Eps 6 Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung
Baca online Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung
Cersil Pedang Dan Kitab Suci - Khu Lung.
Tanya Kian Hiong.
Yang dimaksud dengan Lo Ong atau Ong si Tua, adalah Ong Hwi Yang itu.
Sedangi orang she Thio itu, bukan lain jalah Thio Ciauw Cong.
Jadi hal itu membuktikan bagaimana pengaruh ke jago itu dikalangan persilatan.
"Itulah sahabat-dari golongan Hek To yang memberi muka padaku secara ber-lebih*-an,"
Kata Ong Hwi Yang.
"Mengapa orang lebih dulu menyebut Lo Ong, baru orang she Thio? Apakah kepandaian Lo Ong itu berada diatas orang she Thio?"
Tanya Kian Hiong. Ong Hwi Yang berjingkrak bangun, maju setindak dia lalu berkata.
"Jadi si 'Hwe Chiu Poan Koan' yang hendak menguji kekuatanku?! Memang aku tolol sekali, hingga tak dapat memikir sampai disitu."
"Thio taijin adalah pemimpinku, kau juga mengetahuinya?"
Tanya Kian Hiong pula.
"Aku tahu bahwa Thio Ciauw Cong berada dalam dinas gi-lim-kun,"
Sahut Hwi Yang.
"Jadi kau kenal padanya ?"
Tanya Kian Hiong.
"Meskipun kita sama-sama tinggal di Pakkhia dan sesama kaum persilatan, tapi dia menjadi pembesar negeri, sedang aku seorang rakjat biasa. Memang sudah lama kudengar namanya yang kesohor itu. Sayang tak pernah berjumpa."
"Kebetulan, memang Thio taijin juga kepingin belajar kenal denganmu. Kini dia juga berada di HangCiu sini. Dia berkata, ketika berada di Pakkhia dekat dengan kaisar. Kalau sampai disebabkan urusan berebut nama kosong saja mesti perlu bentrok, itulah kurang lajak. Kini, sama-sama berada diluar kotaraja, Thio taijin mengajukan tiga hal kepada Ong locianpwe. Kalau locianpwe suka menerimanya, dia idinkan locianpwe keluar dari sini."
"Baik, aku telah kena tersergap oleh orang-orang mu dari pasukan gi-lim-kun. Ada urusan apa lagi yang akan meminta persetujuanku. Mengapa harus aku yang meluluskannya ?"
"Urusan itu mudah sekali. Tak usah kiranya lo-piauwtauw menjadi gusar,"
Ujar Kian Hiong.
"Apa yang Hwe Chiu Poan Koan maukan padaku?!"
"Pertama, lo-piauwtauw harus menghapuskan gelaran 'Wi Tin Ho Siok' itu."
"Hm, lalu yang ke?"
Hwi Yang putuskan omongan orang.
"Bubarkan Tin Wan piauwkiok !"
"Apa?"
Seru Hwi Yang dengan keras.
"Piauwkiok itu telah kudirikan selama tiga 0 tahun lebih dengan disaksikan orang-orang kangouw tak pernah mendapat hinaan dari kalangan Hek To. Jadi Thio taijin maukan aku membubarkan, baiklah. Dan yang ketiga?"
"Yang ketiga, supaya Ong lo-piauwtauw undang seluruh kalangan persilatan dan umumkan bahwa bisak-bisik 'lebih baik menghadap Giam Ong daripada kesamplokan dengan Lo Ong; lebih baik menerima tiga tusukan tombak daripada bertemu dengan orang she Thio', ucapan itu supaya dibalik. Jadi artinya kalimat yang ke itu supaya ditaroh diatas lebih dulu. Selain itu, Thio taijin ingin supaya Ong lo piauwtauw suka serahkan golok pat-kwa-to itu."
Sampai disitu, tak kuat lagi Ong Hwi Yang menahan ke marahannya. Serunya dengan gusar.
"Dengan Thio Ciauw Cong aku tak punya permusuhan apa-apa, mengapa dia begitu menghina aku sampai keliwatan sekali !"
Kian Hiong ganda tertawa, sahutnya .
"Kau sudah menikmati kemasjhuran nama selama 40 tahun, sebaiknya kini mandah mengasoh saja. Bukankah 'sebuah gunung tak dapat didiami oleh ekor harimau?' Masa kata-kata itu saja Ong lo-piauwtauw sampai lupa?"
"Ah, kiranya dia akan minta penyelesaian, agar dia dapat mengkangkangi kolong langit. Hm, sekiranya aku tak meluluskan, bagaimana? Apakah dia akan tetap menyikap aku disini? Ah, biarlah kuserahkan jiwaku saja, masa dia akan lepas dari buah ketawaan orang-orang kangouw."
"Thio taijin seorang gagah yang berambekan perwira. Tak nanti dia mau melakukan hal itu. Dia minta padamu nanti siang, supaya beradu ilmu pedang dibukit Pak-ko-nia. Kalau sesungguhnya Lo Ong yang lebih lihai, bisak-bisik itu biarkan begitu seperti sediakala. Kalau tidak, maka diharap lo-piauwtauw menerima ketiga permintaannya itu,"
Kata Kian Hiong.
"Cara itu memang yang lajak. Biarlah namaku selama 40 tahun itu kupertaruhkan padanya."
"Tapi tadi Thio taijin berpesan, kalau lo-piauwtauw menerima undangannya itu, supaya suka datang sendirian, agar jangan sampai terdengar oleh baginda. Kalau lo-piauwtauw sampai undang sahabat untuk membantunya, lebih baik per tandingan itu ditiadakan saja."
Ong Hwi Yang karuan berjingkrak seperti orang keba karan jenggot.
"Sekalipun aku seorang tua akan remuk rendam tulang belulangku, tapi aku pasti datang seorang diri,"
Katanya kemudian dengan gemas.
"Kalau begitu harap lo-piauwtauw mengirim sepuCuk surat balasan, biar kusampaikan pada Thio taijin nanti,"
Kata Kian Hiong lalu keluarkan kertas dan alata tulis.
Karena menahan amarah, bergemetaranlah tangan Ong Hwi Yang sewaktu menulis balasan.
Ringkas saja surat itu .
Dihaturkan kepada Thio taijin, Kata-kata dan sikapmu itu, keliwat memperhina kan aku.
Nanti siang kita bertemu di Pak-ko-nia.
Kalau aku sampai jatuh di tanganmu, aku rela menerima hukuman sekehendakmu.
Hormatnya, Ong Hwi Yang Ong Hwi Yang seorang bu, maka dia kurang mahir ilmu nya bun (surat).
Apalagi sedang marah, jadi lebih kaCau susunan kata-katanya itu.
Kian Hiong hanya tertawa saja, terus akan berlalu.
Tapi tiba Ong Hwi Yang berseru.
"Tulung tanya nama toako yang mulia ini, nanti akupun meminta pengajaran darimu !"
Rupanya Hwi Yang umbar kemendongkolannya. Kian Hiong yang disangkanya anggauta "gi-lim-kun"
Juga akan diajak nya berkelahi nanti.
"Aku yang masih hijau ini dari angkatan muda, masih kurang pengalaman. Thio taijin sedang menanti surat ini,"
Jawab Kian Hiong terus keluar dari ruangan itu sambil rapatkan pintu tanpa dikunCi.
Orang-orang HONG HWA HWE Cukup mengetahui bahwa Ong Hwi Yang paling jerih jika berhadapan dengan pembesar negeri.
Jadi ia tak mau berusaha meloloskan diri, terima mandah disekap dalam tahanan itu.
Karena kalau ia mau, sebenarnya dengan mudah ia dapat dobrak pintu tahanannya itu.
Kini diCeritakan tentang Thiat-pi-peh-Chiu Han Bun Tiong yang karena akan mengejar penCuri kudanya, telah masuk dalam perangkap.
Dan kini iapun ditahan.
Pagi itu, ia dibawa kelain, sel kecil.
Tapi lain halnya dengan Ong Hwi Yang, orang she Han itu tahu kalau dirinya kini jatuh ditangan orang HONG HWA HWE Sedang dia gelisah memikirkan nasibnya, tiba didengarnya dari kamar sebelah, ada orang ber-kaok memaki kalang kabut.
Dia melengak, karena"
Dikenalnya suara orang itu adalah Cong-piauwtauw Ong Hwi Yang.
Cong-piauwtauw itu tengah me-maki-maki Thio Ciauw Cong yang dikatakan sebagai orang yang keliwatan menghina lain orang.
Diam-diam Han Bun Tiong heran, mengapa Cong-piauwtauw itu bisa berada ditempat tahanan itu, dan pula me-maki-maki pada Thio Ciauw Cong.
Ingin dia akan berseru keras untuk menegor Hwi Yang, tapi tiba masuklah orang ketempat itu, seraja berkata.
"Silahkan Han toaya keruangan besar."
Berada diruangan besar Bun Tiong nampak dibarisan kursi yang sebelah kiri duduk tiga orang.
Yang duduk dikursi pertama, jalah ketua HONG HWA HWE, Tan Keh Lok.
Kursi yang ke diduduki oleh seorang yang jenggotnya putih semua.
Sedang pada kursi yang lainnya, tampak seorang yang bertubuh pendek.
Orang-orang itu agaknya Bun Tiong sudah pernah menyumpainya ketika dalam perjalanan di wilayah Kamsiok.
Piauwsu itu kemaluan.
Dia tak mau menengok, keCuali anggukkan ke palanya, lalu mengambil tempat duduk.
"Han toako, kita pernah bertemu di Kamsiok, tidak nyana kalau hari ini kita dapat berjumpa lagi disini. Haha, agaknya kita ini memang berjodoh,"
Kata Keh Lok. Sampai agak lama, baru Bun Tiong dapat menyawab tegoran orang, katanya.
"Ja, ketika itu, aku memang berjanyi untuk tinggalkan kalangan persilatan dan mengasing kan diri. Tapi karena Ong Cong-piauwtauw mendesak aku supaya turut serta dalam pengawalan barangs kali ini, ter paksalah aku tak dapat menolaknya. Pertama, mengingat perhubungan baik dengan Ong Cong-piauwtauw. Ke, karena barangs kawalan itu adalah barang yang berharga untuk diantarkan ketempat kediaman Kongcu. Kiranya pasti Kongcu takkan sesalkan aku, maka............"
"Sahabat Han, kita kaum kangouw hanya menyunyung kepercayaan dan kebejikan. Kau telah langgar janyi, bagaimana rasa hatimu sendiri?"
Tanya Thian Hong, siorang pendek itu tiba, dengan suara tajam.
"Aku telah jatuh kedalam tanganmu, sia-siasaja aku omong ini itu, terserah sajalah kalau mau dibunuh atau di............"
Sahut Bun Tiong lesu.
"Han toako, jangan Buru-buru berkata begitu!"
Keh Lok putuskan omongan orang.
"Kitapun mempunyai hubungan yang baik dengan Ong Cong-piauwtauw. Untuk kepentingan HONG HWA HWE, beliau tak segan akan tempur Hwe-Chiu Poan-koan Thio Ciauw Cong. Kau dan aku bukan orang lain, urusan yang lampau tak perlu kiranya di-ungkat lagi. Bagaimanakah hubungan Han toako dengan orang she Thio itu?"
"Ketika di Pakkhia, sudah beberapa kali kujumpainya. Tapi rupanya dia terlalu agulkan kedudukannya yang tinggi, pula merasa berkepandaian jauh melebihi kita, agaknya dia sungkan bergaul dengan kita orang, jadi tak ada hubungan apa-apa,"
Sahut Han Bun Tiong.
"Oh, begitu. Coba Han toako baCa surat ini,"
Kata Keh Lok sembari serahkan surat tantangan Ong Hwi Yang kepada Thio Ciauw Cong itu kepada Bun Tiong.
Tentang isi surat itu, sebenarnya!
Bun Tiong masih agak meragukan.
Ia merasa tak nanti Ong Hwi Yang sampai ber chianat kepada Thio Ciauw Cong hanya karena akan mem bela urusan HONG HWA HWE Tapi dengan telinganya sendiri, tadi ia dengar bagaimana Cong-piauwtauw itu memaki habis-habisan pada Ciauw Cong.
Apalagi dia mengetahui betul kalau surat itu ditulis oleh tangan Ong Hwi Yang sendiri.
Sampai disitu, hilanglah keraguannya.
"Kalau begitu, ingin aku menyumpai Ong Cong-piauwtauw, untuk merundingkan daya menghadapi Thio Ciauw Cong nanti,"
Katanya kemudian.
"Tapi kini rasanya waktu sudah mendesak sekali. Aku hendak mohon bantuan Han toako untuk antarkan surat ini kepada Thio Ciauw Cong, baru nanti Han toako menemui Ong Cong-piauwtauw. Entah bagaimana pendapat Han toako?"
Tanya Tan Keh Lok, yang walaupun kata-katanya me minta pertimbangan Bun Tiong, tapi terselip suatu perintah pada piauwsu itu. Jadi Han Bun Tiongpun terpaksa meluluskannya.
"Capjilong, keluarlah!"
Tiba Keh Lok berseru memanggil. Segera Ciok Siang Ing tampak munCul, siapa lalu diper kenalkan kepada Han Bun Tiong.
"Biarlah saudara Ciok ini, menemani Han Toako ketempat Thio Ciauw Cong. Mungkin Han toako masih belum jelas, mengapa Ong loenghiong membalik terhadap Thio Ciauw Cong. Soal itu kalau dituturkan, panyang juga. Nanti saja kita Ceritakan kepada Han toako. Dihadapan Thio Ciauw Cong, tolong akuilah kalau saudara Ciok ini salah seorang piauwsu dari Tin Wan piauwkiok. Selanyutnya biar kan dia sendiri yang bicara nanti,"
Kata Keh Lok pula. Kembali Bun Tiong Curiga, hingga sampai sekean lama dia tak menyawab.
"Dalam soal apa lagi yang kiranya Han toako masih belum jelas?"
Tanya ketua HONG HWA HWE itu.
"Oh, tidak ada. Aku turut saja apa yang Kongcu pesan,"
Sahut Bun Tiong dengan tersipus. Thian Hong tahu, bahwa orang she Han itu mulai Curiga, hal mana dia kuatir bisa terbitkan keonaran, katanya tiba.
"Silahkan tunggu sebentar !"
Dia terus masuk kedalam, dan ketika keluar lagi, sudah membawa sepoCi arak dengan sebuah Cawannya. Setelah menuangkan arak, lalu dihaturkannya kepada Bun Tiong.
"Tadi omongan siaote itu terlalu keras, maka dengan ini mohon maaf kepada Han toako. Mari Han Toako keringkan Cawan ini, dan anggaplah urusan kita itu sudah selesai,"
Kata Thian Hong.
Tergopoh Bun Tiong menyawab dengan kata-kata yang me rendah.
Setelah meminum Cawan itu dia minta diri kepada ketua HONG HWA HWE itu.
Tan Keh Lok balas pernyataah orang dengan merangkap ke tangannya selaku menghaturkan terima kasih.
Tapi baru saja Bun Tiong keluar dari ruangan itu, tiba Thian Hong berteriak dengan suara mengagetkan .
"Haja, Celaka! Han toako, aku terlalu sembrono sekali. Tadi telah keliru mengambil arak yang ditaruhi raCun !"
Semua orang juga ikut terkejut. Lebih Han Bun Tiong seketika itu tampak puCat wajahnya, lalu balik kedalam ruangan.
"Sungguh aku berdosa. Arak itu memang ditaruhi raCun, sedianya untuk merendam piauw. Tadi orang-orang itu telah keliru memberikan kepadaku. Baru tahu setelah kuCium, tapi Han toako sudah menghabiskan seCawan. Wah, Celaka! Lekas ambilkan obat pemunah raCun!"
Demikian kata Thian Hong dengan gugup.
"Obat itu berada dimarkas kita yang terletak disebelah timur kota", sahut seorang Cengteng.
"Tolol, lekas naik kuda kesana!"
Bentak Thian Hong.
"Siaote ini memang orang gelo, seharusnya menerima hu kuman. Sekarang silahkan Han-toako antar surat itu dulu. Kalau kesemuanya berjalan lancar menurut petunyuk dari dari sdr. Ciok, begitu kembali dan minum obat pemunah itu tentu akan sembuh", kata pula Thian Hong kepada Bun Tiong. Kini baru tahulah Bun Tiong, bahwa orang sengaja akan menekannya secara halus, agar dia kerjakan sungguh-sungguh perintah itu. Kalau sampai dia tak memenuhi pemerintaan mereka, tentu habislah sudah jiwanya. Dia awasi Thian Hong dengan sorot mata kebenCian, tanpa berkata apa-apa terus pergi, di kuti oleh Ciok Siang Ing. Begitu ke orang itu sudah berlalu, maka bertanyalah Ciu Tiong Ing,.
"Kulihat orang she Han itu juga tidak terlalu jahat. Thian Hong, perbuatanmu kali ini, ku rasa tidak pantas !"
"Harap gi-hu jangan kuatir, arak tidak ada raCunnya apa-apa."
Kata Thian Hong tertawa.
"Tidak beraCun?"
Tegas Tiong Ing dengan melengak.
"Ja,"
Jawab Thian Hong, lalu menuang arak itu kedalam Cawan terus diminumnya sendiri.
"Aku kuatirkan dia nanti bikin kapiran urusan itu, maka perlu digertak sedikit. Nanti kasih lagi dia minum seCawan sebagai obat pemunah, bu kankah dia akan menjadi baik?"
Semua orang HONG HWA HWE tertawa geli mendengar Cerita itu.
Kini kita tengok Thio Ciauw Cong, yang setelah menerima jawaban dari Tan Keh Lok untuk mengadakan pi-bu dibukit Pak ko-nia, kegusarannya agak reda.
Karena beberapa kali dia pernah tempur ketua HONG HWA HWE itu, rasanya akan dapatlah dia menimpahkan penasarannya.
Dia jakin tentu dapat menundukkan lawannya.
Waktu itu ia sedang duduk disebelah kamar tutupan Bun Thay Lay.
Tiba pintu ter buka, dan masuklah seorang pengawal yang memberitahukan bahwa ada seorang tetamu yang ingin bertemu padanya.
Berbareng itu, pengawal tersebut.
menyerahkan surat dari tetamu itu yang ternyata bertuliskan nama dari "Wi-Tin-Ho-Siok Ong Hwi Yang".
Melihat itu, Ciauw Cong agak mendongkol, karena belum pernah menurut kelaziman, surat kunyungan itu sampulnya ditulis nama julukan sipengunyung sendiri.
"Bilanglah pada tetamu itu, aku sedang ada urusan penting tak dapat menemuinya. Suruh dia tinggalkan alamat, biar lain hari kudatangi", kata Ciauw Cong kepada pengawal itu. Tapi belum berapa saat pengawal itu berlalu, dia sudah kembali lagi dan melapor.
"Tamu itu tak mau berlalu, ini suratnya". MembaCa isi surat itu, Ciauw Cong gusar dan heran. Ia merasa tak pernah ada ganyelan apa-apa dengan Ong Hwi Yang, mengapa akan diajak pi-bu? "Katgkan pada Li Ciangkun, aku akan menemui tetamu, minta dia kirim orang mewakili jaga disini", kata Ciauw Cong pada serdadu pengawal itu. Tak lama datang 4 orang siwi, dan barulah Ciauw Cong keluar keruangan tetamu. Dikenalnya salah seorang tamunya itu adalah Han Bun Tiong, maka di tegornya .
"Apakah Ong Cong-piauw-tauw tidak datang?"
"Thio taijin, maaf, taiar ku perkenalkan ini Ciok piauwsu dari Tin Wan piawkiok. Ong Cong-piauwtauw ada beberapa omongan yang akan disampaikan oleh Ciok piauwsu ini", balas Bun Tiong. Ciauw Cong lemparkan surat Hwi Yang diatas meja, serunya.
"Kesohoran nama Ong Cong-piauwtauw memang sudah lama kudengar. Tapi selama ini aku belum pernah berhubungan dengan dia, masa aku dikatakan 'keliwat meng hina orang'. Tentu didalamnya terselip salah faham. Harap kalian ber beri penyelasan."
Ciok Siang Ing ketawa dingin, kemudian baru menyawab.
"Ong Cong-piauwtauw adalah ketua dari kaum. persilatan. Kalau dikalangan itu munCul bangsa bebodoran, baik ada atau tidak hubungannya, dia tentu tak mau berpeluk tangan. Kalau tidak demikian, masakah dia berani memakai gelaran 'Wi Tin Ho Siok'?"
Thio Ciauw Cong gebrak meja karena gusarnya.
"Jadi Ong Hwi Yang sebut aku ini bebodoran dalam kalangan persilatan?"
Teriaknya sengit. Ciok Siang Ing dongakkan mukanya yang penuh dengan bintik bekas luka itu, tanpa menyawab apa-apa. Ciauw Cong makin berkobar hatinya.
"Dalam soal apa aku pernah menodai nama sahabat bulim, Coba terangkan!"
Bentaknya kemudian.
"Ada beberapa hal yang Ong Cong-piauwtauw inginkan penyelasan Thio taijin,"
Siang Ing balas bertanya.
"Per tama, kita belajar silat ini, baik dari Cabang dan golongan apa saja, pantang menghina orang yang lebih tua. Thio taijin adalah seorang ahli dari Bu Tongj Pai, tapi konon kabarnya, selain tak akur dengan suhengnya juga kemaruk pangkat hendak menangkap dan menyerahkan suheng itu pada pemerintah. Apakah kiranya hal itu benar?"
"Urusan kami antara suheng dan sute, orang luar tak berhak Campur tangan!"
Sahut Ciauw Cong gusar.
"Yang ke, pergaulan dalam kalangan persilatan, baik golongan Pek To maupun Hek To ataupun yang bekerja pada pemerintah, semuanya menyunyung kepercayaan dan kebejikan. Taijin tidak berrausuhan dengan kaum HONG HWA HWE, tapi karena ingin naik pangkat temaha harta, lalu menang kap Bun Thay Lay dan menipu putera Thiat-tan Ciu Tiong Ing, sehingga anak itu menerima hukuman mati, apakah hal itu wajar?"
"Aku jalankan tugas sebagai pembesar negeri, peduli apa dengan kau orang dari Tin Wan piauwkiok?"
Ciauw Cong berseru murka.
"Dan taijin hanya agulkan kelihaian sendiri, sehingga tak pandang mata pada lain orang. Coba ingats, selama ber-tahun tinggal di Pakkhia itu, taijin, pernah menolong sahabat kangouw yang mana? Kau hanya pandai menCela kai orang, dengan gunakan siasat 'kim-sian-toat-kak', kau menCelakai orang-orang piauwkiok dan Go Kok Tong, sehingga beberapa kawan kami banyak-banyak yang menjadi korban !"
Soal Giam Se Ciang, Te Ing Bing dan lain-lain piauwsu dari Tin Wan piauwkiok yang telah terbunuh dan soal terlukanya Chi Ceng Lun itu, diketahui juga oleh Han Bun Tiong, maka tak dapat menahan perasaannya lagi ia ikut berkata.
"Ja, dalam urusan itu Thio taijin memang bersalah, maka tak heran kalau Ong Congpiauwtauw jadi marahs."
"Lain-lain hal tak kita tanyakan, hanya bagaimanakah dengan ke tiga soal itu", tanya Siang Ing. Orang ini mempunyai ju lukan 'Kwi-kian-Chiu' atau setan ketakutan melihatnya, dan menyabat sebagai algojo dari HONG HWA HWE Waktu itu memang sikapnya keren sekali. Dihujani pertanyaan seakan-akan seorang terdakwa, Ciauw Cong habis kesabarannya, ia maju kemuka selengkah, dan membentak.
"Binatang, kau sudah bosan hidup? Berani me nepuk lalat dimulut harimau !"
Pada saat orang akan bergerak menyerang. Siang Ing Cepat-cepat berbangkit dari tempat duduknya dan mundur selang-kah, serunya segera .
"Apa? Wi Tin Ho Siok ajak kau pi-bu, kau jeri bukan? Sebaliknya mau ajak berkelahi aku?"
"Siapa bilang aku takut! Aku terima tan tangan pi-bu di Pak-kao-nia nanti siang, jangan dipanggil laki kalau aku jeri!"
Sahut Ciauw Cong murka.
"Kalau kau tidak bersedia datang, selanyutnya jangan berCokol dikalangan bu-lim lagi. Pesan Ong Cong-piauwtauw, jika kau ada keberanian, harus datang seorahg diri, karena fihak Cong-piauwtauw pun tak membawa kawan. Kalau kau kerahkan tentara negeri, maaf, kita tak mau melajani!"
Kata Siang Ing.
"Ong Hwi Yang hanya mempunyai nam'a kosong, mengapa harus kujerihkan dan membawa balabantuan?"
Ciauw Cong mulai sengit.
"Ong Cong-piauwtauw orangnya sih tak pandai bicara. Pertemuan nanti hanya semataa mengadu ketangkasan sen jata, bukan adu lidah. Maka kalau kau mau memakinya, lebih baik me-maki-maki saja, sekarang se-puasnya,"
Kata Siang Ing. Ciauw Cong tidak pandai bicara. Dikili sampai habis-habisan itu, dia kesima saja tak dapat mengucap apa-apa.
"Nah, sampai sekean dulu, kita akan minta diri supaya kau dapat kesempatan untuk berlatih dan mengatur pesan terachir seperlunya!"
Kata.
Siang Ing pula.
Rasanya mau meledaklah dada Ciauw Cong, saking tak tahannya, seCepat-cepat kilat tangan diajun kemuka orang.
Siang Ing Coba berusaha untuk berkelit kesamping, tetapi sudah terlambat.
Pundaknya kiri bagaikan dihantam dengan palu godam.
Seketika itu ia terhujung sampai beberapa langkah.
Ciauw Cong sudah ketelanyur mengumbar napsu.
Begitu pukulan pertama berhasil, pukulan ke segera menyusul.
Kali ini ditujukan kearah dada lawan..
Siang Ing gunakan gerakan "lan-jiok-wi"
Burung gereja pentang sajap, salah satu jurus dari ilmu silat Thay Kek Pai.
Pukulan Ciauw Cong itu dapat ditangkis.
Nampak berhadapan dengan se orang achli lwekang, Ciauw Cong terkesiap.
Saat itulah telah digunakan oleh Siang Ing untuk melesat mundur.
"Bagus, hm, kalau kau jerih bertemu dengan Ong Cong-piauwtauw, baiklah, kitapun boleh adu kekuatan sendiri,"
Seru Siang Ing dengan bersiap.
"Apanya yang kujerihkan? Bilanglah pada Ong Hwi Yang, nanti aku tentu datang!"
Sahut Ciauw Cong tak mau kalah.
Siang Ing unyuk ketawa dingin, ia memutar tubuh terus berlalu.
Apa yang telah terjadi itu diketahui jelas oleh Han Bun Tiong.
Tapi apa yang dipikirkan oleh orang she Han itu, hanyalah keierangan Thian Hong bahwa dirinya terminum raCun itu.
TerCengkeram oleh rasa takut itu, keringat menguCur deras membasahi tubuhnya.
Dia tak sabaran menunggu Siang Ing adu lidah tadi.
Sehingga ketika diajak bicara oleh Siang Ing tentang Ciauw Cong, dia tak mau menyawab apa-apa.
Sikapnya seperti orang yang sakit perut.
Dan begitu tiba dirumah, dia terus lemparkan diri kekursi.
"Inilah obat pemunahnya, harap Han toako lekas minum,"
Kata Thian Hong seraja menuang arak. Ter-gegap orang she Han itu menyang gapinya, tapi tiba Tiong Ing menyawutnya terus diminum habis. Bun Tiong terlongong-longong, tetapi Tiong Ing tertawa.
"Ini keterlaluan, Han toako, sebenarnya kau tidak minum raCun. Dia hanya ber-main-main dengan kau. Thian Hong, Ayo lekas haturkan maaf pada Han toako!"
Kata Tiong Ing kemudian.
Dengan tertawa Thian Hong maju untuk menyura dan menghaturkan maaf pada Bun Tiong, dan menyelaskan se babnya.
Han Bun Tiong tampak kurang senang, tapi dia tak mendendam apa-apa.
Hal itu mengunyukkan bagaimana ke jujuran hati Ciu Tiong Ing.
Karena dia mengetahui bahwa dengan perbuatan itu, orang tentu akan dendam sakit hati"
Pada Thian Hong. Kalau sang mertua tidak lekas-lekas bertindak, mungkin nanti dibelakang hari timbul hal yang menyusahkan pada Thian Hong. Dalam pada itu Kian Hiong disuruh menemui Ong Hwi Yang pula.
"Thio taijin menerima baik tantangan Ong locianpwe, sebaiknya locianpwe lekas pergi sekarang juga. Tetapi Thio taijin tak inginkan lain-lain orang ikut serta. Kalau loenghiong ada pesanan apa-apa, silahkan katakan sekarang. Agar setibanya di Pak-ko-nia nanti terus dapat dilakukan pertempuran. Segala pembicaraan apa saja. Thio taijin tak mau gubris. Kalau sekiranya loenghiong jerih dan sesalkan suratnya tadi, supaya sekarang juga menyatakannya agar tidak teriambat."
"Baiklah memang aku sudah bosan dengan jiwaku yang lojo ini!"
Seru Hwi Yang sembari loncat bangun, terus bertindak keluar.
Atas isjarat Kian Hiong, seorang Cengteng segera mem-berikan senjata pat-kwa-to dan kantong piauw pada jago tua itu.
Dimuka pintu, bertemulah Ong Hwi Yang itu dengan Han Bun Tiong.
"Harap Ong Cong-piauwtauw berlaku hati-hati,"
Kata Bun Tiong.
"Kaupun tahu perkaranya?"
Tanya Hwi Yang.
"Akulah yang ikut menemui Thio taijin,"
Sahut Bun Tiong dengan anggukkan kepala.
"Dia katakan aku apa?"
"Jangan percaya dengan keteranganku ini,"
Kata Bun Tiong.
"Tak apa, kau katakanlah."
"Dia maki kau situa gila, yang tak punya gawe apa-apa!"
"Hm! Apa benar tak punya gawe, biarlah nanti boleh dia Cobas. Kalau sampai terjadi apas dengan diriku, Han laote.
"Ah, aku percaya akan kepandaian Ong Cong-piauwtauw, tentu orang she Thio itu takkan dapat berbuat apa-apa padamu. Kupujikan keselamatan untuk Ong Cong-piauwtauw."
Ong Hwi Yang terus ajak Cengteng penunyuk jalan untuk berangkat ke bukit Pak-ko-nia.
Pada bukit itu, ter dapat sebuah lapangan datar yang dikelilingi oleh puhun yang besar.
Ketika sampai dipunCak bukit, ada seorang yang bertubuh kekar dan berpakaian ringkas menghampirinya dan menegor.
"Adakah kau ini Ong Hwi Yang?"
Ditegur begitu, Hwi Yang gusar.
Tapi dia itu seorang yang sudah berusia hampir tujuh0 tahun, jadi darah panasnya pun berkurang.
Apalagi dia tahu bahwa Ciauw Cong adalah seorang pembesar negeri, sedikitnya orang harus taruh perindahan.
Maka sahutnya .
"Benar, memang aku yang rendah ini adalah Ong Hwi Yang. Apakah kau ini Hwe-Chiu Poan-koan Thio taijin?"
"Ja, dan kita akan adu dengan tangan kosong atau pakai senjata?"
Jawab orang itu.
Mendengar jawaban orang yang tegas dan dingin itu, diam-diam Ong Hwi Yang heran, sedangnya dia tak mempunyai permusuhan hebat .dejigan orang itu, mengapa orang begitu menghinanya sekali, sedikitpun tak berlaku sungkan.
Tapi sebaliknya dia berpikir untuk jangan menimbulkan permusuhan yang mendalam, lebih baik Cobas dengan tangan kosong saja, agar orang she Thio itu sadar kalau dia bukan situa yang tak punya gawe.
"Aku siorang tua ini, hendak, mohon pengajaran Thio taijin punya ilmu silat Bu-kek Hian-kang-kun yang kesohor itu,"
Katanya lalu.
"Baik,"
Sahut Ciauw Cong dengan rangkapkan ke tangan.
Meskipun adat Ciauw Cong itu keliwat tinggi, tapi dia seorang achli lwekang dari Bu Tong Pai yang memiliki pe lajaran ilmu silat berdasarkan ketenangan.
Jadi waktu itu mengambil sikap menunggu serangan orang.
Ong Hwi Yang insyap bahwa orang tak mau mendahului menyerang, maka serunya.
"Maaf!"
Mulut mengucap, tangan kiri mendahului mengibas keluar dan dengan gerakan "yu-gong-tam-jiau"
Atau melayang di udara sambil mengulur Cakar, tangan kanannya menebas pundak kanan Ciauw Cong. Menyusul tangan kirinya tadi dibalikkan keatas dengan gerakan "beng-hou-hok-Ceng"
Atau macan buas menerkam mangsa, ia hantam pundak kanan lawan.
Tapi itu masih belum habis, karena tangannya kanan tadi sekonyong-konyong berubah gerakan untuk menyotos kedada.
Jadi sekaligus orang tua itu sudah menyerang dengan tiga gerakan susul menyusul dengan sebat sekali.
Untuk memunahkannya, Ciauw Cong terpaksa mundur sampai tiga tindak.
Ia gunakai pokoka ketenangan dari ilmu silat Bu Kek Hian Kang untuk menolaknya.
Tampak pada saat itu, ke jago itu se-olah berubah menjadi sebuah bayangan saja.
Dalam hati masing-masing, tidak lepas perasaan saling mengagumi.
Pikir Ciauw Cong.
"Tiga jurus gerakannya tadi luar biasa sebat dan berbahajanya. Dia ternyata bukan sembarang jago."
Sebaliknya Ong Hwi Yangpun berkata dalam hatinya sen diri.
"Dia dapat menolak ketiga seranganku tadi dengan tenang dan tepat. Kiranya kesohoran HweChiu Poan Koan itu memang bukan omong kosong."
Kini mereka tak berani memandang rendah lawannya.
Mereka berkelahi dengan sungguh-sungguh.
Dalam lain perputaran, Ciauw Cong tampak bungkukkan tubuh, maju selangkah terus menyapu kakinya kiri.
Sembari loncat keatas, sepasang tinyu Hwi Yang menyotos muka lawannya.
Tapi dalam menyapukan kaki tadi, Ciauw Cong sudah siap dengan buah tipu.
"diatas udara memanah elang"
Dan "diatas puhun menangkap orang hutan."
Maka ketika jotosan Hwi Yang tiba, dia siang sudah siap untuk meng halaunya.
Ke jago itu telah keluarkan kepandaian masinga.
Dan nyata kekuatan mereka berimbang.
Dalam sejurus saja, mereka sudah bertempur tiga-empatpuluh jurus.
Ketika itu matahari tengah memanCarkan sinarnya yang terik.
Di lapangan pertempuran itu hanya tampak sosok bayangan yang se-olah me-nari.
Tampak bahwa sampai sebegitu jauh belum dapat me nundukkan lawan, insyaplah Hwi Yang bahwa dirinya sudah tua, sedang lawannya masih bertenaga kuat.
Kalau pertempuran itu ber-larut sampai lama tentu akan habislah tenaganya.
Memikir sampai disitu, dia berkeputusan untuk merobah Cara berkelahinya.
Sekonyong-konyong gerakannya berobah, dari gerak merangsang menjadi bertahan dengan rapat.
Ke tangannya tak ter pisah dari dadanya, seakan-akan merupakan perisai yang me nempel untuk melindungi diri.
Kiranya dia ber-gerak-gerak dengan ilmu silat menurut gambar pat-kwa.
Dengan gunakan tangannya kiri untuk menangkis serangan, tangannya kanan dia tempelkan pada lengan kiri.
Bagaikan bayangan, jago tua itu ber-putar melingkari lawannya.
Itulah kepandaian simpanan dari 'Wi Tin Ho Siok' yang paling di andalkan.
Ilmu silat itu disebut "yu-sin-pat-kwa-Ciang."
Dalam gerakan ilmu silat yang luar biasa itu, kaki selalu ber-putar tak hentinya.
Melingkar kekiri, melejit kekanan sehingga musuh akan menjadi kebingungan, memudarkan * penglihatan lawan akan kemudian bila sudah ada kesempa tan akan memberi serangan.
Kelihatannya saja berada disebelah muka, tapi begitu musuh mcnyerang, tahu-tahu dia sudah berada dibelakang.
Kalau musuh berputar kebelakang, dia akan melejit lagi kebelakangnya.
Begitulah dengan Cara itu, bagaimanapun tingginya ke-pandaian musuh tentu akan berkunang matanya.
Tapi sebaliknya kalau lawan berhenti tak bergerak, dia tentu teranCam bahaja akan dihantam punggungnya.
Tapi Ciauw Cong bukan jago piCisan.
Diapun kenal akan ilmu silat itu.
Berbareng dengan gerakan lawan untuk melejit kebelakang, seCepat-cepat itu pula dia membalik badan terus menyotos muka orang.
Tapi belum lagi samberan pukulan Ciauw Cong tiba, tak kalah Cepat-cepat nya, Hwi Yang melejit lagi.
Ciauw Cong tahu bahwa pada saat itu lawan sudah menginyak lingkaran "kiu-kiong-pat-kwa,"
Sesudah itu tentu akan melangkah kelingkaran "kan-kiong."
Karena itu, dia mendahului bergerak maju kelingkaran "kian-wi."
Demikian lah kenya ber-putar lagi sampai tujuh atau delapan kali, tapi masih belum ada kesudahannya.
"Yu-sin-pat-kwa-Ciang"
Telah dijakinkan Ong Hwi Yang selama berpuluh tahun.
Karenanya latihannyapun telah men Capai kesempurnaan.
Makin lama gerakannya makin Cepat-cepat .
Begitu rupa gerakan kaki dan tangannya, sehingga nampaknya seperti dapat bergerak sendiri (otomatis).
Siasat Ciauw Cong adalah menghalau serangan.
Bermula siasat itu telah menempatkan dirinya dalam kedudukan yang berimbang dengan lawan.
Tapi lama kelamaan, dia merasa tak dapat mengimbangi keCepat-cepat an musuh yang masih luar biasa gesitnya itu.
Diam-diam dia kuatir, jika terus menerus begitu, tentu akan dikalahkan lawannya.
Cepat-cepat diapun me robah Cara berkelahinya.
Dia diam tak bergerak, hanya tetap tenang waspada untuk menanti serangan musuh.
Perobahan sikap dari Ciauw Cong itu mengherankan Hwi Yang, siapa terus melejit lagi kebelakang musuh dan dari situ, dengan gerakan "kim-liong-tham-Cao" (naga mas julurkan Cakar), menghantam punggung lawannya.
Tapi begitu serangan itu hampir mengenai, seCepat-cepat kilat Ciauw Cong memutar tubuh seraja mengulurkan tangannya kiri untuk menCengkeram pergelangan tangan lawan.
Cepat-cepat Hwi Yang tarik pulang tangannya.
"Dia sungguh-sungguh memiliki kesempurnaan ilmu Iwekang. Ka rena tanpa melihat, ia dapat gerakkan tangannya untuk menangkis seranganku tadi,"
Demikian diam-diam Hwi Yang memuji kepandaian lawannya.
Kiranya Ciauw Cong Cukup menginsyapi, kalau mengikuti lejat-lejit lawan, dia tentu dirugikan.
Sebaliknya orang she Ong itu sudah putih jenggotnya, jadi tentu kalah dengan dia dalam hal tenaga.
SeCepat-cepat menimbang kekuatan musuh, seCepat-cepat itu pula dia gunakan "pi-bok-hoan-Ciang,"
Ilmu silat dengan mata tertutup mengembalikan serangan musuh. Dengan ilmu itu ia akan mengimbangi "yu-sin-pat-kwa-Ciang"
Lawan sampai habis. Sewaktu berlatih "pi-bok-hoan-Ciang,"
Mata ditutup dengan saputangan.
Satunya alat panCa indera yang digunakan jalah pemusatan telinga dan perhatian akan arah serangan lawan.
Ilmu silat ini hanya mengutamakan penyagaan tak boleh menyerang.
Gerakannya dibatasi sekecil mungkin.
Tapi tangkas sekali, hingga apabila sedikit saja lawan berajal, tentu akan kena diCengkeram dan dipelintir putus tulangnya.
Ilmu silat itu sebenarnya CoCok digunakan dalam pertem puran malam hari, atau apabila menghadapi musuh tangguh didalam goa atau ruangan yang sempit gelap.
Meskipun tidak diperuntukkan menyerang tubuh orang, tapi ilmu itu penuh dengan perobahan yang tak terduga.
Terutama kalau untuk merebut senjata lawan, ilmu silat itu paling sesuai sekali.
Demikian keadaan ke achli silat yang tengah mengadu kepandaian itu.
Yang satu melejat-lejit dengan gesit, yang lainnya tetap diam seperti patung.
Dalam sekejab saja, mereka sudah bertempur berpuluh jurus lagi.
Saat itu Ong Hwi Yang mulai gelisah, dia ingin sekali agar pertempuran itu lekas selesai.
Tiba ia melejit lagi kebelakang lawan, ia susul menyusul menghantam punggung orang dengan tangan kanan dan kiri.
Tapi sebenarnya, ke serangan itu hanya tipu belaka.
Ketika Ciauw Cong kembali akan menerkam pergelangan tangannya, Ong Hwi Yang lancarkan lagi serangan tangannya kiri.
Ia jakiri musuh tentu tak nanti bisa mem punyai mata dipunggungnya.
Berbareng itu, tangannya kanan menebas pundak orang.
Sebuah serangan yang luar biasa Hhaynya.
Perhatian Ciauw Cong ditumpahkan pada 4 buah serangan lawan tadi atau tiba samberan pukulan menuju kearah pundaknya.
Bukan main rasa terkejutnya.
Karena untuk berkelit, terang sudah tak keburu lagi.
Apa boleh buat dia lancarkan sebuah jurus dari ilmu silat "pi-bok-hoan-Ciang"
Itu. Tangan kanan diCuCukkan pada tangan lawan, sedang tangannya kiri tetap menganCam akan mematahkan pergelangan tangan orang. Dalam ilmu "pi-bok-hoan-Ciang,"
Jurus tadi dinamakan "sian-kiam-Can-liong"
Pedang dewa memenggal naga.
Cukup sedikit saja tangan lawan men Cengkeram, tentu pergelangan tangannya akan dipelintir patah.
Ciauw Cong mau adu untung.
Pundak bukan bagian yang membahajakan jiwa, biarlah dihantam musuh.
Tapi dengan dapat memenggal lengan musuh, sekali pelintir tentu musuh akan kehilangan anggauta badan yang berguna itu.
Demikianlah segera terdengar suara hantaman tangan Ong Hwi Yang pada pundak lawan.
Tapi ketika ia girang dengan hasil itu, tiba lehgannya telah diCengkeram orang dan ber bareng itu tangan kiri lawan sudah menganCam lambungnya.
Insyaplah jago tua itu, bahwa ia teranCam bahaja maut.
Ia harus bertindak dengan Cepat-cepat .
SeCepat-cepat kilat ia berputar diri sembari menghantam kepundak orang.
Dengan begitu, kembali pukulan Ciauw Cong kelambung tadi mengenai tempat kosong, serta tak mendapat hasil apa-apa.
Malah sebaliknya, untuk menghindari pukulan lawan, dia terpaksa harus loncat kebelakang.
Dengan begitu, kalau dinilai, kerugiannya lebih besar atau dalam bahasa persilatan, dia harus mengaku kalah.
Kenya adalah achli ternama dalam kalangan persilatan.
Untuk menetapkan kalah menang, itu saja sudah Cukup.
Maka berkatalah Ciauw Cong.
"Dalam ilmu silat tangan kosong, kau betul lihai. Nah sekarang kita adu ilmu senjata."
Dan dengan ucapan itu, Ciauw Cong sudah menarik 'leng-bik-kiam'nya.
Ong Hwi Yang pun tak banyak-banyak bicara lagi, terus men Cabut golok 'Ci-kim-pat-kwa-to'nya.
Karena berhadapan dekat sekali, tampaklah olehnya bagaimana mulut dan hidung Ciauw Cong itu sama melepuh, sedang mata sebelah kanan terdapat tanda bengkak biru sebesar telur itik.
Heran Hwi Yang dibuatnya, mengapa orang setangguh Ciauw Cong itu bisa.
mendapat hajaran sedemikian rupa.
Kiranya itulah hasil hajaran Tan Keh Lok semalam di rumah penyara, sehingga muka Ciauw Cong babak belur.
Dan dikarenakan hal itu, kemungkinan gerakan orang she Thio agak kaku, hingga kembali dia harus menelan keka lahan lagi dari Ong Hwi Yang.
Ciauw Cong akan mengembalikan mukanya dengan ilmu pedangnya.
Serangan leng-bik-kiam ber-tubi, ia lancarkan serangan dengan seru dan hebat sekali.
Tapi 'Wi Tin Ho Siok' tahu juga bahwa pedang Ciauw Cong itu adalah pedang pusaka, jadi tak boleh dilawan dengan kekerasan.
Dan ia pun lalu keluarkan ilmu permainan 'pat-kwa-tonya.
Pertempuran kali itu, lebih menarik dan lebih dahsyat dari tadi.
Tapi sampai beberapa jurus, masih belum diketahui kalah menangnya, Ciauw Cong makin lama makin bersemangat, sedang Ong Hwi Yang hanya dapat berlaku dengan hati-hati sekali.
Dia hanya bertahan dengan gigih, tak mau balas menyerang.
Pada satu saat, pokiam Ciauw Cong sudah hampir dekat dengan 'pat-kwa-to' Ong Hwi Yang.
Kalau sampai berbentur, tentu pat-kwa-to itu akan terpapas kutung.
Karena untuk menariknya sudah tak keburu lagi, maka Ong Hwi Yang Cepat-cepat julurkan buah jari tangannya kiri untuk me nusuk muka lawan.
Ciauw Cong tak gentar, ia melengkan kepala dan teruskan babatannya.
Dan pada lain saat, ujung golok 'pat-kwa-to' itu tampak terpapas kutung.
"Pedang yang lihai!"
Memuji Hwi Yang sembari loncat keluar.
"Kali ini kau yang menang. Apakah Thio taijin masih akan melanyutkan bertempur lagi?"
Dengan itu sebenarnya, Ong Hwi Yang akan menutup pertempuran, supaya masing-masing tidak sampai kehilangan muka. Tapi maksud baik itu, dirusakkan karena dia mengucap "pedang yang lihai"
Tadi. Ciauw Cong anggap orang katakan ia menang karena mengandalkan pokiamnya, bukan karena kepandaiannya. Maka ia mendongkol sekali.
"Belum ada yang kalah dan menang, urusan masih belum selesai!"
Sahutnya segera.
Dan tangan mengibas, pedang langsung menusuk lagi.
Kenya, kembali bertempur sampai tujuhdelapan puluh jurus.
Ber-ketes peluh membasahi kepala Ong Hwi Yang.
Mak lum ia sudah tua.
Kalau berlangsung lama, tentu Celaka.
Ini di nsyapinya.
Karenanya, diam-diam ia merogoh senjata rasia kim-piauwnya.
Ketika ia memindahkan golok ketangan kiri, berserulah ia.
"Lihat piauw!"
Dan berbareng, permainannya golokpun berobah, yaitu dengan permainan tangan kiri. Menyusul, tiga batang piauw beruntun-runtun menyambar. Itulah yang dinamakan "golok menyerang, piauw melayang ."
Juga salah sebuah kepandaian istimewa dari 'Wi.
Tin Ho Siok'.
Perlu diterahgkan, bahwa permainan golok tangan kiri itu adalah kebalikannya dari tangan kanan.
Sangat menyukarkan lawan untuk menangkisnya.
Ditambah pula dengan tawuran piauw yang sangat berbahaja.
Bisa berkelit dari piauw, sukar terhindar dari golok.
Kalau bisa meluputkan serangan golok, juga tak gampang menghindari tawuran piauw.
Begitulah Wi Tin Ho Siok membabat kekanan, dalam pada itu, dia sa bitkan piauwnya kearah kiri.
Tapi Hwe-Chiu Poan-koan memang lihai.
Megos kekanan untuk mengelit serangan golok, berbareng tangan mengulur untuk menyemput piauw dikiri.
Ong Hwi Yang mengulangi lagi sebuah tabasan.
Begitu Ciauw Cong tundukkan kepala untuk mengelit, Cepat-cepat ia sudah melayang kan piauwnya kebawah.
Untuk itu, Hwe-Chiu Poan Koan burus timpukkan piauwnya yang ditangkapnya tadi untuk menghantam piauw yang datang itu.
buah piauw, tepat saling berbenturan, dan mengeluar kan bunga api, terus jatuh ketanah.
Kembali Ong Hwi Yang CeCer serangan terlebih gencar.
Goloknya bagaikan kilat me-nyambar, turun naik kekanan kiri.
Sedang tawuran piauwnya, deras bagaikan hujan.
Dalam sekejab saja, 1 batang piauw telah diobral, namun belum dapat memberi hasil apa-apa.
Waktu itu piauwnya hanya tinggal tiga batang lagi.
Kakinya kiri melangkah setindak.
Dengan pendekkan tubuh dia membabat kebawah, dan berbareng tangan kanannya mengibas.
Melihat musuh sudah menghamburkan 1 batang piauw, tahulah Ciauw Cong bahwa lawannya kali ini tentu menge luarkan serangan istimewa.
Dan nyata, timpukkannya piauw lebih santer dari yang lalu.
Untuk menghindari kesemuanya itu, ia harus pasang mata betul-betul.
Karenanya, ia tak sempat mengeluarkan jarum 'hu-yong-Ciam' untuk membalasnya, Dia Cepat-cepat berputar diri dan mengawasi tajam.
akan gerakan tangan kanan dari lawannya.
Tapi ternyata gerakan Wi Tin Ho Siok tadi adalah gerak tipu belaka.
Karenanya, Ciauw Cong hanya menangkap angin.
Selagi begitu, Ong Hwi Yang sudah menginyak ke jalan "tin-Wi."
Dari situ ia menyerang dengan tipu "lat-bi-Hoa-san,"
Dengan sekuat tenaga menghantam gunung Hoa-san.
Ciauw Cong tak mau menangkis serangan yang dahsyat itu, ia melejit selangkah, sembari sabetkan 'leng-bik-kiam'-nya kearah pinggang orang.
Ong Hwi Yang Cepat-cepat tarik goloknya untuk menangkis.
Trangng.......
tahu-tahu pat-kwa-to sudah terpapas kutung menjadi.
Ong Hwi Yang menggerung, dengan sekuat-kuatnya kutungan golok yang berada ditangannya ditimpukkan kepada Ciauw Cong.
Ciauw Cong Buru-buru tundukkan kepala untuk meng hindar, tapi 'Wi Tin Ho Siok, sudah menyusuli dengan tiga batang piauw pula.
"Aduh! .........."
Ciauw Cong menyerit roboh kebelakang.
'Leng-bik-kiam'nya jatuh ketanah pula.
Kiranya tadi Ong Hwi Yang memang sengaja menipu agar lawan berputar kearah timur, jadi dengan begitu orang akan silau matanya tertuju sinar matahari.
Juga ia sengaja benturkan goloknya dengan 'leng-bik-kiam', walaupun untuk itu ia sudah tahu tentu akan kutung.
Tapi dengan itu, musuh tentu akan mabuk kemenangan dan menjadi lengah.
Inilah saat yang di-nantikannya.
Untuk tiga batang piauw yang penghabisan, musuh tentu tak dapat menghindar.
Ini ia me rasa jakin.
Dan tak salahlah dugaannya itu, karena kini Hwe-Chiu Poan-koan sudah roboh.
"Bagian mana yang kena piauw? Ini aku membawa obat,"
Seru Ong Hwi Yang kemudian.
Tapi sampai sekean saat, Hwe-Chiu Poan-koan tetap tak berkutik dan membisu.
Diam-diam Ong Hwi Yang terkejut ke takutan.
Sebenarnya ia tak bermaksud untuk menimpuk bagian yang berbahaja.
Tapi siapa tahu kini orang itu telah tewas.
Orang adalah seorang pembesar negeri yang sedang bertugas, sedang ia sendiri punya keluarga dan perusahaan.
Itulah hebat akibatnya.
Buru-buru ia menghampiri sembari mem bungkukkan badan untuk memeriksanya.
Siapa duga baru saja ia menyenguk kebawah, tiba Ciauw Cong menggerung keras dan hujan sinar berkelebat seperti kilat.
"Celaka!"
Seru Ong Hwi Yang sambil buang tubuhnya kebelakang dalam gerak "thiat-pan-kio" (jembatan besi gantung).
Tapi walaupun begitu, masih kalah sebat.
Dada dan pundaknya sebelah kiri terasa seperti ditusuk jarum rasanya.
Tahulah ia, kalau dirinya terkena senjata rahasia lawannya.
Nampak orang begitu liCik dan keji, murkalah Ong Hwi Yang.
Dengan menggerung seperti banteng ketaton ia loncat bangun dan terus akan ajak orang mati bersama-sama .
Tapi begitu bergerak, dada dan pundaknya terasa sakit bukan main, hanya sekali ia dapat menggerung, terus roboh lagi.
Ciauw Cong tertawa gelak.
Dia Cabut piauw yang me nyusup pada iganya, lalu merobek pakaian untuk membalutnya.
Setelah itu ia bangun dan berdiri tegak.
"Thio Ciauw Cong, kau manusia liCik! Apakah perbua tanmu itu tidak diketawai orang? Apakah kau ada muka menemui sahabat kangouw lagi?"
Hwi Yang memaki.
Jilid 20
"DISINI hanya kau dan aku ber 2, setan mana yang mengetahuinya? Kau sudah hidup keliwat lama, sebaiknya kau pulang ke rahmattulah! Biarlah lain tahun pada hari ini, adalah ulang tahunmu yang pertama,"
Kata Ciauw Cong dengan bersenyum iblis.
Mendengar itu, tahulah Hwi Yang bahwa orang akan membunuhnya.
Dia makin memaki habis-habisan, Ciauw Cong maju memberi totokan, dan seketika bisulah jago tua itu.
Hanya sepasang matanya tampak ber-api 2, urat 2 diwajahnya kencang bergerak-gerak.
Dia mendendam kemurkaan yang tak dapat dilampiaskan.
Dengan kutungan pat-kwa-to, Ciauw Cong menggali sebuah lubang.
Dengan tangan kiri ditentengnya orang, terus dilempar kedalam liang itu dan serunya.
"Ong Hwi Yang, pulang saja menyusul nenek moyang mu!"
Dengan sebelah kaki, dia menendang tanah.
Maksudnya, akan mengubur hidup-hidupan Ong Hwi Yang.
Tapi baru saja menyepak sekali, sekonyong-konyong dari arah belakang terdengar suara ketawa dingin dan panjang .
Ciauw Cong kaget bu kan kepalang, terus berpaling kebelakang.
Disitu tampak seorang yang memegang semacam senjata aneh tengah berdiri dibawah terik matahari.
Tegas-tegas dilihatnya, orang itu ialah Han Bun Tiong.
"Bagus! Katanya hanya satu lawan satu. Jadi kau orang Tin Wan piauwkiok menyembunyikan bala bantuan. Kau tahu malu apa tidak!"
Seru Ciauw Cong dengan murkanya.
"Kalau, tahu malu tentunya tak sampai berbuat serendah itu!"
Sahut Bun Tiong sambil menujuk liang yang digali Ciauw Cong dimana Ong Hwi Yang menggeletak.
"Baik. Sekarang aku 'Coba minta pengajaran thi-pi-peh-mu itu,"
Kata "Ciauw Cong. Dengan gerak ilmu mengentengi tubuh "pat poh kam sian,"
Ciauw Cong sudah loncat kemuka Bun Tiong, terus menusuknya.
Bun Tiong tak mau memangkis, ia hanya mun dur selangkah.
Dan berbareng itu, tahu-tahu sebatang golok me layang kekaki Ciauw Cong.
Ciauw Cong tegakkan pokiamnya, tapi penyerangnya itu Cepat-cepat sekali sudah menarik pulang goloknya, sebelum ter bentur dengan pokiam.
Ciauw Cong tahu, itulah gerakan ilmu golok "hian-hian-to"
Ilmu permainan seorang ahli Iwe kang. Ketika mengawasi, Cauw Cong dapatkan penyerangnya itu ialah Ciok Siang Ing.
"Kalian ber 2 boleh maju berbareng. Aku Hwe-Hiu Poan-koan tak jeri,"
Demikian Ciauw Cong memaki.
Sambil mengucap begitu, Ciauw Cong terus akan menyerang Siang Ing.
Tapi tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara nyaring.
Sebagai seorang yang tinggi silatnya, tahulah Ciauw Cong apa adanya itu.
Cepat-cepat dia berbalik kebelakang.
Tampak olehnya bahwa dari bawah bukit ada kira-kira sembilan orang mendaki keatas, Yang dimuka sendiri jalah ketua HONG HWA HWE Tan Keh Lok.
Teringat akan kejadian dikamar tahanan Bun Thay Lay, timbul ah kemarahan Ciauw Cong.
Dia gemas akan menun tut balas.
Tapi nampak orang-orang itu berjumlah banyak sekali.
Ciauw Cong gentar juga.
Ia Coba tindas perasaannya dan berlaku gagah.
Tan Keh Lok mengenakan jubah panjang warna biru, tangannya pegang kiras, katanya kepada Han Bun Tiong.
"Han-toako, kau tolongi Ong Congpiauwtauw lebih dulu."
Bun Tiong Cepat-cepat menuju keliang dan mengangkat Ong Hwi Yang.
Ciauw Cong diam saja tak menghalangi.
Keh Lok segera tutuk jalan darah piauwtauw tua itu untuk lepaskan jalan darahnya.
Karena usianya sudah tinggi, maka walaupun sudah tertolong tapi beberapa saat Ong Hwi Yang tak dapat mengucap apa-apa.
"Ong Hwi Yang situa itu tantang aku berkelahhi, kini sudah diketahui siapa yang kalah dan menang. Tan tangkeh, lain hari kita bertemu disini lagi,' kata Ciauw Cong me rangkap tangan, terus berputar akan turun dari bukit.
"Tadi aku berada disamping gunung dan menyaksikan se luruh pertandingan kalian ber 2. Memang betul menga gumkan sekali. Namun sayang sekali, Thio taijin, keme nanganmu itu tidak syah!"
Sahut Keh lok.
"Memang dalam ilmu perang, tidak dilarang untuk meng gunakan siasat. Tadi kita adu kepandaian tenaga dan otak, mengapa tidak boleh?"
Tanya Ciauw Cong. Keh Lok tersenyum. Katanya.
"Pemandangan Thio taijin ternyata luas sekali. Sebenarnya hari ini ingin sekali aku minta pengajaran dari taijin, tetapi karena lambung taijin terluka, maka akupun tak mau mendapat kemurahan. Lukamu tidak sehari-hari dapat sembuh, karenanya lain kali saja kita langsungkan janji itu. Bilang saja, kita tunda tiga bulan lagi bagaimana?"
Ciauw Cong tahu bahwa orang sengaja akan bikin panas hatinya. Sekalipun begitu, dia tetap unyuk adatnya yang tinggi.
"Baiklah, nanti tiga bulan lagi, kita berjumpa disini, demikian sahutnya. Ketika Ciauw Cong akan berlalu, Keh Lok menghampiri dan berkata.
"Kita akan tolongi Bun sucang keh kita, ada kah taijin mengetahuinya?"
"Ya, ada apa?"
Tanya Ciam Cong ketus.
"Borgolannya terbuat dari baja murni, tidak ada senjata yang dapat digunakan untuk memutuskannya, karena itu, aku akan minta pinjam pokiam taijin!"
Kata Keh Lok pula. Ciauw Cong menggereng, lalu katanya lantang.
"Hendak pinjam pedangku? Ha, aku kuatir kau tak mampu me ngambilnya!"
Ia ketahui bahwa oranga HONG HWA HWE itu hanya andalkan jumlah orangnya yang banyak sekali. Jadi mereka sengaja akan menCari perkara padanya. Terang kalau ia tak mudah bisa lolos lagi.
"Kurasa hal itu sukar terjadi!"
Kata Ciauw Cong pula sembari terus mengambil tempat dengan melolos pokiamnya kemuka.
"Tanganmu telah terluka, mungkin tidak baik akibatnya. Biar kusambut seranganmu dengan tangan kosong saja,"
Kata Keh Lok.
"Cong-thocu, tak usah berlaku sungkans padanya. Ini lah kau punya kiam-tun dan rantai mutiara!"
Tibas Lou Ping menyelatuk.
Ia Membuka Pauwhok, dan ambil ke 2 senjata Keh Lok .itu dan diserahkannya.
Tapi Ciauw Cong terlalu licik.
Ketika dilihatnya Keh Lok berpaling untuk bicara pada Lou Ping, ia terus lon Cat pergi beberapa tombak jauhnya, terus enjot tubuh dan lari kebawah bukit.
Tapi tiba-tiba 2 buah 'hui-Cao' (Cakar terbang) menyam bar dari depan.
Yang satu menghantam dada kiri, yang lainnya menyapu paha kanan.
Serangan itu penuh dengan kekuatan.
Ciauw Cong palangkan pedangnya kemuka dada.
Begitu ia dapat menangkis hantaman hui-Cao, ia segera enjot kakinya untuk loncat keatas, meng hindari sapuan hui-Cao yang lain.
Dan ketika kakinya menglnyak tanah lagi, dia terus enjot tubuhnya untuk teruskan maksudnya lari tadi.
Yang menyerang tadi, ialah sepasang jago persaudaran Siang.
Sudah tentu mereka tak gampang dilalui.
Siang He Ci hantamkan 'hui-Cao'nya keperut, dengan pendekkan tubuh Ciauw Cong loncat kekanan.
Tapi disini dia disambut oleh Siang Pek Ci dengan pukulan thiat-soa-Ciang, tangan pasir besi, sebuah ilmu pukulan dari tenaga lwekang yang dahsyat.
Sewaktu dibukit Oh-siao-nia dulu, Ciauw Cong pernah tempur ke 2 saudara Siang itu.
Ia ketahui kelihaian me reka.
Karena itu ia tak mau meladeni.
Begitu enjot kakinya kebelakang, ia terus lari kear.ah selatan.
Ke 2 saudara Siang itu bertugas menjaga jalanan sebelah utara, jadi mereka pun tak mau mengejarnya.
Pada waktu itu, matahari sudah pindah kesebelah selatan, dan kearah situlah Ciauw Cong ajunkan langkah Cepat-cepat.
Tapi baru saja dia sampai dijalanan sebelah bawah gunung, tiba-tiba ada 2 buah 'hui-yan-gin-so', senjata rahasia burung-burungan seriti, menyambar.
Ciauw Cong pernah merasakan lihainya senjata itu, Cepat-cepat ia gulingkan diri ketanah.
Pada lain saat menyambar lagi sebuah benda kecil.
Ciauw Cong hantamkan 'leng-bik-kiam' keatas kepalanya dan kutunglah gin-so itu menjadi 2.
Berbareng itu, dia tak mau lanjutkan menuju ke-selatan.
Dengan gerakan "hong-hong-tian-ih,"
Burung hong pentang sayap, ia putar 'pokiamnya terus lari kesebelah timur.
Sembari kaki berlari, ia lontarkan beberapa senjata rahasia kearah belakang.
Melihat gerakan itu, orang-orang HONG HWA HWE sama mengagumi.
"Orang yang demikian hebat kepandaiannya, sayang tersesat kejalan yang keliru,"
Demikian Keh Lok.
Ciauw Cong menduga bahwa diarah timurpun tentu ada bayhoknya.
Maka sembari berlari kencang , ia selalu pasang mata.
Dan betul ah sangkaannya itu.
Karena tiba-tiba dari sam ping jalan, ada seorang yang loncat keluar menghadang.
Orang itu memegang sebatang 'toato' atau golok besar.
Walaupun rambutnya sudah putih, tapi orangnya masih kelihatan angker dan gagah.
Itulah sijago tua Thiat-tan tg 2 Ciu Tiong Ing.
Ciauw Cong keder hatinya, belum-belum ia sudah berbalik terus lari kesebelah barat.
Tiga arah ia sudah Coba mendatangi, tapi tiga 2nya dijaga keras.
Sampai disitu, ia mulai gelisah.
Kalau orang-orang itu nanti bersatu mengepung, jiwanya pasti terancam.
Karena itu, ia ambil putusan nekat.
Siapapun yang menjaga jurusam barat nanti akan ditobrosnya juga.
Untuk itu, tangan kirinya segera merangkum jarum 'hu-yong-Ciam' dan 'leng-bik-kiam' dipegangnya keras-keras.
Ternyata yang menjaga disebelah barat itu, adalah seorang berlengan satu yang menghunus pedang.
Itulah 'tui-hun tok-beng-kiam' Bu Tim tojin, tojin penCabut jiwa.
Dengan tojin ini, Ciauw Cong pernah bertempur.
Dia tahu, diantara orang-orang HONG HWA HWE tojin itulah yang paling tinggi ke pandaiannya.
Diam-diam Hwe-Hiu Poan-koan mengeluh dalam hati.
Namun ia Cari daya juga untuk lolos.
Tanpa bicara lagi, begitu maju segera ia menyerang dengan gerakan "pek-hong-koan-jit"
Dan "gin-ho-heng-gong,"
Atau pelangi menembus sinar matahari dan sungai perak melintang diudara.
Dia andalkan ketajaman pokiam nya, namun tojin itu tak menangkis dan hanya melejit ke samping.
Dari situ, sebat sekali pedangnya balas menyerang.
Meskipun bagaimana, Ciauw Cong tak mudah lolos.
Ia tangkis serangan orang dan berbareng lontarkan jarum 'hu-yong-Ciam'nya.
Ia sudah memperhitungkan bahwa serangan jarum itu akan sia-sia saja terhadap Bu Tim.
Tapi toh ia mengharap Bu Tim tidak menangkis dengan pedang tapi mundur kebelakang.
Dan dalam keadaan itu, ia akan mendapat kesempatan untuk lolos kebawah.
Selain tojin ini, sekalipun ia menahan luka, tapi ia percaya tentu tak ada lain orang yang sanggup melawannya.
Tapi ternyata Bu Tim dapat menerka maksudnya.
Segera ia gunakan tipu yang berbahaya sekali.
Sekonyong-konyong ia me nyusup kebawah terus menusuk kaki kanan Ciauw Cong.
Gerakan ini adalah tipu istimewa dalam ilmu pedang "tui-hun tok-beng-kiam"
Yang disebut "roh penasaran menggubat kaki."
Istimewa digunakan untuk menyerang kaki lawan.
Ciauw Cong terkejut sekali.
Cepat-cepat ia lintangkan po kiamnya untuk menangkis.
Namun ilmu pedang Bu Tim itu keranjingan sekali.
Tiba-tiba ujung pedangnya ditusukkan ketanah, dan pada saat itu terdengarlah bunyi gemerinCing halus dibelakang tubuhnya.
Itulah beberapa 'hu-yong-Ciam' yang jatuh ketanah.
Mendadak tubuh Bu Tim melambung keatas kepala Ciauw Cong dan berbareng itu pedangnya ditabaskan kebawah.
Ciauw Cong miringkan tubuhnya, lalu dengan gerak "Yay-hong-keng-thian"
Bianglala menjulang kelangit, dia sabetkan pokiamnya keatas.
Tapi Bu Tim lebih Cepat-cepat menarik pedangnya dan melayang jatuh ketanah dan dari situ secepat-cepat kilat ia loncat menyerang lagi.
Saat itu, Bu Tim berada disebelah barat, jadi ia masih dapat menghadang larinya Ciauw Cong.
Ilmu pedang 'tui-hun-to-beng-kiam' dari Bu Tim yang terdiri dari tujuh 2 jurus itu sebagian didapat dari pengajaran suhunya dan sebagian lagi adalah hasil peyakinannya sendiri.
Maka setiap jurus gerakannya ditambahi sendiri dengan beberapa tipu, karenanya luar biasa berbahayanya.
Kalau menghadapi lawan biasa, paling banyak sekali tiga jurus saja sudah selesai.
Yang bisa melayani sampai delapan-sembilan jurus, itu sudah terhitung orang yang silatnya tangguh sekali.
Lebih hebat lagi, pada setiap jurus diberinya nama yang seram.
Karena ia hanya berlengan satu, maka ia tak dapat berbuat seperti lain ahli pedang yang biasanya pakai tangannya yang sebelah lagi untuk bergerak-mengimbangi gerak pedangnya.
Jadi gerakan pedang tojin itu mengutamakan serangan secara lurus.
Dan sebegitu jauh, ia tak pernah mengeluarkan habis ke-tujuh 2 jurus ilmu pedangnya itu.
Pada saat itu Ciauw Cong insyap takkan berhasil menobros lingkaran pedang lawan yang luar biasa gerakannya itu.
Ia ambil putusan untuk bertahan mati-matian, ada serangan terus dihalaunya.
Harapan satu 2nya, jika saja ia sempat meng adukan pokiamnya, pedang musuh pasti dapat dipapas kutung.
Dalam sekejab saja, ke 2nya sudah bertempur tiga em pat puluh jurus.
Walaupun menderita luka berat, tapi Ciauw Cong masih dapat melayani berpuluh jurus serangan dahsyat darinya, maka kagum juga Bu Tim.
Tapi dalam pada itu, iapun tak sabar lagi, pedangnya diputar lebih santer lagi dan berulang-ulang merangsang dengan hebatnya.
Ketika itu baru Ciauw Cong kewalahan betul-betul.
Apalagi luka-lukanya sangat mengganggu.
Beberapa jurus lagi, tiba-tiba Bu Tim membentak keras.
"Lepas pedangmu!"
Dengan gerak "Giam Ong Ceng pit", Raja akherat lempar pena, Bu Tim membarengi tertawa panjang .
Tahu-tahu lengan kanan Ciauw Cong tertusuk pedang, trangng............
leng-bik-kiamnya jatuh ketanah.
Belum habis Ciauw Cong melengak kesima, tahu-tahu Bu Tim mengangkat kakinya pula dan terpental ah Ciauw Cong roboh ketanah.
Bu Tim maju menghampiri.
Namun lihai betul Hwe-Hiu Poan-koan itu Tiba-tiba dia loncat bangun lalu menjotos muka Bu Tim.
Bu Tim terus akan memapas dengan pedangnya, tapi mendadak ia berpikir.
"Kalau kutabas kutung sebelah tangannya, apakah Congthocu tidak akan mengatai aku."
Memikir akan itu, Bu Tim tarik pedangnya.
Tapi justeru kesangsiannya inilah yang merugjkan dia sendiri.
Ciauw Cong laksana banteng terluka, dia kalap betul-betul.
Mengguna kan kesempatan selagi Bu Tim ragus tadi, secepat-cepat kilat Ciauw Cong arahkan pukulannya kelambung kiri lawannya.
Disinilah kelemahan tojin itu.
Karena ia tak punya lengan kiri, jadi dia agak kurang leluasa untuk menjaga serangan dari arah kiri.
Apalagi dia memang kurang mahir dalam ilmu silat tangan kosong.
Maka untuk menghindari pukulan orang, ia hanya dapat miringkan tubuh kesamping.
Benar dengan berbuat begitu, tenaga dahsyat dari pukulan Ciauw Cong itu menjadi berkurang, tapi biar bagaimana dia tetap tak dapat terhindar.
Begitu pukulan mengenai pinggangnya, Bu Tim terhuyung-huyung beberapa tindak kebela kang.
Dan lobang kesempatan itu digunakan sebaik-baik nya oleh Ciauw Cong untuk lolos.
Bu Tim murka sekali, terus mengejarnya.
Ciauw Cong sudah lari kebawah gunung.
Bu Tim karena andalkan keli hayan ilmunya pedang, selama itu tak pernah gunakan senjata rahasia.
Melihat Ciauw Cong sudah hampir lolos, diam-diam dia mengeluh.
Kalau sampai Ciauw Cong bisa merat, pamor HONG HWA HWE tentu jatuh, dan dia sendirilah yang hilang muka.
Maka tanpa hiraukan apa-apa lagi, Bu Tim angkat pedangnya, lalu.
akan gunakan tipu serangan "ngo-kui-tho-Cah"
Atau lima setan melempar lembing.
Dan baru saja, pedang akan meluncur dari tangannya, tiba-tiba dari samping gunung menggelundung seorang, bagai angin cepat-cepat nya, terus menyikap ke 2 kaki Ciauw Cong.
Maka bergumul ah ke 2 orang tersebut jatuh ketanah.
Bu Tim Buru-buru simpan pedangnya, dan ketika mengawasi ternyata yang menyergap Ciauw cong itu adalah Ciang Cin, si Bongkok.
Ciang Bongkok dan Ciauw Cong ban ting 2an dengan serunya.
Pada saat itu Seng Hiap dan Cio Su Kin pun memburunya, terus turut meringkus Ciauw Cong.
Setelah itu, Lou Ping membawa tali dan mengikat ke 2 tangan Ciauw Cong.
Teringat akan peristiwa pe nangkapan suaminya di Thiat-tan-cungdulu itu timbul ah kebencian Lou Ping dan terus akan memukuli Ciauw Cong, tapi keburu diCegah oleh Tan Keh Lok.
"Yangan, suso!"
Baru Lou Ping mau menurut, walaupun ia benci sekali dengan orang itu. Tapi ketika Keh Lok menghampiri, segera Ciauw Cong mendampratnya.
"Kau orang hanya andalkan jumlah banyak sekali. Thio-loya hari ini sudah jatuh kedalam tanganmu, kalau mau bunuh, bunuhlah! Kalau sampai mataku berkedip, jangan sebut aku orang she Thio!"
Sebelum Keh Lok sempat memberi jawaban Ong Hwi Yang sudah menghampirinya lalu memakinya.
"Aku dengan kau, baik dulu maupun sekarang, tidak mempunyai permu suhan apa-apa, tapi karena kau takut aku uwarkan perbuatan mu yang licik, lalu begitu kejam akan mengubur aku hidup-hidup. Hm, Hwe-Hiu Poan-koan, kau memang keterlaluan sekali."
Mendengar itu Ciok Siang Ing, algojo dari HONG HWA HWE unyuk ketawanya yang seram, katanya.
"Dia sudah menggali lobang untuk dirinya sendiri. Nanti kitapun perlakukan dia begitu."
Rombongan orangs HONG HWA HWE sama bersorak setuju. Sekalipun biasanya Ciauw Cong beradat tinggi, tapi begitu membayang kan akan dikubur hidup-hidup, tak urung ia menguCurkan keringat dingin.
"Nah, kau menyerah apa tidak?"
Tanya Keh Lok.
"Kalau kau mengaku kalah dan bersumpah takkan memusuhi kaum HONG HWA HWE maka dengan memandang muka kau punya Liok suheng, kami akan mengampuni jiwamu."
Ciauw Cong murka, jawabnya.
"Kalau mau bunuh bunuhlah, tak usah banyak sekali bicara. Kau orang telah gunakan tipu, mana orang mau mengaku kalah!"
"Baiklah, kau memang seorang lakis yang keras hati. Biar kuantar jiwamu dengan tabasan. pedangku ini, agar kau ter lepas dari dikubur hidup-hidupan,"
Kata Keh Lok sembari menCa but badi 2 pemberian Ceng Tong, lalu berjalan menghampiri kearah Ciauw Cong.
"Apa kau sungguh-sungguh tak takut mati?"
Tanya Keh Lok dengan suara tertahan. Ciauw Cong bersenyum getir.
"Biar hatiku puas!"
Katanya sembari meramkan mata.
Keh Lok segera ajunkan badi 2nya kepada orang.
Tapi, tiba-tiba ia tertawa dan begitu tangannya dibalik ia membabat putus tali pengikat Ciauw Cong.
Hal itu sungguh diluar dugaan, sehingga orang-orang HONG HWA HWE sendiripun sampal melengak dibuatnya.
"Kali ini kita tangkap kau karena gunakan siasat. Meski pun dosamu pantas dihukum mati, tapi kalau sekarang kau kubunuh, kau tentu akan menjadi setan penasaran. Baik, kau pergilah asal saja kau mau merobah kelakkuanmu, kita mungkin akan berjumpa lagi lain hari. Tapi kalau tetap berjalan sesat, kami kaum HONG HWA HWE tak gentar padamu Thio Ciauw Cong seorang. Ingat, kalau sampai kau jatuh keda lam tangan kami untuk ke 2 kalinya, jang 'an kau katakan kami tak kenal kasihan lagi,"
Kata ketua HONG HWA HWE Baru saja Keh Lok habis mengucap, maka Ciang Cin, Lou Ping, Seng Hiap, ke 2 saudara Siang dan lain-lainnya serentak berteriak.
"Cong-thocu, jangan lepaskan dia!"
Tapi Keh Lok memberl isyarat dengan tangannya.
"Suhengnya, Liok Locianpwe telah melepas budi pada kita orang, harus kita balas. HONG HWA HWE kita selalu ingat akan budi dan kejahatan. Kalau hari ini kita lepaskan sutenya, berarti kita telah membalas budinya,"
Demikian dijelaskannya.
Dengan penyelasan ketuanya itu, sekalian orangpun diam tak membantah.
Hanya saja mereka mengawasi Ciauw Cong dengan sorot kemarahan.
Kemudian dengan merangkap ke 2 tangan selaku memberi hormat, berkatalah Ciauw Cong .
"Tan tangkeh sampai disini kuakan minta diri."
Habis berkata, dia terus akan angkat kaki.
"Tahan!"
Tiba-tiba Ciu Ki tampil kemuka. Ciauw Cong merandek, dan mengawasi Ciu Ki, si Li Kui Wanita itu.
"Kau akan pergi dengan Cara begitu saja?"
Tegur gadis itu. Ciauw Cong tersedar, lalu membungkukkan badan mem beri hormat pada sekaliari orang, seraya berkata.
"Ya, budi kebaikan dari Tan tangkeh ini, aku Thio Ciauw Cong bukan orang yang tak tahu membalas guna. Memangnya kita ber janji tiga bulan lagi akan pi-bu disini, tetapi aku bukan lawan kalian, maka aku hendak pulang kedesa untuk belajar lagi. Kali ini bolehlah dianggap aku yang kalah."
LiCin benar ucapan Ciauw Cong itu.
Dalam kataSnya yang merendah itu ia masih mengunjuk kekerasan.
Seperti ia mau katakan.
kalah karena dikerojok, kelak tentu akan menuntut balas lagi.
Sudah tentu, orangs HONG HWA HWE yang men dengar ucapan itu, sama marah.
"Ketua HONG HWA HWE lepaskan kau, itulah karena ketinggian budinya,"
Kata Ciu Ki.
"Sekarang Coba kau jawab per tanyaanku ini. kau berani datang ke Thiat-tan-Hung, se harusnya kau mempunyai kepandaian untuk menangkap orang yang kau maukan itu. Tapi mengapa kau perlu mesti mem bohongi adikku yang masih belum tahu apas itu, hingga telah menCelakakan dirlnya, sehingga kini keluargaku telah putus keturunannya? Aku bukan orang HONG HWA HWE, akupun belum pernah menerima apa yang disebut budi dari suhengmu, tapi hari ini aku harus menuntut balas sakit hati adikku itu."
Berhentilah ucapan Ciu Ki diganti dengan gerakan go loknya untuk menerjang .
Ciauw Cong menjadi sibuk tak keruan.
Nona itu tidak menjadi soal baginya, tetapi kini ia tengah dikepung oleh ahli 2 silat yang jempolan, sudah tentu mereka takkan tinggal diam berpeluk tangan.
Kalau sampai berbentrok lagi, bukankah akan hebat akibatnya?
Tapi secepat-cepat itu ia telah mendapat pikiran.
Begitu sam beran golok sinona tiba, ia mundur selangkah untuk meng hindarinya.
Masih penasaran rupanya nona garang itu.
Nampak serangannya kosong, ia segera gunakan tipu "Tat Mo bin-pik"
Atau Tat Mo menghadap tembok, suatu jurus ilmu pedang dari Tat Mo Couwsu, itu pendiri Siao Lim Pai. Yang diarah, jalah bagian kepala orang, serunya bukan buatan. Ciauw Cong kaget, pikirnya.
"Huh, tak kunyana kalau budak ini lihai juga ilmu goloknya."
Cepat-cepat ia kibaskan tangannya kanan untuk menganCam muka Ciu Ki.
Begitu sinona melengkan kepala untuk me ngegos, secepat-cepat kilat tangan kiri Ciauw Cong menyawut golok orang.
Tapi Ciu Ki tidak saja garang mulut, pun gerakan sen jatanya tak kurang garangnya.
Ia tak mau mundur, sebaliknya, dengan nekat ia balikkan tangan terus ditusukkan kemuka.
Ciauw Cong tak berani lukai Ciu Ki.
Iapun Cepat-cepat tarik pulang tangan dan gunakan 2 buah jarinya untuk me notok jalan darah "jiok-ti-hiat"
Dari lengan Ciu Ki.
Maka dengan sekonyong-konyong, Ciu Ki rasakan tangannya kesemutan dan goloknya menCelat keatas.
Selama itu, Tiong Ing dan Thian Hong yang paling meng awasi dengan waswas.
Mereka ber 2 sejak Ciu Ki tampil kemuka tadi sudah berdiri dibelakangnya.
Maka ketika melihat sigadis keCundang, tanpa pikir lagi Thian Hong angkat tongkatnya terus menghantam kemuka Ciauw Cong.
Sembari begitu, ia angsurkan tan-to ditangan kiri kepada tu nangannya.
Sedang pada waktu itu, Ciu Tiong Ing pun sudah melesat untuk menghadang larinya Ciauw Cong.
Begitu pula An Kian Kong, maju dengan mengangkat goloknya.
Jadi kini Ciauw Cong kembali dikepung oleh orang-orang Thiat-tan-Hung.
Sedang kegaduhan itu berjalan dengan ramainya, tiba?
dari bawah bukit itu terdengar ada orang ber-teriaks dengan kerasnya.
"Tahan! Tahan!"
Ketika semua orang mengawasi, ternyata dari arah selatan tampak ada 2 orang tengah berlari mendatangi dengan pesat sekali.
Yang seorang berpakaian warna kelabu, sedang kawannya berpakaian hitam.
Mereka gunakan ilmu mengentengi tubuh yang mengagumkan sekali.
Orang-orang HONG HWA HWE sama terkejut akan kegesitan ke 2 orang itu.
Tentulah mereka itu ahli silat yang lihai.
Selagi orang-orang masih sama menduga-duga, ke 2 orang itu sudah sampai disitu.
Yang berpakaian hitam, orang-orang HONG HWA HWE segera mengenalnya sebagai Kim-li-Ciam Liok Hwi Hing.
Maka dengan ter sipu 2 orang-orang sama menyambutnya.
Sedang yang berpakaian warna kelabu itu ternyata seorang tosu tua.
Pada punggung tosu itu menggemblok sebatang pedang.
Dilihat dari wajahnya tosu itu mengunjuk kan seorang yang baik hati.
Tapi siapa dia, orang-orang HONG HWA HWE tidak mengetahuinya.
Ketika Hwi Hing hendak memperkenalkan tosu itu ke pada orang-orang HONG HWA HWE tiba-tiba Ciauw Cong menghampiri kemuka tosu itu seraya menjura dan menyapa.
"Suheng, ber-tahun? kita tak berjumpa, adakah suheng tidak kurang suatu apa?"
Mendengar itu, barulah semua orang mengetahui, bahwa tosu itu adalah Ciang-bun-jiri' (ahliwaris) dari Cabang Bu Tong Pai yang bernama Ma Cin.
Ia adalah suhu dari Kim-tiok Siu-Cay Ie Hi Tong.
Maka berkerumunlah orang-orang untuk memberi hormat.
"Tadi sewaktu aku dengan Ma suheng tiba di Ko-san, bertemulah kami dengan Ma Sian Kun. Karena tahu kita adalah orang-orang sendiri, maka saudara Ma telah memberitahu kan tentang pertempuran dibukit Pak-ko-nia ini. Karena itu, kami Buru-buru datang kemari,"
Demikian Hwi Hing menerang kan.
Sembari kata itu, ia mengawasi kesekeliling tempat itu.
Setelah ternyata tak terdapat korban 2 yang jatuh, leganya hatinya.
Ma Cin dan Liok Hwi Hing dulu pernah berjumpa dengan Ong Hwi Yang, mereka saling mengagumi kepandaian masing-masing.
Terhadap siapapun, aehliwaris Bu Tong Pai ber laku sungkan sekali.
Hal itu telah menggelisahkan hati Ciauw Cong.
Bagi yang tersebut belakangan ini memang serba susah.
Pergi dari tempat itu, tidak enak dihati.
Sedang kalau tetap berada disitu, pun perasaannya tak keruan.
Ma Cin sudah Cukup paham akan kesesatan Ciauw Cong selama ini.
Sebenarnya akan dijalankannya upaCara huku man dari Cabang Bu Tong Pai.
Tapi karena melihat keadaan Ciauw Cong yang berlumuran darah itu, kasihanlah Ma Cin.
Sampai 2 dia menguCurkan air mata, katanya dengan suara sember.
"Thio-sute, mengapa kau menjadi sedemikian rupa ini?"
"Aku hanya seorang. diri, sedang mereka berjumlah ba nyak, sudah tentu beginilah akibatnya,"
Sahut Ciauw Cong sengaja. Mendengar kataa Ciauw Cong yang mengadu-biru itu, semua pahlawan menjadi gusar, dan Ciu Ki yang per-tama 2 tak tahan, segera teriaknya.
"Masih berani kau memutar balikan duduknya perkara? Ayolah, Ma-supek, Liok-supek, silakan kalian yang menimbangnya secara adil!"
Habis berkata, dengan golok terhunus segera gadis itu pingin menerjang maju pula.
"Sudahlah, nak,"
Cegah Tiong Ing.
"Ke 2 Supek kini sudah datang, Bu-tong-Pai mereka selamanya mempunyai peraturan rumah tangga yang keras, kau dengarkan saja pesan Supek-supek ini."
Nyata benar kata Ciu Tiong Ing itu sengaja diperde ngarkan untuk mendesak Ma Cin agar bertindak tegas sebagai Ciangbunyin atau ketua Bu-tong-Pai.
Namun Ma Cin seorang yang terlalu lemah perasaan, ia pandang Liok Hwi Hing, kemudian berpalihg pula kearah Thio Ciau Cong, habis itu mendadak ia tekuk lutut kehada pan Ciu Tiong Ing dan Tan Keh Lok.
Karuan semua orang menjadi bingung, beramai mereka bilang.
"Ada apakah Ma-Locianpwe, silakan berkata saja, lekas kau bangunlah!" -Lalu imam itupun dibangunkan nya. Perasaan Ma Cin mendali tergoncang sekali, katanya dengan suara berat dan tak lancar.
"Para saudara, aku punya Thio-sute yang tak berguna ini, apa yang diperbuatnya se sungguhnya susah diampuni, aku malu sebagai Ciang-bun-jin tak bisa membersihkan rumah tangga sendiri tepat pada waktunya, benar-benar kini aku tiada muka lagi untuk bertemu dengan Kawan-kawan Bu-lim. Aku ..... aku ..." -Sampai disini serasa tenggorokkannya menjadi tersumbat tak ter uCapkan. Selang sejenak barulah ia berkata pula kepada Liok Hwi Hing.
"Liok-sute, silakan kau terangkan mak sud tujuan kita kepada para saudara!"
Karena itu, lantas berkajtalah Liok Hwi Thjing.
"Sejak Suhengku mengetahui perbuatan bagus Thio-taijin. kita ini, saking marahnya sampai ia tak enak makan; tak nyenyak tidur, tapi mengingat padas mendiang guruku, maka dengan beranikan diri ingin mohonkan ampun baginya kepada sau dara-saudara."
Mendengar kedatangan Ma Cin itu ternyata hendak min takanl ampun bagi jiwanya Thio Ciau Cong, seketika semua pahlawan lantas memandang Tan Keh-Lok dan Ciu Tiong Ing, ingin mengetahui bagaimana keputusannya.
Diam-diam Keh Lok membatin.
"Aku tak boleh main murah hati dan membiarkan Ciu-loenhiong menjadi orang busuk, biarlah aku serahkan kepada keputusannya saja." -Karena itu, ia hanya diam saja sembari memandang juga kepada sijago tua itu. Mendadak terdengar suara "plak,"
Tiba-tiba Tiong Ing masuk kan goloknya kedalam sarungnya, lalu katanya dengan tegas "Kalau ingat dendam membakar perkampunganku dan men Celakai puteraku, hm, asal aku Ciu Tiong Ing masih bisa bernapas, pasti takkan selesai dengan begitu mudah." -Ia merandek sejenak, lalu sambungnya.
"Tapi kalau Ma-suheng dan Liok-suheng sudah berkata demikian, baiklah aku terima kalian selaku sobat baik, peristiwaa lalu sekaligus aku Coret dan hapus seluruhnya."
"Tia (ayah)!"
Teriak Ciu Ki penasaran oleh keputusan sang ayah.
"Sudahlah, nak!"
Kata Tiong Ing agak sember sambil membelai rambut sang puteri.
"Nah, dengan apa yang dikatakan Ciu-loenghiong, suatu tanda betapa budi setia-kawannya,"
Segera Keh Lok ikut berkata.
"Dan menghadapi Ma dan Liok ber 2 Cianpwe, baiklah, kami orang-orang Hong Hwa Hwe juga takkan mengungkat-ungkat lagi kejadian-kejadian lalu."
Segera Ma Cin dan Liok Hwi Hing memberi hormat sekeliling dan kata mereka.
"Kalau begitu, sungguh kami sangat berterima kasih."
"Tapi, Ma-toheng,"
Tibas Bu Tim' menyela dengan dingin.
"ada lagi sedikit perkataanku, entah boleh tidak bertanya?"
"Silakan, Toheng,"
Sahut Ma Cin Cepat-cepat .
"Sekali ini soalnya telah kami anggap selesai, tapi bagai mana Ma-toheng akan berkata apabila kelak ia berbuat jahat pula?"
Tanya Bu Tim.
"Sesudah aku membawa dia pulang pasti akan mengawasinya dengan keras agar memperbaiki kesalahan 2 dulu,"
Demi kian sahut Ma Cin tegas.
"Tapi bila ia berbuat kejahatan lagi, hm, keCuali ia membunuh aku dulu, bila tidak, pasti akulah yang per-tama 2 takkan mengampuni dia!"
Mendengar jan 2ji Ma Cin yang begitu tegas dan pasti, maka para pahlawan tak enak untuk buka suara pula.
"Sesudah kubawa Sute ini kembali ke Bu-tong-san di Ohpak, pasti aku suruh dia merenungkan dosasnya yang lalu agar mau insaf,"
Kata Ma Cin pula.
"Dan Liok-sute biarlah tinggal disini dulu untuk membantu membebaskan Bun-sutangkeh, aku sendiri sudah lama simpan pedang, urusan Kangouw juga sudah lama tak ikut Campur, hal ini harap lah kalian suka memaafkan ; dan nanti bila Bun-sutangkeh sudah bebas, hendaklah Liok-sute sukalah memberi sedikit kabar agar akupun bisa ikut lega. -Dan, eh, dimanakah Hi Tong, kenapa muridku itu tiada disini?"
"Capsite telah terpencar dengan kami ditepi Hoangho, ke mudian katanya terluka dan ditolong oleh seorang wanita, lalu sampai kini belum diketahui jejaknya,"
Tutur Keh Lok.
"Tapi bila Bun-suko sudah kami bebaskan, segera juga pasti kami akan menCarinya hingga ketemu, harap Totiang tak perlu kuatir."
"Muridku itu orangnya sangat pintar memang, Cuma orang muda suka turuti wataknya yang bebas dan kurang sabar, hal ini mengharap Tah-tangkeh sukalah banyak sekali-kali memberi petunjuk padanya,"
Ujar Ma Cin.
"Sudah tentu, Totiang,"
Sahut Keh Lok.
"Kami bersaudara sudah saling bersumpah bantu-membantu seperti saudara sekandung. Capsite orangnya Cerdik pandai, kami semua sangat meughargainya."
"Urusan harini sungguh aku merasa terima kasih tak terhingga,"
Kata Ma Cin.
"Tan-tangkeh, Ciu-loenghiong, Bu Tim-toheng dan saudara-saudara sekalian, kelak bila bikin perjalanan lewat Ohpak, hendaklah mesti mampir kekelentengku untuk beramah-tamah."
Undangan itu disanggupi dengan baik oleh semua orang, habis itu barulah Ma Cin berkata pada Thio Ciau Cong.
"Berangkatlah sekarang!"
Sebenarnya Ciau Cong masih berat buat pergi ketika melihat pedangnya "leng-pek-kiam"
Terselip dipinggang Lou Ping, walaupun itu adalah benda mestika, tapi kalau ia berani memintanya kembali, itu pasti akan dihina lagi, terpaksa ia kertak gigi tinggalkan pergi.
Sehabis ke 2 orang itu berlalu, lantas semua pahlawan menanyakan keadaan Hwi Hing selama berpisah.
Kiranya sejak terpencar dengan para pahlawan ditambangan sungai Kuning, karena tak ketemu menCari murid nya, Li Wan Ci, ia pikir gadis itu adalah puteri pembesar, orangnya juga Cerdik luar biasa, tentunya tak sampai terjadi apa-apa atas dirinya.
Kini soalnya yang pokok adalah mengenai Thio Ciau Cong, sang Sute ini benar-benar merupakan noda bagi Bu-tong-Pai.
Maka Cepat-cepat ia menuju ke Ohpak mengundang Toasuheng Ma Cin memburu ke Pakkhia, tapi sesampai disana barulah diketahui Thio Ciau Cong sudah pergi ke HangCiu, lantas bergegas-gegas merekapun menyusul keselatan.
Dan karena beberapa kali pergi-datang itulah malah mereka ketinggalan dibelakang jago-jago Hong Hwa Hwe.
Begitulah, semua orang itu sembari pasang omong sambil berjalan kebawah bukit, kata Keh Lok kemudian kepada Ong Hwi Yang dan Han Bun Tiong.
"Kalian ber 2 hendak kemana, silakan saja."
"Budi pertolongan jiwa Tan-tangkeh tadi, sungguh takkan kulupakan selama hidup,"
Kata Ong Hwi Yang. Keh Lok ter-bahak 2 oleh kata-kata orang, ia jabat tangan Ong Hwi Yang dan katanya pula.
"Masih ada 2 hal yang aku ingin minta Ong-loenghiong suka memaafkan."
Lalu iapun Ceritakan dengan jelas bahwa sengaja mereka menyamar sebagai pembesar negeri untuk mengakali vaas jade serta mengadu-dombakan dia dengan Thio Ciau Cong agar bertanding.
Biasanya Ong Hwi Yang memang berbudi dan berjiwa besar, sekali ini dari mati bisa diselamatkan, soal duniawi lebih 2 dingin lagi dalam pandangannya, maka terhadap tipu muslihat yang dilakukan jago-jago Hong Hwa Hwe itu, iapun tidak pikirkan lagi.
Malahan dengan bergelak ketawa ia lantas berkata.
"Haha, ketika aku melihat kau berbicara dengan orang she Thio itu, lantas aku menduga kau adalah palsu. Hahaha, benar-benar ksatria tumbuh pada orang muda, aku sudah kakek 2 masih bertambah lagi suatu pengalaman. Kita benar-benar tidak berkelahi tidak berkenalan, meski aku bertanding dengan orang she Thio itu adalah kalian yang mengadu-domba, tapi jiwaku toh tetap kalian yang menolong. Kelak orang-orang Hong Hwa Hwe semuanya adalah sobatku, apabila Tan-tangkeh ada sesuatu perintah, aku yang sudah tua ini meski masuk air mendidih atau terjun kelautan api tak nanti menolak."
"Baiklah bila tugas kami sudah selesai, bolehlah kita mi num se-puas 2nya,"
Ujar Keh Lok.
Sambil berbicara, sementara itu sudah sampai dibawah bukit, mereka menuju ketepi telaga dan menumpang perahu kerumah Ma Sian Kun.
Dalam pada itu Liok Hwi Hing sudah menyedot keluar jarum 2 emas yang menancap ditubuh Ong Hwi Yang serta dibubuhi obat luka.
Sesudah sibuk setengah harian, tatkala itu hari sudah petang.
"Yalan dibawah tanah sudah lebih separoh digali, lewat tiga jam lagi pasti akan tembus sampai tujuan,"
Demikian Ma Sian Kun kemudian telah melaporkan.
"Bagus, Ma-toako, tentu kau sangat lelah sudah, kini biar diganti Cio-sipsamko yang pergi mengatur,"
Sahut Keh Lok mengangguk. Segera pergilah Cio Su Kin dengan tugas itu. Lalu Keh Lok berpaling dan berkata pada Ong Hwi Yang dan Han Bun Tiong ber 2.
"Kawan-kawan Piauthau kalian kami telah melayaninya balk 2, bila perlu kalian ajaklah mereka pesiar ke Se-ouw, dan lewat sehari 2hari nanti tentu kami adakan tempo kusus untuk menjamu kalian."
Berulang kali Hwi Yang dan Bun Tiong merendah bilang tak berani.
Ong Hwi Yang sudah banyak sekali asam-garam, dilihatnya oranga Hong Hwa Hwe itu wira-wiri tak pernah ada waktu senggang sedikitpun, maka ia tahu tentu mereka sedang mengatur daya-upaya buat menolong Bun Thay Lay.
Karena ini, ia pikir bila dirinya keluar, kalau usaha jago-jago HONG HWA HWE itu berhasil Itulah sudah, tapi bila gagal, mungkin bisa mencurigai dirinya membongkar rahasia mereka kepada pemerintah.
Maka ia lantas beralasan.
"Ah, harini kami masih terlalu letih, ingin kami mengaso dulu barang sehari-harihari disini.!' "Kalau begitu maafkan Siaote tak mengawani lagi,"
Ujar Keh Lok.
Lalu Ma Tay Thing yang ditugaskan melayani Ong Hwi Yang dan Han Bun Tiong kedalam buat berkumpul dengan Ong Gok Thian dan piauthau 2 lain.
Disitu Ong Hwi Yang telah melarang keras orang-orang nya tak boleh melangkah keluar sedengkalpun dari rumah keluarga Ma itu.
Dan setelah bersantap, para pahlawan lantas kembali kamar masing-masing untuk mengaso.
Kira-kira jam tujuh malam, seorang Thaubak kecil datang me lapor bahwa jalan lorong dibawah tanah sudah digali masuk gedung panglima, tapi tertahan oleh batu besar, maka sudah menggali kebawah lebih dalam hendak melewati batu besar perintang itu.
Segera Keh Lok dan Thian Hong mengatur orang-orang nya siapa yang bertugas menyerang sebelah kiri, siapa menye rang sebelah kanan, siapa membantu dan siapa menjaga bagian belakang, kesemuanya telah mereka atur sempurna.
Sejam kemudian, datang pula Thaubak tadi melapor bahwa penggalian sudah sampai dipapan baja, karena kuatir diketahui musuh, maka sudah berhenti menggali lebih jauh.
"Kalau begitu, tunggu lagi satu jam, sedikit jauh malam lantas kita turun tangan,"
Kata Keh Lok.
Dan selama satu jam menunggu itulah semua orang menjadi tak tahan rasanya; Lou Ping tak tenang berduduk mau pun berdiri, sibongkok Ciang Cin mondar-mandir diruangar itu sambil tiada hentinya mengumpat maki.
Ke 2 sau dara Siang dengan sepasang kartu sedang main "Pai-kiu' dengan Nyo Seng Hiap dan Wi Jun Hwa.
Karena, Jur.
Hwa dan Seng Hiap bermain ngawur hingga duit mereka dikantongi ke 2 saudara Siang.
Ciu Ki sendiri lagi periksa 'leng-pek-kiam' asal milik Thio Ciau Cong itu sambil kadang-menyajalnya dengan bebe rapa potong besi tua, dan nyata sekali baCok semua logam lain lantas putus, tajam tiada bandingannya.
Kelakuan sdgadis ini disaksikan Thian Hong dari samping dengan ter senyum tanpa berkata.
Sedang Ma Sian Kun berulang kali merogo keluar sebuah arloji kantong yang besar berlapis emas untuk melihat waktunya.
Disudut lain Tio Pah San lagi asjik bicara dengan Liok Hwi Hing tentang keadaan masing-masing selama berpisah.
Bu Tim dan Ciu Tiong Ing sedang main Catur, tapi karena Bu Tim kurang tenang, kepandaian main Caturnya pun kalah baik, maka berulang kali ia harus menyerah.
Tan Keh Lok sendiri sambil menengadah lagi menggu mamkan sajak dengan se
Jilid kitab kuno.
Ciok Siang Ing termangu-mangu memandangi langit tanpa bergerak.
Begitulah suasana jago-jago Hong Hwa Hwe itu sampai akhirnya dapatlah menanti satu jam dan terdengarlah Ma Sian Kun berkata.
"Sudah waktunya kini!"
Seketika saja semua orang berbangkit dan berbondong-bondong keluar.
Masing-masing membekal senjata didalam baju dan dari segala jurusan menuju kesuatu rumah penduduk didekat istana panglima.
itu untuk berkumpul.
Penghuni rumah penduduk itu sudah lama dipindahkan, ketika Cio Su Kin yang menanti disitu melihat para kawan sudah datang, dengan suara tertahan segera ia berkata .
",Tiunama, disekitar sini tentara negeri berpatroli dengan sangat keras, kita harus berhati-hati!" -Habis itu dengan gajuh besinya ditangan ia menjaga dimulut goa galian mereka dan membiarkan para pahlawan masuk berturut-turut. Jalan dibawah tanah itu sangat dalam galinya, ditambah keadaan tanah di HangCiu basah lembab, air dijalan lorong itu ternyata setinggi betis, ketika mereka sudah menerobos melewati batu besar itu, air lumpur sudah merendam sampai setinggi dada, dan setelah beberapa puluh tombak lagi, barulah mereka sampai diujung. Disana beberapa orang anggota HONG HWA HWE sambil memegang obor dan alat-alat penggali sudah menunggu,. ketika dilihatnya Congthocu mereka sudah datang, segera mereka melapor .
"Didepan inilah papan besi itu!"
"BaikIab, kerjakan sekarang!"
Sahut Keh Lok.
Cepat-cepat saja beberapa Srang HONG HWA HWE itu beketja keras dihadapan pemimpin be|ar mereka, maka tidak lama sebuah batu disamping papan ibaja itu sudah didongkel keluar; setelah digali lagi tak lama, papan baja itu sudah dapat mereka keluarkan.
Tanpa disuruh, lagi, sekali gaetannya menyajal dulu kedepan, segera Wi Jun Hwa mendahului menerobos masuk terus di kuti pahlawan 2 yang lain dengan disinari obor yang dibawa anggota 2 HONG HWA HWE tadi.
Ketika sudah menembus jalan lorong kemarinnya itu.
segera para pahlawan berlari terus kedepan, ketika sudah sampai diujung lorong sana, tertampaklah pintu besi itu menutup rapat kebawah.
Lekas-lekas Jun Hwa menekan titik tengah gambar Pat-kwa seperti kemarin itu, siapa tahu pintu besi itu sedikitpun tak bergeming, agaknya alat penggeraknya sudah tak bekerja, Seketika tergerak pikiran Thian Hong, lekas-lekas ia memberi perintah.
"Pat-te dan Kiu-te, lekas kalian pergi menjaga dimulut pintu penyara ini untuk ber-siap 2 bila musuh pakai tipu muslihat."
Cepat-cepat Seng Hiap dan Jun Hwa pergi menerima tugas itu.
Sementara itu dengan alat penggali mereka beberapa anggota HONG HWA HWE tadi telah menyongkel keluar batu-batu dibawah pintu besi itu dan be-ramai 2 merekapun mengangkat keatas pintu besi yang berat luar biasa itu.
Pintu itu ternyata di kat dengan rantai besi yang kokoh.
namun sekali tabas dengan leng-bik-kiam, Lou Ping dapat memutuskan rantai itu.
Dan setelah itu, ia serentak men dahului menobros kedalam kamar.
Tapi begitu masuk, ia segera mengeluarkan jeritan tertahan, karena kamar itu ternyata kosong melompong.
Bun Thay Lay sudah tak tampak disitu.
Sampai disini, karena sudah beberapa kali mengalami ke gagalan dalam merebut kembali suaminya, betul-betul Lou Ping tak kuat lagi menguasai hatinya.
Ia mendeprok, terus me nangis tersedu-sedu.
Orang-orang HONG HWA HWE turut merasa pilu akan kesedihan yang diderita oleh puteri Lou Gwan Thong itu.
Tan Keh Lok mengambil pedang 'leng-bik-kiam' dari tangan Lou Ping, dan diCobanya untuk menusuk pintu kecil yang dibuat lari oleh Ciauw Cong dulu.
"Mungkin karena menguatirkan kita merampok peujara, maka Li Khik Siu telah memindahkan Bun-suko kelain tempat,"
Kata Thian Hong Coba menghiburnya. Karena itu semua orang HONG HWA HWE kembali lagi masuk kedalam lobang penggalian mereka tadi. Tapi tiba-tiba terdengarlah suara air mengalir yang gemuruh sekali.
"Celaka, kita terpaksa harus menyerbu keluar saja!"
Kata Thian Hong kaget. Dan betul-betul juga lobang penggalian mereka itu sudah kerendam penuh. Dan air itupun mulai mengalir kedalam jalanan tanah itu.
"Apapun yang akan terjadi, kali ini kita harus dapat me rampas Bun-suko!"
Seru Keh Lok.
"Kita serbu saja kantor markas Li Khik Siu ini!"
Tapi sementara itu, airpun sudah makin menggenangi jalanan itu.
"Kurangajar, ini tentu akalnya Li Khik Siu untuk meren dam kita dengan air!"
Kata Bu Tim.
Ketika mereka menghampiri sampai kemulut jalanan, disitu Seng Hiap tampak sedang bertempur dengan beberapa serdadu Ceng.
Tapi anehnya, Jun Hwa tak kelihatan berada disitu.
Dengan menggerung keras, Bu Tim menobros keluar.
Sekali mengajun pedang, 2 orang serdadu Ceng yang tengah memegangi pipa air yang dipakainya untuk merendam jalanan dibawah tanah itu segera roboh.
Menyusul dengan itu, keluarlah semua orang HONG HWA HWE itu.
Ternyata Jun Hwa juga tampak disebelah sana, tengah bertempur dengan beberapa orang perwira.
Melihat suasana Yang genting itu, Hwi Hing diam-diam berpikir dalam hatinya .
"Dengan Li Khik Siu, aku pernah mengenal dan sedikitnya pernah menerima budinya, jadi tak leluasa kalau ikut bertempur secara terang-terangan."
Karenanya, segera ia robek jubahnya, untuk menutup mukanya dengan diberi lobang kecil dibagian mata.
Tapi baru saja selesai menyaru itu, tentara Ceng ternyata sudah mundur, dikejar terus oleh Jun Hwa.
Dengan gunakan ilmu mengentengi tubuh, Thian Hong naik keatas tembok untuk mengawasi sekitar tangsi itu.
Ternyata tangsi itu penuh dengan penjagaan tentara musuh.
Tiba-tiba didengarnya bunyi genderang dipukul keras sekali, se-olah 2 dimedan peperangan.
Ternyata.
anak tentara itu sedang disiapkan untuk men jaga, sebuah rumah yang bertingkat 2.
Sekeliling rumah itu dijaga keras oleh lima puluh0 orang tentara.
Melihat penjagaan itu, Thian Hong menduga tentu Bun Thay Lay disembunyikan disitu.
Cepatcepat sesudah loncat turun, dia mengisyaratkan saudara-saudaranya supaya mengikutinya.
Makin mendekati rumah itu, orang-orang yang bertempur makin ramai.
Dalam suasana yang gaduh itu, Ma Sian Kun dan Tio Pan San memimpin berpuluh-puluha thauwbak HONG HWA HWE yang berkepandaian agak tinggi, loncat dari tembok terus mema suki gedung itu.
Sekalipun jumlah tentara Ceng itu lebih besar, tetapi mereka tak dapat menahan gempuran orang-orang HONG HWA HWE yang lihai itu.
Dan tak lama kemudian, rombongan HONG HWA HWE yang lain itu sudah mendekati pintu gedung.
Dengan gunakan gerak tipu "naga-hitam-menyapu-tanah"
Ciang Cin membolang-balingkan sepasang kampaknya untuk memaksa masuk.
Diambang pintu, seorang yang ber senjatakan tombak, segera menyambut serangan Ciang Cin itu.
Juga Jun Hwa, Lou Ping, Seng Hiap, Siang Ing dan lain-lainnya sudah mendapat lawan masing-masing.
Disinari oleh Cahaja obor, pertempuran segera berjalan dengan seru sekali.
Ternyata pasukan yang menjaga gedung bertingkat itu semuanya pilihan.
"Sam-te, Coba kita tengok kemuka!"
Seru Bu Tim meng ajak Tio Pan San. Seorang perwira menghadang dan membaCok, tapi tanpa berkelit atau menangkis, dengan sebuah gerakan "kuda-binal-menerjang kemuka,"
Ujung pedang imam berlengan satu itu lebih Cepat-cepat datangnya.
Maka dengan mengeluarkan jeritan yang seram, perwira itu roboh segera.
Tio Pan "San juga sudah siap dengan senjata rahasianya.
maka Sekejab saja sudah ada 2 orang serdadu yang roboh pula.
Dan dengan leluasa, ke 2 orang itu segera masuk kedalam ruangan, langsung menuju kepaseban dalam.
Ciu Tiong Ing, Lou Ping dan lain-lain.nya ikut masuk.
Tampak oleh Hwi Hing bahwa lawan Ciang Cin tadi ternyata berkepandaian tangguh, sedikitpun Ciang Cin tak dapat mengatasi lawannya.
Hwi Hing menjadi tak sabar, Cepat-cepat ia melesat kedepan.
Dengan gerakan "thian-way-lay-hun,"
Mega dari luar langit, ia menusuk leher kiri orang itu.
Tapi orang itu Cepat-cepat memutar balikkan tangkai tombaknya, terus dikeprak kebawah.
Tombak perwira itu panjang lagi berat, dan tenaga orang itu kuat sekali.
Tak bisa tidak pedang Hwi Hing pasti terpental, kalau saja kena kehantam Tapi Hwi Hing tak jeri.
Cepat-cepat dia tarik pedangnya, begitu mengempos semangat, terus dikibaskan keatas sekeras-kerasnya.
"Trangng......"
Tombak menCelat keudara, sedang perwira itu tangannya kesemutan.
Serasa terbang semangat orang itu, siapa terus loncat kesamping.
Tapi lacur, dia ter peleset jatuh.
Kalau mau sebenarnya, mudah saja Ciang Cin memburunya untuk menghabisi jiwa lawannya itu.
Tapi bongkok orangnya, Ciang Cin ternyata mempunyai sifat ksatria.
Tak mau dia membunuh musuh yang tak bersenjata, maka dia terus memutar badan untuk menyerang salah seorang dari 2 lawan yang mengerojok Seng Hiap.
Seng Hiap tambah bersemangat.
Dengan sepasang siang->tao atau gaetan, dia kaCip pinggang lawannya dengan gerak ,giok-tay-wi-yo", sabuk mestika melibat pinggang.
Orang itu bersenjatakan siangto (sepasang golok), maka Cepat-cepat dia kibaskan senjatanya kekanan kiri, untuk membelah serangan Seng Hiap.
Karenanya, Seng Hiap kini berbalik ter buka bagian dadanya, tapi Cepat-cepat dia tutup lagi dan rapatkan sepasang senjatanya dengan gerakan maju mfenusuk dada lawan.
Gerakan itu sebat luar biasa, dan dengan keluarkan Ceritan seram, orang itu terjungkal roboh.
Setelah ada beberapa orang yang roboh lagi.
maka suasa na pertempuran menjadi agak berkurang.
Tiba-tiba Bu Tim berseru dengan keras.
"Saudara-saudara, Sute berada disini, kita serbu terus!"
Mendengar kabar itu, seketika orang-orang HONG HWA HWE bersorak kegirangan.
Ciu Ki tengah bertempur dengan seorang yang bersenjatakan sepasang palu besi yang di kat rantai.
Ia tak mengerti akan kata-kata rahasia dari HONG HWA HWE, maka ia berpaling untuk menanya pada Thian Hong.
"He, apa kata Bu Tim tojin itu?"
"Suko berada diatas sana, kita haras Cepat-cepat menolongnya!"
Menerangkan Thian Hong.
"Bagus!"
Seru Ciu Ki kegirangan. Justeru karena dia kegirangan itu, lalu menjadi agak iengah, dan kena kehantam palu besi berantai itu. Thian Hong kaget sekali, dan akan membantunya.
"Tak usah, Cukup kalau kau dapat menyingkirkan salah sebuah palu rantainya saja!"
Seru Ciu Ki.
"Anjing laki-perempuan, bangsat, rampok!"
Orang itu memaki dengan gusarnya.
Ketika Thian Hong menubruk kepunggungnya, orang Itu mengibaskan rantai palunya kebelakang.
Cepat-cepat Thian Hong menyampok dengan tongkatnya terus digubatkannya.
Saking gugupnya, orang itu menyusuli menyerang dengan yang sebuah lagi.
Tapi karena Thian Hong itu orangnya pendek, jadi Cukup dengan tundukkan kepala, palu besi itu lewat diatas kepalanya.
Cepat-cepat sekali, Thian Hong ajunkan golok ditangan kanan untuk menabas lengan orang.
Orang itu Coba berusaha menarik rantainya dari i batan tongkat Thian Hong agar dapat dipakai untuk menangkis serangan golok itu, tapi ternyata sia-sia.
Karena ujung golok sudah dekat, terpaksa dia tarik tangannya kebelakang, dan dengan demikian senjatanya terpaksa dilepaskan.
"Bagus!"
Seru Ciu Ki.
Dan menuruti permintaan sinona, Thian Hong lalu mundur, mengawasi Ciu Ki tempur orang itu.
Karena kurang satli senjatanya, kekuatan orang itupun berkurang.
Dan dalam oeberapa jurus lagi, pundaknya telah kena dibabat oleh golok sinona dan terpaksa lari.
"Bagaimana dengan Bun suko, apa masih belum tertolong"
Ayo, kita naik kesana?"
Seru Ciu Ki segera.
"Kau naiklah kesana, aku menjaga disini,"
Sahut Thian Hong.
Masuk kedalam ruangan Ciu Ki dapatkan semua penjaga sudah tersapu bersih oleh Bu Tim.
Dan iapun bergegasa naik keatas loteng.
Disitu ia dapatkan rombongan HONG HWA HWE sedang mengelilingi sebuah sangkar besi.
Tan Keh Lok gunakan 'leng-bik-kiam' (pokiam Ciauw Cong) untuk menghantam ruji besi dari kurungan itu.
Se waktu Ciu Ki menghampiri dekat, marahlah ia.
Karena dalam sangkar itu, ada lagi sebuah sangkar kecil.
Disitulah Bun Thay Lay berada dengan kaki tangan diborgol, tak beda seperti seekor binatang buas yang dikurung didalam.
Saat itu Keh Lok telah berhasil memapas putus 2 buah jeruji, dan dengan gunakan kekuatannya yang besar, Ciang Cin berhasil menarik sempal jeruji itu.
Karena bertubuh kecil langsing, Lou Ping berhasil masuk kedalam sangkar itu.
Dipinjamnya "leng-bik-kiam"
Dari Tan Keh Lok, dan dipakainya untuk memapas rantai pintu sangkar kecil itu.
Orang-orang HONG HWA HWE menantikannya dengan kegirangan.
Mereka telah bertekad, sekalipun bala bantuan tentara Ceng datang dalam jumlah besar, mereka tetap akan bertahan disitu.
Pokoknya, biar bagaimanapun, Bun Thay Lay harus dapat ditolong.
Ke 2 saudara Siang dan Thian Hong pimpin rombongan thauwbak untuk menjaga dibawah loteng.
Mendadak ter dengar suara terompet, dan kawanan serdadu Ceng sama mundur dengan rapi.
"Awas, musuh akan melepas panah, Ayo, kita mundur kedalam ruangan saja!"
Seru Siang Pek Ci.
Dengan di ring dari belakang oleh ke 2 saudara Siang itu, rombongan orang-orang HONG HWA HWE segera masuk kedalam.
Tapi ternyata serdadu 2 Ceng itu tidak jadi melepaskan anak panah, malah sekonyong-konyong terdengar seorang berseru keras-keras.
"Tan-tangkeh dari HONG HWA HWE dengarlah aku bicara!"
Mendengar itu, Keh Lok lalu menghampiri jendela. Tam pak olehnya Li Khik Siu berdiri diatas sebuah batu besar seraya ber-teriak 2.
"Aku minta bicara dengan Tan-tangkeh!"
"Ya, aku ada disini. Li-Ciangkun hendak memberi petun juk apa?"
Tanya Keh Lok dari atas loteng itu.
"Lekas turun dari loteng, atau kalian nanti hanCur semua!"
Seru Khik Siu.
"Jika kami takut mati, tak nanti kami berada ditempat ini. Maaf, hari ini kami pasti akan membawa pergi Bun-suya!"
"Yangan kalian tetap tak insaf,"
Kata Khik Siu. Habis ini tiba-tiba ia berteriak.
"Bakar!"
Sekali dia memberi aba 2, Can Tho Lam dan Li Wan Ci memimpin serombongan serdadu membawa rumput dan kayu bakar yang segera disulut apinya dan dilemparkan kesekeli ling rumah gedung itu.
Sekejab saja, api menjilat gedung bertingkat itu, dan mengepung orang-orang HONG HWA HWE didalamnya.
Tan Keh Lok kaget, namun tak mau dia unyukkan pera saannya diwajahnya, ia tetap berlaku tenang saja.
"Kita harus Cepat-cepat bekerja untuk merusak sangkar besi itu!"
Kata Tan Keh Lok seraya berpaling kebelakang. Setelah itu, dia melongok lagi keluar dan berseru kepada Li Khik Siu.
"Sekalipun kami tak berguna, tapi serangan api Ciang-kun ini rasanya masih belum membikin kami menjadi jeri!"
Tiba-tiba ada seorang yang tampil kemuka dari belakang Ciangkun itu terus me-maki-maki dengan menuding.
"Kematian sudah didepan mata, masih kau bermulut besar. Tahukah kau apa yang terpendam dibawah gedung bertingkat itu?"
Diantara Cahaja api yang terang benderang, tampaklah bahwa yang bicara itu adalah jago bayang kari, Hoan Tiong Su.
Disebelahnya tampak Cu Wan dan beberapa orang si-wi lainnya.
Jadi teranglah, bahwa Kian Liong sudah mendengar berita itu, hingga mengirim beberapa orang jago pilihannya untuk membantu Li Khik Siu.
"Celaka! Disini penuh dengan obat pasang!"
Tiba-tiba Thian Hong berseru dengan bahasa rahasia. Seperti orang disedarkan, teringatlah Keh Lok ketika me nuju keloteng, ruangan dibawah itu seperti merupakan sebuah gudang"
Yang penuh dengan tumpukan barang.
Adakah tumpukan peti 2 itu berisi obat pasang?
Memikir sampai disitu, ketua HONG HWA HWE itu memandang kesekeliling ruangan loteng tersebut.
Dan benarlah kiranya.
Disitupun penuh dengan tumpukan peti.
Cepat-cepat dihampirinya sebuah peti, terus dihantamnya sampai pecah.
Bubukan berwarna hitam segera mengalir keluar, hau obat belirang menusuk hidung.
Nyata itulah obat pasang!
"Apakah HONG HWA HWE akan hanCur lebur disini nanti?"
Diam tanya Keh Lok dalam hatinya. Berpaling kebelakang, sangkar kecil itu sudah terbuka, dan Lou Ping kelihatan menuntun Bun Thay Lay keluar.
"Suso, Samko, Ciu dan Liok Cianpwe, lindungi Suko, mari ikuti aku keluar!"
Seru Keh Lok segera terus turun kebawah loteng.
Ciang Cin segera mendukung Bun Thay Lay, sementara Lou Ping, Tio Pan San, Hwi Hing, Ciu Tiong Ing dan lain-lainnya melindunginya.
Tiba diambang pintu, panah turun sebagai hujan.
Beberapa kali Jun Hwa dan ke 2 saudara Siang Coba menobros keluar, tapi selalu balik mundur lagi.
"Dibawah lantai yang kau orang inyak itu kita pendami obat peledak yang tali sumbunya ada disini,"
Seru Khik Siu tiba-tiba.
"Cukup sekali aku sulut tali ini, kau orang akan hanCur lebur. Ayo, tinggalkan Bun Thay Lay saja!"
Kembali jen deral itu berseru sembar mengangkat obornya.
Tahu Keh Lok dan Thian Hong bahwa kata-kata jenderal itu tidak bohong, karena seluruh gedung itu penuh dipasangi bahan peledak.
Hanya karena Bun Thay Lay adalah pesakitan penting, jadi mereka masih belum berani meledakkannya.
Thian Hong mati daya, sedang Tan Keh Lok segera mengambil keputusan.
"Lepaskan suko, dan kita lekas keluar!"
Katanya.
Di kuti oleh Jun Hwa dan ke 2 saudara Siang, dia putar pedangnya untuk menerobos keluar.
Ciang Cin masih terus melangkah keluar sembari mendukung Bun Thay Lay, rupanya perintah ketua HONG HWA HWE tadi, belum didengarnya.
"Lepaskan Sute, kita dalam bahaya besar, kita lekas keluar, jangan sampai kita berbalik membikin Celaka pada Sute,"
Kata Tio Pan San kepada si Bongkok.
Ciang Cin segera meletakkan Bun Thay Lay diambang pintu dan karena Lou Ping masih merjublek dengan bingung, maka Ciang Cin terus menarik bahunya diajak keluar.
Melihat orang-orang HONG HWA HWE sudah melepaskan Bun Thay Lay, Li Khik Siu memberi isyarat kepada anak buahnya, supaya jangan melepas panah lagi, karena dikuatir akan melukai orang tawanannya itu.
Sekeluarnya dari gedung bertingkat itu rombongan HONG HWA HWE sama berkumpul diujung tembok.
"Siang-koko ber 2 Pat-ko, Kiu-ko, kalian terjang pasukan dimuka yang dipimpin oleh Li Khik Siu itu. Hit-ko, Coba atur rencana untuk memutuskan tali sumbu peledak itu. Totiang, Samko, begitu saudara-saudara kita, itu sudah berhasil, kita harus selekasnya menerjang merampas Suko lagi!"
Demikian Keh Lok mengatur rombongannya.
Waktu itu Li Khik Siu lagi memerintahkan orangnya pergi menjaga Bun Thay Lay, tapi tiba-tiba rombongan ke 2 per-saudaran Siang muncul dan menyerangnya.
Terpaksa dia harus pecah pasukannya lagi untuk melawannya.
Rombongan jagos bayang kari yang terdiri dari Hoan Tiong Su, Cu Co Im, Cu Wan, Swi Tay Lim dan lain-lainnya segera maju menghadang.
Selagi pertempuran berlangsung lagi, Hwi Hing Cepat-cepat melesat kearah Li Khik Siu.
Pengawais jenderal itu bersorak gempar sembari menghantam Hwi Hing.
Tapi jago tua ini tak mau melawan, hanya selalu berkelit kesana kesini saja.
Bagaikan seekor belut, Hwi Hing sudah dapat melampaui tujuh atau delapan orang pengawal dan hampir mendekati Li Khik Siu.
Wan Ci tetap berpakaian sebagai lelaki, dan mendampingi ayahnya.
Maka begitu ia melihat seorang berkedok kain (Hwi Hing) akan menghampiri sang ayah, Cepat-cepat ia sambut dengan sekali tusukan kedada sambil membentak menanya.
Tapi Hwi Hing tak mau membuka suara, ia mengelit terus menyelinap kedepan.
Kepandaian Li Khik Siu pun Cukup lihai.
Melihat ada orang aneh akan menyerangnya, sebat sekali kakinya melayang mengarah muka orang.
Hwi Hing gunakan ilmu "Can-ih-sip-pat-tiat,"
Dia mele jit kebelakang Li Khik Siu.
Lalu ulurkan tangannya menyolok punggung orang.
Jenderal yang tubuhnya gemuk itu sempoyongan terlempar pergi.
Wan Cie terkejut, Cepat-cepat mengirim tusukan lagi.
Tapi Hwie Hing kembali melejit kesamping.
Sedang siperwira Can Tho Lam, ketika nampak atasannya jatuh numprah ditanah, Buru-buru datang menolong.
Tapi Seng Hiap tak mau lepaskan lawannya itu, siapa terus dikejar.
Jadi kini ada 2 orang berlari-larian menuju kepada Li Khik Siu.
Ketika hampir kepegang tiba-tiba Tho Lam memutar tombak dan menusuk pengejarnya itu dengan gerakan "tok-liong-jit-tong"
Atau naga jahat keluar goa.
Dalam pada itu, Li Khik Siu sudah berbangkit sendiri.
Tetapi Hwi Hing telah mendahului menCelat disampingnya.
Melihat gerak tubuh orang aneh berkedok itu Cepat-cepat luar biasa, hanya sekejap saja sudah sampai didekat ayahnya, mengingat akan keselamatan sang ayah, karuan Li Wan Ci terkejut sekali, Cepat-cepat iapun melayang maju, dan belum kakinya menancap tanah, dengan tipu "pek-hong-koan-jit"
Atau pelangi menembus sinar matahari, segera ia tusuk punggung orang berkedok Liok Hwi Hing.
Jilid 21 MENDENGAR menyambarnya senjata tajam, tanpa berhenti lagi Hwi Hing terus menarik tangan Li Khik Siu dan dibawa lari masuk ketengah lautan api.
Tanpa kuasa tahu-tahu Li Khik Siu tubuhnya terapung diangkat orang, tentu saja semua perajuritnya berteriak kaget, tapi api menjilat dengan hebatnya, mereka tak berani maju menolongnya.
Tatkala itu Nyo Seng Hiap sudah hantam patah tombak Can Tho Lam dan Wi Jun Hwa juga sudah berhasil me rintangi majunya Li Wan Ci.
Melihat Hwi Hing mendadak menyeret Li Khik Siu ke dalam lautan api, segera para jago Hong Hwa Hwe pun mengarti akan maksudnya, maka be-ramai 2 merekapun ikut menerjun masuk, sibongkok Ciang Cin yang per-tama 2 melompat kedalam' lingkaran api, menyusul Cio Su Kin juga melesat masuk.
"Sudahlah Cukup, jangan masuk lagi,"
Demikian Keh Lok mencegah kawah 2nya yang lain.
Terpaksa mereka hanya.
menanti saja diluar lingkaran api.
Ketika perajurit Cing nampak panglima mereka teran Cam bahaya, sesaat mereka menjadi lupa bertempur dengan orang-orang HONG HWA HWE, hanya dengan hati kuatir mereka mengawas gerak-gerik lima orang yang terkurung ditengah lingkaran api itu.
Terlihatlah saat itu Ciang Cin dan Cio Su Kin sudah membangunkan Bun Thay Lay yang bersandar diambang pintu, lalu hendak diajak pergi.
Li Khik Siu agaknya sudah tertutuk oleh orang aneh berkedok itu, sebab lemas lunglai sedikitpun tak berkutik.
Sementara itu Can Tho Lam sudah mundur kebelakang dan menjaga dipinggir sumbu pasang bersama seorang Congping yang bertugas disitu, waktu melihat tawanan penting itu segera bakal lolos, tapi panglimanya berada didalam lingkaran api, maka tak berani ia menyulut sumbu, dalam hati ia kelabakan sendiri tanpa berdaya.
Pada waktu ia ragu 2 itulah, mendadak dari samping sese-orang telah mendorongnya, lalu merebut obor dari tangan satu perajurit terus menyulut sumbu peledak itu.
Karuan terkejutnya luar biasa, waktu Tho Lam menegasi, nyata orang itu adalah Hoan Tiong Su.
Jago bayang kari ini tempo hari telah kena dihajar mentah 2 oleh jago-jago Hong Hwa Hwe ditelaga Se-ouw hingga bikin malu dirinya dihadapan Sri Baginda, dendam itu selama itu selalu di ngatnya, apalagi paman gurunya, Pui Liong Cun juga kena dipotong putus urat pundaknya oleh Bu Tim hingga CaCat untuk selamanya.
Kini melihat Bun Thay Lay bakal terlolos, ia tak hiraukan lagi mati-hidupnya Li Khik Siu, seketika ia sulut sumbu obat peledak itu.
Sekejap saja semija orang menyaksikan seutas bunga api telah menyalar pergi dengan amat Cepat-cepat nya, asal ular bunga api itu sudah melingkari api, sudahlah pasti terjadi malapetaka hebat, tidak saja Bun Thay Lay, Li Khik Siu.
Liok Hwi Hing, Ciang Ciu dan Cio Su Kin bakal hanCur lebur terledak, bahkan akibat dari obat pasang yang tersim-pan begitu banyak sekali didalam gudang pasti akan ikut meledak hingga rumah 2 penduduk sekitarnya tentu tersangkut bahaya.
Karena itu, seketika keadaan menjadi kacau-balau, pasukan Cing be-ramai 2 pada menyingkir mundur.
Sedang berbahaya, tiba-tiba terlihat sesosok tubuh orang melompat Cepat-cepat kedalam lingkaran api.
Orang itu berbaju biru panjang , mukanya juga ditutup sepotong kain sutera biru, hanya sepasang matanya terbuka, pada tangannya membawa sebatang rujung, larinya Cepatcepat luar biasa.
Dengan rujung itu ia menyabet dan menyapu serabutan pada sumbu obat peledak yang meletikan bunga api itu, namun sumbu itu masih terus membakar kedepan.
Nampak keadaan genting itu, Tan Keh Lok dan Ji Thian Hong tak hiraukan keselamatan sendiri lagi, berturut-turut me rekapun melompat maju berusaha hendak memotong sumbu api itu.
Kesemua itu terjadi dalam sekejap saja.
Ketika melihat usaha mereka tak berhasil, tibatiba orang berkedok tadi men jatuhkan diri terus berguling-guling keatas sumbu yang mem-bakar itu, seketika itu badannya mengeluarkan bau yang sangit, sedang seluruh pakaiannya pun terbakar.
Tapi sumbu itu berhasil dapat dipadamkan.
Dalam pada itu, ternyata Ciang Cin dan Su Kin telah berhasil membawa keluar Bun Thay Lay.
Juga mereka bertiga, terbakar tubuhnya.
Ke 2 saudara Siang itu bergegas-gegas menyambutnya, seraya berseru.
"Lekas berguling 2 ketanah,"
Ciang Cin dan Su Kin segera lepaskan Bun Thay Lay dari dukungan, lalu di-guling 2kan ketanah.
Setelah beberapa kali barulah pakaian Bun Thay Lay yang kemakan api itu menjadi padam.
Dan tepat pada waktunya, Lou Ping me nyambut dan membawa pergi suaminya itu.
Sementara itu, Ciang Cin dan Su Kin pun bergulingan ditanah, dan pakaian mereka yang terbakar itupun dapat di-padamkan.
Orang yang berkerudung mukanya itu besar sekali jasanya dalam usaha menolong Bun Thay Lay.
Disamping berterima kasih yang tak terhingga, orang-orang HONG HWA HWE pun merasa heran siapakah gerangan orang aneh itu.
Pada waktu itu, ke 2 saudara Siang tampak menerjang kedalam lautan api, untuk menyeret keluar orang bertudung itu yang ternyata saat itu sudah pingsan.
Ketiga orang sama terbakar pakaiannya.
Setelah kebakaran itu dapat dipadamkan, tampaklah bagaimana kaki tangan dan seluruh tubuh orang aneh itu, sama melepuh.
Setelah melihat Bun Thay Lay sudah dapat diselamatkan, Hwi Hing lalu memanggil Li Khik Siu, dan menerjang keluar.
Sekalipun memanggul orang, tapi karena menggunakan ilmu mengentengi tubuh, maka jago tua itu tak banyak sekali menderita luka-luka terbakar.
"Kita sudah berhasil, lekas mundur!"
Seru Keh Lok.
Seruan itu disambut oleh Bu Tim yang segera memutar pedangnya untuk membuka jalan.
Ke 2 saudara Siang memanggul orang aneh itu, Ciang Cin dan Su Kin memang gul Bun Thay Lay sedang Hwi Hing memanggul Li Khik Siu.
Adalah Wan Ci yang menjadi gelisah sekali, ketika nampak ayahnya digondol orang-orang HONG HWA HWE Dengan menghunus pedang ia memburu, tapi dihadang Jun Hwa dengan sepasang 'siang-kao'nya.
Dalam beberapa jurus saja, nona itu kena kesrempet siangkao.
"Lekas pulang, memandang muka suhumu, aku tak mau melukai kau!"
Kata Jun Hwa.
Sementara itu, pasukan Ceng sama riuh gemuruh ber-sorak 2 mengejar.
Tapi karena pernah merasakan kelihaian orangs HONG HWA HWE mereka tak berani merangsek dekat.
Ada delapan orang jago bayang kari yang diutus oleh baginda untuk membantu Li Khik Siu.
Apabila sampai jenderal itu tertawan dan kena apa-apa, mereka tentu menerima hukuman mati.
Dengan sepasang 'poan-koan-pit'nya, Hoan Tiong Su mati-matian mengejar.
Orang she Hoan itulah yang tadi menyulut sumbu dinamit, maka tahulah Keh Lok bahwa orang itu sangat kejani sekali.
Karenanya dia tak mau mengampuninya.
Begitu me nyerahkan ,leng-bik-kiam' kepada Tio Pan San, ketua HONG HWA HWE itu berkata.
"Sam-ko, tolong kau pimpin mundur rombongan kita, aku akan membereskan orang itu dulu!"
Dari dadanya, dia mengeluarkan senjata 'Cu-soh' (rantai mutiara). Juga Ma Tay Thing memberikan 'kiam-tun', pedang bertameng.
"Bagus saudara Ma, banyak sekali merepoti kau saja!"
Kata Keh Lok.
'Cu-soh' dan 'kiam-tun' ketua HONG HWA HWE itu, selamanya adat lah Sim Hi yang membawakan, karena boCah itu sakit, jadi Ma Tay Thing yang mewakilinya.
Ha,bis itu, sekali mengibas, 5 butir mutiara segera menyam bar kemuka Tiong Su.
Si-wi ini bersenjatakan poan-koan-pit, jadi diapun seorang ahli menutuk.
Sekalipun bagaimana, diapun melengak ketika nampak senjata yang luar biasa dari ketua HONG HWA HWE itu.
Pada setiap batang rantai mutiara, ujungnya terdapat sebuah bola baja, yang dapat dipakai untuk menghantam jalan darah.
"Hoan-toako, bandulan boCah itu lihai sekali. Harap kau hati-hati,"
Seru Cu Co Im.
Mendengar ketuanya di-kata-katai begitu, gusarlah Tay Thing.
Dengan sebatang rujung 'sam-Ciat-kun', dia maju mengemplang kepala Co Im, siapa melengkan kepala sembari balas menghantamkan golok.
Begitulah segera terjadi pertempuran antara 2 partai yang berjalan dengan seru.
Dengan andalkan kegesitannya dan kemahirannya menotok, Tiong Su berkelahi dengan linCahnya.
Sekejab saja sudah berpuluh jurus lewat dan selama itu, diam-diam si-wi itu meng eluh dalam hati.
Tidak lagi dia dapat wujudkan lamunannys untuk menang, sedang untuk dapat bertahan lagi, dia sudah akan berSyukur sekali.
Dan akhirnya, jalan satu 2nya ialah menCari kesempatan untuk lolos.
Namun dirinya seolah 2 dilihat oleh rantai mutiara orang.
Memang Tan Keh Lok tak ingin memperpanjang tempe lebih lama lagi.
'Cu-soh' diputarnya dalam gerak-gerak yang luar biasa hebatnya.
Itulah yang disebut ilmu "Cian-thao-ban-jiu' atau seribu kepala selaksa tangan.
Bandulan baja bagaikai hujan derasnya, mengarah jalan darah.
Sehingga Tiong Su menjadi kebingungan untuk memelihara gerakannya.
Saking gugupnya ia menjadi kalap.
Dalam suatu kesempatan, dia menerjang maju terus menusukkan 'poan-koan-pit'-nya kedada lawannya.
Adalah peraturan dalam ilmu silat, jalah "satu dim pendek satu dim berbahayanya." 'Poan-koan-pit' adalah senjata yang pendek.
Kelihaiannya jalah untuk mengambil kemenangan dengan jurus-jurus nya yang berbahaya.
Pikir Tiong Su, Tan Keh Lok pasti akan mundur atau sekurang-kurangnyanya menyingkir.
Dan ketika itu, dapatlah dia lolos.
Poan-koan-pit itu bergerak keatas dan kebawah, mengarah jalan darah "hian-ki"
Dan "Hit-Cian"
Pada dada Keh Lok Tapi diluar dugaan, ketua HONG HWA HWE itu menarik turun tangannya kiri dan 'tun-kiam'-nya menabas kebawah.
Pada 'tun' atau perisai itu, ditanCapkan sembilan batang pedang terkait yang tajam.
Tiong Su gelagapan, untuk menarik poan-koan-pitnya sudah tak keburu lagi.
Maka begitu sepasang pitnya kebentur dengan kiam-tun, Cepat-cepat a dia tarik pulang.
Tapi Keh Lok telah mendahuluinya untuk menyabet dengan Cu-soh, sehingga ke 2 kaki Tiong Su tergubat.
Dan sekali dilontar se kuat 2nya, tubuh Tiong Su melayang kedalam lautan api.
Ketua HONG HWA HWE itu terlanyur mengumbar kemarahannya Maka menyusul dengan itu, dia balingkan lagi Cu-sohnya menghantam punggung Co Im.
"Aduh "
Jerit Co Im kaget dan kesakitan sekali, karenanya gerakannya pun menjadi lambat.
Dengan tak sia-siakan kesempatan, Tay Thing menghantamkan 'sam-Ciat-kun'-nya dan tepat mengenai paha lawannya.
Tay Thing gemas sekali akan mulut Co Im yang kurangajar tadi, jadi dia gunakan seluruh tenaganya untuk menghantam.
Akibat nya, paha si-wi itu hanCur.
Pada saat itu, rombongan HONG HWA HWE sudah dapat keluar dari pagar tembok.
Sedang Pan San yang melindungi dibelakang, tampak berhantam dengan tiga orang jago bayang kari.
"Ayo, mundurlah!"
Seru Keh Lok ketika menghampiri sembari melambaikan tangan.
Sedang dilain pihak, dalam tiga jurus saja, Wan Ci kelihatan tak dapat bertahan dari serangan 'siang-kao' Jun Hwa.
Terpaksa ia mundur.
Jun Hwa tak mau mendesak, hanya berputar kekanan dan mengajunkan kepalannya pada seorang si-wi sehingga si-wi itu pesok hidungnya.
Dan se Cepat-cepat nya, Jun Hwa sudah merampas sebatang obor, terus menyulut sumbu yang dipadamkan oleh siorang bertudung tadi.
Gegap gempitalah kegemparan pasukan Ceng, sedang dalam pada itu, rombongan HONG HWA HWE sudah menyingkir semua, Swi Tay Lim, Cu Wan dan lain-lain.
si-wi sedianya akan terus mengejar, tapi tibas dilihatnya asap hitam bergulung-gulung keatas dan sekali sinar api yang terang benderang berkilat, maka terdengarlah suara letusan dahsyat memeCah bumi.
Seketika CuaCa menjadi gelap dengan gulungan asap, dan pecahan genteng serta batu beterbangan keseluruh penyuru.
Anak 2 tangsi sama mengetahui bahwa itulah obat pasang yang meledak, mereka, burus tengkurap ketanah.
Obat pasang didalam gedung berloteng itu, ber-peti 2 banyak sekalinya maka letusan segera terdengar susul menyusul.
Sekalipun orang-orang itu berada ditempat yang jauh jaraknya dengan gedung itu, namun mereka tak sekali-kali berani bangun.
Walaupun demikian, tak urung ada berpuluh orang yang kepalanya berdarah ketimpah pecahan batu atau genteng.
Hoan Tiong Su, itu si-wi yang kejam, karena dilemparkan kedalam api oleh Keh Lok tadi, sianga tubuhnya sudah hanCur ber-keping-keping kena ledakan obat.
Setelah orang-tangsi itu berani berbangkit lagi, rombongan HONG HWA HWE sudah lenyap dari pemandangan.
Swi Tay Lim pimpin pasukan berkuda untuk mengejar kearah tenggara (timur selatan), barat daya dan keempat jurusan lain.
Yang pimpin pengejaran kesebelah barat, adalah perwira Can Tho Lam.
Belum lama berjalan, mereka berpapasan dengan Wan Ci yang berjalan kembali sambil menuntun ayahnya.
Girang sekali Tho Lam, lalu Buru-buru memberikan kudanya.
Kiranya ketika tahu sang ayah ditawan, tanpa hiraukan apa-apa lagi, Wan Ci nekad mengejar.
Rombongan HONG HWA HWE menuju kebarat, karena seorang diri, Wan Ci tak berani terlalu mendekati, hanya menguntit dari kejauhan.
Waktu itu hari belum terang tanah, tetapi ketika rombongan itu sampai dipintu barat, tiba-tiba pintu kota itu terbuka, se-olah 2 memberi kesempatan orang-orang itu untuk keluar.
Wan Ci memutar kelain jurusan, pada sebuah tempat sepi, ia memanyat keatas.
Tapi karena itu, ketika diawasinya lagi, rombongan HONG HWA HWE tadi sudah tak nampak.
Hanya bintang pagi menCorong dilangit, sedang ajam jago kedengaran berkokok.
Karena bingung dan sedih memikirkan nasib ayahnya, nona itu mendekap mukanya dan menangis.
Tengah dia menangis itu, tiba-tiba ada suara lemah lembut menegurnya.
"Wan Ci, aku disini."
Sukar dilukiskan rasa kegirangan sigadis itu ketika dike tahuinya bahwa orang yang berdiri dibelakangnya itu adalah ayahnya sendiri. Ia loncat menubruk dan merangkul sang ayah.
"Ayah, apa kau tidak terluka?"
Tanyanya segera.
"Tidak,"
Sahut orang tua itu. Wan Ci sesepkan kepalanya kedada sang ayah, dan berbisik menanya.
"Bagaimana dengan dia?"
Tapi Khik Siu tak menyahut, hanya gelengkan kepala.
Tanpa terasa, Wan Ci kucurkan air mata.
Kiranya sewaktu keluar dari pintu kota dan melihat tak ada yang mengejarnya lagi, rombongan HONG HWA HWE lega hatinya.
Berjalan tak berapa lama, mereka sampai ditepi sungai.
Disitu sudah tersedia belasan perahu model Siauwhin, yaitu yang dienjot pakai kaki.
Ma Sian Kun keluar menyambut, dan dengan gembira orang-orang HONG HWA HWE sama naik kedalam perahu.
Waktu itulah Hwi Hing berbisik pada Tan Keh Lok.
"Li Khik Siu pernah melepas budi padaku. Bun-suko sudah tertolong, baik kita lepaskan Ciangkun itu."
Tan Keh Lok setuju. Setelah pengikat Khik Siu dikendorkan, dia diletakkan diatas tepi sungai.
"Lekas berlajar, kita menuju ke Kahin dulu!"
Seru Keh Lok. Setelah berlajar melalui lima teluk, tiba-tiba Tan Keh Lok i* berseru.
"Biluk kebarat ke IkCiu, biar Li Khik Siu t jari kita di Kahin!"
Orang-orang sama tertawa ter-bahak 2.
Ber-bulan 2 jerih payah, baru hari itu mereka betuia bebas hatinya.
Bun Thay Lay dirawat dengan penuh sayang oleh isterinya.
Setelah borgo lannya dipapas dengan 'leng-bik-kiam', maka iapun lalu mengaso.
"Congthocu, orang berkerudung yang menolong Suko itu luka parah sekali. Baik apa tidak kalau kita buka kerudung mukanya itu,"
Kata Thian Hong. Memang semua orang pun heran dan ingin mengetahui siapakah gerangan dia itu.
"Dia pakai kerudung muka, tentu maksudnya supaya orang jangan menampak wajahnya. Kurasa lebih baik kita jangan membukanya,"
Kata Ciu Tiong Ing yang berhati jujur itu.
Sim Hi yang sudah banyak sekali sembuhan itu, menggosokkan obat pada luka-luka siorang aneh itu.
Karena sekujur badannya sama melepuh terbakar, orang itu tak bisa tidur dan terus 2an mengerang saja.
Sim Hi takut, jangan-jangan orang itu mau meninggal.
Karena itu, dia Buru-buru melapor.
Keh Lok bersama beberapa kawan menuju kesudut pe-rahu.
Mereka melihat bagaimana laku siorang aneh itu, yang ternyata lukanya itu tidak karuan.
Mereka pun berkuatir.
Orang berkerudung itu masih terus tak sadarkan diri.
Dengan ke 2 belah tangannya, dia garuki mukanya.
Rupanya luka pada bagian itulah yang paling hebat rasa gatalnya.
Tiba-tiba tangannya kiri menarik kain kerudung mukanya itu dan berserulah orang-orang HONG HWA HWE dengan kaget sekali.
"Sipsute!"
Kiranya orang aneh itu ialah si Kim-tiok-siuCay Ie Hi Tong.
Hanya saja kini, selebar mukanya sama melepuh mengandung air.
Kalau dulunya muka itu sangat Cakapnya, sekarang betul-betul mengenaskan sekali keadaannya.
Orang-orang HONG HWA HWE sama girang dibalik merasa gegetun sekali.
Lou Ping menyeka luka-luka dan kotoran 2 pada muka Hi Tong, lalu dipakaikan obat seperlunya.
Hatinya merasa pilu sekali, ia tahu anak muda itu berkorban karena Cinta padanya.
Besar Cinta kasih anak muda itu, sehingga rela dia membuang jiwa untuk menolong Bun Thay Lay supaya orang yang diCintainya itu jangan bersedih.
Sekalipun begitu, sukar rasanya Lou Ping untuk membagi Cintanya.
Masih ingat ia akan kegeloan pemuda itu ketika lari dari Thiat-tan-Hung dulu, untuk itu ia masih mendongkol.
Tapi ketika melihat pengorbanan pemuda itu menolong suaminya, berobahlah pandangan Lou Ping.
Memang Cinta, telah membikin buta anak muda itu.
Kalau ditilik dari luka-lukanya, rasanya Hi Tong sukar tertolong jiwanya.
Dan kalau sampai terjadi begitu, getaran asmaranya itu akan tetap tak terbalas.
Memikir sampai disitu, Lou Ping termenung.
Setelah berlajar beberapa jam lagi, sampailah mereka di Gihong Ma Sian Kun Buru-buru mengundang tabib pandai untuk mengobati Hi Tong dan Bun Thay Lay.
Tentang penyakit Bun Thay Lay, berkatalah tabib itu.
"Orang ini hanya menderita luka luar, urat 2nya kuat sekali, beberapa bulan lagi dia tentu sudah sembuh."
"Tapi siaoya ini,"
Kata pula tabib itu menuding kearah Hi Tong.
"Lukanya terbakar hebat sekali. Pertama Coba. kuberinya 2 thiap obat pemunah raCun kebakar."
Dari uCapa,n itu dapatlah diketahui, bahwa tabib itu sudah tak berani memastikan sembuh tidaknya Hi Tong, yang sudah tak berdaya lagi.
Ketika tabib itu berangkat pulang, tiba-tiba Bun Thay Lay ber-kaok 2 keras.
"Tempat apa ini? Mengapa orang-orang banyak sekali berada disini?"
Nampak suaminya dapat tersedar, Lou Ping menangis kegirangan.
"Toako, kau sudah tertolong bebas!"
Bun Thay Lay bersenyum dan manggutkan kepala kepada sekalian orang, lalu meremkan mata lagi, dia masih keliwat lemah. Sekarang perhatian oranga HONG HWA HWE beralih menguatir kan keselamatan Hi Tong.
"Tapi mengapa Sipsute ini masuk kedalam tangsi Li Khik Siu?"
Tanya Ciang Cin heran.
"Kalau begitu orang yang menunyukkan jalan di bawah tanah itu, tentu dialah. Tapi karena tidak mengetahui, kita malah sudah memukulnya,"
Kata Siang He Ci.
"Tapi dia menolong Li Khik Siu, entah apa maksudnya?"
Tanya Siang Pek Ci.
Tak ada jawaban apa-apa, keCuali saling berisik merundingkan.
Hanya Thian Hong seorang yang dapat merabah latar belakangnya.
Tapi karena kurang jelas dia tak berani mengutarakan.
Hal yang sebenarnya, adalah sebagai berikut.
Ketika pertempuran ditepi Hoaggho tempo hari, Wan Ci telah hilang dari rombongan HONG HWA HWE Kebetulan ia melihat sebuah kereta besar, maka Cepat-cepat ia loncat masuk.
Ternyata didalamnya ada beberapa perwira Ceng, siapa Coba menghadang Wan-Ci, tapi dapat dipukul mundur oleh nya.
Tanpa menghiraukan apa-apa, nona itu menerjang dengan kalang kabut, entah kemana arahnya.
Setelah keretanya jauh, baru dia berhentikan kereta itu dan turun.
Ketika menyingkap tenda kereta dan melongok kedalam, ia agak terperanyat.
Karena didalam situ terdapat orang yang pernah 2 kali bertemu muka dengannya, jakni Kim-tiok-siuCay Ie Hi Tong.
Hanya saja keadaan orang itu, sakit payah.
Waktu disingkap selimutnya, ternyata anak muda itu luka parah.
Setelah mengaso sebentar, Wan Ci keprak keledainya lagi.
dan tiba dikota Bun Kong.
Sebagai seorang sioCia dari seorang pembesar tinggi, ia biasa hidup mewah.
Begitu masuk kota, ia lalu memilih sebuah hotel yang besar.
Justeru hotel itu adalah milik seorang buaja darat yang bergelar "Tong-li-pi-siang"
Atau warangan didalam gula, nama yang sebenarnya Tong Liok.
Tong Liok pura-pura menyambutnya dengan manis, tapi menaruh keCurigaan kepada tetamunya.
Betul juga belakangan dia ketahui bahwa Wan Ci itu seorang gadis yang menyaru sebagai lelaki.
Dia berserikat dengan sinshe Ho Su Peng untuk men Celakakannya.
Tapi belum sampai terlaksana, buaja itu telah kena dibereskan oleh Siao-Li-Kui Ciu Ki dirumah pelesiran Waktu itu keadaan Hi Tong sudah sedikit sadar.
Karena takut dirembet dengan peristiwa buaja itu, dia ajak Wan Ci melarikan diri.
Begitulah setiba dikota Khay Hong, Wan Ci segera menghadap kekantor bupati dan menerangkan dia adalah putera dari Ciangkun Li Khik Siu dari HangCiu, yang dibegal orang ditengah jalan.
Pembesar itu memberikan uang dan kereta, dan begitulah ke 2 anak muda itu dapat sampai di HangCiu dengan tak kurang suatu apa.
Kepada sang ayah, Wan Ci menerangkan bahwa pemuda kawannya itu mendapat luka karena menolongnya dari tangan perampok.
Khik Siu berterima kasih dan suruh Hi Tong beristirahat dalam tangsi serta dipanggilkan sinshe untuk mengobatinya.
Kemudian karena melihat orangnya Cakap dan ilmu ke-pandaiannya tinggi, apalagi pernah menolong puterinya.
Ciangkun itu ada ingatan akan mengambil mantu pada Hi Tong.
Sedikitpun tak diketahuinya bahwa pemuda yang telah di penujuinya itu, adalah salah satu tokoh yang terpenting dari HONG HWA HWE Beberapa bulan kemudian, hati Wan Ci tampak risau.
Tahu ia bahwa anak muda itu sebenarnya adalah pihak lawan dari ayahnya, tapi apa mau dikata, hati sinona telah punya bayangan dari wajah anak muda itu.
Malam ia bermimpi ketika Hi Tong berada di hotel dengan senyumnya yang manis sewaktu menghadapi musuh, dan bagaimana merdu rajuan suling dari anak muda itu.
Dan bagaimana selama dalam perjalanan itu, ia rawat luka sianak muda dengan penuh kesajangan.
Anehnya, entah pengaruh apa yang menyebabkan ia dapat mengatasi diri untuk tidak mengeluarkan perangainya yang aneh 2 itu.
Sekali-kali ia tak suka sianak muda itu menCelah kelakuannya.
Setelah luka Hi Tong mulai sembuh, orang-orang HONG HWA HWE melaku-kan penyerangan ketangsi.
Sewaktu Hi Tong buang jiwa untuk menolong ayahnya, Wan Ci girang bukan buatan.
Dikiranya anak muda itu sudah berobah pendiriannya dan berdiri dipihak ayahnya.
Tapi lamunannya itu segera dibujar kan dengan adanya kenyataan, ketika Hi Tong menolong Bun Thay Lay, kemudian lalu mengikuti pergi dengan rombongan HONG HWA HWE Begitulah sekujur tubuh Hi Tong melepuh berair.
Duduk maupun dibuat tiduran, rasanya sakit.
Ada 4 orang thauwbak yang bergiliran mendukungnya selama berlajar dengan perahu itu.
Karena hanya bagian tumit kakinya saja yang tak ter luka, maka ia masih bisa berdiri.
"Kurasa pemerintah tentu takkan tinggal diam dengan tindakan kita ini. Sebaiknya kita Cari daya untuk menjaga diri,"
Hwi Hing menyatakan pendapatnya.
"Benar, Suso, Ciang-sipko, kamu bawa delapan orang thauwbak untuk mengantar Bun-suko dan Ie-sipsute kegunung Cian-thian bok,"
Kata Keh Lok. Lou Ping dan Ciang Cing mengiakan.
"Karena kehilangan pesakitan penting, baginda tentu akan gerakkan pengejaran besaran, kurasa kalau hanya kalian ber 2 itu masih kuranglah,"
Ciu Tiong Ing memberikan pandangannya.
"Ya, Ciu-Locianpwe benar,"
Jawab Keh Lok. Tapi belum sampai dia menunyuk siapa orangnya, keburu Thian Hong menyelak .
"Mengapa kita tak mau turut akan tipu dari suhu Tio-samko, biarkan pemerintah Ceng mendapat hidung pan jang ."
Tapi Bu Tim gelengkan kepalanya.
"Suhu Tio-samko itu waktu sudah berusia tinggi, dia sudah undurkan diri, jadi tak apalah kalau pura-pura meninggal. Tapi Sute masih muda, darahnya panas, tentu tak tahan menderita hinaan,"
Demikian katanya.
Kiranya suhu dari Tio Pan San, Ong Liang Ki, adalah ahli Thay Kek Pai yang kenamaan dari kota TTnCiu.
Semasa mudanya pernah bermusuhan dengan jagoan besar dari Shansi yang bernama Seng Kiao.
Seng Kiao kena dijatuhkan, dan bersumpah nanti sepuluh tahun lagi akan menuntut balas.
Sepuluh tahun lamanya, Seng Kiao menyiksa diri berguru pada Cabang Houw Jiau Kun, ilmu silat Cakar Harimau, dan tepat pada waktunya ia pergi keselatan menCari Liang Ki.
Sebenarnya ketika itu Ong Liang Ki sudah undurkan diri.
Dia sudah tawar akan kebanggaan nama yang kosong.
Apalagi tenaganya sudah banyak sekali berkurang, sedang lawan kabarnya sudah mendapat kemajuan pesat sekali, jadi mungkin tak dapat menghadapinya.
Karenanya dia gunakan tipu pura-pura mati.
Diruangan depan diatur meja sembahjangan dan di letakkannya peti mati.
Mengetahui musuh besarnya sudah menutup mata, Seng Kiao menangis didepan peti mati.
Dia tangisi jerih payahnya selama sepuluh tahun itu, kini tak berguna sama sekali.
Jadi sakit hati itu tak dapat dilampiaskan.
Habis bersembahyang , dia gunakan jari tangan menggaruk peti mati, sehingga kelima jarinya itu meninggalkan bekas dalam 2 pada peti itu.
Tio Pan San adalah murid nomor 2.
Demi dilihatnya, Seng Kiao begitu kejam menghina seorang mati, timbul ah kemarahannya.
Dari berCekCok lalu menjadi perkelahian.
Tapi Pan San bukan tandingannya Dia kena digaruk rambutnya sampai kepalanya botak separoh.
Tio Pan San mendendam sakit hati.
Selanjutnya lalu ber sungguhz meyakinkan ilmu silat Thay Kek Kun.
Lima tahun kemudian seperti sang suhu, Pan San gunakan gerak tipu "Ya-ma-hun-Cong"
Atau kuda Uar membagi bulu suri, suatu tipu yang digunakan oleh gurunya dulu, dan berhasil merobohkan Seng Kiao.
Dan sedari itu, Tio Pan San diangkat sebagai Ciang-bun-jin (ahliwaris) dari Cabang Thay Kek Pai.
Tio Pan San memperingatkan kepada murida yang belajar didalam perguruan itu, supaya menyauhkan permusuhan dengan orang, karena ilmu itu tidak ada batasnya.
Setiap Cabang mempu nyai ahli 2 luar biasa sendiri 2, jadi tak boleh terlalu membanggakan diri.
Peristiwa itu teruwar luas dikalangan kangouw.
Semua orang-orang HONG HWA HWE pun menyetujui pendapat Bu Tim.
Meskipun tipu "pura-pura mati"
Dapat menyiasati pemerintah Ceng, tapi mengunjuk kan kelemahan. Dapat diduga Bun Thay Lay tentu tak menyetujuinya.
"Congthocu, sudahlah jangan hiraukan aku. Lo-thocu tinggalkan pesan mengenai gerakan besar untuk membangun-kan lagi derajat bangsa Han. Congthocu, kau tentu dapat melakukannya. Sekarang baginda sedang berada di HangCiu, mudah menCarinya,"
Demikian tiba-tiba Bun Thay Lay berseru. Keh Lok seperti orang tersedar, maka jawabnya.
"Ya, biar kumenghadap pada baginda dan mengatakan bahwa rahasianya telah kita ketahui. Dengan begitu dia tentu akan menganggap orangs HONG HWA HWE ini semua adalah duri perintang baginya, dan harus dihukum mati semua. Jadi dengan demikian dia tidak memusatkan kebenciannya pada Bun-suko seorang saja."
Mendengar pendapat ketua itu, orang-orang sama bertepuk tangan dengan girang.
"Kiu-te, apakah selama beberapa hari ini di HangCiu diadakan persidangan agung?"
Tanya Keh Lok.
"Tidak ada. Tapi malam ini akan diadakan pemilihan ratu kembang!"
Jawab Jun Hwa.
"Ratu kembang? apakah itu?"
"Ah, ratu kembang pelacur, tentunya. Nanti malam di telaga See-ouw ramainya bukan buatan,"
Kata Jun Hwa dengan ketawa.
"Kita panCing baginda supaya datang ketempat pelesiran. Congthocu, kaupun harus keluar supaya menemui baginda,"
Kata Thian Hong. Mendengar tempat pelesir dan sebagainya, Cin Ki kerutkan alisnya kurang senang.
"Huh, makin lama kau ini makin tak karuan. Masa Congthocu kau suruh ketempat pelesiran,"
Demikian omelnya.
"Ah, hanya perlu menemui baginda saja, tak mengapalah,"
Jawab Thian Hong.
"Tapi kukuatir, dia tak mudah dipanCing,"
Kata Keh Lok. Semua orang terdiam, mengasah otak.
"Kita bekerja tak boleh kepalang tanggung, tawan saja raja itu, paksa dia luluskan permintaan kita, atau habisi saja jiwanya, Coba lihat dia bagaimana,"
Kata Bu Tim. Kembali orang-orang sama melengak tak ada yang berani buka suara.
"Dia menangkap Bun-suko, kita balas tangkap dia, kan sudah selajaknya,"
Kata Keh Lok. Tahu sang ketua menyetujui usulnya, Bu Tim girang, katanya kepada Thian Hong.
"Ayo, kita pergi kesarang pelesir, takut atau tidak?" -Lalu ia melirik pada Ciu Ki, dan lanjutkan kata-katanya.
"Aku seorang pertapaan, juga akan pergi. Kalau bisa menawan baginda, pastilah hebat."
Semua orang ketarik dengan kata-kata tojin itu.
Untuk menawan Kian Liong, mungkin tak mudah, tapi mereka tampak bersemangat.
Semua mata tertuju pada Thian Hong, untuk menunggu buah pikiran si "Khong Beng"
Ini. Lama juga dia berpikir, baru berkata.
"Ada suatu daya, entah dapat disetujui atau tidak?"
Dan segera dibeberkannya rencananya.
"Bagus, bagus! Tak keCewa kau menjadi 'Bu-Cu-kat'. Andainya tak berhasil, kitapun tak rugi,"
Seru Hwi Hing memuji. Ciu Ki tersenyum puas, karena orang memuji tunangan nya.
"Ya, begitulah. Sebaiknya kita lekas bekerja. Suso, Sipkp, pergilah kebarat. Tunggulah kita disana. Gagal atau berhasil, kita nanti bertemu lagi disana,"
Kata Keh Lok kemudian.
Kalau semua saudara-saudaranya sama gembira, adalah Ciang Cin yang mendongkol, karena tidak bisa ikut.
Demikianlah rombongan besar HONG HWA HWE lalu menuju ke HangCiu, sedang Lou Ping dan Ciang Cin mengantar Bun Thay Lay dan Hi Tong beristirahat kegunung Cian Thian Bok.
Dilain pihak mendapat laporan dari Cu Wan dan lain-lain si-wi tentang kegagalannya ditangsi Li Khik Siu, baginda Kian Liong terperanyat.
Tapi dia orangnya kuat sekali pe rasaannya, marah atau girang tak kentara.
PerCuma saja si-wi 2 itu dihukum, karena toh pesakitan sudah terampas musuh.
Malah dia menghibur kawanan si-wi itu.
Hal itu diluar dugaan mereka, sehingga mereka tersipu-sipumenghaturkan terima kasih.
Pun idem dengan Li Khik Siu yang datang menghadap.
Jenderal itu masih tetap dipakai nya, dengan sjarat dia harus mendirikan pahala guna menebus dosanya itu.
"Lakukan sebisanya, babatlah HONG HWA HWE sampai akar 2nya, disinilah nanti kutempatkan kau,"
Kata Kian Liong.
Waktu itu baginda lagi berada dikantor gubernur Ciat-kang.
Jadi maksudnya, kelak kalau berjasa Khik Siu akan diangkat menjadi gubernur propinsi Ciatkang.
Mendengar itu hati Khik Siu bergoncang keras, dan Buru-buru menghaturkan terima kasih.
Setelah Khik Siu berlalu, maka Kian Liong kembali pikiri tentang peristiwa Bun Thay Lay itu.
Apakah orang itu mengetahui tentang rahasia dirinya?
Ditilik dari perCaka pannya rupanya orang she Bun itu masih belum tahu.
Tapi kalau melihat perubahan mukanya orang itu mengandung banyak sekali rahasia.
Bukankah dia pernah mengatakan, bahwa ada 2 buah barang bukti yang berada diluaran?
Mungkin hal itu benar, tapi barang apakah itu?
Kalau dirinya itu seorang Han, itulah benar.
Namun kalau sampai hal itu teruwar, bukankah akan hebat akibatnya?
Demikian Kian Liong timbul tenggelam dalam pikirannya, sewaktu dia berada didalam kamarnya.
Makin dipikir, makin murkalah.
Karena sebagai yang dipertuan, masa tak dapat menandingi sekelompok kecil gerombolan penyahat.
Apalagi rahasianya, berada ditangan mereka, tentu mereka akan lakukan pemerasan hebat.
Saking gemasnya, dia banting sebuah vaas giok hijau kelantai, sehingga hanCur ber-keping-keping.
Mendengar itu, kawanan si-wi yang menjaga diluar kamar, sama gemetar ketakutan.
Sampaipun rasanya bernapas saja tidak berani.
Memang jitu bunyinya ucapan "menghamba pada seorang raja, seperti menghamba pada harimau."
Tengah keadaan hening luar biasa, tiba-tiba dari luar sajup 2 terdengar suara musik yang mengalun merdu dari jauh mendekat, setelah melewati kantor pembesar itu lalu men jauh pula.
Dan tak lama kemudian, kembali se-iring 2an penabuh musik itu lewat lagi.
Kaisar Kian Liong adalah satu raja periang, terhadap musik biasanya sangat suka, kini mendengar alunan musik yang begitu merdu meraju kalbu itu, tak tertahan hatinya tergerak, segera ia berteriak memanggil orangnya.
Lalu masuklah seorang menteri, ialah Ho Gun, seorang kepercayaan Kian Liong yang paling belakang ini sangat disayang nya, dasar Ho Gun ini pandai mengambil hati jun jungannya, maka berulang kali ia naik pangkat dan dapat hadiah.
Kini mendengar teriakan sang kaisar, maka kawan sejawatnya mendorongnya maju.
"Suara tetabuhan diluar itu permainan apakah itu, Coba kau pergi menanya,"
Demikian perintah Kian Liong. Segera keluarlah Ho Gun dengan tugas itu. Tak lama kemudian iapun kembali dan melapor.
"Hamba sudah keluai menanya jelas, katanya malam ini semua bunga raja terkemuka dikota HangCiu ini akan berkumpul di Se-ouw untuk memilih apa yang disebut 'Hoa-kok-Cong-goan' (Cong-goan gelar ujian sastra terkemuka dijaman feodal. Disini dapat disebut "ratu kembang"), malahan juga ada Pong-gan, Tam-hoa, Toan-loh (semuanya gelar dibawah Cong-goan) ."
"Kurangajar, masakan nama 2 kebesaran negara dibuat permainan dan disalahgunakan!"
Omel Kian Liong sambil tertawa. Melihat wajah sang junyungan bersenyum, Ho Gun menjadi berani, maju setindak lantas ia bisik-.
"Konon katanya 'Ci-tong-su-yan' yang terkenal di HangCiu sini juga akan hadir kesana."
"Apakah 'Ci-tong-su-yan' itu?"
Tanya Kian Liong.
"Sebenarnya hamba sendiripun tidak tahu,"
Sahut Ho Gun.
"Tadi sesudah menanya penduduk orang sini, barulah diketahui itu adalah nama empat bunga raja yang paling terkenal. Sekarang di-manaa diseluruh kota orang justeru lagi ramai memperbincang kan siapakah diantara mereka yang bakal terpilih menjadi ,ratu kembang'."
"Kalau ujian Cong-goan negeri aku sendirilah yang me nunyuk, lantas pilihan 'ratu kembang' ini siapakah yang me-nentukan? Masa masih ada seorang raja kembang?"
Ujar Kian Liong tertawa.
"Biasanya pilihan itu ditentukan oleh para orang-orang terkemuka dikota ini,"
Kata Ho Gun.
"Tampaknya tahun ini terlebih ramai lagi, setiap bunga raja terkenal itu menumpangi sebuah perahu kembang, perahu itu dihias segala macam benda mestika yang diterimanya dari tetamu yang pernah kenal padanya. Masih ada lagi barisan 2 musik, katanya akan melihat perahu kembang siapa yang paling mewah, kemudian baru ditentukan hasil pilihannya. Iringkan musik yang lewat tadi, kesemuanya menuju ke Seouw."
Kian Liong menjadi terpesona oleh Cerita menterinya itu, segera, ia tanya lagi.
"Bilakah mereka mulai permainan itu?"
"Sudah hampir, asal hari sudah gelap, segera disemua perahu kembang terang benderang dengan lampu aneka warna, dan mereka yang akan dipilihpun tibalah,"
Terangkan Ho Gun.
"Jika sekiranya Hongsiang ada minat, bagaimana kalau Coba-coba pergi melihat keramaian itu?"
"Ah, takutnya kalau dibuat kritik orang,"
Ujar Kian Liong tertawa.
"Apa lagi bila diketahui Thayhou (ibusuri), tentu aku bakal mendapat Comelan. Haha!"
"Asal Hongsiang menyaru sebagai penduduk biasa, sekedar menonton keramaian itu, rasanya tiada orang luar bisa tahu,"
Kata Ho Gun pula.
"Baiklah,"
Kata Kian Liong akhirnya.
"Kau suruh semua tutup mulut, diam-diam kita menonton sebentar lantas kembali."
Segera Ho Gun melayani Kian Liong mengenakan suatu baju panjang dari sutera dan berdandan sebagai seorang saudagar besar.
Ia sendiripun menyamar seperti saudagar biasa, sesudah membawa Pek Cin dan beberapa bayang kari lain, lantas pergilah mereka menuju Se-ouw.
Setiba disana, ternyata sudah ada seorang bayang kari me-nyiapkan sebuah perahu pesiar sedang menanti.
Tatkala itu diseluruh telaga di-mana 2 terdengar suara tetabuhan, lampu ber-kelip 2, pemandangan indah luar biasa.
Ditengah telaga sudah ada lebih 20 perahu kembang yang terhias indah sekali disinari lampu 2 yang terang.
Ketika Kian Liong suruh perahu didajung mendekatinya, terlihatlah diantara lampu 2 berselubung sutera itu semuanya ditisik dengan lukisan dari berbagai macam Cerita kuno, terutama mengenai romanse orangs ternama dahulu.
Menyak sikan semuanya itu, diam-diam Kian Liong gegetun akan segala keindahan didaerah Kanglam yang ternyata tak bisa dibandingi daerah utara itu.
Ber-iring 2 perahu 2 pesiar dari kaum pelesiran, mondar mandir ditengah telaga itu.
Rupanya mereka tengah memberi nilai akan perahu 2 Calon ratu.
"He, mengapa mereka hanya melihat perahu bukan orang nya. Apakah 'Cong-goan' itu dinilai dari bagusnya perhiasan perahu?"
Tanya Kian Liong.
"Biar hamba tanyakan mereka", jawab Ho Gun. Tapi baru saja menteri itu akan keluar, tiba-tiba terdengar genderang dipukul, dan seketika itu segala bebunyian menjadi sirap. Menyusul dengan itu melayang lah kembang api keatas udara, terang benderang Cahajanya, kemudian jatuh kedalam telaga. Bermula yang diluncurkan adalah kembang api yang merupakan tulisan "Negara makmur, rakyat sejahtera,"
"Dirgahaju Seri Baginda."
Melihat itu, Kian Liong merasa puas. Menyusul lagi "Beribu bunga merebutkan keCantikan,"
"Mengaum-aum sang kumbang mengisap bunga"
Dan lain-lain istilah kaum pelesiran. Sehabis kembang api, tetabuhan kembali dibunyikan. Setelah irama "Gembiralah sang burung beterbangan"
Dilagukan habis, mendadak semua perahu 2 Calon ratu disingkap tenda lajarnya.
Pada setiap perahu tampak duduk seorang wanita Cantik, yang disambut dengan sorakan dari segala penyuru.
Beberapa si-wi menghidangkan arak dan sajuran serta menyilahkan baginda untuk menikmati arak dan pemandangan yang mentajubkan itu.
Ber-alun 2 perahu pesiar baginda itu menghilir, lewat disamping perahu 2 wanita Cantik itu.
Makin sang mata memandang, makin sang hati tergetar.
Sudah banyak sekali sekali Kian Liong melihat wanita 2 Cantik dalam keraton, tapi sekali ini lainlah halnya.
Air telaga yang putih ke-perak 2an ditimpah Cahaja lampu teng, bau harum semerbak dibawa siliran angin, sungguh membuat hati tersengsam me-layang-layangdilain keinderaan.
Tampak pada setiap perahu mereka, ada sebuah meja yang ditutup dengan kain taplak merah.
Entah untuk apa itu.
Baru setelah Ho Gun tanya pada tukang perahu, dike tahuinya bahwa sebentar lagi orang-orang yang pesiar di telaga itu akan memberi hadiah yang akan ditaruhnya diatas sutera merah itu.
Barang siapa yang menerima hadiah paling banyak sekali dan paling berharga, itulah tandanya yang dipilih sebagai Conggoan atau "ratu keCantikan."
Bagindapun dilapori tentang hal itu. Dan kini mulailah perahu 2 pesiar itu menghampiri apa yang disebut "Hi-tong-su-yan"
Atau 4 ratu yang Cantik.
Perahu mereka berlainan dengan perahua lain.
Yang sebuah, berbentuk seperti bunga teratai, dikelilingi oleh teng 2 yang menyerupai bunga terate.
Ada yang merah, putih dengan daun 2nya yang rimbun.
Wanita yang didalam perahu itu bernama Pian Bun Tay.
Perahu yang ke 2, diatasnya berbentuk 2 gardu mewah dan agung sekali.
Diatasnya gardu itu digubat dengan mutiara dan dituliskan huruf "giok-lip-thing-thing"
Atau 2 gardu kumala berdiri berjajar 2. Kiranya wanita yang berada didalam situ juga bernama " 2 thing,"
Jalan Li Siang Thing. Perahu yang ketiga, merupakan "kong han kiong,"
Istana dingin.
Ditepi perahu itu diberi payangan rama 2 dan giok-tho (kelinCi giok) dan ditaburi bunga kwi-hwa.
Disitu, duduklah Go Jun Kwan yang berpakaian model kuno, memegang kipas, menyaru seperti dewi Siang Go (dewi penunggu rembulan).
Pada setiap kali melihat perahu 2 itu, Kian Liong tak putus-putusnya memuji.
Ketika mendekati perahu yang keempat, ternyata perahu itu dihias dengan pohon dan bunga tulen, merawan hati sekali.
Begitu indah payangannya, sehingga merupakan lukisan pemandangan alam dari seorang pelukis yang ternama.
SiCantik yang duduk diperahu itu, mengenakan pakaian serba putih.
Sajup-tampak seperti bidadari turun dari kahjangan.
Saat itu siCantik sedang duduk mungkur menghadap ke sebelah sana.
Begitu ingin sekali Kian Liong memandang wajah sijelita itu, sehingga dia lalu menyanyikan sebuah pantun dari Cerita "See Siang Ki"
Yang menegurnya.
"Ha, mengapa tak mau menghadap kemari?"
Seperti tertarik besi sembrani, wanita Cantik itu berpaling kebelakang, dan aduh, senyumnya telah membetot hati raja itu.
Kiranya siCantik itu bukan lain ialah penyanyi yang pernah bertemu di Se-ouw tempo hari, jakni Giok-ju-ih.
Berbareng itu disebelah perahu teratai itu.
Pian Bun Tay kedengaran menyanyi.
Suaranya jauh berkumandang kemana 2 dan seke jab saja turunlah hujan bingkisan keatas mejanya, penuh ber-tumpuk 2.
La Siang Ting tak mau ketinggalan.
Tangannya yang halus segera bermain diatas snaar pi-peh (semat jam harpa Tiongkok), merdu mei-aju, ia mengantarkan lagu "Malam purnama musim semi ditengah telaga."
Sedang Go Jun Kwan pun menyusul dengan serulingnya. Lagunya ialah "Tamu agung berkendaraan naga."
Mendengar itu, Kian Liong segera perintahkan Ho Gun untuk mengha-diahkan sepuluh tail emas.
Ketika perahu-pesiar mengerumuni perahu Giok-ju-ih, siCantik itu sedang memerahkan bibirnya.
Pada lain saat, diantar oleh tiupan seruling, iapun menyanyi.
Aman damai, kota siburung hong.
Beribu pintu dari pohon hijau.
Jalan 2 penuh dengan bunga 2an, menarik hati sang kelana.
Siapakah ber-pasang 2 burung seriti itu?
Terpisah dari suasana musim semi, jen dela 2 tertutup awan hijau.
Langit nan gemilang, bunga melati mengintip sepanjang dinding, melingkar bagaikan jembatan.
Dalam kelapangan hati, minum teh diatas perahu.
Sana sini orang menyual kembang, ber-biluk 2 dimuara, menancapkan sebatang pohon liu.
"Hebat! Alam pemandangan Kanglam, memang seperti dalam nyanyian itu", puji Kian Liong dengan elahan napas. Kiranya nyanyian Giok-ju-ih itu adalah sjair gubahan Khong Siang semasa tahun pertengahan dari baginda Kong Hi. Sembari menyanyi, mata siCantik tak henti^nya melirik kepada Kian Liong. Sjair tadi mengisahkan sewaktu Cay-Cu-houw Pui Ih mengunjungi penyanyi yang tersohor Li Hiang Kun. Baginda tergerak hatinya, tahulah beliau apa maksud siCantik itu. Kian Liong, tergolong raja yang gemar akan kesusasteraan. Dalam kunjungannya kedaerah selatan ba-nyak kali beliau membuat timpalan sjair (twi-lian). Para menteri selalu memuji akan buah tulisan baginda, tapi beliau menyang sikan apakah pujian mereka itu memang sesungguhnya. Seketika itu beliau titahkan Ho Gun untuk menghadiahkan Giok-ju-ih sebanyak sekali lima puluh tail emas. HangCiu terkenal sebagai tempat yang permai. Setiap tahun di adakan pemilihan ratu keCantikan semacam itu, tentu penuh dikunjungi orang dari segala tempat. Boleh dikata seluruh penduduk disekeliling daerah Hang-Ciu sama ber-dujun 2 kesitu. Terutama para kongcu dan kaum pelesiran. Karenanya, perahu 2 nona Cantik itu sudah penuh dengan barang bingkisan. Tapi yang terbanyak sekali adalah perahu keempat bunga berjiwa tadi. Menjelang tengah malam, panica mulai memeriksa pera-hu-perahu itu. Para nona 2 Cantik itu sama menunggu dengan hati ber-debar 2 juga para penonton. Kian Liong membisiki beberapa patah kata pada Ho Gun, siapa lalu naik sebuah perahu pulang kegedung negara. Tak berapa lama dia kembali dengan membawa sebuah bungkusan besar. Pemeriksaan sudah selesai, perahu 2 pengunyung sama mengerumuni perahu panica, untuk mendengarkan hasilnya. Maka berserulah panica mengumumkan hasil pemeriksaan annya.
"Perahu yang mendapat bingkisan paling banyak sekali sendiri adalah kepunyaan nona Li Siang Ting!"
Gemuruh suara orang bersorak 2. Dibalik yang ber-tepuk 2 kegirangan, ada juga yang memakinya. Mungkin kurang puas. Dan tiba-tiba ada seorang berteriak keras-keras.
"Tunggu! Kuhadiahkan sepuluh0 tail uang mas pada nona Pian Bun Tay!"
Dan seketika itu hadiah itu diterimakannya. Tapi lantas ada seorang lagi berseru.
"Aku menghadiahkan sepasang gelang giok dan sepuluh butir mutiara pada nona Go Jun Kwan!"
Benar juga dibawah sinar lampu, gelang batu giok pan-Carkan Cahaja ke-hijau 2an warnanya.
Sedang mutiara itu besar lagi bundar, harganya terang melebihi sepuluh0 tail uang emas tadi.
Semua sama terhening, rata-rata menduga bahwa kedudukan "Conggoan"
Kali ini tentu jatuh pada nona Go Jun Kwan. Sampai sekean saat, tak ada lagi lain orang yang lebih unggul. Maka segera akan diumumkan keangkatan nona Go itu menjadi "Conggoan."
Tapi tiba-tiba Ho Gun berseru.
"Loya kami ada sebuntal hadiah untuk nona Giok-ju-ih!"
Dan bungkusan tadi terus diterimakannya. Ternyata bungkusan itu terisi tiga bundel tulisan. Kata orang itu kepada salah seorang yang berada di situ.
"Sdr. Ban Sia, tentunya pengasih ini bukan orang sembarangan, entah apa saja yang diberikannya?"
Lalu disuruhnya orang membuka. Sedang waktu itu, Kian Liong suruh Ho Gun Cari keterangan tentang siapa-apa yang menjadi panica itu. Sebentar pula Ho Gun sudah kembali dan menghaturkan laporan .
"Ketua panica itu adalah seorang sasterawan bernama Wan Bwe dari keluarga Wan Cu Cay. Sedang lain-lainnya adalah orangs terkemuka didaerah Kanglam sini."
"Memang sudah kudengar, Wan Bwe itu gemar akan ramai 2, ja, memang demikianlah dia,"
Kata Kian Liong dengan tertawa. Bundelan kesatu telah dibuka, tapi isinya membikin ter kejut panica 2 itu. Itulah sjair gubahan Li Gi San. Orang yang di panggil "Ban Sia"
Oleh ketua panica tadi sebenarnya bernama Li Oh.
Dia juga orang HangCiu situ.
Dia jempol dalam hal sjair menyair, dan gubahannya pun terkenal sekali, sehingga menjadi salah suatu keharusan yang dibaCa oleh kaum sasterawan jaman itu.
Menampak buah tulisan penyair Li Gi San itu seketika itu juga Li Oh berseru memuji.
"Inilah mustika yang tak tertara harganya!"
Salah seorang Anggota panica lagi, Thio Ik Sin, juga seorang penyair, Buru-buru membuka bundelan yang ke 2.
Ternyata isinya adalah lembaran panjang dari lukisan Ko Ceng pada ahala Song.
Diatasnya terdapat Cap baginda Kian Liong.
Melihat itu, Wan Bwe bertanya dengan keheranan.
"Sdr. Sim, Ciang toako, Coba lihat dibundelan itu terisi apa lagi?"
Yang dipanggil Sdr.
Sim tadi sebenarnya bernama Sim Tek Cian, alias Kui Ih, penyair terbesar dijaman itu.
Dengan Wan Bwe orang she Sim itu pernah mendapat gelar Cinsu.
Waktu itu terjadi pada tahun keempat dari pemerintahan Kian Liong.
Hanya yang satu selagi masih muda tapi yang lainnya sudah berusia tua.
Karena sewaktu memperoleh gelar Cin-su, Wan Bwe baru berusia 24 tahun, sedang Sim Tek Cian sudah berusia lebih dari enam0 tahun.
Karena usianya itu, penduduk Kanglam memberi julukan "Kanglam lo-bing-su,"
Orang tua pandai dari Kanglam. Orang she Ciang itu bernama Su Cwan, alias Sin Ik. Dengan Wan Bwe dan Thio Ik Sin dia merupakan tiga se rangkai "Kang-Co-sam-tay-ke,"
Tiga keluarga sasterawan dari Kanglam.
Ke 2 orang itu tak dapat menyawab suatu apa, maka Sim Tek Cian mengusulkan supaya diadakan pembicaraan yang lebih mendalam.
Pada sebelah kanan dari perahu itu, juga ada 2 orang sasterawan terkenal yang diundang oleh Wan Bwe.
Yang satu bernama Ki Siao Hong dan satunya bernama The Pan Kiao.
"Menurut pendapatku, 2 perangkat tulisan dan lukisan ini sudah merupakan benda yang tak ternilai, sudah teranglah juara jatuh pada Giok-ju-ih,"
Kata Ki Siao Hong tertawa.
"Dan barang apakah gulungan ketiga itu, marilah kita memeriksanya dahulu,"
Ujar The Pan Kio.
Waktu gulungan kertas ketiga itu dibuka, ternyata isinya adalah tulisan sajak gubahan Auwyang, Siu yang tersohor, sajak itu ditulis secara polosan sajas tanpa tambahan, tiada tanda tangan penulis, tapi gaja tulisahnya sangat indah.
"Gajanya sudah Cukup, tapi tenag'anya kurang,"
Ujar The Pan Kio.
"Sssst,"
Tiba-tiba Sim Tek Cian mendesis.
"Tahulah kau ini adalah tulisan pribadi Hongsiang sekarang?"
Semua orang menjadi terkejut tak berani banyak sekali omong lagi. Maka Wan Bwe lantas berteriak memberi keputusan .
"Menurut pertimbangan panica dengan bukti 2 kenyataan, Cong-goan jatuh pada Giok-ju-ih, Pong-gan dimiliki Go Jun Kwan dan "
Seketika bergemuruhlah seluruh telaga Se-ouw itu dengan suara sorakan.
Wan Bwe cs.
tahu yang menghadiahi tiga gulung lukisan tadi kalau bukan keluarga kerajaan, tentulah pembesar tinggi yang terkemuka, tapi kapal dimana pemberi hadiah itu berada remangs tak jelas dalam kegelapan, pula kuatir kalau tingkah-laku mereka tentang pemilihan, 'ratu kembang' segala ini kelak bakal mendapat Celahan, terpaksa sebelum puas mereka pesiar lantas barua mendarat pulang.
Selagi Kian Liong juga akan pulang, tiba-tiba terdengar Giok-ju-ih telah menyanyi pula diperahunya.
Mendengar suara nyanyian yang meraju kalbu itu, tak tertahan sang kaisar menjadi mabuk.
"Coba kau panggil anak dara itu,"
Katanya pada Ho Gun. Segera Ho Gun menerima tugas itu, tapi sebelum keluar Kian Liong menambahinya.
"Tapi jangan kau terangkan siapa aku!"
"Ya, hamba mengarti,"
Sahut Ho Gun terus menyeberang keperahunya Giok-ju-ih. Selang tak lama, kembalilah menteri itu membawa seCarik surat dihaturkan kepada Kian Liong dan lapornya.
"Ia menulis ini dan minta diserahkan pada baginda."
Ketika Kian Liong membaCanya, kiranya itu adalah sebuah sjair yang maksudnya menampik halusan dan bilang besok saja bertemu kembali.
Kian Liong tambah tak tahan oleh kelakuan orang, semakin dingin orang yang di ngininya, semakin ia mendesak.
Kian Liong seorang kaisar yang tidak kurang beratus selir di sta nanya, selira itu berharap bisa berkumpul semalam saja dengan sang junyungan tidaklah mudah.
Tapi aneh, kini Kian Liong benar-benar ter-gila 2.
Agaknya inipun sifat manusia, kalau sudah biasa memerintah menurut sukanya, harini mendadak Giok-ju-ih 'jual-mahal' terhadapnya, hal ini dirasa kannya menjadi serba baru.
Maka katanya lantas pada Pek Cin ketika melihat perahu Giok-ju-ih telah didajung pergi.
"Lekas suruh tukang perahu menyusulnya!"
Melihat sang junyungan gugup, lekasan saja semua orang ikut mendajung hingga lambat-laun perahu Giok-ju-ih sudah tersusulnya.
Sambil berdiri didepan perahu, Kian Liong melihat lampu 2 yang tadinya memenuhi telaga itu kini sudah sirap, bunyi tetabuhan juga sudah lenyap, sebaliknya diperahu Giok-ju-ih malah berkumandang suara nyanyia kecil diselingi suara tertawa orang.
Selagi ke 2 perahu sudah makin dekat, mendadak tenda jendela perahu kembang itu tersingkap, lalu segulung barang ditimpukan kearah Kian Liong.
Lekas-lekas Pek Cin melompat maju menyambuti benda itu.
Ternyata barangnya lunak empuk dan bukan senjata rasia, lantas ia serahkan pada Kian Liong.
Waktu Kian Liong periksa, ternyata adalah sepotong handuk merah, pada empat ujung handuk itu saling ikat mem-bungkus 2 buah jeruk kuning.
Handuk itu halus lagi harum, seketika Kian Liong kesemsem tak terkatakan.
Tak lama lagi, perahu kembang itu sudah menepi, dibawah Cahja lampu terlihatlah Giok-ju-ih mendarat dan naik ke atas sebuah kereta kuda kecil yang sudah menunggu disitu.
Betapa tidak membikin sang kaisar lebih ter-gila 2 ketika Giok-ju-ih akan menurunkan tirai kereta itu, lebih dulu ia telah menoleh dan menyampaikan senyuman menggiurkan kearah Kian Liong.
Disamping kereta kuda itu tadinya ada 2 orang dengan memegang obor sedang menunggu, kini obor itu telah dibuang dan kereta itupun menghilanglah dikegelapan.
"Hai, hai, tunggu dulu, tunggu!"
Segera Ho Gun ber-teriak 2. Tapi kereta itu tidak pernah berhenti, suara derapan kuda ber-detak 2 dan lambat-laun sudah menyauh.
"Lekas Cari kereta!"
Cepat-cepat Ho Gun memberi perintah.
Tapi jauh malam ditepi telaga itu kemana harus menCari kereta?
Sebagai pemimpin bayang kari Pek Cin membisiki Swi Tay Lim beberapa kata, lalu pergilah Tay Lim dengan ilmu en tengi tubuh hingga tidak lama sudah melampaui kereta kuda Giok-ju-ih terus membentak kusirnya jalan pelahan-lahan.
Dilain pihak Cu Wan tak lama telah dapatkan juga sebuah kereta, mungkin bolehnya merebut secara paksa dengan mengusir penumpangnya.
Setelah Kian Liong naik keatas kereta, Cu Wan sendiri menjadi kusir, dan para pengawal lain mengikuti dari belakang.
Kereta kuda didepan tadi sudah lambat jalannya dan kereta Kian Liong Cepat-cepat menyusulnya.
Pek Cin melihat kereta orang lama-lama menuju kedaerah pusat kota yang ramai penduduknya, ia baru lega karena tak perlu kuatir lagi, ia menduga malam ini pasti Hongsiang akan bermalam dirumah bunga raja itu, tapi kemarinnya terlihat wanita itu bergaul dengan orang-orang Hong Hwa Hwe, mungkin ada tipu muslihat nya, hal ini harus ber-jaga-sebelumnya, maka lekas ia perintahkan Swi Tay Lim pergi minta bala bantuan kemari.
Kereta.
Giok-ju-ih; itu sesudah melalui beberapa jaian besar, lalu biluk kedalam sebuah gang dan berhenti didepan sebuah rumah'yang pintunya diCat hitam, seorang lelaki telah turun dari kereta dan mengetok pintu.
Segera pula Kian Liong ikut turun, dari keretanya.
Ketika pintu dibuka, keluarlah seorang wanita tua me nyingkap tirai, kereta sambil'berkata.
"Ah, kiranya SioCia telah pulang, selamat padamu telah terpilih!"
Ketika Giok-ju-ih turun dari kereta dan melihat Kian Liong sudah berdiri disitu, ia maju memberi hormat dan sapanya.
"Ai, kiranya Tong-hong loya sudi datang, banyak sekali-kali terima kasih atas hadiahmu tadi. Marilah lekas masuk sekedar minum teh dulu."
Kian Liong tertawa dan segera ikut masuk.
Karena kuatir ada pembunuh, Cepat-cepat sekali Cu Wan sudah mendahului masuk kedalam rumah.
Dalam rumah itu semerbak wangi dengan 2 pohon Kui tumbuh dipe'lataran dalam yang bunganya sedang mekar.
Kian Liong ikut Giok-ju-ih masuk kedalam sebuah kamar, disitu terpasang lilin hingga terang benderang, payangan kamar itu Cukuplah indah.
Segera saja pelayan menyediakan daharan terdiri dari delapan porsi dengan macam 2 masakan yang lain daripada yang lain seperti Kian Liong biasa merasakan didalam keraton.
Tatkala itu Pek Cin cs.
sedang meronda diluar rumah, didalam hanya Ho Gun yang melayani, maka Kian Liong memberi tanda agar menteri itu keluar kamar.
Kemudian pelayan menyuguhkan 2 Cawan arak, itu adalah "Siau-hin-Ciu"
Yang sangat terkenal. Giok-ju-ih sendiri minum dulu seCawan, lalu katanya dengan tertawa menggiurkan.
"Tong-hong loya, sungguh aku tidak tahu Cara bagaimana harus berterima, kasih padamu?"
"Kau nyanyilah dulu satu'lagu, Cara bagaimana membalas terima kasih, sebentar laki kita rundingkan,"
Sahut Kian Liong tertawa sambil menlguk araknya.
Tanpa menampik lantas Giok-ju-ih mengambil sebuah pi-peh dan pelahan-lahan dipenClnya, lalu nyanyilah satu lagu romantis yang menCeritakan tentang kaisar Song Hwi Cong main gila dengan Li Su Su yang dibuat bahan sjair oleh penyair Ciu Bi Seng.
Begitu asjik Kian Liong ber-senang 2 didalam kamar bersama Giok-ju-ih sambil minum arak dan mendengarkan nyanyian, sebaliknya Pek Cin cs.
yang menjaga diluar sedang sibuk luar biasa.
Tatkala itu panglima HangCiu Li Khik Siu yang dimintai bala bantuan sudah datang membawa sepasukan tentaranya dan mengurung rapat-rapat seluruh gang itu.
Perwira 2 bawahan Li Khik Siu telah menggeledai setiap rumah penduduk di gang itu, hanya tinggal rumah Giok-ju-ih ini saja yang tak digeledah.
Pek Cin dengan sepuluh orang siwi, tak henti 2nya melakukan perondaan diatas atap, sedang barisan pemanah sudah siap menunggu diempat penyuru, Thiat-ka-kun, pasukan baju besi, sudah siap juga.
Dengan penjagaan itu, legalah pe-rasaan Pek Cin dan Khik Siu.
Sekalipun orang mempunyai kepandaian menembus langit, rasanya sukarlah untuk masuk kesitu.
Setelah sibuk menjaga, se-malam 2an, sampai terang tanah ternyata tak terjadi apa-apa.
Setelah Menjelang pagi, diam-diam Ho Gun menghampiri kamar Giok-ju-ih.
Dari sela 2 jendela, Ho Gun melihat dibawah tempat, tidur ada sepa sang sepatu yang dipakai baginda dan sepasang lagi sepatu kecil bersulam.
Keadaan dalam kamar itu masih sunyi.
Sam bil leletkan lidah, Ho Gun berjalan pergi.
Tapi tunggu punya tunggu, pagi berganti siang, Siang men-jadi sore, ternyata baginda tak kelihatan bangun.
Hal itu membuat Ho' Gun heran dan gelisah.
Tidak biasa baginda berbuat begitu.
Dihampirinya pintu dan katanya dengan bi sik 2.
"Loya, apakah ingin bersantap pagi?"
Sampai diulangi beberapa kali, ternyata tak ada jawaban apa-dari dalam kamar itu.
Kaget benar Ho Gun dibuatnya.
DiCobanya untuk mendorong daun pintu, tapi ternyata di grendel dari dalam.
Kini dia mulai berteriak memanggilnya.
"Loya!"
Masih kamar itu hening saja, Ho Gun bertambah Cemas. Untuk membuka pintu, masih tak berani dia. Cepat-cepat dia keluar mendapatkan Lie Khik Siu dan Pek Cin.
"Kita suruh induk semangnya yang mengetok pintu dan antarkan hidangan pagi. Bansweya tentu tak marah,"
Kata Lie Khik Siu.
Pek Cin setuju, lalu mereka menCari si perempuan yang menjadi induk semang.
Tapi jangan lagi dia, sedang se orangpun sudah tak ada dalam rumah pelesiran itu.
Karena terkejutnya, mereka memberanikan diri untuk mengetok pintu.
Tapi meskipun pintu di-ketok 2 makin keras, didalam kamar tetap tak ada penyahutan apa-apa.
"Dobrak saja!"
Seru Khik Siu.
Sekali ulurkan tangan, Pek Cin bikin pintu itu terbuka, besi gerandelannya putus.
Masuk lebih dulu kedalam, segera Ho Gun terus menyingkap kelambu.
Tapi hanya bantal dan guling yang berserakan diatas pembaringan, sedang baginda dan Giok-ju-ih tak ada lagi.
Saking terkejutnya, Ho Gun pingsan seketika.
Pek Cin lekas-lekas panggil siwi untuk menggeledah rumah itu.
Peti, lemari dan lain-lain tempat, semua digeledah.
Tapi tetap sia-sia.
Kawanan si-wi itu kaget dan ketakutan.
Terang penjagaan semalam itu sangatlah rapinya.
Sampai seekor burung-gereja terbang saja rasanya takkan terhindar dari pengawasan mereka.
Pek Cin sendiri ikut menggeledah seluruh dinding lamar itu untuk menCari tahu kalau 2 ada pintu rahasia.
Tapi juga tak memberi hasil apa-apa, tak ada tempat yang menimbulkan keCurigaan mereka.
Jilid 2 2 TAK LAMA kemudian, pemimpin besar gie-lim-kun Hok Gong An dan gubernur Ciatkang sama datang ke situ.
Orang-orang sama berkumpul di tengah ruangan untuk berunding.
Kiranya sambil dengarkan nyanyian Giok-ju-ih tadi, baginda telah menenggak beberapa Cawan arak.
Dalam pada itu, agaknya Kian Liong sudah tak sabar lagi.
"Apakah loya idinkan aku menamani?"
Tanya Giok-ju-ih dengan tersenyum manis. Kian Liong mesem dan angguk kepala. Giok-ju-ih mela jani baginda tukar pakaian, lalu ikut berbaring. Tiba-tiba siCantik berbisik.
"Aku akan keluar sebentar, baru nanti temani loya."
Selama rebah diatas bantal itu, Kian Liong menCium be bauan yang harum wangi.
Melayang-layang pikiran raja itu.
seperti berada disorga.
Tiba dirasakan ranyan bergoyang dan mengira tentulah Giok-ju-ih yang datang.
"maka serunya pelan-pelan ;
"Kau betul-betul anak nakal, Ayo lekas kesini!"
Kelambu tersingkap dan tersembul ah sebuah kepala.
Di bawah Cahaja lilin tampak muka orang itu penuh dengan bintik 2, air mukanya keren.
Masih Kian Liong kurang per Caja pemandangan sendiri, kucek-kucek matanya beberapa kali.
Tapi orang itu sudah lantas tandaskan sebuah badi 2 kearah tenggorokannya dan bisiknya.
"Awas kalau berani menjerit, kutusuk!"
Bujar semangat Kian Liong karena terkejutnya.
"Secepat-cepat kilat orang itu menyumpel mulut baginda dengan saputangan, lalu menggulung tubuh baginda dengan selimut, terus dipondongnya keluar. Kian Liong tak berdaya untuk berteriak atau berontak. Selain rasakan orang membawanya kebawah. Hanya dapat membaui hawa udara sangat lembab. Berselang berapa lama kemudian, beliau rasakan seperti diangkat naik tinggi-tinggi. Baru ia mulai insyap, bahwa orang telah membawanya melalui jalan dibawah tanah, pantas kalau kawanan si-wi itu tak dapat mengetahuinya. Baru berpikir demikian, terasa tubuh beliau bergoncang , dan roda berputar. Tentu dirinya dibawa dengan kereta, entah kemana. Kegontjangan kereta itu makin terasa, itulah tentu jalanan diluar kota. Setelah berlangsung beberapa lama lagi, kereta itu berhenti. Terasa pula oleh Kian Liong, bahwa orang telah memanggulnya keatas, terus makin me naik keatas, hingga terbit kekuatirannya, apakah sebenarnya tempat yang setinggi itu. Selagi rasakan terapungs diatas udara itu, tiba-tiba dirinya terasa diletakkan diatas tanah. Tak berani beliau bicara, ia menantikan gelagat dengan tenang. Tapi ternyata tak ada orang yang mengurusnya. Ketika disingkapnya selimut yang menutup kepalanya itu sedikit, ternyata keadaan disitu gelap gulita. Sedang dari kejauhan sana samar 2 terdengar dam paran ombak. Dan ketika didengari dengan lebih seksama, ternyata ada juga suara pohon Siong ditiup angin dan bunyi lonCeng mengalun. Angin terdengar makin menderu. Kare nanya tempat itu terasa bergoncang , takutlah raja itu. Begitu lepaskan kerudung selimut, beliau terus akan berdiri. Tapi tibas terdengar suara orang berbisik.
"Kalau masih sa yang jiwa, harap jangan bergerak."
AnCaman itu, membuat baginda ketakutan.
Setelah lama dalam keadaan begitu, angin kedengaran reda, dan suasana-pun nampak terang.
Kini Kian Liong dapatkan dirinya berada disebuah kamar kecil.
Dimanakah sekarang baginda berada?
Tengah memikir-mikir begitu, tiba-tiba terdengar suara berkerutukan.
Setelah didengarkan dengan teliti, ternyata itulah sipenjaga yang sedang makan bakmi.
Kalau ditilik dari suaranya, terang ada 2 orang.
Mereka makan dengan enak, dan makanannya itu menyiarkan bau yang sedap sekali.
Karena semalaman hampir tak tidur, Kian Liong rasakan perutnya lapar.
Bau makanan tadi, makin menimbulkan seleranya.
Setelah mereka habis gegares bakmi itu, ada seorang yang mengantarkan semangkok bakmi kepada baginda.
Hanya saja mangkok itu diletakkan kira-kira 4 meter jauhnya.
Ingin benar Kian Liong dahar makanan itu, tapi karena orang tak mengatakan apas, beliau tak mau menanyakannya.
"Bakmi ini untukmu, jangan kuatir, tak ada raCunnya,"
Tiba-tiba orang itu berkata.
Girang Kian Liong dibuatnya, dan Buru-buru akan duduk.
Tapi tiba-tiba tubuhnya terasa dingin dan Buru-buru sesapkan lagi badan nya kedalam selimut.
Kiranya semalam Giok-ju-ih telah membuka semua pakaian raja itu, karenanya mana beliau bisa mengambil bakmi itu?
"He, kenapa kau tak mau, kau kuatir diraCun?
Coba lihat kumakannya!"
Orang itu berkata dengan mendongkol.
Sehabis itu, dengan Cepat-cepat semangkok bakmi itu digaresnya habis.
Melihat bagaimana muka orang itu penuh dengan bekas luka-luka yang menakutkan sekali kelihatannya, Kian Liong gentar juga.
"Aku tak berpakaian, harap kau ambilkan seprangkat un-tukku", katanya kemudian. Sudah menjadi kebiasaannya sebagai raja, walaupun menggunakan kata-kata "harap" ,tapi nadanya seperti orang memerintah.
"Hm, loCu tak sempat!"
Bentak orang itu yang ternyata bukan lain adalah Kui-kian-Hiu, Cap-ji-long' Ciok Siang Ing, itu algojo Hong Hwa Hwe Hampir tak ada seorangpun yang tak takut melihat wajahnya.
Seumur hidup belum pernah Kian Liong mendapat hinaan begitu, seketika itu gusarlah ia.
Tapi mengingat bahwa ji wanya berada dalam tangan orang-orang itu, beliau tindas pera saannya.
Setelah terhening sejenak, berkatalah beliau .
"Apakah kau ini orang Hong Hwa Hwe? Aku minta bertemu dengan pemimpinmu orang she Tan itu."
"Bun-suko kita telah kau siksa setengah mati. Congthocu sedang panggilkan sinshe, tak punya waktu untuk menemui kau. Kalau keadaan Suko sudah baik, mungkin baru bisa datang", kata Siang Ing dengan dingin. Kian Liong mengeluh, Menanti orang sampai sembuh, entah harus menunggu sampai berapa lama. Sementara itu kedengaran yang seorang lagi berkata.
"Kalau sampai Suko meninggal, kita mesti minta ganti jiwa!"
Itulah Nyoo Seng Hiap, si Menara Besi.
Ucapan itu bukan main-main , tapi dimaksudkan dengan sungguh-sungguh.
Baginda terpaksa pura-pura tak mendengarnya.
Begitulah ke 2 penjaga itu, saling mengeluarkan isi hatinya, memaki bangsa BoanCiu yang telah menyayah tanah bangsa Han.
Dan bagaimana para pembesar negari mereka itu sama korup, suka memeras rakyat.
Memang sedari kecil, Ciok Siang Ing menderita dibawah tindasan tuan tanah sehingga begitu rupa dia memaki kaum penindas itu, sampai Kian Liong melengak dibuatnya.
Tengah hari, tibalah giliran Beng Kian Hiong dan An Kian Kong yang menjaga disitu.
Juga ke 2 orang itu, sembari makan sembari tak putus-putusnya mengupas keburukan 2 pembe-sar negeri yang rakus, Cara mereka berlaku se-wenang 2 dengan segala macam pekakas siksaannya.
Asjik sekali mereka bicarakan itu, dan akhirnya berkatalah Kian Hiong.
"Kelak kalau kita dapat menangkap segala macam pembesar bedodoran itu, kita akan suruh mereka rasakan juga siksaan itu".
"Ya, pertama kita harus tangkap pemimpin mereka lebih dulu", Kian Kong menambahkann. Bagi Kian Liong, sehari itu di rasakan sebagai setahun lamanya. Malamnya, ke 2 saudara Siang yang ganti menjaga. Ke 2 orang itu membicarakan soal pergolakan dika-langan Kangouw dan Cara-cara orang kangouw melakukan pembalasan kepada pembesar 2 negeri. Misalnya, Ong-sayCu dari Hek-bi-kong telah ditangkap oleh pembesar negeri, tapi kemudian setelah lolos lalu lakukan pembalasan pada pem-besar disitu dengan menyiksa hebat. Dan bagaimana si Pek-ma Sun Jit dari Shanse, karena membalaskan sakit hati kakaknya, telah mengubur hidup-hidup seluruh Anggota keluarga musuhnya. Dan lain-lain Cerita yang menyeramkan. Dengan menahan lapar dan rasa takut, Kian Liong tutupi telinganya agar tidak mendengarnya, namun kata-kata mereka tak urung dapat juga didengarnya. Malam itu, boleh dikata Kian Liong tak dapat tidur nyenyak. Keesokan harinya, datang giliran Tio Pan San dan Wi Jun Hwa yang menjaga. Ke 2 orang ini berbeda dengan kawan-kawannya yang dulu, agaknya lebih ramah dan sabar. Lega hati Kian Liong, lalu katanya.
"Aku minta ketemu dengan ketuamu orang she Tan, harap beritahukan padanya."
"Ah, Congthocu sekarang ini belum sempat, tunggu nanti beberapa hari lagi,"
Jawab Tio Pan San. Kian Liong mengeluh lagi. Kalau harus menunggu sampai beberapa hari lagi, mana beliau dapat tahan.
"Kalau begitu, tolong ambilkan makanan saja,"
Katanya.
"Baiklah,"
Kata Pan San terus memanggil bujang untuk segera siapkan hidangan. Kian Liong girang dan minta su-paya diberi pakaian.
"Bansweya (Sri Baginda) minta pakaian, lekas ambilkan,"
Kembali Tio Pan San berteriak.
"Kau baik sekali, siapakah namamu? kelak tentu kuberi hadiah,"
Kata Kian Liong. Pan San hanya bersenyum saja. Tiba-tiba Kian Liong teringat, serunya lantas.
"Ah, ja, kau yang gapah melepas sen jata rahasia itu, bukan?"
Tak lama Kian Hiong datang membawa seprangkat pakaian dan diletakkannya dimeja. Demi melihatnya, Kian Liong bersangsi. Itulah pakaian orang Han dari ahala Beng.
"Maaf, disini hanya ada pakaian begitu, terserah mau dipakai atau tidak?"
Kata Tio Pan San.
Kian Liong adalah kaisar dinasti Ceng, masa disuruh pakai pakaian orang Han.
Tapi jika tak berpakaian, terang beliau tak bisa makan, pada hal sehari 2 malam beliau sudah tak dahar.
Apa boleh buat, terpaksa dipakainya juga pakaian itu.
Sekalipun agak kikuk, tapi kini tubuhnya berasa hangat juga.
Kini beliau bangun dan berjalan kian kemari dalam ruangan itu.
Ketika menghampiri kejendela beliau terkejut bukan main.
Jauh disebelah bawah sana, tampak sebuah sungai membentang dan disana sini kelihatan beberapa perahu lajar.
Pada ke 2 tepian sungai itu, sawah 2 terbentang dengan luasnya.
Terang bahwa beliau berada dipunCak sebuah menara yang tinggi.
Melihat letak tempatnya itu, teranglah kalau menara itu berada ditepi sungai.
Dan menara begitu, tentulah menara Liok-hap-tha yang kesohor di HangCiu itu.
Berselang 2 jam kemudian, baru ada orang datang memberitahukan bahwa makanan sudah siap, supaya raja itu turun kebawah.
Kian Liong ikut Tio Pan San dan Jun Hwa kebawah, disitu memang sudah disiapkan hidangan.
Ternyata beberapa orang Hong Hwa Hwe sudah siap pula.
Hanya tinggal tiga buah kursi yang masih kosong.
Begitu Kian Liong datang, semua orang sama berbangkit untuk memberi hormat.
Melihat perubahan itu, diam-diam Kian Liong girang.
"Congthocu bilang bahwa dia dengan baginda sangat akrab, karenanya dia undang baginda kemari untuk main-main beberapa hari, agar dia dapat kesempatan untuk makin memesrakan perhubungan. Tapi berhubung ada suatu keper luan yang mendadak, dia terpaksa pergi dulu dan suruh kita mewakili untuk menemani baginda. Harap bansweya suka maafkan,"
Kata Bu Tim.
Kian Liong hanya keluarkan suara hidung, tak tahu apa yang hendak dilakukannya.
Begitu Bu Tim mempersilakan, Kian Liong tak mau sungkan 2 lagi terus duduk dikursi pertama.
Diruangan itu tampak beberapa orang, ada yang gagah bagus, ada yang ' jelek menakutkan, kesemuanya itu adalah orang-orang kangouw.
Bu Tim mengangkat pofeji arak dan berkata.
"Sekalian saudara-saudara disini adalah bangsa orang kasar, jadi tak dapat melayani baginda baik-baik , harap baginda jangan ambil marah."
Tapi begitu dia tuangkan kedalam sebuah Cawan, segera mukanya berobah, katanya pada sipelayan.
"Baginda hanya minum arak yang nomor satu, mengapa kau hidangkan arak beginian."
Dan dengan sikap gusar, arak itu digentakkan kemuka sipelayan.
"Yang ada disini hanyalah arak itu, kalau minta arak yang nomor satu harus beli dikota dulu,"
Kata sipelayan dengan ketakutan.
"Yangan banyak sekali omong, lekas pergi beli. Arak begini, buat kita kaum rendah masih boleh, tapi mana baginda mau meminumnya?"
Thian Hong sambuti poCi dari tangan Bu Tim, lalu di tuangkannya pada Cawan masing-masing saudaranya.
Hanya tinggal Cawan Kian Liong saja yang masih tetap kosong.
Akan hal itu, Thian Hong menghaturkan maaf kepada baginda.
Tak lama kemudian, pelayan datang dengan membawa 4 talam kuah hangat.
Seketika hidung Kian Liong terCium bau sedap dari hidangan udang goreng, tulang belulang babi kuah, ikan dan panggang ajam.
Tapi tiba-tiba kembali Bu Tim membentak sipelayan.
"Siapa yang masak hidangan ini?"
Seorang tukang masak tampil kemuka seraya menyawab.
"Hamba."
"Kau ini macam orang apa. Mengapa tidak suruh tukang masak istana Thio An-koan untuk memasaknya? Masakan orang HangCiu sejelek ini, mana baginda sudi dahar?"
Teriak Bu Tim.
"Ah, masakan ini lumajan juga, tidak jelek,"
Kian Liong menyelak, dan segera dia ulurkan sumpitnya untuk men jemput. Liok Hwi Hing yang duduk disebelah baginda, juga ulurkan sumpitnya seraya berkata.
"Sajur begini tak lajak baginda dahar, jangan-jangan nanti membuat baginda sakit perut."
Sumpitnya tepat menjepit sumpit baginda, dan dengan sekali gerakan lwekang, sumpit baginda digenCat patah.
Perbuatan itu dilakukan olah Hwi Hing dengan gerakan yang pelan dan wajahnya tetap tak berobah, sehingga sekalian orang gagah sama Kagum.
"Sutenya, Thio Ciauw Cong, benar lihai, tapi dalam hal lwekang rasanya tak nempil dengan suhengnya ini. Memang Kim-li-Ciam betul-betul tak bernama kosong,"
Kata Bu Tim dalam hati. Sementara itu Kian liong jadi kemekmek maju mundur serba kikuk, hanya selebar wajahnya semerah darah.
"Plak" .......... sepasang sumpitnya dibantingnya diatas meja. Tapi sekalian orang disitu pura-pura tak melihat, mereka enak 2 saling menyilangkan sumpit untuk segera memulai makan.
"Lekas panggil Thio An-koan untuk masak daharan bagi baginda, baginda sudah keliwat lapar,"
Seru Thian Hong pada sikoki.
Sikoki dengan ketakutan segera mundur.
Kian Liong Cukup mengerti, bahwa orang tengah mem permainkannya.
Terang kalau beliau lapar, mereka makan sendiri dengan se-enak 2nya, dan tak putus-putus memuji kele zatannya.
Mendongkal sekali beliau, namun tak mau menge luarkannya.
Setelah selesai, kembali ada pelayan yang membawakan teh harum Liong-keng-Ceng.
"Teh ini bagus sekali, rasanya bagindapun boleh meminum nya,"
Kata Thian Hong.
Tapi ketika Kian Liong meneguk 2 Cegukan, rasanya perut makin lapar.
Sebaliknya Cio Su Kin yang berada di sebelahnya, tak habis-habis meng-elus 2 perutnya yang penuh berisi itu dan berkata.
"Aduh, kenyang nya!"
Baginda adalah seorang yang kuat menahan perasaan, sekalipun waktu marah, beliau tetap tak berobah wajahnya.
"Kita akan lekas suruh mereka siapkan hidangan, harap baginda suka tunggu sebentar lagi,"
Kata Tio Pan San.
Bu Tim juga nampak gusar, karena pelayan 2 itu berlaku ajal, ia bilang kalau Congthocu keburu datang dan mengetahui baginda belum dahar apa-apa, tentu akan kurang senang.
Sedang Thiat-tan Ciu Tiong Ingpun mengomel juga.
Namun baginda hanya keluarkan suaranya yang jengkel.
"Oh, sgbaHknya' aku kekenyang sudah!"
Seru Cio Su Kin tiba-tiba"
"Itulah yang dikatakan orang 'yang kekenyangan tak mengerti akan derita silapar! Rakyat yang menderita kelaparan entah berapa juta banyak sekalinya. Tapi mana orang-orang pemerintah orang mengerti akan keadaan mereka itu. Karena baginda hari ini pernah merasakan sendiri betapa tak enaknya orang yang kelaparan itu, mungkin kelak akan sudi memikirkan nasib rakyat yang lapar itu,"
Kata Thian Hong.
"Kalau hanya lapar untuk sehari-hari saja masih tak mengapa. Kan banyak sekali orang yang menderita kelaparan sampai ber-bulan 2,"
Demikian Siang He Ci menambahkan.
"Ya, kami sendiri kakak beradik pernah 2 bulan hanya makan kulit kayu saja,"
Pek Ci turut menimbrung.
Berkata soal perut lapar, memang orang-orang Hong Hwa Hwe itu adalah terdiri dari orang-orang yang sengsara semasa kecilnya.
Sudah tentu mereka dengan sengit mengeluarkan isi hatinya.
Sana begitu, sini begini, sehingga panas telinga baginda dibuatnya.
Tapi karena penuturan mereka itu berdasarkan pengalaman yang sebenarnya, diam-diam bagindapun timbul pikiran, bahwa kalau benar demikian nasibnya kaum melarat itu, memang patut dikasihani.
Tapi karena mereka itu bicara sebebasnya saja, lama-lama baginda tak tahan, lalu tinggalkan tempat itu dan menuju keloteng atas.
"Nanti kalau daharan sudah siap, kita tentu akan mengundang baginda,"
Kata Thian Hong akhirnya.
Tapi baginda pura-pura tak dengar.
Dua jam kemudian, tiba-tiba Kian Liong menCium bau ikan kambing bakar, itulah masakan istimewa dari koki istana si Thio An-koan yang sudah dikenalnya.
Sudah tentu baginda heran dibuatnya, masa koki itu benar-benar bisa didatangkan kemari.
Tengah beliau menduga-duga itu, tampak Thio An-koan muncul disitu sambil menjura.
"Silaukan bansweya dahar."
"He, bagaimana kau bisa datang kemari?"
Tanya Kian Liong.
"Kemarin malam ketika hamba habis menonton wayang , begitu keluar pintu terus dipapak orang. Dikatakan bahwa bansweya berada disini dan minta hamba kemari. Sudah tentu hamba senang sekali."
Kian Liong hanya angguk kepala terjjs berjalan kebawalrN---Disitu diatas meja telah dihidangkan macam 2 masakan seperti "Ca tahu dari sarang burung dan itik,"
"daging kambing,"
"bakmi goreng istimewa,"
"Kuah sajur ikan ajam"
Dan "panggang babi."
Kesemuanya itu adalah kegemaran Kian Liong. Selain itu masih ada belasan sajur majur lagi. Kian Liong girang. Ketika Thio An-koan mengambilkan nasi, tiba-tiba Bu Tim dan Kawan-kawan nya sama datang.
"Silakan baginda dahar,"
Kata mereka.
"Mungkin kali ini mereka sungguh-sungguh akan minta aku dahar,"
Pikir Kian Liong. Beliau lalu angkat sumpitnya untuk menyemput ikan. Tapi tiba-tiba masuklah seorang gadis sekira umur 1delapan tahun dengan menyandung seekor kuCing.
"Ayah, pus ini juga lapar!"
Kata sigadis pada Ciu Tiong Ing.
KuCing itupun kelihatannya akan meronta dari tangan sigadis.
Gadis itu adalah Ciu Ki, agak kendorkan tangannya dan meloncatlah kuCing itu keatas meja, terus tempelkan monCongkan pada 2 buah mangkok sajur.
Ciu Ki dan orang-orang sama berteriak untuk menggebahnya.
Ketika hampir tertangkap, tiba-tiba kuCing itu julurkan kakinya terus meng-geletak diatas meja, sedang dari mulutnya segera muntah kan darah hitam lalu mati.
Seketika itu wajah Kian Liong berobah.
Thio An-koan bergemeteran saking takutnya dan Buru-buru jatuhkan diri ber-kui, katanya.
"Bansweya mereka telah menaruh raCun jangan didahar!"
Sebaliknya Kian Liong tiba-tiba tertawa gelak 2.
"Kamu sekalian telah berdosa besar, mau Coba meraCuni kaisar. Kalau memang mau bunuh, bunuhlah lekas, jangan pakai raCun 2an!"
Sambil mengucap begitu, baginda lemparkan kursinya terus berbangkit.
"Apakah baginda tak mau dahar hidangan ini?"
Balas bertanya Bu Tim.
"Bangsat, pengeCut, Coba saja kau mau berbuat apa kepadaku,"
Menantang Kian Liong.
Mengerti akan kejadian sikuCing tadi, beliau insyap bahwa orang telah inginkan ji wanya, karenanya beliau umbar kemarahannya.
Mendadak Bu Tim gebrak meja, lalu berseru keras-keras.
"Jiwa seorang laki 2 itu bergantung dari nasib. Kalau baginda tak mau, kita nanti yang makan. Ayo, siapa diantara saudara-saudara yang bernyali, ikutlah makan dengan aku!"
Diambilnya sumpit terus dimasukkannya kedalam mangkok yang dimakan oleh kuCing tadi, lalu dimasukkan kedalam mulutnya. Lain-lain saudaranyapun sama mengambil tempat duduk, dan serentak berseru.
"Kalau mati biarlah mati, tak perlu kita sibuki."
Dan pada lain saat, tampak suara keCipan bibir menge nyam hidangan yang lezat itu.
Melihat itu, melengaklah Kian Liong.
Dalam waktu yang singkat saja, hidangan itu telah disapu bersih oleh orang-orang Hong Hwa Hwe tersebut.
Mereka ternyata tak kurang suatu apa, keCuali sama urut 2 perutnya karena kekenyahgan.
Kiranya tadi adalah tipu si Thian Hong saja.
Lebih dulu kuCing diberinya obat raCun, sedang hidangan itu sebenarnya tak ada apa-apanya.
Dengan begitu, lagi-lagi Kian Liong yang sudah siap untuk dahar, kembali digagalkan.
Memang orang-orang Hong Hwa Hwe masih dendam hati pada Kian Liong, karena baginda itu telah menyiksa Bun Thay Lay sedemikian rupa, sehingga sekujur badannya luka parah, Lou Ping juga terluka, Ciu Tiong Ing kehilangan putera, sedangkan Ie Hi Tong jiwanya terancam.
Kesemuanya itu, menimbulkan kemarahan mereka.
Sebenarnya kalau menurut kehendak ke 2 saudara Siang, lebih baik raja itu dihabisi saja jiwanya.
Tapi Tan Keh Lok dan Thian Hong dapat menyabarkan mereka.
Karena itulah mereka melampiaskan kemangkelan hati dengan "mengoCok"
Kaisar itu se-puas 2nya.
Hal itu dimaksud untuk membalas sakit hati, dan ke 2 kalinya untuk menyatuhkan keangkuhan kaisar itu.
Kalau Kian Liong sedang menahan lapar sampai 2 hari, adalah pada saat itu seluruh pembesar HangCiu sama heboh tak keruan.
Sekalipun lenyapnya kaisar itu sedapat mungkin dirahasiakan, tapi tak urung seluruh kota menjadi gempar.
Semua tempat diseluruh kota di geledah dengan bengis, ter-utama ditempat pelabuhan, tak seorangpun diperbolehkan keluar.
Dalam 2 hari itu, ribuan orang yang diCurigai telah ditangkap, sehingga penyara penuh dengan orang tahanan.
Mereka tak tahu sebab apa ditangkap.
Pembesar setempat selain memang ketakutan, juga menggunakan kesempatan baik untuk main tangkap orang-orang hartawan, agar mereka mau kasih uang tebusan yang besar.
Hok Gong An, Li Khik Siu, Pek Cin dan lain-lain jago pengawal jadi kalang kabut.
Mereka menduga bahwa itu tentu perbuatan orang-Hong Hwa Hwe Mereka segera kirim pasukan untuk menggeledah ketempat anggota-anggotaHong Hwa Hwe tetapi semuanya sudah kabur.
Pada hari ketiga, Hok Gong An kembali bersidang.
Apakah lenyapnya baginda itu perlu dilaporkan pada Thay Houw (ibusuri) dikotaraja, agar kalau sampai terjadi hal 2 yang tak di nginkan, fihak istana sudah dapat segera mengangkat seorang raja baru sebagai gantinya Kian Liong.
Tapi mereka yang hadir tidak menyetujuinya, karena hal itu berarti, keluarga mereka akan mendapat hukuman mati semua.
Tengah mereka berunding, tiba-tiba tampak Swi Tay Lim mendatangi dengan wajah puCat.
Dia membisiki beberapa patah kata ditelinga Pek Cin, yang segera berobah wajahnya dan serentak berbangkit katanya.
"Masa ada kejadian itu?"
Hok Gong An Buru-buru menanyakan apa yang terjadi.
"Enam orang si-wi yang menjaga kamar tidur bansweya telah kedapatan mati terbunuh,"
Jawab Swi Tay Lim.
"Ha, Ayo kita periksa, tentu ada hubungannya dengan lenyapnya bansweya,"
Kata Hok Gong An.
Mereka segera menuju kekamar baginda.
Tapi begitu Swi Tay Lim membuka pintu, bau busuk lantas menyerang hidung.
Diatas lantai kamar itu, disana sini terserak enam majat si-wi.
Ada yang matanya melotot keluar, ada yang da danya melesak, keadaannya menyeramkan sekali.
Ketika diperiksa Pek Cin, ternyata keenam si-wi itu adalah jago-jago pilihan dari istana.
Memang diwaktu bersemajam, selalu ada enam orang si-wi yang menjaga diluar kamar baginda itu.
Meskipun baginda lenyap, tapi keenam pengawal itu masih tetap bergiliran menjaga kamar beliau.
"Keenam orang ini berkepandaian tangguh semua, tetapi mengapa mereka dapat dibinasakan orang dengan tanpa mengeluarkan suara apa-apa"
Tanya Pek Cin.
Pek Cin bungkukkan badan untuk memeriksa lebih lan jut.
Ternyata mereka itu dapat hantaman dari tenaga yang dahsyat, tetapi ada juga yang telah dihantam dengan po kiam hingga kepalanya hanCur.
Senjata-nyata dari para korban itu ada yang telah dihanCurkan, ada lagi yang masih belum keburu dilolos keluar.
Jadi terang kalau sipembunuh itu berlaku sebat sekali, sehingga korban 2 itu tak sempat membela diri.
"Kamar ini tak Cukup lebar untuk berkelahi sekian ba nyak orang. Paling banyak sekali sipembunuh itu hanya berjumlah 2 atau tiga orang. Sekali bergerak mereka telah dapat membinasakan keenam si-wi itu. Mereka kejam sekali, tapi juga membuktikan bagaimana hebatnya kepandaian mereka itu,"
Kata Pek Cin.
"Bansweya telah dapat mereka jebak, mengapa mereka mesti membinasakan keenam saudara ini? Menilik gelagat nya, sipembunuh dengan orang yang menyebak bansweya itu tentu bukan segolongan,"
Kata Li Khik Siu.
"Ya, tetapi mereka tunggal tujuan jalan akan membunuh bansweya. Karena bansweya tak berada disini, maka keenam si-wi itulah yang harus membajar jiwa,"
Kata Hok Gong An.
"Ji-wi benar. Kalau yang membunuh si-wis ini orang Hong Hwa Hwe maka bansweya tentu jatuh dilain tangan. Tapi kerumah Giok-ji-ih. Rumah bunga raja itu, sebenarnya dijaga pula oleh tentara, tapi ketika itu, satupun tak nampak penjaganya. Rumah itu tampak sunyi 2 saja. Dan begitu masuk, kembali tampak majat 2 dari 2 orang si-wi dan belasan tentara. Kejam nian pembunuh itu, seorangpun tak dibiarkan hidup. Ada yang tenggorokannya putus digigit Anjing. Ditilik dari perawakan dan luka sikorban, Pek Cin menduga keras, bahwa Anjing sipembunuh itu tentu seekor binatang yang besar sekali. Kalau bukan Anjing dari luar perbatasan, tentulah semacam serigala dari daerah barat-daya. Apakah mungkin pembunuh itu berasal dari luar perbatasan atau dari Tiongkok barat-daya? Demikian Pek Cin Coba mengambil kesimpulan. Keenam Anjing itu setelah berputaran diseluruh ruangan Giok-ju-ih lalu men-Cakar 2 kelantai. Pek Cin segera me-meriksa lantai itu, tapi tak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Namun Anjing 2 itu tetap men-Cakar 2 dan menggonggong dengan tak hentinya. Pek Cin suruh seorang serdadu Coba menCongkel lantai itu. Dan benar juga, baru saja diCongkel sekali 2, lantai itu terjungkat. Dibawah ternyata ada sebuah papan batu yang besar.
"Congkel lekas!"
Perintah Pek Cin.
Begitu papan diCongkel, nampak sebuah lobang besar.
Anjing 2 itu serentak masuk kedalam.
Kini terbukalah mata Pek Cin dan Li Khik Siu, mengapa ribuan tentara yang menjaga rumah itu tak dapat mengetahui lenyapnya baginda.
Kiranya baginda telah diCulik melalui jalan dibawah tanah itu.
Pek Cin dan Khik Siu langsung pimpin anak buahnya memasuki lobang itu Kini kita tengok kembali keadaan Kian Liong yang telah 2 hari menahan lapar dipagoda Liok Hap Ta itu.
Dia rasakan tubuhnya lemas.
Pada hari ketiga, betul-betul habislah tenaganya.
DiCobanya untuk tidur, tapi tiba-tiba ada seorang ka Cung menghampiri dan berkata.
"Bansweya, siaoya mengundang bansweya untuk bicara."
Karena girangnya, Kian Liong timbul pula semangatnya, dan Cepat-cepat berpakaian.
Kacung itu, adalah Sim Hi, yang selain orang Hong Hwa Hwe siapakah yang mempunyai keberanian begini besar?
Sebaliknya kalau bansweeya jatuh ditangan orang Hong Hwa Hwe, pembunuh ini tentu orang berkepandaian tinggi sekali", Pek Cin utarakan pendapatnya.
Ketika angin mendesir, kembali hidung orang-orang disitu sama tertusuk bau yang busuk.
Karena tak tahan, Hok Gong An segera keluar.
"Orang kosen didaerah Kang Lam sini, hampir kukenal semua. Tapi kalau menurut Cara sipembunuh itu melakukan pekerjaan, sungguh istimewa sekali. Hm, entah siapakah dia itu!"
Diam-diam Pek Cin berkata sendiri.
Berhadapan dengan orang-orang Hong Hwa Hwe saja sudah kewalahan, apalagi kini mendapat tambahan seorang musuh baru yang begitu tangguh.
Diam^ hati Pek Cin menjadi kunCup.
Dia membungkuk untuk memeriksanya, dan ternyata pada dada sikorban itu terdapat luka-luka "Cakar-Anjing".
Hal itu membuat ia heran, lalu minta pada Li Khik Siu menCari pemburu yang memelihara Anjing.
Orang yang dimaksudkan itu segera dibawa datang, tiga orang pemburu dengan enam ekor Anjingnya.
Dalam pada itu Li Khik Siu telah mempersiapkan 2 ribu tentara untuk menunggu perintah.
Pek Cin suruh Anjing 2 itu membaui korban 2 tersebut., lalu di suruh melepaskan.
Demikianlah dengan dipelopori oleh pemburu beserta Anjingnya, tentara negeri itu menuju ketepi telaga Se-ouw.
Disama Anjing 2 itu mengaum 2 kearah tengah 2 telaga.
Mengertilah Pek Cin, bahwa sipembunuh itu datang bersama dengan Anjingnya juga.
Setelah membunuh si-wi dan tak dapat menemukan kaisar, pembunuh itu suruh Anjingnya menCari jejak baginda.
Setelah membaui sekian lama, Anjing pemburu itu berhasil dapatkan jejak.
Dengan ber jalan menyusur tepian telaga, akhirnya pada sebuah tempat yang beCek, diketemukan bekas tapak sipembunuh dan Anjingnya.
Anjing itu diseberangkan dari tempat dimana baginda dibawa naik perahu, sampai ditepi sana, terus berjalan menuju kedalam kota lagi.
Karena dikota penuh dengan orang, Anjing itu berjalan agak lambat.
Sambil berjalan sambil menCiumkan monCongnya ketanah, akhirnya menuju kerumah Giok-ji-ih.
Rumah bunga raja itu, sebenarnya dijaga pula oleh tentara, tapi ketika itu, satupun tak nampak penjaganya.
Rumah itu tampak sunyi 2 saja.
Dan begitu masuk, kembali tampak majat 2 dari 2 orang si-wi dan belasan tentara.
Kejam nian pembunuh itu, seorangpun tak dibiarkan hidup.
Ada yang tenggorokannya putus digigit Anjing.
Ditilik dari perawakan dan luka sikorban, Pek Cin menduga keras, bahwa Anjing sipembunuh itu tentu seekor binatang yang besar sekali.
Kalau bukan Anjing dari luar perbatasan, tentulah semacam serigala dari daerah barat-daya.
Apakah mungkin pembunuh itu berasal dari luar perbatasan atau dari Tiongkok barat-daya?
Demikian Pek Cin Coba mengambil kesimpulan.
Keenam Anjing itu setelah berputaran diseluruh ruangan Giok-ju-ih lalu men-Cakar-kelantai.
Pek Cin segera me-meriksa lantai itu, tapi tak ada tandas yang mencurigakan.
Namun Anjing 2 itu tetap men-Cakar 2 dan menggonggong dengan tak hentinya.
Pek Cin suruh seorang serdadu Coba menCongkel lantai itu.
Dan benar juga, baru saja diCongkel sekali 2, lantai itu terjungkat.
Dibawah ternyata ada sebuah papan batu yang besar.
"Congkel lekas!"
Perintah Pek Cin.
Begitu papan diCongkel, nampak sebuah lobang besar.
Anjing 2 itu serentak masuk kedalam.
Kini terbukalah mata Pek Cin dan Li Khik Siu, mengapa ribuan tentara yang menjaga rumah itu tak dapat mengetahui lenyapnya baginda.
Kiranya baginda telah diCulik melalui jalan dibawah tanah itu.
Pek Cin dan Khik Siu langsung pimpin anak buahnya memasuki lobang itu Kini kita tengok kembali keadaan Kian Liong yang telah 2 hari menahan lapar dipagoda Liok Hap Ta itu.
Dia rasakan tubuhnya lemas.
Pada hari ketiga, betul-habislah tena ganya.
DiCobanya untuk tidur, tapi tiba-tiba ada seorang ka Cung menghampiri dan berkata.
"Bansweya, siaoya mengundang bansweya untuk bicara."
Karena girangnya, Kian Liong timbul pula semangatnya, dan Cepat-cepat berpakaian.
Kacung itu, adalah Sim Hi, yang setelah dirawat beberapa hari kini sudah sembuh dari luka-luka-nya.
Mendengar baginda dapat ditawan, dia ingin sekali menyaksikan ramai 2.
Dia memasak air untuk melayani baginda berkemas diri.
Kaisar itu masih tetap mengenakan pakaian orang Han dan mengikuti Sim Hi menuju kebawah.
Diloteng setingkat bagian bawah, Tan Keh Lok sudah siap menyambutnya dengan muka berseri-seri.
Begitu baginda datang, dia Cepat-cepat -memberi hormat.
Baginda pun membalasnya dan lalu ikut masuk kedalam ruangan.
Sementara itu, Sim Hi menghidangkan minuman teh.
"Lekas siapkan hidangan!"
Kata Keh Lok segera.
Sebuah talam segera dihaturkan oleh Sim Hi.
Selain beberapa kuah sajur, juga terdapat udang, sajur daun terate dengan ikan ajam dan lain-lain.
yang baunya menusuk hidung.
Setelah makan berkatalah Tan Keh Lok .
"Karena menengok seorang sahabat yang sakit, maka siaote tak dapat siang 2 menyambut saudara, harap maafkan".
"Ah, tak apalah,"
Sahut Kian Liong.
"Silakan henghay dahar dulu, nanti siaote ada sedikit pembicaraan kepada hengtay". Lapar Kian Liong tak tertahan lagi rasanya. Sebenarnya beliau berbadan sehat. Ketika berumur 2belas tahun beliau ikut kakeknya Kaisar Kong Hi berburu, telah dapat memanah seekor serigala. Sebagai orang yang gemar buge, makannya pun banyak sekali. Dua hari 2 malam tak berkenalan dengan nasi, sungguh membuatnya setengah mati. Begitu Tan Keh Lok mendahului makan dengan menyumpit sesuap sajur, Kian Liong terus dahar dengan lahapnya dan sekejab mata saja habislah hidangan setalam itu. Pada setiap masakan, Tan Keh Lok selalu menCiCipinya satu 2 sumpitan yang terus dimakannya. Ini untuk menghilangkan keCurigaan baginda, siapa kini betul-betul tak sungkan 2 lagi. Melihat itu, Tari Keh Lok hanya tersenyum saja. N j aman perasaan kaisar itu, setelah habis berdahar. Beliau segera meneguk Cawan yang terisi teh, harum dari Liong-keng. Dan seketika itu tubuhnya dirasakan segar. Setelah mangkok 2 dikemasi, berkata pulalah ketua Hong Hwa Hwe itu me nyuruh Sim Hi sediakan beberapa macam sajur lagi untuk teman minum arak. Setelah Sim Hi berlalu, Tan Keh Lok dorong pintu muka dan katanya.
"Mereka berjaga dibawah, rasanya inilah tempat yang paling sesuai. Tak nanti ada lain orang yang dapat mendengarkan pembicaraan kita."
Kian Liong kerutkan kening, katanya dengan pelan.
"Kau tawan aku disini ini, hendak bermaksud apa?"
Tanpa menyahut apa-apa, Tar-Keh Lok maju 2 tindak dan menatap wajah Kian Liong.
Kian Liong dapatkan bagaimana sepasang mata orang muda itu ber-kilat 2 seperti merasuk kedalam hati.
Tak tertahan baginda itu berpaling kesebelah.
Hening sejenak, tiba-tiba Tan Keh Lok berkata .
"Koko, sampai detik ini apa kau masih belum mengenal aku?"
Lemah lembut nada perkataan itu ketika pemimpin muda itu mengucapkannya. Namun bagi sang baginda, hal itu seolah-bunyi halilintar disiang hari, sehingga tanpa merasa, beliau berjingkrak.
"Apa apa katamu tadi?!"
Tanyanya gugup. Wajah Tan Keh Lok unyuk kesungguhan, pelan-diulurkan ke 2 tangannya untuk menyambut tangan baginda seraya berkata .
"Kita ini kakak beradik, sedarah sedaging. Koko, tak perlu kau kelabui aku, aku telah mengetahui semuanya."
Sejak orang-orang Hong Hwa Hwe dapat membebaskan Bun Thay Lay, insyaplah Kian Liong bahwa rahasianya tentu bocor. Sekalipun begitu, ketika Tan Keh Lok memanggilnya "koko,"
Dia masih melengak terkejut. Lemah lunglai sendi tulangnya, dan tanpa terasa beliau jatuhkan diri diatas kursi.
"Kau datang ke Hay Ling, kau anugerahkan gelaran ayah bunda sebagai dewa dan dewi Laut, itulah pertanda kau masih ingat budi mereka. Coba kau berkaCa pada Cermin ini."
Habis berkata demikian, Tan Keh Lok tarik seutas tali yang bergantungan disebelah meja tulis, maka tersingkaplah lukisan didinding itu.
Sebagai gantinya tampak sebuah Cermin besar.
Kian Liong dapatkan dalam pakaian orang Han itu, dirinya sedikitpun tak mirip dengan orang Boan.
Sedang ketika mengawasi Tan Keh Lok yang berada disebelahnya itu, kaisar itu mengelah napas dalam-.
Habis itu kembali beliau jatuh-kan diri diatas kursi.
"Koko, karena tidak saling mengetahui, kita kakak beradik saling bermusuhan. Kalau tulang saling berhantam dengan dagingnya, ayah-bunda yang sudah beristirahat dialam baka itu tentu takkan tenang hatinya."
Kian Liong tetap tak dapat mengeluarkan kata-kata. Baru setelah berselang beberapa waktu, kedengaran beliau berkata.
"Sebenarnya kubermaksud menempatkan kau dikota raja, tapi kau sendirilah yang menolaknya."
Tan Keh Lok memandang kearah sungai disebelah sana, tanpa menyahut apas.
"Kalau kau merasa belum punya pengalaman, nanti kusuruh seorang memimpin kau. Mengingat keCerdasanmu, kurasa kau tentu dapat mengatasinya. Kelak akan kuserahi kau jabatan yang makin tinggi,"
Kata Kian Liong pula.
"Ini untuk kepentingan negara. Untuk hubungan kita ber 2 pun berguna sekali. Mengapa kau tetap menuntut jalan sesat, tidak setia pada negara, tidak berbakti terhadap orang tua!"
Mendengar itu Tan Keh Lok berpaling dengan tibas.
"Koko, tidak ada maksudku untuk menuduh kau put-tiong put-hauw (tidak berbakti). Mengapa kau sebaliknya mengatakan aku begitu?"
Tanyanya.
"Hm, adalah kewajiban menteri untuk bersetia kepada junyungannya. Yang menentang berarti mendurhaka. Aku adalah seorang junyungan, mengapa kau katakan tidak setia?"
"Terang-terangan kau ini seorang Han, mengapa takluk pada orang asing, adakah itu setia? Semasa ayah-bunda masih hidup, kau sudah tidak merawatnya dengan baik-baik . Malah tiap hari ayah harus menghadap dan berlutut padamu, sedangkan kau anggap sepi saja kesemuanya itu. Adakah ini berbakti?"
Tan Keh Lok mulai mengeluarkan kata-kata tajam demi orang mendesaknya. Butir-butir peluh ber-ketes 2 turun dari kepala Kian Liong.
"Aku benar-benar tak mengetahuinya,"
Katanya dengan separoh berbisik.
"Ketika pemimpinmu, mendiang Ie Ban Tong masuk kedalam istana, barulah kuketahui semua itu. Namun aku masih setengah percaya. Hanya saja, menjadi anak orang, lebih baik kalau kita percaya bahwa hal itu mungkiri terjadi. Berbuat kesalahan karena tak tahu, bukan berarti put-hauw. Maka akupun memerlukan berkunjung ke Hay Leng juga."
Sebenarnya ucapan Kian Liong itu hanya untuk menutupi kesalahannya saja.
Waktu itu setelah Ie Ban Tong dan Bun Thay Lay berhasil menyelundup kedalam istana, dia unyuk-kan surat Tan-hujin kepada kaisar itu.
Surat ila berisi pengakuan apa yang sebenarnya telah terjadi.
Kian Liong sudah delapan bagian mempercayainya.
Begitu Ban Tong berlalu, dia segera menanya keterangan pada Liauw-si, mak inangnya.
Liauw-si terpaksa menuturkan apa yang diketahuinya .
4tujuh Tahun yang lalu, pada bulan delapan tanggal 1tiga , isteri dari Su-pwelek (pengeran keempat) In Ceng, telah melahirkan seorang puteri.
Berbareng dengan itu, menteri besar Tan Se-Koan pun mendapat putera.
Su-pwelek, pangeran keempat, adalah putera dari kaisar Kong Hi.
Anak kaisar BoanCiu, disebut pwelek.
Dia titahkan supaya putera menteri itu dibawa masuk keraton.
Dia kepingin melihatnya, katanya.
Terang tadi yang dibawa masuk, adalah putera seorang laki 2.
Tapi setelah keluar ternyata baji itu telah bertukar dengan seorang baji perempuan.
Tapi Se Koan mengerti bahwa Su-pwe-lek itu telah sengaja menukarkan bajinya, namun dia tak berani berkata apa-apa, dikarenakan pengaruh pwelek itu terlampau besarnya.
Kaisar Kong Hi mempunyai belasan putera, Mereka sama bersaing untuk memperebutkan kedudukan tahta nanti.
Kong Hi gemar akan ilmu pengetahuan Barat.
Maka ba nyaklah putera 2nya yang se-olah 2 berlomba untuk mempelajari ilmu itu.
Pwelek 2 itu telah mempunyai menteri kesa jangan sendiri.
Tak segan 2 mereka memberi suapan besar pada menteri 2 itu, agar memujikan dirinya dihadapan sang ayahandanya.
Juga, pangeran 2 itu masing-masing memelihara ja goan 2 silat untuk melindungi diri.
In Ceng mengetahui bahwa ayahandanya itu masih ragu 2 menyatuhkan pililian tentang siapa yang bakal menjadi Calon penggantinya kelak.
Diapun tahu pula bahwa diantara saudaranya itu, misalnya In Teng, In Ki, In Te dan lain-lain.
adalah orang-orang yang kepandaiannya tak disebelah bawahnya.
Begitu pula mereka itu mempunyai kekuatan dan pengaruh besar.
Didalam memilih Calon mahkota, kaisar harus, menimbang dengan Cermat bukan saja keCakapan dan peribadi pangeran itu, tapi pun anaknya juga, jadi CuCu kaisar itu.
Memilih seorang Calon kaisar, adalah untuk meletakkan dasar yang kokoh dalam menegakkan negara.
Tidak; kalah sukarnya seperti orang membangun kerajaan.
Kalau pangeran yang telah menjadi kaisar itu wafat, tentulah siCuCu yang menggantikannya.
Jadi sekalipun pwelek 2 yang sekarang ini Cerdas, tapi kalau puteranya tolol, pilihan tak nanti jatuh pada dirinya.
Jadi dapat dimengerti bagaimana ke rasnya para pwelek itu berusaha untuk mendapatkan seorang putera yang Cerdas, sehingga dapat mengambil hati Kong Hi.
In Ceng sebenarnya sudah mempunyai seorang putera laki 2 sendiri, tetapi anak itu lemah dan bodoh.
Tidak disukai Kong Hi.
Dalam satu hal ini, dia menginsyapi kekurang annya.
Karenanya, dia sangat berharap untuk mendapat putera lagi.
Tapi apa mau, isterinya ternyata melahirkan seorang puteri.
Pangeran Boan itu bertekad keras,, biar bagaimana dia harus bisa menjadi kaisar.
Maka ketika didengarnya Tan Se Koan; berputera seorang laki 2, baji itu telah ditukarkannya.
Diantara pwelek 2, In Ceng adalah yang paling banyak sekali tipu muslihat, dan kejam hatinya.
Tan Se Koan tak berani berkutik apa-apa.
Baji laki 2 itu, kemudian menjadi Kian Liong yang sekarang ini.
Memang sejak kecil, dia mengunjuk kan keCerdasan dan keberaniannya.
Dalam umur enam th.
dia sudahi dapat membaCa kitab!
"Ay Lian Swat."
Dalam usia sembilan th., terjadilah suatu hal yang sangat kebetulan sekali, sehingga anak itu telah berhasil merebut hati engkongnya, kaisar Kong Hi.
Dan peristiwa itu, menjadi dasar utama sehingga In Ceng berhasil diangkat menjadi pengganti kaisar.
Waktu itu Kian Liong masih, bergelar Po Jin Ong.
Baca Juga: Mustika Gaib 4
Baca Juga: Bajak Laut Kertapati Kho Ping Hoo