Eps 2 Pendekar Gunung Lawu - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Gunung Lawu - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Gunung Lawu - Kho Ping Hoo.
Tapi kembali ia menjerit, karena tiba-tiba iamerasakan lengan kanannya sakit sekali dan ketika dilihat, ternyata ada sebuah paku kayu kecil.
Biarpun hanya sepotong kayu yang rupanya dipatahkan dari reng di atas, tapi kayu itu demikian kuatnya hingga kini tertancap menusuk lengan tangannya yang telah dimasuki aji kekebalan.
Ia cabut kayu itu dan darah mengucur dari lengannya.
Brojo mulai merasa takut.
Lebih-lebih ketika ia menengok ke atas tampak olehnya sebuah lengan tangan bergantung dari lobang genteng.
Takutnya menjadi-jadi ketika tangan itu kembali bergerak dan ia merasa lengan kirinya kembali sakit sekali dan tertancap oleh sepotong kayu kecil.
Wajanya mulai pucat, matanya liar hendak mencari jalan keluar, karena ia yakin bahwa itu tentu perbuatan iblis yang mengganggunya.
Berkali-kali tangan itu bergerak dan Brojo merasa seluruh tubuhnya tertusuk-tusuk kayu kecil.
Ia mulai berteriak-teriak memanggil gurunya, tapi gurunya tidak mendengar teriakannya.
Ia lalu meloncat kearah pintu, tapi alangkah terkejutnya ketika pintu yang tadinya tak terkunci itu kini lenyap dan diganti dengan dinding.
Ia menengok ke sana ke mari mencari-cari, tapi ternyata kamar itu kini tak berpintu.
Pintunya telah lenyap entah ke mana.
Brojo berlari-lari mengelilingi kamar itu mencari-cari jalan keluar, bagaikan seekor tikus masuk jebakan.
Rasa takutnya meningkat dan keringat dingin membasahi sekujur tubuh.
Ketika ia berhenti di tengah kamar dengan napas tersengal, ia menengok ke atas.
Atangan itu telah lenyap dan kini terganti dengan wajah seorang yang agaknya memiliki mata bintang, karena matanya seakan-akan dua bunga api bercahaya menyilaukan dan memandangnya dengan tajam penuh kemurkaan!
Brojo tak dapat menahan goncangan hatinya dan dengan sekali berteriak terjerembab di atas lantai, pingsan!
Sebenarnya semua itu adalah perbuatan Pamadi yan bersembunyi di atas genteng dan menggunakan ilmunya untuk memberi pengajaran kepada si keparat Brojo!
Kini, melihat penjahat itu roboh pingsan, Pamadi turun dan masuk ke dalam kamar.
Ia gunakan tenaga batinnya meniup ke muka Patimah, dan setelah mengusap muka yang halus itu dengan tangannya, Patimah sadar kembali.
Gadis itu seakan-akan baru sadar dari mimpi, ia menengok ke kanan kiri dan memandang Pamadi dengan heran.
"Eh..., di mana aku ini?"
Ia menengok ke bawah dna mendapatkan dirinya tengah duduk di atas sebuah ranjang.
Segera ia meloncat turun dengan malu dan gugup sekali.
Kemudian ia lihat Brojo tertelungkup pingsan di dalam kamar, tubuhnya yang panjang itu rebah di lantai tak berkutik.
Makin heranlah gadis itu.
"Mas... bagaimana aku bisa berada di sini? Rumah siapa ini dan bagaimana kita bisa datang ke sini?"
Pertanyaan ini disertai pandangan sangsi dan curiga kepada Pamadi.
"Sabar, dik. Tak perlu bercerita sekarang. Ikutlah aku pulang ke rumah ibumu."
Patimah hanya mengangguk dan mereka keluar dari kamar itu.
Setibanya di ruang depan, mereka melihat Kyai Bajul Putih masih duduk tepekur menghadapi asap kemenyan.
Wajahnya yang penuh keriput nampak tegang sekali, urat-urat di muka dan leher menggembung dan sepasang matanya yang dilindungi sepasang alis putih itu menatap tengkorak dengan setengah dikatupkan.
Mulutnya komat-kamit membaca mantera.
Mengerahkan seluruh tenaga bantinnya untuk mencapai maksudnya, yakni.
mengirim tenaga maut untuk merampas jiwa Raden Hamali.
Di atas batok tengkorak itu terdapat sebuah lilin yang menyala terang.
Kyai Bajul Putih merasa gemas sekali karena api lilin yang tadi telah menyuram, tiba-tiba menjadi terang kembali sedangkan senjata-senjata rahasia yang dikirim kearah tubuh Raden Hamali dan tampak berkelebat menyilaukan dari dalam batok kepala yang terletak di depannya, kini sudah hampir habis.
Mengapa kali ini usahanya tak berhasil?
Semestinya api lilin itu telah padam dari tadi, dan padamnya api lilin berarti pula tewasnya kurban yang sedang diarah jiwanya!
Tiba-tba ia merasa ada tenaga besar menggoncangan imannya dan mau tidak mau ia sadar dari samadhinya yang bersungguh-sungguh.
Ia merasa heran dan ketia mengangkat muka memandang, sepasang matanya terbentur sinar sepasang mata yang tajam dan berpengaruh hingga hatinya berdebar.
Ternyata Pamadi telah berdiri tak jauh dari situ dan tengah memandangnya dengan tenang.
Patimah berdiri di belakang pemuda itu, tubuhnya gemetar ketakutan melihat pemandangan yang mengerikan itu.
Kyai Bajul Putih berdiri perlahan.
Wajahnya mengeras dan pandangan matanya berubah kejam.
"Ya, Jagat Dewa Batara!"
Serunya marah.
"Agaknya kaukah yang berani menghalang-halangi usahaku? Kau berani-berani masuk ke sini tanpa ijin dan gaknya kau telah mengganggu muridku?"
"Bukan saya yang mengganggu muridmu si Brojo, tapi si keparat itulah yang berlaku sesat dan hendak merusak pagar ayu. Dan sekarang tahulah saya, siapa yang berlaku begitu keji dalam usahanya membunuh seorang yang tak berdosa."
"Kurang ajar kau!"
"Pak Kyai,"
Pamadi melanjutkan kata-katanya dengan tenang.
"Bapak adalah seorang yang berilmu dan yang telah dianugrahi kekuatan batn dan kesaktian oleh Yang Maha Agung. Megapa kini bapak menggunaan kesaktian itu utnuk merusak? Insaflah, pa, saya kira tidak ada pelajaran mengganggu orang lain dalam segala imu yang telah kau pelajari."
Kyai Bajul Putih maju dua langkah dan tubunya yang kurus tinggi tampak gemetar menahan marah.
Sepasang matanya memancarkan cahaya hebat ketika ia menggunakan telunjuknya yang berkuku panjang menunjuk muka Pamadi.
"Ha, anak muda. Kau terlalu lancing mulut. Apakah kebisaanmu maka kau berani memberi nasihat kepada orang tua seperti aku? Hayo pergi dari sini dan tinggalkan gadis itu disini!"
Pamadi meggelankan kepala.
"Tak mungkin, pa. anak ini harus kuantar pulang ke rumah orang tuanya."
"Kau berani membantah? He, kau anak manis, tidurlah dan masuk ke kamar tadi!"
Sepasang matanya memandang kearah Patimah dan mata itu memancarkan tenaga yang berpengaruh.
Tiba-tiba Patmah merasa kepalanya pening dan mengatuntuk sekali.
Hampir saja ia hilang ingatan alau tidak Pamadi buru-buru mengangkat tangan kirinya diluruskan ke depan kearah gadis itu yang segera sadar kembali.
"Hem, kiranya kau mempunyai sedikit ilmu juga?"teriak Kyai Bajul Putih yang lalu menghadapi Pamadi. Kini ia angkat kedua lengan kearah Pamadi dan berkata dengan suara keras hingga berkumandang di ruang itu.
"Rebahlah kau!"
Tapi Pamadi berpeluk tangan dan memandangnya dengan tenang, di bibirnya terbayang senyum.
Sungguhpun ia merasa pula tenaga batin orang tua itu mendorong-dorongnya untuk rubuh, tapi ia ternyata jauh lebih kuat.
"Tenaga yang telah menjadi hitam leyap kekuasaannya pak,"
Katanya perlahan.
Kyai Bajul Putih merasa gemas sekali.
Ia meloncat ke belakang bagaikan iblis dan memungut tengkorak yang berada di atas lantai.
Setelah berkomat-kamit membaca mantera, ia lemparkan tengkorak itu ke atas.
Sungguh ajaib tengkorak itu bagaikan bersayap dan terbang bagaikan seekor burung mengelilingi kamar.
Patimah menjerit ketakutan, tapi Pamadi memegang lengannya menyuruh tenang.
Tiba-tiba tengkorak itu menukik ke bawah dan dengan rahang terbuka meluncur ke arah leher Pamadi!
Pemuda Bajul Putih itu yang sejak tadi masih tersenyum dan mengikuti gerak-gerik tengkorak itu dengan sudut matanya bagaikan menonton suatu pertunjukan lucu, dengan tenang megangkat tangan kanannya dan menangkis tengkorak yang menyabar itu sambil berkata keras.
"Pergi dan musnah!"
Tengkorak itu mengeluarkan suara ledakan dan terbanting pada dinding lalu pecah berantakan menjadi pecahan tulang-tulang kering!
Kyai Bajul Putih terkejut dan matah.
Segera ia berpeluk tangan dan matek ajinya Panglimunan.
Patimah yang kini memegang lengan tagan Pamadi karena takutnya selalu melihat gerak-gerik kyai yang jahat itu.
Tiba-tiba ia lihat tubuh kyai itu lenyap bagaian ditelan bumi.
Ia heran sekali dan matanya mencari-cari, tapi betul-betul kyai itu telah menghilang tak berbekas.
Tetapi Pamadi terdengar tertawa perlahan dan berkata sambil memandang kearah pintu.
"Pak Kyai, kau hendak lari ke mana?"
Ia menunjk dengan lari telunjuk kearah pintu dan Patimah makin heran karena kyai yang tadinya menghilang itu kini tampak pula sedang berjalan kearah pintu.
Kyai Bajul Putih menahan kakinya dan berpaling memandang Pamadi dengan tajam.
"Eh, anak muda. Kau yang telah memusnahkan ilmuku ini, siapakah namamu dan dari mana datangmu?"tanyanya marah.
"Panggillah saya Pamadi, Pak Kyai Bajul Putih,"jawab Pamadi.
"Eh, eh kau tahu namaku pula?"
"Namamu sudah cukup terkenal, Pak Kyai, terkenal karena kekejamanmu, sungguh sayang, seharusnya dan sepatutnya nama itu menjadi pujian tiap rakyat karena kau seorang pertapa yang tinggi ilmu dan sakti."
"Jangan sombong, anak muda. Aku belum kalah benar olehmu. Nah, terimalah ini!"
Sambil berkata demiian Kyai Bajul Putih mengerahkan seluruh kesaktianya dan dengan berseru.
"Heeoh!"
Kedua lengannya diluruskan kearah Pamadi dalam gerakan mendorong.
Inilah Pukulan Gelap Sayuta yang hebat sekali kekuatannya dan orang biasa saja pasti takkan sanggup menahan, karena pukulan ini selan membawa tenaga yang dapat melukai tubuh, juga mendatangkan tenaga luar biasa yang bisa menggempur semangat dan batin yang terpukul.
Melihat datangnya pukulan hebat ini, Pamadi cepat mendorong Patimah hingga gadis itu jatuh rebah ke samping, kemudian Pamadi meluruskan kedua lengannya pula dan mendorong kembali tenaga serangan Kyai Bajul Putih.
Kyai yang sakti itu bagaia dihempaskan ombak besar, tubuhnya terlempar ke belakang lalu roboh.
Mulutnya mengeluarkan rintihan perlahan dan dengan sukar sekali ia merayap bangun.
Tubuhya lemas lunglai karena ia menderita pukulan hebat.
Ternyata tenaga serangannya tadi dikebalikan oleh Pamadi hingga memakan tuanya sendiri.
"Anak muda,"katanya lemah.
"Sebelum maut mengambil nyawaku, aku takkan melupakan nama Pamadi dan pada suatu hari kita pasti akan berjumpa lagi untuk membuat perhitungan."
Pamadi sangat menyesal megapa sampai saat ini orang tua itu masih juga belum mau insaf dari kesesatannya. Sambil menarik napas panjang ia berkata perlahan.
"Semua akibat ada sebabnya, Pak Kyai, dan kalau ada sebabnya, maka yang menjadi sebab adalah kau sendiri, bukan aku."
Setelah menatap wajah Pamadi sekali lagi, Kyai Bajul Putih berjalan keluar pintu dengan tindakan terseok-seok.
Pamadi segera membangunkan Patimah yang masih rebah di atas lantai karena jatuh tadi dan tidak berani bangun karena terkejut dan takut.
Kemudian Pamadi menghancurkan semua alat-alat pertenungan di ruangan itu, lalu mengajak Patimah pulang ke rumah Raden Hamali.
Kedatangan mereka disambut oleh Raden Hamali dan isterinya.
Raden hamali ternyata telah sembuh dan ketika ia melihat ke dalam mengkuk terisi air putih di dekat kepalanya, ia heran dan terkejut sekali, karena di dasar mangkuk itu terdapat tiga batang jarum yang kehitaman!
Ia merasa sangat ngeri mengetahui betapa jarum-jarum itulah yang sedianya hendak menembus jatungnya dan merebut jiwanya.
Setelah Patimah puas menangis alam pelukan ibunya Pamadi bermohon diri, karena waktu itu ternyata sudah hampir subuh.
Biarpun fihak tuan rumah menaan keras, namun dengan alasanalasan halus Pamadi tetap pergi meninggalkan mereka yang memandangnya dari luar pintu tanpa memberikan nama maupun tempat tinggalnya!
Di Kampung Manahan yang biasanya sunyi tenteram, pada pagi hari itu kira-kira jam sembilan, ramai dengan teriakan-teriakan orang yang lari kalang kabut.
"Amuk! Amuk!"
Mendengar teriakan dan melihat orang-orang lari ke sana ke mari tak tentu arah tujuan, hanya tampak semua orang berwajah pucat seakan-akan lari menjauhkan diri dari sesuatu yang berbahaya dan menakutkan, semua orang ikut menjadi bingung.
Para ibu memeluk anaknya sedangkan si ayah buru-buru menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
Yang aak tabah segera mengambil senjata tajam sedapatnya untuk berjaga diri dan keluar dari rumah dengan hati berdebar-debar.
Orang-orang saling Tanya dengan mata memandang ke kanan kiri mencari-cari orang yang sedang megamuk itu.
Seorang muda yang rupanya tahu benar akan huru-hara itu bercerita cepat.
"Pak Bei Tirto mengamuk! Ia memegang keris pusaka an menyerang siapa saja yang berada di dekatnya!"
"Di mana?"
Tanya beberapa buah mulut berbareng.
"Itu di perempatan. Semua orang lari, tak seorangpun berani menghalang-halanginya,"
Jawab pemuda itu.
"Mengapa ia mengamuk?"
Tanya seorang.
"Entah. Hanya ia selalu, memaki-maki nama Pak Nata dan anaknya, katanya mereka itu serumah akan dibasmi habis!"
Tiba-tiba dari jurusan barat tampak beberapa orang lari tergesa-gesa engan wajah ketakutan.
Orang-orang yang tengah bercakap-cakap tadi bagaikan mendapat komando serentak ikut lari seakan-akan orang yang sedang mengamuk tadi telah berada di tumit kaki mereka!
Namun di antara sekian banyak orang yang ketakutan dan menjauhkan diri dari orang yang ditakutinya itu, tampak seorang pemuda berpakaian putih dengan wajah tenang tapi dengan langkah lebar menuju kearah yang dijauhi orang-orang.
Setelah ia tiba di jalan tikungan, kelihatanlah olenya apa yang menyebabkan orang-orang melarikan diri.
Pak Bei Tirto pada saat itu memang tampak sangat menyeramkan danmembuat orang-orang yang bagaimana tabahnyapun pergi ketakutan.
Pak Bei yang bertubuh tinggi besar seperti Bratasena itu berdiri sambil bertolak pinggang dengan tangan kiri.
Tangan kanannya mengacung-acungkan sebilah keris liuk lima yang panjang.
Kakinya terpentang dan tubuh atasnya telanjang memperlihatkan dada yang bidang dan tegap.
Celananya hitam dan kain sarungnya diikatkan di pinggang seperti lakunya seorang ahli pencak.
Biarpun ia sudah berusia kurang lebih lima puluh, namun masih nyata nampak kekuatan tubuhnya.
Cambang bauknya yang kaku dan sinar matanya yang pada saat itu seakan-akan sedang menyala-nyala menambah-nambah seram wajahnya.
"Hayo, Natawirya si pengecut! Keluarlah kamu jika kamu memang laki-laki! Ajaklah anakmu si monyet itu biar kuijak-injak perutnya! Biarlah aku yang akan menghajarnya kalau kau orang tua hina tak dapat menghajarnya. Keluarlah kamu berdua, jangan maju seorang demi seorang, majulah kalian bersama agar lebih cepat kukirim kamu berdua ayah dan anak hina dina ke neraka!"
Demikian ia berteriak-teriak dengan suara parau, tangan kanan mengacungacungkan keris dan tangan kiri mengayun-ayunkan tinju kearah sebuah rumah gedung yang tertutup pintunya.
Tiba-tiba pintu rumah terbuka dan dari dalam keluar seorang wanita setengah tua yang menghampiri Pak Bei Tirto dengan takut-takut.
Setelah dekat ia memberi hormat dan berkata lembut.
"Den Bei, mohon diampunkan jika suami atau anak saya telah berlaku salah. Sebetulnya apakah yang menyebabkan Den Bei Marah-marah kepada kami?"
Wanita itu tak berani memandang wajah Pak Bei Tirto.
Orang yang sedang marah dan nekad ini agak bibang ketia didatangi seorang wanita.
Tak ia sangka bahwa yang yang menyambutnya hanya seorang wanita lemah.
Maka untuk seketika ia bingung juga, tapi nafau marahnya terlampau besar untuk dapat padam demikian saja.
Dengan suara kasar ia menjawab.
"Suamimu yang tak tahu diri itu telah menghinaku. Masakan di luar ia berani membuka mulut berkata bahwa puteriku Rini pasti akan menjadi mantunya! Anakku, Rini, akan dikawaini Harlan anakmu? Hm, tengoklah muka sendiri dan rabalah tulang punggung sendiri lebih dulu. Harlan itu orang apa, keturunan apa? Apakah yang diandalkan untuk mengawini si Rini?"
Biarpun wanita itu takut-takut, tapi menjadi panas juga telinganya mendengar suami dan anaknya dihina orang, maka ia berkata agak keras dan mengandung suara kegemasan.
"Den, Bei! Kalau memang Den Bei tidak suka kepada kami, biarlah sampai sekian saja, mengapa Den Bei harus bersusah payah dengan ke sini dan marah-marah? Dan tentang anakku Harlan, kalau kiranya tidak cukup berharga bagi puterimu, biarlah akan kunasihati agar mencari jodoh yang lain aja. Perlu apa Den Bei marah-marah seperti ini?"
Kumis Den Bei Tirto seakan-akan berdiri.
Kalau saja yang berdiri di depannya itu bukan seorang wanita, pasti ia sudah tak sabar pula menanti lebih lama untuk menyerangnya.
Kedua biji matanya berputar-putar hebat ketika ia berkata keras-keras.
"Mbakyu Nata! Kau orang perempuan jangan ikut-ikut. Pergi saja dan sembunyi di dapur! Kau tidak tahu, sudah berapa kali aku tegaskan kepada suamimu supaya ia melarang anaknya yang kurang ajar itu mendekati puteriku. Tapi ternyata ia tidak memperdulikan dan anakmu si monyet itu malam tadi bahkan berani memasuki pekaranganku. Kali ini aku tak sudi memberi ampun. Suami dan anakmu itu harus mampus!"
Wanita itu menjadi pucat. Kakinya gemetar dan ia jatuh berlutut.
"Den Bei, kalau memang betul terjadi hal itu, maka ampunlah suami dan anakku. Biarlah, aku yang akan menasehati mereka agar menurut dan patuh akan semua laranganmu."
"Tidak bisa, tidak mungkin! setidak-tidaknya aku harus memberi hajaran pukulan di kepala mereka itu dan apabila mereka mau menyatakan kapok, baru aku mau sudah."
Tiba-tiba pintu tumah terbuka lagi dan seorang pemuda tampak lari kearah wanita itu sambil berteriak.
"Ibu, jangan merendahkan diri sendiri demikian rupa!"
Dan di belakang anak muda itu berlari seorang laki-laki tua yang mengejar anaknya dan berteriak.
"Harlan, jangan kau kesana!"
Harlan memeluk dan membangunkan ibunya sambil memandang wajah Den Bei Tirto dengan marah. Ia berlata kepada ibunya.
"Ibu, kami tidak bersalah apa-apa jangan demikian merendahkan diri, ibu. Biarlah Pak Bei marah kepada saya, tapi ibu jangan sampai dihina orang, saya tak tahan melihatnya."
Sementara itu Pak Nata sudah sampai di situ pula dengan napas terengah-engah, lalu berkata kepada Den Bei Tirto.
"Den Bei Tirto, biarlah kalau ada yang salah, aku sebagai orang tua minta maaf kepadamu. Janganlah kau tumpahkan marahmu kepada anakku atau isteriku. Karena kalau memang kami bersalah, akulah orangnya yang akan menanggung segala akibatnya."
Tadi ketika melihat kedua orang yang dibencinya itu keluar dari rumah, kemarahan Den Bei Tirto sudah memuncak, tapi ia belum dapat berkata sesuatu, melihat kesibukan mereka masing-masing.
Tapi kini, setelah Pak Nata menyapanya, timbul pula marahnya, maka ia menjawab.
"Bagus! Kalau begitu, biarlah kau saja yang kuhajar!"
Sambil berkata begitu, ia ayunkan kakinya menendang, hingga Pak Nata yang lemah terhuyung-huyung ke belakang.
Harian melihat ayahnya di serang segera hendak membantu, tapi tiba-tiba kepalan tangan kiri Den Bei Tirto melayang ke arah dadanya.
Harlan mengelak dan menangkis tangan itu dengan keras, tapi ia tidak mau balas memukul.
Karena tangkisan itu, tubuh Den Bei Tirto menjadi miring, tapi ia segera ubah kedudukan kakinya dan sambil merendahkan tubuh, kaki kirinya melayang pula dengan cepatnya.
Untung Harlan pernah pula belajar pencak, hingga matanya cukup gesit.
Untuk menghindarkan tendangan kilat itu, ia membuang diri ke samping kirinya hingga kembali serangan Den Bei Tirto gagal.
Den Bei Tirto merasa sangat gemas.
Sambil memaki.
"Anak bedebah,"
Ia meloncat menerkam sambil mengayun kerisnya ke ulu hati anak muda itu.
Harlan memiringkan badan dan memutar lengan kanannya, hendak menggunakan tangannya menekan penrgelangan tangan lawan dan merampas keris.
Tapi Den Bei Tirto bukanlah seorang lawan yang lemah.
Ia terkenal sebagai cabang atas Kampung Manahan dan ketika ia masih muda, ia ditakuti orang karena kemahirannya main pencak.
Ketika kerisnya tidak mengenai sasaran dan ia merasa pergelangan tangannya hendak diterkam oleh tangan lawan, ia segera memutar kerisnya le belakang lengan dan menggunakan siku lengannya menghamtam ke arah dada Harlan!
Terdengar suara.
"Buk!"
Dan Harlan terhuyung ke belakang.
Pada saat itu Pak bei Tirto yang telah menjadi mata gelap segera menghajar dan menikam dengan kerisnya.
Terdengar ayah ibu Harlan menjerit ngeri.
Untung pada saat yang sangat berbahaya bagi jiwa Harlan itu, berkelebat sebuah bayangan putih, dan tahu-tahu, entah dari mana datangnya, seorang pemuda berbaju putih telah berdiri di antara Pak Bei Tirto dan Harlan.
Orang tua yang sedang mengamuk itu untuk sejenak menjadi melongo dan terkejut, lalu memandang.
Ternyata di depannya berdiri seorang pemuda tampan dengan wajah terang dan senyum di bibir.
"Bapak, sabarlah dan padamkanlah nafsu marahmu. Segala perkara dapat diamaikan,"
Kata pemuda itu dengan halus.
Entah suara yang tenang itu ataukah sinar mata yang tajam dan manis itu yang seakan-akan merupakan air dingin mengguyur dada Pak Bei Tirtito yang sedang panas, tapi seketika itu juga Pak Bei Tirto telah ditinggalkan setengah bagian dari nafsu marahnya.
Tetapi ketika matanya berputar memandang dan melihat bahwa kini telah banyak orang melihat mereka dari tempat jauh, ia menjadi malu kalau mundur.
Ia khawatir disangka orang berjiwa ia takut kepada pemuda kurus lemah itu.
Maka ia memandang wajah pemuda baju outih itu sambil membentak.
"Siapa kau? Berani betul mencampuri urusan orang lain. Hayo mundur!"
"Tenanglah, bapak, jangan dilanjutkan hal yang tidak baik ini!"
Bantah pemuda itu yang tidak lain ialah Pamadi adanya.
"Apa? Kau handak membela mereka ini rupanya? Tak kenal aku siapa? Minggir kamu!"
Kata-katanya ini diiringi dengan tangan kiri melayang ke arah pundak Pamadi hendak mendorong pemuda itu ke samping.
Tetapi, alagkah terkejutnya ketika tangannya seakan-akan mendorong batu besar yang sedikitpun tidak bergerak.
Bahkan lengannya seakan-akan terbentur pada sebuah tenaga kuat hingga terpental kembali.
"Eh, eh! Kau mau mencoba-coba cabang atas Manahan, ya?"
Dengan marah Pak Bei Tirto memutar kerisnya ke belakang lengan dan menggunakan gagang keris dalam kepalannya memukul ke arah leher Pamadi. Pukulan ini keras sekali dengan diiringi teriakan "Heeitt!"
Tapi dengan tenang Pamadi memiringkan tubuh dan kepalan itu menyambar lewat, hanya angin pukulannya saja membuat leher bajunya tertiup.
Pak Bei Tirto merasa makin gemas, masakan seorang jago kawakan seperti ia tak dapat dengan sekali pukul membuat pemuda lemah ini roboh mencium tanah.
Karena terdorong tenaga pukulannya sendiri, tubuhnya terhuyung ke muka, lalu kedua kakinya meloncat sambil memutar tubuh, tahu-tahu kaki kanannya melayang naik mengarah perut Pamadi.
Pemuda itu dengan masih tersenyum mengelak sedikit sambil mengibaskan lengan kirinya ke arah pergelangan kaki lawan, sambil berkata.
"Sabarlah, pak!"
Walaupun kibasan tangan itu dilakukan perlahan sekali namun Pak Bei Tirto terhuyung ke samping dan hampir saja jatuh.
Wajahnya menjadi merah karena malu, dan para penonton yang memperhatikan perkelahian itu diam-diam merasa kagum melihat kegesitan dan ketenangan pemuda itu.
Tetapi mereka masih merasa khawatir akan keselamatan pemuda itu, hingga hati mereka berdebar-debar.
"Kurang ajar! Kau berani melawan? Rasakan pusakaku!"
Demikian Pak Bei Tirto berteriak dan kerisnya berkilapan ketika ia memutar-mutarnya.
Kemudian sambil meloncat ia menubruk, ujung kerisnya meluncur ke arah dada Pamadi.
Pamadi tidak mengelak, tapi menggunakan jari tengah dan telunjuknya menahan ujung keris itu dan terus menjepitnya dengan gerak jari "capit yuyu".
Pak Bei Tirto tadinya merasa puas karena ujung kerisnya seakan-akan menembus daging, tetapi alangkah kagetnya ketika ia melihat bahwa kerisnya itu hanya menembus celah di antara dua jari lawan.
Ia segera mencabutnya, tapi ternyata keris itu seakan-akan terjepit di antara sepasang gigi cacut yang kuat sekali!
Ia mengerahkan tenaganya, tetapi sekonyong-konyong Pamadi menggerakkan ke bawah hingga keris itu lepas dari pengangan Pak Bei Tirto sendiri terhuyung-huyung lalu jatuh!
Gerakan ini demikian cepat hingga mereka yang menonton perkelahian itu tidak tahu jelas bagaimana Pak Bei Tirto sampai dapat jatuh.
Maka ramailah suara ketawa penonton, bahkan ada yang lupa keadaan sampai bertepuk tangan.
Pak Bei Tirto bangun dan memandang Pamadi dengan mata terbelalak.
Ia makin heran ketika melihat betapa jari-jari tangan pemuda itu bergerak dan gemetar dan tahu-tahu kerisnya berbunyi "Tak"
Dan patah menjadi dua oleh jari-jari yang kecil itu!
"Maaf, Pak, bukan saya lancang ikut-ikutan mencampuri urusan orang lain, tetapi ingatlah, pak, jika bapak sampai kejadian membunuh orang dan ditangkap lalu dihukum, apakah bapak tidak akan menyesal dan malu?
Ingat, pak, bukankah leluhurkita pernah berkata bahwa menjadi orang hidup harus selalu ingat "ojo dumeh"
Yang artinya janganlah kita sombong karena diri kita kuat lalu melakukan sesuatu yang sewenang-wenang?"
Muka Pak Bei Tirto yang sudah merah itu menjadi lebih merah dan tak lama kemudian berubah pucat.
Ia merasa terpukul oleh kata-kata pemuda aneh itu karena ia teringat akan nasihat dan petuah-petuah mendiang ramanya.
Ia lalu menundukkan kepala dan berkata perlahan.
"Sudahlah, memang aku yang sesat..."
Lalu ia gerakkan tubuhnya hendak meninggalkan tempat itu. Tetapi Pak Natawirya segera memburu dan menyentuh lengannya.
"Den Bei Tirto. Bukan kau yang bersalah, tapi adalah anakku yang tak tahu diri. Maafkanlah kami dan marilah kita mampir sebentar di pondokku agar kami dapat selayaknya menghaturkan maaf padamu."
Pak Bei Tirto tampak ragu-ragu untuk menerima undangan ini, tetapi Pamadi dengan senyum ramah maju pula memberi hormat dengan membongkokkan diri.
"Pak Bei, undangan Pak Nata ini baik sekali, satu tanda bahwa ia sangat menghargakan bapak. Maka biarlah saya juga miohon sudilah kiranya bapak menerima undangan ini agar segala kesalahpahaman dapat diselesaikan dengan penuh damai."
Pak Bei Tirto merasa tidak enak untuk menolak, maka sambil menghela napas ia menganggukkan kepala.
Pak Nata girang sekali, lalu tergopoh-gopoh mengundang Pamadi sekalian mampir dirumahnya.
Maka beramai-ramai mereka masuk ke dalam rumah Pak Nata dan para penonton yang telah maju mendekati segera bubar sambil membicarakan sepak terjang pemuda baju putih yang gagah perkasa itu.
Semua orang memuji dan tiada habis heran melihat pemuda yang tak dikenal itu.
Mereka hanya dapat menduga-duga, bakan ada yang menduga bahwa pemuda itu tentu seorang putera pengeran dari dalam Keraton Solo atau Jogja yang sedang menjalankan darma brata!
Setelah duduk mengelilingi meja dan minum air kopi yang disediakan oleh isteri Pak Nata, maka sekali lagi Pak Nata berdua Harian menghaturkan maaf sebanyak-banyaknya kepada Pak Bei Tirto.
Melihat sikap yang ramah tamah dan hormat dari tuan rumah itu, mau tak mau orang cabang atas ini merasa malu akan perbuatannya sendiri, maka ia menjawab.
"Aah, sebenarnya akulah orangnya yang terburu napsu dan berlaku sewenang-wenang, betul seperti katanya anakmas ini,"
Matanya mengerling kepada Pamadi.
"Bolehkah saya mengetahui nama anakmas dan darimana anakmas datang?"
Sambungnya sambil menatap wajah anak muda yang selalu tersenyum itu.
"Nama saya Pamadi, pak, dan tentang darimana saya datang, agar sukar bagi saya untuk menjawab. Dapat saya katakan bahwa bumi inilah lantai saya dan langit yang luas adalah atap saya. Baiklah kita sudah saja tentang diri saya yang tak berarti ini. Yang penting sekarang ialah persolan bapak dan Pak Nata ini. Maafkan saya yang muda dan lancang, karena tidak sepatutnya saya ikut-ikut mengurus hal ini, tapi menurut paham saya yang bodoh, ada baiknya kalau soal perjodohan itu diserahkan saja kepada masing-masing yang akan menjalaninya. Karena apakah arti perbedaan tingkat, derajat maupun harta dalam dalam perkawinan? Pak Bei, napak adalah seorang sepuh yang waspada dan banyak pengalaman hidup dan saya yakin bahwa bapak pasti telah sadar pula akan isi dari pada "hidup"
Ini. Jawabalah sejujurnya, pak, apakah pangkat dan harta dapat membuat manusia bahagia?"
Pak Bei Tirto termangu-mangu sejenak, lalu dengan suara tetap ia menjawab.
"Tidak mungkin."
"Nah. Kalau begitu, mengapa dalam hal perjodohan puterimu, bapak sangat memandang kedudukan dan harta calon mantu? Kalau memang putera Pak Nata dan puteri bapak telah ada kata sepakat dan saling cinta dengan hati murni, maka ikatan batin yang kuat itulah yang akan membuat puteri bapak menjadi orang yang hidup bahagia."
Pak Bei Tirto dan Pak Nata serta Harlan keheranan mendengar kata-kata Pamadi, karena sama sekali tidak tepat ucapan-ucapan sedemikian itu dikatakan dari mulut seorang yang masih muda belia seperti dia.
Mereka memandang dengan tercengang, dan Pan Nata tak sabar pula untuk tidak bertanya.
"Aduh denmas, sebenarnya siapakah denmas ini? Apakah denmas ini ada hubungan dengan dalam keraton?"
Pamadi tersenyum lebar dan berdiri perlahan dari kursi.
"Ah, jangan menyangka yang bukanbukan, pak. Saya ini orang biasa saja, dan belum pernah saya melihat keraton. Kini sudah cukuplah kira-kira saya menganggu kalian maka maafkan, saya mohon pamit."
Sebagai penutup kata-katanya ini, Pamadi membungkuk dan melangkah kearah pintu.
Ketika Pak Bei Tirto dan Pak Nata memburu ke luar, ternyata pemuda itu telah tak tampak bayangannya!
Kedua orang tua itu saling pandang dan dengan berkeras Pak Bei Tirto menyatakan dugaannya bahwa pemuda itu pasti bukan orang sembarangan dan tentu seorang pangeran.
Berdasarkan dugaannya ini, ia menjadi tunduk betul dan dengan rela ia sudah menerima Harlan sebagai mantunya!
Manusia berjubel-jubelan bagaikan semut merubung gula dalam cawan.
Yang menjadi gulanya ialah tontonan pasar malam dan cawannya adalah alun-alun di Solo yang lebar dan luas.
Malam itu lebih ramai dari malam-malam yang lalu, karena malam itu kebetulan bulan memperlihatkan wajah sepenuhnya dan malam Minggu pula!
Pamadi terbawa oleh arus manusia itu memasuki pintu gerbang alun-alun.
Di antara sekian banyak tontonan dan pameran-pameran, yang menarik hatinya hanya pertunjukan wayang orang.
Memang wayang orang yang main di pasar malam itu sangat ramai dan terkenal baik, karena yang menjadi Petrunya adalah Sastrodirun yang sudah terkenal kemahirannya melawak dan kaya akan filsafat hidup.
Tetapi Pamadi tidak bermaksud membeli karcis dan menonton, ia hanya berdiri di luar menikmati suara gamelan yang mengiringi suara biduan menyanyikan lagu Sinom laras Pelog.
Tiba-tiba perhatian Pamadi tertarik oleh seorang tinggi kurus yang berada di tengah-tengah kelompok penonton di depan panggung itu.
Diam-diam Pamadi tersenyum ketika ia melihat si tinggi kurus beraksi.
Ternyata orang itu adalah seorang pencopet!
Kagum juga Pamadi melihat kesigapan jari-jari pencopet itu ketika ia menggunakan tangan kanannya menyambar dompet yang berada dalam saku jas seorang laki-laki tua.
Dompet itu penuh dan padat tampaknya.
Orang tua yang tercopet itu merasa ada sesuatu bergerak di bajunya, maka segera tangannya merogoh saku.
Alangkah terkejutnya ketika mengetahui sakunya telah kosong dan dompetnya telah terbang lenyap entah ke mana!
Setelah si pencopet berhasil dengan aksinya lalu bermaksud meninggalkan tempat itu, tapi tiba-tiba seorang pemuda baju putih seperti yang tidak disengaja berjalan menambraknya.
Kalau ia tidak sedang terburu-buru hendak pergi, pasti ia akan memukul atau memaki pemuda itu, tetapi ia hanya memelototkan matanya lalu berjalan terus.
Pamadi mendekati kurban copet itu dan tangannya bergerak secepat kilat kearah saku baju orang itu.
Pada saat itu si kurban copet berteriak.
"Copet!"
Dan banyak orang segera mengelilinginya.
"Apa yang tercopet?"
Tanya seorang.
"Dompet uangku... di sini..."
Katanya sambil merogoh saku.
Tetapi, bukan kepalang heran dan terkejutnya ketika jari-jari tangannya menyentuh sesuatu dalam sakunya dan ketika ia menariknya ke luar, ternyata itu adalah dompetnya yang tadi telah hilang!
"Eh...
eh...
lho, aneh sekali!"
Katanya gagap.
"Tadi dompet ini tidak ada di sini..."
Semua orang menertawakannya dan menyebutnya sudah pikun karena tuanya.
Orang tua itu merasa malu dan sambil masih merasa heran ia buru-buru meninggalkan tempat itu.
Tukang copet yang tinggi kurus itu memanjangkan langkahnya dan berhenti di belakang sebuah restoran.
Tiba-tiba seorang pemuda yang berjalan dari arah depan menabraknya tak lain ialah pemuda baju putih yang tadipun telah menabraknya di depan panggung wayang orang!
"Apa kau buta?"
Makinya marah.
"Kaulah yang buta karena sinar uang orang lain,"
Balas Pamadi tersenyum menggoda.
Mendengar jawaban ini, Si Copet otomatis mengulurkan tangan ke dalam saku celananya.
Hampir ia beteriak kaget ketika tangannya memasuki saku kosong dan dompet hasil copetannya telah lenyap!
"Kau mencari apa?
Dompet itu sudah kembali kepada yang empunya,"
Kata Pamadi menertawakannya. Merah muka tukang copet itu.
"Kurang ajar! Kau berani mengganggu aku, Si Tangan Kilat?"
Ia maju selangkah dengan sikap mengancam. Pamadi mundur melangkah dan senyumnya melebar.
"Sabar dulu, kawan. Coba periksa lagi semua kantung baju dan celanamu!"
Karyo Si Tangan kilat memandang heran dan menggunakan kedua tangannya meraba-raba semua saku.
Matanya yang bundar makin melebar ketika mengetahui bahwa semua isi sakunya telah lenyap tak berbekas!
"Kau kehilangan apa?
jam saku, uang sepuluh rupiah, gunting dan sapu tangan?"
Karyo mengangguk-angguk heran dan wajahnya menjadi pucat. Pamadi tertawa perlahan.
"Ha, ini namanya tukang copet kecopetan!"
Karyo menjadi marah lagi.
"Ah, tentu kau yang mencopetnya! Hayo lekas kembalian Barangbarangku atau akan kupatahkan batang lehermu!"
"Eh, eh! Memangnya batang leherku ini leher ayam saja? Hati-hati kawan, lihat siapa itu yang berdiri di sana. Ingat, aku menjadi saksi utama bahwa kau tadi telah mencopet."
Tukang copet itu cepat menengok dan melihat seorang polisi tengah berdiri memandang ke kanan kiri, hingga ia mejadi ragu dan memandang Pamadi dengan bombing. Pemuda itu lalu memberi tanda.
"Hayo ikut aku."
Karyo mengikuti pemuda itu memasuki sebuah rumah makan di mana Pamadi memesan makanan dan minuman. Ia persilakan pencopet itu makan minum sepuasanya. Setelah makanan habis, Pamadi berkata.
"Kawan, kau masih begini muda, mengapa menjalankan pekerjaan memalukan ini?"
"Ah, kau sendiripun tukang copet yang lebih pandai dariku. Jangan ganggu aku, kawan. Lebih baik kuangkat kau menjadi guru untuk mengajar ilmu mencopet."
Jawab Karyo merendah.
"Eh, jangan sembarang sangka, kawan. Aku bukan tukang copet."
"Habis, siapakah yang mencopet semua barangku kalau bukan kau?"
"Periksa dulu sakumu, benar-benarkah barangmu hilang."
Karyo memandang tak mengerti, tetapi ia lakukan juga permintaan Pamadi.
Hampir ia berteriak keheranan ketika tangannya menemukan semua barang-barangnya di tepat masing-masing!
Maka ia tahu bahwa ia berhadapan dengan seorang ahli, dan ia segera menundukkan badannya memberi hormat.
"Sudahlah."
Cela Pamadi.
"Paling betul kau segera ubah pekerjaanmu yang tidak baik ini. Kau masih muda dan kuat, carilah pekerjaan yang halal. Hasil dari pekerjaan yang tidak halal tidak akan mendatangkan berkah. Uang kotor hasil copetan itu akan lekas habis pula dan akhirnya kau tentu menemui malapetaka untuk kerugianmu sendiri."
Pamadi segera membayar harga makanan dan minuman, lalu meninggalkan tukang copet itu yang berdiri bengong keheranan.
Kalau orang belum pernah mengalami berjalan seorang diri pada waktu fajar menyingsing di dalam sebuah hutan belukar, maka ia belumlah mengenal kenikmatan hidup yang betul-betul nikmat!
Tentu saja hal ini tidak berlaku bagi para petani desa dan para penduduk yang bertempat tinggal di dekat hutan, tetapi khusus bagi para penduduk dalam kota yang penuh segala macam kegaduhan dan kekotoran, baik kekotoran yang timbul dari debu dan sisa-sisa kebutuhan orang kota, maupun kekotoran yang timbul dari hawa nafsu berupa keserakahan, kedengkian, dan kejahatan-kejahatan lain dari orang-orang kota yang mengaruk diri dengan segala kesopanan paksaan.
Pamadi berjalan seorang diri di antara pohon-pohon jati di dalam hutan daerah Walikukun yang luas sambil menikmati anugerah alam di waktu fajar tengah menyingsing.
Memang indah dan nikmat.
Hawa hutan yang bersih tersaring daun-daun pohon sungguh sejuk dan bersih.
Dari arah timur membayang kemegahan Sang batara Surya yang telah mengirim sinarnya terlebih dulu sebagai duta-duta berita yang menyampaikan warta kehadirannya.
Burung-burung berloncat-loncatan dari cabang ke cabang dan dari pohon ke pohon, berkejar-kejaran sambil bersendau-gurau dan kicau mereka yang indah merdu dan gembira itu seakanakan menyambut datangnya Batara Surya.
Alangkah indahnya!
Seluruh pancaindera Pamadi menikmati pemberian alam di sekitarnya.
Mata menikmati warna hijau yang ditembus sinar kuningnya keemasan dan dihias warna-warni bunga puspita.
Hidungnya menimati bunga puspita.
Hidungnya menikmati harum bunga hutan dan kesegaran bau daun-daun pohon dan rumput-rumput hijau serta kesedapan bau tahan yang masih bersih.
Telinganya menikmati rayuan irama merdu dari burung-burung yang merupakan nyanyian suci para bidadari kahyangan.
Seluruh tubuhnya menikmati hawa yang sejuk, nyaman dan menyegarkan.
Air embun yang bergantungan di ujung daun dan rumput merupakan ratna mutu manikam yang tersenyum manis padanya.
Semua keindahan itu membuat jiwa Pamadi menjadi tenang dan tenteram.
Alangkah nimat hidup ini!
Tapi hutan yang seindah surga itu adanya di bumi telah penuh oleh manusia, dan dimana terdapat manusia di sana terdapat kesuakaran-kesukaran dan penderitaan-penderitaan!
Demikianpun Hutan Walikukun itu, agaknya tak terlepas dari gangguan umat manusia.
Ketika Pamadi sedang berjalan perlahan, tiba-tiba ia menahan tindakan kakinya dan memanang dengan heran kearah kanan jalan.
Di dahan sebatang pohon jati besar tampak sesuatu terayun-ayun.
Ia segera meloncat menghampiri.
Ternyata yang terayun-ayun itu adalah tubuh seorang wanita muda yang mengantung diri dan belum mati, karena tubuhnya bergerak-gerak melawan malaikat yang berusaha mencabut nyawa dari tubuh yang kehilangan jalan pernapasannya itu.
Pamadi segera bertindak.
Dengan sekali loncat ia merenggut putus tali penggantung leher perempuan itu dan cepat ia memondong tubuh itu sambil melepaskan tali pemgikat leher.
Tampak bekas merah kebiru-biruan melingkar di kulit leher yang putih kekuning-kuningan.
Tak lama kemudian gadis yang direbahkan di atas rumput itu membuka matanya perlahan.
Terkejut ketika ia melihat Pamadi duduk di dekatnya.
Segera ia meloncat bangun dan ketika melihat bahwa tali yang dipakai menggantung diri tadi kini telah terletak di dekatnya iapun menangis tersedu-sedu.
Pamadi menjadi binggung dan tak tahu harus berbuat bagaimana, ia hanya berkata perlahan.
"Sudahlah, nona, jangan menangis. Mengapa kau begitu sedih dan berusaha membunuh diri? Itu adalah perbuatan yang keliru dan sesat. Percayalah, segala karuwetan hidup dapat dibereskan."
Mendengar kata-kata ini, nona itu memandang Pamadi dengan mata saya lalu menangis makin sedih.
Pamadi menghela napas dan menengadah memandang burung-burung yang mulai terbang berpencaran di udara.
Ia tahu bahwa nona ini adalah seorang nona Tionghoa yang cantik, tetapi wajahnya diliputi kesedihan keputusanaan yang hebat.
Ia harus bersabar menghadapi wanita yang sedang bersedih.
"Tuan, kenapa kau rintangi kehendakku?"
Akhirnya gadis itu berkata menyesal dengan lagu suara yang tidak tegas seperti biasa ucapan seorang Tionghoa totok.
"Terpaksa, noa. Karena tidak mungkin saya tinggal diam saja, pula, saya ulangi lagi, kehendakmu membunuh diri adalah salah. Kalau kau bunuh diri, berarti kau hilangkan kepercayaanmu kepada Tuhan."
"Kau tidak mengerti, tuan. Justru karena di dunia ini tiada orang yang akan dapat menolongku, maka aku ingin mati agar mengajukan tuntutan kepada Tuhan karena ketidakadilan ini."
"Orang hidup dapat juga menerima pengadilan Tuhan, nona. Cobalah ceritakan padaku persoalanmu, yakni kalau nona menaruh kepercayaan padaku."
Gadis Tionghoa itu memandangnya dengan sepasang matanya yang agak sipit dan bening mengandung air mata, dan agaknya wajah pemuda itu mendatangkan kepercayaannya, maka sambil terisak-isak ia bercerita.
Gadis itu bernama Mei Hwa dan baru kurang lebih setahun ia datang dari Tiongkok bersama ibunya.
Kedatangan mereka langsung menuju ke Madiun.
Tan Keng Hok, ayah Mei Hwa, telah bertahun-tahun meninggalkan anak isterinya di Tiongkok untuk merantau dan mencari nafkah di Indonesia.
Akhirnya Tan Keng Hok tinggal di Madiun setelah berhasil dalam usahanya di Semarang dan kini ia menjadi pedangang kelontong yang lumayan juga besarnya.
Selama bertahun-tahun itu belum pernah ia mengirm berita kepada isterinya, jangankan mengirim uang.
Maka, karena isteri dan anaknya di Tiongkok hidup terlantar, dan pada suatu hari si isteri mendengar bahwa suaminya kini hidup "makmur"
Di Pulau Jawa, ia menjadi nekad dan dengan mengumpulkan subangan dari sana-sini, akhirnya ia aak gadisnya menyusul ke Madiun.
Tak terduga sama sekali olehnya bahwa suaminya itu belum lama ini telah kawin dengan Tukinem, seorang gadis Jawa dari Ponorogo dan hidup rkun dengan isterinya itu.
Tentu saja Tiongkok dengan anak gadisnya itu menimbulkan heboh dalam keluarga Tan Keng Hok.
Sebagai akibat dari kehebohan ini, Tan Keng Hok menyia-nyiakan isterinya dari Toangkok yang terpaksa tinggal mondok di rumah seorang Tionghoa yang telah dikenalnya di Tiongkok, karena ia tidak diterima oleh suaminya.
Namun, atas persetujuan isterinya yang baru, Mei Hwa diperbolehkan tinggal bersama ayahnya.
Kurang lebih setahun Mei Hwa tinggal di rumah dengan ayah dan ibu tirinya.
Ternyata Tukinem seorang wanita yang berbudi halus dan dapat campur serumah dengan anak tirinya dalam keadaan ibunya yang terpaksa hidup tersia-sia dan putus harapan.
Tiba-tiba datang malapetaka menimpa diri Mei Hwa.
Karena ia seorang gadis yang cantik jelita, maka banyak pemuda datang melamar.
Tetapi semua lamaran itu ditolak tegas-tegas oleh ayahnya.
Akhirnya datang lamaran seorang duda Tionghoa yang kaya raya.
Usianya sebaya dengan Tan Keng Hok, jadi pantas menjadi ayah Mei Hwa.
Tetapi ternyata lamaran dari seorang yang tidak sesuai dengan anaknya ini bahkan diterima oleh Tan Keng Hok yang mata duitan.
Mei Hwa menjadi sangat sedih.
Ia menolak keras, tetapi untuk perlawanannya itu ia malah mendapat siksaan dan rangketan dari ayahnya yang sudah lupa daratan.
Kepala siapa ia harus minta tolong?
Ibunya yang mendengar hal ini kepada Keng Hok, tetapi ia juga tak luput mendapat pukulan.
Tukinem sendiri walaupun sesungguhnya tidak setuju dengan tindakan suaminya ini, namun ia tidak berdaya karena betapapun juga ia tidak berhak mengurus persoalan Mei Hwa yang bukan anaknya sendiri.
Akhirnya karena putus asa, pada malam hari yang gelap sunyi, Mei Hwa keluar rumah dengan diam-diam dan melarikan diri.
Hal ini sebetulnya diketahui juga oleh Tukinem yang bahkan membantunya.
Tetapi sebagai seorang gadis yang masih asing dengan daerah di situ, lagi pula ia tak beruang, maka setelah berjalan sehari semalam, akhirnya sampai di sebuah daerah Walikukun dan karena putus harapan lalu berlaku nekat menggantung diri.
"Coba tuan pikir."
Demikian ia akhiri ceritanya.
"Apa yang dapat kulakukan selain menghabisi hidupku yang penuh penderitaan belaka ini? Apa dayaku?"
Pamadi menghela napas.
"Memang serba susah, tetapi mengapa ada ayah demikian kejam? Nona,"
Katanya halus.
"Percayakah nona padaku?"
Mei Hwa mengangkat muka memandang.
"Percaya bagaimana maksudmu?"
"Maukah kau menyerahkan semua ini padaku untuk diatur?"
Untuk sejenak Mei Hwa tak dapat menjawab, hanya memandang wajah pemuda itu dengan tajam. Kemudian berkata.
"Bahwa kau bermaksud baik, aku percaya penuh, karena kau hampir serupa dengan seorang yang sangat baik dan jujur kepadaku, dan akupun suka mempercayakan semua urusanku ini padamu untuk diselesaikan secara baik, tetapi untuk percaya bahwa kau akan dapat membereskan hal ini dan menolongku, aku masih sangsi, tuan."
Walaupun kata-katanya dalam bahasa daerah itu sangat kaku dan kurang lancar, namun Pamadi malum bahwa gadis itu adalah seorang terpelajar dan cerdik.
"Terima kasih kalau kau percaya padaku. Tentang berhasil atau tidaknya, biarlah kita serahkan saja kepada Yang Maha Agung. Kau tentu percaya kepada Yang Maha Kuasa, bukan?"tanyanya dengan senyum. Mei Hwa menjadi begitu lega dan terhibur dengan keramahtamahan dan kehalusan budi Pamadi hingga untuk sesaat ikut tersenyum pula.
"Tentu saja, tuan aku seringkali memasang hio memohon berkah Yang Kuasa."
Pamadi lalu mengajak gadis itu ke luar rumah dari hutan menuju ke kota Madiun.
Di tengah jalan ia membeli nasi dan sayur yang dibawanya ke tempat sepi lalu mereka makan bersama.
Sepanjang perjalanan mereka itu, Mei Hwa makin suka dan percaya penuh kepada Pamadi.
Berkali-kali ia berkata bahwa Pamadi mengingatkan ia akan seorang pemuda di Tiongkok yang sangat baik padanya.
"Saudara misanmu itu?"
Anya Pamadi sambil makan.
Mei Hwa mengangguk.
Ketika itu mereka sedang makan nasi dan sayur beralaskan daun pisang dan hanya menggunakan tidak ada sendok.
Pamadi telah memberi contoh cara menggunakan sendok daun, tetapi ketika Mei Hwa mencobanya dan sangat canggung, mereka lalu menggunakan jari-jari tangan saja!
Pamadi duduk di atas sebuah batu besar dan Mei Hwa duduk di atas akar pohon Trembesi di depannya.
Tampaknya sedap benar Mai Hwa makan, karena sesungguhnya perutnya sejak kemarin tidak diisi apa-apa.
"Kau sungguh baik hati, tuan."
"Jangan menyebut tuan padaku."
"Kau juga menyebut nona padaku."
"Habis, aku harus menyebut apa?"
Tanya Pamadi tersenyum.
"Dan aku harus sebut apa?"
Tanya mei Hwa tertawa gembira. Pamadi senang melihat nona itu sudah dapat melupakan kesedihannya dan ternyata sifatnya gembira.
"Namaku Mei Hwa dan boleh sebut aku begitu sjaa, tanpa embel-embel!"
"Dan aku Pamadi."
"Aku... aku merasa seakan-akan kau adalah kakakku sendiri."
"Kau tidak punya kakak?"
"Tidak seorangpun saudara di sunia ini."
"Kalau begitu biarlah aku jadi kakakmu."
"Apakah sebutan kakak dalam bahasamu?"
"Seorang adik menyebut kakaknya dengan sebutan mas."
"Nah, mas Pamadi, kalau begitu biarlah aku menyebut kakaknya dengan sebutan mas."
"Nah, mas Pamadi, kalau begitu biarlah aku menyebutnya mas pula."
"Dan aku harus menyebut apa padamu?"
"di Tiongkok, kalau kiranya aku mempunyai seorang kakak, maka ia akan menyebutku Amei."
"Kalau begitu, aku akan menyebutmu Amei saja."
Keduanya lalu diam dan menghabiskan sisa makanan. Untuk minum mereka, Pamadi tadi telah membeli sebuah kelapa muda.
"Siapakah saudara misanmu tadi?"
Tanya Pamadi setelah ingat akan hal itu.
"Ia adalah Tek Han, putera pamanku, dan ia baik sekali."
Pamadi termenung sejenak.
"Hm, kau... cinta padanya, bukan?"
Wajah Mei Hwa memerah, memandang kepada Pamadi beberapa saat lalu mengangguk, kemudian ia menundukkan mukanya dan dari kedua matanya menetes turun dua butir air mata. Pamadi termenung lama.
"Kalau begitu, Amei, kau bahagia sekali."
Pamadi bangun berdiri.
"Marilah kita lanjutkan perjalanan kita. Soal itu adalah soal nanti, mudah-mudahan saja rencanaku berhasil."
Mereka lalu berjalan lagi tiada hentinya hingga setelah matahari turun ke barat, mereka memasuki tapal batas kota Madiun.
Mei Hwa mulai ketakutan setelah dekat dengan rumah ayahnya, tetapi Pamadi menghiburkan dengan kata-kata halus.
Langsung mereka menuju ke rumah Tan Keng Hok yang letaknya di belakang pasar.
Kedatangan mereka disambut oleh Kang Hok yang kebetulan sedang berdiri di depan pintu rumahnya.
Melihat puteranya datang dengan seorang pemuda, hanya yang semenjak minggatnya Mei Hwa telah penuh dengan hawa marah, menjadi berkobar dan wajahnya merah.
"Perempuan rendah! Kau berani datang ke hadapanku?"
Kata-kata ini disusul dengan ayunan tangan menampar pipi Mei Hwa. Tetapi alagkah terkejutnya ketika pemuda yang mengantar anakmu itu memegang pangkal lengannya.
"Kau... kau siapa berani ikut campur? Dan kau datang bersama anakku. Hm, tentu bangsat ini yang melarikan anakku!"
Sikapnya mengancam dan matanya mendelik memandang Pamadi. Tetapi pemuda itu tetap tenang dan sabar. Sepasang matanya menatap ayah Mei Hwa yang berbadan tegap dan tampaknya kuat sekali itu.
"Sabar, tuan. Aku hanya mengantar Amei pulang."
"Amei? Bagus benar! Kau berani berlaku kurang ajar mengganggu keluargaku. Nah, rasakan ini hajaranku."
Ia lalu maju menyerang.
Ternyata Tan Keng Hok ini adalah seorang yang pandai main silat.
Di Tiongkok dulu ia belajar silat cabang Siauw-lim-sie untuk beberapa tahun, maka tidak heran bahwa serangannya sangat cepat dan pukulannya berat dan keras.
Pamadi melihat datangnya serangan yang dilakukan dengan tangan dan kaki teratur itu berlaku hati-hati karena ia maklum bahwa lawannya ini adalah seorang yang "Berisi".
Cepat ia mengelak kle samping dan berkata lagi.
"Sabar, kawan."
Namun Keng Hok yang sudah memuncak maranya lalu menyerang lagi dengan hebatnya yang dapat dielakkan oleh Pamadi dengan mudah.
Berkali-kali Pamadi hanya mengelak dan mengalah, sama sekali tidak mau membalas.
Sementara itu Mei Hwa hanya berdiri sambil menangis dengan hati takut dan khawatir.
Setelah diserang lebih dari dua puluh jurus dengan hanya mengelak saja dan melihat bahwa lawannya makin lama makin nekat, akhirnya Pamadi merasa perlu memberi sedikit perlawanan kepada orang bandel ini.
Pukulan tangan kanan lawannya tidak dielakkan tetapi ia gunakan tangan yang dimiringan untuk menyabet pergelangan lengan itu.
"Plak!"
Dan Keng Hok menyeringai kesakitan, terhuyung-huyung sambil memegangi lengannya.
"Mas Pamadi, lekas lari. Ayah tentu mengambil senjata tajam. Ia ahli main golok, lekas lari. Ayah tentu mengambil senjata tajam. Ia ahli main golok, lekas lari, mas."
Tetapi Pamadi hanya menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum.
Sementara itu, Keng Hok sudah datang lagi dan keluar saja, tangan kanannya kini memegang sebuah golok yang tajam!
Melihat anak perempuannya bicara dengan pemuda sambil memegangi lengan, marahnya makin menjadi.
Diputarnya golok itu di atas kepala dan ia meloncat menyerbu!
Mei Hwa lari ke samping dan Pamadi menunggu datangnya serangan dengan tenang-tenang saja.
Ketika muduhnya membacokkan goloknya kearah leher, ia tunduk ke bawah hingga golok itu bersuitan di atas kepalanya.
Keng Hok semakin gemas dan segera mengeluarkan seluruh kepandaiannya bermain golok.
Sungguh hebat permaianannya, karena golok itu berputar-putar cepat hingga mengeluarkan seluruh kepandaiannya bermain golok.
Sungguh hebat permainannya, karena golok itu berputar-putar cepat hingga tampaknya ada beberapa buah golok yang mengeroyok Pamadi.
Namun Pamadi bukanlah pemuda sembarangan.
Ia telah terlatih bertahun-tahun, kurang lebih sepuluh tahun di bawah asuhan Kyai Lawu, seorang pertapa yang tingkatnya sudah tinggi sekali.
Walaupun tidak banyak pukulan pencak silat yang dipelajari oleh Pamadi, namun karena tingginya gemblengan ilmu batin yang diterimanya, ia sangat waspada dan lincah, pula hatinya tabah dan seluruh anggota tubuhnya seakan-akan bermata.
Tenaganya juga bukan tenaga manusia biasa karena penuh dorongan tenaga batin yang tak terkira kuatnya.
Pada suatu saak Keng Hok yang sudah merasa pening dan matanya kabur melihat gerakan lawan yang berkelebat ke sana ke mari di antara sambaran golok, tiba-tiba berlaku nekad.
Ia menubruk maju kearah perut Pamadi sambil menggunaan tangan kiri mencengkeram!
Pamadi mengelak ke samping sedikit pinggir tangannya menyabet punggung golok itu demikian kerasnya hingga golok terlepas dari pengangan Keng Hok dan menancap ke tanah sampai setengahnya lebih!
Kemudian Pamadi menggunakan tangan kirinya menangkis cengkeraman Keng Hok dan ketika kedua tangan beradu, Keng Hok berteriak kesakitan.
Sebentar kemudian tangan kirinya menjadi gembung karena ternyata telah salah urat!
Tangan itu menjadi biru dan panas.
Sakitnya bukan kepalang sehingga ia meringis-ringis mengigit bibir sambil memegangi tangan yang sakit itu.
Matanya memandang Pamadi dengan heran dan takjub, baru kali ini ia dikalahkan orang semuda itu dengan cara yang sangat mudah pula!
Orang muda ini bahkan berkepandaian melebihi gurunya sendiri!
Seperti biasa Pamadi yang membenci orang bermain golok atau senjata tajam untuk membunuh orang lain, segera memungut golok itu dan menggunakan jari tangannya untuk membuat golok itu patah menjadi beberapa potong!
Keng Hok ternganga heran melihat betapa goloknya yang telah patah-patah itu dilemparkan ke tanah oleh Pamadi.
Pada saat itu, dari jurusan selatan datang seorang tua sambil berlari.
Ia berusaha kurang lebih enam puluh tahun, tetapi tubuhnya kuat bagaikan banteng.
Karena tubuh atasnya tak mengenakan baju, maka tampaklah urat-uratnya yang melingkar-lingkar di dadanya yang penuh bulu.
Ia memakai celana hitam dan di pinggangnya diikatkan tali pinggang berupa gulungan lawe (satu jenis benang) yang besar dan panjang hingga dua ujung tali itu bergantungan sampai di bawah lutut.
Kepalanya memaki ikat kepala hitam pula.
Cambangnya panjang dan melengkung ke atas hingga tampaknya gagah sekali.
"He, siapakah kamu berani-berani mengganggu mantuku? Eh, Keng Hok, kau kalah oleh anak ini?"
Suaranya bagaikan guntur menggeletar.
"He, anak muda, setelah kau kalahkan mantuku, jangan kepalang, cobalah aku Surodiro banteng Ponorogo!"
Ia sudah siap untuk menyerang.
"Sabarlah, bapak. Saya tidak mau berkelahi, marilah kita bicara dengan tenang. Bolehkah saya Tanya, bapak ini siapa agar saya dapat bicara kepada orang-orang yang bersangkutan dengan perkara ini."
Sepasang mata Surodiro melotot lebar dan bundar menakutkan.
"Eh, kau laki-laki mauda yang bicara halus seperti perempuan ini, mau bicara apa lagi? Ketahuilah aku adalah mertua dari Keng Hok suami Tukinem anakku. Hayo jangan banyak cakap, lawanlah aku."
Sebelum Pamadi sempat menjawab, Surodiro sudah menerjang dengan hebat.
Melihat serangan ini Pamadi terkejut juga, karena pukulan orang tua galak ini penuh berisi tenaga tersembunyi yang berbahaya.
Ia mengelak cepat dan selalu menghindari pukulan-pukulan itu.
Betapapun gagahnya Surodiro, namun ia sudah tua dan napasnya sebentar saja sudah segalsengal.
Ia menjadi gemas, tangannya menyaut tali ikat pinggang dan memutar-mutarnya bagikan titiran!
Ini adalah ilmu yang paling diandalkan oleh Surodiro yang terkenal sebagai seorang warok cabang atas di Ponorogo.
Menurut kata orang-orang yang suka mengobrol, katanya kekuatan ikat pinggang Warok Surodiro itu jika disabetkan, jangan kata tubuh manusia, biar dewa sekalipun takkan kuat menahan!
Tentang keampuhan senjata istimewa itu memang ada benarnya, karena Pamadi memang ada benarnya, karena Pamadi sendiri ketika merasa betapa angina dingin mendahului sabetan itu, segera mengelak ke sana ke mari.
Ia tidak mau menangkis atau balas menyerang, karena ia saying akan merusakkan daya ilmu kakek ini.
Kalau ia menangkis, tentu ia akan dapat memusnahkan tenaga hebat itu, tetapi akibatnya akan hebat pula.
Sedikitnya kakek itu akan kehilangan kesaktiannya bahkan besar kemungkinan hal itu akan menewaskannya.
Karena itu Pamadi selalu mengelak dan memutar otak mencari akal untuk menjatuhkan atau membuat kakek itu menyerah tanpa ada kurban.
Tiba-tiba pintu kamar Keng Hok terbuka dan seorang wanita lari keluar sambil berteriakteriak.
"Bapak, bapak! Tahan, tahan pak. Jangan sembarangan mencelakakan orang."
Mendengar kata-kata itu, Warok Surodiro menahan serangannya dan berdiri dengan napas tersengal-sengal, kedua tangan menolak pinggang dan senjata hebat itu masih tergantung dari kedua tangannya.
Sepasang matanya memandang Pamadi dengan marah tetapi juga heran dan kagum.
Mei Hwa menggunakan saat itu untuk menubruk Warok Surodiro sambil menangis.
Kakek itu menjadi makin heran.
Dengan cepat dan terputus-putus Mei Hwa menceritakan segala peristiwa yang menimpanya hingga tertolong oleh Pamadi.
Mendengar cerita anaknya ini, Keng Hok mulai menyesal mengapa ia dengan ceroboh dan gegabah sekali datang-datang menyerang pemuda itu, dan Warok Surodiro menganggukangguk dan berdehem-dehem sabil sebentar-sebentar melirik kearah Pamadi dan Keng Hok.
Setelah Mei Hwa selesai bercerita, Kakek Surodiro berkata kepada Pamadi.
"Hm, hm... anak muda, maafkan aku orang tua yang sembrono. Tindakanmu betul sekali. Kalau aku, menjadi kau, akupun akan berbuat demikian. Yang salah adalah Keng Hok sendiri. Sekarang bagaimana baiknya hal ini diatur?"
Karena di situ mulai banyak orang berkerumun tertarik oleh perkelahian itu.
Tukinem mengusulkan agar mereka semua masuk saja ke dalam rumah, yang diturut oleh mereka semua.
Beramai-ramai mereka memasuki rumah dan sebelum mereka bicara lebih lanjut, Pamadi mendekati Keng Hok lalu melihat tangannya yang bengkak.
Dengan beberapa kali urut ternyata sakinya hilang dan gembungnya menjadi kempes kembali.
"Pamadi dengan arak putih, besok tentu sudah sembuh,"
Kata Pamadi. Semua ini disaksikan oleh orang-orang itu dengan rasa kagum.
"Sekarang perkenankanlah saya bicara,"
Kata Pamadi sambil memandang Keng Hok dengan tajam.
"Yang sudah lewat biarlah lalu, tak perlu diurus siapa salah siapa benar. Sekarang yang penting, bagaimanakah pendirian tuan akan urusan puterimu?"
Mendengar dirinya disebutsebut, Mei Hwa yang berdiri di dekat Tukinem menutup muka dan mulai menangis. Beberapa saat Keng Hok menundukkan kepala, kemudian berkata.
"Terserah kepadanya saja. Maksudku sebagai orang tua sebenarnya hanya ingin membahagiakan sia, karena rasanya kawin dengan hartawan she Oei itu, hidupnya akan terjamin dan demikianpun hidup ibunya."
"Memang begitulah kalau dipandang dan dipikir sepintas lalu saja,"
Kata Pamadi dengan tenang dan sabar.
"Tetapi harus diingat bahwa yang akan menjalani pernikahan itu adalah anakmu, bukan kau. Maka pertimbangan seadil-adilnya ialah sepenuhnya harus diserahkan kepada anakmu pula."
Kakek Surodiro mengangguk-angguk.
"Mufakat, setuju! Dalam hal memiliki mantu, akupun menyerahkan kepada Tukinem sendiri."
Keng Hok merasa terdesak dan menarik napas panjang.
"Nah, sekrang terserah saja bagaimana kehendak Mei Hwa."
"Amei telah menyatakan kepadaku bahwa ia ingin pulang ke kampungnya di Tiongkok saja. Maka tuan, sebagai seorang ayah yang baik, seharusnya menyediakan uang untuk membiayai anak dan isterimu pulang ke Tiongkok, karena kau tokh tidak memperdulikan lagi mereka. Bagaimana pendapatmu?"
"Akur, itu baik sekali, memang seharusnya,"
Menyambung Surodiro mengangguk-angguk. Sementara itu Mei Hwa memandang Pamadi dengan air mata berlinang, karena ia maklum bahwa "kakaknya"
Ini sengaja mengatur supaya ia dapat pulang dan bertemu dengan Tek Han! "Begitulah kehendakmu?"
Tanya Keng Hok kepada Mei Hwa dan gadis itu hanya mengangguk lemah sambil menundukkan kepala.
"Baiklah, besok akan kuatur tentang hal itu dan dalam bulan ini juga kau dan ibumu tentu dapat berlayar ke Tiongkok."
Pamadi bernapas lega. Ia bangkit berdiri dan berkata.
"Nah, saya rasa urusan ini sudah beres. Maafkan kalau saya mengganggu kalian."
Ia mengangguk kepada semua orang dan bertindak ke pintu.
Tiba-tiba Mei Hwa lari menghampiri dan memegang lengannya.
Pamadi menengok dan hatinya terharu melihat betapa gadis itu memandangnya dengan air mata bercucuran.
"Mas... mas Pamadi... terima kasih, mas. Kalau aku sudah pulang ke Tiongkok, kita tentu tak mungkin jumpa pula. Aku akan doakan selalu agar kau hidup bahagia."
"Bahagia??"
Mei Hwa mengangguk.
"Dulu kau katakan bahwa aku bahagia, maka aku menyalakan hio tiap malam dan memuja kepada Tuhan agar kau pun segera menemui kebahagiaanmu itu, mas..."
Pamadi menghela nafas.
"Terima kasih, Amei, kau anak baik. Selamat jalan ke kampungmu, Amei."
Kemudian mereka berjabat tangan, dan Pamadi segera melepaskan tangan Mei Hwa, tetapi sebelum ia bertindak ke luar, suara Surodiro yang besar dan keras memanggilnya.
"He! Nanti dulu, anak muda! Kau dengan tangan kosong dapat menahan serangan tali Patimargaku, siapakah namamu dan siapa pula gurumu?"
Pamadi tersenyum dan menjura tanda hormat.
"Mana saya dapat bertahan menghadapi kesaktian bapak? Tentang nama saya, biarlah, itu tak berarti. Selamat tinggal!"Kemudian ia berkelebat dan lenyap dari pandangan mereka. Surodiro menggeleng-gelengkan kepalanya yang beranbut putih.
"Anak baik! Pemuda perwira! Baiklah Tukinem buru-buru datang, kalau tidak, jika ia sampai hancur lebur karena sabetan Patimargaku ini, ah, selama hidup aku takkan dapat mati dengan mata terpejam!"
Dan mereka terbenam dalam lamunan masing-masing.
"Keng Hok,"
Kata Pak Surodiro kepada mantunya.
"Kau harus memenuhi janjimu sebagai laki-laki. Dalam bulan ini kau harus bisa memulangkan anak dan istri itu dan berilah mereka sekedar bekal hidup untuk modal di sana. Awas, Hok, aku jadi saksinya!"
Kemudian Kakek yang gagah itu meninggalkan rumah mantunya. Pada suatu malam, di Kampung Mlaten di kota Semarang terdengar suara ribut-ribut. Orang-orang berteriak.
"Kebakaran!"
Dan orang-orang kampong semua lari ke jurusan api yang berkobar-kobar memakan sebuah rumah bilik.
Mereka menggunakan apa saja yang kiranya dapat memadamkan api.
Di tengah-tengah keributan itu terdengar jerit berteriak ngeri.
"Anakku Daryono! Ya Allah... anakku...!"
Semua orang ikut bingung karena ternyata ternyata bahwa anak laki-laki berusia dua tahun dari wanita itu masih tertinggal di dalam rumah!
Tetapi siapa yang berdaya menhadapi api menggunung itu!
Api itu menjilat-jilat ke luar pintu dan lubang pintu penuh dengan asap dan nyala merah.
Tiba-tiba dari arah kiri datang seorang wanita tua berlari-lari.
Dirampasnya sebuah ember besar yang penuh air dari tangan pemegangnya dan ia menggunakan air satu ember itu untuk menyiram kepalanya hingga sekujur badannya basah kuyup.
Kemudian, ketika orang-orang masih heran melihat perbuatannya ini, ia lari menuju ke rumah terbakar itu!
Beberapa orang berteriak cemas.
"Jangan Bu Tanu, jangan...!"
Tetapi wanita itu tak memperdulikan seruan tadi, langsung menerobos api yang berkobar dan memasuki rumah melalui pintu yang berkobar-kobar.
Semua orang menahan napas dan semua muka menjadi pucat.
Pada saat itu, seorang pemuda baju putih datang pula ke situ dan melihat wajah orang-orang yang pucat kecemasan itu ia bertanya apa yang telah terjadi.
Ketika mendengar akan kenekatan wanita tua itu hanya seorang tetangga saja dari rumah yang kebakaran, tak terasa pula kedua mata Pamadi mengalirkan air mata.
Ia kagum dan terharu sekali melihat keberanian dan pengorbanan seorang wanita tua.
Ketika ia hendak meloncat memasuki rumah menyusul, wanita itu keluar sambil menggendong seorang anak kecil!
Ngeri!
Sungguh ngeri, karena ternyata baju wanita itu telah termakan api yang berkobar di belakangnya!
Semua orang berteriak-teriak dan bersorak-sorak, tetapi pada saat itu sebatang balok besar yang tadinya melintang di atas pintu dan kini telah terbakar menyala-nyala dengan mengeluarkan suara keras jatuh menimpa di belakangnya!
Semua orang berteriak-teriak dan bersorak-sorak, tetapi pada saat itu sebatang balok besar yang tadinya melintang di atas pintu dan kini telah terbakar menyala-nyala dengan mengeluarkan suara keras jatuh menimpa orang tua yang mjenggendong anak tadi!
Semua orang menjerit, tetapi Pamadi dengan secepat kilat meloncat menyambar orang tua itu!
Ibu si anak segera menggendong anaknya yang selamat dan menangis karena takut dan ngeri, sedangkan Pamadi segera memondong wanita tua itu setelah memadamkan api yang membakar bajunya.
Atas petunjuk beberapa orang Pamadi membawa wanita itu ke rumahnya yang tak berjauhan letaknya dengan rumah terbakar itu.
Ibu si anak segera menggendong anaknya yang selamat dan menangis karena takut dan ngeri, sedangkan Pamadi segera memondong wanita tua itu setelah memadamkan api yang membakar bajunya.
Atas petunjuk beberapa orang Pamadi membawa wanita itu ke rumahnya yang tak berjauhan letaknya dengan rumah terbakar itu.
Ia merebahkan waniat itu di atas sebuah bale-bale bambu dan menggunakan minyak kepala memarami luka-luka terbaar pada panggung wanita tua itu.
Untung lukanya tidak hebat, tetapi tenaga tua itu terlampau banyak dikerahkan hingga untuk beberapa jam wanita itu pingsan.
Pamadi merawatnya dengan penuh perhatian sambil memandangi wajah tua yang dalam pandangannya tampak agung dan bijaksana.
Ketika pada keesokan harinya wanita itu sadar dan melihat seorang pemuda duduk di dekatnya, ia menjadi heran.
Kau...
kau siapa, nak?"
"Saya orang yang kebetulan lewat dan kagum padamu, bu."
"Kau... kau yang menolong aku ketika balok itu datang menimpa?"
Pamadi mengangguk.
"Itu tidak berarti, bu. Kaulah yang sangat hebat berani menolong anak itu..."
"Anak itu... Daryono... ia sama benar dengan anakku dulu..."
Tiba-tiba dari kedua matanya bercucuran air matanya.
Pamadi menghiburnya dan selama tiga hari ia merawat wanita itu dengan penuh kasih sayang.
Pada dari ke empatnya, wanita itu yang disebut orang Bu Tanu sudah dapat turun dari balebalenya dan lukanya sudah hampir sembuh.
Dipandangnya wajah pemuda yang tampan itu dengan kedua matanya bersinar penuh rasa terima kasih.
"Nak, kau baik sekali. Sebetulnya siapakah kau dan di mana tempat tinggalmu!"
"Saya... saya tak mempunyai tempat tinggal tetap, bu, dan nama saya, ah... itu tidak berarti, bu. Sekarang ibu sudah sembuh, perkenankanlah saya pergi melanjutkan perjalananku."
"E, e... nanti dulu, nak. Itu, bajumu robek, mari kujahitkan."
Pamadi melirik kearah pundaknya dan ternayata bajunya benar robek hingga kulit lengannya tampak.
"Tak usahlah, bu, terima kasih."
"E, e, anak ini, banyak bantahan. Hayo, lepaskan biar kujahit sebentar. Kan malu anak muda pergi jalan dengan baju robek."
Pamadi tersenyum dan terpaksa menanggalkan bajunya, lalu memberikan baju putih kepada Bu Tanu.
Wanita tua itu mengulurkan tangan untuk menerima baju itu, tetapi tiba-tiba saja tangannya yang terulur bagaikan kaku dan kedua matanya menatap dada Pamadi yang telanjang itu dengan tak berkedip.
Mulutnya ternganga dan wajahnya tiba-tiba menjadi pucat.
"Ada apa, bu?"
Tanya Pamadi cepat. Bibir wanita itu bergerak-gerak seakan-akan sukar mengeluarkan kata-kata.
"Kau... kau..."
Ia berdiri dan terhuyung ke belakang, lalu maju pula mendekati Pamadi, kedua matanya masih terus memandang warna hitam sebesar kuku jari yang menghias dada Pamadi sebelah kanan.
"Kau... kau Pamadi??"
Pamadi semenjak belajar ilmu di bawah asuhan Kyai Lawu telah dapat meneguhkan hatinya dan belum pernah merasa kaget.
Tetapi kali ini ia benar-benar kaget, hingga tak dapat segera menjawab, hanya mengangguk-anggukkan kepala saja.
"Kau Pamadi... dari Taman Harapan di Solo?"
Kembali Pamadi merasa dadanya berdebar dan ia hanya mengangguk lagi.
"Pamadi...!"
Suara ini keluar langsung dari jeritan kalbu Bu Tanu dan serta merta ia menubruk serta memeluk Pamadi sambul menangis tersedu-sedu. Pamadi heran dan baru kali ini ia merasa bingung.
"Pamadi, anakku...! Anakku...!"
Kata-kata ini bagaikan sinar terang menyambar dan menerangi pikiran Pamadi.
Ia sadar bahwa ia berada dalam pelukan ibunya sendiri.
Tak terasa dadanya menjadi penuh sesak dengan keharuan yang hebat, ia tak dapat menguasai dorongan kalbunya dan air mata bercucuran dari kedua matanya.
Bagaikan dalam mimpi ia gunakan kedua lengannya balas memeluk dan sembunyikan mukanya yang basah oleh air mata ke dalam leher dan rambut ibunya.
"Ibu... ibuku..."
Suara ini seperti suara anak kecil yang hampir lupa dengan sebutan ibu, sebutan yang dibuat kenangan dan dibawa dalam setiap mimpi beberapa tahun yang lalu.
Diam-diam ia menyebut nama Tuhan Yang Rahman dan Rahim, yang telah mempertemukannya dengan ibunya.
Lama mereka berpelukan, bertangis-tangisan dan berkali-kali Bu Tanu menciumi muka dan kening puteranya.
Akhirnya Pamadi dapat juga menguasai perasaannya dan ia membimbing tangan ibunya untuk duduk berdua di atas bale-bale.
"Pamadi, anakku sayang.. Aku mengucap syukur kepada Gusti Yang Maha murah bahwa akhirnya aku dapat juga berjumpa denganmu. Ahh, kini biar datang maut mengambil nyawaku, aku tidak akan merasa kecewa, nak. Pamadi anak nakal, ke mana saja kau selama ini? Berkali-kali aku mencarimu di Solo tetapi tak berhasil. Tak seorangpun tahu ke mana kau pergi."
"Ibu, kenapa... kenapa ibu tinggalkan aku hidup seorang diri?"
Kata-kata ini walaupun diucapkan dengan tenang bagaikan berkata kepada diri sendiri, namun bagi Mintarsih atau Ibu Tanu, merupakan tuntutan yang menusuk hati dan membuat air matanya menderas turun.
Kemudian ia menceritakan riwayatnya yang tadinya bagi Pamadi merupakan rahasia yang selalu timbul di dalam pikirannya.
Dahulu Ibu Tanumiharja bernama Mintarsih dan ia kawin dengan seorang pemuda bernama Suseno yang setelah kawin namanya menjadi Suseno Tanumiharja.
Suseno adalah seorang suami yang baik dan ia seorang terpelajar serta masih berdarah ningrat.
Bertahun-tahun mereka hidup bahagia di kota Semarang.
Tetapi setelah Mintarsih melahirkan seorang putera yang diberi nama Pamadi, datanglah awan gelap menghalangi cahaya kebehagiaan itu dan membuat hidup Mintarsih selanjutnya menjadi gelap dan penuh derita.
Suseno telah menjadi kurban guna-guna asmara yang dilepas oleh seorang perempuan genit bernama Madusari yang bekerja sebagai pemain wayang orang pemegang peran Harjuna.
Suseno tak berdaya dan mabok dalam buaian mesra dan sama sekali tidak memperdulikan isterinya.
Akhirnya ia bahkan demikian kejam mencerakan Mintarsih dan mengusir isteri muda belia itu dari rumanya.
Mintarsih pergi terlunta-lunta dengan puteranya yang ketika itu baru berusia satu tahun.
Ia merasa malu untuk pulang ke kampungnya di Jepara, maka ia hidup berkelana ke sana ke mari tak tentu arah tujuan hingga boleh dikata terlantar.
Akhirnya ia tinggal di Solo dan bekerja memburuh batik.
Beberapa tahun kemudian, setelah Pamadi berusia lima tahun, seorang kawan kerja di pembatikan yang bernama Mulyadi dan yang bersikap baik sekali kepada Muntarsih dan bahkan yang menolongnya mendapatkan pekerjaan di situ, melamarnya.
Mintarsih adalah seorang wanita yang pada saat itu masih sangat muda dan tentunya masih haus akan kesenangan dan rindu akan rumah tangga bahagia.
Maka perasaan hati Mulyadi itu diterimanya dengan hangatnya.
Hanya sebuah hal yang sangat menyakitkan hati janda muda itu, ialah syarat dari Mulyadi yang tidak mau menerima Pamadi.
Pemuda itu minta agar ia titipkan saja anaknya di Panti Asuhan Taman Harapan.
Setelah terjadi perang tanding dalam lubuk hatinya akhirnya cintanya kepada Mulyadi dan bayangan-bayangan mimpi indah dapat mengalahkan cintanya kepada anaknya.
Ia menyerah dan menitipkan anak yang baru berusia lima tahun itu kepada Taman Harapan.
Setelah terjadinya perang tanding dalam lubuk hati akhirnya cintanya kepada Mulyadi dan bayangan-bayangan mimpi indah dapat mengalahkan cintanya kepada anaknya.
Ia menyerah dan menitipkan anak yang baru berusia lima tahun itu kepada Taman Harapan.
Kemudian ia kawin dengan Mulyadi dan hidup bahagia.
Saying bahwa dalam perkawinan ini mereka tidak mendapat turunan.
Hal ini menyakitkan hati Mulyadi yang sangat cinta padanya, hingga timbul rasa iri hati orang muda ini kepada Pamadi.
Semenjak bertahun-tahun yang lalu, ia melarang keras istrinya untuk mengaunjungi Pamadi di Panti Asuhan itu.
Sepuluh tahun kemudian, karena menderita sakit batuk darah, Mulyadi meninggal dunia dan meninggalkan Mintarsih seorang diri yang kembali menjadi janda.
Mulyadi tidak meninggalkan warisan berharga hingga kembali hidup Mintarsih terancam.
Ia segera pergi mencari anaknya di Taman Harapan, tetapi alangkah terkejut dan kecewanya ketika mendengar bahwa Pamadi telah pergi dari situ beberapa bulan yang lalu tanpa meninggalkan berita.
Hancur luluh rasanya hati Mintarsih.
Ia kini hidup seorang diri di dunia yang penuh derita dan nestapa ini, ditinggal suami dan anak.
Ia bersumpah takkan kawin lagi dan hidup dari kota ke kota sambil memburuh, dan akhirnya ia pindah ke Semarang dan tinggal di Kampung klaten.
Kini telah berusia kurang lebih lima puluh tahun dan kebakaran hebat di kampungnya itu membuat ia dapat berjumpa kembali dengan puteranya.
"Pamadi, anakku. Sekarang kau sudah tahu akan tindakan ibumu yang tidak bijaksana, yang telah menyia-nyiakan putera tunggalnya. Aku seorang ibu yang jahat, anakku..."
Kembalilah ia terisak sedih.
Tetapi Pamadi tidak menyesal atau membenci ibunya.
Ia bahkan iba melihatnya karena ia mklum betapa hebat penderitaan ibunya.
Kalau penderitaan itu boleh dianggap hukuman, maka sudah lebih dari cukuplah hukuman itu untuk menebus dosanya yang telah melepas anak sendiri untuk mengejar kesenangan hidup pribadi.
Maka dipeluknya ibunya dengan kasih sayang.
"Tidak, ibu. Kau tetap ibuku yang bijaksana. Aku bangga dapat mengaku anakmu, ibu. Kau seorang mulia."
Kini tiba giliran Bu Tanu untuk minta keterangan kepada puteranya tentang keadaan Pamadi selama pergi meninggalkan Taman Harapan.
Dengan singkat Pamadi bercerita bahwa ia pergi berkelana dan mengejar ilmu di Gunung Lawu di mana ia berguru kepada Kyai Lawu.
Kemudian ia tanyakan ibunya tetang ayahnya, Suseno Tanumijaya.
Ibunya menarik napas panjang.
"Entahlah, kabarnya ia telah bercerai pula dengan perempuan yang merampasnya dariku dulu. Dan ada orang menceritakan bahwa ia telah tersesat jauh bahkan kini menjadi kepala rampok di daerah Hutan Roban dekat Pekalongan."
Pamadi merasa sedih mendengar hal ini.
Ia mengambil keputusan untuk pergi mencari ayahnya itu.
Setelah tinggal bersama ibunya kurang lebih satu bulan, ia minta diri dari ibunya untuk pergi merantau pula.
Ibunya menahannya sambil menangis, tetapi Pamadi menghiburnya dengan kata-kata bahwa tak lama lagi tentu ia akan kembali.
Terpaksa ibunya melepaskan pergi.
Hutan Roban terkenal hutan yang angker dan liar.
Tidak hanya binatang-binatang liar yang banyak terdapat di situ, bahkan bangsa dedemit, siluman dan setan banyak pula terdapat di hutan itu, sehingga timbul sebutan umum "Setan Roban"
Yang maknanya setan dari Hutan Roban.
Hutan Roban itu liar sekali dan pohon-pohon besar dan tua memenuhinya.
Menurut cerita orang-orang yang berdekatan di situ kabarnya dulu ketika Bangsa Belanda membuat jalan raya dan jalan kereta api yang melalui hutan itu, maka "Babat hutan"
Dilakukan dengan sukar sekali serta makan banyak korban jiwa.
Seakan-akan tiap pohon besar yang ditebangnya pasti terdapat penghuni pohon atau mbaureksa yang mengamuk dan terjadi hal-hal gaib seperti penebangnya tiba-tiba pingsan, sakit atau tertimpa cabang pohon menemui ajalnya.
Akhirnya para pekerja masing-masing karena takut hingga pekerjaan tertunda.
Orang-orang Belanda yang mengepalai pemababatan hutan itu menjadi bingung dan tak mengerti harus berbuat bagaimana.
Dan menurut cerita orang, katanya Belanda lalu menyebar uang picis dan talenan di tempat-tempat yang perlu dibabat.
Akal ini ternyata berhasil dan orang-orang yang melihat uang disebar itu lalu mengambil parang dan golok, mulai membabat alang-alang dan pohon-pohon untuk mencari uang-uang logam itu!
Mungkin cerita ini hanya kiasan saja dan arti kata-kata "membayar uang"
Dapat juga dimaksudkan membayar upah sebesar-besarnya dan sebanyak-banyaknya untuk menyampaikan maksud membuka jalan itu.
Pada waktu cerita ini terjadi, maka hal itu belum terjadi.
Dan keadaan Hutan Roban kala itu memang sangat ditakuti orang.
Boleh dikata "Jalma mara, jalma mati"
Atau orang yang masuk hutan itu akan binasa dan tak mungkin keluar hidup-hidup!
Karena selain binatang-binatang buasa dan setan-setan jahat, akhir-akhir ini di hutan itu kabarnya terdapat segerombolan penjahat yang kejam, perampok-perampok yang berani dan dikepalai oleh seorang penjahat dakti.
Peneknya, Hutan Roban dijadikan sarangbagi mereka karena memang hutan yang lebat itu cocok sekali dijadikan tempat persembunyian.
Pada suatu pagi, Pamadi masuk ke dalam hutan itu dan mengagumi keadaan hutan yang masih aseli, belum rusak oleh sentuhan tangan-tangan manusia.
Karena tiada terdapat lorong dalam hutan itu, maka ia gunakan kedua lengannya untuk menolak tetumbuhan dan alang-alang yang menghalangi jalannya.
Setelah berjalan beberapa jam ia tiba di satu tempat yang agak lega.
Bahkan di depannya terbentang lapangan rumput yang bersih dari tetumbuhan berduri.
Tiba-tiba ia mendengar suara seruan nyaring dan halus.
"Bangsat kurang ajar kau sudah bosan hidup?"
Pamadi segera menuju kearah suara itu dan dari belakang sebuah pohon besar ia melihat peristiwa yang mengherankan.
Seorang lelaki tinggi besar tengah berkelahi beradu golok dengan seorang gadis cantik!
Gadis itu berpakaian seperti laki-laki dan bersenjata keris.
Rambutnya yang hitam panjang terurai ke belakang tertiup angin hutan berkibaran.
Laki-laki yang selalu mundur karena serangan-serangan hebat itu bersenjata sebuah golok.
Tampaknya laki-laki itu mengalah dan hanya menangkis sambil mundur.
"Dewi, jangan marah..."
Kata laki-laki itu sambil menangkis tusukan keris. Pamadi diam-diam kagum akan kegesitan permaianan pencak gadis itu yang ternyata pandai sekali.
"Bangsat, kau berani menghinaku, ya?"
Gadis itu berkata marah dan memperhebat serangannya.
Sementara itu, di sekitar kedua orang yang sedang berkelahi itu berdiri beberapa belas orang yang berwajah kejam dan bertubuh kuat.
Mereka hanya melihat saja tetapi tak berani memisah, karena yang sedang berkelahi itu, yang wanita adalah Sridewi anak angkat dan kesayangan kepala mereka, sedangkan yang laki-laki adalah pemimpin mereka yang menjadi tangan kanan dan orang kepercayaan kepala gerombolan itu.
Sugondo, demikian nama pemimpin itu, telah lama jatuh hati kepada Sridewi.
Pada satu saat ia tak dapat menahan gairah hatinya dan sambil menyatakan cintanya pula, ia berani dengan cara lancang membelai tangan gadis itu, hingga Sridewi menjadi marah dan mencabut keris lalu menyerangnya matimatian.
Sridewi sungguhpun seorang wanita, namun sejak kecil suka sekali mempelajari ilmu berkelahi ayah angkatnya sendiri yang terkenal jagoan.
Hal ini memang tidak aneh, karena Sridewi hidup di tengah-tengah hutan dan berkawan dengan kaum kasar yang hanya mengutamakan kedigdayaan dan perkelahian.
Pula, binatang-binatang buas yang terdapat di dalam hutan yang mengingatkan ayahnya betapa perlunya puteri yang dicintanya itu mempelajari olah raga dan ilmu menjaga diri kalau-kalau terserang binatang buas.
Biarpun hidup dan besar di tengah-tengah hutan, namun Sridwi mempunyai perasaan yang halus dan ia benci sekali jika ada seorang anggota perampok yang bicara atau berlaku urang ajar padanya.
Maka, setelah ia menjadi dewasa, ia berantas perlakuan perampok-perampok itu terhadap wanita-wanita yang terculik.
Dengan berkeras ia memperjuangkan peraturan baru hingga akhirnya ayahnya mengalah dan mengadakan larangan bagi para anggotanya untuk merampok dan menculik kaum wanita.
Semenjak itu, hal yang rendah ini hanya dilakuan oleh para begal itu dengan diam-diam dan di luar pengetahuan Sridewi.
Pernah ada seorang anggota perampok dihajar habis-habisan oleh Sridewi bahkan hampir mati dibunuhnya kalau ayahnya tidak datang menolong.
Kemarahan gadis ini timbul tak lain karena melhat penjahat itu menculik seorang wanita dari kampung.
Tidak heranlah bahwa ketika Sugondo berani menjamah tanganya dan berlaku kurang ajar, ia menjadi marah sekali dan dengan penuh nafsu ia menyerang orang kepercayaan ayahnya itu!
Dalam hal kepandaian pencak dan memainkan senjata, sebenarnya Sridewi lebih unggul daripada Sugondo, tetapi ia kalah tenaga dan keuletan.
Kelebihannya ia memang gesit dan serangan-serangannya teratur sekali.
Karena desakan-desakan yang tak kenal ampun itu lambat laun Sugondo menjadi panas dan marah, lalu ia membalas menyerang.
Senjata Sugondo yang berupa golok itu lebih panjang dan berat, hingga akhirnya Sridewilah yang terdesak.
Tiba-tiba golok Sugondo menyambar cepat kearah leher Sridewi.
Para anak buah perampok yang melihat hal itu menahan napas karena takut kalau-kalau biah hati kepala mereka akan mendapat celaka.
Pamadi memungut sebuah batu kecil dan siap mencegah sesuatu pertumpahan darah.
Tetapi Sridewi selain gesit pun cerdik sekali.
Melihat datangnya golok meyambar, ia menurunkan tubuh dan bergulingan di tanah, tetapi tangannya tidak tinggal diam, dengan cepat sekali ia meraup segenggam pasir dan sambil mengeluarkan bentakan nyaring, Ia melomcat bangun lalu tangan yang menggengam pasir itu akan menggunakan tipu berbahaya dan tak terduga ini, dan sejata berupa pasir itu tepat mengenai mukanya dan tiba-tiba ia merasai kedua matanya perih dan pedas sekali!
Ia memejamkan kedua mata dan menggunakan tangan kiri menggosok-gosoknya, tetapi karena pasir itu kaar, membuat matanya makin sakit hingga ia mundur sambil menggosok-gosok matanya.
Sridewi yang sudah menjadi marah dan benci, melompat maju dan mengayun kerisnya ke arah dada lawannya itu.
Tetapi, tiba-tiba gadis itu menjerit kecil dan kerisnya terlepas dari pegangan tangannya.
Ia merasakan pergelangan lengannya sakit sekali.
Ternyata dalam waktu yang tepat sekali Pamadi melayangkan batu kerikilnya untuk mencegah terjadinya pembunuhan itu.
Bersamaan dengan terjatuhnya keris dari tangan Sridewi, Pamadi keluar dari tempat persembunyiannya dan berkata.
"Sudahlah, nona. Jangan bunuh dia!"
Ia sama sekali belum tahu bahwa ia berhadapan dengan gerombolan perampok Hutan Roban yang ditakuti orang!
Gadis itu menengok cepat dan matanya bercahaya marah ketika ia melihat seorang pemuda menegurnya, dan otaknya yang cerdik itu seketika maklum bahwa pemuda itulah yang mencegahnya tadi karena ia pun tahu bahwa pergelangan lengannya terpukul oleh kerikil kecil yang dilemparkan orang.
Beberapa belas anak buah perampok itu keheranan melihat ada orang berani memasuki hutan itu, bahkan berani menegur dan mencegah Sridewi, singa betina itu.
Sridewi merasa malu karena di hadapan anak buahnya ia dibikin tak berdaya oleh seorang yang masih muda dan asing, maka tiba-tiba ia berteriak marah sambil berpaling kepada orangorangnya.
"Mengapa kalian bengong saja? Hayo tangkap bangsat cilik ini!"
Beberapa belas orang kuat dan yang rata-rata tinggi besar serentak maju sambil mencabut senjata, tetapi terdengar perintah Sridewi.
"Jangan gunakan senjata! Untuk tangkap kambing lemah ini saja kalian hendak menggunakan senjata? Sungguh menyebalkan. Tangkap ia hidup-hidup dan hadapkan kepada ayah?"
Penjahat-penjahat itu dengan patuh memasukkan kembali senjata mereka di sarung dan ikat pinggang, kemudian mereka maju menghampiri Pamadi.
Pemuda itu heran sekali, kini ia baru timbul dugaan bahwa orang-orang ini tentu Perampokperampok yang disohorkan orang-orang kampong sekitar hutan itu.
Apakah ayahnya menjadi kepala dari perampok-perampok kasar ini, pikirnya.
Mereka hendak menangkapnya.
Ah, kebetulan, memang iapun hendak mencari ayahnya.
Siapa tahu barangkali kepala mereka inilah ayahnya yang dicari-cari itu.
Karena itu, dia menurut saja ketika perampok-perampok itu menggunakan tali mengikat kedua lengannnya.
Ia lalu didorong-dorong menghadap Sridewi.
Gadis itu dengan sepasang mata burungnya memandang-mandang Pamadi bagaikan seorang tengkulak ternak seekor lembu jantan, menimbang-nimbang dan menaksir-naksir.
Kemudian Sridewi bertanya sombong.
"Kaukah yang menggunakan kerikil tadi?"
Pamadi yang sejak tadi tersenyum saja, menjawab dengan anggukan kepala.
Dengan gemas Sridewi mengayun tangannya menampar pipi Pamadi hingga menerbitkan suara nyaring!
tetapi Pamadi hanya tersenyum saja dan matanya memancarkan sinar gembira.
Sridewi melihat betapa kulit pipi pemuda yang putih dan cakap itu menjadi kemerah-merahan kena tamparannya dan ia menjadi menyesal sekali.
Lebih-lebih ketika melihat pemuda itu tersenyum manis dan berkata perlahan.
"Maafkan aku, nona..."
Ah, hati gadis itu berdebar.
Alangkah bedanya pemuda ini dengan orang-orang kasar yang mengelilinginya tiap hari.
Ia menjadi malu akan kekasaran sendiri dan hatinya penuh penyesalan mengapa ia menampar seorang yang demikian halus tindak-tanduk dan tutur sapanya?
Tiba-tiba ia memalingkan muka dan menahan keluarnya dua butir air mata yang hendak memaksa diri ke luar dari sepasang matanya yang bening!
"Nona, bukan laku seorang wanita utama dan gagah seperti kau untuk membunuh seorang yang tak berdaya,"
Kata Pamadi lagi sambil memandang kearah Sugondo yang kini duduk di atas tanah sambil menggunakan ujung sarungnya membersihan dari pasir kedua matanya.
Karena mata itu sangat perih maka terus-terusan megalirkan air, hingga ia tampak seperti seorang anak kecil yang sedang menangis.
Melihat sikap orang itu, Sridewi tertawa geli dan hilanglah kemarahannya.
"Sugondo, jangan kau berani berlaku seperti tadi. Lain kali aku tak mau memberi ampun dan kali ini aku tinggal diam. Tetapi awas, sekali lagi kau berlaku kurang ajar, pasti akan kusampaikan kepada ayah dan kepalamu takkan tertolong lagi. He, kamu mengapa diam saja? hayo bawa tawanan ini kepada ayah!"
Pamadi lalu digiring menuju ke tengah hutan dan pada suatu bagian yang dekat dengan pantai laut kelihatan sebuah perkampungan kecil di mana terdapat beberapa buah rumah dari bilik bertihang jati dan beratap alang-alang.
Ternyata itu adalah perkampungan perampok yang dipimpin oleh Pak Seno.
Di pantai kelihatan beberapa buah perahu dan beberapa helai layer tengah djemur di atas pasir.
Seorang laki-laki tua bertubuh tinggi kurus keluar dari pondok yang terbesar dan menyambut kedatangan rombongan itu.
Perampok-perampok itu lalu berdiri merupakan sebuah linkaran dan Pamadi dilepas di tengah-tengah.
Sridewi menghampiri ayahnya dan sambil memegang lengan orang tua itu, ia bicara berbisik-bisik.
Pak Seno mengangguk-angguk, lalu berjalan menghampiri Pamadi yang memandang padanya dengan tajam serta penuh perhatian.
"Anak muda, siapa kau begitu berani memasuki daerahku ini? Dari mana datangnya dan hendak ke mana?"
Pamadi masih termenung memperhatikan orang itu. Inikah ayahnya? Orang tua kepala rampok yang berwajah sedih ini? Bemarkah ia mempunyai ayah kepala rampok serendah itu?? "He, anak muda. Jawablah!"
Bentak Pak Seno. Pamadi sadar dari lamunan dan menjawab angkuh, senyumnya menghilang.
"Tiada perlunya kalian ketahui namaku, aku datang dari tempat jauh dan hendak menuju ke mana suara hatiku membawaku."
Sridewi maju dua langkah ke hadapan Pamadi lalu menuding.
"Orang muda hijau seperti kau ini berani benar bertingkah di depan Bapak Seno, Raja Hutan Roban yang disegani semua orang! Jangan kau main-main, kawan, jiwamu berada di dalam tangan kami, mengerti?"
Mau tak mau Pamadi tersenyum juga melihat lagak gadis yang galak ini, tetapi sikap dan lagaknya harus ia akui membuat gadis itu tampaknya makin menarik dan menggiurkan!
Tetapi, dibalik kegembiraannya memandang gadis itu, diam-diam ia rasakan dadanya berdebar-debar ketika mendengar mata kepala rampok itu.
Bapak Seno?
Bukanlah menurut ibunya, ayahnya bernama Suseno Tanumiharjo?
Kalau begitu tak salah lagi orang ini pasti ayahnya!
Ketegangan hatinya membuat Pamadi lupa bahwa kedua lengannya masih terbelunggu dengan tali yang kuat.
Tak terasa ia gerakkan kedua lengannya dengan penuh tenaga untuk menunjuk Pak Seno dan tali yang mengikat lengannya dengan penuh tenaga untuk menujuk Pak Seno dan tali yang mengikat lenganya takmampu menahan tenaga raksasanya.
Tali itu putus dengan mudah sekali, hingga terdengar seruan-seruan heran dari banyak mulut.
Pak Seno sendiri terkeut melihat tenaga kuat ini dan Sridewi mundur beberapa tindak.
Ia teringat betapa sebuah lemparan dengan kerikil kecil cukup membuat kerisnya terlepas dari tangan!
Sedangkan Pamadi sendiri baru insaf bahwa secara tidak sengaja ia telah memutuskan belenggu dan dengan demikian membuka rahasianya bahwa ia seorang berilmu.
Tetapi karena hal itu sudah terlanjur, ia lanjutkan kehendaknya semula dan menggunakan telunjuknya menuding kepada Pak Seno.
"Inikah yang disebut orang bapak Seno Raja Hutan Roban?? Hm, namanya sama benar dengan seorang yang kukenal baik, tetapi yang keadaannya tidak sehebat ini, bahkan dia hanya seorang pengecut!"
Semua orang heran melihat kata-kata yang tak mudah dimengerti ini, tetapi Pak Seno sendiri tidak memperlihatkan kata-kata orang.
Ia merasa suka dan tertarik oleh sikap dan gerakan pemuda ini.
Jadi pemuda yang tampak lemah ini telah dapat mematahkan belenggu itu demikian mudahnya?
Alangkah besar tenaganya.
Tetapi ia sangsi, benar-benar lengan tangan yang agaknya tak berurat itu mempunyai tenaga besar?
Ataukah hanya kebetulan saja belenggu itu tidak kuat-kuat mengikatnya dan terlepas ikatannya?
Maka timbul keinginannya hendak mencoba.
"He, anak muda. Bicaramu besar dan kau agaknya seorang pemberani. Beranikah kau melawan kami?"
"Dikeroyok oleh belasan orang ini?"
Pamadi memandang sekeliling.
Baca Juga: Asmara Berdarah 5
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 16