Eps 5 Bentrok Para Pendekar - Gu Long
Baca online Bentrok Para Pendekar - Gu Long
Cersil Bentrok Para Pendekar - Gu Long.
"Dermaga Hong-lin harus lewal jalan yang mana?"
"Entah aku tidak tahu."
"Aku hanya tahu di sungai kuning ada sebuah dermaga bernama Hong-lin."
"Di wilayah Kanglam mana ada Huang-ho, di sini hanya ada Tiangkang."
"Belum pernah aku mendengar di Tiangkang ada dermaga yang dinamakan Hong-lin."
"Kau tak pernah mendengar, orang lain tentu ada yang tahu."
Cahaya senja menyinari jagat raya, kini mereka tiba di jalan simpang tiga, di pinggir jalan sana terdapat sebuah kedai teh.
Kedai teh biasanya juga menjual arak, ada hidangan sederhana sebagai teman minum arak, mungkin di sini para tamu masih bisa menikmati nasi goreng, entah nasi goreng, atau bakmi rebus.
"Kita bisa mengaso di kedai teh itu sambil mencari tahu arah jalan, sekalian menangsal perut dan minum sepuasnya."
"Betul, kalau perut kenyang, kerja tentu lebih bersemangat."
Orang muda kalau bekerja tentu tak lupa mengisi perut, sebab perut kenyang, semangal kerja timbul, gairah kerja akan berkobar.
Hari sudah sore, sebentar lagi bakal gelap.
Hong Si-nio tidak ingin berhenti, sebelum rembulan muncul, ia harus berhasil menemukan Siau Cap-it Long, kalau kali ini gagal, boleh dipastikan dirinya akan gagal menemukan Siau Cap-it Long selamanya.
Tapi ia tidak kenal jalan, ia juga perlu istirahat, yang pasti ia sendiri merasa dahaga.
Bau arak terbawa angin lalu, masih tercium bau panggang daging, ikan goreng dan yucakwe yang harum.
Hou Ing tertawa riang.
"Baunya saja begini sedap, kalau dirasakan tentu nikmat sekali."
Hong Si-nio melotot kepadanya, katanya merengut.
"Mestinya tidak kuajak kau, kau terlalu suka makan."
Lain di mulut lain di hati, bahwasanya dia memang perlu pembantu.
Ilmu silat Hou Ing mau pun Toh Lin cukup tinggi, dari kalangan kaum muda di Kangouw, kemampuan mereka termasuk kelas tinggi.
Anehnya mereka justru senang menjadi pembantu Hong Si-nio.
Sim Bik-kun tidak mengerti.
Selamanya dia takkan bisa memahami orang macam apa sebenarnya Hong Sinio, apalagi sepak terjang dan tingkah polahnya.
Dan cewek ini memang dari jenis yang berbeda, maka nasib mereka jelas jauh berbeda.
Dengan menundukkan kepala Sim Bik-kun beranjak masuk ke dalam kedai.
Selama ini belum pernah ia berjalan segagah, sewajar dan apa adanya dengan langkah lebar, sambil mengangkat dada berjalan di depan umum, belum pernah ia mengunjuk tawa lebar seperti Hong Si-nio.
Bahwasanya Sim Bik-kun memang sudah lama tidak pernah tertawa, tertawa seaslinya, ia sendiri tidak tahu sejak kapan dan sudah berapa lama ia tidak tertawa.
Selama ini hatinya kalut, pikiran gundah, apalagi sekarang lebih ruwet lagi.
Sekarang umpama berhasil menemukan jejak Siau Cap-it Long, memangnya mau apa?
Apa ia harus meninggalkan Lian Shia-pik, tanpa menghiraukan segalanya ikut Siau Cap-it Long?
Umpama dugaan Hong Si-nio tidak keliru, seluruh muslihat dan tipu daya ini diciptakan Lian Shia-pik, ia makin tak mengerti apa yang harus dilakukan?
Hidupnya ini kenapa selalu dirundung berbagai persoalan yang tidak mampu dipecahkannya, persoalan yang membuatnya resah dan menderita?
Hong Si-nio sedang memesan hidangan.
"Hidangkan lima kati daging sapi, nasi dengan mangkuk besar. Jangan lupa beri makan juga empat ekor kuda di luar itu."
Sekarang mereka satu orang satu tunggangan.
Di kandang kuda Pek-ma-san-ceng, ia memilih empat ekor kuda gagah, tinggi besar, didatangkan dari Mongol, tak lupa dari kasir ia sabet satu kantong uang perak besar dan satu kantong uang emas.
Bagi anggapannya, sambar menyambar uang di kasir adalah urusan jamak dan persoalan sepele, tidak pernah terpikir olehnya bahwa perbuatannya itu melanggar tata krama, berdosa melawan hukum.
Tapi Sim Bik-kun tidak mengerti.
Ia tidak pernah paham, seorang seperti Hong Si-nio di kala berlawanan dengan seseorang, kenapa masih mau menunggang kudanya, mau memakai uang orang.
Sebaliknya dirinya berbeda, bila ia membenci orang, biarpun harus mati karena kelaparan, ia pantang minum setetes pun air orang.
Sepertinya Hong Si-nio paham dan pandai menyelesaikan persoalan yang paling rumit, paling ruwet, dengan cara yang paling gampang.
Dirinya justru terbalik, urusan yang paling gampang malah berubah makin ruwet.
Sebab begitulah wataknya, pembawaannya, maka terbentuklah watak, terbentuklah nasib seperti yang dialaminya selama ini.
Betulkah nasib itu adalah hasil perbuatannya sendiri?
Panggang daging sapi sudah disajikan, rasanya sungguh sedap.
Tanpa sungkan sekaligus Hong Si-nio gegares empat potong daging sapi, masih menenggak dua cawan arak, baru sekarang ia sempat bertanya kepada pemilik kedai.
"Di daerah sekitar sini adakah tempat yang dinamakan Hong-lin-toh?"
"O, ada letaknya ya di luar Hong-lin-tin,"
Sahut pemilik kedai. Hong Si-nio merasa lega, seleranya timbul, kembali ia potong sekerat daging besar.
"Pergi ke Hong-lin-toh harus lewat mana?"
"Lewat jalan sebelah kanan."
"Jauh tidak?"
"Tidak begitu jauh."
Kembali Hong Si-nio menenggak tiga cawan, katanya tertawa.
"Kalau jarak tidak begitu jauh, boleh kita makan kenyang dulu baru melanjutkan perjalanan, yang pasti waktu malam tiba, kita sudah berada di tempat itu."
Pemilik kedai manggut-manggut dengan tertawa, katanya.
"Kalau naik kuda, besok menjelang senja kalian sudah bisa sampai di sana."
Saking kaget, daging yang lagi dikunyah dalam mulut Hong Si-nio menyembur keluar, sekali raih ia jambret baju di depan dada kakek pemilik kedai.
"Apa katamu?"
Serunya. Orang tua itu amal kaget, suaranya gagap.
"Aku ... aku tidak bilang apa-apa."
"Tadi kau bilang baru besok malam kita akan sampai di Hong-lin-toh?"
"Ya, paling cepat besok malam, untuk perjalanan jauh ini, naik kuda harus ditempuh satu hari satu malam."
"Perjalanan satu hari satu malam kau bilang tidak jauh?"
Si kakek menyengir tawa.
"Seorang paling tidak bisa hidup puluhan tahun, kalau hanya menempuh perjalanan sehari, kenapa dibilang jauh?"
Hong Si-nio melenggong.
Berhadapan dengan kakek yang sudah beruban ini, kerut mukanya yang dimakan usia, satu dua hari lamanya bukan merupakan hari panjang, tidak terhitung lama.
Beda bagi Hong Si-nio sekarang, hanya terlambat setengah jam, mungkin dirinya harus menyesal seumur hidup.
Sama-sama menghadapi persoalan, tidak jarang pandangan dan pendapat tiap orang berbeda.
Sebab tiap orang punya kesan, pengertian dan pandangan yang berbeda, tergantung dari sudut mana melihat dan menilai persoalan itu.
Itulah yang dinamakan sifat manusia.
Mengenai hidup, pengertian Hong Si-nio jelas tidak lebih banyak dari apa yang pernah ia bayangkan.
Dengan harap-harap cemas ia masih bertanya.
"Dari sini ada tidak jalan pintas?"
"Tidak ada."
Sahut orang tua itu.
"umpama ada, aku tidak tahu. Sepanjang hidupku tidak pernah lewat jalan pintas, maka aku bisa bertahan hidup lebih lama dibanding orang lain."
Dengan senyum bangga dan senang ia menambahkan.
"Tahun ini aku sudah tujuh puluh sembilan tahun."
Hong Si-nio kembali melenggong.
Hong Si-nio benar-benar kehabisan akal, tak tahu apa lagi yang harus dilakukan, di dunia ini ternyata banyak persoalan sulit yang ia sendiri tak mampu membereskannya.
Dari pinggir Hou Ing malah berkelakar.
"Kulihat kakek ini pantas dijodohkan Thio-ko-lo yang berada di PatKANGZUSI WEBSITE
http.//kangzusi.com/ sian-cun itu."
Hong Si-nio berjingkrak meraih bajunya.
"Apa katamu?"
Hou Ing terkejut.
"Aku ... aku tidak bilang apa-apa."
"Bukankah barusan kau bilang Pat-sian-cun."
"Sepertinya pernah kubilang."
"Dimana kapal itu?"
Hou Ing menyengir aneh.
"Itu bukan kapal, tapi adalah ... sarang pelacur."
Hong Si-nio melepas tangan, lalu duduk di kursi, hatinya seperti tenggelam. Hou Ing masih memberi penjelasan.
"Dalam sarang pelacur itu mengkoleksi delapan pelacur yang dinamai Pat-sian, yang paling jenaka dinamakan Thio-ko-lo, jelas gamblang dia itu seorang nenek-nenek, namun dandanannya yang norak dan berlebihan, masih juga menjual diri mencari kesenangan, begitu minum sampai mabuk, tingkah lakunya mirip orang gila, orang tiada yang tahu maksud ocehannya."
Dengan tertawa Toh Lin menambahkan.
"Anehnya, orang yang datang ke sarang pelacuran itu justru antri ingin melihat dia, jadi dia termasuk yang paling laris di antara pelacur lain."
Hong Si-nio menarik muka.
"Kalian juga pernah melihat dia? Kalian juga jadi tamunya?"
Merah muka Toh Lin.
"Siau-houlah yang menarik aku ke sana."
"Ya, hanya karena tertarik ingin tahu saja, macam apakah sebenarnya siluman tua itu, sayang kedatangan kami ke sana sia-sia, meski sempat melihat wajahnya, tapi tak sempat mendengar ocehannya yang banyak diagulkan orang."
"Kenapa?"
"Karena tamu yang antri terlalu banyak."
Kata Hou Ing menunduk.
"mestinya kami siap menunggu semalam. celakanya, seluruh sarang pelacuran itu sudah dipesan orang."
Hong Si-nio tertarik.
"Siapa yang memesan tempat itu?"
"Disewa seorang she Hu, kabarnya seorang yang suka royal menggunakan uangnya."
Hong Si-nio berjingkrak berdiri, matanya benderang.
"Dimana tempat itu?"
"Di kota Jun-kang,"
Sahut Hou Ing.
"Di kota dimana kita bertemu dengan Ciu Ci-kong,"
Toh Lin menjelaskan. Sambil menarik Sim Bik-kun, Hong Si-nio berseru.
"Ayo berangkat."
Hou Ing dan Toh Lin ikut memburu keluar.
"Kemana?"
"Tentu ke Pat-sian-cun di kota Jun-kang itu." * * * * * Malam. Lampu sudah guram, banyak pula yang sudah dipadamkan, jelas malam telah larut.
"Pat-sian-cun ada di jalan apa?"
"Di Tho-hoa-kang."
Gang persik ini tidak sempit, hanya temboknya amat tinggi, dari balik tembok itu sayup-sayup berkumandang suara nyanyian diringi bunyi alat-alat musik.
Sambil mengeprak kudanya, Hong Si-nio menerjang masuk lebih dulu, cepat dan mudah menemukan Patsian-cun.
Lampion besar digantung di depan rumah masih menyala, enam huruf warna kuning yang mengkilap tampak jelas dari kejauhan "Pat-sian-cun, Yan-cu-hai".
Dua daun pintu yang berwarna hitam legam tertutup rapat, kalau Soa-ong sedang ingin makan orang, mana boleh diganggu orang lain.
Apakah dia sudah menelan Siau Cap-it Long?
Hong Si-nio melompat turun dari punggung kuda, serunya.
"Ayo terjang ke dalam."
Sim Bik-kun ragu-ragu.
"Terjang masuk begini saja? Kalau salah tempat bagaimana?"
"Kalau salah tempat anggap saja mereka yang sial."
"Anggap mereka sial?"
Sim Bik-kun tidak mengerti.
"Kalau orangnya tak kutemukan, biar rumahnya aku bongkar."
"He, mereka tidak salah, bukan mereka yang mengundangmu ke sini."
Hong Si-nio tidak menghiraukan ocehannya, segera ia beraksi.
Daun pintunya besar, kokoh kuat, tendangan Hong Si-nio tidak menjadikan pintu jebol atau ambruk, maka Hou Ing dan Toh Lin membantu, ternyata tendangan mereka tidak menggoyahkan daun pintu.
Sim Bik-kun menonton dari pinggir sambil tertawa getir.
umpama diancam akan dibunuh pun ia tidak sudi melakukan perbuatan sekasar itu.
Tapi bila Hong Si-nio berhasil menjebol daun pintu, ia pun akan beranjak ke dalam.
Maklum ia punya prinsip kerja yang berbeda, tak peduli prinsip itu benar atau salah, ia sendiri tidak bisa membedakan.
Akhirnya daun pintu jebol sebelah.
Dengan menarik Sim Bik-kun, Hong Si-nio mendahului berlari ke dalam, sepanjang perjalanan ke dalam, tiada orang keluar untuk bertanya, merintangi atau menegur mereka, keadaan di sini ternyata sunyi sepi.
Dari ruang besar yang tampak benderang, mendadak berkumandang suara nyanyian romantis.
Seorang perempuan yang berpakaian norak, dengan bermacam jenis perhiasan memenuhi rambut kepalanya, di tangan memegang cawan arak, sementara mulut mendendangkan lagu romantis dengan langkah gontai berjalan keluar.
Gaun panjang yang melekat di badannya berderai menyentuh lantai, meski tampak mabuk, namun gaya dan gerak-geriknya memang indah dan gemulai di bawah penerangan lampu, dari kejauhan kelihatan cantik.
Tapi setelah makin dekat, Hong Si-nio seketika mendekati perempuan ini dan ternyata adalah seorang nenek-nenek, meski bedak di kulit mukanya setebal satu senti, belum mampu menutupi karut-merut ketuaan di wajahnya.
"Thio-ko-lo,"
Seru Hou Ing memburu maju.
"mana tamu-tamumu?"
Thio-ko-lo mengangkat kepala, dengan mala sipit mengantuk menatapnya beberapa kali, lalu tertawa cekikikan geli.
"Aku kenal kau, kemarin kau pernah datang."
Lalu dengan menghela napas menambahkan.
"Sayang kedatanganmu hari ini sudah terlambat."
"Apakah orang lain sudah pergi semuanya?"
"Belum, belum pergi,"
Ujar Thio-ko-lo menggeleng kepala sambil tertawa renyah.
"mana mungkin mereka pergi, umpama diusir dengan pentung juga mereka takkan mau pergi."
"Kenapa?"
"Kenapa kau tidak masuk melihatnya sendiri?"
Hong Si-nio mendahului berlari masuk, segera ia paham apa yang dimaksud orang.
Orang-orang sebanyak itu memang belum pergi, malah selamanya takkan bisa pergi.
Ruang besar itu terang benderang, Di atas setiap meja yang ada tertata banyak hidangan serba mewah, arak juga dari kwalitas terbaik.
Setiap tamu yang hadir semua berpakaian perlente, serba baru berwarnawarni dan model mutahir, jelas mereka dari orang-orang terpandang.
Sayang mereka sudah menjadi mayat.
Soa-ong Hi-cia-lang, Kim-pou-sat, Kim-kiong-gin-hoan-jan-hou-to, Tui-hun-coh-gwat-cui-siang-biau Le Cenghong, Jin-siang-jin, Hamwan Sam-seng, Hamwan Sam-coat.
Waktu hidup, mereka adalah tokoh kosen, orang-orang gagah yang punya kekayaan dan kekuasaan di masing-masing tempat tinggalnya, sayang sekali sekarang mereka sudah mampus seluruhnya, kepala mereka tertabas golok, sekali tabas jiwa melayang.
Siapa memiliki golok seganas dan setajam itu?
Siapa mampu turun tangan secepat itu?
Siau Cap-it Long.
Kecuali Siau Cap-it Long, rasanya tiada orang kedua Iagi.
Hong Si-nio berdiri menjublek, sekujur badan terasa dingin.
Hati Sim Bik-kun lebih dingin lagi.
Yang mampus bukan hanya enam orang yang itu, kecuali Thio-ko-lo di luar yang masih hidup, seluruh yang hadir di ruang besar ini, termasuk perempuan juga tiada yang ketinggalan hidup, mampus di bawah goloknya.
Siau Cap-it Long, Siau Cap-it Long, betapa kejam hatimu?
Sepertinya orang-orang itu sudah cukup lama mati, mayat-mayat itu tiada yang mengalirkan darah lagi.
Sim Bik-kun tak kuasa menahan air mata, bukan merasa sedih karena kematian orang-orang itu, dia pun sedih untuk dirinya sendiri.
Orang yang ia cintai sepenuh jiwa raganya ternyata seorang pembunuh berdarah dingin.
Perlahan Hong Si-nio menghela napas.
Pemandangan di depan mata ini memang teramat kejam dan menakutkan, syukur Siau Cap-it Long sendiri belum menemui ajalnya.
Sehari ia belum mati, segala urusan masih bisa diselesaikan dan dibikin terang.
Mendadak Sim Bik-kun berpaling, dengan tatapan tajam ia mengawasi Hong Si-nio.
"Masih kau bilang aku salah membencinya?"
"Apapun yang telah terjadi, aku yakin dia bukan manusia kejam seperti yang kau bayangkan."
"Memangnya dia bukan, hakikatnya dia terhitung bukan manusia."
"Kau berani pastikan kalau orang-orang ini semua mati di tangannya?"
"Memangnya bukan?"
"Pasti bukan. Selama hidup dia tidak pernah membunuh orang yang tidak pantas mati."
"Lalu siapa pembunuh orang-orang ini?"
"Kalau bisa kutanya, pasti akan kuselidiki, untung di sini masih ada orang yang bisa dimintai keterangan."
Thio-ko-lo memang masih hidup, di bawah penerangan lilin yang benderang, roman mukanya tidak banyak beda dengan mayat-mayat yang bergelimpangan itu.
Perempuan ini duduk di undakan batu di depan ruang besar, tertawa cengar-cengir dengan mulut berceloieh mendendangkan lagu.
Lagu romantis yang menggambar seorang yang lagi kasmaran, dalam keadaan dan kondisi sekarang, dendang lagunya itu terdengar begitu memelas, memilukan sekali.
Hong Si-nio datang menghampiri, duduk di sebelahnya, tanya-nya dengan suara halus.
"Sejak tadi kau berada di sini?"
Thio-ko-lo manggut-manggut.
"Peristiwa yang terjadi di sini kau saksikan juga?"
"Walau aku sudah tua, tapi mataku masih bisa melihat, kupingku masih bisa mendengar, aku kan belum mati,"
Demikian kata Thio-ko-lo, mendadak ia tertawa.
"Bocah itu justru menyangka aku sudah mati, purapuraku mati pasti mirip sekali." 'Bocah itu' yang dimaksud tentu pembunuh itu. Dengan pura-pura mati ia berhasil mengelabui orang, maka sampai sekarang ia masih hidup. Seorang perempuan yang sudah bergelut hidup dalam sarang pelacur puluhan tahun, umpama bukan siluman tua, tentu dia termasuk serigala tua. Seekor serigala tulen, di dalam keadaan apapun, dia punya cara mempertahankan hidup. Hong Si-nio menghela napas lega, tanyanya pula.
"Waktu bocah itu membunuh orang, kau juga menyaksikan?"
Thio-ko-lo manggut-manggut sambil mengiakan.
"Semua orang ini dia yang membunuh?"
Thio-ko-lo memanggut sekali lagi, mendadak roman mukanya menampilkan rasa takut, mulutnya menggumam.
"Begitu cepat dia membunuh ... dia memiliki golok yang teramat cepat dan tajam."
"Kau tahu siapa dia?"
"Sudah tentu aku tahu. Dia seorang mati."
Hong Si-nio melenggong.
"Orang mati mana mampu membunuh?"
"Sekarang dia memang belum mati, tapi dia adalah orang mati."
Apa yang diceritakan Hou Ing memang tidak salah, bicara orang ini sering ngelantur, tidak jarang orang dibuat pusing olehnya. Hong Si-nio harus menahan sabar, tanyanya pula.
"Jelas dia masih hidup, kenapa kau bilang dia orang mati...."
"Karena dia membunuh orang, orang juga ingin membunuhnya, maka usianya jelas tidak akan panjang, maka dalam pandanganku, hakikatnya dia terhitung orang mati."
Cara bicaranya memang putar balik tak keruan, tapi bukan tidak masuk akal. Dengan tawa dipaksakan Hong Si-nio bertanya lagi.
"Dia mati atau hidup tak usah diurus, coba kau jelaskan padaku, dia she apa, bagaimana tampang dan perawakannya?"
"Tampangnya bagus, seorang lelaki ...."
Sampai di sini ia cekikikan geli.
"aku senang cowok, terutama cowok ganteng dan cakap, tapi ... kenapa lelaki yang ganteng cakap hatinya makin telengas ... kenapa lelaki yang makin bagus justru makin tak kenal kasihan ...."
Meski dihiasi senyuman, tapi air mata bercucuran di pipinya.
Mendadak ia memeluk lutut terus menangis tergerung-gerung, mirip anak kecil yang tidak diberi permen oleh ibunya.
Tentunya dia pribadi menyimpan banyak persoalan yang menyedihkan.
Siapa pun dia bila sekian belas tahun berkecimpung di sarang pelacur, pasti akan mengenyam banyak pahit getirnya kehidupan, diterpa banyak persoalan yang menyedihkan.
Hong Si-nio sendiri juga ikut merasakan kegetirannya.
Tentu ia sendiri maklum, walau Siau Cap-it Long bukan orang yang berhati kejam, tapi bukan seratus persen laki-laki yang tidak kenal kasihan.
Tapi dia memang lelaki yang ganteng dan cakap, kenyataan memang memiliki golok tajam dengan gerak secepat kilat.
Apa betul orang-orang itu mati di bawah goloknya?
Kenapa ia tega turun tangan sekejam ini?
Sekarang dia berada dimana?
Sim Bik-kun masih terus menatapnya, mendadak bertanya.
"Jin-siang-jin dan kawan-kawan betul mengundang dia di sini?"
Hong Si-nio mengangguk.
"Kau berpisah dengan dia, maksudnya hendak ke tempat ini?"
Kembali Hong Si-nio mengiakan.
"Sekarang dia justru minggat."
Tak urung Hong Si-nio menghela napas rawan.
Di kala harus tinggal, kau malah pergi.
Di kala harus tinggal, justru ditinggal pergi.
Kenapa kau suka menganiaya orang?
"Jika mereka masih hidup, pasti tak memberi ampun padanya, sebab mereka mengundang kemari memang ingin membunuhnya."
Hong Si-nio membenarkan kesimpulannya.
"Maka waktu dia pergi, orang-orang ini tentu sudah mati, kalau bukan dia yang membunuh mereka, memangnya siapa pembunuhnya?"
Roman mukanya membayangkan duka dan lara, air mata bercucuran.
"Mestinya aku tidak perlu datang, dan kau juga tak usah kemari. Bahwa dia tidak ingin membawamu ke sini, karena dia tidak ingin kau menyaksikan dia membunuh ... Kenapa kau datang? Kenapa pula aku ikut ke sini?"
Sembari bicara, air matanya mengucur makin deras, makin deras air matanya, langkahnya makin lambat, meski lambat ia tidak berpaling lagi.
Hong Si-nio tidak menahannya.
Seorang kalau sudah kepalang sedih, siapa bisa merubah pikirannya?
Entah berapa lama kemudian, baru Hong Si-nio sadar Thio-ko-lo sudah menghentikan tangisnya, tubuhnya tampak lemas seperti hampir roboh ditiup angin.
Tak tahan ia mengulur tangan menariknya.
Tangan orang teramat dingin, lebih dingin dari hembusan angin, dingin lagi kering, mirip daun layu yang terhembus angin.
Demikianlah tubuh Thio-ko-lo roboh dalam keadaan loyo.
Perempuan macam dirinya, bertahan hidup dalam kondisi seperti itu, sekarang bisa meninggal dengan tenang, apakah boleh dianggap bernasib baik?
Tapi kematiannya sungguh memelas, mati dalam kesepian, kalau bisa mati lebih dini, waktu usia masih muda, waktu wajahnya masih cantik, mungkin ada orang merasa sedih akan kematiannya.
Sayang kematiannya sekarang badannya bukan saja loyo, tubuhnya sudah kering-kerontang.
Bukankah ini nasib jeleknya?
XIX.
THIAN CONG YANG SERBA MISTERIUS Air mata sudah kering.
Mendadak Hong Si-nio melompat bangun terus berlari keluar.
"Ayo berangkat."
"Kemana?"
"Cari Kim-hong-hong, buat perhitungan dengannya."
Mereka tidak menemukan Kim-hong-hong, tidak menemukan Sim Bik-kun. Malah bertemu dengan Ciu Cikong dan Lian Shia-pik.
"Isteriku sakit, sakitnya cukup parah, dalam waktu dua bulan, mungkin belum boleh menerima tamu."
Sementara sikap Ciu Ci-kong tampak temberang.
Beberapa tahun lalu dia pernah menjadi salah satu laki-laki yang tergila-gila terhadap Hong Si-nio, tapi sekarang seperti sudah melupakan dia.
Demikian pula sikapnya terhadap Hou Ing dan Toh Lin, seperti muak lagi dingin.
Berbeda dengan Lian Shia-pik yang jauh lebih sopan, lelaki ini memang dikenal sebagai suami yang lembut, suami bijaksana.
Belakangan ini ia seperti mulai berdandan dan merawat diri sendiri.
Begitu Sim Bik-kun berada di sampingnya, kini kondisinya pulih kembali menjadi tampan, ramah dan sopan santun.
Walau tampangnya masih kelihatan rada pucat, tapi sorot matanya sudah tampak bersinar, sikap dan tindaktanduknya penuh keyakinan.
Kumisnya yang dicukur rapi menambah kerapian dirinya, lebih kelihatan matang.
Benarkah pengaruh seorang perempuan terhadap laki-laki sedemikian besar?
Tapi Hong Si-nio tahu dia bukan lelaki yang gampang dirubah oleh seorang perempuan.
"Mana Sim Bik-kun?"
Tanya Hong Si-nio.
"bukankah dia sudah pulang?"
"Ya, benar."
"Apakah dia sakit? Tidak bisa keluar menyambut teman?"
"Dia tidak sakit, tapi kelelahan."
Sikap Lian Shia-pik sedemikian lembut lagi sopan, disertai senyum ramah pula.
"Boleh aku sekarang menemuinya?"
"Tidak boleh."
"Harus tunggu sampai kapan untuk bisa bertemu dengan dia?"
"Lebih baik jangan kau tunggu."
"Kenapa?"
Senyum ramahnya mengandung permohonan maaf.
"Karena dia bilang tidak ingin bertemu lagi dengan kau."
Hong Si-nio tidak putus asa, juga tidak marah, jawaban ini memang sudah dalam rekaannya. Setelah bola matanya berputar, mendadak ia bertanya lagi.
"Sejak kapan kalian pulang?"
"Cukup pagi kami pulang."
"Cukup pagi? Kira-kira kapan?"
"Sebelum petang kami sudah pulang."
"Setelah pulang kalian terus menunggunya di sini?"
Lian Shia-pik manggut-manggut.
"Setelah tahu dia pergi lagi, apa kau tidak gelisah?"
Lian Shia-pik tertawa.
"Aku tahu, meski pergi dia akan segera kembali lagi."
"Darimana kau tahu?"
Jengek Hong Si-nio.
"apa sudah kau perhitungkan, kami akan menemukan mayatmayat bergelimpangan dalam rumah?"
"Mayat-mayat bergelimpangan dalam rumah?"
Sepertinya Lian Shia-pik melengak kaget.
"dimana?"
"Apa betul kau tidak tahu?"
Lian Shia-pik menggeleng kepala.
"Apakah mereka bukan mati di tanganmu?"
Mutlak ia tidak mau menjawab, sebab pertanyaan ini hakikatnya tidak perlu dijawab. Hong Si-nio belum patah arang, tanyanya pula.
"Tadi siang kalian kemana?"
Ciu Ci-kong mendadak menjengek dingin.
"Sejak kapan kau menjadi opas yang mengompas keterangan orang?"
"Bukan opas juga boleh mencari tahu duduk persoalannya."
"Persoalan apa maksudmu?"
"Soal pembunuhan."
"Siapa pembunuhnya? Siapa korbannya?"
"Korbannya adalah Hi-cia-lang, Jin-siang-jin dan Hamwan bersaudara."
Ciu Ci-kong tampak kaget.
"Tidak mudah untuk membunuh tokoh-tokoh kosen itu."
"Sangat tidak mudah."
"Kau kira kami pembunuhnya?"
"Memangnya bukan?"
"Kalau benar kami pembunuhnya, sekarang kau sudah mampus di sini."
Mulut Hong Si-nio seperti dibungkam.
Kalau benar mereka pembunuhnya, kenapa tidak membungkam mulutnya pula?
Kalau sudah telanjur membunuh sekian banyak orang yang tiada sangkut-pautnya dengan urusan ini, apa halangannya membunuh lagi satu orang?
Mendadak Lian Shia-pik tertawa.
"Kurasa kalau kau mau menggunakan daya akalmu, tentu kau mengerti bahwa kami tak mungkin jadi pembunuh mereka."
"Kenapa?"
"Karena kami tidak punya alasan membunuh mereka."
"Siapa pun takkan membunuh orang tanpa sebab, membunuh orang tentu ada sebab dan tujuannya."
"Aku tahu, selama ini kau berprasangka aku punya ganjalan hati terhadap Siau Cap-it Long, selalu beranggapan aku menaruh dendam terhadapnya."
Hong Si-nio diam.
"Kabarnya mereka juga adalah lawan-lawan tangguh Siau Cap-it Long, pantasnya aku menggandeng mereka bergabung menghadapi lawan yang sama, kenapa aku justru membunuh mereka?"
Hong Si-nio makin tak bisa bicara.
Kalau mereka bergabung, yang mati di Pat-sian-cun jelas adalah Siau Cap-it Long.
Mendadak ia sadar dan mengerti, persoalan ini jauh lebih rumit, ruwet dan aneh.
Dengan tersenyum Lian Shia-pik berkata pula.
"Kulihat kau amat lelah, perlu istirahat atau tidur. Besok setelah badan segar pikiran sehat, mungkin bisa kau tebak siapa pembunuh sebenarnya."
Hi-cia-lang dan kawan-kawan jelas adalah musuh atau lawan Siau Cap-it Long, selama mereka hidup, merupakan tekanan yang tidak menguntungkan bagi Siau Cap-it Long.
Maka pihak yang punya alasan membunuh mereka adalah Siau Cap-it Long.
Siapa pun akan maklum, dan tidak perlu dipikirkan secara rumit, siapa pun akan tahu dan maklum.
Namun Hong Si-nio tetap tidak mengerti, tidak paham, maka dia harus berpikir.
Makin dipikir makin tidak mudah memecahkan persoalan, kalau hati sedang gundah, pikiran sedang buntu, mana dia bisa tidur?
* * * * * Hari sudah terang tanah.
Di meja berserakan banyak bumbung dari timah wadah arak, semua sudah kosong.
Sekarang bukan waktu yang tepat minum arak, bukan saatnya berjualan arak.
Kedai arak ini mau buka pintu membiarkan mereka masuk minta arak, karena Hong Si-nio ingin minum.
"Kalau kau tidak buka pintu menyediakan arak bagi kami, akan kubakar kedai minummu ini,"
Demikian ancam Hong Si-nio.
Pemilik kedai tidak punya pilihan.
Hong Si-nio memang senang menyudutkan orang, apalagi di kala hatinya gundah, perasaan kacau, bukan saja sedang rawan, badannya juga teramat penat.
Karena tidak bisa tidur, maka Hou Ing dan Toh Lin terpaksa menemaninya duduk minum arak.
Minum arak memang hal yang menggembirakan bagi mereka, sayang sekali kondisi mereka sekarang justru terbalik, tidak kelihatan rasa senang atau gembira.
Hou Ing menguap mengantuk, berbangkis beberapa kali.
Hong Si-nio menarik muka, katanya.
"Jangan kau bertingkah di hadapanku, kapan saja kau boleh pergi, aku tidak memaksamu menemani aku."
Hou Ing tertawa malah.
"Kapan aku bilang mau pergi? Bicara saja tidak."
"Kenapa tidak mau bicara?"
"Apa yang kau ingin aku bicarakan?"
"Kau tidak bisa mengajak aku minum, begitu?"
"O, ya, mari kita minum, mari bersulang,"
Langsung ia tenggak habis secawan arak. Akhirnya Hong Si-nio tertawa geli, tertawa rikuh, selama ini kedua pemuda ini bersikap baik, sopan dan hormat terhadap dirinya.
"Siau Toh,"
Ujar Hou Ing.
"kenapa kau tidak bicara?"
Toh Lin tampak bimbang, akhirnya ia mengangkat cawan.
"Baiklah, bersulang ya bersulang."
Hong Si-nio tertawa riang, tawanya berderai seperti kelintingan.
"Untung bertemu kalian, kalau tanpa bantuan kalian selama ini, mungkin aku sudah menumbukkan kepala biar mampus saja."
"Eh, kau sedang marah kepada siapa?"
"Banyak orang,"
Seru Hong Si-nio.
"kecuali kalian, boleh dikata di seluruh kolong langit tidak ada manusia baik lagi."
Biarpun mimiknya tertawa riang, padahal hatinya menjerit, pikiran ruwet, maka ia nekad minum arak sebanyak mungkin, kalau sudah mabuk, segala gundah, semua kekesalan hati akan tersapu bersih.
Sorot matanya masih tampak terang, padahal ia sudah mulai mabuk.
Hou Ing juga sudah mabuk, ia terus minum sambil tertawa-tawa.
"Kau sendiri tidak mabuk? Mari bersulang."
Hong Si-nio tertawa.
"Isilah cawanku, mari bersulang."
"Baik,"
Seru Hou Ing. Tangannya diulur mengambil poci arak, ternyata dia tidak bisa memegangnya kencang, arak dalam poci tertuang ke badan Hong Si-nio.
"Bajuku mana bisa minum, kau juga ingin melolohnya?"
Dengan tawa renyah ia berdiri sambil membersihkan arak di bajunya.
Hou Ing menghampiri membantu mengelap bajunya yang basah, mulutnya menggumam mohon maaf, sepasang tangannya secepat kilat menutuk tiga Hiat-to di tubuhnya.
Caranya singkat, gerakannya cekatan.
Hong Si-nio ingin menjerit, tapi suara sudah tidak keluar dari mulutnya, seketika ia merasakan sekujur badan kaku, ia berdiri mematung di tempatnya.
Hou Ing mengangkat kepala, sorot matanya seperti terpengaruh air kata-kata, setajam pisau melotot pada pemilik kedai yang kaget ketakutan.
"Bahwasanya kami tidak pernah ke sini, kau paham tidak?"
Pemilik kedai manggut-manggut, mukanya pucat ketakutan, suaranya gemetar.
"Sejak pagi hari, kedai minumku belum pernah dikunjungi tamu, aku tidak melihat apa-apa."
"Makanya kuanjurkan kau sekarang pergi tidur saja."
Tanpa bicara pemilik kedai segera hengkang, masuk ke kamar merebahkan diri di ranjang, malah menutup sekujur badan dengan selimut tebal.
Sekarang Hou Ing mengerling ke arah Hong Si-nio, dengan enteng menghela napas.
"Kau ini perempuan yang enak dipandang. Sayang sekali kau suka mencampuri urusan orang lain."
Hong Si-nio tidak mampu bicara.
Hou Ing memang tidak ingin mendengar ia bicara, Hiat-to yang mengendalikan suaranya juga ditutuknya.
Agaknya dia takut pendiriannya berubah setelah mendengar bujuk rayunya nanti.
Kedai minum ini masih tertutup rapat, memang tadi keinginan Hong Si-nio, waktu sedang minum ia paling pantang diganggu.
Demikian pula bila Hou Ing ingin membunuh orang, ia pun tak mau diganggu.
Dari balik sepatunya yang berlaras tinggi ia mencabut sebilah belati, belati tipis sempit lagi tajam.
Itulah jenis senjata yang biasa digunakan para pembunuh.
Bentrok Para Pendekar Karya Gu Long -Gan K.H.
Bagian 13 Toh Lin tetap di samping mengawasi dengan mendelong, katanya tiba-tiba.
"Sekarang kita turun tangan?"
"Kalau tidak sekarang turun tangan, lain kali tiada kesempatan lagi."
Toh Lin tampak ragu, akhirnya mengambil sikap.
"Aku belum pernah membunuh orang, kali ini biar aku yang turun tangan."
Hou Ing mengawasinya.
"Kau tega turun tangan?"
Toh Lin menggigit bibir sambil memanggut, dari pinggir laras sepatunya ia juga mengeluarkan sebilah belati, bentuk dan panjangnya sama dengan milik Hou Ing.
Sorot mata Hong Si-nio menampilkan rasa kecewa dan sedih.
Selama ini ia berpendapat Toh Lin adalah pemuda jujur polos, baru sekarang ia tahu pandangannya ternyata keliru.
Toh Lin menghindar beradu pandang dengan Hong Si-nio, melirik pun tidak berani.
Hou Ing berkomentar.
"Waktu membunuh orang, kau harus memperhatikan korbanmu, supaya sasaran tepat, adakalanya sang korban harus sekali tusuk tamat riwayatnya. Atau akibatnya kau sendiri bisa mampus di tangannya."
"Lain kali akan selalu kuingat,"
Sahut Toh Lin.
"Membunuh orang juga memerlukan ketrampilan, asal kau selalu ingat omonganku, mungkin kelak bisa menjadi pembunuh kelas wahid."
Siapa pun takkan pernah menduga, pemuda yang satu ini ternyata adalah pembunuh yang lihai di bidangnya. Dengan tertawa ia menyambung.
"Anggaplah cewek ini bersikap baik terhadap kita selama ini, maka jangan kau menyiksanya, incarlah sasaran tulang kelima di antara celah sebelah kiri rusuknya, tempat itu cukup sekali tusuk, jiwa pun melayang."
"Baiklah, aku tahu,"
Sahut Toh Lin.
Perlahan ia maju mendekat, jari-jari yang memegang gagang belati tampak memucat, otot hijau menonjol keluar, bola matanya memerah seperti berdarah.
Hou Ing tersenyum sambil menggendong tangan, bagi anggapannya, membunuh orang memang adegan yang enak dipandang.
Toh Lin mengertak gigi, mendadak belati di tangannya bergerak.
Gerakannya cepat dan tepat, sekali serang belatinya tepat menusuk di celah tulang rusuk keempat dan kelima di dada Hou Ing.
Yang dia bunuh bukan Hong Si-nio, tapi Hou Ing!
Senyum tawa di muka Hou Ing seketika membeku, bola matanya melotot seperti hendak mencelat keluar, dengan kaget menatapnya tajam, sorot matanya penuh rasa kaget, heran, ngeri dan benci.
Tak urung Toh Lin merinding oleh tatapan mata orang, tangan menjadi lemas, gagang belatinya pun ia lepas.
Pada detik itulah, sinar kilat berkelebat, belati di tangan Hou Ing secepat kilat juga menusuk di tengah tulang rusuknya.
Hou Ing menyeringai sadis.
"Yang kuajarkan kepadamu adalah tusukan yang mematikan, sayang kau lupa mencabut belatimu, kepandaianmu membunuh orang memang harus belajar lagi."
Toh Lin mengertak gigi, secepat kilat mendadak ia turun tangan lagi, kali ini ia cabut belati di rusuk orang.
"Sekarang aku sudah belajar lengkap."
Begitu darah menyembur keluar, muka Hou Ing tampak mengkerut menahan sakit, mulutnya megap-megap seperti ingin bicara.
Tapi sepatah kata pun tidak kuasa bicara, perlahan badannya roboh terkapar di lantai, kali ini memang sekali tusuk jiwa melayang.
Mengawasi badan rekannya roboh binasa, mendadak Toh Lin membungkuk badan terbatuk-batuk.
Ujung belati yang tajam, dingin dan keras tetap menancap di celah tulang rusuknya, badannya terasa menggigil.
Toh Lin belum roboh, karena belati masih menancap di dadanya.
Meski berhasil membalas menusuk dada orang, Hou Ing sendiri kehabisan tenaga, tak mampu mencabut belati di dada Toh Lin.
Ada kalanya hal itu bisa terjadi, kalau sekali tusuk kau tak mampu membunuhnya mati, kemungkinan jiwamu sendiri mampus di tangannya malah.
Sejauh belati masih melekat di badanmu, jiwamu takkan segera melayang.
Membunuh orang memang diperlukan ilmu yang tinggi.
Toh Lin masih terus terbatuk, makin lama batuknya makin keras.
Tusukan Hou Ing memang kurang tenaga, walau tidak tepat mengenai jantung, tapi melukai paru-parunya..
Hong Si-nio hanya bisa mengawasinya.
Pemuda ini memang berhati jujur dan polos.
Penilaiannya tidak keliru.
Hong Si-nio tidak mengucurkan darah, tapi mengucurkan air mata.
Sekuatnya Toh Lin berusaha mengendalikan batuknya, lalu dengan napas tersengal-sengal beringsut menghampirinya, berusaha membuka tutukan Hiat-tonya.
Kejap lain ia tak kuat berdiri, lalu jatuh di kursi, tenaga terakhir untuk bertahan pun sudah tak mampu dikerahkan lagi.
Keringat sebesar kacang menetes membasahi selebar mukanya.
Hong Si-nio merobek bagian bawah gaunnya, dengan air dingin di baskom pojokan sana ia basahi kain itu untuk mengompres jidatnya.
Bujuknya lembut.
"Untung tusukannya ini tidak tepat dan kurang dalam, bertahanlah untuk beberapa kejap, setelah napasmu normal dan rasa sakit jauh berkurang, nanti kubawa kau pergi berobat."
Lalu dengan tawa yang dipaksakan menyambung.
"Aku kenal seorang tabib pandai, dia pasti mampu menyembuhkan lukalukamu."
Toh Lin juga mengunjuk senyum dipaksakan.
Ia sendiri maklum dirinya takkan kuat bertahan lama, tapi banyak omongan yang ingin ia bicarakan.
Hanya arak yang bisa mendukung tekadnya, asal dapat bertahan sampai isi hatinya ditumpahkan, cukup puaslah hatinya.
"Beri aku arak, di tubuhku ada botol obat...."
Puyer itu berada dalam botol kecil yang terbuat dari kayu, bukan saja mahal dan antik, di tengah botol ditempeli kertas yang berlulis "Hun-lam Tiam-jong".
Hun-lam-pek-yo adalah obat luka buatan Tiam-jong-bun, terkenal di kolong langit, obat mujarab yang mendapat penghargaan kaum Bulim.
Sayangnya betapapun mahal, hebat mujarab obat luka itu, takkan mampu menyembuhkan luka yang tepat mengenai sasaran, luka yang mematikan.
Waktu melancarkan serangan, tenaga Hou Ing memang sudah terkuras hampir habis, betapapun dia adalah ahli di bidangnya.
Hong Si-nio membanting kaki, serunya gelisah.
"Kenapa semua ini dia lakukan? Kenapa dia ingin membunuhku?"
Toh Lin tertawa getir.
"Kami ke Bu-kau-san-ceng dengan tujuan membunuhmu."
Hong Si-nio tertegun. Baru sekarang ia sadar, kenapa mereka rela menjadi pengiringnya.
"Sungguh aku tidak mengerti kenapa kau justru mencari kami. Waktu itu aku hampir tidak percaya kalau kau benar-benar adalah Hong Si-nio."
"Kenapa waktu itu kalian tidak turun tangan?"
"Hou Ing tidak pernah bertindak kalau tidak yakin pasti berhasil."
Kata Toh Lin lebih jauh.
"Maka dia tidak pernah gagal membunuh orang."
Sekaligus ia menghabiskan tiga cawan arak, sebotol obat ia tenggak seluruhnya didorong arak secawan, roman mukanya yang pucat mulai kelihatan bersemu merah.
"Dalam usia sembilan belas, dia sudah terjebak sebagai pembunuh bayaran. Di antara sekian banyak anggota Thian Cong, sulit dicari yang mampu mengungguli dia."
Toh Lin tertawa getir, lalu menyambung pula.
"Kali ini aku diperintah ikut dia, maksudnya supaya aku belajar kepadanya."
"Thian Cong?"
Belum pernah Hong Si-nio mendengar nama ini.
"Yang memerintah kalian membunuhku adalah Thian Cong?"
"Betul."
"Dua huruf itu kedengarannya bukan nama seseorang."
"Thian Cong memang bukan nama orang, tapi milik orang banyak, nama sebuah organisasi gelap, kumpulan rahasia yang menakutkan."
Sorot mata Toh Lin menampilkana rasa ngeri.
"Aku sendiri tidak tahu berapa jumlah anggota mereka."
"Apakah Thian Cong didirikan oleh Siau-yau-hou?"
"Cosu atau cikal bakal Thian Cong she Thian."
Bukankah Siau-yau-hou selalu senang menyebut dirinya Thian-kongcu?
Benderang mata Hong Si-nio, paling tidak sekarang ia bisa membuktikan bahwa Siau Cap-it Long tidak bohong, Siau-yau-hou memang mengendalikan sebuah organisasi rahasia yang menakutkan.
Hoa Ji-giok, Auyang-hengte adalah anggota organisasi itu.
Setelah Siau-yau-hou mati, siapa pewaris tahta pimpinan organisasi rahasia itu?
Apakah Lian Shia-pik?
Soal ini adalah titik terpenting.
Hong Si-nio berkeputusan untuk mencari tahu sampai jelas, namun ia insaf keadaan sekarang tidak bisa memberi tekanan lebih berat kepada Toh Lin, mengingat kondisinya yang sudah kempas-kempis.
Setelah merenung sesaat ia bertanya dengan cara lembut.
"Kau juga anggota Thian Cong?"
"Aku juga anggota."
"Sudah berapa lama kau menjadi anggota?"
"Belum lama, belum genap sepuluh bulan."
"Apakah tiap orang boleh menjadi anggota?"
"Tidak boleh,"
Ucap Toh Lin.
"untuk menjadi anggota Thian,. harus di bawah perantara seorang Hiang-cu, itupun harus diuji dan diluluskan oleh Thian Cong sendiri."
"Siapa Hiang-cu yang menjadi perantaramu?"
"Pamanku. Mantan Ciangbunjin Tiam-jong-pay yang bernama Cia Thian-ciok."
Hal ini kembali membuktikan bahwa omongan Siau Cap-it Long benar, Cia Thian-ciok adalah anggota organisasi rahasia itu, maka Siau Cap-it Long membikin buta matanya.
Dari sini dapat disimpulkan pula bahwa apa yang dikatakan Pin-pin juga tidak salah.
Betapapun sedikit terhibur hati Hong Si-nio, sedikit lega.
Setelah mendengar uraian Lian Shia-pik, tak urung hatinya ikut mencurigai Siau Cap-it Long, maka seorang kalau dipaksa harus mencurigai pujaan hatinya, sungguh merupakan hal yang membuatnya sengsara.
"Kecuali Cia Thian-ciok, masih berapa banyak Hiang-cu dalam Thian Cong?"
"Konon ada tiga puluh lima orang, tiga puluh enam orang Thian-lo."
"Congcu hanya seorang?"
"Ya, hanya seorang."
Hong Si-nio berusaha mengendalikan gejolak perasaannya.
"Kau pernah bertemu dia?"
"Pernah dua kali."
Jantung Hong Si-nio berdegup lebih kencang, rahasia ini sudah hamnpir bisa diungkap, tanpa sebab roman mukanya memerah.
"Pertama, waktu aku masuk dan diangkat menjadi anggota. Cia-susioklah yang membawaku bertemu beliau."
"Yang kedua?"
"Setelah mata Cia-susiok buta, kedudukan atau jabatannya digantikan oleh Hoa-hiangcu."
"Hoa Ji-giok maksudmu?"
Toh Lin mengangguk.
"Huh,"
Hong Si-nio menghembuskan napas dari mulut. Hoa Ji-giok ternyata juga orang Thian Cong. Tapi di antara mayat-mayat di Pat-sian-cun tidak tampak adanya Hoa Ji-giok.
"Untuk yang kedua kali, Hoa-hiangculah yang mengajakku menemui beliau."
"Dimana tempatnya?"
"Pat-sian-cun."
Kembali Hong Si-nio menghembuskan napas dari mulut. Peritiwa ini mirip sebuah gambar lukisan yang telah dirobek-robek, sekarang satu per satu mulai dibeberkan dan disatukan kembali.
"Hou Ing sengaja mengajakmu ke Pat-sian-cun, awalnya mungkin akan turun tangan di sana."
"Kalian juga tidak tahu penstiwa yang terjadi di sana?"
Toh Lin tertawa getir.
"Tidak banyak yang kuketahui, di dalam Thian Cong, aku hanya anggota biasa, anggota yang tidak terpandang sama sekali, mungkin dibanding anjing yang dipelihara Congcu masih lebih rendah,"
Tutur Toh Lin amat menyentuh, tawanya begitu pilu dan getir.
Usianya masih muda.
Seorang pemuda paling tidak suka diremehkan, dihina apalagi direndahkan, hal itu bisa dirasakan, lebih baik mati daripada hidup tidak terpandang.
Hong Si-nio bertanya lagi.
"Apakah Congcu memelihara anjing?"
"Dua kali aku bertemu dia, dua kali aku melihat dia membawa anjing."
"Anjingnya jenis apa?"
"Anjing itu kecil saja, tampangnya tidak galak, kelihatan Congcu amat menyayangi, beberapa kali bicara selalu menunduk mengelus kepala anjingnya."
Seorang yang menjadi pemimpin besar organisasi yang punya anggota banyak dan tersebar luas di seluruh pelosok negeri, jago silat lihai yang banyak membunuh dan berbuat kejahatan di Kang-ouw, ternyata seorang yang gemar memelihara anjing.
Hong Si-nio menghela napas.
Mungkin hati manusia paling susah dipahami dibanding segala urusan tetekbengek yang pernah terjadi di dunia.
Kini ia bertanya pada titik persoalan yang paling penting.
"Siapakah dia sebenarnya?"
Setelah melontarkan pertanyaan, jantungnya mendadak berdetak keras.
"Tidak tahu."
Jawaban Toh Lin ini sungguh membuatnya amat kecewa. Meski rasa hatinya amat penasaran, namun ia belum putus asa.
"Tadi kau bilang pernah melihatnya, memangnya bagaimana bentuk wajah dan perawakannya kau tidak melihatnya?"
"Aku tidak bisa melihatnya."
Hong Si-nio menghela napas, katanya dengan tertawa getir.
"Kau sudah menjadi anggota Thian Cong, apakah waktu dia menerima dirimu mengenakan kedok?"
"Bukan hanya mengenakan kedok, jari-jari tangannya memakai sarung tangan yang terbuat dari kulit ikan hiu."
"Kenapa tangannya pun tak boleh dilihat orang? Apakah karena dia orang luar biasa?"
"Dia memang orang luar biasa dan aneh, gayanya waktu berjalan, sikapnya waktu bicara kelihatan berbeda dengan manusia umumnya."
"Dalam hal apa tidak sama?"
"Tidak bisa kujelaskan, tapi dimana dan kapan pun aku melihatnya, aku pasti dapat mengenalinya."
Menyala bola mata Hong Si-nio, tanyanya segera.
"Kau pernah melihat atau bertemu dengan Lian Shia-pik?"
"Aku pernah melihatnya."
"Apakah dia Lian Shia-pik?"
"Pasti bukan."
"Muka atau perawakannya saja kau tidak pernah melihatnya, cara bagaimana kau berani memastikan kalau dia bukan Lian Shia-pik?"
"Dia seorang yang kurus kecil, Lian Shia-pik bukan laki-laki gede, dibanding dia perawakannya jauh lebih tinggi, dalam hal ini dia tidak mungkin berpura-pura."
Mulut Hong Si-nio serasa dibungkam, namun hatinya penasaran, teori yang dianggapnya pas, tak mungkin dipecahkan, mendadak seluruhnya batal, betpapun hatinya amat jengkel, namun ia harus menelan penasaran.
Wajah Toh Lin kini sudah memerah lebih segar, napasnya sudah biasa, kadang terbatuk beberapa kali, kalau belati tidak menancap di dadanya, orang takkan tahu kalau dia seorang yang luka parah, terutama sorot matanya, tidak mirip orang sakit.
Karena bola matanya sekarang juga menyala, rasanya lebih terang dibanding keadaan biasa, karena dia sedang mengawasi Hong Si-nio.
Hong Si-nio mengunjuk tawa, meski dipaksakan, katanya lembut.
"Apapun yang terjadi, lukamu tidak terlalu parah, setelah makan obat, lekas sekali pasti sembuh."
Toh Lin memanggut, wajahnya mengulum senyum senang.
"Kuharap demikian."
Usianya masih muda, tidak irigin mati selekas ini, sekarang terasa kematian makin menjauh, timbul sinar harapan untuk mempertahankan hidup.
Dengan nanar ia mengawasi Hong Si-nio, mukanya makin merah, mendadak ia berkata.
"Kalau setelah ini aku masih bisa bertahan hidup, setelah lukaku sembuh, kau masih memerlukan tenagaku sebagai pendampingmu tidak?"
"Tentu aku butuh bantuanmu."
Beberapa kali bibirnya bergerak, akhirnya ia memberanikan diri berkata.
"Mau tidak aku menjadi pendampingmu untuk selamanya?"
Hong Si-nio manggut-manggut, hatinya pilu seperti ditusuk sembilu, jelas ia maklum isi hati pemuda ini terhadap dirinya.
Dengan mempertaruhkan jiwa, orang berusaha menolong dirinya, kecuali tidak ingin diremehkan dan direndahkan oleh pihak Thian Cong, yang terpenting mungkin karena ia jatuh hati terhadap dirinya.
Kenapa bisa timbul rasa cinta terhadapnya?
Siapa pun tak bisa menjelaskan.
Perasaan manusia, memangnya siapa bisa menyelaminya?
Air mata Hong Si-nio belum meleleh karena ia terus berusaha mempertahankannya, bukan lantaran nasib pemuda ini ia merasa sedih dan pilu, dia sedih karena dirinya sendiri, sadar bahwa selama ini ia bersikap kurang kompromi terhadap pemuda ini, bahwasanya boleh dikata tidak ambil di hati, tidak ada perhatian sama sekali, tapi pemuda ini rela berkorban demi membela dirinya.
Bagaimana dengan Siau Cap-it Long.
Demi Siau Cap-it Long pengorbanan apa yang tidak pernah ia lakukan, sekarang apa pula yang dia peroleh.
Cinta memang tidak bisa dipaksakan, juga tidak bisa ditukar, cinta memangnya pengorbanan tanpa syarat.
Hong Si-nio paham akan pengertian ini, melihat bagaimana perasaan Toh Lin terhadap dirinya, kini ia paham lebih banyak, punya pengertian lebih mendalam.
Satu hal yang ia tidak mengerti, kenapa nasib selalu mempermainkan orang?
Ada kalanya memaksa seorang untuk mencintai seorang yang tidak patut ia cintai?
Toh Lin termasuk seorang yang dipermainkan oleh nasib, patut dikasihani.
Memangnya dirinya tidak merasakan punya nasib yang sama?
Untung Toh Lin tidak bisa melihat jalan pikirannya, dengan tersenyum tenteram memejam, kelihatan amat puas dan tenteram.
"Kita bertemu belum lama, aku tahu kau takkan menaruh diriku dalam hati, tapi kelak ...."
Senyumannya makin mekar.
"Kelak hari masih panjang, masih panjang ...."
Suaranya makin lirih, makin lemas akhirnya ia sendiri tidak bisa mendengarnya.
Kini roman mukanya berubah amat cepat, dari merah berubah pucat pias, namun senyum masih menghias wajahnya.
Bagaimanapun akhirnya dia meninggal sambil tersenyum.
Berapa banyak orang bisa tersenyum setenteram dia waktu meninggal dunia?
XX.
MIMPI HILANG CINTA PUN LENYAP Matahari memancarkan cahayanya yang cemerlang.
Hong Si-nio berjalan di bawah terik matahari, air matanya Sudan kering.
Dia bersumpah sejak kini takkan mengucurkan air mata.
Sekarang seluruh analisa dan teorinya sudah tumbang, tapi ia bersumpah akan menggusur 'orang itu', membongkar muslihatnya.
Kini ia sudah tahu, 'orang itu' adalah seorang yang suka memelihara anjing.
Seekor anjing berlari-lari kecil menyusuri jalan raya di bawah bayang-bayang payon rumah, langkahnya gontai seperti kehausan.
Entah kenapa Hong Si-nio membuntuti anjing itu.
Jelas ia mengerti, anjing ini pasti bukan anjing yang dipelihara 'orang itu', tapi ia kehabisan akal, tak tahu kemana harus berjalan, kemana pergi mencari berita supaya bisa menemukan 'orang itu', apalagi bisa menemukan Siau Cap-it Long.
Anehnya, makin terik sinar marahari, orang yang berjalan di bawah cahaya matahari akan lebih cepat merasa lelah.
Kini Hong Si-nio tidak mabuk lagi, setelah pengalaman sehari semalam itu, sekarang justru saat ia merasa paling penat.
Ingin tidur tak bisa tidur, dengan mata terbelalak ia rebah di ranjang, ingin tidur tidak bisa tidur, rasanya sudah sering ia alami.
Sebatangkara, kesepian, tidak bisa tidur, resah dan sebal ...
semua itu adalah perasaan orang yang susah ditahan, tapi seorang gelandangan, orang yang biasa keluyuran di luar, derita seperti itu sudah layak dirasakan.
Memangnya sampai kapan mempertahankannya?
Sampai kapan baru bisa tenteram?
Hong Si-nio tidak berani memikirkan.
Suami yang pengertian, anak yang patuh, keluarga bahagia, kehidupan nan tentram....
Semua itu adalah dambaan setiap perempuan, dahulu ia pernah membayangkannya, tapi sekarang sudah lama ia tidak pernah mengharapkannya lagi, sebab ia merasakan semua dambaan itu seiring bertambahnya usia, jarak itu makin jauh dan jauh ....
Jalan panjang ini makin lebar, tapi orang yang berlalu lalang makin jarang, tanpa terasa langkah Hong Si-nio menjurus keluar dari keramaian, terus menuju keluar kota, di jalanan yang sepi di depan sana terdapat sebuah hotel kecil, pintunya kecil, temboknya rendah, di pekarangan dalam ditaruh beberapa pot bunga seruni yang lagi mekar, penataannya mirip keluarga kecil dari kalangan kelas rendah.
Kalau di depan pintu tidak ditempel papan yang dicat beberapa huruf merah, hakikatnya tempat ini tidak mirip sebuah hotel.
Hotel yang tidak mirip hotel, betapapun tetap hotel, apalagi bagi seorang petualang yang tidak punya rumah, bolehlah dianggap sebagai penenteram hati yang lagi merana.
Maka Hong Si-nio beranjak masuk, ia minta sebuah bilik yang dirasa nyaman dan tenteram.
Sungguh ia perlu tidur barang sejenak.
Kebetulan di luar jendela tumbuh sepucuk pohon cukup besar yang mengalingi sorot matahari.
Rebah di ranjang, mengawasi bayang-bayang daun pepohonan yang bergontai, hatinya terasa kosong dan hampa, sepertinya banyak persoalan harus dipikir, namun tiada satu pun yang bisa ia ingat.
Angin berhembus ringan, rasa sejuk berhembus masuk lewat jendela yang terbuka.
Tempat ini sungguh tenang, kelopak matanya terasa makin berat, akhirnya layap-layap ia mulai terbuai dan hampir tidur.
Apa boleh buat, di kala rasa kantuk sudah membuai pikirannya, mendadak dari kamar sebelah ia mendengar seorang sedang menangis.
Tangisnya begitu sedih, suaranya rendah lagi lirih, namun Hong Si-nio dapat mendengarnya dengan jelas.
Tembok di sini kurang tebal, keadaan di sini memang teramat sunyi.
Hong Si-nio membalik badan, pikirnya ingin tidur saja, namun isak tangis itu didengarnya makin jelas.
Itulah isak tangis seorang perempuan.
Memangnya hati sedang dirundung persoalan apa?
Seorang diri kenapa bersembunyi di sini untuk melampiaskan duka lara?
Mestinya Hong Si-nio tidak ingin mencampuri urusan orang lain, urusan sendiri cukup membuatnya resah.
Mungkin karena terlalu banyak urusan, hati resah pikiran buntu, maka begitu tahu orang lain juga sedih dan lara, rasa simpati timbul dalam sanubarinya.
Tak tahan akhirnya ia melompat bangun, setelah mengenakan sepatu ia membuka pintu beranjak ke kamar sebelah.
Pohon di pekarangan memang cukup rindang, suasana di sini nyaman, daun pintu kamar sebelah tertutup rapat.
Sesaat ia ragu, isak tangis belum berhenti, akhirnya ia beranjak maju lalu mengetuk pintu perlahan.
Cukup lama, dari dalam ada suara orang menegur.
"Siapa di luar?"
Suara orang seperti amat dikenalnya. Jantung Hong Si-nio bertambah cepat, dengan keras ia mendorong daun pintu, segera ia berteriak kaget.
"Kau?"
Perempuan yang diam-diam bersembunyi di kamar dan berisak tangis itu ternyata bukan lain adalah Sim Bik-kun.
* * * * * Di meja ada arak.
Sepertinya Sim Bik-kun sempat mabuk.
Ada orang setelah mabuk suka tertawa, tertawa dan tertawa, ada juga setelah mabuk suka menangis, menangis dan menangis terus.
Melihat Hong Si-nio, bukan saja tidak menghentikan tangisnya, tangis Sim Bik-kun malah lebih keras, lebih sedih.
Hong Si-nio berdiri diam, mengawasi orang menangis.
Dia juga seorang perempuan, ia tahu bila seorang sedang menangis, siapa pun takkan bisa membujuknya, makin dibujuk tangisnya makin sedih, tangisnya bisa menjadi-jadi.
Kadang 'menangis' mirip orang minum arak.
Seorang boleh menangis, seorang juga boleh minum arak.
Tapi di kala minum arak, kalau ada seorang lain berdiri di samping mengawasi kau minum, selera minummu pasti hilang, arak takkan bisa masuk perut lagi.
Demikian halnya dengan menangis.
Karena diawasi Hong Si-nio, mendadak Sim Bik-kun berjingkrak, dengan bola matanya yang merah karena lama menangis menatap Hong Si-nio, serunya.
"Untuk apa kau kemari?"
"Aku juga ingin tanya, untuk apa kau ke tempat ini?"
Tanya Hong Si-nio, lalu menarik kursi dan duduk.
"Bagaimana kau bisa berada di tempat ini?"
"Kenapa aku tidak boleh ke tempat ini?"
Bukan saja lagi sedih, ternyata emosinya juga terbakar. Biasanya ia tidak pernah bersikap sekasar ini. Hong Si-nio malah tertawa.
"Tentu kau boleh ke tempat ini. Tapi bukankah kau sudah pulang?"
"Pulang kemana?"
"Pek-ma-san-ceng."
"Pek-ma-san-ceng bukan rumahku,"
Air mata Sim Bik-kun hampir menetes lagi.
"Kemarin malam aku ke Pek-ma-san-ceng, kau ada di sana?"
"Ada."
"Lha, kenapa seorang diri kau keluyuran di sini?"
"Aku senang,"
Bantah Sim Bik-kun sambil menggigit bibir.
"aku senang keluar, kenapa tidak boleh keluar?"
"Dari tampangmu, kelihatan kau tidak senang,"
Hong Si-nio tidak memberi kelonggaran.
"Sebetulnya lantaran apa kau lari dari rumah?"
Sim Bik-kun tak bisa menjawab.
Arak masih ada di meja, mendadak ia meraih poci arak lalu dituang ke dalam mulut.
Dia ingin mabuk, setelah mabuk baru bisa melupakan segala persoalan, bisa menolak pertanyaan yang tidak ingin dijawab.
Sayang poci itu sudah kosong, sisanya masih beberapa tetes, mirip derai air matanya.
Arak yang getir, segetir hatinya, sisa arak itu akhirnya bakal kering.
Bagaimana dengan air mata?
"Pyaarrr", poci itu jatuh di lantai dan pecah berantakan.
Hati Sim Bik-kun rasanya lebih hancur dibanding poci arak, sebab bukan hanya hatinya yang hancur, mimpinya juga telah lebur.
Hong Si-nio diam mengawasinya.
Nasib kenapa menyiksanya sedemikian rupa?
Sekarang dia sudah berubah total, kenapa nasib masih juga menyiksanya?
Akhirnya Hong Si-nio menghela napas ringan.
"Tak peduli karena apa, rasanya tak perlu kau lari dari rumah."
Mengawasi pecahan poci di lantai, bola matanya yang semula indah berubah kosong.
"Tidak pantas?"
Hong Si-nio bersuara dalam mulut. Sim Bik-kun tertawa dingin.
"Kemarin kau masih memaksaku, menyuruh aku pergi."
"Kemarin malam? Mungkin aku yang salah."
"Sejak kapan kau pernah merasa bersalah?"
Hong Si-nio menunduk.
"Aku yang salah, karena aku tidak pernah memikirkan dirimu."
Yang dia pikir hanya seorang.
Semua yang ia lakukan hanya untuk menyenangkan dia, supaya dia bahagia.
Demi dia, ia rela mengorbankan segalanya.
Tapi bagaimana dengan orang lain?
Kenapa orang lain rela berkorban demi dirinya?
Bukankah orang itu punya hak untuk mempertahankan hidup?
Dengan lirih Hong Si-nio berkata.
"Deritamu sudah cukup berat, pengorbananmu jauh lebih banyak."
Baru sekarang ia sadar, dia tidak punya hak memaksa orang lain menerima derita, kebahagiaan orang ia bangun di atas penderitaan orang lain.
"Sekarang kau harus memikirkan dirimu sendiri untuk bertahan hidup beberapa hari lagi, rasakan kehidupan yang bahagia. Kau berbeda dengan aku, kalau keluyuran terus di luar, hidupmu jelas akan runtuh."
Inilah curahan tulus dari hati yang paling dalam.
Terhadap perempuan yang cantik bagai kembang, bernasib setipis kertas, ia benar-benar merasa simpati dan kasihan.
Tapi satu hal ia lupa, kasihan itu kadang dipandang sebagai hinaan, seperti sindiran yang tajam, lebih gampang melukai perasaan orang.
Mestinya Sim Bik-kun sudah mempertahankan air matanya, mendadak bercucuran lagi, dengan kencang ia genggam kedua tangan, lama kemudian baru bertanya perlahan.
"Menurutmu aku harus bagaimana?"
"Kurasa kau harus pulang."
"Pulang? Pulang kemana? Jelas kau tahu aku sudah tidak punya rumah."
"Rumah dibangun orang, sejauh kau masih punya orang, kau masih bisa membangun kembali rumahmu."
"Orang? ... Aku masih punya orang?"
"Selama ini kau masih punya."
"Lian Shia-pik maksudmu."
Hong Si-nio memanggut, katanya dengan tertawa getir.
"Selama ini aku salah menilainya, dia bukan orang yang kuduga semula, bila kau mau kembali ke sampingnya, dia pasti akan menerima dan bersikap baik kepadamu, kalian masih bisa membangun mahligai keluarga."
Sim Bik-kun mendengarkan, mendengar sampai terpesona. Di dunia ini mana ada perempuan yang mau sepanjang hidup keluyuran di luar. Apakah dia sudah terbujuk? "Bila kau rela,"
Kata Hong Si-nio lebih jauh.
"kapan saja boleh kuantar kau pulang, aku malah rela memohon maaf kepadanya."
Kali ini ia bicara jujur, bicara dari hati yang paling dalam.
Sejauh Sim Bik-kun dapat meraih kebahagiaan, apapun yang harus ia lakukan, ia rela dan senang hati melakukan.
Mendadak Sim Bik-kun malah tertawa berderai.
Tawanya makin keras terkial-kial.
Hong Si-nio melenggong.
Tak pernah terbayang reaksi Sim Bik-kun bisa segila ini.
Sungguh ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Mendadak derai tawa Sim Bik-kun berubah menjadi jerit tangis, bukan tangis terisak seperti biasanya, tapi tangis tergerung-gerung yang menyayat hati.
Mirip anak kecil yang kaget dan menangis ketakutan.
Tangisnya itu jelas tidak normal, tangis seperti ini lebih mendekati histeris, kalau didiamkan bisa menjadi gila.
Hong Si-nio mengertak gigi, mendadak ia melayangkan tangan dan "Plak", dengan keras ia gampar muka Sim Bik-kun.
Mendadak Sim Bik-kun menghentikan tangisnya.
Tidak hanya tangisnya berhenti, napas, aliran darah dan pikirannya seperti berhenti.
Sekujur badannya mengejang kaku, berdiri mematung seperti boneka.
Hong Si-nio justru mengucurkan air mata.
"Kenapa kau begini? Apa aku salah omong?"
Sim Bik-kun tetap tidak bergeming, sorot matanya kosong hampa, seperti menatapnya, seperti memandang jauh ke depan.
"Mungkin aku salah omong, aku ...."
"Kau tidak salah,"
Teriak Sim Bik-kun.
"dia memang bukan Congcu dari Thian Cong, tapi aku lebih rela dia betul adalah Thian Cong."
"Kenapa?"
Seru Hong Si-nio tertegun.
"Sebab seorang Thian Cong, paling tidak adalah manusia."
"Memangnya dia bukan manusia?"
Karena menahan rasa sedih, muka Sim Bik-kun tampak mengkeret.
"Selama ini aku anggap dia manusia, peduli dia baik atau buruk, tetap orang yang dihormati, siapa tahu ternyata dia tidak lebih hanya seorang budak."
"Budak? Budak siapa?"
"Budak Thian Sun."
"Thian Sun?"
"Siau-yau-hou adalah Thian-ci-cu, ahli warisnya tentu adalah Thian Sun."
"Walau Lian Shia-pik bukan Thian Sun, tapi budak Thian Sun?"
Hong Si-nio lebih kaget, di luar dugaan, maka ia bertanya lagi.
"Darimana kau tahu semua ini?"
"Sebab ... sebab sebagai isterinya, semalam aku tidur di kamarnya,"
Cerita ini mirip cemeti, begitu ia bercerita berarti cemeti itu menghajar sekujur badannya.
Perasaan ini bukan hanya penderitaan, tapi juga kepedihan, kekecewaan ....
Hong Si-nio maklum akan pergulatan perasaan ini.
Dia tidak bertanya lebih lanjut, ia yakin Sim Bik-kun akan membeberkan cerita panjang yang mengejutkan.
"Dia menyangka aku sudah tidur, dia kira aku menghabiskan secawan obat yang dia berikan kepadaku."
"Kau tahu kalau itu obat bius?"
"Aku tidak tahu, tapi seteguk pun aku tidak meminumnya."
"Kenapa?"
"Aku tidak tahu kenapa, yang pasti aku tidak suka minum obat, obat apapun aku tidak mau minum."
Hong Si-nio mengangguk.
Karena dia mengerti, seorang kalau sudah putus asa, maka ia akan berusaha menyiksa diri sendiri, mana mungkin dia mau minum obat.
Banyak persoalan di dunia ini, kadang kelihatan kebetulan, padahal kalau diperiksa dengan seksama, akan ditemukan semua itu karena 'karma'.
Entah 'sebab' apa yang ditanam, akan menerima 'akibat' yang nyata.
Kalau paham akan pengertian ini, kelak bila ingin menanam tentu akan memilih 'bibit' yang baik.
Sim Bik-kun berkata.
"Dia tentu tak tahu kalau diam-diam aku membuang obatnya itu."
"Ya, pasti tidak menduga, karena selama menjadi suami isteri kau tidak pernah berbohong padanya."
Itulah salah satu sebab.
"Waktu dia masuk kamar, sebenarnya aku belum tidur."
"Tapi kau pura-pura sudah lelap"
"Karena aku tidak ingin bicara dengan dia."
Inipun salah satu sebab.
"Dia tidak mengganggumu?"
Sim Bik-kun menggeleng kepala.
"Dia hanya berdiri di pinggir ranjang mengawasiku, lama dia menjublek di tempatnya, walau aku tidak berani membuka mata, namun aku rasakan keadaannya amat aneh."
"Aneh?"
"Waktu dia mengawasiku, aku merasa sekujur badanku makin dingin."
"Selanjutnya?"
"Kelihatannya aku memang sudah tidur, padahal hatiku memikirkan banyak persoalan ...."
Yang dia pikir waktu itu bukan Siau Cap-it Long.
Selama dua tahun belakangan ini, bayangan Siau Cap-it Long hampir mempengaruhi seluruh jiwa raga, seluruh jalan pikirannya.
Tapi kala itu yang dia pikir justru adalah Lian Shia-pik.
Sebab Lian Shia-pik kini berada di depan ranjangnya, sebab antara dirinya dengan Lian Shia-pik masih meninggalkan kenangan manis madu, kenangan asyikmasyuk.
Betapapun Lian Shia-pik adalah pria pertamanya.
Terbayang akan malam pertama dahulu, malam itu ia pun pura-pura tidur di ranjang, dia juga berdiri di ranjang seperti malam ini, mengawasinya, selama itu tak pernah menyentuh, meraba atau memanggilnya, secara diam-diam menutup selimut di badannya.
Betapa tegang dan rasa malu dirinya kala itu, sampai sekarang, kalau dibayangkan, akan mengundang rasa tegang, jantung berdetak lebih kencang.
Sepanjang mereka hidup bersama, belum pernah dia berbuat kasar, bicara keras, apalagi membentaknya.
Sejak awal sampai terakhir mereka berpisah, dia tetap adalah suami teladan, suami pengertian yang lemah lembut.
Membayangkan sampai di sini, hampir tak tahan dia akan membuka mata, lalu menikmati malam pertama yang ....
Pada saat itulah, mendadak ia mendengar suara seorang bertepuk sekali di luar jendela.
Lian Shia-pik segera beranjak ke sana, membuka daun jendela, dengan menekan suara berkata.
"Kau terlambat, lekas masuk."
Orang di luar jendela tertawa ringan, katanya menggoda.
"Malam pertama pengantin baru, kau tidak kuatir aku mengganggu kalian?"
Mendengar suara orang ini, sekujur badan Sim Bik-kun mendadak mengejang dingin.
Itulah suara Hoa Ji-giok.
Ia kenal betul suara itu.
Mimpi pun tak pernah terbayang dalam benaknya, Hoa Jigiok datang menemui Lian Shia-pik.
Bagaimana mungkin mereka punya hubungan?
Sim Bik-kun berusaha mengendalikan diri, memusatkan perhatian mendengar percakapan mereka.
Lian Shia-pik berkata.
"Aku tahu kau akan datang. Maka kucari akal membuatnya tidur."
"Dia tidak akan terjaga?"
"Tidak mungkin, obat yang kuberikan cukup membuatnya pulas sampai pagi."
Hoa Ji-giok sudah melompat masuk lewat jendela, katanya dengan cekikikan geli.
"Jerih payahmu tidak ringan untuk mengajaknya balik, sekarang malah membuatnya tidur, apa tidak menyia-nyiakan malam yang indah ini?"
"Aku tidak pergi mencarinya, dia sendiri yang pulang."
"Tak heran orang bilang kau ini punya peran yang lihai, bukan hanya orangnya pulang, hatinya pun kembali kau genggam."
"Kalau aku hanya menginginkan orangnya pulang, buat apa aku berjerih-payah."
Mendengar percakapan mereka, sekujur badan Sim Bik-kun terasa dingin kaku, hati pun seperti tenggelam ke dasar jurang.
"Dalam hal ini kau telah melakukan perbuatan terbaik, maka Thian Sun ingin bicara langsung dengan engkau."
"Kapan?"
"Waktu padang rembulan."
"Dimana?"
"Cui-gwat-lo di Se-ouw."
"Aku pasti datang tepat waktu."
"Besok pagi kau harus sudah berangkat, pergi bersamaku, kita pergi dulu ke Jiu-hoa-tong menunggunya."
"Boleh."
"Kau tega meninggalkan dia seorang di sini?"
"Dia sudah mau pulang sendiri, yakin tidak akan pergi lagi."
"Kau yakin?"
"Sebab aku tahu, tiada tempat lain dimana dia bisa pergi."
Hoa Ji-giok cekikikan geli.
"Kau memang serba pintar ...."
Itulah percakapan dua orang yang didengar Sim Bik-kun semalam.
Sampai sekarang, sorot matanya masih diliputi rasa sedih dan derita.
Hong Si-nio maklum akan kepedihannya.
Siapa pun orangnya, setelah sadar dirinya dibohongi, dirinya dijual oleh suami sendiri, hatinya jelas takkan merasa senang.
Dengan berlinang air mata, Sim Bik-kun melanjutkan.
"Kali ini sebetulnya aku bertekad tidak akan meninggalkan dia lagi, aku ... sesungguhnya tiada tempat kemana aku bisa pergi. Tapi setelah mendengar percakapan mereka, sehari tinggal lebih lama di sana sudah tidak betah lagi, kalau bertahan di sana, mungkin aku bisa gila dibuatnya."
"Maka begitu dia pergi, kau pun minggat dari sana."
Sim Bik-kun manggut-manggut.
Bukan hanya tiada tempat kemana dia bisa pergi, malah seorang famili, seorang teman pun ia tidak punya.
Maka secara diam-diam ia berlari dan bersembunyi di hotel kecil ini, diam-diam menghabiskan air matanya.
Arak getir masuk perut berubah menjadi air mata.
Mengawasi orang, tiba-tiba Hong Si-nio tertawa, katanya lembut.
"Sekarang aku ingat satu hal."
"Hal apa?"
Tak tahan Sim Bik-kun bertanya.
"Sepertinya kau dan aku belum pernah minum arak bersama."
"Ya, belum pernah."
"Apa salahnya hari ini kita minum bersama sampai mabuk?"
Tak menunggu reaksi Sim Bik-kun, mendadak ia berlari keluar seraya berteriak.
"Ambilkan arak, botol besar ukuran 20 kati."
Betapapun baik kwalitas arak, dalam kondisi mereka sekarang, tetap menjadi arak getir.
Demikian dalam angan-angan Sim Bik-kun, kehidupan ini memangnya mirip secawan arak getir.
Hong Si-nio sudah menghabiskan dua cawan arak, cawan besar.
Tapi cawan Sim Bik-kun masih penuh, setetes pun belum dimium.
"Kau tidak minum?"
"Aku tidak ingin mabuk."
Hong Si-nio mengkerut alis.
"Kapan hidup ini pernah mabuk, kenapa kau tidak ingin mabuk?"
"Sebab aku sudah mengerti maksudmu."
"Aku punya maksud apa?"
"Kau ingin melolohku minum sampai mabuk, lalu meninggalkan aku di sini, kau sendiri akan pergi ke Seouw."
Hong Si-nio menyengir lebar, tawanya kecut.
"Aku tahu kau pasti akan menyusul Lian Shia-pik, pergi mencari Thian Sun, kesempatan baik kali ini takkan kau sia-siakan,"
Hong Si-nio tertawa getir.
"Awalnya kau bukan orang yang suka curiga, kenapa sekarang berubah?"
"Karena aku dipaksa harus berubah."
"Memangnya kau juga ingin mencari mereka?"
"Memangnya aku tidak boleh pergi?"
"Kau tidak boleh."
"Kenapa?"
"Karena bila kedatangan kita diketahui mereka, jangan harap kau bisa hidup lagi."
"Maka kau melarang aku pergi?"
"Sebab kau tidak perlu berkorban lagi."
"Tapi kau boleh pergi, kau siap mati."
Sejenak Hong Si-nio diam, lalu bertanya.
"Tahukah kau, aku ini orang macam apa?"
"Bukan saja cantik rupawan, cerdik pandai, jiwamu lapang dada, terbuka, setua ini usiamu, hidupmu lebih senang, lebih gembira dibanding orang lain, jauh lebih bahagia dibanding aku."
Hong Si-nio tertawa lagi, tawanya membayangkan betapa kosong hatinya, betapa sedih dan merana. Cukup lama baru membuka suara.
"Aku ini anak sebatang-kara, sejak kecil tidak punya rumah tiada keluarga tanpa famili, anak lain masih mengompol di pelukan ibunya, aku sudah terlunta-lunta di jalanan, kehangatan keluarga hakikatnya tidak pernah aku rasakan barang sehari saja.
"Waktu usiaku belasan tahun, aku sudah pandai naik kuda yang berlari paling kencang, minum arak paling keras, meski dari kwalitas paling rendah, bermain golok yang paling cepat, berpakaian baju paling baru dan bagus, berkenalan dengan teman yang punya kuasa.
"Sebab aku mengerti, perempuan macamku ini, kalau mau berkecimpung di Kangouw, maka harus banyak belajar cara bagaimana melindungi diri sendiri, sedikit meleng atau kendor kewaspadaan, mungkin sudah lama aku 'dimakan' oleh orang, sisa tulang pun susah dicari lagi."
"Banyak orang menganggap aku hidup senang, karena aku sudah belajar menelan air mata ke dalam perut.
"Tahun ini usiaku sudah tiga puluh lima, masih seperti dua puluh tahun lalu, tiada rumah, tanpa famili, tiap datang tahun baru, seorang diri diam-diam aku menyembunyikan diri.
"Sebab tidak kubiarkan orang lain tahu, melihat aku mengucurkan air mata."
Sampai di sini ia mengangkat kepala, menatap Sim Bik-kun.
"Kau juga perempuan, kau tahu apa yang diharapkan, didambakan seorang wanita."
Sim Bik-kun menundukkan kepala.
"Keluarga bahagia, anak yang patuh, suami yang pengertian, kehidupan nan tentram ... semua itu adalah harapan dan dambaan setiap perempuan, sebab yang mereka inginkan bukan impian muluk, bukan barang mewah, tapi kebutuhan tiap keluarga."
"Satu pun aku tidak punya apa-apa."
Hong Si-nio menggengam tangan Sim Bik-kun.
"Coba kau pikir, perempuan seperti aku ini, apa alasanku untuk mempertahankan hidup?"
Sim Bik-kun tertawa, sama-sama terawa getir.
"Dan aku? Apa alasanku mempertahankan hidup?"
"Paling tidak ada satu alasan."
"Siau Cap-it Long?"
Hong Si-nio manggut.
"Paling tidak, ada orang yang mencintaimu dan kau juga mencintainya."
Berdasar alasan ini, cukup bagi seorang perempuan untuk mempertahankan hidup.
"Maka kau tidak boleh mati, kau tidak boleh pergi."
Hong Si-nio berdiri.
"Bila bertemu dia, pasti kusuruh dia ke tempat ini mencarimu."
"Kau kira aku akan menunggunya di sini?"
"Kau harus menunggunya di sini."
"Kalau kau menjadi aku, kau mau menunggu?"
"Kalau ada seorang yang kucintai dan mencintaiku, berapa lama aku harus menunggu, aku akan selalu menunggunya."
Mengawasi mata orang yang berlinang air mata, Sim Bik-kun mendelu dibuatnya.
"Kalau begitu, yang harus menunggu dia di sini adalah kau, bukan aku."
Kata-katanya sungguh mirip sebatang cemeti.
Hong Si-nio merasakan sekujur badannya mengejang, cemeti ini tepat menghujam ke hulu hatinya, tempat yang paling lemah di tubuhnya.
Sim Bik-kun berkata kalem.
"Sekarang aku bukan lagi perempuan yang lemah, perempuan yang tidak tahu apa-apa, maka banyak persoalan yang kau anggap aku tidak bisa mengerti, semua sudah kupahami."
"Kau ...."
Teriak Hong Si-nio. Sim Bik-kun menukas ucapannya.
"Maka kalau aku punya alasan untuk hidup, demikian pula engkau, kau boleh pergi menyerempet bahaya, kenapa aku tidak?"
Ucapannya bernada tegas penuh tekad, meski bernada sedih.
"Kelahiranmu berbeda dengan kelahiranku, tapi sekarang, nasibmu sama dengan nasibku, kenapa kau menyangkal akan hal ini?"
Dengan tajam ia mengawasi Hong Si-nio, sorot matanya penuh pengertian dan simpati.
Hong Si-nio juga tengah mengawasinya.
Mereka berdua saling tatap, saling pandang ...
dua cewek yang pasti berbeda, seperti dibelenggu oleh tambang yang sama ....
Apakah nasib itu?
Bukankah nasib merupakan sebuah rantai gembok yang tidak kelihatan.
Apakah kasih?
Apakah simpati?
Ya, mirip sebuah rantai gembok yang tidak kelihatan.
XXI.
PERAN SI TUKANG PERAHU Kota Hang-ciu Setelah keluar dari kota Yong-kim-bun, melewati Lam-ping-am-ciong, perahu terus didayung menuju ke Sam-tham-ing-gwat, waktu mereka tiba di Se-ling-kio, hari sudah mendekati senja.
Riak lembut di permukaan danau membayangi kemilau cahaya senja, dipandang dari kejauhan bagai kemilau permata bertaburan.
Seorang nelayan dengan topi hitam menutupi separoh wajah, tengah berjongkok di ujung jembatan menjulurkan joran memancing ikan.
Dari perahu pesiar di kejauhan sana, berkumandang alunan nyanyian merdu yang mengasyikan.
"Kau pernah ke sini?"
Tanya Hong Si-nio. Sim Bik-kun mengangguk, bola matanya indah, membayangkan selintas kenangan nan sendu. Dulu bukankah dia pesiar di danau ini bersama Lian Shia-pik.
"Kau tahu dimana letak Cui-gwat-lo?"
Sim Bik-kun menggeleng kepala.
Pemilik perahu yang mereka tumpangi adalah ibu beranak yang juga menjadi tukang perahu, sang putri tampak serba kasar dan kuat, rambut tak tersisir, pakaian pun carut-marut, namun masih nampak gerakgeriknya yang gemulai.
Mendadak ia mengulur tangan menunjuk ke depan.
"Bukankah Cui-gwat-lo ada di sana?"
Yang ditunjuk adalah sebuah perahu pesiar yang berada jauh di tengah danau.
"Apakah Cui-gwat-lo adalah perahu pesiar itu?"
Tanya Hong Si-nio. Giliran tukang perahu menjawab.
"Di danau ini ada tiga buah perahu pesiar paling besar, yang pertama bernama Put-kik-wan, yang kedua bernama Su-hoat-hong dan yang ketiga adalah Cui-gwat-lo."
"Berapa besar perahu pesiar itu,"
Tanya Hong Si-nio.
"Wah, besar sekali,"
Sahut tukang perahu atau sang ibu.
"di atas perahu sekaligus bisa disiapkan belasan meja perjamuan."
Setelah menarik napas dengan nada kepincut ia meneruskan menutur.
"Entah kapan aku bisa memiliki perahu pesiar seperti itu, tidak sia-sia seumur hidup aku bekerja sebagai tukang perahu."
Ia mengawasi sepasang jari tangannya, tangan perempuan umumnya halus runcing, tangannya justru kasar berkulit tebal.
Maklum perempuan yang mencari nafkah di atas air, mereka bekerja tak kenal lelah, tidak ringan tak kenal berat, sepanjang hari bekerja, namun hasilnya tidak cukup untuk hidup satu hari, betapa lara dan rudin hidup mereka dapatlah dibayangkan.
Mengawasi tangan orang, mendadak Sim Bik-kun bertanya.
"Biasanya sehari kalian bisa dapat berapa duit?"
Tukang perahu menyengir getir.
"Mana bisa tiap hari dapat duit, umpama ada penumpang yang naik perahu, paling dapat upah belasan keping uang tembaga, memang di musim semi lebih mending ...."
Bicara tentang musim semi, matanya tampak bersinar.
Musim semi adalah hari-hari panjang yang diharapkan tiap nelayan di danau ini.
Padahal saat itu pertengahan musim rontok.
Mendadak Sim Bik-kun tertawa lebar.
"Apa kalian tidak ingin pesiar ke kota barang beberapa hari? Kecuali ongkos perahu ini, nanti kutambah lima tahil perak?" * * * * * Setelah magrib. Di perahu itu tinggal dua orang tukang perahu, yaitu seorang ibu dan seorang putrinya. Lalu Hong Si-nio dan Sim Bik-kun kemana? Bukankah mereka tadi menumpang perahu ini? Sim Bik-kun sekarang adalah seorang ibu. Seorang ibu biasanya jarang menarik perhatian orang, ia tidak suka ada orang mengenali dirinya. Maka Hong Si-nio pun menjadi putri tukang perahu. Entah bagaimana mereka mempersiapkan diri, yang pasti wajah mereka sudah berubah.
"Kau masih mengenalku?"
Tanya Sim Bik-kun. Hong Si-nio tertawa.
"Sungguh tak nyana, ternyata kau pandai tata rias."
"Tata riasku paling hanya bisa mengelabui mata orang di malam hari, sementara masih boleh diandalkan."
"Waktu bulan purnama, bukankah hari sudah malam?"
"Makanya kalau siang jangan kita muncul di depan umum."
"Apa kau tidak mendengar orang bilang Hong Si-nio adalah kucing malam?"
Malam ini tanggal tiga belas, masih dua hari baru terang bulan.
Rembulan malam ini belum bundar, belum bulat, namun cahayanya yang kemilau di permukaan air menambah indahnya pemandangan malam di danau.
"Menurut pendapatmu, orang yang bernama Thian Sun, esok lusa mungkin tidak datang?"
"Pasti datang, aku malah kuatir kalau dia datang, kita tidak bisa mengenalinya."
"Bila dia datang, kita pasti dapat mengenalinya."
"Kau yakin?"
"Paling sedikit kita punya tiga sumber."
"Coba jelaskan."
"Yang pertama, kita tahu orang itu berperawakan kecil kurus, selalu membawa anjing."
"Kedua, kita tahu dia akan datang ke Cui-gwat-lo."
"Ketiga, kita tahu kalau Lian Shia-pik akan bertemu dia."
"Walau kita tidak mengenalinya, tapi kita bisa melihat anjing, mengenal Cui-gwat-lo, juga mengenal Lian Shia-pik."
Hong Si-nio benar-benar penuh keyakinan, sayang ia melupakan satu hal.
Umpama kau betemu Thian Sun, memangnya apa yang bisa kau lakukan?
Bulan merambat kian tinggi, meski musim rontok telah pertengahan, air danau terasa dingin.
Duduk di haluan perahu, Hong Si-nio melepas sepatu kain hijaunya, dengan sepasang kakinya yang telanjang bermain air.
Sim Bik-kun tengah mengawasinya, menatap sepasang kakinya, mendadak ia berkata.
"Kabarnya sekali tendang kau pernah merobohkan Poan Thian-hun dari Ki-lian-san."
BENTROK PARA PENDEKAR Karya Gu Long -Gan K.H. Bagian 14 Hong Si-nio manggut-manggut saja.
"Kau menendang dengan sepasang kakimu itu?"
"Hanya dengan satu kaki."
Sim Bik-kun tertawa geli.
Sudah lama ia tidak pernah tertawa, di hadapannya terbentang pemandangan danau nan permai, hawa nan sejuk, hatinya terbuka, pikiran jernih, tawa nan sejuk.
Dengan tersenyum lebar ia berkata.
"Sepasang kakimu itu rasanya tidak mirip kaki yang dapat menendang mati orang."
"Aku paling senang bila orang mengatakan kakiku bagus, kalau kau pria, akan kusuruh kau mengelus kakiku."
"Sayang aku bukan ...."
Kata Sim Bik-kun, suaranya amat lirih.
Apakah karena ia merindukan Siau Cap-it Long?
Sayang kau bukan Siau Cap-it Long.
Sayang sekali anda juga bukan Siau Cap-it Long.
Siau Cap-it Long dimanakah kau berada?
Kenapa sampai sekarang belum ada beritamu?
Cahaya rembulan lebih terang.
Namun air muka mereka lebih guram.
Dari tengah danau kembali berkumandang nyanyian merdu, suaranya nyaring bening, diselingi cekikikan geli nan mengasyikan, sang penyanyi yakin adalah soprano yang cantik lagi rupawan.
Ternyata nyanyian dan gelak tawa berkumandang dari arah Cui-gwat-lo di kejauhan sana.
Bayangan orang banyak tengah berpesta kelihatan samar dari kejauhan.
Hong Si-nio mendadak tertawa riang, katanya.
"Sayang dalam dua hari ini kita sibuk, kalau tidak, kita terjang ke atas ikut minum beberapa cawan."
Sim Bik-kun berkata.
"Kau tahu siapa yang mengadakan perjamuan di atas kapal?"
"Aku tidak tahu."
"Siapa pengundangnya kau tak tahu, berani kau naik ke sana?"
"Peduli siapa dia, dia pasti mau menyambut kehadiranku."
"Kenapa?"
"Sebab kita ini perempuan, kalau lelaki sedang minum arak, melihat perempuan yang enak dipandang datang, dia pasti senang menyambut kedatangannya."
"Sepertinya kau amat berpengalaman?"
"Terus terang saja, kejadian seperti itu, entah berapa puluh kali pernah kulakukan."
Sim Bik-kun mengawasinya, mengawasi bola matanya yang bersinar, mengawasi lesung pipitnya yang menggiurkan, akhirnya ia menghela napas.
"Sayang aku bukan lelaki, kalau tidak, aku rela menjadi binimu."
Hong Si-nio, tertawa.
"Kalau engkau lelaki, aku juga senang menjadi istrimu."
Walau sedang tertawa, tapi tawanya tampak sendu.
Mereka merindukan Siau Cap-it Long.
Siau Cap-it Long, Siau Cap-it Long kenapa kau selalu membikin orang kasmaran, ingin melupakanmu, hati malah risau, membuang pikiran melupakanmu juga tak mungkin.
Sekonyong-konyong dari arah tanggul seseorang memanggil.
"Tukang perahu, bawa perahumu kemari."
Hong Si-nio menghela napas.
"Nah, kita dapat obyekan, nasib kita agak mujur hari ini."
Sim Bik-kun berkata.
"Sebagai tukang perahu, dia membutuhkan tenaga kita, jangan rezeki ini ditolak."
"Betul, masuk akal,"
Seru Hong Si-nio seraya melompat ke depan meraih galah, sekali mengerahkan tenaga, perahu meluncur kencang ke arah tepian.
"Kau bisa mengendalikan perahu ini?"
Tanya Sim Bik-kun.
"Delapan belas macam senjata semua dapat kumainkan dengan mahir, memangnya hanya mengayuh aku tidak mampu?"
Sim Bik-kun tertawa geli, tanyanya.
"Adakah sesuatu yang tidak mampu kau lakukan?"
"Ada satu."
"Apa itu?"
"Selamanya aku tidak suka berpura-pura, aku tidak perlu merasa malu."
Yang mau naik perahu ada tiga orang. Dengan rasa riang Hong Si-nio berkata.
"Kalau orang-orang Kangouw dikumpulkan di sini, lalu berbaris lewat di mukaku, tiap tiga orang, paling sedikit ada satu orang yang kukenal."
Dalam hal ini Hong Si-nio memang tidak membual.
Ia kenal satu di antara ketiga orang itu.
Seorang lelaki bermata sipit, berpenampilan keren, mengenakan jubah panjang, memegang kipas yang digoyang-goyang, penampilannya mirip pelajar.
Gelarnya memang Pwe-bing Suseng, pelajar pencabut nyawa.
Kipas lipat di tangannya itu adalah gaman yang diandalkan.
Dalam kalangan Bulim, tokoh silat yang memakai kipas lempit sebagai senjata memang jarang.
Pwe-bing Suseng Su Jiu-san adalah salah satu di antara tokoh yang disegani itu.
Orang yang berkawan atau bergaul dengannya tentu bukan sembarang tokoh.
Siau Cap-it Long sering bicara.
"Dari sekian banyak insan persilatan, paling sedikit setengah di antaranya dikenal Hong Si-nio, setengah di antara mereka juga mengenal Hong Si-nio."
Tapi ketiga orang ini semua tidak mengenalnya, Su Jiu-san pun tidak mengenalnya, maklum cuaca remangremang, bentuk rupanya kini juga sudah berubah, sebab siapa mengira Hong Si-nio bisa jadi tukang perahu di Se-ouw.
"Tuan-tuan mau kemana?"
Tanya Hong Si-nio.
"Cui-gwat-lo,"
Katanya Su Jiu-san.
"kau tahu dimana Cui-gwat-lo?"
Hong Si-nio lega, tempat lain di sekitar Se-ouw jelas ia tidak tahu, Cui-gwat-lo jelas ia sudah tahu.
Su Jiu-san sudah mencari tempat duduk di haluan, diam-diam ia memperhatikan tukang perahu yang cewek ini, terakhir ia mengawasi kaki orang, tiga laki-laki itu semua mengawasi kakinya.
Hong Si-nio tidak bisa melarang orang mengawasi kakinya, namun hatinya amat gemas dan keki melihat cara mereka memandang, rasanya seperti ingin menjahit mata mereka saja.
Sebab ia sendiri maklum, tukang perahu perempuan yang sepanjang tahun bekerja keras di atas air, tak mungkin memiliki sepasang kaki semulus, putih dan menggiurkan seperti kakinya, maka ia harus berusaha mengalihkan perhatian mereka, celakanya otaknya seperti bebal, tiada akal terpikir olehnya.
Sementara sorot mata ketiga orang ini seperti tajamnya paku memantek sepasang kakinya.
Untunglah dari Cui-gwat-lo yang besar dan benderang itu berkumandang gelak tawa ramai disertai tepuk tangan yang gegap gempita, disusul suara nyanyian berkumandang lagi, suaranya keras berisi, bukan penyanyi perempuan, tapi seorang lelaki dengan nada tinggi membawakan lagu romantis nan mengasyikan.
Mendadak Su Jiu-san tertawa dingin.
"Eh, tampaknya dia amat gembira."
Laki-laki setengah umur bermuka kuning temannya itu menanggapi.
"Sepertinya sejak tanggal lima, dia mulai mengadakan pesta, hari ini sudah tujuh hari, pesta-pora belum juga usai."
Seorang lelaki yang lain menimbrung.
"Maka aku mengaguminya."
Lelaki ini bertubuh kekar, brewok lagi.
"Kau mengaguminya?"
"Siapa pun dia, setelah tujuh hari pesta mabuk-mabukan, masih punya semangat membawakan lagu seriang itu, aku akan mengaguminya."
Lelaki muka kuning mengejek dingin.
"Darimana kau tahu dia sudah berpesta-pora selama tujuh hari?"
"Sebab aku tahu dia seorang yang pasti mabuk tiap kali menyentuh arak,"
Kata si brewok. Mengawasi kemilau cahaya di permukaan air danau, sorot mata Su Jiu-san seperti berusaha menyelami persoalan, katanya dengan perlahan.
"Entah berapa cewek yang dia panggil untuk teman minumnya?"
"Tergantung berapa banyak tamu yang dia undang,"
Ujar lelaki setengah umur bermuka kuning.
"Orang-orang gagah di wilayah Kanglam, sepertinya dia undang seluruhnya."
"Apa tujuannya?"
"Siapa tahu."
Seorang mengundang tamu makan minum, sang tamu tidak tahu untuk apa pengundang mengadakan pesta, ini kejadian aneh, pengundangnya lebih aneh.
Walau kepala menunduk, tapi sorot mata Hong Si-nio benderang.
Siapakah tuan rumah yang mengadakan pesta?
Apakah Thian Sun?
Mengapa mengundang semua insan persilatan di daerah Kanglam?
Memangnya punya maksud tertentu atau hanya jebakan belaka?
Jebakan untuk membunuh mangsa?
Terbayang dalam ingatan Hong Si-nio akan pembunuhan di Pat-sian-cun beberapa waktu lalu, ingin rasanya dia melarang Su Jiu-san dan kawan-kawan naik ke kapal pesiar itu.
Namun ia sendiri ingin melihat keadaan di sana, dia pun ingin tahu siapa tuan rumah penyelenggara pesta.
Hong Si-nio menghela napas panjang.
Di atas kapal mendadak tak terdengar lagi suara orang berpesta-pora, rupanya sedang mengawasinya dengan mata melotot, bukan sedang mengawasi kakinya yang mulus, tetapi sedang mengawasi wajahnya.
Untung dia mengenakan topi lebar, hingga sebagian wajahnya tertutup.
Ia pun menundukkan kepala.
Walaupun mata Su Jiu-san sipit, ternyata mulutnya sangat lebar.
Mendadak ia tertawa tergelak, serunya.
"Aku Su Jiu-san."
Dengan kepala masih tertunduk, Hong Si-nio memanggilnya.
"Su-toaya!"
"Jangan kau panggil aku Su-toaya, panggil saja aku Su-jiya,"
Kata Su Jiu-san, lalu lanjutnya.
"Dia inilah Hotoaya, Hou Bu-pe."
Lelaki setengah umur berwajah kuning manggut-manggut. Terpaksa Hong Si-nio memanggilnya.
"Ho-toaya!"
Sudah jelas tampangnya seperti orang berpenyakitan, tetapi namanya justru Bu-pe, tak berpenyakit, sungguh menggelikan, demikian batin Hong Si-nio.
"Akulah Ong-losam, Ong Bing,"
Timbrung lelaki brewok itu. Hong Si-nio menahan geli, agaknya Ong-losam ini lebih sopan dibanding kedua rekannya.
"Nona, siapa namamu?"
Tanya Su Jiu-san.
"Ah, aku yang rendah hanyalah seorang tukang perahu,"
Sahut Hong Si-nio.
"Sekalipun kau seorang tukang perahu kan juga punya nama."
"Rasanya tak perlu aku mengatakannya."
"Bukankah kita sudah naik di atas perahu yang sama, ini namanya kita berjodoh, untuk apa kau sembunyikan namamu?"
Sungguh orang ini sangat memuakkan, menyebalkan, pantas saja dijuluki Pwe-bing Suseng, pelajar pencabut nyawa. Hou Bu-pe menukas.
"Biasanya perempuan suka malu menyebut namanya di hadapan laki-laki."
"Kelihatannya dia bukanlah seorang perempuan pemalu."
"Buat apa kau memaksanya memberitahu namanya, kalau dia tidak mau menyebut nama sendiri, ya sudahlah,"
Sela Ong Bing. Su Jiu-san menatap Hong Si-nio lekat-lekat, katanya pula.
"Mengapa kau enggan menyebut namamu?"
"Aku tidak berani,"
Teriak Hong Si-nio.
"Kau takut asal-usulmu ketahuan?"
Hong Si-nio tertawa dingin.
"Memangnya seorang tukang perahu punya asal-usul apa yang memalukan."
"Memangnya kau tukang perahu tulen?"
"Tentu."
"Tampaknya tidak mirip."
"Apanya yang tidak mirip?"
"Semuanya tidak mirip."
"Lalu aku mirip apa?"
Dengan mengertak gigi Hong Si-nio tertawa dingin.
Mendadak Su Jiu-san melompat bangun sambil mementang kipas lipatnya.
Jari-jari tangan Hong Si-nio terkepal kencang.
Ia merasakan niat jahat lelaki di hadapannya ini.
Sinar mata Su Jiu-san memancarkan sinar buas.
Apapun yang akan dilakukan lelaki itu, Hong Si-nio sudah bersiap untuk melancarkan serangan, berniat melancarkan tendangan terlebih dulu, kalau bisa sekali tendang membuat musuh langsung roboh terkapar.
"Kita sudah tiba di Cui-gwat-lo!"
Teriak Sim Bik-kun tiba-tiba.
Ketika Hong Si-nio berpaling, benar saja, perahu mereka telah berada di dekat kapal pesiar besar itu.
Kapal pesiar yang terang benderang disinari cahaya lentera, suara musik pun berkumandang dari atas loteng, sedangkan di bagian bawah tampak sunyi sepi, rupanya seluruh penumpang sedang berkumpul di ujung geladak.
Ada sekitar 30-an orang yang berkumpul di situ, tampaknya mereka sedang berbisik-bisik, entah apa yang dibisikkan.
"Mengapa mereka tidak berkumpul di ruang dalam?"
Demikian pikir Hong Si-nio penuh keheranan. Siapa penyelenggara pesta? Mengapa tidak berkumpul di dalam? Su Jiu-san mengawasinya, tiba-tiba tanyanya.
"Kau sanggup melompat ke atas kapal?"
Hong Si-nio menggeleng.
"Kau tak ingin melihat keramaian di sana?"
Kembali Hong Si-nio menggeleng.
"Kau tidak menyesal?"
"Kenapa mesti menyesal?"
Su Jiu-san tertawa, katanya.
"Karena penyelenggara pesta adalah orang yang ingin dilihat siapa pun."
"Siapa?"
"Siau Cap-it Long!"
XXII.
PESTA DI CUI-GWAT-LO Siau Cap-it Long!
Ternyata tuan rumah penyelenggara pesta adalah Siau Cap-it Long.
Pemilik kapal mengundang Lian Shia-pik bersua di sini, ternyata dia pun sedang menyeienggarakan pesta.
Apakah semuanya ini hanya kebetulan?
Atau dia memang sengaja mengatur hal ini?
Dia tahu di antara sepuluh jago di dunia persilatan, sembilan orang adalah musuh bebuyutannya, mengapa dia tetap menyelenggarakan pesta di situ, bahkan mengundang seluruh musuh bebuyutannya?
Hong Si-nio tertegun.
Su Jiu-san tidak menggubrisnya, sembari menggoyang kipas ia melompat naik ke atas kapal.
Hou Bu-pe serta Ong Bing mengikut di belakangnya.
Sebagian besar kawanan jago di atas geladak segera maju menyambut kedatangannya, pergaulan Su Jiusan memang sangat luas.
Tapi dimana Siau Cap-it Long?
Mengapa dia tidak menyambut kedatangan tamunya?
Hong Si-nio mulai menyesal, mengapa tidak ikut naik ke sana.
Sim Bik-kun menghampirinya, tanyanya lirih.
"Kau kenal orang she Su itu?"
"Hm!"
"Apakah mengenalimu?"
"Rasanya begitu."
Setelah sangsi sejenak, kembali Sim Bik-kun bertanya.
"Menurut kau, apakah dia sengaja bergurau denganmu?"
"Aku rasa dia tidak berani,"
Sahut Hong Si-nio.
"Lalu ... apakah benar penyelenggara pesta itu Siau...."
Berputar biji mata Hong Si-nio, tukasnya.
"Kau berjaga di sini, sementara aku akan menyusup masuk lewat buritan perahu."
Cui-gwat-lo ternyata lebih besar dan lebih tinggi dari kapal yang ditumpanginya.
Hong Si-nio mendekam di atas wuwungan kapal sambil mengawasi ke bawah, namun tidak nampak sesuatu gerakan apapun di atas loteng kapal pesiar itu, dia dapat melihat jelas semua orang yang sedang berkumpul di geladak.
Dari tiga puluhan orang yang hadir, paling tidak dia kenal empat-lima belas orang di antaranya.
Seorang kakek berambut putih kurus, kecil dan pendek sedang berbincang dengan Hou Bu-pe.
Hong Si-nio segera mengenali orang itu, Ciangbunjin Sing-gi-bun aliran selatan, si monyet sakti Hu It-gwan.
Biarpun orang ini belum terhitung jagoan yang berilmu tinggi, namun posisi dan kedudukannya dalam dunia persilatan sangat tinggi.
Namun terlihat dia sangat menghormat pada Hou Bu-pe.
Hong Si-nio tidak tahu orang macam apa Hou Bu-pe, darimana pula asal-usulnya?
"Sudah lama aku mendengar dan mengagumi nama besar Hou-sianseng, sayang baru bertemu denganmu sekarang,"
Terdengar Hu It-gwan berkata sambil tertawa.
"Selama ini memang tidak banyak orang yang bisa bertemu denganku,"
Sahut Hou Bu-pe dingin.
"Jadi Hou-sianseng memang sudah lama tak pernah terjun lagi dalam dunia persilatan?"
Hou Bu-pe manggut-manggut, lalu katanya.
"Karena aku terluka oleh pukulan To-pik-eng-ong (Raja elang berlengan tunggal) hingga aku harus merawat luka selama lebih 15 tahun."
Mendengar ucapannya ini hampir Hong Si-nio melompat bangun saking kagetnya, teringat olehnya asal-usul seorang kosen yang telah lama menghilang.
Dulu, Ciangbunjin partai Sian-thian Bu-khek-pay, Tiongciu-tayhiap Tio Bu-khek, mempunyai Sute bernama Ho Bu-kong, ilmu silatnya sangat tinggi, belum lama ia terjun dalam dunia persilatan, tahu-tahu jejaknya hilang tak berbekas.
Kemungkinan Hou Bu-pe ini adalah Ho Bu-kong.
Tio Bu-khek yang berjuluk pendekar besar itu sesungguhnya adalah seorang Kuncu gadungan dan berjiwa munafik, dia sendiri pada akhirnya tewas di tangan Siau Cap-it Long dalam pertarungan memperebutkan golok jagal rusa.
Kini secara tiba-tiba Hou Bu-pe muncul di sini, apakah kemunculannya ini bermaksud untuk membalas dendam?
To-pik-eng-ong adalah salah seorang jago tangguh yang ditugaskan oleh Tio Bu-khek untuk melindungi golok jagal rusa, namun dia sendiri juga tewas secara mengenaskan.
Apakah Hou Bu-pe tahu akan rahasia dibalik peristiwa itu?
Hong Si-nio tak melihat perubahan mimik wajahnya, tapi ia yakin parasnya pasti merah padam.
Dalam keadaan seperti ini tak mungkin ia terus membual di depan Hou Bu-pe, ia mulai mencari akal untuk ngacir dari tempat ini.
Belum sempat ia angkat kaki, Ong Bing sudah menarik tangannya sambil berkata.
"Di kapal ini tersedia arak dan daging, mengapa kalian tidak menikmatinya?"
Hong Si-nio sudah menduga akan pertanyaan ini.
Hu It-gwan hanya diam saja, terhadap Ong Bing ia tidak akan sungkan seperti terhadap Hou Bu-pe.
Walau Ong Bing berangasan dan kasar, namun ia bukanlah orang bodoh, mengetahui sikap orang yang dingin, ia menegur sambil melotot.
"Kau hanya kenal pada Hou-toako, memangnya kau tidak mengenali aku?"
"Memangnya kau ini siapa?"
Sahut Hu It-gwan.
"Aku bernama Ong Bing, seorang Hwesio yang tak terkenal."
"O!"
"Aku hanyalah seorang Hwesio yang diusir dari Siau-lim-si."
Hu It-gwan tidak menanggapi, hanya tertawa dingin. Tiba-tiba Ong Bing menunjuk hidung sendiri, katanya.
"Akulah si Hwesio liar yang nyaris menghancurkan ruang Lo-han-tong kuil Siau-lim-si, akulah si Hwesio baja yang tidak mampus walau sudah digebuk seratus delapan puluh kali pukulan toya."
Berubah hebat paras muka Hu It-gwan.
Rupanya ia telah salah menduga orang.
Hong Si-nio pun tidak kalah terperanjatnya.
Mengapa Hwesio liar ini bisa muncul di sini?
Apakah dia datang untuk menghadapi Siau Cap-it Long.
Tanpa mempedulikan Ong Bing yang masih tercengang, Hu It-gwan berkata sambil menghela napas.
"Tidak sembarang orang boleh naik ke kapal itu."
"Memangnya kalian bukan tamu yang diundang Siau Cap-it Long?"
"Justru kami adalah tamu undangannya."
"Kalau kalian adalah tamunya, kenapa tak boleh masuk ke dalam?"
Hu It-gwan ragu-ragu sejenak, kemudian sahutnya sambil tertawa.
"Tamu undangan banyak macamnya, sebab tujuan kedatangan setiap orang berbeda."
"Lalu apa tujuan kedatanganmu?"
"Aku datang untuk bertamu."
"Kalau bertamu tak boleh masuk, lantas manusia macam apa yang boleh masuk?"
"Orang yang datang untuk membunuhnya!"
"Hanya orang yang ingin membunuhnya baru boleh masuk untuk minum arak?"
Tanya Ong Bing melengak.
"Betul."
"Siapa yang omong begitu?"
"Dia sendiri."
Tiba-tiba Ong Bing mendongakkan kepala dan tertawa, serunya.
"Bagus! Siau Cap-it Long si bocah keparat, kau memang hebat."
Di tengah kumandang gelak tawanya yang nyaring, dia beranjak dari situ dan menerjang ke ruang perahu dengan langkah lebar. Lekas Su Jiu-san menarik tangannya.
"He, mengapa kau menarik tanganku, bukankah kita datang untuk membunuhnya?"
Tegur Ong Bing dengan kening berkerut.
"Sekarang belum tiba saatnya."
"O, karena itu kita tidak boleh masuk untuk minum arak?"
"Di luar geladak begitu banyak sahabat, apa artinya bila kau masuk seorang diri?"
Ong Bing merasa tak puas mendengar perkataan itu, namun dia tidak membantah dan tidak berusaha lagi menyerbu ke dalam. Meskipun begitu ia masih mengomel.
"Hanya orang yang ingin membunuhnya yang boleh masuk untuk minum arak, keparat... bila kau bukan telur busuk tentu kau memang punya kemampuan."
Sebenarnya Siau Cap-it Long seorang keparat atau telur busuk?
Hong Si-nio pun sering bertanya kepada diri sendiri, entah sudah berapa puluh kali.
Sekonyong-konyong dari ruang bawah loteng terdengar suara orang terbatuk-batuk, rupanya ada seorang yang sedang duduk di ruangan situ sambil menenggak arak, mungkin karena kurang hati-hati hingga tersedak.
Hanya orang yang ingin membunuhnya yang boleh masuk untuk minum arak.
Jadi orang ini datang untuk membunuhnya.
Nyali siapa yang begitu besar hingga berani datang secara terang-terangan untuk membunuh Siau Cap-it Long?
Hong Si-nio jadi ingin tahu orang macam apa dia.
Sayang dia tak dapat melihatnya.
Orang itu berdiri membelakangi jendela hingga wajahnya tak terlihat.
Hong Si-nio hanya bisa melihat orang itu memakai baju biru yang sudah luntur dan ada beberapa tambalan.
Dengan santainya orang itu masih makan dan minum.
Siapakah dia?
Siapa pun orangnya, dengan penampilannya yang santai dan keberaniannya untuk datang secara terangterangan, jelas dia bukan sembarang tokoh.
Di dalam maupun di luar geladak tak nampak bayangan Siau Cap-it Long, kemana perginya dia?
Perlahan-lahan Hong Si-nio merambat turun kembali ke perahunya sendiri, tampak Sim Bik-kun menunggu dengan cemas dan gelisah.
"Kau telah berjumpa dengannya?"
Hong Si-nio menggeleng.
"Tapi aku yakin dia pasti berada di kapal itu."
"Kenapa?"
"Sebab hanya dia yang bisa melakukan perbuatan semacam ini,"
Sahut Hong Si-nio sambil menghela napas.
"Perbuatan apa?"
Hong Si-nio tertawa getir.
"Dia telah mengundang tiga-empat puluh orang untuk berpesta, namun khusus untuk orang yang bermaksud membunuhnya."
"Mengapa dia berbuat begitu?"
"Siapa yang tahu, perbuatannya memang selalu membingungkan orang, biar berpikir sampai kepala pecah juga belum tentu orang lain bisa menebaknya."
Padahal dia bukannya tidak tahu sama sekali.
Siau Cap-it Long sengaja berbuat begitu karena dia pun tahu tak seorang pun di antara para tamunya itu yang bermaksud membunuhnya.
Dia hanya ingin tahu, ingin membuktikan, berapa banyak orang yang ingin membunuhnya.
Semua perbuatan Siau Cap-it Long hanya Hong Si-nio seorang yang paham, di kolong langit ini tiada orang kedua yang jauh lebih memahami Siau Cap-it Long ketimbang dirinya.
Hanya saja dia enggan mengutarakan keluar.
Apalagi di hadapan Sim Bik-kun.
Dia berharap Sim Bik-kun jauh lebih memahami Siau Cap-it Long ketimbang dirinya.
Dari ruang kapal pesiar kembali berkumandang suara seruling dan irama lagu, perlahan Sim Bik-kun mendongakkan kepala, mengawasi jendela yang terang benderang dengan termangu, sorot matanya berubah sendu.
Hong Si-nio tahu apa yang sedang dia pikirkan.
Benarkah dia berada di atas loteng?
Berapa banyak orang yang menemaninya?
Siapa saja yang sedang menemaninya?
Gara-gara cinta, orang mudah berubah jadi pencemburu dan banyak curiga?
Diam-diam Hong Si-nio menghela napas panjang, tiba-tiba katanya.
"Aku ingin naik lagi ke atas kapal untuk melihat keadaan."
"Tapi ... tapi bukankah Su Jiu-san telah mengenalimu?"
Kata Sim Bik-kun ragu.
"Kalau dia sudah mengenaliku, kenapa pula aku harus menghindarinya?"
Sim Bik-kun tidak bicara lagi.
Sebenarnya ia tidak setuju dengan perbuatan Hong Si-nio, namun apa daya, ia tak mampu mencegahnya.
Bagaimanapun juga mereka adalah dua orang perempuan yang berbeda watak, pandangan mereka terhadap suatu persoalan juga selalu berbeda.
Hong Si-nio tak pernah menghindari suatu persoalan ataupun kehendaknya, apapun resikonya.
Mendadak Sim Bik-kun berbisik.
"Aku ikut!"
"Kau?"
"Kalau kau boleh ke sana, mengapa aku tak boleh?"
Dengan perasaan terkejut Hong Si-nio mengawasi wajahnya, sorot matanya memancarkan senyum kegembiraan.
Ternyata Sim Bik-kun telah berubah.
Dia seakan sudah mendapatkan sesuatu benda yang sebelumnya mustahil dimilikinya, yaitu keberanian!
"Mari kita pergi bersama,"
Ajak Hong Si-nio sambil menarik tangannya.
"tempat yang bisa kudatangi, tentu saja kau pun boleh ke sana."
Hong Si-nio segera melompat naik ke geladak kapal pesiar.
Sim Bik-kun segera menyusul di belakangnya.
Ternyata ilmu meringankan tubuhnya cukup tinggi, ilmu senjata rahasia warisan keluarganya terlebih sangat hebat, namun setiap kali bertarung, dia sering mengalami kekalahan.
Mungkin hal ini disebabkan dia tidak memiliki keberanian.
Tanpa keberanian, setinggi apapun ilmu silatnya menjadi tak berguna.
Ketika melihat ada dua orang wanita yang berdandan sebagai tukang perahu tiba-tiba melompat naik ke atas kepal dengan Gin-kang yang hebat, tentu saja menimbulkan perasaan terkejut bagi semua orang.
Tapi Hong Si-nio sama sekali tak ambil peduli.
Ia hanya menyapa Su Jiu-san, yang lain tak digubrisnya.
Su Jiu-san mendekatinya sambil menggoyang kipas lipatnya, sorot mata semua orang tertuju pada dirinya.
Semua kenalan Su Jiu-san memang lebih baik dihindari, karena orang ini tersohor gemar membunuh orang, apalagi di sampingnya ada Hwesio baja yang kebal terhadap senjata.
"Akhirnya kau datang juga,"
Sapa Su Jiu-san.
"Hm!"
"Sudah kuduga, kau pasti akan datang,"
Kembali kata Su Jiu-san sambil tertawa.
"Oya?"
"Bukan suatu pekerjaan yang gampang bagi seseorang untuk menipu sahabat lama dengan menyaru muka."
"Apalagi terhadap seorang sahabat lama macam kau,"
Sambung Hong Si-nio. Gelak tawa Su Jiu-san semakin riang.
"Oleh sebab itu sedari tadi kau sudah mengenaliku?"
Kata Hong Si-nio lagi. Su Jiu-san manggut-manggut, katanya lagi.
"Tapi aku pun merasa tak paham akan suatu hal."
"Hal yang mana?"
"Darimana kau tahu kalau Siau Cap-it Long ada di sini?"
Bisik Su Jiu-san dengan suara lirih. Hong Si-nio segera menarik muka, sahutnya ketus.
"Kenapa aku harus tahu kemana Siau Cap-it Long pergi, memangnya aku ini ibunya?"
Sekali lagi Su Jiu-san tertawa tergelak.
"Aku pun tak sudi mengurus tujuanmu datang kemari."
"Tentu saja,"
Sahut Su Jiu-san tergelak.
"memangnya kau emakku?"
"Aku hanya ingin kau melakukan satu hal untukku."
"Katakan saja."
"Aku hanya ingin kau menemani aku, kemana pun aku pergi."
Su Jiu-san mengawasinya dengan terperangah, di luar dugaan, tapi dia pun merasa gembira. Kembali Hong Si-nio melotot sekejap, bisiknya.
"Aku hanya ingin kau merahasiakan asal-usulku."
Setelah memandang perempuan itu sekejap, akhirnya Su Jiu-san menghela napas panjang, katanya.
"Sudah kuduga, kedatanganmu ini takkan menguntungkan bagiku."
Lalu dengan memicingkan mata dia melirik sekejap ke arah Sim Bik-kun yang berada di belakang perempuan itu, tanyanya lagi.
"Siapa dia?"
"Kau tak perlu tahu, aku ingin bertanya, kau mau membantu atau tidak?"
"Boleh tidak kalau aku menolak?"
"Tidak bisa."
"Kalau tak bisa, buat apa kau bertanya lagi padaku?"
Sahut Su Jiu-san sambil tertawa getir. Hong Si-nio tertawa, ujarnya dengan wajah berseri.
"Kalau begitu temani aku ke sana, aku ingin ke sana."
"Mau apa kau ke sana?"
"Aku hanya ingin tahu siapa yang sedang duduk di situ sambil minum arak?"
"Kau tak bakal tahu."
"Kenapa?"
"Sebab dia memakai penutup wajah."
Orang itu ternyata memakai topeng kulit manusia yang lebih mirip sebuah penutup muka.
Karena topeng ini rata sama sekali permukaannya, tak ada kerutan wajah, juga tak nampak hidung, mata maupun mulut, yang terlihat hanya dua buah lubang.
Dari balik lubang itu memancar sinar mata yang tajam.
Orang itu nampak santai, tapi karena dia mengenakan topeng hingga tampak misterius.
"Jadi kau pun tak tahu siapa orang itu?"
Tanya Hong Si-nio. Su Jiu-san menggeleng, sahutnya tertawa getir.
"Cara yang dipergunakan orang ini jauh lebih mujarab ketimbang menyamar, biar bininya datang juga belum tentu bisa mengenalinya."
"Kalau kau sudah berani datang, kenapa tak berani menjumpai orang itu?"
Tanya Hong Si-nio dengan kening berkerut.
"Pertanyaan ini seharusnya kau ajukan kepadanya, setelah memperoleh jawabannya baru memberitahukan kepadaku."
"Siau Cap-it Long maksudmu?"
"Betul, seharusnya kau tanyakan persoalan ini kepada Siau Cap-it Long, aku sendiri pun ...."
Mendadak ucapannya berhenti di tengah jalan, sorot matanya segera beralih ke arah tangga loteng kapal itu.
Seseorang dengan langkah mantap sedang menuruni tangga.
Orang itu memiliki perawakan tubuh kekar, gagah dan lincah.
Dia mengenakan jubah hitam dari sutera yang halus, sebilah golok tersoreng di pinggangnya.
Golok jagal rusa!
Akhirnya Siau Cap-it Long muncul!
Meskipun berdiri di antara orang banyak, dia masih tampak kesepian dan lelah.
Namun sepasang matanya mencorong terang dan dingin.
Setiap kali melihat sorot matanya, timbul perasaan aneh dalam hati Hong Si-nio.
Manis, kecut atau bahkan getir.
Orang lain tentu tak paham, bahkan dia sendiri juga susah membedakan.
Lalu bagaimana dengan Sim Bik-kun?
Setelah melihat Siau Cap-it Long muncul, bagaimana pula perasaan Sim Bik-kun?
Mereka hanya berdiri termangu, tidak memanggil, juga tidak masuk ke dalam.
Sebab keduanya tak ingin memanggil duluan, siapa pun tak ingin memperlihatkan perubahan perasaannya.
Bagaimanapun juga mereka adalah wanita, wanita yang sudah terpeleset dan jatuh ke dalam lembah percintaan.
Apalagi selain mereka, di sekeliling tempat itu masih terdapat banyak orang yang sedang memandangnya.
Siau Cap-it Long sama sekali tidak berpaling ke arah mereka, dia bahkan tidak menaruh perhatian.
Sorot matanya mengawasi manusia berbaju hijau yang mengenakan penutup wajah, tegurnya.
"Kau datang untuk membunuhku?"
Orang berbaju hijau itu mengangguk.
"Dan kau tahu kalau aku berada di atas loteng?"
"Hm!"
"Kenapa tidak langsung naik ke atas dan turun tangan?"
"Aku tidak ingin terburu-buru."
"Benar, membunuh orang memang tak bisa dilakukan dengan terburu-buru,"
Siau Cap-it Long mengangguk.
"Itulah sebabnya aku tak pernah terburu-buru bila ingin membunuh seseorang."
"Tampaknya kau mengerti cara membunuh orang."
"Kalau aku tidak mengerti, mana mungkin datang kemari untuk membunuhmu?"
Sela orang berbaju hijau itu dingin. Siau Cap-it Long tertawa. Biarpun sedang tertawa namun sorot matanya justru tampak dingin dan berkilat, ditatapnya orang berbaju hijau itu dan katanya.
"Topengmu itu jelek sekali."
"Sekalipun jelek, namun besar manfaatnya."
"Kalau kau memang punya nyali untuk membunuhku, kenapa tak berani memperlihatkan wajah aslimu?"
"Sebab aku datang untuk membunuh, bukan untuk bertemu denganmu."
"Bagus, bagus sekali,"
Siau Cap-it Long tertawa.
"Apanya yang bagus?"
"Kau memang seorang yang menarik, sungguh jarang ada orang datang untuk membunuhku,"
Setelah menghela napas, lanjutnya.
"sayang terlalu banyak orang yang tak tahu diri di dunia ini, terlebih orang yang tak punya nyali."
"Orang yang tak punya nyali?"
"Aku sudah menyiapkan hidangan dan arak cukup banyak, tak disangka hanya kau seorang yang berani datang."
"Mungkin orang lain tak ingin membunuhmu."
Siau Cap-it Long tertawa dingin.
"Mungkin orang lain ingin membunuhku, tetapi tidak berani secara terang-terangan, hanya berani membokong orang dengan cara licik."
Baru selesai ia berkata, dari luar ruangan telah menerjang masuk seseorang, dia adalah seorang lelaki berkumis paku dan berwajah hitam.
"Aku bernama Ong Bing,"
Teriaknya keras.
"Kau pun datang untuk membunuhku?"
Tanya Siau Cap-it Long sambil menatap wajahnya, senyuman kembali terlintas di balik sorot matanya.
"Sekalipun aku tidak berniat membunuhmu, tapi sekarang aku harus membunuhmu."
"Kenapa?"
"Karena aku tak tahan melihat lagakmu yang memuakkan."
"Bagus, tak disangka kembali muncul seorang yang menyenangkan."
"Hm, walaupun orang yang menyenangkan sangat banyak, orang yang memuakkan justru hanya aku seorang,"
Terdengar seseorang tertawa dingin.
"Siapa?"
"Aku!"
Seseorang perlahan-lahan berjalan masuk, wajahnya kaku kuning kepucat-pucatan, orang ini adalah Hou Bu-pe.
"Kau adalah orang yang tak menyenangkan?"
Tanya Siau Cap-it Long. Paras muka Hou Bu-pe tetap kaku tanpa perubahan. Kembali Siau Cap-it Long menghela napas panjang.
"Tampaknya kau memang orang yang tidak menyenangkan."
"Orang yang datang untuk membunuhmu mungkin banyak jumlahnya, namun yang mampu membunuhmu rasanya hanya satu orang,"
Tiba tiba Hou Bu-pe berkata.
"O ya?"
"Kalau kau sudah tahu cepat atau lambat akhirnya kau bakal mati, kenapa kau malah menganggap dia menyenangkan?"
"Apakah orang itu adalah kau?"
"Hm!"
Lagi-lagi Siau Cap-it Long tertawa.
"Tapi sebelum aku turun tangan, terlebih dulu aku akan mewakilimu membunuh seseorang,"
Kembali Hou Bu-pe berkata.
"Kenapa?"
"Sebab kau telah mewakiliku membunuh seseorang."
"Siapa?"
"To-pik-eng-ong!"
"Dia bukan tewas di tanganku?"
"Peduli apapun yang telah terjadi, yang pasti dia tewas gara-gara kau"
"Oleh karena itu kau hendak mewakiliku membunuh orang?"
"Benar."
"Siapa yang akan kau bunuh?"
"Terserah siapa pun yang ingin kau bunuh."
Siau Cap-it Long menghela napas panjang, katanya perlahan.
"Tampaknya kau adalah orang yang bisa membeda budi dan dendam secara jelas."
Hou Bu-pe tidak menjawab, dia hanya tertawa dingin.
"Kapan kau akan membunuhku?"
Tanya Siau Cap-it Long lagi.
"Terserah kau."
"Jadi kau tidak terburu-buru?"
"Cukup lama aku menunggu, apa salahnya kalau menunggu beberapa hari lagi."
"Apa kau bersedia menunggu hingga bulan purnama lewat?"
"Kenapa harus menunggu setelah bulan purnama lewat?"
Siau Cap-it Long tersenyum.
"Bulan purnama di danau Se-ouw sangat indah, kalau sudah mampus, bukankah kejadian ini sangat tidak menarik?"
"Malam ini bulan purnama."
"Itulah sebabnya kau tak perlu menunggu terlalu lama."
"Baik, akan kutunggu!"
"Asal di sini tersedia arak, biarpun harus menunggu beberapa hari lagi juga tidak soal"
Ong Bing menambahkan.
"Bagus, hidangkan arak!"
Seru Siau Cap-it Long sambil tertawa tergelak. Arak pun segera disuguhkan. Dengan cepat Ong Bing menenggak tiga cawan arak, mendadak teriaknya sambil menggebrak meja.
"Kalau arak sudah dihidangkan, mana dagingnya?"
Maka daging pun dihidangkan. Tiba-tiba orang berbaju hijau menggebrak meja sambil berseru pula.
"Setelah arak dan daging dihidangkan, mana nyanyiannya?"
Suara irama musik pun berdendang membelah keheningan di kapal itu, menyusul kemudian terdengar seseorang bersenandung. Siau Cap-it Long mendongakkan kepala sambil tertawa tergelak.
"Seorang lelaki sejati dapat menikmati kehidupan dengan gembira begini, mati pun tak perlu menyesal, apalagi dapat menikmati lagu sambil menenggak arak."
Suara kecapi dari atas loteng berdentang makin cepat.
Siau Cap-it Long mencabut golok, kemudian mulai menari mengikuti irama lagu.
Cahaya golok memancar memenuhi angkasa bagaikan naga sakti sedang bermain, sama sekali tak nampak bayangan tubuhnya.
Semua orang yang hadir di atas geladak kapal terpana, tapi ada seorang yang paling terpana?
Sim Bik-kun?
Atau Hong Si-nio?
Dia terpana sampai air mata mengucur deras.
Mengapa dia tidak melihat kehadiranku?
Su Jiu-san dapat mengenaliku, mengapa dia tidak?
Apakah dia telah melupakan kami berdua?
Atau memang selamanya dia tak pernah menaruh perhatian terhadap wanita?
Ia gembira, juga kecewa, campur aduk perasaannya.
Mengapa tidak dirinya saja yang menegurnya terlebih dulu?
Hong Si-nio sudah bukan perempuan macam itu, ia telah berubah.
Mungkinkah mulai berubah sejak pertemuan malam itu?
Mungkinkah dirinya telah berubah menjadi seorang perempuan sejati sejak malam yang tak terlupakan itu?
Cahaya golok yang berkilauan menyinari wajahnya, namun justru sinar matanya berubah menjadi redup.
Dia tidak merasakan pada saat itu Sim Bik-kun sedang mengawasinya.
Dia sedang mengenang kehangatan, kemesraan, kepedihan dan kegembiraan ketika masih bersamanya.
Lalu apa yang sedang dipikirkan Sim Bik-kun?
Tiba-tiba berkumandang suara pekikan naga, suara pekikan yang memekakkan telinga.
Cahaya rembulan kembali bersinar terang.
Sementara golok itu sudah disarungkan kembali.
Siau Cap-it Long duduk sambil mengangkat cawan, parasnya berubah jadi tenang, seakan tak pernah terjadi sesuatu apapun.
Menyaksikan permainan golok yang begitu hebat, seketika peluh Ong Bing bercucuran di jidat sebesar kedelai.
Apakah benar yang dimainkan itu adalah ilmu golok?
Apakah benar ilmu golok itu dimainkan seorang diri?
Saking gugupnya Ong Bing menyambar poci arak di meja, langsung ditenggaknya habis, setelah itu barulah ia menghela napas panjang, saat itulah baru ia sadar bahwa di hadapannya telah berkurang seorang.
Meskipun paras Hou Bu-pe yang berwarna kuning pucat masih tanpa perubahan, namun diam-diam ia pun membesut keringat yang menetes dijidatnya.
Ong Bing berpaling ke arahnya, menuding tempat duduk di hadapannya yang telah kosong.
Hou Bu-pe hanya menggeleng.
Tak seorang pun yang melihat sejak kapan orang berbaju hijau itu pergi dari situ, tak ada yang tahu dia pergi lewat mana.
Kapal itu berlabuh di tengah danau, kemana dia bisa pergi?
Mendadak terdengar orang berteriak.
"Coba lihat perahu itu!"
Perahu itu sebenarnya adalah perahu Hong Si-nio, sebelumnya perahu itu sudah diikat pada kapal dengan seutas tali.
Hong Si-nio terhitung wanita yang gegabah, namun Sim Bik-kun termasuk yang amat teliti, sebelum meninggalkan perahu tadi, dia telah mengikatkan tali di ujung perahunya dengan tiang di atas Cui-gwat-lo.
Kini tali pengikat itu sudah diputus orang, sementara perahu itu sedang bergerak perlahan menuju ke tepi danau.
"Bocah itu pasti berada di atas perahu."
"Biar aku pergi mencarinya."
"Buat apa dicari?"
"Aku hanya ingin tahu orang macam apakah dia? Mengapa dia pergi begitu saja dari sini?"
Ternyata yang bicara adalah seorang lelaki kekar berwajah keren, seorang Hohan dari Tay-ouw, si macan kumbang air Ciang Hing.
Baru saja dia ingin melompat ke depan, mendadak seorang berjalan keluar dari sisi ruang perahu sambil menggendong tangan, orang itu adalah orang berbaju hijau yang misterius itu.
Ternyata dia tidak melarikan diri.
Ciang Hing tertegun.
Hampir semua yang hadir ikut tertegun.
Orang berbaju hijau itu sudah siap masuk kembali ke dalam ruang perahu, dia melirik perahu itu sekejap, tiba-tiba sambil membalik badan dia membuat gerakan menarik, sepasang tangannya dicakarkan berulang kali di tengah udara ke arah perahu yang sedang bergerak pelan itu.
Perahu yang sudah mulai menjauhi kapal secara tiba-tiba kembali mendekati kapal pesiar itu.
Seketika paras muka Ciang Hing berubah hebat, demikian pula paras semua orang yang hadir di situ.
Ciangbunjin Sing-gi-bun Hu It-gwan yang lama tak bersuara tiba tiba menarik napas panjang, kemudian serunya.
"Bukankah ilmu ini adalah Tiong-lo-hui-hiat Kun-goan-it-khi-sin-kang yang sangat hebat itu?"
Begitu mendengar ucapan itu, seketika semua orang terperanjat.
Orang berbaju hijau itu sama sekali tidak memandang ke arah mereka, melirik pun tidak, sembari menggendong tangan dia masuk kembali ke ruang perahu dan duduk seperti tadi.
"Ilmu golok yang hebat!"
Katanya pada Siau Cap-it Long sambil mengangkat cawan.
"Ilmu khikang yang hebat!"
Balas Siau Cap-it Long sambil mengangkat pula cawannya. Sekali teguk orang berbaju hijau menghabiskan isi cawannya, kemudian pujinya.
"Arak bagus!"
"Ilmu golok bagus, ilmu khikang bagus, arak pun bagus, ada tidak yang tak bagus?"
"Ada!"
"Apa yang tak bagus?"
"Golok sudah keluar dari sarung, namun tak menjumpai darah, itulah tidak bagus."
"Ada yang lain?"
Tanya Siau Cap-it Long tenang.
"Mengendalikan perahu dengan khikang hanya akan membuang tenaga saja, suatu perbuatan yang tidak cerdas."
"Ada lagi?"
"Dalam cawan ada arak tapi telinga tak mendengar suara nyanyian, inilah tidak menggembirakan."
"Bagus, bagus, sungguh menggembirakan, kalau tidak minum sampai mabuk, percuma disuguh arak wangi,"
Katanya sambil tertawa, lalu ia pun bertepuk tangan, maka lagu pun kembali didendangkan memecah keheningan malam.
Untuk ketiga kalinya Hong Si-nio mendengar suara nyanyian yang merdu ini, akhirnya dapatlah ia mengenali suara gadis yang mendendangkan lagu itu.
Pin-pin!
Ya, pasti Pin-pin.
Ternyata Siau Cap-it Long berhasil juga menemukan gadis itu.
Mendadak muncul suatu perasaan aneh dalam hati Hong Si-nio, dia tak tahu perasaan itu pertanda gembira atau sedih?
Saat itulah Sim Bik-kun menarik ujung bajunya.
Ia pun menempelkan mulutnya di sisi telinga perempuan ini sambil bertanya.
"Ada apa?"
"Orang ini bukan yang tadi,"
Bisik Sim Bik-kun lirih.
"Orang yang mana?"
"Orang berbaju hijau itu."
Berubah paras muka Hong Si-nio. Kembali Sim Bik-kun berkata.
"Biarpun pakaian dan penutup muka yang dikenakan sama, namun orangnya telah berubah."
"Kau dapat melihatnya?"
"Hm."
"Dimana letak perbedaannya?"
"Tangan orang ini jauh lebih kecil dan kukunya sedikit lebih panjang daripada orang tadi."
"Kau yakin tidak salah?"
Ia baru sadar, mestinya pertanyaan ini tidak perlu diajukan, karena ia tahu watak Sim Bik-kun.
Hal yang tak diyakini takkan diutarakannya.
Mengapa orang berbaju hijau itu harus bertukar diri?
Rencana busuk apalagi yang akan dilakukannya selain ingin membunuh Siau Cap-it Long?
Tak tahan Hong Si-nio bertanya.
"Kau tahu siapa orang itu?"
"Tidak."
"Aku pun tidak tahu siapa dia, tapi semestinya bisa kutebak siapakah orang ini."
"Kenapa?"
"Tidak banyak tokoh dunia persilatan yang berhasil menguasai ilmu khikang sehebat itu."
"Mungkin saja tenaga khikangnya juga palsu,"
Kata Sim Bik-kun setelah termenung sejenak.
"Palsu?"
"Bukankah mereka datang berdua? Bisa saja salah satu di antara mereka mendorong perahu itu dari dalam air."
"Jadi mereka sengaja main sandiwara untuk menakut-nakuti orang?"
"Hm."
"Tapi Hu It-gwan terhitung jago kawakan, masakah dia tak curiga terhadap orang ini?"
"Mungkin saja dia bersekongkol dengan mereka."
Hong Si-nio tertegun.
Tiba-tiba saja dia sadar bukan saja Sim Bik-kun berubah jadi pemberani, dia pun berubah jadi semakin pintar.
Seringkali kepintaran ibarat sebilah golok tajam, makin sering diasah akan makin tajam dan berbahaya.
"Cring", tiba-tiba suara kecapi berhenti, suara nyanyian pun ikut berhenti. Ketika senar kecapi terputus, suasana keliling tempat itupun berubah jadi hening, sepi. Entah sudah lewat lama kemudian, perlahan orang berbaju hijau itu berkata.
"Senar kecapi putus nyanyian pun terhenti, tidak bagus."
Mendadak Siau Cap-it Long melompat bangun. Kembali orang berbaju hijau itu berkata.
"Senar kecapi sudah putus, tapi tetap ngotot untuk dimainkan, tidak cerdik."
Siau Cap-it Long duduk kembali di tempat semula.
"Tamu sudah kehilangan gairah, perjamuan sudah waktunya buyar, tidak menggembirakan."
Siau Cap-it Long menatap tajam orang itu, ujarnya dingin.
"Banyak mulut banyak bencana, banyak mulut pasti celaka, tidak bagus dan tidak cerdas."
"Benar."
Kemudian orang berbaju hijau itu bungkam, bahkan mata pun dipejamkan.
Siau Cap-it Long mengangkat cawannya, tapi segera diletakkan kembali, wajahnya yang semula berseri kini berubah serius, mendadak sambil bangkit berdiri katanya.
"Siapa yang ingin pergi silakan pergi, yang ingin tetap tinggal silakan tetap tinggal, aku sudah mabuk, ingin tidur, aku benar-benar mabuk."
"Hm, aku sudah datang, kau tak boleh mabuk,"
Mendadak seseorang menimpali dengan suara dingin.
XXIII.
TAMU BERBAJU PUTIH DAN NYANYIAN DUKA Di geladak kapal, tak seorang pun bicara.
Di ujung geladak pun lengang.
Hening!
Lalu darimanakah suara itu?
Suara itu datang dari tengah danau.
Di antara riak air di permukaan danau, di bawah cahaya rembulan yang terang benderang, di mana orang itu?
Di kejauhan sana, nun jauh di sana tcrlihat sebuah lentera, perahu dan sesosok bayangan manusia.
Biarpun orang itu masih jauh di sana, namun suaranya terdengar jelas seperti di kepala ini.
Memang orang kalau sudah sempurna tenaga dalamnya, tidak akan sulit melakukan hal itu.
Yang mengherankan justru ia dapat mendengarkan percakapan di kapal itu.
Siapakah dia?
Tak seorang pun tahu.
Perahu kecil itu ibarat selembar daun teratai yang terapung di permukaan air, bergerak lambat sekali.
Siau Cap-it Long pun sudah melihat perahu kecil di tengah danau, dia pun sudah melihat bayangan manusia yang berada di atas perahu.
Tiba-tiba serunya sambil tertawa.
"Kalau sampai kau pun ikut datang, mana mungkin aku tidak mabuk?"
Ucapan itu tidak terlalu keras tapi bergema sampai jauh.
"Tidak boleh!"
"Kenapa?"
"Ada tamu datang dari jauh, masakah tuan rumahnya mabuk?"
"Tamu dari jauh? Darimana?"
"Di antara ombak yang menggulung, di balik awan tebal."
Siau Cap-it Long tidak bertanya lagi, sebab perahu itu sudah semakin dekat.
Terlihat seorang berdiri di bawah cahaya lentera.
Seorang berbaju putih, berdiri bagaikan sukma gentayangan, tangannya memegang sebuah panji berwarna putih pula.
Apakah panji putih pengundang sukma?
Sukma gentayangan siapa yang akan diundangnya?
Ternyata perahu kecil itupun berwarna putih, seakan sedang tenggelam secara perlahan.
Ciang Hing yang berdiri paling depan tiba-tiba menjerit, raut mukanya mengejang keras, teriaknya.
"Setan ... yang datang bukan manusia tapi setan!"
Selangkah demi selangkah dia mundur ke belakang dan mendadak tubuhnya roboh terkapar.
Jago tangguh yang sudah lama malang melintang di danau Tay-ouw ini ternyata jatuh semaput lantaran kaget.
Tak seorang pun yang menghampirinya ataupun berusaha memayang tubuhnya.
Semua berdiri kaku, jari tangan basah oleh keringat dingin, bahkan ujung jari pun jadi dingin.
Sekarang semua dapat melihat dengan jelas, ternyata perahu yang digunakan orang berbaju putih itu adalah perahu yang terbuat dari kertas.
Perahu kertas yang biasanya dibakar dan dilarung ketika memperingati kematian hari ketujuh seseorang.
Paras muka Hong Si-nio turut berubah.
"Yang datang bukan manusia, tapi setan!"
Kalau dia manusia hidup yang terdiri dari darah dan daging, mana mungkin bisa menyeberangi danau dengan menumpang perahu kertas? "Di antara ombak yang menggulung, di balik awan tebal."
Jangan-jangan dia memang datang dari neraka?
Apa benar di dunia ini ada setan?
Hong Si-nio tidak percaya.
Selama hidup ia tak percaya dengan segala macam dongeng atau omong kosong, dia selalu melihat kenyataan.
Dia hanya percaya satu hal.
Terlepas orang itu sctan atau manusia, yang pasti dia sangat menakutkan.
Peduli darimana dia, kehadirannya adalah untuk membunuh Siau Cap-it Long.
Angin malam di musim gugur berhembus lembut.
Ketika angin lembut berhembus lewat, menggoyang perahu kertas itu hingga tenggelam ke dasar danau.
Tapi anehnya, orang di atas perahu itu tidak ikut karam.
Kini dia sudah tiba di atas Cui-gwat-lo.
Ruang kapal pesiar itu masih terang benderang, di bawah sorot lentera, semua dapat melihat tampang orang itu dengan jelas.
BENTROK PARA PENDEKAR Karya Gu Long -Gan K.H.
Bagian 15 Perawakan tubuh tidak tinggi, juga tidak pendek, rambutnya beruban, tidak mempunyai kumis atau jenggot.
Mukanya pucat pasi dan berbentuk aneh, seperti habis dihajar orang.
Sehingga tampak lucu.
Tapi semua orang tidak berani tertawa melihat muka yang lucu ini, yang mereka lihat adalah sepasang mata yang dingin mengerikan.
Matanya tak berbiji dan berwarna kuning, seluruhnya bola matanya berwarna putih.
Orang yang pernah melihat mata seperti ini, pasti seumur hidup takkan melupakannya.
Sedangkan panji yang digenggamnya bukanlah panji pengundang sukma, tapi panji tukang ramal yang bertuliskan, 'Ke atas menembus nirwana, ke bawah menyambangi neraka'.
Ternyata orang itu adalah seorang peramal buta.
Setelah melihat dari dekat, barulah semua orang merasa lega.
Namun semuanya melupakan satu hal, manusia kadang lebih menakutkan daripada setan.
Siau Cap-it Long duduk kembali di bangkunya.
Terlepas si buta ini benar-benar buta atau tidak, paling tidak dia adalah seorang yang luar biasa.
Bila ada orang buta datang mencarimu dengan menumpang perahu kertas, perahu untuk sembahyang orang mati, tentu saja dia datang dengan maksud jahat.
Tentu saja kau pun tak perlu berdiri di luar pintu menyambut kedatangannya.
Apalagi Siau Cap-it Long jarang berdiri.
Perlahan-lahan si buta berjalan mendekat, ternyata dia tidak menggunakan tongkat bambunya untuk menuntun jalan.
Orang buta memiliki tanda khusus, Siau Cap-it Long dapat mengenalinya sekali pandang saja.
Kalau dia memang seorang buta, kenapa bisa datang sendiri ke tempat itu?
Apakah disebabkan cahaya lentera yang memancar dari kapal pesiarnya yang kelewat terang hingga dapat dirasakannya?
Bukankah perasaan orang buta selalu lebih tajam ketimbang orang biasa?
Orang buta itu berjalan dengan lambat, tapi langkahnya mantap.
Semua orang yang berkumpul di geladak menyingkir ke samping memberi jalan.
Waktu lewat di antara orang banyak, lagaknya acuh seakan seorang raja yang lewat di antara para hambanya.
Belum pernah Siau Cap-it Long berjumpa dengan orang buta sesombong dan sejumawa ini, seandainya dia tidak buta pun belum tentu akan memandang sebelah mata terhadap semua yang hadir.
Seandainya dia benar-benar bisa melihat, mungkin tak seorang manusia pun di dunia ini yang dipandang sebelah mata olehnya.
Tentu selama ini dia telah banyak melakukan perbuatan yang membuatnya merasa bangga, lalu apa yang pernah diperbuatnya?
Bila benar ia telah melakukan suatu perbuatan yang membuatnya bangga, tentu adalah suatu perbuatan besar, bila perbuatan yang menggemparkan pastilah banyak orang yang tahu.
Namun sekarang tak seorang pun yang tahu asal-usulnya, bahkan Hong Si-nio pun tak mengenalnya.
Hong Si-nio mempunyai firasat buruk mengenai kedatangan orang buta itu, dia pasti akan mendatangkan bencana atau kematian.
Di luar pintu ruang kapal, tergantung empat buah lentera.
Waktu itu si buta sudah berjalan hingga di bawah lentera.
"Berhenti!"
Seru Siau Cap-it Long tiba-tiba.
Si orang buta itu langsung berhenti, berdiri tegak lurus.
Sekalipun berdiri di bawah cahaya lentera yang terang benderang, namun sama sekali tak terlihat adanya debu atau kotoran yang menodai sekujur badannya.
Selama hidup belum pernah Siau Cap-it Long berjumpa dengan orang buta sebersih ini.
Saat itu si buta sedang menunggu dia bicara.
"Tahukah kau tempat apakah ini?"
Tanya Siau Cap-it Long. Si orang buta menggeleng.
"Kau tahu siapakah aku?"
Kembali orang buta itu menggeleng.
"Kalau begitu, tidak seharusnya kau datang kemari."
"Tapi sekarang aku telah datang."
"Mau apa kau datang kemari?"
"Aku adalah seorang buta."
"Sudah kulihat, kau memang buta."
"Orang buta selalu banyak mendengar persoalan yang tak pernah didengar orang lain."
"Apa yang telah kau dengar?"
"Irama musik dan nyanyian."
"Berarti kau tahu tempat ini adalah Se-ouw?"
Si buta mengangguk.
"Suara musik dan nyanyian ada dimana-mana,"
Ujar Siau Cap-it Long.
"Tapi irama musik dan nyanyian yang kudengar tadi sama sekali berbeda."
"Berbeda?"
"Beda sekali bila dibandingkan suara nyanyian lain."
"Dimana letak perbedaannya?"
"Ada irama lagu yang sedih, yang gembira, ada pula yang tenang penuh kebahagiaan, ada yang penuh dengan luapan emosi dan amarah,"
Katanya perlahan.
"seandainya kau pun buta seperti aku, dapat dipastikan kau akan mengerti banyak kejadian aneh dan menarik hati di balik irama lagu itu."
"Lantas apa yang kau tahu?"
"Bencana dan tragedi!"
Siau Cap-it Long mengepal kencang.
"Suara angin menjelang badai pasti berbeda dengan suara angin kala tenang, jeritan binatang buas di kala ajal juga berbeda di kala damai,"
Ujar si buta dengan memiringkan kepala.
"seorang kalau hendak kena bencana, bisa dirasakan dari irama nyanyian yang didendangkan, aku dapat merasakan hal itu."
Berubah paras Siau Cap-it Long. Si buta melanjutkan omongannya.
"Bencana ada kecil ada besar, bencana kecil paling mendatang kematian bagi diri sendiri, bencana besar bisa menyangkut jiwa orang lain yang tak berdosa."
"Kau tidak kuatir akan ikut terseret dalam bencana ini?"
Jengek Siau Cap-it Long.
"Kedatanganku ini justru hendak melihat keramaian."
"Keramaian apa?"
"Nona yang membawakan nyanyian itu."
Sungguh aneh, seorang buta dengan menumpang sebuah perahu kertas, khusus datang hanya untuk melihat orang menyanyi.
Siau Cap-it Long hanya diam saja.
Si buta juga diam.
Semua hadirin juga diam, mereka tahu apa yang dikatakannya memang tidak untuk bergurau.
"Kau benar-benar buta?"
Tanya Siau Cap-it Long sambil menatapnya tajam. Si buta mengangguk.
"Masakah seorang buta bisa melihat?"
Tanya Siau Cap-it Long.
"Orang buta memang tak bisa melihat,"
Baca Juga: Pendekar Misterius Gan Kl
Baca Juga: Medali Wasiat Yin Yong