Ceritasilat Novel Online

Pedang Langit Dan Golok Naga 15

Eps 15 Pedang Langit Dan Golok Naga - Chin Yung

Baca online Pedang Langit Dan Golok Naga - Chin Yung

Cersil Pedang Langit Dan Golok Naga - Chin Yung.

Kamu tak usah mengharap aku sudi menjadi anjingnya kaisarmu.

Biarpun kau membujuk 3 tahun atau 5 tahun lagi, kau hanya membuang2 tenaga"

Boe Kie manggut2kan kepalanya.

"Walupun Ho Thay Ciong bukan seorang koen coe, tapi dalam menghadapi urusan penting, ternyata ia bisa mempertahankan keanggunannya sebagai seorang Ciang boen"

Pikirnya.

"Kalau kau mau terus keras kepala, Cioe jin pun takkan memaksa,"

Kata seorang dengan suara dingin.

"Apa kau sudah tahu peraturan disini?"

"Meskipun kau memutuskan sepuluh jari tanganku, aku tetap takkan menakluk,"

Kata Ho Thay Ciong.

"Baiklah."

Kata orang itu "Sekali lagi aku ingin memberitahukan peraturan kami.

Apabila kau bisa memenangkan ketiga orang ini, kami akan selekas mungkin akan melepaskan kamu.

Kalau kau kalah, kami akan memutuskan jari tanganmu dan kemudian mengurung kau lagi selama 1 bulan.

Sesudah itu, kami akan menanyakan pula, kalau kau sudah berubah pikiran dan suka menakluk pada Hong siang"

"2 jari tanganku sudah putus"

Kata Ho Thay Ciong "Putus sebelah lagi tak menjadi soal. Ambil pedang!"

Orang itu tertawa dingin.

"Kalau semua jari tanganmu sudah putus, biarpun kau mau menakluk, kami takkan menerima. Perlu apa menerima orang yang sudah tak berguna lagi? Serahkan pedang padanya! Mokopas, kau majulah terlebih dahulu"

"Baik."

Jawab seorang yang suaranya kasar.

Dengan menggunakan sinkang, Boe Kie meniup celah jendela yang lantas terbuka lebar.

Ia melihat Ho Thay Ciong yang memegang pedang kayu yang ujungnya dibungkus kain.

Yang berdiri didepannya adalah seorang tinggi besar yang memegang sepasang golok baja.

Tapi Ho Thay Ciong sedikitpun tak merasa keder dan sambil mengibaskan pedang kayu, ia membentak "Hayolah!"

Seraya berkata begitu, ia membacok salah satu pukulan lihai dari Koen Loen Kiam hoat.

Mokopas berkelit dan balas menyerang.

Jika bertubuh besar, gerakannya cukup gesit dan setiap serangannya ditujukan kepada badan Ho Thay Ciong yang berbahaya.

Sesudah memperhatikan beberapa jurus, Boe Kie berkata didalam hati "Mengapa tindakan Ho sianseng kosong dan nafasnya tersengal2?

Ia kelihatan sudah tak punya tenaga dalam".

Semenjak memiliki Kioe yang Sin kang dan Kian koen Tay lo ie Sim hoat, Boe Kie dapat memahami berbagai ilmu silat yang terdapat dalam dunia persilatan.

Selama beberapa bulan yang paling belakang, ia telah menerima banyak petunjuk dari Thio Sam Hong, sehingga kepandaiannya tambah tinggi.

Kini, makin la ma ia menonton pertandingan antara Ho Thay Ciong dan pendeta See hoan itu, makin ia merasa bahwa dibalik pertempuran itu terselip suatu latar belakang.

Kiam hoat Ho Thay Ciong tetap lihai akan tetapi ia tidak memiliki lagi Lweekang dan tenaganya bersaman dengan tenaga orang biasa yang tidak mengerti ilmu silat.

Dilain pihak kepandaian Hoan ceng itu kalah jauh dari Ho Ciangboen.

Beberapa kali ia menyerang dengan hebat.

Tapi setiap serangannya dapat dipunahkan.

Sesudah bertanding kira2 50 jurus tiba2 Ho Thay Ciong membentak.

"Kena"

Pedang kayu yang menyambar ke timur mendadak dan membelok ke barat dan mapir tepat di iga pendeta See hoan itu.

Jika pedang itu pedang baja atau jika Ho Thay Ciong masih mempunyai Lweekang pendeta itu sudah pasti sudah binasa.

Tapi sekarang bacokan itu, hanya mengakibatkan sedikit rasa sakit.

"Mokopas, mundur kau!"

Bentak orang yang suaranya dingin.

"Uawei sekarang giliranmu!"

Boe Kie mengawasi orang yang memberi perintah itu.

Muka orang yang berjenggot putih, seolah2 tertutup oleh selapis asap hitam dan dia bukan lain daripada salah seorang dari Hian beng Jie lo.

Ia berdiri sambil menggendong tangan dan kedua matanya dirapatkan, seolah2 dia tidak memperdulikan apa yang terjadi dalam ruangan itu.

Tiba2 Boe Kie melihat sepasang kaki diatas sebuah meja kate yang dialaskan dengan sutra sulam.

Kedua kaki itu memakai sepatu kuning dan diatas setiap sepatu tertera dengan sebutir mutiara yang berkeredapan.

Jantung Boe Kie memukul keras.

Ia mengenali, bahwa sepasang kaki itu yang bulat dan bagus sekali bentuknya adalah kaki nona Tio Beng.

Dalam pertemuan di Boe tong san, ia menghadapi nona itu sebagai seorang musuh.

Tapi sekarang entah mengapa hatinya berdebar2 dan paras mukanya berubah merah.

Kaki Tio Beng bergerak.

Ia rupanya sedang memperhatikan jalannya pertempuran.

Berselang kira2 seminuman the, mendadak Ho Thay Ciong membentak lagi.

"Kena!"

Ia berhasil merobohkan jago kedua.

"Uawol mundur!"

Bentak Hian beng Loojia.

"Helin Pohu maju"

Ketika itu, nafas Ho Thay Ciong udah tersengal.

Sesudah merobohkan 2 orang lawan, tenaganya mulai abis.

Sesaat kemudian, pertempuran ke-3 dimulai.

Helin Pohu menggunakan senjata berat, yaitu sebatang toya baja dan ia bertenaga sangat besar.

Angin pukulan toya menyambar nyambar dengan hebatnya, sehingga semua lilin yang menerangi ruangan itu berkedip2, sebentar gelap, sebentar terang.

Baru saja belasan jurus, pedang kayu sudah terpukul patah dan sambil menghela nafas Ho Thay Ciong melemparkan pedang buntungnya di lantai.

"Thie Kiam Sian seng, apa sekarang kau tidak suka menakluk?"

Tanya Hian beng Loe jin.

"Tidak!"

Jawabnya dengan angkuh.

"Aku bukan saja tidak menakluk, tapi juga tidak menyerah kalah. Kalau aku masih memiliki tenaga dalam, Hoan ceng itu sama sekali bukan tandinganku."

"Putuskan jari manis tangan kirinya!"

Bentak Hian beng Loo jin.

"Sesudah itu kirim pulang ke menara!"

Boe Kie menengok dan mengawasi kedua kawannya.

Yo Siauw menggeleng2kan kepala, sebagai tanda bahwa ia tidak menyetujui penyerbuan yang bakal menggagalkan seluruh rencana mereka.

Sesaat kemudian terdengar suara dibacoknya jari tangan dan suara orang yang membalut luka, Ho Thay Ciong bener2 jago, sedikitpun ia tidak mengeluarkan suara.

Sesudah itu sejumlah pengawal baju kuning kembali keluar dari pintu belakang dan mengantar Ho Thay Ciong balik ke menara.

Dengan menyembunyikan diri di sudut tembok, Boe Kie bertiga melihat paras muka si kakek yang pucat bagaikan kertas dan kedua matanya yang seolah2 mengeluarkan api.

Sekonyong2 didalam ruangan terdengar suara wanita yang nyaring.

"Loo thung kek, sungguh lihai Kiam hoat Koen loen pay. Ia membacok Mokopas dengan pukulan ini, membabat seperti ini disebelah kiri dan memutar begini di sebelah kanan……"

Orang yang bicara bukan lain daripada Tio Beng.

Sambil bicara dengan dilayani oleh Mokopas, ia bersilat menggunakan pedang kayu, menurutr pukulan2 yang tadi digunakan oleh Ho Thay Ciong.

Orang yang dipanggil Loo Thung Kek adalah Hian beng Loo jin, si kakek muka hitam yang lantas saja memberi pujian.

"Coe jin berotak sangat cerdas. Pukulan2 itu tidaj beda dengan aslinya"

Tio Beng berlatih berulang2.

setiap kali ia membacok iga Mokopas dengan menggunakan tenaga.

Sehingga, biarpun pedang itu pedang kayu si pendeta soe hoa harus merasai kesakitan hebat, sebab harus menerima pukulan berulang2 ditempat yang sama.

Tapi walaupun berjengit2.

Mokopas sama sekali tidak memperlihatkan rasa jengkel.

Sesudah memahami beberapa pukulan, Tio Beng lalu memanggil Unwol dan berlatih dengan pendeta itu dalam pukulan2 Ho Thay Ciong yang tadi merobohkan si pendeta.

Melihat begitu Boe Kie segera mengerti latar belakang kejadian itu.

Dengan suatu tipu Tio Beng telah memenjarakan tokoh2 berbagai partai di Ban Hoat Sie dan menekan Lweekang mereka dengan menggunakan obat.

Dengan cara itu ia mencoba ahli2 silat tersebut menekluk kepada kerajaan Goan.

Karena tujuan yang pertama tidak berhasil, maka ia memerintahkan orang2nya bertanding dengan tokoh2 itu.

Sedang ia sendiri memperhatikan jalannya pertandingan untuk mencuri pukulan2 yang paling lihay dari berbagai partai.

Dari sini dapatlah dilihat, bahwa nona yang cantik itu telah menjalankan tipu daya.

Sekarang Tio Beng berlatih dengan Helin Po hu.

Sesudah beberapa lama ia kelihatan bersangsi dalam beberapa jurus yang terakhir.

Ia menengok dan bertanya.

"Lok Thung kek, apa begini?"

Si kakek muka hitam terkejut dan sambil berpaling ke sebelah kiri, ia berkata "Saudara Ho, apa kau lihat tegas pukulan2 itu?"

Tio Beng tersenyum "Kauw soehoe"

Katanya.

"Aku mohon petunjukmu"

Seorang Tauw too (pendeta ) yang berambut putih lantas saja bertindak keluar.

Dia bongkok dan pincang, sedang mukanya penuh dengan bacokan golok, sehingga hampir tidak dapat dikenali.

Disamping itu, ia bertubuh tinggi besar, sehingga biarpun bongkok, ia tidak lebih kate daripada Lok Thung Kek.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia mengambil pedang kayu dari tangan Tio Beng dan segera menyerang Helin Pohu dengan pukulan2 Koen Lun Kim hoat.

Gerak2annya adalah sedemikian lincah, sehingga ia seolah2 sudah mempelajari ilmu pedang itu selama puluhan tahun.

Seperti Ho Thay Ciong, Kauw Tauw too tidak menggunakan tenaga dalam, sedang Helin Pohu menyerang dengan sekuat tenaga.

Sesudah bertanding beberapa saat.

Sambil membentak Helin Pohu menyabet dengan toyanya.

Sebagian lilin padam karena angin pukulan itu.

Itulah pukulan yang mematahkan pedang Ho Thay Ciong.

Menghadapi sabetan dahsyat itu Kauw Tauw too memperlihatkan kegesitannya.

Bagaikan walet yang terbang diatas air, pedangnya berkelebat, menempel di badan toya dan menapas ke depan, menghantam tangan Helin Pohu yang lantas kesemutan.

"Trang!"

Toya itu jatuh dilantai. Muka Helin Pohu berubah merah. Ia tahu bahwa jika pedang itu pedang baja, jari2 tangannya tentu sudah terbabat putus.

"Aku menyerah kalah!"

Katanya sambil membungkuk dan lalu menjemput toyanya. Dengan kedua tangan Kauw Tauw too segera memulangkan pedang kayu kepada Tio Beng.

"Kauw Soehoe"

Kata si nona sambil tersenyum "Apakah pukulan yang terakhir juga Koen loen Kiam hoat?"

Si pendeta manggutkan kepalanya.

"Apa Ho Thay Ciong tak mampu menggunakan pukulan itu?"

Tanya Tio Beng. Dia menggangguk lagi.

"Kauw soehoe coba ajar aku lagi"

Memohon si nona.

Pendeta itu lantas saja melayani Tio Beng dengan tangan kosong.

Biarpun ia Bongkok dan pincang, gerakannya gesit luar biasa, sehingga Tio Beng tidak bisa melayaninya.

Tapi meski begitu, berkat kecerdasannya, si nona bisa juga meniru ferakan setiap pukulan.

Sesudah beberapa gebrakan, dalam satu gerakan yang cepat dan indah, si tauw too memutar badan sambil mendorong dengan ke-2 tangannya.

Kemudia ia berdiri tegak dan tidak bergerak lagi.

"Sungguh lihay pukulan itu!"

Puji Boe Kie didalam hati. Sesudah memikir sejenak, nona Tio mendusin.

"Apa!"

Serunya "Kauw soehoe, jika kau memegang toya, toya itu tentu sudah menghantam lenganku. Dengan cara apa pukulan itu bisa dipunahkan?"

Kauw tauw too segera membuat suatu gerakan seperti orang merampas toya dan berbareng kaki kirinya menendang. Gerakan itu yang dibuat dalam kecepatan luar biasa, bukan pukulan Koen loen Pay.

"Kauw soehoe, perlahan sedikit!"

Kata Tio Beng sambil tertawa.

"Tenaga dalammu tak cukup, tak dapat kau meniru gerakan itu"

Kata Boe Kie didalam hati.

Kouw Tauw too mwnggoyang2kan tangannya, sebagai tanda bahwa Tio Beng yang belum mempunyai cukup Lweekang tak akan bisa menggunakan pukulan itu.

Sesudah itu, tanpa meladeni si nona lagi, dengan terpincang2 ia kembali ke tempatnya.

"Kepandaian Tauw too itu mungkin tidak berada di sebelah bawah Hian beng Jie lo"

Pikit Boe Kie.

"Biarpun lweekangnya belum diketahui seberapa tingginya. Tapi ia bukan lawan enteng. Mengapa ia tak pernah bicara? Apa ia gagu? Tak mungkin gagu, sebab ia tak tuli. Tio kauwnio kelihatannya sangat menghormati dia. Dia pasti bukan sembarang orang."

Melihat si bongkok tidak meladeninya. Tio Beng tidak menjadi gusar. Ia hanya tersenyum dan kemudian berkata "Panggil Tong Boen Liang!"

Tak lama kemudiam Tong boen liang digiring masuk dan kembali Long thung kek menyuruh 3 orang untuk melayani tetua Kong Tong pay itu.

Tong Boen Liang yang tak mau jatuh dibawah angin karena senjata yang tidak seimbang minta bertanding dengan tangan kosong.

Ia berhasil merobohkan 2 orang lawan, tapi kalah dalam pertandingan yang ke-3.

seperti Ho Thay Ciong salah satu jati tangannya segera dikutungkan.

Sesudah Tong Boen Liang meninggalkan ruangan itu, dengan dibantu oleh Long Thung Kek sendiri, Tio Beng segera berlatih dalam pukulan2 Kong Tong pay.

Didalam hati Boe Kie memuji kelihayan Tio Beng.

Nona itu rupa2nya mengerti, bahwa tenaga dalamnya tak cukup dan untuk memiliki lweekang yang tinggi, ia harus berlatih dalam jangka waktu yang lama.

Maka itu, ia mengambil jalan yang lebih pendek.

Untuk menambal kekurangan dalam lweekang, ia memetik bagian2 yang paling bagus dari berbagai ilmu silat dalam dunia persilatan.

Sesudah berlatih beberapa lama, Tio Beng berkata "Panggil Biat Coat Loo nie!"

"Sudah 5 hari Biat Coat mogok makan"

Jawab seorang pengawal baju kuning.

"Sampai hari ini dia msih keras kepala"

"Biar dia mati kelaparan!"

Kata si nona sambil tersenyum.

"Kalau begitu, panggillah Cioe Ci Jiak!"

Semenjak kembali dari Boe Tong, dari kakek gurunya, Boe Kie sudah mengerti segala kejadian semenjak ia berpisahan dengan Thay soehoe itu.

Ia tahu, bahwa Cioe Ci (Tit) Jiak adalah si gadis yang dulu ditolong Thio Sam Hong ditengah sungai Han soei.

Pada waktu itu, mereka berdua masih kecil.

Tapi kecintaan, atau sedikitnya keramah tamahan, si nona tak dapat dilupakan olehnya.

Di Kong beng teng atas perintah Biat Coat, Cie Jiak pernah menikam dia.

Tapi ia sedikit tidak pernah merasa sakit hati.

Sekarang mendengar perintah Tio Beng, tiba2 jantung memukul keras.

Tak lama kemudian, sejumlah pengawal baju kuning mengawal nona Cioe untuk masuk kurungan itu.

Boe Kie mendapat kenyataan, bahwa si nona banyak lebih kurus, tapi kecantikannya tetap tak berubah.

Ia bertindak masuk dengan sikap tenang, seolah2 ia tidak memikiri lagi soal hidup atau mati.

Lok Thung Kek segera menanyakan apa Cioe Ci Jiak suka menakluk, tapi si nona tak menjawab dan hanya menggelengkan kepala.

Baru saja kakek itu mau memerintahkan orang sebawahannya turun ke gelanggang, tiba2 Tio Beng berkata.

"Aku sungguh merasa kagum, bahwa dalam usia yang masih begitu muda kau telah menjadi salah seorang murid terpenting dari Go Bie Pay. Kudengar kau sangat disayang oleh Biat Coat Soethay dan telah mendapat ilmu yang paling tinggi dari gurumu. Apa begitu?"

"Ilmu silat guruku sangat luas dan dalam"

Jawabnya.

"Mana bisa orang gampang2 mewarisi ilmunya yang paling tinggi?"

Tio Beng tertawa.

"Menurut peraturan disini asal saja orang bisa menangkan 3 orangku, ia akan segera diantar keluar tanpa diganggu selembar rambutpun"

Katanya.

"Mengapa gurumu begitu sombong dan sungkan memperlihatkan ilmu silatnya kepada kami?"

"Dalam menghadapi kebinasaan, guruku sungkan dihina"

Sahut nona Cioe "Mana boleh Ciangboen Go Bie pay mencari keselamatan dari orang2 sebawahanmu?

Kau benar!

Guruku memang tak memandang sebelah mata kepada manusia2 rendah yang jahat dan kejam.

Memang benar soehoe tak sudi bertanding dengan manusia2 seperti kau dan anjing2mu!"

Walaupun disemprot dengan perkataan2 tajam, Tio Beng kelihatan tidak menjadi gusar. Ia bahkan masih tertawa.

"Bagaimana dengan Cioe Kauwnio sendiri?"

Tanyanya.

"Aku seorang muda, belum mempunyai pendirian sendiri"

Jawabnya.

"Aku hanya turut apa yang dikatakan oleh guruku"

"Gurumu juga melarang kau bertanding dengan kami, bukan?"

Tanya pula Tio Beng.

"Mengapa begitu?"

Cioe Jiak tersenyum dingin.

"Biarpun Kiam hoat Goe bie pay tidak bisa dinamakan sebagai ilmu pedang yang sangat tinggi, sedikitnya kiam hoat kami adalah ilmu dari sebuah partai lurus bersih di wilayah Tionggoan. Maka itu, kami tentu saja menjaga supaya ilmu itu tidak sampai dicuri oleh segala manusia yang tidak mengenal malu"

Tio Beng terkejut. Ia tidak pernah menduga bahwa maksudnya telah ditebak jitu oleh Biat Coat Soethay. Mendengar sindiran yang sangat pedas, darahnya meluap juga.

"Sret!"

Ia menghunus Ie Thian kiam.

"Gurumu telah mencaci kami sebagai manusia yang tidak mengenal malu"

Katanya.

"Baiklah! Sekaranf aku ingin menanya pedang Ie Thian kiam ini terang2 sebuah mustika milik keluargaku. Mengapa partaimu, partai Goe Bie Pay telah mencurinya?"

"Semenjak dahulu orang mengenal Ie Thian kiam dan To Liong To sebagai senjata2 mustika milik rimba persilatan daerah Tionggoan."

Jawabnya dengan suara tawar.

"Aku belum pernah mendengar, bahwa pedang itu mempunyai sangkut paut dengan seorang perempuan Hoan pang (orang asing dari See hoan)"

Paras muka Tio Beng lantas saja berubah merah padam.

"Ha!"

Bentaknya.

"Apa benar kau tidak mau bertanding?"

Nona Cioe menggeleng2kan kepala.

"Menurut peraturan disini, orang yang kalah bertanding atau yang tidak mau bertanding harus diputuskan salah satu jari tangannya"

Kata Tio Beng "Rupa2nya kau beradat sombong karena menggangulkan mukamu yang sangat cantik. Aku sekarang tak mau memutuskan jari tanganmu"

Ia menunjuk Kauw Tauw too dan berkata pula.

"Aku akan membuat mukamu seperti muka suhu itu. Aku akan membuat beberapa puluh goresan pedang diatas mukamu. Kumau lihat apakah kau masih bisa mempertahankan kesombonganmu"

Sehabis berkata begitu, ia mengibaskan tangannya. 2 pengawal baju kuning lantas saja melompat dan mencekel ke-2 lengan Cioe Jiak erat2. Tio Beng tertawa mengejek.

"Untuk menggores muka, orang tidak perlu memiliki Kiam hoat Go bie pay"

Katanya.

"Apa kau kira aku tidak mengubah kau menjadi perempuan muka jelek karena ilmu silatku tak keruan macamnya?"

Kedua mata nona Cioe mengembang air dan tubuhnya bergemetaran.

Untung Ie thian kiam hanya terpisah beberapa dim dari pipinya.

Dengan sekali mendorong tangannya si iblis bisa membuat mukanya menyerupai muka tauw too itu.

Tio Beng tertawa "Kau takut tidak?"

Tanyanya. Sekarang Cioe Ci Jiak tidak bisa mempertahankan keteguhannya lagi. Ia menggangguk dan menjawab dengan suara parau "Takut"

"Bagus!"

Kata nona Tio.

"Apa itu berarti, bahwa kau menakluk?"

"Tidak!"

Jawabnya.

"Lebih baik kau bunuh aku saja"

Tio Beng tertawa nyaring.

"Aku belum pernah membunuh orang."

Katanya.

"Aku hanya ingin menggores kulit dan sedikit dagingmu"

Tiba2 sinar putih berkelebat. Tio Beng benar2 menyabetkan Ie thian kiam ke muka nona Cioe. Pada detik yang sangat berbahaya, sebelum ujung pedang menyentuh kulit, tiba2 terdengar suara "Trang!"

Sebuah benda melayang dan Ie thian kiam terpukul miring.

Hampir berbareng jendela hancur, seorang melompat masuk dan 2 pengawal yang mencekal Cioe Ci Jiak roboh dilantai.

Semua kejadian itu terjadi dalam sekejap mata.

Dilain detik tangan kiri orang itu melindungi nona Cioe dengan memeluk pinggang si nona, sedang tangan kanannya mengadu dengan Long Thung Kek.

"Plak!"

Keduanya terhuyung2 setindak.

Ternyata orang yang menolong bukan lain Boe Kie.

Menyerbunya Boe Kie seolah2 halilintar ditengah hari bolong.

Dalam ruangan itu berkumpul jago2 yang sangat lihai, tapi tak urung mereka terkesiap.

Bahkan Hian beng ji loe (2 kakek yang memiliki Hian beng sin kiang) yang memiliki kepandaian paling tinggi tak keburu menghalangi Boe Kie.

Tapi biar bagaimanapun Long Tung Kek bertindak cepat.

Begitu mendengar pecahan jendela, ia lantas melompat ke depan Tio Beng untuk melindungi majikannya dan berbareng menyambut pukulan Boe Kie.

Diluar dugaannya bentrokan tangannya membuatnya terhuyung.

Buru2 ia mengempos semangat, tapi ia kaget sebab ia merasa sekujur badannya panas, seperti orang masuk ke dalam dapur.

Mengapa begitu?

Karena pada waktu beradu tangan, Kioe yang cin keng dari Be Kie menerobos masuk kedalam badannya.

Sebagaimana diketahui, Lweekang Long Thung Kek adalah Lweekang yang sangat dingin.

Kioe yang Cin kie adalah "hawa"

Yang bersifat Soen yang (panas murni).

Maka itu, masuknya Kioe yang cin kie suda mengakibatkan bentrokan antara panas dan dingin didalam tubuhnya.

Melihat keadaan Long Thung Kek, Hian beng Jie lo yang satunya lagi yang bernama Ho Pit Ong cepat2 menghampiri dan mencekal tangan Long Thung Kek.

Dengan tenaga kedua orang itu barulah Kioe yang cin kie dapat ditindih.

Pada detik itu, orang yang merasai keneruntungan yang paling besar adalah Cioe Cie Jiak.

Dalam menghadapi bahaya besar, ia tidak pernah mimpi, bahwa ia akan mendapat pertolongan dan yang menolong adalah Boe Kie sendiri.

Dengan jantung memukul keras ia mendapat tahu, bahwa pinggangnya dipeluk Boe Kie.

Semenjak pertemuan di Kong beng teng, siang malam ia belum pernah melupakan pemuda itu.

Maka itulah, biarpun menghadapi bahaya besar, biarpun ia berada ditengah2 ratusan golok, ia merasa beruntung dan tidak memperdulikan apapun juga.

Sementara itu melihat kauwcoe mereka menyerbu, Yo Siauw dan wie It Siauw-pun segera melompat masuk dan berdiri di belakang Boe Kie.

Orang2nya Tio Beng yang semula kaget sekarang sudah tenang kemabli lantaran mereka tahu, bahwa yang datang hanyalah 3 orang musuh.

Dari tanda yang diberikan oleh pengawal, mereka tahu bahwa diluar ruangan itu tidak terdapat lain musuh.

Mereka lantas saja menjaga semua pintu dan menunggu perintah sang majikan.

Nona Tio tidak bergusar.

Ia mengawasi Boe Kie dan kemudian mengawasi 2 benda kuning berkeredapan yang menggeletak di lantai.

Ternyata, waktu ia mau menggores muka Cioe Cie Jiak.

Boe Kie sudah menimpuk dengan serupa benda dan sebab Ie thian Kiam tajam luar biasa maka benda itu terbacok menjadi 2 potong.

Sekarang ia tahu, bahwa benda itu adalah kotak emas yang ia berikan kepada Boe Kie.

"Kau rupa2nya membenci sangat kotak itu"

Katanya dengan suara pelan. Melihat sorot mata Tio Beng yang penuh rasa menyesal, Boe Kie kaget dan heran.

"Aku tidak membawa senjata rahasia"

Katanya dengan suara lemah lembut.

"Dalam keadaan kesusu, aku sudah menggunakan kotak itu. Harap Tio kauwnio tidak menjadi gusar"

Kedua mata si nona mendadak mengeluarkan sinar terang.

"Apakah kau selalu membawa kotak itu?"

Tanyanya.

"Ya"

Jawabnya. Melihat Tio Beng terus mengawasi dirinya, dengan paras muka merah cepat2 Boe Kie melepaskan pelukannya pada pinggang Cie Jiak. Nona Tio menghela nafas dan berkata.

"Aku tak tahu bahwa Cioe Cie Jiak adalah…..adalah…sahabatmu. kalau kutahu tentu tidak berbuat begitu terhadapnya. Kalau begitu kalian adalah……"

Ia tidak meneruskan perkataannya dan menengok ke jurusan lain.

"Cioe Kauwnio tidak….bukan…..apa2"kata Boe Kie "Hanya……hanya…."

Tanpa mengeluarkan sepatah kata Tio Beng mengawasi pula 2 potong kertas itu.

Sinar matanya menunjuk, bahwa ia ingin bicara banyak tapi mulutnya terkancing.

Melihat begitu Cioe Ci Jiak kaget.

Dengan jantung memukul keras ia berkata didalam hati "Ah!

Tak dinytana iblis perempuan itu mencintainya"

Tapi Boe Kie tidak memikir sampai disitu.

Ia hanya merasa, bahwa ia sudah berbuat salah.

Isi kotak itu sudah mengobati Jie Thay Giam dam In Lie Heng.

Sebagai pembalasan budi, ia menggunakannya sebagai senjata rahasia, sehingga kotak itu terbagi 2.

inilah ketelaluan, pikirnya.

Ia segera menjemput ke-2 potong kotak itu dari atas lantai dan berkata dengan suara meminta maaf.

"Aku akan meminta seorang tukang yang pandai untuk menyambungnya lagi"

"Apa benar?"

Menegas si nona dengan suara girang.

Boe Kie manggutkan kepala.

Ia merasa heran mengapa nona Tio begitu girang.

Tapi ia tak mau memikir panjang panjang.

Ia hanya menganggap bahwa wanita muda itu sering menunjukan sikap yang aneh2.

ia segera memasukkan kedua potongan itu kedalam sakunya.

"Nah, sekarang kau pergilah!"

Kata Tio Beng.

Alis Boe Kie berkerut.

Ia datang dengan tujuan untuk menolong para pamannya dan lain2.

sebelum mereka tertolong ia tidak bisa pergi.

Tapi dilain pihak, musuh mempunyai banyak sekali orang pandai dan dengan hanya bertiga, ia tidak bisa berbuat banyak.

"Tio kauwnio, perlu apa kau menangkap Toasopeh dan yang lain2nya"

Tanyanya. Nona Tio tertawa.

"Maksudku sebenarnya baik sekali"

Jawabnya.

"Aku mengundang mereka supaya mereka suka mengeluarkan tenaga untuk kerajaan supaya kita bersama2 bisa mencicipi kesenangan dan kemewahan. Diluar dugaan mereka sangat keras kepala. Maka itu, aku tidak bisa berbuat lain daripada coba membujuk mereka dengan perlahan2" . Boe Kie mengeluarkan suara dihidung dan lalu mendekati Cioe Cie Jiak. Biarpun dikurung oleh musuh2 yang berkepandaian sangat tinggi, sikapnya tenang dan wajar. Tadi ketika ia menjemput kedua potong kotak emas, ia bergerak seolah2 di ruangan itu tak ada manusianya. Sekarang, setelah menyapu seluruh ruangan dengan matanya, ia berkata "Baiklah! Kalau begitu, kami ingin berpamitan."

Ia memegang tangan Cioe Cie Jiak, memutar badan dan lalu bertindak keluar.

"Tahan!"

Bentak Tio Beng.

"Jika kau inin pergi sendiri, aku tak nanti menghalang-halangi Tapi dengan mengajak Cioe kauwnio tanpa memberitahukan aku, kau sungguh tidak memandang sebelah mata kepadaku" .

"Benar aku melanggar adat kesopanan"

Kata Boe Kie sambil menghentikan tindakannya lalu memutar tubuh.

"Tio kauwnio, aku meminta kau melepaskan Cioe Kauwnio dan mempermisikannya untuk mengikut aku" . Tio Beng tidak menjawab. Ia memberi isyarat kepada Hian beng Jie lo dengan lirikan mata. Ho Pit Ong maju beberapa tindak dan berkata "Thio kauwcoe, kau datang lantas datang, mau pergi lantas pergi. Mau menolong orang lantas menolong. Kau pikirlah! Dengan perbuatan itu, dimana kami harus menaruh muka? Apabila kau tidak memperlihatkan kepandaianmu kami semua tentu merasa sangat penasaran."

Mendengar suara si kakek, darah Boe Kie lantas saja meluap.

"Tua bangka kurang ajar!"

Cacinya "dahulu, diwaktu aku masih kecil, kau sudah membekuk aku, sehingga hampir2 jiwaku melayang. Hari ini, kau masih ada muka bicara begitu dihadapanku. Sambutlah!"

Seraya berkata begitu, ia menghantam Ho Pit Ong.

Lok Tung Kek yang tadi sudah berkenalan dengan kelihayan Boe Kie, mengerti bahwa dengan seorang diri, kawan itu bukan tandingan pemuda itu.

Bagaikan kilat ia melompat dan memukul.

Boe Kie tidak membatalkan serangannya tangan kanannya terus menghantam Ho Pit Ong sedang tangan kirinya menangkis pukulan Lok Thung Kek.

Dalam gebrakan ini "Tenaga tulen"

Melawan "tenaga tulen".

Berbarengan dengan bentrokan empat lengan, tubuh ketiga orang itu bergoyang2.

Pada beberapa bulan berselang, dalam pertemuan di Boe tong san, 2 tangan Hian beng Jie lo melayani ke-2 tangan Boe Kie, sedang 2 tangan mereka yang lain menghantam tubuh pemuda itu.

Sekarang mereka ingin mengulangi siasat itu.

2 tangan mereka yang masih merdeka dengan berbareng menghantam Boe Kie.

Tapi sesudah dibokong satu kali.

Siang2 ia sudah memikiri cara bagaimana untuk memunahkannya.

Demikianlah, selagi ke-2 tangan musuh menyambar, tiba2 ia menyikut dengan menggunakan Kian koen Tay lo ie Sin Kang.

"Plak!"

Tangan kiri Ho Pit Ong memukul tangan kanan Lok Thung Kek.

Kedua kakek itu memukul dengan ciang hiat yang sama, dengan tenaga yang sama pula.

Sambil mengeluarkan seruan tertahan, mereka merasakan kesakitan hebat.

Tak kepalang rasa herannya.

Mereka sama sekali tidak mengerti, mengapa mereka saling pukul dengan teman sendiri.

Ternyata, biarpun berkepandaian tinggi, Hian beng jie lo belum mengenal Kian koen Tay lo ie.

Dilain saat, dengan gusar mereka menyerang bagaikan hujan dan angin.

Dalam serangan itu, mereka bekerja sama erat sekali, yang satu menyerang, yang satu membela diri.

Tapi Boe Kie terus menggunakan Tay loe ie sin kang, sehingga beberapa kali ke-2 lawannya saling gebuk dengan kawan sendiri.

Hian beng Jie lo saling mengawasi dengan mata membelalak dan muka pucat.

Sementara itu, Boe Kie mengubah cara berkelahinya.

Kini ia menyerang, dengan "hawa"

Yang "panas murni". Diserang begitu ke-2 kakek itu yang mempunyai Lweekang "dingin"

Jadi setengah mati.

Boe Kie terus mendesak tanpa mengenal ampun.

Makin lama pukulan2nya makin cepat dan erat.

Dalam pertemuan ini, ia mengenali, bahwa diantara Hian beng Jie lo, Ho Pat Ong lah yang telah memukulnya dengan Hian Beng sin ciang pada 20 tahun berselang.

Ia ingat cara bagaimana pukulan itu sudah mengakibatkan penderitaan hebat bagi dirinya dan hampir saja ia kehilangan jiwa.

Ia adalah seorang yang selalu bersedia untuk mengampuni semua manusia.

Tetapi sekarang, darahnya mendidih.

Terhadap Lok Thung Kek, ia masih berlaku murah hati, tapi terhadap Ho Pit Ong ia tak sungkan2 lagi.

Sesudah bertempur kira2 20 jurus muka Ho Pit Ong yang semula hijau berubah menjadi merah.

Tiba2 Boe Kie menghantam dengan telapak tangannya.

Buru2 ia menangkis dengan tangan kiri, sedang tangan kanan mereka itu dapat digunakan lagi untuk balas menyerang "Plak!...Plak!"

Kedua tangan dengan saling susul mampir di pundak Long Thung Kek sedang tangan Boe Kie terus menyambar tanpa bisa ditangkis atau dikelit lagi.

"Buk!"

Dadanya terpukul keras.

Untung juga pada detik terakhir Boe Kie merubah pikiran dan sungkan mengambil jiwa musuh.

Sehingga pada saat yang memutuskan, ia mengurangi tenaganya.

Tapi biarpun begitu, Ho Pit Ong segera memuntahkan darah, dari merah mukanya berubah menjadi ungu dan badannya bergoyang2.

kalau Boe Kie mengirim pukulan susulan kakek itu tentu segera tamat riwayatnya.

Sementara itu sebab kena 2 pukulan kawan sendiri.

Lok Thung Kek berjengit dan seraya menggigit gigi ia terhuyung beberapa tindak.

Hian Beng Jie lo adalah jago2 utama dibawah perintah Tio Beng.

Bahwa belum cukup 30 jurus mereka sudah terluka berat, adalah kejadian yang sungguh2 mengejutkan semua orang.

Terhitung Yo Siauw dan Wie It Siauw sendiri.

Mengejutkan karena pada waktu bergebrak dengan Hian beng Jie lo di Boe Tong San kepandaian Boe Kie belum setinggi sekarang.

Tak disangka dalam tempo beberapa bulan saja, ia sudah maju begitu pesat.

Sebab musabab dari kemajuan itu ialah sambil mengobati Jie Thay Giam dan In Lie Heng selama beberapa bulan Boe Kie banyak menerima pelajaran dari Thio Sam Hong.

Kioe yang sin kang, Kian koen thay lo ie dan Thay kek koen telah bergabung menjadi satu sehingga dapat dikatakan, Boe Kie telah mencapai tingkat tertinggi dalam ilmu silat.

Sesudah memikir sejenak, Yo Siauw mengerti sebab musabab itu.

Mereka kagum terhadap guru besar itu dan mengagumi juga kauwcoe mereka.

Sesudah menderita kekalahan dalam pertandingan tangan kosong sambil membentak keras, dengan berbareng hian beng jie lo mengeluarkan senjata mereka.

Lok Thung Kek memegang sebatang tongkat pendek bercagak menyerupai tanduk menjangan, warna hitam, entah dibuat dari logam apa.

Ho Pit Ong mencekal sepasang pit(senjata seperti pena Tionggoan) warna putih terang, seperti krystal, yang ujungnya lancip seperti patuk burung Ho.

Mereka sudah lama mengikuti Tio Beng tapi malah nona itu sendiri tidak pernah melihat mereka menggunakan senjata.

Dimana saat satu sinar hitam dan 2 sinar putih segera mengepung Boe Kie.

Pemuda itu tak bersenjata, tapi sedikitpun ia tak merasa keder.

Ia justru ingin menjajal kepandaiannya.

Ia ingin mengetahui apakah dengan tangan kosong ia bisa melayani ke-2 musuh yang lihay itu.

Dalam kegusarannya, Hian beng jie lo menggunakan senjata yang jarang sekali mereka gunakan.

Selama hidup mereka sangat mengandalkan senjata itu yang dapat digunakan untuk menyerang musuh dengan pukulan2 aneh.

Nama mereka atau lebih tepat nama julukan mereka telah didapatkan dari senjata itu.

Lok kak Toan thung dan Ho swee Siang pit (Tongkat pendek yang menyerupai tanduk menjangan dan sepasang pit yang menyerupai patuk burung ho) dan sebagai ringkas mereka menggunakan nama Lok Thung Kek (si pit burung ho).

Dengan memusatkan seluruh perhatian dan semangatnya, Boe Kie melayani ke-2 musuh itu.

Untuk menyelamatkan diri dari serangan2 musuh luar biasa ia menggunakan ilmu ringan badan yang paling tinggi.

Tapi untuk sementara waktu, ia belum benar2 memahami pukulan2 kedua kakek itu yang benar2 aneh.

Dengan demikian biarpun ia berkepandaian cukup untuk membela diri, ia tak bisa mendapat kemenangan dalam waktu cepat.

Sementara itu, begitu Boe Kie bertempur melawan hian beng jie lo, Tio Beng menepuk tangan 3 kali dan 3 orang lantas saja menerjang Yo Siauw, 4 orang meyerang Wie It Siauw, sedang 2 orang membekuk Cioe Cie Jiak.

Dalam sekejap Yo Siauw mwlukai lawan dengan pedangnya.

Wie It Siauw merubuhkan 2 orang dengan pukulan Bian Ciang.

Tapi jumlah musuh terlalu banyak.

Roboh satu maju 2.

Boe Kie yang sedang dikepung tak bisa memberikan pertolongan.

Andaikata mereka bertiga ingin melarikan diri, mereka masih bisa berbuat begitu.

Tapi kalau mau mengajak Cioe Cie Jiak mereka takkan bisa melakukan itu.

Makin lama keadaan pihak Boe Kie jadi makin jelek.

Mereka bingung dan makin bingung, mereka makin terdesak.

Sekonyong2 Tio Beng membentak.

"Semua berhenti!"

Hampir berbareng, semua jagonya nona Tio melompat keluar dari gelanggang.

Yo Siauw segera memasukkan pedangnya kedalam sarung, sedang Wie It Siauw memulangkan golok yg dirampasnya kepada pemiliknya.

Sesudah itu sambil tertawa terbahak2 mereka berdiri dibelakang Boe Kie.

Orang2 sebawahan Tio Beng yg berkepandaian tinggi Kouw Tauw Too dan yang lain2 banyak yg belum turun ke gelangang.

Apabila mereka menyerbu, Boe Kie bertiga pasti takkan bisa mempertahankan diri.

Bahwa dalam menghadapi bahaya kedua pemimpin Bengkauw itu masih bisa tertawa sudah membangkitkan rasa kagum dalam hatinya semua orang.

Sementara itu dengan rasa kuatir Boe Kie melihat seorang pria yg menudingkan sebatang pisau ke punggung Cioe cie Jiak.

"Thio kongcu, sam wie (ketiga tuan) pergilah", kata nona Cioe.

"Aku merasa sangat berterima kasih akan maksud sam wie yg mulia."

"Thio Kongcu,"

Kata Tio Beng sambil tersenyum.

"Aku sungguh merasa kasihan terhadap nona yg begitu cantik. Apakah Cioe Kouwnio gadis idam2an mu?"

Paras muka Boe Kie lantas saja berubah merah.

"Cioe Kouwnie dan aku sudah saling mengenal sejak kecil"

Katanya.

"Diwaktu kecial aku telah dipukul oleh manusia itu…"

Ia menuding Hi Pin Ong.

"Dengan Hian beng Sin ciang. Racun dingin masuk kedalam tubuhku dan aku hampir tak bisa bergerak. Pada waktu itu Cioe Kouwnio telah merawat aku menyuapi makan kemulutku dan memberi minum kepadaku. Budi yang besar itu sukar sekali bisa dilupakan olehku."

"Kalau begitu, kalian adalah kawan sedari kecil,"

Kata Tio Beng.

"Bukankah kau ingin mengangkat dia sebagai kauwcoe Hoejim (Nyonya kauwcoe) dari Beng Kauw?"

Muka Boe Kie jadi terlebih merah.

"Sebelum musuh dapat diusir, tak bisa aku menikah!"

Katanya. Tio Beng lantas saja gusar.

"Apa benar2 kau mau menumpas aku?"

Tanyanya. Boe Kie menggelengkan kepalanya.

"Sampai sekarang aku masih belum tahu asal usul kauw Nio,"

Katanya.

"Meskipun kita telah kebentrok berapa kali bukan aku, tapi kauwnio yg cari urusan. Apabila kouwnio sudi melepaskan para pamanku dan tokoh2 berbagai partai, aku akan merasa sangat berterima kasih dan sedikitpun tidak berani bermusuhan lagi dengan kouwnio. Apapula kouwnio boleh memerintahkan aku melakukan tiga rupa pekerjaan. Kouwnio boleh menyebutkannya dan aku pasti akan melakukannya sedapat mungkin."

Tio Beng tertawa.

"Ah! Kau belum lupa?"

Katanya. Ia berpaling kepada Cioe Cie Jiak dan berkata pula.

"Jika benar Cioe kouwnio bukan gadis idamanmu, bukan saudari seperguruanmu bukan tunangamyu, maka di goresnya muka yg cantik itu sama sekali tiada sangkut pautnya dengan kau."

Sehabis berkata begitu, ia melirik.

Hampir berbareng Lok Thung Kek dan Ho Pit Ong melompat kedepat Cioe Cie Jiak dengan masing2 mencekal senjata, sedang salah seorang pengawal menudingkan pisau pada muka Coe.

"Thio kong coe,"

Kata pula Tio Beng.

"Lebih baik kau berterus terang kepadaku."

Selagi Tio Beng bicara, Wie It Siauw membuka telapak tangannya dan meludahinya beberapa kali, akan kemudian menggosok gosok telapak tangan yg penuh ludah itu di sela sepatunya.

Semua orang merasa heran.

Mereka tak bisa menebak apa maksud Wie Hok Ong.

Sekonyong2 Ceng Ek Hong Ong tertawa terbahak bahak dan belum habis ia tertawa tubuhnya berkelebat bagaikan kilat.

Hampir berbareng Tio Beng kedua pipi nya di usap orang dan dilain detik Wie It Siauw sudah berdiri lagi di tempat semula dengan tangan memegang dua batang golok pendek.

Tak seorangpun melihat, dari pinggang siapa ia mencabut kedua senjata itu.

Nona Tio terkesiap, ia tak berani meraba pipinya dan lalu mengeluarkan sehelai sapu tangan untuk menyusutnya.

Sapu tangan itu bergelepotan suatu cairan2 lendir yg tercampur tanah.

Ludah Wie Hok Ong!

Bahwa gusar, paras muka si nona berubah menjadi meah padam.

Mengingat mukanya dilabur ludah hampir2 ia muntah.

"Tio Kouwnio!"

Bentak Wit It Siang dengan suara lantang.

"Kalau kau mau merusak muka Cioe Kouwnio, aku tentu tudak bisa mencegah. Nama Thio Kauwcoe kami dikenal ditengah lautan dan sebagai pemuda berkepandaian tinggi dan tampat, tak sukar untuk mencari gadis2 cantik untuk dijadikan istri dan empat gundik. Pada hakekatnya, ia tak memikir Cioe Kounio. Tapi kau manusia kejam luar biasa dan aku, si orang she Wie, tidak bisa membiarkan dengan begitu saja. Tio Kouwnio, kau dengarlah! Jika hari ini kau menggores muka Cioe Kouwnio satu kali, aku akan membalas budi dengan dua kali lipat, aku akan menggores mukamu dua kali, aku akan membayar dengan empat goresan. Apabila kau memutuskan satu jari tangannya, aku akan memutuskan satu dua jari tangan2mu. Si orang she Wie tidak pernah berdusta. Apa yg dikatannya pasti akan dilakukannya. Ceng Ek Hok Ong belum pernah menjilat lagi ludah yg sudah dibuangi. Mungkin kau bisa menjaga diri selama setengah atau satu tahun, tapi kau pasti tak akan mampu berwaspada terus menerus dalam delapan sembilan tahun atau sepuluh tahun. Mungkin untuk menyelamatkan diri kau akan menyuruh anjing2mu untuk membinasakan aku. Tapi aku percaya tak seorangpun didalam dunia ini yg bisa mengubar dirinya Ceng Ek Hong Ong. Nah selamat tinggal!."

Berbareng dengan terdengarnya "perkataan tinggal"

Badan Wie It Siauw menghilang dari ruangan itu.

Kecepatan bergeraknya Wie Hok Ong sungguh2 menakjubkan, semua orang yakin bahwa ancaman yg dikeluarkan dengan suara tenang bukan gertak sambal.

Muka Tio Beng sebentar pucat, sebentar merah.

Ia mengerti, bahwa kalau tadi Wie It Siauw mengusap mukanya menyeluruh dengan sebatang pisau, muka yg cantik itu sudah mulai cacat iapun yakin bahwa sesuai dengan ancaman itu, ia tak akan bisa menjaga diri terus menerus.

Dalam ruangan itu, orang yg berilmu silat paling tinggi adalah Boe Kie.

Tapi Boe Kie pun tidak ungkulan melawan Wie It Siauw dalam ilmu ringan badan.

Dalam perlombaan jarak jauh berkat Lweekangnya ia akan memperoleh kemenangan.

Tapi dalam jarak dekat ia tak usah berharap bisa menyandek Wie Hok Ong.

Pada jaman itu, dalam seluruh rimba persilatan, Wie It Siauw lah yg memiliki ilmu mengentengkan badan yg paling tinggi.

Sesaat kemudian, sambil membungkuk Boe Kie berkata.

"Tio Kauwnio, kalau begitu sekarang saja kami minta diri."

Dengan menuntun tangan Yo Siauw, ia meninggalkan ruangan itu.

Ia tahu bahwa sesudah mendapat ancaman, Tio Beng pasti tidak berani main gila terhadap Cioe Cie Jiak.

Dengan rasa malu dan gusar nona Tio mengawasi mereka, tapi ita tidak berani memerintahkan orang2nya untuk mencegat kedua pimpinan Beng Kauw itu.

Setibanya dirumah penginapan, Wie It Siauw sudah menunggu.

"Wie Hok Ong,"

Kata Boe Kie sambil tertawa.

"hari ini kau memberi pelajaran lepat kepat kepada mereka. Mereka sekarang mengerti, bahwa Beng Kauw tidak boleh dibuat gegabah."

Wie It Siauw tertawa nyaring.

"Aku tanggung tiga hari tiga malam nona cantik itu tidak enak tidur,"

Katanya.

"Makin dia tidak enak tidur, makin sukar kita menolong orang,"

Kata Yo Siauw.

"Yo Co Soe bagaimana pikiranmu?"

Tanya Boe Kie.

"Apakah kau mempunyai daya yang baik untuk menolong mereka?"

Alis Yo Siauw berkerut.

"Memang sukar,"

Jawabnya.

"Kita hanya bertiga, apapula kedatangan kita sudah diketahui oleh musuh."

Boe Kie merasa jangah.

"Akulah yang bersalah,"

Katanya dengan suara meminta maat.

"Sebab melihat Cioe Kauwnio menghadap bahaya aku tidak bisa untuk melakukan dan menahan hati, sehingga akhirnya aku merusak urusan besar."

"Kauw coe tidak bersalah,"

Bantah Yo Siauw.

"Dalam keadaan begitu, kamipun tidak bisa tidak turun tangan. Bahwa dengan seorang diri, Kauw coe sudah mengalahkan Hian Beng Jie Lo, adalah kejadian yg sangat baik untuk pihak kita."

Sesudah beromong2 beberapa lama lagi, mereka segera pergi mengaso di masing2 kamarnya.

Pada esok harinya Boe Kie tersadar dari tidurnya.

Begitu membuka mata ia melihat jendela terpentang lebar dan seorang berdiri didepan jendela sedang mengawasinya.

Dengan kaget ia melompat bangun.

Orang itu mukanya penuh tanda bacokan golok, bukan lain daripada Kouw Tauw Too.

Boe Kie makin kaget, Kouw Tauw Too terus mengawasinya, tapi ia kelihatan tidak mengandung maksud jelek.

Boe Kie merasa seolah2 kepalanya diguyur air dingin.

"Bagaimana aku bisa pulas begitu nyenyak?" , katanya didalam hati. Musuh sudah berada diluar jendela dan aku masih belum tahu. Dilain saat ia berteriak.

"Yo ce soe! Wie Hok ong!"

Mereka yg tidur dikamar sebelah, lantas saja menyahut.

Hati Boe Kie agak lega sedikitnya ia tahu, bahwa kedua kawannya tidak dicelakai musuh.

Sementara itu, Kauw Tauw Too sudah menyingkir.

Bagaikan kilat Boe Kie melompat keluar jendela dan terus mengubar.

Yo Siauw dan Wie It Siauw menyusul dari belakang.

Setibanya diluar mereka tidak melihat musuh lain, sedang si pendeta kabur ke arah utara.

Seraya memberi isyarat dengan ulapan tangan, mereka mengejar.

Meskipun pincang, pendeta itu bisa lari cepat sekali.

Waktu itu fajar baru menyingsing dan jalanan masih sepi.

Tapi lama kemudian, mereka sudah keluar dari pintu utara dan Kouw Tauw too membelok kejalanan kecil.

Sesudah lari tujuh delapan li lagi, mereka tiba disebuah bukit batu dan si pendeta menghentikan tindakannya.

Sesudah mengibas2kan tangannya sebagai tanda supaya Yo Siauw and Wie It Siauw mundur, ia memberi hormat.

"Apa maksudnya?"

Tanyanya didalam hati.

"Tempat ini tiada manusianya dan kalau sampai bertempur, dengan seorang diri, dia pasti kalah. Kelihatannya dia tidak mengandung maksud jahat."

Selagi Boe Kie memikir begitu, seraya mengeluarkan suara "ah ah uh uh"

Si gagu sudah menerjang.

Dia menyerang dengan memandang sepuluh jeriji tangan kiri merupakan Houw Jiauw (kuku harimau), tangan kannya berbentuk Liong Jiauw (cakar naga) sepuluh jari tangannya bengkok seperti gretan baja dan serangannya hebat luar biasa.

Dengan mengibaskan tangan kiri, Boe Kie memunahkan serangan lawan.

"Bagaiman maksud Siang jin?"

Tanyanya.

"Sesudah bicara, kita masih mempunyai banyak waktu untuk bertempur."

Tapi si pendeta tidak meladeni dan terus menyerang. Tangan kirinya semula merupakan Hauw Jiauw berubah menjadi Eng Jiauw (cakar elang) sedang tangan kanannya berubah menjadi Hauw Jiauw.

"Apa benar2 Sian jin mau bertanding juga?"

Tanya Boe Kie seraya berkelit.

Si gagu tetap tidak menjawab.

Kedua tangannya berubah lagi Eng Jiauw menjadi Say ciang (telapak tangan singa), Houw Jiauw menjadi Ho uwee (patuk burung Ho), sedang pukulannyapun turut berubah.

Demikianlah, dalam tiga gebrakan ia sudah menyerang dengan enam rupa pukulan.

Boe Kie tidak berani berayal lagi dan segara melayani dengan Thay kek koen.

Ia bergerak bagaikan mengalirnya air dan setiap pukulannya, baik membela diri maupun menyerang, merupakan lingkaran Thay kek.

Dalam pihak, Kauw tauw too menyerang dengan tipu2 yg beraneka ragam.

Ia menggunakan ilmu silat yg aneh2 menggabung silat "sesat"

Dengan silat dari partai lurus bersih.

Tapi Boe Kie sendiri tetap melayani dengan Thay Kek Koen.

Sesudah bertempur kurang lebih tujuh puluh jurus, sambil membentak keras.

Kouw Tauw Too, meninju dari jurusan Tiong Kiong.

Bagaikan kilat, dengan gerakan Jie hong Sie pit, Boe Kie memuji tinju yang menyambar dan berbareng dengan pukulan Tan Pian, telapak tangan kanannya meneput punggung si pendeta yg bongkok.

Tepukan itu mampir tepat pada sasarannya, tapi Boe Kie tidak menggunakan Lwee Kang dan begitu telapak tangannya menyentuh punggung ia segera menarik pulang.

Si pendeta melompat kebelakang dan mengawasi Boe Kie dengan sorot mata berterima kasih.

Ia mengerti bahwa dalam tepukan tadi, pemuda itu telah menaruh belas kasihan.

Sesaat kemudian, ia menggapai Yo Siauw dan dengan gerakan tangan mengutarakan keinginannya untuk meminjam pedang.

Yo Siauw membuka ikatan tali pedang dan bersama sama sarungnya, ia menyerahkan senjata itu kepada si pendeta.

Boe Kie heran.

"Mengapa Co Soe meminjam senjata kepada musuh?"

Tanyanya dalam hati.

Sementara itu, sesudah menghunus pedang Kouw Tauw too memberi isyarat supaya Boe Kie meminjam pedang Wie It Siauw.

Tapi pemuda itu menggelengkan kepala dan lalu menggambil sarung pedang dari tangan si pendeta.

Sesudah itu, sambil melintangkan sarung pedang di depan dada ia membuat gerakan Ceng chioe (mengundang).

Kouw Tauw too tidak berlaku sungkan2 lagi dan lalu membuka serangan.

Setelah menyaksikan cara bagimana pendeta itu mengajar ilmu pedang kepada Tio Beng, Boe Kie tahu, bahwa dia memiliki K iam hoat yg sangat tinggi.

Maka itu, ia segera melayani dengan Thay kek Kiam hoat.

Seperti juga dalam pertandingan tangan kosong, Kouw tauw too menyerang dengan rupa2 pukulan yg dikirim secara berantai yg satu belum habis yg lain sudah menyusul.

Sesudah bertanding beberapa lama, Boe Kie merasa kagum sekali.

"Kalau aku ketemu dia pada setengah tahun berselang, di dalam kiam hoat belum tentu aku dapat menandinginya,"

Katanya didalam hati.

"Di bandingkan dengan Giok Bin Sin Kiam Tong Hong Peng ilmu pedang yg masih lebih tinggi setingkat."

Memikir begitu, didalam hatinya lantas muncul rasa sayang kepada pendeta itu.

Sesudah lewat beberapa jurus lagi, Kauw Tauw Too menyerang dengan ilmu Loan Pie Hong (angin puyuh) dan pedangnya menyambar nyambar bagaikan berlaksa ular.

Boe Kie menyambut setiap serangan dengan memusatkan seluruh semangat dan perhatiannya.

Mendadak, mendadak saja dengan kecepatan yg tak mungkin dilukiskan ia membalik sarung pedang sehingga mulutnya menghadap keluar dan memapaki pedang si pendeta yg menyambar!

Srok!

Pedang itu masuk kesarungnya.

Hampir berbareng, kedua menyambar dan menyentuk pergelangan tangan si pendeta dan kemudian, sambil tersenyum melompat mundur.

Kalau mau, dengan menggunakan sedikit tenaga, ia sudah dapat merampas pedang si pendeta.

Cara yg digunakannya itu berbahaya dan indah luar biasa.

Diluar dugaan, selagi ia melompat mundur, sebelum kakinya menginjak tanah, Kouw Tauw too sudah melemparkan pedangnya dan menghantam dengan telapak tangan.

Dari sambaran angin, ia tahu bahwa pukulan itu disertai lweekang yg dahsyat.

Karena ingin menjajal kekuatan tenaga dalam pendeta itu, ia segera menyambut dengan tangan kanannya dan kemudian barulah kedua kakinya hinggap ditanah.

Kouw Tauw Too tidak berhenti sampai disitu dan terus mengirim pukulan2 hebat.

Boe Kie segera mengeluarkan ilmu Kian Koen Tay Lo Ie yg paling tingig dna dengan ilmu tersebut, ia mengumpulkan tenaga pukulan2 itu.

Kemudian sambil membentak keras, ia balas memukul.

Pukulan itu seolah2 air banjir yg memecahkan bendungan.

Tenaga kira2 dua puluh pukulan Kouw Tauw too yg terkumpul menjadi satu, dilepaskan secara mendadak.

Di dalam dunia belum pernah ada tenaga pukulan sehebat itu.

Jika pukulan itu menimpa tubuh manusia, maka daging dan tulang pasti bisa hancur luluh.

Sesaat itu kedua telapak tangan menempel dan Kouw Tauw too tidak bisa meloloskan diri lagi.

Tiba2 tangan kiri Boe Kie menjambret dada si pendeta dan melemparkannya keatas, sehingga tubuh yg tinggi besar itu terbang ke angkasa.

Hampir berbareng terdengar suara keras dan batu2 terbang berhamburan.

Pukulan yg sangat dahsyat itu menimpa batu.

Yo Siauw dan Wie It Siauw mengeluarkan teriakan kaget.

Semula mereka menduga, bahwa dalam pertandingan Lwee Kang antara Kauw Coe dan Kouw Tauw Too, keputusan siapa menang siapa kalah baru bisa didapat sedikitinya dalam waktu seminuman teh.

Diluar taksiran, detik yg menentukan tercapai dalam waktu yg begitu cepat.

Sesaat kemudian, dengan keringat membasahi telapak tangannya, Kouw Tauw too sudah hinggap pula di tanah dengan selamat.

Begitu lekas kedua kakinya menyentuh tanah, dengan kedua tangannya ia membuat gerakan seperti api yg berkobar2 dan sesudah itu, sambil menaruh tangannya diatas dada dan berlulut ia berkata "Siauwjin (aku yg rendah)."

"Kong Beng Yo soe Hoan Yauw, menghadap Kauwcoe. Siauwjin menghaturkan banyak terima kasih kepada Kauwcoe yg sudah menaruh belas kasihan, dan meminta maaf untuk segala kekurang ajaranku."

Bukan main kagetnya Boe Kie.

Mimpipun ia tak pernah mimpi, bahwa si gagu Kouw Tauw too bukan saja bisa bicara, tap i juga Kong beng Yoe Soe dari Beng Kauw yg sudah menghilang selama banyak tahun.

Buru2 ia membangunkannya dan berkata.

"Hoan Yoe Soe, antara orang sendiri janganlah menggunakan terlalu banyak peradatan."

Waktu tiba di bukit batu itu, Yo Siauw dan Wie It Siauw sebenarnya sudah menduga duga.

Hanya karena tubuh dan muka Hoan Yauw berubah terlalu banyak, maka mereka belum berani memastikan.

Sesudah Hoan Yauw memperlihatkan ilmu silatnya, dugaan mereka jadi makin keras.

Sekarang dengan serentak mereka mendekat dan mencekal tangan kawan itu erat2.

sambil mengawasi Hoan Yauw dengan air mata berlinang2, Yo Siauw berkata.

"Saudara Hoa, siang malam kakakmu memikiri kau."

Hoan Yauw memeluknya. Ia menangis segak2 dan berkata.

"Taoko kita harus berterima kasih kepada Tuhan yg sudha mengirim seorang kauwcoe yg berkepandaian tinggi dan bijaksana kepada kita. Kitapun harus berterima kasih, bahwa hari ini kita bisa bertemu muka lagi."

"Saudara, mengapa kau jadi begini?"

Tanya Yo Siauw.

"Jika aku tidak merusak muka dan tubuh sendiri, cara bagimana kudapat mengabuli Seng Koen?"

Jawabnya. Mendenger keterangan itu, Boe Kie bertiga kaget bercampur duka. Mereka sekarang tahu, bahwa Hoan Yauw sudah mencaci diri sendiri untuk bisa masuk kedalam kalangan musuh.

"Saudara, kau sangat menderita,"

Kata Yo Siauw dengan suara parau.

Dahulu, dalam kalangan Kang Ouw, Yo Siauw dan Hoan Yauw dikenal sebagai Siauw Yauw Jie Sian (Siauw dan Yauw dua dewa) dan julukan itu didapat karena mereka berdua memiliki muka yg sangat tampan.

Dari sini dapatlah dibayangkan bahwa dengan mencacati muka sendiri, Hoan Yauw telah membuat suatu pengorbanan yg sangat besar.

Wie It Siauw yg beradat aneh sebenarnya tidak begitu akur dengan Hoan Youw.

Tapi sekarang ia turut berduka dan sambil berlutut ia berkata.

"Hoan Yoe soe, hari ini Wie It Siauw benar2 takluk kepadamu."

Hoan Yauw segera balas berlutut.

"Ilmu ringan badan Wie Hog ong tiada bandingannya dalam dunia,"

Katanya.

"Makin tua kau kian lihai. Semalam Kauw Touw too bertambah pengalaman."

Yo Siauw menengok kesekitarnya dan berkata.

"Tempat ini tidak jauh dari kota dan musuh banyak mempunyai mata. Lebih baik kita pergi kelembah sebelah depan."

Semua menyetujui dan mereka lantas saja berangkat.

Sesudah berlari2 belasan li, mereka tiba dibelakang sebuah bukit kecil, darimana mereka bisa memandang beberapa li jauhnya, sehingga mereka tak usah kuatir pembicaraan mereka di dengar orang.

Mereka lalu duduk ditanah dan mendengari cerita Hoan Yauw.

Sebagaimana diketahui, sesudah Yo Po Thian menghilang dengan mendadak Peng Kauw terpecah belah sebab para pemimpinnya berebut kedudukan Kauwcoe.

Hoan Yauw sendiri percaya Yo Po Thian belum meninggal dunia, maka seorang diri ia menjelajah dunia Kang ouw untuk mencari pemimpin itu.

Dalam beberapa tahun ia masih jg belum berhasil.

Belakangan ia menduga mungkin sekali Yo Po Thian dicelakai orang2 Kay pang.

Diam2 dia membekuk beberapa tokoh partai si pengemis dan menyiksanya untuk mengorek keterangan.

Tapi tindakan inipun tidak berhasil.

Ia bukan saja gagal, tapi tanpa sebab juga sudah mempersakiti banyak anggot Kaypang.

Ketika itu, permusuhan kalangan Beng Kauw makin menghebat.

Dalam agama tersebut, ia mempunyai kedudukan yg sangat tinggi.

Apabila ia mau tampil kemuka dan turut serta dalam perebutan kedudukan Kauwcoe, ia pasti akan mendapat banyak pengikut.

Akhirnya dia mengundurkan diri dari dunia pergaulan dan menjadi pendeta yg memelihara rambut (tauw too).

Tapi manusia tidak bisa melawan maunya nasib.

Suatu kejadian yg sangat kebetulan telah terjadi.

Pada suatu hari, selagi lewat dikaki gunung Thay heng san, ia ditimpa hujan dan lalu meneduh di sebuah kelenteng rusak.

Tanpa di sengaja ia mendengar pembicaraan dua orang yg satu Seng Koen, yg lain seorang pendeta.

Belakangan baru itu tahu, bahwa pendeta itu adalah Kong kian Tay soe, kepala dari empat pendeta suci dari kuil Siauw Lim sie.

Di Kong beng teng, Hoan Yauw pernah bertemu dengan Seng Koen dan ia tahu, bahwa orang itu adalah adik seperguruan Yo Kauwcoe.

Sesudah mereka selesai bicara, ia sebenarnya ingin segera menemuinya.

Diluar dugaan, baru saja mendengar beberapa patah perkataan, dia sudah kaget tak kepalang.

Dengan berlutut di lantai, Seng Koen meminta belas kasihan Kong kian Tay soe.

Dia menceritakan, cara bagaimana waktu mabuk arak, dia telah memperkosa anak dari muridnya sendiri, yaitu Cia Soen, dan cara bagimana dia belakangan membunuh rumah tangga murid itu.

Diapun menuturkan bahwa untuk membalas sakit hati, Cia Soen telah mencarinya diberbagai tempat, tapi dia tak berani muncul untuk menemui murid itu.

Akhirnya, dengan menggunakan namanya, Cia Soen membunuh banyak jago Rimba Persilatan guna memaksa dia keluar.

Kejadian itu telah diketahui Boe Kie.

Tapi mendengar berita Hoan Yauw, ia kembali gusar tercampur duka.

Selanjutnya Hoan Yauw menuturkan, bahwa sambil menangis Seng Koen memohon supaya Kong kia Tay soe suka menerima sebagai murid.

Dia juga memohon, supaya dengan belas kasihan sang Budha, pendeta itu suka mendamaikan permusuhannya dengan Cia Soen.

"Siancay, siancay!"

Kata Kong kian Tay soe.

"Lautan kesengsaraan tiada batasnya,"

Memalingkan kepala, melihat daratan, menaruh golok, menjadi Budha.

Manakala kau sungguh2 merasa menyesal, pintu Sang Budha.

Manakala kau sungguh2 merasa menyesal, pintu sang Budha terbuka lebar dan kau takkan dibiarkan berdiri diluar pintu."

Sehabis berkata begitu, ia mencukur rambut Seng Koen dan menerima sebagai murid.

Disamping itu, ia pun berjanji akan berusaha mendamaikan permusuhan hebat antara Seng Koen dan Cia Soen.

Mendengar sampai disitu, Boe Kie segera memutar cara bagaimana Cia Soen membinasakan Kong kian Tay soe dengan pukulan hebat.

Kong kian sudah rela menerima pukulan dengan harapan bisa membereskan sakit hati itu.

Diluar dugaan, Seng Koen sudah memperdayai gurunya.

Pada waktu itu Kong kian mau melepaskan napas yg penghabisan, ia tidak muncul untuk menemui Cia Soen.

Yo Siauw menyambung dengan menceritakan cara bagaimana Seng Koen menyerang Kong bent teng dan cara bagaimana dalam pertempuran melawau In Thian Ceng dan In Yan Ong, ia akhirnya binasa.

Hoan Yauw merangkap kedua tangannya dan berkata berulang2.

"Omitohud! Siancay, siancay!"

Dengan hati duka, Yo Siauw mengawasi kawan itu yg dahulu terkenal sebagai seorang pria yg berparas tampan.

"Dengan Kim mo Say ong, perhitunganku sangat baik,"

Kata pula Hoan Youw.

"Akupun mendengar, bahwa seluruh keluarganya telah dibinasakan orang. Aku hanya tak pernah menduga bahwa pembunuh itu adalah gurunya sendiri. Sesudah hujan berhenti mereka keluar dari kelenteng itu dan aku mengikuti dari belakang. Kutahu mereka berkepandaian tinggi dan hanya berani menguntit dari kejauhan. Tapi kong kian tidak bisa diakali. Ia tahu bahwa dirinya dikuntit orang. Sambil berjalan ia berkata2 seorang diri, ia mengatakan bahwa seorang murid Budha harus mempunyai hati kasihan. Mendengar begitu, aku tidak berani mengikuti lagi."

"Berselang kira2 setahun kudengar Kong kian Tay soe meninggal dunia. Aku merasa curiga dan menduga, bahwa wafatnya pendeta itu tentu mempunyai sangkut paut dengan Seng Koen. Diam2 kupergi ke Siauw Lim Sie untuk menyelidiki. Tapi aku tidak berani masuk kedalam kuil dan hanya bergerak disekitar gunung Siong San, benar saja. Langit tidak menyianyiakan usaha manusia yg sungguh2. secara kebetulan aku mendengar pembicaraan antara Seng Koen dan seorang utusan kaisar. Utusan kaisar itu bukan lain daripada Lok Thian Kek. Mereka berdua berkepandaian terlalu tinggi dan aku merasa tidak unggulan. Aku tidak berani datang telalu dekat. Dari kejauhan, aku hanya dapat menangkap sepatah dua patah. Perkataan yg didengar jelas olehku hanyalah.

"Kong Beng teng harus dimusnahkan"

Sekarang kutahu bahwa agama kita tengah menghadai bencana dan aku tidak bisa berpeluk tangan lagi.

Aku lantas saja menguntit Lok tong kek sampai di kota raja.

Manusia itu aku tak berani ganggu.

Dia berkepandaian terlalu tinggi.

Yg lainnya kupandang remeh akhirnya sesudah menyelidiki lama juga, aku mendapat tahu bahwa jagao2 Rimba persilatan itu adalah orang2 sebawahannya Jie Lam Ong Khakan Temur."

Jie Lam Ong Khakan Temur adalah seorang anggota keluarga kaisar.

Ia berpangkat Thay kat Thay wie dan berkuasa atas semua tentara kerajaan diseluruh negeri.

Ia seorang pintar dan gagah, menteri utama dari kaisar Goen.

Dia lah yg sudah menindas pemberontakan rakyat di Kang hoay.

Sudah lama Boe Kie dan para pemimpin beng kauw mendengar nama besarnya.

Sekarang, mendengar Lok Thung Kek dan lain2 jago rimba persilatan menjadi orang bawahan pembesar itu, biarpun tidak terlalu kaget sedikit banyak Boe Kie terkejut juga (Jie Lam Ong = Raja muda Jie Lam) "Tapi siapakah adanya Tio Kouwnio?"

Tanya Yo Siauw.

"Coba taoko tebak,"

Kata Hoan Yauw.

"Apa nona itu bukan putrinya Khakan Temur?"

Tanya pula Yo Siauw. Hoan Yaow menepuk2 tangannya.

"Benar,"

Katanya.

"Sekali menebak taoko menebak jitu. Jie Lam Ong mempunyai seorang putera yg bernama Kuh Kuh Temur dan seorang puteri yg bernama Ming Ming Temur. Nama itu nama Mongol, kedua anak itu gemar ilmu silat dan mereka punya kepandaian yg cukup tinggi. Disamping itu merekapun suka berpakaian seperti orang Han dan menggunakan bahasa Han. Belakangan masing2 menggunakan jg nama Han, Kuh Kuh Temur memilih nama Ong Popo dan Ming Ming memilih nama Tio Beng. Perkataan Tio Beng hampir bersamaan dengan Siauw beng dan Siauw beng Koen coe (putri Siauw Beng) gelaran si nona."

Wie It Siauw tertawa.

"Kakak beradik itu sangat aneh,"

Katanya.

"Yang satu she Ong, satu lagi she Tio. Kejadian itu tak akan terjadi dalam kalangan orang Han."

"She atau nama keluarga mereka ialah Temur,"

Menerangkan Hoan Yauw.

"Menurut kebiasaan orang asing, nama keluarga ditaruh disebelah belakang."

"Dari muka dan potongan badan, Tio Kouw nio seorang wanita cantik,"

Kata Yo Siauw.

"Hanya sayang, wataknya terlalu kejam."

Baru sekarang Boe Kie tahu asal usul Tio Beng.

Sebenarnya siang2 ia sudah menduga bahwa nona itu seorang putri yg berasal dari turunan keluarga kaisar.

Ia hanya tidak pernah menaksir, bahwa nona Tio putrinya raja muda Jie Lam Ong yg memegang kekuasaan atas semua tentara kerajaan.

Beberapa kali ia selalu jatuh dibawah angin.

Dalam ilmu silat nona Tio memang masih kalah jauh, tapi dalam menggunakan tipu, ia banyak lebih unggul daripada dirinya sendiri.

Mengingat itu semua didalam hati Boe Kie merasa jengah.

"Dalam penyelidikan selanjutnya aku mengetahui bahwa Jie Lam Ong ingin membasmi semua partai persilatan yg terdalam dalam dunia Kangouw,"

Kata pula Hoan Yauw.

"Ia telah menerima baik rencana Seng Koen. Sebagai tindakan pertama, ia inin menumpas agama kita. Dalam menimbang2 keadaan itu, aku berpendapat bahwa dengan terpecah belahnya kalangan kita sendiri dan tangguhnya musuh, bahaya yg sedang dihadapi benar2 hebat. Untuk menolong jalan satu2nya adalah masuk kedalam Ong Hoe dan coba menyelidiki rencana raja itu. Sesudah tahu rencana mereka, baru aku bertindak dengan mengimbangi keadaan. Selain itu,t ak ada jalan lain lagi. Tapi aku sudah pernah bertemu muka dengan Soen Koen, sehingga untuk mencegah bocornya rahasia aku mesti membunuh manusia itu."

"Benar,"

Kata Wie It Siauw.

"Tapi manusia itu sangat licin dan ilmu silat nya pun sangat tinggi,"

Kata pula Hoan Yauw.

"Tiga kali aku mencoba membokong dia, tiga kali aku gagal. Dalam usaha yg ketiga, aku berhasil menikamnya dengan pedang, tapi aku sendiri kena pukulan telapak tangannya. Untung juga aku berhasil melarikan diri tanpa dikenali. Tapi aku terluka berat dan sesudah berobat setahun lebih, barulah kesehatanku pulih kembali. Waktu itu rencana Jie Lam Ong sudah mendekati penyelesaiannya dan untuk bencana agama kita sudah diambang pintu. Aku jadi nekad, aku merusak muka sendiri, aku mematahkan tulang betisku dan menyamar sebagai seorang gagu dan bongkok aku pergi ke negeri Watzu."

"Negeri Watzu?"

Menegas Wie It Siauw.

"Negeri itu jauhnya berlaksa li. Perlu apa Hoan Yoe pergi ke situ?"

Sebelum Hoan Yauw menjawab, Yo Siauw sudah mendahului.

"Saudara, sungguh bagus tipumu itu! Yo heng, perginya saudara Hoan ke negeri itu sungguh tepat. Dinegeri itu, ia pasti akan diundang untuk bekerja kepada pembesar2 Mongol. Sebagaimana kau tahu, Jie Lam Ong sedang mencari orang2 pandai. Untuk mengambil hatinya raja muda itu, pembesar2 Watzu pasti akan mengirim saudara Hoan ke kota raja. Dengan muka dan badan yg sudah berubah dan dengan berlagak gagu, biarpun Seng Koen lihati, dia pasti tidak akan bisa mengenali."

Wie It Siauw menghela napas.

"Yo kauwcoe telah menempatkan Siauw Yauw Jie Sian disebelah atas keempat Hoat Ong dan sekarang aku mengakui bahwa mata Yo Kauw coe benar2 tajam,"

Katanya.

"Tipu selihai itu pasti takkan bisa dipikir oleh Eng ong, Hok ong dan lain2 ong."

"Wie heng banyak terima kasih untuk pujian mu yg tinggi,"

Kata Hoan Yauw. Ia berhenti sejenak dan kemudian berkata lagi dengan suara perlahan.

"Kauw coe, aku sekarang ingin menerima hukuman."

"Mengapa Hoan Yoe soe berkata begitu?"

Tanya Boe Kie. Hoan Yauw berbangkit dan sambil membungkuk, ia menjawab.

"Aku telah berbuat kedosaan besar sebab sudah membunuh saudara2 dari agama kita. Sesuai dengan dugaan Yo Co Soe, di Watzy aku sengaja membunuh singa dan membinasakan harimau, sehingga namaku lantas saja terkenal. Pembesar2 disitu lalu mengirim aku kepada Jie Lam Ong. Guna memperkuat kepercayaan raja muda itu atas diriku, aku membunuh tiga orang hio coe dari agama kita."

Alis Boe Kie berkerut.

Ia tidak lantas menjawab.

Didalam hati ia beranggapan, bahwa tindakan Hoan Yauw sangat luar biasa dan agak kejam.

Ia rela mengorbankan muka dan kaki sendiri dan belakangan membunuh kawan sendiri.

"Beng Kauw dinamakan orang sebagai agama sesat, agama siluman,"

Pikirnya.

"D ilihat begini, sampai kapan Beng Kauw bisa mencuci kata2 sesat dan siluman itu?"

Melihat sikap Boe Kie, tiba2 Houw Yauw menghunus pedang Yo Siauw. Dengan skali berkelebat, pedang itu sudah memutuskan tiga jari tangan kirinya, Boe Kie terkejut dan merampas senjata itu.

"Hoan Yoe soe…. Mengapa….. mengapa kau berbuat begitu"

Tanyanya dengan mata membelak.

"Membunuh saudara2 dalam agama kita adalah kedosaan besar,"

Jawabnya.

"Karena urusan besar belum selesai, Hoan Yauw belum berani membunuh diri. Sekarang Hoan Yauw lebih dahulu memutuskan tiga jeriji dan nanti dia akan mempersembahkan kepalanya kepada Kauwcoe."

"Aku sudah mengampuni kesalahan Hoan Yoe soe,"

Kata Boe Kie.

"Mengapa kau berbuat begitu. Sekarang kita menghadapi tugas yg sangat berat. Kuharap Hoan Yoe Soe tidak menyebut2 lagi urusan ini."

Sehabis berkata begitu ia mengeluarkan obat luka, menyobek ujung bajunya dan membalut luka Hoan Yauw.

Didalam hati ia merasa sangat tidak enak.

Ia tahu bahw Hoan Yauw bukan gertak sambel.

Apa yg dikatakannya dapat dilakukannya.

Mungkin mereka dihari di kemudian ia akan membunuh diri.

Mengingat segala penderitaannya demi kepentingan Beng Kauw, Boe Kie terasa sangat terharu dan tiba2 ia menekuk sebelah lututnya.

"Hoan yoe soe sebagai orang yg berjasa besar untuk agama kita, terimalah hormatku,"

Katanya dengan suara parau.

"Apabila kau melukai lagi dirimu, itu berarti kau menganggap aku sebagai manusia yg tak punya guna dan tidak pantas untuk menjadi kauwcoe dari agama kita. Kalau kau menikam dirimu satu kali, aku akan menikam diriku dua kali."

Melihat Kauw coe mereka berlulut, dengan air mata bercucuran Hoan Yauw, Yo Siauw dan Wie It Siauw segera turut berlutut.

"Saudara Hoan,"

Kata Yo Siauw sambil menyusut airmatanya.

"Kau tidak boleh mengulangi perbuatan itu. Bangun robohnya agama kita hanya mengandalkan kauw coe seorang. Kauw coe telah mengeluarkan perintah dan kau tidak boleh melanggar perintah itu."

Dalam pertandingan hari ini aku sudah merasa takluk terhadap kauw coe,"

Kata Hoan Yauw.

"Kouw Tauw too mempunyai adat yg sangat aneh dan aku memohon belas kasihan Kauwcoe."

Dengan kedua tangan, Boe Kie membangunkan Hoan Yauw.

Sesudah terjadinya kejadian ini, ia dan Hoan Yauw menjadi sahabat yg saling mencintai.

Sesudah itu, Hoan Yauw segara menceritakan pengalaman dalam gedung Jie Lam ong.

Pada jaman itu kaisar Goan yg bodoh diikuti oleh mentri2 dorna sehingga, karena tindakan2 nya yg seweang2 negeri jadi kalut dan rakyat memberontak.

Untung besar kerajaan Goan masih mempunyai Jie Lam ong yg gagah dan bijaksana.

Tanpa mengenal capai, raja muda itu membawa tentara kesana sini untuk menindas berbagai pemberontakan.

Tapi negeri tetap tidak menjadi aman, disana sudah kalut lagi.

Dalam kerepotannya, raja muda terpaksa menunda rencana untuk membasmi partai2 persilatan.

Selama beberapa tahun kedua anaknya sudah menjadi besar.

Kuh kuh Temur alias Ong Po Po mengikuti ayahandanya dalam tentara, sedang Ming Ming Temur (Tio Beng) memimpin rombongan jago2 silat untuk menumpas partai2 rimba persilatan.

Jago2 itu terdiri dari ahli2 silat Mongol, Han dan See Hek dan diantara terdapat juga sejumlah pendeta See hoan.

Gerakan enam partai besar untuk menyerang Kong beng teng membuka kesempatan baik bagi Tio Beng.

Atas usul Seng Koen, ia membawa semua jagonya untuk membasmi enam partai itu dan Beng Kauw dengan sekaligus.

Kejadian di Leng Lioe Choeng dan lain2 adalah sebagian dari rencana itu.

Karena sedang bertugas diseberang lautan untuk menyelidiki tempat sembunyinya Cia Soen maka Hoan Yauw tidak turut serta dalam rombongan Tio Beng yg pergi ke See Hek.

Belakangan baru ia tahu bahwa ia menggunakan racun Sip Hiang Joan Kinsan (obat bubuk berbau harum yg membuat lemasnya tubuh manusia) yg dipersembahkan oleh pendeta See hoan.

Tio Beng telah menangkap jago2 enam partai besar yg mau pulang dari Kong Beng Teng.

Racun itu asin spt garam dan wangi bagaikan sayur yg segar.

Dengan mencampurnya didalam makanan, nona Tio berhasil menjaring semua kurban.

Biarpun masih bisa bergerak dan berjalan seperti biasa orang2 yg kena racun itu lemas badannya dan habis semua tenaga lweekangnya.

Hanya waktu meracuni Hwa pay, kaki tangan Tio Beng kurang berhati2 dan rahasia bocor.

Satu pertempuran lantas saja terjadi.

Tapi Hwa san pay tak tahan melawan jago2 seperti Hian Beng Jie Lo, Sin cian Pat Hiong, Atoa, A jie, A sam dan yg lain2 sehingga sesudah beberapa belas orang binasa mereka semua kena dibekuk jg.

Penangkapan atas diri para pendeta dikuil Siauw Lim sie jg dilakukan dengan tipu daya itu.

Tapi kuil Siauw Lim sie biasanya dijaga keras, sehingga tidak gampang orang bisa turun tangan.

Menaruh racun dikuil tersebut berbeda jauh dengan menaruh racun di rumah2 pengindapan untuk menangkap orang2 yg sedang bepergian.

"Aku tahu bahwa tugas menaruh racun dalam kuil itu sebenarnya jatuh kedalam tangan Seng Koen,"

Kata Hoan Yauw.

"Dengan kedudukannya sebgai murid Kong Kian Tay soe, dengan mudah ia akan bisa menjalankan peranannya. Tapi ia keburu mati dalam pertempuran di Kong Beng Teng. Aku merasa sangat heran. Siapa yg meracuni pendeta2 Siauw Lim Sie? Waktu itu aku baru saja kembali dari luar lautan dan menyusul rombongan yg mau membekuk pendeta2 Siauw Lim Sie. Aku kepingin sekali menyelidiki, tapi sebab sudah berlagak gagu, tentu saja aku tidak bisa menanyakan mereka. Apapula Siauw Lim pay sering menghina agama kita and untuk berterus terang, aku merasa senang sekali, jika pendeta2 itu merasai sedikit penderitaan. Kauwcoe, mungkin kau tak setuju dengan pendetaku itu. Ha ha!"

"Saudara, bukankah penggeseran patung Tat mo dilakukan oleh kau?"

Tanya Yo Siauw. Hoan Yauw tertawa.

"Ya,"

Jawabnya.

"Ditulisnya huruf2 itu adalah atas perintah Koencoen (putri seorang pangeran) untuk menumplek semua kedosaan atas pundak agama kita. Belakangan, sesudah mereka semua berlalu, diam2 aku kembali dan memutar patung itu. Matanya kawan2 ternyata tajam sekali dan bisa melihat kejadian itu. Saudara Yo, apakah waktu itu kau mempunyai dugaan, bahwa pekerjaan tersebut dilakukan olehku?"

"Aku hanya tahu, bahwa pihak musuh terdapat seorang berkepandaian tinggi yg diam2 dilindungi agama kita,"

Jawabnya.

"Aku tidak perna mimpi, bahwa pelindung kita saudara sendiri!"

Keempat pemimpin Beng Kauw itu tertawa terbahak2.

Kepada Hoan Yauw, Yo Siauw segera memberitahukan bahwa Beng Kauw sudah mengakhiri permusuhan dengan partai2 persilatan dan dengan bekerja sama, akan berusaha merobohkan kerajaan Goan.

Maka itu, Yo Siauw Beng Kauw merasa berkewajiban untuk menolong tokoh2 dari keenam partai itu.

"Musuh berjumlah besar, kita kecil,"

Kata Hoan Yauw.

"Dengan hanya mengandalkan tenaga empat orang, kita takkan berhasil. Jalan satu2nya kita harus berusaha untuk mendapatkan obat pemunah Sip hiang Joan kin san dan memberikannya kepada hweshio, niekow dan hidung kerbau bau itu. Sesudah tenaga dalamnya pulih kembali, beramai2 kita bisa menghandatam Tat coe dan kabur dari kota raja ini."

Selama belasan tahun, Hoan Yauw tak pernah berbicara, sehingga sekarang lidahnya agak kaku dan suara yg dikeluarkannya tak begitu tegas.

Disamping itu, berhubung adanya permusuhan antara Beng Kauw dan partai2 Rimba Persilatan, dalam mengeluarkan kata2 ia tak sungkan lagi.

Mendengar suara yg pelat (pelo) dan perkataan "bau", Yo Siauw merasa geli tercampur kuatir.

Ia memberi isyarat dengan lirikan mata, tapi Hoan Yauw tidak meladeni.

Tapi Boe Kie sendiri tidak menjadi kecil hati.

"Pendapat Hoan Yoe soe memang benar,"

Katanya.

"Tapi cara bagaimana kita bisa mendapatkan obat pemunah itu?"

"Sebab aku berlagak gagu, maka biarpun koencoe menghormati aku, ia belum pernah mengajak aku dalam merundingkan soal2 penting,"

Jawabnya.

"Selain begitu, aku datang dari lain negeri dan dapatlah dimengerti, jika ia menganggap diriku sebagai orang kepercayaan. Maka itu, sampai sekarang aku belum tahu bagaimana macamnya obat pemudah Sip hiang Joan kin san. Aku hanya mengetahui, bahwa karena obat itu obat yg sangat penting, koencoe sudah berlaku sangat hati2. Kalau tak salah, racun dan obat dipegang oleh Hoan beng Jie lo yang satu memegang racun, yg lain memegang obat. Bukan saja begitu, pada waktu2 tertentu, bahkan diadakan tukar menukar dalam pemegangannya. Misalnya, kalau bulan ini Lok Thung Kek menguasai racun, lalu bulan ia menguasai obat pemunah."

Yo Siauw menghela napas.

"Wanita itu sungguh pintar,"

Katanya.

"Tanggung2 lelaki tak akan bisa menandingi dia. Apa dia tidak percaya habis kepada Hian beng Jie lo?"

"Pertama memang begitu dan kedua untuk menjaga secara lebih hati2,"

Kata Hoan Yauw.

"Kita sekarang ingin mencuri obat pemunah. Dengan tindakan Koencoe itu kita tak tahu siapa memegangnya. Lok Thung Kek atau Ho Pit Ong. Disamping itu, kudengar antara racun dan obat tidak perbedaan bau dan warna, sehingga, andaikata kita berhasil mencurinya, kita masih belum bisa memutuskan, apa kita mendapatkan obat atau racun. Sip hiang joan kin san mengandung serupa bahaya yg tidak diketahui oleh banyak orang. Kalau orang kena racun itu pertama kali, otot2 dan tulang2nya tak bertenaga lagi, tenaga dalam lagi, tenaga dalamnya hilang semua. Tapi kalau dia kena untuk kedua kalinya biar bagaimana sedikitpun maka aliran darahnya akan berbalik dan dia akan mati tanpa bisa ditolong lagi."

Wie It Siauw meleletkan lidahnya.

"Kalau begitu, kita tidak boleh salah,"

Katanya.

"Memang begitu,"

Kata Hoan Yauw.

"Tapi aku mempunyai satu jalan yg baik. Tanpa memperdulikan obat dan racun, kita curi saja apa yg disimpan oleh Hian Beng Sie Lo. Sesudah itu kita memberikannya kepada seorang Hwa san pay atau Khing tong pay yg kedudukan nya tidak begitu penting. Bubuk yg membinasakan sudah pasti adalah bubuk racun. Dengan begitu kita lantas tahum yg mana racun yg mana obat. Kauwcoe, bagaimana pendapatmu?"

Boe Kie mengerti bahwa Hoan Yauw masih memiliki sifat2 sesat. Tapi ia hanya tertawa dan berkata.

"Aku tidak begitu setuju. Terdapat kemungkinan bahwa yg dicuri kita racun semuanya."

Yo Siauw menepuk lututnya.

"Kauw coe kau benar, sesudah kita mengacau mungkin sekali karena berkuatir kauwcoe menyimpan sendiri obat pemunah. Menurut pemikiraku yg paling penting kita harus menyelidiki siapa yg memegang obat itu. Sesudah tahu pasti barulah kita mengatur daya upaya untuk mencurinya. Sesudah mengasah otak beberapa saat, ia berkata pula.

"Saudara Hoan, apakah yg paling disukai Hian beng Jie Lo?"

"Lok Thung kek suka paras cantik. Ho Pit Ong suka arak,"

Jawabnya.

"Kauwcoe,"

Kata Yo Siauw kepada Boe Kie.

"Apakah ada racun yg menghilangkan manusia seperti Sip hiang joan kin san?"

Boe Kie tersenyum.

"Tidak sukar untuk membuat seseorang menghilangkan tenaga,"

Jawabnya.

"Tapi jika racun itu masuk kedalam perut seorang yg berkepandain tinggi, belum cukup setengah jam, tenaganya sudah habis. Membuat racun yg selihai Sip hiang joan kin san, aku rasanya tak mampu."

"Setengah jam sudah cukup,"

Kata Yo Siauw.

"Aku telah memikirkan suatu daya, tapi apa dapat digunakan atu tidak terserah atas pertimbangan Kauwcoe. Saudara Hoan cobalah kau mengundang Ho Pit Ong untuk meminum arak dan didalam arak kau menaruh racun yg dibuat oleh Kauwcoe. Kau mendahului bikin ribut berlagak gusar dan mengatakan, bahwa kau sudah diracuni oleh Ho Pit ong dengan Sip Hiang Joan kin san. Menurut dugaanku dengan siasat itu, kita bisa segera mengetahui siapa yg menyimpan obat pemunah. Dengan mengimbangi keadaan, kita bisa lantas merampasnya."

Boe Kie manggut2kan kepalanya.

"Apa daya itu bisa berhasil tergantung atas sifat dan watak Ho Pit ong,"

Katanya.

"Hoan yoe soe, bagaimana pendapatmu?"

"Kurasa tipu Yo Taoko boleh dijalankan,"

Jawabnya.

"Ho Pit Ong berangsan dan kejam, tapi ia tidak selihai Lok thun kek yg jahat dan banyak akalnya. Asal saja obat pemuda itu berada pada Ho Pit Ong, biarpun tidak berkepandaian tinggi, mungkin aku masih melayaninya. Tapi bagaimana kalau obat itu disimpan oleh Lok Thang Kek?"

Tanya Yo Siauw. Alis Hoan Yauw berkerut.

"Ya, itulah sukar,"

Sahutnya. Sehabisa berkata begitu bangun berdiri dan berjalan mundar mandir sambil menundukkan kepala. Berselang beberapa lama, tiba2 ia menepuk kedua tangannya.

"Hanya ada satu jalan,"

Katanya "Lok Thung kok sangat pintar.

Kalau kita menggunakan tipu, sangat mungkin ia tidak kena ditipu.

Jalan satu2nya kita mencengkram kelemahannya dan kemudian menggertak dia.

Tindakan ini memang berbahaya.

Tapi menurut pikiranku, selain ini tak ada jalan lain lagi."

"Apa maksud saudara Hoan?"

Tanya Yo Siauw.

"Cara bagaimana kita bisa mencengkram kelemahan tua bangka itu?"

"Pada musim semi tahun ini, Jie Lam ong telah mengambil seorang selir (gundik),"

Menerangkan Hoan Yauw.

"Untuk merayakannya, ia mengundang kami, beberapa orang, dalam semua perjamuan ditaman bunga. Jie Lam ong mengagulkan selir itu sebagai seorang wanita yg sangat cantik dan untuk membuktikannya ia memerintahkan gundik baru itu menemui kami dan menuang arak. Kulihat mata bangsat Lok Thung kek mengawasi nyonya muda itu tak henti2nya."

"Habis bagaimana?"

Tanya Wie It Siauw.

"Tak apa2,"

Jawabnya.

"Andai kata situa bangka mempunyai nyali sebesar langit, dia tentu tidak berani main gila kepada selir Jie Lam ong."

"Tapi ada hubungan apakah antara mata bangsat si tua bangka dan kelemahannya yg mau di cengkram olehmu?"

Tanya pula Wie It Siauw.

"Dengan sedikit usaha kita dapat berbuat begitu,"

Sahutnya sambil tersenyum.

"Dalam hal ini kita memerlukan bantuan Wie heng. Dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan yg tiada bandingannya kau culik selir itu dan menaruhnya di ranjang si tua bangka. Andaikata dia dapat mempertahankan diri dan tidak berani mengganggu nyonya itu, dia tetap tidak akan bisa membersihkan diri, sebab wanita itu terbukti berada dalam kamarnya. Aku akan menorobos masuk kekamanya dengan tiba2 memaksa dia mengeluarkan obat pemunah. Kurasa dia pasti akan menurut. Yo Siauw dan Wie It menepuk nepuk tangan. Mereka sangat menyetujui tipu kawan itu. Boe Kie sendiri mendongkol tercampur geli. Ia ingat bahwa atas maunya nasib, ia sekarang menjadi pemimpin serombongan manusia yg cara2nya sering menyeleweng dari kepantasan dan tiada bedanya dengan sepak terjang kawanan Tio Beng. Tapi ia ingat juga bahwa tipu2 kelompok Tio Beng bertujuan busuk, sedang siasat Hoan Yauw pada hakekatnya bermaksud baik, yaitu untuk menolong tokoh2 keenam partai persilatan. Memang jg demikian pikirnya untuk melawan racun orang harus menggunakan racun. Memikir begitu, ia lantas saja tertawa dan berkata.

"Hanya saja tipu Hoan Yoe soe harus menyeret juga nama baiknya selir Jie Lam ong."

Hoan Yauw tertawa.

"Aku akan mendobrak pintu kamar si tua bangka terlebih cepat supaya biarpun mau dia tak akan keburu menodai kehormatan nyonya itu,"

Katanya.

Sesudah tercapai persetujuan tipu daya, mereka segera merundingkan tindakan selanjutnya.

Akhirnya ditetapkan, bahwa begitu lekas obat pemunah dapat dirampas, Hoan Yauw akan pergi kemenara untuk memberikannya kepada jago2 keenam partai, sedang Boe Kie dan Yo Siauw menjaga diluar menara.

Sehabis menunaikan tugas eprtama, Hoan Yauw harus membakar Bat Hoat sie dan Boe Kie bersama Wie It Siauw akan membakar rumah2 rakyat disekitar kelenteng tersebut.

Dalam kekacauan, rombongan keenam partai yg sudah pulih tenaga dalamnya, akan segera menerjang keluar.

Yo Siauw mendapat tugas untuk membeli kuda dan kereta yg hrs menunggu diluar pintu See shia.

Semua orang harus menerjang keluar dari pintu See shia dan lari berpencarang dengan menggunakan kuda2 dan kereta2 itu.

Akhirnya mereka harus berkumpul di Ciang peng.

Dalam rencana itu, ada sesuatu yg tidak disetujui Boe Kie, yaitu pembakaran rumah2 rakyat.

"Kauwcoe,"

Kata Yo Siauw dengan suara membujuk.

"Dalam setiap urusan kita tidak bisa mengharap kesempurnaan. Kita ingin menolong jago2 itu, supaya dikemudia hari kita bisa mengusir Tat coe. Tujuan ini demi nusa dan bangsa, demi keselamatan beribu laksa umat manusia dikolong langit. Jika hari ini kita membakar sejumlah rumah rakyat, tindakan itu sudah diambil karena terpaksa."

Sesudah mencapai persetujuan bulat, masing2 lantas mulai bekerja.

Yo Siauw pergi kepasar untuk membeli kuda dan Boe Kie membuat racun yg kemudian diserahkan kepada Hoan Yauw oleh Wie It Siauw.

Dalam membuat racun itu Boe Kie sengaja menaruh tiga macam wewangian, supaya arak yg tercampur racun berbau harum.

Wie It Siauw membeli selembar karung dan begitu lekas siang terganti dengan malam, ia segera menyatroni gedung Jie Lam ong.

Untuk menjaga tawanan, Hian beng Jie lo Hoan Yauw dan lain2 jago menginap di Ban Hoat sie, Tio Beng sendiri berdiam di gedung raja muda dan hanya diwaktu malam, jika mau berlatih ilmu silat, ia datang ke kelenteng itu.

Hoan Yauw kembali kekamarnya dengan rasa bahagia.

Ia ingin cara bagaimana selama duapuluh tahun lebih, Beng Kauw terpecah belah.

Hari ini, atas berkah Tuhan agama tersebut mempunyai harapan untuk menjadi makmur kembali, sehingga pengorbanannya bukan hanya pengorbanan cuma2.

ia berdia sebuah kamar dideretan kamar2 sebelah barat, sedang Hian bang Jie Lo mengindap dikamar dekat menara dipekarangan belakang.

Sebab merasa jari akan kelohaian kedua kakek itu dan kuatir rahasianya bocor, ia jarang bergaul dengan Hian beng jie lo dan mengambil kamar yg jauh dari mereka.

Tapi sekarang ia mendapat tugas untuk mengajak Ho Pit ong minum arak.

Ia sekarang harus mendekati kakek itu.

Sambil memutar otak, ia mengawasi pekarangan belakang.

Matahari sudah mulai menyelam kebarat dan sinarnya yg menyoroti genteng kaca menara sudah mulai guram.

Sesudah mengasah otak beberapa lama, ia belum jg mendapat jalan untuk mendekati Ho Pit ong.

Sambil mengegadong tangan perlahan2 ia berjalan kebelakang perkarangan.

Mendadak hidungnya mengendus bau daging yg keluar dari sebuah kamar diseberang kamar Hian beng jie lo.

Itulah kamarnya Soeu sam Hwie dan Lie sie Coei, dua anggota Sin cia pat eiong.

Tiba2 dalam otaknya berkelebat serupa ingatan.

Ia menghampiri kamar itu dan menolak pintu.

Hampir berbareng bau daging menyambar hidung, Lie Sie Coei sedang berjongkok dilantai dan mengipas api di dapur tanah.

Diatas dapur itu terdapat sebuat kuali yg airnya bergolak2 dan mengeluarkan bau yg sangat harum.

Soen sam hwie sendiri sedang menggambil piring mangkok dan tidak bisa salah lagi, mereka tengah bersiap2 untuk makan minum.

Melihat masuknya Koun tauw too, paras kedua orang itu berubah pucat.

Mengapa?

Karena yg dimasak mereka adalah daging anjing dan makan daging anjing dalam sebuat kelenteng hweeshio merupakan pelanggaran hebat.

Kalau dipergoki orang lain masih tak apa.

Tapi kouw tauw too bukan saja seorang pendeta tapi jg berkepandaian yang tinggi.

Bagaimana kalau dia tidak mau mengerti?

Diluar dugaan mereka, kouw tauw too tidak menjadi gusar.

Ia menghampiri dapur, membuka tutup kuali dan mengendus ngendus dengan hidungnya.

Sekonyong2 ia memasukkan tangan kedalam kuali tanpa memperdulikan panasnya air menjemput sepotong daging dan lalu mengunyahnya secara rakus.

Dalam sekejap daging itu sudah ditelan habis.

Dalam sekejap daging itu sudah ditelan habis.

Soen sam hwie dan lie sie coei girang tak kepalang.

"Kauw tay soe duduklah! Duduklah!"

Kata Soen sam hwie.

"Kami merasa sangat girang, bahwa Tay soe pun suka makan daging anjing."

Tapi kouw tauw too tidak mau duduk di kursi.

Sesudah mengambil sepotong daging dan memasukkan kedalam mulut, ia turut berjongkok disamping dapur.

Soen sam hwie buru2 menuangkan semangkok arak yg lalu diangsurkan kepada si Touw too.

Tapi baru menenguk Kouw tauw too segera menyemburkannya dilantai, sedang tangan kirinya mengipas ngipas hidung, seperti juga ia mau mengatakan, bahwa arak itu tidak wangi dan tidak enak rasanya, sesudah itu ia berlalu dengan tindakan lebar, tapi tak lama kemudian ia kembali dengan tangan menentang sebuyung arak.

Tapi melihat si pendeta pergi dengan sikap marah Soe Sam Hwie dan Lie sie cioe sangat berkuatir.

Sekarang mereka sangat girang.

"Bagus!"

Seru Lie cie coe.

"Arak kami memang sangat jelek. Sungguh syukur Tay soe mempunyai arak yg mahal."

Mereka segera mengatur piring mangkok meja dan dengan sikat hormat mengundang Kouw tauw too untuk duduk di kursi pertama.

Dalam kalangan para jago2nya Tio Beng, Kouw tauw too termasuk jago kelas utama.

Dengan melayani secara hormat Soen Sam Hwie dan Lie Sie Coei mengharap supaya dalam gembiranya si pendeta akan turunkan satu dua pukulan istimewa kepada mereka.

Kouw Tauw too membuka tutup buyung dan menuang isinya kedalam tiga mangkok.

Arak itu berwarna kuning keemas2an, seperti madu tawon dan baunya yg menyambar hidung harum dan segar.

"Sungguh bagus arak ini!"

Seru Tie Sie Coei.

Sambil menjalankan peranannya, didalam hati Hoan Yauw bersangsi.

Ia tidak tahu, apa Hian Beng Jie Lo berada dirumah.

Apabila kedua kakek itu sedang berpergian, maka usahanya kali ini akan sia2.

dengan pikiran tak tentram ia menjemput mangkok araknya dan menaruhnya di kuah daging yg sedang bergolak2.

begitu panas, arak itu jadi semakin wangi.

Soen Sam Hwie dan Lie Sie Coei yg sudah keluar iler, ingin segera mencegak arak dingin, tp di cegah oleh Kouw Tauw Too yg dengan gerakan tangan, meminta mereka memanaskan dahulu arak itu, menurut contohnya.

Demikianlah dengan bergantian mereka memanaskan arak dikuah daging.

Hoang Yauw menghitung pasti, bahwa jika Ho Pit Ong berda di Bau Hoat sie ia tentu akan dapat mencium bau arak itu dan akan datang kesitu.

Benar saja, tak lama kemudian pintu kamar diseberang tiba2 terbuka dan hampir berbareng terdengar seruan Ho Pit Ong.

"Aduh! Wangi sungguh arak itu. Huh, huh!"

Tanpa sungkan2 ia menolak pintu dna terus menolak pintu masuk kedalam. Melihat Kouw Tauw too turut serta dalam pesta itu, ia agak terkejut.

"Kouw Taysoe aku tak nyana kaupun menyukai makanan itu,"

Katanya. Soen Sam Hwie dan Lie Sie Coei buru2 berbangkit.

"Ho Kong kong, kebetulan sekali,"

Kata Soen Sam Hwie.

"Mari kita minum, arak ini arak Kouw taysoe. Tak gampang orang bisa minum arak seenak itu."

Ho Pit Ong segera berduduk dihadapan Kouw Tauw too dan mereka berdua segera makan minum sepuas hati, sedang kedua tuan rumah menjadi semacam pelayan. Tak lama kemudian mereka sudah mulai sinting.

"Sekarang tiba waktunya untuk aku tutun tangan,"

Pikir Hoan Yauw.

Memikir begitu ia segera mengisi mangkoknya sendiri sampai arak meluber.

Sesudah itu ia mengembalikan buyung keatas meja, tapi cara menaruhnya berbeda dari tadi.

Kali ini buyung arak ditaruh miring.

Miringnya buyung berart Hoan Yauw sudah turun tangan.

Dalam menjalankan tipunya, Hoan Yauw bertindak secara cermat dan hati2.

ia menggiling ramuan racun yg dibuat Boe Kie menjadi bubuk.

Kemudia ia membuat sebuah lubang ditutup buyung yg terbuat dari kayu dan memasukkan bubuk racun kedalam lubang itu.

Tutup buyung lalu dibungkus dengan kekainan, sehingga dengan demikian selama buyung ditaruh beridir, arak yg didalamnya tetap merupakan arak biasa.

Tapi sebegitu lekas buyung di taruh miring, sebagian arak akan segera membasahi kain penyaring dan racunnya lantas tercampur ke dalam arak.

Dasar buyung itu berbentuk bulat sehingga baik ditaruh berdiri, maupun ditaruh miring tidak begitu menarik perhati.

Apa pula setelah minum begitu banyak, ketiga orang itu sudah sinting dan mereka lebih2 tidak bisa melihat perubahan itu.

Melihat mangkuk Ho Pit Ong sudah kosong, Hoan Yauw segera mencabut tutup buyung dan mengerahkannya kepada sih kakek.

Ho Pit Ong menyambuti dan lalu mengisi mangkoknya.

Sesudah itu, ia menambahkan arak dimangkok Soen Sam Hwi dan Lie Sie Coei yg sudah separuh kosong.

Ia tidak bisa menambah di mangkok Hoan Yauw yg masih penuh.

"Mari!"

Mengajak Ho Pit Ong.

Dengan serentak mereka mengangkat mengkok masing2 dan mengeringkan isinya.

Kecuali Hoan Yauw, ketiga orang itu sudah minum arak beracun.

Soen sam Hwie dan Lie Sie Coei yg lweekangnya tidak begitu kuat, lantas saja merasa lemas.

"Sie tee perutku tak enak,"

Bisik Soen Sam Hwie.

"Aku.,.. akupun begitu,"

Kata Lie Sie Cui.

"Apa kena racun?"

Sesaat itu Ho Pit Ong sudah mulai merasa tidak enak.

Buru2 ia mengerahkan tenaga dalam, tapi hawanya tidak mau naik keatas.

Parasa mukanya lantas saja berubah pucat.

Tiba-tiba Hoan Yauw bangkit dan mencengkram dada Ho Pit Ong sambil mengeluarkan suara "ah ah uh uh".

Matanya mendelik dan ia kelihatannya sangat gusar.

"Kouw Tay-soe, mengapa kau?"

Tanya Soen Sam Hwie. Hoan Yauw mencelup arak dengan jari tangannya dan menulis huruf "Sip hiang Joan kin san"

Di atas meja. Soen Sam Hwie dan Lie Sie Coei tahu bahwa racun dan obat pemunah Sip hiang Joan kin san dikuasai Hian beng Jie lo. Mereka saling melirik dan sambil membungkuk, Soen Sam Hwie berkata.

"Ho Kong kong, kami berdua sedikit pun belum pernah berdosa terhadap Kong kong. Kami mohon Kong kong suka menaruh belas kasihan."

Mereka berkata begitu sebab menduga si kakek memang mau mencelakai Kouw Tauw-too dan secara kebetulan mereka turut minum arak beracun.

Bukan main herannya Ho Pit Ong.

Bulan ini Sip hiang Joan kin san memang dipegang olehnya sendiri, disembunyikan dalam salah sebuah pit yang berbentuk patuk burung ho.

Kedua senjata itu belum pernah berpisah dari badannya sehingga tak mungkin orang bisa mencuri racun tanpa diketahui olehnya.

Tapi waktu mengerahkan hawa, ia tidak bisa mengeluarkan tenaga seperti juga kena Sip hiang Joan kin san.

Racun yang dibuat Boe Kie biarpun sangat keras sebenarnya berbeda jauh dari Sip hiang Joan kin san dan perasaan tidak enak yang dirasakan oleh korban juga berbeda.

Ho Pit Ong hanya tahu bahwa racun Sip hiang memusnahkan tenaga dalam.

Karena belum pernah mencobanya, ia tentu saja tidak tahu perbedaan antara racun Sip hiang dan racun buatan Boe Kie.

Melihat kegusaran Kouw Touw too dan mendengar ratapan Soen Sam Hwie serta Lie Sie Coei, ia tidak ragu lagi bahwa mereka semua dan ia sendiri sudah kena racun Sip hiang.

"Kouw Tay-soe, kau bersabarlah,"

Katanya.

"Kita adalah sahabat. Mana bisa jadi aku ingin mencelakai kalian? Akupun kena racun itu. Badanku lemas dan tidak bertenaga. Tapi siapa yang sudah main gila? Aku sunguh merasa heran."

Kouw Tauw-too mencelup lagi arak dengan jari tangannya dan menulis "lekas keluarkan obat pemunah di atas meja."

Ho Pit Ong mengangguk.

"Benar,"

Katanya.

"Lebih dahulu kita makan obat. Sesudah itu kita cari penjahatnya. Tapi obat disimpan oleh Lok heng. Kouw Tay-soe, mari kita pergi kepadanya."

Hoan Yauw merasa sangat girang.

Ia tidak mengira tipuan Yo Siauw berjalan begitu lancar.

Dengan tangan kiri ia sengaja memegang pergelangan tangan kanan Ho Pit Ong dan ia berjalan dengan langkah limbung.

Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di gedung itu.

Kamar samping yang di sebelah selatan adalah kamar Ho Pit Ong, sedang kamar di sebelah utara kamarnya Lok Thung Kek.

Pintu kamar itu tertutup rapat.

"Lok heng!"

Teriak Ho Pit Ong.

"Lok heng!"

Dari dalam kamar terdengar sahutan Lok Thung Kek. Ho Pit Ong mendorong pintu tapi pintu terkunci.

"Lok heng!"

Panggilnya.

"Lekas buka pintu! Ada urusan penting."

"Urusan apa?"

Tanya Lok Thung Kek.

"Aku sedang berlatih ilmu silat. Jangan mengganggu."

Ho Pit Ong dan Lok Thung Kek adalah saudara seperguruan.

Kepandaian pun kira-kira berimbang.

Tapi karena Lok Thung Kek seorang kakek yang lebih tua dan juga karena dia lebih berakal budi, maka Ho Pit Ong selalu menghormatinya.

Mendengar jawaban sang kakek yang kurang enak ia tidak berani memanggil lagi.

Hoan Yauw bingung.

Dalam tipuan ini, sang waktu memainkan peranan penting.

Kalau harus menunggu sampai tenaga racun berkurang, rahasianya akan bocor.

Maka itu tanpa memperdulikan segala cara ia segera mendobrak daun pintu dengan pundaknya dan pintu lantas saja terbentang.

Hamper berbarengan terdengar jeritan seorang wanita.

Mendengar suara terpentalnya pintu, Lok Thung Kek yang sedang berdiir di depan ranjang segera menengok.

Paras mukanya lantas saja berubah pucat, kaget bercampur malu.

Di tengah ranjang tergeletak seorang wanita yang tubuhnya terbungkus dengan selembar kasur tipis dan kasur itu dibebat dengan seutas tambang.

Apa yang bisa dilihat adalah rambutnya terurai.

Wanita itu mengawasi Ho Pit Ong dan Hoan Yauw dengan mata membelalak dan paras mukanya menunjukkan ketakutan besar.

Hoan Yauw lantas saja mengenali bahwa dia itu tidak lain adalah Han kie (selir seorang raja muda she Han).

"Hok Ong benar-benar hebat,"

Katanya di dalam hati.

"Seorang diri ia masuk ke dalam Ong hoe (gedung raja muda) dan dengan begitu cepat ia sudah berhasil menculik Han-kie."

Wie It Siauw berhasil sebab meskipun di dalam Ong hoe terdapat banyak sekali pengawal, yang diperhatikan dan dilindungi hanyalah Jie lam ong, Sie coe (putra seorang pangeran) dan Koen coe.

Raja muda itu mempunyai banyak selir dan seorangpun tak pernah menduga bahwa seorang selir bakal diculik.

Selain itu gerak gerik Wie Hok Ong juga cepat luar biasa dan tanpa penjagaan istimewa, dengan mudah ia sudah bisa menculik Han-kie.

Tapi menaruh wanita cantik itu di ranjang Lok Thung Kek lebih sukar daripada menculiknya.

Sesudah menunggu beberapa lama barulah di kakek kelihatan keluar dari kamarnya dan dengan menggunakan kesempatan itu, ia melompat masuk dan meletakkan tubuh Han kie di pembaringan.

Waktu kembali ke kamarnya melihat sosok tubuh wanita, Lok Thung kaget tak kepalang.

Bagaikan kilat ia melompat ke atas genteng tapi Wie It Siauw sudah pergi jauh.

Penyelidikannya di sekitar rumah itu tidak memberi hasil.

Buru-buru ia balik ke kamar dan ia jadi lebih kaget lagi.

Hari itu dalam perjamuan di taman bunga, melihat kecantikan Han-kie, semangat Lok Thung terbang.

Ia pulang dengan perasaan duka dan menyesal.

Ia merasa menyesal mengapa tidak lebih dulu ia bertemu dengan si cantik.

Tapi sesudah Han-kie menjadi selir Jie lam ong, biar bagaimanapun juga ia tidak berani mengganggu.

Belakangan ia mendapat seseorang baru yang cukup cantik sehingga perlahan-lahan ia dapat melupakan Han-kie.

Mimpipun ia tak pernah bahwa Han-kie bisa mendadak berada di pembaringannya.

Ia kaget bercampur heran.

Sesudah berpikir sejenak ia menduga bahwa perbuatan itu dilakukan oleh murid kenalannya yang bernama Yoe liong soe.

Murid itu rupanya sudah bisa menebak isi hatinya dan diam-diam sudah menculik si cantik sambil menyeringai ia mengawasi Han kie dan mengajukan beberapa pertanyaan tapi wanita itu tidak bisa menjawab.

Ia sadar bahwa jalan darah Han kie telah ditotok.

Baru saja mengangsurkan tangannya untuk membuka jalan darah tiba-tiba Ho Pit Ong mengetuk pintu dan Kauw Tauw-too mendobraknya.

Itulah kejadian yang tidak terduga.

Ia tidak bisa menyangkal lagi.

Tiba-tiba dalam otaknya berkelabat sebuah ingatan.

Ia menduga bahwa kedatangan Kauw Tauw-too adalah atas perintah Jie lam ong yang sudah tahu penculikan itu untuk menangkapnya.

Dalam keadaan begitu, jalan satu-satunya adalah kabur.

Bagaikan kilat tangan kanannya mengulurkan tongkat tanduk menjangan, tangan kirinya mendukung Han kie dan ia segera bergerak untuk melompat keluar dari jendela.

Ho Pit Ong terkejut.

"Lok Soeko!"

Teriaknya.

"Lekas keluarkan obat pemunah!"

"Apa?"

Tegas sang kakak.

"Entah bagaimana Siauw tee dan Kouw Tay-soe kena racun Sip hiang Joan kin san,"

Jawabnya.

"Apa katamu?"

Ia tegaskan lagi. Ho Pit Ong mengulangi keterangannya.

"Bukankah Sip hiang Joan kin san dipegang olehmu?"

Tanya Lok Thung Kek dengan suara heran.

"Siauw tee pun merasa sangat heran,"

Sahutnya.

"Kami empat orang, tadi makan dan minum. Secara mendadak, kami semua kena racun. Lok Soeko keluarkanlah obat pemunah. Sesudah makan obat itu, kita boleh bicara lagi."

Hati Lok Thung Kek jadi lega.

Ia segera menaruh Han kie di pembaringan dan menyuruhnya menghadap ke tembok.

Ho Pit Ong yang tahu kesukaan kakaknya, tidak merasa heran melihat adanya seorang wanita dalam kamar sang kakak.

Dalam kebingungannya ia tidak memperhatikan siapa adanya wanita itu.

Tapi biar bagaimanapun dalam keadaan biasa, tak tentu ia bisa segera mengenali.

Hari itu, dalam perjamuan di taman bunga, yang diperhatikannya bukan si cantik, tapi makanan dan arak yang istimewa.

Sesudah menaruh Han kie, Lok Thung Kek berkata.

"Kouw Tay-soe, tunggulah di kamar saudara Ho, aku akan datang membawa obat."

Seraya berkata begitu, ia mendorong tubuh kedua orang itu.

Badan Ho Pit Ong bergoyang-goyang hampir ia jatuh.

Hoan Yauw pun berlagak sempoyongan.

Tapi ada sesuatu yang tidak pernah diperhitungkan oleh pemimpin Beng-kauw itu.

Ia memiliki Lweekang yang sangat tinggi dan waktu didorong secara wajar, di luar keinginannya, dari dalam tubuhnya lantas keluar semacam tenaga untuk melawan dorongan itu.

Sebagai seorang ahli silat kelas satu, Lok Thung Kek lantas saja merasakan perbedaan antara dua dorongannya.

Karena kuatir salah, ia mendorong lagi, kali ini dengan menggunakan tenaga.

Ho Pit Ong dan Kouw Tauw-too jatuh dengan berbarengan.

Tapi Lok Thung Kek lantas mendapat kepastian bahwa adik seperguruannya benar-benar jatuh sebab tenaga dalamnya "kosong"

Sedang Kouw Tauw-too hanya berlagak jatuh.

"Kouw Tay-soe, maaf,"

Katanya sambil mengangsurkan tangannya mau membangunkan Hoan Yauw.

Begitu tangan menyentuh tangan, ia segera memijit Hwee-cong hiat dan Thong-tie hiat di pergelangan tangan Kauw Tauw too.

Tapi Hoan Yauw cukup hebat.

Ia segera tahu bahwa rahasianya sudah diketahui.

Dengan cepat ia menotok Hoen-boen hiat di punggung Ho Pit Ong supaya dalam tiga jam ia tak dapat bergerak.

Setelah Ho Pit Ong tak berdaya, ia tidak usah kuatir lagi sebab paling banyak ia harus melayani Lok Thung Kek seorang diri.

"Huh-huh!"

Ia tertawa dingin.

"Lok Thung Kek, kau mau hidup atau mati. Sungguh besar nyalimu! Selir Ong-ya kau berani culik."

Hian beng Jie lo tertegun.

Selama belasan tahun mereka menganggap Kouw Touw too seorang gagu.

Lok Thung Kek sudah lama mencurigainya tapi ia belum pernah berpikir bahwa Hoan Yauw bukan seorang gagu.

Ia mengerti bahwa ia sekarang berada dalam keadaan sangat berbahaya.

"Baru sekarang kutahu bahwa Kouw Tay-soe bukan seorang gagu,"

Katanya.

"Perlu apa kau memperdayai orang selama belasan tahun?"

"Aku berlagak gagu atas perintah Ong-ya,"

Jawabnya.

"Sebab tahu hatimu bercabang, ia memerintahkan aku untuk mengamat-amati gerak gerikmu."

Keterangan itu sebenarnya agak mustahil tapi Lok Thung Kek yang telah kebingungan tak bisa lagi menggunakan otaknya yang cerdas. Ia terkesiap dan badannya lemas.

"Apakah Ong-ya memerintahkan kau untuk menangkapku?"

Tanyanya.

"Huh huh! Biarpun kau berkepandaian tinggi, belum tentu kau bisa menangkap Lok Thung Kek."

Seraya berkata begitu, ia mengambil tongkatnya, siap sedia untuk bertempur. Hoan Yauw tertawa.

"Lok Sianseng,"

Katanya dengan suara mengejek.

"Andaikata ilmu silat Kouw Tauw-too tidak bisa menandingi kau, itu tak seberapa. Kalau kau mau merobohkan aku, paling sedikit kau harus berkelahi dalam seratus atau dua ratus jurus. Memang tidak terlalu sukar untuk kau kalahkan aku. Tapi jangan harap kau bisa membawa lari Han kie dan menolong soeteemu."

Lok Thung Kek mengawasi adik seperguruannya dengan sorot mata berduka.

Sedari muda ia belajar silat bersama-sama dan puluhan tahun ia belum pernah terpisahkan.

Mereka berdua tidak menikah dan di dalam dunia ini, tiada orang yang lebih dicintainya seperti adik seperguruan itu.

Maka itu, biar bagaimanapun juga ia tidak akan bisa melarikan diri seorang diri dengan meninggalkan Ho Pit Ong.

Melihat hati si kakek tergerak, Hoan Yauw segera memanggil Soen Sam Hwie dan Lie Sie Coei.

Sesudah menutup pintu kamar, ia berkata.

"Lok Sianseng, urusan ini belum keluar. Kouw Tauw-too bersedia untuk melindungi kau."

Bagaikan kilat Hoan Yauw lalu menotok Ah hiat (hiat gagu) dan Joan ma hiat (hiat yang membuat badan lemas) Soen Sam Hwie dan Lie Sie Coei. Sesudah itu ia berkata dengan perlahan.

"Kau sendiri tentu tidak akan membocorkan rahasia ini, sedang soeteemu pasti tak akan mau mencelakai kau. Kouw Tauw-too berlagak gagu dan ia akan tetap berlagak gagu. Kedua sahabat itupun tak menjadi rintangan, Kouw Tauw-too akan menotok Sie hiatnya untuk menutup mulutnya,"

Soen Sam Hwie dan Lie Sie Coei kaget tak kepalang.

Ia tak nyana bahwa urusan makan daging anjing akan berbuntut begitu hebat.

Mereka ingin minta dikasihani tapi mereka tidak bisa untuk diajak bicara sama sekali.

Sambil menunjuk pada Han kie Hoan Yauw lalu berkata pula.

"Mengenai wanita cantik itu, loo lap ingin mengusulkan dua jalan. Pertama mencuci tangan bersih-bersih. Kita membawa dia dan kedua sahabat itu ke tempat sepi dan membunuh mereka. Aku akan melaporkan kepada Ong-ya bahwa Han-kie main gila dengan Lie Sie Coei yang tampan dan mereka mencoba melarikan diri. Tapi mereka berpapasan dengan Kouw Tauw-too yang dalam kegusarannya sudah membunuh mereka. Kalau mau, boleh kita mengampuni jiwa Soen Sam Hwie. Jalan kedua kau membawa lari Han-kie dan coba sembunyikan di tempat aman. Apa kau berhasil atau tidak bukan urusanku."

Tanpa merasa Lok Thung Kek berpaling dan mengawasi Han-kie.

Si cantik balas mengawasi dan sorot matanya memohon.

Ia mengerti bahwa Han-kie ingin mengambil jalan kedua.

Melihat kecantikan wanita itu, ia merasa tak tega untuk membunuhnya.

"Terima kasih untuk maksudmu yang baik,"

Katanya.

"Tapi apakah yang kau ingin dilakukan olehku?"

Ia tahu bahwa Kouw Tauw-too mampunyai sesuatu untuk diajukan kepadanya. Tanpa mengharap balasan budi, si pendeta pasti tak gampang mau menyudahi urusan ini.

"Permintaanku sangat sederhana,"

Jawab Hoan Yauw.

"Ciang poen-jin, Go Bie-pay, Biat Coat Soethay adalah istriku sedang si nona she Cioe adalah anak kami berdua. Aku ingin minta obat pemunah Sip hiang Joan kin san untuk menolong mereka supaya mereka bisa melarikan diri. Di hadapan Kauwcoe aku yang bertanggungjawab. Apabila aku melibatkan kau, biarlah semua anggota Kouw Tauw-too dan Biat Coat Soethay menjadi manusia hina dina yang binasa secara mengerikan dan tidak bisa terlahir lagi ke dunia."

Hoan Yauw sudah memperhitungkan bahwa sebagai orang yang suka bercinta, Lok Thung Kek tentu akan percaya jika ia mengarang cerita yang berdasarkan percintaan.

Ia sangat sekali membenci Biat Coat Soethay sebab sudah mendengar keterangan Yo Siauw bahwa pendeta wanita itu telah membinasakan banyak anggota Beng-kauw.

Itulah sebabnya mengapa ia tidak merasa segan untuk mengarang cerita yang tidak-tidak, yang menodai nama baik Biat Coat.

Mengenai sumpah, ia sama sekali tak menghiraukan sumpah.

Dalam hal ini, orang harus ingat bahwa Hoan Yauw masih memiliki sifat-sifat yang sesat dan ia dapat melakukan perbuatan yang biasanya tak akan diperbuat oleh tokoh-tokoh Rimba Persilatan.

Mendengar keterangan itu, Lok Thung Kek terkejut tapi sesaat kemudian ia tersenyum.

Perbuatan yang diakui Kouw Tauw-too dianggapnya sebagai perbuatan lumrah.

Biarpun berbahaya, ianggap menukar obat pemunah dengan wanita cantik ada harganya juga.

"Kalau begitu, menculik selir Ong-ya dan menaruhnya di dalam kamarku juga perbuatan Kouw Tay-soe bukan?"

Tanyanya.

"Kau memberi aku obat, aku membalasnya dengan Han-kie,"

Jawabnya.

"Mulai dari sekarang kita bersahabat untuk selama-lamanya."

Lok Thung Kek girang. Mendadak ia mendapat satu ingatan dan bertanya.

"Tapi cara bagaimana soeteeku bisa kena Sip hiang Joan kin san? Dari mana kau mendapatkan racun itu?"

"Gampang sekali,"

Jawabnya.

"Racun itu disimpan oleh soeteemu dan soeteemu suka minum arak. Sesudah dia mabuk, apa kau kira Kouw Tauw-too masih tidak bisa mencuri racun itu?"

Sekarang Lok Thung Kek tak ragu lagi.

"Baiklah. Kouw Tay-soe,"

Katanya.

"Kami berdua akan mengikat sahabat denganmu. Aku tidak akan menjual kau tapi kuharap kau jangan memasang jebakan lain yang sehebat ini."

Hoan Yauw tertawa. Sambil menunjuk Han-kie ia berkata.

"Lain kali kalau ada wanita secantik dia, kuharap Lok Sianseng suka memasang jaring supaya aku terjaring di dalam jaring bahagia."

Mereka tertawa terbahak-bahak tapi masing-masing mempunyai perhitungan sendiri-sendiri.

Diam-diam Lok Thung Kek memikirkan daya untuk menyembunyikan Han-kie dan sesudah itu ia akan berusaha untuk membinasakan si Tauw-too jahat.

Dilain pihak, Hoan Yauw tahu bahwa biarpun sekarang Lok Thung Kek tunduk tapi begitu dia telah menyembunyikan Han-kie di tempat yang aman, Hian beng Jie lo tentu akan membuat perhitungan dengannya.

Tapi pada waktu itu, rombongan keenam partai sudah tertolong dan ia sendiri sudah menyingkir ke tempat lain.

Sementara itu Lok Thung Kek sedang mengkhayal, ia tidak segera mengeluarkan obat pemunah.

Hoan Yauw tidak mau mendesak terlalu keras sebab bila ia berbuat begitu si kakek tentu akan curiga.

Ia duduk dan berkata.

"Lok heng, mengapa kau tidak segera membuka jalan darah Han-kie? Ayolah! Untuk merayakan keberuntunganmu, kita boleh minum beberapa cawan arak. Di bawah sinar lampu, ada arak, nona cantik apalagi yang mau dicari oleh seorang manusia yang hidup dalam dunia ini?"

Selagi Hoan Yauw bicara, si kakek mengasah otaknya.

Ban hoat sie tempat yang ramai, kelamaan Han-kie berada dalam kamar akan berbahaya.

Ia segera mengeluarkan tongkatnya dan mencabut salah satu cabang tanduk menjangan.

Ia mengambil cawan dan menuang sedikit bubuk obat ke dalam cawan itu.

"Kouw Tay-soe,"

Katanya.

"Tipumu sangat hebat dan aku menyerah kalah. Ambillah obat ini."

Hoan Yauw menggelengkan kepalanya.

"Begitu sedikit?"

Katanya.

"Mana bisa cukup?"

"Obat ini lebih dari cukup,"

Kata Lok Thung Kek.

"Jangankan dua orang enam tujuh orang masih bisa ditolong."

"Mengapa kau begitu pelit?"

Kata Hoan Yauw.

"Apa halangannya jika kau beri lebih banyak? Untuk berterus terang, aku kuatir diperdayai olehmu karena kau sangat licin dan cerdik."

Karena penolakan itu, Lok Thung Kek curiga.

"Kouw Tay-soe, apakah mau ditolong olehmu tidak hanya Biat Coat dan putrimu?"

Tanyanya. Baru saja Hoan Yauw mau memberi keterangan, di luar rumah sudah terdengar suara ramai-ramai dan langkah kaki tujuh delapan orang.

"Tapak kakinya terlihat di sini,"

Kata seorang.

"Apakah mungkin Han-kie dibawa ke "Ban hoat sie"?"

Muka Lok Thung Kek berubah pucat.

Ia segera memasukkan cangkir obat ke dalam sakunya.

Ia menduga bahwa Kouw Tauw-too sudah menyiapkan orang dan begitu ia menyerahkan obat itu, si pendeta akan turun tangan.

Hoan Yauw menggoyang-goyangkan tangannya.

Ia lalu mengambil selembar seprai menyelimuti seluruh tubuh Han-kie dan menutup kelambu.

"Lok Sianseng! Apa Lok Sianseng ada?"

Demikian terdengar suara seruan orang.

Hoan Yauw menunjuk mulutnya.

Dengan isyarat itu ia mau mengatakan bahwa karena ia dikenal sebagai orang gagu, ia tidak bisa memberi jawaban dan biarlah Lok Thung Kek yang menjawab.

"Ada apa?"

Bentak si kakek.

"Seorang selir Ong-ya diculik orang,"

Jawabnya.

"Tapak kaki penculik diikuti sampai di sini."

Lok Thung Kek menatap muka Hoan Yauw dengan sorot mata gusar. Hoan Yauw tersenyum dan dengan gerakan-gerakan tangan, ia menyilakan Lok Thung Kek mengusir orang-orang itu.

"Jangan bikin ribut di sini!"

Bentak Lok Thung Kek.

"Cari ke tempat lain!"

Ia seorang berkepandaian tinggi dan berkedudukan tinggi dan sangat disegani.

Orang-orang itu tidak berani bersuara lagi dan lalu berpencar untuk menggeledah berbagai pelosok kelenteng Ban hoat sie.

Lok Thung Kek mengerti bahwa sesudah terjadi kejadian itu, Ban hoat sie akan dijaga keras dan usaha membawa Han-kie keluar kelenteng hampir tidak bisa dilakukan lagi.

Alisnya berkerut dan kedua matanya mengawasi Hoan Yauw dengan sorot benci.

Tiba-tiba, Hoan Yauw teringat sesuatu.

"Lok heng,"

Bisiknya.

"Di Ban hoat sie terdapat sebuah tempat yang aman untuk sementara waktu menyembunyikan kesayanganmu. Satu dua hari kemudian sesudah penjagaan agak kendor, kita bisa berusaha lain."

"Paling aman dalam kamarmu sendiri!"

Kata si kakek dengan gusar. Hoan Yauw tertawa.

"Apa Lok heng rela menyerahkan wanita yang begitu cantik kepadaku?"

Tanyanya dengna nada mengejek.

"Di mana tempat itu?"

Bentak si kakek. Hoan Yauw tersenyum dan menuding puncak menara. Sebagai orang yang cerdas, Lok Thung Kek lantas saja bisa melihat tepatnya usul itu. Ia mengacungkan jempol dan memuji.

"Bagus!"

Sebagaimana diketahui, menara itu merupakan penjara untuk rombongan keenam partai.

Secara kebetulan Cong koan (pengurus) penjara adalah Yoe liong coe, murid kepala si kakek.

Orang bisa mencurigai tempat lain tapi orang pasti tak akan mimpi bahwa selir Ong-ya disembunyikan di puncak menara yang terjaga ketat.

"Orang-orang itu sudah pergi ke tempat lain,"

Bisik Hoan Yauw.

"Kita harus segera bertindak tidak boleh menunda lagi."

Ia segera mengikat empat sudut seprai sehingga tubuh han-kie merupakan bungkusan besar. Ia mengangkat bungkusan itu dan mengangsurnya kepada Lok Thung Kek. Hoan Yauw mengerti.

"Mau menolong orang harus menolong sampai akhir,"

Katanya.

"Biarlah! Aku akan menolong kau dan kau menyerahkan obat kepadaku."

Seraya berkata begitu, ia mengangkat bungkusan itu menaruhnya di atas pundak.

"Kau harus menjaga baik-baik,"

Bisiknya.

"Kalau ada yang coba menahan, binasakan saja."

Lok Thung Kek menggutkan kepala dan segera keluar lebih dahulu.

Hoan Yauw turut keluar dan sesudah merapatkan pintu sambil manggul Han-kie, ia berjalan ke arah menara.

Waktu itu kira-kira sudah jam sembilan malam.

Kecuali sejumlah pengawal yang menjaga di luar menara, dalam pekarangan kelenteng tidak terdapat manusia lain.

Melihat Kouw Tauw-too dan Lok Thung Kek, para pengawal segera memberi hormat dengan membungkuk dan membuka jalan.

Sebelum tiba di pintu, Yoe liong coe mendapat berita dari bawahannya, sudah keluar menyambut dan berkata dengan suara girang.

"Soehoe! Mari masuk!"

Lok Thung Kek mengangguk dan bersama Kouw Tauw-too, ia segera menuju ke pintu.

Mendadak pintu menara terbuka dan dari dalam keluar seorang yang tidak lain adalah Tio Beng!

Lok Thung Kek terkesiap.

Ia tak pernah menduga secara kebetulan majikannya berada dalam menara.

Sambil menengok ke Yoe liong coe, Tio Beng berkata sambil tertawa.

"Gurumu mempunyai seorang murid yang sangat baik. Karena hanya ingat menyambut guru, kau tidak memperdulikan aku lagi."

Yoe liong coe membungkuk.

"Siauwjin tak tahu kedatangan Koen-coe,"

Katanya.

"Untuk kelalaian itu, mohon Koen-coe sudi memaafkan."

"Penjagaanmu sangat memuaskan,"

Kata si nona.

"Kurasa Beng-kauw takkan gampang bisa turun tangan."

Sesudah Boe Kie mengacau, Tio Beng yang tidak tahu bahwa yang datang ke kota raja hanya tiga orang, merasa kuatir Beng-kauw akan menyatroni lagi dengan rombongan besar.

Maka itu, Tio Beng segera datang sendiri ke menara untuk memeriksa penjagaan.

Ia merasa sangat puas karena penjagaan terlalu rapi dan di setiap lantai ditaruh dua orang yang berkepandaian tinggi.

Ia menengok pada Kouw Tauw-too dan tersenyum.

"Kouw Tauw-too,"

Katanya.

"Aku justru sedang mencari kau."

Kouw Tauw-too manggut-manggutkan kepalanya.

"Aku mau minta kau mengantar aku ke satu tempat,"

Kata si nona pula.

Hoan Yauw mengeluh di dalam hati.

Ia sudah berhasil menipu Lok Thung Kek dan obat pemunah sudah berada di depan mata.

Siapa sangka, Tio Beng datang mengacau?

Ia mau menolak tapi dalam peranan sebagai orang gagu ia tidak boleh bicara.

"Biarlah si tua bangka yang menolong aku,"

Pikirnya. Ia mengangkat bungkusan dan mengangsurkannya ke Lok Thung Kek. Si kakek terkejut.

"Lok Sianseng,"

Kata Tio Beng.

"Apa isi bungkusan itu?"

"Oh…,"

Jawabnya tergugu.

"Kasur Kouw Tay-soe."

"Kausr? Perlu apa Kouw Tay-soe membawa kasur kemari?"

Ia tertawa dan berkata pula.

"Kouw Tay-soe menganggap aku terlalu bodoh dan tak sudi menerima aku sebagai muridnya. Sekarang ia sampai harus membawa kasur sendiri."

Hoan Yauw menggeleng-gelengkan kepala dan menggerak-gerakkan tangan kanannya.

"Biar si tua yang mencuri jalan keluar,"

Katanya di dalam hati.

"Huh-huh…inilah enaknya jadi seorang gagu."

Tio Beng tidak mengerti gerakan tangan itu dan ia mengawasi Lok Thung Kek. Si kakek cukup hebat, dalam sekejap ia sudah memikirkan jawaban yang bagus.

"Sebagaimana Coejin tahu, beberapa siluman telah datang mengacau,"

Katanya.

"Kami kuatir…kuatir mereka menyatroni lagi untuk menolong tawanan itu. Maka itu kami berdua telah mengambil keputusan untuk bermalam di sini guna menjaga diri. Kasur itu kasur Kouw Tay-soe."

Tio Beng girang sekali.

"Sebenarnya aku sendiri memang ingin sekali meminta bantuan Lok Sianseng dan Kouw Tay-soe untuk menjaga menara ini,"

Katanya sambil tertawa.

"Tapi aku belum berani membuka mulut sebab menganggap bahwa dengan meminta begitu aku minta terlalu banyak. Aku sungguh merasa girang bahwa tanpa diminta kalian berdua sudi mengeluarkan tenaga begitu besar. Kouw Tay-soe, dengan adanya Lok Sianseng, kurasa kawanan siluman tidak akan berani mengacau. Biarlah kau sendiri ikut aku."

Seraya berkata begitu ia memegang tangan Hoan Yauw. Hoan Yauw tidak bisa meloloskan diri lagi. Jalan satu-satunya adalah menyerahkan bungkusan kepada Lok Thung Kek yang lalu menyambuti.

"Baiklah aku menunggu kau di menara,"

Kata si kakek.

"Soehoe, mari teecoe yang membawanya,"

Kata Yoe liong coe.

"Tak usah,"

Kata sang guru sambil tertawa.

"Aku ingin mengambil hati Kouw Tay-soe. Tugas ini harus dipanggul olehku sendiri."

Di dalam hati Hoan Yauw mengutuk si kakek.

Tiba-tiba ia menepuk bungkusan itu.

Baik juga Han-kie sudah tertotok jalan darahnya sehingga tepukan itu tidak mengakibatkan teriakan.

Tapi Lok Thung Kek sudah ketakutan setengah mati.

Ia tidak berani bercanda lagi dan sesudah membungkuk kepada majikannya ia segera melangkah masuk ke dalam menara.

Diam-diam ia sudah memperhitungkan tindakannya.

Begitu ia tiba di atas menara, ia akan mengeluarkan Han-kie dari bungkusannya dan membungkus sebuah kasur dengan sprei itu.

Andaikata Kouw Tauw-too mengadu kepada Tio Beng biarpun mesti mati ia tak akan mengaku.

Dengan rasa bingung dan heran, Hoan Yauw mengikuti Tio Beng keluar dari Ban hoat sie.

Ke mana nona itu mau pergi?

Sambil memakai tudung yang semula tergantung di punggungnya Tio Beng berbisik,"

Kouw Tay-soe, mari kita menemui si bocah Boe Kie."

Hoan Yauw terkejut dan melirik si nona.

Ia mendapati kenyataan bahwa muka nona Tio Beng bersemu dadu, sikapnya seperti orang malu bercampur girang.

Hati Hoan Yauw jadi lega.

Ia lantas saja ingat pertemuan malam itu di Ban hoat sie antara kedua orang muda itu.

Cara-cara mereka bukan seperti musuh besar.

Tiba-tiba ia sadar.

"Aha!"

Serunya di dalam hati.

"Mungkin sekali Koen-coe mencintai Kauwcoe."

Sejenak kemudian ia berpikir.

"Tapi…tapi mengapa dia mengajak aku dan bukan Hian-beng Jie lo yang menjadi orang kepercayaannya…Aku tahu, aku gagu dan tidak bisa membocorkan rahasia. Ya! Itulah sebabnya."

Berpikir begitu, ia manggut-manggutkan kepalanya dan tersenyum.

"Mengapa kau tertawa?"

Tanya si nona.

Kouw Tauw-too menggerak-gerakkan kedua tangannya dalam isyarat bahwa biarpun harus masuk ke dalam sarang harimau ia akan turut serta dan melindungi keselamatan si nona.

Tio Beng tidak buka suara lagi dan lalu berjalan mengikuti si gagu.

Tak lama kemudian tiba di depan penginapan Boe Kie.

"Koen-coe benar-benar hebat,"

Pikir Hoan Yauw.

"Ia sudah tahu tempat penginapan Kauwcoe."

Mereka segera masuk ke dalam.

"Kami ingin bertemu dengan seorang tamu she Can,"

Kata Tio Beng kepada pengurus hotel.

Si nona tahu bahwa dalam rumah penginapan itu Boe Kie menggunakan nama "Can Ah Goe".

Seorang pelayan segera masuk ke dalam untuk memberitahukan Boe Kie.

Pemuda itu sedang bersemedi sambil menunggu tanda api di kelenteng Ban hoat sie.

Mendengar kedatangan seorang tamu, ia merasa heran dan segera pergi ke ruangan tengah.

Melihat Tio Beng dan Hoan Yauw ia kaget.

"Celaka!"

Ia mengeluh.

"Mungkin rahasia Hoan Yoe Soe bocor dan Tio Kauwnio datang untuk berhitungan denganku."

Ia menyoja dan berkata.

"Maaf! Karena tak tahu Kauwnio datang berkunjung aku sudah tidak keburu menyambut."

Tio Beng balas memberi hormat.

"Tempat ini bukan tempat bicara,"

Katanya dengan suara perlahan.

"Mari kita pergi ke sebuah rumah makan kecil untuk minum tiga cawan arak."

Tio Beng berjalan lebih dulu.

Di seberang rumah penginapan lewat lima rumah terdapat sebuah rumah makan kecil dengan hanya beberapa meja kayu.

Karena sudah malam, di rumah makan itu tidak terdapat tamu lain.

Tio Beng segera memilih sebuah meja di ruang tengah dan duduk berhadapan dengan Boe Kie.

Hoan Yauw tertawa dalam hati.

Ia menggerak-gerakkan kedua tangannya memberi isyarat bahwa ia ingin minum arak di ruangan depan dan Tio Beng segera manggutkan kepalanya.

Sesudah Kouw Tauw-too keluar, si nona lalu memanggil pelayan dan memesan tiga kati daging kambing serta dua kati arak putih.

Boe Kie merasa sangat heran.

Nona itu bagaikan pohon bercabang emas dan berdaun giok.

Mengapa dia mengajaknya makan minum di dalam rumah makan yang kecil dan kotor?

Apa maksudnya?

Sementara itu si nona sudah mengisi dua cawan arak.

Sesudah meneguk salah sebuah cawan, ia berkata sambil tertawa.

"Nah! Arak ini tidak beracun. Kau boleh minum dengna hati lega!"

Seraya berkata begitu, ia menaruh cawan yang isinya sudah dicicipinya di hadapan Boe Kie.

"Ada urusan apa nona mengajak aku kemari,"

Tanya Boe Kie.

"Minum dulu tiga cawan baru kita bisa bicara,"

Jawabnya.

"Untuk kehormatanmu, aku minum lebih dahulu."

Ia mengangkat dan mengeringkan isi cawannya.

Boe Kie pun segera mengangkat cawannya.

Tiba-tiba hidungnya mengendus bau yang sangat harum.

Di bawah sinar lampu di pinggir cawan, samar-samar ia melihat tapak bibir yang berwarna merah.

Dari bau harum itu, duri Yanciekah?

Dari badan si nonakah?

Hatinya berdebar-debar tapi ia segera meneguk cawannya.

"Kita minum dua cawan lagi,"

Kata Tio Beng.

"Kutahu kau selalu curiga. Maka itu isi setiap cawan akan lebih dahulu dicicipi olehku."

Boe Kie membungkam.

Di dalam hati, ia memang merasa jeri terhadap nona Tio yang mempunyai banyak akal bulus, ia merasa senang bahwa setiap cawan yang disuguhkan kepadanya diminum lebih dahulu oleh si nona sehingga dengan demikian ia tak usah menempuh bahaya.

Tapi minum arak yang sudah diteguk oleh seorang wanita mengakibatkan perasaan yang sukar dilukiskan dalam hatinya.

Ketika ia mengangkat muka, si nona ternyata sedang mengawasi dengna bibir tersungging senyum dan pipi berwarna dadu.

Buru-buru Boe Kie melengos.

"Thio Kauwcoe,"

Kata Tio Beng dengan suara perlahan.

"Apa kau tahu siapa sebenarnya aku?"

Boe Kie menggelengkan kepala.

"Hari ini aku akan berterus terang,"

Katanya pula.

"Ayahku ialah Jie lam ong yang berkuasa atas seluruh angkatan perang kerajaan. Aku wanita Mongol, namaku Mingming Temur. Tio Beng adalah nama Han yang dipilih olehku. Hong-siang telah menganugerahkan aku gelar Siauwbeng Koen-coe."

Kalau bukan sudah diberitahukan oleh Hoan Yauw, Boe Kie tentu akan merasa kaget.

Bahwa si nona sudah bicara terus terang adalah sangat luar biasa.

Sebagai manusia yang tidak bisa berpura-pura pemuda itu tidak menunjukkan rasa kaget.

Tio Beng heran.

"Mengapa kau tenang saja?"

Tanyanya.

"Apa kau sudah tahu?"

"Bukan,"

Sahutnya.

"Tapi sejak awal aku sudah menduga. Kau seorang wanita muda belia tapi kau bisa menguasai tokoh-tokoh ternama dalam Rimba Persilatan. Sejak awal aku sudah menduga bahwa kau bukan sembarang orang."

Nona Tio mengusap-usap cawan arak. Untuk beberapa saat, ia tidak mengeluarkan sepatah kata. Akhirnya ia berkata dengan suara perlahan.

"Thio Kongcoe, aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan dan kuharap kau suka menjawab dengan setulus hati. Bagaimana sikapmu apabila aku membunuh Cioe Kauwnio?"

"Cioe Kauwnio tidak berdosa terhadapmu,"

Jawabnya dengan suara heran.

"Mengapa kau mau bunuh dia?"

"Ada orang-orang yang tidak disukai aku dan aku segera membunuh mereka,"

Kata si nona.

"Apa kau kira aku hanya membunuh orang yang berdosa terhadapku? Ada manusia yang berdosa terhadapku tapi aku tidak membunuh mereka. Seperti kau sendiri, apakah dosamu terhadapku belum cukup besar?"

Sambil berkata begitu, sinar matanya menunjukkan sinar bercanda. Boe Kie menghela nafas.

"Tio Kauwnio,"

Katanya.

"Aku berdosa terhadapmu karena terpaksa. Aku bagaimanapun selalu tak dapat melupakan budimu yang sudah menolong Sam soe-peh dan Liok soe-siok ku."

Tio Beng tertawa dan berkata.

"Kau seorang yang berotak miring. Jie Thay Giam dan In Lie heng terluka karena perbuatan orang-orangku. Tapi kau bukan saja tidak menyalahkan aku bahkan kau menghaturkan terima kasih."

"Sam soe-peh terluka kira-kira dua puluh tahun yang lalu dan pada waktu itu kau belum lahir,"

Kata Boe Kie.

"Tapi biar bagaimanapun juga, orang-orang itu adalah kaki tangan ayahku dan kalau mereka kaki tangan ayahku merekapun menjadi kaki tanganku,"

Kata si nona.

"Ah! Kau coba menyimpang dari pokok pembicaraan. Aku Tanya, jika aku membunuh untuk membalas sakit hati?"

Boe Kie berpikir sejenak.

"Aku tak tahu,"

Jawabnya.

"Mengapa tak tahu?"

Desak si nona.

"Kau tidak mau bicara terus terang bukan?"

"Ayah dan ibuku mati karena didesak orang,"

Kata Boe Kie dengan suara berduka.

"Hari itu di gunung Boe tong san, di hadapan jenazah kedua orang tuaku, aku telah bersumpah bahwa di kemudian hari sesudah aku besar, aku akan membalas sakit hati. Aku mengingat muka orang-orang Siauw liem, Go bie, Koen loen dan Khong tong-pay yang waktu itu berada di Boe tong. Saya masih kecil dan hatiku penuh dengan kebencian. Tapi sesudah aku besar, sesudah aku memperoleh lebih banyak pengetahuan, sakit hatiku kian lama kian berkurang."

"Pada hakekatnya aku tak tahu siapa yang sebenarnya sudah mencelakai kedua orang tuaku. Saya tidak boleh menuduh Khong tie Siansoe, Thie kim Sianseng dan tokoh-tokoh lain. Aku tidak boleh menuduh kakek atau pamanku (In Ya Ong), aku bahkan tidak pantas menuduh orang-orangmu seperti A-toa, A-jie, Hian-beng Jie lo dan yang lainnya. Selama beberapa hari aku merenungkan hal itu dalam pikiranku. Apabila manusia tidak saling bunuh, apabila semua manusia hidup damai dan bersahabat, bukankah kehidupan akan menjadi lebih berarti daripada sekarang ini?"

Pikiran itu sudah lama berada dalam otaknya tapi sebegitu jauh belum pernah ia utarakan kepada orang lain.

Malam itu entah bagaimana ia membuka isi hatinya kepada Tio Beng dalam rumah makan kecil itu.

Sesudah bicara, ia sendiri malah merasa heran mengapa ia sudah bicara begitu.

Tio Beng tahu bahwa Boe Kie bicara sungguh-sungguh.

"Hatimu sangat mulia,"

Katanya sesudah berdiam beberapa saat.

"Manusia seperti aku tidak bisa berbuat seperti kau. Kalau ada orang membinasakan ayah dan kakakku, aku bukan saja akan menumpas keluarganya tapi bahkan membasmi sahabat-sahabat dan kenalan-kenalannya."

"Aku pasti akan merintangi."

"Mengapa begitu?"

"Karena lebih banyak kau membunuh manusia, lebih besar dosamu dan lebih berbahaya keadaanmu. Tio Kauwnio, bilanglah terus terang, apa kau pernah membunuh orang?"

"Sampai kini, belum. Tapi sesudah aku lebih tua, aku akan membunuh banyak sekali manusia. Leluhurku Kaisar Genghiz Khan, Kubilai-khan dan yang lain. Sungguh sayang aku seorang wanita. Kalau lelaki…huh huh! Aku pasti akan melakukan sesuatu yang maha besar."

Ia menuang arak ke cawannya dan meneguk isinya. Setelah itu, ia tertawa dan berkata pula.

"Thio Kongcoe, kau belum menjawab pertanyaanku."

"Bila kau membunuh Cioe Kauwnio atau salah seorang sahabatku maka aku takkan menganggapmu sebagai sahabat lagi,"

Jawabnya.

"Aku tak mau bertemu muka lagi selama-lamanya dan jika bertemu juga aku takkan mau bicara lagi denganmu."

"Dengan demikian, kau kini menganggapku sebagai sahabatmu, bukan?"

Tanya si nona dengan suara dingin.

"Andaikata aku membenci kau, aku tentu sungkan minum bersama kau di tempat ini,"

Sahutnya.

"Hai!...Aku merasa sukar untuk membenci orang. Di dunia ini, manusia yang paling dibenci olehku adalah Hoen-goan Pel lek-cioe Seng Koen. Tapi setelah dia mati aku berbalik merasa kasihan di dalam hati, seolah-olah aku mengharap supaya dia tak mati."

"Bagaimana perasaanmu, andaikata besok aku mati?"

Tanya Tio Beng.

"Di dalam hatimu kau tentu berkata.

"Terima kasih kepada Langit dan Bumi, musuh yang kejam sudah mampus dan aku boleh tidak usah terlalu pusing."

Kau tentu berpikir begitu bukan?"

"Tidak! Tidak! Aku sama sekali tak mengharapkan kematianmu. Tidak! Wie Hok Ong hanya menakut-nakuti kau, mengancam untuk menggores mukamu. Bicara terus terang, aku merasa sangat kuatir. Tio Kauwnio, kuharap kau tidak menyulitkannya lebih lama. Lepaskanlah tokoh-tokoh keenam partai itu. Marilah kita hidup damai. Bukankah kehidupan begitu lebih bahagia daripada bermusuhan yang berlarut-larut?"

"Bagus! Akupun mengharapkan itu. Kau seorang Kauwcoe dari Beng-kauw. Perkataanmu berharga bagaikan emas. Pergilah kau memberitahukan supaya mereka semua mengabdi kepada kerajaan. Ayahku akan melaporkan kepada Hong-siang agar mereka diberi anugerah."

Boe Kie menggelengkan kepala dan berkata dengan suara perlahan.

"Kami bangsa Han mempunyai suatu tekad. Tekad itu ialah mengusir kekuasaan Mongol dari bumi bangsa kami."

Tiba-tiba si nona bangkit.

"Apa?"

Tegasnya.

"Kau berani mengeluarkan kata-kata itu? Apakah itu bukan berarti pemberontakan?"

"Aku memang sudah memberontak,"

Jawabnya.

"Apa kau belum tahu?"

Lama sekali si nona mengawasi wajah Boe Kie.

Perlahan-lahan sinar kegusaran menghilang dari paras wajahnya dan berganti dari sinar kedukaan dan putus harapan.

Perlahan-lahan ia duduk dan berkata dengan suara parau.

"Aku sudah tahu. Aku hanya ingin dengar kepastiannya dari mulutmu sendiri."

Boe Kie berhati lemah.

Melihat kedukaan si nona ia terus merasa berduka.

Kalau dapat, ia bersedia untuk menuruti segala kemauan nona Tio.

Hanya urusan itu adalah urusan nusa dan bangsa maka ia harus tetap kokoh pada pendiriannya, ia tak tahu bagaimana caranya menghibur Tio Beng dan ia membungkam sambil menundukkan kepala.

Selang beberapa lama ia berkata.

"Tio Beng Kauwnio, sekarang sudah larut malam. Biarlah aku mengantar kau pulang."

"Apakah kau tak sudi menemani aku duduk-duduk di sini lebih lama lagi?"

"Bukan! Kalau kau masih ingin minum dan berbicara aku bersedia untuk menemani terus."

Tio Beng tersenyum.

"Kadang-kadang aku melamun,"

Katanya.

"Andaikata aku bukan seorang Mongol, bukan seorang putri pangeran tapi hanya seorang wanita Han biasa seperti Cioe Kauwnio, mana yang lebih cantik."

Boe Kie terkejut, ia tak duga si nona bakal mengajukan pertanyaan begitu.

Tapi hal ini tidak mengherankan.

Tio Beng adalah seorang Mongol yang beradat polos.

Tanpa merasa pemuda itu mengawasi wajah si nona yang sangat ayu dan tanpa merasa pula ia berkata.

"Tentu saja kau lebih cantik."

Mata Tio Beng bersinar girang, ia menyodorkan tangan kanannya dan mencekal tangan Boe Kie.

"Thio Kongcoe apakah kau merasa senang jika kau sering-sering bertemu denganku?"

Tanyanya dengan suara lemah lembut.

"Apakah kau sudi datang pula jika aku mengundang kau minum arak lagi di rumah ini?"

Jantung Boe Kie memukul keras. Sesudah menentramkan hatinya ia menjawab.

"Aku tidak bisa berdiam lama-lama di sini, beberapa hari lagi aku harus pergi ke Selatan."

"Perlu apa kau pergi ke Selatan?"

"Kurasa kau bisa menebak sendiri. Kalau aku memberitahukan maksudku kau tentu akan gusar…."

Tio Beng mengawasi keluara jendela memandang sang rembulan dengan sinarnya yang putih bagaikan perak. Tiba-tiba ia berkata.

"Thio Kongcoe kau telah berjanji untuk melakukan tiga permintaanku. Apa kau masih ingat?"

"Tentu saja masih ingat. Nona boleh memberitahukan dan dalam batas kemampuanku, aku akan melakukan perintahmu."

Si nona menatap wajah Boe Kie dan berkata.

"Sekarang aku baru mempunyai sebuah permintaan, aku minta kau mengambil golok To-liong to."

Boe Kie tahu bahwa permintaan yang diajukan Tio Beng pasti bukan permintaan yang mudah dilakukan.

Tapi ia sama sekali tak menduga bahwa permintaan pertama sudah begitu sukar.

Melihat paras Boe Kie yang menunjukkan rasa susah hati.

Tio Beng bertanya.

"Bagaimana? Apa kau tak sudi melakukan permintaanku? Apakah dilakukannya permintaan itu melanggar sifat kesatriaan dalam Rimba Persilatan?"

"Sebagaimana kau tahu, To-liong to adalah milik ayah angkatku, Kim mo Say Ong Cia Tay-hiap. Tak dapat aku mengkhianati Giehoe dan menyerahkan golok itu kepadamu."

"Aku bukan menyuruh kau mencuri, merampas atau menipu. Akupun bukan ingin memiliki golok itu. Aku hanya minta kau meminjamnya dari ayahmu dan memberikannya kepadaku supaya aku bisa bermain-main dengan golok itu untuk satu jam lamanya. Sesudah satu jam, aku akan memulangkannya kepada Cia Tay-hiap. Kalian berdua adalah ayah dan anak. Apa bisa jadi Cia Tay-hiap akan tak sudi untuk meminjamkannya dalam jangka waktu hanya satu jam. Aku bukan ingin merampas harta benda atau membunuh manusia. Apakah hal itu melanggar kesatriaan dalam Rimba Persilatan?"

"Biarpun namanya tersohor, To-liong to sebenarnya tidak terlalu luar biasa hanya lebih berat dan lebih tajam dari golok biasa."

"Dalam Rimba Persilatan terdapat kata-kata sebagai berikut. Boe lim cie coen po to to liong, hauw leng thian hee boh kam poet ciong, ie thian poet coet swee ie ceng hong (Yang termulia dalam Rimba Persilatan, golok mustika membunuh naga, perintahnya di kolong langit tiada manusia yang berani tidak menurut, ie thian tidka keluar siapa yang bisa melawan ketajamannya). Ie thian kiam berada dalam tanganku terlihat seperti To-liong to. Kalau kau tidak percaya padaku untuk melihat golok mustika itu, kau boleh berdiri di sampingku. Dengan memiliki kepandaian yang begitu tinggi kau tak usah takut bahwa aku main gila terhadapmu."

Mendengar keterangan itu, Boe Kie berpikir.

Sesudah rombongan keenam partai tertolong memang ia juga ingin segera berangkat untuk mengajak ayah angkatnya pulang ke Tiongkok supaya orang tua itu bisa menduduki kursi Kauwcoe.

Kalau nona Tio hanya ingin melihat-lihat golok itu dalam waktu satu jam biarpun dia mau main gila, dengan penjagaan yang hati-hati mungkin tak kan terjadi sesuatu yang tak diinginkan, ia ingat bahwa menurut ayah angkatnya di dalam golok tersebut bersembunyi rahasia pelajaran ilmu silat yang sangat tinggi.

Ayahnya telah mendapatkan To-liong to sebelum kedua matanya buta.

Tapi sebegitu lama orang tua itu, yang berotak sangat cerdas masih belum bisa memecahkan rahasia tersebut.

Maka itu, dalam waktu satu jam nona Tio rasanya takkan bisa berbuat banyak.

Selain itu, ayah angkatnya dan ia sudah berpisah kurang lebih sepuluh tahun.

Mungkin sekali dalam sepuluh tahun ayah angkat itu sudah berhasil menembus tabir rahasia dari To-liong to.

Melihat Boe Kie belum juga menjawab, Tio Beng tertawa.

"Kau tidak sudi meluluskan?"

Tegasnya.

"Terserah padamu, aku ingin mengajukan permintaan lain, permintaan yang lebih sukar."

Boe Kie tahu bahwa Tio Beng pintar dan banyak akalnya. Apabila nona itu mengajukan permintaan lain yang lebih sulit, ia lebih takkan bisa memenuhi janji. Maka itu, buru-buru ia menjawab.

"Baiklah! Aku bersedia untuk meminjamkan To-liong to kepadamu. Tapi kita berjanji pahit dulu, aku hanya meminjamkan dalam jangka waktu satu jam. Manakala kau berani main gila, berani coba-coba merampasnya, aku tentu takkan tinggal diam."

"Akur! Aku tak bisa bersilat dengan golok. Perlu apa aku inginkan golok yang berat itu? Andaikata kau menghadiahkannya kepadaku dengan segala kehormatan, belum tentu aku sudi menerimanya. Kapan kau mau berangkat untuk mengambilnya?"

"Dalam beberapa hari ini."

"Bagus. Akupun akan segera berkemas. Jika kau sudah menetapkan tanggalnya, harap kau segera memberitahukan padaku."

Boe Kie terkejut.

"Kau mau ikut?"

Tanyanya.

"Tentu saja, kudengar ayah angkatmu berdiam di sebuah pulau terpencil. Jika orang tua itu tidak mau pulang, apakah kau mesti berlayar berlaksa li untuk mengambil golok itu dan menyerahkannya kepadaku dalam jangka waktu satu jam dan kemudian kau harus melakukan perjalanan berlaksa li lagi untuk memulangkannya dan sesudah itu pulang ke Tiong goan? Itu terlalu gila!"

Boe Kie manggut-manggutkan kepalanya.

Pelayaran menyeberangi samudera penuh dan masih merupakan sebuah pertanyaan, apa ia bisa mencapai pulau Peng hwee to atau tidak.

Sekali jalan saja masih belum tentu, apalagi sampai tiga kali.

Perkataan Tio Beng mungkin sekali benar.

Sesudah berdiam di pulau itu selama puluhan tahun, juga belum tentu ayah angkat mau pulang ke Tiong goan.

Sesudah berpikir beberapa saat ia berkata.

"Angin dan ombak samudera tidak mengenal kasihan. Perlu apa nona pergi menempuh bahaya itu?"

"Kalau kau boleh menempuh bahaya, mengapa aku tidak boleh?"

Si nona balas bertanya.

"Apakah ayahmu sudi meluluskan?"

"Ayah menyuruh aku memimpin jago-jago Kang ouw dan selama beberapa tahun aku pergi ke berbagai tempat tanpa pengawalan ayah."

Mendengar keterangan Tio Beng "ayah menyuruh aku memimpin jago-jago Kang ouw"

Tiba-tiba Boe Kie ingat sesuatu.

"Dalam usaha menyambut Gie hoe entah kapan aku bisa kembali,"

Pikirnya.

"Jika dia menggunakan tipu memancing harimau dari gunung dan dengan menggunakan kesempatan itu dia menyerang Beng-kauw secara besar-besaran keadaan bisa berbahaya. Tapi kalau dia ikut aku, kaki tangannya pasti tidak akan berani bergerak sembarangan."

Berpikir begitu lantas saja mengangguk dan berkata.

"Baiklah, begitu aku sudah menetapkan tanggal keberangkatan, aku akan segera memberitahu kau."

Belum habis ia bicara, dari jendela mendadak terlihat sinar api yang kemerah-merahan diikuti dengan teriak-teriakan di tempat jauh. Tio Beng melongok keluar.

"Celaka!"

Ia mengeluh.

"Menara Ban hoat sie kebakaran! Kouw Tay-soe! Kouw tay-soe!"

Ia berteriak berulang-ulang tapi Kouw Tauw-too tak muncul.

Ia pergi ke ruang depan ternyata pendeta itu sudah tidak kelihatan lagi baying-bayangnya.

Menurut keterangan pengurus rumah makan, Kouw Tauw-too sudah pergi lama sudah kira-kira dua jam.

Bukan main rasa herannya si nona tapi ia masih belum menduga bahwa si pendeta telah mengkhianatinya.

Sementara itu, melihat sinar api yang berkobar-kobar di atas menara.

Boe kIe jadi kuatir akan keselamatan paman-pamannya dan tokoh lain yang baru saja kembali Lweekang mereka.

"Tio Kauwnio, aku tak bisa menemani lebih lama lagi,"

Katanya. Seraya berkata begitu, ia melompat ke luar jendela.

"Tunggu! Aku ikut!"

Seru si nona.

Tapi ketika ia keluar dari jendela, Boe Kie sudah hilang dari pandangan.

Sekarang marilah kita lihat Lok Thung Kek yang sesudah Koen-coe dan Kouw Tauw-too berlalu, dengan hati lega ia merangkul Han-kie ke kamar Yoe liong coe, yang terletak di tengah-tengah lantai ketujuh.

"Kau tunggu di luar, tak seorangpun boleh masuk ke sini,"

Kata si kakek kepada muridnya. Begitu Yoe liong coe keluar, ia segera membuka bungkusan dan mengeluarkan Han-kie yang paras mukanya pucat dan sinar matanya menunjukkan duka besar.

"Sesudah berada di sini, kau tak usah takut,"

Bujuk si kakek.

"Aku tentu akan memperlakukan kau baik-baik."

Ia belum berani membuka jalan darah si cantik sebab kuatir dia berteriak.

Sesudah menaruh Han-kie di ranjang Yoe liong coe, ia menurunkan kelambu dan kemudian mengambil satu kasur yang lalu dibungkus dengan sprei yang tadi membungkus tubuh si cantik.

Ia menaruh bungkusan itu di samping ranjang.

Lok Thung Kek adalah orang yang sangat berhati-hati.

Buru-buru ia keluar dari kamar itu dan memesan Yoe liong coe bahwa tak seorangpun boleh masuk ke dalam kamar.

Ia tahu muridnya sangat taat kepadanya dan pesan itu pasti takkan dilanggar.

Sesudah beres menyembunyikan Han-kie, ia lalu memikirkan tindakan selanjutnya.

"Bila aku mau Kouw Tauw-too menutup mulut, aku harus membalas budi kepadanya,"

Pikirnya.

"Jalan satu-satunya adalah melepaskan si nenek kecintaannya dan anak perempuannya. Untung juga Kauwcoe Mo-kauw telah mengacau di sini dan pengacau itu ada sangkut pautnya dengan Cioe Kauwnio. Sesudah menolong, aku bisa mengatakan bahwa kedua orang itu ditolong oleh si Kauwcoe Mo-kauw. Koen-coe pasti takkan curiga dan tak akan menyalahkanku sebab Kauwcoe memang mempunyai kepandaian yang sangat tinggi."

Sesudah mengambil keputusan, ia segera pergi ke kamar tahanan Biat Coat Soethay.

Semua murid wanita Goe bie-pay ditahan di lantai empat sedang Biat Coat sendiri mengingat kedudukannya sebagai seorang ciang boen jin, ditahan sendirian di dalam sebuah kamar.

Lok Thung Kek memerintahkan penjaga membuka pintu dan ia lantas masuk ke dalam.

Pendeta wanita itu ternyata sedang bersemedi seraya memejamkan matanya.

"Biat Coat Soethay, apa kau baik?"

Tegur si kakek. Perlahan-lahan Biat Coat membuka kedua matanya.

"Baik apa?"

Katanya dengan suara dongkol.

"Kau sangat keras kepala,"

Kata Lok Thung Kek.

"Coe jin mengatakan bahwa tak guna kau diberi hidup lebih lama lagi dan ia sudah memerintahkan aku untuk mengirim kau ke dunia baka."

"Baiklah,"

Kata si nenek dengan suara tawar.

"Tapi tak perlu tuan turun tangan sendiri. Aku hanya ingin meminjam sebatang pedang pendek. Di samping itu, sebagai keinginanku terakhir kuminta tuan sudi memanggil muridku Cioe Cie Jiak. Aku ingin bicara dengannya."

Lok Thung Kek mengiyakan. Ia keluar dan memerintahkan seorang penjaga untuk membawa nona Cioe.

"Cinta ibu dan anak memang tak sama dengan cinta lain,"

Pikirnya. Beberapa saat kemudian, Cie Jiak sudah datang.

"Lok Sianseng,"

Kata Biat Coat.

"Kumohon kau keluar dulu. Pembicaraan kami tidak memakan waktu yang lama."

Sesudah si kakek berlalu, Cie Jiak merapatkan pintu lalu menubruk gurunya.

Ia menangis sesegukan.

Biarpun Biat Coat berhati besi tapi pada saat itu, pada detik-detik perpisahan untuk selama-lamanya hatinya seperti disayat sembilu.

Ia mengusap-usap rambut muridnya.

Nona Cioe tahu bahwa gurunya takkan bicara panjang-panjang.

Maka itu, lebih dulu ia menceritakan bagaimana caranya ia sudah ditolong Boe Kie dan kedua kawannya.

Alis si nenek berkerut.

Selang beberapa saat ia berkata.

"Mengapa ia hanya menolong kau, tidak menolong yang lain?"

Muka si nona berubah merah.

"Entahlah,"

Jawabnya.

"Hmm! Bocah itu terlalu jahat,"

Kata sang guru dengan suara gusar.

"Dia kepala siluman dari kawanan siluman Mo-kauw. Tak mungkin dia mempunyai hati yang baik. Dia memasang jaring untuk menjaring kau."

"Dia…dia memasang jaring apa?"

Tanya si nona dengan suara heran.

"Kita adalah musuh kawanan Mo-kauw,"

Terang sang guru.

"Dengan Ie thian kiam aku telah membunuh banyak sekali siluman. Mereka sangat membenci Go bie-pay. Mana bisa jadi mereka benar-benar mau menolong? Siluman she Thio itu jatuh hati kepadamu, diam-diam dia menyuruh orang menangkap kita dan kemudian untuk mengambil hati, dia sendiri yang menolong kau."

"Tapi Soehoe,"

Kata si nona dengan suara lemah lembut.

"Kulihat…ia tidak berpura-pura."

Si nenek lantas naik darah.

"Apa kau kata?"

Bentaknya.

"Rupanya kau telah mengikuti contoh si binatang Kie Siauw Hoe dan sudah jatuh cinta kepada siluman itu. Kalau aku masih bertenaga, dengan sekali hantam aku sudah mengambil jiwamu."

Cie Jiak ketakutan, dengan tubuh gemetar ia berkata.

"Murid tak berani."

"Apa sungguh-sungguh tidak berani atau kau hanya mencoba memperdaya gurumu?"

"Murid sungguh-sungguh tak berani melanggar ajaran Soehoe."

"Kalau begitu, kau berlututlah dan bersumpah."

Nona Cioe segera menekuk kedua lututnya tapi ia tak tahu sumpah apa yang harus diucapkan olehnya. Kata Biat Coat.

"Kau harus bersumpah begini. Aku, Cie Jiak bersumpah kepada Langit bahwa kalau di kemudian hari aku jatuh cinta kepada Kauwcoe Mo-kauw Thio Boe Kie dan menjadi suami istri dengan dia, maka roh kedua orang tuaku yang sekarang berada di alam baka akan merasa tidak aman. Sedang guruku Biat Coat Soethay akan menjadi setan yang jahat dan akan mengganggu aku seumur hidup. Apabila dari perkawinan itu terlahir anak maka semua anak lelaki akan menjadi budak, anak perempuan akan menjadi pelacur."

Tak kepalang kagetnya nona Cioe.

Ia orang yang berwatak lemah lembut dan di dalam lubuk hatinya terdapat kasih sayang terhadap sesama umat manusia.

Tapi sekarang ia harus mengucapkan sumpah yang begitu hebat.

Sumpah yang menyebut roh kedua orang tuanya, sumpah yang menyeret juga anak-anaknya yang belum lahir.

Tapi melihat sinar mata gurunya yang berkilat-kilat, ia tidak berani membantah.

Dengan kepala puyeng dan dengan suara parau, ia mengucapkan kata-kata yang diucapkan Biat Coat.

Sesudah muridnya itu bersumpah begitu berat, paras si nenek berubah lunak.

"Kau bangunlah, katanya. Dengan air mata bercucuran, Cie Jiak lantas bangun berdiri. Sesaat kemudian, Biat Coat berkata pula dengan suara halus bercampur rasa terharu yang sangat besar.

"Cie Jiak, aku bukan sengaja menekan kau. Setiap tindakanku adalah untuk kebaikanmu sendiri. Kau masih berusia muda dan mulai dari sekarang, gurumu tidak bisa memilik kau lagi. Apabila kau mengikuti contoh Kie Soecimu, maka di alam baka, gurumu tak akan merasa senang. Disamping itu, ada sesuatu yang sangat penting. Apapula gurumu sekarang ingin menyerahkan tanggung jawab yang sangat berat di atas pundakmu, sehingga kau sedikitpun tak bisa berlaku sembarangan. Seraya berkata begitu, ia mencabut sebuah cincin besi dari telunjuk kirinya dan berdiri tegak.

"Murid wanita Go Bie Pay, Cioe Cie Jiak, kau berlututlah untuk menerima amanat! katanya dengan suara angker. Cie Jiak terkejut dan segera menekuk lututnya. Sambil mengangkat cincin besi itu tinggi-tinggi, Biat Coat Soethay berkata pula.

"Ciang Boen Jin Go Bie Pay turunan ketiga pendeta wanita Biat Coat, dengan ini menyerahkan kedudukan Ciang Boen Jin kepada murid wanita turunan keempat, Cioe Cie Jiak. Tak kepalang kagetnya nona Cioe. Sedang kepalanya masih pusing sebagai akibat pengucapan sumpah yang berat itu, ia mendapat lain kekagetan hebat. Ia hanya mengawasi sang guru dengan mulut ternganga dan mata membelalak.

"Cioe Cie Jiak, keluarkan tangan kirimu untuk menerima cincin besi sebagai tanda Ciang Boen Jin dari partai kita, kata pula si nenek. Bagaikan seorang linglung, si nona menyodorkan tangan kirinya dan sang guru segera memasukkan cincin itu ke telunjuknya. Sekarang baru Cie Jiak bisa membuka suara.

"soehoe katanya dengan suara bergemetar, teecoe masih sangat muda dan belum lama belajar ilmu, cara bagaimana teecoe bisa memikul beban yang begitu berat? Soehoe jangan berkata begitu, dengan sesungguhnya teecoe tak dapat… "

Ia tak dapat meneruskan perkataannya dan sambil menangis ia memeluk kedua betis gurunya. Mendengar suara tangisan, Lok Thung Kek yang sudah sangat tidak sabaran, lantas saja mengetuk pintu.

"Hei! Apa belum beres? teriaknya.

"Jangan rewel! bentak Biat Coat. Ia mengawasi si murid dan berkata dengan suara menyeramkan.

"Cie Jiak, apakah kau membantah perintah gurumu? tanpa menunggu jawaban, ia segera menyebutkan peraturan dan larangan bagi seorang Ciang Boen Jin Go Bie Pay dan menyuruh murid itu menghafal larangan tersebut. Nona Cioe jadi makin bingung. Dengan air mata bercucuran, ia berkata.

"soehoe, teecoe…. Sungguh-sungguh…. Tak…. Sanggup… "

"Cie Jiak!? bentak si nenek dengan gusar.

"Apa benar-benar kau mau membantah perintahku? Seorang murid yang melawan kemauan guru adalah murid yang menghina guru, tapi meskipun suaranya keras hatinya sedih seperti tersayat pisau. Ia merasa kasihan terhadap muridnya itu. Ia bakal segera meninggalkan dunia ini dan secara mendadak ia menaruh beban seberat itu di atas bahu seorang wanita muda yang lemah. Memang mungkin sekali Cie Jiak tidak menunaikan tugasnya secara memuaskan. Akan tetapi ia tahu, bahwa diantara murid-murid Go Bie Pay, nona Cioe-lah yang paling cerdas otaknya. Demi kepentingan dan kemakmuran Go Bie Pay, hanyalah dia seorang yang pantas menjadi Ciang Boen Jin. Ia dapat membayangkan, bahwa sesudah ia pulang ke alam baka, murid kecil itu akan menghadapi macam-macam kesukaran dan penderitaan. Mengingat begitu, bukan main rasa dukanya. Dengan kedua tangan ia membangunkan Cie Jiak yang lalu dipeluknya.

"Cie Jiak, katanya dengan suara lembut.

"Kau dengarlah, bahwa aku sudah menyerahkan kedudukan Ciang Boen Jin kepadamu dan bukan salah seorang dari para kakak seperguruanmu adalah bukan karena aku memilih kasih. Sebab musababnya ialah seorang Ciang Boen Jin partai kita harus memiliki ilmu silat yang sangat tinggi yang dapat bersaing dengan lain-lain partai.

"tapi soehoe, kata Cie Jiak.

"ilmu silat teecoe kalah jauh dari para suci. Biat Coat tersenyum.

"kepandaian mereka sangat terbatas, katanya.

"Sesudah mencapai batas tertentu, mereka sukar bisa maju lebih jauh. Inilah soal bakat yang tak dapat diubah dengan tenaga manusia. Biarpun sekarang ilmu silatmu masih kalah jauh dari para sucimu, tapi di hari kemudian kepandaian yang bakal dimiliki olehmu tak dapat diukur bagaimana tingginya, Hm… tak dapat diukur bagaimana tingginya. Dalam bingungnya. walaupun mendengar, Cie Jiak tak bisa menangkap maksud perkataan sang guru. Sesaat kemudian Biat Coat mendekati muridnya dan berbisik di kuping si nona.

"Kau sekarang Ciang Boen Jin partai kita dan adalah kewajibanku untuk memberitahukan suatu rahasia besar kepadamu. Couwsoe pendiri partai kita ialah Kwee Liehiap, puteri kedua Tay Hiap Kwee Ceng. Pada waktu tentara goan merampas kota Siang Yang, dalam peperangan yang sangat hebat, Kwee Tayhiap gugur untuk nusa dan bangsa. Sebelum melepaskan napasnya yang penghabisan, ia memberitahukan rahasia besar ini kepada Couwsoe Kwee Liehiap. Pada jaman itu, nama Kwee Tayhiap menggetarkan seluruh dunia. Ia memiliki dua rupa ilmu yang sangat istimewa, pertama ilmu perang dan kedua ilmu silat. Isteri Kwee Tayhiap adalah Oey Yong, Oey Liehiap seorang wanita yang pintar luar biasa. Siang-siang ia sudah menduga, bahwa kota Siang Yang pasti akan dirampas oleh tentara goan yang sangat kuat. Kedua suami isteri itu telah mengambil keputusan untuk membalas budi negara dengan mengorbankan jiwa. Inilah keputusan yang biasa diambil oleh kesatria-kesatria yang bersetia kepada negara. Tapi bukankah sayang sekali apabila dua rupa ilmu Kwee Tayhiap turut menjadi musnah? Apapun Oey Liehiap sudah menduga, bahwa orang mongol akan menguasai Tiongkok dan hal itu pasti akan menimbulkan rasa penasaran dalam hati segenap bangsa Han. Disatu waktu bangsa Han tentu akan memberontak untuk menggulingkan pemerintah penjajahan. Pemberontakan itu akan merupakan peperangan hebat. Manakala saatnya tiba, maka kedua ilmu Kwee Tayhiap akan berguna besar, Oey Liehiap merundingkan hal ini dengan suaminya. Akhirnya mereka mengambil suatu keputusan. Ia mengundang tukang yang pandai betul dalam pembuatan senjata. Tukang itu melebur Hian Tiat Kiam, milik Yo Ko Tay Hiap, dan dengan menambahkannya dengan emas murni dari daerah barat, ia membuat Ie Thian Kiam. Cie Jiak terkejut, ia mengenal Ie Thian Kiam dan sudah lama ia mendengar nama To Liong To. Tapi baru sekarang ia mengetahui sejarah kedua senjata mustika itu. Biat Coat melanjutkan penuturannya.

"Dengan menggunakan waktu sebulan, Oey Liehiap dan Kwee Tayhiap menulis ilmu perang dan ilmu silat yang kemudian disembunyikan dalam pedang dan golok itu. Yang disembunyikan di dalam To Liong To adalah ilmu perang. Golok itu dinamakan To Liong. Nama itu mengandung arti bahwa di kemudian hari, orang bisa mendapatkan kitab ilmu perang di dalam golok tersebut harus mengusir Tat Coe dan membunuh kaisar Tat Coe. Yang disembunyikan di dalam Ie Thian Kiam ialah kitab ilmu silat, antaranya yang paling berharga adalah Kioe Im Cin Keng dan Hang Liong Sip Pat Ciang. Kedua suami isteri mengharap, supaya di belakang hari, orang yang mendapatkannya bisa berbuat kebaikan terhadap sesama manusia, bisa menumpas kejahatan dan menolong rakyat."

Sesudah pembuatan pedang dan golok mustika itu selesai.

Oey Liehiap menyerahkan To Liong To kepada Kwee Kong (paduka Kwee) Poh Louw dan Ie Thian Kiam kepada Kwee Couw Soe.

Tak usah dikatakan lagi, Kwee Couw Soe telah mendapat pelajaran ilmu silat dari ayah dan ibunya, sedang Kwee Kong Poh Louw mendapat pelajaran ilmu pedang dari kedua orang tuanya.

Tapi Kwee Kong Poh Louw gugur bersama-sama ayah dan ibunya.

Bakat Kwee Couw Soe tidak sesuai dengan pelajaran ilmu silat dari ayahandanya.

Maka itulah sebabnya mengapa ilmu silat partai kita berbeda dari ilmu silat Kwee Tayhiap.

Dari para kakek seperguruannya, Cie Jiak memang sudah mendengar cara bagaimana berbagai pa rtai persilatan berebut To Liong To, sehingga belakang mereka naik ke Boe Tong dan sebagai akibatnya, kedua orang tua Boe Kie sampai membunuh diri.

Sekarang baru ia tahu, bahwa pedang dan golok itu mempunyai sangkut paut yang sangat rapat dengan Go Bie Pay.

Sementara itu, Biat Coat Soethay melanjutkan penuturannya.

"selama kurang lebih seratus tahun, di dalam rimba persilatan timbul gelombang hebat. Beberapa kali, pedang dan golok itu menukar majikan. Belakangan orang hanya tahu, bahwa To Liong To adalah "

Boe Lim Cie Coen (yang termulia dalam rimba persilatan) dan yang dapat menandinginya hanyalah Ie Thian Kiam, tap i orang tak tahu mengapa golok itu dipandang sebagai"

Boe Lim Cie Coen Kwee Kong Poh Louw mati muda.

Ia tak punya keturunan dan tak punya murid yang bisa mewarisi kepandaiannya dan rahasia besar itu.

Maka itulah, hanya Couw Soe seorang yang tahu rahasia itu.

Selama hidupnya, Couw Soe telah beruasaha sekuat tenaga untuk mencari To Liong To, tapi semua usahanya tinggal sia-sia.

Pada waktu mau meninggal dan CouwSoe telah memberitahukan rahasia ini kepada Insoe (guruku yang besar badannya) It Ceng SoeThay.

Insoe adalah seorang yang sangat mulia dan lemas hatinya.

Ia mempunyai seorang murid durhaka.

Belakangan bukan saja To Liong To tidak dicari, bahkan Ie Thian Kiam dicuri oleh soecieku itu yang mempersembahkannya kepada kaisar Goan.

Insoe sangat berduka dan mati mereras.

Sebelum menutup mata, ia juga memerintahkan supaya aku mengambil pulang kedua senjata mustika itu.

"Ah, kalau begitu teecoe mempunyai seorang soepeh yang kurang baik. Kata Cie Jiak. Paras muka Biat Coat lantas saja berubah dingin bagaikan es.

"Kau masih memanggil Soepeh kepada manusia pengkhianat itu? katanya dengan suara gusar. Si nona menundukkan kepalanya dan tidak berani menjawab.

"Akhirnya murid pengkhianat itu tidak terlolos dari tanganku. Kata pula Biat Coat.

"Karena hatinya jahat, ilmu silatnya tak terlalu tinggi. Kau boleh merasa bangga bahwa gurumu tak menyia-nyiakan pesan Soecouw-mu. Pada akhirnya aku berhasil membersihkan rumah tangga kita. (membersihkan rumah tangga kita berarti menyingkirkan kejahatan dalam kalangan sendiri) "

Membersihkan rumah tangga kita? menegas si nona. Paras muka Biat Coat berkelebat sinar kebanggaan dan kekejaman.

"Benar, katanya dengan suara angkuh.

"Di kaki gunung Gak Louw San, di daerah kota Tiang See, aku menyandak manusia durhaka itu dan dengan pukulan Pwee Hoa Pwee Yan (bukan bunga, bukan asap) aku menikam jantungnya. Dahulu, dialah orang yang mengajarkan pukulan itu. Dia pernah mengejek diriku dengan mengatakan, bahwa seumur hidup, aku tidak akan bisa menggunakan pukulan tersebut. Pada malam itu, di bawah sinar rembulan, aku sebenarnya sudah bisa mengambil jiwanya dalam dua ratus jurus. Tapi sebab aku bertekad untuk membinasakannya dengan Pwee Hoa Pwee Yan, maka sesudah bertempur kurang lebih tiga ratus jurus, barulah aku berhasil. Huh! Huh!... itulah kejadian dua puluh tahun berselang. Cie Jiak bergidik. Entah mengapa, di dalam lubuk hatinya muncul perasaan kasihan terhadap soepeh yang berkhianat itu. Tiba-tiba Lok Thung Kek memukul-mukul pintu.

"Hei! Sudah beres belum? teriaknya.

"aku tidak bisa menunggu lagi.

"Tak lama lagi,? sahut Biat Coat.

"kau tunggulah. Sesudah itu, ia berkata lagi di kuping muridnya.

"Waktu sudah mendesak, kita tak dapat membicarakan lagi hal yang penting. Belakangan, Ie Thian Kiam dihadiahkan kepada Jie Lam Ong oleh kaisar Goan. Aku berhasil mencurinya dari gedung raja muda itu. Hanya sungguh sayang, aku terjebak dan pedang itu jatuh ke tangan Mo Kauw.

"Bukan, membantah si murid.

"Ie Thian Kiam dirampas oleh Tio Kouw Nio. Biat Coat mendelik. Sambil mengeluarkan suara di hidung, ia berkata.

"Apa kau tidak tahu bahwa perempuan she Tio itu adalah kawannya si Kauw Coe Mo Kauw? Apa sampai pada detik ini kau masih tidak percaya perkataan gurumu? Nona Cioe memang tidak percaya, tapi ia tidak berani membantah lagi.

"Cie Jiak, kau dengarlah, kata pula sang guru.

"Dalam memilih kau sebagai Ciang Boen Jin, gurumu mempunyai suatu maksud yang dalam. Aku jatuh ke dalam tangan orang jahat, sehingga nama besarku yang didapat selama puluhan tahun musnah laksana disapu air. Aku sendiri memang tak sudi keluar dari menara ini dengan masih bernapas, penjahat cabul she Thio itu punya niatan tidak baik atas dirimu. Tapi menurut pendapatku, dia tidak akan mengambil jiwamu. Sekarang aku memerintahkan kau untuk berlagak membalas cintanya dan kemudian begitu mendapat kesempatan, kau rampas pedang Ie Thian Kiam. Golok To Liong To ada di tangan Cia Soen, ayah angkat penjahat she Thio itu. Biar bagaimana jua pun, bocah itu tidak akan membuka rahasia dimana adanya Cia Soen. Tapi di dalam dunia terdapat manusia yang bisa memaksa dia mengambil golok tersebut.? Cie Jiak tahu, bahwa seorang manusai itu dimaksudkan dirinya sendiri. Ia kaget bercampur malu, girang bercampur takut.

"Orang itu adalah kau sendiri,? kata pula sang guru. Aku memerintahkan kau mengambil pulang pedang dan golok mustika itu dengan menggunakan kecantikanmu. Aku tahu, tindakan ini memang bukan tindakan seorang kesatria. Akan tetapi dalam usaha besar, orang tak perlu menghiraukan soal-soal remeh. Cobalah kau pikir, Ie Thian Kiam berada dalam tangan si perempuan She Tio, sedang To Liong To jatuh ke dalam tangan bangsat Cia Soen. Jahat bertemu dengan jahat, pedang bertemu dengan golok. Apabila mereka berhasil mengambil ilmu perang dan ilmu silat Kwee Tayhiap, betapa besar penderitaan umat manusia di kolong langit ini. Disamping itu usaha mengusir penjahat Tat Coe pun akan menjadi lebih sukar lagi. Cie Jiak, kutahu, bahwa beban yang ditaruh di atas pundakmu terlampau berat. Sebenar-benarnya aku merasa tak tega untuk memerintahkan kau memikul yang berat itu. Tapi apakah adanya maksud tujuan orang-orang seperti kita dalam mempelajari ilmu silat? Cie Jiak, demi kepentingan rakyat di seluruh negeri, aku memohon kepada kau.? Seraya berkata begitu, ia berlutut di hadapan muridnya. Tak kepalang kagetnya nona Cioe. Buru-buru iapun menekuk kedua lututnya dan berseru dengan suara parau.

"soehoe!..."

"Ssst! Perlahan sedikit, jangan sampai penjahat di luar mendengarkan pembicaraan kita. Apa kau sudi meluluskan permintaanku? Sebelum kau meng-iya-kan aku, aku tidak akan bangun.? Cie Jiak merasa kepalanya puyeng. Dalam waktu sependek itu, gurunya telah mengeluarkan tiga perintah sulit. Pertama, ia diperintah untuk mengangkat sumpah berat, bahwa ia tidak akan mencintai Boe Kie. Kedua, ia diperintah menerima kedudukan Ciang Boen Jin dari Go Bie Pay. Akhirnya ia diperintah memancing Boe Kie dengan kecantikannya untuk merampas pulang To Liong To dan Ie Thian Kiam. Sebagai seorang wanita muda belia yang berarti sangat lemah, ia sungguh-sungguh tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Kepalanya berrputar, matanya berkunang-kunang, ia hampir pingsan. Cepat-cepat ia memejamkan kedua matanya dan menggigit bibir untuk coba mempertahankan diri. Tiba-tiba ia merasa bibirnya sakit dan ia membuka kedua matanya. Sang guru masih terus berlutut.

"Soehoe… bangunlah!? katanya sambil menangis.

"Apakah kau sudi meluluskan permintaanku?? tanya Biat Coat pula. Dengan air mata mengucur, si nona menggut-manggutkan kepalanya. Biat Coat mencekal pergelangan tangan muridnya erat-erat dan berbisik.

"Sesudah merampas pulang To Liong To dan Ie Thian Kiam, kau harus segera pergi ke tempat sepi, ke tempat yang tak ada manusianya. Dengan sebelah tangan mencekal golok dan sebelah tangan memegang pedang, kau harus mengerahkan tenaga dalam dan saling membacokkan kedua senjata itu. Bacokan itu akan mematahkan atau memutuskan golok dan pedang dengan berbareng. Sesudah itu, barulah kau bisa mengambil pit-kip (kitab) yang disembunyikan di dalam kedua senjata itu. Cie Jiak, inilah cara satu-satunya untuk mengambil kedua kitab yang berharga itu. Sampai disitu tamatlah riwayat To Liong To dan Ie Thian Kiam. Apa kau ingat pesananku?? walaupun berbicara dengan suara berbisik-bisik, paras muka Biat Coat angker dan kereng. Si murid mengangguk.

"Cara itu, cara yang diambil kedua pit-kit merupakan rahasia terbesar dari partai kita.? Kata pula sang guru.

"Semenjak Oey Liehiap mewariskan tentang rahasia kitab ini kepada Kwee SoeCouw, hanyalah Ciang Boen Jin dari partai kita yang mengetahuinya. To Liong To dan Ie Thian Kiam adalah senjata mustika. Andaikata seseorang bisa memiliki kedua senjata itu dengan berbareng, ia pasti tak akan berlaku begitu gila untuk merusakkan kedua-duanya. Sesudah memiliki kitab ilmu perang, kau harus mencari seorang pecinta negeri yang berhati mulia untuk mewarisi kitab tersebut. Sebelum menyerahkannya, kau harus menyuruh dia bersumpah, bahwa dengan segala usaha dan kepandaiannya, dia akan mencoba untuk mengusir kaum penjajah. Kitab ilmu silat harus dipelajari olehmu sendiri. Dalam seluruh penghidupannya, gurumu mempunyai dua angan-angan, yang pertama adalah mengusir Tat Coe dan merampas pulang negara kita. Yang kedua adalah mengangkat derajat Go Bie Pay sedemikian rupa sehingga partai kita berada di sebelah atas Siauw Lim , Boe Tong dan lain partai. Sehingga partai kita menjadi partai yang paling terutama dalam rimba persilatan. Kedua angan itu memang sukar tercapai. Tapi sekarang kita sudah melihat satu jalanan. Apabila kau mentaati pesan gurumu, belum tentu kau tidak akan berhasil, di alam baka gurumu akan merasa sangat berterima kasih terhadapmu. Baru ia sampai di situ, pintu sudah digedor oleh Lok Thung Kek.

"Masuklah! kata Biat Coat. Pintu terbuka, tapi yang masuk bukan Lok Thung Kek. Yang masuk adalah Kouw Touwtoo. Biat Coat tidak menjadi heran. Baginya Lok Thung Kek atau Kouw Touwtoo tidak berbeda.

"Bawa anak itu keluar, katanya sambil mengibaskan tangan. Ia tidak mau muridnya menyaksikan waktu ia membunuh diri. Karena khawatir si murid tidak dapat mempertahankan diri. Namun diluar dugaan Kouw Touwtoo mendekati dan berbisik.

"Telanlah obat pemunah ini. Sebentar, kalau di luar suara ribut, kau harus turut menerjang keluar. Biat Coat heran dan bingung.

"Siapa tuan? tanyanya.

"Mengapa tuan menyerahkan obat pemunah kepadaku? "

Aku dari Kong Beng Yoe Soe dari Beng Kauw dan aku bernama Hoan Yauw. Aku berhasil mencuri obat ini dan aku sengaja datang untuk menolong Soe Thay, jawabnya. Darah si nenek lantas saja meluap.

"Penjahat Mo Kauw! bentaknya.

"Sampai saat ini kau masih coba mempermainkan aku? Hoan Yauw tertawa.

"Baiklah! katanya.

"Aku tak membantah anggapanmu. Apa kau mempunyai nyali untuk menelannya? Begitu masuk di perut, racun ini akan memutuskan isi perutmu. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, si nenek menyambut bubuk yang diangsurkan kepadanya, membuka mulut dan lalu menelannya.

"Soehoe… soehoe!... teriak Cie Jiak.

"Jangan ribut! bentak Hoan Yauw.

"Kaupun harus menelan racun ini. Si nona terkejut, tapi ia tak berdaya karena badannya sudah dipeluk dan mulutnya dibuka. Dengan cepat, Hoan Yauw memasukkan bubuk obat dan menuang air ke dalam mulut si nona sehingga obat pemunah itu lantas saja masuk ke dalam perut. Tak kepalang gusarnya Biat Coat. Matinya Cie Jiak berarti musnahnya segala harapan. Dengan kalap, ia menubruk Hoan Yauw, tapi sebab tak punya tenaga dalam, ia segera kena dirobohkan.

"Semua pendeta Siauw Lim dan jago-jago Boe Tong sudah menelan racunku itu. Kata Hoan Yauw sambil menyeringai.

"Apa orang Beng Kauw manusia jahat atau manusia baik, kau segera akan mengetahui. Seraya berkata begitu, ia melompat keluar dan mengunci pintu. Ajakan Tio Beng untuk mencari Boe Kie sangat membingungkan Hoan Yauw. Bagaimana ia dapat menunaikan tugas untuk merampas obat pemunah? Maka itu, setelah mendapat permisi dari Tio Beng untuk minum arak di ruangan depan, ia segera kabur ke Ban Hoat Sie. Tanpa membuang waktu, ia mendaki menara sampai ke lantai paling atas, dimana ia bertemu dengan Yoe Liong Coe yang sedang menjaga di luar kamar sendiri. Melihat Hoan Yauw, Yoe Liong Coe menyambut dengan hormat.

"Kouw Touwtoo, katanya sambil membungkuk. Hoan Yauw manggut-manggutkan kepalanya.

"Kurang ajar si tua bangka,? katanya di dalam hati.

"Muridnya disuruh menjaga di luar, sedang dia sendiri bercinta-cintaan dengan selir Ong Ya. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini. Ia melangkah berjalan melewati Yoe Liong Coe dan tiba-tiba, secepat kilat, jari tangannya menotok jalan darah di kempungan murid kepala Lok Thung Kek. Jangankan Yoe Liong Coe tidak berwaspada, sekalipun siap sedia, belum tentu ia bisa meloloskan diri dari totokan Hoan Yauw. Begitu tertotok, badannya tak bisa bergerak lagi dan ia mengawasi si pendeta dengan mata membelalak. Kedosaan apa yang sudah diperbuatnya? Apakah ia berlaku kurang hormat? Hoan Yauw segera mendobrak pintu dan melompat ke dalam. Sebelum kakinya hinggap di lantai, tangannya menghantam tubuh yang berbaring di ranjang. Ia tahu, bahwa Lok Thung Kek berkepandaian tinggi dan kalau ia tidak membokong dengan pukulan yang membinasakan, ia harus melakukan pertempuran lama dan belum tentu ia bisa menang. Maka itu, dalam pukulan itu, ia menggunakan seantero tenaganya.

"Buk! kasur pecah dan kapas berhamburan. Tapi waktu membuka kasur, ia kaget, sebab ia hanya melihat sesosok tubuh, yaitu Han Kie yang sudah binasa dengan mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya. Lok Thung Kek sendiri tak kelihatan bayangan-bayangannya. Setelah memikir sejenak, buru-buru Hoan Yauw keluar dan menyeret masuk Yoe Liong Coe yang kemudian digulingkan masuk ke kolong ranjang. Sesudah itu, ia merapatkan pintu dan menunggu. Beberapa saat kemudian, ia mendengar teriakan Lok Thung Kek.

"Liong Jie! Liong Jie! panggilnya dengan suara gusar.

"Kemana kau? Sebagaimana diketahui, si kakek telah dijemur Biat Coat. Dengan mendongkol, ia menunggu di luar kamar. Karena tak tahu sampai kapan si nenek baru selesai bicara dengan muridnya, ia segera mengambil keputusan untuk menengok Han Kie dan sebentar kembali lagi. Setibanya di depan kamar Yoe Liong Coe, ia marah besar karena murid itu tak mentaati perintahnya. Ia menolak pintu. Hatinya agak lega karena di dlam kamar tak terjadi perubahan dan si cantik masih berbaring di ranjang dengan tubuh tertutup kasur. Setelah menapal pintu, ia berkata sambil tertawa.

"Nona cantik, aku akan membuka jalan darahmu. Tapi aku mengharap kau tak mengeluarkan suara. Seraya berkata begitu, ia memasukkan tangannya ke bawah kasur untuk menotok punggung Han Kie. Mendadak, mendadak saja, ia merasa pergelangan tangannya dicengkeram dengan jari-jari tangan yang keras bagaikan besi dan berbareng tenaganya habis. Kasur tersingkap dan dari bawah kasur keluar seorang pendeta rambut panjang, Kouw Touwtoo! Dengan tangan kanan mencekal pergelangan tangan si kakek, Hoan Yauw segera menotok sembilan belas hiat utama sekujur badan Lok Thung Kek, sehingga jago itu benar-benar tidak berdaya lagi dan hanya bisa mengawasi musuh dengan mata melotot. Sambil menuding hidung si kakek, Hoan Yauw berkata.

"Tua bangka! Aku tak pernah mengubah she atau menukar nama. Aku adalah Kong Beng Yoe Soe dari Beng Kauw, Hoan Yauw namaku. Kau sudah kena ditipu olehku dan Cuma-Cuma saja kau selalu membanggakan diri sebagai manusia yang pintar dan cerdas. Sebetulnya kau tak lebih dan tak kurang daripada manusia goblok. Kalau kini aku akan membunuhmu, aku mengampuni jiwamu, jika kau mempunyai nyali, di belakang hari kau boleh mencari Hoan Yauw untuk membalas sakit hatimu. Sebab kuatir Lok Thung Kek berhasil membuka jalan darahnya dengan jalan menggunakan Lweekang sendiri. Sesudah berkata begitu, ia menghantam kaki tangan si kakek sehingga tulang-tulangnya patah. Hoan Yauw adalah seorang anggota Beng Kauw yang masih memiliki Sia Khie (sifat-sifat sesat) Sesudah mematahkan tulang si kakek, ia masih belum merasa puas. Sambil menyeringai, ia membuka pakaian Lok Thung Kek dan merendengkannya dengan mayat Han Kie kemudian menggulung dua sosok tubuh itu. Satu manusia hidup, dan satu mayat dengan satu kasur. Sesudah itu, barulah ia mengambil kedua tongkat Lok Thung Kek, membuka salah sebuah cabang tanduk menjangan dan menuang semua obat pemunah. Dengan hati gembira, dia segera pergi ke berbagai kamar tahanan dan membagi obat kepada Kong Boen Taysoe, Song Wan Kiauw, Jie Lian Cioe, dan yang lain-lain. Dalam memberi pertolongan, beberapa kali ia harus menerangkan secara panjang lebar kepada orang-orang yang bersangsi, sehingga ia harus menggunakan waktu banyak sekali. Kamar yang paling akhir dikunjungi ialah kamar Biat Coat Soethay. Melihat sikap si nenek, ia sengaja mengeluarkan kata-kata yang membangkitkan hawa amarah. Dengan berbuat begitu, hatinya senang, sebab pada hakikatnya ia membenci pemimpin Go Bie Pay itu yang pernah membinasakan banyak anggota Beng Kauw. Tapi baru saja tugasnya selesai dan hatinya tergirang-girang, sekonyong-konyong di kaki menara terdengar teriakan-teriakan ramai. Dengan kaget, ia mamasang kuping. Diantara suara ramai-ramai itu, ia menangkap teriakan Ho Pit Ong.

"Kouw Touwtoo mata-mata musuh! Tangkap! Tangkap dia!? Hoan Yauw mengeluh.

"Celaka! Siapa yang menolong bangsat itu?? ia menengok ke bawah dan melihat, bahwa menara itu sudah dikurung oleh Ho Pit Ong dan sejumlah besar boesoe. Hampir berbareng, dua batang anak panah yang dilepaskan oleh Soem Sam Hwie dan Lie Sie Coei menyambar dirinya.

"Bangsat! Hebat sungguh kau menyiksa kami!? caci Soem Sam Hwie. Siapa yang menolong ketiga orang itu? Dengan totokan Hoan Yauw, tanpa ditolong tak gampang mereka bisa menolong diri sendiri. Yang menolong adalah rombongan boesoe (pengawal) yang mencari Han Kie. Sebagaimana diketahui, rombongan itu telah menanyakan Lok Thung Kek, tapi diusir oleh si kakek. Sesudah mencari di seluruh Ban Hoat Sie usaha mereka tetap sia-sia. Beberapa orang mencurigai Lok Thung Kek yang dikenal sebagai seorang yang gemar akan paras cantik. Tapi semua orang merasa jeri terhadap si kakek. Siapa yang berani menepuk kepala harimau? Belakangan sebab kuatir dimarahi Ong Ya. Pemimpin rombongan yang bernama Ali Chewa mendapat satu tipu. Ia memerintahkan seorang boesoe yang berkedudukan rendah untuk mengetuk kamar Lok Thung Kek. Ia menganggap bahwa orang yang berkedudukan tinggi akan berlaku kejam terhadap orang yang bukan tandingannya. Dengan memberanikan hati, boesoe itu mengetuk pintu. Diluar dugaan, sesudah diketuk beberapa kali dari dalam tak ada jawaban. Sesudah menunggu beberapa lama, Ali Chewa jadi nekat dan mendobrak pintu. Begitu pintu terbuka, ia terkesiap karena melihat tiga sosok tubuh Ho Pit Ong, Soem Sam Hwie, dan Lie Sie Coei yang tergeletak di lantai. Ketika itu, Ho Pit Ong sudah hampir membuka jalan Darahnya sendiri. Dengan bantuan Ali Chewa, jalan darah yang tertotok segera terbuka. Sesudah Soem Sam Hwie dan Lie Sie Coei tertolong, dengan kegusaran yang meluap-luap Ho Pit Ong segera mengajak rombongan boesoe itu pergi ke menara dan mengurungnya. Dari bawah, ia berteriak-teriak menantang Kouw Touwtoo untuk bertempur sampai ada yang binasa.

"Bangsat tua! Apa kau kira Hoan Yauw takut terhadapmu?? Hoan Yauw balas mencaci. Didalam hati ia merasa bingung. Rahasianya sudah terbuka, tapi ia tak akan bisa melawan musuh yang jumlahnya begitu besar, sedang anggota keenam partai yang baru saja menelan obat dan belum pulih tenaga dalamnya. Untuk sementara waktu belum bisa memberikan bantuannya.

"Tauw Too jahanam! Kalau kau tidak mau turun, akulah yang akan naik ke atas!? teriak pula Ho Pit Ong. Tiba-tiba Hoan Yauw mendapat akal. Ia masuk ke kamar Yoe Liong Coe dan keluar pula dengan membungkus tubuh Han Kie dan Lok Thung Kek. Sambil mengangkat kasur itu tinggi-tinggi, ia berteriak.

"Tua bangka, begitu kau bertindak masuk pintu menara, begitu aku melemparkan tubuh lelaki dan perempuan cabul ini! Para boesoe mengangkat obor dan lapat-lapat mereka bisa melihat muka Lok Thung Kek dan Han Kie. Bukan main kagetnya Ho Pit Ong.

"Soeko! Soeko! Bagaimana kau? teriaknya. Lok Thung Kek tidak menyahut. Hati Ho Pit Ong mencelos. Ia menduga, bahwa kakak seperguruannya telah dibinasakan Hoan Yauw.

"Tauw Too bangsat! teriaknya bagaikan kalap.

"Kau sudah membinasakan kakakku, aku bersumpah tak akan hidup bersama-sama dengan kau di dunia ini. Mendengar itu, Hoan Yauw segera membuka ah-hiat (jalan darah yang mengakibatkan gagu) si kakek yang lantas saja mencaci.

"Tauw Too bangsat! Aku bersumpah mencincang badanmu seperti perkedel!..."

Baru mencaci sampai di situ, ah-hiat sudah ditotok lagi.

Sesudah mendapat bukti bahwa soeheng-nya belum mati.

Ho Pit Ong merasa lega dan demi keselematan jiwa sang kakak.

Ia tidak berani maju lebih jauh.

Untuk beberapa lama, Ho Pit Ong dan rombongan boesoe tidak berani bergerak.

Hoan Yauw sendiri tentus saja sebiswa mungkin ingin mempertahankan keadaan itu.

Ia perlu mendapat waktu supaya tokoh-tokoh keenam partai yang baru mendapat obat keburu pulih tenaga dalamnya.

Sambil tertawa terbahak-bahak, ia berteriak.

"Tua bangka she Ho! Sungguh besar nyali soehengmu. Dia berani menculik selir Ong Ya. Aku sudah menangkap kedua-duanya. Tua bangka! Apa kau berani melindungi soehengmu yang kotor itu? Ali Chewa Cong Koan, mengapa kau tak lantas membekuk tua bangka itu? Dia dan kakaknya berdosa besar dan harus mendapat hukuman mati. Dengan membekuk dia, kau akan mendapat hadiah besar. Ali Chewa melirik Ho Pit Ong. Ia niat turun tangan, tapi ia merasa jeri kepada jago tua yang berkepandaian tinggi itu. Di dalam hati, ia merasa heran Kouw Touwtoo tiba-tiba bisa bicara. Ia tahu, bahwa kejadian itu mesti ada latar belakangnya. Tapi iapun tidak dapat mengabaikan bukti yang nyata dan dengan mata kepala sendiri ia telah melihat Lok Thung Kek dan Han Kie di dalam selembar kasur. Sesudah memikir sejenak, ia berseru.

"Kauw Tay Soe, kau turunlah! Mari kita pergi kepada Ong Ya supaya bisa memutuskan siapa yang salah siapa yang benar. Kalian bertiga adalah Cianpwee yang berkedudukan tinggi. Terhadap siapapun SiauwJin tidak berani bertindak. Hoan Yauw adalah seorang pemberani. Ia segera menghitung-hitung untung ruginya usul Ali Chewa. Ia merasa bahwa dengan menghadap Jie Lam Ong, ia bisa mengulur waktu sampai tenaga dalam tokoh-tokoh keenam partai pulih kembali. Maka itu, ia lantas saja berteriak.

"Bagus! Bagus! Aku justru ingin minta hadiah, dari Ong Ya. Ali Cong Koan, tahanlah tua bangka she Ho itu, jangan sampai dia kabur. Tapi baru saja Hoan Yauw habis bicara, sekonyong-konyong terdengar suara tindakan kuda yang sangat ramai dilain saat. Sejumlah penunggang kuda menerobos masuk ke pekarangan kelenteng dan terus menghampiri menara. Para boesoe serentak membungkuk dan berseru.

"Siauw Ong Ya! (Siauw Ong Ya – Raja Muda Kecil berarti putera Jie Lam Ong) Hoan Yauw mengawasi ke bawah. Ia mendapat kenyataan bahwa yang mengepalai rombongan itu adalah seorang pemuda yang mengenakan jubah sangat indah dengan topi emas dan menunggang seekor kuda bulu putih yang kelihatannya sangat garang. Ia mengenali bahwa pemuda itu bukan lain daripada kkt, alias Ong Po Po, putera Jie Lam Ong.

"Mana Han Kie? bentak pangeran muda "

Hoe Ong marah besar, beliau memerintahkan aku menyelidi sendiri. Ali Chewa segera menerangkan bahwa Han Kie diculik Lok Thung Kek yang sekarang sudah dibekuk Kouw Touwtoo.

"Dusta! teriak Ho Pit Ong.

"siauw ong ya, Kouw Touwtoo mata-mata musuh dan dia telah mencelakai soehengku…."

Alis Ong Po Po berkerut.

"Sudahlah, katanya.

"Semua orang turun dan kita bisa bicara dengan perlahan. Sebagai seorang yang sudah berdiam lama di gedung raja muda. Hoan Yauw mengenal Ong Po Po sebagai seorang yang cerdik dan pandai. Kepandaian pemuda itu bahkan melebihi ayahnya sendiri. Ia bisa mendustai orang lain, tapi tak mungkin mengelabui tuan muda itu. Kalau ia turun, hampir boleh dipastikan rahasianya terbuka dan begitu lekas topengnya tercopot, ia pasti akan dikepung. Satu Ho Pit Ong saja sudah sukar dilayani, apalagi begitu banyak orang? Selain begitu, tokoh-tokoh keenam paratai juga sukar bisa ditolong lagi. Sesudah memikir beberapa saat, ia lantas saja berteriak.

"Siauw Ong Ya, Ho Pit Ong sangat membenci aku, sebab aku sudah membekuk soehengnya. Kalau aku turun, dia tentu akan membunuhku.

"Kau turunlah, aku tanggung Ho Sianseng tidak akan menyerang kau, kata Ong Po Po. Hoan Yauw menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Disini lebih selamat, katanya.

"Siauw Ong Ya, selama hidup Kouw Touwtoo tidak pernah bicara. Hari ini karena terpaksa, aku membuka mulut untuk membalas budi Ong Ya yang sangat besar dan untuk memperhatikan kesetiaanku. Kalau kau tidak percaya, lebih baik aku melompat dari sini dan membenturkan kepala di tanah supaya Siauw Ong Ya bisa membuktikan kesetiaanku. Mendengar perkataan yang mencurigakan itu, Ong Po Po segera dapat menebak, bahwa si pendeta sedang menjalankan siasat mengulur waktu.

"Ali Cong Koan, bisiknya.

"Kurasa ia sedang menjalankan tipu dan mencoba untuk mengulur waktu. Apa kau tahu, siapa lagi yang ditunggu olehnya? "

Siauwjin tak tahu. Jawabnya.

"Siauw Ong Ya, penjahat itu telah merampas obat pemunah dari tangan soehengku, kata Ho Pit Ong.

"Ia mau menolong kaum pemberontak yang ditahan di menara. Ong Po Po lantas saja tersadar.

"Kouw Touwtoo!? teriaknya.

"aku tahu kau sangat berjasa, turunlah! Aku akan memberi hadiah besar untukmu.

"Siauw Ong Ya,aku tidak bisa jalan.

"Aku kena ditendang Lok Thung Kek dan kedua tulang betisku patah. Tunggulah sebentar, aku akan mengerahkan lweekang untuk mengobati lukaku. Begitu lekas aku bisa berjalan, aku pasti akan segera turun.

"Ali Cong Koan! bentak pangeran itu.

"Kirim seseorang naik ke atas untuk memapah Kouw Tay soe.

"Tidak bisa!? teriak Hoan Yauw.

"Kalau badanku bergerak, kedua kakiku tak akan bisa digunakan lagi. Sekarang Ong Po Po tidak bersangsi lagi. Ia menarik kesimpulan, bahwa pendeta itu seorang musuh yang berselimut. Sesudah Han Kie dan Lok Thung Kek berada dalam satu kasuran. Andaikata mereka tidak main gila, ayahnya tentu tak akan menerima selir itu. Maka itu, ia lantas saja berkata dengan suara perlahan.

"Ali Cong Koan, bakar menara itu dan siapkan sepasukan pemanah. Binasakan setiap orang yang melompat turun. Ali Chewa membungkuk dan segera menjalankan perintah itu. Dalam sekejab, menara itu sudah dikurung oleh para boesoe yang bersenjata gendewa dan anak panah, sedang sejumlah boesoe lainnya mengambil rumput kering, kayu serta bahan api. Ho Pit Ong kaget tak kepalang.

"Siauw Ong Ya, katanya dengan suara bingung.

"Kakakku berada di atas. Tauw Too itu tidak bisa dibiarkan berdiam di atas selama-lamanya.? Kata Ong Po Po dengan suara tawar.

"Begitu lekas kaki menara dibakar, ia akan turun sendiri.

"bagaimana kalau dia melemparkan Soehengku ke bawah? tanya Ho Pit Ong.

"Siauw Ong Ya, janganlah membakar. Ong Po Po hanya mengeluarkan suara di hidung dan tidak meladeninya. Tak lama kemudian para boesoe sudah menumpuk rumput dan kayu kering di seputar menara dan lalu mulai menyulutnya. Ho Pit Ong adalah seorang ternama besar dalam rimba persilatan. Dengan mendapat undangan yang disertai segala kehormatan ia bekerja kepada Jie Lam Ong dan selama banyak tahun ia dihormati oleh majikan dan rekan-rekannya. Siapa duga hari ini, ia bukan saja ditipu oleh Kouw Touwtoo, tapi juga sudah tidak dipandang sebelah mata oleh Ong Po Po? Karena kakaknya sedang menghadapi bahaya, ia menjadi kalap. Tanpa memperdulikan suatu apa lagi, sambil mengangkat kedua pitnya yang berbentuk patuk burung ho, ia melompat dan menendang dua orang boesoe yang tengah menyulut tumpukan kayu. Hampir berbareng, kedua boesoe itu terpental dan roboh di tanah.

"Ho Sianseng!? Bentak Ong Po Po.

"apa kau mau mengacau?? "Aku takkan mengacau, jika kau tak membakar menara,? jawabnya.

"Bakar! teriak Ong Po Po dengan gusar. Seraya membentak, ia mengibaskan tangan kirinya. Hampir berbareng dari belakang pangeran muda itu melompat keluar lima orang Hoan ceng yang mengenakan baju merah. Mereka mengambil obor dari lima boesoe dan lalu menyulut tumpukan kayu. Perlahan-lahan api berkobar-kobar. Ho Pit Ong bingung bukan main. Dari tangan seorang boesoe, ia merampas sebatang tombak yang lalu digunakan untuk memukul-mukul api. Ong Po Po naik darah.

"Tangkap! bentaknya. Kelima Hoan Ceng baju merah itu lantas saja menghunus golok dan mengurung. Ho Pit Ong melemparkan tombaknya dan coba merampas golok hoan Ceng yang berdiri di sudut kiri. Tapi pendeta itu bukan sembarang orang. Dengan sekali membalik tangan, ia mengegos sambaran tangan Ho Pit Ong dan terus membacok. Baru saja Ho Pit Ong berkelit, dua golok sudah menyambar pula punggungnya. Kelima Hoan Ceng (pendeta asing) itu adalah orang-orang kepercayaan Ong Po Po dan mereka termasuk di dalam Thian Liong Sip Pat Po (delapan belas jago Thian Liong) Pemuda itu suka sekali pesiar seorang diri dengan menunggang kuda. Tapi kemanapun ia pergi, dari sebelah kejauhan ia selalu diikuti oleh delapan pengawal pribadinya. Thian Liong Sip Pat Po terdiri dari Ngo To, Ngo Kiam, Sie Thung, dan Sie Poa (lima golok, lima pedang, empat tongkat, dan empat cecer) Lima Hoan ceng yang bersenjata adalah Ngo To Sin (malaikat lima golok) biarpun lihai kalau satu lawan satu, mereka bukan tandingan Ho Pit Ong. Tapi dengan bekerja sama, mereka telah membuat Ho Pit Ong jadi ripu sekali. Tapi keteternya si tua sebagian disebabkan oleh rasa bingungnya dalam memikirkan nasib kakak seperguruannya. Sesudah Ho Pit Ong dirintangi oleh kelima Hoan Ceng, sejumlah boesoe segera bantu menyalakan api yang makin lama jadi makin besar. Melihat musuh menggunakan api, Hoan Yauw bingung bercampur kuatir. Sesudah menaruh kasur yang membungkus Lok Thung Kek dan hk di lantai, buru-buru ia masuk ke beberapa kamar tahanan.

"Tat Coe membakar menara!? teriaknya.

"Apa lweekang kalian sudah pulih kembali?? Tapi teriakannya tidak mendapat jawaban. Ia mendapat kenyataan bahwa Song Wan Kiauw, Jie Lian Cioe, dan yang lain-lain sedang bersemedi. Mereka semua memejamkan mata dan tidak memberi jawaban. Hoan Yauw tahu bahwa mereka berada pada detik yang sangat penting yaitu detik menjelang pulihnya tenaga dalam mereka. Sementara sejumlah boesoe yang menjaga di beberapa lantai telah dirobohkan dan dilontarkan ke bawah oleh Hoan Yauw sehingga mereka binasa seketika. Juga ada penjaga yang melompat turun sendiri. Tak lama kemudian api sudah membakar lantai ketiga. Yang dikurung di lantai ini adalah rombongan Hwa San Pay yang terpaksa lari ke lantai empat. Api terus membakar keras. Orang-orang Khong Tong Pay yang ditahan di lantai keempat juga terpaksa naik ke lantai lima bersama-sama rombongan Hwa San Pay. Makin lama Hoan Yauw jadi makin bingung. Sekonyong-konyong mereka mendengar teriakan seseorang.

"Hoan Yoe Soe! Sambutlah! Hoan Yauw girang. Itulah teriakan Wie It Siauw yang berdiri di atas wuwungan gedung belakang Ban Hoat Sie. Dengan sekali menghuyun tangan, terbanglah seutas tambang yang lalu disambut Hoan Yauw.

"Ikatlah dilainkan supaya menjadi jembatan tambang!? teriak pula Wie Hok Ong. Tapi baru saja Hoan Yauw mengikat tambang itu, Tio It Siang salah seorang dari Sin Cian Pat Hiong sudah memutuskannya dengan anak panah. Wie It Siauw dan Hoan Yauw mencaci kalang kabut, tapi mereka tahu, bahwa tak guna mencobanya lagi.

"Bangsat! Kau sungguh sudah bosan hidup! teriak Wie It Siauw seraya menghunus senjata dan melompat turun. Ia menggunakan sepasang gaetan berbentuk kepala harimau yang jarang sekali digunakan kecuali dalam detik-detik berbahaya. Begitu kakinya hinggap di bumi. Lima Hoan Ceng yang berbaju hijau dan bersenjata pedang lantas saja mengepungnya. Kelima pendeta asing itu ialah Ngo Kiam Ceng dari Thian Liong Sip Pat Po. Sedang api terus berkobar-kobar, dengan rasa bingung Ho Pit Ong bertempur mati-matian.

"Siauw Ong ya! teriaknya.

"Kalau kau tak mau memadamkan api, aku takkan berlaku sungkan lagi terhadapmu. Ong Po Po tidak meladeninya. Empat Hoan yang bersenjata tongkat lantas berdiri di seputar majikan mereka untuk menjaga serangan di luar dugaan. Ho Pit Ong jadi nekat. Tiba-tiba dengan kedua pit, ia membabat dengan pukulan Hoang Siauw Cian Koen(menyapu ribuan tentara) karena serangan itu hebat luar biasa, tiga hoan ceng terpaksa melompat mundur. Dengan menggunakan kesempatan itu, Ho Pit Ong melompat tinggi dan bagaikan seekor elang, kedua kakinya hinggap di payon lantai menara tinggi yang pertama itu. Melihat api yang berkobar-kobar, kelima pendeta asing itu tidak berani mengejar. Sambil mengempos semangat, Ho Pit Ong naik ke atas. Waktu ia tiba di lantai keempat, Hoan Yauw yang berdiri di lantai ke tujuh, mengangkat kasur tinggi-tinggi sambil berteriak.

"Tua bangka she Ho, berhenti kau! Kalau kau maju setindak lagi, badan soehengmu akan hancur bagaikan perkedel. Diancam begitu, benar-benar Ho Pit Ong memberhentikan semua tindakannya.

"Kouw Thay Soe! teriaknya dengan suara memohon.

"Soehengku belum pernah berbuat kedosaan terhadapmu dan kita belum pernah bermusuhan, mengapa kau begitu kejam? Kalau kau mau menolong kecintaan Biat Coat Soethay, dan puterimu Cioe Kouw Nio, kau boleh menolong. Kami pasti takkan menghalang-halangi.’ Sekarang marilah kita menengok Biat Coat Soethay. Setelah menelan bubuk yang diberikan Hoan Yauw, ia menduga bahwa ia akan segera mati. Ia tidak takut mati. Yang membuat perasaannya berduka ialah turut matinya Cioe Cie Jiak. Dengan matinya murid itu, habislah harapannya. Selagi berada dalam kedukaan besar, sekonyong-konyong ia mendengar suara ribut-ribut di kaki menara disusul dengan caci mencaci antara Kouw Touwtoo dan Ho Pit Ong. Sesudah itu, Ong Po Po memerintahkan dibakarnya menara. Semua kejadian itu didengar jelas olehnya. Ia merasa heran dan berkata di dalam hati.

"Apa tak bisa jadi touwtoo bangsat itu benar-benar menolong aku? sambil memikir begitu, ia mencoba mengerahkan tenaga dalamnya. Sekonyong-konyong ia merasakan naiknya seperti hawa hangat dari bagian tan-tian (pusar). Ia terkesiap. Inilah tanda bahwa tenaga dalamnya mulai pulih. Dengan wataknya yang sangat keras. Biat Coat menolak untuk memperlihatkan kepandaiannya di hadapat Tio Beng dan telah mogok makan enam tujuh hari sehingga perutnya kosong. Karena perut kosong, obat pemunah bisa bekerja lebih cepat. Berkat lweekangnya yang sangat kuat maka racun Sip Hian Joan Kin san segera terdorong ke luar. Inilah sebabnya mengapa begitu lekas ia mengerahkan tenaga dalam, hawa hangat lantas saja naik ke atas. Tak kepalang girangnya si nenek. Cepat-cepat ia bersila dan mengatur jalan napasnya. Belum cukup setengah jam, kira-kira separuh lweekangnya sudah pulih kembali. Sambil bersemedi, ia terus memasang kuping. Mendadak ia mendengar perkataan Ho Pit Ong yang tajam bagaikan pisau.

"… kalau kau menolong kecintaanmu, Biat Coat Soethay, dan puterimu, Cioe Kouw Nio, kau boleh menolong…."

Biat Coat adalah gadis yang putih bersih.

Di waktu masih muda ia bahkan tidak pernah menemui orang lelaki.

Dengan demikian dapatlah dibayangkan betapa besar kegusarannya.

Dengan mata merah, ia berbangkit dan menghampiri lankan.

"Bangsat! Apa kau kata? teriaknya.

"Toosoethay, Ho Pit Ong berkata dengan suara memohon.

"Bujuknya… sahabatmu. Lepaskanlah soehengku. Aku tanggung keluargamu yang terdiri dari tiga orang akan bisa keluar dari kelenteng ini dengan selamat. Hian Beng Jie Loo tidak pernah menjilat ludah sendiri.

"Apa itu keluarga dari tiga orang? teriak pula Biat Coat . Walaupun tengah menghadapi bencana Hoan Yauw tertawa terbahak-bahak.

"Loo Soethay!? teriaknya.

"Dia mengatakan bahwa aku adalah kecintaanmu dan Cioe Kouw Nio adalah puteri kita berdua. Paras muka si nenek berubah merah padam. Dengan disoroti sinar api, muka itu sungguh menakuti.

"penjahat she Ho! bentaknya.

"Naik kau! Mari kita bertempur sampai ada yang mampus! Di waktu biasa, Ho Pit Ong pasti akan segera menyambut tantangan itu. Sedikitpun aku tidak merasa takut terhadap Ciang Boen Jin Go Bie Pay. Tapi sekarang kakaknya berada dalam tangan musuh dan ia tidak berani mengubar napsu amarahnya.

"Kouw Touwtoo, itulah keterangan yang diberikan olehmu sendiri,? katanya. Hoan Yauw kembali tertawa besar. Baru saja ingin mengejek si nenek, di kaki menara terdengar suara ribut yang sangat hebat. Cepat-cepat ia melongok ke bawah. Diantara musuh diringi suara gemerencengnya senjata-senjata yang jatuh di tanah. Orang itu Kauw Coe Thio Boe Kie. Begitu lekas Boe Kie turun tangan, lima batang pedang dari kelima hc yang mengurung Wie It Siauw lantas saja terpental ke tengah udara. Wie Hok Ong girang tak kepalang. Dengan sekali melompat, ia sudah berada di samping Boe Kie dan berbisik.

"Kauw Coe, aku mau pergi ke gedung Jie Lam Ong untuk melepas api. Boe Kie mengerti maksudnya dan segera mengangguk. Ia tahu, bahwa dengan beberapa orang kalau pihaknya tidak berhasil dalam waktu cepat, musuh segera mengirim bala bantuan maka usaha menolong tokoh-tokoh keenam paratai bisa gagal semua. Didalam hati, ia memuji siasat Ceng Ek Hok Ong yang sangat lihai. Begitu lekas Ong Hoe kebakaran, para boesoe pasti akan buru-buru pulang untuk melindungi keluarga raja muda itu. Dilain saat, dengan sekali berkelabat, Wie Hok Ong sudah berada di atas tembok kelenteng yang tinggi. Sesudah Wie It Siauw berlalu. Boe Kie menengadah dan berteriak.

"Hoan Yoe Soe, bagaimana kau? "Celaka besar! jawabnya.

"Jalanan turun terputus, aku tidak dapat meloloskan diri lagi! Sesaat itu, empat belas anggota Thian Liong Sip Pat Po serentak menerjang dan mengepung Boe Kie dari berbagai jurusan. Melihat jumlah musuh yang sangat besar, pemuda itu berpendapat bahwa jalan satu-satunya adalah membekuk pemimpin rombongan yang memakai topi emas untuk memaksa dia memadamkan api. Dengan sekali melompat, ia sudah menoblos dari kepungan bagaikan gerakan seekor ikan. Dilain saat dia sudah berhadapan dengan Ong Po Po. Tapi sebelum ia sempat bergerak, sebatang pedang menyambar dadanya.

"Thio Kauw Coe, jangan lukai kakakku!? kata orang yang menikam yang bukan lain daripada Tio Beng. Sambaran pedang itu disertai dengan hawa yang sangat dingin dan Boe Kie tahu, bahwa ia berhadapan dengan Ie Thian Kiam. Bagaikan kilat, ia berkelit ke samping.

"Lekas kau perintah orang memadamkan api dan melepaskan semua tahanan, kata Boe Kie.

"Kalau tidak, aku tak akan berlaku sungkan lagi.? "Thian Liong Sip Pat Po! teriak Tio Beng.

"Orang itu berkepandaian sangat tinggi. Kepung dia dengan barisan Thian Liong Tin! Tanpa diberitahukan, kedelapan belas hc itu sudah tahu kelihaian Boe Kie. Mereka lantas saja bergerak dan merupakan semacam tembok manusia di antara Boe Kie dan kedua majikan mereka. Melihat cara bertindak yang sangat aneh dari kedelapan belas lawan itu, Boe Kie tahu bahwa Thian Liong Tin tidak boleh dipandang enteng. Tiba-tiba saja kegembiraannya muncul dan ia mengambil keputusan sebelum ia bergerak. Sekonyong-konyong terdengar suara gedubrakan dan sepotong balok yang apinya berkobar-kobar jatuh ke bawah. Boe Kie mengawas ke atas. Api sudah membakar lantai ke enam dan di antara sayap ia melihat dua orang yang sedang bertempur mati-matian. Mereka itu adalah Biat Coat Soethay dan Ho Pit Ong. Lantai jatuh yaitu lantai yang tertinggi penuh dengan manusia tokoh-tokoh keenam paratai. Lweekang mereka belum pulih semua, tapi biarpun dalam keadaan sehat, mereka tidak akan bisa melompat dengan selamat dari tempat itu yang tingginya beberapa puluh tombak. Jika mereka melompat juga, mereka pasti celaka. Kalau tidak binasa, sedikitnya patah tulang. Dalam waktu beberapa detik, Boe Kie mengasah otak.

"kalau aku mencoba untuk memecahkan Thian Liong Tin, usaha itu meminta waktu, pikirnya.

"Apapula andaikata Thian Liong Tin pecah, lain-lain jago pasti akan turun mengepung. Tak gampang untuk aku membekuk pangeran itu, Biat Coat Soethay dan Ho Pit Ong sudah bertempur lama juga dan belum ada yang kalah. Tenaga dalam si nenek sudah pulih kembali. Dengan demikian lweekang toasupeh dan lain-lain cianpwee-pun sudah pulih. Kalau belum semua sedikitnya sebagian besar. Hanya sayang menara itu terlampau tinggi dan kalau melompat mereka pasti celaka. Tiba-tiba ia mendapat satu ingatan baik dan ia segera mengambil keputusan apa yang harus diperbuatnya. Sambil membentak keras, ia lari berputar-putar. Kedua belah tangannya bekerja bagaikan kilat. Dalam sekejab, Sin Cian Pat Hiong roboh dan gendewa mereka dirampas atau dipatahkan. Lain-lain boesoe yang bersenjata gendewa dan anak panah pun diserang. Ada yang senjatanya dipatahkan, ada yang dipukul roboh dan adapula yang ditotok jalan darahnya. Sesudah pasukan anak panah tidak berdaya, Boe Kie mendongak pula dan berteriak.

"Para cianpwee yang berada di atas! Lompatlah! Aku akan menyambut kalian. Mendengar teriakan itu, orang-orang yang di atas terkejut. Anjuran pemuda itu tak mungkin dilaksanakan. Dengan melompat dari tempat atas menara yang sangat tinggi, tenaga jatuh hebat bukan main. Sedikitnya ribuan kati. Bagaimana dia bisa menyambutnya? Beberapa orang Khong Tong dan Koen Loen lantas saja berteriak-teriak menolak anjuran itu.

"Tak bisa! Terlalu tinggi! "

Jangan kena diakali oleh bocah itu! "

Kalau kita menurut, badan kita akan hancur luluh! Dengan hati berdebar-debar, Boe Kie mengawasi ke atas. Api sudah mulai menjilat lantai ke tujuh. Waktu sudah mendesak. Ia jadi semakin bingung.

"Boh Cit Siok!? Teriaknya dengan suara memohon.

"Budimu besar bagaikan gunung. Apa mungkin Siauw Tit mencelakai citsiok! Citsiok, kau lompatlah lebih dulu! Boh Seng Kok adalah seorang yang bernyali sangat besar. Dengan segera ia mengambil keputusan. Daripada mati terbakar, memang lebih baik mati terjatuh.

"baiklah! Teriaknya seraya melompat ke bawah. Boe Kie mengawasi dengan mata tajam. Pada detik tubuh Boh Cit Hiap terpisah kira-kira empat kaki dari bumi, dengan menggunakan tenaga dan gerakan Kian Koen Tay Lo Sin Kang paling tinggi, ia menepuk pinggang sang paman. Begitu "

Dimuntahkan sin kang memunahkan tenaga jatuhnya cit hiap dan mendorongnya ke atas, sehingga tubuh pendekar itu mengapung ke atas kira-kira setombak tingginya.

Tenaga dalam Boh Seng Kok sudah pulih sebagian.

Berbareng dengan mengapungnya, ia mengerahkan lweekang dan mengeluarkan ilmu ringan badan, sehingga di lain saat ia melayang ke bawah dan kedua kakinya hinggap di tanah dengan selamat.

Tiba-tiba seorang boesoe menyerang.

Dengan sekali menghantam, Boh Seng Kok sudah merobohkan pembokong itu.

"toasoeko, jiesoeko, siesoeko! teriaknya dengan girang.

"Lekas lompat! Berhasilnya Boh Seng Kok disambut dengan sorak sorai oleh semua jago yang sedang dikepung api. Sebagai seorang ayah yang sangat mencintai anaknya, Song Wan Kiauw berkata.

"Ceng Soe, kau lompatlah lebih dahulu! sedari keluar dari kamar tahanan, Song Ceng Soe terus mendampingi Cioe Cie Jiak. Mendengar anjuran ayahnya, ia segera berkata kepada si nona.

"Cioe Kouw Nio, kau lebih dahulu. Cie Jiak menggelengkan kepala.

"Aku tunggu soehoe, katanya. Sementara itu, satu demi satu tokoh-tokoh keenam partai melompat turun dengan disambut Boe Kie. Sebagai ahli-ahli silat kelas utama, biarpun tenaga dalam mereka baru pulih sebagian, mereka sudah bukan tandingan boesoe biasa. Boh Seng Kok dan yang lain-lain segera merampas senjata dan mereka berdiri di seputar Boe Kie untuk melindungi pemuda itu dalam menyambut orang-orang yang melompat turun. Kaki tangan Ong Po Po yang coba menyerang Boe Kie dengan mudah dipukul mundur. Setiap orang melompat turun berarti penambahan tenaga bagi pihak Boe Kie. Sedari ditangkap, dikurung, dan dihina bahkan ada beberapa orang yang diputuskan jari-jari tangannya. Sakit hati mereka bertumpuk-tumpuk. Sekarang mereka mendapat kesempatan untuk melampiaskan sakit hati itu. Mereka berkelahi bagaikan harimau edan dan dalam sekejab, berpuluh-puluh boesoe sudah menggeletak tanpa bernyawa. Melihat bahaya, Ong Po Po segera berkata.

"Panggil pasukan anak panah yang menjadi pengawal pribadiku! Tapi sebelum Ali Chewa berlaku untuk menjalankan perintah itu, sekonyong-konyong di sebelah tenggara terlihat api yang berkobar-kobar. Ali Chewa terkejut.

"Siauw Ong Ya!? katanya.

"Ong Hoe kebakaran! Kita harus melindungi Ong Ya. Ong Po Po mengangguk.

"adikku, katanya kepada Tio Beng.

"Aku pulang lebih dulu. Kau harus berhati-hati. Tanpa menunggu jawaban, ia mengedut les kuda dan segera berangkat dengan dilindungi oleh sejumlah pengiring. Berlalunya Ong Po Po berarti berlalunya Thian Hoan Sip Pat Po dan sejumlah boesoe. Melihat kebakaran di gedung Ong Hoe, boesoe lainnya yang masih bertempur juga tidak bisa berkelahi dengan hati tenang. Dengan cepat, terutama setelah turunnya tokoh-tokoh Siauw Lim Sie, keadaan jadi berubah. Pihak Boe Kie jadi lebih kuat. Tio Beng tahu, jika ia bertahan lebih lama lagi, ia sendiri bisa menjadi orang tawanan. Maka itu, ia lantas saja berseru.

"Semua orang keluar dari Ban Hoat Sie! Ia lalu menengok kepada Boe Kie dan berkata pula sambil tersenyum.

"Besok magrib aku mengundang lagi kau minum arak. Boe Kie terkejut, sebelum ia sempat menjawab, si nona sudah berlalu dan mundur ke bagian belakang Ban Hoat Sie. Sekonyong-konyong di atas menara terdengar teriakan Hoan Yauw.

"Cioe Kouw Nio, lekas lompat! Api akan segera membakar alismu, apa kau mau menjadi gadis tanpa alis?? "

Aku ingin menemani soehoe, jawabnya.

Ketika itu, Biat Coat dan Ho Pit Ong tengah melakukan pertempuran mati-matian.

Tenaga dalam si nenek belum pulih semua, tapi ia sudah tak memikir hidup.

Dengan kalap, ia menyerang tanpa memperdulikan pembelaan diri.

Di lain pihak, sebab memikiri keselamatan soeheng-nya, Ho Pit Ong tidak bisa berkelahi dengan hati mantap.

Selain begitu, sesudah kena racun Boe Kie, tenaga dan gerak-geriknya pun tak seperti biasa lagi.

Maka itulah, sesudah bertempur beberapa lama, keadaan kedua belah pihak masih berimbang.

Mendengar perkataan muridnya, Biat Coat berkata.

"Cie Jiak, lekas turun, jangan perdulikan aku! Penjahat ini terlalu mengejek aku. Tak bisa aku mengampuni jiwanya.? Ho Pit Ong mengeluh. Ia ingin menolong soehengnya dan di luar dugaan, si nenek menyerang secara nekat-nekatan.

"Biat coat Soethay!? teriaknya.

"Omongan itu berasal dari Kouw Touwtoo, bukan karanganku.? Sambil menghantam Ho Pit Ong dengan telapak tangan, Biat Coat menengok dan bertanya.

"Touwtoo bangsat, apa benar kau yang mengeluarkan omongan gila-gila itu?? "

Omongan apa??

Hoan Yauw balas menanya.

Dengan menanya begitu, ia ingin si nenek mengulangi ejekannya, bahwa ia dan Biat Coat adalah kecintaan dan bahwa Cie Jiak adalah anak mereka.

Tapi si nenek tentu saja tidak dapat mengulangi kata-kata itu.

Mendengar nada suara Ho Pit Ong, ia tahu bahwa musuh itu tidak berdusta.

Darahnya bergemetaran.

Sesaat itu, selagi Biat Coat menengok kepada Hoan Yauw, segulung asap tiba-tiba menyambar.

Ho Pit Ong sungkan menyia-nyiakan kesempatan baik.

Sambil melompat menerjang ia menghantam punggung si nenek.

"Soeboe, hati hati!? teriak Cie Jiak."

Niekouw tua, hati hati!?

seru Hoan Yauw.

Bagaikan kilat Biat Coat berbalik dan menangkis.

Tangan kirinya menyambut tangan kiri Ho Pit Ong, tapi ia tidak keburu menangkis tangan kanan musuh yang memukul dengan Hian beng Sin Ciang.

Begitu punggungnya terpukul, badan si nenek bergoyang-goyang, hampir-hampir ia jatuh terguling.

Cie Jiak terkesiap, ia melompat dan memeluk gurunya.

"Manusia licik!? bentak Hoan Yauw dengan gusar.

"Tak bisa kau dan kakakmu diberi hidup lebih lama lagi,? seraya berkata begitu, ia melemparkan ke bawah kasur yang menggulung tubuh Lok Thung Kek dan Han kie. Hati Ho Pit Ong mencelos. Tanpa memikir lagi, ia turut melompat tapi kasur itu sudah melayang agak jauh dan ia hanya bisa menjambret ujungnya. Dengan kecepatan luar biasa, ia pun turut melayang ke bawah. Karena teraling asap dan api, Boe Kie tak tahu apa yang terjadi di puncak menara. Tiba-tiba ia melihat jatuhnya serupa benda dan seorang manusia. Ia tak tahu apa adanya benda itu, tapi ia segera mengenali, bahwa manusia itu adalah Ho Pit Ong. Kakek itu adalah musuh besar yang sudah menyebabkan banyak penderitaannya. Bahkan kebinasaan kedua orang tuanya pun adalah gara-gara Hiam beng Jie lo. Tapi ia seorang berhati mulia yang tak bisa mengawasi kebinasaan dengan berpeluk tangan. Pada detik itu, dengan melupakan sakit hatinya, ia melompat ke atas dan menepuk dengan kedua tangannya, sehingga kasur dan Ho Pit Ong terpental ke kiri-kanan kurang lebih tiga tombak jauhnya. Sesudah berjungkir balik, kedua kaki Ho Pit Ong hinggap di tanah.

"Hah! Sungguh berbahaya? katanya. Ia tak pernah mimpi, bahwa Boe Kie akan membalas kejahatan dengan kebaikan. Tapi ia tidak sempat memikir lain dan segera menengok ke sana sini untuk mencari soehengnya. Tiba-tiba ia terkejut, karena kakak itu menggeletak di tumpukan api. Dalam usaha untuk menolong, kali ini Boe Kie harus menggunakan kedua tangannya. Menggunakan kedua tangan tentu saja lebih berat daripada menggunakan sebelah tangan. Apa pula karena di dalam kasur itu terdapat dua manusia, maka tenaga jatuh kasur itu pun jadi lebih hebat. Oleh karena itu waktu menepuk kasur, ia tidak bisa memperdulikan lagi arahnya. Begitu tertepuk kasur terbuka dan dua sosok tubuh manusia ambruk di tumpukan api. Karena jalan darahnya tertotok, Lok Thung kek tak bisa bergerak dan rambutnya lantas saja terbakar.

"Soeko!? teriak Ho Pit Ong seraya menubruk dan memeluk tubuh kakaknya. Selagi ia melompat keluar dari api yang berkobar-kobar waktu kedua kakinya belum keluar dan menginjak bumi. Jie Lian Cioe memapaki dengan pukulan pada pundaknya.

"Sambutlah!? bentak pendekar Boe tong itu. Ho Pit Ong tidak dapat menangkis dan coba berkelit dengan miringkan pundaknya, tapi telapak tangan Jie Lian Cioe menyusul ke bawah.

"Plak!? badan si kakek she Ho bergemetaran dan keringat dingin keluar dari dahinya. Sambil menggigit gigi ia melompat ke atas tembok. Sesaat itu sebatang balok yang berkobar2 jatuh dan menimpa tubuh Han kie yang lantas saja terbakar. Sementara itu semua orang yang sudah berada di bawah mendongak mengawasi ke atas sambil berteriak-teriak.

"Turun! Hayo, lekas!? "

Lompat!

Lompat!?

Di antara api dan asap Hoan Yauw kelihatan melompat kesana sini untuk meloloskan diri dari kobaran api.

Satu demi satu balok balok jatuh ke bawah diiringi meluruknya genteng dan bata.

Puncak menara mulai goyang-goyang.

"Cie Jiak lompatlah!? bentak Biat coat.

"Soeboe, sesudah kau, baru aku,? jawabnya. Sekonyong-konyong si nenek melompat dan menghantam pundak Hoan Yauw.

"Bangsat Mo kauw mampus kau!? teriaknya. Sambil tertawa nyaring Hoan Yauw berkelit dan menerjun ke bawah. Boe Kie segera menyambutnya dengan tepukan Kian kun tay lo ie Sin kang.

"Hoan Yoesoe, kau telah berhasil dan kami menghaturkan terima kasih,? kata Thio Kauwcoe.

"Ini semua bukan jasaku,? jawabnya dengan merendahkan diri.

"Kalau Kauwcoe tak menolong dengan sin kang, semua orang akan menjadi babi panggang di puncak menara.? Melihat Hoan Yauw sudah melompat ke bawah, sambil menghela napas Biat coat memeluk pinggang muridnya dan segera meninggalkan puncak menara yang hampir roboh. Waktu terpisah kira-kira setombak dari bumi, mendadak ia mendorong dengan kedua tangannya, sehingga tubuh nona Cioe mengapung ke atas kurang lebih setombak, sedang tenaga jatuh si nenek sendiri jadi makin hebat. Sambil mengawasi dengan mata tajam, Boe kie menepuk pinggang Biat coat dengan Kian koen tay loe ie sin kang. Di luar dugaan, Biat coat yang telah mengambil keputusan untuk mati dan sungkan menerima budinya Beng kauw, sekonyong-konyong menghantam dengan seantero sisa tenaganya. Dengan bentroknya kedua tangan Sin kang terdorong ke lain arah dan "

Bruk?

si nenek ambruk di tanah dengan patah beberapa tulangnya, Boe kie sendiri merasa dadanya menyesak dan ia terhuyung beberapa tindak.

Ia sungguh tidak mengerti sikap si nenek, karena pukulannya itu berarti membunuh diri sendiri.

Cie Jiak menubruk dan memluk tubuh gurunya.

"Soeboe… soeboe….?, jeritnya dengan suara menyayat hati. Para murid Go bie segera mengerumuni sang guru. Perlahan lahan Biat coat Soethay membuka kedua mata.

"Cie Jiak,? katanya dengan suara lemah.

"mulai hari ini kau menjadi Ciang boenjin dari partai kita. Apakah kau masih mau berjanji untuk menaati perintahku?? "

Ya… soeboe…? Si nenek tersenyum.

"Kalau begitu?, bisiknya.

"Aku bisa mati dengan mata meram…? Sesaat itu Boe Kie menghampiri dan memegang nadi si nenek untuk melihat apa orang tua itu masih bisa ditolong. Tiba tiba Biat coat membalik tangannya dan mencengkeram pergelangan Boe Kie.

"Murid cabul Mo kauw!? bentaknya.

"Jika kau menodai kesucian muridku, biarpun sudah menjadi setan aku tak akan mengampuni…? Ia tak bisa meneruskan perkataannya dan segera menghembuskan napas yang penghabisan, tapi jari-jari tangannya masih tetap mencekal pergelangan tangan Boe Kie. Mendadak terdengar teriakan Hoan Yauw.

"Semua orang ikut aku! Kita keluar dari pintu kota sebelah barat. Kalau terlambat tentara musuh bangsat itu akan mengepung kita.? Sambil mendukung jenazah Biat coat, Boe Kie berkata.

Baca Juga: Sejengkal Tanah Sepercik Darah 2

Baca Juga: Pedang Naga Kemala Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert