Ceritasilat Novel Online

Sepasang Rajah Naga 12

Eps 12 Sepasang Rajah Naga - Kho Ping Hoo

Baca online Sepasang Rajah Naga - Kho Ping Hoo

Cersil Sepasang Rajah Naga - Kho Ping Hoo.

Kepala penjaga itu hendak mendorong kearah dada Ciang Lan secara kurang ajar sekali. Akan tetapi, Ciang Lan mengelak ke kiri lalu kaki kanannya mencuat ke depan dengan cepat sekali.

"Bukk!!"

Orang itu mengaduh, tubuhnya terpental dan terbanting ke belakang Empat orang temannya marah sekali.

Mereka bergerak maju untuk menyerang.

Akan tetapi Sin Cu dan Ciang Lan bergerak cepat, dengan beberapa tamparan dan tendangan saja empat orang tukang pukul itupun roboh dan tidak mampu bangkit lagi!

Sin Cu dan Ciang Lan tidak memperdulikan mereka.

Diikuti oleh selusin orang perajurit itu, mereka memasuki beranda rumah besar.

Toko di sebelah rumah itu belum buka.

Ketika mereka tiba di ruangan depan, daun pintu depan rumah itu terbuka lebar dan belasan orang berserabutan keluar, membawa golok atau pedang.

Agaknya mereka telah melihat betapa lima orang penjaga di depan telah dirobohkan para pendatang itu, maka tanpa banyak cakap lagi mereka sudah menerjang dan menyerang Sin Cu, Ciang Lan dan seregu perajurit itu.

Pertempuran terjadi di ruangan depan yang luas itu.

Akan tetapi, kembali Sin Cu dan terutama Ciang Lan, mengamuk dan bagaikan dua ekor naga mereka menerjang dan belasan orang lawan itu menjadi kocar-kacir.

Para perajurit juga menyerang dan dengan cepat perlawanan para anak buah Su Kian itu dapat dilumpuhkan.

"Di mana Su Kian!"

Bentak Ciang Lan kepada seorang yang dirobohkannya. Ia mencengkeram lengan orang itu yang menyeringai kesakitan karena tangan yang berkulit lembut hangat itu seolah telah berubah menjadi jepitan baja.

"Di... di ruangan sebelah kanan itu..."

Dia menuding. Ciang Lan menamparnya dan dia roboh pingsan. Gadis itu lalu meloncat ke arah ruangan yang ditunjuk tadi. Sin Cu juga menangkap seorang penjaga.

"Hayo katakan di mana Kim Niocu?"

Rumah itu terlalu besar sehingga kalau harus mencari sendiri, selain sukar juga memberi kesempatan kepada musuh untuk melarikan diri. Orang itupun tidak berani membantah.

"Kim Niocu berada di ruangan belakang..., ampunkan saya...!"

Sin Cu melompat dan meninggalkan orang itu setelah berkata kepada pimpinan regu agar menangkapi orang-orang itu.

Dia berlari cepat memasuki rumah itu dan langsung menuju ke ruangan belakang.

Begitu dia memasuki sebuah ruangan di belakang, tampak sinar Putih menyambar dan sebatang pedang sudah menusuknya dengan luncuran kilat dari kanan.

Kiranya yang menyerangnya adalah Kim Niocu dan wanita itu menyerang dengan Pek-Liong-Kiam, pedangnya yang dirampas wanita itu ketika dia ditawan.

Biarpun Sin Cu telah dapat menyingkirkan dendam kebencian dari lubuk hatinya sesuai dengan apa yang diajarkan Gurunya, namun melihat Kim Nocu dia menjadi marah juga.

Wanita yang kejam dan jahat sekali ini bukan hanya membuat dia marah benar.

Akan tetapi terutama sekali karena Kim Niocu telah menculik Ouw Yang Hui, kekasih dan tunangannya.

Menghadapi serangan yang dilakukan secara curang dan tiba-tiba itu, Sin Cu cepat mengelak dengan loncatan ke samping memasuki ruangan yang luas itu.

"Kim Niocu, di mana Ouw Yang Hui? Cepat kau bebaskan ia!"

Bentak Sin Cu sambil memandang kepada wanita itu dengan sinar mata mencorong.

"Heh-heh-hi-hik! Kau mencari gadis itu? la sudah mampus! Ya, ia sudah mampus. Akan tetapi di sini ada aku yang menggantikannya. Marilah engkau ikut dengan aku dan hidup bersenang-senang...!"

Dengan marah Sin Cu lalu menerjang dan menyerang wanita itu dengan It-Yang-Ci!

Kedua jari telunjuknya menotok-notok dan gerakan kedua jari tangan itu mengeluarkan bunyi mencicit mengerikan karena Sin Cu mengerahkan tenaga saktinya.

Kim Niocu terkejut, la maklum akan kelihaian pemuda itu, maka cepat ia menghindar dan membalas dengan serangan pedangnya secara bertubi-tubi.

Akan tetapi dengan langkah-langkah ajaib Chit-Seng Sin-Po tubuh Sin Cu bergerak ke sana-sini dan semua serangan pedang itu tak pernah dapat menyentuhnya, Karena sudah marah sekali, tiba tiba Sin Cu berlutut dengan kaki kirinya, tangan kiri menyentuh tanah, tangan kanan diangkat lurus ke atas dan tiba-tiba kedua tangan itu bergerak dari atas dan bawah mendorong dengan telapak tangan ke depan.

Angin pukulan yang dahsyat sekali menyambar.

Itulah ilmu Im-Yang Sin-Ciang yang sudah mencapai puncaknya.

Tubuh Kim Niocu terdorong ke belakang dan ia terhuyung.

Akan tetapi wanita ini memang lihai sekali.

Biarpun ia merasa dadanya sesak dan terhuyung, ia masih dapat melontarkan pedang itu dengan sekuat tenaga ke arah Sin Cu.

Pedang berubah menjadi sinar putih yang meluncur dengan cepatnya ke depan.

Sin Cu mengelak dan pedang itu terus meluncur.

"Cappp...!"

Pedang itu menancap di dinding.

Gagangnya bergoyang-goyang saking kuatnya senjata itu menancap sampai setengahnya di dinding.

Sin Cu cepat melompat mendekati dinding dan menggunakan tangan kanan mencabut pedangnya.

Pada saat dia sudah berhasil mencabut pedang, terdengar ledakan keras dan ruangan itu penuh asap hitam.

Sin Cu cepat melompat keluar dari ruangan melalui pintu karena khawatir kalau-kalau asap itu beracun.

Akan tetapi dia tidak melihat lagi bayangan Kim Niocu.

Dia tidak perduli.

Yang penting sekarang mencari Ouw Yang Hui.

Sin Cu memasuki lorong dan ruangan dalam rumah itu.

Di sebuah ruangan Sin Cu melihat Ciang Lan memimpin dua belas orang perajurit pengikut mereka sedang menangkapi orang-orang dan menggiring mereka setelah membelenggu mereka.

"Engkau berhasil?"

Tanya Ciang Lan melihat Sin Cu memegang sebatang pedang berbentuk naga putih.

"lblis betina itu dapat melarikan diri. Engkau melihat Ouw Yang Hui?"

Balas tanya Sin Cu. Ciang Lan menggeleng kepala "Akan tetapi d"a ini tentu dapat memberi keterangan!"

La menuding kepada seorang tawanan, seorang yang bertubuh kurus dan bermulut lebar.

"Siapa dia"

Tanya Sin Cu.

"Dia inilah yang bernama Su Kian atau Su Wangwe, mata-mata Pek-Lian-Kauw itu."

Kata Ciang Lan dan gadis ini tiba tiba mencabut pedangnya dan menodongkan pedangnya ke leher Su Kian. Ujung pedang menempel pada kulit leher sehingga terasa pedih.

"Hayo katakan di mana adanya Ouw Yang Hui ?"

Bentak Ciang Lan.

Su Kian Ketakutan.

Tadi dia sudah merasakan kelihaian gadis cantik itu yang mengamuk dan merobohkan dia dan para pembantunya.

Dia sendiri sudah dihajar babak belur oleh gadis itu dan dia tahu bahwa gadis itu bukan sekedar membentak ketika pedangnya itu menodong lehernya.

"Saya... saya tidak mengenal nama itu...!"

Katanya. Sin Cu menghardiknya.

"Katakan, dimana para gadis yang ditawan Kim Niocu itu ?"

"Mereka... mereka telah dibawa ke gedung Thaikam Liu Cin."

Ciang Lan menekan pedangnya.

"Engkau tidak bohong?"

"Tidak, tidak! Saya tidak berani bohong. Begitu tiba di sini, gadis-gadis itu dibawa kepada Thaikam Liu Cin untuk dibagi-bagikan kepada para pembesar."

Sin Cu lalu berkata kepada pemimpin regu.

"Bawa semua tangkapan ini dan serahkan kepada Kui-Ciangkun. Kami berdua akan pergi! Hayo, Lan-moi, kita cari Hui-moi!"

Sin Cu mengajak Ciang Lan berlari keluar untuk pergi ke gedung Thaikam Liu Cin karena dia yakin bahwa Ouw Yang Hui tentu berada di sana.

Ketika dua orang muda itu berlari-lari mereka melihat bahwa agaknya telah terjadi sesuatu yang menggemparkan.

Mereka melihat penduduk bergegas pula dan tampak tegang dan ketakutan.

Sin Cu dapat menduga bahwa hal ini tentu ada hubungannya, dengan gerakan para bangsawan yang dipimpin oleh Pangeran Ceng Sin.

Dia tidak memperdulikan dan mengajak Ciang Lan untuk berlari cepat menuju gedung Thaikam Liu Cin.

Setelah dekat dengan gedung itu, tiba-tiba Sin Cu melihat tiga orang yang segera dikenalnya dengan baik karena mereka itu bukan lain adalah Hui Sian Hwesio ketua Siauw-Lim-Pai, Ceng Su Cinjin ketua Bu-Tong-Pai dan Lui Kai It wakil ketua Kong-Thong-Pai!

Sin Cu berhenti, menghadapi mereka dan segera memberi hormat, diturut oleh Ciang Lan.

"Sam-wi Lo-Cianpwe (tiga orang tua perkasa) berada di sini?"

"Omitohud...! Kiranya engkau, Wong Sin Cu! Kami bertiga sudah berhasil menangkap orang yang melakukan pembunuhan-pembunuhan itu. Dia anak buah Pek-Lian-Kauw yang bersekutu dengan Thaikam Liu Cin. Kami akan melaporkannya kepada Kaisar!"

Kata hui Sian Hwesio.

"Benar dugaanmu dulu, Wong Sin Cu. Yang membunuh murid Bu-Tong-Pai dan Kong-Thong-Pai adalah Hek Pek Moko! Kami akan mencarinya!"

Kata Cang Su Cinjin.

"Benar! Kami harus membunuh Hek Pek Moko, iblis jahat itu"

Kata Lui Kai dengan marah.

"Kalau begitu kebetulan sekali, sam-wi Lo-Cianpwe! Saya kira mereka itu berada di gedung Thaikam Liu Cin. Kami berdua sedang hendak pergi ke sana. Semua kaki tangan Liu Cin berada di sana!"

"Omitohud..., kalau begitu kita kesana!"

Kata Hui Sian Hwesio.

Bergegaslah lima orang itu menuju ke rumah gedung Thaikam Liu Cin.

Ketika mereka tiba di depan gedung, ternyata Kui-Ciangkun telah mengatur gerakan yang cepat.

Sudah ada pasukan yang menyerbu gedung dan sedang bertempur, melawan para pengawal penjaga gedung.

"Kita menyerbu ke dalam!"

Kata Sin Cu dan lima orang itu segera menerjang masuk, merobohkan para pengawal yang berani menghadang.

Setelah tiba di ruangan dalam, bertemulah mereka dengan para jagoan kaki tangan Thaikam Liu Cin.

Mereka agaknya sudah siap untuk melarikan diri.

Tentu saja mereka terkejut bukan main ketika tiba-tiba pintu depan ditendang jebol dan masuklah lima orang yang tidak mereka sangka-sangka itu.

Mereka saling pandang dan kebetulan sekali jumlah para datuk yang menjadi jagoan Liu Cin juga berjumlah lima orang.

Mereka adalah Tho-Te-Kong, Cu-Beng Kui-Bo, Hek Moko, Pek Moko, dan Ouw Yang Lee.

Ouw Yang Lee marah sekali melihat Ciang Lan yang memegang pedang Lo-Thian-Kam.

"Ouw Yang Lan! Apakah engkau hendak menjadi anak durhaka yang melawan Ayah kandung sendiri?"

Bentaknya. Ouw Yang Lan memandang dengan mata mencorong.

"Ouw Yang Lee, aku adalah Ciang Lan dan aku tidak sudi mempunyai Ayah kandung seorang iblis keji macam engkau!"

"Anak setan!"

Ouw Yang Lee membentak dan dia sudah menyambar sebatang tongkat baja yang sudah dipersiapkan sebelumnya sebagai pengganti dayung baja yang biasa menjadi senjatanya yang ampuh.

Dengan tongkat baja yang berat itu dia menyerang dengan pukulan maut ke arah kepala puteri Kandungnya.

Ouw Yang Lan atau Ciang Lan sudah siap siaga.

Dengan sigap ia mengelak dan membalas dengan serangan yang tidak kalah hebatnya.

Ayah dan anak ini sudah saling serang mati-matian.

Lui Kai It wakil ketua Kong-Thong-Pai ketika melihat Hek Moko yang mukanya hitam, bangkit kemarahannya karena dia tahu bahwa murid Kong-Thong-Pai terbunuh oleh telapak tangan hitam.

"Kamu tentu iblis Hek Moko yang telah membunuh murid Kong-Thong-Pai!"

Bentaknya sambil menggerakkan pedangnya, langsung menyerang Hek Moko yang sudah menyambut dengan pedangnya.

"Siancai! Engkau tentu Pek Moko yang telah membunuh murid Bu-Tong-Pai!"

Kata pula Cang Su Cinjin yang juga sudah mencabut pedangnya.

"Engkaupun datang mengantar nyawa!"

Bentak Pek Moko yang sudah menyerang pula dengan pedangnya. Dua orang inipun sudah bertanding dengan seru. Sin Cu menghadapi Tho-Te-Kong.

"Tho-Te-Kong, engkau orang tua renta yang tidak mencari jalan terang! Engkau bahkan membantu pembesar lalim untuk mengacaukan negara. Akulah lawanmu!"

Kakek tinggi kurus yang rambut, kumis dan jenggotnya sudah putih semua itu tertawa. Sambil mengamangkan tongkat bambu kuning di tangan kanannya, dia berkata.

"Orang muda, sekali ini aku tidak akan memberi ampun padamu!"

Kakek yang sudah tua ini agaknya salah mengenal orang.

Dia mengira bahwa Sin Cu adalah Tan Song Bu yang pernah melawannya ketika pemuda itu bersama Ouw Yang Lan, Ciang Sek dan Gu Tian melawan dia dan Ouw Yang Lee sehingga terpaksa dia dan Ouw Yang Lee melarikan diri.

Dia dikalahkan karena dikeroyok.

Sekarang berhadapan satu lawan satu, dia merasa yakin bahwa dia akan dapat mengalahkan dan merobohkan pemuda itu, Sama sekali dia tidak tahu bahwa yang dihadapinya adalah seorang pemuda lain.

Sin Cu sendiri belum pernah bertemu dengan Tho-Te-Kong, akan tetapi dia sudah mendengar akan nama dan kelihaian Kakek ini.

Maka tadi sengaja dia memilih Tho-Te-Kong untuk melawannya.

Dia juga heran mendengar ucapan Kakek itu seolah Kakek itu pernah bertemu dengannya.

Dia tidak memperdulikan ucapan itu lalu mencabut Pek-Liong-Kiam dan menghadapinya.

"Haiiiitt...!"

Tho-Te-Kong sudah membuka serangan.

Tongkat Bambu Kuning yang tampaknya biasa saja dan tidak berbahaya itu merupakan senjata yang teramat ampuh di tangan Kakek ini.

Ketika tongkat itu menyerang, terdengar suara bercuitan dan sinar kuning menyambar ke arah tubuh Sin Cu dan ujung tongkat itu seperti berubah menjadi tujuh dan menyerang ke arah tujuh jalan darah yang berbahaya dari tubuh depan pemuda itu!

Sin Cu cepat memutar Pek-Liong-Kiam sehingga tampak sinar putih bergulung-gulung membentuk perisai yang menangkis atau menghalau tusukan bertubi-tubi itu.

Segera mereka saling serang dengan seru.

"Omitohud, bukankah yang berhadapan dengan Pinceng ini datuk wanita yang disebut Cui-Beng Kui-Bo? Kui-bo, sungguh memalukan kalau orang-orang tua seperti kita masih harus bertanding. Mengapa engkau tidak menyadari akan kesalahanmu, lalu bertaubat dan berjanji tidak akan mengulang kesalahanmu membantu pembesar lalim mengacau negara? Kalau engkau mau berjanji dan bertaubat, Pinceng tentu mau melepas engkau pergi."

Cui-Beng Kui-Bo tersenyum genit seperti kebiasaannya.

"Hui Sian Hwesio, aku tahu siapa engkau dan aku tahu pula akan kesaktianmu. Aku mengerti bahwa aku tidak akan mampu mengalahkanmu. Akan tetapi untuk mengaku kalah sebelum bertanding, pantang bagiku. Kalau engkau mampu mengalahkan Siang-Kiam (Sepasang Pedang) ini, baru aku mengaku kalah dan akan bertaubat!"

Wanita berusia enam puluh lima tahun yang masih cantik dan genit itu mencabut sepasang pedang dari punggungnya, memasang kuda-kuda dan menyilangkan pedangnya.

"Omitohud, setua ini engkau masih menjaga keangkuhanmu, Kui-Bo!"

"Sambutlah!"

Cui-Beng Kui-Bo berseru dan ia sudah menerjang ke depan, menggerakkan sepasang pedangnya dan menyerang dengan dahsyat.

Hui Sian Hwesio menggerakkan kedua lengannya dan ujung lengan bajunya yang panjang menyambar-nyambar, menjadi dua gulung sinar kuning dan membawa angin bersiutan kuat sekali.

Hui Sian Hwesio ingin cepat-cepat menundukkan datuk wanita itu, sebaliknya Cui-Beng Kui-Bo yang maklum bahwa ia bukanlah lawan ketua Siauw-Lim-Pai, agaknya juga tidak ingin berlama-lama melakukan perlawanan.

Maka, baru kurang lebih sepuluh jurus, sepasang pedangnya sudah terbelit kedua ujung lengan baju Hui Sian Hwesio dan begitu Kakek itu mengerahkan tenaga dalam untuk menarik dengan sentakan, sepasang pedang itu terlepas dari kedua tangan Cui-Beng Kui-Bo.!

Hui Sian Hwesio mengambil sepasang pedang itu dan menyerahkannya kepada pemiliknya.

"Omitohud, Kui-Bo. Engkau telah banyak mengalah!" (Lanjut ke

Jilid 31) Sepasang Rajah Naga (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 31 Cui-Beng Kui-Bo menerima sepasang pedang itu, akan tetapi bukan disimpan melainkan dipatahkannya dengan kedua tangan, kemudian dibuangnya sepasang pedang yang telah patah itu.

"Aku mengaku kalah dan akan meninggalkan dunia kang-ouw, Hui Sian Hwesio."

Setelah berkata demikian, nenek itu lalu melompat dan pergi dari gedung itu.

Dengan mudah ia menerobos keluar, merobohkan siapa saja yang berani menghadangnya dan tak lama kemudian dia sudah jauh meninggalkan Kotaraja!

"Omitohud, mudah-mudahan ia dapat menjadi orang yang kembali ke jalan benar dan berguna bagi manusia dan dunia,"

Kata Hui Sian Hwesio.

Kakek ini lalu berdiri menonton mereka yang sedang bertanding.

Biarpun dia tidak berusaha membantu namun dia waspada dan siap untuk melindungi pihaknya kalau sampai terancam bahaya.

Ouw Yang Lee merasa penasaran dan marah sekali melihat kenyataan bahwa dia tidak mampu mendesak Ciang Lan.

Ternyata tingkat kepandaian silat puterinya ini mampu menandinginya, bahkan kini gulungan sinar pedang gadis itu makin menekan dan mendesaknya sehingga dialah yang kini terancam.

Ouw Yang Lee menjadi panik.

Bukan saja dia tidak akan menang melawan puterinya sendiri, akan tetapi dia melihat betapa Cui-Beng Kui-Bo sudah melarikan diri dan kini Hui Sian Hwesio yang sakti itu berdiri menganggur.

Kalau ketua Siauw-Lim-Pai itu turun tangan membantu Ouw Yang Lan, akan celakalah dia.

Jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri hanyalah lari.

Akan tetapi belum tentu dia akan dapat meloloskan diri.

Dia teringat akan Ouw Yang Hui yang oleh Kim Niocu telah diserahkan kepadanya dan kini puterinya itu dia tahan dalam sebuah kamar.

Dia mendapat akal.

"Hyaaatttt...!"

Dia melakukan Serangan yang dahsyat, pedangnya menyambar disusul pukulan tangan yang berubah merah karena dia telah mengerahkan ilmu Ang-Tok-Ciang (Tangan Beracun Merah).

Maklum akan hebatnya serangan itu, Ciang Lan melompat mundur dan kesempatan itu di pergunakan oleh Ouw Yang Lee untuk lari ke sebelah dalam.

"Keparat, hendak lari ke mana kau"

Bentak Ciang Lan dan diapun mengejar ke dalam.

Akan tetapi Ouw Yang Lee tak tampak lagi.

Selagi gadis itu mencari-cari, muncullah Ouw Yang Lee dari dalam sebuah kamar.

Akan tetapi Ciang Lan tidak dapat menyerang dan ia berdiri tertegun melihat betapa Kakek itu dengan tangan kiri memegang lengan Ouw Yang Hui dan pedangnya menempel di leher adik tirinya itu.

"Hui-moi..."

Ciang Lan berseru, merasa tidak berdaya. la mengangkat pedangnya akan tetapi tidak berani mendekat.

"Jangan bergerak atau aku akan menggorok lehernya lebih dulu!"

Bentak Ouw Yang Lee.

"Manusia biadab! Iblis kejam"

Ciang Lan memaki akan tetapi tidak berani bergerak.

"Enci Lan, jangan begitu. Bagaimanapun juga, dia adalah Ayah kandung kita."

Kata Ouw Yang Hui dan ia menurut saja ketika didorong Ayahnya keluar dari ruangan itu dan meninggalkan gedung lewat lorong rahasia di belakang gedung.

Ciang Lan hanya membanting-banting kaki, tidak berani bergerak mengejar karena ia tahu benar bahwa Ayahnya yang kejam seperti iblis itu bukan hanya menggertak kosong belaka.

Mungkin saja iblis itu membunuh Ouw Yang Hui kalau ia mengejarnya, membunuh anak kandung sendiri.

Sementara itu, pertempuran antara pasukan yang dikirim Kui-Ciangkun melawan para perajurit pengawal gedung sudah berhenti.

Semua perajurit pengawal Liu Cin telah dikalahkan dan sisanya menyerah.

Atas perintah Kui-Ciangkun.

semua anggauta keluarga Thaikam Liu Cin juga ditawan.

Pertandingan di ruangan dalam yang luas antara para pimpinan partai besar dan Sin Cu melawan para datuk masih berlangsung dengan seru.

Hui Sian Hwesio yang sudah ditinggal lari lawannya, hanya menonton dan tidak membantu karena semua kawannya tidak tampak terdesak.

Cang Su Cinjin ketua Bu-Tong-Pai yang bertanding dengan Pek Moko bahkan telah mendesak hebat lawannya.

Ilmu pedang Bu-Tong-Pai memang indah dan tangguh sekali.

Dalam hal permainan pedang, Pek Moko masih kalah jauh.

Pek Moko berusaha untuk mengimbangi kekalahan ilmu pedang dengan pukulan maut Pek-Tong-Ciang.

Tangan kirinya berubah putih seperti kapur ketika dia menggunakan ilmu pukulan maut itu.

Akan tetapi, Ketua Bu-Tong-Pai itu menyambutnya dengan ilmu totok Tiam-Hiat-Hoat yang berbahaya sekali.

Pek Moko mulai menjadi panik dan mulai melihat ke kanan-kiri untuk mencari jalan keluar melarikan diri.

Namun tempat itu telah terkepung perajurit sehingga dia tidak melihat jalan keluar lagi.

Apa pula lawannya yang lihai itu sudah mendesaknya terus, tidak memberi kesempatan kepadanya untuk meloloskan diri.

Dalam keadaan terhimpit itu Pek Moko menjadi nekat.

Pada saat pedangnya bertemu pedang lawan, dia mengerahkan seluruh tenaganya melalui pedang it".

Cang Su Cinjin merasakan adanya saluran tenaga dahsyat lawan.

Maklumlah dia bahwa lawan hendak mengadu tenaga, maka diapun mengerahkan tenaga sinkang.

Dua tenaga yang amat kuat bertemu melalui pedang sehingga kedua pedang itu seperti melekat.

Pada saat itu, Pek Moko menggerakkan tangan kirinya yang berubah putih itu dari dekat pinggang, dengan tangan terbuka menghantam ke arah perut lawan.

Akan tetapi Ketua Bu-Tong-Pai itu sudah siap siaga.

Melihat gerakan tangan kiri lawan, cepat dia menotok dengan ilmu totok Tiam-Hiat-Hoat.

Cepat sekali jari tangannya menotok siku kiri lawan sehingga lengan Pek Moko seketika lumpuh.

Secepat kilat jari tangan kiri Cang Su Cinjin menotok lagi mengenai ulu hati dan Pek Moko mengeluarkan seruan lirih dan tubuhnya roboh terjengkang.

Datuk ini tewas seketika!

"Siancai...!

Engkau mencari kematianmu sendiri, Pek Moko!"

Kata Ketua Bu-Tong-Pai itu.

Cang Su Cinjin lalu mundur dan berdiri di sebelah Hui Sian Hwesio menonton perkelahian yang masih berlangsung antara Sin Cu melawan Tho-Te-Kong dan Lui Kai It melawan Hek Moko.

Pertandingan antara Hek Moko melawan Wakil Ketua Kong-Thong-Pai itu berjalan seimbang.

Seperti yang lain, Hek Moko juga mengeluarkan seluruh kemampuannya dan mengerahkan seluruh tenaganya, karena dia melihat bahwa tidak ada jalan keluar untuk melarikan diri baginya.

Apa lagi dia melihat Pek Moko sudah tewas.

Ouw Yang Lee dan Cui-Beng Kui-Bo juga tidak tampak berada di mana.

Mungkin sekali kedua orang itu telah tertawan, pikirnya.

Karena itu, Hek Moko mengamuk.

Akan tetapi, lawannya amat lihai sehingga semua usahanya untuk menyerang seperti bertemu dinding baja yang kuat.

Berulang kali pedang mereka bertemu dan masing-masing merasa betapa tangan yang memegang pedang tergetar hebat.

Pada saat itu, Ciang Lan kembali ke ruangan itu.

Hatinya masih dipenuhi kemarahan dan penyesalan melihat Ouw Yang Lee telah menawan Ouw Yang Hui dan menyanderanya sehingga dia dapat melarikan diri tanpa ia dapat berbuat apa-apa.

Karena kemarahan ini, melihat Lui Kai It masih bertanding melawan Hek Moko dan berada dekat dengannya ketika ia memasuki ruangan itu, Ciang Lan segera menggerakkan pedangnya menyerang si muka hitam itu.

"Haaaiiittt...!!"

La membentak dan pedang Lo-Thian-Kam menyambar dahsyat ke arah leher Hek Moko. Hek Moko terkejut bukan main. Serangan itu benar-benar cepat dan berbahaya sekali. Dia menggerakkan pedangnya menangkis.

"Tranggg...!"

Bunga api berpijar dan Hek Moko terhuyung, dan pada saat itu, pedang Lui Kai It sudah menusuk lambungnya dari kanan.

Hek Moko berteriak dan roboh terguling, lambungnya ditembusi pedang dan dia tewas seketika.

Pertandingan antara Sin Cu yang melawan Tho-Te-Kong berlangsung seru dan sengit.

Sejak tadi Hui Sian Hwesio dan Cang Su Cinjin menonton pertandingan antara pemuda dan datuk besar itu dan mereka berdua saling membicarakan dengan penuh rasa kagum.

Diam-diam Hui Sian Hwesio sendiri harus mengakui dalam hati bahwa datuk besar itu berbahaya sekali.

Dia sendiripun belum tentu dapat mengalahkan Tho-Te-Kong dengan mudah.

Akan tetapl pemuda itu, mampu menandinginya dalam pertandingan yang ramai dan seimbang.

"Hebat sekali pemuda itu,"

Kata Cang Su Cinjin.

"Murid siapakah dia?"

Tanya Hui Sian Hwesio kepada Ketua Bu-Tong-Pai itu.

"Omitohud, apakah engkau tidak dapat mengenal dasar ilmu pedangnya, Toyu?"

Cang Su Cinjin mengamati penuh perhatian. Dia adalah seorang yang berpengetahuan luas. Sebentar saja dia sudah melihat dasar-dasar ilmu pedang Pek-Liong Kiam-Sut yang dimainkan Sin Cu.

"Hemm, dasar-dasar gerakan kaki dan pedang itu mirip ilmu pedang Im-Yang Kiam-Sut dari partai Im-Yang-Pai. Akan tetapi tangan kirinya yang menyelingi serangan pedang dengan totokan-totokan jari telunjuk itu, bukankah itu It-Yang-Ci dari Siauw-Lim-Pai? Bagaimana mungkin kedua ilmu itu digabung menjadi satu. Apakah dia murid Im-Yang-Pai? Ataukah murid Siauw-Lim-Pai?"

"Omitohud! Penglihatanmu tajam sekali dan pengetahuanmu tentang ilmu silat luas Cang Su Cinjin. Dugaanmu tadi memang tepat dan pinceng tahu, hanya ada satu orang saja di dunia ini yang ahli dalam dua macam ilmu itu dan hanya dia yang dapat menggabungkannya menjadi ilmu pedang yang lihai itu."

"Siapa dia, Lo-Suhu?"

"Seorang sahabat pinceng. yang sudah hampir dua puluh tahun tidak pernah pinceng jumpai dan dia tidak ingat akan namanya sendiri dan kalau ditanya mengaku bernama Bu Beng Siauwjin!"

"Siancai Bu Beng Siauwjin (Manusia Rendah Tak Bernama)? Benar-benar adakah tokoh aneh itu? Dan pemuda itu muridnya?"

Kata Ketua Bu-Tong-Pai dengan heran dan kagum, Perkelahian antara Tho-Tek-Kong melawan Wong Sin Cu memang hebat sekali.

Pedang Pek-Liong-Kiam di tangan sin Cu berubah menjadi sinar putih bergulung gulung bagaikan seekor naga putih mengamuk di angkasa.

Adapun tongkat bambu kuning di tangan Tho-Te-Kong juga berubah menjadi gulungan sinar kuning yang menyambar-nyambar.

Kadang-kadang kedua gulungan sinar itu saling dorong, saling tekan, dan ada kalanya saling belit.

Hanya tinggal dua orang ini yang bertanding karena semua pertandingan sudah selesai.

Para perajurit juga ikut tertarik dan menonton pertandingan yang seru dan dahsyat ini.

Pimpinan ketiga partai persilatan hanya menonton dan tidak membantu Sin Cu.

Hal ini pertama adalah karena mereka melihat Sin Cu tidak dalam keadaan terdesak dan kedua karena bagi seorang gagah merupakan hal yang memalukan, untuk melakukan pengeroyokan, apa lagi dalam keadaan tidak terancam bahaya.

Akan tetapi Ciang Lan tidak perduli akan semua aturan dan sopan santun ini.

Hal itu sudah dibuktikannya tadi ketika ia begitu saja membantu Wakil Ketua Kong-Thong-Pai sehingga Hek Moko dapat dirobohkan dengan mudah.

Kini, melihat betapa Sin Cu belum juga dapat mengalahkan laawannya, Ciang Lan tidak perduli biarpun ia maklum betapa lihainya Kakek yang bertanding melawan Sin Cu itu.

Ia pernah melihat Kakek itu ketika Tho-Tek-Kong bersama Ouw Yang Lee menyerang Pek-In-San.

"Cu-Ko, mari kita bunuh tua bangka keparat ini!"

Bentak Ciang Lan dan ia lalu menyerang dengan pedang Lo-Thian-Kam secara ganas sekali.

Biarpun dibandingkan Tho-Te-Kong, tingkat kepandaian Ciang Lan masih kalah jauh, namun ilmu pedang Lo-Thian Kiam-Sut (Ilmu Pedang Pengacau Langit) yang dimainkan gadis itu merupakakan Kiam-Sut yang hebat.

Tho-Te-Kong yang belum juga mampu mendesak Sin Cu dan keadaan keduanya masih seimbang, ketika mendapat penyerangan Ciang Lan, menjadi terkejut bukan main.

Serangan gadis itu cukup.

hebat dan mengubah keseimbangan itu.

Dia mulai terdesak hebat ketika mengelak dari serangan pedang Ciang Lan.

Dia berusaha untuk merobohkan gadis itu lebih dulu, hal yang dianggapnya tidak sukar mengingat bahwa tingkat kepandaian gadis itu belum cukup tinggi untuk mengimbanginya.

Akan tetapi, agaknya pemuda itu mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencegah dia mencelakai gadis itu, begitu dia hendak mengirim serangan maut kepada Ciang Lan, Sin Cu sudah mendesaknya dengan serangan berbahaya sehingga terpaksa Tho-Te-Kong membatalkan serangan kepada Ciang Lan.

Dengan demikian, terpaksa Tho-Te-Kong harus menghadapi semua serangan Ciang Lan tanpa dapat membalas.

Sin Cu sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya untuk menyerang gadis itu.

Seluruh perhatiannya harus dia curahkan untuk melayani semua desakan Sin Cu.

Celakanya, penyerangan gadis itu makin lama semakin dahsyat dan berbahaya!

Sin Cu sebagai seorang yang mengutamakan kegagahan, tentu saja tidak ingin dibantu dalam menandingi Tho-Te-Kong, akan tetapi dia mengenal siapa Ciang Lan dan bagaimana watak gadis yang keras hati itu.

Kalau bantuan Ciang Lan ini dia tolak, hal itu tentu akan membuat gadis itu marah dan sama sekali tidak alasan menghalangi bantuannya, bahkan akan menjadi semakin nekat.

Karena itu, Sin Cu diam saja dan dia malah memperhebat serangannya untuk menghalangi Kakek itu agar tidak dapat balas menyerang Ciang Lan.

Tho-Te-Kong mulai bingung dan panik.

Menghadapi ancaman maut yang membayang di depan matanya, Kakek yang usianya sudah tujuh puluh tahun lebih itu menjadi takut!

Segala perbuatannya yang lalu, semua kejahatannya, membunuhi orang, memaksakan kehendaknya kepada orang lain, semua itu terbayang bagaikan kilat dan mendatangkan perasaan ngeri kepadanya.

Biasanya, dia amat mengandalkan kekuatannya.

Akan tetapi membayangkan betapa semua kekuatan sudah meninggalkannya, betapa dia tidak berdaya, tidak tahu apa yang akan menimpanya dan bayangan-bayangan mengerikan mengancamnya, Kakek itu menjadi panik dan takut.

Perasaan takut ini tentu saja mempengaruhi perhatian dan kewaspadaanya, membuatnya lemah dan gerakannya menjadi ragu-ragu dan lambat.

"Hyaattt...!"

Pedang di tangan Ciang Lan menusuk.

Kakek itu miringkan tubuh, akan tetapi pedang yang menusuk dada itu masih menyerempet pangkal lengan kanannya.

Lengan baju dan kulit pangkal lengan itu robek.

Rasa perih membuat Kakek itu terhuyung dan tendangan kaki kiri Sin Cu tepat menghantam lambungnya.

Tubuh tinggi kurus itu terpelanting dan sebelum dia sempat menguasai dirinya, pedang di tangan Ciang Lan sudah menusuk dadanya.

Tho-Te-Kong mengeluarkan teriakan dan dia tidak dapat bangkit lagi, tewas dan mandi darahnya sendiri.

"Cu-Ko, Hui-moi dilarikan dan disandera Ouw Yang Lee, dilarikan keluar gedung!"

Kata Ciang Lan kepada Sin Cu.

Pada saat itu, seorang laki-laki tua berusia hampir tujuh puluh tahun, bertubuh kurus jangkung dengan muka keriputan berlari masuk.

Melihat Sin Cu dan Ciang Lan, dia berkata.

"Aku melihat gadis yang disandera dan dilarikan itu keluar pintu gerbang selatan Kotaraja!"

Orang itu bukan lain adalah Siauw Ming yang ditinggalkan di rumah Kui-Ciangkun.

Karena Sin Cu menganggap Siauw Ming sudah tua dan dia bersama Ciang Lan akan menghadapi datuk-datuk yang sakti, maka dia minta agar Siauw Ming tinggal saja di gedung Kui-Ciangkun.

Siauw Ming yang melihat semua orang pergi melaksanakan tugas, merasa tidak enak harus berdiam diri.

Walaupun sudah tua, namun dia merasa dirinya masih kuat.

Maka akhirnya dia tidak dapat bertahan duduk diam di rumah dan segera keluar.

Dia melihat betapa penduduk Kotaraja panik dan banyak yang berlarian mengungsi.

Dia mendengar tentang keributan di luar Istana dan tahu bahwa Pangeran Ceng Sin, Kui-Ciangkun dan para bangsawan itu sudah mulai bergerak.

Ketika dia sedang berjalan-jalan melihat keadaan dan tiba di dekat pintu gerbang selatan, tiba-tiba dia melihat seorang Kakek tinggi besar gagah perkasa berusia hampir enam puluh tahun sedang mendorong dan memegangi lengan seorang gadis cantik.

Kakek itu memegang sebatang pedang telanjang dan dari sikapnya jelas bahwa dia mengancam untuk membunuh gadis itu.

Siauw Ming adalah seorang yang sejak menjadi buron dari Kotaraja, telah banyak berkelana dan biarpun dia belum pernah bertemu dengan Ouw Yang Lee, ketika melihat laki-laki tinggi besar itu dia teringat akan cerita Sin Cu dan Ciang Lan.

Gadis itukah yang dicari kedua orang muda itu?

Dan apakah Kakek gagah perkasa itu yang bernama Tung-Hai-Tok (Racun Laut Timur) Ouw Yang Lee, majikan Pulau Naga?

Karena ingin tahu, dia lalu mengejar dan setelah dekat bertanya.

"Nona, apakah engkau yang bernama Ouw Yang Hui?"

Gadis itu memang Ouw Yang Hui.

Ketika Ayahnya sendiri menjadikannya sebagai sandera, ia tidak melawan.

la sudah pasrah dan ia tidak perduli lagi apa yang akan terjadi dengan dirinya.

Ketika Ouw Yang Lee dengan menggunakan ia sebagai sandera membawanya lari keluar dari gedung Thaikam Liu Cin, ia menurut saja, bahkan ia sempat menegur Ouw Yang Lan, la hanya bertanya kepada Ayah kandungnya itu kemana ia akan dibawa dan Ouw Yang Lee mengatakan bahwa mereka akan kembali ke Pulau Naga.

kini, tiba-tiba ada seorang laki-laki tua yang menegurnya.

la menoleh dan melihat laki-laki itu, ia teringat kepada mereka yang dekat dengannya.

Teringat kepada Sin Cu, teringat kepada Song Bu, dan kepada Ouw Yang Lan juga teringat kepada Ibunya dan Ayah tirinya.

la percaya bahwa mungkin orang yang menegurnya ini mempunyai hubungan dengan seorang di antara mereka, maka iapun lalu menjawab.

"Benar, paman. Aku Ouw Yang Hui, Sampaikan ucapanku selamat tinggal kepada mereka semua, aku kembali ke Pulau Naga...!"

Ouw Yang Lee mengerutkan alisnya dan memutar tubuhnya dengan marah, memandang kepada Siauw Ming dan membentak.

"Siapa engkau? Pergi atau kubunuh kau!"

Tangan kirinya mendorong dan serangkum angin pukulan menyambar ke arah Siauw Ming.

Biarpun jarak di antara mereka tidak kurang dari lima tombak jauhnya, namun angin pukulan itu masih menyambar keras.

Siauw Ming maklum betapa hebatnya pukulan jarak jauh itu, maka diapun melempar tubuh ke belakang lalu bergulingan menjauh sehingga terhindar dari hantaman hawa pukulan dahsyat itu.

Ketika Siauw Ming bangkit, Ouw Yang Lee dan Ouw Yang Hui telah keluar dari pintu gapura selatan.

Siauw Ming tentu saja tidak berani mengejar, maklum bahwa kepandaiannya masih kalah jauh dibandingkan penyerangnya tadi.

Maka dia lalu kembali ke tengah kota dan langsung pergi ke gedung Liu Cin karena dia tahu bahwa Sin Cu dan Ciang Lan menurut rencana akan menyerbu ke sana.

Para perwira yang memimpin pasukan mengenalnya sebagai tamu Kui-Ciangkun, maka mereka tidak menghalanginya ketika, Siaw Ming masuk mencari Sin Cu dan Ciang Lan.

Kebetulan sekali, ketika Siauw Ming memasuki ruangan dalam, semua pertempuran telah berhenti.

Banyak lawan telah tewas, lainnya ditangkap dan pada saat Siauw Ming datang, dia mendengar teriakan Ciang Lan yang berkata kepada Sin Cu bahwa Ouw Yang Hui disandera dan dilarikan Ouw Yang Lee.

Maka diapun cepat berkata kepada mereka.

"Aku melihat gadis yang disandera dan dilarikan itu keluar pintu gerbang selatan Kotaraja!"

Mendengar ucapan Siauw Ming ini, Sin Cu dan Ciang Lan melompat keluar gedung itu dan mempergunakan ilmu berlari cepat seperti terbang, mereka melakukan pengejaran ke pintu gerbang selatan.

Siauw Ming juga melakukan pengejaran, akan tetapi ia tertinggal jauh walaupun dia juga mempergunakan ilmu berlari cepat.

Setelah tiba di luar pintu gapura sebelah selatan, Sin Cu dan Ciang Lan berhenti berlari, bingung karena tidak tahu ke arah mana perginya orang yang mereka kejar.

Terdapat dua jalur jalan raya dari luar pintu gerbang itu, yang satu lurus ke depan, yang lain ke arah kiri.

"Kita berpencar di sini!"

Kata Sin Cu dan ia lalu mengambil jalan kiri yang Lebih kecil.

Ciang Lan maklum apa yang dimaksudkan Sin Cu.

Dengan berpencar mereka akan dapat mengejar melalui dua arah dan seorang di antara mereka tentu akan dapat mengejar Ouw Yang Lee.

Maka iapun cepat berlari mengambil jalan yang besar lurus.

Setelah melindungi Kaisar Ceng Tek dan membantu Pangeran Ceng Sin dan para bangsawan yang menentang Thaikam Liu Cin sehingga akhirnya Liu Cin dapat ditangkap dalam Istana, Song Bu teringat akan Ouw Yang Hui.

Dia merasa yakin bahwa gadis itu tentu dibawa oleh Kim Niocu ke Kotaraja dan mungkin telah diserahkan kepada Liu Cin.

Kalau demikian halnya, tentu Ouw Yang Hui terjatuh kembali ke dalam tangan Ouw Yang Lee yang jahat.

Hatinya menjadi khawatir sekali dan setelah Kaisar berada dalam keadaan aman sedangkan para pengacau telah berhasil dilumpuhkan dan ditangkap, Song Bu mohon diri dari Kaisar untuk mencari dan menyelamatkan Ouw Yang Hui.

Setelah mendapat ijin dari Kaisar, Song Bu berlari keluar dari Istana.

Bagaikan dikejar setan Song Bu berlari secepatnya menuju gedung Liu Cin.

Dia melihat pertempuran di luar Istana akan tetapi tidak memperdulikan, apa lagi melihat betapa pasukan yang pro Liu Cin tampak terdesak dan banyak yang roboh dan menyerah.

Akan tetapi setelah dia tiba di situ pertempuran sudah selesai bahkan tiga orang pimpinan partai-partai persilatan besar telah pergi meninggalkan Kotaraja.

Dia mendapat keterangan bahwa Hek Moko dan Pek Moko, juga Tho-Te-Kong, telah tewas dalam pertempuran, seluruh anggauta keluarga Liu Cin telah ditangkap.

Akan tetapi dia mendengar juga bahwa Cui-Beng Kui-Bo telah melarikan diri, juga Ouw Yang Lee melarikan diri dengan menyandera Ouw Yang Hui!

Mendengar keterangan ini, Song Bu tidak memperdulikan yang lain lagi dan cepat dia melakukan pengejaran sambil bertanya-tanya di sepanjang jalan dalam kota.

Akhirnya dari keterangan-keterangan orang yang melihat, dia tahu bahwa Ouw Yang Hui dibawa Ayah kandungnya keluar dari Kotaraja melalui pintu gerbang sebelah selatan.

Maka diapun cepat melakukan pengejaran keluar dari pintu gerbang itu.

Hati Ouw Yang Lee merasa lega ketika dia sudah berhasil membawa Ouw Yang Hui keluar dari Kotaraja dan mereka kini sedang berjalan mendaki sebuah bukit di Sebelah selatan Kotaraja.

Kini dia tidak lagi memegang lengan gadis itu dan sudah menyarungkan pedangnya.

Sejak tadi Ouw Yang Hui berjalan di samping Ayahnya, tidak banyak bertanya atau bicara.

Kedua kakinya terasa lelah sekali, akan tetapi dipaksanya kedua kakinya untuk melangkah.

Setelah beberapa lamanya berjalan di jalan pendakian itu, Ouw Yang Hui merasa tidak kuat lagi menahan rasa lelahnya.

Ia berhenti melangkah.

"Kenapa berhenti? Hayo jalan terus perjalanan masih jauh"

Kata Ouw Yang Lee.

"Kakiku lelah sekali, Ayah. Aku tidak kuat lagi, aku harus beristirahat dulu."

Kata Ouw Yang Hui lirih. Ouw Yang Lee mengerutkan alisnya dan menoleh ke kanan-kiri. Di kanan-kiri jalan yang sunyi itu hanya hutan.

"Mari jalan sedikit lagi sampai kita keluar dari hutan dan tiba di sebuah dusun. Nanti kucarikan kuda agar kita dapat melanjutkan perjalanan menunggang kuda, Hayo jalan lagi". Ouw Yang Hui tetap mogok jalan "Ayah, kalau Ayah sudah tidak sayang lagi kepadaku, mengapa Ayah hendak memaksa aku pulang ke Pulau Naga? Aku benar-benar lelah sekali akan tetapi Ayah memaksaku berjalan terus. Itu berarti Ayah tidak sayang lagi kepadaku. Ayah, kalau memang Ayah membenci aku, bunuh saja aku, Ayah. Di sini tidak ada orang lain yang melihatnya atau yang menghalangimu."

"Jangan banyak cakap! Engkau anakku dan engkau harus menaati semua kehendakku. Hayo jalan!"

Pada saat itu terdengar suara lantang.

"Seekor binatang buas sekalipun tidak akan menyiksa anaknya sendiri, akan tetapi engkau seorang manusia berhati kejam bahkan ingin membunuh anak sendiri! Engkau benar-benar jahat sekali Ouw Yang Lee!"

Ouw Yang Lee terkejut dan cepat memutar tubuhnya sambil mencabut pedangnya.

Dia terbelalak dan semakin terkejut melihat orang yang menegurnya itu ternyata adalah Wong Sin Cu, pemuda yang dia tahu amat lihai dan yang pernah mengalahkannya itu.

"Bocah lancang...! Aku berurusan dengan anakku sendiri..! Mau apa kau mencampuri? Tidak tahu malu!"

Bentak Ouw Yang Lee.

Sin Cu memandang kepada Ouw Yang Hui yang berdiri di bawah sebatang pohon.

Dia merasa heran sekali melihat wajah tunangannya yang lesu dan sedih itu.

Aneh sekali.

Mengapa Ouw Yang Hui tidak kelihatan girang melihat dia datang hendak menolongnya?

Gadis itu bahkan mengerutkan alisnya dan menundukkan muka, sama sekali tidak melihatnya!

Akan tetapi dalam keheranannya itu, Sin Cu merasa lega melihat kekasih atau tunangannya itu berada dalam keadaan selamat.

"Ouw Yang Lee, engkau berurusan dengan anakmu sendiri atau dengan orang lain, kalau engkau melakukan kejahatan, terpaksa aku harus mencampuri dan menentangmu! Engkau menghambakan diri kepada pengkhianat Liu Cin, bersekutu dengan Pek-Lian-Kauw dan membunuh orang-orang yang tidak berdosa! Tentu saja aku menentangmu, di mana dan kapan saja!"

"Jahanam, mampuslah!"

Ouw Yang Lee tidak dapat menahan kemarahannya dan dia sudah menerjang dan menyerangkan pedangnya dengon dahsyat sekali.

Akan tetapi Sin Cu sudah waspada sejak tadi, maklum bahwa datuk yang kejam ini juga dapat bertindak licik dan curang.

Diserang secara tiba-tiba itu dia tidak menjadi gugup.

Dia melompat ke belakang sambil mencabut Pek-Liong-Kiam.

Ouw Yang lee menyerang lagi dengan sabetan pedang ke arah leher Sin Cu.

Pemuda itu menangkis dari samping.

"Cringgg...!"

Dua batang pedang bertemu dan benturan tenaga sakti melalui pedang itu membuat Ouw Yang Lee terdorong ke belakang.

Baru pertemuan tenaga sakti ini saja sudah menunjukkan bahwa pemuda itu lebih kuat.

Akan tetapi kemarahan membuat Ouw Yang Lee menjadi nekat.

Dia sudah mengalami pukulan batin dan kekecewaan yang besar sekali.

Jatuhnya Thaikam Liu Cin meruntuhkan semua cita-cita dan harapannya.

Keinginannya untuk menjadi seorang bangsawan yang berkedudukan tinggi hancur sudah.

Kemudian dia masih mempunyai harapan dengan adanya puterinya, Ouw Yang Hui yang cantik, Bukankah Tan Song Bu pernah bercerita bahwa Kaisar sendiri juga tertarik dan kagum kepada puterinya itu?

Siapa tahu, kelak dia akan dapat mengatur agar Ouw Yang Hui dapat ditarik ke dalam Istana.

Kalau Kaisar tergila-gila kepada puterinya itu, bukan tidak mungkin impiannya untuk menjadi orang besar terkabul.

Maka, dia lalu memaksa Ouw Yang Hui untuk ikut pulang ke Pulau Naga agar dia di sana dapat mengatur rencana dan siasat baru.

Akan tetapi, kembali dia dihalangi oleh pemuda yang dibencinya itu!

Maka, kekecewaan membuat dia marah sekali dan dia menyerang dengan nekat!

Akan tetapi, pada waktu itu, tingkat kepandaian Sin Cu jauh lebih tinggi sehingga semua serangannya dapat dipatahkan dan balasan serangan Sin Cu beberapa kali membuat dia terhuyung ke belakang.

"Cu-Ko, jangan bunuh dia..!"

Terdengar Ouw Yang Hui berseru, suaranya lemah dan mengandung isak. Mendengar ini, luluh hati Sin Cu dan dia sengaja memberi kelonggaran, tidak mendesak lagi dan berkata dengan nyaring.

"Ouw Yang Lee, puterimu yang menyelamatkan nyawamu. Hayo pergi dan tinggalkan kami!"

Ouw Yang Lee tentu saja merasa terhina sekali.

Akan tetapi diapun bukan seorang bodoh.

Kalau Ouw Yang Hui tidak mencegah, besar kemungkinan dia akan roboh dan tewas di tangan pemuda ini.

Maka, diapun mengeluarkan teriakan panjang untuk melampiaskan kedongkolan hatinya dan dia melompat dan lenyap ke dalam hutan di sebelah kiri jalan.

Sin Cu tidak mengejar lalu melompat menghampiri Ouw Yang Hui yang menangis tersedu-sedu sambil menutupi mukanya dengan kedua tangan.

Sin Cu hendak merangkul dan menghibur kekasihnya, akan tetapi baru saja tangannya menyentuh pundak, Ouw Yang Hui sudah mundur melepaskan diri dan berkata sambil menangis.

"... Jangan sentuh aku demi Tuhan... jangan... sentuh aku...!"

Tentu saja Sin Cu merasa terkejut dan heran sekali. Dia memandang gadis yang masih menangis sambil menutupkan kedua tangan di depan wajahnya, terisak-isak dan pundaknya bergoyang-goyang.

"Hui-moi, kenapakah, Hui-moi? Jangan takut dan jangan bersedih lagi. Ouw Yang Lee telah pergi dari sini, bahaya telah lewat, Hui-moi."

Kembali tangannya menyentuh pundak. Akan tetapi sentuhan jari tangan itu seolah-olah api yang membakar bagi Ouw Yang Hui. la mengelak mundur.

"Jangan sentuh aku... ah, jangan sentuh..."

"Akan tetapi kenapa, Hui-moi? Aku adalah tunanganmu, calon suamimu!"

Mendengar ucapan ini, lemas kedua kaki Ouw Yang Hui dan ia menjatuhkan diri berlutut di atas tanah tanpa melepaskan kedua tangan dari depan mukanya dan tangisnya semakin menguguk.

Melihat ini, Sin Cu menjad"

Semakin khawatir. Jelas bahwa kekasihnya itu berada dalam kedukaan yang hebat.

"Hui-moi, katakanlah. Apa yang telah terjadi? Kenapa engkau bersikap seperti ini?"

"Cu-Ko... jangan dekati aku... menjauhlah... aku...aku kotor tidak berharga untukmu..."

Ouw Yang Hui berkata diantara isak tangisnya. Sin Cu terkejut, akan tetapi menjadi semakin bingung.

"Hui-moi, katakanlah dengan sebenarnya, apa yang telah terjadi? Engkau akan tetap berharga untukku, apapun yang telah terjadi! Katakanlah, ada apa, Hui-moi?"

Sin Cu hendak merangkul, akan tetapi ditahannya karena tadi Ouw Yang Hui selalu menghindar kalau hendak dirangkulnya.

"Ingat, kita adalah calon suami isteri, tidak perlu merahasiakan sesuatu. Engkau adalah tunanganku, calon isteriku tercinta..."

"Tidak...! Aku tidak mungkin dapat menjadi isterimu..."

Gadis itu tersedu.

"Akan tetapi kenapa? Kenapa...?"

Sin Cu mendesak.

"Aku... aku sudah ternoda... aku... aku... bahkan sudah... hamil... Uu-Hu-Huuuhh...!"

Ouw Yang Hui bangkit lalu melarikan diri ke dalam hutan yang berada di sisi jalan.

Mendengar itu, Sin Cu terbelalak, wajahnya pucat dan sejenak dia seperti kehilangan semangat, hanya berdiri terbelalak memandang ke arah larinya Ouw Yang Hui, tidak dapat mengeluarkan suara dan tidak tahu harus berbuat apa, Pengakuan Ouw Yang Hui itu bagaikan halilintar menyambarnya, membuatnya terkejut, penasaran, marah, kecewa dan berbagai macam perasaan yang tidak baik lagi.

Juga api cemburu mulai membakar hatinya.

Setelah bayangan Ouw Yang Hui hilang ditelan pohon-pohon besar barulah Sin Cu bagaikan sadar dari mimpi.

"Hui-moi... tunggu..!"

Dia melompat dan mengejar.

Tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depannya telah berdiri menghadang seorang pemuda yang bertubuh tinggi kokoh dan sikapnya gagah sekali.

Sin Cu tidak mengenal siapa pemuda itu dan pada saat itu hatinya sedang tertekan dan sakit sekali mendengar pengakuan Ouw Yang Hui tadi.

Masih terngiang dalam telinganya bahwa tunangannya, calon isterinya itu, telah ternoda dan bahkan sedang hamil!

Bagaimana mungkin ini!

Hatinya seperti dibakar dan pada saat itu kemarahan menguasai hatinya.

Melihat ada orang menghadang di depannya, Sin Cu membentak.

"Keparat! Siapa kau dan mau apa menghadangku? Minggir atau akan kuhajar kau!"

Sin Cu yang biasanya berwatak tenang, lembut dan sabar itu kini dalam keadaan hatinya hancur dan sakit menjadi orang yang kasar dan galak!

Pemuda gagah itu adalah Tan Song Bu Pemuda yang keras hati ini tadi melihat Ouw Yang Hui yang menangis dan melarikan diri dari pemuda ini.

Hatinya sudah merasa curiga dan marah, menyangka bahwa pemuda ini tentu bukan seorang baik-baik sehingga Ouw Yang Hui melarikan diri sambil menangis.

Maka dia yang memang sedang melakukan pengejaran dan pencarian terhadap Ouw Yang Hui yang kabarnya dilarikan oleh Ouw Yang Lee, menjadi marah mendengar ucapan Sin Cu yang nadanya keras itu.

Karena menduga bahwa pemuda yang tadi mengejar Ouw Yang Hui ini tentu seorang jahat, maka watak Song Bu yang keras timbul dan dia marah sekali.

"Engkaulah yang harus dihajar!"

Bentaknya dan dia sudah menerjang sambil mengayun tangan kanan memukul ke arah kepala Sin Cu!

Pukulannya mendatangkan angin yang kuat sehingga mengejutkan Sin Cu.

Dia segera maklum bahwa lawannya ini ternyata seorang yang lihai, maka cepat Sin Cu mengangkat lengan kiri untuk menangkis.

"Dukk...!"

Dua lengan bertemu dan keduanya terdorong ke belakang beberapa langkah.

Dua-duanya terkejut dan karena maklum bahwa lawan mereka bukan orang lemah, keduanya lalu mengerahkan tenaga dan saling serang dengan seru.

Juga kemarahan makin memenuhi hati masing-masing.

Beberapa kali lengan mereka beradu dan keduanya terpental.

Setelah saling serang selama belasan jurus dan selalu lawannya mampu menggagalkan serangannya, Song Bu menjadi penasaran sekali.

"Haiiiiittt...!"

Dia berseru keras dan mengerahkan ilmu Ang-Tok-Ciang (Tangan Racun Merah) sehingga kedua telapak tangannya berubah merah dan dia lalu menyerang dengan dahsyat.

Sin Cu terkejut dan cepat menggunakan Chit-Seng Sin-Po untuk mengelak.

Dia mengenal telapak tangan merah itu.

Pernah Ouw Yang Lee mempergunakan ilmu serupa ketika bertanding dengannya.

kemarahan Sin Cu memuncak karena dia menganggap bahwa lawannya ini tentu mempunyai hubungan baik dengan Ouw Yang Lee.

Atau jangan-jangan orang ini datang untuk membantu Ouw Yang Lee melawannya sehingga datuk itu akan dapat merebut Ouw Yang Hui kembali.

Teringat akan ini Sin Cu menjadi marah sekali, dan khawatir kalau-kalau gadis itu kini terjatuh lagi ke tangan Ouw Yang Lee.

Song Bu semakin penasaran ketika beberapa kali pukulan Ang-Tok-Ciang yang dipergunakan menyerang Sin Cu selalu gagal dan luput.

Dia mengganti dengan Pek-Tong-Ciang (Tangan Racun Putih) yang ia pelajari dari Pek Moko, kemudian mengganti lagi dengan Hek-Tok-Ciang yang dia pelajari dari Hek Moko.

Bagi Sin Cu, melihat perubahan warna pada telapak tangan lawannya itu, menambah keyakinan hatinya bahwa yang dilawannya adalah musuh besar yang ada hubungan dekat dengan Ouw Yang Lee dan Hek Pek Moko!

Maka Sin Cu juga segera mengeluarkan ilmu silat tangan kosongnya yang ampuh, yaitu Im-Yang Sin-Ciang.

Kini tiba giliran Song Bu yang mengerutkan alisnya dan kemarahannya semakin berkobar, Tentu saja dia mengenal ilmu silat Im-Yang Sin-Ciang yang pernah dia pelajari dari Im Yang Tojin, bahkan baru saja tadi pagi dia telah membunuh Im Yang Tojin di Istana.

Walaupun Im-Yang Sin-Ciang yang dimainkan lawannya ini hebat bukan main, jauh lebih hebat daripada kalau dimainkan Im Yang Tojin sendiri, namun hatinya yakin bahwa pemuda ini tentulah orang dari persekutuan para datuk yang mengabdi kepada Liu Cin.

"Bagus..! Kiranya engkau jahanam keparat yang harus dibasmi dari muka bumi ini!"

Bentak Song Bu setelah dia melompat ke belakang menghindarkan serangan Sin Cu dan dia mencabut Coat-Beng Tok-Kiam yang bersinar biru.

Begitu dia menggerakkan pedang, lenyaplah bentuk pedangnya dan berubah menjadi gulungan sinar biru.

Melihat ini, Sin Cu maklum bahwa pedang lawannya itu berbahaya sekali.

Maka diapun melompat ke belakang dan mencabut Pek-Liong-Kiam.

Dia menggerakkan pedangnya dan tampaklah sinar putih bergulung-gulung.

Tanpa bicara, kedua orang muda ini sudah saling terjang kembali.

Mereka kini saling serang dengan pedang, lebih seru daripada tadi.

Akan tetapi Song Bu harus mengakui bahwa dia mulai terdesak oleh ilmu pedang yang luar biasa dari lawannya itu.

Pada saat kedua orang muda itu bertanding mati-matian dengan usaha sungguh-sungguh untuk membunuh lawan, tiba muncul Ciang Lan dan Siauw Ming.

Dua orang ini sama-sama melakukan pengejaran.

Karena tadinya Ciang Lan mengejar melalui jalan yang salah dan setelah mengejar jauh tidak menemukan jejak, lalu ia kembali dan mengambil jalan ke dua yang dipergunakan Sin Cu, maka ia baru tiba di situ.

Di tengah jalan ia bertemu dengan Siauw Ming maka dapat melakukan pengejaran bersama.

Alangkah girang akan tetapi juga kaget hati Ciang Lan melihat Sin Cu sedang bertanding pedang mati-matian melawan Song Bu.

"Eh, itu Kakak Tan Song Bu!"

Katanya kepada Siauw Ming dan ia cepat melompat dekat mereka yang sedang bertanding dan berseru dengan suara lantang.

"Kak Wong Sin Cu...! Kak Tan Song Bu...! Hentikan perkelahian itu. Kalian berkelahi melawan orang sendiri, Hentikan!"

Dengan beraninya Ciang Lan melompat ke tengah di antara mereka sehingga dua orang pemuda itu terkejut dan cepat menarik pedang masing dan melompat ke belakang, takut kalau-kalau sinar pedang mereka melukai gadis itu.

Siauw Ming sudah menghampiri Song Bu dan memandang tajam dengan mata terbelalak.

"Engkau... engkau tentu putera Panglima Tan Hok itu! Engkau tentu Tan Song Bu, Si Naga Hitam!"

Song Bu memandang Kakek itu dan mengerutkan alisnya.

Dia merasa heran.

Semua terjadi begitu tiba-tiba dan tidak tersangka-sangka.

Mengapa Ouw Yang Lan melerai perkelahiannya melawan pemuda itu?

Dan sekarang Kakek ini!

Apa maksudnya?

"Siapa engkau?"

Tanyanya sambil memandang Kakek itu penuh selidik.

"Tan Song Bu, kuminta kepadamu, bukalah bajumu dan perlihatkan rajah naga di dadamu agar aku menjadi yakin!"

Kata Siauw Ming dengan hati tegang. Song Bu masih meragu, akan tetapi Ciang Lan berkata kepadanya.

"Bu-Ko, penuhilah permintaannya. Nanti engkau akan mengetahui segalanya!"

Biarpun merasa heran, Song Bu melepas kancing bajunya dan memperlihatkan dadanya yang bidang.

Tampaklah rajah gambar naga hitam di dadanya itu.

Sin Cu memandang dengan mata terbelalak.

Gambar rajah naga itu sama benar dengan gambar di dadanya, hanya bedanya kalau naga di dadanya berwarna putih, naga di dada pemuda itu berwarna hitam.

Dia mengingat-ingat dan samar-samar terbayanglah dia akan peristiwa di atas perahu itu, ketika dia sebagai seorang anak yang masih kecil sekali bersama seorang anak laki-laki lain yang sudah tidak dia ingat lagi namanya, dirajah oleh seorang laki-laki yang menjadi tukang perahu.

Jadi pemuda inikah anak laki-laki yang lain itu.

"Benar, engkaulah anak itu! Ya Tuhan... terima kasih...! Terima kasih bahwa sebelum mati aku dapat bertemu dengan dua orang anak ini!"

Kata Siauw Ming sambil memegang tangan Sin Cu dengan tangan kanannya, lalu dibawanya Sin Cu mendekati Song Bu dan dia memegang tangan Song Bu dengan tangan kirinya.

"Tan Song Bu, aku adalah Siauw Ming, tukang perahu yang dulu merajah dadamu,"

Song Bu juga samar-samar teringat, lalu memandang Sin Cu. Mereka saling pandang dan Song Bu berkata.

"Jadi engkau anak yang seperahu denganku itu? Dan engkau Paman yang dulu membela kami dari serangan orang jahat, kemudian engkau terlempar ke lautan?"

"Nanti dulu!"

Kata Sin Cu.

"Kita lanjutkan pembicaraan nanti saja. Yang penting sekarang harus mengejar Hui-moi!"

Diingatkan begitu, Song Bu juga terkejut, demikian pula Ciang Lan.

"Cu-Ko, apakah engkau sudah menemukannya?"

"la tadi di sini!"

Kata Song Bu.

"Mari kita kejar!"

Tiga orang muda itu, Sin Cu, Song Bu, dan Ciang Lan seperti berlumba melompat ke dalam hutan melakukan pengejaran.

Siauw Ming ikut mengejar, walaupun dia tertinggal jauh.

Akan tetapi, biarpun telah mencari di seluruh hutan itu, mereka tidak menemukan Ouw Yang Hui.

Bahkan tidak menemukan jejaknya.

Sampai menjelang senja, barulah mereka bertiga bertemu di luar hutan dalam keadaan lelah dan gelisah.

Siauw Ming juga tampak lelah sekali.

Mereka duduk di atas batu-batu di tepi jalan dan mengusap keringat yang membasahi leher dan muka.

"Cu-Ko, sekarang ceritakan bagaimana engkau tadi bertemu dengan Hui-moi,"

Kata Ciang Lan sambil memandang wajah Sin Cu yang agak pucat dan matanya tampak lesu dan wajah yang muram penuh kedukaan.

"Ya, engkau harus menceritakan pula mengapa tadi aku melihat Hui-moi menangis sedih dan melarikan diri darimu, Sin Cu!"

Kata Song Bu dengan suara yang masih agak kaku karena kecurigaannya terhadap Sin Cu masih belum hilang sama sekali.

Setidaknya dia menganggap bahwa agaknya Ouw Yang Hui berduka dan menangis karena ulah Sin Cu.

Sin Cu menghela napas panjang.

"Maafkan aku, Song Bu. Karena tidak tahu urusannya, mungkin engkau menjadi salah paham. Akupun tadi salah paham kepadamu, apalagi melihat engkau mengeluarkan ilmu-ilmu yang kukenal sebagai ilmu Ouw Yang Lee, Hek Moko dan Pek Moko."

"Aku juga melihat engkau menggunakan ilnu yang sama dengan ilmu Im Yang Tojin yang pagi tadi kutewaskan ketika dia membantu Liu Cin membuat kacau di Istana,"

Kata Song Bu. Kembali Sin Cu menghela napas panjang.

"Agaknya terpaksa aku harus menceritakan segala yang terjadi dengan sejujurnya untuk menghilangkan kesalah-pahaman ini."

Dia menoleh kepada Siauw Ming dan berkata dengan lembut.

"Paman Siauw Ming, kuharap Paman suka memaafkan kami bertiga. Paman yang sudah demikian besar jasanya kepada kami bertiga, terutama kepada Sog Bu dan aku, terpaksa sekarang kuminta dengan hormat untuk menjauh sebentar karena kami akan membicarakan hal yang merupakan rahasia kami bertiga. Sekali lagi maafkan aku, Paman Siauw Ming."

Karena ucapan Sin Cu itu dilakukan dengan nada suara penuh permintaan maaf, maka Siauw Ming tidak merasa tersinggung. Dia adalah seorang tua yang berpengetahuan luas. Dia mengangguk dan berkata.

"Aku mengerti, Sin Cu. Semua orang memang mempunyai rahasia pribadi yang tidak ingin didengar orang lain. Bicaralah kalian bertiga, aku akan beristirahat di bawah pohon besar di sana itu."

Dia lalu bangkit dan berjalan pergi ke sebuah pohon besar yang tampak dari situ akan tetapi jaraknya cukup jauh sehingga suara mereka bertiga tidak,akan dapat didengar dari sana.

"Cu-Ko, rahasia apakah yang akan kau bicarakan sehingga engkau terpaksa minta agar Paman Siauw Ming pergi?"

"Bukan rahasia kita, Lan-moi, melainkan rahasia Hui-moi. Karena aku tahu bahwa engkau adalah enci dari Hui-moi dan Song Bu ini adalah suhengnya, maka aku akan membuka rahasia ini kepada kalian agar kalian mengetahui duduknya perkara. Ketika tadi engkau dan aku berpencar untuk melakukan pengejaran terhadap Ouw Yang Lee yang menyandera dan melarikan Hui-moi, aku berhasil menyusul mereka dan segera terjadi perkelahian antara aku dan Ouw Yang Lee. Aku berhasil mendesak Ouw Yang Lee akan tetapi Hui-moi berseru kepadaku agar aku tidak membunuh Ouw Yang Lee. Terpaksa aku melepaskannya dan membiarkannya pergi.

"Hemm, adik Ouw Yang Hui terlalu baik dan lemah. Tadipun ia menegur aku ketika aku memaki Ouw Yang Lee!"

Kata Ciang Lan.

"Teruskan ceritamu, Sin Cu!"

Kata Song Bu.

"Setelah Ouw Yang Lee melarikan diri, aku menghampiri Hui-moi. Kalian tahu bahwa aku dan Hui-moi, kami telah bertunangan, kami dijodohkan oleh Paman Gan Hok San dan bibi Sim Kui Hwa..."

Song Bu diam saja, agak cemberut.

Dia sudah tahu akan hal itu.

Akan tetapi Ouw Yang Lan baru mendengarnya sekarang dan gadis itu memandang Sin Cu dengan mata terbelalak dan mukanya menjadi agak pucat.

Hatinya terpukul dan ia merasa jantungnya seperti ditusuk.

la mati-matian jatuh cinta kepada Sin Cu dan sekarang pemuda itu mengaku telah bertunangan.

Tunangannya malah Ouw Yang Hui adiknya sendiri!

"Ahh...!"

Ia berseru.

"Kau... kau... bertunangan dengan adik Ouw Yang Hui...! kenapa... kenapa dulu engkau tidak menceritakan hal ini...?"

Sin Cu memandang wajah Ciang Lan dan dia menghela napas panjang.

Dia memaklumi perasaan gadis itu.

Dia tahu benar bahwa Ciang Lan atau Ouw Yang Lan ini jatuh cinta kepadanya.

Karena itulah dia dahulu tidak menceritakan tentang pertunangannya, tidak ingin dia membuat gadis itu kecewa.

"Memang aku belum menceritakannya kepadamu, Lan-moi."

"Sin Cu, teruskan ceritamu!"

Kata pula Song Bu.

"Ketika aku menghampiri Hui-moi yang menangis dan hendak menyentuh pundaknya dan menghiburnya, ia menjauhkan diri dan menangis semakin keras. Ketika aku bertanya dan mendesaknya, akhirnya ia mengaku bahwa Ia... ia... telah ternoda dan...!"

"Jahanam busuk Iblis laknat! Siapa laki-laki yang telah memperkosa adikku Ouw Yang Hui? Akan aku hancurkan kepalanya akan kurobek dadanya!"

Ouw Yang Lan atau Ciang Lan melompat berdiri dan wajahnya menjadi merah, kedua tangannya dikepal dan ia tampak marah sekali, Sin Cu menundukkan mukanya dengan sedih.

"Aku tidak tahu, ia tidak memberitahuku Lan-moi. la hanya bilang bahwa ia tidak mungkin lagi menjadi isteriku karena ia telah ternoda... dan... dan telah hamil...!"

"Hamil...!?! Jahanam keparat! Mana laki-laki iblis itu?"

Song Bu berkata, suaranya dalam dan keras.

"Hui-moi tidak diperkosa, Lan-moi. Yang menodainya adalah Bhong Lam, putera Ketua Cabang Pek-Lian-Kauw. la menceritakannya kepadaku, akan tetapi ia tidak bilang bahwa ia telah hamil. Sekarang, jahanam Bhong Lam itu telah mati terbunuh orang-orang Pek-Lian-Kauw sendiri karena dia telah mengkhianati mereka. Dan sekarang yang bertanggung jawab adalah Wong Sin Cu ini! Wong Sin Cu, engkau harus mengawini Hui-moi, kalau engkau tidak mau bertanggung jawab, demi Tuhan, aku akan menantangmu mengadu nyawa! Aku harus membela Kehormatan Hui-moi!"

Sin Cu mengerutkan alisnya dan menentang pandang mata Song Bu. Dua orang pemuda itu saling pandang dengan alis berkerut.

"Tan Song Bu, urusan pernikahanku dengan Hui-moi adalah urusan kami berdua. Engkau tidak ada hak untuk mencampurinya! Bagaimana engkau berani hendak memaksaku dalam hal ini? Dan apa maksudmu bahwa aku harus bertanggung jawab? Engkau sendiri tadi menceritakan bahwa yang menodainya adalah Bhong Lam yang sekarang sudah mati, bagaimana engkau bisa bilang bahwa aku yang harus bertanggang jawab?"

Dengan penasaran Sin Cu bangkit berdiri dan Song Bu juga bangkit berdiri.

Keduanya sudah berdiri dan bagaikan dua ekor ayam jantan yang siap untuk bertanding.

Melihat ini, Ouw Yang Lan juga bangkit berdiri, siap untuk melerai.

"Bu-Ko, kurasa engkau kurang adil kalau hendak memaksa Cu-Ko mempertanggungjawabkan perbuatan yang tidak dia lakukan melainkan dilakukan orang lain"

Cing Lan berkata.

la membela Sin Cu karena demi sebuah keadilan, juga karena muncul harapun dalam hatinya bahwa melihat keadaan Ouw Yang Hui, akhirnya Sin Cu akan berpaling ke padanya.

Song Bu memandang kepada Ouw Yang Lan, lalu kepada Sin Cu kembali dan dia berkata.

"Aku bukan orang sesat yang suka memaksakan kehendakku sendiri dengan tidak adil. Sikapku ini memiliki dasar dan alasan yang kuat. Agaknya Hui-moi belum menceritakan hal ini kepada Sin Cu. Nah, dengarlah. Hui-moi tidak diperkosa oleh Bhong Lam. la menyerahkan diri memenuhi janjinya. Ketika itu Hui-moi melihat Wong Sin Cu ini tertawan oleh Kim Niocu dan disiksa. Hui-moi tidak tahan melihat penyiksaan itu dan Bhong Lam mempergunakan kesempatan itu untuk membujuk Hui-moi. Dia mau menolong dan membebaskan Sin Cu kalau Hui-moi berjanji mau menjadi isterinya. Hui-moi tak berdaya dan dia memberikan janjinya. Nah, dia menyerahkan diri kepada Bhong Lam. Ini menghancurkan kebahagiaan hidupnya, Ia mengorbankan kehormatannya untuk membela Sin Cu. Untuk membebaskannya dari siksaan dan kematian. Sekarang katakanlah, apakah aku tidak adil kalau aku memaksa Sin Cu untuk bertanggung jawab untuk mengawini Hui-moi, untuk membersihkan ia daripada aib, malu dan kehinaan?"

Sebelum Song Bu mengakhiri ceritanya, Sin Cu sudah tidak kuat menahan air matanya yang bercucuran. Dia menutupi mukanya dengan kedua tangan, menahan sedu sedannya.

"...Hui moi... ah Hui moi... aku... aku yang bersalah...!"

Song Bu mengerutkan alisnya.

"Sudah, tak perlu menangis seperti anak kecil! Yang penting sekarang, maukah engkau bertanggung jawab dan mengawini Hui-moi, atau aku harus memaksamu dan kita mengadu nyawa di sini?"

Sin Cu mengusap air matanya dan menekan perasaannya. Dia memandang Song Bu dengan mata merah.

"Song Bu, terima kasih bahwa engkau menceritakan semua ini kepadaku. Aku akan tetap menikah dengan Hu-moi. Tidak perlu engkau menaksaku! Aku pasti akan mengawininya, aku pasti akan bertanggung jawab. Aku akan membela dan melindungi Hui-moi sampai aku mati!"

"Ah... kasihan sekali Hui-moi...!"

Ciang Lan mengeluh, lalu memandang ke dua pemuda itu dan menegur.

"Kalian ini omongannya saja hendak membela Hui-moi sampai mati, akan tetapi yang kalian lakukan hanya omong kosong dan ribut-ribut di sini sedangkan Hui-moi dibawa pergi orang entah ke mana kalian tidak perduli"

Dua orang pemuda itu terkejut mendengar teguran Ciang Lan.

Gadis itu tidak memperdulikan mereka lagi dan pergi menghampiri Siauw Ming yang masih duduk di bawah pohon, Sin Cu dan Song Bu saling pandang lalu mengikuti gadis itu.

Setelah berhadapan dengan Siauw Ming Ciang Lan berkata.

"Paman Siauw Ming, adikku dilarikan orang. Dapatkan Paman membantu memikirkan, ke mana kiranya ia dibawa pergi?"

"Tadi aku belum sempat memberitahu kalian saking girangnya hatiku bertemu dengan Tan Song Bu,"

Kata Siauw Ming.

"Sebelum aku bertemu denganmu tadi, nona, aku melihat bayangan orang tinggi besar menyelinap di antara pohon-pohon. Tidak salah lagi, orang itu adalah Tung-Hai-Tok Ouw Yang Lee."

"Ah, kalau begitu tidak salah lagi. Selagi Cu-Ko dan Bu-Ko bertanding dan Hui moi melarikan diri, tentu Ouw Yang Lee telah menemukannya dan membawanya lari, Cu-Ko dan Bu-Ko, ini gara-gara kalian ribut dan berkelahi sendiri sehingga Hui-moi kembali tertawan oleh Ouw Yang Lee. Ke mana sekarang kita harus mencarinya!"

Ciang Lan tampak marah dan cemberut memandang kedua orang pemuda itu.

"Nona, kalau benar Tung-Hai-Tok yang melarikan gadis itu, kurasa dia akan membawanya ke Pulau Naga. Dia tentu merasa tidak aman lagi berada di daerah ini setelah gagal membantu Thaikam Liu Cin. Tempat yang paling aman baginya adalah Pulau Naga, maka aku berpendapat bahwa dia tentu melarikan diri ke Pulau Naga."

"Tepat sekali!"

Tiba-tiba Song Bu berseru.

"Kita kejar ke Pulau Naga! Akan tetapi... pelayaran kesana sungguh tidak mudah, bahkan sulit sekali untuk dapat menemukan pulau itu!"

"Aku dapat mengantar kalian sampai ke Pulau Naga,"

Kata Siauw Ming.

"Bagus, mari kita cepat mengejar ke sana!"

Kata Ciang Lan.

Empat orang itu segera berangkat melakukan pengejaran.

Perahu yang cukup besar itu meluncur dengan cepat di atas air lautan, menerjang ombak.

Layar terkembang dan perahu itu di kemudikan oleh tangan trampil Siauw Ming.

Cang Lan, Sin Cu, dan Song Bu duduk dekat Kakek itu.

Setelah berada di atas lautan yang amat luas, tiga orang ini merasa diri mereka tidak berdaya sama sekali.

Mereka merasa kecil dan lemah, dan merasa keselamatan mereka berada di tangan Kakek Siauw Ming!

Di darat, mereka dapat mengandalkan kepandaian mereka untuk melindungi diri sendiri, menentang segala bahaya yang mengancam diri mereka.

Akan tetapi, terombang-ambing di atas lautan luas itu, mereka merasa seperti anak kecil yang tidak berdaya.

Ngeri mereka membayangkan perahu itu tenggelam.

Apalagi terkadang mereka melihat ikan-ikan besar meluncur dalam air.

Mereka akan menjadi makanan ikan tanpa mampu membela diri.

Song Bu sejak tadi diam termenung.

Dia teringat akan Ouw Yang Hui gadis yang dicintanya yang ternyata telah bertunangan dengan Sin Cu bahkan kini telah hamil dengan pria lain, Dia merasa nelangsa sekali dan duduk di atas perahu itu mengingatkan dia akan kenangan masa lalu ketika dia masih kecil dulu.

Dia teringat akan Ayah Ibunya yang sudah sukar diingatnya bagaimana wajah mereka.

Baru sekarang, dalam keadaan menganggur dan merasa tidak berdaya, dia ingat bahwa ketika itu Siauw Ming berada bersama dia dan orang tuanya.

"Paman Siauw Ming...?"

Siauw Ming menoleh kepadanya.

"Ada apakah, Song Bu?"

"Dulu ketika aku masih kecil, aku bersama Ayah dan Ibu, dan Sin Cu ini bersama Ayah Ibunya juga berlayar dan Paman ada bersama kami."

Song Bu memejamkan matanya, membayangkan semua peristiwa yang samar-samar teringat olehnya itu.

"...lalu air laut mengamuk, gelombang besar... dan orang-orang jahat menyerang Ayah dan Ibu... ah, apa sebetulnya yang terjadi. Paman Siauw Ming? Ceritakanlah, dan tahukah Paman di mana sekarang Ayah Ibuku itu?"

Sin Cu yang duduk dekat Song Bu mengulurkan tangannya dan memegang lengan pemuda itu.

Dia merasa terharu mengenangkan peristiwa waktu kanak-kanak itu.

Ketika itu, dia dan Song Bu boleh dibilang senasib sependeritaan, sehidup semati.

"Song Bu, aku kasihan kepadamu. Nasib kita berdua sama buruknya, Song Bu."

Mendengar ini, Song Bu mengerutkan alisnya, hatinya merasa tidak enak. Dia memandang kepada Siauw Ming dan bertanya.

"Paman Siauw Ming, ceritakanlah tentang orang tuaku, aku mohon padamu."

Siauw Ming menghela napas panjang.

"Hemm, aku memang belum menceritakan kepadamu, Song Bu. Kepada Sin Cu aku sudah bercerita. Baiklah, kesempatan ini akan kupergunakan untuk menceritakan semuanya."

"Dahulu aku adaah seorang Guru silat yang tinggal di Kotaraja. Pada suatu hari terpaksa membunuh seorang pembesar yang kejam dan sewenang-wenang sehingga aku menjadi buronan dan melarikan diri. Selama dua tahun aku hidup sebagai tukang perahu di lautan sehingga tidak tertangkap oleh pasukan yang mencariku. Pada suatu hari, perahuku disewa dua pasang suami isteri. Mereka juga merupakan pelarian dari Kotaraja, orang-orang yang dikejar-kejar kaki tangan Thaikam Liu Cin. Mereka itu masing-masing membawa seorang anak laki-laki berusia tiga tahun, yaitu engkau, Song Bu, dan Sin Cu. Ayahmu bernama Tan Hok, seorang bekas perwira dan Ayah Sin Cu bernama Wong Cin, seorang bekas jaksa. Mereka berdua bentrok dengan Liu Cin dan, dituduh memberontak dan dikejar-kejar."

"Hemm! Lagi-lagi si jahanam Liu Cin! Aku girang sekali telah dapat membantu Kaisar untuk menjatuhkannya!"

Kata Song Bu.

"Karena nasib kami sama, kami menjadi akrab dan dalam kesempatan itu aku merajah gambar naga hitam di dadamu dan naga putih di dada Sin Cu. Kemudian badai datang mengamuk. Perahu kita terobang, ambing dipermainkan gelombang, membentur karang dan pecah. Kukira kalian semua telah tewas. Akan tetapi ketika aku berhasil mendarat di pulau itu, aku melihat kawanan bajak menyerang orang tua kalian. Aku berhasil mengusir gerombolan penjahat, akan tetapi terlambat untuk menyelamatkan orang tua kalian berdua."

Siauw Ming berhenti dan menarik napas panjang.

"Mereka... Ayah Ibuku... bagaimana dengan mereka, Paman?"

Song Bu mendesak.

"Mereka telah tewas, terbunuh dalam perkelahian itu."

Song Bu bangkit berdiri, mukanya pucat matanya mencorong, kedua tangannya dikepal.

"Mati? Mereka, Ayah Ibuku, mati terbunuh bajak?!?"

Sin Cu juga bangkit dan memegang kedua tangan Song Bu.

"Tenanglah, Song Bu. Nasib kita sama. Ayah Ibuku juga terbunuh oleh para penjahat itu. Duduklah dan tenangkan hatimu. Bagaimanapun juga, orang tua kita mati sebagai orang-orang gagah yang tidak sudi menjadi antek Liu Cin."

Song Bu duduk kernbali, dia menggunakan punggung tangan kanannya yang masih dikepal untuk menghapus matanya yang basah.

"Engkau benar, Sin Cu. Akan tetapi aku akan mencari bajak itu, aku akan membasmi mereka!"

"Aku tahu siapa mereka. Dua orang pimpinan bajak itu adalah dua bersaudara yang berjuluk Hai-Coa-Ong (Raja Ular Laut), masing-masing disebut Toa Ong dan Siauw Ong. Kelak kalian dapat mencari mereka mungkin di Pantai Laut Timur."

"Lalu bagaimana dengan jenazah orang tuaku, Paman Siauw Ming?"

Tanya Song Bu yang sudah dapat menenangkan hatinya.

"Aku mengubur jenazah dua pasang suami isteri itu di pulau itu. Pulau Ular, tak jauh dari Pulau Naga. Kemudian aku membawa kalian berdua pergi meninggalkan pulau naik perahu. Akan tetapi aku bertemu dengan para bajak. Aku terkena anak panah dan jatuh ke laut. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan kalian sampai kini aku bertemu dengan kalian yang sudah menjadi pemuda-pemuda dewasa."

Song Bu memejamkan matanya, mengingat-ingat, lalu tiba-tiba dia membuka matanya dan terbelalak memandang kepada Sin Cu.

"Sin Cu, engkau dibawa terbang burung besar! Ya, aku ingat sekarang... disambar burung besar dari perahu... digondol pergi!"

Sin Cu mengangguk-angguk.

"Engkau benar, Song Bu. Aku digondol seekor burung rajawali hitam dan nyaris aku menjadi mangsa burung itu dan anak-anaknya. Untung aku ditolong dan diselamatkan oleh Bu Beng Siauwjin yang kemudian merawat dan mendidikku. Dia nenjadi Guruku. Dan bagaimana dengan engkau, Song Bu?"

"Aku terkatung-katung seorang diri di perahu itu, kebingungan, ketakutan dan kelaparan. Aku tidak ingat apa-apa lagi. Ketika sadar aku telah berada di dalam perahu...!"

Dia memandang kepada Ciang Lan, lalu melanjutkan.

"Dalam perahu Suhu Ouw Yang Lee. Dia menolongku dan mengambil aku sebagai muridnya. Ketika itu, Lan-moi ini baru berusia setahun dan Hui-moi baru beberapa bulan. Aku menjadi muridnya, bahkan diaku sebagai anak angkatnya. Aku dibawa ke Kotaraja, mengabdi kepada Liu Cin. Setelah melihat betapa jahatnya mereka, dan betapa jahatnya Guruku itu, aku lalu memberontak, bahkan menentangnya."

Song Bu menghela napas panjang. Kembali Ia memandang kepada Ciang Lan atau Ouw Yang Lan dan berkata lirih, nadanya sedih.

"Aku memang seorang yang tidak mengenal budi kebaikan Suhu, aku seorang murid yang durhaka..."

"Tidak, Bu-Ko, sama sekali tidak! Aku ini bahkan puteri kandungnya, namun aku tetap menentangnya! Dia itu orang jahat dan kejam, Bu-Ko. Dia ingin membunuh isteri-isteri dan anak-anaknya sendiri! Dia hanya mementingkan diri sendiri dan untuk memuaskan hatinya, dia tega untuk membunuh anak isterinya"

Keadaan menjadi hening. Percakapan berhenti dan empat orang itu seperti tenggelam ke dalam lamunan masing-masing. Kemudian Sin Cu menghela napas panjang dan berkata, suaranya lembut.

"Kalian berdua memang berada dalam keadaan yang sulit, Song Bu dan Lan-moi. Di satu pihak menghadapi Ayah dan Guru sendiri yang patut dihormati, akan tetapi di lain pihak menghadapi seorang jahat yang patut ditentang. Yang penting, kalian harap ingat bahwa kewajiban kita adalah menentang kejahatan, bukan membenci orangnya."

"Akan tetapi, Cu-Ko. Andaikata engkau menjadi aku, menghadapi Ayah sendiri yang begitu jahat, apa yang akan kau lakukan ? membantunya atau menentangnya?"

Tanya Ciang Lan.

"Ya, apa yang akan kau lakukan seandainya Gurumu sendiri yang sejahat itu?"

Tanya pula Song Bu. Siauw Ming ikut mendengarkan dengan penuh perhatian. Ingin dia mendengar jawaban murid orang yang sakti dan bijaksana seperti Bu Beng Siauwjin.

"Kalau aku yang menghadapi Ayah atau Guru seperti itu, aku akan menentangnya dan juga membantunya,"

Kata Sin Cu tenang.

"Ihh! Jangan plin-plan, Cu-Ko. Pilih saja salah satu, menentang atau membantu...?"

Seru Ciang Lan memprotes.

"Sin Cu, jawabanmu ini membingungkan. Bagaimana mungkin engkau menentang dan sekaligus membantunya?"

Tanya pula Song penasaran.

"Sudah kukatakan tadi, yang harus ditentang adalah kejahatannya. Kalau dia melakukan kejahatan dan kita melihat itu, kita harus menentang dan mencegah dia melakukan kejahatan itu, sementara itu kita harus membantunya dengan jalan berusaha sekuat tenaga kita untuk menyadarkannya dari kesesatannya agar dia kembali ke jalan benar. Kita tidak boleh membencinya, apalagi kalau dia itu orang tua atau Guru sendiri. Andaikata kita membunuh Ayah kita yang jahat, bukankah kita ini lebih jahat daripada dia? Dia seorang penjahat, benar... akan tetapi kita ini siapa? Kita ini pembunuh sekaligus anak durhaka, jauh lebih jahat daripada dia yang kita bunuh!" (Lanjut ke

Jilid 32 -Tamat) Sepasang Rajah Naga (Cerita Lepas) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 32 (Tamat) Mendengar ucapan itu, Siauw Ming mengangguk-angguk dengan hati kagum.

Sementara itu, Song Bu dan Ouw Yang Lan merasa terpukul hati mereka.

Mereka menundukkan muka dan mengerutkan alis.

Ucapan Sin Cu masih terngiang-ngiang di dalam telinga mereka.

Mengenang kejahatan orang terhadap kita melahirkan kebencian dan dendam yang menjadi racun dalam batin kita yang kemudian mendorong ke arah perbuatan kejam.

"Mengapa tidak menggunakan pikiran untuk hal yang lebih sehat, misalnya mengenangkan kebaikan orang kepada kita? Mengenang kebaikan seorang Ayah di waktu kita masih kecil, betapa dia memondong, memangku dan menimang-nimang kita dengan pelukan dan ciuman penuh kasih sayang, betapa dia menjaga, membela dan melindungi kita? Mengenang kebaikan seorang Guru yang dengan tekun dan tidak mengenal lelah mengajarkan ilmu-ilmunya kepada kita, agar kita menjadi seorang yang berguna dan menggunakan ilmu-ilmu yang kita pelajari dari dia untuk kelak melawan bahkan membunuhnya? Cobalah kalian renungkan."

Suasana semakin hening setelah Sin Cu berhenti bicara.

Hanya terdengar air yang pecah diterjang ujung perahu dan angin yang mengibarkan layar.

Terdengar isak perlahan.

Ternyata Ouw Yang Lan yang terisak.

la teringat akan semua kebaikan dan kecintaan Ayahnya kepadanya ketika masih kecil.

Hatinya yang keras mencair menjadi air mata yang mengalir keluar dari kedua matanya.

Song Bu sendiri termenung seperti patung.

Dia teringat betapa Ouw Yang Lee telah menyelamatkannya ketika dia menggeletak pingsan terancam maut di atas perahu kecil.

Terbayang ketika Ouw Yang Lee menggemblengnya dengan ilmu-ilmu, kemudian mengangkatnya sebagai puteranya.

Melihat ini, Siauw Ming menghela napas panjang.

Kembali terdengar suara Sin Cu, lirih dan lembut, namun meresap ke dalam hati para pendengarnya, terutama Ciang Lan dan Song Bu.

"Kalau kita membenci Ayah dan Guru lalu membunuhnya, kita menjadi orang berdosa besar, menjadi alat setan yang selalu menyebar dosa dalam hati manusia. Sebaliknya, kalau kita berhasil menyadarkan Ayah atau Guru dari kesesatannya sehingga dia bertaubat dan kembali ke jalan benar, kita berjasa besar sekali bagi dia pribadi, bagi manusia, dan terutama bagi Tuhan karena kita telah menjadi alatNya yang baik dan bermanfaat. Tuhan Maha Pengampun dan Maha Kasih."

Kembali suasana menjadi hening. Song Bu dan Ciang Lan tidak mampu membantah lagi. Tiba-tiba Siauw Ming berseru.

"Nah, itu dia Pulau Naga! Sudah tampak dari sini!"

Tiga orang muda itu menoleh dan memandang.

Benar saja, di sebelah selatan tampak sebuah pulau.

Bentukny?

memanjang seperti seekor naga.

Ciang Lan dan Song Bu memandang dan merasa terharu, apalagi Song Bu yang tinggal di pulau itu dari kecil sampai dewasa.

Melihat pulau itu, bermacam kenangan muncul dalam ingatan kedua orang muda itu.

"Nah, di balik sana itu, yang kecil panjang, adalah Pulau Ular,"

Kata Siauw Ming.

"Sin Cu dan Song Bu, setelah urusan kalian di Pulau Naga selesai, aku akan mengantar kalian ke Pulau Ular untuk melihat kuburan orang tua kalian."

Perahu itu meluncur kencang menuju ke Pulau Naga dan setelah dekat, Song Bu memberi petunjuk kepada Siauw Ming di bagian mana harus mendarat.

Dia sudah hafal benar akan keadaan pulau ini dan hanya ada satu tepi tempat pendaratan yang aman dari batu-batu karang dan ikan-ikan hiu.

Pantai tempat pendaratan itu landai dan berpasir.

Ketika mereka sudah mendarat dan Siauw Ming mengikatkan tali perahu kepada sebuah batu karang besar, terdengar suara gemuruh dan sekitar lima puluh orang laki-laki yang bersenjata golok dan pedang datang berlarian ke pantai itu.

Song Bu dan Ciang Lan melompat ke depan, berdiri tegak menghadapi mereka dengan sikap garang.

Mereka tertegun karena mereka masih mengenal Song Bu dan juga mengenal Ouw Yang Lan yang pernah datang berkunjung ke Pulau Naga kurang lebih setahun yang lalu.

"Kalian tidak mengenal aku? Paman Thio Sam, mau apa kalian?"

Tegur Ouw Yang Lan.

"Nona Ouw Yang Lan"

Terdengar Thio Sam dan beberapa orang lain berseru.

"Dan apakah kalian juga tidak mengenal aku?"

Tanya pula Song Bu.

"Ouw Yang Kongcu (Tuan muda Ouw Yang)!"

Seru mereka.

Mereka menganggap pemuda itu sebagai putera Ouw Yang Lee seperti sudah diumumkan oleh majikan mereka itu.

Pada saat itu, datang pula belasan orang, dipimpin oleh dua orang Kakek berusia hampir enam puluh tahun.

Yang seorang bertubuh tinggi besar berkumis panjang dan yang seorang lagi bertubuh juga tinggi besar dengan muka hitam seperti arang.

Belasan orang yang berdiri di belakang mereka rata-rata berwajah bengis dan mereka semua memegang sebatang golok.

"Mereka berdua itulah Hai-Coa-Ong!"

Kata Siauw Ming.

Mendengar ini, Song Bu melompat dan telah berhadapan dengan dua orang kepala bajak itu.

Mereka dan anak buah mereka berada di Pulau Naga atas undangan Ouw Yang Lee yang minta bantuan mereka untuk memperkuat kedudukan di Pulau Naga kalau-kalau ada orang dari kota raja yang mengejarnya.

Dengan muka merah dan mata mencorong Song Bu menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka dua orang itu.

"Kalian yang berjuluk Toa Ong dan Siauw Ong?"

Siauw Ong yang bermuka hitam menyeringai.

"Engkau sudah mengenal kami. Siapakah engkau?"

"Delapan belas tahun yang lalu kalian di Pulau Ular membunuh dua pasang suami isteri yang tidak berdosa! Aku anak sepasang dari mereka. Bersiaplah kalian untuk menghadap arwah Ayah Ibuku dan minta ampun kepada mereka!"

Toa Ong dan Siauw Ong saling pandang, kemudian Toa Ong yang berkumis panjang tertawa.

"Ha-ha-ha, kalau begitu mari kuantar engkau menyusul orang tuamu!"

Golok besar di tangan dua orang kepala bajak itu sudah menyambar dengan ganas ke arah leher dan pinggang Song Bu.

Akan tetapi tingkat kepandaian dua orang kepala bajak itu masih jauh di bawah tingkat kepandaian Song Bu.

Pemuda ini menyambut serangan yang baginya lambat dan lemah itu dengan gerakan kedua kakinya.

Kedua kaki itu mencuat dengan cepat dan kuatnya, dengan tepat menendang ke arah tangan dua orang yang menyerang dengan golok.

Dua orang itu berteriak kaget, golok mereka terlepas dari tangan dan sebelum mereka menyadari apa yang terjadi dua tangan Song Bu sudah mencengkeram punggung baju mereka.

Tubuh mereka terangkat dan sekali pemuda itu mengerahkan tenaga kepala dua orang itu telah diadukan dengan amat kerasnya.

"Prakk!"

Dua tubuh itu terkulai dan Song Bu mendorongnya ke kanan kiri.

Dua orang itu roboh dan tewas seketika.

Belasan orang anak buah bajak menjadi marah dan menyerbu maju hendak mengeroyok Song Bu.

Akan tetapi Ouw Yang Lan dan Sin Cu sudah menerjang ke depan dan membuat mereka kocar kacir dan jatuh bangun dengan tamparan dan tendangan.

Belasan orang itu maklum bahwa mereka menghadapi bahaya.

Kedua orang pimpinan mereka telah tewas dan agaknya puluhan orang anak buah Pulau Naga tidak mau membantu mereka.

Maka mereka lalu melarikan diri ke perahu-perahu mereka dan meninggalkan Pulau Naga, membawa teman-teman yang terluka.

Ouw Yang Lan menoleh kepada dua orang pemuda yang berdiri mendekati dua mayat kepala bajak itu dan memandang dengan muka tunduk.

"Aku merasa girang telah dapat membalaskan kematian orang tua kita, Sin Cu,"

Kata Song Bu lirih. Sin Cu menghela napas panjang.

"Yah, agaknya dosa mereka ini sudah melewati ukuran sehingga hari ini mereka harus mati seperti ini di tanganmu, Song Bu."

Ouw Yang Lan kini menghampiri Thio Sam yang masih berdiri dengan sikap menanti, Juga puluhan orang anak buah Pulau Naga yang tadi menonton perkelahian itu tidak ada yang berani bergerak.

Sebagian besar dari mereka itu memang merasa takut dan tidak setuju dengan sikap dan tindakan Ouw Yang Lee yang bersikap kejam terhadap anak isteri sendiri, kemudian merendahkan diri mengabdi kepada Thaikam Liu Cin yang terkenal jahat.

Maka, biarpun mereka diperintahkan menjaga keamanan dan menghalau setiap orang musuh yang datang mengacau Pulau Naga, mereka tidak mau bergerak ketika mengenal Song Bu dan Ouw Yang Lan.

"Paman Thio Sam, apakah To-Cu (Majikan Pulau) sudah pulang?"

Tanyanya. Tanpa menyebut namanyapun semua orang sudah tahu bahwa majikan Pulau Naga adalah Ouw Yang Lee.

"Sudah, nona."

"Dan apakah nona Ouw Yang Hui juga datang bersamanya?"

"Benar, nona."

"Apakah yang dia perintahkan kepada kalian?"

"To-Cu menyuruh kami semua melakukan penjagaan di pantai dan agar kami menghalangi kalau ada musuh menyerbu pulau. Akan tetapi ternyata yang muncul adalah Nona Ouw Yang Lan dan Tuan muda Ouw Yang Song Bu."

"Dan kenapa kalian tidak menurut perintahnya dan tidak menyerang kami?"

"Mana kami berani, nona! Andaikata To-Cu memerintahkan juga, tetap saja kami tidak akan berani."

Ouw Yang Lan maklum bahwa dalam hati pembantu lama ini sudah mulai tidak suka kepada Ouw Yang Lee setelah Ayahnya itu bersikap kejam terhadap dua orang isterinya dan anak-anaknya.

"Di mana sekarang dia?"

"Tadi berada di dalam rumah induk, nona."

"Mari kita ke sana!"

Kata gadis itu kepada Sin Cu, Song Bu dan Siauw Ming.

Mereka lalu berlari menuju ke tengah pulau di mana terdapat perkampungan para penghuni Pulau Naga.

Perkampungan itu sunyi.

Agaknya para keluarga anak buah Pulau Naga sudah tahu bahwa pulau itu mungkin kedatangan musuh, maka para wanita dan kanak-kanak sudah bersembunyi di dalam rumah masing-masing sehingga perkampungan itu tampak sepi.

Rumah induk yang besar itupun kelihatan sunyi tidak ada penjaganya karena semua anak buah dikerahkan ke pantai.

Song Bu dan Ouw Yang Lan menjadi penunjuk jalan ketika memasuki rumah induk berupa gedung yang cukup megah dan mewah itu.

Gedung itu besar dan kokoh.

Sin Cu dan Siauw Ming mengikuti dari belakang.

Ketika mereka tiba di ruangan tengah yang luas, ternyata ruangan itupun kosong dan di tengah-tengah ruangan yang luas itu duduk seorang laki-laki tinggi besar dan berwajah gagah perkasa, mukanya kemerahan dan jenggotnya panjang.

Laki-laki itu mirip tokoh Kwan Kong dalam cerita dongeng Sam Kok.

Dia bukan lain adalah Ouw Yang Lee yang berjuluk Tung-Hai-Tok (Racun Laut Timur), majikan Pulau Naga!

Dia duduk di atas sebuah kursi berukir seperti seorang Raja!

Dia memandang dengan mata terbelalak tajam penuh wibawa kepada tiga orang muda yang memasuki ruangan itu.

Siauw Ming yang tidak ikut masuk karena Ouw Yang Lan memberi isarat kepadanya agar tinggal di luar pintu ruangan, Setelah tiba di depan Ouw Yang lee dalam jarak dua tombak, Ouw Yang Lan berhenti melangkah, Song Bu dan Sin Cu ikut pula berhenti.

Mereka bertiga beradu pandang mata dengan Ouw Yang Lee.

Setelah beradu pandang sesaat lamanya dan menjadikan suasana tanpa suara itu terasa amat menegangkan, Ouw Yang lee tiba-tiba membuka mulutnya dan tertawa bergelak, suara tawanya menggetarkan ruangan itu.

"Ha-ha-ha-ha! Kalian datang untuk membunuh aku?"

Matanya berapi-api penuh kemarahan, namun dalam suaranya itu terkandung kepahitan.

Ouw Yang Lan yang masih terkesan oleh teguran dan nasihat Sin Cu yang mengingatkan ia akan kasih sayang yang pernah diterimanya dari Ayah kandungnya ketika ia masih kecil, kini memandang laki-laki itu dan timbul rasa iba dalam hatinya.

"Tidak Ayah. Aku datang untuk mengingatkan Ayah akan kesalahan-kesalahan yang telah Ayah lakukan. Aku minta Ayah membebaskan Hui-moi dan selanjutnya mengubah jalan hidup yang selama ini Ayah tempuh, Pergunakanlah kepandaian Ayah untuk menolong orang dan menentang kejahatan."

"Teecu (murid) juga mengharapkan begitu, Suhu. Sadarlah akan semua kekeliruan yang selama ini Suhu lakukan."

Kata Song Bu, suaranya tegas namun sikapnya menghormat. Alis yang tebal itu berkerut dan Ouw Yang Lee kini memandang kepada Sin Cu.

"Orang muda, mau apa engkau datang ke sini?"

Sin Cu mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat.

Bagaimanapun juga, orang ini adalah Ayah kandung Ouw Yang Hui, berarti dia adalah calon Ayah mertuanya!

"Lo-Cianpwe, saya adalah tunangan dan calon suami adik Ouw Yang Hui.

Karena itu saya datang untuk mohon kepada Lo-Cianpwe untuk membebaskan adik Ouw Yang Hui."

"Ha-ha-ha-ha!"

Kembali Ouw Yang Lee tertawa bergelak dan pada saat itu Ouw Yang Hui memasuki ruangan dari pintu sebelah dalam dan berhenti di ambang pintu.

"Kalian bertiga berani menasihati aku Ha-ha-ha! Aku akan pertimbangkan nasihat kalian kalau kalian masing-masing mampu menyambut satu kali seranganku!"

Kakek itu lalu turun dari atas kursinya.

"Ayah, jangan serang mereka!"

Tiba-tiba Ouw Yang Hui berseru.

"Kalau Ayah hendak melampiaskan kemarahan dan kebencian Ayah, lakukanlah kepadaku. Bunuhlah aku lebih dulu, Ayah!"

"Hui-moi."

Tiga suara itu terdengar hampir berbareng, keluar dari mulut Sin Cu, Song Bu, dan Ouw Yang Lan.

Akan tetapi Ouw Yang Lee tidak perduli.

Dia melangkah maju menghampiri Ouw Yang Lan.

Mereka berhadapan dalam jarak tiga meter.

"Bagaimana, beranikah engkau menyambut pukulanku?"

Ouw Yang Lan mengerutkan alisnya. Hatinya kecewa melihat kekerasan hati orang tua itu yang agaknya tidak mau mendengarkan ucapan mereka.

"Silakan!"

Katanya tegas. Ouw Yang Lee menggerak-gerakkan kedua tangannya dan perlahan-lahan kedua telapak tangannya berubah menjadi merah, semerah darah. Kemudian dia menekuk kedua lututnya dan berseru nyaring.

"Sambutlah...!"

Kedua tangan merah itu didorongkan ke depan, ke arah dada Ouw Yang Lan.

Itulah pukulan Ang-Tok-Ciang (Tangan Racun Merah) yang amat ampuh.

Ouw Yang Lan sudah siap siaga.

la tahu bahwa Ayahnya itu menyerangnya dengan ilmu pukulan andalan Ayahnya dan iapun tahu betapa bahayanya pukulan itu.

Maka iapun cepat mengerahkan tenaga sinkang dan mengeluarkan ilmu pukulan andalan dari Ayah tirinya, yaitu Pek-In-Ciang (Tangan Awan Putih).

la mendorongkan kedua telapak tangan ke depan untuk menyambut pukulan jarak jauh Ayahnya.

Ada uap putih keluar dari kedua telapak tangannya.

"Wuuuttt... Desssss...!"

Dua tenaga sakti bertemu di udara dan akibatnya Ouw Yang Lee melangkah mundur tiga kali, akan tetapi Ouw Yang Lan juga mundur tiga langkah.

Mereka merasa tergetar akan tetapi tidak terluka dan mereka maklum bahwa tenaga sakti mereka berimbang.

Ouw Yang Lee mengangguk-angguk.

kini dia menghampiri Song Bu, berdiri dalam jarak tiga meter.

"Engkau murid murtad, beranikah engkau menerima pukulanku?"

Song Bu juga menjawab dengan tegas.

"Silakan..."

Seperti tadi Ouw Yang Lee mengumpulkan tenaganya dan menyerang dengan pukulan Ang-Tok-Ciang.

Tentu saja Song Bu mengenal baik pukulan ini, bahkan diapun sudah menguasainya, bahkan sudah menggabungkannya dengan pukulan yang dia pelajari dari Hek Moko dan Pek Moko yaitu Hek-Tok-Ciang dan Pek-Tok-Ciang.

"Haaiiiittt...!"

Ouw Yang Lee memukul dengan dorongan dua telapak tangannya yang berwarna merah darah. Song Bu menyambut dengan tangan kiri yang kini berwarna hitam dan telapak tangan kanan yang berwarna putih.

"Wuuuttt... desss...!"

Hebat sekali pertemuan kedua pukulan yang mengandung hawa sakti amat kuat itu.

Akibatnya, Ouw Yang Lee mundur lima langkah dan Song Bu mundur tiga langkah, Keduanya tergetar hebat akan tetapi sekali ini Ouw Yang Lee merasa agak nyeri di dalam dadanya, membuktikan bahwa dia kalah kuat dan menderita luka dalam karena tenaganya yang membalik.

Kini Ouw Yang Lee menghampiri Sin Cu.

Pemuda itu melihat betapa langkah kaki Kakek itu sudah tidak tetap, agak goyah dan wajahnya agak pucat, napasnya agak terengah.

"Lo-Cianpwe menderita luka, harap mengaso dan menghentikan semua pertentangan ini,"

Kata Sin Cu.

"Ayah, jangan pukul dia, Ayah. Pukullah aku saja...!"

Terdengar Ouw Yang Hui berkata. Akan tetapi Ouw Yang Lee tidak memperdulikan semua suara itu. Dia bertanya dengan suara parau.

"Orang muda, beranikah engkau menerima pukulanku?"

"Lo-Cianpwe sudah terluka, saya harap..."

Baru sampai di situ Sin Cu berkata, Kakek itu sudah menyerangnya dengan pukulan Ang-Tok-Ciang, mengerahkan seluruh sisa tenaganya.

"Hyaaaaattt...!"

Dahsyat sekali pukulan ini karena Ouw Yang Lee mengerahkan semua tenaga yang ada.

Dia mengerti bahwa pemuda ini memiliki ilmu kepandaian yang paling tinggi, maka diapun mengerahkan seluruh tenaganya.

Sin Cu tidak tega untuk melukai calon mertuanya itu.

Dia mengerahkan tenaga Thai-Yang Sinkang (Tenaga Inti Matahari) menjadi tenaga lunak, menyambut kedua telapak tangan merah itu dengan kedua telapak tangannya.

"Wuuutt... plakk!"

Dua pasang telapak tangan itu bertemu dan melekat!

Ouw Yang Lee merasa terkejut sekali ketika kedua telapak tangannya bertemu dengan tangan yang lunak dan hangat lalu melekat.

Dia mengerahkan tenaga agar hawa beracun dari kedua tangannya menjalar dan menyerang lawan, akan tetapi dia merasakan tenaganya tenggelam.

"Lo-Cianpwe, silakan duduk mengaso!"

Kata Sin Cu dan sekali dia menggunakan tenaga mendorong, tubuh Kakek itu melayang dan tepat jatuh terduduk di atas kursinya yang tadi!

Dia terhenyak dan tertegun sejenak lalu menyadari bahwa tidak mungkin dia mengalahkan tiga orang muda itu.

Tiba-tiba dia tertawa lagi.

Tawanya memanjang terbahak, akan tetapi terdengar seperti setengah tangis.

"Ha-ha-ha-ha-ha... Dua orang isteri dirampas laki-laki lain, dua orang anak durhaka terhadap Ayah mereka, seorang murid murtad kepada Gurunya. Ditambah lagi semua cita-cita hancur lebur! Haii, Ouw Yang Lee, apa gunanya lagi engkau hidup di dunia ini?"

Setelah berkata demikian, tangan kanan kanannya bergerak ke arah ubun-ubun kepala sendiri.

"Ayah...!"

Ouw Yang Lan berseru.

"Suhu...!"

Song Bu juga berteriak.

Sin Cu juga terkejut, Dia melompat namun terlambat.

Tubuh Ouw Yang Lee sudah terkulai tak bernyawa.

Pukulan Ang-Tok-Ciang yang dahsyat itu menghancurkan isi kepalanya!

"Ayahhhh..."

Ouw Yang Hui menjerit dan ia lari menghampiri Ayahnya, berlutut dan menangis.

Ouw Yang Lan juga berlutut di dekat Ouw Yang Hui sambil menangis.

Dua orang gadis Kakak beradik ini lalu saling rangkul dan bertangisan.

Saat itu mereka berdua merasa betapa dulu Ayah mereka amat menyayang mereka dan betapa kebahagiaan Ayah ini hancur semenjak terjadi penyerbuan dan penculikan atas diri Ibu mereka.

Song Bu juga berlutut dan menundukkan muka dengan sedih.

Dia merasa menyesal sekali mengapa dia sampai memusuhi Gurunya sendiri yang demikian baik kepadanya dan bahkan mengakuinya sebagai anak sendiri.

Akan tetapi dia lebih menyesal mengapa Gurunya itu melakukan hal-hal yang buruk itu, sehingga terpaksa dia memusuhinya.

Sin Cu juga berlutut untuk menghormati jenazah laki-laki yang menjadi Ayah mertuanya.

Agaknya mendengar keributan dan tangis kedua orang gadis di ruangan itu, bermunculanlah dua orang isteri Ouw Yang Lee dan beberapa orang pelayan keluarga itu.

Setelah menyadari bahwa Ouw Yang Lee yang tampak duduk terkulai di atas kursinya itu telah meninggal dunia, pecahlah tangis mereka sehingga ruangan itu menjadi riuh-rendah oleh tangis.

Siauw Ming memasuki ruangan itu dan dia berdiri termenung, berulang kali menggeleng kepalanya dan menarik napas panjang.

Dia melihat betapa kesengsaraan melanda manusia yang sesungguhnya disebabkan oleh ulah dan tindakan mereka sendiri yang dikuasai nafsu-nafsu daya rendah pribadi.

Seluruh anggauta Pulau Naga dan keluarga mereka berkabung.

Upacara pemakaman dilakukan dengan sederhana namun penuh khidmat.

Setelah penguburan selesai, Sin Cu mendapat kesempatan untuk bicara berdua saja dengan Ouw Yang Hui di bagian belakang gedung milik keluarga Ouw Yang itu, di mana terdapat sebuah taman.

Mereka duduk berdampingan di atas sebuah bangku batu panjang.

"Hui-moi, sekarang semuanya telah selesai. Tidak ada lagi bahaya mengancam dirimu. Juga bahaya yang mengancam keselamatan Ibumu dan Paman Gan Hok San telah lenyap. Marilah kita kembali menjemput mereka di Siauw-Lim-Si, mengajak mereka kembali lagi ke dusun Sia-Bun di lereng Beng-San, dan kita merayakan pernikahan kita di sana."

Ouw Yang Hui mengangkat muka, menatap wajah Sin Cu dan memandang dengan mata terbelalak. Matanya yang jeli dan indah seperti mata burung Hong itu sayu dan membayangkan kesedihan yang amat mendalam.

"Menikah...? tidak... tidak...! Cu-Ko, bukankah sudah kukatakan bahwa aku sama sekali tidak berharga lagi bagimu? aku telah ternoda dan..."

"Dan hamil, begitukah maksudmu? Aku tahu, Hui-moi, dan aku tahu pula dari Song Bu bahwa engkau tidak ternoda. Engkau mengorbankan dirimu, mengorbankan kehormatanmu dan mengorbankan kebahagiaan hidupmu untuk menyelamatkan aku! Aku tahu semua itu, Hui-moi. Aku telah berhutang nyawa kepadamu dan aku mau bertanggung jawab untuk semua itu. Aku tetap ingin mengawinimu!"

Kepala itu menunduk dan bibir itu digigit menahan isak, akan tetapi air matanya tetap jatuh bertitik. la menggeleng kepalanya kuat-kuat dan memaksa diri untuk bicara.

"Cu-Ko, jangan memaksa diri karena engkau kasihan kepadaku. Aku tidak mau dinikahi hanya karena iba...!"

"Tidak, Hui-moi. Aku bukan hanya kasihan kepadamu. Aku tetap mencintamu, Hui-moi. Tetap mencintamu seperti dulu!"

Kata Sin Cu dengan sungguh-sungguh.

"Pengakuanmu ini hanya terdorong perasaan ibamu saja, Cu-Ko. Aku bukan lagi gagis Ouw Yang Hui yang kau cinta dulu. Aku bukan gadis lagi, Cu-Ko. Aku seorang janda! Kau dengar? Aku seorang janda yang ditingal mati suamiku yang meninggalkan seorang anak dalam kandunganku! Tidak, aku tidak berharga lagi untuk kau cinta... aku.... aku... telah kotor ternoda !"

"Tidak, Hui-moi! Bagiku engkau tetap bersih dan murni. Aku tetap cinta padamu. Aku ingin membahagiakanmu, membahagiakan anak dalam kandunganmu, aku ingin membela dan melindungi kalian, seumur hidupku..."

Air mata semakin deras bercucuran dari kedua mata Ouw Yang Hui. la menggeleng kepala keras-keras seperti hendak membantah suara hati sendiri.

"Tidak! Semua ucapanmu itu terdorong oleh kebaikan hatimu, Cu-Ko. Aku tahu engkau seorang yang berhati mulia. Akan tetapi aku tidak ingin melihat kelak engkau akan kecewa dan menyesal, bahkan bukan mustahil kelak engkau akan membenci aku dan anak dalam kandunganku ini. Tidak, Cu-Ko, lebih baik aku mati... ah, lebih baik aku mati daripada menjadi isterimu setelah aku begini...!"

Ouw Yang Hui menutupi mukanya dengan kedua tangan dan menahan tangisnya agar tidak bersuara.

Hanya pundaknya yang bergoyang-goyang dan dari celah-celah jari tangannya mengalir air mata.

Sin Cu memandang dengan wajah pucat.

Perlahan-lahan dia bangkit berdiri, bertindak beberapa langkah menjauhi Ouw Yang Hui dan berdiri diam seperti telah berubah menjadi arca.

Pandang matanya kosong.

Ouw Yang Hui menurunkan kedua tangannya ketika merasa bahwa ia ditinggal seorang diri.

la mengusap air matanya sehingga pandangannya tidak kabur dan ketika mengangkat muka, ia melihat Sin Cu berdiri sekitar lima meter dari situ, membelakanginya.

Pemuda itu berdiri diam, sama sekali tidak bergerak seperti sebuah arca.

Ada perasaan aneh, khawatir dan ngeri, menyelinap di hati gadis itu.

"Cu-Ko..."

Ia memanggil lirih, biarpun lirih, jarak itu tidak jauh dan pasti terdengar oleh yang dipanggilnya.

Akan tetapi pemuda itu tidak bergerak sama sekali.

Ouw Yang Hui bangkit perlahan.

la merasa kedua kakinya gemetar dan jantungnya berdebar ketika melangkah menghampiri pemuda itu.

"Cu-Ko..."

Ia memanggil lagi setelah berada dekat di belakang pemuda itu.

Sin Cu tetap diam saja, sama sekali tidak bergerak untuk menengok dan tidak pula menjawab.

Ouw Yang Hui sudah berhenti menangis sama sekali.

Hilang sudah semua kesedihan karena pada saat itu ingatan dan pikirannya sama sekali tidak ingat akan keadaan dirinya, melainkan dipenuhi kekhawatiran tentang keadaan Sin Cu yang diam seperti arca dan tidak menjawab setelah dipanggil dua kali.

Ouw Yang Hui melangkah ke depan pemuda itu dan memutar tubuhnya, kini berhadapan dengan Sin Cu, berhadapan dekat sekali.

la terbelalak melihat pemuda itu benar-benar seperti telah berubah menjadi arca.

Mata itu terbuka akan tetapi tidak ada Sinarnya, seperti mata yang dilihat pada mayat Ayahnya kemarin.

Mulut itu setengah terbuka seperti orang hendak bicara akan tetapi tiada suara.

Wajah itu pucat dan garis-garisnya menunjukkan seperti orang yang sedang menderita kesakitan hebat.

Ouw Yang Hui menatap wajah itu, matanya terbelalak, dan sekali lagi ia memanggil, kini agak kuat.

"Kak Sin Cu...!"

Namun yang dipanggil tidak menjawab, tidak bergerak, bahkan mata yang kosong menerawang itu sama sekali tidak melirik ke arahnya.

Ouw Yang Hui merasa seperti jantungnya ditusuk pedang.

Perih dan nyeri sekali, merasa bahwa ialah yang membuat Sin Cu seperti itu.

Kedua kakinya menggigil dan ia tidak mampu bertahan untuk berdiri lagi.

la menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Sin Cu, merangkul kedua kaki itu dan menangis tersedu-sedu.

"Cu-Ko... maafkanlah aku...! akulah yang membuat engkau begini... aku berdosa besar... aku telah merusak kebahagiaan hidupmu... menghancurkan hidupmu... uu... hu... huu... Cu Ko, bunuh saja aku...!!"

Tangisnya mengguguk membuat ia megap-megap, terengah-engah seolah kerongkongannya tersumbat.

Air matanya bercucuran seperti mencuci kaki Sin Cu.

Tiba-tiba tubuh Sin Cu bergerak.

Dia seperti tersentak kaget, seperti baru terbangun dari tidur.

Kesadarannya kembali.

Tadi, kekecewaan dan penyesalan mendatangkan kedukaan hebat yang menghimpit batinnya, membuat dia seperti ditinggalkan sukmanya.

Dia menunduk dan melihat Ouw Yang Hui menangis sambil merangkul kedua kakinya, mendengar gadis itu berulang kali mengeluarkan ucapan permintaan maaf dan pengakuan dosa, hatinya menjadi terharu sekali.

Dia cepat membungkuk, memegang kedua pundak gadis itu dan mengangkatnya untuk berdiri.

"Hui-moi... tidak, Hui-moi. Bukan engkau yang harus minta maaf, melainkan akulah yang minta maaf padamu. Akulah yang menyebabkan semua ini, aku yang menghancurkan kebahagiaanmu. Aku tahu bahwa keadaanmu ini adalah karena engkau berkorban untuk menyelamatkan aku. Aih, Hui-moi, aku ingin menebus dosaku itu, aku ingin membahagiakanmu, aku ingin bertanggung jawab, aku ingin tetap memperisterimu, ingin membela dan melindungimu selama hidupku, kenapa engkau menolak? Berikanlah kesempatan kepadaku yang telah menjadi penyebab kesengsaraanmu untuk menebus semua itu dan membahagiakanmu, Hui-moi."

Ouw Yang Hui menggeleng kepala dan memandang wajah pemuda itu melalui genangan air matanya.

"Maafkan aku, Cu-Ko. Akan tetapi aku tidak mungkin dapat menjadi isterimu. Aku akan lebih tersiksa lagi, aku akan selalu merasa kotor, merasa rendah, merasa mencemarimu dengan noda. Tidak, tidak! Biarlah aku saja yang menderita, aku tidak ingin menyeretmu ke dalam kehinaan ini..."

"Hui-moi, kalau begitu kehendakmu, aku hanya dapat menghormati pendirianmu. itu. Akan tetapi setidaknya, berilah kesempatan padaku untuk melindungi engkau dan... Anak dalam kandunganmu itu. Kalau engkau tidak suka menjadi isteriku, apakah engkau juga menolak untuk menjadi adik angkatku? Aku ingin melindungimu, akan tetapi tanpa ada hubungan antara kita, bagaimana mungkin hal itu kulakukan? Akan tetapi kalau engkau menjadi adikku, dan anakmu menjadi keponakanku, tak seorangpun akan mencelamu, karena sebagai Kakakmu aku berhak dan berkewajiban untuk melindungimu. Bagaimana, Hui-moi, maukah engkau menjadi adikku? Adikku tersayang?"

Hati Ouw Yang Hui merasa amat terharu.

Rasa haru, sedih, juga bahagia bercampur menjadi satu.

la menengadah, menatap wajah pemuda itu dan melihat sinar mata penuh kasih dan kejujuran.

la mengangguk sambil menangis.

"Terima kasih, Cu-Ko... engkau... engkau Kakakku.!"

"Adikku Hui-moi...!"

Ouw Yang Hui tenggelam ke dalam pelukan Sin Cu.

Sin Cu merangkul, mendekap kepala itu seperti hendak memasukkannya ke dalam dadanya, menyimpannya di dalam agar tidak hilang lagi.

Dia mengusap rambut kepala wanita itu dengan jari-jari tangannya yang mengandung getaran Kasih sayang.

Akan tetapi anggapan bahwa gadis itu adiknya, anggapan yang langsung keluar dari hati sanubarinya, seketika telah mengubah sifat kasih sayangnya.

Sekali ini getaran itu bersih dari getaran cinta berahi, menjadi kasih sayang seorang Kakak kepada adiknya.

Cinta merupakan Sesuatu yang amat suci.

Hidup tanpa cinta seperti tanah gersang, tidak menumbuhkan apapun.

Seperti pohon yang layu, tidak membuahkan apapun.

Cinta kasih memperkuat gairah hidup, memberi isi pada kehidupan.

Tanpa cinta, kehidupan tidak ada lagi artinya, kosong dan tidak ada gunanya, Kalau ada Cinta-Kasih dalam hati, maka apapun yang kita lakukan pasti baik, pasti benar.

Cinta kasih mengalahkan segala macam nafsu godaan setan, menghilangkan kebencian, dengki, iri hati, kemarahan dan dendam.

Kalau pohon Cinta-kasih tumbuh dengan suburnya dalam hati sanubari kita, maka buahnya adalah segala kebaikan., Cinta kasih menumbuhkan perasaan iba terhadap sesama manusia, bahkan sesama hidup, menumbuhkan simpati, mehdorong keinginan hati untuk menolong, membangun,memperbaiki.

Menimbulkan keinginan untuk selalu menyenangkan orang lain, siapapun adanya dia.

Cinta kasih memperkuat hati untuk memaafkan, kesalahan orang lain kepada kita, karena itu cinta kasih menumbuhkan kesabaran, keikhlasan untuk berkorban.

Cinta kasih memperkecil, bahkan akhirnya meniadakan si-aku, tidak mementingkan diri sendiri.

Cinta kasih mengusir pengaruh iblis karena Kekuasaan Tuhan akan bekerja dalam diri dan sinarNya adalah Cinta kasih itu sendiri.

Sesuai dengan hukum kemanusiaan, cinta kasih memang bermacam-macam, cinta kasih memang berbeda-beda sifat pelaksanaannya.

Cinta kasih antara suami isteri mengandung berahi.

Cinta kasih orang tua kepada anak mengandung bimbingan dan perlindungan.

Cinta kasih anak terhadap orang tuanya mengandung kebaktian dan ketaatan.

Namun pada dasarnya Cinta kasih itu selalu didasari perasaan iba dan ingin menolong, ingin menyenangkan.

Sin Cu adalah seorang pemuda yang sejak kecil bukan saja digembleng norma-norma kesusilaan dan budi pekerti yang luhur oleh Bu Beng Siauwjin.

Dia juga manusia lemah yang mudah diperhamba oleh nalsu-nafsunya sendiri, Cinta kasihnya terhadap Ouw Yang Hui murni.

Cinta berahi hanya menjadi bagian saja dari cinta kasihnya, bukan menjadi majikan yang mengendalikan.

Karena itu, tidak sukar baginya mengubah sifat cinta kasihnya itu dari cinta seorang kekasih dan calon suami kepada calon isterinya, menjadi cinta seorang Kakak terhadap adiknya yang bersih dari berahi.

Ouw Yang Hui merasa terharu sekali.

Terharu dan bahagia.

la amat mencinta Sin Cu, ia siap berkorban diri, bahkan berkorban nyawa untuk Sin Cu.

Tadinya ia berduka karena keadaan dirinya mengancam ia harus berpisah dari Sin Cu.

Akan tetapi kini pemuda itu memberi jalan keluar, mendatangkan harapan baru, memberi kesempatan kepadanya untuk dapat terus berdekatan dengan Sin Cu.

Memungkinkan ia untuk terus mencinta dan menyatakan cintanya terhadap pemuda itu.

Sebagai adiknya!

Sebagai seorang adikpun ia mendapat kesempatan dengan sikap dan perbuatan untuk membahagiakan hati Sin Cu.

Ia mencurahkan seluruh perasaannya dan menyalurkannya, melampiaskannya melalu air matanya yang membasahi baju dan dada Sin Cu.

Pemuda itu merasakan betapa air mata gadis itu membasahi dadanya, seperti embun yang dingin sejuk menyusup ke dalam dadanya dan mendatangkan kesegaran, membangun semangatnya.

Ada rasa bahagia yang sukar dilukiskan berkembang dalam hatinya.

Sampai lama mereka berada dalam keadaan seperti itu, Sin Cu merasa berbahagia, kuat dan bangga mendekap adik yang dikasihinya dan harus dilindunginya, Sebaliknya, Ouw Yang Hui merasa begitu aman sentausa berada dalam pelukan Sin Cu yang menjadi Kakaknya.

Hatinya menjadi tenteram dan rasa bahagia mulai berkembang dalam hatinya yang tadinya hampir layu oleh duka.

Akhirnya ia merenggangkan mukanya dan berdiri berhadapan dengan Sin Cu.

Mereka saling pandang dan Sin Cu merasa betapa hatinya mekar dalam kebahagiaan ketika dia melihat wajah yang jelita itu kini walaupun masih pucat tampak berseri, matanya bersinar-sinar dan terutama sepasang bibir itu mengembangkan senyum manis Sepasang mata yang mas?h basah itu memandang kepadanya bagaikan mata anak kelinci yang tadinya ketakutan kini bertemu induknya.

Ouw Yang Hui menjulurkan kedua tangannya dan memegang kedua tangan Sin Cu.

"Cu-Ko, terima kasih!"

Sin Cu menggenggam sepasang tangan yang kecil mungil, halus dan lembut itu dan berkata dengan suara menggetar terharu namun mengandung kebahagiaan.

"Aku berterima kasih karena engkau suka menjadi adikku, Hui-moi!"

"Anak dalam kandunganku inipun bernasib baik sekali, Cu-Ko, menemukan seorang Paman yang bijaksana dan berbudi luhur seperti engkau."

"Ah, sudahlah, Hui-moi. Jangan banyak memujiku. Lebih baik sekarang kita masuk ke rumah. Angin di sini agak besar, aku khawatir engkau akan masuk angin. Mulai saat ini engkau harus menaati kata-kataku, engkau harus menjaga kesehatanmu baik-baik,"

Sin Cu menggandeng tangan Ouw Yang Hui dan mengajaknya meninggalkan taman itu.

Pada saat itu, dari rumah itu muncul dua orang yang bukan lain adalah Song Bu dan Ouw Yang Lan.

Mereka berdua melihat betapa Sin Cu dan Ouw Yang Hui bergandeng tangan dan sama sekali tidak rikuh bertemu mereka, gandengan tangan itu tidak dilepaskan.

Muka Ouw Yang Lan menjadi agak merah dan ia merasa hatinya tertusuk cemburu.

Akan tetapi segera di tekannya dengan kesadaran bahwa adiknya itu telah bertunangan dengan Sin Cu dan ia sama sekali tidak boleh mengganggu hubungan antara mereka.

la harus mengalah.

Cintanya jatuh kepada pria yang salah.

Sin Cu amat mencinta Ouw Yang Hui dan ia tahu akan hal itu.

Juga Song Bu merasa tak nyaman hatinya.

la jatuh cinta kepada Ouw Yang Hui akan tetapi kenyataannya, Ouw Yang Hui sudah bertunangan dengan Sin Cu bahkan gadis itu amat mencinta Sin Cu sehingga rela mengorbankan dirinya demi keselamatan Sin Cu.

Dia sudah merasa lega dan bersukur kalau Sin Cu mau mengawini gadis itu sehingga Ouw Yang Hui akan terbebas dari aib dan dapat hidup berbahagia di samping pria yang dicintanya.

Kini melihat mereka bergandeng tangan, dia ikut merasa gembira.

Ouw Yang Hui melepaskan tangan Sin Cu dan menyambut encinya.

Mereka saling berangkulan dan Ouw Yang Lan merasa heran akan tetapi senang melihat betapa wajah Ouw Yang Hui tidak tampak sedih lagi, bahkan walaupun masih pucat dan bekas tangis mernbuat sepasang mata itu kemerahan, namun wajah itu berseri dan sepasang mata itu bersinar-sinar, bibir itu penuh senyum.

"Enci Lan.!"

Ouw Yang Hui menegur.

"Adik Hui, ketahuilah bahwa semua anak buah Pulau Naga mendesak dan memohon kepada aku, dan Bu-Ko untuk menggantikan Ayah memimpin mereka membangun Pulau Naga."

"Itu bagus sekali, enci Lan!"

"Aku sudah memutuskan untuk menyerahkan pimpinan itu kepada Kakak Tan Song Bu, Biarlah dia yang menggantikan Ayah memimpin mereka dan mengangkat serta memperbaiki nama Pulau Naga sebagai tempat tinggal orang-orang gagah. Aku sendiri akan pulang kepada Ibuku dan Ayah tiriku."

"Sin Cu, Paman Siauw Ming mengajak kita untuk pergi ke Pulau Ular, mengunjungi kuburan orang tua kita."

"Wah, itu bagus sekali, Song Bu. Aku memang sudah ingin sekali pergi ke sana. Kapan kita berangkat?"

Kata Sin Cu.

Pemuda itu kini juga bersikap riang karena tidak ada lagi sesuatu yang mengganjal hatinya.

Ouw Yang Hui sudah mau menjadi adiknya.

Hal ini berarti bahwa dia akan selalu berdekatan dan dapat melindungi gadis itu.

"Aku ikut, Cu-Ko."

Kata Ouw Yang Hui.

"Tentu saja, aku juga ikut."

Kata Ouw Yang Lan.

"Mari kita pergi berempat, rnaksudku, berlima dengan Paman Siauw Ming. Perahu dan bekal sudah dipersiapkan dan Paman Siauw Ming sudah menunggu di pantai."

Mereka lalu pergi ke pantai dan tak lama kemudian mereka sudah berlayar mempergunakan dua buah perahu, yaitu bersama Siauw Ming berkunjung ke Pulau Naga, dan sebuah perahu lebih kecil milik Pulau Naga.

Perahu besar itu nanti setelah mereka mengunjungi Pulau Ular, akan dipergunakan oleh Siauw Ming untuk kembali ke daratan bersama Sin Cu, Ouw Yang Hui dan Ouw Yang Lan.

Sedangkan perahu kecil akan dibawa Song Bu kembali ke Pulau Naga karena dia sudah ditunjuk oleh Ouw Yang Lan dan para anggauta Pulau Naga untuk menggantikan Ouw Yang Lee memimpin Pulau Naga.

Dua perahu itu beriringan menuju ke Pulau Ular yang tidak begitu jauh letaknya dari Pulau Naga.

Dengan hati yang amat terharu, Sin Cu berlutut di depan gundukan tanah di mana ada batu nisannya yang terukir kata-kata "Makam Wong Cin dan isteri".

Song Bu juga berlutut di depan gundukan tanah yang batu nisannya tertulis "Makam Tan Hok dan isteri".

Keduanya bersembahyang dan mencoba untuk membayangkan wajah Ayah Ibu mereka.

Namun mereka hanya dapat mengingat samar-samar saja.

Ouw Yang Hui dan Ouw Yang Lan juga ikut bersembahyang memberi hormat kepada makam dua pasang suami isteri itu.

Mereka berempat, dibantu Siauw Ming, lalu membersihkan dua makam sederhana itu.

Sampai beberapa lamanya mereka duduk tepekur di depan kedua makam itu.

Matahari telah naik tinggi dan akhirnya Siauw Ming bangkit berdiri dan berkata kepada mereka.

"Kukira sudah tiba saatnya bagiku untuk kembali ke daratan. Mari, siapa yang jadi ikut bersamaku ke daratan besar?"

Sin Cu bangkit berdiri dan dia tersenyurm kepada Ouw Yang Hui.

"Marilah Hui-moi, kita berangkat."

Ouw Yang Hui juga bangkit dan ia menoleh kepada Ouw Yang Lan.

"Mari enci Lan. Bukankah engkau juga hendak kembali kepada Ibu Kim dan Ayah tirimu di Pek-In-San?"

Ouw Yang Lan dan Song Bu juga bangkit berdiri Ouw Yang Lan menoleh dan memandang kepada Song Bu.

"Bu-Ko, aku-pergi. Kuharap engkau akan dapat membimbing para anak buah dengan baik dan dapat membangun Pulau Naga sehingga nama Pulau Naga kita menjadi harum dan terpuji."

"Akan tetapi, sesungguhnya aku amat membutuhkan bantuanmu, Lan-moi. Bantulah aku untuk mulai mempersiapkan bimbingan dan pembangunan itu. Kelak aku akan mengantar engkau ke Pek-In-San,"

Kata Song Bu dan dalam pandang mata dan suaranya terkandung permohonan dan harapan besar. Ouw Yang Lan tampak meragu dan ia menoleh dan memandang kepada Ouw Yang Hui dan Sin Cu.

"Akan tetapi aku... aku ingin hadir dan ikut dalam kesibukan persiapan pesta perayaan pernikahan adik Ouw Yang Hui dan Kakak Wong Sin Cu."

"Ah, enci Lan. Aku dan Cu-Ko tidak akan menikah!"

Kata Ouw Yang Hui.

Ouw Yang Lan terkejut, demikian pula Song Bu, mendengar ucapan itu.

Mereka memandang kepada Ouw Yang Hui dan Sin Cu dan sepasang orang muda itu sama sekali tidak tampak bersedih.

Sebaliknya, mereka berdua tersenyum dan wajah mereka berseri.

"Ehh? Adik Hui, bukankah kalian saling mencinta? Kalian tampak begitu mesra..."

"Tentu saja kami saling mencinta, enci Lan! Akan tetapi kami tidak akan menikah."

"Sin Cu! Bagaimana ini? Apakah engkau hendak mengingkari janjimu?"

Song Bu berkata dengan suara keras dan alisnya berkerut, matanya mencorong memandang kepada Sin Cu.

"Song Bu, tenanglah. Aku sama sekali tidak hendak mengingkar"

Janji. Aku tetap akan membela dan melindungi Hui-moi selama hidupku."

Kata Sin Cu sambil menggandeng tangan Ouw Yang Hui.

"Akan tetapi apa artinya ini? Kalian tidak akan menikah dan..."

"Maaf, Kak Song Bu. Urusanku dengan Cu-Ko adalah urusan kami berdua pribadi. Engkau sama sekali tidak berhak mencampuri. Marilah, enci Lan. Kita berangkat!"

Ouw Yang Hui menarik tangan Sin Cu untuk menyusul Siauw Ming yang sudah masuk ke dalam perahunya. Ouw Yang Lan menggeleng, kepala setelah ia termenung sebentar.

"Tidak, Hui-moi. Pergilah engkau dulu bersama Cu-Ko. Aku akan tinggal di sini dulu membantu Bu-Ko membuat persiapan untuk mengatur Pulau Naga."

"Kalau begitu, selamat tinggal dan sampai berjumpa kembali, Lan-Ci dan Bu-Ko"

Kata Ouw Yang Hui dan bersama Sin Cu lalu memasuki perahu itu.

"Selamat jalan. Hui-moi dan Cu-Ko! Jagalah diri kalian baik-baik!"

Kata Ouw Yang Lan.

Perahu meluncur, layar dikembangkan dan perahu itu makin ke tengah.

Sin Cu dan Ouw Yang Hui berdiri melambaikan tangan, dibalas oleh Ouw Yang Lan dan Song Bu yang berdiri memandang mereka sampai perahu itu tampak kecil dan orang-orang yang berada di perahu itu tidak tampak lagi.

Mereka berdua masih berdiri memandang ke laut.

Perahu yang membawa pergi Ouw Yang Hui dan Sin Cu itu sudah jauh sekali, hanya merupakan titik hitam.

Tak lama kemudian terdengar Song Bu berkata lirih, masih memandang ke laut dan tidak menengok kepada Ouw Yang Lan.

"Lan-moi, engkau mencinta Sin Cu ?"

Hening sejenak. Ouw Yang Lan tidak menjawab dan ketika Song Bu melirik kepadanya, pemuda itu hanya melihat gadis itu mengangguk perlahan.

"Dan engkau tentu mencinta Hui-moi, bukan, Bu-Ko?"

Balas tanya gadis itu. Juga Song Bu tidak menjawab, akan tetapi ketika Ouw Yang Lan mengerling kepadanya, gadis itu melihat dia mengangguk.

"Akan tetapi mereka berdua saling mencinta, kita tidak dapat dan tidak boleh mengganggu mereka,"

"Lan-moi. Kini mereka sudah pergi dan yang tinggal di sini hanya kita berdua."

Hening lagi sampai lama.

"Ya, engkau benar. Mereka sudah pergi dan yang tinggal di sini hanya kita berdua."

Gadis itu mengulang lirih.

"Kalau begitu kita pulang, Lan-moi."

"Pulang?"

Ouw Yang Lan mengulang tertegun heran.

"Ya, pulang ke Pulau Naga. Bukankah Pulau Naga sekarang menjadi tinggal kita berdua, untuk sementara atau tempat... mungkin... mudah-mudahan, untuk selamanya?"

Sesaat kemudian Ouw Yang Lan menggangguk.

"Ya, mudah-mudahan. Mari kita pulang, Bu-Ko."

Keduanya lalu memasuki perahu kecil mereka dan tak lama kemudian mereka berdua mendayung perahu itu menuju ke Pulau Naga.

Kegagalan cinta mereka bahkan membuat benih cinta kasih yang memang pernah membuat mereka saling tertarik pada pertemuan pertama, kini mungkin tumbuh subur.

Mereka saling merasa iba dan ingin saling menghibur dan saling membahagiakan.

Sementara itu, menurut catatan dalam sejarah, Liu Cin yang jatuh dan ditangkap dalam tahun 1510 itu diadili dan dihukum mati dengan tuduhan mengkhianati dan memberontak terhadap Kerajaan.

Harta bendanya disita dan setelah harta bendanya dihitung, Kaisar sendiri sampai menggeleng-geleng kepala karena heran melihat betapa Thaikam Liu Cin telah berhasil mengumpulkan kekayaan yang luar biasa besar jumlahnya, Setelah dihitung, ditemukan harta benda Liu Cin sebagai berikut.

Uang emas dan perak sebanyak dua ratus lima puluh satu juta tail lebih!

Dua belas kilogram batu-batu intan berlian, dua perangkat pakaian dari emas murni, lima ratus piring emas, tiga ribu cincin dan perhiasan emas, empat ribu enam puluh buah sabuk bertabur batu mulia.

Istananya di Peking dikabarkan lebih mewah dari pada Istana Kaisar Ceng Tek sendiri!

Yang terakhir ini mungkin agak dilebih-lebihkan.

Namun harus diakui bahwa kekayaan yang berhasil dikumpulkan Liu Cin itu luar biasa besarnya.

Tidak mengherankan apa bila hampir seluruh manusia di dunia ini, di negara manapun juga, orang-orang saling memperebutkan kekuasaan!

Saling memperebutkan kedudukan!

Bahkan saling bunuh, perang, semua itu untuk memperebutkan kedudukan!

Bukan kedudukan itu sendiri yang diperebutkan, melainkan karena kedudukan mendatangkan kekuasaan dan kekuasaan mendatangkan apa saja yang diinginkannya dengan mudah!

Dengan kekuasaan orang dapat mengumpulkan harta kekayaan, mendapatkan apa saja yang diinginkannya, dapat memenuhi dorongan semua nafsunya.

Pendeknya, segala macam kesenangan akan dapat diraihnya melalui kekuasaan yang didapatkan dari kedudukannya.

Ya, kesenangan itulah yang diperebutkan manusia, dimanapun juga dan jalan paling mudah untuk mendapatkan kesenangan adalah kalau dia memiliki kekuasaan, kedudukan tinggi.!

Karena itu, dunia ini akan menjadi suatu tempat yang indah, aman dan sejahtera bagi semua manusia kalau negara-negaranya memiliki pemimpin-pemimpin yang benar-benar bersih dan jujur, yang sama sekali tidak ingin mempergunakan kekuasaannya untuk mengumpulkan harta kekayaan, tidak ingin mempergunakan kedudukannya untuk mengejar dan mengumbar kesenangan, baik bagi dirinya pribadi maupun bagi sanak keluarganya.

Mudah-mudahan kita semua masih akan mengalami keadaan dunia seperti itu.

Sampai di sini pengarang mengakhiri kisah ini dengan harapan semoga ada manfaatnya bagi para pembaca.

Sampai jumpa di lain kisah.

TAMAT Lereng Lawu, medio Nopember 1989.

Penerbit .

CV.

GEMA-Solo Sumber Image .

Awie Dermawan Convert Image to text .

Yon Setyono Text Editing .

Cersil KPH Rewrite & OCR .

01 Mei -20 Juli 2018

Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 17

Baca Juga: Dewi Maut 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert