Ceritasilat Novel Online

Peristiwa Merah Salju 8

Eps 8 Peristiwa Merah Salju - Gu Long

Baca online Peristiwa Merah Salju - Gu Long

Cersil Peristiwa Merah Salju - Gu Long.

"Setiap saat kau masih bisa membunuhnya, dia sudah tidak memiliki kekuatan melakukan perlawanan!"

Tapi persoalannya adalah apakah orang ini pantas dibunuh? "Orang ini masih berharga untuk dibunuh?"

Tiada orang bisa menjawabkan pertanyaan Pho Ang-soat ini.

Dia harus melakukan pilihan sendiri.

Membunuh?

Atau tidak membunuh?

Ujung jari Pho Ang-soat tak bergerak, keringat dingin mengucur di kepala dan punggungnya, mengalir ke bawah.

Sekarang tiada orang menghalangi niatnya membalas dendam, namun ia justru merasa semakin menderita.

Berusaha keras mengendalikan kesulitan yang diciptakan orang bukanlah suatu perbuatan yang menderita.

Sekarang dia menderita karena kesulitan itu justru tercipta dalam hati sendiri.

Ia tak sanggup melakukan pilihan, ia tak mampu mengambil keputusan.

Semua orang sedang memandang wajah Pho Ang-soat, dalam hati dipenuhi persoalan yang sama.

Dia akan membunuh Gi Toa-keng atau tidak?

Angin masih menderu-deru, makin lama semakin kencang.

Mendengar deru angin kencang seperti ini, terbayang akan padang rumput yang luas, membayangkan debu di gurun pasir yang beterbangan, bau anyir darah di tengah hembusan angin....

Rembulan di tengah cakrawala begitu indah.

Di bawah pancaran sinar rembulan, banyak kenangan manis melintas dalam benak orang.

Di antara begitu banyak kenangan, terdapat pula orang-orang yang patut kau kenang.

Sejumlah orang yang meski menjengkelkan tapi juga menyenangkan.

Setiap orang punya kejelekan, tapi juga ada hal-hal yang menyenangkan.

Sekarang Yap Kay sedang membayangkan Siau Piat-li.

Dia sendiri tak tahu mengapa secara tiba-tiba teringat orang ini, mungkinkah disebabkan orang ini tidak seharusnya mati?

Dia menyesal, mengapa orang ini dibiarkan mati?

Justru mereka yang seharusnya mati, kini malah hidup bebas merdeka.

"Aku tidak membunuhmu, karena kau tak berharga untuk kubunuh!"

"Tapi aku tak akan melepaskan Be Khong-cun! Dia bukan cuma sahabat ayahku, bahkan mereka bersaudara, bagaimana pun juga dia tak seharusnya melakukan perbuatan ini."

"Aku bersumpah akan membunuhnya dengan golokku!"

Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Pho Ang-soat.

Inilah pilihannya yang terakhir.

Ia tidak membunuh Gi Toa-keng.

Dia pun tidak memandang orang lain, pelan-pelan berjalan keluar pintu, kaki kiri maju selangkah lebih dulu, kemudian kaki kanan diseret.

Gaya berjalannya memang aneh, seperti juga orangnya.

Tapi goloknya masih tetap berwarna hitam, dingin mencekam.

Sesungguhnya dia yang menggenggam golok itu ataukah golok itu yang menggenggam nasibnya?

"Yang dapat diberikan golok buat manusia hanya kematian serta ketidak beruntungan!"

Yap Kay seolah-olah mendengar suara Siau Piat-li yang bersumpah bagaikan jeritan dari neraka.

Ia memandang Pho Ang-soat berjalan keluar, menuju ke balik kegelapan yang tidak bertepian.

Angin berhembus makin dingin dan kencang.

Dari balik kegelapan, bayangannya nampak menyendiri, begitu mengenaskan....

Mata Yap Kay mengembeng air mata.

Ting Hun-pin hanya memperhatikan satu orang.

Tiba-tiba ia berbisik.

"Mengapa kau bersedih?"

"Aku tidak bersedih, aku sedang gembira."

"Apa sebabnya gembira?"

"Karena dia tidak membunuh Gi Toa-keng."

Baru saja ucapan ini selesai diutarakan, mendadak terdengar suara isak tangis Gi Toa-keng. Sudah lama dia tidak menangis dia bukan lelaki yang gampang mengungkapkan emosi di hadapan orang lain.

"Benarkah ada kalanya hidup jauh lebih menderita daripada mati."

Pertanyaan itu hanya Gi Toa-keng seorang yang dapat menjawab, kemudian dia memandang ke arah Lok Siau-ka.

Lok Siau-ka berdiri mematung di tempatnya, tidak bergerak, juga tidak makan kacang.

Wajahnya kaku, tiada emosi sedikit pun.

Tanpa emosi bukankah ada kalanya merupakan puncak penderitaan?

Tiba-tiba orang asing itu menghela napas panjang, katanya.

"Sekarang kau boleh mengantarnya pulang.

"Biasanya aku jarang sekali minum arak, tapi hari ini aku boleh melanggar kebiasaan ini."

Arak berada dalam cawan di tangannya. Cahaya lentera amat redup, warna arak kuning tua. Arak ini bukan arak terbaik.

"Baik buruknya arak bukan terletak pada araknya sendiri, melainkan dalam keadaan dan perasaan macam apa kau minum arak."

Jika seseorang sedang menderita dan murung, kendati tersedia arak paling wangi yang tiada duanya di dunia pun, akan terasa getir dalam mulut. Tiba-tiba orang asing itu berkata.

"Hari ini aku pun merasa amat gembira."

"Apakah disebabkan dia tidak membunuh Gi Toa-keng?"

Tanya Yap Kay cepat. Orang itu manggut-manggut, lalu mengucapkan sepatah kalimat yang tak pernah dilupakan Yap Kay untuk selamanya.

"Bisa membunuh orang bukanlah suatu pekerjaan sukar, bisa mengampuni seorang musuh besar yang setiap saat ingin kau bunuh jushu merupakan suatu pekerjaan yang teramat sukar."

Dengan seksama Yap Kay menganalisa kata-kata ini, ia merasa ucapan itu penuh mengandung kepedihan dan rasa manis, tak tahan ia meneguk habis isi cawannya.

Orang itupun meneguk habis isi cawannya, kemudian ujarnya sambil tersenyum.

"Sudah lama aku tak minum arak dengan cara begini, padahal dulu takaran minum arakku bagus sekali, tapi kemudian.... Dia tidak melanjutkan kata-katanya. Yap Kay juga tidak bertanya, sebab dia telah menyaksikan dari balik matanya yang tak berperasaan, mendadak terpancar perasaan hangat. Cepat dia penuhi kembali cawan araknya yang telah kosong itu. Ting Hun-pin mengawasi dari samping. Selama berada di samping Yap Kay, baru pertama kali ini dia mengawasi orang lain dengan cara begitu. Mendadak ia bertanya.

"Kau benar-benar adalah A...."

"Ya, akulah A Fei,"

Jawab orang itu sambil tertawa.

"setiap orang memanggil A Fei kepadaku."

Dengan wajah memerah Ting Hun-pin tertawa, katanya sambil menunduk.

"Bolehkah aku pun menghormati secawan arak untukmu?"

"Tentu boleh saja."

Ting Hun-pin segera meneguk habis isi cawannya, sementara sorot matanya bercahaya terang.

Bagaimanapun juga dapat minum arak A Fei memang merupakan peristiwa yang pantas dibanggakan.

Memandang sorot mata anak muda yang berkilauan itu, tiba-tiba orang asing itu merasakan hatinya pedih.

Hanya dia sendiri yang tahu bahwa sekarang ia tak mungkin lagi menjadi A Fei yang dulu.

A Fei yang dulu malang melintang di dunia persilatan, sekarang tak lebih hanya seorang asing dunia persilatan.

Dia pun enggan mendengar orang lain membicarakan semua kejadian yang pernah dilakukannya dulu.

Hal ini tak mungkin bisa dipahami Ting Hun-pin, maka katanya sambil tertawa.

"Aku sudah lama mendengar orang berkata bahwa kau adalah orang tercepat di kolong langit, tapi hingga hari ini aku baru mempercayainya."

Orang asing itu tertawa hambar.

"Kau keliru,"

Ujarnya.

"masih ada seseorang yang selamanya jauh lebih cepat dari aku."

Ting Hun-pin membelalakkan mata, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Terdengar orang asing itu bertanya.

"Tahukah kau siapa yang mengajar ilmu pedang kepada Lok Siau-ka...."

Ting Hun-pin menggeleng kepala berulang-kali.

"Dia adalah Sim Bu-beng."

"Sim Bu-beng?"

Seru Ting Hun-pin sambil tertawa.

"apakah dia tidak mempunyai nyawa?"

"Setiap orang pasti punya nyawa, begitu pula dengannya, tapi dia beranggapan bahwa nyawanya bukanlah miliknya.

"Nama ini memang aneh, cara berpikir semacam itu lebih aneh lagi"

"Dia memang seorang yang aneh sekali,"

Ucap orang asing ini sambil menghela napas panjang.

"Apakah permainan pedangnya amat cepat?"

"Menurut apa yang kuketahui, tiada seorang pun di dunia persilatan ini yang memiliki permainan pedang jauh lebih cepat daripadanya, dan lagi tangan kiri serta kanan sama-sama cepat dan ganas, kecepatannya sungguh tak terbayangkan."

Tanpa terasa Ting Hun-pin membayangkan manusia yang angkuh dan dingin, katanya.

"Aku pikir dia pasti angkuh sekali."

"Bukan cuma angkuh, bahkan dingin dan ketus, dia bisa membunuh orang hanya disebabkan sepatah kata saja, dia pun bisa membunuh diri sendiri hanya disebabkan sepatah kata."

"Orang lain pasti amat takut kepadanya."

Orang asing itu manggut-manggut, sorot matanya memancarkan kembali sinar kepedihan, pelan-pelan ujarnya.

"Tapi sekarang di mata orang persilatan dia tak lebih hanya seorang asing."

"Bagaimana pula dengan Siau-li si pisau terbang? Apakah gerakannya lebih cepat dari Sim Bubeng?"

Tiba-tiba mencorong terang sorot mata orang asing itu, sahutnya.

"Ilmu silatnya sudah tak dapat dibayangkan."

Ting Hun-pin mengedipkan mata berulang kali.

"Aku mengerti, bukan masalah cepat atau lambat, karena ilmu silatnya sudah mencapai tingkatan agung dan mulia, tiada orang sanggup mengalahkan dirinya...."

"Ya, tiada."

"Oleh karena itu meskipun ilmu silat Siangkoan Kim-hong tiada tandingannya di kolong langit, dia toh masih kalah juga di tangannya."

"Kau memang cerdik,"

Seru orang asing itu sambil tersenyum.

"Sekarang apakah dia masih hidup?"

Orang itu tersenyum.

"Sekarang apakah aku masih hidup?"

Dia balik bertanya.

"Tentu saja kau masih hidup."

"Kalau begitu dia tentu juga masih hidup."

"Seandainya dia telah mati, apakah kau pun akan menemaninya mati?"

Tanya Ting Hun-pin lagi.

"Mungkin aku tak akan menemaninya mati, tapi setelah dia mati, di dunia ini tak akan ada orang yang bisa bertemu dengan diriku lagi."

Suaranya masih tetap tenang, seakan-akan dia sedang membeberkan suatu persoalan yang sederhana sekali.

Tapi siapa pun dapat merasakan bahwa kata-katanya itu memperlihatkan betapa mendalamnya hubungan persahabatan mereka.

Mencorong terang mata Ting Hun-pin, katanya.

"Aku pernah mendengar orang berkata bahwa di dunia ini tiada orang ketiga yang bisa menandingi persahabatan kalian, sekarang baru aku percaya."

"Persahabatan sungguh sangat berharga, entah Pek Thian-ih itu orang macam apa, aku anggap cara Be Khong-cun memberi pelajaran kepadanya merupakan peristiwa yang amat memalukan."

"Oleh karena itu kau tidak keberatan bila Pho Ang-soat pergi membunuhnya?"

Orang itu menghela napas.

"Tapi Li Sun-huan pasti tak akan berpendapat demikian, dia hanya tahu bagaimana cara mengampuni orang dan merasa kasihan terhadap orang Seketika itu juga hati Ting Hun-pin dipenuhi oleh perasaan agung dan mulia, sejenak kemudian baru ia bertanya dengan suara pelan.

"Belakangan ini pernahkah kau bertemu dengannya?"

"Setiap tahun paling tidak kami bertemu satu kali."

"Tahukah kau dia berada dimana?"

Sesungguhnya tak perlu dia bertanya hal ini, sebab persahabatan mereka sudah tiada batasnya, berjumpa dimanapun sama saja.

Sampai dimana perasaan itu, bahkah Ting Hun-pin sendiri pun dapat merasakannya.

Sorot mata si gadis dialihkan ke tempat jauh.

"Aku berharap pada suatu hari bisa berjumpa dengannya."

Kokok ayam jago sudah terdengar.

Sinar mentari fajar telah menyorot dari balik langit timur yang berawan.

Pelan-pelan orang asing itu bangkit berdiri, sambil memegang bahu Yap Kay, katanya sambil tersenyum.

"Aku selalu menghormatinya, selalu ingin menjadikan dia sebagai contohmu, oleh karena itu aku merasa gembira."

Mata Yap Kay terasa basah, hatinya penuh dengan luapan perasaan gembira dan terima kasih.

"Semoga saja aku dapat melakukannya!"

"Asal kau mempunyai tekad untuk berbuat demikian, sudah pasti kau dapat melakukannya."

"Kau ...."

Orang asing itu memandang cahaya keemasan di ufuk timur.

"Aku hendak pergi ke Kanglam, mungkin di sana aku dapat berjumpa dengannya."

Katanya pula kepada Ting Hun-pin sambil tertawa.

"Aku pasti akan memberitahu kepadanya, ada seorang gadis cantik dan pintar berharap dapat berjumpa dengannya."

Ting Hun-pin tertawa, matanya berkilat penuh rasa terima kasih serta pengharapan.

"Aku pun berharap bisa mengetahui satu hal."

"Katakanlah."

"Apakah di Kanglam akan terjadi suatu peristiwa besar yang menggetarkan dunia, hingga kalian berdatangan ke wilayah Kanglam?"

"Cuma pekerjaan yang hendak kami lakukan yang tak ingin diketahui orang lain, maka tak mungkin ada orang bakal mengetahuinya."

Pelan-pelan dia berjalan keluar, tiba di luar pintu, berdiri di bawah pancaran sinar matahari pagi, dia menarik napas panjang, kemudian berpaling dan tertawa, katanya.

"Perkataan yang kuucapkan hari ini jauh lebih banyak daripada biasanya, tahukah kalian apa sebabnya?"

Tentu saja mereka tidak tahu.

"Karena aku sudah tua, biasanya orang tua lebih suka banyak bicara daripada orang muda."

Selesai berkata dia lantas berjalan menyongsong datangnya fajar.

Langkahnya enteng dan mantap.

Cahaya matahari menyorot dari balik kabut menyoroti tubuhnya.

Badannya seakan-akan memancarkan cahaya berkilauan yang menusuk pandangan.

Ting Hun-pin menghela napas panjang.

"Siapa bilang dia sudah tua? Dia nampak begitu segar, cekatan dan gagah, pada hakikatnya jauh lebih muda daripada kita."

Yap Kay tersenyum.

"Tentu saja dia takkan menjadi tua, sebab ada sementara orang selamanya memang tak pernah menjadi tua."

Ting Hun-pin tidak bicara lagi, sorot matanya memandang ke tempat jauh.

Memandang ke arah orang asing itu lenyap.

Dia terkesan oleh sikapnya, dalam hati muncul perasaan kagum, simpatik dan hormat terhadap orang.

"Ada sementara orang memang seperti tak pernah tua, karena dalam hati mereka selalu dipenuhi oleh pancaran kehangatan dan harapan bagi umat manusia."

Asal dalam hati mempunyai rasa kasih sayang dan pengharapan, dia akan awet muda.

Dengan bergandeng tangan Ting Hun-pin dan Yap Kay melangkah menyongsong terbitnya sang surya.

Tiba-tiba Yap Kay bertanya.

"Engkohmu ketiga sebenarnya orang macam apa?"

"Kau belum pernah melihatnya?"

"Aku pernah bertemu dengan Toakomu."

"Samko seperti kau, cerdik, nakal, kecuali melahirkan anak, agaknya apa pun bisa dia buat dan lakukan, kepandaian khasnya yang paling ahli adalah memelet perempuan."

Sampai di sini tibatiba dia menarik muka dan suaranya meninggi keras.

"Untuk hal ini jangan sekali-kali kau meniru dia."

"Untuk hal ini aku tidak perlu belajar lagi,"

Ujar Yap Kay tertawa.

"Ting-samkongcu paling romantis, sejak lama hal ini sudah kudengar, aku ingin bertemu dia."

"Memang kau perlu bertemu dia, bila perlu kau harus menjilat pantat dan mengambil hatinya, supaya di hadapan keluargaku, dia membicarakan kebaikanmu."

"Kecuali dia, apakah keluargamu semua orang kolot?"

"Terutama ayahku, dalam setahun jarang dia tertawa walaupun hanya sekali, karena takut melihat mukanya yang dingin itu, maka aku minggat dari rumah."

"Tapi aku pun tahu beliau adalah seorang Kuncu."

"Memangnya, sejak ibu meninggal, terhadap perempuan lain melirik pun dia tidak pernah, tanggung orang lain takkan ada yang bisa memadainya."

"Ya, paling tidak aku sendiri memang tidak bisa melakukannya,"

Yap Kay tertawa. Ting Hun-pin melotot, semprotnya.

"Oleh karena itu aku pasti takkan mati mendahului kau."

Yap Kay malah tersenyum saja.

"Sekarang kau hendak kemana? Menguntit Pho Ang-soat? Kau pikir dia bisa menemukan Be Khong-cun?"

Ya Kay menepekur, sahutnya kalem.

"Asal dia punya keyakinan dan teguh hati, tiada sesuatu yang tidak bisa dilaksanakan di dunia ini."

Pada saat itulah dari arah terbitnya surya, mendadak mencongklang mendatangi seekor kuda yang dibedal kencang.

Cepat sekali kuda jempolan ini berlari, lekas sekali sudah kelihatan jelas penunggangnya, seorang pemuda bermuka cakap ganteng, memegang pecut dengan pakaian sutra mulus bertopi tinggi dihiasi mutiara, pinggangnya mengenakan sabuk batu giok, pedang panjang tersoreng di pinggangnya.

Begitu tiba di hadapan Yap Kay berdua, kuda yang mencongklang pesat itu mendadak berhenti.

"Samko,"

Terdengar Ting Hun-pin berjingkrak senang sambil bertepuk tangan.

"kita sedang mencarimu kiranya, kau sudah datang sendiri."

"Memangnya aku sengaja kemari hendak melihatkan teman lakimu ini, kabarnya dia seperti aku, laki-laki romantis,"

Kata pemuda di atas kuda sambil mengawasi Yap Kay dengan tersenyum.

"Bagaimana pendapatmu?"

Tanya Ting Hun-pin berkedip-kedip.

"Agaknya tidak mengecewakan aku,"

Sahut kakak ketiga Ting Hun-pin yang bernama Ting Lingtiong. Yap Kay ikut tertawa. Ting Ling-tiong memang pemuda romantis yang gagah dan ganteng.

"Aku ingin menemuimu, kabarnya kau baru saja menang tiga puluh guci arak."

Ting Ling-tiong tertawa, ujarnya.

"Sayang kau datang terlambat arak itu sudah habis masuk ke perut semua."

"Lalu rombongan penyanyi yang cantik-cantik itu?"

Tanya Yap Kay pula.

"Nona-nona cilik itu mirip golekan yang molek, kau pasti menyenangi nya, sayangnya aku takkan memberi kesempatan kepadamu."

"Kenapa?"

"Umpama kau tidak takut adikku ini, jelas aku sendiri rada takut kepadanya."

Sengaja Ting Hun-pin menarik muka, katanya.

"Terhitung otakmu cerdik, kalau tidak, bukan mustahil kubanting hancur semua golekanmu itu."

"Nah, kau dengar tidak?"

Ujar Ting Ling-tiong berkelakar.

"kalau cemburu budak cilik ini amat galak lho."

Tak tertahan Ting Hun-pin cekikikan melihat banyolan engkohnya yang lucu.

"Kalian hendak kemana?"

"Kau sendiri hendak kemana?"

Balas tanya Ting Hun-pin. Ting Ling-tiong menghela napas, ujarnya tertawa getir.

"Aku tidak sebebas kalian, kalau tidak segera pulang, mungkin batok kepalaku ini bisa dihajar sampai keluar kecap."

"Apakah ayah baik-baik saja?"

"Baik-baik saja, akhir tahun yang lalu beruntung aku melihat dia tertawa sekali."

Ting Hun-pin ikut tertawa riang.

"Kukira kau pun perlu hati-hati, meski bibi selalu membela kau, tapi bila ayah marah benarbenar, kau pun akan dihajarnya."

"Aku tidak perlu takut, paling seumur hidup aku tidak pulang,"

Sahut Ting Hun-pin dengan merengut.

"Akal yang bagus, aku tidak menentang, cuma aku merasa tidak enak kepadamu,"

Kata Ting Ling tiong, ucapannya ditujukan kepada Yap Kay.

"Kepadaku?"

Yap Kay keheranan.

"Jika budak jelek yang suka cemburu dan galak ini sudah berketetapan hati, dia hendak menguntitmu seumur hidup, apa pula manfaatnya laki-laki muda menjadi manusia?"

Tanpa menunggu komentar Ting Hun-pin, dia sudah mengkeprak kudanya pergi. Dari kejauhan ia berseru.

"Bila kapan waktu kau bisa keluyuran seorang diri, boleh kau mencariku, kecuali maninan golekan itu, aku masih punya golekan kembang dan banyak lagi lainnya. Ting Hun-pin membanting kaki, omelnya.

"Engkoh ketiga memang bukan orang baik-baik, pemuda bergajul."

"Tapi apa yang dia katakan memang benar?"

"Apanya yang benar?"

"Masakah kau tidak dengar, katanya ada orang yang galak, jelek dan suka cemburuan "

Ting Hun-pin pura-pura menarik muka, namun tak tertahan dia tertawa geli.

Pelan-pelan mereka beranjak di jalan raya, kedua orang sama-sama melayangkan pikirannya sendiri-sendiri.

Cukup lama kemudian, tiba Yap Kay bertanya.

"Adakah ayahmu punya seorang teman yang amat baik terhadapnya? Orang yang mau dan bisa membicarakan kebaikanku di hadapannya."

Ting Hun-pin geleng-geleng, katanya.

"Biasanya jarang dia bergaul dengan orang, umpama ada teman-temannya, semuanya sama-sama kolot dan berpandangan kuno, kutu buku."

"Memangnya ayahmu biasanya tidak berhubungan dengan kaum persilatan?"

"Sering beliau bilang di Kangouw hanya ada dua orang yang setimpal menjadi sahabatnya."

"Siapa kedua orang itu?"

"Salah satu sudah tentu adalah Siau-li Tham-hoa, ayah berpendapat selama tiga ratus tahun mendatang, beliau adalah tokoh kosen yang digdaya dan tiada bandingannya, malah beliau pun berpendapat, apa pun yang dia lakukan pasti tidak akan mampu dilakukan orang lain. Dan seorang lagi boleh kau terka."

"A Fei?"

Ting Hun-pin geleng-geleng, ujarnya.

"Katanya A Fei seorang yang selama hidup takkan bisa melaksanakan urusan besar, karena wataknya terlalu angkuh, juga karena suka menyendiri."

Untuk pandangan ini Yap Kay tidak membantah. Karena dia sendiri mau tidak mau harus mengakui, pendapat ayah Ting Hun-pin terhadap A Fei memang masuk akal.

"Tapi siapa lagi orang yang terpandang olehnya di dunia ini kecuali A Fei?"

"Pek Thian-ih!"

Yap Kay melengak, terunjuk keheranan pada mukanya, tanyanya.

"Pek Thian-ih? Ayahmu kenal padanya?"

"Tidak kenal, namun dia berpendapat, Pek Thian-ih adalah seorang tokoh yang luar biasa, selama ini dia ingin melihatnya, sayang sekali...."

Sampai di sini dia menghela napas.

"Kecuali kedua orang ini, dalam pandangannya orang-orang lain kalau bukan goblok tentu keparat!"

"Sayangnya kedua orang ini terang takkan bisa membela aku, membicarakan kebaikanku di hadapan ayahmu."

Berkedip-kedip mata Ting Hun-pin, katanya.

"Yang bisa bicara tentang dirimu di hadapan ayahku mungkin hanya seorang saja, karena apa pun yang dikatakan orang ini mungkin dia masih sudi mendengarkan"

"Siapa?"

"Bibiku."

"Adik ayahmu? Sampai sekarang bibimu belum menikah?"

"Pandangan dan penilaiannya akan orang lebih tinggi dari ayahku, laki-laki di dunia ini boleh dikata tiada satu pun yang terpandang olehnya."

"Mungkin karena orang lain pun merasa tidak senang menghadapi sikapnya, tingkah-laku dan kejelekannya."

"Tidak, sampai sekarang dia masih terhitung cantik, di waktu mudanya, ada laki-laki yang meluruk datang dari tempat ribuan li hanya untuk melihatnya saja."

"Tapi dia tidak beri kesempatan kepada orang untuk melihat dirinya."

"Ya, begitulah, sering dia bilang laki-laki adalah babi, kotor dan busuk, seolah-olah laki-laki bisa membuat dirinya kotor, maka...."

Matanya mengerling kepada Yap Kay, lalu meneruskan.

"Dia sering menasehati aku supaya selama hidup tak usah menikah, laki-laki macam apa pun lebih baik ditendang pergi saja."

"Dia tidak kuatir kakimu kotor?"

"Sayang sekali aku tidak tega menendangmu, malah kau sendiri pun takkan bisa menendangku pergi."

Yap Kay tertawa, katanya.

"Tiga keluarga besar Bu-lim, yang paling aneh adalah keluargamu. Apakah ilmu silat ayahmu amat tinggi?"

"Aku sendiri pun tidak tahu, yang terang kita putra-putrinya semua belajar silat dan digembleng oleh beliau, namun tiada satu pun yang mampu mempelajari semua ilmu silatnya."

"Agaknya belum pernah ayahmu bertanding silat dengan orang lain?"

"Soalnya tiada orang berani mencarinya dan mengajak bertanding."

"Apakah dia tidak pernah membuat kesulitan untuk orang lain?"

"Urusan tetek-bengek di Kangouw, hakikatnya malas ia ikut campur."

Jauh pandangan Yap Kay ke depan sana, lama dia termangu-mangu, akhirnya berkata penuh ketetapan.

"Apa pun yang akan terjadi, aku akan menemani kau pulang ke rumahmu."

"Kau berani?"

Terbelalak mata Ting Hun-pin.

"Mari sekarang juga berangkat."

"Sekarang belum saatnya."

"Kau masih ingin mencari Pho Ang-soat?"

"Musuhnya bertambah, kawannya berkurang malah."

"Kau tahu kemana dia pergi?"

Mimik Yap Kay menjadi aneh, katanya kalem.

"Dari sini sudah tidak jauh dari Bwe hoa am. Kukira pasti ke sana."

BAB 38.

THO HOA NIOCU Waktu itu musim rontok, pohon-pohon kembang Bwe sudah tiada lagi, sudah tentu tiada salju pula di sana.

Pho Ang-soat tidak tahu betapa perasaan hatinya menghadapi tempat yang meninggalkan sejarah tragedi bagi keluarganya puluhan tahun yang lalu.

Dengan menggenggam kencang goloknya pelan-pelan dia beranjak di undakan batu yang sudah lumutan.

Sekali dorong, pintu biara yang sudah keropos seketika terbuka mengeluarkan suara keras, suaranya mirip dengan helaan napas manusia.

Dedaunan yang rontok bertumpukan di pekarangan, suasana lengang, tiada bayangan orang, tak kelihatan asap dupa mengepul, seolah-olah biara ini sudah tidak dihuni manusia.

Pho Ang-soat membungkuk menjemput selembar daun kering, entah apa yang dipikirkan mengawasi daun kering itu.

Entah berapa lama kemudian, seperti didengarnya suara orang bersabda, lalu seseorang berkata kepadanya.

"Apakah Sicu mau menyulut dupa bersembahyang?"

Seorang nikoh pertengahan umur dengan jubah hijau merangkap tangan berdiri di undakan batu Tay hiong po tian.

Seperti daun kuning di tangannya, Nikoh tua inipun kelihatan layu dan loyo, kulit mukanya yang kering dan berkeriput seperti dihiasi kehidupan masa lalu yang penuh diliputi pahit getir dan sengsara.

Serasa sulit Pho Ang-soat menolak, memang dia tidak ingin menolak, pelan-pelan dia beranjak maju.

"Pinni Liau In, siapakah nama besar Sicu?"

"Aku she Pho,"

Lalu diambilnya segenggam dupa, setelah disulut ditancapkan di tempat perabuan yang terbuat dari tembaga Habis itu dia beranjak hendak pergi.

"Apakah Sicu tidak ingin minum teh dulu?"

Terunjuk rasa kasih sayang pada mata si Nikoh.

Pho Ang-soat manggut-manggut, tidak enak dia menampik kebaikan orang.

Tak lama kemudian seorang Nikoh muda belia membawa nampan berisi secangkir air teh, dengan menunduk kepala dia suguhkan teh itu pada Pho Ang-soat.

Pho Ang-soat hanya meninggalkan sekeping pecahan uang perak di atas nampan.

Nikoh tua merangkap tangan dan membungkuk badan, mengucapkan terima kasih, ujarnya.

"Sudah lama tiada orang datang sembahyang di sini."

Pho Ang-soat menepekur, akhirnya dia bertanya.

"Berapa lama kau tinggal di sini?"

"Loni sudah lupa berapa tahun tepatnya, cuma masih kuingat waktu itu patung-patung Buddha yang ada di sini baru saja didirikan."

"Kalau begitu sedikitnya ada dua puluh tahun?"

"Mungkin sudah dua-tiga puluh tahun."

"Masihkah kau ingat peristiwa yang terjadi dua puluh tahun yang lalu di tempat ini?"

"Bukan dua puluh tahun, tepatnya sembilan belas tahun."

"Kau tahu jelas?"

"Peristiwa yang menakutkan itu takkan bisa terlupakan."

"Kau... kau kenal dengan Pek-sicu itu?"

"Seorang yang sulit dilupakan orang, Loni selalu berdoa kepada Thian, supaya beliau mendapat tempat yang tenteram di sisinya."

"Kau sendiri menyaksikan peristiwa itu?"

Tanya Pho Ang-soat menegas.

"Loni tidak berani melihat dan tidak tega melihatnya, di luar keinginanku bahwa tragedi terjadi di tempat ini."

Sampai di sini kulit mukanya yang kuyu dan keriput itu membayangkan sesuatu yang amat mengerikan, lama baru dia menyambung.

"Sampai sekarang Loni sudah tak ikut campur urusan duniawi, namun setiap kali teringat akan suara malam itu, tetap aku tidak bisa makan tak nyenyak tidur. Sicu bisa saksikan akibat peristiwa dulu itu, semuanya serba kritis dan kekurangan, syukurlah sang Buddha bijaksana dan belas kasihan memberkahi umatnya, tanpa memiliki beberapa hektar sawah, Loni bertiga dengan murid-murid mungkin sudah mati kelaparan."

Pho Ang-soat jadi tidak tega bertanya lagi, pelan-pelan dia meletakkan cangkir teh di atas meja, lalu bergerak hendak tinggal pergi.

Mengawasi cangkir teh yang diletakkan di atas meja, Liau In bertanya.

"Sicu ingin minum air teh ini?"

Pho Ang-soat geleng-geleng kepala.

"Kenapa?"

"Selamanya tidak pernah minum teh orang yang tidak kukenal."

"Loni sebagai orang beribadat, masakah Sicu...."

"Orang beribadah juga manusia...."

"Agaknya Sicu teramat hati-hati."

"Karena aku masih ingin hidup."

Tiba-tiba tersimpul senyuman dingin yang sadis pada muka Liau In, katanya dingin.

"Sayang sekali betapapun orang hati-hati, cepat atau lambat akan tiba juga ajalnya."

Habis kata-katanya, badannya yang kurus loyo itu laksana macan tiba-tiba menjelat ke atas segesit garuda, berjumpalitan ke belakang. Terdengar "Blup"

Dari lengan jubahnya, tiba-tiba melesat setabir bintik-bintik sinar terang laksana bintang perak menyerang bersama.

Perubahan ini terlalu di luar dugaan, cara menyerangnya juga cepat sekali.

Terutama senjata rahasia yang disambitkannya, bukan saja kencang, rapat dan lebat, selama sembilan belas tahun, seolah-olah senantiasa dia selalu melatih dan mempersiapkan diri untuk melakukan serangan mematikan ini.

Bersamaan waktunya, dari kedua samping Tay hiong po tian, mendadak serempak muncul dua Nikoh muda berjubah hijau, satu di antaranya adalah Nikoh jelita yang menyuguhkan teh tadi.

Tapi pakaian mereka sekarang sudah ganti, demikian pula sikap dan tindak-tanduknya amat garang, raut mukanya yang kekuning-kuningan diliputi angkara murka.

Kedua Nikoh muda ini menenteng pedang panjang yang berkilauan, mereka sudah siap bergaya tempur, seluruh kekuatan sudah dikerahkan.

Kemana pun Pho Ang-soat berkelit, kedua pedang mereka pasti akan memapaknya dengan tusukan yang mematikan pula.

Apalagi serangan senjata rahasia seperti ini bahwasanya memang sulit untuk dihindari.

Aneh memang tingkah-laku Pho Ang-soat, tidak berkelit dia malah sengaja menerjang ke depan, pada detik-detik yang menentukan itu, tahu-tahu goloknya sudah terlolos.

Takkan ada orang percaya akan kecepatan dia mencabut goloknya.

Dimana sinar golok berkelebat, seluruh bintik-bintik perak itu seketika tergulung dalam sinar golok, kejap lain Pho Ang-soat sudah berada di samping si Nikoh tua.

Saat itu Liau In baru saja berjumpalitan, pakaiannya yang lebar dan lengan bajunya masih melambai-lambai, sebelum dia berdiri tegak dan menyadari apa yang telah terjadi, tahu-tahu terasa lututnya kesakitan, golok hitam legam orang tahu-tahu sudah mengetuk keras-keras di atas lututnya.

Tanpa kuasa badannya kontan tersungkur jatuh.

Serentak kedua Nikoh muda itu menghardik, dua pedang mereka bergerak silang laksana bianglala menggunting ke badan Pho Ang-soat.

Ilmu Liang-gi-kiam-hoat Bu-tong-pay permainan pedangnya mengutamakan kelincahan dan kecepatan, keduanya bisa bekerja sama dengan baik dan ketat.

Sasaran dari tusukan kedua batang pedang amat telak pada Hiat-to mematikan di badan Pho-Ang-soat.

Kali ini Pho Ang-soat tidak menggunakan goloknya, dia gunakan sarung dan gagang goloknya, berbareng sarung dan gagang goloknya memapak kedua jurusan, tepat sekali menahan ujung pedang musuh.

"Krak" , kedua batang pedang yang terbuat dari baja itu ternyata putus di tengahtengah. Kutungan gagang pedangnya pun tak kuasa dipegangnya lagi.

"Trap" , mencelat ke atas dan menancap di belandar. Telapak tangan mereka pun tergetar pecah berlumuran darah, sigap sekali keduanya tiba-tiba mencelat dan mundur, tapi sarung dan gagang pedang serba hitam itu bekerja lebih dulu, tanpa ampun mereka pun terjungkal roboh. Kejap lain golok kembali ke dalam sarungnya. Pho Ang-soat berdiri diam di tempatnya, Liau In Loni berduduk memeluk lutut di hadapannya, matanya tertuju ke arah golok di tangannya.

"Kau kenal golok ini?"

Tanyanya. Liau In mengertak gigi, suaranya serak.

"Ini bukan golok manusia, tapi golok iblis, hanya setan gentayangan di neraka yang bisa menggunakannya."

Suaranya rendah dan serak.

"Aku sudah menunggu sembilan belas tahun, aku tahu akan datang suatu hari pasti akan melihat golok iblis ini, kenyataan hari ini melihatnya."

"Memangnya kenapa kalau kau sudah melihatnya?"

"Aku sudah bersumpah, bila aku melihat golok ini, peduli di tangan siapa, aku harus membunuhnya."

"Kenapa?"

"Karena golok ini pula yang membikin hidupku sengsara dan merana."

"Jadi asal mulamu bukan penghuni Bwe hoa am ini?"

"Sudah tentu bukan,"

Tiba-tiba terpancar sinar terang pada biji matanya.

"Bocah ingusan seperti kau tentu takkan tahu, tapi dua puluh tahun yang lalu, siapa pun yang menyinggung nama Tho hoa nio cu, kaum persilatan tiada yang tidak mengenalnya."

Sikapnya semakin beringas, suaranya menjadi kasar. Pho Ang-soat tinggal diam. Liau In melanjutkan.

"Tapi aku disia-siakan, semua hatiku hanya tertuju kepadanya, siapa tahu hanya tiga hari dia menggauli aku, tahu-tahu aku dibuang dan ditinggalkan begitu saja, sehingga aku dihina dan ditertawakan orang banyak."

"Kalau kau bisa menyia-nyiakan orang lain, kenapa dia tidak boleh menyia-nyiakan kau?"

Pho Ang-soat tidak utarakan isi hatinya ini. Segala tetek-bengek mengenai pribadi Tho hoa nio cu di masa lalu tidak menjadi perhatiannya. Dia hanya ingin tahu.

"Pada malam hujan salju sembilan belas tahun yang lalu, kau berada di luar atau di dalam Bwe hoa am?"

Liau In tertawa dingin, sahutnya.

"Sudah tentu aku berada di luar, sejak lama aku sudah bersumpah hendak membunuhnya."

"Waktu kau menunggu di luar malam itu, adakah kau mendengar orang bilang 'Orangnya sudah lengkap’?"

Sekilas Liau In berpikir, sahut.

"Benar agaknya pernah kudengar ada orang bilang demikian."

"Tahukah kau siapa dia? Kenalkah kau akan nada suaranya?"

"Peduli siapa dia? Yang kutunggu malam itu hanya laki-laki ingkar janji yang hendak kubunuh itu, akan kubakar jenazahnya lalu kuaduk dengan arak dan kuminum habis sebagai ramuan jamu."

Sampai di sini mukanya menjadi beringas, mendadak dia sobek baju di depan dadanya, menunjukkan dadanya yang kempes dan kering, sejalur luka-luka bacokan golok menggaris dari pundak sampai ke perutnya.

Lekas Pho Ang-soat melengos, dia tidak merasa simpati, hatinya malah jijik dan muak.

Tak tahan Pho Ang-soat tertawa dingin.

Liau In berkata pula.

"Tahukah kau kehidupan apa yang kualami selama sembilan belas tahun ini? Usiaku baru tiga puluh sembilan, tapi kau lihat, perubahan macam apa yang menimpa diriku?"

Tiba-tiba dia mendekam di tanah dan menangis tergerung-gerung. Terketuk juga rasa iba Pho Ang-soat orang memang sudah mendapat ganjaran setimpal. Pelanpelan dia memutar badan.

"Kau,"

Teriak Liau In keras.

"kembalilah kau!"

Pho Ang-soat tidak berpaling.

"Kau sudah kemari, kenapa tidak kau bunuh aku dengan golokmu, jika kau tidak berani membunuhku, kau ini binatang jalang."

Tanpa berpaling Pho Ang-soat beranjak keluar, tangis dan caci-maki di belakangnya tak dihiraukannya pula.

Waktu Yap Kay berdua tiba, malam sudah larut, sudah lama Pho Ang-soat berlalu dari tempat itu.

Demikian pula Liau In sudah tidak terlihat bayangannya.

Peti jenazah Liau In sudah tertutup, layon ini sebelumnya sudah disiapkan, kalau bukan untuk mengubur Pho Ang-soat, tentu untuk mengubur jenazahnya sendiri.

Dua Nikoh muda itu sedang berisak tangis memeluk layon, mereka menangis karena ingat akan nasib hidupnya, ingin rasanya menghabisi hidup yang serba menderita ini, sayang mereka tidak punya keberanian.

Mati memangnya bukan suatu hal yang gampang dilaksanakan.

Waktu Yap Kay meninggalkan tempat itu, malam semakin dingin.

Ting Hun-pin menggelendot di badannya, katanya menghela napas.

"Aku tidak habis mengerti, kenapa Nikoh setua itu tidak diberi ampun oleh Pho Ang-soat."

"Kau kira Pho Ang-soat yang membunuhnya?"

Tanya Yap Kay.

"Yang terang sekarang dia sudah mati."

"Memangnya setiap hari banyak orang mati di dunia ini."

"Tapi dia mati setelah Pho Ang-soat mampir kemari. Kau tidak merasa heran?"

Lama Yap Kay menepekur, sahutnya setelah menghela napas.

"Seharusnya aku sudah tahu siapa sebenarnya Liau In ini"

"Liau In?"

"Nikoh tua yang mati itu."

"Kau pernah melihatnya? Kau pernah mengunjungi Bwe hoa am?"

Yap Kay manggut-manggut.

"Siapakah dia?"

"Sejak peristiwa berdarah sembilan belas tahun yang lalu, banyak tokoh-tokoh Kangouw mendadak hilang, yang menghilang lebih banyak dari korban yang jatuh di luar Bwe hoa am. Waktu itu di Bu-lim terdapat seorang gadis kenamaan yang berjuluk Tho hoa nio cu. sayang hatinya sejahat ular sebuas binatang. Entah berapa laki-laki yang kepincut padanya menjadi korban keganasannya."

"Jadi kau kira Nikoh tua di Bwe hoa am itu adalah Tho hoa nio cu? Apakah tidak mungkin dia pun sudah ajal pada malam itu?"

"Tidak mungkin. Kecuali Pek Thian-ih, hanya beberapa gelintir manusia saja yang mampu membunuhnya."

"Mungkin Pek Thian-ih sendiri yang membunuhnya?"

"Pek Thian-ih tidak pernah membunuh wanita yang pernah digaulinya."

"Tapi bagaimana cara kau membuktikan analisamu?"

"Buktinya sudah kuperoleh,"

Lalu dia membuka telapak tangannya, sebuah senjata rahasia yang mengkilap terletak di atas telapak tangannya itulah kelopak kembang Tho.

"Apakah ini?"

Tanya Ting Hun-pin.

"Inilah senjata rahasia tunggalnya, tiada orang kedua di Kangouw yang bisa menggunakan senjata semacam ini."

"Darimana kau memperolehnya?"

"Di ruang sembahyang Bwe hoa am tadi."

"Tadi kau temukan?"

"Agaknya dia menggunakan senjata rahasia tunggalnya ini untuk menyerang Pho Ang-soat, tapi berhasil diruntuhkan oleh Pho Ang-soat, maka di atas senjata gelap ini ada bekas gumpil."

"Lalu apa bedanya bila kau tahu akan dirinya sekarang?"

"Bedanya aku tidak bisa minta keterangan padanya."

"Jadi kau masih ingin bertanya sesuatu kepadanya? Pentingkah pertanyaanmu?"

Yap Kay manggut-manggut.

"Pertempuran berdarah itu dimulai di sini dan berakhir tiga li di luar sana, akhirnya Pek Thian-ih roboh kehabisan tenaga, sepanjang tiga li terdapat ceceran darah, anggota badan manusia yang tidak lengkap dan mayat-mayat yang bergelimpangan."

Berdiri bulu kuduk Ting Hun-pin, dengan kencang dia peluk lengan Yap Kay.

"Dalam pertempuran itu, tiada korban yang ajal dengan jazad yang utuh, terutama keluarga Pek. Setelah pertempuran berakhir, semua anggota badan dan mayat-mayat kawanan pembunuh yang berkomplot itu segera dibersihkan dan digotong pergi, soalnya Be Khong-cun tidak ingin orang tahu siapa para pembunuh ini."

"Untuk menghindari kecurigaan orang lain, sudah tentu Be Khongcun tetap bermain sandiwara, malah di hadapan orang banyak dia bersumpah untuk menuntut balas bagi kematian Pek Thian-ih dan keluarganya."

"Tua bangka itu memang cerdik dan licin seperti rase,"

Kata Ting Hun-pin. Suara Yap Kay serak.

"Yang harus dikasihani adalah Pek Thian-ih, dia bukan saja kaki tangannya buntung, malah batok kepalanya pun terpenggal entah kemana."

Mengawasi mimik muka Yap Kay, tiba-tiba terasa oleh Ting Hun-pin sekujur badannya menjadi dingin, telapak tangannya pun berkeringat dingin.

"Kau kira Tho hoa nio cu yang mencurinya?"

"Pasti tidak salah lagi."

"Kenapa?"

"Umpama ada perempuan lain dalam kawanan pembunuh itu, yang masih hidup hanya dia seorang saja. Kalau orang lain hanya ingin kematian Pek Thian-ih, tapi dia di samping menginginkan kematian Pek Thian-ih, juga ingin didampingi Pek Thian-ih sehidup semati. Maka dia gunakan cara edan itu."

Bergidik seram Ting Hun-pin dibuatnya, tiba-tiba ter ketuk sanubarinya, apakah dia pun akan melakukan perbuatan yang sama?

Dia sendiri pun tak dapat memastikan.

Mendadak sekujur badannya gemetar tiada hentinya.

Udara dingin berhembus kencang, namun keringat dingin membasahi sekujur badannya.

Malam semakin larut, bintang pun semakin jarang.

Yap Kay dapat merasakan keringat dingin di telapak tangan Ting Hun-pin, belum pernah gadis itu mengalami hal ini.

"Kau harus mencari tempat untuk tidur!"

"Aku tak dapat tidur, sekalipun sekarang tersedia ranjang paling empuk dan nikmat, aku tak dapat tidur."

"Kenapa?"

"Karena banyak persoalan yang harus kupikirkan"

"Apa yang kau pikirkan?"

"Memikirkan kau, cukup persoalanmu sudah cukup membuatku berpikir tiga hari tiga malam."

"Aku toh berada di sisimu, apa lagi yang mesti kau pikir?"

"Hal ini menyangkut dirimu, makin berpikir aku makin heran."

"Heran?"

"Ya, jelas kau lebih mengerti daripada Pho Ang-soat, tapi aku tak habis mengerti mengapa bisa begini?"

Yap Kay tertawa.

"Memang banyak bukti yang telah kukumpulkan."

"Sebenarnya kan tak ada hubungannya dengan kau, kenapa kau begitu menaruh perhatian terhadap masalah ini?"

"Sebab aku adalah orang yang selalu ingin tahu, aku justru senang ikut campur urusan orang."

"Kenapa?"

"Karena persoalan ini cukup rumit, makin rumit makin menarik"

Ting Hun-pin menghela napas.

"Apa pun yang kau katakan, aku tetap merasa heran."

Yap Kay tertawa getir.

"Kalau kau merasa heran, aku pun tak bisa berbuat apa-apa lagi!"

"Hanya ada satu cara yang bisa kau lakukan."

"Katakanlah."

"Aku minta kau bicara terus terang kepadaku."

"Baik, aku akan bicara terus terang, bila aku mengatakan adalah adik Pho Ang-soat, maka aku baru akan memperhatikan hal ini, apakah kau percaya?"

"Tidak percaya, sebab Pho Ang-soat tidak mempunyai adik."

"Sebenarnya kau ingin aku mengatakan apa?"

Ting Hun-pin kembali menghela napas.

"Aku sendiri pun tidak tahu."

Yap Kay tertawa.

"Kuanjurkan kau lebih baik jangan berpikir yang bukan-bukan sebab hal ini tiada sangkut-pautnya dengan dirimu, bila kau bersikeras ingin tahu berarti kau mencari kesulitan untuk dirimu sendiri."

Ting Hun-pin tersenyum.

"Aku seperti juga kau selalu cari penyakit katanya. Setelah sekian lama, tiba-tiba ia berkata.

"Aku sedang memikirkan suatu hal lain."

"Hal apa?"

"Seandainya batok kepala Pek-tayhiap benar dicuri Tho hoa-niocu, mungkin karena is tak berhasil mendapatkan orangnya di kala masih hidup, terpaksa dia menyuruh orang mati menemaninya?"

"Caramu bicara kurang baik, tapi memang begitulah ...."

"Setelah dia mati, pasti kepalanya tak mungkin meninggalkan nya."

"Maksudmu ...."

"Maksudku seandainya batok kepala Pek-tayhiap dicuri Tho-hoa niocu, sekarang sudah pasti kepala itu berada di dalam peti matinya."

Yap Kay tertegun. Dia memang tak pernah menduga sampai ke situ, tapi mau tak mau harus mengakui jalan pikiran Ting Hun-pin sangat masuk akal.

"Apakah kau ingin kembali ke sana melakukan pemeriksaan?"

Yap Kay termenung, akhirnya menghela napas panjang.

"Tidak perlu!"

"Tadi kau berusaha menemukan batok kepala Pek-tayhiap, sekarang bilang tidak perlu?"

Paras Yap Kay berubah sedih, pelan-pelan sahutnya.

"Aku ingin menemukan batok kepala itu untuk dikuburkan."

"Tapi ...."

Cepat Yap Kay menukas.

"Jika batok kepalanya benar berada dalam peti mati, sudah pasti ada orang akan menguburnya secara baik-baik, mengapa aku harus mengganggu arwahnya lagi dan buat apa aku mesti membuat Tho hoa niocu harus mati dengan mata tidak meram?"

Setelah menghela napas, sahutnya pula.

"Dia memang perempuan yang patut dikasihani, buat apa aku merampas barang miliknya?"

"Kenapa sekarang kau membelanya?"

"Karena ada orang pernah berkata padaku, sebelum kau berbuat sesuatu, pikirkan dulu orang lain."

Sorot matanya memancarkan sikap hormat.

"Ucapan ini tak akan pernah kulupakan."

Ting Hun-pin memandang ke arahnya, ujarnya.

"Kau memang aneh, pada hakikatnya jauh lebih aneh dari Pho Ang-soat."

"Ehm."

"Pho Ang-soat tidak begitu aneh, apa pun yang dilakukan nya, sebaliknya kau apa yang kau lakukan kau sendiri tak tahu apakah harus dilakukan atau tidak."

BAB 39.

CINTA SEDALAM LAUTAN Waktu menyingsing fajar, kota itu seperti baru bangun dari lelap impiannya.

Pho Ang-soat sudah berada di dalam kota.

Pelan-pelan Pho Ang-soat beranjak ke jalan raya dalam kota yang mulai ramai dengan lalulalangnya penduduk kota dan orang-orang desa yang sibuk ke pasar menjajakan dagangannya.

Hari masih sepagi ini, namun perut dan tenggorokan Pho Ang-soat sudah ketagihan dan kering, ingin rasanya segera masuk ke warung makan, mengisi perut dan menghilangkan dahaga, tapi sebelum dia mendapatkan warung makan malah dilihatnya selarik kain belacu sepanjang dua tombak lebar tiga kaki.

Kain belacu putih ini terikat di ujung dua buah galah yang dibentangkan di tengah jalan raya.

Di atas kain belacu ini terdapat sebarisan huruf tintanya belum kering dimana tulisan itu menyolok mata dan berbunyi.

"Pho Ang-soat, jika kau berani, datanglah ke Kiat hu pong."

Dua puluh sembilan orang sedang menunggu kedatangan Pho Angsoat di Kiat hu pong, besar kecil tua muda dari kedua puluh sembilan orang ini mengenakan kain belacu, kepalanya berkerudung atau berikat kepala kain putih belacu pula, tanda duka cita.

Peduli laki perempuan anak-anak atau orang tua, mereka menenteng golok berkepala setan yang mengkilap.

Raut muka mereka diliputi kepedihan yang tak terperikan, seolah-olah mirip serombongan serdadu yang dipaksa mengadu jiwa di medan laga.

Orang yang berdiri paling depan adalah lakilaki tua berjenggot panjang, di belakangnya terang adalah keluarga nya.

Meski usianya lanjut, tapi berdirinya masih tegap dan gagah, jenggotnya yang ubanan melambai-lambai tertiup angin, mata semua orang tertuju ke ujung jalan sana.

Sudah dua hari mereka menunggu kedatangan seseorang.

Orang yang ditunggu adalah Pho Ang-soat.

Kehadiran kedua puluh sembilan orang berkabung di Kiat hu pong sudah tentu menimbulkan perhatian dan keheranan khalayak ramai, maka setiap had pagi-pagi benar orang sudah berduyunduyun datang ke tempat itu untuk menyaksikan apa sebenarnya yang hendak terjadi, tak sedikit penonton yang saling terka dan bisik-bisik.

Sekonyong-konyong semua suara sirap dan keadaan menjadi hening sepi.

Tampak seorang muncul dan menghampiri dari ujung jalanan sans.

Gaya jalannya amat aneh, karena dia seorang timpang, seorang pemuda timpang dengan raut muka yang pucat, membawa golok serba hitam.

Melihat orang dan golok hitamnya itu, air muka laki-laki berjenggot panjang itu seketika berubah pucat dan diliputi nafsu membunuh.

Baru sekarang penonton tahu siapa sebenarnya orang yang mereka tunggu.

Dengan menggenggam kencang goloknya, Pho Ang-soat berhenti setombak di depan mereka.

Tapi dia tidak kenal dan tidak tahu mereka serta apa maksudnya menunggu dirinya.

Mendadak laki-laki jenggot panjang berkata dengan lantang.

"Aku she Kwe, bernama Wi."

Pho Ang-soat pernah mendengar nama ini, Sin to Kwe Wi memang tokoh kenamaan di Bu-lim, namun sejak Sin to tong Pek-Tian-ih malang melintang di Kangouw, Sin to atau golok sakti Kwe Wi terpaksa harus diubah artinya.

Sebetulnya dia tidak ingin merubahnya, tapi mau tidak mau harus diubah juga.

Hanya ada satu golok sakti di dunia ini, yaitu golok sakti milik Pek Thian-ih.

"Kaukah keturunan Pek Thian-ih? ada persoalan yang ingin kuberitahu kepadamu. Malam itu aku ikut juga berkomplot untuk membunuh ayahmu di luar Bwe hoa am."

Tiba-tiba berkerut-kerut seperti bergidik kulit daging muka Pho Ang-soat.

"Selama ini aku tunggu keturunannya untuk menuntut balas."

"Sekarang aku sudah berada di sini."

"Keluarga Pek pernah kubabat habis, kalau engkau hendak menuntut balas, nah keluarga orang she Kwe sudah berkumpul di sini, boleh kau membabatnya habis semua."

Serasa ditusuk sembilu sanubari Pho Ang-soat, kakinya seperti terpaku di tempat, sekujur badan bergidik gemetar kecuali tangannya yang memegang golok.

Bukan dia tidak berani turun tangan soalnya muka orang ini terlalu asing dan belum pernah dilihatnya, memangnya mereka harus membayar hutang dengan jiwa dan darah untuk menebus dendam sakit hati masa lalu?

Sekonyong-konyong jeritan pilu dan perih berkumandang memecah kesunyian.

Seorang anak laki-laki menerjang keluar dari rombongan orang banyak sambil menenteng golok besar.

"Kau hendak membunuh kakekku, biar kubunuh kau lebih dulu."

Kwe Wi tergelak-gelak sambil menengadah, serunya.

"Bagus, anak baik, tidak malu kau menjadi keturunanku!"

Di tengah gelak tawanya yang memilukan, anak kecil yang menenteng golok lebih tinggi dari badannya itu sudah menerjang ke depan Pho Ang-soat sambil mengayun golok yang berat itu.

Apakah Pho Ang-soat tega menggerakkan goloknya membela diri serta membunuh anak sekecil ini?

Di saat genting itu, anak kecil itu mendadak menjerit dengan suara menyayat hati, golok di tangannya terpental, berbareng badannya terjengkang roboh.

Entah darimana tahu-tahu tenggorokan nya tertancap sebilah pisau yang merenggut nyawanya.

Tiada orang melihat tegas darimana datangnya pisau ini, yang terang mereka menduga Pho Ang-soatlah yang menimpukkannya.

Di iringi gerungan murka orang banyak, seorang nyonya muda berbadan langsing, agaknya ibu si anak berlari keluar sambil menjerit kalap.

Seorang laki-laki menggerung keras seperti binatang buas yang menguber mangsanya.

Serempak seluruh orang yang berkabung itu merubung maju dengan gerungan gusar.

Pho Ang-soat sebaliknya terkesima dan menjublek mengawasi pisau di tenggorokan si anak kecil.

Dia sendiri tidak tahu darimana datangnya pisau ini.

Yap Kay!

Tentulah buah karya Yap Kay, demikian batinnya.

Kwe Wi mengangkat goloknya, dampratnya beringas.

"Bocah kecil pun kau bunuh, kenapa tidak lekas kau cabut golokmu?"

Tak tahan Pho Ang-soat membantah.

"Bukan aku yang membunuh bocah ini."

Kwe Wi tergelak-gelak seperti orang kalap kesetanan.

"Membunuh tidak berani mengakui? Tak kukira putra Pek Thian-ih adalah laki-laki lemah pembohong."

Serasa panas dan merah muka Pho Ang-soat karena marsh.

Selama hidupnya paling penasaran kalau dituduh semena-mena, mati pun dia tidak terima.

Diselingi gelak tawa yang berkumandang, golok di tangan Kwe Wi terayun miring membabat batok kepalanya.

Sekonyong-konyong Pho Ang-soat pun menggerung bagai banteng ketaton.

goloknya bersinar terang, laksana kilat berkelebat, darah seketika muncrat kemana-mana.

Matanya sudah merah membara, yang terlihat hanya ceceran darah, seakan-akan dirinya sudah kesetanan.

Dimana goloknya bergerak dan jerita kesakitan menjelang ajal saling bersahutan, yang terdengar hanya golok mengenai tulang dan daging, tak terdengar senjata beradu, namun kuping Pho Angsoat seolah-olah sudah tuli, hanya ada satu suara yang terkiang di kupingnya.

"Biarlah musuhmu terbabat habis, kalau tidak, jangan kau kembali menemui aku"

Itulah pesan ibundanya.

Seolah-olah dia sudah kembali ke dalam rumah yang gelap serba hitam itu.

Sejak kecil dia dibesarkan dalam kegelapan, sejak kecil tumbuh dendam membara dalam relung hatinya.

Darah berwarna merah, salju pun menjadi merah darah.

Pho Ang-soat terus mengamuk di antara kerubutan orang-orang berkabung yang sudah nekad mengadu jiwa.

Tapi usaha mereka bagai telur menumbuk batu, satu per satu berguguran tanpa kuasa balas menyerang.

Entah siapa di antara mereka tiba-tiba membentak.

"Mundur! Semua mundur! Pertahankan nyawamu, untuk menuntut balas kelak!"

Cepat sekali kejadian berlangsung, tiba-tiba suasana menjadi lelap, tak terdengar suara apa pun.

Tinggal Pho Ang-soat seorang yang berdiri di antara mayat-mayat yang bergelimpangan, darah membanjir menjadi aliran kecil.

Jenazah Kwe Wi dan anak itu berada di bawah kakinya.

Serasa kaku dan pati rasa sekujur badannya.

Sekonyong-konyong kilat berkelebat, disusul guntur menggelegar dengan dahsyatnya.

Pho Angsoat tersentak sadar dari lamunannya oleh sambaran petir, sekilas dia menjelajahkan pandangan ke sekelilingnya, lalu dipandangnya golok di tangannya, pelan-pelan hatinya mengkeret, perutnya pun hampir kejang.

Tiba-tiba dia membungkuk mencabut pisau di tenggorokan anak kecil itu, putar badan terus lari bagai terbang.

Didahului petir menyambar pula.

Hujan lebat seketika mencurah tumpah dari langit.

Pho Ang-soat berlari kencang seperti mengejar waktu dalam hujan lebat.

Sebesar ini belum pernah dia berlari secepat ini, gaya larinya jauh lebih aneh dan menarik dari gaya jalannya, hujan ini membersih noda-noda darah yang berlepotan di bajunya.

Kenangan tragis dalam pertempuran berdarah yang dialaminya ini bakal meninggalkan ukiran mendalam di sanubarinya.

Orang-orang yang dibunuhnya tadi, banyak yang tidak patut mati, apalagi mati di tangannya.

Gara-gara pisau kecil di tenggorokan bocah itulah hingga tragedi ini terjadi.

Diam-diam sanubarinya bertanya.

"Kenapa Yap Kay memancing petaka ini?"

Kebetulan di depan ada sebuah penginapan, Pho Ang-soat langsung berlari masuk dan minta sebuah kamar, pintu terus ditutupnya rapat, lalu dia memeluk perut dan muntah-muntah.

Di saat dia muntah-muntah itulah badannya bergetar dengan hebat, waktu dia terjungkal roboh, badannya sudah meringkuk seperti trenggiling.

Dia rebah dan berkelejetan di atas tumpahannya sendiri, badannya terus bergerak-gerak, dia sudah kehilangan kesadaran.

Memang dalam keadaan seperti ini mungkin keadaannya jauh lebih baik, tanpa perasaan bukankah tanpa derita?

Hujan semakin lebat, kamar kecil itu semakin gelap.

Dalam kegelapan, jendela kamar kecil itu tiba-tiba terbuka, sesosok bayangan orang muncul di jendela.

Petir menyambar didahului sambaran kilat, sinar kilat menyinari raut muka orang ini, nampak aneh menghiasi muka orang ini, pandangannya tertuju ke arah Pho Ang-soat yang rebah di lantai.

Sulit dibedakan, mimiknya itu marah, duka, dendam, riang atau menderita.

Waktu Pho Ang-soat rebah di atas ranjang, selimut kering menutupi badannya.

Pelita pun sudah tersulut.

Bayangan seseorang terpeta di dinding, sinar pelita guram, namun jelas menandakan adanya seorang di dalam kamar ini!

Siapa?

Orang itu duduk membelakangi pelita, seolah sedang termenung.

Pho Ang-soat sedikit mengangkat kepala, seketika dia melihat raut muka orang, seraut wajah yang keletihan, kurus dan pucat, diliputi kerisauan, merana dan derita, namun wajah nan cantik dan elok.

Seketika serasa mengejang jantung Pho Ang-soat.

Kembali dia berhadapan dengan Cui long.

Cui long sudah mengawasinya, mukanya yang kurus pucat mengulum senyuman getir, katanya lembut "Kau sudah bangun?"

Tidak bergerak tidak bicara, Pho Ang-soat seolah-olah sudah kaku.

"Kau harus tidur lagi, sudah kusuruh orang membuat bubur untukmu,"

Suara Cui long halus lembut penuh perhatian, seperti waktu mereka masih bersama. Mendadat Pho Ang-soat menjadi beringas, teriaknya sambil menuding pintu.

"Pergi, menggelindinglah pergi!"

Sikap Cui long amat tenang, sahutnya kalem.

"Aku tidak akan menggelinding, juga tidak akan pergi!"

"Siapa suruh kau kemari?"

Suara Pho Ang-soat serak.

"Aku sendiri, karena aku tahu kau sakit. Kau harus istirahat, setelah buburnya matang, sebentar kubangunkan kau lagi."

Terkepal kencang jari-jari Pho Ang-soat, sedapat mungkin dia kendalikan emosinya, katanya sinis.

"Terima kasih membikin repot kau untuk melayani aku."

"Tidak jadi soal, kenapa sungkan, kita kan teman lama."

"Ya, tapi kau adalah tamuku, akulah yang harus melayanimu."

"Sudah kukatakan tidak jadi soal, pendek kata suamiku sudah tahu bahwa aku berada di sini."

"Apa? Suamimu?"

Tenggorokan Pho Ang-soat serasa hampir pecah, lama kemudian baru tercetus kata-katanya.

"Benar, aku sampai lupa memberitahukan kepadamu, aku sudah menikah."

Hancur hati Pho Ang-soat, hancur-lebur.

"Selamat atas pernikahanmu!"

Pho Ang-soat sendiri seolah-olah tidak mendengar apa yang dia ucapkan, entah berapa lama berselang, baru dia mendengar suara Cui long.

"Setiap perempuan, peduli perempuan mana pun, cepat atau lambat dia pasti akan berumah tangga, akhirnya pasti akan menikah."

"Aku maklum."

"Bahwa kau tidak mau mengawini aku, terpaksa aku menikah dengan orang lain."

Pho Ang-soat mendelong mengawasi langit-langit rumah, agaknya sedapat mungkin dia kendalikan perasaannya, bukan saja tidak ingin Cui long melihat dan tahu akan keputus-asaan hatinya serta derita batinnya.

pun tidak ingin memikirkannya.

Lama sekali baru dia bertanya.

"Apakah suamimu kemari?"

Cui long mengiakan. Pengantin baru sudah tentu kemana-mana pun berduaan.

"Kenapa tidak kau temani suamimu, malah berada di sini?"

"Kau tidak usah kuatir, segala persoalan sudah diketahui suamiku."

"Suamimu tahu apa?"

"Dia tahu akan dirimu, tahu pula akan hubungan intim kita masa lalu. Aku sudah menceritakan hubungan kita dulu kepadanya. Kedatanganku kemari dia pun sudah tahu."

Bibir Pho Ang-soat sampai berdarah saking keras dia mengertak gigi, tak tahan dia tertawa dingin.

"Agaknya suamimu seorang yang berpikiran terbuka. Tapi aku laki-laki yang cupat pikiran malah."

Cui Long mengunjuk tawa dipaksakan, ujarnya.

"Kalau kau kuatir dia salah paham, boleh kupanggil dia kemari."

Tanpa menunggu persetujuan Pho Ang-soat, segera dia berpaling keluar dan berseru.

"Hai, masuklah kau, mari kukenalkan seorang teman."

Daun pintu memang tidak terkunci, segera seorang mendorong pintu melangkah masuk, agaknya sejak tadi dia memang sudah menunggu di luar pintu.

Tak tahan Pho Ang-soat berpaling dan melirik ke arah orang yang baru masuk ini.

Usia laki-laki ini belum tua, tapi tidak muda.

Usianya sekitar tiga puluhan hampir genap empat puluh, bermuka persegi penuh keriput dari hasil kerja berat selama hidupnya.

Seperti pengantin baru umumnya, laki-laki ini mengenakan pakaian serba baru, sehingga sepintas pandang pakaian nya itu amat menyolok dan tidak cocok dengan pribadinya yang serba sederhana.

Karena siapa pun yang berhadapan dengan dia pasti tahu bahwa orang adalah seorang jujur polos.

Begitu melihat orang ini, perasaan dan emosi Pho Ang-soat malah terkendali dan sabar, rasa irinya seketika lenyap.

Menarik tangan orang, Cui long berkata dengan tersenyum.

"Inilah suamiku, dia she Ong bersama Toa-hong."

Ong Toa-hong seperti bocah desa yang menurut saja digandeng ibunya, suruh dia ke timur dia tidak akan berpaling ke berat. Cui long berkata.

"Inilah Pho Ang-soat Pho-kongcu yang pernah kukatakan itu."

Terunjuk secercah senyuman di muka Ong Toa-hong, sapanya bersoja.

"Nama besar Phokongcu sudah lama Cayhe mendengarnya."

Adem saja Pho Ang-soat menanggapi sapaan orang, katanya seperti menggumam.

"Selamat, kuhaturkan selamat atas pernikahan kalian. Silakan duduk!"

Ong Toa-hong mengiakan. Dengan kaku dan kikuk dia tetap berdiri di tempatnya.

"Suruh duduk, kenapa kau masih berdiri?"

Omel Cui long seraya melotot.

Tanpa bercuit Ong Toa-hong segera duduk.

Laki-laki jujur mempersunting bini ayu, sungguh bukan merupakan nasib yang mujur, karena dia terang-terangan takut bini, tanpa disuruh Cui-long sampai pun duduk dia tidak berani.

Malah kedua tangannya tergantung lurus di atas pahanya.

Maka terlihatlah jari-jarinya yang besar dan kasar, malah sela-sela kukunya kelihatan berminyak.

Sekilas Pho Ang-soat mengawasi sepasang tangannya itu, lalu bertanya.

"Berapa lama sudah kalian menikah?"

"Sudah ada ...ada....."

Jawaban Ong Toa-hong gelagapan sambil melirik kepada istrinya.

"Hampir sepuluh hari,"

Cepat Cui long menambahkan. Segera Ong Toa-hong menjawab.

"Benar, sudah hampir sepuluh hari, sampai hari ini pas sembilan hari."

"Apa kalian memang sudah kenal sebelumnya?"

"Bukan...."

Merah tegang raut muka Ong Toa-hong jawaban yang sepele pun tak mampu dia berikan.

Cuaca buruk hari dingin, tapi kepala Ong Toa-hong dibasahi keringat dingin yang bercucuran, seolah-olah dia tidak tahan duduk lagi.

Mendadak Pho Ang-soat berkata pula.

"Kau bukan pedagang kain seperti yang dikatakan isterimu."

Seketika berubah rona muka Ong Toa-hong, sahutnya tergagap.

"Ya ya...ya...."

Pelan-pelan Pho Ang-soat berpaling, matanya melotot kepada Cui long, katanya tandas.

"Dia pun bukan suamimu."

Rona muka Cui long seketika berubah pula, seperti mukanya digampar dengan keras.

Tak tertahan air mata berderai, badan pun bergetar hebat.

Perubahan sikapnya sudah merupakan jawaban tegas bahwa laki-laki yang bernama Ong Toa-hong sebenarnya bukan suaminya.

Pho Ang-soat bertanya lagi.

"Siapakah sebenarnya laki-laki ini?"

"Tidak tahu."

Menunduk kepala Cui long.

"Dia adalah orang yang dicarikan kacung hotel ini, sebelum ini tidak kukenal."

"Kau mengundang dia kemari hanya untuk menyaru jadi suamimu? Kenapa kau berbuat demikian?"

Semakin rendah kepala Cui long tertunduk, sahutnya pilu.

"Ka rena aku ingin menengok dirimu ingin aku mendampingimu, merawatmu, namun aku takut kau mengusirku."

Yang penting dia amat penasaran akan sikap hina dan dingin Pho Ang-soat terhadap dirinya, maka dia terpaksa menggunakan cara ini untuk melindungi dirinya.

Meski alasan ini tidak dia utarakan, namun Pho Angsoat sudah maklum.

Dengan air mata bercucuran Cui long berkata lebih lanjut.

"Sebetulnya hanya kau saja yang selalu bersemayam dalam sanubariku, umpama kau mengusirku, aku tetap takkan kawin dengan orang lain, sejak bersamamu, laki-laki mana pun tidak terpandang olehku."

Mendadak Pho Ang-soat berteriak.

"Siapa bilang aku mengusirmu, siapa bilang aku tidak peduli kepadamu?"

Tersentak ke atas kepala Cui long, katanya sambil mengawasi dengan air mata berlinang.

"Benarkah kau masih menginginkan diriku?"

"Sudah tentu aku ingin kau, peduli kau perempuan macam apa, kecuali kau, aku tidak peduli perempuan lain."

Pertama kali ini dia limpahkan isi hatinya.

Begitu dia buka kedua Iengannya, Cui long segera menubruk ke dalam pelukannya.

Mereka berpeluk-pelukan dengan kencang seolah-olah dua raga sudah bersenyawa, dua hati sudah bertaut jadi satu.

Seluruh derita, duka cita marah dan penasaran seketika sirna tak berbekas lagi.

"Sejak hari ini aku tidak akan meninggalkan kau, aku tidak akan berpisah dengan kau,"

Cui long berbisik di tepi telinga Pho Ang-soat.

"Aku pun tidak akan meninggalkan kau,"

Pho Ang-soat menjawab tegas.

Mengawasi kedua insan yang berpelukan, terpancar sorot hambar dan tak mengerti pada mimik muka Ong Toa-hong.

Sudah tentu dia takkan bisa menyelami perasaan dua hati yang bertaut setelah mengalami aral-rintang yang berliku-liku, bahwa kedua insan berlainan jenis ini saling mencinta, kenapa pula mereka sengaja mencari kerisauan sendiri.

Tahu bila dirinya tetap di sini akan berlebihan, pelan-pelan Ong Toa-hong berdiri, agaknya sudah siap tinggal pergi.

Begitu asyik perpaduan dua hati yang dibuai asmara, sudah tentu Pho Ang-soat dan Cui long tidak memperhatikan lagi kehadirannya, seolah-olah sudah lupa adanya orang lain di samping mereka.

Sinar pelita yang guram menyoroti badannya yang membayang di atas dinding putih.

Pelanpelan Ong Toa-hong memutar badan tiba-tiba tangannya sudah bertambah sebilah pedang pendek sepanjang satu kaki tujuh dim.

Pedang pendek yang tipis dan tajam mengkilap, di bawah penerangan lampu tampak memancarkan cahaya biru kepucat-pucatan.

Apakah pedang ini dilumuri racun?

Pelan-pelan Ong Toa-hong beranjak keluar, dua langkah saja mendadak dia membalik badan!

Dimana pedang pendek warna kebiruan itu berkelebat, laksana kilat menusuk ke bawah ketiak kiri Pho Ang-soat yang terbuka lebar.

Takkan ada orang yang bisa membayangkan perubahan ini, apa lagi sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.

Kedua tangan Pho Ang-soat terangkat memeluk Cui long, maka ketiaknya merupakan sasaran empuk, bukan saja tusukan pedang ini cepat dan ganas tempat yang diincar pun amat tepat di tempat terlemah.

Agaknya orang ini sudah bertahun-tahun melatih diri untuk melancarkan tipuannya ini.

Bukan saja tidak melihat, Pho Ang-soat pun tidak merasa sama sekali.

Untung Cui long kebetulan membuka mata, dan dari bayangan orang di dinding dilihatnya gerak-gerik orang, tanpa pikir mendadak dengan seluruh kekuatannya dia dorong Pho Ang-soat, lalu memapak tusukan pedang orang dengan badan sendiri.

Sinar pedang yang membiru dengan telak menghujam amblas di punggungnya.

Rasa sakit yang tak terperikan, seolah-olah membuat sekujur badan Cui long seperti dirobek-robek.

Tapi sepasang matanya menatap kepada Pho Ang-soat.

Pho Ang-soat jatuh di atas ranjang, dia pun balas menatapnya, mengawasi sorot matanya yang mengandung derita dan menghibur, mengawasi senyuman manisnya yang memilukan.

Akhirnya tercetus kata-kata dari mulut Cui long.

"Kau harus percaya kepadaku, aku tidak tahu siapa dia, tidak tahu bahwa dia hendak membunuhmu."

"Aku aku percaya kepadamu."

Dengan keras dia mengertak gigi, tapi air mata tak tertahan bercucuran.

Tiba-tiba Cui long tersenyum lebar, badannya tersungkur jatuh, raut mukanya yang pucat memutih kini sudah berubah hitam.

Pedang pendek itu masih terselip di tulang punggungnya.

Karena tidak sempat mencabutnya, terpaksa Ong Toa-hong melepasnya, selangkah demi selangkah menyurut mundur, dia harap Pho Ang-soat di saat berduka tak melihat dirinya.

Memang melirik pun Pho Ang-soat tidak berpaling kepadanya, namun terdengar desis suara dari celah-celah giginya.

"Berhenti!"

Suaranya membawa daya sedot yang tak terlawan oleh siapa pun. Bukan takut, Ong Toa-hong mendadak menyeringai dingin, katanya.

"Tentu kau ingin tahu siapa aku sebenarnya."

Pho Ang-soat menjawab dengan anggukan kepala.

"Akulah orang yang hendak menagih jiwamu."

Sikap Pho Ang-soat menjadi tenang, ujarnya.

"Kau ikut berkomplot dalam pembunuhan di luar Bwe hoa am itu?"

"Tidak, hanya kau yang ingin kubunuh."

"Kenapa?"

"Kalau kau biasa membunuh orang, kenapa orang lain tidak boleh membunuhmu?"

"Aku tidak mengenalmu."

"Kau pun tidak kenal Kwe Wi, tapi kau membunuhnya, membunuh cucunya pula."

"Kau hendak menuntut balas bagi kematian mereka?' "Bukan."

"Lalu apa maksudmu?"

"Banyak alasan membunuh orang, jadi bukan melulu lantaran dendam."

Setelah tertawa dingin Ong Toa-hong melanjutkan.

"Bocah sekecil itu selama hidupnya tidak pernah mencelakai orang lain, sudah tentu belum pernah membunuh orang, tapi kenyataan dia mati di tanganmu, dan kau? Berapa banyak orang yang kau bunuh yang memang patut dibunuh?"

Tiba-tiba Pho Ang-soat merasa kaki tangan dingin. Cercaan Ong Toa-hong semakin sengit.

"Asal kau pernah membunuh jiwa seorang, bukan mustahil akan datang banyak orang menuntut balas kepadamu! Apalagi kau salah membunuh orang yang tidak berdosa maka selama hidupmu kau tiada hak bertanya kepada orang lain kenapa mereka hendak membunuhmu!"

Pho Ang-soat pelan-pelan berdiri, membungkuk badan, menarik tangan Cui long pelan-pelan.

Tangan yang halus dan hangat tadi kini sudah mulai dingin.

Tidak mengalirkan air mata, dengan mendelong dia mengawasi mukanya, seolah-olah sudah melupakan kehadiran Ong Toahong.

Mukanya tidak mengunjukkan sesuatu perasaan, namun jarinya dengan kencang sudah menggenggam gagang golok.

Melihat goloknya ini, Ong Toa-hong seketika bergidik seram, sekujur badan dingin berkeringat.

Tanpa berkesip Pho Ang-soat berkata.

"Kau boleh membunuhku, siapa pun boleh membunuhku, tapi tidak seharusnya kau membunuh dia."

Suaranya aneh seperti gema dari tempat jauh, seolah-olah berkumandang dari neraka.

"Aku tidak peduli kau siapa? Peduli apa tujuanmu kemari, yang terang kau telah membunuhnya, maka aku harus mencabut jiwamu."

Muka Ong Toa-hong sudah berubah sepucat kapur, namun tetap menyeringai dingin.

"Memangnya sekarang kau masih punya tenaga mencabut golokmu?"

Pelan-pelan Pho Ang-soat berdiri, pelan-pelan beranjak mendekati Ong Toa-hong dengan menggenggam golok.

Matanya tertuju ke arah tenggorokan Ong Toa-hong.

Napas Ong Toa-hong serasa mendadak tercekik lehernya.

Dia tak menyurut mundur lagi, karena memang tiada jalan untuk dirinya mundur.

Mengawasinya golok orang, akhirnya dia menghela napas.

"Kau sudah menyesal?"

Tanya Pho Ang-soat. Ong Toa-hong manggut-manggut, katanya rawan.

"Aku hanya menyesal tidak mematuhi pesan seseorang."

"Pesan apa?"

"Dia sebetulnya menyuruh aku menghancurkan dulu golokmu itu."

"Menghancurkan golok ini?"

"Golok itu sendiri tidak luar biasa, tapi berada di tanganmu, nilainya teramat besar sekali,"

Demikian kata Ong Toa-hong.

"golok ini bagai sebuah tongkat, tanpa golok ini, kau tidak lebih hanya seorang timpang yang harus dikasihani, hanya di waktu kau memegang golok saja baru bisa berdiri, berdiri dengan tegak."

Seperti terbakar raut muka Pho Ang-soat yang pucat. Ong Toa-hong memperhatikan perubahan rona mukanya, katanya pula.

"Sudah tentu bukan aku yang mengatakan kenyataan ini, karena bahwasanya aku tidak atau belum memahami dirimu."

"Lalu siapa yang bilang demikian?"

Tanya Pho Ang-soat.

"Ada seorang yang mengatakan."

"siapa dia?"

"Kenapa aku harus memberitahu kepadamu?"

"Jadi orang itu yang menghendaki kau membunuhku?"

"Mungkin benar, tapi mungkin pula tidak benar."

Tiba-tiba tertunjuk mimik aneh pada mukanya, katanya menyambung.

"Bagaimana pun juga, selamanya kau tidak akan tahu siapa dia malah selamanya kau tidak akan bisa menduganya "

Tiba-tiba terangkat kepala Pho Ang-soat, biji mata mulai terbakar biji mata yang membara menatapnya lekat-lekat. Sikap Ong Toa-hong malah tenang, katanya dingin.

"Kenapa tidak kau cabut golokmu?"

Lama Pho Ang-soat menepekur, akhirnya berkata pelan-pelan.

"Karena aku tidak mengerti."

"Hal apa yang tidak kau mengerti?"

"Aku tidak tahu kenapa kau sudi mati bagi orang lain?"

"Mati bagi orang lain?"

"Kau hanya benda yang diperalat saja oleh orang itu, bahwasanya tidak setimpal aku turun tangan membunuhmu. Jadi orang yang menyuruh kau membunuhku itulah yang setimpal kubunuh."

"Jadi asal aku sebutkan nama orang itu, kau bebaskan aku?"

"Sudah kukatakan, manusia rendah seperti dirimu tidak setimpal kubunuh."

Tiba-tiba Ong Toa-hong menepekur, agaknya dia sedang berpikir, menimang-nimang.

Pho Ang-soat memberi peluang selama mungkin untuk orang berpikir, dia tidak perlu mendesaknya, karena tekanan dan ancaman malah membikin akibatnya terbalik.

Lama sekali baru Ong Toa-hong berkata.

"Tentunya kau sudah tahu bahwa aku ini bukan seorang Kuncu. Seorang Siaujin seperti katamu tadi, demi menyelamatkan jiwa sendiri, kepada siapa pun berani menjual diri."

"Agaknya kau tidak bodoh."

"Maka aku masih punya persoalan. Darimana aku tahu bila kau tidak akan membunuhku? Mungkin sekarang ini kau bukan lawanku, lalu buat apa aku membongkar rahasia orang lain kepadamu?"

Lama Pho Ang-soat bungkam, mengawasinya tajam, katanya pelanpelan.

"Seharusnya aku tebas putus dulu sebuah kupingmu, supaya kau percaya. Tapi bukan saja kau tidak setimpal aku turun tangan, tidak patut pula aku menggerakkan golokku. Cuma bisa tidak bisa kau harus mengerti akan satu hal."

"Hal apa?"

"Tanpa menggunakan golok, aku tetap bisa membunuhmu."

Seketika Ong Toa-hong tertawa riang.

Sudah tentu dia tidak percaya Pho Ang-soat bakal meninggalkan goloknya ini.

Tapi kenyataan di waktu dia tertawa Pho Ang-soat sudah meletakkan goloknya di atas meja.

Betul juga Ong Toa-hong mengunjuk rasa heran dan tidak mengerti, namun sigap sekali tahutahu sebilah pedang pendek entah darimana sudah terpegang di tangannya, pedang pendek yang memancarkan cahaya kemilau, sekali berkelebat tiba-tiba pedang itu sudah menusuk ke dada Pho Ang-soat.

Dari gaya dan cara serta jurus serangannya ini, sudah dapat dipastikan bahwa Ong Toa-hong bukan saja seorang ahli pedang, malah dia seorang ahli bunuh yang sudah bertahun-tahun berkecimpung dalam usahanya.

Gerak pedangnya keji dan telengas, meski tidak mengandung perubahan rumit yang aneh, tapi besar manfaatnya untuk membunuh jiwa manusia.

Laksana lidah ular saja yang terjulur keluar.

Tak mungkin Pho Ang-soat mengayunkan goloknya menangkis, tangannya sudah kosong.

Tapi dia masih mampu menggerakkan tangannya.

Tangan yang putih, sebat sekali badannya berkelit seraya mengulurkan tangannya dengan tangkas mencengkeram ke batang pedang.

Seolah-olah sudah terlupakan bahwa tangannya itu terdiri dari darah daging dan tulang yang tidak kuat melawan senjata tajam, seolah-olah dia lupa bahwa dirinya tidak membekal senjata.

Apalagi pedang itu dilumuri racun, sekali tangannya tergores luka, kontan dia akan roboh binasa.

Gerakan pedang Ong Toa-hong tidak berubah.

Sudah tentu dia tidak mau merubah gerakannya, dia harap Pho Ang-soat menangkap pedangnya, semakin kencang lebih baik.

Seorang yang benar-benar pintar, selamanya tidak akan menganggap orang lain pikun.

Orang yang menganggap orang lain pikun, akhirnya dia akan menyadarinya sendiri, bahwa orang yang benar-benar pikun bukan orang lain, tapi adalah diri sendiri.

Hampir saja Ong Toa-hong tertawa, dia anggap Pho Ang-soat sudah pikun maka dia tetap menyodorkan pedangnya untuk ditangkap olehnya.

Tapi sekilas itu mendadak terasa pandangan matanya seperti kabur, tahu-tahu tangan memutih itu sudah menyambar mukanya dan telak sekali memukul mukanya.

Kiranya dalam waktu sesingkat itu gerakan tangan Pho Ang-soat tiba-tiba berubah, lebih cepat dan tangkas, sampai sukar dilukiskan.

Tahu-tahu Ong Toa-hong merasa matanya berkunangkunang, kepalanya posing tujuh keliling.

Waktu dia siuman kembali, didapatinya dirinya roboh di pojok dinding, darah bercucuran dari hidungnya yang sudah penyok, rasa sakit masih menjalari mukanya karena tulang hidungnya remuk.

Waktu itu dia mengangkat kepala, tampak pedangnya sudah berada di tangan Pho Angsoat.

Dengan nanar Pho Ang-soat mengawasi pedang di tangannya, lama sekali baru berpaling, tanyanya dingin.

"Pedang ini bukan milikmu?"

Ong Toa-hong geleng-geleng.

"Biasanya kau memakai pedang panjang."

Ong Toa-hong manggut-manggut.

Biasa memakai pedang panjang tiba-tiba berganti pedang pendek, meski gerakannya lebih cepat, tapi tenaga dan incarannya menjadi sulit dikontrol dan kurang tepat.

Baru sekarang dia memahami akan hal ini.

"Pedang ini milik orang yang menyuruh kau kemari?"

Ong Toa-hong mengiakan dengan anggukan kepala. Tiba-tiba Pho Ang-soat membuang pedang itu di kakinya, katanya.

"Kalau kau ingin mencoba lagi, boleh kau ambil pedang itu."

Ong Toa-hong geleng-geleng, melirik pun tidak ke arah pedang itu, keberaniannya sudah runtuh total.

"Kenapa tidak kau ulangi? Aku tidak memegang golok, aku tidak lebih seorang timpang yang harus dikasihani."

"Kau bukan..."

Ujar Ong Toa-hong, setelah menghela napas dia menambahkan.

"Kau bukan orang pikun."

"Sekarang kau mau mengatakan siapa orang itu?"

"Umpama kukatakan takkan berguna."

"Kenapa?"

"Karena kau tidak akan percaya."

"Aku percaya."

Ong Toa-hong ragu-ragu, katanya.

"Sebaliknya bolehkah aku percaya kepadamu? Kau benarbenar mau membebaskan aku"

"Sudah kukatakan sekali."

Akhrnya Ong Toa-hong menghela napas lega, katanya.

"Sebetulnya orang itu adalah temanmu, jejakmu tiada orang lain yang lebih jelas dari pada dia."

Seketika Pho Ang-soat menggenggam kencang jari-jarinya, lapat-lapat dia sudah menduga siapa orangnya.

Yang jelas dia tidak punya teman, maka dia tidak mau percaya begitu saja, namun mau tidak mau dia harus percaya, maka tak tahun dia bertanya lagi.

"She apa orang itu?"

"Dia she ...."

Sekonyong-konyong selarik sinar berkelebat, hanya sekali saja, lebih cepat cari sambaran kilat maka segalanya menjadi tenang, suara apa pun sirap.

Ong Toa-hong tidak mampu menyebut she dan nama orang itu.

Karena sebilah pisau sudah memutus pernapasannya tepat di tenggorokannya.

Matanya melotot, mulut terbuka dan lidahnya menjulur keluar, cepat sekali dia mati.

Tapi sampai ajalnya dia tetap tidak percaya bahwa orang itu tega membunuhnya.

Mau tidak mau Pho Ang-soat harus percaya.

Pisau yang tidak kelihatan merupakan pisau yang paling menakutkan.

Orang yang sukar diketahui seluk-beluk dart kedok aslinya merupakan orang yang paling ditakuti.

Mendadak Pho Ang-soat menyadari, Yap Kay pemuda itu jauh lebih menakutkan dari pisau terbangnya yang melesat secepat kilat.

Pisau itu melesat dari luar jendela, namun tidak terlihat bayangan orang di luar.

Dipapahnya jenazah Cui long yang sudah kaku dingin itu, pelanpelan Pho Ang-soat melangkah keluar, melangkah terus tanpa tujuan, menyusuri sungai melalui jembatan, dia terus maju meninggi naik ke atas bukit, dia terus memanjat ke tempat yang paling tinggi, lalu berlutut menghadap sang surya yang baru saja terbit, pelan-pelan dia letakkan jazadnya ke atas tanah.

Di sini dia menggali tanah, di bawah kesaksian sinar matahari dia kebumikan pujaan hatinya yang gugur demi membela dirinya.

Sejak kini, sepanjang tahun, selama matahari terbit dari ufuk timur, sinarnya akan selalu menyoroti pusaranya.

Sinar matahari abadi, demikian pula cinta nan murni.

BAB 40.

DENDAM BARU KEBENCIAN LAMA Malam kedua baru Pho Ang-soat turun dari atas bukit.

Baru saja dia sembuh dari sakit, kini harus mengalami pukulan batin separah ini, kecuali duka cita, perih, marah, penasaran dan dendam, apa pula yang dia miliki?

Mungkin masih punya rasa takut.

Takut akan kesepian.

Sepanjang masa hidupnya, dia takkan bisa melihatnya lagi, cars bagaimana dia harus membebaskan diri dari kesepian dan sebatangkara abadi ini?

Terpaksa dia harus melarikan diri.

Sebuah kota kecil berada di bawah bukit di sana ada arak.

Arak yang getir, namun dia tidak peduli lagi, entah berapa banyak poci arak yang dia habiskan, waktu dia berdiri dan beranjak keluar, sinar pelita masih menyala di dalam warung, dengan menggenggam kencang goloknya dia tinggalkan warung itu.

Dia sudah mabuk, langkahnya sempoyongan.

Entah berapa jauh dia teringsut-ingsut, akhirnya tersungkur roboh, roboh di bawah pohon yang daunnya sudah menguning.

Hembusan angin merontokkan daun-daun pohon yang bertaburan di atas badannya, seolah-olah dia tidak merasakan derita dan sengsara yang sudah membeku pada dirinya.

Dia tidak tahu tempat apa itu, dia hanya mendekam di tanah saja.

Hanya dendam kesumat yang masih menjalari sanubarinya, di samping dendam, dia pun merasa ditipu dan dihina oleh Yap Kay, maka dia bersumpah untuk bertahan hidup.

Dia bersumpah akan menuntut balas terhadap Be Khong-cun, terhadap Yap Kay.

Sang waktu berlalu tanpa terasa, Pho Ang-soat tetap meringkuk di atas tanah dia tahu banyak orang berlalu-lalang dan menengok badannya, tapi hanya menghela napas, lalu tinggal pergi pula.

Tapi tak sedikit pula yang menertawakannya.

Pho Ang-soat diam saja mendengar ejekan, olok-olok dan helaan napas orang banyak yang mengandung belas kasihan pula, yang terang pukulan batin yang dialami memang teramat besar, sehingga dia tidak menghiraukan keadaan sekelilingnya lagi.

Apa pun yang terjadi, golok tetap berada di tangannya.

Sekonyong-konyong didengarnya seseorang menjerit tertahan.

"Oh, dia!"

Itulah suara perempuan, perempuan yang kenal dan dikenal dirinya, peduli siapa dia, Pho Ang-soat mengharap dia lekas pergi. Celakanya perempuan ini tidak pergi malah menjengek sinis, katanya.

"Pho-kongcu ahli bunuh yang kejam, kenapa sekarang berubah begini rupa seperti anjing liar yang kelaparan, apa kau dilukai orang?"

Serasa muak dan perut Pho Ang-soat seperti dipelintir.

Kini dia sudah kenal siapa pembicara ini.

Be Hong-ling!

Orang yang justru tidak mau ditemui, sekarang muncul di saat dirinya serba runyam.

Gigi Pho Ang-soat gemeratak, jari-jarinya mencengkeram tanah dengan kencang, seperti merenggut hulu hati sendiri.

Be Hong-ling tertawa dingin, ejeknya.

"Kau begini menderita lantaran nona Cui long itu, sungguh tidak setimpal pengorbananmu, sebelum ini dia menjadi perempuan piaraan ayahku, memangnya kau tidak tahu?"

Kata-kata ini laksana jarum menusuk hati, laksana cambuk melecut badannya.

Tak tertahan mendadak Pho Ang-soat berjingkrak berdiri, dengan matanya yang berdarah dia melotot kepadanya, keadaannya sungguh harus dikasihani, tapi amat menakutkan pula.

Lain dulu lain sekarang, dulu mungkin Be Hong-ling simpati kepadanya, namun sekarang dia sudah berubah, pemuda yang pernah membuatnya duka dan merana, kini tidak lagi terpandang olehnya.

Dengan dingin kembali dia mengoceh.

"Aku tahu cepat atau lambat dia akan meninggalkan kau, lari mengikuti laki-laki lain, seperti dia meninggalkan Yap Kay mengikut kepadamu, kecuali ayahku, laki-laki lain bahwasanya tidak terpandang olehnya."

Muka Pho Ang-soat yang pucat tiba-tiba beringas merah. napasnya tiba-tiba tersengal-sengal, katanya.

"Sudah cukup bicaramu?"

"Kau tidak suka mendengar ucapanku?"

Otot di jari tangan Pho Ang-soat yang memegang golok merongkol, katanya kalem.

"Sepatah kata lagi kau ucapkan, kubunuh kau."

Be Hong-ling malah tertawa, di saat dia tertawa itu seseorang muncul di sampingnya.

Seorang pemuda yang tinggi besar dengan jubah sutra, raut mukanya amat congkak dan pongah, Memang dia punya alasan untuk pongah dan bangga akan dirinya.

Bukan karena tinggi besar dan gagah ganteng, sepasang matanya yang dinaungi alis lentik laksana pedang mencorong terang dan berwibawa pakaian yang dikenakan pun teramat mewah perlente.

Sekilas pandang orang akan tahu, pemuda ini sudah biasa berbuat sewenang-wenang, suka bersimaharaja, apa pun yang ingin dia lakukan, tanpa peduli akibatnya harus dilaksanakan, jarang ada orang yang berani merintanginya.

Dengan tajam sekarang dia balas menatap Pho Angsoat, katanya dingin.

"Apa katamu barusan?"

Tiba-tiba Pho Ang-soat sadar apa sebabnya Be Hong-ling berubah sikap kepadanya. Pemuda perlente kembali berkata.

"Bukankah kau bilang hendak membunuhnya?"

Pho Ang-soat manggut-manggut.

"Dia adalah istriku,"

Ujar pemuda perlente. Dingin suara Pho Ang-soat.

"Kalau dia berani bilang sepatah kata lagi, maka kau harus mencari perempuan lain untuk jadi binimu."

Seketika pemuda perlente berubah muka, bentaknya bengis.

"Kau tahu siapa aku?"

Pho Ang-soat geleng-geleng.

"Aku she Ting. Akulah Ting Ling-ka,"

Ujar pemuda perlente congkak.

"Walau kurangajar, aku masih boleh memaafkan kau, karena keadaanmu tidak mirip laki-laki yang bisa membunuh orang."

Memang keadaan Pho Ang-soat serba mengenaskan, terang dia tidak akan mampu banyak bergerak, mulutnya terbungkam, mau tidak mau dia harus mengakui akan hal ini.

Ting Ling-ka menyeringai puas, dia tahu kebesaran namanya cukup membuat siapa pun kaget ketakutan, bila tidak perlu benar, dia tidak sudi turun tangan.

Karena itu dia merasa dirinya seorang yang kejam.

Sekaligus dia ingin supaya bininya yang baru ini mengerti dia punya kemampuan untuk melindunginya.

Maka dengan tersenyum dia berpaling dan berkata dengan latah.

"Apa pun yang masih kau ingin katakan, boleh kau katakan sesuka hatimu."

Be Hong-ling menggigit bibir.

"Apa pun yang ingin kukatakan tidak jadi soal?"

Ting Ling-ka tersenvum, ujarnya.

"Asal kau di sampingku, apa pun yang ingin kau katakan tidak menjadi soal."

Karena gairah dan senang, raut muka Be Hong-ling menjadi bersemu merah, katanya tiba-tiba dengan keras.

"Kukatakan perempuan yang dicintai si timpang ini adalah pelacur, pelacur yang tidak ada harganya."

Muka Pho Ang-soat menjadi pucat seperti kertas. jari-jari tangan kirinya menggenggam gagang golok yang dipegangnya.

"Berani kau turun tangan?"

Bentak Ting Ling-ka.

Dia tahu tiada suatu kekuatan apa pun di dunia ini yang kuasa mencegah dia turun tangan.

Maka dia menghardik lebih dulu, tahu-tahu pedang sudah terlolos, sinar pedangnya bagai selarik lembayung, langsung menusuk tenggorokan Pho Ang-soat.

Pedang yang digunakan bobotnya cukup berat, maka tusukannya mengeluarkan deru angin keras, apalagi dilandasi kekuatannya, maka daya serang ini amat ganas dan hebat.

Meski tidak cepat serangan ini, tapi tusukan pedang ini cukup lihai, dahsyat, sasarannya tepat dan mematikan.

Menyerang memang nya pertahanan yang paling baik.

Orang yang mampu membalas serangan seperti ini, di dunia ini tidak akan lebih dari tujuh orang.

Dan Pho Ang-soat justru salah satu dari ketujuh orang itu.

Dia tidak berkelit, tidak menangkis, malah tiada orang melihat dia bergerak, Be Hong-ling sendiri tidak melihat gerakan apa-apa, namun ia hanya melihat selarik sinar kemilau secepat kilat dari sambaran sinar golok.

Hanya berkelebat sekali, darah bagai kembang api berpijar muncrat sederas sumber minyak yang menyemprot dari bumi.

Sinar pedang bagai selarik rantai perak melesat terbang ke samping dan menancap di atas pohon.

Jari-jari tangan Ting Ling-ka masih kencang memegangi gagang pedang, seluruh lengan kanannya bergantung di ujung pedangnya, masih bergoyang turun naik.

Darah masih bertetesan dari kutungan lengan pundak Ting Ling-ka.

Bahna kaget Ting ling-ka sampai berdiri melongo mengawasi kutungan tangannya yang bergoyang-goyang di atas pohon, seolah-olah tidak menyadari apa sebenarnya yang telah terjadi.

Karena perubahan ini sungguh amat mendadak.

Bila dia menyadari lengan yang tergantung di atas pohon itu adalah kutungan lengannya, seketika dia jatuh semaput.

Hampir saja Be Hong-ling ikut semaput tapi bukan karena kaget dan gelisah karena luka-luka suaminya, namun karena gusar yang putus asa.

Dengan penuh kebencian dia melotot sekali kepada Ting Ling-ka yang semaput di tanah, terus putar badan dan berlari sipatkuping.

Di pinggir jalan raya berhenti sebuah kereta tertutup yang ditarik kuda, langsung dia menerjang ke sana terus menarik pintu kereta sekeras-kerasnya.

Tampak seorang duduk kaku tidak bergerak di dalam kereta, raut mukanya nan cantik dan pucat membayangkan mimik kaku dan kosong.

Begitulah mimik seseorang bila dia kehilangan sesuatu miliknya yang paling berharga.

Pho Ang-soat juga melihat orang dalam kereta ini, dia kenal baik orang ini!

Ting Hun-pin.

Bagaimana dia bisa berada di sini?

Kehilangan apa dia?

Dimana Yap Kay?

Tiba-tiba Be Hong-ling membalik badan seraya menuding Pho Angsoat, katanya keras.

"Orang itulah yang membunuh Jikomu, tidak lekas kau menuntut balas?"

Lama berselang baru Ting Hun-pin mengangkat kepala, sekilas ia memandangnya, katanya.

"Benarkah kau ingin aku menuntut balas?"

"Sudah tentu, dia kan Engkohmu, dia adalah suamiku."

Mengawasinya, mendadak matanya menyorotkan rasa ejek dan hina, katanya.

"Apa benar kau anggap Engkohku sebagai suamimu?"

Berubah air muka Be Hong-ling, serunya.

"Kau... apa-apaan kau mengucapkan kata demikian?"

"Tentunya kau mengerti apa maksudku, umpama engkohku mati, kau tidak akan bersedih apalagi meneteskan air mata, mati hidupnya tidak menjadi perhatianmu!"

Seperti dihajar lecutan cambuk badan Be Hong-ling berjingkrak mundur, mukanya yang pucat semakin pucat.

"Kau ingin aku menuntut balas, karena kau membencinya seperti kau membenci Yap Kay."

Dengan kencang Ting Hun-pin mengertak gigi, sambungnya.

"Terhadap laki-laki siapa saja kau amat membenci karena kau mengira semua laki-laki amat menghina dirimu, sampai pun ayah kandungmu tidak peduli mati hidupmu. Bahwa kau kawin dengan Jikoku, tidak lebih hanya hendak kau peralat untuk membalas sakit hatimu."

Syaraf Be Hong-ling menjadi kalut, pikirannya sudah mendekati gila, mendadak dia berteriak keras.

"Aku tahu kau membenci aku, karena aku suruh Engkohmu membawamu pulang, tapi kau senang kelayapan mengikuti Yap Kay seperti anjing gelandangan."

"Benar, aku lebih suka keliaran bersama dia di luaran, karena aku mencintainya,"

Debat Ting Hun-pin sambil menatap Be Hong-ling.

"tentunya kau sudah tahu bahwa aku mencintainya, maka kau merasa iri, cemburu, maka kau paksa Engkohku untuk bertindak membawaku meninggalkan dia. Soalnya kau pun mencintainya."

Mendadak Be Hong-ling tertawa terkial-kial seperti kesurupan setan, serunya.

"Aku mencintainya..... aku hanya berharap dia lekas mampus."

"Sekarang kau membencinya malah, karena kau tahu dia tidak akan mencintai kau."

Tersorot mimik aneh dan menakutkan pada pandangan mata Ting hun-pin, katanya lebih lanjut.

"Di dunia ini banyak perempuan jahat yang gila, jika tidak terlaksana keinginannya untuk memiliki sesuatu, maka dia berusaha dengan berbagai daya upaya, meski cara yang paling kejam dan keji, untuk melenyapkannya, dan kau termasuk perempuan seperti itu, kau pantas mampus."

Lama kelamaan tawa gila Be Hong-ling menjadi isak tangis bercampur tawa yang memilukan, akhirnya tidak terbedakan lagi dia tertawa atau menangis.

Tiba-tiba dia berpaling menghadap Pho Ang-soat, serunya serak.

"Kalau kau ingin membunuhku, kenapa tidak segera turun tangan?"

Sebaliknya tanpa mengawasinya, Pho Ang-soat beranjak pelan-pelan mendekati kereta dimana Ting Hun-pin berada. Mendadak Be Hong-ling menubruk ke atas badannya, serta memeluknya erat-erat, ratapnya.

"Jika kau tidak membunuhku, bawalah aku pergi, peduli kemana pun, aku ingin mengikuti kau, apa pun yang kau inginkan, pasti kulakukan."

Sekujur badan Pho Ang-soat dingin dan kaku. Dengan bercucuran air mata Be Hong-ling berkata pula.

"Asal kau sudi membawaku, aku... aku boleh membawamu mencari ayahku."

Mendadak sikut bergerak menyodok ke perutnya dengan keras. Kontan Be Hong-ling melengking seperti babi disembelih, badan nya terbungkuk-bungkuk sambil memeluk perut.

"Menggelindinglah pergi!"

Tanpa berpaling Pho Ang-soat membentak.

Akhirnya Be Hong-ling menegakkan badan, semula dia adalah gadis jelita yang cantik rupawan, penuh dihayati keyakinan akan kehidupan masa depan.

Tapi sekarang dia sudah berubah, kini raut mukanya benar-benar dihiasi mimik jahat dan beringas mendekati gila.

"Baik, aku pergi,"

Desisnya sambil melotot kepada Pho Ang-soat.

"Kau tidak mau pergi dariku, terpaksa aku menyingkir, tapi apa kau lupa akan kelakuanmu sekasar anjing liar yang kelaparan merayapi badanku di padang pasir dulu? Memangnya di saat orang lain tidak melihatmu baru kau berani memperkosa aku?"

Muka Pho Ang-soat menampilkan derita pukulan batin yang tertekan, namun dia tetap tidak berpaling. Malah Ting Hun-pin yang bersuara.

"Apa sekarang kau sudah menyesal, kenapa malam itu kau tidak menuruti keinginannya?"

"Jangan kau pongah! Kau kira Yap Kay mencintaimu?"

Jengek Be Hong-ling pedas.

"Jika dia benar-benar mencintaimu, masakah dia biarkan ikut kita? Sekarang bukan mustahil dia sedang menggumuli perempuan pelacur entah dimana, bukan mustahil kawan mainnya adalah kekasih tuannya itu, Cui long."

Mendadak dia terloroh-loroh gila lagi, langkahnya menyurut mundur dan mundur terus memasuki hutan belukar.

Lain kejap loroh tawanya hilang, bayangannya pun tidak kelihatan lagi.

Ting Hun-pin menghela napas, ujarnya.

"Sebetulnya dia gadis yang harus dikasihani, sayang sekali setiap langkah dan tindakannya salah, jelasnya dia salah memilih laki-laki."

"Dan kau?"

Tiba-tiba Pho Ang-soat menjengek.

"Aku tidak salah!"

"Yap Kay ...."

"Sejak lama aku sudah tahu orang macam apa Yap Kay,"

Tukas Ting Hun-pin.

"Umpama dia tidak mencintai aku, tidak jadi soal, karena aku benar-benar mencintainya dan ini sudah cukup."

Bertambah tebal derita pada sorot mata Pho Ang-soat, lama kemudian baru dia berkata pelan.

"Tapi kau toh meninggalkan dia."

"Karena terpaksa dan aku tidak berdaya."

"Kenapa tidak berdaya?"

"Di saat aku tidak berjaga-jaga. Ting-loji tiba-tiba menotok Hiat-toku."

"Terpaksa Yap Kay mengawasi dirimu dibawa mereka pergi?"

"Dia pun kewalahan dan mati kutu, Ting-loji adalah Engkoh kandungku, apa yang dapat dia lakukan?"

Terpancar cahaya dari biji matanya.

"tapi aku tahu cepat atau lambat dia pasti mencariku, kelihatannya sikapnya selalu acuh tak acuh, sebenarnya dia pemuda romantis, waktu orang membawaku pergi, aku dapat merasakan penderitaannya, jauh lebih besar dari aku sendiri."

"Sekarang bukankah kau ingin mencarinya?"

Ting Hun-pin tertawa riang, katanya.

"Ada semacam orang di dunia ini yang takkan dapat kau temukan selama hayatmu, terpaksa kau harus menunggu dia yang mencarimu, Yap Kay adalah orang macam itu."

Pho Ang-soat masih mengawasinya, tiba-tiba terunjuk pula mimik aneh pada sorot matanya.

"Walau kau melukai, malah membikin cacad Engkohku, tapi aku tidak menyalahkan engkau."

"Oh,"

Pho Ang-soat bersuara dalam tenggorokan.

"Bukan lantaran memaksa aku ikut dia, sehingga aku membencinya. Soalnya kau mengutungi sebelah tangannya, tapi engkau membuatnya sadar macam apa sebenarnya perempuan seperti Be Hong-ling itu kalau bukan lantaran tebasan golokmu. kelak hidupnya akan lebih celaka lagi. Sekarang kau boleh pergi, aku tidak ingin dia melihatmu setelah siuman dari pingsannya."

Tapi Pho Ang-soat diam saja. Menunggu sekian saat tak tahan Ting Hun-pin bertanya.

"Kenapa tidak segera kau pergi?"

"Karena aku sedang mempertimbangkan satu soal."

"Soal apa?"

"Aku tidak tahu haruskah aku membuka totokan Hiat-tomu, supaya kau ikut aku, atau membawamu pergi dengan menggendongmu."

Seketika berubah rona muka Ting Hun-pin, teriaknya.

"Apa sih maksudmu?"

"Maksudku ingin membawamu pergi."

"Kau... kau sudah gila...."

"Aku tidak gila,"

Sahut Pho Ang-soat dingin.

"aku tahu kau pasti tidak sudi ikut pergi."

Dengan terbelalak Ting Hun-pin mengawasi orang, mendadak dia ayunkan tangan, kelintingan di pergelangan tangannya tiba-tiba melesat membawa dering suara nyaring, sekaligus mengincar Ing-hian, Thian-sek dan Hian-ki, tiga Hiat-to.

Jarak mereka dekat, serangan mendadak serta cepat.

Kelintingan pencabut nyawa Ting Hun-pin merupakan salah satu senjata rahasia paling menakutkan di samping tujuh macam senjata rahasia di Kangouw lainnya, karena bukan saja gerakannya cepat, incarannya tepat mengenai Hiat-to, malah yang ditimpukkan belakangan tiba lebih dulu, yang ditimpukkan duluan tiba-tiba berubah arah, hingga orang yang diserangnya tidak tahu caranya harus berkelit.

Tapi Pho Ang-soat tidak berkelit.

Hanya sekali sinar goloknya berkelebat, tiga kelintingan tahutahu sudah terbelah menjadi enam buah.

Waktu sinar golok masuk kembali ke dalam sarungnya, tahu-tahu dia sudah mencengkeram urat nadi pergelangan Ting Hun-pin, sekali tarik dia peluk pinggang orang, terus dijinjingnya.

Keruan Ting Hun-pin meronta dan berteriak-teriak.

"Kau timpang yang tidak tahu malu ini, lekas lepaskan aku!"

Pho Ang-soat anggap tidak mendengar teriakannya.

Kereta itu dikendalikan kusir, di jalan raya banyak orang berlalu-lalang, semua orang mengawasinya dengan pandangan kaget dan heran.

Pho Ang-soat anggap tidak melihat mereka, langsung dia beranjak ke bukit sebelah timur.

Gunung yang terbungkus mega di bawah langit membiru.

Gunung itu tidak terlalu tinggi, dengan mengempit Ting Hun-pin, Pho Ang-soat mulai beranjak di tanah pegunungan yang diliputi awan tebal Kini Ting Hun-pin tidak meronta dan malah diam dibawa orang.

Tapi dia menyadari bahwa si timpang ini memang bukan pemuda normal, apalagi bila teringat ucapan Be Hong-ling.

"Hanya di tempat tiada orang lain, baru kau berani memperkosa aku."

Seketika bergidik dan takut hatinya badannya gemetar. Akhirnya Pho Ang-soat menurunkan dia, katanya tiba-tiba.

"Kau takut?"

Ting Hun-pin tiba-tiba tertawa, ujarnya.

"Aku takut apa? Kenapa harus takut? Memangnya aku takut kepadamu? Kau kan teman Yap Kay, temannya adakah temanku, kenapa aku takut kepadamu."

"Kalau musuhnya?"

"Agaknya dia takut punya musuh "

"Kalau dia punya musuh, tentunya jadi musuhmu juga.

"Boleh dikata demikian, karena...."

"Karena kau merasa orang yang terdekat di dunia ini adalah dia."

Ting Hun-pin tertawa riang, tawa yang manis, setiap kali teringat akan hubungan dirinya dengan Yap Kay, hatinya menjadi syur, sedap dan hangat.

"Jika kau tahu ada orang yang akan membunuhnya, bagaimana sikapmu terhadap pembunuh itu?"

"Tiada yang bisa membunuhnya, tiada orang bisa membunuhnya."

"Kalau ada?"

"Aku tidak akan melepaskan orang itu, takkan segan-segan kutuntut balas kepadanya meski dengan cara apa pun."

Segera dia menambahkan.

"tentunya aku bukan perempuan bertangan gapah berhati jahat, tapi bila benar-benar ada orang yang membunuh Yap Kay, bukan mustahil aku akan mengiris kulit daging badannya serta mengunyah habis."

Waktu Ting Hun-pin bicara, Pho Ang-soat sudah putar badan menghadap gundukan tanah yang gundul yang masih baru.

"Gundukan tanah apakah itu?"

Tanya Ting Hun-pin.

"Sebuah pusara."

"Kuburan maksudmu?"

Berubah muka Ting Hun-pin.

"Darimana kau tahu tanah gundukan itu adalah kuburan?"

"Karena kedua tanganku sendiri yang menyusunnya,"

Suaranya seolah-olah lebih dingin dari hawa puncak salju, tak terasa Ting Hun-pin bergidik dibuatnya. Lama sekali baru dia bersuara lirih.

"Siapakah yang terkubur di sini?"

"Seorang yang paling dekat denganku."

"Kau... kau amat mencintainya?"

"Cintaku terhadapnya jauh lebih mendalam dari cintamu terhadap Yap Kay "

"Kenapa dikubur di sini?"

"Karena dibunuh orang."

Ting Hun-pin bergidik seram, gumamnya.

"Angin di sini teramat dingin."

"Kau tak usah menguatirkan dia, sekarang dia tidak takut dingin lagi."

"Tapi aku takut."

"Takut terhadapku?"

"Bukan takut kepadamu, takut dingin."

"Aku pun akan menguburmu, kau tidak akan takut dingin lagi."

"Ah, tidak usahlah, aku toh belum mati."

"Tapi dia sudah mati kau tidak mati, dia sebaliknya sudah mati, kenapa dia harus mati? Kenapa harus mati?"

"Setiap insan akhirnya mati, ada yang mati muda, ada yang mati tua, kukira kau tidak perlu sedih."

"Kalau Yap Kay mati, kau tidak akan bersedih?"

"Aku... aku...."

Tiba-tiba Pho Ang-soat membalik badan dengan beringas, bentaknya bengis.

"Kenapa tidak kau tanya, siapa yang membunuhnya? Apakah karena kau sudah tahu siapa yang membunuhnya?"

Ting Hun-pin mengertak gigi, mendadak dia berkata keras.

"Aku tidak tahu bagaimana aku bisa tahu?"

"Seharusnya kau tahu."

"Kenapa?"

"Karena Yap Kay lah yang membunuhnya."

"Tidak mungkin, pasti tidak mungkin."

Ting hun-pin berjingkrak.

"Selama ini aku berdampingan dengan Yap Kay, aku berani tanggung dia tidak pernah membunuh orang."

"Kemarin malam kau pun berada bersama dia?"

Terkancing mulut Ting Hun-pin, sejak kemarin pagi dia sudah diringkus dan dibawa pergi oleh Ting Ling-ka, sejak itu dia tidak pernah melihat Yap Kay lagi.

"Kau tahu kemarin malam dia dimana? Apa yang dia lakukan?"

Tertunduk kepala Ting Hun-pin. Dia tidak tahu. Mendadak Pho Ang-soat keluarkan sebuah pisau kecil, pisau yang tipis tajam diacungkan di depan matanya.

"Kau kenal pisau ini!"

Semakin dalam kepala Ting Hun-pin tertunduk. Dia kenal betul pisau itu, lama sekali baru dia mengangkat kepala, katanya.

"Yap kay adalah aku, aku adalah Yap Kay, jika kau anggap Yap Kay yang membunuhnya, boleh kau membunuhku."

"Kau rela mati demi jiwanya?"

"Dengan sukarela."

Matanya bersinar bangga, seolah-olah dapat mati bagi kekasih merupakan suatu peristiwa yang meninggikan derajat dan menyenangkan hatinya.

"Kenapa tidak segera kau turun tangan,"

Dia mendesak malah setelah menunggu sebentar. Lama Pho Ang-soat termenung, katanya kemudian.

"Aku tidak ingin membunuhmu."

"Kau... apa keinginanmu? Kenapa kau membawaku kemari?"

Kembali lama Pho Ang-soat berdiam diri, baru menjawab.

"Tadi kau katakan dia pasti mencarimu."

"Jadi kau akan menunggu dia?"

Jari-jari Ting Hun-pin terkepal kencang.

"Tapi dia kan tidak tahu aku di sini."

"Dia akan tahu."

"Kenapa?"

"Karena banyak orang melihat kau kukempit pergi dan kemari."

"Memangnya kenapa kalau dia kemari? Memangnya kau hendak membunuhnya? Apakah kau sudah lupa apa yang dilakukan dulu? Jika tiada dia, apa kau masih hidup?"

"Dia membantuku hidup, mungkin karena ingin aku menderita siksaan batin "

Tiba-tiba gemetar badan Ting Hun-pin mengawasi muka orang, katanya.

"Dia sering bilang kepadaku apa yang kau lakukan memang menakutkan, tapi hatimu bajik, bijaksana, kau sejak kapan kau berubah menjadi jahat dan telengas?"

Pho Ang-soat mengawasi golok di tangannya, mulutnya terkancing bersuara lagi.

Hawa semakin dingin, kabut mega semakin tebal.

Pakaian Ting Hun-pin sudah lembab, saking kedinginan dia mulai gemetar dan gemeratak giginya.

Bukan saja dingin, perutnya pun sudah ketagihan.

Pho Ang-soat sudah berduduk, duduk mematung di tengah-tengah mega yang dingin dan basah.

"Mungkin dia takkan datang,"

Entah berapa lama kemudian tak tahan. Ting Hun-pin menyeletuk.

"Umpama mau datang, tiada orang tahu dia akan kemari. Kalau tiga hari lagi baru dia datang, apa kau mau menunggu tiga hari di sini?"

Lama Pho Ang-soat berdiam diri, lalu menjawab dingin.

"Tiga tahun dia baru kemari, akan kutunggu tiga tahun."

"Kau... kau paksa aku menemani kau menunggunya tiga tahun."

"Kalau aku bisa menunggu, kenapa kau tidak?"

"Karena aku manusia. Asal manusia, dia takkan tahan menunggu tiga tahun di sini, mungkin tiga hari pun tak tahan lagi. Umpama tidak mati kedinginan, kita akan mati kelaparan juga."

Pho Ang-soat diam saja seperti tidak mendengar ocehannya.

"Sebetulnya tak perlu kau menunggunya di sini, kau boleh mencarinya di bawah gunung, cara itu lebih baik daripada kau menunggunya. Eh, kenapa kau tidak bicara? Apakah...."

Tiba-tiba suaranya terputus, mendadak didapatinya Pho Ang-soat yang duduk di tengahtengah kabut tak terlihat bayangannya.

Kabut semakin tebal, pandangan menjadi pekat, hawa semakin dingin dan basah, pandangan Ting Hun-pin yang remang-remang hanya bisa melihat beberapa langkah di sekitarnya, hatinya menjadi takut, teriaknya.

"Pho Ang-soat, kemana kau? Kembalilah kau?"

Tiada jawaban, tiada reaksi.

Ingin dia lari, sayang Hiat-tonya tertotok, kakinya kaku, inilah hasil ilmu totok keluarganya sendiri yang manjur.

Ingin dia menjerit, namun dia takut mendengar gema suaranya yang berkumandang di alam pegunugan Pada saat itulah, tiba-tiba setetes benda cair yang dingin menetes di punggung tangannya, waktu dia menunduk dilihatnya tetesan itu bukan hujan, tapi adalah darah.

Keruan hatinya melonjak, tak tahan dia berpaling, tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pipinya, tangan yang dingin dan berlepotan darah, darah siapa?

Tangan siapa?

Ting Hun-pin tidak sempat melihat jelas, tahu-tahu pandangannya menjadi gelap dan tidak tahu apa-apa lagi.

BAB 41.

ENGHIONG DI UJUNG JALAN Tiada mega, kabut pun telah hilang.

Di dalam goa yang gelap itu, sinar api yang menyala sedang menari-nari menerangi dinding goa yang berbentuk aneh, menyinari raut muka Ting Hunpin.

Begitu siuman, pertama yang terlihat olehnya adalah gundukan api itu.

Namun dia tetap tidak bergerak, rebah diam saja mengawasi kobaran api yang bergerak-gerak.

Lalu dilihatnya Pho Angsoat yang duduk di pinggir api unggun, dia sedang memanggang seekor kelinci yang sudah dikuliti, gerak-geriknya kalem, tersimpul rasa ketenangan hati pada raut mukanya yang tersorot sinar api.

Daging kelinci yang berlepotan darah itu lama kelamaan sudah merah terpanggang, bau wangi yang menimbulkan selera seketika merangsang hidung.

Tak tahan Ting Hun-pin memberi penjelasan.

"Sungguh tadi aku terlalu lapar dan kedinginan, maka aku tidak tahan lagi."

"Untung kau membawa ketikan api, kalau tidak terpaksa kau makan daging kelnci mentah dan berlepotan darah,"

Ujar Pho Ang-soat tawar.

"Kau ambil ketikan api milikku?"

Ting Hun-pin berteriak tertahan. Pho Ang-soat menjawab dengan anggukan kepala. Seketika Ting Hun-pin menarik muka, katanya keras.

"Mana boleh kau sembarang menggeledah barang orang?"

"Memang tidak pantas, lebih baik kalau aku lucuti pakaianmu, lalu kupanggang kau di atas api untuk daharan."

Tersipu-sipu Ting Hun-pin menarik pakaiannya, seperti kuatir orang benar-benar akan menelanjangi dirinya.

Sementara itu Pho Ang-soat sudah menyobek kelinci menjadi dua, bagian yang besar dilempar ke arahnya.

Daging panggang tanpa garam dan bumbu, sebetulnya mirip dengan perempuan yang punya 18 anak, takkan menimbulkan selera siapa pun.

Tapi betapa pun daging panggang yang tawar ini masih boleh dirasakan juga.

Habis makan tiba-tiba Pho Ang-soat berdiri, katanya dingin.

"Kau sendiri tidak bisa mencopot pakaian?"

"Kenapa aku harus mencopot pakaian?"

"Aku tidak ingin mati kedinginan atau mati karena sakit."

Baru sekarang Ting Hun-pin menyadari pakaiannya memang basah kuyup, karena dalam goa lembab dingin sekali, kalau rebah semalam ditempat seperti ini, besok pagi bukan mustahil dirinya akan jatuh sakit.

Sudah tentu dia tidak ingin jatuh sakit, namun harus mencopot pakaian di hadapan kecuali Yap Kay, dia lebih rela mati.

Dengan mengertak gigi dia tiba-tiba bertanya.

"Apakah kau pernah memperkosa Be Hong-ling?"

Melonjak-lonjak kulit daging di muka Pho Ang-soat, sorot matanya menyorotkan penderitaan, tapi dia manggut-manggut. Apa yang pernah dia lakukan dia tidak pernah pungkiri.

"Kalau kau hendak memperkosa aku, sudah tentu aku tidak kuat melawanmu, tapi kuharap kau tahu satu hal."

Pho Ang-soat sedang mendengarkan.

"Kecuali Yap Kay, lelaki siapa pun yang menyentuh aku, membuatku muak, tiada laki-laki yang sebanding dia. Dan kau membencinya, bukan lantaran dia membunuh Cui long, tapi lantaran kau tahu dirimu selamanya takkan dapat menandinginya...."

Sekonyong-konyong Pho Ang-soat merenggut bajunya, lalu menjinjingnya, katanya serak.

"Kau salah."

"Aku tidak salah."

"Kau sendiri yang memaksa aku melakukan hal ini."

Mendadak dia gunakan tenaga menarik pakaiannya.

Waktu Ting Hun-pin terjengkang jatuh, buah dadanya yang padat kenyal memutih laksana salju tertiup angin dingin.

Air matanya berlinang, katanya mengertak gigi.

"Aku tidak salah, Yap Kay yang salah, dia yang salah menilai dirimu, hakikatnya kau bukan manusia, kau binatang."

Sekujur badan Pho Ang-soat bergetar, semakin lama semakin keras, mendadak badannya tersungkur jatuh meringkuk dan berkelejetan.

Di bawah cahaya api, mukanya berkerut-kerut berubah bentuk, bibir mulutnya seperti congor kuda, buih meleleh keluar dari mulutnya.

Ting Hun-pin jadi melongo dan menjublek.

Dia tahu Pho Ang-soat mengidap penyakit, namun tidak diduganya penyakitnya itu mendadak kumat dan begini menakutkan.

Mengawasi keadaan orang, rasa gusar dan takut Ting Hun-pin beransur-angsur hilang, kini berganti kasihan dan simpatik.

Kalau dia bisa berdiri, tentu sudah membimbingnya bangun serta memeluk nya kencang, sayang bergerak pun tak bisa, hanya kedua tangan yang kaku kedinginan saja yang kuasa menutupi dadanya.

Tiba-tiba didengarnya langkah kaki orang di luar goa.

Bukan seorang saja yang datang.

Serasa tenggelam hati Ting Hun-pin.

Malam selarut ini siapakah gerangan yang menempuh perjalanan jauh dalam hawa sedingin ini kelayapan di atas pegunungan?

Cepat sekali langkah kaki itu sudah tiba di luar goa.

Cahaya api di dalam goa sekaligus memberitahu mereka bahwa di dalam goa ada orang.

Sesaat kemudian seseorang berseru di luar.

"Siapakah nama besar saudara di dalam? Silakan keluar!"

Ting Hun-pin mengertak gigi.

Diharap orang di luar dalam waktu dekat tidak berani menerjang masuk, diharap Pho Ang-soat lekas siuman sebelum mereka menyerbu masuk.

Tapi dilihatnya sebatang golok terjulur masuk, disusul orang yang memegangi golok.

Yang masuk hanya seorang, muka orang inipun menghijau seperti menggunakan topeng.

Biji matanya dingin melotot kejam, sekilas melirik kepada Pho Ang-soat, sorot matanya akhirnya berhenti pada dada Ting Hun-pin yang hanya tertutup kedua tangannya, seketika terbayang nafsu birahi dalam matanya.

Ingin rasanya Ting Hun-pin mengorek kedua biji matanya yang kurangajar itu.

"Apa yang kau lihat? Kau tidak pernah melihat perempuan?"

Orang itu tertawa, kakinya menendang Pho Ang-soat, katanya.

"Dia pernah apamu?"

"Peduli amat dengan kau?"

"Bukankah dia inilah Pho Ang-soat yang meruntuhkan Koan-tang Ban be tongcu?"

"Darimana kau tahu?"

"Memangnya aku sedang mencari dia."

"Untuk apa kau mencarinya?"

"Kucari hendak minta bantuannya mencari sesuatu untuk membunuh orang,"

Lalu dia tertawa sendiri, katanya pula.

"tapi sekarang dia malah dibunuh orang lain."

Sedapat mungkin Ting Hun-pin mengendalikan perasaannya.

"Kalau benar kau punya pikiran demikian, kau pasti menyesal."

"Bukan saja aku berpikir demikian, aku masih ada pikiran lain pula."

"Apa yang kau pikirkan?"

"Laki-laki siapa yang melihat gadis cantik telanjang dada tidak akan meengiler, tentunya kau bisa membayangkan apa yang kupikirkan sekarang."

Dingin dan kaku sekujur badan Ting Hun-pin, teriaknya.

"Kau berani?"

"Kenapa tidak, umpama Pho Ang-soat bisa mencabut goloknya, aku tidak takut. Apalagi kalau dia tahu aku siapa, bukan mustahil dengan suka rela kau diserahkan kepadaku."

"Mengandal apa kau berani berkata demikian?"

"Mengandal suatu benda, benda yang tak mungkin diperoleh Pho Ang-soat meski dia mimpi seratus kali."

Dengan tersenyum dia gunakan goloknya menyingkirkan tangan Ting Hun-pin yang menutupi dada, katanya lebih lanjut.

"Dengan benda itu, bukan saja aku berani berpikir, malah berani kulakukan, kalau tidak percaya, biar sekarang kulakukan."

Hampir saja Ting Hun-pin menjerit, kedua tangannya terpaksa terpentang.

Pada saat-saat kritis itulah, tiba-tiba dilihatnya sebuah benda kecil melayang masuk dari luar, tepat mengenai gigi orang yang sedang tersenyum lebar.

"Krak" , kontan tiga giginya rontok, sebuah benda bersama tiga giginya jatuh di atas badan Ting Hun-pin, itulah sebutir kacang kulit. Seketika berubah air muka orang itu, sebelah tangan mendekap mulut, tangan yang lain mengayun golok. Melihat kacang itu, seketika muka Ting Hun-pin berubah juga, teriaknya.

"Lok Siau-ka."

Kabut masih tebal dan gelap di luar gua, terdengar seorang berkata dengan tertawa.

"Bukan Lok Siau-ka seorang yang bisa makan kacang di dunia ini."

Dengan tersenyum seorang tampak melangkah masuk, pakaiannya sembarangan, senyumannya adem-ayem, melihat mimiknya, umpama langit ambruk pun tidak akan dia pedulikan.

Melihat orang ini, terasa oleh Ting Hun-pin hawa berkabut yang menyesakkan napas tiba-tiba sirna, hujan deras di luar pun terasa berhenti, umpama dunia kiamat pun tak dihiraukan pula, karena orang yang datang ini adalah Yap Kay.

Betapa lega dan terhibur hati Ting Hun-pin, memang sengaja dia menarik muka, katanya.

"Kelayapan kemana saja kau, sampai sekarang baru datang."

Yap Kay menghela napas, ujarnya.

"Sebetulnya aku ingin datang lebih pagi, namun tidak tega aku melihat Engkohmu rebah di tanah, betapa pun dia toh Engkohmu kedua."

Tak tahan Ting Hun-pin cekikikan geli, katanya.

"Memang kau harus sedikit baik dan mengambil hatinya, karena cepat atau lambat akhirnya dia toh Bakal menjadi Engkohmu juga."

Tiba-tiba berkerut alis Yap Kay mengawasi keadaan Ting Hun-pin, katanya.

"Kenapa orangorang keluarga Ting kalian suka rebah di tanah?"

"Kau sendiri pernah bilang, seorang pintar bila punya waktu merebahkan diri, dia takkan mau duduk."

"Benar, masuk di akal,"

Ujar Yap Kay, lalu dipandangnya Pho Ang-soat serta berpaling kepada laki-laki yang membawa golok itu, mulut orang sudah terbungkam, namun darah masih merembes keluar.

Sebagai seorang kawakan Kangouw yang licik dan licin bagai rase, sudah tentu dia tahu orang yang mampu memukul rontok ketiga giginya dengan kacang, tenth bukan orang sembarangan.

Tapi kebetulan Yap Kay membelakangi dirinya, betapa pun lihainya seseorang, punggungnya takkan tumbuh mata, kebetulan goloknya teracung tepat mengarah ke Yap Kay, kesempatan yang sukar didapat ini, sayang sekali kalau disa-siakan.

Mendadak dia ayun goloknya membacok tengkuk Yap Kay.

Tak nyana punggung Yap Kay justru seperti tumbuh mata mendadak dia membalik badan, jarinya dengan ringan menggaris di tangan laki-laki yang memegang golok.

Tahu-tahu golok orang sudah berpindah ketangannya.

Dengan mengawasi golok di tangannya, Yap Kay tersenyum.

"Agaknya golok ini cukup baik juga mutunya."

Kaku dan menyengir jelek muka orang itu, dia paksakan hendak tersenyum, namun senyumannya lebih jelek dari mewek tangisnya.

"Golok secepat ini bila membacok leher siapa pun, batok kepalanya pasti terpenggal jatuh, kau percaya tidak?"

Dengan golok itu dia gerakgerakan di leher orang lalu menambahkan.

"Jika kau tidak percaya, boleh kau mencobanya."

Saking ketakutan, pucat-pias muka orang itu, katanya tergagap.

"Tidak tidak usah dicoba."

"Jadi kau percaya?"

"Sudah tenth sudah tentu aku percaya, siapa tidak percaya dialah kura-kura."

Yap Kay tertawa terpingkal-pingkal. Tiba-tiba orang itu bertanya.

"Kulihat tuan naik kemari, adakah melihat teman-temanku?"

Yap Kay manggut-manggut, sahutnya.

"Kulihat mereka sudah letih setengah mati, maka kuanjurkan mereka merebahkan diri istirahat saja."

Kembali berubah air muka orang itu, katanya.

"Sebetulnya aku... aku pun sudah amat letih sekali."

"Kalau sudah letih kenapa tidak tidur saja."

Tanpa bercuit, orang itu segera menuju ke pojokan sana, lalu merebahkan diri lempang kaku. Ting Hun-pin cekikikan geli, katanya.

"Agaknya orang ini tahu diri"

"Zaman sekalut ini, memangnya tidak banyak orang bodoh"

Yap Kay menghela napas.

"Aku tahu kau pun ingin berdiri dan jalan-jalan, kalau rebah terlalu lama badan pun terasa amat penat."

"Oleh karena itu kau boleh menggunakan kesempatan ini untuk memijat dan meraba-raba pahaku,"

Goda Ting Hun-pin tertawa malu-malu. Yap Kay menghela napas, ujarnya.

"Aku heran kenapa waktu Jikomu menotok Hiat-tomu, tidak sekalian menotok mulutmu supaya tidak cerewet?"

"Karena dia tahu aku hendak menggigitmu sampai mampus."

Pelan-pelan badan Pho Ang-soat sudah mulai menjulur tegak, namun napasnya masih tersengal-sengal. Mengawasinya, Yap Kay berkata rawan.

"Laki-laki seperti dia kenapa dihinggapi penyakit seperti ini."

Ting Hun-pin sudah berdiri, dia tengah membungkuk mengurut kakinya katanya.

"Dia memang orang yang harus dikasihani, tapi ada kalanya sikapnya membuat orang ketakutan."

Lalu dia bertanya.

"Tahukah kau kenapa dia menggusurku ke tempat ini?"

Yap Kay geleng-geleng.

"Dia kira kaulah yang membunuh Cui long."

Bertaut alis Yap Kay, tanyanya melenggak.

"Cui long sudah mati?"

"Kuburannya ada di luar, Pho Ang-soat sendiri yang menguburnya."

Lenyap senyuman yang menghiasi muka Yap Kay.

"Apa benar kau yang membunuhnya?"

Ting Hun-pin menegas.

"Kau pun mengajukan pertanyaan seperti itu?"

"Sudah tentu aku tahu kau tidak akan melakukan perbuatan serendah itu, tapi kenapa pisaumu berada di tangannya?"

"Pisauku?"

Yap Kay bersuara heran.

Belum Ting Hun-pin bersuara, tiba-tiba dilihatnya sinar kemilau berkelebat.

Tahu-tahu Yap Kay mengulurkan tangan, sinar kilat dari cahaya pisau sudah berada di tangannya, sebilah pisau terbang yang tajam dan runcing.

Waktu dia mengangkat kepala, dia melihat Pho Ang-soat.

Waktu Pho Ang-soat berdiri, keadaannya mirip kabut yang mendadak menguap keluar dari dalam bumi, sinar api sudah guram, kelihatan mu kanya lebih kurus, pucat dan terlalu letih.

Tapi dendam hatinya jauh lebih berkobar dari bara api yang menyala.

Jarinya menggenggam kencang sebatang pisau, setajam golok matanya menatap Yap Kay, katanya tandas.

"Bukankah ini pisaumu?"

Yap Kay tidak menjawab, tidak bisa menjawab, memang pisau itu mirip benar dengan pisau miliknya, tapi pisau itu terang bukan miliknya.

Tidak banyak orang yang bisa menggunakan pisau ini, tapi bukan mustahil tiada orang yang tidak bisa menggunakan nya.

Tapi sungguh dia tidak habis pikir entah siapa yang mampu membuat pisaunya mirip kepunyaannya.

Bahwasanya tiada orang di dunia ini yang pernah melihat pisaunya itu.

Pho Ang-soat masih menatapnya, menunggu jawabannya.

Terpaksa Yap Kay berkata dengan tersenyum getir.

"Membunuh siapa saja aku pakai pisau ini?"

"Kau bunuh cucu Kwe Wi, lalu membunuh Ong Toa-hong. Apa bukan?"

Tuduh Pho Ang-soat.

"Ong Toa-hong? Siapa pula Kwe Wi?"

"Kau suruh Ong Toa-hong membunuh orang, lalu kau membunuhnya pula untuk menutup mulutnya."

"Jadi Cui long mati di tangan Ong Toa-hong?"

"Yang dipakai adalah pedang beracun, tapi cara kerjamu jauh lebih jahat dari pedangnya yang beracun."

Yap Kay menghela napas, ujarnya tersenyum kecut.

"Umpama sekarang aku menyangkal tuduhanmu, kau pun takkan mau percaya."

"Pasti tak percaya."

"Tapi tidak pernah terpikir olehmu, kenapa aku harus membunuh Cui long?"

"Yang ingin kau bunuh bukan Cui long, tapi aku."

"Kau? Kenapa aku hendak membunuh kau?"

Belum Pho Ang-soat bicara, laki-laki yang rebah di tanah itu mendadak mencelat bangun, teriaknya.

"Karena kau sudah dibeli oleh Ban be tong, secara kebetulan aku mencuri dengar pembicaraan nya."

Tiba-tiba Pho Ang-soat membalik, menatap orang itu, bentaknya bengis.

"Kau siapa?"

"Aku she Pek bernama Kian, teman-teman Kangouw menjuluki aku Pek bin long kun?"

"Kau pernah melihat Be Khong-cun?"

"Setiap hari aku melihatnya."

"Dimana dia sekarang?"

"Bunuh dia dulu, sembarang waktu aku bisa membawamu ke sana"

Membara pula muka Pho Ang-soat karena menahan emosi.

Penguberan lama dan melelahkan selama beberapa hari tanpa hasil kini tanpa sengaja memperoleh kabar jejaknya.

Kini terbetik setitik harapan menuntut balas akan dendam membara yang selalu mengganjal dalam sanubarinya.

Terkepal kedua jari-jari tangan Pho Ang-soat, tak tertahan air mata berlinang di kelopak matanya.

Kata Pek Kian.

"Aku kemari, maksudku hendak mengajakmu menemui Be Khong-cun, tapi dia...."

"Dia memang sudah harus mampus,"

Tukas Pho Ang-soat kasar.

Pek Kian sudah menghela napas lega, sorot mata dan mulutnya sudah menyungging senyuman.

Tapi sekonyong-konyong sinar kemilau tiba-tiba berkelebat di depan matanya, selarik angin dingin menyerempet telinganya.

Lalu disusul suara "Trap!" , kembang api berpijar, sebatang pisau terbang menancap di dinding gua di belakangnnya, pisau tipis dan sekecil itu, amblas seluruhnya.

Kontan Pek Kian merasakan kedua lututnya tiba-tiba menjadi lemas, berdiri pun tak kuat lagi.

Jelas dia melihat pisau itu semula berada di tangan Yap Kay, cara bagaimana Yap Kay turun tangan, sedikit pun dia tidak melihatnya.

Demikian pula Pho Ang-soat tidak tahu kapan pisau itu melesat terbang, seketika mukanya pun berubah.

Terdengar Yap Kay berkata tawar.

"Jika benar aku sudah dibeli oleh Ban be tong, orang ini sekarang sudah menjadi mayat."

Sejenak Pho Ang-soat ragu-ragu, tiba-tiba tertawa dingin, katanya.

"Sudah tentu di hadapanku kau tidak akan membunuhnya untuk menyumbat mulutnya."

"Kau percaya obrolannya?"

"Hanya percaya pada kejadian yang kusaksikan sendiri. Aku dengan mata kepalaku sendiri aku melihat Cui long roboh di hadapanku."

"Jadi kau benar-benar bertekad hendak membunuhku untuk membalas sakit hatinya?"

Pho Ang-soat tidak banyak kata lagi.

Tahu-tahu goloknya sudah bergerak.

Lebih cepat dari sambaran kilat, lebih menakutkan dari kilat.

Tiada orang yang bisa melukiskan, karena begitu golok ini bergerak seolah-olah dia dilandasi kekuatan dahsyat yang datang dari neraka.

Selamanya belum pernah ada orang yang mampu lobos dari sambaran golok ini.

Tapi Yap Kay tahu-tahu menghilang.

Begitu golok Pho Ang-soat bergerak, bayangannya tibatiba berkelebat pula mencelat mundur tiga tombak, seperti cecak menempel di dinding.

Di saat golok tajam belum meninggalkan sarungnya, badannya sudah mencelat dan berjumpalitan ke belakang.

Gerakan mencabut golok Pho Ang-soat sudah dilatihnya berlaksa kali, gerakan yang paling sempurna, bila goloknya sampai meninggalkan sarungnya, takkan ada orang yang mampu meloloskan diri dari serangan golok ini.

Badan Yap Kay justru seperti diantar hembusan angin.

Agaknya dia sudah mempersiapkan diri untuk menghindarkan tabasan golok ini.

Hanya Pho Ang-soat saja yang tahu betapa indah dan cepat gerakan jumpalitan berkelit dari tabasan goloknya.

Telapak tangan yang menggenggam gagang golok sudah berkeringat.

Mengawasinya, tiba-tiba Yap Kay bersuara.

"Cara ini kurang adil."

"Kenapa tidak adil?"

"Kau membunuhku, aku mati penasaran, tapi jika sebaliknya aku yang membunuhmu?"

Ting Hun-pin segera menyeletuk.

"Jika kau mati, siapa lagi yang mewakili kau mencari Be Khong-cun? Memangnya kau sudah melupakan dendam kesumatmu?"

Mana Pho Ang-soat bisa melupakannya!

Hidupnya memangnya untuk memikul beban dendam kesumat ini, umpama dia ingin melupakan, juga takkan bisa melupakan.

Dengan menenteng goloknya yang sudah keluar dari sarungnya, Pho Ang-soat menjublek, dia tidak tahu apakah harus melanjutkan serangan goloknya yang kemilau bening seperti selalu ketagihan darah itu.

Pek Kian mengertak gigi dengan bersitegang leher, sorot matanya diliputi warna darah saking menahan gejolak hati.

Dia sudah melihat keraguan Pho Ang-soat, dia pikir bila Yap Kay tidak mampus, maka dirinya yang ajal.

Biasanya dia licik dan culas, tapi di bawah tekanan ancaman kematian, otaknya menjadi bebal seperti babi gobloknya.

Mendadak dia berseru.

"Kenapa tak lekas kau turun tangan? Waktu kau rebah di atas tanah tadi, bila aku tidak menolongmu, dia sudah membunuhmu, memangnya kau masih hendak memberi kesempatan pula kepadanya?"

Pikirnya hasutannya amat manjur, kalau dia sendiri dalam keadaan seperti Pho Angsoat, sekarang mungkin sudah kalap dan beringas, takkan memberi kesempatan kepada musuh.

Tapi dia salah besar.

Dia lupa dan mungkin tidak tahu bahwa Pho Ang-soat bukan laki-laki seperti yang dia ukur dengan bajunya.

Tiba-tiba Pho Ang-soat menghadapnya pula, setajam golok matanya menatap lekat-lekat, tanyanya sepatah demi sepatah.

"Tadi kau yang menolongku?"

Sekuat tenaga Pek Kian manggut-manggut.

"Kenapa kau menolongku?"

"Karena aku hendak mengajakmu membunuh Be Khong-cun, sehari Be Khong-cun tidak mampus, sehari hidupku takkan tenteram."

Penjelasan ini cukup adil dan masuk akal, dia merasa puas dan bangga. Tak nyana Pho Ang-soat tiba-tiba tertawa dingin.

"Masih ada sebuah hal yang belum kumengerti."

"Hal apa?"

"Kalau dia benar-benar hendak membunuh aku, memangnya kau mampu menolong aku?"

Seketika Pek Kian melongo.

Akhirnya dia mengerti, meski pemuda ini cacad, mengidap penyakit yang bisa kumat sembarang waktu, terang bukan pemuda hijau dan bodoh seperti yang dia kira semula.

Baru sekarang dia benar-benar sadar, barusan dia melakukan tindakan yang paling goblok.

Dengan dingin Pho Ang-soat mengawasinya, mengawasi keringat bercucuran membasahi badannya, rona matanya seperti mengawasi anjing liar yang diusir dari tumpukan sampah.

Seperti muak mengawasi orang, kepala Pho Ang-soat tertunduk, katanya dingin.

"Seharusnya kubunuh kau."

Mengawasi goloknya, sekujur badan Pek Kian gemetar.

"Tapi orang serendah dirimu bahwasanya tidak setimpal aku yang turun tangan."

Kaki Pek Kian jadi lemas, badannya roboh menindih dinding, siapa pun yang berhasil merangkak keluar dari jurang kematian, takkan luput seperti keadaannya sekarang.

"Aku tidak membunuhmu,"

Ujar Pho Ang-soat lebih lanjut.

"maka jangan kau memaksaku."

"Aku aku mengerti."

"Apa benar Be Khong-cun masih hidup?"

"Takkan salah."

"Kau membawaku ke sana? Atau ingin mati di sini? Boleh kau pilih satu di antara dua jalan ini,"

Dia tidak menambahkan peringatannya, tak meliriknya lagi. Karena orang toh tiada kesempatan untuk memilih lagi. Mengawasi orang, Yap Kay tertawa riang, katanya.

"Agaknya sudah banyak kemajuanmu."

Pho Ang-soat masih mengawasi goloknya sendiri. Sejak kematian Cui long, baru sekarang mendadak dia merasa keyakinan yang teguh pada sanubarinya. Diangkatnya kepala mengawasi Yap Kay, katanya.

"Hari ini aku boleh melepas kau pergi, tapi perhitungan kita tetap akan kubereskan."

"Aku mengerti."

"Kapan? Di tempat mana? Boleh kau tentukan sendiri."

"Waktu dan tempatnya tidak perlu ditentukan lagi."

"Kenapa?"

"Aku sedang menganggur, sekarang aku boleh ikut kau."

"Asal aku melihat Be Khong-cun, takkan ada orang yang mampu menolongnya."

"Bukan aku ingin menolongnya, tapi aku ingin melihat keramaian"

"Melihat aku membunuh Be Khong-cun, baru menunggu aku membunuhmu?"

"Umpama kau merubah niatmu tidak akan membunuhku, aku pun tidak akan menantangmu."

"Kau boleh menonton atau menunggu, peduli dia yang membunuhku atau aku yang membunuhnya, lebih baik kalau kau tidak turut campur."

"Baik, aku berjanji."

"Di tengah jalan, lebih baik kalian jauh di belakang jangan sampai aku melihat kalian."

Dia tidak akan senang melihat muda-mudi lain berpasang-pasangan, dia lebih suka sebatang kara. Yap Kay cukup merasakan pukulan batinnya, katanya tertawa.

"Sebetulnya kau tidak perlu minta orang ini menunjukkan jalan."

"Kenapa?"

"Karena aku sudah ingat akan asal-usulnya."

"Oh, dia orang mana?"

"Dia orang Liong hou ce. Be Khong-cun selama ini tentu menyembunyikan diri di Liong hou ce."

Pucat menghijau muka Pek Kian, secara tidak langsung dia sudah mengakui bahwa Be Khongcun memang berada di Liong hou ce.

Hidupnya sudah tidak berharga lagi bagi orang lain.

Dia kira Yap Kay takkan mengampuni jiwanya.

Sayang dia salah sekali lagi.

Dia lupa bahwa Yap Kay merupakan manusia jenis lainnya lagi, bukan laki-laki seperti dirinya.

Tiba-tiba Ting Hu-pin cekikikan mengawasi dirinya, katanya.

"Tak usah kuatir, walau mereka tidak perlu kau menunjukkan jalan, jiwamu takkan dibunuh, karena mereka bukan manusia jahat yang berhati kejam."

Pek Kian menyeka keringat, katanya tersendat.

"Aku...aku tahu mereka adalah orang baik-baik."

"Mereka memang orang baik, tapi aku bukan."

Seketika pucat pula muka Pek Kian, serunya.

"Kau...."

"Aku hanya seorang perempuan, perempuan biasanya berpikiran sempit, oleh karena itu selalu kau harus ingat, siapa pun boleh kau permainkan, namun jangan kau main-main dengan perempuan."

Bercucuran pula keringat Pek Kian, katanya meratap.

"Selanjutnya aku pasti pasti ingat."

"Benarkah selama hidupmu tidak akan melupakannya?"

"Benar, aku bersumpah."

"Sayang aku tidak percaya omonganmu."

"Kau... dengan cara apa baru kau mau percaya?"

"Hanya ada satu cara."

Mengawasi rona mukanya, tiba-tiba Pek Kian sadar cara apa yang dia maksud, mendadak dengan sisa tenaganya dia menerjang keluar.

Kali ini dia tidak salah.

Walau dia tidak mengerti apa itu yang dinamakan Enghiong dan Kuncu, tapi cukup mengerti akan watak perempuan.

Waktu dia melangkah keluar gua, tiba-tiba didengarnya suara kelintingan yang nyaring merdu mengejar di belakang.

Dan suara itulah yang didengarnya terakhir kali.

Malam semakin larut.

Cuaca yang tambah pekat menandakan hari menjelang terang tanah.

Pho Ang-soat mengawasi Pek Kian tersungkur roboh di kegelapan, dia berpaling kepada Yap Kay, katanya dingin.

"Tidak seharusnya kau biarkan dia mati."

"Tapi dia pun tidak pantas berbuat dosa terhadap perempuan."

"Jika Be Khong-cun tidak berada di Liong hou ce?"

"Dia pasti di sana."

Sayang kali ini Yap Kay salah.

Be Khong-cun tidak berada di Liong hou ce, di sana sudah kosong tiada seorang pun yang ketinggalan hidup.

Darah yang berceceran sudah membeku, mayat-mayat yang bergelimpangan pun sudah kaku dingin.

Yap Kay bukan laki-laki yang tidak pernah melihat darah dan mayat, namun sekarang dia hampir muntah-muntah.

Bukan saja di sini dia tidak menemukan seorang hidup, malah tiada sesosok mayat pun yang utuh jasadnya.

Pho Ang-soat sebaliknya menggenggam kencang goloknya, sekuat tenaga dia menahan diri, toh tidak tertahan muntah-muntah juga, dia tidak tega melihat pemandangan yang begini mengerikan.

Apakah begini juga keadaan sembilan belas tahun yang lalu di luar Bwe hoa am dulu?

Belum pernah dia begitu membenci Be Khong-cun seperti sekarang.

Karena dia sekarang menyaksikan sendiri betapa kejam dan culas manusia bernama Be Khong-cun itu.

Entah berapa lama kemudian baru Yap Kay menarik napas panjang, katanya.

"Tentu dia sudah tahu bila Pek Kian mencari dan mengundangmu kemari, maka dia turun tangan sekeji ini."

Pho Ang-soat tidak memberi komentar, asal dia buka suara, rasanya hendak muntah-muntah.

Yap Kay berjongkok dengan dua jarinya dia menjumput tanah yang berlepotan darah, tanah itu masih basah, sinar surya tidak menyorot sampai di sini, darah memang sudah membeku, tapi belum kering seluruhnya.

Maka Yap Kay berani berkepastian.

"Agak belum lama dia pergi."

Ting Hun-pin melengos, katanya dengan menutup muka.

"Tapi siapa yang tahu ke jurusan mana dia melarikan diri?"

"Tiada yang tahu,"

Sahut Yap Kay. Matanya menatap ke tempat jauh, sorot matanya dijalari amarah, lama sekali dia baru menyambung.

"Aku hanya tahu, orang seperti dia kemana dia pergi, takkan pergi jauh."

"Kenapa?"

"Karena jalan mana pun akhirnya akan habis dia lalui."

BAB 42 JALAN BUNTU PISAU PAMUNGKAS Umpama seseorang sudah habis melalui jalan yang harus ditempuhnya, umpama sudah tiada jalan yang bisa dia lalui, dia pun takkan mau berhenti.

Karena dia masih punya semacam jalan lain.

Jalan buntu.

Tiada orang yang suka rela menempuh jalan buntu, tapi jika kau benar-benar tidak mau, takkan ada orang yang memaksamu untuk menuju ke jalan buntu hanya dirimu sendiri.

Jalan pegunungan amat sempit dan tidak rata, terjal dan berbatu, ada batu runcing setajam tatah, seperti bor.

Tapi di depan masih ada jalan.

Sebidang hutan yang rimbun menutupi cahaya matahari yang semakin terik menyengat kulit.

Ban be tongcu menanggalkan topi rumputnya yang lebar, duduk di tanah, bersandar di pohon mengatur napas.

Ingin dia menggunakan topi rumputnya mengipas diri supaya terasa segar, tapi terasa lengannya amat linu beku, diangkat pun rasanya amat berat.

Dulu dia tidak pernah merasakan hal seperti ini.

Dulu berapa banyak manusia yang dia jagal, tak pernah merasa lelah, ada kalanya semakin banyak dia membunuh orang, semangatnya malah berkobar, dulu pernah dia merasa dirinya manusia luar biasa, makhluk aneh setengah malaikat setengah binatang.

Selamanya dia beranggapan tenaga dan kekuatannya takkan pernah habis digunakan.

Sekarang baru dia mengerti bahwa dirinya tidak lebih hanya manusia biasa, seorang tua yang sekujur badannya terasa sakit dan linu.

hatinya diliputi kegelisahan.

"Kenapa aku seperti juga orang lain, bisa berubah jadi tua dan lemah?"

Tua memang suatu hal yang sering membuat orang sedih, namun hanya amarah, penasaran dan dendam yang bersemayam dalam sanubarinya.

Terhadap setiap persoalan dia selalu dihayati dendam.

Dianggapnya dunia sudah berlaku tidak adil kepada dirinya.

Sejak muda dia berjuang seumur hidup, darah dan keringat yang dia cucurkan puluhan lipat lebih banyak dari orang lain.

Tapi sekarang dirinya bagai binatang yang diburu pemburu, lari sana sembunyi sini, melarikan diri dari pertanggung jawaban ....

Dia pernah memiliki bumi yang paling besar di dunia ini, namun sekarang tempat untuk berteduh pun tiada lagi.

Dia pernah memiliki rombongan kuda yang paling tinggi mutunya di dunia ini, sekarang dia harus lari menggunakan kedua kakinya sendiri, sampai telapak kakinya tertusuk berdarah oleh batu runcing.

Sudah tentu dia marah penasaran dan dendam.

Karena tidak terpikir dalam benaknya, siapa yang membuat akibat ini.

Atau mungkin dia memang tidak berani memikirkannya.

Sim Sam-nio duduk di hadapannya, duduk di atas sebuah buntalan yang amat besar, napasnya pun tersengal-sengal, biasanya perempuan ini paling pintar berdandan dan memelihara tubuh, tapi sekarang badannya penuh berlepotan darah, debu, lumpur, sepatu yang dipakainya pun sudah tipis hendak robek berlubang, malah telapak kakinya pun sudah berdarah.

Badannya sudah lunglai, karena barusan dia muntah-muntah, dari atas sanggulnya tadi dia menurunkan sekeping dagu manusia.

Bila angin berhembus, badannya lantas merasa kedinginan, tapi lantaran dibayangi ketakutan.

Baju di depan dadanya sudah terbelah, hanya serambut saja golok Tok gan liong hampir membuat dadanya terbelah.

Namun dalam hatinya tidak merasa dendam.

Karena semua ini dia sendiri yang mencarinya, tidak bisa menyalahkan orang lain.

Dia tahu Ban be tongcu sedang mengawasi dirinya, biasanya bila orang memandangnya, segera dia menyunjuk senyuman manis dan genit, tapi sekarang dia tetap tunduk, mengawasi dadanya yang memutih karena bajunya sudah koyak.

Tiba-tiba Ban be tongcu menghela napas, katanya.

"Dalam buntalan masih ada pakaian, kenapa tidak kau ganti yang lain?"

"Baik, biar aku ganti."

Namun jangan toh ganti, bergerak pun tidak. Biasanya apa pun yang dianjurkan Ban be tongcu selalu dituruti. Ban be tongcu menatapnya lekat-lekat, lama sekali baru bertanya kalem.

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Apa pun tidak kupikirkan,"

Sahut Sim Sam-nio.

"Tapi kulihat kau sedang banyak pikiran."

"Umpama aku sedang memikirkan apa-apa, rasanya tak perlu kuberitahukan kepadamu "

Kulit daging ujung mulut Ban be tongcu tiba-tiba terasa kaku, seolah-olah mulutnya digampar orang.

Mungkin perempuan ini pernah menipunya, menjual dirinya, tapi belum pernah sebandel dan seberani ini membantah kepadanya, dan ini untuk pertama kalinya.

Cuma sekarang dia sudah tua, sudah cukup pintar untuk memandang perempuan sebagai kuda, sudah tentu dia takkan berbuat seperti anak-anak muda pada umumnya, memburu maju terus menjambak rambutnya dan menghajar sepuas hati, kenapa kau berubah?

Dia hanya tertawa saja, katanya.

"Kau sudah letih, pergilah cuci muka, mungkin semangatmu akan lebih baik."

Di luar hutan terdengar gemercik suara air mengalir, tak jauh dari tempat mereka duduk bisa ditemukan sebuah sumber air yang mengalir.

Tapi dia tidak bergerak, sekilas Ban be tongcu memandangnya, pelan-pelan dia pejamkan mata, dia enggan mempedulikan orang lagi.

Tak disangka Sim Sam-nio malah bersuara.

"Tadi kau tanya apa yang sedang kupikirkan, sebetulnya tidak ingin kuutarakan, tapi sekarang sudah tiba saatnya aku harus mengemukakan isi hatiku."

"Baik, katakan."

"Tidak pantas kau bunuh mereka."

"Tidak pantas membunuh mereka?"

"Ya, tiada hak kau bunuh mereka."

Ban be tongcu masih memejamkan mata, namun kelopak matanya bergerak-gerak, lama kemudian baru dia berkata pelan-pelan.

"Kubunuh mereka karena menjual diriku, siapa yang menjual diriku, harus mampus."

Bibir Sim Sam-nio hampir berdarah tergigit kencang, agaknya dia mengendalikan diri, tapi tak urung dia berkata pula.

"Apakah orang-orang itu semuanya menjual dirimu. Apakah anak-anak dan perempuan itu mendurhakai kau? Kenapa kau bunuh mereka seluruhnya?"

"Karena aku harus hidup."

Tiba-tiba Sim Sam-nio tertawa dingin, katanya.

"Kau hendak hidup memangnya orang lain tidak ingin hidup? Kalau kita ingin pergi, tiada seorang pun di antara mereka yang kuasa menahanmu, kenapa kau harus turun tangan sejahat itu?"

Tiba-tiba terkepal kencang jari-jari Ban be tongcu, otot merongkol di punggung tangannya, sesaat kemudian baru pelan-pelan mengendor dan dilepaskan pelan-pelan pula, lalu berdiri dan beranjak keluar hutan.

Air sumber dingin dan bening, Ban be tongcu berjongkok menggayung air dengan kedua telapak tangannya, begitu air mengalir dari celah-celah tangannya, perasaannya semakin tenang.

Hanya dia sendiri yang tahu bilamana dia murka, ada kalanya dia pun tak kuasa mengendalikan emosinya.

Punggungnya masih tegap, pinggangnya lencir, dilihat dari belakang, siapa pun takkan menyangka dia adalah seorang yang sudah tua.

Sim Sam-nio sendiri mengakui, Ban be tongcu memang seorang laki-laki yang lain dari yang lain.

Semula demi menuntut balas dia rela menyerahkan diri memberikan kesuciannya, tapi setelah orang menggauli dirinya, tiba-tiba dia merasakan kepuasan hingga dia merasa senang.

Rasa kepuasan semacam itu belum pernah dia nikmati dari laki-laki mana pun.

"Apakah lantaran kepuasan itu, maka aku rela mengikuti jejaknya?"

Tiba-tiba hatinya bertanya-tanya.

Ban be tongcu merasakan orang berada di belakangnya, namun dia tidak berpaling.

Setelah melewati sungai kecil ini, jalan pegunungan akan berakhir, dari tempat ketinggian di depan sana.

Memandang ke tempat jauh, berkata Ban be tongcu.

"Setiba di bawah gunung, kita bisa mencari rumah petani untuk menginap semalam...."

Tiba-tiba Sim Sam-nio menukas.

"Selanjutnya bagaimana?"

Ban be tongcu menepekur, lama kemudian baru bersuara.

"Kau tanya aku hendak berbuat apa? Atau kita yang kau maksud?"

"Kutanya kau. Bukan kita."

Kaku badan Ban be tongcu. Sim Sam-nio tidak mengawasinya, tiba-tiba tertawa dingin, katanya.

"Apakah kau pun hendak membunuh keluarga petani itu untuk menutup mulutnya?"

Tiba-tiba Ban be tongcu membalik badan, sambil menatapnya berkata.

"Seorang waktu melarikan diri, ada kalanya melakukan perbuatan memuakkan, tapi aku tak menyuruh kau ikut aku, selamanya tidak pernah "

"Aku sendiri yang ingin ikut kau, kemana pun kau pergi, aku akan mengikutimu, kau hidup, aku ikut hidup, kau mati aku pun mati."

Suaranya sudah tersendat dan air mata berlinang, katanya sesenggukan.

"Sebetulnya aku sudah berkeputusan menyerahkan jiwa ragaku kepadamu, karena aku... aku merasa bersalah terhadap kau, peduli apa pun yang pernah kau lakukan dulu, kau tetap adalah laki-laki sejati, tapi sekarang... sekarang...."

"Sekarang bagaimana?"

Sim Sam-nio menyeka air mata, sahutnya.

"Sekarang kau sudah berubah."

Sampai di sini serasa hulu hatinya ditusuk sembilu, karena dia sendiri pun tahu, bukan saja Ban be tongcu yang berubah, dirinya pun berubah.

Lama Ban be tongcu mengawasinya dengan teliti, akhirnya dia manggut-manggut, ujarnya.

"Baik, kau sendiri yang mau ikut padaku, kalau sekarang kau hendak pergi, sudah tentu aku tidak akan memaksamu."

"Aku sudah memikirkan dengan seksama, aku akan pergi dengan membawa kebaikan bagi dirimu."

"Terima kasih akan perhatianmu, aku tahu akan maksud baikmu,"

Suaranya datar dan tawar.

"Selanjutnya kau hendak pergi kemana? Bagaimana pula rencanamu?"

"Sekarang belum ada rencana, mungkin... mungkin aku akan berusaha mengumpulkan sedikit uang, berdagang dulu kecil-kecilan atau mungkin aku kembali ke kampung untuk bercocok tanam di sawah."

"Kau bisa hidup dengan cara itu?"

"Dulu sudah tentu aku tidak bisa, tapi sekarang aku hanya ingin hidup tenang dan tenteram, umpama ajal juga tidak menjadi soal."

"Kalau tidak sampai mati?"

"Kalau tidak mati, aku akan jadi Nikoh saja."

Ban be tongcu tertawa, katanya.

"Tak usah kau utarakan maksudmu ini, aku tahu kau perempuan yang tak mungkin sudi jadi biarawati, yang benar usiamu masih muda, kau harus mencari laki-laki yang masih muda, laki-laki yang romantis dan tahu kasih sayang terhadap bini, aku sendiri memang terlalu tua bagi jodohmu."

Mulutnya tersenyum, namun sorot matanya memancarkan rasa cemburu dan marah. Sim Sam-nio tidak melihatnya, katanya menghela napas.

"Aku takkan mencari laki-laki lain, aku...."

"Mungkin kau tidak akan mencari laki-laki, tapi bukan mustahil ada laki-laki yang mencarimu."

"Mungkin... apa yang akan terjadi besok pagi memang tiada manusia yang bisa menduganya."

"Sebetulnya aku cukup kenal watakmu, perempuan seperti kau asal tiga hari tidak ditemani laki-laki, kau takkan bisa hidup tenteram."

Sim Sam-nio tersentak, mengangkat kepala, dengan kaget dia pandang Ban be tongcu.

Sungguh tidak pernah terpikir olehnya orang bakal mengeluarkan kata-kata sekasar dan sekotor ini, ucapan yang begini menakutkan.

Biji mata Ban be tongcu pun sudah merah karena marah.

Sebetulnya dia berusaha mengendalikan diri, menjadi laki-laki yang bersikap jantan, namun terbayang adegan ranjang yang merangsang itu, terbayang bahwa kelak dia bakal tidur seranjang dengan laki-laki lain, teringat laki-laki muda yang bakal merayapi badannya seperti anjing kelaparan itu...

tiba-tiba hatinya seperti digerogoti oleh ular beracun, tiba-tiba katanya dingin.

"Oleh karena itu aku usulkan lebih baik kau jadi pelacur saja, paling tidak setiap hari kau bisa berganti seorang laki-laki."

Bercucuran keringat dingin Sim Sam-nio, rasa sesal dan bertobat dalam sanubarinya tadi seketika berubah menjadi amarah yang meluap, mendadak dia berkata keras.

"Usulmu ini memang baik, mungkin akan kulaksanakan, cuma sehari ganti satu laki-laki terlalu sedikit, tidak cukup memuaskan, lebih baik kalau sehari bisa ganti tujuh-delapan laki-laki. Belum habis dia bicara, tiba-tiba Ban be tongcu melayangkan telapak tangannya menggampar pipinya, sekali renggut dia jambak rambutnya pula, bentaknya beringas.

"Sekali kau katakan lagi, kubunuh kau."

Sim Sam-nio mengertak gigi, katanya menyeringai dingin.

"Lebih baik kau bunuh aku, memang sudah lama kau harus membunuhku, supaya aku tidak menemani kau tidur lagi, hatiku sudah muak."

Tahu dirinya takkan bisa melukai orang, kecuali dengan sindiran tajam ini.

Kepalan Ban be tongcu sudah terangkat.

Sorot mata Sim Sam-nio sudah membayangkan ketakutan, dia tahu kepalan orang yang menakutkan, sekali kepalan ini menggenjot, muka orang bisa dipukulnya hancur.

Tapi dia tidak meratap dan minta ampun.

Matanya masih terbelalak melotot tajam.

Ban be tongcu balas mendelik, sekian lama mereka saling pelotot, akhirnya Ban be tongcu menghela napas, kepalan yang terangkat diturunkan, lalu diulapkan tangannya, katanya.

"Pergilah, lekas pergi, lebih baik selamanya kau tidak muncul di hadapanku, lebih baik...."

Suaranya tiba-tiba terputus.

Tiba-tiba dia melihat selarik sinar pisau berkelebat melesat dari belakang Sim Sam-nio.

Tampak raut muka Sim Sam-nio tiba-tiba berkerut-kerut menahan sakit.

Biji matanya yang indah dan elok melotot membundar hampir melotot keluar, sorot matanya mengandung rasa heran, tak mengerti, ketakutan dan menderita, tangannya terulur hendak minta bantuan Ban be tongcu untuk memapak, tapi Ban be tongcu malah mundur setapak.

Tenggorokannya berbunyi "krak" , seperti hendak bicara, namun belum sempat suaranya terdengar badannya sudah tersungkur roboh.

Sebatang pisau tampak menancap di punggungnya, menembus tulang punggungnya.

Itulah sebilah pisau kecil.

Melihat pisau ini semula Ban be tongcu merasa gusar dan heran, tapi mendadak mimiknya berubah ketakutan.

Sebetulnya dia ingin maju memapaknya, namun mendadak dia menyurut mundur malah keringat dingin sudah bercucuran dari kepalanya.

Pisau terbang ini melesat dari dalam hutan, namun hutan yang gelap gulita di sana tak kelihatan bayangan seorang pun.

Ban be tongcu terus menyurut mundur, paras mukanya sudah berubah saking ketakutan, mendadak dia putar badan, sekali lompat dia melewati sungai kecil, tanpa berpaling terus lari lintang-pukang.

Sim Sam-nio mendekam di tanah, dia meronta-ronta, mulutnya mengeluh dan merintih.

Tapi laki-laki yang diandalkannya tak menolongnya malah lari sipat-kuping.

Mendengar langkah orang menuju bawah bukit, hatinya menjadi dingin dan mendelu.

Mimpi pun tak pernah dia duga, laki-laki yang begitu kejam, telengas, kadang kala beringas dan buas, kini baru menunjukkan belangnya, jiwanya ternyata begitu kerdil dan rendah serta hina, malah melarikan diri.

Baru sekarang benar-benar dia menyadari hidupnya selama ini ternyata sia sia belaka, segala pengorbanannya pun nihil, karena dia sudah memasrahkan jiwa raga dan kehidupannya kepada seorang laki-laki pengecut.

Waktu darah merembes dari ujung mulutnya, air matanya tak tertahan bercucuran.

Pada saat itu juga dia mendengar langkah kaki seseorang mendatangi diiringi helaan napas.

"Tak nyana memang Ban be tongcu laki-laki demikian umpama dia tidak bisa menuntut balas bagimu, paling tidak harus merawat luka-lukamu, tapi larinya malah lebih cepat dari anjing."

Dari suaranya, sepertinya laki-laki yang masih muda, laki-laki asing.

Orang inikah yang membokong dirinya dari belakang?

"Walaupun kau mati di tanganku, tapi kau patut membencinya, karena dia lebih berdosa daripadaku terhadapmu."

Kiranya benar, memang orang ini yang menurunkan tangan keji.

Sim Sam-nio mengertak gigi, dia meronta hendak membalik badan melihat orang di belakangnya, sedikitnya dia harus melihat siapa sebenarnya yang membunuhnya?

Tapi kaki orang itu sudah menginjak punggungnya, katanya tertawa dingin.

"Jika kau ingin melihat aku, tak usahlah, yang terang kau toh tidak kenal siapa aku, hakikatnya kau belum pernah melihatku."

Dengan mengerahkan setaker tenaga, Sim Sam-nio bersuara serak "Lalu kenapa kau membunuh aku?"

"Karena kurasa hidupmu di dunia ini sudah tiada artinya lagi,"

Sahut orang.

"Lebih baik kau mati saja."

Sim Sam-nio mengertak gigi, menahan sakit, mau tidak mau harus mengakui kebenaran ucapan orang, memang tadi pernah timbul keinginan begitu dalam benaknya.

"Jika aku jadi perempuan, jika ikut laki-laki seperti Be Khong-cun, aku takkan mau hidup lagi, cuma... mati, mempunyai rasa yang berbeda-beda."

"Sekarang kau belum ajal, tiada halangan kuberitahukan kepadamu, ada kalanya mati malah lebih nyaman daripada hidup, tapi mati harus cepat, kalau pelan-pelan, deritanya sungguh tak tertahankan"

Sim Sam-nio meronta, katanya gemetar dengan napas memburu.

"Kau... masa kau masih ingin menyiksaku?"

"Tergantung kau sendiri, asal kau mau mendengar omonganku, aku boleh memberi kematian yang nyaman kepadamu."

"Apa keinginanmu?"

Terjulur tangan orang itu menjinjing buntalan besar itu, katanya.

"Buntalanmu ini tidak kecil, tapi harta milik Ban be tong bukan hanya ini saja, sebelum kalian lari, dimana kalian menyimpan harta bendanya?"

"Aku tidak tahu, benar-benar tidak tahu."

"Sekali lagi kau mengatakan tidak tahu, kubelejeti pakaianmu, biar kurasakan dulu kenikmatan badanmu, baru kuputus urat nadi kakimu, lalu kubawa ke kota dan dijual ke sarang pelacuran."

Dia tersenyum senang, lalu meneruskan.

"Ada laki-laki yang tidak suka pilih-pilih, perempuan cacad pun bolehlah."

Dingin sekujur badan Sim Sam-nio, cara bicara orang ini halus dan sopan, tentunya seorang pemuda terpelajar yang tahu aturan dan kesopanan.

Tapi apa yang dia katakan dan dia lakukan, sungguh lebih kejam dan buas dari binatang liar.

Terdengar orang itu berkata pula.

"Sekarang kutanya sepatah kata lagi, kau tahu tidak?"

"Aku... aku...."

Sekoyong-koyong dari hutan sebelah sana terdengar berkumandang suara kelintingan berdering. Suara seorang gadis yang merdu berkata.

"Aku tahu dia pasti lari lewat jalan ini, aku punya firasat."

Seorang laki-laki terdengar tertawa. Gadis itu berkata lebih keras.

"Apa yang kau tertawakan? Ketahuilah, jangan kau pandang ringan firasat perempuan, ada kalanya jauh lebih manjur dari ramalan Cukat Liang si ahli perbintangan dan nujum itu."

Sim Sam-nio belum pernah mendengar suara gadis ini, tapi suara tawa laki-laki itu sudah amat dikenalnya.

Tiba-tiba ia teringat siapa gerangan orang ini, jantungnya seketika berdetak keras.

Disusul tiba-tiba dia menyadari, orang yang menginjakkan kaki di punggungnya entah kapan tahutahu sudah menghilang tanpa bekas.

Waktu Yap Kay keluar dari dalam hutan, pandangan pertama yang dilihatnya adalah perempuan yang rebah tengkurap di pinggir sungai.

Sudah tentu dia pun melihat pisau yang menancap di punggung orang itu.

Sang korban masih hidup, napasnya tersengal-sengal.

Lekas dia memburu maju terus memapahnya duduk, mendadak dia berteriak kaget.

"Sim Sam-nio!"

Sim Sam-nio tertawa, tawa yang pilu dan rawan Sebetulnya dia tak ingin dalam keadaan seperti ini berjumpa Yap Kay, tapi setelah berhadapan, hatinya terasa sedap dan hangat.

Mulutnya merintih, tiba-tiba dia bersenandung lirih.

"Langit bergoncang, bumi bergoyang. Manusia secantik dan semulus batu giok, berbadan harum bagai kembang. Sim Sam-nio dari Ban be tong...."

Katanya memilukan, tanyanya lirih.

"Masih kau ingat akan nyanyian ini? Sudah barang tentu Yap Kay masih ingat. Itulah syair lagu yang dia nyanyikan di tengah padang rumput pada malam hari waktu dia bertemu dengan Sim Sam-nio. Tak nyana Sim Sam-nio masih mengingatnya sampai sekarang.

"Tentu kau tidak mengira aku masih mengingatnya, malam itu."

"Aku hanya ingat orang yang menemani aku minum malam itu bukan kau,"

Tukas Yap Kay tertawa pilu juga.

"Aku pun ingat, malam itu hakikatnya kau tidak pernah berkunjung ke tempat itu."

Habis mengucapkan omongannya, darah kembali merembes dari ujung mulutnya. Dengan ujung jarinya Yap Kay menyeka darah yang meleleh, di samping berduka, dia amat marah pula. tanyanya.

"Apakah Ban be tongu pula yang turun tangan sekeji ini?"

"Bukan dia!"

"Siapa kalau bukan dia?"

"Seorang pemuda, melihat pun tidak bayangannya."

"Lalu darimana kau tahu dia seorang pemuda?"

"Karena aku mendengar suaranya, barusan dia sedang memeras aku, dia mengompas keterangan tempat penyimpanan harta Ban be tong. Mendengar suara kalian baru dia lari."

"Mana Be Khong-cun?"

"Dia pun pergi, seperti mendadak melihat setan, lari lintang-pukang ke bawah gunung...."

"Kenapa dia lari?"

Berkerut alis Yap Kay.

"Apa yang dia lihat?"

"Tentu dia mengira kalian mengejar tiba, dia...."

Mata Yap Kay tiba-tiba bersinar, teriaknya tertahan.

"Tentunya dia melihat pisau di punggungmu ini!"

Pisau terbang sepanjang tiga dim tujuh mili.

Yap Kay menyobek pakaiannya, menggunakan obat luka yang dibawanya dia menyumbat luka di punggung Sim Sam-nio.

Pisau yang tipis dan tajam kemilau memancarkan sinar ditimpa sinar matahari, sinar ini menyilaukan mata Pho Ang-soat.

Rona mukanya berubah.

Tiba-tiba Yak Kay berpaling, katanya.

"Tentunya kau telah melihat pisau seperti ini!"

Lama sekali baru Pho Ang-soat manggut-manggut.

Tidak bisa tidak ia harus mengakui.

Pertama kali melihat pisau macam ini, di toko kelontong Li Ma-hou, kedua kali di jalan raya yang baru saja dicuci air darah, ketiga kali di dalam kamar remang yang meninggalkan kesan mendalam, dimana jenazah kekasihnya rebah tak bernyawa lagi.

Semua kejadian masih segar dalam ingatannya, mesti dia pejamkan mata, tetap terbayang olehnya raut muka Li Ma-hou yang mengerikan, putus asa dan ketakutan, terbayang si bocah yang terjengkang roboh dengan pisau menancap di lehernya...

tapi semua dugaan dan analisanya semula kini tumbang seluruhnya.

Yap Kay menatapnya, katanya kalem.

"Sekarang tentunya kau sudah mengerti, pisau seperti ini bukan aku saja yang bisa menggunakan nya."

Pho Ang-soat bungkam, terpaksa dia harus bungkam.

"Sebetulnya umpama benar aku hendak membokong mati seseorang, pasti akan menggunakan pisauku, umpama terpaksa harus menggunakan pisau, sekali-kali tidak akan kubiarkan dilihat orang."

Tiba-tiba Pho Ang-soat bersuara.

"Karena pisau itu amat luar biasa?"

"Boleh dikata demikian "

"Kalau orang lain tak bisa melihat pisaumu, cara bagaimana dia membuat dan menirunya?"

"Hal ini aku pun tidak habis mengerti, untuk menciptakan pisau seperti pisau ini memang bukan suatu pekerjaan yang gampang. Yang terang siapa pun kalau dia ingin mencelakai jiwa orang, dia harus banyak memeras keringat."

"Aku kira orang itu sengaja hendak memfitnah dan menjatuhkan tuduhan atas dirimu?"

"Memangnya kau belum bisa menilainya?"

Pho Ang-soat menunduk mengawasi golok di tangannya, setiap kali tidak mau menjawab suatu pertanyaan selalu dia menunduk mengawasi goloknya sendiri.

"Orang itu sengaja hendak mengadu domba kepadamu supaya kau beranggapan bahwa pembunuh Kwe Wi dan keluarganya adalah aku, kembali dia berusaha supaya kau mengira akulah orang di belakang layar yang mengakibatkan kematian Cui long. Waktu itu Ting Hun-pin kebetulan dibawa pergi Engkohnya, tiada seorang pun yang bisa membuktikan alibiku!"

Setelah menghela napas Yap Kay meneruskan.

"Tujuan dari perbuatannya ini adalah hendak mengadu bentrokan di antara kau yang mendendam kepadaku, supaya kita berduel mengadu jiwa, lalu dia memungut keuntungannya."

Gemeratak gigi Pho Ang-soat, otot-otot hijau menghias lehernya, dia tetap bungkam.

"Agaknya dia memang sudah bekerja dengan segala perhatian dan rencana yang matang, karena rencananya ini memang baik dan amat mendetail, sehingga aku tidak punya kesempatan untuk membuktikan alibiku, untunglah kali ini dia sendiri menunjukkan kelemahan dan kelalaiannya, kalau tidak, apa pun yang kujelaskan, pasti tak kau percaya."

Mau tidak mau Pho Ang-soat harus mengakui, memang sepatah kata pun orang tidak berusaha menjelaskan kepadanya.

"Kali ini tentu dia tidak mengira bahwa kita tidak berduel hingga salah satu pihak babak belur. celakanya malah bersama mencarinya."

Dengan tertawa getir dia menambahkan.

"Jika Sim Sam nio meninggal dan kau tidak bersamaku, tentu kau bisa mengira pembunuh Sim Sam-nio adalah aku pula, sekarang Be Khong-cun sendiri tentu juga berpikir demikian."

Selama ini Ting Hun-pin merengut saja di samping, tiada yang tahu kenapa dia mengambek. Sekarang tak tahan dia menyeletuk.

"Tidakkah kau bisa memikirkan siapa kiranya yang membencimu? Begitu tega menggunakan cara keji ini hendak mencelakai kau?"

"Tidak pernah terpikir olehku, maka aku ingin menanyakan sampai jelas,"

Waktu dia menunduk, dilihatnya Sim Sam-nio tengah meronta mengangkat kepala, dengan sorot mata yang aneh sedang mengamati Ting Hun-pin.

Sebaliknya Ting Hun-pin juga sedang mengawasi dengan sorot mata aneh pula.

"Sim Sam-nio ini, kau belum pernah melihatnya...."

Yap Kay hendak memperkenalkan.

"Aku tahu siapa dia,"

Tiba-tiba Ting Hun-pin menukasnya.

"Cuma belum tahu entah bagaimana dia begini intim dengan kau, terhadapnya agaknya kau jauh lebih baik daripada terhadapku."

Baru sekarang Yap Kay tiba-tiba sadar kenapa orang merengut dan mengambek.

Dia sedang jelus.

Sembarang waktu anak perempuan memang gampang cemburu, kalau sudah cemburu omongan apa pun berani diucapkan.

Tapi kenapa pula Sim Sam-nio mengawasinya dengan sorot mata seaneh itu?

Yap Kay tidak habis mengerti.

Ting Hun-pin tertawa dingin, ujarnya pula.

"Hai, aku sedang bicara dengan kau, kenapa tidak kau hiraukan ucapanku."

Bahwasanya Yap Kay memang tidak mau menghiraukan dirinya, bila orang sedang cemburu, wah, lebih baik dia bungkam saja. Tak nyana Ting Hun-pin malah naik pitam, katanya pula.

"Kulihat di antara kalian seperti ada suatu kenangan lama yang tidak bisa terhapuskan, apa perlu aku menyingkir dulu, supaya kalian bisa bermesra-mesraan?"

"Ya. Memang begitu!"

Kata Yap Kay.

Baca Juga: Sepasang Golok Mustika 1

Baca Juga: Anak Naga Chin Yung

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert