Ceritasilat Novel Online

Legenda Kelelawar 1

Eps 1 Legenda Kelelawar - Khu Lung

Baca online Legenda Kelelawar - Khu Lung

Cersil Legenda Kelelawar - Khu Lung.

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com Legenda Kelelawar Karya .

Khu Lung Saduran .

Gan KL Supaya lebih mengenal Koh-bwe Taysu, perlu juga diketahui dulu sejarah Hoa-san-pay.

Sudah turun temurun sejak Ji Siok-cin, ketua Hoa-san-pay selalu dijabat oleh perempuan, di antara ketujuh aliran besar persilatan juga cuma Hoa-san-pay saja diketuai oleh perempuan.

Anak murid Hoa-san-pay tidak banyak.

akan tetapi semuanya terpilih, tidak ada murid yang rusak.

Pada waktu jaya-jayanya Hoa-san-pay, anak muridnya pernah berjumlah lebih 700 orang.

Tapi sampai pejabat ketua Kim-say Taysu, anak muridnya tinggal tujuh orang saja.

Bayangkan betapa keras cara Kim-say Taysu menyaring anak muridnya.

Koh-bwe Taysu adalah ahli waris Kim-say Taysu.

Menurut cerita yang tersiar di dunia Kangouw, pada waktu masih gadis, demi untuk masuk menjadi murid Hoa-san-pay.

Koh-bwe Taysu telah berlutut selama empat hari empat malam di puncak Hoa-san, ketika Kim-say Taysu akhirnya menyatakan mau menerimanya sebagai murid.

sementara itu seluruh badannya sudah hampir terbenam di dalam salju dan hampir saja jiwanya melayang.

Tatkala itu Koh-bwe Taysu konon baru berusia tiga belas.

Tujuh tahun kemudian, ketika Kim-say Taysu jauh keluar laut selatan dan Koh-bwe Taysu bertugas menjaga Hoa-san, tiba-tiba datang 'Thay-im-si-kiam' empat gembong penjahat Thay-im, ingin menuntut balas.

Musuh menyerbu secara besar-besaran dan menyatakan akan membakar kuil Lip-giokkoan dan menumpas seluruh penghuninya.

Namun Koh-bwe Taysu melakukan perlawanan matimatian, dia terluka di 39 tempat, tapi masih tetap bertahan sekalipun sekujur badan mandi darah.

Akhirnya tiada seorang pun dari Thay-im-si-kiam itu bisa turun gunung dengan hidup.

Sejak pertempuran besar itu, orang persilatan menyebut Kohbwe Taysu sebagai Thi-sian-koh' si dewi besi.

Lima Tahun kemudian tokoh kalangan hitam di Jinghai.

Leng-bin-lo-sat, si iblis muka dingin, mengirim surat tantangan kepada Hoa-san-pay dan mengajak duel Kim-say Taysu di puncak Thay-san.

Kalau Kim-say Taysu kalah, maka Hoa-sanpay seterusnya harus menjadi anak buah Lo-sat-pang.

Pertarungan ini menyangkut nasib mati-hidup Hoa-sanpay.

tapi pada saat itu Kim-say Taysu justru mengalami 'Cauhwe-jip-mo'.

yakni penyakit kelumpuhan bagi orang yang keliru berlatih Lwekang.

Dalam keadaan demikian terpaksa Koh-bwe Taysu mewakili sang guru menghadapi tantangan musuh.

sebab Hoa-san-pay tidak dapai menolak tantangan yang menghina itu.

Koh-bwe sendiri menyadari dirinya bukan tandingan Lengbin-lo-sat, maka keberangkatannya ke medan laga itu sudah bertekad untuk gugur bersama musuh.

Dengan sendirinya Leng-bin-lo-sat lak pandang sebelah mata pada Koh-bwe Taysu yang masih 'ingusan' waktu itu, maka dia sengaja memberi kesempatan pada Koh-bwe untuk menemukan cara bertanding dengan syarat-syaratnya.

Koh-bwe tenang-tenang saja dan tidak banyak omong.

Ia menyuruh muridnya memasak satu wajan minyak mendidih, lalu dengan tenang ia menjulurkan sebelah tangannya ke dalam wajan dengan tersenyum.

Katanya asalkan Leng-bin-losat juga berani berbuat seperti dia.

maka Hoa-san-pay akan mengaku kalah dan tunduk Air muka Leng-bin-lo-sat memucat melihat tekad Koh-bwe itu, tanpa bicara ia melengos dan melangkah pergi.

Sejak itu kakinya tidak pernah menginjak wilayah Tionggoan lagi.

Namun begitu tangan kiri Koh-bwe menjadi hangus juga dan berubah seperti sepotong kayu kering.

Dari kejadian inilah nama 'Koh-bwe' itu diperolehnya, yaitu artinya kayu Bwe kering.

Sejak itu, nama 'Thi-sian-koh' Koh-Bwe-Taisu tambah cemerlang dan termasyhur di dunia Kangouw, sebab itu pula waktu berumur 29 dia sudah menjadi ketua Hoa-san-pay dan hingga sekarang sudah 30 tahun lamanya.

Selama 30 tahun ini, anak murid Hoa-san, apalagi orang luar.

boleh dikata tak pernah melihat Koh-bwe Taysu tersenyum.

Begitulah pribadi Koh-bwe Taysu, kalau sekarang dibilang orang dia piara rambut dan menjadi preman lagi.

mungkin tiada seorang pun yang mau percaya.

Akan tetapi mau tak mau Coh Liu-hiang harus percaya, sebab ini memang kenyataan.

*** Senja, sang surya yang hampir terbenam masih menyinari air sungai yang mendampar.

Di teluk sungai itu berlabuh lima kapal layar, di atas kapal tampak mengepul asap dapur sehingga suasana mirip sebuah perkampungan kecil di atas sungai.

Di antara kapal-kapal layar itu ada sebuah yang bukan cuma lantaran kapal ini masih baru, tapi karena pada jendela kapal itu terpasang kerai lidi yang setengah tergulung hingga sinar matahari senja itu dapat menembus ke dalam kabin.

tertampak seorang nenek beruban duduk tenang di dalam kabin.

Air muka si nenek tiada menampilkan sesuatu perasaan, tetapi berduduk dengan tenang dan tidak bergerak.

Dipandang dan jauh kelihatannya seperti patung.

Perawakannya kurus kecil, tapi kelihatan keren.

Siapa pun kalau berhadapan dengannya.

bicara saja pasti tak berani keras.

Nenek itu sudah cukup menarik perhatian orang, apalagi di sampingnya ada dua anak perempuan yang sangat cantik, seorang lemah lembut dan selalu menundukkan kepala seperti malu melihat orang yang tak dikenalnya.

Seorang lagi tampak gagah, jika orang lain memandangnya sekejap, sedikitnya dia akan melototi orang dua kejap.

Kapal yang baru, nenek yang buruk rupa, gadis yang cantik...

semua mi sangat menonjol.

Dari jauh Coh Liu-hiang sudah dapai melihatnya.

Waktu ia ingin lebih mendekat lagi, cepat Oh Thi-hoa menariknya sambil berkata.

"Apakah kau pernah melihat Kohbwe Taysu?"

"Empat tahun yang lalu pernah kulihat dia satu kali,"

Jawab Coh Liu-hiang.

"Waktu itu aku mengiringi Thiam-ji (salah seorang pacamya) pesiar ke Hoa-san dan kulihat dari kejauhan."

"Dan kau masih ingat mukanya?"

"Kan sudah kukatakan sendiri, barang siapa pernah kulihat satu kali, selama hidup pasti takkan lupa "

Kata Coh Liu-hiang.

"Jika begitu, coba kau pandang lagi lebih cermat, yang duduk di haluan kapal itu dia atau bukan?"

Coh Liu-hiang meraba hidung, katanya sambil menyengir.

"Wah, aku menjadi sangsi terhadap mataku sendiri."

"Hidungmu ada cirinya, apa sekarang matamu juga ada dirinya? Jika betul demikian, kabar baik juga bagiku."

Kata Oh Thi-hoa berseloroh demi melihat Coh Liu-hiang hanya memandang saja ke arah kapal baru itu tanpa memberi komentar apa-apa.

Bahwa hidung Coh Liu-hiang memang ciri, yakni selalu buntu seperti orang pilek, hal ini selalu menjadi bulan-bulanan Oh Thi-hoa bilamana mereka saling mencemoohkan.

Sebab bagi Oh Thi-hoa sedikitnya ia merasa dirinya masih ada sesuatu yang lebih unggul daripada Coh Liu-hiang.

Coh Liu-hiang tampak termenung, lalu katanya.

"Kukira Koh-bwe-Taysu belum pasti benar-benar Hoan-siok, bisa jadi dia cuma ingin mengelabui mata telinga orang saja."

"Untuk apa mengelabui mata telinga orang?"

Tanya Oh Thi hoa.

"Bahwa Koh-bwe Taysu turun gunung, ini jelas karena ada urusan penting. Padahal kau pun tahu watak Koh-bwe Taysu, selama hidup pernahkah dia takut kepada siapa pun? Dia tidak seperti kau, seperti malu dilihat orang,"

Coh Liu-hiang tidak dapat bicara lagi.

Dia pandang pula kapal baru itu, dilihatnya gadis jelita di samping si nenek tadi.

Hah, tidak tersangka Ko A-lam tetap seperti dulu, belum tambah tua, malahan kelihatan lebih muda, agaknya orang yang selalu riang gembira memang lebih awet muda."

"Dalam pandanganku, hakikatnya dia mirip seorang nenek. kukira matamu benar-benar sudah cacat,"

Ujar Oh Thi-hoa.

"Tapi hidungku sekarang menjadi tajam rupanya, sebab terendus olehku ada bau cuka di sini,"

Demikian Coh Liu-hiang balas berolok-olok.

Pada saat itulah, tiba-tiba terlihat sebuah perahu cepat meluncur tiba.

Di atas perahu ada empat orang, dua orang mendayung, dua orang lagi berdiri di haluan perahu.

Meski cuma dua orang yang mendayung, namun perahu itu laju secepat terbang.

Hanya sekejap saja sudah meluncur masuk teluk sungai itu.

Si nenek tadi masih duduk di tempatnya, tangan kanan memegang tongkat.

tangan kiri tersembunyi di balik lengan baju.

Wajahnya yang kurus itu penuh codet, sebelah kupingnya juga hilang sebagian, matanya juga buta sebelah, sisa satu mata tampak setengah meram setengah melek, sinar matanya mencorong tajam sehingga siapa pun tak berani beradu pandang dengannya.

Salah seorang lelaki di perahu itu cepat memberi hormat, lalu melompat ke atas kapal Koh-bwe Taysu.

Meski hidung Coh Liu-hiang kurang tajam, namun Thian cukup adil, sebagai kompensasi hidungnya itu, Thian mengaruniakan dia sepasang mata dan sepasang telinga yang tajam.

Biarpun dia berdiri di kejauhan tapi dapat dilihatnya muka lelaki itu.

ada tanda-tanda orang yang senantiasa hidup di air, dia dapat berdiri dengan enteng di atas perahu yang naik turun terdampar ombak, apalagi setelah melihat lompatannva yang enteng, jelas Ginkangnya cukup kuat.

Coh Liu-hiang juga dapat mendengar ucapan lelaki itu setelah melompat ke atas kapal.

katanya.

"Apakah kedatangan Lo-thay-thay (nyonya tua) ini atas undangan, kami mendapat perintah agar menyambut di sini...."

Sambil bicara, ia pun melangkah ke ruangan kabin, tapi baru saja dia berucap "sini".

mendadak tongkat Koh-bwe-Taysu menutul pelan.

kontan tubuh lelaki itu mencelat ke belakang dan kecebur ke sungai.

Ketiga orang yang masih berada di perahu tadi sama pucat, salah seorang yang mendayung serentak berdiri.

Lelaki satunya lagi yang berdiri di haluan lantas berscm.

"Kami diperintahkan menyambut kedatangan kalian, masa kami salah sasaran?"

Belum habis ucapannya.

sekonyong-konyong setitik sinar berkelebat.

kupingnya terasa sakit, ia coba meraba telinganya, seketika mukanya tambah pucat.

Kiranya daun kupingnya telah hilang, hanya dalam sekelebatan sinar pedang.

Tiada nampak seorang pun di depannya kecuali si nona baju hijau di atas kapal seperti baru saja memasukkan pedang ke sarungnya, malahan kedengaran pula dia menjengek pelan.

Koh-bwe Taysu juga tetap duduk tenang di tempatnya, si nona baju ungu di sebelahnya juga sedang membaca kitab dengan menunduk.

mengangkat kepala saja sama sekali tidak.

Di atas kapal.

asap dupa wangi tampak mengepul tenang seperti tak pemah terjadi apapun.

Sedangkan perahu tadi sudah meluncur pergi terlebih cepat daripada datangnya, agaknya penumpangnya menjadi ketakutan.

Oh Thi-hoa menggeleng, gumamnya.

"Sudah lanjut usia masih begitu keras."

"Ini namanya watak jahe. makin tua makin pedas,"

Ujar Coh Liu-hiang dengan tersenyum.

"Tapi berlabuhnya kapal Koh-bwe Taysu di sini jelas karena sudah ada janji dengan orang-orang berbaju hitam itu."

Kata Oh thi-hoa.

"Ehm. tampaknya begitu."

Coh Liu-hiang mengangguk.

"Orang datang menyambut, kenapa malah melabraknya?"

"Tentu disebabkan orang-orang itu tidak cukuP menghormatinya,"

Ujar Coh Liu-hiang dengan tertawa.

"Meski seorang beribadat tinggi, tapi Kow-Bwe-taysu paling tidak tahan bila orang kurang hormat padanya."

Setiap orang Kangouw kenal watak Koh-bwe Taysu yang keras itu, tapi orang-orang itu justru sengaja mencari penyakit."

"Ini pun disebabkan mereka tidak tahu bahwa orang yang mereka temui itu ialah Koh-bwe Taysu."

"Aneh, jika orang-orang itu tidak tahu dengan siapa mereka berhadapan, mengapa mereka bisa mengadakan janji pertemuan di sini?"

"Aku kan bukan malaikat dewata. juga bukan cacing pita di perut orang, darimana kutahu urusan mereka. Kau tanya padaku. lalu harus kutanya siapa?"

Oh Thi-hoa mencibir. katanya.

"Orang suka bilang Coh Liuhiang serba tahu. Kiranya ada juga yang tidak diketahui."

Coh Liu-hiang pura-pura tidak mendengar omelan itu. katanya kemudian dengan pelan.

"Beberapa tahun tidak bertemu. tak tersangka Ko A-lam sudah bertambah cantik, ilmu pedangnya juga tambah tinggi. Beruntunglah siapa yang dapat memperistri anak perempuan yang baik ini."

Mendadak Oh Thi-hoa menarik muka, katanya.

"Jika kau suka padanya, biarlah kuberikan padamu saja"

"Ech, memangnya dia milikmu? Hahaha. kiranya kau...."

Ucapan Coh Liu-hiang berhenti mendadak.

Sebab diketahuinya perahu tadi kini telah meluncur pula secepat panah.

Di haluan itu berdiri seorang pemuda jangkung.

perahu itu meluncur melawan arus, tapi dia dapat berdiri dengan tegak seperti terpaku di haluan, bergerak sedikit saja tidak.

"Kiranya mereka lari pergi minta bala bantuan."

Kata Oh Thi-hoa.

"Tampaknya tidak lemah kekuatan kaki orang ini."

Sementara itu kecepatan perahu tadi sudah dikurangi, karena jaraknya sudah dekat.

Terlihat pemuda ini berbaju tipis dengan lengan baju komprang, sikapnya gagah, muka juga tampan, senyum selalu menghiasi mukanya.

dari jauh ia memberi hormat sambil berseru.

"Apakah Na-thayhujin (nyonya besar Na) berada di kapal ini?"

Suaranya tidak keras, tapi cukup nyaring, sehingga Coh Liu-hiang dapat mendengarnya dengan jelas.

Koh-bwe Taysu masih tetap duduk tenang di kursinya, dia hanya memberi isyarat sedikit kepada Ko A-lam yang berbaju hijau ketat itu.

Lalu Ko A-lam berjalan pelan ke haluan kapal dan mengamatamati pemuda itu sejenak, lalu berkata dengan ketus.

"Siapa kau? Mau apa?"

"Teecu Ting Hong."

Jawab pemuda tadi dengan mengiring tawa.

"Khusus datang menyambut tamu. Tadi bawahan berlaku kurang sopan, mohon Na-thayhujin dan kedua nona suka memberi maaf" . Bukan saja cara bicaranya sopan, juga sikapnya ramah Mau tak mau sikap Ko A-lam berubah menjadi halus juga. Pemuda yang mengaku bernama Ting Hong itu lantas bicara pula beberapa kata dan dijawab oleh Ko A-lam. Cuma percakapan mereka ini dilakukan dengan suara rendah sehingga tak terdengar oleh Coh Liu-hiang. Lalu Ting Hong tampak naik ke atas kapal dan memberi hormat kepada Koh-bwe Taysu. Nikoh tua itu tampak mengangguk-angguk. kapal itu lantas mengangkat sauh dan mulai berlayar pergi.

"Heran. mengapa Koh-bwe Taysu bisa berubah menjadi Na-thayhujin, sungguh aneh."

Gumam Oh Thi-hoa sambil ketuk-ketuk hidung sendiri dengan ujung jari. Coh Liu-hiang termenung, katanya.

"Melihat gelagatnya, orang-orang berbaju hitam itu memang sudah berjanji dengan Na-thayhujin. tapi entah mengapa Koh-bwe Taysu memalsukan nama Na-thayhujin dan datang memenuhi janji pertemuan ini."

"Untuk apa Koh-bwe Taysu menyamar sebagai orang lain, memangnya nama sendiri kurang cemerlang?"

Ujar Oh thihoa. Bisa jadi lantaran namanya terlau tenar, makanya dia perlu memalsukan nama orang lain,"

Kata Coh Liu-hiang. Tapi kalau menurut watak Koh-bwe-Taysu hingga dia sudi memalsukan nama orang lain, maka dapat dibayangkan persoalan ini pasti lain daripada yang lain."

"Sungguh aku tidak paham ada urusan besar apakah dia?"

Ucap Oh Thi-hoa sambil berkerut kening. Sinar mata Coh Liu-hiang gemerlap, tiba-tiba ia tertawa katanya.

"Mungkin kedatangannya ini adalah untuk mencari jodoh bagi Ko A-lam. Kau lihat Ting-kongcu tadi gagah dan cakap, ilmu silatnya juga tidak lernah, kan setimpal mendapatkan istri pendekar pedang seperti Ko A-lam?"

Mendadak Oh Thi-hoa menarik muka. ucapnya dengan menyengir.

"Hehe, lucu, sungguh lucu, kau keparat kutu busuk ini memang lucu!"

Kehidupan di atas air juga ada tata caranya sendiri.

Malam adalah waktunya mereka istirahat.

minum arak.

mengobrol dan menambal jala, asalkan serba kecukupan.

jarang ada yang mau berlayar di waktu malam, sebab itulah agak sukar menyewa perahu bila hari sudah gelap.

Akan tetapi Coh Liu-hiang tentu mempunyai cara sendiri Baginya hampir tiada sesuatu yang sukar di dunia ini.

apalagi cuma menyewa sebuah perahu.

Waktu Coh Liu-hiang menyewa sebuah perahu itulah.

dengan gerak cepat Oh Thi-hoa pergi membeli satu poci arak.

Bagi Oh Thi-hoa, boleh tidak punya rumah.

tidak perlu duit.

tidak punya pacar.

bahkan tidak punya baju juga tak menjadi soal, tapi sekali-kali tidak boleh tidak punya sahabat dan tidak punya arak.

Malam ini sangat sunyi.juga sangat gelap.

Cuaca di permukaan sungai tampak remang-remang, entah asap, entah kabut.

Dipandang dari jauh kapal yang ditumpangi Koh-Bwe Taysu itu hanya bayangan layarnya.

Namun kapal itu tetap melaju pesat, perahu sewaan Coh Liuhiang harus menggunakan kecepatan penuh barulah dapat mengikuti jejaknya.

Oh Thi-hoa nongkrong di haluan perahu, tanpa berkedip ia mengawasi kapal layar di depan sambil menenggak arak, sudah cukup lama ia tidak bersuara.

Lama juga Coh Liu-hiang memperhatikan kawannya ini.

tiba-tiba ia bergumam.

"Sungguh aneh. orang yang biasanya suka omong. mengapa sekarang satu patah kata saja tidak terdengar? Jangan-jangan menanggung pikiran apa-apa ?"

Oh Thi-hoa pura-pura tidak mendengar. tapi akhinya tidak tahan. serunya.

"Aku sangat gembira, siapa bilang aku menanggung pikiran apa-apa."

"Kalau tidak menanggung sesuatu pikiran. mengapa diam saja tanpa bicara?"

"Mulutku lagi sibuk minum arak. mana ada peluang untuk bicara. masa kau tidak lihat?"

Lalu ia menenggak seteguk arak-nya dan bergumam pula.

"Aneh juga, orang ini biasanya kalau melihat arak lantas ditubruknya, tapi sekarang satu teguk saja tidak minum, jangan-jangan dia menanggung suatu penyakit."

Coh Liu-hiang tertawa, katanya.

"Kan mulutku lagi sibuk bicara, darimana ada peluang untuk minum arak?"

Mendadak Oh Thi-hoa menaruh poci araknya, ia menoleh dan melototi Coh Liu-hiang. katanya kemudian.

"Sesungguhnya kau ingin omong apa? Bicaralah!"

"Suatu hari, kau mendapatkan dua guci arak simpanan lama, lalu kau pergi mencari si jaring kilat Thio Sam, sebab ikan panggangnya paling sedap. paling cocok untuk teman minum arak.... begitu bukan?"

"Ya,"

Jawab Oh Thi-hoa "Lalu kalian duduk di haluan perahu sambil makan ikan panggang dan mmum arak.

Tiba-taba sebuah kapal meluncur lewat dengan cepat, ada tiga penumpang kapal itu.

seorang di antaranya sangat hapal bagimu.

betul tidak?"

"Ya,"

Kembali Oh Thi-hoa menjawab singkat.

"Orang yang kau kenal itu ternyata Ko A-lam adanya, sudah lama sekali kau tidak melihatnya, maka kau ingin menyapanya, siapa tahu dia sama sekali tidak menggubris dirimu kau menggapainya, dia juga pura-pura tidak melihat hendak menyusulnya untuk menanyai dia. tapi kau juga tidak berani. sebab kau lihat Koh-bwe Taysu juga berada di kapal itu. Kau tidak takut pada langit. tidak gentar pada bumi, tapi Koh bwe Taysu cukup membuat ciut nyalimu.... betul tidak?"

Sekali ini kata "ya"

Saja malas diucapkan Oh Thi-hoa, hanya menenggak arak.

"Padahal sudah lebih 20 tahun Koh-bwe Taysu tidak pernah keluar, sekali ini dia turun gunung, bahkan berdandan seba-gai orang preman, hal ini telah membuat kau terkejut. makanya cepat-cepat kau mencari aku..,. begitu bukan?"

Mendadak Oh Thi-hoa melonjak bangun, teriaknya sambil mendelik.

"Semua ini aku yang bercerita padamu, betul tidak?"

"Betul."

Jawab Coh Liu-hiang.

"Jika betul, kenapa kau tanya lagi? Kau brengsek, bukan?"

Coh Liu-hiang tertawa, ucapnya.

"Kuulangi lagi ceritamu itu, maksudku hanya ingin mengingatkan beberapa hal padamu."

"Hal apa?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Waktu Ko A-lam ingin kawin denganmu, apapun juga kau menolaknya. Sekarang dia tidak menggubrismu. Ini kan setimpal dan adil? hanya saja...."

"Hanya saja lelaki memang tidak tahu diri. Oh Thi-hoa lebih-lebih seorang yang tidak punya harga diri. selalu menganggap perempuan yang sukar dimiliki adalah perempuan yang paling baik.... begitu bukan maksudmu?"

"Ya, memang begitulah,"

Sahut Coh Liu-hiang tertawa. Oh Thi-hoa menarik muka pula, katanya.

"Kata-kata demikian entah sudah berapa puluh kali kudengar dari mulutmu. aku sudah bosan dan tidak perlu kau ingatkan lagi."

"Tapi yang ingin kuingatkan padamu bukanlah hal ini,"

Ujar Coh Liu-hiang "Ooo.... memangnya hal apa?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Meski kau ini lelaki bernilai rendah, Namun Ko A-lam tetap suka padamu, sebabnya dia tidak mau gubris padamu adalah karena sekarang dia harus melakukan sesuatu urusan yang sangat berbahaya, dia tidak ingin kau mengetahuinya."

"Sebab apa? tanya Oh Thi-hoa.

"Sebab meski kau tak memahami dia, tapi dia cukup memaklumi dirimu. Jika kau tahu dia terancam bahaya, dengan sendirinva kau akan tampil ke muka membelanya, makanya dia lebih suka dimarahi daripada kau menyerempet bahaya baginya "

Oh thi-hoa melenggong, katanya kemudian dengan tergagap.

"Jadi... jadi sikapnya itu adalah demi kebaikanku?"

"Sudah tentu karena untuk kebaikanmu."

Jawab Coh liuhiang.

"Sebaliknya bagaimana denganmu? Apa yang telah kau lakukan baginya?"

Ia mendengus. lalu menyambung pula.

"Hm... kau hanya suka marah padanya, hanya bisa duduk di sini minum arak sendiri, kau berharap lekas mabuk hingga lupa daratan. lalu tidak perlu tahu lagi apa yang terjadi atas dirinya."

Mendadak Oh Thi-hoa melompat bangun. kontan ia gampar muka sendiri satu kali, poci arak lantas dibuangnya ke sungai dengan muka merah ia berteriak.

"Betul, ucapanmu si kutu busuk tua ini memang betul. Akulah yang salah, hakikatnya aku ini memang telur busuk. Sudah tahu bakal terjadi peristiwa besar di depan mata, biarpun tenggorokanku kering dan mati kehausan juga tidak boleh minum arak."

"Nah, beginilah baru anak yang baik."

Ucap Coh Liu-hiang dengan tersenyum.

"Pantas Ko A-lam suka padamu. jika dia tahu sekarang kau anti arak. tentu dia akan kegirangan."

"Siapa bilang aku anti arak?"

Teriak Oh Thi-hoa dengan mendelik.

"Aku cuma bilang. selama beberapa hari ini akan kukurangi minum arak dan tak pernah menyatakan anti arak..... kepalaku boleh dipenggal, darahku boleh mengalir. tapi arak tetap harus kuminum."

"Haha, kau ini meski malas lagi kotor, juga gemar minum arak dan suka berkelahi, tapi kau tetap orang yang menyenangkan. Bila aku perempuan, tentu aku pun suka padamu."

Oh Thi-hoa tertawa, katanya.

"Jika kau perempuan dan penujui diriku, sudah, tentu aku sudah lari terbirit-birit sejak tadi, mana bisa duduk minum arak di sini?"

Selama hidup ini.

entah sudah berapa kali Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa bersama-sama menghadapi bahaya maut.

Setiap kali mereka mengetahui bakal terjadi urusan besar, pasti mereka berusaha mempertahankan kejernihan pikiran.

sedapatnya mereka rileks dan bergembira.

Bahwa mereka dapat hidup langgeng hingga sekarang.

bisa jadi lantaran mereka senantiasa hidup gembira ria.

setiap saat pun dapat tertawa.

Entah sejak kapan, laju kapal layar di depan mulai lambat jarak kedua kapal semakin dekat, kabut juga tambah tebal, bentuk kapal besar itu samar-samar sudah kelihatan.

Apakah penumpang kapal itupun dapat melihat perahu kecil ini?

Selagi Coh Liu-hiang hendak menyuruh tukang perahu memperlambat laju perahunya agar jarak keduanya ditarik lebih jauh, tiba-tiba kapal di depan mendadak berhenti, bahkan tampaknya seperti mulai tenggelam ke bawah.

Jelas Oh Thi-hoa juga melihatnya.

katanya cepat.

"He, mengapa lampu di kapal sana semakin rendah ke bawah? Apakah kapalnya tenggelam?"

"Tampaknya memang begitu."

Jawab Coh Liu-hiang.

Sementara itu jarak dengan kapal itu tinggal lima-enam tombak saja jauhnya, sekali lompat dan melayang ke depan, Coh Liu-hiang sudah berada di haluan kapal itu.

Badan kapal sudah hilang dan miring, kabin kapal sudah kemasukan air.

Suasana di atas kapal sunyi senyap.

Koh-bwe Taysu Ko Alam dan teman gadisnya yang malu-malu itu, si pemuda baju hitam Ting Hong serta beberapa pendayung perahu tadi, semua sudah menghilang entah kemana.

"Kapal ini jelas masih baru, mengapa bisa tenggelam mendadak?"

Ujar Oh Thi-hoa.

"Lantas kemanakah orangorang tadi? Memangnya sudah ditelan setan air seluruhnya?"

Maksudnya ingin berkelakar, tapi belum habis ucapannya ia sendiri merasa merinding, tanpa terasa keringat dingin pun membasahi tangannya.

Ia menarik napas dalam.

tiba-tiba dirasakan di antara angin sungai yang meniup semilir itu membawa semacam bau sengak yang aneh.

Ia menjadi heran dan bertanya.

"He. bau apakah ini? Apakah kau......."

Hakikatnya Coh Liu-hiang tak mencium bau apa-apa, maklum hidungnya memang kurang tajam.

Tapi segera dilihatnya dari hulu sungai sana mengambang tiba selapis cairan kehitam-hitaman yang mengkilap, dalam waktu singkat saja cairan hitam yang mengambang di permukaan air sungai itu telah mengurung rapat perahu serta layar yang sedang tenggelam.

Suara ucapan Oh Thi-hoa tadipun terputus oleh bunyi mendesing anak panah yang memecah angkasa, tertampak sinar api berkelebat.

sebatang panah berapi terbidik dari jauh terus menyemplung ke tengah sungai.

Menyusul lantas terdengarlah suara "blung"

Yang keras, seketika seluruh permukaan sungai terjilat api dan berkobar dengan hebat.

Hanya dalam sekejap saja Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa bersama perahunya sudah ditelan oleh lautan api.

*** Air terasa panas, Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa terendam di dalam air, dahi mereka penuh butiran keringat.

Mereka tidak merasa susah, sebaliknya merasa segar.

Sebab, tempat mereka berada bukanlah sungai yang terbakar melainkan di sebuah bak mandi yang besar.

Rupanya mereka sedang mandi uap.

Oh Thi-hoa membasahi handuknya.

setelah diperas kering, handuk lantas dikerudungkan di atas kepala, lalu ia memejamkan mata dan menghela napas, gumamnya.

"Ehmm, sama-sama berendam, jelas rasanya berbeda. berendam di situ memang berlainan dengan berendam di sungai. Sama halnya dengan manusia, sama-sama manusia, tapi ada yang pintar dan ada yang bodoh."

Coh Liu-hiang juga sedang memejamkan mata dengan rileks. Ia bertanya.

"Siapa yang bodoh?"

"Kau pintar, aku bodoh,"

Kata Oh Thi-hoa.

"Eh, mengapa kau jadi rendah hati?"

Ujar Coh Liu-hiang dengan tertawa.

"Sebenarnya aku pun tidak mau mengaku bodoh. tapi apa daya, kenyataan memang demikian."

Kata Oh Thi-hoa dengan menyengir.

"Coba, kalau tiada kau, mungkin aku sudah terbakar menjadi abu, mana bisa menikmati mandi uap yang menyenangkan ini. Cuma sayang, tidak ada gadis pijatnya."

Sejenak kemudian ia menghela napas dan menyambung.

"Terus terang, waktu itu aku benar-benar bingung, aku tidak habis mengerti, mengapa air sungai bisa terbakar, lebih-lebih tak terpikir olehku bahwa di bawah api masih ada air sungai kalau tidak ditarik olehmu, sungguh aku tidak berani terjun ke bawah."

Coh Liu-hiang tertawa, katanya.

"Sebelum api berkobar, bukankah kau mengendus scmacam bau sengak yang aneh?"

"Betul,"

Kata Oh Thi-hoa.

"Waktu itu kulupa hidungmu kurang tajam, malahan kutanya padamu. waktu kuingat pertanyaan itu hakikatnya percuma, tahu-tahu api sudah berkobar."

"Apakah kau tahu bau apakah itu?"

"Jika tahu, orang yang punya hidung malahan tanya kepada orang vang tak punya hidung. sungguh anch, sungguh lucu."

Oh Thi-hoa tertawa, katanya.

"Tadi kau telah menyelamatkan aku sehingga tidak mati terbakar. tapi aku tidak berterimakasih padamu. Betapa sering kau menyelamatkan aku, toh tetap akan kuhajar kau. Supaya aku, tidak penasaran. kau harus memberitahukan padaku bau apakah tadi?"

"Darimana kutahu bau apa?"

UJar Coh Liu-hiang dengan tertawa.

"Cuma meski aku tak dapat mencium baunyu, namun sudah kulihat jelas."

"Melihat apa?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Minyak,"

Jawab Coh Liuhiang.

"Minyak? Minyak apa?"

Tanya Oh Thi-hoa pula.

"Minyak apa, aku sendiri pun tidak jelas. cuma pernah kudengar cerita orang bahwa di sekitar daerah Tibet, di bawah tanah terdapat semacam air hitam yang sangat mudah menyala (minyak bumi zaman ini). Sekali terbakar sukar dipadamkan."

"Ya, betul, aku pun merasa bau itu memang berbau sengaknya minyak,"

Kata Oh Thi-hoa.

"Tapi di Sungai Panjang (Tiangkang) ini masa terdapat minyak hitam begitu?"

"Sudah tentu minyak itu tidak muncul sendiri, tapi dituang oleh orang,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Barang cair hitam itu memang aneh, bila dituang ke dalam air, pasti tetap mengambang di atas permukaan air maka tetap dapat dinyalakan Tapi mereka lupa kalau minyak mengambang di permukaan air dan terbakar, air di bawahnya tidak ikut terbakar, asalkan kau berani terjun ke tengah lautan api. tentu pula kau dapat selulup ke dalam air."

"Wah. tidaklah mudah bila orang ingin membakar mati kutu busuk tua macam kau ini."

Kata Oh Thi-hoa dengan tertawa.

"Tapi orang-orang ini dapat mengangkut minyak hitam jauh dari Tibet sana ke sini serta berani menyalakan api di sungai, suatu tanda mereka bukan orang biasa, tapi punya organisasi yang rapi, besar tenaga dan dananya. pula sangat berani."

"Tapi pada diri bocah she Ting itu tidak kulihat adanya tanda-tanda sebesar itu kepandaiannya."

Kata Oh Thi-hoa.

"Orang yang membakar mungkin ialah Ting Hong, tapi jelas dia bukan pemimpm komplotan rahasia ini.... mengenai siapa pemimpin mereka, kau pun tidak perlu tanya padaku, sebab aku pun tidak tahu."

Oh Thi hoa tersenyum sejenak, katanya kemudian.

"Mereka telah mengetahui kita sedang menguntitnya, maka mereka tidak sayang menenggelamkan kapal yang masih baru itu, tidak segan-segan menyalakan api di sungai untuk membakar mati kita.... sesungguhnya apa kehendak orangorang ini?"

"Kan sudah kukatakan sejak tadi, ini pasti menyangkut urusan besar yang sangat mengejutkan."

"Namun...... namun Koh-bwe Taysu dan Ko A-lam, apakah mereka pun akan mengalami nasib yang malang?"

"Pasti tidak akan terjadi,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Jika demikian, apakah tujuan mereka hanya ingin membawa pergi Koh-bwe Taysu dan Ko A-lam?"

"Ehm. kukira memang demikian."

"Sungguh aneh. Kalau mereka bermaksud jahat terhadap Koh-bwe Taysu, mana bisa Nikoh tua itu ikut pergi bersama mereKa begitu saja? Sebaliknya jika mereka tiada maksud jahat kepada Koh-bwe Taysu, tentunya mereka tidak perlu bertindak misterius ini."

Habis ucapannya ini.

lalu ia memejamkan mata seolah tak ingin mendengar lagi tanggapan Coh Liu-hiang.

Sebab ia tahu urusan ini tidak mungkin dapat dijawab oleh siapa pun juga.

*** Tempat mandi dimana Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa berendam ini bernama "Siau-yau-ti' (kolam serba nikmat, sebuah tempat mandi uap umum, tarip mandinya tidak murah.

tapi berendam di dalam bak mandi besar yang panas memang mempunyai cita rasa tersendiri.

Sambil mandi dapat puta mengobrol dengan teman.

sebab itulah kaum lelaki di daerah Kangsoh dan Ciatkang, baik kaya maupun miskin, bila sudah makan siang sorenya rnereka suka berendam satu dua jam di tempat mandi uap.

Yang berendam di bak mandi raksasa itu tentu saja tidak cuma mereka berdua saja, namun karena panasnya air sehingga uapnya cukup tebal, berhadapan saja hampir-hampir tidak dapat melihat jelas muka masing-masing.

Di pojok bak mandi sebelah sana masih ada dua-tiga orang yang sedang mencuci kaki dan menggosok punggung.

Selain itu ada pula seorang yang sudah cukup berendam dan kini sedang mengguyur badan dengan air dingin di tepi sana.

Beberapa orang itu tidak memperhatikan Coh Liu-hiang.

sebaliknya Coh Liu-hiang juga tidak memperhatikan mereka.

Di tempat mandi umum begini semuanya buka baju dan telanjang bulat, dalam keadaan bugil demikian tiada perbedaan kelas lagi, apakah keluarga kerajaan, pembesar negeri atau orang ternama, bahkan dengan kaum kuli sekalipun.

Coh Liu-hiang suka berkunjung ke tempat ini, dia merasa, seorang yang telanjang bulat dan berendam di dalam air barulah dapat seluruhnya memahami dirinya sendiri dan mamandang jelas dirinya sendiri.

Banyak juga saudagar besar yang suka berkunjung ke tempat mandi uap begini sambil berunding soal bisnis, sebab mereka pun merasakan bila kedua pihak bertemu dalam keadaan bugil, maka sifat kecurangannya tentu akan banyak berkurang.

Di pojok bak mandi sana ada dua orang sedang bicara deugan bisik-bisik.

entah apa yang sedang dipersoalkan.

Tapi seorang di antaranya rasanya Coh Liu-hiang sudah pernah kenal cuma scketika tidak ingat siapa dia.

Orang yang mandi air dingin di tepi bak sana sudah selesai, sambil memeras handuknya dia terus keluar.

Kedua kaki orang ini sangat panjang dan halus, tapi tubuh bagian atas jelas sangat kencang bahunya juga bidang.

Waktu berjalan tampak sempoyongan seakan-akan setiap saat bisa terjatuh.

Tapi sekali pandang saja Coh Liu-hiang lantas tahu Ginkang orang ini sangat tinggi, senjata yang dipakainya tentu juga berbobot berat, jelas orang ini pun seorang tokoh persilatan.

Padahal orang yang punya ginkang tinggi.

kebanyakan memakai senajta ringan yang mudah dibawa.

Malahan ada yang, cuma menggunakan Amgi (senjata rahasia) saja.

Orang yang punya ginkang tinggi dan memakai senjata yang berat memang tidak banyak.

Coh Liu-hiang lantas tersenyum, agaknya dia sudah dapat menerka siapakah gerangan orang tadi.

Berendam di bak mandi sembari mengawasi gerak-gerik orang lain, menganalisa asal-usul serta menerka kedudukan setiap orang juga salah satu kesenangan bagi orang yang suka berkunjung ke tempat mandi uap ini.

Waktu si kaki panjang tadi baru sampai di ambang pintu mendadak dari luar menerjang masuk satu orang.

Orang yang lari masuk ini kelihatan gugup, seperti diburu setan saja, begitu masuk segera ia terjun ke dalam kolam mandi.

Tentu saja air muncrat dan membasahi muka Oh Thi-hoa.

Baru saja Oh Thi-hoa mendelik dan hendak memaki, tiba-tiba ia melihat jelas orang itu, rasa gusarnya seketika berubah gembira, omelnya segera.

"Setan alas. kau tidak menjaring ikan di sungai mengapa lari ke sini? Memangnya kau pun ingin menangkap ikan di dalam kolam yang keruh ini?"

"Ya, kukira kau harus hati-hati, jangan sampai ke sana dijaring oleh jaring kilatnya,"

Kata Coh Liu-hiang dengan tertawa.

Kiranya orang yang menerjang masuk itu bukan lain 'si jaring kilat' Thio Sam yang baru saja mereka bicarakan itu.

Thio Sam selain terkenal mahir berenang dan pmtar memanggang ikan, pula sangat cerdik dan pandai bicara, pengalaman luas dan kawannya banyak, dengan sendirinya ia pun sangat setia kawan.

Orang yang serba baik ini hanya mempunyai suatu kelemahan.

yaitu suka pada mutiara.

Bila melihat mutiara yang bagus.

maka tangannya lantas gatal.

dengan segala daya upaya tentu dia akan berusaha mendapatkannya.

Benda-benda berharga lain, seperti emas, perak, batu permata lain tiada sesuatu yang menarik baginya.

Kesukaannya hanya pada mutiara, bila melihat mutiara, sama halnya Oh Thi-hoa melihat arak.

Tapi sekarang ketika dia melihat Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa juga berada di situ, rasanya jauh lebih gembira daripada melihat mutiara yang paling bagus.

Ia menghela napas lega dan berkata.

"O, syukur rupanya rezekiku besar, dimana-mana selalu kutemukan penolong."

Dengan tertawa Oh Thi-hoa mengomel.

"Setan alas, melihat tingkahmu ini, jangan-jangan kau bertemu setan?' Si jaring kilat Thio Sam menghela napas dan menyengir, jawabnya.

"Ketemu setan mungkin akan lebih baik, tapi orang yang kutemukan ini terlebih buas daripada setan."

"Hah, siapakah dia, bisa lebih buas daripada setan ? Aku jadi ingin melihatnya,"

Ujar Oh Thi-hoa.

"Masa kau...."

Belum Thio Sam buka suara, mendadak di luar terdengar suara ribut-ribut.

Si kaki panjang tadi sudah melangkah keluar pintu.

kini mendadak mundur ke dalam lagi.

Terdengar suara serak seorang lelaki sedang berseru.

"He, nona, tempat ini tidak pantas didatangi engkau."

"Orang lain boleh datang, mengapa aku tidak boleh? Berdasarkan apa aku tidak boleh datang?"

Teriak seorang lagi. Suaranya cepat seperti bunyi mitraliur, nyaring dan merdu, seperti seorang perempuan muda. Terdengar lelaki tadi berkata pula dengan gugup.

"Tapi.... tapi tempat ini adalah tempat mandi kaum lelaki, nona mana boleh masuk ke situ?"

"Kau bilang tidak boleht aku justru mau masuk ke sana. harus,"

Kata si nona. Dia mendengus lalu berteriak pula.

"Pencuri brengsek, kau lari ke sini dan mengira nona tak berani mengejar? Hm, supaya kau tahu, biarpun kau lari ke neraka juga akan kubekuk kau dari depan Giam|o-ong (raja akhirat)."

Oh Thi-hoa melelet lidah. katanya dengan tcrtawa.

"Wah, nona cilik ini benar-benar sangat buas...."

Dia melirik Thio Sam, dilihatnya wajah Thio Sam pucat ketakutan, mendadak si jaring kilat terjun ke dalam kolam mandi terus selulup ke bawah tanpa menghiraukan airnya yang panas mengepul itu.

"Haha, kan ada kami di sini, apa yang kau takuti?"

Ujar Oh Thi-hoa dengan tertawa.

"Tapi kau ternyata lebih suka minum air cuci badan orang banyak."

Coh Liu-hiang tertawa geli, selamanya dia suka bertemu dengan orang yang menarik.

Nona cilik di luar itu juga sangat menarik, ia berharap si nona akan menerjang ke dalam.

Tapi masa ada peremPuan yang berani menerobos ke kamar mandi yang khusus hanya disediakan untuk kaum lelaki?

Terdengar suara ribut di luar sana semakin keras, si pengurus tempat mandi sedang berteriak-teriak pula.

"Jangan, tidak boleh masuk, tidak boleh...."

Belum habis ucapannya.

"plak" . agaknva orang itu telah digampar satu kali sehingga mulutnya bungkam seketika. Lalu dari luar menerjang masuk dua orang perempuan. Sudah tentu suasana menjadi panik. Siapa pun tidak menyangka ada perempuan yang benar-benar berani menerobos ke kamar mandi kaum lelaki. Si kaki panjang tadi segera melompat lagi ke dalam kolam dan berjongkok di situ. Tertampak usia perempuan pemberani ini masih muda juga sangat cantik, hidungnya mancung. mulutnya kecil. matanya besar dan berkelip-kelip, mungkin bintang-bintang di langit juga tidak seterang kerlipan matanya. Berbaju merah ketat. Yang hebat ialah kopiahnya yang berwarna keemasan berbentuk mirip mahkota, memakai sabuk emas pula. dipandang sepintas mirip seorang pangeran yang baru pulang dari berburu. Yang ikut masuk bersama dia adalah seorang genduk berusia empat-lima belas tahun, bermuka bundar. cukup manis bila tertawa. Coh Liu-hiang saling pandang sekejap dengan Oh Thi-hoa. dalam hati merasa geli. Sebab mereka sudah melihat pada kopiah emas itu tadinya pasti terbingkai satu biji mutiara besar, tapi sekarang mutiara itu sudah hilang. hanya kelihatan bekasnya saja pada kopiah si nona. Kemanakah mutiaranya? JeIas telah disambar si jaring kilat Thio Sam. Tentu penyakitnya kumat lagi demi melihat mutiara orang yang besar lagi bagus itu. Padahal si jaring kilat Thio Sam ini tidak cuma mahir berenang dan selulup saja, kungfunya juga tidak lemah. Ginkang dan Am-gi juga terhitung lumayan, tapi mengapa dia ketakutan terhadap si nona cilik ini? Kedua mata si nona nampak mengerling kesana kemari .setiap lelaki yang berendam di dalam bak dipelototinya, lebihlebih Oh Thi-hoa, risi dia. Bayangkan, bagaimana rasanya bila seorang lelaki telanjang bulat berendam di dalam air dan dipandang seorang nona cantik.... Air muka si genduk cilik tadi juga berubah merah, ia sembunyi di belakang si nona baju merah. tidak berani memandang ke luar, tapi terkadang ia pun melirik ke arah Coh Liu-hiang. Tentu saja Coh Liu-hiang merasa senang oleh peristiwa yang aneh dan lucu ini. Tiba-tiba si nona baju merah berseru.

"He, barusan ada seorang lelaki mirip monyet masuk ke sini, apa kau melihatnya?"

Semua orang diam saja, tidak ada yang menjawab. Nona baju merah itu melotot katanya pula.

"Asalkan kalian memberitahu, tentu akan kuberi hadiah, jika dusta, awas!"

Oh Thi hoa berkedip-kedip. tiba-tiba menanggapi.

"Yang nona katakan Apakah orang yang rada-rada mirip monyet?"

"Ya, betul, kau melihatnya?"

Jawab si nona. Jika orang macam begitu, aku memang melihatnya,"

Ujar Oh Thi-hoa dengan tenang.

Thio Sam yang masih selulup dalam air menjadi berdebardebar, sungguh ia geregetan, bila mungkin dia akan menjahit mulut Oh Thi-hoa agar selamanya tak dapat minum arak lagi.

Coh Liu-hiang juga merasa geli.

Sudah tentu ia tahu Oh Thi-hoa bukan orang yang suka menjual kawan, paling-paling cuma sengaja hendak membikin kapok Thio Sam saja agar berubah sedikit penyakitnya itu.

Tampak mata si nona tadi terbeliak, katanya.

"Dimana orangnya? Lekas katakan, akan kuberi persen."

"Persen apa?"

Tanya Oh Thi-hoa.

Si nona mendengus, mendadak ia melemparkan sepotong benda ke dalam air.

Mata Coh Liu-hiang sangat tajam, sekilas dia sudah dapat melihat benda itu adalah sepotong emas.

Sungguh bodoh nona cilik ini, sekali lempar lantas memberi persen sepotong emas, jelas asal-usulnya pasti lain daripada yang lain.

Segera OH Thi-hoa menggagapi emas itu dalam air, seperti tak percaya jika emas itu tulen, sengaja mengamati sekian lama, habis itu baru berkata dengan tertawa.

'Terima kasih nona."

"Lantas dimana orangnya?"

Tanya si nona. Oh Thi-hoa meraba hidung, jawabnya pelan.

"Orangnya ...."

Ia pun tahu saat ini pandangan setiap orang sama tertuju ke arahnya.

Setiap orang sama bersikap menghina padanya.

demi mendapat persen sepotong emas lantas menjuaJ kawan.

betapa rendah perbuatannya ini.

Namun Oh Thi-hoa tetap tenang saja, mukanya tidak merah, hatinya tidak gelisah, perlahan-lahan ia menjulurkan tangan dan menunjuk hidung Coh Liu-hiang sambil berkata dengan tertawa.

"Orangnya ialah ini. masa nona tidak melihatnya?"

Tindakan Oh Thi-hoa ini benar-benar di luar dugaan siapa pun juga.

Ada yang melengak, ada yang tertawa geli Tentu saja Coh Liu-hiang sendiri menjadi serba runyam.

Si nona baju merah tampak gusar, segera ia membentak.

"Kurangajar kau.... kau berani bergurau denganku?"

"Mana Cayhe berani bergurau dengan nona,"

Kata Oh Thihoa tertawa.

"Nah. silakan nona melihat lebih teliti, orang ini bukankah mirip seekor monyet?.... masa orang yang nona cari bukan dia?"

Si nona memelototi Coh Liu-hiang sekejap.

melihat sikapnya yang serba susah itu, tanpa tarasa timbul juga rasa gelinya.

Si genduk cilik tadi sudah tidak tahan geli.

sambil mendekap mulut, ia tertawa cekikikan.

Oh Thi-hoa tambah gembira.

katanya pula dengan tertawa.

"Di sini hanya dia saja yang mirip monyet, jika yang dicari nona bukan dia, maka cayhe tak tau lagi siapa orang yang kau cari."

Si nona baju merah menarik muka, seketika ia menjadi bingung juga entah cara bagaimana harus bertindak terhadap orang ini.

Betapa pun ia masih muda belia, lelaki yang berkulit muka setebal ini belum pernah dilihatnya.

Si genduk cilik tadi melirik sekejap pula ke arah Coh Liuhiang, tiba-tiba ia berkata sambil menahan tawa.

"Siocia, mari kita pergi saja."

"Mendadak si nona mendengus, teriaknya.

"Mengapa aku harus pergi. mengapa harus pergi?"

Cara bicaranya kesusu dan cepat pula sehingga satu kalimat diucapkan dua kali, seolah-olah khawatir orang lain tidak jelas mendengar ucapannya.

"Pencopet itu sepertinya tidak berada di sini."

Kata si genduk cilik tadi. Kembali Si nona baju merah menjengek, katanya.

"Sebenarnya aku pun tidak benar-benar hendak mencari dia ke sini. soalnya tempat apa pun di dunia ini sudah pernah kulihat. hanya tempat mandi begini belum pernah kudatangi, maka aku sengaja masuk ke sini."

"Betul,"

Sambut Oh Thi-hoa sambil berkeplok tertawa.

"Orang hidup baru berarti jika seperti nona. Sungguh Cayhe sangat kagum terhadap orang seperti nona ini."

Si nona hanya mendengus saja. Segera Oh Thi-hoa berkata pula.

"Cuma sayang, nona masih tetap kurang berani."

"Apa katamu?"

Teriak si nona sambil mendelik.

"Kubilang nona tetap kurang berani,"

Sahut Oh Thi-hoa dengan tertawa.

"Apabila nona juga berani terjun ke dalam kolam mandi ini, barulah kau benar-benar pemberani dan lihai."

Merah padam muka si nona saking gusarnya, mendadak tangannya sudah ada sebatang pedang panjang yang bercahaya kemilau.

Pedang ini tipis dan sempit, lemas terbut dari baja pilihan, biasanya melilit di pinggang sebagai sabuk, bila dilepas dan disendal, seketika terjulur, dan jadilah pedang yang tajam.

Pedang yang lemas dan keras hanya dapat dimainkan oleh orang yang sudah ahli dan terlatih dengan baik.

Tentu saja orang-orang yang berendam dalam kolam mandi sama terkesiap, sungguh tak tersangka oleh mereka bahwa nona cilik galak ini mahir menggunakan pedang lemas begini.

Sementara itu si nona telah melompat ke tepi kolam, sekali sabet, segera pedangnya menebas ke kepala Oh Thihoa, gerak pedangnya sedemikian cepat, jitu lagi ganas.

Oh Thi-hoa menjerit terus selulup ke dalam air.

Orang lain mengira dia telah terkena tebasan pedang si nona.

Tak tahunya, sejenak kemudian, tahu-tahu kepalanya menongol keluar pula dari dalam air.

Katanya sambil tertawa.

"Ai., aku cuma mengambil sepotong emas nona. masa nona lantas mengambil jiwaku."

Saking gemas, mata si nona seperti berapi, dampratnya dengan bengis.

"Jika kau benar-benar lelaki sejati hayo lekas naik, lekas naik kemari!"

"Sudah tentu aku lelaki sejati"

Sahut Oh Thi-hoa sambil cengar cengir.

"Cuma sayang. aku tidak memakai celana. mana boleh kunaik ke atas begini saja?"

Si nona baju merah tambah geregetan, teriaknya sambil menggentak kaki.

"Baik. akan kutunggu kau di luar. masa kau mampu kabur!"

Betapapun dia adalah perempuan, mukanya merah juga habis bicara segera ia melangkah ke luar. Si genduk cilik tadi melirik sekejap pula pada Coh Liuhiang, katanva dengan tersenyum.

"Kawanmu ini sudah berkelebihan kelakarnya, sebaiknya kau bersiap membereskan jenazahnya."

Habis berkata, dengan prihatin ia pun melangkah keluar. Coh Liu-hiang menghela napas, gumamnya.

"Tampaknya genduk cilik ini tidak bergurau padamu, terpaksa aku harus keluar biaya untuk membeli peti mati."

"Tidak perlu peti mati,"

Ujar Oh Thi-hoa dengan tertawa.

"Bakar saja mayatku menjadi abu dan masukkan guci terus dibuang ke laut."

Setelah berkedip-kedip.

Oh Thi-hoa berkata pula "Sebenarnya tiada niatku hendak mempermainkan, si nona, soalnya dia galak, suka mentang-mentang.

sedikit-sedikit hendak membunuh orang.

kalau tidak kuajar adat padanya, kelak tambah runyam."

"Hah, mungkin kau tidak mampu mengajar adat padanya, sebaliknya dia yang akan mengajar adat kau,"

Ucap Coh Liuhiang dengan tak acuh. Tiba-tiba kepala si jaring kilat Thio Sam menongol keluar dan mendesis pada Oh Thi-hoa.

"Betul, kukira Iekas kau lari."

"Lari? Mengapa harus lari? Memangnya kau kira aku jeri pada nona cilik itu?"

Ucap Oh Thi-hoa dengan melotot.

"Apakah kau tahu siapa dia?"

Tanya Thio Sam.

"Memangnya siapa dia? Apakah dia puteri maharaja?"

Kata Oh Thi-hoa.

"Kalau melibat ilmu pedangnya memang betul pernah mendapatkan didikan yang baik, gerak serangannya juga sangat cepat. Tapi kalau dengan beberapa jurus pedangnya saja lantas mau malang melintang. kukira dia masih selisih jauh."

"Dia mungkin bukan soal, tapi neneknya, betapa pun kau tak dapat memusuhinya,"

Tutur Thio Sam.

"Neneknya? Siapakah neneknya itu?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Neneknya cukup termasyhur, yaitu Kim-thay Hujin dari Bansiu-wan (taman panjang umur). Nona tadi adalah cucu perempuan ke-39 Kim-tayhujin, namanya Kim Leng-ci dan berjuluk Hwe-hong-hong (phoenix berapi)."

Seketika Oh Thi-hoa melengak demi mendengar keterangan Thio Sam.

Biasanya Oh Thi-hoa tidak kenal takut dan tidak mau tunduk kepada siapa pun juga.

Tapi Kim-tayhujin atau nyonya besar Kim ini tidak bisa dibuat main-main.

Bukan saja dia tidak berani memusuhinya, hakikatnya juga tiada orang lain yang berani memusuhi dia.

Bicara ilmu silat, memang Kim-tayhujin belum tergolong top, tapi jika bicara besarnya pengaruh, maka tiada seorang di dunia Kangouw ini yang mampu menandingi Kim-tayhujin.

Seluruhnya Kim-tayhujin punya sepuluh anak laki-laki dan sembilan anak perempuan, delapan orang menantu laki=laki dan 39 cucu lelaki dan perempuan, ditambah lagi 28 cucu luar.

Anak Ldan menantunya terdiri dari macam-macam kalangan dan profesi, ada yuang menjabat Ciangbunjin suatu aliran persilatan, ada Congpiauthau (pemimpin perusahaan pengawalan), Congpothau (kepala opas), ada yang menjadi Pangcu (pemimpin perserikatan), boleh dikata semuanya adalah jago kelas tinggi dunia Kangouw.

Selain itu ada seorang anak lelakinya tidak belajar silat.

tapi belajar sastra, kini menjadi pembesar di kotaraja.

Seorang lagi masuk dinas militer, kini adalah panglima kepercayaan kerajaan yang disegani.

Kim-tayhujin mempunyai sembilan anak perempuan.

tetapi cuma delapan orang menantu, soalnya salah seorang anak perempuannya telah cukur rambut dan menjadi Nikon, kini menjabat ketua Go-bi-pay.

Cucu-cucunya, baik cucu dalam maupun cucu luar semua juga sudah dewasa dan cukup terkenal di dunia Kangouw.

Hwe-hong-hong Kim Leng-ci adalah cucunya yang terkecil juga cucu yang paling disayang Kim-tayhujin.

Yang paling penting adalah cara mendidik Kim-tayhujin yang sangat keras, anak murid keluarga Kim semuanya menempuh jalan yang baik, tidak ada yang rusak dan menyeleweng.

Sebab itulah bila orang Kangouw menyebut Kim-tayhujin.

maka past i memberi salut dan memperlihatkan ibu jari.

Nah, coba bayangkan, tokoh besar macam begitu apakah dapat dimusuhi?

Karena itulah Oh Thi-hoa jadi melengak, katanya kemudian sambil menatap Thio Sam.

"Jadi sebelumnya kau pun sudah tahu dia adalah cucu perempuan Kim-lothaythay?"

"Ehm,"

Thio Sam mengangguk.

"Dan kau tetap mencuri mutiaranya. Apakah kau sudah keblinger atau sudah gila?"

"Sebenarnya aku pun tidak berani mengincarnya,"

Tutur Thio Sam dengan menyengir.

"Tapi mutiaranya itu... Ai, mutiaranva itu menggapai-gapai membangkitkan selera. Hanya sekali pandang aku lantas tergila-gila dan tanpa terasa aku lantas turun tangan. Sungguh tak kusangka dia berani mengejar diriku ke kamar mandi lelaki ini."

Dalam pada itu terdengar Hwe-hong-hong Kim Leng-ci sedang berteriak.

"Hayo keluar. lekas! Masa kau dapat kabur?"

Oh Thi-hoa mengerut kening, katanya.

"Watak nona ini ternyata tidak tahan sabar."

Mendadak ia tepuk-tepuk pundak Coh Liu-hiang dan membujuknya.

"Kutahu caramu menghadapi pereempuan lain daripada yang lain, rasanya cuma kau saja yang dapat melayani nona ini, terpaksa harus kuminta bantuanmu."

Coh Lan-hiang tertawa, ucapnya dengan tak acuh.

"Tidak, aku tak sanggup. Kan rupaku mirip monyet, mana bisa disukai perempuan."

Oh Thi-hoa menyengir, jawabnya.

"Siapa bilang kau mirip monyet? Siapa bilang? Pasti orang itu bermata juling, masa dia tak tahu bahwa kau inilah lelaki paiing cakap, lelaki paling ganteng di dunia?"

Coh Liu-hiang tutup mulut dan tidak menanggapi.

Dengan mengiring tawa, Oh Thi-hoa membujuk pula "Padahal ini pun kesempatan yang baik bagimu.

Bisa jadi nanti kau akan dipungut menjadi cucu menantu Kim-lothaythay, sebagai kawanmu kan kita pun akan ikut gembira dan bahagia."

Coh Liu-hiang malah memejamkan mata dan tidak menggubrisnya. Tiba-tiba Thio Sam membisikinya.

"Jalan paling selamat adalah lari, kukira lebih baik kau..."

Mendadak Oh Thi-hoa melompat keluar kolam sambil berseru.

"Tidak, tak perduli apakah dia cucu Kim-lothay-thay atau bukan, betapapun anak perempuan harus tahu aturan, jika dia tidak tahu aturan dan bersikap kasar, aku pun bisa bertindak lebih kasar daripada dia."

Baru sekarang Coh Liu-hiang membuka mata, ucapnya dengan suara pelan.

"Selama ini tiada orang bilang kau ini suka bicara tentang aturan."

Namun Oh Thi-hoa tidak bicara pula, ia bungkus pinggangnya dengan handuk, lalu menerjang keluar.

Serentak orang-orang yang berendam di bak mandi juga melompat keluar.

Memangnya siapa yang tidak ingin menonton pertunjukan menarik itu.

Si kaki panjang tadi juga ikut melangkah keluar, waktu lewat di depan Coh Liu-hiang.

tiba-tiba ia tertawa padanya.

Coh Liu-hiang membalasnya dengan tertawa pula.

"Jika tidak salah terkaanku,"

Demikian si kaki panjang berkata.

"Tuan ini kan....."

Ia pandang ke belakangnya dan tak meneruskan ucapannya, tapi melangkah keluar dengan tersenyum.

Orang yang berjalan di belakang si kaki panjang adalah orang yang seperti sudah dikenal oleh Coh Liu-hiang tadi.

Muka orang ini merah seperti kepiting rebus, entah karena terlalu lama berendam air panas atau memang pembawaan sejak dilahirkan, atau berubah merah ketika melihat Coh Liuhiang?

Yang jelas, sejak awal hingga akhir dia tidak pernah memandang Coh Liu-hiang, hanya orang yang berjalan bersama dia itulah yang melirik sekejap.

tapi ketika Coh Liuhiang memandangnya, cepat ia menunduk dan buru-buru melangkah keluar.

"Tampaknya kedua orang ini bukan manusia baik-baik, rasanya seperti pernah kulihat mereka, cuma lupa entah dimana,"

Bisik si jaring kilat Thio Sam. Coh Liu-hiang seperti sedang mengingat sesuatu, jawabnya sekenanya.

"Ehm. aku pun seperti pernah melihat mereka."

"Orang berkaki panjang itu pasti juga sangat tinggi Ginkangnya, lagaknya angkuh, tentu seorang yang mempunyai asal-usul, tetapi selama ini belum pernah kulihat dia,"

Setelah tertawa lalu Thio Sam menyambung.

"Orang yang belum pernah kulihat, pasti orang yang jarang bergerak di dunia Kangouw."

"Ehm,"

Coh Liu-hiang hanya mengangguk saja.

"Meski tempat ini sebuah kota bandar, tapi biasanya jarang ada kaum persilatan datang kemari, mengapa sekarang bisa muncul orang sebanvak ini, aku menjadi rada heran."

Tiba-tiba Coh Liu-hiang tertawa, katanya.

"Kau mengoceh terus menerus, tujuanmu cuma ingin menahanku di sini untuk mengawanimu, betul tidak?"

Muka Thio Sam menjadi merah karena isi hatinya dengan tepat kena dibongkar.

"Padahal orang berkelahi di luar demi membela kau, sedikitnya kau mesti keluar melihatnya,"

Ujar Coh Liu-hiang.

"Baiklah, mau keluar boleh keluar. kemana pun aku berani bila berada bersamamu,"

Ucap Thio Sam.

"Sebelum keluar. jangan lupa membawa mutiara yang kau sembunyikan di dasar kolam,"

Ujar Coh Liu-hiang. Muka Thio Sam bertambah merah, katanya sambil menggeleng gegetun.

"Aneh. apapun yang kukerjakan selalu tak dapat mengelabui kau..,." *** Pintu rumah mandi uap "serba nikmat"

Itu tidak besar.

Pada umumnya pintu rumah mandi begini memang tidak besar, bahkan pasti diberi tirai yang tebal, tujuannya agar angin dingin dari luar tidak meniup ke dalam dan hawa panas di dalam tidak merembes keluar.

Sekarang tirai pintu entah telah digulung oleh siapa, di luar sana sudah berkerumun orang-orang ingin menonton keramaian.

Maklum, ada seorang nona cantik berani masuk ke rumah mandi khusus lelaki, jelas ini berita besar dan luar biasa, apalagi si nona cantik ini menghunus pedang ingin membunuh orang.

Saat itu OPh Thi-hoa sedang mengenakan pakaiannya dengan perlahan-lahan.

Hwe hong-hong Kim Lneg-ci tampaknya sekali ini dapat bersabar, dia berdiri di situ dengan muka bersungut, bila ada orang berani memandangnya, segera ia balas peloloti orang itu.

"Apakah dia benar-benar menghendaki nyawaku?"

Tanya Oh Thi-hoa kemudian sambil membetulkan kancing bajunya. Si nona hanya mendengus saja tanpa menjawab.

"Ai, nona kecil masih muda belia, mengapa sedikit-sedikit lantas membunuh orang?"

Kata Oh Thi-hoa dengan menyesal. Kim Leng-ci mendelik, jawabnya.

"Orang yang pantas dibunuh tentu kubunuh, untuk apa dibiarkan hidup? Untuk apa? Hanya bikin berjubel dunia saja."

"Seluruhnya sudah berapa banyak orang yang kau bunuh?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Seratus, seribu, mungkin lebih, peduli apa denganmu? Peduli apa?"

"Jika tak dapat kau bunuh diriku, lalu bagaimana?"

Tanya pula Oh Thi-hoa.

"Jika tak dapat kubunuh kau. biar kuberikan kepalaku!"

"Ah. untuk apa kuminta kepalamu?"

Ujar Oh Thi-hoa sambil menggeleng.

"Begini saja. Jika kau tak dapat membunuh diriku, kuharap seterusnya jangan lagi kau bunuh orang. Orang yang pantas mati di dunia ini sesungguhnya tidaklah banyak."

"Baik...."

Hanya satu kata saja disuarakan si nona.

kontan sinar pedangnya menyambar ke depan dan menusuk tenggorokan Oh Thi-hoa.

Ilmu pedang si nona tidak saja cepat.

tapi juga keji.

sekali serang segera mengincar tempat yang mematikan.

Lekas Oh Thi-hoa berkelit, dengan mudah serangan si nona dapat dihindarinya.

Kini Leng-ci tambah gemas, serangannya tambah gencar, hanya sekejap saja belasan kali dia menusuk.

Pada umumnya ilmu pedang yang dilatih kaum perempuan mengutumakan enteng dan gesit, Tapi ilmu pedang Kim Lengci ternyata mengutamakan 'keras', terdengar suara sambaran angin pedang yang tajam sehingga orang yang berkerumun sama menyingkir.

Ruangan tempat mereka bergebrak ini sebenamya adalah tempat tukar pakaian tetamu yang mandi uap, ruangannya tidak luas, di mana ujung pedang Kim Leng-ci menyambar boleh dikatakan sudah tiada peluang lagi untuk mengelak.

Jika orang lain, mustahil tubuhnya tidak tertusuk belasan lubang oleh serangan lihai si nona, cuma sayang, lawannya sekarang adalah Oh Thi-hoa.

Dalam urusan lain, Oh Thi-hoa memang tidak tahan sabar.

tapi bila bertarung dengan orang, sifatnya yang berangasan bisa lantas berubah sabar.

Sebab pengalaman tempurnya sesungguhnya memang sangat banyak.

hakikatnya jarang ada yang dapat membandingi dia.

Biasanya orang yang berkelahi tentu akan merasa tegang, tapi bila Oh Thi-hoa berkelahi seperti makan sehari-hari saja.

Sekalipun ketemu lawan yang berilmu silat lebih tinggi juga takkan membuatnya tegang.

Sebab itulah sesuatu perubahan yang tak diketahui orang lain, pasti akan diketahui oleh Oh Thi-hoa, jurus serangan yang tak dapat dihindarkan orang lain pasti dapat dielakkannya.

Begitulah kelihaian Oh Thi-hoa terus menggeser ke sana dan meluncur ke sini, semakin cepat serangan Kim Leng-ci, semakin cepat pula caranya menghindar.

Waktu Kim Leng-ci menusuk untuk ke-21 kalinya, mendadak ia tarik kembali pedangnya setengah jalan, katanya dengan mendelik.

"Mengapa kau cuma menghindar saja dan tidak balas menyerang?"

Oh Thi-hoa tertawa, jawabnya.

"Kan kau yang ingin membunuhku. aku sendiri tidak bermaksud membunuhmu.,, Kim Leng-ci menggentak kaki, dengan mendongkol ia berkata.

"Baik. akan kulihat akhirnya kau balas menyerang tidak? Balas menyerang atau tidak?"

Mendadak ia menusuk pula, sekarang permainan pedangnya telah berubah.

Sejauh ini meski ilmu pedangnya sangat cepat dan keji.

tapi tiada gerak serangn yang aneh dan luar biasa.

Baru sekarang, setelah permainannya berubah.

tertampak sinar pedang yang bergulung-gulung memburu seperti air hujan.

bukan saja aneh jurus serangannya, bahkan tidak nampak ada lubang kelemahan.

Seumpama orang yang sama sekali tidak kenal ilmu pedang pasti juga akan terkesima dan yakin akan permainan pedang si nona pasti lain daripada yang lain.

Si jaring kilat Thio Sam sedang mengintip dari balik pintu.

diam-diam ia membisiki Coh Liu-hiang.

"Ini kan Liu-ji-kiamhoat dari Go-bi-pay?"

"Betul,"

Jawab Coh Liu-hiang.

"Bibinya yang ketujuh adalah pejabat ketua Go-bi-pay, ilmu pedang ini dipelajarinya dari sang bibi,"

Kata Thio Sam pula. Coh Liu-hiang mengangguk. belum dia bicara lagi tiba-tiba terdengar Kim Leng-ci membentak.

"Bagus, masa kau masih tidak balas menyerang.... kau memang hebat jika tidak balas menyerang!"

Di tengah bentakan itu kembali gaya permainan pedangnya berubah pula.

Sinar pedang yang bergulunggulung dan memburu tadi, kini berubah menjadi lambat dan jarang-jarang.

Hawa pedang tajam memenuhi udara tadi kini pun lenyap.

Tertampak si nona mengangkat tangan kiri ke atas pundak.

pedang tangan kanan terus menebas miring ke depan, sinar pedangnya seperti ada.

juga seperti tidak ada, gerak serangannya seperti cepat tapi juga seperti lambat.

jalan pedangnya juga seperti lurus ke depan tapi juga seperti setiap saat bisa berubah.

Orang awam sekali ini pasli tidak melihat sesuatu yang hebat pada ilmu pedang si nona.

Malahan orang pasti akan menyangka si nona mulai jeri, mulai kehabisan tenaga.

maka serangannya menjadi lamban dan lemah.

Coh Liu-hiang lantas terkesiap demi menyaksikan gerak serangan si nona.

Sebab dikenalnya jurus serangan Kim Leng-ci ini adalah jurus 'Jing-hong-ji-lay' (angin meniup silirsemilir), jurus pertama 'Jing-hong-cap-sah-sik' (tiga belas jurus ilmu pedang angin meniup), yaitu ilmu pedang pusaka Hoasan-pay.

Hendaklah diketahui bahwa di dunia persilatan ada tujuh aliran besar yang paling termasyhur, yakni Siau-lim-pay, Butong-pay, Tiam-jong-pay, Go-bi-pay, Kun-lun-pay, Hay-lampay dan Hoa-san-pay.

Biasanya orang suka menonjolkan Siau-lim-pay dan Butong-pay sebagai dua aliran top yang terkenal dengan Gwakang dan Lwekangnya.

Padahal Hoa-san-pay, Kun -lunpay dan lain-lain juga mempunyai keunggulan masing -masing.

sebab itulah ketujuh Pay ini satu sama lain saling menghormati, sama -sama segan, tapi juga tidak mau saling mengalah.

Kalau bicara tentang ilmu pedang, maka aliran manapun tak berani bersaing dengan Hoa -san-pay.

karena ilmu pedang Hoa-san-pay yang terkenal dengan Jing -hong-cap-sah-sik itu memang sangat lihai.

Keistimewaan Jing-hong-kiam-hoat adalah gayanya yang lamban seperti tiupan angin silir.

Yang diutamakan adalah gerakan seperti ada isi dan tidak berisi, seperti sunguh -sungguh tapi mendadak berubah tidak ada.

Hakikatnya sukar diraba kemana serangan lawan mengincar dan juga tidak tahu cara bagai mana harus menghindar.

Ko A-lam, bekas pacar Oh Thi -hoa yang terkenal sebagai pendekar pedang dari Hoa-san-pay itupun sangat dikagumi Coh Liu-hiang tapi ia pun tidak pernah lengkap mempelajari ketiga belas jurus ilmu pedang lihai itu, hanya sembilan jurus saja yang dikuasainya.

Selain kepada Ko A-lam, hakikatnya Koh-bwe-taysu tidak pernah mengajarkan Jing-hong-kiam-hoat kepada murid mana pun juga, dengan sendirinya orang luar Hoa-san-pay lebihlebih tidak dapat mempelajarinya.

Tapi kini Kim Leng-ci ternyata dapat memainkan jurus Jinghong ji-lay, jurus pertama ketiga belas jurus ilmu pedang pusaka Hoa-san-pay itu.

Tentu saja Coh Liu-hiang terkesiap, bahkan Oh Thi-hoa juga terperanjat.

"Bret,"

Terdengar suara robeknya kain, lengan Oh Thi-hoa tergores robek, ujung pedang yang tajam menyerempet lewat di atas kulit dagingnya, hampir saja melukainya.

Dengan kepandaian Oh Thi-hoa sebenarnya tidak sukar baginya untuk menghindari jurus serangan Kim Leng-ci sebab dia pernah melihat Ko A-lam memainkan ilmu pedang lihai ini.

Malahan ia sendiri pun dapat meniru permainan jurus serangan itu, hanya intisari ilmu pedang itulah yang sukar dipelajarinya.

Dengan sendirinya Ko A-lam juga tidak nanti mengajarkan ilmu pedang pusaka perguruannya kepada Oh Thi-hoa, sebab peraturan Hoa-san-pay cukup keras.

siapa pun tidak berani melanggar dan diam-diam mengajarkan ilmu pedang kebanggaan perguruan sendiri kepada orang luar.

Tapi sekarang Kim Leng-ci ternyata mahir memainkan jurus serangan lihai itu, bahkan seperti dimainkan sewajarnya.

tanpa canggung atau kaku sedikit pun, tampaknya dia benarbenar mendapat pelajaran intisari ilmu pedang Hoa-san-pay itu.

Jika orang lain yang tidak kenal kehebatan Hoa-san-kiamhoat itu mungkin tidak menjadi soal, tapi Oh Thi-hoa cukup kenal kelihaiannya, dengan sendirinya ia terkejut.

Dan karena terkejut, hampir saja dia celaka.

Setelab jurus pertama berhasil membikin lawan kelabakan segera jurus kedua dilancarkan lagi oleh Kim Leng-ci.

Terlihat gerakannya lamban.

bergerak pelan, seperti orang mengebas daun bunga atau mengusap tangkai pohon, gayanya indah, tapi jelas sangat lihai.

Nyata inilah salah satu jurus lain Jinghong-cap-sah-sik yang disebut Jing-hong-hut-liu atau angin sejuk mengusap pohon liu.

Di luar dugaan, pada saat genting itu.

mendadak bayangan orang berkelebat.

tahu-tahu pergelangan tangan Kim Leng-ci telah dipegang orang.

Kedatangan orang ini sungguh teramat cepat dan hampirhampir sukar dibayangkan kecepatannya.

Baru saja sekilas Kim Leng-ci mengetahui datangnya orang, tahu-tahu urat nadi pergelangan tangannya sudah tercengkeram.

Cengkeraman orang itu tidak keras, tapi entah mengapa begitu tangan terpegang, sekujur badan Kim Leng-ci lantas lemas tak bertenaga, keruan ia terkejut dan cepat menoleh, baru sekarang diketahuinya orang yang mencengkeram tangannya ini adalah lelaki yang dimaki sebagai monyet dan juga berendam di kolam mandi tadi.

Wajah orang mengulum senyum seperti tadi.

Memang sejak tadi Kim Leng-ci juga merasa senyuman orang ini tidak menjemukan.

bahkan juga menggemaskan.

Segera ia berteriak.

"Kau mau apa? Ingin dua mengeroyok satu? Huh, tidak tahu malu. tidak tahu malu!"

Coh Liu-hiang tenang-tenang saja. ia tunggu si nona habis memaki barulah menjawab dengan tersenyum.

"Aku cuma ingin tanya sesuatu pada nona."

"Hakikatnya aku tidak kenal kau, berdasarkan apa kau hendak tanya padaku?"

Teriak Kim Leng-ci.

"Jika begitu, tak apalah tak jadi kutanya,"

Ucap Coh Liuhiang dengan tak acuh.

"Cuma...."

Sampai di sini tiba-tiba ia tak melanjutkan, sesuai ucapannya, ia benar-benar tak jadi bertanya. Kim Leng-ci berdiam sejenak, akhirnya ia sendiri yang tak tahan, tanyanya.

"Cuma apa maksudmu?"

Coh Liu-hiang tertawa, katanya.

"Apa vang ingin kutanyakan bisa jadi nona pun ingin tahu."

"Apa yang hendak kau tanyakan?"

Kata-kata ini terus tercetus dari mulut si nona tanpa pikir.

Diam-diam Oh Thi-hoa merasa geli dan mengakui 'kutu busuk tua' ini memang mempunyai beberapa jurus simpanan terhadap anak perempuan.

Coh Liu-hiang pernah berkata.

"Anak perempuan dapat diibaratkan seperti bayangan manusia, jika kau mengejarnya, maka dia akan selalu berada di depanmu, tapi begitu kau membalik tubuh, dia yang berbalik akan lengket mengikuti."

Tampaknya kata-kata ini memang tidak salah sedikit pun. Terdengar Coh Liu-hiang berkata dengan suara tertahan.

"Aku hanya ingin bertanya, ilmu pedang Jing-hong-cap-sah-sik yang dimainkan nona tadi dipelajari darimana?"

Air muka Kim Leng-ci seketika berubah, serunya "Jinghong-cap-sah-sik apa? Bilakah pernah kumainkan ilmu pedang begitu? Ah. kau salah lihat, kukira matamu kurang beres dan perlu berobat."

Cara Kim Leng-ci menjawab ini seperti anak kecil yang mencuri permen dan tertangkap tangau, ketika ditegur orang tua si anak terpaksa menyangkal, padahal mulutnya penuh permen.

namun tetap menyangkal bilang tidak mencuri.

Coh Liu-hiang hanya tertawa dan tidak mendesak lagi.

Dengan melotot Kim Leng-ci berteriak pula.

"Ingin kutanya. apa kerjamu? Kukira kau ini komplotan pencopet tadi, bisa jadi kau inilah tukang tadahnya. Jika kau tahu gelagat lekas kau kembalikan mutiaraku."

Orang tidak bertanya lebih lanjut padanya, sekarang dia berbalik menanyai orang lain, Pada umumnya orang yang merasa bersalah memang suka bersikap demikian.

Coh Liu-hiang tetap tenang saja.

katanya dengan tertawa.

"Tukang tadah memang betul ada, cuma....cuma bukan aku."

"Bukan kau? Habis siapa?"

Tanya Kim Leng-ci.

"Ialah...."

Kata Coh Liu-hiang sambil menjulurkan tangannya ke depan.

pelan ia berputar sehingga jarinya ikut bergerak.

ujung jarinya seakan-akan hendak berhenti di depan hidung setiap orang.

Waktu jarinya menuding sampai di depan Oh Thi-hoa, diam-diam Oh Thi-hoa mengeluh.

Maklum.

tadi ia sengaja berolok-olok dan bilang Coh Liuhiang mirip monyet, ia mengira sekali ini Coh Liu-hiang pasti akan membalasnya.

Tak terduga ternyata jari Coh Liu-hiang tidak berhenti di depan hidungnya tapi masih terus menggeser.

Lelaki bermuka merah seperti kepiting rebus tadi kini pun Sudah berpakaian.

Yang dipakainya jubah warna ungu bersulam bunga, pada pinggangnya terbelit sabuk kemala yang indah.

Perawakan orang bermuka merah ini memang kekar, waktu telanjang dan berendam di kolam mandi tadi tidak terlalu menarik.

Kini, sesudah berpakaian, jubah warna ungu berpadu dengan air mukanya yang merah tampak menjadi tambah gagah dan keren, berpuluh orang yang memadati rumah mandi uap ini boleh dikata tiada seorang pun yang dapat membandingi dia.

Tadi sebenarnya dia bermaksud pergi.

namun di depan pintll ada orang berkelahi, jalan keluar terhalang, terpaksa ia ikut berdiri di samping untuk rmenyaksikan ramai-ramai itu.

Ia seperti jeri terhadap Coh Liu-hiang, maka sejak tadi belum pernah dia memandang ke arah Coh Liu-hiang.

sekarang didengarnya Coh Liu-hiang telah menarik ucapan "Ialah...."

Hingga panjang sekali ketika jarinya sampai di depan hidung si muka merah, barulah ia menyambung ucapannya.

"....dia ini."

Ketika melihat pandangan orang banyak tertuju kepadanya dengan rasa heran, si muka merah sendiri jadi heran juga, dengan sendirinya ia pun ingin tahu siapa yang ditunjuk jari Coh Liu-hiang itu.

Sungguh tak terduga olehnya ketika diketahuinya jari Coh Liu-hiang dengan tepat lagi menuding di depan hidungnya, Terdengar Coh Liu-hiang berkata tenang.

"Dia bukan cuma tukang tadah, mutiara itu justru disembunyikan di tubuhnya."

Seketika muka orang itu bertambah merah. sedapatnya ia memperlihatkan senyum. katanya dengan suara terputusputus "Ah, saha.... sahabat ini tampaknya suka berkelakar."

Tapi Coh Liu-hiang menarik muka. katanya dengan serius "Urusan ini sama sekali tidak boleh berkelakar."

Orang itu tertawa, katanya.

"Padahal mutiara nona bagaimana bentuknya, apakah bulat atau persegi, belum pernah Cayhe melihatnya, lalu apa kehendakmu kalau bukan hendak berkelakar denganku?"

Jelas orang ini pun sudah kawakan Kangouw, meski terkejut, gerak-geriknya tidak menjadi kikuk, tapi segera ia dapat menenangkan diri. Coh Liu-hiang memandang para hadirin, serunya.

"Adakah di antara para hadirin melihat mutiara yang berbentuk persegi...? Nah, kalau sahabat ini bilang mutiara berbentuk bundar saja tidak pernah melihatnya. bukankah dia sengaja berkelakar jika tidak mau dikatakan hendak menipu anak kecil?"

Melihat sikap orang banyak seperti setuju dengan ucapan Coh Liu-hiang, si muka merah menjadi rada gugup, betapapun sabarnya, akhirnya ia menjadi gemas juga, segera ia menjengek.

"Sebenarnya apa maksudmu memfitnah diriku? Untunglah kenyataannya memang demikian, rasanya aku pun tak pernah membantah dan banyak omong,.."

Sembari berkata ia melangkah keluar, seakan orang yang kelewat gusar.

lalu hendak tinggal pergi.

Coh Liu-hiang tidak mencegah kepergian orang.

hanya pegangannya pada tangan Kim Leng-ci segera dilepaskan.

Maka berkelebatlah sinar pedang.

tahu-tahu Kim Leng-ci sudah menghadang di depan lelaki itu dan menuding hidungnya dengan ujunng pedang sambil menjengek.

"Hm, kau ingin kabur ya? Mau kabur kemana kau?"

Orang itu serba susah karena sikap Kim Leng-ci yang garang ini, terpaksa ia menjawab dengan menyengir.

"Ai, masa nona benar-benar percaya pada ocehannya?"

"Aku cuma ingin tanya padamu. benarkan kau yang mencuri mutiaraku?"

Tanya si nona. Orang itu melirik Coh Liu-hiang sekejap, lalu menjawab.

"Jika kubilang orang inilah yang mencuri mutiaranya, apakah nona percaya?"

Coh Liu-hiang menanggapi dengan tak acuh. katanya.

"Bila mutiara itu berada padaku. sekarang sekalipun aku dianggap mencuri juga tidak menjadi soal."

Orang tadi seperti menjadi lebih mantap, segera ia menjengek pula.

"Jika demikian, memangnya kau anggap mutiaranya berada padaku?"

"Kukira memang begitulah,"

Jawab Coh Liu-hiang. Mendadak orang ini menengadah dan bergelak tertawa katanya.

"Haha, sungguh lucu, sungguh menggelikan."

"Bilamana mutiaranya daPat digeledah dari badanmu, tentu tak jadi lucu lagi,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Padahal yang tahu rahasia ilmu pedang pusaka itu hanya koh-bwe Taysu dan Ko A-lam, Koh-bwe Taysu sendiri jelas tidak mungkin membocorkan rahasia ini..."

"Ko A-lam juga pasti tidak!"

Tukas Oh Thi-hoa tegas.

"Sudah tentu dia juga tidak, sebab itulah dalam hal ini hanya ada kemungkinan,"

Ujar Coh Liu-hiang.

"Kemungkinan bagaimana?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Kitab pusaka ajaran Jing-hong-cap-sah-sik telah dicuri orang,"

Jawab Coh Liu-hiang. Oh Thi-hoa menghela napas panjang. katanya.

"Betul, kecuali hal ini, tidak nanti Koh-bwe Taysu turun gunung."

"Bila Jing-hong-cap-sah-sik adalah ilmu pusaka Hoa-sanpay yang tak boleh diketahui orang luar, tentu Koh-bwe Taysu akan menyimpan kitab pusakanya di tempat tersembunyi..."

"Orang yang mampu mencurinya mungkin cuma si 'pencuri bagus' Coh Liu-hiang,"

Cepat Oh Thi-hoa menukas.

"Tidak, aku pun tidak mempunyai kemampuan begitu."

Jawab Coh Liu-hiang sambil menyengir.

"Peristiwa ini rasanya mirip benar dengan peristiwa tercurinya air sakti' Sin-cui-kiong (istana air sakti) dahulu,"

Ujar Oh Thi-hoa. (Baca Maling Romantis -Gan KH). Dipandang sepintas lalu, kedua peristiwa ini memang rada mirip, padahal sama sekali berbeda,"

Ujar Coh Liu-hiang.

"Dimana letak perbedaannya?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Kau tahu anak murid Sin-cui-kong sangat banyak dan juga berasal dari berbagai unsur, sedangkan Hoa-san-pay terkenal sangat ketat dalam hal memilih murid. Murid Koh-bwe taysu sendiri seluruhnya juga tidak lebih dari tujuh orang."

"Betul,"

Kata Oh Thi-hoa.

"Selain itu, air sakti Sin-cui-kiong hanya dijaga oleh anak muridnya, sedangkan kitab pusaka Hoa-san-pay langsung disimpan oleh Koh-bwe Taysu..."

"Betul juga, mencuri kitab pusaka Hoa-san-pay memang jauh lebih sulit daripada mencuri air sakti Sin-cui-kiong."

"Dari sini dapat diketahui bahwa si pencuri kitab pusaka pasti Juga jauh lebih lihai daripada Bu-hoa Hwesio yang mencuri air sakti itu."

"Apa kau kira pencuri ini.... Ting Hong atau bukan?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Andaikan bukan, tentu juga ada sangkut paut dengannya,"

Kata Coh Liu-hiang, lalu menyambung pula.

"Mungkin sekali Koh-bwe Taysu Sudah berhasil menemukan petunjuk hilangnya kitab pusaka, maka dia sengaja menyamar sebagai Na-thayhujin untuk bertemu di sini dengan Ting Hong."

"Kalau begitu, asalkan dia berhasil menawan Ting Hong, kan segala persoalannya dapat terpecahkan?"

Seru Oh Thihoa.

"Sudah tentu Koh-bwe Taysu takkan bertindak seceroboh itu,"

Ujar Coh Liu-hiang dengan tertawa.

"Dengan sendirinya ia pun tahu Ting Hong hanya seekor ular kecil saja, di belakangnya tentu masih ada ular besar...."

"Siapa itu ular besarnya?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Sampai sekarang ular besar itu masih bersembunyi dalam semak-semak rumput, hanya dengan membekuk ular besar ini. baru rahasia di balik persoalan ini dapat dibongkar, kalau cuma menangkap ular kecil saja jelas tiada gunanya."

Oh Thi-hoa mengangguk dan berpikir sejenak, katanya kemudian.

"Yang dikerjakan Koh-bwe Taysu sekarang mungkin juga ingin mengusut sesungguhnya di semak rumput mana ular besar itu bersembunyi. maka dia tak mau bertindak ceroboh.

"Kita pun tak boleh ceroboh dan sembarangan bertindak."

Tukas Coh Liu-hiang.

"Sebab urusan ini bukan saja menyangkut Koh-bwe Taysu dari Hoa-san-pay, tapi juga menyangkut beberapa tokoh lain."

"Oooo?"

Oh Thi-hoa berseru heran pula.

"Kecuali Koh-bwe Taysu, kuyakin pasti banyak juga rahasia orang lain yang jatuh ke tangan ular ebsar ini, orang yang tersangkut kasus ini pasti tokoh yang punya kedudukan tinggi."

"Ai, kasus ini memang lebih misterius daripada pencurian 'air sakti' dahulu, ujar Oh Thi-hoa gegetun.

"Yang lebih penting lagi, maksud tujuan Bu-hoa Hwesio mencuri 'air sakti' adalah digunakan untuk keperluan pribadinya, sedangkan tujuan ular besar ini mencuri rahasia orang lain adalah untuk dijual!"

"Dijual?"

Oh Thi-hoa menegas dengan heran.

"Ya,"

Jawab Coh Liu-hiang.

"Coba kau pikir, cara bagaimana Kim Leng-ci bisa memperoleh rahasia ilmu pedang pusaka Hoa-san-pay?"

"O, jadi dia membelinya dari Ting Hong?"

"Ya, memang begitu,"

Jawab Coh Liu-hiang.

"Jual beli ini tentu juga sangat dirahasiakan, mungkin sebelumnya Ting Hong sudah memperingatkan dia agar jangan memperlihatkan ilmu pedang ini di depan umum, tapi tadi karena gugupnya nona itu telah mengeluarkannya."

"Dan bagaimana dengan Ting Hong, apakah dia terlebih lihai daripada Sih Ih-jin, Ciok-koan-im dan sebagainya?"

"Ting Hong tidak perlu ditakuti. tapi ular besar itu..."

"Mengapa kau membesarkan kelihaian orang lain dan merendahkan pamor sendiri? Memangnya kenapa dengan ular besar itu? Masakah dia mampu menelan kita?"

"Coba kau pikir, jika seseorang mampu memahami berbagai ilmu silat dari aliran yang berbeda-beda, apalagi kalau sampai belasan macam banyaknya, apakah orang begini tidak lebih menakutkan daripada Ciok-koan-im dan lainlain?"

Oh Thi-hoa hanya mendengus, tampaknya tak sependapat. Coh Liu-hiang lantas menyambung pula.

"Apalagi, orang yang mampu mempelajari ilmu silat sebanyak itu sekaligus, maka dapat dibayangkan betapa hebat bakat orang ini. Dari sini pula dapat diperkirakan betapa licik dan licin orang itu."

"Orang licik dan licin juga sudah cukup banyak kulihat,"

Jengek Oh Thi-hoa.

"Ya, sebab ada seorang kawanku selalu bicara tentang Coh-hiangswe di depanku,"

Tutur Kau Cu-tiang.

"Katanya, biarpun aku berlatih sampai tua, Ginkangku takkan mencapai setengahnya Coh-hiangswe."

"Ah, kawanmu sengaja membual,"

Ujar Oh Thi-hoa.

"Kawanku itu sering menyatakan bahwa dia berhutang budi pada Coh-haingswe, keberangkatanku ke sini juga mendapat titip pesan kawanku itu agar menyampaikan salam hormatnya kepada Coh-hiangswe, khawatir aku tak kenal Coh-hiangswe, maka sebelum berangkat, dia telah menceritakan padaku secara terperinci bagaimana bentuk dan wajah Coh-hiangswe. Ia tertawa, lalu menyambung pula.

"Tapi ketika bertemu Coh-hiangswe, tetap tak dapat kukenali dengan segera, sebab...."

"Sebab waktu itu dia telanjang bulat mirip anak bayi yang baru dilahirkan,"

Tukas Oh Thi-hoa. Tentunya kawanmu itu bukan perempuan, darimana dia mengetahui bentuk si kutu busuk tua ini waktu bugil."

"Tapi begitu melihat tindak-tanduk Coh-hiangswe, segera dapat kuduga,"

Kata Kau Cu-tiang dengan tertawa.

"Hanya saja sampai sekarang aku tetap tidak habis mengerti cara bagaimana mutiara itu bisa lari ke dalam sabuk orang itu."

"Itu cuma permainan sulap saja, sedikit pun tidak perlu diherankan,"

Ujar Oh Thi-hoa.

"Kepandaiannya main sulap pasti dipelajari dari tukang obat di kaki lima, makanya dia juga mendapat nama julukan 'si tangan tiga', apakah kau tidak tahu?"

"O, ini... ini tidak pernah kudengar dari kawanku,"

Jawab Kau Cu-tiang. Coh Liu-hiang tertawa, katanya.

"Mulut orang ini selamanya tidak pernah tumbuh gading, maka jangan kau percaya pada ocehannya."

"Mulutmu sendiri apakah pernah tumbuh gading?"

Jawab Oh Thi-hoa.

"Akhir-akhir ini gading memang sangat berharga, pantas ada sementara nona jelita suka menganggap kau sebagai mestika pujaannya."

Coh Liu-hiang tidak menggubrisnya lagi, tapi lantas bertanya pada Kau Cu-tiang.

"Entah siapa kawan Kau-heng itu, darimana dia kenal diriku?"

"Kawanku bernama Ong Ji-ngay."

Jawab Kau Cu-tiang.

"Ong Ji-ngay?"

Coh Liu-hiang mengulang nama itu sambil mengerutkan kening.

"Aku pun tahu nama yang digunakan kawanku itu pasti nama palsu."

Tutur Kau Cu-tiang dengan tertawa.

"Tapi sebagai kawan. yang penting adalah ketulusan hati. Bila dia bersahabat denganku dengan setulus hati, untuk apa mesti kupersoalkan namanya tulen atau palsu?"

Coh Liu-hiang mengangguk dan tidak bertanya lebih jauh.

Kalau orang lain tidak mau menjelaskan lebih banyak, biasanya ia pun enggan untuk bertanya lagi.

Begitulah sambil bicara sambil berjalan, kini mereka sudah dekat dengan tepi sungai, sayup-nyup sudah tercium bau ikan panggang yang terbawa angin.

"Haha. jelek-jelek Thio Sam memang sahabat sejati, dia sudah memanggang ikan lebih dahulu dan menantikan kedatangan kita untuk makan enak,"

Ucap Oh Thi-hoa dengan tertawa.

Si jaring kilat Thio Sam memang sedang memanggang ikan di atas kapalnya.

Kapalnya tidak besar, malah boleh dikata sudah bobrok, sudah rongsok.

Namun Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa sama tahu bahwa kapal ini hasil jerih payah Thio Sam sendiri, setiap potong papannya, setiap pakunyi, semuanya adalah Barang pilihan setelah mengalami penelitian yang cermat.

Maka kapal ini meski kelihatan sudah tua dan bobrok tapi sebenarnya sangat kukuh, asalkan berada di kapal ini, gelembung badai betapa besarnya juga takkan membuat Coh Liu-hiang khawatir.

Ia percaya penuh pada kepandaian membuat kapal Thio Sam, sebab kapal milik Coh Liu-hiang sendiri juga buatan Thio Sam.

Di haluan kapal Thio Sam tampak ada sebuah anglo, di samping anglo terdapat belasan kaleng besar dan kecil, kaleng-kaleng itu berisi macam-macam rempah dan bumbu masak.

Api anglo tidak berkobar, hanya merah menganga saja dan Thio Sam sedang memegang sebuah garpu dengan seekor ikan sembari memanggang ikan terkadang ia gunakan pula sebuah sikat kecil untuk mengusapkan bumbu di atas ikan.

Seluruh perhatian Thio Sam seakan-akan dicurahkan pada ikan panggangnya, sama sekali ia tak pedulikan datangnya Liu-hiang bertiga.

Di waktu memanggang ikan, biarpun langit ambruk juga tak dipedulikan olehnya, urusan apapun yang terjadi baru akan dibicarakannya setelah selesai memanggang ikan.

Sering dikatakannya.

"Setiap orang dapat memanggang ikan, tapi panggang ikanku jauh lebih Iezat daripada orang lain, sebabnya cara kupanggang ikan lebih tekun daripada orang lain. Ketekunan, inilah kunci utama caraku memanggang ikan."

Coh Liu-hiang mengakui kebenaran resep Thio Sam itu.

ia anggap orang lain harus belajar meniru ketekunan Thio Sam ini dalam pekerjaan apapun juga.

Bau sedap semakin menusuk hidung.

Oh Thi-hoa tidak tahan lagi, ia berkata.

"Kukira ikan yang kau panggang ini sudah cukup masak."

Tapi Thio Sam tidak menggubrisnya.

"Apakah takkan hangus kalau dipanggang lebih lama lagi?"

Kata Oh Thi-hoa pula. Thio Sam menghela napas, ucapnva. 'Karena gangguanmu ini, perhatianku jadi terpencar, rasa ikan ini pasti kurang sedap, biar kuberikan padamu saja."

Berbareng ia terus menyodorkan ikan panggang itu pada Oh Thi-hoa sambil bergumam.

"Orang yang kurang sabar mana bisa mendapatkan makanan enak."

Oh Thi-hoa tertawa, katanya.

"Tapi orang tidak sabar sedikitnya masih bisa makan daripada cuma berdiri mengiler."

Dia benar-benar tidak sungkan, segera ia duduk bersila dan menggerogoti ikan panggang itu. Baru sekarang Thio Sam berbangkit menyapa tetamunya. Katanya dengan tertawa.

"Sahabat ini hampir kuseruduk jatuh ketika mandi tadi seharusnya ikan panggangku kusuguhkan dia lebih dahulu... Eh, mengapa tidak diperkenalkan diriku."

"Namaku Kau Cu-tiang, aku tidak makan ikan, bila melihat ikan, perutku lantas kenyang,"

Kata si jangkung. Thio Sam melengak, serunya dengan tertawa.

"Bagus, bagus. cara bicara sahabat ini sungguh menyenangkan. Tapi orang yang tidak makan ikan, kan juga tidak perlu dihukum berdiri... Hayolah, silakan duduk! Kapalku ini meski sudah bobrok, tapi tercuci bersih. pasti tidak berbau amisnya ikan."

Dia memang tidak menyediakan kursi atau bangku, siapa pun bila berkunjung ke kapalnya terpaksa duduk di geladak.

Lebih dulu Kau Cu-tiang menaruh kopernya.

lalu ia duduk di atas kopernya.

Thio Sam melototi kopernya itu.

Waktu kopernya ditaruh, seluruh kapal layar ini terasa bergoyang, suatu tanda bobot koper itu tidak kepalang tanggung.

"Bukannya takut kotor, soalnya kakiku terlalu panjang, tidak leluasa untuk duduk bersila di lantai,"

Kata Kau Cu-tiang dengan tertawa. Thio Sam seperti tidak tahu apa yang dikatakan tamunya ini. Dengan tertawa Kau Cu-tiang lantas berkata pula.

"Tentu kau sedang menerka apa isi koperku ini, tapi selamanya kau tak bisa menebaknya."

Tampaknya Thio Sam menjadi rikuh, dengan tertawa ia berkata.

"Kutahu isi kopermu pasti bukan ikan."

Gemerdep sinar mata Kau Cu-tiang, katanya pula.

"Jika kau suka, akan kuberi kesempatan menebak tiga kali, bila berhasil kau tebak, koper ini akan kuberikan kepadamu."

"Aku bukan malaikat dewata, mana bisa menebaknya dengan jitu?"

Ujar THio Sam. Walau pun demikian ucapannya, tidak urung ia menebak juga, katanya.

"Benda yang mempunyai bobot paling berat kan emas?"

"Bukan,"

Jawab Kau Cu-tiang menggeleng. Ia tertawa, lalu menyambung pula.

"Sekalipun emas yang ada du dunia ini disodorkan ke depanku juga takkan kutukarkan koper ini padanya."

Terbeliak mata Thio Sam. Masa begini tinggi nilai kopermu ini?"

Tanyanya. Dalam pandangan orang lain mungkin koperku ini tidak berharga satu peser pun, tapi bagiku lebih berharga daripada jiwaku sendiri."

"Wah, jika begitu aku harus mengaku tak dapat menebaknya,"

Kata Thio Sam dengan menyesal. Ia pandang lekat-lekat kenalan baru ini, lalu menyambung pula.

"Benda berharga begini, tentunya tak sembarangan kau perlihatkan pada orang lain."

"Tapi lambat atau cepat pasti akan kau lihat kelak, jangan terburu-buru,"

Ujar Kau Cu-tiang dengan tertawa.

"Orang yang tidak sabar tentu tak bisa melihat barang baik." *** Meski lambat proses memanggang ikan itu, tapi ikan masih terus dipanggang tanpa berhenti. Sementara itu tiga ekor ikan panggang sudah pindah ke perut Oh Thi-hoa. tapi dia masih belum puas, dengan mata melotot dia masih terus mengincar ikan panggang yang masih berada di atas anglo.

"Oh-heng."

Kata Kau Cu-tiang tiba-tiba.

"Kan malam nanti masih ada perjamuan di Sam-ho-lau. apakah perut Oh-heng tidak perlu diberi sedikit tempat luang untuk persediaan nanti?"

"Dalam Hal makan enak agaknya kau belum tergolong ahli,"

Ujar Oh Thi-hoa dengan tertawa.

"Kau tahu, di dunia ini tiada santapan lain yang lebih lezat daripada ikan panggang buatan Thio sam. Apalagi perjamuan nanti juga belum pasti memuaskan seleraku. Bisa jadi dalam santapan nanti malam akan ditaruh racun, kan bisa konyol?"

Pada saat itulah mendadak Coh Liu-hiang berkata.

"He, mengapa di dalam kaleng cuka ini ada kelabangnya, apakah kau pun ingin meracuni aku?"

Padahal mana ada kelabang di dalam kaleng?

Segera Oh Thi-hoa hendak menyanggahnya.

tapi Coh Liuhiang telah memberi tanda agar dia tutup mulut.

lalu ia ambil kaleng cuka dan dibawa ke tepi kapal.

Tiada yang tahu apa yang dilakukan Coh Liu-hiang, tapi segera terlihat kaleng cuka itu dituangnya ke dalam sungai.

"Apakah sinting orang ini?"

Belum lagi omelan Oh Thi-hoa ini tercetus dari mulutnya sekonyong-konyong air sungai yang semula tenang-tenang itu bergolak, seperti halnya ada seekor ikan besar sedang meronta di dalam air.

Menyusul tertampak sepotong pipa sebesar ibu jari mengambang ke permukaan air.

Pipa ini terbuat dari logam campuran perak, sangat tipis, maka bisa terapung.

Baru sekarang Oh Thi-hoa paham duduk perkaranya, ucapnya dengan tertawa.

"Ada orang mendengarkan di dalam air dengan menggunakan pipa ini."

Coh Liu-hiang mengangguk, ucapnya tertawa.

"Untuk selanjutnya mungkin dia tak dapat mendengar apa-apa lagi."

Orang yang menyelam di bawah air memang tidak dapat mendengar sesuatu suara di atas hanya dengan memasang pipa buatan khusus pada telinganya dan dijulurkan ke permukaan air, maka suara di atas akan dapat ditangkapnya.

Tapi orang itu sama sekali tidak menduga akan dituangi cuka dari atas.

"Telinga dituangi cuka, rasanya tentu enak."

Ujar Oh Thi-hoa dengan tertawa.

"Masih untung juga baginya, jika aku, yang kutuang pasti bubuk merica."

Kau Cu-tiang ikut berkata.

"Kalau Hiangswe mengetahui ada orang mengintai di dalam sungai mengapa tidak kau bekuk saja untuk ditanyai siapa yang mengirimnya ke sini?"

"Kukira tiada gunanya menanyai dia,"

Ujar Coh Liu-hiang.

"Biarpun tak tanya juga kutahu siapa yang mengirimnya ke mari."

"O, siapa?"

Tanya Kau Cu-tiang.

Belum lagi Coh Liu-hiang menjawab, tiba-tiba tertampak dua ekor kuda membedal cepat menyusur ke tepi sungai menuju ke sini.

Kedua penunggangnya tampak sangat cekatan, kudanya juga pilihan.

cuma mulut kuda kini sudah berbusa, jelas telah berlari cepat cukup lama dan jauh.

Waktu berlalu di samping kapal, kedua penunggang kuda itu seperti bicara apa-apa.

Tapi Lantaran lari kuda terlalu cepat, sekejap saja sudah lewat belasan tombak jauhnya, maka, tak terdengar apa yang mereka bicarakan.

Maklum, siapa pun tidak memiliki telinga setajam itu, kecuali satu orang.

Dengan sendirinya Oh Thi-hoa tahu siapa orang itu.

Segera ia bertanya.

"Kutu busuk tua, apa yang mereka katakan?""

Yang berjenggot itu bilang, 'Apakah betul Pangcu berada di kapal itu?'. Lain kawannya menjawab, 'Ya, cepat sedikit pasti dapat menyusulnya'. Si jenggot berkata pula.

"Diharap....."

"Diharap apa?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Sayang. lanjutannya tak terdengar jelas olehku,"

Jawab Coh Liu-hiang. Oh Thi-hoa menggeleng kepala, katanya.

"Ah, rupanya telingamu juga tidak terlalu tajam."

Namun begitu uraian Coh Liu-hiang itu sudah cukup membuat Kau Cu-tiang tercengang.

Sungguh sukar dibayangkan cara bagaimana Coh Liu-hiang mampu mendengar percakapan kedua orang itu, bukan saja dapat mendengar percakapan mereka, bahkan dapat mengetahui yang mana berjenggot dan mana yang tidak, malah dapat membedakan siapa di antaranya yang berbicara.

Sungguh hal ini membuat Kau Cu-tiang kagum dan takluk.

Mendadak Coh Liu-hiang berkata pula.

"Apakah kau tahu berasal darimanakah kedua orang itu?"

"Dengan sendirinya dari 'Cap-ji-lian-goan-oh',"

Kata Oh Thihoa dan Thio Sam berbareng tanpa berjanji. Kedua orang lantas saling pandang dengan tertawa. Lalu Oh Thi-hoa menyambung pula.

"Yang aneh ialah Bu-lotoa mengapa juga datang ke sungai sini."

"Cap-ji-lian-goan-oh itu tempat macam apa?"

Tanya Kau Cu tiang.

"Cap-ji-lian-goan-oh (kode dua belas) adalah markas pusat Hong-bwe-pang,"

Jawab Oh Thi-hoa.

"Hong-bwe-pang?"

Tanya Kau Cu-tiang pula.

"Ya."

Jawab Oh Thi-hoa.

"Hong-bwe-pang (Klik ekor Hong) adalah gerombolan paling besar di wilayah Kangsoh dan Ciatkang. bersejarah lama, pengaruhnya hampir memadai Kay-pang, tindak-tanduknya juga serupa Kay-pang, tergolong baik."

"Dan siapa pula Bu-lotoa?"

Tanya Kau Cu-tiang.

"Bu-lotoa adalah Bu Wi-yang pentolan utama Hong-bwepang,"

Jawab Oh Thi-hoa.

"Bukan saja ilmu silatnya sangat tinggi, jiwa orang she Bu ini pun tergolong baik. boleh dikata seorang lelaki sejati,"

Demikian sambung Thio Sam.

"Bila bertemu dengannya, tentu akan kujamu dia makan ikan panggang."

"Kau harus tahu, tidaklah mudah orang ingin makan ikan panggang buatan Thio Sam,"

Kata Oh Thi-hoa pula dengan tertawa.

"Misalnya In Ciong-liong dan Sam-liong-pang. sudah sekian tahun dia kepingin makan ikan panggang, malahan sudah pesan pada Thio Sam. berapapun harganya. tapi sebegitu jauh, tetap tak dapat mencicipinya."

"Sebenarnya In Ciong-liong juga bukan orang busuk,"

Tutur Thio Sam.

"Cuma saja dia mengira orang yang berkecimpung di Tiangkang seperti diriku ini juga harus tunduk pada perintahnya. Maka aku pun tidak mau menurut kehendaknya, biar dia hanya bisa memandang dan tak dapat memegang."

"Apakah Tiangkang sini wilayah operasi Sin-liong-pang?"

Tanya Kau Cu-tiang.

"Betul,"

Sambung Thio Sam.

"Sudah cukup lama Sin-Liongpang bercokol di sepanjang Tiangkang. Siapa pun tidak berani berebut pangkalan dengan mereka. Justru lantaran dahulu Bu Wi-yang pernah mengadakan perjanjian dengan Sin-liongpang, maka dia bersumpah takkan datang ke Tiangkang sini."

"Tapi sekarang dia sudah datang kemari, makanya kita merasa heran,"

Ujar Oh Thi-hoa.

"Tapi... tapi darimana pula kalian mengetahui kedua penunggang kuda tadi datang dari Cap-ji-lian-goan-oh?"

Tanya Kau Cu-tiang pula.

"Masa kau tidak melihat baju yang mereka pakai?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Ya, seperti berwarna hijau tua."

Jawab Kau Cu-tiang.

"Tapi orang berbaju hijau tua kan banyak juga."

"Ikat pinggang mereka berupa pintalan tujuh warna benang yang berbeda, tanda pengenal Hong-bwe-pang yang khas,"

Tutur Oh Thi-hoa. Kau Cu-tiang melenggong sejenak, setelah menghela napas gegetun barulah berkata lagi sambil menyengir.

"Ehm. lihai juga pandangan kalian..."

"Berkecimpung di dunia Kangouw, bukan cuma mata saja harus cepat, telinga juga harus panjang,"

Ujar Thio Sam dengan tak acuh.

"Kalau cuma mengandalkan tingginya ilmu silat kukira tidak cukup....."

Pada saat inilah tiba-tiba terdengar pula suara derapan kuda, due ekor kuda berlari kembali menyusur tepi sangai yang dilaluinya tadi, tapi sekarang tanpa penunggang.

Kedua ekor kuda ini yang seekor kuda putih dan yang lain kuda belang.

sampai Kau Cu-tiang juga ingat kedua ekor kuda inilah yang lewat tadi.

Kini kudanya berlari kembali dari sana.

tapi penunggangnya sudah lenyap?

Sekonyong-konyong Kau Cu-tiang meloncat tinggi ke atas dari haluan kapal sekali melayang, dengan enteng dia hinggap di atas pelana kuda putih.

Tangannya masih juga menjinjing koper kulitnya yang berwarna hitam itu.

Berbareng terdengar pula suara orang memuji.

"Ginkang yang hebat!"

Waktu ia berpaling, dilihatnya Oh Thi-hoa juga sudah berada di atas kuda belang dan sedang memandangnya dengan tertawa.

Lalu kedua orang berbareng menarik tali kendali menghentikan kedua ekor kuda yang sedang berlari itu.

Baru sekarang Coh Liu-hiang mendekati mereka dengan pelan, katanya tertawa.

"Ginkang kahan berdua sama-sama tinggi, cuma Ginkang Kau-heng memang lebih tinggi setingkat."

"Betul,"

Ujar Oh Thi-hoa dengan tertawa.

"Dia menjinjing Sebuah koper yang berat. terang dia lebih hebat...."

Tapi sedikit pun Kau Cu-tiang tidak memperlihatkan sikap pongah cepat ia melompat turun dan berkata.

"Kepandaian Hiangswe yang terpendam tentu juga sukar diukur. Suatu ketika hendaklah Sudi memperlihatkan sejurus dua untuk menambah pengalamanku."

"Hm, kau kira kepandaiannya sangat tinggi dan sengaja disimpan? ucap Oh Thi-hoa dengan tertawa.

"Supaya kau tahu. dasarnya dia memang pemalas. Kalau boleh berbaring, dia pasti tidak duduk. Kalau boleh berjalan. dia pasti tidak mau lari."

"Kalau boleh tutup mulut, pasti aku pun tidak mau bicara,"

Sambung Coh Liu-hiang dengan tertawa. Kau Cu-tiang berkedip-kedip, tiba-tiba ia bertanya.

"Apakah Hiangswe tahu mengapa kedua ekor kuda ini lari kembali lagi ke sini dan ke mana perginya kedua penunggang tadi?"

"Kukira Kau-heng sudah bisa menduganya. mereka mungkin sudah terbunuh,"

Jawab Coh Liu-hiang.

"Apa yang kalian lihat? Darimana mengetahui mereka sudah terbunuh?"

Tanya Oh Thi-hoa. Kau Cu-tiang menunjuk pelana kuda putih. katanya.

"Coba lihat, noda darah di sini belum lagi kering, jelas penunggangnya telah mengalami kemalangan."

Memang benar, pelana kuda itu berlepotan darah yang masih basah.

Angin meniup kencang di lembah sungai, cuaca sudah mulai remang-remang.

Oh Thi-hoa membedal kudanya menyusuri tepi sungai, tapi tiada mayat yang dilihatnya, bahkan orang hidup juga tiada tampak seorang pun.

Perahu yang berlayar di sungai juga sangat sedikit.

"Belum ada setanakan nasi kedua ekor kuda ini lari kembali dari jurusan semula, jelas belum seberapa jauh yang ditempuhnya, jika penunggangnya diserang orang di tengah jalan, tak mungkin mayat mereka terbuang sejauh ini."

Setelah ingat hal ini, segera Oh Thi-hoa memutar kudanya kembali ke arah tadi.

Tidak lama kemudian dilihatnya Coh Liu-hiang bertiga sedang berkerumun di tepi sungai sana, mayat kedua penunggang kuda itu jelas menggeletak di situ.

Oh Thi-hoa menjadi heran, sebelum melompat turun dari kudanya ia lantas berserru.

"Busyet, kiranya kalian dapat menemukannya, kenapa aku tidak diberitahu hingga sia-sia kularikan kuda belang ini sekian jauhnya."

Coh Liu-hiang tertawa. katanya.

"Sudah lama kau tidak menunggang kuda, kukira kauingin pelesir mumpung ada kesempatan, maka tak berani kuganggu kesenanganmu."

Terpaksa Oh Thi-hoa pura-pura tidak mendengar. segera bertanya pula.

"Dimanakah kalian menernukan mayat mereka?"

"Di sini,"

Jawab Thio Sam.

"Di sini? Mengapa aku tidak melihatnya?"

"Kau sendiri bila habis membunuh orang, apakah mayatnya akan kau tinggalkan di tepi jalan dan dipertontonkan kepada orang?"

Tanya Thio Sam dengan tertawa. Ia menggeleng-geleng, lalu bcrgumam.

"Sungguh tak tersangka. orang yang sudah hidup lebih 30 tahun masih juga ceroboh..."

Seketika Oh Thi-hoa berteriak.

"Sialan. kau ini kutu busuk macam apa, kaupun berani menyentil diriku? Lain kali bila kau curi mutiara lagi, mustahil aku sudi menutupi perbuatanmu!"

Dia baru diolok-dak Coh Liu-hiang dan lagi mendongkol, kebetulan Thio Sam dapat dijadikan pelampiasan.

Kau Cu-tiang tidak tahu hubungan karib mereka, ia pun tidak kenal sifat mereka yang suka ribut mulut itu tidak lebih hanya sekedar megendurkan urat syaraf yang tegang saja, maka cepat ia berusaha melerai.

"Sudahlah. biar kujelaskan. Mayat kedua orang itu ditemukan di dalam air."

"Oo?"

Oh-Thi-hoa bersuara singkat. Padahal ia pun sudah tahu kedua sosok mayat itu masih basah kuyup, jelas mayat itu tadi dilempar pembunuhnya ke dalam sungai. Kau Cu-tiang lantas menyambung pula.

"Pembunuhnya telah mengisi baju mereka dengan batu dan pasir sehingga sekali tenggelam mayat-mayat ini tak dapat mengapung lagi. Syukur Hiangswe dapat melihat noda darah di sini, kalau tidak, tentu tak dapat menemukannya."

"Jika demikian, jadi kepandaian si kutu busuk tua ini sangat hebat, begitu bukan?"

Ucap Oh Thi-hoa dengan tawar.

"Kecermatan Hiangswe memang sukar ditandingi siapa pun juga,"

Ujar Kau Cu-tiang.

"Dan kau pasti sangat kagum padanya, bukan?"

Tanya Oh Thi-hoa pula.

"Ya, kagum luar biasa, kagum lahir batin,"

Jawab Kau Cutiang.

"Kau ingin belajar padanya?"

Tanva Oh Thi-hoa.

"Semoga demikian hendaknya,"

Jawab Kau Cu-tiang.

"Aneh. belajar pada orang lain kan masih banyak, mengapa mesti belajar padanya?"

Ucap Oh Thi-hoa dengan gegetun.

Maka tertawalah Kau Cu-tiang dan tidak bicara lagi.

Mendadak tertampak sejalur api warna hijau menjulang tinggi di angkasa, lalu lenyap ditelan keremangan senja.

Waktu itu hari belum lagi gelap seluruhnya sehingga bunga api itu tidak terlalu jelas terlihat, namun air muka Kan Cu-tiang lantas berubah, mendadak ia memberi hormat dan berkata.

"Aku masih ada urusan lain dan harus pergi dulu. Hiangswe, Oh-heng, sampai bertemu di Sam-ho-lau nanti."

Belum habis ucapannya, ia melangkah pergi.

Tampak kakinya yang panjang cuma melangkah beberapa kali, tahutahu sudah belasan tombak jauhnya, sekejap saja lenyap di kejauhan.

Selang sejenak Thio Sam menghela napas panjang dan berkata.

"Bicara sejujurnya, Ginkang orang ini memang hebat."

"Memang betul."

Kata Coh Liu-hiang.

"Dan gaya Ginkangnya itu. berbeda dengan Ginkang berbagai aliran di dataran tengah kita ini,"

Kata Thio Sam pula.

"Ya, memang rada berbeda,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Sebelum ini apakah pernah kau lihat gaya Ginkang ini?"

Tanya Thio Sam.

"Tidak,"

Jawab Coh Liu-hiang sambil menggeleng dengan tersenyum.

"Kungfu yang masih belum kulihat masih banyak...."

Mendadak Oh Thi-hoa menyela.

"Kulihat bukan saja Ginkangnya yang hebat, Kungfunya menjilat pantat juga lihai."

"Oo?"

Coh Liu-hiang bersuara bingung.

"Memangnya kau kira dia benar-benar kagum padamu?"

Tanya Oh Thi-hoa lalu ia mendengus dan menyambung pula.

"Hm, dia sengaja berlagak tidak paham apa-apa, sengaja menjilat dan mengumpak dirimu, kuyakin dia pasti punya maksud tujuan tertentu, untuk ini kukira kau harus hati-hati sedikit."

Coh Liu-hiang tertawa, katanya.

"Bisa jadi dia memang benar-benar kagum padaku, kenapa kau jadi cemburu?"

"Hm,"

Jengek Oh Thi-hoa.

"Manusia memang suka diumpak, bila tidak mau mendengar nasihatku, kelak kau bisa terperangkap. Nah, baru tahu rasa dan jangan menyalahkan diriku."

"Kalau menyalahkan dirimu alasannya juga cuma dia tidak mau menjilatmu makanya setiap tindak-tanduknya tidak cocok bagi pandanganmu."

Thio Sam juga tertawa, tapi lantas berkata dengan mengerut kening.

"Tapi menurut pandanganku, tingkah laku orang ini memang juga rada mencurigakan. Entah apa isi kopernya yang aneh itu, paling sedikit mestinya kau tanya asal-usulnya."

"Untuk ini kukira kita tak perlu repot, tentu ada orang lain yang akan menanyai dia,"

Ujar Coh Liu-hiang dengan tak acuh.

"Siapa?"

Tanya Thio Sam.

"Ting Hong,"

Jawab Coh Liu-hiang.

"Tapi kalau malam nanti dia tidak ikut hadir di Sam-ho-lau. lalu bagaimana?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Perutnya kan belum ditangsal sepotong Ikan panggang, masa kesempatan enak akan disia-siakan?"

Ujar Coh Liuhiang dengan tertawa. Oh Thi-hoa memandang mayat yang menggeletak itu. tanyanya kemudian.

"Apa kau temukan luka yang menyebabkan kematian mereka?"

"Ya, luka di rusuk kiri,"

Tutur Coh Liu-hiang.

Waktu Oh Thi-hoa mengangkat mayat itu, benar juga didapati luka di bagian rusuk kiri masing-masing sebesar mata uang, darah sudah berhenti, luka itu berwarna pucat karena terendam oleh air sungai.

Tampaknya sangat dalam lukanya.

"Ini luka panah,"

Kata Oh Thi-hoa.

"Ehhmm "

Coh Liu-hiang.

"Aneh,"

Kata Oh Thi-hoa.

"Mereka datang dari arah barat ke timur dan berjalan menyusur pantai, tapi lukanya bisa terletak di rusuk kiri, jangan-jangan panah ini dilepaskan dari kapal yang berada di sungai?"

"Ehm,"

Kembali Coh Liu-hiang mengangguk.

"Perairan tepi sungai ini sangat cetek, sedikitnya belasan tombak dari tepian, baru kapal dapat berlayar,"

Kata Oh Thihoa.

"Ya, sedikitnya harus 20 tombak lebih,"

Tukas Thio Sam.

"Orang itu dapat membidikkan anak panah dan jarak 20 tombak dan sekaligus menembus rusuk dan merenggut nyawa mereka, tenaga penyerang ini jarang terlihat,"

Ujar Oh Thi-hoa.

"Ya, memang jarang,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Dari luka mereka ini, jelas anak panah yang digunakannya adalah ukuran besar, bobotnya juga berat, maka busur yang digunakan pasti juga busur yang kuat."

"Ya, padahal jarang ada orang yang mempunyai tenaga mementang busur ukuran besar begitu."

Kata Coh Liu-hiang.

"Seumpama ada. tentu juga tidak dapat membidik dengan jitu, dapat merenggut nyawa orang dalam jarak 20 tombak bagaikan sasarannya tidak mampu mengelak."

"Betul."

Kata Coh Liu-hiang. Oh Thi-hoa menghela napas lega. katanya.

"Jika demikian, kan urusannya menjadi sangat gamblang?"

"Gamblang?"

Coh Liu-hiang menegas.

"Tidak kurasakan malah....."

"Masa tak dapat kau terka siapa orang itu?"

"Tidak,"

Jawab Coh Liu-hiang. Wajah Oh Thi-hoa menampilkan rasa senang karena ada kalanya Coh Liu-hiang juga tidak tahu sesuatu. Segera ia berkata pula.

"Siapa lagi kalau bukan Bu Wiyang?"

"Maksudmu Bu-lotoa, Bu Wi-yang yang membunuh mereka?"

Tanya Coh Liu-hiang sambil mengerut kening.

"Betul."

Kata Oh Thi-hoa sambil mengclus hidung.

"Betapa kuat tenaga Bu Wi-yang. cukup diketahui setiap orang persilatan. Busur yang dia gunakan juga ukuran besar, anak panahnya juga bernama Hong-bwe-ci (panah ekor Hong) hampir tidak pernah meleset. Dahulu waktu pertarungan dengan Sin-liong-pang. meski kalah lima babak, tapi ke-13 anak panah Bu Wi-yang dengan tepat telah merontokkan panji komando yang terpancang di tiang Layar kapal Sin-liong-pang sehingga membuat orang Sin-bong-pang merasa jeri. Kalau tidak. setelah mendapatkan kemenangan mana In Ciong-liong mau mengadakan perjanjian tidak saling menyerang lagi dengannya?"

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung pula dengan tertawa.

"Peristiwa ini adalah kebanggaan Bu Wi-yang dan berita besar yang menggemparkan Kangouw waktu itu. masa kau lupa?"

"Lupa sih tidak,"

Jawab Coh Liu-hiang.

"Kalau tidak lupa, mengapa tak terpikir olehmu bahwa kejadian ini adalah perbuatan Bu Wi-yang? Haha, tampaknya otakmu akhir-akhir ini bertambah puntul."

Thio Sam melongo, tanpa terasa ia memuji.

"Wah, selama dua tahun ini, tampaknya Siau Oh banyak bertambah pintar."

Tentu saja Oh Thi-hoa makin gembira, katanva pula.

"Selain itu, Thio Sam tentu juga tahu Hong-bwe-ci vang digunakannya tak terlalu menyolok. maka setelah membunuh kedua orang ini, dia lantas mencabut anak panahnya serta menenggelamkan mayat korban, tujuannya supaya orang tidak menyangka pembunuhnya ialah dia."

"Ehm, benar juga,"

Kata Thio Sam.

"Dalam kasus ini, hanya ada satu hal yang tak kupahami,"

Ujar Oh Thi-hoa.

"O, hal apa?"

Tanya Thio Sam.

"Jika kedua orang ini anak buahnya, mengapa dia memunuh mereka?"

Kata Oh Thi-hoa. Thio Sam terdiam sejenak. ia melirik Coh Liu-hiang lalu berkata.

"Apakah kau tahu apa sebabnya?"

"Aku tidak tahu apa-apa, yang kutahu cuma pembunuhnya pasti bukan Bu Wi-yang,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Habis siapa kalau bukan Bu Wi-yang?"

Teriak Oh Thi-hoa.

"Ai, mengapa otakmu sekarang lebih kaku dari sepotong kayu?"

"Tadi kedua orang ini membedal kudanya ke sana, tujuannya kan hendak menyusul Bu Wi-yang, betul tidak?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Betul,"

Jawab Oh Thi-hoa.

"Cuma sayang, mereka benarbenar dapat menyusulnya, kalau tidak mereka tentu takkan terbunuh oleh Bu Wi-yang."

"Jika benar mereka hendak menyusul Bu Wi-yang. setelah tersusul dan melihat Bu Wi-yang, tentunya mereka akan melompat turun untuk memberi hormat, betul tidak?"

"Betul,"

Jawab Oh Thi-hoa.

"Bila mereka berdiri berhadapan cara bagaimana anak panah yang dilepaskan Bu Wi-yang bisa mengenai rusuk kiri mereka dari samping?"

Tanya Coh Liu-hiang. Seketika Oh Thi-hoa melenggong dan tak bisa menjawab. rasa senangnya tadi segera lenyap tak berbekas.

"Bisa jadi anak panah yang dilepaskan Bu Wi-yang itu bisa membelok di tengah jalan,"

Seru Thio Sam dengan tertawa. Oh Thi-hoa melototinya dengan gegetun.

"Pula sudah 20 tahun lebih Bu Wi-yang malang melintang di dunia persilatan. Dia tergolong orang Kangouw kawakan. Jika dia hendak melenyapkan mayat untuk menghilangkan bukti kenapa mayatnya dapat kita temukan?"

Tanya Coh Liuhiang pula.

"Hahaha, mungkin dia sedang mabuk,"

Ujar Thio Sam dengan tertawa.

"Lalu apa lagi?"

Tanya Oh Thi-hoa dengan mendongkol.

"Masih ada,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Kedua ekor kuda ini tadi kan berlari kencang ke sana, bilamana kedua penunggangnya terluka dan terguling, seharusnya kedua ekor kuda itu tetap membedal ke depan, mengapa bisa memutar balik ke sini?"

"Bisa jadi kuda-kuda ini tidak makan rumput, tapi kepingin makan ikan panggangku."

Kata Thio Sam dengan tertawa. Seketika Oh Thi-hoa berjingkrak sambil meraung.

"Baik. kalian semua lebih pintar daripada aku. Nah, silakan kalian menjelaskan bagaimana perkara yang sebenarnya?"

"Orang yang membidikkan panah pasti bersembunyi di tepi sungai."

Tutur Coh Liu-hiang-"Karena kedua orang ini membedal kuda dengan kencang tanpa menghiraukan apapun, maka secara mendadak mereka kena terpanah di rusuk kirinya."

"Hmk,"

Jengek Oh Thi-hoa.

"Meski panah yang digunakan penyerang itu ukuran besar, tapi belum tentu memakai busur besar. Sebab jarak di antara mereka hakikatnya tiada 20 tombak sebagaimana kita sangka tadi."

"Bukan saja tidak ada 20 tombak, bisa jadi 2 tombak saja tidak ada,"

Sela Thio Sam.

"Dalam jarak cuma dua tombak, panah yang kubidikkan pasti akan kena sasarannya dengan jitu."

"Dia berbuat begini, tujuannya supaya kita mengira Bu Wiyang yang melakukan pembunuhan, maka dia sengaja meninggalkan noda darah di tepi sungai agar dengan mudah dapat kita temukan mayat kedua orang ini,"

Tutur Coh Liuhiang pula.

"Malahan dia khawatir kita takkan mencari ke sini, maka sengaja melepaskan kedua ekor kuda ini ke arah semula, malah sengaja pula meningga'kan darah di atas pelana, betul tidak?"

Tanya Thio Sam.

"Betul. padahal rusuk kiri orang itu terkena panah. mengapa darah bisa tercecer ke atas pelana?"

Ujar Coh Liuhiang. Maka Oh Thi-hoa tidak dapat bersuara lagi.

"Tapi dalam hal ini masih ada sesuatu yang tak daPat kumengerti,"

Kata Thio Sam.

"Hal mana?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Dengan membunuh kedua orang ini, sebenarnya setan pun tidak tahu, apalagi manusia. Tapi apa sebabnya dia sengaja membikin kita mengetahui kejadian ini?"

Sedapatnya Oh Thi-hoa tutup mulut, tapi akhirnya tetap tidak tahan, timbrungnya mendadak.

"Sebab, dia tahu kita telah melihat lewatnya kedua orang ini dan khawatir kita mengusut."

"Boleh juga gagasanmu ini,"

Ujar Thio Sam.

"Tapi seumpama benar mereka dibunuh oleh Bu Wi-yang. kejadian ini kan juga urusan Hong-bwe-pang sendiri, orang luar tidak berhak ikut campur, mengapa dia mesti memfitnah Bu Wi-yang?"

Kembali Oh Thi-hoa tidak sanggup bersuara lagi. Dengan pelan Coh Liu-hiang bersuara.

"Tindakan mereka ini sama sekali bukan khawatir akan pengusutan kita, juga bukan memfitnah Bu Wi-yang!"

"Habis. apa maksud tujuan mereka?"

Tanya Thio Sam.

"Tujuannya agar kita mengira Bu Wi-yang masih hidup,"

Kata Coh Liu-hiang. Oh Thi-hoa saling pandang sekejap dengan Thio Sam, nyata mereka bingung apa maksud ucapan Coh Liu-hiang itu. Maka Coh Liu-hiang menyambung.

"Jika tidak keliru tebakanku, Bu Wi-yang sudah mati."

"Maksudmu Bu-lotoa telah dibunuh?"

Tanya Thio Sam.

"Betul,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Cuma mereka belum ingin hal ini diketahui orang, bisa jadi masih ada muslihat lain. makanya mereka bertindak begini. Dan bila kita percaya kedua orang itu dibunuh oleh Bu Wi-yang, ini berarti Bu Wi-yang sendiri masih segar bugar. Bila kelak ada orang menanyakan Bu Wi-yang. tentu kita dapat menjadi saksi bahwa Bu Wi-yang pada saat kejadian ini masih hidup."

Dia menghela napas gegetun. lalu menyambung pula.

"Betapa licik dan licin perencanaan orang-orang ini sungguh menakutkan, tapi yang lebih menakutkan ialah sampai saat ini belum lagi diketahui apa sebetulnya maksud mereka."

Thio Sam melelet lidah, katanya dengan tertawa.

"Untung malam ini aku tidak ikut diundang......" *** Hari sudah gelap. api anglo di haluan kapal belum padam. Thio Sam menepuk pundak Oh Thi-hoa. katanya dengan tertawa.

"Hari belum lagi malam. bagannana kalau makan ikan panggang lagi?"

"Tidak, perutku harus diberi peluang untuk mengisi santapan di Sam-ho-lau nanti. besok saja kumakan ikan panggangmu,"

Jawab Oh Thi-hoa dengan tertawa.

"Jika kesempatan sekarang tersia-sia, besok mungkin kau tidak dapat makan lagi."

Gumam Thio Sam sambil menggeleng, pelan ia masuk kabin kapalnya sambil bersenandung.

Ketika didengarkan dengan cermat, yang dia dengungkan adalah lagu sebangsa 'gugur bunga'.

Dengan tertawa Oh Thi-hoa mengomel.

"Dasar mulut anjing takkan tumbuh gading, belum-belum bocah ini menganggap kita akan gugur. Aku justru tidak percaya di Sam-ho-lau ada orang berani mengusik kita."

Coh Liu-hiang termenung sejenak, tiba-tiba ia berkata dengan tertawa.

"Kukira ikan panggangnya memang harus kita makan lagi, mungkin kesempatan memang tidak banyak lagi..."

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara jeritan kaget tertahan.

Thio Sam yang sudah masuk ke dalam kabin menyurut mundur keluar, meski air mukanya tampak heran dan kaget, tapi tetap berkata dengan tertawa.

"'Di kapalku ini tiada sesuatu benda berharga, sungguh menyesal jika kunjungan sahabat tidak mencapai sasaran yang tepat."

Oh Thi-hoa melirik Coh Liu-hiang sekejap. katanva tertawa.

"Tak tersangka hari ini ada maling ketemu pencuri."

Kedua orang itu terus memburu ke sana, benar juga terlihat seorang meringkuk di pojok kabin sana.

Di dalam kabin kapal itu gelap gulita, lampu tidak dinyalakan, maka tak jelas wajah dan bangun tubuh orang itu, yang kelihatan hanya sepasang matanya yang mencorong terang.

Jarang orang dapat melihat mata yang begini terang dan jeli, cuma sayang, sorot mata ini sekarang menampilkan rasa takut dan cemas sehingga tidak begitu menarik seperti biasanya.

"Tempatku ini tiada sessuatu barang berharga, jika ada paling juga cuma beberapa potong baju bekas. bilamana nona mau, boleh silakan ambil dan pergi saja, mendekam di sini kukira bukan cara yang baik,"

Demikian ucap Thio Sam pula. Tapi orang itu tidak bergerak dan juga tidak mau pergi tampaknya dia sudah pasti hendak mengendon di sini.

"Masa kau tidak mau pergi?"

Tanya Thio Sam pula sambil mengernyitkan kening. Orang di dalam kabin menggeleng.

"Lalu apa kehendakmu? Apakah perlu kulemparkan kau keluar?"

Kata Thio Sam pula. Tampaknya dia benar-benar hendak berlari masuk untuk mengusir orang itu, tapi Oh Thi-hoa keburu mencegahnya, omelnya dengan melotot.

"He, apa kau sinting?"

"Sinting? Siapa sinting? Kau atau aku?"

"Kau yang sinting."

Jawab Oh Thi-hoa dengan gemas.

"Bilamana rumahku bisa kedatangan anak perempuan secantik ini, tentu aku akan berdaya upaya untuk menahannya, masa kau menjadi marah dan akan mengusirnya malah?"

Thio Sam tertawa, katanya kepada orang di dalam kabin.

"Nah, kau dengar sendiri, meski aku ini orang baik-baik, tapi kawanku ini adalah tukang terkam, maka kunasehati kau agar lekas pergi, jika nanti kau diterkamnya, Jangan menyalahkan aku."

Kecuali ikan dan mutiara.

urusan lain sama sekali tidak menarik bagi Thio Sam.

termasuk juga urusan perempuan.

Tak tersangka orang di dalam kabin itu hanya menggelengkan kepala.

Maka dengan tertawa Oh Thi-hoa berkata.

"Jangan percaya ocehannya, pribadiku ini cuma suka berkawan saja, asalkan nona suka, silakan tinggal saja di sini. Namun dia pasti tidak berani mengganggumu."

Ia mengira orang di dalam kabin pasti akan berterimakasih padanya, tak tahunya si nona sama sekali tidak kenal baik dan buruk, ia malah melototi sekejab.

Tapi cukup sekejap itu.

tiba-tiba Oh Thi-hoa merasa pelototan mata ini sudah sangat dikenalnya, seperti sudah pernah dilihat entah dimana.

Belum lagi dia bersuara pula, terdengar Coh Liu-hiang bertanya.

"Apakah nona Kim di situ?"

Benar juga, orang itu lantas manggut-manggut. Segera Oh Thi-hoa ingat, serunya.

"Betul, bila dia marah dan mendelik, maka segera kukenali dia, he. Thio Sam...."

Waktu ia menoleh. ternyata Thio Sam sudah ngeluyur pergi.

"Untuk apakah nona Kim berkunjung kemari?"

Tanya Coh Liu-hiang pula. Kim Leng-ci tetap diam saja di tempat tanpa menjawab. Oh Thi-hoa menarik muka, jengeknya.

"Hm, orang terhormat seperti nona Kim ternyata sudi juga datang ke tempat kotor ini. sungguh aneh dan lucu, jangan-jangan kedatanganmu ini hendak melabrak diriku?"

Kim Leng-ci tampak berkedip-kedip.

tiba-tiba matanya jadi merah basah.

Nona yang biasanya galak itu ternyata tak dapat menahan perasaannya lagi, malahan tampaknya rada-rada memelas.

Seketika hati Oh Thi-hoa menjadi lunak.

Sebenarnya hatinya memang tidak terlalu keras, lebih-lebih bila berhadapan dengan anak perempuan.

hatinya menjadi cepat lunak.

Dengan tertawa ia lantas berkata.

"Meski di sini tiada barang baik. tapi ikan panggangnya boleh dicicipi. Asalkan nona Kim tidak marah-marah, segala apa dapat dirundingkan."

Kembali Kim Leng-ci berkedip-kedip dan tiba-tiba meneteskan air mata.

Bila melihat air mata perempuan, bukan saja hati Oh Thihoa lantas lemah, bahkan orangnya lantas lemas juga.

Dengan suara lembut ia bertanya pula.

"Jika nona Kim masih marah padaku. umpama aku dipukul beberapa kali juga tak jadi soal."

"Mungkin tujuan nona Kim bukan untuk mencarimu."

Kata Coh Liu-hiang.

"Bukan mencari diriku, memangnya mencari dirimu? Untuk apa dia mencarimu?"

Ujar Oh Thi-hoa dengan mendelik. Coh Liu-hiang tak menghiraukan, ia berkata pula.

"Janganjangan nona Kim mengalami sesuatu kejadian luar biasa?"

Benar juga, Kim Leng-ci kembali mengangguk.

"Masa ada orang berani kurangajar terhadap nona Kim?"

Cepat Oh Thi-hoa mendahului bertanya. Tapi Kim Leng-ci lama menunduk. agaknya sedang menangis pelan.

"Apakah nona Kim bukan tandingan orang-orang itu, makanya bersembunyi di sini?"

Tanya Oh Thi-hoa. Tubuh Kim Leng-ci tampak mengkeret dan seperti rada gemetar. Dengan suara keras Oh Thi-hoa bertanya.

"Siapa yang berani mengganggu nona Kim? Apakah keparat Ting Hong itu?"

Tapi Kim Leng-ci tidak mengangguk, juga tidak menggeleng, tampaknya menangis terlebih sedih.

"Sungguh berani keparat itu, tapi jangan khawatir nona Kim, ada kami di sini, apapun tidak perlu takut..."

Makin omong makin murka Oh Thi-hoa. Bila melihat anak perempuan diganggu orang, biasanya dia pasti tampil ke depan untuk membelanya. Dengan gemas dia berkata pula.

"Dimana keparat itu sekarang? Bawalah kami pergi mencarinya!"

Tubuh Kim Leng-ci kembali mengkeret ke belakang pula bak seekor anak domba yang ketakutan dan minta perlindungan.

"Apakah nona Kim terluka?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Aku ..."

Terdengar suara Kim Leng-ci rada gemetar. hanya satu kata saja disuarakan, lalu tidak sanggup berucap pula seperti tidak tahan rasa sakitnya. Oh Thi-hoa jadi tertarik, katanya.

"Dimana lukamu, coba kuperiksa,"

Sambil bicara ia terus menerobos ke dalam kabin.

Kabin kapal layai ini tidak besar, malahan ada semacam bau istimewa.

Tempat tinggal orang bujangan kebanyakan mempunyai bau begini.

Puteri terhormat seperti Kim Leng-ci.

jika terpaksa.

sekalipun sambil memencet hidung juga tak sudi masuk ke sini.

Dengan suara lembut Oh Thi-hoa berkata pula sambil mendekat.

"Meski aku bukan tabib ternama, tapi untuk mengobati luka kiranya bukan soal. Nona Kim jangan khawatir. setelah kuperiksa lukamu. tentu dapat kusembuhkan."

Kim Leng-ci menjulurkan kakinya dengan berat. ucapnya dengan suara gemetar.

"Dia..... dia hendak membunuhku, hampir saja kakiku tertabas kutung oleh goloknya."

"Keparat kejam amat..."

Kata Oh Thi-hoa dengan gemas. Dalam kabin sangat getap, ia berjongkok. tapi tetap tak dapat melihat jelas dimana luka kaki Kim Leng-ci. Ia mengomel.

"Thio Sam. tempat busukmu ini masa tiada lampu sama sekali?"

Ia bermaksud meraba luka di kaki si nona, siapa tahu baru saja tangannya terjulur, mendadak kaki Kim Leng-ci yang terluka itu dapat bergerak cepat, bahkan bergerak sangat kuat sekali, menendang dengan tepat Koh-cing-hiat di bahu Oh Thi-hoa, menyusul sekali depak.

kontan Oh Thi-hoa mencelat keluar.

Menjerit kaget saja belum sempat.

tahu-tahu Oh Thi-hoa ditendang terguling hingga tak bisa bcrkutik.

Ketika sinar pedang berkelebat, ujung pedang telah mengancam lehernya.

Mata si nona yang tadi mencucurkan air mata itu kini telah mendelik pula, bentaknya dengan bengis.

"Kau jahanam, berani kau meraba kakiku. Apakah kau lupa siapa aku ini?"

Oh Thi-hoa menghela napas, katanya sambil menyengir.

"Aku tidak melupakan apa pun, aku cuma lupa kau adalah perempuan. Kalau lelaki ingin membantu perempuan, ini berarti mencari susah sendiri, jika percaya kata-kata perempuan, ini lebih celaka lagi."

"Hm, kau ini barang apa, masa kuperlukan bantuanmu?"

Jengek Kim Leng-ci.

"Sekalipun lelaki di seluruh dunia ini sudah mati semua juga takkan kucari kau."

Mendadak ia menoleh ke sana dan membentak.

"Semuanya dilarang bergerak, sekali bergerak kubunuh dia lebih dahulu!"

Padahal sedikitpun Coh Liu-hiang tidak bergerak. Ketika diketahuinya gelagat tidak baik, namun sudah terlambat untuk turun tangan.

"Orang ini kawan baikmu, bukan?"

Tanya Kim Leng-ci kepada Coh Liu-hiang.

"Tampaknya tak ada jalan lain bagiku kecuali membenarkan,"

Sahut Coh Liu-hiang.

"Kau menghendaki dia hidup atau ingin dia mati?"

Tanya Kim Leng-ci pula.

"Dengan sendirinya dia menginginkan aku hidup."

Sela Oh Thi-hoa.

"Kalau aku mati. siapa lagi yang akan ribut mulut dengannya?"

"Betul"

Tukas Coh Liu-hiang.

"Jika dia mati maka tenteramlah aku. Tapi sayang, selamanya aku tidak biasa dengan hidup tenteram."

"Baik, jika kau ingin menolong dia, lebih dahulu kau seret bocah she Thio itu ke sini,"

Kata Kim Leng-ci. Baru saja selesai ucapannya. tahu-tahu Thio Sam sudah muncul sendiri, katanya dengan wajah sedih.

"Aku pun tidak ingin dia mati, sebab di antara kawan-kawannya tiada seorang pun yang ketolol-tololan seperti dia, untuk mencari lagi seorang tolol begini bukan pekerjaan yang mudah."

Mendadak Oh Thi-hoa berteriak.

"Aku ini si tolol atau si jahanam ?"

"Dua-duanya, ya tolol. ya jahanam!"

Ujar Thio Sam.

"Wah, jika ada gajinya, jabatan rangkap ini kan lumayan,"

Kata Oh Thi-hoa dengan tertawa.

Sinar mata Kim Leng-ci tampak gemerdep.

Ia tidak ikut bicara, sebab ia sendiri jadi melenggong.

Jika orang lain dan terancam begini, andaikan tidak gemetar dan ketakutan setengah mati dengan wajah pucat, juga pasti tidak berani bersuara, apalagi tertawa.

Siapa tahu beberapa orang ini masih dapat bersenda gurau seperti tidak pernah terjadi apa-apa, hakikatnya tidak memusingkan apa yang bakal terjadi.

Lebih-lebih Oh Thi-hoa.

ternyata sangat gembira.

Segera Kim Leng-ci tekan pedangnya lebih keras sehingga ujung pedangnya hampir masuk tenggorokan Oh Thi-hoa, dengan suara bengis ia membentak.

"Apakah kau kira aku tidak berani membunuh dia?"

Thio Sam menghela napas dan bergumam sendiri.

"Sudah tentu kau berani, tempat mandi lelaki saja kau berani masuk. masa ada sesuatu di dunia ini yang tak berani kau lakukan ?"

"Kau menggerundel apa?"

Damprat Kim Leng-ci gusar.

"O. kubilang nona Kim adalah ksatrianya wanita, tidakkah mengherankan jika cuma membunuh seorang saja."

Jawab Thio Sam dengan mengiring tawa.

"Cuma kumohon, janganlah nona memaksa aku terjun ke dalam sungai. segala barangku selalu kubuang ke sungai ini."

"Asalkan kau tahu saja."

Ucap Kim Leng-ci.

"Nah, lekas kau terjun dan mandi dulu."

"Apa, mandi?"

Seru Thio Sam kaget.

"Wah.... kemarin baru saja mandi uap, tubuhku sekarang masih sangat bersih."

"Jika kau ingin menolong jiwanya, kau harus lekas terjun ke situ, jangan banyak cincong,"

Bentak Kim Leng-ci.

"Tapi.... tapi sekarang sudah malam.... air sungai juga.... sangat kotor...."

Ucap Thio Sam seperti mau menangis.

"Jika tidak kotor tentu takkan kusuruh kau terjun ke situ,"

Jengek si nona.

"Seb... sebab apa...?"

Tanya Thio Sam.

"Kau membikin susah padaku mendekam sekian lama di tempat berbau busuk ini, mana boleh kuampuni kau?"

Kata Kim Leng-ci.

"Tapi bukan aku yang mengundangmu,"

Ujar Thio Sam. Kim Leng-ci menjadi murka, katanya.

"Kenapa tempatmu tidak kau bikin lebih bersih?"

"Darimana kutahu nona akan berkunjung kemari?"

"Aku tidak perduli, jawab saja, kau mau terjun atau tidak?"

Bentak si nona. Kembali Thio Sam menghela napas, gumamnya.

"Nona ini benar-benar tidak pakai aturan, kelak suamimu akan mati kaku saking gemasnya."

"Kau menggerundel apa lagi?"

Bentak Kim Leng-ci dengan melotot.

"Kubilang, perintah nona mana bisa dibantah?"

Jawab Thio Sam, terpaksa ia pencet hidung dan "plung", ia benar-benar terjun ke dalam sungai. Namun rasa gusar Kim Leng-ci belum berkurang, segera ia melototi Coh Liu-hiang dan berkata.

"Sekarang giliranmu!"

Coh Liu-hiang jadi serba susah. ucapnya.

"Apakah nona juga menghendaki aku terjun mandi di situ?"

"Bagimu tidak semudah itu,"

Jengek si nona.

"Habis nona menyuruhku bagaimana?"

"Aku cuma menyuruhmu mengambilkan suatu barang bagiku, Jika kau sanggup. kubebaskan dia."

Kata Kim Leng-ci.

"Entah barang apa yang kau kehendaki, nona?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Buah Tho (peach),"

Kata Kim Leng-ci.

"Tho? Tho apa?"

Coh Liu-hiang jadi melenggong.

"Sudah tentu Tho yang bisa dimakan. masa kau tak tahu?"

"Sekarang bukan musim buah Tho. tapi kalau nona menghendakinya, kukira masih dapat kucarikan,"

Ujar Coh Liuhiang dengan tertawa.

"Hanya saja Tho yang kuminta memang rada spesial,"

Kata si nona.

"Spesial bagaimana?"

Tanya Coh Liu-hiang. Tiba-tiba ia seperti ingat sesuatu, seketika berubah air mukanya, serunya.

"Jangan-jangan Tho yang dikehendaki nona adalah Giok-hoan-tho di istana Kek-lok kiong di daerah barat sana?"

"Betul, cerdik juga kau,"

Kata si nona.

"Wah, tho yang nona minta benar-benar sangat spesial,"

Ucap Coh Liu-hiang sambil menyengir.

"Jika tidak spesial, untuk apa aku mencarinya?"

Kata Kim Leng-ci tak acuh. Lalu ia menyambung.

"Setengah bulan lagi adalah hari ulang tahun ke-80 nenekku, semua kakak dan pamanku sudah menyiapkan kado bagi beliau. maka aku pun perlu menyediakannya."

"Ya. bila nona dapat gunakan Giok-hoan-tho dari Kek-lokkiong sebagai kado. dengan sendirinya akan sangat menonjol dan mengatasi kado orang lain,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Justru lantaran itulah. maka harus kucari sampai dapat,"

Kata Kim Leng-ci.

"Menurut cerita. konon Giok-hoan-tho adalah buah Tho pembibitan dari taman Ong-bo Nionio (tokoh dalam dongeng tentang dewa-dewa). Bila orang muda makan Tho ini akan awet muda, jika dimakan orang tua akan panjang umur."

"Jika demikian seharusnya nona juga tahu Giok-hoan-tho ini baru berbuah satu kali selama 13 tahun, apalagi ,..,"

"Sudah kuselidiki dengan jelas,"

Sela Kim Leng-ci.

"Justru tahun inilah Giok-hoan-tho itu berbuah. maka harus kudapatkan buah itu Tidak banyak yang kuharapkan, cukup lima buah saja."

Oh Thi-hoa menghela napas gegetun, katanya.

"Ai, bicara memang mudah,apakah nona tahu berapa biji sekali Giokhoan-tho itu berbuah?"

"Tujuh,"

Jawab Kim Leng-ci.

"Betul,"

Kata Oh Thi-hoa.

"Selama 13 tahun Giok-hoan-tho berbuah satu kali dan jumlahnya cuma tujuh bji. tapi sekaligus kau menghendaki lima biji. Memangnya kau kira makhluk tua penjaga Kek-lokkiong itu seperti anak kutu busuk tua ini, sehingga barangnya dapat diambil begitu saja?"

"Seumpama betul aku ini bapaknya juga sukar mendapatkannya,"

Ujar Coh Liu-hiang.

"Sebab apa?"

Tanya Kim Leng-ci.

"Sebab buah itu akan dimakan sendiri oleh penghuni Keklok-kiong,"

Tutur Coh Liu-hiang.

"Sun-put-lau, istri Thio Pik-ki yang menjadi penguasa istana itu paling suka pada kecantikan dan juga paling takut tua, dia pernah bersumpah takkan membiarkan suaminya melihat wajahnya sesudah tua."

"Nyonya itu perempuan pintar,"

Sambung Oh Thi-hoa.

"Ia tahu lelaki takut melihat bininya tua, sebab, bila bini sudah tua, sembilan sembilan di antara sepuluh lelaki pasti akan menyeleweng."

"Tapi setiap orang kan pasti akan tua, siapa pun tidak terkecuali, betul tidak?"

Ujar Kim Leng-ci, dengan gegetun. Setiap perempuan bila mendengar kata-kato tua, tanpa terasa akan timbul rasa sedihnya, hal ini juga dirasakan oleh Kim Leng-ci meski perangainya mirip lelaki.

"Maksud pernyataan Sun Put-lau itu sama halnya bilang kalau dia sudah dekat hari tua, maka dia lebih suka mati dengan demikian sang suami tak dapat melihat lagi mukanya yang keriput."

Kata Coh Liu-hiang.

"Tidak, mungkin tidak begitu maksudnya,"

Ujar Oh Thi-hoa tertawa.

"Bisa jadi maksudnya ingin menyatakan bilamana dia sudah tua, maka dia akan membunuh sang suami... hanva orang mati saja yang tak dapat menyeleweng, betul tidak?"

"Maksudku menceritakan kejadian ini hanya agar nona mengetahui betapa penguasa Kek-lok-kiong itu sayang pada buah Tho yang ditanamnya. apalagi aku, dan mereka tidak pernah kenal dan tiada hubungan apapun, cara bagaimana buah itu akan kudapatkan?"

"Aku pun tahu, sukar bagimu untuk mendapatkannya, tapi barang yang sukar diminta, kan dapat kau curi,"

Kata Kim Leng-ci.

"Setiap orang Kangouw tahu, tiada sesuatu barang di dunia ini yang tak dapat dicuri oleh Coh-hiangswe, betul tidak ?"

"Tapi suami istri Thio Pik-ki dan Sun Put-lau sudah bersemayam selama 40 tahun di Kek-lok-kiong. ilmu silat mereka sukar diukur. selama 40 tahun ini ada juga orang Kangouw yang mengincar Giok-hoan-tho mereka. tapi tiada seorang pun yang dapat kembali dengan hidup."

Setelah menghela napas. Coh Liu-hiang menyambung.

"Apalagi Kek-lok-kiong terletak jauh di daerah barat sana, hanya dalam waktu setengah bulan mana bisa kupergi pulang? Wah, nona benar-benar mempersulit orang."

"Ya, memang aku sengaja mempersulit orang. Jika kau tak sanggup, sekarang juga kubinasakan dia,"

Teriak Kim Leng-ci. Oh Thi-hoa memejamkan mata, katanya dengan menghela napas panjang.

"Sudahlah. kukira lebih baik kau pergi membelikan peti mati bagiku saja, beli peti mati kan lebih mudah dari pada mencuri Sian-tho."

"Peti mati juga tidak perlu,"

Jengek Kim Leng-ci.

"Setelah kubunuh kau, segera kulempar kau ke dalam sungai, untuk apa beli peti mati?"

Belum habis ucapannya.

"blang" , sekonyong-konyong dasar kapal itu berlubang besar, air sungai terus menyembur ke atas. Badan perahu berguncang. karena tidak tersangkasangka. Kim Leng-ci jadi sempoyongan, mendadak pergelangan tangannya kesemutan. entah terpukul apa, tahutahu pedang pun terlepas dan berpindah ke tangan Coh Liuhiang. Dan lubang perahu yang menyemburkan air sungai itu, mendadak menongol seseorang. siapa lagi dia kalau bukan si jaring kilat Thio Sam.

"Haha. sudah sekian lama nona berdiam di sini, kukira tubuhmu juga ketularan berbau busuk, lebih baik kau pun turun mandi saja,"

Demikian Thio Sam berseru dengan tertawa.

Berbareng kaki Kim Leng-ci terus hendak dipegangnya.

Keruan wajah Kim Leng-ci menjadi pucat.

Padahal kabin kapal itu terbuka.

dia tidak lekas menerobos keluar, tapi malah berteriak khawatir.

"Kau.... kau berani menyentuh diriku...? "

Thio Sam yakin si nona pasti tidak dapat berenang. makanya ketakutan perahu akan tenggelam. Dengan tertawa ia berkata pula.

"Di daratan nona lebih lihai, tapi kalau di dalam air, baru kau tahu rasa."

Selagi Kim Leng-ci menjerit khawatir, tahu-tahu bahunya terasa dipegang orang, terus ditolak ke atas, seketika tubuhnya melayang keluar kabin. Didengarnya Coh Liu-hiang sedang berkata denga n tertawa.

"Lain kali kalau hendak membunuh orang, jangan asyik mendengarkan obrolan orang lain...." 00oo00 Perlahan perahu layar itu mulai tenggelam. Dengan bertopang dagu, Thio Sam berjongkok di tepi sungai dan menyaksikan tamatnya perahu itu dengan sedih, hampir ia menangis. Meski di dalam hati Oh Thi-hoa sangat berterima kasih, tapi di mulut sengaja dia mengoceh.

"Kalau yang lama tidak dibuang, yang baru takkan datang. Perahu bobrok ini akhirnya tamat riwayatnya. tambah cepat kan tambah baik, kenapa kau sedih?"

Seketika Thio Sam berjingkrak gusar. teriaknya.

"Bobrok katamu? Kau bilang kapalku itu bobrok? Memangnva kau mempunyai berapa biji kapal bobrok seperti ini?"

"Satu pun tidak punya,"

Jawab Oh Thi-hoa dengan tertawa.

"Seumpama punya tentu juga sudah kutenggelamkan sejak dulu-dulu agar tidak dongkol bila melihatnya."

"Hahaha, bagus, bagus,"

Thio Sam menengadah dan bergelak tertawa.

"Jika demikian. kapal yang tidak bobrok milik tuan Oh kita sedikitnya ada sepuluh atau delapan buah, nah, silakan tuan Oh memberi ganti rugi sebuah padaku."

"Kapal memang seharusnya diganti, orang yang harus ganti rugi padamu tadi juga berada di sini, cuma sayang...."

Ia melirik Coh Liu-hiang sekejap, Lalu menyambung pula. Cuma sayang, orang itu sudah dilepas oleh Hoa-hoa-kongcu (playboy) kita yang pengasih ini."

Coh Liu-hiang tertawa, katanya.

"Kulepas dia, kau sangat mendongkol, begitu bukan? Dan kalau tidak kulepas dia. lalu bagaimana? Apakah kau akan menggigitnya?"

"Betul juga,"

Timbrung Thio Sam.

"Kukira memang lebih baik melepaskan dia, kalau ditahan di sini, bukan mustahil hati tuan Oh kita akan tergoda lagi. Dan bila hati tuan Oh sudah lunak, bisa jadi beliau akan meraba kaki si nona, lain kalau lehernya diancam pedang, wah...."

Ia menghela napas gegetun sambil menggeleng.

Baca Juga: Pedang Langit Dan Golok Naga 10

Baca Juga: Rahasia Si Badju Perak 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert