggalkan tempat itu, menuju ke dusun Kelinting.
Ia ingin cepat-cepat tiba di dusunnya.
Ia mengerahkan aji kesaktiannya dan berlari cepat.
Dia melihat kakek itu berjalan saja, seperti lambat, namun anehnya, kakek itu tidak tertinggal satu langkahpun darinya, bahkan berada di sampingnya, sehingga Nurseta dibuat terkagum-kagum dan takluk Karena dua orang sakti itu melakukan perjalanan dengan aji kesaktian mereka, maka sore harinya mereka telah memasuki dusun Kelinting.
Begitu masuk dusun dan bertemu dengan seorang kakek penduduk itu, Nurseta dirangkul dan kakek itupun menangis.
"Aduh, Den Nurseta....... malapetaka telah menimpa dusun kita !"
Nurseta terkejut sekali.
"Paman Karpo, apakah yang telah terjadi?"
"Kurang lebih seminggu yang lalu......., gerombolan manusia iblis yang kejam, memasuki dusun ini. Mereka itu menghancurkan rumah ayahmu, kemudian membunuh belasan orang penduduk yang tidak memberitahu di mana engkau berada......."
"Dan bagaimana dengan ayahku?"
"Kami tidak tahu, ayahmu lenyap bersama mereka. Tidak kami temui seorangpun di bekas tempat tinggal ayahmu, Raden Nurseta"
Nurseta terkejut dan gelisah sekali.
"Eyang Panembahan, saya akan mencari ayah dahulu"
Dan diapun berlari menuju ke sudut dusun tempat tinggal ayahnya.
Panembahan Si Danasura mengikutinya dari belakang.
Nurseta hanya dapat berdiri bengong memandang bekas rumahnya yang sudah rata dengan tanah, yang tinggal hanya puing-puing yang berantakan saja, bahkan tanah itupun nampak bekas dicangkuli.
"Ah, ayah tentu telah mereka tawan!"
Katanya, bingung dan juga gelisah.
"Tentu ayah tidak mau mengaku dimana adanya tombak pusaka itu, maka mereka menawan ayah"
"Tenanglah angger. Ada dua kemungkinan. Pertama, mereka tidak menemukan tombak Pusaka dan menawan ayahmu. Kedua, ayahmu berhasil melarikan diri dan membawa pergi tombak pusaka itu"
"Aku akan melihatnya, Eyang"
Nurseta berlari ke kebun dan dengan cepat memanjat sebatang diantara dua pohon aren itu. Tak lama kemudian dia meloncat turun "Pusaka itu sudah tidak ada"
Katanya.
"Kalau begitu, tidak mungkin ayahmu mereka tawan. Kalau mereka sudah menemukan pusaka itu, untuk apa lagi menawan ayahmu, tentu ayahmu berhasil menyelamatkan diri dan membawa pusaka itu"
"Mudah-mudahan demikianlah, Eyang. Akan tetapi, kemanakah ayah pergi? Kemana saya harus mencarinya?"
Pemuda itu menjadi gelisah kembali.
Kakek itu tersenyum "Kalau Hyang Wisesa menghendaki, engkau kelak tentu akan dapat berjumpa kembali dengan ayahmu.
angger.
Bagaimana kalau sementara ini engkau ikut denganku, memperdalam llmumu agar kelak dapat kau pergunakan untuk mencari ayahmu, membuatmu cukup kuat untuk.
menghadapi gerombolan penjahat yang sakti itu"
Memang hal ini sudah diharapkan oleh Nurseta. Menjadi murid kakek yang sakti mandraguna ini. Maka, mendengar ucapan itu lalu menjatuhkan diri berlutut.
"Eyang Panembahan, mulai detik ini saya, Nurseta, menghambakan diri kepada Eyang sebagai seorang murid dan apapun perintah Eyang kepada saya, akan saya junjung tinggi dan saya taati"
Panembahan Sidik Danasura mengulur tangan menjamah kepala pemuda itu, memberi isyarat untuk bangkit.
"Baiklah, aku menerimamu sebagai murid, kulup. Jangan khawatir, kalau Hyang Maha Agung mengijinkan, kelak engkau tentu akan dapat bertemu kembali dengan ayahmu. Sekarang, marilah engkau ikut bersamaku ke padepokanku di Teluk Prigi, kulup"
"Baik, Eyang"
Keduanya lalu pergi meninggalkan Kelinting, menuju ke selatan.
Di sepanjang perjalanan yang dilakukan dengan seenaknya itu, Sang Panembahan Sidik Danasura memberi wejangan kepada Nurseta yang didengarkan oleh pemuda itu dengan penuh perhatian, dan di mana perlu, dia tidak segan untuk mengemukakan pendapatnya agar dia dapat menangkap inti pelajaran itu lebih baik lagi.
"Angger Nurseta, tahukah kau, mengapa aku mengambil keputusan untuk mengangkatmu sebagai murid? Aku tertarik ketika melihat kau tadi tidak memukul mati dua orang lawanmu itu. Aku melihat betapa kau menahan diri, bahkan mengubah arah serangan dan mengurangi banyak tenaga agar kedua orang itu tidak sampai terluka parah atau mati. Mengapa kau melakukan hal itu?"
"Pada saat saya hendak mengirim serangan maut, tiba-tiba saya teringat akan wejangan ayah saya bahwa saya tidak boleh sembarangan saja membunuh orang lain, kecuali kalau terpaksa sekali demi membela dan melindungi diri sendiri yang terancam maut. Karena itulah, saya mengurungkan niat menyerang mereka untuk mematikan"
"Hemm, permulaan yang baik, Angger Nurseta, hidup manusia ini tidak ada artinya sama sekali kecuali kalau hidup ini dipenuhi dengan welas asih"
Mereka tiba di puncak sebuah bukit dari barisan bukit selatan yang seolah-olah menjadi tanggul untuk melindungi Pulau Jawa dari Laut Selatan.
Kakek itu berhenti dan mereka berdua memandang ke selatan.
Nampak bukit-bukit, sawah ladang, hutan-hutan, kemudian lautan membentang luas jauh di selatan, bersatu dengan langit, Kakek itu menarik napas panjang, menghirup hawa udara yang sejuk segar dan bersih, seperti orang kehausan meminum air jernih.
Nurseta juga melakukannya, dia merasa betapa dadanya mekar dan betapa hawa murni memasuki tubuhnya sampai terasa di pusar.
"Ah".. betapa nikmatnya hidup ini, angger"
"Benar, Eyang. Pada saat saya menghirup hawa murni, batin tidak terisi apapun, pada detik itu terasa nikmat dan bahagia yang sukar dilukiskan. Akan tetapi, begitu pikiran mengenang keadaan ayah, kekhawatiran timbul dan kenikmatan tak terasa lagi, kebahagiaan lenyap"
Mendengar ini, Panembahan Sidik Danasura tertawa, suara ketawanya lepas, mukanya mengadah ke langit, sehingga suara ketawa itu mengalun ke bawah bukit, bergema sampai jauh "Ha-ha-ha-ha!
Nah itu, engkau telah menemukan sendiri, merasakannya sendiri suatu kenyataan hidup.
Nurseta, Menghadapi kenyataan apa yang ada dengan waspada, itulah seni tertinggi dari hidup ini.
Kebahagiaan itu sudah ada dan berada dalam batin setiap orang, namun sayang, batin itu selalu dipenuhi dengan pikiran sehingga keruh dan kebahagian tak nampak lagi, yang terasa hanyalah khawatiran, kekecewaan dan duka"
Akhirnya tibalah mereka di tempat tinggal atauu yang biasa disebut padepokan Panembahan Sidik Danasura, di tepi pantai Segara Kidul, dekat teluk Prigi Segara Wedi.
Tempat yang lengang dan sunyi, seperti gurun pasir, namun tak jauh di tikungan pantai nampak pohon-pohon menghijau dan batu-batu karang dengan bentuk yang indah, ada pula dari jauh nampak seperti sebuah candi yang dipahat halus ukiran-ukirannya.
Begitu tiba di luar padepokan, Panembahan Sidik Danasura mengerutkan alisnya dan cuping hidungnya kembang kempis.
Juga Nurseta dapat mencium bau yang amat gurih dan sedap, bau ikan dipanggang.
Asap itu datang dari belakang padepokan dan terdengar suara orang laki-laki tertawa dengan suaara yang parau.
"Jagad Dewa Bathara......."
Kakek itu berkata lirih "Benarkah dia yang datang berkunjung itu?"
Pertanyaannya itu segera terjawab ketika mereka melihat dari samping padepokan.
Di sana, di belakang padepokan itu, nampaklah seorang laki-laki sedang memangang seekor ikan sebesar betis.
Ikan itu ditusuk dengan bambu dan di atas arang membara.
Dia membolak-balik ikan yang sudah hampir matang itu sambil tertawa-tawa girang, sedangkan tak jauh di dekatnya, di bawah batang pohon sawo, seorang gadis sedang mengeduk nasi yang masih panas mengepul.
Nurseta mengamati mereka dengan pandang mata tajam penuh selidik.
Pria itu berusia paling banyak limapulu tahun, tubuhnya tinggi besar dengan tulan tulang menonjol besar.
Pakaiannya serba hitam dengan baju terbuka bagian dadanya, meperlihatkan dada yang berbulu.
Mukanya tidak nampak jelas karena tertutup brewok, hanya matanya yang lebar dan mata itu jelalatan namun mencorong.
Adapun gadis yang sedang mengeduk nasi diatas hamparan tikar di bawah pohon sawo itu berusia kurang lebih lima belas tahun, belum dewasa benar namun kelihatan cekatan dan wajahnya manis dengan kulit bersih dan pakaiannya juga sederhana seperti seorang perawan dusun.
"Ha-ha-ha, Sari, engkau tidak lupa kepadaku, bagus sekali! Tidak ada ruginya menolongmu dari perahu yang terbalik beberapa tahun yang lalu. Engkau mau menyambutku dan menanakkan nasi, ha-ha-ha bagus, bagus"
Terdengar pria yang brewokan itu berkata sambil terkekeh senang.
"Bagaimana mungkin aku dapat melupakanmu, paman?"
Gadis itu menjawab.
"Di dunia ini, hanya paman Jembros dan Eyang Panembahan saja dua orang yang paling baik terhadap diriku"
Gadis itu menoleh dan melihat dua orang yang muncul dari depan pondok.
"Ah, itu eyang telah pulang, paman"
Katanya gembira, lalu bangkit hendak menyongsong kakek itu, akan tetapi ia menahan langkahnya ketika melihat Nurseta yang sama sekali tidak dikenalnya.
Melihat kakek itu, pria yang sedang memanggang ikan tertawa gembira.
"Ha-ha-ha, kebetulan sekali Paman Panembahan pulang. Mari kita nikmati ikan panggang ini, bersama nasi panas, wah, akan enak sekali. Jangan khawatir kurang, dapat kutangkap seekor lagi"
Panembahan Sidik Danasura melangkah perlahan menghampiri orang itu, tersenyum ramah.
"Selama lima tahun ini andika pergi kemana saja, kaki Jembros? Ternyata kesukaanmu makan enak belum juga mereda. Andika tahu bahwa aku masih tetap lebih suka makan sayur dan tidak makan makanan berjiwa"
"Eyang, saya telah buatkan masakan sayur untuk Eyang"
Kata gadis itu cepat "Tunggu sebentar saya ambilkan di dalam"
Gadis itupun dengan cekatan memasuki padepokan untuk menghidangkan masakan, dan diaturlah periuk dan alat makan di atas tikar.
Panembahan Sidik Danasura telah duduk bersila diatas tikar dan Nurseta juga dipersilahkan duduk.
"Kaki Jembros, apakah kunjunganmu ini ada hubungannya dengan Wulansari?"
Kakek itu bertanya, suaranya tetap halus dan ramah. Orang yang disebut Ki Jembros itu menurunkan ikan dari atas api karena sudah matang, dan diapun memandang kakek itu dengan mata yang lebar.
"Ha-ha-ha, mari kita makan dulu, Paman. Setelah makan, baru kita bicara. Hai, pemuda tampan, Silahkan andika ikut pula makan bersama kami"
Ajaknya kepada Nurseta.
Diam-diam pemuda ini merasa suka pada pria yang brewokan itu.
Walaupun pria itu sederhana dan kasar, namun sikapnya demikian terbuka dan ada sesuatu terpancar dari matanya yang jelalatan itu, yang menunjukkan bahwa orang kasar itu agaknya bukanlah orang sembarangan.
KI JEMBROS makan dengan gembul sekali, sama sekali tidak merasa malu-malu.
Gadis yang bernama Wulansari itu melayani mereka, dan karena belum diperkenalkan, maka antara ia dan Nurseta tak pernah terjadi tanya jawab, bahkan hampir tak pernah bertemu pandang.
Panembahan Sidik Danasura makan dengan perlahan, tidak banyak dan tidak bicara, membiarkan tamunya yang makan sambil menceritakan dengan gembira, betapa ia tadi berhasil menangkap ikan sebesar betis dengan gerakan tangan.
Dari pengamatan Nurseta yang juga makan dengan diam, mendengarkan saja, dia melihat betapa gadis manis itu memandang kepada kedua orang itu dengan sinar mata gembira dan mengandung kasih sayang, membuktikan kesungguhan ucapnya yang pernah didengarnya tadi bahwa gadis itu hanya mempunyai kedua orang itu saja di dunia ini.
Setelah mereka selesai makan, minum air dingin segar dari kendi dan mencuci tangan, Panembahan Sidik Danasura mengajak mereka semua masuk ke dalam padepokan untuk bercakap-cakap.
Pondok itu tidak terlalu besar hanya ada dua buah kamar, sebuah ruang duduk dan sebuah ruangan belakang yang dipergunakan sebagai dapur.
Tidak ada kursi di situ dan merekapun duduk di hamparan tikar di atas lantai.
Setelah mereka berempat duduk, Panembahan Sidik Danasura memperkenalkan Nurseta kepada Ki Jembros dan Wulansari.
"Kaki Jembros dan engkau angger Wulansari, ketahuilah bahwa pemuda ini bernama Nurseta, ia ikut bersamaku untuk mempelajari ilmu karena ia baru saja terbebas dari ancaman para tokoh sesat."
"Hahaha, sungguh Paman Panembahan masih memiliki semangat besar, setua ini masih saja mengambil seorang murid baru yang terbaik"
Kata Ki Jembros memuji.
"Kaki Jembros, Nurseta ini bukanlaah orang luar, bukan pula orang asing bagi kita. Ketahuilah bahwa dia putera Ki Baka"
"Hahaha! Begitukah?"
Ki Jembros kini berhenti tertawa dan menatap wajah Nurseta dengan matanya yang lebar dan jelalatan.
"Orang muda, ayahmu adalah seorang jantan yang patut kami kagumi. Bagaimana keadaan kakang Baka? Apakah ia baik saja bukan?"
"Terima kasih, paman,"
Jawab Nurseta.
"Sayang sekali bahwa saya tidak dapat memastikan apakah keadaan ayah saya baik-baik saja sekarang ini, karena ia telah tertawan oleh orang orang jahat."
"Kurang ajar! Siapa berani menawan dia? apakah yang telah terjadi?"
Dengan singkat Nurseta lalu menceritakan pengalamannya.
Betapa sebulan vang lalu ayahnya menyuruh dia bertapa di Goa Kantong Bolong di pantai laut selatan dan betapa kemudian tiba-tiba muncul dua orang tokoh sesat yang mengatakan bahwa ayahnya terluka parah.
Hampir saja ia tertawan oleh mereka kalau tidak muncul Sang Panembahan Sidik Danasura yang berhasil mengusir kedua orang tokoh jahat itu.
"Ketika saya bersama Eyang Panembahan elihat keadaan di dusun Kelinting, ternyata menurut para penduduk. Dusun itu kedatangan banyak orang jahat yang membunuhi orang-orang dusun. Rumah ayah dihancurkan dan ayah sendiri tidak ada, juga tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala telah lenyap dari tempat di mana ayah menyimpannya."Demkian Nurseta menutup cerita.
"Ah, akan terjadi apakah di jagad ini? Orang-orang menangkap Ki Baka, mencari Tejan Nirmala. Siapakah mereka itu, Paman Panembahan dan apa artinya semua ini?"
Ki Jembros berseru dengan suaranya yang parau dan kasar, matanya terbelaiak dan ia kelihatan penasaran sekali.
Panembahan Sidik Danasura tersenyum penuh ketenangan.
Bagi kakek ini, tidak ada yang aneh karena segala sesuatu yang terjadi adalah suatu kenyataan, suatu kewajaran yang bukan terjadi tanpa sebab.
"Ketahuilah, kaki. Dua orang yang hendak menangkap Nurseta karena dia dianggap tahu di mana disimpannya Tejanirmala itu adalah Gagak Wulung dan Ni Dedeh Sawitri."
"Hemmmm !"
Ki Jembros mengepal tinjunya yang bertulang besar.
"Datuk hitam dari Kediri si laki-Iaki cabul itu bekerja sama dengan siluman betina dari Barat itu? Sungguh seperti tumbu dengan tutupnya! Dan siapa pula penjahat-penjahat yang membunuh penduduk dusun Kelinting dan yang merusak rumah kang Baka itu, Paman Panembahan"
"Tidak ada penduduk yang mengenal mereka, akan tetapi mudah diduga bahwa mereka adalah tokoh-tokoh sesat yang tentu mempunyai dua maksud saja, yaitu pertama membalas dendam kepada kaki Baka karena dia tidak nembantu mendiang Ki Baya yang dibasmi oleh Kerajaan Singosari, dan ke dua, agaknya karena hendak merampas tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala.
"Hmmm, kukira masih ada hal lain lagi paman! Kalau sampai orang-orang seperti Gagak Wulung dari Kediri dan Dedeh Sawitri dari Pasundan ikut terjun ke dalam keramaian ini, maka hal itu berarti bahwa sebagian besar tikus keluar dari lubang persembunyian mereka untuk berpesta pora karena kucing-kucing bertugas di luar dan keadaan di dalam rumah kosong dan aman. Aku lebih mengkhawatirkan datangnya gangguan keamanan dan pemberontakan baru, paman!"
Kakek itu menarik napas panjang.
"Semoga manusia menyadari kekeliruannya. Perebutan kekuasaan, gila kekuasaan, dengki dan iri, benci dan permusuhan. Sudahlah, kaki Jembros, semoga la tetap tabah dan selalu ingat akan keagungan Hyang Widhi Wasesa dan waspada pada derap langkah kita sendiri masing-masing. Sekarang katakanlah, apa keinginanmu berkunjung kali ini?"
Ki Jembros kini sudah kembali kepada sikapnya semula. Keseriusan meninggalkan wajahnya yang penuh brewok dan diapun sudah tertawa-tawa lagi.
"Ha-ha ha, tentu paman tidak lupa bahwa sudah lima tahun lamanya menitipkan Wulansari di sini. Sekarang aku datang untuk membawanya pergi. Tentu sudah cukup bekal yang paman berikan kepadanya. karena aku yang menemukannya dan menjadi pengganti orang tuanya, maka sudah sepatutnya kalau ia sekarang ikut bersamaku. Bukankah begitu, Wulansari?"
Gadis itu menunduk, lalu mengangkat mukanya memandang kepada Panembahan Sidik Danasura.
"Eyang sendiri yang mengajarkan bahwa seorang manusia haruslah selalu memegang teguh janjinya. Lima tahun yang lalu paman Jembros menitipkan saya kepada Eyang Panembahan dan kalau hari ini dia mengambil saya dari Eyang, hal itu sudahlah tepat dengan perjanjiannya. Sebetulnya, hati saya tidak tega meninggalkan Eyang yang sudah tua, karena Eyang membutuhkan seseorang untuk melayani keperluan Eyang sehari-hari. Akan tetapi mendengar bahwa ki sanak ini sekarang menjadi murid Eyang, maka hati sayapun merasa lega dan tidak khauatir kalau harus meninggalkan Eyang."
Panembahan Sidik Danasura mengangguk-angguk.
Teringatlah dia akan peristiwa yang terjadi lima tahun yang lalu.
Ketika itu, dia tengah duduk bersamadhi, tiba-tiba muncul Ki Jembros yang memondong tubuh seorang anak perempuan berusia kurang lebih sepuluh tahun.
Anak itu berada dalam keadaan pingsan dan hampir mati karena lemas, seluruh tubuh dan pakaiannya basah kuyup.
"Paman Panembahan, tolonglah anak ini. Aku tidak sanggup menyelamatkannya, tidak tahu bagaimana caranya. Sebuah perahu terbalik dan semua penumpangnya hanyut, hanya anak ini yang dapat kuselamatkan, akan tetapi iapun nyaris tewas, paman,"
Kata Ki Jembros yang dikenalnya sebagai seorang pendekar petualang yang berwatak kasar namun memiliki kedigdayaan, sakti mandraguna dan berbudi baik.
Dengan pengetahuan dan pengalaman menolong orang yang baru saja hanyut hampir tenggelam, Panembahan Sidik Danasura berhasii mengeluarkan air laut dari dalam perut anak itu dan menyembuhkannya.
Anak perempuan itu bernama Wulansari, dan hanya itulah yang diingatnya.
Ia tidak ingat lagi apa yang telah terjadi dengan dirinya, dari mana ia datang dan mengapa ia hanyut di laut dengan perahu yang terbalik.
Agaknya, kepanikan ketika hanyut itu melenyapkan sebagian ingatannya.
Ki Jembros lalu menitipkan Wulansari pada Panembahan Sidik Danasura dan berjanji bahwa dalam waktu lima tahun, dia akan datang menjemput Wulansari yang sudah dia anggap sebagai anak angkatnya.
Dan pada hari itu, diapun muncul dan ternjata Wulansari yang kehilangan sebagian ingatan masa lalunya ternyata memiliki ingatan yang tajam dan masih mengenal Ki Jembros, penolongnya itu.
Mendengar kata -kata Wulansari, Panembahan Sidik Danasura mengangguk -angguk.
Memang seyogianya demikianlah, Sari.
Kak Jembros adalah orang yang menyelamatkanmu dari cengkeraman maut di lautan, dan ia berhak menjadi pengganti keluarga dan orang tuamu.
Ikutlah dengan dia dan pelajarilah baik-baik semua ilmu yang diajarkannya kepadamu.
Ia seorang pendekar yang gagah perkasa dan pantas menjadi guru dan pengganti orang tuamu.
Akan tetapi, kaki Jembros.
jangan berangkat pergi sekarang.
Tinggallah di sini malam ini dan besok pagi barulah, engkau pergi bersama Wulansari."
Selama lima tahun, kakek itu mendidiki Wulansari, bahkan mengajarkan pula beberapa macam ilmu bela diri kepada gadis itu yang menganggap kakek itu seperti kakeknya sendiri dan melayani kakek itu dengan penuh kasih sayang.
Oleh karena itu, terjadilah hubungan batin yang cukup akrab di antara mereka dan perpisahan yang tiba tiba tentu saja mendatangkan rasa kehilangan.
Pada senja hari itu, ketika Panemba Sidik Danaasura bercakap-cakap dengan Ki Jembros di dalam padepokan, Nurseta mendapatkan kesempatan untuk berkenalan dengan Wulansari.
Sesungguhnya, bukan pemuda itu yang mendahului, karena Nurseta yang seamanya belum pernah bergaul dengan wanita, tidak berani mendahului bicara.
Ketika itu, sedang duduk di pantai laut, menikmati keindahan senja di tepi pantai mengagumi air laut kidul yang tak pernah berhenti bergelora itu.
Tiba-tiba gadis itu datang menghampirinya.
Melihat Wulansari datang menghampirin Nurseta cepat bangkit berdiri dan mereka berdiri berhadapan, saling pandang di dalam keremangan cuaca senja.
"Ki sanak, namamu siapa tadi?"
Tanya gadis itu, dengan sikap dan suara yang wajar halus, tidak malu-malu.
"Namaku Nurseta, dan aku masih ingat mamu. Wulansari, bukan?"
"Benar, dan karena aku menjadi murid Eyang Panembahan. juga engkau kini menjadi muridnya, berarti kita ini masih saudara seperguruan. Engkau tentu lebih tua dari pada aku kakang Nurseta."
"Tentu saja. Usiamu tidak akan lebih dari limabeias tahun, dan aku Sudan enambelas tahun lebih. Adikku Wulansari, agaknya ada sesuatu yang hendak kaukatakan kepadaku, engkau datang menemuiku di sini. Katakanlah, apa yang dapat aku lakukan untuk membantumu?" 'Terima kasih, engkau baik sekali, kakang Nurseta. Memang sesungguhnya hatiku agak terasa berat, karena besok aku akan meninggalkan Eyang Panembahan. Beliau sudah tua dan hanya akulah yang melayani segala keperluannya, memasak, mencuci dan sebagainya. kalau aku pergi, dan hal ini tak dapat dirubah karena memang sudah semestinya demikian, aku harus ikut dengan Paman Jembros. Apakah engkau........ dapat menggantikan aku dan memperhatikan keperluan Eyang Panembahan? Kasihan, beliau sudah tua, kakang......."
"Tentu saja Wulansari, tentu saja. Sebagai saorang muridnya, sudah menjadi kewajibanku untuk mengurus segala keperluannya. jangan kau khawatir."
Wajah yang manis itu kini tersenyum dan matanya yang bening itu berseri.
"Aku tahu, kau seorang yang baik. Jangan lupa, Eyang Panembahan tidak makan daging, hanya buah dan sayuran. Minumnya hanya air atau degan ( kelapa muda )"
Narseta mengangguk-angguk, dengan penuh perhatian, lalu keduanya berdiam lagi sampai beberapa lamanya.
Nurseta memandang ke arah laut.
Cuaca tidak begitu terang lagi, namun suara alunan menderu semakin kuat tanda bahwa air mulai pasang bersama datangnya malam.
"Alangkah hebatnya Iautan......"
Kata Nurseta seperti kepada diri sendiri.
"Ya, hebat dan indah sekali, kakang Nurseta. Akan tetapi kalau setiap hari dari pagi sampai sore selalu melihatnya, menimbul keinginan dalam hati untuk melihat yang lain lagi, seperti pegunungan, dusun dan kota raja. Aku ingin merantau seperti ombak samudera itu, dan ini pula yang mendorong hatiku mendatangkan kegembiraan bahwa aku akan ikut pergi bersama Paman Jembros."
Ucapan ini mengingatkan Nurseta bahwa baru saja tadi dia berjumpa dan berkenalan dengan gadis yang manis ini, besok pagi mereka sudah harus akan saling berpisah Dia ingin mengetahui lebih banyak tentang diri gadis ini, ingin mengenalnya lebih dekat dengan gadis ini amat menarik hatinya, bukan hanya oleh bentuk tubuh dan keayuan wajahnya, juga oleh kepribadiannya, sikap dan gerak-serta suaranya.
"Adik Wulansari, apakah engkau akan menganggap aku lancang.mulut kalau aku bertanya padamu, sesungguhnya apakah hubunganmu dengan Eyang Panembahan dan dengan Paman Jembros itu? Tentu saja kecuali sebagai murid. Gadis itu menggeleng kepalanya.
"Hanya menjadi murid. Mereka itu adalah dua orang di dunia ini yang aku kenal, yang baik kepadaku, bahkan mereka berdualah yang dulu telah menolongku."
"Dan orang tuamu? Keluargamu...........?"
Sementara itu matahari sudah bergantung rendah di barat, hampir menyentuh permukaan laut dan mereka hanya dapat saling melihat bayangan masing-masing, angin laut bertiup keras bersama pasangnya air.
Wulansari menggeleng kepalanya.
"Tidak la keluarga, tidak ada orang tua. Lima tahun yang lalu, ketika aku berusia sepuluh tahun, demikian menurut keterangan Eyang Panembahan, aku dan banyak orang, mungkin diantaranya ada orang tuaku, mengalami kecelakaan. Perahu yang kami tumpangi terbalik dan hanya aku seorang yang dapat diselamatkan oleh Paman Jembros. Aku lalu dititipkan oleh paman Jembros kepada Eyang Panembahan,dengan janji lima tahun kemudian dia akan datang mengambilku. Dan sekarang saatnya sudah tiba, aku harus ikut bersama Paman Jembros"
"Tapi....... tentu engkau tahu siapa nama orang tuamu dan dari mana engkau datang........"
Wulansari tersenyum dan menggeleng kepala.
"Eyang Panembahan pun gagal menambahkan ingatanku tentang masa lalu itu. Aku lupa sama sekali, kakang Nurseta. Kata Eyang Panembahan, kepalaku terbentur karang ketika aku hanyut dan hal itu yang menyebabkan aku lupa segala masa laluku. Akan tetapi tidak mengapa, bukankah semua isi perahu itu hanyut dan tidak tertolong lagi? Mengetahui siapa keluarga berarti mengetahui pula bahwa mereka semua tewas. Sudahlah, dan engkau sendiri, kakang Nurseta? Menurut cerita tadi, ayahmu yang bernama Ki Baka telah ditawan orang-orang jahat, juga tombak pusaka itu dirampas orang jahat. Apakah engkau akan membiarkan saja hal itu terjadi? Mengapa tidak kau cari ayahmu itu?"
Nurseta tersenyum pula kini, senyum yang mengandung kepahitan.
"Mereka adalah orang-orang yang memiliki kesaktian, bahkan ayahku sampai dapat tertawan membuktikan bet saktinya mereka. Dengan ilmuku yang tidak seberapa ini, apa dayaku? Aku harus mempelajari ilmu yang lebih tinggi dari Eyang Panembahan, barulah kelak aku akan mencari ayah dan tombak pusaka itu. Aku percaya akan bijaksanaan Eyang Panembahan yang mengatakan bahwa kelak akan tiba saatnya aku bertemu kembali dengan ayahku."
"Aahh, Eyang Panembahan juga mengatakan padaku bahwa kalau memang Hyang Maha Widhi menghendaki, ada saja kemungkinan aku kelak juga bertemu dengan orang tuaku, kalau mereka masih dilindungi dan masih hidup. Eyang Panembahan selalu bicara secara samar-samar saja tentang masa depan, tidak pernah mau menjelaskannya, kakang."
"Beliau memang benar, Wulansari. Masa depan yang belum terjadi adalah rahasia Yang Maha Kuasa, pantang bagi manusia untuk menguak dan menjenguknya."
Dua orang muda itu masih bercakap-cakap, tidak tahu bahwa di dalam keremangan senja, muncul sesosok bayangan yang seolah-olah hantu lautan saja, karena bayangan ini benar-benar muncul dari lautan.
Bagaikan seekor burung camar laut yang pandai berenang di permukaan air laut saja, layaknya dia datang bersama ombak dari tengah laut.
Akan tetapi sesungguhnya, dia mengambang di permukaan air bukan seperti burung camar laut melajnkan dengan menginjak dua buah potongan kayu yang meluncur cepat di atas ombak.
Jubahnya yang lebar itu dibentangkan dengan kedua tangan menjadi layar dan kedua tongkat kayu yang diinjaknya itu meluncur dengan amat cepatnya menuju pantai!
Setelah tiba di pantai, dengan ringannya dia meloncat neninggalkan dua potong kayu itu dan menghampiri Nurseta dan Wulansari yang sama sekali tidak melihat munculnya orang aneh itu.
Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati kedua orang muda itu ketika tiba-tiba saja ada suara orang terkekeh di dekat mereka.
Mereka cepat membalikkan tubuh dan hampir saja Wulansari menjerit.
Seorang kakek sudah berdiri di dekat mereka, dan biarpun cuaca sudah remang-remang, namun (Lanjut ke
Jilid 04) Sejengkal Tanah Sepercik Darah (Serial Sejengkal Tanah Sepercik Darah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 04 pantulan sinar matahari senja di permukaan air masih mendatangkan cukup cahaya untuk dapat melihat wajah orang demikian menakutkan.
Kakek itu usianya sukar ditaksir, tentu hampir tujuhpuluh tahun jubahnya yang lebar berwarna kuning dan dibalik jubah itu dia mengenakan pakaian yang seperti sisik ikan.
Yang membuat Wulansari hampir menjerit tadi adalah ketika ia melihat wajah kakek itu.
Wajahnya itu berkulit biru kehitaman, dengan sepasang mata yang mencorong seperti mata harimau di dalam kegelapan, mukanya agak memanjang ke depan dengan mulut yang mengarah bentuk meruncing.
Aneh dan lucu dan menakutkan.
"Heh-heh-heh, nini, apakah namamu Wulansari?"
Tiba-tiba saja terdengar suara kakek itu.
Nurseta dan Wulansari adalah dua orang muda yang sejak kecil sudah menerima gemblengan orang pandai dan mereka bukan orang muda biasa, mereka memiliki kedigdayaan dan keberanian, namun pada saat itu mereka merasa gentar sekali, karena ada wibawa yang luar biasa keluar dari kakek ini.
Juga mereka merasa bahwa kehadiran orang tua ini mendatangkan suatu perasaan tidak enak seperti ada tanda bahwa dia datang membawa hal yang tidak baik, namun anehnya, pertanyaan yang langsung itu tidak mungkin dapat mereka sangkal.
Seperti didorong dan dipaksa saja, Wulansari mengangguk dan menjawab dengan suara yang agak gemetar.
"Benar, saya bernama Wulansari" ''Heh-heh-heh, bagus sekali. Memang sudah aku duga ketika selama beberapa hari ini aku melakukan pengintaian. Wulansari, cucuku yang baik, marilah engkau ikut bersamaku. Akulah eyangmu, sayang"
Berkata demikian, kakek itu menggerakkan tangannya ke depan untuk memegang lengan gadis itu.
Tentu saja Wulansari terkejut dan tidak mau percaya begitu saja.
Ia cepat menarik tangannya untuk mengelak, akan tetapi ungguh aneh sekali, tiba-tiba saja ia tidak mampu menggerakkan lengan itu, seolah-olah ada kuatan lain yang menahannya dan tak dapat dicegah lagi, lengan kirinya sudah tertangkap oleh tangan kakek itu yang jarinya panjang-panjang dan terasa dingin sekali.
"Iihh, lepaskan tanganku!"
Wulansari berseru dan kini ia membalikkan tubuhnya ke kiri, tangan kanannya menampar untuk memukul pundak kanan lawan agar pegangannya itu terlepas.
Tentu saja gadis ini mengerahkan tenaga sakti, karena ia dapat menduga bahwa ia berhadap dengan seorang yang pandai.
Tangan kanan gadis itu menyambar dahsyat dengan angin pukulan yang cukup kuat ke arah pundak kakek bermuka biru itu.
"Heh-Heh heh, agaknya tua bangka Sidik Danasura telah mengajarmu dengan cukup baik heh-heh!"
Kata kakek itu tanpa mengelak ataupun menangkis, sehingga tamparan Wulansari itu tepat mengenai pundaknya.
"Ihhhh.....!"
Walansiri mengeluarkan jeritan tertahan karena ketika telapak tangannya yang terisi hawa sakti itu mengenai jubah di pundak, tamparannya melesat seperti mengend sisik ikan yang licin, dan telapak tangannya terasa panas dan nyeri.
Melihat ini, tentu saja Nurseta menjadi marah dan tidak mau membiarkan saja kakek itu menangkap Wulansari.
"Orang tua, tidak baik mempergunakan kekerasan terhadap seorang wanita. Harap engkau suka melepaskannya!"
Katanya sambl melangkah maju menghampiri, siap untuk menyerang dan membela Wulansari. Kakek itu memandang kepada Nurseta.
"Hemm, orang muda. Engkau baru tadi datang. tidak perlu mencampuri urusan yang tidak ada sangkut pautnya denganmu"
"Semua urusan yang melanggar kebenaran merupakan urusanku! Lepaskan Wulansari atau terpaksa aku akan menggunakan kekerasan untuk membebaskannya dari tanganmu!"
"Hah-hah, engkau bocah cilik! Masih berbau berambang di pupukmu, masih ingusan hidungmu, sudah berani mengeluarkan kata-kata kasar. Cobalah, aku hendak melihat apa yang dapat kaulakukan terhadap aku, heh heh!"
Karena melihat Wulansari masih dipegang pergelangan tangan kirinva oleh kakek itu dan tidak mampu bergerak, Nurseta lalu menerjang ke depan dan menggunakan aji pukulan Brajadenta memukul ke arah dada kakek itu, dengan maksud agar kakek itu melepaskan tangan Wulansari untuk menghadapi serangannya cukup dahsyat.
Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika dia melihat betapa kakek itu sama sekali tidak mengelak atau menangkis, ia hanya memandang sambil terkekeh saja, seolah-olah menerima hantamannya itu begitu saja.
Di dasar batin Nurseta tidak pernah ada kebencian, maka tentu saja sukar baginya untuk membiarkan pukulannya mengenai tubuh orang tanpa melawan.
Otomatis dia mengurangi tenaganya agar jangan sampai membahayakan orang yang dipukulnya, hanya cukup untuk membuatnya melepaskan pegangan tangan Wulansari saja.
"Desss!"
Pukulan itu tepat mengenai dan akibatnya, tubuh Nurseta terpelanting pemuda ini roboh pingsan!
Untunglah bahwa dia tadi mengurangi tenaganya dalam pukulan Aji Bajradenta, karena kalau tidak, dia mungkin dia akan menderita luka yang lebih parah membahayakan nyawanya, bukan sekedar pingsan seperti itu !
Melihat ini, Wulansari terbelalak dan menjerit.
"Kau........! Kau membunuh dia...."
Jeritan ini mendatangkan akibat, yaitu munculnya Ki Jembros dan Panembahan Sidik Danasura.
Ki Jembros datang dengan lompatan-lompatan jauh dan dia kelihatan marah sewaktu melihat seorang kakek berjubah lebar sedang memegangi pergelangan tangan kiri Wulansari, dan melihat Nurseta rebah tak bergerak atas pasir.
Akan tetapi, Panembahan Danasura melangkah biasa saja dengan sikap tetap tenang walaupun alis matanya yang sudah berwarna putih sehingga hampir nampak lagi ada hitamnya itu agak berkertu.
"Babo-babo, iblis tua bangka keparat! Tidak tahu malu mengganggu orang-orang muda"
Ki Jembros membentak marah.
"Hayo lepaskan nini Wulansari!"
Akan tetapi kakek yang berjubah kuning terkekeh.
"Heh-heh-heh, ada kerbau hitam mengamuk, heh-heh!"
Ki Jembros adalah seorang yang gagah perkasa.
walaupun wataknya keras, jujur, gembira tetapi juga galak dan ugal-ugalan.
Di lubuk batinnya, dia adalah seorang yang selalu menentang kejahatan, bahkan dia seorang berjiwa patriot dan setia terhadap negara membela bangsa dan rakyat jelata yang tertidndas.
Dia paling benci melihat orang yang mempergunakan kekuasaan atau kepentingan untuk menekan, menindas dan menyengsarakan orang lain yang lemah tidak berdaya.
Oleh karena itu, melihat sikap kakek aneh memperlihatkan sikap menantang setelah merobohkan Nurseta dan menawan Wulansari, maka si brewokan itu menjadi merah dan matanya yang lebar seperti mengeluarkan api.
Akan tetap, dia belum mengenai siapa kakek itu, maka diapun meragu.
"Tua bangka sombong! Kalau memang kau memiliki keberanian, lepaskan anak itu dan kita bertanding sebagai laki-laki sejati"
Tantangnya. Dia khawatir kalau menyerang pada saat Wulansari masih dipegang orang itu, takut kalau sampai gadis itu terkena pukulan yang menyeleweng.
"Heh-heh-heh, ia ini cucuku yang akan aku bawa pergi, mengapa dilepaskan"
Tiba-tiba kakek itu meraba tengkuk Wulansari yang ketika mengeluh dan menjadi lemas terkulai.
lalu oleh kakek itu, tubuh Wulansari dipanggul di atas pundak kiri dan dirangkul dengan lengan kiri.
Melihat ini, tentu saja Ki Jembros sangat terkejut dan marah.
"Iblis tua, apa yang kau lakukan itu?"
Dan Ki Jembros pun sudah menerjang ke depan, menggunakan tangan kanan yang terbuka untuk menyerang ke arah dada kanan orang itu dengan pukulan sakti Aji Hasti bairowo!
(Tangan Dahsyat) mengandung kekuatan yang bukan main hebatnya, apa lagi dilakukan oieh Ki Jembros yang telah melatihnya sampai tingkat yang tinggi sekali.
Batu karangpun akan remuk terkena pukulan telapak tangannya itu, apa lagi hanya kulit daging dan tulang manusia !
Kakek itu menggunakan tangan kanan pula untuk menyambut pukulan Aji Hasta Bairowo itu, dengan telapak tangan kanannya juga dibuka.
Melihat ini, Ki Jembros menamb tenaganya dan bertemulah kedua tela tangan itu di udara.
"Desss........!"
Ki Jembros terkejut bukan main karena dia merasa betapa ada hawa yang dingin sekali menyusup masuk melalui telapak tangannya, dan hawa dingin itu menolak kembali kekuatan dari dalam tubuhnya, membuat dia terhuyung ke belakang namun, cepat dia menggulingkan tubuhnya dan dengan Aji Trenggiling Wesi, yaitu suatu aji kekebalan yang dimilikinya, dia dapat memulihkan tenaganya dan meloncat kembali.
Dia marah dan penasaran.
Kiranya kakek itu, sambil memanggul tubuh Wulansari, mampu membuat dia terhuyung ke belakang!
Tahulah dia bahwa lawan ini ternyata seorang yang sakti mandraguna.
Akan tetapi, dia tentu saja tidak membiarkan Wulansari dibawa pergi begitu saja.
Maka, diapun kini maju lagi menyerang lebih dahsyat lagi untuk memaksa kakek itu melepaskan Wulansari.
Serangannya bertubi-tubi dengan kedua tangan dibuka dan dia menyerangg di bagian tubuh yang lemah, tentu saja ia berhati-hati agar serangannya jangan sampai mengenai tubuh Wulansari yang agaknya pingsan berada di atas pundak kiri kakek itu.
Namun, kakek berjubah kuning itu memang hebat.
Sambil terkekeh dia menghadapi semua serangan Ki Jembros dengan tangan kanannya saja, dan kalau Ki Jembros mendesak, dia sengaja memutar tubuh dan membiarkan tubuh Wulansari sebagai perisai.
Tentu a hal ini mengejutkan Ki Jembros dan menahan serangannya bahkan kini kakek itu balas dengan dorongan-dorongan tangan kanannya yang mendatangkan angin lesus yang dapat berputar dan berhawa dingin sekali.
Ki Jembros beberapa kali sampai terhuyung belakang.
"Kaki Jembros, mundurlah, Andika tidak akan menang menghadapi orang ini!"
Tiba-tiba terdengar seruan halus dan Ki Jembros cepat meloncat mundur karena yang menegur itu adalah Sang Panembahan Sidik Danasura sendiri.
Kini, dua orang kakek yang sama tua itu saling berhadapan, saling pandang.
Sepasang mata kakek yang memanggul tubuh Wulansari itu mencorong seperti mata ha mau, kehijauan, sedangkan sepasang mata Panembahan Sidik Danasura memandang ngan lembut.
Sepasang mata yang mencorong itu akhirnya agak ditundukkan, seolah-olah merasa risau atau sungkan beradu pandang dengan sepasang mata yang lembut penuh welas asih itu, bahkan kini kakek berjubah kuning itu berkata seperti orang yang membela diri.
"Andika tentulah Panembahan Sidik Danasura, dan kiranya sudah maklum bahwa aku datang untuk mengambil apa yang menjadi hak kami"
"Semoga Sang Nurcahya memberi penerangan kepeda batin kita semua. Ki sanak, apa yang menjadi bukti bahwa Wulansari adalah milik andika sehingga andika berhak untuk mengambilnya?"
Suara pendeta tua itu tetap tenang dan sabar dan agaknya sikap inilah yang membuat kakek berjubah kuning itu seperti orang yang gelisah dan tidak betah lebih lama tinggai di situ.
"Panembahan Sidik Danasura ! Andika tentu telah maklum siapa aku. Aku datang jauh Blambangan dan Wulansari juga anak Blambangan. Itu saja sudah membuktikan bahwa aku lebih berhak membawanya dari pada Andika. Nah, aku mau pergi sekarang"
"Nanti dulu, Ki sanak !"
Kata Sang Panembahan dengan halus.
Akan tetapi suara halus itu seolah mengandung tenaga mujijat yang menahan langkah kakek berjubah kuning yang sudah hendak pergi membawa tubuh Wulansari diatas pundaknya.
Dia membalik dan menghadapi pendeta itu dan kini kembali sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong penuh kemarahan.
"Mau apa lagi? Aku mau pergi membawa cucuku ini !"
Bentaknya marah.
"Bagaimana kalau kuperingatkan engkau bahwa memaksakan kehendakmu terhadap seseorang hanya kelak akan mendatangkan bencana kepada dirimu sendiri? Kalau Wulansari memang mau ikut bersamamu, percayalah, aku akan memberi doa restuku. Akan tetapi, kalau secara paksaan begini, sungguh tidak sewajarnya dan tidak baik."
"Masa bodoh! Aku tidak membutuhkan peringatan dan nasihatmu!"
"Dan kalau aku berkeberatan?"
Tanya Panembahan Sidik Danasura.
"Keberatan? Terimalah ini!"
Bentak kakek berjubah kuning itu dan tiba-tiba saja dia sudah menerjang ke depan, tangan kanan yang dibuka itu memukul ke arah dada Panembahan yang tinggi kurus dan agak bongkok itu.
Akan tetapi, Panembahan Sidik Danasura menyambut pukulan itu dengan tangan kiri mendorong lirih saja sambil mulutnya berbunyi "Saddhu........
saddhu.......
saddhu.......!"
"Plakkk!"
Dua telapak tangan tua itu saling bertemu dan akibatnya tubuh kakek berjubah kuning itu terdorong ke belakang lima langkah, mukanya yang kebiruan itu jadi pucat, matanya terbelalak dan tanpa banyak cakap lagi, diapun membalikkan tubuh, lalu lari ke arah lautan!
"Hei, jangan larikan Wulansari!"
Ki Jembros meloncat dan mengejar, akan tetapi kakek berjubah kuning itu sudah meloncat nyambut air berombak besar dan tubuhnya bersama tubuh Wulansari digulung ombak!
Tentu saja Ki Jembros terkejut dan tidak berani menerjang ombak, dia berdiri memadang dengan mata terbelalak, kemudian menjadi panik karena tidak lagi nampak bayangan kakek berjubah kuning maupun Wulansari.
"Wah....... wah....... celaka........! Paman Panembahan, mereka tentu tewas tenggelam teriaknya kepada Panembahan Sidik Danasu. Kakek ini menarik nafas panjang dan mengelengkan kepalanya.
"Tidak, kaki Jembros Dia sudah pergi, membawa Wulansari, tentu dengan menyelam karena dia amat pandai ilmu di dalam air."
"Tapi........tapi........ kenapa paman tidak mencegahnya.......?"
Kembali Panembahan Sidik Danasura narik napas panjang.
"Akupun tidak akan mampu mencegahnya. Di darat mungkin aku dapat menandinginya, akan tetapi di dalam air?"
Kakek itu lalu menghampiri Nurseta yang masih menggeletak tak sadarkan diri di pasir, berlutut lalu memeriksa keadaan pemuda itu.
Hatinya lega karena Nurseta tidak terluka parah, hanya terguncang oleh tenaga pukulannya sendiri dan pingsan saja.
Baca Juga: Gelang Kemala Kho Ping Hoo
Baca Juga: Mutiara Hitam 9