Ceritasilat Novel Online

Pek I Lihiap 3

Eps 3 Pek I Lihiap - Kho Ping Hoo

Baca online Pek I Lihiap - Kho Ping Hoo

Cersil Pek I Lihiap - Kho Ping Hoo.

"Dia? Dia siapakah yang kau maksudkan? Dan berapa kali kau katakan pelindung, siapakah yang kau maksudkan?"

"Dia itu, kawanmu dulu itu, pemuda yang berlagak sastrawan..."

"Ooo, kau maksudkan Gan Kam Ciu?"

Thian In mengangguk.

"Ya, siapa lagi. Di manakah pelindungmu yang gagah dan lihai itu?"

Giok Cu terkejut bukan main.

"Eh, eh, jangan kau permainkan namanya. Biarpun ia hanya seorang sastrawan yang lemah, tetapi ia seorang pemuda yang baik dan jujur. Selama hidup aku takkan melupakan kebaikan hatinya."

Thian In tertegun.

"Pek I Lihiap! Kau seorang gadis pendekar yang pandai ilmu silat.

"Benar-benarkah kau begitu bodoh hingga menyangka bahwa Gang Kam Ciu itu seorang sastrawan lemah?"

Tiba-tiba Thian In tertawa bergelak.

"Lucu! Lucu! Bukan aku yang sekarang merasa heran sekali mengapa kau dan ayahmu main-main, tapi kaulah yang hendak mempermainkan aku. Sampai mengadakan sayembara pilih mantu yang lihai dalam ilmu silat dan ilmu surat? Padahal di dekatmu ada pemuda seperti Kam Ciu! Terus terang saja, sepuluh kali lipat ia lebih pandai dariku, baik dalam ilmu silat maupun dalam ilmu kesusasteraan."

Giok Cu memandang wajah Thian In dengan mata terbelalak dan mulut ternganga heran.

Ia tidak mau percaya dan anggap bahwa Thian In sengaja mempermainkannya atau menyindirnya.

Thian In dapat menduga keraguan gadis itu, maka ia berkata.

"Nona Ong, memang mungkin kau tidak tahu, sedangkan aku sendiri yang tinggal sekamar dengan dia juga tadinya tertipu. Tahukah kau, siapa yang dulu menjatuhkan aku dan menolong kau dan ayahmu? Siapakah yang menotoku dan membuat aku tak berdaya hanya dengan beberapa butir buah kerikil? Siapa pula yang membantuku ketika aku bertempur melawan Hoan Tin-cu dengan sindiran tentang ular dan burung? Semua itu bukan lain ialah perbuatan pemuda sastrawan yang kau anggap lemah itu!"

"Dia...? Dia...?? Tapi... ayah dulu bilang bahwa yang dapat menggunakan batu untuk menotok orang hanyalah Hong-san Lojin. Apakah dia murid locianpwee itu?"

"Entahlah, tapi yang kutahu jelas ialah kepandaiannya yang hebat. Ingatkah kau dulu Hoan Tin-cu pernah menjura dan menyerang secara gelap kepadanya? Ia hanya duduk tertawa saja dan diam-diam memukul kembali serangan tosu itu! Ah aku sendiri masih geli memikirkan betapa bodohnya kita dapat ditipu sedemikian rupa!"

Sementara itu Giok Cu duduk termenung dengan pandangan jauh.

Pikirannya melayang tak karuan.

Ia teringat betapa baiknya pemuda sastrawan itu terhadapny, sungguhpun lamarannya dulu telah ditolak mentah-mentah dengan alasan bahwa Kam Ciu tidak pandai silat!

Ah, mengapa begitu?

Mengapa dul pemuda itu tidak terus terang saja dan memperlihatkan diri sebenarnya?

Mengapa pemuda itu rela lamarannya ditolak dari pada membuka rahasia dirinya?

Tapi ia dapat menguasai diri dan tunjukkan perhatiannya kepada Thian In, pemuda yang sedianya menjadi suaminya tapi yang kini seakan menjadi musuh itu!

"Cobalah, ceritakan padaku tentang sakit hatimu,"

Katanya. Thian In menghela napas beberapa kali kemudian berkata.

"Baiklah, memang seharusnya kau tahu pula duduknya perkara agar kau tidak manjadi penasaran."

Tapi Thian In tidak lanjutkan kata-katanya, bahkan miringkan kepala seakan-akan ada sesuatu yang didengarkan.

Giok Cu merasa heran dan curahkan perhatiannya untuk mendengar pula.

Benar saja, ada tindakan kaki orang di atas genteng!

Tindakan kaki itu demikian ringan hingga kalau tidak didengar dengan teliti, tentu takkan terdengar orang.

Sebelum mereka berdua dapat berbuat sesuatu, tiba-tiba ada bayangan orang melayang turun dan tahu-tahu seorang tosu yang bermuka kejam dengan pakian mewah berwarna kuning keemasan berdiri di depan pintu kamar mereka yang merupakan jeruji besi yang kuat.

Melihat tosu itu menyeringai memandang mereka, Giok Cu loncat berdiri dengan wajah pucat karena ia kenali tosu itu yang bukan lain Gang Ong Tosu, pendeta siluman yang sangat lihai dan yang pernah menculiknya dulu!

"Ha, ha, ha!

Pek I Lihiap yang manis jelita ternyata benar-benar orang yang berani mengganggu anak Kwie-san.

Aku tahu, aku tahu, selain kau si cantik manis siapa lagi yang berani?

Hayo kau turut aku ke Kwie-san!"

Setelah berkata begini tosu itu gunakan kedua tangannya memegang jeruji-jeruji besi itu dan sekali betot saja ia berhasil membongkar pintu besi yang belum tentu dapat terbongkar oleh tubrukan seekor kerbau!

Thian In meloncat mundur sambil mencabut pedangnya dan membentak.

"Tosu, siluman dari mana berani kurang ajar?"

Tosu itu memandang dan ketika melihat pedang Thian In yang digerak-gerakkan dalam persiapan, ia berkata.

"He, gerakan pedangmu menyatakan bahwa kau adalah murid Gak Bong. Benarkah?"

Thian In terkejut sekali.

Baru melihat ia mencabut pedang dan menggerakkan sedikit saja tosu itu sudah dapat tahu bahwa ia adalah murid Gak Bong Tosu!

Ia merasa heran siapakah tosu siluman yang kenal pada Pek I Lihiap dan juga agaknya kenal pula dengar gurunya ini!

"Gak Bong Tosu adalah suhuku.

Siapakah engkau?"

"Ha, ha, ha! Memang Gak Bong bukan orang baik-baik. Ia tidak bisa mengajar adat kepada muridnya. He, kau muridnya Gak Bong! Siapa namamu? Kau kurang ajar sekali berani-sekali berlaku tidak sopan terhadap susiokmu sendiri?"

Gemetarlah tubuh Thian In.

Ia pernah mendengar dari suhunya bahwa suhunya mempunyai seorang sute bernama Gak Ong Tosu tapi agaknya suhunya tidak suka kepada sute ini.

Apakah tosu ini Gak Ong?

Giok Cu berbisik di dekatnya.

"Ia adalah Gak Ong Tosu, tosu siluman yang dulu pernah menculikku, baiknya aku ditolong oleh gurumu!"

Pucatlah wajah Thian In. Terpaksa ia berlutut dan berkata.

"Maaf, susiok. Teecu tidak tahu sedang berhadapan dengan susiok maka berlaku kurang ajar. Terserah kepada susiok kalau hendak mengajar kepada teecu."

Sementara itu, Gak Ong Tosu telah masuk ke dalam kamar dan tertawa bergelak.

"Nah, begitulah seharusnya. Tapi kau tadi berlaku sangat kurang ajar! Kesinikan pedangmu!"

Thian In angsurkan pedangnya dan Giok Cu sudah siap dengan pedangnya pula dengan hati berdebar karena ia hendak membela mati-matian jika tosu siluman itu akan mencelakakan Thian In.

Tapi dengan gunakan jari telunjuk dan ibu jari, tosu itu tekan pedang Thian In.

"Pletak!!"

Dan dia lempar potongan pedang itu ke atas lantai.

"Tapi susiok, pedang itu adalah pemberian suhu. Mengapa dipatahkan?"

"Tak perduli pemberian siapa juga, kau telah bersalah dengan mencabutnya dan hendak melawan kepada susiokmu sendiri. Hayo maju dan berlutut!"

Thian In hanya dapat menurut, dan ia berlutut di depan susioknya.

Menurut perguruannya, seorang murid yang bersalah akan dipukul tubuh belakangnya.

Dan ia tahu bahwa susiok di depannya ini adalah seorang manusia berhati iblis dan tentu hendak menjatuhkan tangan kanannya kepadanya.

Tapi ia tak berani melawan karena dengan demikian berarti ia melanggar peraturan gurunya!

Ia hanya kerahkan tenaga dalamnya ke arah punggung untuk menahan kedua orang yang ditahan itu kedatangan musuh dari luar.

Dengan menyimpang Thian In ceritakan bahwa yang datang musuh-musuh lama, maka karena hari telah sore ia minta diri dari Tihu itu.

Pembesar itu terpaksa meluluskan karena iapun tidak suka kalau musuh-musuh kedua orang itu datang lagi membuat ribut.

Sebelum tinggalkan tempat itu, Thian In berkata kepada Giok Cu.

"Nona Ong, sekarang, biarlah kita berpisah. Aku masih ada urusan lain yang harus diselesaikan."

Giok Cu memandangnya dengan hati sedih.

"Tapi, tapi...kau belum ceritakan tentang hal...

"Biarlah nanti bila kita berjumpa di atas Kwie-san akan kuceritakan padamu akan hal ku mendendam kepada keluargamu."

Terpaksa Giok Cu hanya dapat melihat pemuda itu meninggalkannya dengan hati perih.

Ia merasa betapa sikap pemuda itu telah berobah kepadanya.

Ia sebagai seorang gadis yang berperasaan halus dapat merasakan bahwa Thian In tidak cinta.

Ujung sabut cepat melejit ke bawah dan menyambar leher tosu itu!

"Bagus juga permainanmu!"

Gak Ong memuji dan kali ini ia biarkan saja ujung sabuk membelit lehernya!

Ketika Giok Cu dengan girang menyentak sabuknya, bukan tubuh pendeta itu yang roboh, sebaliknya dia sendiri yang tertarik hingga terhuyung ke arah pendeta itu!

Gak Ong Tosu dengan tertawa menjemukan buka kedua lengannya sambil berkata.

"Ah, ah... mari, manis, mari sini..."

Tapi Giok Cu keburu menahan tubuh dan loncat mundur sambil memaki dengan gemas.

"Tosu anjing! Tosu siluman!"

Ia banting banting kaki dan hampir saja menangis, karena menghadapi tosu itu ia merasa sebagai seorang anak kecil yang tak berdaya.

Sementara itu Thian In masih berlutut tak bergerak.

Pada saat yang berbahaya itu, berkelebatlah sinar putih dan tahu-tahu sebutir batu karang putih menyambar ke arah pilingan kepala Gak Ong Tosu.

Menyambarnya senjata rahasia itu demikian cepat hingga Gak Ong mengeluarkan suara kaget dan berkelit ke samping.

Tapi pada saat itu juga, tida buah benda putih lain menyambarnya!

Senjata-senjata rahasia itu sangat lihai karena yang di arah adalah jalan-jalan darah yang mematikan.

Dengan berseru marah Gak Ong gunakan ujung bajunya yang panjang untuk mengebut ketiga batu itu, kemudian secepat kilat kedua tangannya bergerak dan tahu-tahu Thian In dan Giok Cu telah tertotok hingga tidak berdaya karena tak dapat bergerak sedikitpun!

Thian In masih berlutut dan Giok Cu berdiri bagaikan patung.

"Bu-Eng-Cu setan kecil! Jangan lari, tunggu pembalasanku!"

Gak Ong berseru keras lalu tubuhnya berkelebat keluar dan loncat ke atas genteng.

Ketika berada di atas genteng, ia tidak melihat siapa-siapa.

Tiba-tiba empat buah batu, batu lain menyambarnya yang dapt dikebut dengan mudah.

Berbareng saat itu terdengar seruan Bu-Eng-Cu si Tanpa bayangan.

"He, Gak Ong, pendeta cabul penuh dosa! Mengapa selainnya cabul dan jahat, kau juga sangat pengecut? Kau sudah janji dengan suhengmu untuk bertemu di Kwie-san. Mengapa kau ganggu mereka sebelum tiba waktu penetapan di Kwie-san? Apakah kau hendak andalkan kepandaianmu menghina yang lemah? Ingat, Gak Ong perbuatanmu ini akan membusukkan nama selama kau hidup di kalangan kang-ouw! Tidak beranikah kau menanti sampai setengah bulan lagi di Kwie-san?"

Merahlah wajah Gak Ong.

"Bu-Eng-Cu! Kau manusia rendah! Kau katakan aku pengecut? Untuk makian ini saja aku akan membunuhmu! Baiklah aku menanti di Kwie-san. Dan jangan kau tidak datang, karena kalau kau tidak muncul, ke manapun kau pergi pasti aku akan mengejarmu!"

Sehabis berkata demikian dengan hati panas Gak Ong Tosu melayang pergi.

Thian In dan Giok Cu mendengar semua itu tapi mereka tak berdaya untuk keluar.

Tiba-tiba dua butir batu melayang dan memukul tepat pada jalan darah Thian In dan Giok Cu yang segera terbebas dari totokan tadi.

Mereka memburu keluar dan loncat naik.

Tapi Bu-Eng-Cu Koay-hiap si Pendekar aneh Tanpa-bayangan sudah tak tampak sedikitpun bayangannya!

"Kenalkah kau kepada Bu-Eng-Cu Koay-hiap?"

Giok Cu bertanya dengan suara gemetar kepada Thian In. Pemuda itu geleng kepala dan tersenyum.

"Biarpun belum pernah bertemu muka tapi aku dapat menduga siapa dia, dan kurasa kaupun dapat menduganya, nona Ong. Tapi sementara ini biarlah kita jangan pusingkan kepala dengan menduga-duga karena kau tadipun mendengar bahwa setengah bulan lagi dia juga hendak naik ke Kwie-san. Ah, akan ramailah di sana nanti!"

Ketika mereka turun kembali, di situ sudah penuh orang-orang yang ternyata adalah Tihu dan pengawal-pengawalnya.

Mereka ini diberitahu oleh penjaga tahanan dan segera mengepung tempat itu karena menyangka bahwa datangnya pukulan susioknya yang ia duga tentu akan mendatangkan maut baginya, atau setidak-tidaknya luka dalam yang hebat!

Ia meramkan matanya.

Tapi pada saat itu Giok Cu tak dapat tahan marahnya lagi.

Secepat kilang ia menusuk dengan pedangnya ke arah pinggang tosu itu.

Gak Ong Tosu tertawa menyindir dan berkata.

"Ha, nona, kau juga hendak kurang ajar padaku? Lihat nanti di Kwie-san, kalau aku sudah membawa kau ke sana, apakah kau masih dapat berlaku segalak ini atau tidak. Ha, ha, ha!"

Sambil tertawa ia gerakkan tangannya dan tahu-tahu pedang Giok Cu telah menusuk celah-celah jari tangan tosu itu yang menyengkeram dan dengan keluarkan suara keras pedang Giok Cu juga patah menjadi dua.

Bukan main kagetnya gadis itu tapi ia belum mau menyerah.

Ia cabut sabuk suteranya dan gunakan itu untuk memecut muka Gak Ong Tosu.

Pendeta siluman itu gunakan tangan kiri mencabut ujung sabuk, tapi dengan sekatan sekali Giok Cu gerakkan tangannya hingga lagi padanya!

Ia terkenang kepada Kam Ciu.

Benarkah pemuda yang dulu ia tolak lamarannya dan tampak lemah dan tolol itu sekarang pendekar luar biasa?

Benarkah Bu-Eng-Cu Koayhyap yang lihai dan beberapa kali menolongnya itu adalah Gan Kam Ciu juga?

Ah, tidak masuk diakal!

Tapi kalau betul...

alangkah malunya kalau bertemu padanya!

Berpikir sampai di sini, Giok Cu menjadi bingung dan ia merasa betapa ia hidup seorang diri di dunia ini.

Tiba-tiba ia merasa sangat kesepian dan menangislah ia tersedu-sedu!

Ketika ada tangan memegang pundaknya dengan lembut, ia angkat kepala menengok Tihu tua yang ramah itulah yang memegang pundaknya.

"Lihiap, mengapa bersedih dan menangis? Marilah kau tinggal di rumahku beberapa hari, Lihiap. Isteriku tentu akan senang sekali bertemu dengan engkau. Tentu saja, kalau kau sudi mampir di rumah kami."

Giok Cu hendak menolak, tapi ia melihat wajah yang ramah itu seakan-akan memohonnya.

Juga, pada saat hari telah mulai gelap itu, hendak kemanakah ia pergi?

"Marilah, lihiap.

Barang-barangmu di hotel telah kupindahkan ke rumah kami, karena aku kalau-kalau di sana ada yang mencurinya."

Akhirnya Giok Cu setuju dan mengikuti Tihu itu ke gedungnya.

Tihu itu adalah seorang she Thio.

Thio Tihu hidup berdua dengan isterinya, karena putera tunggalnya yang bernama Thio Seng melanjutkan pelajaran ke kota raja dan menempuh ujian di sana.

Gedung Tihu itu biarpun besar tapi hanya diisi dengan perabot rumah tangga yang sederhana saja hingga diam-diam Giok Cu merasa heran.

Mengapa ada Tihu semelarat ini?

Ia tidak tahu bahwa Thio-Tihu terkenal sebagai seorang yang jujur dan adil.

Hatinya bersih tak pernah sudi menerima sogokan hingga ia terkenal dan disuka oleh rakyat, tapi keadaannya selalu miskin.

Kelebihan hasil yang dipakainya selalu digunakan untuk membantu mereka yang miskin, atau disumbangkan kepada kelenteng-kelenteng yang hendak memperbaiki bangunannya.

Thio-hujin ternyata adalah seorang nyonya setengah tua yang halus tutur bahasanya, perumah dan terpelajar pula.

Nyonya itu walaupun hanya seorang wanita, tapi setelah bercakap-cakap dengan Giok Cu, ternyata sangat luas pandangannya.

Tidak heran bahwa sebentar saja Giok Cu merasa tunduk betul dan merasa suka kepadanya.

Hal ini tidak saja dikarenakan kehalusan budi nyonya Thio, tapi juga karena sebenarnya Giok Cu haus akan kasih sayang seorang ibu.

Ibunya sendiri meninggal ketika ia belum dewasa.

Karena kebaikan Thio Tihu dan keramahan Thio-hujin.

Giok Cu merasa betah tinggal di situ hingga ketika suami isteri she Thio itu minta agar ia tinggal lebih lama ia menyetujui sambil haturkan terima kasih.

Tapi, biarpun merasa senang tinggal di situ karena tekanan-tekanan batin yang dideritanya semenjak tinggalkan rumah sampai pada perjumpaannya dengan Thian In, ditambah kekecewaan hatinya mendengar akan hal Kam Ciu yang membuatnya merasa malu kepada diri sendiri, Giok Cu jatuh sakit!

Tubuhnya panas sekali hingga ia sering sekali mengigau menyebut-nyebut nama ayah-ibu, nama Thian In dan Kam Ciu berganti-ganti.

Berhari-hari ia tidak ingat orang hingga Thio Tihu berdua isterinya merasa bingung sekali.

Kedua suami isteri yang baik hati ini segera panggil tabib terpandai dan merawat gadis itu dengan teliti dan open sekali.

Tiga hari kemudian Giok Cu sembuh kembali dari sakitnya, walaupun tubuhnya masih lema.

Ia terima kasih sekali kepada Thio-Tihu dan terutama kepada Thio-hujin yang sering kali duduk di pinggir pembaringannya dan gunakan tangannya yang halus untuk membereskan rambut dan pakaiannya, bahkan sering kali nyonya yang berbudi ini elus-elus rambut kepala Giok Cu dengan penuh kasih sayang!

Giok Cu tidak tahu bahwa nyonya itu dulu di samping puteranya mempunyai juga seorang anak perempuan yang wajahnya hampir sama dengan dia, dan yang meninggal dunia karena penyakit.

Agaknya persamaan wajah inilah yang menggerakkan hati nyonya itu untuk timbul kasih sayangnya terhadap Giok Cu.

Pada hari keempatnya, di waktu senja ketika Giok Cu sadar dari tidur siang, ia melihat Thio-hujin telah duduk pula di dekatnya.

"O, sudah lamakkah, pehbo?"

Tegurnya sambil buru-buru bangun duduk.

Ia diharuskan menyabut peh-peh dan Peh-boh, yakni uwak atau paman serta bibi kepada Thio-Tihu berdua, sebutan yang lebih mesra dan yang lebih berarti bahwa ia dianggap keluarga sendiri.

Thio-hujin menahan tubuhnya dengan tangan lalu mendorongnya perlahan untuk rebah kembali.

"Tidurlah saja Giok Cu badanmu masih lemah. Kebetulan sekali Siauw Seng mengirim buah-buah dari kota raja. Nah ini untukmu,"

Nyonya itu serahkan beberapa butir buah.

"Siapakah Siauw Seng Peh-boh??"

Thio hujin gunakan tangannya menutup mulut sambil tertawa.

"Lupakah kau? Dia adalah anak kami. Namanya Seng, tapi dari dulu kami sebut dia Seng Kecil (Siauw Seng)."

"Peh-bo, sungguh saya merasa berhutang budi kepadamu berdua. Kebaikan hatimu membuat saya malu saja. Maka besaok hendak melanjutkan perantauanku, Peh-bo."

Thio-hujin menghela napa.

"Kau... sudah tidak mempunyai orang tua lagikah?"

Giok Cu geleng-geleng kepala dengan sedih.

"Dan keluarga lain?"

Kembali Giok Cu geleng-geleng kepala.

"Dan... jangan marah, ja. Itu... pemuda yang dulu bersamamu? Siapakah dia? Masih keluargamukah?"

"Bukan! Ia hanyalah... kenalan ayah ketika beliau masih hidup. Kebetulan saja aku berjumpa di kota ini ."

"Jadi... kau, belum kawin?"

Giok Cu termenung sebentar, wajah halus itu sambil tersenyum lalu gelengkan kepala.

"Belum bertunangan?"

Pertanyaan ini dikeluarkan dengan hati-hati sekali. Giok Cu kerutkan jidat sebentar lalu menjawab tetap.

"Belum. Mengapa kau tanyakan hal itu, Peh-bo?"

Thio-hujin menghela napas.

"Terus terang saja, nak. Peh-pohmu dan aku sering bicara tentang kau dan kami merasa kau sebagai anak sendiri. Kami suka dan kasihan padamu. Kami... kami... jika kau suka, kami akan girang sekali mengambil mantu kau untuk kami jodohkan dengan Siauw Seng..."

Giok Cu bangkit dan duduk dengan serentak. Ia memandang dengan mata terbuka lebar kepada nyonya yang memandangnya dengan tersenyum itu.

"Ah, Peh-bo..."

Tiba-tiba Giok Cu memeluk nyonya itu dan menangis sedih. Thio hujin elus-elus pundak gadis itu dengan penuh kasih sayang.

"Kalau kau hidup sebatang kara, bukankah baik sekali kau terima pinanganku, Giok Cu? Kau akan mendapat keluarga dan orang tua yang akan selalu berlaku baik padamu. Tapi, ingat nak, aku tidak memaksa. Aku tahu bahwa sebagai seorang gadis pendekar yang sering merantau dan banyak melihat dunia kau tentu tidak puas menerima begitu saja. Maka biarlah kutunggu sampai Siauw Seng pulang, lihatlah sendiri putera kami itu. Kalau ia tidak terlalu buruk dan terlalu bodoh, kuharap engkau dapat menerima kehendak kami ini."

"Bukan demikian, Peh-bo. Tapi... tapi aku..."

Giok Cu tak dapat melanjutkan kata-katanya karena hatinya sangat terisak-isak saja. Nyonya Thio bangkit berdiri dan setelah menepuk-nepuk bahu gadis beberapa kali dengan mesranya ia berkata.

"Jangan banyak bersedih, nak dan jangan bingungkan tentang pinangan itu. Kau mempunyai banyak waktu untuk mempertimbangkannya. Sekarang mengasolah badanmu masih lemah."

Setelah berkata demikian nyonya yang baik hati itu tinggalkan kamar Giok Cu dan gadis itu duduk termenung seorang diri.

Pikirannya berputar-putar dan melayang-layang jauh.

Ia hendak dijodohkan dengan putera Tihu, seorang pemuda sasterawan.

Ia teringat kepada Kam Ciu.

Pemuda itu juga dianggap sastrawan ketika meminang dan ditolaknya, hanya karena alasan bahwa ia seorang pemuda sastrawan lemah!

Ah, ia telah menolak pemuda seperti Kam Ciu dan salah memilih seorang pemuda yang hendak membunuhnya, yang telah mendatangkan malu dan cemar pada keluarganya.

Dan sekarang ia akan dijodohkan dengan seorang pemuda sastrawan lain, sastrawan tulen?

Ia bingung, akhirnya menjadi pusing dan tak terasa tertidur kembali.

Di dalam tidurnya ia mimpi berjumpa dengan Thian In yang mengejarnya dengan pedang terhunus dan hendak membunuhnya.

Ia akhirnya tak kuat lari lagi dan menanti pemuda itu dengan nekad lalu ia berkata bahwa ia takkan melawan dan rela dibunuh asal saja pemuda itu suka menceritakan tentang sebab permusuhannya dengan ayahnya.

Tapi Thian In tak menjawab, hanya terus menyerang dan sabetkan pedang ke leher Giok Cu!

Giok Cu berkelit tapi pedang masih terus bergerak mengikuti leher hingga ia menjerit dan sadar dari tidurnya!

Giok Cu susut keringat yang membasahi leher dan jidatnya.

Seketika timbul rasa penasaran dalam hatinya terhadap Thian In.

Mengapa pemuda itu belum mau juga membuka rahasianya?

Mengapa belum juga menceritakan riwayat terjadinya permusuhan?

Malam hari itu, ketika Nyonya Thio memasuki kamar Giok Cu, ia melihat kamar itu telah kosong.

Gadis itu diam-diam telah pergi hanya tinggalkan sehelai surat di atas meja.

Dengan kecewa dan terharu Thio-hujin baca surat itu.

Thio Peh-bo yang tercinta, Sungguh saya merasa berdosa besar dan malu sekali telah pergi diam-diam tanpa pamit, setelah Peh-bo berdua begitu baik terhadap saya.

Tapi apa boleh buat, sebuah urusan yang sangat penting memaksa saya pergi malam ini juga.

Saya belum dapat ceritakan apakah adanya urusasn ini, dan pada bulan depan, sekiranya saya masih hidup, pasti saya akan datang menghaturkan maaf di depan Peh-bo berdua.

Hormat saya.

Ong Giok Cu Diam-diam Thio-hujin mengeluh.

Ah, dasar anak perempuan kang-ouw.

Sayang dia bukan gadis terpelajar biasa yang tidak kenal akan segala kekasaran dari golongan persilatan, pikirnya.

Maka timbullah sedirit rasa kecewa dalam hati nyonya yang halus budi itu.

Dan pergilah ia mendapatkan suaminya sambil membawa surat Giok Cu.

Thio Tihu hanya geleng-geleng kepala dan rabah-rabah kumisnya.

Seperti orang yang tak sehat pikiran, Giok Cu di waktu tengah malam buta pergi meninggalkan gedung Tihu, balapkan kudanya keluar kota dan semalam penuh tiada hentinya ia berpacu melawan angin malam.

Ia tak perdulikan hawa malam yang dingin, tak perdulikan tubuhnya yang baru saja sembuh dari sakit itu menjadi basah oleh keringat.

Ia larikan kudanya seperti dalam mimpi.

Satu-satunya pikiran yang terbayang dalam otaknya ialah kejar dan cari Thian In!

Fajar telah menyingsing ketika ia masuk kota kecil yang ramai.

Bau masakan yang keluar dari sebuah rumah makan menyadarkannya bahwa perutnya sejak malam tadi terasa lapar dan minta diisi.

Ia hentikan kudanya di depan rumah makan itu dan setelah ikat kendali kuda pada sebuah tiang, ia masuk.

Rumah makan itu kecil tapi telah ramai.

Giok Cu agak heran melihat kerajinan orang-orang di situ, sepagi itu telah keluar rumah dan berada di rumah makan.

Mungkin di situ terdapat pasar yang buka pagi-pagi, pikirnya.

Rumah makan itu berloteng dan karena di bawah terlalu penuh, Giok Cu naik ke loteng.

Semua tamu yang makan di situ adalah laki-laki belaka, dan tak seorangpun tidak menengok memandangnya semenjak ia memasuki pintu rumah makan.

Hal ini membuat Giok Cu merasa gemar sekali hingga ketika ia sudah sampai di loteng ia duduk sambil tarik kursi keras-keras.

Yang makan di atas loteng hanyalah serombongan orang terdiri dari seorang tua dan empat orang muda.

Pakaian mereka menunjukkan bahwa mereka adalah ahli-ahli silat dan di pinggang mereka tergantung pedang.

Tapi Giok Cu tak memperhatikan mereka hanya makan dengan bernapsu.

Ia tidak tahu bahwa seorang di antara mereka yang muda, memandangnya dengan penuh gairah.

Ketika ia kebetulan menengok, maka marahlah ia karena orang muda itu lalu memandangnya dengan mata kurang ajar dan mulut cengar cengir!

Bangsat, pikirnya, dan untuk melampiaskan rasa mendongkolnya, Giok Cu berdiri dengan serentak dan pergi hingga kursi yang tadi didudukinya terguling dan mengeluarkan suara keras!

Tapi gadis itu tak perdulikan itu semua, hanya cepat bayar harga makanan dan cemplak kudanya.

Tapi setelah keluar dari kota, pikirannya agak tenang.

Hawa sangat sejuk dan pemandangan indah.

Maka ia jalankan kudanya dengan perlahan seenaknya.

Tiba-tiba ia mendengar suara kaki kuda belakangnya.

Segera ia hentikan kudanya dan minggir.

Ternyata yang datang adalah lima orang yang tadi sedang makan di loteng rumah makan.

Pemuda yang tadi memandangnya dengan sikap menjemukan, tahan les kudanya hingga kawan-kawannyapun terpaksa berhenti.

Orang tua itu angkat tangan memberi hormat.

"Nona, boleh aku bertanya. Nona hendak ke mana?"

Kata-katanya diiringi senyum memikat. Giok Cu kedikkan kepalanya.

"Hendak kemanapun aku apakah hubungannya dengan kamu?"

Orang itu tersenyum dan lirik kawan-kawannya yang juga tersenyum mendengar dan melihat lagak gadis yang galak itu.

"Tidak apa-apa, nona. Hanya kalau kita sejurusan, bukankah lebih enak kita jalan sama-sama dari pada menyepi seorang diri."

Giok Cu marah sekali, wajahnya memerah.

"Kau anggap aku orang apa maka kau berani berlaku kurang ajar?"

Orang itu makin lebar senyumnya.

"Kau? Kau kuanggap orang yang cantik jelita, sayang sedikit galak!"

"Bangsat, rendah, kau cari mampus!"

Giok Cu cabut pedangnya dan loncat turun dari kudanya. Pengganggunya loncat turun juga dan sambil memandang kawan-kawannya ia berkata.

"Ah, tak kusangka gadis cantik ini pandai main pedang. Twako, perkenankanlah aku main-main sebentar dengan orang ini."

Orang yang tertua mengangguk tersenyum.

"Tapi berhati-hatilah, jangan kau celakakan padanya."

"Mana aku tega hati untuk melukai kulitnya yang halus dan putih bersih itu?"

Orang itu berkata tapi ia harus segerah tahan suara ketawanya ketika pedang Giok Cu datang menyambar!

"Aya...!

ia berseru sambil berkelit cepat, tapi tak disangkanya gerakan pedang Giok Cu yang cepat sudah datang menyerang lagi!

"Bagus!"

Teriaknya dan menangkis.

Kini Giok Cu yang terkejut karena tangkisan itu berat sekali hingga tangannya tergetar.

Ia tahu lawannya bukan orang lemah, maka cepat tangan kirinya mencabut sabuk suteranya yang segera disabetkan ke arah muka lawannya.

Lawannya terkejut dan melihat benda panjang warna kuning bagaikan ular menyambar mukanya, ia berkelit, tapi benda itu cepat sekali gerakkannya hingga pundaknya masih tercambuk!

Ia rasakan pundaknya panas hingga terhuyung-huyunglah ia ke belakang sambil menjerit.

"Aha, lihai sekali!"

Melihat kawannya tak dapat menangkap gadis itu bahkan kena terpukul sabuk, pemimpin mereka yang paling tua itu merasa kagum dan tiba-tiba ia bertanya kepada Giok Cu.

"Nona berpakaian putih, bersenjata pedang dan sabuk. Bukankah Pek I Lihiap?"

"Aku memang Pek I Lihiap, habis kalian mau apa? Pergilah sebelum aku ambil kepala kalian semua!"

Jawab Giok Cu dengan jumawa. Orang tua itu tertawa besar melihat lagak gadis itu.

"Pek I Lihiap kau sombong sekali. Kalau baru mempunyai kepandaian seperti ini saja, tak mungkin kau mampu ambil kepala kami. Tapi kami mempunyai urusan lebih penting dan tidak ada waktu bermain-main maka maafkanlah kami!"

Ia lalu memberi tanda kepada kawan-kawannya yang cemplak kuda masing-masing dan melanjutkan perjalanan.

Giok Cu mendengar betapa mereka goda dan tertawai pemuda yang menggodanya tadi.

Diam-diam Giok Cu bernapas lega.

Ia maklum bahwa untuk melawan pemuda tadi itu saja belum tentu ia bisa menang.

Apa lagi melawan yang lain-lain yang agaknya berkepandaian tinggi, terutama pemimpin itu.

Ia heran dan ingin tahu siapakah rombongan itu.

Langgam bicaranya seperti orang-orang kota.

Karena tidak mempunyai tujuan tertentu, maka Giok Cu ikuti jejak mereka.

Setelah hari mulai gelap, sampailah ia di kota Liok-an-kia.

Ia memilih kamar di hotel yang terbesar.

Ketika ia diantar oleh pelayan ke kamarnya, ia mendengar suara orang bercakap-cakap dan ia kenal bahwa orang-orang yang sedang bercakap-cakap di kamar sebelah adalah rombongan yang ribut dengan dia di hutan tadi.

Karena merasa curiga dan ingin sekali tahu darimana datangnya orang-orang ini, ia hendak mengintai dan mendengar pembicaraan mereka.

Kebetulan sekali ia dapatkan sebuah lobang kecil dinding papan yang memisah kamarnya dengan kamar besar mereka.

Ia melihat mereka berlima mengelilingi meja menghadapi arak dan makanan.

Ia pasang telinga mendengar dengan penuh perhatian.

"Kita harus berhati-hati dan jangan gegabah. Ciu-sute tadi berlaku sembrono sekali, harap saja hal semacam itu jangan terulang lagi. Kita sedang menghadapi tugas besar dan berat, jangan libat diri dengan segala hal yang reme-reme.

"Tapi apakah beratnya menangkap seorang sastrawan lemah semacam Thio Seng?"

Pemuda yang tadi menganggu Giok Cu itu berkata menghina.

"Ciu-sute, kau masih muda dan belum banyak pengalaman. Jangan kau kira mudah saja menangkap Thio Seng. Biarpun dia sendiri lemah. Tapi namanya telah banyak menggerakkan hati orang-orang gagah di kalangan kang-ouw dan ia telah banyak mempunyai kawan. Karena itulah maka Oey Tay-jin mengutus kita. Gadis tadi adalah Pek I Lihiap, sia tahu kalau-kalau dia juga mempunyai hubungan dengan Thio Seng?"

Giok Cu merasa heran karena ia teringat akan putera Thio Tihu.

Bukankah putera Thio Tihu yang bersekolah di kota raja juga bernama Thio Seng?

Bukankah orang yang hendak dijodohkan dengan dia yang disebut Siauw Seng oleh nyonya Thio, adalah seorang yang dinanti-nanti dan hendak ditangkap oleh kelima orang ini?

Ia mendengarkan lagi.

"Penyelidik kita melapor bahwa dia telah berada di Ki-lok dan paling lama dua hari lagi tentu tiba di sini."

Tiba-tiba timbul pikiran dalam kepala Giok Cu.

Ia harus tolong Thio Seng.

Ia harus membelanya sebagai pembalas budi kepada orang tua pemuda itu.

Sementara itu, tak habis herannya mengapa anak muda terpelajar putera seorang Tihu pula, hendak ditangkap oleh rombongan orang-orang ini?

Siapakah mereka ini?

Pada saat itu terdengar suara orang-orang di luar dan pintu kamar mereka terbuka.

Maka masuklah empat orang yang tiga berpakaian seperti lima orang pertama dan yang keempat adalah seorang pendeta Lama berkepala gundul yang berpakaian jubah kuning, tapi jubah itu tak berkancing di bagian atas dan terbuka saja hingga tampak dadanya yang penuh bulu hitam.

Tubuh Lama itu tinggi besar, tapi tindakan kaki dan gerakannya demikian ringan dan gesit hingga diam-diam Giok Cu terkejut.

Ia maklum bahwa orang-orang dalam kamar itu adalah orang dengan kepandaian tinggi, sedikitnya tidak di bawah kepandaiannya sendiri!

"Ha, loheng baru datang!

Dan Beng Po Hwatsu juga ikut datang!

Silahkan duduk, silahkan duduk!"

Semua orang duduk, kecuali Lama itu.

Ia berdiri dan tiba-tiba tangannya mengangkat guci arak dan menghirupnya.

Kemudian ia turunkan lagi guci itu ke atas meja, lalu menengok ke dinding yang berlobang kecil dan menyembur.

"Pinto paling tidak suka kalau ada anak anak mengintip-ngintip orang lain,"

Katanya lalu tertawa bergelak-gelak.

Untung sekali Giok Cu telah bercuriga dan buru-buru tarik kepalanya dari lobang itu.

Ia melihat arak yang disemburkan itu memasuki lobang bagaikan jarum-jarum berterbangan!

Kalau saja semburan arak itu mengenai matanya tentu ia akan menjadi buta!

Keringat dingin membasahi jidatnya.

Bagaimana pendeta itu dapat tahu bahwa ia berada di situ?

Apakah pendeta itu dapat melihat menembus dinding?

Giok Cu tak sempat berpikir lagi, tentang hal ini.

Ia cepat ambil pedang dan buntalan lalu keluar dari kamar.

Kepada pelayan ia beritahukan bahwa ia hendak pergi pesiar naik kudanya.

Setelah cemplak kudanya, ia balapkan kuda tinggalkan tempat berbahaya itu.

Ia bertanya kepada orang-orang di situ jalan yang menuju ke Ki-lok, karena ia hendak mencegat Thio Seng untuk diberi peringatan.

Kemudian ia kaburkan kuda menempuh malam gelap!

Ia merasa lelah dan mengantuk, tapi karena ingin segera berjumpa dengan Thio Seng dan menolongnya menghindarkan diri dari bencana, ia tidak memperdulikan diri sendiri.

Ia makin heran memikirkan mengapa untuk menangkap anak muda itu dibutuhkan tenaga demikian banyak, bahkan harus minta bantuan seorang berilmu tinggi seperti pendeta Lama itu.

Ia terus berkuda sampai pagi dan masih saja ia berada dalam sebuah hutan, karena jalan besar yang dilaluinya itu lewat dalam sebuah hutan yang sangat panjang.

Untung malam tadi terang bulan hingga ia bisa melanjutkan perjalanan.

Ketika melihat sebuah anak sungai ia turun dan mencuci muka, karena ia merasa lelah sekali dan mengantuk, sedangkan ia hendak melanjutkan perjalanannya sampai dapat berjumpa dengan orang yang dicarinya.

Pada siang hari, setelah melampaui beberapa dusun dan bertanya kepada para petani kalau-kalau mereka melihat rombongan sastrawan muda lewat di situ, akhirnya ia bertemu juga dengan Thio Seng.

Ia melihat empat penunggang kuda datang dari depan.

Yang tiga orang berpakaian seperti biasa dipakai seorang siucay atau mahasiswa.

Sedangkan orang keempat berpakaian sebagai ahli silat.

Ketika mereka datang dekat, Giok Cu sengaja mencegah di tengah jalan karena ia hendak bertanya apakah benar mereka itu rombongan Thio Seng.

Tapi alangkah herannya ketika melihat bahwa orang yang membawa pedang dan mengawal mereka itu bukan lain ialah Thian In sendiri!

"Ong Siocia!

Kau di sini?"

Tegur Thian In yang majukan kudanya.

"Aku bukan sengaja mencari kau,"

Gadis itu menjawab perlahan walaupun ia tahu bahwa sebenarnya Thian In yang dia cari-cari.

"Hendak kemanakah kau?"

"Aku hendak mencegat rombongan Thian kongcu. Apakah tuan-tuan ini rombongannya?"

Seorang pemuda yang berwajah tampan dan tampak cerdas majukan kudanya lalu menjawab dengan menjura.

"Siauwtee adalah Thio Seng, apakah yang harus siauwtee kerjakan untukmu, nona? Giok Cu memandang tajam. Inilah pemuda yang hendak dijodohkan dengan dia! Mau tidak mau ia harus akui bahwa Thio Seng adalah seorang pemuda yang cakap sekali. Mukanya putih dan bundar dengan sepasang mata yang bening tajam, sedangkan mulutnya manis dengan bibir merah seperti mulut seorang wanita cantik dan usianya paling banyak dua puluh tahun. Kalau dibandingkan, Thio Seng lebih tampan daripada Kam Cu maupun Thian In sekali! Giok Cu balas memberi hormat.

"Thio kongcu, maaf aku tidak kenali kau karena baru mendengar nama saja, baru kali ini melihat rupa. Aku kenal baik dengan kedua orang tuamu, Thio kongcu. Wajah pemuda itu berseri.

"Ah, bagaimana keadaan mereka, nona? Mereka baik saja dan mengharap-harap kedatanganmu."

"Kau sungguh mulia, nona. Terima kasih atas berita yang kau sampaikan ini. Tapi...tapi agaknya nona mempunyai kepentingan dengan siautee hingga sampai mencegat di sini."

"Sebenarnya, aku hendak memperingatkan kau supaya berhati-hati karena ada beberapa orang hendak menangkapmu!"

Giok Cu menduga bahwa pemuda itu akan terkejut dan ketakutan, tapi ia kecele.

Thio Seng sama sekali tidak memperlihatkan muka terkejut, apa lagi takut.

Tidak demikian dengan kedua kawannya yang juga adalah pemuda-pemuda pelajar sastra, mereka ini menjadi pucat dan jelas menunjukkan muka takut.

Tiba-tiba Thian In pegang lengan Thio Seng dan berkata.

"Mereka benar-benar tidak mencegat kita, tapi jangan takut, ada aku di sini. Apa pula sekarang ada Pek I Lihiap beserta kita, takut apakah kita?"

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Thian In sengaja jalankan kuda di belakang bersama Giok Cu. Setelah berada di belakang berdua dengan gadis itu, wajah Thian In tampak bersungguh-sungguh.

"Nona Ong, sebenarnya siapakah orang-orang yang hendak menangkap Thio-kongcu? Ada berapa orang dan mereka orang-orang apa?"

"Katanya kau tidak takut! Untuk apa tanya-tanya pula?"

Jawab Giok Cu sambil mengerling tajam dan mulut tersenyum mengejek.

"Di depan Thio kongcu tidak perlu kita bicara tentang bahaya."

"Tapi ia tampaknya tak setakut engkau!"

Thian In menghela napas.

"Memang ia orang luar biasa. Biarpun tubuhnya lemah, tapi hati dan semangatnya lebih kuat dan tabah daripada kita. Karena itu harus kita lindungi dia."

"Eh, dia itu orang apakah maka agaknya demikian penting? Aku lihat orang-orang yang hendak menangkapnya juga bukan orang-orang sembarangan. Mereka berjumlah sembilan orang dan semuanya memiliki ilmu silat yang tidak rendah, terutama pendeta itu!"

"Biarlah aku tidak takut. Apalagi ada kau yang membantu."

"Engkoh Thian In sebenarnya orang penting macam apakah pemuda sastrawan lemah itu?"

Tanya Giok Cu sambil menunjuk dengan gagang cambuk kudanya ke arah punggung Thio Seng, dan bagaimana kau bisa bersama-sama dengan dia?"

"Biarlah kuceritakan riwayatnya yang kudengar dari suhu, dan tentang pertemuanku dengan dia agar kita tidak kesepian melalui hutan ini,"

Kata Thian In yang selalu bercerita.

Seperti telah diketahui, Thio Seng atau yang biasa disebut Siauw Seng oleh ayah ibunya, adalah putera tunggal dari Thio Tihu yang tinggal di kota Anting.

Semenjak kecilnya, Thio Seng sangat pintar dan maju sekali dalam pelajaran membaca dan menulis hingga setelah ia agak besar, ayahnya mengirimnya ke kota raja di mana tinggal pamannya yang menjadi congtok.

Thio Seng terus mempelajari ilmu kesusasteraan dan ketatanegaraan dengan tekun dan rajin ketika ia menempuh ujian koota raja, ia lulus dengan hasil baik.

Tapi dalam dada pemuda ini menyala semangat cinta bangsa yang besar sekali hingga ia segera merasa penasaran dan menyesal melihat ketidak adilan pemerintah Cen-tiauw di masa itu.

Ia anggap bahwa pemerintah asing dan bangsa Boan mengisap rakyat yang miskin.

Ia bersedih betapa orang-orang gagah bangsa Han yang memiliki kepandaian digunakan oleh pemerintah asing itu untuk menindas rakyat lemah, betapa orang-orang gagah terpecah belah dan bahkan saling bermusuhan.

Terdorong oleh rasa penasaran, kemarahan dan kesedihan ini ia menulis sebuah karangan yang isinya mencela pemerintah Boan dan menyerukan kepada semua rakyat jelata agar bersatu padu, saling tolong dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk.

Walaupun ia tidak langsung menganjurkan pemberontakan, tapi isi tulisan itu demikian tajam hingga menimbulkan heboh besar, baik di kalangan rakyat maupun di pihak pemerintah.

Orang-orang gagah yang membaca karangan itu timbullah semangat kepahlawanan dan jiwa patriotnya, para dorna atau penghianat, yakni orang-orang Han yang gunakan kesempatan untuk mencari pangkat dengan menjilat-jilat pembesar-pembesar Boan dan menindas serta kurbankan bangsa sendiri merasa tercambuk muka mereka, sedangkan kaisar membaca karangan itu menjadi marah.

Pada saat itu memang Thio Seng hendak pulang ke rumah orang tuanya, maka kaisar segera memberi titah untuk menangkap pemuda itu dan membawanya ke istana.

Tapi hal itu dilakukan dengan hati-hati sekali oleh para petugaas karena mereka maklum bahwa banyak sekali orang gagah merasa simpati dan suka kepada Thio Seng.

Di antara para orang gagah i tu, Gak Bong Tosu juga merasa kagum akan keperibadian dan buah pikiran anak muda itu, maka ia segera mencari Thian In dan perintahkan muridnya itu mencegah perjalanan Thio Seng dan melindunginya.

Thian In semenjak gagaknya membalas dendam kepada Ong Kang Ek lalu naik gunung dan bertapa dengan suhunya, tapi Gak Bong tahu bahwa muridnya itu tidak berjodoh untuk menjadi pertapa, karena itulah maka ia perintahkan muridnya turun gunung sekalian melindungi pemuda sasterawan yang berjiwa besar itu.

Perjalanan Thian In terhalang ketika ia bertemu dengan Giok Cu, tapi segera pemuda itu melanjutkan perjalanannya ke kota raja untuk menjemput Thio Seng.

Kebetulan sekali ia bertemu dengan Thio Seng yang telah tertangkap oleh segerombolan perampok dan dengan gagah Thian In menwaskan kepala rampok dan menolong Thio Seng dengan dua orang kawannya.

Semenjak peristiwa itu mereka bersahabat dengan Thian In mengawali Thio Seng pulang ke kampungnya dan bertemu di jalan dengan Giok Cu.

Demikianlah, Thian In menceritakan pengalamannya kepada Giok Cu dan sebaliknya Giok Cu juga tuturkan pengalamannya semenjak mereka berpisah.

Tentu saja ia tidak ceritakan bahwa ia telah dipinang oleh Thio-hujin untuk dijodohkan dengan Thio Seng!

Akhirnya Giok Cu bertanya.

"Engko Thian In, sebenarnya aku masih sangat mengharap penjelasan tentang rahasiamu agar penasaranku segera padam."

Thian In menghela napas dan geleng-geleng kepala.

"Belum waktunya, nona Ong, nanti saja aku tuturkan hal itu di atas gunung Kwie-san!"

Setelah berkata demikian pemuda itu keprak kudanya dan jalankan kudanya sejajar dengan Thio Seng, sedangkan Giok Cu dengan hati mangkel tinggal di belakang.

Tak lama kemudian Thian In mendekati Giok Cu lagi dan berkata perlahan.

"Nona, kau katakan tadi hendak membalas budi keluarga Thio dan membela Thio kongcu, betulkah?"

Giok Cu memandang heran karena ia tidak dapat menduga apa maksud pemuda itu, tapi ia mengangguk membenarkan.

"Kau begitu, kuharap kau suka berjalan di belakang, sedangkan aku berjalan di depan hingga Thio kongcu dan kawan-kawannya berada di tengah. Dengan cara demikian, akan lebih mudahlah kita melindunginya. Hati-hatilah, kita sudah dekat Liok-ankian!"

Giok Cu mengangguk dan semangatnya bangun kembali.

Ah, ia memang hendak membalas budi dan melindungi keselamatan Thian Seng dengan sekuat tenaga, kalau perlu dengan jiwanya!

Bukankah dulu ayah bunda pemuda itu juga telah memeliharanya dari sakit, bahkan mungkin dari kematian?

Ketika mereka memasuki kota Liok-ankian, hati Giok Cu berdebar.

Betapapun juga, kalau teringat akan pendeta Lama itu, ia merasa seram dan ngeri juga.

Dapatkah ia dan Thian In melawan kekuatan mereka itu?

Ia sangsi dan ragu-ragu, tapi di depan Thian In dan Thio Seng ia tidak sudi perlihatkan kelemahan atau ketakutan, lebih-lebih ketika ia mendengar bahwa biarpun tubuhnya lemah, hati dan semangat Thio Seng menyala bagai api yang tak kenal padam!

Mereka singgah di sebuah rumah makan sebentar untuk makan.

Selama itu Giok Cu dan Thian In berlaku sangat hati-hati biarpun kepada Thio Seng mereka tak berkata apa-apa.

Terutama Thian In sampaipun makanan dan minuman yang dihidangkan selalu diperiksa dengan teliti hingga diam-diam Giok Cu merasa kagum dan dalam perjalanan itu ia banyak mendapat petunjuk yang memperluas pengalamannya.

Tapi sungguh heran, sampai pada saat mereka keluar lagi dari kota Liok-ankian, mereka tidak mengalami gangguan sedikitpun!

Thian In memandang Giok Cu dengan penuh pertanyaan, tapi gadis itu sendiripun mengangkat pundak dan terheran.

Perjalanan dilanjutkan.

Beberapa belas li setelah mereka berada di luar kota, tiba-tiba mereka berada di luar kota, tiba-tiba di sebuah kota jalan tikungan mereka melihat beberapa orang berdiri di pinggir jalan.

"Nah, itulah mereka!"

Giok Cu berkata cemas. Ketika Thian In memandang, pemuda itu berseru.

"Celaka mereka adalah pengawal-pengawal istana, jagoan-jagoan kelas satu! Kita menemui lawan-lawan berat!"

Ternyata yang mencegat mereka adalah delapan orang pahlawan keraton dan seorang pendeta lama berjubah kuning.

Thian In belum pernah melihat pendeta asing itu, mereka tidak berapa memperhatikan.

Yang menjadi pusat perhatiannya ialah rombongan pengawal itu.

"Nona, kau lihat! Pengawal yang tertua itu bukan lain ialah Kim-To Poey Kong Si golok emas! Ia lihai sekali, maka serahkanlah ia padaku. Kau boleh layani yang muda-muda mungkin mereka tak berapa berat!"

Ketika mereka sudah datang dekat dengan para pencegat itu Kim-To Poey Kong sambil lintangkan goloknya angkat tangan kiri.

"Tahan, atas nama Sri Baginda Kaisar yang mulia, kami harus antar Thio siucai kembali ke kotaraja!!"

Thio Seng memang biasa disebut Thio siucai, ialah sebutan bagi para sastrawan yang telah lulus ujian. Melihat sikap orang, Thio Seng turun dari kuda dan bertanya.

"Bolehkah aku melihat tanda-tanda bahwa kau diutus oleh Baginda Kaisar? Mana lengkinya (bendera perintah)?"

"Lihatlah, bukalah matamu! Bukankah jelas bahwa kami adalah pahlawan-pahlawan Kaisar? Kami tak perlu membawa lengki!"

Thio Seng geleng-geleng kepala dengan tabah.

"Tak mungkin ada aturan demikian! Kalau memang kau membawa tanda dari Sri Baginda, tentu aku akan berlutut dan menurut saja kau tangkap. Tapi karena kalian tidak membawa surat perintah, aku tidak mau kau suruh kembali ke kota raja!"

"Twako, tak perlu ribut-ribut. Tangkap saja dia!"

Seru pengawal lain. Tapi pada saat itu Thian In dan Giok Cu maju menghalang di depan Thio Seng.

"Orang-orang kurang ajar dari mana hendak andalkan kekerasan mengganggu orang baik-baik?"

Thian In membentak.

"Eh, darimana datangnya orang hutan ini? Menyindir seorang pengawal muda yang pernah merasakan sabetan sabuk Giok Cu, berkata menyeringai. (Lanjut ke

Jilid 06) Pek I Lihiap (Cerita Lepas) Oleh . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06

"Ha, Pek I Lihiap datang lagi. Apakah kau rindu padaku?"

Pahlawan itu gunakan kesempatan untuk menghina Giok Cu karena hatinya masih sakit karena sabetan dulu.

"Saudara-saudara! Kalau memang kalian tidak mencari permusuhan, pergilah jangan ganggu kami!"

Thian In berkata lagi. Kim-to Poey-kong tertawa.

"Sobat, kau agaknya seorang gagah juga. Maka kau pergilah dengan Pek I Lihiap, kami takkan mengganggu kalian. Tapi Thio-siucai ini harus kalian tinggalkan kepada kami."

"Tak mungkin! Kami berlima adalah teman seperjalanan, tak mungkin dia kami tinggalkan. Kami pergi bersama dan tinggal bersama pula."

"Kalau begitu, terpaksa kami harus gunakan kekerasan!"

"Silahkan! Kami tidak takut!"

Berkata demikian ini Thian In mencabut pedangnya dan Giok Cu juga turut contoh pemuda itu.

"Ha, ha! Agaknya kalian dua orang muda sudah bosan hidup."

Sebagai penutup kata-katanya, Kim-To Poey Kong gerakkan golok emasnya ke arah Thian In yang menangkis dengan cepat.

Keduanya merasa betapa besar tenaga masing-masing hingga Kim-To Poey Kong terkejut sekali, karena si Golok emas ini tadinya hendak gunakan tenaganya dan sekali sampok hendak bikin pedang Thian In terpental jauh!

Siapa duga, tidak saja pedang, pemuda itu tidak terlempar, bahkan ia merasa telapak tangannya yang memegang golok tergetar panas!

Ia maklum bahwa pemuda di depannya ini tak boleh dibuat gegabah, maka ia berseru.

"Kawan-kawan, serbu!"

Para pengawal keraton itu maju menyerbu dengan senjata masing-masing tapi Giok Cu perlihatkan kesebetannya.

Ia mengamuk hebat dengan tangan kanan pegang pedang dan tangan kiri pegang sabuk sutera.

Gerakannya demikian gesit dan ia bersilat dengan penuh semangat hingga tak berbeda dengan seekor harimau betina mengamuk.

Thian In juga keluarkan seluruh kepandaiannya.

Ia mainkan pedangnya bagaikan seekor naga menyambar-nyambar ke sana kemari.

Tapi lawan mereka adalah pahlawan-pahlawan kelas satu yang memiliki kepandaian silat tinggi hingga mereka segera terkurung dan terdesak hebat.

"Adik Giok Cu, kesini!"

Thian In berseru keras dan Giok Cu segera geser kakinya hingga mereka berdua berkelahi sambil adu punggung.

Dengan cara demikian, mereka lebih muda menghadapi lawan-lawan mereka tanpa khawatir diserang dari belakang.

Giok Cu berkelahi makin bersemangat.

Agaknya sebutan Thian In menyebutnya adik!

Kedua kawan Thio Seng dengan wajah pucat dan tubuh menggigil ketakutan bersembunyi di balik pohon.

Tapi sungguh mengagumkan, Thio Seng sendiri duduk di atas sebuah akar pohon yang menonjol keluar dari tanah.

Anak muda itu duduk dengan enaknya sambil nonton perkelahian itu.

Berulang-ulang ia mengangguk dan matanya berseri kagum melihat sepak terjang Thian In dan Giok Cu hingga beberapa kali ia berseru.

"Bagus! Bagus!"

Tapi perlahan-lahan, Thio Seng merasa cemaas juga, bukan takut untuk nasibnya sendiri, tapi takut kalau-kalau kedua muda mudi yang gagah itu akan mendapat celaka, di ujung senjata.

Ia tahu betapa mereka terdesak, tapi apa daya, ia tak sanggup membantu.

Thian In dan Giok Cu juga merasa betapa berbahaya keadaan mereka.

Mereka telah merasa lelah sekali, bahkan Thian In telah mendapat beberapa luka di tubuhnya.

"Adikku yang baik, biarlah kita mati bersama dalam menjalankan tugas kegagahan!"

Thian In berbisik, Giok Cu tiba-tiba merasa kedua pipinya basah karena air matanya loncat keluar ketika ia mendengar kata-kata Thian In itu. Ia hana bisa menjawab dalam bisikan.

"Engko Thian In, jangan putus harapan. Mari kita terjang kepungan ini!"

Dan ia putar pedang dan sabuk suteranya makin cepat.

Terdengar pekik kesakitan dan seorang pengawal tertusuk pedang Giok Cu pada pahanya.

Ia terhuyung-huyung ke belakang lalu roboh dan tak dapat membantu kawan-kawannya.

Melihat hasil yang didapat oleh kawannya, Thian In timbul semagatnya.

Ia kertak gigi dan putar pedangnya dengan gerakan Hui-pauw-liu-coan atau Air terjun bertebaran.

Terdengar jeritan lain dan pedang Thian In berhasil pula melukai pundak kiri seorang pahlawan lain yang cepat loncat mundur untuk rawat lukanya.

Kawanan pengawal keraton menjadi marah sekali dan mereka mendesak makin hebat.

Yang aneh adalah pendeta Lama itu.

Ia berdiri berpeluk tangan dan nonton pertempuran itu.

Sungguh sikapnya seperti Thio Seng, tenang dan dingin!

Kembali Thian In dan Giok Cu terdesak hebat.

Giok Cu mendapat luka dipangkal lengannya dan Thian In telah menerima beberapa guratan lagi.

Keadaan mereka sungguh berbahaya dan jiwa mereka seolah-olah tergantung pada sehelai rambut!

Pada saat itu terdengar pekik kesakitan beberapa kali dan keadaan para pengepung menjadi kalut.

Dua orang pengawal keraton roboh tak ingat orang!

Kini yang mengepung tinggal empat orang lagi.

Thian In dan Giok Cu tidak tahu bagaimana dan mengapa dua orang pengeroyoknya roboh.

Pada saat itu, barulah pendeta Lama itu bergerak!

Dengan sekali loncat saja pendeta itu telah berada di tengah kalangan pertempuran, dan dua kali tangannya bergerak, ia telah dapat merampas pedang Thian In dan kedua senjata yang dipegang Giok Cu!

Melihat kehebatan orang, Thian In dan Giok Cu loncat mundur dengan terkejut, tapi pada saat itu keempat pahlawan telah maju mengeroyok lagi!

Sedangkan pendeta lama itu tinggalkan mereka dan tahu-tahu telah loncat ke depan Thio Seng!

Sebelum Thio Seng tahu apa yang terjadi, ia merasa dirinya telah diangkat dan berada dalam pondongan pendeta Lama itu.

Thio Seng hendak berontak, tapi tiba-tiba ia rasakan tubuhnya kaku dan tak dapat bergerak.

Ternyata ia telah ditotok jalan darah Tay-hwie-hiat hingga tubuhnya kaku!

Beberapa buah batu putih menyambar ke arah jalan darah pendeta Lama itu, tapi semua senjata rahasia itu dapat disampoknya pergi.

Namun makin banyaklah batu-batu kecil m enyambar dan kesemuanya menuju ke tempat yang berbahaya atau ke arah urat yang mematikan!

Repot juga batu yang lihai itu.

Akhirnya karena gemas, Beng Po Hoatsu, yakni pendeta Lama yang lihai itu, tutup semua jalan darahnya dan kerahkan tenaga dalamnya hinnga kulitnya menjadi kebal.

Dan aneh!

Semua batu seperti hujan menyerangnya, ketika mengenai kulit tubuhnya lalu jatuh ke atas tanpa berhasil sedikitpun!

Kemudian, maklum bahwa lawan-lawan tangguh segera datang membela Thio Seng.

Beng Po Hoatsu kempit tubuh pemuda itu dan sekali berkelebat ia lenyap dari situ!

Thian In dan Giok Cu berada dalam keadaan berbahaya.

Mereka kini bertangan kosong dan harus menghadapi empat orang jagoan keraton.

Mereka sibuk melawan dan gunakan kegesitan hingga sama sekali tidak tahu akan terculiknya Thio Seng oleh Beng Po Hoatsu.

Tiba-tiba berkelebat bayangan yang cepat sekali dan tampak sinar pedang berkelebat ke kanan kini, dan tahu-tahu dua orang pengawal roboh tewas, sedang seorang lagi terbabat pahanya sampai hampir putus!

Tinggal Kim to Poey Kong seorang yang merasa gemas dan heran.

Ia ayunkan goloknya menyabet ke arah bayangan itu, tapi kembali berkelebat sinar pedang dan ia merasa tangannya sakit sekali hingga goloknya terlepas.

Ternyata lengannya telah terlepas hingga mengeluarkan banyak darah.

Pada saat itu Thian In maju menendang dadanya hingga ia terlempar beberapa tombak dan roboh pingsan!

Thian In dan Giok Cu hanya melihat bayangan itu loncat pergi cepat sekali dan terdengar suara.

"Thio-kongcu kenal tertawan si auwte coba mengejarnya!"

Thian In dan Giok Cu kagum sekali, dan setelah berdiri bengong agak lama, akhirnya Thian In berkata.

"Hebat sekali kepandaian orang itu!"

"Dia adalah Bu-Eng-Cu Koayhiap. Aku kenal suaranya!"

Kata Giok Cu gembira.

"Pantas disebut Bu-Eng-Cu si Tanpa bayangan. Ginkangnya benar-benar telah mencapai puncak kesempurnaan."

"Tapi mengapa Thio-kongcu sampai dapat terampas? Siapa yang melakukan itu?"

Tiba-tiba Thian In teringat.

"Eh, mana pendeta Lama yang tadi berdiri saja dan tiba-tiba merampas senjata kita? Dia lihai sekali tentu dialah yang telah menawan Thio kongcu."

Giok Cu mengangguk membenarkan.

"Tentu dia! Siapa lagi selain dia. Untung Bu-Eng-Cu Koay hiap datang, kalau tidak, selain Thio kongcu tertawan, jiwa kitapun tentu telah melayang."

Thian In menghela napas lagi.

Kalau pendeta itu sampai dapat menawan Thio kongcu di depan mata Bu-Eng-Cu, dapat dibayangkan betapa hebat kepandaian pendeta Lama itu.

Mereka merawat luka masing-masing.

Untungnya Thian In selalu membekal obat-obat luka.

Kemudian mereka memilih dua kuda yang terbaik dan naik kuda itu tinggalkan para korban.

Delapan orang pahlawan Kaisar yang terkenal gagah perkasa semua rebah mandi darah di tempat itu, ada yang sudah mati, ada yang pingsan, dan ada yang masih bergerak-gerak sambil mengerang kesakitan!

"Sekarang apa yang harus kita lakukan?"

Giok Cu berkata bingung.

"Kita harus menuju ke rumah orang tua Thio kongcu. Aku dapat menduga bahwa kaisar tentu akan membasmi mereka serumah tangga. Marilah, makin cepat makin baik. Thio-Tihu serumah tangga harus segera lari bersembunyi!"

Mereka lalu bedal kuda dan membalap menuju kota Anting.

Mereka berjalan terus tak kenal lelah walaupun sesungguhnya mereka butuh sekali mengaso setelah mengalami pertempuran yang hebat itu dan mendapat luka-luka walaupun hanya luka-luka di luar dan tak berbahaya.

Semua ini menunjukkan bahwa baik Thian In dan Giok Cu adalah orang-orang yang menjunjung tinggi prikebenaran, Orang-orang yang setia akan tugas seperti halnya Thian In yang menjalankan perintah suhunya, dan yang bertekad dalam membalas budi, seperti halnya Giok Cu yang masih ingat akan budi keluarga Thio kepadanya!

Kedatangan mereka disambut oleh kedua suami isteri Thio.

Dengan halus agar tak mengejutkan orang, Giok Cu ceritakan akan hal tertawannya Thio Seng.

Namun, tetap saja Thio-hujin mendengar hal ini lalu menjerit dan jatuh pingsan!

Setelah ditolong dan siuman kembali, nyonya itu menangis sedikit walaupun ia menahan suara tangisnya, agak tak kedengaran orang tapi tubuhnya bergerak-gerak menggigil dan air matanya tiada hentinya mengalir dari kedua belah matanya.

Giok Cu menjadi terharu dan ikut menangis.

Thio Tihu dapat menekan penderitaan batin itu.

Ia geleng-geleng kepalanya.

"Memang sudah kuduga bahwa Siouw Seng tentu akan menjadi seorang luar biasa. Aku girang mendengar dia berjiwa patriot, berarti ia menjunjung tinggi nama nenek moyangnya, tapi tak kusangka ia seberani itu. Ahh...ia masih muda, tak kurang hati-hati...

"Tapi, Tay-jin tak usah kau khawatir. Thio kongcu telah membangunkan semangat banyak orang gagah. Mereka tentu takkan tinggal diam dan berusaha menolongnya. Sekarang yang penting Tay-jin berdua harus segera lari dari sini, karena kalau tidak tentu bencana besar menimpa keluar ini! Pasti kaisar akan menangkap kalian serumah tangga!"

Thio Tihu mengangguk-angguk.

"Aku tahu... aku tahu... tapi sebagai seorang pemangku jabatan, aku harus menerima segala hukum yang dijatuhkan padaku oleh Sri Baginda!"

"Kau keliru, Tay-jin. Bukankah puterimu sudah dengan nyata sekali menyatakan ketidak adilan pemerintah? Mengapa kau hendak berkorban jiwa serumah tanggamu untuk kaisar asing itu? Pula, kalau sampai Tay-jin tertawan, aku berani pastikan bahwa Thio-kongcu juga pasti akan menyerahkan diri kembali seandainya ia telah terbebas sekalipun. Mana dia mau melarikan diri jika diketahuinya bahwa orang tuanya mendekam dalam penjara!"

Karena bujukan-bujukan Thian In dan Giok Cu, akhirnya orang tua itu menurut.

Demikianlah, malam-malam mereka berangkat, diantar oleh Giok Cu dan Thian In.

Mereka bersembunyi dalam sebuah kampung di bukit yang sunyi di mana mereka menuntut hidup sebagai petani biasa.

Setelah berjanji hendak menyelidiki keadaan Thio Seng, Thian In dan Giok Cu berpisah dari mereka.

Kedua orang muda itu naik kud dan menuju ke kota raja.

Di sepanjang jalan mereka tak banyak bercakap-cakap, karena mereka masih tertindas oleh rasa kasihan melihat nasib rumah tangga Thio.

Pada keesokan harinya ketika mereka sedang bedalkan kudanya melalui sebuah lereng bukit, dari jauh tampak dua kuda mendatangi dengan dijalankan perlahan oleh penunggangnya.

Ketika mereka sudah datang dekat, hampir saja kedua anak itu berteriak dengan girang, kaget, dan heran.

Seorang dari kedua penunggang kuda itu ternyata adalah Thio Seng sendiri!

Pemuda itu tersenyum-senyum dan ayem saja, seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu yang hebat!

Setelah saling pandang denga heran, Thian In dan Giok Cu memperhatikan penunggang kedua, Thian In melihat bahwa orang itu adalah seorang tua yang berpakaian sebagai sastrawan pula.

Kuku jari tangannya panjang-panjang dan jenggotnya putih panjang pula.

Wajahnya biasa saja dan kedua matanya memandang dengan jujur dan terbuka.

Bibirnya selalu membayangkan senyum ramah.

Kalau bagi Thian In orang tua itu tak dikenal dan tampak seperti seorang guru sekolah biasa saja, bagi Giok Cu adalah sebaliknya.

Ia loncat turun dan lari menghampiri lalu memberi hormat sambil menyebut.

"Gan lopeh benar-benar Kau kah ini?"

Orang tua itu tertawa bergelak, suara tawa yang jujur dan tak dibuat-buat.

Sebaris gigi yang putih, rata dan kokoh kuat tampak.

Matana bersinar-sinar mengeluarkan cahaya kilat.

Setelah berhenti ketawa, sastrawan tua itu mengelus-ngelus rambut Giok Cu sambil berkata.

"Nona Giok Cu! Hampir aku lupa ketika melihat kau sudah begini berubah. Bagaimanakah, baik-baik saja kau selama ini?"

Orang tua itu ternyata bukan lain ialah Gan Im Kiat, si sastrawan jujur yang dulu datang bersama puteranya, Kam Ciu dan bermalam di rumah Giok Cu.

Gan Im Kiat inilah yang dulu melamar untuk dijodohkan dengan Kam Ciu, dan lamaran itu telah ditolaknya!

Giok Cu heran mengapa orang tua itu tidak menanyakan ayahnya dan sebaliknya menanyakan keadaannya sendiri?

Masih marahkah orang tua itu kepada ayahnya karena penolakan pinangan dulu?

"Gan lopeh...

ayah...

ayah telah meninggal dunia,"

Katanya dan air matanya menitik turun.

"Hm, hm... jangan menangis, nona. Aku sudah mendengar akan hal itu dari Kam Ciu. Kematian bukanlah hal yang aneh bagi manusia hidup. Bukankah kita semua ini akhirnya toh akan mati juga? Mati dulu atau mati belakangan itu hanya soal waktu saja! Mengapa kau bersedih? Mari, mari, kuperkenalkan aku kepada kawanmu ini. Ia agaknya gagah sekali."

Thian In ketika mendengar bahwa orang tua itu adalah ayah Kam Ciu, menjadi heran sekali.

Orang tua ini kelihatan biasa saja.

Apakah anaknya itu benar-benar pandai?

Ia sangsi.

Mendengar kata-kata terakhir dari Gan Im Kiat, ia maju dan turun dari kuda dan menjura.

"Saya adalah Souw Thian In. Bagaimana lo-sianseng dapat menolong Thio kongcu?"

"Menolong? Ha, menolong?"

Gan Im Kiat memandang kepada Thio-kongcu.

"Coba kau ceritakan apa yang telah terjadi. Thio Seng yang semenjak tadi hanya mendengarkan sambil tersenyum, segera berkata.

"Gan lo-sianseng ini sebenarnya adalah guruku dalam hal kesusasteraan! Beliau pernah mengajarku beberapa bulan ketika aku masih tinggal di kota raja. Ketika aku ditawan dan dibawa pergi oleh pendeta Lama dulu, aku lalu dimasukkan dalam tahanan sementara menanti persidangan memeriksaku. Dan malam tadi datanglah seorang gagah menolongku. Aku tidak tahu siapa dia karena gerakan-gerakannya demikian cepat dan malam gelap. Tahu-tahu aku telah dibawa loncat naik ke atas rumah dan dibawa ke dalam hutan. Kemudian aku ditinggalkan di hutan itu seorang diri. Ketika aku tanya namanya, ia tak mau mengaku hanya berkata bahwa aku harus menanti di situ dan jangan pergi ke mana-mana. Lalu ia pergi dengan berjanji.

"Dengan bernyanyi? Ah, ia tentu Bu-Eng-Cu Koayhiap!"

Berkata demikian Giok Cu memandang kepada Gan Im Kiat dengan tajam tapi orang tua itu hanya tersenyum dan bertanya kepadanya.

"Kenalkah kau kepada Bu-Eng-Cu Koayhiap?"

Giok Cu geleng-geleng kepala dan menjawab.

"Kenal sih tidak, tapi sudah beberapa kali kami bertemu tanpa saling bertemu muka. Beberapa kali ia menolongku dengan menggelap. Gan Lopeh kenalkah kau kepada Bo-eng-cu Koayhiap?"

Dan gadis itu kembali gunakan matanya yang tajam menatap wajah orang tua itu.

"Pernah aku mendengar nama itu,"

Jawabnya sederhana.

"Aku tidak tahu siapakah dia, hanya lagu nyanyiannya masih kuingat, beginilah. Pedang di tangan kiri Pit dan kertas di tangan kanan Menjelajah rimba raya Menurun jurang mendaki gunung Langit suram muram Bumi hitam gelap kotor Pedang dan pit tak berguna Biarlah pedangku tumpul berkarat! Biarlah pitku kering tak bertinta! "Mendengar nyanyiannya itu, aku lalu berteriak dan mencelanya, dan mencelanya, dan kukatakan bahwa lagu itu seharusnya begini. Pedang di tangan kiri Pit dan kertas di tangan kanan Menjelajah rimba raya Menurun jurang mendaki gunung Langit suram muram Bumi hitam gelap kotor Asah pedang, gosik bak basahkan pit Biar pedangku membersihkan bumu Biar pitku menerangi langit Pedang dan pit bersatu, ribuan, laksaan Langit akan bersih, dunia akan terang "Setelah aku nyanyikan lagu yang telah kurobah itu, dari dalam gelap ia berseru bahwa lagu itu sangat baik dan ia sangat kagum padaku, lalu berjanji bahwa semenjak saat itu ia akan mengubah pendiriannya."

Thian In dan Giok Cu mendengar penuturan Thio Seng dengan kagum dan heran. Tiba-tiba Giok Cu berpaling kepada Gan Im Kiat dan berkata.

"Gan Lopeh, di manakah saudara Kam Ciu? Telah lama aku tidak berjumpa dengan dia.

"Kam Ciu? Ah, anak yang tiada guna itu selalu pergi ke mana-mana. Ia mempunyai urusan tersendiri, entah di mana ia berada sekarang. Aku pun hendak mencarinya, maka kebetulan sekali kami bertemu dengan kalian di sini. Nah, sekarang aku serahkan Thio Seng kepada kalian untuk diantar ke rumah orang tuanya. Aku harus mencari Kam Ciu!"

Kemudian otrang tua itu naik ke atas kudanya lagi dan jalankan kuda itu perlahan ke jurusan lain. Giok Cu masih merasa penasaran berteriak.

"Gan lopeh, kenalkah kau kepada seorang locianpwe?"

Gan Im Kiat tahan kudanya dan menengok.

"Locianpwe yangmana?"

"Heng-san Lojin, guru Bu-Eng-Cu Koayhiap! Kenalkah kau kepadanya?"

Gan Im Kiat geleng-geleng kepala dan mulutnya berkata perlahan-lahan.

"Entahlah... entahlah..."

Kemudian sambil pandang muka Thio Seng, ia berkata sambil tertawa.

"Nyanyian karanganmu yang kau ceritakan tadi bagus sekali, aku suka pula menyanyikannya..."

Setelah berkata demikian, orang tua itu jalankan lagi kudanya dan bernyanyi perlahan dengan suara tinggi.

Pedang di tangan kiri Pit dan kertas di tangan kanan...

Giok Cu dan Thian In memandang perginya orang tua itu sampai lenyap di sebuah tikungan.

Gadis itu menghela napas kecewa karena tidak mendapat keterangan yang jelas maka ia bertanya kepada Thio Seng.

"Thio kongcu, di manakah kau bertemu dengan Gan-lopeh?"

"Ceritaku tadi belum habis!"

Jawab Thio Seng tertawa.

"Setelah penolongku itu memujiku, ia lalu pergi. Aku menaati nasihatnya dan tidak pergi ke mana-mana, hanya duduk saja di situ di atas sebuah batu karang, sampai fajar menyingsing. Kemudian berbareng dengan datangnya sinar matahari, datanglah Gan losianseng itu naik kuda dan menuntun kuda lain di belakangnya. Ia katakan bahwa di jalan ia bertemu dengan seorang yang pesan agar ia menjemput aku di tempat itu. Ia tidak tahu siapa orang yang memesan itu, hanya orang itu meninggalkan seekor kuda untukku! Nah, begitulah maka aku berjalan bersama dia sampai di sini."

Giok Cu makin bingung dan tak mengerti.

Siapakah yang main sandiwara?

Benarkah Bu-Eng-Cu yang gagah perkasa itu Kam Ciu?

Juga Thian In merasa ragu-ragu, tapi ia masih teguh keyakinannya bahwa Kam Ciu bukanlah seorang pemuda sastrawan yang lemah, hanya ia tidak tahu pasti apakah pemuda itu Bu-Eng-Cu atau bukan.

Giok Cu dan Thian In lalu antar Thio Seng menuju ke kampung di mana bersembunyi Thio Tihu dan isterinya.

Pertemuan mereka mengharukan sekali, terutama sekali Thio hujin yang menangis tersedu-sedu karena girang melihat puteranya selamat tapi bersedih mengenang akan nasib keluarnya.

Thio Seng menjatuhkan diri berlutut di depan ayah bundanya dan berkata dengan suara penuh penyesalan.

"Ayah dan ibu, ampunilah anakmu yang hanya mendatangkan malapetaka belaka kepada ayah bunda."

Ibunya hanya dapat memeluknya dan menangis makin sedih, tapi ayahnya berkata tegas.

"Tidak, Siauw Seng! Kau tidak berbuat salah!"

"Anak adalah seorang yang puthauw, ayah. Anak hanya mendatangkan bencana."

"Aku tidak menganggapnya begitu, Siauw Seng. Bahkan... aku bangga melihat sepak terjangmu. Kau tidak nodai nama keluarga bahkan kau membuat keluarga Thio terpandang tinggi oleh rakyat. Kau mengharumkan nama keluargamu, anakku. Biarlah jangan kita bekerja setengah-setengah. Teruskanlah cita-citamu, kalau perlu lawanlah pemerintah asing! Atau setidak-tidaknya gunakanlah pengertianmu untuk mengumpulkan kawan-kawan membasmi para durna yang hanya merusak rakat. Aku pun sudah bosan menjadi pembesar, karena di sekelilingku hanya orang-orang rendah, penjilat-penjilat, dan pengejar-pengejar harta benda belaka yang bekerja! Majulah, Siauw Seng, aku dan ibumu hanya bisa berdoa untuk keselamatan dan kebahagiaanmu. Kau akan dibantu oleh banyak orang-orang gagah seperti yang telah terjadi sekarang ini!"

Thian In dan Giok Cu ditahan semalam di kampung itu. Malam harinya Thio hujin ma suk ke kamar Giok Cu.

"Giok Cu kau anak nakal! Kau ke mana saja, nak? Semenjak kau pergi diam-diam dulu itu, kau kelihatan sibuk sekali. Bukankah urusan yang kau campuri semua itu urusan laki-laki? Mengapa kau ikut-ikut dan turut campur? Biarkanlah saja orang-orang lelaki yang mengurus dan menyelesaikannya!"

Giok Cu tersenyum.

"Memang aku berbeda jauh dengan kau, Peh-bo. Kau adalah wanita yang halus terpelajar, kau adalah bagaikan bunga, aku adalah bagaikan bunga hutan, bunga liar yang sudah biasa hidup di hutan-hutan! Thio-hujin tersenyum.

"Bunga hutan kalau dipindahkan dan ditanam dalam taman akan menjadi bunga yang lebih indah dan harum lagi, Giok Cu."

Giok Cu geleng kepala.

"Belum tentu, Peh-bo. Siapa tahu, iklim dalam taman yang terkurung dan tidak bebas bahkan membuat ia mudah layu dan mati."

Thio hujin mendekat dan pegang pundak gadis itu.

"Giok Cu betapapun juga, aku sayang padamu, dan... dan usul pinanganku dulu itu masih berlaku, nak. Bagaimana pendapatmu? Kau telah melihat anakku yang bodoh. Memang aku tahu, Siauw Seng tidak berharga menjadi suamimu, tapi, kami yang cukup tahu kewajiban."

Giok Cu memandang Thio hujin dengan muka sungguh-sungguh.

"Peh bo. Jangan kau bilang begitu, Thio kongcu adalah seorang yang sangat mulia dan berjiwa gagah perkasa. Bukan dia yang tak berharga, tapi akulah yang tak pantas sama sekali duduk di sampingnya. Aku seorang gadis kasar dan bodoh yang hanya bisa sedikit bermain pedang dan olah raga kasar."

"Jadi kau tidak menolak?"

Thio hujin tanya cepat-cepat. Giok Cu geleng-geleng kepala.

"Peh bo sebenarnya... aku... aku sudah kawin dengan orang lain..."

Terkejutlah Thio-hujin mendengar ini.

"Apa?? Kau sudah kawin? Mana suamimu...? Ditanya demikian, tiba-tiba Giok Cu menangis. Wajah Thio-hujin melembut dan ia segera pegang pundak gadis itu.

"Ah, apakah suamimu telah meninggal?"

Giok Cu geleng-geleng kepala kemudian dengan terisak-isak. ia ceritakan riwayatnya semenjak ia dikawinkan dengan Thian In. Thio hujin mengucurkan air mata karena kasihan dan terharu.

"Jadi pemuda di lain kamar itu, dia itu suamimu, juga musuhmu? Giok Cu tak dapat menjawab karena hatinya perih, maka hanya mengangguk-angguk saja.

"Kalau demikian halnya, maafkanlah aku urusan pinanganku itu anggaplah seperti yang tak pernah kuucapkan saja."

Setelah menghibur dengan kata-kata manis, Nyonya Thio tinggalkan Giok Cu.

Gadis itu duduk termenung seorang diri.

Ia buka jendela kamarnya.

Ketika bulan yang semenjak tadi tertutup mega kini muncul dengan cahayanya yang gemilang, tiba-tiba Giok Cu ingat besok adalah permulaan musin Chun!

Hampir saja ia loncat dan lari ke kamar Thian In untuk memberi tahu hal itu.

Hatinya berdebar girang dan seketika itu juga lupalah ia akan kesedihan yang baru saja timbul karena percakapan dengan Thio hujin!

Besok ia dan Thian In akan ke Kwie san.

Dan di sana pemuda itu akan membuka tabir rahasia yang mendatangkan kegelapan baginya.

Pada keesokan harinya, ketika ia bertemu Thian In dan memberitahukan hal itu, Thian In hanya tersenyum dan berkata.

"Apakah kau kira Aku pun lupa akan hal itu? Hayolah kita siap dan berangkat dengan cepat!"

Mereka lalu berkemas dan setelah mendapat nasehat-nasehat serta doa-doa dari Thio Tihu suami isteri, juga dari Thio Seng, mereka naiki kuda mereka dan kaburkan kudanya menuju ke Kwie-san!

Setelah lewat tengah hari, mereka telah berada di lereng Kwie-san dan jalan mulai sukar.

Akhirnya mereka turun dari kuda dan setelah ikat kendali kuda pada sebuah pohon yang lebat daunnya, mereka lalu lanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.

Thian In menyatakan herannya mengapa ia belum melihat gurunya, juga Giok Cu yang mengharap-harap akan dapat bertemu dengan Bu-Eng-Cu merasa gelisah.

Mereka telah mendekati puncak dan samar-samar telah tampak genteng sebuah kelenteng yang tinggi, tempat kediaman tokoh-tokoh Kwie-San-Pay!

Timbul keraguan dan kecemasan dalam hati mereka.

Bagaimana kalau orang-orang yang mereka andalkan itu tidak datang?

Sama halnya dengan mengantar jiwa untuk binasa di situ, karena mereka maklum betapa lihainya lawan-lawan mereka di atas panggung itu.

Kwie-san-ngokoay atau lima orang aneh dari Kwie san saja sudah merupakan lawan yang berat dan sukar kiranya bagi mereka berdua untuk mengalahkan mereka, belum ditambah dengan Gak Ong Tosu yang luar biasa lihainya!

Giok Cu merasa bulu tengkuknya berdiri ketika ia teringat akan Gak Ong Tosu si pendeta siluman yang pernah menculiknya dulu itu!

Thian In tunda langkah kakinya, dituruti oleh Giok Cu.

"Mereka terlalu lihai... bukan makanan kita..."

Pemuda itu berkata pelan seakan-akan kepada diri sendiri.

"Aku pun pikir demikian tapi tak mungkin kita kembali."

"Tak mungkin! Lebih baik mati daripada berlaku demikian pengecut!"

Kata Thian In gagah.

"Aku pun berpendapat begitu!"

Kata Giok Cu.

"Hm, ada persamaan di antara kita,"

Kata Thian In.

"Kurasa... banyak persamaan kita."

Pada saat itu tiba-tiba dari atas puncak terdengar bunyi orang bernyanyi.

Itulah nyanyian yang telah terkenal, tapi yang telah diubah oleh Thio Seng!

Penyanyi itu hanya dinyanyikan bagian bawah saja.

Asah pedang, gosok bak basah pit!

Biar pedangku membersihkan bumi, biar pitku menerangi langit Pedang dan pit bersatu, ribuan, laksaan Langit akan bersih, dunia akan terang.

Suara itu makin keras dan bergema di segenap penjuru hingga Thian In keluarkan suara pujian.

Giok Cu telah loncat bangun dan pegang lengan Thian In.

"Dia telah datang!"

Katanya dengan gembira dan wajah berseri.

"Bu-Eng-Cu Koayhiap?"

Tanya Thian In.

Mereka lalu bergerak cepat ke arah datangnya suara.

Semangat mereka timbul dengan mendadak!

Tapi mereka tak dapat temukan penyanyi itu dan ketika mereka telah tiba di depan pintu kelenteng itu, belum juga mereka bertemu dengan orang yang dicarinya!

Bangunan itu adalah sebuah gedung beras yang besar yang berbentuk seperti kelenteng, dan di atas pintunya yang besar terdapat tulisan.

"Kwie-San-Pay."

Keadaan di situ sunyi saja dan pintu depannya tertutup.

Thian In mencoba untuk dorong daun pintu, tapi ternyata pintu yang tebal dan berat itu terpalang dari dalam.

Pemuda itu berani gunakan kepalan tangan menggedor pintu sambil berseru keras.

"Kwie-san Ngo-lo-enghiong! Kami berdua orang-orang muda telah datang memenuhi janji. Berilah pintu!"

Setelah berteriak beberapa kali, tiba-tiba dari dalam terdengar suara orang ketawa nyaring dan disusul oleh kata-kata.

"Pintu memang tertutup, tapi tembok kami demikian rendah, lompati saja tembok itu kami menanti di taman!"

Kata-kata ini seolah-olah dikeluarkan terhadap seorang kawan lama, hingga Thian In dan Giok Cu segera memandang tembok itu.

Bukan main tingginya dinding yang mengurung tempat itu.

Tidak kurang dari lima belas kaki!

Dan di atas tembok dipasangi besi-besi tajam seperti ujung tombak lagi.

Kalau bukan orang yang telah mempunyai kepandaian loncat dan ginkang yang tinggi, sukarlah agakna untuk dapat meloncati tembok itu tanpa terluka kulitnya atau terobek pakaiannya oleh ujung tombak tajam itu!

Tapi Thian In tidak mampu perlihatkan kelemahannya hanya karena menghadapi rintangan macam itu.

"Dapatkah kau loncati tembok ini?"

Tanyanya kepada Giok Cu. Setelah mengukur dengan matanya, Giok Cu berkata terus terang.

"Kalau tidak terhalang oleh ujung-ujung tombak itu, tentu dapat."

Tiba-tiba dari dalam terdengar suara tertawa lagi yang diikuti suara ejekan.

"He anak-anak muda, hati-hatilah. Ujung-ujung besi itu telah karatan dan beracun!"

Thian In merasa mendongkol sekali.

"Aku hendak loncat dulu, kau menyusul kemudian dan pegang kedua kakiku. Aku akan lempar kau lewat tembok dengan kedua kakiku. Mengertikah? Giok Cu tersenyum maklum.

"Baiklah!"

Setelah kencangkan ikat pinggang dan ringkaskan pakaian, Thian In enjot tubuhnya dan dengan gerakan Pek-lion-seng thian atau Naga-putih-naik ke langit ia loncat ke atas dengan ringannya.

Tubuhnya melayang dengan cepat dan ia gunakan kedua tangannya untuk menyambar dan memegang dua batang besi tombak di atas tembok!

Ia ulur kedua kakinya melintang dan berseru ke bawah.

"Adik Giok, kau naiklah!"

Giok Cu kagum melihat gerakan pemuda itu.

Kemudian setelah mendengar seruan Thian In, ia loncat ke atas dengan gerakan Hui hiau-coan-in atau burung terbang terjang mega.

Ia telah gunakan seluruh tenaganya meloncat dengan mudah ia dapat menangkap pergelangan kedua kaki Thian In yang diulurkan.

"Awas, aku lempar kau ke dalam!"

Thian In lalu ayunkan kakinya beberapa kali untuk ambil tenaga, kemudian dengan keras ia tendangkan kakinya ke atas dan tubuh Giok Cu terlempar ke atas melewati ujung-ujung tombak!

Karena sudah berjaga, maka Giok Cu dapat atur tubuhnya sedemikian rupa hingga ia melayang dengan baik ke dalam!

Ternyata di sebelah dalam adalah sebuah taman bunga yang indah dan dengan selamat Giok Cu dapat turunkan kedua kakinya di atas rumput hijau!

Melihat bahwa Giok Cu telah melayang ke dalam dengan selamat, Thian In lalu ayun kakinya ke atas dan dengan ber-poksay atau berjumpalitan dengan gerakan Lee-hi-ta-teng atau Ikan-lohi-loncat meletik ia berhasil melewati ujung-ujung tombak dan melayang ke dalam dengan selamat pula!

Mereka berdua memandang ke sekeliling dengan waspada.

Dan apa yang tampak di dalam taman adalah di luar dugaan mereka.

Lima orang saykong rambut panjang dengan pakaian seragam warna hijau tengah berdiri mengelilingi dua orang yang sedang duduk main catur.

Thian In dan Giok Cu kanali bahwa dua di antara kelima saykong itu adalah Hoan Tin-cu dan Gan Tin-Cu, maka mereka dapat menduga bahwa tiga saykong yang lain tentulah tokoh-tokoh Kwie-San-Pay yang lain.

Maka lengkaplah Kwie-san-ngo-koay!

Tapi kenyataan ini belum terlalu mengagetkan mereka, karena ketika mereka melihat kedua orang yang sedang bermain catur itu mereka terkejut sekali.

Mereka adalah Gak Ong Tosu dan Beng Po Hiatsu, si pendeta Lama yang kelihaiannya seperti iblis dan yang telah berhasil menculik Thio Seng dulu!

Biarpun mereka berdua tabah dan gagah, namun melihat keadaan lawan yang tangguh itu, diam-diam Thian In dan Giok Cu mengeluh!

Mereka bertujuh, lima tokoh Hwie-san dan dua pendeta siluman yang sedang main catur itu sama sekali tidak melihat mereka bahkan seakan-akan tidak tahu akan kedatangan mereka.

Thian In merasa dihina sekali maka ia maju hendak menegur, tapi tiba-tiba Gan Tin-Cu goyang-goyang tangan menyuruh ia diam!

Thian In tidak jadi menegur dan melihat betapa kelima saykong itu memandang ke arah papan catur dengan penuh perhatian, ia pun sangat tertarik!

Dengan tak heran ia maju melangkah mendekati tempat itu, diikut Giok Cu.

Tak lama kemudian mereka berdua berdiri di sebelah kelima saykong itu sambil menonton orang main catur!

Sungguh lugu keadaan mereka.

Jauh-jauh datang hendak menguji ilmu silat, tidak tahunya mereka kini berdiri diam bagaikan patung, nonton orang beradu otak dengan tertarik sekali!

Pada saat itu kedudukan raja yang dipegang Beng Po Hoatsu terdesak dan terkurung.

"Ha, ha, ha! Toyu, sekarang kau pasti kalah! Taruhan itu takkan terlepas lagi dari tanganku!"

Kata Gak Ong Tosu girang. Tapi Beng Po Hoatsu tidak menjawab hanya usap-usap jidatnya dan mencari jalan untuk mengeluarkan rajanya dari kepungan Thian In makin tertarik.

"Apakah taruhan mereka?"

Tanyanya kepada Gan Tin-Cu. Saykong itu tersenyum dan gerakan kepalanya ke arah Giok Cu! "Apa maksudmu?"

Thian In berbisik dan Giok Cu memandang dengan mata terbelalak.

"Nona inilah taruhan mereka,"

Jawab Gan Tin-Cu dengan perlahan.

Bukan main marah hati Giok Cu.

Ia hendak menerjang kedua pertapa yang main catur itu, tapi Thian In pegang lengannya dan menyabarkannya.

Pada saat itu terdengar suara orang bernyanyi.

Yang dinyanyikan adalah lagu-lagu yang diambil dari sajak To-tik-khing.

Ketika Thian In dan Giok Cu menengok, ternyata pintu depan yang tadinya tertutup kini telah terbuka dan dari pintu muncullah seorang pemuda berpakaian sebagai seorang siucay atau sastrawan.

Sambil berjalan lenggang kangkung ke arah mereka, orang itu tiada hentinya bernyanyi den gan suara tinggi.

Ketika ia telah datang dekat, bukan main heran hati Giok Cu dan Thian In karena orang itu bukan lain ialah Gan Kam Ciu!

Kam Ciu lewati Thian In dan Giok Cu seakan-akan tak mengenalnya, dan ketika kedua orang muda itu hendak menegurnya, ia menggunkan sebelah mata mengedip dan memberi tanda, hingga Giok Cu hanya memandang bengong terheran-heran!

Tapi Thiau In tampak tersenyum-senyum dan agaknya ia tahu akan permainan sandiwara yang dilakukan oleh Kam Ciu!

Seperti seorang yang tolol, Kam Ciu mendekati meja tempat main catur dan berdiri menggendong tangan sambil terus saja bernyanyi-nyanyi.

Tiba-tiba Ceng Po Hoatsu yang baru pusing karena rajanya terkurung, merasa marah dan terganggu sekali.

Ia angkat kepala dan membentak.

"Bodoh! Diam jangan gaduh!"

Kam Ciu leletkan lindah dan angkat pundak. Ia lalu pindah ke belakang Beng Po Hoatsu dan memberi nasihat serta petunjuk.

"Berikan saja kuda itu. Nah, yang di kanan itu, biar saja dimakan kuda kurus itu. Mula-mula Beng Po Hoatsu marah-marah, tapi entah mengapa, ia menurut juga! Beberapa langkah dijalankan oleh Bong Po Hoatsu menurut petunjuk Kam Ciu yang agaknya ahli main catur pula hingga akhirnya Gak Ong Tosu menggebrak meja karena mereka bermain seri!! "Ha, ha! Gak Ong Tobeng! Jangan kau buru-buru bergembira, akhirnya kita toh seri juga. Jadi taruhan itu harus dibagi dua!"

Kemudian mereka berdua memandang ke arah Giok Cu dan Thian In.

"He, kemari kau!"

Gak Ong Tosu melambaikan tangan ke arah Giok Cu.

"Coba kau pilih di antara kami berdua, mana yang lebih kau suka?"

Bukan main marahnya Giok Cu. Ia cabut pedangnya. Thian In melangkah maju dan berkata.

"Tidak pantas menghina yang muda. Gak Ong Tosu memandang Thian In seperti juga baru saat itu ia meliihat pemuda itu, ia berdiri dan menuding.

"Eh, kau? Kau berani berlaku kasar terhadap susiokmu? Hayo berlutut!"

Tapi Thian In sudah memuncak marahnya maka sambil pelototkan mata ia menjawab.

"Aku tidak mempunyai susiok seperti kau!"

"Eh, kurang ajar!"

Gak Ong Tosu ulur tangannya, tapi kelima saykong segera maju menahannya.

"Sabar Gak Ong Tobeng, mereka ini datang untuk kami. Sabarlah, biar kami layani mereka lebih dulu untuk membalas dendam kami dulu!"

Gak Ong tertawa bergelak.

"Ya, ya, aku tahu. Tapi awas jangan kalian merusak yang secantik halus itu!"

Dan kembali ia tertawa bergelak sambil memandang ke arah Giok Cu dengan sikap menjemukan sekali. Kemudian Gan Tin Cu menjura kepada Giok Cu.

"Pek I Lihiap, kau sungguh gagah. Biarpun masih muda tapi ternyata keu penuhi janjimu. Nah, setelah kau datang marilah kita saling ukur tenaga.

"Tanpa menjawab Giok Cu hunus pedang dan lepaskan sabuk suteranya. Gan Tin-Cu juga lolos pedangnya dan mereka segera bertempur! Hoan Tin-cu menghampiri Thian In dengan senyum mengejek.

"Orang she Souw! Bagus sekali kau juga datang! Ternyata kau bukanlah orang bai-baik melihat sikapmu terhadap susiokmu tadi. Mari, mari kuperkenalkan saudara-saudaraku."

Ia menunjuk kepada tiga orang saykong yang masih berdiri di belakangnya sambil memangku tangan.

"Nah, inilah toasuheng Ang Tin-cu yang bertempur melawan Pek I Lihiap itu adalah Jisuheng Gan Sin-cu. Ini suteku Lan Tin-cu dan Beng Tin-cu. Sekarang bersiaplah, dan cobalah jatuhkan aku untuk kedua kalinya!"

Thian In memandang kepada Kam Ciu yang masih duduk di atas sebuah bangku di bawah pohon bunga sambil tersenyum.

Ia lihat pemuda itu berkedip padanya dan anggukkan kepala, maka tanpa ragu-ragu lagi ia cabut pedangnya.

"Marilah, Hoan lo-enghiong!"

Hoan Tin-cu segera mainkan Kwie-san-kianhwat yang lihay.

Baru beberapa jurus saja tahulah Thian In bahwa Hoan Tin-cu telah memperdalam ilmu pedangnya dan kepandaiannya telah banyak maju jika dibandingkan dengan dulu.

Tapi baiknya ia sendiri telah mendapat petunjuk-petunjuk dari suhunya hingga ia dapat melawan dengan gagah.

Dengan gunakan ilmu pedang Delapan dewa mabok arak ia perlihatkan kegesitannya hingga Hoan Tin-cu merasa terkejut sekali.

Tak disangkanya pemuda itu telah demikian maju selama ini.

Di lain, biarpun untuk beberapa lama masih dapat mengimbangi permainan pedang Gan Tin-Cu, namun setelah bertempur lima puluh jurus lebih, gerakan pedang dan sabuk sutera Giok Cu makin lemah dan ia hanya dapat menangkis saja.

Sambil bertempur, Thian In kadang-kadang layangkan pandangannya ke arah Giok Cu dan diam-diam ia merasa cemas sekali melihat betapa gadis terkurung oleh sinar pedang Gan Tin-Cu!

Ia kertak gigi dan putar pedangnya lebih cepat lagi.

Pada suatu kesempatan yang baik, ia gunakan gerakan Hong-cui-pay hio atau Angin tiup-daun-tua, pedang di tangan kanannya menyambar ke arah tenggorokan lawan sedangkan tangan kirinya yang trkepal mengirim pukulan.

To-tiu-kim-ciang atau Robohkan-lonceng-mas!

Hoan Tin-cu berseru kaget dan miringkan kepala untuk hindarkan pedang lawan, tapi ia tidak sangka bahwa tangan kiri Thian In dapat bergerak secepat itu.

Kepalan pemuda yang dipukulkan dengan tenaga hebat itu menggempur dadanya hingga Hoan Tin-cu terlempar jauh lalu terguling sambil muntahkan darah dengan mata terbalik!

Tapi pada saat itu juga Gan Tin-Cu berhasil melukai pundak Giok Cu yang terpaksa lepas pedangnya karena tangan kanannya terasa lumpuh!

Ia loncat mundur dan kelebatkan sabuknya menjaga diri, tapi Gan Tin-Cu yang melihat betapa Hoan Tin Cu roboh menjadi marah sekali dan kirim serangan maut!

Pada saat yang berbahaya bagi Giok Cu itu, berkelebatlah bayangan putih secepat kilat dan tahu-tahu pedang Gan Tin Cu telah tertangkis hingga terpental dan hampir terlepas dari tangannya!

Ketika ia memandang, ternyata yang menangkisnya bukan lain ialah pemuda sasterawan yang nonton main catur tadi!

Entah kapan mengambilnya, Kam Ciu telah berdiri di situ dengan pedang Giok Cu di tangan.

"Sabar, Totiang, orang yang sudah kalah tak perlu didesak terus!"

Katanya sambil tersenyum. Gan Tin Cu marah sekali dan tiga saudaranya yang tadi hanya nonton saja, kini maju mengurung Kam Ciu! "Gan twako! Kau"

Kau... Bu-Eng-Cu?"

Giok Cu memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, tapi Kam Ciu hanya tersenyum.

"Nona Ong, kau mengasolah di sana,"

Ia menunjuk bangku yang didudukinya tadi, biarlah aku yang wakili kau menerima gebukan dan hajaran dari orang tua yang berbudi ini."

Mendengar disebutnya nama Bu-Eng-Cu, terkejutlah keempat saykong itu.

Sementara itu Gak Ong Tosu yang pada saat itu tengah merawat dan mencoba untuk memulihkan kesehatan Hoan Tin Cu yang terpukul, juga terkejut dan menengok.

Ia pandang anak muda yang tampak lemah lembut itu dengan heran.

"Benarkah kau Bu-Eng-Cu Koayhiap?"

Ang Tin-cu tokoh tertua dari Kwie-san bertanya.

Kam Ciu menjura, kemudian ia kembalikan pedang Giok Cu kepada gadis itu.

Ia sendiri lalu gunakan tangan kanan mencabut sebatang pedang tipis dari bawah baju dan keluarkan sebatang pensil besi dengan tangan kiri.

Lalu ia bernyanyi.

Pedang di tangan kiri Pit dan kertas di tangan kanan Menjelajah rimba raya Menurun jurang mendaki gunung Langit suram muram Bumi hitam gelap kotor Asah pedang, gosok bak basahkan pit Biar pedangku membersihkan bumi Biar pitku menerangi langit Pedang dan pit bersatu, ribuan, laksaan Langit akan bersih, dunia akan tenang.

Sambil bernyanyi, ia putar-putar pedang dan pit dari tangan kiri ke tangan kanan.

Gerakannya demikian cepat hingga orang tidak tahu di tangan manakah pedang atau pit terpegang!

Mendengar lagu itu, Ang Tin Cu menjura.

"Bok-en-cu Koayhiap! Selama ini pinto dengar bahwa kau dan suhumu telah cuci tangan dan bebaskan diri dari ikatan segala macam urusan dunia. Tapi ternyata dugaan pinto keliru. Mengapa tanpa sebab koayhiap datang ke sini dan ikut cam pur dalam urusan ini? Kalau memang koayhiap menghargai persahabatan, biarlah lain kali koayhiap datang agar kami dapt menyambut sepantasnya."

"Ha, kau terlalu sungkan, Totiang! Jangan katakan bahwa aku datang tanpa sebab! Sebenarnya kalian sendirilah yang telah berubah adat. Itupun sebenarnya bukan urusanku, kalau saja kalian tak ikut-ikut menjadi anjing penjilat segala durna dan hendak membasmi orang-orang gagah pembela rakyat seperti Thio kongcu!"

"Eh, eh! Jadi kau juga bercampur gaul dengan segala pemberontak?? Ah, rusaklah dunia kang-ouw."

Kalau begitu, biarlah, jangan kau anggap kami tidak pandang persahabatan."

Sebagai penutup bicaranya, Ang Tin-cu gerakan pedangnya menyerang.

Ternyata gerakannya lebih hebat daripada saudara-saudaranya.

Sabetannya berat dan cepat mendatangkan angin dingin.

Kam Ciu tertawa geli bagaikan seorang anak-anak mempermainkan kawannya.

Sekali ia berkelit, maka lenyaplah tubuhnya!

Ang Tin-cu menjadi heran dan bingung, maka ketiga saudaranya segera maju menyerbu!

Tapi Kam Ciu buktikan bahwa ia pantas mendapat julukan si Tanpa bayangan, karena ia betul-betul bagaikan seekor burung kepinis yang gesit seklai dan terbang ke sana kemari melayani empat pedang lawannya.

Pedangnya bergerak lihai dan lebih hebat adalah pit atau pensilnya, karena pensil itu dengan tak tersangka-sangka digunakan untuk menotok jalan darah musuh!

Maka biarpun dikerook empat, ia masih sempat mempermainkan semua lawannya!

Thian In dan Giok Cu kagum sekali.

Thian In kagum karena biarpun memiliki kepandaian yang berapa kali lipat lebih tinggi darinya, namun Kam Ciu dapat sembunyikan kepandaiannya itu sedemikian rupa hingga ia sendiri tertipu.

Sedangkan Giok Cu memandang sepak terjang Kam Ciu dengan dada berdebar.

Ia menghendaki seorang suami yang pandai ilmu surat dan lihai ilmu silat dan seorang pemuda seperti Kam Ciu pernah ditolak lamarannya!

Kini ia dapat buktikan mata sendiri betapa hebat dan tinggi ilmu silat pemuda kutu buku itu.

Gak Ong Tosu melihat betapa keempat saykong terdesak hebat dan sewaktu-waktu tentu dapat dirobohkan oleh Kam Ciu, merasa heran sekali.

Saykong itu kepandaiannya sangat tinggi dan tak kalah banyak dengan dia sendiri, namun dengan berempat mereka masih dapat terdesak.

Alangkah hebatnya kepandaian pemuda itu.

Maka ia segera perhatikan pemuda itu.

Pernah ia bertempur melawan Kam Ciu, tapi ia tidak dapat melihat jelas wajah Kam Ciu.

Kini melihat bahwa Bu-Eng-Cu hanyalah seorang pemuda, keheranannya besar sekali.

Gak Ong Tosu lalu menerjang maju dengan tongkat bajanya diputar di tangan.

Datangnya tosu ini membuat keadaan berubah dan Kam Ciu segera terdesak!

Melihat keadaan yang tidak menguntungkan ini Thian In segera menyerbu membantu Kam Ciu.

Pertempuran dua lawan lima terjadi seru sekali.

Namun gak Ong Tosu ilmu tongkatnya memang luar biasa dan tenaga lweekangnya masih jauh lebih tinggi dari Thian In dan setingkat lebih kuat daripada Kam Ciu.

Keadaan mereka berbahaya sekali.

Tapi terdengar Kam Ciu berseru keras dan pemuda luar biasa itu segera putar pedangnya sedemikian rupa hingga sinar pedangnya mengurung tubuhnya dan tubuh Thian In hingga tak mudak terserang lawan.

Ia kerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya untuk digunakan menjaga diri tapi sedikitpun tak dapat balas menyerang.

Biarpun demikian, agaknya tak mudah bagi kelima lawannya untuk menerjang masuk di antara sinar pedang Kam Ciu!

Thian In mengikuti contoh Kam Ciu, iapun putar pedangnya dalam gerak perlindungan.

Tapi sampai berapa lamakah kedua orang itu dapat bertahan?

Diam-diam Giok Cu mengeluh dan merasa cemas sekali.

Pada saat itu terdengar bentakan.

"Gak Ong, kau mundur!"

Dan tahu-tahu seorang tosu gemuk pendek telah berada di dalam taman dan gunakan kipas mengebut-ngebut dirinya.

Mendengar suara itu, Gak Ong Tosu loncat keluar dari medan pertempuran dan berdiri menghadapi tosu yang baru datang itu dengan sikap menantang dan tongkat dilintangkan!

Thian In mendengar suara tosu itu segera bertambah semangatnya dan ia berseru perlahan.

"Suhu telah datang!"

"Sudah sejak tadi beliau datang!"

Berkata Kam Ciu sambil tertawa.

"Hayo kita bereskan empat siluman ini."

Setelah berkata demikian gerakan pedangnya berubah.

Kalau tadi ia hanya menjaga diri saja, kini sinar pedangnya menyambar-nyambar dan berkeredepan menyerang dengan hebatnya.!

Terdengar pekik ngeri dan Gan Tin Cu roboh mandi darah.

Gak Ong Tosu marah sekali.

Ia tinggalkan suhengnya dan loncat membantu para pengeroyok Kam Ciu.

"Gak Ong, ke sini kau!"

Gak Bong Tosu membentak, tapi bukan Gak Ong Tosu yang datang, sebaliknya terdengar suara tertawa seperti ringkik kuda dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang pendeta Lama berbaju kuning.

"Hi, hi, hi! Kalau orang tua mulai sesat, yang muda tidak menghargainya lagi. Gak Bong Tosu, telah lama aku mendengar namamu yang meenjulang tinggi sampai ke langit. Untung sekali hari ni aku dapat bertemu muka dengan kau. Ternyata nama besarmu itu meragukan. Kau agaknya bersekutu dengan kaum pemberontak dan untuk membela mereka kau hendak kurbankan sute sendiri.

"Bagus, bagus!"

Gak Bong tunda kebutan kipasnya dan memandang Lama itu dengan tajam.

"Tosu siapakah dan apa gelaran, di mana tempat pertapaan?"

Kembali pendeta Lama itu tertawa ngikik.

"Aku tidak ternama seperti engkau. Aku disebut orang Beng Po Hoatsu."

Terkejutlah hati Gak Bong Tosu mendengar nama ini.

Beng Po Hoatsu adalah seorang tokoh kenamaan dari Tibet!

Ia tahu bahwa Beng Po Hoatsu adalah seorang pendeta Lama yang sangat tinggi ilmu kepandaiannya.

Ia tahu pula bahwa Ulama ini telah menyeleweng dari agamanya dan kini datang ke Tiongkok dan bersekutu dengan kaisar Boan membantu para durna untuk memuaskan nafsunya akan harta dan kemuliaan!

Mengingat akan hal ini, Gan Bong Tosu tersenyum.

"Hm, jadi tosu adalah Beng Po Hoatsu? Ah, siapakah yang belum pernah mendengar namamu yang termashur? Aku pernah mendengar cerita tentang seorang pendeta Lama yang mengkhianati dan mencemarkan nama agamanya sendiri. Tidak tahu apakah hubungan pendeta itu dengan kau! Merahlah wajah Beng Po Hoatsu mendengar sindiran ini. Ia angkat papan catur dari meja dan banting itu ke tanah. Papan itu amblas dan lenyap, masuk ke dalam bumi bagaikan tenggelam.

"Gak Bong, jangan kau menghina orang. Sampai di mana sih tingginya kemampuanmu maka kau berani menyombongkan diri di depanku?"

Kemudian sambil perdengarkan suara ringsik nyaring Beng Po Hoatsu kebutkan ujung jubahnya yang panjang ke arah kepala Gak Bong Tosu.

Guru Thian In ini maklum betapa lihai dan berbahayanya kebutan ini yang dapat menghancurkan batu karang, maka cepat ia angkat kipasnya menangkis.

Kipas Gak Bong Tosu bukaknlah sembarangan kipas.

Benda itu terbuat dari pada bambu kuning yang ulet, tipis dan ujungnya runcing.

Kipas ini merupakan senjatanya yang jarang terkalahkan.

Giok Cu melihat kedua orang tua jagoan itu berdiri berhadapan dan gerak-gerakkan senjata mereka yang istimewa, yakni ujung-ujung lengan baju dan kipas perlahan-lahan seakan-akan orang bermain-main.

Tapi dari kedua ujunag baju dan kipas itu menyambar keluar angin dan pukulan yang mematikan!

Ternyata dalam hal tenaga lweekang mereka berimbang.

Melihat bahwa dengan lweekang ia tak dapat menjatuhkan lawannya, Beng Po Hoatsu segera berseru keras dan tahu-tahu tubuhnya lenyap dari pandangan mata Giok Cu.

Ia hanya melihat bayang-bayang putih menyambar ke arah Gak Bong Tosu yang juga berseru keras dan putar kipasnya.

Sebentar saja kedua tokoh persilatan yang tinggi ilmunya itu telah berputar-putar merupakan dua bayangan atau gundukan sinar yang melesat ke sana sini saling serang.

Mereka telah terlibat dalam pertempuran mati-matian!

Giok Cu merasa pandangan matanya kabur dan ia tak dapat bedakan mana Gak Bong mana Beng Po!

Ketika ia menengok ke arah Kam Ciu dan Thian In, hatinya makin cemas saja, karena kembali kedua anak muda itu terdesak hebat oleh Gak Ong Tosu dan ketika saykong Kwie-san yang masih mengeroyoknya!

Ingin sekali Giok Cu membantu, tapi apa daya?

Kepandaiannya masih jauh daripada cukup untuk memasuki pertempuran.

Tiba-tiba Giok Cu melihat seorang kakek berjalan dari luar memasuki pintu dan menuju ke taman itu.

Hatinya berdebar keras, karena orang tua itu bukan lain ialah Gan Im Kiat, ayah Kam Ciu.

Orang tua itu langsung menghampiri Giok Cu dan tersenyum padanya, lalu berkata.

"Perkelahian hebaat, pemandangan bagus, bukan?"

Kemudian Gan Im Kiat berseru ke arah kedua pendeta yang sedang bertempur.

"He, Gak Bong! Kau turutlah urusanmu dengan Gak Ong! Tinggalkan Lama ini.

"Heng San Lojin! Aku serahkan penghianat agama ini padamu! Gak Bong Tosu lalu loncat keluar dan langsung menyerang Gak Ong yang terpaksa melayani suhengnya dengan lihai. Sementara itu Bong Po Hoatsu marah sekali. Ia tuding muka Gan Im Kiat dan berkata keras marah.

"Jadi, inikah macamnya Heng San Lojin, manusia setengah dewa yang kabarnya telah sucikan diri di atas gunung Heng San dan yang telah cuci tangan dari segala urusan dunia?"

Gan Im Kiat gerakkan alis matanya dan angkat pundak, lalu menarik napas panjang.

"Memang tadinya aku orang tua bosan mencampuri segala urusan tapi setelah muncul orang-orang seperti kau ini, setelah ini, setelah para pertapa turun gunung, keluar gua dan menambah kacau dunia yang sudah kotor, terpaksa aku tak biarkan lagi. Kalau orang-orang seperti kau dan kawan-kawanmu turun ke dunia dan membuat ribut, selain orang-orang seperti aku dan Gak Bong ini, siapa lagi yang dapat mengendalikan kalian?" (Lanjut ke

Jilid 07 -Tamat) Pek I Lihiap (Cerita Lepas) Oleh . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 07 (Tamat) "Heng-san Lojin!

Jangan kau sombong!

Kau kira kau saja orang pandai di dunia ini?

Majulah, kalau kau bisa kalahkan aku, barulah kau boleh banggakan diri sebagai jago silat kelas tertinggi!"

Gan Im Kiat tersenyum.

"Ah, kau jumawa sekali. Memang, tadi kau telah berhasil mendesak Gak Bong, tapi hal itu kau anggap suatu kemenangan? Gak Bong sengaja mengalah, tahukah kau?"

Heng-san Lojin tertawa keras hingga pendeta Lama itu makin marah.

"Hari ini kuantarkan ke neraka!"

Ia berseru sambil menerjang maju.

"Cobalah Aku pun ingin sekali melihat nerakamu itu seperti apa!"

Gan Im Kiat pentang kedua telapak tangannya dan dengan kepretan-kepretan ujung jari ia melawan ujung tangan baju Beng Po Koatsu yang lihai.

Kalau tadi Giok Cu telah kabur pandangannya melihat Gak Bong Tosu bertempur melawan Beng Po Hoatsu, kini tiba-tiba ia merasa pening karena kedua orang luar biasa itu bertempur dengan lebih cepat lagi.

Beberapa tombak di sekeliling mereka seakan-akan diserang angin puyuh yang berputar-putar hingga daun pohon rontok berhamburan.

Kedua orang itu seakan-akan berkelahi dengan kaki tak menginjak tanah karena tidak sedikitpun debu mengepul dan kadang-kadang bayangan tubuh mereka mengapung tinggi!

Sementara itu, setelah Gak Ong terpaksa melayani Gak Bong.

Thian In dan Kam Ciu berhasil merobohkan ketiga saykong dari Kwie-san!

Dan Gak Bong Tosu yang mendesak adik seperguruannya akhirnya dapat juga merobohkan Gak Ong Tosu dengan sebuah tendangan soan-houng-twie.

Setelah Gak Ong Tosu roboh, Gak Bong Tosu berkata kepadanya.

"Gak Ong, terpaksa aku mentaati pesan suhu. Serahkan kembali kepandaianmu!"

Secepat kilat kaki kanannya bergerak dan terdengar suara pletak pletak tulang patah.

Ternyata kedua tulang pundak Gak Ong telah terpapas dan kedua sambungan lututnya juga terlepas!

Dengan demikian, walaupun Gak Ong dapat sembuh kembali, namun ia akan menjadi seorang yang lemah dan bercacad, tak mungkin lagi gunakan kepandaiannya berbuat kejahatan!

Melihat keadaan kawan-kawannya, Beng Po Hoatsu berteriak.

"Aku pasti mengadu jiwa dengan kalian!"

"Sudahlah, hoatsu, lebih baik kau kembali ke Tibet dan minta ampun agar dosamu dibersihkan!"

Gan Im Kiat berkata.

"Orang rendah! Kau akan kubunuh lebih dulu!"

Dan pendeta Lama itu menyerang lebih hebat.

Terpaksa Heng-san Lojin melayaninya dan pada suatu kesempatan baik, Gan Im Kiat berhasil kirim sentilan jari ke dada Beng Po Hoatsu yang terdorong ke belakang dan terhuyung-huyung dengan wajah pucat!

"Terima kasih atas pemberianmu!"

Lama itu berkata dan sambil meringis kesakitan ia angkat kaki dan lari! "Omitohud!"

Gan Im Kiat menyebut nama dewa.

"Mudah-mudahan sebelum tiga hari ia dapat menemukan obat untuk menyambung jiwanya."

Gak Bong Tosu menjura kepada Hek-san Lojin.

"Sungguh kebetulan sekali kedatanganmu, orang tua. Kalau tidak entah bagaimana jadinya."

"Yang benar tentu menang. Yang bersih pasti selamat."

Gan Im Kiat berkat tertawa. Giok Cu menghampiri Gan Im Kiat dan tiba-tiba jatuhkan diri berlutut di depan orang tua itu. Heng-san Lojin mengangkatnya bangun.

"Eh, nona, jangan berlaku sungkan. Aku adalah lopehmu seperti biasa."

Gak Bong Tosu pandang muka dan tubuh Giok Cu dengan penuh perhatian. Kemudian ia menghela napas.

"Aah, nona ini berjodoh unutk menjadi penggantiku kelak."

Kata-kata ini diucapkan perlahan seperti kepada diri sendiri.

Tiba-tiba Thian In menghampiri mereka dan setelah ia memberi hormat kepada suhunya dan kepada Heng-san Locianpwee.

Telah lama ceecu menyangka bahwa saudara Kam Ciu bukan orang sembarangan dan ternyata dugaan ceecu betul.

Ceecu tahu pula apa yang terkandung dalam hati saudara Kam Ciu terhadap nona Ong."

Kam Ciu memandangnya dengan mata melotot dan Giok Cu memandangnya dengan mata heran dan muka merah.

"Maka, hati ceecu takkan tentram kalau belum dapat menyaksikan perjodohan saudara Kam Ciu dengan adikku Giok Cu."

Gak Bong Tosu dan Heng-san Lojin saling pandang dengan tertawa, sebaliknya Kam Ciu hampir saja loncat ke atas karena heran dan malu.

"Tidak, tidak, Saudara Thian In jangan putar balikkan duduknya persoalan. Aku tidak dapat memenuhi usulmu itu. Aku telah ditolak Souw Lo-enghiong almarhum, juga oleh nona Giok Cu. Aku bukan jodohnya. Tapi kaulah suaminya, saudara Thian In. Bukankah kau pernah dikawinkan dengannya?"

Thian geleng-geleng kepala.

"Tak mungkin... tak mungkin..."

Kam Ciu melangkah maju.

"Saudara Thian In, dengar! Aku telah berjanji almarhum Ong Lo-enghiong untuk mempersatukan kalian kembali, dan kau telah memasuki sayembara dan diterima! Bukankah kau seorang jantan? Ingat, kalau sekarang kau mengingkari janji dan tidak mau kembali menjadi suami nona Giok Cu, bukan orang lain, aku sendirilah yang akan menghajarmu!"

Juga Gak Bong Tosu dan Heng-san Lojin membujuk Thian In supaya berlaku secara laki-laki. Tiba-tiba Giok Cu sambil menghapus airmatanya berkata.

"Apa artinya semua ini? Apakah aku kalian anggap sebagai sebuah barang yang mudah diberikan begitu saja? Kalian tidak menanyakan pendapatku! Sekarang engkoh Thian In, kau sudah berjanji hendak menceritakan rahasia dirimu. Aku hanya menuntut itu, tak menghendaki yang lain!"

Gadis ini merasa penasaran dan sedih sekali hingga ia lupa diri dan berlaku kasar. Thian In tekap mukanya dan geleng-geleng kepala.

"Aku berdosa. Tak mungkin aku menjadi suami Giok Cu. Dulu... ibuku adalah isteri Ong Kang Ek yang dicerai dan dibuang selagi mengandung aku! Ong Kang Ek melupakan ibuku karena ia kawin dengan ibu Giok Cu! Ketika ibu hendak menutup mata beliau pesan agar aku membalaskan sakit hatinya kepada seorang perempuan yang merampas suaminya. Ia memberiku sebuah gambar perempuan itu, dan ternyata perempuan itu adalah ibu Giok Cu yang tadinya hendak menjadi isteriku! Jadi... Giok Cu adalah adikku sendiri, kami lain ibu satu ayah. Mungkinkah kami menjadi suami isteri? Suhu, ampunkan ceecu yang tak pernah ceritakan hal ini kepadamu. Sekarang... hidupku kosong. Saudara Kam Ciu harus menolong Giok Cu, menolong adikku, aku tahu kau cinta padanya. Dan Giok, adikku, lenyapkanlah bayanganku dari lubuk hatimu. Aku saudaramu..."

Setelah berkata demikian, Thian In lalu berdiri dan loncat secepat kilat turun gunung!

Mendengar semua itu, Giok Cu menjadi pucat dan ia tentu roboh kalau tidak Kam Ciu cepat-cepat menangkapnya, hingga gadis itu pingsan dalam pelukannya.

Ketika sadar kembali, Giok Cu dapatkan dirinya berada dalam sebuah kamar goha yang bersih.

Di sebelahnya terdapat sebuah batu besar di mana Gak Bong Tosu duduk bersemedhi.

Kam Ciu dan ayahnya tak tampak.

Mereka hanya berdua.

"Di mana mereka?"

Giok Cu berkata.

"Mereka? Sudah pergi. Ayah anak she Gan itu memang keras hati dan jujur. Mereka itu jantan-jantan tulen. Karena dulu kau dan ayahmu telah menolak lamaran mereka, maka merekapun mengundurkan diri, entah ke mana."

"Kenapa ceecu berada di sini?"

"Aku yang membawamu. Kulihat kau memang bertulang pendeta. Hatimu telah terluka dan pendirianmu tidak menentu lagi. Jika kau masih sayang jiwa ragamu dan menghendaki kebahagiaan sejati, aku suka menerima menerima dan menjadi murid dan menunjukkan jalan kebahagiaan batin padamu. Giok Cu, sukakah kau menjadi pertapa wanita yang kelak akan menurunkan ilmu silatku kepada orang-orang yang mempunyai bakat pahlawan?"

Untuk semenjak Giok Cu diam saja.

Thian In adalah kakakna dan tak mungkin menjadi suaminya.

Kam Ciu telah pernah ditolaknya.

Kemana dia hendak pergi?

Merantau?

Tanpa tujuan?

Ah, dia sudah bosan!

Hidup baginya penuh penderitaan dan kekecewaan belaka.

Ia memandang sekeliling kamar.

Dinding goha putih polos dan hawanya sejuk.

Ia berdiri dan melongok keluar pintu.

Di luar goha terdapat jurang dalam dan pemandangan sungguh indah permai menyejukkan hati.

Kekayaan dan tamasya alam tampak terbentang luas di hadapannya seakan-akan dia yang memiliki semua itu.

Kemudian ia masuk lagi dan berlutut di depan Gak Bong Tosu.

"Baiklah suhu, ceecu suka menjadi muridmu."

Gak Bong Tosu tersenyum girang dan meramkan kedua matanya kembali setelah berkata.

"Duduklah di sana dan bersemedhilah!"

Giok Cu lalu duduk di atas sebuah batu hitam yang ditunjuk lalu bersila dan pusatkan seluruh pancaindera meniru contoh suhunya.

Ia berjuang untuk ketentraman batinnya.

Di masa yang akan datang, Giok Cu menjadi seorang pertapa yang tinggi ilmu kepandaiannya dan dikenal sebagai seorang wanita yang suci dan yang mengasingkan diri di puncak bukit Kouw-san, di mana ia bangunkan sebuah kelenteng dan selanjutnya Giok Cu disebut orang Kouw-san Nio-nio.

TAMAT Ansari,

http.//indozone.net

/literatures/literature/56

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 6

Baca Juga: Pedang Naga Kemala 12

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert