Ceritasilat Novel Online

Sepasang Naga Penakluk Iblis 2

Eps 2 Sepasang Naga Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo

Baca online Sepasang Naga Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo

Cersil Sepasang Naga Penakluk Iblis - Kho Ping Hoo.

Cin Hay mengeraskan hatinya, menulikan telinganya yang masih saja mendengar ucapan-ucapan tiga orang jagoan itu tadi.

Kini dia mengerti betapa isterinya dahulu tewas.

Tentu setelah diperkosa oleh Koan-wangwe, lalu diberikan kepada tiga orang jagoan ini yang memperkosa isterinya sampai tewas, pada hal mereka tahu bahwa isterinya mengandung!

Dia mengusir dendamnya.

Orang-orang ini amat jahat, kalau tidak disingkirkan, tentu kelak hanya akan mencelakakan kehidupan orang-orang lain yang tidak berdosa, demikian suara hatinya, sedikitpun tidak mengingat atau mengenang lagi akan perbuatan mereka terhadap dirinya dan terhadap isterinya.

"Mampus kau......!"

Hek-bin-houw Ban Sun sudah menyerang dengan bacokan goloknya.

Bacokannya itu cepat dan kuat sekali, dari atas ke bawah, mengarah kepala Cin Hay, agaknya dalam kemarahannya, si muka hitam itu ingin membacok kepala pemuda baju putih itu agar terbelah menjadi dua!

Dan pada detik berikutnya, sepasang pedang di tangan Kim Lok juga menusuk ke arah leher dan lambung!

Cin Hay mengelak dengan mudah terhadap bacokan golok dan melihat tusukan dua batang pedang itu, kakinya menendang, mendahului tangan kanan lawan sehingga sebelum pedang datang menusuk, pergelangan tangan Kim Lok tertendang, tepat mengenai urat nadinya sehingga pedangnya terlepas, tepat pada saat Cin Hay mengelak dari tusukan kedua.

Cepat tangan Cin Hay menyambar pedang yang terpental lepas dari tangan kanan Kim Lok.

Pada saat itu, Phang Ek datang menyerang dari belakangnya, menusukkan kedua batang pisaunya ke arah lambung dan punggung.

Gerakannya cepat dan kuat sekali.

Cin Hay mendengar gerakan ini dan dia memutar tubuh, mendahului dengan sambaran pedang rampasannya.

"Cring! Trang......!"

Dua batang pisau di tangan Phang Ek itu terpental dan patah-patah ketika bertemu dengan sambaran pedang yang amat kuat itu.

Phang Ek mengeluarkan seruan kaget dan meloncat ke belakang dengan mata terbelalak.

Saat itu, Ban Sun sudah menyerang lagi dengan bacokan golok besarnya, membacok ke arah leher.

Golok itu membabat dengan cepat, mengeluarkan suara berdesing saking kuatnya.

Cin Hay menggerakkan pedang rampasannya, menangkis dan memutar pedang itu sambil mengerahkan sin-kangnya untuk menempel.

Ban Sun terkejut.

Goloknya seperti melekat dan ikut terputar walaupun dia mencoba untuk mempertahankan sekuatnya.

Tiba-tiba Cin Hay mengeluarkan bentakan pendek, pedangnya membuat gerakan memutar dan menyentak dan......

golok itu membalik, tidak dapat dikuasai oleh tangan Ban Sun dan tanpa dapat dicegah lagi, golok yang membalik itu menyambar ke arah perut yang gendut itu.

"Cappp......!"

Ban Sun terbelalak memandang ke arah perutnya yang dimakan goloknya sendiri, lalu terjengkang!

Melihat ini, Kim Lok menusukkan pedangnya yang tinggal sebatang, akan tetapi tusukan itu dapat ditangkis oleh pedang Cin Hay yang membuat lengan Kim Lok tergetar hebat dan dia terpaksa melangkah mundur agar tidak sampai jatuh.

Phang Ek sudah mengambil dua batang pisau lagi dan kini dia menyambitkan dua batang pisau itu ke arah Cin Hay sambil mengerahkan seluruh tenaganya.

Cin Hay menangkis sebatang pisau sehingga runtuh ke atas tanah, dan pisau kedua disambarnya dengan tangan, kemudian, dengan tangan kiri yang menyambut pisau tadi, dia menyambit.

Nampak sinar terang berkelebat dan tahu-tahu pisau itu telah menembus leher Phang Ek.

Orang ini mengeluarkan suara aneh, mencoba untuk mencabut pissu itu, namun agaknya pisau itu terjepit tulang kerongkongan, dan diapun roboh terkulai!

Kim Lok terbelalak dengan muka pucat.

Dalam satu dua gebrakan saja, dua orang kawannya telah roboh dan tewas, sedangkan majikannya masih mengerang kesakitan bersama kusir yang ketakutan.

Dia maklum bahwa nyawanya terancam maut, maka tanpa banyak pikir lagi, secara pengecut Kim Lok lalu membalikkan tubuhnya dan mengambil langkah seribu, melarikan diri!

Akan tetapi baru saja kakinya melangkah beberapa kali, nampak sinar terang berkelebat dan sebatang pedang, pedangnya sendiri yang tadi terampas lawan, telah meluncur dan menghujam punggungnya sampai tembus ke dadanya!

Dia tersentak, terbelalak, lalu jatuh menelungkup.

Melihat betapa tiga orang jagoannya tewas semua, Koan Ki Sek yang sudah menderita nyeri dan ketakutan itu hampir pingsan.

Kusir kereta juga ketakutan dan dia sudah berdiri dan hendak melarikan diri, akan tetapi Cin Hay membentak.

"]angan lari!"

Kusir kereta itu berhenti dan celananya menjadi basah!

Dia terkencing-kencing saking takutnya.

Koan Wan-gwe sendiri lalu merangkak dan berlutut menghadap pemuda itu, mulutnya berkeluh kesah minta dikasihani dan diampuni.

Cin Hay tersenyum dingin.

"Kau masih ingat padaku?"

Tanyanya. Koan Ki Sek merasa mulutnya remuk dan nyeri sekali, akan tetapi dia memaksa diri mengangguk dan berkata.

"......ampunkan...... aku...... ampunkan......"

"Engkau masih ingat isteriku...... wanita muda berpakaian kuning yang mengandung muda itu?"

Koan Ki Sek semakin ketakutan.

"Ampun..... ampun...... bukan aku yang membunuhnya ...... ia... ia mencakari aku...... kuberikan kepada mereka bertiga dan... dan....... ampunkan aku......"

Hemm, orang semacam ini memang tidak ada gunanya diberi kesempatan hidup lagi.

Paling-paling akan mengulangi perbuatannya yang sesat.

Tidak akan sukar bagi hartawan itu untuk mencari pengganti jagoan yang lebih kuat lagi karena dia mampu membayar, dan makin merajalela mengumbar nafsu-nafsunya.

Akan tetapi dia teringat akan keadaannya.

Dia melakukan perjalanan jauh dan dia membutuhkan biaya.

Dari mana dia akan memperoleh uang?

Paling baik memperoleh dari hartawan kejam ini!

"Hayo naik ke kereta!"

Bentaknya, lalu menoleh kepada kusir.

"Engkau juga! Bawa aku ke rumahmu, Koan Wan-gwe dan aku ingin menukar nyawamu dengan tigaratus tail emas!"

"Baik...... baik..... terima kasih......"

Hartawan itu mengangguk, lalu dengan tubuh gemetar dia naik ke dalam kereta, seperti seekor tikus berdekatan dengan kucing ketika dia duduk berdampingan dengan Cin Hay yang nampak tenang saja.

Kereta lalu dijalankan oleh kusir yang juga ketakutan itu.

Setelah kereta berhenti di depan gedung tempat tinggal Koan Ki Sek, Cin Hay memegang lengan pria berusia hampir enampuluh tahun itu dan berkata dengan nada suara mengancam.

"Cepat suruh orang mengambilkan tigaratus tail emas. Kalau engkau banyak tingkah, akan kubunuh seketika!"

Setelah berkata demikian, Cin Hay menarik hartawan itu turun dari keretanya.

Melihat betapa majikan mereka turun bersama seorang pemuda sederhana yang tampan, dan majikan itu nampak ketakutan, para penjaga dan pelayan saling pandang dengan heran dan bingung.

Setelah tiba di rumahnya sendiri, walaupun masih takut menghadapi Cin Hay, namun hartawan itu memperoleh kembali kegalakannya dan dia mendamprat para pelayannya.

"Kenapa kalian bengong saja seperti orang-orang tolol? Cepat panggil nyonya majikan!"

Dengan muka manis dia mempersilakan Cin Hay ikut masuk ke ruangan depan.

Ketika seorang wanita berusia hampir limapuluh tahun yang berpakaian mewah, yaitu isteri dari hartawan itu muncul dari dalam, Koan Wan-gwe cepat berkata.

"Kumpulkan tigaratus tail emas dan bawa ke sini. Cepat!"

Agaknya hartawan ini memang biasa bersikap keras, karena biarpun di wajah wanita itu jelas menunjukkan keheranan besar, namun ia tidak berani banyak bertanya, hanya mengangguk dan mengundurkan diri lagi.

Hartawan itu duduk dan menyusut keringatnya di muka dan lehernya dengan ujung lengan baju, sedangkan Cin Hay berdiri termenung, tidak memperdulikan penawaran tuan rumah yang mempersilakan dia duduk.

Dia terkenang kepada isterinya dan kebenciannya terhadap Koan Ki Sek timbul.

Akan tetapi kesadarannya membuat dia melihat kenyataan bahwa hartawan ini hanyalah seorang yang lemah, yang menjadi hamba nafsunya sendiri.

Tak lama kemudian, isteri hartawan itu muncul lagi, diikuti oleh dua orang pelayan pria yang menggotong sebuah karung yang agaknya terisi benda yang berat.

Nyonya majikan itu berkata kepada suaminya, nada suaranya takut-takut.

"Sudah kukumpulkan semua, hanya ada seratus enampuluh tail emas, tidak ada lagi......"

Koan Wan-gwe nampak pucat ketika dia menoleh kepada Cin Hay dan sambil mengangkat kedua tangan di depan dada diapun berkata.

"Harap tai..... taihiap maafkan......, kami hanya mempunyai seratus enampuluh tail...... harap taihiap bersabar, akan kami usahakan...... dalam beberapa hari ini...... meminjam dari teman-teman di kota......"

Cin Hay merasa bahwa jumlah itu sudah lebih dari cukup untuk bekal hidupnya.

Dia menghampiri karung itu, membukanya dan setelah memeriksa bahwa isinya memang benar potongan-potongan emas yang berkilauan, dia lalu memanggul karung itu dengan tangan kirinya.

Benda yang beratnya duapuluh kati itu, nampak ringan saja baginya ketika dia mengangkat karung itu ke atas pundaknya, kemudian dia berkata, suaranya lantang.

"Koan Ki Sek, sekarang di depan isterimu, ceritakan apa yang telah kaulakukan terhadap isteriku, tujuh tahun yang lalu."

Hartawan itu mengerutkan alisnya, memandang kepada isterinya dan kepada dua orang pelayannya, lalu menghardik dua orang pelayan itu.

"Kalian pergilah dari sini!"

Tentu saja dia tidak menghendaki ceritanya yang memalukan itu akan didengar oleh oleh dua orang pelayan itu.

"Tidak! Kalian juga mendengarkan di sini!"

Cin Hay berkata kepada mereka.

Akan tetapi, dua orang pelayan itu tidak mengenal Cin Hay, tentu saja mereka lebih taat kepada majikan mereka dan mereka membalikkan tubuh hendak pergi dari ruangan itu.

Cin Hay melompat dan kedua tangannya memegang pundak mereka, sekali tarik dia membuat mereka terpelanting dan di lain saat, dua orang itu sudah tidak mampu menggerakkan kaki karena telah ditotok oleh Cin Hay.

Barulah mereka ketakutan dan maklum bahwa pemuda itu lihai sekali, dan mereka kini dengan tubuh rebah miring terpaksa ikut mendengarkan.

Nyonya Koan terkejut melihat kekerasan yang dilakukan Cin Hay dan iapun lari mendekati suaminya.

"Nah, Koan Ki Sek, sekarang berceritalah!"

Cin Hay berkata lagi dengan suara keren.

Dengan suara gemetar dan muka pucat akan tetapi penuh keringat, Koan Wan-gwe lalu menceritakan peristiwa tujuh tahun yang lalu di Telaga See-ouw.

Kadang-kadang dibantu dan diingatkan oleh Cin Hay, hartawan itu dengan singkat namun jelas menceritakan apa yang telah dilakukannya terhadap Cin Hay dan isterinya.

Betapa See-ouw Sam-houw atas perintahnya telah melukai dan melempar Cin Hay ke dalam telaga, dan merampas isterinya yang cantik.

Betapa dia memperkosa wanita muda yang sedang mengandung muda itu di dalam bilik perahu, kemudian menyerahkan wanita yang melawan itu kepada See-ouw Sam-houw.

Kemudian betapa tiga orang jagoannya itu memperkosa isterinya Cin Hay bergantian sampai mati dan menguburkan jenazah nyonya muda itu di lereng bukit dekat telaga.

Mendengar cerita yang mengerikan itu, Nyonya Koan menjerit dan menangis.

Dia tahu betapa suaminya hidung belang dan mata keranjang, akan tetapi tidak pernah menyangka suaminya akan melakukan perbuatan yang demikian kejamnya.

"Dan tujuh tahun kemudian, baru tadi, dia telah menculik pula seorang gadis dusun yang hendak diperkosanya di dalam kereta!"

Kata Cin Hay yang kemudian bertanya.

"Nyonya, apakah tidak adil namanya kalau sekarang aku datang, merampok hartanya dan mencabut nyawanya?"

Sambil menangis nyonya itu mengangguk-angguk.

"Adil....... sudah adil...... akan tetapi ampunkanlah suamiku ini, tai-hiap......"

Cin Hay menghela napas panjang, lalu memandang hartawan itu.

"Manusia tak kenal budi! Isterimu demikian setia dan baik, akan tetapi engkau melakukan perbuatan yang kejam dan jahat di luar rumah! Sepatutnya engkau kubunuh, akan tetapi mengingat isterimu, biarlah kuampuni nyawamu, akan tetapi engkau harus diberi hukuman yang setimpal dengan kejahatanmu!"

Berkata demikian, dengan perhitungan yang tepat, Cin Hay menggerakkan kedua tangannya, menotok pinggang dan punggung Koan Ki Sek.

Hartawan itu mengeluarkan teriakan panjang dan diapun roboh terpelanting, pingsan.

Isterinya menjerit dan menubruknya sambil menangis.

"Nyonya, jangan khawatir, dia tidak akan mati, akan tetapi tidak akan mampu mengganggu wanita lagi. Selamat tinggal,"

Kata Cin Hay yang melangkah keluar sambil memanggul karung berisi duapuluh kati emas itu.

Tak seorangpun penjaga berani menghalangi pemuda yang datang bersama majikan mereka itu.

Tubuh Koan Ki Sek lalu diangkat ke dalam kamarnya dan benar seperti yang diucapkan Cin Hay kepada isteri hartawan itu, Koan Ki Sek tidak mati melainkan jatuh sakit sampai hampir sebulan lamanya dan setelah sembuh, ternyata bahwa anggauta kelaminnya menjadi lumpuh!

Hal ini membuat dia terkejut dan berduka sekali, dan berusaha mengobati dirinya.

Dipanggilnya semua tabib pandai, bahkan dia pergi ke kota raja untuk berobat, namun sia-sia saja karena urat syarafnya telah hancur dan rusak oleh totokan yang dilakukan Cin Hay.

Selamanya dia tidak akan dapat lagi menggauli wanita dan akhirnya, hartawan inipun sadar akan semua dosanya dan dia merobah cara hidupnya sama sekali.

Semua jagoannya dia keluarkan, dan dia hidup damai dengan para penghuni dusun, bahkan dia kemudian terkenal sebagai seorang dermawan yang agaknya hendak menghabiskan hartanya untuk menolong sesama manusia.

Perlahan-lahan, terhapuslah nama buruknya.

Kalau tadinya dia ditakuti semua orang, kini mulai berubah pandang mata orang-orang kepadanya, tidak lagi takut, melainkan hormat dan segan, juga berterima kasih!

Sementara itu, Cin Hay melakukan perjalanan cepat keluar dari dusun Tiang-cin, memanggul emas dalam karung.

Dia kini telah membalas kematian isterinya.

Perhitungan dengan para pembunuh isterinya telah selesai dan kini diapun sudah memiliki modal yang cukup untuk hidup secara pantas.

Akan tetapi pikiran ini segera dibuangnya.

Dia mengambil harta dari Koan Ki Sek hanya untuk menghukum orang itu, dan kini dia bahkan mulai merasa repot dengan beban di pundaknya itu.

Untuk apa emas sebanyak itu?

Dia teringat akan keluarga isterinya, maka kakinya lalu melangkah cepat menuju ke dusun tempat tinggal ibunya dan ayahnya.

Dia akan pulang dulu ke rumah ayah bundanya, baru dia akan berkunjung kepada keluarga mertuanya.

Mereka, orang tuanya sendiri dan mertuanya, tentu membutuhkan emas-emas ini!

Setidaknya, setelah meninggalkan mereka selama tujuh tahun, kini dia dapat memberikan sesuatu kepada mereka, sebagai sekedar balas jasa atas segala kebaikan mereka, juga sebagai sekedar hiburan bagi orang tua isterinya yang telah kehilangan anak.

Ibunya menyambut kedatangan Cin Hay dengan tangis keharuan dan kebahagiaan.

Ibunya hidup di rumah pamannya, adik ibunya, karena ayah Cin Hay telah meninggal dunia karena sakit.

Melihat betapa pamannya itu baik hati, mau menampung ibunya dan bersikap amat baik terhadap ibunya, Cin Hay bersyukur dan dia lalu menyerahkan sepuluh kati emas kepada ibunya.

Uang sebanyak itu merupakan harta yang amat besar bagi orang dusun.

Ibunya segera menyerahkan emas itu kepada adiknya dan mereka sekeluarga lalu membeli tanah dan membangun rumah, dan selanjutnya hidup sebagai petani yang beruntung dan serba cukup.

Cin Hay berpamit kepada ibuya untuk melanjutkan perantauannya.

Tadinya, sang ibu menahannya, bahkan membujuk seorang gadis dusun untuk menjadi isteri Cin Hay, namun pemuda ini tersenyum dan menolak dengan halus.

"Ibu, bertahun-tahun aku mempelajari ilmu dan sekaranglah saatnya aku harus mempergunakan ilmu itu dalam dunia ramai. Aku hendak merantau dan tinggallah ibu bersama paman di sini."

Ibunya tidak dapat menahannya lagi dan pergilah Cin Hay berkunjung ke rumah mertuanya.

Seperti juga keluarga ibunya, keluarga mertuanya menerima Cin Hay dengan ramah dan baik.

Biarpun kini anak mereka telah meninggal dan Cin Hay hanya merupakan bekas mantu saja, namun keluarga lurah Gu itu menganggap Cin Hay seperti anak sendiri.

Menerima penyambutan yang ramah Cin Hay merasa terharu dan girang sekali.

Tidak percuma dia berniat baik memberi separuh emasnya kepada keluarga mertuanya, ka-rena ternyata keluarga mertuanya ini masih amat baik kepadanya.

Dia lalu menceritakan betapa dia telah membalas dendam, membunuh See-ouw Sam-houw yang menyebabkan kematian Gu Ci Sian dan menghukum Koan Ki Sek.

Mendengar cerita ini, lurah Gu dan isterinya menangis, merasa bersyukur bahwa kematian anak mereka telah terbalas.

Apa lagi ketika Cin Hay menyerahkan sepuluh kati emas kepada mereka, lurah Gu tadinya menolak.

"Anakku, mengapa kauberikan harta kepada kami! Sebaiknya kaubawa pulang saja, dan kauserahkan kepada ibumu. Bukankah setelah ayahmu meninggal dunia, ibumu tinggal bersama pamanmu? Belikan tanah dan rumah untuk ibumu dan uang ini dapat dipergunakan untuk modal."

Cin Hay tersenyum dan semakin mantap hatinya untuk menyerahkan sebagian harta itu kepada mertua yang baik ini.

"Saya sudah memberi kepada ibu, harap ayah mertua suka menerimanya."

Akhirnya Cin Hay berpamit dan diantar oleh keluarga mendiang isterinya itu dengan hati terharu.

Setelah meninggalkan dusun itu, Cin Hay teringat akan pesan mendiang gurunya.

Kim-san Liong-cu (Mustika Naga dari Gunung Emas)!

Dia harus memenuhi pesan gurunya itu.

Berangkatlah dia untuk mencari Kim-san (Gunung Emas) di Lembah Huang-ho itu, dengan bekal pakaian secukupnya dan beberapa potong emas untuk biaya di perjalanan.

?Y?

Wanita itu sungguh cantik jelita.

Usianya sekitar duapuluh tiga tahun, pakaiannya tidak sangat mewah, akan tetapi karena bentuk tubuhnya yang ramping padat, maka nampak pakaian itu serasi dan indah.

Rambutnya hitam panjang dan halus, digelung di atas kepala dengan hiasan bunga teratai emas.

Wajahnya bulat telur, dan kulit mukanya segar kemerahan, putih mulus seperti dibedaki pada hal jelas bahwa dia tidak memakai bedak.

Sepasang matanya jeli dan lebar, tajam sinarnya dan kerlingnya nampak tajam menikam.

Sepasang alis matanya seperti dilukis.

Hidung kecil mancung dan mulutnya merupakan bagian yang paling menarik dari mukanya.

Mulut itu selalu terhias senyuman, dan bibir yang merah dan selalu segar basah itu seperti menantang.

Lesung pipit menghias tepi mulutnya, dan lesung pipit itu menjadi semakin jelas kalau ia tersenyum lebar.

Di bawah mata kiri, di bagian pipi atas nampak ada tahi lalat hitam kecil yang menjadi penambah kemanisan wajah itu.

Seorang wanita yang memiliki daya tarik besar sekali, memberahikan setiap orang pria yang melihatnya.

Dan wanita itu pada suatu pagi melangkahkan kakinya masuk ke pekarangan sebuah rumah yang cukup besar.

Dan perbuatannya inilah yang amat menarik perhatian orang, terutama kaum prianya, karena rumah itu adalah sebuah rumah pelesir, sebuah rumah pelacuran milik Bibi Ciok, seorang mucikari yang terkenal di Lok-yang karena rumah pelesirnya merupakan tempat pelesiran terbesar di Lok-yang.

Bibi Ciok terkenal sebagai mucikari yang biasa menyediakan pelacur-pelacur kelas tinggi!

Langganannya terdiri dari para bangsawan dan hartawan di Lok-yang.

Oleh karena itulah, masuknya wanita cantik menarik itu di pekarangan rumah ini membuat semua orang menengok dan memandang kepadanya dan segera tersiar berita desas-desus yang segera meluas bahwa di rumah pelesir Bibi Ciok terdapat seorang "anggauta baru"

Yang amat cantik jelita!

Kedatangan orang baru merupakan berita paling menggemparkan dari sebuah rumah pelacuran dan dalam waktu singkat saja, para bangsawan dan hartawan yang menjadi langganan Bibi Ciok segera mencari tahu kebenaran berita itu.

Di dalam rumah besar itu sendiri terjadi hal-hal yang amat hebat.

Wanita cantik itu langsung membuka pintu depan dan memasuki rumah itu seperti orang memasuki rumah sendiri saja!

Seorang penjaga pintu terkejut melihat kedatangannya dan berusaha menghadang.

Dia mengenal semua pelacur yang menjadi langganan rumah pelesir itu dan wanita ini sama sekali tidak dikenalnya.

Akan tetapi, penjaga ini tidak berani sembrono karena siapa tahu wanita ini adalah isteri seorang bangsawan yang mencari suaminya!

"Nona siapakah dan ada keperluan apa?"

Tanyanya sambil menghadang di depan wanita itu.

"Tak perlu engkau tahu siapa aku, lekas panggil Bibi Ciok agar ia keluar menemuiku!"

Kata wanita itu dengan sikap dingin. Tentu saja penjaga itu tidak mau menuruti permintaan ini. Dia bertugas sebagai penjaga pintu dan tentu saja tidak dapat mengijinkan setiap orang masuk.

"Tapi...... harap jelaskan dulu nona ini siapa dan ada keperluan apa masuk......"

Tiba-tiba wanita itu menggerakkan tangannya perlahan sambil berkata.

"Jangan banyak cerewet kau!"

Sungguh luar biasa sekali.

Ia hanya menggerakkan tangan seperti mendorong, akan tetapi tanpa menyentuh tubuh, penjaga itu sudah terjengkang dan tubuhnya, menabrak dinding.

Penjaga itu berteriak-teriak dan muncullah lima orang laki-laki dari dalam.

Mereka adalah lima orang jagoan yang menjadi tukang pukul di rumah pelacuran itu, jagoan-jagoan yang diandalkan oleh Bibi Ciok.

"Hai, siapa engkau, berani mati membikin ribut di sini dan memukul penjaga pintu?"

Sentak seorang di antara mereka yang berkumis tebal dan yang menjadi kepala dari rombongan jagoan itu.

Wanita cantik itu berdiri tegak dan matanya melirik tajam ketika muncul lima orang itu.

Senyumnya melebar sehingga nampak sedikit kilatan giginya yang putih berderet rapi.

Kini ia mengangkat muka memandang laki-laki berkumis tebal itu.

"Kalau kalian berlima tidak ingin kuhajar seperti dia ini, cepat menggelinding pergi dam panggil Bibi Ciok ke sini!"

Katanya.

Tentu saja lima orang jagoan itu menjadi marah melihat sikap dan terdengar ucapan yang nadanya memerintah dan memandang rendah itu.

Mereka adalah jagoan terkenal di daerah itu, bahkan Bibi Ciok sendiri yang menjadi majikan, sumber penghasilan mereka, tidak berani bersikap secongkak itu.

Mereka dianggap sebagai kacung-kacung saja yang boleh disuruh seenaknya oleh wanita yang baru muncul ini.

Tadinya merekapun berhati-hati, khawatir kalau kalau wanita itu adalah isteri seorang bangsawan yang datang menyusul dan mencari suaminya.

Akan tetapi melihat sikap wanita itu dengan congkak, merekapun lupa akan kekhawatiran itu.

"Hemm, perempuan sombong! Siapakah engkau ini? Mengaku dulu siapa engkau dan apa keperluanmu datang mencari Bibi Ciok, baru kami akan mempertimbangkan sikapmu yang congkak!"

Bentak si kumis tebal. Wanita itu tersenyum.

"Kalian ini tukang-tukang pukul murahan, masih banyak lagak? Cepat panggil Bibi Ciok ke sini atau terpaksa aku akan membuat kalian menguik-nguik seperti anjing-anjing dipukul!"

Habislah kesabaran si kumis tebal.

"Kurang ajar!"

Bentaknya dan tangan kirinya menampar ke arah pipi wanita itu.

Berapapun cantiknya wanita itu, tentu saja dia tidak sudi dihina seperti itu!

Akan tetapi, dengan mudah wanita itu hanya menarik tubuhnya bagian atas ke belakang dan tamparan itu luput, dan pada detik itu juga, kaki wanita itu sudah bergerak menendang dengan kecepatan kilat ke depan.

Tendangan itu cepat bukan main sehingga tidak dapat dielakkan pula oleh si kumis tebal.

"Dukk!"

Perutnya tercium ujung sepatu wanita itu dan si pemilik perutpun terjengkang dan terbanting keras.

Dia merangkak bangun sambil memegangi perut karena merasa nyeri seolah-olah usus buntunya yang kena tendang.

Dengan muka mengernyit karena nyeri, dia memerintahkan anak buahnya dengan suara penuh geram.

"Bunuh perempuan jahat ini!"

Empat orang jagoan yang lain merasa penasaran dan marah.

Merekapun segera mencabut golok masing-masing dan mengepung wanita itu yang masih berdiri tegak sambil tersenyum mengejek.

Si kumis tebal memaksa diri bangkit dan mencabut goloknya pula.

Biarpun perutnya masih terasa mulas, dia yang menjadi marah karena malu, kini ikut mengepung.

Kalau saja lima orang jagoan itu tidak terlalu tekebur, tentu mereka dapat melihat bahwa sikap wanita itu sudah jelas menunjukkan bahwa ia seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.

Dikepung lima orang jagoan yang memegang golok, wanita itu masih tersenyum, sedikitpun tidak gentar bahkan sikapnya memandang rendah!

Akan tetapi lima orang itu sudah buta karena kesombongan mereka dan karena mereka sudah biasa mempergunakan kekerasan untuk memaksakan kehendak mereka.

"Mampuslah!"

Bentak seorang di antara mereka yang berada di belakang wanita itu, goloknya menyambar ke arah tengkuk wanita itu dari belakang!

Tanpa menoleh, wanita itu mengelak, seolah-olah ada mata di tengkuknya.

Ia mengelak ke kiri sehingga bacokan golok itu lewat dan seperti kilat saja, tubuhnya membalik ke kanan mengikuti tangannya yang sudah menyambar ke belakang.

"Krekkk!"

Tangan yang kecil mungil itu menyambar dan mengenai pundak si penyerang dan seketika orang itu terjungkal sambil mengaduh-aduh karena tulang pundaknya remuk diketuk oleh jari-jari tangan kecil mungil itu.

Sebuah tendangan menyusul dan membuat tubuh itu terjengkang dan terlempar sampai ke sudut ruangan!

Empat orang jagoan, yang lain menjadi semakin marah dan mereka menyerang secara berbareng, mengeroyok wanita yang tidak bersenjata itu dengan bacokan golok mereka secara ganas sekali.

Akan tetapi, wanita itu menyambut serangan empat batang golok itu dengan tenang saja.

Sikapnya tenang, namun gerakan tubuhnya demikian cepat sehingga tiba-tiba saja mata empat orang itu berkunang dan mereka telah kehilangan wanita itu.

Demikian cepat gerakannya ketika melesat keluar dari kepungan sehingga ia seolah-olah pandai menghilang saja seperti iblis!

Hanya nampak bayangan hitam karena pakaiannya yang serba hitam berbunga abu-abu itu.

Dan ketika empat orang itu menyadari bahwa wanita itu sudah keluar dari kepungan dan mereka membalik, tiba-tiba saja wanita itu menyerang.

Tendangan dan tamparan kedua tangannya menyambar bertubi-tubi dan robohlah empat orang itu dengan tulang lengan atau tulang kaki patah-patah!

Dalam waktu beberapa detik saja, lima orang itu telah roboh berserakan sambil mengaduh-aduh dan tidak mampu bangkit kembali karena kaki atau lengan yang patah tulangnya!

Pada saat itu, dari dalam muncul Bibi Ciok, wanita yang usianya sudah limapuluh lima tahun dan tubuhnya semakin gembrot itu.

Ia mendengar suara ribut-ribut dan karena di tempat itu ia seperti seorang ratu atau majikan yang ditakuti, dan karena ia terlalu percaya bahwa lima orang jagoannya pasti akan mampu membereskan semua persoalan, maka iapun bergegas keluar dan matanya terbelalak melihat betapa lima orang jagoannya roboh dan mengaduh-aduh, sedangkan di tengah ruangan berdiri seorang wanita yang cantik sekali.

Ia memandang penuh perhatian.

Wanita yang amat cantik manis, kulitnya menjadi lebih putih mulus karena pakaiannya yang serba hitam, dari sutera halus, namun dengan potongan sederhana itu.

Usianya kurang lebih duapuluh tiga tahun, seorang gadis yang sudah matang, dengan tubuh menggairahkan.

Sebagai seorang mucikari yang pekerjaannya mengumpulkan wanita-wanita muda yang cantik, tentu saja Bibi Ciok pandai menilai kecantikan seorang gadis, baik bentuk wajahnya maupun keadaan tubuhnya.

Gadis seperti itu akan menjadi sumber uang yang baik sekali baginya, pikir wanita tua ini.

Akan tetapi, ketika ia memandang dengan teliti, tiba-tiba ia terbelalak.

"Kim Cu......!"

Teriaknya.

Ia mengenal wanita cantik berpakaian serba hitam itu.

Tak salah lagi, ia adalah Lie Kim Cu, bekas selir Pangeran Coan Siu Ong yang dijual kepadanya.

Gadis yang pernah menjadi pelacur di rumah pelesirnya, yang selama sebulan telah mendatangkan uang yang cukup banyak dan menjadi rebutan para kongcu hidung belang yang berani membayar mahal untuk dapat tidur semalam di kamar gadis itu!

Dan gadis itu lalu melarikan diri ketika dibawa pesiar oleh Bhok-kongcu, mantu jaksa agung!

"Kim......

Kim Cu......?"

Jagoan berkumis tebal berseru kaget bukan main, demikian pula teman-temannya.

Kini baru mereka mengenal wanita cantik berpakaian serba hitam yang lihai itu dan mereka bergidik.

Teringat peristiwa tujuh tahun yang lalu ketika mereka mengepung gadis itu, muncul seorang nenek dan terjadi keanehan ketika mereka berempat ketika itu, dihajar habis-babisan oleh gadis ini, tanpa mereka mampu membalas sama sekali!

Dan kini wanita itu muncul kembali dengan ilmu kepandaian yang hebat sekali!

Wanita itu memang Lie Kim Cu!

Seperti telah kita ketahui, ketika ia dikejar-kejar kemudian dikeroyok empat orang jagoan, yaitu si kumis tebal dan tiga orang kawannya ketika ia melarikan diri dari kereta Bhok Hin, muncul Huang-ho Kuibo, nenek yang berpakaian serba hitam dan yang memiliki ilmu kepandaian amat hebat itu.

Ia kemudian menjadi murid datuk dunia kang-ouw itu dan selama tujuh tahun ia digembleng oleh Huang-ho Kuibo.

Setelah berkeliaran di sepanjang Sungai Huang-ho selama tujuh tahun dan menggembleng muridnya dengan semua ilmu yang dimilikinya, akhirnya Huang-ho Kuibo yang sudah amat tua itu hampir sembilanpuluh tahun usianya, memilih sebuah guha untuk tempat pertapaannya.

Ia telah terlalu tua untuk berkeliaran lagi dan ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan bertapa di guha itu.

Ia mengusir muridnya untuk mempergunakan ilmu-ilmunya di dunia ramai.

"Kalau engkau ingin menjadi seorang yang paling menonjol dalam dunia persilatan, pergilah ke Bukit Emas (Kim San). Engkau tentu masih ingat Kim-san yang pernah kutunjukkan kepadamu dari jauh dalam perantauan kita itu, bukan?"

"Maksud subo (ibu guru) Bukit Emas di sebelah selatan Sungai Kuning, yang dari jauh nampak kuning berkilauan itu di waktu senja?"

"Benar, itulah Kim San!"

"Kata subo, di sana pernah terjadi pertempuran besar di antara orang-orang pandai dan di sana banyak orang pandai di dunia persilatan roboh dan binasa."

"Bagus kau masih ingat akan ceritaku itu. Memang, di sana kini menjadi kuburan banyak orang pandai, bahkan aku sendiri nyaris tewas di sana ketika ikut memperebutkan Kim-san Liong-cu."

"Kim-san Liong-cu? Benda apakah itu, subo?"

Tanya Kim Cu ingin tahu sekali. Nenek itu menarik napas panjang.

"Siapa pernah melihatnya? Akan tetapi banyak sudah dunia kang-ouw mendengar nama benda itu. Sesuai dengan namanya, benda itu adalah sebutir liong-cu (mustika naga) yang kabarnya ratusan tahun yang lalu menjadi milik seorang pangeran dan kemudian benda itu ikut dikubur bersama jenazah pangeran itu. Kuburan kuno itu berada di puncak Kim-san."

"Akan tetapi, kalau benda itu sudah dikubur dengan jenazah pangeran itu, mengapa untuk rebutan? Apa sih gunanya benda itu?"

"Aih, engkau sungguh tidak tahu. Di dunia ini terdapat banyak benda aneh, pusaka-pusaka yang mujijat dan Mustika Naga merupakan sebuah di antara pusaka-pusaka yang amat hebat khasiatnya. Kalau benda itu dikubur bersama jenazah, maka jenazah itu akan dapat bertahan dan tidak rusak sampai ratusan tahun! Kalau dibikin bubuk dan diminum, akan membuat orang menjadi kuat dan panjang usia sampai lebih dari seratus tahun."

"Akan tetapi bagaimana kalau dia dibunuh orang?"

"Ah, kalau begitu tentu lain lagi. Akan tetapi, penyakit tidak akan dapat menyerangnya, dan selain itu, makan liong-cu akan membuat tubuh kuat dan mendatangkan tenaga sin-kang yang luar biasa. Juga dapat menyembuhkan segala macam penyakit, bahkan sanggup menolak segala macam racun!"

"Ih, sungguh hebat!"

"Bukan hanya itu. Kalau mustika itu dilebur dan dicampur dengan logam yang akan dijadikan senjata, maka senjata itu akan menjadi senjata pusaka yang ampuh bukan main. Nah, karena banyak sekali khasiatnya, maka begitu terdapat berita bahwa di dalam kuburan kuno itu terdapat liong-cu, para tokoh dunia persilatan berdatangan dan berebutan."

"Lalu bagaimana, subo?"

Kim Cu mendesak karena ia tertarik sekali.

"Siapa yang berhasil mendapatkan pusaka itu ketika terjadi perebutan di sana?"

Nenek itu menggeleng kepalanya.

"Tidak ada seorangpun yang mendapatkan, dan sudah begitu banyak orang pandai yang tewas, ada puluhan orang yang mati dan akhirnya, tidak ada seorangpun yang berhasil mendapatkan Kim-san Liong-cu!"

Tiba-tiba Kim Cu dapat membayangkan keadaan yang amat lucu itu dan iapun tertawa. Gurunya memandang kepadanya dengan alis berkerut.

"Kenapa engkau tertawa?"

"Hi-hik, alangkah lucunya, subo. Setelah puluhan orang tewas dalam perebutan, kuburan itu dibongkar oleh mereka yang menang; dan tentu saja isinya hanya tengkorak karena mustika naga itu hanya dongeng bohong belaka."

"Bodoh!"

Nenek itu membentak sehingga Kim Cu terkejut dan kembali ia memusat perhatian.

"Bukan begitu! Akan tetapi kuburan itu telah ada yang lebih dulu membongkarnya dan ada orang yang telah mengambil Kim-san Liong-cu itu sebelum para tokoh datang memperebutkannya! Pusaka itu memang ada, sebesar kepala bayi yang baru lahir, akan tetapi telah lebih dulu diambil orang!"

Kim Cu kembali tertarik sekali.

"Siapa yang mengambilnya, subo?"

"Itulah! Tidak ada yang tahu. Karena itu engkau harus pergi ke Kim-san, melakukan penyelidikan dan siapa tahu engkau akan dapat mengetahui siapa orang yang mencuri pusaka itu, kemudian engkau harus merebutnya agar engkau, muridku, menjadi orang paling lihai di dunia ini!"

Tanpa disuruh sekalipun, setelah mendengar cerita yang amat menarik itu.

Kim Cu sudah mengambil keputusan untuk menyelidiki dan mencari orang yang telah mengambil mustika itu.

Ia mengangguk menyanggupi kemudian ia turun dari bukit di mana terdapat guha itu, meninggalkan gurunya.

Iapun condong mengikuti kebiasaan gurunya, suka memakai pakaian yang serba hitam.

Demikianlah, setelah meninggalkan gurunya, Kim Cu langsung menuju ke Lok-yang dan tempat yang pertama kali dikunjunginya adalah rumah pelesir milik Bibi Ciok di mana ia pernah menjadi pelacur secara terpaksa.

Dan terjadi keributan di mana ia merobohkan lima orang jagoan Bibi Ciok yang kini mengenalnya setelah Bibi Ciok menyebut namanya.

Melihat betapa Bibi Ciok dan lima orang jagoan yang telah dirobohkannya itu mengenalnya, Kim Cu lalu membentak dengan suara lirih namun penuh wibawa.

"Hayo kalian cepat berlutut!"

Bibi Ciok sudah melihat betapa lima orang jagoannya roboh oleh Kim Cu.

Iapun bukan orang bodoh dan tahulah ia bahwa wanita cantik itu kini menjadi seorang yang amat berbahaya maka iapun menjatuhkan diri berlutut seperti yang dilakukan oleh lima orang jagoannya yang kini memandang ketakutan.

"Ingat, dari sekarang jangan menyebut namaku yang lama lagi. Aku kini adalah Hek-liong-li (Dewi Naga Hitam) dan kalian harus mentaati semua perintahku. Sekali saja melanggar akan kucabut nyawanya!"

Mendengar ucapan itu, enam orang itu bergidik, dan Bibi Ciok yang mengumpulkan seluruh keberaniannya, sambil berlutut menyembah-nyembah dan berkata dengan suara gemetar.

"Nona....... Liong-li......, harap ampunkan kami yang bodoh. Saya berjanji akan memenuhi semua perintah nona. Sebenarnya...... apakah yang nona kehendaki datang ke tempat yang buruk ini......?"

"Bibi Ciok, tujuh tahun yang lalu, ketika engkau memaksa aku melayani para pria hidung belang di sini, aku mempunyai langganan sebanyak duabelas orang. Aku ingin agar engkau mengundang mereka semua itu untuk datang ke sini, katakan bahwa aku telah kembali dan aku akan mengadakan pertunjukan yang manis untuk mereka, bahkan akan kutentukan, siapa yang boleh menemani aku tidur semalam di sini, yaitu dia yang membawa emas paling banyak.

"Nah, aturlah itu, agar tiga hari kemudian mereka semua datang ke sini, pada senja hari. Ruangan pertunjukan di belakang itu harus kauhias sebaik-baiknya, sediakan kursi-kursi untuk duabelas orang tamuku, dan aku akan menari di sana. Awas, kurang seorang saja berarti sekali tamparan untukmu, dan engkau sudah melihat sendiri akan kerasnya tamparanku. Mereka semua harus selengkapnya berada di sini! Untuk membuktikan kerasnya tamparanku, kaulihat ini!"

Kim Cu menghampiri sebuah meja tebal dan sekali tangan kirinya bergerak membacok, meja itu telah pecah berantakan!

Tentu saja lima orang jagoan dan Bibi Ciok memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat.

"Akan kami usahakan...... akan kami lakukan perintah nona......"

Kata Bibi Ciok dengan tubuh gemetar.

"Bagus, dengan begitu nyawamu akan tetap tinggal dalam tubuhmu. Tiga hari lagi, pada sore hari aku datang ke sini. Mereka harus sudah berkumpul dan panggil serombongan pemain musik wanita untuk mengiringi aku menari!"

Setelah berkata demikian, Lie Kim Cu atau yang lebih baik kita sebut saja nama barunya, yaitu Hek-liong-li atau Liong-li saja, meninggalkan Bibi Ciok dan lima orang jagoannya yang masih berlutut ketakutan.

Baru setelah gadis itu pergi dan tidak nampak lagi, Bibi Ciok bangun dan sumpah serapah keluar dari mulutnya yang nyerocos memaki-maki lima orang jagoannya yang dianggapnya tidak becus!

Akan tetapi, lima orang jagoan itu tidak mampu berbuat apa-apa lagi, karena mereka harus berobat untuk menyambung tulang kaki atau lengan yang patah-patah untuk beberapa bulan lamanya, lima orang jagoan ini tidak akan dapat berlagak jagoan lagi karena harus beristirahat.

Biarpun ia masih merasa heran atas sikap Lie Kim Cu yang kini beralih nama menjadi Hek-liong-li, nama yang menyeramkan itu, namun Bibi Ciok sama sekali tidak berani membangkang terhadap perintah gadis itu.

Tadinya memang ada niat di hatinya untuk memanggil jagoan-jagoan yang lebih pandai, yang banyak terdapat di Lok-yang, akan tetapi lima orang jagoannya menasihati agar Bibi Ciok jangan melakukan hal itu.

Mereka mengaku bahwa tingkat ilmu kepandaian Hek-liong-li luar biasa sekali dan guru merekapun tidak akan mampu menandingi gadis itu!

Mendengar ini, Bibi Ciok tidak berani mengambil resiko.

Apa lagi, perintah itu tidak berbahaya, bahkan akan menguntungkan dirinya!

Agaknya bekas anak buahnya itu masih teringat akan para langganannya yang menyayanginya maka kini hendak menjamu mereka dengan pesta dan tari.

Dan menjanjikan tidur seorang di antara mereka yang membawa emas paling banyak!

Hampir Bibi Ciok bersorak kalau membayangkan betapa Hek-liong-li akan suka melayani pria-pria hidung belang lagi di situ, karena hal ini berarti mengalirnya banyak emas ke dalam sakunya!

Tiga hari lewat dengan cepatnya.

Bibi Ciok sibuk selama tiga hari itu, akan tetapi ia masih ingat kepada duabelas orang langganan Lie Kim Cu.

Mereka adalah orang orang muda, ada yang putera hartawan, ada pula putera bangsawan.

Memang dahulu, Lie Kim Cu tidak mau mengobral dirinya, dan setiap malam hanya melayani seorang pria sampai pagi.

Dengan demikian, selama berada di situ sebulan lebih, gadis itu hanya mempunyai duabelas orang langganan yang kesemuanya tergila-gila kepadanya.

Oleh karena itu, ketika Bibi Ciok menghubungi mereka dan mengabarkan bahwa Lie Kim Cu yang cantik jelita dan pandai menghibur hati mereka dengan segala kehangatan dan kemesraan itu telah kembali, para pria hidung belang itu menjadi gembira sekali.

Di antara mereka termasuk Bhok Hin!

Mereka semua berjanji akan datang pada senja hari itu dan mereka akan berlumba memenangkan hati wanita cantik itu agar dipilih.

Pada hari yang ditentukan, sejak sore hari duabelas orang kongcu hidung belang itu sudah bergiliran datang dengan kereta mereka yang mewah.

Mereka disambut dengan penuh keramahan oleh Bibi Ciok dan mereka dipersilakan langsung saja masuk ke ruangan belakang yang luas.

Tempat ini memang biasa dipergunakan untuk pesta, tari-tarian dan sebagainya dan keadaan tempat itu kini amat meriah, dihias dengan rapi dan bersih.

Kursi-kursi berjajar merupakan setengah lingkaran menghadap ke sebuah panggung di mana wanita cantik yang mereka rindukan itu akan muncul.

Rombongan musik yang terdiri dari gadis-gadis cantik sudah siap, bahkan atas isyarat dari Bibi Ciok, mereka sudah memainkan alat musik mereka perlahan-lahan untuk menyambut para tamu yang berdatangan.

Kini duabelas orang tamu itu sudah datang semua.

Yang paling akhir adalah Bhok Hin dan begitu mantu jaksa agung itu hadir, langsung dia bertanya kepada Bibi Ciok.

"Bibi Ciok, mana si cantik Kim Cu?"

Pertanyaan ini disambut oleh para tamu lainya yang juga sudah tidak sabar untuk cepat bertemu dan melihat bagaimana keadaan wanita yang pernah membuat mereka tergila-gila tujuh tahun yang lalu.

Hal ini adalah karena pandainya Bibi Ciok berpromosi, mengabarkan bahwa kini wanita itu jauh lebih cantik, matang dan menarik dibandingkan tujuh tahun yang lalu!

Selagi mereka riuh-rendah bertanya kepada Bibi Ciok, tiba-tiba kain tirai sutera di belakang panggung itu tersibak dan semua mata ditujukan ke sana, percakapan pun seketika terhenti!

Di sana, di atas panggung, muncul seorang wanita yang memang nampak cantik luar biasa.

Kulitnya yang putih mulus kemerahan nampak lebih putih lagi karena ia mengenakan pakaian yang terbuat dari sutera hitam.

Pakaian itu ringkas dan ketat sehingga tubuhnya yang padat langsing itu nampak jelas lekuk lengkungnya yang menggairahkan.

Sepasang matanya jernih dan tajam, sedangkan mulut itu tersenyum-senyum ramah dan manis sekali, nampak lesung pipit di dekat mulut.

Semua tamu terpesona dan mereka mengenal wanita yang pernah membuat mereka mabok dan tergila-gila, hanya kini nampak lebih cantik dan lebih matang, tepat seperti yang dipromosikan Bibi Ciok!

Seperti dikomando saja, duabelas orang itu bertepuk tangan sambil tersenyum-senyum, memasang lagak agar nampak tampan dan menarik.

Liong-li mengangkat kedua tangan ke atas, memberi isyarat agar mereka tidak gaduh.

Mereka pun duduk diam dan memandang penuh kagum, dan suasana menjadi hening.

Liong-li memperlebar senyumnya sehingga nampak deretan giginya berkilat.

Biarpun mulutnya tersenyum dan matanya mengerling tajam dan memikat, namun wanita ini merasa betapa hatinya panas.

Teringat ia betapa tujuh tahun yang lalu, dengan hati menderita dan terpaksa menelan semua kejijikan dan penghinaan, ia harus melayani duabelas orang ini, menyerahkan dirinya dan segala-galanya, bahkan harus berpura-pura menikmatinya dan menyenanginya!

Semua ingatan ini membuat hatinya terbakar oleh dendam dan kemarahan.

"Cu-wi Kong-cu (Tuan-tuan Muda Sekalian),"

Ia berkata dengan suara merdu merayu dan kerling mata penuh daya tarik.

"selamat sore dan selamat berjumpa kembali! Sungguh saya merasa rindu sekali kepada cu-wi (anda sekalian). Tentu cu-wi telah melupakan saya, apa lagi rindu......"

Ia berhenti dan senyumnya melebar.

"Wah, akupun rindu sekali!"

Teriak seseorang.

"Aku juga!"

"Aku rindu setengah mati!"

Bhok Hin berteriak.

"Kim Cu, kami semua rindu kepadamu. Ke mana saja selama tujuh tahun ini engkau pergi?"

Liong-li mengerling tajam.

"Hal itu akan saya ceritakan kepada cu-wi seorang demi seorang, bukan di sini akan tetapi di dalam kamar di mana kita berdua saja......"

Kembali mereka bersorak dan baru keadaan menjadi hening setelah Liong-li memberi isyarat.

"Akan tetapi karena cu-wi berjumlah belasan orang, tentu saja saya tidak dapat melayani semua. Satu malam untuk satu orangg seperti dulu, dan malam ini saya akan memilih seorang dengan melihat siapa di antara cuwi yang paling rindu kepada saya. Hal itu dapat saya lihat berapa besarnya hadiah yang cuwi berikan untuk saya! Harap cuwi menaruh hadiah itu di sini!"

Ia mengeluarkan sehelai kain hitam yang lebar dan mengembangkan kain itu di atas panggung.

Mendengar ini, duabelas orang itu kembali tertawa-tawa dan suasana menjadi gaduh ketika mereka maju dam meletakkan bermacam barang berharga, kebanyakan potongan emas ke atas bentangan kain hitam itu.

Liong-li sambil tersenyum memandang dan melihat betapa setiap orang memberi paling sedikit tiga tail emas dan paling banyak sepuluh tail emas sehingga menurut taksirannya, setelah semua orang menyerahkan hadiah, tidak kurang dari limapuluh tail emas terkumpul!

Setelah semua orang kembali dipersilakan duduk, Liong-li berkata lantang.

"Sebelum saya umumkan siapa yang menang dan berhak menemani saya malam ini, saya akan mempersembahkan sebuah tarian untuk cuwi yang tercinta!"

Liong-li menyuruh para pemain musik membunyikan musik mereka lebih keras, dan iapun mulai dengan tariannya!

Dikeluarkannya sebatang pedang dan iapun mulai menari pedang!

Memang Liong-li tidak dapat disamakan dengan Lie Kim Cu.

Ia kini seorang ahli silat yang hebat, dan kini ia dapat memainkan tari pedang yang lemah gemulai, namun di balik gerakan pedang yang nampak indah itu terkandung kekuatan dahsyat yang hanya akan dikenal oleh ahli silat tinggi.

Duabelas orang kongcu hidung belang itu mana mungkin mengenalnya?

Mereka terpesona, bukan oleh tarian pedang, melainkan oleh tubuh yang bergerak-gerak amat menggairahkan dan seperti tertarik besi semberani, mereka bangkit dari tempat duduk mereka dan mendekati panggung agar dapat melihat lebih jelas.

Melihat betapa duabelas orang itu kini berdiri membuat setengah lingkaran di depan panggung, senyum Liong-li melebar dan iapun sambil menari berkata-kata dengan suara lantang.

"Kalian adalah kongcu-kongcu hidung belang. Biarlah kusingkirkan hidung-hidung itu agar tidak nampak belangnya lagi!"

Berkata demikian tiba-tiba saja pedang itu lenyap berubah menjadi sinar bergulung-gulung menyambar ke bawah panggung.

Terdengar teriakan-teriakan dan nampak darah muncrat-muncrat.

Keadaan menjadi gaduh dan gempar.

Para gadis penabuh musik menjerit ketakutan dan lari cerai berai.

Hanya sebentar saja keributan itu terjadi.

Ketika kegaduhan berhenti, keadaan sungguh mengerikan.

Duabelas orang pria itu menggunakan tangan mendekap muka mereka, terutama di bagian hidung.

Darah mengalir dari celah antara jari tangan yang mendekap dan mulut mereka merintih kesakitan.

Kiranya, duabelas orang itu benar-benar telah kehilangan batang hidung mereka.

Bukit hidung itu disambar gulungan sinar pedang dan buntung!

Dan di sudut nampak Bibi Ciok melolong dan menangis sambil menggunakan tangan kiri memegangi lengan kanannya yang buntung!

Tadi sinar pedang itu menyambar ke arah tangan kanannya dan terdengar bentakan Liong-li.

"Engkau harus menebus dosamu kepadaku dengan menyerahkan tanganmu yang kotor!"

Dan begitu sinar menyambar, tangan kanannya sebatas pergelangan menjadi buntung!

Dan ketika semua orang memandang ke arah panggung, Liong-li sudah tidak nampak bayangannya lagi, dan tumpukan emas di atas kain hitam yang terbentang tadipun lenyap.

Liong-li telah pergi setelah menghukum orang-orang yang pernah menyakiti hatinya.

Tentu saja peristiwa itu mendatangkan geger di kota Lok-yang.

Semua orang membicarakannya dan nama Hek-liong-li menjadi buah bibir orang.

Dewi Naga Hitam menjadi terkenal di Lok-yang.

Apa lagi setelah pada malam hari itu juga terjadi peristiwa lain di Lok-yang yang amat mengerikan pula.

Terjadi di rumah gedung Pangeran Coan Siu Ong!

Malam itu sunyi meliputi rumah gedung yang seperti istana itu, milik Pangeran Coan Siu Ong.

Pangeran yang kini usianya sudah limapuluh tujuh tahun itu, sudah tidur mendengkur kelelahan setelah menggilir selir barunya yang nomor lima!

Tengah malam telah lewat dan para peronda di gedung itu sudah mulai meronda.

Mereka terdiri dari lima orang pengawal yang meronda di sekeliling gedung, memasuki taman dan memeriksa semua sudut.

Seorang di antara mereka memegang sebuah lentera.

Namun, sunyi saja dan nampaknya aman sehingga mereka setelah berkeliling lalu kembali ke gardu penjagaan mereka yang berada di pekarangan depan gedung itu.

Udara dingin dan mereka berlima lebih hangat kalau berada di dalam gardu.

Tiga orang segera rebah di atas kursi panjang, yang dua orang sibuk bermain catur.

Tak seorangpun di antara mereka yang tahu bahwa sepasang mata jeli dari atas genteng sejak tadi mengamati gerak-gerik mereka ketika meronda.

Setelah mereka memasuki gardu, pemilik mata itu bangkit dari keadaannya yang mendekam tadi, lalu nampak bayangannya yang hitam ramping berloncatan di atas wuwungan, kemudian melayang turun di taman dalam gedung dan menyelinap di antara kamar-kamar gedung besar itu.

Beberapa menit kemudian, bayangan hitam itu sudah membuka jendela sebuah kamar dengan mudahnya, lalu bagaikan seekor burung saja ia melompat masuk ke dalam kamar itu.

Di atas meja masih bernyala penerangan sebatang lilin yang dikerudung kain merah sehingga cuaca dalam kamar itu kemerahan remang-remang, romantis sekali.

Bayangan itu seorang wanita yang cantik, berpakaian serba hitam dan dalam penerangan lilin, nampaklah bahwa ia bukan lain adalah Hek-liong-li!

Setelah menghajar para kongcu hidung belang yang pernah menjadi langganannya, yang pernah dilayaninya secara terpaksa dan dengan hati tersiksa, kini Liong-li memasuki kamar orang yang paling dibencinya, yaitu kamar Pangeran Coan Siu Ong!

Pangeran inilah yang pertama kali memperkosanya, dan pangeran ini pula yang mengakibatkan ayah kandungnya membunuh diri dan ibu kandungnya meninggal dunia karena kedukaan.

Liong-li membuka kerudung lilin, bahkan memasang pula tiga buah lilin yang dipadamkan, di tempat lilin di atas meja.

Kini kamar itu tidak remang-remang lagi, melainkan terang dan Liong-li yang menoleh ke arah tempat tidur, dapat melihat betapa di balik kelambu yang putih halus itu terdapat dua sosok tubuh manusia yang tidur pulas dalam keadaan saling berpelukan dan tertutup selimut merah.

Liong-li segera membayangkan keadaannya ketika itu, tujuh tahun yang lalu, di dalam kamar ini, bahkan di atas pembaringan itu.

Betapa ia terbelenggu kaki tangannya, diperkosa oleh Pangeran Coan Siu Ong.

Wajahnya menjadi merah, akan tetapi ia dapat menenangkan hatinya dan ketika ia mengerling ke dinding, ia melihat bahwa pedang pendek yang dulu pernah ia pergunakan untuk (Lanjut ke

Jilid 05) Sepasang Naga Penakluk Iblis (Seri ke 01-Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo

Jilid 05 mencoba membunuh pangeran itu kini masih juga tergantung di situ. Ia mengambil pedang itu dan menghunusnya. Ia tidak pernah membawa pedang dan pedang yang dipergunakan untuk "menari"

Dan menghajar para pria hidung belang di rumah pelesir Bibi Ciok juga merupakan pedang biasa yang dibelinya dari penjual pedang di pasar.

"Brettt......, bretttt......!"

Kelambu itu disambar pedang dan robek terkuak lebar, namun dua orang yang saling berpelukan di atas tempat tidur itu tidak bergerak. Mereka sudah tidur nyenyak sekali.

"Brukkkk......!"

Liong-li membacok kaki pembaringan itu sehingga pembaringan itu roboh miring.

Barulah dua orang itu terkejut, selimut tersingkap dan Liong-li memalingkan muka melihat bahwa mereka itu sama sekali tidak berpakaian.

"Apa...... apa...... siapa......?"

Pangeran Coan Siu Ong yang terkejut itu gelagapan dan bersama selirnya, dia menyambar pakaian dan mengenakan pakaiannya secara tergesa-gesa, sejadinya saja.

Lalu dia meloncat turun dari pembaringan yang miring itu, matanya terbelalak kemerahan karena dia melihat seorang wanita berdiri membelakangi pembaringan.

Dia mengira bahwa tentu seorang diantara selirnya yang sengaja datang membikin ribut karena iri hati dan panas melihat dia lebih sering tidur di kamar selir terbaru ini.

Dia marah sekali dan siap untuk memaki dan menghajar selir kurang ajar itu.

"Keparat, berani kau mengganggu aku......"

Tiba-tiba dia menghentikan kalimatnya itu ketika Liong-li membalikkan tubuh menghadapinya.

Pangeran Coan Siu Ong terkejut dan bengong memandang kepada wanita berpakaian serba hitam yang amat cantik itu.

Cantik dan menyeramkan karena kemunculannya yang tiba-tiba, pakaiannya yang serba hitam, dan tangannya yang memegang pedang telanjang.

"Siapa...... siapa kau......?"

Akhirnya dia bertanya, suaranya agak gemetar karena dia merasa seram.

Sementara itu, selirnya yang juga sudah menutupi tubuh dengan pakaian sekenanya, turun dari pembaringan dan bersembunyi di sudut kamar, di balik lemari pakaian dengan muka pucat dan tubuh gemetar.

Liong-li tersenyum manis.

"Pangeran Coan Siu Ong, sudah lupakah kau kepadaku? Ingat tujuh tahun yang lalu! Lupakah engkau kepada keluarga Lie, bawahanmu yang kaubikin hancur keluarganya itu? Engkau memperkosa aku, lalu menjualku ke rumah pelesir, engkau membuat ayahku membunuh diri dan ibuku mati karena duka."

"Ahhh......!"

Mata pangeran itu terbelalak ketika dia teringat.

"Kau...... Kim Cu......!"

"Sekarang bukan Lie Kim Cu lagi, melainkan Hek-liong-li yang datang untuk membasmi manusia-manusia jahat dan keji macam engkau!"

"Tolonggg......! Tolooongggg......!"

Tiba-tiba selir yang bersembunyi di sudut dekat almari itu berteriak-teriak mendengar ucapan wanita baju hitam itu.

Sementara itu, Pangeran Coan Siu Ong sudah jatuh berlutut karena takutnya.

Dia mengenal Kim Cu, gadis yang pernah dijadikan selir, dan karena gadis itu menolak untuk digauli, bahkan memukulnya, maka dia menyuruh pengawalnya untuk membelenggu gadis itu, kemudian diperkosanya!

Dia sudah tahu bahwa gadis itu kuat sekali dan andaikata dia melawan pun akan sia-sia, maka saking takutnya, dia sudah jatuh berlutut dengan tubuh menggigil ketakutan.

"Ampun...... ampunkan aku......"

Katanya berulang kali dengan bibir gemetar.

Akan tetapi diam-diam dia melirik ke arah pintu, mengharapkan munculnya para pengawalnya atas teriakan minta tolong selirnya tadi.

Akan tetapi, Liong-li sama sekali tidak perduli akan teriakan selir yang ketakutan itu.

"Mintalah ampun kepada Tuhan!"

Kata Liong-li dan tangannya bergerak, pedangnya berkelebat menjadi sinar menyambar ke arah Pangeran Coan Siu Ong.

"Crak-crak-crak-crakk!"

Nampak darah muncrat-muncrat dan tubuh pangeran itu terguling mandi darahnya sendiri yang bercucuran keluar dari kedua lengan dan kedua kakinya yang buntung!

Buntung sebatas pergelangan, terbabat oleh pedang di tangan Liong-li!

Wanita itu lalu melontarkan pedang menancap pada dinding, tepat pada saat pintu kamar itu jebol karena dibuka secara paksa dari luar oleh para pengawal yang berdatangan karena teriakan selir yang ketakutan itu.

Selir itu masih berteriak-teriak, bahkan semakin keras melihat betapa suaminya roboh mandi darah.

Liong-li berdiri di tengah kamar itu, bertolak pinggang dengan sikap tenang sekali, memandang kepada delapan orang pengawal yang memasuki kamar.

Para pengawal terkejut bukan main melihat tubuh majikan mereka yang kehilangan kedua tangan dan kedua kaki itu, berkelojotan sambil merintih-rintih.

"Perempuan jahat berani mati dari mana yang membikin kacau di sini, berani menyerang Pangeran!"

Bentak seorang di antara mereka.

"Aku Dewi Naga Hitam, datang untuk menghukum orang yang jahat dan kejam seperti Pangeran Coan Siu Ong. Kalau kalian hendak membelanya, mari keluar, di sini terlalu sempit!"

Berkata demikian, Liong-li meloncat dan tubuhnya sudah melayang keluar dari kamar itu melalui jendela.

Tentu saja para pengawal segera mengejarnya.

Liong-li menanti di pekarangan depan yang luas.

Ia berdiri tegak, tanpa memegang senjata, menanti pengejaran para pengawal.

Kini semua pengawal muncul, jumlah mereka ada duabelas orang.

Mereka semua telah tahu bahwa majikan mereka dibuntungi kaki tangannya oleh wanita berpakaian hitam yang mengaku bernama Hek-liong-li itu, maka duabelas orang pengawal mengepungnya dengan senjata di tangan ketika melihat ia berdiri menanti di tengah pekarangan depan.

Liong-li menghadapi para pengawal itu dengan sikap tenang saja, dan ketika mereka mulai menyerbu dari depan belakang, kanan dan kiri, tubuhnya tiba-tiba bergerak amat cepatnya sehingga para pengepung itu kehilangan lawan, yang nampak hanya bayangan hitam berkelebatan di antara mereka dan berturut-turut, duabelas orang pengawal itu rebah malang melintang, ada yang patah lengannya, tulang pundak atau tulang kaki, ada pula yang pingsan.

Ketika mereka yang terluka ini merangkak bangun, bayangan Dewi Naga itu sudah lenyap dari situ!

Tentu saja peristiwa hebat ini membuat nama Dewi Naga Hitam menjadi terkenal di seluruh Lok-yang dan daerahnya.

Pangeran Coan Siu Ong tidak mati, akan tetapi dia hidup dalam keadaan yang sengsara sekali.

Karena kakinya buntung sebatas pergelangan, untuk berjalan pun sukar dan dia harus memakai tongkat sebagai kaki ketiga!

Dan kedua tangannya tidak ada.

Dia menjadi seorang tapadaksa yang selalu harus dirawat dan dibantu orang.

Pangeran itu menjadi pemurung, hilang semua kesenangan dan dia lebih banyak termenung di atas pembaringan kamarnya seorang diri.

Tidak lagi dia pernah mendekati wanita karena tidak tahan melihat pandang mata jijik mereka terhadap dirinya.

Baru sekarang dia merasa menyesal dan seringkali membayangkan semua perbuatannya yang sesat di waktu lalu.

Dari kota Lok-yang inilah mulai dikenal nama Dewi Naga Hitam yang kemudian terkenal di dunia kang.ouw.

Seorang wanita yang masih muda, cantik menarik, namun memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, dengan pakaian yang serba hitam!

Bagi dunia persilatan, nama Dewi Naga Hitam yang baru muncul ini masih merupakan teka-teki, kecuali bahwa nama julukan itu adalah nama seorang wanita muda yang cantik jelita dan berilmu tinggi.

Dunia kang-ouw tidak tahu orang macam apa adanya Hek-liong-li, apakah termasuk golongan pendekar yang menentang kejahatan pada umumnya, ataukah golongan sesat yang memaksakan keinginan hati demi keuntungan sendiri dengan mengandalkan kekerasan dan kekuatan.

Liong-li tidak pernah menentang kejahatan, tidak mencampuri urusan orang lain dan hanya menghajar orang yang berani menentang dan memusuhinya.

Karena itu, namanya yang baru muncul itu disegani, baik oleh golongan pendekar, maupun oleh golongan hitam.

?Y?

Sejak sepuluh tahun yang lalu, dunia persilatan telah digemparkan oleh munculnya datuk-datuk sesat yang terkenal dengan nama julukan Kiu Lo-mo (Sembilan Iblis Tua)!

Mereka dikenal sebagai Sembilan Iblis Tua, akan tetapi sesungguhnya mereka itu bergerak secara terpisah, bahkan tidak ada hubungannya satu sama lain, kecuali beberapa orang di antara mereka yang ada hubungan saudara seperguruan atau sahabat.

Bahkan di antara mereka ada yang tidak saling mengenal bahkan tak pernah saling berjumpa.

Kalau mereka disebut Sembilan Iblis Tua adalah karena pada jaman itu, mereka merupakan datuk-datuk kaum sesat yang paling tinggi ilmunya dan ditakuti lawan disegani kawan.

Mereka mempunyai latar belakang kehidupan yang berbeda-beda, bahkan tidak ada yang tinggal di satu propinsi.

Kelihaian sembilan orang datuk sesat ini ramai dibicarakan di dunia persilatan, bahkan di dunia hitam, mereka itu seperti tokoh-tokoh dalam dongeng saja!

Seorang di antara mereka berjuluk Hek-sim Lo-mo (Iblis Tua Berhati Hitam).

Seperti delapan orang rekannya yang lain, diapun baru muncul sejak sepuluh tahun yang lalu.

Tadinya, Kiu Lo-mo tak pernah muncul di dunia ramai, bahkan nama mereka seperti sudah tenggelam di samudera luas atau melayang lenyap di langit yang lebih luas lagi.

Dan mungkin sekali kemunculan mereka karena saling tertarik.

Mendengar yang seorang muncul, yang lainpun agaknya tidak mau kalah sehingga dunia hitam menyambut kemunculan mereka dengan hangat, merasa telah memperoleh pimpinan yang boleh diandalkan.

Segera para tokoh sesat menyatakan diri sebagai pengagum dan "berlindung"

Di bawah pengaruh datuk sesat itu, di wilayah masing-masing.

Demikian pula dengan Hek-sim Lo-mo.

Begitu dia muncul, para tokoh sesat, kepala-kepala perampok, ketua-ketua perkumpulan gelap, bahkan hartawan dan bangsawan, banyak yang berbondong-bondong menghadap atau mengirim utusan disertai barang bingkisan atau hadiah yang amat berharga.

Tentu saja bingkisan atau hadiah itu bukan diberikan dengan hati rela dan berdasarkan persahabatan yang murni.

Sama sekali tidak.

Pemberian itu adalah semacam sogokan atau suapan, diberikan dengan pamrih agar nama si pemberi dimasukkan dalam daftar orang-orang yang dilindungi oleh pengaruh dan kekuasaan Hek-sim Lo-mo.

Dan sebentar saja, datuk yang berjuluk Hek-sim Lo-mo, seorang di antara Kiu Lo-mo, telah menjadi kaya raya!

Perkumpulan-perkumpulan sesat yang menguasai tempat-tempat perjudian, pelacuran dan menyediakan tenaga bayaran untuk menjadi tukang-tukang pukul para hartawan, tergopoh-gopoh menyambut datuk ini, membuatkan rumah dan mencukupi segala keperluannya.

Hek-sim Lo-mo menjadi datuk yang wilayahnya meliputi dua propinsi, yaitu He-nan dan Shan-tung!

Amat luas wilayah ini dan dia memilih Lok-yang sebagai tempat tinggalnya.

Rumahnya besar dan mewah, seperti rumah seorang hartawan saja, di pinggir kota Lok-yang, di atas tanah yang luas.

Rumah itu diperlengkapi dengan taman yang lebar dan indah, ruangan yang luas untuk tempat bermain silat, rekreasi, pesta dan sebagainya.

Rumah induknya menjadi tempat tinggalnya dan Hek-sim Lo-mo ditemani oleh lima orang selir, wanita-wanita muda yang cantik manis, berusia antara delapanbelas sampai duapuluh lima tahun, dan belasan orang pelayan!

Hidupnya makmur dan penuh kesenangan dan dia boleh dibilang sama sekali tidak bekerja.

Namanya saja yang dipergunakan oleh dunia kang-ouw sebagai pelindung.

Tentu saja Hek-sim Lo-mo mempunyai banyak sekali pembantu, yaitu tokoh-tokoh lihai yang menjadi pelaksana dari semua perintahnya.

Jarang datuk ini turun tangan sendiri.

Kalau ada sesuatu hal yang perlu diselesaikan dengan kekerasan, dia hanya menyuruh seorang di antara para pembantunya dan dia hanya tahu bares saja.

Beberapa hari sekali, para pembantu itu datang menghadap dan membuat laporan-laporan kepada datuk itu, yang kemudian mengatur rencana dan menentukan apa yang harus dilakukan oleh mereka.

Setelah menjadi datuk yang kekuasaannya meliputi wilayah dua propinsi itu, hampir semua tokoh dunia hitam tunduk kepada Hek-sim Lo-mo.

Ada memang beberapa orang tokoh yang belum pernah mengenal kelihaiannya, merasa kurang percaya dan enggan untuk tunduk atau takluk.

Dan ada beberapa tokoh yang cukup tangguh sehingga terpaksa Hek-sim Lo-mo harus turun tangan sendiri menaklukkannya dengan ilmu kepandaiannya yang luar biasa!

Dan kabarnya, tidak ada seorangpun tokoh sesat pembangkang yang sanggup menandinginya lebih dari sepuluh jurus!

Beberapa orang tokoh yang dinilai cukup lihai dan berharga untuk menjadi pembantunya, yang tadinya membangkang, tidak dibunuhnya melainkan ditundukkan dan diangkat menjadi pembantu yang boleh diandalkan.

Pada suatu malam, para pembantu Hek-sim Lo-mo datang menghadap seperti biasa.

Pertemuan seperti itu diadakan sedikitnya sebulan sekali, dan malam itu, atas permintaan Hek-sim Lo-mo, mereka datang untuk membuat laporan.

Hek-sim Lo-mo yang seolah-olah menjadi raja di antara kaum sesat itu, menerima paras pembantunya dengan gembira, dengan pesta pora.

Ruangan yang luas itu dipergunakan untuk menjamu para pembantunya, bahkan mengundang gadis-gadis panggilan, juga rombongan gadis pemain musik, tari dan nyanyi, untuk menghibur pertemuan antara dia dan para pembantunya itu.

Memang, terhadap para pembantunya, Hek-sim Lo-mo bersikap royal, dan diapun melimpahkan banyak barang berharga untuk mereka.

Ruangan yang luas itu terang benderang karena banyaknya lampu yang dipasang.

Juga ruangan itu dihias dengan kain sutera warna-warni, dan karena banyak gadis cantik melayani, maka pesta itu meriah bukan main.

Seperti biasa, sebelum menerima laporan dan merundingkan urusan yang timbul dalam wilayah kekuasaan Hek-sim Lo-mo, datuk ini lebih dulu menjamu para pembantunya dengan makanan yang mewah, dan minum arak nomor satu, juga menghibur mereka dengan tarian dan nyanyian yang dilakukan oteh rombongan gadis penari yang muda-muda dan cantik.

Terjadilah pesta mabok-mabokan dan penuh kecabulan.

Para tokoh sesat yang menjadi pembantu Hek-sim Lo-mo itu sebagian besar adalah tokoh-tokoh jahat terkemuka di dunia kang-ouw, dan mereka adalah orang-orang kasar yang tidak segan-segan melakukan perbuatan tanpa susila di depan siapa saja.

Melihat para gadis panggilan yang melayani mereka itu muda-muda dan cantik-cantik, maka merekapun tanpa malu-malu lagi menggoda dan mempermainkan mereka, mencubit, mencolek, meraba, bahkan ada yang memangku dan menciumi seorang gadis panggilan yang hanya terkekeh genit!

Tentu saja tidak sampai berkelanjutan ke hubungan yang lebih intim.

Untuk kesempatan itu, akan diberikan oleh Hek-sim Lo-mo setelah rapat selesai sehingga pesta ini juga merupakan "pemanasan"

Bagi para pembantu yang diam-diam telah memilih gadis pilihan masing-masing untuk menemani mereka malam nanti.

Kamar-kamar untuk para pembantu itu telah disediakan di bagian belakang, kamar-kamar yang cukup mewah untuk menyenangkan hati para pembantunya.

Setelah makan minum selesai, rapatpun dimulai.

Tempat itu dibersihkan dari sisa-sisa pesta, meja-meja disingkirkan, diganti meja yang panjang di kelilingi kursi-kursi untuk para pembantu, sedangkan kursi besar berada di kepala meja, tempat duduk Hek-sim Lo-mo.

Ruangan itu menjadi lega dan luas, dan para gadis itupun disuruh mundur.

Hek-sim Lo-mo nampak duduk di kepala meja.

Dia seorang laki-laki yang usianya sudah lebih dari enampuluh tahun, sedikitnya enampuluh tiga tahun.

Namun, tubuhnya yang tinggi besar itu masih nampak tegap dan kokoh kuat seperti batu karang.

Wajahnya kasar, berbentuk segi empat dengan kulit muka kasar menghitam yang setengahnya, di bagian bawah, penuh dengan kumis jenggot dan cambang.

Sepasang matanya bulat dan besar, memiliki sinar tajam mencorong dan mulutnya selalu menyeringai karena bibirnya terlalu pendek untuk dapat menutup pintu mulutnya.

Hidungnya juga besar dan bulat seperti buah terong muda.

Bagian tubuh yang kelihatan seperti leher, sebagian lengan karena dia menggulung lengan bajunya, dilingkari otot-otot yang menonjol dan menggembung, membayangkan kekuatan yang dahsyat.

Pakaiannya seperti pakaian hartawan, mewah, dari sutera mahal beraneka warna, dan kepalanya ditutupi sebuah topi yang indah pula, sulaman bunga dan burung Hong.

Di luar bajunya, dia mengenakan jubah panjang berwarna mortal seperti yang biasa dipakai oleh pendeta-pendeta.

Dia tidak nampak membawa senjata, akan tetapi orang tidak tahu apa yang tersembuyi di balik jubah lebar itu.

Sepatunya mengkilat, dari kulit tebal yang kuat.

Biarpun usianya sudah enampuluh tiga tahun, namun kumis, jenggot dan rambut kepalanya masih hitam, kaku dan keras seperti kawat-kawat saja.

Tidak ada yang tahu dari mana asalnya Hek-sim Lo-mo dan tidak ada yang berani menanyakannya.

Melihat bentuk muka dan kulitnya, mungkin dia peranakan India atau Nepal, setidaknya dia tentu berasal dari daerah barat.

Namanya menjulang tinggi dan ditakuti ketika tersiar berita betapa Hek-sim Lo-mo pada puluhan tahun yang lalu, pernah bermusuhan dengan perkumpulan Kui-san-pang dan kabarnya, dalam perkelahian di mana Hek-sim Lo-mo dikeroyok oleh semua pimpinan dan anak buah Kui-san-pang, datuk ini telah menewaskan seluruh anggauta Kui-san-pang yang jumlahnya tidak kurang dari seratus limapuluh orang!

Belum ada yang membuktikan kebenaran berita ini, akan tetapi kenyataannya, Kui-san-pang terbasmi dan tidak tersisa lagi anggautanya, pada hal perkumpulan itu terkenal sekali sebagai perkumpulan yang memiliki banyak orang pandai!

Kemudian, berulang kali tokoh-tokoh dunia persilatan menentang Hek-sim Lo-mo, namun seorang demi seorang roboh, tidak kuat menandingi datuk ini.

Di antara para pembantu Hek-sim Lo-mo yang dipercaya dan diandalkan, terdapat lima orang yang dianggap sebagai tangan kanan dan yang paling lihai di antara belasan orang itu.

Yang pertama dan duduk di sebelah kanan Hek-sim Lo-mo adalah Yauw Ban yang berjuluk Tok-gan-liong (Naga Mata Satu).

Dia seorang laki-laki berusia limapuluh tahun, tinggi kurus dengan leher panjang dan yang menarik adalah matanya yang tinggal sebelah.

Mata sebelah kiri telah buta, tertutup dan tidak ada biji matanya.

Mata itu tertusuk senjata lawan dan dia menjadi buta ketika masih muda dalam suatu perkelahian.

Tok-gan-liong Yauw Ban ini lihai sekali, memiliki ilmu pedang tunggal yang sukar dicari tandingannya, dan diapun seorang ahli ginkang yang memiliki kecepatan gerakan seperti terbang saja.

Dia pendiam dan berdarah dingin, dapat membunuh tanpa mengedipkan mata tunggalnya, dan cerdik sekali.

Dia menjadi pembantu nomor satu dari Hek-sim Lo-mo setelah dia dikalahkan oleh datuk itu karena tadinya diapun tidak sudi takluk sebelum menguji kepandaian datuk itu.

Dan dalam perkelahian inilah Hek-sim Lo-mo dapat melihat kelihaian Naga Mata Satu ini, maka diapun menarik Yauw Ban menjadi pembantu utama, maklum bahwa para pembantu yang lain masih kalah dibandingkan dengan Yauw Ban.

Sebelum menjadi pembantu pertama Hek-sim Lo-mo, Tok-gan-liong Yauw Ban ini menjadi perampok tunggal yang dianggap sebagai datuk para perampok di wilayah Propinsi Shan-tung.

Dia malang melintang dan para perampok lainnya selalu memberi semacam "upeti"

Kepadanya.

Akan tetapi kemunculan Hek-sim Lo-mo menarik nama besarnya ke bawah sehingga dia penasaran dan menantang datuk itu untuk mengadu ilmu silat.

Tanpa banyak kesukaran, Hek-sim Lo-mo yang memang jauh lebih tinggi tingkat ilmunya, mengalahkan Yauw Ban dan Si Naga Mata Satu ini lalu takluk dan dengan senang hati menjadi pembantunya yang paling setia.

Bahkan Hek-sim Lo-mo berkenan memperdalam ilmu pembantunya ini sehingga Yauw Ban menjadi semakin setia karena menganggap Hek-sim Lo-mo selain atasannya, juga seperti gurunya sendiri.

Dan datuk sesat itupun pandai menyenangkan hati Tok-gan-liong Yauw Ban sehingga pada waktu itu, andaikata disuruh menyeberangi lautan api sekalipun kalau yang memerintahnya Hek-sim Lo-mo, tentu Yauw Ban akan mentaatinya!

Pembantu kedua yang juga amat lihai dan duduk di sebelah kiri Hek-sim Lo-mo adalah seorang wanita!

Ia juga seorang tokoh sesat yang amat terkenal di Propinsi He-nan dan Shan-tung, terutama sekali di sepanjang Sungai Kuning dan wanita ini terkenal ganas sekali.

Ia terkenal dengan julukannya, yaitu Kiu-bwe Mo-li (Iblis Betina Ekor Sembilan) sehingga nama aselinya tak pernah diketahui orang.

Iapun suka disebut Mo-li (Iblis Betina) saja!

Selain ganas, kejam dan sadis, wanita ini terkenal gila laki-laki, cabul dan setiap orang laki-laki yang disenanginya, diculik dan dipaksa untuk melayani gairah nafsu berahinya.

Yang menolak, dibunuh seketika.

Yang mau melayaninya, kalau memuaskan hatinya, ia beri hadiah yang royal sekali, akan tetapi kalau mengecewakan, juga dibunuhnya!

Tujuh tahun yang lalu, Kiu-bwe Mo-li berani menentang kekuasaan Hek-sim Lo-mo yang mengutus Tok-gan-liong Yauw Ban untuk menundukkannya.

Dalam adu kepandaian yang amat seru, Tok-gan-liong Yauw Ban menemui kesulitan untuk mengalahkan wanita itu, walaupun kehebatan ilmu pedangnya juga membuat Kiu-bwe Mo-li kewalahan untuk dapat mendesak lawannya.

Melihat betapa wanita itu lihai, dapat mengimbangi kepandaian pembantu utamanya, timbul perasaan sayang pada Hek-sim Lo-mo dan dia lalu maju menggantikan Yauw Ban.

Tanpa banyak kesulitan, akhirnya dia mampu menundukkan Kiu-bwe Mo-li yang kemudian takluk dan menjadi pembantunya yang nomor dua.

Wanita itu kini berusia empatpuluh dua tahun, akan tetapi karena terlampau menurutkan nafsu berahi yang diumbarnya tanpa batas, wajahnya nampak lebih tua dan keriputan.

Wajahnya yang dulu cantik itu masih meninggalkan bekas, namun kulitnya keriputan dan rambutnya banyak yang putih.

Kenyataan ini hendak disembunyikan dengan bedak tebal dan dandanan yang pesolek sekali, juga sikap yang amat genit!

Sesuai dengan nama julukannya, Kiu-bwe Mo-li (Iblis Betina Ekor Sembilan), wanita ini memiliki senjata yang istimewa, yaitu sebatang cambuk yang berekor sembilan.

Ia pandai sekali memainkan senjata cambuk ekor sembilan ini dan julukannya pun diambil dari senjata itu.

Orang ketiga yang menjadi pembantu utama Hek-sim Lo-mo adalah seorang pria yang usianya kurang lebih tigapuluh tahun.

Baru lima tahun dia menjadi pembantu Hek-sim Lo-mo.

Dia bertubuh sedang dan wajahnya tampan dan menarik, gerak-geriknya halus lembut dan sopan peramah, pakaiannya seperti pakaian seorang terpelajar.

Orang akan tidak percaya kalau mendengar bahwa dia adalah seorang yang memiliki hati yang amat kejam dan jahat, tidak percaya bahwa dia adalah seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang suka memperkosa wanita dan membunuhnya!

Namanya Lui Teng dan dia dijuluki Jai-hwa Kongcu (Tuan Muda Pemetik Bunga).

Sebenarnya, Jai-hwa Kongcu Lui Teng ini adalah seorang murid yang pandai dari perguruan Pek-tiauw-pang (Perkumpulan Rajawali Putih) yang berada di puncak Gunung Lu-san, sebuah perkumpulan para orang gagah.

Akan tetapi, Lui Teng diperhamba oleh nafsu berahinya sendiri sehingga dia melakukan perbuatan jahat, yaitu memaksa wanita yang membangkitkan gairah berahinya dengan cara memperkosa, bahkan sering kali dia membunuh wanita yang menolaknya atau melawannya ketika dia memperkosanya.

Karena perbuatan ini, dia menjadi seorang pelarian, melarikan diri dari Pek-tiauw-pang.

Bahkan setelah mendengar akan sepak terjang Lui Teng, para pimpinan Pek-tiauw-pang mengutuknya dan tidak lagi mengakuinya sebagai murid, walaupun hal ini dilakukan oleh para pimpinan dengan hati menyesal karena sesungguhnya Lui Teng adalah seorang murid yang mewarisi ilmu-ilmu perguruan itu dengan baik dan kepandaiannya yang tinggi dapat menjunjung tinggi nama perguruan Pek-tiauw-pang.

Lui Teng juga penasaran melihat munculnya Hek-sim Lo-mo sebagai datuk.

Diapun menantangnya dan biarpun dengan susah payah, dia dapat dikalahkan oleh Tok-gan-liong Yauw Ban.

Dia takluk dan diangkat menjadi pembantu ketiga oleh Hek-sim Lo-mo.

Pembantu keempat dan kelima adalah saudara kembar.

Mereka bernama Gan Siang dan Gan Siong, dan keduanya selalu maju bersama.

Oleh karena itu mereka mendapat julukan He-nan Siang-mo (Sepasang Iblis dari He-nan).

Mereka berusia sekitar empatpuluh tahun dan baru dua tahun mereka menjadi pembantu-pembantu yang dipercaya oleh Hek-sim Lo-mo.

Kedua orang kembar ini berwajah serupa benar sehingga sukarlah bagi orang lain untuk dapat membedakan antara mereka.

Wajah mereka bulat, dan bukan hanya bentuk wajah dan tubuh mereka yang serupa benar, akan tetapi bahkan pakaian merekapun sama, seolah-olah lipatan-lipatannya sama, bentuk rambut, kumis dan jenggot mereka tiada bedanya.

Juga keduanya suka tertawa, suka memandang rendah orang lain dan berhati kejam.

Mereka terkenal sekali bukan hanya karena kekejaman mereka, melainkan terutama sekali karena kelihaian mereka memainkan sebatang golok.

Kalau menghadapi bahaya atau lawan, jarang mereka maju satu demi satu, pasti mereka maju bersama, biar lawannya hanya seorang ataupun ada sepuluh orang.

Dan kalau kedua orang kembar ini sudah memainkan golok mereka, dengan ilmu golok Siang-mo Sin-to (Golok Sakti Sepasang Iblis), maka dua batang golok itu seolah-olah digerakkan oleh satu orang saja yang memiliki dua pasang tangan dan dua pasang kaki!

Kerja sama mereka mengagumkan dan mengherankan sekali, karena masing-masing seperti dapat mengetahui apa yang berada di dalam hati dan pikiran saudara kembarnya.

Inilah yang membuat mereka menjadi lihai dan berbahaya sekali.

Kalau mereka itu maju seorang demi seorang, mereka masih kalah oleh Jai-hwa Kongcu Lui Teng, akan tetapi kalau mereka maju bersama, biar Tok-gan-liong Yauw Ban sendiri akan repot melawan mereka.

Di samping lima orang ini, masih ada sepuluh orang lain yang diangkat menjadi pembantu-pembantunya, akan tetapi yang menjadi tangan kanan hanyalah lima orang itu.

Tentu saja tingkat kepandaian para pembantu lain juga tinggi dan mereka adalah tokoh-tokoh golongan hitam atau kaum sesat, namun masih kalah kalau dibandingkan dengan lima orang pembantu utama tadi.

"Nah, sekarang mulailah kalian membuat laporan dan hasil dari pekerjaan kalian selama sebulan ini. Harap cepat karena aku merasa lelah, ingin beristirahat. Kalianpun tentu ingin beristirahat dengan pasangan kalian yang sudah kalian pilih tadi, di kamar kalian masing-masing seperti yang sudah-sudah."

Mulailah para pembantu itu membuat laporan seorang demi seorang. Kebanyakan di antara mereka memberi pelaporan tentang hasil pemasukan uang "pajak"

Yang mereka tarik dari rumah-rumah judi, rumah-rumah pelacuran, dan bingkisan dari mereka yang merasa dan mengharapkan perlindungan, juga dari kepala-kepala perampok, bajak, copet, maling yang merasa berada di bawah kedaulatan datuk ini dan sekedar mengirim "bagi hasil".

Di antara mereka, yang paling banyak mengumpulkan uang hasil tarikan ini adalah He-nan Siang-mo sehingga Hek-sim Lo-mo merasa girang sekali dan memuji dua orang pembantunya ini.

Semua hasil berupa emas perak dan barang berharga itu segera diangkut oleh He-nan Siang-mo yang dipercaya oleh datuk itu untuk membuka gudang harta dan menyimpan semua harta baru itu ke dalam gudang.

Kini tiba giliran Kui-bwe Mo-li yang membuat laporan.

"Laporan yang saya bawa agak tidak menyenangkan, Beng-cu,"

Memang Hek-sim Lo-mo memerintahkan semua bawahannya untuk menyebut dia beng-cu (pemimpin rakyat), membandingkan dirinya dengan para pahlawan rakyat yang berjuang demi rakyat jelata!

"Seorang di antara bangsawan yang berada di bawah perlindungan kita, telah disiksa orang, bahkan dibuntungi kaki tangannya.

Dia adalah Pangeran Coan Siu Ong!

Bukan itu saja, juga orang yang membuntunginya itupun telah mengadakan pengacauan di Lok-yang, menghajar para jagoan dari rumah pelesir Bibi Ciok!"

Sepasang alis tebal Hek-sim Lo-mo berkerut.

"Hemm, mengganggu orang-orang yang kita lindungi sama artinya dengan mengganggu kita! Siapa orangnya demikian berani mati? Tentu dia bukan orang sini dan tidak tahu akan kekuasaan kita!"

"Sudah saya selidiki, Beng-cu. Ia adalah seorang gadis yang usianya sekitar duapuluh tiga tahun, cantik jelita dan ilmu kepandaiannya tinggi, selalu mengenakan pakaian serba hitam dan mengaku julukannya Hek-liong-li!"

"Dewi Naga Hitam? Hemmm, betapa sombongnya. Cari dan segera bunuh ia, jangan beri ampun!"

Bentak Hek-sim Lo-mo.

"Kuserahkan tugas ini kepadamu, Mo-li!"

"Harap Beng-cu jangan khawatir. Saya akan mencarinya, kalau perlu dibantu anak buah, dan kalau sudah dapat ditemukan, akan kupenggal kepalanya!"

Kata Kiu-bwe Mo-li sambil terkekeh genit. Yauw Ban, tangan kanan pertama itu melaporkan bahwa dia telah berhasil menemukan seorang ahli pembuat pedang yang amat pandai.

"Namanya Thio Wi Han, usianya sudah tujuhpuluh tahun. Akan tetapi dia tidak mau dibawa ke sini, Beng-cu."

"Ehh? Kalau tidak mau, seret saja!"

"Dia adalah seorang tua yang kukuh. Katanya, dia hanya mampu membuat pedang pusaka kalau di rumahnya sendiri, menggunakan alat-alatnya sendiri. Kalau disuruh membuat di luar rumahnya, di tempat lain, dia tidak sanggup dan biar dibunuh mati sekalipun, dia tidak sanggup mengerjakannya."

"Keparat, keras kepala! Akan tetapi sudahlah, yang penting adalah bahannya lebih dulu. Sudah mendapatkan seorang ahli pembuat pedang, sudah baik, dan membuat di sanapun tidak mengapa. Nah, Lui Teng, bagaimana dengan pelaksanaan tugasmu?"

"Sudah saya laksanakan, Beng-cu. Dia memang keras kepala. Segala siksaan sudah saya lakukan, akan tetapi dia tetap membungkam. Saya khawatir kalau dia akan mati oleh siksaan yang lebih berat, maka saya lalu mencari akal yang baik sekali. Saya melakukan penyelidikan dan mengetahui bahwa dia meninggalkan seorang anak gadis di dusunnya. Saya lalu menangkap gadis itu dan membawanya ke sini, sekarang telah saya masukkan kamar tahanan. Saya kira kalau dia melihat anaknya disiksa, dia akan membuka mulut!"

Wajah yang hitam menyeramkan dari Hek-sim Lo-mo berseri dan dia tertawa bergelak.

"Ha-ha, bagus, bagus sekali! Engkau memang cerdik, Lui Teng! Aku ingin cepat mendapatkan Liong-cu (mustika naga) itu. Bawa sasterawan kepala batu itu ke sini bersama anak gadisnya. Ha-ha, kita nonton pertunjukan sambil menanti keluarnya rahasia tempat penyimpanan Liong-cu itu!"

"Baik, Beng-cu,"

Kata Jai-hwa Kongcu Lui Teng dengan gembira.

Dia lalu meninggalkan ruangan itu dan tak lama kemudian dia datang kembali bersama seorang kakek yang jalannya terpincang-pincang, dipapah oleh seorang gadis berusia tujuhbelas tahun yang menuntun kakek itu sambil menangis.

Kakek itu berpakaian sasterawan, pakaiannya kotor dan dekil karena semenjak ditahan dan disiksa, dia tidak pernah berganti pakaian.

Usianya kurang lebih enampuluh tahun, tubuhnya tinggi kurus.

Dia adalah seorang sasterawan yang amat pandai dalam hal baca dan tulis, terkenal dengan sebutan Pouw Sianseng.

Dia ditangkap oleh Hek-sim Lo-mo karena datuk ini juga merupakan seorang di antara mereka yang mencari-cari Kim-san Liong-cu, mustika naga yang berada di kuburan tua seorang pangeran di jaman dahulu.

Ternyata kemudian bahwa mustika yang diperebutkan itu tidak ada di dalam makam setelah makam dibongkar, sudah ada orang lain yang mendahului para tokoh dunia persilatan yang memperebutkannya.

Hek-sim Lo-mo yang ingin sekali mendapatkan mustika itu, tidak patah semangat dan dia terus melakukan penyelidikan, dibantu oleh banyak anak buahnya.

Akhirnya dia menemukan rahasia kehilangan mustika itu.

Kiranya seorang sastrawan yang terkenal amat pandai dalam ilmu sastra kuno, terkenal dengan sebutan Pouw Sianseng, orang yang suka melakukan penyelidikan mengenai sejarah dari peninggalan dan tulisan-tulisan kuno, telah menemukan tulisan kuno rahasia.

Bagi orang lain yang tidak mengerti, bahkan bagi ahli-ahli sastra kebanyakan saja, benda itu tidak ada harga dan artinya.

Namun, Pouw Sianseng dapat menterjemahkannya dan diapun girang membaca bahwa tulisan kuno itu menunjukkan tempat penyimpanan mustika yang disebut Kim-san Liong-cu yang ternyata telah diambil orang jauh sebelum para tokoh persilatan memperebutkannya!

Pouw Sianseng lalu mencari tempat rahasia itu dan berhasil menemukan mustika itu!

Akan tetapi, rahasianya ini akhirnya bocor ketika isterinya yang masih muda, jatuh cinta kepada seorang laki-laki muda.

Isterinya itu membisikkan rahasia ini kepada kekasihnya.

Perbuatan mereka tertangkap basah dan Pouw Sianseng membunuh isterinya, tidak tahu bahwa rahasianya tentang mustika sudah diketahui oleh kekasih isterinya yang melarikan diri.

Semenjak isteri yang melakukan penyelewengan itu dibunuhnya, Pouw Sianseng hidup berdua dengan puterinya yang kini berusia tujuhbelas tahun, bernama Pouw Bi Hwa.

Ketika dia membunuh isterinya, Bi Hwa baru berusia lima tahun dan selama belasan tahun ini, Pouw Sianseng berhasil menyimpan rahasianya tentang mustika naga yang disimpannya di tempat rahasia.

Celakanya, kekasih mendiang isterinya itu tidak dapat menutup mulut dan dari mulut ke mulut, akhirnya berita itu sampai juga ke telinga Hek-sim Lo-mo.

Sudah beberapa kali Pouw Sianseng diserbu pencuri, perampok, bahkan pernah diancam oleh tokoh-tokoh sesat untuk menyerahkan mustika itu, namun Pouw Sianseng tetap menyangkal sehingga akhirnya para tokoh itu berkesimpulan bahwa berita tentang mustika naga yang berada dalam kekuasaan Pouw Sianseng itu hanya kabar bohong belaka.

Namun tidak demikian anggapan Hek-sim Lo-mo.

Dia lalu mengutus orang kepercayaannya yang ketiga, yaitu Jai-hwa Kongcu Lui Teng, untuk menyiksa dan mengorek keterangan dari Pouw Sianseng yang sudah diculiknya.

Hasilnyapun sia-sia, dan seperti yang sudah-sudah, Pouw Sianseng tetap menyangkal dan tidak mau membuka rahasia tentang Liong-cu (mustika naga) yang disembunyikannya itu.

Hek-sim Lo-mo sudah demikian yakin bahwa dia akan dapat menguasai mustika naga itu, maka diapun sudah menyuruh pembantu utamanya, Tok-gan-liong Yauw Ban, untuk mencari seorang ahli pembuat pedang yang berilmu tinggi dan akan membuatkan pedang dari mustika naga itu!

Ternyata kemudian dari laporan itu bahwa Pouw Sianseng benar-benar keras kepala sehingga Jai-hwa Kongcu Lui Teng mempergunakan akal lain, yaitu menculik puteri Pouw Sianseng.

Dan kini, Jai-hwa Kongcu Lui Teng membawa Pouw Sianseng dan anak gadisnya ke dalam ruangan itu.

Biarpun keadaan Pouw Sianseng sudah payah karena mengalami siksaan yang mengerikan, namun ketika dia masuk ruangan dipapah puterinya, dia menahan semua rasa nyeri dan menegakkan tubuh dan kepalanya, dengan sikap gagah dia hendak menentang semua pemaksaan para penculiknya.

Sementara itu, puterinya memandang sekeliling dengan wajah pucat.

Gadis berusia tujuhbelas tahun ini berwajah manis, tidak terlalu cantik, berpakaian sederhana namun sepasang matanya membayangkan kelembutan dan kecerdasan.

Tubuhnya montok sebagai seorang gadis yang mulai dewasa, seperti setangkai bunga yang mulai mekar.

Namun, gadis itu jelas kelihatan ketakutan dan gelisah sekali, juga berduka melihat keadaan ayahnya.

Ayahnya menghilang sejak beberapa hari lamanya dan selagi ia kebingungan, malam itu muncul laki-laki tampan dan halus berpakaian pelajar itu yang mengatakan bahwa dia tahu di mana adanya ayahnya yang bilang dan mengajak ia untuk pergi bersama mengunjungi ayahnya.

Karena khawatir akan keselamatan ayahnya, Pouw Bi Hwa terpaksa ikut dengan laki-laki yang bukan lain adalah Jai-hwa Kongcu Lui Teng itu!

Kalau saja ia tahu bahwa pria tampan itu adalah seorang tukang perkosa wanita yang amat keji!

Akan tetapi, pria itu sama sekali tidak mengganggunya.

Hal ini adalah karena gadis itu diajak pergi bukan untuk diperkosa, melainkan untuk keperluan lain lagi yang lebih penting, yaitu memaksa ayah gadis itu mengaku di mana adanya Liong-cu!

Pula, selera Lui Teng dalam urusan wanita memang agak tinggi dan hanya wanita cantik jelita pilihan saja yang dapat menggerakkan hati dan membangkitkan gairahnya.

Sedangkan Bi Hwa, biarpun tidak jelek, hanya memiliki kemanisan yang umum saja!

Melihat sikap Pouw Sianseng yang angkuh, Hek-sim Lo-mo mengerutkan alisnya.

Orang seperti ini memiliki kegagahan tersendiri, pikirnya, dan kalau dipaksanya, tentu dia lebih baik mati dari pada menyerahkan mustika itu.

Kemudian dia memandang gadis itu dan dia pun tersenyum.

Memang pembantunya yang nomor tiga itu cerdik sekali.

Orang yang mempertahankan kehormatan lebih dari pada nyawanya seperti Pouw Sianseng itu, harus dilawan dengan ancaman terhadap kehormatannya pula.

Dan kehormatan apakah yang lebih tinggi bagi seorang ayah dari pada kehormatan diri anak gadisnya?

Tentu tidak lebih rendah dari pada kehormatan mempertahankan milik dan haknya, seperti mustika naga itu!

Jai-hwa Kongcu mendorong ayah dan anak itu ke depan Hek-sim Lo-mo.

Ayah dan anak itu jatuh tersungkur di atas lantai dan mereka berlutut di depan Hek-sim Lo-mo.

Akan tetapi, Pouw Sianseng sudah mengangkat mukanya lagi dan menegakkan kepala, memandang kepada Hek-sim Lo-mo dengan penuh ketabahan.

Hek-sim Lo.mo menyeringai.

"Pouw Sianseng, keberanianmu mengagumkan hatiku. Biarlah aku tidak akan membunuhmu dan aku menukar nyawamu dengan Liong-cu itu!"

Baru satu kali Pouw Sianseng dibawa menghadap Hek-sim Lo-mo, sebelum dia disiksa dan diapun tahu bahwa raksasa muka hitam inilah yang menjadi kepala di tempat itu, bahkan yang menyuruh orang menangkap dan menyiksa untuk merampas Liong-cu.

Kini, ucapan Hek-sim Lo-mo disambutnya dengan senyum mengejek.

"Hek-sim Lo-mo, tidak perlu banyak cakap lagi dan tidak perlu lagi membujuk atau mengancam aku. Aku tidak takut mati dan biar kaubunuh sekalipun aku tidak akan bicara tentang Liong-cu!"

"Aku akan menukar puterimu dengan Liong-cu!"

Tiba-tiba Hek-sim Lo-mo berkata. Sepasang mata kakek sastrawan itu terbelalak sejenak, lalu diapun tersenyum.

"Anakkupun tidak takut mati. Engkau tidak perlu mengancam. Biar kaubunuh kami berdua, Liong-cu tidak akan kuserahkan kepadamu!"

"Orang she Pouw, jangan sombong engkau! Ada yang lebih menyiksa dari pada sekedar kematian. Panggil Hek-wan (Lutung Hitam) ke sini!"

Perintahnya kepada Jai-hwa Kongcu Lui Teng.

Pria tampan ini tersenyum-senyum lalu keluar dari ruangan itu.

Tak lama kemudian dia muncul kembali dengan seorang laki-laki berusia kurang lebih empatpuluh tahun yang wajah serta tubuhnya amat menyeramkan.

Dialah Tiat-pi Hek-wan (Lutung Hitam Lengan Besi) yang terkenal sebagai tukang siksa yang kejam dan sadis.

Mukanya mirip seekor monyet, kulit tubuhnya hitam, dan kedua lengannya berbulu seperti lengan lutung besar, tubuh atasnya tidak memakai pakaian sehingga nampak dada yang lebar, membusung, hitam dan penuh otot-otot besar, juga ditumbuhi bulu tebal.

Begitu memasuki ruangan, Tiat-pi Hek-wan ini memandang ke sekeliling sambil tersenyum dan kelihatan bangga bahwa dia dipanggil oleh Hek-sim Lo-mo, berarti dia dibutuhkan.

Setelah berada di depan datuk itu, dia memberi hormat dengan membungkukkan tubuhnya.

"Hek-wan, aku akan memberi pekerjaan kepadamu, sekali ini pekerjaan yang amat menyenangkan!"

Kata Hek-sim Lo-mo. Si Lutung Hitam itu tertawa bergelak dan dia membuka mulut selebarnya sehingga nampak gigi yang besar-besar tidak rata dan kekuning-kuningan menjijikkan.

"Ha-ha-ha, saya selalu siap sedia, Beng-cu. Menyiksa dan membunuh orang adalah pekerjaanku, kesenanganku. Siapa lagi yang harus saya patah-patahkan kaki tangannya, saya cabut lidah atau matanya, atau saya puntir batang lehernya?"

Pouw Sianseng memandang kepada raksasa berbulu itu dengan pandang mata acuh, akan tetapi puterinya terbelalak dengan muka pucat dan jelas nampak bahwa ia merasa ngeri dan ketakutan.

"Sekali ini tidak yang seperti itu, Hek-wan. Aku ingin memberi hadiah kepadamu. Lihat, gadis ini kuberikan kepadamu, akan tetapi engkau harus memperkosanya di sini, kami dan ayah gadis ini ingin sekali melihat bagaimana engkau akan melakukannya,"

Kata Hek-sim Lo-mo dan para pembantunya tertawa dengan hati penuh ketegangan yang menggembirakan karena mereka akan disuguhi pertunjukan yang mereka anggap amat menyenangkan dan menarik hati.

Mendengar ini, Tiat-pi Hek-wan menyeringai dan mengangguk-angguk, lalu dia menoleh kepada Bi Hwa yang sudah merangkul ayahnya sambil menangis.

Pouw Sianseng kini juga terbelalak dan mukanya pucat, kedua lengannya merangkul puterinya seperti hendak melindunginya dari bahaya yang mengerikan.

"Heh-heh, manis, engkau mendengar perintah Beng-cu tadi? Ke sinilah manis, dan engkau akan mengalami sesuatu yang selama hidupmu takkan pernah dapat kaulupakan! Marilah......"

Dia melangkah maju.

Bi Hwa menggeleng kepala keras-keras, menutupi mulut untuk menahan jeritnya saking merasa ngeri dan takut, merangkul ayahnya semakin kuat.

Akan tetapi, sekali tangan kirinya menyambar, Tiat-pi Hek-wan sudah menangkap lengan kanan gadis itu dan menariknya.

Ketika gadis itu menahan, dan ayahnya mempertahankan puterinya dengan kedua tangan merangkul kuat-kuat.

Akan tetapi, Tiat-pi Hek-wan menendang dan tubuh kakek itupun terjengkang, dan pegangan antara ayah dan anak itupun terlepas.

Bi Hwa menjerit ketika tubuhnya ditarik dan dipondong oleh raksasa itu.

Ia meronta dan mencakar, menjerit-jerit dan menangis.

Tiat-pi Hek-wan adalah seorang manusia yang wataknya sudah seperti binatang buas.

Menyiksa orang merupakan kesenangan baginya, maka untuk menyenangkan majikannya, diapun hendak memamerkan pertunjukan yang semenarik mungkin.

Tanpa memperdulikan cakaran dan pukulan kedua tangan Bi Hwa, seolah-olah cakaran dan pukulan itu bahkan merupakan belaian dan elusan baginya, dia menciumi muka gadis itu, pipinya, hidungnya, bibirnya barulah dia melepaskan Bi Hwa.

Sengaja dilepaskan begitu saja.

Bi Hwa yang sudah ketakutan setengah mati itu, dengan rambut riap-riapan karena terlepas dari sanggulnya ketika meronta-ronta tadi, ketika merasa betapa dirinya terlepas, segera bergegas hendak melarikan diri menuju ke pintu ruangan itu.

Satu-satunya keinginan hatinya adalah keluar dari tempat jahanam itu, seperti seekor burung yang ingin sekali terbebas dari sebuah sangkar yang amat menakutkan.

Dan sambil tertawa-tawa Tiat-pi Hek-wan membiarkan gadis itu lari!

Setelah Bi Hwa lari sampai dekat pintu, barulah dia berloncatan mengejar dan menangkap rambut gadis yang berkibar itu.

Bi Hwa terkejut sekali.

"Ihhhhh......! Lepaskan...... lepaskaaaaan......"

Ia menjerit akan tetapi tubuhnya sudah terseret di atas lantai, dibawa kembali oleh raksasa itu ke tempat tadi, di depan Hek-sim Lo-mo dan para pembantunya yang menonton sambil tersenyum-senyum.

Mereka tahu bahwa Tiat-pi Hek-wan sengaja mempermainkan gadis itu, seperti seekor kucing mempermainkan seekor tikus sebelum menerkam dan mengganyangnya.

Kembali Tiat-pi Hek-wan merangkul dan menciumi gadis itu, meraba-raba dengan cara yang kurang ajar dan kasar sekali.

Kembali Bi Hwa meronta-ronta, mencakar dan memukul untuk melepaskan diri.

Dan seperti tadi, Hek-wan pura-pura kewalahan dan pegangannya terlepas.

Bi Hwa cepat melarikan diri, tidak tahu bahwa Hek-wan sudah mengcengkeram bajunya bagian belakang.

Ketika ia berlari, manusia berwatak binatang itupun merenggut.

"Breeeeetttt......!"

Baju itupun koyak di bagian belakangnya. Sambil menyeringai Hek-wan sudah mengulur tangan, siap untuk merenggut sisa pakaian Bi Hwa. Pada saat itu, terdengar teriakan Pouw Sianseng.

"Tahan......!!"

Inilah yang ditunggu-tunggu oleh Hek-sim Lo-mo.

Sejak tadi, semenjak Hek-wan mempermainkan Bi Hwa.

Kalau semua pembantunya menonton pertunjukan menarik itu, dia sendiri tak pernah melepaskan pandang matanya dari Pouw Sianseng.

Dengan hati gembira dia melihat betapa kakek itu tersiksa batinnya.

Hal ini mudah dilihat dari keadaan muka dan pandang matanya dan pada saat baju puterinya direnggut terlepas, Pouw Sianseng tidak kuat menahan lagi dan dia berteriak untuk minta siksaan itu dihentikan.

"Hek-wan, minggirlah dan aku senang sekali dengan pekerjaanmu. Duduklah di sana bersama rekan-rekanmu."

Hek-wan menyeringai, sama sekali tidak memperlihatkan muka kecewa seperti yang nampak pada wajah para pembantu yang gagal menyaksikan pertunjukan menarik.

Hek-wan yang buas itu memang setia kepada Hek-sim Lo-mo yang sudah menundukkannya.

"Bagaimana, Pouw Sianseng? Mengapa engkau minta agar pertunjukan yang menarik ini dihentikan?"

Tanya Hek-sim Lo-mo, membiarkan ayah dan anak itu kembali saling rangkul.

Pouw Sianseng melepas jubahnya yang kusut dan dekil, dia menyelimuti tubuh puterinya dengan jubah itu, kemudian dia memandang kepada Hek-sim Lo-mo.

"Hek-sim Lo-mo, aku mengaku kalah. Kehormatan puteriku lebih berharga dari apapun juga di dunia ini. Engkau menang dan aku mau menukar Liong-cu dengan kebebasan anakku. Kalau aku menyerahkan Liong-cu, maukah engkau melepaskan puteriku ini?"

"Heh-heh, tentu saja, Pouw Sianseng. Berikan Liong-cu, dan aku akan melepaskan puterimu."

"Lo-mo, aku tidak dapat percaya kepada orang sepertimu. Bersumpahlah dulu sebagai seorang datuk, baru aku mau percaya!"

Kalau saja dia tidak sangat menginginkan Liong-cu, tentu ucapan Pouw Sianseng itu sudah merupakan alasan yang cukup untuk dia turun tangan membunuh kakek itu.

Wajahnya yang hitam menjadi lebih hitam lagi dan matanya mencorong, akan tetapi dia menahan kemarahannya, dia menyeringai.

"Ha-ha, baiklah. Aku, Hek-sim Lo-mo, datuk dari segala datuk yang merajai seluruh wilayah He-nan dan Shan-tung, bersumpah bahwa kalau Pouw Sianseng menyerahkan Liong-cu kepadaku, maka aku akan melepaskan puterinya. Kalau aku melanggar sumpahku, biarlah Bumi dan Langit yang akan menghukumku!"

Pouw Sianseng merasa lega mendengar sumpah itu dan diapun berkata kepada puterinya.

"Bi Hwa, anakku, hentikan tangismu dan dengarlah baik-baik pesanku. Kalau nanti aku sudah menyerahkan Liong-cu kepada Hek-sim Lo-mo, dan aku tidak dapat menemanimu, engkau keluarlah dari sini, tinggalkan tempat ini dan pulanglah. Lalu kaucari pamanmu di dusun Teng-cun dan ikutlah keluarganya. Mengertikah engkau?"

Sambil bercucuran air mata, Bi Hwa mengangguk, Pouw Sianseng lalu melepaskan puterinya yang bangkit berdiri sambil menyelimuti tubuh atas dengan jubah ayahnya, dan Pouw Sianseng bangkit berdiri menghadapi Hek-sim Lo-mo.

Semua mata kini ditujukan kepadanya, memandang dengan penuh perhatian karena mereka semua ingin mendengar pengakuan kakek itu, di mana dia menyembunyikan Liong-cu yang diperebutkan oleh hampir seluruh tokoh dunia kang-ouw itu sejak ratusan tahun yang lalu dan kemudian lenyap tanpa bekas.

"Hek-sim Lo-mo, mustika naga ini adalah milikku dan hakku, yang kudapatkan secara kebetulan melalui tulisan dan peta rahasia yang kuno dan yang hanya dapat kubaca. Sejak dahulu sudah diperebutkan orang, dan aku sudah mengambil keputusan untuk kubawa mati bersama. Akan tetapi engkau yang curang dan licik telah mempergunakan puteriku untuk memaksaku. Apa boleh buat, agaknya memang sudah ditentukan oleh Thian bahwa Liong-cu akan jatuh ke tangan seorang datuk sesat sepertimu. Kalau aku tidak membuat pengakuan, sampai dunia kiamat engkau tidak akan mampu menemukan Liong-cu. Aku telah minta tolong kepada sahabatku, mendiang Yok-sian (Dewa Obat) untuk menyimpan Liong-cu di sini, melalui pembedahan!"

Kakek itu lalu menanggalkan bajunya dan menunjuk ke perutnya. Karena dia kurus, perutnya kecil, akan tetapi di bagian kanan perutnya ada tonjolan aneh, seperti bengkak.

"Liong-cu itu kausimpan di dalam perut?"

Tanya Hek-sim Lo-mo, hampir tak percaya.

Pouw Sianseng mengangguk.

Mendiang Yok-sian amat pandai, dia dapat menyimpan mustika ini ke dalam perutku, membedah kulit perut lalu menjahitnya kembali.

Dan karena Liong-cu merupakan mustika yang ampuh, maka sama sekali tidak mengganggu kesehatan badanku."

"Dan untuk mengambilnya......"

"Harus memanggil seorang ahli bedah untuk mengeluarkannya dari perutku."

"Ah, akupun bisa mengambilnya!"

Tiba-tiba tangan Hek-sim Lo-mo meluncur dan sekali totok saja tubuh kakek itu roboh terlentang dalam keadaan lumpuh.

"Ayah......?"

Bi Hwa menjerit.

"Jangan mendekat, Bi Hwa,"

Kata kakek itu dengan lemah. Dia tidak mampu menggerakkan kaki tangan, akan tetapi masih dapat bicara.

"Sudah kuduga ini...... kalau aku mati...... kau pulanglah sendiri dan hati-hatilah......"

Hek-sim Lo-mo lalu menggunakan kuku jari tangannya menggores ke arah tonjolan pada perut kakek itu dan kulit perut itupun tergores robek!

Di saat lain, dia sudah mengeluarkan sebuah benda bulat sebesar kepalan tangannya yang berlumuran darah, dan diapun membebaskan totokannya.

"Ayah......!"

Bi Hwa menubruk ayahnya dan membantu ayahnya membalut luka pada perut itu dengan robekan kain dari bawah bajunya sendiri setelah Yauw Ban, atas perintah Hek-sim Lo-mo, memberi obat bubuk pada luka di perut dan menutupnya dengan koyok.

Semua orang tidak, memperhatikan ayah dan anak itu karena semua memperhatikan sebuah benda bulat yang sudah dibersihkan dari darah, yang berada di tangan Hek-sim Lo-mo.

Benda itu berwarna putih kebiruan, seperti batu, dan sukar dipercaya bahwa benda itu adalah benda pusaka yang disebut Liong-cu (mustika naga) yang kabarnya terdapat pada rongga dalam kepala seekor naga!

"Mustika ini harus diuji dulu keasliannya!

Mo-li, keluarkan senjata rahasiamu yang paling ampuh, hendak kucoba khasiat mustika ini melawan racun yang bagaimana kuatpun!"

Kiu-bwe Mo-li mengeluarkan sebuah paku yang kehitaman.

Itulah senjata rahasia paku yang luar biasa ampuhnya, karena telah direndam racun yang amat jahat sehingga sekali mengenai tubuh lawan, tentu akan membuat lawan tewas dengan tubuh bengkak menghitam!

"Cobakan kepadanya!"

Kata Hek-sim Lo-mo.

"Hitung-hitung untuk menghukumnya kalau dia membohong!"

Dia menuding ke arah Pouw Sianseng yang sudah bangkit duduk, masih kesakitan karena kulit perutnya dibedah secara paksa oleh datuk itu tadi.

Kiu-bwe Mo-li juga termasuk seorang yang amat keji dan sadis.

Mendapat perintah ini, ia menyeringai dan secepat kilat, tangan kirinya yang memegang paku itu bergerak dan nampak sinar hitam kecil menyambar ke arah Pouw Sianseng.

"Cappp! Aduhhh......!"

Pouw Sianseng memekik dan mendekap pundak kirinya yang terkena paku, lalu tubuhnya berkelojotan karena merasa nyeri dan panas bukan main.

"Bagus, racunnya telah bekerja!"

Kata Hek-sim Lo-mo.

"Cabut kembali paku itu, biar kucobakan Liong-cu ini!"

Kiu-bwe Mo-li menghampiri Pouw Sianseng yang berkelojotan, mendorong tubuh Bi Hwa yang menangisi ayahnya ke samping lalu mencabut paku itu.

Begitu dicabut, rasa nyeri semakin menggigit dan menusuk sehingga kakek itu merintih-rintih.

Hek-sim Lo-mo cepat memeriksa luka itu.

Hitam membengkak dan sebentar lagi racunnya akan terbawa aliran darah ke seluruh tubuh dan akan matilah orang itu.

Cepat dia lalu menempelkan mustika naga itu ke atas pundak yang terluka dan terjadilah keanehan.

Warna hitam pada luka itu dalam waktu singkat saja lenyap dan pada permukaan benda itu nampak cairan hitam!

Ternyata dengan mudahnya, benda itu telah menyerap dan menghisap semua racun yang berada di dalam luka itu sebelum menjalar ke seluruh tubuh!

Bukan main!

Belum pernah Hek-sim Lo-mo menyaksikan keampuhan benda seperti yang terdapat pada Liong-cu itu.

Dan kini Pouw Sianseng tidak mengeluh lagi karena sama sekali tidak lagi merasa nyeri.

Pundaknya yang tadi terkena paku kini hanya tinggal luka kecil kemerahan yang tidak ada artinya lagi, sudah bersih sama sekali dari racun, bahkan seperti sudah sembuh!

"Hemm, sudah percayakah kau sekarang, Lo-mo?

Aku bukan orang yang suka menipu atau berbohong!"

Kata Pouw Sianseng mendongkol. Hek-sim Lo-mo girang luar biasa dan seperti anak kecil memperoleh mainan baru, dia mendekap Liong-cu itu ke dadanya.

"Liong-cu......! Aku telah mendapatkan Liong-cu...... ha-ha-ha! Ini semua berkat jasamu, Tiat-pi Hek-wan. Sebagai hadiah jasamu, kuberikan gadis ini kepadamu, boleh kauperbuat sesuka hatimu!"

"Ha-ha-ha, terima kasih. Bengcu!"

Tiat-pi Hek-wan sekali sambar sudah merenggut tubuh Bi Hwa dari ayahnya dan memondong gadis itu, lalu dibawa keluar, tanpa memperdulikan gadis itu menjerit-jerit, mencakar dan menggigit, diikuti senyum dan pandang mata rekan-rekannya.

Melihat ini Pouw Sianseng terkejut sekali dan diapun memaksa diri bangkit dan berteriak kepada Hek-sim Lo-mo.

"Lo-mo, apa artinya ini? Engkau melanggar sumpahmu? Engkau telah bersumpah akan melepaskan puteriku setelah......"

"Akupun melepaskannya. Siapa melanggar sumpah? Aku tadi bersumpah bahwa kalau kau menyerahkan Liong-cu aku akan melepaskan puterimu, bukan? Nah, ia sudah kulepaskan, tidak kutahan, tidak kuganggu! Aku melepaskannya kepada Tiat-pi Hek-wan, dan kalau dia yang mengganggunya, itu urusan dia, bukan urusanku. Aku tidak mengganggu puterimu, sudah kulepaskan! Heh-heh!" (Lanjut ke

Jilid 06) Sepasang Naga Penakluk Iblis (Seri ke 01-Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo

Jilid 06

"Terkutuk kau, Hek-sim Lo-mo!"

Pouw Sianseng marah sekali dan dengan nekat dia menubruk ke depan, hendak mencekik datuk itu. Akan tetapi, Hek-sim Lo-mo menggerakkan kakinya menyambut.

"Dukkk!"

Ujung kaki datuk itu mengenai ulu hati Pouw Sianseng dan tubuh tinggi kurus itupun terjengkang, terbanting dan tewas seketika, mulutnya mengeluarkan darah, matanya terbelalak.

Dia mati dalam penasaran!

Agaknya Hek-sim Lo-mo masih ingin membela diri dengan sikapnya itu kepada para pembantunya.

"Orang ini memang harus dibunuh, kalau tidak, tentu dia akan membocorkan rahasia ini, akan memberitahu bahwa Liong-cu sudah berada padaku dan kalau demikian, celaka! Tentu semua orang dari dunia persilatan akan mencoba merampasnya dan kita menghadapi lawan yang banyak sekali dan lihai pula. Beritahu kepada Hek-wan, kalau dia sudah selesai dengan gadis itu, agar dibunuhnya pula. Buang mayat mereka ke dalam jurang agar tidak ada yang dapat mengikuti jejak mereka!"

Hek-sim Lo-mo membubarkan persidangan dan dia membawa Liong-cu yang selalu didekapnya itu ke kamarnya setelah memesan kepada Yauw Ban bahwa besok pagi dia bersama Yauw Ban akan berkunjung kepada ahli pembuat pedang itu.

Para pembantu kini menyambar gadis panggilan yang menjadi pilihan hati mereka tadi dan membawanya ke kamar masing-masing.

Kalau dari kamar-kamar para pembantu ini terdengar suara cekikikan dan senda gurau, di sebuah kamar di belakang terdengar ratap tangis yang memilukan.

Ratap tangis Bi Hwa yang dipermainkan oleh Tiat-pi Hek-wan yang sadis.

Dan menjelang tengah malam, ketika ratap tangis itu akhirnya tidak terdengar lagi, gadis itupun telah tak bernyawa lagi dan mayatnya menyusul mayat ayahnya, dilempar ke dalam jurang yang amat curam, di mana kedua mayat itu akan hancur membusuk tanpa ada yang mengetahuinya!

Manusia adalah mahluk tertinggi derajatnya di antara semua mahluk yang hidup di dunia ini, satu-satunya mahluk yang berakal budi, yang dikaruniai otak dan ingatan sehingga dapat berpikir, mempunyai pengertian dan dapat membedakan antara baik dan buruk.

Akan tetapi, sekali manusia menjadi hamba nafsu, bukan sebaliknya menguasai nafsu, maka dia menjadi mahluk yang sebuas-buasnya dan sekejam-kejamnya.

Binatang yang kita sebut bagaimana buaspun, selalu mendasarkan semua perbuatannya pada kebutuhan hidup.

Binatang harimau menerkam kelinci dan dimakannya, nampaknya memang buas dan kejam, akan tetapi sesungguhnya perbuatannya itu sama sekali tidak mengandung kejahatan, melainkan karena kebutuhan hidupnya, tuntutan perutnya.

Binatang melakukan hubungan kelamin karena kebutuhan perkembangbiakan, tuntutan naluri seksuilnya.

Akan tetapi manusia yang menjadi hamba nafsunya sendiri, dia makan demi memuaskan nafsu aluamahnya, ingin mencari kesenangan melalui makan, seolah-olah makan itu bukan suatu kebutuhan hidup melainkan kebutuhan kenikmatan yang membuatnya menjadi loba, tamak dan mau melakukan kejahatan apapun demi tercapainya pengejaran kesenangan melalui makan dan apa saja.

Juga seorang yang diperhamba nafsunya sendiri akan mengejar kesenangan melalui seks, dan dia dapat melakukan kejahatan dan kekejaman yang luar biasa demi pemuasan nafsunya itu.

?Y?

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Hek-sim Lo-mo sudah mengajak pembantu utamanya nomor satu, yaitu Tok-gan-liong Yauw Ban untuk pergi berkunjung ke rumah kakek Thio Wi Han, ahli pembuat pedang yang tinggal di dusun Gi-ho-cung di kaki Pegunungan Fu-niu-san.

Orang akan merasa heran kalau melihat keadaan rumah tinggal Thio Wi Han ini.

Dia seorang ahli pembuat pedang yang kenamaan, bukan hanya pedang biasa seperti yang dapat dibeli di pasar, melainkan pedang buatannya selalu merupakan senjata pilihan, bahkan banyak sudah pedang-pedang pusaka dari bahan-bahan yang aneh-aneh dan langka dibuat oleh kedua tangannya yang ahli.

Orang dengan keahlian seperti dia ini sesungguhnya akan mudah saja menjadi kaya raya.

Bahkan pernah dia ditawari kedudukan di kota raja oleh istana, namun dia menolaknya!

Dan dia tidak menghargai keahliannya dengan harta benda.

Dia seorang seniman sejati yang melakukan pekerjaan membuat pedang itu sebagai sesuatu yang suci, sesuatu yang membahagiakan hatinya, tiada bedanya dengan para seniman lain, seniman sejati yang menganggap pckerjaan seninya itu sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupannya, merupakan sumber kebahagiaannya.

Dia hanya berdua dengan isterinya yang berusia empatpuluh tahun lebih, jauh lebih muda dari Thio Wi Han yang sudah berusia tujuhpuluh tahun.

Di dalam sebuah rumah kecil sederhana sekali, Thio Wi Han tinggal berdua saja tanpa pembantu dengan isterinya.

Rumah itu hanya mempunyai tiga ruangan, ruangan depan yang menjadi ruang tamu, lalu kamar tempat tidur mereka, dan di belakang adalah dapur yang besar, tempat isterinya masak dan tempat dia bekerja membuat pedang dan senjata lainnya, merupakan bengkel tempat dia bekerja.

Thio Wi Han tidak pernah membuat pedang atau pisau yang biasa di jual di pasar.

Setelah tua ini, dia hanya bekerja kalau ada pesanan, dan pesanan itu haruslah pesanan pembuatan senjata yang istimewa.

Pemesannya harus menyediakan bahan yang baik, baja pilihan, dan harus memperlihatkan kemampuan memainkan senjata yang dipesan itu dengan lebih dulu mendemonstrasikannya di depan Thio Wi Han!

Kalau tidak begini, dia tidak akan mau membuatkannya!

Dan biarpun dia sendiri belum pernah memperlihatkan kepandaiannya, namun semua orang kang-ouw menduga bahwa kakek ahli pembuat pedang ini tentu memiliki ilmu kepandaian silat tinggi.

Hal terbukti karena dia dapat mengetahui apakah benar pemesannya patut memegang senjata yang dipesannya, sesuai dengan kepandaiannya.

Gi-ho-cung boleh jadi hanya sebuah dusun yang kecil sekali di kaki Fu-niu-san, sebuah dusun yang tidak ada artinya dengan penduduk hanya beberapa puluh rumah yang kesemuanya adalah petani-petani sederhana.

Namun bagi dunia kang-ouw, dusun ini amat terkenal dan nama Thio Wi Han dikenal oleh semua tokoh kang-ouw, bahkan dia dihormati dan disuka oleh semua golongan karena Thio Wi Han tidak pernah membeda-bedakan golongan.

Bagi dia, tidak perduli orang dari golongan apa, yang datang kepadanya akan dilayani asal memenuhi syaratnya, yaitu pertama, harus membawa bahan yang benar-benar pilihan, dan kedua, harus mampu memperlihatkan kepandaian yang sesuai untuk mempergunakan senjata ampuh buatannya!

Tanpa adanya dua syarat ini, biar diancam dan dibujuk bagaimanapun, dijanjikan upah besar berapapun, atau diancam akan dibunuh sekalipun, jangan harap dapat memaksanya bekerja!

Soal biaya pembuatan pedang, dia tidak pernah membicarakan dan hal itu terserah kepada pemesan, bahkan tidak diberi sekalipun dia tidak akan menagih!

Memang Thio Wi Han seorang seniman yang aneh.

Akan tetapi, sungguh di luar dugaan semua orang karena dia tidak pernah memperlihatkannya, dia hidup berbahagia di samping isterinya karena ada pertalian kasih sayang besar antara mereka!

Agaknya inilah yang menjadi rahasia besar kehidupan Thio Wi Han.

Cinta kasih yang amat mendalam yang didapatkannya dari isterinya membuat dia tidak membutuhkan apa-apa lagi!

Dalam kehidupan sederhana sekalipun dia merasa berbahagia di samping isterinya!

Betapa menyedihkan kalau dilihat kenyataan bahwa jarang ada pasangan suami isteri seperti Thio Wi Han ini.

Dia dan isterinya tidak mempunyai anak, selisih usia mereka hampir tigapuluh tahun, keadaan hidup merekapun sederhana, hidup di dusun pegunungan yang sunyi, namun mereka dapat hidup berbahagia karena ada ikatan tali kasih sayang besar di antara mereka.

Bukan ikatan nafsu.

Ikatan nafsu akan luntur dan tak meninggalkan bekas kalau nafsu itu sendiri sudah melemah.

Dalam usia yang semakin tua, tentu saja nafsu tidak lagi memegang peran besar dan kalau cinta yang ada antara suami isteri hanya cinta nafsu, maka cinta itu akan hambar dan bahkan lenyap kalau mereka sudah menjadi tua.

Betapa banyak dapat dilihat keadaan hubungan suami isteri seperti ini.

Kehilangan kemesraan, kalaupun ada kemesraan itu dibuat-buat, bukan timbul dari hati yang mencinta dan menyayang.

Bahkan tidak jarang timbul pertikaian, kejemuan yang membuat kedua suami isteri seringkali bertengkar dan saling merasa betapa kehadiran kawan hidup hanya merupakan gangguan yang menjengkelkan!

Ini adalah karena ketidakadanya kasih sayang yang mendalam.

Kalau ada kasih sayang antara manusia, cahaya cinta kasih dalam dada, maka tentu perasaan kasih sayang itu pertama-pertama terasa kepada orang lain yang paling dekat dengan dirinya, suami atau isteri, anak-anak dan keluarga.

Dan mengapakah tidak ada kasih sayang ini?

Mengapa tidak ada cinta kasih di dalam hati?

Cinta kasih bukanlah perasaan dari seseorang kepada orang lain tertentu!

Itu adalah cinta nafsu, tertarik oleh sesuatu yang dianggap indah dan menyenangkan!

Cinta kasih tidak mengenal subyek, cinta kasih adalah sinar Tuhan yang menerangi batin.

Cinta kasih ini tidak nampak selama diri dikuasai oleh si-aku!

Begitu si-aku ini merajalela dalam batin, maka kasih sayang pun, cinta kasih yang murni itupun tidak ada, yang ada hanyalah cinta nafsu karena cinta nafsu ini menyenangkan diri pribadi.

Mari kita periksa diri sendiri, menjenguk isi hati dan pikiran, dan kita akan melihat kenyataan itu.

Tidak ada gunanya mencari cinta kasih yang tidak nampak di dalam batin.

Cinta kasih tidak pernah lenyap, selalu ada.

Yang penting melihat ke akuan diri yang demikian besar dan berkuasa.

Begitu si aku berhenti berkuasa, maka cinta kasih akan nampak bersinar terang!

Tuhan tidak pernah pergi meninggalkan kita.

Sesungguhnya kitalah yang pergi menjauhkan diri dan meninggalkannya!

Pementingan diri karena si aku yang merajalela dalam batin, membuat mata batin kita buta dan tidak melihat Tuhan.

Lenyapnya si-aku akan membuka mata kita dan menyadarkan bahwa Tuhan selalu ada pada diri kita, sedetikpun tak pernah meninggalkan kita!

Ketika Hek-sim Lo-mo dan Tok-gan-liong Yauw Ban tiba di depan pondok sederhana tempat tinggal Thio Wi Han, mereka melihat bahwa di pekarangan itu terdapat tigabelas orang yang melihat pakaian, keadaan diri dan sikap mereka, sudah diketahui bahwa mereka itu adalah orang-orang kang-ouw yang kasar dan biasa mempergunakan kekerasan.

Sambil berbisik Tok-gan-liong Yauw Ban memberitahu kepada Hek-sim Lo-mo yang tidak mengenal mereka, bahwa tigabelas orang itu adalah Wei-ho Cap-sha-kwi (Tigabelas Setan dari Sungai Wei) yang berkedudukan di sekitar kota Sian di Propinsi Shensi.

Sungai Wei adalah sebatang sungai yang menjadi anak sungai dari Sungai Kuning, dan nama Tigabelas Setan ini terkenal sekali di seluruh wilayah itu, bahkan di seluruh Propinsi Shensi.

Mereka adalah tokoh-tokoh sesat yang mengepalai seluruh kaum bajak sungai dan perampok.

Dan mereka belum menyatakan takluk kepada kekuasaan Hek-sim Lo-mo, maka kini datuk ini bersama pembantu utamanya memandang ke arah mereka dengan alis berkerut.

Tigabelas orang itu ditemui oleh tuan rumah di pekarangan depan karena ruangan tamunya tidak cukup lebar untuk menerima tigabelas orang tamu itu, atau setidaknya, Thio Wi Han merasa enggan menerima tigabelas orang yang kasar itu di dalam ruangan itu.

Kakek Thio Wi Han itu nampak tenang sekali menghadapi mereka.

Seorang kakek berusia tujuhpuluh tahun, rambutnya sudah putih semua, akan tetapi mukanya bersih tidak memelihara kumis atau jenggot.

Sinar matanya lembut namun kadang mencorong penuh wibawa dan mulutnya terhias senyuman penuh kesabaran ketika dia berhadapan dengan tigabelas orang jagoan itu.

"Sudah kukatakan, aku hanya mau membuatkan pedang dengan dua syarat utama, yaitu pertama pemesan harus membawa bahan yang pilihan, dan kedua pemesan harus dapat membuktikan bahwa dia pantas memiliki senjata yang baik buatanku. Kalian hanya datang membawa bahan yang baik untuk sebuah golok saja, dan tidak mungkin aku membuatkan tigabelas batang golok dari bahan yang hanya untuk sebatang saja itu. Bahan yang lain ini tidak baik dan aku tidak mau membuat golok dari bahan ini. Nah, kalian tinggal pilih. Kubuatkan sebatang golok setelah pemesannya memperlihatkan ilmu goloknya, atau kalian boleh bawa pergi lagi saja dan menyuruh orang lain membuatkannya."

Kata-kata itu teratur dan halus, namun juga mengandung ketegasan dan wibawa yang tidak dapat dibengkokkan lagi.

Tigabelas orang itu rata-rata bertubuh besar dan kuat, sikap mereka kasar dan pakaian mereka dari kain yang tebal dan kuat, nampak kotor karena agaknya mereka jarang bertukar pakaian.

Namun ini bukan berarti bahwa mereka miskin.

Sebaliknya, Wei-ho Cap-sha-kwi adalah sekumpulan tokoh sesat yang sudah berhasil mengepalai semua bajak dan perampok yang selalu memberi "bagian hasil"

Kepada mereka.

Kalau mereka kini berpakaian kotor adalah karena mereka sedang melakukan perjalanan jauh dan tidak membawa ganti pakaian.

Mereka terkenal sekali dengan Cap-sha Kwi-tin (Barisan Tigabelas Setan) dan dengan golok di tangan, mereka merupakan lawan ampuh walaupun kalau maju seorang demi seorang, mereka tidaklah sehebat kalau membentuk Cap-sha Kwi-tin.

Seorang di antara tigabelas jagoan itu, yang menjadi pemimpin mereka bernama Kwa Ti, tubuhnya juga tinggi besar, dengan perut gendut sekali, mukanya bopeng dan hitam.

Mendengar ucapan tuan rumah, dia melangkah maju, lalu menghardik.

"Thio Wi Han! Tidak tahukah engkau siapa yang kauhadapi ini? Kami adalah Wei-ho Cap-sha-kwi, dan kami tidak biasa dibantah orang! Kami datang dengan baik, memesan tigabelas batang golok dan kami juga tidak minta gratis, melainkan mau membayar berapa saja biaya pembuatan tigabelas batang golok itu! Jangan engkau menolak, karena penolakanmu sama dengan penghinaan dan siapa berani menghina Wei-ho Cap-sha-kwi, akan mampus dengan tubuh hancur lebur dicacah golok kami!"

Thio Wi Han masih tetap tenang dan memandang kepada kepala gerombolan itu dengan matanya yang halus namun berwibawa.

"Seorang manusia harus memiliki pendirian, kalau tidak dia hanya akan menjadi seorang pengecut yang munafik. Syarat-syaratku itu sudah kupakai selama puluhan tahun dan akan kupertahankan sampai mati."

"Toa-ko (kakak), pukul saja orang keras kepala ini, baru dia akan menurut perintah kita!"

Beberapa orang anggauta gerombolan itu berkata dengan marah kepada Kwa Ti dan si gendut inipun sudah marah sekali.

Semua perampok dan bajak sungai di sepanjang Sungai Wei-ho, siap untuk melakukan setiap perintahnya, dan kakek lemah ini berani membantah!

"Engkau memang minta dihajar baru taat!"

Bentaknya dan diapun menggerakkan tangan kanan menampar ke arah muka kakek itu sekedar untuk menakut-nakuti dan memaksanya agar mentaati perintahnya.

Akan tetapi, tangannya menampar tempat kosong karena dengan gerakan halus namun tepat sekali, kakek Thio Wi Han sudah mundur selangkah dan tamparan itupun hanya lewat di depan mukanya!

Melihat pukulannya luput karena dielakkan orang, Kwa Ti yang tidak biasa dibantah dan dilawan ini menjadi semakin marah dan penasaran.

"Engkau berani melawan aku, ya?"

Bentaknya dengan sikap ingin benar dan menang sendiri.

"Nah, rasakan ini!"

Dia kini menyerang dengan pukulan bertubi, dengan gerakan silat, bukan sekedar menampar seperti tadi.

Akan tetapi, alangkah herannya tigabelas orang jagoan itu ketika melihat kakek itu hanya menggeser kaki dan melangkah ke sana-sini dan semua pukulan Kwa Ti hanya mengenai tempat kosong saja!

Pada saat itu, dari dalam pondok muncul seorang wanita.

Usianya empatpuluh tahun lebih tetapi ia masih nampak cantik dan tubuhnya masih padat dan ramping, pakaianaya sederhana namun rapi, juga rambutnya yang masih hitam itu tersisir rapi.

Seorang wanita yang anggun.

Begitu ia keluar dan melihat kakek Thio diserang orang, iapun cepat maju dan menghadang di tengah.

Kwa Ti tertegun melihat munculnya seorang wanita dan biarpun dia penasaran sekali melihat serangannya tidak pernah mengenai sasaran, dia menahan diri dan memandang wanita itu dengan alis berkerut.

"Engkau siapa berani menghalangiku?"

Dengan sikap seperti melindungi kakek itu, ia berkata.

"Aku adalah isterinya! Kalian ini orang-orang sungguh tidak tahu malu sama sekali. Bukankah kalian ini tamu-tamu yang tidak diundang? Mengapa sikap kalian bukan seperti tamu melainkan seperti perampok saja, hendak memaksakan kehendak sendiri? Tamu yang sopan semestinya memenuhi peraturan tuan rumah!"

Setelah mendengar ucapan itu dan tahu bahwa dia berhadapan dengan nyonya rumah, Kwa Ti menyeringai dan dia menoleh kepada kawan-kawannya.

"Kawan-kawan, kalau kita paksa si tua sampai mati, kita tidak akan berhasil memiliki golok pusaka yang ampuh. Si tua itu keras kepala, aku mempunyai akal untuk memaksanya tanpa membunuhnya!"

Duabelas orang kawannya tertawa-tawa dan seorang di antara mereka bahkan berkata.

"Benar, tangkap saja isterinya, biarkan aku yang akan menemaninya. Heh-heh, ia masih manis dan bahenol, heh-heh!"

Kwa Ti yang menjadi kepala dari Cap-sha-kwi, bukan orang yang suka menggoda wanita, maka mendengar ini, dia tertawa.

Memang maksudnya untuk menangkap isteri Thio Wi Han dan menjadikannya sebagai sandera agar kakek itu terpaksa memenuhi permintaan mereka membuatkan tigabelas batang golok.

"Baiklah, kau tangkap wanita itu!"

Katanya kepada kawan yang bicara tadi.

Orang itu matanya besar sekali, hidungnya pesek dan mulutnya lebar dengan bibir tebal, juga mukanya hitam dan kasar.

Mendengar ucapan toakonya, dia tersenyum menyeringai dan melangkah.

maju, tubuhnya yang tinggi besar itu menyeramkan, langkahnya seperti langkah seekor binatang buas.

"Heh-heh, nyonya manis, mari ikut denganku sementara suamimu membuatkan golok untuk kami."

Berbareng dengan habisnya kata-kata itu, kedua lengannya sudah menyambar dari kanan kiri hendak menangkap kedua pundak isteri Thio Wi Han.

Anehnya, Thio Wi Han yang dari elakan-elakannya tadi jelas menunjukkan bahwa dia seorang yang memiliki kepandaian silat, kini melihat isterinya diserang orang, bersikap diam saja dan menonton dengan tenang.

"Wuuut! Wuuuttt!"

Sambaran kedua tangan yang berlengan panjang dan besar itu lewat dan sama sekali tidak menyentuh pundak Nyonya Thio Wi Han yang sudah menggeser kaki dengan gerakan indah dan ringan sekali.

Si penyerang yang tadinya bermaksud menangkap dan merangkul nyonya itu, menjadi penasaran dan kini, sambil mengeluarkan suara gerengan seperti seekor binatang buas.

kedua tangannya mencengkeram dengan tubrukan, yang kanan mencengkeram leher, yang kiri mencengkeram ke arah dada!

Serangan yang berbahaya dan juga kurang ajar!

Wanita itu bersikap tenang, akan tetapi secepat kilat kedua kakinya secara beruntun menyambar ke depan, menyambut tubuh penyerangnya dan ujung sepatu kedua kakinya lebih dulu mengenai tubuh lawan sebelum kedua tangan yang mencengkeram itu tiba.

"Dukkk......! Dessss.....!!"

Ujung sepatu kiri nyonya itu menyentuh sambungan lutut kaki kanan, sedangkan ujung sepatu kanan dengan kerasnya menghantam ulu hati ketika tubuh tinggi besar itu agak membungkuk karena lututnya tertendang.

Tak dapat dihindarkan lagi, tubuh tinggi besar itu terjengkang dan roboh terbanting!

"Kurang ajar.....!"

Bentak orang kedua yang kepalanya besar sekali.

Melihat kawannya roboh, dia sudah menerjang ke depan, akan tetapi dia dihadapi Thio Wi Han sendiri yang sudah menghadang dan melindungi isterinya.

Karena marah, si kepala besar ini lalu memukul ke arah kakek itu dengan kerasnya.

Kepalan tangan sebesar kepala orang itu menonjok ke arah dada Thio Wi Han.

Akan tetapi, kakek itu hanya miringkan tubuh dan ketika pukulan itu lewat, dia menampar dengan tangan miring ke arah leher samping lawannya.

"Pergilah!"

Bentaknya lirih dan orang pun terjungkal karena lehernya terkena "ba"cokan"

Tangan miring yang membuat napasnya sesak dan kepalanya pening.

Melihat betapa suami isteri itu ternyata lihai, Kwa Ti terkejut dan marah sekali.

Dia mengeluarkan bentakan sebagai aba-aba dan menyusul ini, nampak sinar berkilauan dan terdengar suara berdesing ketika semua orang itu telah mencabut golok besar mereka dari punggung!

Juga mereka berdua yang tadi telah roboh, kini bangkit sambil mencabut golok.

Suami isteri itu dikepung oleh tigabelas orang Wei-ho Cap-sha-kwi yang sudah membentuk barisan Cap-sha-kwi-tin dengan golok besar di tangan!

Sementara itu, sejak tadi Hek-sim Lo-mo menonton saja dengan sikap tenang.

Pembantunya, Tok-gan-liong Yauw Ban juga diam saja.

Orang ini tidak akan berani bergerak tanpa perintah dari kepalanya dan dia hanya menanti saja sampai Hek-sim Lo-mo memberi perintah dan petunjuk.

Tadi, melihat gerakan tuan dan nyonya rumah, Hek-sim Lo-mo tertarik dan diam-diam mentertawakan tigabelas orang yang agaknya tidak melihat kenyataan bahwa tuan dan nyonya rumah itu tidak boleh dibuat main-main.

Kini, melihat cara mereka membentuk barisan mengepung, timbul kekhawatirannya kalau-kalau tigabelas orang kasar itu akan mengeroyok dan membunuh Thio Wi Han yang amat dibutuhkan tenaganya untuk membuatkan pedang pusaka.

Hek-sim Lo-mo lalu berkata kepada pembantu utamanya.

"Cegah mereka membunuh kakek itu!"

Mendengar perintah atasannya ini, Tok-gan-liong Yauw Ban mengangguk dan sekali dia meloncat, tubuhnya sudah melayang dan bagaikan seekor burung terbang saja, dia sudah melewati atas kepala para pengepung lalu tubuhnya melayang turun di tengah kepungan, di depan suami isteri yang siap menghadapi pengeroyokan itu.

Tigabelas orang itu terkejut sekali melihat kehebatan gin-kang (Ilmu meringankan tubuh) dari orang ini.

Sementara itu, Yauw Ban menjura kepada Thio Wi Han dan isterinya sambil berkata.

"Harap Saudara Thio dan nyonya suka mundur, biarkan aku menghadapi setan-setan ini!"

Tok-gan-liong Yauw Ban adalah seorang tokoh sesat yang terkenal sekali, apa lagi orangnya mudah dikenal, yaitu dari keadaan matanya yang tinggal sebuah saja.

Maka, biarpun belum pernah saling bertemu, melihat laki-laki tinggi kurus bermata satu, yang membawa sebatang pedang di punggungnya dan memiliki gin-kang yang luar biasa itu, Kwa Ti yang memimpin rombongan Cap-sha-kwi segera berkata dengan suaranya yang kasar.

"Benarkah dugaan kami bahwa engkau adalah Tok-gan-liong Yauw Ban?"

Yauw Ban memandang tajam dengan mata tunggalnya yang mengeluarkan sinar mencorong.

"Benar, akulah Yauw Ban. Sekali ini Cap-sha-kwi bertindak ngawur! Saudara Thio Wi Han adalah seorang yang dihormati dan dibutuhkan oleh seluruh tokoh dunia persilatan, dari golongan manapun juga. Jasanya sudah amat banyak, kenapa kalian begitu rendah untuk mengganggu dia dan isterinya? Kalau kalian tidak mampu memenuhi syarat yang diajukannya, sepatutnya kalian mundur, tidak memaksanya seperti ini!"

Kwa Ti sudah mendengar akan kelihaian Naga Mata Satu ini, akan tetapi dia berbesar hati karena dia bersama duabelas orang saudaranya, dan kalau mereka maju bersama, mereka tidak gentar menghadapi siapapun juga.

"Tok-gan-liong, jangan sombong engkau! Di antara kita mempunyai wilayah kekuasaan sendiri-sendiri, dan selama ini kita tidak saling mengganggu! Bagaimana sekarang engkau hendak mengganggu kami dan menghalangi kami yang hendak memaksa orang she Thio itu membuatkan golok untuk kami? Harap jangan engkau ikut-ikut! Kami tidak ingin bermusuhan dengan orang segolongan, akan tetapi kalau engkau memaksa, jangan dikira kami takut menghadapi Tok-gan-liong!"

"Singggg......!"

Nampak sinar berkilat dan tahu-tahu Tok-gan-liong Yauw Ban sudah mencabut pedangnya, melintangkan pedang di depan dada dan dua jari tangan kirinya menuding ke arah muka Kwa Ti sambil membentak, suaranya nyaring.

"Wie-ho Cap-sha-kwi, hari ini kalian akan runtuh!"

Kwa Ti marah dan sambil memberi isyarat kepada kawan-kawannya, diapun menyerang dengan goloknya.

Golok itu digerakkan dengan cepat dan kuat sekali, membacok ke arah leher lawan.

Namun, dengan gerakan ringan sekali Yauw Ban mengelak, menarik tubuh ke belakang lalu cepat membalik sambil memutar pedang ketika mendengar suara angin dari belakang.

Benar saja, dua orang teman Kwa Ti sudah menyerang dengan golok mereka secara berbareng, hampir bersamaan waktunya dengan serangan yang dilakukan Kwa Ti tadi.

"Trang... tranggg......!"

Bunga api berpijar dan dua orang itu meloncat ke belakang karena merasa betapa telapak tangan mereka tergetar hebat.

Begitu mereka meloncat ke belakang, tempat mereka sudah diduduki dua orang kawan dan merekapun memutar berganti tempat.

Sementara itu, empat batang golok sudah menyambar dari kanan kiri depan dan belakang Yauw Ban!

Hebat bukan main kerja sama dari Cap-sha-kwi itu, namun, Yauw Ban tidak memalukan menjadi pembantu pertama Hek-sim Lo-mo, seorang di antara Sembilan Setan Tua!

Sambil berlompatan dia mengelak, kadang-kadang tubuhnya mencelat ke atas dan setiap kali pedangnya menangkis, tentu golok lawan terpental dan diapun masih sempat pula untuk membalas serangan lawan dengan tusukan atau bacokan pedangnya!

Namun, penjagaan Cap-sha-kwi amat rapat karena mereka saling membantu.

Setiap serangan pedang Yauw Ban pasti ditangkis oleh sedikitnya tiga batang golok dan empat batang yang lain sudah menyerangnya dari berbagai sudut, masih dilapis oleh enam orang lain di kepungan belakang yang siap menggantikan kepungan depan kalau sampai terdesak atau terancam!

Golok-golok itu bersimpangan dan menggunting dari kanan kiri dan depan belakang, makin lama semakin cepat dan bertubi-tubi sehingga betapapun lihainya permainan pedang di tangan Tok-gan-liong Yauw Ban, tetap saja dia mulai terdesak dan terhimpit, sukar mendapatkan kesempatan untuk membalas serangan pihak pengeroyok yang mendatangkan gelombang serangan bertubi-tubi dan susul menyusul itu.

Melihat betapa pembantu utamanya terdesak, sepasang alis tebal di muka hitam Hek-sim Lo-mo berkerut, dan sepasang mata yang besar itu mengeluarkan sinar merah.

"Yauw Ban, mundurlah!"

Bentaknya.

Mendengar perintah ini, Yauw Ban cepat meloncat ke belakang.

Semua lawannya mendapat angin dan dengan garang tigabelas orang Cap-sha-kwi memainkan golok mereka dan membentuk barisan tiga lapis, setiap jajar empat orang dan Kwa Ti si gendut bopeng itu berada di samping sebagai pemimpin dan pengatur barisan.

Memang Wei-ho Cap-sha-kwi ini selain terkenal sebagai tigabelas orang yang masing-masing memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga kalau mereka maju berbareng, maka, mereka membentuk barisan Cap-sha-kwi-tin (Barisan Tigabelas Setan) yang amat tangguh!

Karena barisan ini dapat bekerja sama dengan baik, maka Yauw Ban yang memiliki tingkat lebih tinggi dari masing-masing anggauta Wei-ho Cap-sha-kwi juga tidak kuat menahan pengeroyokan mereka.

Hek-sim Lo-mo diam-diam mengerahkan tenaga sakti di tubuhnya dan mempergunakan pula kekuatan sihir yang terkandung dalam suara dan pandang matanya.

Datuk sesat peranakan Nepal ini memang selain pandai ilmu silat, juga pandai ilmu sihir!

"Wei-ho Cap-sha-kwi!"

Terdengar dia berkata, suaranya berwibawa dan sikapnya angkuh.

"Apakah mata kalian sudah buta maka tidak mau tunduk kepadaku? Berlututlah kalian dan minta ampun sebelum aku turun tangan dan terlambat bagi kalian!"

Akan tetapi tigabelas orang yang sudah biasa melakukan kekerasan itu tentu saja tidak memperdulikan ancaman kakek tinggi besar muka hitam yang tidak mereka kenal ini.

Di dalam dunia ini, kalau mereka maju bersama, tidak ada yang mereka takuti, apa lagi hanya seorang kakek asing yang mukanya jelas menunjukkan bahwa dia seorang dari barat itu.

"Siapakah engkau!"

Si gendut Kwa Ti membentak dan mengelebatkan goloknya dengan sikap mengancam.

"Sombongmu bukan main, berani menghina kami, berarti engkau akan mampus dengan tubuh menjadi empatbelas potong!"

Dengan ucapan ini Kwa Ti hendak mengatakan bahwa masing-masing temannya akan membacok satu kali sehingga dengan tigabelas kali bacokan, tubuh kakek hitam itu akan menjadi empatbelas potong.

Setelah berkata demikian, dia memberi isyarat kepada para temannya dan merekapun menyerbu dengan teratur karena bagaimanapun juga, melihat sikap sombong kakek hitam itu, Kwa Ti dan teman-temannya dapat menduga hahwa kakek hitam itu tentu lihai.

Maka, begitu maju, Wei-ho Cap-sha-kwi sudah menyerang dengan bentuk barisan yang teratur dan saling melindungi, juga saling melanjutkan atau menyambung serangan teman di depan.

Akan tetapi, begitu Hek-sim Lo-mo bergerak, terjadilah keanehan.

Kakek ini berdiri tegak dengan kedua kaki terbentang lebar, kedua lutut agak ditekuk, kepala ditegakkan dan kedua lengannya saja yang bergerak.

Kedua tangan terbuka dengan telapak tangan menghadap ke depan, membuat gerakan-gerakan seperti mendorong-dorong dan dari mulutnya keluar pekik yang dahsyat seperti gerengan binatang buas dan......

setiap orang anggauta Cap-sha-kwi yang menyerangnya, dimulai oleh Kwa Ti, begitu terkena dorongan dari jauh ini, terpental dan terjengkang roboh seperti ditumbuk kekuatan yang amat hebat!

Gerengan itu membuat jantung mereka tergetar dan tubuh mereka seperti lumpuh, kemudian angin dorongan yang menyambar keluar dari kedua telapak tangan kakek hitam itu membuat mereka terjengkang dan terbanting keras!

Berturut-turut, tigabelas orang itu bergelimpangan dan tentu saja mereka terkejut bukan main.

Kwa Ti adalah seorang tokoh sesat yang banyak pengalaman.

Melihat kenyataan ini, diapun maklum bahwa dia dan kawan-kawannya berhadapan dengan orang yang memiliki kesaktian luar biasa sehingga kalau mereka masih nekat melakukan perlawanan, akhirnya mereka akan mati konyol!

Karena itu, diapun mendahului teman-temannya, bangkit dan berlutut di depan kakek hitam itu dan tanpa ragu-ragu lagi diapun berkata dengan suara lantang.

"Locianpwe, mohon ampun......, kami takluk dan menyerah......, harap lociapwe sudi mengampuni kami....."

Duabelas orang saudara seperguruannya itu terkejut dan heran.

Akan tetapi merekapun maklum bahwa kakek hitam itu memang hebat, apa lagi orang selihai Tok-gan-liong Yauw Ban saja agaknya hanya menjadi pembantu orang itu dan nampaknya demikian taat dan takut.

Merekapun ikut berlutut minta ampun.

Sejenak Hek-sim Lo-mo tidak bergerak, kedua lengannya tetap diluruskan ke depan, kedua tangan terbuka, siap untuk memukul.

Akan tetapi dia memandang kepada tigabelas orang yang berlutut itu dan perlahan-lahan kemarahannya mereda.

Bagaimanapun juga, dia membutuhkan pembantu-pembantu yang pandai dan Wei-ho Cap-sha-kwi ini dapat menjadi pembantu yang berguna.

Dia lalu berdiri tegak kembali, kemudian menurunkan kedua lengannya dan berkata kepada Tok-gan-liong Yauw Ban.

"Urus dan nasihati mereka sebagai bawahanmu!"

Yauw Ban mengangguk dan diapun melangkah maju, lalu berkata kepada Kwa Ti.

"Kalian sungguh masih untung bahwa Beng-cu mengampuni kalian. Ketahuilah bahwa Beng-cu adalah Hek-sim Lo-mo yang kini menjadi Beng-cu di seluruh wilayah He-nan dan Shan-tung. Mulai sekarang, kalian menjadi pembantunya dan bekerja di bawah perintahku. Nah, sekarang beri hormat kepada Beng-cu kita!"

Yauw Ban memimpin mereka menghadap ke arah Hek-sim Lo-mo dan memberi hormat sambil menyebut "Beng-cu".

Cap-sha-kwi mentaati karena mereka terkejut dan takluk benar ketika mendengar disebutnya nama Hek-sim Lo-mo.

Tanpa dijelaskanpun mereka mengerti bahwa mereka berhadapan dengan seorang di antara Kiu Lo-mo (Sembilan Iblis Tua).

"Bagus, sekarang menjauhlah dan menanti perintah Beng-cu selanjutnya di bawah pohon-pohon di sana itu!"

Kata Yauw Ban.

Tigabelas orang itupun memberi hormat dan dengan taat mereka menjauh dan duduk di atas rumput di bawah segerombolan pohon.

Melihat ini, Hek-sim Lo-mo tersenyum puas.

Pembantunya, Yauw Ban, memang pandai dan dapat diandalkan.

Sementara itu, kakek Thio Wi Han dan isterinya masih berdiri di pinggir dan sejak tadi mengikuti perkelahian antara Wei-ho Cap-sha-kwi dengan dua orang pendatang baru itu.

Ketika mendengar bahwa kakek tinggi besar muka hitam itu adalah Hek-sim Lo-mo, seorang di antara Sembilan Iblis Tua, diam-diam Thio Wi Han terkejut sekali walaupun tidak nampak perubahan pada wajahnya.

Apa lagi melihat cara kakek hitam itu menundukkan Wei-ho Cap-sha-kwi, tahulah dia bahwa Iblis Tua ini benar-benar lihai bukan main dan dia berada dalam kesulitan.

Namun, bukan watak Thio Wi Han untuk merasa gentar menghadapi setiap kesulitan hidup, maka diapun bersikap tenang saja ketika kini Hek-sim Lo-mo dan Yauw Ban menghadapi dia dan isterinya, dan sepasang mata Iblis Tua yang tajam dan liar seperti mata binatang buas itu memandang penuh selidik.

Thio Wi Han diam saja, tidak menegur, seolah-olah hendak memperlihatkan bahwa dia berada di rumah sendiri dan dia tidak kalah berwibawa dibandingkan dua orang tamunya yang tidak diundang.

Melihat betapa suami isteri di depannya itu tidak bergerak dan tidak menyapa, kerut merut nampak di kening Hek-sim Lo-mo.

Akhirnya dia mengalah dan bertanya dengan suaranya yang berat dan dalam.

"Engkau yang bernama Thio Wi Han?"

"Benar, aku Thio Wi Han."

Kerut merut di antara kedua alis kakek hitam itu makin jelas.

Dia yang selama beberapa tahun ini sudah terbiasa ditaati dan dihormati orang, kini melihat sikap Thio Wi Han yang begitu tenang bersahaja, sedikitpun tidak merendah, menjilat atau takut-takut, merasa tidak enak hatinya.

"Engkau ahli pembuat senjata pusaka?"

Thio Wi Han mengangguk, sekali ini bahkan tidak menjawab.

Betapa angkuhnya!

Melihat ini, Yauw Ban merasa khawatir kalau ketuanya marah, dan dia sendiripun merasa penasaran melihat sikap kakek itu, maka diapun membentak.

"Thio Wi Han! Tidak tahukah engkau dengan siapa engkau berhadapan? Beliau ini adalah Beng-cu kami, Hek-sim Lo-mo yang disembah oleh ribuan tokoh kang-ouw!"

Thio Wi Han tersenyum.

"Tentu saja aku tahu dengan siapa aku berhadapan, yaitu dengan seorang tamu yang tidak diundang. Aku berada di rumahku sendiri, dan aku tidak mengundang kalian semua untuk datang ke sini. Tidak perlu berbelit-belit, ada keperluan apakah kalian datang berkunjung ke sini dan membikin ribut di tempatku ini?"

Sikapnya tenang sekali dan diam-diam Hek-sim Lo-mo kagum.

Bukan main kakek ini.

Sikap yang dimilikinya itu adalah sikap seseorang yang yakin akan kekuatan dirinya, dan dalam hal ini, agaknya Thio Wi Han yakin akan kemampuannya membuat senjata pusaka dan tahu pula bahwa orang-orang lain membutuhkan dia, sedangkan dia sama sekali tidak membutuhkan kehadiran semua orang itu.

Tiba-tiba Hek-sim Lo-mo tertawa bergelak.

Memang watak datuk ini aneh sekali.

Sukar menyelami wataknya karena dia dapat berubah-ubah sesuai dengan jalan pikirannya di saat itu.

"Thio Wi Han, engkau memang pantas menjadi seorang ahli. Aku kagum kepadamu dan kedatanganku ini adalah untuk minta bantuanmu membuatkan sebuah pedang pusaka untukku."

Diam-diam Tok-gan-liong Yauw Ban mendengarkan dengan mata terbelalak keheranan.

Belum pernah dia melihat sikap dan mendengar kata-kata yang demikian halus merendah dari ketuanya seperti sekarang ini!

Dan agaknya Thio Wi Han bukan seorang sombong, melainkan seorang yang memiliki harga diri tinggi dan tidak suka membedakan orang, tidak suka merendahkan diri atau menghina terhadap siapapun.

Kini, melihat sikap tamunya ramah dan halus, diapun segera merobah sikap, tersenyum ramah.

"Hek-sim Lo-mo, aku suka membuatkan pedang untuk siapa saja asal memenuhi syarat yang sudah kuadakan selama puluhan tahun. Syarat pertama, pemesan pedang harus membawa bahan yang baik dan dapat kuterima dan kunilai sebagai cukup berharga untuk kutangani. Syarat kedua, pemesan harus memperlihatkan kemampuannya apakah dia patut memiliki pedang pusaka buatanku!"

Kembali datuk itu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, Thio Wi Han, syaratmu memang tepat. Dan sebaiknya kalau lebih dulu engkau melihat apakah aku pantas memiliki sebuah pedang pusaka buatanmu. Yauw Ban, beri pinjam pedangmu!"

Yauw Ban mencabut pedangnya dan begitu dicabut, tangan Hek-sim Lo-mo bergerak dan tahu-tahu lengan kanannya itu mulur sampai hampir dua meter panjang dan sebelum Yauw Ban sempat mengelak, pedangnya sudah dapat dirampas oleh tangan kanan Hek-sim Lo-mo!

Ini saja sudah membuat Thio Wi Han mengangguk-angguk, maklum bahwa datuk itu memang sakti.

Yauw Ban sendiri yang biarpun sudah maklum akan kesaktian ketuanya, namun baru pertama kali itu melihat betapa lengan datuk itu dapat mulur demikian panjang dan pedangnya terampas tanpa dia dapat berkutik sama sekali, terbelalak penuh kaget dan kagum.

"Thio Wi Han, lihatlah ilmu pedangku!"

Berkata demikian, Hek-sim Lo-mo lalu menggerakkan pedang di tangannya.

Pedang itu lenyap menjadi gulungan sinar pedang yang berkilauan, makin lama gulungan sinar itu semakin lebar dan tiba-tiba gulungan itu berubah menjadi sinar meluncur ke atas.

Terdengar bunyi keras dan dahan sebatang pohon di situ patah, sedangkan pedang yang sudah meluncur mematahkan dahan itu kini turun kembali dan sudah disambut oleh Hek-sim Lo-mo.

"Bagaimana? Cukup memenuhi syaratkah?"

Tanyanya kepada Thio Wi Han sambil tersenyum.

"Kiam-sut (ilmu pedang) yang bagus, cukup memenuhi syarat!"

Kata Thio Wi Han dengan jujur karena diam-diam diapun kagum sekali melihat ilmu pedang tadi, walaupun dia tahu bahwa ilmu pedang itu merupakan ilmu pedang golongan sesat yang penuh dengan gerakan tipu muslihat dan kecurangan.

"Akan tetapi, syarat pertama harus dipenuhi, yaitu bahan untuk membuat pedang pusaka, dan terus terang saja, Lo-mo, aku agak cerewet dan pilihan dalam hal ini."

Hek-sim Lo-mo kembali tertawa.

Agaknya dia gembira sekali karena dia bertemu dengan orang yang memang patut berhubungan dengan dia.

Seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, semangat tinggi dan sikap yang gagah perkasa pula.

Sungguh, Thio Wi Han patut disejajarkan dengan para datuk dan mereka yang berkedudukan tinggi.

Dia tidak tahu bahwa Thio Wi Han memang seorang yang mempunyai harga diri amat tinggi sehingga kalau ada seorang pembesar tinggi tingkat menteri dari kota raja datang untuk pemesan senjata, diapun menerimanya biasa saja!

Bahkan diundang ke kota raja diapun tidak mau pergi!

"Thio Wi Han, kalau engkau menganggap bahan yang kubawa ini kurang pantas untuk dijadikan pedang pusaka, maka aku percaya bahwa engkau sudah menjadi gila!

Nah, lihatlah, bahan apakah ini?

Aku ingin mengujimu, apakah engkau mengenal benda ini!"

Dikeluarkannya sebuah benda bulat sebesar kepalan tangannya.

Benda itu warnanya abu-abu, seperti batu akan tetapi agak berat dan ketika digerakkan mengeluarkan sinar aneh.

Melihat benda itu, Thio Wi Han menahan seruannya.

"Ahhh...... mungkinkah ini......?"

Bisiknya dan diapun menerima benda itu di atas telapak tangannya.

Diperiksanya benda itu, diciumnya, bahkan didekatkan telinga kirinya sambil dipukul-pukul dengan kuku jari tangannya.

Sementara itu, Hek-sim Lo-mo, memandang sambil tersenyum bangga.

Akhirnya Thio Wi Han memandang wajah kakek hitam itu yang menyeringai kepadanya.

"Thio Wi Han, dapatkah engkau mengenal benda ini?"

Thio Wi Han mengangguk.

"Demi Tuhan! Entah bagaimana benda ini dapat terjatuh ke tanganmu, Hek-sim Lo-mo. Pada hal, seluruh pendekar dan tokoh kang-ouw memperebutkannya dan mencarinya selama puluhan tahun! Ini adalah Liong-cu, kalau tidak salah inilah Kim-san Liong-cu yang diperebutkan itu!"

"Hebat! Engkau sudah tua akan tetapi penglihatanmu semakin tajam saja, Thio Wi Han. Hal ini menunjukkan bahwa engkau memang ahli dan aku semakin percaya untuk menyerahkan benda ini kepadamu agar dibuatkan sebatang pedang pusaka yang ampuh."

Dia berhenti sebentar lalu menatap wajah kakek itu.

"Katakanlah, apakah benda ini memenuhi syaratmu yang pertama tadi?"

Thio Wi Han mengangguk-angguk.

"Tentu saja memenuhi syarat! Lebih dari itu malah. Aku merasa terhormat untuk menangani benda mustika keramat ini! Akan tetapi, untuk menentukan benda ini sebaiknya dibuat menjadi senjata apa, lebih dulu akan kuuji dia. Mari, ikutlah dengan aku ke dalam tempat kerjaku, Lo-mo."

Hek-sim Lo-mo mengangguk dan berkata dengan lantang kepada pembantunya.

"Yauw Ban, engkau tunggu di sini saja!"

Yauw Ban mengangguk dan Hek-sim Lo-mo mengikuti tuan rumah memasuki pondok itu, diantar pula oleh isteri Thio Wi Han yang sejak tadi diam saja akan tetapi ikut mengagumi Liong-cu (mustika naga) yang dibawa tamu itu untuk dibuatkan pedang pusaka.

Mereka memasuki bagian dapur atau bagian bengkel pembuatan senjata pusaka.

Alat-alatnya sederhana saja di tempat itu.

Perapian, martil, landasan baja, penjepit, dan lain-lain peralatan pandai besi.

"Liok Hwa, kaunyalakan api,"

Kata kakek itu kepada isterinya.

Nyonya berusia empatpuluh dua tahun yang masih cantik ini tanpa bicara mentaati perintah suaminya dan menyalakan api di perapian.

Sedangkan Thio Wi Han yang meletakkan mustika naga itu dengan hati-hati di atas meja kerjanya, lalu mengambil sepanci air dingin.

Hek-sim Lo-mo hanya berdiri saja dan mengikuti semua gerak gerik suami isteri itu dengan pandang matanya yang tajam.

Thio Wi Han lalu memegang mustika naga itu dengan jepitan baja, dan menaruhnya di atas nyala api untuk beberapa menit lamanya.

Kemudian dia mengangkatnya kembali dan mendekatkan benda itu di bawah hidungnya, dicium-ciumnya uap yang keluar dari situ.

Lalu dibenamkan benda itu ke dalam air di panci, dan kembali dia mencium-cium bau benda itu.

Setelah benda itu menjadi dingin, dipegangnya dan dikepal-kepal, ditekan-tekan dan diperiksa di bawah sinar matahari yang menyorot masuk melalui jendela.

Barulah dia menarik napas panjang dan duduk di atas bangku, mempersilakan tamunya duduk pula di atas bangku di depannya.

Hek-sim Lo-mo duduk dan mereka berhadapan, sama-sama memandang benda yang berada di atas telapak tangan kanan Thio Wi Han.

Kembali Thio Wi Han menarik napas, lalu berkata lirih, suaranya seperti orang terharu.

"Tepat seperti yang pernah kubaca dalam kitab kuno mengenai benda yang disebut mustika naga ini, Lo-mo. Entah dia terdapat dalam kepala naga atau tidak, tidak ada yang tahu, akan tetapi kalau benar dia terdapat dalam kepala naga, maka tidak mengherankan kalau naga menjadi mahluk suci yang sakti. Benda ini merupakan campuran dari dua logam yang saling berbedaan, bahkan berlawanan, yaitu logam yang telah menyerap kekuatan Im selama ribuan tahun dan mengandung warna hitam, dan logam kedua telah menyerap kekuatan Yang selama ribuan tahun dan mengandung warna putih. Untuk dijadikan sebatang pedang pusaka, logam ini terlalu banyak karena harus dicampur dengan baja biru yang aseli. Pula, kalau dicampur, tidak akan menjadi sebuah pusaka yang baik."

"Lalu, bagaimana baiknya?"

Tanya Hek-sim Lo-mo.

"Sebaiknya harus dipisahkan dulu sehingga merupakan dua logam terpisah. Dan sebaiknya kalau dibuat menjadi dua batang pedang, satu bersifat jantan dan yang kedua bersifat betina. Barulah akan menjadi dua batang pedang pusaka yang amat ampuh dan baik sekali."

"Bagus, kalau begitu, buatkanlah dua pedang itu untukku!"

"Harus dicampur dengan baja biru yang baik. Logam itu agak sukar didapat akan tetapi kau tentu bisa memperolehnya, Lo-mo."

"Baja biru?"

"Seperti yang dibawa oleh Wei-ho Cap-sha-kwi tadi."

Kakek hitam itu melompat keluar dan beberapa lompatan saja membuat dia berdiri dekat tigabelas orang yang menanti di bawah gerombolan pohon.

Mereka terkejut melihat kakek hitam ita tiba-tiba muncul dan berada di dekat mereka.

"Beng-cu, ada...... ada perintah apakah?"

Kwa Ti bertanya dengan muka agak pucat ketakutan.

"Kalian tadi membawa baja biru? Keluarkan!"

Kwa Ti membuka sebuah buntalan dan nampaklah lempengan baja yang warnanya kebiruan.

"Benda ini kuperlukan!"

Kata Hek-sim Lo-mo sambil matanya memandang tajam kepada Kwa Ti dan kawan-kawan.

"Ah, kalau Beng-cu memerlukannya, silakan ambil saja, Beng-cu."

Hek-sim Lo-mo mengangguk-angguk.

"Bagus, kalian tidak akan menyesal telah membantu aku."

Berkata demikian, dia menyambar buntalan baja biru itu dan sekali berkelebat dia telah melompat ke dalam rumah kembali, meletakkan buntalan itu di atas meja.

"Inikah benda itu?"

Thio Wi Han tidak perduli dari mana kakek hitam itu mendapatkannya. Dia membukanya dan mengangguk-angguk.

"Benar, inilah baja biru dan sudah cukup untuk campuran dua batang pedang. Baiklah, Lo-mo, aku akan membuatkan dua batang pedang itu dari benda keramat ini."

"Kapan selesainya?"

Tanya Hek-sim Lo-mo penuh gairah.

Dia membayangkan betapa kalau dia sudah memiliki sepasang pedang pusaka itu, bagaikan harimau dia akan mendapatkan sayap!

Kekuasaannya tentu akan semakin meluas dan kelihaiannya bertambah.

Tidak akan ada senjata lawan yang akan mampu menandingi dua batang pedang yang dibuat dari Mustika Naga Gunung Emas!

Thio Wi Han mengerutkan alisnya, berpikir sejenak lalu menjawab.

"Sedikitnya tiga bulan, Lo-mo."

"Begitu lamanya!"

Hek-sim Lo-mo nampak kecewa.

"Hemm, kaukira membuat dua batang pedang pusaka seperti membuat dua batang pisau dapur saja yang akan selesai dalam waktu beberapa jam? Baru menghancurkan mustika naga ini di atas api membutuhkan waktu lama dan ramu-ramuan yang sukar didapatkan. Belum lagi memisahkan dua logam Im dan Yang itu, dan mencampurinya dengan baja biru. Setelah itu barulah membentuk dua batang pedang dan lain-lain. Kalau bagimu terlalu lama, bawalah kembali benda ini dan cari saja orang lain yang akan mampu membuatkan lebih cepat."

Kalau saja orang lain yang bicara kepadanya seperti itu, tentu Hek-sim Lo-mo akan menggunakan tangan saktinya mencabut nyawa pembicara itu.

Akan tetapi dia membutuhkan tenaga Thio Wi Han, maka diapun tersenyum dan mengalah.

"Baiklah! Orang-orangku akan berjaga di luar dan sekitar rumahmu untuk menjaga keamanan mustika naga yang kuserahkan kepadamu. Dan awas kalau sampai benda milikku ini hilang atau kalau sampai dua batang pedang yang kaujanjikan itu tidak jadi!"

"Huh, aku bukan orang yang suka melanggar janji seperti kamu!"

Bentak Thio Wi Han dan isterinya lalu berkata dengan sinar mata marah.

"Lo-mo, sudah cukup kau bicara. Pergilah dan tinggalkan suamiku bekerja!"

Hek-sim Lo-mo menyeringai dan mengangguk sambil bangkit berdiri.

"Baiklah. Aku pergi sekarang. Tiga bulan lagi aku datang ke sini untuk mengambil dua batang pedangku itu atau...... dua batang nyawa kalian!"

Tanpa berkata apa-apa lagi diapun meloncat keluar dan Yauw Ban segera menyambutnya.

"Bagaimana, Beng-cu?"

"Suruh Wei-ho Cap-sha-kwi berjaga di sekeliling rumah ini setiap hari, jangan sampai Thio Wi Han terganggu pekerjaannya dan jangan sampai mustika naga itu dirampas orang. Ingat, mereka harus tutup mulut dan tidak boleh banyak bicara tentang kunjungan kita ke sini. Dan engkau sendiri, sedikitnya seminggu dua kali harus menjenguk dan melihat keadaan di sini. Setelah tiga bulan, dua pedang itu selesai dan barulah aku sendiri yang akan datang mengambilnya. Mengerti?"

"Baik, Beng-cu!"

Kata Yauw Ban.

Hek-sim Lo-mo lalu berkelebat lenyap dan Yauw Ban segera memanggil Wei-ho Cap-sha-kwi yang kini menjadi anak buah Hek-sim Lo-mo, memerintahkan mereka untuk melaksanakan tugas pertama mereka dengan baik.

"Ingat, menjadi pembantu-pembantu Beng-cu hanya ada dua pilihan. Bekerja dengan baik akan mendapatkan imbalan yang amat berharga dan kalian akan dapat hidup berkecukupan, juga terhormat dan terpandang. Sebaliknya, kalau kalian berkhianat, biar kalian lari ke dalam neraka sekalipun, Beng-cu akan dapat menangkap kalian dan kalian akan mengalami siksaan yang akan membuat kalian merasa menyesal telah hidup di dunia ini. Mengerti?"

Demikianlah, Wei-ho Cap-sha-kwi membuat gubuk darurat tak jauh dari rumah Thio Wi Han dan mereka itu setiap saat berjaga dengan bergiliran sehingga tidak pernah gerak gerik suami isteri itu luput dari pengamatan mereka.

Tiga-empat hari sekali, Yauw Ban muncul dan menjenguk mereka dan baru pergi lagi setelah merasa puas bahwa tidak terjadi sesuatu yang mencurigakan, dan bahwa Thio Wi Han setiap hari sibuk di dalam bengkelnya.

?Y?

Kita tinggalkan dulu Thio Wi Han yang sedang sibuk memenuhi pesanan Hek-sim Lo-mo membuatkan dua batang pedang dari benda keramat bernama Liong-cu itu dan mari kita mengikuti perjalanan Lie Kim Cu atau yang kini dikenal di daerah Lok-yang sebagai Hek-liong-li (Dewi Naga Hitam)!

Setelah melakukan balas dendam kepada musuh-musuhnya, Hek-liong-li meninggalkan Lok-yang dan hendak pergi ke Kim-san (Bukit Emas) untuk mencari kuburan tua di mana menurut subonya dahulu disimpan Kim-san Liong-cu yang diperebutkan.

Kim Cu melakukan perjalanan dengan wajah cerah.

Hatinya dipenuhi kegembiraan karena dengan hasil yang baik sekali baginya, ia telah melakukan balas dendam dan menghajar orang-orang yang dahulu membuat hidupnya sengsara.

Kini ia mengambil keputusan untuk mencari mustika naga seperti yang dipesankan gurunya dan kalau sudah mendapatkannya, ia akan menyuruh seorang ahli membuatkan sebatang pedang dari mustika naga seperti yang pernah didengar dari subonya.

Kalau sudah begitu, ia benar-benar siap untuk menentang segala kejahatan di dunia ini.

Ia sengsara, kehilangan ayah ibu karena kejahatan yang dilakukan manusia.

Kini ia tidak mempunyai apa-apa lagi, tiada sanak keluarga, tiada rumah tinggal, hidup bebas lepas seperti seekor burung di udara.

Dan ia akan menempuh segala macam petualangan hidup dan akan selalu menentang penjahat-penjahat, juga untuk menyenangkan dirinya yang sudah banyak mengalami pahit getir kehidupan dunia.

Wajahnya cerah dan langkahnya ringan karena kini tidak ada beban dalam batinnya.

Ia benar benar merasa seperti seekor burung yang beterbangan melayang-layang di angkasa!

Kalau orang berjumpa di jalan dengan wanita ini, tentu dia tidak akan menyangka sedikitpun juga bahwa ia adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi, seorang yang sakti, murid tunggal Huang-ho Kui-bo, seorang datuk wanita yang namanya sudah hampir dilupakan orang karena puluhan tahun wanita tua renta ini bertapa.

Siapa yang akan mengira bahwa wanita cantik jelita, yang usianya baru duapuluh tiga tahun itu, memiliki ilmu kepandaian yang hebat?

Tubuh ramping dengan lekuk lengkung tubuh wanita yang sudah matang, padat berisi, dengan kulit yang putih mulus dihias warna kemerahan dan kekuningan.

Kulit yang nampaknya tipis dan halus namun yang sesungguhnya kalau sudah dialiri sinkang yang dikuasai wanita itu, akan menjadi kebal dan tidak akan mudah terluka oleh bacokan senjata tajam!

Rambutnya hitam panjang dan halus, agak ikal dan digelung secara sederhana di atas kepala, ditusuk dengan tusuk sanggul dari perak yang dihias ukiran naga kecil di antara bunga teratai.

Wajahnya berbentuk bulat telur, dagunya agak meruncing dengan mulut yang kecil dan manis bentuknya.

Sepasang bibir itu, terutama yang bawah, nampak selalu merah membasah, merah aseli bukan karena gincu pemerah bibir.

Bibir yang selalu tersenyum itu dihias lesung pipit yang menjadi semakin dalam dan jelas kalau senyumnya melebar, dan di bawah mata kiri terdapat sebuah tahi lalat hitam kecil di atas pipi.

Lesung pipit dan tahi lalat kecil menjadi penambah kemanisan yang menggairahkan hati setiap orang pria yang melihatnya.

Sepasang mata yang kadang-kadang mencorong penuh wibawa dan kekuatan itu, hampir selalu nampak bersinar dan jeli sehingga wajahnya seperti orang yang gembira, berseri-seri.

Namun, lekukan kecil di tengah dagu membayangkan betapa di balik semua keramahan dan kemanisan itu terdapat kekerasan yang menggiriskan.

Ia tidak membawa senjata apapun, maka orang takkan mengira bahwa ia adalah seorang ahli silat (Lanjut ke

Jilid 07) Sepasang Naga Penakluk Iblis (Seri ke 01-Serial Sepasang Naga Penakluk Iblis) Karya . Asmaraman S. Kho Ping hoo

Jilid 07 tingkat tinggi, walaupun kenyataan bahwa seorang wanita muda cantik jelita melakukan perjalanan seorang diri sudah menunjukkan bahwa wanita itu tentulah seorang kang-ouw dan tentu pandai ilmu silat untuk menjaga diri.

Dari Lok-yang ia menuju ke tepi Sungai Kuning dan dari sini ia lalu menyusuri sepanjang pantai sungai yang besar dan panjang ini karena Kim-san atau Bukit Emas berada di lembah Sungai Kuning.

Tidak ada peristiwa penting terjadi selama ia melakukan perjalanan itu, akan tetapi pada suatu hari, tibalah ia di dusun Cia-siang teng, sebuah dusun yang menjadi bandar sungai karena di situ orang mengangkut segala macam dagangan seperti rempa-rempa, kayu, bambu dan hasil pertanian lain yang diangkut dengan perahu menuju ke kota-kota di sebelah hilir.

Juga terdapat banyak perahu nelayan karena di daerah itu terdapat banyak ikannya.

Karena kesibukan para pengangkut barang dagangan dan para nelayan, maka dusun itu cukup ramai dan pada hari itu, masih cukup pagi, ketika Kim Cu tiba di Cia-siang-teng.

Orang-orang sedang sibuk mengangkat barang dagangan ke dalam perahu-perahu dan para nelayan juga sibuk mempersiapkan perahu mereka untuk pergi berlayar mencari ikan.

Karena perkampungan itu juga merupakan perkampungan nelayan, maka ketika memasuki dusun itu, oleh Kim Cu sudah tercium bau amis ikan membusuk, dan nampak banyak ikan-ikan kecil dijemur di depan rumah untuk dijadikan ikan asin.

Melihat ini, Kim Cu membayangkan adanya ikan segar dan perutnya yang sejak kemarin siang tidak diisi itu mendadak terasa lapar.

Ia lalu pergi ke tepi sungai yang ramai dengan maksud mencari dan membeli ikan segar yang baru ditangkap nelayan.

Begitu Kim Cu tiba di tempat ramai, banyak pasang mata laki-laki melekat kepadanya, bahkan ada pula yang berbisik-bisik dan mereka yang agak nakal dan berani ada yang mengeluarkan suara suitan kagum.

Namun, sambil tersenyum manis, Kim Cu tidak memperdulikan mereka semua dan mencari-cari sampai akhirnya ia melihat seorang wanita tua menghadap sekeranjang ikan-ikan segar.

Ketika Kim Cu melihat betapa di dalam keranjang itu, selain ikan, juga terdapat belasan ekor udang besar, timbul seleranya.

Sudah lama ia tidak makan udang seperti itu dan ia tahu betapa lezatnya daging udang itu, kalau pandai memasaknya.

Ia membungkuk untuk memeriksa apakah udang-udang itu masih segar, disambut oleh nenek yang memuji-muji dagangannya.

Pada saat itu, tak jauh dari situ Kim Cu mendengar suara ribut-ribut.

Ia memutar tubuh memandang dan ternyata seorang laki-laki tinggi kurus sedang memukuli seorang laki-laki setengah tua berpakaian nelayan.

Laki-laki tinggi kurus itu berpakaian ringkas seperti pakaian japo silat, dan melihat cara dia memukul dan menendang, Kim Cu maklum bahwa orang itu sedikit banyak menguasai ilmu silat.

Laki-laki yang dipukuli itu berusia kurang lebih limapuluh tahun dan dia kini berlutut dalam keadaan babak belur sambil minta ampun.

Laki-laki tinggi kurus yang usianya sekitar tigapuluh lima tahun, berdiri di depannya, bertolak pinggang.

Sebuah tas tergantung di pinggangnya.

Melihat orang yang dipukulinya berlutut minta ampun, dia menyeringai.

"Heh-heh, setelah dihajar, baru minta ampun, ya? Tidak ada ampun, engkau telah menipuku! Kaubilang semalam hanya memperoleh dua keranjang ikan dan kau hanya menyerahkan harga sekeranjang ikan kepadaku! Pada hal, menurut penyelidikanku, engkau semalam memperoleh tiga keranjang! Engkau harus dihajar dan dipatahkan kaki tanganmu agar semua nelayan melihatnya dan hukuman ini menjadi contoh!"

Berkata demikian, si tinggi kurus itu kembali menendang.

"Bukkk!"

Dada nelayan itu tertendang, tubuhnya terjengkang dan terguling-guling. Nelayan itu merangkak bangkit dan berlutut kembali. Dari mulutnya keluar darah segar.

"Ampunkan saya...... benar memang saya telah menyembunyikan hasil yang sekeranjang itu. Akan tetapi...... saya butuh uang, anak saya sakit dan sekeranjang ikan itn untuk pembeli obat......"

"Alasan! Sesudah mencuri dan ketahuan baru mencari alasan!"

"Saya........ saya tidak mencuri...... ikan itu hasil pekerjaan saya sendiri semalam suntuk....."

"Mulut busuk! Semua hasil di sungai ini, setengah bagian adalah milik Beng-cu, mengerti? Kami hanya petugas untuk mengumpulkan hasil dan bagian itu, dan engkau berani sekali mencuri, menipu!"

Dan kini tangan kaki orang tinggi kurus itu bekerja dengan cepat, memukul dan menendang sehingga nelayan setengah tua itu kembali terguling-guling dan mukanya bengkak-bengkak.

Tiba-tiba terdengar jerit wanita.

"Ayaaahh......!"

Seorang gadis berusia kurang lebih limabelas tahun datang berlari-lari dan iapun menubruk ayahnya yang disiksa itu.

"Ayahhh.......! Ia merangkul ayahnya, lalu memandang kepada si tinggi kurus yang menyiksa.

"Jangan...... jangan pukuli ayahku! Sekeranjang ikan itu untuk membeli obat karena aku sakit "

Si tinggi kurus memandang gadis itu dan dia menyeringai.

"Hemm, ini anakmu, ya? Hemm, manis juga!"

Memang gadis itu cukup manis, dengan tubuh yang mulai menjadi dewasa, bagaikan setangkai bunga yang sedang mulai mekar.

"Sudahlah, kulupakan sekeranjang ikan itu, asal anakmu mau menemani aku, semalam!"

Dia lalu menangkap pergelangan tangan anak perempuan itu dan menariknya bangkit berdiri.

"Hayo, manis, ikut bersama aku, heh-heh!"

"Tidak......! Lepaskan aku.....!"

Gadis itu meronta, akan tetapi tak mampu menarik lepas tangannya.

"Ah, jangan...... jangan ganggu anakku. Biarlah besok akan kuganti sekeranjang ikan itu!"

Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 6

Baca Juga: Si Tangan Sakti 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert