Eps 6 Naga Sakti Sungai Kuning - Kho Ping Hoo
Baca online Naga Sakti Sungai Kuning - Kho Ping Hoo
Cersil Naga Sakti Sungai Kuning - Kho Ping Hoo.
Namun, keluarga Coa yang menjadi , pimpinan Hek-houw-pang menjadi marah dan sama sekali tidak setuju kalau Siang Lee menjadi suami puteri Ban-Tok Mo-li!
Sepasang orang muda itu lalu pergi menemui Ban-tok Mo-li, namun datuk sesat, iblis betina yang kejam dan aneh ini pun marah-marah, bahkan hampir membunuh Siang Lee, kemudian mengusir puterinya bersama pria yang dipilih puterinya itu.
Demikianlah, Coa Siang Lee dan Lan Ci lalu pergi.
Mereka berdua tentu saja merasa menyesal sekali melihat sikap keluarga masing-masing dan mereka pergi ke daerah yang asing sama sekali di mana mereka hidup baru sebagai suami isteri yang saling mencinta, akan tetapi mereka menyembunyikan kepandaian dan hidup sebagai sepasang suami isteri petani biasa!
Mereka bahkan mulai membenci ilmu silat.
Bukan karena keluarga mereka itu tokoh-tokoh persilatan maka membenci perjodohan itu?
Masing-masing mempertahankan nama dan saling bermusuhan!
Setelah sepuluh tahun menjadi suami isteri, barulah Sim Lan Ci mengandung.
Mereka tentu saja merasa berbahagia sekali akan tetapi juga merasa khawatir kalau-kalau anak mereka kelak akan penjadi korban kekerasaan kehidupan kaum persilatan.
Maka mereka lalu bersumpah untuk tidak memperkenalkan anak mereka pada dunia persilatan, sama sekali tidak ingin anak mereka mempelajari ilmu silat!
Kegembiraan mereka menjadi semakin besar ketika kandungan itu kemudian melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat sekali!
Demikianlah, pada sore hari itu, setelah sehari tadi sibuk memimpin buruh tani menuai padi gandum mereka yang subur, suami isteri ini mengaso di miman sebelah kanan rumah mereka, melihat Thian Ki, putera mereka yang berusia tiga tahun itu berlari-larian mengejar kupu-kupu.
Biarpun suami isteri itu keturunan orang-orang pandai, bahkan mereka berdua telah memiliki ilmu silat yang tinggi, namun mereka berdua yang sudah kurang lebih dua belas tahun tidak pernah lagi berurusan dengan dunia kang-ouw, mereka menjadi lengah.
Mereka sama sekali tidak tahu bahwa sejak tadi ada seorang laki-laki muda yang pakaiannya indah pesolek, mengenakan sebuah topi caping lebar yang sama sekali nyembunyikan wajahnya yang tampan beberapa kali lewat di depan rumah mereka.
Wajah tampan itu selalu mengintai dari balik capingnya kalau lewat dari rumah itu, dan sepasang mata yang tajam mencorong mengintai ke arah Sim Lan Ci, ibu muda yang cantik dan miliki bentuk tubuh yang masih nampak padat menggairahkan itu.
Memang Lan Ci memiliki wajah yang cantik jelita dan menarik sekali.
Laki-laki muda bercaping lebar itu bukan lain adalah Can Hong San.
wajahnya yang tampan berseri dan biasanya dihias senyuman ketika akhirnya dia lewat lagi lalu meninggalkan tempat itu, tangan kanan dikepal dan dipukul-pukulkan perlahan pada telapak tangan kiri.
Di dalam hatinya, dia sudah mengambil keputusan untuk mendapatkan, wanita yang amat menarik hatinya itu malam ini!
Dia sedang mencari Lui Seng cu yang berjuluk Hek-houw Tao-to.
Lui Seng Cu itu adalah murid mendiang gurunya atau ayah kandungnya, bahkan Lui seng Cu merupakan murid yang ditugaskan untuk menyebarkan aliran baru yang dirintis gurunya, yaitu pemujaan Thian-Te Kwi-ong.
Dari suhengnya inilah dia kan mencari tahu tentang kegiatan guruya atau ayahnya akhir-akhir ini.
Dan dalam perjalanannya mencari jejak suhengnya itulah Hong San tiba di dusun itu dan kebetulan melihat Sim Lan Ci, ibu muda yang telah menggerakkan hatinya dan membangkitkan gairah berahinya.
Juga suami isteri yang sedang gembira melihat tingkah anak mereka yang mungil itu sama sekali tidak tahu bahwa ada pula sepasang mata yang sejak di mengintai mereka dari balik sebatang pohon, tak jauh dari situ pula.
sepasang mata yang kadang-kadang lembut, kadang-kadang mencorong dahsyat, Mata dari seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh lima tahun, bertubuh tinggi besar, berwajah tampan dan gagah.
Itulah wajah pendekar muda yang mulai terkenal namanya dengan julukan Sin-Iiong, bahkan akhir-akhir ini menjadi Huang-ho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning) karena dia sering muncul sepanjang Sungai Huang-ho dan seringkali dia muncul, tentu ada saja penjahat yang terjungkal dan dihajar bahkan banyak gerombolan penjahat dibasminya.
Sepak terjangnya sebagai seekor naga sakti saja.
Dia adalah Si Han Beng.
Seperti kita ketahui, setelah bersama Pek I Tojin dia membasmi gerombolan yang diketuai "bengcu"
Cui beng Sai-kong, Han Beng lalu ikut Pek I Tojin ke Thai-san untuk menerima geimblengan kakek sakti itu.
Selama kurang lebih setahun dia digembleng kakek itu dan karena dia memang telah memiliki ilmu-ilmu silat tinggi dari dua orang gurunya terdahulu, yaitu Liu Bhok Ki dan Sin-ciang Kai-ong, maka oleh kakek sakti itu dia hanya dilatih untuk memperdalam dan mematangkan ilmu-ilmunya, juga untuk mempelajari sin-kang yang lebih mendalam dan kuat.
Setelah lewat setahun, dia turun gunung dan teringat akan pesan gurunya yang pertama, yaitu Sin-tiauw Liu Bhok Ki.
Dia telah berjanji kepada gurunya itu mtuk membalaskan dendam gurunya kepada dua orang suami isteri yang bernama Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci.
Tidak mudah baginya untuk mencari jejak suami isteri itu, akan tetapi akhirnya, setelah dia berkunjung ke perkumpulan Hek-houw-pang mencari keterangan, dengan mengaku sebagai seorang kenalan Coa Siang Lee, dia berhasil memperoleh keterangan di mana kiranya suami isteri itu berada.
Ternyata bahwa diam-diam keluarga Coa selalu menyelidiki dan mengikuti keadaan kehidupan Coa Siang Lee.
Biarpun Coa Song, ketua Hek-houw-ang, kakek Coa Siang Lee, masih marah melihat cucunya itu menikah dengan puteri Ban-tok Mo-li, namun dia merasa girang bahwa menurut penyelidikan para anak buahnya, Coa Siang Lee tidak terseret keluarga isterinya menjadi penjahat, melainkan hidup dengan tenang dan damai di dusun, menjadi petani.
Namun, dia masih belum menghubungi cucunya itu, walaupun diam-diam mencalonkan cucunya sebagai penggantinya kelak memimpin Hek-houw-pang.
Setelah memperoleh keterangan dari Hek-houw-pang, Han Beng lalu pergi berkunjung ke dusun itu dan menemukan suami isteri itu yang pada sore hari itu sedang bergembira bersama putera mereka di dalam taman.
Sejak tadi Han Beng melakukan pengintaian dan terjadilah keraguan di dalam hatinya.
Mereka adalah sepasang suami isteri yang demikian berbahagia dengan putera mereka, hidup tenteram penuh damai di dusun kecil itu!
suhunya memberi tugas kepadanya untuk menghancurkan kebahagiaan rumah tangga mereka!
Bahkan suhunya memesan agar dia menghancurkan cinta kasih antara suamiisteri ini,dengan cara apapun, kalau perlu dia boleh merayu agar isteri atau bahkan memperkosanya!
Gila, Suhunya memang sudah menjadi seperti gila oleh dendam!
Suhunya, seorang pendekar sakti yang gagah perkasa, menjadi lemah dan gila oleh duka dan dendam.
Bagaimana mungkin dia melakukan perbuatan yang demikian keji?
Andaikata dia menemukan suami isteri ini sebagai orang-orang jahat, masih mudah baginya untuk membalaskan dendam suhunya, walaupun tentu saja bukan dengan cara yang dikehendaki suhunya.
Dia dapat membasmi suami isteri ini sebagai penjahat-penjahat yang layak dibasmi.
Tapi, mereka berdua hidup begini tenteram dan penuh damai, berbahagia dengan putera mereka.
Akan tetapi, siapa tahu, pikirnya.
Banyak penjahat yang dari luar nampaknya hidup damai dan tenteram.
Pikiran terakhir ini membuat Han Beng mengambil keputusan untuk terus membayangi mereka, agar dia dapat yakin bagaimana sesungguhnya keadaan suami isteri yang agaknya amat dibenci suhunya itu.
Dia menyelinap semakin dekat untuk mendengarkan prrcakapan antara mereka.
"Betapa indahnya hari ini,............"
Kata Sim Lan Ci sambil memegang tangan suaminya penuh kasih sayang.
Coa Siang Lee menggenggam tangan isterinya, lalu menengok ke arah barat "Memang indah sekali.
Lihat langit di barat itu, berwarna-warni demikian indahnya, seolah di balik sanalah terdapat sorga seperti dalam dongeng itu."
"Sungguh berbahagia sekali hatiku. Memiliki engkau sebagai suami dan Thian Ki sebagai anak........ ahhh, aku merasa sebagai orang yang paling kaya di dunia ini, paling berbahagia................!"
Coa Siang Lee tersenyum dan mengelus rambut kepala isterinya yang kini bersandar di dadanya.
"Perasaan bahagia dalam hati selalu membuat segala suatu nampak indah, Ci-moi. Dan mudah-mudahan saja anak kita akan selalu dapat hidup berbahagia seperti ini, penuh damai, tenteram, dan tidak pernah mengenal permusuhan, kebencian dan kerasan seperti yang pernah kita alami dahulu."
"Engkau benar, Lee-ko. Aku pun akan pun menentang keras kalau Thian Ki dipernalkan dengan dunia kita dahulu. Engkau masih mending, karena engkau terlahir di dalam keluarga pendekar. Walaupun engkau juga bergelimang dengan linu silat dan kekerasan, namun setidaknya untuk menentang kejahatan, sebaliknya aku....................."
"Sudahlah, kenangan masa lalu hanya akn mendatangkan sesal dan duka saja. yang penting, sekarang kita hidup sebagai petani-petani yang berbahagia, dan yang lebih penting lagi, kita akan mendidik putera kita menjadi seorang yang terpelajar, bijaksana, dan dia hanya akan mengenal cinta kasih, tidak mengenal kebencian, tidak mengenal silat dan tidak mengenal kekerasan dan bermusuhan."
Han Beng meninggalkan suami isteri itu, menjauhkan diri dengan hati semakin dipenuhi keraguan.
Suami isteri itu kini telah menjadi sepasang suami isteri yang hidup berbahagia, juga memiliki pandangan hidup yang demikian baik!
Mereka berdua bahkan ingin menghapus semua kenangan masa lalu, menjadi petani-petani sederhana, bahkan merencanakan untuk mendidik putera mereka menjadi orang yang jauh ilmu silat!
Dan dia harus menghancurkan kebahagiaan dua orang itu?
Bahkan tiga orang bersama putera mereka?
Sungguh gila!
Tidak, dia tidak akan melakukan hal yang keji itu.
Akan tetapi bagaimana dengan janjinya terhadap gurunya?
dia teringat akan sikap gurunya yang amat keji terhadap dua buah kepala manusia itu dan dia bergidik.
Gurunya su guh gila karena dendam.
Dan guru itu mengambilnya sebagai murid hanya agar dia suka membalaskan dendam kepada keturunan dua orang yang pernah menghancurkan kebahagiaan hidupnya, yaitu suami isteri yang sekarang berada di taman itu.
Keraguan yang membuat hati Han Beng merasa bimbang ini akhirnya membuat dia khawatir untuk mengintai terus, bayangan suhunya, yang telah demikian baik kepadanya, semua budi yang dilimpahkan suhunya kepadanya, sejak suhunya menyelamatkannya dari ancaman maut di Sungai Huang-ho, lalu betapa suhunya mendidik dan menggemblengnya dengan kesungguhan hati selama lima tahun dan suhunya tidak pernah minta belas jasa.
Suhunya hanya membuat dia berjanji untuk memenuhi pesannya itu, hanya satu saja permintaannya, yaitu membalas dendam kepada suami isteri Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci, dan kini dia ragu-ragu, bahkan condong untuk tidak memenuhi pesan suhunya.
Kalau dia berada di situ lebih lama lagi, dia khawatir kalau pikirannya akan berubah lagi.
Tanpa diketahui suami isteri dan anak tereka, diapun meninggalkan tempat pengintaiannya.
Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci membawa anak mereka memasuki rumah selelah senja melarut dan malam hampir tiba.
Mereka hidup bertiga saja, tanpa Pembantu di dalam rumah mereka yang tidak berapa besar namun yang bersih dan rapi.
Hanya ada dua buah kamar dalam rumah itu, kamar suami isteri dan kamar untuk anak mereka den pintu tembusan antara dua kamar.
Mereka lalu makan malam dan setelah selesai makan malam, Sim Lan Ci membersikan meja makan dan mencuci mangkok, piring, sedangkan Coa Siang Lee mengajak Thian Ki bermain-main di ruang tengah.
Sehabis makan malam tadi, mereka membersihkan mulut dan gigi, suatu kebiasaan yang dipakai oleh Sim Lan Ci sejak ia masih kecil.
Ibu kandung Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu, biarpun usianya sudah setengah abad lebih, masih nampak cantik dengan gigi yang putih rapi karena ibunya juga mempunyai kebiasaan membersihkan mulut dan gigi setiap kali mau tidur dan kebiasaan menurun kepada Sim Lan Ci.
Nyonya muda itu kini menularkan kebiasaan yang amat baik kepada suaminya dan juga kepada anaknya.
Malam itu hawa udara amat dinginnya.
Biarpun bulan sedang purnama sehingga dunia diluar rumah amatlah indah dan romantisnya, namun jarang ada penghuni dusun yang mau keluar meninggalkan kamar mereka yang hangat karena diluar, hawa dingin menusuk tulang, bahkan mereka itu tidur sore-sore.
Demikian pula dengan keluarga Coa Siang .
Mereka berdua sudah berada di kamar putera mereka, dan keduanya meninabobok putera tersayang itu dengan nyanyian dan dongeng.
Setelah Thian Ki akhirnya tidur pulas ayah ibunya menyelimutinya, meniggalkan kamar putera mereka itu dengan membiarkan sebuah pelita kecil bernyala di sudut kamar, lalu mereka sambil bergandengan tangan lalu memasuki kamar mereka sendiri yang bersambung dengan kamar putera mereka.
Akan tetapi, begitu tiba di dalam kamar mereka, suami isteri itu terbelalak dan muka mereka berubah pucat karena mereka melihat bahwa di atas pembaringan mereka telah duduk seorang laki-laki muda yang mengenakan caping lebar!
Pemuda itu menurunkan capingnya ke belakang dan kini dia memandang kepada suami isteri itu sambil terseny um.
Wajah pemuda itu sungguh tampan ketika tersenyum, dia nampak semakin ganteng dan melihat pakaiannya, mudah diduga bahwa dia seorang sastrawan atau setidaknya seorang pelajar!
Sebuah buntalan berada di atas meja.
"Siapa engkau?"
Coa Siang Lee tanya dengan suara kaku dan alis berkerut.
"Dan mau apa engkau datangi kamar kami?"
"Bagaimana engkau dapat masuk sini?"
Sim Lan Ci juga bertanya.
Wajah pemuda ini tadi mengerling ke kanan dan melihat betapa jendela dan pintu masih tertutup, lalu bagaimana orang muda ini dapat berada di dalam kamarnya tanpa ia dan suaminya mendengar, suara sedikit pun?
Pemuda itu tersenyum makin lebar sepasang matanya berbinar-binar penuh kegembiraan, mata yang sejak tadi ditujukan kepada Sim Lan Ci sedemikian rupa sehingga ibu muda ini merasa seolah sinar mata itu menggerayangi seluruh tubuhnya, membuatnya bergidik, akan tetapi juga marah.
"Manis, aku datang karena aku jatuh cinta padamu ketika melihat engkau di taman tadi."
Katanya dengan sikap biasa saja seolah-olah dia mengeluarkan ucapan yang wajar. Tentu saja seketika wajah suami isteri itu menjadi merah padam. Coa Siang Lee melangkah maju dan membentak.
"Engkau ini seorang yang gila atau memang sengaja hendak mengganggu kami! ayo katakan siapa engkau dan apa maksudmu datang seperti ini?"
Kini sepasang mata itu ditujukan kepada Siang Lee yang menjadi terkejut melihat mata itu mencorong.
"Aku tidak butuh denganmu!"
Kata pemuda itu degan sikap yang angkuh sekali.
"Keluarlah engkau dari kamar ini, aku hanya ingin meminjam isterimu untuk malam ini!"
Coa Siang Lee terbelalak dan Lan Ci bahkan mengeluarkan jerit kecil.
Kemarahan mereka tidaklah sebesar keheranan mereka mendengar ucapan seperti itu.
Kiranya hanya orang yang berotak miring saja yang mampu bicara seperti itu, hendak meminjam isteri orang dan menyuruh suaminya keluar dari kamarnya sendiri!
Akan tetapi, setelah keheranan itu lewat, kemarahan membawa wajah Siang Lee merah sekali dan matanya mengeluarkan sinar berapi.
Selama dua belas tahun mereka tinggal di dalam dusun itu, tidak pernah satu kali mereka terlibat urusan kekerasan, dan mereka sama sekali tidak pernah mempergunakan ilmu silat mereka, bahkan untuk berkelahi maupun hanya sebagai latihan.
Dan malam ini, muncul seorang pemuda yang demikian beraninya melakukan penghinaan secara luar biasa sekali.
Sikap pemuda itu membuat mereka dua saling pandang dan merasa curiga.
"Sobat, katakan siapa engkau mengapa engkau sengaja datang untuk mengganggu kami yang tidak mengenalmu! Siapakah yang menyuruh engkau bersikap seperti ini terhadap kami?"
Sim Lan Ci kini bicara dan sikapnya tidak lagi seperti seorang wanita biasa, melainkan ia sudah kembali bersikap seperti dulu, seorang wanita gemblengan yang sudah biasa menghadapi kekerasan.
Sikap ini membuat pemuda yang bukan lain adalah Can Hong San itu berdiri dan memandang heran.
Mana mungkinn ada seorang wanita dusun bersikap gagah ini?
Akan tetapi, melihat wanita yang digilainya itu dapat bersikap segagah itu, dia menjadi semakin tertarik dan kembali dia tersenyum.
"Manis, engkaulah yang menyuruh aku datang malam ini. Sore tadi aku kebetulan lewat di luar taman dan melihat engkau demikian cantik jelita dan manis............. hmmmmm, aku merasa seperti ditarik besi semberani dan di sinilah aku sekarang! Mari, Manis, mari kaulayanilah gairahku ............."
Dia mengembangkan kedua lengan seperti hendak memeluk! Suami isteri itu tidak dapat menahan kesabaran mereka lebih lama lagi. manusia gila! Engkau sungguh kurang ajar dan patut dihajar!"
Bentak Coa Siang Lee yang sudah mengirim tamparan keras kearah mulut pemuda itu.
Tamparan Coa Siang Lee bukan tamparan biasa, melainkan tamparan yang amat kuat karena biarpun selama belasan tahun pria ini tidak pernah berlatih, namun dia memiliki tenaga sin-kang yang kuat dan memang ilmunya sudah mendarah daging dalam dirinya.
Diam-diam Can Hong San terkejut bukan main.
Tadinya dia mengira bahwa suami isteri itu hanyalah orang-orang dusun biasa.
Sungguh tidak disangkanya bahwa "petani"
Itu mampu menamparnya dengan kekuatan sedahsyat itu!
Tahulah dia bahwa dia menghadapi lawan lihai.
Akan tetapi, dengan tenang saja dia sengaja mengangkat lengan untuk menangkis, tentu saja diam-diam mengerahkan pula tenaga sin-kangnya.
"Dukkk.......!!"
Akibat tangkisan ini, tubuh Coa Siang Lee terpelanting!
Bukan main heran dan kagetnya Siang Lee.
sungguh tak disangkanya bahwa orang yang amat kurang ajar dan mendekati gila ini memiliki tenaga yang sedemikian hebatnya!
Maka, tanpa banyak cakap lagi karena dia kini maklum bahwa orang itu memang sengaja datang untuk mencari keributan, dia lalu maju menerjang dengan pukulan-pukulan dahsyat dari ilmu silat Hek-houw-pang.
Kedua tangannya membentuk cakar harimau dan gerakannya selain cepat, juga penuh tenaga dasyat, mencengkeram kesana-sini dibagian tubuh berbahaya dari lawan.
"Aha, kiranya engkau bukan petani dusun biasa, melainkan seorang ahli silat yang agaknya menyembunyikan diri di sini!"
Hong San berseru heran, akan tetapi dia pun cepat menggerakkan tubuhnya dengan amat lincahnya, mengelak, menangkis dan membalas serangan lawan.
Terjadilah perkelahian yang seru di dalam kamar itu.
Namun, Siang Lee merasa semakin kaget khawatir karena dia mendapat kenyataan betapa lihainya pemuda bercaping lebar ini!
Sim Lan Ci juga melihat betapa suaminya tidak akan menang menghadapi lawan yang amat tangguh itu.
Diam-diam ia menduga-duga siapa gerangan pemuda yang luar biasa lihainya itu!
Tentu senngaja datang mencari mereka untuk membunuh!
Tidak banyak terdapat orang selihai ini di dunia kang-ouw, pikirnya dan tidak mungkin hanya kebetulan saja datang di tempat itu, melihatnya tergila-gila kepadanya.
Diam-diam nyonya ini lalu menuju ke sebuah almari mana ia masih menyimpan beberapa buah senjata rahasianya yang sudah belasan tahun tidak pernah dipergunakannya.
Untung bahwa di dalam kantung itu masih terdapat empat batang Toat-beng tok-piauw (Piauw Beracun Pencabut Nyawa).
Cepat ia mengambilnya dan menyambit-nyambitkan empat batang piauw itu dengan hati-hati agar jangan mengenai suaminya sambil berteriak nyaring.
"Lee-ko, mundur! Jahanam busuk, makanlah piauw-ku!"
Terdengar suara bersiutan ketika empat batang piauw itu menyambar, dan Siang Lee sudah melompat ke belakang, empat batang senjata rahasia beracun itu menyambar dengan cepat sekali ke arah tubuh Hong San, namun betapa kagetnya hati nyonya muda itu ketika tiba-tiba saja tubuh pemuda bercaping lebar itu berkelebat lenyap dan tahu-tahu telah berada di belakangnya, menyentuh pinggulnya dengan jari tangan, mencubit pinggul itu.
"Lhhh!"
La membalik dan seperti sekor singa betina mengamuk ia pun menyerang dengan ilmu silat Ban-tok-hwa-im yang amat dahsyat!
Diam-diam Hong San semakin kagum dan terkejut.
Kiranya wanita ini memiliki ilmu silat yang leih lihai daripada suaminya!
Juga Siang Lee sudah maju menerjang dan Hong San dikeroyok suami isteri itu di dalam kamar yang tidak begitu luas.
Barulah Hong San merasa kecelik terkejut.
Dia maklum bahwa kalau menandingi suami isteri itu sa.tu demi sa tu dia masih sanggup untuk menang.
Akan tetapi dikeroyok dua oleh suami isteri yang lihai ini, sungguh amat berbahaya baginya.
Namun, dia bukan orang yang suka mengaku kalah.
Apalagi, hasratnya menjadi semakin bernyala-nyala setelah kini dia melihat bahwa wanita yang membuatnya tergila-gila itu bukan sekedar cantik manis saja, melainkan juga amat lihai!
Dia semakin tergila-gila dan mengambil keputusan bahwa harus memiliki wanita itu.
Coa Siang Lee dan Si m Lan Ci mengeroyok pemuda itu, kini menjadi yakin bahwa pemuda ini memang datang bukan sekedar tertarik oleh kecanti Lan Ci, melainkan tentu mempunyai tujuan yang sudah direncanakan untuk mencelakan mereka.
Mereka merasa menyesal sekali mengapa selama ini mereka lengah sehingga bukan saja mereka tidak pernah berlatih silat sehingga tentu saja gerakan mereka tidaklah selincah dahulu, akan tetapi juga mereka telah menyimpan pedang mereka dan sudah lupa lagi dimana mereka menyimpan senjata mereka itu.
Kalau mereka kini dapat memegang senjata pedang mereka, kiranya mereka akan dapat mengalahkan musuhnya dengan cepat.
Betapapun juga, suami isteri yang memang lihai itu mulai dapat mendesak Hong San.
Mereka berkelahi mati-matian untuk mempertahankan kehormatan, sebaliknya, Hong San hanya main-main saja karena memang maksudnya bukan memusuhi suami isteri itu, melainkan "meminjam"
Sang isteri! Biarpun tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi dari mereka namun dikeroyok dua oleh suami isteri yang nekat itu dia menjadi kewalahan juga.
"Ayah........, Ibu...........!"
Tiba-tiba terdengar suara anak kecil ini dan yang muncul di pintu tembusan adalah Thian Ki, anak laki-laki berusia tiga tahun itu. agaknya dia terbangun karena suara ribut-ribut.
"Thian Ki..........! Kembali ke kamarmu......!"
Sim Lan Ci berseru kaget bukan main, namun terlambat.
Melihat munculnya anak itu, Hong San yang cerdik seperti setan itu sudah menyanbut ke belakang dan tahu-tahu anak itu telah berada dalampondongannya.
Anak itu menjerit-jerit, akan tetapi sekali Hong San menekan tengkuknya, anak itu terkulai lemas, tertotok dan tak mampu bergerak atau berteriak lagi.
Melihat anak mereka berada dalam cengkeram penjahat itu, suami isteri yang tadinya mengamuk itu, terpaksa menahan gerakan mereka dan memandang dengan mata terbelalak dan pucat.
"Kembalikan anakku.............!"
Sim Lan berseru, siap untuk menubruk maju.
"Heinttttt............ tenanglah, manis. Apakah kalian menghendaki aku membanting anak ini di depan kaki kalian sampai remuk, baru kemudian kubunuh kalian?"
Hong San mengancam dan mengarkat anak itu, siap untuk membantingnya.
"Jangan..........., jangan lakukan itu......... Siang Lee berseru, wajahnya semak pucat.
"Apakah yang"
Kaukehendaki benarnya?
Siapakah engkau?
Jangan membunuh anak kami yang tidak berdosa!
"Aku tidak akan membunuh anak mungil ini kalau kalian menurut kata-kataku.
Akan tetapi, sedikit saja kalian membuat gerakan mencurigakan atau tidak menurut perintahku, tentu aku akan membanting remuk anak mungil ini!"
"Jangan bunuh dia.........., katakan yang harus kami lakukan!"
Kata Sim Lan Ci, juga merasa khawatir dan merasa tidak berdaya sama sekali setelah, puteranya ditawan.
"Bagus, Manis. Nah, perintahku pertama, kautotok jalan darah suami agar dia tidak mampu bergerak lagi kemudian ikat kaki tangannya di tiang sudut kamar itu."
Sepasang mata Sim Lan Ci terbelalak, alisnya berkerut dan tentu saja ia tidak setuju, akan tetapi tidak berani terang-terangan menolak. Melihat sikap ragu-ragu wanita itu, Hong San mengancam.
"Cepat lakukan perintahku, atau kau lebih suka melihat anakmu ini kubanting?"
"Ci-moi, lakukanlah perintahnya."
KataSiang Lee yang merasa tidak berdaya dan amat mengkhawatirkan keselamatan anaknya yang terjatuh ke tangan orang yang agaknya sinting itu.
Lan Ci menghampiri suaminya, pandang matanya sayu dan menderita sekali.
"Maafkan aku..........."
Bisiknya dan ia pun menotok jalan darah di pundak suaminya.
Seketika tubuh itu lemas dan tentu roboh kalau tidak cepat ditangkap 'oleh Lan Ci yang memapahnya, menariknya ke tiang di sudut kamar.
Dengan iti tidak karuan rasanya, Lan Ci terpaksa mengikat kaki tangan suaminya pada tiang itu, menghadap ke arah kamar karena ia ingin suaminya tetap waspada walaupun untuk sementara tidak mampu bergerak.
"Ha-ha, jangan mencoba menipu aku, Manis. Aku adalah seorang ahli totok jalan darah, tahu? Hayo totok lagi jalan darah thian hu-hiat agar dia tidak dapat lepas pula dari totokan, lalu ikat dia!"
Lan Ci terkejut.
Akalnya ketahuan dan hal ini hanya membuktikan betapa lihainya lawan itu.
Memang tadi ia menotok lemas suaminya, hanya totokan hanya sementara saja, dan dalam beberapa menit suaminya akan pulih kembali.
Terpaksa ia melaksanakan perintah dan sekarang keadaan suaminya benar-benar lemas dan tidak mampu bergerak untuk waktu sedikitnya dua jam!
Karena merasa percuma untuk menipu, ia pun mengikat kaki tangan suaminya dengan sabuk sutera yang kuat.
"Sudah kulaksanakan perintahmu, karang bebaskan anakku!"
Kata Sim Ci.
Pemuda itu menyeringai dan bair pun dia tampan, namun pada saat itu bagi Lan Ci dia kelihatan seperti iblis yang menyeramkan.
Sim Lan Ci sendiri adalah puteri Ban-tok Mo-li.
Sudah biasa melihat kekejaman-kekejaman walau pun ia sendiri tidak berbakat untuk menjadi jahat.
Namun karena sekarang ia yang menjadi korbannya, maka ia merasa begitu marahnya sehingga kalau saja bidak teringat akan keselamatan puteranya, ingin rasanya ia menyerang dan mengadu nyawa dengan pemuda itu.
"Heh-heh-heh, sudah kukatakan. Aku ldatang bukan untuk membunuh kalian. Manis. Kalau aku ingin membunuh kalian, apa sukarnya? Aku hanya tergila-gila kepadamu, Manis. Aku tidak akan membunuh kalian bertiga kalau engkau sikap manis padaku. Nah, sekarang perintahku ke dua. Tanggalkan semua pakaianmu!"
Sepasang mata itu terbelalak dan kedua pipi Lan Ci berubah merah lagi. Ada hawa keluar dari dadanya yang membuat ia ingin sekali menerjang laki-laki yang menghinanya itu.
"Jahanam keparat! Engkau hendak menghinaku.......... memperkosaku di depan suamiku dan anakku? Keparat, iblis.........!"
"Ingat, aku banting anakmu kalau engkau bergerak menyerang!"
Hong San berseru dan mengangkat tubuh Thian Ki "Aku tidak ingin memperkosamu, aku ingin engkau melayani aku dengan penuh kemesraan dan kasih sayang!"
KANGZUSI WEBSITE
http.//kangzusi.com/
Jilid 16 Aku tidak sudi...........!"
Lan Ci berteriak.
"Lebih baik aku mati!"
"Engkau tidak akan mati, Manis. Akan tetapi anakmu ini yang akan remuk kepalanya, dan engkau akhirnya akan jatuh pula ke dalam pelukanku, walau untuk itu aku harus melakukan paksaan. Nah, lihat kepala anakmu akan hancur dan otaknya berantakan!"
"Tunggu.............. ! Jangan bunuh anakku !"
Siang Lee berseru dengan lemah.
"Ci-moi ............ lakukanlah apa yang dikehendakinya"
Katanya dan suaranya mengandung isak saking marah dan tidak berdaya. Sim Lan Ci membelalakkan matanya kepada suaminya.
"Apa? Engkau suamiku sendiri, engkau satu-satunya pria varig kucinta, engkau menyuruh aku membiarkan diriku dihinanya? Kemudian, kalau dia sudah menggauli di depan matamu, ialu kelak engkau memandang rendah padaku, ya? Engkau menghinaku, engkau bahkan akan membenciku...........!"
"Tidak, isteriku! Sama sekali tidak. Kalau hanya untuk keselamatan diriku sampai mati pun aku tidak rela melihat engkau disentuhnya. Akan tetapi untuk Thian Ki......! Ingat Thian Ki anak kita satu-satunya.........! Dia tidak boleh mati konyol begitu saja!"
Sim Lan Ci menjadi lemas.
Ia mandang ke kanan kiri bagaikan seekor kelinci yang sudah disudutkan, siap diterkam harimau.
Ia tidak tahu harus berbuat apa, akan tetapi melihat anaknya diangkat tinggi-tinggi itu, ia merasa hatinya seperti hancur luluh.
"Baiklah ......... baiklah...........!"
Ia berbisik dan terdengar isak tertahan.
"Aku turut perintahmu, akan tetapi................ kaubebas dulu anakku......... , lepaskan dia ..........."
"Ha-ha-ha, kaukira aku ini anak kecil yang mudah kautipu begitu saja? Namanya menjual barang, belum memberi dan memperlihatkan barangnya sudah mau minta bayarannya! Hayo kau tanggalkan dulu pakaian itu satu demi satu, dan aku akan membebaskan anakmu!"
Sim Lan Ci merasa bahwa ia berada di dalam cengkeraman seorang gila, atau seorang yang luar biasa jahatnya, kejamnya, akan tetapi juga amat cerdiknya.
Bicara dengan orang seperti itu, tidak ada gunanya, juga akan menyakitkan hati saja kalau mencoba untuk mengakalinya.
Maka, dengan hati penuh kemarahan sehingga tangannya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena arah, mulailah ia menanggalkan pakaiannya, di depan penjahat muda yang gila itu, juga di depan suaminya yang memandang tidak berdaya.
"Bagus......... bagus........... ah, sudah kuduga......... engkau memiliki tubuh yang hebat sekali.........! Ah, engkau sungguh manis......."
Hong San terbelalak, matanya mengeluarkan sinar aneh dan hidungnya mendengus seperti seekor kuda, napasnya terengah.
Lan Ci tidak peduli, menanggalkan pakaian seolah-olah disitu tidak ada seorang pun yang memandangnya, seperti kalau ia sedang hendak mandi saja.
"Sudah, kulaksanakan perintahmu, karang bebaskan anakku, berikan kepadaku!"
Kata Sim Lan Ci. Hong San tertawa.
"Ha-ha-ha, aku masih belum selesai denganmu, Manis, Masih belum selesai, bahkan baru mulai........., akan tetapi aku pun bukan orang yang tidak memegang janji. Nah, ini anakmu sudah kulepaskan, akan tetapi engkau naiklah ke atas pembaringan itu. Engkau harus melayani aku dengan suka rela, dengan mesra ........ ah, aku sungguh semakin tergila-gila padamu, Manis.............!"
Hong San benar saja melepas Thian Ki yang tidak mampu bergerak itu ke atas lantai, di mana anak itu menggeletak tak mampu bergerak, hanya memandang dengan mata terbelalak ketakutan.
Kemudian, dia menghampiri Lan Ci.
Wanita ini maklum apa yang akan dilakukan penjahat yang seperti iblis gila Itu.
Kalau ia menolak, tetap saja anaknya berada dalam bahaya.
Ia harus pura-pura menurut, dan nanti di atas pembaringan, masih ada kesempatan baginya untuk mengadu nyawa!
Yang penting, anaknya haruslah benar-benar bebas dari ancaman maut lebih dulu.
Maka, ia pun mundur dan duduk di tepi pembaringan, seolah-olah menanti Hong San yang bagaikan seekor harimau menghampiri seekor kelinci gemuk yang sudah menyerah, dan gairah di dalam hati penjahat muda Ini semakin bergelora karena dia pun mengira bahwa sekali ini wanita manis itu telah benar-benar menyerah dan takluk kepadanya.
Sementara itu, sejak tadi Coa Siang Lee menjadi penonton yang tidak berdaya.
Dapat dibayangkan bagaimana perasaan hatinya.
Dia melihat puteranya terancam maut tanpa mampu melindungi, kini dia bahkan disuruh melihat isterinya tercinta akan diperkosa orang dan dia sama sekali tidak mampu bergerak!
Ingin dia memaki, ingin dia berteriak, ingin dia menangis, namun dia tahu bahwa semua itu tidak ada gunanya, balkan kalau penjahat itu marah jangan-jangan Thian Ki akan dibunuhnya lebih dulu!
Hong San kini sudah tiba dekat sekali dengan Lan Ci, dan napasnya semakin memburu dan seluruh tubuhnya seolah-olah kebakaran, bahkan Lan Ci dapat merasakan betapa hawa panas keluar dari tubuh pemuda yang seperti iblis gila itu.
"Hemmm, aku tidak ingin menotokmu, aku ingin engkau hidup dalam pelukanku, ingin engkau menyerahkan diri dengan mesra, dengan suka rela. Aku cinta padamu, Manis ..................."
Pada saat pemuda itu masih bicara dan berada dalam keadaan penuh nafsu sehingga seperti sebuah balon akan meledak itu, Lan Ci yang sudah siap si sejak tadi, tiba-tiba saja mengirim pukulan ke arah perut Hong San sambil mengerahkan seluruh tenaganya.
Pukulan Itu adalah pukulan beracun yang amat hebat dan sekali terkena pukulan itu biar seorang yang bagaimanapun lihainyn, jangan harap akan dapat hidup lagi.
Isi perutnya tentu akan hangus dan membusuk oleh hawa beracun yang amat hebat.
Namun, Hong San memang seorang yang amat cerdik.
Biarpun dia dikuasai nafsu berahi yang memuncak pada saat itu, namun dia tidak pernah lengah dan tetap waspada.
Hal ini adalah karena dia pun telah maklum bahwa wanita itu amat lihai.
Andaikata dia tidak tahu akan hal ini, mungkin saja dia telah terkena pukulan maut itu.
Dia tahu bahwa wanita itu lihai sekali, memiliki senjata rahasia dan pukulan beracun yang bahkan lebih berbahaya daripada suami wanita itu.
Maka, biarpun seluruh tubuhnya dikuasai hawa nafsu, tetap saja dia waspada dan begitu Lan Ci menggerakan.tangan memukul, tubuhnya sudah berkelebat ke kiri dan pukulan yang dahsyat itu tidak mengenai sasaran!
Tentu saja Lan Ci kaget bukan nain karena dia mengkhawatirkan putranya.
Pada saat itu, tiba-tiba daun jendela diterobos tubuh orang dari luar, dan esosok bayangan berkelebat ke dalam kamar.
"Selamatkan anak itu!"
Terdengar suara yang tenang dan bayangan itu sudah menerjang kearah Hong San dengan dorongan tangan kanan yang datangkan angin keras.
"Wuuuuuttttt.........!"
Telapak tangan orang itu mendorong dan Hong San terkejut sekali, merasa betapa ada angin pukulan yang amat kuat menerjang Dia pun cepat mengerahkan tenaga menangkis.
"Desss............!!"
Akibat benturan kedua lengan ini, Hong San terhuyung dan hampir terpelanting!
Akan tetapi, penyerang itu, seorang pemuda tinggi besar gagah, juga terhuyung.
Hong San jadi gentar.
Baru suami isteri itu kalau mengeroyoknya, dia sudah kewalahan.
Kalau kini muncul seorang yang agaknya bahkan jauh lebih lihai dari mereka berarti dia akan celaka.
Maka, tanpa banyak cakap lagi, tubuhnya sudah berkelebat lenyap.
Dia meloncat keluar melalui jendela yang sudah terbuka, tidak seperti ketika masuk ke kamar itu dia tadi membongkar genteng.
"Hemmm, jahanam keparat, hemdak lari ke mana kau?"
Pemuda Tinggi Besar melompat pula menerobos jendela dan mengejarnya.
Sementara itu, begitu mendengar suara pemuda tinggi besar tadi, Lan Ci sudah melompat, tidak peduli akan keadaan tubuhnya yang telanjang bulat, dan menyambar puteranya, cepat membebaskan puteranya dari totokan.
Anak itu segera menangis dalam pondongannya.
Lan Cl cepat menghampiri suaminya, membebaskan totokan pada tubuh suaminya dan membantunya melepaskan ikatan.
"Kaupondong dulu Thian Ki, aku akan mengenakan pakaian!"
Kata Lan Ci.
Cepat ia mengenakan pakaiannya kembali, kemudian bersama suaminya, sambil menggendong Thian Ki, dan kini masing-masing membawa pedang mereka, suami isteri itu telah berloncatan keluar dan melakukan pengejaran.
Sementara itu, ketika Hong San melihat bahwa pemuda tinggi besar itu mengejar, dia merasa penasaran sekali.
Kini dia berada di luar rumah, di tempat yang luas, maka tidak berbahaya sekali kalau dikeroyok.
Dia penasaran belum dapat menandingi pemuda tinggi besar yang telah mencampuri urusannya dan telah mengganggu kesenangannya.
Bayangkan saja, tadi wanita manis sudah berada di depannya, bagaikan potong daging sudah berada di bibir tinggal menelannya saja dan muncul orang usil itu yang menggagalkan segalanya!
Maka, dia pun segera menghentikan larinya dan mempersiapkan pedang di tangan kanan dan suling ditangan kiri.
Dia memang suka bermain suling, pandai meniup suling menyanyikan lagu-lagu yang merdu, akan tetapi dia pandai pula mempergunakan musik tiup itu untuk mengimbangi pemainan pedangnya!
Begitu pemuda itu muncul, Hong menyerangnya dengan tusukan pedang diikuti sambaran suling yang mengeluarkan suara melengking nyaring!
Pemuda tinggi besar itu kagum melihat gerakan lawan dan cepat dia menjatuhkan diri ke belakang, bergulingan dan ketika dia meloncat bangun, dia sudah memegang sepotong dahan pohon kering yang dipungutnya ketika dia bergulingan tadi.
Hong San tersenyum menyeringai melihat lawannya memegang sebatang tongkat sederhana sebagai senjata.
Mampus kau, pikirnya.
Sama sekali dia tidak pernah mimpi bahwa yang dihadapinya bukanlah seorang pendekar sembarangan saja.
Dia berhadapan dengan Huang-ho Sin-liong!
Dan tongkat di tangan pendekar itu dapat menjadi senjata yang amat ampuh, karena dia sudah mewarisi ilmu dari seorang di antara guru-guruya, yaitu Sin-ciang Kai-ong dan ilmu itu adalah Ilmu Tongkat Dewa Mabuk!
Bukan itu saja, Huang-ho Sin-liong Si Han Beng ini telah menerima gemblengan dari seorang kakek sakti, yaitu Pek I Tojin.
Biarpun gemblengan itu tidak lebih dari satu tahun, namun gemblengan tu telah mematangkan ilmu-ilmu yang diperolehnya dari dua orang gurunya, yaitu Sin-tiauw Liu Bhok Ki dan Sin ciang Kai-ong, di samping tenaga saktinya bertambah kuat bukan main.
Seperti kita ketahui, Han Beng telah menemukan rumah Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci.
Sore tadi, seperti juga Hong San, dia melihat betapa suami isteri itu bersama anak mereka hidup berbahagia dan sedang bergembira dalam taman.
Keadaan suami isteri itu membuat dia menjadi bingung dan ragu-ragu.
Dia merasa tidak sanggup memenuhi janjinya kepada gurunya untuk menghancurkan kebahagiaan suami isteri itu, apalagi dengan cara mengusahakan agar isteri muda itu melakukan penyelewengan dengannya!
Dalam keadaan ragu-ragu itulah dia meninggalkan rumah itu.
Akan tetapi, kalau dia tidak mau melaksanakan pesan dan perintah gurunya, berarti dia telah mengingkari janji.
Hal ini amat menggelisahkan hatinya dan membuatnya tidak dapat tidur malam itu.
Dia bermalam di rumah seorang petani di luar dusun.
Kemudian muncul pikiran.
Siapa tahu kkalu-kalau suami isteri yang menurut gurunya memiliki ilmu silat yang cukup tinggi itu diam-diam melakukan perbuatan jahat.
Kalau benar demikian, berarti ada jalan baginya untuk menentang mereka.
Dan sebaiknya kalau malam itu dia melakukan penyelidikan.
Demikianlah, tanpa menyangka bahwa di rumah suami isteri itu terjadi peristiwa yang hebat, dia pergi ke rumah itu, baru setelah dia mengintai ke dalam, dia melihat dan mendengar semuanya!
Betapa suami isteri yang tadinya mengeroyok seorang pemuda bercaping lebar yang amat lihai itu menjadi tidak berdaya setelah pemuda bercaping lebar itu menangkap anak mereka.
Dari percakapan itu, diam-diam dia merasa kagum.
Suami itu adalah seorang yang gagah perkasa, dan isterinya amat setia.
Hanya mereka itu terpaksa menyerah karena si penjahat kejam telah menguasai anak mereka!
Dan di saat terakhir, Han Beng melihat betapa isteri yang setia itu tidak menyerah begitu saja, melainkan setelah melihat anaknya dilepaskan dengan nekat dan mati-matian ia pun melakukan perlawanan.
Melihat itu.
Han Beng tidak dapat tinggal diam lagi.
Dia menerobos jendela lalu menyerang si penjahat yang ternyata memang amat lihai, hal itu dibuktikannya dari benturan antara tanngan mereka.
Dan kini, ketika dia mengejar, penjahat itu telah menantinya dan menyerangnya dengan pedang suling.
Gerakan serangannya juga a cepat dan dahsyat sekali.
Jalan satu-satunya bagi Han Beng untuk menyelamatkan diri hanyalah membuang diri bergulingan, sambil menyambar sebatang tongkat di atas tanah.
Kini mereka saling berhadapan.
Hong San masih menyeringai, tersenyum mengejek melihat lawan hanya bersenjatakan tongkat butut.
Sebaliknya, Han Beng memandang kagum.
Pemuda di depannya itu nampak gagah perkasa.
Biarpun wajah itu hanya diterangi sinar bulan purnama, juga dibantu penerangan lampu gantung di luar rumah, namun jelas nampak bahwa pemuda di depannya ini orang yang ganteng, gerak-geriknya halus, wajah yang selalu tersenyum dengan tarikan muka yang menarik.
Tentu banyak di antara para wanita yang jatuh hati kalau bertemu dengan pemuda itu.
Akan tetapi, mengapa wataknya demikian kotor dan kejamnya ketika dia menginginkan Sim Lan Ci, wanita yang sudah bersuami dan berputera itu?
Diam-diam dia bergidik membayangkan kekejaman yang diperlihatkan pemuda ini tadi, memaksa seorang ibu untuk menyerahkan diri dengan mengancam anaknya yang masih kecil, dan membiarkan si suami dalam keadaan terikat menjadi menonton pula!
Hanya orang yang wataknya seperti iblis saja yang memiliki kekejaman seperti itu.
Setelah saling pandang tanpa mengeluarkan kata-kata, tiba-tiba saja Hong san menerjang ke depan lagi, kini pedangnya diputar sangat cepat dan di seling tusukan sulingnya yang melakukan totokan pada jalan darah di tubuh lawan.
"Sing-sing-wuuuuuttttt...........!"
Serangan bertubi-tubi itu dielakkan dengan mudah oleh Han Beng.
Kemudian, ketika untuk kesekian kalinya pedang itu menyambar ke arah lehernya, dia mengelak dengan menekuk lutut kirinya dalam-dalam saat itu juga, tongkatnya menyambar ke arah lutut kiri lawan.
kalau terkena sasaran, tentu sambungan lutut akan terlepas!
Namun, Hong San juga sudah mengelak dengan meloncat ke atas dan kembali pedangnya menyambar kini membacok dari atas mengarah kepala Han Beng, disusul tusukan suling ke arah leher.
Kembali Han Beng mengelak dengan loncatan ke belakang, lalu dengan gerakan berputar, tongkatnya terayun-ayun hendak memukul lawan.
Melihat gerakan ini, Hong San yang tinggi hati itu tertawa.
Gerakan iti sungguh lucu dan buruk, seolah-olah di gerakkan oleh orang sinting atau orang yang mabuk.
Akan tetapi, baru saja tertawa, suara ketawanya berubah menjadi seruan tertahan karena kaget.
"Bukkk!"
Pinggulnya terkena hantaman tongkat itu!
Sungguh aneh dan sukar dipercaya.
Gerakan tadi demikian canggung dan kaku, sehingga dia menjadi lengah, mengira bahwa pukulan itu tentu tidak akan mengenai dirinya karena dia sudah menggeser kaki ke kanan dan pedangnya sudah menusuk lagi ke arah lambung lawan.
Gerakan yang seperti orang mabuk itu dilanjutkan.
Lawannya yang tinggi besar terhuyung, akan tetapi pedangnya tidak mengenai sasaran dan sebaliknya, tongkat itu tahu-tahu menyeleweng dan menggebuk pinggulnya!
Tentu saja Hong San menjadi marah bukan main.
Dia tidak tahu bahwa memang yang dimainkan oleh lawan adalah Ilmu Tongkat Dewa Mabuk.
Justeru dalam gerakan yang terhuyung, lucu dan buruk itulah letak keampuhan ilmu dari Sin-Ciang Kai-ong itu.
Gerakan yang seperti orang mabuk itu membuat lawan menjadi lengah dan memandang rendah!
Akan tetapi di samping kemarahannya, juga Hong San mulai merasa gentar.
Apalagi ketika itu, dia melihat suami isteri tadi sudah berlarian keluar membawa pedang di tangan.
Tahulah dia bahwa kalau dia melanjutkan perlawanan, dia akan celaka di tempat itu.
Maka, melihat betapa lawan yang telah menggebuk pinggulnya itu tidak mendesak, dia pun lalu meloncat jauh dan melarikan di secepatnya.
"Jahanam busuk, kau hendak lari mana?"
Coa Siang Lee berseru dan mengejar.
"Kita kejar dan bunuh iblis itu!"
Ka pula Sim Lan Ci.
"Harap Ji-wi (Kalian) tidak mengejarnya. Hal itu amat berbahaya bagi Ji-wi, terutama bagi putera Ji-wi!"
Kata Han Beng.
Mendengar itu, suami isteri itu menghentikan langkah mereka dan kini mereka berdua menghampiri Han Beng penuh kagum.
Mereka tadi telah meliha betapa pemuda tinggi besar ini telah menyelamatkan mereka dari keadaan yang amat gawat, dari malapetaka yang mengerikan, yang mungkin bagi seorang wanita lebih hebat daripada maut!
Bahkan mungkin akan menimbulkan kehancuran kebahagiaan keluarga itu.
Dan mereka pun melihat betapa hanya dengan sebatang tongkat saja, pemuda tinggi besar itu mampu membuat penjahat tadi melarikan diri.
Padahal, penjahat tadi memiliki ilmu silat yang amat hebat!
Saking terharu mengingat akan hebatnya ancaman bahaya tadi, Coa Siang Lee lalu menuntun tangan isteri dan anaknya, lalu mereka menjatuhkan diri berlutut di depan Han Beng!
"Tai-hiap, kami menghaturkan banyak terima kasih atas budi pertolonganmu..........!"
Han Beng menjadi sungkan sekali dan cepat dia membangunkan mereka dan berkata.
"Harap Ji-wi tidak melakukan sesungkanan seperti ini! Sudah semestinya kita menentang orang-orang jahat. Mari kita bicara di dalam saja, hawa udara terlalu dingin dan dapat membuat anak kalian masuk angin."
Suami isteri itu nampak gembira bukan main karena Han Beng sudi singgah di rumah mereka.
Mereka memasuki rumah dan duduklah Han Beng dan Siang Lee di ruangan dalam, sedangkan Sim Lan Ci minta diri untuk menemani Thian Ki tidur kembali.
Melihat sikap kedua suami isteri itu demikian sopan dan halus, kembali Han Beng condong merasa suka kepada mereka dan merasa heran bagaimana suhunya yang gagah perkasa menghendaki kehancuran kedua orang yang nampak baik-baik ini.
"Apakah yang telah terjadi di sini dan siapa sebenarnya pemuda bercaping lebar yarg amat lihai tadi itu?"
Han Beng segera mengajukan pertanyaan ini begi mereka duduk menghadapi meja.
Siang Lee menarik napas panjang "Sungguh kami sendiri tidak mengenalnya, Tai-hiap.
Menurut pengakuannya, kebetulan lewat saja..........
ah, sungguh aneh sekali peristiwa malam ini, muncul penjahat yang kebetulan lewat, kemudian muncul pula penolong yang kebetul lewat."
Han Beng tersenyum.
"Juga amat kebetulan bahwa yang diganggu penjahat Itu bukanlah suami isteri petani biasa melainkan suami isteri yang memiliki Ilmu kepandaian tinggi."
"Tidak ada harganya untuk dipuji, Tai-hiap. Buktinya, kalau tidak ada Tai-hiap, entah apa jadinya dengan kami. Kami akui bahwa kami memang pernah mempelajari ilmu silat, cukup mendalam, akan tetapi selama dua belas tahun ini kami tidak pernah bersilat, baik berkelahi maupun latihan. Kami hidup aman dan tenteram di tempat ini, siapa sangka malam ini hampir terjadi malapetakan. Perkenalkan, Taihiap. Saya bernama Coa Kiang Lee dan isteri saya tadi Sim Lan Ci. Anak kami tadi bernama Coa Thian Ki. Seperti saya katakan tadi, sejak dua belas tahun yang lalu kami berdua meninggalkan dunia persilatan dan tidak mempunyai sedikit pun keinginan untuk melibatkan diri dengan urusan kang-uuw. Kami tidak ingin mengajarkan ilmu silat kepada anak tunggal kami, agar dia tidak perlu melibatkan diri dalam kekerasaan dan permusuhan. Maka, sungguh kami merasa penasaran sekali melihat munculnya penjahat yang amat lihai tadi."
Dia berhenti sebentar, lalu memandang wajah Han Beng penuh kagum dan berkata.
"Tai-hiap masih begini muda sudah memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat. Kalau boleh saya mengetahui nama besar Tai-hiap "
"Namaku Si Han Beng dan harap Coa Toako tidak bersikap sungkan dan menyebutku tai-hiap, membuat aku merasa canggung dan tidak enak saja."
Coa Siang Lee makin kagum terhadap pemuda tinggi besar dan gagah perkasa itu.
Masih begitu muda bukan saja sudah lihai bukan main, akan tetapi juga sudah pandai merendahkan diri, tanda dari kerendahan hati.
Dia pun merasa girang sekali di balik kekhawatirannya karena peristiwa tadi.
"Baiklah, Siauw-te (Adik). Sebenarnya, seorang dengan kepandaian sepertimu, sudah sepatutnya disebut tai-hiap (pendekar besar), akan tetapi karena engkau merasa canggung, biarlah kusebut Siauw-te. Terus terang saja, kami sama sekali tidak pernah mengenal orang tadi, dan karena sudah belas tahun kami menjauhkan diri dari dunia kang-ouw, maka munculnya orang lihai itu pun kami tidak ketahui. Engkau yang tentu sudah banyak mengenal tokoh kang-ouw, barangkali mengenal dia, Siauw te?"
Han Beng menggeleng kepalanya, sedikit memincingkan matanya suatu kebiasaan kalau dia berpikir-pikir.
"Tidak, aku pun tidak pernah melihatnya. Akan tapi jelas bahwa dia seorang penjahat cabul!"
Sambungnya gemas.
"Kukira bukan hanya penjahat cabul, Siauw-te,"
Coa Siang Lee membantah, Kami merasa curiga bahwa dia memang datang dengan sengaja untuk memusuhi kami sekeluarga."
"Kurasa memang demikian, dan aku dapat menduga siapa dia!"
Tiba-tiba terdengar suara Sim Lan Ci yang muncul dari kamar.
Puteranya sudah tidur kembali dan ketika ia keluar, ia mendengar ucapan suaminya, maka ia lalu menjawab, mendengar ucapan itu, Han Beng dan Siang Lee cepat memandang dengan mata bertanya.
Lan Ci duduk di dekat suaminya yang segera menegurnya.
"Bagaimana engkau bisa tahu siapa dia? Sedangkan Siauw-te Si Han Beng ini saja yang amat ini tidak mengenalnya, apalagi engkau yang selama belasan tahun tidak pernah meninggalkan dusun ini?"
"Aku juga tidak tahu, akan tetapi dapat menduganya. Lee-koko, lupakah engkau kepada orang yang amat membenci kita, yang ingin melihat kita lebih menderita daripada kematian sendiri?"
"Kau maksudkan Sin-tiauw Liu Bhok Ki?"
Tanya suaminya, kini nampak teringat dan terkejut pula. Mereka saling pandang sehingga tidak melihat betapa wajah tamu mereka berubah dan nampak kaget pula mendengar ucapan nyonya rumah itu.
"Siapa lagi kalau bukan Kakek Iblis yang jahat itu? Hanya dialah seorang dunia ini yang amat membenci kita dan dia akan girang sekali melihat kita hancur atau terbasmi, termasuk anak kita. Aku hampir yakin bahwa pemuda bercaping itu tentulah utusannya, entah pembantunya atau muridnya!"
"Ah, engkau benar, isteriku! Memang masuk akal sekali pendapatmu itu. Melihat kelihaiannya, agaknya memang dia itu orangnya kakek jahat Sin-tiauw Liu Bhok Ki!"
"Bukan! Dia sama sekali bukan murid Sin-tiauw Liu Bhok Ki, dan kakek yang gagah perkasa itu tidak membenci kalian, tidak ingin membunuh kalian!"
Mendengar ucapan Han Beng itu, Siang Lee dan Lan Ci cepat memandang kepadanya dan mereka merasa heran sekali "Siauw-te, engkau tadi mengatakan bahwa engkau tidak mengenal pemuda bercaping itu, bagaimana sekarang bisa tahu bahwa dia bukan murid Sin-tiauw Liu Bhok Ki?"
"Karena murid Sin-tiauw Liu Bhok Ki hanya ada seorang saja, yaitu aku sendiri."
"Ahhh.........!"
Suami isteri itu berseru kaget dan keduanya bangkit dari tempat duduk mereka, memandang kepada Han Beng dengan mata terbelalak.
Akan tapi Han Beng tersenyum dan menggerakkan tangan memberi isarat agar tereka tenang.
"Sekarang harap Ji-wi suka menceritakan, mengapa Ji-wi menganggap bahwa orang tadi murid Suhu dan mengapa pula Ji-wi agaknya membenci Suhu dan menyebutnya kakek iblis. Aku sebagai muridnya berhak mengetahuinya, bukan?"
Siang Lee menarik napas panjang juga isterinya dan mereka berdua lalu duduk kembali.
"Maafkan kami, Siauw-te. Bukan maksud kami menghina Suhumu, akan tetapi memang sungguh orang tua itu bagi kami amatlah jahatnya bahkan sebetulnya kamilah yang sepatutnya mendendam sakit hati kepadanya. Akan tetapi karena kejahatannya terhadap kami itu berakhir dengan baik dan membahagiakan bagi kami, maka kami mencoba untuk melupakan dia, dan karena kami masih takut terhadap dia, maka selama ini kami mengasingkan diri di dusun sunyi ini."
Hati Han Beng semakin tertarik.
"Ceritakanlah, Toako. Ceritakan saja apa adanya dengan terus terang, tidak perlu merasa sungkan kepadaku karena sudah dapat mempertimbangkan mana benar dan mana salah. Kalau tidak demikian, tentu aku tidak akan membantu kalian tadi, bukan? Apalagi karena sebelumnya aku pun sudah tahu bahwa kalianlah yang dicari oleh Suhu."
Kembali dua orang itu terkejut mendengar bahwa mereka dicari oleh Sin-tiauw Liu Bhok Ki, akan tetapi karena sikap Han Beng jelas baik, tidak memusuhi mereka bahkan telah menyelamatkan mereka, maka mereka pun tidak merasa ragu lagi untuk menceritakan semua yang mereka alami ketika mereka menyerbu tempat tinggal Liu Bhok Ki, sekitar dua belas tahun yang lalu.
"Mendiang Ayahku bernama Coa Kun Tian, putera Hek-houw-pang di dusun Ta-bun-cung. Sungguh tidak beruntung sekali Ayah jatuh cinta kepada isteri Liu Bhok Ki yang bernama Phang Hui Cu. Mereka saling jatuh cinta dan melihat bahwa isterinya dan Ayahku saling mencinta, Liu Bhok Ki marah sekali, lalu dia membunuh Ayahku dan isterinya sendiri. Kalau saja hal itu cukup sampai di situ, kiranya aku pun akan memaklumi keadaan dan menyadari bahwa kematian Ayahku adalah karena kesalahan sendiri. Akan tetapi, ternyata tidak demikian Kakek yang kejam itu memenggal kepala Ayahku, memberi obat pengawet menggantungkan kepala Ayahku itu rumahnya! Mendengar ini, pada suatu hari, dua belas tahun yang lalu, mendatangi rumahnya untuk membalas dendam atas kematian dan penghinaan terhadap kepala jenazah Ayahku. Dan pada waktu aku tiba di sana, aku ber temu dengan isteriku ini."
"Aku pun hendak membalas dendam atas kematian Bibiku, yaitu Phang Hui Cu. Kepala Bibiku juga diawetkan dalam sebuah botol besar, direndam anggur seperti juga kepala kekasih Bibiku iti Kuanggap perbuatannya itu amat keterlaluan dan menghina sekali!"
Siang Lee melanjutkan.
"Kami berdua mengeroyoknya, akan tetapi kami kalah d.an dia berhasil merobohkan kami. Akan tetapi, kami tidak dibunuhnya! Dia memiliki rencana yang lebih kejam lagi untuk memuaskan hatinya. Kami diberi obat perangsang sehingga di luar kesadaran kami, kami melakukan hubungan suami isteri! Baiknya kami memang saling tertarik dan saling mencinta, maka kami melanjutkan hubungan itu dengan ikatan suami isteri. Akan tetapi akibatnya, aku diusir oleh Kakekku di Hek-bouw-pang, dan ketika kami berkunjung ke Ibu isteriku, kami pun diusir. Maka, kami lalu menyembunyikan diri di sini dan kini sudah mempunyai seorang anak laki-laki."
"Akan tetapi, kenapa Suhu melakukan hal itu? Kenapa Suhu ingin melihat kalian menjadi suami isteri kalau memang dia membenci kalian?"
Tanya Han teng, tidak mengerti.
"Hal itu hanya membuktikan betapa besarnya kebenciannya terhadap kami. Dia ingin kami menjadi suami isteri untuk kemudian dia dapat menghancurkannya, seperti rumah tangganya sendiri yang hancur karena hubungan antara mendiang Ayah dan mendiang isterinya sendiri."
"Tapi........, tapi, dua orang musuhnya itu sudah terbunuh. Mengapa kalian yang harus dibalas seperti itu?"
Kini Lan Ci yang menjawab.
"Karena wajah suamiku mirip dengan mendiang, Ayahnya, dan wajahku mirip dengan mendiang Bibiku. Dia seolah-olah ingin melihat Coa Kun Tian dan Phang Hui Cu hidup kembali, menjadi suami isteri agar dia dapat membalas dengan gangguan yang sama, yaitu membikin pernikahan itu menjadi hancur berantakan."
Diam-diam Han Beng bergidik.
Dan percaya akan keterangan mereka karena dia sendiri melihat betapa dua buah tengkorak manusia itu masih disimpan suhunya dan akhirnya dia yang memintanya dan menguburkannya.
Suhunya memang telah menjadi seperti gila oleh rasa cemburu yang berkobar menjadi dendam kebencian selebar lautan!
Han Beng menarik napas panjang "Aihhh, sungguh aku merasa menyesal Sekali Dan Suhu mengutus aku yang harus menghancurkan rumah tangga dan kehahagiaan kalian!
Mana mungkin aku lakukan hal yang sekeji itu?"
Suami isteri itu saling pandang dan merasa betapa bulu tengkuk mereka meremang.
Kalau saja pemuda perkasa ini melaksanakan perintah suhunya, bagaimana mereka akan mampu menyelamatkan diri?
Memang belum tentu pemuda mi akan mampu membujuk rayu dan menjatuhkan hati Lan Ci yang mencinta suaminya dan memiliki kesetiaan, tidak seperti mendiang bibinya.
Akan tetapi kalau pemuda ini menggunakan kekerasan, bagaimana mereka akan mampu menghindarkan diri?
"Dan engkau tidak mengganggu kami sama sekali, bahkan menyelamatkan kami dari malapetaka, Si-siauwte?
Sungguh untuk itu, kami merasa berterima kasih dan hutang budi kami semakin mendalam."
"Tidak perlu berterima kasih, Toako. Aku hanya melakukan hal yang wajar dan semestinya saja. Aku belajar silat bukan untuk melakukan kejahatan, bahkan sebaliknya, aku harus menentang kejahatan, dari mana pun juga datangnya!"
"Bagus! Omongan besar! Kiranya aku telah memelihara anak harimau, setelah besar hendak menerkam aku sendiri!' Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan nampak berkelebat bayangan orang.
"Suhu...............!"
"Liu Bhok Ki .................!"
Suami isteri itu pun berseru kaget setengah mati melihat munculnya kakek yang tinggi besar itu.
Akan tetapi kakek itu berdiri tegak dan memandang kepada muridnya dengan sepasang mata terbelalak penuh kemarahan.
Han Beng bersikap tenang dan dengan hormat dia pun lalu rnenjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.
"Si Han Beng!"
Bentak Kakek itu dengan suara menggeledek.
"Tahukah engkau siapa aku?"
Sambil memberi hormat dan berlutut Han Beng menjawab.
"Suhu adalah Sin tiauw Liu Bhok Ki, guru tee-cu (murid) yang bijaksana."
"Hemmm, kalau engkau masih ingat apa pesanku kepadamu terhadap dua orang suami isteri itu?"
"Teecu masih ingat, Suhu. Suhu mengutus teecu untuk menghancurkan kebahagiaan keluarga ini."
"Murid gila! Lalu mengapa tidak segera kaulakukan itu?"
"Maaf, Suhu, teecu melihat bahwa mereka adalah orang baik-baik, saling mencinta dan saling setia. Karena itu teecu tidak dapat melaksanakan tugas yang Suhu berikan kepada teecu."
Jawaban ini diucapkan dengan suara tenang sedikit pun tidak memperlihatkan bahwa murid itu merasa takut. Marahlah kakek gagah perkasa yan berwatak keras itu.
"Bagus! Kiranya engkau berubah menjadi seorang yang berhati lemah dan lunak sekali! Kalau engkau tidak sanggup menghancurkan mereka, biarlah aku yang akan membunuh sendiri mereka!"
Setelah berkata demikian, tiba-tiba sekali tubuh kakek tinggi besar itu meloncat ke atas dan bagaikan seekor burung rajawali menyambar calon mangsanya, dia sudah menerkam dan menyerang Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci.
Serang-Itu dahsyat bukan main karena dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya dalam jurus maut dari Hui-tiauw Sut-kun (Silat Sakti Rajawali Terbang) itu.
Betapapun lihainya suami isteri itu, kiranya menghadapi jurus maut ini mereka akan sukar untuk dapat menghindarkan diri.
Dan menangkis serangan itu berarti mereka harus menghadapi gelombang tenaga yang amat dahsyat.
Mereka tentu akan tewas atau setidaknya menderita luka dalam yang parah kalau melakukan tangkisan.
"Wuuuuuttttt............... desssss.!!!"
Tubuh Sin-tiauw Liu Bhok Ki terpental dan hampir terpelanting, namun Han Beng yang menangkis serangan itu pun terjengkang sampai terguling-guling karena memang dia tadi tidak berani mengerahkan tenaga terlalu kuat agar tidak melukai gurunya.
Dia tidak rela melihat gurunya menyerang suami isteri itu dengan jurus maut yang dia tahu amat berbahaya, maka cepat dia menangkis serangan itu dari samping.
Liu Bhok Ki sudah berdiri tegak lagi dan kini mukanya berubah merah, matanya mengeluarkan sinar berapi ketika dia memandang kepada muridnya yang kembali sudah berlutut di depan kakinya.
"Si Han Beng! Apa yang kaulakukan ini? Engkau hendak melawan aku dan melindungi dua orang musuhku ini?"
"Maaf, Suhu. Sama sekali teecu tidak berani melawan Suhu dan teecu buta melindungi Coa-toako dan isterinya, melainkan teecu harus mencegah Suhunya melakukan perbuatan yang tidak benar. Suhu, mereka ini bukanlah musuh Suhu. Bukankah dua orang musuh Suhu telah Suhu bunuh selama bertahun-tahun, Suhu bahkan telah menyiksa tengkorak mereka? Dua orang ini sama sekali tidak bersalah kepada Suhu. Karena itu, Suhu teecu mohon agar Suhu menyadari kekeliruan tindakan ini, agar Suhu dapat membuang jauh cemburu dan dendam yang tidak pada tempatnya."
Sepasang mata itu semakin terbelalak marah.
"Apa? Engkau berani bicara seperti itu? Bagus! Engkau murid murtad engkau sudah berpihak kepada musuh oleh karena itu, engkau pun kini menjadi musuhku. Aku akan bunuh dulu engkau, baru mereka!"
Berkata demikian kaki kakek itu menendang.
"Desss......... !"
Tubuh pemuda itu terpental dan terbanting keras.
Akan tetapi Han Beng yang sama sekali tidak melawan itu, sudah bangkit duduk, lalu berlutut kembali ke arah suhunya, memberi hormat tanpa mengusap darah yang keluar dari ujung bibirnya.
Melihat keadaan itu, Coa Siang Lee menggandeng tangan isterinya dan cepat mereka berlutut di depan kaki Liu Bhok Ki, menghalangi kakek itu menghajar muridnya.
"Lo-cian-pwe, dia adalah penyelamat nyawa kami. Jangan Lo-cian-pwe membunuh dia. Kalau Lo-cian-pwe menghentikan nyawa kami, silakan, kami menyerahkan nyawa kami kepadamu!"
Melihat dua orang suami isteri itu berlutut di depan kakinya dan minta dibunuh untuk menyelamatkan Han Beng, ! Liu Bhok K i menjadi bengong. Pada saat itu, terdengar suara anak kecil.
"Ayah.......... Ibu..........!"
Dan muncullah Thian Ki.
Anak itu mencari-cari dengan pandang mata nya.
Ketika melihat mereka itu berlutut di depan kaki seorang kakek yang tinggi besar, Thian Ki lalu berlari menghampiri mereka, dan dia pun ikut-ikutan berlutut di depan kakek itu!
Melihat ini, Sin-tiauw Liu Bhok Ki menjadi semakin bengong.
Tadinya di melihat Coa Siang Lee sebagai Coa Ku Tian dan Sim Lan Ci sebagai Phang Hui Cu, akan tetapi kini dia melihat mereka sebagai sepasang suami isteri dengan seorang anak mereka.
"Lo-cian-pwe, kami ibu ayah dan anak menyerah kepada Lo-cian-pwe, dan mohon Lo-cian-pwe suka mengampuni Adik Si Han Beng."
Kata Sim Lan Ci.
Hati kakek itu seperti ditusuk-tusuk rasanya.
Dia menunduk dan memandang mereka, dan kebetulan Thian K i menengadah.
Pandang mata mereka bertemu dan seketika Sin-tiauw Liu Bhok Ki menjadi lemas.
Entah daya kekuatan apa yang terkandung dalam sepasang mata anak berusia tiga tahun itu!
Mata yang bebas dari perasaan hati dan akal pikiran, sepasang mata yang menyinarkan suatu yang suci, seperti mata malaikat, atau mata yang mengandung sinar mata kasih dan kekuasaan Tuhan, yang ampuh melumpuhkan dan mencairkan semua kekerasan yang menggumpal di dalam hati Sin-tiauw Liu Bhok Ki!
Pada saat pertemuan pandang mata itu, seketika Liu Bhok Ki menyadari akan semua sepak terjangnya yang dipenuhi nafsu dendam kebencian yang timbul dari cemburu.
Baru dia merasa betapa jahat dan kejamnya dia selama ini dan tak dapat ditahannya lagi, kakek itu meringis sampai mengguguk!
Melihat keadaan suhunya ini, Han Beng merasa terkejut, heran dan juga terharu.
Dia merasa bersalah, mengira ihwa karena dia tidak mentaati gurunya maka orang tua itu kini merasa menyesal dan menangis.
Dia segera berlutut dan menyentuh ujung sepatu gurunya.
"Suhu, ampunkan teecu...............!"
Liu Bhok Ki menangis semakin sedih, sampai terisak-isak dan sesenggukan, kedua tangan menutupi mukanya.
Air mata mengalir keluar dengan derasnya melalui celah-celah jari tangannya.
Seolah-olah semua gumpalan yang tadinya membeku di dalam dirinya telah mencair dan menjadi air mata, kini tertumpah keluar semua.
Dadanya terasa lapang dan dia lalu menurunkan kedua tangannya, memegang kedua pundak muridnya dan menariknya berdiri.
"Han Beng, kau maafkan Suhumu........ Kemudian dia menyentuh kepala Sian Lee dan Lan Ci sambil berkata.
"Kalian.............. kalian maafkanlah semua perbuatanku yang lalu............."
"Lo-cian-pwe.......... !"
Sim Lan Ci kini menangis, tidak dapat menahan keharuan hatinya mendengar betapa kakek yang keras hati itu kini menangis dan minta maaf padanya.
Liu Bhok Ki kini membungkuk mengangkat Thian Ki dalam pondongannya.
Anak itu sama sekali tidak merasa takut, merangkul leher kakek itu dan terdengar suaranya yang merdu.
"Kong-kong (Kakek), kenapa engkau menangis?"
Pertanyaan itu membuat air mata makin deras keluar dari kedua mata Liu hok Ki, akan tetapi mulutnya tersenyum dan dia mengejap-ngejapkan mata memandang wajah yang mungil, tampan dan merah itu.
Senyumnya makin melebar dan akhirnya dia pun tertawa bergelak gelak.
Suara ketawanya menggetarkan keadaan sekitarnya dan belum pernah Han Beng-mendengar gurunya tertawa seperti itu, bebas lepas dan ini merupakan tanda bahwa orang tua itu telah benar-benar terbebas dari siksaan batin berupa racun dendam kebencian.
"Ha-ha-ha............ Cucu yang baik, siapakah namamu?"
Dia mengakhiri tawanya dan menimang Thian Ki.
"Namaku Coa Thian Ki, Kong-kong."
Kata anak itu manja.
"Bagus! Terima kasih, Thian Ki, terima kasih Cucu yang baik........!"
Dia menurunkan anak itu, kemudian menoleh kepada Han Beng.
"Han Beng, engkau benar, lanjutkan perjalanan dan pertahankan sikapmu yang tadi. Aku bangga menjadi gurumu."
"Teecu akan mentaati pesan Suhu."
"Dan kalian, Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci, kalian jaga baik-baik anak kalian ini, jangan biarkan dia menjadi hamba kekerasan seperti kita. Kalian benar anak ini tidak perlu diperkenalkan dengan ilmu silat dan kekerasan! Nah, selamat tinggal semua. Han Beng, kalau engkau perlu bertemu denganku, aku berada di Kim-hong-san!"
Setelah berkati demikian, kakek itu berkelebat dan lenyap dari situ.
Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci saling pandang, maklum bahwa tentu kakek itu sejak kemarin membayangi mereka sehingga mendengar pula percakapan mereka tentang maksud mereka untuk tidak memperkenalkan Thian Ki dengan ilmu silat dan kekerasan.
Kemudian mereka teringat akan keadaan mereka, lalu mereka berdua menghampiri Han Beng yang juga sudah bangkit berdiri.
"Kami harap Si Siauw-te suka tinggal di sini bersama kami. Kami sunggu berterima kasih sekali, Siauw-te. Ternysta engkau seorang yang budiman, sampai rela hampir mengorbankan nyawa demi keselamatan kami. Entah bagaimana kami akan mampu membalas budimu."
Kata Siang Lee, sedangkan Sim Lan Ci juga mengangguk-angguk membenarkan dan memandang kepada pemuda perkasa itu dengan sinar mata penuh kagum dan rasa sukur, sedangkan Thian Ki berada dalam pondongan ibunya, matanya kini nampak mengantuk karena beberapa kali tidurnya terganggu.
"Sudahlah, Toako. Tidak perlu bersungkan-sungkan. Kalian sendiri tadi juga rela mengorbankan nyawa untuk menolongku. Malam ini biar aku berada di sini, untuk menjaga kalau-kalau pemuda bercaping itu datang kembali. Besok aku akan melanjutkan perjalanan dan sebaiknya, menurut pendapatku, kalau kalian pindah saja ke lain tempat. Aku khawatir kalau pemuda jahat itu muncul kembali untuk mengganggu kalian."
Siang Lee dan isterinya saling pandang.
"Kami tidak akan pindah, Siauw-te. Pengalaman ini menyadarkan kami bahwa demi melindungi keluarga sendiri kami berdua harus selalu bersiap-siap. Kami akan diam-diam berlatih dan selalu waspada dan mempersiapkan senjata. Kalau kami maju berdua dengan senjata di tangan, kiraku penjahat bercaping itu belum tentu akan mampu mengalahkan kami."
Isterinya mengangguk membenarkan.
Apa perlunya pindah?
Kalau memang hendak mengejar, tentu penjahat itu mampu mencari kami.
Lebih baik tetap tinggal disitu akan tetapi berhati-hati.
Han Beng mengangguk-angguk.
Dia tadi juga sudah menyaksikan kelihaian mereka.
Kalau mereka berlatih dan selalu mempersiapkan pedang, kiranya tidak akan mudah bagi penjahat bercaping tadi untuk mengalahkan suami isteri ini.
"Baiklah, kalau begitu, aku akan meninggalkan semacam latihan sin-kang untuk kalian, karena dengan sin-kang yang agak lebih kuat, kiranya penjahat itu tidak akan mampu menandingi kalian berdua."
Tentu saja suami isteri itu menjadi girang bukan main.
Setelah Thian Ki tidur kembali, Han Beng lalu malam itu juga mengajarkan cara melatih dan memperkuat tenaga sakti kepada suami isteri itu.
Pada keesokan harinya, setelah lewat tengah hari, barulah Han Beng meninggalkan suami isteri yang amat berterima kasih kepadanya itu.
Bahkan Coa Siang Lee berhasil membujuk Han Beng mau mengaku sebagai saudara angkat.
Upacara sederhana mereka lakukan di depan meja sembahyang.
Han Beng menyebut toako dan so-so (kakak ipar perempuan) kepada suami isteri itu dan mereka menyebutnya siauw-te.
Thian Ki yang masih kecil itu pun sebentar saja akrab dengan Han Beng dan menyebutnya paman.
Ketika Han Beng pergi, suami isteri itu menjadi sedemikian terharu sehingga keduanya mengantar sampai ke tepi dusun dan ketika pemuda itu pergi, mereka tak dapat menahan mengalirnya air mata keharuan.
Mereka yang sudah belasan tahun merasa terasing dan tidak pernah berhubungan dengan keluarga, seolah-olah ditinggal pergi adik sendiri yang amat berbudi dan berjasa, yang amat mereka kasihi.
ooOOoo Kota Siong-an hari itu nampak ramai.
Kota yang berada dekat tepi Sunga Huang-ho ini memang merupakan kota yang penting bagi para pedagang.
Letaknya di daratan tinggi, lebih tinggi dari sungai sehingga di waktu Sungai Kuning itu mengamuk dengan banjirnya sekali pun, kota ini tidak pernah terendam air Karena itu, banyak orang kaya dari daerah pedusunan memiliki rumah di kota ini sebagai tempat pengungsian kala musim hujan tiba.
Selain itu, juga menjadi penampung barang dagangan yang datang melalui sungai.
Sebagai kota dagang yang banya dikunjungi pedagang dari kota lain, yan terutama sekali membutuhkan baha bangunan, kayu yang baik, dan juga rempah-rempah, kota Siong-an cepat berkembang dan di situ kini banyak terdapat rumah penginapan dan rumah makan.
Rumah makan Hotin merupakan rumah makan terbesar di kota Siong-an.
Bukan hanya terbesar, melainkan juga terbaik dan terkenal dengan hidangan yang lengkap dan lezat, dari yang murah sampai yang termahal.
Karena itu, hampir setiap hari, bahkan sampai jauh malam, restoran ini dikunjungi banyak orang dari segala golongan.
Para pedagang besar yang menjamu para tamunya, para pedagang dari lain kota, tentu mempergunakan restoran itu sebagai tempat pesta dan pertemuan.
Juga mereka yang melancong ke kota Siong-an, untuk berperahu di Sungai Huang-ho atau hanya berbelanja di kota yang ramai dan penuh dengan toko itu, tidak lupa untuk makan pagi, makan siang, atau makan malam di restoran Hotin.
Ruangannya luas, ada lotengnya, dapat menampung tamu lebih dari seratus orang.
Ada belasan orang pelayan yang sigap dan trampil, seorang kasir yang ramah dan juru-juru masak yang berpengalaman.
Baru memasuki ruangan restoran itu saja, para tamu sudah disambut aroma masakan yang sedap dari dapur sehingga selera mereka segera timbul dan perut mendadak terasa semakin lapar.
Juga di restoran itu dijual arak Hang-couw yang amat terkenal manis, harum, dan daya mabuknya lembut.
Hari itu, sejak pagi kota Siong-an sudah ramai sekali karena hari itu orang orang sibuk mempersiapkan pesta perayaan tahun baru Imlek!
Seperti biasa jauh hari sebelumnya, pasar mendadak menjadi lebih ramai, toko-toko juga penuh dengan orang yang berbelanja untuk keperluan sembahyang dan pakaian baru.
Dan hari itu merupakan hari terakhir karena besok adalah hari tahun baru.
Restoran Hotin, sejak pagi sudah kebanjiran tamu.
Kurang lebih jam delapan pagi, seorang gadis memasuki restoran yang penuh tamu itu.
Kemunculan gadis ini tentu saja menarik perhatian bukan hanya karena ada seorang gadis muncul seorang diri di rumah makan umum, melainkan terutama sekali karena gadis itu bukan gadis sembarangan.
wajahnya cantik jelita dan manis sekali, bibirnya yang merah basah tanpa gincu itu selalu tersenyum lucu, sikapnya lincah dan matanya kocak jenaka.
Pakaiannya indah walaupun tidak mewah, dengan warna merah muda.
Rambutnya yang digelung ke atas itu dihias burung merak dari perak, dan punggungnya nampak sebuah buntalan kain kuning.
Ujung kain itu diikatkan di dadanya.
Dari sikap, juga dari buntalan kain kuning di punggung, mudah diketahui bahwa ia adalah seorang gadis kang-ouw yang biasa melakukan perjalanan seorang diri.
Akan tetapi laki-laki mana yang tidak tertarik melihat wajah yang demikian cantik jelita dan bentuk tubuh yang demikian indahnya?
Semua tamu yang melihatnya, tak mudah melepaskan pandang mata mereka yang melekat pada wajah dan tubuh itu.
Namun, gadis berpakaian merah muda itu tidak peduli.
Agaknya sudah biasa ia menghadapi tatapan mata seperti itu dan satu-satunya cara terbaik untuk menghadapi kegenitan para pria yang memandangnya adalah pura-pura tidak melihat kekaguman mereka dan tidak peduli.
Ia tahu bahwa sekali dilayani atau ditanggapi, kekurangajaran para pria itu akan semakin melonjak.
Bukan ia tidak berani menanggung akibatnya, akan tetapi kalau ia harus menghajar setiap orang pria yang bersikap kurang ajar, maka setiap langkah tentu ia akan berurusan dengan seorang pria!
Ketika seorang pelayan restoran it menyambutnya dengan sikap hormat da ramah, gadis itu pun mengikuti pelayan yang mengantarnya ke sebuah meja yang masih kosong, agak di pinggir.
Meja itu kecil, diperuntukkan empat orang dengan empat buah bangku.
Gadis itu menurunkan buntalan kuning, meletakkannya di atas meja dan dengan sikap gembira seolah-olah di situ tidak ada puluhan pasang mata pria menatapnya, ia memesan makanan kepada Si Pelayan.
"Masakan apa saja yang paling leza t di rumah makan ini?"
Tanyanya kepada pelayan itu.
Pelayan itu mengerutkan alisnya, mengamati gadis itu penuh perhatian.
Bukan seorang gadis miskin, akan tetapi juga tidak dapat dikatakan seorang gadis bangsawan atau kaya raya, melihat pakaian dan perhiasan yang dipakainya.
Akan tetapi dia harus berhati-hati karena dia tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang gadis kang-ouw yang kadang-kadang dapat bersikap galak.
"Nona, restoran kami menyediakan segala macam makanan, dari yang paling murah sampai yang paling lezat, harganya amat mahal."
Gadis itu tersenyum dan banyak pria menelan ludah. Senyum itu! Manisnya! Lesung pipit yang mungil dan lucu muncul di kanan kiri mulut, dan sinar mata yang jeli itu seperti menari-nari.
"Tentu saja, yang lezat itu mahal. Dan aku berani pesan yang mahal tentu mampu pula membayarnya. Hayo katakan, apa saja yang paling lezat?"
Pelayan itu mengangguk-angguk, takut gadis itu tersinggung, lalu menghitung dengan jari tangannya.
"Pertama ada cakar daging burung Hong, ada goreng lidah ki-lin, ada pula sup sirip raja hiu atau tim buntut badak, juga sup cakar harimau atau sup daging naga."
Gadis itu bengong, lalu alisnya berkerut dan mukanya berubah merah, karena ia merasa dipermainkan pelayan itu "Apakah otakmu belum miring? Jangan kau main-main!"
Pelayan itu yang kini bengong karena dia sama sekali tidak merasa bersalah tiba-tiba dimaki orang.
Mukanya berubah merah dan dia menjawab dengan sungguh-sungguh dan juga dengan suara mengandung penasaran.
"Aih, Nona. Siapa yang main-main? Kalau tidak percaya lihat saja ini daftar makanan, tentu saja kalau Nona pandai membaca!"
Ucapan terakhir itu untuk membalas karena biasanya, gadis kang-ouw yang kasar mana dapat membaca tulisan?
Akan tetapi, gadis itu menyambar daftar makanan yang disodorkan, membacanya lalu tersenyum.
Manisnya!
"Wah, kaumaafkan aku, ya?
Habis, siapa percaya ada masakan cakar daging burung Hong, kiranya daging burung ayam!
Lidah ki-lin adalah lidah sapi, sirip raja hiu hanya sirip hiu biasa, tim buntut badak hanyalah buntut kerbau, cakar harimau hanya cakar domba dan daging naga hanya daging ular, hi-hik!"
Gadis itu tertawa tanpa menutupi mulutnya, namun tidak nampak kasar karena tawanya tidak terbahak, lebih mirip senyum lebar nampak deretan giginya yang putih mengkilap.
"Nah, kalau begitu, cepat hidangkan masakan butir-butir mutiara sawah, otot-otot dewa digoreng basah, gule daging singa, ditambah buah sian-to (buah to dewa) dan minuman sorga!"
Pelayan itu bengong, sejenak tak mampu bicara dan memandang kepada gadis itu, mulai curiga jangan-jangan gadis itu yang miring otaknya. Melihat pelayan itu bengong, gadis itu kembali tertawa.
"Hi-hik, sekarang engkau yang bengong! Kenapa bengong dan bingung? Kutir mutiara sawah adalah nasi putih, otot-otot dewa adalah bakmi, daging singa adalah daging kambing. Buah sian-to adalah apel dan minuman sorga adalah minuman anggur, tolol kau!"
Pelayan itu tertawa dan tersipu, dan beberapa orang tamu yang mejanya berdekatan dan mendengar percakapan itu tertawa.
Setelah pelayan itu pergi untuk memesankan makanan kepada koki, gadis itu duduk seorang diri dan tidak mempedulikan pandang mata banyak pria yana ditujukan kepadanya.
Bahkan mereka yang duduk membelakanginya, kini memutar leher seperti leher burung bangau, ada yang memandang dari samping, melirik sampai matanya seperti juling.
Tiba-tiba dua orang laki-laki muda, berusia kurang lebih dua puluh tahun dan agaknya sudah setengah mabuk karena agak terhuyung, menghampiri meja gadis itu sambil menyeringai.
Mereka harus diakui memiliki wajah yang cukup tampan dan melihat pakaian mereka jelas bahwa mereka adalah pemuda pemuda yang kaya.
"Nona, bolehkah kami menemanimu? Kasihan engkau seorang diri saja makan minum, tentu kurang menggembirakan, he-he!"
Kata yang seorang.
"Ha-ha, benar sekali, Nona. Jangan khawatir, semua makanan dan minuman untukmu kami yang akan bayar!"
Kata yang ke dua. Gadis berpakaian merah muda itu mengangkat muka memandang dan ia tersenyum, sama sekali tidak marah, bahkan senyumannya manis dan penuh kesabaran.
"Terima kasih,"
Katanya lembut.
"Kalian baik sekali, akan tetapi sayang, saat ini aku ingin makan seorang diri saja dan tidak ingin diganggu."
"Tapi, Nona, kami tidak mengganggu, bahkan ingin menggembirakan hati Nona! Kami.........! Belum habis seorang di antara dua pemuda itu bicara, terdengar suara orang membentak.
"Kalian ini tikus-tikus kecil sungguh tak tahu diri! Nona kalian tidak mau diganggu, mengerti?"
Dua orang pemuda setengah mabuk itu membalikkan tubuhnya dan mereka hendak marah.
Akan tetapi melihat bahwa yang berada di belakang mereka dan menegur itu adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun yang bertubuh!
seperti raksasa, keduanya menjadi ke takutan.
"Maafkan, kami tidak ingin mengganggu.............."
Akan tetapi, sekali menggerakkan kedua lengannya yang panjang dan besar itu, Si Raksasa sudah mencengkeram tengkuk dua orang pemuda itu dan mengangkatnya, lalu membawanya pergi, keluar dari ruangan itu!
Kemudian dia melemparkan dua orang pemuda itu keluar restoran, diiringi suara ketawa di sana-sini.
Melihat betapa raksasa itu mampu mengangkat dua orang pemuda dan melemparkan mereka seperti itu, dapat dilihat betapa kuat tenaganya.
Si raksasa itu kembali ke meja di mana tadi ia duduk bersama lima orang temannya dan kini dia membungkuk kepada gadis in sambil tersenyum.
Gadis itu pun tersenyum, hanya memandang.
Kiranya raksasa itu mempunya lima orang teman dan seorang di antaranya berpakaian seperti seorang hartawan, usianya kurang lebih tiga puluh tahun dan yang lain agaknya merupakan pengawal, anak buah atau tukang pukulnya karena mereka itu lagak dan pakaiannya sama dengan raksasa tadi.
Gadis itu melihat betapa pria yang berpakaian mewah itu memandang kepadanya, lalu mengedipkan mata kanannya dengan cara yang genit sekali, la pun tidak peduli dan membuang muka.
Gadis itu berusia kurang lebih dua puluh dua tahun, wajahnya yang cantik jelita dan manis itu hanya dipolesi bedak tipis, dan ia memiliki senyum memikat.
Siapakah ia?
Bukan lain adalah Bu Giok Cu!
Seperti kita ketahui, Giok Cu pernah menjadi murid Ban-tok Mo-li Phang Bi Cu, dan biarpun sejak berusia sepuluh tahun ia hidup di antara golongan sesat selama lima tahun lebih, namun bagaikan setangkai bunga teratai yang hidup di lumpur, ia tetap bersih dan berjiwa gagah.
Akhirnya, ia bentrok dengan Ban-tok Mo-li karena melihat Mibonya itu tergila-gila kepada Hok-houw liia to Lui Seng Cu dan aliran agama barunya.
Ia menentang subonya, yang melakukan pembunuhan keji terhadap muda mudi tak berdosa dan akhirnya ia bahkan dimusuhi gurunya dan hendak dibunuh.
Untung ia tertolong oleh Hek-bin Hwesio, seorang pertapa sakti dari Himalaya dan ia lalu menjadi murid hwesio gendut berkulit hitam itu.
Dan hampir lima tahun gadis ini digembleng sehingga bukan saja ilmu silatnya yang sudah lihai itu menjadi semakin tinggi juga ia semakin mendalami soal-soal kebatinan atau rohaniah.
Bahkan ia pernah menyatakan keinginan hatinya kepada Hek-bin Hwesio untuk menjadi nikouw (pendeta wanita), namun dilarang oleh gurunya yang melihat bahwa ia tidak berbakat menjadi nikouw.
Demikianlah, Giok Cu kini merantau, usianya sudah dua puluh dua, namun alam perantauannya itu ia belum pernah nenemukan seorang pria yang menarik atinya.
Pengalaman-pengalaman yang pahit ketika ia berusia lima belas tahun, diganggu oleh pemuda-pemuda murid para tokoh sesat yang menjadi tamu subonya, kemudian pengalaman sepanjang perjalanan melihat betapa pria suka sekali mengganggunya, membuat ia tidak pernah mengagumi pria!
Kalau saja ia belum menjadi murid Hek-bin Hwesio dan tidak memiliki kesabaran besar, dan masih menjadi murid Ban tok Mo-li, tentu tadi sudah dihajarnya dua orang pemuda itu.
Akan tetap setelah menjadi murid Hek-bin Hwesio ia menjadi seorang gadis yang penyabar dan tidak mudah turun tangan menggunakan kekerasan.
Tentu saja hal ini bukan berarti bahwa ia diam saja kalau ada yang berani mengganggunya.
Hanya ia tidaklah sekeras dan segalak sebelum menjadi murid hwesio hitam itu.
Bahkan ia mewarisi kejenakaan kakek gendut itu, suka tertawa dan bergurau.
"Nona, Cukong (Majikan) kami hendak berkenalan denganmu. Dia adalah seorang hartawan besar di kota Siong-cu, hanya tiga puluh li dari kota Siong-an tidak seperti dua ekor tikus tadi, Nona. Cukong kami minta dengan hormat agar Nona suka menerima undangannya untuk makan di mejanya."
Giok Cu kembali memandang kepada Pria yang tersenyum penuh gaya itu. la tidak marah, hanya merasa jemu dengan gangguan-gangguan, maka ia hanya menjawab.
"Terima kasih, aku ingin makan sendiri saja di mejaku sendiri."
"Boleh, boleh, Nona Manis,"
Kata pria kaya itu, lalu berkata kepada jagoannya yang seperti raksasa tadi.
"A-lok, kita pindahkan meja Nona itu bersambung dengan meja kita dan ia boleh makan di mejanya sendiri, bukan?"
A-lek, Si Raksasa itu terkekeh dan sambil menyeringai, dia menghampiri meja Giok Cu.
Gadis itu diam-diam mendongkol sekali, akan tetapi ia masih tersenyum manis dan meletakkan tangan kirinya di atas meja.
Ketika A-lok hendak mengangkat meja itu, diam-diam ia mengerahkan sin-kang yang disalurkan ke tangan kiri itu dan menekan meja.
A-lok menggunakan kedua tangan memegang meja dan mengerahkan tenaga mengangkat.
Akan tetapi, dia terkejut bukan main!
Meja itu sama sekali tidak dapat diangkatnya.
Apalagi terangkat, bergerak pun tidak, seolah-olah empat buah kaki meja itu tertanam ke dalam lantai.
Di menjadi penasaran.
Kalau perlu, andaikata benar empat kaki meja itu tertanam ke dalam lantai, hendak dijebolnya!
Kembali dia mengerahkan tenaganya, namun tetap saja meja itu tidak bergerak.
KANGZUSI WEBSITE
http.//kangzusi.com/
Jilid 17
"ALOK, pindahkan meja itu ke sini!"
Teriak lagi cukongnya karena seperti orang lain, dia belum tahu akan peristiwa aneh itu.
Hanya Alok sendiri yang merasakan keanehan itu.
Dia, yang dengan mudahnya mengangkat dua orang pemuda tadi dan melemparkan mereka, kini tidak kuat mengangkat sebuah meja kecil yang ringan!
Siapa yang akan dapat percaya?
"Hei, kerbau gila!
Jangan ganggu Nona itu!"
Ucapan ini keluar dari mulut seorang laki-laki yang duduk bersama dua orang pria lain di meja sebelah kanan Giok Cu.
Mendengar dia dimaki kerbau gila, tentu saja Alok menjadi marah bukan main.
Dia adalah tukang pukul nomor itu dari hartawan Teng dari kota Siong-cu, dan di kota itu dia terkenal ditakuti orang, bahkan nama besarnya sudah banyak didengar orang di Siong-an.
Bagaikan seekor kerbau gila benar, dia membalikkan tubuh meninggalkan meja depan Giok Cu dan memandang ke arah tiga orang yang duduk makan minum di meja itu.
Mereka adalah tiga orang pria yang usianya antara tiga puluh lima sampai empat puluh tahun.
Wajah dan bentuk badan mereka biasa saja, tidak mengesankan, akan tetapi warna pakaian mereka yang menarik perhatian karena mereka bertiga memakai pakaian yang berwarna kuning, seperti pakaian seragam saja.
Melihat bahwa orang yang memakinya hanya orang "biasa", kemarahan Alok memuncak.
"Siapa di antara kalian bertiga yang telah berani memaki aku tadi?"
"Memaki engkau apa?"
Serentak tiga orang berpakaian kuning itu bertanya.
"Memaki aku kerbau gila!"
Kata Alok dan tiga orang itu pun tertawa bergelak, juga beberapa orang tamu yang mendengarkan ikut tertawa.
Tadinya Alok tidak menyadari, akan tetapi kemudian ia teringat bahwa jawabannya tadi menjadi pengakuan bahwa dia kerbau gila!
Dia telah dipancing dan dipermainkan tiga orang berpakaian kuning itu.
"Keparat, kalau kalian memang laki-lakidan bukan pengecut, hayo maju kesini!"
Tantang Alok dengan marah sekali. Orang termuda dari tiga orang pria berpakaian kuning itu bangkit berdiri. Hemmm, kau ini kerbau gila hendak jual lagak di sini, ya?"
Tiba-tiba tangan kanannya bergerak dan nampaklah sebuah cambuk berwarna kuning emas.
"Tar-tarrr-tarrrrr.........!"
Cambuk itu mengeluarkan suara meledak-ledak dan sinar kuning emas menyambar-nyambar ke arah tubuh Alok.
Raksasa itu terkejut dan mencoba mengelak, akan tetapi tetap saja ujung cambuk itu mematuk-matuk dan pakaiannya robek di sana-sini ditambah kulit tubuhnya nyeri seperti disengat lebah!
Dia pun bergulingan ke tas lantai dan ketika dia sudah meloncat bangun, dia sudah mencabut golok besarnya.
Dengan marah dia lalu menerjang ke arah orang yang memegang cambuk dan yang berdiri sambil tertaw tawa itu.
Akan tetapi, sebelum tubuhnya mendekat, Si Baju Kuning itu sudah menggerakkan cambuknya lagi.
"Tar-tarr-tarrr....................!"
Golok yang berada di tangan Alok terbang dan terlepas dari pegangannya, dan kembali dia menjadi bulan-bulanan lecutan cambuk itu yang bertubi-tubi.
Pakaian Alok kini sudah tidak karuan lagi macamnya, dan mukanya bergaris-garis merah dan berdarah.
"Kim-bwe Sam-houw ......... (Tiga Harimau Ekor Emas)!"
Terdengar seorang di diantara lima tukang pukul hartawan Teng dari Siong-Cu itu berseru dan barulah Alok sadar bahwa yang dihadapinya adalah tiga orang tokoh besar yang terkenal lihai dan ditakuti semua orang kang-ouw di daerah itu!
"Bagus, kalian sudah mengenal kami!
kata Si Baju Kuning yang menghajar Alok tadi.
"Hayo cepat kalian pergi!"
Dan cambuknya kembali menyambar-menyanbar, kali ini ke arah hartawan Teng dari empat orang tukang pukulnya yang lain.
Mereka mengaduh-ngaduh dan setelah cambuk itu berhenti menari-nari, lima orang itu masing-masing mendapat tanda guratan melintang pada muka mereka, guratan yang cukup dalam sehingga nampak merah dan ada pula yang berdarah!
Tanpa banyak cakap lagi hartawan Teng dan lima orang tukang pukulnya meninggalkan restoran itu dan membayar uang makanan di luar.
Yang paling parah adalah Alok sehingga dia harus dipapah oleh seorang rekannya.
Tadi, banyak diantara para tamu yang ketakutan.
Akan tetapi setelah enam orang itu pergi dan suasana kembali tenang, mereka melanjutkan makan dengan tergesa-gesa dan ada pula yang segera meninggalkan tempat itu.
Akan tapi, makanan yang dipesan Giok Cu baru tiba dan gadis itu pun makan minum dengan tenangnya, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu di dekatnya.
Hanya diam-diam ia memperhatikan tiga orang berpakaian kuning yang disebut Kim-bwe Sam-houw itu, dan merasa penasaran karena tidak suka melihat kekejaman mereka ketika menghajar enam orang tadi.
Si raksasa tadi memang pantas dihajar, akan tetapi lima orang lainnya tidak melakukan sesuatu yang pantas membuat mereka menjadi korban cambuk.
Juga ia melihat kesombongai membayang di wajah tiga orang berpakaian kuning itu, apalagi ketika mereka itu memandang kepadanya dengan senyum yang angkuh namun tetap saja mengandung kegenitan.
"Hemmm, cantik dan manisnya memang mengagumkan. Akan tetapi sayani sekali, orangnya begitu cantik namun tidak mengenal budi orang!"
Suara ini lirih akan tetapi terdengar jelas oleh Giok Cu dan ia tahu bahwa yang bicara adalah seorang di antara tiga pria berpakaian kuning itu, dan ia merasa bahwa ialah yang dimaksudkan oleh orang yang bicara itu.
"Memang ia tidak sopan, padahal baru saja kami membebaskannya dari cengkeraman sekelompok serigala."
Suara kedua.
"Aihhhhh, mungkin ia malu. Sebaiknya malam nanti kita berkunjung ke kamarnya."
Suara ke tiga menyusul dan ucapan terakhir ira membuat muka Giok Cu menjadi agak kemerahan karena ia tersinggung sekali.
"Memang sebaiknya begitu, akan tetapi sekarang juga kita dapat memberinya peringatan agar malam nanti ia tidak sombong dan tidak banyak rewel lagi, bersikap ramah kepada kita,"
Kata pula suara pertama.
Giok Cu semakin mendongkol, akan tetapi ia sudah banyak menerima gemblengan batin dari Hek-bin Hwesio maka ia mampu membiarkan kemarahannya lewat tanpa mempengaruhinya.
Ia tetap makan walaupun kini ia waspada sekali terhadap tiga orang pria berpakaian kuning itu.
Tiga orang pria itu masing-masing menjumput sebutir kacang goreng di atas meja mereka, kemudian mereka mempergunakan telunjuk menyentil kacang itu ke arah Giok Cu.
Tentu saja mereka membidik sasaran bagian tubuh yang tidak akan membahayakan, dan mengatur tenaga sentilan mereka karena mereka hanya ingin memperingatkan gadis itu bukan hendak menyerangnya.
Begitu tiga butir kacang itu meluncur, Giok Cu yang sudah mengetahuinya lalu menggerakkan tangan kirinya, gerakan seperti orang mengusir lalat dan mengomel.
"Ihh begini banyak lalat di sini!"
Tiga orang yang terkenal dengan julukan Kim-bwe Sam-houw itu terkejut bukan main ketika melihat betapa tiga butir kacang yang mereka sentil ke arah gadis itu tiba-tiba meluncur kembali ke arah mereka dengan cepat sekali.
Mereka terpaksa merendahkan tubuh sehingga tiga butir kacang itu lewat di atas kepala!
Giok Cu melihat hal ini dan ia terkejut bukan main melihat betapa tiga butir kacang itu kini meluncur ke arah seorang pemuda yang mengenakan sebuah caping lebar dan yang kebetulan duduk di meja sebelah tiga orang berpakaian kuning itu!
Lebih kaget dan kagum hatinya melihat betapa pemuda itu, yang mukanya tersembunyi di balik caping lebar, tanpa menggerakkan kepala sehingga tentu dia tidak melihat datangnya tiga butir kacang yang menyambar, menjulurkan tangan kirinya dan sekali tangan kiri itu menggapai, tiga butir kacang itu telah ditangkapnya!
Kini, caping itu merosot turun ke punggung dan nampaklah wajah pemuda itu.
Wajah yang tampan dengan sepasang mata yang lincah jenaka dan tajam sinarnya.
Hidungnya besar mancung dan bibirnya merah penuh gairah.
Pakaian pemuda itu menunjukkan bahwa dia seorang pelajar atau pakaian yang biasa dipakai para sastrawan dan terpelajar.
Pemuda itu memandang kearah Giok Cu dan senyumnya amat menarik sehingga Giok Cu memandang dengan kagum.
Hanya sebentar saja pemuda itu memandang Giok Cu.
Lalu ia memandang kepada tiga orang pria berpakaian kuning itu dan ia tersenyum lebar.
"Aha, memang banyak lalat, terutama tiga ekor lalat kuning yang amat menjemukan harus diusir agar tidak mengurangi selera makan!"
Berkata demikian, tiba-tiba tangannya bergerak dan tiga butir kacang itu sudah meluncur dengan kecepatan kilat kearah Kim bwe Sam-houw.
Tiga orang ini sama sekali tidak menduganya.
Mereka tadi tidak melihat betapa pemuda bercaping itu menangkap tiga butir kacang, maka begitu mendengar ucapan pemuda itu, mereka menengok pada saat tiga butir kacang itu meluncur.
Mereka tidak mungkin mengelak lagi dan tiga butir kacang itu dengan tepat mengenai muka mereka!
Seorang terkena hidungnya, seorang terkena pipinya dan orang ke tiga terkena dahinya.
Mereka menahan teriakan karena biarpun hanya kacang goreng, akan tetapi karena dilepas dengan kekuatan yang hebat, maka muka yang terkena kacang itu terasa cukup nyeri, terutama dia yang terkena hidungnya.
Ada tanda merah pada hidung, dahi dan pipi itu.
Serentak mereka bangkit berdiri dan memandang kepada pemuda bercaping itu dengan marah.
"Jahanam! Apakah telingamu tuli matamu buta?"
Bentak orang pertama dari Kim-bwe Sam-houw yang tadi terkena lemparan karang pada hidungnya "Andaikata engkau tuli, tentu engkau tidak buta dan dapat melihat dengan siapa engkau berhadapan.
Kami adalah Kim-bwe Sam-houw, dan berani engkau mengganggu kami?"
Pemuda itu menyumpit sepotong daging dan memasukkannya ke mulut, lalu mengunyahnya, agaknya tidak tergesal gesa menjawab walaupun dia sudah memandang kepada mereka bertiga.
Setelah daging itu hancur lembut dan ditelannya, barulah dia menjawab.
"Tidak ada yang mengganggu tiga ekor lalat kuning! Biasanya, lalat kuning yang suka mengganggui orang!"
Jawaban itu membuat Giok Cu tersenyum.
Pemuda itu sungguh berani dan jenaka, dan melihat cara dia tadi melempar tiga butir kacang, mudah diduga bahwa tentu pemuda bercaping yang tampan itu memiliki ilmu kepaindaiain yang lumayan.
Betapapun juga, ia pun tahu betapa lihainya cambuk emas dari tiga orang pria berpakaian kuning itu, maka diam-diam Giok Cu mengambil keputusan untuk melindungi pemuda bercaping kalau-kalau dia terancam bahaya.
Tiga orang Kim-bwe Sam-houw semakin marah.
Mereka ketiganya menjadi korban lemparan kacang, maka kini ketiganya mengeluarkan cambuk emas mereka yang tadi sudah memperlihatkan kelihaiannya ketika seorang di antara mereka menghajar hartawan dari Siong-cu tadi bersama lima orang tukang pukulnya.
Melihat ini, para tamu yang masih berada di situ, menjadi ketakutan dan mereka yang mejanya berdekatan, segera meninggalkan meja walaupun makanan mereka belum habis.
Kini yang nampak di bagian ruangan itu hanyalah Si Pemuda bercaping, Giok Cu, dan tiga orang pria berpakaian kuning itu.
Giok Cu masih tenang-tenang saja makan nasi dan bakminya, seolah-olah tidak terjadi sesuatu di depannya.
Tiga orang Kim-bwe Sam-houw sudah bangkit berdiri dan berjajar menghadapi pemuda bercaping yang masih duduk dengan tenangnya, biarnya terkesan mengejek dan matanya yang jenaka memandang kepada tiga orang yang marah-marah itu.
"Keparat! Bangkitlah dan lawanlah kami kalau engkau memang laki-laki tantang seorang di antara Kim-bwe Sam-houw. Tiba-tiba, pemilik rumah makan itu datang berlari-lari, lalu sambil membungkuk-bungkuk kepada Kim-bwe Sam-houw, dia berkata, suaranya jelas membayangkan ketakutan.
"Mohon dengan hormat agar Sam-wi (Tuan Bertiga) menghentikan keributan ini."
Baru saja pemilik rumah makan bicara sampai di situ, orang termuda dari Kim-bwe Sam-houw yang tadi terkena lemparan kacang tepat pada hidungnya membentak.
"Tutup mulutmu! Apak engkau ingin pula merasakan kerasnya cambukku?"
Orang itu bertubuh tinggi kurus seperti pohon bambu, dan hidungnya besar maka mudah menjadi sasaran lemparan kacang tadi.
Akan tetapi pemilik rumah makan itu tidak mau pergi, melainkan memberi hormat dan berkali-kali mengangkat kedua tangan ke depan dada dan mengangguk-angguk.
"Harap Eng-hiong (Orang gagah) tidak marah dan dengarkan dulu keterangan saya. Ruangan ini akan dilukai oleh rombongan Cang Tai-jin, pesanan mendadak dan itu rombongannya sudah hampir tiba di sini. Silakan Cu-wi (Anda Sekalian) pindah ke ruangan samping dan harap jangan membuat keributan."
Mendengar bahwa ruangan itu akan dipergunakan rombongan Cang Tai-jin, sikap tiga orang jagoan itu berubah.
Mereka adalah tiga orang yang menjadi kaki tangan atau pembantu utama dari pembesar itu, walaupun hanya sebagai orang-orang sewaan apabila diperlukan, bukan pegawai resmi.
Maka, tentu saja mereka tidak berani membantah lagi dan biarpun mereka bertiga melotot ke arah pemuda yang masih mengenakan caping merahnya itu, namun mereka tidak berani lagi membuat ribut, bahkan mereka ikut pula menyambut ke luar rumah makan karena rombongan itu sudah datang didahului oleh pasukan pengawal.
Pemuda bercaping merah itu hanya mengangguk ketika pelayan menghampirinya dan minta dengan hormat agar di suka pindah duduk di ruangan samping "Biarlah kami yang akan memindahkan hidanganmu, Kongcu (Tuan Muda),"
Kata para pelayan.
Juga beberapa orang pelayan menghampiri Giok Cu dan menawarkan hal yang sama.
Melihat pemuda itu mengangguk, Giok Cu yang masih ingin tahu kelanjutan dari pertengkaran tadi, juga karena memang ia belum selesai makan, mengangguk.
Hatinya memang mendongkol terhadap gangguan itu karena baginya tidak pada tempatnya kalau para tamu rumah makan umum harus mengalah terhadap pembesar yan manapun juga.
Akari tetapi, ia tidak dapat menyalahkan pemilik rumah makan yang tentu saja takut dan tunduk terhadap pejabat setempat yang berkuasa penuh.
Kebetulan sekali, tanpa disengaja karena mereka berada dalam keadaan panik dan tegang sehubungan dengan peristiwa keributan tadi yang disusul Kunjungan rombongan Cang Tai-jin yang tiba-tiba, para pelayan itu memindahkan hidangan Giok Cu diatas sebuah meja yang bersebelahan dengan meja pemuda bercaping merah itu.
Dan agaknya tanpa disengaja, mereka duduk saling berhadapan, terhalang kedua buah meja.
Ketika Giok Cu mengangkat muka memandang, ia bertemu pandang dengan sepasang mata yang amat tajam mencorong dan bagian hitam mata itu amat hitam sehingga menambah ketajaman pandang mata itu.
Sejenak saja mereka saling pandang, sinar mata mereka bertaut, kemudian pemuda bercaping merah itu tersenyum dan bangkit berdiri sambil mengangkat tangan ke depan dada dan menjura.
"Aku mohon maaf, Nona, bukan maksudku hendak bersikap kurang ajar karena berani menyapamu, akan tetapi agaknya memang nasib telah mempertemuan kita dengan peristiwa tadi. Aku Can Hong San merasa berbahagia sekali dapat bertemu dan berkenalan dengan Nona yang memiliki ilmu kepandaian tinggi."
Kalau saja kata-kata dan sikap pemuda bercaping merah itu menunjuk kekurangajaran, sudah pasti Giok Cu tidak akan sudi melayaninya.
Akan tetapi, pemuda bernama Can Hong San itu bersikap amat sopan, bicaranya halus kata-katanya indah menunjukkan bahwa dia terpelajar, maka iapun merasa senang dan tidak enak kalau tidak melayani.
Giok Cu bangkit berdiri pula dan membalas penghormatan orang.
"Terima kasih, Saudara Can Ho San. Engkau terlalu memuji. Namaku Giok Cu dan aku pun girang dapat berkenalan dengan engkau."
Sepasang mata yang hitam tajam itu berkilat tanda bahwa dia bergembir asekali. Hong San mengisi cawannya dengan arak, kemudian mengangkat cawan Itu sambil memandang kepada Giok Cu.
"Nona Bu Giok Cu, maukah engkau menghabiskan secawan arak bersarnak untuk menghormati perkenalan kita ini?"
Giok Cu tersenyum.
Ia pun mengisi cawannya dengan anggur dan mereka berdua mengangkat cawan masing-masing sambil tersenyum dan minum isinya sampai habis.
Setelah menurunkan kembali cawan kosong di atas meja, Hong San mengangguk hormat.
"Terima kasih, Nona Bu. Engkau sungguh berbudi dan ramah sekali, di samping gagah perkasa."
Giok Cu tersenyum, akan tetapi sama sekali tidak memperlihatkan wajah girang mendengar pujian itu.
"Harap jangan terlalu memuji!"
Pada saat itu, terdengar canang dipukul dan nampaklah serombongan pasukan pengawal memasuki pintu depan rumah makan dan mereka berdiri berbaris disepanjang pintu masuk.
Kepala pasukan pengawal masuk dan berseru kepada pemilik rumah makan yang menyambut tergopoh-gopoh.
"Apakah tempat pesta untuk Cang Tai-jin sudah dipersiapkan?"
"Sudah............ sudah ............... ruangan ini telah dikosongkan dan dibersihkan."
Komandan itu lalu memeriksa dengan pandang matanya yang tajam.
Dia mengerutkan alisnya melihat seorang pemuda dan seorang gadis makan ruangan samping yang terhalang tembok pendek.
Melihat ini, pemilik rumah makan segera menghampirinya.
"Mereka itu tamu-tamu dari luar kota yang sedang makan. Akan tetapi sudah saya minta pindah ke ruangan samping yang tidak terpakai. Ruangan ini saya kira sudah cukup luas untuk rombongan Cang Tai-jin."
Karena pemuda dan gadis itu tidak mendatangkan kesan berbahaya, komandan itu mengangguk, lalu keluar lagi.
Tak lama kemudian, terdengar bunyi kaki kuda dan roda kereta, dan sebuah kereta besar berhenti di depan rumah makan Ho-tin yang terkenal memiliki hidangan!
lezat dan juga merupakan rumah makan terbesar di kota Siong-an.
Seorang pria gendut berjenggot panjang turun dari kereta, dibantu oleh para pengawal.
Usianya sekitar lima puluh tahun, dari pakaiannya mewah, pakaian seorang pembesar.
Dia adalah Cang Tai-jin, kepala daerah kota Siong-an yang berkuasa di kota itu dan sekitarnya.
Para pengawal Itu nampaknya amat hormat kepadanya ketika membantunya turun dari kereta, bahkan ada yang cepat berlutut membersihkan sepatu pembesar itu dari debu, menggunakan lengan bajunya!
Akan tetapi pembesar itu sendiri agaknya tergesa-gesa, mendorong para pengawal yang membantunya setelah dia berada di bawah kereta, kemudian dia sendiri menyingkap tirai kereta sambil membungkuk hormat dan berkata dengan suara merendah.
"Silakan, Tai-jin, silakan turun dari kereta. Mari, pergunakan kedua tangan saya untuk berpijak."
Cang Tai-jin sudah merangkap kedua tangan agar menjadi tempat berpijak bagi orang yang hendak turun, karena dari kereta ke atas tanah memang agak tinggi sehingga tanpa pijakan perantara, akan menyulitkan bagi seorang pembesar yang mengenakan pakaian kebesaran.
Sebuah kepala menguak keluar dari tirai dan nampaklah tubuh seorang pria berusia lima puluh lima tahun yang kurus tinggi, wajahnya dingin berwibawa.
Melihat sikap Cang Tai-jin yang menjadi tuan rumahnya, pembesar tinggi kurus itu menggeleng kepalanya.
"Harap Cang Tai-jin jangan repot-repot, biar pengawalku saja yang mermbantuku turun."
Dia lalu memberi isyarat kepada seorang pengawal yang bersama dua belas orang anak buahnya mengawal di belakang kereta itu.
Komandan pengawal itu cepat berlari menghampiri dan dia membantu pembesar tinggi kurus itu turun dari kereta.
Sambil membungkuk-bungkuk penuh hormat, dengan mulut menyeringai, kini pembesar setempat yang menjadi tua rumah itu mempersilakan tamunya untuk memasuki rumah makan.
Tamunya itu disebut Liu Tai-jin (Pembesar Liu) yan berpangkat lebih tinggi dan datang dari kota raja, melakukan tugasnya sebaga utusan jaksa Tinggi di kota raja untuk melakukan inspeksi dan penyelidikan terhadap para pejabat di daerah.
Semua pejabat sudah mendengar bahwa Jaksa Tinggi mengutus seorang petugas melakukan penyelidikan di sepanjang Sungai Kuning, maka tentu saja setiap kali datangi sebuah kota, dia disambut nn dielu-elukan oleh para pejabat daerah.
Apalagi tugasnya itu sungguh amat mendatangkan rasa takut dalam hati para pejabat.
Ketika dua orang pembesar ini memasuki ambang pintu, mereka disambut oleh pemilik rumah makan dan semua karyawannya.
Yang disambut adalah Cang Tai-jin, karena mereka semua tentu saja ikut kepada kepala daerah ini.
"Selamat datang, Cang Tai-jin yang dia......... !"
Seru pemilik rumah makan itu, diikuti oleh para karyawannya dan icreka semua berlutut, seperti menghadap seorang kaisar saja Melihat penyambutan ini, sejenak Cang Tai-jin tersenyum menyeringai dengan girang, akan tetapi segera dia tergopoh-gopoh berkata.
"Jangan memberi hormat kepadaku saja! Hayo cepat kalian sambut dengan penuh kehormatan kepada Liu Tai-jin dari kota raja ini!"
Melihat sikap pembesar setempat itu demikian hormatnya kepada tamunya, pemilik rumah makan dan para karyawannya terkejut, maklum bahwa tentu pembesar tinggi kurus yang disebut Liu Tai-jin itu lebih tinggi pangkatnya.
"Selamat datang, Liu Tai-jin yang mulia............!"
Mereka berseru dan kini mereka memberi hormat kepada Liu T-jin. Pembesar tinggi kurus itu menggerakkan tangan kanannya dengan sikap tak sabar.
"Sudahlah, kalian bangkitlah bekerja!"
Katanya.
Pemilik rumah makan dan para karyawannya segera bangkit dan dua orang tamu agung itu persilakan duduk di tempat kehormatan.
Sebuah kereta ke dua muncul dan turunlah sepuluh orang gadis cantik dengan pakaian warna-warni, mereka masuk diikuti oleh serombongan penabuh musik.
Segera tempat itu penuh dengan bau harum yang keluar dari pakaian para penari dan penyanyi itu, dan tak lama kemudian, setelah semua pemain musik dan gadis penghibur itu memberi hormat kepada dua orang pejabat tinggi, terdengar suara musik mengiringi nyanyian dan tarian para gadis itu.
Pesta pun dimulai, hidangan lezat yang masih mengepul panas dikeluarkan dan dua orang pembesar itu mulai makan minum sambil menoton tarian lemah gemulai dan nyanyian yang merdu merayu.
Suasana menjadi gembira sekali.
Para pasukan pengawal menjaga tempat itu dengan ketat, bahkan orang-orang yang menonton di luar rumah makan, diusir pergi.
Tamu-tamu baru hanya diperkenankan masuk melalui pintu samping yang langsung menuju ke ruangan samping di mana Giok Cu dan Hong San masih duduk.
Mereka sudah selesai makan, akan tetapi memperpanjang waktu duduk mereka dengan memesan tambahan minuman dan makanan kecil.
Sejak tadi, kedua orang muda ini nonton pertunjukan yang mereka anggap amat menarik itu.
Para penyanyi dan penarinya, selain cantik-cantik, juga pandai.
Mereka adalah gadis-gadis penghibur yang paling terkenal, didatangkan Cang Tai-jin dari lain kota dengan bayaran mahal.
Tiba-tiba pemuda bercaping lebar tertawa lirih sehingga Giok Cu menengok dan memandang kepadanya.
Pemuda itu sedang memandang ke arah dua orang pembesar, dan seolah-olah dia tahu bahwa suara tawanya itu menarik perhatian Giok Cu, karena dia segera berkata "Nona Bu, lihat, bukankah pembesar gendut itu sungguh merupakan seorang penjilat besar?
Orang sekitarnya bersikap hormat dan menjilat kepadanya, dan lihai sikapnya ketika menemani dan melayani pejabat tinggi kurus itu.
Menjilat-jilat yang berlebihan sekali!"
Kembali Ho San tertawa lirih dan melanjutkan.
"Dia seperti seekor babi gemuk yang mendengus-dengus, ha-ha!"
Giok Cu juga tersenyum geli. Mereka berani bicara lirih karena kegaduhan dan nyanyian itu membuat mereka dapat leluasa bicara tanpa khawatir terdengar dua orang pembesar itu.
"Hemmm, orang yang suka menjilat ke atas biasanya suka pula menginjak ke bawah. Contoh seorang pembesar yan korup dan sewenang-wenang mengandalkan kekuasaannya!"
Giok Cu berkata dengan sikap muak membayangkan sikap sebagian besar pembesar yang wataknya seperti itu.
"Aku ingin sekali melihat mereka semua itu telanjang!"
Hong San kembali tertawa. Giok Cu memandang kepadanya dengan alis berkerut.
"Telanjang? Apa maksudmu?"
La curiga kalau-kalau pemuda yang mendatangkan rasa kagum dalam hatinya itu ternyata hanya seorang pemuda hidung belang dan kata-katanya tadi dimaksudkan untuk melihat para gadis penghibur itu telanjang!
"Ya, bertelanjang bulat!
Ha-ha, tentu lucu sekali melihat pembesar itu telanjang bersama pengawalnya dan para karyawan rumah makan.
Mereka hanya merupakan sekumpulan orang telanjang, seperti babi-babi yang tidak ada perbedaannya, hanya gemuk dan kurus tentu saja, akan tetapi tak seorang pun tahu mana pembesarnya, mana pengawal dan mana pula pelayan rumah makan!
Aku berani bertaruh, tak seorang pun yang akan tahu perbedaannya!"
Giok Cu tertawa. Kiranya itu yang dimaksudkan pemuda yang gembira itu "Aku tahu perbedaan antara mereka kalau mereka ditelanjangi!"
Hong San menghentikan tawanya tiba-tiba saja dan mukanya berubah aneh seperti orang marah.
"Eh? Engkau tahu perbedaannya?"
Tanyanya, dan matanya penuh rasa penasaran, Giok Cu tidak melihat perubahan ini dan ia pun menjawab sambil tersenyum.
"Si Pejabat akan memaki-maki dan mengancam yang menelanjangi, pengawalnya akan mencak-mencak dan mengamuk, sedangkan karyawan itu hanya akan menangis dan minta ampun."
Berubah pula pandang mata Hong San dan kini dia tertawa bergelak sehingga Giok Cu menoleh ke ruangan tengah, khawatir kalau suara ketawa itu akan mengganggu pesta pembesar.
"Ha-ha-ha, engkau benar, Nona Bu, Akan tetapi itu pun karena mereka masih mengenakan pakaian ke dua, yaitu! kedudukan dan pangkat. Coba kalau pada suatu hari pembesar itu dipecat dan seorang karyawan diangkat menggantikan pangkatnya, tentu keadaannya menjadi terbalik pula. Ha-ha-ha!"
Giok Cu tertawa pula dan mengangguk.
la teringat akan wejangan yang pernah di dengarnya dari gurunya yang ke dua, yaitu Hek-bin Hwesio.
Pendekar Sakti itu pernah bicara tentang penghormatan yang dilakukan orang pada umumnya dengan menceritakan sebuah peristiwa.
Seorang pemuda meninggalkan kampungnya sampai bertahun-tahun dan dia berhasil menjadi seorang yang kaya raya.
Pada suatu hari, dia pulang ke kampungnya dan sengaja mengenakan pakaian biasa, pakaian petani sederhana eperti ketika dia berangkat dan dikunjungilah seorang sahabatnya.
Sahabat ini menerimanya dengan acuh, bahkan sikapnya menghina seolah kedatangannya itu hanya mengganggu saja, dan ada kecurigaan kalau-kalau dia datang untuk berhutang!
Sikap sahabatnya ini membuat dia penasaran dan dia pun pergi.
Beberapa hari kemudian dia datang kembali, sekarang mengenakan pakaian indah dan serba mahal, serba baru.
Seketika sikap sahabatnya itu berubah.
Dia diterima dengan ramah,dipersilakan duduk dan dijamu hidangan yang enak!
Pemuda itu lalu menanggalkan baju dan sepatunya, menggantungkan baju di kursi, menaruh sepatu di meja dan dia pun dengan sikap hormat mempersilakan baju dan sepatu itu untuk makan minum.
Sahabatnya menegur sikapnya yang aneh ini dan dia menjawab.
"Bukankah yang kauhormat itu pakaian dan sepatuku? Bukan diriku yang kausuguh hidangan, melainkan pa kaian dan sepatuku inilah!"
Demikianlah cerita gurunya itu dan ia pun mengerti.
Penghormatan yang kita lakukan ini, yang disebut kebiasaan umum, sesungguhnya hanyalah merupakan pemujaan terhadap benda, kekuasaan kedudukan mulia, kecantikan, kepandaian dan sebagainya.
Bukan manusianya yang dihormati, melainkan yang melekat pada si manusia pada saat itu.
Seorang pembesar dihormat sampai berlebihan karena kedudukannya yang tinggi, kekuasaannya yang besar, karena si penghormat ini memiliki pamrih, karena si penghormat ini dikuasai oleh daya rendah dan nafsu.
Namun, begitu si pembesar kehilangan kedudukan dan kekuasaannya, maka penghormatan itu pun akan lenyap dengan sendirinya!
Karena itu, bagi seorang bijaksana, tidak akan silau oleh segala kelebihan lahiriah itu, tidak akan menjilat dan memuja orang yang kebetulan memiliki kelebihan lahiriah.
Juga dia tidak akan mabuk oleh kelebihan lahiriah kalau kebetulan dia yang memiliki, karena semua itu hanya sementara saja, tidak abadi.
Kasih sayang antar manusia bukan kasih sayang yang terdorong oleh kelebihan lahiriah, melainkan kasih sayang antara manusia itu sendiri.
Jauh lebih baik miskin lahiriah namun kaya batiniah daripada miskin batiniah kaya lahiriah, walaupun tentu saja sebaiknya adalah kaya akan kedua-duanya.
Dalam arti kata, secara lahiriah, dia memiliki kedudukan yang baik dan kehidupan yang serba cukup, juga secara batiniah dia memiliki kasih sayang terhadap semua manusia, berbudi baik dan selalu mentaati petunjuk Tuhan.
Segala yang nampak gemerlapan, seperti kepandaian, kecantikan, kekayaan atau kedudukan, semua itu dapat lenyap.
Pemujaan terhadap semua itu hanya menunjukkan ketamakan karena dorongan nafsu.
Pemujaan dari orang lain, terhadap diri kita yang sedang ada kelebihan lahiriah adalah palsu.
Pemujaan dan penjilatan itu sewaktuk-waktu dapat berubah menjadi kebencian.
Oleh karena itu, siapa berpegang kepada kelebihan lahiriah untuk mendapatkan kebahagiaan, takkan pernah berhasil.
Yang didapatkan melalui nafsu hanyalah kesenangan, dan kesenangan adalah saudara kembar kesusahan yang setiap waktu akan menggantikan kedudukan saudara kembarnya.
Manusia itu sama, dalam arti kata sama-sama sempurna sebagai ciptaan Tuhan, sama-sama menerima berkah berlimpah dari Yang Maha Kasih.
Yang berbeda itu hanyalah pakaian, termasuk kebudayaan, tradisi, agama, pangkat kedudukan, harta, kulit dan sebagainya.
kalau kulit pembungkus tubuh dan daging sudah rusak habis oleh kematian, apa yang tinggal?
Kerangka dan tengkorak.
Sama pula, tidak ada lagi yang cantik atau yang buruk, yang kaya atau yang miskin.
Yang tinggal berbeda mungkin hanya bentuk nisan kuburannya!
Giok Cu semakin tertarik kepada pemuda yang selain tampan dan memiliki ilmu kepandaian tinggi, ternyata juga halus tutur sapanya dan luas pula pandangannya itu.
Sebaliknya, Hong San kini sudah tergila-gila benar kepada Giok Cu.
Belum pernah dia bertemu dengan seorang gadis seperti Giok Cu.
Biarpun dia hanya mencuri-curi pandang, dia sudah melihat jelas betapa gadis itu lincah jenaka, gembira dan penuh gairah hidup, wajahnya demikian cantik jelita dan manis, dengan dandanan yang rapi dan pantas walaupun tidak terlalu pesolek.
Memang sejak menjadi murid Hek-bin Hwesio, Giok Cu tidak begitu pesolek lagi seperti ketika ia masih menjadi murid Ban tok Mo-li.
Kini pakaian dan dandanan rambutnya rapi dan segalanya nampak bersih, namun cukup sederhana, tidak mewah.
oooOOooo Tiba-tiba Hong San memberi isyarat kepada Giok Cu untuk mendengarkan.
Mereka berdua mengerahkan tenaga kearah pendengaran mereka yang menjadi peka sekali sehingga mereka dapat mendengarkan percakapan antara kedua orang pembesar itu.
"Ha-ha-ha, kami merasa terhormat dan gembira sekali menerima kunjungan Liu Taijin. Seperti Tai-jin lihat, keadaan di sini baik-baik saja, semua pekerjaan berjalan dengan lancar dan kami selalu berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan pemerintahan yang baik,"
Antara lain Cang Tai-jin berkata dengan menyeringai, sikapnya merendah dan menjilat.
Wajah yang dingin dari Liu Taijin tidak berubah, akan tetapi matanya menatap tajam wajah tuan rumah, lalu terdengar dia berkata.
"Akan tetapi bagaimana dengan pelaksanaan pengumpulan tenaga kerja untuk melancarkan jalannya pembangunan terusan, Cang Tai-jin?"
"Ah, hal itu juga terjadi dengan lancar dan baik-baik saja. Bukankah kami telah mengirim ribuan orang pekerja dari daerah kami ini ke tempat pembangunan terusan? Kami sudah membantu banyak..........."
"Lalu apa artinya berita yang kami terima tentang pemaksaan tenaga kerja, penekanan dan uang tebusan bagi mereka yang mampu membayar agar terbebas dari tenaga paksaan?"
Kini sepasang mata pembesar tinggi kurus dari kota raja itu menatap wajah tuan rumah penuh selidik.
Sejenak wajah Si Pembesar Gendut itu berubah agak pucat, akan tetapi dia lalu membungkuk-bungkuk dan menyeringai lebar, lalu berkata lebih lirih.
"Aih, Liu Taijin yang mulia, tidak perlu mempercayai kabar angin seperti itu! Tidak pernah terjadi hal demikian. Memang ada beberapa orang yang kami hukum, akan tetapi mereka itu memang membandel dan memberontakt menghasut penduduk agar tidak membantu pemerintah. Padahal, karmiselalu menyerahkan uang bagi mereka yang menjadi sukarelawan membangun terusan, sesuai dengan perintah atasan kami di kota raja."
"Hemmmmm............. mudah-mudahan saja benar apa yang engkau katakan itu, Cang Taijin,"
Kata Liu Taijin, sikapnya tetap dingin seperti juga wajahnya.
"Aih, Liu Taijin tentu lebih percaya kepada laporan saya daripada lapor an orang-orang yang tidak suka kepada saya bukan? Kami percaya atas kebijaksanaan Liu Taijin agar kelak melaporkan ke kota raja bahwa semua tugas sudah kami laksanakan dengan sebaiknya. Untuk kebaikan hati Liu Taijin ini, kami tentu tidak akan melupakannya. Liu Taijin, sekarang juga kami telah menyediakan bekal untuk Taijin dalam perjalanan pulang, disertai pula dua orang teman seperjalanan yang masih gadis dan merupakan kembang dari seluruh gadis penghibur di daerah kami. Silakan Taijin melihat dan berkenalan dengan mereka!' Berkata demikian, Cang Taijin lalu memberi isyarat kepada seorang pengawalnya. Pengawal ini cepat keluar dari rumah makan dan tidak lama kemudian dia pun kembali mengantar dua orang gadis yang berusia antara lima belas dan delapan belas tahun, berwajah cantik berkulit putih mulus. Selain dua orang gadis itu, ada empat orang pengawal menggotong sebuah peti yang kelihatan berat. Cang Taijin menyuruh dua orang gadis itu duduk di atas bangku di kanan kiri Liu Taijin. Sebagai dua orang gadis hiburan yang terlatih baik, walaupun mereka masih gadis, dua orang itu dapat menyuguhkan arak dan menyumpitkan daging dengan gaya yang manis memikat. Kemudian, Cang Taijin menyuruh Pengawal membuka tutup peti dan nampaklah barang-barang yang amat berharga di dalam peti itu, bongkahan-bongkahan emas dan perak, juga gulungan sutera dan perhiasan yang serba mahal, hanya sebentar saja peti itu dibuka, lalu ditutup kembali. Liu Taijin mengelus jenggotnya, tersenyum dingin biarpun diapit dua orang gadis yang hangat.
"Hemmm, apa artinya pemberian ini, Cang Taijin? Apa yang telah kulakukan maka engkau memberi hadiah sebanyak ini?"
Cang Taijin menyeringai.
"Aih, Taijin yang mulia. Sumbangan ini tidak ada harganya kalau dibanding dengan jasa Taijin membuat laporan yang baik ke kota raja tentang pekerjaan saya. Biarlah kelak saya berkesempatan untuk dapat menghaturkan sumbangan yang lebih banyak."
Liu Taijin mengangguk-angguk para gadis penghibur melanjutkan tarian dan nyanyian mereka, pesta pora dilanjutkan.
Karena merasa tidak enak kalau terlalu lama duduk di ruangan samping akhirnya sebelum dua orang pejabat tinggi itu mengakhiri pesta mereka, Giok Cu memanggil pelayan untuk membayar harga makannya.
"Biarlah saya yang membayarnya sekalian, Nona, tentu saja kalau Nona tidak berkeberatan, sebagai tanda perkelan kita. Hei, pelayan, hitunglah semua harga hidangan kami berdua!"
Kata Hong San. Giok Cu tersenyum.
"Hemm, agaknya engkau meniru pembesar gendut itu!"
Hong San juga tertawa, akan tetapi dia membayar harga makanan dan minuman kedua meja itu kepada pelayan, kemudian, seperti dengan sendirinya dan sewajarnya, mereka keluar dari tempat itu bersama.
Setelah tiba di luar rumah makan, Hong San berkata lirih.
"Nona Bu, aku ingin menghadang kereta pembesar kurus itu di luar kota dan menyerangnya. Bagaimana pikiranmu?"
Giok Cu terkejut dan memandang kepada pemuda itu dengan heran.
"Sungguh aneh sekali! Aku pun mempunyai niat demikian! Bagaimana jalan pikiran kita dapat sama?"
Hong San tersenyum gembira.
"Ini namanya bahwa kita memang berjodoh untuk menjadi sahabat baik dan bekerjasama!"
Giok Cu merasa betapa jantungnya berdebar dan mukanya terasa panas rnendengar ucapan itu, akan tetapi karena sikap pemuda itu sopan, ia pun segera mengalihkan percakapan.
"Ingin aku mengetahui, untuk apa engkau menghadang dan menyerangnya?"
Hong San adalah putera kandung di murid Cui-beng Sai-kong, seorang datuk besar dunia hitam, namun dia Cerdik bukan main dan dia tahu bahwa kepada seorang wanita seperti Giok Cu yang agaknya seorang pendekar wanita dia harus mampu menggunakan kedok seorang budiman.
"Nona, peti hadiah itu berisi emas, perak dan barang berharga. Tidak pantas dan sayang sekali kalau barang berharga itu jatuh ke tangan pembesar pemakan sogokan seperti dia! Itu tentulah harta hasil korupsi, hasil pemerasan para pembesar itu dari rakyat. Maka, aku akan merampas peti itu Nona."
Giok Cu mengangguk-angguk.
"Akan tetapi aku hendak menghadangnya untuk membebaskan dua orang gadis yang di hadiahkan tadi."
"Tapi........., tapi gadis-gadis macam itu untuk apa dibebaskan? Bukankah mereka tadi kelihatan begitu jinak dan bahkan melayani pembesar kota raja itu dengan gembira?"
"Aih, engkau seorang laki-laki, tentu lak dapat melihat dengan jelas. Biarpun mereka melayani, namun mereka itu terpaksa dan takut kepada pembesar gendut. Aku melihat betapa mata dan bibir mereka menahan derita yang hebat. Aku akan membebaskan mereka."
"Kalau begitu, kita dapat bekerjasama, Nona. Kita robohkan dulu para pengawalnya, kemudian kita serbu kereta, engkau membebaskan dua orang gadis itu dan aku merampas peti."
"Baiklah, akan tetapi, kalau boleh aku bertanya, mau kaupakai apakah harta dalam peti itu?"
Giok Cu bertanya sambil lalu, padahal di dalam hatinya dara ini ingin sekali tahu mengapa pemuda yang dikaguminya itu hendak merampas peti berisi harta itu.
Dengan cerdik Hong San yang semakin yakin bahwa Giok Cu adalah seorang pendekar wanita, menjawab seperti sudah sewajarnya.
"Untuk apa? Tentu saja untuk kukembalikan ke rakyat jelata! Harta itu akan kubagikan kepada rakyat miskin di dusun-dusun!"
Dengan hati girang sekali Hong melihat betapa gadis perkasa yang cantik jelita dan manis itu memandang kepadanya dengan sinar mata kagum, seperti sudah saling bersepakat keduanya lalu menanti sambil bersembunyi, pura-pura berjalan-jalan di sepanjang jalan raya itu, namun mereka selalu memperhatikan ke arah kereta yang berhenti di depan rumah makan.
Tak lama kemudian, saat yang mereka nanti-nantikan pun tiba.
Nampak Taijin yang kurus itu naik ke atas kereta bersama dua orang gadis yang telah dihadiahkan kepadanya, dan peti pun dinaikkan ke atas kereta.
Cang Tai-jin yang gendut menyeringai dan membungkuk-bungkuk mengantar tamunya naik kereta, akan tetapi dia sendiri tidak naik kereta itu.
Pasukan pengawal yang tiga belas orang banyaknya, pengawal dari Kota raja yang rata-rata nampak gagah-gagah menjadi dua, sebagian mengawal di depan kereta, sebagian lagi di belakang kereta.
Mereka semua menunggang kuda yang besar, dan kereta itu sendiri ditarik oleh empat ekor kuda.
Berangkatlah kereta yang dikawal ketat itu meninggalkan rumah makan, diantar lambaian tangan Cang Tai-jin.
Melihat kereta itu menuju ke pintu gerbang kota sebelah utara, Giok Cu dan Hong San lalu cepat mengambil jalan memotong, mendahului rombongan itu keluar dari pintu gerbang utara.
Setelah tiba di luar kota dan melalui jalan raya yang tidak begitu ramai, mereka lalu mengerahkan kepandaian dan berlari cepat, mengambil jalan kecil melewati sawah ladang agar tidak menarik perhatian orang yang berlalu-lalang di jalan raya.
Akan tetapi mereka menanti sampai kereta itu muncul, dan dari jauh mereka membayangi kereta yang dilarikan cepat menuju ke utara, memasuki daerah berhutan dan lalu lintas jalan raya itu mulai sunyi.
Setelah rombongan pembesar itu mu masuki hutan, dua orang muda itu pun berlari cepat melakukan pengejaran mengambil keputusan untuk turun tangan setelah kereta tiba di hutan, atau yang sudah agak jauh dari jalan yang ramai.
Tiba-tiba mereka berdua terkejut karena mendengar suara pertempuran depan.
Mereka segera mempercepat lari mereka dan ternyata kereta itu telah dikepung oleh belasan orang dan sudah terjadi pertempuran antara para pengepung yang berpakaian macam-macam melawan tiga belas orang pengawal.
Sedangkan kusir kereta yang sudah turun, berusaha menenangkan empat ekor kuda di depan mereka itu.
Tentu saja kedua orang muda itu menjadi terkejut dan juga terheran-heran membuat mereka meragu karena mereka tidak mengenal siapa belasan orang yang melakukan penyergapan terhadap rombongan pembesar itu.
Karena mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, maka Giok Cu dan Hong San hanya menonton saja.
Kini mereka baru melihat bahwa pembesar itu agaknya seorang yang amat penting, karena pasukan pengawal yang berkuda itu sungguh tangguh.
Mereka itu pandai menunggang kuda, dan pandai pula menggerakkan pedang mereka dari atas kuda sehingga beasan orang yang mengepung itu menjadi kewalahan dan kocar kacir.
Para penyerang itu diterjang kuda yang besar, dan pedang yang bergerak cepat lagi kuat.
Namun, dua orang muda itu pun dapat melihat bahwa belasan orang penyerang itu bukanlah orang-orang biasa, melainkan rata-rata memiliki ilmu silat yang baik.
"Ini kesempatan baik,"
Tiba-tiba Hong San berkata kepada Giok Cu.
"Selagi para pengawal menghadapi orang-orang itu, kita turun tangan. Kaubebaskan dua orang gadis itu dan aku akan mengambil peti itu! Dan kita bunuh saja pembesar korup tukang makan sogokan itu!"
"Jangan............!"
Tiba-tiba Giok Cu berkata agak ketus sehingga mengejutkan hati Hong San.
"Tidak boleh membunuhnya!"
Memang semenjak menjadi murid Hek-bin Hwesio selama lima tahun Giok Cu sudah mendapat gembleng batin dari hwesio itu sehingga ia tid merasa tega untuk membunuh orang.
Gurunya itu menanamkan perasaan kasih sayang di dalam hatinya terhadap semua orang, dan yang ia tentang hanyalah perbuatan jahat, bukan orangnya.
Maka, ia mau memberi hajaran kepada orang jahat agar orang itu bertobat dan tidak berani melakukan kejahatan lagi, bukan membunuhnya karena benci kepada orangnya.
Hong San tersenyum, dan mengangguk.
Dia mulai mengenal watak gadis itu.
Gagah perkasa, cantik jelita, riang jenaka, pemberani akan tetapi juga berbudi luhur!
"Mari kita bergerak!"
Katanya setelah mengangguk menyetujui.
Bagaikan dua ekor burung garuda, Hong San dan Giok Cu meloncat seperti melayang saja, menuju ke arah kereta yang kini tidak terlindung karena tiga belas orang pengawal sibuk menghadapi pengeroyokan belasan orang itu.
Akan tetapi pada saat itu, dari lain jurusan berkelebat pula bayangan orang yang tidak kalah cepat dan ringannya dibandingkan dua orang muda itu.
Baru saja Giok Cu dan Hong San tiba di dekat kereta, terdengar bentakan nyaring "Perampok-perampok jahat!"
Dan muncullah seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar, kokoh kuat dan tampan gagah.
Mendengar bentakan ini dan melihat munculnya seorang pemuda yang gagah perkasa, Giok Cu dan Hong San terkejut.
Saat itu dipergunakan oleh pemuda tinggi besar untuk berseru kepada kusir kereta.
"Kenapa engkau tidak cepat melarikan kereta ini, menyingkir dari sini, menyelamatkan majikanmu dan minta bantuan pasukan? Hayo cepat larikan kereta, biar aku menahan para perampok!"
Barulah kusir itu tergopoh-gopoh naik ke atas keretanya dan melarikan empat ekor kuda yang menarik kereta. Kereta bergerak ke depan dengan cepatnya.
"Heiii, tinggalkan peti itu!"
Hong San berteriak dan hendak mengejar, akan tetapi pemuda tinggi besar itu telah menghadangnya dengan mata menyam tajam.
"Sayang, begini tampan dan gagah menjadi perampok!"
Katanya. Melihat pemuda tinggi besar itu menghadang, dan mengeluaran kata ejekan, mengatakan dia perampok, hati Hong San menjadi panas sekali.
"Engkau penjilat pembesar korup bentaknya dan tangan kanannya mengirim hantaman ke arah muka lawan dengan pengerahan tenaga yang dahsyat. Karena dia dapat menduga bahwa pemuda tinggi besar ini tentu lihai sekali, mungkin seorang jagoan dari kota raja yang bertugas melindungi Liu Tai-jin, maka dia pun begitu menyerang sudah mengerahkan tenaga saktinya sehingga dalam hantamannya itu terkandung kekuatan dasyat yang dapat menghancurkan batu padas! Namun, pemuda yang diserangnya it sama sekali tidak menjadi gugup, bahkan dia pun memutar lengan kirinya menangkis. Melihat lawannya menangkis Hong San sudah merasa girang karena jarang ada yang mampu mempertahankan tenaga pukulannya, maka lawan yang menangkis itu tentu akan patah tulang tangannya atau setidaknya akan terpental atau roboh terbanting. Akan tetapi, tidak demikianlah dugaan Giok Cu. Gadis ini melihat betapa kedudukan kaki pemuda tinggi besar itu kokoh kuat, dan betapa sikapnya yang tenang itu membayangkan kekuatan dahsyat, maka dengan hati berdebar ia menanti bagaimana kelanlajutan adu tenaga antara Hong San yang juga belum diketahuinya benar tingkat kepandaiannya, dengan pemuda tinggi besar itu. Wajah pemuda tinggi besar yang tampan gagah itu seperti wajah yang tidak asing baginya, namun ia sama sekali tidak dapat mengingat di mana ia pernah bertemu dengan pemuda itu. Mungkin seorang di antara tamu gurunya yang pertama, yaitu Ban-tok Mo-li. Seorang teman Ban-tok Mo-li sudah pasti bukan orang baik-baik, dan tidak aneh kalau menjadi jagoan pengawal seorang pembesar koruptor besar yang kaya raya.
"Dukkk!"
Dua buah lengan bertemudan tubuh Hong San terhuyung kebelakang, sedangkan tubuh pemuda tinggi besar itu tetap kokoh, sama sekali tidak terguncang!
Hal ini amat mengejutkan Hong San.
Dia tadi merasa betapa lengannya bertemu dengan lengan yang bagaikan baja kuatnya, dan tenaganya menyambut tenaga pukulannya juga amat dahsyat sehingga dia tidak mampu la mempertahankan kedua kakinya sehingga terhuyung ke belakang.
Marahlah Hong San dan dia pun mencabut pedang dengan tangan kanannya.
Giok Cu juga melihat adu tenaga itu dan ia hanya menganggap bahwa mungkin tenaga Hong San belum begitu kuat.
Dan melihat betapa dalam adu tenaga itu Hong San terhuyung ke belakang, ia pun menganggap bahwa lawan itu agaknya lebih lihai dari Hong San.
Akan tetapi masih ingin melihat bagaimana kalau Hong San menyerang dengan pedangnya.
"Singgggg.............!"
Pedang di tangan Hong San berubah menjadi sinar menyambar dahsyat, lalu sinar pedang itu bergulung-gulung bagaikan ombak samudera menerjang ke arah lawannya.
Barulah Giok diam-diam terkejut dan kagum.
Ilmu pedang Hong San ternyata amat hebat.
Bukan sembarang orang dapat men gerakkan pedang seperti itu, dan tentu tadi pun Hong San telah mengerahkan sinkang yang kuat.
Mulailah Giok Cu menduga bahwa jagoan muda yang melindungi pembesar korup itu tentu memiliki kepandaian yang hebat pula.
Karena pemuda tinggi besar itu tidak memegang senjata, maka dia lalu melolos sabuknya yang terbuat dari sutera putih.
Pada saat itu, setelah berloncatan dengan gerakan yang aneh seperti gerakan orang mabuk terhuyung-huyung nampak selalu dapat menghindarkan diri dari sambaran gulungan sinar pedang, sinar pedang ditangan Hong San mencuat dengan sinar menyilaukan mata mengejar tubuh lawan dan menusuk ke arah perut.
Pemuda tinggi besar itu meloncat kebelakang dan ketika pedang itu mengejar cepat, tiba-tiba nampak sinar putih meluncur ke depan menangkis pedang.
"Takkk.........!"
Pedang itu pun terpental dan Hong San membelalakkan matanya.
Sabuk sutera putih itu tadi menangkis pedangnya dan berubah menjadi keras seperti logam yang kuat.
Tanulah dia bahwa lawannya memang lihai bukan main, merupakan seorang lawan yang memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat.
Maka dia pun cepat mencabut sulingnya dengan tangan kiri dan kini dia menyerang lawan kalang kabut dengan pedang di tangan kanan dan suling di tangan kiri!
Namun, sabuk sutera putih itu lihai bukan main gerakannya.
Kadang-kadang menjadi keras, kadang-kadang menjudi lemas dan suatu saat, suling di tangan kiri Hong San hampir dapat terampas karena sudah terlibat ujung sabuk yang imat kuat.
Terpaksa Hong San membacokkan pedangnya ke arah sabuk yang nenegang itu dan dia berhasil melepaskan libatan sabuk dari sulingnya.
Akan tetapi kini lawannya memutar sabuknya dan sabuk itu bagaikan berubah menjadi seekor naga yang melayang-layang dan menyambar-nyambar dari sega jurusan ke arah Hong San.
Pemuda itu menjadi sibuk sekali mengelak atau menangkis dengan pedang dan sulingnya, dan dia pun terdesak.
Hong San semakin kaget dan juga penasaran sekali.
Dia memutar kedua senjatanya sehingga tidak lagi terdesak walaupun dia jarang mendapat kesempatan untuk balas menyerang walaupun senjatanya dua buah.
Melihat perkelahian itu, Giok Cu menjadi kagum bukan main.
Kiranya sahabat atau kenalan barunya itu lihai bukan main dengan pedang dan sulingn Tingkat kenalan baru itu agaknya tidak berada di sebelah bawah tingkat kepandaiannya sendiri.
Namun, lawannya yang tinggi besar itu ternyata tidak kalah lihainya.
Dengan sabuk suteranya, pemuda tinggi besar itu merupakan seorang lawan yang amat tangguh.
Maka, tanpa banyak cakap lagi ia pun mencabut senjatanya dan melompat ke dalam kalangan pertempuran itu untuk membantu Hong San.
Melihat gadis ini meloncat dekat, Hong San berseru.
"Jangan, dia lihai sekali, engkau dapat celaka nanti!"
Seruan ini penuh ketulusan hati, tanda bahwa Hong San amat menyayang Giok Cu, khawatir kalau gadis yang telah menjatuhkan hatinya itu terluka oleh lawan yang lihai itu.
Mendengar seruan itu, untuk kedua kalinya jantung dalam dada Giok Cu berdebar.
Ia dapat menangkap apa yang tersembunyi di balik ucapan itu.
Hong San sendiri kewalahan dan terdesak lawan, namun dia melarang ia maju.
Hal ini membuktikan betapa pemuda bercaping merah itu amat memperhatikan dan mengkhawatirkan dirinya!
Tanpa banyak cakap lagi, tanpa menjawab ucapan Hong San, Giok Cu sudah menerjang dengan pedangnya ke arah pemuda tinggi besar.
Pemuda itu sedang mendesak Hong San dan tiba-tiba dia merasa ada angin dahsyat menyambar diikuti suara mencuit nyaring dan melihat ada sebatang pedang mencuat dan meluncur masuk di antara lingkaran sinar sabuknya!
Ketika sabuknya menyentuh pedang itu, sabuknya terpukul mundur, seolah-olah seekor ular yang merasa ngeri berdekatan den alat pemukul!
Dia terkejut, apalagi ketika pedang yang tumpul, tidak tajam tidak runcing itu meluncur ke arah lehernya!
Terpaksa dia melempar tubuh ke belakang, lalu melakukan gerak bergulingan ke belakang.
Ketika dia bangkit kembali, dia sudah memegang sebatang kayu cabang pohon yang didapatkan di atas tanah, dan sabuk itu sudah disimpannya kembali.
Kiranya, menghadapi dua orang lawan yang amat lihai itu, pemuda tinggi besar ini telah mengganti sabuknya dengan sebatang tongkat.
Hong San terkejut dan girang melihat kelihaian Giok Cu!
Semangatnya bangkit kembali.
Dia tadi tahu bahwa seorang diri saja, amat terlalu sukarlah, baginya untuk dapat mengalahkan lawannya.
Akan tetapi, melihat betapa serangan pedang di tangan Giok Cu membuat lawan seperti terkejut dan kewalahan, bahkan kini berganti senjata, dia menjadi gembira sekali dan bersama Giok Cu, dia pun cepat mendesak ke depan dan menghujankan serangan kepada lawannya.
Kini pemuda tinggi besar itu menggerakkan tongkatnya dan sungguh aneh, gerakannya ganjil sekali, kacau balau dan seperti orang mabuk saja.
Tubuhnya terhuyung ke sana-sini, bahkan seperti kadang-kadang hendak jatuh.
Hebatnya, semua gerakan aneh itu dapat membuat tubuhnya bukan saja terhindar dari hujan serangan dua orang lawannya, bahkan ujung tongkatnya masih sempat melakukan serangan balasan yang cukup ampuh, membuat Hong San dan juga Giok Cu terpaksa meloncat mundur dengan kaget.
Sementara itu, para penyerang tadi juga terdesak hebat oleh tiga belas orang pengawal berkuda.
Beberapa orang di antara para penyerbu itu sudah roboh terluka.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar sorak sorai dan muncullah sedikitnya lima puluh orang, berlarian ke tempat itu dengan segala macam senjata di tangan.
Mereka adalah orang-orang yang pakaiannya bermacam-macam, akan tetapi sebagian dari mereka, yang terbanyak, dapat dikenal dari pakaiannya bahwa mereka adalah suku bangsa Hui.
Dengan senjata di tangan, mereka menyerbu dan mengamuk sehingga tiga belas orang pengawal itu tentu saja terkejut dan terdesak!
Melihat ini, pemuda tinggi besar yang tadi dikeroyok oleh Giok Cu da Hong San, tiba-tiba membuat gerakai melompat jauh meninggalkan dua orang lawannya, mendekati para pengawal lalui berseru dengan suara nyaring.
"Kalian tidak lekas pergi mau tunggu mati? Cepat pergi susul majikan kalian dan lindungi dia!"
Para pengawal itu seperti diingatkan bahwa kereta yang membawa Liu Taijin sudah sejak tadi pergi maka kini mendengar seruan pemuda tinggi besar itu, mereka lalu membalikkan kuda dan melarikan diri.
Tiga orang teman mereka yang roboh dan tewas terpaksa mereka tinggalkan.
Para penyerbu itu tidak dapat melakukan pengejaran karena mereka tidak mungkin dapat menyusul lawan yang berkuda.
Maka, kini semua kemarahan mereka tumpahkan kepada pemuda tinggi besar yang lihai itu.
Akan tetapi, di antara suara riuh rendah mereka, tiba-tiba seorang di antara orang-orang Hui itu berteriak.
"Huang-ho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning)!! Dia Huang-ho Sin-liong..............!"
Teriakan ini membuat semua orang menghentikan gerakan mereka yang hendak mengeroyok pemuda tinggi besar itu.
Mereka terkejut mendengar disebutnya nama julukan ini, sebuah nama julukan yang baru muncul akan tetapi sudah menggemparkan karena sepak terjang Huang-ho Sin-liong amat mengejutkan bagaikan seekor naga sakti yang turun dari angkasa untuk membersihkan segala bentuk kejahatan di sepanjang Sungai Huang-ho!
Hong San juga menahan serangannya dan dia berdiri tertegun memandang pemuda tinggi besar itu.
Kini dia teringat.
Biarpun malam itu tidak begitu terang, akan tetapi dia ingat bahwa inilah orang yang pernah dilawannya, yaitu ketika dia hendak memperkosa seorang wanita gagah dan pemuda tinggi besar inilah yang menggagalkannya!
Kini teringat, terutama sekali permainan tongkatnya yang aneh itu!
Jadi orang yang telah dua kali ditempurnya ini berjul Huang-ho Sin-liong?
Dia akan mencatat nama itu.
Mempergunakan kesempatan selagi semua orang tertegun yang membuat dua orang pengeroyoknya yang lihai tadi pun menghentikan serangan mereka, pemuda tinggi besar itu lalu berloncatan cepat dan sebentar saja bayangannya sudah lenyap di antara pohon-pohon.
Kalau saja Giok Cu tahu siapa pemuda itu, siapa Huang-ho Sin-liong itu!
Pemuda tinggi besar itu bukan lain adalah Si Han Beng, Tentu saja Giok Cu tidak mengenalnya juga sebaliknya Han Beng tidak lagi mengenal gadis yang kini menjadi seorang gadis dewasa yang cantik jelita, manis dan lihai itu.
Ketika mereka saling berpisah, Han Beng berusia dua belas tahun dan Giok Cu baru berusia sepuluh tahun!
Dan dua belas tahun telah lewat sejak mereka saling bertemu dan menjadi sahabat.
Kini semua orang yang tadi menyerang kereta, juga puluhan orang Hui yang datang membantu, memandang kepada Giok Cu dan Hong San.
Tiga orang diantara mereka, yaitu seorang yang memimpin orang-orang Hui, dan dua orang yang memimpin penyerangan pertama, sudah melangkah maju menghampiri dua orang muda itu.
Mereka memberi hormat dan seorang di antara mereka berkata.
"Terima kasih atas bantuan Ji-wi yang gagah perkasa. Akan tetapi sayang sekali bahwa sergapan kita terhadap pembesar lalim penindas rakyat itu gagal karena Huang-ho Sin-liong melindunginya!"
"Siapakah kalian dan mengapa kalian menyerang kereta pembesar Liu itu?"
Giok Cu bertanya sambil memandang tajam kepada tiga orang itu. Tiga orang itu saling pandang, lalu orang yang menjadi wakil pembicara tadi tersenyum.
"Kami adalah orang-orang yang membenci para pembesar lalim dan agaknya tidak berbeda dengan Ji-wi yang juga memusuhi mereka. Kami mewakili rakyat yang menderita tekanan dan penindasan sehubungan dengan pengerahan rakyat yang dipaksa untuk bekerja membangun terusan! Kami dipaksa, kalau tidak dapat menyogok, maka pemuda-pemuda kami dipaksa bekerja, gadis-gadis kami dipaksa pula bekerja di dapr umum dan untuk menghibur para mandor. Kami ingin memberontak terhadap para pembesar lalim yang menindas rakyat! Dan para kawan yang baik ltu adalah orang-orang suku Hui yang juga membenci pemerintah karena banyak antara mereka yangmenderita karena tanah hak milik mereka disepanjang sungai dirampas."
KANGZUSI WEBSITE
http.//kangzusi.com/
Jilid 18 Hong San tertawa mengejek.
"Wah, kiranya kalian adalah pemberontak-pemberontak?"
"Kalian memang benar! Para pembesar lalim yang melaksanakan pengumpulan tenaga pekerja terusan, memang patut dibasmi!"
Tiba-tiba Giok Cu berkata dan hal ini diam-diam mengejutkan hati Hong San.
Kiranya gadis perkasa ini pun setuju dengan para pemberontak itu!
Dia sendiri sebetulnya tidak perduli akan pemberontakan terhadap pemerintah.
Dia hanya akan bertindak demi keuntungan diri sendiri.
Dan apa untungnya menentang pemerintah?
Akan tetapi karena dia melihat betapa gadis itu membenarkan mereka yang menentang pemerintah, dia pun pura-pura setuju.
"Memang, para pembesar itu menjemukan sekali, korup dan tukang menerima sogokan, mereka menindas rakyat untuk menggendutkan perut sendiri!"mengangguk-angguk, walaupun dalam hatinya berbisik bahwa apa salahnya dengan perbuatan seperti itu? Semua orang di dunia ini mencari kesenangan bagi diri sendiri! Mendengar ucapan dua orang muda yang tadi mereka saksikan sendiri keIihaiannya, orang-orang yang menamai dirinya pejuang rakyat itu merasa gembira sekali. Mereka lalu mengundang Giok Cu dan Hong San untuk berkunjung ke tempat tinggal pimpinan mereka untuk berkenalan.
"Beng-cu (Pimpinan Rakyat) akan merasa gembira sekali kalau dapat bertemu dan berkenalan dengan Ji-wi yang gagah perkasa, yang tadi telah membantu kami."
Sebetulnya Hong San tidak tertarik akan tetapi karena Giok Cu ingin sekali tahu lebih banyak tentang orang-orang yang dianggapnya gagah perkasa dan berjiwa patriot, pembela rakyat tertidas itu, ia menerima undangan mereka dan dengan sendirinya Hong San menerimanya.
Pemuda ini tidak ingin segera berpisah dari gadis yang membuatnya tergila-gila itu.
Maka, pergilah mereka berdua bersama tiga orang pimpinan itu, menyusup-nyusup ke dalam hutan dan akhirnya mereka tiba di dekat sebuah bangunan darurat yang berdiri di tengah-tengah hutan, di tempat yang amat liar dan tak pernah didatangi, orang dari luar.
Bangunan darurat itu terjaga kuat dan di belakang bangunan itu terdapat sebuah dataran luas dimana terdapat banyak sekali pria yang sedang berlatih silat.
Kiranya tempat ini menjadi sarang para pemberontak yang menamakan diri mereka pejuang rakyat itu.
Dan memang harus diakui bahwa banyak pula penduduk dusun, terutama mereka yang masih muda, yang melarikan diri karena tidak mau dijadikan pekerja paksa, di tampung oleh gerombolan ini dan menjadi anggauta "pejuang".
Dipandang sepintas lalu, memang mereka pantas dinamakan pejuang yang hendak membela rakyat dari penindasan para pembesar yang menyalahgunakan perintah dari istana dalam hal pembuatan terusan itu.
Giok Cu sendiri tertarik dan merasa kaget kepada mereka, maka ia mau diajak kesitu untuk bertemu dan berkenalan dengan orang yang menjadi beng-cu (pemimpin rakyat), yaitu yang memimpin gerakan membela rakyat tertindas itu.
Di dekat bangunan besar terdapat pula banyak pondok yang didirikan oleh para anggauta pemberontak, bahkan terdapat pula banyak wanita dan kakan-kanak, yaitu keluarga dari mereka yang terpaksa melarikan diri, yang dikejar-kejar petugas untuk menjadi pekerja paksa.
Melihat ini, Giok Cu merasa makin suka kepada mereka.
Ia teringat akan keadaan dirinya sendiri.
Orang tuanya juga terpaksa melarikan diri dusun mereka.
Mendiang ayahnya, Hok Gi, adalah seorang pejabat lurah Kiong-cung, di tepi Huang-ho.
Karena ayahnya itu dipaksa oleh pembesar atasan untuk mengumpulkan semua pemuda dusun itu agar menjadi pekerja paksa, ayahnya merasa tidak sanggup dan diam-diam melarikan diri karena dia tahu akan kegagalan atau ketidaksanggupan itu tentu akan berakibat hukuman berat baginya.
Dalam pelarian ini, ayahnya dan ibunya tewas oleh........
Liu Bhok Ki!
Sampai sekarang, ia belum berhasil menemukan Liu Bhok Ki yang membunuh ayah dan ibunya!
Karena persamaan nasib itulah maka diam-diam Giok Cu merasa suka kepada para pemberontak ini.
Mereka memasuki rumah dan setelah tiga orang pimpinan para penyerang kereta Liu Tai-jin tadi melaporkan ke dalam, Giok Cu dan Hong San dipersilakan masuk ke dalam ruangan belakang, sebuah ruangan yang luas dan di situ ketulan sedang diadakan pertemuan tara para pimpinan pejuang dan berapa orang suku bangsa Hui.
Di atas meja panjang sederhana terdapat hidangan sederhana dan arak, dan ada sembilan orang duduk mengepung meja panjang, saling berhadapan dan suasananya cukup gembira dan bersemangat.
Ketika dua orang muda itu memasuki ruangan, sembilan orang yang sudah menerima laporan itu segera bangkit berdiri dengan sikap hormat.
Seorang diantara mereka, seorang laki-laki yang usianya kurang lebih enam puluh empat tahun, segera berkata dengan suara nyaring.
"Selamat datang, dua orang Saudara Muda yang lihai. Kami girang sekali mendengar bahwa Ji-wi (Anda Berdua) telah membantu anak buah kami. Silakan Ji-wi mengambil tempat duduk!"
Giok Cu dan Hong San mengangguk dan mengucapkan terima kasih, lalu mereka mengambil tempat duduk yang masih kosong, menghadapi kakek yang bicara tadi.
Setelah mereka duduk, sembilan orang itu pun duduk dan kakek tinggi kurus yang wajahnya menyeramkan itu segera menuangkan arak kedalam dua cawan bersih dan memberikannya kepada dua orang tamu muda itu.
"Saudara sekalian, mari kita memgucapkan selamat datang kepada orang pendekar muda ini! Ji-wi, silakan minum dan menerima ucapan selamat datang dari kami!"
Berkata demikian, dia berdiri mengangkat cawan arak, diturut oleh delapan orang lain dan terpaksa Liok Cu dan Hong San juga mengangkat cawan arak mereka dan meminumnya.
Giok Cu dan Hong San juga memperkenalkan diri dan Kim-bwe-eng Gan Lok berkata sambil tersenyum.
"Kunjung Ji-wi sungguh menambah kegembiraan kami. Kami mendengar bahwa Ji-wi memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali dan .agaknya Ji-wi juga membenci para pembesar yang menindas rakyat jelata. Kami akan menerima dengan penuh kegembiraan kalau Ji-wi suka bekerja sama dengan kami."
Giok Cu mengerutkan alisnya.
"Hem, untuk bekerja sama, aku harus lebih dahulu mengetahui benar apa maksud tujuan kalian, dan bagaimana pula kekuatan kalian yang berani menentang para pembesar, berarti akan berhadapan dengan pasukan pemerintah."
Mendengar itu Hong San kagum dan mengangguk-angguk.
Gadis yang diam-diam dipujanya itu ternyata juga amat cerdik.
Kim-bwe-eng Gan Lok tertawa bergerlak sehingga wajahnya yang menyeramkan itu sejenak nampak lucu.
"Ha-ha-ha , Nona tidak perlu khawatir. Biarpun kami hanya kelihatan sebagai pelarian di hutan begini, namun sesungguhnya kedudukan kami kuat sekali. Di mana-mana kami mempunyai teman dan kalau dikumpulkan seluruhnya, anak buah kami mendekati lima ratus orang! Kami sudah berhasil merampas atau mencuri barang-barang berharga dari para pembesar korup, kami kumpulkan dan jumlahnya cukup besar untuk membiayai ribuan orang pasukan yang akan kami bentuk. Selain itu, ada pula para saudara suku bangsa Hui yang mendukung gerakan perjuangan kami. Mereka sanggup mengerahkan sedikitnya dua ribu orang, dan juga mereka bersedia untuk menyumbangkan banyak emas yang mereka miliki!"
Mendengar ini, diam-diam Hong San terkejut dan kagum. Demikian banyaknya harta terkumpul dan dia mulai tertarik. Ada harganya juga untuk dapat menjadi pimpinan dari gerakan menguntungkan ini.
"Kalian memperkuat diri dan hendak membentuk pasukan, bahkan dibantu oleh orang-orang suku bangsa Hui, apa maksudnya? Apakah hendak memberontak terhadap pemerintah, mengadakan perang melawan pemerintah?"
Menghadapi pertanyaan yang langsung dan berterang itu, Kim-bwe-eng Gan Lok nampak tertegun. Akan tetapi Kim-kauw pang Pouw In Tiong tertawa.
"Ha-ha-ha, Nona yang baik! Kalau bukan kami para pendekar yang turun tangan membela rakyat, siapa lagi yang akan peduli? Kalau pemerintah sudah mulai menindas rakyat jelata, jalan apalagi yang dapat kami tempuh selain memberontak? Kalau perlu, pemerintah ini digulingkan, diganti pemerintah baru yang tentu akan membahagiakan rakyat "Hemmm, dan kalian yang akan jadi penguasa baru?"
Giok Cu mendesak dengan alis berkerut.
"Kalau perlu! Ya, kalau perlu, kami para pendekar yang akan memimpin pemerintahan yang bersih dan mendatangkan kemakmuran bagi rakyat jelata!"
Akhirnya Kim-bwe-eng Gan Lok dapat bicara dengan suara lantang.
Giok Cu kini diam saja akan tetapi di alam hatinya timbul keraguan.
Ia memang condong untuk menentang para penguasa setempat yang lalim, yang menyalahgunakan kekuasaan, memaksa rakyat untuk menjadi pekerja paksa membangun waduk dan terusan.
Akan tetapi hal itu bukan berarti harus memberontak dan mengobarkan perang terhadap pemerintah.
Perang berarti kesengsaraan baru bagi rakyat yang mungkin jauh lebih parah daripada kerja paksa itu sendiri.
Ia ragu dan sangsi.
Kesempatan itu dipergunakan oleh Hong San untuk bicara.
Suaranya lembut dan halus, namun lantang sehingga terdengar jelas oleh semua orang yang berada di ruangan itu, bahkan para petugas jaga di luar ruangan itu pun ikut mendengarkan.
"Aku dapat menghargai usaha kailan ntuk membebaskan rakyat dari penindasan. Akan tetapi, untuk dapat melawan pasukan pemerintah, selain harus memiliki modal emas yang banyak untuk persiapan melatih pasukan, dan memiliki jumlah pasukan yang kuat, juga harus pula memiliki pimpinan yang cakap, Tidak tahu, syarat apa yang menentukan orang diangkat menjadi pimpinan dari gerakan yang mulia ini?"
Berkata demikian, dengan sinar mata tajam menyelidik, Hong San memandang bergantian kepada beng-cu dan wakilnya itu.
orang pimpinan itu saling pandang, terdengar suara Kim-bwe-eng Gan tertawa disambung suaranya yang Lantang.
"Ha-ha-ha, pertanyaanmu sungguh lucu, orang muda yang gagah perkasa. Syarat apa yang menentukan orang diangkat menjadi pimpinan dalam perjuangan membela rakyat ini? Tentu saja dia harus cerdik, bijaksana, gagah perkasa memiliki pengalaman yang matang dan luas!"
"Hanya itu saja, Paman Gan Lok? engkau melupakan syarat yang terutama dan mutlak penting!"
Ketua persekutuan pemberontak Itu mengerutkan alisnya. Pemuda itu boleh jadi lihai ilmu silatnya, akan tetapi sikapnya tidak menyenangkan, tidak mau Menghormati tuan rumah dengan sebutan Beng-cu".
"Hemmm, orang muda, apa maksudmu dengan syarat yang terutama itu?"
"Untuk memimpin rakyat dalam masa damai, memang dibutuhkan pemimpin yang sudah berusia lanjut karena orang tua lebih teliti, sabar dan tekun. Akan tetapi, memimpin rakyat dalam masa perang, dibutuhkan seorang pemimpin yang masih muda, penuh semangat yang Menggebu, barulah diharapkan perjuangan akan berhasil baik!"
"Orang muda she Gan, kata-katamu sayang sekali kurang tepat!"
Bantah Kim-bwe-eng Gan Lok yang mulai merasa panas perutnya.
"Dalam perjuangan, semangat besar saja tidak ada gunanya tanpa diimbangi kepandaian yang tinggi. Seorang pemimpin muda, biarpun semangatnya menggebu, jelas kepandaiannya belum matang dan pengalamannya belum luas sehingga perjuangan itu akan gagal."
"Keliru sama sekali pendapat Paman Gan itu!"
Hong San membantah suaranya juga nyaring walaupun wajahnya masih berseri Jenaka.
"Biarpun berpengalaman, mana mungkin seorang yang sudah tua dapat menjadi seorang yang gagah perkasa dan kuat? Semangatnya juga pasti sudah layu dan apa yang dapat diharapkan dari pimpinan yang tua loyo? Tentang kepandaian, belum tentu yang muda kalah oleh yang tua. Hal ini perlu dibuktikan. Aku yang masih muda ini, belum tentu kalah melawan orang-orang tua seperti kedua Paman yang menjadi ketua dan wakil ketua di sini!"
Mendengar ucapan yang mengandung tantangan ini, Kim-kauw-pang (Tongkat Monyet Emas) Pouw ln Tiong yang wataknya angkuh itu menjadi marah dan tidak dapat menahan kesabarannya lagi.
Dia sudah bangkit berdiri dan tubuh yang gendut pendek itu sama sekali tidak mengesankan ketika dia marah.
Namun suaranya menggeledek karena dalam kemarahannya dia telah mengerahkan Khikang dari perutnya, dan matanya melotot mengeluarkan sinar berapi.
"Bocah she Can! Sungguh engkau sombong dan suka berlagak. Biarpun belum tentu aku Kim-kauw-pang Pouw In Tiong dapat mengalahkanmu, akan tetapi jangan dikira aku takut. Mari, coba bukti-bahwa omonganmu tadi bukan bual belaka!"
Berkata demikian, Si Pendek gendut ini sudah melompat ke tengah dengan sambil memutar tongkatnya.
Tongkatnya itu setinggi tubuhnya dan berlapis emas sehingga ketika diputar berubah menjadi payung emas yang lebar.
Giok Cu mengerutkan alisnya.
Sebetulnya ia tidak setuju dengan sikap yang diperlihatkan Hong San tadi.
Mereka datang sebagai tamu yang dihormati, akan tetapi pemuda bercaping lebar itu malah mengeluarkan kata-kata yang mengandung celaan dan tantangan dengan sikap memandang rendah terhadap tuan rumah.
Akan tetapi karena ia pun tidak mempunyai hubungan apa pun dengan Hong San, ia merasa bahwa segala tingkah laku pemuda itu tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.
Ia lupa bahwa datang dan bergerak di samping Hong San sehingga pihak tuan rumah menganggapnya sebagai sekutu atau kawan baik pemuda itu.
Giok Cu diam dan ingin menyaksikan bagaimana perkembangan selanjutnya setelah Hong San ditantang mengadu ilmu oleh Kim-kauw pang Pouw In Tiong.
Ia pun ingin melihat bagaimana lihainya Hong San dan bagaimana wakil ketua para pemberontak akan mempertahankan kehormatan dirinya sebagai seorang tokoh yang dipilih sebagai wakil ketua, la tidak akan mencampuri urusan mereka.
Ditantang oleh wakil ketua itu, Hong San tersenyum.
Memang inilah yang kehendakinya.
Begitu tadi mendapat keterangan akan kekayaan yang dimiliki gerombolan pemberontak ini, hatinya sudah merasa amat tertarik, apalagi terdapat kemungkinan kemenangan besar dimana para pemimpin mendapat kesempatan untuk merebut tahta kerajaan.
Betapa muluknya!
Inilah yang dicarinya kekayaan besar dan kedudukan tinggi, dua hal yang dahulu juga dikejar-kejar mendiang ayahnya.
Dia tahu bahwa ayahnya tidak pernah berhasil karena ayahnya mencarinya melalui jalan yang biasa dilalui golongan sesat.
Dia sendiri harus mengubah siasat itu.
Dia tidak ingin sekedar menjadi pimpinan golongan hitam yang selalu dimusuhi pemerintah.
Kalau saja dia mendapatkan kedudukan tinggi dalam pemerintahan!
Maka, melihat kemungkinan, betapapun kecilnya bsgi gerakan ini untuk merampas kedudukan dan kelak menjadi pemimpin-pemimpin yang menguasai pemerintahan, ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.
Dengan sikap tenang sekali, senyum tak pernah meninggalkan bibirnya, bangkit dan menoleh ke arah Giok Cu, seolah hendak minta persetujuannya atau hendak melihat bagaimana sikap gadis yang amat menarik hatinya itu.
Akan tetapi, Giok Cu bersikap acuh saja, maka dia pun lalu melangkah dan menghsmpiri orang yang menantangnya.
Hong San melihat betapa banyak anak buah gerombolan pemberontak itu, juga orang-orang Hui yang puluhan orang banyaknya berada di luar, demikian ia pula Yalami Cin kepala suku Hui yang hadir di situ, kini menaruh perhatian.
Mereka menonton dengan sikap tegang dan tertarik.
Dia pun tersenyum, Inilah kesempatan baik baginya untuk memperlihatkan kepandaian dan menciptakan kesan yang baik, kalau dia ingin berhasil mendapatkan kedudukan seperti yang dikehendakinya.
"Paman Pouw In Tiong, sama sekali aku bukan sombong atau berlagak. Aku berbicara sejujurnya saja karena aku merasa kagum kepada semua saudara, yang telah berani melawan pemerintah yang menindas rakyat. Justeru karena aku kagum dan suka, maka aku ingin melihat pasukan pejuang yang kokoh kuat, dipimpin oleh orang-orang yang tepat, bukan oleh orang-orang tua yang sepantasnya hanya menjadi penasehat dibelakang saja. Kalau Paman masih penasaran dan hendak membuktikan kebenaran omonganku, silakan!"
Berkata demikian Hong San sudah mengeluarkan pedang dan sulingnya.
Dengan lagak seorang pendekar yang gagah perkasa, dia pun memasang kuda-kuda, menyilangkan pedang dan suling di depan dada, tersenyum dan nampak tenang dan memandang rendah sekali.
Makin panas rasa hati Pouw In Tiong.
adalah seorang pendekar yang terkenal kelihaiannya, nama julukannya sudah dikenal di dunia persilatan, terutama di sepanjang lembah Huang-ho sebelah selatan.
Jarang ada ahli silat yang akan mampu menandingi tongkatnya yang berlapis emas itu.
Selama bertahun-tahun ini, hanya Kim-bwe-eng Gan Lok saja yang mampu menandingi dan mengalahkannya ketika kelompok pejuang itu mengadakan pemilihan ketua.
Akhirnya, Gan Lok yang terpandai dipilih menjadi ketua dan dia menjadi orang nomor dua, di samping masih ada belasan orang pembantu yang kesemuanya tidak ada yang dapat mengungguli ilmu kcpandainnya.
Dia dihormati oleh ratusan orang anak buah persekutuan mereka, bahkan dihormati Yalami Cin, ke suku Hui yang mempunyai anak buah ribuan orang.
Dan sekarang, seorang pemuda ingusan yang memiliki sedikit ilmu silat saja berani menghina dan menantangnya, mengatakan bahwa dia Gan Lok tidak tepat menjadi pemimpin para pejuang!
"Bocah she Can!
Kalian datang sama Nona ini sebagai tamu dan kami hormati.
Akan tetapi sekarang engkau menantang kami.
Aku peringatkan bahwa kalau aku sudah menggerakkan Kim-kauw pang ini untuk menyerang orang andai kata orang itu tidak mati pun, sedikitnya tentu akan patah tulang dan terluka.
Aku tidak ingin dikatakan sebagai orang yang mencelakai tamunya!"
Mendengar ucapan wakil ketua dari persekutuan pejuang itu, Giok Cu merasa tidak enak juga.
Maka cepat ia berka "Hendaknya semua orang mengetahui bahwa kedatanganku bersama Saudara Can hanya kebetulan saja.
Di antara kami tidak ada hubungan persahabat kami pun merupakan orang-orang yang baru saja bertemu dan berkenalan, oleh karena itu, apa yang dia lakukan bukanlah tanggung jawabku.
Harap aku tidak di ikut-ikutkan!"
Lalu cepat ia menambahkan.
"Aku pun bukan seorang tamu yang suka menghina tuan rumah yang telah Menerimaku dengan baik. Pernyataanku ini sejujurnya, bukan berarti aku takut menghadapi apa dan siapa pun."
Wajah Hong San menjadi agak kemerahan mendengar ucapan gadis itu. Akan tetapi, karena memang kenyataannya demikian, dia pun hanya tersenyum, lalu berkata halus.
"Nona Bu memang tidak ada sangkutannya dengan keinginanku menguji kepandaian para pimpinan pejuang. Paman Pouw, jangan khawatir, tidak akan ada yang menuduhmu tuan rumah yang mencelakai tamunya, karena tongkatmu itu sama sekali tidak akan mampu melukai aku, apalagi Menjatuhkan aku. Majulah dan buktikan sendiri!"
Biarpun ucapan ini nadanya halus, namun tetap saja masih mengandung ejekan yang memandang rendah.
"Bagus, Can Hong San, lihat tongkatku!"
Bentak Pouw In Tiong yang memang wataknya angkuh dan keras.
Tongkat yang diputar-putar seperti payung itu kini menjadi sinar bergulung-gulung dan tiba-tiba mencuat ke arah Hong San dengan kecepatan kilat dan terdengar suara mengaung tanda bahwa tongkat itu memang berat dan berbahaya sekali.
Biarpun sikapnya memandang rendah kepada lawan, namun Hong San yang cerdik sekali itu sama sekali tidak memandang rendah, bahkan dia bersikap hati-hati dan tenang.
Sikapnya memandang rendah tadi hanya merupakan pancingan agar dapat memperoleh jalan memperlihatkan kepandaiannya dan menundukkan para pimpinan persekutuan itu.
"Tranggggg.........!"
Bunga api berpijar ketika ujung tongkat bertemu pedang.
Dalam pertempuran tenaga ini, Hong San sengaja hendak mengukur sampai dimana kekuatan lawan, maka dia hanya mengerahkan tiga perempat tenaganya saja.
Dan akibat benturan tenaga melalui senjata mereka, keduanya terhuyung kebelakang.
Melihat kenyataan ini, Pouw In Tiong terkejut sekali.
Dia telah menyerahkan semua tenaganya, namun ketika pemuda itu menangkis, dia sampai terhuyung dan telapak tangannya terasa panas.
Walupun pemuda itu juga terhuyung, namun hal ini sudah membuktikan bahwa pemuda itu memang memiliki tenaga yang sama kuatnya dengan dia.
dilain pihak, Hong San tersenyum dan merasa girang.
Dia tahu bahwa tenaganya lebih kuat.
Kembali Pouw In Tiong menyerang, sekali ini menggerakkan tongkatnya dengan cepat dan dia memainkan ilmu tongkat Kim-kauw-pang-hoat yang kabarnya merupakan ilmu tongkat yang hebat, warisan dari ilmu tongkat yang dimainkan oleh Sun Go Kong Si Raja Monyet!
Di dalam cerita dongeng See-yu terdapat seorang tokoh monyet dewa bernama Go Kong yang amat sakti.
Sun Go Kong ini memiliiki tongkat emas yang disebut Kim-kauw-pang.
Benar atau tidak ilmu tongkat yang dimainkan Pouw In long itu warisan dari Sun Go Kong, tidak ada yang tahu karena Sun Go Kong pun hanya merupakan seorang tokoh dalam dongeng saja, dongeng tentang perjalanan seorang pendeta Buddha melakukan perjalanan dari Tiongkok ke India dan di sepanjang perjalanan bertemu dengan siluman-siluman yang mengganggunya.
Dongeng tentang konflik antara kebaikan dan kejahatan, tentang setan-setan dan dewa-dewa.
Namun, diam-diam Hong San harus mengakui bahwa memang tongkat ditangan Si Gendut Pendek itu berbahaya sekali.
Ilmu tongkat yang dimainkann amat tangguh, mempunyai gerakan yang kuat dan cepat.
Bagaimanapun juga, karena tingkat kepandaiannya lebih tinggi dengan mudahnya dia mampu menghindarkan semua serangan tongkat, bahkan melakukan pembalasan dengan pedang diseling oleh totokan-totokan suling di tangan kiri.
Yang merasa terkejut sekali adalah Kim-kauw-pang Pouw In Tiong.
Setelah bertanding selama dua puluh lima jurus belum juga dia mampu mengalahkan lawannya.
Apalagi kini dia merasakan betapa setiap kali tongkatnya bertemu pedang, tangannya tergetar semakin keras beberapa kali hampir saja ujung sulingberhasil menotok jalan darahnya sehingga dia terpaksa melempar tubuh kebelakang untuk menyelamatkan diri.
Nafasnya sudah mulai memburu.
Maklum, usianya yang sudah enam puluh empat tahun itu tentu saja tidak dapat disamakan dengan daya tahannya dua tiga puluh thun yang lampau.
Sedangkan lawannya Ialah seorang yang masih muda belia, maka jelaslah kalau mengandalkan daya tahan dan pernapasan, dia akan kalah!
"Singggggg .........
brettt...........
Kim-kauw-Pang Pouw In Tiong terkejut bukan main dan dia terhuyung.
Ujung bajunya terpotong oleh sambaran pedang!
Baca Juga: Pedang Sinar Emas 15
Baca Juga: Jodoh Rajawali 7