Eps 2 Kekaisaran Rajawali Emas - Khu Lung
Baca online Kekaisaran Rajawali Emas - Khu Lung
Cersil Kekaisaran Rajawali Emas - Khu Lung.
"Mungkin ia memang seorang penipu berwajah cantik, tapi ia jujur kepadaku."
"Mungkin karena ia tahu bahwa cara terbaik untuk menipu orang sepertimu adalah dengan menceritakan hal yang sebenarnya."
"Mungkin."
"Tujuannya adalah membawamu ke sini. Sekarang kau ada di sini, tujuannya telah tercapai."
Hua Man Lou tersenyum.
"Kau tampaknya berusaha membuatku marah."
"Kau tidak marah?"
Sambil tersenyum Hua man Lou menjawab.
"Mengapa aku harus marah? Mereka datang dan membawaku ke mari dengan kereta mereka, memperlakukanku sebagai tamu terhormat. Cuaca di sini juga bagus dan di halaman bunga-bunga sedang mekar. Di samping itu sekarang kau ada di sini, bahkan jika aku benar-benar terperdaya olehnya, tak ada yang perlu aku keluhkan."
Lu Xiao Feng tak tahan untuk tidak tertawa.
"Tampaknya mustahil bisa membuatmu marah."
Hua Man Lou tiba-tiba bertanya.
"Kau benar-benar ingin mengajak XiMen Chui Xue?"
"Mmhmm."
"Bisakah kau membujuknya untuk ikut campur dalam urusan orang lain?"
Dengan senyum getir di wajahnya, Lu Xiao Feng menjawab.
"Aku tahu bahwa di dunia ini tampaknya tidak ada yang bisa menggerakkan dia, tapi aku tetap harus berusaha."
"Lalu apa?"
"Aku belum berfikir sejauh itu, sekarang aku hanya berfikir bagaimana caranya keluar dan melihat-lihat."
"Melihat-lihat apa?"
Lu Xiao Feng tertawa.
"Mungkin aku ingin melihat ShangGuan Fei Yan."
Hua Man Lou masih tersenyum, tapi ada sedikit kecemasan di senyumannya ketika ia menjawab.
"Kau tidak akan menemukannya!"
"Oh?"
"Aku tidak pernah mendengar suaranya lagi sejak aku tiba di sini, tampaknya ia telah meninggalkan tempat ini."
Lu Xiao Feng menatapnya, perasaan khawatir tiba-tiba muncul di wajahnya. Tapi Hua Man Lou tertawa lagi.
"Tampaknya ia seorang gadis yang tak bisa diam atau beristirahat, selalu sibuk melakukan sesuatu."
Lu Xiao Feng tiba-tiba tertawa juga.
"Sebenarnya, bukankah semua perempuan seperti itu?" ______________________________ Kamar itu sekarang sudah agak gelap. Hua Man Lou duduk di sana sendirian, tampak bahagia dan damai seperti biasanya. Ia selalu bahagia dan puas, karena di mana pun ia berada, ia selalu merasakan rasa senang dan cinta yang tidak dirasakan orang lain. Sekarang ia sedang menikmati matahari terbenam musim semi yang indah. Tiba-tiba ia mendengar suara ketukan pintu. Baru saja ia mendengar suara ketukan itu, orangnya telah masuk. Sebenarnya PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu. Kekaisaran Rajawali Emas, ada 2 orang, DuGu Fang dan Xiao QiuYu. Tapi hanya terdengar suara langkah kaki satu orang saja, suara langkah kaki DuGu Fang lebih ringan dan lebih susah didengar daripada angin musim semi yang halus. Hua Man Lou tersenyum.
"Silakan duduk, ada lebih dari 2 kursi kosong di sini."
Ia tidak bertanya siapa mereka, juga kenapa mereka datang.
Tidak perduli siapa yang masuk ke kamarnya, ia akan selalu sehangat dan seramah ini, selalu memberikan semua yang ia miliki untuk dinikmati orang lain.
Wajah DuGu Fang menjadi gelap ketika ia menjawab dengan dingin.
"Bagaimana kau tahu kami berjumlah 2 orang? Apakah kau benar-benar buta?"
Ia selalu menganggap tak seorang pun mampu mendengar langkah kakinya, ia selalu yakin pada ilmu meringankan tubuhnya.
Itulah sebabnya ia sekarang merasa tidak senang.
Tapi Hua Man Lou masih tetap bahagia dan damai.
Ia tersenyum dan menjawab.
"Kadang-kadang aku sendiri juga bingung apakah aku benar-benar buta. Aku selalu berpikiran bahwa hanya orang-orang yang memiliki mata tapi menolak untuk melihat itulah yang benar-benar buta."
Xiao QiuYu tersenyum.
"Kau lupa satu satu jenis orang lagi yang juga buta."
"Jenis yang mana?"
"Orang mati!"
Hua Man Lou tersenyum.
"Bagaimana kau tahu orang mati itu buta? Mungkin orang mati melihat banyak kejadian seperti kita juga. Kita belum ada yang pernah mati, bagaimana kita bisa tahu apa yang diketahui atau dilihat oleh orang mati?"
Dengan dingin DuGu Fang menjawab.
"Mungkin kau akan segera tahu!"
Dengan santai Xiao QiuYu menambahkan.
"Kami benar-benar tidak kenal kau, dan kami juga tidak punya dendam terhadapmu, tapi kami tetap akan membunuhmu!"
Bukan hanya Hua Man Lou tidak terkejut, tampaknya sedikit pun ia tidak kelihatan gusar. Ia masih tersenyum.
"Sebenarnya aku telah menunggu kalian berdua!"
DuGu Fang bertanya.
"Kau tahu bahwa kami akan datang untuk membunuhmu?"
"Lu Xiao Feng tidak bodoh, tapi ia telah banyak menyakiti hati orang lain tanpa ia sadari. Ini karena bila ia bicara, ia kadang-kadang seperti sebuah meriam!"
DuGu Fang mendengus. Hua Man Lou menambahkan.
"Tak seorang pun suka bila dikatakan bahwa ia tidak sebanding dengan orang lain yang buta. Terutama bagi 2 jagoan seperti kalian, hal itu benar-benar tak bisa ditolerir. Maka tentu saja kalian akan mendatangi si orang buta untuk membunuhnya."
Ekspresinya masih tetap damai dan ia meneruskan.
"Para pendekar dan orang-orang dunia persilatan memang paling tak tahan pada hal ini!"
DuGu Fang menukas.
"Bagaimana denganmu?"
"Aku bukan seorang pendekar, aku hanya orang buta."
Walaupun DuGu Fang masih mendengus, ekspresi heran telah muncul di wajahnya. Bagaimana orang buta ini bisa tahu begitu banyak? Xiao QiuYu memotong.
"Kau tahu kami akan datang, dan kau tetap menunggu di sini?"
"Ke mana lagi orang buta bisa lari?"
DuGu Fang tiba-tiba berteriak.
"Ke neraka!"
Ketika ia berteriak, ia telah membuat gerakan.
Sebuah tombak bermata satu melesat ke tenggorokan Hua Man Lou seperti seekor ular berbisa, sementara pedang Penghancur Usus telah ditusukkan juga.
Gerakannya lambat, begitu lambatnya sehingga tidak menimbulkan angin atau suara.
Orang buta jelas tak bisa melihat pedang, ia hanya bisa mendengar suara yang diciptakan oleh pedang.
Tapi gerakan ini tidak menimbulkan suara sedikit pun, maka gerakan ini benar-PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu.
Kekaisaran Rajawali Emas, benar merupakan sebuah gerakan yang dapat menghancurkan usus orang buta.
Apalagi ada tombak bermata satu di depan pedang.
Jika tombak itu meleset, pedangnya tentu berhasil menusuk.
Tapi perhitungan Xiao QiuYu sama sekali salah.
Selain mendengar, orang buta ini tampaknya punya indera lain yang luar biasa dan misterius.
Ia tampaknya telah mengetahui, entah bagaimana caranya, bahwa bahaya sebenarnya bukan berasal dari tombak itu, tapi dari pedang.
Tapi ia tak bisa melihat atau mendengar pedang itu.
Sebelum pedang itu tiba, ia tiba-tiba berjumpalitan.
Ketika tombak itu meleset dari pundaknya, tangannya telah menyentuh pedang tersebut.
"Tak! Tak!"
Pedang berusia seratus tahun itu tiba-tiba patah menjadi 3 bagian.
Perut musuh belum hancur, tapi pedang itu sudah.
Bagian yang terpanjang masih berada di tangan Hua Man Lou.
Ia menyentilkan tangannya dan rumbai-rumbai di tombak itu pun saling melibat dengan potongan pedang.
DuGu Fang tercengang.
Bahkan di bawah sinar matahari terbenam, wajah Xiao QiuYu masih tampak pucat seperti mayat.
Sambil tersenyum Hua Man Lou berkata.
"Aku sebenarnya tidak ingin mengganggu Tuan Xiao QiuYu, tapi gerakan Tuan Xiao QiuYu itu benar-benar kejam terhadap seorang laki-laki buta. Aku hanya berharap bahwa sesudah Tuan Xiao QiuYu mendapatkan pengganti untuk pedang ini, ia mau menyediakan ruang di hatinya untuk dirinya sendiri sehingga paling tidak ia punya kesempatan untuk hidup." ______________________________ Kebun itu tadinya benar-benar penuh dengan bunga, tapi sekarang banyak yang telah dipetik. Baru sekarang Lu Xiao Feng bisa membayangkan dari mana asal semua bunga yang dibawa oleh Puteri DanFeng. Saat inilah ia melihat gadis kecil itu lagi. ShangGuan Xue-Er sedang berdiri di tengah semak-semak bunga, di bawah cahaya matahari terbenam. Sinar suram matahari terbenam menyinari rambutnya yang lembut dan halus. Ia tampak begitu polos dan jujur, seolah-olah ia tidak pernah mengucapkan separuh perkataan dusta sekalipun. Lu Xiao Feng tersenyum, ia tak tahan untuk tidak berjalan menghampiri dan berkata.
"Hai, kakak sepupu. Apa kabarmu?"
"Tidak baik."
"Kenapa tidak?"
"Karena aku punya kekhawatiran, banyak kekhawatiran."
Lu Xiao Feng tiba-tiba melihat adanya perasaan cemas yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata di matanya yang bening dan berkilauan, senyumannya yang manis pun tampak sedikit dipaksakan.
Ia pun bertanya.
"Kekhawatiran macam apa?"
Ia menjawab.
"Aku mengkhawatirkan kakakku."
"Kakakmu? ShangGuan Fei Yan?"
ShangGuan Xue-Er mengangguk. Lu Xiao Feng bertanya.
"Kenapa kau mencemaskan dia?"
"Ia tiba-tiba menghilang!"
"Kapan ia menghilang?"
"Hari tibanya Hua Man lou, yang juga merupakan hari keberangkatan kami mencarimu."
Lu Xiao Feng memandangnya.
"Jika kau begitu mencemaskan dia, mengapa kau tidak mencarinya?"
"Karena ia mengatakan bahwa ia akan tinggal di sini dan menunggu kami pulang."
"Kau percaya semua yang ia katakan?"
PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu. Kekaisaran Rajawali Emas.
"Tentu saja!"
Lu Xiao Feng tak tahan untuk tidak tertawa kecil.
"Jika ia tidak pergi, bagaimana ia tiba-tiba bisa menghilang?"
"Aku pun tak bisa membayangkannya, itulah sebabnya aku mencari-cari dia."
"Di kebun bunga ini?"
"Mmhmm."
"Mungkinkah ia bersembunyi di kebun, sembunyi selama berhari-hari?"
"Aku bukan mencari dia, aku mencari mayatnya."
Lu Xiao Feng mengerutkan keningnya.
"Mayatnya?"
"Kurasa dia telah dibunuh dan dikubur di sini, di kebun ini."
"Ini adalah rumah kalian sendiri, bagaimana mungkin ada orang yang ingin membunuhnya?"
"Walaupun ini rumah kami, tapi ada orang lain di sini."
"Orang lain?"
"Seperti sahabatmu Hua Man Lou contohnya."
"Kau kira Hua Man Lou mau membunuh?"
"Kenapa tidak? Semua orang bisa bisa jadi tersangka, bahkan kaisar tua itu juga!"
"Kaisar tua jadi tersangka juga? Kenapa?"
"Itulah sebabnya aku mencarinya, karena aku tidak tahu!"
Lu Xiao Feng menarik nafas pendek.
"Kau terlalu banyak khawatir, seorang gadis berusia 12 tahun seharusnya tidak banyak khawatir."
ShangGuan Xue-Er menatapnya, memandangnya lama sebelum akhirnya bertanya dengan lambat.
"Siapa bilang aku baru 12 tahun?"
"Kakak sepupumu."
"Kau percaya apa yang ia katakan tapi tidak percaya pada ucapanku?" ______________________________ Hua Man Lou bertanya.
"Tidak pergi mencarinya?"
Lu Xiao Feng menjawab.
"Adiknya saja tidak dapat menemukannya, harapan apa yang aku miliki?"
Wajah Hua Man Lou yang damai memperlihatkan sedikit perasaan cemas lagi.
Jelas ia memiliki perasaan yang tidak biasa terhadap gadis yang tiba-tiba menghilang ini, ia tidak bisa menyembunyikan hal itu walau ia berusaha.
Bila perasaan ini memasuki hati seorang manusia, ia seperti sebutir intan di tengah gundukan pasir, setiap orang bisa melihatnya dalam sekali pandang.
Tentu saja Lu Xiao Feng melihatnya juga, maka ia segera bertanya.
"Kau sudah bertemu adiknya?"
Hua Man Lou menjawab.
"Belum."
Lu Xiao Feng menarik nafas.
"Tampaknya nasibmu tidak begitu buruk, paling tidak masih lebih baik dariku."
"Adiknya seorang bajingan cilik?"
Lu Xiao Feng tersenyum jengkel.
"Bukan hanya bajingan kecil, dia itu setan kecil! Bukan hanya ia bisa menipu orang mati menjadi hidup lagi bila ia berdusta, dia juga linglung."
"Anak kecil juga bisa linglung?"
"Penyakit linglungnya malah lebih parah dari nenek-nenek. Ia mengira kakaknya telah dibunuh, ia mencurigaimu atau Kaisar Rajawali Emas sebagai pembunuhnya."
Ia ingin membuat Hua Man Lou sedikit bahagia, maka ia pun tertawa. Tapi Hua Man Lou sedikit pun tidak tampak senang. Maka Lu Xiao Feng menambahkan.
"Bukankah penyakit linglungnya itu lucu?"
"Sama sekali tidak."
"ShangGuan Fei Yan juga seorang gadis muda, yang bisa ia lakukan hanyalah sedikit berdusta. Coba temukan seorang remaja berusia 18 atau 19 tahun yang tidak pernah berdusta. Mengapa ada orang yang ingin membunuhnya?"
Hua Man Lou terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab.
"Sekarang aku hanya mengharapkan satu hal."
PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu. Kekaisaran Rajawali Emas.
"Mengharapkan apa?"
Hua Man Lou tersenyum dan menjawab.
"Aku hanya berharap mereka tidak menyediakan arak palsu malam ini."
Lu Xiao Feng tidak bertanya apa-apa lagi tentang hal ini, karena Hua Man Lou biasanya tidak begitu perduli dengan arak.
Lu Xiao Feng memandangnya, tiba-tiba ia merasa senyuman Hua Man Lou sedikit misterius.
Semua orang, tak perduli siapa, akan menjadi sedikit aneh dan misterius pada saat seperti ini.
Lu Xiao Feng berkedip-kedip beberapa kali dan membuat suaranya semisterius mungkin.
"Aku juga mengharapkan sesuatu."
"Apa itu?"
"Aku hanya berharap daging yang mereka sediakan untuk kita malam ini bukan daging manusia, dan arak yang mereka berikan tidak berisi obat bius!"
Bab 4.
Perasaan Yang Palsu Saat itu sedang pesta.
Pesta diadakan di ruangan tempat mereka bertemu dengan Kaisar Rajawali Emas.
Arak dan makanan tersedia dalam jumlah besar.
Araknya adalah arak asli, yaitu arak Ukiran Tua yang enak.
Lu Xiao Feng menghabiskan arak di cangkirnya dalam satu tegukan.
"Arak ini enak,"
Tiba-tiba ia menarik nafas.
"Tapi dibandingkan dengan Arak Persia yang tadi? Sedikitpun tak bisa mendekati!"
Kaisar Rajawali Emas tertawa.
"Arak ini dikumpulkan dari tetesan embun bunga-bunga tertentu. Minuman seperti ini tampaknya agak sia-sia ya?"
"Ia bukannya minum,"
Hua Man Lou berkomentar sambil tersenyum.
"Ia hanya menuangnya ke perutnya. Ia bahkan tidak merasakan araknya, memberinya arak seperti ini sebenarnya merupakan hal yang mubazir."
Kaisar Rajawali Emas tertawa lagi.
"Tampaknya kau benar-benar tahu semua hal yang harus diketahui tentang dia."
Bukan hanya sang kaisar kelihatan lebih bahagia malam itu, ia pun telah bertukar pakaian dan mengenakan jubah sutera yang bersulamkan seekor naga emas.
Ia seperti seorang raja yang hendak mengirim seorang jenderalnya yang akan melakukan tugas besar dan menjamunya dengan pesta.
Puteri DanFeng juga tampak gemilang dan cantik.
Ia sendiri yang mengisi cangkir kosong di hadapan Lu Xiao Feng.
"Kami merasa hanya minuman seperti ini yang memberikan semangat gagah berani,"
Ia berkata.
"Tidak ada gadis yang menyukai laki-laki yang minum arak seperti sedang minum racun."
Wajah Kaisar Rajawali Emas menjadi kaku.
"Jadi menurutmu gadis-gadis suka laki-laki pemabuk?"
Mata Puteri DanFeng berkedip-kedip.
"Tentu saja ada sedikit nilai buruk untuk minuman."
"Hanya sedikit?"
Kaisar Rajawali Emas bertanya.
"Seperti orang yang minum terlalu banyak,"
Puteri DanFeng menjawab.
"Lalu ia semakin tua, kakinya mengalami masalah, dan ia tak bisa minum lagi. Maka bila melihat orang lain minum ia pun akan marah. Sering marah-marah bukanlah hal yang baik."
Kaisar Rajawali Emas berusaha tetap membuat kaku wajahnya sampai akhirnya ia menyerah.
"Sebenarnya waktu muda aku juga minum seperti cuma menuangkannya saja ke dalam perutku. Dan kujamin itu tidak lebih lambat sedikitpun dibandingkan dengan caramu minum."
Tuan rumah yang cerdik tahu bahwa cara terbaik memperlakukan tamu bukanlah dengan menyediakan makanan atau arak yang enak, tapi dengan gelak tawa.
Maka semua tamu seharusnya tahu persis bagaimana membuat tuan rumah merasa bahwa gelak tawa mereka memang mampu menghibur tamunya.
Lu Xiao Feng ‘menuangkan satu cangkir arak lagi ke dalam perutnya’.
"Aku akan mencari XiMen Chui Xue besok pagi,"
Tiba-tiba ia berkata. PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu. Kekaisaran Rajawali Emas.
"Bagus!"
Kaisar Rajawali Emas menjawab.
"Orang ini aneh,"
Lu Xiao Feng melanjutkan.
"Aku harus pergi sendiri untuk membujuknya agar ikut terlibat. Zhu Ting adalah persoalan lain."
Ia merogoh ke dalam bajunya dan mengeluarkan secarik kertas yang kusut dan kotor. Ia meletakkannya di atas meja dan, dengan bantuan sumpit dan saus, melukis seekor burung phoenix yang sedang terbang.
"Kirim orang ke tempatnya dengan membawa kertas ini,"
Ia berkata sambil menyerahkan kertas itu pada Puteri DanFeng.
"Ia akan ikut dengan orang itu."
"Kudengar kalian berdua sudah lama tidak saling bicara."
Puteri DanFeng tampak tidak yakin.
"Aku tidak bicara dengan dia,"
Lu Xiao Feng menjawab.
"Aku hanya menyuruhnya datang ke sini. Itu dua hal yang benar-benar berbeda."
"Jadi dia tidak mau bicara denganmu,"
Puteri DanFeng memandangnya dengan tatapan tidak percaya.
"Tapi, melihat ‘tanda tanganmu’, ia pasti mau ikut dengan seorang asing ke sebuah tempat yang benar-benar tak dikenalnya?"
"Tanpa ragu sedikit pun."
"Kurasa kau bisa menganggap Tuan Zhu ini sebagai orang aneh."
Puteri DanFeng akhirnya menyerah.
"Ia bukan hanya orang aneh, ia adalah seorang bajingan!"
Puteri DanFeng melicinkan kertas yang kusut itu. Baru kemudian ia menyadari bahwa kertas yang kusam dan kotor itu adalah selembar cek senilai 5000 tael.
"Apakah cek ini sah?"
Ia tak tahan untuk tidak bertanya.
"Kau kira aku mencurinya?"
Puteri DanFeng menjadi merah wajahnya.
"Aku hanya khawatir karena kalau kalian berdua bersahabat baik maka cara mengundang dia seperti ini akan membuatnya marah."
"Tidak, tak akan!"
Lu Xiao Feng menjawab sebelum tertawa kecil.
"Satu-satunya hal yang baik tentang dirinya adalah tak perduli berapa banyak uang yang engkau berikan padanya, ia tak akan marah padamu."
"Itu karena dia bukan orang yang munafik,"
Puteri DanFeng menjawab sambil tersenyum.
"dan begitu juga kau."
Jika kau tahu bahwa seorang sahabatmu sedang kelaparan karena ia miskin tapi masih memujinya karena berkemauan kuat dan angkuh serta lebih suka mati daripada memohon pertolongan.
Jika kau tahu bahwa seorang sahabatmu membutuhkan sedikit uang darimu tapi malah mengiriminya surat yang menyatakan betapa hebatnya ia karena mampu berjuang melalui itu semua.
Jika kau benar-benar orang seperti ini, maka kujamin bahwa satu-satunya sahabatmu hanyalah dirimu sendiri.
ShangGuan DanFeng bukan orang seperti itu, maka ia pun faham maksud Lu Xiao Feng.
Selain wajah yang cantik, ia pun memiliki hati yang penuh pengertian dan simpatik.
Benar-benar jarang menemukan seorang gadis yang memiliki sifat seperti ini.
Hanya gadis-gadis tercerdas yang tahu bahwa pengertian dan simpati akan lebih menarik daripada wajah tercantik sekalipun.
Lu Xiao Feng tiba-tiba menyadari bahwa ia tampaknya semakin dan semakin menyukai gadis ini.
Begitu sukanya, sehingga, sekarang pun ia sedang memikirkan si dia.
Waktu sudah hampir tengah malam dan tak ada lampu yang menyala di kamar itu.
Angin musim semi bertiup halus melalui jendela, membawa dan mengisi ruangan itu dengan keharuman bunga-bunga di luar.
Lu Xiao Feng berbaring di ranjang itu sendirian, tapi matanya masih terbuka lebar.
Apa yang ia lakukan begitu larut malam?
Apakah ia sedang menunggu seseorang?
Ia jelas bukan sedang menunggu Hua Man Lou, karena mereka berdua baru saja PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu.
Kekaisaran Rajawali Emas, berpisah.
Malam itu sunyi.
Begitu sunyinya sehingga engkau hampir bisa mendengar suara tetesan embun yang jatuh di kelopak bunga.
Begitu sunyinya sehingga ia bisa mendengar suara langkah kaki di lorong.
Suara langkah kaki itu sangat ringan, dan sangat lamban.
Tapi jantungnya tiba-tiba mulai berdebar seperti gila.
Sekarang langkah kaki itu berhenti di luar pintu kamarnya.
Pintu kamar itu tidak terkunci dan seseorang mendorongnya terbuka dengan perlahan dan menutupnya kembali.
Kamar itu gelap, begitu gelapnya sehingga tak mungkin melihat seperti apa orang itu.
Tapi Lu Xiao Feng tidak bertanya siapa orang itu.
Seolah-olah ia sudah tahu siapa dia.
Kali ini, langkah kaki itu bahkan lebih ringan dan lamban daripada sebelumnya; perlahan-lahan mendekati ranjangnya, perlahan-lahan mengelus wajahnya dengan lembut.
Tangan itu dingin tapi lembut, dan membawa keharuman bunga-bunga yang baru dipetik.
Dia meraba-raba kumis Lu Xiao Feng dan memastikan pada dirinya sendiri bahwa orang yang berbaring di ranjang itu memang Lu Xiao Feng.
Lu Xiao Feng baru saja mendengar suara pakaian jatuh ke lantai ketika ia merasakan sesosok tubuh telanjang merayap ke dalam selimutnya.
Tubuh itu dingin dan lembut, tapi tiba-tiba berubah menjadi panas membara.
Dan tubuh itu tiba-tiba bergetar, seperti nyala api yang berkerlap-kerlip, membangkitkan gairah Lu Xiao Feng hingga ia menelan ludah.
Setelah beberapa lama baru ia akhirnya menarik nafas.
"Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya,"
Ia bergumam.
"Aku tak tahan godaan. Mengapa kau masih datang?"
Si dia tidak menjawab.
Tubuhnya malah semakin bergetar.
Lu Xiao Feng tak tahan lagi.
Ia berguling dan mendekap si dia dalam pelukannya.
Kulitnya yang seperti sutera segera merinding, seperti pusaran-pusaran kecil di air ketika angin musim semi menghembusnya.
Dadanya tertekan ke dada Lu Xiao Feng.
Dadanya seperti seekor merpati, lembut dan hangat.
Lu Xiao Feng tiba-tiba mendorongnya menjauh.
"Kau bukan… siapa kau?"
Ia berkata dengan heran. Si dia masih tak mau bicara, tapi tubuhnya mengkerut. Lu Xiao Feng mengulurkan tangannya lagi. Ketika ia menyentuh dada si dia, ia tersentak lagi seperti terkena arus listrik.
"Kau si kakak sepupu kecil!"
"Dan aku tahu kalau kau adalah adik sepupu kecilku."
Si dia akhirnya menyerah dan mengakui sambil tertawa kecil. Lu Xiao Feng tiba-tiba melesat bangkit seperti sebatang anak panah.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Ia bertanya.
"Mengapa aku tak boleh datang ke sini?"
ShangGuan Xue-Er menjawab.
"Kau kira siapa aku tadi?"
Dari suaranya, ia seperti marah.
Mungkin tidak ada yang membuat seorang gadis lebih marah daripada dianggap sebagai orang lain saat mendekati seorang pria.
Lu Xiao Feng biasanya bisa mengatasi situasi seperti ini dengan mudah.
Tapi sekarang ia benar-benar tak tahu apa yang harus dikatakan.
"Jadi dia boleh datang,"
ShangGuan Xue-Er meneruskan sambil mendengus.
"Mengapa aku tidak boleh? Katakan padaku!"
"Karena,"
Lu Xiao Feng akhirnya menjawab sambil menarik nafas pertanda pasrah.
"dibandingkan denganmu, aku seperti orang tua."
"Aku datang ke sini semata-mata karena aku ingin membuktikan padamu bahwa aku bukan anak kecil lagi sehingga kau mau percaya dan tidak menganggapku PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu. Kekaisaran Rajawali Emas, sebagai pembohong lagi! Kau benar-benar mengira aku menyukaimu? Jangan menyanjung dirimu sendiri!"
Suaranya perlahan-lahan semakin kuat dan ia semakin marah, seakan-akan ia hendak menangis.
Lu Xiao Feng mengulurkan tangan dan membelai rambut gadis itu dengan lembut, sambil berusaha memikirkan sesuatu yang bisa menghiburnya….
Tiba-tiba pintu dibuka orang dan kamar yang gelap itu pun menjadi terang.
Seseorang berdiri di ambang pintu dengan sebuah lentera di tangannya, mengenakan sebuah jubah yang berwarna seputih salju, tapi wajahnya masih lebih pucat daripada jubahnya.
ShangGuan DanFeng.
Lu Xiao Feng ingin merangkak ke bawah tempat tidur dan diam di sana.
Ia tak berani membalas tatapan gadis itu saat memandangnya.
ShangGuan Xue-Er pun seperti anak kecil yang tertangkap basah saat mencuri kue.
Tapi ia segera mengangkat dadanya tinggi-tinggi, berdiri telanjang bulat, memandang Lu Xiao Feng dengan bibir dimajukan, dan tersenyum.
"Mengapa tidak kau beritahukan sebelumnya bahwa dia akan datang?"
Ia berkata.
"Aku kan bisa pergi lebih cepat."
ShangGuan DanFeng menatapnya, begitu marahnya sehingga bibirnya mulai bergetar.
Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa.
Xue-Er telah mengenakan jubahnya.
Dengan kepala terangkat tinggi-tinggi, ia berjalan di hadapan sang puteri.
Tiba-tiba ia menjebikan bibirnya dan tersenyum lagi.
"Kau sebenarnya tidak perlu marah."
Ia berkata.
"Semua laki-laki memang seperti ini."
ShangGuan DanFeng tidak bergerak, juga tidak menjawab.
Seolah-olah seluruh tubuhnya telah menjadi batu.
Dengan lambat dan perlahan-lahan, langkah kaki Xue-Er pun menghilang di kejauhan.
ShangGuan DanFeng still stood there, motionless, starring at Lu XiaoFeng.
Her beautiful eyes seemed to contain a slight hint of tears.
ShangGuan DanFeng masih berdiri di sana, tanpa bergerak, menatap Lu Xiao Feng.
Matanya yang indah tampak mulai digenangi air mata.
"Bagus,"
Ia bergumam.
"Akhirnya aku melihat orang macam apa engkau sebenarnya."
Ia menghentakkan kakinya ke lantai, dan memutar tubuhnya. Tapi Lu Xiao Feng telah tiba di sisinya dan menariknya.
"Apa… apa lagi yang akan kau katakan untuk membela diri?"
Ia menggigit bibirnya dan mendesak.
"Aku sebenarnya tidak perlu mengatakan apa-apa,"
Lu Xiao Feng menarik nafas.
"Karena kau tentu tahu bahwa aku sedang menunggumu."
ShangGuan DanFeng menatap lantai. Sesudah beberapa lama, akhirnya ia menarik nafas.
"Aku datang ke sini untukmu."
"Dan sekarang?"
"Dan sekarang… sekarang aku hendak pergi."
Ia tiba-tiba menengadah dan menatap Lu Xiao Feng. Matanya penuh dengan perasaan yang rumit dan bertentangan, antara mencela dan simpati.
"Apakah kau benar-benar percaya bahwa aku akan…."
Lu Xiao Feng berkata sebelum si dia memotongnya dengan mengulurkan jarinya ke bibirnya.
"Aku tahu kau tak akan,"
Ia berkata.
"Tapi malam ini… aku tak bisa tinggal di sini malam ini."
Tak seorang pun akan tertarik melakukan hal-hal lain sesudah menyaksikan pemandangan seperti tadi.
Lu Xiao Feng mengerti, maka ia melonggarkan pegangannya dan membiarkan gadis itu pergi.
ShangGuan DanFeng memandangnya.
Tiba-tiba ia berjingkat dan mencium pipi Lu Xiao Feng.
PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu.
Kekaisaran Rajawali Emas.
"Dan kau tentu tahu bahwa sebenarnya aku tidak ingin pergi."
"Tapi sekarang kau sebaiknya pergi secepat mungkin,"
Lu Xiao Feng tiba-tiba tersenyum.
"Kalau tidak aku akan…."
Gadis itu tidak menunggu ucapannya selesai dan segera memberontak lepas dari dekapannya. Tapi ia masih berpaling.
"Kuperingatkan kamu,"
Ia berkata sambil tertawa.
"Gadis kecil itu seperti setan. Bila kau bertemu dengannya lain kali, sebaiknya kau cepat-cepat menjauh. Aku bisa menggigit bila aku cemburu."
Malam semakin sunyi dan sepi.
Dunia tampaknya benar-benar tenang dan damai.
Tapi bagaimana dengan hati manusia?
______________________________ Pagi tiba.
Jalan batu itu baru mulai dipanasi oleh sinar matahari, beberapa toko kecil di pinggir jalan bahkan belum buka.
Selalu ada orang yang tidak biasa bekerja pada pagi hari begini di kota.
Puteri DanFeng baru berpaling setelah ia mengantarkan mereka sampai di tempat itu dengan kereta kudanya yang penuh dengan bunga.
"Setelah kami mendapat berita, kami akan memberitahumu."
"Aku tahu, aku akan menunggumu."
"Aku akan menunggumu,"
Dengan seorang gadis seperti ini menunggumu, apa lagi yang diinginkan seorang pria dalam hidupnya? "Kau tahu, kurasa tak lama lagi ia akhirnya akan menggigitmu paling sedikit satu kali."
Hua Man Lou berkomentar. Lu Xiao Feng meliriknya sebelum akhirnya tertawa.
"Telingamu tentu jauh lebih peka daripada telinga kelinci, lain kali aku harus ingat-ingat itu."
Hua Man Lou balas tersenyum.
"Setan kecil yang ia bicarakan itu, apakah dia adik ShangGuan Fei Yan?"
"Kutantang engkau untuk menemukan satu setan kecil lagi seperti dia di dunia ini,"
Lu Xiao Feng menjawab sambil tersenyum paksa. Hua Man Lou tetap diam.
"Apakah ia sudah menemukan kakaknya? Ia akhirnya bertanya.
"Tampaknya belum, mungkin seharusnya aku tadi menanyakan hal itu pada ShangGuan DanFeng. Mungkin ia tahu ke mana burung waletmu itu terbang." {FeiYan berarti walet terbang dalam bahasa China.} Hua Man Lou tertawa sedikit mendengar ucapannya itu sebelum menjawab.
"Kurasa lebih baik kau tidak bertanya, kalau tidak ia akan menggigitmu karena bertanya."
"Walaupun aku tidak menanyakan hal itu padanya, Xue-Er tentu telah bertanya."
"Tampaknya ia tidak ada sangkut-pautnya dengan hal itu."
Hua Man Lou menduga-duga. Walaupun ia masih tersenyum, wajahnya tidak bisa menutupi kenyataan bahwa ia sedang cemas. Lu Xiao Feng berfikir sebentar sebelum tiba-tiba bertanya.
"Apakah kau tahu berapa umur ShangGuan Fei Yan?"
"Katanya ia lahir pada Tahun Kambing, jadi umurnya 18 tahun."
Lu Xiao Feng mengelus-elus kumisnya dan bergumam pada dirinya sendiri.
"Mungkinkah seorang gadis berusia 18 tahun mempunyai kakak berumur 12 tahun?"
"Tergantung situasinya,"
Hua Man Lou menjawab sambil tersenyum. Lu Xiao Feng tercengang mendengar ucapan itu.
"Situasi yang bagaimana?"
Ia bertanya.
"Jika orang cerdas sepertimu mulai bertanya-tanya tentang hal bodoh seperti itu, lalu kenapa tidak mungkin seorang gadis berusia 18 tahun mempunyai adik berumur 20 tahun? Adiknya yang berumur 20 tahun itu pun mungkin saja punya putera berumur 80 tahun."
Lu Xiao Feng tertawa, lalu tiba-tiba ia menepuk pundak Hua Man Lou dan berkata.
"Tak mungkin seorang kakak berumur 18 tahun mempunyai adik berumur 20 tahun dan tak mungkin ShangGuan Fei Yan berada dalam bahaya."
"Oh?"
"Ada kemungkinan Xue-Er tahu pasti di mana kakaknya berada dan mengatakan PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu. Kekaisaran Rajawali Emas, semua ini hanya untuk mengacaukanku. Tapi sekarang aku tahu bahwa kau tidak percaya sepatah kata pun ucapannya."
Hua Man Lou tertawa kecil juga dan kemudian, seakan-akan ia tak ingin membicarakan masalah ini lagi, tiba-tiba ia mengubah pokok pembicaraan.
"Kau bilang kau datang ke sini untuk mencari seseorang?"
Lu Xiao Feng mengangguk.
"Tapi XiMen Chui Xue tampaknya tidak berada di sini."
"Ia tidak di sini, aku mencari orang lain."
"Siapa?"
"Kamu tidak sering mengembara di dunia luar, maka kamu mungkin tidak kenal 2 laki-laki tua yang benar-benar aneh ini. Salah seorang dari mereka kebetulan tahu sedikit tentang segala sesuatu yang pernah terjadi. Orang yang satunya sedikit lebih hebat, tak perduli betapa sukarnya masalah yang engkau hadapi, ia bisa membantu menyelesaikannya."
"Kau sedang membicarakan si Tahu Segalanya dan si Cerdik?"
"Oh, kau tahu tentang mereka?"
"Aku mungkin buta, tapi aku tidak tuli."
Lu Xiao Feng tersenyum masam sedikit dan berkomentar.
"Kadang-kadang aku berharap kau sedikit tuli." ______________________________ Sekarang mereka sedang berjalan di bawah atap gantung sebuah bangunan. Seorang hwesio berwajah alim dengan kepala tertunduk dan mata menatap terus ke bawah sedang berjalan ke arah mereka. Wajah hwesio ini agak persegi dan telinganya besar, pertanda seorang yang memiliki peruntungan yang bagus. Tapi pakaiannya kotor dan compang-camping, dan sepasang sepatu jerami di kakinya pun sudah usang. Lu Xiao Feng segera berlari menghampiri hwesio itu. Sambil tersenyum ia berkata.
"Hai, Hwesio Jujur!"
Hwesio Jujur mengangkat kepalanya dan tersenyum waktu ia melihat Lu Xiao Feng.
"Apakah akhir-akhir ini kau sudah sedikit lebih jujur?"
"Bila kau berhenti jadi orang jujur, pada hari itu juga aku akan mulai jujur."
Tampaknya bila mereka bertemu Hwesio Jujur hanya bisa memaksakan sebuah senyuman di wajahnya.
"Kau tampak sangat senang hari ini, apakah kau punya kabar bahagia?"
Lu Xiao Feng meneruskan.
"Bagaimana mungkin Hwesio Jujur punya kabar bahagia? Hanya orang-orang tidak jujur seperti kalian yang punya."
Hwesio Jujur menjawab sambil tersenyum dipaksa.
"Tapi hari ini tampaknya merupakan pengecualian."
Hwesio Jujur mengerutkan keningnya sebelum akhirnya menarik nafas.
"Hari ini memang pengecualian."
Dari raut wajahnya orang bisa tahu bahwa ia tidak ingin Lu Xiao Feng bertanya-tanya lagi.
"Kenapa?"
Sayangnya Lu Xiao Feng seperti tidak memperhatikan.
"Karena… karena aku baru saja melakukan sesuatu yang sangat tidak jujur dan baik,"
Hwesio Jujur bergumam dengan raut wajah menyesal.
Ia tidak ingin mengatakannya, tapi ia terpaksa mengatakannya, karena ia adalah seorang hwesio yang jujur.
Itulah sebabnya Lu Xiao Feng semakin ingin tahu dan bertanya lagi.
"Kau bisa melakukan sesuatu yang tidak jujur dan baik?"
"Ini pertama kalinya dalam hidupku,"
Hwesio Jujur menjawab. Lu Xiao Feng semakin ingin tahu dan ia merendahkan suaranya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku baru saja pergi menemui OuYang."
Wajah Hwesio Jujur tampak sedikit merah ketika ia menggumamkan jawaban ini.
"Siapa OuYang?"
Hwesio Jujur menatapnya, raut wajahnya tiba-tiba menjadi sangat aneh, seolah-PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu.
Kekaisaran Rajawali Emas, olah ia agak bangga karena tahu sesuatu dan sekaligus menyesalkan kenaifan Lu Xiao Feng.
Ia menggelengkan kepalanya dan bertanya.
"Bagaimana mungkin kau tidak tahu siapa OuYang?"
"Kenapa aku harus tahu?"
"Karena OuYang adalah OuYang Qing,"
Hwesio Jujur berbisik.
"Dan siapakah OuYang Qing ini?"
Wajah Hwesio Jujur jadi semakin merah dan ia tergagap-gagap.
"Ia seorang… seorang… pelacur yang sangat terkenal."
Tampaknya ia telah mengerahkan seluruh kekuatan terakhirnya untuk mengucapkan kalimat terakhir itu.
Lu Xiao Feng hampir tersandung dan jatuh karena kagetnya.
Dalam mimpinya pun ia tak bisa membayangkan Hwesio Jujur benar-benar menemui seorang pelacur.
Tapi walaupun ia terkejut dan tertawa dalam hatinya, wajahnya tetap tenang.
Ia benar-benar dapat berkomentar dengan santai.
"Sebenarnya itu bukan persoalan besar, hal seperti ini bisa terjadi kapan saja."
Kali ini giliran Hwesio Jujur yang kaget.
"Hal seperti ini terjadi kapan saja?"
Dengan wajah kaku Lu Xiao Feng menjawab.
"Hwesio tidak punya isteri, apalagi selir, padahal mereka kuat dan sehat, apa yang bisa mereka lakukan selain pergi ke pelacur? Masa pergi ke nikouw (biksuni)?"
Hwesio Jujur terdiam.
"Di samping itu, ‘Hwesio Agung’ dan ‘Pelacur Termasyur’ mempunyai hubungan yang sangat erat,"
Lu Xiao Feng meneruskan.
"Bagaimana mungkin?"
Hwesio Jujur bertanya.
"Hwesio Agung menghabiskan waktu satu hari penuh dengan memukul lonceng, Pelacur Termasyur menghabiskan waktu sepemukulan lonceng untuk ‘memukul roboh’ seorang hwesio. Begitu erat kan hubungannya?"
Lu Xiao Feng bahkan sudah terbungkuk-bungkuk sambil tertawa sebelum ia menyelesaikan leluconnya.
Tapi Hwesio Jujur begitu marahnya sehingga ia tak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Ia hanya bisa memandang Lu Xiao Feng dengan tatapan kosong.
Sesudah beberapa lama, akhirnya ia menarik nafas dan bergumam.
"Buddha yang maha pengampun, mengapa kau buat aku bertemu si Untung Besar Sun tadi malam dan Lu Xiao Feng hari ini?"
Lu Xiao Feng tiba-tiba berhenti tertawa.
"Kau lihat si Untung Besar Sun? Di mana dia? Aku sedang mencarinya."
Tapi Hwesio Jujur tampaknya tidak mendengar. Ia tetap membaca doa.
"Amida Buddha, aku tak akan pernah berbuat jahat lagi. Aku pantas mati untuk dosa-dosaku, Bodhisattva tentu menghukumku merangkak pulang ke kuil."
Ia terus berdoa dan tiba-tiba ia berjongkok dan benar-benar mulai merangkak.
Lu Xiao Feng hanya melihatnya pergi secara merangkak dengan senyuman yang beku di wajahnya.
Hua Man Lou tak tahan untuk tidak berjalan menghampiri dan bertanya.
"Apakah ia benar-benar merangkak pulang?"
Lu Xiao Feng menarik nafas.
"Jika ia bilang ia akan merangkak 10 mil, tentu ia tidak akan merangkak hanya 9,5 mil, karena ia seorang hwesio yang jujur."
"Tampaknya dia bukan hanya jujur, dia juga gila."
Hua Man Lou berkata sambil tertawa.
"Tapi ia hanya pura-pura gila, karena ia lebih tahu daripada orang lain apa yang sedang terjadi."
"Jadi siapakah si Untung Besar Sun itu?"
Setelah pokok pembicaraan mengenai si Untung Besar Sun muncul, semangat Lu Xiao Feng bangkit kembali.
"Sebenarnya, julukan asli si Untung Besar Sun adalah ‘Tuan Untung Besar Cucu Kura-kura’." {Sun adalah bagian dari Sun-Zi, yang berarti cucu.} Hua Man Lou tertawa lagi dan bertanya.
"Bagaimana ia mendapatkan julukannya itu?"
"Karena ia selalu berkata bahwa bila ia sedang tak punya uang maka ia adalah PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu. Kekaisaran Rajawali Emas, cucu kura-kura dan bila ia sedang kaya maka ia adalah si Untung Besar. Kebetulan nama keluarganya Sun, maka orang-orang pun memanggilnya si Untung Besar Sun."
"Tampaknya kau tahu banyak tentang orang-orang aneh ini,"
Hua Man Lou bercanda.
"Si Tahu Segalanya dan si Cerdik adalah 2 orang aneh juga, tak ada yang pernah melihat mereka, juga tak ada yang tahu di mana mereka berada. Selain si Untung Besar Sun, tak ada orang lain yang bisa menemukan mereka. Siapa yang tahu kalau si Untung Besar Sun ini bisa berguna juga? Ia sudah minum dan berjudi sejak ia masih kecil. Menghabiskan hidupnya dengan berkeliaran dan bermain-main, ia tak pernah melakukan satu pun hal serius dalam hidupnya dan juga tak bisa melakukan hal yang berguna. Tapi karena ia bisa melakukan satu hal ini, ia bisa menghabiskan separuh hidupnya hanya dengan bermain dan bebas dari perasaan khawatir."
"Bagaimana bisa?"
"Karena jika orang ingin bertemu si Tahu Segalanya dan si Cerdik, maka orang harus mencarinya dan membeli dia."
"Membeli dia? Mengapa harus melakukan itu?"
"Orang ini lebih pintar menghabiskan uang daripada orang lain di dunia ini. Karena itu ia tidak pernah menjadi Tuan Untung Besar selama lebih dari 3 hari sebelum menjadi Cucu Kura-kura lagi. Bila ia tak bisa berhutang lagi, ia terpaksa tinggal di tempat itu dan menunggu seseorang datang dan membayarkan hutang-hutangnya. Ia sudah 10 tahun hidup seperti itu! Kekaguman bukanlah kata yang cukup kuat untuk menggambarkan perasaanku tentang dia."
"Tampaknya bukan saja orang ini bisa berbuat sesuatu, ia pun sangat beruntung."
"Tepat. Seorang yang tidak mujur akan segera jadi gila bila hidup seperti dia."
"Jadi kau akan mencari dan membelinya sekarang?"
"Tentu saja aku harus bertemu OuYang dulu."
"OuYang?"
Sambil tersenyum Lu Xiao Feng menjawab dengan santai.
"Bagaimana mungkin kau tidak tahu tentang OuYang? OuYang adalah…." ______________________________ OuYang Qing. Nama pertama yang terdaftar di buku tamu Paviliun Cinta. Menurut kabar, hal terbaik mengenai dirinya adalah tak perduli engkau siapa, hwesio atau orang cacat, ia akan memperlakukanmu seakan-akan engkau adalah laki-laki paling tampan di dunia, selama engkau punya uang. Dengan profesinya, memang hanya itu yang dibutuhkan. Di samping itu ia pun tidak jelek, berwajah putih dan bersih, rambut hitam legam, dan bila ia tersenyum maka lesung pipi muncul di kedua pipinya. Dan sepasang mata yang menatapmu itu akan membuatmu rela menghabiskan seluruh uangmu untuk dia. Pada saat itu ia sedang menatap Lu Xiao Feng, memandang kumisnya, seakan-akan ia tak pernah melihat laki-laki setampan itu, dan kumis sebagus itu. Lu Xiao Feng merasa sedikit pusing karena tatapan itu dan uang di sakunya pun seperti ingin melompat keluar. Senyuman OuYang Qing semakin manis.
"Tuan pernah ke sini sebelumnya kan?"
"Belum pernah,"
Lu Xiao Feng menjawab.
"Dan Tuan minta bertemu denganku segera setibanya di sini?"
"Yang pertama aku tanyakan adalah kamu!"
OuYang menunduk dan berkata dengan lembut.
"Jika demikian, berarti ini sudah takdir."
"Tentu saja!"
Mata OuYang Qing berkilauan.
"Tapi bagaimana kau tahu bahwa aku sedang berada di sini?"
"Seorang dewa memberitahuku dalam mimpi tadi pagi bahwa kita ditakdirkan untuk berkumpul lagi seperti 800 tahun yang lalu."
PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu. Kekaisaran Rajawali Emas, OuYang Qing tertawa kecil mendengarnya.
"Benarkah?"
"Tentu saja benar! Dewa itu berwujud seorang hwesio, tampak jujur dan alim, dan berkata bahwa ia sendiri sudah bertemu denganmu."
Ekspresi wajah OuYang Qing tetap tidak berubah dan ia menjawab dengan tersipu-sipu.
"Memang ada seorang hwesio datang ke sini tadi malam. Dia hanya duduk di sana dan memandangku sepanjang malam sesudah aku naik ke tempat tidur. Aku tidak tahu kalau dia dewa dan kukira ada sesuatu yang salah padanya."
Tiba-tiba ia berjalan menghampiri dan duduk di pangkuan Lu Xiao Feng. Sambil mengelus-elus kumis Lu Xiao Feng, ia menggigit bibir dan tersenyum.
"Tapi kau sebaiknya tidak menirunya seperti itu."
"Aku bukan dewa."
OuYang Qing meletakkan kepalanya di pundak Lu Xiao Feng dan menggigit telinganya dengan lembut. Sambil tertawa kecil ia menyahut.
"Sebenarnya menjadi seorang dewa juga tidak terlalu enak. Suruh saja temanmu pergi dan aku bisa membuatmu merasa lebih nikmat daripada menjadi dewa."
Hua Man Lou tersenyum saja selama itu, duduk diam-diam di sudut jauh ruangan itu. Tampaknya ia merasa dagelan itu sudah cukup sampai di situ dan tiba-tiba memotong.
"Kami ke sini mencari si Untung Besar Sun, kau tahu di mana dia berada?"
"Si Untung Besar Sun? Kudengar dia ada di Paviliun Xiao Xiang di sebelah, menunggu seseorang membeli dia. Paviliun itu tepat berada di depanmu bila kau keluar,"
OuYang Qing menjawab. Tampaknya ia berharap Hua Man Lou mau pergi secepat mungkin. Tapi yang pertama berdiri malah Lu Xiao Feng.
"Kau juga pergi?"
OuYang Qing mengerutkan keningnya.
"Sebenarnya aku tidak ingin pergi,"
Lu Xiao Feng menarik nafas.
"tapi aku harus."
"Mau membeli dia?"
"Tidak, menunggu seseorang membeli kami juga."
Ia menepuk-nepuk sakunya dan berkata dengan senyum terpaksa di wajahnya.
"Sebenarnya, uang yang kami punya bahkan tidak cukup untuk membeli sepotong kue."
Walaupun OuYang Qing masih tersenyum, tapi senyumannya sekarang berbeda, kau pasti ingin pergi secepat mungkin bila engkau melihatnya. Tapi Lu Xiao Feng seperti tidak melihat, tiba-tiba ia tersenyum.
"Tapi karena kita telah ditakdirkan bertemu, bagaimana mungkin aku pergi? Kurasa sebaiknya jika kita…."
OuYang Qing segera memotong.
"Karena kita ditakdirkan untuk bertemu, maka kita tentu akan bertemu lagi. Kupikir sebaiknya kau pergi dan mencari dia sekarang. Aku… aku tiba-tiba merasa kurang enak badan, perutku sakit."
Lu Xiao Feng berjalan keluar, menghirup dalam-dalam udara musim semi yang datang dari arah Timur, dan tersenyum.
"Jika kau ingin menyingkirkan seorang gadis, cara terbaik adalah dengan membuat perutnya sakit. Laki-laki yang sering keluar rumah harus tahu paling sedikit 3 cara untuk membuat perut seorang gadis menjadi sakit."
"Aku tahu kau cerdik,"
Hua Man Lou menjawab.
"tapi baru hari ini aku menyadari kau sama sekali bukan orang baik-baik."
"Kenapa?"
"Kau tahu perempuan seperti apa dia, kenapa kau masih menelanjangi sifatnya seperti tadi?"
"Karena aku tidak suka orang yang memalsukan perasaannya."
"Tapi ia tidak memalsukan perasaannya, ia hanya bertahan hidup. Bagaimana mungkin ia terus hidup di tempat seperti ini jika ia memperlihatkan perasaaannya yang sebenarnya pada setiap orang?"
Dengan senyuman di wajahnya, Hua Man Lou meneruskan.
"Kau seorang sahabat yang baik, sangat setia, mungkin cukup baik untuk disebut seorang ksatria, tapi kau punya cacat yang sangat besar."
PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu. Kekaisaran Rajawali Emas, Lu Xiao Feng hanya mendengarkan. Hua Man Lou meneruskan.
"Di dunia ini, ada banyak orang yang sangat jahat dan keji. Tapi terkadang mereka tidak sengaja melakukannya, terkadang mereka terpaksa melakukannya. Cacatmu yang terbesar adalah engkau tak pernah memikirkan itu dari sudut pandang mereka."
Lu Xiao Feng memandangnya. Memandangnya dalam waktu yang lama. Baru kemudian ia menarik nafas perlahan dan berkata.
"Terkadang aku benar-benar tidak ingin berada di dekatmu."
"Oh?"
"Karena aku selalu membayangkan bahwa aku bukanlah orang sejahat itu, tapi bila dibandingkan denganmu aku jadi seperti seorang bajingan."
Hua Man Lou tersenyum.
"Selama seseorang tahu kalau dia seorang bajingan, maka masih ada harapan untuknya."
"Aku seorang bajingan! Seorang bajingan ‘kelas satu’! Kau tak akan menemukan seorang bajingan lagi sepertiku dari sejuta orang!"
Ketika mereka berjalan memasuki Paviliun Xiao Xiang, mereka bisa mendengar seseorang berteriak-teriak seperti itu di lantai atas.
"Si Untung Besar Sun?"
Hua Man Lou bertanya. Lu Xiao Feng tertawa.
"Benar! Tidak banyak orang yang tahu betapa bajingannya diri mereka."
"Itulah sebabnya masih ada harapan darinya,"
Hua Man Lou juga tertawa.
Untunglah, walaupun ia tak bisa berdiri, si Untung Besar Sun masih bisa duduk.
Jadi demikianlah, sambil duduk di dalam kereta kuda yang baru saja disewa Lu Xiao Feng, ia menatap Lu Xiao Feng.
"Aku tahu kau tentu ingin segera bertemu 2 orang aneh itu, tapi kau masih mau minum beberapa cangkir bersamaku."
Lu Xiao Feng menarik nafas dan menjawab.
"Aku masih tidak faham. Orang-orang itu tahu pasti bahwa kau tidak punya uang sama sekali, tapi mereka masih memberimu minum."
Sebuah senyuman licik muncul di wajah si Untung Besar Sun.
"Karena mereka tahu bahwa cepat atau lambat seorang kepala besar dengan banyak masalah sepertimu tentu akan datang dan membeliku."
Sebenarnya kepalanya tidak lebih kecil daripada kepala orang lain.
Jika kau tidak melihatnya, tak mungkin kau bisa membayangkan ada orang dengan tubuh yang kecil dan lemah seperti itu bisa memiliki kepala yang demikian besar.
"Bisakah kau menemukan mereka segera dalam kondisi seperti ini?"
Lu Xiao Feng bertanya.
"Tentu saja!"
Si Untung Besar Sun berkata dengan angkuh.
"Tak perduli betapa anehnya 2 orang itu, mereka tidak bisa berbuat apa-apa terhadapku. Tapi kita perlu menetapkan beberapa persyaratan dulu, 3 syarat tepatnya."
"Baiklah."
"50 tael perak untuk setiap pertanyaan, dan yang kubicarakan adalah 100% perak murni, tanpa campuran, yaitu perak lantakan. Saat aku masuk, kalian berdua tinggal di luar. Dan bila waktunya tiba untuk bertanya, kalian harus bertanya dari luar."
"Aku tidak faham,"
Lu Xiao Feng berkata sambil tersenyum masam.
"Kenapa mereka tidak ingin bertemu orang lain?"
Si Untung Besar Sun tersenyum.
"Karena mereka merasa bahwa, selain dari diriku, semua orang di dunia ini adalah bajingan. Ironisnya, aku adalah bajingan terbesar di dunia!" ______________________________ Gua itu gelap dan lembab. Jalan masuknya pun sangat kecil, satu-satunya cara untuk masuk adalah dengan merangkak. Dan itulah yang tadi dilakukan si Untung Besar Sun. Lu Xiao Feng dan Hua Man Lou sudah lama menunggu di luar, Lu Xiao Feng menjadi sangat tidak sabar. Tapi Hua Man Lou tersenyum dan berkomentar.
"Aku tahu kau sudah tidak sabar, tapi mengapa kau tidak melihat-lihat sekelilingmu dulu. Di sini begitu indah, PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu. Kekaisaran Rajawali Emas, bahkan angin yang bertiup pun membuatmu merasa nyaman. Bisa berhenti di sini benar-benar sangat beruntung."
"Dan bagaimana kau tahu di sini indah?"
Lu Xiao Feng ingin tahu.
"Walaupun aku tak bisa melihat, aku masih bisa merasakan dan memahaminya. Itulah sebabnya aku selalu merasa bahwa orang-orang yang memiliki mata tapi menolak untuk melihat itulah yang sebenarnya buta."
Lu Xiao Feng tak bisa menjawab. Saat itulah suara si Untung Besar Sun terdengar dari dalam gua.
"Baiklah, kalian boleh mulai bertanya."
Perak lantakan pertama senilai 50 tael dilemparkan ke dalam dan pertanyaan pertama adalah.
"Apakah benar ada Dinasti Rajawali Emas 50 tahun yang lalu?"
Setelah diam beberapa lama, sebuah suara tua dan parau terdengar menjawab dari dalam gua.
"Dinasti Rajawali Emas aslinya merupakan sebuah negeri yang sangat kecil dan jauh di Selatan. Adat-istiadat mereka sangat berbeda, pernikahan berlangsung antara orang-orang bermarga sama. Maka sebagian besar penghuni Istana Kekaisaran memiliki marga ShangGuan. Walaupun dinasti itu tua dan kaya, tapi negeri tersebut hancur 50 tahun yang lalu. Kabarnya keturunannya telah mengembara sampai ke Daerah Tengah sini."
Lu Xiao Feng menghembuskan nafas, tampaknya ia puas dengan jawaban itu. Maka ia melemparkan sebuah lantakan perak lagi dan mengajukan pertanyaan kedua.
"Selain dari keturunan keluarga kerajaan, apakah masih ada yang hidup dari Istana Kekaisaran?"
"Menurut kabar ada 4 orang yang diperintahkan untuk melindungi harta mereka dalam perjalanan menuju ke sini. Salah seorang dari mereka adalah anggota keluarga kerajaan sendiri, namanya ShangGuan Jin. Yang 3 orang lagi adalah Jenderal Ping DuHe, Komandan ShangGuan Mu, dan Bendaraha Kerajaan Yan LiBen."
Masih ada sedikit tambahan pada jawaban ini.
"Jabatan-jabatan di negeri itu sangat mirip dengan di negeri kita."
Pertanyaan ketiga adalah.
"Lalu apa yang terjadi pada mereka?"
"Mereka barangkali telah mengganti nama mereka dan bersembunyi setelah tiba di sini. Waktu dinasti baru didirikan, tentu pembunuh-pembunuh gelap telah dikirim untuk membunuh semua keturunan dinasti terakhir. Tapi mereka tak dapat menemukan seorang pun. Jika pewaris tahta masih hidup, ia mungkin sudah tua sekarang."
Sesudah berfikir beberapa lama, akhirnya Lu Xiao Feng mengajukan pertanyaan keempat.
"Jika ada sebuah persoalan sulit yang membutuhkan bantuan XiMen Chui Xue, apakah ada cara membujuknya agar mau membantu?"
Pertanyaan itu diikuti oleh kesunyian yang lebih lama. Akhirnya, jawabannya yang terdiri dari 4 kata muncul.
"Sejauh ini tidak ada." ______________________________ "Hutan Musim Semi"
Di kota itu terkenal ke seluruh dunia karena arak Bambu Hijau-nya yang sangat enak, Sapi Bawang, hidangan Burung Dara, dan Kambing Masak Ikan.
Itulah sebabnya mereka sekarang berada di Hutan Musim Semi.
Lu Xiao Feng adalah orang yang sangat pilih-pilih soal makanan.
"’Sejauh ini tidak ada’! Jawaban macam apa itu?"
Lu Xiao Feng berkata dengan senyum dipaksa dan menghabiskan secangkir arak Bambu Hijau.
"Seluruh hidangan di meja ini paling-paling bernilai 5 tael, dan jawaban anak setan itu bernilai 50 tael untuk setiap pertanyaan!"
"Apakah itu berarti benar-benar tidak ada cara?"
Hua Man Lou bertanya dengan senyuman santai di wajahnya.
"XiMen Chui Xue punya uang, punya kemasyuran, dan suka menyendiri. ia tak pernah ikut campur urusan orang lain."
Lu Xiao Feng menjawab.
"Ia pun memperlakukan sanak saudaranya seperti ia memperlakukan orang asing dan ia juga angkuh, bisakah engkau memikirkan cara untuk membujuk orang ini?"
"Tapi kadang-kadang ia mau pergi sejauh 3000 km untuk membalaskan dendam seseorang yang tak pernah ia temui sebelumnya."
PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu. Kekaisaran Rajawali Emas.
"Itu karena ia ingin. Jika ia tidak ingin, bahkan Kaisar Pualam pun tidak akan mampu membuatnya bergerak." {Kaisar Pualam adalah dewa utama dalam mitologi tradisional China, karakter yang mirip dengan Zeus dalam mitologi Yunani.} Hua Man Lou tersenyum.
"Tak perduli apa, paling tidak perjalanan ini tidak sepenuhnya sia-sia. Kita berhasil mengetahui bahwa apa yang diceritakan Kaisar Rajawali Emas pada kita bukanlah dusta."
"Karena yang ia katakan itu bukan dusta, maka kita mau terlibat dalam masalah ini. Dan karena kita telah terlibat, kita pun membutuhkan XiMen Chui Xue."
"Apakah ilmu pedangnya benar-benar menakutkan seperti yang diberitakan orang?"
"Mungkin lebih dari itu. Sejak ia bertarung pertama kalinya pada usia 15 tahun sampai sekarang, tidak ada yang berhasil selamat dari pertarungan dengannya."
"Mengapa kita membutuhkan dia?"
"Karena kekuatan kita jauh di bawah musuh, dan jumlah mereka pun banyak."
Lu Xiao Feng meneguk habis secangkir arak lagi dan meneruskan.
"Jika DuGu YiHe benar-benar ketua Paviliun Baju Hijau, maka paling tidak ada 5 atau 6 orang yang sangat menyulitkan di bawah pimpinannya. Di samping itu, Sekte E’Mei pun penuh dengan jago-jago kungfu yang hebat."
"Aku juga telah mendengar bahwa 7 Pedang dari E’Mei, 3 Pahlawan dan 4 Cantik, termasuk yang terbaik dalam generasi jago-jago pedang muda." {7 Pedang dari E’Mei dikenal sebagai "3 Ying 4 Xiu" } "Kepala Paviliun Mutiara dan Intan milik Yan TieShan, yaitu Huo TianQing, bahkan lebih menyulitkan dibandingkan mereka bertujuh. Ia belum tua, tapi dianggap sebagai generasi yang dituakan. Menurut kabar angin, bahkan pendekar besar Shan XiYan harus memanggilnya ‘Paman Guru’!"
"Mengapa ia mau bekerja untuk Yan LiBen?"
"Karena beberapa tahun yang lalu ia dijebak musuh dan hampir terbunuh oleh seseorang di puncak Gunung QiLian dan Yan LiBen menyelamatkan nyawanya."
"Dan Huo Xiu sering menghilang dalam waktu yang lama, seluruh hartanya tentu telah dititipkan pada beberapa orang yang sangat handal. Jelas mereka juga bukan lawan yang ringan."
Hua Man Lou berfikir.
"Benar sekali."
"Itulah sebabnya kita harus mendapatkan XiMen Chui Xue."
"Benar lagi."
"Tidak bisakah kita mencoba memanas-manasinya? Misalkan dengan mengatakan. mari kita cari tahu siapa yang terbaik di antara jago-jago kungfu itu?"
"Tidak mungkin!"
"Kenapa tidak?"
"Karena bukan saja engkau tidak bisa membujuk dia dengan cara seperti itu, ia juga cerdik sekali, seperti aku."
Lu Xiao Feng tertawa kecil dan meneruskan.
"Jika seseorang ingin memanas-manasiku untuk melakukan sesuatu, bisa kukatakan sekarang bahwa ia akan gagal."
Hua Man Lou duduk terdiam selama beberapa saat sebelum berkata dengan lambat.
"Kurasa aku punya ide, mungkin kita bisa mencobanya."
"Ide seperti apa?"
Hua Man Lou tidak sempat memberitahukan idenya karena ada gangguan dan serentetan suara jeritan terdengar dari arah pintu depan.
Seseorang berjalan masuk dengan terhuyung-huyung, seseorang yang bersimbah darah.
Matahari bulan April mulai condong ke Barat karena saat itu sudah lewat tengah hari.
Sinar matahari dari luar menyinari orang ini, pada tubuhnya yang berlumuran darah, membuatnya bercahaya merah, begitu merahnya sehingga membuat orang jadi bergidik.
Darah keluar dari 17 atau 18 titik yang berbeda; dahinya, hidungnya, telinganya, PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu.
Kekaisaran Rajawali Emas, matanya, mulutnya, tenggorokannya, dadanya, pergelangan tangan, lututnya, kedua pundak, semuanya bersimbah darah.
Bahkan Lu Xiao Feng belum pernah melihat orang dengan luka yang begitu banyak, ini adalah sesuatu yang tidak berani dipikirkan orang.
Orang itu pun telah melihat Lu Xiao Feng, tiba-tiba ia bergegas ke hadapannya, dan mencengkeram pundaknya dengan kedua tangannya yang penuh darah.
"Ge… ge…."
Tampaknya ia berusaha mengatakan sesuatu.
Tapi ia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun, karena tenggorokannya telah terbelah dua.
Tapi ia masih hidup.
Apakah ini sebuah keajaiban?
Atau karena ia ingin mengatakan sebuah kalimat pada Lu Xiao Feng sebelum ia mati?
Lu Xiao Feng menatap wajah yang tak berbentuk itu dan tiba-tiba berteriak.
"Xiao QiuYu!"
"Ge… ge…."
Tenggorokan Xiao QiuYu masih mengeluarkan suara. Matanya yang berlumuran darah tampak penuh dengan rasa takut, murka, dan benci.
"Kau ingin memberitahu sesuatu?"
Lu Xiao Feng bertanya.
Xiao QiuYu mengangguk.
Lalu tiba-tiba ia mengeluarkan suara lolongan yang keras, lolongan putus asa; lolongan dari seekor serigala yang dulu angkuh, kesepian dan terluka, sebelum ia menyerah dan roboh ke atas tanah yang ditutupi salju.
Tiba-tiba seluruh tubuhnya tersentak, seakan-akan seseorang telah mencambuknya dengan sebuah cambuk yang tak kelihatan.
Apa yang ingin ia beritahukan pada Lu Xiao Feng tentu sebuah rahasia yang mengerikan, tapi ia tak akan bisa mengucapkan sepatah kata pun lagi.
Saat tubuhnya menyentuh lantai, tangan dan kakinya melingkar ke tubuhnya karena kesakitan.
Darahnya yang merah telah berubah menjadi ungu.
Lu Xiao Feng menghentakkan kakinya dan melompat.
Tubuhnya yang besar, seperti seekor rajawali raksasa, melompati 4 atau 5 meja dan kepala-kepala orang, dan keluar dari pintu depan.
Di jalanan batu itu memang ada jejak-jejak darah yang berawal dari tengah jalan ke pintu.
"Tadi ada sebuah kereta lewat di jalan ini, orang itu jatuh dari kereta tersebut."
"Kereta macam apa?"
"Hitam, dan orang-orang yang mengendarainya berbaju hijau."
"Mereka pergi ke arah mana?"
"Barat."
Lu Xiao Feng tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi dan mulai berlari ke arah matahari.
Sesudah melewati sebuah jalan besar lagi, ia mendengar suara yang sangat gaduh dan jeritan-jeritan dari persimpangan di sebelah kirinya.
Sebuah kereta hitam baru saja menabrak sebuah toko obat, merobohkan beberapa orang dan beberapa buah meja.
Sekarang kudanya telah roboh ke tanah, busa putih pun keluar dari mulutnya.
Orang yang mengemudikan kereta juga telah roboh, di sudut mulutnya muncul darah.
Darah berwarna ungu gelap yang jatuh setetes demi setetes ke bajunya.
Bajunya berwarna hijau.
Wajahnya yang kuning tiba-tiba menjadi hitam.
Lu Xiao Feng membuka pintu kereta.
Di atas jok di dalam kereta itu ada sepasang kaitan perak.
Pada kaitan perak itu terikat sehelai kain kuning, seperti kain yang biasa digunakan oleh pendeta Tao untuk memanggil arwah.
Pada kain itu tertulis dengan darah segar.
"Sebuah mata untuk sebuah mata!"
"Ini untuk orang-orang yang ikut campur dengan urusan orang lain!" ______________________________ Kaitan perak itu berkilauan terkena sinar matahari. Hua Man Lou meraba ujung kaitan.
"Kau bilang ini kaitannya si Pengait Jiwa?"
Ia bertanya dengan suara yang rendah dan lembut. Lu Xiao Feng mengangguk.
"Dan si Pengait Jiwa mati di tangan Xiao QiuYu?"
PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu. Kekaisaran Rajawali Emas.
"Sebuah mata untuk sebuah mata!"
Lu Xiao Feng menarik nafas.
"Tapi kalimat lainnya jelas memperingatkan kita untuk tidak ikut campur dalam masalah ini."
"Kecerdasan orang-orang Paviliun Baju Hijau benar-benar mengagumkan, tapi sayangnya mereka tak bisa menilai orang,"
Lu Xiao Feng berkata sambil tertawa pahit dan dingin.
"Mereka benar-benar salah menilaimu,"
Hua Man Lou juga menarik nafas.
"Paviliun Baju Hijau seharusnya tidak begitu bodoh dan melakukan hal seperti ini, apakah mereka yakin bahwa mereka bisa menakut-nakutimu?"
"Ini hanya bagus untuk satu orang."
"Siapa?"
"Kaisar Rajawali Emas!"
Ada orang-orang di dunia ini yang terlahir dengan kepingan aneh dan tak bisa dibengkokkan seperti ini di bahunya; semakin engkau berusaha menakut-nakuti dia dan mencegahnya melakukan sesuatu, maka semangkit bersemangat ia melakukannya.
Lu Xiao Feng termasuk orang seperti ini.
Maka, bila sekarang pun engkau menodongkan 180 batang golok ke tenggorokannya, engkau tak bisa mencegahnya ikut campur dalam urusan ini.
Ia mencengkeram kaitan perak itu erat-erat dan tiba-tiba bangkit.
"Ayo! Mari kita temui XiMen Chui Xue sekarang. Aku baru saja mendapatkan cara untuk memaksanya."
"Bagaimana?"
"Jika ia tidak mau membantu, maka aku akan membakar habis Gedung Seribu Plum miliknya!"
Bab 5.
Suara Nyanyian Dari Kejauhan Tidak ada pohon plum di sekitar Gedung Seribu Plum.
Saat itu bulan April, bunga persik dan burung kukuk memenuhi lereng gunung.
Menghadapi dunia yang penuh dengan bunga-bunga, sepertinya Hua Man Lou ingin tetap berada di situ selamanya.
Sebuah ekspresi yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata muncul di wajahnya yang tenang dan damai, ekspresi yang biasanya muncul di wajah seorang gadis yang melihat kekasih cinta pertamanya berjalan menghampirinya.
Tapi Lu Xiao Feng tidak bisa menunggu lagi.
"Aku tidak ingin merusak suasana, tapi bila hari telah gelap maka XiMen Chui Xue tidak akan mau menerima tamu."
"Tidak juga kau?"
"Bahkan Raja Dewa juga tidak."
"Bagaimana jika dia tidak ada di sini?"
"Ia tentu berada di sini. Dalam setahun, paling banyak ia pergi keluar 4 kali, dan itu pun bila ia ingin membunuh seseorang."
"Jadi, paling banyak ia membunuh 4 orang dalam setahun?"
"Dan mereka semua memang patut dibunuh."
"Siapa yang patut dibunuh? Siapa yang memutuskan mereka pantas dibunuh?"
Hua Man Lou tiba-tiba menarik nafas sebelum melanjutkan.
"Kau pergilah, kurasa sebaiknya aku menunggumu saja di sini."
Lu Xiao Feng tidak berkata apa-apa lagi, karena ia sangat memahami sahabatnya ini.
Tidak ada orang yang pernah melihat Hua Man Lou marah atau murka, tapi sekali ia memutuskan sesuatu, tak ada yang bisa membujuknya lagi.
Hua Man Lou berpaling ke arah lereng gunung yang dipenuhi bunga dan berkata.
"Bila kau bertemu dengannya, coba caraku dulu, baru caramu." ______________________________ Tidak ada bunga di ruangan itu, tapi terasa keharuman bunga; samar-samar dan sederhana, seperti XiMen Chui Xue. Lu Xiao Feng duduk di pinggir di atas sebuah kursi lembut yang terbuat dari kayu pohon pinus, dan memandang sang tuan rumah. Cangkir XiMen Chui Xue penuh PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu. Kekaisaran Rajawali Emas, dengan arak hijau terang. Baju putih yang ia kenakan pun berwarna terang dan lembut. Samar-samar, gelombang demi gelombang, terdengar suara sebuah seruling, yang sepertinya dekat tapi jauh, suaranya lebih lembut dari suara angin musim semi yang terhalus sekali pun; tapi pemain serulingnya tidak kelihatan. Lu Xiao Feng menarik nafas.
"Dalam hidupmu, pernahkah kau mengalami kesulitan?"
"Tidak,"
XiMen Chui Xue menjawab.
"Adakah sesuatu di dunia ini yang tak bisa kau miliki?"
"Tidak ada lagi."
"Apakah engkau benar-benar puas?"
"Karena aku benar-benar tidak berharap sebanyak itu,"
XiMen Chui Xue menjawab dengan santai.
"Dan itulah sebabnya kau tidak pernah minta pertolongan pada orang lain?"
"Ya."
"Dan itulah sebabnya bila orang lain datang kepadamu, kau tidak pernah mau menolong mereka."
"Ya."
"Tak perduli siapa, tak perduli masalahnya apa, kau tidak akan mau membantu?"
"Apa yang ingin aku lakukan bukan berdasarkan apa yang orang lain minta padaku, ini kan hal biasa."
"Bagaimana jika seseorang membakar habis rumahmu?"
"Siapa yang akan membakar rumahku?"
"Aku."
XiMen Chui Xue tertawa. Ia jarang tertawa, maka bila tertawa wajahnya selalu memperlihatkan senyum mengejek.
"Aku datang ke sini untuk memintamu membantuku melakukan sesuatu. Aku berjanji pada seseorang bahwa jika kau tidak mau membantu, maka aku akan membakar rumahmu, membakarnya sampai habis."
Lu Xiao Feng menjelaskan. XiMen Chui Xue menatapnya. Sesudah beberapa lama, ia mulai bicara dengan lamban.
"Aku tidak punya banyak sahabat, paling banyak 2 atau 3 orang sekali waktu, tapi kau selalu menjadi sahabatku."
"Itulah sebabnya aku datang dan meminta bantuanmu."
"Dan itulah sebabnya bila kau ingin membakar rumahku, kau boleh melakukannya. Kau boleh mulai membakarnya dari mana saja."
XiMen Chui Xue menjawab dengan santai.
Lu Xiao Feng terkejut, karena ia juga sangat memahami sahabatnya ini.
Setiap kata yang diucapkan orang ini adalah seperti anak panah yang telah dilepaskan dari busurnya; tak akan pernah ditarik kembali.
"Di gudang belakang sana, aku punya kayu pinus dan minyak tanah. Kuusulkan supaya kau mulai membakar dari sana. Lakukan pada malam hari, api seperti itu pasti kelihatan indah pada malam hari."
XiMen Chui Xue berkata.
"Apakah kau kenal si Segala Tahu dan si Cerdik?"
Lu Xiao Feng tiba-tiba bertanya.
"Kudengar tidak ada sebuah pertanyaan pun di dunia ini yang tak bisa mereka jawab. Apakah mereka benar-benar tahu segalanya?"
XiMen Chui Xue menjawab dengan dingin.
"Kau tidak percaya?"
"Kau percaya?"
"Aku bertanya pada mereka apakah ada cara membujukmu untuk membantuku. Mereka bilang tidak ada. Semula aku tidak percaya pada mereka, tapi sekarang…. Tampaknya mereka bisa menebak jawabanmu."
XiMen Chui Xue menatap Lu Xiao Feng dalam diam. Tiba-tiba ia tertawa kecil dan berkata.
"Kali ini mereka keliru."
"Oh?"
"Kau punya cara untuk membujukku supaya mau membantumu."
"Apa itu?"
PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu. Kekaisaran Rajawali Emas, XiMen Chui Xue tersenyum dan berkata.
"Jika kau cukur kumismu itu, aku akan melakukan apa saja yang kau minta dariku." ______________________________ Jika Lu Xiao Feng bertemu teman-temannya sekarang, mungkin mereka tak akan mengenalinya. Ia adalah orang yang dianggap memiliki 4 alis, tapi sekarang ia hanya punya 2; dan bagian atas mulutnya sekarang mulus seperti kulit bayi yang baru lahir. Sayang sekali Hua Man Lou tidak bisa melihatnya. Jelas ia tidak bisa melihat XiMen Chui Xue berjalan mengikuti Lu Xiao Feng; tapi ia tersenyum dan bertanya.
"Tuan XiMen?"
"Hua Man Lou?"
XiMen Chui Xue balas bertanya. Hua Man Lou mengangguk.
"Aku menyesal terlahir cacat sehingga tidak bisa melihat pendekar pedang terbaik jaman ini dalam kejayaannya."
XiMen Chui Xue menatapnya dan tiba-tiba bertanya.
"Maafkan aku, tapi… benarkah kau tidak bisa melihat?"
"Aku yakin Tuan XiMen telah mendengar bahwa biarpun Hua Man Lou punya mata, tapi ia buta seperti kelelawar."
"Jadi kau mendengar suara langkah kakiku?"
Seperti DuGu Fang, ia pun harus mengajukan pertanyaan itu. Ia membanggakan ilmu meringankan tubuhnya seperti ilmu pedangnya, dan ia memang patut membanggakannya.
"Dari yang kutahu, paling banyak ada 4 atau 5 orang di dunia ini yang bisa berjalan tanpa suara sama sekali. Tuan XiMen adalah salah seorang di antaranya."
"Tapi kau tahu aku ada di sini!"
Hua Man Lou tertawa kecil.
"Itu karena Tuan XiMen membawa semacam hawa kematian!"
"Hawa kematian?"
"Bila orang menghunus pedang, ada hawa tertentu yang dikeluarkan oleh pedang itu. Berapa banyak orang yang telah dibunuh oleh Tuan XiMen? Bagaimana mungkin kau tidak punya hawa kematian di sekitarmu?"
Hua Man Lou menjawab dengan santai.
"Tak heran engkau tak mau memasuki rumahku, rupanya engkau tak tahan terhadap hawa yang kumiliki."
XiMen Chui Xue membalas dengan dingin. Hua Man Lou tersenyum.
"Bunga-bunga di sini begitu indah. Bila Tuan XiMen bisa menikmati keindahan ini, hawa mematikan itu perlahan-lahan akan menghilang."
"Bunga-bunga segar mungkin indah, tapi bagaimana bisa dibandingkan dengan bunga darah waktu seseorang terbunuh?"
XiMen Chui Xue berkata dengan dingin.
"Oh?"
Mata XiMen Chui Xue tiba-tiba tampak berbeda.
"Selalu ada pengkhianat-pengkhianat tak jujur di dunia ini. Bila kau tusukkan pedangmu ke tenggorokan mereka, bunga darahnya mekar di bawah pedangmu. Jika kau bisa melihat saat-saat kejayaan itu sekejap, maka kau akan mengerti bahwa tidak ada lagi yang lebih indah di dunia ini."
Ia tiba-tiba berputar dan berjalan menjauh tanpa memandang ke belakang lagi.
Kabut malam turun, seakan-akan bunga-bunga mendadak menutupi diri mereka dengan sehelai kain sutera putih.
Sosok tubuhnya pun menghilang dalam kabut.
Hua Man Lou tak tahan untuk tidak menarik nafas dan berkomentar.
"Akhirnya aku faham kenapa ia bisa begitu hebat dalam ilmu pedang."
"Oh!"
"Karena ia percaya bahwa membunuh itu adalah tugas yang suci dan indah tiada bandingnya. Ia telah menyerahkan hidupnya untuk tugas itu. Hanya pada saat membunuhlah ia benar-benar merasa hidup. Selain saat-saat itu, ia hanya menunggu tibanya saat berikutnya."
Lu Xiao Feng berfikir dalam-dalam sebelum akhirnya ia juga menarik nafas.
"Untunglah semua orang yang dibunuhnya memang pantas mati."
PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu.
Kekaisaran Rajawali Emas, Hua Man Lou tersenyum dan tidak menjawab.
______________________________ Langit malam yang tiada akhir tiba-tiba menelan seluruh dunia.
Bintang-bintang mulai bermunculan.
Bulan yang indah tapi jauh seolah-olah bergantung di sebatang pohon yang jauh.
Angin masih membawa keharuman bunga, malam pun tampak indah dan memabukkan.
Hua Man Lou berjalan perlahan di lereng gunung itu, tampaknya ia telah tenggelam dalam lamunan yang indah dan memabukkan.
Tapi Lu Xiao Feng tak tahan lagi.
"Kau tidak menanyakan apakah kepergianku tadi berhasil atau tidak?"
"Aku tahu bahwa kau telah berhasil meyakinkan dia untuk bergabung dengan kita,"
Hua Man Lou berkata sambil tersenyum.
"Bagaimana kau tahu?"
"Ia tidak memintamu untuk tinggal dan juga tidak mengucapkan selamat jalan, dan kau pun tampaknya tidak perduli sama sekali. Jelas itu terjadi karena kalian berdua telah menetapkan sebuah tempat pertemuan."
"Dan kau juga tahu bagaimana caranya aku berhasil melakukannya?"
"Dengan caraku tentu saja."
"Kenapa kau berkata begitu?"
"Ia mungkin tidak punya hati, tapi kau punya. Ia tahu kau tidak akan membakar rumahnya; di samping itu, biarpun kau melakukannya, ia tak akan perduli."
Lu Xiao Feng tertawa dan kemudian menarik nafas.
"Tak perduli betapa mengagumkannya dirimu, tetap ada sesuatu yang tak akan pernah dapat kau duga."
"Dan apa itu?"
Lu Xiao Feng meraba-raba bekas kumisnya.
"Tebaklah, akan kuceritakan padamu bila kau bisa menebaknya dengan benar."
"Jika tebakanku benar, kenapa kau harus bercerita lagi kepadaku tentang itu?"
Hua Man Lou tertawa. Lu Xiao Feng pun tertawa. Tapi, sebelum ia sempat menjawab, tiba-tiba ia menyadari bahwa wajah Hua Man Lou yang tenang dan damai itu mendadak menjadi kaku dan aneh.
"Ada apa?"
Lu Xiao Feng bertanya.
Hua Man Lou tidak menjawab, dan tidak mendengar pertanyaannya.
Tampaknya ia sedang mendengarkan sebuah suara misterius dari kejauhan, suara yang hanya bisa didengar olehnya.
Tiba-tiba ia berubah arah dan mulai berjalan ke arah belakang gunung.
Lu Xiao Feng hanya bisa mengikutinya.
Malam semakin gelap dan satu demi satu bintang-bintang menghilang di balik puncak gunung.
Tiba-tiba ia juga mendengar suara nyanyian dari kejauhan itu.
Nyanyian itu tak dapat diuraikan dengan kata-kata, menakutkan, dan indah menggetarkan hati.
Liriknya pun sama, indah dan menggetarkan hati.
Lagu itu tentang seorang gadis muda dan penuh gairah yang sedang sekarat dan menceritakan pada kekasihnya tentang kehidupannya, tentang patah hati dan kesepiannya.
Lu Xiao Feng tidak begitu memperhatikan liriknya, karena saat itu ia sedang bingung melihat ekspresi wajah Hua Man Lou.
Ia pun bertanya.
"Kau pernah mendengar lagu ini sebelumnya?"
"Ya,"
Hua Man Lou akhirnya mengangguk sesudah terdiam beberapa lama.
"Aku pernah mendengarnya."
"Dari siapa?"
"ShangGuan FeiYan."
Lu Xiao Feng sering mengatakan bahwa di dunia ini hanya ada kira-kira selusin benda yang ia percayai penuh.
Telinga Hua Man Lou kebetulan termasuk salah satunya.
Bila orang lain melihat sesuatu dengan mata mereka sendiri, terkadang mereka tidak benar-benar melihatnya.
Tapi telinga Hua Man Lou tidak pernah keliru.
Jadi penyanyi itu tentulah ShangGuan Fei Yan.
PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu.
Kekaisaran Rajawali Emas, Bagaimana gadis yang menghilang secara misterius itu tiba-tiba bisa muncul di sini?
Dan kenapa ia menyanyikan lagu yang indah tapi menakutkan itu di sini, pada malam hari di sebuah lereng gunung terpencil?
Untuk siapa ia menyanyikan lagu itu?
Mungkinkah ia seperti gadis dalam lagu tersebut?
Sedang menceritakan kemalangan dan kepahitan hidupnya pada kekasihnya tepat menjelang saat kematiannya?
Lu Xiao Feng tidak bertanya lagi, karena sebuah cahaya tiba-tiba muncul dalam kegelapan.
Nyanyian tadi juga berasal dari arah lampu yang berkerlap-kerlip itu.
Hua Man Lou pun mulai bergerak, melesat ke atas lereng gunung.
Walaupun ia tak bisa melihat cahaya itu, ia bergerak tepat ke arahnya.
Sinar itu semakin dekat dan semakin dekat dan Lu Xiao Feng akhirnya bisa melihat sebuah biara kecil.
Apakah biara itu dibangun untuk menghormati setan gunung atau dewa bumi?
Tiba-tiba nyanyian itu sirna, seluruh dunia tiba-tiba hampa dan sunyi.
Lu Xiao Feng melirik Hua Man Lou.
"Jika ia memang bernyanyi untukmu,"
Ia berkata untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"ia tak akan pergi sekarang."
Tapi si dia memang sudah pergi.
Lampu minyak masih menyala di dalam biara yang gelap dan lembab itu, tapi tak seorang pun yang kelihatan.
Sebuah patung setan gunung berwajah hitam sedang duduk di atas seekor harimau yang buas dengan sebatang tongkat besi di tangannya.
Dalam cahaya yang samar-samar dan kerlap-kerlip, seakan-akan ia hendak memukul segerombolan penjahat dengan tongkatnya dan menegakkan keadilan untuk orang-orang baik.
Di atas meja altar ada sebuah baskom cuci tua yang terbuat dari perunggu dan telah berkarat.
Baskom itu penuh dengan air bersih, beberapa helai rambut terlihat mengapung di air.
"Apa yang kau lihat?"
Hua Man Lou bertanya.
"Ada sebuah baskom cuci di atas meja, baskom itu penuh air dan ada rambut juga."
Lu Xiao Feng menjawab.
"Rambut?"
Rambut itu halus dan masih menyisakan keharuman yang hanya dimiliki gadis-gadis muda.
"Ini rambut seorang gadis."
Lu Xiao Feng menyimpulkan.
"Tampaknya seorang gadis baru saja bernyanyi di sini dan menggunakan baskom air ini sebagai cermin untuk menyisir rambutnya. Tapi sekarang ia telah pergi."
Hua Man Lou mengangguk perlahan, seakan-akan ia memang sudah memperkirakan bahwa si dia tak akan menunggunya di sini.
"Di tempat ini, pada saat seperti ini, ia masih berusaha menyisir rambutnya? Jelas ia seorang gadis yang ingin selalu tampak cantik."
Lu Xiao Feng meneruskan.
"Gadis-gadis berusia 17, 18 tahun, siapa dari mereka yang tidak ingin selalu tampak cantik?"
"Dan bukankah ShangGuan Fei Yan gadis berusia 17, 18 tahun?"
"Ia juga selalu ingin tampak cantik."
Lu Xiao Feng memandang Hua Man Lou, dan bertanya.
"Kau pernah meraba rambutnya, bukan?"
Hua Man Lou tertawa. Ada banyak jenis tawa, jenis tawa seperti ini berarti pengakuan.
"Apakah ini rambutnya?"
Ia yakin jari-jari Hua Man Lou sama sensitifnya dengan telinganya.
Ia telah melihat, dengan mata kepalanya sendiri, bahwa Hua Man Lou mampu mengetahui keaslian sebuah benda hanya dengan menyentuhnya perlahan.
Hua Man Lou telah menggenggam rambut itu di tangannya dan merabanya perlahan dengan jari-jarinya.
Sebuah ekspresi yang sangat aneh muncul di wajahnya, bukan senang tapi juga bukan sedih.
PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu.
Kekaisaran Rajawali Emas.
"Apakah ini benar-benar rambutnya?"
Hua Man Lou mengangguk.
"Ia tadi duduk di sini dan menyisir rambutnya sambil bernyanyi. Jelas ia masih hidup."
Hua Man Lou kembali tertawa.
Ada banyak jenis tawa, tapi tawa seperti ini mustahil untuk mengetahui apakah itu menandakan senang atau sedih.
Si dia tadi di sini, tapi mengapa ia tidak menunggu dirinya?
Jika si dia tak tahu dirinya ada di sini, lalu tadi ia bernyanyi untuk siapa?
Lu Xiao Feng diam-diam menarik nafas, ia tak bisa memutuskan apakah harus menghibur sahabatnya itu atau tidak, atau pura-pura tidak faham saja.
Angin berhembus dan memasuki ruangan itu melalui pintu.
Patung setan gunung berwajah hitam yang memegang tongkat dan mengendarai harimau itu tiba-tiba berderak.
Tongkatnya yang sepanjang 10 m itu tiba-tiba jatuh.
Segera patung raksasa itu juga hancur berkeping-keping.
Dalam awan debu, tiba-tiba Lu Xiao Feng menyadari bahwa di atas dinding di belakang patung tadi tergantung seseorang.
Orang mati.
Darah di tubuhnya masih belum kering.
Sebatang pena hakim yang terbuat dari besi menembus dadanya dan memakukan tubuhnya ke dinding.
Dua helai kertas seperti yang biasa digunakan pendeta Tao untuk memanggil arwah terikat di pena itu.
"Sebuah mata untuk sebuah mata!"
"Inilah yang terjadi pada orang yang ikut campur dalam urusan orang lain!"
Dua kalimat yang sama, tertulis dengan darah, seperti yang terdahulu.
Darah tampak membasahi kertas itu.
DuGu Fang, bukan Liu YuHen.
Yang ingin mati ternyata masih hidup, sementara yang ingin hidup malah mati.
"Patung ini sebenarnya suda lama hancur,"
Lu Xiao Feng berkata dengan marah.
"Mayat ini memang ditempatkan di sini untuk kita lihat."
Wajah Hua Man Lou pun sepucat mayat. Akhirnya ia bertanya.
"Apakah itu ShangGuan Fei Yan?"
"Ini DuGu Fang."
Lu Xiao Feng menjawab.
"Aku benar-benar tidak mengira kalau dia adalah orang kedua yang mati."
"Apa yang ia lakukan di sini? Mengapa ShangGuan Fei Yan pun berada di sini?"
Hua Man Lou tenggelam dalam renungan.
"Mungkinkah ia diculik? Mungkinkah ia telah jatuh ke tangan Paviliun Baju Hijau?"
Lu Xiao Feng mengerutkan keningnya.
"Biasanya kau orang yang berfikiran terbuka, tapi kenapa bila sesuatu terjadi padanya, kau selalu memikirkan kemungkinan yang terburuk?"
Hua Man Lou terdiam beberapa lama sebelum akhirnya menarik nafas.
"Mungkin karena aku terlalu memperdulikannya."
Bila seseorang terlalu memperhatikan orang lain, sukar baginya untuk tidak memikirkan kemungkinan terburuk.
Itulah sebabnya semakin seseorang memperhatikan orang lain, maka semakin mudah timbul kesalahfahaman, dan semakin buruk pula saat-saat perpisahan.
Lu Xiao Feng tertawa dipaksa dan berkata.
"Tak perduli apa, paling tidak ia masih hidup. Bagaimana mungkin orang bisa bernyanyi demikian indah jika ada sebatang golok di lehernya?" ______________________________ Lagu itu tidak indah, karena dinyanyikan oleh Lu Xiao Feng.
"Hidup harus dinikmati hingga akhirnya, dan tidak perlu termenung menghadap bulan sendirian."
Ia mengetuk-ngetukkan sumpitnya pada cangkir arak sebagai musiknya.
Berulang-ulang ia menyanyikan 2 baris lagu itu.
Tiap Lu Xiao Feng menyanyikan satu baris, Hua Man Lou akan minum satu cangkir.
Akhirnya, ia tak tahan lagi dan berkata.
"Bukannya aku tak suka nyanyianmu, tapi bisakah kau menyanyikan lagu lain?"
"Tidak."
Lu Xiao Feng menjawab. PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu. Kekaisaran Rajawali Emas.
"Kenapa tidak?"
"Karena cuma 2 baris itu yang aku tahu."
Hua Man Lou tertawa.
"Kau tahu, semua orang terus mengatakan bahwa Lu Xiao Feng adalah seorang jenius, salah satu orang yang paling cerdik dan cerdas di dunia; dan tak perduli jenis kungfu apa pun, ia akan mempelajari dan menguasainya dalam sekejap mata."
Ia berkata.
"Tapi dalam hal bernyanyi, kau lebih buruk dari seekor keledai."
"Jika kau tidak suka nyanyianku, lalu kenapa kau tidak bernyanyi sendiri, huh?"
Lu Xiao Feng mendebat.
Tujuannya adalah membuat Hua Man Lou tertawa, membuat Hua Man Lou bernyanyi.
Karena ia tak pernah melihat Hua Man Lou bersikap seperti ini, dan minum seperti itu.
Itu bukanlah arak yang enak.
Di mana kau bisa menemukan arak enak di sebuah desa miskin di lereng gunung pada saat seperti ini?
Tapi tak perduli jenis arak apa itu, tetap saja lebih baik daripada tidak punya arak sama sekali.
Hua Man Lou tiba-tiba mengangkat cangkirnya di udara, meneguk habis seluruh isinya dengan cara yang dramatis, dan mulai bernyanyi.
Yang ia nyanyikan adalah lagu "Kenangan Lama" , aslinya ditulis oleh Li Yu, satu-satunya kaisar Dinasti Tang Selatan, ketika ia merindukan almarhum isterinya, Da ZhouHuo.
Maka lagu ini memiliki nada yang sedih, lembut, romantis dan sunyi.
Lu Xiao Feng tiba-tiba menyadari bahwa Hua Man Lou benar-benar telah jatuh cinta pada gadis cantik yang misterius itu.
Ia tidak pernah membicarakan hal itu, tapi itu hanya karena ia sedang kasmaran.
Ia jatuh cinta yang sedalam-dalamnya, tapi itu karena ia tidak pernah jatuh cinta sebelumnya.
Tapi bagaimana dengan ShangGuan Fei Yan?
Gerak-geriknya sungguh misterius, dan sikapnya tidak dapat ditebak, bahkan Lu Xiao Feng tidak mampu menduga apa yang ada di dalam hatinya; apalagi Hua Man Lou yang sudah terjerat asmara.
Tiba-tiba Lu Xiao Feng tertawa.
"Nyanyianku mungkin buruk, tapi nyanyianmu bahkan lebih buruk!"
Ia berkata.
"Bila aku bernyanyi, paling tidak aku bisa membuatmu tertawa. Tapi bila kau bernyanyi, senyum saja pun aku tidak bisa."
"Itulah sebabnya kurasa sebaiknya kita minum saja. ‘Hari ini punya arak, maka mabuklah hari ini juga’."
Mereka berdua mengangkat cangkir. Tepat saat kedua cangkir akan bersentuhan, terdengar sebuah suara berkata.
"Apakah di sini ada yang bernama tuan muda Lu Xiao Feng?"
Malam telah semakin larut dan semua orang telah pergi.
Seharusnya tidak ada orang yang datang ke desa di lereng gunung ini, dan tentu saja tak ada yang datang mencari Lu Xiao Feng.
But a person did come, and he did come looking for Lu XiaoFeng.
Tapi seseorang telah datang, dan ia mencari Lu Xiao Feng.
Dari tampangnya, ia seperti seorang pemburu.
Di tangannya ada sebuah keranjang bamboo.
Di dalam keranjang itu ada beberapa potong ayam bakar.
"Kenapa kau mencari Lu Xiao Feng?"
Lu Xiao Feng bertanya dulu sebelum menjawab pertanyaannya. Pemburu itu meletakkan keranjang bambu di atas meja.
"Ini dibeli untuk tuan muda Lu Xiao Feng oleh bibinya tersayang yang menyuruhku untuk datang ke sini dan memberikannya kepadanya untuk dinikmati bersama araknya."
Ia menjelaskan.
"Bibiku?"
Lu Xiao Feng bergumam setelah tercengang sebentar.
"Tuan adalah tuan muda Lu Xiao Feng?"
Pemburu itu pun tampak tercengang juga. Lu Xiao Feng mengangguk.
"Tapi aku bukan tuan muda, dan aku tidak punya bibi."
"Ya, tuan punya, tentu saja punya."
"Kenapa?"
PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu. Kekaisaran Rajawali Emas.
"Jika orang itu bukan bibi Tuan, lalu kenapa ia mau menghabiskan 5 tael perak untuk membeli ayam ini dan 5 tael lagi untuk upahku membawanya ke sini?"
Pemburu itu mendebat.
"Tapi itu… itu…."
"Itu apa?"
Lu Xiao Feng bertanya.
"Ia bilang tuan muda Lu Xiao Feng punya 4 alis dan aku akan segera mengenalinya sewaktu bertemu dengannya."
Pemburu itu menjawab sambil berusaha keras untuk tidak tertawa.
"Tapi tampaknya Tuan hanya punya 2."
Lu Xiao Feng berusaha menampilkan wajah yang kaku, tapi gagal dan ia pun tertawa.
"Pernahkah kau melihat orang yang punya 4 alis?"
Si pemburu pun tertawa juga.
"Karena aku belum pernah melihatnya, maka aku mau datang."
Ia menjawab.
"Aku datang ke sini bukan hanya untuk 5 tael perak itu saja."
"Seperti apa bibiku itu?"
Lu Xiao Feng bertanya.
"Ia seorang gadis kecil."
"Seorang gadis kecil?"
Lu Xiao Feng hampir berteriak.
"Mungkinkah orang seusiaku punya bibi seorang gadis kecil?"
Sebuah senyum dipaksa muncul di wajah si pemburu.
"Semula aku pun tidak percaya. Tapi ia lalu mengatakan bahwa walaupun ia belum terlalu tua, ia adalah orang yang dituakan. Bahkan ia mengatakan bahwa ia punya seorang cucu keponakan bernama Hua Man Lou yang berusia lebih dari 50 tahun."
Lu Xiao Feng melirik Hua Man Lou. Ia ingin tertawa, tapi merasa tidak enak. Tapi malah Hua Man Lou yang tertawa.
"Itu benar, aku memang punya nenek seperti itu."
Sekali lagi pemburu itu tercengang mendengar jawaban tersebut.
"Tuan ini Hua Man Lou? Tuan berusia 50 tahun?"
"Aku merawat diri dengan baik, itulah sebabnya aku tampak begitu muda."
"Bagaimana Tuan melakukannya?"
Pemburu itu tak tahan untuk tidak bertanya.
"Bisakah aku melakukannya?"
"Tentu saja, itu sangat mudah."
Hua Man Lou menjawab dengan santai.
"Yang kulakukan setiap hari adalah makan 50 ekor cacing tanah, 20 ekor kadal, dan 2 kilogram daging manusia."
Pemburu itu menatapnya sedemikian rupa sehingga biji matanya seolah-olah akan melompat keluar dari tempatnya.
Tiba-tiba, dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berputar dan lari, lari seolah-olah tiada hari esok lagi.
Lu Xiao Feng tak tahan lagi dan tertawa sekeras-kerasnya.
Hua Man Lou pun tertawa.
"Kau benar,"
Ia berkata.
"tampaknya bila setan kecil itu berdusta, ia sanggup memperdaya orang mati hingga hidup kembali."
Sambil bicara, dengan separuh hati ia menunjuk ke arah jendela di sebelah kirinya dengan sumpitnya.
Lu Xiao Feng melesat, berjumpalitan di udara, dan mendorong jendela itu hingga terbuka.
Seorang gadis dengan rambut dikepang dua sedang bersembunyi di luar jendela sambil tertawa-tawa sendirian.
Mata ShangGuan Xue-Er masih besar dan ia masih tampak begitu baik dan jujur.
Tapi ia tak bisa tertawa lagi.
Sambil mencengkeram rambut kepangnya, Lu Xiao Feng menyeretnya masuk ke dalam.
"Setan kecil ini, menjadi bibiku saja masih tidak cukup, ia pun masih mengaku-aku menjadi nenekmu."
Ia berkata. Xue-Er mencibir sedikit dan mencela.
"Aku kan hanya main-main. Hanya karena kau tak suka diolok-olok, bukan berarti kau boleh menarik-narik kepang orang lain."
"Apalagi ia telah menghabiskan 10 tael perak untukmu."
Hua Man Lou tersenyum.
"Di samping itu, ayam-ayam ini lumayan. Bahkan jika kau tidak mau berterima-kasih, paling tidak kau seharusnya lebih sopan sedikit."
"Tampaknya cucu keponakanku masih punya hati."
Xue-Er menambahkan.
"Paling tidak ia bersikap adil dan jujur."
Lu Xiao Feng tertawa.
"Jadi menurutmu orang yang punya hati kedudukannya PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu. Kekaisaran Rajawali Emas, masih lebih rendah daripada orang yang tak punya?"
Sambil tertawa, ia melepaskan rambut kepang Xue-Er.
Seperti seekor rubah kecil, Xue-Er segera merangkak di antara kedua kaki Lu Xiao Feng dan lari.
Sayangnya ia tidak cukup cepat karena Lu Xiao Feng segera mencengkeram rambut kepangnya lagi dan menyeretnya seperti seekor ayam kecil.
Sambil memaksanya duduk di sebuah kursi, wajah Lu Xiao Feng berubah serius ketika ia berkata.
"Aku harus bertanya sesuatu padamu, dan lebih baik kau menjawabnya dengan jujur, jangan pernah berfikir untuk berdusta."
"Aku tidak pernah berdusta sebelumnya."
Xue-Er mengedip-ngedipkan matanya, seakan-akan ia telah dituduh dengan sewenang-wenang.
"Kalimat barusan itu saja sudah dusta."
"Jika semua yang kukatakan adalah dusta, lalu kenapa kau masih mau bicara denganku?"
Karena marah, ShangGuan Xue-Er berteriak. Tahu bahwa tidak ada gunanya berdebat dengannya, Lu Xiao Feng menarik muka dan bertanya.
"Kenapa kau selalu mengikuti kami?"
"Aku bukan mengikuti kalian. Bahkan jika aku ingin, aku tak akan mampu."
Kalimat itu memang benar.
"Lalu bagaimana caranya kau menemukan kami?"
"Aku tahu kalian akan datang ke mari untuk mencari XiMen Chui Xue, maka aku datang ke sini lebih dulu!"
"Kau sudah lama menunggu di sini?"
"Aku sudah menunggu seharian. Bahkan tidak sempat bertukar pakaian atau pun mandi. Aku bau. Kau tidak percaya? Mendekatlah ke sini."
Hua Man Lou tertawa lagi. Lu Xiao Feng hanya bisa berdehem beberapa kali.
"Mengapa kau menunggu kami?"
Ia bertanya.
"Karena aku punya rahasia yang harus kuberitahukan padamu."
"Rahasia apa?"
Xue-Er mencibir lagi, tampaknya ia akan menangis lagi. Tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah ukiran burung walet emas yang sangat indah dari dalam bajunya.
"Kutemukan ini di kebun malam itu."
Lu Xiao Feng memperhatikan benda itu tapi tak menemukan apa-apa.
"Sebelum aku lahir, ayahku memberikan ini pada kakakku."
Xue-Er meneruskan.
"Kakakku sangat menghargainya, ia memasangnya pada sebuah kalung emas dan selalu memakainya. Aku selalu berusaha meminjamnya barang sehari atau 2 hari, tapi ia bahkan tak membiarkan aku menyentuhnya. Tapi sekarang aku menemukannya tergeletak begitu saja di sana di atas tanah."
"Mungkin ia tak sengaja menjatuhkannya."
Lu Xiao Feng menduga-duga. Xue-Er menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak mungkin. Benda ini pasti dijatuhkan seseorang saat mereka berusaha menyembunyikan mayatnya."
Air mata mulai mengembang di matanya, ia tampak sangat sengsara, bahkan suaranya pun mulai serak.
"Kau benar-benar mengira kakakmu telah mati?"
Xue-Er menggigit bibirnya dan mengangguk dengan yakin.
"Bukan hanya aku tahu bahwa ia telah mati,"
Ia berkata dengan suara yang sember.
"Aku pun tahu siapa pembunuhnya."
"Siapa?"
"Kakak sepupuku yang jalang itu."
Xue-Er menjawab dengan pahit.
"ShangGuan DanFeng?"
"Ya, dia! Bukan hanya dia yang membunuh kakakku, dia juga yang membunuh Xiao QiuYu, DuGu Fang, dan Liu YuHen!"
"Mereka bertiga semua dibunuh olehnya?"
Xue-Er mengangguk.
"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Ia sedang berada di kamar hotel itu, berbincang-bincang dengan Liu YuHen. Lalu tiba-tiba ia melepaskan Jarum Phoenix Terbang miliknya dan membunuh Liu YuHen. Ia bahkan menyembunyikan mayatnya di bawah tempat tidur."
"Difikir-fikir, ia sangat ingin mati, tapi ia kok mati seperti itu."
Lu Xiao Feng menarik nafas. PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu. Kekaisaran Rajawali Emas.
"Jarum Phoenix Terbang adalah senjatanya yang paling ampuh. Jarum itu langsung menutup jalan darah ketika bertemu darah dan racunnya pun berakibat fatal. Kakakku mungkin terbunuh oleh jarum itu juga. Tapi di mana ia menyembunyikan mayatnya?"
Air mata bergulir di pipinya ketika ia melanjutkan.
"Yang kamu katakan itu sangat logis dan masuk di akal."
Lu Xiao Feng menarik nafas lagi.
"Sayangnya aku masih tidak percaya sedikit pun."
Kali ini Xue-Er tidak marah, ia tetap saja menangis.
"Aku tahu kau tak akan mempercayaiku, kau… kau sudah dikacaukan olehnya…."
Lu Xiao Feng menatapnya, keyakinannya mulai goyah sedikit. Maka ia tak tahan untuk tidak bertanya.
"Ia adalah kakak sepupumu, kenapa ia ingin membunuh kakakmu?"
"Siapa yang tahu kenapa?"
Sambil mengkertakkan giginya, Xue-Er menjawab.
"Mungkin ia membenci kakakku karena lebih cerdas dan lebih cantik."
"Lalu bagaimana dengan Liu YuHen? Bukankah dia setia kepadanya? Kenapa ia membunuh Liu YuHen?"
"Ia lebih keji daripada ular paling berbisa sekalipun. Jika ia tega membunuh orang seperti kakakku,"
Xue-Er menjawab dengan pahit.
"lalu kenapa ia tak mungkin membunuh orang lain?"
Lu Xiao Feng menarik nafas.
"Aku tahu kau membencinya, tapi…."
"Kau kira aku membencinya karena cemburu terhadap hubunganmu dengan dia?"
ShangGuan Xue-Er tiba-tiba memotongnya sambil mendengus dingin.
"Mungkin ia tampaknya sangat baik padaku, tapi di belakang ia sering menakut-nakuti diriku sejak kami masih kecil."
Lu Xiao Feng tiba-tiba memotongnya.
"Ia baru 19 tahun, tapi kamu 20 tahun. Bagaimana mungkin ia bisa menakut-nakuti dirimu?"
Xue-Er tak bisa menjawab. Lu Xiao Feng tidak tega, maka ia menambahkan dengan suara yang lembut.
"Jika kau benar-benar mengkhawatirkan kakakmu, kau bisa tenang sekarang. Karena aku tahu pasti bahwa dia belum mati."
Xue-Er menggigit bibirnya dan menjawab.
"Tapi aku benar-benar melihat dengan mata kepalaku sendiri waktu ia membunuh Liu YuHen. Aku…"
Tiba-tiba ia berhenti, seluruh tubuhnya seperti membeku.
Liu YuHen yang katanya telah terbunuh dan mayatnya disimpan di bawah tempat tidur oleh ShangGuan DanFeng tiba-tiba muncul.
Kabut malam terasa dingin dan sepi, bulan pun tampak samar-samar.
Liu YuHen muncul dari balik kabut di bawah sinar bulan yang samar-samar itu dan masuk ke dalam kedai arak kecil tersebut.
Wajahnya yang mengerikan semakin tampak menakutkan bila dilihat di bawah sinar bulan.
Tapi ekspresinya sangat tenang dan suaranya pun sangat lembut.
"Sudah cukup main-main di sini? Kembalilah bersamaku."
Ia berkata, sambil memandang Xue-Er.
"Yang Mulia sedang menungguku untuk membawamu pulang."
Biji mata Xue-Er hampir melompat keluar.
"Kau… kau belum mati?"
Ia tergagap. Sinar mata sedih terlihat di mata Liu YuHen ketika ia menjawab dengan suara berat.
"Kadang-kadang, mati bukanlah hal yang mudah."
"Dan kakak sepupuku?"
"Ia juga berharap kau segera pulang. Kau masih muda, tunggulah beberapa tahun lagi, saat itu masih belum terlambat untuk pergi ke luar dan bermain-main. Contohnya kakakmu, ia pergi ke mana pun yang ia inginkan, dan tak seorang pun mempermasalahkannya."
Xue-Er memandang padanya, ia seperti ketakutan. Tiba-tiba ia mencengkeram tangan Lu Xiao Feng.
"Tolong jangan biarkan dia membawaku pulang!"
Ia menjerit.
"Tolong ijinkan aku mengikuti kalian, aku akan bersikap baik!"
"Itu harus menunggu kau besar sedikit."
Liu YuHen berkata.
"Kau masih anak-anak. Ada hal-hal serius yang harus dilakukan orang dewasa, bagaimana mungkin kau boleh ikut?"
Di luar sana, terdengar seekor kuda meringkik. Ada sebuah kereta kuda di luar, PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu. Kekaisaran Rajawali Emas, kereta yang juga pernah ditumpangi oleh Lu Xiao Feng.
"Tidurlah di dalam kereta."
Liu YuHen meneruskan.
"Lalu kau akan tiba di rumah sebelum kau menyadarinya."
ShangGuan Xue-Er akhirnya pergi, pergi tanpa berpaling ke belakang lagi. Memandangnya naik ke atas kereta, melihat betapa sedih wajahnya, Lu Xiao Feng tak tahan untuk tidak menarik nafas lagi.
"Kau seorang gadis yang manis dan cantik, kenapa kau suka berdusta?"
Hua Man Lou dari tadi hanya duduk saja di sana, tapi sekarang tiba-tiba ia berkata.
"Setiap orang yang berdusta selalu punya alasan. Ada yang berdusta untuk menipu orang lain, ada pula yang berdusta untuk menipu dirinya sendiri."
Ia menarik nafas dan melanjutkan.
"Dan yang paling rapuh adalah orang-orang yang berdusta untuk mendapatkan perhatian dari orang lain, untuk membuat orang lain memperhatikan dirinya."
"Apakah itu terjadi karena ia tak mendapatkan kasih saying dan cinta dari orang lain?"
"Ya."
"Kau benar."
Dengan senyum dipaksa di wajahnya, Lu Xiao Feng menarik nafas.
"Ada orang yang harus dimaafkan walaupun mereka berbuat salah. Mungkin seharusnya aku telah memikirkan…."
Ia belum menyelesaikan kalimatnya ketika ia melihat Liu YuHen tiba-tiba muncul kembali di pintu.
"Xue-Er menitipkan pesan untukmu."
Orang itu berkata dengan lambat. Lu Xiao Feng menantikan pesan itu. Tiba-tiba ia melihat di mata orang yang mengerikan ini muncul secercah senyuman hangat.
"Ia bilang, ia lupa mengatakan bahwa setelah kau mencukur kumismu, kau tampak jauh lebih muda dan tampan daripada sebelumnya." ______________________________ Lu Xiao Feng meraba bulu-bulu kasar di bawah hidungnya dengan ujung jarinya. Ia telah meraba-rabanya terus di sepanjang perjalanan dari YanBei ke ShanXi. Sepertinya ia merasa kumis itu kurang cepat tumbuhnya.
"Kau tahu aku tak pernah merasa sedih karena tak bisa melihat."
Hua Man Lou tersenyum selebar-lebarnya.
"Tapi saat ini aku benar-benar berharap bisa melihat wajahmu tanpa kumis itu."
"Sangat muda dan tampan."
"Lalu kenapa kau terus memelihara kumis itu?"
"Karena aku khawatir kalau semua gadis akan mati karena terlalu terpesona padaku."
"Tampaknya kau mudah naik darah beberapa hari terakhir ini."
Hua Man Lou masih tersenyum.
"Apakah kau sedang marah pada dirimu sendiri?"
"Mengapa aku harus marah pada diriku sendiri?"
Lu Xiao Feng menjawab dengan dingin.
"Karena kau merasa bahwa kau telah bersikap terlalu keras pada gadis kecil yang rapuh, manis dan suka berdusta itu. Dan kau khawatir kalau-kalau ia akan diancam dan diperlakukan buruk saat ia sampai di rumah."
Lu Xiao Feng tiba-tiba bangkit. Tapi sebelum ia sempat pergi, seseorang datang membawakan sebuah undangan.
"Dengan hormat, telah disiapkan makanan dan minuman serta air untuk membersihkan diri dari debu di perjalanan. Harap tuan-tuan bersedia hadir."
Undangan itu ditanda-tangani oleh "Huo TianQing."
Kalimatnya sederhana, tertulis dengan sangat rapi dan indah.
Tintanya pun sangat tebal, sehingga setiap huruf bisa terbaca dengan jelas.
Bahkan orang yang tak bisa melihat pun bisa menggunakan jari-jarinya untuk membaca undangan itu.
"Tampaknya Tuan Huo ini seorang yang sangat teliti dan penuh perhatian."
Hua Man Lou berkata sambil tersenyum.
"Bukan hanya penuh perhatian."
Lu Xiao Feng pun berkata dengan santai.
Orang yang menyampaikan undangan itu adalah seorang anak yang tampaknya PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu.
Kekaisaran Rajawali Emas, sangat cerdas.
Ia berdiri di luar dan membungkuk dengan hormat.
"Tuan Huo menginstruksikan bahwa jika tamu-tamu terhormat bersedia hadir pada acara makan malam, maka hamba harus menyediakan sebuah kereta dan menunggu di sini, untuk kemudian membawa tuan-tuan ke Paviliun Intan. Tuan Huo telah menunggu kedatangan tuan-tuan di sana."
"Bagaimana ia tahu kami ada di sini?"
Lu Xiao Feng bertanya. Anak itu tertawa dan menjawab.
"Tidak perduli besar atau kecil, tak ada yang bisa lewat di daerah ini dalam radius 400 km tanpa sepengetahuan Tuan Huo."
Bab 6.
Pedang Dihunus dan Orang-orang pun Mati Pesta itu diadakan di sebuah paviliun yang berada di tengah air.
Sekelilingnya tampak menghijau karena bunga lotus yang tumbuh di dalam kolam, tapi pagar paviliun itu sendiri dicat merah menyala.
Tirai-tirainya yang bertaburkan mutiara telah dinaikkan.
Angin samar-samar membawa keharuman bunga lotus yang baru mekar.
Sekarang sudah bulan April.
Hua Man Lou menikmati kemewahan tak terbatas yang hanya dimiliki orang-orang terkaya ini dalam kebisuan.
Tentu saja ia tidak melihat seperti apa Huo TianQing itu, tapi ia telah mengetahui orang macam apa dia dengan hanya mendengarkan suaranya saja.
Suara Huo TianQing rendah tapi bertenaga dan mengandung kelembutan serta kehangatan.
Bila ia bicara, bukan hanya ia ingin semua orang mendengarkannya, tapi ia juga ingin mereka mendengarnya dengan jelas.
Itu berarti ia adalah orang yang sangat percaya diri dan tegas, apapun yang ia lakukan maka ia pasti punya alasannya sendiri.
Bahkan walaupun ia sangat angkuh, ia khawatir kalau orang lain menganggap dirinya angkuh.
Hua Man Lou tidak menyukai orang seperti ini, seperti juga Huo TianQing tidak menyukai dirinya.
Sudah ada 2 orang tamu lain di tempat itu.
Yang pertama adalah tamu keluarga Yan, Su ShaoYing, dan yang kedua adalah Ketua Persekutuan Perusahaan Ekspedisi (piauwkiok).
"Naga di Awan"
Ma XingKong.
Ma XingKong telah lama terkenal di dunia persilatan.
Bukan hanya kungfunya sangat hebat, ia juga bukan tipe orang yang mencari kemasyuran dan pujian.
Maka Hua Man Lou pun heran saat mendengar orang ini seperti menjilat-jilat saat bicara dengan Huo TianQing.
Seseorang seperti dirinya, seorang yang mencapai kemasyuran lewat kemampuannya sendiri, seharusnya tidak bersikap seperti ini.
Di pihak lain, Su ShaoYing ternyata sangat santai dan tenang, tidak ada kepalsuan dalam suaranya.
Huo TianQing memperkenalkan dirinya sebagai orang yang memiliki pengetahuan yang luas.
Tapi dari suaranya, kelihatannya ia masih sangat muda.
Tuan rumah dan tamunya total berjumlah 5 orang.
Ini adalah gaya perjamuan yang disukai Hua Man Lou, karena memperlihatkan bahwa bukan hanya tuan rumahnya teliti tapi juga sangat memahami tamu-tamunya.
Tapi belum tersedia arak atau pun makanan di atas meja.
Walaupun Hua Man Lou mulai tidak sabaran, ia juga merasa sedikit canggung.
Tidak banyak lentera yang terdapat di paviliun itu, tapi tetap saja tempat itu terang benderang seperti siang hari.
Itu karena di tengah-tengah dinding tergantung 4 butir mutiara yang terang, yang memantulkan sinar dari lentera dengan cahaya yang sangat lembut, membuat pencahayaan di ruangan itu jadi terasa nyaman di mata.
Su ShaoYing sedang bercerita tentang kaisar terakhir dari dinasti Tang Selatan.
"Bila ia sedang bersama Selir Muda Zhuo, ia tidak pernah menyalakan lentera. Maka tertulislah dalam buku bahwa bila Permaisuri Jiang JuoLi melihat cahaya di malam hari, ia akan menutup matanya dan berkata. ‘Asap, berarti lilin sedang menyala. Jika mata seseorang ditutup, maka bau asap akan tercium lebih jelas.’ PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu. Kekaisaran Rajawali Emas, Ia tahu apa yang sedang dilakukan kaisar bila ia mencium bau asap. Seseorang pernah bertanya kepadanya kenapa ia begitu yakin bahwa asap itu bukan berasal dari salah satu lilin yang ada di istananya sendiri. Ia menjawab. ‘Pada malam hari istana menggunakan sebuah mutiara besar yang tergantung sampai ke langit-langit, yang akan membuat ruangan jadi terang seperti di siang hari’."
"Nafsu berahi kaisar memang agak keterlaluan,"
Huo TianQing memberi komentar sambil tersenyum.
"Itulah sebabnya hanya persoalan waktu saja sebelum dinasti Tang Selatan jatuh."
"Tapi ia hanyalah orang yang penuh kasih sayang, kebaikannya benar-benar tiada tandingannya,"
Su ShaoYing menjawab.
"Orang-orang yang baik dan penuh kasih sayang tidak cocok menjadi kaisar,"
Huo TianQing menjawab dengan santai.
"Tapi jika ia punya seorang penasehat seperti Tuan Huo, mungkin dinasti Tang Selatan tak akan jatuh,"
Ma XingKong menambahkan sambil tersenyum.
"Jika saja Li Ying lahir beberapa ratus tahun kemudian,"
Lu Xiao Feng tiba-tiba menarik nafas.
"atau jika ia ada di sini, tentu ia akan lebih mengharapkan arak tersedia di sini."
Hua Man Lou tertawa. Huo TianQing tak tahan untuk tidak tertawa juga.
"Arak dan makanan telah tersedia, hanya saja waktu Pemimpin Besar mendengar bahwa Lu Xiao Feng dan Hua Man Lou menjadi tamu kita hari ini, beliau memutuskan untuk datang dan bergabung dengan kita."
"Kita sedang menunggunya?"
Lu Xiao Feng bertanya.
"Jika tuan merasa sedikit kurang sabar, bagaimana kalau kita pesan makanan kecil untuk dinikmati bersama arak?"
Huo TianQing menawarkan.
"Menunggu sebentar lagi bukanlah masalah besar. Jarang sekali Pemimpin Besar dalam suasana yang begitu senang, seharusnya kita tidak menurunkan semangatnya,"
Ma XingKong segera menjawab.
"Aku juga tak ingin menurunkan semangat kalian! Cepat, bawakan arak!"
Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari luar paviliun.
Seseorang berjalan masuk, tawanya nyaring dan halus… Wajahnya putih dan gemuk dengan kulit yang lembut seperti seorang gadis muda.
Hanya hidung besar seperti paruh burung di wajahnya itu saja yang tampak jantan.
Hua Man Lou berfikir.
"Orang ini adalah Kepala Bendahara Kekaisaran Rajawali Emas, mungkinkah ia seorang kasim?"
"Apa kabar, Ketua?"
Ma XingKong telah bangkit dan memberi hormat. Tapi Yan TieShan bahkan tidak melirik sedikit pun padanya. Ia menggenggam tangan Lu Xiao Feng dan memandang wajahnya terus menerus. Tiba-tiba ia tertawa.
"Haha! Kau masih kelihatan sama. Kau tidak berubah sedikit pun sejak terakhir kali kita bertemu di puncak Memandang Matahari di TaiShan. Tapi bagaimana kau sekarang hanya punya 2 alis mata?"
Ia bicara dengan logat ShanXi yang kental, seolah-olah ia khawatir kalau orang lain tak tahu kalau ia berasal dari ShanXi. Mata Lu Xiao Feng berkilauan dan ia pun tersenyum.
"Aku tak bisa membayar arak yang aku minum, maka isteri pemilik warung arak itu mencukur kumisku untuk dijadikan bedak wajahnya."
Ucapannya itu membuat Yan TieShan tertawa lagi.
"Neneknya! Perempuan itu pasti menyukai saat-saat kumismu menyentuh wajahnya!"
Ia berpaling dan menepuk-nepuk pundak Hua Man Lou.
"Dan kau tentu putera ketujuh keluarga Hua! Dua kakakmu pernah datang ke sini sebelumnya. Saudara ke-3 dan ke-5 cukup kuat minumnya."
"Saudara ke-7 pun bisa minum sedikit,"
Hua Man Lou berkata sambil tersenyum.
"Bagus!"
Yan TieShan bertepuk tangan.
"Bagus sekali! Ambilkan kendi arak yang disimpan di bawah ranjangku. Yang tidak mabuk malam ini adalah cucu perempuan neneknya!"
Makanan ShanXi terkenal sangat pedas, dan pada makanan yang tersedia sekarang pun telah ditambahkan bubuk merica.
PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu.
Kekaisaran Rajawali Emas, Dengan menggunakan sumpit di tangannya yang putih dan halus, Yan TieShan terus-terusan menambahkan makanan ke mangkok Lu Xiao Feng.
"Ini adalah makanan khas ShanXi kami. Walaupun tak ada yang perlu disebut-sebut, kau tak akan mendapatkan ini di tempat lain neneknya."
"Jadi ketua berasal dari ShanXi?"
Lu Xiao Feng bertanya.
"Aku lahir dan dibesarkan dalam keluarga orang kebanyakan. Aku pernah pergi ke TaiShan suatu waktu, untuk melihat matahari neneknya. Tapi tak perduli bagaimana kupandang, dia hanya seperti sebuah kuning telur raksasa bagiku. Benar-benar membosankan."
Yan TieShan tertawa. Ia terus mengatakan "neneknya"
Di sana sini, seakan-akan ia berusaha meyakinkan setiap orang bahwa ia adalah seorang lelaki sejati, lelaki yang jantan dan kasar.
Lu Xiao Feng pun tertawa.
Sambil tersenyum ia mengangkat cangkir ke bibirnya dan tiba-tiba bertanya.
"Boleh saya tahu dari mana Bendahara Yan berasal?"
"Bendahara Huo,"
Ma XingKong segera mengkoreksi.
"bukan Bendahara Yan."
"Aku bukan sedang membicarakan Bendahara Huo dari Paviliun Mutiara dan Intan,"
Lu Xiao Feng menjawab dengan santai.
"Aku sedang membicarakan Yan LiBen, Kepala Bendahara dari Kekaisaran Rajawali Emas yang telah jatuh."
Tanpa berkedip ia memandang wajah Yan TieShan dan, sepatah kata demi sepatah kata, ia pun berujar.
"Aku yakin Ketua tentu kenal orang ini."
Wajah Yan TieShan yang putih, halus dan lembut tiba-tiba menegang seperti pita karet.
Bahkan senyuman itu pun menjadi kaku dan canggung.
Ia adalah orang yang tetap kelihatan sama tak perduli bagaimana pun suasana hatinya.
Tapi yang barusan dikatakan Lu Xiao Feng itu seperti sebuah cambuk, cambuk yang merobek sebuah luka lama, luka fatal yang mulai berdarah lagi.
"Jika Ketua kenal orang ini,"
Mata Lu Xiao Feng berkilauan ketika ia meneruskan lambat-lambat.
"maka tolong kau beritahukan padanya bahwa, karena hutang lamanya yang telah ditunggak puluhan tahun lamanya, seseorang datang untuk menagihnya."
"Bendahara Huo!"
Yan TieShan tiba-tiba berseru, wajahnya masih sangat tegang.
"Ya, Tuan?"
Huo TianQing tidak bergerak sedikit pun.
"Tuan Hua dan Tuan Lu tidak ingin tinggal di sini lagi. Tolong siapkan sebuah kereta kuda untuk mereka dan antarkan mereka, mereka ingin pergi sekarang juga!"
Yan TieShan berkata dengan dingin.
Tanpa menunggu jawaban, ia mengibaskan lengan bajunya ke arah mereka dan mulai berjalan ke luar.
Tapi sebelum ia mencapai pintu keluar, telah ada seseorang yang menghalangi jalannya.
"Mereka tidak ingin pergi, dan kau sebaiknya tetap di sini juga,"
Sebuah suara yang dingin berkata.
Orang ini bertubuh jangkung dan kukuh, semua yang ia kenakan berwarna putih seperti salju.
Tapi pedang yang tergantung di ikat pinggangnya berwarna hitam; hitam pekat, tipis, dan antik.
"Berani-beraninya kau tidak menghormatiku?"
Mata Yan TieShan seperti melompat keluar ketika ia berseru.
"Siapa kau?"
"XiMen Chui Xue."
XiMen Chui Xue, nama itu sendiri seperti pedang, dingin, tak berperasaan, dan tajam. Bahkan Yan TieShan terpaksa mundur teratur 2 langkah ke belakang.
"Penjaga!"
Ia tiba-tiba berteriak.
Selain dari 2 orang anak kecil yang menuangkan arak dan pelayan berbaju hijau yang sesekali masuk untuk membawakan makanan, paviliun itu benar-benar sepi, bahkan tidak ada tanda-tanda seseorang pun.
Tapi segera setelah Ketua Yan berteriak, 5 orang segera melesat masuk lewat jendela.
Gerakan mereka benar-benar cepat dan senjata mereka berkilauan, sebuah pedang bergelang, sebatang golok berbulu, lembing yang lentur seperti cambuk, sepasang cakar, dan dua nunchaku besi.
Lima jenis senjata itu adalah senjata-senjata yang luar biasa, siapa pun yang PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu.
Kekaisaran Rajawali Emas, menggunakan senjata seperti ini tentulah seorang jagoan kungfu.
Tapi XiMen Chui Xue bahkan tidak memandang mereka.
"Sekali pedangku dihunus, ia akan membunuh."
Ia berkata dengan dingin.
"Apakah kalian benar-benar ingin memaksaku mencabut pedang?"
Dari 5 orang itu, dua di antaranya sudah sangat hijau wajahnya.
Tapi selalu ada orang-orang yang tak takut mati.
Tiba-tiba angin mulai mengaung ketika golok berbulu itu menjadi dinding golok yang melesat ke arah XiMen Chui Xue.
Nunchaku itu pun berubah menjadi angin puting beliung yang ganas ketika menyapu ke lutut XiMen Chui Xue.
Senjata yang satu keras dan ganas, sementara yang satunya lagi cepat dan ringan, tapi keduanya dahsyat dan bekerja sama dalam keselarasan yang sempurna.
Tampaknya mereka berdua sering berlatih bersama-sama.
Kelopak mata XiMen Chui Xue tiba-tiba menyipit, pada saat itu pula pedangnya telah terhunus.
Huo TianQing tidak bergerak, ia malah menatap Lu Xiao Feng.
Jika Lu Xiao Feng tidak bergerak, maka ia pun tidak akan bergerak.
Tapi Ma XingKong telah bangkit.
"Bendahara Huo mengundang kalian ke sini sebagai tamu, bagaimana kalian berani membuat keributan di sini?"
Ia berteriak dengan bengis.
Sambil berteriak, tangannya turun ke pinggang dan menarik sebuah rotan naga bersisik ikan yang berwarna keemasan.
Dengan mengibaskannya sekali, rotan itu pun menyambar ke arah tenggorokan Hua Man Lou.
Ia tahu Hua Man Lou buta dan beranggapan bahwa akan lebih mudah menghadapi seorang laki-laki buta.
Senjata rotan naga miliknya itu sangat berbeda dengan senjata lainnya yang sejenis.
Sesudah rotan itu dikibaskan, lilitan naga yang terukir di rotan tiba-tiba akan membuka mulutnya dan "ting", sebuah pedang yang tipis tapi tajam akan melesat keluar.
Hua Man Lou tetap duduk di sana, menunggu dengan tenang.
Tiba-tiba ia mengangkat tangannya dan menangkap pedang itu di antara jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Ting!"
Lagi, pedang dari besi murni yang ditempa seorang tukang besi selama 3 bulan itu pun patah menjadi 3 bagian.
Wajah Ma XingKong berubah warnanya dan ia segera menyentakkan pergelangan tangannya, membuat rotan naga itu berputar-putar dan berusaha menyerang kedua telinga Hua Man Lou.
Hua Man Lou menarik nafas ketika ia memutar lengan bajunya seperti awan badai dan membungkus rotan naga itu.
Lalu ia menarik dengan perlahan.
Ma XingKong terjatuh ke atas meja, piring-piring pun beterbangan ke mana-mana.
Hua Man Lou mendorong sedikit dan mengirim tubuh orang itu terbang melalui jendela dan jatuh ke kolam bunga lotus yang mengelilingi paviliun.
"Pertunjukan yang luar biasa!"
Su ShaoYing tak terasa memuji.
"Bukannya aku yang hebat, tapi ia sendiri yang tidak bagus."
Hua Man Lou menjawab dengan santai.
"Sepertinya ilmu dan kekuatannya hanya tersisa 50 %. Apakah ia menderita luka dalam?"
"Analisa yang hebat. Tiga tahun yang lalu ia telah menerima pukulan pembelah udara dari Bendahara Huo."
Su ShaoYing menjawab.
"Tak heran,"
Hua Man Lou menarik nafas.
Ia akhirnya mengerti mengapa Ma XingKong bersikap seperti seorang penjilat tak tahu malu.
Jika orang seperti dia, yang mencari nafkah dari berkelahi, kehilangan sebagian besar kungfunya, maka ia harus menemukan seseorang untuk meminta perlindungan.
Dan tak ada yang lebih baik daripada meminta Paviliun Mutiara dan Intan sebagai pelindungnya.
Su ShaoYing tiba-tiba berujar.
"Maafkan aku, tapi aku ingin mencoba ilmu Tuan Hua yang luar biasa. Awas!"
Setelah menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba ia melesat dengan sumpit di tangannya.
PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu.
Kekaisaran Rajawali Emas, Pemuda yang sopan dan halus ini benar-benar mampu menggunakan sumpit itu sebagai pedang dan memainkan jurus-jurus ilmu pedang dari golongan putih.
Dalam sekejap mata, ia telah menggunakan 7 macam gerakan untuk menyerang Hua Man Lou.
Lu Xiao Feng tidak bergerak, ia hanya memandang Huo TianQing dalam kebisuan.
Jika Huo TianQing tidak bergerak, maka ia pun tak akan bergerak.
Sudah ada 3 orang yang tergeletak di lantai dan tak akan pernah bergerak lagi.
Golok berbulu itu telah menancap di ambang jendela, nunchaku telah terbang keluar jendela, dan lembing lemas pun telah patah menjadi 4 bagian.
Waktu pedang itu ditarik kembali, masih ada darah di ujungnya.
XiMen Chui Xue meniup darah di pedangnya itu dengan perlahan, membuat darah merah itu menetes jatuh ke lantai.
Walaupun wajahnya masih tanpa ekspresi, matanya yang dingin seperti batu tampak berkilauan saat menatap Yan TieShan dengan dingin.
"Seharusnya kau sendiri yang berkelahi,"
Ia berkata dengan dingin.
"Mengapa kau mengirim orang lain kepada kematiannya?"
"Karena aku telah lama membeli nyawa mereka!"
Yan TieShan menjawab sambil mendengus rendah.
Ia memberi isyarat dengan tangannya dan 6 orang lagi muncul di paviliun tersebut.
Matanya berputar-putar, seolah-olah ia sedang mencari jalan untuk melarikan diri.
Ia tidak bicara dalam aksen ShanXi lagi, juga tidak mencaci-maki nenek orang lagi.
Tapi suaranya menjadi tajam dan melengking, setiap kata yang keluar dari mulutnya pun seperti jarum, jarum yang menusuk gendang telinga orang lain.
Lu Xiao Feng tiba-tiba tertawa.
"Ternyata Ketua adalah seorang jagoan yang memiliki tenaga dalam yang luar biasa."
"Kungfunya mungkin lebih baik daripada semua orang di sini."
Huo TianQing menyahut dengan santai.
"Sayang sekali kalau begitu."
"Kenapa sayang?"
"Karena ia memiliki kelemahan yang fatal."
"Apa itu?"
"Ia takut mati!"
Su ShaoYing telah memulai rentetan 7 jurus ilmu pedang berikutnya.
Jurus-jurus itu cepat, dinamis, dan cekatan, tak pernah jauh dari wajah Hua Man Lou.
Hua Man Lou masih duduk di situ, dengan sebatang sumpit di tangannya.
Dengan sebuah sentilan atau putaran sederhana, seolah-olah itu adalah hal yang paling alami di dunia, gerakannya mampu mengatasi setiap serangan Su ShaoYing.
Sesudah 7 jurus yang kedua berlalu, Su ShaoYing tiba-tiba berhenti.
Ia tiba-tiba menyadari bahwa orang buta yang selalu tersenyum ini seolah-olah lebih tahu tentang ilmu pedangnya daripada dirinya sendiri.
Setiap kali ia membuat sebuah gerakan, seketika itu juga musuhnya ini tahu bahwa serangannya akan tiba.
"Apakah Tuan juga murid E’Mei?"
Ia terpaksa bertanya. Hua Man Lou menggelengkan kepalanya dengan perlahan dan tersenyum.
"Bagi kalian, setiap ilmu pedang dari setiap sekte di dunia ini menggunakan gerakan dan strategi yang berbeda-beda. Tapi bagi orang buta, semua gerakan di dunia ini adalah sama."
Ini adalah prinsip yang paling mendasar dalam ilmu bela diri.
Su ShaoYing seperti faham, tapi seperti juga tidak.
Ia ingin menyelidiki lebih jauh, tapi tak tahu bagaimana atau apa yang harus ditanyakan.
"Apakah Tuan ini salah satu dari 7 Pedang E’Mei?"
Malah Hua Man Lou yang mengajukan pertanyaan berikutnya. Su ShaoYing bimbang sebelum akhirnya menjawab.
"Aku adalah Su kedua di antara 7 Pedang E’Mei."
"Jadi ia murid perguruan pedang juga?"
XiMen Chui Xue tiba-tiba memotong dengan dingin.
"Mengapa kau tidak menantangku?"
PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu. Kekaisaran Rajawali Emas, Wajah Su ShaoYing menjadi pucat.
"Tak!", sumpit di tangannya patah menjadi 2 bagian.
"Menurut kabar, ilmu pedang E’Mei adalah yang terbaik di seluruh daratan,"
XiMen Chui Xue mendengus.
"mungkinkah ilmu mereka sebenarnya tidak pantas menyandang status yang demikian mulia?"
Sambil mengkertakkan giginya, Su ShaoYing tiba-tiba berputar, tepat pada saat itu pula ia melihat tetesan darah terakhir menetes dari ujung pedang XiMen Chui Xue.
Lu Xiao Feng dan Huo TianQing masih duduk di sana dalam kebisuan, sambil saling berpandangan, seakan-akan mereka sedang menunggu musuh bergerak lebih dulu.
Tapi sudah ada 7 mayat yang bergelimpangan di lantai.
Dari ke-7 orang itu, masing-masing merupakan jagoan kelas satu.
Tapi mereka semua segera tertusuk tenggorokannya oleh pedang XiMen Chui Xue.
Mata Yan TieShan mulai menyipit.
Baru sekarang orang bisa melihat bahwa usia tua telah mempengaruhi dirinya.
Tapi ia tidak merasakan kesedihan atau simpati bagi orang-orang yang telah mati untuk dirinya ini.
Ia masih berada di sini hanya karena kesempatan terbaik belum muncul dan ia masih belum terpaksa untuk lari dari tempat itu.
Keempat orang yang masih bisa bergerak itu telah kehilangan keberanian mereka untuk bergebrak lagi.
Melihat Su ShaoYing mulai maju, mereka segera menyingkir.
Langkah Su ShaoYing mantap, tapi wajahnya pucat tak berwarna.
"Pedang apa yang engkau gunakan?"
XiMen Chui Xue bertanya, sambil menatapnya dengan dingin.
"Selama bisa dipakai untuk membunuh, aku bisa menggunakannya,"
Su ShaoYing balas mendengus dan menjawab.
"Bagus, ada pedang di lantai, silakan."
Memang ada 2 bilah pedang di lantai, tergeletak dalam genangan darah.
Satu pedang tipis dan panjang, sementara yang lainnya tebal dan berat.
Su ShaoYing bimbang sebentar sebelum ujung kakinya mengait salah satu pedang dan melemparkannya ke udara.
Pedang itu mendarat dengan sempurna di tangannya.
Ilmu pedang Sekte E’Mei terkenal dengan kecepatan dan keluwesannya, tapi ia malah mengambil pedang yang berat.
Pemuda ini jelas bermaksud menggunakan kekuatan fisiknya yang masih muda digabung dengan gerakan-gerakan yang agresif dan keji untuk menghadapi cara bertarung XiMen Chui Xue yang secepat kilat dan mematikan.
Ini adalah pilihan yang tepat.
Murid-murid DuGu YiHe semuanya memang memiliki kemampuan menilai musuh yang luar biasa.
Tapi kali ini ia keliru, seharusnya ia tidak mengambil sebatang pedang pun.
XiMen Chui Xue menatapnya.
"Duapuluh tahun dari sekarang, ilmu pedangmu akan mencapai puncaknya,"
XiMen Chui Xue berkata.
"Oh?"
Su ShaoYing menjawab.
"Maka aku tidak ingin membunuhmu sekarang. Dua puluh tahun lagi, datang dan carilah aku."
"Dua puluh tahun adalah penantian yang terlalu lama!"
Su ShaoYing tiba-tiba berseru.
"Aku tak bisa menunggu selama itu!"
Ia seorang pemuda yang masih berdarah panas.
Merasakan darah naik ke kepalanya, ia lalu menyerang dengan pedang di tangan.
Gerakan pedang itu samar-samar membawa pula gerakan-gerakan ilmu golok.
Ini adalah ilmu ciptaan DuGu YiHe, Golok dan Pedang Berpadu, terdiri dari 49 gerakan dan perubahan.
Waktu ia bergabung dengan Sekte E’Mei, ia telah memiliki ilmu golok yang luar biasa setelah 30 tahun berlatih dengan keras.
Ia mampu menggabungkan keganasan dan intensitas ilmu golok ke dalam ilmu pedang Sekte E’Mei yang terkenal tangkas dan dinamis.
Ke-49 gerakan yang ia ciptakan ini bisa digunakan dengan golok atau pun PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu.
Kekaisaran Rajawali Emas, pedang.
Tak ada ilmu lain seperti ini di dunia.
Bahkan Lu Xiao Feng belum pernah melihat kungfu seperti ini.
Mata XiMen Chui Xue semakin terang nyalanya.
Baginya, melihat sebuah ilmu baru dan asing untuk pertama kalinya adalah seperti seorang anak kecil yang menemukan mainan baru dan asing, ada kesenangan dan keingin-tahuan yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata.
Ia menunggu sampai Su ShaoYing telah melakukan 21 macam gerakan sebelum akhirnya ia membuat sebuah gerakan.
Karena ia telah menemukan titik lemah dari ilmu ini, walaupun itu mungkin hanya sebuah kelemahan kecil, tapi kelemahan yang sedikit saja sudah cukup baginya.
Pedangnya berkilauan.
Dengan hanya satu gerakan saja, pedangnya telah menembus tenggorokan Su ShaoYing.
Ujung pedang itu masih meneteskan darah.
XiMen Chui Xue meniup darah di ujung pedangnya dengan perlahan.
Ia menatap pedangnya, di matanya tiba-tiba muncul perasaan sepi dan sunyi.Ia tiba-tiba menarik nafas.
"Mengapa semua orang-orang muda terbaik seperti dirimu selalu mencari kematian seperti ini? Dalam duapuluh tahun, di mana lagi aku akan menemukan lawan yang berharga?"
Jika kata-kata itu keluar dari mulut orang lain, tentu terasa agak memuakkan.
Tapi bila muncul dari dirinya, kata-kata itu seperti membawa kesedihan dan kesepian yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata.
"Jika itu masalahnya, lalu kenapa kau membunuhnya?"
Hua Man Lou tiba-tiba bertanya.
"Karena satu-satunya gerakan pedang yang kukenal adalah membunuh,"
XiMen Chui Xue menjawab dengan wajah yang kaku.
Hua Man Lou menarik nafas, karena ia tahu orang ini mengatakan hal yang sebenarnya.
Setiap gerakan yang dibuat orang ini adalah final dan untuk membunuh, tanpa kompromi, tak ada ruangan untuk mundur.
"Kau mati, atau aku yang mati!"
Setiap kali pedangnya ditusukkan, tak pernah ada pilihan lain yang tersisa untuk musuhnya, bahkan juga tidak ada pilihan lain untuk dirinya sendiri.
Angin bertiup dari luar paviliun, membawa keharuman bunga lotus yang menyegarkan, tapi tetap tak mampu menghilangkan bau amis darah yang menyengat.
XiMen Chui Xue tiba-tiba berpaling ke arah Yan TieShan.
"Jika kau tidak pergi, aku tak akan menyerang. Jika kau bergerak, kau mati!"
Ia berkata dengan dingin.
"Mengapa aku harus pergi?"
Yan TieShan tersenyum.
"Aku tak tahu kenapa kalian melakukan hal ini."
"Seharusnya kau tahu,"
Lu Xiao Feng menarik nafas.
"Tapi kenyataannya tidak."
"Tapi bagaimana dengan Yan LiBen? Apakah ia tahu?"
Mata Yan TieShan mulai menyipit lagi.
Pada wajahnya yang putih dan gemuk tiba-tiba muncul perasaan takut yang aneh.
Tiba-tiba ia tampak seperti jauh lebih tua.
Setelah beberapa lama, akhirnya ia menarik nafas dan bergumam.
"Yan LiBen sudah lama mati, kenapa kalian masih mencarinya?"
"Bukan kami yang menginginkan dia,"
Lu Xiao Feng menjawab.
"Lalu siapa?"
"Kaisar Rajawali Emas."
Mendengar nama itu, wajah Yan TieShan yang sudah tampak aneh tiba-tiba jadi semakin menakutkan.
Tubuhnya tiba-tiba mulai berputar seperti gasing dan paviliun itu tiba-tiba menjadi terang-benderang seperti ada kilat.
Bersamaan dengan kilat itu, puluhan batang jarum benang sutera tiba-tiba meluncur seperti tetesan air dalam badai, melesat ke arah XiMen Chui Xue, Hua Man Lou, dan Lu Xiao Feng.
Pada saat itulah sebuah hawa pedang melesat menembus kilatan cahaya tadi.
Hawa itu dingin membeku dan suaranya seperti angin yang bertiup di hutan bambu.
Hawa dan kilat itu tiba-tiba menghilang, sebagai gantinya adalah puluhan PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu.
Kekaisaran Rajawali Emas, butir mutiara yang seperti jatuh dari langit, setiap mutiara telah terbelah dua.
Pedang yang begitu cepat.
Tapi Yan TieShan telah menghilang.
Lu Xiao Feng pun telah menghilang.
Di permukaan kolam bunga lotus di luar, seperti ada sosok tubuh yang ujung kakinya mendarat perlahan di atas daun bunga lotus sebelum kemudian melayang lagi.
Sebenarnya sosok tubuh itu terdiri dari 2 orang, tapi mereka berdua seperti berhimpit, dengan orang yang mengejar praktis menjadi bayang-bayang orang yang berada di depan.
Sosok tubuh itu tiba-tiba seperti pecah dan menghilang.
Tapi suara pakaian yang berkibar-kibar di udara bisa terdengar dari dalam paviliun.
Lalu Yan TieShan tiba-tiba muncul kembali.
Lu Xiao Feng pun muncul kembali, masih duduk di kursinya semula, seolah-olah ia belum pernah pergi.
Yan TieShan juga berdiri di tempatnya semula, tapi ia bersandar ke dinding, sambil berusaha mengambil nafas.
Dalam beberapa saat terakhir ini, tampaknya ia telah bertambah tua lagi.
Waktu pertama kalinya ia memasuki paviliun itu, ia adalah seorang laki-laki setengah baya yang bersemangat.
Wajahnya bersih dan halus, tanpa jenggot sedikit pun.
Tapi sekarang, orang akan mengatakan bahwa ia adalah seorang laki-laki tua berusia 80 tahun.
Wajahnya murung dan sinar matanya memudar.
Sambil mengambil nafas, ia mengakui.
"Aku semakin… semakin tua."
Lu Xiao Feng menatapnya dan tak tahan untuk tidak menarik nafas juga.
"Kau memang sudah semakin tua."
"Kenapa kau melakukan ini pada seorang laki-laki tua?"
"Karena orang tua ini berhutang sesuatu pada orang lain. Tak perduli berapa tuanya dia, ia harus membayarnya lunas."
"Aku selalu membayar hutang-hutangku, tapi sejak kapan aku berhutang sesuatu pada orang lain?"
"Mungkin kau tidak, tapi bagaimana dengan Yan LiBen?"
Wajah Yan TieShan berkerut-kerut lagi dan ia berteriak dengan bengis.
"Benar! Aku Yan LiBen! Bendahara Yan pemakan manusia itu. Tapi sejak aku berada di sini, aku…."
Tiba-tiba ia berhenti, wajahnya yang berkerut-kerut itu tiba-tiba dan secara ajaib menjadi tenang.
Lalu setiap orang melihat darah menyembur dari dadanya, seperti sebuah bunga yang tiba-tiba mekar.
Setelah semburan darah itu, alirannya mulai menyusut, barulah pedang yang menancap di dadanya itu jadi kelihatan.
Yan TieShan menunduk dan melihat ujung pedang yang berkilauan itu, ia tampak terkejut dan bingung.
Tapi ia masih belum mati, dadanya masih kembang kempis.
Wajah Huo TianQing menjadi kaku seperti batu.
Ia bangkit dan berseru.
"Siapa yang melakukannya? Siapa?"
"Aku!"
Sebuah suara yang bening dan nyaring seperti lonceng menjawab.
Seperti seekor walet, seseorang terbang masuk lewat jendela.
Pakaiannya melekat ke tubuhnya seperti kulit hiu hitam karena basah kuyup.
Tubuh yang demikian ramping, air pun masih bertetesan dari tubuhnya.
Jelas ia baru keluar dari kolam bunga lotus di luar sana.
Yan TieShan memaksakan matanya terbuka dan tercengang melihatnya, mengumpulkan seluruh kekuatan di tubuhnya untuk mengucapkan 2 patah kata.
"Siapa kau?"
Ia melepaskan kain yang menutupi kepalanya, membiarkan rambutnya yang hitam legam terurai di pundaknya.
Hal itu membuat wajahnya tampak lebih putih, lebih cantik.
Tapi matanya, yang sedang menatap Yan TieShan, penuh dengan sinar PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu.
Kekaisaran Rajawali Emas, kebencian.
"Aku Puteri DanFeng dari Kekaisaran Rajawali Emas. Aku adalah orang yang ingin mencarimu untuk menagih hutang lamamu,"
Ia menjawab dengan dendam.
Yan TieShan balas memandangnya dengan terkejut.
Tiba-tiba matanya melotot dan tubuhnya mengejang, dan tak pernah bergerak lagi.
Pada sepasang mata yang melotot itu ada ekspresi yang aneh tapi tak dapat difahami.
Apakah itu kaget?
Apakah itu gusar?
Atau perasaan ngeri?
Ia tidak roboh, karena pedang itu masih menancap di dadanya.
Pedang itu dingin, darahnya pun dingin.
Puteri DanFeng akhirnya berpaling dengan perlahan.
Kemarahan dan kebencian di wajahnya berubah menjadi kesedihan.
Ia hendak menyapa Lu Xiao Feng waktu XiMen Chui Xue tiba-tiba berkata.
"Kau menggunakan pedang juga?"
Puteri DanFeng tercengang sebentar sebelum akhirnya mengangguk.
"Sejak hari ini, jika kau menggunakan pedang lagi, aku akan membunuhmu!"
Benar-benar terkejut, Puteri DanFeng bertanya secara naluriah.
"Mengapa?"
"Pedang tidak digunakan untuk membunuh dari belakang. Jika kau membunuh dari belakang, maka kau tidak berharga untuk menggunakan pedang."
Ia tiba-tiba mengibaskan tangannya.
"Tak!"
Ujung pedangnya telah memukul ujung pedang di dada Yan TieShan.
Tubuh Yan TieShan roboh ke lantai, dan pedang di dadanya pun terpukul jatuh ke dalam kolam bunga lotus.
XiMen Chui Xue telah berada di luar paviliun.
Mengangkat pedang yang masih bernoda darah itu ke dekat wajahnya, ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
Pedang itu tiba-tiba patah menjadi 6 bagian dan jatuh ke tanah.
Angin berhembus, kabut malam mulai muncul di kolam bunga lotus itu, dan XiMen Chui Xue tiba-tiba menghilang dalam kabut.
Huo TianQing terduduk, tanpa bergerak sedikit pun.
Wajahnya seperti topeng batu.
Tapi Lu Xiao Feng tahu bahwa tanpa ekspresi malah merupakan ekspresi yang paling sedih.
"Yan TieShan adalah pengkhianat Kekaisaran Rajawali Emas, maka urusan ini bukanlah persoalan pribadi. Juga bukan sesuatu yang boleh dicampuri oleh orang luar,"
Lu Xiao Feng menarik nafas.
"Aku tahu,"
Huo TianQing mengangguk.
"Jadi kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri."
Huo TianQing membisu beberapa lama. Tiba-tiba ia menengadah.
"Tapi akulah yang mengundang kalian ke mari."
"Ya."
"Jika kau tak datang, paling tidak Yan TieShan masih belum mati saat ini."
"Apa yang kau katakan?"
"Aku tidak mengatakan apa-apa,"
Huo TianQing menjawab dengan dingin.
"Hanya saja aku ingin melihat kungfu meringankan tubuh Phoenix Bersayap Kembar Lu Xiao Feng dan ilmu ‘Ide Dalam Hati’ milikmu yang legendaris itu."
"Haruskah kau bertarung denganku?"
Lu Xiao Feng memaksakan sebuah senyuman.
"Ya."
Lu Xiao Feng menarik nafas. Puteri DanFeng tiba-tiba maju ke hadapan Huo TianQing dan berseru.
"Mengapa kau harus berkelahi dengannya? Kau seharusnya berkelahi denganku!"
"Kau?"
"Aku orang yang membunuh Yan TieShan, membunuhnya dari belakang. Mengapa kau tidak mencoba dan menguji apakah membunuh orang dari belakang adalah satu-satunya hal yang aku ketahui!"
Ia mendengus pada laki-laki itu.
Ia baru saja dihina oleh XiMen Chui Xue, dan perasaan frustrasi yang terpendam itu harus segera dilampiaskan pada sesuatu, dan sesuatu itu adalah Huo TianQing.
PENDEKAR 4 ALIS Buku Satu.
Kekaisaran Rajawali Emas, Huo TianQing memandang padanya dan menjawab dengan lembut.
"Apa pun hutang Yan TieShan padamu, aku akan membayarnya. Kau boleh pergi sekarang."
"Kau tidak berani bertarung denganku?"
"Bukannya aku tidak berani, tapi tidak mau."
"Kenapa?"
"Karena kau tidak punya kesempatan bila melawanku,"
Huo TianQing menjawab dengan santai.
Wajah Puteri DanFeng menjadi merah padam karena marah, tiba-tiba ia mengulurkan 2 jarinya yang lembut dan halus dan berusaha menusuk mata Huo TianQing.
Walaupun jari-jarinya lembut seperti tunas yang baru tumbuh, gerakannya benar-benar penuh dendam dan keji, belum lagi kalau memperhitungkan kecepatannya.
Pundak Huo TianQing tidak bergerak, begitu juga dengan tangannya, tapi tubuhnya tiba-tiba melesat mundur sejauh 20 m.
Sambil mengambil jenasah Yan TieShan, ia berkata.
"Lu Xiao Feng, aku akan menunggumu pada saat matahari terbit di Kuil Angin Hijau."
Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, ia telah berada di luar paviliun.
Puteri DanFeng menggigit bibirnya dan menghentak-hentakkan kakinya ke atas tanah.
Ia begitu marah dan ingin menangis.
Tapi Lu Xiao Feng tiba-tiba tersenyum.
"Jika kau gunakan Jarum Phoenix Terbang, mungkin ia tak akan mampu lari."
"Jarum Phoenix Terbang? Apa yang kau bicarakan?"
Puteri DanFeng tampak bingung.
"Senjata rahasia milikmu, Jarum Phoenix Terbang."
Puteri DanFeng menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya mendengus.
"Kelihatannya aku bukan hanya bisa membunuh orang dari belakang, aku pun bisa membunuh dengan senjata rahasia."
"Senjata rahasia tetaplah senjata. Banyak orang baik-baik di dunia persilatan yang menggunakan senjata seperti itu."
"Tapi aku tak pernah menggunakannya, aku tak pernah mendengar ‘Jarum Phoenix Terbang’ itu sebelumnya."
Jawaban ini tidak membuat Lu Xiao Feng terkejut, satu-satunya alasan ia menanyakan itu adalah untuk meyakinkan bahwa setan kecil itu memang berdusta lagi pada dirinya.
Tapi Puteri DanFeng begitu sedih sehingga matanya tampak merah.
Baca Juga: Kisah Si Rase Terbang 11
Baca Juga: Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 13