Eps 13 Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung
Baca online Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung
Cersil Kisah Si Rase Terbang - Chin Yung.
"Tapi selama beberapa tahun, siang dan malam aku selalu ingat mereka. Aku tahu, bahwa aku tidak bisa hidup lama lagi di dalam dunia ini. Aku hanya mengharap, supaya pada sebelum menutup mata, aku bisa bertemu lagi dengan mereka. Tapi, mana aku punya muka untuk pergi menemui mereka? Hari ini aku datang ke mari, sebab dulu, waktu baru menikah, Biauw Tayhiap telah meng-ajak aku berziarah di kuburan ini, untuk bersem-bahyang di hadapan mendiang ayah dan ibumu. Biauw Toako mengatakan, bahwa selama hidupnya, orang yang dikaguminya hanya Ouw tayhiap berdua isterinya. Dulu, waktu berada di sini, dia telah bicara banyak sekali denganku...."
Sekarang Ouw Hui yakin, bahwa Lam Lan tidak berpurapura. Sebagai seorang mulia yang hatinya lembek, rasa kasihannya lantas saja muncul.
"Baik-lah,"
Katanya.
"Aku akan meneceritakan apa yang terjadi atas diri Biauw Tayhiap dan puterinya."
Ia segera menuturkan cara bagaimana kedua mata Biauw Jin Hong kena racun, cara bagaimana musuh-musuhnya dipukul mundur dan sebagainya.
Mengenai perannya yang sudah menolong pendekar itu, ia hanya memberitahukan sepintas lalu.
Sehabis ia bereerita, Lam Lan segera meng-hujani dengan rupa-rupa pertanyaan.
Bagaimana makan pakainnya ayah dan anak itu?
Lan-jie mengenakan pakaian apa?
Apa sutera, apa kain kasar?
Apa pakaian itu dibeli dari toko atau dibuat oleh penjahit?
Ouw Hui menghela napas.
"Mana aku tahu?"
Katanya.
"Jika kau begitu memikiri mereka, mengapa...."
Ia lantas saja berbangkit dan berkata.
"Sekarang aku mau cari rumah penginapan. Hari ini sebenarnya aku ingin mengubur abu dan tulang Jie-moayku. Tapi karena sudah magrib, biarlah be-sok saja aku datang lagi."
"Baiklah, besok aku pun akan datang lagi ke mari,"
Kata nyonya itu.
"Jangan,"
Ouw Hui mencegah.
"Tak ada apa-apa lagi yang bisa diberitahukan kepadamu."
Ia berdiam sejenak seperti orang berpikir dan kemudian ber-tanya.
"Biauw Hujin, apakah kedua orang tuaku binasa dalam tangan Biauw Jin Hong?"
Lam Lan mengangguk.
"Dia pernah memberitahukan hal itu kepadaku..."
Katanya. Sesaat itu tiba-tiba terdengar teriakan orang. A-lan...! A-lan...! Di mana kau?"
Paras muka Ouw Hui lantas saja berubah, karena orang yang ber-teriak adalah Tian Kui Long.
"Dia cari aku!"
Kata Lam Lan.
"Besok lohor harap kau datang ke mari. Aku akan menceritakan hal kedua orang tuamu!"
"Baiklah, besok lohor kita bertemu lagi di sini,"
Kata Ouw Hui Karena sungkan bertemu dengan si orang she Tian, ia segera menyembunyikan diri di belakang kuburan.
"Besok aku akan menyelidiki sebab musabab kematian ayah dan ibu,"
Katanya di dalam hati.
"Jika Tian Kui Long turut tersangkut, aku pasti tak akan mengampuni dia. Mungkin Biauw Hujin akan coba melindunginya. Tapi dengan pe-nvelidikan seksama, kupereaya aku akan bisa mengorek rahasia. Apa perlunya Tian Kui Long datang di Congciu?"
Sementara itu, Lam Lan sudah berjalan pergi, tapi tindakannya tidak ditujukan ke arah Tian Kui Long, yang masih terus memanggil-manggil. Sesudah berjalan beberapa puluh tombak, barulah ia menjawab.
"Di sini!"
"Ah!"
Demikian terdengar suara si orang she Tian yang lalu menghampiri Lam Lan dengan ber-Iari-lari.
"Jalan-jalan saja tidak boleh,"
Kata Biauw Hujin. Mengapa kau menilik aku begitu keras?"
"Siapa yang menilik kau?"
Demikian sayup-sa-vup terdengar suara Tian Kui Long.
"Karena, Sesudah menunggu lama, kau masih juga belum mun-ul. aku memikir keselamatanmu. Tempat ini sangat sepi..."
Mereka berjalan pergi dan pembicaraan mereka tidak kedengaran lagi.
"Ah, lebih baik aku menemani ayah dan ibu semalaman,"
Pikir Ouw Hui.
"Kalau menginap di kota, mungkin aku bertemu dengan manusia she Tian itu."
Ia segera membuka buntalannya dan mengambil makanan kering untuk menangsal perut.
Sambil memeluk lutut, ia duduk di samping kuburan dengan pikiran melayang-layang.
Angin musim ron-tok meniup dengan kerasnya, sehingga ia merasa sangat dingin dan daun-daun kuning jatuh menimpa tubuhnya sesudah menari-nari di tengah udara.
Tak lama kemudian, sang retnbulan muncul dan ia lalu merebahkan badan di pinggir kuburan.
Kira-kira tengah malam, tiba-tiba ia disadarkan oleh suara kaki kuda yang mendatangi dari tempat jauh.
"Siapa yang datang di tengah malam buta?"
Tanyanya di dalam hati.
Kuda itu dikaburkan dengan kecepatan luar biasa, tapi sesudah beiada dalam jarak dua tiga li, suara tindakannya berubah lambat, menghampiri kuburan setindak-setindak.
Mungkin sekali si penunggang kuda sudah turun dari tunggangannya dan sedang mencari sesuatu sambil menuntun binatang itu.
Karena suara tindakan menuju ke arahnya, maka Ouw Hui segera menyembunyikan diri di antara alang-alang.
Tak lama kemudian, dengan bantuan sinar bu-lan sisir, ia melihat bayangan manusia yang ber-tubuh langsing kecil, yang mendatangi sambil menuntun kuda.
Waktu orang itu beiada dalam jarak belasan tombak, mendadak jantung Ouw Hui memukul keras, karena orang yang rnengenakan jubah pertapaan itu bukan lain daripada Wan-seng.
Dengan hati berdebaran, ia mengawasi si nona.
Ia ingin memanggilnya, tapi lidahnya seperti terkancing.
"Perlu apa ia datang ke sini?"
Tanyanya di dalam hati.
"Apa ia tahu aku berada di sini? Apa ia datang untuk mencari aku?"
Beberapa saat kemudian, Wan-seng berdiri te-gak di depan kuburan dan dengan suara perlahan ia membaca huruf-huruf di atas batu nisan.
"Kuburan Liao-tong Tayhiap Ouw It To bersama isteri". Sesudah berdiam sejenak, ia berkata pula.
"Di de-pan kuburan tidak terdapat abu kertas. Kalau begitu ia belum datang di sini...."
Mendadak ia batuk-batuk, batuknya keras dan tak henti-hentinya. Ouw Hui terkejut.
"Dia sakit. Sakit berat,"
Katanya di dalam hati. Sesudah batuk itu mereda dan kemudian ber-henti, Wanseng menghela napas berulang-ulang dan berkata dengan suara perlahan.
"Kalau dulu aku tidak bersumpah di hadapan Suhu, selama hidup aku bisa mengikuti kau, bersama-sama mengelilingi dunia untuk menolong sesama manusia. Ah! Kalau bisa kejadian begitu, sungguh beruntung diriku ini. Ouw Toako, kau menderita, tapi kau tak tahu, bahwa penderitaanku, sepuluh kali lebih he-bat daripada kau."
Dalam beberapa kali pertemuan dengan Ouw Hui, Wanseng selalu memperlihatkan sikap yang sukar ditebak.
Kalau bukan berada di tempat yang sepi itu di tengah malam buta, si nona pasti tak akan mengeluarkan rahasia hatinya.
Sesudah berkata begitu, ia batuk-batuk lagi dan coba mempertahankan din dengan memegang batu nisan.
Sampai di sini Ouw Hui tak dapat menahan sabar lagi.
Ia melompat ke luar dari tempat sem-bunyi dan berkata dengan suara halus.
"Mengapa kau datang ke sini? Kau harus bisa menjaga diri."
Wan-seng kaget tak kepalang. Ia mundur setindak, kedua telapak tangannya dilintangkan di depan dada. Begitu melihat pemuda itu, paras mukanya lantas saja berubah merah.
"Kau...!"
Ben-taknya dengan suara gusar.
"Berani sungguh kau bersembunyi dan mendengari pembicaraan orang!"
Dengan rasa cinta yang meluap-luap, Ouw Hui jadi nekat dan ia segera berkata dengan suara nyaring.
"Wan Kouwnio, bahwa aku mencintai kau dengan segenap jiwa dan raga, adalah hal yang sudah diketahui olehmu. Perlu apa kau menderita sendirian? Marilah kita bersama-sama pergi menemui gurumu dan menceritakan segala apa kepada beliau, supaya kau bisa kembali lagi ke dunia biasa. Dengan demikian, kita akan bisa hidup bersama-sama sampai di hari tua. Apakah kau setuju?"
Sekali lagi Wan-seng batuk-batuk, lebih keras daripada tadi. Ia membungkuk sampai memegang batu nisan. Bukan main rasa kasihannya Ouw Hui. Ia mendekati dan berkata dengan suara lemah Iem-but.
"Sudahlah! Kau jangan bersusah hati...."
Mendadak, diiring dengan batuk, si nona muntahkan darah! Ouw Hui terkesiap.
"Kau terluka?"
Tanyanya.
"Dilukai oleh bangsat Tong Pay,", jawabnya.
"Di mana dia sekarang?"
Tanya p/ula Ouw Hui.
"Sekarang juga aku akan cari padanya."
"Dia sudah dibinasakan olehku,"
Kata Wan-seng. Pemuda itu girang.
"Aku memberi selamat, bahwa kau sudah dapat membalas sakit hati,"
Katanya. Sejenak kemudian, ia bertanya lagi.
"Di bagian mana kau terluka? Mengasolah."
Sesudah Wan-seng duduk, Ouw Hui berkata pula.
"Sesudah terluka, sepantasnya kau harus ba-nyak mengaso. Mengapa di tengah malam buta kau datang ke mari dengan menunggang kuda?"
Wan-seng memutar kepala dan mengawasi pe-muda itu. Di dalam hati ia berkata.
"Aku memang perlu mengaso. Kedatanganku ke mari adalah untuk kepentinganmu."
Sesudah mengawasi dengan mata tajam, tiba-tiba ia bertanya.
"Mana adik Thia? Mengapa ia tidak bersama-sama kau?"
Air mata Ouw Hui lantas saja mengucur.
"Dia... dia;.. sudah meninggal dunia,"
Jawabnya terputus-putus.?,. ., ,., Wan-seng kaget tak kepalang. Sambil bangkit, ia menegas.
"Meninggal dunia? Bagaimana... bisa begitu?" . Dengan suara parau Ouw Hui menuturkan segala kejadian, cara bagaimana Leng So sudah mengorbankan. jiwa untuk menolong dirinya. men-dengar cerita itu, air mata si nona mengalir turun dari kedua pipinya yang pucat. Lama mereka berdiri terpaku tanpa mengeluarkan sepatah kata. Dalam otak mereka berkelcbat-kelcbat pula kejadian-ke-jadian di masa lampau, mereka ingat pula sepak terjang nona Thia yang penuh dengan jiwa seorang ksatria. Makin lama hawa jadi makin dingin. Waktu angin meniup keras, Wan-seng menggigil. Ouw Hui segera membuka jubah luarnya dan menyelimuti punggung si nona.
"Kau tidurlah,"
Bisiknya.
"Tidak,"
Kata Wan-seng.
"Sesudah bicara, aku... aku akan segera berlalu."
"Kau mau pergi ke mana?"
Tanya Ouw Hui dengan suara kaget. Sambil menatap wajah pemuda itu, si nona berkata.
"Ouw Toako, kita tidak boleh berdiam lama-lama di sini. Di tengah jalan aku mendapat warta dan buru-buru kudatang ke mari."
"Warta apa?"
Tanya Ouw Hui.
"Waktu Tong Pay kabur dari Ciangbunjin Tay-hwee, aku lalu mengejarnya,"
Ia menerangkan.
"Bangsat itu sangat lihay, aku tak berhasil menyusulnya. Aku ingat, bahwa sesudah digusari Hok Kong An, dia tentu akan buru-buru pulang ke rumahnya di Ouwpak untuk menyuruh keluarganya kabur ke tempat lain."
"Bagus, kau bisa memikir tepat sekali,"
Memuji Ouw Hui. Wan-seng tersenyum dan berkata pula.
"Sebagai seorang yang bergelar Kam-lim-hui-cit-seng, dia tentu mempunyai banyak sekali kenalan. Tapi kuanggap, karena pada hakekatnya dia manusia licik, belum tentu dia mempunyai sahabat sejati. Dalam bahaya, belum tentu ada orang yang berani menolongnya. Maka itu, menurut pendapatku, dia sendiri mesti pulang untuk menyampaikan warta kepada keluarganya dan mengatur segala sesuatu. Demikian aku lalu mengejar ke jurusan barat daya. Tiga hari kemudian, di Ceng-hong-tiam aku berhasil menyusul dia. Kita bertempur di sawah kaoliang dan aku telah dapat membinasakannya, tapi aku sendiri terluka."
Ouw Hui menghela napas. Sesudah berdiam sejenak, si nona melanjutkan penuturannya.
"Beberapa hari aku mengaso di sebuah rumah penginapan untuk mengobati luka. Apa mau, aku bertemu dengan beberapa busu Hok Kong An yang juga kebetulan menginap di situ dan di-antara mereka terdapat Ciu Tiat Jiauw. Aku segera menegurnya dan menjanjikan satu tempat untuk bicara dengannya."
"Kau terluka, apa kau takut?"
Tanya Ouw Hui sambil tersenyum.
"Aku menghadiahkannya dengan sebuah jasa yang sangat besar."
Jawab si nona.
"Andaikata ia masih membenci aku, dengan diberikannya hadiah itu, kebenciannya akan segera menghilang. Aku memberitahukan kuburan Tong Pay kepadanya. Dengan memenggal kepala si orang she Tong dan membawanya kepada Hok Kong An, bukankah dia membuat sebuah jasa besar? Benar saja ia merasa sangat berterima kasih. Kata aku. 'Ciu Toaya, jika kau menangkap aku, kau memang akan mendapat pahala. Tapi Ouw Toako pasti tak akan berpeluk tangan dan segala rahasiamu akan pecah.' Dia be-nar-benar seorang pintar. 'Aku merasa takluk ter-hadap Ouw Toako,"
Katanya.
'Sudan pasti aku tak akan berani membuat kedosaan terhadapnya.
Ku-harap kau suka memberitahukan Ouw Toako, bah-wa bersama tiga puluh lebih jagoan istana, Tian Kui Long akan datang di Ciongcu untuk coba menang-kapnya di kuburan kedua orang tuanya.' Sesudah begitu, ia lantas berlalu."
Ouw Hui kaget bukan main.
"Mereka mau coba menangkap aku di sini?"
Ia menegas. Si nona mengangguk.
"Benar,"
Katanya.
"Aku merasa bingung karena khawatir tidak keburu memberitahukan kau. Hai! Atas berkah Tuhan, akhirnya aku bertemu dengan kau di sini...."
Sambil mengawasi muka Wan-seng yang kurus dan pucat, Ouw Hui berkata dalam hatinya.
"Untuk menolong jiwaku, entah berapa hari dan malam ia tak tidur."
"Bagaimana Tian Kui Long tahu kuburan kedua orang tuamu berada di sini?"
Tanya Wan-seng.
"Juga, bagaimana dia tahu bahwa kau bakal datang ke mari. Ouw Toako, seorang gagah tak dapat melawan musuh yang berjumlah terlalu besar. Maka itu, untuk sekarang sebaiknya kau menyingkir dulu."
"Siang tadi aku bertemu dengan Biauw Hujin dan aku telah berjanji untuk bertemu pula besok lohor,"
Kata Ouw Hui.
"Siapa Biauw Hujin?"
Tanya si nona. Dengan ringkas Ouw Hui segera menceritakan riwayat Lam Lan.
"Ouw Toako, perempuan itu tak boleh diper-caya,"
Kata Wan-seng dengan suara khawatir.
"Sua-mi dan puterinya sendiri, ia tak perdulikan. Kau harus menyingkir secepat mungkin."
Ouw Hui segera memberitahukan, bahwa menurut pendapatnya, Lam Lan tidak main gila.
Di samping itu, ia pun sangat ingin tahu sebab musabab dari kebinasaan kedua orang tuanya.
Karena itu, demikian katanya, ia ingin bertemu lagi dengan nyonya itu.
"Ouw Toako, Tian Kui Long sudah berada di sekitar tempat ini, sehingga mungkinkah Biauw Hujin tidak memberitahukannya tentang pertemu-an antara dia dan kau,"
Kata Wan-seng dengan suara jengkel.
"Ouw Toako, mengapa kau tak mau dengar perkataanku. Malam-malam aku datang di sini. Apakah kau tidak memandang aku, sedikit pun jua?"
Ouw Hui kaget dan buru-buru ia berkata.
"Kau benar. Akulah yang salah."
"Aku bukan ingin kau mengaku bersalah,"
Kata si nona. Ouw Hui segera menghampiri tunggangan Wan seng dan sambil mencckal lcs, ia berkata.
"Baiklah. Kau naiklah. Kita pergi ke jurusan barat."
Sebelum Wan-seng melompat ke punggung kuda, tiba-tiba di empat penjuru terdengar suara teriakan dan sorak-sorak. Sudah kasep! Musuh ternyata sudah mengu-rung kuburan itu.
"Perempuan itu ternyata sudah menjual aku,"
Kata Ouw Hui dengan gusar.
"Mari kita mencrjang ke barat."
Di dalam hati ia merasa bingung, sebab didengar dari suara teriakan-teriakan itu, jumlah musuh pasti bukan keciL Jika Wan-seng tidak terluka, dengan mudah mereka akan dapat meloloskan diri.
Tapi sekarang ia merasa keder.
"Ouw Toako, kau menerjang saja ke arah barat, tak usah perdulikan aku,"
Kata si nona.
"Aku sendiri mempunyai akal untuk meloloskan diri."
Darah Ouw-Hui bergolak.
"Jangan rewel!"
Ben-taknya.
"Mali atau hidup kita bersama-sama. Ikut aku!"
Dibentak begitu si nona malah merasa berun-tung.
Karena tak kuat menggunakan senjata pe-cutnya, maka ia lantas saja mengedut les dan meng-ikuti pemuda itu dari belakang.
Baru saja mereka lari beberapa tombak, di sebelah depan sudah menghadang lima musuh.
"Kalau mau selamat, aku tidak bolch sungkan-sungkan lagi,"
Kata Ouw Hui di dalam hati.
Dengan waspada dan tangan mencckal golok, ia maju terus.
Di lain saat, dua orang busu dari gedung Hok Kong An, yang satu bersenjata pecut besi, yang lain Kwie-tauw-to (golok kepala setan), menerjang dari kiri dan kanan.
Begitu melihat gerakan mereka, Ouw Hui tahu, bahwa mereka bukan lawan enteng dan kalau sampai bertempur, paling sedikit ia harus melayani dalam delapan jurus,.
Biarpun menang, mereka tentu sudah dikurung oleh lebih banyak musuh dan sukar meloloskan diri lagi.
Maka itu, sambil melompat tinggi, ia membacok musuh yang berdiri di ujung kiri.
Busu itu, yang bersenjata pedang, lantas saja mengangkat senjata-nya untuk menangkis.
Selagi badannya masih ber-ada di tengah udara, Ouw Hui mengerahkan Lwee-kang ke badan golok dan berbareng, bagaikan kilat ia mencndang dada busu yang keempat, yang begitu kena, lantas saja terpental dan muntahkan darah.
Busu yang bersenjata pedang -begitu lckas pe-dangnya kebentrok dengan golok Ouw Hui -tiba-tiba merasakan tekanan semacam tenaga yang sa-ngat hebat, dari lengan terus ke jantungnya, seolah-olah disodok toya besi, sehingga tanpa mengeluar-kan suara, ia roboh pingsan.
melihat lihaynya pemuda itu, semua busu jadi kagum dan keder.
"Ouw Toaya!"
Bentak busu yang bersenjata golok Kwietauw-to.
"Aku, Sutouw Lui, meminta pengajaran."
"Cia Put Tong juga memohon petunjuk dari Ouw Toaya,"
Menyambungi kawannya yang bersenjata pecut besi.
"Bagus!"
Kata Ouw Hui sambil memutar go-loknya dan mengirim tiga serangan dengan berun-tun-runtun. Kedua musuh itu tidak berani menang-kis, mereka menyelamatkan diri dengan berkelit dan melompat mundur.
"Ouw Toaya!"
Teriak busu yang ketiga.
"Aku Koan...."
La tak dapat meneruskan perkataannya, karena belakang golok Ouw Hui sudah keburu mampir di batok kepalanya yang jadi remuk dan dia roboh tanpa berkutik lagi.
Sutouw Lui dan Cia Put Tong melompat mundur beberapa kali, tapi mereka tetap menghadang di depan Ouw Hui.
Di lain saat, dengan diiring teriakan-teriakan, empat busu lainnya sudah berdiri di belakang Sutouw Lui dan Cia Put Tong.
Sejenak kemudian, jumlah musuh bertambah lebih besar.
Ouw Hui mengeluh.
Dengan jurus Ya-cian Pat-hong Cong-to-sit, yaitu dengan menggunakan kaki kiri sebagai as, sambil memutar golok, ia memutar badan beberapa kali.
Dengan beberapa putaran itu, ia sudah menghitung jumlah musuh.
Di sebelah barat, enam orang, sebelah timur tiga orang, sebelah selatan dan utara masing-masing lima orang, sehingga semuanya sembilan belas orang.
Sekonyong-konyong terdengar tertawa yang panjang dan nyaring, diikuti dengan suara seorang.
"Saudara Ouw, selamat bertemu! Makin lama ke-pandaianmu makin tinggi. Tak salah kata orang, kalau mau cari jago, carilah di antara orang-orang muda!"
Orang yang bicara itu bukan lain daripada Tian Kui Long.
Biarpun hatinya panas, Ouw Hui tidak mela-deni.
Dengan mata tajam, ia mengawasi enam musuh yang berdiri di sebelah barat.
Empat orang lantas saja memperkenalkan diri.
"Aku yang rendah Thio Leng!"
"Touw Bun Houw meminta pengajaran!"
"Ouw Toaya, untuk kedua kalinya Teng Bun Cim bertemu denganmu!"
"Huh-huh! Loohu Tan Keng Thian!"
Cepat bagaikan kilat, Ouw Hui menerjang.
Sebelum berhadapan dengan keenam musuh itu, men-dadak ia membelok ke utara.
Dengan jeriji tangan kiri, ia menotok dada busu kedua yang berdiri di sebelah utara.
Orang yang bersenjata Poan-koan-pit itu adalah ahli tiamhiat (ilmu menotok jalan darah).
Melihat sambaran jari tangan, ia menda-hului menotok jalan darah Coat-pee-hiat, di bahu kanan Ouw Hui, dengan Poan-koan-pityangdicekal dalam tangan kanannya.
Itulah jurus lihay, membela diri dengan menyerang.
Ouw Hui menyerang lebih dulu, tapi karena Poan-koan-pit lebih panjang, maka senjata itu sudah mendahului menotok bahunya.
Di luar dugaan, pada saat ujung pit baru menyentuh kulit, sekonyong-konyong Ouw Hui membalik tangannya dan mencengkeram badan pit yang lalu disodokkan ke depan.
Dengan menge-luarkan suara "huh!"
Senjata makan tuan, pit itu amblas di tenggorokan majikannya. Hampir berbareng di belakang Ouw Hui terdengar suara dua orang yang memperkenalkan diri.
"Aku Oey Ciauw!"
"Ngo Kong Coan minta pelajaran!"
Angin menyambar dan dua batang golok meluncur ke punggung Ouw Hui.
Dengan cepat pe-muda itu melompat ke depan, sehingga kedua senjata itu membacok angin.
Sambil memutar badan, Ouw Hui membabat, dari bawah ke atas, untuk memutuskan pergelangan tangan Oey Ciauw.
Ba-batan itu adalah salah satu jurus terlihay dari Ouw-kee To-hoat dan sukar dapat dielakkan biarpun oleh seorang ahli silat yang berkepandaian tinggi.
Apa mau, Oey Ciauw adalah ahli dalam ilmu Toa-kin-nachiu (ilmu menangkap dan mencengkeram).
Di samping itu, ia mempunyai mata yang sangat jeli dan otaknya bisa berpikir cepat.
Demikianlah, be-gitu melihat sambaran golok ke arah pergelangan tangannya, dalam keadaan kesusu, ia segera melemparkan goloknya, membalik tangannya dan mencengkeram belakang golok Ouw Hui.
Muka Oey Ciauw tak karuan macam -kumisnya seperti kumis tikus, kepalanya kecil, matanya sipit.
Tapi si muka jelek sangat lihay, gerakannya malah lebih cepat dari gerakan Ouw Hui.
Sebelum Ouw Hui tahu apa yang terjadi, belakang goloknya sudah dicengkeram dengan lima jeriji yang seperti cakar ayam.
Dengan mengandalkan tenaganya yang besar, ia membacok terus.
Tapi tenaga Oey Ciauw tak kurang be-sarnya.
Bukan main kagetnya Ouw Hui, karena goloknya tidak bergerak.
Bahna kagetnya, untuk sejenak pemuda itu berdiri terpaku.
Dalam tempo yang sependek itu, tiga musuh sudah menyerang dari belakang.
Pada saat yang sangat berbahaya, Ouw Hui menghitunghitung apa yang harus diperbuatnya.
Sebelum ketiga musuh yang menyerang dari belakang bisa melukai dirinya, ia masih mempunyai tempo sedetik dua detik.
Ia masih mempunyai tempo "membereskan"
Oey Ciauw.
Ia mengerti, bahwa dirinya sedang menghadapi bahaya besar, dikurung olch banyak orang.
Musuh yang berada di depannya.
yaitu Oey Ciauw, adalah musuh berat.
Kalau ia dapat merobohkannya, tekanan atas dirinya jadi banyak berkurang.
Memikir begitu, ia lantas saja melepaskan goloknya yang dicengkeram dan menghantam dada musuh dengan kedua telapak tangannya.
"Buk!"
Tubuh Oey Ciauw bergoyanggoyang, tapi ia tak sampai jatuh, hanya golok terlepas dari cengke-ramannya.
Dengan cepat Ouw Hui menangkap ga-gang golok, memutar tubuh dan menangkis tiga senjata yang sudah menyambar punggungnya.
Ketiga busu itu ialah Ngo Kong Coan, Tan Keng Thian dan seorang lagi yang bertubuh tinggi besar dan bersenjata toya lembaga, yang beratnya empat puluh kali lebih.
Begitu goloknya kebentrok dengan tiga senjata musuh, Ouw Hui merasa dadanya menyesak dan baru saja ia mau melompat ke samping, dari kiri kanan sudah menerjang dua musuh lain.
Dalam kerepotan mengurung Ouw Hui, para busu tidak memperhatikan Wan-seng yang menung-gang kuda.
Dengan hati berdebar-debar Wan-seng memperhatikan jalannya pertempuran.
Begitu melihat keadaan Ouw Hui yang sangat berbahaya, ia segera mengedut Ies dan selagi tunggangannya lorn-pat menerjang, ia mengayun cambuk dan menghantam leher seorang busu.
Musuh itu justru sedang menyerang sambil memperkenalkan dirinya.
"Aku Him It Lek minta...."
Ia tidak bisa meneruskan perkataannya, sebab lehernya keburu dilibat cambuk.
Biarpun bertenaga besar, tapi karena napasnya menyesak dan tak dapat menahan terjangan kuda, ia segera roboh terjengkang dan diinjak tunggangan Wan-seng.
Thio Leng yang berada di dekatnya juga turut terpelanting.
Sesudah dua musuh roboh, Ouw Hui menyerang hebat dan dengan beruntun ia menjatuhkan Touw Bun Houw dan Teng Bun Cim.
Baru saja ia mau melompat untuk menyerang lain musuh, sekonyong-konyong di belakangnya menyambar kesiuran angin yang sangat hebat.
Tanpa memutar badan, ia menangkis dengan goloknya dengan jurus Go-houw Koay-bong Hoan-sin (Harirnau dan ular besar membalik badan).
"Trang!"
Ia merasa senjata-nya berubah enteng -kena dibabat putus dengan senjata musuh yang seketika itu sudah membacok lagi!
Ia terkesiap, kaki kirinya menolol bumi dan tubuhnya lantas saja melesat setombak lebih jauh-nya.
Tapi meskipun begitu, pundak kirinya sakit dan ia tahu bahwa senjata musuh sudah menggores badannya.
Begitu lekas kaki kanannya hinggap di bumi, tangan kirinya menepuk, tangan kanannya meng-gaet dan ia sudah berhasil merebut sebilah golok dari tangan seorang busu.
ltulah gcrakan dari ilmu Kong-chiu Jip-pek-to (Dengan tangan kosong ma-suk dalam rimba golok) yang dijalankan dengan kecepatan luar biasa.
Sedikit saja ia terlambat, punggungnya tentu sudah kena dibacok dengan golok mustika Tian Kui Long yang terus mengejar dari belakang.
Di lain detik, ia sudah memutar badan untuk menghadapi manusia busuk itu.
Tentu saja ia tidak berani mengadu senjata dengan golok mustika si orang she Tian yang dikenal sebagai mustika partai Thian-liong-bun.
Sambil melompat ke sana sini dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan, ia melayani jago Thian-liong-bun itu.
Baru saja bertempur tujuh delapan jurus, belasan musuh sudah meluruk dan menge-pungnya, sedang tiga musuh lainnya menyerang Wan-seng.
Karena memikiri keselamatan si nona.
perhatian Ouw Hui jadi terpecah dan "Trang!"
Golok yang dicekalnya kembali terbabat putus.
Si orang she Tian jadi girang sekali.
Dengan tekad untuk mengambil jiwa pemuda itu, ia menyerang makin hebat, dibantu olch kaki tangan Hok Kong An.
Ouw Hui berkelahi mati-matian tapi keadaannya makin lama jadi makin jelek.
"Cres!"
Pundak kirinya kembali digores pedang seorang busu.
"Orang she Ouw lekas menakluk!"
Teriak seorang.
"Kau seorang gagah perlu apa kau mengorban-kan jiwa secara cuma-cuma?"
Menyambungi yang lain.
Beberapa busu lain, yang rupanya merasa sa-yang akan kegagahan Ouw Hui, juga coba mem-bujuk.
Tapi Tian Kui Long sendiri terus menyerang sehebat-hebatnya tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Semangat Ouw Hui mulai runtuh.
Ia merasa, bahwa ajalnya sudah tiba.
Mendadak, mendadak saja, dari sebelah kejauh-an terdengar seruan seorang wanita.
"Tian Toako, jangan binasakan jiwa pemuda itu!"
Ouw Hui mengertak gigi karena ia segera mengenali, bahwa orang yang berteriak itu adalah Lam Lan.
"Tak perlu kau berlagak mulia!"
Bentaknya.
Hampir berbareng, karena lengah, pinggangnya kena ditendang.
Ia gusar tak kepaiang, tangan ka-nannya menyambar bagaikan kiiat dan menangkap kaki musuh yang menendang itu.
Dengan gemas ia memutar badan musuh yang digunakan sebagai sen-jata, sehingga kawan-kawannya tidak berani terlalu mendesak.
Orang itu adalah Thio I eng, yang sebab dibulang-balingkan, sudah tak ingat orang lagi.
Sementara itu, Wan-seng pun berada dalam bahaya besar.
Ia menerjang kian ke mari dan kuda-nya yang sudah kena beberapa bacokan meringkik tak henti-hentinya.
Sambil menenteng Thio Leng, Ouw Hui menerjang dan mendekati si nona.
"Ikul aku,"
Katanya.
Wan-seng melompat turun dari tunggangannya dan mereka lari ke kuburan Ouw It l'n.
Di samping kuburan terdapat sebuah pohon pek yang sudah tua dan dengan membelakangi pohon itu, mereka mem-pertahankan diri.
Untuk sementara musuh tidak bisa berbuat banyak.
Sambil mengangkat tubuh Thio Leng tinggi-tinggi, Ouw Hui membentak.
"Hei! Kamu mau kawanmu ini mampus atau hidup? Katakan saja!"
Selagi para busu bersangsi, si orang she Tian berteriak.
"Siapa yang dapat membinasakan peng-khianat Ouw Hui akan mendapat hadiah besar dari Hok Thayswee!"
Dengan berkata begitu, ia ingin menunjukkan, bahwa mati hidupnva Thio Leng tidak menjadi soal.
Tapi busu-busu itu yang sedikitnya masih mempunyai rasa setia kawan, tetap bersangsi untuk segera menyerang.
Melihat begitu, sambil memutar goloknya Tian Kui Long mulai membuka serangan.
Ouw Hui terkejut.
Ancamannya sudah tidak berguna lagi.
Ia tahu, bahwa jalan satu-satunya untuk meloloskan diri ialah coba menangkap Biauw Hujin untuk dijadikan semacam "barang tanggung-an".
Tapi nyonya itu berdiri jauh, terpisah belasan tombak dari tempat berdirinya.
Melihat kedatangan Tian Kui Long, ia segera meraba-raba tubuh Thio Leng untuk mencari senjata.
Tiba-tiba tangannya menyentuh kanlong piauw.
Dengan tangan kiri ia menotok jalan darah busu itu, sedang tangan ka-nannya mencopot kantong piauw.
Ia mengambil sebatang piauw dan sambil mengerahkan Lweekang ia menirnpuk kempungan si orang she Tian sekeras-kerasnya.
Senjata rahasia itu menyambar dengan kece-patan luar bias,!
dan waktu Kui Long tahu dirinya diserang, piauw Mjdah berada dalam jarak setengah kaki dari kempungannya.
Secepat kilat ia menyam-pok dengan goloknya dan piauw itu terbabat putus jadi dua potong.
Tapi potongan piauw menyambar terus dan menggores betis kanannya.
Sesaat itu terdengar teriakan menyayat hati dan seorang busu terjengkang dengan sebatang piauw menancap di lehernya.
"Bangsat kecil!"
Caci Kui Long dengan gusar.
"Aku mau lihat apa hari ini kau masih bisa meloloskan diri."
Tapi biarpun begitu, untuk sementara ia tidak berani terlalu mendesak dan hanya memerintahkan supaya semua busu mengurung dari sebelali kejauhan.
Busu yarsg dikirim oieh Hok Kong An untuk membinasakan Ouw Hui semuanya berjumlah dua puluh dua orang.
Dalam pertempuran tadi yang sangat dahsyat, sembilan antaranya sudah mati atai terluka, sedang Ouw Hui sendiri pun terluka berat.
Sampai pada saat itu, yang mengurung Ouw Hui dan Wan-seng adalah tiga belas busu.
Di antara mereka ada beberapa yang merasa sayang akan kegagahan pemuda itu dan beberapa kali mereka menganjurkan supaya Ouw Hui menakluk.
Dalam keadaan putus asa, Ouw Hui mencekal tangan Wanseng dan berkata.
"Wan Kouwnio, biar-lah kita binasa bersama-sama di samping kuburan kedua orang tuaku."
Perlahan-lahan Wan-seng menarik tangannya.
"Aku... aku... seorang pertapaan,"
Katanya terputus-putus.
"Jangan memanggil aku Wan Kouwnio. Aku bukan she Wan. Pemuda itu sangat berduka. la merasa, bahwa nona yang dicintainya itu terlalu keras kepala. Pada detik menghadapi kebinasaan, ia masih bersikap begitu keras. Sementara itu, sambil memutar golok bagaikan kitiran, seorang busu maju mendekati. Ouw Hui menjumput sebutir batu dan menimpuk sinar putih yang berkelebat-kelebat. Busu itu menangkis batu dengan goloknya. Tanpa menyia-nyiakan kesem-patan baik, Ouw Hui mengayun tangannya dan sebatang piauw menancap tepat di dada busu itu. Tian Kui Long jadi lebih gusar.
"Kawan-kawan bangsat kecil itu terlalu kurang ajar!"
Teriaknya.
"Man kita serbu bersamasama dengan berbareng. Aku mau lihat apa dia mempunyai tiga kepala enam lengan."
"Inilah saatnya!"
Mengeluh Ouw Hui.
Ia mendo-ngak dan mengawasi bintang-bintang di langit.
Ia merasa, bahwa di lain saat, ia akan bertempur untuk penghabisan kali, ia akan membinasakan tiga atau empat orang dan sesudah itu....
Oh, bintang-bintang!
Selamat tinggal!
Dengan serentak di bawah pimpinan Tian Kui Long, para busu bergerak.
Tapi, sebelum mereka menerjang, mendadak, mendadak saja Biauw Hujin maju sambil berteriak.
"Tian Toako, tahan! Ada beberapa perkataan yang kuingin sampaikan kepada pemuda itu."
Kui Long mengerutkan alisnya.
"A-lan, mun-dur!"
Katanya.
"Bangsat kecil itu sudah gila. Kau bisa celaka dalam tangannya."
Tapi Biauw Hujin sangat kukuh.
"Dia bakal lantas mati,"
Katanya.
"Halangan apa jika aku bicara beberapa patah dengannya?"
Kui Long tak bisa Tnembantah lagi.
"Baiklah,"
Katanya.
"Katakanlah apa yang ingin dikatakan olehmu."
"Ouw Siangkong,"
Kata Lam Lan.
"Apakah kau rela mati sebelum mengubur abu dalam guci itu?"
"Jangan campur urusanku!"
Bentak Ouw Hui.
"Aku tak bisa mencaci seorang wanita. Pergilah!"
Tapi Lam Lan sangat bandel.
"Aku sudah ber-janji untuk memberitahukan persoalan ayahmu,"
Katanya pula.
"Apakah kau masih mau mendengar-nya, sebelum mati?"
"A-lan, jangan rewel!"
Bentak si orang she Tian.
"Tahu apa kau?"
Tapi Lam Lan tidak meladeni.
"Aku hanya akan bicara tiga patah perkataan,"
Katanya lagi.
"Per-kataan-perkataan itu ada sangkut pautnya dengan ayahmu. Apa kau mau dengar?"
"Ya,"
Jawab Ouw Hui.
"Memang, aku tidak boleh binasa sebelum mengetahui teka-teki itu. Katakanlah!"
"Aku hanya bisa memberitahukan kepada kau seorang, lain orang tidak boleh mendengarnya,"
Kata Lam Lan.
"Tapi kau tidak boleh menggunakan kesempatan untuk menawan aku dan menjadikan aku sebagai barang tanggungan. Apakah kau suka berjanji? Kalau kau tidak memberi janji, aku tak akan memberitahukan hal itu kepadamu."
"Bahwa kau sudah sudi untuk membuka teka-teki itu pada sebelum aku mati, aku sudah merasa sangat berterima kasih,"
Kata Ouw Hui.
"Mana bisa aku berbalik mencelakakanmu? Di dalam dunia masih terdapat banyak laki-laki. Apakah kau kira semua manusia sama busuknya seperti Tian Kui Long.?"
Paras muka Kui Long jadi lebih tak enak ke-lihatannya. la tak tahu apa yang mau dikatakan oleh Lam Lan, tapi ia sudah tidak dapat mencegahnya.
"Tak perduli apa yang bakal dikatakannya, pasti tak baik bagi diriku,"
Pikirnya.
"Memang lebih baik jika tidak didengar oleh orang lain."
Sementara itu Lam Lan sudah mendekati Ouw Hui dan lalu bicara bisik-bisik di dekat kupingnya.
"Tanamlah guci itu dalam jarak tiga kaki di belakang batu nisan. Galilah tanahnya dalam-dalam. Kau akan menemukan sebatang golok mustika."
Sehabis berkata begitu, ia segera berlalu dan sambil ber-jalan, ia berkata pula dengan suara nyaring;
"Hal itu hanya bersangkut paut dengan Kim-bian-hud Biauw Jin Hong. Sesudah kau mengetahui rahasia itu, kau bisa mati tanpa penyesalan. Tanamlah guci itu, supaya yang sudah mati bisa mengaso dengan tenteram. Dan kau sendiri, sesudah mewujudkan niatanmu, bisa mati dengan hati senang."
Ouw Hui jadi bingung. Ia tak mengerti apa maksudnya bisikan Lam Lan. Tapi ia merasa, bahwa nyonya itu tidak main gila.
"Tak perduli bagai-manapun jua, paling benar aku mengubur dulu abunya Jie-moay,"
Pikirnya.
Memikir begitu, dengan menggunakan tangan, ia segera menggali tanah sesuai dengan petunjuk Biauw Hujin, yaitu dalam jarak tiga kaki di belakang batu nisan.
Tian Kui Long mengawasi Ouw Hui sambil tersenyumsenyum.
Ia menduga, bahwa dengan bisikan itu, Lam Lan memberitahukan, bahwa ayah-nya pemuda itu telah dibinasakan oleh Biauw Jin Hong.
Selagi Ouw Hui menggali, enam belas busu mengawasi sambil mencekal senjata erat-erat.
Begitu lekas Ouw Hui selesai menanam guci, mereka akan segera menerjang.
Sementara itu, sambil membaca doa dan merangkap kedua tangannya, Wan-seng berlutut di samping Ouw Hui dengan menghadapi lubang yang sedang digali.
Sambil menahan sakit, Ouw Hui terus menggali dengan kedua tangannya.
Melihat Wan-seng berlutut sambil membaca doa, tiba-tiba ia tersadar.
"Sesudah ia rela mengabdi kepada Sang Buddha secara mutlak, mana bisa aku memaksanya untuk kembali menjadi orang biasa?"
Katanya di dalam hati.
"Untung juga ia menolak. Jika tidak, dalam tnenghadapi kebinasaan, hati kita berdua bisa ku-rang tenteram."
Mendadak, kedua tangannya menyentuh sesuatu yang keras dingin dan dalam otaknya lantas saja berkelebat perkataan Lam Lan.
"Golok mustika" . Dengan paras tak berubah. ia meraba-raba. Benar! Sebilah golok di dalam sarung. Ia segera mencekal gagangnya dan menarik kira-kira satu dim. Golok itu ternyata tidak berkarat.
"Biauw Hujin mengatakan, bahwa hal ini bersangkut paut dengan Biauw Jin Hong,"
Katanya di dalam hati. Apakah golok ini ditanam oieh Biauw Tayhiap, sebagai peringatan untuk mendiang ayahku?"
Ouw Hui tidak menebak salah.
Tapi ia tak tahu, bahwa Biauw Jin Hong dan Biauw Hujin telah menikah karena golok itu.
Ia pun tak tahu, bahwa terpecah belahnya suami isteri itu juga karena gara-gara golok tersebut.
Ditanamnya golok itu di ku-buran Ouw It To hanya diketahui oleh Lam Lan seorang.
Dalam dunia ini, tak ada orang lain yang mengetahuinya.
Sambil mencekal gagang golok, Ouw Hui meng-awasi Biauw Hujin.
Nyonya itu menghela napas dan berkata seorang diri.
"Tidak mudah untuk dapat menyelami hati orang lain!"
Seraya berkata begitu, ia berjalan terus dengan tindakan perlahan.
"A-lan!"
Teriak Tian Kui Long.
"Tunggu aku di rumah penginapan. Sesudah aku membunuh bang-sat kecil itu, ramai-ramai kita makan minum."
Lam Lan tidak menyahut, ia berjalan terus tanpa meladeni manusia busuk itu. Tian Kui Long menengok kepada Ouw Hui dan membentak.
"Bangsat kecil! Lekas tanam gucimu! Kami tidak bisa menunggu terlalu lama!"
"Baiklah, aku pun tidak dapat menunggu terlalun lama!"
Jawabnya.
Mendadak, mendadak saja sehelai sinar hijau berkelebat dan dalam tangan pemuda itu sudah bertambah sebilah golok!
Kagetnya Tian Kui Long dan para busu bagaikan disambar petir.
Ouw Hui sungkan menyia-nyiakan kesempatan baik.
Selagi semua orang tertegun, ia menerjang bagaikan kilat.
"Trang! Trang! Trang...."
Tiga senjata tersebut putus dan dua orang busu ter-luka.
Tian Kui Long mengangkat goloknya dan mem-bacok.
Kali ini, sambil mengerahkan Lweekang.
Ouw Hui menampik golok itu dengan senptanya.
'Trang...!"
Suara bentrokan golok nyaring luar biasa dan kedua lawan melompat mundur dengan berbareng.
Dengan bantuan sinar rembulan, mereka memeriksa senjata sendiri.
Ternyata kedua-duanya tetap utuh -golok mustika bertemu dengan golok mustika.
Semangat Ouw Hui terbangun.
Sekarang ia tak usah takuti lagi senjata musuh.
Bagaikan seekor harimau yang tumbuh sayap, ia segera menyerang dengan menggunakan Ouw-kee To-hoat dan dalam sekejap, ia sudah melukai tiga busu lagi.
Dilain saat, ia sudah bertempur dengan Tian Kui Long.
Biarpun senjata si orang she Tian tidak kalah dari senjata Ouw Hui, tapi ilmu silat goloknya kalah jauh dari Ouw-kee Tohoat.
Andaikata ia menggunakan pedang mustika, ia masih belum bisa menandingi pemuda itu.
Apalagi sekarang, ia menggunakan golok yang tidak biasa digunakannya, sedang Ouw Hui sendiri menggunakan senjata yang cocok bagi dirinya.
Demikianlah baru saja bertempur beberapa jurus, lengan dan betis si orang she Tian sudah digores golok dan kalau tidak dilindungi oleh para busu, siangsiang ia sudah binasa dalam tangan pemuda itu yang menyerang seperti harimau edan.
Sesudah bertempur beberapa lama, jumlah busu yang masih bisa berkelahi sudah tidak seberapa lagi, antaranya beberapa orang sudah tidak bersenjata lagi.
Karena sungkan melukai terlalu banyak orang, Ouw Hui berseru.
"Tuan-tuan adalah orang-orang gagah dari Rimba Persilatan. Perlu apa kalian mengantarkan jiwa dengan cumacuma?"
Melihat gelagat kurang baik, Tian Kui Long yang licik buruburu kabur, diikuti oleh kawan-kawannya.
Sesudah berada di ternpat yang selamat, tak satu pun yang tahu, dari mana Ouw Hui men-dapat golok mustika itu.
Mulai dari waktu itu, di dalam dunia Rimba Persilatan Ouw Hui mendapat julukan "Hui-ho" (si Rase Terbang), sebagai pujian untuk pemuda itu yang lihay luar biasa dan tidak dapat ditaksir gerak-geriknya.
Sesudah musuh tak kelihatan mata hidungnya lagi, dengan rasa terima kasih yang sangat besar, Ouw Hui memasukkan golok mustika ke dalam sarungnya dan kemudian menguburkannya iagi, supaya senjata tersebut terus mengawani kedua orang tuanya.
Sesudah itu, dengan air mata berlinang-linang, ia mengubur guci yang berisi abunya Leng So.
Selagi ia mengangkat guci sambil merangkap kedua tangannya, Wan-seng membaca doa.
Budi dan kecintaan membuat pertemuan.
Dalam dunia tak ada yang abadi, Dalam penghidupan banyak kekhawatiran.
Jiwa manusia bagaikan setetes embun pagi Cinta menimbulkan kejengkelan, Cinta menyebabkan ketakutan, Dengan meninggalkan cinta, Terbebaslah dari kejengkelan dan ketakutan."
Sehabis mendoa, tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi, ia segera melompat ke atas punggung tunggangannya yang lalu dilarikan ke jurusan barat.
Ouw Hui berdiri terpaku.
Dengan mata mengembang air, ia mengawasi bayangan Wan-seng yang makin lama jadi jauh.
Ia mengawasi bagaikan orang hilang ingatan, sedang dalam kupingnya terus berkumandang doa yang barusan diucapkan oleh si jiwa hati.
TAMAT
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com
Baca Juga: Si Rase Hitam 4
Baca Juga: Si Walet Hitam Ouw Yan Cu Kho Ping Hoo