Ceritasilat Novel Online

Perintah Maut 8

Eps 8 Perintah Maut - Buyung Hok

Baca online Perintah Maut - Buyung Hok

Cersil Perintah Maut - Buyung Hok.

Mari kita mengikuti kejadian-kejadian berikutnya.

*** TAMPAK bayangan Lie Wie Neng meninggalkan kamar perundingan, langsung menuju kamar ayahnya.

Inilah kunjungan sang datuk muda yang ke 3 kalinya.

Dua pelayan yang biasa merawat Lie Kong Tie berada didepan pintu mereka memanggil dengan suara keras .

"Kongcu..."

Lie Wie Neng sudah berlari pesat, mendorong kedua gadis pelayan tu tanpa menunggu panggilan lagi, ia nyelonong masuk.

"Kongcu menjenguk loya lagi."

Berteriak dua gadis pelayan.

Inilah code pemberitahuan tentang kedatangannya, Lie Wie Neng mengeluarkan suara dengusan dari hidung.

Didalam kamar keadaan tenang seperti biasa, tidak ada perubahan.

Betulkah tidak ada perubahan ?

Yang jelas 'Lie Kong Tie"

Yang terbaring sudah terganti, bukan manusia selundupan Thio Kee Cong, dibalik 'Lie Kong Tie"

Itu adalah badan asli Yo Su Kiat.

Pemalsuan Yo Su Kiat hanya diketahui oleh orang2 yang jumlahnya terbatas, hanya Lie Wie Neng, Yen Siu Hiat 4 orang, karena itu untuk memudahkan tulisan jalan cerita, kita anggap saja Lie Kong Tie.

Lie Kong Tie itu tertidur ditempat pembaringan, sesudah mengalami 'pengobatan", keadaannya agak lumayan.

Nyonya muda Lie Kong Tie baru selesai makan, duduk dimeja rias, ia sedang bersolek.

Lie Wie Neng menghampiri pembaringan ayahnya.

"Apa ayah sudah bangun ?"

Ia bertanya perlahan.

"Uh....."

Lie Kong Tie berkeluh. Nyonya muda Lie Kong Tie sudah bangkit dan menghampiri dibelakang putra suaminya, ia menalangi menjawab .

"Baru saja tidur lagi. Sesudah ditusuk jarum oleh Bapak Tabib tadi, keadaannya mendingan, tidak lama ia bangun dan meminta makan. Sesudah itu tidur kembali."

Lie Kong Tie berkelap-kelip mata, ia menepuk tempat di sebelahnya dan berkata .

"Wie Neng duduklah didekatku."

Lie Wie Neng duduk ditempat yang sudah disediakan, menutup dan menyelak di antara sinar mata ibu tirinya.

"Ayah, bagaimana keadaanmu ?"

Bertanya sang kongcu.

"Agak segeran."

Mulut Lie Kong Tie yang terbaring ini berkemak-kemik, melalui saluran gelombang tekanan tinggi, melaporkan rahasia yang baru didapat.

Tentu saja karena adanya tubuh Lie Wie Neng yang membelakangi ibu tirinya, maka nyonya muda Lie Kong Tie itu tidak bisa melihat gerakan bibir orang yang terbaring.

Selebar wajah Lie Wie Neng berobah marah sesudah mendengar cerita Yo Su Kiat.

Ter-sengal2 mulut dari bentuk wajah Lie Kong Tie berkata .

"Liok Ie, tolong ambilkan aku air minum."

Liok Ie adalah nama kecil nyonya muda Lie Kong Tie yang sering dipanggil Sim Nio itu.

Karena sudah menjadi kebiasaan Lie Kong Tie memanggilnya dengan sebutan nama kecil, Yo Su Kiat harus turut menggunakan panggilannya.

Nyonya muda Lie Kong Tie menuju ke arah meja dan menuangkan teh.

Menggunakan kesempatan ini, ber-gerak2 lagi bibir dengan wajah Lie Kong Tie.

Lie Wie Neng menganggukkan kepala tanda setuju.

Nyonya muda Lie Kong Tie sudah balik kembali, menyediakan air minum untuk sang suami dan menyediakan juga kepada Lie Wie Neng.

"Kongcu, silahkan minum,"

Katanya dengan suara merdu, suara itu bisa menggetarkan kalbu laki2 yang mendengarnya. Lie Wie Neng bangkit, menghadapi sang ibu tiri, wajahnya keren, dengan sungguh2 ia berkata .

"Bibi, baru saja kita berhasil menangkap seorang mata2 musuh."

"Oh ...! Mata2 musuh ?"

Reaksinya nyonya muda itu biasa saja.

"Mata2 dari partay Ngo-hong bun."

Berkata Lie Wie Neng.

"Dirumah kita ada mata2 Ngo-hong-bun ?"

Balik tanya nyonya muda itu.

"Orang itu tidak tahan siksaan,"

Berkata Lie Wie Neng.

"Dia sudah mengaku kesalahannya. Dan menyebut beberapa nama dari komplotannya..."

Sang nyonya muda mundur selangkah, melirik ke arah Lie Kong Tie.

"Siapa orang yang disebut?"

Tanyanya berubah.

"Kongcu percaya ?"

"Itulah."

Berkata Lie Wie Neng.

"Mana boleh sembarang mendengar gosokan orang? Kedatangan ini khusus ditujukan untuk meminta pendapat bibi."

"Pendapatku ?"

Bertanya nyonya muda itu. Hatinya semakin was2.

"Mengapa harus meminta pendapatku ?"

"Karena orang itu menyebut nama bibi."

Berkata Lie Wie Neng.

Hati si nyonya muda agak kalut, didalam keadaan seperti itu, panik berarti maut, kedudukannya hanya berada dibawah Lie Kong Tie, mengapa harus takut ?

Mengandalkan kekuasaan suaminya, apakah yang berani dilakukan oleh sianak tiri ?

Mengingat tadi itu semua, ia berdengus dingin .

"Kongcu dihasut orang."

"Dihasut ? Bibi mengatakan...."

Lie Wie Neng menghadapi Sim Nio Liok Ie, tapi ia lupa membelakangi seseorang, itulah Lie Kong Tie yang sedang terbaring, secepat kilat tubuh orang tadi mencelat, menotok Lie Wie Neng.

"Aaaa...."

Lie Wie Neng jatuh ngeloso.

"Thio Kee Cong, kau hebat."

Nyonya muda Lie Kong Tie adalah musuh selundupan, ia memuji kecerdikannya orang sakit.

Dengan gerakannya yang gesit, mendupak anak tirinya.

Nyonya muda Lie Kong Tie yang biasanya tidak pandai silat, kali ini berubah mendadak, lincah dan gesit, galak dan menghadapi Datuk Utara.

"Kebetulan,"

Katanya.

"Orang ini juga termasuk salah seorang yang partay kehendaki."

Ternyata Ngo-hong-bun juga mengincar Lie Wie Neng ! "Bagaimana kita mempernahkannya ?"

Bertanya orang yang dianggap Thio Kee Cong.

"Bawa ke markas sementara."

Perintah si nyonya muda, kedudukannya berada diatas Thio Kee Cong.

"Bagaimana bisa membawa orang ? Sedang seluruh kampung sudah terjaga ketat ?"

"Nanti kusuruh Cun Lan dan Cun Bwee."

Berkata si nyonya muda. Cun Lan dan Cun Bwee adalah nama2 pelayan perempuan. Nyata2 sudah menjadi komplotan Ngo-hong bun semua.

"Cun Bwee...Cun Lan...."

Si nyonya memanggil keluar kamar. Dua dayang itu tampil segera. Siap menerima perintah. Disaat ini Sim Nio Liok Ie membelakangi Lie Wie Neng memberi perintah .

"Lekas bikin persiapan. Kita segera meninggalkan tempat ini. Disertai oleh Lie Wie Neng."

Tiba2 saja Lie Wie Neng meletik, secara cepat menyerang ibu tirinya.

"Tidak perlu kalian merepotkan diri. Semua jangan harap bisa lari."

Sim Nio mempunyai ilmu silat lumayan, diserang dari belakang, ia masih bisa mengelakkannya, tubuhnya dibuang kesamping menghindari serangan Lie Wie Neng, berbareng mulutnya berteriak2 .

"Lekas tangkap lagi... Lekas tangkap ! Jangan kasih kesempatan lari ..."

Lie Wie Neng sudah mengeluarkan kipasnya, menyerang Sim Nio secara ber-tubi2, Sim Nio menangkis datangnya serangan2 itu dengan senjata pedang.

Perubahan mendadak membuat Cun Lan dan Cun Bwee ter-sipu2 mengeluarkan senjata, mereka siap mengeroyok.

'Lie Kong Tie"

Menyodorkan tangan ke arah mereka .

"Beri pinjam pedang kepadaku. Kalian menunggu dipintu, agar tidak ada orang masuk."

Cun Bwee tidak berani membantah, menyerahkan pedangnya kepada 'Thio Kee Cong". Si "Thio Kee Cong"

Menerima pemberian pedang, secepat itu pula menotok jalan darah Cun Bwee.

Aslinya adalah manusia Yo Su Kiat !

Dan dengan pedang pemberian Cun Bwee tadi, Yo Su Kiat menaklukkan Cun Lan.

Terlalu panjang diceritakan, kejadiannya hanya berlangsung didalam beberapa kali kedipan mata.

Sebagai salah seorang Yen-san Siang-kiat, Yo Su Kiat mempunyai kelebihan istimewa, didalam waktu yang terlalu singkat menundukkan Cun Bwee dan Cun Lan.

Sesudah itu, ia menjepit keadaan Sim Nio Liok Ie.

"Lebih baik nyonya menyerah saja,"

Katanya penuh ancaman.

Ilmu kepandaian Sim Nio Liok Ie juga bukan ilmu silat kampungan, terbukti dari cara2 tadi ia mengelakkan dan menangkis serangan kipas Lie Wie Neng.

Walau demikian, bukan berarti ia bisa menandingi Lie Wie Neng, hanya bisa bertahan untuk beberapa waktu saja.

Kini ditambah dengan tenaga Yo Su Kiat, bagaimana tidak kewalahan ?

Sebentar kemudian ia mandi keringat.

"Thio Kee Cong, berani kau berkhianat?"

Sangkanya orang yang menggunakan kedok kulit wajah Lie Kong Tie itu masih badan Thio Kee Cong.

"Ha, ha....Thio Kee Cong sudah di-Rumah Kamarkan."

Yo Su Kiat tertawa.

Cesss...Kipas Lie Wie Neng berhasil menotok ibu tiri itu.

Kretekk....Bersamaan dengan itu Sim Nio Liok Ie sudah menggigit pecah gigi palsunya yang berisikan racun keras, didalam waktu yang singkat, ia kelejotan dan mati keracunan.

Bunuh diri !

"Ohhh....."

Yo Su Kiat tercengang.

"Dia keracunan ?"

"Ya."

Lie Wie Neng melipat kipasnya. Ia bersikap lebih tenang.

"Dia bunuh diri. Menggigit gigi palsu yang diisi oleh cairan beracun. Semua orang Ngo hong bun sudah menyiapkan bahan lari dari penderitaan." *** Bab 62 LlE WIE NENG mengajak Yo Su Kiat meninggalkan kamar ayahnya. Mereka disambut oleh Khong Bun Hui.

"Bagaimana ?"

Bertanya Khong Bun Hui.

"Betul2 musuh didalam selimut."

Lie Wie Neng menghela napas.

"Dia sudah mengaku ?"

"Seperti apa yang Bapak Tabib Ciok Thay Hu duga, ia sudah mengkeremus racun di gigi, sudah bunuh diri."

"Ohh....."

"Eh, di mana sekarang Ciok Thay Hu ? Dia betul-betul hebat."

Lie Wie Neng memuji.

"Istirahat didalam kamarnya."

Jawab Khong Bun Hui.

"Ajak aku ke tempatnya."

Berkata Lie Wie Neng.

Dengan mengajak Khong Bun Hui dan Yo Su Kiat, mereka mendatangi kamar Goan Tian Hoat dan Yen Siu Hiat menetap.

Goan Tian Hoat masih menggunakan nama Ciok Thay Hu, seorang tabib pandai yang mengasingkan diri.

Di antara keempat Datuk persilatan, masing-masing hendak mempertahankan gengsi dan kedudukan, satu dan yang lain tidak mau menyerah kalah, kalau Lie Wie Neng tahu orang yang membantu dirinya dari pihak Datuk Selatan, mungkin bisa terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Karena itulah Goan Tian Hoat menyembunyikan dirinya yang asli.

Ia menyambut kedatangan putra Datuk Utara.

"Kukira kongcu sudah berhasil."

Ia bicara tenang. Lie Wie Neng mengangkat tangan memberi hormat.

"Atas petunjuk Bapak tabib yang berharga, atas nama seluruh keluarga Lie, aku mengucapkan banyak terima kasih."

"Sama-sama."

"Kalau tidak ada petunjuk Bapak Tabib, entah bagaimana kita bisa mengelakkan malapetaka itu."

Lie Wie Neng mengajak Khong Bun Hiu dan Yo Su Kiat memasuki kamar.

"Semua berkat usaha kongcu sendiri."

Berkata Goan Tian Hoat.

"Bapak Tabib."

Berkata Yo Su Kiat turut bicara.

"Tolong kau kembalikan wajahku."

Ia masih menggunakan wajah Lie Kong Tie.

Adak perasa sekali menggunakan dan memalsukan wajah sang majikan.

Sebelumnya, karena keadaan membutuhkan, ia rela dan siap melakukan apa saja.

Kini sudah waktunya kembali ke undang2 yang semula.

Goan Tian Hoat mengeluarkan obat peluntur diserahkan kepada Yo Su Kiat dan berkata .

"Gunakanlah obat ini untuk mencuci muka. Pasti bersih kembali."

Yo Su Kiat menerima pemberian itu. Goan Tian Hoat memandang Lie Wie Neng.

"Kongcu,"

Katanya.

"Bagaimana usaha selanjutnya ?"

Lie Wie Neng memandang Khong Bun Hui, segala sesuatu sudah diserahkan kepada pengurus keluarga ini, ia bertanya .

"Bagaimana ? Apa sudah dirundingkan baik2 dengan Ciu Goat ?"

"Sudah, tinggal menunggu perintah kongcu saja."

"Baiklah. Panggil Ciu Goat datang."

Ciu Goat adalah dayang perempuan dari keluarga Lie yang dipercayakan urusan besar dan kecil, mendapat panggilan itu, segera ia berlari datang.

"Ciu Goat."

Berkata Lie Wie Neng.

"Sudah kau pikir masak2 tentang apa yang tuan pengurus beritahu?"

"Hamba mengerti dan hamba akan menunaikan tugas itu dengan seluruh kekuatan hamba yang ada."

"Bagus. Nah ! Kau boleh bersiap2." *** JAM dua pagi.... Keadaan bangunan keluarga Lie diliputi kegelapan. Sesosok tubuh menyelinap diantara bangunan-bangunan ditempat itu, bayangan ini langsing dan kecil, bentuk seorang wanita. Tujuannya adalah kamar tahanan yang mengekang kebebasan Thio Kee Cong. Sesudah gagal didalam penyamarannya sebagai Lie Kong Tie, Thio Kee Cong menjadi orang tawanan kampung Datuk Utara. Ia dijaga oleh dua orang laki-laki berbadan tegap. Sekarang, bayangan wanita itu sudah berada didepan kamar tahanan, mengeluarkan tabung kecil. ditiupkannya kedalam. Itulah pembiusan. Dua orang penjaga kampung Datuk Utara jatuh ngeloso, mereka kena bius. Bayangan langsing itu meletik masuk, mencomot tubuh Thio Kee Cong dan segera dibawa lari. Thio Kee Cong dibawa lari meninggalkan kampung Datuk Utara. Ditengah jalan ia bisa melihat jelas penolong itu.

"Nyonya,"

Katanya.

"Terima kasih."

Yang menolong Thio Kee Cong adalah Sim Nio Liok Ie ! Membebaskan Thio Kee Cong dari segala belengguan, Sim Nio Liok Ie berkata .

"Mari kita berangkat."

"Kemana ?"

Bertanya Thio Kee Cong.

"Tentu saja ke markas sementara."

"Nyonya tidak kembali ke kampung Datuk Utara lagi ?"

"Huh ! Kau kira mereka begitu tolol ? Tidak mudah mengelabui mereka lagi."

Disaat ini, sayup2 terdengar suara hiruk pikuk didalam kampung Datuk Utara, tentunya sudah mengetahui akan larinya orang tawanannya.

"Nah."

Berkata Sim Nio Liok Ie.

"Mereka segera membikin pengejaran. Apa kau hendak menunggu kedatangannya orang2 itu? Masih belum mau berangkat ?"

Tubuh Thio Kee Cong melejit menuju ke arah utara.

Diikuti dan direndengi oleh Sim Nio Liok Ie.

Mereka pulang ke markas sementara cabang Kang lam.

Tidak berapa lama, mereka memasuki sebuah rimba, tiba2 dihadang oleh dua orang berseragam hijau.

"Siapa ?"

Bentak kedua orang itu berbareng.

"Apa kalian tidak mempunyai mata ?"

Bentak Thio Kee Cong.

"Oh...Thio hu-huat."

Berkata seorang, mereka adalah anak buah Perintah Maut.

Kini sudah menggabungkan kekuatan dibawah panji Ngo-hong-bun.

Pernyataan Thio Kee Cong yang mengatakan tidak tahu markas sementara cabang Kang-lam adalah penipuan besar.

Kini mereka sudah berada ditempat itu.

Begitu mudah menipu Goan Tian Hoat ?

Salah terka !

Sim Nio Liok Ie adalah samaran Ciu Goat khusus ditugaskan untuk mencari tahu dimana letaknya kandang Lengcu Panji Hijau.

Kini mereka sudah berada didaerah yang menjadi tujuan mereka, Goan Tian Hoat membisiki sesuatu kepada Lie Wie Neng.

Dan putra Datuk Utara ini membawa orang2nya mengintil, kini menampilkan diri secara mendadak, dengan kipas ditangan, menotok jatuh dua orang berseragam hijau yang menyambut Thio Kee Cong.

Thio Kee Cong mundur dengan mata terbelalak, lupalah kalau dibelakangnya itu ada seorang manusia tetiron, secepat itu pula, Ciu Goat mengeluarkan jarumnya menusuk Thio Kee Cong.

"Aaaaa...."

Thio Kee Cong tidak luput dari kematian !

Lie Wie Neng, Ciu Goat, Sepasang jago dari daerah Yen-san dan Empat Jendral Keluarga Lie menggabungkan diri.

Mereka mengadakan razia disekitar rimba itu.

Kreek...Kreek...

Mereka berjalan maju.

Pantang mundur.

Rimba itu adalah tempat terjadinya kontak Thio Kee Cong dan anak buah.

Tentu daerah basis cabang Kang-lam.

Tentu saja terjaga, dua orang berseragam hijau sudah dibunuh mati, bukan berarti tidak ada penjagaan lainnya.

Disaat ini terdengar bentakan lagi .

"Siapa yang datang ?"

"Aku."

Jawab Lie Wie Neng. Didepannya berdiri seorang berbaju hijau.

"Katakan kepada pemimpinmu, aku Lie Wie Neng sudah datang."

"Ha, ha, ha, ha....."

Terdengar lain suara tertawa, disana bertambah seorang berkerudung hijau dan berseragam hijau, inilah Lengcu Panji Hijau.

"Hebat, hebat !"

Pujinya.

"Kongcu memang hebat."

"Hmm....."

Dengus Lie Wie Neng.

"Diluar dugaanmu, bukan ? Kalau aku bisa menemukan sarang persembunyianmu ?"

"Memang berada diluar dugaan."

Jawab Lengcu Panji Hijau.

"Bagaimana kongcu bisa mencapai tempat ini ? Mungkinkah salah satu anak buahku melakukan kesalahan, dikuntit sampai disini ?"

"Tepat."

"Kukira patut diberi peringatan, kalau ayah kongcu itu masih berada di markas besar. Kalau saja kongcu bersedia menyatukan kekuatan Datuk Utara..."

"Tutup mulut !"

Bentak Lie Wie Neng.

"Permintaan kalian itu tidak bisa diterima. Kedatangan kami ke tempat ini adalah meringkus kalian !"

"Ha, ha....Mungkinkah ada itu kemampuan ?"

"Mengapa tidak ?"

Tiba2 saja Lie Wie Neng memberi code tanda perintah, didalam sekejap mata sepasang jago dari daerah Yen san, Empat Jendral Keluarga Lie dan lain2nya sudah mengurung daerah itu.

"Lihatlah !"

Berkata Lie Wie Neng bangga.

"Apa belum cukup dengan kemampuan ini ?"

"Apa mereka didatangkan khusus untuk diriku ?"

Lengcu Panji Hijau menantang.

"Mereka akan menghadapi orang2mu dan kau...Kau langsung berhadapan secara pribadi dengan kipasku ini."

Lie Wie Neng mengacungkan senjata istimewanya.

"Oh...sayang sekali....Orang2ku tidak berada ditempat ini."

Berkata Lengcu Panji Hijau.

"Sama saja."

"Tidak semudah seperti apa yang kau kirakan."

Berkata Lengcu Panji Hijau.

Tangannya terayun, menyerang ke arah Lie Wie Neng.

Tinggg.....

Lie Wie Neng menangkis datangnya serangan pedang, senjata kipas juga senjata luar biasa yang pernah menggemparkan rimba persilatan, didapat dari Pendekar Kipas Wasiat Sin San Cu.

Lengcu Panji Hijau menyerang terlebih dahulu, akibatnya tidak sama, kini Lie Wie Neng yang menggencarkan kipasnya bertubi-tubi.

Tingg....Lagi.

Kedua orang itu terpisah.

Hati Lengcu Panji Hijau tergetar, ilmu kepandaian lawannya tidak berada dibawah Kang Han Cing.

Teringat wajah tampannya Kang Jie kongcu, wajahnya terasa menjadi merah.

Menggunakan kesempatan yang begitu baik, Lie Wie Neng memainkan kipasnya, lipatan kipas tidak ubahnya sebagai belati tajam, merangsek dari jarak dekat.

Disaat itu, orang2 Datuk Utara sudah meringkus semua anak buah Panji Hijau.

Seperti apa yang sudah dikatakan oleh Lengcu Panji Hijau, sebagian besar orang2nya tidak berada ditempat itu, yang ada hanya beberapa penjaga biasa saja, hal mana tidak banyak menyulitkan Khong Bun Hui dkk.

Khong Bun Hui, Yo Su Kiat, Goan Tian Hoat dan Yen Siu Hiat menonton jalannya pertandingan itu.

Dibawah sorotan mata bercahaya yang begitu banyak, keadaan Lengcu Panji Hijau semakin krisis.

Kipas Lie Wie Neng semakin lincah ber-kilat2 mengejar tempat2 berbahaya lawannya.

Didalam waktu yang sangat singkat, Lengcu Panji Hijau bisa ditekuk-lututkan.

Kalau tidak adanya bantuan mendadak.

Dan cerita memang begitu kebetulan, disaat itulah muncul satu bayangan hitam, itulah seorang berbaju hitam dengan kerudung warna hitam, itulah Lengcu Panji Hitam.

Lie Wie Neng membalikkan kipas, ting ...

memukul pergi datangnya senjata gelap yang dilepas oleh Lengcu Panji Hitam.

Bayangan hitam itu bergerak gesit, sesudah menyerang Lie Wie Neng, ia berada di sebelah Lengcu Panji Hijau, satu kali seretan tangan, kedua bayangan itu lenyap di balik semak-semak gelap.

Suatu kejadian yang membuat Lie Wie Neng penasaran, siapakah Lengcu Panji Hitam ?

Begitu gesit !

Bisa menolong orang dari depan hidungnya.

Mengikuti kedua bayangan hijau dan hitam tadi Lie Wie Neng lari mengejar.

Dibelakang Lie Wie Neng turut serta kedua Pasang jago dari gunung Yen-san dan Empat Jendral Keluarga Lie, baru diikuti oleh Yen Siu Hiat dan Goan Tian Hoat.

Mereka memeriksa seluruh rimba, tapi tidak berhasil menemukan jejak kedua Lengcu dari golongan Perintah Maut itu.

Kemanakah larinya Lengcu Panji Hitam dan Lengcu Panji Hijau ?

Menyembunyikan diri ?

Mengapa tidak bisa ditemukan ?

Lari pergi ?

Mengapa begitu cepat sekali ?

Inilah yang membingungkan rombongan dari Datuk Utara.

Yang sudah menjadi kenyataan, mereka tidak berhasil !

*** Bab 63 MENYUSUL kedua lengcu....."Terima kasih sutee,"

Berkata Lengcu Panji Hijau.

"Kedatanganmu tepat pada waktunya."

"Inilah perintah."

Jawab Lengcu Panji Hitam.

"Eh, kemana kita harus pergi ?"

Lengcu Panji Hijau tertegun, memandang wajah sang rekan, tentu saja ia tidak bisa membedakan bentuk wajah itu, karena masing2 menggunakan tutup kerudung muka, hanya warnanya saja yang tidak sama, kalau ia mengenakan pakaian warna hijau, sipenolong itu mengenakan warna hitam.

Yang mengherankan Lengcu Panji Hijau ialah mengapa si hitam tidak tahu maksud tujuannya ?

"Tentu saja pulang ke Piau shia."

Jawab Lengcu Panji Hijau.

"Sucie, kau memusatkan markas sementara di Piau-shia, mengapa tidak mengajak orang-orangmu ?"

Ia menggunakan panggilan sucie.

Artinya mereka adalah saudara seperguruan.

Mengapa ?

Untuk jelasnya boleh kita ungkapkan sedikit, diantara kedua lengcu itu mempunyai hubungan perguruan, mereka anak murid Toa Kiongcu, inti kekuatan Ngo hong-bun.

Dari ke empat lengcu panji berwarna, Lengcu Panji Hijau Suto Lan menduduki urutan ketiga dan Lengcu Panji Hitam menduduki urutan ke empat.

Agar tidak memusingkan kepala, sekalian kita bongkar rahasia Lengcu panji Hitam.

Seperti apa yang kita ketahui dibagian cerita yang terdahulu, Lengcu Panji Hitam bunuh diri, karena penyamarannya sebagai Kang Puh Cing mengalami kegagalan, dan Lengcu Panji Hitam yang sekarang ini adalah samaran Kang Han Cing.

Maka ia tidak tahu, kalau markas sementaranya berada di sebuah tempat yang bernama Piau shia.

(Bersambung 18) ***

Jilid 18 LAGI-LAGI Lengcu Panji Hijau Suto Lan menoleh.

"Orang2 kita belum tentu bisa menerima sergapan mereka. Ketahuilah, Lie Wie Neng itu mudah ditipu, tapi belum tentu bisa mengelabui Khong Bun Hui, kalau saja seperti kejadian tadi, bukankah orang2 kita habis disergap? Maksudku meninggalkan basis Pian-shia dan menggunakan tempat tadi adalah menjaga kalau2 sampai terjadi perubahan mendadak. Disini masih berada dibawah kekuasaan Datuk Utara, setiap waktu harus menjaga pengurungan, maka menggunakan tempat yang bisa mudah ditinggalkan."

"Ouw....Begitu."

Mereka melanjutkan perjalanan, maksud Kang Han Cing menyamar menjadi Lengcu Panji Hitam berpokok tujuan menyelundup masuk kedalam markas Ngo hong bun.

Tidak disangka, rencana lawan juga hebat, sengaja memilih tempat sementara, maka tugas Goan Tian Hoat tidak berhasil menumpas sampai ke-akar2nya.

Muncul Lengcu Panji Hitam Kang Han Cing memberi pertolongan, tokh ia hanya bisa mendatangi markas Suto Lan.

Mereka tiba disebuah mulut lembah.

Keadaan malam masih gelap, tidak jelas berapa dalam lembab itu.

Kang Han Cing segera menduga tempat yang baru disebut Pian-shia.

Dugaan Kang Han Cing tidak salah.

Mereka tiba dimulut lembah yang bernama Pian-shia itu.

Suatu tempat yang strategis.

Kedatangan mereka disambut oleh dua gadis berbaju hijau, mereka adalah Siauw Hoa dan Siauw Hiang, dua pelayan Suto Lan.

Kang Han Cing diajak memasuki lorong panjang dari lembah itu, jalan hanya bisa dilalui oleh seekor kuda, cukup jauh dan panjang.

Tempat pilihan Suto Lan untuk mempernahkan anak buahnya, dimisalkan terjadi perubahan atau penghianatan Thio Kee Cong yang diperintah menyamar sebagai Lie Kong Tie, tempat ini bisa membendung penyerangan total.

Kang Han Cing mengikuti Suto Lan memasuki lembah itu, kini mereka sudah berada didataran rendah, disana terdapat beberapa bangunan, itulah markas Panji Hijau.

Menuju ke salah satu dari bangunan2 tadi Suto Lan berkata .

"Sutee, silahkan masuk."

"Silahkan."

Kang Han Cing memasuki rumah itu dengan hati berdebar2an, bagaimana kalau Suto Lan mengetahui penyamarannya ?

Kecurigaan Kang Han Cing bisa ditenangkan, mengingat ia memakai wajah Kang Puh Cing.

Lebih tenang lagi setelah mereka duduk dan pasang omong, masing2 tidak membuka tutup kerudung mukanya.

"Sutee."

Berkata Lengcu Panji Hijau Suto Lan.

"Bagaimana kesanmu dari tempat ini ?"

"Luar biasa,"

Berkata Kang Han Cing.

"Sungguh tempat yang sangat luar biasa. Strategis sekali. Bagaimana sucie mendapatkan tempat ini ?"

"Ie hu-huat yang menemukan."

Jawab Suto Lan bangga.

"Daerah utara berada dibawah kekuasaan keluarga Lie, banyak mata2 mereka. Sengaja memilih tempat ini, agar tidak mudah ditemukan mereka. Dan betul2 tidak mudah ditemukan mereka."

Ie hu-huat bernama Ie Cen Yap, pembantu Suto Lan yang bisa dipercaya. Siauw Hiang membawakan dua cawan teh, diletakan dimeja.

"Silahkan minum."

Berkata Sato Lan.

"Terima kasih."

Kang Han Cing harus berani mengambil resiko, kalau saja Suto Lan mencurigai penyamarannya dan memberi obat bius didalam minuman tadi, dirinya bisa celaka, inilah tanggung jawab seorang mata-mata.

Suto Lan belum menaruh curiga, sesudah mengeringkan cawan memandang Siauw Hiang dan memberi perintah .

"Nyalakan lampu merah. Dan beri panggilan kepada Ie hu-huat."

Siauw Hiang menerima perintah dan mengundurkan diri, mengganti beberapa lampu dengan warna merah, itulah tanda bahaya. Sesudah ber-cakap2, lagi2 Lengcu Panji Hijau bertanya .

"Bagaimana hasil penyelidikan dari jejak2 Kang Han Cing ? Apa ada berita baru?"

Tentu saja Suto Lan tidak tahu kalau Lengcu Panji Hitam inilah yang bernama Kang Han Cing.

"Sesudah adikku bertemu Jaksa Bermata satu Tan Siauw Tian, muncul seorang pemuda berpakaian putih, ber-sama2 pemuda itu adikku berjalan pergi, sedari saat itulah adikku tidak ada berita lagi."

"Ha ha...sebentar2 sebutan 'adikku", se-olah2 kau betul2 menjadi engkohnya."

"Sudah kebiasaan."

Berkata Kang Puh Cing. Ia memegang peranan Kang Puh Cing, didalam hal ini harus mendapat reaksi tepat.

"Kalau tidak, bagaimana aku bisa menyelinap didalam gedung keluarga Kang tanpa diketahui mereka ? Inilah berkat bantuan wajah Kang Puh Cing."

Ini waktu Siauw Hiang datang masuk memberi laporan ."Ie Tien Yap hu-huat sudah berada di depan."

"Silahkan masuk."

Berkata Lengcu Panji Hijau Suto Lan tanpa membuka tutup kerudungnya, ternyata pimpinan Ngo-hong-bun menerima bawahannya dengan wajah tetap tertutup.

Pantas saja misterius.

Hu-huat kelas tiga dari Ngo hong-bun Ie Cen Yap datang menghadap.

Sesudah memberi hormat, ia berdiri disisi, menunggu perintah pimpinannya.

Suto Lan berkata .

"Datuk Utara berhasil membongkar orang-orang kita yang berada ditempatnya. Menurut info, mereka sudah mengeluarkan surat edaran bantuan kepada konco2 mereka. Keadaan kita tidak begitu optimis, mulai saat ini kita harus membatasi gerakan2, juga warna pakaian, sedapat mungkin mengelakkan warna hijau, dan kalau berada didalam keadaan terpaksa, jangan sekali2 menggunakan seragam. Tambah penjagaan, perkuat kewaspadaan. Baik2 camkan pesan2ku tadi."

"Baik,"

Ie Cen Yap menerima dengan penuh kesadaran.

"Bagaimana keadaan selama aku tidak berada ditempat ini ?"

"Tidak ada kejadian yang luar biasa."

Ie Cen Yap memberi laporan.

"Tapi belum lama markas mengirim burung berita, karena Lengcu tidak berada disini burung berita itu diterbangkan ke arah Cun-kek koan. Apa Lengcu sudah....?"

"Aaaa..."

Berteriak Suto Lan.

"Sudah dikirim ke Cun-kek-koan ? Celaka ! Bisa2 jatuh kedalam tangan mereka."

Cun-kek-koan adalah tempat rimba yang dijadikan pos pertemuan, sengaja Suto Lan meninggalkan Pian-shia, menongkrongi Cun-kek-koan, mengingat mereka berada di bawah kekuasaan Datuk Utara, dan taktik pindah pos sementara ini betul2 tepat, Thio Kee Cong dilepas dan dibuntuti, berada di Cun-kek-koan, sangka Lie Wie Neng cs, mereka sudah berada di markas Panji Hijau, mereka membunuh Thio Kee Cong dan dua orang berseragam hijau, hanya itu yang mereka dapat, kekuatan Panji Hijau yang berada di Pian-shia tidak mengalami kerusakan.

Berita pusat Ngo hong bun dikirim ke Cun kek-koan tentu jatuh ke tangan orang2 Datuk Utara itu.

Suto Lan menjadi khawatir, berpikir beberapa saat, ia bertanya .

"Apa isi berita ?"

"Hamba tidak berani membuka,"

Jawab Ie Tien Yap.

"Surat tertutup dengan tanda penting."

Disaat ini, jendela kamar terdengar suara sesuatu. Suto Lan berteriak girang, ia berkata .

"Siauw Hiang, lekas lihat, mungkinkah burung berita balik kembali ?"

Siauw Hiang berlari dan tidak lama ia balik kembali dengan seekor burung pos yang berwarna mulus.

"Burung berita kita balik kembali,"

Teriaknya girang. Suto Lan menerima burung itu, dari sebuah tabung kecil, ia mengeluarkan isi surat, dibacanya sebentar, kemudian menoleh ke arah Kang Han Cing.

"Sam susiok memberi tugas baru, kita berdua mendapat panggilan, ditunggu di kota Hang ciu. Untuk sementara urusan Datuk Utara boleh ditangguhkan. Biar Ie hu-huat yang menjaga keamanan disini."

Yang diartikan Sam susiok adalah wanita bertopeng perunggu menyeramkan Sam Kiongcu. Kang Han Cing masih ber-pikir2, tugas apa lagi yang menunggu di kota Hang-ciu ? Ie Cen Yap bertanya .

"Bila Lengcu hendak berangkat ?"

"Sekarang juga."

Berkata Lengcu Panji Hijau Suto Lan.

"Sutee,"

Menoleh ke arah Kang Han Cing, Suto Lan berkata .

"Mari kita berangkat."

Kedua lengcu berwarna meninggalkan Pian-shia menuju ke kota Hang-ciu, dimana menunggu tugas baru.

Perjalanan kedua orang itu tidak perlu diceritakan.

Kang Han Cing selalu memperhatikan cerita Suto Lan, sayang kesan Suto Lan kepada Lengcu panji Hitam tidak terlalu baik, karena itu jarang bicara.

Kang Han Cing tidak berdaya mengorek lebih banyak rahasia tentang Lengcu Panji Hitam yang harus dimainkannya baik2.

Perjalanan disiang hari sangat menyolok mata, Suto Lan membuka tutup kerudungnya, begitu juga si Lengcu panji Hitam palsu, mengingat wajah Kang Puh Cing yang bisa menimbulkan ekor panjang, Suto Lan memberinya sehelai kedok kulit, itulah wajah seorang laki2 setengah umur, dengan wajah ini Kang Han Cing berjalan siang.

Mereka keluar dari lembah dan sering berpapasan dengan tokoh2 silat2, rata2 menuju ke kampung Datuk Utara, seperti apa info yang didapat Suto Lan.

Lie Wie Neng mengundang kawan kerabatnya.

Suatu bukti kalau daerah utara itu masih berada di bawah kekuasaan keluarga Lie.

Tiba didepan kota Hang-ciu, baru Suto Lan bertanya .

"Sutee, kau pernah mengunjungi kota Hang-ciu ?"

"Satu tahun yang lalu, ber-sama2 dengan Hu Cun Cay mengurus sesuatu."

Jawab Kang Han Cing.

"Kalau begitu, kau lebih kenal kepada kota ini, bukan ?"

"Hanya satu kali kunjungan mana bisa mengenal selurug jalan ? Bersama2 sucie tentu harus tunduk dibawah perintahmu."

"Tapi aku belum pernah ke kota ini,"

Berkata Suto Lan.

"Apa sam susiok tidak menyebut tempat tertentu ?"

Bertanya Kang Han Cing. Yang diartikan Sam susiok adalah Sam Kiongcu, panggilan itu memang lazim.

"Seperti apa yang kau lihat, surat perintah tidak menyebut nama tempat pertemuan."

Berkata Suto Lan.

"Kukira kau sudah tahu tempat yang dikehendaki Sam susiok, tidak tahunya sama2 buta tempat. Bagaimana kita bisa menjalankan perintah ?"

Kang Han Cing selalu bercuriga kalau penyamarannya itu diketahui orang, selalu mengambil sikap yang ber-hati2, berpikir sejenak, ia berkata .

"Lebih baik kita memilih rumah penginapan dahulu. Disana berpikir sambil menunggu perintah selanjutnya."

"Baik juga. Eh, dimana dahulu kau menginap ?"

"Dirumah penginapan Cao-hian-khung."

"Mari kita ke rumah penginapan itu."

Suto Lan mengakhiri pembicaraan. Tiba di rumah penginapan Cao-hian-khung, seorang pelayan menghampiri mereka.

"Jiwie berdua hendak bermalam ?"

Tanyanya.

"Apa sudah memesan tempat lebih dahulu ?"

"Memesan tempat ?"

Kang Han Cing menoleh kearah Suto Lan. Permainan apa lagi yang akan dihadapi ? Jauh2 mereka datang kemari, bagaimana ada waktu membuat pesanan tempat ? "Kami baru saja sampai,"

Berkata Kang Han Cing.

"Oh....."

Pelayan itu berkata.

"Semua kamar sudah dipesan. Bukan kami menolak tamu tapi betul2 kenyataan, sangat menyesal sekali, kalau jiwie berdua belum pesan kamar, rumah penginapan kami sudah tidak ada kamar lagi."

"Tahun dulu aku juga pernah menginap disini, belum ada peraturan pesan tempat itu,"

Berkata Kang Han Cing.

"Oh...jiwie berdua langganan lama. Sayang sekali, betul2 menyesal sekali, sungguh, bukan maksud kami untuk...."

"Baiklah,"

Berkata Kang Han Cing.

"Kalau disini sudah tidak ada tempat, biar kita memilih rumah penginapan yang lain."

Ia siap mengajak Suto Lan meninggalkan rumah penginapan itu.

"Tunggu dulu."

Tiba2 si pelayan rumah penginapan berkata.

"Biar kami rundingkan dengan tuan pengurus."

Tidak lama pelayan itu balik kembali dengan disertai oleh seorang kakek kurus berkaca mata, tentunya pengurus rumah penginapan, kakek kurus itu memberi hormat kepada Kang Han Cing dan Suto Lan, ia mengajukan pertanyaan .

"Jiwie berdua datang dari kota Kim-leng ?"

Hati Kang Han Cing tergerak, cepat menganggukkan kepala berkata .

"Betul !"

"Kalau begitu,"

Berkata lagi pengurus rumah penginapan itu.

"Tentunya hendak bayar kaul di gunung Hong-hong-san ?"

Bayar kaul ke gunung Hong-hong-san ?

Lagi2 Kang Han Cing kemekmek, kini ia tidak sembarang kasih keputusan, menoleh ke arah Suto Lan, meminta jawaban rekan itu.

Suto Lan tidak memberi jawaban yang sportif, ia balik mengajukan pertanyaan .

"Bagaimana kau tahu, kalau kami hendak membayar kaul ke gunung Hong-hong-san ?"

"Beberapa hari yang lalu, seorang pesuruh kalian datang memesan tempat, dikatakan olehnya, kedua majikannya yang datang dari kota Kim-leng hari ini tiba, dikatakan juga jiwie berdua hendak bayar kaul ke kelenteng Sin-ko di gunung Hong-hong-san."

"Begitu ?"

Berkata Suto Lan.

"Apa pelayan kami itu menyebut nama2 majikannya ?"

Memandang Suto Lan dan Kang Han Cing beberapa waktu, kakek berkaca mata itu berkata .

"Tentunya salah satu dari jiwie menggunakan she Suto dan satunya lagi she Lauw, bukan ?"

Lengcu Panji Hijau memang Suto Lan, tepat dengan apa yang dikatakan oleh pengurus rumah penginapan.

Bagaimana dan siapa nama Lengcu Panji Hitam?

Baru sekarang Kang Han Cing mengetahui sedikit, ternyata ia harus menggunakan she Lauw.

Memperlihatkan wajahnya yang se-olah2 tidak mengerti, Kang Han Cing memandang Suto Lan dengan mata terbelalak.

Cara Kang Han Cing memperlihatkan mata terbelalak mengandung dua macam kemungkinan.

Kemungkinan pertama ialah kalau kakek tua itu menyebut nama she yang betul, terbelalak, bagaimana orang yang belum mereka kenal bisa menyebut dua she itu?

Kalau menyebut salah, bagaimana membuat kesalahan itu hanya kesalahan sebelah?

Sengaja menyebut she Lengcu Panji Hijau yang tepat dan menyebut she Lengcu Panji Hitam yang salah?

Tampak wajah Suto Lan berubah girang, gadis ini berkata .

"Betul. Kami berdualah yang dimaksudkan oleh pembantu cabang kota Hangciu itu."

Ternyata she Lengcu Panji Hitam adalah she Lauw ! baru saat ini Kang Han Cing bisa tahu she dirinya sendiri. Dia she Lauw ? Lauw siapa? Inilah yang harus dicari terus.

"Syukurlah....syukurlah...."

Berkata kakek berkaca mata.

"Jiwie berdua hampir pergi lagi."

Ia menoleh ke arah pelayannya dan berteriak .

"Lekas antarkan tamu2 kita ini ke kamar yang sudah dipesan. Kamar nomor 3 dan kamar nomor 5."

Terbungkuk2 pelayan itu mengantar dua tamunya, kamar nomor 3 dan kamar nomor 5 adalah dua kamar yang bersambung, teraling oleh selembar pintu saja, cukup besar dan bersih.

Sesudah itu pelayan mengantarkan air cuci muka, sambil mempernahkan baskom itu, ia berkata.

"Kami juga bisa menyediakan makanan kalau jiwie perlu, boleh pilih dan panggil hamba."

"Baiklah,"

Berkata Suto Lan menggebah.

"Nanti, kalau ada keperluan, kita bisa memanggil dirimu lagi."

Pelayan itu mengundurkan diri. Kang Han Cing memandang Suto Lan dan bertanya .

"Heran, mengapa mereka menyebut2 diriku she Lauw saja ?"

"Mengapa tidak ?"

Jawab Suto Lan.

"Hari ini, kau tidak menggunakan kedudukan Kang Puh Cing, tentu saja menyebut she lamamu."

Sampai disini, keragu2an Kang Han Cing lenyap. Betul2 dia she Lauw.

"Masih ada sesuatu yang sulit dimengerti,"

Ia bertanya lagi.

"Apa yang tidak dimengerti ?"

Bertanya Suto Lan.

"Mereka mengatakan kita hendak berkaul di kelenteng Sin-ko diatas gunung Hong-hong-san?"

"Tentunya Sam susiok menghendaki pertemuan ditempat itu."

"Kapan kita pergi ? Sebentar malam ?"

"Sam susiok sudah menyediakan dua kamar disini. Tentunya memberi isyarat agar kita menetap dan istirahat. Lebih baik jangan terburu2. Tunggu saja panggilan berikutnya."

"Baiklah."

Malam itu Kang Han Cing tidur disebelah kamar Suto Lan.

Hari berikutnya, sesudah membersihkan diri dan mengisi perut dengan makanan pagi, meminta petunjuk penduduk setempat, mereka menuju ke arah kelenteng Sin-ko-sie di gunung Hong-hong-san.

Hong-hong-san terletak diluar kota Hang-cie, berupa tempat rekreasi juga, kecuali danau See-ouw, tempat itu termasuk salah satu yang banyak dikunjungi orang.

Di gunung ini terdapat sebuah kelenteng yang bernama kelenteng Sin-ko-sie.

Perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki, kanan kiri jalan pegunungan itu ditumbuhi oleh pohon2 rindang, angin sepoi2 bertiup diantaranya.

Bukan Kang Han Cing dan Suto Lan saja yang berkunjung ke kelenteng Sin-ko-sie, beberapa penganut agama yang patuh kepada pelajaranNya berkunjung datang, bersembahyang dan berkaul kepada Tuhan.

Mereka tiba di depan kelenteng Sin-ko-sie.

Pemandangan pertama adalah asap dupa yang mengepul keatas, tempat pembakaran hio tepat berada didepan pintu.

Dua orang hweeshio melayani segala kebutuhan dari penganut agama Budha.

Disaat Kang Han Cing dan Suto Lan datang, seorang diantara hweeshio itu menyongsong datang.

"Jiwie siecu juga hendak sembahyang?"

Hweeshio ini bertanya.

"Kami sedang ber-jalan2 dan tertarik kepada kemegahan kelenteng,"

Jawab Kang Han Cing.

"Oh, tidak apa. Silahkan masuk."

Berkata hweeshio itu.

"Kelenteng kami selalu siap melayani semua tamu."

Kang Han Cing dan Suto Lan memasuki ruangan depan dan menuju ke ruang belakang.

Hweeshio itu mengintil di belakang mereka.

Hal ini membuat hati Kang Han Cing tergerak, menghentikan langkah dan bertanya.

"Bagaimana gelar taysu ?"

"Siauwceng bernama Tu-in."

Jawab hweeshio itu.

"Tu-in taysu,"

Berkata Suto Lan.

"Bagaimanakah caranya untuk bertemu dengan ketua kelenteng kalian? Bisakah kita menjumpainya?"

"Setiap orang berhak untuk bertemu dengan ketua kelenteng kami,"

Jawab Tu-in taysu.

"Khusus untuk para pengikut aliran agama. Tapi bukan berarti menolak kunjungan para tamu dari lain aliran. Boleh juga pinceng sampaikan maksud tujuan jiwie siecu. Mungkin ketua kelenteng kami bersedia bertemu dengan jiwie siecu."

"Tolong taysu beritahu akan maksud kami itu,"

Berkata Suto Lan.

"Baik. Silahkan jiwie siecu tunggu sebentar."

Berkata Tu-in sambil memberi hormatnya, kemudian ia berjalan masuk.

Tidak lama seorang padri berjubah hijau keluar dari pintu bulat, diiringi oleh Tu-in hweeshio.

Suto Lan dan Kang Han Cing menduga kepada ketua kelenteng, segera mereka memberi hormat.

Hweeshio berjubah hijau membalas hormat itu, ia berkata .

"Selamat datang dikelenteng kami."

"Kami dari Kim-leng,"

Berkata Suto Lan.

"Aku she Suto dan saudaraku itu she Lauw..."

"Oh..."

Berkata hweesio berjubah hijau itu.

"Suto dan Lauw siecu sudah datang ? Tunggu sebentar, biar kami beritahu kepada ketua kelenteng."

Ternyata hweeshio jubah hijau itupun bukan ketua kelenteng, kedudukannya hanya diatas Tu-in taysu.

Untuk urusan yang begitu besar, ia tidak berani mengambil putusan.

Hweeshio jubah hijau sudah masuk ke bagian dalam, tidak lama ia balik kembali, berkata .

"Maksud kedatangan jiwie siecu sudah pinceng beritahu kepada ketua kelenteng, untuk sementara jiwie siecu dipersilahkan kembali dahulu. Dua hari kemudian, mungkin ketua kelenteng kami bisa menjumpai jiwie siecu."

Hati Suto Lan berpikir .

"Mungkinkah Sam susiok belum datang ? Ketua kelenteng ini tidak berani mengambil putusan ?"

Dan ia berkata .

"Baiklah, sampai bertemu dua hari lagi."

"Sampai bertemu."

Mengajak Kang Han Cing, Suto Lan meninggalkan kelenteng Sin-ko-sie. Ditengah perjalanan pulang, Kang Han Cing mengajukan pertanyaan .

"Sucie, mengapa mereka tidak mau menerima kedatangan kita ?"

Suto Lan berkata .

"Kukira atas instruksi Sam susiok. Tunggu saja dua hari, kita balik kembali."

Untuk kembali ke rumah penginapan, didalam waktu yang seperti itu, sangatlah dirasakan sekali terlalu pagi, atas usul Suto Lan, mereka mengunjungi beberapa tempat pesiar ternama.

Mereka kembali ke rumah penginapan manakala matahari terbenam.

Suto Lan merasa letih, langsung kembali ke kamarnya dan tidur.

Kang Han Cing mengambil kamar disebelahnya.

Menjelang tengah malam.....

Kang Han Cing memanjangkan telinganya, suara dengusan Suto Lan terdengar samar2, si gadis sudah tidur pulas, per-lahan2 ia bangkit dari tempat tidur dan berganti pakaian ringkas, diselimutinya bantal guling, se-olah2 seorang yang sedang tidur, hal ini untuk mengelabui kalau2 Suto Lan melongok ke kamarnya, sedang dia sendiri dengan melalui jendela meluncur pergi.

Kang Han Cing menyamar sebagai Lengcu Panji Hitam, maksudnya menyelidiki keadaan pihak Ngo-hong bun.

Dan disini adalah kesempatannya, mungkin kelenteng Sin-ko-sie yang menjadi sasaran, untuk mengetahui pasti, ia memberanikan diri meninggalkan Suto Lan dan menyatroninya.

Meninggalkan rumah penginapan, langsung Kang Han Cing menuju ke arah gunung Hong-hong-san.

Perjalanan ke arah kelenteng Sin-ko-sie di gunung Hong-hong-san tidak terlalu jauh, sekejap mata kemudian, Kang Han Cing sudah berada ditempat itu.

Gelap.....

Keadaan kelenteng Sin-ko-sie juga gelap, tidak ada api penerangan, tidak terdengar para hweeshio yang membaca doa2.

Hal ini semakin menambah kecurigaan Kang Han Cing, ia membuka kedok penyamarannya sebagai anak buah Ngo hong-bun dan memakai kedok kulit manusia pemberian Tong Jie Peng, itulah wajah Lie Siauw San !

Kehadiran Lie Siauw San didalam sarang Ngo-hong-bun sudah selayaknya !

Dengan gerakannya yang lincah, secara ber-hati2 Lie Siauw San mendekati kelenteng Sin-ko-sie.

Ia tidak berani lengah, mengingat bahaya kepergok musuh.

Pasti !

Pasti sekali.

Kelenteng Sin-ko-sie adalah markas gelap Ngo-hong-bun, mengingat kata2 rahasia si pengurus rumah penginapan yang me-nyebut2 code 'hendak membayar kaul' di kelenteng Sin-ko-sie.

Dan kini Kang Han Cing yang menyelidikinya.

Dari satu wuwungan lompat ke lain wuwungan kelenteng, kecuali para hweeshio yang tidur, ia tidak menemukan lain kecurigaan.

Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Mungkinkah salah terka ?

Tidak mungkin.

Karena gelapnya lampu2 pelita itulah yang membuat Kang Han Cing bertambah curiga, kelenteng non politik tidak mungkin menggelapkan lampu penerangan !

Bagaikan gumpalan asap yang melepus, Kang Han Cing meluncur ke belakang, disana adalah ruangan ketua kelenteng, seorang hweeshio berjubah kuning duduk bersila, agaknya sedang mengheningkan cipta.

Diperhatikannya terus hweeshio ini, tidak ada tanda2 yang menyatakan ia berkepandaian silat lihay, terbukti tidak tahu akan Kang Han Cing.

Kang Han Cing tidak menemukan sesuatu yang mencurigai, dengan penuh rasa kecewa, ia meninggalkan kelenteng Sin-ko-sie.

Kalau kepergian Kang Han Cing sangat berhati2 menyatroni markas Ngo-hong bun, kini ia kembali dengan hati tenang.

Ia tidak menemukan bukti kalau kelenteng Sin-ko sie itu dijadikan markas Ngo hong bun, maka anggapnya sudah bebas dari intaian bahaya.

Berjalan pulang dengan lenggang.

Tiba-tiba....."Hi, hi, hi..."

Terdengar satu suara wanita, sangat merdu dan sedap, seperti keluar dari mulut seorang gadis remaja.

"Siapa ?"

Cepat2 Kang Han Cing berbalik badan.

Didepannya berdiri seorang gadis cantik, mengenakan pakaian warna hijau, gerakannya indah gemulai, berilmu silat tinggi.

Ia tidak kenal gadis cantik ini.

Mereka saling hadap berhadapan.

"Kukira siapa."

Berkata gadis cantik itu.

"Tidak tahunya Lie Siauw San kongcu."

Suara ini tidak asing bagi Kang Han Cing, inilah suara manusia bertopeng perunggu Sam Kiongcu.

Ternyata wajah Sam Kiongcu yang selalu terkurung dibalik topeng perunggu itu sangat cantik sekali !

"Kau Sam Kiongcu ?"

Bertanya Kang Han Cing meminta kepastian.

"Ingatan saudara Lie Siauw San memang sangat tajam, kau bisa membedakan suaraku."

Berkata Sam Kiongcu.

Tiba2 saja wajahnya berubah bersemu dadu.

Kang Han Cing hampir terpikat oleh wajah ini.

Berbeda kalau mengenakan topeng perunggunya, Sam Kiongcu bicara secara adem dan dingin, tidak ada seni kehidupan, kini Sam Kiongcu berbicara penuh gelora.

Kalau menggunakan kedudukan Lengcu Panji Hitam, Kang Han Cing harus memanggil Sam susiok.

Kedudukannya sekarang sebagai Lie Siauw San, ia tidak perlu gentar, dihadapinya Sam Kiongcu dan bertanya .

"Ada urusan apa yang membuat Sam Kiongcu harus menghadang ditengah jalan ?"

"Sudah kuperhitungkan kehadiranmu di tempat ini."

Berkata Sam Kiongcu perlahan.

"Yang berada diluar perhitungan, adalah kedatanganmu terlalu pagi. Bagaimana kau mendapat info secara cepat ? Dari mana kau dapat ?"

Wah !

Penyamarannya sebagai Lengcu Panji Hitam bisa diterka orang, kalau Sam Kiongcu mengetahui kedatangannya kesini ber-sama2 dengan Suto Lan, datang atas perintahnya Sam Kiongcu pribadi, karena itulah, dengan sikapnya yang acuh tak acuh, Kang Han Cing berkata .

"Bagaimana Sam Kiongcu bisa berada ditempat ini, begitu pulalah aku berada ditempat ini."

Artinya sangat jelas dan gamblang, ia bisa berada digunung Hong-hong san karena membuntuti Sam Kiongcu. Wajah Sam Kiongcu memperlihatkan bentuk yang sangat serius, dengan penuh bujuk rayu berkata .

"Betul2 aku tidak mengerti, bisakah kau berterus terang untuk menjawab pertanyaan yang hendak kuajukan ?"

"Pertanyaan apa ?"

"Saudara mempunyai permusuhan dalam dengan partay Ngo-hong-bun ?"

"Tidak,"

Jawaban Kang Han Cing sangat cepat.

"Atau mempunyai ganjelan sakit hati ?"

"Juga tidak."

"Inilah yang membuat orang betul2 tidak mengerti, mengapa saudara memusuhi Ngo-hong-bun ?"

"Apa betul2 aku memusuhi Ngo-hong-bun ?"

Balik tanya Kang Han Cing.

"Betul2 tidak memusuhi Ngo-hong bun ?"

Tampak sekilas cahaya terang pada sinar mata Sam Kiongcu.

"Seharusnya kau tidak bermusuhan dengan Ngo-hong bun."

"Begitu juga untuk pihak Ngo hong bun, tidak seharusnya memusuhi kawan sesama rimba persilatan."

"Maksudmu ?"

"Kita memberi kebebasan beridiologi, memberi kesempatan hidup kepada semua partay2 silat, dengan syarat tidak merugikan masyarakat dan tidak menyimpang dari azas2 prikemanusiaan, bukan berarti menyuruh dan menganjurkan sesuatu partay saja yang memonopoli kekuasaan, tidak mengharapkan adanya sesuatu golongan yang mau menang sendiri, disinilah letak kesalahan Ngo-hong bun, hanya hendak berkuasa didalam rimba persilatan, tidak segan2 menurunkan tangan jahat mem-bunuh2i mereka yang menentang idiologinya, hanya hendak duduk diatas takhta pemimpin rimba persilatan, merusak tata peraturan yang ada..."

"Saudara Lie Siauw San, lebih baik kita tidak berdebat didalam arena politik itu."

Berkata Sam Kiongcu.

"Maksud Sam Kiongcu?"

"Jangan panggil aku Sam Kiongcu, karena aku tidak mengenakan topeng perunggu hijau itu."

Berkata gadis cantik itu.

"Maksud nona, Sam Kiongcu adalah lambang salah seorang pemimpin Ngo-hong-bun dikala ia mengenakan topeng perunggu yang menyeramkan ?"

"Kira2 begitu. Hari ini aku menghadapi dirimu dengan wajah asli, suatu hal yang belum pernah terjadi untuk menghadapi laki-laki yang baru kukenal. Kau boleh menjadi bangga atas pengecualian ini."

"Betul2 boleh bangga bagi kaum pria yang mendapat pengecualian dari seorang gadis manis."

Wajah Sam kiongcu menjadi merah, ditundukkannya kebawah rendah2.

"Aku sudah mengetahui namamu sebagai Lie Siauw San,"

Katanya.

"Mengapa kau tidak mau menanyakan namaku ?"

Kang Han Cing menggunakan kedok Lie Siauw San dan menggunakan nama Lie Siauw San, sangka Sam Kiongcu betul2 seorang Lie Siauw San.

Kang Han Cing geli sendiri.

Ia sedang me-nimbang2 pantaskah menanyakan nama seorang gadis yang belum lama dikenal ?

Mengingat hubungan mereka yang tidak segaris, pandangan idiologinya yang tidak sama, ia berat mengajukan tawaran tadi.

"Hei, kau tidak sudi mengetahui namaku ?"

Berkata lagi Sam Kiongcu. Didesak seperti itu, merasa tidak ada kerugiannya, Kang Han Cing tertawa dan berkata .

"Senang sekali kalau mengetahui nama nona."

"Aku Sun Hui Eng."

"Suatu nama yang indah dan bagus sekali."

Puji Kang Han Cing.

"Pantas saja nona berkepandaian tinggi. Mungkin mempunyai hubungan erat dari nama nona tadi !"

"Terima kasih atas pujianmu."

Berkata Sam Kiongcu Sun Hui Eng.

"Ilmu kepandaianmu juga tinggi, jago silat kuat yang pernah kutemukan."

"Ilmu kepandaianku memang tidak rendah bukan ? Karena itulah aku berani menantang Ngo-hong-bun."

Wajah Sun Hui Eng berubah, ditatapnya dan diperhatikannya pemuda kita, menghela napas dan berkata .

"Apa tidak ada jalan lain, kalau tidak bersitegang dengan Ngo hong-bun ?"

"Harus dinilai dari tindak-tanduk berikutnya."

Berkata Kang Han Cing.

"Kalau partay Ngo-hong-bun bersedia mengganti haluan, mungkin tidak sampai terjadi ketegangan."

"Oh.... Kau membuat aku kecewa."

"Seharusnya perguruan nonalah yang membuat kecewa, ada baiknya kalau nona memberi anjuran kepada kawan nona, agar melenyapkan keangkara-murkaan, buang jauh2 ambisi tinggi yang mau menjadi raja rimba persilatan."

"Sudahlah ! Kau tidak bisa memahami."

Berkata Sam Kiongcu Sun Hui Eng menyudahi perdebatan.

"Maksudku menemuimu untuk menyampaikan sesuatu."

"Apakah pesan yang nona hendak sampaikan itu ?"

"Kedudukan kita memang bukan segaris,"

Berkata Sam Kiongcu Sun Hui Eng.

"Tapi tetap aku mengagumi dirimu, tidak baik kalau memaksa bersatu dengan Ngo-hong bun. Pendirianmu kukuh tidak bisa dirubah, idiologi partay lebih sulit ditentang. Biar bagaimana perkembangan berikutnya, aku masih mempunyai cara baik untuk menghadapi perkembangan itu, yang kuharapkan ialah agar janji dua hari itu bisa dihapuskan. Dua hari kemudian, jangan kau datangi kelenteng Sin-ko-sie lagi."

Nada dan suara Sam Kiongcu penuh perhatian.

Kang Han Cing mengeluh, ternyata Sun Hui Eng sudah mengetahui kalau dirinya menyamar sebagai Lengcu Panji Hitam, maka ia mengharapkan tidak balik lagi.

Tentu ada sesuatu perangkap yang terbentang dihadapannya.

Sesudah memberi pesan tadi tubuh Sam Kiongcu Sun Hui Eng melejit meninggalkan Kang Han Cing.

"Selamat berjumpa dilain kali."

Suara si gadis berkumandang dari jarak jauh.

Kang Han Cing harus berpikir panjang, dari gerak-gerik dan tanda2 yang diberikan oleh Sun Hui Eng, samarannya sudah diterka musuh, mungkin hanya Sun Hui Eng seorang yang tahu ?

Kalau hanya gadis itu, ia tidak perlu takut, mengingat kesan si gadis yang agak lumayan.

Kang Han Cing pulang ke rumah penginapan dengan hati yang penuh kebimbangan.

Beruntung Suto Lan belum bangun, si pemuda menyingkap guling dan membaringkan diri.

Dua hari kemudian...

Lengcu Panji Hijau dan Lengcu Panji Hitam meninggalkan tempat penginapan mereka, menuju ke arah kelenteng Sin-ko-sie di gunung Hong hong-san.

Mereka disambut oleh Tu-in hweeshio, langsung diajak ke tempat ketua kelenteng.

Itulah tempat yang pernah Kang Han Cing satroni diwaktu malam pertama.

"Hongtiang,"

Berkata Tu-in hweeshio dengan suara lantang.

"Mereka sudah datang."

"Suruh masuk."

Terdengar satu suara dari dalam ruangan.

Suto Lan dan Kang Han Cing berjalan masuk, didepannya terbentang ruangan yang luas, sangat bersih dan rapi, dua hweeshio berjubah kuning duduk di depan mereka, seorang berwajah putih dan seorang lagi agak ke-pucat2an.

Yang berwajah putih adalah ketua kelenteng Sin-ko-sie yang pernah Kang Han Cing intip dimalam hari, dan yang berwajah ke-pucat2an adalah Hian-keng hweeshio, hu-huat kelas satu Ngo hong-bun yang pernah mengirim serangan gelap di Yen-cu-kie.

Bulu tengkuk Kang Han Cing terasa berkirik kalau mengingat kejadian lama itu.

"Silahkan duduk."

Berkata hweeshio berjubah kuning yang berwajah putih itu.

"Jangan malu2."

Berkata Hian-keng hweeshio.

"Sesama orang sendiri, mari kuperkenalkan. Inilah suhengku yang bernama Hui-keng. Juga menjadi hu-huat kelas satu."

Suto Lan dan Kang Han Cing memberi hormatnya. Ketua kelenteng Sin-ko-sie Hui-keng hweeshio membalas hormat itu dengan anggukkan kepala. Tidak lama, terdengar lagi suara Tu-in hweeshio .

"Hongtiang, Lengcu Panji Merah Phoa An Siu dan Lengcu Panji Putih Liok Kok sudah tiba."

"Silahkan masuk."

Berkata Hui-keng hweeshio. Ber-turut2 masuk pula dua laki2, mereka berpakaian preman, kedua manusia inilah yang sering menjelma sebagai Lengcu Panji Merah dan Lengcu Panji Putih.

"Teecu memberi hormat kepada hu-huat taysu,"

Lengcu Panji Merah bernama Phoa An Siu dan Lengcu Panji Putih bernama Liok Kok, mereka memberi hormat kepada Hian-keng dan Hui-keng.

Hian-keng dan Hui-keng membalas hormat, mereka tertawa.

Suto Lan dan Kang Han Cing bangkit dari tempat duduknya.

"Toa suheng, dan Jie suheng."

Ia menyapa.

"Toa suheng. Jie suheng."

Kang Han Cing turut membeo.

"Sam sumoay dan Su sutee datang lebih pagi dari pada kita."

Berkata Lengcu Panji Merah Phoa An Siu.

Dari keempat Lengcu Panji berwarna, Lengcu Panji Merah yang tertua, urutan berikutnya ialah Lengcu Panji Putih, Panji Hijau dan Panji Hitam.

Mereka langsung dididik oleh Toa Kiongcu.

Rata2 memiliki ilmu silat tinggi.

Sesudah golongan Perintah Maut menggabungkan kekuatan dengan Ngo-hong-bun, Empat Lengcu Berwarna yang mengurus wadah gabungan itu.

Hui-keng memandang Hian-keng dan berkata kepada sang sutee .

"Sutee, 4 lengcu panji berwarna sudah hadir komplit, ajaklah mereka ke tempat Toa Kiongcu."

"Oh....Suhu sudah datang ?"

Berteriak Lengcu Panji Merah girang.

"Bersama2 Sam Kiongcu."

Berkata Hian keng.

"Mari kalian ikut aku."

Bukan Toa Kiongcu saja yang sudah datang, Sam Kiongcu juga berada di tempat itu !

Melewati pintu bulat, Hian-keng mengajak keempat Lengcu Panji Berwarna ke bagian belakang, ditempat itulah tokoh-tokoh Ngo hong-bun menunggu.

Kedatangan mereka segera disambut oleh dua pelayan Sam Kiongcu, mereka adalah .

A Wan dan Bu Lan.

"Kedatangan kalian sudah ditunggu,"

Berkata Bu Lan, mengajak mereka memasuki tempat pemandangan yang indah.

Kang Han Cing melirik kedepan, disana, tidak jauh di depan mereka berduduk dua orang, yang satu mengenakan topeng emas yang berkeredepan, inilah Toa Kiongcu.

Duduk disebelah Toa Kiongcu adalah Sam Kiongcu Sun Hui Eng, tetap menggunakan topeng perunggu.

Dibawah pimpinan Lengcu Panji Merah Phoa An Siu, keempat panji berwarna memberikan hormat mereka.

"Duduk."

Toa Kiongcu memberi perintah. Juga suara seorang wanita. Lengcu Panji Merah, Putih, Hijau dan Hitam duduk ditempat yang sudah tersedia, terdengar lagi suara petuah dari guru mereka .

"Kekalahan Ngo-hong bun untuk daerah Kang lam tidak bisa menyalahkan kalian berempat..."

Kang Han Cing mengeluarkan keluhan napas lega, ternyata Ngo-hong-bun didaerah Kang lam mengalami kekalahan total, inilah berita baru. Terdengar lagi suara si topeng emas Toa Kiongcu berkata .

"Entah bagaimana Datuk Timur Kho See Ouw bisa mendapat bantuan Siauw lim-pay dan Ngo-bie-pay. Yang berada diluar dugaan, Benteng Penganungan Jaya mau membantunya. Kalau bukan Hian-keng taysu turut serta, seluruh Panji Merah bisa hancur karenanya."

"Untuk menghadapi Datuk Timur, Lengcu Panji Merah mengalami kegagalan total. Seperti juga keadaan Panji Hitam yang menghadapi Datuk Selatan, Panji Hijau yang bertugas menghadapi Datuk Utara dan Panji Putih yang menghadapi Datuk Barat, tidak satupun yang berhasil."

"Betul2 menjengkelkan."

Berkata lagi Toa Kiongcu.

"Aneh sekali. Kang Han Cing bisa berguru kepada Pendekar Bambu kuning ! Lie Wie Neng berguru kepada Pendekar Kipas Wasiat ! Mengapa Datuk2 persilatan ini rela menyerahkan putra2 mereka dididik oleh tokoh aliran lain ? Tentu saja dengan ilmu kepandaian yang kalian sekarang miliki belum bisa menandingi mereka....."

Kang Han Cing yang disebut2 oleh si Topeng Emas sudah berada didepan matanya, tapi ia tidak tahu kalau pemuda itu sudah menyamar sebagai salah satu muridnya.

Rasa kagetnya Kang Han Cing tidak kepalang, karena Toa Kiongcu bisa menyebut nama perguruannya, ia berguru kepada Pendekar Bambu Kuning tanpa ada orang yang tahu, telinga Ngo-hong-bun ini betul2 panjang, rahasia itupun sudah tidak bisa ditutupi lagi.

"Suhu,"

Berkata Kang Han Cing.

"Maafkan teecu, betul2 teecu tidak tahu kalau Kang Han Cing itu berkepandaian silat sedari kecilnya, ia berpenyakitan, mungkin ia berguru secara diam2 ! Sehingga ayah dan engkohnya sendiripun tidak tahu...."

Kang Han Cing membawakan lagu suara Lengcu Panji Hitam yang menyamar sebagai Kang Puh Cing.

"Aku tidak menyalahkan dirimu."

Berkata Toa Kiongcu.

"Menurut cerita Sam susiokmu, Kang Sang Fung betul2 sudah meninggal dunia. Kau lebih kenal baik tentang keadaan keluarga itu, bagaimana penilaianmu ?"

Lagi2 ada orang yang meragukan kematian Kang Sang Fung ! Kang Han Cing menganggukkan kepala berkata .

"Teecu telah melihat dengan mata sendiri bagaimana dipantek didalam peti mati. Kejadian ini tidak salah lagi."

"Sesudah kematian Kang Sang Fung, mengapa peti mati kedapatan kosong ?"

Bertanya Toa Kiongcu.

"Mungkin ada sesuatu golongan lain yang mencuri jenazahnya."

"Apa kau sudah berhasil menyelidiki orang yang mencuri jenazah Kang Sang Fung itu ?"

"Teecu belum berhasil."

"Inilah tugasmu. Sesudah kau kembali, segera membikin penyelidikan yang lebih teliti, tahu ?"

"Baik."

Dari dalam saku bajunya, si Topeng Emas Toa Kiongcu mengeluarkan dua carik lembaran yang penuh dengan aneka catatan, memandang 4 murid didikannya dan berkata .

"Untuk menghadapi 4 Datuk Persilatan, kalian harus mempelajari ini, sudah kuminta Sam susiok kalian mewakili diriku menurunkan kepada kalian. Tiga Jurus Pukulan Burung Maut adalah inti kekuatan silat kita, baik2 kalian mempelajari. Dengan ilmu silat inilah, kalian akan menghadapi para datuk2 persilatan itu."

Kemudian diserahkannya dua carik catatan ilmu silat yang dikatakan bernama Tiga jurus Pukulan Burung Maut, tentu saja, Sam Kiongcu menyambuti dari tangan sang sucie.

Sam Kiongcu Sun Hui Eng memandang kepada keempat keponakan muridnya, ia berkata .

"Mulai esok hari, kalian berempat boleh mempelayari Tiga Jurus Pukulan Burung Maut ini kepadaku."

Toa Kiongcu dan Sam Kiongcu mengundurkan diri. Hui-keng menjamu keempat Panji berwarna itu di kelentengnya.

"Mengapa harus hari esok memberi pelajaran Tiga Jurus Pukulan Burung Maut itu ?"

Di-tengah2 perjamuan, Lengcu Panji Merah Phoa An Siu bertanya.

"Mereka masih ada urusan,"

Berkata Hui-keng penuh arti.

"Hian-keng taysu juga turut serta ?"

"Hian-keng sutee juga turut serta,"

Berkata Hui-keng.

"Apa kalian tahu, apa maksudnya mengundang kalian keempat ini ?"

Tujuan Kang Han Cing hendak menyelidiki rahasia2 Ngo hong bun, pertanyaan Hui keng tepat mengenai lubuk hatinya.

Diantara keempat lengcu berwarna, panji hitam mendapat urutan keempat, karena inilah, hak pertanyaan Kang Han Cing tidak bisa dikeluarkan.

Ia mengharapkan Lengcu Panji Merah yang menjawab.

Betul2 Lengcu Panji Merah membuka mulut !

"Kami sebagai murid2nya mana tahu maksud tujuan mulia guru kami."

"Hal ini penting untuk diketahui,"

Berkata Hui keng.

"Menyangkut hubungan dengan kalian. Untuk daerah Kang-lam, kita mendapat lawan terberat."

"Perlawanan bersama dari keempat datuk persilatan ?"

Bertanya Lengcu Panji Putih.

"Lebih kuat dari kekuatan 4 Datuk Persilatan."

"Kekuatan Siauw lim pay dan Ngo bie-pay ?"

"Kalau hanya Siauw lim-pay dan Ngo-bie-pay, Sam Kiongcu seorang sudah cukup untuk menghadapinya."

"Kekuatan darimana lagi yang bisa menandingi kekuatan kita ? Lebih kuat dari 4 Datuk Persilatan, Siauw-lim-pay dan Ngo bie-pay ?"

"Kekuatan Lembah Baru."

"Kekuatan Lembah Baru ?"

Lengcu Panji Merah Phoa An Siu baru mendengar nama kekuatan ini.

"Ya."

Hui-keng menganggukkan kepala.

"Satu kekuatan baru yang munculnya hampir sama dengan kekuatan kita. Menurut laporan terakhir, beberapa partay ternama sudah menggabungkan diri kedalam kekuasaan Lembah Baru itu. Perkembangannya lebih pesat dari apa yang kita capai."

Lengcu Panji Hijau Suto Lan mengajukan pertanyaan .

"Taysu menyebut2 nama Lembah Baru, kekuatan yang bagaimanakah yang bernama kekuatan Lembah Baru ini ? Sesuatu golongan atau partay baru ?"

"Tidak ada yang tahu. Entah golongan atau partay. Mereka menggunakan sesuatu tempat tersembunyi. Disebut saja Lembah Baru. Maka berbondong2lah kekuatan yang mengekor dibelakang mereka."

"Taysu bisa mengira2, dimanakah adanya tempat yang bernama Lembah Baru itu ?"

"Kalian berempat juga boleh men-duga2, dimanakah adanya Lembah Baru itu ?"

"Teecu belum pernah dengar,"

Berkata Lengcu Panji Merah Phoa An Siu.

"Mungkin disuatu tempat yang terasing,"

Berkata Lengcu Panji Putih.

"Teecu kira tidak jauh,"

Berkata Lengcu Panji Hijau Suto Lan.

"Tempat yang berdekatan dengan kita."

Berkata Kang Han Cing sebagai Lengcu Panji Hitam.

"Tepat !"

Berteriak Hui-keng girang.

"Salah satu cabang kekuatan Lembah Baru berada di daerah Kang lam."

"Didaerah Kang-lam ?"

Serentak Empat Lengcu Panji Berwarna mementang lebar-lebar mata. Ketua kelenteng Sin-ko sie Hui-keng memberi keterangan .

"Dua orang hu-huat kelas dua dari golongan kita baru saja memberi laporan, kalau gerak-gerik kita sudah dibayangi oleh beberapa tokoh silat pensiunan, tentunya jago2 dari Lembah Baru yang mereka maksudkan, sesudah itu kedua hu-huat itu lenyap tanpa bekas. Pasti jatuh ke tangan mereka."

"Lembah Baru mengambil sikap yang bermusuhan dengan Ngo hong-bun ?"

"Mereka bukan kawan kita."

Jawab Hui-keng tegas.

"Kemarin dulu malam, seorang mata2nya berani menyatroni kelenteng Sin-ko sie, kubiarkan saja ia tergantung di atasku, sesudah itu ia ragu2 dan pergi lagi."

Hati Kang Han Cing tertawa geli, kedatangannya dianggap sebagai mata2 dari Lembah Baru.

"Mengapa taysu tidak menjegalnya ?"

Bertanya Lengcu Panji hijau Suto Lan.

"Maksud Sam Kiongcu, lebih baik menyembunyikan kelenteng Sin-ko sie dari incaran orang2 Lembah Baru. Mereka mempunyai banyak jago lihay."

"Tentunya Sam susiok membuntuti orang itu, bukan ?"

Bertanya Lengcu Panji Merah Phoa An Siu.

"Dugaanmu tepat,"

Berkata Hui-keng.

"Itulah maksud tujuan utama Sam Kiongcu, sayang musuh keliwat tajam, ditengah jalan, ia berhasil melepaskan diri dari bayangannya Sam susiok kalian."

Hati Kang Han Cing gejolak-gejolak, mengikuti cerita dirinya dibayangi oleh Sun Hui Eng.

"Ilmu meringankan tubuh Sam susiok belum pernah menemukan tandingan,"

Berkata Lengcu Panji Hijau Suto Lan.

"Mungkinkah tidak bisa mengejarnya ? Apa kata Sam susiok tentang mata2 itu ?"

Hati Kang Han Cing semakin kebat-kebit. Apa yang diceritakan oleh Sun Hui Eng tentang dirinya ? Ketua kelenteng Sin-ko-sie Hui-keng berkata .

"Sam Kiongcu menggambarkan orang itu sebagai seorang laki-laki tua yang tidak dikenal. Kang Han Cing mengeluarkan keluhan napas lega, ternyata Sam Kiongcu Sun Hui Eng tidak menyebut nama Lie Siauw San. Memandang Lengcu Panji Merah dan Panji Putih, Hui-keng meneruskan keterangannya.

"Menurut keterangan Tu-in, disaat kalian berdua memasuki kelenteng, ada seorang tamu kelenteng membelakangi dibelakang."

"Dimana orang itu?"

"Dia sudah pergi lagi."

"Taysu ada suruh orang membuntutinya ?"

"Bukan dia seorang yang sudah berada dibawah pengawasan kita. Selama beberapa hari belakangan ini, Kelenteng Sin-ko-sie banyak mendapat kunjungan tamu2 misterius."

Berkata Hui-keng.

"Maka lekas2lah kalian bebenah dan tinggal disini saja."

"Perintah suhu ?"

"Ya. Inilah perintah Toa Kiongcu. Kalau tidak instruksi dirinya mana aku berani berbuat lancang. Lebih dari pada itu, dipesan juga agar kalian tidak memperlihatkan diri dimuka umum. Apapun yang terjadi jangan kalian ikut campur. Para hweeshio Sin-ko-sie masih mempunyai kemampuan untuk mempertahankan diri dari gangguan2 itu. Nah, kalian boleh pulang ke tempat rumah penginapan masing2 dan pindah kedalam kelenteng, mencampurkan diri ber-sama2 tamu2 lain yang menginap disini."

Perjamuan ditutup sampai disitu.

Keempat lengcu panji berwarna meninggalkan kelenteng Sin ko-sie.

*** Bab 66 MENGIKUTI perjalanan Lengcu Panji Hijau Suto Lan dan Lengcu Panji Hitam, mereka kembali ke rumah penginapan Couw-hian-khung.

Masing2 kembali ke kamarnya untuk membenahi perbekalan mereka.

Kang Han Cing sudah siap membuntal pakaiannya yang hanya beberapa potong itu, tiba2 tampak Suto Lan menyelinap masuk, menutup daun pintu, memperhatikan dengan sikap yang aneh.

Kang Han Cing bisa melihat ketidak-serasian itu.

"Sam sucie,"

Ia memanggil.

"Ada sesuatu terjadi ?"

"Apa betul2 kau mau pindah masuk ke dalam kelenteng Sin-ko-sie ?"

Bertanya Lengcu Panji Hijau Suto Lan.

"Eh, apa Sam sucie tidak mau pindah kesana ?"

Balik tanya Kang Han Cing.

"Bagiku, tentu saja tidak keberatan. Tapi bagaimana dengan keadaanmu ?"

"Maksud Sam sucie, aku tidak pantas memasuki kelenteng Sin-ko-sie ?"

"Sudahlah. Kukira sudah waktunya kau membuka kartu."

Berkata Suto Lan tenang perlahan. Kulit Kang Han Cing dirasakan mau meledak, berkelojotan sendiri. Mungkinkah penyamarannya sudah diketahui orang ? "Kartu apa yang harus dibuka ?"

Kang Han Cing masih mau menyangkal.

"Aku memuji ketenanganmu."

Berkata Suto Lan.

"Betul2 luar biasa."

"Aku tidak mengerti."

"Didalam keadaan situasi yang seperti ini ada lebih baik kalau kita berterus terang,"

Berkata Suto Lan.

"Jangan mencoba menyembunyikan sesuatu."

"Apa ada sesuatu yang sudah kusembunyikan kepada Sam sucie ?"

Balik tanya Kang Han Cing.

"Coba katakan, apa maksud kedatanganmu ke tempat ini ?"

Bertanya Suto Lan.

"Akh, Sam sucie ada2 saja. Bukankah kita datang atas panggilan Sam susiok ?"

Lengcu Panji Hijau Suto Lan tertawa dingin, katanya .

"Jangan kau kira penyamaranmu itu lihay. Ketahuilah, kau bisa mengelabui suhu dan Sam susiok, tapi tidak mungkin kau mengelabui diriku."

"Maksud sam sucie ?"

"Sampai dimana hubunganku dengan Lauw Keng Sin, setiap hari aku bisa menilai kelakuannya. Dan sesudah kuperhatikan baik2, walau banyak persamaan yang bisa kau lakukan, tidak semuanya itu masuk diakal. Kau bukan Lauw Keng Sin asli !"

Wah !

Pecahlah samaran Kang Han Cing !

Ternyata Suto Lan sudah bisa melihat perbedaan si Lengcu Panji Hitam palsu itu.

Baru sekarang Kang Han Cing tahu, kalau orang yang dipalsukan itu bernama Lauw Keng Sin.

Tapi apa guna ?

Penyamarannya sudah terbuka, untuk menutupi keadaan itu, ia harus menyingkirkan Lengcu Panji Hijau.

Suto Lan membawakan sikapnya yang tidak mengambil permusuhan, hal ini membuat Kang Han Cing ragu2.

"Ya ! Aku memang bukan Lengcu Panji Hitam yang asli."

Akhirnya ia membuka kartu dan mengakui penyamarannya.

"Maka lebih baik kau segera pergi."

Berkata Suto Lan.

"Jangan datangi lagi kelenteng Sin-ko-sie."

"Maksud nona...."

"Kalau dugaanku tidak salah, kau tentunya Kang Jie kongcu Kang Han...."

Suto Lan tidak meneruskan pembicaraannya, telinganya yang tajam bisa menangkap sesuatu, gesit laksana kilat ia berbalik badan, membuka pintu kamar, sesudah pintu itu terjeblak, disana berdiri pelayan rumah penginapan yang baru saja bangkit dari jongkoknya, keadaan itu sangat lucu, mengingat ia tertangkap basah, mencuri dengar pembicaraan orang.

"Masuk !"

Suto Lan menyeret pelayan itu, dan menutup kembali pintu kamar.

"Hamba...Hamba....."

Pelayan rumah penginapan itu masih mencoba membuat pembelaan.

Gedubrakkk.....

Tubuh pelayan itu jatuh ngeloso, karena terkena totokan Suto Lan.

Si gadis bekerja gesit, satu kali tarik, ia berhasil menyingkap tutup kerudungnya, ternyata pelayan itu berkepala gundul, inilah hweeshio Sin-ko-sie.

Mereka masih berada dibawah pengawasan para hweeshio Sin ko-sie.

"Sudah lihat ?"

Berkata Suto Lan.

Diperhatikannya Kang Han Cing beberapa saat.

Dan dihadapi lagi hweeshio mati kutu itu, dari dalam kantong bajunya, Suto Lan mengeluarkan botol kecil, menuang isinya yang ditaburi ke arah tubuh si hweeshio, didalam sekejap mata muncrat bau busuk, melepus asap mendidih, dan tubuh itu menjadi cairan kental terkena obat serbuk Lengcu Panji Hijau yang luar biasa itu.

Didalam sekejap mata, tubuh seorang hweeshio sudah lenyap dari permukaan bumi.

"Terpaksa aku harus membunuhnya."

Berkata Suto Lan.

"Demi kepentingannya dirimu."

"Aku sangat berterima kasih."

Berkata Kang Han Cing.

"Kau betul2 Kang Han Cing ?"

"Ya ! Aku memang Kang Han Cing."

"Nyalimu betul2 besar sekali."

Berkata Suto Lan.

"Dugaanku pertama memang tidak salah."

"Bagaimana kebijaksanaan nona sesudah mengetahui keadaanku ?"

Bertanya Kang Han Cing penuh pancing, ia hendak melihat, langkah apa pula yang harus dilakukan kepada Suto Lan.

"Bagaimana keadaan Lauw Keng Sin ?"

Lengcu Panji Hijau mengalihkan pembicaraan. Menanyakan Lengcu Panji Hitam yang asli.

"Dia sudah mati,"

Jawab Kang Han Cing.

"Kau yang membunuh dirinya ?"

"Dia mati bunuh diri."

"Oh....!"

Suto Lan menundukkan kepalanya. Si gadis Ngo-hong-bun sudah menanam benih cinta, karena adanya kasih inilah yang membuat ia mau menutupi rahasia Kang Han Cing.

"Nona,"

Berkata Kang Han Cing.

"Aku berterima kasih kepadamu yang....."

"Sebaiknya jangan lama2 kau berada di tempat ini."

Potong Suto Lan.

"Engkohku masih berada disini."

Berkata Kang Han Cing.

"Tidak."

Berkata Suto Lan membuka rahasia.

"Saudara Kang Puh Cing berada di tangan Oh Cun Cay. Kau boleh langsung mencarinya. Kukira masih berada di dalam kuburan tua."

"Terima kasih atas keterangan nona."

Berkata Kang Han Cing.

"Bukan ucapan terima kasih itu yang kuharapkan."

Berkata Suto Lan.

"Keselamatan jiwamulah yang utama. Bagaimana kau harus membebaskan diri sendiri dari kepungan Ngo-hong-bun."

"Ya !"

Berkata Kang Han Cing.

"Bagaimana aku bisa membebaskan diri dari kepungan Ngo-hong-bun. Mengingat Toa Kiongcu dan Sam Kiongcu sudah mengetahui kita datang berdua, tentu akan menyeret dirimu pula."

"Tapi kau bebas dari bahaya."

"Aku tidak mau menyeret nona turut menderita."

Berkata Kang Han Cing.

"Tekadmu sudah bulat, hendak pindah ke kelenteng Sin-ko sia ?"

Melihat sikap Kang Han Cing yang seperti itu, Suto Lan tidak berdaya.

"Ya. Kalau nona tidak membocorkan rahasia, kukira mereka tidak tahu."

Berkata Kang Han Cing.

"Aku tidak mau membuka rahasiamu,"

Berkata Suto Lan.

"Tapi berhati2lah kepada guru dan susiokku, mereka mempunyai mata yang sangat lihay."

Kang Han Cing memberikan janjinya.

Kedua orang itu segera meninggalkan rumah penginapan, menuju ke arah gunung Hong-hong san.

Suto Lan adalah orang kedua yang mengetahui penyamaran Kang Han Cing dan mempertahankan keadaan yang seperti itu.

Hari itu juga, keempat Lengcu Panji Berwarna mencampurkan diri bersama2 para ibadah kelenteng Sin-ko-sie, menetap di bangunan itu.

Kelenteng Sin-ko-sie sudah disalah-gunakan.

Dengan menyembunyikan diri dibalik kesucian, orang2 Ngo-hong bun membuka cabangnya ditempat ibadah itu.

Malam itu, Kang Han Cing terbaring dengan gelisah, ia sudah berada disarang macan, untung baginya, yang mengetahui dirinya bukan Panji Hitam asli hanya Suto Lan, dan Suto Lan bersedia menutupi rahasianya.

Mengapa ?

Sesudah Sam Kiongcu Sun Hui Eng tahu kalau seseorang yang bernama Lie Siauw San menyelundup masuk kedalam golongannya, mengapa tidak mengadakan pembersihan ?

Mengapa Suto Lan mau membela Kang Han Cing?

Disini akan terjadi kitab asmara bentuk rumit dan ber-belit2.

*** HARI berikutnya......

Sam Kiongcu memanggil ke 4 Lengcu Panji Berwarna, sesuai dengan instruksi Toa Kiongcu, keempat lengcu harus meyakinkan semacam ilmu baru yang bernama Tiga Pukulan Burung Maut.

Kepada keempat keponakan muridnya itu, Sam Kiongcu berkata .

"Mulai saat ini, kalian harus betul2 memperhatikan ilmu kepandaian, khususnya Tiga Pukulan Burung Maut ilmu simpanan sucouw kalian. Aku sendiripun belum lama mendapatkan ilmu ini. Batas waktu hanya tiga hari, setiap hari kalian menekunkan satu macam. Nah, hari ini mulai dari jurus pertama yang bernama Kehadirannya Burung Tanpa Sayap, semua makna tipu pelajaran tercatat disini, bacalah !"

Ia menyerahkan catatan ilmu silat itu.

Dengan kedua tangan, Lengcu Panji Merah Phoa An Siu menyambuti catatan ilmu silat itu, dibacanya secara teliti.

Sebagai orang pertama dari 4 lengcu panji berwarna, ia mendapatkan prioritas tersebut.

Ketiga lengcu lainnya menunggu dengan sabar.

Beberapa saat kemudian, Phoa An Siu selesai membaca lembaran pertama dan menyerahkan kepada Lengcu Panji Putih.

Sam Kiongcu menyerahkan lembaran yang kedua, dibaca dan diperhatikannya betul2 oleh Phoa An Siu.

Demikian mereka membaca bergilir catatan ilmu silat Tiga Jurus Pukulan Burung Maut.

Secara bergilir jatuh ke tangan Suto Lan.

Sesudah Suto Lan membaca, diserahkannya kepada Kang Han Cing.

Kang Han Cing memperhatikan betul2 ilmu silat dari Ngo-hong-bun yang bernama Kehadirannya Burung Tanpa Sayap itu.

Ternyata terdiri dari lima macam perubahan dan disertai dengan keterangannya.

Selesai Kang Han Cing menghafal lembaran yang pertama, Suto Lan sudah mengoper lembaran yang kedua, itulah jurus yang bernama Gagak Perkasa Membentangkan Sayap.

Jurus kedua terdapat 7 macam perubahan beserta keterangannya.

Lembaran yang ketiga adalah jurus yang terakhir yang bernama Mengamuk dan Menghancurkan Jagat.

Untuk jurus ini terdapat 9 macam perubahan dan disertai keterangan-keterangannya.

Keempat Lengcu Panji Berwarna menghafal ilmu silat Ngo-hong-bun yang bernama Tiga Jurus Pukulan Burung Maut itu.

Sam Kiongcu berkata .

"Untuk hari ini, cukup mempelajari jurus yang pertama itu. Nah, kalian boleh mulai belajar."

Phoa An Siu berempat mempelajari ilmu silat itu, bagi ketiga lengcu panji berwarna yang asli, mengingat aliran mereka memang dari golongan Ngo-hong-bun, ilmu silat itu tidak menelan gangguan.

Lain lagi halnya untuk Kang Han Cing, aliran ilmu silat yang dipelajari tidak senada dengan ilmu silat Ngo hong bun, ia menjadi gelagapan.

Beruntung saja ada tiga contoh mengikuti dan me-niru2 gerakan mereka, ditambah bakat2nya yang memang luar biasa, ia turut serta mempelajari jurus pertama dari Tiga Pukulan Burung Maut.

Keempat Lengcu Panji Berwarna melatih diri didalam itu ilmu baru.

Langsung dibawah pimpinan Sam susiok mereka.

Berlatih lagi beberapa gerakan, tiba2 Sam Kiongcu berteriak .

"Salah....! Salah....!" (Bersambung19) ***

Jilid 19 PHOA AN SIU berempat menghentikan gerakan mereka. Sam Kiongcu mengoreksi kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh keempat keponakan muridnya dan berkata kepada mereka .

"Kalian belum bisa menangkap makna sari dari Tiga Jurus Pukulan Burung Maut. Kecamkanlah baik2. Tiga Jurus Pukulan Burung Maut adalah sari dari 152 jurus ilmu silat Ngo-hong-bun, setiap jurus disertai perubahan2 yang bisa berdiri sendiri. Seperti jurus pertama, Kehadirannya Burung Tanpa Sayap memiliki 5 macam perubahan, jurus kedua Gagah Perkasa Membentangkan Sayap mempunyai 7 macam perubahan dan jurus ketiga Mengamuk dan Menghancurkan Jagat mempunyai 9 macam perubahan, dari perubahan2 tadi kita masih bisa mengubah dengan aneka macam perubahan biasa, kesemuanya berjumlah 152 jurus, itulah terjadi ilmu silat aliran Ngo-hong-bun. Hari ini, cukup kalian mempelajari Kehadirannya Burung Tanpa Sayap, dengan inti sari pelajaran keringanan tubuh yang sempurna, kalau burung bisa mengembangkan sayapnya yang terbang diawang bebas, dengan keseimbangan ilmu meringankan badan, kitapun bisa melayang bebas, disertai dengan tusukan2 tajam. Nah, kalau saja kalian sudah bisa memahirkan ilmu ini, kukira tiada tandingan lagi."

Kang Han Cing tidak puas dengan ilmiah yang seperti itu, mungkinkah hanya menggunakan Tiga Jurus Pukulan Burung Maut bisa mengalahkan rimba persilatan ?

Begitu mudah merajai orang ?

Singkatnya cerita, Sam Kiongcu menurunkan 152 jurus permainan silat Ngo-hong bun yang bernama Tiga Jurus Pukulan Burung Maut itu.

Kang Han Cing terus mempelajari ilmu silat Ngo hong-bun.

Untuk mempelajari sari2 ilmu silat Ngo hong-bun, mereka membutuhkan waktu tiga hari.

Hari pertama mereka melatih jurus pertama yang diberi nama Kehadirannya Burung Tanpa Sayap.

Hari kedua mempelajari jurus Gagah Perkasa Membentangkan Sayap.

Dan hari ketiga mempelajari Mengamuk dan Menghancurkan Jagat.

*** Bab 67 HARI YANG KEEMPAT......

Keempat Lengcu Berwarna mendapat panggilan, disaat mereka tiba, dua pelayan Sam Kiongcu yang bernama A Wan dan Bu Lan mengantarkan ke suatu tempat rahasia, disana sudah menanti seorang bermuka merah, inilah Can Tancu, ayah angkat Suto Lan, ex bekas pimpinan golongan Perintah Maut lama.

Can Tancu duduk disamping sisi Sam Kiongcu.

Kehadiran Can Tancu ditempat itu membuat hati Kang Han Cing berdebar, bagaimana kalau penyamarannya terbuka ?

"Lauw Keng Sin 1"

Tiba2 Sam Kiongcu mengeluarkan suara langsung. Kang Han Cing tampil kedepan, walau dengan kewaspadaan yang spanning tinggi, ia tidak bisa segera membangkang perintah itu.

"Lauw Keng Sin,"

Berkata lagi Sam kiongcu.

"Kau mendapat tugas baru dan pergilah ber-sama2 Can Tancu."

"Baik,"

Kang Han Cing menerima perintah, apa pula yang harus dilakukan oleh Panji Hitam ?

Dari balik topeng perunggunya, Sam Kiongcu tidak memperlihatkan sesuatu yang mencurigakan, pimpinan Ngo-hong bun itu belum mengetahui kalau Lengcu Panji Hitam sebagai panji palsu atau ber-pura2 tidak tahu ?

Can Tancu memandang Lengcu Panji Hitam dan berkata .

"Lauw Keng Sin lengcu, mari ikut lohu."

Ketiga lengcu lainnya memandang kepergian rekan mereka, tidak seorangpun yang bisa menduga apa bakal terjadi.

Lengcu Panji Hijau Suto Lan hampir mengucurkan air mata, hatinya seperti di-iris2, sangkanya penyamaran Kang Han Cing sudah diketahui orang.

Mungkinkah kedok penyamaran Kang Han Cing sudah tercium oleh Ngo-hong-bun ?

Belum !

Melalui satu lorong panjang, Can Tancu mengajak Kang Han Cing meninggalkan kelenteng Sin ko-sie.

Lorong itu sangat gelap, langsung menuju ke tempat lain.

"Kita menuju ke arah Goa Sarang Tawon."

Can Tancu memberi keterangan.

"Tempat sementara dari tawanan kita."

"Maksud Tancu...."

"Perintah Toa Kiongcu sebagai berikut,"

Berkata Can Tancu.

"Keempat Datuk persilatan telah mengadakan persatuan, kekuatan kita menjadi agak lemah, untuk mengimbangi situasi, kita harus mengurangi kekuatan musuh, kita harus merusak inti mereka, untuk ini tenagamu dibutuhkan, kau adalah putra Datuk Selatan Kang Puh Cing, kalau mereka bisa melihat dirimu di dalam rombongan orang tawanan, tentu saja membawamu turut serta."

"Membawa turut serta ?"

Kang Han Cing tidak mengerti.

"Ya. Kita sedang mengatur satu penculikan tawanan. Sengaja membiarkan dirimu dan Lie Kong Tie diculik mereka, dan dengan adanya kau disana, banyak berita yang bisa kita dapatkan."

"Baiklah."

"Terpaksa lohu harus menotok dirimu."

"Silahkan."

Can Tancu menggerakkan jari2nya, menotok jalan darah Kang Han Cing.

Kang Han Cing tidak sadarkan diri.

*** GOA SARANG TAWON adalah nama tempat rahasia dari Ngo hong bun, terletak digunung Hong hong-san, melalui jalan rahasia bisa menembus ke kelenteng Sin-ko-sie.

Di salah satu ruangan Goa Sarang Tawon, Kang Han Cing terbaring sebagai salah seorang tawanan Ngo-hong-bun.

Bagaimana ia bisa berada ditempat ini dan bagaimana Can Tancu membawanya, Kang Han Cing tidak tahu sama sekali.

Memperhatikan kamar tahanannya, Kang Han Cing bisa melihat secara samar2, banyak sekali goa2 gelap, tentunya kamar2 tahanan lainnya.

Sore itu seorang laki2 berbaju hitam mengantar makanan.

Tanpa bicara, sesudah selesai meletakkan santapan, orang itu pergi lagi.

Dua hari Kang Han Cing melewatkan waktu dengan terpekur, kedudukannya sebagai orang tawanan, menggunakan wajah palsu Kang Puh Cing.

Saat yang di-nanti2kanpun tiba, hari itu, sesudah mengantar makanan, seorang berbaju hitam menyelinap masuk.

Orang ini berkomplot dengan pengantar rangsum dan ber-indap2 mendekati Kang Han Cing.

"Kang toa kongcu?"

Panggil orang itu perlahan.

"Hmm...."

Kang Han Cing membalikkan badan.

"Kang Toa kongcukah disitu ?"

Menegasi orang itu lagi.

"Ya ! Ada apa ?"

"Betul2 Kang Toa kongcu, hamba datang untuk memberi pertolongan."

Kang Han Cing memperhatikan laki2 itu, tidak dikenal, ber-pura2 tidak mengerti dan berkata .

"Aku tidak kenal saudara."

"Percayalah."

Berkata laki2 itu.

"Aku dipercayakan untuk menolong Toa kongcu."

"Maksud saudara ?"

"Lekas kita meninggalkan tempat ini. Atas perintah Golongan Lembah Baru, Toa kongcu segera bisa ditolong."

"Dimanakah markas Golongan Lembah Baru itu ?"

"Maaf."

Berkata laki2 itu.

"Terpaksa harus kutotok."

Betul2 ia menggunakan jarinya menotok jalan darah Kang Han Cing.

Sangkanya orang ini adalah Kang Puh Cing.

Seperti apa yang sudah direncanakan, Kang Han Cing yang menyamar sebagai Lengcu Panji Hitam harus menyamar sebagai Kang Puh Cing, dibuat sebegitu macam rupa sehingga memberi kesempatan orang2 Lembah Baru menolongnya.

Dari sana ia harus melapor seluk beluk keadaan Lembah Baru itu.

Sengaja dibiarkan saja orang itu menotok dirinya.

Demikianlah Kang Han Cing dibawa pergi dari Goa Sarang Tawon.

Melewati beberapa tikungan, komplotan orang itu mengadakan penyambutan, mendekati kawannya dan bertanya .

"Sudah berhasil ?"

"Sudah. Dimana Kwee hu-huat ?"

"Didalam."

Kang Han Cing dibawa masuk, duduk disebuah kursi adalah Kwee hu-huat dari Ngo-hong-bun.

Ternyata otak komplotan penculikan orang tawanan itu dipimpin oleh Kwee hu-huat !

Kang Han Cing masih berpikir, permainan apa pula yang dibawakan oleh Kwee hu-huat.

"Lapor kepada hu-huat,"

Berkata laki2 berbaju hitam yang membawa Kang Han Cing.

"Kang Toa kongcu sudah dibawa tiba."

"Dimana Lie Kong Tie ?"

Bertanya Kwee hu-huat kepada laki2 itu.

"Sudah didepan. Keadaannya terlalu parah, ia sudah tidak bisa sadarkan diri lagi."

"Bagus. Lekas kita bawa mereka ke tepi sungai Hong-hong-san,"

Berkata Kwee hu-huat.

Mendahului laki2 berbaju hitam itu, Kwee hu-huat meninggalkan kamar gelap.

Dua laki2 berbaju hitam mengikuti dibelakang Kwee hu-huat, masing2 menggendong seorang, tentu saja Kang Han Cing dan Lie Kong Tie yang dibawa, dua orang tawanan Ngo-hong bun yang dikaburkan.

Mereka tiba ditepi sungai Hong-hong-san, menyalakan obor, di-goyang2kannya sampai tiga kali.

Dari seberang sungai tampak belasan code yang sama, seseorang menyalakan obor juga di-goyang2kan tiga kali.

Kwee hu-huat memadamkan obor tadi.

Dan pihak disanapun memadamkan obor api.

Tidak lama kemudian, sebuah perahu meluncur datang, langsung berada ditempat rombongan Kwee hu-huat menunggu.

Dua laki2 berbaju hitam meletakkan 2 gendongannya, itulah Lie Kong Tie dan Kang Puh Cing.

Sesudah meletakkan ke 2 orang culikannya itu, kedua orang berbaju hitam itu memberi hormat kepada Kwee hu-huat, kemudian pamit pergi meninggalkan perahu.

Kwee hu-huat menyerahkan kedua orang bawaannya kepada pemimpin yang berada di perahu, ia berkata .

"Saudara Kong Kun Bu, mereka sudah berhasil kubawa datang."

Kong Kun Bu?

Kong Kun Bu dari Lembah Baru ?

Bagaimana Lembah Baru bisa bersekongkol dengan Ngo hong-bun ?

Atau Ngo hong-bun bersekongkol dengan Lembah Baru ?

Kong Kun Bu memandang ke arah Kwee hu-huat, ia bertanya .

"Kwee hu-huat tidak kembali ke Goa Sarang Tawon lagi ?"

"Sesudah mereka kehilangan Kang Puh Cing dan Lie Kong Tie, mungkinkah aku bisa lari dari tanggung jawab ?"

Berkata Kwee hu-huat.

"Aku siap menyeberang ke pihak kalian, betul2 tidak ada jalan, kecuali ke Lembah Baru."

"Baiklah,"

Berkata Kong Kun Bu.

"Berangkat !"

Kata2 terakhir ditujukan kepada anak buahnya.

Perahu Lembah Baru segera diberangkatkan membawa dua orang culikan mereka, Lie Kong Tie dan Kang Puh Cing.

Juga turut serta manusia parasit Kwee hu-huat, dimana ada untung disitulah dia menempatkan posisinya.

Kwee hu-huat sudah berkhianat kepada Ngo hong-bun dan menyeberang ke arah Lembah Baru, dengan hadiah persembahan 2 orang tawanan.

Didalam malam gelap, perahu itu meninggalkan daerah Hong-hong-san.

Permainan luar biasa dari partay Ngo-hong-bun !

Kang Han Cing menyamar sebagai Lengcu Panji Hitam Lauw Keng Sin.

Can Tancu tidak mengenali rekan sendiri, anggapnya Lengcu Panji Hitam yang sudah lama memegang peranan Kang Puh Cing.

Maka disuruhnya orang ini menyamar sebagai Kang Puh Cing, permainan lama yang dianggap berhasil.

Demikianlah komplotan Kwee hu-huat menyolong orang.

Dan betul2 Kang Han Cing terbawa !

Demikianlah kisah yang masih berlangsung.

*** Bab 68 AYUNAN PERAHU membuat Kang Han Cing tertidur, kini peranan yang dipegang adalah Kang Puh Cing, engkohnya sendiri.

Ia sedang berada didalam perjalanan ke arah markas Lembah Baru.

Mengingat Lembah Baru yang bermusuhan dengan Ngo-hong bun, tentu tidak bermaksud jahat, karena itulah hati pemuda kita menjadi tenang.

Kang Han Cing ditotok bangun, sesudah ia berada disebuah gedung yang merah.

Disana terdapat Kong Kun Bu dan Kwee hu-huat, dua gadis berbaju hijau melayani mereka.

Kang Han Cing memperhatikan keadaan itu, ia tidak melihat adanya Lie Kong Tie yang turut serta, karena itu ia bertanya .

"Tempat apakah ni ? Dimana Lie Kong Tie tayhiap ?"

"Toa kongcu,"

Berkata Kong Kun Bu.

"Kau sudah berada ditempat aman. Inilah gedung keluarga Wie. Markas sementara Lembah Baru."

"Dimana Lie Kong Tie tayhiap ?"

Tanya Kang Han Cing lagi.

"Lie Kong Tie menderita keracunan yang hebat,"

Berkata Kong Kun Bu.

"Penyakit yang diderita terlalu lama, keadaannya sangat mengkhawatirkan, ia sudah berada di lain ruangan. Sedang kita usahakan untuk meringankan penderitaan."

Dan menoleh ke arah Kwee hu-huat, Kong Kun Bu berkata .

"Mari kuperkenalkan, inilah Pendekar Badan Besi Kwee In Su, didalam Ngo-hong-bun menduduki hu-huat kelas tiga, beruntung ada Kwee tayhiap yang mau membantu, berkat jasa2nyalah kalian bisa ditolong keluar dari Goa Sarang Tawon."

"Kwee tayhiap,"

Berkata Kang Han Cing memberi hormat.

"Terimalah ucapan terima kasihku."

Kwee In Su membalas hormat itu. Tidak lupa Kang Han Cing juga mengucapkan terima kasih kepada Kong Kun Bu. Kong Kun Bu membalas hormat itu.

"Kang Toa kongcu,"

Katanya.

"Dikota Kim-leng aku pernah menjumpai ayahmu, kita adalah orang sendiri. Tidak perlu banyak peradatan."

Kang Han Cing sedang mengilmiah perkembangan situasi yang sedang dialami dan yang akan dialami olehnya.

Kwee In Su menduduki hu-huat kelas tiga dari partay Ngo hong-bun, satu kedudukan yang tidak rendah, mungkinkah ia mau meninggalkan kedudukan empuk itu ?

Atau seperti keadaan dirinya juga, menyeberang atas instruksi atasan ?

Dugaan terakhir ini lebih dekat dengan kenyataan.

Mengingat mereka hendak menghancurkan golongan Lembah Baru.

Boleh dibayangkan, dengan susunan partay Ngo hong-bun, mana mungkin Kwee hu-huat melarikan orang2 tawanan tanpa resiko?

Kang Han Cing sedang mencari jalan, bagaimana ia harus menghadapi Pendekar Badan Besi Kwee In Su yang licik itu ?

Disaat ini, terdengar suara Kong Kun Bu berkata .

"Kwee tayhiap, dengan kedudukanmu sebagai hu-huat Ngo-hong-bun, mungkinkah bisa mengetahui racun apa yang diberikan kepada Lie Kong Tie tayhiap ?"

"Soal racun2 mereka tidak memberitahukan kepada orang, karena itulah akupun tidak tahu."

Kang Han Cing masih mencari jalan keluar, maksudnya memalsukan Lengcu Panji Hitam adalah mencari jejak engkohnya yang belum ditemukan, kini sudah diketahui kalau Kang Puh Cing masih berada di dalam kuburan tua, disana hanya dijaga oleh Hu Cun Cay seorang, ia harus segera cepat2 memberi pertolongan.

Masa bodoh dengan tugas yang diberikan oleh Can Tancu, masakan dia disuruh memberi laporan yang menguntungkan Ngo hong bun ?

Disaat itu seorang pelayan berpakaian hijau berjalan masuk memberi hormat kepada Kong Kun Bu dan berkata .

"Tuan Kong Kun Bu, Tan Siauw Tian tancu hendak bertemu dengan Kang Toa kongcu."

Kong Kun Bu memandang Kang Han Cing dan berkata .

"Toa kongcu, Tan Siauw Tian tancu hendak membicarakan sesuatu denganmu."

Kang Han Cing meminta diri, mengikuti dibelakang pelayan itu.

Mereka melewati lorong2 panjang, itulah gedung keluarga Wie yang ternama.

Gedung keluarga Wie dijadikan markas Lembah Baru, karena nenek Wie Tay Kun telah menyerahkannya.

Di belakang pelayan nenek Wie Tay Kun itu, tidak henti2nya Kang Han Cing berpikir, bagaimana ia harus memberitahu tentang maksudnya.

Pelayan iua mempunyai gerakan yang lincah, sebentar kemudian ia sudah tiba disebuah pintu.

"Toa kongcu, silahkan masuk. Didalam Tan Siauw Tian menunggu."

Jaksa Bermata Satu Tan Siauw Tian adalah salah satu pimpinan golongan Lembah Baru.

Tentu saja mempunyai gengsi tersendiri, Kang Han Cing tidak merasa sakit hati atas kecongkakannya tokoh Lembah Baru itu.

Ia mendorong pintu dan memasuki ruangan.

"Toa kongcu, silahkan duduk."

Sambut Jaksa Bermata Satu Tan Siauw Tian.

Sangkanya ia masih berhadapan dengan Kang Puh Cing.

Kang Han Cing membalas hormat itu, ia duduk ditempat yang sudah disediakan, celangak-celunguk ditempat itu, kecuali Tan Siauw Tian, tidak ada orang kedua.

"Tidak perlu khawatir,"

Berkata Tan Siauw Tian.

"Didalam gedung keluarga Wie, semua adalah orang kita."

Mendapat keterangan itu, secara singkat Kang Han Cing menceritakan pengalaman, dia membuat pernyataan, kalau dia bukanlah Kang Puh Cing.

Ia menyamar sebagai Lengcu Panji Hitam Lauw Keng Sin, menyelusup masuk kedalam golongan Ngo-hong-bun, disana masih tertawan saudaranya.

Dan musuh tidak tahu penyamaran itu, diberinya tugas baru, disuruh menyamar sebagai Kang Puh Cing, menyelusup masuk kedalam Lembah Baru.

Tan Siauw Tian mendengar cerita dengan mata terbelalak.

"Kalau begitu,"

Katanya.

"Mungkinkah si Pendekar Badan Besi Kwee In Su juga diselundupkan ke pihak kita ? Mengaku setia dengan maksud tujuan tertentu ?"

Kemungkinan itu memang ada !

Tan Siauw Tian sudah mendapat tahu sedikit keadaan Goa Sarang Tawon dan kelenteng Sin-Ko-sie, yang pertama adalah tempat menyimpan orang2 tawanan Ngo-hong-bun.

Hal ini diketahui dari keterangan Kwee In Su.

Kini ia bertemu dengan Kang Han Cing, diminta lagi keterangan2 tadi.

Kang Han Cing menceritakan apa yang diketahui olehnya.

"Saudara Kang Puh Cing masih berada ditangan mereka ?"

Bertanya Tan Siauw Tian.

"Mungkin masih berada di dalam kuburan tua itu,"

Berkata Kang Han Cing.

"Maka, sampai disini saja aku meminta diri, aku harus segera menolongnya."

"Tunggu sebentar,"

Berkata Tan Siauw Tian.

"Akan kuberitahu hal ini kepada nenek Wie Tay Kun."

"Siapa itu nenek Wie Tay Kun ?"

Bertanya Kang Han Cing.

"Nenek Wie Tay Kun adalah penghuni rumah ini,"

Tan Siauw Tian memberi keterangan.

"Suaminya almarhum pernah menjadi penasehat bersama 9 partay besar lama. Sesudah beliau meninggal, sembilan partay besar tidak melupakan jasa2 itu, dijunjung tinggi. Nenek Wie Tay Kun adalah simpatisan kita, menyediakan tempatnya sebagai markas sementara Lembah Baru...."

"Tunggu dulu,"

Potong Kang Han Cing.

"Siapakah yang duduk didalam pimpinan Lembah Baru ? Bagaimana garis besar politiknya ?"

"Tentang pemimpin utama Lembah Baru akan segera mengetahui dikemudian hari."

Berkata Tan Siauw Tian tersenyum.

"Yang penting Lembah Baru didirikan untuk menentang Ngo-hong-bun. Sebelum kekuatan kita betul2 bisa memadai Ngo-hong-bun, kokcu tidak akan menampilkan diri."

Kokcu berarti ketua Lembah. Disini diartikan sebagai pucuk pimpinan tertinggi dari golongan Lembah Baru.

"Tunggu sebentar,"

Berkata lagi Tan Siauw Tian.

"Kuberi laporan dahulu kepada nenek Wie Tay Kun."

Tan Siauw Tian meninggalkan Kang Han Cing, tidak lama kemudian ia balik kembali, katanya ber-seri2 .

"Jie kongcu, nenek Wie Tay Kun hendak bertemu denganmu."

Sedikit keterangan tentang nenek Wie Tay Kun, umurnya sudah 91 tahun, suaminya bernama Wie Bu Wie, pernah menjabat penasehat 9 ketua partay besar.

Putranya bernama Wie Tay Lian juga menjabat penasehat ketua2 partay, mempunyai ilmu silat tinggi, disegani dan dihormati.

Kali ini, sebagai salah seorang simpatisan Lembah Baru, ia menyediakan gedungnya sebagai markas.

Suatu pengorbanan baginya.

Tan Siauw Tian sudah mengajak Kang Han Cing ke tempat nenek Wie Tay Kun, disana terjaga oleh dua gadis pelayan berbaju hijau, mereka menyilahkan 2 orang ini masuk.

Didalam kamar itu, seorang nenek tua terduduk, tongkat berukiran naga tidak jauh darinya, inilah Wie Tay Kun yang ternama.

Tan Siauw Tian dan Kang Han Cing memberi hormat.

"Jie kongcu, silahkan duduk."

Berkata nenek Wie Tay Kun. Kang Han Cing mengambil tempat duduk, dua gadis pelayan membawakan teh. Tan Siauw Tian juga sudah duduk, ia berkata .

"Begitu boanpwe tiba, langsung mengganggu ketenangan gedung keluarga Wie, untuk ini boanpwe betul2 tidak enak hati, sebelumnya atas nama semua anggota Lembah Baru, boanpwe mengucapkan banyak terima kasih."

"Jangan bicara seperti itu."

Berkata nenek Wie Tay Kun.

"Kita sama2 orang sendiri, mengapa harus di-pisah2 ? Tempat masih banyak yang kosong. Gunakan saja sebagai rumah kalian sendiri. Eh, bagaimana keadaan Wie Ceng disana ?"

Wie Ceng adalah cucu perempuan tunggal nenek Wie Tay Kun.

Sesudah kedua orang tua Wie Ceng meninggal dunia, Wie Ceng langsung berada dibawah asuhannya sang nenek.

Adanya Lembah Baru menarik perhatian gadis kecil itu, atas persetujuan nenek Wie Tay Kun, untuk menambah pengalaman Kang-ouwnya, Wie Ceng diperbantukan untuk gerakan Lembah Baru menentang Ngo hong-bun.

Kini nenek Wie Tay Kun menanyakan cucu tunggal itu.

"Nona Wie Ceng baik2 saja."

Berkata Tan Siauw Tian.

"Kecerdasannya sangat menarik kokcu."

"Syukurlah,"

Berkata nenek Wie Tay Kun.

"Sedari kecil terlalu kumanjakan, mungkin agak binal. Tolong saja beritahu kepada kokcu kalian, kalau ada sesuatu yang dilanggar oleh Wie Ceng, aku sudah memberi izin untuk menghukumnya."

"Akan boanpwe sampaikan pesan ini."

Berkata Tan Siauw Tian hormat.

Kedudukan Tan Siauw Tian sangat tinggi, tapi didepan nenek Wie Tay Kun, ia tidak berani banyak jual lagak.

Nenek Wie Tay Kun menoleh dan memperhatikan Kang Han Cing, agaknya ia tertarik, tersenyum sedikit dan berkata .

"Tan Siauw Tian sudah memberitahu tentang keadaanmu. Memang luar biasa, kau gagah berani, cerdik dan pandai. Tidak percuma menjadi putra Datuk Selatan. Eh, sudah berapakah umurmu kini ?"

"Boanpwe berumur 18 tahun."

Jawab Kang Han Cing. Nenek Wie Tay Kun meng-angguk2kan kepalanya, kemudian mendongak keatas sebentar, per-lahan2 berkata .

"Ya....Ya....Kau memang seumur dengan Wie Ceng. Dia juga sudah 18 tahun. Memang, nenekmu pernah menceritakan keadaanmu semasa kecilnya, penyakitan melulu. Pernah diusulkan mau kwepang kepada Wie Tay Lan, dengan harapan membuang sial sakit2 itu. Sungguh sayang sekali, tahun itu juga Wie Tay Lian menutup mata...demikianlah sampai hari ini...."

Wie Tay Lian adalah anaknya, menyebut nama itu, mata nenek Wie Tay Kun menjadi basah, bagaimana tidak, mengingat dia yang sudah berumur tua masih bisa mempertahankan hidup, sedangkan Wie Tay Lian sudah menutup mata lebih dahulu, mendahuluinya ?

Yah, pedih juga rasa hati seseorang yang didahului ditinggal mati oleh keturunannya.

Ternyata nenek Wie Tay Kun kenal baik kepada nenek Kang Han Cing.

Untuk menghilangkan sedikit kesedihannya, Kang Han Cing berkata .

"Cianpwe kenal kepada nenek boanpwe?"

Nenek Wie Tay Kun tertawa.

"Lebih dari pada kenal. Kami adalah sahabat baik."

Katanya.

"Semasa kecilmu sering diajak bermain2. Dia adalah pengunjung tetap gedung keluarga Wie. Itu waktu, kalau tidak salah, umur Wie Ceng baru meningkat 3 tahun. Kau juga berumur 3 tahun."

"Ohh......"

Nenek Wie Tay Kun berkata lagi .

"Sebelum kau berguru kepada Ciok-kiam Sianseng, nenekmu pernah menanyakan pendapatku. Ciok-kiam Sianseng adalah kenalan-kenalanku dan nenekmu, maka ia mau memberikan ilmu kesayangannya."

Ciok-kiam Sianseng adalah nama guru Kang Han Cing, dengan gelarnya Pendekar Bambu Kuning Ciok-kiam Sianseng, pernah mendapat tenar didalam rimba persilatan jaman silam.

"Suhu...."

Berteriak Kang Han Cing.

"Suhumu itu juga sudah mendatangi tempat ini,"

Berkata nenek Wie Tay Kun.

"Baru saja ia meninggalkan gedung dua hari yang lalu."

"Aaa...Kemanakah kini suhu pergi?"

Bertanya Kang Han Cing.

"Kukira dia pergi ke Lembah Baru."

Berkata nenek Wie Tay Kun.

"Tenaganya memang sangat dibutuhkan."

Lagi Lembah Baru ! Ini waktu, masuk Kong Kun Bu, memandang nenek Wie Tay Kun dan memandang juga Tan Siauw Tian.

"Ada apa ?"

Bertanya nenek Wie Tay Kun.

"Katakan saja, disini tidak ada orang luar."

"Menurut laporan, ada beberapa orang yang mencurigakan mundar-mandir disekitar tempat ini. Mungkin mata2 musuh yang mengintil dibelakang kita."

"Gerakan dari kelenteng Sin-ko-sie ?"

"Belum bisa dipastikan. Yang tegas ialah dari pihak Ngo hong-bun. Keadaan Lie Kong Tie masih belum ada perubahan, apa tidak baik kalau mengantar Lie Kong Tie ke Lembah Baru ?"

Jaksa Bermata Satu Tan Siauw Tian tertawa dan berkata .

"Kokcu sudah mengirim berita, untuk menghilangkan keracunan Lie Kong Tie, Tian-hung Totiang dari Pek-yun-koan akan menyertai Manusia Beracun Cu Hoay Uh, tidak lama lagi, diharapkan kedatangan mereka disini. Sengaja kita menyembunyikan Lembah Baru, agar membingungkan pihak Ngo-hong-bun."

"Mungkin keadaan gedung keluarga Wie bisa berbahaya."

Berkata Kong Kun Bu.

"Ha, ha, ha, ha..."

Nenek Wie Tay Kun tertawa.

"Hendak kulihat, siapa yang berani membentur gedung keluarga Wie?"

"Betul,"

Turut menyambung Tan Siauw Tian.

"Betapa besarpun nyali Ngo-hong-bun, walau sudah mengetahui kalau kita meminjam tempat gedung keluarga Wie, belum tentu mereka berani mengambil resiko."

Tentu saja, keluarga Wie dilindungi oleh semua partay2 rimba persilatan, mengganggu keluarga Wie berarti mengganggu rimba persilatan, siapakah yang berani mengambil resiko besar?

Nenek Wie Tay Kun adalah kawan baik nenek Kang Han Cing sejak lama sudah ada maksud mempererat hubungan itu, yang terakhir memang ada rencana untuk menjodohkan Kang Han Cing bersama Wie Ceng.

Untuk pertemuan itu, nenek Wie Tay Kun memberi hadiah pedang pinggang yang lemas, pedang yang bernama Pian-liong-kiam.

Dengan pertemuan, agar Kang Han Cing bisa tolong menjagakan cucu perempuan tunggalnya itu.

Kang Han Cing memberikan janjinya.

Ber-sama2 Tan Siauw Tian dan Kong Kun Bu, mereka mengundurkan diri.

Ditengah perjalanan, Kang Han Cing memberitahu tentang keadaan dirinya dan meminta Kong Kun Bu bantu mengawasi Kwee In Su.

Orang ini patut mendapat kecurigaan terbesar.

Sesudah itu mereka berpisah, masing2 kembali ke kamar yang sudah tersedia.

Kang Han Cing mengeluarkan pedang Pian-liong-kiam, pedang hadiah pemberian nenek Wie Tay Kun, pedang itu bisa digulung seperti angkin, biasanya terikat pada pinggang, kini begitu keluar dari sarungnya, bercahaya terang, menyilaukan mata, menyinari seluruh isi ruangan.

Sungguh pedang istimewa dan bagus !

Kang Han Cing menyimpan kembali pedang Pian-liong-kiam, disaat ia mendekati meja, matanya terbelalak, disitu terdapat secarik kertas, demikian bunyinya .

"Gedung keluarga Wie bukan tempat sembarangan, harus hati2, jangan terlalu cepat menghubungi pusat, markas sudah mengirim Burung Kelima sebagai wakil tetap, kau berada dibawah pimpinannya !"

Inilah perintah Ngo-hong-bun !

Rasa kagetnya Kang Han Cing tidak kepalang, di dalam gedung keluarga Wie terdapat banyak sekali mata2 Ngo-hong-bun.

Kecuali dirinya, ternyata masih ada seorang Burung Kelima.

Siapakah si Burung Kelima ?

Dugaannya segera jatuh kepada Kwee In Su, tapi agaknya tidak mungkin.

Tan Siauw Tian sudah memberi perintah kepada Kong Kun Bu untuk membikin pengawasan ketat, bagaimana Kwee In Su bisa bergerak ?

Dicomotnya perintah gelap itu, dengan maksud memberitahu kepada Tan Siauw Tian.

Baru Kang Han Cing membuka pintu, disana sudah berdiri seorang pelayan berbaju hijau, pelayan ini khusus untuk melayani dirinya.

"Eh, kongcu, kemana mau pergi ?"

Ia bertanya.

"Hamba ditugaskan untuk melayani semua kebutuhan kongcu, nama hamba Hiang Lan. Ada sesuatukah yang membutuhkan tenaga hamba ?"

Kang Han Cing memperhatikan pelayan itu, berpikir sebentar dan bertanya .

"Apa ada orang yang memasuki kamar ini ?"

"Tidak,"

Jawab Hiang Lan.

"Pesan Tan Siauw Tian tancu tidak boleh dilanggar. Kecuali kongcu berada didalam kamar, siapapun dilarang masuk."

"Heran."

"Ada apa ? Kongcu kehilangan sesuatu?"

"Oh...Tolong beritahu kepada Tan Siauw Tian tancu, katakan aku hendak bertemu. Ada sesuatu yang mau kurundingkan."

"Baik."

Pelayan yang bernama Hiang Lan itu berjalan pergi. Tidak lama ia balik kembali, disertai Kong Kun Bu. Sebagai wakil Tan Siauw Tian, Kong Kun Bu memang mempunyai itu hak untuk turut campur.

"Kongcu, kebetulan Kong hutancu datang,"

Berkata Hiang Lan.

"Maka sudah kuberitahu."

Sesudah itu, pelayan ini berjalan pergi. Ber-sama2 Kang Han Cing, Kong Kun Bu memasuki kamar, memandang dengan serius dan bertanya .

"Jie kongcu, ada apa ?"

"Saudara Kong Kun Bu, coba lihat !"

Kang Han Cing memperlihatkan surat Ngo hong-bun. Menerima dan membaca surat itu, wajah Kong Kun Bu berubah.

"Begitu cepat ?"

Tanyanya.

"Ya, mereka bisa bekerja cepat,"

Berkata Kang Han Cing.

"Kekuatan Ngo hong-bun memang tidak bisa diremehkan."

"Bila dan bagaimana Jie kongcu mendapat surat perintah rahasia ini ?"

Bertanya Kong Kun Bu. Diceritakan apa yang terjadi, dan bagaimana surat tersebut bisa berada diatas meja kamarnya.

"Bagaimana hal ini bisa terjadi ?"

Berkata Kong Kun Bu.

"Sudah kuperintahkan kepada Hiang Lan, kecuali ada izin kami, orang lain dilarang memasuki kamar Jie kongcu."

"Bagaimana keadaan Kwee In Su ?"

"Dia sudah berada didalam pengawasan orang kita."

Mereka tidak berhasil menemukan sesuatu yang baru, yang jelas, didalam gedung keluarga Wie itu, kecuali Kang Han Cing yang sudah diselundupkan oleh Ngo-hong bun, masih ada lain orang.

Dan orang-orang inilah yang belum diketahui.

Bahaya tetap melanda gedung keluarga Wie yang ternama.

*** Bab 69 SESUDAH mengantarkan Kong Kun Bu meninggalkan kamarnya, Kang Han Cing terbaring ditempat tidur.

Bagaimana peran berikutnya ?

Haruskah ia menyamar terus menerus ?

Kalau tidak ada kejadian surat perintah tadi, mungkin ia sudah siap menyelesaikan peranannya sebagai Lengcu Panji Hitam.

Lain lagi halnya sesudah dimata-matai, ia harus membongkar penyelundupan itu, siapa pula yang diselundupkan masuk ?

Hal ini harus diberitahu kepada Lembah Baru.

Sore harinya, sesudah Kang Han Cing tidur siang, terdengar suara Hiang Lan di pintu memanggil .

"Kongcu sudah bangun ?"

"Masuk,"

Berkata Kang Han Cing. Hiang Lan masuk dengan membawa satu baskom untuk air cuci muka, diletakkannya dimeja dan berkata .

"Sesudah kongcu membersihkan diri, dipersilahkan kongcu makan malam."

"Terima kasih,"

Berkata Kang Han Cing.

Ia bercuci muka, kemudian mengikuti Hiang Lan pergi makan malam.

Selesai makan, Kang Han Cing pulang ke dalam kamarnya.

Disini ia menemukan perubahan.

Lagi2 kamarnya sudah didatangi orang.

Terbukti karena tempat pembaringannya terdapat sepucuk surat, lagi2 surat perintah Ngo-hong-bun.

Bunyi surat sangat singkat .

"Ditujukan kepada Lengcu Panji Hitam Lauw Keng Sin sebentar jam tiga pagi memberi laporan disebelah Barat gedung ini, disana terdapat pohon2 bambu, ikutilah petunjuk seseorang yang membawa lampu merah !"

Tertanda Burung Kelima.

Lagi2 instruksi rahasia Ngo-hong-bun yang luar biasa !

Hati Kang Han Cing semakin tertarik, siapakah Burung Kelima yang turut nyelusup masuk kedalam gedung keluarga Wie, Kwee In Su ?

Atau mungkin sudah ada seseorang yang diselundupkan terlebih dahulu dari dirinya ?

Saking menarik dan memikat hatinya Kang Han Cing bersedia masuk kembali ke pos Ngo hong-bun, melihat dengan mata sendiri, siapa mata2 itu, agar bisa memberitahu kepada Tan Siauw Tian cs.

Malampun tiba.

Sesudah kentongan dipukul tiga kali, dengan menggunakan pakaian ringkas, Kang Han Cing meninggalkan kamarnya menuju kearah bagian Barat, disinilah tempat yang ditunjuk untuk panggilan menghadap.

Pohon bambu yang rimbun menutupi pemandangan ditempat itu.

Kang Han Cing tidak menunggu lama, seperti instruksi yang didapat, tidak lama kemudian tampak seseorang yang menenteng lampu kertas berwarna merah, tegas menitahkan dirinya mengikuti orang ini.

Tanpa segan2 lagi, Kang Han Cing menghampiri datangnya lampu kertas merah itu.

Disana tampak seorang bungkuk, mengenakan kain kerudung yang hampir menutupi seluruh bagian mukanya, tidak mudah dikenali.

"Saudara yang diberi tugas untuk penunjuk jalan ?"

Bertanya Kang Han Cing, ia men-coba2 memancing suara orang, hendak diingat baik2 bagaimana suara dan siapa orang ini ?

Tapi si bungkuk tidak membuka mulut, entah memang bungkuk, atau sengaja dibuat bungkuk, orang itu berjalan pergi.

Kang Han Cing membuntuti orang itu, berjalan dibelakangnya.

Berjalan beberapa saat, orang bungkuk itu berhenti, mereka sudah berada disebuah bangunan.

"Masuk !"

Perintahnya dengan suara yang bernada rendah.

Kang Han Cing mencoba meng-ingat2 suara orang ini, maksudnya dibandingkan dengan suara orang2 yang ada didalam gedung keluarga Wie.

Ia tidak berhasil, suara itu terlalu parau dan sulit didengar.

Kini Kang Han Cing memasuki bangunan itu.

Sangat gelap, tidak ada api penerangan, dan si bungkuk pun sudah melenyapkan diri.

Disaat ini, terdengar satu suara membentak .

"Lauw Keng Sin, mengapa kau tidak memberi hormat ?"

Kang Han Cing memandang kearah datangnya suara itu, tidak berhasil, keadaan terlalu gelap, suara itu juga tidak dikenal, itulah suara seorang wanita muda.

"Aku datang untuk memberi laporan kepada Burung Kelima,"

Berkata Kang Han Cing.

"Tepat. Aku adalah Burung Kelima."

Berkata suara wanita itu.

"Lauw Keng Sin memberi hormat kepada Burung Kelima,"

Berkata Kang Han Cing.

"Coba laporkan kejadian2 yang kau alami,"

Berkata suara ditempat gelap yang mengaku bernama Burung Kelima itu.

"Hamba mendapat tugas sebagai Kang Puh Cing yang ditawan didalam Goa Sarang Tawon seperti apa yang diduga olah Can tancu, mereka mengadakan penculikan. Ternyata Kwee hu-huat adalah mata2 mereka, atas bantuan Kwee hu-huat dan beberapa orangnya, hamba dan Lie Kong Tie diserahkan kepada orang Lembah Baru yang bernama Kong Kun Bu. Dibawa dengan perahu dan tiba digedung keluarga Wie. Mereka menggunakan gedung keluarga Wie sebagai pos Lembah Baru."

"Semua itu sudah kuketahui."

Berkata Burung Kelima.

"Yang belum kau laporkan ialah, bagaimana kau didalam gedung keluarga Wie itu."

"Pimpinan tertinggi didalam gedung keluarga Wie adalah Tan Siauw Tian, tapi ia juga menjunjung nenek Wie Tay Kun. Wakil tancu Lembah Baru adalah Kong Kun Bu....."

"Kau sudah menemui nenek Wie Tay Kun ?"

"Ya."

"Apa yang ditanya olehnya ?"

"Hanya pembicaraan biasa saja."

"Ia menyerahkan pedang Pian-liong-kiam?"

Kang Han Cing terkejut. Sampai hadiah itupun bisa diketahui mereka ? Siapakah mata2 lihay didalam gedung keluarga Wie itu ? Menjawab pertanyaan tadi, terpaksa ia harus menjawab "Ya."

"Bagaimana keadaan Kwee In Su ? Apa mereka tidak mencurigainya ?"

"Sesudah sampai digedung keluarga Wie, hamba mendapat tempat yang terpisah. Bagaimana keadaan Kwee hu-huat, hamba tidak tahu."

"Dia tidak dicurigai ?"

"Ya. Dicurigai."

"Siapa yang mencurigainya ?"

"Tan Siauw Tian dan Kong Kun Bu."

"Apa kau tidak mencurigainya?"

Hati Kang Han Cing tercekat semakin keras.

"Mana hamba berani ?"

Ia berkata.

"Huh. Huh, aku mendapat laporan yang mengatakan kau memberi surat tugas kita kepada Kong Kun Bu. Dengan alasan apa kau perlihatkan kepadanya ?"

"Ini....Ini...."

"Apa yang ini....ini ?"

Suara orang itu menjadi seram.

"Nyalakan penerangan."

Kata2 yang terakhir bukan ditujukan kepada Kang Han Cing.

Itulah perintah kepada orang bawahan lainnya.

Tempat yang tadinya gelap itu, tiba2 menyilaukan mata, api2 penerangan dipasang secara serentak, terang benderang.

Kang Han Cing menutup mata, disaat dibuka kembali, orang yang berada didepannya, orang yang menyebut diri sendiri sebagai Burung Kelima itu adalah seorang perempuan yang mengenakan topeng perak.

Agaknya mirip dengan topeng2 yang digunakan oleh Toa Kiongcu dan Sam Kiongcu.

"Sudah kenal kepadaku ?"

Bertanya si Topeng Perak.

"Burung Kelima....."

Kang Han Cing menutup pembicaraannya.

Disaat ini dia sudah bisa merasakan sesuatu yang tidak beres, kecuali orang bertopeng perak ini, keadaannya sudah terkurung, disana hadir pula Topeng Perunggu Sam Kiongcu Sun Hui Eng, ex ketua Perintah Maut Can tancu, hu-huat Ngo-hong-bun kelas satu Hui-keng dan lain2nya jago Ngo hong-bun.

"Kang Jie kongcu,"

Berkata orang bertopeng Perak itu.

"Masakan kau tidak bisa kenal kepada diriku ? Aku adalah Jie Kiongcu. Hampir menyamai kedudukan dirimu, bukan ? Jie kongcu dari Datuk Selatan dan Jie Kiongcu dari Ngo-hong-bun. Tidak guna mau menutupi diri lagi, penyamaranmu memang hebat. Tapi Ngo hong bun lebih hebat lagi."

Penyamaran Kang Han Cing sudah terkelotok copot !

Tentu saja, kalau Lengcu Panji Hitam ini adalah Lengcu Panji Hitam Lauw Keng Sin asli, dia tidak akan menyebut Burung Kelima, pasti dan harus memanggil Jie susiok.

Alasan !

Yang penting adalah adanya mata-mata didalam gedung keluarga Wie, maka penyamaran Kang Han Cing terbongkar.

Penyamaran Kang Han Cing tidak terbongkar di Pian shia, tidak terbongkar di kelenteng Sin ko sie.

Tapi pecah berantakan sesudah ia memasuki gedung keluarga Wie, sesudah ia menyatakan dirinya sendiri yang asli.

Ini suatu bukti kalau penyamarannya pecah karena ia sudah membuat pernyataan sendiri.

Dan berita itu dilever oleh mata2 selundupan gedung keluarga Wie.

Maka tidak bisa dipertahankan lagi.

Siapakah mata2 Ngo hong-bun didalam gedung keluarga Wie ?

Kang Han Cing tidak mempunyai kelebihan waktu untuk memikirkan kejadian itu, yang penting keselamatan jiwanya sudah terancam, ia berada didalam kurungan orang-orang Ngo-hong-bun.

Bagaimana harus meninggalkan tempat ini ?

"Bagaimana, Jie kongcu ?"

Bertanya si Topeng Perak Jie Kiongcu.

"Aku sangat gembira bisa bertemu dengan Jie Kiongcu."

Berkata Kang Han Cing.

"Aku juga gembira bisa berkenalan dengan Jie Kongcu. Eh, lupa kuperkenalkan, inilah sumoayku Sam Kiongcu, penasehat kelas satu Hui-keng taysu dan lain2nya."

"Sudah kukenal,"

Berkata Kang Han Cing.

"Memang hebat, untuk menghadapi aku seorang, Ngo hong-bun harus mengeluarkan banyak jago kenamaan, kau Jie Kiongcu, Sam Kiongcu, Hui-keng taysu, Can tancu dan lain-lainnya, mungkinkah tidak terlalu dibesar-besarkan ?"

"Suatu bukti kalau kita tidak berani meremehkan putra Datuk Selatan, murid Pendekar Bambu Kuning Ciok-kiam Sianseng yang ternama !"

"Terima kasih sebesar-besarnya yang harus kuucapkan."

"Didalam keadaan yang seperti ini, mungkinkah kau masih belum mau menyerah ?"

"Belum pernah Kang Han Cing menyerah, walau kepada siapapun juga !"

"Apa kau mempunyai pegangan kuat, bisa meloloskan diri dari kepungan sekarang yang ada ?"

Bertanya Jie Kiongcu.

"Majulah kalian serentak, aku tidak gentar,"

Berkata Kang Han Cing menantang.

"Kang Han Cing, jangan sombong,"

Tiba2 terdengar suara Sam Kiongcu turut bicara.

"Untuk menghadapi dirimu seorang, salah satu kekuatan kitapun sudah cukup, mengapa harus menurunkan martabat mengeroyok seorang yang sudah pasti bisa kita kalahkan ?"

Hati Kang Han Cing tergerak, bukankah Sam Kiongcu tahu kalau Lie Siauw San pernah menyelidiki kelenteng Sin ko sie ?

Mengapa ia berpihak kepada dirinya ?

Disini, lagi-lagi membuat pembelaan, mungkinkah sudah tahu kalau Lie Siauw San itu jelmaannya juga ?

Sam Kiongcu mengatakan tidak mau menurunkan martabat Ngo hong-bun secara pengepungan kepada seorang yang sudah tidak berdaya, inilah kesempatan bagi Kang Jie kongcu kita untuk mencari kebebasan dari kekosongan yang ada.

Dimanakah kedudukan Sam Kiongcu Sun Hui Eng berdiri ?

Anggota Ngo hong-bun yang memihak Datuk Selatan ?

Yang berada diluar dugaan, si Topeng Perak Jie Kiongcu bisa menyetujui penilaian pandangan 'bisa merusak martabat Ngo-hong-bun, kalau mengeroyok seseorang yang sudah tidak berdaya', tampak topeng peraknya dianggukkan dan berkata .

"Betul. Apa yang Sam sumoay katakan memang masuk diakal. Walau tetap mengurungmu di-tengah2. Tapi kita tidak akan mengeluarkan perintah pengeroyokan. Kau bisa pilih salah satu dari kita, atau bergilir mengalahkan kita. Kalau kau memang seorang jago gagah berani, sesudah mengalahkan kita, akan bebas pergi. Ketahuilah, kau sudah mencuri ilmu kepandaian Ngo-hong-bun, itulah dosa tidak ampun, untuk menyerahkan kembali inti2 sari pelajaran Ngo-hong-bun yang kau pelajari, kau wajib merusak ilmu sendiri."

Kata2 yang terakhir ditujukan kepada Kang Han Cing. Kang Han Cing mengeluarkan pedang Pian-liong-kiam, pedang hadiah nenek Wie Tay Kun, dengan pedang inilah, ia hendak menerjang kepungan musuh2nya.

"Tunggu dulu,"

Berkata Jie Kiongcu.

"Kita boleh bertanding satu lawan satu. Bukan berarti memberi kebebasan luas kepada dirimu. Jangan mencoba melarikan diri sebelum mengalahkan kita semua. Lari berarti mencari penyakit, kita segera mengeroyokmu tahu ?"

"Cukup ! Lekas keluarkan pedang."

Berkata Kang Han Cing menantang.

Traaangggg.....

Secepat itu pula, si Topeng Perak sudah mengeluarkan pedangnya, menyerang Kang Han Cing.

Gerakannya lebih hebat dan lebih gesit dari pada Sam Kiongcu Sun Hui Eng.

Mengetahui kalau orang yang dihadapinya sebagai Jie Kiongcu, Kang Han Cing tidak pernah lengah.

Serangan tadi sudah ditangkis cepat.

Membalas serangannya, kini ia menukik dengan kecepatan yang tidak terhingga disertai tenaga dalamnya, pedang Pian-liong-kiam meluncur bagai naga, mengancam kepala Jie Kiongcu.

Terdengar kembali dentingan2 suara pedang, tanpa kalah gesit, si Topeng Perak mengelakkan serangan itu.

"Pedang bagus ! Ilmu hebat !"

Ia mengeluarkan suara pujian.

"Empat Lengcu Panji Berwarna memang bukan tandinganmu. Dan melepas diri didalam rimba persilatan kukira sulit menyediakan orang yang bisa menundukkan dirimu."

Jie Kiongcu bicara tanpa mengurangi penyerangannya, didalam waktu yang singkat, ia menyerang lagi 7 kali.

Kang Han Cing mengeluarkan ilmu pedang perguruannya yang bernama ilmu Pedang Bambu Kuning, menangkis setiap serangan itu.

7 serangan lagi dilontarkan oleh si Topeng Perak Jie Kiongcu, ilmunya lebih tinggi dari Sam Kiongcu Sun Hui Eng, karena itu Kang Han Cing agak kewalahan.

Yang menguntungkan Kang Han Cing ialah, ia pernah mempelajari inti sari ilmu silat Ngo-hong-bun.

Tiga Jurus Pukulan Burung Maut yang disediakan untuk menghadapi musuh2 Ngo hong-bun, tidak disangka, disini untuk menghadapi orang sendiri.

Nenek Goa Siluman menurunkan Tiga Jurus Pukulan Burung Maut kepada ke 5 muridnya, Ngo hong-bun lahir atas ambisi Nenek Goa Siluman ini, ia mempunyai lima orang murid dan diantaranya Toa Kiongcu mempunyai 4 murid, itulah 4 lengcu panji berwarna.

Kalau Kang Han Cing bisa mengimbangi kekuatan Sam Kiongcu, kini ia tidak bisa mengimbangi kekuatan Jie Kiongcu.

Satu kali, lengannya tergores oleh pedang Jie Kiongcu, darah muncrat dari tempat itu.

Tiga Jurus Pukulan Burung Maut hanya boleh digunakan sekali2, tapi tidak boleh terus menerus.

Apalagi untuk menghadapi seorang ahli seperti Jie Kiongcu.

Tentu saja Kang Han Cing salah set.

Ternyata, biar bagaimana ilmu Tiga Jurus Pukulan Burung Maut adalah ilmu Ngo hong-bun asli, kalau saja Kang Han Cing tidak menggunakan ilmu ini, mungkin ia bisa bertahan lebih lama.

Untuk menandingi ilmu Ngo-hong-bun, ilmu Tiga Jurus Pukulan Burung Maut membutuhkan latihan yang sempurna, tentu saja Kang Han Cing tidak bisa memenangkan Jie Kiongcu, karena itulah ia kewalahan.

Satu tusukan lagi membuat Kang Han Cing terjungkir balik.

"Menyerahlah,"

Berkata Jie Kiongcu tertawa.

Tubuh Kang Han Cing meletik, dengan kecepatan tiada tara mengirim satu babatan ke arah kaki orang.

Kang Han Cing gesit, si Topeng Perak lebih gesit lagi, dengan satu tutulan kaki, ia mumbul keatas, mengelakkan papasan pedang tadi.

Kang Han Cing mengerahkan semua kekuatannya, dengan satu sikutan, membuat si Topeng Perak menjerit.

Membentur pilar bangunan dengan napas sengal2.

Sam Kiongcu Sun Hui Eng, hu-huat kelas satu Hui-keng dan ex ketua Perintah Maut Can tancu mengurung ditiga tempat, tapi tidak ada tanda2 pergerakan, seperti apa yang si Topeng Perak janjikan, mereka dilarang mengadakan pengeroyokan kalau Kang Han Cing tidak ada niatan melarikan diri.

Betul2 Kang Han Cing lupa mencari jalan untuk meninggalkan tempat itu, ia tidak sadar kalau situasi tidak menguntungkan dirinya kalau tidak segera melarikan diri.

Si Topeng Perak Jie Kiongcu berhasil menekan luka2nya, dihadapi lagi Kang Han Cing dengan sikap yang lebih beringas.

Ciiaaaattttt......

Pedangnya terayun, ber-gulung2, menyerang Kang Han Cing diujung.

Giliran Kang Han Cing yang dibuat mencium tanah, gedubrak, ia jatuh tidak jauh dari kaki Sam Kiongcu.

Kang Han Cing menjadi nekad, hampir ia mau mengadu jiwa, disaat inilah, tiba2 terdengar satu suara yang halus seperti nyamuk mengiang ditelinganya .

"Lekas tinggalkan tempat ini !"

Inilah suara Sam Kiongcu Sun Hui Eng dengan gelombang tekanan tingginya.

Kang Han Cing menepuk kepala, apa artinya ia berkutat ditempat ini ?

Mengingat musuh2 kuat berjumlah besar, tidak mungkin ia mencapai kemenangan.

Kisikan Sam Kiongcu adalah jalan yang paling tepat, ia harus segera meninggalkan tempat ini.

Semangatnya diempos sebesar mungkin, dengan satu kali teriakan geram, ia menerjang ke arah Sam Kiongcu yang menjaga pintu.

Sam Kiongcu mengeluarkan pedang, maka sesudah dengan selayaknya pedang itu diayunkan kearah atas kepala Kang Han Cing.

Dengan sedikit membungkukkan kepala putra Datuk Selatan meloloskan serangan, tubuhnya tetap meluncur keluar.

Disaat ini serangan Jie Kiongcu tiba, gerakannya lebih cepat dari gerakan Hui keng dan Can tancu, pedangnya terayun, menusuk punggung Kang Han Cing.

Entah bagaimana pedang Sam Kiongcu yang sedianya dibabatkan kearah kepala Kang Han Cing itu, karena pemuda kita sudah menundukkan diri dan lolos dari ancaman, otomatis dan dengan sendirinya pedang Sam Kiongcu menjadi memapaki datangnya pedang sang sucie.

Trranggg......

Pedang Topeng Perunggu membentur pedang Topeng Perak !

Dan secepat itu, tubuh Kang Han Cing sudah melesat, lenyap ditelan kegelapan.

Disaat Jie Kiongcu, Sam Kiongcu, Hui-keng dan Can tancu lari keluar, mereka sudah kehilangan jejaknya Kang Han Cing.

Tentu saja kejadian yang membuat mereka penasaran, satu persatu lari mengejar.

Sam Kiongcu Sun Hui Eng sengaja mengendurkan langkah kakinya, menempatkan posisi dirinya di paling belakang, ia mengeluarkan napas lega, secara berani ia berhasil menolong Kang Han Cing dari kesulitan.

Beginilah akibatnya kalau seorang gadis sudah jatuh cinta.

Jie Kiongcu mengejar dipaling depan, dialah yang berkepandaian silat tertinggi, dia pulalah yang mempunyai ilmu meringankan tubuh tercepat, didalam sekejap mata ia sudah meninggalkan kawan2nya, jauh berada dimuka mereka.

Kecepatan lari Jie kiongcu memang luar biasa, daya konsentrasinya juga luar biasa, secepat itu ia lari, secepat itu pula ia menghentikan gerakannya.

Kini ia sedang berhadapan dengan seorang pemuda berbaju hijau.

Ada orang yang berani menghadang Jie Kiongcu cs ?

Siapakah orang ini ?

Sam Kiongcu, Hui-keng dan Can tancu turut tiba, mereka heran atas kehadirannya pemuda berbaju hijau itu, siapakah dia ?

Mengapa mempunyai gerakan yang begitu cepat ?

Jie Kiongcu menoleh kearah Hui keng dan berkata .

"Hui keng taysu, tolong kau bereskan orang ini. Aku hendak mengejar Kang Han Cing."

Tubuhnya melejit, menyimpang dari jalan yang dihadang oleh pemuda berbaju hijau.

Jie Kiongcu hendak meneruskan pengejarannya.

Pemuda berbaju hijau menggerakkan tangan, secepat itu pula ia sudah mengeluarkan pedang, pedang itu dilempar, menutup jalan larinya Jie Kiongcu, nah, itulah ilmu pedang terbang !

"Mau melarikan diri ?"

Cemooh pemuda berbaju hijau yang menghadang jalan orang2 Ngo-hong bun itu. Topeng Perak Jie Kiongcu gagal meneruskan pengejarannya, kini ia menghadapi pemuda itu lagi.

"Ada apa ?"

Ia menanya.

"Kalian mau apa ?"

Balik tanya orang itu.

"Kami ada urusan penting untuk menangkap pengkhianat."

Berkata Hui-keng.

"Kuminta kau menyingkir dan tidak mengganggu perjalanan kami."

"Permintaanku tidak beda dengan permintaan kalian itu,"

Berkata pemuda itu.

"Menyingkirlah dari tempat ini."

Hui-keng memiliki sifat2 yang licik, secara diam2 ia sudah berada dibelakang orang, jarinya dikeraskan, mengirim serangan bokongan.

Seerrrrrr......

Pemuda berbaju hijau tidak akan menyangka mendapat bokongan seperti itu, di saat ia sadar, jaluran angin dingin yang seperti es sudah berada beberapa dim dari badannya.

Memang dia keturunan jago lihay, didalam keadaan yang seperti itu, ia tidak menjadi gugup.

Tangannya dibalikkan, dan plaakkk...Memukul serangan gelap itu.

"Kurang ajar !"

Bentaknya.

"Roboh kau !"

Diserangnya secara terang2an, kini ia memukul Hui keng.

Cara pukulannya ini agak aneh, dikesampingkan sedikit, baru ditekuk kebelakang.

Hui-keng salah perhitungan, sangkanya pemuda itu bisa lengah, mengingat ia sedang berdebat dengan Jie kiongcu, maka ia berani mengirim satu pukulan gelap, lebih celaka lagi, karena datangnya serangan balasan ini sangat aneh, terlalu aneh, masakan bisa menyimpang dan menikung ?

Tanpa ampun ia memuntahkan darah segar.

Can tancu berteriak keras, ia menubruk pemuda berbaju hijau itu.

Tiba2 bayangan hijau berkelebat, ia sudah lenyap dari kedudukannya yang semula, satu kali dupakan, membuat Can tancu ngusruk kedepan.

Didalam sekejap mata, pemuda berbaju hijau itu sudah menjatuhkan dua jago Ngo-hong bun.

"Hebat ! Kau memang hebat !"

Berkata Topeng Perak Jie Kiongcu.

"Siapa namamu ?"

"Apa diwajibkan memberitahu ?"

Bertanya pemuda itu angkuh.

"Terserah kepada dirimu. Kau takut diketahui orang ?"

"Pernah dengar nama Lie Siauw San ?"

"Kau yang bernama Lie Siauw San ?"

Berteriak Jie Kiongcu kaget.

Nama itu terlalu seram bagi Ngo hong-bun.

Betapa tidak, sesudah menggagalkan usaga penggantian Yen Yu San, orang yang bernama Lie Siauw San inilah yang mengganggu perkembangan Ngo-hong-bun.

Pemuda berbaju hijau tertawa ewah !

Apa betul pemuda ini bernama Lee Siauw San ?

Hanya Sam Kiongcu Sun Hui Eng yang tahu, kalau Lie Siauw San itu adalah jelmaan Kang Han Cing, sedangkan Kang Han Cing sudah menderita luka dan melarikan diri, dari mana pula muncul seorang Lie Siauw San ?

Untuk jelasnya, kita gambarkan lebih terang, pemuda berbaju hijau adalah Tong Jie Peng, ahli waris ternama Liu Ang Ciauw dari daerah Tong hay.

Anak Sepasang Dewa dari Tong-hay yang ternama itu.

Topeng Perak Jie Kiongcu sedang me-nimbang2, bisakah ia melawan seorang jago yang seperti Lie Siauw San ini ?

Melihat cara2 dan bagaimana lawan menjatuhkan Hui keng dan Can tancu, ia masih belum ungkulan, karena itu ia berkata .

"Lie Siauw San, berani kau menetapkan waktu untuk bertanding ?"

"Mengapa tidak ?"

Cemooh Tong Jie Peng.

"Dimana saja, kapan saja, dari siapa saja yang berani menantang diriku, pasti kuterima tantangan itu. Sekarang aku tidak mempunyai banyak waktu. Selamat tinggal."

Tubuhnya melejit meninggalkan Jie Kiongcu.

*** Bab 70 MENYUSUL Kang Han Cing yang melarikan diri dari kepungan Ngo-hong-bun, ia lolos dari ujung maut berkat bantuan halus Sam Kiongcu Sun Hui Eng.

Kang Han Cing menderita luka dibeberapa tempat, inilah kekalahannya untuk pertama kali, selama ia berkelana didalam rimba persilatan.

Bukan Sam Kiongcu seorang saja yang membantu Kang Han Cing, kalau tidak ada Tong Jie Peng, mana mungkin ia bisa melepaskan diri dari pengejarannya Jie Kiongcu dkk ?

Hanya saja Kang Han Cing tidak tahu kejadian2 berikutnya.

Kini ia sudah tiba ditembok gedung keluarga Wie, batinnya menjadi ragu2.

Seperti apa yang kita ketahui, Kang Han Cing menyamar sebagai Lengcu Panji Hitam Lauw Keng Sin dan menyelundup masuk ke tempat2 Ngo-hong-bun, tanpa sesuatu drama menakutkan.

Sesudah ia masuk kedalam gedung keluarga Wie, hanya didalam waktu yang sangat singkat, kepalsuannya itu sudah diketahui orang, satu bukti kalau disana sudah ada mata2 musuh.

Mata2 musuh kelas tinggi tentunya, mengingat jumlah terbatas yang mengetahui penyamarannya.

Siapakah mata2 itu ?

Sebelum ia menemukan sang mata2, sungguh dan sangat berbahaya sekali kalau kembali.

Begitu saja ia meninggalkan gedung keluarga Wie ?

Sifat petualangan Kang Han Cing tidak rela membiarkan musuh yang tetap berselimut, ia harus membereskan dan memecahkan persoalan itu.

Siapa mata2 musuh didalam gedung keluarga Wie ?

Kwee In Su ?

Atau manusia lainnya ?

Siapa si Burung Kelima ?

Seseorang yang mempunyai kedudukan lebih tinggi dari Kwee In Su berada didalam gedung keluarga Wie.

Dan Kang Han Cing wajib menemukan orang ini.

Kecuali itu, siapa pula yang berbadan bungkuk, menenteng lampu merah, membawa dirinya kedalam bangunan rumah maut?

Memang Kang Han Cing memiliki jalan pikiran yang bercabang banyak, didalam waktu yang singkat, ia sudah menemukan cara untuk mencari dan menemukan mata2 Ngo-hong-bun yang berada didalam gedung keluarga Wie.

Kang Han Cing lompat turun dari tembok bangunan, sengaja menimbulkan suara gaduh, sesudah itu, gedubraakk ...

ia terjatuh.

"Aaaa...."

Terdengar suara orang berteriak.

"Siapa ?"

"Ada orang masuk."

"Oh......Kang Toa kongcu."

Inilah suara salah seorang dari gedung keluarga Wie.

Ternyata kedudukan Kang Han Cing sebagai Kang Jie kongcu masih dirahasiakan, mereka masih menganggapnya sebagai Toa Kongcu yang baru ditolong keluar dari Goa Sarang Tawon.

Kecuali nenek Wie Tay Kun, Tan Siauw Tian dan Kong Kun Bu, rahasia itu masih dipertahankan.

Tidak lama kemudian terdengar derap langkah kaki yang cepat.

"Bagaimana keadaannya ?"

Inilah suara Tan Siauw Tian.

"Kang Toa kongcu lompat turun dari tembok. Sesudah itu ia terjatuh dan tidak sadarkan diri lagi,"

Inilah suara salah seorang pembantu. Ternyata Kang Han Cing menjatuhkan diri dan berpura2 pingsan.

"Luka Kang Toa kongcu sangat parah."

Terdengar lain laporan. Terdengar suara bentakan Tan Siauw Tian .

"Mengapa dibiarkan begitu saja ! Lekas bawa kedalam."

Dua orang menggotong Kang Han Cing.

Dikala dia menempur Topeng Perak Jie Kiongcu, ia menderita luka dibeberapa tempat, darah masih menetes terus, karena itu didalam ber-pura2 pingsan, tampaknya menderita luka yang sangat berat.

Terdengar suara Tan Siauw Tian .

"Pada tubuhnya terdapat 8 tusukan pedang, tapi luka2 ini tidak membahayakan. Ia baru melakukan pertempuran ? Dimana ? Mengapa tidak meminta bantuan ? Oh....Luka dipundaknya inilah yang terberat. Luka bekas pukulan? Juga tidak ada artinya. Mungkin terlalu banyak mengeluarkan darah, tapi tidak apa, mudah ditolong. Entah bagaimana keadaan dalamnya."

Kang Han Cing masih memeramkan mata, didalam hati ia memuji kelihayan Tan Siauw Tian, hanya satu kali periksa, Jaksa Bermata Satu itu sudah bisa memberi penilaian yang tepat.

Lain pikiran Kang Han Cing, lain pula pikiran Tan Siauw Tian.

Jaksa Bermata Satu ini adalah tulang punggung golongan Lembah Baru, memiliki ilmu silat yang tinggi, mempunyai kecerdikan yang luar biasa, hatinya berpikir .

"Dengan ilmu kepandaian yang dimiliki olehnya, siapakah yang bisa mengalahkan?"

Tentu saja Kang Han Cing sudah mewarisi ilmu silat Pendekar Bambu Kuning Ciok-kiam Sianseng, ilmu silatnya boleh dikata tiada tara, bagaimana bisa menderita luka2 itu ?

Terdengar suara si Jaksa Bermata Satu Tan Siauw Tian memberi perintah .

"Co Su, lekas beritahu kepada Kong Kun Bu hutancu, luka Toa kongcu sangat parah. Dan minta dirinya mengundang Tian-hung Totiang."

Didepan umum Tan Siauw Tian masih menyebut Kang Toa kongcu.

Terdengar derap langkah kaki yang berjalan pergi, tentunya orang yang bernama Co Su itu menjalankan perintah.

Kang Han Cing masih belum mau membuka mata.

Pikirannya bekerja .

"Ternyata Tian-hung Totiang sudah berada di sini ?"

Tian-hung Totiang adalah seorang akhli tabib, didepan ketua kelenteng Pek yun-koan itu, Kang Han Cing sulit bersandiwara terus.

Bagaimana baiknya ?

Kang Han Cing mengikuti kejadian2 itu dengan menggunakan pendengarannya.

Tiba2 ia merasakan ada satu tangan yang menempel dijalan darah Pek hwee hiat, itulah tangan Tan Siauw Tian, dari situ menjulur sebuah aliran hangat, dengan maksud memberi bantuan tenaga, menyembuhkan luka2 dalamnya.

Cepat2 Kang Han Cing menutup jalan darah Pek-hwee-hiat itu.

Tan Sauw Tian mengerahkan kekuatan bathinnya, mempercepat peradaran darah, agar Kang Han Cing bisa sadarkan diri.

Hanya seketika, kekuatan yang disalurkan masuk via jalan darah Pek-hwee-hiat itu tertahan, buntu ditengah jalan, tidak bisa masuk lagi dan juga tidak bisa diteruskan.

(Bersambung 20) ***

Jilid 20 TENTU SAJA Tan Siauw Tian menjadi bingung, sangkanya kurang kuat, ditambah lagi jalur hangat tadi, mencoba menjebol jalan2 darah Kang Han Cing yang tersumbat.

Tentu saja bukan jalan darah Kang Han Cing disumbat orang, tapi inspirasi si pemuda sendiri yang menutup sendiri.

Cara Tan Siauw Tian menambah kekuatannya dilakukan ber-angsur2, tidak berani membenturnya secara paksa.

Harus diketahui, jalan darah Pek-hwee-hiat adalah jalan darah penting yang langsung berhubungan dengan otak, kalau sampai mengalami gegar pikiran, kalau ditekan terlalu keras, resikonya memang sangat berbahaya.

Tidak lama beberapa orang lagi datang ke ruangan itu, mereka dikepalai oleh Kong Kun Bu beserta Tian-hung Totiang.

"Oh, Jie-kongcu atau Toa kongcu ini?"

Sesudah memeriksa sebentar, ia mengajukan pertanyaan itu. Tan Siauw Tian berkata .

"Begitu totiang tiba digedung keluarga Wie, langsung totiang mengajak Cu Hoay Uh cianpwe memeriksa penyakit Lie Kong Tie, maka belum sempat menceritakan hal ini. Dia adalah Kang Jie kongcu Kang Han Cing yang menyamar sebagai Kang Toa kongcu."

"Ooo...."

Tian-hung totiang kira2 sudah mengerti.

"Ia menderita luka2 bekas tusukan pedang?"

"Hanya lukanya dipundak yang agak parah."

Berkata Tan Siauw Tian.

"Hampir meremukan tulang. Beruntung ia mempunyai latihan kuat. Dan luka2 lainnya itu hanya luka biasa saja, mungkin terlalu banyak mengeluarkan darah didalam pertempuran itu."

"Ia belum sadarkan diri?"

Bertanya Tian hung totiang.

"Kita tidak mengenal ilmu ketabiban, maka tidak tahu bagaimana keadaan luka dalamnya,"

Berkata Tan Siauw Tian.

"Sudah kucoba mengempos peredaran jalan darahnya. Yang aneh, entah bagaimana, jalan darah Pek-hwee-hiat bisa buntu. Sudah diusahakan ditembus beberapa kali, tidak berhasil. Untung saja totiang sudah berada di tempat ini. Tolonglah."

"Ada kejadian yang seperti itu ?"

Berkata Tian hung totiang.

"Betul2 aneh, biar kuperiksa sebentar."

Tian-hung totiang mengadakan pemeriksaan, ia meletakkan tiga jarinya diurat nadi Kang Han Cing, memasang telinganya betul-betul, mengikuti peredaran jalan darah si pemuda.

Kang Han Cing boleh memainkan orang semau hatinya, boleh mengelabui Tan Siauw Tian.

Tapi ia tidak bisa mengelabui Tian hung totiang yang lihay.

Karena itu, kecuali jalan darah Pek hwee hiat yang dibuntukan sementara waktu, dibiarkan saja semua peredaran jalan darah mengalir secara lancar.

Tian-hung totiang memejamkan mata beberapa waktu, keningnya berkerut terus menerus, satu tanda kalau ia menemukan kesulitan didalam pemeriksaan itu, kemudian ia membuka mata, tidak henti2nya mengoceh .

"Ajaib ! Ajaib ! Luar biasa. Luar biasa."

"Bagaimana keadaan lukanya ?"

Bertanya Tan Siauw Tian.

Kehadiran akhli tabib Tian hung totiang ditempat itu berada diluar perhitungan Kang Han Cing, kalau saja tabib Pek-yun-koan ini memberitahu gambaran yang sebenarnya, sulitlah menangkap Burung Kelima, karena itu, dengan menggunakan tekanan suara tinggi, ia mengisiki Tian-hung totiang .

"Totiang, diantara orang2 yang berada di tempat ini terdapat mata2 Ngo hong-bun. Harus berhati2."

"Aaaaa....."

Tian-hung totiang sadar akan adanya bahaya itu, ia mengurut jenggot dan tidak segera menjawab pertanyaan Tan Siauw Tian.

"Apa yang Jie kongcu ketahui tentang mata2 Ngo-hong bun itu ?"

Bertanya Tian hung totiang, juga menggunakan suara gelombang tinggi. Percakapan yang tidak bisa diikuti oleh orang ketiga.

"Usahakanlah agar semua orang meninggalkan tempat ini. Nanti kita beritahu."

Berkata Kang Han Cing, tetap menggunakan gelombang tekanan tinggi.

Tan Siauw Tian memperhatikan gerakan Tian-hung totiang yang terus menerus mengurut jenggot, sangkanya tabib pandai itu sedang menemukan kesulitan.

Ia tidak mendesak terus.

Mana diketahui kalau Tian-hung totiang sedang mengadakan pembicaraan rahasia bersama Kang Han Cing.

Akhirnya Tian-hung totiang melepaskan urutan jenggotnya, maka terjeblaklah seluruh bibir dan mulutnya, ia tidak perlu berkemak-kemik lagi, menoleh dan memandang Tan Siauw Tian, ia mengajukan pertanyaan .

"Bagaimanakah Tan tongcu menemukan Jie kongcu ?"

"Belum lama menerima laporan Co Su, dikatakan ia jatuh dari atas tembok bangunan dan tidak sadarkan diri."

"Apa Tan tongcu tahu kemana kepergian Jie kongcu sebelumnya ?"

"Tidak tahu."

"Mungkin dia temukan mata2 musuh didalam gedung ini. Maka ia membikin pengejaran, diluar ia dikeroyok orang, sesudah melakukan pertempuran mati2an, ia berhasil meloloskan diri, sebelum musuh bisa berbuat sesuatu apa, kalian sudah berhasil menemukannya. Ia hampir mengalami copot sukma, karena terlalu banyak mengeluarkan darah dan banyak mengeluarkan tenaga."

"Aaaa.....Bagaimana harus memulihkan keadaannya ?"

"Jie kongcu membutuhkan ketenangan. Tinggalkanlah saja. Biar pinto usahakan."

Berkata Tian hung totiang.

"Apa yang totiang kemukakan memang betul juga,"

Berkata Tan Siauw Tian.

"Hayo, semua keluar dari ruangan ini ! Kecuali Kong hutongcu."

Tan Siauw Tian hendak menjaga sesuatu ber-sama2 Kong Kun Bu.

"Lebih baik Tan tongcu dan Kong hutongcu juga tidak mengganggu ketenangannya."

Berkata Tian hung totiang. Baru saja suara Tian-hung totiang berhenti, dari luar datang orang yang memberi laporan .

"Hamba Thio Tek Lok memberi laporan."

Orang itu bernama Thio Tek Lok, orang Lembah Baru yang mendapat tugas untuk mengawasi gerak-gerik Kwee In Su.

"Ada apa ?"

Bertanya Tan Siauw Tian.

"Ada sesuatu yang menimpa Kwee In Su."

Lapor Thio Tek Lok.

"Apa yang menimpa dirinya ?"

"Kwee In Su terbaring dengan mata melotot, mulutnya terbuka, tapi tidak bisa bicara....."

"Apa dia sudah mati ?"

"Belum. Napasnya sengal2. Seperti orang yang kemasukan angin jahat."

"Mari kita periksa."

Menganyak Tan Siauw Tian.

Mengajak Kong Kun Bu dan Thio Tek Lok, mereka meninggalkan ruangan itu.

Disana tinggal Kang Han Cing dan Tian hung totiang.

Kang Han Cing membuka matanya yang sudah lama dikatupkan itu, dengan maksud bangun berdiri.

Cepat2 Tian-hung totiang mencegah maksud pemuda itu, dengan perlahan berkata.

"Betul2 banyak mata-mata didalam gedung keluarga Wie. Kwee In Su juga sudah dibokong orang. Bukan mustahil kalau kita masih berada dibawah pengawasan mereka, atau ada seseorang yang mengikuti pembicaraan dari balik dinding, lebih baik Jie kongcu membaringkan diri saja. Biar kuobati dahulu luka2 bekas tusukan pedang itu."

Tian-hung totiang memang seorang tabib pandai, hanya luka2 luar tidak mungkin menyulitkan dirinya. Didalam sekejap mata ia sudah mengobati dan membalut luka-luka Kang Han Cing itu.

"Apa yang Jie kongcu temukan didalam gedung ini ?"

Bertanya Tian hung totiang perlahan.

"Totiang, sebelumnya ada sesuatu yang masih membingungkan diriku...Bisakah totiang memberi sedikit keterangan ?"

"Tentang apa ?"

"Tan Siauw Tian menyebut dirinya sebagai tongcu Lembah Baru. Aliran dari mamakah golongan ini ? Siapa yang menjadi kokcu Lembah Baru ?"

"Percayalah,"

Berkata Tian-hung totiang.

"Lembah Baru adalah aliran yang menentang Ngo-hong-bun. Kokcu Lembah baru adalah orang yang tidak asing. Mengingat keganasan Ngo-hong-bun, belum waktunya kokcu Lembah Baru menampilkan diri. Agar kau bisa lebih tenang dan percaya, Lembah Baru memiliki 8 Penasehat, diantaranya aku adalah salah satu dari 8 Penasehat Lembah Baru."

"Totiang....."

"Ya. Dan untuk memperkuat ketabahanmu, boleh juga kau ketahui salah satu lagi penasehat Lembah Baru, dia adalah Ciok-kiam Sianseng, gurumu itupun menjadi salah satu dari 8 penasehat Lembah Baru."

"Aaaaa......"

"Nah ! Giliranmu yang bercerita, bagaimana kau bisa menemukan mata2 Ngo-hong-bun didalam gedung ini ?"

Kang Han Cing menyeritakan jalannya cerita, bagaimana ia terpancing oleh si Burung Kelima dan pecah penyamaran didalam bangunan rimba bambu itu.

Tentu saja Kang Han Cing menutupi cerita Sam Kiongcu yang membantunya melarikan diri.

Didalam hal ini menyangkut soal muda mudi.

Dan juga Kang Han Cing tidak bisa menceritakan Tong Jie Peng menjegal Topeng Perak Jie Kiongcu dkk itu, karena memang tidak tahu.

"Menurut perkiraan Jie kongcu, siapakah orang yang membungkukkan badan dan membawa lampu itu ?"

"Orang itu hanya membuka mulut sesudah berada didepan bangunan rimba bambu, perintahnya 'masuk"

Dan sesudah itu tidak mengucapkan kata2 lainnya. Suaranya seperti tidak asing, tapi didalam keadaan yang seperti itu sengaja memparaukan logat aslinya. Sulit menentukannya."

"Semakin pasti kalau orang ini adalah orang yang dekat. Kalau tidak, mengapa mem-bungkuk2kan badan ? Merobah logat suara ? Dengan cara inilah Jie kongcu tidak bisa menduga dan mengenalinya."

"Ngo-hong-bun memang lawan berat."

"Langkah2 apa sesudah Jie kongcu pura-pura kelengar ?"

Kang Han Cing memberi penjelasan .

"Sesudah mencuri pelajaran Tiga Jurus Pukulan Burung Maut, mereka tidak mau melepaskan diriku. Sengaja ber-pura2 pingsan, memberi kesempatan agar mereka bisa turun tangan, maka siapakah orang yang mau mencelakakan diriku, itulah mata-mata Ngo-hong bun ditempat ini."

"Rencana baik. Untuk memancing mereka, lebih baik lagi kalau membiarkan aku mengobati dirimu. Sesudah mengetahui kalau keadaanmu ber-angsur2 sudah pulih, tentu membuat si Burung Kelima bertambah gelisah. Nah. Itu waktu kita bisa membedakan siapa yang hendak membunuh dirimu."

"Setuju. Tapi rencana ini jangan diberitahu kepada Tan Siauw Tian."

"Mengapa ?"

"Bukan curiga kepada Tan Siauw Tian. Mengingat pentingnya keadaan, lebih sedikit orang yang tahu, lebih mudah pula mengerjakannya."

Tian-hung totiang setuju. Sesudah selesai memberi pengobatan, ia berjalan keluar. Diluar sudah menunggu Tan Siauw Tian, menyongsong Tian-hung totiang dan bertanya .

"Bagaimana keadaan Jie kongcu ?"

"Ia masih membutuhkan istirahat. Jagalah ketenangannya. Jangan ada seorang pun yang mengganggu."

"Tidak membahayakan ?"

"Waktu bahayanya sudah lalu."

"Syukurlah. Oh...Kwee In Su juga dibokong orang. Tolong totiang periksa keadaannya,"

Berkata Tan Siauw Tian.

"Baiklah. Ajaklah ke tempatnya."

Tian hung totiang merendengi Tan Siauw Tian, mereka sama2 menuju ke tempat Kwee In Su. Memandang beberapa penjaga, Tian-hung totiang bertanya .

"Mereka orang2 dari Lembah Baru ?"

"Ya,"

Jawab Tan Siauw Tian.

"Turut serta adalah 8 pengawal Lembah Baru. Kecuali pelayan2 perempuan, didalam gedung keluarga Wie ini hanya terdapat seorang pengurus rumah tangga yang laki2."

"Kong Kun Bu hutongcu itu seperti orang baru."

Tian-hung totiang berkata.

"Kong Kun Bu adalah keponakan-murid Tay siok taysu dari Siauw lim-pay. Kokcu meminta bantuan Siauw lim pay untuk menumpas Ngo hong-bun, karena itu Kong Kun Bu diperbantukan kepada kita. Dengan kedudukan hutongcu."

Kecurigaan Tian-hung totiang segera bebas sama sekali, mengingat kalau Kong Kun Bu itu adalah wakil Siauw-lim-pay yang membantu usaha Lembah Baru.

Mereka sudah tiba di kamar Kwee In Su, sedari Kwee In Su meninggalkan Ngo hong bun dan membawa "Kang Puh Cing' ke gedung keluarga Wie, ia mendiami tempat ini.

Kong Kun Bu berada dikamar Kwee In Su, agaknya ia kurang yakin kepada Thio Tek Lok seorang diri.

Melihat kedatangan Tian-hung totiang, cepat2 menyilahkan masuk.

Sesudah Tian hung totiang mengadakan pemeriksaan, ketua kelenteng Pek-yun-koan ini berkerut alis, betul2 banyak mata2 didalam gedung keluarga Wie.

Kwee In Su ditotok orang pada jalan darah Geger Otak.

Dikemukakannya hasil laporan pemeriksaan kepada semua orang.

Dan diberitahu juga, bagaimana harus menyembuhkannya, karena dekatnya jalan darah itu dengan bagian otak, maka membutuhkan waktu pengobatan lama, setiap hari hanya bisa ditotok seperlahan mungkin, dan sesudah beberapa kali, baru bisa disembuhkan.

Mereka tidak berdaya.

*** Bab 71 SATU HARI DILEWATKAN.....

Keadaan gedung keluarga Wie seperti biasa, tenang2 dan adem saja.

Kehadirannya Tian-hung totiang beserta Kakek Beracun Cu Hoay Uh berhasil menyembuhkan penyakit keracunan Lie Kong Tie.

Per-lahan2 keadaan Datuk Utara itu mulai berangsur baik.

Malam itu Tian-hung totiang membikin perondaan, memperhatikan kamar pertama yang ditempati Kang Han Cing dan juga memperhatikan kamar ketiga yang dihuni oleh Kwee In Su.

Tiba2 tampak sebuah bayangan yang berkelebat cepat, gerakannya gesit sekali, kalau bukan Tian-hung totiang, mungkin tidak bisa melihat kehadirannya.

Tian hung totiang melejitkan kaki, mengejar kearah lenyapnya bayangan dimalam gelap itu.

Walau ketua kelenteng Pek-yun-koan memiliki ilmu kecepatan tinggi, tidak urung kalah juga, ia tiba disana dan hanya bisa menubruk tempat kosong.

Dibawah bulu matanya, Tian-hung totiang bisa kehilangan orang, hal ini membuat ia penasaran.

Keadaan seluruh isi gedung sudah sunyi senyap, kemana pula larinya orang itu ?

Tian hung totiang memeriksa lagi.

Tiba2 punggungnya terasa ditekan senjata tajam.

"Jangan bergerak kalau kau masih sayang kepada jiwamu."

Terdengar suara ancaman.

Hati Tian hung totiang tercekat.

Gerakan bayangan yang dikejar terlalu gesit, hanya didalam satu kedipan mata, orang ini sudah berada dibelakangnya dan memberi ancaman pedang.

Hanya ancaman sebatang pedang tidak akan menggentarkan si ketua kelenteng Pek-yun-koan, untuk seketika memang ia tidak berani bergerak.

"Mengapa harus menggunakan cara seperti ini ?"

Ia berkata sambil menggeser badan, tiba2 saja mengebutkan tangan bajunya, menyampok dan menyingkirkan ancaman ujung pedang itu.

Gerakan Tian-hung totiang tadi cepat sekali, dan iapun mengerahkan tenaga dalam yang dikerahkan kalangan bajunya itu, dimisalkan tidak berhasil menerbangkan pergi senjata lawan, se-tidak2nya bisa membebaskan diri dari ancaman.

Mana disangka, gerakan badan Tian-hung totiang masih kalah cepat, breetttt...bajunya tersobek, ujung pedang itu tetap mengancam ke arah daging.

Cepat2 Tian-hung totiang membatalkan niatannya yang hendak menghadapi orang itu, dengan meletikkan diri ia lari mundur kebelakang.

Didalam satu gebrakan, masing2 memuji kecepatan lawan.

Untung orang itu tidak mengejar lagi.

Kini mereka bisa ber-hadap2an, didepan Tian-hung totiang berdiri seorang pemuda berbaju hijau, umurnya belum cukup 20 tahun, sangat tampan menarik.

Hanya seorang pemuda yang baru lagi ingusan ini yang mementalkan serangan kebutan tangan bajunya ?

Betul2 Tian-hung totiang tercekat.

Pemuda berbaju hijau memancarkan sepasang sinar matanya yang bercahaya terang menghadapi Tian-hung totiang dan berkata .

"Totiang tentunya ketua kelenteng Pek-yun koan yang ternama itu, bukan ?"

Hanya satu kali gebrakan, pemuda itu sudah bisa menduga asal usul, Tian hung totiang betul2 tidak mengerti, menatapnya dan berkata .

"Tidak salah. Bagaimana nama sebutan sicu yang mulia ?"

"Aku Lie Siauw San."

Berkata pemuda itu.

Tentu saja di depan Tian hung totiang yang tidak tahu siapa si pemuda yang bernama Lie Siauw San, ia boleh sembarang jual kecap.

Betulkah Tian-hung totiang sedang berhadapan dengan Lie Siauw San ?

Tentu saja bukan !

Pemuda berbaju hijau adalah samaran Sam Kiongcu Sun Hui Eng.

Sengaja menggunakan nama Lie Siauw San untuk menarik perhatian orang.

"Apa maksud Lie siecu datang ke tempat ini ?"

Bertanya Tian-hung totiang.

"Kedatanganku untuk menemui seseorang,"

Jawab pemuda itu.

"Siapakah yang siecu hendak temukan ?"

"Kang Jie kongcu. Kang Han Cing."

"Ada urusan apa mau menemui Kang Han Cing ?"

Bertanya Tian-hung totiang.

"Tentu saja ada urusan. Apa totiang tidak menganggap pertanyaan totiang yang agak ber-lebih2an ?"

"Kang Jie kongcu menderita luka."

Berkata Tian-hung totiang.

"Beratkah lukanya ?"

Orang itu memperlihatkan perhatiannya.

"Sangat berat. Hampir kehabisan darah."

"Betul2 hampir kehabisan darah."

Berkata pemuda ini.

"Dimanakah kini ia berada? Bisa totiang tolong antar aku kesana ?"

Tian-hung totiang tersenyum, katanya .

"Keadaan Jie kongcu belum lepas dari krisisnya. Dan diapun sedang tidur nyenyak. Semua orang dilarang mengganggu."

"Aku hendak melihat sebentar saja."

"Jangankan orang luar yang belum dikenal, dimisalkan Tan Siauw Tian tongcu yang mengajukan permohonan ini tetap tidak bisa kuterima."

"Bagaimana agar totiang bisa percaya kepada diriku ?"

"Soalnya bukan percaya atau tidak. Yang penting, Kang Jie kongcu harus mendapat istirahat yang cukup. Selama tiga hari ini ia tidak boleh bicara dengan orang."

Pemuda itu terpekur beberapa waktu, akhirnya ia bisa diberi mengerti.

"Baiklah."

Katanya.

"Tiga hari lagi aku akan menjenguk dirinya."

Dari dalam saku bajunya, ia mengeluarkan bungkusan, dibuka bungkusan itu, dari sana mengeluarkan obat seperti biji kenari, diserahkan kepada Tian-hung totiang dan berkata .

"Obat ini mempunyai khasiat luar biasa, teristimewa untuk menambah darah, menjernihkan pikiran, menambah kekuatan, sesudah totiang kembali, boleh beri makan kepadanya. Didalam waktu yang singkat, ia segera sembuh seperti sediakala."

"Apakah nama obat ini?"

Bertanya Tian-hung totiang.

"Lihatlah sendiri."

Tian-hung totiang memperhatikan obat itu, yang terdapat tulisan kecil berbunyi . Thian kie-in-keng-tan ! Kepalanya mengangguk dan mulut bergumam .

"Betul2 obat Thian-kie-tan dari si nenek Goa Siluman."

Diterimanya pemberian obat itu dan berkata .

"Akan pinto sampaikan kepadanya, terima kasih."

"Tolong sampaikan salamku. Tiga hari kemudian, aku kembali lagi."

Sesudah itu, tubuhnya melejit dan lenyap dari depan Tian-hung totiang.

Tian-hung totiang menyimpan obat Thian kie-tan, ia sangat penasaran, mengikuti arah lenyapnya pemuda baju hijau tadi, ia lari mengejar.

Dari jauh tampak pemuda baju hijau dihadang oleh seseorang, itulah seorang pemuda berbaju putih.

Tian-hung totiang menyembunyikan diri dan memperhatikan kedua anak muda itu.

"Kau orang Lembah Baru ?"

Bertanya pemuda berbaju hijau kepada orang yang menghadang ditengah jalan. Si-baju putih menggelengkan kepala.

"Bukan,"

Ia berkata. Tetap tidak mau pergi dari tengah jalan.

"Orang dari gedung keluarga Wie ?"

Tanya si baju hijau lagi.

"Juga bukan,"

Jawab si baju putih.

"Mengapa kau menghadang kepergianku?"

Tanya si baju hijau.

"Kita bisa bercakap2, bukan ?"

Berkata si baju putih.

"Kita belum pernah berkenalan, apa pula yang hendak dipercakapkan ?"

Si baju hijau tidak mengerti.

"Sesudah pertemuan, kita bisa berkenalan, bukan ?"

Berkata si baju putih.

"Aku tidak sudi berkenalan denganmu."

Berkata si baju hijau.

"Tapi aku ingin sekali,"

Berkata si baju putih.

"Kalau aku tidak mau ?"

"Kalau aku mau ?"

"Apa kau kira bisa menghadang perjalananku ?"

"Boleh coba."

Berkata si baju putih menantang.

Tian-hung totiang yang mengintip pertikaian itu tertarik, ia sudah melihat dan menyaksikan kegesitannya si baju hijau yang mengaku bernama Lie Siauw San, hendak disaksikan bagaimana pula ilmu silat si baju putih.

Tubuh si baju hijau bergerak, melejit ke kiri dengan maksud melewati hadangan si baju putih.

Secepat itu pula si baju putih turut bergerak, tetap menghadang perjalanan si baju hijau.

"Sudah kuduga,"

Katanya tertawa.

"Pasti kau mengambil jalan ini. Maaf, jalan tertutup."

Lagi2 si hijau terhadang !

Ia masih penasaran, berkelit lagi dan berusaha menerjang dilain tempat.

Seperti keadaan semula, kemana si baju hijau bergerak, kesitu pula si baju putih turut membayangi.

Tetap menghadang didepan jalan.

Demikian terjadi sehingga beberapa kali.

Mengikuti permainan yang seperti anak kecil berpetak itu, Tian-hung totiang menggelengkan kepalanya.

Ia sudah menganggap ilmu silat tinggi, tidak tahunya masih ada yang lebih tinggi darinya.

Si baju hijau adalah akhli silat nenek Goa Naga Siluman, sudah pasti memiliki ilmu silat tinggi yang berada diatas dirinya.

Tapi si baju putih lebih hebat lagi.

Dan menurut apa yang ia tahu, hanya ilmu silat aliran Sepasang Dewa Tong hay yang bisa menandingi dan mengalahkan gerakan nenek Naga Siluman.

Si baju hijau tidak berhasil melepaskan diri, ia mengeluarkan pedang, ceeep....

ditusukkan ke arah sipenghadang.

Si baju putih menjulurkan tangan, slep ...

menjepit datangnya pedang itu.

Si baju hijau berkutet hendak menarik kembali pedangnya yang terjepit jari kuat itu.

Tidak berhasil.

Ia mandi keringat.

Saking marahnya, dengan menggunakan lain tangan, ia menghajar pedang sendiri.

Pletakk....

Pedang itu patah menjadi dua bagian, dan gagang pedangpun dilempar begitu saja.

"Oh....."

Berkata si baju putih.

"Mengapa dipatahkan ?"

Biar bagaimana, si baju putih lebih kuat dari si baju hijau.

"Sebutkan namamu !"

Bentak Sam Kiongcu Sun Hui Eng.

"Aku tidak pernah ganti nama."

Berkata si baju putih.

"Aku adalah Lie Siauw San yang ternama."

"Ohh...kau lagi ?"

Sam Kiongcu segera bisa menduga kepada penghadangnya. Siapakah yang menghadang perjalanan pulang Sam Kiongcu Sun Hui Eng ? Inilah keturunan Liu Ang Ciauw yang bernama Tong Jie Peng.

"Tentu saja aku."

Berkata Tong Jie Peng.

"Kau bukan Lie Siauw San."

Berteriak Sam Kiongcu yang segera mengenali orang itu. Orang ini pernah menempur Jie Kiongcu diwaktu membebaskan Kang Han Cing dari pengejarannya.

"Kau juga bukan Lie Siauw San."

Berkata Tong Jie Peng. Ternyata jago muda ini turut mengikuti pembicaraan Sam Kiongcu bersama Tian-hung totiang, dimana Sam Kiongcu mengaku bernama Lie Siauw San.

"Alasanmu ?"

Bentak Sam Kiongcu.

"Apa kau kira hanya kau seorang yang kenal Lie Siauw San ?"

Berkata Tong Jie Peng tertawa.

"Kau kenal Lie Siauw San dan aku juga kenal Lie Siauw San."

"Ya. Kau memang kenal Lie Siauw San."

Berkata Sam Kiongcu.

"Dan aku juga kenal dirimu."

Sambung Tong Jie Peng.

"Kau kenal kepadaku ?"

Baca Juga: Dewi Sungai Kuning Kho Ping Hoo

Baca Juga: Kemelut Blambangan 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert