Ceritasilat Novel Online

Keajaiban Negeri Es 2

Eps 2 Keajaiban Negeri Es - Khu Lung

Baca online Keajaiban Negeri Es - Khu Lung

Cersil Keajaiban Negeri Es - Khu Lung.

"Waktu aku pergi ke sana kemarin, di tepi sungai sana masih banyak timbunan salju, tapi tadi timbunan salju itu sudah lenyap, kemana perginya?"

Biji mata Cing-cing berputar.

"Apakah lari ke dalam gentong itu?"

Siau-hong mengangguk.

"Ya. jika kau nyalakan api di luar gentong, bukankah salju yang tertimbun di dalam gentong akan cair menjadi air?"

Mencorong sinar mata Cing-cing.

"Dan kalau api padam, air di dalam gentong dengan cepat akan beku menjadi es pula." ''Dan sebelum air membeku, Li He dan si Kambing tua sudah dilemparkan orang ke dalam gentong,"

Tukas siau-hong, Cing-cing menggigit bibir.

"Rupanya setelah membunuh Ko-king, Li He lantas mencari si Kambing tua, sebab mereka memang kenalan lama. bahkan......"

Bahkan keduanya sudah ada main, maklum, meski usia si Kambing tua agak lanjut, tapi tubuhnya masih kuat.

Li He sendiri juga sedang memerlukan lelaki.

Hal itu tidak diucapkan oleh Cing-cing, juga tidak sampai hati mengucapkannya.

Tapi ia tahu Siau-hong pasti juga paham.

Benarlah, Siau-hong lantas menghela napas panjang, katanya.

"Bisa jadi pada saat mereka sedang bergumul itulah mereka dibunuh orang".

"Siapa yang membunuh mereka? Dan sebab apa?"

Tanya Cing-Cing.

"Aku tidak tahu siapa orang ini, tapi kuyakin pasti juga lantaran Lo-sat-pay."

"Tapi setelah Li He terbunuh. Lo-sat-pay kan belum pasti akan diperolehnya?"

Siau-hong menyengir, katanya.

"Sekali pun ia sendiri tidak memperolehnya, yang jelas dia juga tidak suka kuperoleh Lo-sat-pay itu."

"Aku tetap tidak mengerti, setelah dia membunuh Li He, mengapa mesti bersusah payah mencairkan salju menjadi air, lalu membekukan Li He di dalam es."

"Mungkin semula dia hanya mengancam Li He agar menyerahkan Lo-sat-pay sebelum air membeku menjadi es."

"Akan tetapi Li He juga bukan orang bodoh, dengan sendirinya ia tahu biarpun Lo-sat-pay diserahkan toh nasibnya tetap akan mati, maka ...."

"Maka Lo-sat-pay saat ini pasti masih tersimpan di tempat semula."

Tukas Siau-hong, Cing-cing menghela napas, katanya.

"Cuma sayang Li He sudah mati, rahasia ini tidak diketahui oleh orang lain."

Siau-hong berbangkit dan termenung sampai lama menghadapi api tungku, lalu berkala perlahan.

"Ada seorang kawanku, dia pernah memberitahukan padaku bahwa di tempat ini hanya ada dua orang yang dapat dipercaya, yang satu ialah si Kambing tua, dan yang lain ialah dirimu."

Cing-cing tampak sangat terkejut, tanyanya.

"Siapa sahabatmu isu? Dia kenal padaku?"

"Dia adalah kawanmu sejak masa kanak-kanak."

"Hah, dia Ting-hiang-ih?!"

Seru Cing-cing dengan terbelalak "Cara bagaimana kau kenal dia?"

"Kuharap asalkan kau tahu dia adalah sahabatku, urusan lain sebaiknya jangan kau tahu terlalu banyak."

Cing-cing memandangnya lekat-lekat, akhirnya mengangguk dan berkata.

"Baik. kupaham maksudmu, aku pun berharap kau tahu bahwa setiap sahabatnya adalah juga sahabatku."

"Sebab itulah engkau pasti takkan berdusta padaku."

"Ya, pasti tidak."

"Jika kau tahu dimana Lo-sat-pay disembunyikan, pasti akan kau katakan padaku?"

"Tapi aku benar-benar tidak tahu."

Kembali Siau-hong menghela napas panjang.

"Makanya seharusnya Li He tidak boleh mati, lebih-lebih tidak boleh mati sedemikian mengerikan. Padahal di sini tidak ada orang gila, yang ada cuma orang setengah gila."

"Siapa?"

Tanya Cing-cing.

"Li Sin-tong,"

Jawab Siau-hong. Cing-cing tambah terkejut.

"Hah, kau anggap dia tega turun tangan keji terhadap kakaknya sendiri?"

Siau-hong tidak menjawab, sebab mendadak dari luar menerobos masuk satu orang sambil berteriak dan berkeplok tertawa.

"Ha ... ha ... akhirnya dia mau kawin denganku, akhirnya aku mempunyai isteri. Lekas kalian hadir pada pesta nikahku."

Orang ini ternyata Li Sin-tong adanya.

Dia masih memakai jubah merah besar dan longgar itu, tetap memakai topi hijau tinggi, mukanya bahkan berbedak sehingga kelihatannya tambah gila daripada dulu, entah dia benar gila atau cuma pura-pura gila?

Cing-cing tidak tahan, segera ia bertanya.

"Siapa yang mau menjadi isterimu?"

"Dengan sendirinya pengantin baruku."

Sahut Li Sin-tong.

"Dimana pengantin barumu?"

Tanya Cmg-cmg pula.

"Dengan sendirinya di kamar pengantin,"

Sahut Li Sin-tong. lalu ia berkeplok sambil bernyanyi seperti orang gila benar terus berlari pergi lagi.

"Apakah kau ingin melihat pengantin barunya?"

Tanya Cing-cing kepada Siau-hong.

"Ingin,"

Sahut Siau-hong.

Dengan sendirinya Li Sin-tong juga mempunyai kamar tidur sendiri, di dalam kamar benarlah sudah dinyatakan sepasang lilin merah besar di atas meja, di tempat tidur juga berduduk seorang pengantin perempuan yang bergaun merah dan memakai cadar merah.

Pengantin perempuan ini duduk miring bersandar di ujung tempat tidur, dan Li Sin-tong berdiri di sampingnya, tiada hentinya tertawa dan dada hentinya bernyanyi.

Nyanyinya lebih buruk dari pada suara gagak.

Cing-cing berkerut kening, ucapnya.

"Kedatangan kami bukan untuk mendengarkan nyanyianmu, dapatkah kau tutup mulut?"

Li Sin-tong cengar-cengir, katanya.

"Tapi biniku sungguh cantik, kau ingin melihatnya tidak?"

"Ingin,"

Sahut Cing-cing. Segera Li Sin-tong hendak menyingkap cadar merah itu, tapi mendadak ia menarik tangannya dan bergumam.

"Ah, harus kutanya lebih dulu apakah dia mau menemui kalian."

Dia benar-benar setengah berjongkok dan bisik-bisik dengan si pengantin perempuan.

Jelas pengantin perempuan sama sekali tidak buka mulut, bahkan tidak memberi reaksi sedikit pun, namun Li Sin-tong lantas berjingkrak gembira dan berteriak.

"Aha, dia mau, malahan dia minta kalian menyuguh secawan arak kepadanya."

Lalu ia menjulurkan tangannya lagi dan sekali ini dia benar-benar menyingkap cadar si pengantin perempuan.

Seketika hati Siau-hong dan Cing-cing tenggelam pula, sekujur badan terasa dingin dan kaku, bahkan jauh lebih terkejut dan lebih mual daripada melihat kedua mayat yang terbingkai di dalam gumpalan es tadi.

Muka si pengantin perempuan juga teroles pupur yang tebal, Tapi matanya melotot besar seperti mata ikan emas.

Pengantin perempuan ini ternyata sudah mati.

"Tong cilik."

Seru Cing-cing.

"Tong Ko-king!"

Tapi Li Sin-tong terus tertawa dengan riangnya, ia malah membawakan empat cawan arak dan mendekati mereka, secawan diberikan kepada Tan Cing-cing. Katanya.

"Nah, secawan untukmu, secawan untukku, secawan untuk dia, satu cawan lagi untuk pengantin perempuan."

Terpaksa Siau-hong dan Cing-cing menerima cawan arak itu hati keduanya sama-sama tidak enak.

Tampaknya orang ini benar-benar sudah tidak waras lagi Li Sin-tong lantas berduduk di ujung tempat tidur, secawan arak diberikan kepada pengantin perempuan, kalanya dengan tertawa.

"Marilah kita minum satu cawan sebagai tanda bahagia kita, habis minum segera kuusir mereka."

Dengan sendirinya pengantin perempuan tidak dapat menerima cawan araknya, maka mendeliklah dia, ucapnya.

"Kenapa engkau tidak sudi minum? Apakah pikiranmu berubah lagi dan tidak mau menikah denganku?"

Cing-cing tidak sampai hati menyaksikan adegan demikian, ia kuatir dirinya bisa menangis, juga takut dirinya akan tumpah, segera ia berteriak.

"Masa tidak kau lihat dia sudah mati, mengapa......"

Mendadak Li Sin-tong berjingkrak dan berseru.

"Siapa bilang dia mati? Siapa bilang?"

"Aku yang bilang,"

Sahut Cing-cing. Li Sin-tong menatapnya dengan beringas dan berteriak.

"Mengapa kau bicara semacam ini?1J "Sebab dia memang betul sudah mati."

Kata Cing-cing.

"jika benar kau suka padanya, seharusnya kau biarkan dia istirahat dengan tenang."

Mendadak Li Sin-tong menerjang maju sambil berteriak.

"Dia tidak mati, tidak mati! Dia pengantin baruku, dia tidak mati!"

Ia jambret leher baju Tan Cing-cing dan diguncang-guncangkan dengan keras. Muka Cingcing kelihatan pucat, tapi juga gusar, mendadak ia menggamparnya dengan keras.

"Plak" , setelah suara tamparan terdengar, seketika suara tangisan dan teriakannya berhenti, suasana dalam rumah berubah sunyi senyap seperti di kuburan. Li Sin-tong berdiri termangumangu kedua matanya yang kaku buram itu tiba-tiba menitikkan air mata, perlahan air mata merembes ke bawah melalui mukanya yang berbedak tebal itu. Sorot matanya yang kaku itu masih mendelik. Tan Cing-cing, kelihatan sangat berduka, tapi juga persis orang gila. Tanpa terasa Cing-cing menyurut mundur dan mengkirik. Tiba-tiba Li Sin-tong berkata.

"Ya, dia memang sudah mati, kuingat bcnar siapa yang membunuhnya."

""Sia ... siapa?"

Tanya Cing-cing.

"Kau. tentu saja kau!"

Seru Li Sin-Tong.

"Kusaksikan sendiri, dengan sebuah kaos kaki kau cekik mati dia."

Mendadak ia membalik dan berlari ke sana, dibukanya leher baju Tong Ko-king sehingga kelihatan bekas jiratan pada lehernya, lalu berkata pula.

"Coba lihat, inilah hasil karyamu, masa dapat kau sangkal?"

Tan Cing-cing merasa gemas dan gelisah sehingga sekujur badan bergemetar, ucapnya.

"Gila, kau benar-benar gila, untung siapa pun tidak mau percaya ocehan seorang gila."

Li Sin-tong tidak menghiraukannya lagi, mendadak ia menubruk di atas badan Tong Ko-king dan menangis tergerung-gerung, teriaknya.

"O, sayang! Kau tahu sebab apa selama ini aku mau ikut Ciciku? Soalnya diam-diam aku cinta padamu. Sejauh ini kunantikan jawabanmu agar mau menikah denganku. Meski aku tidak berduit, tapi si jenggot biru sudah berjanji akan memberikan 30 laksa tahil perak padaku. Demi ke 30 laksa tahil perak inilah kakak pun kukorbankan, akan tetapi ... akan tetapi mengapa engkau malah mati?"

Diam-diam Siau-hong mengeluyur keluar, ia merasa bila tinggal lebih lama lagi di situ, mungkin ia sendiri akan berubah menjadi gila juga.

Seorang memang tidak boleh terlampau mencintai seorang, bila cintanya terlalu mendalam, akibatnya sering-sering adalah tragis.

Di luar gelap dan dingin, setiba di luar, Siau-hong menarik napas dalam-dalam.

Malam sudah larut, Siau-hong berjalan sendirian kian kemari menyusuri jalan raya.

Cahaya lampu sudah banyak yang dipadamkan, suasana tambah hening.

Entah sudah berapa jauhnya ia berjalan, dan juga entah kapan ia berhenti.

Waktu ia menengadah baru diketahuinya dirinya telah berada di depan toko obat Leng Hong-ji.

Dari balik pintu masih ada cahaya lampu yang menerobos keluar, sampai seban lamanya Siau-hong termangu.

Diam diam ia bertanya kepada dirinya sendiri.

"Apakah memang ingin kucari dia? Kalau tidak, mengapa tepat kuberhenti di depan rumahnya?"

Pertanyaan ini biar pun dia sendiri juga tidak sanggup menjawabnya.

Dalam lubuk hati setiap orang, seringkali tersimpan sesuatu rahasia yang tiduk diketahuinya sendiri, atau mungkin bukannya tidak tahu.

hanya tidak berani menyingkapnya.

"Peduli apa pun juga, aku kan sudah datang kemari?"

Demikian akhirnya Siau-hong mengambil keputusan.

Ia mulai mengetuk pintu.

Pintu hanya dirapatkan saja tanpa dipalang.

maka sekali dorong perlahan pintu lantas terbuka.

Di dalam lampu masih menyala, cuma tidak kelihatan orangnya.

Kemana perginya Leng Hong-ji?

Tiba-tiba timbul semacam firasat tidak enak dalam hati Liok Siau-hong, segera ia melangkah ke dalam.

Di ruangan depan tidak ada orang, kamar tidur juga kosong, di dapur pun tidak ada orang.

Sebuah pintu kecil di belakang dapur juga cuma dirapatkan begitu saja sehingga menimbulkan suara gemeratak bilamana tertiup angin.

Apakah Leng Hong-ji kembali tidak dapat pulas, maka dia keluar melalui pintu belakang ini dan berduduk di sungai es sana untuk mengintip beruang hitam sebagaimana pernah diceritakannya itu.

Siau-hong meninggalkan tempat Hong-ji itu.

Malam yang gelap seakan dimana-mana penuh sesuatu yang misterius dan menakutkan.

Apa yang akan ditemuinya malam ini?

Meski Siau-hong tidak dapat meramalkannya, tapi ia sudah bertekad akan menemukan Leng Hong-ji, ia tak ingin Hong-ji juga lenyap dalam kegelapan malam yang misterius ini.

Lalu kemana Hong-ji?

Apakah benar lagi mengintai beruang hitam yang katanya sering muncul, lalu menghilang lagi secara ajaib?

Dilihatnya di kejauhan sana ada kerlipan beberapa titik bintang.

Segera ia menuju ke arah sinar bintang itu.

Mendadak didengarnya suara jeritan ngeri dari depan sana, suaranya tajam dan seram, jelas suara orang perempuan.

Dengan kecepatan penuh ia memburu ke sana, di bawah kerlipan bintang yang menyinari sungai es, kelihatan di situ ada secomot darah segar, beberapa puluh langkah mengikuti ceceran darah itu dapatlah dilihatnya tubuh Leng Hong-ji yang meringkuk di sana tanpa bergerak.

Tubuhnya sudah kaku, mukanya rusak seperti bekas dicakar oleh lima cakar maut.

Apakah Hong-ji kepergok oleh beruang hitam dan menemui ajalnya di bawah cakar beruang yang kuat itu.

Anehnya binatang buas yang kelaparan itu mengapa tidak menyentuh mayatnya, sama sekali tidak mengoyaknya.

Tubuh Hong-ji tidak ada bekas gigitan, jelas tidak diseret ke sini oleh seekor beruang, tapi merangkak sendiri ke sini.

Mengapa dia meronta mati matian dan menggunakan sisa tenaganya untuk merangkak sejauh ini?

Meski tubuhnya meringkuk, tapi kedua tangannya terjulur ke depan, kukunya menancap di dalam es yang keras, seperti orang yang hendak menggali isi sungai.

Memangnya ada rahasia di bawah sungai es ini?

Apa pula yang hendak digalinya?

Beberapa bintik bintang di langit akhirnya lenyap juga, bumi raya dengan sungai esnya diliputi kegelapan belaka.

Saat inilah saat yang paling gelap dalam sehari.

Tapi waktu Siau-hong menengadah, matanya tampak bersinar, seperti cahaya terang sudah berada di depan mata.

Saat yang paling gelap dalam sehari, juga saat yang dekat dengan cahaya terang.

Kehidupan manusia juga begitu.

Asalkan dapat kau tahan penderitaan selama masa gelap itu, akan tercapailah hidupmu yang terang dan penuh harapan.

Ketika sang surya mulai akan memancarkan cahayanya, Liok Siau-hong sudah bersama Jo-jo dan Tan Cing-cing.

Dengan sorot mata yang lembut, mereka lagi memandang Siau-hong, cuma pan dangan mereka merasa sedih dan bingung Mereka tidak mengerti untuk apa pagiKeajaiban Negeri Es > Gan K.L.

> buyankaba.com 31 pagi buta begini Siau-hong mengajak mereka ke sini.

Tapi kemudian baru mereka tahu apa yang terjadi.

Mayat Leng Hong-ji telah digotong pergi, noda darah juga sudah hilang, tapi semua itu sudah mereka lihat dan sukar untuk dilupakan.

Sejak tadi Cing-cing berdiri diam di samping Siau hong, mukanya pucat, baru sekarang ia menghela napas dan bergumam.

"Sudah lama kudengar di sini ada beruang, tak tersangka binatang ini sedemikian buas."

"Kau kira dia mati di bawah cakar beruang?"

Tanya Siau-hong. Hanya cakar binatang buas saja yang memiliki tenaga sebesar ini, dan hanya beruang saja yang dapat berdiri serupa manusia serta menubruk mangsanya dengan telapak kaki depan."

"Ehmm, betul juga?"

Ucap Siau-hong.

"Coba kalau tidak kebetulan kau tiba di sini, saat ini mungkin mayatnya saja sukar ditemukan,"

Ujar Cing-cing dengan sedih.

"Di antara kami berempat, hanya aku dan dia saja yang akrab. Sungguh aku......."

Mendadak suaranya tersendat dan matanya merah, ia terus mendekap di bahu Liok Siau-hong dan menangis tersedu-sedan.

Tanpa terasa Siau-hong merangkul pinggangnya.

Jika di antara seorang lelaki dan seorang perempuan sudah mempunyai sesuatu hubungan yang istimewa, maka serupa debu yang tersorot sinar matahari, sukar mengelabui mata orang.

Jo-jo melototi mereka, mendadak ia mendengus.

"Hm, kedatanganku ini bukan untuk melihat kalian main sandiwara. Selamat tinggal!"

Sekali bicara pergi, seketika juga dia angkat kaki. Sesudah Jo-jo melangkah agak jauh, tiba-tiba Siau-hong berucap.

"Kau tidak mau menonton sandiwara, memangnya juga tidak mau melihat Lo-sat-pay?"

Kata-kata ini serupa tali laso yang menjerat kaki Jo-jo, seketika ia memutar balik dan berseru.

"Kau bilang Lo-sat-pay? Benda itu sudah kau temukan? Dimana?"

"Di sini,"

Sahut Siau-hong.

Sini yang dimaksudkan adalah tempat dimana mayat Leng Hong-ji menggeletak tadi, yaitu tempat yang sedang digaruk tangan Hong-ji sehingga kukunya masih tertanam di dalam es.

Padahal es beku itu tebalnya belasan kaki, kerasnya serupa baja, jangankan tangan manusia, sekalipun dicangkul atau dipalu juga sukar menembusnya.

"Kau bilang Lo-sat-pay berada di bawah sungai es ini?"

Jo-jo bertanya pula.

"Ya, pasti berada di sini, paling-paling dalam lingkaran satu tombak di bawah sini,"

Tutur Siau-hong.

"Memangnya matamu mampu tembus pandang tanah es setebal ini sehingga kau tahu apa yang terpendam di dasar sungai?"

Ejek Jo-jo.

Tempat ini sangat dekat dengan tepi sungai, warna es di sini seperti lebih gelap daripada tempat lain.

Hanya mata telanjang manusia tentu saja sukar memandang tembus ke bawah, tapi terlihat juga sepotong pohon kering yang menongol di permukaan sungai.

Mungkin pada waktu sungai mulai beku, pohon itu kebetulan tumbang dari tepi sungai.

Ranting pohon entah dipapas oleh siapa, hanya sebagian batang pohon yang menongol di permukaan sungai sehingga serupa bangku panjang, bila duduk di atas 'bangku' ini, tepat berhadapan dengan bukit bersalju di kejauhan serta sebuah kuil di seberang sana.

"Meski tidak dapat kutembus pandang, tapi dapat kurasakan,"

Demikian jawab Siau-hong atas ejekan Jo-jo tadi.

"Toh hal ini belum ada buktinya, seumpama betul Lo-sat-pay terpendam di bawah, betapa pun sukar bagimu untuk menggalinya,"

Jengek Jo-jo. Siau-hong tertawa, ucapnya.

"Sejak kecil sudah kudengar dua pameo yang sangat berguna bagi orang hidup."

"Tapi sayang, pameo yang betapa bergunanya tetap tak dapat membuat sungai es ini cair,"

Jengek Jo-jo pula. Siau-hong tidak menghiraukannya lagi.

"Pameo pertama mengatakan.

"Di dunia ini tidak ada pekerjaan sulit, yang diperlukan adalah tekad orang" . Lalu pameo lain bilang.

"Bila ingin menyelesaikan sesuatu pekerjaan denganlancar, yang utama adalah ketajaman peralatannya" . Nah, tentunya kau paham arti kedua pameo ini."

"Aku justru tidak paham,"

Sahut Jo-jo.

"Artinya, asalkan punya tekad yang teguh dan punya genggaman yang efektif, maka di dunia ini tidak ada pekerjaan yang tak dapat diselesaikan."

"Cuma sayang, tekadmu tak kulihat, genggamanmu juga tidak kulihat."

Kembali Siau-hong tertawa.

"Nanti pasti akan kau lihat."

Maka Jo-jo lantas berdiri di samping dan melihatnya. Siapa pun tidak menyangka gaman atau alat yang digunakan Liok Siau-hong tidak lain cuma belasan batang bambu dan sebuah botol kecil saja.

"Inikah alat kerjamu?"

Tanya Jo-jo dengan tertawa geli.

Siau-hong tidak menghiraukan ocehannya, dia kelihatan sangat prihatin dan bekerja dengan sangat khidmat, dengan hati-hati ia membuka tutup botol lalu menuang satu tetes isi botol itu, cairan warna kuning muda yang menetes di atas sungai es itu seketika menerbitkan suara "cress"

Disertai mengepulnya asap hijau.

Es batu sekeras baja itu lantas berlubang oleh tetesan kuning itu.

Belum lagi asap itu buyar, Siau-hong lantas mengangkat sebatang bambu dan ditancapkan ke dalam lubang es, dengan sebelah tangan memegang botol dan tangan lain memegang galah, hanya sekejap saja belasan galah bambu itu telah ditancapkan semua di dalam sungai es dalam lingkaran seluas satu tombak.

Di antara galah bambu itu terdapat pula dua-tiga utas sumbu yang panjangnya dua-tiga kaki, Siau-hong lantas menyulut sebatang dupa kecil, serentak ia berlari mengitari pagar bambu itu, kembali dalam sekejap saja belasan sumbu itu telah disulutnya.

Mendadak ia berteriak.

"Mundur, lekas mundur sejauhnya!"

Cepat ketiga orang berlari mundur, baru lima-enam tombak jauhnya, terdengar suara ledakan.

Beribu kerikil es muncrat ke atas bercampur dengan potongan bambu dan berhamburan seperti hujan, terdengar suara gemerincing ramai mirip gotri yang dilemparkan ke talam.

Pada saat itulah sepolong barang hitam juga mencelat ke udara dan "trang"

Benda itu jatuh ke tanah es.

Ternyata sebuah bumbung yang terbuat dari baja.

Ketika tutup bumbung itu dibuka, segera sepotong Gok-pay atau batu kemala yang berbentuk pipih dan berwarna putih gilap meluncur keluar.

Ternyata benda inilah Lo-sat-pay yang sedang dicari.

Jo-jo berdiri melenggong, Cing-cing juga terkesima, meski badan mereka kejatuhan kerikil es juga lupa merasakan sakit.

Siau-hong menghela napas lega, ucapnya dengan tersenyum.

"Inilah alat kerjaku, bagaimana menurut pendapatmu?!"

Mau tak mau Jo-jo tertawa, katanya.

"Cara yang aneh-aneh begini mungkin cuma kau saja yang dapat menemukannya."

"Jika tidak ada obat peledak buatan Pi-pek-tong dari Kanglam, betapa baik sesuatu akal juga sukar terlaksana,"

Tutur Siau-hong.

"Darimana kau dapatkan obat peledak Pi-pek-tong?"

Tanya Jo-jo heran.

"Dapat kucuri,"

Jawab Siau-hong.

"Curi! Darimana kau curi?"

Tanya Jo-jo pula.

"Dan dalam gentong raksasa itu."

"Gentong raksasa mana?"

"Tempat Li He,"

Tutur Siau-hong. Rupanya waktu menemukan mayat Leng Hong-ji segera timbul kecurigaannya bahwa Lo-satpay mungkin disembunyikan di bawah sungai es ini, cuma saja belum seratus persen yakin.

"Setelah kutemukan barang-barang ini di dalam gentong Li He itu, baru tahulah aku bahwa dugaanku tidak meleset.'"

Demikian tutur Siau-hong pula.

"Sebab setiap pekerjaannya selalu dilakukan dengan cermat. Tindakan apapun pasti dipikirkan olehnya jalan mundurnya. Maka kalau dia berani menyembunyikan Lo-sat-pay di bawah sungai e.s yang beku ini, tentu dia mempunyai jalan untuk mengeluarkannya."

Maklum, cairan yang sangat keras itu ditambah obat peledak, jika gunung saja dapat diruntuhkan, tentu sungai beku juga mudah dihancurkan.

"Kupikir bila dia sudah menyiapkan alat pembobol sungai sebagus ini, dengan sendirinya Losat-pay pasti juga sudah disembunyikannya di dasar sungai, teori ini kan sangat sederhana seperti halnya teori satu tambah satu sama dengan dua."

Padahal teori ini tidaklah sederhana, kesimpulannya ini baru diperoleh setelah dia mengumpulkan bahan pembuktian dari sana sini. Tiba-tiba Jo-jo menghela napas, katanya.

"Mestinya hendak kumaki kau lagi, cuma dalam hatiku mau tak mau harus merasa kagum padamu."

"Jangankan kau, aku pun sangat kagum pada diriku sendiri,"

Kata Siau-hong dengan tertawa. Biji mata Jo-jo berputar, katanya tiba-tiba.

"Cuma kepandaianmu masih belum terlalu hebat, apabila kau mampu menemukan pembunuh Li He itulah baru dapat kukatakan engkau memang sangat hebat."

Siau-hong tertawa, ucapnya.

"Aku tidak ingin orang mengatakan diriku hebat, juga bukan datang kemari untuk mencarikan pembunuh bagi orang lain, yang hendak kucari adalah Losat-pay."

Cing-cing memandangnya dengan termangu, mendadak ia berkata.

"Dan sekarang barangnya sudah kau temukan, apakah segera engkau akan berangkat?"

Pertanyaan ini diucapkannya dengan perlahan, terasa mengandung semacam perasaan duka dan hampa. Siau-hong lantas menghela napas pula. ucapnya.

"Mungkin memang sudah waktunya aku harus pergi."

Cing-cing tersenyum.

"Apa pun juga, aku kan nyonya rumah di sini. Lohor nanti akan kuadakan jamuan makan selamat jalan kepada kalian, hendaknya kalian sudi hadir."

"Dia pasti hadir, tapi aku tidak,"

Jo-jo mendahului menjawab.

"Sebab apa?"

Tanya Cing-cing.

"Sebab di dalam hidanganmu nanti pasti banyak terdapat cuka, bilamana terlalu banyak makan cuka, lambungku bisa sakit."

Lalu Jo-jo menghela napas dan melirik Siau-hong sekejap.

"Bukan saja lambung akan sakit, hati pun juga sakit. Maka lebih baik aku tidak hadir saja."

Sepulangnya di Thian-tiang-ciu-lau, segera ia berbaring dan tertidur.

Cuma sebelumnya ia sudah mengingatkan dirinya sendiri hanya boleh tidur dua jam.

Dan benar, belum sampai dua jam dia sudah mendusin.

Dan begitu membuka mata, segera dilihatnya Jo-jo berdiri di ambang pintu dan sedang memandangnya.

"Sudah lama kutunggu,"

Kata Jo-jo.

"Ada apa menungguku?"

Tanya Siau-hong sambil kucek-kucek matanya yang masih sepat.

"Untuk pamit padamu,"

Jawab Jo-jo.

"Pamit? Sekarang juga kau hendak pergi?'' "

Setelah kau dapatkan Lo-sat-pay, semua hutangku padamu sudah lunas. Sebentar lagi kau mau minum arak, sedangkan aku tidak ingin minum cuka, mau apa kalau tidak pergi saja?"

Tanpa memberi kesempatan buka suara kepada Siau-hong, segera Jo-jo bertanya pula.

"Cuma aku rada heran, mengapa engkau dan dia bisa mendadak berubah menjadi begitu akrab? Bahkan tampaknya seperti sudah ada ... ada deh!"

"Alasannya cukup sederhana,"

Sahut Siau-hong dengan tertawa.

"Sebab aku adalah lelaki yang normal, dan dia juga seorang perempuan yang normal.'' "Dan aku?"

Tukas Jo-jo.

"Apakah aku bukan perempuan, apakah aku tidak normal?"

"Kau pun sangat normal, cuma sayang, agak terlalu normal sedikit!"

Kata Siau-hong, Jo-jo mendelik, mendadak ia menerjang maju. membuka selimut Siau-hong tcrus menindih di atas tubuhnya.

"He, kau mau apa?"

Tanya Siau-hong.

"Ingin kukatakan padamu, asalkan aku mau, apa yang dapat dilakukannya tentu juga dapat kulakukan, bahkan akan kukerjakan dengan lebih baik daripada dia."

Desis Jo-jo. Tubuhnya yang panas terus meliuk-liuk dun menggesek di atas tubuh Siau-hong, sambil menggigit daun telinganya ia mendesis pula dengan napas terengah.

"Sebenarnya aku sudah mau mengapa kau malah tidak menghendaki diriku Dan sekarang apakah engkau mulai menyesal?"

Siau-hong menghela napas, mau tak mau ia harus mengaku sesungguhnya anak perempuan ini adalah siluman cilik yang sangat menggiurkan.

Mendadak Jo-jo melompat bangun, lalu menerjang keluar tanpa berpaling lagi, terdengar suaranya berkumandang dari luar.

"Skarang bolehlah kau tidur sendirian dan menyesal selamanya."

Tapi Siau-hong tidak berbaring lama, sebab baru saja Jo-jo pergi, segera Cing-cing muncul, bahkan membawa dua cawan dan satu poci arak.

"Nona yang suka minum cuka dan juga takut sakit lambung itu mengapa tergesa-gesa berangkat lebih dulu?"

Tanya Cing-cing dengan tertawa.

"Sebab kalau dia tidak pergi, tentu kepalaku akan terlebih sakit daripada lambungnya,"

Jawab Siau-hong sambil menyengir.

"Baik juga dia sudah pergi,"

Ujar Cing-cing dengan tersenyum.

"Sudah kututup kasino di sana, aku memang hendak kemari."

"Cuma sayang, arak yang kau bawa ini hanya cukup untuk berkumur saja bagiku,"

Ujar Siauhong dengan tertawa.

"Minum arak tidak perlu banyak, yang penting adalah hati yang tulus,"

Ucap Cing-cing dengan lembut.

"Baik. tuangkan, akan kuminum,"

Kata Siau-hong. Perlahan Cing-cing menuang dua cawan, lalu berkata dengan sedih.

"Kuhormati engkau satu cawan sebagai ucapan selamat jalan padamu, semoga engkau sampai di tempat tujuan dengan baik. Boleh juga kau suguh aku satu cawan sebagai tanda selamat jalan, selanjutnya kita berpisah ke arah sendiri-sendiri"

"Kau pun akan pergi?"

Tanya Siau-hong. Cing-cing menghela napas.

"Kami datang berlima, sekarang tersisa aku seorang saja. Untuk apa pula kutinggal di sini?"

"Kau ... kau hendak kemana? Jika kita toh akan pergi semua, kenapa kita tidak pergi bersama?"

Cing-cing tertawa.

"Sebab aku tahu engkau tidak bersungguh-sungguh ingin membawaku pergi, kutahu juga banyak sekali anak perempuan yang kau kenal. Tidak ada perempuan yang tidak cemburu, aku juga perempuan, maka....."

Dia tidak melanjutkan, tapi lantas menenggak araknya, perlahan ia taruh cawan arak, lalu membalik tubuh dengan perlahan dan melangkah pergi.

Sama sekali ia tidak menoleh, seakan-akan kualir sekali menoleh lantas sukar lagi melangkah pergi.

Siau-hong juga tidak mencegahnya, ia memandangi kepergi-annya dengan diam saja, air mukanya mirip orang yang habis menenggak secawan arak getir.

Pada saat itulah, sekonyong-konyong didengarnya seorang berucap di luar.

"Selamat, selamat atas keberhasilan segala usahamu!"

Suaranya serak tua, jelas yang datang ialah Swe-han-sam-yu. Belum lagi Siau-hong memandang orangnya, sudah terlihat tangan mereka lebih dulu.

"Serahkan!"

Belum lagi masuk Kohsiong Lojin sudah menjulurkan tangannya lebih dulu.

"Berikan barangnya lantas boleh kau pergi, segala persoalan kita selanjutnya pun lunas."

Siau-hong tidak menjawab, juga tidak bergerak, hanya tertawa lebar seperti orang linglung. Koh-siong Lojm menarik muka, katanya pula.

"Masa kau tidak mengerti apa yang kukatakan?!"

"Mengerti,"

Sahut Siau-hong.

"Nah, mana Lo-sat-pay?"

Tanya pula si kakek.

"Hilang!"

Seketika berubah air muka Koh-siong Lojin.

"Apa katamu?"

Bentaknya dengan bengis.

"Aku mengerti perkataanmu, masa kau tidak mengerti ucapanku?"

Siau-hong tetap tertawa.

"Masa Lo-sat-pay tidak berada padamu sekarang?"

Tanya pula si kakek.

"Tadi ada,"

Jawab Siau-hong.

"Dan sekarang?"

"Sekarang sudah dicuri orang,"

"Dicuri siapa?"

"Orang yang tadi menindih dan bergelimang di atas tubuhku itu."

"Maksudmu perempuan yang kau bawa kemari itu?"

"Ya, tentu saja perempuan. Bila lelaki yang menindih dan bergelimang di atas tubuhku, bisa jadi aku sudah pingsan,"

Ujar Siau-hong dengan tertawa. Koh-siong Lojin menjadi gusar.

"Jika jelas kau tahu dia mencuri Lo-sat-pay itu, kenapa kau lepaskan dia pergi?"

"Harus kulepaskan dia pergi,"

Kata Siau-hong.

"Apa alasanmu?"

"Sebab Lo sat-pay yang dicurinya itu palsu."

Koh-siong Lojin jadi melongo.

Bab 4 … Angin meniup dingin, udara kelam kelabu, jalan penuh tertimbun salju, seorang perempuan menunggang seekor keledai kurus menempuh perjalanan sendirian.

Dan kejauhan sayupsayup terdengar suara seruling yang memilukan, namun bumi raya ini tetap suram dan sunyi.

Si nona berada jauh di rantau, hatinya terlebih jauh di luar langit.

Dia menjalankan keledainya dengan sangat lambat, ia sendiri tidak tahu harus kemana, tapi entah mengapa dia terburuburu melanjutkan perjalanan.

Mendadak dari persimpangan jalan sana muncul sebuah kereta kuda yang besar, pengendara kereta memakai topi kulit, memegang cambuk panjang, waktu berlalu di samping si nona, sekilas dia tersenyum padanya.

Perempuan itu juga tersenyum.

Sama-sama pengelana dan kebetulan berjumpa, apa halangannya saling tersenyum walaupun tidak saling kenal?

Pengendara kereta itu mendadak bertanya.

"Nona kedinginan tidak?"

"Dingin!"

Sahut perempuan itu. Dia adalah Tan Cing-cing.

"Kalau duduk di dalam kereta tentu takkan kedinginan,"

Ujar si pengendara kereta.

"Tentu saja, kutahu,"

Kata Cing-cing.

"Jika begitu. mengapa nona tidak naik ke atas kereta saja?"

Ujar si lelaki pengendara kereta.

Tan Cing-cing berpikir sejenak, perlahan ia turun dari keledainya, kereta pun sudah-berhenti.

Jika gentong es saja pernah dimasuki, apa artinya naik kereta.

Sesudah Cing-cing naik ke dalam kereta, mendadak si pengendara mengangkat cambuknya dan menyabet sekerasnya pantat keledai yang ditinggalkan itu.

Karena kesakitan, keledai itu berlari pergi seperti kesurupan setan.

Si pengendara kereta tersenyum senang, lalu berdendang lagu cinta "si nona manis siapa yang punya"

Segala.

Tidak lama kemudian, kereta ini pun menjauh.

Tidak terlalu lama, sampailah kereta besar ini di Hiula, sebuah tempat yang sangat terpencil meski bukan sebuah kota, tapi sudah tergolong tidak kecil di daerah kutub seperti ini.

Pengendara kereta mendadak menoleh dan berkata dengan tertawa.

"Sudah sampai di rumahku, nona mau mampir tidak?"

Selang sejenak barulah terdengar suara Tan Cing-cing menjawab hambar di dalam kereta.

"Kalau sudah berada di sini, mampir sebentar juga tidak menjadi soal.'"

Baru saja ia turun dari kereta, pintu rumah papan yang sudah reyot berkeriat-keriut dan terbuka, seorang anak yang kotor dan ketolol-tololan melongok keluar dan memandang Cingcing dengan cengar-cengir.

Wajah Cing-cing tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, ia kebut-kebut bajunya, lalu masuk ke rumah dengan langkah gemulai.

Di dalam adalah sebuah ruang tamu yang sangat sederhana, di tengah ruangan terpuja patung Toapekong kekayaan dengan tangan memegang Kim-goan-po (bongkah emas), sebuah pintu di belakang ditutupi tabir biru yang sudah luntur, di atas pintu tertempel kertas merah yang tertuliskan "Hi"

Dan "Cay" (Selamat dan Rejeki).

Jelas kelihatan penghuni rumah yang rudin ini setiap hari senantiasa bermimpi agar cepat kaya mendadak.

Seorang rudin dengan seorang anak dekil, dua-tiga buah rumah bobrok, empat-lima buah bangku yang reyot, huruf tempelan yang miring, lukisan patung yang lucu, semuanya serba tidak serasi.

Tempat seperti ini seharusnya sukar didiami lama-lama oleh Tan Cing-cing.

Maklum, dia suka kebersihan, suka ketenangan suka barang-barang yang indah dan bernilai.

Tapi sekarang dia ternyata sangat kerasan di sini, sangat betah, seperti di rumah sendiri sama sekali tidak ada niat hendak pergi lagi.

Memangnya sudah tidak ada tempat lain lagi yang dapat ditujunya?

Anak dekil tadi masih memandangnya dengan cengar-cengir, tapi wajah Cing-cing tetap tidak memperlihatkan sesuatu perasaan!

Ia melongok kian kemari, habis itu terus menyingkap tabir biru yang sudah luntur itu dan masuk ke kamar tidur orang.

Di dalam kamar tidur dengan sendirinya ada ranjang, ternyata sebuah ranjang yang besar, bahkan masih baru gres.

Kasur selimut dan bantal semuanya juga serba baru dengan sulaman bunga dan sepasang merpati yang indah.

Di belakang tempat tidur tertumpuk empat-lima buah peti kayu yang juga masih baru, ada pula sebuah meja rias, dinding sekeliling kamar terkapur putih bersih sehingga kelihatannya seperti kamar pengantin baru.

Cing-cing berkerut kening, sorot matanya menampilkan rasa jemu, tapi ketika ia memandang ke arah peti, seketika sinar matanya mencorong terang.

Lalu dilakukannya sesuatu yang tak terbayangkan, dia justru melompat ke atas tempat tidur orang, lalu dari bajunya dikeluarkannya serenceng kunci, dibukanya gembok pada salah sebuah peti itu.

Sekonyong-konyong sinar mengkilat emas terpancar, di dalam peti kayu ini ternyata berisi Kim-goan-po atau emas lantakan, yang jelas emas berkadar murni.

Cahaya emas membuat muka Cing-cing mencorong terang.

untuk pertama kalinya dia tersenyum, dengan ujung jarinya ia merabai tumpukan lantakan emas yang rapi itu, serupa seorang ibu yang sedang membelai anak bayinya dengan penuh kasih sayang.

Untuk mendapatkan emas ini memang bukan pekerjaan yang gampang, bahkan jauh lebih susah daripada seorang ibu melahirkan anak.

Akan tetapi sekarang semua kesulitan sudah berlalu, dengan puas ia menghela napas, lalu menengadah, dilihatnya si lelaki pengendara kereta lagi melangkah ke dalam kamar sambil menegurnya dengan tersenyum.

"Bagaimana permainanku ini, cukup menarik tidak?"

Cing-cing tersenyum manis dan berkata.

"Bagus, memang hebat sekali, sungguh engkau tidak malu bergelar sebagai anak ajaib nomor satu di dunia."

Lelaki pengendara kereta itu tertawa, ia menanggalkan topi yang hampir menutupi setengah mukanya sehingga terlihatlah wajahnya yang kekanak-kanakan, dia ternyata Li Sin-tong adanya.

Setelah menanggalkan jubah hijau yang besar, dengan lagaknya yang sinting, kini orang ini kelihatan tidak sinting sedikit pun, bahkan wajahnya juga tidak jelek.

Cing-cing memandangnya dengan senyuman lembut, katanya kemudian.

"Selama dua hari sungguh telah membikin susah padamu."

"Ah. susah sedikit sih tidak apa-apa, hanya rada tegang,"

Ujar Li Sin-tong dengan tertawa.

"Keparat yang beralis empat itu sungguh tidak boleh diremehkan."

Sejenak kemudian, tiba-tiba ia bertanya.

"Waktu kau berangkat, apakah dia bertanya mengenai diriku?"

Cing-cing menggeleng.

"Dia mengira kini seorang gila benar, hakikatnya tidak menaruh perhatian padamu."

"Ha .., ha ... makanya biarpun dia cerdik seperti setan, akhirnya juga kena kau kibuli,"

Kata Li Sin-tong dengan tertawa.

"Semua itu kan juga berkat permainanmu,"

Ujar Cing-cing.

"Pada waktu engkau berlagak gila sampai aku pun hampir percaya."

"Apa sulitnya untuk berbuat begitu? Asalkan kuanggap Hong-ji sebagai dirimu, tentunya kau pun tahu ucapanku itu kutujukan kepadamu. Dia memandang Cing-cing dengan terkesima, serupa seorang anak yang minta disusui sang ibu. Selang agak lama, tiba-tiba ia berkata pula dengan tertawa.

"Eh, coba lihat, bagaimana pajangan rumah ini?"

"Ehmm, bagus sekali, benar-benar serupa kamar pengantin baru,"

Jawab Cing-cing dengan senyuman manis. Sembari tersenyum ia terus berbaring berbantal sulam merpati itu, dengan sorot mata yang sayu ia pandang Li Sin-tong, katanya dengan lembut.

"Kau lihat diriku mirip pengantin baru tidak?"

Biji leher Li Sin-tong bergerak naik turun, napasnya mulai sesak, mendadak ia menubruk ke atas tubuh Cing-cing, serunya dengan megap-megap.

"Aku perlu kau, sudah lama kutahan, sungguh aku bisa gila. Kejadian tempo hari sudah tiga bulan yang lalu ...."

Sembari bicara, sebelah tangannya terus menarik baju Cing-cing.

Cing-cing tidak menolak, malahan napasnya juga rada memburu, napasnya yang panas menyembur telinga Li Sin-tong sehingga membuat tulangnya terasa lemas juga.

Malahan Cing-cing terus merangkul lehernya.

"Wah, aku tidak tahan ..."

Seru Li Sin-tong dengan parau.

Tapi mendadak terdengar suara "krek".

suara tulang patah.

Seketika Li Sin-tong melonjak dari atas tubuh Tan Cing-cing, tapi kepalanya sudah terkulai ke samping, sekujur badan lemas seperti karet.

"bluk"

Ia jatuh terkapar dengan mata melotot.

Nyata jiwanya sudah melayang.

Sama sekali Cing-cing tidak memandangnya, melirik pun tidak.

Dengan tenang ia tetap berbaring di tempat tidur dan memejamkan mata.

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara mengikik tawa di luar, suara seorang perempuan berseru sambil berkeplok.

"Ha ... ha ,.. bagus sekali! Pantas Ting-ting bilang engkau ini perempuan yang berhati keji, buktinya memang betul."

Air muka Cing-cing berubah seketika, tapi waktu ia berbangkit air mukanya lantas menampilkan senyuman yang lembut dan menggiurkan, ucapnya.

"Meski hatiku keji, tapi belum terlalu hitam seperti hatimu!"

Maka muncullah seorang anak perempuan berbaju kulit kembang dengan topi kulit berbulu halus, senyumnya cerah seperti bunga mekar pada musim semi, dia ternyata si Jo-jo yang genit itu.

Di belakangnya mengikut pula tiga orang, yang satu berbaju hitam dan berpedang, yang kedua gesit serupa kera, yang ketiga kakek berambut putih dan selalu berada di belakang Jojo.

Cing-cing lantas menyongsongnya dan menegur.

"Sungguh tak kusangka engkau bisa datang ke sini, kalau tahu tentu akan kusediakan makanan kegemaranmu dan minum bersamamu arak kesukaanmu."

Tertawa Jo-jo sangat manis, kalanya.

"Tak tersangka engkau masih ingat kepada santapan kesukaanku."

"Kita dibesarkan bersama, biar pun kau lupa pada diriku, tidak nanti kulupakan dirimu,"

Kata Cing-cing.

"Apa betul?"

Jo-jo menegas.

"Tentu saja betul,"

Jawab Cing-cing.

"Sudah beberapa hari ingin kucari kesempatan untuk bercengkerama denganmu, cuma aku pun kuatir akan dicurigai orang lain."

"Betul, aku pun begitu. Setan yang beralis empat itu sungguh bukan manusia baik-baik."

Begitulah kedua orang bersendau-gurau penuh keakraban.

"Tampaknya engkau tidak berubah sedikit pun,"

Kata Cing-cing pula dengan lembut.

"Kau pun tidak,"

Jawab Jo-jo.

"Sungguh aku sangat rindu padamu selama beberapa tahun ini.

"Aku pun tidak kurang rindunya padamu."

Berbareng kedua orang sama mengulurkan tangan dan melangkah ke depan, seperti saling rangkul untuk memperlihatkan perasaan sayangnya.

Akan tetapi belum mendekat, senyuman Cing-cing lantas lenyaP, kerlingan matanya yang lembut itu mendadak berubah beringas, gerak tangannya juga berubah, sekonyong-konyong ia mencengkeram pergelangan tangan Jo-jo, tangan yang lain juga mencengkeram iga kirinya.

Serangan ini cepat lagi ganas, yang digunakan adalah cara yang serupa waktu membunuh Leng Hong-ji.

Apabila Jo-jo terpegang jangan harap dapat lolos dengan hidup.

Akan tetapi meski serangannya sangat cepat, gerak Jo-jo ternyata lebih cepat, baru saja ia mulai menyerang, tiba-tiba terdengar suara "tring"

Yang perlahan, dua titik sinar lembut menyambar keluar dari lengan baju Jo-jo.

Seketika Cing-cing merasa dengkulnya kesemutan seperti digigit nyamuk, tenaga sekujur badan lantas lenyap, kaki pun lemas dan "bluk"

Ia jatuh berlutut di depan Jo-jo. Jo-jo lantas tertawa nyaring dan berseru.

"Eeh, kita kan saudara sendiri, baru bertemu mengapa engkau banyak adat begini?"

Di tengah suara tertawanya, kembali setitik sinar perak menyambar ke arah depan, tepat mengenai Siau-yau-hiat di pinggang Cing-cing, bagian Hiat-to yang menimbulkan tertawa terus menerus.

Benarlah, segera Cing-cing tertawa dan tertawa terus meski sinar matanya tidak mengandung rasa tertawa sedikit pun.

Mukanya yang cantik juga berkerut-kerut karena tersiksa, butiran keringat sebesar kedelai juga mengucur.

Jo-jo berkedip-kedip, lalu berkata.

"Ah, pahamlah aku, tentu kau tahu telah berbual sesuatu yang tidak baik padaku, makanya hendak kau minta maaf padaku. Akan tetapi kau juga tidak perlu bertekuk lutut padaku. Asalkan kau serahkan barangnya, tentu aku takkan marah padamu."

Cing-cing masih terus tertawa dan mengucurkan keringat dingin, ucapnya sekuatnya.

"Barang apa?"

"Masa perlu kau tanya?"

Ujar Jo-jo.

Cing-cing menggeleng sambil meliuk-liuk.

agaknya sekujur badan sudah lemas seluruhnya karena tertawa terus menerus itu sehingga tenaga untuk menggeleng kepala saja terasa berat.

Jo-jo menarik muka dan menjengek.

"Meski saudara sendiri, hutang piutang harus dihitung yang jelas. Kita juga begitu, bahwa Kah Lok-san mau membeli Lo-sat-pay kepada Li He dengan 40 laksa tahil emas, tapi kau hanya minta pembayaran sepuluh ribu tahiI saja padaku dan Lo-sat-pay akan kau serahkan. Begitu bukan?"

"Tapi tapi Lo-sat-pay kan sudah ... sudah diambil oleh lelaki yang kau bawa kemari itu?"

Sahut Cing-cing dengan menahan siksaan. Segera Jo jo mengeluarkan sepotong Giok-pay dan berkata.

"Inikah yang kau maksudkan?"

Cing-cing mengangguk. Mendadak Jo-jo mendekatinya terus memberi tamparan keras satu kali sambil menjengek.

"Hm, memangnya kau kira tak dapat kulihat barang ini palsu?"

Mendadak ia membanting Giok-pay itu ke atas kepala Li Sin-tong yang sudah tak bernyawa itu, lalu berkata pula.

"Kau anggap keparat ini maha pintar, kau kira barang imitasi bikinannya dapat digunakan mengelabui orang, tapi sayang, gambar yang diukirnya pada Giok-pay ini lebih mirip cakar ayam."

Sekuatnya Cing-cing menggigit bibir dan berusaha berhenti tertawa, namun sampai bibirnya pecah tergigit, tertawanya tetap sukar berhenti.

"Sebenarnya sudah lama kucurigai dirimu,"

Ucap Jo-jo pula.

"Jelas kau tahu Lo-sat-pay adalah benda mestika yang tak ternilai, mengapa kau mau menjualnya kepada orang lain. Padahal hatimu biasanya jauh lebih hitam daripada siapa pun, ibaratnya makan manusia juga kau telan bulat-bulat berikut tulangnya, maka sejak mula sudah kusuruh Sin-loji mengawasi dirimu, sekali pun kau masuk ke bumi juga dapat kuseret keluar dirimu."

"Apakah kau kira Lo-sat-pay yang asli telah ... telah kubawa pergi?"

Kata Cing-cing.

"Sebelum Li He menyembunyikan Lo-sat-pay di bawah sungai es, tentu barangnya sudah kau tukar, walaupun tadinya ......"

Rupanya menurut perundingan yang telah disepakati mereka, cukup Jo-jo membayar seperempat dari harga yang ditetapkan antara Kah Lok-san dan Li He, di antara ke-12 peti asalkan tiga di antaranya berisi emas, maka selebihnya boleh diisi dengan batu.

Sebab yang akan menerima peti itu ialah Tan Cing-cing, bilamana ke-12 peti itu sudah diterima, segera ia memberitahukan kepada Li He agar Lo-sat-pay boleh diserahkan.

Dia memang orang kepercayaan Li He, dengan sendirinya Li He tidak menyangka akan dipermainkan, mestinya dia hendak meledakkan sungai beku itu pada esok harinya untuk mengambil Lo-sat-pay, yang dikehendakinya cuma emas dan lelaki saja, dia tidak berminat terhadap kedudukan ketua Ma-kau segala.

"Kau tahu, kalau diketahuinya Lo-sat-pay telah ditukar oleh orang, tentu dia akan menyangka dirimu yang melakukannya,"

Kata Jo-jo pula.

"Sebab selain dia sendiri dan dirimu pasti tak ada orang ketiga yang mengetahui rahasia ini, makanya pada malam itu juga telah kau bunuh dia, malahan kau sengaja membekukan dia bersama si Kambing tua di dalam es untuk mengalihkan perhatian orang lain, sebab siapa pun takkan menyangka orang semacam dirimu ini dapat melakukan tindakan yang gila itu."

Ia berhenti sejenak, lalu berkata pula.

"Coba, bukankah semua rahasiamu tak dapat mengelabui diriku, untuk apa engkau mesti berlagak pilon lagi?"

Sekujur badan Tan Cing-cing kelihatan mengejang, bukan saja air mata dan keringat mengucur, bahkan celananya juga sudah basah, kedua dengkulnya sakit seperti ditusuk jarum, tapi dia justru terus tertawa ngakak seperti orang yang mendapat rezeki nomplok.

"Eh, masih juga tidak kau keluarkan? Tidakkah kau tahu bagaimana akibatnya jika kau tertawa lagi terus menerus cara begini?"

Tanya pula Jo-jo. Sekuatnya Cing-cing ingin mengatupkan mulut namun sukar terlaksana.

"Walaupun kau tertawa dan yang mengucur hanya air mata dan keringat saja, sekarang kau pasti sudah terkencing-kencing dan terberak-berak. Tidak lama lagi seluruh ruas tulangmu bisa terlepas semua karena tertawamu ini badanmu akan lemas lunglai seperti tidak bertulang, dalam keadaan begitu, cukup tersentuh oleh jari saja. tentu kau akan menjerit kesakitan seperti babi hendak disembelih.

"Kau ."

Kau ..."

Sedapatnya Cing-cing ingin bicara, tapi sukar "Jika kau sangka aku tidak tega turun tangan lebih keji, maka salah besar, kau serupa Kah Lok-san mengira aku pasti tidak dapat membunuh dia."

"Telah kau bunuh dia?"

Tanya Cing-cing mendadak.

"Dia berduit, juga punya pengaruh, meski usia sudah lanjut, tapi kondisi badannya masih sangat baik, permainan di atas ranjang tidak kalah daripada anak muda, malahan tekniknya terlebih tinggi, terhadapku juga lembut dan penurut, siapa pun takkan menyangka dapat kubunuh dia."

Lalu dia menyambung dengan tak acuh.

"Tapi, toh aku telah membunuhnya. Dan kalau dapat kubunuh dia, urusan apa pula yang tidak dapat kulakukan?"

Mendadak Tan Cing-cing berteriak sekuatnya.

"Lo-sat-pay berada di dalam kain kotoranku, hendaknya kau ampuni diriku!"

Sudah berhenti suara tertawa Tan Cing-cing tapi dia jatuh terkulai di lantai seperti ikan mampus.

Dengan sendirinya Lo-sat-pay sudah berada di tangan Jo-jo, dengan hati-hati dia pegang Giok-pay itu seperti seorang raja memegang cap kebesarannya, gembira dan bangga, saking senangnya ia bergelak tertawa.

Pada saat sedang tertawa gembira itulah, mendadak dari luar jendela menyambar masuk seutas cambuk panjang tanpa suara, sekali ujung cambuk membelit, Giok-pay yang dipegang Jo-jo lantas terbang keluar jendela.

Seketika Jo-jo tidak dapat tertawa lagi, ia meringis kaget serupa orang yang mendadak tergorok lehernya.

Didengarnya seorang berkala di luar jendela dengan tertawa.

"Kalian tidak perlu mengejar keluar, sebab aku segera akan masuk ke situ, berkat bantuan kalian sehingga Lo-sat-pay ini dapat ditemukan kembali, sedikitnya harus kusampaikan rasa terima kasihku padamu secara langsung."

Liok Siau-hong! Yang bicara itu ternyata Liok Siau-hong. Dengan menggreget gemas Jo-jo berkata.

"Ya. kutahu pasti dirimu dan mengapa tidak lekas kau masuk kemari?"

Baru habis ucapannya, tahu-tahu Liok Siau-hong sudah berdiri di depannya dan tersenyum simpul, sebelah tangan memegang cambuk, tangan yang lain memegang Lo-sat-pay.

Melihat Liok Siau-hong, Jo-jo lantas tertawa juga, katanya.

"Hah, tak tersangka engkau juga mahir memainkan cambuk sebagus ini!"

"Cambuk ini adalah hasil curianku!"

Tutur Siau-hong dengan tersenyum.

"Hasil curian? Cara bagaimana dapat kau curi?"

Tanya Jo-jo.

"Kucuri dari kereta di luar sana, permainan cambuk ini juga hasil curianku dari 'Bu-eng-sin-pian' (si cambuk sakti tanpa bayangan),"

Kata Siau-hong pula.

"Kalau bicara tentang kepandaian curi mencuri, meski aku tak dapat dibandingkan dengan si rajanya raja pencuri Coh Liu-hiang, sedikitnya jauh lebih pandai daripadamu."

Jo-jo menghela napas, katanya.

"Sebenarnya sejak mula sudah harus kuduga kepintaranmu dalam mencuri, hatiku saja hampir kau curi, apalagi barangku."

"Hatimu bukankah sudah lama membusuk?"

Ujar Siau-hong dengan tertawa.

"Cepat juga kedatanganmu ini?"

Kata Jo-jo pula mengalihkan pembicaraan. 'Tak kau sangka bukan?"

"Mengapa bisa kau pikirkan akan tempat ini?"

Siau-hong tertawa, jawabnya.

"Sebab terlalu banyak yang kupikirkan waktu aku berbaring di tempat tidur, makanya juga banyak urusan yang dapat kupikirkan."

"Untuk apa banyak berpikir, kenapa tidak kau perkosa diriku saja?"

Omel Jo-jo mendadak, bahwa orang tidak memperkosanya ternyata membuatnya marah malah "Dirimu kan bukan seorang Kuncu, jika kau dapat memperkosa orang lain. kenapa tidak kau perkosa diriku?"

"Soalnya waktu itu aku tidak kebelet,"

Sahut Siau-hong dengan tertawa.

"Karena kau sengaja membikin kecewa hasratku, aku pun balas merusak hasratmu."

Jo-jo berkedip-kedip, mendadak ia tanya.

"Sejak kapan kau ganti keputusan?"

"Pada waktu batu tertumpah dari dalam peti,"

Dengan tersenyum Siau-hong menyambung pula.

"Meski aku bukan perampok yang biasa melakukan pekerjaan bongkar dan rampas, tapi sebuah peti yang terbuat dan besi atau emas, rasanya masih dapat kubedakan dengan baik."

"Wah, kiranya bukan cuma mahir mencuri, engkau juga masih memiliki kepandaian simpanan begini,"

Ujar Jo-jo dengan gegetun. ''Orang seperti dirimu ini ternyata tidak menjadi perampok, sungguh sayang."

Dengan gegetun Siau-hong menjawab.

"Ya, sesungguhnya terkadang aku pun menyesal, beberapa kali hampir saja aku berganti pekerjaan."

"Jjka kau ganti pekerjaan, tentu aku mau menjadi isteri gembong perampok,"

Ucap Jo-jo dengan tersenyum.

"Tentu saja akan kuterima dengan senang hati, akan kuangkat dirimu sebagai permaisuri seperti halnya sahabatmu Ting-hiang-ih."

Jo-jo terbelalak.

"Jadi sudah lama kau tahu kukenal dia?"

"Ya. sebab begitu berada di Rahasu, kulihat dirimu serupa pulang ke rumah saja, hampir setiap tempat sudah kau kenal, tatkala mana aku sudah mulai curiga, sangat mungkin engkau dibesarkan di tempat itu, juga mungkin sudah lama kau kenal Tan Cing-cing dan Ting-hiang-ih."

"Jika kau kenal si Ting-ting, kuyakin kau pun pernah bergumul dengan dia,"

Ucap Jo-jo dengan menatapnya lekat-lekat.

"Aku mengerti pribadinya, bilamana bertemu dengan lelaki semacam dirimu, tidak mau dilepaskannya begitu saja."

Siau-hong tidak menyangkal dan juga tidak membenarkan. Segera Jo-jo mengomel lagi.

"Di antara kami bertiga sudah ada dua pernah tidur denganmu, mengapa hanya diriku saja yang kau lewatkan?"

Begitulah mereka berdua terus bersenda_gurau dan bercumbu rayu, keruan ketiga orang yang berdiri di samping sama mendongkol setengah mati, mendadak ketiga orang itu melompat maju dan mengepung Liok Siau-hong di tengah dengan mau mendelik.

Siau-hong berlagak seperti baru melihat mereka sekarang, ucapnya dengan tersenyum.

"Tempo hari kalian mengundurkan diri tanpa bertempur, sekali ini apakah ingin mencobacoba lagi?"

"Tempo hari seharusnya kami membunuh dirimu!"

Jengek si kakek beruban.

"Kami tidak membunuhmu tempo hari sebab dia masih ingin menggunakan dirimu satu kali lagi sebagai boneka,"

Sambung Sin-loji. Siau-hong tergelak, katanya.

"Jika aku bonekanya, lalu kalian bertiga ini apanya? Padahal asalkan aku mengangguk saja segera dia akan naik ranjang bersamaku, dan kalian?"

Air muka ketiga orang itu berubah beringas, waktu mereka berpaling ternyata Jo-jo sudah menyingkir seakan-akan urusan ini sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan dia.

"Padahal anak murid Hoa-san It-ci-thong-thian Hoa Giok-kun, tokoh daerah utara To-pi-sianwan Oh Sin dan jago pedang Oh-ih-sin-kiam Toh Pek, semuanya sudah lama terkenal, tapi sejauh ini tidak berani kusebut mereka, sebab aku tidak percaya ketiga tokoh terkenal ini bisa menjadi budak seorang perempuan,"

Demikian Siau-hong berolok-olok.

Keruan muka ketiga orang itu sebentar merah sebentar pucat, mereka telah menyamar dan menggunakan nama sebagai she, tak terduga tetap dikenali oleh Liok Siau-hong.

Si kakek berambut putih yang semula bertubuh bungkuk perlahan lantas menegak, ia menjura dan berkata.

"Ya. betul, akulah Hoa Giok-kun. Silakan!"

"Hendak kau lawan diriku sendirian?"

Tanya Siau-hong.

"Jika asal-usulku tidak kau ketahui, tentu aku akan mengerubut dirimu bersama mereka, tapi sekarang ..."

Sikap Hoa Giok-kun mendadak berubah menjadi kereng. Ucapnya pula dengan bengis.

"Mati-hidupku tidak menjadi soal, nama Hoa-san-pay harus ditegakkan dan tidak boleh runtuh di tanganku."

Meski Hoa-san-pay bukan perguruan kelas utama di dunia persilatan, tapi aliran ini terkenal bersih, jarang sekali anak muridnya tersesat, juga tidak ada pengecut yang suka main kerubut.

Segera Liok Siau-hong berubah menjadi serius juga.

Maklum, orang yang dapat menghormati dirinya sendiri tentu juga akan dihormati orang.

"Sudah lama kudengar ilmu tenaga jari Liok-tayhiap nomor satu di dunia, kebetulan yang kuyakinkan juga kungfu ilmu jari, maka mohon Liok-tayhiap sudi memberi petunjuk,"

Kata Hoa Giok-kun.

"Baik!"

Seru Siau-hong. Dia menarik napas panjang-panjang, Lo-sat-pay disimpan di dalam baju. Cambuk dilepaskan, segera terdengar suara "crit"

Sekali, angin tajam berjangkit, jari Hoa Giok-kun setajam pedang telah menutuk Kok-cing-hiat pada bahu kanan-kirinya, Sekali menyerang lantas dua gerakan dengan tenaga yang kuat, memang tidak malu sebagai anak murid perguruan ternama.

Akan tetapi dari serangannya segera Liok Siau-hong dapat melihat meski tenaga serangannya cukup kuat, tapi gerakannya kaku dan banyak memiliki ciri-ciri anak perguruan ternama umumnya, yaitu sombong.

Cukup Siau-hong memandang sekejap saja lantas yakin dalam dua-tiga gebrakan saja pasti dapat mengatasi lawan.

Namun lantas timbul juga pertanyaan pada dirinya sendiri apakah sekaligus harus kukalahkan dia?

Apakah tidak perlu memberi muka sedikit padanya?

Jika seorang jatuh cinta, tak peduli siapa yang dicintainya, sepantasnya tidak dapat cuma menyalahkan dia, apalagi dia sudah tua, sekali jatuh tentu sukar bangun kembali.

Pikiran itu hanya timbul sekilas saja dalam benaknya dan jarak tutukan Hoa Giok-kun dengan Hiat-to yang diarahnya sudah tinggal beberapa senti saja, angin tutukan sudah menembus bajunya tidak ada peluang baginya untuk memilih cara lain lagi.

Terpaksa ia harus turun tangan.

Secepat kilat ia gunakan ujung jari sendiri untuk memapak ujung jari si kakek.

Segera Hoa Giok-kun merasakan hawa panas tersalur dan ujung jari lawan, tenaga sendiri mendadak hilang sirna.

'Tan-ci-sin-thong' atau ilmu tenaga jari sakti dari Hoa-san-pay mestinya termasuk satu di antara tujuh ilmu sakti, biasanva bilamana bertempur, dari jarak lima kaki saja dia mampu menutuk Hiat-to lawan dengan angin tutukannya.

Tapi sekarang tenaga tutukannya seperti salju yang mencair di bawah terik sinar matahari, berubah menjadi keringat dingin yang membasahi tubuhnya.

Siapa tahu mendadak Liok Siau-hong juga mundur dua langkah dan berucap.

"Ilmu jari sakti Hoa-san ternyata tidak bernama kosong!"

"Tapi ... tapi aku sudah kalah!"

Ucap Hoa Giok-kun.

"Engkau tidak kalah,"

Ujar Siau-hong.

"Meski sudah kusambut seranganmu ini, caraku bergerak mungkin lebih cepat daripadamu. tapi tenagamu jauh lebih kuat daripadaku kenapa engkau....."

Belum habis ucapannya, mendadak terdengar suara mendering, berpuluh titik perak berhamburan seperti hujan menyerang punggungnya.

Punggung Siau-hong tidak bermata, juga tidak bertangan, dengan sendirinya ia menjadi repot.

Berubah air muka Hoa Giok-kun, sorot mata Jo-jo juga mencorong.

Tapi pada detik itu juga mendadak tubuh Siau-hong berputar, berpuluh titik perak itu secara ajaib menerobos lewat di bawah ketiaknya, semuanya menancap di dada Hoa Giok-kun yang tadinya berdiri berhadapan dengan Siau-hong.

Kedua mata Hoa Giok-kun tampak melotot, mendeliki Oh Sin sambil mendesak maju selangkah demi selangkah.

Air muka Oh Sin juga berubah dan menyurut mundur setindak demi setindak.

Tapi Hoa Giok-kun hanya sempat mendesak maju tiga langkah saja, lalu ujung mata, lubang hidung dan mulut mengucurkan darah berbareng.

Oh Sin seperti menghela napas lega dan berkata.

"Aku........."

Ia pun cuma sempat mengucapkan satu kata ini saja, mendadak dadanya juga mengucurkan darah segar berikut menongolnya sepotong ujung 'pedang.

Dengan terkejut ia memandangi ujung pedang ini, seakan-akan tidak percaya hal ini bisa terjadi, namun mulutnya juga lantas mengeluarkan darah, mendadak ia meraung keras dan roboh ke depan, lalu tidak bergerak lagi.

Sesudah dia roboh baru terlihat Toh Pek berdiri di belakangnya dengan memegang pedang, pada ujung pedangnya masih meneteskan darah segar.

Hoa Giok-kun memandang Toh Pek dengan tertawa sebisanya sambil berkata.

"Terima kasih!"

Toh Pek juga menyengir, tapi tidak bersuara. Lalu Hoa Giok-kun menoleh dan memandang Liok Siau-hong, ucapnya sekata demi sekata.

"Juga terlebih terima kasih padamu!"

Toh Pek telah membalaskan sakit hatinya dengan membunuh Oh Sin, sedangkan Liok Siauhong telah menjaga nama baiknya, kedua hal inilah yang paling diutamakan oleh orang persilatan.

Hoa Giok-kun memejamkan mata sambil berucap dengan perlahan.

"Kalian ... kalian semua sangat baik padaku ... sangat baik....."

Perlahan ia lantas jatuh terkulai, pada ujung mulutnya masih menampilkan senyuman puas, senyuman terakhir.

Angin dingin meniup dari luar jendela dan menggigilkan semua orang.

Sampai lama sekali barulah Liok Siau-hong menghela napas panjang, gumamnya.

"Mengapa? ... Semuanya ini disebabkan apa?"

Air muka Toh Pek tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, ucapnya perlahan.

"Seharusnya kau tahu semua ini sebab apa? Aku sendiri sudah tahu!"

Angkara murka!

Angkara murka terhadap duit, angkara murka terhadap kekuasaan, angkara murka akan kehormatan dan angkara murka terhadap Seks.

Segala macam penderitaan dan bencana manusia di dunia ini bukankah juga timbul lantaran berbagai angkara murka tersebut?

Kembali Siau-hong menghela napas panjang, lalu ia berpaling dan berkata terhadap Toh Pek.

"Kau....."

"Aku bukan tandinganmu,"

Ucap Toh Pek dengan dingin. Siau-hong tertawa-tawa, katanya sambil memberi tanda.

"Jika begitu, pergilah kau!"

Darah sudah habis menetes pada ujung pedang, perlahan Toh Pek menyimpan kembali pedang ke dalam sarungnya, lalu dia mendekati Jo-jo dan berkata.

"Marilah kita pergi!"

"Pergi?"

Jo-jo menegas.

"Kau minta kupergi bersamamu?"

"Ya, kuminta kau ikut pergi bersamaku,"

Kata Toh Pek.

Tiba-tiba Jo-jo tertawa geli, tertawa terpingkal-pingkal hingga menungging, sampai air mata pun hampir mengucur.

Ketika melihat cara tertawa Tan Cing-cing tadi baru diketahui Siau-hong bahwa tertawa kadang-kadang terlebih menyiksa daripada menangis.

Kini melihat cara tertawa Jo-jo, Siau-hong baru tahu tertawa terkadang juga jauh lebih sakit melukai orang.

Wajah Toh Pek tampak putih pucat, kedua tangan juga gemetar tapi dia belum lagi kehilangan harapan, kembali ia bertanya.

"Kau tidak mau pergi?"

Mendadak berhenti suara tertawa Jo-jo, ia pandang Toh Pek dengan dingin serupa orang yang sama sekali tidak mengenalnya.

Sampai lama sekali barulah dari mulutnya tercetus satu kata yang teramat dingin.

"Enyah!"

Kata ini serupa cambuk yang tidak kenal ampun, yang sekaligus telah membuat kulit badan Toh Pek tersabet dan pecah sehingga hatinya ikut melompat keluar dan menggelinding ke bawah kaki sendiri serta terinjak-injak.

Ia tidak bicara apa-apa lagi, ia membalik tubuh terus melangkah pergi.

Sekonyong-konyong Jo-jo melompat ke atas.

Dilolosnya pedang yang tersandang di punggung Toh Pek itu, sekali jumpalitan di udara, pedang itu terus disambitkan ke punggungnya.

Toh Pek tidak berkelit dan membiarkan pedang itu menembus badannya.

Tapi dia tidak roboh, sebaliknya ia malah memutar tubuh dan berdiri berhadapan dengan Jo-jo dan memandangnya dengan dingin.

Air muka Jo-jo berubah, ucapnya dengan menyengir.

"Kutahu engkau tidak dapat kehilangan diriku, maka akan lebih baik kumatikan kau saja dan habis perkara!"

Mulut Toh Pek juga merembeskan darah, perlahan ia mengangguk, katanya.

"Baik, baik sekali....."

Belum lenyap suaranya, mendadak ia menubruk ke depan, Jo-jo dirangkulnya erat-erat, mati pun tak dilepaskannya.

Ujung pedang yang menembus di depan dadanya juga menikam masuk ke dalam dada Jo-jo, darah yang mengucur dari dadanya juga mengalir ke dada Jo-jo.

Kepala Jo-jo mendekap di bahu Toh-pek, matanya mulai mendelik, napasnya semakin terengah, dirasakannya tubuh orang yang merangkulnya itu mulai dingin, lalu kaku, tapi kedua tangannya masih merangkulnya erat-erat.

Kemudian ia merasakan tubuh sendiri juga mulai dingin, sampai merasuk tulang sungsum, tapi matanya berbalik terbeliak, tiba-tiba ia pandang Liok Siau-hong dengan tertawa.

"Mengapa tidak kau perkosa diriku? Mengapa....?"

Dan itulah tertawanya yang terakhir, juga ucapannya yang terakhir.

Bab 5 … Cing-cing tidak mati, ia malahan sangat sadar sejak tadi.

Dalam keadaan demikian, kesadaran sendiri merupakan semacam siksaan yang sukar ditahan, di alam halus seakan-akan benar ada badan halus yang menegakkan keadilan dan sengaja memberi hukum siksa kepadanya.

Seorang Siau-hong telah membawanya ke suatu kamar lain dan membaringkan dia dengan tenang, namun penderitaannya belum lagi berakhir, mungkin cuma kematian saja yang dapat menghindarkan dia dari penderitaan.

Jika penderitaan sudah mencapai titik yang sukar ditahan, kematian akan berubah menjadi hal yang tidak menakutkan sedikit pun.

Sekarang Cing-cing benar-benar ingin mati saja.

dia berharap Liok Siau-hong akan memberikan pembebasan pada dirinya secara cepat, tapi dia pasti tidak mau memperlihatkan keinginannya itu, sebab sejak kecil dia sudah mendapatkan suatu pelajaran, yaitu bilamana kau ingin mati.

orang lain justru sengaja membiarkan kau hidup.

Bila engkau tidak ingin mati, orang lain justru hendak membunuhmu.

Sampai sekarang dia masih ingat kepada pelajaran ini, sebab dia sudah menyaksikan banyak orang yang tidak ingin mati, tapi justru mati di depannya.

Juga banyak melihat orang yang ingin mati.

tapi justru masih hidup sampai sekarang.

Dia memang tumbuh di dalam kesulitan, Meski Liok Siau-hong masih berdiri di depan tempat tidur dengan tenang, tapi dapat dilihatnya di dalam hati Siau-hong juga tidak tenang.

Betapapun bila melibat kejadian yang mengerikan tadi, tentu hati seseorang akan terganggu.

Mendadak Cing-cing tertawa, katanya.

"Tak kusangka engkau akan datang kemari, tapi pasti sudah lama kau tahu akan perbuatanku."

Siau-hong tidak menyangkal. Maka Cing-cing berkata pula.

"Mestinya kuanggap tindakanku cukup rapi, apabila Jo-jo juga bertindak lebih hati-hati dan tidak menumpahkan isi peti, bisa jadi engkau takkan mencurigai diriku."

Siau-hong termenung agak lama, katanya kemudian.

"Bahwa peti itu berisi batu dan ternyata dapat kau terima dengan baik, bahwa Jo-jo adalah kenalanmu sejak kecil, tapi sengaja berlagak tidak kenal. Meski kedua hal ini cukup membuatku sangat curiga, tetap bukan petunjuk yang penting bagiku."

"Petunjuk apa yang penting?"

Tanya Cing-cing.

"Beruang hitam!"

Jawab Siau-hong.

"Beruang hitam?"

Cing-cing menegas.

"Ya,"

Tutur Siau-hong.

"Leng Hong-ji selalu bilang dia melihat beruang hitam di sungai es sana, padahal yang dilihatnya cuma manusia berkulit beruang hitam. Sebab tindak-tanduk orang ini sangat misterius, bentuknya justru sangat mudah dikenali orang, maka dia sengaja menutupi dirinya dengan kulit beruang. Siapa pun kalau melihat beruang hitam tentu akan lari terbirit birit dan takkan memperhatikannya lebih lanjut."

"Kau anggap orang itu ialah diriku?"

Tanya Cing-cing.

"Ehmm,"

Siau-hong mengangguk.

"Sebab kau lihat di dalam kamarku ada sehelai kulit beruang?"

"Tentunya tak kau sangka akan kudatangi kamarmu, hal itu memang kejadian yang sangat kebetulan."

Cing-cing menghela napas.

"Kamarku memang tidak pernah dimasuki orang lain, dalam hal ini kau tidak salah."

"Memangnya ada hal lain yang salah?"

Tanya Siau-hong.

"Dapatnya kau datang ke kamarku bukanlah lantaran kebetulan aku pingsan, sebab hari itu pada hakikatnya aku tidak pingsan."

Meski suara Cing-cing tak bertenaga, tapi setiap katanya terdengar dengan jelas, sebab sejauh itu dia dapat mengatasi penderitaannya, di dunia ini mungkin sangat sedikit orang yang sanggup bertahan seperti dia.

Ia menyambung pula.

"Kubiarkan engkau datang ke kamarku, sebab pada waktu kau pondong diriku, tiba-tiba timbul semacam hasrat yang selama ini belum pernah ada pada diriku, sebenarnya ... sebenarnya aku pun tidak menyangka Li Sin-tong bisa mendadak menerobos ke kamarku."

Siau-hong tertawa.

"Jika aku menjadi dia, aku pun bisa mendadak menerobos masuk ke sana."

"Kulit beruang yang serupa ada dua helai, yang satu lagi milik Li He,"

Tutur Cing-cing.

"Dan waktu kalian menanam Lo-sat-pay dulu, kalian mengenakan kulit beruang?"

"Ya, waktu itu sudah larut malam, kami tidak menyangka Hong-ji masih duduk termenung di tepi sungai. Waktu kulihat dia, dengan sendirinya dia juga melihat diriku."

"Tapi dia tidak melihat jelas, sejauh itu dia menyangka melihat seekor beruang hitam."

Tutur Siau-hong.

"Apa pun juga aku tetap kuatir,"

Ujar Cing-cing dengan tersenyum getir.

"Umumnya rasa curiga orang perempuan kan jauh lebih besar daripada orang biasa."

"Maka ketika aku tahu kemarin malam dia datang lagi ke sana, lantas kau bunuh dia untuk menghilangkan saksi."

Cing-cing tidak menyangkal, katanya.

"Selama ini Ting-hiang-ih menganggap hatiku terlebih keji daripada siapa pun."

"Mestinya dia tidak tahu rahasiamu,"

Kata Siau-hong.

"Tapi pada waktu kau turun tangan membunuhnya, akhirnya ia dapat mengenali dirimu."

"Ya, waktu dia mengenali wajahku, sorot matanya itu takkan kulupakan untuk selamanya."

Ujar Cing-cing dengan gegetun.

"Tatkala itu hatimu tentu rada takut juga, maka begitu berhasil membunuh dia, segera kau tinggal pergi."

"Betul, sebab kuyakin dia pasti tidak dapat hidup lagi."

"Tapi tidak kau pikirkan, seorang yang dekat ajalnya, terkadang juga merupakan saat yang paling terang pikirannya selama hidupnya."

Cing-cing tidak menanggapi, tapi hatinya terasa kecut sebab sekarang juga dia merasa pikirannya jauh lebih terang daripada biasanya.

"Maka sebelum menghembuskan napas terakhir, teringat olehnya beruang hitam yang pernah dilihatnya itu pastilah dirimu, juga terpikir olehnya tujuanmu pasti untuk menanam Lo-satpay, maka sekuatnya dia merangkak ke tempat yang pernah kau datangi waktu itu."

"Makanya kau pun tahu di situlah kami menyembunyikan Lo-sat-pay?"

"Ya, begitulah!"

Sahut Siau-hong.

"Hm, jika begitu, kenmatiannya kan sangat menguntungkan dirimu, kenapa kau risaukan?"

Siau-hong ingin bicara, tapi urung.

"Urusan yang tak perlu dirisaukan justru kau pikirkan, yang seharusnya kau risaukan malah kau rasakan dengan sangat gembira,"

Kata Cing-cing pula. Siau-hong tetap bungkam dan menantikan ucapannya lebih lanjut.

"Hari itu, waktu kucari dirimu, bukan sengaja kuantar arak dan makanan padamu, juga bukan lantaran memperhatikan dirimu dan suka padamu, kucari dirimu karena ingin mengganggu dirimu agar Li Sin-tong sempat membekukan mayat Li He di dalam es, sebab itulah terpaksa kuterima dihina olehmu, padahal bila tersentuh olehmu sungguh rasanya aku ingin tumpah."

Tiba-tiba Siau-hong tertawa, katanya.

"Ah, pahamlah aku."

"Kau paham apa?"

Tanya Cing-cing.

"Kau ingin mati,"

Kata Siau-hong.

"Berdasarkan apa kau anggap aku ingin mati?"

"Sebab sengaja kau pancing kemarahanku, supaya kubunuh dirimu."

"Hm, kutahu kau tidak berani,"

Jengek Cing-cing.

"Selama ini kau cuma melihat orang lain membunuh orang, kau sendiri hakikatnya tidak berani membunuh orang."

Kembali Siau-hong tertawa, tiba-tiba ia membalik tubuh dan melangkah keluar.

"Untuk apa kau pergi?"

Seru Cing-cing.

"Memasang kereta,"

Sahut Siau-hong.

"Mengapa sekarang kau perlu mengatur kereta?"

"Sebab kau tidak dapat menunggang kuda, juga tidak dapat berjalan,"

"Maksudmu hendak ... hendak kau bawa diriku pergi?"

Tanya Cing-cing.

"Meski senjata rahasia dalam Hiat-tomu tak dapat kukeluarkan, tapi kutahu ada seorang dapat menolongmu."

"Mengapa tidak ... tidak kau biarkan kumati saja?"

"Sebab orang yang mati hari ini sudah terlalu banyak!"

Jawab Siau-hong dengan hambar, tanpa berpaling lagi ia terus keluar.

Melihat kepergian Siau-hong, air mata Cing-cing mengalir perlahan, akhirnya ia menangis tergerung-gerung, tapi entah tangis nya itu karena duka?

Atau karena menyesal?

Atau karena terharu?

Tapi apa pun juga, seorang kalau ingin menangis, akan lebih baik bilamana dibiarkan menangis sepuas-puasnya dan sebebas-bebasnya.

Dengan sendirinya Siau-hong mendengar suara tangisnya, dia memang berharap Cing-cing bisa menangis, supaya semua rasa sedih, duka dan menyesal dapat terlampias seluruhnya.

Habis menangis, mungkin hilanglah niatnya ingin mati.

Sinar sang surya sudah lenyap, angin semakin dingin.

Si anak dekil yang ketolol-tololan itu masih berdiri di sana dengan ingusnya yang meler, apa yang terjadi tadi seakan-akan tidak mempengaruhi dia.

Mungkin orang lain menertawakan dia tolol, tapi mungkin hidupnya jauh lebih gembira daripada orang lain, Siau-hong tepuk-tepuk pundak anak itu sambil berkata.

"Coba kau jagakan bibi di dalam kamar itu, dia punya uang banyak, nanti akan dibelikan gula-gula bagimu."

Anak itu ternyata dapat menangkap maksudnya, sambil berjingkrak girang dia berlari masuk ke kamar.

Siau-hong menghela napas, baru saja ia keluar pintu, segera dilihatnya sebuah tangan terulur padanya.

Hal ini tidak di luar dugaannya, memang sudah diperhitungkannya Swe-han-sam-yu pasti menunggunya di luar.

"Serahkan!"

Ucap Koh-siong Siansing. Siau-hong berkedip-kedip, jawabnya kemudian.

"Kau minta apa? Uang atau nasi?"

Air muka Koh-siong Siansing berubah menjadi hijau, jengek-nya.

"Mungkin sekali ini kuminta jiwamu!"

"Minta nasi atau uang tidak dapat kuberi, kalau jiwa memang ada satu,"

Ujar Siau-hong dengan tersenyum.

"Memangnya perlu kupatahkan kakimu dahulu baru akan kau serahkan Lo-sat-pay?"

Tanya Koh-siong dengan gusar.

"Sekalipun kakiku kau patahkan juga takkan kuserahkan Lo-sat-pay padamu."

"Apa artinya ucapanmu""

Tanya Koh-siong dengan gemas.

"Justru ingin kutanya padamu apa maksudmu? Bilakah pernah kuberjanji akan menyerahkan Lo-sat-pay kepadamu?"

"Memangnya hendak kau serahkan kepada siapa?"

"Si jenggot biru,"

Jawab Siau-hong.

"Harus kau serahkan padanya?"

"Ya, harus!"

Sahut Siau-hong tegas.

"Sebab apa?"

Tanya pula Koh-siong.

"Sebab harus kutukar dengan sesuatu?"

"Tukar sesuatu apa?"

"Kehormatanku!"

Koh-siong Siansing memandangnya tajam-tajam, katanya pula.

"Memangnya kau sendiri tidak pernah timbul pikiran hendak mengangkangi Lo-sat-pay?"

"Pernah,"

Jawab Siau-hong.

"Dan sekarang masih punya pikiran begitu?"

"Ya,"

Sahut Siau-hong singkat. Kembali air muka Koh-siong Siansing berubah.

"Urusan yang kupikirkan sangat banyak,"

Sambung pula Siau-hong dengan tak acuh.

"Terkadang kupikirkan menjadi raja, tapi kuatir kesepian. Sering juga ingin menjadi perdana menteri, tapi kuatir repot. Lebih sering ingin kaya, tapi takut dicuri orang. Pernah juga kupikir akan beristri, tapi kuatir ketemu perempuan bawel. Dan sekarang malahan kupikirkan ingin menempeleng dirimu, cuma kuatir akan timbul keonaran."

Belum habis ucapannya, tertawalah Koh-siong Siansing, tapi sekejap kemudian dia lantas menarik muka pula, katanya.

"Urusan yang kau pikirkan terlalu banyak, tapi tidak satu pun kau kerjakan."

Siau-hong menghela napas.

"Setiap orang hidup tentu banyak sekali yang dipikirkan, tapi pada umumnya orang cuma banyak pikir sedikit bekerja. Kan tidak cuma diriku saja."

Mendadak Koh-siong memandang jauh ke sana seakan-akan juga sedang bertanya kepada dirinya sendiri.

Apa yang pernah kupikirkan dan apa yang pernah kukerjakan?

Orang hidup pasti akan mengalami macam-macam ikatan, bila setiap orang boleh berbuat sesukanya setiap apa yang dipikirnya, lalu bagaimana jadinya dunia ini?

Selang agak lama barulah Koh-siong menghela napas panjang dan memberi tanda.

"Pergilah kau!"

Siau-hong merasa lega.

"Semula kukira sekali ini takkan kau biarkan kupergi. tak tersangka kau masih sangat percaya padaku."

Dengan muka dingin Koh-siong Siansing berkata.

"Ini merupakan penghabisan kalinya!"

Siau-hong tersenyum, katanya.

"Asalkan kau ingin minum sampai mabuk, setiap saat boleh kau cari diriku, aku senantiasa berada di dekatmu."

Selagi ia hendak melangkah pergi, mendadak Han-bwe Lojin berucap.

"Tunggu dulu!"

"Ada keperluan apa lagi?"

Terpaksa Siau-hong berhenti.

"Ingin kulihat dirimu!"

Kata Han-bwe Lojin.

"Silakan lihat saja, kabarnya banyak orang menarik kesimpulan aku ini cukup cakap!"

Kata Siau-hong dengan tertawa. Wajah si kakek Han-bwe tidak memperlihatkan senyuman, juga tidak ada perasaan lain, katanya dengan dingin.

"Yang kulihat bukan fisikmu ini."

"O, lantas apa yang hendak kau lihat?"

Tanya Siau-hong dengan tertawa.

"Ingin kulihat kungfumu!"

Kata Han-bwe. Seketika tertawa Siau-hong berubah menjadi menyengir, ucapnya.

"Ah, kukira akan lebih baik kau lihat ketampananku saja, berani kujamin kungfuku pasti tidak lebih menarik daripada kebagusan orangnya!"

Tapi Han-bwe tidak memandangnya lagi, mendadak ia memutar tubuh, katanya sambil melangkah pergi.

"Ikut padaku!"

Siau-hong merasa ragu, dipandangnya Koh-siong, lalu dipandang pula Koh-tiok, air muka mereka ternyata juga kaku dan dingin tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan.

Setelah menghela napas, terpaksa Siau-hong ikut pergi bersama Han-bwe sambil menggerundel.

"Sesungguhnya hendak kau bawa aku kemana? Jika ingin minum arak atau berjudi setiap saat dapat kutemani, bila mengajak berkelahi, terpaksa aku akan angkat kaki saja."

Tapi Han-bwe tidak menghiraukan dia, setelah berputar dan membelok, sampailah mereka di jalan raya, di situ terdapat sebuah restoran besar, di depan restoran terparkir belasan kereta barang, sehelai panji perusahaan pengawalan terpancang di depan pintu restoran dan berkibar tertiup angin.

Panji itu bersulam seekor naga emas dan sebuah huruf "Tio".

Siau-hong kenal panji pengenal ini, 'Kim-liong-piaukiok' atau perusahaan pengawalan Naga Emas, namanya cukup terkenal, langganannya banyak tersebar luas, terutama pencari Jinsom yang biasa menjelajahi pegunungan di daerah utara.

Nama Piaukiok ini juga cukup disegani di dunia persilatan, sebab pemimpin umum Piaukiok ini, Hek-hian-tan Tio Kun-bu, si malaikat muka hitam, semula juga tokoh silat terkemuka yang baru saja diangkat menjadi pimpinan Kim-liong-piaukiok.

Dan sekarang Tio Kun-bu justru sedang minum arak di restoran ini, seorang yang ternama dan berkedudukan seperti dia, dengan sendirinya lagaknya tidak sembarangan.

Begitu naik ke atas loteng restoran, langsung Han-bwe mendekati dia dan menegur.

"Apakah kau ini Hek-hian-tan Tio Kun-bu?"

Tentu saja Tio Kun-bu melengak, diamat-amatinya kakek aneh yang bukan Hwesio juga bukan Tosu ini.

Biasanya pandangannya cukup tajam, tapi ia merasa tidak kenal kakek ini, terpaksa ia mengangguk dan mengiakan.

"Dan kau tahu siapa diriku?"

Tanya pula Han-bwe. Tio Kun-bu menggeleng dan menjawab.

"Tidak tahu, mohon diberi petunjuk."

"Akulah Han-bwe Siansing, satu di antara Swe-han-sam-yu yang tinggal di puncak Kun-lunsan, juga Hou-hoat-tianglo (tetua pembela agama) Ma-kau dari barat."

Han-bwe sengaja bicara dengan lambat dan tandas, ketika mendengar sebutan Swe-han-samyu, air muka Tio Kun-bu menjadi agak pucat, apalagi mendengar pula nama Ma-kau dari barat, keringat dingin lantas merembes di dahi Tio Kun-bu.

"Nah. sekarang kau tahu tidak siapa diriku?"

Kembali Han-bwe menegas. Seketika Tio Kun-bu berbangkit dan memberi hormat, ucap ucap nya. Maaf bila Wanpwe bermata tapi tidak mengetahui kedatangan Locianpwe...."

Dia ingin mengeluarkan segenap kata-kata merendah diri dan puji sanjung terhadap si kakek, tapi Han-bwe lantas mengitar ke depan Liok Siau-hong, lalu bertanya padanya.

"Dan apakah kau tahu siapa dia ini?"

"Pernah kudengar namanya,"

Sahut Siau-hong.

"Namanya tidak kecil, kungfunya juga tidak lemah, tapi di depanku dia toh sangat menghormati diriku, mengapa sikapmu kepada kami justru acuh tak acuh?"

Kata Han-bwe pula.

"Waktu kecilnya tentu terdidik dengan baik, seorang yang mendapatkan pendidikan baik di rumah jelas akan lebih sopan san tun,"

Ujar Siau-hong dengan tertawa.

"Dan kau?"

Tanya Han-bwe.

"Aku anak yatim piatu,"

Sahut Siau-hong.

"Makanya kau tidak mendapat pendidikan yang baik?"

"Ya."

"Jika begitu, kau perlu diberi pelajaran sedikit,"

Mendadak Han-bwe berpaling kepada Tio Kun-bu dan bertanya sambil menuding Liok Siau-hong.

"Apakah kau tahu siapa orang ini?"

Tio Kun-bu menggeleng.

"Kau memang tidak perlu tahu, aku cuma menyuruh kau memberi hajaran sedikit padanya,"

Kata Han-bwe Siansing. Wajah Tio Kun-bu kelihatan serba salah, ucapnya dengan menyengir.

"Tapi ... tapi tidak pernah ada persengketaan apapun antara kami, mana ... mana boleh ...."

"Takkan kupaksa dirimu,"

Potong Han-bwe dengan dingin.

"Boleh kau pilih, memberi hajaran padanya, atau aku yang menghajar dirimu?"

Sembari bicara, sebuah poci arak buatan timbel di atas meja terus dipegangnya, diremas sekenanya, seketika poci arak itu meleyot, waktu ditariknya perlahan, poci timbel lantas berubah lagi menjadi satu batangan.

Keruan air muka Tio Kun-bu berubah pucat, mendadak ia melompat maju, sebelah tangannya lantas menabas ke kuduk Liok Siau-hong.

Serangan ini sangat cepat dan ganas tanpa kenal ampun sedikit pun.

Tapi Liok Siau-hong tidak mengelak juga tidak bergerak, dia tetap berdiri di tempatnya dan menerima pukulan itu.

Di belakang kiri leher setiap orang ada sebuah pembuluh darah besar, tempat ini merupakan salah satu bagian fatal di tubuh manusia.

Meski Lwekang Tio Kun-bu tidak terlatih baik, tapi kedua tangannya sekeras baja, tenaga pukulannya sungguh tidak ringan, mestinya kalau Liok Siau-hong tidak terpukul mati, sedikitnya juga akan jatuh kelengar.

Siapa tahu Siau-hong justru masih berdiri dengan tegak, bahkan air mukanya tidak berubah sama sekali.

Muka Tio Kun-bu berkeringat lagi, mendadak ia melangkah maju, sekuatnya ia menghantam pula perut Liok Siau-hong.

Namun Siau-hong tetap mandah dipukul, tetap tidak bergerak dan tidak balas menyerang.

Tio Kun-bu sendiri menjadi kelabakan, air keringat bercucuran seperti hujan, dua kali hantamannya jelas mengenai sasaran, tapi justru seperti mengenai tempat kosong, dirasakan pihak lawan seakan tidak berisi, ketika terkena kepalannya, rasanya seperti mengenai tempat kosong.

Mestinya dia siap untuk menghantam lagi untuk ketiga kalinya, kepalan sudah tergenggam erat, tapi tidak sanggup menyerang pula.

Padahal Liok Siau-hong seolah-olah sedang menunggu untuk dipukul lagi, setelah menunggu sekian lama tiba-tiba ia pandang Tio Kun-bu, katanya dengan tertawa.

"Apakah hajaran Anda sudah cukup?"

Tio Kun-bu juga ingin tertawa sebisanya, tapi jadinya serba salah sehingga dia cuma menyengir belaka. Lalu Siau-hong berpaling kepada Han-bwe dan berkata.

"Nah. apakah sekarang aku boleh pergi?"

Air muka Han-bwe tampak masam, belum lagi dia bicara, Koh-tiok sudah mendahului berucap.

"Silakan kau pergi saja!"

"Terima kasih,"

Ucap Siau-hong dengan tersenyum.

Ia tepuk-tepuk bajunya, lalu angkat poci arak lain yang tidak teremas peyot itur arak lantas dituangkan ke dalam mulut, lalu ia melangkah pergi di depan Han-bwe Siansing.

Tapi sebelum dia keluar dan restoran itu, tiba-tiba pelayan berlari datang dengan membawa sepucuk surat sambil berteriak.

"Adakah Liok Siau-hong, Liok-tayhiap berada di sini?"

Siau-hong menuding hidungnya sendiri dan menjawab dengan tertawa.

"Akulah Liok Siauhong, tapi bukan Tayhiap, sebab Tay-hiap biasanya cuma memukul orang dan takkan dipukul orang."

Dia masih tersenyum simpul dan tidak marah, sebab ia tahu di dunia ini terlalu banyak manusia yang suka menjilat ke atas dan mendepak ke bawah, orang yang berpuluh kali lebih konyol dari pada Tio Kun-bu masih sangat banyak, dan hal ini memang merupakan salah satu kelemahan manusia.

Liok Siau-hong cinta kepada kemanusiaan, cinta kepada kehidupan, maka terhadap hal-hal demikian biasanya dengan cepat dan mudah dapat dimaafkannya.

Akan tetapi setelah dia membaca surat yang diserahkan si pelayan, dia jadi marah benarbenar.

Bukan cuma marah saja bahkan juga cemas dan gelisah.

Surat itu tertulis.

Liok Siau-hong, Liok-tayhiap yth, Banyak terima kasih atas bantuan Anda selama ini, maka segala sesuatu telah kuselesaikan dengan Tan Cing-cing.

Mengingat kemungkinan akan mengganggu perjalanan Anda, maka beberapa peti barang keras juga sudah kuangkut pergi lebih dulu.

Sekian, supaya Anda maklum.

Penanda tangan di bawah surat jelas tertulis nama "Hui-thian-giok-hou".

Pada waktu Siau-hong membaca surat, Swe-han-sam-yu justru sedang membaca wajah Siauhong Mereka sangat terkejut juga, sebab tidak pernah mereka duga bahwa air muka Liok Siau-hong juga bisa berubah beringas begini.

Maka pada waktu Siau-hong menerjang keluar serentak mereka pun ikut berlari pergi, tertinggal Tio Kun-bu saja yang masih berdiri melenggong di situ seperti seorang yang sangat menyesal dan kalau bisa ingin membunuh diri.

Mimpi pun tak terpikir olehnya bahwa orang yang dihajarnya tadi tak lain tak bukan ialah Liok Siau-hong, si Pendekar Empat Alis yang termashur.

Meski Liok Siau-hong dapat memaafkan dia, tapi selamanya dia tak dapat memaafkan dirinya sendiri.

Meski Siau-hong tidak bertindak apa-apa, tapi sama halnya telah memberi hajaran berat kepadanya.

Namun Liok Siau-hong sendiri juga telah melakukan suatu kesalahan besar, seharusnya dia tidak meninggalkan Tan Cing-cing, lebih-lebih tidak boleh meninggalkan rumah itu, sebab pada waktu dia memburu kembali ke sana, tempat itu sudah menjadi lautan api.

Untung udara dingin dan tanah beku, di mana-mana timbunan salju belaka, maka menjalarnya api sangat terbatas, tidak banyak rumah di sekitarnya yang ikut menjadi korban, namun begitu tetap ada pihak yang tak berdosa ikut tertimpa musibah tersebut.

Tubuh Tan Cing-cing yang indah itu tidak perlu disangsikan lagi pasti sudah terbakar menjadi abu.

Kedatangan Siau-hong sudah terlambat.

Di bawah cahaya api yang berkobar, muka Siau-hong tampak merah, matanya juga merah membara, tapi tangan dan kakinya terasa dingin, hati juga dingin.

Suasana tampak kacau-balau, kaum lelaki berlari kian kemari sambil berteriak-teriak dan berusaha memadamkan api, kaum perempuan menjerit dan menangis, anak kecil juga menangis dan ketakutan.

Kehidupan mereka mestinya aman tentram, tidak pernah merugikan orang lain, tapi sekarang tanpa sebab mereka ikut menjadi korban.

Mendadak Liok Siau-hong berpaling dan melototi Han-bwe, katanya dengan beringas.

"Sudah kau lihat belum?"

"Melihat apa?"

Tanya Han-bwe dengan agak bingung.

"Inilah bencana gara-gara perbuatanmu, masa kau sendiri tidak melihatnya? kata Siau-hong. Han-bwe bungkam saja tanpa menjawab, jelas hatinya juga merasa tidak enak.

"Sekarang apakah kau masih ingin melihat kungfuku?"

Tanya Siau-hong. J "Tadi kan sudah kulihat,"

Jawab Han-bwe.

"Itu kan baru kungfu menahan pukul, sekarang apakah kau ingin melihat kungfuku memukul orang?"

Tanya Siau-hong.

Jelas inilah tantangan!

Dia tidak pernah menantang cara demikian terhadap siapa pun, meski sikapnya sangat dingin dan tenang, tapi ketenangan yang melampaui batas tentu juga akan meledak menjadi kemurkaan.

Wajah Han-bwe juga dingin, di bawah cahaya api kelihatan pucat, sampai bibirnya juga putih.

Maklumlah, selama ini tidak pernah ada orang berani menantangnya secara langsung begini padanya.

Dia tidak gentar terhadap pemuda ini, selamanya dia tidak pernah jeri terhadap siapa pun.

Akan tetapi dalam sekejap ini, tiba-tiba ia merasakan semacam ketegangan yang belum pernah dirasakannya, ketegangan yang membuatnya seakan-akan berhenti bernapas.

Sebab biasanya dia selalu berdiri di atas angin, dia sudah terbiasa menggunakan nama dan kedudukan sendiri untuk menindas dan memerintah orang lain, tapi sekarang untuk pertama kalinya dirasakannya daya tekan orang lain terhadapnya.

Malahan tekanan Liok Siau-hong semakin kuat katanya.

"Bagaimana, kau ingin lihat tidak?"

Belum lagi Han-bwe bicara, Koh-tiok telah mendahului menjawab.

"Dia tidak ingin melihat?"

Dan Koh-siong lantas menyambung.

"Satu-satunya barang yang ingin dilihatnya adalah Losat-pay, aku pun sama."

Dia menggeser ke depan Siau-hong dan membiarkan Koh-tiok menarik pergi Han-bwe, lalu dia berucap pula perlahan.

"Maka kuharap janganlah kau bikin kecewa kami."

Dia tidak membalik tubuh, tetap berdiri menghadapi Liok Siau-hong, cuma menyurut mundur selangkah demi selangkah, mendadak lengan jubahnya mengebas terus melayang ke belakang, dalam sekejap saja ia lantas menghilang.

Siau-hong tidak bergerak, juga tidak merintangi orang, sampai lama sekali barulah ia menghela napas.

Tiba-tiba ia merasakan dirinya sudah terlalu lama mengalah kepada ketiga orang itu, sekarang sudah waktunya menyuruh mereka mengalah juga.

Untuk pertama kalinya dia bergerak, meski tidak menyerang, tapi sudah memperoleh kemenangan.

Namun ia pun tahu, ketiga kakek itu takkan mundur terlalu jauh, bilamana mereka mendesak maju lagi entah bagaimana akibatnya?

Untuk ini dia tak mau memikirkannya.

Api belum lagi padam, tidak boleh dia berdiri dan menonton melulu, meski masih banyak persoalan yang harus dipikirnya, juga harus ditunda dahulu, sekarang dia harus berusaha memadamkan api.

Segera ia menyingsing lengan baju dan ikut menerjang ke tengah api, dari tangan orang lain direbutnya seember air, dia melompat ke dinding rumah sebelah, air terus disiramkan pada api yang berkobar itu.

Dengan sendirinya gerak-geriknya jauh lebih cepat dan tangkas daripada orang lain, tenaga seorang sama dengan tenaga sepuluh orang, namun di sebelahnya masih ada lagi seorang yang gerak-geriknya juga tidak kurang cepatnya daripada dia.

bahkan terlebih giat daripadanya satu kali, orang itu melompat ke dinding yang sudah terjilat api dan hampir saja terjerumus ke dalam lautan api.

Dengan mencairnya salju dan air yang disiramkan, ditambah lagi gotong royong para penolong, dengan cepat menjalarnya api dapat dicegah, dan tidak lama kemudian api pun dapat dipadamkan.

Siau-hong merasa lega, ia mengusap keringatnya dengan lengan baju, hati terasa enak, sudah lama ia tak pernah mengalami perasaan demikian.

Di sampingnya ada seorang sedang mengaso dengan napas terengah, ucapnya dengan tertawa.

"Seluruhnya kau siram 73 ember air, aku cuma 65 ember, engkau delapan ember lebih banyak."

Baca Juga: Pendekar Pemanah Rajawali 20

Baca Juga: Peristiwa Burung Kenari 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert