Eps 8 Si Kumbang Merah Penghisap Kembang - Kho Ping Hoo
Baca online Si Kumbang Merah Penghisap Kembang - Kho Ping Hoo
Cersil Si Kumbang Merah Penghisap Kembang - Kho Ping Hoo.
Kata pula Han Siong penuh kemarahan dan suaranya meninggi.
"Kalau engkau menolak untuk menikah dengan nona Mayang, maka nona Mayang akan membunuh diri!"
"Bohong...!!"
Hay Hay berseru, kaget bukan main, matanya terbelalak memandang wajah Han Siong karena biarpun mulutnya meneriakkan pemuda itu bohong, namun hatinya maklum bahwa Han Siong tidak akan berbohong.
Dan ancaman ke tiga ini sungguh menggetarkan hatinya.
Ancaman ke tiga itu yang paling hebat.
Menghadapi ancaman tantangan Pek Han Siong dan Kim Mo Siankouw, biarpun amat berat baginya, masih dapat dia hadapi.
Akan tetapi ancaman Mayang untuk membunuh diri benar-benar membuat dia menyerah sebelum bertanding!
"Tidak mungkin ia...
ia...
sebodoh itu!"
"Hemm, dasar laki-laki mata keranjang, mau enaknya sendiri saja, mau mengambil bunganya tidak mau terkena durinya! Engkau mengatakan ia bodoh, ya? Bayangkan saja! Ia telah mengalami aib, tubuhnya dalam keadaan telanjang bulat dilihat seorang pria, kemudian pria itu dicintanya dan ternyata pria itu tidak mau menjadi suaminya! Hanya ada dua pilihan bagi seorang gadis yang menjaga baik nama dan kehormatannya, yaitu membunuh pria itu atau membunuh diri. Karena nona Mayang mencintamu, engkau laki-laki yang tidak patut mendapat cinta seorang wanita, maka ia tidak akan membunuhmu dan akan membunuh diri. Hal ini dikatakan oleh ibu nona Mayang dan aku mendengarnya sendiri! Nah, katakanlah aku membohong!"
Sekali ini Hay Hay jatuh terduduk dan bengong seperti patung.
Dia tidak mampu bicara lagi, hanya memandang kosong seperti orang kehilangan semangat, dan mulutnya berkemak-kemik.
"...menikah...? Menikah...? Ya ampuuunn... menikah?"
Melihat ini, diam-diam Han Siong merasa girang.
Rasakan engkau sekarang, orang mata keranjang, pikirnya.
Kalau sudah menjadi suami Mayang, tentu gadis itu akan mampu memasangi kendali pada hidungnya sehingga dia tidak akan liar lagi!
Dia tidak merasa kasihan kepada sahabatnya itu.
Mengapa kasihan?
Hay Hay akan menikah dengan seorang gadis yang hebat!
Cantik jelita, manis, pandai, kaya raya.
Mau apa lagi?
Dia masih tenggelam dalam duka teringat akan kematian Ci Goat, maka dia lalu berkata dengan suara lembut.
"Hay Hay, pikirkan baik-baik semalam ini. Besok pagi-pagi, mereka sudah mengharapkan jawabanmu yang pasti. Selamat malam!"
Han Siong meninggalkan Hay Hay yang masih duduk di atas kursinya seperti boneka hidup itu.
"Kiong-hi (selamat), kiong-hi!"
Kata Wakil Dalai Lama ketika pada keesokan harinya dia mendengar bahwa Hay Hay dipertunangkan dengan Mayang.
"Aih, sungguh tepat sekali. Pinceng (aku) mengenal baik siapa Kim Mo Siankouw, maka muridnya tentu hebat dan merupakan seorang gadis pilihan! Dan saudara ini, biarpun masih muda namun sudah memiliki kepandaian hebat! Tentu dia akan menjadi seorang yang amat berguna bagi negara dan bangsanya!"
Mereka semua berkumpul di ruangan tamu.
Hay Hay pada hari itu terpaksa memberi jawaban dan tidak ada lain jalan baginya kecuali menerima usul perjodohan itu.
Yang paling berat adalah kenekatan Mayang.
Gadis itu akan membunuh diri kalau dia menolak ikatan jodoh itu!
Dan tentu saja dia tidak ingin gadis itu mati karena dia!
dan bagaimanapun juga, harus diakuinya bahwa Mayang seorang gadis hebat!
Demikianlah ketika pada pagi hari itu Kim Mo Siankouw mengundangnya, dan dia memasuki ruangan tamu, di situ Kim Mo Siankouw dan ibu Mayang telah menunggu!
Dan dengan sikap halus namun serius, Kim Mo Siankouw bertanya.
"Bagaimana, Hay Hay, apakah engkau telah mendengar dari sahabatmu Pek taihap itu akan niat hati kami menjodohkan Mayang denganmu? Dan bagaimana jawabmu?"
Ditanya secara terbuka dan jujur itu, Hay Hay juga menjawab sejujurnya.
"Sesungguhnya, belum ada keinginan di dalam hati saya untuk menikah, Siankouw. Akan tetapi, sayapun tidak dapat menolak kehormatan yang diberikan kepada saya."
"Jadi, bagaimana keputusanmu?"
Tanya ibu Mayang. Hay Hay menundukkan mukanya.
"Saya terima ikatan jodoh itu dengan rasa haru dan terima kasih."
"Siancai...! Giranglah rasa hatiku, Hay Hay."
Kata Kim Mo Siankouw.
"Terima kasih Hay Hay! Sungguh engkau telah membahagiakan kami semua,"
Kata pula ibu Mayang dengan suara bercampur isak karena terharu.
"Semoga Tuhan memberi bimbingan kepada anakku untuk menjadi isterimu yang setia dan membahagiakanmu kelak."
Hay Hay memberi hormat.
"Saya yang merasa berterima kasih. Akan tetapi, karena masih ada tugas penting bagi saya, yaitu urusan pribadi yang harus saya selesaikan lebih dahulu, maka saya mohon agar pernikahan dilaksanakan setelah saya menyelesaikan tugas pribadi itu."
Dua orang wanita itu mengangguk setuju.
Diterimanya usul ikatan jodoh itu saja sudah amat membahagiakan hati mereka.
Maka, mereka lalu mengumumkan ikatan perjodohan itu sehingga Wakil Dalai Lama yang masih berada di situ segera datang memberi selamat.
Kini diruangan itu mereka semua berkumpul.
Bahkan Mayang dipanggil ibunya.
Gadis yang biasanya tabah dan lincah ini nampak jinak dan malu-malu.
Akan tetapi ketika ibunya menyuruh ia memberi hormat kepada calon suaminya, dengan cepat tanpa ragu ia lalu memberi hormat kepada Hay Hay yang dibalas oleh pemuda itu dengan muka kemerahan pula.
"Kiong-hi, sekali lagi kiong-hi kuucapkan kepadamu, Hay Hay, dan kepadamu, Mayang. Akulah orang pertama yang merasa paling berbahagia dengan terikatnya kalian menjadi calon suami isteri!"
Kata Han Siong.
Akan tetapi wajahnya sama sekali tidak membayangkan kegirangan hati, karena pemuda ini yang semalam tidak tidur masih terus teringat akan kematian Ouw Ci Goat.
"Kalau kelak diadakan upacara pernikahan, jangan lupa mengundang pinceng, Siankouw! Engkau memperoleh seorang mantu yang amat hebat, dan pinceng juga menghaturkan selamat kepadamu!"
Han Siong yang diam-diam merasa betapa dia juga telah ikut memaksa Hay Hay untuk menerima usul ikatan jodoh itu, kini melihat betapa Hay Hay nampak tersipu dan kehilangan kejenakaannya, berusaha menghiburnya dengan memuji-mujinya di depan orang banyak.
"Lo-Suhu mungkin belum mengenal benar siapa adanya calon mempelai pria ini! Sahabatku ini pernah menjadi seorang pahlawan, membantu kedua orang Menteri Yang Ting Hoo dan Menteri Cang Ku Ceng, membasmi pemberontakan di Yunan yang dipimpin oleh mendiang Lam-hai Gim-lo!"
"Omitohud..."
Wakil Dalai Lama berseru kagum.
"Kiranya begitukah? Kami sudah mengenal kedua orang Yang Tai-jin dan Cang Tai-jin, dua orang menteri yang bijaksana. Bahkan pernah Yang Tai-jin mengirim pasukan untuk membantu kami membasmi pemberontak. Kalau begitu, kami hendak menitipkan sepucuk surat untuk dihaturkan kepada kedua orang menteri bijaksana itu. Maukah engkau membawa surat kami ke kota raja dan menyerahkannya kepada mereka, Taihiap?"
Ucapan ini ditujukan kepada Hay Hay. Tentu saja Hay Hay tidak berani menolak.
"Dengan senang hati, Lo-Suhu. Akan tetapi hendaknya cu-wi (kalian semua) tidak mendengarkan bualan Pek Han Siong! Yang membasmi pemberontak yang dipimpin Lam-hai Giam-lo itu bukanlah saya sendiri, melainkan banyak pendekar ikut membantu pemerintah, termasuk Pek Han Siong sendiri!"
Wakil Dalai Lama memuji.
"Omitohud...ji-wi (kalian berdua) adalah pendekar-pendekar yang berjiwa patriot. Sungguh beruntung sekali sebuah negara yang memiliki orang-orang muda seperti ji-Wi!"
Setelah menerima hidangan makan pagi yang disuguhkan nyonya rumah, Wakil Dalai Lama lalu minta diri untuk kembali ke Lasha, dan dia menyerahkan sesampul surat kepada Hay Hay untuk disampaikan kepada kedua orang menteri itu.
Setelah Wakil DalaI Lama dan rombongannya pergi, yang tinggal di rumah Kim Mo Siankouw sebagai tamu hanya tinggal Hay Hay dan Han Siong berdua.
Siang hari itu, Hay Hay mendapat kesempatan untuk berdua saja dengan Mayang.
Mereka duduk di taman belakang rumah.
Mayang nampak cantik sekali dengan pakaian baru yang bersih.
Potongan pakaiannya itu ketat dan mencetak tubuhnya yang tinggi ramping, dengan dada membusung dan pinggul yang padat membukit.
Rambutnya dikuncir menjadi dua dan rambut yang lebat dan panjang itu bergantungan manis di kanan kiri, kadang-kadang di depan, kadang-kadang di belakang, ujungnya diikat sutera merah.
Pakaiannya itu merupakan kombinasi warna hitam dan kuning, sehingga kulit yang nampak pada leher dan tangannya semakin putih, putih mulus dan kemerahan seperti kulit anak-anak bayi.
Mau tidak mau Hay Hay merasa bangga juga.
Gadis ini memang seorang wanita hebat dan dia akan selalu merasa bangga memandang wanita ini sebagai isterinya.
Biasanya gadis ini bersikap lincah jenaka dan tak mengenal rasa takut atau malu-malu.
Akan tetapi sekarang ia hanya banyak menundukkan muka dan setiap kali mengangkat muka bertemu pandang dengan Hay Hay, wajahnya yang manis itu berubah kemerahan.
"Mayang, aku sengaja mencarimu karena aku ingin bicara denganmu."
Kata Hay hay dan dia sendiri merasa heran mengapa suaranya tidak seperti biasa, agak gemetar dan mengapa jantungnya berdebar demikian keras!
Belum pernah dia menjadi begini gugup berhadapan dengan seorang wanita.
Seolah lenyap semua ketabahannya.
Biasanya, mudah saja kata-kata manis meluncur dari mulutnya kalau memuji-muji wanita, akan tetapi sekarang, dia selalu khawatir kalau-kalau membikin hati gadis ini menjadi tak senang!
Mayang mengangkat mukanya dan sejenak dua pasang mata itu bertemu.
"Bicaralah, Hay Hay."
Kata Mayang lirih lalu ia menunduk kembali.
"Mayang, tentu Siankouw dan ibumu sudah memberi tahu tentang keputusanku. Aku masih mempunyai suatu tugas pribadi yang amat penting. Aku harus menyelesaikan tugas itu lebih dahulu dan untuk sementara aku akan meninggalkanmu. Setelah tugas itu selesai, aku akan kembali ke sini dan melangsungkan pernikahan kita."
Sejenak Mayang tidak mampu bicara karena kepalanya semakin menunduk.
Ia tersipu dan merasa rikuh sekali mendengar pria yang dicintanya itu bicara tentang pernikahan.
Akan tetapi, karena perasaan duka dan khawatir mendengar bahwa kekasihnya itu hendak meninggalkannya, akhirnya ia mengangkat mukanya dan kembali dua pasang mata bertemu dan bertaut.
Indahnya mata itu, pikir Hay Hay dengan bangga.
Memang sipit, akan tetapi bentuknya amat indah dan di kedua ujungnya seperti ditambahi garis hitam memanjang ke atas.
Dan dari balik belahan pelupuk mata yang sipit itu memancar dua pasang mata yang amat jeli dan tajam.
"Hay Hay, engkau hendak ke manakah?"
Suaranya lirih, tidak malu-malu lagi akan tetapi kini suara itu mengandung penuh kekhawatiran.
"Aku hendak pergi ke kota raja, Mayang. Mengantar surat titipan Wakil Dalai Lama kepada Yang Tai-jin dan Cang Tai-jin."
Dia tidak ingin bercerita tentang usahanya mencari jejak Ang-hong-cu di kota raja dengan menyelidiki perwira she Tang di kota raja yang kabarnya mengaku sebagai putera Ang-hong-cu.
"Dan tugas pribadimu itu, tugas apakah? Atau...engkau tidak mau menceritakannya kepadaku?"
Hay Hay tersipu, Mayang adalah calon isterinya, tentu saja berhak mengetahui urusan pribadinya.
Akan tetapi bagaimana mungkin dia akan mengaku bahwa dia adalah putera kandung seorang jai-hwa-cat, seorang penjahat besar yang tersohor di dunia kang-ouw?
"Aku akan mencari musuh besarku!"
Mayang kelihatan terkejut dan kini ia mengangkat muka, memandang sepenuhnya kepada wajah kekasih hatinya, sepasang matanya penuh selidik.
"Apa yang telah dilakukan musuh besarmu itu!"
Hay Hay mengerutkan alisnya.
Dia merasa tidak senang membicarakan urusan itu, akan tetapi dia harus menjawab.
"Dia telah membunuh ibuku! Sudahlah, Mayang, kuharap engkau tidak bertanya tentang urusan ini. Aku selalu merasa berduka, kesal dan marah kalau membicarakan musuh besar itu."
Ketika tangan gadis itu memegang sebuah kuncir rambutnya dan memindahkannya ke belakang punggung, tangan itu gemetar dan wajahnya agak berubah pucat.
"Aku tidak akan bertanya lagi, Hay Hay. Akan tetapi...orang yang menjadi musuh besarmu tentu lihai bukan main. Karena itu aku harus menemanimu! Aku harus ikut denganmu ke kota raja. Aku akan membantumu menghadapi musuh besarmu itu, Hay Hay!"
Hay Hay terkejut. Hal ini sungguh tak pernah disangkanya.
"Ah, jangan, Mayang! Musuh besarku itu lihai bukan main. Aku tidak ingin melihat engkau terancam bahaya!"
Di lubuk hatinya, Mayang merasa girang bahwa calon suaminya itu mengkhawatirkan keselamatannya.
Akan tetapi iapun tidak ingin ditinggal, apalagi ditinggal menempuh bahaya.
"Hay Hay, biarpun ilmu kepandaianku tidak ada artinya bagimu, namun aku dapat membantumu sekuat tenagaku. Setidaknya, aku akan dapat menyaksikan bagaimana keadaanmu setelah engkau berhadapan dengan musuh besarmu itu, Hay Hay. Kalau engkau pergi menempuh bahaya dan aku diharuskan menanti di sini, aku akan dapat mati karena gelisah selalu."
"Tapi, Mayang..."
"Tidak ada tapi, Hay Hay. Bukan aku bermaksud untuk memaksakan kehendakku kepadamu. Sama sekali bukan. Engkau adalah calon suamiku, engkau satu-satunya orang yang mulai sekarang harus kutaati. Akan tetapi, bukankah setelah kita terikat perjodohan, berarti nasib kita menjadi satu? Bukankah mati hidup kita harus selalu bersama-sama menghadapinya? Aku harus ikut denganmu, Hay Hay. Kalau engkau memaksaku tinggal, kalau engkau menolak aku ikut serta, kalau engkau meninggalkan aku, akupun tidak berani memaksamu, akan tetapi tak lama setelah engkau pergi, akupun akan menyusulmu, mencarimu ke kota raja. Apakah engkau menghendaki kita melakukan perjalanan sendiri-sendiri, menghadapi ancaman bahaya dalam keadaan saling terpisah?"
Hay Hay menghela napas panjang.
Sudah mulai dia merasakan akibat ikatan perjodohan itu.
Sudah terasa betapa dia terikat, tidak bebas lagi, tidak seperti sebelum ada ikatan perjodohan.
Dan apa yang dikemukakan Mayang itu memang tidak dapat dibantah kebenarannya.
Kalau Mayang seorang wanita biasa, tidak memiliki kepandaian silat, maka tentu apa yang dikatakan itu tidak benar.
Akan tetapi Mayang adalah seorang gadis yang pandai, yang bukan saja mampu menjaga dan melindungi diri sendiri, akan tetapi bahkan dapat pula membantunya dalam menghadapi lawan tangguh!
"Tentu saja aku tidak menghendaki demikian, Mayang.
Akan tetapi, kita baru bertunangan, belum menikah, bagaimana mungkin engkau pergi berdua saja bersamaku?
Tentu gurumu dan ibumu tidak akan memperkenankan."
"Sekarang juga aku akan memberitahu ibu dan Subo, dan meminta ijin mereka!"
Kata gadis itu.
Akan tetapi pada saat itu, kebetulan sekali Kim Mo Siankouw dan ibu Mayang berjalan keluar dari dalam rumah menuju ke taman.
Melihat ini, dengan girang Mayang lalu berlari menyambut mereka.
"Subo, ibu, kebetulan sekali, aku hendak mencari kalian untuk membicarakan hal yang teramat penting."
Melihat puterinya demikian bersungguh -sungguh dan kelihatan risau dan tegang, ibunya menegurnya.
"Tenanglah, Mayang. Segala hal dapat dibicarakan dengan tenang. Biarkan Subomu duduk dulu, baru engkau bicara."
Hay Hay juga cepat memberi hormat kepada Kim Mo Siankouw dan calon ibu mertuanya.
Mereka berdua duduk di atas bangku panjang, sedangkan Mayang dan Hay Hay lalu duduk di bawah, di atas batu-batu hiasan taman itu.
"Nah, muridku. Katakanlah apa yang terkandung dalam hatimu."
Kata Kim Mo Slankouw.
"Subo, Hay Hay mengatakan bahwa dia hendak pergi menunaikan tugas pribadinya dan ketika teecu (murid) tanyakan apa tugas itu, dia mengaku bahwa dia harus mencari musuh besarnya. Dapat Subo bayangkan bahwa yang menjadi musuh besar seorang yang berkepandaian tinggi seperti dia, tentulah orang yang lihai dan berbahaya sekali. oleh karena itu, teecu ingin ikut bersamanya, Subo! Teecu mohon perkenan Subo dan ibu agar diperbolehkan menemani Hay Hay untuk membantu dia menghadapi musuh besarnya. Bukankah itu sudah menjadi tugas seorang...calon isteri? Kalau teecu ditinggalkan, mengetahui bahwa tunangan teecu menempuh bahaya seorang diri, hati teecu akan merasa tersiksa sekali. Mohon Subo dan ibu sudi memberi ijin."
Kedua orang wanita itu saling pandang, kemudian Kim Mo Siankouw memandang kepada Hay Hay, bertanya lembut.
"Benarkah apa yang dikatakan calon isterimu itu, Hay Hay?"
"Memang benar, Siankouw. Akan tetapi, sebenarnya saya sudah merasa keberatan untuk membawa Mayang menghadapi ancaman bahaya. Musuh besar saya itu lihai bukan main. Saya akan lebih merasa lega kalau ia tinggal saja di rumah. Akah tetapi saya tidak dapat mencegah kehendaknya yang kuat."
Kembali kedua orang wanita itu saling pandang dan Kim Mo Siankouw lalu berkata kepada Mayang.
"Muridku, dalam hal melepaskan dirimu ikut dengan Hay Hay, karena ada ibumu di sini, maka ialah yang berhak menentukan. Aku sih setuju saja atas keputusan yang diambil ibumu."
Mendengar ucapan Subonya itu, berseri wajah Mayang dan iapun mendekati ibunya dan merangkul ibunya dengan sikap manja.
"Ibu tentu mengijinkan aku pergi bersama Hay Hay, bukan?"
Selama ini, hampir selalu ibu yang amat menyayang puterinya itu memenuhi segala permintaan puterinya yang pantas, maka Mayang juga hampir yakin bahwa ibunya tentu akan mengangguk.
Akan tetapi, sekali ini wanita setengah tua yang masih cantik itu mengerutkan alisnya, kemudian dengan perlahan menggelengkan kepalanya.
"Ibu...!"
Mayang berseru, penuh kekecewaan dan keheranan.
"Akan tetapi, mengapa, ibu...?"
"Mayang, sungguh tidak bijaksana kalau aku membiarkan engkau pergi berdua saja dengan Hay Hay. Ingat, nak, dia itu baru calon suamimu, belum suami yang sah! Andaikata kalian sudah menikah, tentu saja aku akan menyetujui sepenuhnya."
Mendengar ini, Mayang merajuk. Mulutnya cemberut dan matanya semakin sipit seperti akan menangis.
"Aih, ibu..., apakah ibu takut akan anggapan orang-orang lain? Yang penting, aku dapat menjaga diri, ibu, dan juga aku percaya bahwa Hay Hay akan dapat menjaga diri."
Akan tetapi ibubya masih mengerutkan alisnya.
Ia teringat akan keadaannya sendiri.
Ia membayangkan hal yang buruk-buruk.
Bagaimana kalau mereka, dua orang muda yang sedang dewasa, lupa diri dan melakukan pelanggaran?
Bagaimana kalau kemudian Hay Hay meninggalkan puterinya dan tidak jadi menikahinya?
Segala malapetaka akibat hubungan di luar nikah itu selalu akan menimpa diri wanita.
"Ibu, kalau ibu melarang dan Hay Hay meninggalkan aku, tentu aku akan menjadi kurus, akan jatuh sakit karena selalu gelisah dan khawatir memikirkan dia. Aku...aku akan minggat dan mencarinya..."
"Mayang, tidak baik engkau mengancam ibumu seperti itu!"
Tiba-tiba Kim Mo Siankouw membentak muridnya.
Mendengar bentakan marah ini, Mayang menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki gurunya.
"Akan tetapi, Subo. Bagaimana mungkin teecu membiarkan Hay Hay pergi menempuh bahaya tanpa membantunya sama sekali? Teecu akan selalu merasa gelisah dan takut. Subo, teecu takut Kalau... Kalau Kehiangan dia... dia satu-satunya..."
Kim Mo Siankouw tersenyum.
"Siancai..., baru saja mendapatkan seorang tunangan, engkau sudah lupa bahwa di dunia ini masih ada aku dan ibumu, bukan hanya ada Hay Hay seorang!"
Mayang tersipu dan baru ingat, maka ia hanya menundukkan mukanya.
"Mohon belas kasihan dan pertimbangan Subo dan ibu..."
Katanya memelas.
Ibu Mayang kembali saling pandang dengan Kim Mo Siankouw, kemudian ibu Mayang menghela napas panjang.
"Aku baru dapat memberi ijin engkau pergi bersama Hay Hay kalau kalian sudah menikah. Karena itu, kalau engkau berkeras hendak pergi mengikuti Hay Hay, kalian harus menikah sekarang juga. Bagaimana pendapatmu, Hay Hay?"
Hay Hay tertegun dan sejenak dia bengong.
Menikah?
Sekarang juga?
Hal ini sungguh tak pernah dipikirkan dan kini dia tidak mampu menjawab.
Bagaimana dia dapat melakukan pernikahan kalau dia hanya hidup sebatang kara didunia ini, tidak memiliki apa-apa kecuali beberapa potong baju?
Dia merasa bingung, perasaan yang belum pernah mengganggunya selama hidupnya.
"Ini... ini... saya... saya bingung, tidak tahu..."
Melihat sikap pendekar muda yang dikaguminya itu, diam-diam Kim Mo Siankouw merasa iba juga.
Hay Hay adalah seorang pemuda dan sekarang baru nampak bahwa dia sesungguhnya masih hijau dalam hal memasuki rumah tangga.
Maka iapun berkata.
"Biarlah kita memberi kesempatan kepada Hay Hay untuk membicarakan hal ini dengan Pek Taihiap, satu-satunya sahabat atau keluarganya yang dapat mewakilinya dan memberinya nasihat. Nah, engkau bicarakanlah hal pernikahan itu dengan Pek Taihiap, Hay Hay, dan nanti malam kami mengharap jawaban dan kepastian darimu."
Pemuda itu mengangguk, memberi hormat kepada mereka lalu mengundurkan diri, meninggalkan taman itu memasuki rumah untuk mencari Han Siong.
Setelah pemuda itu pergi, Kim Mo Sian-kouw menegur Mayang dan ibunya.
"Aih, kalian ini sungguh membuat seorang pemuda menjadi tersipu dan tidak tahu harus berkata bagaimana. Kalian seperti mendesaknya saja. Mudah-mudahan dia dapat menerimanya dan dapat melangsungkan pernikahan yang tiba-tiba ini."
Mendengar teguran itu, ibu Mayang menjawab lembut.
"Anak inilah yang memaksa saya!"
Mayang menubruk dan merangkul ibunya.
"Subo, ibu, aku aku terlalu cinta kepadanya, dan tidak ingin berpisah darinya..."
Dua orang wanita itu saling pandang dan tersenyum.
Diam-diam mereka hanya mengharap agar Hay Hay suka menerima usul baru itu, yaitu melangsungkan pernikahan sekarang juga agar dia dapat pergi membawa isterinya yang rewel ini!
Sementara itu, Han Siong yang sedang duduk bersila dan berlatih sambil bersamadhi di dalam kamarnya,terkejut ketika Hay Hay memasuki kamarnya seperti orang dikejar setan.
"Pek Han Siong, sekarang engkau harus menolong aku...!"
Kata Hay Hay begitu dia mendorong daun pintu kamar itu terbuka.
Han Siong membuka matanya.
Dia tidak heran melihat sepak terjang sahabatnya ini karena sudah sering melihat Hay Hay ugal-ugalan dan kadang-kadang aneh.
"Hem, Hay Hay, apakah engkau mabok? Engkau mengejutkan orang saja. Ada apa sih? Mungkin hanya kalau dunia kiamat saja engkau kebingungan seperti sekarang ini!"
Hay Hay menjatuhkan diri di atas kursi, lalu memegangi kepala dengan kedua tangannya.
"Lebih dari kiamat, Han siong. Engkau harus menolongku sekarang! Aku sungguh bingung, tidak tahu harus berbuat apa!"
"Ha-ha, tenanglah sahabatku. Ada peristiwa apakah yang membuat engkau menjadi seperti ini? Ceritakanlah, tentu saja aku setiap saat siap sedia untuk membantumu."
"Aih, Han Siong, apa yang harus kukatakan sekarang? Ketahuilah, mereka itu, Mayang, ibunya dan gurunya, mereka mengusulkan agar pernikahan itu dilangsungkan sekarang juga!"
"Ehhh...??"
Han Siong terkejut dan heran juga.
Mengapa mereka begitu tergesa-gesa?
"Tapi...
kenapa begitu?
Tentu ada alasannya yang kuat."
Hay Hay menarik napas panjang, lalu dia menceritakan betapa Mayang berkeras hendak ikut dengan dia, untuk membantunya menghadapi musuh besarnya.
Kalau dia menolak, maka gadis itu akan minggat dan kelak mencari dan menyusulnya.
"Ketika mereka minta ijin kepada ibu Mayang, maka ibu dan guru Mayang lalu mengajukan saran agar kami menikah dulu, sekarang juga. Mayang berkeras hendak ikut, dan ibunya berkeras agar kami menikah dulu. Nah, aku terjepit di tengah-tengah. Bagaimana ini, Han Siong?"
Pek Han Siong tertawa terpingkal-pingkal karena dia merasa betapa lucunya keadaan Hay Hay.
Rasakan kau sekarang, kata hatinya.
Ini pembalasan watakmu yang mata keranjang.
Akan tetapi setelah berhenti tertawa, diapun berkata.
"Hay Hay, terjepit begitu bukankah enak buat engkau? Apa lagi masalahnya? Engkau disuruh menikah, kemudian isterimu ikut bersamamu, melakukan perjalanan bersama, seperti berbulan madu! Kurang enak bagaimana. Kenapa engkau masih bingung dan mengomel lagi? Dasar tidak tahu terima kasih!"
"Han Siong, jangan engkau main-main! Berilah jalan keluar, berilah nasihat bagaimana aku harus menghadapi perkembangan baru ini!"
"Siapa main-main, Hay Hay. Apa sih yang perlu dirisaukan? Menikah hari ini atau bulan depan atau tahun depan, apa sih bedanya?"
"Han Siong, jangan bergurau! Engkau tahu bahwa aku menerima ikatan jodoh dengan Mayang karena tiga hal, yaitu pertama aku tidak ingin bermusuhan denganmu, ke dua aku tidak ingin berkelahi dengan Kim Mo Siankouw, dan ke tiga aku tidak ingin Mayang membunuh diri..."
"Masih ada yang ke empat dan tidak boleh engkau melupakan itu, ialah kenyaaan bahwa Mayang cinta padamu dan engkau pun cinta padanya!"
"Tak kusangkal, aku suka dan kagum, kepada Mayang, akan tetapi cinta? Aku tidak tahu. Tapi sudahlah, aku sudah menerima ikatan jodoh, akan tetapi pernikahan sekarang? Aku belum siap!"
Han Siong tertawa.
"Ha-ha, apanya, lagi yang belum siap? Engkau sudah cukup dewasa, belum siap apanya?"
"Ih, jangan main-main, Han Siong. Aku sebatang kara, tidak mempunyai apa-apa, rumahpun tidak punya. Bagaimana aku dapat menikahi anak orang. Apakah isteriku lalu kuajak mengembara tanpa tempat tinggal? Apakah ia bisa kuberi makan rumput dan daun saja?"
"Hemm, kukira Mayang tidak membutuhkan itu semua! Dan hal itupun merupakan urusan nanti, dapat kalian rundingkan bersama. Sekarang, yang penting engkau terima saja usul mereka. Engkau menikah sekarang juga dengan Mayang dan itu berarti engkau telah membuat jasa besar bagi manusia dan dunia!"
Hay Hay memandang terbelalak, bengong.
"Eh? Kau jangan membikin aku menjadi semakin bingung, Han Siong. Apa maksudmu mengatakan bahwa kalau aku menikah sekarang dengan Mayang, aku berjasa terhadap manusia dan dunia?"
"Betapa tidak? Kalau engkau menikah dengan Mayang sekarang, berarti engkau membikin senang hati Mayang, membikin lega hati ibunya dan gurunya membikin gembira hatiku, dan membikin gembira para tamu yang akan menghadiri perayaan pernikahan itu. Nah, berarti engkau menyenangkan banyak manusia, juga menyenangkan dirimu sendiri. Betapa senangnya melakukan perjalanan ditemani seorang isteri sehebat Mayang. Selain itu, engkau mendatangkan kebaikan kepada dunia karena dengan adanya seorang isteri yang selalu menemani, maka bahaya bagi para gadis lain tidak ada lagi!"
"Bahaya bagi para gadis lain?"
Hay Hay mengerutkan alisnya, tidak mengerti.
"Tentu saja, karena engkau tentu tidak lagi berani mengumbar mata keranjang kalau ada isterimu di sisimu!"
"Ahhh...!"
Hay Hay cemberut.
"Engkau tidak memberi obat, malah membikin penyakit ini menjadi lebih parah!"
Han Siong bangkit dari pmebaringan, menghampiri Hay Hay yang duduk di atas kursi, lalu memegang pundaknya.
"Sahabatku, pergunakanlah akal sehatmu dan jangan murung. Syukurilah berkah yang dilimpahkan Tuhan kepadamu! Engkau tahu, untuk melakukan kebaikan kepada orang lain, seseorang biasanya harus berani mengorbankan sesuatu, meniadakan kepentingan diri sendiri. Akan tetapi sekarang ini, engkau dapat melakukan banyak kebaikan kepada banyak orang, tanpa berkorban apa-apa, bahkan engkau menerima pula nikmat dan kebahagiaan. Pria mana yang takkan berbahagia memetik setangkai bunga yang demikian indah dan harumnya seperti calon isterimu itu? Nah, hadapilah kenyataan dan berterima kasihlah kepada Tuhan!"
Hay Hay menghela napas, lalu bangkit dengan malas.
"Sudahlah, akan kupertimbangkan semalam ini."
"Besok pagi aku akan membawa keputusanmu yang menggembirakan kepada mereka!"
Kata Han Siong sambil tersenyum memandang sahabatnya yang meninggalkan kamarnya dengan langkah gontai.
Memang tidak ada pilihan lain bagi Hay Hay kecuali menerima usul baru agar pernikahan dilangsungkan dulu sebelum dia pergi meninngalkan puncak Awan Kelabu tempat tinggal Kim Mo Siankouw itu.
Pernikahan yang mendadak ini dirayakan dengan sederhana.
Bahkan tidak sempat lagi mengundang tamu jauh, juga Wakil Dalai Lama tidak mungkin dapat diundang.
Yang diundang hanya penduduk dusun di sekitar Pegunungan Ning-jing-san saja dan perayaan dilaksanakan secara sederhana namun cukup meriah.
Yang menemani Hay Hay hanyalah Han Siong, Pek Han Siong inilah yang menjadi semacam hiburan bagi Hay Hay, yang menganggap sahabat ini seperti saudara sendiri.
Dan Han Siong juga menemani Hay Hay dengan kesungguhan hati karena dalam hati Han Siong memang amat kagum dan sayang kepada Hay Hay.
Para tamu yang terdiri dari penduduk dusun di pegunungan itu tentu saja bergembira ria dijamu masakan yang lezat dan arak wangi sehingga belum sampai tengah malam, para tamu sudah banyak yang mabok dan merekapun berpamit meninggalkan tempat pesta setelah memberi selamat kepada sepasang mempelai dan kepada Kim Mo Siankouw dan ibu Mayang, Han Siong juga mewakili pengantin pria untuk membalas pemberian selamat itu.
Akhirnya, semua tamu sudah meninggalkan tempat pesta dan sepasang pengantin diarak memasuki kamar pengantin.
Dalam kesempatan terakhir ini, Han Siong memberi selamat kepada Hay Hay dan Mayang.
"Kionghi, kionghi (selamat, selamat) sekali lagi,"
Katanya gembira.
"Semoga Tuhan memberkahi kalian dengan kebahagiaan abadi!"
Mayang hanya menunduk tersipu malu, akan tetapi Hay Hay memandang sahabatnya itu dengan sinar mata haru.
"Han Siong, engkau sahabatku yang paling baik. Terima kasih untuk segalanya!"
Sepasang pengantin itu didorong masuk kamar yang segera ditutup dan semua orang meninggalkan kamar itu.
Para pelayan sibuk membersihkan bekas pesta.
Kim Mo Siankouw dan ibu Mayang juga merasa lelah sekali setelah tadi menerima tamu dan mereka segera beristirahat di kamar masing-masing, juga untuk menyembunyikan keharuan mereka karena begitu tiba di kamar masing-masing, Kedua orang wanita ini menangis terharu mengingat betapa kini gadis yang mereka sayang itu telah menjadi isteri orang dan memulai suatu kehidupan baru.
Rasa haru dan bahagla membuat mereka dlam-diam mencucurkan air mata!
Sepasang mempelai itu telah berganti pakaian.
Mayang, bersembunyi di balik tirai, melepaskan pakaian pengantin dan mengenakan pakalan tidur yang tipis, sedangkan Hay Hay juga sudah mengenakan pakaian biasa.
Kini, mereka duduk bersanding di tepi pembaringan.
Mayang menunduk, tersipu malu.
Gadis yang biasanya lincah jenaka dan tabah itu, kini tidak berani berkutik, tidak berani bersuara, bahkan tidak berani mengangkat muka memandang wajah suaminya.
Dan Hay Hay juga duduk dengan muka kemerahan karena agak terlalu banyak minum arak menerima penghormatan dan ucapan selamat tadi, Akan, tetapi diapun tersipu, kehilangan akal, salah tingkah dan jantungnya berdebar penuh ketegangan.
Terbayang semua pengalamannya dengan para wanita di masa lalu.
Baru satu kali hubungannya dengan wanita benar-benar hampir melanggar batas, yaitu dengan Kok Hui Lan, janda muda yang tubuhnya semerbak harum seperti bunga itu!
Juga ketika dia hampir "diperkosa"
Wanita cabul Ji Sun Bi.
selain dua kali pengalaman itu, belum pernah dia berhubungan dengan wanita sampai ke hubungan badan, kecuali hanya bermesraan luar saja.
Kini, menghadapi seorang gadis yang mulai saat itu telah menjadi isterinya, yang akan menyerah sebulatnya kepadanya dan dapat dia gauli tanpa ada yang akan melarang, tanpa ada pelanggaran susila atau hukum apapun, dia berdebar penuh ketegangan dan juga kebingungan.
Dia sama sekali tidak berpengalaman dalam hal itu!
Karena sukar membuka mulut, hanya duduk bersanding di tepi pembaringan, Hay Hay berdehem dua kali dan mengeluarkan suara ketawa kecil untuk menarik perhatian "isterinya".
Dan usahanya berhasil.
Mendengar suaminya berdehem lalu mengeluarkan suara ketawa kecil, Mayang khawatir kalau ada sesuatu pada dirinya yang tidak beres sehingga memancing tawa suaminya.
Ia cepat memandangi pakaiannya kalau-kalau ada yang tidak beres, kemudian karena tidak menemukan sesuatu yang salah, ia mengangkat mukanya memandang.
Dua pasang mata bertemu, bertaut dan akhirnya Mayang menundukkan kembali mukanya yang menjadi kemerahan, akan tetapi bibirnya menahan senyum.
Manisnya!
"Mayang..."
Suara Hay Hay gemetar dan hal ini terasa benar olehnya sehingga diapun tidak berani melanjutkan!
Mayang kembali menoleh dan kembali dua pasang mata bertemu pandang dan bertaut.
"Hay Hay..."
Mayang berbisik, lalu cepat dibenarkannya.
"Hay-koko (kanda Hay)!"
Ia cepat menunduk lalu dan mukanya semakin merah.
Begitu merdu dan manisnya sebutan Hay-koko itu sehingga perasaan bahagia menyelinap di dalam kalbu Hay Hay.
Tanpa disadarinya, tangan kirinya bergerak dan memegang pundak itu dengan sentuhan lembut.
"Mayang, engkau... Engkau... sungguh cantik jelita dan manis bukan main..."
Mayang kembali menoleh dan kini ia tersenyum.
"Engkau perayu!"
Katanya manja dan entah siapa yang mulai lebih dahulu, tahu-tahu keduanya saling rangkul dan saling dekap.
Ketika Hay Hay menciumnya, Mayang menyambut dengan rintihan lirih.
Mereka kini rebah dengan saling rangkul.
Tiba-tiba Mayang bangkit duduk dan matanya yang sipit itu dibuka lebar memandang ke arah leher Hay Hay dan tak terasa ia mengeluarkan seruan lirih namun mengejutkan.
"Ihhhh...!"
Hay Hay juga bangkit duduk.
"Ada apakah, Mayang...?"
Tangan kanan Mayang bergerak menangkap benda yang tergantung di leher Hay Hay, yaitu mainan berbentuk kumbang merah yang tadi berjuntai keluar dari balik baju Hay Hay.
"Ang... hong... cu...!"
Mayang berbisik dan tangan kirinyapun mengeluarkan benda yang sama dari balik bajunya!
Kini giliran Hay Hay yang tersentak kaget dan sekali tangannya bergerak dia sudah merampas dua buah benda itu dari kedua tangan Mayang, lalu dia membandingkan dua buah benda itu.
Presis sama!
"Mayang..."
Suaranya gemetar dan wajahnya pucat.
"dari mana... engkau mendapatkan benda ini...?"
"Dari ibuku, baru tadi ibu memberikannya kepadaku sebagai hadiah pernikahan. Benda... benda itu... ibu menyebut Ang-hong-cu (Si Kumbang Merah), kata ibu itu peninggalan ayah kandungku..."
"Ayah... ayah kandungmu... ya Tuhan...!!!"
Wajah Hay Hay menjadi semakin pucat dan seluruh tubuhnya menggigil.
Mayang terkejut bukan main melihat keadaan Hay Hay itu.
"Kenapa, Hay-koko? Kenapa? Dan dari mana engkau mendapatkan benda yang serupa benar dengan peninggalan ayahku? Dari mana engkau dapat memiliki Ang-hong-cu?"
"Mayang...,"
Hay Hay menggeser duduknya menjauh agar tubuhnya tidak menyentuh tubuh Mayang.
"Mayang... kita... kita... kau... Ang-hong-cu... dia ayah kandungku pula..."
Sepasang mata yang sipit itu terbelalak, muka yang manis itu menjadi sepucat mayat dan terdengarlah suara melengking tinggi dan nyaring dari mulut itu, lengkingan yang keluar sebagai jeritan dari dalam.
Kedua tangan itu merenggut dua buah benda itu dari tangan Hay Hay, kemudian tubuh itu bergerak melompat turun dari atas pembaringan, lari menerjang pintu kamar sehingga terbuka dan Mayang berlari keluar.
"Mayang...! Mayanggg...!!"
Dengan tubuh masih menggigil Hay Hay juga melompat turun.
"Ang-hong-cu... ah, Ang-hong-cu..., hu-hu-huuuhhh...!"
Sambil menangis sesenggukan Mayang berlari keluar dan hampir saja ia bertabrakan dengan gurunya dan ibunya yang sedang berlarian menuju ke kamarnya.
Dua orang tua itu terkejut ketika mendengar pekik melengking tadi dan keduanya sudah berlari keluar kamar masing-masing menuju ke kamar pengantin.
"Mayang, ya Tuhan, ada apakah, Mayang?"
Ibunya segera merangkul puterinya dengan wajah penuh kekhawatiran.
Juga Kim Mo Siankouw memandang muridnya dengan alis berkerut dan sepasang mata tajam penuh selidik.
Dan pada saat itu, Kim Mo Siankouw juga melihat bayangan Han Siong berkelebat.
Pemuda ini juga sudah keluar dari kamarnya dan terkejut oleh jeritan Mayang tadi, kini melihat Mayang menangis dalam rangkulan ibunya Han Siong cepat melompat dan lari ke arah kamar pengantin untuk melihat Hay Hay.
"Mayang, berhentilah menangis dan katakan ada apa?"
Ibunya menggoyang-goyang tubuh puterinya yang masih tersedu-sedu menangis sambil merangkulnya.
"Tenanglah, Mayang. Apakah engkau tidak malu. menjadi cengeng seperti ini? Mana kegagahanmu?"
Kata pula Kim Mo Siankouw.
Mayang melepaskan rangkulan pada ibunya, lalu menoleh dan memandang Subonya dengan air mata bercucuran.
"Subo...!"
Ia kini menubruk Subonya dan menangis di pundak Kim Mo Siankouw.
Gurunya terheran-heran, juga terkejut melihat sikap muridnya seperti kanak-kanak itu.
"Mayang, engkau kenapakah? Mayang anakku...!"
Ibunya berkata dengan bingung dan khawatir sekali.
Mayang kembali melepaskan rangkulan pada gurunya dan kini menangis dalam rangkulan ibunya.
"Ibu... hu-hu-huuuhhh... ibu..., Subo... bunuh saja aku, ibu... hu-hu-huuuhhh..."
"Eh? Engkau kenapa, Mayang? Ada apakah? Ibunya semakin khawatir. Mayang menjulurkan kedua tangannya yang sejak tadi menggenggam dua buah benda kecil itu.
"Ang-hong-cu... dia... dia... Ang-hong-cu..."
Katanya dengan suara terputus-putus oleh isak. Kini ibunya terbelalak dan mukanya berubah pucat.
"Ang-hong-cu...? Apa maksudmu? Dan kenapa menjadi dua benda itu? Dari mana yang sebuah lagi?"
"Dia... dia... putera Ang-hong-cu...!"
Dan kini Mayang terkulai, pingsan dalam rangkulan ibunya.
Dua buah benda itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke atas lantai.
Kim Mo Siankouw cepat mengambil dua buah benda itu.
Ketika para pelayan berdatangan, Kim Mo Siankouw memberi isarat dengan tangan agar mereka pergi dan kembali ke kamar mereka.
Para pelayan tidak berani membantah walaupun mereka menjadi terheran-heran melihat nona mereka menangis, menjerit-jerit dan kemudian pingsan itu.
Mereka tidak dapat mengerti mengapa nona mereka yang menjadi pengantin bersikap seperti itu.
Sementara itu, ketika Han Siong memasuki kamar pengantin yang pintunya terbuka lebar, dia melihat Hay Hay duduk di tepi pembaringan seperti sebuah arca.
Pemuda itu duduk dengan mata terbelalak, mukanya pucat dan penglihatannya kosong.
Han Siong cepat memegang kedua pundak Hay Hay.
"Hay Hay, sadarlah! Apa yang telah terjadi? Ada apa dengan Mayang isterimu?"
Tanpa disengaja Han Siong memandang ke atas pembaringan dan jelas bahwa tempat itu belum pernah dipergunakan, bantal, selimut dan tilam sutera itu masih rapi, belum kusut seperti kalau sudah dipakai tidur.
Karena pundaknya diguncang keras oleh Han Siong, Hay Hay seperti baru sadar.
Dia menghela napas panjang, lalu dia memegang kedua lengan sahabatnya.
Kedua matanya basah!
"Eh?
Engkau menangis?"
Han Siong hampir tidak percaya.
Akan tetapi dia melihat kedua mata itu basah, basah dan berlinang air mata!
Hay Hay mengusapkan mukanya pada kedua pangkal lengan, lalu berkata dengan suara seperti orang dalam mimpi.
"Untung... sungguh Tuhan masih melindungi kami... aiiih, Han Siong, mengapa nasibku sekarang seperti ini? Ataukah ini dosa orang tuaku?"
"Hay Hay, katakan apakah yang telah terjadi?"
Melihat Hay Hay sudah tenang, Han Siong melepaskan tangannya dan dia kini mundur, memandang wajah sahabatnya yang masih pucat itu.
"Han Siong, ia adalah adikku! Kami seayah berlainan ibu!"
"Ahhh...?? Mayang puteri Ang Ang-hong-cu...?"
Kini Han Siong yang melongo keheranan. Hay Hay mengangguk, kembali menghela napas.
"Ia juga memiliki benda perhiasan itu, seekor kumbang merah, presis yang kupunyai. Ia baru hari ini menerima dari ibunya, sebagai hadiah pernikahan, peninggalan ayah kandungnya..."
Han Siong jatuh terduduk di atas kursi.
Bengong.
Mengertilah dia mengapa gadis itu menjerit-jerit dan Hay Hay seperti arca tadi.
Dan diapun mengerti maksud kata-kata Hay Hay yang mengatakan masih untung, bahwa mereka masih dilindungi Tuhan.
Jelas bahwa mereka belum melakukan hubungan suami isteri!
Kalau sudah, berarti kiamat dunia ini bagi mereka!
Dia menghela napas.
"Aihh, engkau masih untung, Hay Hay. Aku ikut merasa girang bahwa kalian masih belum terjatuh ke dalam aib dan dosa. Kasihan engkau, Hay Hay..."
"Kasihan Mayang, bukan aku, Han Siong. Tentu hancur hatinya... ah, mari kita keluar. Aku harus menghiburnya, menghibur adikku..."
Mereka lalu keluar dari dalam kamar itu.
Ketika melihat Mayang terkulai pingsan dalam pondongan ibunya, Hay Hay terkejut.
"Mayang...!"
Kim Mo Siankouw berkata dengan suara lembut namun tegas.
"Mari kita bicara di ruang dalam. Engkau juga, Pek Taihiap!"
Ibu Mayang masih memondong tubuh Mayang.
Gadis itu pingsan, dan mereka semua memasuki ruangan dalam.
Kim Mo Siankouw sendiri menutupkan dua buah pintu tembusan pada ruangan itu.
Ibu Mayang merebahkan puterinya di sebuah kursi panjang.
"Kalian duduklah!"
Kata Kim Mo Sian-kouw kepada Hay Hay dan Han Siong.
Dua orang pemuda itu duduk dan Hay Hay menundukkan mukanya, menutupi muka dengan kedua tangannya, tidak tahu harus berbuat apa atau berkata apa.
Dia merasa bingung dan kenyataan yang teramat pahit itu merupakan pukulan yang mengguncang batinnya dengan hebat.
Nyaris dia menjadi suami isteri dengan adiknya sendiri!
Kim Mo Siankouw menghampiri Mayang, mengurut beberapa bagian punggung dan tengkuknya.
Gadis itu mengeluh, membuka matanya, melihat ibu dan Subonya, lalu teringat dan iapun merintih dan menangis.
"Sudahlah, Mayang. Tenangkan hatimu dan mari kita bicara. Hay Hay juga sudah berada di sini."
Kata ibunya.
Mendengar ini, Mayang bangkit duduk menengok dan begitu melihat Hay Hay, mulutnya bergerak-gerak, bibirnya menggigil dan iapun menangis lagi.
Akan tetapi ditahannya sehingga ia menangis tanpa suara, menutupi mukanya dengan kedua tangan.
Hay Hay merasa jantungnya seperti ditusuk-tusuk.
Dia merasa iba sekali melihat Mayang, adiknya yang hampir menjadi isterinya tadi.
"Mayang, maafkan aku. Kita telah menjadi permainan nasib..."
Katanya lirih dan ucapannya ini hanya disambut suara sesenggukan dari Mayang.
"Hay Hay, sekarang kuminta engkau suka bicara terus terang. Dari manakah engkau mendapatkan benda ini?"
Tanya ibu Mayang sambil menunjuk dua buah benda perhiasan kumbang merah yang diletakkan di atas meja oleh Kim Mo Siankouw.
"Benda itu adalah peninggalan dari ayah kandung saya, yang diberikan kepada mendiang ibu saya."
"Hay Hay, kita berada di antara orang sendiri. Untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya, sebaiknya kalau engkau menceritakan riwayat ibu dan ayahmu, setelah itu akan kuceritakan tentang diriku dan ayah Mayang. Dengan demikian, dapat diketahui bagaimana sesungguhnya hubungan antara engkau dan Mayang."
Kata pula ibu Mayang dengan sikapnya yang lembut dan halus.
Kini Mayang juga amat tertarik dan ia sudah mampu menenangkan dirinya.
Ia duduk dekat ibunya, memandang kepada Hay Hay dengan wajah pucat dan mata merah.
Hay Hay menarik napas panjang.
Kalau tidak ada urusan yang begini ruwet dengan Mayang, tentu dia tidak akan pernah menceritakan riwayat hidup ibunya kepada siapapun juga.
Sekarang dia terpaksa, demi untuk menjernihkan kekeruhan antara dia dan Mayang.
"Terus terang saja, bibi. Saya sendiri tidak tahu dan tidak mengenal siapa sebenarnya ibu saya. Ketika saya masih bayi, ibu saya membawa saya terjun ke laut untuk membunuh diri! Pada waktu itu, lo-cian-pwe Pek Khun, yaitu kakek buyut saudara Pek Han Siong ini, melihatnya dan cepat menolong ibu dan saya. Akan tetapi ibu tidak tertolong dan tewas, lalu saya yang masih bayi dibawa oleh lo-cian-pwe Pek Khun ke Pek-sim-pang. Kebetulan pada waktu itu, saudara Pek Han Siong yang juga sebaya dengan saya, perlu diungsikan dan disembunyikan karena dia dianggap sebagai Sin-tong (Anak Ajaib) dan dikejar-kejar oleh para pendeta Lama yang hendak merampasnya karena dia dianggap sebagai calon Dalai Lama. Nah, saudara Han Siong ini disembunyikan, dan saya dijadikan penggantinya. Ketika lo-cian-pwe Pek Khun menyelamatkan saya, maka ada benda itu yang diberikan ibu untuk saya. Dalam saat terakhirnya ibu saya bercerita kepada lo-cian-pwe Pek Khun bahwa ibu adalah seorang korban jai-hwa-cat yang berjuluk Ang-hong-cu dan yang memberikan tanda perhiasan kumbang merah itu. Demikianlah riwayat ibu saya, bibi. Saya sendiri tidak mengenal siapa ibu saya. Setelah dewasa, saya baru mengetahui bahwa saya adalah putera Ang-hong-cu, dan saya bahkan pernah melihat kejahatannya! Dia bukan saja penyebab kematian ibu saya, melainkan juga saya melihat sendiri betapa dia telah menodai beberapa orang gadis pendekar. Dia jahat dan keji!"
"Hemmm, jadi kalau begitu, ketika engkau mengatakan kepada Mayang bahwa engkau akan mencari musuh besarmu yang membunuh ibumu, maka musuh besarmu adalah Ang-hong-cu, juga ayah kandungmu?"
Tanya pula ibu Mayang.
"Benar bibi. Tadinya, semua itu akan saya rahasiakan dan hanya beberapa orang saja yang mengetahui, termasuk saudara Pek Han Siong ini."
Han Siong mengangguk-angguk.
"Ang-hong-cu itu memang amat jahat dan keji, akan tetapi dia lihai dan juga cerdik dan licik sekali!"
"Hay Hay, tahukah engkau siapa nama ayahmu itu?"
Tanya pula ibu Mayang. Hay Hay menggeleng kepalanya.
"Dalam pesan terakhir ibu saya, ia hanya mengatakan bahwa ayah itu memiliki nama keluarga Tang."
"Dan dalam penyamarannya, dia memakai nama Han Lojin."
Sambung Han Siong. Ibu Mayang mengangguk-angguk.
"Aih, ini juga kesalahanku sendiri. Ketika engkau datang bersama Mayang, dan mendengar engkau she Tang, lalu meljhat wajah dan bentuk tubuhmu, aku sudah terkejut dan terheran. Engkau she Tang, sama dengan she ayah Mayang, dan wajahmu mirip. Akan tetapi, aku tidak manyangka sejauh itu. Kalau begitu, engkau memang benar puteranya, Hay Hay. Engkau putera Ang-hong-cu, orang yang ku kenal sebagai Tang Kongcu (Tuan Muda Tang), yaitu ayah kandung Mayang. Kalau begitu tidak salah lagi, engkau memang masih kakak beradik dengan Mayang, satu ayah berlainan ibu."
Hay Hay saling pandang dengan Mayang.
"Engkau... adikku..."
Kata Hay Hay perlahan, akan tetapi Mayang tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan linangan air mata.
"Sekarang dengarkan riwayatku, Hay Hay. Seperti juga engkau, hanya karena timbul peristiwa antara engkau dengan Mayang ini sajalah yang memaksa aku untuk menceritakan riwayat hidupku yang mirip dengan riwayat ibu kandungmu. Tadinya aku sama sekali tidak mengira bahwa pemuda yang tampan dan terpejar itu, yang lemah lembut dan halus sikapnya, yang oleh penduduk dusun kami di kenal sebagai Tang Kongcu yang pandai silat dan pandai mengobati orang sakit, sebetulnya adalah seorang penjahat cabul yang berjuluk Ang-hong-cu yang kejam. Aku yang ketika itu masih seorang gadis berriama Sauli, terpikat oleh ketampanan dan rayuan Tang Kongcu sehingga aku secara tidak tahu malu menyerahkan diri dengan harapan akan dikawininya. Akan tetapi, setelah aku mengandung, dia pergi begitu saja, hanya meninggalkan perhiasan kumbang merah itu. Orang tuaku marah kepadaku, dan dalam keadaan mengandung aku diusir dari dusun, tidak diakui lagi. Aku hidup terlunta-lunta, melahirkan Mayang dalam keadaan sengsara sekali. Dan agaknya akupun, seperti ibumu, akan mati kalau saja tidak ada Subo Kim Mo Siankouw ini yang telah menolong kami."
Wanita itu menangis dan Mayang merangkul ibunya. Hay Hay mengepal tinju.
"Akan saya cari sampai dapat Ang-hong-cu, dan dia harus menebus semua dosanya! Bukan saja terhadap ibuku dan terhadap bibi akan tetapi juga terhadap entah berapa ratus orang wanita yang telah dirusak kehidupan mereka oleh kejahatannya!"
"Hay koko, aku ikut denganmu!"
Tiba-tiba Mayang berkata, suaranya lantang dan penuh kemarahan.
Agaknya ia sudah dapat memulihkan kekuatan batinnya dan kini nampak garang.
Semua orang terkejut.
Akan tetapi Hay Hay memandang dan wajahnya mulai cerah.
Dia girang melihat gadis itu telah pulih kembali, tidak tenggelam ke dalam kedukaan seperti tadi.
"Adikku Mayang, kenapa engkau hendak ikut dengan aku?"
Tanyanya.
"Mayang, engkau baru saja mengalami guncangan batin, sebaiknya beristirahat di rumah."
Kata ibunya.
"Benar ibumu, Mayang. Menurut kakakku Ang-hong-cu itu lihai sekali, dan untuk dapat menandinginya, agaknya engkau perlu berlatih keras. Biar kuajarkan engkau jurus-jurus simpanan agar dapat menandingi Ang-hong-cu."
Kata Kim Mo Siankouw.
"Tidak, Hay-koko, ibu dan Subo! Aku harus ikut! Pertama, orang yang berjuluk Ang-hong-cu itu, biarpun dia ayah kandungku, akan tetapi dia juga orang yang telah merusak hidup ibu, hidupku, bahkan kini mendatangkan malapetaka kepada aku dan Hay-ko. Dia harus mati di tanganku! Aku akan membantu Hay-ko menghadapinya! Selain itu, ibu dan Subo, setelah terjadi peristiwa ini, bagaimana mungkin aku tinggal di sini lagi? Semua orang di sekitar daerah ini telah datang menjadi tamu, menyaksikan aku menjadi pengantin, minum arak pengantin dan memberi selamat. Kemana aku akan menaruh mukaku ini kalau mereka mendengar bahwa pernikahan ini dibatalkan, bahkan aku nyaris menikah dengan kakak sendiri?"
Setelah mengucapkan kalimat terakhir ini, kembali Mayang menangis.
Hay Hay merasa kasihan sekali kepada adiknya itu.
Dia dapat merasakan hal itu memang.
Sebagai seorang pria, tentu dia bebas dari aib.
Akan tetapi, keadaan hidup seorang wanita mengenai hal yang menyangkut nama, kehormatan yang berhubungan dengan kesusilaan memang amat gawat.
Begitu mudahnya orang tmelemparkan aib kepada diri seorang gadis.
Wanita akan selalu menjadi sasaran celoteh.
"Kalau Subomu dan ibumu mengijinkan aku sekarang tidak merasa berkeberatan untuk mengajakmu, Mayang."
"Terima kasih, Hay-ko, aku memang harus ikut denganmu. Kalau tidak diperkenankan, aku akan minggat dan mencari sendiri Ang-hong-cu!"
Kata gadis itu.
Kim Mo Siankouw dan ibu Mayang saling pandang.
Mereka tahu bahwa sekarang ini mereka tidak mungkin dapat membujuk atau berkeras.
Pula, mereka juga merasa kasihan kepada Mayang.
Melihat ibu Mayang mengangguk kepalanya, Kim Mo Siankouw lalu berkata.
"Baiklah, Mayang. Aku dan ibumu setuju engkau pergi bersama Hay Hay akan tetapi mengingat bahwa engkau akan menghadapi lawan yang amat lihai maka lebih dulu aku akan mengajarkan jurus-jurus pilihan selama sepuluh hari. Engkau dapat melatihnya dalam perjalanan setelah engkau hafal akan semua gerakannya. Tanpa bekal itu, aku tetap akan merasa khawatir kalau engkau pergi."
Mayang memandang kepada Hay Hay dan suaranya mengandung permohonan ketika ia bertanya.
"Hay-ko, maukah engkau menanti sampai sepuluh hari baru kita berangkat?"
Hay Hay tersenyum.
Dia telah memperoleh kembali ketenangan dan kegembiraannya setelah urusannya dengan Mayang itu dapat diselesaikan tanpa akibat yang menyedihkan.
Dia tahu bahwa mulai saat ini, dia mendapatkan seorang adik perempuan yang manja sekali!
Dia mengangguk menyetujui.
Han Siong ikut merasa gembira dan ini dia nyatakan dengan ucapan yang disertai senyum dan wajah yang cerah.
"Saya merasa bergembira sekali bahwa urusan yang tadinya membuat saya merasa amat khawatir ini telah dapat diselesaikan dengan baik. Dan sayapun berterima kasih kepada Tuhan yang masih melindungi Hay Hay dan nona Mayang sehingga walaupun mereka telah melaksanakan upacara pernikahan, namun mereka masih belum menjadi suami isteri dan kini dapat menjadi kakak dan adik secara wajar. Karena, bagaimanapun juga, saya akan ikut memikul dosanya kalau sampai pelanggaran terjadi, karena saya ikut pula membujuk Hay Hay untuk menerima usul perjodohan itu. Setelah sekarang semuanya beres, sayapun hendak mohon diri, dan saya menghaturkan terima kasih kepada Kim Mo Siankouw atas semua kebaikannya selama saya berada di sini."
"Han Siong, kenapa engkau tergesa-gesa pergi? Hendak ke manakah engkau?"
Tanya Hay Hay.
"Engkau tahu bahwa akupun mempuai perhitungan dengan Ang-hong-cu. Akan tetapi aku akan pulang dulu ke Kong-goan, ke Pek-sim-pang untuk menemui keluargaku. Mari kita berlumba, siapa yang akan lebih dulu berhasil menangkap Ang-hong-cu, Hay Hay!"
"Bagus!"
Hay Hay yang sudah mendapatkan kembali kegembiraannya itu menerima tantangan itu.
"Kita lihat saja nanti. Yang kalah harus menjamu makanan apa saja yang diminta si pemenang dalam rumah makan besar!"
"Baik, Hay Hay. Nah, sekarang aku harus pergi."
Han Siong memberi hormat kepada mereka semua dan pergilah dia meninggalkan tempat itu.
Hatinya merasa gembira bukan main.
Dia kini merasa bebas seolah-olah semua ikatan pada dirinya telah putus, seolah beban yang selama ini menghimpit hatinya telah tanggal.
Pertama, Wakil Dalai Lama sendiri sudah menjanjikan bahwa mulai sekarang, tidak akan ada lagi pendeta Lama yang mengganggunya, yang hendak memaksanya ikut ke Tibet menjadi Dalai Lama!
Dan ke dua, urusan Hay Hay dengan Mayang telah dapat diselesaikan dengan baik, karena dia ikut pula bertanggung jawab, ikut pula membujuk Hay Hay, bahkan mengancam akan memusuhinya kalau Hay Hay tidak mau berjodoh dengan Mayang!
Dia bergidik membayangkan.
Kalau sampai terlanjur terjadi pelanggaran dan hubungan suami isteri antara kedua orang yang masih sedarah itu, tentu dia sendiri merasa berdosa, menyesal bukan main.
Dan Hay Hay tentu akan mendapatkan alasan yang kuat untuk melampiaskan kemarahan kepadanya tanpa dia mampu membela diri.
Hay Hay tentu akan menganggapnya jahat dan mengatakan bahwa dia telah mendorong Pendekar Mata Keranjang itu terjerumus ke dalam lembah kehinaan!
Untung juga keduanya memakai perhiasan kumbang merah itu sebagai kalung!
Kini semua telah lewat dan Han Siong dapat melakukan perjalanan dengan wajah berseri dan hati lapang.
Ada lagi suatu hal yang menggembirakan hatinya.
Kegagalan cintanya terhadap Siangkoan Bi Lian tidak menimpa dirinya sendiri!
Kepahitan karena cinta gagal baru saja juga menimpa Hay Hay.
Bahkan lebih parah daripada dia.
Berarti dia mempunyai teman sependeritaan!
Hal ini membuat dia merasa semakin dekat dengan Hay Hay!
Pemuda gemblengan ini dalam kegembiraannya lupa bahwa dia telah menjadi hamba dari pada ke-akuan yang menghinggapi hampir seluruh manusia di permukaan bumi ini.
Orang yang sedang tertimpa malapetaka, yang sedang merasa sengsara, sedang berduka, akan merasa terhibur dan berkurang kedukaannya kalau ia melihat orang lain, Apa lagi yang dekat dengan dia, tertimpa kemalangan yang lebih besar dari pada kemalangan yang menimpa dirinya sendiri!
Dan orang yang sudah diperbudak ke-akuannya sendiri itu yang merasa terhibur dan berkurang kedukaannya kalau melihat orang lain tertimpa kedukaan yang lebih besar, tentu akan merasa tak senang dan iri hati kalau melihat orang lain memperoleh keuntungan yang lebih besar dari pada keuntungan yang diperolehnya sendiri.
Seperti inilah kelemahan manusia yang tercengkeram nafsu-nafsunya sendiri.
Nafsu selalu mendorong kita untuk menjadi yang paling baik, paling besar, paling penting dan tidak kalah oleh orang lain!
Berbahagialah orang yang dapat melihat, merasakan, dan menyadari kelemahan yang ada pada dirinya ini.
Karena hanya mereka yang waspada dan sadar sajalah dapat melihat ulah nafsu yang ada pada diri sendiri.
(Lanjut ke
Jilid 21) Ang Hong Cu (Seri ke 10 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 21 Mereka bertiga berjalan-jalan di puncak bukit yang penuh dengan pohon cemara itu.
Pagi itu cerah dan pemandangan alam amatlah indahnya.
Matahari pagi sudah tersenyum lembut di atas puncak, sinarnya juga lembut dan hangat di antara kesejukan semilir angin gunung.
Bau rumput dan daun cemara yang khas sungguh nyaman dan harum menyenangkan, keharuman yang lembut, membuat hidung terasa segar dan lega.
Kicau burung-burung yang sudah sibuk sejak matahari timbul tadi, seperti ribuan karyawan yang siap melaksanakan tugas pekerjaan sehari-hari di pagi itu, memulai pekerjaan dengan semangat berkobar dan hati penuh kebahagiaan, merupakan suara yang merdu dan gembira, menjadi santapan pagi yang amat sehat bagi telinga.
Betapa nikmatnya hidup kalau pada suatu saat, tiga di antara alat panca indriya kita, yaitu mata hidung dan telinga, menikmati keindahan bersama-sama.
Mata menikmati pemandangan alam yang mentakjubkan, penuh pesona dan penuh kegaiban.
Hidung menghirup udara yang amat sejuk segar, jernih bersih, dengan keharuman yang khas alami, membuat napas yang dihisap itu penuh tenaga mujijat dari alam, memenuhi rongga dada bahkan terus sampai ke bawah pusar, menyehatkan dan membahagiakan.
Telinga pada saat yang sama mendengarkan suara yang penuh kedamaian, penuh ketentraman, penuh kewajaran dan keindahan.
Betapa nikmatnya hidup!
Dalam keadaan seperti itu, hati dan akal pikiran berhenti berceloteh dan segala sesuatu nampak indah.
Suara angin bermain dengan daun-daun cemara, suara air gemercik di antara batu-batu, kicau burung, kokok ayam hutan, semua itu merupakan pendengaran yang seolah-olah bunyi-bunyian merdu dari sorga!
Bau tanah bermandikan embun saja sudah demikian sedap dan harumnya, masuk ke rongga dada melalui hidung, demikian harum menyegarkan!
Dan melihat kupu-kupu berwarna-warni beterbangan di antara bunga-bunga, melihat burung-burung berloncatan dari dahan ke dahan, bahkan melihat embun sebutir bergantung pada ujung daun, berkilauan tercuci sinar matahari pagi, sudah merupakan penglihatan yang indahnya sukar dilukiskan!
Sayang, sungguh sayang sekali bahwa sejak kecil kita sudah dijejali kesenangan-kesenangan pemuas nafsu sehingga kita menjadi mabuk.
Kesenangan badani yang semu, yang hanya merupakan pelampiasan dari pada hasrat nafsu, membuat kita mabok dan tidak lagi dapat melihat segala keindahan, tidak dapat mendengarkan segala kemerduan dan tidak lagi mampu menghirup segala kesedapan yang segar.
Kita terbuai oleh kesenangan tuntutan nafsu.
Hati dan akal pikiran kita selalu berceloteh dan sibuk dengan urusan pengejaran kesenangan nafsu.
Kalaupun kadang-kadang kita dapat merasakan keagungan dan keindahan itu, segera hati dan akal pikiran datang mengacau dan seketika lenyaplah semua keindahan itu karena batin telah disibukkan kembali dengan urusan kesenangan diri, kesenangan dari pelampiasan nafsu keinginan!
Demikian pula dengan tiga orang yang berjalan-jalan di pagi hari itu.
Tadinya mereka tidak berkata-kata, seperti tenggelam ke dalam keindahan itu, bahkan mereka merasa bersatu dengan semua keindahan itu, tidak terpisah-pisah.
Rasa aman teneram bahagia, bukan senang, menyelubungi mereka sehingga pada saat seperti itu, mereka tidak ber-aku, mereka bersatu dengan alam, dengan kekuasaan Tuhan, dengan Tuhan!
Mereka berada dalam keadaan samadhi yang sejati, bukan pengosongan diri karena dikehedaki hati dan akal pikiran!
Kekosongan batin yang DIKOSONGKAN oleh hati dan akal pikiran, merupakan kekosongan palsu, karena kekosongan itu penuh dengan usaha dari keinginan.
Kekosongan berpamrih.
Tiga orang itu bukanlah orang-orang biasa, bukan penghuni pegunungan biasa.
Mereka adalah ayah, ibu dan anak yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan dapat disejajarkan dengan orang-orang sakti!
Pria itu berusia empat puluh tiga tahun kurang lebih.
Lengan kirinya buntung sebatas siku sehingga lengan baju yang kiri itu ujungnya terkulai lemas tanpa isi.
Tubuhnya tinggi tegap.
Kepalanya tidak gundul, melainkan memiliki rambut yang hitam tebal dan panjang, yang digelung ke atas seperti gelung rambut tosu (pendeta To), akan tetapi pakaiannya yang longgar itu mengingatkan orang akan pakaian hwesio (pendeta Buddha) yang berwarna kuning.
Wajahnya tampan dan jantan, dengan alis tebal dan sepasang matanya mencorong.
Sikapnya pendiam dan bahkan dingin.
Pria ini bukan lain adalah Siangkoan Ci Kang!
Seperti telah kita ketahui, pria ini adalah putera mendiang Siangkoan Lojin atau yang di (junia kang-ouw terkenal dengan sebutan Si lblis Buta.
Biarpun kedua matanya buta, namun Siangkoan Lojin ditakuti semua orang, karena lihainya, juga karena kejamnya.
Seorang datuk sesat yang namanya tersohor.
Akan tetapi, sungguh aneh, puteranya, yaitu Siangkoan Ci Kang, walaupun juga berhati sekeras baja, namun tidak mewarisi watak kejam dan jahat seperti ayahnya.
Bahka sejak muda dia menentang kejahatan, sehingga membuat dia menjadi penentang ayahnya sendiri!
Wanita berusia empat puluh dua tahun itu isterinya, Toan Hui Cu dan ia masih nampak cantik sekali.
Walaupun mukanya agak pucat, akan tetapi bukan pucat karena sakit.
Dan riwayat wanita ini bahkan lebih hebat dari pada riwayat suaminya.
Seperti juga suaminya, Toan Hui Cu juga keturunan datuk sesat.
Bukan datuk biasa malah, melainkan rajanya datuk sesat!
Biarpun ayah kandungnya masih keluarga kerajaan, berdarah bangsawan tinggi, namun ayahnya ketika masih hidup terkenal dengan julukan Raja Iblis, dan ibunya Ratu Iblis!
Ayah dan ibunya memiliki kepandaian yang membuat mereka itu sakti dan mengenai kekejaman dan kejahatan, tidak ada datuk sesat yang lebih mengerikan dari pada mereka!
Anehnya, Toan Hui Cu yang merupakan anak tunggal, seperti juga halnya Siangkoan Ci Kang, tidak mewarisi watak jahat ayah ibunya.
Bahkan ia condong berwatak pendekar!
Dua orang dari keturunan tokoh sesat ini saling mencinta dan akhirnya, nasib membuat mereka berdua itu menjadi murid di kuil Siauw-lim-si, akan tetapi juga menjadi dua orang hukuman karena oleh ketua Siauw-lim-si dianggap melakukan dosa, melanggar kesusilaan karena mereka berdua telah menjadi suami isteri tanpa nikah!
Selama dua puluh tahun mereka harus menjalani hukuman di kuil itu, bertapa, akan tetapi justeru dalam hukuman itulah mereka berdua menemukan kitab-kitab pelajaran ilmu silat tinggi peninggalan orang-orang sakti yang termasuk Delapan Dewa!
Dan mereka, biarpun terhukum dalam ruangan berbeda, dengan ilmu mereka yang tinggi, dan keduanya mempelajari ilmu dari kitab-kitab itu sehingga keduanya menjadi semakin sakti!
Dan dari hubungan mereka, terlahirlah seorang anak perempuan!
Karena mereka dalam keadaan sebagai terhukum, maka terpaksa anak perempuan itu mereka titipkan didusun.
Nasib membuat anak itu terculik lenyap, dan setelah anak itu dewasa, barulah anak itu kembali kepada mereka.
Orang ke tiga yang sedang berjalan-jalan di pagi hari itulah anak mereka, puteri mereka yang bernama Siangkoan Bi Lian!
Seorang gadis berusia dua puluh satu tahun, bertubuh ramping dengan pinggang yang kecil sekali, dengan kulit yang putih mulus.
Rambutnya panjang sampai ke pinggul, hitam mengkilap dan tebal, dan pagi hari ini rambut itu dikuncir menjadi dua, dibiarkan tergantung dan kedua ujungnya diikat pita sutera biru.
Bi Lian memiliki mata ayahnya, mencorong tajam.
Hidungnya kecil mancung seperti hidung ibunya, mulutnya berbentuk seperti mulut ibunya, hanya bedanya, kalau bibir ibunya selalu nampak agak pucat seperti wajahnya, bibir Bi Lian selalu nampak merah membasah.
Bentuk mukanya bulat telur dan sebutir tahi lalat di dagunya menjadi pemanis yang menarik.
Biarpun ayah dan ibunya amat lihai, namun gadis ini yang sejak kecil terpisah dari mereka, menerima gemblengan ilmu-ilmu silat tinggi dua orang datuk iblis yang amat linai, yaitu mendiang Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi, dua orang di antara Empat Setan.
Di bagian depan cerita ini telah diceritakan betapa Bi Lian berjumpa dengan murid ayah ibunya, yaitu Pek Han Siong yang juga oleh ayah ibunya telah diangkat menjadi tunangannya.
Han Siong yang membuka rahasianya bahwa ia puteri Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu, dan Han Siong pula yang membawanya ke kuil Siauw-li-si, kemudian menyusul ke tempat tinggal suami isteri itu, yaitu Kim-ke-kok (Lembah Ayam Emas) di pegunungan Heng-tuan-san sebelah timur.
Setelah bertemu, pertemuan yang penuh keharuan dan kebahagiaan, ayah ibu gadis itu memberitahu tentang ikatan jodoh antara Bi Lian dan Han Siong.
Gadis itu menolak!
Ia menolak bukan karena ia membenci Han Siong.
Sebaliknya malah ia amat mengagumi Han Siong, juga amat menyukainya, akan tetapi ia menganggap Han Siong sebagai suheng (kakak seperguruan) sehingga perubahan yang mendadak itu membuat Bi Lian merasa canggung dan salah tingkah.
Maka ia menyatakan tidak setuju.
Mendengar ini, Han Siong tersinggung dan diapun mohon kepada kedua orang gurunya untuk membatalkan ikatan jodoh itu, dan diapun mengembalikan pedang pusaka Kwan-im-kiam yang diterima dari kedua orang gurunya sebagai tanda perjodohan.
Demikianlah, setelah Han Siong pergi, Bi Lian tinggal bersama ayah ibunya.
Dan dari kedua orang tuanya itu, iapun menerima gemblengan ilmu silat tinggi.
Ia memilih jurus-jurus simpanan saja sehingga ia yang sudah lihai sebagai murid Pak-kwi-ong (Raja Iblis Utara) dal) Tung-hek-kwi (Iblis Hitam Timur) kini menjadi semakin lihai.
Dan pada pagi hari itu, ayah ibu dan anak ini berjalan-jalan di puncak menikmati keindahan suasana pagi hari yang cerah itu.
Sejenak mereka bertiga tenggelam ke dalam keheningan yang indah itu.
Bukan hening yang berarti sepi.
Puncak-puncak cemara bergoyang, bunyi daun gemersik ditimpa dendang air dan meriahnya suara burung, keharuman yang meriah.
Sama sekai tidak sepi.
Namun keheningan yang tercipta apa bila hati dan akal pikiran berhenti berceloteh.
Sayang sekali, keheningan itu segera dikacaukan oleh pikiran.
Melihat burung terbang berpasangan, Siangkoan Ci Kang menghela napas panjang dan melirik kepada puterinya.
Lenyaplah sudah keindahan itu, terganti oleh kegelisahan dan kedukaan karena kini batinnya terpenuhi permasalahan mengenai diri puterinya.
Sudah hampir dua bulan puterinya tinggal bersama mereka di Kim-ke-kok, dan selama dua bulan itu, dia dan isterinya mengajarkan jurus-jurus rahasia simpanan mereka kepada Bi Lian.
Akan tetapi, di waktu malam, kalau dia berada berdua saja dengan isterinya dalam kamar mereka, mereka tiada hentinya membicarakan puteri mereka dengan hati yang kecewa dan berduka.
Puteri mereka telah menggagalkan dan bahkan membikin putus ikatan perjodohan antara puteri mereka dan murid mereka, Pek Han Siong.
Mereka tidak melihat adanya pemuda lain yang lebih baik dari pada murid mereka itu.
Inilah yang pada saat itu menyelinap dalam pikiran Siangkoan Ci Kang ketika dia melihat burung-burung beterbangan dengan berpasangan.
"Lian-ji (anak Lian), tahukah engkau, berapa usiamu sekarang?"
Bi Lian dan ibunya yang masih tenggelam dalam keheningan, seperti baru terbangun dan Bi Lian menoleh, memandang ayahnya dengan heran.
Pertanyaan itu sungguh tak pernah diduganya akan diajukan ayahnya di pagi hari ini.
Sejak mendaki puncak itu, mereka bertiga tidak pernah bicara dan mereka menikmati suasana yang amat indah itu.
Dan tiba-tiba ayahnya bertanya tentang usianya!
"Mengapa, ayah?
Katau tidak salah, sudah hampir dua puluh satu tahun."
Jawabnya sambil memandang wajah ayahnya dengan sinar mata bertanya.
Ayahnya juga memandang kepadanya dan dua pasang mata yang sama mencorongnya saling pandang seperti hendak menembusi hati masing-masing.
"Tidak mengapa, hanya... kukira usia sedemikian itu bagi seorang wanita sudah lebih dari cukup untuk menjadi seorang isteri yang baik."
"Bahkan sudah cukup untuk menjadi seorang ibu yang baik. Aih, betapa inginku menimang seorang bayi, seorang cucuku...!"
Kata pula Toan Hui Cu sambil menarik napas panjang karena ia sudah membayangkan kesenangan itu.
Bi Lian mengerutkan alisnya, akan tetapi ia tidak marah.
Ia cukup mengerti akan perasaan hati ayah ibunya yang ingin melihat ia menikah dan mempunyai anak!
"Aihhh, ayah dan ibu selama dua bulan ini hampir setiap hari bicara tentang pernikahan untukku!"
Ia hanya mengeluh, lalu berhenti melangkah.
Ayah ibunya juga berhenti.
Mereka berada di puncak dan di bawah kaki mereka, di sekeliling puncak itu, nampak hutan dan pohon-pohon kelihatan begitu kecil dan pendek.
"Terus terang saja, anakku, ayah dan ibumu hanya mempunyai satu keinginan, yaitu melihat engkau berumah tangga. Anak kami hanya engkau seorang dan kelirukah kalau ayah dan ibumu ingin melihat anaknya berumah tangga?"
Kata pula ibu Bi Lian.
Bi Lian mendekati ibunya dan merangkul pinggang ibunya.
Ibunya masih cantik sekali, bahkan patut kalau menjadi kakaknya.
"Ibu, aku tahu dan aku tidak menyalahkan kalian, hanya saja, urusan perjodohan bukanlah urusan yang sedemikian mudahnya. Tak mungkin kalau aku memungut begitu saja seorang calon suami dari pinggir jalan!"
"Ha-ha-ha!"
Siangkoan Ci Kang tertawa.
"Tentu saja tidak mungkin! Engkau harus memperoleh seorang suami yang terbaik, anakku! Dan menurut penglihatan kami, kiranya tjdak ada pemuda yang lebih bajk dari pada suhengmu sendiri. Pek Han Siong! Sayang sekali engkau membencinya, Lian-ji."
"Ayah, aku sama sekali tidak membencinya! Bahkan aku kagum dan suka padanya!"
Bi Lian membantah cepat.
"Hemm, kalau benar demikian, mengapa engkau begitu tega untuk menghancurkan hatinya, memutuskan ikatan perjodohan itu? Dari mana kita akan bisa mendapatkan seorang pemuda yang melebihi Han Siong, baik kepandaiannya maupun wataknya? Dia seorang pendekar sejati, anakku!"
Bi Lian menahan senyumnya dan entah bagaimana, pada saat itu terbayanglah wajah Hay Hay yang tersenyum-senyum nakal itu!
Iapun menghela napas.
"Ayah dan ibu, aku tahu bahwa kalian masih menyesali kegagalan perjodohan antara aku dengan suheng itu. Maafkan aku. Terus terang saja, akupun kagum dan suka kepada suheng Pek Han Siong, akan tetapi rasa sukaku itu hanya perasaan terhadap seorang suheng. Aku tidak tahu apakah ada cinta dalam hatiku terhadap suheng. Akan tetapi itu tidak penting. Yang penting adalah bahwa aku tidak yakin akan cintanya kepadaku."
"Ehhh? Bukankah dia secara terus terang telah menyatakan cintanya kepadamu, di depan aku dan ibumu? Lian-ji, Han Siong mencintaimu, itu sudah jelas!"
Kata pula Siangkoan Ci Kang.
"Benar ayahmu, Bi Lian. Han Siong cinta padamu dan dia akan menjadi seorang suami yang amat baik, juga ayah yang baik untuk anak-anakmu."
Kata ibunya.
"Bagaimana ayah dan ibu dapat begitu yakin? Ingatlah, ketika suheng mengaku cinta, dia sudah terikat perjodohan dengan aku! Maka, tentu saja dia mengaku cinta, karena kalau tidak, berarti dia akan menghina ayah dan ibu dan juga aku! Dia telah terikat jodoh denganku sebelum dia melihat aku, ayah dan ibu. Hal ini harap dipertimbangkan. Andaikata saat dia mengaku cinta kepadaku itu dia belum terikat dengan perjodohan, mungkin sekali aku akan percaya, bahkan yakin. Akan tetapi keadaannya tidak demikian. Aku tidak puas, ayah dan ibu. Maafkan aku, akan tetapi aku hanya mau menikah dengan seorang pria yang aku yakin benar-benar mencintaku, dan tentu saja kalau aku mencintanya."
Suami isteri itu saling pandang.
Alasan puteri mereka itu memang kuat dan tepat.
Kinipun mereka dapat merasakan.
Memang mereka percaya bahwa Han Siong benar-benar mencinta Bi Lian.
Akan tetapi, andaikata tidak demikian halnya, beranikah Han Siong mengatakan bahwa dia tidak mencintai gadis itu?
Gadis yang telah ditetapkan menjadi calon isterinya?
Tentu tidak akan berani!
"Hemm, kalau begitu, Lian-ji.
Andaikata engkau kelak yakin bahwa Han Siong benar-benar mencintamu, apakah masih ada harapan untuk...
eh, menyambung kembali tali yang telah putus itu?"
Tanya Siangkoan Ci Kang.
Bi Lian termenung.
Bagaimanapun juga, hanya ada dua orang pria yang selama ini menarik hatinya dan dikaguminya.
Yang pertama adalah Hay Hay, dan yang ke dua adalah Pek Han Siong!
Tentu saja Hay Hay memiliki daya tarik yang lebih kuat bagi setiap orang wanita, karena pemuda itu pandai sekali mengambil hati secara wajar, bukan menjilat.
Hidup di samping Hay Hay tentu merupakan suatu keadaan yang selalu menggembirakan dan dunia akan selalu nampak cerah.
Sebaliknya, Han Siong seorang pemuda yang jantan, pendiam dan halus tenang, mendatangkan suasana damai yang tenang.
Keduanya memang tampan dan gagah, dengan ilmu kepandaian yang seimbang, bahkan keduanya menguasai ilmu sihir yang ampuh.
Akan tetapi, ia merasa kecewa terhadap Han Siong karena pemuda itu menerima ikatan jodoh begitu saja, pada hal selama hidupnya belum pernah berjumpa dengannya!
Hal inilah yang mengganjal di hatinya, seolah-olah ia merasa bahwa Han Siong ingin berjodoh kepadanya bukan karena dirinya, melainkan karena hendak mentaati ayah ibunya!
Hal ini membuat ia merasa dirinya kurang penting dan kurang berharga!
"Tentu saja hal itu mungkin sekali, ayah.
Kita lihat saja perkembangannya kelak.
Kalau memang dia benar mencintaku dengan tulus dan kalau kemudian aku melihat kenyataan bahwa akupun mencintanya, maka tidak ada halangannya bagi kami untuk berjodoh.
Bukankah jodoh itu di tangan Tuhan?"
Mendengar ucapan puteri mereka, suami isteri itu saling pandang dan ada sinar harapan baru terpencar dalam pandang mata mereka.
Akan tetapi pada saat itu terdengar kokok ayam hutan jantan dan seketika berubah sikap Siangkoan Ci King dan isterinya.
Mereka segera menyelinap ke balik semak-semak dan Siangkoan Ci Kang memberi isyarat kepada Bi Lian untuk bersembunyi pula.
Bi Lian terkejut dan terheran, lalu cepat ia menyelinap ke dekat mereka.
"Ada apakah?"
Tanyanya dengan bisikan lirih.
"Ssttt... inilah yang kami nanti-nanti selama berbulan-bulan. Agaknya dia menghadapi lawan. Kita harus mendekat dengan hati-hati agar jangan mengejutkan mereka dan jangan mengganggu perkelahian mereka. Mari, ikuti aku dan hati-hati, jangan berisik!"
Kata Siangkoan Ci Kang.
Isterinya mengikuti di belakangnya, dan Bi Lian yang masih terheran-heran mengikuti di belakang ibunya.
Siapakah yang berkelahi, pikir Bi Lian.
Tentu orang-orang yang sakti, kalau tidak begitu, tidak mungkin ayah ibunya yang memiliki ilmu kepandaian tinggi itu begitu berhati-hati menghampiri tempat perkelahian itu.
Dan siapakah yang berkelahi dengan mengeluarkan kokok ayam hutan jantan itu?
Sungguh aneh.
Mereka bertiga dengan cepat namun dengan pengerahan gin-kang agar gerakan mereka ringan tak bersuara, menyusup-nyusup menuruni puncak menuju ke hutan cemara di sebelah kiri.
Akhirnya, Siangkoan Ci Kang berhenti dan bersembunyi di balik semak-semak, memberi isarat kepada isteri dan puterinya untuk bersembunyi di situ pula.
Kemudian suami isteri itu mengintai dengan penuh perhatian, dengan wajah berseri.
Bi Lian juga mengintai ke arah mereka memandang dan ia terbelalak karena yang diintai oleh ayah ibunya itu bukan dua orang jago silat sedang bertanding, melainkan dua ekor ayam jago hutan sedang bertanding!
Seekor ayam jago yang bulunya seperti emas melawan seekor ayam jago yang bulunya kelabu.
Pantas saja mereka harus berindap-indap karena kalau mereka mengeluarkan suara berisik, tentu dua ekor ayam hutan itu akan terbang pergi.
Ayam hutan merupakan binatang yang liar sekali, tidak dapat didekati manusia.
Akan tetapi, mengapa ayah ibunya menonton ayam bertanding dengan perhatian seperti itu?
Bi Lian juga memandang, dengan penuh perhatian.
Akan tetapi baginya, dua ekor binatang itu hanyalah dua ekor ayam hutan yang tidak begitu besar, tidak sebesar ayam jago biasa, sedang bertanding.
Akan tetapi setelah ia memperhatikan, ia melihat bahwa ayam berbulu emas itu memiliki ketangkasan luar biasa, sedangkan si bulu kelabu hanya galak dan menyerang secara ngawur saja.
Semua serangan si kelabu itu tak pernah berhasil, patukannya luput, sabetan kakinya juga tak pernah mengenai sasaran.
Sibulu emas jarang menyerang, Akan tetapi setiap kali menyerang, pasti mengenai sasaran dengan tepatnya sehingga beberapa kali si kelabu tertendang dan terjengkang!
Biarpun demikian, bagi Bi Lian semua itu tidak ada artinya.
Akan tetapi kalau ia menoleh kepada ayah ibunya, mereka menonton tak pernah berkedip, seolah hendak menelan dengan pandang mata mereka setiap gerakan dua ekor ayam hutan itu, dan beberapa kali ia melihat ayahnya mengangguk-angguk dengan wajah gembira sekali.
Perkelahian mati-matian itu tidak berlangsung lama.
Ketika si kelabu yang sudah mulai lemah itu, dan yang mukanya sudah mulai membengkak dan berdarah, untuk ke sekian kalinya menerjang dengan tenaga terakhir, si bulu emas mengelak ke samping dan ketika tubuh lawan menubruk tempat kosong, dia membalik, menggunakan paruhnya mematuk leher si kelabu, kemudian kakinya menendang.
"Bressss...! Keok...!"
Si kelabu hanya berteriak satu kali dan dia berlompatan aneh, dari kepalanya bercucuran darah.
Kiranya sabetan kaki yang berjalu runcing itu telah mengenai kepala dengan tepatnya, dekat telinga sehingga tempurung kepala itu retak dan darah keluar, membuat si kelabu berloncatan dalam sekarat!
Dan si bulu emas, dengan lagak yang gagah sekali, mengembangkan sayapnya, menarik tubuh ke atas setinggi mungkin, dengan leher terjulur panjang dan keluarlah bunyi kokoknya penuh kebanggaan dan kemenangan!
Biarpun pertandingan itu telah selesai, Siangkoan Ci Kang memberi isarat kepada isteri dan puterinya agar berdiam diri.
Selagi Bi Lian merasa heran, tiba-tiba dari semak-semak di seberang, berloncatan keluar dua ekor binatang musang.
Tidak begitu besar, hanya sebesar anjing kecil, akan tetapi mereka itu melompat dengan cekatan sekali.
Yang seekor telah menyambar ayam yang sekarat, menggigit lehernya dan menyeretnya pergi dari situ.
Musang ke dua, yang lebih besar, menubruk ke ayam hutan berbulu emas yang tadi menang bertanding.
Lompatannya amat cepat dan gesit, dan agaknya sukar bagi ayam itu untuk meloloskan diri.
Akan tetapi pada detik terakhir, ayam berbulu emas itu dapat melempar tubuh ke belakang lalu membanting diri ke samping sehingga tubrukan itu luput.
Kalau ayam itu mau, dengan mudah saja dapat terbang meloloskan diri dari Musang itu.
Akan tetapi ternyata tidak!
Ayam itu kini berdiri dengan kepala menunduk, sepasang mata melotot, bulu emas dilehernya mekar dan siap untuk bertarung!
"Tolol!"
Pikir Bi Lian dalam hatinya.
"Mana kamu akan mampu menandingi seekor musang?"
Ayam berbulu emas itu terlalu sombong, pikirnya, tidak memperhitungkan Siapa lawannya.
Mungkin karena kemenangannya terhadap ayam kelabu tadi, dia menjadi kepala besar ddn tidak takut melawan siapapun juga!
Musang itu agaknya juga tercengang.
Tubrukannya sudah luput dan menurut pengalamannya, tentu ayam hutan yang luput ditubruk itu sudah terbang pergi.
Akan tetapi ayam hutan berbulu emas ini tidak terbang melarikan diri malah menantang untuk berkelahi!
Kalau saja wataknya seperti manusia, tentu dia sudah tertawa mengejek ayam kecil itu!
Akan tetapi dia tetap seekor musang, maka melihat calon mangsanya masih di situ, dia sudah menerkam lagi dengan ganasnya.
Musangpun seekor binatang liar, hidupnya di hutan dan makanan utamanya memang binatang yang lebih kecil, maka gerakannya ganas dan beringas sekali, penuh kebuasan binatang liar di hutan.
"Wuuuttt... bresss...!"
Bi Lian hampir bersorak.
Ketika musang itu menubruk, ayam itu meloncat ke samping atas dan sebelum musang yang luput menubruk itu sempat membalik, ayam itu menerjang dari atas mematuk dan menendang kepala musang.
Musang itu terkejut.
Patukan dan tendangan kaki berjalu itu cukup mendatangkan nyeri walaupun tidak dapat melukai kulitnya yang terlindung bulu itu.
Dia membalik dan kembali menerkam.
Ayam itu mengelak lagi sambil terbang dan kembali sudah menerjang dari atas.
Berkali-kali hal ini terjadi dan Bi Lian menonton dengan hati tegang.
Biarpun sambarannya dapat mengenai kepala musang dengan tepat, namun tenaga ayam itu tidak cukup kuat untuk melukai kepala musang yang terlindung bulu, apa lagi merobohkannya.
Sedangkan sebaliknya, sekali saja terkaman musang itu mengenai sasaran, tentu leher atau perut ayam itu kena digigit dan akan tamatlah riwayat ayam yang pemberani itu.
Ketika ia menengok ke arah ayah ibunya, ia melihat kedua orang itu seperti tadi, tidak pernah berkedip mengikuti perkelahian itu dengan pandang mata mereka.
Dan kembali seperti tadi, beberapa kali ayahnya mengangguk-angguk gembira.
Musang itu agaknya marah sekali.
Kembali dia menubruk dan ketika ayam itu mengelak ke atas, musang itu tiba-tiba berdiri di atas kaki belakang dan kedua kaki depannya mencoba untuk menangkap ke atas.
Akan tetapi, dengan sekali mengebutkan sayapnya yang dikembangkan, ayam itu kembali luput karena dia naik ke atas, kemudian secara tiba-tiba sekali dia membalas dengan patukan dan cakaran, tidak lagi menendang melainkan mencakar.
Kedua kaki dengan kuku-kuku yang menjadi kuat dan tebal, runcing melengkung karena setiap hari dipergunakan untuk menggaruk-garuk tanah keras mencari cacing itu, mencakar ke arah moncong musang, sedangkan paruhnya yang juga runcing melengkung dan keras itu mematuk ke arah mata kiri.
"Bresss...!"
Musang itu mengeluarkan suara seperti tikus terjepit dan dari hidung dan matanya mengucur darah!
Mata kirinya pecah terpatuk dan hidungnya luka berdarah.
Diapun lari tunggang langgang dan menghilang ke dalam semak-semak jauh dari situ.
Ayam hutan itupun terbang ke atas, hinggap di sebuah dahan pohon cemara dan diapun berkeruyuk dengan sombongnya, dengan dada mengembung dan leher memanjang!
Bi Lian menjadi demikian gembiranya sehingga iapun melompat keluar dari tempat sembunyinya dan bertepuk tangan memuji.
Mendengar tepuk tangan ini, ayam jantan yang pemberani itu terbang dan melarikan diri ketakutan sambil mengeluarkan teriakan berkokok panik!
Akan tetapi, kembali Bi Lian menghentikan tepuk tangannya dan memandang terbelalak melihat betapa ayah dan ibunya kini bersilat saling serang!
Ia melihat ibunya menyerang dengan jurus-jurus hebat dari Kwan Im Sin-kun yang sedang ia pelajari dari mereka, jurus-jurus pilihan paling hebat.
Dari kedua tangan ibunya itu menyambar-nyambar angin pukulan yang lembut namun ia tahu bahwa di balik kelembutan itu terkandung tenaga dahsyat.
Itulah kehebatan ilmu silat Kwan Im itu.
Sesuai dengan sifat Dewi Kwan Im sendiri, Dewi Welas Asih yang terkenal lembut dan murah hati, namun di balik kelembutan itu terkandung kesaktian yang tidak dapat dikalahkan oleh segala macam setan dan iblis!
Melihat ibunya menyerang ayahnya dengan ilmu silat itu, ia tidak merasa heran.
Tentu saja serangan-serangan ibunya hebat karena ibunya adalah ahli dalam ilmu silat itu yang tingkatnya sudah sejajar dengan ayahnya.
Akan tetapi yang membuat ia bengong adalah ketika melihat ayahnya menghadapi serangan ibunya itu dengan gerakan-gerakan yang hampir saja memancing ketawanya.
Gerakan ayahnya itu mirip gerakan ayam jantan hutan bulu emas tadi!
Betapa ayahnya menggerak-gerakkan kepala kedepan belakang, betapa kepala itu kadang-kadang mengelak ke bawah dan kebelakang dengan gerakan melengkung sambil menjulurkan leher, kemudian kedua kaki itu, berloncatan seperti lagak ayam jago berbulu kuning emas tadi.
Ketika ibunya menyerang dengan dahsyat, tiba-tiba ayahnya mengelak dengan loncatan ke atas, lalu dari atas dia menerkam ke bawah, lengan baju kiri yang tidak berisi lengan itu meluncur ke arah mata sedangkan tangan kanan mencengkeram ke arah hidung mulut, dan kedua kaki masih menendang ke arah dada.
Teringatlah Bi Lian akan "jurus"
Yang dipergunakan ayam jago bulu emas tadi terhadap lawannya yang jauh lebih kuat, yaitu musang.
Jurus itulah yang tadi membuat si musang berdarah pada mata dan hidungnya, dan membuat musang itu lari ketakutan.
"Ihhh... bagus sekali...!"
Ibunya melempar tubuh ke belakang dan terhuyung.
Ayahnya juga melompat turun dan keduanya tersenyum dengan wajah cerah.
Bi Lian adalah seorang gadis yang cerdik.
Biarpun tadi ia terheran-heran dan juga geli, kini setelah ia mengerti, ia memandang kagum kepada mereka.
"Aih, kiranya ayah dan ibu sudah lama mempelajari gerakan ayam hutan jantan berbulu kuning emas itu untuk menciptakan ilmu silat baru? Pantas tadi kita harus berhati-hati agar jangan mengejutkannya!"
Ayah dan ibunya mengangguk.
"Ayam hutan berbulu kuning emas itu memang hebat bukan main,"
Kata ibunya.
"Kami pernah melihat dia mengalahkan seekor ular, bahkan menghajar sampai mati seekor tikus hutan yang amat besar. Dan sekali ini, engkau melihat sendiri, bukan saja dia menghajar ayam hutan lain tadi, bahkan dia berhasil mengalahkan seekor musang!"
"Gerakannya memang cepat, gesit dan cerdik. Kami dapat meniru beberapa gerakannya yang memang hebat,"
Sambung ayahnya.
"Sudah beberapa tahun kami mengamati gerakannya dan baru pagi hari ini aku dapat menyempurnakan beberapa jurus gerakan yang sudah lama kupelajari."
"Hebat sekali!"
Seru Bi Lian.
"Lalu apa namanya ilmu silat yang ayah ibu cipatakan itu?"
"Kami beri nama Kim-ke Sin-kun (Silat Sakti Ayam Emas), selain memang berdasarkan banyak gerakan ayam hutan berbulu emas itu, juga disesuaikan dengan tempat ini yang disebut Kim-ke-kok (Lembah Ayam Emas). Tentu saja gerakan ayam hutan itu merupakan dasarnya, dan dicampur dengan ilmu silat kami. Kau yang telah mempelajari gerakan ilmu silat kami, akan mudah menguasai Kim-ke Sin-kun."
Mendengar ucapan ayahnya itu, Bi Lian girang sekali dan mulai hari itu juga, iapun mulai mempelajari ilmu silat yang baru diciptakan ayah ibunya itu.
Seperti juga sifat seekor ayam jantan dari hutan yang masih liar, maka ilmu silat Kim-ke Sin-kun itu mengandung pula kecepatan, kegesitan, kewaspadaan alamiah dan kecerdikan yang disertai pula keliaran.
Disamping itu, karena ilmu itu dicampur dengan Kwan Im Sin-kun, maka mengandung pula kehalusan dan kelembutan, didorong oleh sin-kang (tenaga sakti) yang amat dahsyat.
Selama tiga bulan Bi Lian mempelajari ilmu baru itu dengan tekun, juga memperdalam ilmu Kwan Im Sin-kun dan Kwan Im Kiamsut.
Pada suatu pagi ketika ia sedang berlatih di puncak yang sunyi, di mana ia bersama ayah ibunya pernah melihat ayam hutan berbulu emas berkelahi, tiba-tiba ia menghentikan permainan pedangnya.
Pagi hari itu ia sengaja meminjam pedang pusaka Kwan Im Po-kiam dari ayah ibunya dan menggunakan pedang itu untuk berlatih silat pedang Kwan Im Kiamsut.
Sebelumnya ia berlatih silat tangan kosong Kim-ke Sin-kun yang merupakan ilmu silat baru ciptaan orang tuanya itu.
Bi Lian menghentikan permainan pedangnya dan cepat menyarungkan pedang dan pandang matanya ditujukan ke bawah.
Ia melihat seorang penunggang kuda membalapkan kudanya mendaki bukit itu.
Kuda itu besar dan kuat, dan agaknya penunggangnya juga pandai sekali.
Akan tetapi, Bi Lian mengerutkan alisnya.
Jalan menuju ke rumah ayah ibunya itu amat berbahaya kalau dicapai dengan menunggang kuda yang dilarikan demikian cepatnya.
Ada bagian berbatu-batu kecil yang licin sekali pada jalan mendaki.
Seekor kuda yang berlari cepat dapat jatuh kalau menginjak batu-batu kecil yang mudah runtuh ke bawah itu.
Bi Lian khawatir dan juga tertarik.
Cepat ia menuruni puncak untuk melihat apa yang akan terjadi dengan penunggang kuda itu kalau melewati jalan yang berbahaya itu.
Sebaiknya kalau ia dapat datang lebih dulu dan memperingatkan penunggang kuda itu.
Maka, Bi Lian lalu mempergunakan kepandaiannya, berlari menuruni puncak seperti terbang untuk mendahului kuda itu.
Akan tetapi, kuda itu berlari cepat dan Bi Lian masih berada agak jauh di atas ketika kuda itu sudah memasuki jalan yang berbahaya itu.
Akan percuma saja kalau ia bertriak memperingatkan juga, karena selain jaraknya masih jauh sehingga ucapannya tentu tidak dapat ditangkap jelas, juga penunggang kuda yang belum dikenalnya itu belum tentu akan mau memperhatikan teriakan dan isaratnya.
Maka, iapun hanya memandang saja dengan hati khawatir.
Kalau hanya bahaya kuda itu tergelincir dan jatuh saja, masih tidak mengkhawatirkan.
Paling hebat penunggangnya akan terlempar dan lecet-lecet atau patah tulang saja.
Akan tetapi, di sebelah kiri jalan mendaki itu terdapat jurang yang menganga lebar dan amat dalam.
Kalau sampai penunggang kuda itu terlempar ke dalam jurang, akan habislah riwayatnya!
Inilah yang mengkhawatirkan hatinya.
Penunggang kuda itu kini nampak jelas oleh Bi Lian.
Seorang pria muda yang bertubuh tinggi besar sehingga serasi dengan kudanya yang juga besar dan kuat.
Cara dia duduk di atas pelana kuda saja menunjukkan bahwa dia seorang penunggang kuda yang mahir.
Duduknya tegak, lentur dan seolah-olah tubuhnya menjadi satu dengan kuda, gerakan tubuhnya sesuai dengan gerakan kuda.
Kini kuda memasuki jalan yang berbatu kerikil itu.
Bi Lian memandang dengan penuh perhatian dan tepat seperti yang dikhawatirkannya, ketika empat kaki kuda itu menginjak batu-batu kecil, kuda itu tergelincir!
Agaknya kuda itu telah melakukan perjalanan jauh dan dalam keadaan yang kelelahan pula.
Peluh membasahi seluruh tubuhnya dan ketika binatang itu tergelincir, dia mencoba untuk mempertahankan tubuh dengan empat kakinya.
Akan tetapi, setiap kali menginjak tanah dengan kuat, kaki nya menginjak batu kerikil dan tergelincir pula sehingga akhirnya, kuda itu terjatuh, terpelanting dan keempat kakinya seperti ditarik dalam waktu yang bersamaan.
Bi Lian melihat kuda itu terjatuh, dan pada saat itu, iapun terbelalak kagum melihat penunggang kuda itu tiba-tiba saja tubuhnya melayang ke atas, berjungkir balik membuat salto sampai lima kali sebelum dia turun ke atas tanah dengan tegak.
Dan baru nampak bahwa tubuh pemuda itu tinggi tegap, tubuh seorang pria yang jantan dan gagah Sekali.
Pemuda itu dengan sikap amat tenang menghampiri kudanya yang tidak mampu bangkit kembali.
Kuda itu tadi terjatuh lalu tubuhnya meluncur kembali ke bawah karena jalan itu mendaki, dan baru tubuhnya berhenti terseret ketika menumbuk batu besar yang berada di tepi jalan.
Untung ada batu besar itu, kalau tidak tentu tubuhnya akah terjerumus ke dalam jurang di balik batu itu.
Ketika pemuda itu berjongkok memeriksa kudanya, binatang itu hanya mampu menggerak-gerakkan sedikit kaki dan kepalanya, akan tetapi tidak mampu bangkit.
Agaknya dua kaki depannya patah tulang, juga kepalanya terluka dan berdarah.
Pemuda itu memeriksa dengan teliti, kemudian mengambil buntalan pakaiannya dari atas punggung kuda.
Diikatnya buntalan itu di punggungnya dan pemuda itu memandang ke sekeliling.
Sunyi tidak nampak orang lain.
Lalu dia menjenguk ke dalam jurang di balik batu.
"Kuda yang baik, engkau telah banyak berjasa kepadaku. Terpaksa aku akan mengakhiri penderitaanmu. Selamat berpisah!"
Tiba-tiba, tangan kanannya bergerak ke arah kepala kuda itu.
"Prakkk! Kuda itu terkulai, tidak lagi nampak kakinya bergerak-gerak. Kemudian, pemuda itu menarik kaki kuda, dan dengan pengerahan tenaga, dia melemparkan bangkai kuda itu ke dalam jurang! Bi Lian terbelalak, wajahnya berubah merah karena marah dan diapun melompat keluar dari tempat pengintaiannya.
"Engkau manusia berhati iblis!"
Bentaknya marah sekali.
Pemuda itu terkejut ketika tiba-tiba saja ada seorang gadis cantik jelita muncul di depannya, tangan kanan bertolak pinggang, tangan kiri menudingkan telunjuk kecil ke arah mukanya, sepasang mata itu mencorong penuh kemarahan dan seketika itu juga hati pemuda itu meloncat-loncat di dalam rongga dadanya, berjungkir balik dan dia jatuh hati!
"Apa...?
Mengapa...?
Aih, nona, kenapa nona marah dan memaki aku?
Siapakah nona dan apa kesalahanku maka nona memaki aku berhati iblis?"
Tanyanya dengan gugup karena kecantikan Bi Lian benar-benar membuat dia terpesona, salah tingkah dan hampir dia tidak percaya bahwa gadis itu seorang manusia, bukan seorang dewi dari langit!
"Manusia busuk!
Kau kira tidak ada yang melihat perbuatanmu?
Kau kira aku tidak tahu apa yang kau lakukan tadi?
Engkau ini manusia berhati kejam.
Kau tadi mengaku sendiri bahwa kuda itu telah banyak berjasa kepadamu.
Akan tetapi, engkau bahkan membunuhnya dan melempar bangkainya ke dalam jurang!
Selain kejam, juga engkau telah merusak tempat ini dan aku tak dapat membiarkan saja!"
"Ah, itukah gerangan yang membuat engkau menjadi marah, nona?"
Pemuda itu baru mengerti sekarang dan dia tersenyum.
Harus diakui oleh Bi Lian bahwa pemuda itu memang gagah.
Selain tubuhnya tinggi tegap dan kokoh, juga ketika tersenyum wajah itu memiliki daya tarik yang amat kuat.
Akan tetapi, mengingat akan perbuatannya tadi, hatinya tetap merasa penasaran dan marah sekali.
"Akan tetapi, nona. Aku tidak merugikan siapapun, juga tidak merugikanmu. Kuda itu adalah kudaku sendiri, dan kubuang bangkainya di dalam jurang yang dalam sehingga tidak akan mengganggu orang lain. Kenapa engkau marah-marah, nona?"
"Masih bertanya kenapa aku marah? Pertama, melihat kekejamanmu itu, engkau patut dihukum! Ke dua, tempat ini adalah tempat tinggal kami, dan engkau mengotori jurang itu dengan bangkai kuda yang nanti tentu akan mengeluarkan bau busuk. Dan engkau masih bertanya kenapa aku marah?"
Pemuda itu tidak tersenyum lagi, nampak terkejut dan heran mendengar ucapan itu.
"Ah, jadi bukit ini adalah tempat tinggalmu, nona? Kalau begitu, maafkanlah aku, nona. Karena aku tidak mengerti dan..."
"Sudahlah! Engkau seorang kejam dan melihat bahwa engkau tadi telah mengeluarkan kepandaianmu, aku tahu bahwa engkau pandai silat. Agaknya kepandaian itu yang membuat engkau berhati kejam. Nah, majulah dan terimalah hukumanmu!"
Ditantang begitu, pemuda itu kelihatan gembira.
Dia percaya akan kepandaiannya sendiri, dan tentu saja dia memandang rendah kepada seorang gadis yang kelihatan begitu cantik jelita dan lemah, walaupun gadis aneh itu mengaku pemilik bukit itu!
"Nona, aku tidak ingin berkelahi denganmu, bahkan kalau engkau suka, aku ingin berkenalan denganmu.
Namaku Tan Hok Seng dan aku..."
"Aku tidak ingin berkenalan denganmu, melainkan ingin menghukummu atas kekejamanmu tadi. Majulah!"
Bi Lian sudah siap. Pemuda yang mengaku bernama Tan Hok Seng itu kini tersenyum.
"Nona, sudah kukatakan bahwa aku tidak ingin berkelahi denganmu. Akan tetapi, mengapa engkau mendesak dan menantangku? Ketahuilah, nona, aku sama sekali tidak kejam terhadap kuda itu. Aku seorang penyayang kuda, dan kuda itu selama ini menjadi sahabat baikku. Akan tetapi setelah tadi dia terjatuh dan kuperiksa, kedua kaki depan patah tulang, kepalanya juga retak. Dia tidak ada harapan hidup lagi. Bagaimana aku dapat membiarkan dia menderita terlalu lama? Lebih baik dibunuh untuk mengakhiri penderitaannya."
Bi Lian bukan seorang gadis bodoh atau seorang yang masih belum matang.
Sebaliknya, ia seorang gadis dewasa gemblengan yang sudah banyak pengalaman, seorang pendekar wanita yang tentu saja berpikir panjang dan berpemandangan luas.
Mendengar alasan yang dikemukakan pemuda tinggi tegap, tampan dan gagah itu, ia dapat menerimanya dan ia sudah tidak lagi menyalahkan pemuda itu.
Mungkin agak terlalu keras, namun apa yang dilakukan oleh pemuda itu terhadap kudanya memang merupakan satu-satunya jalan untuk mengakhiri penderitaan binatang yang di sayangnya itu.
Ia dapat menerima alasan itu dan ia tidak marah.
Akan tetapi diam-diam timbul keinginannya untuk menguji sampai dimana kehebatan pemuda gagah perkasa ini.
Kalau saja ia tadi tidak melihat pemuda itu menghindarkan diri terbawa jatuh bersama kudanya dengan membuat pok-sai (salto) sedemikian indahnya, kemudian melihat betapa sekali pukul saja pemuda itu dapat membunuh kudanya, tentu tidak timbul keinginan hatinya untuk menguji kepandaian pemuda itu.
"Sudahlah, cukup! Aku tidak ingin berpanjang cerita. Engkau sudah mengotori tempat tinggal kami dengan bangkai kuda di dalam jurang. Sekarang hanya ada dua pilihan. Engkau ambil bangkai kuda itu dan kau kuburkan baik-baik agar tidak menimbulkan bau busuk atau engkau harus menghadapi seranganku!"
Pemuda yang bernama Tan Hok Seng itu mengerutkan alisnya yang hitam dan berbentuk golok, akan tetapi mulutnya masih tersenyum.
Dia menjenguk ke bawah jurang, lalu menarik napas panjang.
"Nona, bagaimana mungkin menuruni jurang ini untuk mengambil bangkai kuda itu?"
Katanya.
Tentu saja Bi Lian maklum akan ketidakmungkinan ini, maka ia justeru mengajukan pilihan itu sehingga takkan ada piihan lain bagi pemuda itu kecuali menandinginya!
"Hemmm, kalau engkau tidak dapat mengambilnya dan menguburnya, engkau harus menandingiku!"
Lalu ia menambahkan.
"Tentu saja kalau engkau bukan seorang pengecut yang takut menerima tantanganku!"
Biarpun pada dasarnya Bi Lian mempunyai jiwa pendekar, namun ia menerima gemblengan dua orang datuk sesat, yaitu Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi, maka sedikit banyak watak ugal-ugalan menular kepadanya dan ia dapat bersikap keras mau menang sendiri!
Tan Hok Seng menarik napas panjang, akan tetapi matanya yang agak lebar itu bersinar dan wajahnya berseri.
Dia kagum bukan main dan harus diakuinya di dalam hati bahwa gadis yang berdiri di depannya itu bukan main cantiknya.
Tubuhnya padat ramping dengan lekuk lengkung yang menunjukkan bahwa gadis itu sudah matang dan dewasa, kulitnya putih mulus dan kulit muka dan lehernya demikian halus, tangannya demikian kecil lembut sehingga sukar dipercaya bahwa tangan selembut itu dapat bermain silat dan memukul orang.
Rambutnya panjang di kuncir dan melilit leher sampai pinggang.
Sepasang mata yang demikian jeli dan tajam sinarnya, hidung kecil mancung, mulut yang menggairahkan dengan bibir yang basah kemerahan, ditambah manisnya dengan tahi lalat kecil di dagu.
Bukan main!
"Nona, sungguh aku tidak ingin bermusuhan denganmu, apa lagi berkelahi.
Akan tetapi bukan berarti aku pengecut atau takut kepadamu.
Tapi..."
"Sudahlah, sambut seranganku ini!"
Bentak Bi Lian yang ingin berkelahi bukan karena marah, melainkan karena ingin tahu sampai di mana kepandaian pemuda yang gagah dan tampan ini.
Hok Seng cepat mengelak karena dari sambaran tangan yang lembut itu datang angin pukulan yang amat kuat.
Dia terkejut dan sambil mengelak, diapun membalas dengan tamparan ke arah pundak.
Dia masih sungkan melihat kecantikan gadis itu, maka yang diserang hanyalah pundak lawan.
Bi Lian melihat betapa gerakan pemuda itu cukup tangkas, dengan jurus silat yang baik, kalau ia tidak salah menilai, dari aliran silat Bu-tong-pai, maka iapun cepat menangkis untuk mengukur sampai di mana besarnya tenaga pemuda itu.
"Dukkk!"
Lengan Hok Seng terpental dan dia meringis kesakitan.
Tak disangkanya bahwa lengan yang kecil gadis itu mengandung tenaga yang demikin kuatnya sehingga dia merasa lengannya bertemu dengan sepotong baja, bukan lengan gadis yang halus.
"Huh, jangan pandang rendah kepadaku! Kerahkan semua tenagamu dan keluarkan semua kepandaian silatmu!"
Bi Lian mengejek, tahu bahwa pemuda itu tadi tidak mengerahkan semua tenaganya.
Hok Seng terkejut ketika kembali Bi Lian menyerang dengan kecepatan luar biasa.
Tubuh gadis itu bergerak seperti bayangan saja, dan memang Bi Lian mengerahkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang ia warisi dari mendiang Pak Kwi Ong si ahli gin-kang.
Dan iapun mempergunakan ilmu silat yang diwarisinya dari Tung Hek Kwi, mengandalkan sin-kang dan dengan ilmu silat ini ia dapat membuat lengannya mulur hampir setengah lengan panjangnya!
Hok Seng berusaha melawan dengan gerakan cepat dan mencoba untuk membalas.
Namun, sebentar saja dia menjadi pening karena harus memutar-mutar tubuh mengikuti gerakan Bi Lian yang menyambar-nyambar bagaikan burung walet.
Ternyata pemuda itu, biarpun cukup gesit dan bertenaga besar, namun dalam hal ilmu silat, dia masih kalah jauh dibandingkan Bi Lian.
Padahal, Bi Lian belum memainkan ilmu silat yang baru saja ia pelajari dari ayah ibunya!
Bi Lian pun maklum akan hal ini, maka iapun tidak menjatuhkan tangan maut kepada Hok Seng, hanya menyerang bertubi-tubi untuk mengacaukan perlawanannya saja.
Kalau ia menghendaki, tentu pemuda itu tidak akan mampu bertahan lebih dari dua puluh jurus!
Tiba-tiba nampak dua sosok bayangan orang berkelebat di tempat itu dan terdengar seruan nyaring berwibawa.
"Hentikan perkelahian!"
Mendengar suara ayahnya, Bi Lian meloncat ke belakang, mendekati ayah ibunya yang memandang ke arah Hok Seng.
Mereka tadi melihat betapa puteri mereka menyerang seorang pemuda yang mencoba untuk membela diri mati-matian, akan tetapi hati mereka lega karena melihat bahwa Bi Lian sama sekali tidak bermaksud mencelakai orang itu yang kalah jauh dibandingkan puteri mereka.
"Ayah dan ibu, orang ini telah membunuh kudanya yang jatuh terluka dan membuang bangkainya ke dalam jurang."
Bi Lian melapor karena tidak ingin dipersalahkan.
"Aku melihatnya sebagai hal yang kejam, dan dia mencemarkan udara ini dengan bangkai kuda yang tentu akan membusuk di dalam jurang dan baunya akan mengotorkan udara di sini. Maka kutantang dia!"
"Aih, engkau ini mencari gara-gara saja, Bi Lian."
Tegur ibunya.
Melihat gadis itu ditegur ibunya, Hok Seng cepat memberi hormat kepada suami isteri itu, merangkap kedua tangan dan membungkuk dengan sikap sopan sekali.
"Mohon maaf kepada paman dan bibi yang terhormat bahwa saya telah lancang melanggar wilayah tempat tinggal ji-wi (kalian berdua). Sesungguhnya nona ini tidak bersalah dan sayalah yang bersalah. Kuda saya itu kelelahan, terpeleset dan jatuh di sini. Kedua kaki depannya patah dan kepalanya retak. Untuk mengakhiri penderitaannya, maka terpaksa saya membunuhnya dan membuang bangkainya ke dalam jurang dengan maksud agar tidak mengganggu orang yang lewat di sini. Akan tetapi saya telah melakukan kesalahan karena tanpa saya sadari saya telah membuangnya ke jurang sehingga mengotorkan udara di sini..."
Suami isteri itu memandang dengan senyum.
Hati mereka tertarik dan merasa suka sekali kepada pemuda gagah tampan yang pandai membawa diri itu.
"Orang muda, kami yang minta maaf kepadamu untuk anak kami. Biarpun kami tinggal di daerah ini, akan tetapi tentu saja kami tidak menguasai seluruh bukit dan lembah. Dan engkau tidak dapat dipersalahkan kalau membuang bangkai kudamu itu ke dalam jurang. Anak kami telah bersikap tidak sepatutnya, harap engkau suka menyudahi saja urusan ini."
"Dengan segala senang hati, paman. Pula, apa daya saya seorang yang bodoh dan lelah ini terhadap nona yang demikian tinggi ilmunya? Tadinyapun saya sudah segan melawannya, akan tetapi karena nona mendesak terpaksa saya..."
"Sudahlah!"
Kata Bi Lian.
"Bukankah ayahku sudah mengatakan agar urusan ini disudahi saja? Ataukah engkau masih merasa penasaran?"
Karena tidak ingin terus dipersalahkan, gadis itu membentak.
"Bi Lian! Tidak pantas bersikap kasar kepada seorang tamu!"
Kata ibunya.
"Orang muda, apa yang diucapkan isteriku itu benar. Engkau adalah seorang tamu, maka kami persilakan untuk berkunjung ke rumah kami di sana!"
Dengan tangan kanannya Siangkoan Ci Kang menunjuk ke belakang.
Tan Hok Seng memang sudah kagum bukan main kepada Bi Lian.
Pertama kali bertemu tadi sudah menjadi tergila-gila oleh kecantikan gadis itu, kemudian setelah bertanding, dia kagum bukan main melihat bahwa gadis itu selain cantik jelita juga memiliki Jimu silat yang amat tinggi sehingga dia yang biasanya membanggakan kepandaiannya, sekali ini sama sekali tidak berdaya!
Maka, ketika ayah ibu gadis itu muncul, dia yang sudah kagum sekali kepada keluarga ini mempunyai niat untuk dapat menjadi murid suami isteri yang tentu saja amat sakti itu.
Mendengar undangan itu, tentu saja Hok Seng menjadi girang bukan main, akan tetapi dengan rendah hati dia menjawab.
"Ah, saya hanya akan mengganggu dan membikin repot saja kepada paman dan bibi yang terhormat..."
"Ah, jangan sungkan, orang muda. Terimalah undangan kami kalau engkau memang mau memaafkan anak kami."
Kata Siangkoan Ci Kang dan isterinya juga mengangguk ramah.
Apa yang ditemukan di Kim-ke-kok ini ternyata jauh melebihi apa yang telah didengarnya.
Ketika tiba di kaki pegunungan Heng-tuan-san, dia sudah mendengar dari para penduduk dusun di sekitar daerah itu bahwa di Kim-ke-kok tinggal sepasang suami isteri yang dikenal oleh para penduduk sebagai sepasang pendekar yang sakti dan yang suka menolong para penduduk.
Tertariklah hatinya, apa lagi ketika mendengar bahwa selama beberapa bulan ini, sepasang pendekar itu kedatangan seorang gadis cantik jelita yang kabarnya adalah puteri mereka.
Kini, begitu melihat gadis itu, dia sudah kagum bukan main.
Apa lagi ketika ayah ibunya muncul.
Seorang pria berusia empat puluh tahun lebih yang tinggi tegap, lengan kirinya buntung akan tetapi sikapnya demikian gagah dan berwibawa.
Adapun isterinya juga merupakan tokoh yang tidak kalah menariknya.
Seorang wanita berusia empat puluh tahun lebih sedikit, wajahnya agak kepucatan namun cantik dan dengan raut wajah yang agung, juga bentuk tubuhnya masih padat dan indah seperti seorang gadis saja.
Kiranya mereka inilah sepasang suami isteri pendekar yang dipuji-puji oleh para penduduk dusun itu.
Dan biarpun dia belum pernah melihat mereka menggunakan kepandaian, baru melihat kelihaian puteri mereka saja, dia sudah dapat membayangkan betapa saktinya suami isteri itu.
Dengan sikap hormat Tan Hok Seng lalu mengikuti suami isteri itu bersama puteri mereka ke sebuah rumah yang berdiri di lembah, di bagian yang datar dan subur.
Rumah itu nampak mungil terpelihara rapi, dengan taman bunga yang penuh dengan bunga beraneka warna.
Biarpun di dalam hatinya Bi Lian kagum juga kepada pemuda yang tampan gagah dan bersikap lembut itu, namun di sudut hatinya masih terdapat kekecewaan bahwa ilmu silat pemuda itu masih amat rendah dibandingkan ia sendiri.
Maka, begitu pemuda itu diterima ayah ibunya duduk di ruangan tamu, ia lalu mengundurkan diri dengan dalih membantu pelayan di belakang.
"Orang muda, siapakah engkau, datang dari mana dan ada keperluan apa engkau berkunjung ke lembah ini?"
Siangkoan Ci Kang bertanya, akan tetapi suaranya yang lembut tidak menimbulkan kesan bahwa dia menyelidiki keadaan pemuda itu.
Pemuda itu nampak berduka sekali ketika mendengar pernyataan ini.
Bukan kedukaan buatan, melainkan benar-benar dia merasa berduka dan merasa betapa nasibnya amat buruk.
"Paman, saya adalah seorang yang hidup sebatang kara dan yang tertimpa malapetaka dan penasaran besar,"
Dia mulai menceritakan keadaan dirinya.
Karena dia sudah mengambil keputusan untuk kalau mungkin berguru kepada suami isteri pendekar ini, maka dia tidak ragu-ragu lagi untuk menceritakan riwayatnya.
"Saya seorang yatim piatu dan dengan susah payah melalui kerja keras akhirnya saya berhasil menjadi seorang perwira. Akan tetapi, sungguh malang nasib saya, saya difitnah orang yang menginginkan kedudukan saya sehingga saya dijatuhi hukuman buang oleh pemerintah! Untung bahwa di dalam perjalanan, saya ditolong seorang pendekar yang tidak memperkenalkan dirinya sehingga saya dapat bebas, lalu saya melarikan diri. Dalam perjalanan melarikan diri dari kemungkinan pengejaran petugas keamanan kota raja maka hari ini saya sampai ke tempat ini."
"Hemm, begitukah?"
Siangkoan Ci Kang memandang tajam untuk menyelidiki apakah cerita itu dapat dipercaya.
Pemuda itu membalas tatapan matanya dengan penuh keberanian dan keterbukaan, dan ini saja sudah membuktikan bahwa ceritanya memang benar.
"Siapakah namamu, orang muda?"
"Nama saya Tan Hok Seng, paman. Dan melihat kehebatan ilmu silat puteri paman dan bibi tadi, timbul keinginan hati saya, apabila kiranya paman dan bibi sudi menerimanya, saya ingin sekali berguru kepada paman dan bibi di sini. Biarlah saya bekerja apa saja di sini, sebagai pelayan, tukang kebun atau pesuruh. Apa saja asal paman dan bibi sudi menerima saya sebagai murid."
Setelah berkata demikian, langsung saja Hok Seng menjatuhkan diri berlutut di depan suami isteri itu.
Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu saling pandang.
Suami isteri yang sudah dapat mengetahui isi hati masing-masing hanya dengan melalui pandang mata saja itu saling kedip dan dengan lembut Toan Hui Cu mengangguk.
Suami isteri ini sebetulnya sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk mengambil murid baru.
Bagi mereka, seorang murid seperti Pek Han Siong sudah cukup, apa lagi masih ada puteri mereka yang mewarisi ilmu-ilmu mereka.
Akan tetapi, apa yang mereka harapkan, yaitu agar Han Siong menjadi menantu mereka telah gagal dan mereka merasa kecewa bukan main.
Baru saja mereka membicarakan urusan perjodohan puteri mereka.
Mereka sudah ingin sekali mempunyai mantu dan mempunyai cucu.
Maka, kemunculan seorang pemuda seperti Tan Hok Seng itu mempunyai arti besar bagi mereka, menumbuhkan suatu harapan baru.
Biarpun baru saja berjumpa, namun banyak hal pada diri pemuda ini yang menarik perhatian mereka.
Pertama, Tan Hok Seng adalah seorang pemuda yang cukup dewasa, berusia dua puluh lima tahun lebih, dan yatim piatu pula.
Dia cukup tampan dan gagah, juga sikapnya amat sopan, baik dan nampaknya terpelajar.
Sungguh merupakan gambaran seorang calon mantu yang baik.
Mengenai ilmu silat, kepandaiannya juga tidak terlalu rendah, dan dengan gemblengan yang keras, dalam waktu tidak terlalu lama dia tentu akan memperoleh kemajuan pesat.
"Tan Hok Seng, bangkit dan duduklah. Permintaan itu akan kami pertimbangkan setelah engkau tinggal beberapa hari di sini. Karena kami belum mengenal benar siapa engkau, maka tentu kamipun tidak dapat tergesa-gesa menerimamu sebagai murid."
Kata Siangkoan Ci Kang dan isterinya segera menyambung dengan pertanyaan.
"Orang muda, apakah selain yatim piatu, engkau tidak mempunyai seorangpun anggauta keluarga? Kakak atau adik, paman atau bibi, mungkin isteri atau tunangan."
Pertanyaan ini sambil lalu dan tidak kentara, namun Tan Hok Seng bukanlah seorang pemuda hijau.
Dia dapat menangkap apa yang tersembunyi di balik pertanyaan itu dan diam-diam diapun merasa girang bukan main.
Kalau saja selain menjadi murid suami isteri yang sakti ini juga dapat menjadi mantu mereka!
Gadis tadi sungguh cantik manis menggairahkan!
"Saya hidup sebatang kara, bibi, tidak ada sanak tidak ada kadang, apa lagi keluarga."
Mendengar ini, kembali suami isteri itu saling pandang dan mereka sungguh mengharapkan sekali ini puteri mereka akan menemukan jodohnya.
Atas pertanyaan kedua orang itu, Tan Hok Seng lalu menceritakan pengalamannya, sampai dia difitnah dan selain kehilangan kedudukan dan pekerjaannya, dia bahkan dihukum buang oleh pemerintah.
"Sejak kecil saya kehilangan orang tua yang meninggal dunia karena sakit. Saya hidup terlunta-lunta, mengembara dan menyadari bahwa saya akan hidup sengsara kalau tidak memiliki kepandaian, saya sejak kecil bekerja sambil belajar. Banyak yang saya pelajari dengan biaya hasil pekerjaan saya memburuh. Mempelajari ilmu baca tulis sampai sastera, dan terutama sekali mempelajari ilmu-ilmu silat dari manapun. Setelah dewasa, dengan bekal ilmu-ilmu yang saya pelajari, saya mendapatkan pekerjaan di kota raja sebagai seorang prajurit pengawal istana. Karena ketekunan dan kerajinan saya, maka dalam waktu beberapa tahun saja saya menerima kenaikan pangkat sampai akhirnya menjadi seorang perwira pengawal."
Suami isteri itu mendengarkan dengan hati senang.
Pemuda ini mengagumkan.
Sejak kecil yatim piatu dan hidup sebatang kara, namun mampu memperoleh kemajuan yang hebat sampai menjadi seorang perwira pasukan pengawal istana!
Dari kemajuan ini saja dapat dijadikan ukuran bahwa Tan Hok Seng ini memang seorang pemuda yang penuh semangat.
"Kemudian, bagaiaman tentang fitnah itu?"
Tanya Siangkoan Ci Kang dengan hati tertarik. Hok Seng menghela napas panjang.
"Itulah, Suhu..."
Pemuda itu tergagap karena keliru menyebut Suhu (guru).
"maafkan teecu (murid)..."
Siangkoan Ci Kang tersenyum dan mengangguk.
"Tidak mengapa, boleh engkau menyebut guru kepadaku."
Mendengar ini, Hok Seng menjadi gembira bukan main dan dia segera menjatuhkan dirinya lagi berlutut dan memberi hormat kepada suami isteri itu dengan menyebut "Suhu"
Dan "Subo".
Suami isteri itu saling pandang dan tersenyum.
Memang mereka tidak ragu lagi, dan tidak perlu menanti sampai beberapa hari.
Mereka percaya kepada pemuda ini dan suka menerima sebagai murid, bahkan dengan harapan untuk mengambil pemuda ini sebagai calon mantu, pengganti Pek Han Siong yang ditolak oleh puteri mereka.
"Bangkit dan duduklah, Hok Seng, dan lanjutkan ceritamu kepada kami,"
Kata Siangkoan Ci Kang.
"Suhu, agaknya kemajuan dan keberuntungan teecu di kota raja itu menimbulkan iri hati kepada teman-teman dan rekan-rekan karena ada di antara mereka yang sudah bertahun-tahun menjadi perajurit pengawal tidak pernah mendapatkan kenaikan. Sedangkan teecu dalam beberapa tahun saja mendapatkan beberapa kali kenaikan pangkat. Nah, pada suatu hari, istana ribut-ribut karena kehilangan peti kecil terisi perhiasan seorang puteri istana, dan aneh sekali, peti itu kemudian ditemukan dalam kamar teecu!"
"Hemm, dan engkau tidak mencuri peti perhiasan itu, Hok Seng?"
Tanya Toan Hui Cu sambil memandang tajam.
"Subo, bagaimana mungkin teecu mencuri? Selamanya teecu tidak pernah mencuri. Pula, bagaimana mungkin teecu dapat mencuri peti perhiasan yang berada di dalam istana bagian puteri? Hanya para thai-kam (kebiri) sajalah yang dijinkan memasuki bagian puteri Itu jelas fitnah."
"Hemm, kalau fitnah, bagaimana peti perhiasan itu dapat ditemukan di dalam kamarmu?"
Siangkoan Ci Kang bertanya.
"Itulah yang mencelakakan teecu, Suhu. Teecu tidak tahu bagaimana peti itu dapat berada di dalam kamar teecu, tersembunyi di bawah pembaringan. Jelas bahwa ini perbuatan seorang yang sengaja melempar fitnah kepada teecu. Akan tetapi karena bukti ditemukan di kamar teecu, teecu tidak dapat banyak membela diri. Teecu dijatuhi hukuman buang, karena Sri Baginda Kaisar mengingat akan jasa-jasa teecu sehingga teecu tidak dihukum mati. Akan tetapi dalam perjalanan melaksanakan hukuman buang itu, di tengah perjalanan muncul seorang pendekar berkedok yang membebaskan teecu bahkan memberi bekal uang emas kepada teecu tanpa memberi kesempatan kepada teecu untuk mengenal mukanya atau namanya."
"Ah, kalau orang benar ada saja penolong datang."
Kata Toan Hui Cu dengan girang.
Akan tetapi Siangkoan Ci Kang mengerutkan alisnya dan bertanya kepada pemuda itu.
"Tahukah engkau siapa yang melakukan fitnah sekeji itu kepadamu?"
"Teccu dapat menduga orangnya, akan tetapi tidak ada buktinya. Yang meyakinkan hati teecu adalah karena setelah teecu dihukum, dia mendapat kedudukan, menggantikan teecu."
"Dan engkau mendendam kepada orang itu?"
Kembali Siangkoan Ci Kang bertanya, suaranya tegas dan pandang matanya mencorong dan penuh selidik menatap wajah pemuda itu.
Tan Hok Seng adalah seorang pemuda yang cerdik sekali.
Dia banyak membaca dan tahu bagaimana watak para pendekar.
Seorang pendekar sejati tidak mudah dikuasai nafsu, demikian dia membaca.
Seorang pendekar sejati tidak membiarkan nafsu dan dendam kebencian meracuni hatinya.
Maka, mendengar pertanyaan itu, dengan tegas dan mantap diapun menjawab.
"Sama sekali tidak, Suhu! Teecu tidak mendendam, hanya kelak kalau ada kesempatan dan kalau kepandaian teecu memungkinkan, teecu ingin menyelidiki siapa sebenarnya yang mencuri peti perhiasan lalu menyembunyikan di dalam kamar teecu itu."
"Hemm, apa bedanya itu dengan mendendam? Dan kalau engkau berhasil menemukan orangnya, lalu apa yang akan kau lakukan?"
Kalau saja Tan Hok Seng bukan seorang pemuda cerdik dan hanya menuruti panasnya hati saja, kemudian menjawab bahwa dia akan membunuh orang itu, tentu suami isteri itu akan kecewa dan belum tentu mereka dapat menerimanya dengan hati bulat.
Akan tetapi Hok Seng tahu apa yang harus menjadi jawabannya.
(Lanjut ke
Jilid 22) Ang Hong Cu (Seri ke 10 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 22
"Teecu akan melaporkan ke pengadilan agar ditangkap dan hal itu dapat membersihkan nama teecu yang telah difitnah."
Jawaban ini melegakan hati Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu.
Dan untuk menjenguk isi hati calon murid ini, Siangkoan Ci Kang bertanya lagi.
"Kalau namamu sudah bersih, engkau menginginkan kembali jabatan dan kedudukan itu?"
"Tidak sama sekali, Suhu. Teecu sudah bosan dengan kedudukan itu karena di sana terjadi banyak kebusukan. Persaingan, fitnah, sogok-menyogok, kecurangan dan pementingan diri sendiri. Hampir semua pejabat hanya memikirkan bagaimana untuk mendapat untung sebanyaknya. Teecu sudah muak dengan semua keadaan itu."
Bukan main girang hati suami isteri itu.
"Baiklah, Hok Seng. Mulai hari ini, engkau menjadi murid kami dan kami mengharap engkau menjadi murid yang baik. Untuk mengetahui dasar yang ada padamu, cobalah engkau mainkan semua ilmu silat yang pernah kau pelajari."
Mereka pergi ke lian-bu-thia dan belum lama mereka memasuki ruangan berlatih silat ini, Bi Lian menyusul mereka.
Gadis ini merasa heran melihat betapa tamu itu diajak masuk ke lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) oleh ayah ibunya.
Ketika ia bertanya, ia merasa semakin heran mendengar penjelasan ibunya.
"Bi Lian, Tan Hok Seng ini kami terima menjadi murid kami. Mulai sekarang, dia adalah sutemu, akan tetapi engkau boleh menyebut suheng (kakak seperguruan) karena dia tebih tua darimu. Dan Hok Seng, engkau boleh menyebut Sumoi (adik seperguruan) kepada puteri kami Siangkoan Bi Lian ini."
"Sumoi...!"
Hok Seng cepat mengangkat kedua tangan di depan dada menyalam gadis itu.
Sikap ini saja sudah menunjukkan bahwa pemuda itu menghormatinya, bahkan tidak segan memberi hormat lebih dahulu walaupun dia mendapatkan kehormatan untuk menjadi saudara tua.
Diam-diam Bi Lian tidak puas.
Bagaimanapun juga, pemuda itu baru saja menjadi murid ayah ibunya, dan dalam ilmu silat, jauh berada di bawah tingkatnya, mana pantas menjadi suhengnya?
Akan tetapi tidak enak juga kalau disebut su-ci (kakak seperguruan) oleh seorang pemuda yang usianya beberapa tahun lebih tua darinya.
Hal itu akan mendatangkan perasaan cepat tua dalam hatinya.
Maka iapun tidak membantah dan ia membalas penghormatan Hok Seng sambil berkata lirih.
"Selamat menjadi murid ayah dan ibu, suheng."
Demikianlah, sejak hari itu, Tan Hok Seng menerima gemblengan dari kedua orang gurunya setelah mendemonstrasikan seluruh ilmu silat yang pernah dipelajarinya.
Ternyata menurut penilaian Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu, dasar ilmu silat pemuda ini sudah lumayan.
Dia mempelajari bermacam-macam ilmu silat, hanya tenaga dasar sin-kangnya yang kurang.
Maka, Siangkoan Ci Kang memberi pelajaran berlatih dan menghimpun tenaga sin-kang, sedangkan Toan Hui Cu mengajarkan silat Kwan Im Sin-kun, bahkan kedua suami isteri itu kemudian mengajarkan ilmu baru mereka Kim-ke Sin-kun.
Tentu saja suami isteri yang selamaa belasan tahun tinggal sebagai orang hukuman di kuil Siauw-lim-si itu dan kurang pengalaman, sama sekali tidak bermimpi bahwa mereka menerima murid seorang yang seolah-olah harimau berbulu domba!
Tan Hok Seng bukanlah orang seperti yang mereka duga dan gambarkan!
Mendengar Tan Hok Seng menceritakan riwayatnya, tidak sukar menduga siapa dia sebenarnya.
Tan Hok Seng bukan lain hanyalah nama samaran Tang Gun!
Telah diceritakan di bagian depan betapa perwira muda istana ini melarikan seorang selir terkasih kaisar.
Dia ditangkap oleh Tang Bun An yang hendak mencari jasa dan kedudukan, kemudian diserahkan kepada kaisar!
Tentu saja kaisar marah sekali dan Tang Gun dijatuhi hukuman buang.
Dalam perjalanan, dia diselamatkan dan dibebaskan seorang yang lihai sekali dan yang mengenakan kedok, Bahkan bukan saja dia dibebaskan, juga dia diberi bekal sekantung uang emas.
Sama sekali dia tidak tahu dan tidak dapat menduga siapa adanya orang berkedok yang membebaskannya itu.
Tang Gun, atau sebaiknya kita kini menyebutnya Tan Hok Seng sebagai nama barunya, tentu saja tidak berani menggunakan nama lama karena betapapun juga dia adalah seorang pelarian dan buronan.
Juga, kalau dia memperkenalkan nama lama kepada suami isteri yang menjadi gurunya itu dan kemudian mereka itu mendengar bahwa dia dihukum karena melarikan seorang selir kaisar, tentu kedua orang gurunya itu tidak akan sudi menerimanya sebagai murid.
Dan dia mengarang cerita yang tidak begitu menarik perhatian, walaupun yang dia anggap sebagai musuhnya, yaitu yang melakukan "fitnah"
Adalah orang yang telah menangkapnya itu.
Tan Hok Seng, dengan pengalamannya yang banyak, karena sejak remaja dia sudah merantau dan mengalami banyak penderitaan, dapat membawa diri, dapat bersikap lembut dan sopan sehingga dengan mudahnya dia dapat mengelabui Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu.
Bahkan setelah sebulan lewat dia tinggal dan mempelajari silat di rumah suami isteri pendekar itu, Bi Lian sendiri mulai tertarik dan merasa suka kepada "suheng"
Itu.
Siapapun dalam keluarga itu akan merasa suka kepada Hok Seng.
Dia amat rajin, pagi-pagi sekali sudah bangun dan sejak dia berada di situ, rumah dan pekarangan keluarga itu nampak semakin bersih dan terpelihara baik-baik, Hok Seng bekerja tak mengenal lelah, dan tidak mengenal pekerjaan kasar atau rendah.
Biarpun dia pernah menjadi seorang perwira muda istana yang membuat dia hidup mewah dan terhormat, kini dia tidak segan untuk menyapu pekarangan, membelah kayu bakar, memikul air dan segala pekerjaan kasar lainnya.
Dan ketekunannya mempelajari dan melatih ilmu silat membuat suami isteri itu kagum bukan main.
Diapun cepat memperoleh kemajuan.
Semua sikap yang baik inilah yang mulai menarik perhatian Bi Lian.
Dan semakin tebal harapan terkandung dalam hati Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu bahwa kelak pemuda itu, akan dapat menjadi mantu mereka!
Setengah tahun kurang lebih lewat dengan cepatnya semenjak Hok Seng tinggal di Kim-ke-kok menjadi murid ayah ibu Bi Lian.
Bukan saja kedua orang gurunya semakin suka kepadanya, bahkan hubungannya dengan Bi Lian menjadi semakin akrab, dan gadis itu mulai percaya akan segala kebaikan yang diperlihatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada suatu sore, mereka latihan bersama di lian-bu-thia.
Keduanya berlatih ilmu silat Kim-ke Sin-kun, ilmu baru yang diciptakan Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu.
Mengagumkan sekali melihat dua orang muda itu berlatih silat.
Yang pria tinggi tegap, tampan dan gagah, memiliki gerakan yang mantap bertanaga, sedangkan wanitanya cantik jelita dan memiliki gerakan lincah.
Dan dari latihan ini saja dapat diketahui bahwa Hok Seng telah memperoleh kemajuan pesat sekali.
Bahkan dalam latihan ilmu silat Kim-ke Sin-kun ini, dia sama sekali tidak terdesak oleh Sumoinya!
Juga dalam hal tenaga sin-kang, dia telah memperoleh kemajuan dan kini tenaganya menjadi amat kuat, walaupun dibanding Bi Lian tentu saja dia masih kalah.
Setetah selesai latihan, mereka beristirahat di luar lian-bu-thia, berjalan-jalan di taman bunga sambil menghapus keringat dengan kain.
Lalu keduanya duduk berhadapan di dekat kolam ikan, di atas bahgku batu.
"Aih, Sumoi. Sampai kapanpun aku tidak akan mungkin mampu menandingimu. Gerakanmu demikian matang, tenagamu juga kuat sekali dan engkau dapat bergerak secepat burung walet."
Hok Seng memuji sambil menatap wajah Sumoinya dengan sinar mata kagum.
Bi Lian sudah biasa dengan tatapan mata kagum ini, akan tetapi karena ia tidak melihat adanya pandang mata yang kurang ajar, maka iapun selalu bahkan merasa bangga dan gembira kalau suhengnya memandang seperti itu.
Andaikata Hok Seng tidak pandai menahan diri dan pandang matanya mengandung pencerminan keadaan hatinya yang penuh berahi, tentu Bi Lian dapat melihat dan merasakannya dan tentu ia akan merasa tidak senang bahkan marah sekali.
"Suheng, jangan khawatir. Kulihat engkau telah memperoleh kemajuan yang pesat. Kalau engkau tekun berlatih, terutama sekali menghimpun sin-kang seperti diajarkan ayah, aku percaya kelak engkau akan mampu menyusulku."
Hok Seng menghela napas panjang dan wajahnya yang tampan nampak termenung, diliputi mendung.
Melihat ini, Bi Lian merasa heran.
Belum pernah selama ini ia melihat suhengnya bermuram seperti itu.
"Suheng, engkau kenapakah? Apa yang kau pikirkan?"
Kembali Hok Seng menarik napas panjang.
"Ah, Sumoi, betapa inginku memiliki ilmu kepandaian seperti engkau agar tidak ada lagi orang berani menghinaku dan menjatuhkan fitnah kepadaku seperti yang pernah kualami."
"Suheng, aku pernah mendengar ibuku berkata bahwa engkau pernah menjadi seorang perwira di istana akan tetapi difitnah orang dan kehilangan kedudukanmu. Benarkah itu. Ceritakanlah kepadaku, suheng. Aku ingin mendengarnya."
"Memang benar demikian, Sumoi. Dengan susah payah aku merintis dan berusaha dengan tekun sehingga dari seorang perajurit pengawal aku berhasil menduduki jabatan perwira, dipercaya oleh istana. Akan tetapi, terjadi pencurian perhiasan milik seorang puteri istana dan si pencuri menyembunyikan peti perhiasan itu di bawah pembaringan dalam kamarku. Jelas aku difitnah. Karena itu, aku tekun berlatih silat agar memperoleh kepandaian yang cukup untuk melakukan penyelidikan."
"Engkau hendak membalas dendam?"
"Tidak, hanya aku akan membongkar rahasia pencurian itu sehingga yang salah akan dihukum, dan aku dapat membersihkan nama baikku."
"Kenapa kalau engkau mengetahui bahwa engkau difitnah, dahulu engkau tidak mengambil tindakan, suheng?"
Hok Seng menggeleng kepala dengan sedih dan terbayanglah di dalam ingatannya penghinaan yang terjadi atas dirinya ketika dia ditangkap dan diseret ke kota raja oleh penangkapnya itu.
"Aku difitnah oleh orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, Sumoi. Ketika itupun aku sudah melawan, namun aku sama sekali tidak berdaya menghadapi orang yang lihai itu. Dan sekarang, menurut penyelidikanku sebelum aku tinggal di sini, orang yang melakukan fitnah itu telah mendapatkan kedudukan tinggi sebagai imbalan jasanya karena menangkap aku sebagai pencurinya! Kalau aku sudah memiliki kepandaian cukup, aku akan membongkar rahasianya itu, Sumoi. Sebelum kepandaianku cukup, tidak akan ada artinya, bahkan aku mungkin akan ditangkap kembali sebagai seorang pelarian. Dia amat lihai, Sumoi."
Hati Bi Lian tertarik.
Ada perasaan setiakawan terhadap suhengnya yang difitnah orang itu.
Juga perasaan marah dan penasaran.
Orang yang melakukan fitnah itu jelas orang yang berhati kejam dan jahat, pikirnya.
"Suheng, siapa sih orang yang melakukan fitnah terhadap dirimu itu?"
"Menurut penyelidikanku, namanya Tang Bun An."
Berkerut alis Bi Lian mendengar she (nama keluarga) Tang itu.
Teringat ia akan Hay Hay yang juga she Tang.
Ang-hong-cu Si Kumbang Merah yang menjadi ayah kandung Hay Hay itu, penjahat cabul yang amat jahat, juga she Tang.
Akan tetapi ia menyimpan perasaan kaget itu di dalam hatinya saja.
Ia tidak ingin suhengnya mendengar tentang Ang-hong-cu, tidak ingin orang lain mendengar bahwa adik kandung suhengnya yang juga pernah ditunangkan dengannya pernah menjadi korban kecabulan Ang-hong-cu.
Pek Eng, adik Pek Han Siong itu, kini telah menjadi isteri Song Bun Hok putera ketua Kang-jiu-pang.
Juga seorang pendekar wanita lain, Cia ling, masih keluarga dekat Cin-ling-pai, menjadi korban Ang-hong-cu itu, akan tetapi kini Cia Ling juga sudah menjadi isteri Can Sun Hok.
Kalau ia bercerita tentang Ang-hong-cu, tentu sukar baginya untuk tidak menceritakan kedua orang pendekar wanita iu dan ia tidak ingin melakukan hal ini.
Peristiwa aib yang menimpa mereka itu harus dikubur dan dilupakan.
Karena itulah, Bi Lian tidak mau memperlihatkan kekagetannya mendengar bahwa musuh Hok Seng seorang she Tang yang mengingatkan ia kepada Si Kumbang Merah Ang-hong-cu.
"Tang Bun An? Hemmm, orang macam apakah dia dan sampai di mana kelihaiannya?".
"Usianya sekitar lima puluh tahun lebih. Dia nampak tampan dan gagah, dan tentang ilmu silatnya, aku tidak dapat mengukur berapa tingginya, akan tetapi dahulu aku seperti seorang anak kecil yang lemah ketika melawannya. Dalam segebrakan saja aku sudah roboh."
"Apakah dia memelihara kumis dan jenggot yang rapi, matanya tajam mencorong dan mulutnya selalu tersenyum?"
Tanyanya.
Ia teringat akan Ang-hong-cu yang pernah muncul dengan nama Han Lojin.
Han Lojin yang kemudian ternyata Ang-hong-cu itu juga berusia lima puluh tahun lebih, tampan dan gagah, dengan kumis dan jenggot terpelihara rapi.
"Dia memang bermata tajam dan sikapnya ramah, akan tetapi mukanya halus bersih, tidak berkumis maupun berjenggot. Mengapa engkau bertanya demikian, Sumoi?"
"Ah, tidak. Aku teringat kepada seseorang, akan tetapi tidak ada sangkut pautnya dengan urusanmu itu. Suheng, kenapa tidak sekarang saja engkau pergi ke kota raja dan membongkar rahasia fitnah dan pencurian itu? Lebih cepat namamu dibersihkan, lebih baik, bukan?"
"Mana mungkin, Sumoi? Aku merasa belum manlpu menandinginya dan kalau kembali aku tertawan, berarti aku bukan hanya menghadapi penderitaan dan hukuman berat, juga akan menyeret nama baik Suhu dan Subo. Tidak, sebelum aku yakin telah menguasai ilmu yang lebih tinggi sehingga akan dapat mengalahkannya, aku belum berani mencoba untuk membongkar fitnah itu, Sumoi."
"Suheng, aku akan membantumu! Kalau dibiarkan terlalu lama, namamu sudah terlanjur rusak dan kedudukan orang itu terlanjur kuat sekali sehingga sukar untuk ditangkap."
Wajah Hok Seng berseri.
Kalau Sumoinya ini mau membantu, tentu lain soalnya.
Sumoinya ini hebat, memiliki ilmu kepandajan tinggi sekali, dapat disebut sakti, dan dia percaya kalau sumomya ini akan mampu menandingi orang yang dahulu menangkapnya itu.
"Akan tetapi, aku merupakan seorang pelarian atau orang buruan, maka aku tidak berani berterang memasuki kota raja, Sumoi."
"Itu mudah saja, suheng. Engkau masuk dengan menyamar, menyelundup. Kemudian diam-diam kita mencari orang yang melakukan fitnah itu, apa sukarnya?"
"Akan tetapi hati-hati, Sumoi. Dia itu selain lihai juga tukang fitnah, tentu dia akan menyangkal semua perbuatannya yang keji, bahkan tidak mungkin dia akan melontarkan fitnah yang lebih keji terhadap diriku!"
"Jangan khawatir, suheng. Aku yakin kita berdua akan dapat membongkar rahasia itu dan membekuknya."
Ketika mereka menghadap Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu dan menyatakan hendak pergi bersama ke kota raja untuk membongkar urusan fitnah dan akan membersihkan nama baik Tan Hok Seng yang pernah tercemar,kedua orang suami isteri itu sebetulnya merasa tidak setuju.
Akan tetapi, mereka melihat kesempatan bagi puteri mereka untuk bergaul dengan lebih akrab dengan Hok Seng yang diharapkan menjadi calon mantu mereka, maka merekapun membeeri persetujuan mereka.
"Akan tetapi engkau tentu ingat akan pengakuanmu dahulu, Hok Seng, bahwa engkau tidak menaruh dendam kepada orang yang melempar fitnah kepadamu!"
Kata Siangkoan Ci Kang.
"Dan kalian jangan sampai menimbulkan keributan di kota raja, apa lagi menentang petugas pemerintah."
Pesan pula Toan Hui Cu.
"Harap Suhu dan Subo tenangkan hati,"
Jawab Hok Seng tenang.
"Teecu bukan mendendam, melainkan karena dorongan Sumoi, teecu hendak mencuci nama baik teecu yang dicemarkan orang, menangkap yang bersalah agar dihukum. Dan teecu bersama Sumoi akan bekerja diam-diam sehingga tidak sampai menimbulkan keributan di kota raja, apa lagi karena teecu masih menjadi seorang pelarian sebelum nama teecu dibersihkan kembali."
Tentu saja di dalam hatinya, pemuda ini sama sekali bukan bermaksud "membersihkan nama"
Karena bagaimanapun juga, namanya yang aseli tidak mungkin dapat dibersihkan lagi.
Dia sudah membuat dosa besar kepada kaisar, yaitu melarikan seorang selir terkasih kaisar.
Hal itu telah terbukti, bagaimana mungkin dibersihkan lagi?
Yang jelas, dia mendendam kepada Tang Bun An yang kini menurut penyelidikannya telah menjadi seorang perwira tinggi, Kedudukannya yang bahkan lebih tinggi dari kedudukannya karena telah berjasa menemukan kembali selir yang minggat dan menghadapkan dia sebagai pembawa pergi selir itu.
Dan dia merasa yakin akan dapat membalas dendam kepada orang itu, bukan saja karena kini dia telah memperoleh kemajuan pesat sekali dalam ilmu silat, akan tetapi dia ditemani Siangkoan Bi Lian, gadis perkasa yang memiliki ilmu silat tinggi itu.
Sebetulnya hanya itulah yang terpenting, yaitu membalas dendam kepada Tang Bun An!
Yang lain dia tidak perduli.
Kalau sudah berhasil membunuh Tang Bun An, dia akan lebih tekun belajar silat, kemudian kalau memungkinkan keadaannya, dia akan mendekati Bi Lian dan mengusahakan agar gadis yang amat cantik jelita menggairahkan dan lihai ilmu silatnya ini dapat menjadi isterinya!
Tidak sukar bagi seorang menteri negara yang demikian besar kekuasaannya seperti Menteri Cang Ku Ceng, untuk minta bantuan seorang perwira pengawal thai-kam (kebiri) sehingga Kui Hong dengan mudah dapat diselundupkan ke dalam istana!
Karena maksud Kui Hong menyelundup ke dalam istana hanya untuk melakukan pengintaian dan sedapat mungkin menangkap basah pria yang kabarnya menurut desas-desus menggauli hampir semua selir, dayang dan puteri istana, maka iapun hanya minta waktu seminggu saja untuk melakukan penyelidikan.
Dan waktu baginya untuk mengintai hanya malam hari.
Oleh karena itu, untuk membebaskan gadis perkasa itu dari perhatian dan kecurigaan, Kui Hong selalu sembunyi di siang hari, disembunyikan oleh perwira thai-kam itu ke dalam kamar seorang wanita setengah tua yang bekerja sebagai tukang cuci dan yang dipercaya penuh oleh perwira thai-kam itu.
Setelah hari menjadi gelap, barulah Kui Hong keluar dari dalam kamar itu dan melakukan perondaan secara rahasia.
Memang tidak mudah bagi perwira Thai-kam itu untuk mempercaya seorangpun di dalam istana kecuali tukang cuci yang masih terhitung saudara misan ibunya dari dusun itu.
Hampir semua wanita di dalam istana itu, terutama yang masih muda dan cantik, agaknya mempunyai hubungan dengan pria misterius yang tak pernah diJihat orang memasuki istana itu.
Kalaupun ada yang melapor, mereka itu hanya melihat berkelebatnya bayangan seorang pria, namun belum pernah melihat orangnya.
Agaknya, tidak mungkin ada orang yang kelihatan bayangannya tidak kelihatan orangnya.
Hanya setan saja yang demikian itu.
Anehnya, Sang Permaisuri sendiri agaknya acuh atau tidak menaruh perhatian, bahkan nampak tidak percaya kalau diberi laporan bahwa ada pria memsuki istana bagian puteri.
Maka, terpaksa Kui Hong diselundupkan secara tersembunyi, tidak seperti seorang dayang baru atau peJayan baru.
Karena kalau diJakukan demikian, Kui Hong khawatir kalau kehadirannya akan mencurigakan hati orang dan akan membuat laki-laki yang suka berkeliaran di dalam istana bagian puteri itu berhati-hati dan tidak muncul lagi.
Kehadirannya di dalam istana harus dirahasiakan dan tidak boleh diketahui umum.
Hal ini ia kemukakan kepada Menteri Cang Ku Ceng dan menteri yang bijaksana ini mempergunakan kekuasaannya untuk dapat memenuhi permintaan Kui Hong.
Sudah tiga hari tiga malam Kui Hong berada di dalam istana, hanya diketahui oleh Menteri Cang, perwira Thaikam, dan pelayan wanita tukang cuci di istana.
Setiap malam ia melakukan pengintaian dan perondaan, dan dari pagi sampai sore ia bersembunyi saja di dalam kamar.
Namun, belum pernah ia menemukan sesuatu yang mencurigakan, belum pernah bertemu seorang pria yang berkeliaran di istana bagian puteri itu.
Yang kelihatan hanyalah para pengawal istana, orang-orang Thaikam yang melakukan perondaan ---Sepertinya ada HALAMAN yang hilang ---Kui Hong membuka kedua matanya.
Yang pertama nampak adalah langit-langit bercat putih, lalu dinding berwarna merah muda.
Ia menggerakkan kaki tangannya.
Terbelenggu!
Ia terbelenggu pada kaki tangannya dan rebah terlentang di atas sebuah pembaringan, dalam sebuah kamar!
Bukan kamar di mana ia terjebak tadi.
Ia terjatuh ke tangan Tang Bun An, si penjahat cabul!
Akan tetapi hatinya lega ketika merasa bahwa pakaiannya masih menutupi tubuhnya dan tidak dirasakan sesuatu pada dirinya.
Jahanam itu belum mengganggunya.
Belum!
Kemungkinan besar ia akan di ganggu, dan hatinya di cekam kengerian membayangkan betapa dalam keadaan terbelenggu dan tidak berdaya itu ia dipermainkan dan diperkosa oleh perwira cabul itu!
Jantungnya berdebar tegang dan hatinya dilanda kengerian dan ketakutan.
Akan tetapi, ia mengatur pernapasannya dan rasa cemaspun menghilang.
Kini ia bersikap tenang, tidak mau membayangkan hal-hal mengerikan yang mungkin mengancamnya.
Ia menyibukkan pikirannya untuk mencari akal bagaimana agar dapat lolos dari bahaya.
Dengan menyibukkan pikiran mencari ikhtiar, maka tidak ada kesempatan lagi bagi pikiran untuk membayangkan hal-hal yang mengerikan.
Jelas bahwa membebaskan diri dengan kekerasan, tidak mungkin pada waktu itu.
Belenggu pada kaki tangannya amat kuat, dan ketika ia mencoba untuk mengerahkan tenaganya, tenaga sin-kang, belenggu itu tidak putus, melar seperti karet.
Kalau mengharapkan bantuan, siapa yang akan dapat menolongnya?
Tidak ada orang mengetahui ketika ia membayangi penjahat itu, dan ia berada di tangan perwira cabul itu, di dalam hutan di puncak sebuah bukit yang amat sunyi.
Andaikata ia menjerit sekalipun, tidak mungkin dapat terdengar orang yang tinggal jauh di bawah bukit.
Dan menjerit minta tolong bukan cara yang patut ia lakukan, Bahkan merupakan suatu pantangan bagi seorang pendekar seperti ia, tidak akan minta tolong dan menjerit bahkan iapun tidak sudi minta ampun.
Ia akan mencari akal yang baik, dan sampai mati sekalipun ia tidak boleh memperlihatkan rasa takut.
Tiba-tiba jantungnya berdebar.
Ia mendengar langkah kaki yang amat berat menghampiri kamarnya dari luar.
Daun pintu kamar itu didorong orang dari luar sehingga terbuka dan muncullah perwira Tang memasuki kamar sambil menggotong sebuah tong kayu besar dan tebal.
Dia meletakkan tong itu di tengah kamar, tak jauh dari tempat tidur di mana Kui Hong rebah telentang dalam keadaan terbelenggu.
Setelah menurunkan bak atau tong kayu itu, Tang Bun An menoleh ke arah pembaringan.
Melihat gadis itu telah siuman dan kini menengadah, sama sekali tidak melirik kepadanya, dia tertawa.
"Heh-heh-heh, nona manis. Engkau sungguh lihai bukan main, akan tetapi menghadapi aku, engkau akhirnya roboh juga. Baru engkau mengakui kehebatanku, ya?"
Kui Hong menoleh dan memandang pria itu dengan mata mencorong penuh kemarahan.
"Cih, laki-laki pengecut curang tak tahu malu! Engkau menggunakan perangkap, engkau curang dan licik, menandakan bahwa engkau hanyalah seorang yang pengecut dan keji. Kalau memang engkau merasa jantan, lepaskan belenggu ini dan mari kita bertanding seperti orang gagah sampai titik darah terakhir!"
"Ha-ha-ha-heh-heh, engkau memang gagah, nona. Gagah dan cantik sekali. Betapa ingin hatiku untuk bertanding denganmu! Bukan bertanding untuk saling membunuh, melainkan saling menyenangkan. Ha-ha-ha! Akan tetapi sayang, semalam aku telah bertanding melawan lima orang harimau betina kelaparan. Aku lelah sekali dan perlu mandi untuk memulihkan tenaga. Engkau tunggulah. Setelah mandi, aku akan melayanimu bertanding, ha-ha-ha!"
Dan perwira itu keluar meninggalkan kamar.
Celaka, pikir Kui Hong.
Ia tadi sengaja mengeluarkan ucapan untuk menghina dan memanaskan hati orang itu.
Akan tetapi ternyata selain pengecut dan curang, orang itupun tebal muka, sama sekali tidak malu oleh ucapannya.
Bahkan mengeluarkan jawaban dengan ucapan yang mengandung maksud cabul yang menusuk perasaan kewanitaannya.
Ia harus mencari akal lain.
Melukai kejanntannya dengan kata-kata tidak ada gunanya bagi orang yang bermuka tebal itu.
Biarpun tadinya ia tidak ingin menoleh dan memandang, hatinya tertarik juga ketika mendengar perwira itu masuk lagi ke dalam kamar dan menuangkan air ke dalam tong yang digotongnya masuk tadi.
Ia melirik dan melihat betapa Tang Ciangkun tadi menggotong dua ember besar penuh air dan menuangkannya ke dalam tong.
Orang itu tidaK mengeluarkan suara apapun, hanya tersenyum-senyum.
Dia keluar lagi dan tak lama kemudian, terdengar suaranya bernyanyi!
Nyanyian lagu rakyat dari daerah selatan dengan lidah selatan pula.
Terdengar lucu dan harus diakui oleh Kui Hong bahwa suara orang itu cukup merdu.
Dia masuk membawa dua ember air lagi dan menuangkan air ke dalam tong sambil tetap bersenandung.
Setelah tiga kali menuangkan dua ember besar air, barulah dia merasa cukup.
"Heh-heh, nona manis. Aku hendak mandi dulu, ya? Setelah itu, baru kita bicara tentang pertandingan antara kita, ha-ha-ha!"
Dan tanpa sungkan lagi, tanpa kesopanan sedikitpun, dia mulai menanggalkan pakaiannya satu demi satu di depan Kui Hong!
Tentu saja Kui Hong cepat membuang muka, tidak sudi memandang dan melihat sikap ini, Tang Bun An tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, nona manis, kenapa engkau membuang muka? Pandanglah aku, amatilah baik-baik. Lihat, setiap orang wanita mengagumi tubuhku ini. Lihatlah dan engkau akan merasa suka dan kagum, nona!"
Tanpa menoleh Kui Hong berkata ketus.
"Engkau manusia yang jahat, kejam, curang, tidak sopan. Manusia berwatak iblis! Biar kau mampus dibakar api neraka!"
Tang Bu An yang sudah telanjang bulat itu memasuki tong berisi air sambil membawa sebuah bungkusan dan tertawa-tawa.
Dia membuka bungkusan yang berisi bubuk berwarna kuning, lalu menaburkan bubuk itu ke dalam tong air.
Segera tercium bau yang amat harum.
"Ha-ha-ha, dan engkau seorang gadis yang sombong, kepala besar, tinggi hati! Kau kira aku tidak mengenal wanita? Hanya pada lahirnya saja tinggi hati dan menjual mahal, padahal, pada dasarnya, amat rendah dan murah! Perempuan selalu beracun, palsu. Kecantikannya hanya ditujukan untuk menjatuhkan hati laki-laki dan setelah itu memperdayainya, menipunya! Di balik senyummu yang manis menarik itu terkandung kepahitan yang beracun! Terkutuklah perempuan! Dan engkau masih berani mengatakan aku jahat dan kejam? Ha-ha-ha-ha, tidak ada yang lebih jahat dari pada perempuan, akan tetapi tidak ada yang lebih mengasyikkan, lebih menggairahkan."
Kui Hong tidak menjawab karena ia sudah terbelalak memandang kepada laki-laki yang berendam di dalam tong penuh air itu.
Ia berani memandang karena laki-laki itu kini berada di dalam tong yang menyembunyikan ketelanjangannya.
Ia terpaksa memandang ketika tadi hidungnya mencium bau yang amat harum.
Bau harum cendana!
Bau ini membuat ia terkejut sekali dan memaksanya menoleh dan memandang.
Ia bahkan hanya mendengar sebagian saja ucapan laki-laki itu yang mengandung kebencjan besar terhadap wanita.
"Kau... kau... Ang-hong-cu!"
Akhirnya ia berkata.
Tang Bun An yang masih tertawa, tiba-tiba menghentikan suara ketawanya ketika dia mendengar seruan Kui Hong itu.
Matanya terbelalak memandang gadis itu, alisnya berkerut.
Gadis ini tahu bahwa dia Ang-hong-cu!
"Bagaimana engkau bisa tahu?"
Tanyanya dengan suara membentak karena dia menganggap bahwa hal ini amat berbahaya baginya.
"Sekarang aku mengerti mengapa mereka mengatakan bahwa engkau berbau cendana. Kiranya engkau merendam diri dalam air bercampur bubuk cendana! Ang-hong-cu, engkau iblis busuk! Engkau jahanam kotor dan hina! Kelak engkau akan mampus di tanganku!"
Teriak Kui Hong marah bukan main karena ia teringat akan aib yang menimpa diri Pek Eng dan terutama sekali Cia Ling yang masih terhitung keponakannya karena diperkosa oleh pria ini.
Akan tetapi Ang-hong-cu Tang Bun An menyambut ancaman itu dengan suara ketawa mengejek.
"Ha-ha-ha-ha, engkau ini gadis remaja berani mengancam aku? Bagus, engkau sudah mengetahui bahwa aku Ang-hong-cu. Memang, aku Ang-hong-cu, akulah Si Kumbang Merah penghisap kembang! Dan engkau bagaikan setangkai bunga yang baru mekar penuh madu. Karena engkau sudah mengetahui rahasiaku, tunggu sampai aku selesai mandi, nona manis. Aku akan menghisap madumu sampai habis dan sesudah itu, engkau harus mati agar rahasia diriku tidak terdengar orang lain. Tenanglah, nona, engkau akan mati dalam keadaan bahagia, mati dalam keadaan mesra dan mabok cintaku, ha-ha-ha!"
Kini, diam-diam Kui Hong merasa ngeri.
Ia adalah seorang gadis perkasa, seorang gadis gemblengan yang tidak takut akan ancaman maut.
Ia adalah ketua Cin-ling-pai yang akan menghadapi maut dengan senyum dan dengan mata terbuka.
Akan tetapi, ancaman yang dilontarkan Ang-hong-cu itu sungguh amat mengerikan baginya.
Kalau ia diancam mati saja, ia masih akan tenang saja.
Akan tetapi ancaman tadi lebih mengerikan dari pada maut!
Membayangkan dirinya diperkosa, dipermainkan oleh penjahat cabul yang tersohor itu, sungguh merupakan bayangan yang mengerikan hatinya.
Ingin rasanya Kui Hong menjerit dan menangis, minta agar ia dibunuh saja dan jangan diperhina dengan perkosaan keji.
Akan tetapi, ia pantang menjerit dan menangis, dan otaknya bekerja cepat.
Biarpun hatinya merasa ngeri dan takut menghadapi ancaman bahaya yang baginya lebih hebat dari pada maut, Kui Hong menguatkan perasaannya dan iapun tersenyum mengejek.
"Ang-hong-cu, engkau boleh mengancamku sesuka hatimu karena engkau telah bertindak secara pengecut, menangkapku melalui perangkap asap pembius dan kamar jebakan. Bahkan engkau boleh menyiksaku, membunuhku. Aku tidak takut karena aku yakin bahwa kalau aku terhina dan tewas di tanganmu, maka pembalasan yang akan menimpa dirimu seribu kali lebih hebat lagi! Mereka tentu akan tahu bahwa engkau telah membunuhku, dan mereka semua akan mencarimu sampai dapat, membalas kekejamanmu berlipat ganda sehingga engkau akan menyesal telah dijelmakan sebagai manusia!"
Ancaman Kui Hong itu hebat sekali, akan tetapi Ang-hong-cu menerimanya sebagai gertak kosong belaka.
"Ha-ha-ha, gadis sombong! Kau kira aku gentar mendengar gertakanmu? Ha-ha-ha, tak seorangpun tahu bahwa engkau berada di sini, dan takkan pernah ada yang mengetahui bahwa engkau pernah berada di sini. Ha-ha-ha! Apakah nyawamu kelak akan mampu memberitahu mereka?"
"Huh, engkau kejam akan tetapi juga tolol! Aku datang sebagai utusan Menteri Cang Ku Ceng untuk menyelidikimu! Kalau aku hilang dalam tugas ini, sudah pasti beliau akan menyangkamu! Dan kalau mereka mendengar akan hal ini, sudah pasti mendengar kelak dari Menteri Cang, siaplah engkau untuk menghadapi siksaan yang melebihi siksaan di neraka!"
Ucapan ini membuat Tang Bun An mulai berpikir.
Gadis ini bukan hanya membual atau menggertak saja.
Ucapannya ada isinya!
Kalau benar gadis ini utusan Menteri Cang, tentu menteri keparat itu akan mencurigainya.
Akan tetapi dia masih tertawa mengejek.
"Kau kira aku takut? Siapapun mereka, aku tidak takut. Huh, siapa yang kau maksudkan dengan mereka itu?"
Ang-hong-cu Tang Bun An menggosok-gosok tubuhnya dengan sebuah handuk kecil yang sudah dibenamkan ke dalam air.
Handuk itupun diberi bubuk cendana, seolah dia hendak memasukkan sari keharuman cendana ke dalam tubuhnya dan memang dia telah berhasil karena tubuh dan keringatnya berbau cendana!
Kebiasaan ini sudah puluhan tahun dia lakukan.
"Siapa lagi kalau bukan anak buahku? Mereka adalah seluruh anggauta dan pimpinan Cin-ling-pai."
"Ha.-ha, engkau menggertak saja! Apa hubunganmu dengan Cin-ling-pai? Jangan menggunakan nama besar perkumpulan silat itu untuk menakut-nakuti aku, nona."
"Siapa menggertak? Memang matamu buta dan telingamu tuli? Aku adalah Cia Kui Hong ketua Cin-ling-pai!"
Terpaksa Kui Hong membuang muka lagi karena pria itu bangkit berdiri saking kagetnya mendengar pengakuannya itu sehingga tubuhnya yang telanjang nampak dari pusar ke atas.
Ang-hong-cu Tang Bun An memang kaget bukan main mendengar pengakuan itu.
Akan tetapi dia lalu tertawa bergelak, mentertawakan gadis itu.
"Ha-ha-ha, nona manis. Seorang dara remaja seperti engkau ini ketua Cin-ling-pai? Jangan mencoba untuk membohongiku, nona. Aku mendengar bahwa Cin-ling-pai adalah sebuah perkumpulan besar orang-orang gagah bagaimana mungkin ketuanya seorang gadis remaja yang cantik jelita?"
Biarpun mulutnya berkata demikian, namun hatinya mulai menaruh perhatian dan diapun mengeringkan tubuhnya dengan handuk besar, kemudian dalam keadaan telanjang bulat dia keluar dari tong itu, setelah mengeringkan tubuh lalu dia mengenakan kembali pakaiannya.
Hal ini saja menunjukkan bahwa dia mulai memperhatikan gadis itu dan tidak segera melakukan hal yang tadi diancamkannya.
"Engkau ini seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) mana tahu tentang perkumpulan kami? Ayahku, pendekar Cia Hui Song, mengundurkan diri sebagai ketua Cin-ling-pai, dan di dalam pemilihan ketua baru, akulah yang dipilih. Aku ketua Cin-ling-pai, oleh karena itu, dapat kau bayangkan sendiri, bagaimana sikap mereka kalau mendengar ketuanya dihina dan dibunuh oleh Ang-hong-cu! Kau kira akan mampu meloloskan diri dari jangkauan tangan-tangan tokoh Cin-ling-pai? Biar bersembunyi di dalam nerakapun, mereka akhirnya akan dapat mencengkerammu!"
"Ha-ha, engkau hanya menggertakku! Aku tidak takut, aku akan mengusahakan agar mereka tidak menemukan mayatmu! Ya, aku akan menikmati kecantikanmu sepuasku, setelah itu kau akan kubunuh dan mayatmu akan kukubur di tempat rahasia. Tak seorangpun melihatmu masuk rumah ini, dan tak seorangpun akan tahu apa yang telah kulakukan terhadap dirimu!"
Agar pengaruh gertakan itu tidak membuatnya lemas, Kui Hong menjawab secepatnya.
"Huh, engkau yang tolol! Aku boleh saja kau bunuh, akan tetapi Menteri Cang Ku Ceng akan menggerahkan seluruh pasukan untuk mencariku, dan kemanapun engkau menyembunyikan diriku, mereka pasti akan menemukan. Dan Menteri Cang tentu akan melakukan segala daya upaya untuk memaksamu mengaku! Engkau akan menghadapi kemarahan Menteri Cang, juga menghadapi dendam Cin-ling-pai!"
"Aku tidak takut! Huh, aku tidak takut! Tidak akan ada bukti bahwa engkau tewas dan lenyap di tanganku,!"
Ang-hong-cu Tang Bun An berteriak, akan tetapi nyalinya semakin mengecil.
Siapa orangnya yang tidak tahu akan kekuasaan Menteri Cang Ku Ceng?
Menteri itu akan mampu menjungkir-balikkan seluruh kota raja untuk mencari gadis ini!
Dan seluruh pasukan tentu akan mentaati perintahnya dengan bangga!
Dinilai dari kedudukannya, kalau dia melawan Menteri Cang, sama dengan sebutir telur melawan batu.
Dan Cin-ling-pai juga merupakan ancaman yang membuat jantungnya berdebar.
Mulai timbul keraguan di dalam hatinya.
Kalau tadi dia timbul gairah terhadap gadis itu, adalah karena gadis itu cantik manis dan memiliki bentuk tubuh yang menggairahkan.
Gairah yang sama dirasakannya setiap kali dia melihat wanita cantik.
Namun bukan cinta, bahkan nafsunya itu hanya merupakan luapan kebenciannya terhadap wanita!
Kini, semua gairah lenyap dan diam-diam dia merasa takut membayangkan segala akibatnya kalau dia memperkosa lalu membunuh gadis ini.
Kui Hong adalah seorang gadis yang selain tabah, juga cerdik.
Ia dapat melihat sikap Ang-hong-cu yang kini sudah berpakaian lengkap.
Melihat penjahat itu mengenakan pakaiannya kembali saja sudah merupakan suatu pertanda bahwa gertakan-gertakannya tadi mengenai sasaran.
Kalau gertakannya tidak berhasil menyudutkan dan menimbulkan rasa takut di hati penjahat itu, tentu Ang-hong-cu tidak perlu mengenakan pakaian selengkapnya seperti itu, melainkan langsung saja melaksanakan ancamannya yang dikeluarkan ketika mandi tadi.
Seperti seorang yang sedang bertanding silat, saat lawan terdesak merupakan kesempatan paling baik untuk merobohkannya dengan jurus-jurus serangan yang lebih ampuh.
Maka, iapun berkata dengan nada suara sungguh-sungguh.
"Itu baru dua pihak yang akan kau hadapi, Ang-hong-cu. Belum lagi kalau Pendekar Sadis dan isterinya keluar dari Pulau Teratai Merah untuk mencarimu! Engkau tentu sudah mendengar bagaimana nasib seorang musuh yang terjatuh ke tangan Pendekar Sadis! Hemmm...!"
Wajah Ang-hong-cu yang biasanya berseri dan mulutnya selalu tersenyum mengejek itu tiba-tiba berubah agak pucat ketika mendengar disebutnya julukan Pendekar Sadis.
Sebagai seorang tokoh kang-ouw, tentu saja dia sudah mendengar akan nama besar Pendekar Sadis Ceng Thian Sin, majikan Pulau Teratai Merah di laut selatan.
Bahkan isteri pendekar itupun seorang yang amat terkenal sekali, pernah menjadi seorang datuk besar berjuluk Lam Sin (Malaikat Selatan).
Pendekar Sadis sendiri selain terkenal sebagai seorang sakti, juga lebih terkenal karena kekejamannya yang melewati segala ukuran terhadap musuhnya, yaitu para penjahat.
Pendekar itu dapat menyiksa lawan dengan siksaan yang melebihi segala siksaan yang digambarkan di neraka!
Karena itulah maka pendekar itu dijuluki Pendekar Sadis dan setiap orang penjahat di dunia kang-ouw, selalu berjaga-jaga agar langkah mereka jangan berpapasan dengan langkah Pendekar Sadis, bahkan mereka pantang bertemu dengan bayangan pendekar itu!
Dan kini, gadis bernama Cia Kui Hong ini mengancamnya dengan nama Pendekar Sadis!
"Bocah sombong!
Apa pula urusannya Pendekar Sadis dari Pulau Teratai Merah dengan kita."
"Apa urusannya? Nah, itulah buktinya bahwa engkau ini hanya seorang penjahat cilik yang tidak tahu apa-apa di dunia kang-ouw, Ang-hong-cu. Ayahku turun-temurun adalah ketua Cin-ling-pai, dan ibuku bernama Ceng Sui Cin adalah puteri Pendekar Sadis! Aku adalah cucu Pendekar Sadis, dan engkau masih tanya urusannya? Lihat pedangku yang kau gantung di dinding itu. Itu adalah sepasang Hok-mo Siang-kiam yang amat terkenal, dahulu milik nenekku Lam-sin Toan Kim Hong yang telah memberikannya kepadaku."
Kini wajah Ang-hong-cu Tang Bun An benar-benar pucat.
Celaka, pikirnya gelisah.
Sekali ini dia benar-benar telah salah tangkap!
Agaknya gadis itu bukan menggertak kosong belaka.
Gadis ini bukan hanya utusan Menteri Cang, Akan tetapi juga ketua Cin-ling-pai merangkap cucu Pendekar Sadis!
Dia harus mempertimbangkan seribu kali sebelum mengganggu selembar rambut gadis ini.
Akan tetapi, keadaannya serba repot baginya.
Kalau gadis ini dibiarkan hidup dan dibebaskannya, berarti ia akan celaka, kehilangan kedudukan dan tentu akan menjadi buruan pemerintah.
Sebaliknya kalau gadis ini sampai tewas di tangannya, dia akan menghadapi ancaman dari tiga pihak.
Dari Menteri Cang, dari Cin-ling-pai dan terutama sekali dari Pendekar Sadis!
Dan itu berarti bahwa hidupnya akan selalu dicekam ketakutan.
Tang Bun An juga bukan seorang bodoh.
Dia tahu apakah gertakan gadis itu kosong belaka ataukah memang merupakan kenyataan.
Dan diapun cepat memutar otak untuk mencari jalan keluar terbaik baginya.
Dan kecerdikannya membuat dia segera menemukan jawabannya.
"Cia Kui Hong, semua keteranganmu itu dapat kuterima dan aku percaya padamu. Akan tetapi aku tahu bahwa engkau bukan seorang gadis bodoh. Maka tentu engkau melihat kenyataan bahwa bukan hanya aku yang terancam bahaya, melainkan engkau pula. Bahkan, bahaya yang mengancammu sudah di depan mata. Kalau aku menghendaki, sekarang juga dapat kuperkosa engkau dan kusiksa sampai mati. Sebaliknya, semua ancamanmu tadi, walaupun dapat terjadi, namun masih jauh dan aku masih dapat berusaha untuk meloloskan diri."
"Hemm, boleh kau coba!"
Kata Kui Hong yang sudah melihat kemenangan karena gertakannya yang diperhitungkan tadi.
"Kalau engkau membunuhku sekarang, maka habislah sudah penderitaanku. Akan tetapi engkau masih hidup dan setiap detik engkau dibayangi ketakutan! Aku tidak takut mati, dan terserah kepadamu!"
"Cia Kui Hong, orang yang tidak ingin hidup lagi hanyalah orang yang sudah miring otaknya. Aku tidak gila dan aku masih ingin hidup dengan tenang di hari tuaku ini. Oleh karena itu, aku ingin mengajukan bertukar nyawa. Bagaimana pendapatmu, pang-cu (ketua)?"
Kui Hong yakin bahwa ia telah menang, akan tetapi ia tetap berhati-hati karena ia tahu bahwa ia menghadapi seorang yang selain amat keji dan jahat, juga pandai dan licik bukan main.
Mendengar ia disebut pangcu (ketua) itu saja sudah menunjukkan bahwa bekas lawan ini hendak membicarakan sesuatu dengan ia sebagai Cin-ling Pang-cu (ketua Cin-ling-pai), bukan dengan ia sebagai seorang gadis biasa!
"Ang-hong-cu, apa yang kau maksudkan dengan bertukar nyawa?
Jelaskan dan akan kupertimbangkan!"
Katanya berwibawa.
"Pang-cu, bagiku hanya ada dua pilihan, dan aku akan memilih yang paling aman bagiku. Aku akan membebaskanmu sekarang juga, tanpa mengganggumu akan tetapi hanya dengan syarat bahwa setelah bebas, engkau tidak akan membuka rahasiaku kepada siapapun juga! Engkau tidak akan bercerita kepada orang lain bahwa perwira pengawal Tang Bun An adalah Ang-hong-cu, dan tidak akan bercerita bahwa aku yang menggauli para wanita di dalam istana bagian puteri. Pendeknya, engkau tidak akan memusuhiku, baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan. Bagaimana pendapatmu?"
Biarpun di dalam hatinya Kui Hong merasa lega bahwa ia kini mendapatkan kesempatan dan harapan untuk terhindar dari aib dan maut, namun hatinya tidak senang mendengar syarat itu.
Tak disangkanya bahwa orang ini amat cerdik dan juga liciknya sehingga hendak mengikatnya dengan janji seperti itu!
Akan tetapi iapun tahu dengan pasti bahwa seorang seperti Ang-hong-cu ini pasti akan melakukan gertakannya, karena tidak ada kejahatan yang dipantangnya.
"Bagaimana kalau aku menolak syarat seperti itu?"
Pancingnya untuk mengetahui lebih jelas isi perut Ang-hong-cu.
Ang-hong-cu Tang Bun An tersenyum, akan tetapi senyumnya tidak seperti tadi lagi.
Kini senyumnya masam dan paksaan.
"Aku akan terpaksa melakukan keinginanku semula, yaitu memperkosamu dengan cara yang belum pernah kulakukan terhadap perempuan lain yang manapun. Sampai aku menjadi bosan padamu dan engkau akan kusiksa sampai mati dan mayatmu akan kubiarkan dalam hutan agar dimakan binatang buas sampai tidak ada sisanya lagi. Dan akan kuhadapi dengan segala kekuatanku semua akibat yang akan timbul dari perbuatanku itu."
"Ang-hong-cu, bagaimana kalau setelah engkau membebaskan aku, kemudian aku tetap memusuhimu dan menyerangmu?"
"Hemm, aku tidak percaya! Kalau engkau memang melakukan itu, maka seluruh dunia kang-ouw akan mengetahui belaka bahwa ketua Cin-ling-pai, juga cucu Pendekar Sadis, gadis yang bernama Kui hong itu hanya seorang pendekar gadungan, dan bukan lain hanyalah seorang rendah yang suka melanggar janji sendiri, suka menjilat ludah yang sudah dikeluarkan dari mulut!"
"Ang-hong-cu, bukan karena aku takut mati, kalau aku menerima usulmu bertukar nyawa. Ini usulmu, bukan aku yang meminta dibiarkan hidup. Nah, lepaskan belenggu-belenggu ini."
"Nanti dulu, pang-cu. Engkau belum mengucapkan janjimu. Bersumpahlah seperti yang kukehendaki tadi lebih dahulu."
"Janji seorang pendekar lebih berharga daripada segala macam sumpah. Janji seorang pendekar lebih berharga dari pada nyawa."
Kata Kui Hong dengan nada suara gemas, kemudian melanjutkan.
"Aku Cia Kui Hong, ketua Cin-ling-pai, berjanji bahwa kalau Ang-hong-cu membebaskan aku, maka aku selanjutnya tidak akan memusuhinya lagi, tidak akan membuka rahasianya kepada siapapun juga."
Wajah Ang-hong-cu kembali berseri.
Legalah hatinya.
Bagi dia, yang terpenting adalah keselamatan dirinya dan keuntungannya.
Tidaklah begitu penting baginya untuk memperkosa dan membunuh gadis ini, akan tetapi sungguh amat menguntungkan kalau gadis ini menutup mulut dan tidak membocorkan rahasia dirinya.
Dia lalu menggunakan pedang membikin putus tali-tali belenggu kaki tangan gadis itu.
Kui Hong bangkit dan menggosok-gosok pergelangan kaki dan tangannya.
Lalu dia meloncat turun dan menyambar sepasang pedangnya yang tergantung di dinding.
Baca Juga: Bu Kek Siansu 7
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 13