Ceritasilat Novel Online

Mestika Burung Hong Kemala 5

Eps 5 Mestika Burung Hong Kemala - Kho Ping Hoo

Baca online Mestika Burung Hong Kemala - Kho Ping Hoo

Cersil Mestika Burung Hong Kemala - Kho Ping Hoo.

Iapun tidak ingin melihat adik dari Cin Han celaka tempat itu, maka tentu saja ia tidak mau membantu Bouw Koksu.

Terdengar bunyi peluit dan kentongan, tanda bahwa akan berdatangan pasukan keamanan dan tentu Kui Lan akan dikeroyok banyak orang.

Kui Lan mengamuk, pedangnya bergerak bagaikan seekor naga mengamuk di angkasa dan dua orang perwira yang tadi me mbantu Souw Koksu, telah roboh mandi darah.

Akan tetapi, segera terdengar suara gaduh dan sedikitnya duapuluh lima orang penjaga berikut beberapa orang perwira datang mengurung lalu mengeroyok gadis perkasa itu.

Biarpun ma klu m bahwa ia berada dala m bahaya maut, Kui Lan tidak menjadi gentar dan ia mengambil keputusan untuk melawan sa mpa i titik darah terakhir.

Melihat ini, Kim Hong mengeluarkan, teriakan melengking panjang dan tubuhnya sudah berkelebat dan menerjang ke arah pertempuran.

Ketika kedua tangannya bergerak, nampak dua sinar bergulung-gu lung dan terdengar teriakan disusul robohnya dua orang pengeroyok.

Kiranya ia sudah menggerakkan sepasang pedang kecilnya yang lihai, yang ujung nya bertali.

Melihat betapa gadis yangi dicinta kakaknya itu kini membantunya, bangkit semangat Kui Lan dan iapun mengga muk semakin hebat.

"Kim Hong, engkau pengkhianat!"

Bentak Bouw Koksu. Pedangnya meluncur dan menyerang gadis yang pernah menjadi murid dan anak ang katnya sendiri.

"Trangggg!"

Pedang itu terpental dan hampir terlepas dari tangannya ketika ditangkis pedang kiri Kim Hong.

"Engkau telah men ipuku!"

Bentak Kim Hong.

"Tida k ada yang men ipu mu. Dia me ma ng ayah mu! Gadis in i yang menipumu!"

Bentak pula Bouw Koksu, Tentu saja Kim Hong menjadi ragu.

Ia hanya mendengar keterangan Kui Lan bahwa pria yang diperkenalkan sebagai ayahnya itu palsu, akan tetapi apa buktinya?

Sementara itu, Bouw-ciangkun yang mengepung dan mengeroyok Kui Lan sudah berteriak memerintahkan anak buahnya untuk memanggil bala bantuan, Karena Kim Hong ragu dan menghentikan gerakannya, Kui Lan kini terdesak, dikepung ketat dan dihujani senjata.

Biarpun gadis ini telah mewarisi ilmu silat yang tinggi dan hebat, namun ia masih kurang pengalaman dan pihak musuh terlampau banyak, ia sudah merobohkan enam orang pengeroyok, akan tetapi iapun menerima dua kali bacok pedang yang menyerempet paha dan pundaknya, biarpun tidak parah, namun paha dan pundaknya terluka dan berdarah!

Tiba-tiba, seorang di antara para perajurit itu, yang tadi hanya menonton sambil mengacung-acungkan pedangnya, tiba-tiba saja menyerang Bouw Ki.

Serangan pedangnya demikian cepatnya sehingga Bouw Ki hampir tertusuk lehernya dan ketika pemuda itu mengelak, pedang perajurit itu menya mbar ke bawah dan pahanya terbacok sehingga terluka dan membuat dia berteriak kesakitan dan cepat meloncat ke belakang.

"Heii, gilakah kau??."

Teriak Bouw Ki.

Perajurit itu tidak perduli, bahkan kini membuang topi perajuritnya dan menga mu k dengan pedangnya me mbantu Kui Lan, me mbuat pengeroyokan ketat tadi menjadi buyar.

Ketika Kui Lan memandang, jantungnya berdebar tegang karena mengenal mata yang mencorong itu bibir yang tersenyum-senyum itu.

Taksalah lagi, dialah si pemuda sinting tempo hari!

"Kau?"

Serunya dan iapun putar pedang ke kiri, meroboh kan seorang pengeroyok dengan tusukan.

"Nona, kita mundur.... cepat kau pergi dulu ke pagar tembok!"

Kata perajurit itu yang bukan lain adalah Souw Hui San.

Pemuda ini dengan cerdik ini, tentu saja dengan cara menyogok berhasil masuk menjadi seorang prajurit penjaga keamanan di rumah Bouw Koksu.

Dengan demikian akan mudah baginya untuk menyelidiki keadaan pembesar ini dan mencari rahasia yang berguna bagi perjuangan para pendukung kerajaan Tang.

Melihat Kui Lan dikeroyok dia merasa bimbang.

Akhirnya dia tak tahan melihat gadis yang dikaguminya itu terluka.

Terpaksa dia membuka rahasia dirinya dan membantu.

Dengan ilmu pedang Gobi-pai yang lihai, ia mengamuk, membuat Kui Lan tidak terhi mpit lagi.

Sementara itu, melihat munculnya pemuda yang juga dikenalnya sebagai pemuda sinting Kim Hong berkelebat meninggalkan tempat itu.

ia percaya bahwa pemuda yang gerakannya amat lihai itu akan ma mpu menolong Kui Lan sendiri cepat me masu ki gedung dan menyerbu ke dala m kamar di mana ayahnya berada.

Orang yang mengaku sebagai Bu itu terkejut ketika melihat putri nya masuk ke kamar dengan sepasang mata mencorong penuh kemarahan.

"Kim Hong, apa yang terjadi,"tanyanya heran. Akan tetapi gadis itu melompat dan sekali tangannya bergerak, jari tangan kanannya telah mencengkeram pundak orang itu. Orang yang mengaku sebagai ayahnya itu terkejut karena cengkeraman itu membuat pundaknya seperti remuk rasanya.

"Ada apa kenapa kau ini?"

"Katakan, nama mu Ciang Kui, kan? Hayo mengaku terus terang atau akan kuhancurkan pundakmu!"

Wajah itu berubah pucat.

"Aku... aku "

"Hayo katakan terus terang bahwa kau bukan ayahku, engkau bukan Can Bu. Awas, kalau membohong akan kusiksa sampai mati!"

Cengkeram di pundak itu semakin kuat sehingga wajah yang pucat kini mandi peluh.

"Aku.... aku.... hanya di perintah Bouw Koksu...,"

Akhirnya orang berterus terang.

"Keparat busuk!"

Saking marahnya Kim Hong mengerahkan tenaga sin-kang yang didapatnya dari ular hita m kepa la merah.

Hawa beracun yang amat dahsyat keluar dari tangannya memasuki tubuh orang itu dari pundak dan orang itu hanya menjerit satu kali lalu tewas dengan seluruh tubuhnya menjadi hitam.

Kim Hong mengangkat mayat itu berlari keluar lagi me masu ki ta man melihat Kui Lan dan pe muda sint ing itu masih dikepung ketat walaupun keduanya sudah sampai di dekat pagar tembok.

Agaknya tidak mudah bagi mereka untuk lolos karena kini sudah datang bala bantuan yang banyaknya tidakkurang dari limapuluh orang!

Kim Hong mengeluarkan suara lengking panjang dan tubuh tak bernyawa yang sudah kehitaman itu ia lontarkan ke arah Bouw Koksu dan Bouw-ciangkun yang ikut mengeroyok Kui Lan dan Hui San.

Bouw Koksu terkejut me lihat sosok tubuh melayang ke arahnya.

Dia nyambut dengan bacokan pedangnya tubuh itu roboh.

Ketika dia melihat melalui penerargan obor yang dibawa para perajurit, dia melihat wajah Ciang Kui yang mukanya berubah menghitam matanya terbelalak.

Tahulah dia bahwa Kim Hong telah mengetahui rahasia kebohongannya.

Kim Hong menga muk dengan sepasang pedangnya, sebentar saja sudah berhasil membuyarkan kepungan dan mendekati Kui Lan.

"Kui Lan, engkau sudah terluka, cepat keluar dari sini, aku yang menahan mereka!"

"Aku tidak mau meninggalkan engkau sendiri, Kim Hong!"

Kata Kui Lan tegas. Dia m-dia m Kim Hong kagu m, senang sekali mempunyai sahabat seperti Cin Han dan Kui Lan ini, demikian gagah dan setia kawan.

"Kalau begitu, mari kita lari bersama!"

Katanya dan iapun mempercepat gerakan kedua pedangnya.

Melihat betapa gadis perkasa itu kini membalik dan membantu musuh, anak buah Bouw Koksu yang sudah tahu akan kelihaiannya menjadi gentar.

Kepungan melonggar dan kesempatan itu dipergunakan oleh Kim Hong, Kui Lan, dan Hui San untuk meloncat ke pohon itu dan dari situ meloncat ke atas pagar tembok dan dilanjutkan meloncat keluar.

Bouw Koksu dan Bouw Ciangkun mengerahkan para perajurit untuk melakukan pengejaran, akan tetapi tiga orang itu sudah menghilang dan beberapa menit kemudian mereka bertiga sudah berada di dalam rumah Hartawan Ji, dengan aman mereka duduk di dalam ruangan rahasia di mana mereka bicara dengan Hartawan Ji.

Souw Hui San tanpa diminta sudah mengeluarkan obat luka dan menolong Kui Lan yang terluka pundak dan pahanya, dibantu oleh Kim Hong yang me mba lut lu ka di paha gadis itu.

Biarpun tiga orang muda itu baru kali ini berkenalan, namun hubungan mereka sudah akrab sekali, mereka merasa cocok dan seolah sudah saling berkenalan bertahun-tahun lamanya.

Setelah luka-luka di pundak dan paha Kui Lan diobati, luka yang tidak parah, mereka duduk menghadapi meja dan sa mbil ma kan hidangan mala m yang dikeluarkan pembantu Hartawan Ji, mereka bercakap-cakap.

"Kiranya benar seperti dugaanku tempo hari, engkau hanya berpura-pura sinting,"

Kata Kim Hong kepada Sui San yang tersenyum.

"Akupun sudah merasa curiga. Mana ada orang sinting membawa-bawa pedang yang bagus?"

Kata pula Kui Lan.

"Dan engkau yang melemparkan pedangku membuat dahiku benjol menyempurnakan penyamaranku, nona Can Kim Hong,"

Kata Hui San tertawa.

"Dengan peristiwa benjolnya clahiku itu, Bouw ciangkun clan yang lain-lain percaya bahwa aku aclalah seorang sinting, ha ha!"

"Siapakah sebenarnya engkau ini Dan mengapa engkau clapat muncul mengacau rombongan Bouw-ciangkun ketika mereka mencari pusaka, kemuclian bagaimana pula tiba-tiba engkau menjadi seorang perajurit anak buah Bouw-ciangku dan tadi menolongku?"

"Wah, ceritanya panjang, nona Yang Kui Lan"

"Engkau mengenal kami semua, akan tetapi kami tidak mengenalmu! Ini tidak adil. Perkenalkan dulu dirimu baru kita bicara lagi,"

Kata Hartawan Ji yang bagimanapun juga masih menaruh perasaan curiga kepacla pemucla yang ticlak dikenalnya itu.

"Paman Ji Siok, apakah paman dan semua kawan paman tidak clapat mengetahui siapa aku? Dan paman juga ticlak mengenal mencliang Paman Souw Loki"' "Souw Loki Bukankah pemilik toko yang baru saja meninggal clunia secara aneh tanpa acla yang mengetahui sebabnya itu?"

Hartawan Ji memanclang penuh perhatian.

"Orang muda, agaknya engkau mengetahui tentang diriku dan tentang teman-teman, akan tetapi kami belum mengetahui siapa engkau."

"Paman, dia ini jelas orang yang telah mengambil Mestika Burung Hong Kemala dan menukarnya dengan yang palsu. Ticlak benarkah dugaanku itu sobat?"

Tanya Kim Hong. Kini Souw Hui San tertegun dan memandang kagum.

"Eh, bagaimana engkau dapat mengetahui hal itu, nona?"

"Ticlak perlu bertanya, yang penting sekarang, kami telah tahu bahwa engkau yang mengambil Mestika Burung Hong Kemala, karena itu engkau harus menyerahkan kepada kami atau terpaksa kami akan menganggap mu sebagai musuh,"

Kata pula Kim Hong.

"Bersabarlah, Kim Hong. Aku yakin bahwa saudara ini bukan seorang musuh, dan tentu dia mengambil pusaka itu dengan maksud baik. Bukankah engkau juga seperti kami, menentang pemberontak An Lu Shan dan mendukung Kerajaan Tang, sobat?"

Kata Kui Lan.

"Yang penting, perkenalkan dulu dirimu, orang muda,"

Kata pula Hartawan Ji. Souw Hui San tertawa.

"Aih, kalian sungguh-sungguh mendesakku. Tiga orang dengan tiga maca m tuntutan, akan tetapi hanya nona Yang Kui Lan yang bersikap baik kepadaku. Teri ma kasih nona"

Wajah Kui Lan menjadi kemerahan dan iapun merasa perlu untuk me mbela diri agar tidak disangka yang bukan bukan.

"Tentu saja aku bersikap baik kepadamu, sobat, karena bukankah enkau sudah berulang kali berusaha menolongku? Tempo hari, dengan berpura-pura sinting engkau mencegah rombongan Bouw-ciangkun mengeroyokku, kemudian tadi kalau tidak ada engkau yang menolong, mungkin aku sudah tewas di tangan mereka,"

"Baiklah, akupun tidak merasa perlu merahasia kan diriku. Namaku Souw Hui San dan mendiang Souw Lok yang ma terbunuh adalah pamanku. Sejak kecil aku berada di pegunungan, menjadi murid para suhu di Gobi-pai. Baru beberapa bulan aku datang ke kota raja, ke rumah paman dan aku melihat bahwa paman Souw Lok yang dahulu bekerja menjadi pembantu Menteri Yang Kok Tiong, sudah berada di kota raja dan menjadi orang kaya yang membu ka sebuah toko."

"Bukankah Souw Lok ikut pula dengan Menteri Yang mengawal rombongan baginda Kaisar yang mengungsi ke ba rat?"

Tanya Hartawan Ji yang banyak mengetahui keadaan di kota raja.

"Benar, paman menceritakan kepadaku bahwa diapun sampai ke Secuan. Akan tetapi, di tengah perjalanan itu, paman Souw Lok membantu Menteri Yang menyembunyikan Mestika Burung Hong Kemala, bahkan peta dari tempat penyimpanan itu oleh Menteri Yang diserahkan pada Paman Souw Lok dengan pesan bahwa kalau terjadi sesuatu dengan beliau, peta itu harus diserahkan kepada seorang diantara puteranya."

"Ah, agaknya ayah telah merasakan sesuatu, seolah dia telah merasa bahwa dia akan tewas dalam perjalanan itu, maka dia menyerahkan peta kepada orang kepercayaannya,"

Kata Kui Lan dengan suara sedih.

"Mungkin juga,"

Kata Ji Siok "Ayahmu adalah seorang yang setia kepada Kerajaan Tang, nona. Sekarang harap lanjutkan ceritamu, Souw-taih iap."

"Wah, sebutan tai-hiap (pendek besar) itu hanya membuat kepalaku mekar, paman. Sebut saja namaku, Hui San tanpa embel-embel pendekar segala macam. Nah, setelah tiba di kota raja paman Souw Lok mempunyai pendapat yang amat berani. Dia pikir bahwa biarpun kecil, terdapat kemungkinan bahwa rahasianya diketahui orang, yaitu bahwa dia telah menerima peta penyimpanan pusaka itu dari Menteri Yang. Oleh karena itu, sebaiknya kalau dia mengakuinya saja, bahkan berusaha untuk mendapatkan harta dari rahasia itu, Maka dia lalu menjual peta itu kepada Bouw Koksu."

"Ihh!"

Kim Hong dan Kui Lan berseru.

"Ahh....!"

HartawanJi juga mengeluarkan seruan kaget dan tak senang mendengar tentang peng khianatan Souw lok itu.

"Kenapa pa man mu melakukan itu ?"

"Sabar, paman, dan harap mendengarkan dulu, nona-nona yang kuhormati! Sungguh aku berani mengatakan bahwa paman bu kanlah seorang pengkh ianat. Dia mela kukan penjualan peta itu dengan dua perhitungan. Pertama untuk menghilangkan dugaan bahwa dia yang menetahui rahasia penyimpanan pusaka itu, dan ke dua, dan hal ini akhirnya menjerumuskan nya ke tangan maut, dia ngin mendapatkan harta agar di hari tuanya dia hidup santai dan Cukup. Dia memang menjual peta Itu seharga sepuluh ribu tail kepada Bouw Koksu dan setelah menyerahkan peta dia menerima uang muka limaribu tail yang dia pergunakan membeli rumah dan membuka toko yang limaribu tail lagi akan dia terima setelah pusaka itu dapat dia mbil, Akan tetapi, yang dia berikan adalah peta palsu! Diapun diam-diam membuat kan pusaka tiruan. Kemudian, ketika aku datang dan dia mengetahui bahwa aku memiliki kepandaian silat, dia menyuruh aku menga mbil pusaka yang aseli dan menaruh pusaka tiruan ke dalam guha yang d isebutkan da la m peta palsu itu."

"He mm, ternyata cerdik sekali pa man mu itu, Hui San!"

Kin i hartawan Ji memuji.

Dengan perbuatan itu, selain semua orang akan tahu bahwa pusaka berada di tangan Bouw Koksu, juga dia berhasil menyembunyikan pusaka aselinya tanpa ada yang mengetahui, dan dia masih mendapatkan banyak uang lagi!"

"Sayang, paman Souw Lok tidak tahu betapa licik dan curangnya orang macam Bouw Koksu itu. Setelah semua berhasil baik dan pusaka itu dapat diambil Bouw Koksu, dia datang mengunjung paman, bukan untuk membayar yang lima ribu tail lagi seperti yang diharapka paman, melainkan membunuh paman untuk menutup rahasia bahwa Mestika Buru Hong Kemala berada di tangannya. Aku datang terlambat beberapa jam saja. Akan tetapi paman masih sempat mengatakan siapa yang me mbunuhnya, dan suatu saat, jahanam Bouw Koksu itu pasti akan tewas di tanganku!"

Hening sejenak. Semua orang agaknya tercekam oleh kisah yang diceritakan pemuda itu.

"Ah, aku mengerti sekarang. Engkau tentu telah mendahului rombongan, mengambil pusaka aseli, lalu memasukan pusaka palsu ke dalam guha seperti disebutkan dalam peta palsu, kemudian engkau menyembunyikan pusaka itu entah dimana, dan ketika kami bertemu dengan enci Kui Lan, engkau keluar dan pura-pura sinting untuk mengganggu kami, bukankah begitu?"

Kata Kim Hong. Hui San tertawa.

"Ha-ha, semua itu benar. Pusaka itu memang lebih dulu aku sembunyikan dalam sebuah pohon besar. Karena melihat engkau demikian cerdik, maka aku lalu pergi dan tidak berani sembarang main-main. Orang seperti engkau terlalu berbahaya untuk dipermainkan. Tentu saja aku tidak tahu bahwa engkau sebenarnya segolongan dan seperjuangan denganku, nona."

"Souwtoako, kalau begitu pusaka itu sekarang berada di tangan mu?"

Tanya Kui Lan yang agak ragu ketika menyebut pemuda itu, akan tetapi melihat sikap yang polos dan bersahaja itu, diapun menyebutnya toako, sebutan yang akrab.

Hui San tersenyum dan matanya bersinar-sinar memandang kepada Kui Lan.

"Benar, non.... eh, siauw-moi (adik), boleh aku menyebutmu Lan-moi (adik Lan)? Engkau puteri Menteri dan aku anakgunung"

"Ah, perlukah kita merendahkan diri dan menggunakan banyak peraturan yang tidak layak lagi itu, twako? Kata kanlah, sekarang Mestika Burung Hong Kemala itu berada di mana?"

"Kusimpan baik-baik, Lan-moi. Andai kata aku ditawan musuh, disiksa dan dibunuh sekalipun, jangan harap musuh akan dapat me maksa aku menyerahkan pusaka itu kepada mereka. Tak seorangpun akan tahu di ma na pusaka itu kusembunyikan. Akan tetapi setelah aku bertemu dengan engkau, aku siap me menuhi pesan mendiang Pa man Souw Lok untuk menyerahkan pusaka itu kepada seorang diantara para putera mendiang Menteri Yang Kok Tiong. Apakah engkau bersedia rnerima pusaka itu dariku?"

"Ah, aku.... apa bedanya kalau berada di tanganmu, twa ko?"

Hartawan Ji segera berkata.

"Mengapa tidak ada bedanya. Kita semua mempunyai kesetiaan yang sama, dan tentu semua bermaksud untuk menyerahkan pusaka itu kembali kepada Sri baginda Kaisar. Karena itu, kuusulkan, biar pusaka itu tetap disimpan oleh Hui San, dan tetapi dia harus memberitahukan tempat penyimpanannya kepada nona Kui Lan. Kita semua sedang berjuang, tidak tahu apakah kita akan dapat lolos dari kematian. Karena itu, sebaiknya kalau penyimpanan itu se lalu d iketahui dua rang "

"Maksudmu agar kalau yang seorang meninggal, yang lain memberi tahukan kepada seorang sahabat lain lagi?"

Tanya Hui San.

"Apakah tidak sebaiknya kalau sekarang juga diantarkan ke barat dan serahkan kepada Sri baginda Kaisar? Pusaka itu amat dibutuhkan untuk mendatangkan kepercayaan mereka yang mendukung beliau, bukan?"

Tanya Kim Hong.

"Dugaanmu tadi benar. Hui San Pusaka itu amat penting, karena itu harus selalu kita ketahui di mana tempat penyimpanannya. Dan saat ini tidak perlu kita antarkan ke barat, nona Kim Hong, karena ka mi telah mendengar bahwa Sri baginda berhasil membujuk para kepala suku di barat untuk membantu pasukan beliau dengan memperlihatkan Mestika Burung Hong Kemala. Agaknya, Sri baginda yang kehilangan pusaka itu telah me mbuatkan pula tiruannya. Jadi sekarang ada tiga buah pusaka, dua yang palsu dipegang Bouw Koksu dan Sri baginda, sedangkan yang aseli kita simpan Kalau saatnya tiba, kita akan serahkan kepada Sri baginda Kaisar."

Semua orang merasa setuju dengan pendapat ini dan Hui San lalu menuliskan beberapa huruf di atas kertas, memberikan tulisan itu kepada Kui Lan yang membacanya.

Membaca isi tulisan ini Kui Lan tertegun.

Betapa berani dan cerdiknya pemuda murid Gobi-pai itu Dia telah menyimpan pusaka itu di tempat yang takkan pernah disangka Siapapun juga, terutama sekali tidak oleh pihak musuh karena pusaka itu berikut petinya ditanam di bawah pohon dekat pagar tembok di kebun belakang gedung yabg kini ditinggali Bouw Koksu Pantas pemuda itu dapat menolongnya.

Kiranya sedang mencuri masuk dan menanam pusaka itu di bawah pohon yang ia pergunakan untuk memasuki kebun pada mala m hari itu.

Memang kelihatan mengkhawatirkan menyimpan pusaka di sana, akan tetapi justeru di tempat yang begitu dekat dengan Bouw Koksu, merupakan tempat yang aman karena tidak akan disangka, sama sekali.

Gedung itu boleh jadi dapat diserbu orang dan isinya di rampok habis, bahkan gedung itu sendiri dapat saja dibakar habis.

Akan tetapi siapa yang mau mengganggu sebatang pohon di sudut kebun?

ia memandang pemuda yang tersenyum itu dan mengangguk, la lu ia merobek-robek kertas itu sampai menjadi potongan kecil kecil.

Kim Hong yang teringat akan ayah kandungnya yang belum juga dapat ia temukan, segera bertanya kepada Hartawan Ji.

"Paman Ji, engkau telah dapat menyelidiki dan mengetahui bahwa orang yang mengaku ayahku itu adalah pa lsu Dapatkah engkau menolongku memberi tahu siapa sebenarnya ayah kandungku yang bernama Can Bu itu dan apakah dia masih hidup? Kalau dia masih hidup, di mana dia sekarang?"

"Ketika Yang-kongcu minta kepada kami untuk menyelidiki tentang Ciang Kui yang mengaku sebagai Can Bu, dengan sendirinya kami juga menyelidiki tentang ayah kandung nona itu. Kami bertanya-tanya kepada para perajurit dan perwira yang dulu berada dalam satu kesatuan dengan perwira Can Bu."

"Dan bagaimana hasilnya, paman"

Tanya Kim Hong penuh harap.

"Ternyata bahwa ayahmu itu, perwia Can Bu, setelah berhasil lolos dari Khitan dan kembali ke kota raja, Dia diangkat menjadi seorang panglima yang membantu Panglima Besar Kok Cu It dan tentu saja dia ikut pula mengawal Sri baginda Kaisar ke barat. Apa lagi karena ayahmu sudah mengenal daerah barat dengan baik, maka tenaganya amat dibutuhkan Kaisar"

"Jadi ayahku mengawal Sri baginda kaisar ke barat? Jadi benar ayah kandungku masih ada?"

Wajah gadis itu berseri dan matanya bersinar-sinar.

"Kalau begitu, aku akan menyusulnya dan mencarinya ke sana, dan aku akan membantunya memperkuat pasukan Sribaginda"

Hartawan Ji mengangguk-angguk.

Hartawan ini dahulu sebelum An Lu Shan merebut tahta Kerajaan Tang, telah bekenja sebagai seorang penyelidik yang cerdik.

Karena itu, dia kini dapat bekerja dengan tenang tanpa takut dikenal orang karena dahulupun tidak ada yang tahu bahwa dia adalah seorang perwira tinggi yang memiliki jaringan penyelidik.

Banyak anak buahnya disebar ke mana-mana sehingga dia dapat mengetahui dengan baik keadaan di dalam dan di luar istana.

"Memang sebaiknya begitu, nona Kami kira Sri baginda membutuhkan banyak pembantu yang lihai seperti nona dan besar sekali harapannya nona akan dapat bertemu dengan perwira Can Bu sana."

"Kebetulan sekali, kakakku Yang Cin Han juga baru saja berangkat ke sana, adik Kim Hong,"

Kata Kui Lan kalau engkau melakukan perjalanan dengan cepat, mungkin engkau akan dapat mengejarnya dan lebih menyenangkan kalau kalian melakukan perjalanan bersama, kan?"

Wajah gadis itu berubah kemerahan, akan tetapi tak dapat disangkal di dalam hatinya ia merasa girang sekali, Sejak tadipun ia sudah bertanya tanya di dalam hatinya mengapa ia tidak melihat Cin Han di situ.

"Aku akan melakukan perjalanan seepat mungkin,"

Katanya dan iapun tidak menolak ketika Hartawan Ji menyerahkan seekor kuda kepadanya, berikut berapa potong perak untuk bekal perjalanan.

Gadis ini meninggalkan rumah gedung Bouw Koksu tanpa membawa apapun sehingga pakaianpun hanya yang berada di tubuhnya.

Iapun menerima ketika Kui Lan memberi beberapa potong pakaian untuknya, dan memang bentuk tubuh mere ka seukuran.

Setelah Kim Hong berangkat meninggalkan kota raja dengan cara sembunyi-sembunyi, yaitu melalui pintu gerbang selatan dengan menyamar sebagai seorang nenek-nenek, diantar oleh Ji Siok yang telah menyogok para penjaga agar diperbolehkan keluar mengantar bibinya yang tua dan sakit"sakitan ke desa maka Hui San juga meninggalkan rumah Hartawan Ji, Diapun menyamar karena kini dia juga menjadi seorang buronan.

Dia menghubung i seorang tetangganya dan minta bantuan tetangga itu untuk menjualkan rumah dan toko pamannya.

Karena mendapatkan keuntungan besar, tetangga itu dengan senang hati mela kukannya dan da la m waktu beberapa hari saja rumah itu telah terjual dan Hui San mempunyai uang dua ribu tahil hasil penjualan itu.

Dia pun seperti KUi Lan, tinggal, di rumah Hartawan Ji.

Pada keesokan harinya, Hartawan Ji menerima seorang tamu dan setelah tamu itu pergi, dia mengumpulkan para pembantunya di mana hadir pula Hui San dan Kui Lan.

Dari wajah pemimpin jaringan mata-mata itu dapat dlduga bahwa ada masalah penting.

"Ada berita penting sekali dari Sia-ciangkun,"

Kata hartawan itu.

"Dari toako Sia Su Beng? Berita apakah itu, paman?"

Tanya Kui Lan penuh ga irah, ia tidak tahu betapa diam dia m Hui San mengerling kepadanya dengan penuh perhatian menatap wajahnya dalam kerlingan itu.

"Sia-ciangkun memberi kabar bawa usaha nona Kui Bi di istana berhasil mengadu-domba antara An Lu Shan dan puteranya, An Kong. Bahkan AnKong yang disebut pangeran itu mempercayai nona Kui Bi dan minta kepada nona Kui Bi untuk meracuni An Lu Shan..' "Ah, berbahaya sekali itu, Bagai mana kalau ketahuan?"

Kata Kui Lan, mengkhawatirkan adiknya.

"Semua telah diatur oleh Bouw Koksu yang mendukung Pangeran An Kong. Mala m in i nona Kui Bi berhasil diselundupkan ke dapur dan di tunjuk sebagai seorang dayang melayani kaisar An Lu Shan makan malam menggantikan seorang dayang lain yang sakit. Saat inilah akan dipergunakan oleh nona Kui Bi untuk meracuni ma kanan yang akan dimakan kepala pemberontak itu."

"Akan tetapi, tentu akan ketahuan dan adikku akan terancam bahaya,"

Kata pula Kui Lan.

"Menurut pesan Sia-ciangkun, bahaya yang datang bukan dari pengikut An Lu Shan, melainkan dari Pangeran An Kong, dari Bouw Koksu yang mendukungnya. Dari mereka inilah datangnya bahaya yang mengancam nona Kui Bi"

"Akan tetapi bagaimana mungkin Itu, paman?"' tanya Hui San.

"Bukankah nona Yang Kui Bi hanya melaksanakan perintah Pangeran An Kong?"

"Itulah sebabnya, menurut Sia ciangkun, keadaan nona Kui Bi terancam maut. Setelah perbuatan itu dilaksanakan dan An Lu Shan mati keracunan, tentu para pejabat tinggi ingin mencari siapa pelakunya. Dan untuk menutupi kenyataan bahwa An Kong yang meracuni ayahnya maka tentu mereka itu akan berusaha untuk menangkap nona Kui Bi dan menuduh nona itu sebagai pelakunya. Akan tetapi harap jangan khawatir. Sia ciangkun sudah mengatur kesemuanya Dia yang akan melindungi nona Kui Bi dan menyelundupkannya keluar dan kita yang harus membantunya, menerima nona Kui Bi dan membawanya ke sini dengan cepat."

"Akan tetapi, peristiwa itu tentu akan men imbu lkan geger di istana pa man. Apakah tidak akan terjadi keributan yang ditimbulkan oleh mereka yang setia kepada An Lu Shan?"

"Inipun akan ditanggulangi oleh Bouw-ciangkun yang sudah mempersiapkan pasukannya di luar istana, dan dibantu oleh Sia-ciangkun yang akan bergerak ke dala m istana."

Kui Lan membelalakkan matanya.

"Paman Ji, benarkah itu? Rasanya tidak mungkin Sia-toako akan bekerja sama dengan Bouw Koksu, apa lagi membantunya."

"Nona, ini merupakan siasat Sia-ciangkun yang baik sekali. Menghadapi Pangeran An Kong yang didukung Bouw Koksu tidaklah seberat kalau menghadap An Lu Shan. Karena itu, sengaja di biar kan ayah dan anak pemberontak itu saling hantam, dan Sia-ciangkun memang sengaja berpihak kepada Pangeran An Kong. Kalau An Lu Shan sudah tewas, dan para pengikutnya dapat dilumpuhkan akan kelak menghadapi Pangeran An Kong tidaklah terlalu berat."

Kui Lan mengerti, akan tetapi tetap saja ia mengkhawatirkan keselamatan adiknya, ia tahu bahwa Kui Bi bermain api.

Amat berbahaya tugas yang hendak dilaksanakan adiknya ma la m ini.

Meracuni An Lu Shan.

Membayangkan saja Kui Lan sudah merasa ngeri dan jantungnya berdebar keras.

Bagaimana kalau ketahuan sebelum An Lu Shan makan hidangan beracun itu?

Bagaimana kalau hidangan itu tidak dimakan atau dimakan orang lain sehingga orang lain yang mati, bukan An Lu Shan?

Apa yang dapat dilakukan Kui Bi kalau sa mpai ketahuan?

ia tahu akan keberanian dan kenekatan adiknya itu.

Kalau sampai ketahuan sebelum hidangan dimakan, Kui Bi pasti akan bertindak nekat dan mencoba untuk membunuh saja An Lu Shan.

Dan tanpa bantuan, agaknya mustahil adiknya akan mampu meloloskan diri dengan selamat keluar dari istana kalau ia dikejar-kejar sebagai pembunuh.

Biarpun ia tahu di sana terdapat Sia Su Beng pria yang dikaguminya itu, tetap saja ia masih merasa gelisah.

Ketika Ji Siok mengatakan bahwa pertemuan berakhir dan semua orang sudah bangkit, ia sendiri berdiri dan menuju ke ka marnya dengan tubuh lemas.

Karena memang sudah diatur oleh kaki tangan Bouw Koksu, maka dengan mudah Kui Bi mendapat kepercayaan membantu di dapur, kemudian menggantikan seorang dayang pelayan di ruangan makan yang sedang sa kit.

Se mua ini sudah diatur oleh Bouw Koksu, melalui kaki tangannya yang banyak terdapat di dalam istana.

Mudah sekali bagi Kui Bi untuk mengetahui, sayur masakan yang mana menjadi kesukaan An Lu Shan dan mudah pula ia membawa hidangan itu menuju ke ka mar makan, menaruh bubu kan racun di dalam masakan.

Racun itu tidak mengeluarkan bau, juga tidak ada rasanya, maka tidak akan diketahui bahwa masakan itu mengandung racun.

Akann tetapi ketika An Lu Shan yang berpaka ian sebagai raja itu memasuki ruangan makan dan ia duduk menghadapi semeja besar penuh masakan yang masih mengepulkan uap yang sedap, ditamani tiga orang selir dan lima orang dayang, hati Kui Bi berdebar juga.

ia melihat selosin perajurit pengawal pribadi yang membawa tombak, berdiri berjajar di pintu ruangan.

Dan ia tahu bahwa di luar pintu terdapat pula banyak perajurit pengawal.

Hal Ini tidak mengejutkan hatinya karena me mang sebelu mnya Bouw Koksu telah me mberi tahu padanya dan mengatakan bahwa mereka itu adalah pasukan pengawal yang telah menjadi anak buahnya!

Yang menjadi pengawal setia dari An Lu Shan hanya selosin orang pengawal pribadi saja.

Menurut petunjuk Bouw Koksu, kalau nanti An Lu Shan sudah makan dan keracunan ia harus cepat menerobos keluar melalui pintu, kalau perlu merobohkan para pengawal pribadi yang mengha langi dan kalau sudah tiba di luar, pasukan anak buah Pangeran An Kong atau Bouw Koksu akan melindunginya.

Akan tetapi Kui BI telah mendapat pesan dan petunjuk lain dari pang lima muda yang di kagu minya, yaitu Sia Su Beng.

Menurut Sia Su Beng, setelah ia berhasil, harus melarikan diri melalui jendala ruangan makan itu yang terbuka dan tiba di ta man di luar ruangan makan, ke mudian mengambil jalan melalui atas wuwungan menuju ke dalam taman istana yang besar.

Di sana, Sia Su Beng dan pasukannya akan menyambut dan menyembunyikannya.

Tentu saja ia memilih untuk menaati pesan pujaan hatinya itu, karena menurut Sia Su Beng, kalau ia menaati petunjuk Bouw Koksu, ia seperti seperti burung masuk kurungan, akan ditangkap dan besar sekali kemungkinan dituduh sebagai pembun uh tungga l An Lu Shan dan d ijatuhi hukuman berat.

Ruangan makan itu luas sekali.

disudut ruangan, dekat dinding para dayang ahli musik telah memainkan yangkim dan suling, dan ada pula yang bernyanyi dengan suara lembut dan merdu.

Meja makan itu sendiri berbentuk bundar dan An Lu Shan duduk di atas kursi istimewa, dikelilingi para dayang dan tiga orang selirnya duduk di kanan kiri dan depannya.

Masakan kegemarannya ialah masakan kaki biruang dimasak dengan rebung (bambu muda).

Inilah masakan kege marannya ketika dia menjadi panglima pasukan di utara, di mana terdapat banyak biruang.

Biarpun sekarang dia berada di selatan dan kaki biruang merupakan bahan masakan yang langka dan karenanya mahal sekali, dia tetap minta dicarikan kaki biruang.

Masakan inilah yang tadi oleh Kui Bi dihidangkan di atas meja, paling dekat dengan kursi sang kaisar baru.

Dalam kesempatan ini, agar tidak menarik perhatian, Kui Bi tidak berdandan.

ia hanya berperan sebagai pelayan yang mengambilkan masakan dari dapur dan ketika sang kaisar makan bersa ma selirnya dan dilayani lima orang dayang, tugasnya hanya berdiri di sa mping bersa ma tiga orang rekannya, dan menanti perintah para dayang pelayan kalau"kalau dibutuhkan bumbu atau masakan tambahan.

An Lu Shan nampak gembira ketika duduk di depan meja makan.

Perutnya rasa semakin lapar ketika dia mencium bau masakan khas kegemarannya yang ada paling dekat di depannya.

Dia merima suguhan arak dari selir yang duduk di sebelah kanannya, minum dengan sekali tuang dari cawannya, kemudian menerima sumpit yang disodorkan selir yang berada di sebelah kirinya.

Kui Bi mengikuti semua gerakan kaisar itu dengan jantung berdebar tegang.

Akan berhasilkah usahanya melaksanakan perintah Pangeran An Kong?

ia tidak menyesal sedikitpun melaksanakan perintah meracuni An Lu Shan, karena andaikan tidak ada perintah itu, dengan segala kenekatannya ia akan mencari kesempatan untuk membunuh orang ini, orang yang telah mengakibat kan ayah ibunya meninggal, menyebabkan keluarganya berantakan dan Kerajaan Tang jatuh.

Agaknya perhitungan Bouw Koksu dan Pangeran An Kong memang tepat.

Tanpa ia melihat ke arah masakan lain, sepasang sumpit di tangan An Lu Shan langsung saja menuju ke arah masakan kaki biruang itu, dan sepasang sumpit itu menjepit sepotong daging kaki biruang, lalu dimasukkan ke dalam mulutnya.

Nampak sedap dan nyaman sekali dia mengunyah daging kaki biruang yang bergajih itu, dan memang tukang masak mendapat pesan dari Pangeran An Kong sendiri agar hari itu memasak kaki biruang yang seenak"enaknya.

Bahkan diapun memerintahkan mencarikan kaki biruang yang masih muda agar terasa lebih luna k dan lezat.

Makin tegang rasa hati Kui Bi ketika An Lu Shan terus saja makan masakan itu dengan sumpitnya, hanya di selingi minum arak sekali dua kali tegukan.

Agaknya tidak ada pengaruh apa"apa dan dia makan dengan lahapnya, belum menyentuh masakan lain.

Timbul perasaan gelisah dalam hati Kui Bi dan ia mengingat-ingat.

Tidak salahkah ia tadi menaruhkan racun itu?

Jangan-jangan ia keliru memasukkan ke dalam masakan lain!

Akan tetapi rasanya tidak mungkin ia yakin benar telah menuangkan racun itu ke dalam masakan kaki biruang itu Suara mussik masih terdengar mengiringi suara nyanyian merdu.

Tiga orang selir seperti berebut menarik perhatian kaisar dengan ucapan manis dan menyuguhkan arak, ada pula yang karena desakan kaisar mulai ikut makan.

Akan tetapi melihat betapa lahapnya kaisar makan masakan kaki biruang, mereka tidak berani ikut mengambilnya.

Kalau An Lu Shan tidak mengambilkan untuk mereka, tiga orang selir itu tidak akan berani lancang mengambil sendiri hidangan yang menjadi kegemaran An Lu Shan itu.

Bekas panglima yang kini mengangkatdiri menjadi kaisar ini memang terkenal gala k dan keras kalau ada orang berani mendahului kehendaknya, apa lagi menentangnya.

Karena itulah, ketika pangeran An Kong mohon agar diangkat menjadi putera mahkota, dia marah dan membenci puteranya sendiri, karena merasa di dahului!

"Ah, aku haus, araknya!"

Kata An Lu Shan dan tiga orang selir itu seperti berebut memegang guci arak menuangkan arak ke dalam cawan arak dari emas yang telah kosong.

An Lu Shan mengambil cawan itu, menuangkan isinya ke dalam mulutnya yang ternganga dan tiba-tiba cawan kosong itu terlepas dari tangannya dan diapun terkulai!

"Dukk!"

Kepalanya terantuk meja dan tubuhnya berkelojotan.

Tiga orang selir itu menjerit, diikuti lima orang dayang dan semua orang yang berada disitu terkejut.

Para pemain musik menghentikan permainan mereka dan dengan muka pucat mereka mrmandang terbelalak ke arah kaisar.

Selosin orang pengawal pribadi berloncatan mendekat.

Kui Bi maklum bahwa racun itu telah bekerja, lapun menyelinap dan mendekati jendela, terus me lompat keluar.

"Heii , tahan! Semua orang tidak boleh me ningga lkan tempat ini!"

Seorang pengawal pribadi berteriak dan ketika melihat Kui Bi tidak berhenti diapun mengejar, diikuti oleh sembilan orang pengawal lain, sedangkan dua orang tinggal di situ, menolong kaisar dan mengamati setiap orang.

Kui Bi berlari ke dalam taman kecil di luar ruangan makan itu, dan ketika pengawal pribadi kaisar itu yang ternyata me miliki gin-kang ynng cu kup hebat berloncatan mengejarnya, tiba tiba Kui Bi membalikkan tubuhnya.

Tadi ia menya mbar sebatang ranting kayu taman itu dan kini, tiba"tiba ranting itu mencuat dan dengan dahsyat menyambut pengejarnya dengan tusukan kearah kedua matanya.

Melihat ranting itu menusuk ke arah matanya dengan kecepatan kilat, pengawal itu terkejut dan cepat menggerakkan tombaknya menangkis melindungi matanya.

Akan tetapi, ilmu Hong in Sin-pang dari Kui Bi memang helbat sekali.

Ranting yang menusuk mata itu tidak menanti sa mpai ditangkis tombak tahu-tahu telah meluncur ke bawah dan menotok dada lawan.

"Tukk!"

Biarpun hanya sebatang ranting sebesar ibu jari, akan tetapi di tangan Kui Bi menjadi senjata ampuh.

Pengawal itu roboh dengan tubuh kaku!

Kui Bi tidak menanti lebih lama terus berloncatan melintasi taman dan meloncat naik ke atas genteng seperti petunjuk yang didapatnya dari Sia Beng.

Di belakangnya, sembilan orang pengawal mengejar dan ternyata mereka memang merupakan orang-orang pilihan yang memiliki kepandaian tinggi.

Kalau yang pertama tadi sampai dapat dirobohkan Kui Bi, karena dia memandang rendah kepada seorang gadis dayang, apalagi kalau yang dipergunakan menyerangnya hanya sebatang ranting.

Karena memandang rendah, dia lengah dan dapat dirobohkan dengan sekali totokan.

Ketika melihat betapa sembilan orang pengawal itu dapat terus mengejarnya dengan berlompatan ke atas wuwungan pula, Kui Bi me mpercepat lari dan a khirnya ia dapat me loncat turun ke dalam taman istana, tetap dikejar oleh sembilan orang itu.

Hati Kui Bi menjadi lega ketika lihat pasukan yang puluhan orang banyaknya berbaris di taman itu.

Cepat ia me loncat dekat dan tangannya segera ditarik Sia Su Beng dan ia sudah menyusup masuk ke dalam barisan itu, tergesa-gesa ia mengenakan pakaian seragam perajurit yang diberikan oleh seorang prajurit, menutupi pakaian wanitanyanya beberapa detik saja Kui Bi telah menjadi seorang di antara pasukan itu, berpakaian perajurit berikut topinya yang khas.

Sia Su Beng menyambut sembilan orang pengawal pribadi kaisar itu di bawah sinar lampu-lampu gantung taman itu dia menegur.

"Bukankah kalian ini perajurit perajurit pengawal pribadi Yang Mu lia Kaisar? Kenapa mala m-ma la m berlari ke sini? Apa yang telah terjadi?"

"Ah, kiranya Sia-ciangkun dan pasukannya. Kenapa pula ciangkun membawa pasukan memasuki taman istana?"

Pemimpin pasukan pengawal itu bertanya.

Para perajurit pengawal pribadi kaisar adalah orang-orang kepercayaan kaisar maka biarpun hanya perajurit, mereka berani bersikap angkuh terhadap panglima yang berada di luar istana.

"Kami menerima perintah Bouw Koksu untuk berjaga-jaga karena ada desas desus bahwa mata-mata musuh hendak menyerang Yang Mulia. Apakah yang terjadi maka kalian berlarian ke sini?"

"Kami mengejar pembunuh! Apakah pasukanmu tadi me lihat seorang gad is yang berlari ke dalam taman ini?"

"Tidak, kami tidak melihatnya,"

Kata Sia Su Beng.

"Mustahil,"

Para perajurit pengawal pribadi kaisar itu berseru heran, 'kami mengejarnya dan kami melihat jelas meloncat turun dari wuwungan dan masuk ke taman ini!"

"Hemm, apakah itu berarti kalian tidak percaya kepada keterangan kami? kalau begitu, silakan menggeledah dan periksa sendiri apakah gadis yang kalian cari itu berada di antara kami ataukah tidak!"

Kata Sia Su Beng dengan suara keren.

"Maafkan kami, ciangkun. Telah terjadi peristiwa hebat, terpaksa kami akan melakukan penggeledahan, ini tugas kami!"

Sembilan orang itu lalu menyusup-nyusup ke dalam pasukan itu, akan tetapi tentu saja mereka tidak menemukan seorang gadis dayang di antara mereka.

Semua adalah pasukan yang berpakaian seragam.

Kalau ada gadis dayang, tentu akan mudah kelihatan di antara mereka yang seragam itu.

Setelah merasa yakin bahwa tidak ada gadis yang mereka cari, mereka kembali berhadapan dengan Sia Su Beng.

"Sebetulnya, apa yang terjadi? Siapa gadis dayang itu dan mengapa kalian mengejarnya?"

"la telah melarikan diri setelah melihat Yang Mulia keracunan! Kami mencurigai ia mempunyai kaitan dengan peristiwa itu."

"Yang Mulia keracunan? Lalu... bagaimana keadaan beliau?"

Tanya Sia Su Beng, pura-pura kaget.

"Kami tidak tahu, sekarang juga kami akan ke sana!"

Kata sembilan orang itu dan merekapun berserabutan lari meninggalkan taman.

Pada saat terdengar bunyi canang dipukul bertalu talu, tanda bahaya sehingga seluruh isi istana menjadi gempar.

Dala m waktu beberapa men it saja semua orang tahu bahwa kaisar telah tewas keracunan hidangan makan malam!

Pasukan yang dipimpin Bouw Ki telah dipersiapkan dan telah berada diluar istana, sedangkan pasukan yang di pimpin Sia Su Beng juga sudah siap dan berada di sebelah dalam, mengepung istana dan menguasai semua tempat.

Melihat ini, para panglima yang setia kepada An Lu Shan tidak dapat berbuat sesuatu apa lagi karena ke matian An Lu Shan karena keracunan makanan.

Mereka hanya dapat segera datang ke ruangan makan dan menahan semua dayang, selir, dan thai"kam, termasuk se mua juru masak yang mala m itu bertugas memasak makanan dan melayani keluarga kaisar makan malam.

Ketika Bouw Koksu tergesa-gesa datang bersama Bouw"ciangkun, juga Pangeran An Kong, dan kemudian menyusul pula Sia Su Beng dan para panglima dan menteri yang memenuhi ruangan makan, tubuh kaisar An Lu Shan sedang diperiksaa dengan teliti oleh tiga orang tabib istana.

Akan tetapi, semua usaha tiga orang tabib itu melalui pengurutan, tusuk jarum, dan ce kokan obat anti racu n sia-sia belaka karena memang ketika tiga orang tabib itu datang, An Lu Shan telah putus nyawanya.

Jerit tangis para isteri dan selir memenuhi ruangan itu, akan tetapi Bouw Koksu dengan cekatan lalu mengatur agar jenazah kaisar segera diangkat keruangan dalam untuk dirawat sebagaimana mestinya.

Bouw Koksu sendiri yang memeriksa para pembantu yang masih ditahan ruangan makan untuk ditanya.

Akan tetapi, dia dan Bouw Ki merasa heran sekali tidak melihat Kui Bi.

Dari para petugas di luar ruangan makan mereka mendengar bahwa gadis itu tidak lari melalui pintu.

Padahal sudah direncanakan bahwa kalau ia keluar dari pintu para petugas akan menangkap dan rnenahannya.

Kemudian terdengar keterangan para pengawal pribadi kaisar bahwa gadis dayang itu melarikan diri melalui jendela dan biarpun mereka telah berusaha mengejarnya, namun gadis yang amat lihai itu berhasil melarikan diri.

Mendengar ini, Bouw Koksu mengerutkan alisnya.

Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa dayang baru itu memiliki ilmu silat tinggi.

Tentu ia lihai sekali sehingga mampu meloloskan diri dari pengejaran para pengawal pribadi kaisar yang lihai itu.

Karena khawatir gadis itu membocorkan rahasia bahwa Pangeran An Kong yang melakukan rencana pembunuhan terhadap ayahnya, Bouw Koksu lalu memerintahkan para panglima untuk menangkap dayang itu.

Juga Panglima Sia Su Beng diminta untuk menggeledah seluruh kota untuk menang kapnya.

"la pasti masih berada di kota raja. Geledah semua rumah dan tangkap gadis itu! Tentu ia yang membunuh dan meracuni Sribaginda!"

Perintahnya.

Semua panglima, termasuk Sia Su Beng, meninggalkan istana.

Kalau para pangIima memerintahkan anak buah mereka untuk melakukan pencaharian, Sia Su Beng sendiri cepat menuju rumah Hartawan Ji.

Tak lama kemudian dia sudah berada di kamar rahasia bersa ma Hartawan Ji, Kui Lan, Kui Bi, dan Hui San.

Begitu melihat Sia Su Beng muncul, Kui Bi segera lari menya mbutnya dan bertanya.

"Twako, bagaimana? Berhasilkah kita sesuai rencana? Apakah dia sudah tewas?"

Gadis itu merasa tegang dan saking tegangnya, ia memegang kedua lengan panglima itu. Sia Su Beng tersenyum dan mengangguk.

"Berhasil baik sekali, Bi-moi Engkau memang tabah dan cerdik. An Lu Shan telah tewas, dan tentu An Kong yang akan mengangkat diri menjadi gantinya seperti mereka rencanakan, akan tetapi sekarang timbul masalah baru. Engkau berada dalam bahaya, Bi-moi !"

"He mm, aku tidak takut, twako"

Kata gadis itu dengan sikap gagah.

"Aku percaya engkau tidak takut akan tetapi aku yang tidak mau melihlat engkau ditangkap. Kau tahu, Bouw Koksu berusaha keras untuk mencari dan menangkapmu. Tepat seperti kuduga, tentu dia ingin menangkapmu agar dapat menjatuhkan se mua kesalahan kepadamu, menceritakan bahwa engkau yang meracuni kaisar sehingga dia dan An Kong bebas dari tuduhan."

"Akan tetapi, aku dapat membantah dan mengatakan bahwa mereka yang menyuruhku. Aku tidak takut, twako. Selama engkau di sampingku, aku tidaktakut apapun!"

"Aku berjanji akan membantumu dengan taruhan nyawaku, Bi-moi. Akan tetapi sungguh tidak bijaksana kalau harus menggunakan kekerasan melawan musuh yang jauh lebih kuat dari pada kita. Sekarang belum tiba saatnya kita lawan dengan kekerasan. Kita tunggu saatnya. Setidaknya sekarang musuh yang paling berbahaya, An Lu Shan, telah tidak ada. Kurasa untuk menghancurkan kekuatan Pangeran An Kong dan Bouw kokssu bukan hal yang terlalu sulit kalau kita sudah menyusun kekuatan."

Sejak tadi Kui Lan melihat sikap adiknya dan sikap panglima itu dan ia merasa hatinya tertusuk.

Tahulah ia bahwa adiknya amat mencinta panglima itu dan agaknya Sia Su Beng juga rnencintai adiknya, ia harus melepaskan harapannya, ia harus mengalah terhadap adiknya.

"Bi-moi, ucapan Sia-ciangkun itu benar sekali. Kita tidak boleh hanya mengguna kan kekerasan dan nekat tanpa perhitungan. Kita harus menaati semua petunjuk Sia-ciangkun yang lebih berpengalaman dan lebih mengetahui keadaan. Katakanlah, ciangku n, apa yang harus ka mi la kukan sekarang?"

Sia Su Beng memandang kepada Souw Hui San.

Dia tentu saja mengenal Kui Lan dan Ji Siok dan percaya kepada mereka, akan tetapi baru sekarang dia melihat pemuda yang tersenyum-senyum itu.

Melihat pandangan mata Sia Su Beng, Souw Hui San melangkah maju.

"Ciangkun, sudah lama aku mendengar nama besarmu dan mengagumimu. Namaku Souw Hui San dan Paman Ji maupun nona Yang Kui Lan tentu berani menanggung bahwa aku adalah seorang rekan seperjuangan dan tidak perlu kau curigai."

"Benar sekali, Sia-ciangkun, Souw-toako ini adalah sahabat baik yang sudah berka li-kali menyela matkan nyawaku dari tangan Bouw Ki dan kaki tangannya,"

Kata Kui Lan.

"Ka mi juga berani bertanggung jawab bahwa dia adalah seorang pejuang sejati, ciangkun,"' kata pula Ji Siok.

"Dia murid Gobi-pai yang berilmu tinggi,"tambah pula Kui Lan. Sia Su Beng mengangguk-angguk.

"Bagus kalau begitu, hatiku lebih tenteram karena baik Lan-moi maupun Bi-moi mendapatkan pengawa l yang dapat di andalkan. Ma la m ini juga kalian bertiga harus Keluar dari kota raja, karena mulai besok, seluruh rumah di kota raja akan digeledah. Bouw Koksu bersikeras untuk menangkap Bi-moi."

"Akan tetapi, bagaimana kami dapat keluar dari kota raja, ciangkun?"

Tanya Hui San.

"Dengan terjadinya peristiwa ini, tentu Bouw Koksu akan mengerahkan pasukan untuk menjaga semua pintu gerbang dan akan memeriksa setiap orang yang lewat, apa lagi yang akan ke luar pintu gerbang."

Panglima itu menunjuk buntalan yang tadi dibawanya dan yang diletakan di atas meja.

"Aku sengaja membawa tiga stel pakaian tentara, tadinya kubawakan untuk nona Yang Kui lan, Bi moi dan Paman Ji Siok untuk mereka pakai. Aku yang akan mengatur kalian keluar kota raja dengan aman. Aku tidak tahu bahwa di sini terdapat Saudara Souw Hui San."

"Ciangkun, sebaiknya kalau saya berada di sini saja. Saya mempunyai hubungan baik dengan para panglima dan pejabat. Andaikan mereka melakukan penggeledahan di sinipun, mereka tidak akan mene mukan apa-apa. Tidak seorang pun yang dapat menduga bahwa kedua orang nona ini pernah berada di rumah ini, ciangkun. Karena itu, sebaiknya kalau pakaian untukku itu dipakai oleh Hui San dan saya akan tetap tinggal disini menjadi penghubung bagi para kawan dan melihat keadaan."

"Baiklah kalau begitu, Pa man Ji Akan tetapi berhati-hatilah, karena Bouw Koksu adalah seorang yang lihai cerdik dan kejam,"

Kata Sia Su Beng Sementara itu, tanpa diperintah lagi Kui Lan, Kui Bi dan Hui San sudah mengena kan pakaian tentara.

Yang dipakai kedua orang gadis itu pas, hanya kebesaran sedikit karena memang Sia Su Beng sudah memilihkan yang paling kecil, akan tetapi yang dipakai Hui San agak kekecilan, terutama di bagian dada.

Tak lama kemudian, Sia Su Beng sudah memimpin dua losin perajurit berkuda menuju ke pintu gerbang sebelah barat.

Para penjaga berikut komandan mereka tentu saja tidak berani menghalangi , bahkan memberi hormat kepada Sia Su Beng, apa lagi ketika dengan singkat Sia Su Beng memberi tahu bahwa ia dan pasukannya akan melakukan pengejaran ke luar kota terhadap kawanan pembunuh kaisar, mereka semua bergembira karena merasa yakin bahwa kalau langlima yang lihai ini yang melakukan pengejaran, tentu akan berhasil.

Pasukan itu terus menja lankan kuda sa mpai jauh meninggalkan kota raja.

Setelah malam lewat dan matahari mulai memuntahkan cahayanya di ufuk timur, barulah Sia Su Beng memberi isarat agar pasukannya berhenti dan beristirahat juga membiarkan kuda mereka makan dan minum.

Dia sendiri mengajak Kui Lan, Kui Bi dan Hui San menjauhkan diri dan mengajak mereka berca kap-cakap.

"Nah, sekarang kurasa kalian bertiga sudah aman untuk melanjutkan perjalanan ke barat, menyusul rombongan Sri baginda Kaisar Beng Ong di Secu-an."

"Terima kasih, ciangkun. Engkau memang hebat dan cerdik sekali. Biar mulai sekarang aku yang akan mengawal kedua enci adik Ini sampai mereka tiba di Se-cuan dengan selamat,"

Kata Hui San penuh semangat.

"Akupun mengucapkan terima kasih kepadamu, Sia "ciangkun,"

Kata Kui Lan, sengaja kini menyebut ciangkun kepada panglima itu.

ia tidak dapat lagi bersikap akrab kepada panglima yang pernah dikaguminya itu setelah mengetahui bahwa panglima itu akrab sekali dengan adiknya.

"Engkau telah menyelamatkan adikku, juga berhasil membawa kami bertiga keluar dari kota raja dengan selamat."

"Tidak, aku tidak mau pergi!"

Tiba-tiba Kui Bi berkata sambil mendekati Sia Su Beng.

"Twako, bagaimana mungkin aku pergi kalau engkau masih tinggal di kota raja? Tidak, aku bukan pengecut yang meninggalkan begitu saja. Aku tidak mau pergi. Kalau engkau kembali ke kota raja, akupun harus kembali ke sana!"

"Bi-moi, jangan bicara begitu", kata encinya.

"Kita bukan pengecut kalau pergi dari kota raja. Kita bukan sekedar melarikan diri karena takut akan tetapi kita akan bergabung dengan kakak Cin Han di sana. Sia-ciangkun harus kembali ke kotaraja di mana dia bertugas dan kita membagi pekerjaan yaitu kita membantu pasukan Sribaginda dan Sia-ciangkun me mbantu dari dalam."

"Benar, Bi-moi. Jasamu sudah cukup besar dengan membunuh An Lu Shan dan sementara ini engkau harus meninggalkan kota raja."

"Sekali lagi tidak, twako. Aku harus ikut engkau kembali ke kota raja untuk membantumu. Bahaya kita tempuh bersama. Kalau engkau tidak mau menyelundupkan aku ke dalam kota raja, aku dapat menyusup sendiri,"

Kata Kui Bi dengan nekat.

Gadis yang keras hati ini tahu benar bahwa kalau ia harus berpisah dari pria yang dikasihinya, hati nya akan selalu merasa sengsara karena pria itu berada di kota raja, tempat yang amat berbahaya dengan segala pergolakannya.

Sia Su Beng menghela napas panjang, bukan karena penyesalan, melainkan karena lega dan senang.

Dia sendiri sudah jatuh cinta kepada Kui Bi dan ia sedang merencanakan cita-cita besar.

Akan lebih mantap hatinya kalau dia dekat dengan gadis yang dikasihinya, apa lagi dia me mbutuhkan tenaga orang gadis perkasa seperti Kui Bi.

"Baiklah, Bi-moi. Kalau itu kehendakmu, engkau boleh ikut aku kembali ke kota raja dengan menyamar sebagai perajurit."

Bukan main girangnya hati Kui Bi sambil memegangi kedua tangan panglima itu, ia berseru.

"Koko, terima kasih! Aku akan membantumu dengan taruhan nyawaku!"

Kemudian ia mengha mp iri dan merang kul encinya.

"Enci Lan, kalau engkau bertemu kakak Cin Han, ceritakan semuanya dan bahwa aku berada di kota raja membantu perjuangan dari da la m bersa ma Sia-koko."

Kemudian ia menambahkan bisikan di dekat telinga encinya.

"Enci, aku cinta padanya."

Kui Lan mencium pipi adiknya dan matanya menjadi basah, ia terharu dan juga berbahagia bahwa adiknya telah menemukan cintanya, ia mengenal adiknya orang yang berhati keras dan sekali jatuh cinta, ia akan mempertahankannya mati-matian.

"Pergilah, adikku. Kita akan berkumpul kembali dalam keadaan yang lebih baik."

Sia Su Beng lalu membawa pasukannya kembali.

Pasukan itu kini berkurang dua orang, tinggal duapuluh dua orang.

Akan tetapi, Sia Su Beng tidak membawa pasukannya langsung pulang ke kota raja, melainkan mengajak mereka menyerbu sebuah bukit kecil penuh hutan yang dia tahu benar merupakan sarang gerombolan perampok.

Gerombolan perampok itu diserbu dengan tiba-tiba, menjadi panik dan mencoba melakukan perlawanan.

Akan tetapi, Sia Su Beng dan Yang Kui Bi mengamuk sehingga para perampok terdesak, banyak yang tewas atau terluka dan sisanya melarikan diri.

Sia Su Beng menawan empat orang anggauta perampok yang terluka dan bersama Kui Bi dia mengajak empat orang ini ke pinggir.

"Sekarang terserah kalian, masih inngin hidup ataukah memilih mati. Kalau ingin hidup, kalian harus menaati perintahku setelah tiba di kota raja,"

Kata Sia Su Beng.

Empat orang perampok yang luka-luka ringan itu tentu sudah menganggap bahwa mereka akan dibunuh, kini mendengar bahwa ada harapan bagi mereka untuk tinggal hidup, tentu saja mereka cepat menyambar harapan itu, betapapun kecilnya.

"Kami minta hidup, ciangkun!"

Kata mereka.

"Baik, mulai sekarang kalau ada orang bertanya, siapa saja dia, kalian harus mengakui bahwa kalian adalah kaki tangan Bouw Koksu dan kalian mendapat perintah dan tugas Bouw Koksu untuk membunuh kaisar."

"Wah, kalau begitu kami tentu akan dihukum berat ! "

"Tidak, kami yang akan melindungimu dan membebaskan kalian dari hukuman. Akan tetapi kalau kalian tidak mau, sekarang juga kalian akan ka mi bunuh. Baga imana?"

Terpaksa empat orang itu menyanggupi dan Sia Su Beng memberi tahu apa yang harus mereka jawab kalau datang pertanyaan-pertanyaan tentang usaha pembunuhan kaisar An Lu Shan.

Mereka di beri tahu nama-nama kaki tangan Bok Koksu yang bekerja di dapur dan yang menjadi dayang sampai yang menjadi thai-kam.

Mereka harus menghafalkan semua jawaban itu.

Dalam perjalanan menuju ke kota raja, Sia Su Beng diam"diam menyuruh beberapa orang perajuritnya menguji empat orang itu, mengajukan pertanyaan di luar tahu Sia Su Beng.

Ada yang bertanya sambil menggertak dan mengancam, ada pula yang bertanya dengan bujukan dan janji hadiah dan kebebasan.

Dan di antara empat orang itu, ternyata yang tetap mengatakan bahwa mereka adalah kaki tangan Bouw Koksu hanya dua orang.

Yang dua orang lagi ragu-ragu dan tanpa banyak cakap lagi, di depan dua orang yang lain, Sia Su Beng membunuh mereka dengan pedangnya!

Hal ini tentu saja membuat dua orang anggauta perampok menjadi semakin ketakutan dan mereka bertekad untuk menaati perintah panglima Itu, apapun yang terjadi nanti pada diri mereka.

Kui Bi dapat mema klu mi kekeja man Sia Su Beng membunuh dua orang perampok itu karena kalau mereka dibebaskan, mereka tentu akan membocorkan rahasia siasat yang sedang dilakukan Sia Beng.

Pasukan yang membawa dua tawanan itu memasuki pintu gerbang pada sore harinya dan Sia Su Beng segera mengundang para panglima ke markasnya.

Dia mengadakan pertemuan rahasia dengan para panglima, baik para panglima yang mendukung An Lu Shan maupun para panglima yang dia m-dia m secara rahasia mendukung Kerajaan Tang.

Hanya para panglima yang menjadi kaki tangan Bouw koksu dan Pangeran An Kong saja yang tidak diundang dala m rapat rahasia itu.

Karena semua orang masih dalam keadaan tegang dan panik dengan kematian An Lu Shan, para panglima itu bergegas datang karena mereka maklum bahwa tentu ada berita penting yang akan di sampaikan Panglima Sia Su Beng yang selain menjadi kepercayaan An Lu Shan juga agaknya dekat dengan Bouw Koksu itu.

"Para rekan panglima yang terhomat, saya mengundang anda sekalian berkumpul untuk menyampaikan berita yang teramat penting dan juga tentu akan mengejutkan hati cu-wi (anda) sekalian. Berita itu ada hubungannya dengan kematian Sribaginda yang keracunan."

Dia sengaja berhenti sebentar untuk memberi tekanan kepada kata-katanya tadi.

Semua panglima yang ju mlahnya tujuh orang itu benar saja a mat tertarik dengan gaduh mereka bertanya apa yang telah terjadi dan apakah berita itu.

"Ketika terjadi peristiwa kematian Sribaginda kemarin ma la m itu, saya mendapat keterangan dari penyelidik saya bahwa pelaku pembunuhan dapat melarikan diri keluar kota raja. Mereka bergabung dengan kawan-kawan mereka, itu gerombolan perampok di Bukit Bambu Kuning. Saya cepat membawa dua losin perajurit melakukan pengejaran malam tadi juga, dan tadi kami berhasil menyerbu, menewaskan beberapa orang dan menawan dua orang. Dua orang perajurit kami gugur. Dan dari pengakuan dua orang tawanan kami itu, ternyata bahwa mereka adalah kaki tangan Bouw Koksu dan Pangeran An Kong. Mereka hanya menerima perintah dari kedua orang itu yang mengatur semua rencana untuk meracuni kaisar."

"Ahhh!!"

Para panglima itu mengeluarkan seruan kaget dan juga heran.

"Bagaimana mungkin itu? Bouw Koksu adalah seorang kepala suku Khitan yang berjasa dan mendapat anugerah Kaisar dengan pangkat tertinggi, sebagai Guru Negara. Dan Pangeran An Kong, untuk apa harus membunuh ayahnya sendiri? Bagaimanapun, kelak dia yang berhak menggantikan kedudukan ayahnya,"

Beberapa orang meragu.

"Kami sendiri kalau tidak mendengarkan tawanan anak buah gerombolan itupun tentu tidak akan percaya,"

Kata Panglima Sia Su Beng.

"Akan tetapi hendaknya diingat bahwa memang terjadi ketegangan antara Kaisar dan Pangeran An Kong. Pertama, urusan perebutan selir itu, dan kedua, permintaan pangeran yang tergesa ingin diangkat menjadi Pangeran Mahkota. Bagaimanapun juga, sebaiknya kalau kita bersama mendengarkan sendiri keterangan dua orang tawanan itu."

Dia lalu memerintahkan anak buahnya untuk menyeret kedua orang tawanan itu ke dala m ruangan rapat.

Tak lama kemudian, dua orang tawanan itu didorong masuk dan mereka menjatuhkan diri berlutut dengan wajah pucat ketakutan melihat para panglima memandang kepada mereka dengan sinar mata penuh selidik.

"Heii, sekarang di depan panglima, kalian berdua harus menjawab dengan benar, kalau tidak, kalian akan disiksa sampai mati!"

BentakSia-ciangkun..

"Coa-ciangkun, harap suka mengajukan pertanyaan kepada mereka,"

Katanya kepada seorang panglima tinggi besar yang terkenal setia kepada An Lu Shan dan yang paling meragukan keterangannya tadi.

Coa-ciangkun adalah panglima tinggi besar yang berwatak keras.

Dia duduk menghadapi dua orang yang berlutut itu dan membentak.

"Angkat muka kalian dan pandang padaku!"

Dua orang anak buah gerombolan perampok itu mengangkat muka mereka memandang dan wajah mereka ketakutan, terbayang pada mata mereka yang terbelalak liar.

Padahal, biasanya mereka adalah para perampok yang ganas, mudah menyiksa dan membunuh orang sambil tertawa.

Kini nampaklah bahwa orang-orang yang suka berbuat kejam itu pada dasarnya merupakan orang-orang yang pengecut dan penakut kalau berhadapan denggan kekuasaan yang lebih besar, kalau berada dala m ancaman maut.

"Ampun, ampunkan kami, thai-ciangkun...."

Mereka meratap.

"Ceritakan, apa yang telah kalian lakukan sehubungan dengan kematian Kaisar! Jawab sejujurnya atau kupatahkan kaki tanganmu!"

Dua orang anggauta perampok itu ge metar. Mereka memandang kepada panglima Sia Su Beng dan panglima ini membentak.

"Hayo cepat jawab dan ceritakan seperti yang kalian ceritakan kepadaku!"

"Ampun, ciangkun kami.... kami hanya diperintah. Kami diperintah untuk menghubungi rekan-rekan kami di dapur istana, menyerahkan sebungkus racun dan menaruhnya di masakan khas kege maran Sribag inda.... ampun ka mi hanya melaksanakan perintah"

"Perintah siapa?"

Bentak Coa-ciang kun.

"Perintah... perintah Bouw Koksu dan Pangeran"

"Siapa saja rekan-rekan kalian yang menjadi anak buah Bouw Kokso yang bekerja di dekat Sribaginda? Jawab?"

Kini Sia Su Beng yang membentak.

Dua orang itu dengan bergantian menyebutkan nama beberapa orang dayang, thai"kam dan juru masa k yang menjadi kaki tangan Bouw Koksu dan diselundupkan ke dalam istana, seperti yang telah mereka hafalkan dari pemberitahuan Sia Su Beng.

Para panglima menjadi marah sekali, dan keraguan mereka menipis.

"Jahanam busuk! Kalian telah berani melaksanakan perintah Bouw Koksu dan Pangeran Untuk meracuni Sribaginda!"

Sia Su Beng membentak, dan marah sekali.

"Ampun.... hamba berdua hanya melaksanakan perintah.... hamba mohon ampun..."

"Keparat!"

Tiba-tiba tangan Sia Su Beng bergerak dan dua orang itu terpelanting roboh dan tewas seketika karena kepala mereka menerima pukulan maut panglima itu. Semua panglima terkejut.

"Ah, kenapa engkau membunuh mereka, Sia-ciangkun? Bukankah mereka itu menjadi saksi dan bukti bahwa pembunuhan itu direncanakan oleh Bouw Kok dan Pangeran?"

Para panglima menegur "Hemm, untuk apa menyiarkan rahasia busuk ini kepada orang luar?

Bukankah itu hanya akan memalukan saja?

Pangeran yang kita anggap sebagai pengganti Kaisar kelak, ternyata adalah orang anak yang tega membunuh ayah sendiri!

Dan Bouw Koksu ternyata seorang hamba yang pengkhianat dan tidak setia.

Bagaimana kita dapat membiar berita busuk ini terdengar orang?"

"Akan tetapi besok pagi Pangeran An Kong akan mengumumkan bahwa dia menggantikan Sri baginda yang wafat menjadi Kaisar baru!"

Kata Coa-cian kun.

"Coa-ciangkun, haruskah kita biarkan saja hal itu terjadi? Bagaimana mungkin kita membela seorang kaisar yang tega me mbu nuh ayah kandung sendiri? Ka lau dia tega terhadap ayah kandung sendiri, apa lagi terhadap kita orang-orang lain. Selama kita dapat dipergunakan, dia bersikap baik, akan tetapi setelah kita tidak dibutuhkan tentu kitapun akan dibunuh dengan keja m seperti yang dia lakukan terhadap ayahnya."

Mendengar ucapan Sia Su Beng itu, semua panglima tertegun.

Mereke melihat betapa masa depan mereka suram kalau pangeran An Kong dibiarkan menjadi kaisar.

Apa lagi di antara para panglima itu banyak yang berdarah Han.

kalau pendukung uta ma Pangeran An Kong adalah Bouw Koksu, tentu orang Khitan ini yang akan memegang peranan penting dan mereka semua hanya akan menjadi bawahannya saja.

"Kita tidak boleh membiarkan Pangeran durhaka itu menjadi kaisar!"

Akhirnya Coa-ciangkun berkata. Semua panglima setuju.

"Lalu apa yang harus kita lakukan, Sia-ciangkun?"

"Kalau cu-wi ciang-kun percaya kepadaku, serahkan saja urusan ini kepadaku. Aku yang akan bertindak mencegah pangeran menjadi kaisar."

"Tentu saja ka mi percaya kepadamu, Sia-ciangkun. Akan tetapi kalau pasukan pendukung pangeran menggunakan kekerasan?"

"Kita hadapi mereka. Kita harus mempersiapkan pasukan kita secara diam diam, membuat barisan mengepung istana, menjaga kalau mereka menggunakan kekerasan,"

Kata Sia"ciangkun dan semua orang setuju.

Demikianlah, Sia Su Beng dengan cerdik seka li telah berhasil membuat para panglima menentang pangeran dan Bouw Koksu, dan menunjuk dia sebagai panglima pimpinan.

"Ehh? Kenapa melamun dan terima saja memandang ke arah perginya Sia ciangkun dengan pasukannya? Wah, kau agaknya kehilangan setelah ditinggalkan panglima yang gagah itu, ya?"

Hui San menggoda. Kui Lan membalik dan memandang pemuda itu dengan alis berkerut dan mata marah.

"Souw-twako, aku tahu engkau main-main, akan tetapi jangan keterlaluan kalau main-main. Engkau tahu sendiri betapa adikku Kui Bi saling mencinta dengan Sia-ciangkun, bagaimana engkau sekarang berani menggoda ku seperti itu?"

"Maaf, seribu kali maaf, Lan-moi.. Aku aku hanya main-main. Habis, engkau na mpa k mela mun seperti itu ih, tidak cepat-cepat kita mulai melakukan perjalanan kita yang amat jauh ke barat!"

Karena pemuda itu minta maaf dengan wajah yang sungguh-sungguh menyatakan penyesalannya, Kui Lan yang lembut hati sudah melupakan singgungan itu.

"Twako, aku tidak akan pergi ke barat."

"Ehh ?"

Wajah yang tadinya penuh senyum itu kini terbelalak dan melongo.

"Apa maksudmu? Kenapa,. Lan-moi?"

Dalam sinar mata pemuda itu timbul sesuatu yang membuat hati Kui Lan mengkal lagi.

Pandang mata cemburu!

"Kenapa kau tanya?

Twako, bagaimana mungkin aku pergi dan membiarkan adikku sendirian saja kembali ke kota raja?"

"Aihh, bukankah kita semua sudah membagi tugas, Lan"moi? Dan adikmu tidak kembali kesana sendirian, melainkan bersama Sia-ciangkun yang dicintanya. Sia-ciangkun akan me lindu nginya kukira engkau tidak perlu khawatir."

"Bukan hanya karena adikku Kui Bi saja, twako. Juga kita tidak mungkin pergi ke barat dengan meninggal sesuatu yang teramat penting. Lupakah engkau bahwa Mestika Burung Hong Kemala masih berada di kebun rumah yang kini ditempati Bouw Koksu? Dan hanya kita berdua yang mengetahui tempat itu. Bagaimana mungkin kita berdua pergi meninggalkan pusaka itu di sana? Tidak twako. Sebaiknya kita membagi tugas lagi. Engkau saja ke barat dan melapor kepada kakakku Cin Han dan kepada Sri baginda, sedangkan aku akan kemba li ke kota raja. Kalau ada kesempatan, aku akan mengambil Mestika Burung Hong Kemala itu dan setelah aku mendapatkan pusaka itu, barulah aku akan menyusul ke barat. Apa artinya kita menghadap Sribaginda di barat kalau tanpa membawa pusaka itu?"

Hui San mengerutkan alisnya, wajahnya yang tampan kehilangan kecerahnya, kemudian dia mengangguk-angguk.

"engkau memang seorang gadis yang hebat, Lan-moi. Engkau cantik jelita,lembut, lihai dan juga cerdik bukan main. aku salut! Mari kita kembali ke kota raja. Engkau benar sekali!"

"Kita? Maksud ku, kita membagi tugas, engkau melanjutkan perjalanan ke barat dan aku kembali ke kota raja..."

"Tidak mungkin, Lan-moi. Aku membiarkan engkau kembali seorang diri ke kota raja? Aku belum sinting! Kemanapun engkau pergi, aku harus menemani, Lan-moi.... yaitu... kalau engkau suka tentu saja. Aku tidak ingin engkau terancam bahaya, hidupku tida k akan beres lagi kalau kita berpisah dan aku selalu meng khawatirkan keselamatan mu."

Kui Lan menatap wajah pe muda itu.

Wajah yang tampan dan selalu nampak riang, dengan senyum yang sukar meninggalkan bibir itu, dan mata yang lalu memandang Jenaka, wajah yang nampaknya tidak dapat susah, tidak dapat marah dan tidak dapat serius.

Baru sekarang, atau semenjak hatinya melepaskan Sia Su Beng karena perwira itu mencinta dan dicinta adiknya, ia memperhatikan pemuda ini.

"Souw-twako, kita baru saja berkenalan, kenapa engkau begini me mperhatikan aku?"

"Baru berkenalan? Aih, Lan-moi semenjak aku berpura-pura sinting menganggu dahulu itu, aku sudah mulai mengenalmu dengan baik, dan biarpun akhirnya kita belu m berkenalan, namun clalam bathinku, engkau telah menjacli seorang sahabatku terbaik."

"Tapi, kenapa engkau begini memperdulikan aku, meng khawatirkan keselamatanku? Kita ticlak me mpunyai kaitan apapun, orang lain clan ticlak acla hubungan apa-apa..."

"Lan-moi, bukankah kita sama-sama memperjuangkan bangkitnya kembali kerajaan Tang? Kita seperjuangan! Dan biarpun bagimu cli antara kita ticlak acla kaitan apapun, bagiku acla kaitannya yang erat sekali. Lan-moi, maafkan aku kalau aku berterus-terang kepaclamu. Sejak aku melihatmu, aku aku tahu bahwa hiclupku ticlak acla artinya lagi tanpa aclanya engkau cli clekatku. Aku...... agaknya seperti inilah rasanya cinta seperti yang pernah kubaca clalam clongeng, yakni kalau boleh aku lancang mulut mengaku cinta padamu..."

Pemuda yang biasanya lincah jenaka dan pandai bicara itu, kini mendadak saja menjadi gagap gugup dan salah tingkah, bahkan tidak berani memandang langsung kepada gadis itu!

Melihat ini, Kui Lan tersenyum geli.

Betapa muclahnya untuk menyukai pemuda ini, pikirnya.

Memang tidak seperti Sia Su beng yang gagah clan berwibawa, juga memiliki kekuasaan.

Akan tetapi Souw Hui San ini ticlak kalah tampan walau nampak ugal-ugalan dan seclerhana, dan juga ia merasa yakin bahwa dalam hal ilmu silat, pemuda murid Gobi-pai ini tidak kalah lihai dibandngkan Sia Su Beng.

Akan tetapi baru saja ia seperti kehilangan Sia Su Beng, mengalah terhadap adiknya, bagaimana ia dapat begitu cepat membalas cinta seorang pemuda ini?

"Souw-twako, engkau seorang yang gagah dan baik sekali, bahkan telah berulangkali menolongku.

Terima kasih atas perhatianmu kepaclaku, akan tetapi, twako, dalam keadaan seperti seorang ini, di mana tugas menanti kita bagaimana kita dapat bicara tentang perasaan hati pribadi kita?

Maafkan kalau aku belum dapat menanggapi dan jawabmu sekarang.

Akan tetapi aku suka sekali bekerja sama denganmu twako dan kalau me mang engkau menghedaki kita kembali bersama ke kota raja, demi adikku, demi pusaka itu, akupun akan merasa senang sekali."

Wajah itu menjadi segar kembali, matanya berkilat dan bersinar-sinar, mulutnya dih iasi senj u mnya yang ge mbira.

"Wah, apa lagi yang kuinginkan? Ka lau engkau tidak marah oleh ucapanku tadi, kalau engkau membiarkan aku menemanimu, hal itu sudah merupakan berkah yang membahagiakan hatiku, Lan-moi. Engkau benar, aku yang lancang mulut, belum tiba saatnya kita bicara tentang.... eh, itu...! Mari kita kembali ke kota raja!"

Akan tetapi tiba-tiba mereka menghentikan percakapan dan memandang arah barat.

Telinga mereka menangkap derap kaki kuda yang datangnya dari arah barat.

Tak lama kemudian, jauh di depan, muncul dari baliktikungan, tampak dua orang penunggang kuda membalapkan kuda mereka.

Debu mengepul tinggi ketika dua ekor kuda besar itu semakin mendekat.

"Heiii.. Itu Han-koko !"

Kata Kui Lan.

"Benar, dan bukankah itu nona Can Kim Hong??"

Teriak pula Hui San. karena tadinya mereka sengaja bersembunyi ke balik pohon karena curiga dan belum tahu siapa yang datang, kini meeeka keluar dan berteriak-teriak memanggil.

"Han-koko ! Heii, Han-koko..!! "Nona Kim Hong...!"

Dua orang penunggang kuda yang tadinya sudah lewat itu, mendengar panggilan mereka dan menahan kuda yang sedang memba lap.

Kuda berhenti dengan mengangkat kedua kaki depan keatas sambil meringkik karena penunggangn menahan kendali.

Mereka membalik dan melihat Kui Lan dan Hui San.

"Lan-moi...! Saudara Hui San... !!"

Cin Han berseru gembira melihat mereka berdua.

Dia dan Kim Hong segera berlompatan turun dari atas kuda, menambatkan kuda di pohon dan mereka lalu disambut oleh Hui Lan dan Hui San dengan gembira sekali.

Lalu keempatnya duduk di atas batu di tepi jalan itu "Eh, kenapa kalian berdua berada di sini?

Dan mana Kui Bi?

Apa saja yang terjadi di kota raja?"

Cin Han bertanya. Dihujani pertanyaan itu, Kui Lan tersenyum.

"Wah, banyak sekali yang terjadi di sana, koko. Kini Bi-moi baru saja tadi ikut pasukan Sia-ciangkun kembali ke kota raja dan kamipun hendak kembali ke sana. Kau tahu, Han-ko, Bi-moi telah berhasil membunuh An Lu Shan!"

"Ahhh...!!"

Kim Hong dan Cin Han berseru hampir berbareng karena mereka terkejut dan juga gembira mendengar berita itu.

"Bukan main adik kita itu! ia memang penuh keberanian. Ceritakan, bagaimana terjadinya, Lan-moi?"

Tanya Cin Han.

Kui Lan dan Hui San lalu menceritakan tentang semua yang terjadi, betapa Kui Bi berhasil menyusup sebagai dayang, kemudian ia malah dipergunakan oleh Pangeran An Kong dan Bouw Koksu untuk meracuni An Lu Shan.

Kemudian mereka menceritakan betapa mereka semua dapat diselundupkan keluar dari kota raja dengan menyamar sebagai perajurit"perajurit dalam pasukan Sia Su Beng.

"Ah, bagus sekali kalau begitu! dan sekarang, di mana Bi"moi? Aku ingin memberi selamat atas keberhasilannya!"

Kata Cin Han gembira dan bangga bahwa adiknya berhasil membunuh An Lu Shan, hal ini merupakan suatu jasa yang amat besar.

"Setelah pasukan yang dipimpin Sia Su Beng sampai di sini dan kami di anjurkan pergi ke barat, Bi-moi tidak mau ikut dengan ka mi dan me ma ksa ikut Sia Su Beng ke mba li ke kotaraja. Kau tahu, koko, aclik kita itu ticlak clapat berpisah clari Sia Su Beng, mereka sa ling mencinta."

Cin Han mengangguk-angguk.

Dia ticlak merasa heran.

Sia Su Beng aclalah seorang pe mucla yang tampan dan gagah juga seorang penclekar dan seorang pejuang yang setia kepada Kerajaan Tang.

Sudah sepatutnya kalau pemuda seperti itu mendapatkan kasih sayang Kui Bi.

"Dan kalian hendak melakukan jalan ke barat?'"

Tanyanya sambil memandang kepada Hui San. Kui Lan memandang kepada Hui San dan pemuda ini yang menjawab sambil tersenyum.

"Tadinya memang kami akan menyusul ke barat, akan tetapi ka mi berclua menga mb il keputusan untuk kembali saja ke kota raja setelah keaclaan aman. Pertama, aclik Kui Lan tidak tega mening galkan adiknya di kota raja yang masih berbahaya, dan ke dua, kami juga tidak mungkin dapat meninggalkan Mestika Burung Hong Kemala yang kami sembunyikan itu. Kami harus mengambilnya dulu dan mengeluarkannya dari kota raja."

"Kalau begitu, bagus sekali. Kami juga henclak ke kota raja. Kita haus membantu Sia-ciangkun dan juga aclik Kui Bi,"

Kata Cin Han.

"Koko, bagaimana sih engkau clan enci Kim Hong clapat cepat kembali ke sini? Bagaimana keadaan di barat sana?"

Tanya Kui Lan dan kini giliran Cin Han dan Kim Hong yang menceritakan pengalaman mereka.

"Di sana juga telah terjadi banyak hal, dan yang terpenting aclalah bahwa sekarang Sri bagincla Hsuan Tsung telah menyerahkan mahkota kepacla Pangeran Mahkota, sehingga yang menjacli kaisar aclalah Kaisar Su Tsung. Kami telah menghaclap kaisar dan bertemu dengan Panglima Kok Cu It. Kami melaporkan semua yang telah terjacli di kota raja Biarpun Panglima Kok Cu It juga suclah banyak menclengar laporan dari para mata-mata yang dikirim ke sana, namun laporan kami banyak gunanya, terutama tentang usaha Bi-moi menyusup ke istana untuk membunuh An Lu Shan. Kaisar dan panglima Kok menghargai sekali bantuan kita.

"Bagaimana clengan kekuatan pasukan kerajaan Tang di barat?"

Tanya Hu San.

"Baik sekali, Panglima Kok Cu It dan Kaisar telah berhasil menghimpun kekuatan cli sana. Dengan memperlihatkan Mestika Burung Hong Kemala, yang kita ketahui aclalah palsu akan tetap ticlak cliketahui oleh para kepala suku cli barat, mereka berhasil menclapatkan bantuan rakyat berbagai suku. Baik pribumi Han sencliri, maupun suku-suku lain, dibantu pula oleh bangsa Turki bahkan ada pasukan yang dikirim oleh kepala bangsa itu, yaitu Caliph yang mengirimkan sepasukan bangsa Arab untuk membantu gerakan pasukan Kerajaan Tang yang henclak merebut kembali tahta kerajaan yang telah dirampas An Lu Shan."

"Ah, bagus sekali kalau begitu, kapan mereka bergeraki"

Tanya Hui San.

"Mereka suclah siap bergerak, karena itu kami diperintahkan untuk menclahului clan mempersiapkan bantuan bersama S ia-ciangkun"

"Enci Hong, bagaimana dengan usahamu mencari ayah kandungmu? Apakah berhasil?"

Tanya Kui Lan. Kim Hong tersenyum manis dan mengerling kepada Cin Han.

"Berkat bantuan kakakmu, aku berhasil bertemu dengan ayah kandungku yang aseli. Ayahku memang bernama Can Bu dan sampai kini ia masih seorang perwira kepercayaan Panglima Kok Cu It."

"Wah, ayahnya seorang perwira yang gagah perkasa, sama sekali tidak seperti Ciang Kui yang mengaku-aku ayahnya itu!"

Kata Cin Han tertawa.

"Ayahnya seorang perwira yang lihai, juga setia kepada kerajaan. Aku ikut merasa bangga dan kagum bertemu dan berkenalan dengan ayahnya"

"Maksumu dengan calon ayah mertuamu, koko?"

Kui Lan menggoda.

"Ihhh, Kui Lan!"

Kim Ho mendengus dan mukanya berubah kemerahan.

Cin Han hanya tersenyum dan mengeling ke arah Hui San.

Biarpun dia belum jelas, namun dia dapat menduga bahwa adiknya inipun agaknya akrab dengan pendekar muda Gobi-pai ini.

Namun, dia tahu bahwa watak Kui Lan halus dan pendiam, tidak seperti Kui Bi, maka tidak baik menggoda adiknya yang satu ini.

"Sudahlah, sekarang kita berempat ke kota raja, akan tetapi harus diatur bagaimana baiknya karena setelah terjadi peristiwa pembunuhan An Lu Shan, tentu geger di sana dan kota raja tentu dijaga ketat,"

Kata Cin Han.

"Memang sebaiknya kita berhati hati,"

Kata Hui San.

"Kita bersembunyi di luar kota raja saja dan mencoba untuk menghubungi Sia-ciangkun. Hanya dia yang akan dapat mengatur apa yang harus kita lakukan untuk me mbantunya kota raja."

"Benar, tanpa petunjuk Sia-ciangkun, sukar bagi kita untuk memasuki kotaraja,"

Kata Kui Lan.

Demikianlah, empat orang muda itu lalu menunggang kuda mereka, menuju kota raja.

Akan tetapi mereka tidak langsung memasuki kota raja yang terjaga ketat seperti yang mereka sangka, melainkan berhenti di dusun yang berada sekitar duapuluh li dari kota raja.

Laki-laki petani berusia Limapuluhan tahun itu tidak diganggu oleh para penjaga di pintu gerbang ketika dia memasuki pintu gerbang sambil memikul dagangannya, yaitu sepikul buah apel yang besar-besar dan menyiarkan bau harum.

Para penjaga itu hanya memungut berapa butir buah apel sambil tertawa-tawa.

Petani itu tidak perduli.

Dia sudah biasa membawa barang dagangan buah-buahan atau sayuran ke dalam kota dan sudah biasa pula kalau ada anggauta penjaga yang mengambil beberapa butir buah atau beberapa ikat sayuran.

Akan tetapi dia tidak diganggu dan pada pagi hari ini, hal itu amatlah di harapkan.

Tidak seperti biasanya, sekali ini diam-diam jantungnya berdebar keras karena tegangnya.

Pagi ini si petani tidak seperti biasanya menjual buah-buahan, melainkan membawa tugas yang amat penting, tugas rahasia yang kalau sampai ketahuan penjaga di pintu gerbang kota raja, pasti akan mengakibatkan dia dihukum siksa sampai mati!

Dia adalah seorang petani dusun di luar kota raja yang biasa berjualan sayur dan buah ke kota, akan tetapi biarpun dia hanya seorang petani biasa, namun dalam hatinya dia setia kepada Kerajaan Tang.

Hal ini diketahui oleh Cin Han, Hui San, Kui Lan dan Kim Hong setelah empat orang muda ini tinggal agak lama beberapa hari di dusun itu.

Setelah yakin bahwa A-cauw, petani itu, dapat dipercaya dan setia kepada Kerajann Tang, Cin Han lalu menitipkan sepucuk surat kepada A-cauw dengan pesan agar surat itu dapat disampaikan kepada Panglima Sia Su Beng.

Dia harus menunjung i benteng dan minta bertemu dengan panglima itu, dengan alasan bahwa diaa mempunyai laporan penting yang harus disampaikan kepada panglima itu sendiri, mengenai keamanan kota raja, dan setelah berhadapan, menyerahkan surat titipan Cin Han itu.

Biarpun beberapa kali ada orang hendak membeli buah"buahan yang berada dalam keranjang pikulannya, A-cauw tidak menjua lnya.

Dengan pikulan keranjang penuh buah, tidak akan ada yang mencurigainya walaupun dia berjalan sampai ke depan benteng yang dima ksudkan.

Dia sengaja menghampiri penjaga gardu depan pintu benteng dan menurunkan pikulannya.

"Heii, penjual buah! Jangan menawarkan buah-buahanmu di sini, dan jangan berhenti di sini. Di larang!"' kata seorang penjaga kepadanya. A-cauw mengipasi tubuhnya yang berkeringat dengan capingnya yang lebar dan diapun berkata dengan sikap takut"takut akan tetapi hormat.

"Saya mohon menghadap Panglima Sia Su Beng. Harap suka memperkenankan saya menghadap beliau."

Para penjaga memandangnya dengan alis berkerut.

"Hemm, engkau ini petani penjual buah, mau minta bertemu dengan Panglima Sia ? Apakah hendak menghadiahkan dua keranjang buah itu? Jangan macam-macam engkau, atau kau akan di tangkap!"

"Saya tidak berniat jahat, saya mohon menghadap karena saya ingin melaporkan sesuatu yang teramat penting dan yang boleh didengar hanya oleh bekiiau sendiri."

"Hemm, jangan mengigau kau! Seorang petani seperti engkau ini bagaimana dapat menghadap Panglima? Kalau ada urusan, laporkan saja kepada kami dan ka mi yang akan meneruskan kepada beliau. Jangan kurang ajar kau!"

Dibantah seperti itu, A-cauw tidak menjadi gugup karena sebelumnya dia sudah diperingatkan Cin Han kalau kalau dibentak seperti itu.

"Harap saudara sekalian ketahui bahwa dahulu, Panglima Sia Su Beng adalah langganan saya, sering membeli sayur dan buah-buahan dari saya. Saya mengenal baik beliau dan apa yang akan saya sampaikan ini mengenai urusan keamanan di kota raja. Kalau kalian tidak mau menghadapkan saya kepada beliau dan kelak beliau mengetahui, tentu kalian akan mendapat kesalahan besar sekali."

Digertak malah berbalik menggertak!

Tentu saja kalau tidak mendapat pelajaran dari Cin Han, seorang petani seperti A"cauw mana berani menggertak para perajurit penjaga?

Mendengar ucapan itu, para perajurit saling pandang dan merasa gentar juga.

Mereka semua tahu betapa kerasnya Panglima Sia Su Beng terhadap ketertiban, dan panglima itu memang selalu menghargai rakyat jelata, tidak pernah congkak seperti para panglima lainnya.

Oleh karena itu, dengan kasar mereka minta A-cauw menanti sebentar.

Setelah ada yang melapor, A-cauw diperkenankan masuk.

Petani itu dengan berterima kasih berkata.

"Terima kasih atas kebaikan kalian dan untuk membalas kebaikan itu, silakan kalau ada yang mau mencicipi buah apel saya. Dihabiskan boleh!"

Dia meninggalkan keranjangnya dan tanpa diminta untuk ke dua kalinya, para penjaga yang sedang keisengan itu lalu menyerbu dua keranjang apel.

Kawan-kawan mereka yang berada di dalam ikut-ikutan keluar dan sebentar saja isi dua keranjang sudah habis!

Panglima Sia Su Beng merasa heran bukan main menerima laporan bahwa ada seorang petani penjual apel bernama A"cauw yang mohon menghadap.

Akan tetapi karena dia memang mempunyai hubungan dengan para pejuang, para pendukung kerajaan Tang dan menduga bahwa yang datang tentulah seorang kurir dari para pejuang yang berada di luar kota raja, maka dia bersikap biasa saja.

"Suruh dia masuk ke sini."

Ketika A-cauw memasuki ruang tertutup itu, A-cauw berkata lirih sekali, setelah melihat di situ tidak ada orang lain kecuali Panglima Sia SU Beng yang dikenalnya dari penggambaran Cin Han kepadanya.

"Saya datang disuruh Yang-kongcu."

Sia Su Beng terkejut, melihat ke sekeliling, lalu memberi isyarat kepada A-cauw untuk memasuki sebuah kamar samping di mana mereka dapat bicara dengan lebih bebas dan tidak khawatir di ketahui orang lain.

A-cauw menyerahkan surat dari Cin Han yang disimpan dengan hati-hati di balik bajunya, Sia Su Beng membaca surat yang tidak ditandatangi itu.

Hanya ditulis bahwa Han, Lan, San, dan Hong ingin dijemput.

Hanya itu.

Andai kata surat itu terjatuh ke tangan orang lainpun, tentu tidak akan tahu maksudnya karena tanpa tanda tangan juga tidak ditujukan kepada siapapun "Di mana mereka?"

Tanya Sia Su Beng.

"Di dusun sebelah timur kota ciangkun. Duapuluh li dari sini."

"Baik, katakan aku akan segera datang."

Ketika A-cauw hendak keluar, Sia Su Beng menahannya.

"Kalau ada yang tanya, katakan saja bahwa engkau meelapor adanya gerombolan mencurigakan di sebelah selatan kota."

A-cauw mengangguk, kemudian ke luar. Dia disa mbut seorang petugas jaga di luar dan penjaga ini me nga nta rka n nya kembali ke pintu gerbang benteng.

"Heii, A-cauw, buah-buahan dalam keranjang itu telah habis kami makan!"

Kata kepala jaga.

"Tidak apa, ciangkun. Memang itu untuk kalian. Terima kasih, saya hendak pulang."

"A-cauw, apa sih yang kau laporkan kepada komandan kami? Nampaknya rahasia benar!"

"Ahh, sebetulnya bukan rahasia, hanya aku takut kepada gerombolan itu. Aku melihat gerakan mencurigakan dari segerombolan orang di selatan kota raja. Karena aku tahu bahwa langgananku Sia-ciangkun adalah seorang panglima, maka aku melaporkan hal Itu kepadanya. Aku takut kalau gerombolan tahu aku melaporkan, aku akan dibunuh. Sudah, aku ingin cepat pulang. Aku sudah mendapat hadiah dari Sia"ciangkun ,"

Katanya dan diapun memikul keranjang kosongnya meninggal kan tempat itu.

Tak lama kemudian, para penjaga pintu gerbang benteng melihat Sia-ciangkun memimpin kurang lebih limapuluh orang perajuritnya berserabutan naik kuda keluar dari benteng.

Tanpa diberi tahu sekalipun, para penjaga itu dapat menduga bahwa ini tentu ada hubungannya dengan laporan A-cauw tadi dan agaknya sang panglima hendak memimpin sendiri pasukannya untuk menumpas gerombolan.

Di pintu gerbang kota rajapun, para penjaga memberi hormat kepada Sia Su Beng yang bersama pasukannya keluar dari pintu gerbang.

Kurang lebih limapuluh orang perajurit itu berkuda secara tidak teratur, bukan merupakan barisan rapi.

Agaknya mereka tergesa-gesa dan tidak membentuk barisan sehingga sukarlah andaikata ada yang hendak menghitung berapa jumlah regu perajurit itu.

Sia Su Beng sengaja keluar dari pintu gerbang selatan, akan tetapi setelah regunya meninggalkan pintu gerbang sejauh beberapa li, dia membelokkan pasukannya ke kanan, ke arah timur kota raja!

Setelah tiba di luar dusun, empat orang muda itu sudah menghadang di tempa sepi.

Sia Su Beng bersama seorang perajurit yang bertubuh kecil ramping melompat turun dari atas kuda dan menghampiri mereka.

Kui Bi yang berpakaian perajurit itu langsung merangkul kedua orang kakaknya bergantian saking girangnya dapat bertemu kembali.

"Bi-moi, kau hebat!"

Kata Cin Han gembira. Kemudian kepada Sia Su Beng dia berkata.

"Ciangkun, terima kasih atas segala kebaikanmu terhadap kedua adikku, terutama kepada Bi-moi."

Pasukan itu adalah orang-orang kepercayaan Sia Su Beng, dan mereka semua adalah orang-orang yang setia kepada kerajaan Tang.

Mereka semua mengetahui tentang rahasia Sia Su Beng, tahu siapa empat orang muda itu, maka mereka sengaja menjauhkan diri, membiarka pimpinan mereka bicara dengan para muda yang dijemput itu.

Sia Su Beng mengeluarkan empat perangkat pakaian perajurit untuk dipakai oleh Cin Han, Kui Lan, Hui San dan Kim Hong.

Satu-satunya cara menyelundupkan mereka ke kota raja hanyalah dengan menyamar sebagai perajurit dan membaur dengan pasukannya.

Dan satu-satunya tempat aman bagi mereka untuk tinggal di kota raja adalah di dalam benteng pasukannya pula.

Ji-wan-gwe sudah menutup rumahnya karena dia selalu diawasi oleh anak buah Bouw Koksu yang mencurigainya namun tidak menangkapnya karena tidak terdapat bukti.

"Sebaiknya kita cepat kembali ke kota raja, di sana kita dapat bicara lebih leluasa. Di sini tidak enak kalau sampai terlihat orang lain,"

Kata Sia-ciangkun.

Mereka berempat segera mengenakan pakaian perajurit di luar pakaian yang menutupi tubuh mereka, kemudian sebagai anggauta pasukan mereka pun menunggang kuda mereka, sengaja mereka membaur di tengah dan pasukan itu kembali ke kota raja melalui pintu gerbang selatan dengan mengambil jalan memutar.

Jauh lewat tenga hari mereka tiba kota raja dan Sia Su Beng sudah memerintahkan anak buahnya untuk menyebar berita bahwa mereka tidak berhasil menangkap gerombolan pengacau karena mereka telah melarikan diri.

Mereka memasuki benteng dan tak lama kemudian Sia Su Beng sudah mengadakan pembicaraan dengan Cin Han, Hui San, Kim Hong, Kui Lan dan Kui Bi di dalam ruangan tertutup yang merupakan ruangan rahasia di mana mereka boleh cara sebebasnya tanpa khawatir diketahui orang lain karena tempat itu dijaga oleh para perajurit yang setia.

Empat orang muda itu menceritakan pengalaman mereka masing-masing yang didengarkan penuh perhatian oleh Sia Su Beng dan Kui Bi.

Ketika mendegar penjelasan Cin Han bahwa Kaisar Beng Ong telah menyerahkan mahkota kepada pangeran mahkota yang kin i menjadi Ka isar Su Tsu ng, Sia Su Beng berkata.

"Hemm, kenapa Sri baginda begitu tergesa-"gesa menyerahkan mahkota kepada Pangeran? Kenapa tidak menanti sampai beliau kembali ke sini?"

"Menurut keterangan Panglima Ko Cu It, Sri baginda Beng Ong merasa amat terpukul dan selalu berduka, merasa sudah tua dan kehilangan semangat untuk memimpin pasukan merampas kembali tahta kerajaan. Beliau sudah berusia tujuhpuluh tahun lebih, karena itu beliau menyerahkan tahta kerajaan kepada Pangeran dan hal ini didukung pula oleh Panglima Kok Cu It,"

Kata Cin Han.

"Perubahan apakah yang telah terjadi di sini setelah An Lu Shan tewas?"

Tanya Cin Han sambil memandang kepada Kui Bi dengan kagum dan bangga seolah pertanyaan itu diajukan kepada adiknya.

Akan tetapi Kui Bi memandang kepada Sia Su Beng, menyerahkan jawabannya kepada panglima itu.

"Banyak sekali perubahannya. Kini para panglima sudah sepakat untuk menolak kalau Pangeran An Kong hendak mengangkat dirinya menjadi kaisar menggantikan ayahnya yang tewas. Semua panglima menyetujui pendapatku bahwa seorang pangeran yang telah membunuh ayahnya sendiri tidak pantas menjadi kaisar. Tentu saja hal ini hanya kujadikan alasan agar dia tidak naik tahta, agar di sini kehilangan pimpinan dan aku yang berkuasa di sini, mempersiapkan kembalinya Kerajaan Tang."

"Bagus sekali kalau begitu! Panglima Kok Cu It juga sudah memperhitungkan siasat ini dan mengharapkan bantuanmu, Sia-ciangkun,"

Kata Cin Han.

"Akan tetapi, agaknya Pangeran An Kong hendak nekat. Dengan mendapat dukungan Bouw Koksu, dia sudah menentukan harinya, yaitu tiga hari lagi setelah seratus hari wafatnya ayahnya, dia hendak mengangkat diri menjadi ka isar atas nasihat dari Koksu. '"

"Apakah pengangkatan macam itu dapat dianggap sah?"

Tanya Cin Han.

"Kalau Bouw Koksu masih dianggap sebagai Penasihat atau Guru Negara secara sah, tentu saja pengangkatan dapat disahkan, akan tetapi kami para panglima sudah siap untuk menolak. Bahkan para panglima sudah menyerahkan padaku untuk menjadi pemimpin dan wakil pembicara mereka." 'Kenapa tidak pergi membunuh saja Bouw Koksu? Aku sanggup melaksanakan tugas itu. Dia amat jahat, apa lagi mengingat apa yang dia lakukan terhadap pamanku Souw Lok dan terhadap nona Kim Hong."

"Benar apa yang dikatakan Souw twako itu,"

Kata Kim Hong.

"Aku sanggup melaksanakan tugas membunuh Bouw Ki kalau hal itu ada manfaatnya bagi perjuangan."

"Usaha itu memang baik, akan tetapi tidak boleh sembrono. Bouw Koksu adalah seorang yang cerdik dan tentu dia tahu bahwa dirinya mempunyai banyak musuh, maka tentu dia sudah memelihara pengawal-pengawal tangguh, disamping dia sendiri juga lihai. Kalau memang akan dia mbil tindakan itu, biarlah kita beramai yang pergi, akan tetapi juga menanti saat yang baik. Setidaknya kita harus mencari kesempatan. Tidak boleh te rgesa -gesa."

"Benar apa yang dikatakan oleh Yang-kongcu itu,"

Kata Sia Su Beng sambil mengangguk-angguk.

"Juga tidak boleh dilakukan sebelum ada pengumuman pengangkatan diri An Kong sebagai kaisar, karena kalau didahului, tentu keadaan akan berubah dan siapa tahu para panglima berbalik dan berpihak Kepada An Kong untuk mencari kedudukan tinggi."

"Sebaiknya kita berempat menyamar, aku, enci Hong, Han"koko dan Souw twako mengintai keadaan di rumah Bouw Koksu mencari kesempatan sambil menanti sampai selesai dan lewatnya urusan dalam istana,"

Kata Kui Lan.

"Bagaimana dengan Kui Bi?"

Tanya Kim Hong.

"Bukankah dengan berlima, kita menjadi lebih kuat?"' Pertanyaan Kim Hong ini hanya untuk menghilangkan perasaan tidak enak seolah Kui Bi seorang yang ditinggalkan, tidak diajak.

"Tidak, Bi-moi sudah terlalu lama di sini, oleh orang luar, kecuali oleh anggauta pasukan yang setia kepadaku, ia sudah dianggap sebagai seorang perajurit pengawalku. Kalau ia muncul di luar akan menimbulkan kecurigaan, apa lagi kalau tidak kelihatan bersamaku."

"Benar, sebaiknya kalau adikku ini tinggal di sini saja, membantu Sia ciangkun. Pula, jasanya sudah terlalu besar karena keberaniannya menyusup ke istana dan membunuh An Lu Shan."

"Aih, Han-ko jangan terlalu memuji dan mengulang-ulang hal itu. Aku sendiri masih merasa malu membunuhnya tidak dengan tangan dan pedang, melainkan dengan racun dan sebagai kaki tangan Bouw Koksu,"

Kata Kui Bi.

"Selain itu, Yang-kongcu, dalam kesempatan ini, disaksikan pula oleh rekan seperjuangan, Bi-moi dan aku hendak membuat pengakuan yaitu bahwa kami berdua telah bersepakat untuk menjadi suami isteri dan dengan resmi, aku mohon persetujuan Yang-kongcu dan juga Nona Yang Kui Lan sebagai saudara-saudara tuanya."

Sikap Sia Su Beng sungguh gagah dan jujur ketika mengucapkan kata-kata itu.

Bahkan Kui Bi sendiri yang biasanya bersikap terbuka dan keras, merasa tersipu dan kedua pip inya ke merahan mendengar lamaran yang dilakukan secara terbuka itu.

Hui San yang juga memiliki watak ugal"ugalan dan terbuka, tertawa gembira dan dia segera berkata.

"Bagus, bagus! Dan sebelumnya aku mengucapkan kiong-hi (selamat) kepada calon sepasang mempelai yang berbahagia!"

Ucapan ini membuat Kui Bi menjadi semakin tersipu.

"Aih, Souw-twako. Pihak yang dilamar saja belum memberi jawaban, engkau sudah tergesa-gesa memberi sela mat!"

Kui Lan mencela sambil tersenyum melihat ulah pria yang diam-"diam semakin menarik hatinya itu.

"Jawaban apa lagi yang dapat kami berikan kecuali menerima pinangan itu dengan hati dan tangan terbuka!"

Kata Cin Han tersenyum.

"Aku dan adik Kui Lan sudah tahu akan hubungan antara Bi-mol dan Sia-ciangkun, dan Kami tentu saja merasa bersukur dan setuju sepenuhnya. Kami berdua mewakili mendiang orang tua kami menerima pinangan Sia"ciangkun dan biarlah ciangkun yang menentukan hari dilangsungkannya pernikahan antara kalian."

"Ah, aku tidak akan mau melangsungkan pernikahan sebelum Han-Koko dan Lan-cici menikah lebih dulu atau setidaknya berbareng dengan aku, tentu saja kalau Lan-cici sudah mempunyai calon. Kalau Han-koko, aku tahu telah mempunyai calon, yaitu enci Kim Hong"

Mendengar in i, se mua orang tersenyu m dan Hui San segera berkata dengan lantang.

"Kalau aku tidak dianggap terlalu lancang dan terlalu rendah, aku mengajukan diri sebagai calon, untuk mendampingi adik Kui Lan dalam menempuh kehidupan ini. Aku cinta padanya dan kalau ia sudi menerima, aku siap untuk meminangnya."

Kembali semua orang, kecuali Kui Lan, tersenyum mendengar pengakuan yang jujur ini. Mereka merasa berada antara dunia orang-orang gagah yang tidak membutuhkan lagi kepura-puraan.

"Bagaimana, Lan-moi? Jawablah, agar kita semua merasa lega dan yakin. Kalau benar engkau dapat menerima cinta kasih saudara Souw Hui San, biarlah kita semua, ke tiga pasangan melangsungkan pernikahan di sini setelah semua urusan kenegaraan ini beres dengan berhasil baik."

Kui Lan adalah seorang wanita yang halus perasaannya,tidak seperti Kui Bi dan Kim Hong yang menghadapi pembicaraan terang-terangan tentang perjoclohan mereka itu dengan tenang saja, bahkan dapat tersenyum gembira dan geli.

Kui Lan tersipu clan tanpa berani mengangkat mukanya ia menjawab kakaknya.

"Ah, urusan itu bagaimana nanti sajalah kalau suclah tiba saatnya. Bukankah kita semua mempunyai tugas lain yang teramat penting dan belum di laksanakan?"

Mereka semua segera mengatur Siasat dan membuat persiapan untuk menyamar clan melakukan penyelidikan clilingkungan rumah Bouw Koksu.

Adapun Sia Beng juga membuat persiapan dengan semua panglima yang mendukungnya, mengatur siasat apa yang akan mereka lakukan nanti kalau Pangeran An Kong dan Bouw Koksu henclak melaksanakan pengangkatan pangeran itu menjadi kaisar baru.

Istana berada dalam suasana meriah akan tetapi juga menegangkan.

Semua orang mengetahui belaka bahwa akan terjadi hal-hal yang menegangkan, karena hari itu akan ada pengumuman dari Bouw Koksu tentang pengangkatan Pangeran An Kong menjadi kaisar, menggantikan An Lu Shan yang tewas keracunan.

Setelah lewat seratus hari kematian kaisar, barulah Bouw Koksu berani mengunclang semua menteri dan panglima untuk berkumpul diruang balairung, tempat yang biasa dipergunakan kaisar untuk persidangan.

Sejak pagi, berdatanganlah para pembesar tinggi, para menteri dan panglima, dengan pakaian lengkap sehingga nampak suasana yang megah karena pakaiain lengkap para pembesar itu berkilauan dan gemerlapan.

Bouw-ciangkun secara sengaja dan angkuh, clatang bersama para perwiranya, semua na mpa k gagah clan berwibawa, seolah dia merasa bahwa di antara semua panglima, dia lah yang paling berkuasa.

Hal ini juga tidak mengherankan karena dia merasa bahwa ayahnya adalah Guru Negara dan bahwa ayahnya dan dia merupakan orang-orang paling dekat dengan Pangeran An Kong, calon kaisar!

Kedudukan tertinggi di dalam pemerintahan jelas akan terjatuh ke tangan ayahnya, dan pangkat panglima tertinggi sudah pasti akan jatuh ke padanya!

Sia Su Beng dan para panglima yang menjadi sekutunya nampak tenang-tenang saja dan merekapun tidak bergerombol, melainkan berdiri di tempat masing-masing seperti biasa sehingga tidak menimbulkan kesan bahwa mereka telah bersekutu.

Akan tetapi diam-diam Sia Su Beng telah memerintahkan pasukannya untuk mengadakan pengepu ngan baik di istana maupun di markas pasukan Bouw "ciangkun dan pasukan yang jadi kaki tangan Pangeran An Kong dan Bouw Koksu.

Semua telah dipersiapkan jauh hari sebelumnya dan karena jumlah pasukan Sia Su Beng digabung dengan para panglima lain merupakan lebih tiga perempat jumlah seluruh pasukan, maka dengan sendirinya kekuatan pasukan mereka yang menentang pengangkatan pangeran menjadi kaisar ini amat besar kuat.

Agaknya Bouw Koksu juga sudah membuat persiapan, tidak menduga sama sekali bahwa para panglima sudah bersekutu dan mempersiapkan pasukan, menghimpun semua anak buahnya untuk siap siaga di istana, karena dia memperhitungkan bahwa kalau ada menteri dan panglima yang menentang pengangkatan pangeran menjadi kaisar, dia akan memerintahkan anak buahnya untuk melakukan penangkapan seketika itu juga.

Dia mengerahkan semua tenaga sehingga rumahnya menjadi kosong, tidak ada perajurit menjaga rumah itu karena memang di anggap tidak perlu dijaga.

Keadaan ini justeru membuat empat orang muda yang setiap hari sudah melakukan pengintaian itu menjadi girang bukan main.

Dengan amat mudah Kui Lan yang mengenal seluruh keadaan rumah bekas tempat tinggalnya sejak ia masih kecil menjadi penunjuk jalan dan mereka berempat akhirnya berhasil memasuki taman di belakang gedung itu.

Tidak nampak seorangpun penjaga sehingga dengan mudahnya mereka melaksanakan pekerjaan mereka.

Souw Hui San dan Yang Kui Lan berdua yang melakukan penggalian di bawah pohon itu, sedangkan Yang Cin Han dan Can Kim Hong melakukan penjagaan kalau-kalau ada orang lain yang melihat perbuatan mereka.

Karena dia sendiri yang menyimpan kotak kecil berisi Mestika Burung Hong Kemala itu, dengan mudah dan sebentar saja Hui San telah dapat menggali dan menemukan kembali pusaka itu.

Dia memang sudah mempersiapkan sebelumnya, maka kotak itu lalu di bungkus kain kuning dan diikatkan pada tubuhnya di sebelah dalam baju, sehingga tidak nampak dari luar, hanya agak menonjol di bagian perutnya.

Sementara itu, di istana suasana menjadi semakin tegang ketika Pangeran An Kong memasuki ruangan balairung di ikuti Bouw Koksu dan beberapa orang panglima pendukungnya.

Pangeran itu mengenakan pakaian yang amat mewah gemerlapan, sedangkan Bouw Koksu berjalan dengan langkah tegap dan di depannya berjalan seorang pejabat tinggi tua kurus, yaitu pejabat yang tugasnya menyimpan pakaian kebesaran kaisar.

Pembesar ini membawa sebuah peti yang mudah diduga isinya, yaitu pakaian kebesaran dan mahkota kaisar!

Semua orang memberi hormat selayaknya kepada Pangeran An Kong, dan dengan sikap angkuh sang pangeran mempersilakan semua orang berdiri, sedangkan dia sendiri duduk di atas kursi gading.

Kemudian dia menoleh dan mengangguk kepada Bouw Koksu yang membuka gulungan surat pengumunan dari kain sutera kuning, lalu membacanya dengan suara lantang.

"Mengingat betapa akan lemahnya sebuah pemerintah tanpa kaisar, dan mengingat pula bahwa Sri baginda Kaisar An Lu Shan telah wafat seratus hari yang lalu, maka kami, Bou Hun, sebagai Koksu yang telah diberi wewenang oleh mendiang kaisar, menimbang bahwa tidak ada yang lebih tepat untuk diangkat menjadi Kaisar baru kecuali Pangeran An Kong. Oleh karena itu, hari ini di umumkan oleh kami, disetujui pula oleh Pangeran Mahkota An Kong dan para panglima, bahwa Pangeran An Kong dinobatkan menjadi Kaisar yang baru, menggantikan mendiang Kaisar yang wafat, dengan julukan Kaisar Su Tsung. Tertanda kami, Bouw Hun, Koksu dan para panglima yang namanya tersebut di bawah ini!"

Koksu lalu membacakan nama semua pang lima yang hadir.

"Tidak benar dan kami tidak setuju!"

Terdengar suara lantang yang mengejutkan Pangeran An Kong, Bouw Koksu dan kaki tangan mereka.

Semua orang menengok dan memandang kepada Panglima Sia Su Beng yang berdiri dengan tegap dan gagah, matanya mencorong memandang kepada Bouw Koksu.

"Sia-ciangkun, engkau berani membantah keputusan yang telah di setuju Pangeran Mahkota dan para panglima?"

"Kami berani membantah karena beberapa hal bertentangan dengan kenyataan. Keterangan Bouw Koksu banyak yang palsu."

"Apa? Berani engkau menuduhku sekeji itu? Katakan, mana yang palsu dan mana yang bertentangan dengan kenyataan? Katakan!"

Bouw Koksu me mbentak.

"Dalam pengumuman tadi, Bouw Koksu mengatakan bahwa para panglima yang namanya disebut kan semua telah menyetujui pengangkatan kaisar itu. Pernyataan ini adalah bohong karena sebagian besar panglima, termasuk saya sendiri tidak menyetujui. Para rekan panglima yang tidak setuju, harap berani mengangkat tangan!"

Ucapan Sia Su Beng ini disambut para panglima yang mengangkat tangan kanan mereka.

Wajah Bouw Koksu dan wajah Pangeran An Kong berubah agak pucat, lalu wajah Bouw Koksu menjadi merah karena marah.

Matanya melotot memandang kepada Sia Su Beng.

"Sia-ciangkun! Apa artinya ini ? Engkau menggerakkan para panglima untuk menentang pengangkatan Pangeran Mahkota menjadi kaisar? Apakah ini berarti bahwa engkau hendak me mberontak?"

"Sia-ciangkun, benarkah engkau hendak memberontak terhadap kami!"

Pangeran An Kong juga berseru untuk menaikkan wibawanya. Sia Su Beng tersenyum.

"Maafkan hamba, Pangeran. Dan dengarlah engkau Bouw Ko ksu. Kami sama sekali tidak hendak memberontak, juga tidak hendak menentang Pangeran dinobatkan menjadi kaisar. Kami hanya ingin menunda pengangkatan atau penobatan itu, karena ada suatu hal yang membuat kami merasa penasaran. Seperti kita semua mengetahu mendiang Sri baginda Kaisar tewas karena keracunan makanan. Jelas bahwa di dalam masakan beliau, ada orang menaruhkan racun. Dan kami telah mendapat keterangan bahwa dalam hal kejahatan meracuni Sri baginda. Kaisar itu, ada dua orang dalam terdekat Sri baginda Kaisar yang terlibat!"

Berkata demikian, Sia-ciangkun menatap wajah Pangeran dan Bouw Koksu yang nampak kaget dan mereka saling pandang.

Jelas bahwa Pangeran menjadi pucat sekali wajahnya, dan Bouw Koksu nampak tertegun dan memandang seperti orang tidak percaya Bouw-ciangkun juga berdiri gelisah, jelas nampak dari gerakan kedua kakinya yang tidak mau diam, seolah-olah dia sudah siap untuk lari.

"Sia-ciangkun, apa yang kau katakan ini? Kami juga sudah melakukan penyelidikan dan kami tahu siapa orangnya yang melakukan perbuatan jahat meracuni Sribaginda itu!"

Dua orang itu saling pandang dengan sinat mata menantang, seolah dua ekor ayam jago yang hendak berlaga. Sia Su Beng tersenyum.

"Begitukah, Bouw Koksu? Kalau benar engkau sudah mengetahui siapa orangnya yang melakukan perbuatan jahat meracuni Sri baginda, kenapa tidak kau katakan itu. Nah, katakan siapa orangnya? Asal engkau jangan menuduh aku atau para panglima ini saja!"

Terdengar suara tawa mengejek di sana sini.

"Pelakunya adalah seorang dayang baru yang menaruh racun di dalam masakan kaki biruang, kemudian ia pula yang menghidangkan masakan itu kepada Sri baginda. Kalau kalian mau tahu siapa dayang itu, ia adalah Yang Kui Bi, puteri ke dua dari Mendiang Menteri Yang Kok Tiong, kakak mendiang selir Yang Kui Hui si iblis betina!"

Semua orang terkejut, termasuk Sia Su Beng.

Akan tetapi kalau para panglima yang mendengar tuduhan itu terkejut dan tidak percaya, Sia Su Beng benar-benar terkejut karena tidak menyangka bahwa Bouw Koksu benar-benar telah mengetahui hal itu!

Akan tetapi, dia sengaja tertawa mengejek.

"Ha-ha-ha, Bouw Koksu, siapa mau percaya bualanmu itu? Kalau betul seperti yang kau katakan itu, kenapa engkau tidak menangkap pembunuh itu agar ada buktinya?"

"la terlalu licik dan berhasil meloloskan diri dari kota raja!"

Kata Bouw Koksu gemas. Kembali terdengar suara tawa Sia Su Beng.

"Ha-ha-ha, bagaimana mungkin ini? Bouw Koksu yang terkenal lihai dengan banyak sekali anak buahnya, tidak mampu menangkap seorang gadis dayang? Cu-wi ciangkun, apakah cerita ini dapat dipercaya?"

Para panglima tertawa-tawa dan menggeleng kepala.

Melihat ini, Bouw Koksu tidak dapat menahan sabar lagi "Sia"ciangkun dan para panglima yang telah dapat dihasut olehmu, apakah kalian semua tetap hendak rnemberontak dan menentang penobatan Pangeran menjadi Kaisar?"

"Kami tidak memberontak, tidak pula menentang penobatan, akan tetap minta agar penobatan ditangguhkan sampai diketahui dengan tuntas mengenai pembunuhan terhadap Sri baginda Kaisar. Kalau Pangeran yang berdiri di belakang pembunuhan itu, dibantu oleh Bouw Koksu seperti yang telah kami dengar dengan mempergunakan seorang dayang maka tentu kami tidak setuju mengangkat seorang pembunuh ayah kandung sendiri menjadi junjungan kami!"

"Yang Mulia Pangeran, mereka ini hendak memberontak! Sepatutnya mereka ditangkap! Harap paduka memberi perintah dan hamba akan menangkap mereka!"

Bouw"ciangkun dengan marah, memberi tanda kepada para pendukungnya untuk siap bergerak.

Pangeran An Kong sudah gemetar kedua kakinya mendengar ucapan Sia Su Beng yang agaknya mengetahui rahasia ia membunuh ayahnya.

Diapun tidak melihat jalan lain kecuali mengguna kan kekerasan.

Dia bangkit berdiri dan menudingkan tangannya ke arah Sia Su Beng.

"Tangkap para pemberontak itu!"

Akan tetapi, Sia Su Beng mengeluarkan suara melengking panjang dan dari semua pintu ruangan itu bermunculan pasukan yang siap dengan anak panah mereka.

Tentu saja Pangeran An Kong dan Bouw Koksu, juga Bouw Ki menjadi pucat me lihat ini.

"Pemberontakan!!!"

Bouw Koksu berseru.

"Sia-ciangkun, engkau mernberontak!"

Kata pula Pangeran An Kong.

"Pangeran, tidak ada yang memberontak terhadap mendiang Sribaginda kaisar! Mereka yang merencanakan kematiannyalah yang memberontak.. Untuk sementara ini, demi keamanan negara, kami yang akan memimpin dibantu oleh para panglima. Urusan pembunuhan ini akan kami selidiki sampai tuntas dan siapapun yang menjadi dalangnya, akan kami seret ke pengadilan. Untuk sementara ini, semua penghuni istana, terrnasuk paduka, pangeran, di larang meninggalkan istana. Semua pejabat, termasuk Bouw Koksu, dilarang meninggalkan kotaraja"

Pangeran An Kong menjadi pucat dan dengan suara lemah dia lalu membubarkan persidangan dan mengundurkan diri kedalam ka marnya.Bouw Koksu memberi isarat mata kepada Bouw Ki dan keduanya cepat meninggalkan istana, menuju ke gedung mereka sendiri.

Keduanya nampak cemas dan gugup.

"Hemm, bagaimana sampai terjadi begini?"

Bouw Hun mendesis marah kepada puteranya ketika mereka berada di luar istana.

"Aku sudah mempersiapkan semua pasukan, ayah, akan tetapi agaknya diam-diam mereka juga sudah mengepung istana ini. Lihat di sana."

Mereka melihat bahwa pasukan yang besar jumlahnya mengepung istana dan pasukan anak buah Bouw-ciangkun tidak nampak.

Mereka itu tadi telah dilucuti dan ditawan di dalam benteng!.

Bukan itu saja, bahkan juga benteng pasukan Bouw Ki telah dikuasai pasukan Sia Su Beng.

Melihat ini, Bouw Ki menjadi pucat dan dia bersama ayahnya cepat pulang ke gedung mereka.

"Celaka, kita terjebak!"

Kata Bouw Hun.

"Selagi masih ada kesempatan, kita harus cepat meninggalkan kota raja. Mari kita berkemas!"

Tergesa-gesa mereka kembali ke gedung tempat tinggal mereka dan baru mereka ingat bahwa seluruh pasukan mereka tadi dikerahkan ke istana sehingga di rumah itu tidak tertinggal seorangpun perajurit penga mat, hanya tinggal para pe layan dala m gedung saja.

"Cepatkan siapkan kereta dengan dua kuda terbaik!"

Perintah Bouw Koksu kepada seorang pembantunya yang segera lari ke istana untuk mempersiapkan perintah majikannya.

Ayah dan anak itu segera berkemas, mengumpulkan harta berupa emas dalam sebuah peti dan tidak lupa Koksu membawa pusaka yang masih simpan, yaitu Mestika Burung Hong Ke mala dalam kotak kecil hitam itu.

Kotak ini dia bungkus dan dia ikatkan buntalan kain itu ke punggungnya.

Kemudian sambil membawa pedang mereka, ayah dan anak ini berlari-lari menuju ke depan di mana kereta dengan dua ekor kuda sudah menunggu.

Akan tetapi, tak nampak seorangpun pelayan, bahkan pelayan yang tadi mempersiapkan kereta dan kuda juga tidak nampak.

Sunyi sekali pekarangan yang luas dari rumah gedung yang hendak mereka tinggalkan itu.

Ketika mereka menghampiri kereta tiba-tiba dari dalam kereta itu muncul empat orang yang membuat ayah dan itu memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat.

"Heh-heh, Bouw Koksu, hendak pergi ke manakah?"

Kata Hui San yang sambil tersenyum lebar.

"Siapa.....siapa engkau?"

Bentak Bouw Koksu yang sudah merasa gelisah dan terkejut melihat Kirn Hong bersama di antara mereka.

"Aku bernama Souw Hui San. Aku di perintah oleh arwah pamanku Souw Lok untuk menagih nyawa kepadamu. Nah. serahkan nyawamu, Bouw Koksu!"

Bukan main kagetnya rasa hati Bouw Hun, dan maklumlah dia bahwa dia telah terhalang dan agaknya sukar untuk dapat meloloskan diri lagi.

"Kim Hong, engkau yang pernah menjadi muridku dan pernah kami sayang seperti anak, balaslah budi kami dan singkirkan pemuda ini untuk kami!"

Kata Bouw Hun. Kim Hong tersenyum mengejek.

"Bouw Hun, engkau tidak pernah melepas budi kebaikan kepadaku, melainkan perbuatan keji dan jahat. Lupakah engkau tentang penipuanmu kepadaku, memperkenalkan Ciang Kui Sebagai ayah kandungku? Engkau hanya ingin memanfaatkan tenagaku, bukan benar-benar sayang kepadaku."

"Engkau.... engkau manusia yang tak mengenal budi!"

Bouw Hun memaki dan menerjang maju dengan pedang bengkoknya, menyerang gadis itu.

Akan tetapi, sambil mengelak ke samping, sekali ia menampar sambil mengerahkan tenaganya, tubuh Bouw Hun terpelanting.

Memang benar ketika masih kecil sampai dewasa, Kim Hong menjadi murid Bouw Hun.

Akan tetapi setelah dara ini menerima gemblengan Hek liong Kwan Bhok Cu, ilmu kepandaiann meningkat dengan hebat dan tentu saja kini Bouw Hun sama sekali bukan tandingannya lagi.

"Hemm, mengingat bahwa engkau pernah menjadi guruku, aku tidak akan membunuhmu dengan tanganku sendiri'"

Setelah berkata demikian, gadis menghadapi Bouw Ki dan memandang dengan sinar mata marah.

"Engkaulah, Bouw Ki, yang layak mati di tanganku."

"Pengkhianat tak tahu malu!"

Bouw Ki membentak dan dia menerjang gadis itu dengan pedangnya.

Kim Hong menya mbut dengan elakan, mudah saja bagi nya untuk menghindarkan diri dari bacokan-bacokan pedang Bouw Ki yang di lakukan dengan membabi-buta saking marah, gentar dan putus asa.

Sementara itu, Hui San menghadapi Bouw Hun dan dia mencabut pedangnya.

"Nah, sekarang mari kita bertanding satu lawan satu untuk menyelesaikan hutang mu kepada mendiang Paman Souw Lok!"'. Seperti juga puteranya, Bouw Hun tidak melihat jalan keluar untuk meloloskan diri, maka diapun menjadi nekat dan sambil membentak marah, dia menggunakan pedang bengkoknya untuk menyerang Hui San.

"Trang-trangg!"

Dua kali Hui San menangkis serangan Bouw Hun ia lalu membalas dengan tusukan pedangnya yang dapat pula dih indarkan Koksu itu dengan tangkisan pedang bengkoknya.

Terjadilah dua buah pertandingan yang berat sebelah, karena baik Bouw Ki pun Bouw Hun sama sekali bukan lawan setanding dengan Kim Hong dan Hui San.

Sementara itu, Cin Han dan Kui Lan hanya menjadi penonton saja karena kedua orang kakak beradik ini maklum bahwa kekasih mereka tidak akan kalah.

Mereka hanya berjaga-jaga kalau sampai kekasih mereka dikeroyok anak buah Bouw Koksu dan Bouw Ciangkun.

Tadi mereka berempat telah merobohkan para pembantu Bouw Koksu yang berada di luar gedung, termasuk kusir kereta dan mereka yang mempersiapkan kereta dan kudanya di depan pintu.

Yang amat payah keadaannya dalam pertandingan itu adalah Bouw Ki.

Pemuda Khitan yang semenjak An Lu Shan berhasil dalam pemberontakannya seolah-olah kejatuhan bintang dan diangkat menjadi panglima dengan pakaian yang rnentereng ini, tentu saja mencoba untuk dapat menang dalam perkelahian itu.

Akan tetapi, harapannya ini tentu saja kosong belaka karena dahulupun, ketika mereka berdua masih menjadi murid Bouw Hun, di dalam latihan dia tidak pernah dapat menang melawan Kim Hong.

Apa lagi setelah Kim Hong menjadi murid Hek-Hong Kwan Bhok Cu dan minum darah ular Hita m Kepala Merah, tingkat kepandaian gadis itu menjadi tinggi sekali, jangankan dia, bahkan ayahnyapun bukan tandingan Kim Hong sekarang.

Tidak seperti Hui San yang suka main-main, Kim Hong langsung saja mendesak bekas suhengnya dengan tekanan"tekanan yang membuat Bouw Ki hanya manpu nengelak dan menangkis dengan pedang bengkoknya, sama sekali tidak dapat memba las.

Bouw Ki merasa gentar sekali.

Sepasang matanya yang biasanya tajam seperti mata burung rajawali itu kini terbelalak dan liar ketakutan, walaupun dia masih berusaha untuk menang, dengan sekuat tenaga setiap kali pedang di tangan Kim Hong menyambar.

Ujung pedang itu sudah melukai bahu kirinya sehingga gerakannya menjadi sernakin kaku.

Dengan sisa tenaga yang ada, ketika sinar pedang Kim Hong meluncur kearah kepalanya, dia menggerakkan pedang bengkoknya menangkis.

"Trakkk! !"

Patahlah pedang di tangan Bouw Ki dan di detik berikutnya, tahu-tahu sinar pedang di tangan Kim Hong berkelebat dan pedang itu telah menembus dada Bouw Ki.

Hanya sekejap saja, bagaikan kilat menyambar pedang itu sudah masuk kembali ke dalam sarung pedang yang tergantung dipinggang gadis itu ketika tubuh Bouw Ki terjengkang.

Dia mendekap dada kiri dengan tangan kanan dan tewas seketika karena jantungnya tertembus pedang.

Bouw Hun yang sedang bertanding melawan Souw Hui San,melihat juga jatuhnya Bouw Ki.

Tentu saja Bouw Hun menjadi terkejut dan duka, juga marah sekali.

Dia mengeluarkan suara gerengan seperti seekor harimau terluka pedang bengkoknya kini mengamuk, tetapi, karena tadi Hui San hanya main-main saja, tidak bersungguh-sungguh dan kini melihat Kim Hong telah merobohkan lawan dia lalu mempercepat gerakan pedangnya, maka amukan pedang bengkok di tangan Bouw Hun itu tidak ada artinya.

Ilmu pedang Gobi-pai memang indah dan juga amat cepat gerakannya.

"Orang she Bouw, pergilah engkau menyusul anakmu!"

Bentaknya dan kini sinar pedangnya bergulung-gulung, mengurung lawan membuat Bouw Hun menjadi bingung.

Terdengar bunyi kedua pedang itu saling bertemu berdentangan dan akhirnya sebuah sabetan pedang di tangan Hui San mengakhiri perlawanan Bouw Hun.

Dia roboh terpelanting dengan leher hampir putus terbabat pedang.

Tewaslah ayah dan anak itu.

Pada saat Bouw Hun roboh, terdengar gerakan orang dan Sia Su Beng sudah tiba di situ, bersama Yang Kui Bi yang masih mengenakan pakaian perajurit, seperti juga empat orang muda itu yang kesemuanya menya mar sebagai perajurit.

"Bagus sekali, mereka telah dapat ditewaskan,"

Kata Sia Su Beng dan lapun cepat menghampiri mayat Bouw ki, merenggut buntalan yang berada di punggung bekas Koksu itu dan membuka kain buntalannya.

Ternyata berisi sebuah kotak hitam dan ketika dibuka tutupnya, wajah panglima itu berseri dan matanya bersinar-sinar.

"Mestika Burung Hong Kemala!"

Sia Su Beng berseru dan diapun menutup kembali kotak itu, merapikan buntalan dan menggantungkan buntalan di pundaknya.

Hui San dan Kui Lan.

saling pandang, dan gadis itu melihat betapa pemuda itu sedikit menggeleng kepa lanya, tanda bahwa dia tidak boleh bicara tentang pusaka itu kepada Sia Su Beng.

Biarpun ia merasa heran mengapa sikap kekasihnya seperti itu, namun Kui Lan tidak bertanya dan juga juga tidak bicara sesuatu.

Kenapa Hui San membiarkan Sia Su Beng tertipu dan menyimpan pusaka palsu?

"Kakak Cin Han dan Enci Kui Lan mulai sekarang boleh menempati kembali rumah yang sebetulnya memang milik keluarga Yang ini.

Aku akan menyuruh seregu perajurit melakukan penjagaan, juga beberapa orang pelayan untuk mengatur rumah."

Kui Bi merangkul encinya.

"Enci lan, kalau saja ayah dan ibu masih ada alangkah akan bahagianya mereka melihat kita dapat merebut kembali rumah kita...."

Kui Bi yang biasanya tabah dan lincah periang, itu kini menangis di pundak encinya.

"Tenangkan hatimu, adik Bi. Biarpun sudah meninggal dunia, aku yakin mereka melihat peristiwa ini dan ikut berbahagia."

Setelah Sia Su Beng pergi bersama Kui Bi yang agaknya tidak mau berpisah dari tunangannya itu, Kui Lan, Kim Hong, Cin Han dan Hui San mulai mengatur rumah gedung yang merupakan temyang amat dikenal oleh Cin Han dan Kui Lan karena di rumah inilah mereka lahir dan dibesarkan!

Pangeran An Kong entah sudah keberapa ratus kali berjalan hilir mudik di dalam kamar itu, seperti seekor harimau dalam kerangkeng.

Wajahnya yang tampan dan biasanya pesolek itu kini tak terawat, sudah beberapa hari tidak mandi dan bahkan tidak bergantii pakaian.

Jarang pula dia dapat makan walaupun ada makanan dihidangkan deh pelayan.

Dia menjadi orang tahanan.

Tahanan rumah, atau lebih tepat lagi tahanan "kamar karena dia selalu berada di dalam ka marnya karena rumahnya telah dijaga oleh perajurit anak buah Panglima Sia Su Beng.

Dia tidak diperkenankan keluar dari rumah itu, Apa lagi setelah dia mendengar bahwa Bouw Koksu dan Bouw Ciangkun tewas terbunuh, dan semua pasukan yang tadinya mendukung Bouw Koksu telah dilucuti dan ditundukan oleh Panglima Sia Su Beng, bahkan lampir semua panglima kini menakluk dan menyerah kepada Panglima itu, Pangeran An Kong menjadi putus asa dan bingung.

Pada suatu siang, ketika dia sedang hilir mudik di dalam kamarnya seperti seekor harimau dalam kurungan, terdengar langkah kaki di luar kamarnya, Pangeran An Kong mengira ada penjaga atau pelayan yang memasuki ka mar, maka dia sudah siap untuk memaki dan mengusirnya.

Akan tetapi, ternyata yang masuk adalah Panglima Sia Su Beng!

Melihat munculnya musuh besar ini, An Kong segera bangkit berdiri mengambil sikap bermusuhan, berdiri tegak dengan membusungkan dada seperti sikap seorang atasan menghadapi seorang bawahannya.

"Sia Ciangkun, apakah engkau datang hendak membebaskan aku?"

Tanyanya dengan sikap angkuh.

Di dalam hatinya pangeran ini menaruh dendam dan andaikata dia memperoleh kekuasaan tertinggi, perintah pertama yang akan keluar dari mulutnya tentulah menangkap menghukum berat panglima yang kini berdiri di depannya itu.

"Pangeran. Kami datang untuk mempertemukan pangeran dengan wanita yang dulu kau suruh meracuni Sri baginda An Lu Shan."

Sia Su Beng tidak memperdulikan perubahan wajah pangeran itu yang menjadi pucat, dan dia menoleh ke pintu.

Dari pintu itu masuklah gadis cantik jelita dan membawa sebuah baki di mana dapat sebuah cawan emas.

Pangeran An Kong terbelalak dan mukanya menjadi semakin pucat seolah dia melihat hantu, bukan melihat seorang gadis yang cantik jelita, yang dengan anggunnya melangkah ke dalam kamar membawa baki dengan kedua tangan didepan dada.

Baki itu menambah indah gayanya berjalan karena ia harus mengatur keseimbangan langkahnya agar arak dalam cawan itu tidak tumpah, membuat langkahnya menjadi lenggang yang gemulai seperti seorang penari, ia melihat Kui Bi, gadis dayang itu, yang pernah menarik hatinya, memikat gairahnya, gadis yang kemudian ia peralat untuk menaruh racun kedalam hidangan ayahnya sehingga akhirnya ayahnya, An Lu Shan, tewas keracunan.

Dan kini gadis itu dengan lenggang yang manis memasuki kamar membawa baki terisi cawan.

Dengan gaya dan gerakan yang memikat, Kui Bi , yang kini mengenakan pakaian wanita, meletakkan baki dengan secawan emas arak itu ke atas meja, kemudian ia berdiri sambil memandang pangeran dengan senyum manis.

"Kau??"

Pangeran An Kong berseru keras karena timbul harapan untuk membersihkan diri dengan menangkap pelaku pembunuhan terhadap ayahnya Itu.

"Engkau yang membunuh Sribaginda!"

Senyum itu melebar sehingga nampak deretan gigi yang putih rapi seperti mutiara, menambah kuat daya tarik wajah gadis jelita itu.

"Bukan yang membunuhnya, melainkan engkau yang menyuruh kaki tanganmu sebagai dayang, pekerja dapur dan thai-kam. Engkaulah yang membunuh ayahmu sendiri An Kong, dan bukan orang lain,"

Kata Kui Bi dengan suara tenang dan merdu mengandung ejekan.

"Engkau yang membunuh, keparat! Engkau harus ditangkap dan engkau harus mengaku!"

Dalam keadaan yang putus asa dan nekat, Pangeran An Kong mengerahkan tenaganya dan meloncat, menubruk untuk menangkap gadis jelita itu untuk memaksanya mengakui sebagai pembunuh An Lu Shan.

Namun, dia me ngalami kejutan yang lebih hebat lagi.

Tubrukannya luput dan kaki gadis itu menyambar dari samping dengan amat cepatnya hingga dia yang menguasai ilmu silat yang cukup tangguhpun tidak mampu rnenghindar lagi.

"Dukk! !"

Perutnya tertendang dan diapun terpelanting keras, tentu saja dia terkejut setengah mati dan ketika dia dapat berdiri kembali, Ia memandang kepada Kui Bi dengan penuh keheranan.

Gadis itu tersenyum ma nis dengan pandangan mata penuh ejekan padanya.

"Kau.... kau... sebenarnya siapakah?"

Tanyanya gagap.

"Engkau tidak secerdik Bouw Hun yang dapat menduga siapa aku. Aku adalah Yang Kui Bi, puteri mendiang Menteri Yang Kok Tiong. Ayah Ibuku tewas akibat pemberontakan An Lu Shan.'"

"Ahh! !"

An Kong terperangah dan tahulah dia bahwa dia bahkan telah diperalat gadis itu yang hendak membalas dendam kepada An Lu Shan.

"Lebih dari itu, An Kong. ia adalah calon isteriku!"

Kata pula Sia Beng dan mendengar ini, An Kong menjadi sema kin putus asa.

"Sia-ciangkun, lalu kau.... kau... mau apa? Apa artinya kalian membawa cawan arak itu?"

Dia menuding ke arah cawan arak itu dan telunjuknya yang menuding gemetar.

"Ada dua pilihan bagimu, An Kong. Engkau tidak akan terluput dari kematian, akan tetapi hukuman mati ini ada dua macam dan boleh kaupilih. Kalau engkau minum arak itu, engkau akan mati tanpa menderita badan dan hati. Akan tetapi kalau engkau menolak, engkau akan diseret sebagai seorang penjahat besar yang telah membunuh ayah sendiri dan engkau akan dihukum mati didepan rakyat, akan menjadi bahan ejekan dan penghinaan. Sekarang, engkau tinggal memilih,"

Kata Sia Su Beng.

Wajah bekas pangeran itu pucat seperti mayat.

Dia maklum bahwa nekad melawan panglima itu tidak ada gunanya, apa lagi di situ terdapat Yang Kui Bi yang baru sekarang dia tahu memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Juga dia tidak memiliki keberanian sebesar itu.

Dia membayangkan dirinya diseret, di caci dan dihina sebagai seorang penjahat pembunuh ayah sendiri, kemudian disiksa sampai mati.

Terbayang dia akan wajah ayahnya yang dilihatnya untuk terakhir kali sebelum dimasukkan peti, wajah yang menyeringai seperti orang kesakitan.

Dia bergidik ngeri, lalu dihampirinya meja, disambarnya cawan emas dan tanpa berpikir panjang lagi, dalam keadaan orang yang berputus asa, dia lalu menuangkan isi cawan ke dalam mulutnya yang terbuka dan langsung menelannya.

Dia tidak merasakan sesuatu yang aneh, maka dia masih disentuh harapan kalau-kalau Panglima Sia Su Beng hanya menggertak dan membohonginya saja.

Dengan tenang dia meletakkan kembali cawan emas yang sudah kosong ke atas baki dan tertawa bergelak.

Entah mengapa, dia merasa keadaannya amat lucu, dia digertak dan diancam, ternyata semua itu hanya permainan belaka.

Dia terping kal dan menjatuhkan diri duduk lagi di atas kursinya.

Panglima Sia Su Beng dan Yang Kui Bi memandang dengan sinar mata dingin.

Bah kan wajah mereka tidak menunju kkan sesuatu ketika suara tawa dari pangeran itu tiba-tiba mulai berubah, dari tawa menjadi rintihan dan wajah yang tadinya tertawa itu berubah, menyeringai karena kesakitan.

lalu pangeran itu terkulai dan terdengar bunyi berdetak ketika dia menjatuhkan dahinya ke atas meja.

Sia Su Beng melangkah mendekati dan meraba nadi tangannya yang terkulai.

Pangeran itu sudah tewas.

Sia Su Beng mengangguk kepada Yang Kui Bi dan keduanya meninggalkan kamar itu dengan tenang.

Panglima Sia Su Beng lalu menyiarkan kabar bahwa An Kong telah membunuh diri karena menyesali perbuatannya membunuh dan meracuni ayahnya sendiri.

Berita itu diterima dengan sikap sangat dingin dan acuh oleh para panglima.

Kini, sebagian dari para panglima merupakan mereka yang masih setia kepada Kerajaan Tang, sedangkan sebagian lagi merupakan pasukan yang sudah tunduk kepada Panglima Sia Su Beng dan akan menaati semua perintah panglima ini.

Sia Su Beng berada di dalam ruangan tertutup, berdua saja dengan kekasihnya, Yang Kui Bi.

"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang, koko?"

Tanyanya Kui Bi.

"Hanya tinggal menanti kembalinya Kaisar, atau memberi kabar ke barat agar Sri baginda cepat pulang ke sini karena kita sudah menguasai keadaan di sini dan menundukkan semua bekas anak buah An Lu Shan?"

Sia Su Beng yang duduk di kursi mengerutkan alisnya.

"Memang, semua telah berjalan lancar sesuai dengan rencana kita. An Lu Shan dan An Kong telah tewas, semua anak buahnya dapat kita tundukkan tanpa pertempuran yang berarti, dan semua panglima dapat kupengaruhi dan kini mereka semua tunduk kepadaku. Mengembalikan tahta Kerajaan kepada Sri bag inda Kaisar hanya tinggal Melaksanakan saja. Akan tetapi, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu. Sebelum aku membicarakan dengan para panglima siang hari ini. Mereka sudah kuperintahkan untuk berkumpul siang hari ini untuk kuajak berunding."

Kui Bi memandang penuh perhatian.

"Ada masalah pelik apakah. koko? Engkau kelihatan begini serius?"

"Begini, Bi-moi. Engkau mengetahui sendiri betapa susah payahnya kita menghadapi An Lu Shan dan mengatur siasat, kemudian melaksanakannya dengan taruhan nyawa. Bahkan kalau saja tidak kebetulan, aku akan kehilangan engkau ketika engkau menyusup ke istana itu. Jelas bahwa kita telah mengorban kan segalanya untuk me lenyapkan kekuasaan An Lu Shan dan An Kong yang dibantu ayah dan anak she Bouw itu."

"Memang benar, koko. Akan tetapi itu rremang sudah tugas kita, dan disamping itu, juga aku sendiri pribadi membenci An Lu Shan karena dialah penyebab hancurnya keluargaku, penyebab kematian ibu dan ayah. Dan bukankah sudah sepatutnya kalau kitabela Sribaginda Kaisar kerajaan Tang?"

"Nah, itulah, Bi-moi! Andaikata Sribaginda Beng Ong masih tetap sebagai Kaisar Kerajaan Tang, akupun tidak akan meragu lagi untuk menyerahkan tahta kerajaan yang berhasil kita rampas dari An Lu Shan dan anak buahnya ini kepada beliau. Akan tetapi, yang membuat hatiku risau dan tidak rela adalah karena aku mendengar bahwa Sribaginda kaisar Beng Ong telah menyerahkan mahkota kepada Pang"ran Su Tsung yang kini menjadi kaisar! Aku tidak rela menyerahkan tahta kerajaan kepada pangeran yang lemah dan pengecut itu. Kita yang bersusah payah mempertaruhkan nyawa, eh, dia yang enak-enakan dan secara pengecut lari terbirit-birit ketika pasukan An Lu Shan menyerang kota raja, kini begitu saja mendapatkan tahta kerajaan ini. Aku tidak rela!"

"Akan tetapi, koko kalau tidak kau serahkan kepada Kerajaan Tang, biar sekarang kaisarnya telah di ganti, lalu apa yang hendak kau lakukan?"

Kui Bi memandang dengan penuh selidikdan heran.

"Kui Bi, engkaulah satu-satunya orang di dunia ini yang kucinta dan kupercaya, maka akupun akan mengatakan terus terang padamu, dengan harap engkau akan mendukungku. Tanpa dukunganmu, aku akan merasa lemah. Kupikir kita telah banyak berkorban untuk merebut kembali tahta kerajaan ini. Kalau Sri baginda Kaisar Beng Ong telah mengundurkan diri, maka kita harus berhati-hati, tidak begitu mudah saja menyerahkan tampuk kerajaan kepada orang yang tidak sepatutnya menjadi junjungan kita. Oleh karena itu, aku akan menanti dan melihat apakah Pangeran Su Tsung itu pantas menerima tahta kerajaan ini.?"

Kui Bi memandang ke sekeliling.

Mereka berada di dalam sebuah ruangan dalam istana yang kini untuk sementara dijadikan tempat tinggal Sia Su Beng.

Hal ini Sepatutnya dan disetujui Semua panglima dan pembesar yang berpihak padanya karena untuk menjaga agar Jangan ada kekuatan lain mempergunakan kesempatan selagi istana itu kosong tidak ada penghuninya lalu melakukan pemberontakan dan perampasan, ia seperti dapat meraba isi hati kekasihnya.

"Akan tetapi, koko. Bukankah Pangeran Su Tsung yang berhak atas tahta kerajaan? Apa lagi dia diangkat oleh sribaginda Kaisar Beng Ong, dan...."

"Tidak, Bi-moi. Pengangkatan itu tergesa-gesa dan tidak sah, karena dilakukan dalam pelarian dan tidak disetujui oleh para pejabat dan panglima, bagaimana mungkin tahta kerajaan yang menyangkut nasib seluruh rakyat dalam negeri diserahkan begitu saja? Kita harus mempertahankan tahta kerajaan ini dengan mengangkat seseorang yang benar-benar patut untuk menjadi pemimpin negara. Lihat saja apa yang terjacli dengan Kerajaan Tang karena kaisarnya lemah dan mudah dipermainkan selir, dipermainkan para penjilat sehingga sampai terampas, oleh An Lu Shan. Kerajaan ini harus menjadi besar dan jaya, dan tidak mudah diganggu pemberontak."

"Bagaimana kalau kemudian engkau menilai bahwa tidak acla orang yang patut menjadi kaisar, koko? Apakah engkau sendiri....... !"

"Kenapa tidak ! Apa salahnya? ingat, Bi-moi, Kaisar Kerajaan Tang berikut seluruh keluarga dan pembantunya telah melarikan diri terbirit-birit dan siapakah yang merebut kembali tahta kerajaan dari tangan pemberontak An Lu Shan? Kita! Tidak ada usaha sedikit pun dari keluarga kerajaan yang sudah melarikan diri itu yang membantu tewasnya An Lu Shan dan An Kong, dan membantu terampasnya kembali kerajaan ini. Hanya kita dan para panglima yang membantu kita. Ticlakkah suclah sepatutnya kalau kita pula yang menikmati hasil nya? Dan kalau mereka semua itu memilih aku yang menjadi Kaisar, apakah engkau tidak suka menjadi Permaisuri ku?"

Kui Bi terbelalak.

Sama sekali tidak menyangka bahwa kekasihnya mempunyai ambisi sebesar itu.

Menjadi permaisuri !

Hatinya merasa bimbang.

Apakah ini suatu pengkhianatan?

Akan tetapi, memang tidak dapat disangkal bahwa kekasihnya yang paling berjasa, dan orang-orang lain itu hanya membantunya, kemudian ia teringat kepada kakak-"kakaknya.

Mereka Itu setia kepada Kerajaan Tang.

Apakah mereka akan setuju?

"Tapi....

engkau....

eh, kita akan berhadapan dengan mereka yang seta kepada Kerajaan Tang, koko dan..."

"Itu resikonya, Bi-moi. Semua cita-cita yang besar tentu selalu bertemu clengan tantangan clan tentangan, clan kita harus clapat mengatasinya. Kalau aku menjanj ikan kedudukan tinggi, bahkan mulai sekarang membagi-bagikan kedudukan tinggi kepada para panglima dan para cerclik pandai yang kita butuhkan tenaga dan kepandaiannya untuk mengemuclikan pemerintahan, kurasa tidak akan ada yang akan mampu melawan kita. aku tahu, Bi-moi, beberapa orang kang-ouw, bahkan termasuk mungkin kakak-kakakmu dan teman-"teman mu, boleh jadi akan merasa ticlak setuju clan mereka tetap setia kepacla Kerajaan Tang. Nah, untuk ini, engkaulah yang kuharapkan clapat membantuku untuk membujuk mereka agar mau membantu kita, dan tentu kita akan mengangkat mereka menclucluki tempat yang terhormat dan mu lia."

Kui Bi semakin bimbang.

Menclengar ucapan kekasihnya itu, ia membayangkan kekasihnya menjadi kaisar dan ia menjadi permaisuri, timbul gairah nya, akan tetapi mengingat kakak"kakak nya, ia menjadi bimbang ragu dan khawatir.

"Koko, bagaimana kalau mereka terutama Han-ko dan Lan"ci menolakuntuk membantu kita?"

Sia Su Beng menghela napas panjang.

"Kalau memang begitu, terserah kepadamu, Bi-moi. Engkau tahu bahwa aku cinta padamu dan ingat, perjuangan aku ini bukan demi kepentinganku sendiri, melainkan juga untuk masa depanmu dan masa depan anak-anak kita kelak maka engkaulah yang harus memilih antara cintamu kepadaku atau cintamu kepada mereka."

"Koko!"

Kui Bi mengerutkan alisnya dan menggigit bibir, dan Sia Su Beng cepat menghampiri dan merangkulnya.

"Sudahlah, Bi-moi. Engkau seorang gadis yang gagah perkasa dan bijaksana, tentu mengetahui apa yang terbaik bagimu. Aku akan berangkat keruangan persidangan karena tentu mereka sudah berdatangan."

"Yang kukhawatIrkan bukan hanya pendirian kakak"kakakku, koko, akan tetapi bagaimana kalau rakyat menolak Dan para pembesar di daerah-daerah yang begitu luasnya? Tanpa duku ngan rakyat dan para penguasa daerah, bagaimana engkau dapat berhasil?"

Sia Su Beng tersenyum, lalu mengeluarkan sebuah kotak hitam dari dalam almari, membuka tutupnya dan memperlihatkan isinya kepada kekasihnya.

"Lupakan engkau bahwa Mestika Burung Hong Kemala telah berada di tangan kita, Bi-moi? Pusaka in i adalah la mbang kekuasaan kaisar, maka kalau aku yang memilikinya, berarti kita mempunyai lambang kekuasaan tertinggi!"

Sambil tersenyum, dia me masukkan kotak ini dala m buntalan kain dan mengikatkan di pinggang, di sebelah dalam baju panglimanya.

Dia hendak mempergunakan benda pusaka itu untuk mempengaruhi para panglima dan calon pembesar.

Setelah mencium dahi kekasihnya, diapun meninggalkan Kui Bi yang masih termenung.

Tak lama setelah Sia Su Beng meningga lkannya, Kui Bi dalam keadaan risau keluar dari ruangan itu menuju ke kamarnya sendiri.

Pada saat itu, ia melihat Kui Lan yang agaknya memang datang berkunjung kepadanya.

"Enci Lan"

Bukan main girangnya rasa hati Kui Bi melihat enci nya, seperti orang kehausan melihat air karena dalam keadaan risau seperti itu, ia membutuhkan orang yang dekat dengannya untuk menu mpahkan kerisauanya.

Kui Lan agak heran dan bingung melihat adiknya langsung merangkulnya dan wajah adiknya demikian muram.

"Eh, engkau kenapakah, adikku? "Mari kita bicara di dalam, enci,"

Kata Kui Bi dan ia menarik encinya me masu ki ka mar dan menutup daun pintu ka marnya. Begitu mereka duduk di tepi pembaringan, Kui Bi menangis.

"Ehh, kenapakah engkau ini?"

Kui Lan merasa khawatir karena tidak biasa adiknya yang keras hati ini menangis.

Setelah menghapus air matanya dan dapat menenangkan hatinya, Kui Bi lalu menceritakan se mua tentang cita-cita Sia Su Beng yang tidak mau menyerahkan tahta kerajaan kepada kaisar Su Tsung, yaitu kaisar baru pengganti kaisar Beng Ong yang menyerahkan mahkota kepada puteranya itu.

Mendengar ini, tentu saja Kui Lan terkejut bukan main.

Akan tetapi ia bersikap tenang, sesuai dengan wataknya, apa lagi ia tahu benar bahwa adiknya amat mencinta panglima itu.

Akan tetapi, bagaimana mungkin dia dapat mengangkat diri menjadi kaisar?

yang memiliki wewenang adalah Pangeran Su Tsung yang sekarang telah mewarisi mahkota ayahnya, yaitu Sribaginda Beng Ong.

Para pejabat dan pejabat daerah, juga rakyat tentu akan menentangnya !

"Dia mempunyai lambang kekuasaan kaisar, yaitu Mestika Burung Hong Kemala, enci Lan."

"Tapi itu adalah pusaka yang palsu!"

Saking hanyut oleh kekhawatiran terhadap adiknya, ucapan ini keluar begitu saja dari mu iut Kui Lan.

ia terkejut dan menyesal, namun terlambat karena sudah diucapkannya.

Kui Bi mengangkat muka menatap wajah encinya.

"Kalau begitu, di mana pusaka Mestika Burung Hong Kema la yang aseli enci Lan?"

Terjadi perang dala m hati Kui Lan, hanya sebentar.

Betapapun besar rasa sayangnya kepada Kui Bi, na mun kalau adiknya itu membantu Sia Su Beng yang jelas hendak melakukan pemberontakan, adiknya itu keliru.

Segera dapat mengatasi keraguannya dan menggelengkan kepalanya sambil berkata.

"Aku tidak tahu,"

Ltu disa mbungnya cepat-cepat.

"Bi"moi, kenapa dia hendak melaku kan ini? Eng kau harus mengingatkannya adikku. Dia telah bertindak keliru dan sesat! Engkau..... engkau tidak boleh membantunya, Bi moi!"

"Enci Lan, engkau tahu bahwa aku sangat mencintanya dan aku siap mengorbankan nyawaku untuk Beng-koko. Dia itu calon suamiku, dan aku cinta padanya seperti dia mencintaku. Pula, setelah aku berbantahan dengan dia, aku melihat kebenaran dalam pendiriannya, Sri baginda Kaisar Beng Ong telah mengundurkan diri dan menyerahkan mahkota kepada Pangeran Su Tsung. Pangeran itu melarikan diri ketika bahaya datang, dan kita semualah yang telah bersusah payah menewaskan An Lu Shan dan An Kong. Kita semua, terutama sekali Beng -koko yang telah melum puhkan semua pengikut An Lu Shan dan merebut kembali tahta kerajaan dari pemberontak itu, Dan hasil semua ini akan diserahkan begitu saja kepada seorang pangeran penakut yang hanya enak-enak melarikan diri ke barat? Beng-koko tidak melihat harapan baik kalau kita di perintah seorang kaisar seperti itu. Oleh karena itu, enci Lan, marilah kau bantu kami. Mari kita bujuk Han-ko agar suka me mbantu, juga Souw Hui San dan Can Kim Hong.Aku yang menanggung bahwa kelak tentu kalian berempat akan menerima imbalan yang pantas, menjadi orang-orang yang mulia dan berkuasa dengan kedudukan tinggi."

Kui Lan menggigit bibir.

Adiknya ini mengingatkan ia kepada bibinya, rnendiang Yang Kui Hui, selir yang berambisi besar itu.

Ingin ia menampar adiknya.

Akan tetapi ditahannya karena ia segara menyadari bahwa ia dan Souw Hui San juga kakaknya Cin Han dan Kim Hong berada dalam bahaya kalau menentang Kui Bi dan Sia Su Beng.

la menghela napas dan mengangguk.

"Akan kubicarakan dengan Han-ko tentang semua ini, Bi-moi."

Lalu ia luar dari dalam ka mar itu, hatinya perih dan seluruh tubuhnya lemas, ia seperti mendapat firasat bahwa ia tidak akan bertemu lagi dengan adiknya yang tersayang itu.

Terlalu besar jurang yang memisahkan mereka.

Bagaimana mungkin ia menjadi pengkhianat dan balik membantu pemberontak, walaupun pemberontakan itu dilakukan oleh adiknya sendiri dan kekasih adiknya?

Ketika ia kembali ke tempat berempat tinggal, yaitu di gedung bekas tempat tinggal ayahnya, Kui Lan melihat Hui San, Cin Han dan Kim Hong sedang duduk di beranda depan, agaknya memang menanti-nanti kembalinya dari istana.

"Mari kita bicara di dalam,"

Kata Kui Lan kepada mereka dan mendengar suaranya yang lirih dan gemetar, juga wajah gadis itu yang mura m, sinar matanya yang mengandung kegelisahan, tiga orang itu cepat bangkit dan mengikutinya masuk ke dalam sebuah ruangan di mana mereka, dapat bicara tanpa didengar dan dilihat orang lain.

"Ada apakah, Lan-moi? Engkau mendengar sesuatu di istana?"

Tanya Cin Han, khawatir pula melihat sikap adiknya. Kui Lan menahan tangisnya, teringat kepada Kui Bi.

"Celaka, Han-ko! Sia Su Beng merencanakan pengkhianatan dan pemberontakan. Dia tidak mau menyerahkan tahta kerajaan kepada Kaisar Kerajaan Tang. bahkan agaknya hendak mengangkat diri sendiri menjadi penguasa, menjadi kaisar!"

Tentu saja tiga orang itu terkejut sekali.

"Aih, sudah kucurigai dia melihat sinar matanya ketika dia mengambil Mestika Burung Hong Ke mala dari tubuh Bouw Koksu!"

Kata Hui San.

"Lan-moi, apa alasannya?"

Tanya Hui San.

Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 2

Baca Juga: Pedang Ular Merah 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert